Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid 21 Bab 9

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 9: Sok Bego[edit]

Bagian 1[edit]

Hanya 10 menit kemudian, kami tiba di Distrik Petualang.

Tubuh Aisha gemetaran, lalu aku meletakkannya ke tanah.

Kakinya tidak berhenti gemetar.

Mungkin Aisha takut ketinggian.

Maaf…maaf…

"Onii-chan, jangan lagi melompat setinggi itu ..."

Sepertinya, banyak keluargaku yang takut pada ketinggian.

Sylphy juga takut ketinggian, dan aku cukup benci ketinggian.

Hanya Eris yang sepertinya menyukai tempat-tempat tinggi.

"Aku bisa saja berlari kencang di permukaan tanah, tapi itu bisa mencelakakan orang lain jika tertabrak. Sekarang, ayo temukan ibu.”

"Uu ... aku tidak bisa berjalan."

"Jangan khawatir, sini…. kugendong lagi."

"Tapi tidak melompat lagi, kan?"

"Tidak."

Sembari kugendong Aisha di punggung, kami pun memulai pencarian.

Distrik Petualang cukup besar.

Dari mana kita harus mulai mencari……?

"Onii-chan, kita harus memeriksa kedai minuman. Karena sekarang jam makan malam, mungkin kita bisa menemukan mereka lebih cepat.”

"Ah, benar juga."

Seperti saran Aisha, kami segera menuju bar terdekat.

Kami memeriksa kedai-kedai di jalanan, untuk mencari Zenith atau Gisu.

Karena ini jam makan malam, kedai-kedai pun penuh.

Namun, kami tak perlu memeriksa setiap orang, karena wajah Gisu begitu khas.

Kami juga bisa bertanya pada pegawai kedai, untuk lebih menghemat waktu.

’Apakah kau melihat seorang pria bertampang mirip monyet dan wanita berwajah kosong?’ kira-kira seperti itulah pertanyaannya.

Penampilan mereka mencolok.

Bahkan selarut ini, Distrik Petualang masih ramai.

Banyak petualang yang pulang kerja sembari membawa barang rampasan mereka.

Ada juga para pedagang yang sibuk menawar harga untuk membeli barang-barang itu.

Setelah bekerja, para petualang berbondong-bondong makan.

Para pegawai kedai juga sibuk merayu mereka ke kedainya.

Sesekali, terdengar suara pertengkaran antara petualang dan prajurit bayaran.

Aku hanya melihat beberapa kereta di jalanan, mungkin karena sudah malam.

Dengan jumlah kereta yang semakin berkurang saat malam, kecil kemungkinannya dia tertabrak kereta.

Aku pun merasa sedikit lega.

"Wajah mirip monyet? Ah, maksudmu Gisu? Bukankah dia biasanya menginap di Malam Musim Semi?”

Itu adalah nama penginapan, dan kami sudah memeriksa tiga penginapan sampai sejauh ini.

Rupanya, Gisu sudah lama berada di kota ini.

Jadi, hampir setiap orang pernah melihatnya.

"Apakah kau melihatnya bersama seorang wanita?”

"Seorang wanita ...? Hmm ...?”

Pegawai bar itu memiringkan kepalanya.

Sepertinya dia kebingungan.

Aku akan segera mengetahuinya setelah memeriksa penginapan bernama Malam Musim Semi itu. Lalu aku meminta alamatnya.

Setelah memberinya koin tembaga, kami bergegas ke Malam Musim Semi.

Aku punya firasat buruk.

Bagian 2[edit]

Penginapan Malam Musim Semi berada di daerah lokalisasi.

Banyak rumah bordir yang berjajar di sepanjang jalan, dan pria berwajah mesum yang mondar-mandir di sekitarnya.

Ini adalah distrik pelacuran.

Padahal Milishion adalah kotanya kaum beragama…. harusnya tempat seperti ini tidak ada di kota ini.

Banyak orang melihat kami dengan penasaran.

Suasananya jadi hening…. aku penasaran, apa ada yang salah dengan kami.

"Haha! A-apa yang mereka lihat?"

"Onii-chan, ini memalukan! Cepat turunkan aku!"

Ternyata…..

Mereka menatapku yang sedang menggendong Aisha.

Apa yang kalian pikirkan!? Dia adikku! Adikku! Kami tidak berhubungan incest ya! Ingat itu baik-baik!

Begitu aku menurunkan Aisha, mereka berhenti menatap kami.

Malam Musim Semi.

Dari depan sih penginapannya terlihat normal, tapi setelah kuamati lagi, ternyata banyak pria sangar yang keluar-masuk tempat ini.

Yahh, aku juga pria sangar lho, meskipun ototku tidak sebesar kalian.

Aku bisa memasuki tempat semacam ini tanpa takut.

Jujur saja, para pegawaiku lebih sangar daripada kalian.

Apakah Zenith berada di tempat seperti ini? Aku jadi cemas.

Gisu, apa yang telah kau perbuat pada Zenith ...

Jika dia menjual Zenith ke tempat pelacuran, tidak akan pernah kumaafkan dia.

Akan kuhajar dia.

"Ra ~ ssha ~!"

Ketika melewati pintu masuk, kami mendengar berbagai macam kegaduhan, mulai dari bartender yang menyiapkan minuman dengan semangat, sampai teriakan para pelanggan yang menggebu-gebu.

