Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid 23 Bab 17

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 17: Persetujuan Dewa Ogre[edit]

Bagian 1[edit]

Tiga hari telah berlalu semenjak pertempuran itu berakhir.

Semua yang sakit sudah sembuh, maka datanglah kedamaian pada Desa Supard.

Selama tiga hari ini aku bisa bersantai, namun juga khawatir akan kemunculan musuh lainnya.

Bukannya kami nganggur, tapi memang tidak terjadi apa-apa.

Selama tiga hari ini, kami benar-benar hidup dengan damai.

Rupanya Zanoba sangat kelelahan, dia pun menghabiskan sebagian besar harinya dengan tidur.

Kami khawatir dia terkena penyakit parah, tapi kata dokter itu hanya dampak dari kelelahan ekstrim dan nyeri-nyeri otot.

Namun, Zanoba memang lebay, dia mengatakan pada Julie: “Seumur hidupku baru kali ini aku merasa pegal-pegal, mungkin aku akan mati. Aku telah memberimu semua yang kutahu. Jika aku sudah tidak ada, tetaplah menjadi gadis yang baik ya...” lalu dia pun menuliskan surat wasiatnya.

Dengan polosnya Julie menangis, namun matanya menunjukkan tekad yang membara untuk menjadi gadis yang lebih baik. Aku hanya tersenyum melihat tingkiah mereka.

Aku langsung mendekati Zanoba, dan kupegang tangannya. Lalu, aku mengatakan, “Kita pasti akan melihat selesainya proyek patung hidup. Aku bersumpah atas nama Dewiku yang kupuja. Akan kusembuhkan kau.

Wahai Dewiku, pinjami aku kekuatan untuk memakmurkan dunia ini. Limpahkan juga berkahmu pada mereka yang kehilangan kekuatan agar bisa kembali bangkit. HEALING!!”

Sembari merapalkan mantra itu, kusembuhkan Zanoba.

Dia pun bangkit dengan takjub, lalu segera memperbaiki zirahku.

Julie hanya menatap kosong padanya.

Di sisi lain, Atofe tidak banyak berulah di desa ini.

Aku lihat dia menyuruh beberapa pria untuk membuatkan kursi kayu, lalu dia duduki kursi itu bagaikan singgahsananya. Dia juga mengajarkan beberapa teknik bertarung pada prajurit-prajurit Supoard, namun tidak begitu serius.

Eris pun tidak ketinggalan ambil bagian.

Melihat tingkah ibunya seperti itu, Sandor tampak sedikit malu.

Terkadang, aku masih mendapati raut sedih yang tipis di wajah Sandor.

Rupanya dia masih memikirkan Aleksander.

Aku telah bertanya apakah dia menginginkan Kajakuto kembali, namun kata Sandor pedang itu adalah hakku, dan aku boleh menggunakannya semauku.

Namun, setelah Sandor mengatakan itu aku malah kehilangan minat menggunakannya.

Aku tidak bisa menggunakan Touki, sehingga Magic Armor lebih cocok untukku. Lagipula ilmu pedangku payah.

Jadi, untuk saat ini kuberikan saja Kajakuto pada Orsted. Nanti akan kugunakan bila benar-benar dibutuhkan.

Di sisi lain, Ruijerd menghabiskan banyak waktunya bersama Norn.

Atau lebih tepatnya, Norn lah yang terus mengikuti Ruijerd ke manapun dia pergi.

Dulu, Ruijerd mengajarkan banyak hal pada Norn, seperti yang dia lakukan padaku dan Eris.

Kurasa, itu menunjukkan betapa Norn menghormati Ruijerd.

Kalau sebatas menghormati....... tidak apa-apa, kan?

Sedangkan Doga cukup populer di kalangan wanita dan anak-anak Supard.

Pertamanya dia sedikit takut saat tiba di Desa Supard, namun Doga banyak membantu saat desa ini dilanda wabah. Sepertinya, mereka sudah saling menerima satu sama lain.

Belakangan ini dia banyak menghabiskan waktunya memahat boneka kayu bersama anak-anak.

Kemudian, si bos......

Tempo hari dia tidak sengaja melempar bolanya terbang entah ke mana, sehingga tidak ada lagi yang mengajaknya bermain bola. Kasihan si bos.....

Tim dokter mengatakan bahwa kesehatan Ras Supard semakin membaik, jadi mereka punya waktu untuk menyelidiki penyakit itu lebih dalam.

Sekarang mereka sedang meneliti makanan yang sehari-hari Ras Supard makan ....... atau lebih tepatnya mereka sedang mengumpulkan sampel.

Mereka membawa pulang semua sampel ke Kerajaan Asura, lalu mendokumentasikannya dalam jurnal agar bisa dibaca lagi suatu hari nanti.

Adapun.... Cliff, Elinalize, dan Ginger sedang menuju Irel.

Kami akan bernegosiasi sekali lagi dengan Kerajaan Biheiril, tapi kali ini kami membawa sandera dari pasukan penginvasi.

Dengan begini, setidaknya mereka akan mempertimbangkan tuntutan kami.

Tapi, semuanya tergantung sudah sejauh apa pengaruh Gisu di Kerajaan Biheiril.

Aku juga akan membahas kemungkinan terjadinya perang di negara ini.

Kami tidak akan terjebak dalam perangkap Gisu lagi. Kejadian di jembatan adalah bukti betapa bahaya dan matang rencana Gisu.

Aku tidak akan terjebak lagi.

Kami harus mengevaluasi semua kesalahan sampai detik ini, agar tidak terulang lagi kemudian.

Kemudian, tentang lengan Atofe......

Aku mengembalikan lengan itu pada Atofe, lalu memulihkan lenganku yang terpotong dengan gulungan sihir penyembuh.

Setelah tanganku kembali normal, aku mencobanya dengan memeras dada Eris, dan tentu saja..... dia menghajarku sampai KO.

Setelah itu, aku mengevaluasi pertempuran tempo hari, terutama saat aku berduel dengan Aleksander. Aku ingin mempelajari teknik gravitasi kontrol yang dikuasai Aleksander. Jelas, kemampuan itu berasal dari Pedang Kajakuto, namun...... sepertinya Aleksander juga bisa menggunakan sihir pengendali gravitasi.

Sepertinya aku bisa menguasai teknik yang sama jika mempelajarinya.

Selanjutnya, tentang lingkaran sihir teleportasi yang sudah berhenti berfungsi.

