Railgun SS2: Shopping Mall Demonstration

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Ilustrasi[edit]

Chapter 1[edit]

Part 1[edit]


Ini dimulai pada tanggal 1 Juli.


"Suatu demonstrasi?" tanya adik kelasnya, Shirai Kuroko, melalui telepon.


Misaka Mikoto mengenakan pakaian musim panasnya yang biasa, sembari ia menjawab panggilan telepon di telinganya.


"Ya. Mereka mengatakan bahwa salah satu dari tujuh Level 5 Academy City adalah orang yang paling mudah untuk dipahami. Dan juga, kekuatanku paling cocok untuk menjelaskan kekuatan milik ketujuh level 5 lainnya. Itulah sebabnya aku harus pergi ke suatu organisasi koperasi, dan melaksanakan pertunjukan berskala besar.”


Pada kenyataannya, kekuatan yang jelas-jelas melebihi fenomena fisik normal seperti teleportasi milik Shirai Kuroko, akan lebih mudah untuk dimengerti oleh orang lain. Tetapi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana kekuatan seorang esper bekerja, ingin melihat esper dari "kelompok terkuat".


Apakah dia mengerti itu atau tidak, Shirai Kuroko pun berbicara.


"Oh, Onee-sama!! Jadi pada dasarnya, kau akan dipaksa naik di atas panggung untuk mempertunjukkan beberapa jenis ‘pameran manusia rahasia’!? Betapa kurang ajar! Maafkan aku Onee-sama, aku sudah lalai sebagai seorang pendampingmu! Ah! Ini belum terlambat. Aku bisa bergegas ke sisimu dan menyelamatkanmu di saat yang tepat ketika kau dipaksa untuk melakukan pertunjukan telanjang!!”


"Aku akan mengabaikan ocehanmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak akan kembali selama seminggu.”


"S-seminggu penuh!? Tanpa adanya istirahat!? Itu terlalu berlebihan untuk seukuran hal-hal erotis!! Itu bukanlah sejenis lari maraton yang bisa kau lalui hanya dengan mengandalkan semangat jiwa muda!!”


"Diam. Aku sendiri juga tidak ingin berlama-lama dengan kegiatan sekolah kekanak-kanakan ini. Oh iya Kuroko, aku benar-benar tidak berharap kau datang kali ini, tidak peduli apa yang kau katakan.”


"Onee-sama, mohon jangan meremehkan kekuatanku. Jika aku ingin, aku bahkan bisa menyelinap ke dalam tempat perlindungan nuklir sekalipun.”


"Ya, tapi aku masih tidak berpikir kau bisa melakukannya."


Mikoto melirik tanda jalan.


Namun, itu tidak tertulis dalam bahasa Jepang. Itu tertulis dalam huruf Cyrillic*.

[Cyrillic adalah alfabet digunakan oleh kebanyakan orang Slavia, yaitu mereka yang menunjukkan kesetian pada Gereja Ortodoks. Sekarang, huruf model ini banyak digunakan di Rusia dan Bulgaria. Kamus Oxford.]

"Bahkan kau tidak akan bisa menyeberang Laut Jepang untuk sampai ke Rusia."



Part 2[edit]


Beberapa orang mungkin akan iri jika mereka diberitahu bahwa Mikoto sedang menuju ke Rusia Timur untuk acara sekolah. Mereka mungkin akan mengeluh tentang perlakuan tidak adil ketika diberitahu bahwa hanya Mikoto lah yang boleh pergi. Sedangkan teman-teman sekelasnya hanya bisa terjebak dengan pelajaran normal di sekolah.


Namun, Misaka Mikoto hanya bisa merasa sedih.


Sederhananya, baginya itu tidak menyenangkan.


Yang pertama dan terpenting, study tour memiliki tujuan yang jelas. Dan tujuan tersebut semata-mata untuk kepentingan sekolah. Artinya, ini semua bukanlah untuk kesenangan Mikoto.


Tidak hanya kehilangan kebebasannya, tapi dia juga tidak punya teman sesama pelajar, sehingga dia tidak bisa berbagi cerita tentang baik-buruknya perjalanan tersebut.


Tidak mungkin baginya untuk menikmati study tour ini.


Suatu study tour dengan kelompok besar bisa menyenangkan, dan study tour sendirian dengan kebebasan penuh juga bisa menyenangkan. Tapi tidak baginya.


(Suatu demonstrasi, hm?)


Mikoto mengingat apa yang pengawas asrama menakutkan telah katakan sebelum dia tiba di Rusia.


Study tour ini adalah bagian dari rencana untuk memperkuat koneksi Academy City dengan lembaga koperasi. Dengan kata lain, resiko retaknya hubungan antara kedua belah pihak bisa muncul, jika dia gagal.


Tampaknya, perbedaan pada tingkat teknologi adalah hal yang mendasari ini semua. Ada perbedaan sekitar 20 atau 30 tahun antara teknologi Academy City dan negara-negara lain di seluruh dunia. Lembaga koperasi menerima manfaat tertentu darinya, tapi Academy City tidak sepenuhnya melepaskan informasi mereka begitu saja. Itu adalah konsekuensi dari bocornya informasi, tetapi lembaga koperasi sangat tidak menyukainya.


(Sebagai inti acara, mereka akan mempertunjukkan demonstrasi dari salah satu Level 5. Tujuannya adalah untuk menekankan bahwa kami tidak menyembunyikan apa-apa.)


Tentu saja, tidak ada sesuatu pun pada tubuh Mikoto yang benar-benar akan dianalisis.


Itu tidak lebih dari suatu acara untuk “memperlunak” kesan yang selama ini dimiliki oleh Academy City. Itu hanyalah trik agar seakan-akan mereka tidak menyembunyikan apa-apa. Informasi yang akurat tentang tujuh Level 5 Academy City tidak akan diserahkan begitu mudah.


Nilai Misaka Mikoto sebagai “Level 5 hidup” lebih besar daripada segelintir informasi yang kompleks.


(... Aku diperlakukan seperti laba-laba yang besar dan langka.)


Mikoto kemudian melihat seseorang mendekatinya.


Itu pemandu lokal.


"Oh, halo! Selamat datang, selamat datang!!”


Seorang wanita tinggi mendekati Mikoto sembari berbicara dengan suara ceria. Dia memiliki rambut pirang, tubuh langsing, kulit putih dan halus. Dia lebih tinggi dari Mikoto dan tampaknya usianya setara dengan seorang mahasiswi.


"Namaku adalah Setali S Skinikia, seorang petugas keamanan. Sebagai anggota salah satu lembaga koperasi Academy City, aku merasa terhormat untuk menemui Level 5 #3.”


Tiba-tiba, dia begitu saja menjabat tangan Mikoto tanpa izin, dan memeluknya. Andaikan saja wanira ini adalah Shirai Kuroko, Mikoto pasti sudah melepaskan arus tegangan tinggi padanya. Tapi dia tidak yakin harus bereaksi seperti itu ketika pertama kali bertemu dengan seseorang.


"Oh, aku sungguh tidak percaya bahwa salah satu dari ketujuh Level 5 akan datang ke sini sendirian ..."


"Ini adalah demonstrasi untuk menunjukkan kepercayaan kami. Jadi, semuanya tidak akan berarti jika aku dikelilingi oleh banyak pengawal, bukankah begitu?”


Mikoto menggunakan kedua tangannya dengan lembut untuk menjauhkan si pemandu, dan Setali tertawa secara misterius.


"Nya ha ha! Aku mendengar bahwa kau sudah check-in, jadi aku menduga kau kini sedang melihat-lihat pemandangan kota. Apa yang kamu pikirkan? Teknologi kami memang tidak setara pada tingkat Academy City, tapi aku masih berpikir bahwa ini adalah suatu kota yang cukup khas.”


"Apakah kau keberatan jika aku berbicara terus terang?"


"Tentu saja tidak."


"Itu ‘melukai’ mataku."


"Nya ha ha," Setali tertawa lagi ketika Mikoto menjawab dengan jujur, dan menunjuk pada sisi bangunan.


Bangunan ini tidak dicat dengan warna yang menenangkan pemandangan.


Bahkan, bangunan di kota itu tidak dicat sama sekali.


"Ini disebut AR semipublic," kata Setali sambil mengetuk kakinya pada jalan setapak di bawah kakinya. Jalan setapak memiliki kesan yang identik dengan gedung-gedung di sekitarnya.


"Sederhananya, semua jalan, dinding, dan tanda-tanda di kota telah dibuat menjadi monitor raksasa. Banyak layanan berbeda yang ditawarkan kepada orang-orang berjalan di kota. Mereka bisa menyaksikan berbagai ‘potongan’ informasi yang mereka inginkan sembari melihat pemandangan.”


Bahkan kemudian, dinding-dinding datar pada bangunan tersebut memiliki berbagai potongan informasi “berjalan”, dan banyak anak panah yang bergerak di trotoar. Rentetan anak panah itu tampaknya menampilkan informasi agar setiap orang dapat berjalan dengan lancar.


Tujuan umumnya adalah mengubah pemandangan kota dan daerah sekitar menjadi “touchscreen raksasa”. Itu adalah ide cerdas yang telah diterapkan pada bangunan, pilar, dan struktur-struktur lainnya. Bangunan tersaji dalam berbagai bentuk, beberapa datar dan beberapa melengkung, tapi tidak satupun dari struktur-struktur tersebut menampilkan hal yang “berbeda” dengan adanya lekukan atau tonjolan. Semua bangunan tampak halus.


"AR yang merupakan singkatan dari Augmented Reality* digunakan pada layar ponsel dan PDA, kan? Bukankah itu yang kau lihat melalui kamera? Dan juga ada beberapa informasi tambahan yang ditampilkan pada pemandangan? Aku pernah mendengar tentang penggunaannya pada perangkat lunak pengenalan wajah, untuk membuat label virtual.”

[Realitas tertambah, atau kadang dikenal dengan singkatan bahasa Inggrisnya AR (augmented reality), adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, realitas tertambah sekedar menambahkan atau melengkapi kenyataan. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]

"Cara menggunakannya cukuplah mudah, tetapi ketika kau tidak dapat mendeteksi tanpa menggunakan alat khusus, kau hanya akan berakhir dengan masalah seperti ‘orang yang punggungnya ditempeli label-label aneh’. Itu sebabnya kami mengembangkan AR 'semi-public'. Meskipun begitu, teknologi yang kami gunakan adalah hasil pinjaman dari Academy City.”


Ketika ia memikirkan hal itu, Mikoto ingat bahwa area olahraga SMP Tokiwadai memiliki sistem serupa. Yaitu sistem yang menunjukkan tanda-tanda untuk secara otomatis menampilkan informasi mengenai pertandingan yang sedang berlangsung. Dia juga pernah mendengar bahwa beberapa pemandian umum memiliki dinding yang telah dibuat menjadi monitor raksasa.


Mikoto melihat sekeliling dengan santai.


"Tapi, bukankah orang-orang tidak suka melihat informasi yang orang lain besar-besarkan?"


"Nya ha ha. Gambarnya dibuat sedemikian rupa sehingga terfokus hanya untuk pengguna. Artinya, gambar ini dibuat kabur sehingga orang lain sulit untuk mengenalinya. ‘Kerahasiaan’ informasi dapat diatur oleh tiap individu.”


Pada dasarnya, dinding bangunan, jalan, tanda-tanda, pilar, dan semua struktur lainnya yang membentuk pemandangan berfungsi sebagai “monitor”. Setiap pribadi bisa mendapatkan “informasi” untuk mereka masing-masing.


Perbedaan dari layar elektronik normal adalah, setiap orang bisa melihat informasi-informasi “berbeda” yang ditampilkan padanya. Bisa jadi, orang-orang melihat tanda yang sama, tapi masing-masing orang bisa “menafsirkan” informasi berbeda pada tanda tersebut.


Teknologi itu tidak terlihat di Academy City, tetapi menurut penjelasan Setali, Academy City telah memberikan dukungan pada penciptaannya.


Mungkin, Academy City menggunakan kota itu sebagai “uji coba” berskala luas sebelum digunakan secara nyata.


"... Itu tampaknya tidak sesuai dengan keunggulan menjadi 'semipublic' yang kau sebutkan sebelumnya.”


"Membuat lingkungan di mana berbagai hal bisa dengan mudah diperiksa oleh pihak ketiga, adalah suatu jenis ‘pencegahan’. Meskipun begitu, bukan berarti semua jenis AR bisa diperiksa dengan normal.”


"Hmm," jawab Mikoto setengah hati.


AR tampaknya tidak dioperasikan oleh setiap jenis perangkat eksklusif. Mikoto mengarahkan pandangannya secara acak ke bawah, yaitu pada jalan setapak yang diinjaknya.


Dengan bunyi dengungan elektronik, gambar Mikoto mengenakan pakaian dalam yang terbuat sutra muncul di jalan.


"Bfh!?" Mikoto mulai batuk. ”Uhuk.....uhuk!! A-Apa-apaan ini!?”


"Ada apa?"


"Tidak, um, i-ini ... pakaian dalam ... Suatu iklan untuk toko pakaian sepertinya telah muncul."


"Hm? Nya ha ha. Apakah kau ‘tertangkap’ oleh perubahan otomatis?”


"T-tunggu, ini bukan lelucon! Apakah hal seperti ini biasanya ditampilkan di tengah-tengah jalan umum!? Singkirkan itu! Singkirkan itu! Bagaimana cara menyingkirkan itu!?”


"Jangan khawatir. Ini seperti yang sudah aku katakan. Layar elektronik seperti ini sudah diatur untuk ‘terisolasi’ pada AR semipublic level tinggi. Orang lain tidak bisa melihatnya. Yang bisa aku lihat hanyalah beberapa iklan lain.”


"Apakah begitu? ... Tidak, tunggu. Sebelum kau menjelaskannya, beritahu aku bagaimana cara untuk menggunakan benda ini !! Bahkan jika orang lain tidak bisa melihatnya, itu masihlah memalukan!!”


"Kulit, rambut, dan warna matamu diambil dari foto kartu ID yang telah kau ambil ketika memasuki kota. Sisanya hanya gambar yang diprediksi berdasarkan pakaian yang kau kenakan. Jadi, ukuran payudara sebenarnya sedikit berbeda dari kenyataan, iya kan? Jika kita ingin, kita bisa mendapatkan pengukuran yang akurat, tapi orang-orang memiliki hak untuk privasi mereka sendiri. Kami hanya bisa menampilkan gambar sebatas estimasi yang layak.”


"Aku tidak bertanya tentang itu!! Dan kau tidak perlu melakukan semua itu! Bukanlah salahku jika ‘ukuran’-ku yang sebenarnya lebih kecil dari ini!! Dan bagaimana kau bisa 100% yakin bahwa benda ini benar-benar AR semipublic!? Apakah ada yang menjamin bahwa tak ada orang lain yang melihat ini?”


"Nya ha ha. Nah, kau tahu, jika aku menempelkan wajahku pada pipimu seperti ini, sehingga ketinggian dan jarak mata kita berdua adalah sama, maka aku benar-benar bisa melihat gambar yang dibuat ‘kabur’ tersebut.”


"Jadi kau dapat melihat semuanya!? Beritahu aku bagaimana caranya menyingkirkan AR ini sekarang juga, atau aku akan meledakkan ‘jalan ber-monitor’ ini!!”


Mikoto memerah dengan cepat ketika Setali mengajarkan cara menggunakannya. Dia kemudian berhasil mendapatkan windows-touch-keyboard pada permukaan jendela di dekatnya. Dia menggunakan jarinya untuk sesegera mungkin beralih ke mode, di mana ia menolak setiap iklan elektronik yang tidak perlu.


"AR semipublic dapat sedikit merepotkan, tapi kau harus bisa menggunakan untuk itu sementara, selama kau berada di sini. Lampu lalu lintas, tanda-tanda, dan sinyal penyeberangan... semua display menggunakan teknologi ini.”


Setali melirik dinding bangunan untuk memeriksa beberapa informasi.


"Apakah kau memiliki pertanyaan lagi?"


"Y-Yahh ...." Mikoto menghela napas.”Ini adalah suatu tempat yang diciptakan oleh pusat perbelanjaan terbesar di dunia untuk menjadi kota luas, dan kau tidak bisa dengan mudah terbiasa di sini.”


"Nya ha ha."


Saat ia tertawa, Setali mulai berjalan lagi dengan perlahan. Mungkin dia telah dijadwalkan untuk berada pada suatu tempat. Mikoto pun mengikutinya.


"Daerah ini masihlah normal. Daerah dengan fasilitas untuk pengunjung seperti hotel dan toko-bebas-cukai merupakan kumpulan bangunan normal, tetapi fasilitas bisnis utama memiliki konstruksi yang sangat besar.”


"... Jadi itu seperti gym yang cukup besar untuk menutupi seluruh bagian kota?"


"Pada awalnya, ini adalah fasilitas ‘percobaan’ untuk menguji efek ekonomi. Dulunya ini adalah semacam pameran dagang untuk ‘uji coba produk’. Namun, segala macam benda yang penting diletakkan di dalamnya, sehingga diperlukan area yang jelas-jelas lebih besar. Rencananya, akan diperlukan suatu area yang melebihi luas 650 stadion berkubah, sehingga diputuskan bahwa akan lebih mudah jika kami membentuk suatu kota utuh.”


"Jadi itulah mengapa kota ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah Rusia Timur, hm?"


"Ada banyak perbedaan pendapat tentang di mana tempat yang pantas untuk membangun kota ini. Bagaimanapun juga, ini adalah kota berskala besar untuk institusi bisnis. Kau tidak bisa meremehkan efek ekonomi yang akan berdampak pada daerah sekitarnya. Tidak peduli seberapa suksesnya, jika semua pendapatan terfokus hanya pada satu titik, toko-toko kecil di daerah sekitarnya tidak akan dapat bertahan hidup. Kota ini ditolak di berbagai tempat sampai akhirnya berdiri di sini.”