Suasananya cukup meriah.

Dari luar tampak mengerikan, tapi dari dalam begitu ramai.

Pelanggannya tidak hanya pria-pria sangar, namun ada juga para petualang biasa.

Setelah mengamati penginapan ini sekilas, mataku segera tertuju pada seseorang di meja itu…..

"Tapi aku ini pintar…. aku bilang pada mereka, ’Ketiga lingkaran sihir itu mungkin jebakan, bagaimana jika ada jalan lainnya?’

Itu dia.

Agak masuk ke dalam, ada pria berwajah monyet yang sedang membual pada sekelompok petualang junior.

Aku sudah sering melihat adegan ini.

Di sana ada bocah laki-laki berambut jabrik.

Ada bocah laki-laki lainnya yang hidungnya bertindik.

Dan seorang gadis yang tampak polos.

Semuanya tiga orang.

Zenith tidak bersama mereka.

Bahkan aku sama sekali tidak melihat Zenith di ruangan ini.

"Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, saat kami mencari ke lantai bawah, ternyata ada jalan tersembunyi yang menuju ke bos monster…..”

Gisu melihatku ketika mendekatinya.

Dia pun terkejut.

"Gisu."

"Y-Yo senpai. Aku baru saja membicarakanmu. Teman-teman, dia lah Quagmire.”

Ketiga orang itu langsung tampak ketakutan.

Mereka meringkuk di kursinya masing-masing seperti anak kecil.

Reaksi macam apa itu?

Ah…. lupakan mereka.

Ada hal lebih penting yang harus dibahas.

Yang pertama adalah ...

Baiklah, pertama-tama aku harus bertanya pada Gisu tentang makhluk aneh yang sering muncul di mimpinya.

"Gisu ... asal tahu saja ya….. kebanyakan lawan-lawanku bernasib sial.”

"Haa? A-apa yang kau bicarakan, Senpai?"

"Belakangan ini ada makhluk aneh yang tiba-tiba muncul di dalam mimpimu, kan? Dia memberimu saran yang begitu ajaib, seolah-olah dia tahu segalanya.”

"Whoa, mimpi? Mimpi apa?"

Aku mulai mengarahkan jariku pada si muka monyet, lalu kuhimpun Mana.

Stone Cannon, dengan kecepatan tinggi.

Terbentuklah sebongkah batu yang melayang-layang di ujung jariku. Batu itu terus berputar dengan suara mendesing kencang, bagaikan bor.

Para junior itu terkejut, dan mulai beranjak dari kursinya masing-masing.

"Jangan bergerak."

Mereka langsung membeku.

Kutatap mata Gisu, lalu kitanya sekali lagi.

"Jika kau menceritakan semuanya padaku sejak awal, mungkin akan kuampuni kau.”

"O-o-ohhh, kumohon hentikan… j-j-jangan begitu lah…. kita kan teman. S-s-sebenarnya aku tidak tahu apa-apa….. j-j-jangan dekatkan itu padaku!!”

Kugerakkan ujung jariku mendekati jidat Gisu.

Kemudian, Gisu langsung melompat dari tempat duduknya, lalu bersujud padaku.

Tanpa malu sedikit pun, dia meminta maaf padaku.

"A-a-a-aku tidak melakukan hal yang salah! Tapi aku tetap akan meminta maaf padamu! Sepertinya aku telah membuat Senpai marah! Padahal aku sama sekali tidak tahu apa yang membuatmu marah! Jadi, beritahu aku! Jika memang seburuk itu kesalahanku, aku mohon maaf sebesar-besarnya!”

Apa-apa’an ini?

Ini tidak sesuai dugaanku.

Aku heran.

Apakah itu berarti dia bukan bidak Hitogami ...?

Aku tidak tahu.

Tapi, setelah melihat Gisu merengek seperti itu….. tampaknya aku yang harus minta maaf.

"... Apa yang terjadi pada ibu?"

"Ah?"

Gisu mengangkat wajahnya yang tampak bingung.

Dengan wajahnya yang merah karena efek alkohol, dia berkedip-kedip kebingungan padaku.

Jika ini semua hanyalah sandiwara, maka kau pantas mendapatkan penghargaan!

"Ibuku, Zenith…. dia menghilang dari rumah."

"He…? Aku tadi memang mengajaknya jalan-jalan, tapi bukankah dia sudah kuantar pulang?”

"Dia belum pulang sampai sekarang, itulah kenapa aku mencarimu.”

Aku bersedekap, dan salah satu bocah itu tertawa.

Aku menoleh pada Aisha, dan dia hanya mengangguk.

Ini bukan waktunya bercanda.

Lalu aku beri tatapan tajam pada bocah itu. Dia pun mengejang sembari menjerit pelan, “Hiiiii…”

"Eh ... tapi ... aku tadi benar-benar telah mengantarnya pulang.”

"Kapan?"

"Sebenarnya, bukan aku sih yang mengantarnya sampai ke rumah. Jadi, kami tadi jalan-jalan ke pinggiran Distrik Petualang. Saat hari semakin senja, aku berniat mengantar Zenith pulang, namun tiba-tiba kami bertemu dengan pria dari rumahmu itu. Maka aku titipkan saja Zenith padanya.”

.... Apa?

Menitipkan Zenith pada seseorang?

Pria dari rumahku?