Kalau sudah dibetulkan nanti, kami harus memikirkan cara agar lingkaran sihir teleportasi tidak bisa digunakan musuh. Percuma saja bila musuh juga bisa memanfaatkan sarana kita. Bisa-bisa hal seperti ini terjadi lagi.

Bagaimana caranya? Aku masih belum tahu, karena pada dasarnya lingkaran sihir teleportasi bisa digunakan oleh siapapun yang memijaknya.

Namun, dalam tiga hari terakhir, belum satu pun lingkaran sihir teleportasi kami perbaiki.

Kami sempat memanggil Arumanfi pada hari kedua untuk menanyakan keadaan keluarga, namun sampai sekarang pun dia belum datang.

Mungkin Perugius mendapati masalah lain yang tidak ada kaitannya dengan Hitogami.

Aku jadi khawatir.

Tapi, aku tidak boleh terus-terusan berpikiran negatif.

Aku harus melakukan apa yang kubisa.

Bagian 2[edit]

Hari keempat.

Sebelumnya kami telah mengirimkan dua pria Supard ke Kota Irel sebagai pemberi kabar bahwa kami memiliki sandera, dan kami ingin bernegosiasi dengan pihak kerajaan. Kedua pria Supard itu rambutnya dicukur plontos agar tidak memancing kehebohan di kota.

Dan hari ini..... mereka kembali bersama selembar surat.

Ada banyak hal yang tertulis di surat itu.

Intinya seperti ini:

“Raja Biheiril ingin bertemu denganmu. Jika permasalahan Ras Supard ini berdampak pada pergerakan pasukan perang di Pulau Ogre, maka raja bersedia berbicara denganmu.”

Kami pun menyampaikan tuntutan kami via surat.

Yang jelas, kami meminta agar Ras Supard diperbolehkan hidup di hutan ini.

Tidak membutuhkan waktu lama, surat balasan segera datang. Intinya, permintaan kami dipenuhi. Surat itu agaknya ditulis dengan tergesa-gesa, karena terlihat kusut. Tapi, stempel dan tanda tangannya cukup jelas, jadi surat itu resmi.

Dengan begitu, kami akan menarik Moore dan pasukan elite Atofe dari Pulau Ogre.

Atas perintah Atofe, mereka pun pergi.

Sepertinya, Dewa Ogre tidak perlu turun tangan mengusir mereka secara paksa.

Yahh, tapi negosiasi belum usai. Ada banyak hal yang perlu kami bahas bersama.

"........Baiklah."

Sebenarnya permintaan kami tidak sulit mereka penuhi, asalkan mereka mau menerima keberadaan Ras Supard yang selama ini ditabukan.

Lalu, soal Gisu..... harusnya mereka pernah mendengar nama itu. Karena Gisu lah yang mengirim dua utusan kerajaan yang ternyata adalah Dewa Pedang dan Dewa Utara.

"Baiklah, ayo kita pergi."

Aku akan membawa beberapa orang Ras Supard.

Tujuan utama kami adalah negosiasi, jika Ras Supard ingin diterima di negara ini, maka mereka harus ikut berunding. Ini bukan lagi saatnya bersembunyi.

Jika mereka tidak terbuka, maka akan timbul masalah lain.

Tidak juga menutup kemungkinan beberapa orang akan menyerang kami, saat melihat kehadiran Ras Supard.

Itu konyol sekali, padahal warga Biheiril sudah menerima Ras Ogre yang wujudnya bahkan lebih menyeramkan. Kupikir, kami perlu memperlihatkan pemimpin Ras Ogre saling berjabat tangan dengan pemimpin Ras Supard untuk menunjukkan bahwa mereka sama.

Sambil memikirkan hal-hal seperti itu, aku memilih orang-orang yang ikut denganku.

Yang sudah siap bertarung adalah, Eris, Sandor, Atofe, dan Ruijerd.

Sedangkan Cliff sebagai perwakilan Gereja Milis akan bertindak sebagai negosiator, bersama istrinya, Elinalise.

Aku juga mengajak dua prajurit Ras Supard untuk ikut dengan kami ke ibukota.

Sisanya akan tinggal di sini untuk bertahan jikalau ada serangan lagi ke desa.

Oh iya, aku juga membawa sandera dari pasukan penginvasi.

Sayangnya, pada surat tersebut, aku tidak membaca adanya permohonan agar sandera dipulangkan dalam keadaan hidup.

Tapi kami harus sportif.

Kalau pun negosiasinya gagal, aku akan membawa kembali salah satu dari dua orang tersebut sebagai jaminan.

Sembari memikirkan banyak hal, aku menuju ke gubuk tempat dua orang itu ditahan.

Di dalam gubuk, mereka berdua hanya duduk diam tanpa mengobrol sedikit pun.

Saat aku masuk, mereka menatapku dengan curiga.

"Jadi, bagaimana menurut kalian Desa Supard?”

"......."

“Tempat ini cukup bagus, bukan? Tempatnya indah, dan warganya pun baik-baik. Makanannya tidak sebaik di kota sih, tapi semuanya alami. Rasanya pun lumayan. Mungkin para prajurit Supard agak kasar pada kalian, tapi mereka tidak memusuhi ras manusia, kan?”

Sudah beberapa hari mereka ditahan, tapi kami memperlakukannya dengan baik.

Kami terus mengawasi mereka, menyita senjatanya, melucuti armornya, dan memastikan mereka tidak sedang menyamar. Selebihnya, kami menjamu mereka dengan baik layaknya tamu.

Bahkan beberapa orang Supard terlihat ramah pada mereka.

Kami tidak mengikat kedua orang ini.

Mereka bebas berkeliling desa, bahkan diperbolehkan keluar desa, asalkan tetap dijaga oleh prajurit Supard.

Kami tidak khawatir mereka melarikan diri.

Mereka pun tidak cukup bodoh melintasi hutan yang penuh dengan iblis tak kasat mata.

Selama dua hari terkahir, mereka melihat sendiri bagaimana Ras Supard berburu iblis tak kasat mata. Harusnya, mereka tahu bahwa iblis yang selama ini ditakuti bukanlah Ras Supard, melainkan monster berwujud serigala.

Bahkan, kami memakan serigala itu sebagai hewan buruan.

Mereka takut dengan wabah penyakit, tapi mau bagaimana lagi, hanya serigala-serigala itu yang bisa kita manfaatkan sebagai sumber protein hewani di hutan ini.