Setali membuka window di dinding yang telah disesuaikan, sehingga Mikoto bisa melihatnya. Window itu meluncur bersama mereka sembari berjalan. Suatu peta Rusia ditampilkan pada window tersebut.


"Karena tempat kita berada saat ini, kita perlu kereta api eksklusif, jalan raya, bandara, dan hotel bagi pengunjung. Itu hanya semakin meningkatkan lahan yang kami butuhkan.”


Dengan kata lain, mereka secara teratur mendapatkan cukup pengunjung untuk sumber pendapatan, sehingga fasilitas-fasilitas lain semakin berkembang. Mikoto meragukan siapa pun akan melakukan perjalanan puluhan atau bahkan ratusan kilometer untuk membeli barang setiap hari, sehingga pusat perbelanjaan itu harus difungsikan sama seperti suatu “taman hiburan”.


Hanya berjalan melalui fasilitas-fasilitas di tempat itu, sama saja seperti bertamasya.


Bahkan stan-stan makanan di sudut jalan punya banyak pilihan dan kuantitas, dan itu bukanlah suatu pemandangan yang bisa ditemui pada kehidupan sehari-hari.


"... Jadi, aku kira itu adalah suatu fasilitas window shopping* terbesar di dunia."

[Window shopping artinya melihat-lihat, baik melihat barang-barang yang di toko maupun di tempat lain. Jalan-jalan di mall sambil melihat-lihat barang di balik etalase (window shopping) merupakan salah satu bentuk rekreasi. Orang yang melakukan cuci mata di pertokoan mungkin merasa senang hanya dengan membayangkan membeli barang-barang di balik etalase, atau menjadi tertarik untuk membelinya di kemudian hari. http://dedenkurniawan2403.blogspot.com/2012/10/pengertian-window-shopping.html]

"Benar. Ini adalah pusat perbelanjaan yang sangat besar, dan apa pun yang kau inginkan ada di sini. Sehingga, ada banyak barang yang biasanya tidak akan kau lihat, seperti alat profesional industri yang tidak pernah kau temui sebelumnya. Melihat tempat yang dipenuhi oleh benda-benda langka seperti ini mungkin akan terasa seperti fantasi untuk beberapa orang.”


Setali memperbesar window yang ditampilkan untuk memperjelas daftar umum daerah dalam kota.


Denah dasar kota itu dibagi menjadi dua blok. Satu blok berisi kebutuhan sehari-hari, dan yang lain memiliki hiburan serta barang-barang berharga. Transportasi dan fasilitas penginapan seperti bandara, stasiun, terminal, dan hotel terfokus di sekitar daerah tepi luar kota.


Bangunan hotel, toko-toko bebas cukai, dan tempat-tempat lain yang berbaris, tampak mengelilingi fasilitas bisnis utama yang besar.


Beberapa titik cahaya di peta pasti merupakan daerah berisi produk-produk khusus kelas tinggi yang Setali telah sebutkan.


Tidak seperti pada tempat-tempat wisata di Jepang, tanda-tanda tidak menampilkan hal yang berbeda dalam berbagai bahasa. Semua tanda tertulis dalam bahasa Rusia. Kemungkinan tanda-tanda tersebut bisa diatur agar menjadi bahasa lain melalui AR semipublic, tapi Mikoto merasa ada “hal lain” di balik ini semua.


"Tapi para pengunjung melakukan perjalanan jauh untuk sampai ke sini, sehingga pada akhirnya mereka cenderung melampaui window shopping. Mereka tampaknya berpikir bahwa mereka harus membeli sesuatu karena sudah susah payah datang ke sini. Bahkan, bandara mengangkut lebih banyak paket daripada penumpang itu sendiri.”


"Jika para bos channel berbelanja atau toko diskon mendengar itu, mereka mungkin akan panik dan mencoba untuk menganalisis sistem yang kau punyai.”


"Yah, kota ini ada untuk penelitian hal semacam itu. Uang adalah nomor 1!” Setali berteriak dengan suara yang terkesan “kotor”. ”Pernahkah kau memperhatikan bagaimana bisa ada beberapa departemen store di jalan yang sama, tapi benda-benda yang mereka jual dan tidak mereka jual, berbeda? Itu terjadi bahkan pada selang jarak beberapa ratus meter di antara departemen-departemen store tersebut. Dua ‘rantai’ supermarket yang identik eksis pada jarak beberapa puluh meter satu sama lain, tapi entah kenapa, salah satunya akan menjual lebih banyak daripada yang lain. Mengobral berbagai barang dagangan dapat membuat seseorang berpikir bahwa barang itu "murahan", sehingga tidak ada yang mau membelinya. Jika kau menempatkan aksesoris baru dan menggunakannya secara bersampingan, barang baru akan terjual lebih baik meskipun memiliki harga yang lebih tinggi. ... Nah, ada banyak hal seperti ini untuk strategi perdagangan. Ada sesuatu yang bisa mengubah seberapa baik penjualan suatu barang, dan itu dipergunakan untuk mengukur apakah barang tersebut memiliki prospek penjualan yang layak ataukah tidak. Kota ini bertujuan untuk benar-benar meneliti efek psikologis yang berkaitan dengan uang. Pelanggan dengan senang hati membeli barang-barang. Terdapat suatu data yang digunakan untuk memprediksi lingkungan macam apa yang membuat para pelanggan merasa nyaman, kemudian berkumpul pada suatu tempat dengan mudah. Data itu juga bisa memperhitungkan lingkungan macam apa yang memiliki efek sebaliknya.”


Ini adalah konsep yang sederhana untuk dipahami, karena kota ini memiliki tujuan sederhana.


Dengan menarik sejumlah besar pengunjung layaknya taman hiburan terkenal di dunia, mereka sanggup mendapatkan hasil yang lebih baik untuk penelitian.


Kota ini harus memikirkan berbagai cara cerdik untuk mendapatkan pelanggan melewati window shopping, untuk benar-benar membeli sesuatu. Jika kau tidak berhati-hati, kamar hotelmu bisa berakhir dengan dipenuhi oleh souvenir yang aneh.


Mikoto menghela napas.


"Jadi, aku harus melakukan demonstrasi di sini."


"Ya."


"(... Yah, tidaklah buruk menjadi wakil dari Academy City, tapi dipaksa untuk melakukan hal seperti ini untuk kenyamanan orang dewasa sungguhlah merepotkan.)"


"(... Yah, menurut catatan yang kami terima dari Academy City, gadis ini adalah yang paling normal. Dia memiliki pemahaman paling mudah tentang kekuatan psikis, bahkan kau bisa memahaminya hanya dengan melihatnya saja. Dia juga memiliki kepribadian paling masuk akal. ... Level 5 lainnya pasti hanya akan merusak ini semua.) "


Mikoto dan Setali sama-sama bergumam pada diri mereka sendiri.


Akhirnya, Setali mengubah topik pembicaraan.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, ada masalah mengenai ‘tekanan’ antara toko-toko kecil dan fasilitas perbelanjaan lebih besar dan lebih maju seperti yang satu ini. Mencari solusi untuk masalah ini merupakan salah satu tema dari penelitian kami. ... Kami cukup sedikit berurusan dengan Academy City. Kami hanya dapat menerima teknologi ‘turunan’, tapi kualitasnya masih lebih baik daripada teknologi mana pun. Menemukan cara untuk mengurangi ‘gesekan’ antara Academy City dan sekitarnya, adalah suatu nilai yang lebih daripada sekedar efek ekonomi biasa.” Setali mengangkat bahu dengan ringan. ”Tapi selain itu, secara mengherankan, tempat ini mirip dengan kota pada umumnya. Aku bekerja sebagai ‘petugas keamanan’, tapi aku berurusan dengan banyak ‘benda temuan’ atau anak-anak hilang, dan aku jarang sekali menghadapi insiden yang benar-benar nyata. Bahkan ada beberapa legenda urban.”


"Legenda urban?"


"Nya ha ha. Ada banyak legenda urban. Akhir-akhir ini, ada suatu legenda tentang 'jeruk yang sangat berharga'.”


"?"



Part 3[edit]


Saten Ruiko adalah seorang gadis SMP yang sangat mencintai rumor dan legenda urban.


Dan juga, dia adalah tipe orang yang mengejar rumor dengan cara yang benar-benar buruk, sehingga akan membuat jengkel orang-orang jenis PTA*.

[PTA adalah sebuah singkatan dari kosa kata bahasa Inggris : "Parent and Teacher Association". Di Jepang dari sekolah SD sampai SMA, orang tua murid wajib untuk menjadi anggota PTA ini. Biasanya setiap kelas harus memilih 3 orang orangtua murid sebagai pengurus PTA ini. Jadi prakteknya, wakil2 dari kelas ini berkumpul bersama dengan pihak sekolah untuk membuat kegiatan bersama yang mendukung pendidikan anak di sekolah. Dari pihak sekolah ditunjuk beberapa guru sebagai wakil untuk kegiatan PTA ini. Sesuai dengan namanya PTA maka kegiatan ini dimotori oleh orang tua dan guru. Maksud utama PTA adalah mengadakan kegiatan yang tidak diajarkan dalam kelas atau tidak ada dalam kurikulum resmi mata pelajaran. http://www.kompasiana.com/.]

"Uiharuuu. Apakah kau sedang disibukkan oleh urusan Judgment lagi? Kau sungguh bersemangat pada pekerjaan-tanpa-gaji.”


Dia menelepon seorang gadis bernama Uiharu Kazari. Ciri khas gadis kecil ini adalah sejumlah besar hiasan bunga yang terpasang di kepalanya, dan dia kini tengah “berjuang” dengan PDA*-nya untuk membuat semacam dokumen.

[PDA adalah singkatan dari Personal Digital Assistant, yaitu sejenis komputer seukuran telapak tangan. Kamus Oxford.]

"Saten-san, kau juga sama saja. Kau selalu mengejar-ngejar rumor walaupun tidak pernah dibayar."


"Tapi itu adalah hobiku. Jika orang lain menyuruhmu untuk melakukannya, aku yakin bahwa aku tidak akan mau,” kata Saten secara sepihak, untuk menepis komentar dari Uiharu. ”Dokumen membosankan itu bukanlah masalah, jadi, datanglah pada Saten-oneechan. Lantas, kita bisa pergi untuk mengejar rumor tentang jeruk yang sangat berharga.”


"... Rumor macam apa itu? Nama itu jelas-jelas memiliki makna tersembunyi di baliknya.”


"Dengar, Uiharu!! Seorang pelancong sedang melakukan perjalanan ke luar negeri ketika ia menemukan toko suvenir di negara tertentu, yang menjual jeruk sangat berharga!! Konon katanya, jika kau memiliki jeruk ini, kau akan mendapatkan suatu nilai yang sangat berharga!!”


Ekspresi Uiharu seakan-akan hendak mengatakan "mulai lagi....mulai lagi", dan Uiharu pun terus bekerja pada PDA-nya tanpa mendongak.


Saten terus berbicara tanpa peduli.


"Jadi, si pelancong yang membeli jeruk berpikir bahwa itu adalah jimat keberuntungan atau sesuatu semacamnya, tapi ketika ia pulang dan memasukkannya ke dalam rumah, jeruk itu mulai menggeliat.”


"..."


"Si pelancong itu penasaran, jadi dia menghubungi website souvenir shop secara online, dan mengirimkan email agar mereka memeriksanya. Balasan email mengatakan bahwa jeruk itu memiliki lebih dari 100 butir telur. Itu adalah telur-telur dari jenis semut tentara berkaki merah panjang. Dikatakan bahwa, jumlahnya secara alami akan meningkat karena mereka hendak menetas. ... Ketika si pelancong membaca email, jeruk itu pun terbuka!”


"Gyaaahhh !! Itu menyeramkan! Kau benar-benar mencintai cerita- cerita yang mengerikan, Saten-san !!”


"Ternyata, semut-semut tentara berkaki merah panjang itu menyukai lingkungan Jepang yang basah dan lembab. Tampaknya mereka diam-diam menyebarkan daerah peternakan, dan jika mereka tidak cepat ditemukan dan dimusnahkan, pulau-pulau utama di seluruh Jepang akan terkubur oleh kawanan tentara semut raksasa ...”


"Hentikan mengatakan hal semacam itu !! I-ityu hanya rumor !! Jyadi, aku tidak perlu khawatir!!”


"Uiharu, bunga-bunga di kepalamu terlihat seperti akan menarik kumbang. Kumbang dengan enam kaki besar seperti ini.”


"Gyaaahhhhh !!"



Part 4[edit]


Wajah Mikoto sedikit memucat setelah diberitahu kisah tentang jeruk yang sangat berharga oleh Setali. Meskipun dia tahu bahwa itu hanyalah rumor, itu masih menyeramkan.


"Nya ha," Setali tertawa dengan caranya yang khas. ”Ini adalah perluasan ide tentang spesies penjajah yang menghancurkan ekosistem tanah. Bagian cerita di mana kita harus cepat menemukan mereka, dan memusnahkannya adalah pesan yang mengancam secara stereotip. Cerita tersebut hanya menyebar melalui kota ini, karena daerah ini adalah pusat perbelanjaan di mana kau bisa membeli berbagai benda. Setelah kau mengetahui dasar dari suatu legenda urban, tiba-tiba keseraman cerita itu memudar dengan seketika.”


"Bagaimanapun juga, itu bukanlah suatu cerita yang sangat bahagia," kata Mikoto sambil menghela napas.


Setali tampaknya menyadari bahwa Mikoto tidak tertarik, jadi dia menyentuh dinding terdekat untuk mengubah topik pembicaraan. Dia tampaknya menggunakan jari-jari untuk mencari sesuatu pada AR, dan suatu laporan pun muncul di layar.


"Mari kita lihat, bagaimana kalau kita bicara tentang jadwalmu. Jadwalmu, posting keamanan, progres demonstrasi, dan hal-hal lain yang semuanya disimpan pada database online. Kau dapat melihat hal-hal itu setiap saat dengan menggunakan ID tamu milikmu, dan password pribadi yang telah kau pasang ketika pertama kali memasuki kota.”


"Jadi event demonstrasi yang sebenarnya akan diadakan di hari ketiga, dan keempat. Gladi resiknya akan diadakan pada hari kedua.”


"Ngomong-ngomong, demonstrasi pertama adalah untuk pers, dan yang kedua adalah untuk masyarakat umum. Apa yang akan kau lakukan di hari kedua demonstrasi adalah sama saja. ... Apakah orang-orang itu tidak akan menjadi masalah bagi keamanannmu?”


"Bahkan jika mereka jadi masalah bagiku, bukankah aku tidak bisa mengatakan ‘tidak’?"


Tujuan demonstrasi adalah untuk mengurangi “gesekan” antara Academy City dan lembaga koperasi, mengenai tingkat teknologi yang bisa “dibagi” padanya. Jika ada banyak personel Academy City yang dikerahkan untuk mendampingi Mikoto, seolah-olah pihak Academy City tidak mengijinkan orang-orang untuk menyentuh esper-nya, dan itu sama sekali tidak mengurangi “gesekan” tersebut.


Itulah sebabnya tidak ada orang dewasa dari Academy City, seperti manajer asrama, yang menemani Mikoto.


Tentu saja, orang dewasa dari Academy City mungkin sudah sangat gugup terhadap semua ini. Bagaimanapun juga, akan menjadi masalah besar jika Academy City #3 diculik, dirugikan, atau peta DNA-nya dicuri. Akan menjadi suatu kehilangan besar jika “sumber daya hidup” dari Academy City dicuri. Itu bisa menimbulkan efek berkepanjangan pada hubungan internasional antara Academy City dan lembaga koperasi.


Sebagai buktinya, hal-hal berikut ini terjadi ketika Mikoto menuju kembali ke hotel, dan dia hendak berpisah dengan Setali.


"Jadi, apa jadwalku saat ini?"


"Tidak ada. Kau tidak boleh meninggalkan kamarmu sampai besok. Academy City meminta kami agar memastikan bahwa kau menahan diri dari mengambil tindakan apapun. Dan kau tidak diperbolehkan bertindak sesuka hatimu. Jika kau menyentuh dinding atau lantai untuk mencari beberapa informasi, aku pikir itu hanya akan membuat Academy City mengirimkan beberapa dokumen.”


"Serius?"


"Aku pikir, kau lebih paham detailnya ketika kita membicarakan kata: ‘Academy City’.”


"Um ... Aku sudah datang jauh-jauh ke daerah wisata ini, jadi, tadinya aku berpikir untuk melihat-lihat sekeliling.”


"Nya ha ha. Akan ada beberapa penjaga yang ditempatkan di depan ruanganmu, dan aku juga memiliki tanggung jawab atasmu. Aku mohon kau menahan diri untuk pergi keluar, dan bersenang-senang malam ini.”


Demikianlah yang terjadi, Mikoto pun dikawal kembali ke hotel kelas tinggi, dan “dilemparkan” pada ruangannya di lantai 20. Sebelum menutup pintu utama kamar hotel, Setali mengintip melalui celah.


"Fasilitas kami mungkin tidak sebagus Academy City, tapi penjaga kami cukup terampil, jadi jangan mencoba untuk melakukan apapun.”


"Ya, ya, aku mengerti."


Pintu terkunci dengan suara *klik*. Sangat jelas bahwa Mikoto sedang “dipenjara” sekarang. Tidak ada jalan keluar lain dari ruangan itu, pintu masuk pada saluran ventilasi terlalu kecil bagi manusia untuk dilewati. Satu-satunya “jalan keluar” baginya adalah terjun bebas ke luar jendela dari lantai 20.


"Vahh."


Mikoto menghela napas, dan dia pun ditinggalkan sendirian sekarang.


Dia membenamkan wajahnya di atas tempat tidur.


Ini semua sungguh merepotkan dan membosankan.