Maksudmu Cliff?

Jangan bercanda! Cliff dan aku sedang berada di Pusat Gereja Milis tadi.

Aisha sedang berbelanja, Wendy di rumah ...

Tidak…. tidak…

Yang kau maksud bukan rumahku…

Secara teknis, itu adalah rumahnya Cliff…..

Tunggu dulu….

Rumahku…..?

Maksudmu Kediaman Keluarga Latreia???

"Maksudmu, orang dari Kediaman Keluarga Latreia ...?"

"Ya… ya… itu dia. Aku sudah memeriksa lambang di baju mereka. Aku yakin itu lambang Keluarga Latreia.”

Jantungku mulai berdegup kencang.

Ternyata Zenith diambil oleh orang dari Keluarga Latreia.

Tenang, fokus.

Pertama, Gisu mengajak Zenith jalan-jalan.

Tapi kenapa?

"Oh iya, kenapa tiba-tiba kau mengajak ibu jalan-jalan?"

"Kenapa ya….. Yahh, aku kan sudah lama tidak bertemu Senpai dan Zenith, jadi wajar jika kita sedikit bersenang-senang.”

Dengan kata lain, dia cuma iseng.

Hmm, sepertinya tidak ada yang salah dengan Gisu ...

Tidak…. tunggu dulu…. itu aneh.

"Lho…. darimana kau tahu alamat rumah Cliff?”

“Sebenarnya, aku pergi ke Kediaman Latreia terlebih dahulu. Awalnya sih aku malas ke sana, karena Keluarga Latreia kan membenci ras iblis sepertiku. Namun karena ada Senpai, kurasa tidak masalah. Sesampainya di sana, mereka memberitahuku bahwa Zenith dan Senpai tinggal di tempat lain. Dari situlah aku mendapatkan alamat rumah kalian.”

"Bukannya kau benci memasuki Distrik Agama?"

"Itu benar, tapi bukan berarti aku tidak pernah memasukinya.”

Alasan Gisu agak mengambang.

Mungkin dia tidak menjawabnya dengan jujur.

Apakah karena dia mabuk, sehingga keterangannya membingungkan?

"...."

Baiklah…..baiklah…. setidaknya aku mengerti apa yang sudah terjadi.

Kira-kira seperti ini urutan kejadiannya:

Kemarin, aku meninggalkan Kediaman Latreia dengan marah.

Tapi, kami kembali ke rumah Cliff dengan berjalan kaki, jadi mereka bisa membuntuti kami.

Aku ceroboh, harusnya aku menyadari keberadaan para penguntit itu. Jika aku lenyapkan mereka, mungkin rumah Cliff tidak akan mereka ketahui.

Keluarga Latreia dan Grimoire membela fraksi yang berlawanan.

Sehingga, Keluarga Latreia ingin ‘menyelamatkan’ Zenith dari fraksi yang mereka anggap sesat.

Tapi, mereka kesulitan menyerang kawasan Keluarga Grimoire.

Fraksi mereka mungkin lebih unggul, namun kejahatan seperti itu akan mencoreng nama baik keluarga mereka.

Maka, Keluarga Latreia menggunakan jasa Gisu.

Kebetulan, si wajah monyet ini mengunjungi Kediaman Latreia, dan mengaku sebagai temanku.

Biasanya, mereka akan mengusir seseorang seperti itu.

Meskipun mereka membenci ras iblis…. jika ras iblis itu masih berguna, maka mengapa tidak dimanfaatkan saja?

Mereka meminta Gisu membawa Zenith keluar dari daerah Keluarga Grimoire. Pastinya dengan imbalan tertentu.

Gisu tidak segera membawa Zenith keluar, dia masih harus menganalisis berbagai hal. Apakah ada penjaga yang akan menghalangi rencananya, atau tidak.

Untungnya, tidak ada seorang penjaga pun yang mengawasi rumah Cliff, selain dua bocah pelayan yang tampaknya lemah dan mudah dikibulin.

Aku keluar rumah sejak pagi, dan Aisha juga pergi meninggalkan rumah untuk belanja.

Pas sekali waktunya, sehingga rencana mereka bisa dikerjakan dengan mulus.

Jika Gisu benar-benar disewa oleh Keluarga Latreia untuk merebut Zenith, maka artinya si tampang monyet ini cuma sok bego di hadapanku.

Benar kan, Gisu?

Kau sudah bersekongkol dengan mereka, kan?

Tapi, jika kutanyakan permasalahan ini ke Keluarga Latreia, mereka pasti menyangkalnya dengan berkata, ’Mana mungkin kami bekerjasama dengan ras iblis najis seperti dia.’

Kemungkinan besar Zenith berhasil mereka rebut dari kami, lalu ditahan pada suatu tempat.

Pasti ada orang yang bisa membawaku ke tempat Zenith berada.

"O-oi, Senpai, ada apa ...?"

".... Tidak apa-apa. Saat kau ke rumah Keluarga Latreia, apa yang mereka katakan?”

"Eh? Kalau tidak salah, mereka mengatakan bahwa Zenith sudah lama tidak mengunjungi kota kelahirannya, jadi dia pasti ingin pergi ke berbagai tempat….. atau semacamya.”

Mungkin juga Gisu tidak bersalah.

Mungkin juga Gisu tidak tahu apa-apa.