Kami pun memberikan teh Sokasu pada mereka.

“....... Yah, kalian harus tahu rumor yang selama ini beredar di masyarakat tidak benar.”

Tawanan ini tampak putus asa saat pertama kali kami bawa ke Desa Supard, tapi sekarang mereka terlihat lebih santai.

Itu karena mereka belum tahu seperti apakah Ras Supard yang sebenarnya.

Kuharap mereka mau merubah persepsinya pada Ras Supard.

Namun.... siapa sebenarnya mereka.....

Jangan-jangan, salah satu di antara mereka nanti mengaku, ”Ahahah..... aku adalah bidaknya Hitogami!!”

Yahh, aku memilih mereka secara acak sih, aku juga sudah memeriksa mereka dengan teliti.

Bahkan Orsted dan Clifff sudah mengamati mereka...... jadi, kurasa hal seperti itu tidak akan terjadi.

“Baiklah..... kita akan segera pergi ke ibukota untuk bernegosiasi, jadi salah satu di antara kalian harus ikut dengan kami. Kami akan memulangkan kalian bisa negosiasinya berjalan lancar. Sedangkan yang satunya, akan tetap tinggal di sini.”

"Aku mengerti."

Salah satu prajurit mengangguk, kemudian yang satunya berdiri.

Tampaknya orang ini cukup patuh.

Maaf ya, aku harus memisahkan kalian setelah beberapa hari tinggal bersama.

Yahh, kurasa pihak Kerajaan Biheiril tidak punya alasan untuk menolah tuntutan kami.

Jadi, harusnya negosiasi ini berjalan lancar.

Sembari berharap begitu, kami pun meninggalkan desa.

Bagian 3[edit]

Empat hari lagi berlalu setelahnya.

Negosiasi dengan Raja berjalan lancar.

Raja Biheiril takut.

Dia masih berlagak seperti laga, tapi selama negosiasi, dia jelas terlihat takut padaku. Dia juga takut pada Eris, Ruijerd, dan Atofe yang datang bersamaku.

Sejauh ini, hanya Dewa Pedang, Dewa Utara, dan Dewa Ogre yang menghalangiku di negara ini.

Saat ketiganya sudah ditangani, bisa dibilang aku sudah menguasai negara ini.

Raja sempat berbasa-basi, tapi akhirnya dia memberikan penjelasan yang lengkap.

Dia pun mengakui ada pria berwajah monyet yang pernah berlindung di istana ini, tapi dia pergi tepat saat aku hendak berkunjung.

Untuk berjaga-jaga, aku menyuruh siapapun di ruangan pertemuan melepas cincinnya, dan aku juga menggunakan batu penyerap sihir pada mereka. Tapi sepertinya, tidak ada yang menyamar di sini.

Namun........ waktu itu, aku yakin raja yang kutemui adalah Gisu yang sedang menyamar.

Dia berhasil menipuku.

Kemampuan sandiwara Gisu sungguh tiada tandingannya. Sepertinya, dia pun merubah suaranya untuk menyempurnakan penyamaran.

Kami menyerahkan sandera sembari melanjutkan negosiasi. Pihak kerajaan setuju membiarkan Ras Supard tinggal di hutan itu, selama kami tidak menginterverensi Pulau Ogre.

Mereka tidak menuntut ganti rugi, sewa wilayah, atau hal-hal ruwet lainnya.

Orang-orang di negara ini mengakui siapapun yang bekerjasama dengan Kerajaan Biheiril.

Lagipula, Gisu lah dalang di balik pengiriman pasukan penginvasi.

Raja hanya kena tipu.

Jika mereka menolak tawaran kami, hubungan mereka dengan Ras Ogre bisa memburuk.

Satu-satunya yang melindungi negara ini dari ancaman luar adalah Ras Ogre.

Jika hubungan itu terputus, maka habislah Kerajaan Biheiril.

Bagian 4[edit]

Setelah itu, kami menuju ke kota terbesar ketiga di negara ini, Heilerul.

Dari pelabuhan, bisa terlihat samar-samar pulau vulkanis di ujung sana.

Itu adalah Pulau Ogre. Sandor dan Atofe akan pergi ke sana untuk bernegosiasi dengan Dewa Ogre Malta. Sedangkan aku menunggu di pelabuhan.

Aku meminta mereka pergi ke sana sebagai perpanjangan tanganku.

Sebenarnya aku juga ingin pergi, tapi Magic Armor Versi I terlalu berat dibawa kapal.

Tidak ada kapal yang cukup besar untuk membawa zirah ini.

Sayangnya, aku juga tidak bisa melepaskan Magic Armor Versi I, karena kita tidak tahu apa yang telah direncanakan Dewa Ogre.

Jika negosiasi dengan Dewa Ogre berlangsung lancar, maka kami benar-benar tidak akan menginterverensi Pulau Ogre lagi.

Sehingga, Ras Supard bisa hidup lebih dekat ke pinggiran hutan, bukannya di dekat lembah.

Kami masih belum bisa menyimpulkan penyebab wabah penyakit itu, tapi akan lebih baik bila mereka meninggalkan daerah yang pernah terjangkit penyakit.

Butuh waktu dan tenaga untuk berpindah, tapi itulah yang terbaik bagi mereka.

Kami juga harus mempertimbangkan kemungkinan bertarung lagi dengan Dewa Ogre.

Dewa Pedang dan Dewa Utara sudah tidak ada lagi.

Jadi, peluang menang kami besar.

Tapi, jika ternyata Gisu masih memiliki bala bantuan yang kuat, maka kami terpaksa mundur kembali ke hutan untuk menyiapkan serangan balasan.

"........."

Sembari memikirkan berbagai kemungkinan, aku naik ke atas mercusuar untuk mengamati pulau dari jauh, benrsama Eris dan Ruijerd sebagai pengawalku.

Sudah lama aku tidak melihat lautan.

Lautan selalu saja luas, seolah tanpa batas.

Perairan biru membentang di bawah langit yang cerah.

Pulau yang terlihat menutupi cakrawala itu adalah Pulau Ogre.

Tadinya kukira Pulau Ogre berbentuk wajah Ogre atau semacamnya, namun ternyata hanya pulau biasa.

Ada gunung berapi aktif di pulau itu, lengkap dengan asap yang mengepul dari dalam kawah.