Bukannya dia tidak ingin melakukan demonstrasi itu. Dia juga tidak mengeluh tentang perjalanan ke Rusia. Namun, dia benar-benar terikat oleh jadwal setiap saat. Itu semua dia lakukan hanya untuk kepentingan orang-orang dewasa tersebut. Jika saja dia tidak memiliki satu menit pun waktu luang, dia masih bisa mentoleransinya. Tapi kini dia sedang disegel, padahal saat ini adalah waktu luang karena jadwalnya akan dimulai esok hari.


Hanya untuk memastikan situasi, dia menggunakan AR semipublic sembari masih berbaring di tempat tidur untuk memeriksa apa yang sebenarnya dijadwalkan esok. Seperti yang sudah dia duga, tidak ada suatu hal pun yang menarik pada jadwal tersebut.


Ketika hari-hari demonstrasi berlangsung nanti, tampaknya dia harus berdiri di atas panggung sambil mengenakan gaun indah, dan memamerkan beberapa keterampilan yang dimilikinya. Dia akan “terbungkus” dalam sensor pada saat itu, tetapi menurut beberapa perhitungan yang telah Mikoto lakukan, perangkat sensor pada tingkat teknologi serendah itu tidak akan dapat memperoleh data yang berguna untuk penembangan kekuatan psikis.


Dengan kata lain, Academy City hanya ingin menyelenggarakan acara yang mengatakan bahwa tidak ada “gesekan” antara mereka dan lembaga koperasi. Pihak Academy City tidak serius dalam “membagi” hasil teknologinya.


Semuanya dilakukan untuk kepentingan orang dewasa.


Ini semua percuma saja.


Jika kau tidak keberatan akan hal seperti ini, mungkin kau adalah orang yang tepat untuk menjadi ketua OSIS.


(Peter Wellgo, Ran Ryuushu, Eclek Savoge ... Sepertinya mereka semua berasal dari departemen diplomatik lembaga koperasi di luar negeri. Aku mengira, para penonton yang akan menyaksikan demonstrasi-ku nanti terdiri dari orang-orang keras kepala.)


Wajah Mikoto menjadi suram saat ia melihat daftar orang-orang diundang yang ditampilkan pada langit-langit.


(Viner? Apa ...? Apakah mereka memamerkan senjata sambil menonton demonstrasi-ku? Aku pikir, orang-orang menganggap kekuatan psikis sebagai suatu hal yang begitu berbahaya.)


"Kalau begini, aku tidak akan bisa menunjukkan perilaku terbaikku," Mikoto bergumam sambil berbaring telentang di tempat tidur.


Dia duduk dan melihat sekeliling.


Setelah ia memutuskan bahwa ia akan bersenang-senang, maka itulah apa yang akan dia lakukan.


Mikoto melihat sekeliling dan kemudian mendekati jendela.


Dia berada di lantai 20.


"Jadi aku ini adalah semacam seorang putri tertawan atau sejenisnya?"


Harusnya, tidak mungkin manusia normal bisa melarikan diri dari ketinggian seperti itu. Tidak ada balkon di dinding. Bahkan, tidak ada satu pun tonjolan atau canopy. Kemungkinan besar, bangunannya sengaja dibuat seperti itu untuk meningkatkan efek AR semipublic. Dinding sangat datar tersebut memiliki arti yang mengatakan bahwa seseorang tidak seharusnya mendekati bangunan yang mirip kastil tua, atau kantor itu.


Tidak ada suatu tempatpun yang bisa dijadikan pijakan, dan tidak ada suatu tonjolan pun yang bisa digunakan untuk mengaitkan tali.


Namun ...


"Mereka sepertinya tidak pernah menyadari ..."


Mikoto membuka jendela lebar dan bersandar keluar.


"... Bahwa aku dapat menciptakan pijakan yang aku butuhkan dengan menggunakan gaya magnet."


Dia tanpa ragu melompat keluar.


Bagian bawah sepatunya tergores pada dinding saat dia meluncur pada pose seperti ski. Perjalanan wisata Academy City #3 dimulai saat ini juga.



Part 5[edit]


Medan magnet kuat menyebabkan efek AR di dinding hotel sedikit terganggu, tapi tidak ada masalah besar.


Mikoto mendarat setelah meluncur ke bawah dinding secara vertikal dari lantai 20, kemudian dia melihat sekitar.


"Nah, sekarang ke mana aku harus pergi? ... Ini adalah lembaga koperasi, sehingga mereka mungkin memiliki Gekota eksklusif yang hanya ada di Rusia.”


Dia mulai berjalan tanpa tujuan.


Hotelnys berada di dekat tepi kota. Bangunan yang ada di sekitarnya hanyalah hotel-hotel lain, atau toko-toko bebas cukai.


Bangunan bertingkat tinggi tidak dapat dibangun di pusat kota, dan tujuan kota itu adalah menjadi pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Kota ini meliputi daerah yang luas, tapi bangunannya tidak begitu tinggi. Rata-rata ketinggian gedungnya hanyalah 5 lantai.


Fasilitas pusat dibagi menjadi dua kategori utama.


Setiap daerah yang dikunjunginya terlihat seperti pusat perbelanjaan raksasa yang jauh lebih besar daripada stadion berkubah. Gedung-gedung itu tidak berbentuk persegi panjang yang sempurna. Beberapa bagian hanya berbentuk seperti kotak lima lantai, ada juga beberapa bagian yang berbentuk seperti donat dengan halaman raksasa di tengahnya, dan beberapa bagian lain memiliki atrium besar yang “tenggelam” di bawah permukaan tanah.


(Secara keseluruhan, bangunan itu terlihat seperti kotak raksasa yang telah “dimakan” pada berbagai tempat.)


650 stadion berkubah.


Itu adalah wilayah yang luas, seseorang mungkin harus naik kereta bawah tanah untuk berpindah dari suatu toko ke toko lainnya. Terdapat lebih dari satu tempat parkir. Setiap tempat parkir seukuran lapangan untuk pertandingan kejuaraan sepak bola. Dan tempat parkir seluas itu terdapat pada setiap penjuru dari fasilitas raksasa tersebut.


Mikoto memasuki salah satu daerah pusat perbelanjaan raksasa.


Ini tidak tampak seperti suatu bangunan raksasa belaka.


Entah kenapa, itu sungguh terlalu besar.


Bagian dalam toko-toko yang dipenuhi produk terlihat seperti supermarket, atau mungkin departemen store. Namun, jumlahnya sangat banyak, sampai-sampai kumpulan toko tersebut tampak seperti labirin. Suatu hal yang menakjubkan adalah, setiap benda yang dipajang di sana dijual, bukan hanya sebagai hiasan belaka.


Toko hewan peliharaan raksasa tampak seperti kebun binatang, toko bunga tampak seperti kebun, dan penitipan sementara untuk anak-anak tampak seperti taman hiburan berskala kecil. Mikoto belum pernah mendengar penitipan anak yang memiliki roller coaster di dalamnya.


Meskipun pada saat itu adalah malam hari, masih saja terdapat pengunjung dalam jumlah besar.


Mungkin saja karena tempat itu mirip seperti taman bermain, atau mungkin saja karena terbit-tenggelamnya matahari tidak terasa di dalam area itu.


AR semipublic mereka yang membanggakan berfungsi sebagai monitor khusus. Layar yang digunakan adalah tipe RGB* bukannya CMYK*. Dengan kata lain, dinding bangunan, jalan-jalanan di bawah kaki, dan segala sesuatu lainnya tampak bersinar. Normalnya, adegan malam hari dipenuhi oleh titik-titik cahaya yang tampak sayu, akan tetapi pada kota tersebut, malam hari seperti siang karena kumpulan panel-panel cahaya yang berpendar. Ada begitu banyak cahaya di sana, sehingga sama sekali tidak tampak sudut kota yang remang-remang.

[Baca NT 11.]

Bahkan, jika ada sedikit saja bagian remang-remang di sekitarmu, maka fungsi AR semipublic akan “dipaksakan” padamu.


Pengunjung yang berlalu-lalang di sana berasal dari berbagai jenis ras dan suku bangsa. Di sana, bukan hanya terdapat campuran umum yang terdiri dari orang kulit putih, hitam, dan beberapa orang Asia. Misaka bahkan bisa melihat beberapa manusia “berpostur khas” di antara kumpulan manusia campuran tersebut.


(Aku paham.)


Mikoto mengangguk sambil melihat sekeliling gedung. Suasana di sana lebih terkesan seperti kawasan komersial yang tertutup, daripada pusat perbelanjaan raksasa yang umum.


(Dengan area seluas ini, pasti akan ada banyak anak-anak tersesat dan pencopet. Aku bisa melihat mengapa mereka membutuhkan para petugas keamanan selain polisi. Mereka membuat para pekerja di toko untuk berperan ganda sebagai petugas keamanan, mungkin itu terinspirasi oleh Anti-Skill dari kota kami.)


Dan kemudian Mikoto menambahkan komentar lain dalam pikirannya.


(... Aku dapat melihat bahwa tempat ini akan berakhir sebagai harta karun pada legenda urban.)


Ada tempat-tempat di sekitar kita, di mana legenda urban biasanya muncul. Contohnya: sekolah, rumah sakit, dan terowongan. Taman hiburan dan pusat perbelanjaan raksasa juga termasuk dalam kategori itu. Mungkin karena anak-anak sering tersesat di tempat seperti ini setiap hari, sehingga banyak cerita tentang orang-orang yang terlibat dalam perdagangan manusia. Mikoto tidak terlalu paham tentang berbagai jenis rumor, tapi bahkan ia tahu dua atau tiga cerita semacam itu. Itu mungkin adalah genre rumor yang cukup populer.


Legenda urban.


Jeruk yang sangat berharga.


(Rumor itu mungkin telah menyebar di kalangan wisatawan yang datang ke sini karena tempat ini menjual berbagai macam produk yang tidak ada di tempat lain. Mereka mungkin berpikir bahwa benda seperti itu bisa ditemukan di sini. Nah, tidak ada gunanya memikirkan rumor yang tak berdasar sama sekali.)


Mikoto terus berjalan di sekitar kota asing tersebut, ketika malam semakin larut. Dia berharap melihat sesuatu yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Setelah naik pada beberapa anak tangga, ia menyadari bahwa ia telah memasuki suatu daerah yang aneh. Alih-alih pemandangan berskala besar yang sering dia lihat sebelumnya, toko-toko yang berbaris di sana malah cukup kecil. Atapnya sempit, dan seluruh area tampak saling tumpang-tindih. Distrik perbelanjaan di area itu terkesan seperti toko-toko yang “diseret” dan dikumpulkan dalam suatu ruangan sempit.


"Tempat apa ini?"


Dia melihat sekeliling, tapi dia tidak melihat adanya tanda-tanda. Untuk sesaat, dia merasa bahwa daerah itu cukup nyaman, tapi kemudian ia teringat AR semipublic. Kota itu adalah tempat di mana seseorang bisa memperoleh informasi yang dibutuhkan.


Dia meletakkan tangannya ke pilar tebal berbentuk bundar, dan “memanggil” keyboard. Dia mengetik: "peta area ", kemudian diagram rinci daerah tersebut segera muncul pada pilar.


(Hmm ... Jadi mereka sudah diundang pada beberapa toko dari luar kota. Aku kira, itu adalah eksperimen ekonomi tentang perpaduan toko-toko lokal dan toko baru.)


Terdapat toko-toko kecil yang berjajar di kedua sisi lorong sempit dan panjang, tapi terlihat juga toko-toko yang tampak kuno dan toko-toko baru yang mengkilap. Keduanya berganti-gantian layaknya kode Morse. Kemungkinan besar, eksperimen ekonomi yang sedang dilakukan di sini adalah untuk melihat selera pasar. Toko jenis apakah yang lebih menarik pelanggan diantara kedua jenis tersebut. Mereka ingin melihat bagaimana kedua jenis toko itu bisa menjalankan bisnis.


Toko baru belum tentu menjual produk lebih banyak.


Misalnya, di daerah yang terdapat banyak merek sushi baru atau toko ramen, pelanggan cenderung akan menuju pada toko yang tampak lebih tua.


Tujuan mereka adalah untuk menganalisis fakta sesungguhnya yang terjadi di lapangan. Bukan hanya sekedar “mitos” sehingga mereka selalu bisa mendapatkan efek tersebut. Mereka tidak puas dengan adanya mitos yang mengatakan bahwa toko kuno lebih “berpengalaman” dan lebih mantab.


(Mencoba untuk mencari tahu apa motif tersembunyi di balik berbagai hal sembari kau berjalan-jalan, adalah suatu hal yang menyenangkan.)


Namun, adalah bohong jika Mikoto tidak mengakui bahwa dia tengah mencari-cari Gekota edisi khusus yang tidak ada di tempat lain.


Dia bisa merasakan takdirnya yang melampaui teori probabilitas, untuk pertemuan sekali-seumur-hidup dengan maskot berbentuk katak itu.


Menjumpai Gekota seperti itu akan sangat menyenangkan.


Mikoto melihat sekeliling sambil berpikir untuk memasuki suatu toko secara acak. Dia mengubah pengaturan AR sehingga menampilkan informasi tentang lingkungan, sembari ia melihat sekeliling. Seakan-akan mencocokkan tatapannya, tanda-tanda pada berbagai toko ditampilkan satu demi satu di dinding.


Tiba-tiba, tatapan Mikoto membeku.


Mikoto melihat salah satu tanda yang ditampilkan dalam bahasa Jepang, dan itu sangat jarang terjadi di area ini.


Tertulis: Snack dan Toko Souvenir Nihon Daruma.


Mikoto baru saja memikirkan kota itu sebagai “harta karun” legenda urban, dan kini itu muncul.


“Aku tidak punya niat untuk menjelaskan secara rinci, tetapi itu merupakan cerita yang cukup terkenal di Jepang, sehingga kau harusnya dapat dengan mudah menemukannya dengan mencari di internet*. Namun, itu adalah cerita yang agak menyeramkan, jadi aku tidak merekomendasikan ini. Jadi, jangan mencarinya.”

[Legenda urban ini berdasarkan kisah “Wanita Daruma”. Sederhananya, diceritakan bahwa seorang wanita dicuri ke suatu tempat di negeri lain. Beberapa tahun kemudian, jasad wanita itu ditemukan dalam kondisi termutilasi: tangan, kaki, lidah. Semuanya ditemukan terpajang pada toko di negeri lain tersebut. Pada toko itu tertera tulisan “Daruma” dalam bahasa Jepang.]

"... Apakah mereka sedang mencoba untuk menarik pengunjung?"


Itu adalah rumor yang terkenal di Jepang, jadi mereka mungkin telah mencarinya di website Jepang atau toko yang dibuka oleh orang Jepang, contohnya: restoran sushi atau nabe.


Namun, bahkan jika itu mengejutkan, toko tersebut menang menarik perhatian orang.


Mikoto kehilangan kata-kata sebentar, tapi setelah syok-nya mereda, dia mulai ingin tahu apa yang terjadi. Entah kenapa, ia telah berkeliaran di sekitar kota yang asing pada malam hari dengan harapan akan menemukan sesuatu yang memiliki “dampak”. Mikoto menuju toko itu, seakan-akan tersedot oleh suatu daya tarik misterius.


Pintu geser terbuka.


Dalamnya juga terkesan aneh. Itu begitu mirip seperti toko Jepang. Interior yang bersih dan modern tampak tidak alami. Rak untuk produk-produk pajangan sama seperti toko pada umumnya, tapi produk itu sendiri jelas-jelas berbeda.


Pada rak majalah, terdapat buku-buku tua terbuat dari perkamen dengan kursif* misterius yang tertulis dalam bahasa asing.

[Kursif = tulisan atau cetakan, KBBI online.]

Alih-alih botol plastik, pada lemari es berpintu kaca yang menutupi salah satu dinding, terdapat botol yang diisi dengan cairan misterius. Di dalamnya tersimpan benda-benda mengerikan seperti ular dan serangga.


Di sebelah meja registrasi, terdapat wadah penghangat yang biasanya berisi makanan ringan panas. Namun, yang terdapat di sana adalah kepala binatang yang dikeringkan.


Tidak ada yang normal.


Ini mungkin dapat digambarkan sebagai okultisme.


Semua benda yang ada di sana akan dianggap sebagai barang konyol jika terdaftar sebagai produk pesanan online pada sampul belakang majalah manga. Namun, jumlah benda-benda aneh itu begitu banyak, dan semuanya dikumpulkan pada toko tersebut. Entah kenapa, ada kesan “keseragaman” ketika seseorang melihat produk pajangan mengerikan itu.


"Yah ho ho!"


Gadis di meja registrasi meneriakkan suatu ucapan selamat datang tanpa makna.


Gadis itu lebih pendek dari Mikoto, tetapi benar-benar memiliki payudara yang jelas. Itu membuat Mikoto sedikit kesal.


"Apakah kau adalah seorang turis, nona? Yahh, aku kira semua orang di kota ini adalah turis. Meskipun jarang ada seorang gadis Jepang yang datang ke sini setelah melihat tanda itu. Apakah kau kelaparan karena telah menjalani beberapa stimulasi?”


"Bagaimana denganmu?" Mikoto berkata sambil menjulurkan sesuatu yang tampak seperti kristal dikemas dalam plastik.”Dengan nama dan desain dari tokomu ini, aku pikir adalah orang Jepang yang menjalankan toko ini, tapi sepertinya aku telah salah.”


Gadis di meja registrasi itu memiliki kulit putih dan rambut hitam panjang dengan ujung yang dikepang dua. Namun, matanya biru dan warna kulitnya tidak mirip seperti orang Jepang normal. Dia punya karakteristik orang Eropa, dari Anglo-Saxon*.

[Anglo-Saxon adalah orang yang memiliki darah keturunan bangsa Inggris asli. Beberapa terdapat di Jerman, dan banyak juga yang tinggal di Amerika Utara. Logatnya pun Inggris asli. Kamus Oxford.]