Saat pertama bertemu Gisu di kota ini, aku memang mengatakan bahwa kami akan pergi ke Kediaman Keluarga Latreia.

Gisu pikir aku tinggal di sana, sehingga dia coba berkunjung ke rumah Claire.

Kemudian, dia bertemu dengan mereka, dan dimanfaatkan.

Ya…. mungkin juga Gisu tidak sadar bahwa dia sedang dimanfaatkan.

Aku lah yang ceroboh.

Harusnya aku pulang lebih awal untuk menjaga Zenith.

Karena satu kesalahan saja, semuanya jadi begini.

Tapi, tidak ada gunanya menyesal.

Sekarang, prioritasnya adalah menyelamatkan Zenith.

"Gisu ... Sebenarnya--"

Setelah mendengar cerita Gisu, aku memutuskan untuk meminta bantuannya.

Dalam situasi seperti ini, semakin banyak bantuan, maka semakin baik.

Bagaimanapun juga, Gisu bertanggung jawab atas hilangnya Zenith.

Sepertinya dia bukan bidaknya Hitogami, jadi tidak masalah bekerjasama dengannya.

"... Serius?"

Setelah aku menceritakan semuanya, Gisu tampak menyesal.

"Jadi begitu ya….. rupanya, Senpai sedang berselisih dengan Keluarga Latreia…… kupikir hubungan kalian baik-baik saja…. kupikir, Zenith aman-aman saja…..”

Ini hanyalah kesalahpahaman.

Lawan sudah mengetahui kelemahan kami, lalu mereka memanfaatkannya.

Tapi siapapun bisa berbuat kesalahan.

Kami harus menyelamatkan Zenith.

"Aku mengerti. Akan kubantu kalian."

"Ya."

Bersama Gisu, kami memutuskan untuk kembali ke Kediaman Keluarga Latreia.

Tapi……. mungkin ini sia-sia saja.

Bagian 3[edit]

Pada saat kami tiba di Kediaman Latreia, malam sudah larut.

Jam makan malam sudah lewat, dan orang-orang mungkin akan segera tidur.

Aku bisa saja sampai lebih cepat, tapi Gisu dan Aisha bersamaku.

Aku terpaksa memperlambat langkah agar mereka tidak ketinggalan.

Aisha juga tidak ingin lagi melompat tinggi ke langit bersamaku.

"Ini dia."

Sekarang, lampu-lampu di Kediaman Latreia masih menyala.

Tapi tidak ada orang di gerbang.

Bel pintu juga tidak ada.

Aku perlu memanggil seseorang untuk mengantar kami masuk.

Haruskah aku berteriak?

... jika aku adalah tamu biasa, apa yang sebaiknya aku lakukan?

Tidak…. jarang ada orang yang mau berkunjung ke rumah ini.

Lalu, apa yang harus kulakukan.

"Aku Rudeus! Ijinkan aku masuk!"

Aku berteriak sambil menggedor pintu gerbang.

Aku tidak peduli jika tindakanku ini mengganggu tetangga.

Mungkin mereka tidak sudi membukakan pintu untukku, namun aku harus masuk.

Mereka menculik Zenith, artinya mereka lah yang salah.

Namun, jika orang terakhir yang bersama Zenith bukanlah anggota keluarga Latreia, maka itu artinya Zenith diculik oleh pihak ketiga yang masih misterius.

Sebenarnya aku tidak ingin menginjakkan kaki lagi di rumah ini, tapi hilangnya Zenith juga masalah bagi mereka.

"...."

Tidak ada jawaban.

Aku terus menggedor gerbang dan berteriak.

Gerbang logam mulai melengkung setelah terus-terusan kuhantam dengan Magic Armor Versi II.

"Di mana ibuku!!?"

Masih belum ada jawaban.

Mungkin lebih baik kudobrak saja gerbang ini.

"Akan kuhancurkan gerbang ini jika tak seorang pun menanggapiku!!”

Masih belum ada jawaban, maka aku mulai mengumpulkan Mana pada genggaman tanganku.

Kalian pikir bisa menghentikan Magic Armor Versi II dengan gerbang rapuh ini.

"O-oi, Senpai…. tunggu dulu! Itu tidak baik!"

Gisu menghentikanku.

Aku semakin tidak sabaran.

Aku tidak ingin menunggu lebih lama.

Claire berniat menikahkan Zenith untuk melahirkan anak lagi.

Mencari pasangan, mengadakan pernikahan, kemudian membentuk keluarga baru ...

Proses itu memakan waktu.

Jika aku terus mengamati rumah ini, pastilah suatu hari nanti aku bisa mengendus jejak Zenith. Untuk menikahkan putrinya, Claire harus mengadakan pesta atau semacamnya. Itu pasti mengundang perhatian.

Tapi…….

Kalau Claire hanya ingin Zenith melahirkan anak.

Maka itu tidak perlu waktu lama.

Kau hanya perlu menyiapkan kasur yang empuk, cari pria pilihanmu, lalu kurung mereka berdua di kamar semalaman.

Selesai.

Itu sungguh menjijikkan, dan tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beriman seperti mereka.

Saat kami menemukan Zenith, mungkin semuanya sudah terlambat.

Sebenarnya aku ragu si tua bangka itu melakukan hal sekeji itu pada anaknya sendiri.

Setidaknya, itulah yang kuharapkan, tapi tak seorang pun tahu apa yang dipikirkan Claire.