Saat melihat pulau itu, aku bisa merasakan kemegahan dan keindahannya, tapi aku sama sekali tidak merasakan hawa jahat yang mengapung dari pulau tersebut.

Yang jelas, itu hanya pulau biasa, tapi yang mendiaminya tidak biasa.

Karena Ras Ogre tinggal di sana, maka pulau itu dinamakan Pulau Ogre.

Tentu saja, mercusuar ini juga dibangun untuk mengawasi pulau itu.

Dari kejauhan, kulihat ada perahu yang mendekati Pulau Ogre.

Sandor dan Atofe menaiki perahu itu.

Dari puncak mercusuar ini, aku akan mengamati negosiasi mereka dengan mata iblis penerawang.

Jika negosiasi gagal dan Dewa Ogre mengamuk, atau jika Gisu muncul tanpa diduga, aku sudah merencanakan serangan besar-besaran pada pulau itu.

Tentu saja, serangan itu akan mencelakai banyak Ras Ogre yang tidak bersalah, sekaligus membatalkan hasil perjanjian kami dengan Kerajaan Biheiril.

Tapi, jika Gisu benar-benar berada di sana, maka aku tidak akan segan.

"....... Hei Rudeus, apakah kau bisa melihatnya dengan jelas?"

"Mau aku ceritakan apa yang kulihat?”

"Tidak perlu."

Dengan senyum masam di wajahnya, Eris terus mengawasi sekitar.

Aku hanya bisa melihat sebagian pulau dengan mata penerawang ini.

Beberapa tempat bisa kulihat tanpa halangan. Di sana ada beberapa orang yang berkumpul.

Itu adalah pantai.

Kami telah memutuskan bahwa pantai itu akan menjadi tempat untuk negosiasi.

Sesosok monster dengan tubuh besar sudah terlihat di sana. Itu adalah Dewa Ogre Malta.

Dia dikelilingi oleh beberapa Ogre lainnya yang kurasa adalah pengawalnya.

Para pengawalnya ada yang diperban, sepertinya mereka sempat melawan anak buah Atofe.

Di hadapan mereka, ada kawanan prajurit berarmor hitam legam.

Mereka adalah pengawal pribadi Atofe, dan Moore juga ada di sana.

Mungkin mereka juga terluka, tapi tidak serius.

Jadi, prajurit Raja Iblis Abadi lebih kuat daripada pasukan Ogre,

Tapi tetap saja, kita tidak tahu apa yang terjadi jika Malta kembali bertarung.

Kami tidak segan menyandera lagi orang-orang Ras Ogre jika itu terjadi.

Mungkin dia akan berpikir dua kali jika rakyatnya terancam.

Aku pun melihat sekitar 5 Ogre perempuan dan anak-anak berada di belakang pasukan pribadi Atofe. Mereka adalah jaminannya.

Bagaimanapun juga, pada pertempuran ini wajar jika ada korban jiwa.

Jantungku mulai berdebar saat mereka memulai negosiasi. Aku melihat Sandor dan Malta mulai membicarakan sesuatu.

Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Dewa Ogre terlihat santai.

Mata iblis ini hanya bisa melihat pada kejauhan, bukannya menguping.

Bagian 5[edit]

"Rudeus!"

Keesokan harinya.

Aku, sedang tidur di sebuah penginapan di Kota Heilerul, dibangunkan oleh teriakan Eris.

"......Ada apa sayang? Biarkan aku tidur lebih lama."

Sambil mengatakan itu, aku meremas dadanya, dan tentu saja dia langsung menampik tanganku.

Bagi seorang pria, itu sungguh menyakitkan.

Tidak boleh ya meremas Oppai? Sedikiiiit saja.....

Oh iya, aku kan masih puasa ngeseks.

"Dia di sini!"

"Siapa?"

"Orang itu!"

Setelah berteriak, dia berlari keluar kamar.

Hey, jangan pergi..... temani aku lebih lama di sini.....

Tapi.... apa yang dimaksud Eris? Aku tidak mengerti.....

"Orang itu......?"

Sementara masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi, aku mengangkat tubuhku.

Setelah menggosok mataku yang masih mengantuk, lalu melihat ke luar jendela.

Aku melihat sekelompok orang berambut coklat kemerahan berdiri di depan penginapan.

"── ORANG ITU!"

Aku segera bergegas keluar dari kamar dan berlari menuju lantai pertama.

".........."

Dewa Ogre sedang duduk bersila di depan penginapan.

Dia bersama beberapa Ogre mudah yang entah kenapa wajahnya tampak murung.

Mereka pun membawa senjata lengkap, seolah siap menghadapi Eris dan Ruijerd.

Ketika aku melangkah maju, kerumunan orang membuka jalan untukku.

Aku melangkah di depan Dewa Ogre.

Sandor juga ada di sana, lalu dia membisikkan sesuatu ke telingaku.

“Sepertinya Dewa Ogre ingin menyepakati sesuatu. Oleh karena itu, aku membawanya kemari supaya semuanya jelas.”

".......Aku mengerti."

Jika dia berniat menyelesaikan ini dengan damai, maka aku tidak punya alasan menolaknya.

Aku tidak tahu apa yang coba Sandor pikirkan, tapi sepertinya ini bukan bagian dari rencana Gisu. Atofe, Eris, dan Ruijerd pun tidak tampak begitu waspada.

Mereka bisa merasakan bahaya lebih baik dariku. Jadi, kalau mereka santai-santai saja, maka ini tidak berbahaya.

".........."

Dewa Ogre memelototiku, seolah menginginkan sesuatu dariku.

"....... Apakah kau pemimpinnya?"

"Ya. Aku Rudeus Greyrat. Orang yang bertanggung jawab di sini."

"Aku Malta."

Ketika aku membungkuk, Malta juga membungkuk sambil duduk.

"Aku perlu bicara denganmu."

"...... aku juga ingin menanyakan beberapa hal padamu.....”

Aku mengikuti Dewa Ogre dengan bersila di bawah.

Dengan begini, posisi kami sama.

Lalu, beberapa Ogre mudah mendekatiku, dan menyajikan minuman.

Minuman itu adalah Sake.

Mereka tahu bahwa aku adalah manusia, sehingga memberiku Sake.

Tapi untuk Dewa Ogre, mereka memberikan secangkir kecap.

Entah kenapa, tapi aku merasa ada kesamaan Pulau Ogre dengan budaya Jepang.