Mikoto menatap kartu nama di dada gadis itu, yang terdapat namanya ditulis dalam huruf hiragana.


"Lessar?"


"Yup, aku adalah Lessar-chan. Kami memiliki segala macam souvenir. Dan jangan khawatir. Segala sesuatu yang kami miliki di sini tidak akan membuat kau terjebak dalam harga cukai. Jadi, harganya tidak akan membuat isi dompetmu menjadi kering.”

RAILGUN SS2 01 018.jpg

"Kau mengatakan itu, tapi ..."


Mikoto memandang sekeliling toko yang mengerikan lagi.


Alih-alih makanan ringan, kelelawar kering dibungkus dalam plastik yang berbaris.


"Bisakah kau beritahu aku tentang apa yang kau pajang di sini?"


"Ini seperti jimat. Kau hanya perlu menggunakan perasaanmu untuk memilih salah satu barang yang cocok dengan situasi terbaikmu. Aku tidak benar-benar ingin memberikan nilai tambah pada seni atau barang antik.”


"Hmm ... jika hanya untuk meraih perhatian pengunjung, barang-barang yang kau pajang di sini sedikit keterlaluan, bukankah begitu?”


"Ini adalah souvenir, jadi benda-benda acak tidaklah masalah, kan? Dan semua benda yang ada di sini tak lebih dari suatu bahan. Menurutku kau tidak bisa membuat benda spiritual yang layak dari bahan-bahan seperti ini.”


Mikoto tidak mengerti apa yang gadis bernama Lessar ini bicarakan.


Apakah dia memakai istilah yang biasa digunakan dalam rubik majalah ramalan atau sejenisnya?


"Menurutku, aku tidak perlu membeli benda apapun yang tujuan utamanya adalah melenyapkan kesialan seseorang."


"Hm? Apakah kau tipe orang yang menyangkal efek jimat keberuntungan? Tapi aku pikir, toko-toko normal tidaklah berbeda dari kami. Kau pergi ke toko karena kau merasa membutuhkan sesuatu, kemudian kau membeli barang-barang untuk melenyapkan rasa tidakpuasmu akan sesuatu. Bukankah itu adalah kegunaan produk sehari-hari yang kau beli? Toko ini khusus dalam hal-hal yang ‘tidak bisa dilihat’, tetapi maknanya sama saja seperti toko biasa. Yaitu, untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.”


"Aku paham. Jadi ini benar-benar suatu toko?”


"Ya, tentu saja."


"Yah, apapun itu, sepertinya aku tidak akan menemukan Gekota eksklusif Rusia di sini."


"Aku tidak berniat memasok apapun yang tidak membuatku tertarik, atau tidak kumengerti. Lagipula, pada dasarnya ini hanyalah hobi. Tapi aku akan selalu berada di sini. Pokoknya, ini adalah toko serba ada, jadi datanglah kembali jika kau memiliki suatu ‘ketidakpuasan’. Suatu ketidakpuasan yang memaksamu untuk mencari sesuatu, seperti ketika tiba-tiba kau menginginkan es krim di tengah malam yang hangat ini.”


"Aku paham. Yahh, aku tidak ingin apapun sekarang.”


"Keinginan datang dan pergi begitu saja. Bahkan jika kau tidak menginginkan apa-apa sekarang, sapa yang tahu esok hari?”


"Terima kasih untuk peringatannya."


Mikoto menuju pintu geser. Ketika dia menginjak lantai tikar, nada elektronik yang lembut terdengar. Itu adalah suasana toko yang benar-benar mirip dengan toko normal.


Namun, kata-kata seorang pekerja yang bernama Lessar itu tidaklah terdengar “normal”.


"Oh, satu hal lagi. Berhati-hatilah dengan jeruk,” katanya.


"Hah?"


" Berhati-hatilah dengan jeruk."


Dengan senyum mirip seorang salesman di wajahnya, Lessar mengulangi peringatannya.



Part 6[edit]


Kesan jujur Mikoto terhadap toko itu bisa dideskripsikan dengan kata: "aneh".


Dia pikir, mungkin ada beberapa toko okultisme seperti itu di luar Academy City dan di luar negeri, tapi itu masihlah aneh. Dia mungkin telah dipengaruhi oleh suasana pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Pusat perbelanjaan itu menyatakan bahwa “apapun” dijual di sana. Mungkin saja dia sudah “termakan” oleh statemen itu.


Tapi kemudian…


(Jika aku pergi dari hotel terlalu lama, penjaga mungkin akan menyadari bahwa ada suatu hal yang salah, karena kamarku begitu tenang. Aku mungkin perlu kembali ke kamar hotel.)


Selama tiga hari berikutnya, dia akan disibukkan oleh latihan, demonstrasi untuk pers, dan demonstrasi untuk publik. Dia tentu saja berencana untuk keluyuran keluar ketika ia menemukan kesempatan, tapi dia masih tidak bisa bermain-main sepuas hatinya pada hari itu.


Mikoto mulai menyesal karena tidak mengambil gambar toko itu dengan ponselnya. Dia pun kemudian memutuskan untuk kembali langsung ke hotel.


Namun, tidak semuanya berjalan seperti yang direncanakan.


Pada perjalanan menuju pintu keluar dari area pusat perbelanjaan besar, Misaka Mikoto dipaksa untuk berhenti.


Ini bukan karena pintu keluar telah disegel. Juga tidak ada preman atau seseorang yang menghalangi jalannya.


Saat itu, dalam sekejap, semua orang kecuali Mikoto datang dan pergi melalui pintu masuk seakan-akan tidak ada yang terjadi. Meskipun sudah larut malam, terdapat arus manusia yang masuk dan keluar fasilitas tersebut. Orangtua sedang menuju suatu taman hiburan bersama anak mereka yang melambaikan balon berisi helium. Sepasang kekasih berbadan tinggi berkerumun bersama-sama dan ngobrol sambil menunjuk-nunjuk lantai. Kemungkinan besar, mereka menggunakan AR semipublic untuk “memanggil” katalog fasilitas ini. Mikoto adalah satu-satunya orang yang berhenti.


Ada satu alasan.


Ada suatu alasan kecil yang memberinya perasaan tidak nyaman. Dan ketidaknyamanan itu berasal dari suatu benda yang tergeletak di lantai dekat pintu masuk.


Benda yang tergeletak di lantai, seolah-olah seseorang tidak sengaja menjatuhkannya, adalah sebuah jeruk besar.


"..."


Itu adalah kebetulan yang tidak menyenangkan.


Ada seorang anak yang membawa banyak tas kertas berisi penuh dengan souvenir, dan seorang gadis berjalan ke fasilitas sembari menggigit hamburger, tapi entah kenapa Mikoto merasa napasnya terengah-engah.


Mikoto teringat cerita yang didengarnya dari Setali tentang jeruk sangat berharga. Di cerita tersebut, seorang pelancong sedang bertamasya di negara asing, lantas membeli jeruk yang berisi telur dari semacam semut raksasa di dalamnya. Mikoto merasa bahwa rumor itu hanyalah cerita konyol, tapi dia tidak sanggup melupakannya begitu saja.


(Itu ... sungguh bukan kenyataan ... kan?)


Mikoto mencoba untuk menyangkalnya, tapi itu masih saja mengganggunya. Dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Dia perlahan-lahan melihat sekeliling, tapi tidak ada toko yang menjual buah-buahan di dekatnya.


Sambil melihat jeruk aneh yang “sendirian” tergeletak di lantai, Mikoto mendekati pilar tebal di sampingnya.


AR semipublic bereaksi terhadap kedatangannya.


Dia mencari "semut tentara berkaki merah panjang ".


Mikoto tidak punya rencana apa-apa dalam menelusuri hal ini.


Sesuatu yang tampak seperti halaman ensiklopedia pun terbuka.


Semut Tentara Berkaki Merah Panjang.


Panjangnya sekitar 2-3 cm. Seperti namanya, mereka memiliki kaki panjang yang khas. Mereka juga memiliki taring sepanjang 5 mm.


Tubuh mereka berwarna hitam, tapi enam kakinya berwarna merah cerah. Dan juga, semut laki-laki memiliki sayap transparan.


Karnivora.


Pada spesies langka ini, baik laki-laki maupun perempuan adalah semut prajurit. Mereka lebih memilih untuk memakan mamalia, daripada serangga atau arthropoda lainnya. Mereka telah ditemukan dalam daging buah, tapi bukan karena mereka makan buah-buahan. Diduga bahwa mereka memasuki buah ketika koloninya hancur karena kekurangan makanan, sehingga mereka dapat menyamarkan diri dan semakin mudah menangkap beberapa mangsa.


Sebagai semut tentara, mereka tidak memiliki sarang tertentu, namun mereka membangun koloni berjumlah 50.000-100.000 ekor semut yang dipimpin oleh ratu. Kemudian, mereka berkeliaran di suatu area untuk mencari mangsa.


Sementara bersembunyi dalam buah, stimulus dari buah dapat menghilangkan “batasan” Ratu, dan menyebabkan telurnya menetas dengan pasokan yang tidak ada habis-habisnya. Ketika itu terjadi, dilaporkan bahwa sejumlah besar ratu muncul, padahal biasanya jumlah semut ratu hanyalah 1 ekor.


Ada banyak laporan seperti: meledaknya koloni semut sehingga menyerang tempat tinggal manusia.


Pada Konferensi Internasional Kedua tentang Pencegahan Resiko Serangga Berbahaya, telah diputuskan untuk dilakukan suatu upaya dalam menurunkan frekuensi insiden tersebut sampai setengahnya dalam jangka waktu 10 tahun. Academy City menyediakan teknologi untuk membantu upaya tersebut.


-> Berita Terkait: Insiden Hennis Village.


Mikoto tahu bahwa dia hanya akan menyesal jika mengklik link itu, tapi akhirnya dia pun melakukannya.


Link itu membawanya ke situs berbagi video.


Dia tidak tahu lokasi yang ditampilkan di sana, tapi tampaknya lokasi tersebut terletak di Afrika Selatan atau Amerika. Daerah itu memiliki bintik-bintik kecil vegetasi pendek yang tumbuh pada tanah kering. Beberapa bangunan kayu yang telah rusak berdiri di sana.


Suatu badai pasir berwarna hitam dan merah bertiup.


Di bawahnya, orang berkulit kecokelatan berlarian di sekitar.


Sepertinya, mereka mencoba untuk menghindari percikan api kebakaran, tetapi ternyata tidak. Sejumlah besar “cahaya” merah menggeliat di sekitarnya. Bukan cahaya, lebih tepatnya mereka adalah serangga berkaki merah. Sayapnya yang tipis dan transparan bergerak.


Pintu tertutup satu demi satu.


Orang-orang yang berhasil menyelinap ke dalam bangunan pada detik terakhir adalah mereka yang beruntung.


Namun, orang-orang yang hanya melihat pintu-pintu tersebut terbanting di hadapannya ...


"... !!"


Mikoto membanting telapak tangannya pada pilar tebal berbentuk bundar. Tamparan Mikoto memiliki kekuatan yang cukup untuk mematahkan panel kaca pada AR semipublic. Tamparan itu dianggap sebagai perintah untuk menutup windows.


Napasnya tidak menentu.


Ia tidak bisa menonton video itu lagi.


Alih-alih mengingat-ingat adegan mengerikan itu, Mikoto kini mengalihkan tatapan matanya pada benda mencurigakan yang tergeletak di lantai.


Dia memandang jeruk aneh “sendirian” itu.


Sepertinya, dia melihat kulit jeruk itu bergerak sedikit.


"... Eh ... !?"


Ini mungkin hanya imajinasinya saja.


Mungkin itu hanya getaran kecil akibat banyaknya derap langkah kaki manusia di sekitar.


Tapi, tak peduli apakah itu hanya efek mental atau gerakan fisik, jeruk itu terus bergetar tanpa henti. Mikoto terus melihat hal yang sama terjadi. Suatu hawa dingin aneh merambat di tulang punggungnya.


Bagaimana jika cerita itu benar ...?


(... Aku perlu semacam wadah tertutup.)


Mikoto melihat sekeliling.


(Jika aku memiliki sesuatu seperti microwave yang dapat menjadi wadah, maka isi dari jeruk itu tidak akan tersebar, bahkan jika benda itu meledak.)


Pusat perbelanjaan itu memiliki segala macam benda yang dijual. Paling tidak, mereka seharusnya memiliki jenis peralatan rumah tangga yang biasa dijual di department store. Masalahnya adalah, toko-toko di sini begitu besar, sehingga dia tidak tahu toko mana yang seharusnya dia pilih untuk mencari perlengkapan rumah tangga tersebut.


Mikoto mengoperasikan AR semipublic di lantai dan memutar panah yang muncul di sana, lantas menunjukkan di mana toko peralatan rumah tangga berada. Mikoto kembali menatap jeruk yang masih berbaring di lantai dan ...


"Kau pasti bercanda ..." gumamnya.


Sudah hilang. Jeruk itu lenyap.


Mikoto dengan panik melihat sekeliling untuk mencarinya. Banyak orang yang datang dan pergi melalui pintu masuk, layaknya distrik perbelanjaan pada hari libur. Tampaknya, jeruk itu tidak diinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu-lalang, tapi dia tidak tahu ke mana perginya buah itu. Seseorang mungkin telah menendangnya.


Kemudian, dia mendengar suara anak-anak. Dia tidak bisa melihat anak-anak karena semua orang berkerumun, tapi dia jelas-jelas mendengar suara anak-anak tak berdosa yang berbicara dalam bahasa Rusia.


Salah satunya adalah suara anak laki-laki dan suara seorang gadis.


"Apa-apaan ini? Itu begitu licin.”


"Apa yang kau dapatkan itu? Apakah kau akan memakannya?”


"Tentu saja aku tidak akan memakannya. Aku menemukannya di lantai. Aku akan menendangnya ke jalan mobil."


Kepala Mikoto terangkat.


Dia benar-benar tidak bisa melihat seorang pun yang berbicara. Dia bergegas ke arah suara yang membawanya ke pintu keluar.


"Tunggu," Mikoto berteriak meskipun tidak tahu siapa yang dia ajak berbicara, sembari melawan arus kerumunan manusia.


Dia begitu terburu-buru dan panik, sampai-sampai dia tergoda untuk memancarkan arus listrik lemah, tapi dia menolak ide itu.


Telur yang membentuk koloni semut tentara berkaki merah panjang bersembunyi di dalam buah. Mereka menunggu beberapa mangsa.


Suatu stimulus pada buah akan menghilangkan “batas” sang ratu, dan menyebabkan “meledaknya” koloni semut tanpa henti. Ratu semut yang harusnya hanya 1 ekor, tidak lagi berlaku dalam situasi ini.


Setelah itu terjadi, tempat ini akan berakhir seperti video yang telah dia lihat pada situs tersebut ...


"Tunggu !!"


Mikoto melesat keluar dari gedung.


Ada tempat parkir cukup besar seperti yang biasa terlihat pada stadion pertandingan sepak bola, tetapi terdapat alat berkebun seperti sekop dan ember yang berbaris dekat pintu keluar. Kerumunan manusia keluar dari berbagai sudut sehingga tercipta arus pergerakan yang besar.


(Aku kira, suara-suara itu terdengar dari arah jam 10. Suara anak itu tidak terdengar seperti belum mengalami perubahan.)


Dia melihat sekeliling.


Ada banyak orang tua bersama anak-anak di antara mereka. Bahkan ada beberapa di antaranya yang masih berusia 10 tahun. Beberapa anak memegang tangan orang tua mereka, ada yang melambai-lambaikan balon, dan ada yang naik di bahu orang tua mereka.


Anak itu menendang jeruk.


Mikoto menunduk ke tanah, dan dengan cepat mengarahkan tatapannya ke kejauhan.


Dia melihat suatu benda berwarna oranye melintas.


"Itu ada!!"


Sekitar 200 meter di depan, suatu keluarga yang terdiri dari 4 orang sedang berjalan di salah satu bagian tempat parkir raksasa. Jeruk itu berada di kaki anak tersebut. Jeruknya pasti telah ditendang lagi dan lagi. Bagian kulitnya robek. Jeruk itu menggeliat dengan menakutkan. Itu tampak seperti jantung yang akan berhenti berdetak.


Sepertinya, suatu makhluk hidup hendak meledak keluar dari buah itu.


Tidak ada waktu.


Mikoto tidak tahu berapa banyak semut tentara berkaki merah panjang yang bersembunyi dalam jeruk itu, tapi dia tidak ingin berpikir tentang jenis kerusakan apa yang akan terjadi. Semua kekacauan mengerikan akan terjadi di area ini jika anak itu terus menendang jeruk, lantas meledak dan memuntahkan 50 atau 100 ekor semut berbahaya di dalamnya. Bahkan jika hanya segelintir semut yang akan menyebar ke segala mampu melarikan diri, mereka akan mulai berkembang biak dalam waktu singkat. Jumlah mereka akan berlipat ganda seakan tiada akhir.


Dia bisa menembakkan tombak petir atau Railgun-nya.


Beberapa pilihan dia pikirkan, tetapi tidak satupun yang akan bekerja.


Dia mungkin dapat melenyapkan jeruk itu, tapi serangan lemah hanya akan menyebarkan semut-semut kecil di sekitar, dan itu percuma saja.


Dia tidak bisa hanya mengandalkan kekuatannya.


"... !!"


Seperti sedang juggling bola sepak, Mikoto dengan ringan menendang ember kaleng yang berbaring di sebelah peralatan berkebun itu.


Dia mengendalikan medan magnet.


Kekuatan tak terlihat membuat ember kaleng tersebut berayun layaknya bola penghancur yang digantung oleh rantai.


Suatu suara berat menggema di udara seperti ketika seorang pemain bisbol mengayunkan tongkat besinya.