Jadi, kita harus secepatnya mengamankan Zenith.

Mungkin terlalu sembrono jika kudobrak gerbang ini.

Bahkan sekali tembakan Stone Cannon saja sudah cukup membangunkan tetangga.

Aku tidak tahu bagaimana norma di negara ini, tapi yang jelas menghancurkan gerbang rumah orang bukanlah perbuatan terpuji.

Jika orang-orang di sekitar lingkungan ini terbangun, lalu memerintahkan para penjaga untuk mengepung kami…. maka itu juga akan menyebabkan masalah pada Cliff dan Uskup Agung.

Aku perlu memikirkannya secara menyeluruh, jadi aku tidak boleh sembrono.

"Baiklah. Kita akan menyelinap masuk. Aku akan membuka gembok gerbang ini dengan sihir tanah.”

"Menyelinap? Yang benar saja……”

Tiba-tiba terdengar suara dari balik gerbang.

Entah sejak kapan mereka di sana. Ada lima orang yang terdiri dari pria dan wanita berdiri di balik gerbang.

Tiga di antara mereka adalah prajurit, dan ada juga seorang pelayan wanita.

Yang terakhir adalah seorang wanita tua mengenakan pakaian elegan.

"Malam-malam begini, ada perlu apa kau dengan keluarga kami?"

"...."

Claire Latreia.

Sepertinya dia mendengar teriakanku.

Atau jangan-jangan…. dia sudah bersiap menyambut kedatanganku?

"Claire-san ... kau curang juga ya….?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Kamu memanfaatkan Gisu untuk menculik ibuku."

Saat aku mengatakan itu, Claire menatap Gisu sambil merendahkan alisnya.

"Menculik? Aku tidak melakukan apa-apa."

"Pura-pura pikun, ya? Aku sudah menduganya ..."

Aku mengedipkan mata pada Gisu.

Dia membalasnya dengan anggukan, lalu memberi isyarat pada salah satu penjaga.

"Pria itu. Dia lah yang menjemput Zenith."

"...."

Dia menunjuk pada seorang penjaga.

Pria itu langsung pasang wajah bingung sambil mengangkat bahunya.

Dia juga pura-pura tidak tahu.

"Di rumah ini, aku sangat dilarang berhubungan dengan ras iblis. Jadi, tidak mungkin aku berurusan dengan ras iblis najis sepertinya.”

Claire menatap Gisu dengan dingin, lalu mengatakan sesuatu dengan nada datar.

"Jika Zenith telah diculik, maka kami akan mengirimkan tim pencari. Tentu saja, ras iblis ini mungkin berbohong, jadi biarkan aku mendengarkan ceritanya lebih rinci ... "

"Ugh ..."

Gisu mengerang dan meringkuk.

Kemudian dia terdiam.

Mungkin Gisu berpikir dia tidak akan selamat malam ini.

Kalau Zenith benar-benar hilang, maka kemana lagi aku harus mencarinya.

"Jadi, kau masih tidak mau memberitahu dimana ibuku?”

"Kalau pun kami tahu, tidak mungkin kami bagi informasi itu dengan kalian. Bukankah kau sudah memutuskan hubungan keluarga dengan kami?”

Dasar tua bangka, dalam keadaan seperti ini masih saja memancing emosiku ...

Apakah dia sudah merencanakannya?

Apakah dia sengaja memprovokasiku?

Mungkin nenek ini adalah bidak Hitogami.

Tapi, aku masih tidak bisa membaca niatnya ...

Apakah dia benar-benar tidak tahu?

Maka, artinya Gisu yang berbohong dong?

Mengapa Gisu berbohong?

Kalau dia memang berbohong, bukankah dia malah mencelakakan Zenith?

"Claire-san ..."

"Ada apa, Rudeus-san? Jika kau masih menganggap aku berbohong, maka kupersilahkan kau mencari ibumu di setiap sudut rumahku.”

Claire mendengus dan menatapku dengan dingin.

Anehnya, dia mengatakan itu dengan penuh percaya diri.

Mungkin dia sudah memindahkan Zenith ke tempat lain.

"Tapi, jika kau tidak menemukan apapun, silahkan angkat kaki dari rumahku. Karena kau bukan lagi kolega kami, bukankah begitu?”

"...."

Mungkin wajahku terlihat masam saat ini.

Aku mencurigai Claire lah yang melakukan semua ini, tapi aku masih tidak punya bukti yang kuat.

Aku harus terus bicara untuk menyudutkannya, namun tak ada sepatah pun yang keluar dari mulutku.

Aku terus mengkhawatirkan Zenith.

Tapi, kalau dilihat dari sorot mata nenek ini, tampaknya dia juga tidak tahu dimana Zenith berada.

Apakah aku harus menculik Claire? Sehingga aku bisa memaksa mereka membebaskan Zenith?

Tidak, itu bukan pilihan yang baik.

Bagaimanapun juga, aku belum tahu apakah mereka benar-benar menahan Zenith.

Petunjukku saat ini hanyalah keterangan dari Gisu, yang belum tentu kebenarannya.

Tunggu…. tunggu…. tunggu dulu…. tenang lah.

Pertama-tama, aku harus fokus pada pembicaraan ini.

Aku sudah menduga bahwa Claire akan pura-pura tidak tahu apa-apa.