"Minumlah."

"Terima kasih minumannya."

Dewa Ogre meminumnya dengan sekali tenggak, dan aku pun melakukan hal yang sama.

Tidak mungkin aku mabuk hanya dengan sekali teguk.

Mungkin, minum juga bagian dari norma kesopanan bagi kaum Ogre .......

Tapi, apa yang harus kita bicarakan sekarang?

Yang pertama adalah tentang Gisu.

Atau..... jangan-jangan kau juga bidaknya Hitogami?

Mungkin tidak sopan jika aku langsung menuduhnya seperti itu.

Aku harus menanyakannya dengan sopan, agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita.

Aku harus sabar, seperti saat mengajar Eris.

"Kudengar........”

Saat aku masih ragu, tiba-tiba Dewa Ogre membuka mulutnya duluan.

“.........pasukan Raja Iblis menyerang desa-desa kami. Mereka bahkan mencuri bahan makanan kami. Sungguh tidak bisa dimaafkan. Meskipun kami tidak bisa melawan mereka, buktinya kami tetap hidup.”

Dewa Ogre mengatakan itu sambil memandangi pasukan Atofe di sekitar kami.

Tetap hidup ......?

Jadi, sempat terjadi pertempuran di sana? Meskipun hanya pertempuran kecil, mungkin saja ada yang mati..... tapi, Dewa Ogre bilang, ‘kami tidak bisa melawan’? Bukankah artinya pertempuran itu berat sebelah?

Harusnya Atofe tahu akan hal itu.

Atau mungkin, itu adalah strategi Moore.

"Bayangkan, rumahmu dihancurkan, sedangkan kau tidak bisa melawan. Kami juga menderita kerugian.”

"......."

“Kaum Ogre melindungi negara ini. Dan aku adalah pemimpin mereka. Aku tidak punya alasan bertarung lagi. Jadi, kita harus berunding.”

Dia tidak bisa memaafkan orang-orang Atofe yang menyerang desa.

Tapi, dia juga sudah menghancurkan kantor pusat kami.

Bukankah seharusnya kita impas?

Ras Ogre bertugas melindungi negara ini, namun sang raja sudah menyerah, maka Malta memutuskan untuk tidak melanjutkan pertarungan.

Jadi, kami memang perlu bernegosiasi.

"Tolong ceritakan apa yang Gisu katakan padamu.”

"Gisu bilang kau berniat menghancurkan Kerajaan Biheiril, itulah kenapa aku membantunya. Tapi, dia sudah melarikan diri. Dan ternyata kau tidak menghancurkan negara ini.”

Gisu mengatakan bahwa aku akan menghancurkan Kerajaan Biheiril.

Tetapi itu hanyalah dusta. Dan Malta sudah mengetahuinya.

Sebaliknya, Gisu malah melarikan diri.

Jika Dewa Ogre melanjutkan pertarungan ini, maka keamanan Kerajaan Biheiril dan Pulau Ogre akan terancam.

"Gisu berbohong. Aku tidak lagi mempercayainya.”

Aku memang tidak pernah berencana menghancurkan negara ini.

Awalnya, aku malah ingin bekerjasama dengan kalian.

Si monyet itu memang tukang tipu.

"Aku menyerah. Kalian boleh membunuhku, tapi jangan celakai wargaku yang tidak berdaya.”

Sambil mengatakan itu, Dewa Ogre menundukkan kepala lagi di hadapanku.

Bahkan hampir bersujud.

Ogre-ogre muda di sekitarnya tampak sedih.

Mereka mungkin berpikir bahwa aku akan membunuh Dewa Ogre sekarang juga.

Yang kalah akan mati...... begitulah aturannya.

Dan tampaknya mereka bersedia menerimanya dengan enggan.

Mereka tahu sang pemimpin akan mati demi melindungi rakyatnya.

Sekarang mereka sudah tahu seberapa besar kekuatan kami.

Maka..... apakah kita perlu membunuhnya?

Dewa Ogre bilang dia tidak lagi mempercayai Gisu.

Sepertinya dia mengatakannya dengan jujur, jadi tak masalah jika kita mempercayainya.

Aku tahu Dewa Ogre bukan orang jahat.

Dan dia tidak bodoh. Malahan.... IQ-nya mungkin lebih tinggi daripada si keras kepala Atofe.

Tapi.... dengan otak secerdas itu..... mungkinkah dia berniat berbohong padaku?

Sembari merenung sebentar, aku akan menanyainya satu hal lagi.

"Malta-dono, kamu bukan bidak Hitogami kan?"

"Gisu pernah menyebut nama Hitogami, tapi aku tidak pernah mengenalnya. Yang kutahu hanyalah melindungi pulau.”

Saat menyatakan itu, terlihat kejujuran dan keteguhan pada sorot matanya.

Kalau sampai dia berbohong, maka aku tidak akan lagi mempercayainya.

"Aku mengerti. Aku mempercayaimu sekarang."

Ketika aku mengatakan itu, orang-orang di sekitar kami menghela napas lega.

Tidak ada salahnya membiarkannya hidup.

Mungkin suatu saat nanti dia akan berguna bagi kami.

“Tapi, Malta-dono, kami akan memintamu melawan Gisu. Kalau kau mengkhianati kepercayaan kami, maka kami tidak akan segan menyerang Pulau Ogre lagi.”

Dengan begini, Gisu akan dihancurkan oleh mantan anak buahnya sendiri.

Mendapatkan dukungan dari Dewa Ogre, berarti bekerjasama dengan seluruh Ras Ogre.

Kuharap ancamanku cukup untuk membuatnya berpikir dua kali jika ingin berkhianat.

"Baiklah, apakah aku harus bertarung sendirian?"

"Tidak, kami akan mendukungmu."

"Lalu, apa yang akan terjadi pada wargaku jika semisal aku terbunuh?”

“Mengenai Ras Ogre..... jika kau mati, maka kami lah yang akan bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan mereka.”

"Hmmm, kuharap kau memenuhi janjimu."

Dewa Ogre mengangguk.

Kemudian, seorang Ogre muda menuangkan lagi kecap ke gelas Malta, dan alkohol ke gelasku.

Dewa Ogre memegang gelasnya dengan mantap.

Lalu aku menenggak isinya.

“Ya.... aku berjanji atas nama Dewa Naga.”

Saat aku menyatakan itu, Malta mengangguk dengan yakin.