Ember terbang, kemudian turun searah diagonal di atas kepala anak itu. Ember itu terbang dalam posisi terbalik sambil melalui bahu si anak dengan kecepatan tinggi, dan akhirnya menghujam tanah untuk menutupi jeruk itu. Suatu dentang logam berbunyi disertai percikan bunga api oranye yang melayang.


"Ee!"


"Menyingkirlah!!" teriak Mikoto, tapi ia mendecakkan lidahnya segera setelahnya karena anak itu tidak mungkin mengerti bahasa Jepang.


Untungnya, keempat orang keluarga itu membeku di tempat karena terkejut. Mereka tidak bergerak, dan itu justru menguntungkan bagi Mikoto.


Listrik berwarna keunguan terbang dari poninya.


Dengan perasaan seperti listrik di dahinya dilepaskan secara eksternal, ia mengontrol kekuatannya dan menembak arus bertegangan tinggi sekaligus.


Suatu suara keras mirip tembakan terdengar.


Mikoto menempatkan dirinya di antara anak dan ember, lantas memaksanya pergi. Dia terus menatap pada ember yang terbalik itu.


(B-Berakhir ...?)


Dia kemudian mendengar suara gesekan kecil.


Kedengarannya seperti cakar yang menggores logam.


Bahu Mikoto melonjak dan suara itu terus terdengar.


Suara itu berasal dari ember.


Dari dalamnya.


Dari dalam.


Suara menggaruk itu terdengar terus, terus, dan terus.


(Jangan bilang ...)


"Mereka mencoba untuk makan dan menembus ember logam itu... !?"


Satu tembakan belum cukup untuk memusnahkan mereka.


Seakan-akan, mereka mendapatkan “perintah” untuk menyelamatkan diri, dan itu membuat mereka semakin bekerjasama dengan begitu kompak.


Mikoto melangkah maju dan menembakkan lagi dua kali arus bertegangan tinggi pada ember. Dia melangkah di atas ember yang terbalik dengan satu kaki. Dia kemudian mengalirkan sejumlah besar listrik ke dalam ember itu untuk memastikan semua “penghuninya” telah musnah.


Kaleng ember menghantarkan listrik.


Harusnya, makhluk di dalamnya akan merasakan “hukuman kursi listrik”.


"..."


Setelah menembakkan lebih dari 20 kali serangan listrik, Mikoto akhirnya berhenti. Terjadi kebisingan dan cahaya yang begitu besar, sehingga para penonton pun tetap terdiam.


Dia tetap diam selama 30 detik, dengan kakinya masih berada di atas ember kaleng.


Dia tidak bisa memahami situasi ini.


Tanpa menggeser ember, dia tidak akan bisa memeriksa dan melihat apa yang telah terjadi di dalam. Apakah makhluk-makhluk yang bersembunyi di dalam jeruk itu sudah musnah semua?


Ketika berhadapan dengan bom, memeriksa dan memastikan bahwa bom tersebut benar-benar tidak berfungsi adalah suatu aksi yang sangat menegangkan, layaknya me-non-aktifkan bom. Saat ini, Mikoto merasakan ketegangan yang sama, dan dia pun perlahan-lahan membungkuk ke arah ember yang terbalik itu.


Dia menelan ludah.


Dia meletakkan bagian bawah kakinya ke tepi ember, dan mendorongnya sedikit.


Ember berpindah sedikit dari tempat semula. Itu bukanlah “tembok pertahanan” yang sempurna. Hanya menyentuhnya dengan jari-jari kakinya saja sudah cukup untuk hampir membalik ember tersebut.


Dia mendorong benda itu lebih keras.


Ember bergetar sedikit dan kemudian terbalik. Sekarang isinya bisa terlihat.


Kulit dan daging buah telah terkoyak oleh arus bertegangan tinggi, sekarang tercecer pada tepi ember bagian dalam. Sebagian besar buah itu telah terbakar sampai gosong, tetapi beberapa bagian masih mempertahankan warna aslinya. Bau seperti selai tercium oleh hidung Mikoto.


Dan sesuatu seperti biji wijen hitam berserakan. Gaya gravitasi membuat biji-biji itu terjatuh dan menumpuk di tanah. Mikoto langsung saja mengenali biji-biji itu. Itu adalah serangga. Serangga kecil berkaki enam telah berubah menjadi abu akibat arus listrik bertegangan tinggi.


Tak satu pun dari mereka bergerak.


Setelah meyakinkan itu, Mikoto mengendalikan medan magnet untuk menutupi semuanya dengan kaleng ember sekali lagi.


Dia menarik napas lega dan duduk lemas pada tempat parkir itu.


Jeruk.


Semut tentara berkaki merah panjang.


Pusat perbelanjaan terbesar di dunia, di mana apa pun bisa dibeli.


Suatu harta karun legenda urban.


(Jadi ... itu benar?)


Keempat orang keluarga itu akhirnya mulai membuat keributan, dan menanyakan apa yang telah ia lakukan kepada anak-anak mereka, tapi Mikoto tidak memiliki energi tersisa untuk menjawabnya.


Dia mengabaikan tangisan bocah berbahasa Rusia itu, dan dia pun bergumam dalam bahasa Jepang.


"... Aku kira, akhirnya aku berdemonstrasi sedikit lebih awal."



Part 7[edit]


Banyak waktu telah berlalu sejak matahari benar-benar terbenam.


Sudah melewati waktu untuk makan malam atau bahkan mandi.


Mikoto tidak kembali ke hotel. Dia menuju salah satu bagian dari mall raksasa. Itu bukanlah tempat di mana pelanggan normal berkunjung. Area itu hanya berisi staf dan pekerja khusus yang dikenal sebagai petugas keamanan. Lebih tepatnya, dia kini tengah berada di "halaman belakang", tapi pada dasarnya itu adalah ruangan interogasi untuk petugas keamanan.


Kamar itu memiliki meja, kursi sederhana, alat perekam, dan cermin satu arah yang menutupi hampir semua permukaan dinding. Itu bukanlah tempat yang nyaman sedikit pun. Bahkan pada dinding, lantai, dan langit-langit, semuanya terdapat perangkat AR semipublic, sehingga rasanya sedikit timpang.


"Aku paham. Jadi ada tentara telur semut dalam jeruk,” gumam seorang petugas keamanan perempuan. Tampaknya namanya adalah Enirya G. Algonskaya. Dia adalah seorang wanita berambut merah berusia hampir 30 tahun. Entah kenapa, perilaku suka menuntut dari wanita itu sedikit mengingatkan Mikoto pada pengawas asrama yang menakutkan.


"Aku mengawasi ember itu sampai kau tiba di sana, dan tidak ada sedikitpun tanda-tanda makhluk itu keluar dari buah tersebut. Mereka semua tewas. Namun, tidak mungkin bagiku untuk mengetahui apakah beberapa dari mereka bisa membuat jalan keluar sementara anak itu menendang jeruk. Hanya untuk berjaga-jaga, aku pikir kau seharusnya menyemprotkan beberapa insektisida di seluruh tempat.”


"Terima kasih untuk peringatannya."


"... Tapi apa yang terjadi di sini? Insiden itu persis seperti legenda urban. Siapapun yang melakukan itu, pastilah orang gila.”


"Seperti yang kau tahu, kita berada di tengah-tengah penyelidikan, jadi kita belum bisa mengatakan apa-apa," Enirya berkata tanpa tersenyum.”Tentu saja, kita berasumsi bahwa sebenarnya ada semut tentara berkaki merah panjang di sana.”


"…Apa?"


"Sisa-sisa makhluk hidup yang kami temukan benar-benar telah berubah menjadi abu, sehingga 'kita tidak bisa mengatakan apa pun'. Kita juga tidak bisa menyangkal adanya kemungkinan beberapa orang tidak bertanggung jawab yang sengaja memalsukan insiden ini, agar seolah-olah tampak seperti rumor itu.”


"Apakah kamu serius?"


"Ini hanyalah salah satu kemungkinan. Bagi kami, itu akan menjadi kemungkinan terbaik, tapi tentu saja kami harus berpikir tentang kemungkinan lain yang tidak diinginkan.” Enirya mengangkat bahu. ”Saat ini, kami menyelidiki kemungkinan dari mana jeruk itu berasal. Namun, ada lebih dari 80 tempat, baik berskala besar atau kecil, yang menjual produk buah-buahan seperti itu. Ini bisa memakan waktu. Dan jika jeruk itu didatangkan dari luar, situasi bisa jadi lebih sulit.”


"..."


"Ngomong-ngomong…"


"Apa?"


"Apakah Kau tahu legenda urban tentang jeruk sangat berharga yang berasal dari cerita terkenal tentang kaktus? Seorang pelancong di Amerika Tengah membeli kaktus, lantas dia mulai curiga ketika buahnya berkedut di saat dia kembali ke rumah, sehingga ia menghubungi ahli tumbuhan, atau toko souvenir... dan pihak-pihak lainnya. Pada awalnya, isinya bukanlah semut tentara.”


"??? Apa yang coba kau katakan?"


"Versi cerita di mana kaktus ‘berubah’ menjadi buah jeruk adalah sangat jarang. Setidaknya, cerita itu tidak menyebar ke seluruh Rusia. Kesimpulanku, cerita tentang jeruk yang sangat berharga itu adalah suatu legenda urban lokal yang hanya berkembang di Academy City, Jepang.”


Suatu tatapan serius diarahkan pada wanita itu.


Mikoto mengerutkan kening.


"Tunggu sebentar. Jangan bilang ...”


"Kebetulan saja, ada seseorang dari Academy City yang datang ke sini untuk berdemonstrasi. Kau tidak bepergian bersama penjaga atau pengawas, kan?” Enirya berbicara dengan perlahan. ”Kami adalah lembaga koperasi, tapi kami tidak memiliki pengetahuan tentang informasi lokal dari Academy City. Aku hanya tahu hal yang baru saja aku katakan, karena aku meminta beberapa informasi dari Academy City mengenai hal ini. ... Jadi, tidakkah kau merasa aneh? Insiden ini tampaknya telah didasarkan pada legenda urban, jadi orang yang menyebarluaskan cerita ini pasti tahu betul tentang kisah jeruk sangat berharga itu. Apakah aku salah?"


"Kau pasti bercanda!! Aku baru saja mengetahui rumor itu!!”


"Bahkan jika kau memiliki kekuatan khusus, pada dasarnya kau masihlah seorang gadis SMP biasa. Fakta bahwa kau berhasil mengatasi insiden itu secara 'kebetulan', tampak sangat mencurigakan bagiku.”


"Sejak awal, ini adalah kelalaianmu, sehingga jeruk itu ada di sana!! Mengapa aku diperlakukan seperti tersangka hanya karena aku berurusan dengan jeruk itu!? Apakah aku melukai harga dirimu sebagai petugas keamanan atau semacamnya!?”


"Oh, Kau tidak perlu emosi seperti itu." Enirya mengulurkan tangannya untuk membuat Mikoto kembali tenang. ”Kami akan melanjutkan ini setelah pengacaramu datang. Meskipun begitu, jujur saja, aku lebih suka mendapatkan kebenaran darimu sekarang juga.”


"..."


Enirya berdiri dari kursinya, kemudian meninggalkan ruang interogasi tanpa berbalik.


Suatu suara gema melalui ruang itu ketika pintunya tertutup.


Dia belum berjanji untuk mengembalikan Mikoto ke hotel. Akankah Mikoto berakhir dengan tinggal di sana sepanjang malam? Atau akankah ia dilemparkan ke sejenis sel tahanan? Kedua pilihan itu tampaknya tidak menyenangkan.


Mikoto merasa bahwa berbagai hal semakin memburuk.


Mikoto bersandar di kursi murahan, dan berpikir sambil menatap langit-langit.


Apakah ini semua hanyalah suatu kebetulan? Atau apakah ada seseorang yang ingin menyebabkan demonstrasi-nya gagal, lantas memperburuk hubungan antara Academy City dan lembaga koperasi? Atau adakah semacam konspirasi untuk memperoleh peta DNA dari Mikoto? Dia tidak punya cara untuk mengetahui semua itu. Tidak ada cukup informasi.


Namun, dia tidak terlalu khawatir.


Bagaimanapun juga, dia bukanlah kriminal di balik insiden jeruk itu. Dia tidak punya alasan untuk panik. Bahkan insiden jeruk itu sudah benar-benar ditangani. Cukup mustahil bahwa semut tentara berkaki merah panjang menyebabkan kerusakan yang nyata. Karena itu, dia hanya harus menunggu sampai semua kecurigaan yang dituduhkan padanya, dibersihkan. Bagaimanapun juga, Academy City sudah mengijinkan salah seorang Level 5-nya yang berharga ke luar kota tanpa didampingi penjaga atau pengawas. Itu dilakukan sebagai bentuk kepercayaan pada lembaga koperasi. Jika akhirnya dia ditahan, maka Academy City tidak akan tinggal diam.


Untuk menghabiskan waktu, Mikoto mulai menarik keluar ponselnya. Ketika dia merogohkan tangannya di saku rok, dia merasakan sesuatu yang licin. Rasanya seperti kulit berminyak.


(Uuh ... !? Apa ???)


Mikoto menarik tangannya keluar, dan dia pun terkejut karena menemukan sobekan sepotong kulit jeruk. Dia menggunakan kakinya saat memeriksa isi ember, tetapi sepertinya beberapa potongan jeruk itu menempel di badannya.


Tidak ada semut tersisa, tapi itu masihlah menyeramkan. Jika ada telur kecil semut yang terjebak pada pakaiannya di suatu tempat, itu akan menjadi masalah besar. Mikoto menempatkan kulit jeruk tersebut di atas meja sederhana. Dia mulai menjauh dari benda itu, sejauh yang dia bisa.


Tiba-tiba, Mikoto membeku.


Ada benda seperti stiker kecil tertempel pada permukaan kulit jeruk tersebut. Di sana tertulis kode QR*. Itu mungkin berasal dari suatu halaman web untuk menampilkan informasi tentang produk. Mikoto pernah mendengar bahwa halaman seperti itu digunakan untuk memberikan tanggal kadaluarsa, serta informasi tentang daerah asal produk pertanian itu diproduksi. Sederhananya, stiker kecil tersebut tidak bisa berisi semua informasi itu.

[Kode QR atau biasa dikenal dengan istilah Quick Response Code adalah bentuk evolusi kode batang dari satu dimensi menjadi dua dimensi. Penggunaan kode QR sudah sangat lazim di Jepang Hal ini dikarenakan kemampuannya menyimpan data yang lebih besar dari pada kode batang sehingga mampu mengkodekan informasi dalam bahasa Jepang sebab dapat menampung huruf kanji. Kode QR telah mendapatkan standardisasi internasional dan standardisasi dari Jepang berupa ISO/IEC18004 dan JIS-X-0510 dan telah digunakan secara luas melalui ponsel di Jepang. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]

Mata Mikoto tertuju pada kode QR.


Jika jeruk itu adalah produk pertanian, bukankah tidak mungkin bila buah itu datang dengan sendirinya ke Rusia? Jika ada seseorang yang mengirimkan buah itu, bukankah seharusnya ada suatu kotak kontainer yang mengemasnya?


Dengan kata lain, ada lebih dari sebuah jeruk.


Mungkin saja ada lebih dari sepuluh barang serupa pada suatu tempat di pusat perbelanjaan.


Mungkin saja ada lebih dari sepuluh jeruk berisi semut tentara berkaki merah panjang.


"Tunggu ..." Mikoto bergumam.


Dia berdiri dari kursinya dengan panik dan menuju pintu.


"Tunggu!! Dengarkan aku!! Insiden jeruk itu mungkin belum berakhir!! Mungkin ada jeruk lain yang sama seperti jeruk tadi!! Jika jeruk-jeruk tersebut juga memiliki semut tentara berkaki merah panjang di dalamnya, maka pusat perbelanjaan bisa berubah menjadi badai koloni semut!!”


Namun, tidak ada jawaban. Dia mencoba memutar kenop pintu, tapi pintunya tidak bergeming sama sekali. Tidak ada tanda-tanda orang akan datang bahkan setelah dia menggedor pintu itu cukup keras.


Mikoto berlari ke cermin satu arah yang terdapat pada permukaan dinding.


"Aku tahu kau bisa mendengarku ! Aku tidak memintamu untuk melepaskan aku sekarang!! Tolong periksa kode QR ini sekarang juga!! Kau mungkin dapat mencari tahu di mana dan kapan jeruk-jeruk itu dikirim!!”


Tidak ada tanggapan.


Untuk sesaat, Mikoto berpikiran untuk meledakkan pintu itu dengan Railgun miliknya, tapi dia memutuskan bahwa itu bukanlah pilihan terbaik. Jika ia keluar secara paksa dengan menggunakan metode seperti itu, pasti akan banyak orang yang berusaha untuk menghentikannya. Dia tidak yakin bahwa orang sebanyak itu bisa menghentikan seorang Level 5, tapi itu akan menghabiskan terlalu banyak waktu. Dia tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan sekelompok “lalat kecil”.


(Kode QR ...)


Mikoto menunjukkan kamera ponselnya pada kode itu*, tapi tidak ada respon. Tampaknya, kode itu memiliki format yang berbeda. Dia melihat sekeliling. Dinding dan lantai memiliki fungsi AR semipublic.

[Ponsel orang Jepang memiliki fungsi scanner untuk memeriksa berbagai macam hal, termasuk membayar tagihan.]

Akses Mikoto pada jaringan AR semipublic belum diputus, mungkin ini karena dia belum ditetapkan sebagai tersangka dan dianggap tidak bersalah. Apapun itu, Mikoto meletakkan tangannya ke dinding. Setelah melakukan beberapa “operasi”, dia menekan kulit jeruk bersama stiker kode QR tersebut secara langsung ke dinding.


Pasti ada proses pembacaan melalui gelombang ultrasonik, karena beberapa windows terbuka.


"Suatu kotak berisi 20 buah jeruk masuk hari ini melalui gerbang timur. Jika salah satu dari buah-buah tersebut jatuh, maka masih ada 19 buah!!”