"Hubungan macam apa yang ibu miliki dengan Keluarga Latreia ...?"

"Dia adalah putriku. Sebagai ibunya, aku punya tugas untuk meluruskan kembali anakku yang telah salah jalan.”

"Dengan menikahkannya pada lelaki yang bukan pilihannya?”

"...."

"Aku putra Zenith. Ayahku menyuruhku untuk melindungi ibuku, meski nyawa taruhannya. Itulah tugasku. Tugas itulah yang kutanggung sampai mati. Jadi, kumohon kembalikan ibuku.”

"......"

Claire tidak menjawab.

Tapi dia mengalihkan pandangannya seolah-olah dia tidak kuasa memandangku.

Mengapa wajahmu seperti itu?

Apa yang dia pikirkan?

Dia mulai kehilangan ketenangannya.

Menurut Therese, sebenarnya nenek ini tidak jahat.

Dia hanya keras kepala.

Ya.

Aku harus tenang... sabarlah…. terus ajak dia bicara….. dan ungkaplah niatnya…..

"Para pengawal istana telah tiba."

Dia kembali menatapku.

Tidak… bukan menatapku…. dia melihat sesuatu di belakangku.

Tiba-tiba, dari arah jalan, datanglah sekelompok prajurit yang membawa lentera, bergegas mendekati kami.

"Cukup sudah tuduhanmu padaku. Apakah aku harus melaporkanmu pada mereka?”

Aku memelototi Claire.

Aku menatap tajam para nenek tua keras kepala ini, yang tidak mau mendengarkan perkataan siapapun.

Aku memikirkan rencana menawan nenek ini, untuk ditukar dengan Zenith.

Gerbang ini bisa kutembus kapanpun.

Aku bisa saja mendobrak gerbang, lalu meraih leher nenek itu sembari berteriak, ”BEBASKAN ZENITH SEKARANG JUGA!!” pada mereka.

Bahkan aku tidak perlu 2 detik untuk melakukan itu semua.

Mungkin hanya 1 detik.

Tapi… apakah aku bisa mendapatkan kembali Zenith dengan melakukan itu?

Saat kulihat wajah wanita tua berhati dingin ini……..

Emosiku terus bergejolak.

Tempo hari, kalau tidak salah aku menghempaskan 6 atau 7 prajurit.

Sekarang, sekitar 14 pengawal sedang mengepung kami, dan jumlahnya bisa terus bertambah.

Satu-satunya yang memisahkan kami adalah pintu gerbang ini.

"... akan kusandera kau agar mereka membebaskan ibuku.”

"Coba saja kalau menurutmu itu bisa mengembalikan Zenith.”

Dia sesumbar.

Kenapa dia begitu percaya diri saat mengatakan itu?

Darimana datangnya keberanian itu?

Harusnya dia sudah tahu bahwa aku tidak akan segan berbuat kasar.

Apakah kau tidak takut mati?

Mengapa kau begitu menantangku?

Sial, aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkan nenek ini.

Kau ingin aku mengamuk ...?

Di depan para pengawal istana?

"Claire-san, jangan-jangan…. belakangan ini sering muncul orang yang memberikan semacam petunjuk di dalam mimpimu?”

"... Ha? Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?”

Untuk sesaat, Claire tidak lagi menunjukkan wajah dinginnya.

Wajahnya kosong, seolah tidak tahu apa-apa.

Tadi wajah Gisu juga tampak seperti itu.

Jadi, dia juga bukan bidak Hitogami.

Namun, ekspresi itu hanya bertahan sesaat.

"... Hmph."

Dia mengalihkan pandangannya pada para pengawal istana yang mendekat.

"Kami dari Ordo Ksatria Kuil! Kami mendengar ada keributan di sini, apa yang terjadi!?”

“Mereka lah yang membuat keributan…..”

"—Baiklah…. kami akan pergi.”

Aku tidak ingin membuat kekacauan.

Bagian 4[edit]

Waktunya kembali.

Dengan merasa tertekan, aku berjalan menyusuri jalan Distrik Perumahan di tengah malam.

Banyak hal berputar-putar di kepalaku.

Aku tidak bisa tenang.

Amarah dan frustrasi mengacaukan pikiranku tanpa bisa kukendalikan.

"...."

Aku tidak tahu di mana Zenith berada.

Tapi, setelah pembicaraan itu…..

Dengan tanggapan seperti itu…..

Aku yakin……

Bahkan Claire telah memanfaatkan Gisu untuk merebut Zenith dari kami.

Aku sudah tidak ragu lagi.

Mereka mencuri Zenith saat aku tidak bersamanya…. berpura-pura tidak terjadi apa-apa saat kuinterogasi…. bahkan mereka berhasil mengusirku….

Sial….. aku kalah telak kali ini.

"Gawat ... aku bahkan tidak bisa melakukan apapun."

"Tidak, Gisu. Kau tidak salah. Kau telah banyak memikirkan ibu. Bahkan kau mau repot-repot pergi ke Distrik Agama hanya untuk menemui ibu.”

"A-Ah ..."

Gisu bukan orang jahat.

Dia hanya dimanfaatkan.

Tapi ini semua terlalu tepat.

"Gisu ... bisakah kau menemukan posisi ibu?"

"Mungkin saja…. tapi aku tidak jamin.”

"Yahh, memang sulit ya..."