"Hm."

Bersamaan dengan kosongnya gelas kami, pertempuran dengan Ras Ogre resmi berakhir.

Bagian 6[edit]

Malam itu, sebuah pesta diadakan di dekat pantai Heilerul.

Ras Ogre mengeluarkan alkohol terbaiknya dari gudang, dan kami berpesta bersama.

Sepertinya, para Ogre mempunyai tradisi bertukar minuman setelah berdamai dengan pihak lain.

Minumlah alkohol untuk memaafkan dan melupakan semuanya..... begitulah kata orang.

Sepertinya, Ras Ogre juga memahami pepatah itu.

Dewa Ogre membuatku minum begitu banyak, sampai aku tidak kuat lagi. Tapi, ada Atofe yang melanjutkannya, dan mereka pun saling berlomba minum.

Aku memanfaatkan momen itu untuk meninggalkan mereka.

Setelah meredakan mabuk dengan sihir detoksifikasi, aku pun berjalan-jalan di sekitar.

Tiba-tiba, aku menyadari seseorang yang kukenal sedang duduk di tepi pantai, lalu aku menghampirinya.

Itu Sandor. Dia sedang minum sendirian di sana.

"Ah, hai......"

"Bolehkah aku duduk di sampingmu?"

"Silahkan."

Aku duduk di sebelahnya, sambil menghela napas panjang.

Apa yang dipikirkannya sembari duduk menyendiri.....

Ahh, orang bebal sepertiku pun harusnya tahu......

Dia pasti sedang memikirkan putranya.

Pada saat-saat terakhir, dia mendesak Aleksander untuk menyerah.

Meskipun Kalman III adalah musuhnya dalam pertarungan kali ini, tentu saja seorang ayah lebih memilih untuk tidak membunuh putranya sendiri.

Tapi sayangnya, aku tidak punya niatan minta maaf padanya.

Jika aku membiarkan Aleksander melarikan diri saat itu, mungkin Dewa Ogre masih menjadi musuh kami.

Kalman III akan menghubungi Gisu lagi, lalu mereka akan kembali bersama Dewa Ogre dengan pasukan yang lebih merepotkan.

Kurasa, Sandor tidak akan menyalahkan tindakanku itu.

Tapi..... Sandor tidak mengatakan apa-apa.

Entah apa yang ada di benaknya saat ini.

"Aku sangat menyesalkan apa yang terjadi pada Aleksander."

"Tentu saja."

Kenapa kau tetap diam, Sandor.... setidaknya ungkapkan perasaanmu padaku.

“Anak itu ....... memiliki bakat hebat sejak kecil. Dia bisa menggunakan pedang lebih baik dari siapapun. Setiap kali bertarung melawan monster, dia bisa mengamati titik lemahnya dengan cepat. Tak ada seorang pun seumuran dengannya yang bisa mengalahkannya.”

"........."

“Itulah kenapa aku berharap tinggi padanya. Aku memberikan Kajakuto dan gelar Kalman III padanya. Tapi............ kurasa seharusnya aku tidak melakukan itu.”

Aleksander terobsesi menjadi pahlawan.

“Sebenarnya, Kalman, Dewa Utara, ataupun Tujuh Kekuatan Dunia hanyalah nama..... tapi mengapa dia begitu menginginkan itu semua.”

Sandor mengatakan itu, lalu meneguk lagi mirasnya.

Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Jika Aleksander berjuang di jalan yang benar, mungkin dia akan menjadi pahlawan sejati.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan..... tapi sepertinya aku tidak berhak mengatakan itu.

Karena Aleksander sudah tiada.

"Yah, yang lalu biarlah berlalu. Aku masih memikirkan bocah itu, tapi kau tidak perlu, Rudeus-dono..... memang seperti inilah pertempuran.”

"........begitukah?"

“Aku dengar kamu punya banyak anak. Nanti...... akan datang saatnya kau selalu memikirkan mereka.”

Yahh..... kurasa memang seperti itulah perasaan orang tua pada anaknya.

Aku sudah menjadi ayah..... tapi aku belum merasakan hal seperti itu.

Kuharap....... aku tidak menjadi ayah yang terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya.

"Yang jelas.... sekarang aku hanya bisa mendoakan anakku bahagia di alam sana.”

"Ya."

Setelah itu, percakapan kami tiba-tiba terhenti.

Deru ombak bergema di depan kami.... dan riuh gempita pesta masih terdengar di kejauhan.

Saat membahas hal sensitif seperti ini, seakan-akan pertempuran kami sudah benar-benar berakhir.

Padahal kami belum menemukan biang dari semua masalah ini..... yaitu Gisu.

Anggap saja, pertarungan kali ini adalah pemanasan, dan kami bisa melewatinya dengan baik.

Meskipun begitu, kami masih mengandalkan faktor keberuntungan untuk meraih kemenangan.

Lalu..... bagaimana dengan langkah selanjutnya?

Apakah kita bisa meraih kemenangan dengan cara yang sama?

Kurasa pertarungan selanjutnya tidak akan semudah ini.

Gisu akan memikirkan cara yang lebih licik untuk mengalahkan kami.

"Aku masih penasaran, siapakah bidak Hitogami yang terakhir."

Pertanyaannya masih sama.

Bukan Dewa Pedang.

Bukan Dewa Utara.

Bahkan sepertinya bukan Dewa Ogre.

Sejauh ini, hanya terungkap dua, yaitu Gisu dan Vita.

Itu artinya, masih ada seorang lagi yang belum kita ketahui.

Menurut Dewa Ogre, Gisu telah melarikan diri.

Mungkin dia pergi bersama bidak terakhir yang masih misterius.

Tapi......... entah kenapa, sepertinya aku telah melupakan sesuatu.

Ada sepotong puzzle yang kulupakan.

Apa ya..... mungkin bidak terakhir ini adalah orang yang sudah kukenal sebelumnya.

"Hmmm..... sepertinya bidak Hitogami terakhir tidak berada di sini. Mungkin dia masih menunggu di tempat lain.”

Di tempat lain ya.....

Kalau mendengar kata itu, yang kuingat adalah rumah.

Dewa Ogre tidak menyerang rumahku di Sharia.

Tapi, bukannya tidak mungkin orang lain bisa mengusik keluargaku di sana.

Kami belum tahu bagaimana caranya kembali ke Sharia.