Kawanan semut tentara berkaki merah panjang berada di dalam jeruk, bukannya di kandang serangga. Semut memiliki kecenderungan untuk menempatkan sejumlah besar telur dalam buah, dan menunggu mangsa ketika jumlah semut dalam koloni terlalu rendah. Akan tetapi, mungkin juga seseorang telah dengan sengaja merekayasa situasi ini.


Mengapa?


Pertama-tama, mereka bisa membawa semut tanpa menimbulkan kecurigaan.


Kedua, mereka bisa membuat kawanan semut berkembang biak tanpa henti, dengan melepaskan “batasan” sang ratu.


Dengan kata lain, “peternak” ini telah menciptakan bom waktu yang dikemas pada sebuah jeruk.


Apakah sebutir jeruk telah jatuh ketika mereka menjalankan rencana semacam itu? Ataukah jumlah mereka sudah diatur, dan kejadian itu adalah salah satu “bom” pertama yang diaktifkan?


Apapun itu, satu hal yang pasti.


Insiden ini tidak akan berakhir hanya sampai di sini saja, dengan skala sekecil ini.


Masalah yang sesungguhnya belum datang.


Suatu jeruk yang sangat berharga.


Legenda urban itu bukan lagi bahan tertawaan dalam suatu pusat perbelanjaan terbesar di dunia.


"..."


Jeruk lain kemungkinan besar belum "meledak". Jikalau sudah “meledak”, petugas keamanan pasti akan lebih panik.


Waktu ketika telur akan menetas, dan semut akan menjadi aktif, mungkin kedua hal itu diatur oleh suhu dan kelembaban. Tapi itu masih didasarkan pada jenis makhluk hidup tersebut. “Peternak” mungkin belum mampu dengan sempurna mengontrol waktu penetasan telur-telur itu.


Ketika Mikoto telah berpikir sampai sejauh itu, dia mendengar keributan di sisi lain pintu. Mereka pasti telah mengamatinya melalui cermin satu arah. Mereka pasti telah menunggu untuk mulai bergerak. Namun, tampaknya kali ini mereka tidak berniat untuk mengajukan pertanyaan pada Mikoto semalaman. Para petugas keamanan tidak akan mendengarkan dia kali ini. Mereka tidak akan menyelidiki jeruk. Kali ini, mereka tidak lebih dari suatu “halangan” bagi Mikoto.


Mikoto bisa memanipulasi magnet.


Dia memutar baut yang menancapkan meja pada lantai dengan kecepatan tinggi. Dia menyumbatkan meja pada pintu yang terletak di sudur ruang persegi untuk mencegahnya agar tidak terbuka.


Sekarang petugas keamanan tidak bisa memasuki ruangan.


Namun, itu juga berarti Mikoto tidak bisa meninggalkan keluar melalui pintu ...


"Mereka sepertinya tidak akan pernah menyadari ..."


Mikoto menuju jendela kecil di ruang interogasi. Ruangan itu ada pada lantai kelima. Tidak ada sesuatu pun di ruangan yang dapat digunakan sebagai tali, dan juga tidak ada barang lain yang bisa dimanfaatkan. Itulah sebabnya para penjaga tidak terlalu waspada karena mereka pikir si tahanan tidak akan bisa melarikan diri. Tidak ada batang logam pada jendela.


Mikoto membuka jendela dan bersandar keluar.


"... sekarang, aku dapat menciptakan ‘pijakan’ yang aku butuhkan dengan menggunakan medan magnet."


Dia tanpa ragu melompat keluar.


Ketika bagian bawah sepatunya tergores pada dinding, dia pun meluncur pada pose seperti pemain ski.


Siapakah di kota ini yang telah mendengar kisah jeruk yang sangat berharga?


Siapakah yang telah menyuruhnya waspada terhadap jeruk?


Di manakah tempat ditaruhnya “bom-bom waktu” itu?


Dia punya banyak hal yang harus diselidiki.


Tampaknya, acara demonstrasi Mikoto benar-benar telah berubah menjadi sesuatu yang sungguh tidak terduga.



Chapter 2[edit]

Part 1[edit]


"Jadi dia sudah lolos ..."


Enirya G. Algonskaya, seorang petugas keamanan, mendesah sambil melihat monitor.


Dia berada di suatu ruangan kecil.


Itu adalah ruang di balik cermin satu arah yang terletak pada kamar interogasi.


Setelah sedikit memojokannya, mereka telah memberinya kebebasan “tertentu”. Itulah sebabnya mereka memberinya akses AR semipublic, dan tidak menghapus akunnya. Mereka sudah mengira bahwa Mikoto akan berhasil mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan jaringan internet, ketika dia kehilangan kesabarannya.


Salah satu rekan petugas keamanan Enirya berbicara sambil menempelkan beberapa file di dinding.


"Dia melarikan diri melalui jendela dengan berjalan di sepanjang dinding. AR monitor di dinding memiliki beberapa masalah karena medan magnet. Mungkin kita seharusnya tidak memperlakukan dia sebagai ancaman kecil.”


"Kita juga tidak benar-benar tahu cara untuk menahan seorang esper. Tidak banyak data tentang mereka yang telah diungkapkan pada kita,” kata Enirya dengan nada yang sangat berbeda dari ketika dia berbicara dengan Mikoto. ”Atau apakah kau mengatakan bahwa kita harus menempatkan belenggu kayu seperti guillotine* padanya?”

[Guillotine adalah alat pemenggal pada abad pertengahan.]

"Dia sanggup memutar baut dengan magnet. Dia mungkin bisa menggetarkan sesuatu yang terbuat dari besi dengan kecepatan tinggi, dan menggunakannya seperti gergaji.”


"Jadi kita tidak punya cara untuk menyelesaikan masalah itu. Dan sekarang, orang berbahaya ini dapat menggunakan apa pun yang terbuat dari baja, lantas merubahnya menjadi seperti gergaji atau peluru. Kemudian, dia melarikan diri melalui kota.” Enirya menempatkan sikunya di atas meja, dan mengajukan pertanyaan pada rekan sesama penjaga, sembari menundukkan kepalanya. ”Bagaimana dengan pelacakan itu? Apakah kita tahu ke mana dia melarikan diri?”


"Tidak. Dia tidak muncul pada peralatan pengawasan.”


"Hm, seharusnya peralatan pengawasan tidak memiliki ‘titik buta’. ... Bagaimana dengan akun AR semipublic miliknya? Sudahkah dia menggunakannya?”


AR kota memeriksa lokasi si pengguna, dan memastikan orang lain tidak bisa melihat gambar yang disaksikan oleh si penguna. Itu juga berarti bahwa lokasi orang tersebut bisa dilacak.


Namun ...


"Dia belum menggunakan AR sama sekali sejak dia melarikan diri. Kami terus memantau akunnya, tapi ...”


"Jadi dia menyadari apa yang bisa kita lakukan dengan AR." Enirya tersenyum sedikit meski dia telah kehilangan petunjuk. ”Kita dapat menargetkan itu."


"?"


"Semua orang di kota ini menggunakan AR semipublic. Ini tidak dipaksakan pada mereka, tapi tidaklah nyaman ketika seseorang. ... Hey, itu artinya, jika ada seseorang yang tidak menggunakan AR, maka keberadaannya akan sangat ‘menonjol’. Cari seseorang yang lambat bereaksi. Jangan hanya menggunakan peralatan pengawasan. Suruh petugas keamanan patroli untuk waspada. Siapapun dapat melakukan pengawasan dengan tatapan mata biasa, layaknya pemeriksaan benda mencurigakan di bandara.”


Sembari melihat ke arah rekannya yang menggunakan AR untuk menyusun rencana, Enirya memikirkan hal lain.


(Apa yang gadis esper itu teriakkan di ruang interogasi?)


Dia mengerutkan dahi sambil melakukan beberapa operasi pada monitor yang telah diisolasi dari AR.


(Dia mengatakan bahwa ini semua belum berakhir, dan masih ada 19 buah jeruk tersisa.)


Dia mengetik di meja untuk melakukan pencarian pada AR.


(Benda yang terdapat pada ember itu tidak bisa lagi diperiksa secara mendetail. Isi hampir sepenuhnya berubah menjadi abu, sehingga sulit untuk mengetahui apakah mereka adalah semut tentara berkaki merah panjang, ataukah bukan.)


Jika mereka memiliki laboratorium untuk memeriksa DNA, beberapa informasi baru dapat ditemukan, tapi itu hanya akan memakan waktu terlalu lama.


Tentu saja, dia tidak bisa menyangkal kemungkinan bahwa “sisa-sisa” itu bukanlah semut tentara berkaki merah panjang. Itu semua bisa saja hanyalah suatu lelucon dari seorang gadis SMP.


Namun ...


(Jika demikian, kenapa dia harus repot-repot melarikan diri dari ruang interogasi? Dia menyebabkan beberapa masalah, tetapi jika dia hanya menggunakan beberapa ekor semut, bukankah akan lebih mudah jika dia mengakui kesalahannya kemudian minta maaf?)


Itu berarti, dia berada pada suatu situasi yang tidak mungkin berhenti.


(Tapi sekarang dia sudah lari, tampaknya kemungkinan bahwa insiden itu hanyalah keisengan belaka sudah tidak lagi berlaku di sini. Insiden itu nyata. Namun, apa sebenarnya yang terjadi? Apakah benar-benar ada semut tentara berkaki merah panjang, atau apakah dia hanya menggertak lantas ingin membuat keisengan yang jauh lebih besar?)


Setelah berpikir sebentar, Enirya mengetuk jari telunjuknya di atas meja untuk menyingkirkan pencarian AR.


(Apapun itu, kami akan menangkap dia.)


Wanita itu sekali lagi menegaskan tujuan pribadinya.


(Mendapatkan informasi dari orang yang tahu apa yang sedang terjadi adalah metode tercepat.)



Part 2[edit]


Tanggal telah berubah.


Misaka Mikoto berlari melalui pusat perbelanjaan larut malam.


Ada perbedaan besar antara siang dan malam. Banyak hal yang “terpotong”. Daerah-daerah yang hanya aktif di malam hari memancarkan cahaya secara terus-menerus, sedangkan daerah yang siangnya disinari oleh cahaya matahari kini diselimuti oleh kegelapan.


Kegelapan kosong mungkin akan mengingatkan seseorang pada sekolah di malam hari.


Jalur darurat, jalan yang mengarah ke kantor petugas keamanan, lokasi alat pemadam kebakaran dan AED*... semuanya ditandai dengan panah petunjuk arah di lantai. Titik-titik biru yang berjarak seragam di langit-langit mungkin merupakan tanda lokasi alat penyiram.

[AED adalah singkatan dari Accident & Emergency Department, yaitu semacam instansi gawat darurat.]

Benda-benda seperti itu ditampilkan pada AR semipublic.


Karena Mikoto membuat sensor-sensor tersebut tidak bisa melihatnya, sensor-sensor itu pun tidak bisa terfokus pada dirinya. Kemungkinan besar, sensor itu menampilkan tingkatan “isolasi” tertentu di mana semua orang bisa melihatnya. Dengan kata lain, itu sama seperti televisi biasa.


Ketika Mikoto bersembunyi di balik rak peralatan rumah tangga yang berbaris di atasnya, beberapa derap langkah kaki melewatinya.


Tampaknya, kelompok itu terdiri dari tiga orang. Mereka menggunakan AR semipublic untuk mengikuti "jejak kaki" yang tersisa di lantai.


Jika Mikoto tidak merusak sensor, mereka akan menemukan dirinya dengan sangat cepat.


(Tapi itu juga berarti bahwa aku bisa menipu mereka dengan “jejak kaki” selama aku bisa menginterferensi peralatan elektronik yang tersebar di kota ini.)


Dia melihat petugas keamanan menghadang di salah satu arah yang dituju oleh "jejak kaki" palsu. Namun, tak lama lagi mereka mungkin akan menyadari bahwa "jejak kaki" tersebut tidaklah wajar. Setelah mereka berhenti mengandalkan sensor, pelacakan yang sebenarnya akan dimulai.


Mikoto tidak bisa membiarkan dirinya ditangkap.


Jeruk berisi telur semut tentara berkaki merah panjang dapat diletakkan di sekitar pusat perbelanjaan, dan benda itu tidak berbeda dari bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dia tidak tahu kapan telur-telur itu akan menetas, dan semut akan menjadi aktif. Dia tidak tahu seberapa ulet semut-semut tersebut, tapi mereka mungkin akan menyerang manusia di mana pun mereka bersembunyi, setelah menyebar di sekitar. Itu adalah hal yang mengerikan untuk dibayangkan.


"..."


Ada banyak hal yang ia butuhkan untuk menyelidiki.


Dia pernah mendengar jeruk disebutkan beberapa kali sejak ia memasuki kota. Dia harus kembali dan menyelidiki semua petunjuk itu.


(Ini akan sangat mudah jika aku bisa menggunakan AR.)


Mikoto menatap tanah sementara masih bersembunyi di balik layar.


Dia adalah seorang esper yang bisa mengendalikan listrik. Artinya, dia tidak hanya mampu membuat arus listrik bertegangan tinggi, dia juga bisa melakukan hacking pada suatu jaringan elektronik. Di kota yang berhasil mengatur arus manusia, dan berbagai hal lainnya dalam suatu sistem terpadu tingkat tinggi, dia bisa dengan mudah mencari seseorang dengan menggunakan kamera pengintai, uang elektronik, dan lain-lain. Bagi Mikoto, suatu pedesaan adalah tempat yang lebih sulit.


Tetapi sistem di kota ini menggunakan AR semipublic. “Interface” itu mengharuskan Mikoto untuk menggunakan gerakan tubuhnya. Dengan kata lain, jika dia menggunakan sensor gelombang ultrasonik seperti biasa, petugas keamanan akan menemukannya.


Dia membutuhkan akun yang berbeda untuk digunakan.


Dia sudah menggunakan hacking untuk menipu kamera dan sensor, tapi masalah lain muncul. Jika dia tidak menggunakan AR semipublic di antara ribuan orang yang menggunakan sistem itu, maka petugas keamanan akan menemukannya hanya dengan mengandalkan penglihatan mata.


Untuk benar-benar melanjutkan aksinya, ia membutuhkan akun baru.


Namun, sistem keamanan cukup kuat sehingga Mikoto tidak bisa membuat akun baru, bahkan dengan kemampuan hacking yang dia miliki.


Untuk membuat akun baru, tampaknya ia harus secara fisik “menghubungi” server besar yang mengelola sejumlah besar informasi.


(Aku akan memulai persiapanku di sana untuk keamanan dan kenyamanan.)


Mikoto tidak bisa menggunakan AR semipublic, jadi dia memaksa dirinya untuk mengingat tanda-tanda yang dia lihat sebelumnya.


Dia melihat sekeliling, lantas berhenti sambil menatap ke arah cahaya redup yang terpancar.



Part 3[edit]


Ada berbagai jenis kegiatan malam pada waktu luang.


Daerah itu seperti suatu taman hiburan menyala yang disertai banyak lampu. Itu memberikan tampilan yang berbeda dari taman hiburan padasiang hari. Ada klub untuk para pemuda yang terisi dengan musik populer dan alkohol. Ada suatu rumah opera yang mengharuskan tamu berpakaian formal, ataupun dandanan bagus. Ada macam-macam hiburan dari berbagai jenis genre, untuk setiap peringkat, dan untuk setiap “lapisan masyarakat”. Semua hiburan malam itu mengisi kegelapan dengan cahaya.


Namun, bukan daerah seperti itu yang diperlukan oleh Mikoto saat ini.


Dia membutuhkan tempat dengan server besar yang mengatur sejumlah besar data.


"Kasino, hm?"


(... Aku lebih terbiasa dengan arcade.)


Mikoto bergumam dengan suara “tanggung”, dia tidak sedang mengenakan seragam Tokiwadai-nya. Sebaliknya, ia mengenakan gaun yang sebagian besar berwarna merah. Dia telah mengambil itu dari belakang toko pakaian yang dia telah temukan sepanjang jalan. Itu berlabel "Misaka Mikoto-Kostum Demonstrasi", jadi sepertinya bukan masalah.


Mikoto tampak bersemangat, tapi ketika dia benar-benar memasuki kasino, ternyata suasananya tidak se-formal yang dia pikirkan. Ada banyak pria dan wanita bergaun formal di meja roulette* dan baccarat*, yang didampingi para dealer*. Tapi ternyata, daerah itu penuh dengan mesin slot. Itu adalah mesin slot judi yang biasa dijumpai di Asia, dan sering dimainkan oleh para pengunjung yang mengenakan T-shirt dan celana jeans. Daerah itu tampak seperti kumpulan mesin slot di ruang pachinko.

[Baca Railgun SS1.]

Mikoto tidak tahu hukum apa yang berlaku di Rusia, tapi di pusat perbelanjaan, baik orang dewasa maupun anak-anak diizinkan masuk pada aula kasino. Kebanyakan anak-anak bersama dengan orang tua mereka, tapi itu bukan karena mereka diwajibkan untuk didampingi oleh orang dewasa. Itu semata-mata hanya karena fakta bahwa sebagian besar anak-anak di pusat perbelanjaan sedang dalam perjalanan bersama keluarganya.


Dengan demikian, seorang gadis SMP seperti Misaka Mikoto tidak terlalu menonjol bahkan jika dia masuk ke suatu kasino beserta kerumunan orang lainnya.


Bahkan, ia tampak seperti di rumah.


(Apakah ini benar-benar sesuatu yang bisa dibanggakan?)


Ada begitu banyak mata manusia, sehingga dia tidak bisa “menipunya” dengan kekuatan pengendalian listrik, seperti ketika dia mengelabui kamera dan sensor. Namun, tidak ada seorang pun yang menudingnya sebagai kriminal, dan petugas keamanan datang untuk membekuknya.