Gisu adalah ras iblis.

Berjalan melewati Distrik Perumahan saja akan menarik perhatian orang lain, dan para prajurit.

Apalagi melewati Distrik Agama……

Tapi aku harus mencari Zenith.

"...."

Aku masih bisa memanfaatkan kemampuan Gisu, meskipun secara tidak langsung.

Tak peduli bagaimanapun caranya, asalkan kami bisa menemukan Zenith.

Aku juga punya ide.

Mulai hari ini, Rudeus Greyrat adalah musuh fraksi anti-ras iblis.

Claire lah yang menyebabkan semua ini.

Aku tidak segan lagi...

"Aisha, Gisu ... Ini mungkin sedikit berbahaya, tapi tolong bantulah aku."

"Tentu saja ... Onii-chan ... apa yang harus kita lakukan?"

Aisha bertanya dengan nada gelisah.

Dengan tenang aku menatap Aisha, lalu berkata ...

"Kita culik Gadis Kuil."

Gisu tersentak.

"Hah!? Kenapa tiba-tiba kau mengusulkan ide gila seperti itu?”

Kemudian dia segera mendekatiku dan meraih bahuku.

"Apa-apa’an kau!"

"Keluarga Latreia memiliki ikatan yang dalam dengan Ordo Ksatria Kuil. Sedangkan mereka adalah bagian dari Fraksi Kardinal. Fraksi itu dipimpin oleh Gadis Kuil. Jadi, bukankah seharusnya gadis itu sangat berpengaruh di kota ini? Dengan kata lain, dia lah sandera paling efektif untuk mendapatkan ibu kembali.”

Aku hanya ingin menahannya sebagai sandera. Bukan berarti aku ingin berbuat jahat padanya. Jika mereka berniat menukarnya dengan Zenith, maka kami akan mengembalikan Gadis Kuil dengan senang hati.

"Ya, mungkin itu memang sangat efektif, tetapi pikirkan konsekuensinya! Meskipun Zenith dikembalikan dengan selamat, seluruh warga Milis bisa memusuhimu!”

Tidak masalah.

Kalau sampai terjadi hal seperti itu, aku akan menggunakan kekuatan Orsted dan Ariel.

Tapi, konsekuensi lainnya adalah, aku harus melupakan rencana mendirikan cabang PT. Rudo di negara ini.

Tidak masalah, Zenith tetap lebih penting.

Rencana melawan Hitogami di masa depan juga penting, namun tentu saja aku lebih memprioritaskan keluargaku.

"Mungkin Senpai bisa menangani mereka, tapi lihatlah aku….. aku ras iblis!! Aku bisa saja mereka bunuh hanya karena mengenalmu!”

Gisu tampak pasrah.

Saat mendengar perkataan itu, emosiku sedikit reda. Ya… aku harus lebih tenang.

Keluarga Latreia, dan Ordo Ksatria Kuil, pasti akan menjadi musuhku, tetapi masalahnya adalah…. kolega-kolegaku mungkin akan terkena imbasnya.

Ordo Ksatria Kuil adalah orang-orang militan, sedikit saja aku menyinggung ideologinya, mereka tak akan segan membunuhku. Kejadian siang tadi contohnya, kalau tidak ada Therese, mungkin kami akan saling bunuh.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Mungkin Uskup Agung tidak akan terkena dampaknya, namun lain ceritanya dengan Cliff.

Oh iya…. di buku harian si kakek tertulis, Zanoba, Cliff, dan Aisha terbunuh karena konflikku dengan Kerajaan Suci Milis.

Menurut buku harian itu, Ordo Ksatria Kuil akan terus mencari kami, bahkan sampai ke Sharia sekalipun. Dengan kata lain, kami tidak akan aman meskipun sudah kembali ke Ranoa.

Masalahnya akan berangsur-angsur.

Pengikut Agama Milis tersebar bahkan sampai ke Benua Tengah.

Itu juga akan berdampak pada perkembangan PT. Rudo di masa depan. Jika orang-orang Milis melabeli PT. Rudo sebagai perusahaan sesat, maka habislah kami.

Ingat, aku datang ke sini untuk bersekutu dengan para petinggi Kerajaan Suci Milis.

Jika mereka terus memusuhi kami, bahkan sampai saat Laplace bereinkarnasi ...

Maka itu pasti akan menguntungkan Hitogami ...

Tapi, seharusnya Hitogami tidak bisa memprediksi bahwa aku akan menculik Gadis Kuil. Karena dia tidak lagi bisa mengendalikanku.

Mungkin aku terlalu khawatir.

Tapi….. bagaimanapun juga, menculik Gadis Kuil bukanlah pilihan yang baik.

Tidak .... tunggu dulu……...

Menculik Gadis Kuil…..

Bukankah Uskup Agung telah menyiratkan rencana seperti itu?

Jika Uskup Agung mendukung rencana ini, mungkin aku bisa mendapatkan Zenith kembali, sekaligus menghancurkan Fraksi Kardinal.

Uskup Agung juga punya pengikut yang banyak, jadi aku tidak perlu takut. Dia bisa dengan mudah membersihkan nama baikku.

Lagi pula, jika aku ingin menjual figure Ruijerd, maka aku harus berpihak padanya.

Cliff pasti juga mengerti.

Sayang sekali Therese-san, kali ini kita akan benar-benar berhadapan.