Tugas kami di sini sudah selesai. Kesepakatan sudah terbentuk, namun ternyata membutuhkan waktu lama.

Aku jadi khawatir..... apakah Sharia sedang diserang ya.....

"Fiuh ........"

Aku jadi semakin cemas.

Sayangnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mempercayakan sepenuhnya pada rekan-rekanku di sana.

Aku tidak ingin menjadi orang tua yang kehilangan anak-anaknya, sehingga menjalani hidup dengan hampa.

Aku akan berusaha sekuat mungkin agar hal seperti itu tidak terjadi.

Sembari berusaha membersihkan pikiranku dari kegelisahan itu, aku menenggak miras di dalam gelasku.

Aku ingin pulang secepat mungkin.

"Hah?"

Sandor tiba-tiba mengangkat wajahnya.

Dia melihat laut.

"Apa yang bersinar itu?”

Kemudian, aku juga melihat ke arah laut.

Hari sudah malam.

Laut benar-benar gelap, tidak ada yang bisa dilihat.

Hanya deru ombak yang bisa terdengar.

Bahkan saat menggunakan mata penerawang, aku tidak bisa melihat apapun.

"Apanya yang bersinar? Di sebelah mana?”

"Di sana! Kau tidak melihatnya? Benda itu mendekati kita.”

Aku coba melihat arah yang ditunjuk Sandor, tapi aku masih belum bisa melihat apapun.

Aku terus mengaktifkan mata iblis, tapi tetap tidak terlihat apa-apa.

Apakah Sandor hanya berilusi karena mabuk?

"Haruskah aku membawa lampu?"

"........ jadi kau benar-benar tidak melihatnya?"

"Aku tidak melihat apa-apa. Sandor-san, mungkin matamu jauh lebih tajam dariku.”

Sandor mengerutkan alisnya dengan bingung.

Pengguna mata iblis penerawang pun mungkin melakukan kesalahan.

Atau.... jangan-jangan aku yang mabuk?

"...... tunggu dulu..... Rudeus-dono!! Tutup mata iblismu!!”

"Hah? Ah, baiklah."

Aku pun berganti menggunakan mata biasa.

"Maksudku.... hentikan aliran Mana ke matamu!!”

".........."

Aku segera melakukan sarannya.

Kali ini, aku sama sekali tidak mengalirkan Mana ke mataku.

"........Hah."

Itu dia..... aku melihatnya.

Dia sedang menuju ke pantai berpasir ini.

Pria itu besar...... tingginya sekitar 2 m mirip seperti Dewa Ogre.

Pria itu mengenakan armor emas di tubuhnya.

Pria itu punya 6 lengan.

Pria itu..... pria itu menggendong seseorang di bahunya.

Orang yang ada di bahunya mengenakan jubah aneh yang membalut tubuhnya.

Saat dia melepas jubahnya..... aku langsung mengenali orang itu.

"Ah, akhirnya kita bertemu juga..... Senpai ........"

Pria berwajah monyet.

Itu adalah Gisu.

"Ya ampun.... tadinya aku berharap kita mendarat tanpa diketahui.... tapi, inilah yang terjadi. Gawat nih....”

"FUHAHAHAHA, sebaiknya kau bersiap-siap semua rencanamu tidak berjalan sesuai harapan.”

"Ya, mungkin kau benar.”

Yang menjawab Gisu adalah pria berbalutkan armor emas itu.

Aku juga mengenalnya.

Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya.

Aku tidak akan melupakan tawanya.

"Badi ......sama........."

Badigadi.

Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia memakai armor emas itu? Dan kenapa dia bersama Gisu?

Apakah Dewa Ogre mengkhianati kami?

Atau apakah Sandor memanggil mereka ke sini?

Jangan bilang padaku —tidak— tapi ini — ah..........

Berbagai hal melintas di pikiranku, sampai-sampai aku kehabisan kata.

Tubuhku mulai gemetaran tanpa sebab.

Aku merasakan firasat buruk dari armor itu.

Aku tidak tahu mengapa..... tapi aku bisa merasakan aura jahat yang pekat dari armor itu.

Kalau aku melawannya tanpa Magic Armor, maka habislah aku.

"Sudah lama tak berjumpa..... Rudeus.... Alek.”

Sandor benar-benar tercengang, dan dahinya basah oleh keringat dingin.

Harusnya dia sudah pasang kuda-kuda, tapi dia hanya bisa bengong saat ini.

Tapi...... aku juga bisa merasakan ketakutan yang sama dengan Sandor.

"P-P-Paman..... kenapa kau di sini?”

“Bukankah sudah jelas!? Itu karena aku juga bidaknya Hitogami.”

Begitulah pengakuan Badigadi.

Hebatnya, dia mengakui itu tanpa ragu sedikit pun.

Jadi, dia lah orang yang selama ini kucari.

"..........Ah."

Aku mengerti.

Jadi begitu ya.

Aku lupa....... bukankah seseorang sudah memberitahu kisah ini sebelumnya.....

Kishirika pernah bilang bahwa sangat mungkin Badigadi masih bekerjasama dengan Hitogami.

Dan dia juga orang yang membawa Ruijerd ke desa.

Jadi, ini semua ulah Badigadi.

Kenapa aku melupakan hal yang begitu sederhana.

Inilah potongan puzzle terakhir yang selalu membuatku kebingungan.

“Atas permintaan Hitogami, aku mengantar Ruijerd ke Desa Supard. Lalu, aku mengambil kembali armor ini yang terbenam di dasar lautan. Dengan memadukan kekuatan Raja Kegelapan Vita, Dewa Pedang Gull Farion, Dewa Ogre Malta, dan Dewa Utara Kalman III, aku akan mengalahkan kalian dan Orsted yang tidak bisa lagi melarikan diri, lalu.......”

"Bos, bos."

"Ada apa sih!? Aku baru saja menikmatinya!”

“Kau terlalu banyak bicara. Vita, Gull, dan Aleksander sudah kalah.”

“Hmph, dasar membosankan. Bukankah ini semua karena strategimu yang gagal!?”

Sambil menggaruk pipi dengan jari-jarinya, Gisu mengangkat bahu.

Tapi, atas pengakuan Badigadi tadi, aku mulai bisa membaca semuanya.

Dewa Pedang, Dewa Utara, dan Dewa Ogre.

Mereka bukan bidak Hitogami.

Dan jika aku membiarkan Dewa Utara III melarikan diri maka pertarungan akan terus berlanjut.