Mungkin suasananya telah berubah karena gaun yang dikenakannya, mungkin petugas keamanan harus menyembunyikan informasi tentang dia dari masyarakat umum, atau mungkin orang-orang terlalu sibuk dengan AR semipublic miliknya sehingga mereka tidak terfokus pada Mikoto, selama icon "Bahaya" tidak muncul di atas kepalanya.


Jika dia tidak mengambil tindakan selagi dia bisa, maka dia akan terpojok tak lama lagi.


(Nah ...)


Mikoto melihat sekeliling.


(Ada berbagai chip yang bergemerincing di sekitarku, ada yang jumlahnya meningkat, dan ada juga yang berkurang. Itu bukan hanya uang yang mereka miliki di kantong. Harusnya ada sistem untuk menggunakan data kartu kredit guna membeli chip. Pasti ada server besar di sini yang terkait dengan perusahaan kartu kredit di seluruh dunia.)


Namun, interior kasino dibuat agar terlihat seperti suatu rumah bangsawan, sehingga kotak jelek seperti AC tidak akan dipasang di tempat terbuka. Mesin-mesin “tidak elegan” itu kemungkinan besar disimpan pada suatu tempat. Mungkin berada di bawah tanah, atau di kamar terdekat.


Dinding, pilar, lantai, meja, jendela, dan segala sesuatu yang lain di tempat itu adalah “terminal” untuk AR semipublic, tetapi AR hanyalah “ujung” dari sistem di kota tersebut. AR adalah “titik terjauh” dari komputer induk yang mengatur semua akun. Sederhananya, ada banyak “tembok pertahanan” di antara AR dan komputer induk, dan data yang bisa terakses sangatlah terbatas.


Namun, jika dia membuat perintah langsung dalam server besar, dia bisa memaksa dirinya melalui semua tembok pertahanan itu sekaligus.

RAILGUN SS2 02 007.jpg

Mikoto dengan santai melihat sekeliling, sembari ia mengambil minuman-mix yang dikenal sebagai koktail tanpa alkohol dari gadis kelinci yang tidak dikenalnya.


Ada tangga di ujung lorong yang tampaknya mengarah pada tempat VIP di lantai kedua.


Dengan kata lain, area di bawahnya adalah suatu “kotak raksasa”.


"Jadi di sana."


Mikoto dengan santai menempelkan gelas koktail ke bibirnya, dan berjalan lebih dekat ke tempat VIP sambil memastikan untuk tidak “mencolok” di tengah-tengah kerumunan orang dan alunan musik kasino.


Ada meja poker di bawah tempat VIP.


Kartu dibagikan oleh seorang dealer, tetapi taruhan dan pembagian chip tampaknya dilakukan secara digital oleh AR semipublic di atas meja.


Punggung Dealer itu menghadap ke dinding, sehingga akan sulit untuk lewat di samping dinding.


Kau bebas untuk menonton pemain, tapi “seliweran” di belakang mereka adalah tindakan yang terlalu berlebihan. Mungkin, itu akan membuat seseorang menduga bahwa kau mencoba untuk “memata-matai” kartu yang mereka pegang, lantas membocorkan informasi itu pada pemain lainnya.


Cara terbaik untuk berdekatan dengan dinding untuk waktu yang lama adalah ...


(Huff ... Aku kira, aku tidak punya pilihan selain bergabung dalam permaianan.)


Tetapi sementara itu, permainan poker menggunakan kartu dan dealer (mungkin ini dilakukan untuk menjamin keadilan), dan juga menggunakan AR semipublic untuk memasang taruhan dan membagi chip.


Mikoto tidak bisa menggunakan akunnya sendiri, jadi apakah mungkin baginya untuk bergabung dalam permainan tersebut?


"Hee hee hee. Kau tampaknya kebingungan.”


"Wah!?"


Bahu Mikoto melonjak terkejut karena suara yang tiba-tiba datang dari belakang.


Yang berdiri di sana adalah gadis bernama Lessar dari toko okultisme. Entah kenapa, dia berpakaian sebagai gadis kelinci hitam, dan menumpuk chip berbagai berwarna pada suatu nampan perak.


"Meskipun begitu, aku tidak yakin apa yang membuatmu tampak kebingungan. Apakah uang sakumu habis?”


"Tunggu sebentar. Kau mengatakan sesuatu tentang jeruk padaku, kan? Aku ingin agar kau menceritakan padaku apa yang....."


Ketika Mikoto mencoba untuk berbicara, Lessar mengulurkan jari telunjuknya.


Dia menyentuh bibir bawah Mikoto dengan jari itu.


"Non-non. Haruskah kau berbicara tentang itu di sini?”


"(... Aku perlu berbicara denganmu nanti.)"


Mikoto tidak tahu siapakah gadis bernama Lessar ini sebenarnya. Dia telah memberinya petunjuk tentang jeruk. Karena informasi itu, entah bagaimana, Mikoto berhasil menangani “ledakan” jeruk pertama, tapi dia masih tidak tahu apakah Lessar adalah orang yang baik atau buruk. Namun, ia jelas-jelas memiliki hubungan dengan insiden tersebut.


Namun, Mikoto masih saja tidak mempunyai teman yang benar-benar bisa dia percayai.


Dia tidak perlu berharap terlalu banyak dari gadis itu.


(Aku kira, aku harus menggunakan semua yang aku bisa ...)


Mikoto menegaskan rencananya.


(Oleh karena itu, aku masih harus bekerja keras untuk mendapatkan akun baru yang memungkinkanku untuk dengan bebas “menyusup” pada berbagai fasilitas, seperti yang sudah kurencanakan sejak awal.)


"Apakah kau sedang bekerja sekarang? Atau apakah kau berpakaian seperti itu hanya untuk bersenang-senang?”


"Nihon Daruma adalah toko souvenir yang membawa keberuntungan dan kemenangan tertentu, jadi ‘makna’ sebenarnya dapat dilihat di tempat seperti ini. Bahkan mereka akan merasa aneh untuk datang dan membeli sesuatu. Meskipun begitu, aku tidak berpikir ada orang yang benar-benar bisa menggunakan mantra untuk memutar-balikkan teori probabilitas atau statistik. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, aku tidak bekerja pada kasino ini, jadi aku tidak dilarang untuk berjudi sembari bekerja.”


"Dan kau dapat menggunakan AR semipublic, kan?"


"Memangnya kenapa kalau bisa?"


Menanggapi pertanyaan Lessar, Mikoto menunjuk ke arah meja poker.


"Aku akan membantumu untuk memenangkan sejumlah uang dengan mudah, tapi kau juga harus membantuku."



Part 4[edit]


Itu bahkan tidak bisa “disebut” suatu kompetisi.


Lessar berkostum gadis kelinci hitam duduk di meja berbentuk kipas Jepang, dan Mikoto tetap siaga mengintip kartu dari balik bahu Lessar.


Kemudian, Mikoto hanya harus memberikan instruksi sedikit tentang apa yang harus dilakukan, berdasarkan lima kartu yang dibagikan pada Lessar.


Ngomong-ngomong, tidak peduli seberapa banyak keberuntungan yang dimiliki oleh seseorang, dan tidak peduli se-profesional apapun pemain itu, tidaklah mungkin jika dia memperoleh kemenangan setiap putaran. Hal terpenting dalam permainan kartu seperti ini adalah: memiliki winning hand*, dan juga losing hand selama putaran tahap pertama. Jika seseorang memaksakan kekalahan pada losing hand, maka kerugian yang dideritanya akan sangat kecil. Jika seseorang memaksakan kemenangan pada winning hand, maka itu adalah suatu keberuntungan yang besar. Pada akhirnya, perbedaan antara kedua cara itu akan memberikan kemenangan pada seorang pemain.

[Hand di sini bukan berarti “tangan”, melainkan satu set kartu yang dibagikan pada seseorang dalam permaianan card game. Kamus Oxford. Sedangkan winning hand adalah satu set kartu yang bagus (misalnya kartu As semua), dan losing hand adalah kebalikannya.]

"Wow, Kau benar-benar membuat ini terlihat mudah. Rasanya seperti, aku diberi rekening bank yang tidak pernah habis, tidak peduli seberapa banyak aku gunakan.”


"Keberuntungan dan keterampilan tidak diperlukan. Siapapun bisa menang asalkan mereka dapat memperhitungkan matematika.”


"Tapi poker adalah suatu permainan yang membutuhkan lebih dari sekedar probabilitas dan statistik, kan? Bahkan, aku pikir sensasi poker yang sebenarnya berasal dari perang psikologis.”


"Ekonomi adalah pelajaran mendasar tentang ‘gerakan’ hati seseorang. Jika kegelisahan menyebar melalui pasar, harga saham dapat menurun tanpa alasan. Memutuskan kapan harus bertahan dengan situasi itu, dan kapan harus mundur, keduanya adalah hal yang identik,” Mikoto menjawab dengan sepihak, tapi tujuan sebenarnya bukanlah kemenangan dalam permainan kartu.


Itu hanyalah hal yang dia lakukan pada waktu luangnya.


Otaknya terfokus pada manipulasi arus elektronik untuk meretas server besar.


"Tapi apakah ini tidak masalah?"


"Apanya yang tidak masalah?"


"Tidak peduli seberapa banyak hand yang berlalu, dan tidak peduli seberapa banyak yang dealer bagikan, kita tidak kehilangan sekeping pun chip. Pemain lain akan mulai marah, dealer semakin panik, dan sepertinya tak lama lagi para petugas keamanan akan datang karena mencium adanya suatu kecurangan.”


"Hm, aku kira kita terlalu mencolok. ... Tunggu, apakah kau tahu bahwa aku sedang dikejar?”


"Lebih-kurang begitu."


"Kau pikir sekarang aku sedang melakukan apa?"


"Mencoba mendapatkan uang untuk digunakan sebagai biaya penerbangan pulang?"


"Jangan bercanda. Tidak ada kata melarikan diri dalam kamusku.”


Suatu keributan mulai terjadi di belakang Mikoto. Seperti gelombang, perlahan-lahan itu mendekatinya. Rasanya lebih seperti seseorang yang memotong “gelombang” manusia, bukannya kegaduhan yang mendekat.


"Sepertinya waktunya telah tiba."


"Apa yang harus kita lakukan? Jika kau hendak melarikan diri, aku sarankan agar kau membuat beberapa kekacauan. Misalnya, kau bisa membanting kepalan tanganmu di atas tumpukan chip, agar kepingan itu berserakan di mana-mana."


(Apakah aku membuat beberapa kekacauan atau tidak, melarikan diri denga terburu-buru bukanlah rencana yang baik. Itu hanya akan membuatku semakin mencolok.)


Mikoto merasakan mati rasa di bagian dalam dahinya.


Dia terus mengganggu server besar.


Keributan terus mendekat saat ia melakukannya.


Orang-orang yang memotong “gelombang” manusia itu sepertinya adalah para petugas keamanan.


"(Mereka akan meminta identifikasi digital, sehingga aku akan terlihat mencurigakan jika tidak dapat menggunakan AR semipublic. Namun, aku juga tidak bisa menunjukkan kartu identitasku yang sebenarnya karena aku adalah seorang ‘buronan’ saat ini.) "


"(... Diam. Tetaplah tenang.)"


Lessar tampaknya tidak khawatir sama sekali. Bahkan, ia memandang Mikoto dan petugas keamanan dengan ekspresi nakal di matanya.


Petugas keamanan sekarang tepat berada di belakang Mikoto.


Poni Mikoto sedikit berayun dengan gerakan yang tidak wajar.


Mereka tidak ragu-ragu.


Mikoto merasakan cengkraman tangan di bahu kanannya.


Tapi entah kenapa, dia merespon dengan berbalik ke sebelah kiri.


Dia tidak bisa menampilkan ID digital atau menunjukkan ID normal sebagai Misaka Mikoto ... atau memang seperti itulah seharusnya.


"Apakah kau perlu sesuatu?" kata Mikoto sambil tersenyum.


Pada saat yang sama, windows besar yang menampilkan ID digital muncul di lantai. Dia menggunakan keyboard windows pada meja poker untuk mengatur AR semipublic ke kondisi di mana petugas keamanan bisa melihatnya.


Dua petugas keamanan laki-laki datang.


Mereka melihat ke tanah dengan ragu.


Salah satu dari mereka berbicara sambil melihat data berisikan informasi pribadi dari gadis yang berada di hadapannya.


"... Benisaki Eri-san?"


Lessar adalah satu-satunya orang yang tersenyum saat itu.


Gadis bergaun merah memasang ekspresi bingung sembari balik bertanya dengan perlahan.


"Ya, apakah ada masalah?"


Gadis itu mengedipkan matanya dengan ekpresi yang “penuh makna”.


"Untuk apa kalian berdua dipanggil ke sini?"


Petugas keamanan mengalihkan kecurigaannya dari gadis bergaun merah, menuju si dealer. Sepertinya, si dealer melaporkan bahwa gadis bergaun itu telah membuat orang lain “malas” bermain karena dia selalu menang.


"Mutasi kartu harus dilacak oleh meja AR semipublic, dan kau juga dapat memeriksa kamera pada tepi langit-langit di sana.”


Gadis bergaun merah meletakkan tangannya di bahu Lessar untuk memaksanya berdiri.


Petugas keamanan pria menjadi sedikit bingung.


"Eh ... ah ... tunggu! Kalian mau pergi ke ma...."


"Kami akan meninggalkan tempat ini."


Mikoto menjatuhkan semua chip yang telah mereka dapatkan di atas meja.


Dia kemudian menunjuk ke arah dealer.


"Namun, pada akhirnya kau lah orang yang akan kalah. Kami tidak melakukan sesuatu hal yang salah, namun kau bersekongkol dengan petugas keamanan untuk menghentikan permainan kami. Itu semua kalian lakukan hanya karena kalian tidak bisa bermain dengan baik. Jika aku ditahan bahkan sebentar saja, reputasi kasino ini akan jatuh layaknya batu yang tenggelam ke dasar kolam. Tidak ada seorang pun yang ingin ditangkap karena kejahatan tanpa bukti.”


Setelah mengatakan itu, gadis bergaun merah meninggalkan meja bersama dengan Lessar. Dia pergi dengan paksa dan cepat, namun dia sebisa mungkin tidak membuat orang lain curiga.


"(... Nah, aku ingin tahu apakah keributan ini bisa membuatmu meloloskan diri.)"


"(Jangan khawatir. Dealer yang memulai keributan ini akan melakukan apapun untuk menghentikannya, karena karirnya berada di ujung tanduk.) "


"(Aku tidak paham bagaimana caranya kau mendapatkan akun itu, tetapi bukankah akun yang sudah kau dapatkan dengan susah payah itu akan percuma saja karena telah diperiksa oleh petugas keamanan?) "


"(Aku baru saja membuat lebih dari satu akun.)"


Gadis bergaun merah dengan santai berjalan menuju pintu keluar kasino, sembari ia mendengarkan keributan yang masih terjadi di belakangnya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya si gadis kelinci bernama Lessar.


"Kita harus pergi ke suatu tempat di mana kita bisa bicara panjang-lebar. Aku ingin menanyakan sesuatu tentang jeruk.”


"Hm," Lessar menanggapi secara sepihak. ”Kalau begitu mari kita menuju Nihon Daruma."


"T-tunggu. Itu bagus, tapi rute mana yang akan kau ambil?”


"Kita akan terlihat mencolok jika pergi bersama-sama, jadi mari kita berpisah kemudian berkumpul kembali pada suatu titik pertemuan."


"Hei! Kau harus menjawab pertanya.......... !!”


Setelah meninggalkan pintu kasino dalam keadaan terbuka, Lessar dengan cepat berbaur pada orang banyak di luar.


Jika Mikoto meneriaki gadis itu, perhatian para petugas keamanan akan kembali tertuju padanya, sehingga gadis bergaun merah hanya bisa mendesah. Lantas, dia dengan tenang mulai membaur dengan aliran manusia di luar kasino.



Part 5[edit]


Butuh keberanian bagi seorang gadis untuk mengganti pakaiannya tidak di tempat ganti, tapi Mikoto berhasil melepas gaun merah dan berganti untuk mengenakan seragamnya.


Dia kemudian menuju ke toko okultisme.


Toko-toko suvenir di tempat-tempat wisata cenderung tutup lebih awal jika dibandingkan dengan toko lainnya, tapi toko suvenir yang satu ini sungguh mirip dengan supermarket 24 jam. Bahkan setelah lewat jam 12 malam, tempat itu masih penuh dengan lampu neon bercahaya putih.


Gadis bernama Lessar yang sejak tadi bekerja di sana, telah mengatakan pada Mikoto untuk mewaspadai jeruk.


Dia pasti tahu sesuatu.


Terlebih lagi, toko okultisme itu penuh dengan barang-barang yang terlihat mencurigakan. Bukanlah tidak mungkin jika tempat itu memiliki semut mengerikan sebagai hewan piaraan.


Mikoto berencana bertemu dengan Lessar untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari gadis itu. Kemudian, Mikoto hendak meminjam ruang staf di toko okultisme, atau mungkin ruangan lainnya yang memiliki privasi, agar dia bisa menggunakan AR semipublic untuk mencari beberapa informasi tentang “bom hidup”.


Namun ...


"Tunggu, mana Lessar?" tanya Mikoto ketika pintu bergeser terbuka, dan dia melihat ke dalam toko.


Gadis yang sejak tadi menjaga toko itu, kini sudah tidak terlihat lagi. Seorang gadis berbeda telah membawa kursi lipat di belakang meja registrasi, dan membalik-balik beberapa lembar surat kabar olahraga Jepang.


"Hm?"


Gadis itu lebih pendek dari Mikoto. Dia memiliki rambut cokelat pendek yang diikat dengan bando. Nametag-nya bertuliskan "Lancis". Dia berkulit putih seperti Lessar.


Entah kenapa, dia berbicara setelah gemetar beberapa saat.