Therese adalah kapten ksatria pengawal Gadis Kuil.

Sangat disesalkan, aku harus membayar kebaikan wanita yang sudah 2 kali menolongku dengan permusuhan.

... Sial.

"Aisha, bagaimana menurutmu?"

Aku harus meminta pendapat Aisha.

Dia melihat ke bawah dengan wajah serius dan kebingungan.

Setelah beberapa saat, dia mendongak padaku.

"Kurasa menculik Gadis Kuil bukanlah rencana yang baik."

"Aku mengerti."

"Maafkan aku Onii-chan, tapi kali ini kau tidak setenang biasanya.”

Dia pun merasakannya.

Tentu saja aku tidak bisa tenang.

Kegelisahan ini akan membuatku sering melakukan kesalahan.

Ya...

Baiklah, tenanglah ... aku harus mendinginkan kepala, dan berpikir dengan jernih.

Pertama-tama, jangan menyangkut-pautkan semua ini dengan Hitogami. Mungkin saja dia terlibat dalam masalah ini, tapi pikiranku akan kacau jika terlalu fokus padanya.

Ini adalah masalah pribadiku dengan Keluarga Latreia.

Setidaknya….. itulah yang bisa kusimpulkan sampai saat ini.

Claire tidak bereaksi berlebihan setelah mendengar tuduhan-tuduhanku…. tapi, mungkin dia berusaha memancingku untuk berkonflik dengan Fraksi Kardinal.

Dia tahu betul bahwa aku memihak Fraksi Uskup Agung.

Dia akan diuntungkan jika pengikutnya Fraksi Uskup Agung berselisih dengan Fraksi Kardinal.

Jika aku terlalu fokus pada Hitogami, maka satu-satunya pilihanku adalah mencari bidak-bidaknya Hitogami, lalu menghabisinya.

Tapi aku tidak bisa seenaknya membunuh orang.

Insiden Kerajaan Shirone tempo hari adalah pelajaran berharga bagiku. Aku telah mencurigai begitu banyak orang sebagai bidaknya Hitogami, mulai dari Dewa Kematian sampai Pax. Namun ternyata, semua itu salah. Karena terlalu fokus mencari bidaknya Hitogami, kami malah kehilangan Pax. Aku terlalu paranoid dan ceroboh.

Tapi itu sudah berlalu, tidak ada gunanya mempermasalahkannya sekarang.

Maka, untuk saat ini, mari kita lupakan Hitogami sejenak.

"Baiklah. Mungkin terlalu berlebihan jika kita menculik Gadis Kuil. Ya…. aku tidak akan melakukannya.”

Tidak perlu mengambil langkah ekstrim.

Aku sudah mendapat dukungan Uskup Agung.

Bahkan Therese masih ramah padaku.

Jika aku berbicara dengan mereka berdua, mungkin aku bisa menemukan solusinya.

Ada hal lain yang harus dicoba.

Jika tujuan Claire hanyalah menghamili Zenith, maka dia cuma memerlukan pria hidung belang dan sebuah kasur yang empuk. Kalau itu sampai terjadi, maka aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Waktu kita terbatas, itulah yang membuat masalah ini semakin rumit.

Kalau Zenith sampai ternodai, maka aku tidak akan ragu membantai semua Keluarga Latreia….. tidak, tidak, tidak…. tenang dulu. Lagi-lagi pikiranku dikuasai oleh amarah. Kekerasan adalah cara terakhir.

"Kita harus bertukar pikiran dengan orang lain. Pertama-tama, kita perlu menemukan orang yang mengetahui rencana Keluarga Latreia.”

Saat aku mengatakan itu, Gisu dan Aisha terlihat lega.

Sepertinya mereka sudah tenang.

"Tapi, untuk jaga-jaga…. Gisu, kuminta kau melacak keberadaan ibu. Mungkin itu bukan pekerjaan yang mudah karena kau adalah ras iblis. Tapi, aku siap membayarmu berapapun.”

"Ah. Oke."

"Bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan?"

Aisha mengepalkan tangannya erat-erat, lalu menanyakan itu saat aku masih bicara dengan Gisu.

Mungkin dia juga merasa bertanggung jawab atas hilangnya Zenith.

"... Yah, Aisha, tolong cari tempat yang bagus untuk mendirikan kantor cabang PT. Rudo.”

"EH!? Bagaimana dengan Nyonya Zenith!!??”

"Pasanglah alat komunikasi sihir dan lingkaran sihir teleportasi di tempat yang strategis. Aku perlu berkonsultasi dengan Orsted-san tentang pergerakan Hitogami.”

"Oh, begitu ... baiklah. Lalu?"

"Tolong bantu Gisu menemukan ibu."

"Baik!"

Aisha mengangguk dengan penuh semangat.

Sebagai ras iblis, mungkin Gisu akan kesulitan mencari informasi di Milishion, tapi jangan remehkan kemampuan Aisha si jenius. Mereka bisa membentuk tim yang solid jika bekerjasama.

Aku percaya pada mereka.

"... jika ibu berada dalam bahaya, maka aku akan mengambil langkah tegas, jadi kalian berdua bersiaplah meninggalkan kota ini.”

"Ah."

"Dimengerti."

Mereka berdua mengangguk dengan mantab.

Besok aku akan mengunjungi Pusat Gereja Milis sekali lagi.