Jika pasukan penginvasi tidak mundur, maka kedua orang ini akan diam-diam ikut serta dalam pertarungan.

Mereka akan mendarat di Pulau Ogre, lalu mengalahkan pasukan Atofe, sehingga Dewa Ogre Malta tidak lagi mengkhawatirkan nasib warganya.

Melawan Dewa Utara dan Dewa Ogre saja kami sudah kesulitan, bagaimana jika ditambah Badigadi?

Jika Badigadi ikut melawan kami dengan armornya, maka selesailah semuanya.

Tapi sekarang......

Raja Kegelapan sudah mati.

Dewa Pedang sudah mati.

Dewa Utara sudah mati.

Dewa Ogre telah menyerah.

Lawan kami tinggal Gisu dan Badigadi.

"Senpai, aku mendengar dari Hitogami bahwa kau memenangkan pertarungan di hutan. Lalu, kau pikir aku tidak bisa lagi membalikkan keadaan?”

Gisu payah dalam bertarung.

Itulah kenapa aku yakin bisa mengalahkannya .....

Tapi...... benarkah begitu? Kalau dia payah bertarung, maka mengapa dia menunjukkan diri? Bukankah sebaiknya bersembunyi saja?

“Tapi.... kau tahu.... om yang bersamaku ini cukup legendaris, lho.”

Disebut legenda, Badigadi pun menyombongkan diri.

“4200 tahun yang lalu, aku bertarung imbang melawan Raja Naga Iblis Laplace. Kalian harus tahu, akulah Raja Iblis terkuat di dunia ini....”

Aku hanya bisa menelan ludah saat melihat armor Badigadi yang bersinar, seolah hidup.

“....... tidak, tidak, mungkin nama Raja Iblis tidak tepat bagiku. Panggil saja aku dengan nama yang sudah dikenal banyak orang, yaitu..... Dewa Tempur.”

Ya.... itu benar..... itulah identitas Badigadi yang sebenarnya. Dia lah Dewa Tempur Badigadi.

Baju zirah yang penuh menutupi tubuhnya memancarkan aura aneh.

Aku mulai merasakan kengerian yang sama seperti saat pertama kali melawan Orsted.

Entah kenapa, aku punya firasat kami tidak akan menang jika melawannya.

Kemudian, Badigadi merentangkan tangannya yang semula bersedekap.

“Aku!! Dewa Tempur Badigadi!! Menantangmu, Rudeus Sang Quagmire, dan....”

“Aku Alex Ryback!! Dewa Utara Kalman II!! Aku menantang Raja Iblis Abadi Badigadi untuk berduel!! Atas nama besar keluarga iblis abadi, terimalah tantanganku!!”

Badigadi terhenti.

Kemudian memandang Gisu dengan kebingungan.

"Mmmh ...... sebenarnya aku lebih ingin menantang Rudeus, sih...”

"Kalau begitu tolak saja, tidak masalah kan....”

"Tidak bisa begitu. Aku Raja Iblis Abadi, sejak jaman dahulu kala sudah bersumpah akan menerima tantangan siapapun.”

Gisu tertegun.

Aku tidak tahu sejak kapan mereka berteman, tapi sepertinya keduanya sudah begitu akrab.

Bahkan aku tidak seakrab itu dengan Atofe.

"Rudeus-dono."

Lalu, Sandor berbisik padaku.

“Aku akan coba menahannya. Kau cepatlah memanggil bantuan. Lalu, kita serang balik mereka.”

"Apakah kau yakin bisa menahannya, Sandor-san?"

"Mungkin aku tidak akan selamat.”

Saat mendengar itu, dadaku sesak.

Aku tidak bisa langsung menjawabnya.

Tapi, aku pun mengangguk.

Sekarang aku tidak mengenakan apapun selain pakaian.

Meskipun dengan memakai Magic Armor, aku tidak yakin bisa mengalahkannya.

Magic Armor dibuat berdasarkan armor emas Dewa Tempur. Bagaimana bisa aku melawan prototypenya?

Peluang menang kami tipis.

Dalam kondisi seperti ini, aku hanya akan menjadi penghalang jika ikut bertarung.

"Baiklah..... kumohon jangan mati.”

Aku mengatakan itu, lalu berlari menjauh.

Aku terus berlari menjauh, sembari mendengar bunyi dentangan senjata yang saling berbenturan di belakangku.

T & J penulis[edit]

T : Lambang keluarga Migurdia muncul di patung Tujuh Kekuatan Dunia. Jadi, jika ada orang yang ingin menantang Rudeus, dia mungkin akan pergi ke Desa Migurdia, kan?

J : Ya mungkin saja.

T : Kishirika dikenal sebagai rajanya mata iblis. Apakah mata iblis pemberian Kishirika bisa menjadi sangat kuat setelah penggunanya berlatih keras?

J : Ya mungkin saja. Jika penggunanya memiliki Mana yang besar, itu bisa saja terjadi.

T : Mengapa Rudeus tidak bisa melihat Badigadi saat menggunakan mata iblis penerawang?

J : Ada sesuatu pada diri Badigadi yang tidak bisa dideteksi oleh mata iblis.

T : Aku masih penasaran dengan teknik gravitasi kontrol Aleksander. Apakah teknik itu terlihat seperti para pendekar Kung-fu yang beterbangan di udara seperti film-film laga Hong-Kong?

J : Pokoknya, dia bisa mengendalikan gerak tubuhnya dengan bebas di udara. Jika kau sulit membayangkannya, tonton saja game Arcana Hearts.

T : Gisu terlihat sedang memakai jubah yang aneh. Apakah jubah itu alat sihir yang membuatnya bisa bernapas di dalam laut?

J : Sebenarnya, jubah itu adalah alat sihir yang menghalangi penglihatan mata iblis. Badigadi juga mengenakan jubah sihir yang membuatnya tidak tenggelam, sehingga bisa berjalan di lautan.

T : Andaikan saja Sandor mau menerima Kajakuto, mungkin dia bisa menahan Badigadi lebih lama.

J : Aku tak yakin Sandor mau menggunakan pedang itu lagi, tak peduli siapapun lawan yang dihadapinya.

T : Kalau tidak salah, Rudi pernah memasukkan pedang peninggalan Paul pada lengan kiri Magic Armor. Apakah senjata itu masih di sana?

J : Ya, masih kok.