"... Lessar belum juga kembali ..."


"Anak nakal itu. Padahal dia lah yang mengatakan untuk bertemu di sini,” kata Mikoto sambil menampakkan kejengkelannya dengan jelas.


Gadis yang tampaknya bernama Lancis itu melihat dada Mikoto dengan tampilan bingung.


"... Meskipun begitu, Lessar sepertinya lebih dewasa daripadamu"


"Apa yang sedang kau lihat, dan atas dasar apa kau menuduh seperti itu, dasar bocah nakal sialan!! Aku tidak boleh kalah dari bocah tengik itu!!”


"Nnn, meskipun penampilannya seperti itu, Lessar pernah memecahkan rekor di sekolahnya karena mulai memakai BH ketika duduk di kelas 4.”


"Uuh !?"


Mikoto tersedak. Rahasia besarnya adalah: Mikoto memakai BH pada pertengahan SMP kelas 1.


"P-Pokoknya, sepertinya Lessar tidak ada di sini, jadi aku tidak bisa bertanya padanya tentang jeruk. Apakah kau tahu kapan dia akan kembali?”


"Aku punya ini."


Lancis melambaikan sesuatu di tangannya. Mikoto meraihnya dengan ragu. Tampaknya itu adalah selembar kartu pos. Pada seluruh bagian belakangnya terdapat semacam cetakan lukisan. Itu mungkin adalah “gambar keagamaan”. Gambar itu benar-benar terkesan buruk karena menunjukkan seorang wanita yang ditangkap oleh semut sangat besar.


"…Tunggu sebentar. Jika Lessar belum juga kembali, dari mana kartu pos ini berasal?”


"Itu dapat disampaikan dengan sangat cepat dalam pusat perbelanjaan ini. Meskipun begitu, itu tidaklah secepat pesan yang dikirim melalui email.”


Mikoto membalik lembaran itu untuk melihat sisi depan. Pada setengah bagian atasnya tertera alamat tujuan, dan setengah bagian bawahnya terdapat pesan. Bagian nama pengirim dikosongi, tetapi pada bagian pesan terdapat tulisan berbahasa Inggris yang ditulis dengan menggunakan spidol hitam.


Dikatakan: There is an incident carried out that follows a rumor, but what if the rumor itself was intentionally spread for that reason?*

[Diterjemahkan: Ada suatu insiden yang membenarkan rumor itu, tapi bagaimana jika rumor itu sengaja disebar-luaskan untuk alasan tersebut?]

"..."


Mikoto mengalihkan pandangannya dari kartu pos itu.


"Aku tidak punya waktu untuk memecahkan teka-teki."


"Jangan lihat aku," jawab Lancis secara tak acuh, sebelum akhirnya dia rebahan di atas mejanya dan menyingkirkan koran itu.


Tampaknya shift larut malam telah membuatnya agak lelah.


"... Kita tidak bisa memprediksi apa yang Lessar akan lakukan. Dan akhir-akhir ini Bayloupe juga sering memarahinya karena hal itu ...”


Mikoto bahkan mendengar suara dengkuran. Tampaknya gadis itu sudah tertidur.


Untuk sesaat, Mikoto berpikir untuk memukul gadis itu agar terbangun, lantas meminta nomor ponsel milik Lessar. Tapi ia memutuskan bahwa itu bukanlah ide yang terbaik. Jika Lessar serius berniat untuk melarikan diri, dia tidak akan memperhatikan ponselnya dalam waktu yang lama. Jika dia sering berkomunikasi dengan ponsel, itu hanya akan mempermudah Mikoto untuk melacak keberadaannya.


(Pokoknya, tampaknya dia tidak segera melaporkan aku. Aku ingin tahu, seberapa jauh aku terlibat dalam insiden jeruk ini, dan seberapa jauh aku bisa melarikan diri dari menyebarnya pencarian yang dilakukan oleh para petugas keamanan.)


Toko semacam itu bisa saja memiliki tombol alarm di bawah meja registrasi, jadi Mikoto tidak boleh lengah, tapi dia tidak terlalu khawatir sampai petugas keamanan benar-benar muncul.


Dia memiliki sesuatu yang dia butuhkan untuk menyelidiki.


Mikoto meletakkan tangannya di atas meja registrasi, dan “memanggil” keyboard untuk mengontrol AR semipublic. Tentu saja, ia menggunakan salah satu akun yang dia peroleh di kasino. Jari-jarinya menari-nari di permukaan keyboard, sembari ia mulai pencarian untuk informasi yang ia butuhkan.


Yang ia butuhkan adalah ...


(Catatan kamera keamanan di dekat gerbang timur.)


Jeruk itu tergeletak begitu saja pada lantai di pintu masuk, di mana terdapat aliran manusia dari 2 arah. Jika dia memeriksa rekaman kamera CCTV pada waktu itu, di sekitar lokasi itu, dia mungkin bisa menemukan orang yang menempatkan jeruk itu di sana. Dia juga bisa tahu ke mana perginya orang itu setelahnya.


Tentu saja, informasi ini tidak terbuka untuk umum.


Mikoto mengumpulkan pengetahuan dan kemampuannya untuk mencari data yang tidak bisa diakses secara normal.


Dia hampir saja sampai ke “perpustakaan” pusat rekaman kamera keamanan.


Namun ...


"Data korup, dan tidak dapat dibaca."


Pesan sederhana muncul. Mikoto mencoba untuk membuka file yang berbeda. Ada lebih dari satu kamera yang dipasang di masing-masing tempat. Karena gambar dipantau dari berbagai sudut, maka terdapat beberapa file yang bisa digunakan.


Namun…


"Data korup, dan tidak dapat dibaca."


"Data korup, dan tidak dapat dibaca."


"Data korup, dan tidak dapat dibaca."


Karena terus-menerus menerima pesan yang sama, Mikoto tidak hanya jengkel, namun juga terkejut. Seseorang telah menghapus data pada waktu tertentu itu saja.


Seseorang yang bekerja di pusat perbelanjaan adalah pihak yang paling mencurigakan. Akan tetapi, ada juga kemungkinan campur tangan “pihak ketiga” yang melakukannya karena dia tahu bahwa Mikoto memiliki kemampuan untuk meretas suatu jaringan. Dalam situasi ini, sulit untuk “mempersempit” ruang gerak pelaku yang telah mengacaukan data kamera CCTV.


Dia tidak bisa melacak dari mana asal jeruk itu hanya dengan mengandalkan rekaman kamera.


Bahkan kemudian, hitungan mundur sampai telur-telur itu menetas dan “bom hidup” itu meledak, terus berjalan.


(Itu berarti, aku tidak punya pilihan selain melacak jeruk itu hanya dengan mengandalkan aliran manusia.)


Mikoto melihat kembali lembaran kartu pos di tangannya.


Teks teka-teki itu tampaknya sedikit “terkait” dengan insiden ini, tapi Mikoto tidak bisa memahami sesuatu yang konkret darinya.


Gambar semut dan wanita itu mengingatkan Mikoto tentang tentara semut tentara berkaki merah panjang, tetapi sepertinya tidak terdapat suatu informasi konkret di dalamnya.


Tapi ...


"Pola ini ...?"


Mikoto terfokus pada pakaian si wanita pada gambar itu. Di sana terdapat desain putih-hitam, tapi keseimbangan polanya tampak memudar di tepi pakaian, seolah-olah polanya telah berubah menjadi mosaik yang monoton.


Tatapan mata Mikoto tertuju pada satu titik.


Itu terlihat tidak asing.


Itu adalah semacam gambar persegi dengan pola acak hitam dan putih.


(Kode QR ...?)


Mikoto mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan lensa kamera padanya, tapi sensor ponselnya gagal membaca itu. Mikoto hampir menyerah, dan berpikir bahwa dia mengada-ada. Tapi tiba-tiba dia melihat pada dinding toko okultisme tersebut.


Dia ingat bahwa kode QR digunakan untuk informasi pada jeruk tersebut. Informasi itu dikemas dalam bentuk format yang diperlukan agar dapat dibaca oleh gelombang ultrasonik dengan menggunakan AR semipublic.


Dia mendekati dinding.


Sama seperti sebelumnya, dia menekan kartu pos itu pada dinding.


Suatu windows berbentuk persegi panjang terbuka layaknya poster besar. Itu tampak berbeda dari halaman web normal. Itu jenis halaman yang tidak bisa diakses melalui mesin pencari, dan hanya bisa diakses langsung melalui alamat IP-nya.


Namun, tidak ada informasi di sana.


Hanya terdapat teks di tengah yang memerintahkan untuk memasukkan password.


(Haruskah aku menerobos dengan menggunakan brute force*?)

[Baca Railgun SS1.]

Mikoto berpikir untuk menggunakan meretasnya, tapi ia kemudian melihat tanda tangan kecil di tepi bagian belakang kartu pos. Namun, susunan huruf alfabet itu terlalu acak untuk menjadi nama samaran.


Mikoto memasukan huruf-huruf itu ke dinding sebagai password.


Dia berhasil membuka password-nya pada percobaan pertama.


Setelah terkonformasi, sejumlah besar informasi ditampilkan pada “poster” besar.


Di sana tertulis ...



Part 6[edit]


Kode proyek EIC.


Mengenai dorongan psikologi kelompok pada premis efek ekonomi.


Proyek ini akan menggunakan pusat perbelanjaan sebagai ajang pengujian untuk mengontrol informasi tentang produk. Pengujian akan dilakukan untuk setiap tingkat iklan dengan menggunakan media massa guna menyeimbangkan pertukaran informasi antara pengguna internet dan mulut-ke-mulut. Tujuannya adalah memberikan stimulus yang paling cocok untuk pelanggan pada tingkatan mental.


Karena sifat dari proyek ini, kita tidak dapat membuat produk yang tidak ada begitu saja.


Semua proyek dikhususkan pada pengambilan produk yang sudah ada, dan menambahkan nilai “intrinsiknya”.


Produk yang mendapati peningkatan nilai intrinsik akan menjadi “langka” karena tingkat konsumsinya akan meningkat. Pada saat yang sama, tingkat konsumsi untuk produk yang nilainya rendah akan terus turun.


Mungkin adalah suatu hal yang mudah untuk menganggapnya sebagai pemberian rasa "premiere" pada suatu produk, atau membuat orang melihatnya sebagai merek dengan cara tertentu.


Kami akan menyebut peningkatan penjualan produk sebagai "perubahan positif", dan dampak sebaliknya sebagai "perubahan negatif".


Dengan menggunakan perubahan positif dan negatif, tingkat konsumsi untuk berbagai produk bisa diatur. Ini dapat digunakan untuk membuat "aliran" besar di pasar, bahkan untuk mengontrol seluruh ekonomi. Itulah makna sebenarnya dari proyek ini.


Tak peduli apakah kita membuat perubahan positif atau negatif, kita tambahkan segala macam informasi berdasarkan produk yang sudah ada. Kita juga membuat saran yang memaksa orang untuk menggunakan satu cara atau cara lainnya, namun tetap memberikan mereka tingkatan “kebebasan” tertentu.


Mereka akan membuat penilaian pribadi pada produk, seakan-akan itu adalah prediksi nilai produk di masa depan. Berdasarkan informasi itu, mereka akan memutuskan apakah hendak membeli ataukah tidak.


Ketika hujan semakin jarang, dan air diprediksi mengering, orang-orang akan mencoba untuk meningkatkan persediaan air. Ketika ada terlalu banyak hujan, dan ketersediaan air diprediksi akan menjadi efek negatif pada tanaman, orang-orang akan mencoba untuk meningkatkan persediaan sayuran.


Ketika musim dingin diprediksi tidak terlalu beku, orang-orang akan menunggu dan menunda untuk membeli ban yang awet. Ketika musim semi diprediksi tidak terlalu hangat, itu akan menurunkan jumlah serbuk sari, dan efeknya adalah jumlah pembelian masker menurun.


Dan semua ini terjadi bahkan ketika data-data itu memprediksi hal serupa, padahal bisa jadi data-data tersebut didasarkan pada suatu sumber yang tidak valid.


Dan adalah suatu hal yang umum ketika orang-orang secara intuitif menentukan seberapa kredibel data-data yang mereka gunakan untuk memutuskan apakah akan membeli produk ataukah tidak. Sering kali, informasi dari beberapa siaran berita dikeluarkan oleh lembaga khusus yang memverifikasi semua hal. Bahkan rumor yang telah menyebar luas, diambil begitu saja tanpa membedakan dan membandingkan antara dua sumber.


Kami akan menciptakan perubahan positif dan negatif untuk produk tertentu dalam bentuk yang "Populer".


Kami akan mengontrol “mentalitas” konsumen dengan menyebarkan “informasi”.


Mereka akan menerima informasi ini dari berbagai sumber, tapi tidaklah penting bentuk media apa yang digunakan.


Orang-orang lemah terhadap beberapa media.


Jika salah satu media memberikan pujian tinggi pada suatu produk, dan media lain mengatakan sebaliknya, maka pada akhirnya orang-orang akan memutuskan dengan pikirannya sendiri.


Di sisi lain, jika seseorang telah mendengar rumor lokal yang diberitakan oleh stasiun televisi dan media massa lainnya, mereka akan merasakan suatu kepercayaan dan jaminan darinya.


Kita bisa menggunakan pola pikir yang pelanggan sendiri telah bentuk tentang bagaimana membuat penilaian terhadap informasi yang mereka dengar. Mereka juga “menyerap” informasi secara bertahap dari beberapa sumber media untuk membedakan mana yang "populer" sesuai dengan keinginan. Dengan demikian, kita dapat menaikkan atau menurunkan produk yang dijual, dan memprediksi toko apa yang akan dikunjungi oleh pelanggan.


Jika kau berpikir bahwa fenomena ini mirip seperti “piramida”, maka tujuan akhir kami adalah untuk mendorong dasar “piramida” tersebut, agar puncaknya bisa “bergoyang” dengan halus.


Percobaan di pusat perbelanjaan ini akan menggunakan rumor sebagai “wujud” informasi.


Kita akan melihat seberapa jauh informasi eksperimental yang telah kami sebarkan, dan dalam jangka waktu berapa lama. Kami juga akan melihat berapa lama itu berakhir, dan seberapa banyak informasi yang “terdistorsi” dalam proses penyebaran.


Kita akan melihat persentase kelompok usia yang berbeda dalam mengambil tindakan berdasarkan pada informasi yang telah kami sebar.


Beberapa “rute” yang akan digunakan untuk mengirimkan informasi eksperimental ini telah disiapkan, dan tujuan percobaan pertama adalah: menemukan “rute” yang paling cocok untuk ...



Part 7[edit]


Mikoto terdiam sambil menatap windows berukuran poster.


Kode proyek EIC.


Suatu sistem untuk memanipulasi hasil bisnis dengan menyebarkan desas-desus palsu yang mengubah nilai berbagai produk.


Pihak ketiga akan menempatkan “nilai” berbeda pada suatu produk standar, yaitu produk yang diambil oleh para konsumen sehari-hari. Konsep itu memberi Mikoto kesan serupa dengan sistem AR semipublic yang benar-benar telah “bersatu” dengan kota itu.


"..."


Bagaimana jika laporan itu mengatakan kebenaran, dan semacam sistem iklan khusus untuk mengontrol penjualan telah dilaksanakan di kota itu?


Bahkan jika Kode EIC digunakan semata-mata untuk niat baik, itu tidaklah masalah. Efek itu berada pada skala yang besar.


Kode EIC tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran orang, dan memaksa mereka untuk melakukan berbagai hal.


Itu hanya bisa memanipulasi bagaimana cara pandang seseorang terhadap berbagai produk, dan menentukan produk apa yang populer lewat “perantara” rumor.


Namun, itu saja sudah cukup.


Orang yang mengendalikan Kode EIC bisa menyebar rumor tentang apapun sesuka hati, tidak peduli seberapa tidak masuk akal rumor tersebut.


Misalnya, mereka bisa menyebarkan rumor tentang jeruk yang berisi sejumlah besar telur semut tertanam di dalamnya.


Dalam hal ini, “keanehan” dan “ketidak-masuk-akalan” mengenai legenda urban tentang jeruk berharga, menghilang. Fakta bahwa suatu legenda urban identik telah menyebar melalui Academy City pada saat yang sama, adalah karena seseorang telah sengaja menyebarkan rumor tersebut pada waktu itu.


Dan jika orang-orang tersebut “merancang” bahwa jeruk itu bisa menimbulkan suatu “bencana alam”, maka sebenarnya itu adalah hal yang sederhana.


Tapi ...


(Sejak awal, mengapa mereka harus memilih buah jeruk? Aku tidak bisa mencari tahu. Bahkan jika aku tahu bagaimana cara rumor ini menyebar, aku tidak bisa berbuat apa-apa jika aku tidak tahu mengapa mereka mencoba untuk menyebabkan insiden terkait dengan rumor itu.)


Dia tidak tahu siapa penyebarnya, tetapi orang yang mengendalikan rumor pastinya adalah seseorang yang erat kaitannya dengan pusat perbelanjaan. Tapi kemudian, apa yang mereka peroleh dengan menyebarkan rumor tentang sejumlah besar semut tentara berbahaya di daerah perbelanjaan mereka sendiri?


"Hmm?" Lancis, yang telah tidur tergeletak di meja registrasi, mendongak sembaria menggosok matanya.”…Apakah kamu masih disini? Jangan bilang bahwa kau benar-benar berencana untuk membeli sesuatu."


"Hey, kata-katamu itu adalah ucapan terburuk yang pernah aku dengar dari seorang penjaga toko."


Mikoto melihat sekeliling.


Jika dia menggunakan AR semipublic, dia bisa mencari tahu di mana letak tinggalnya sejumlah orang. Namun, dia sekarang sedang mencari orang yang mengendalikan “popularitas” produk, rumor, dan legenda urban di kota itu dengan memanfaatkan “psikologi” kelompok. Dia meragukan bahwa “mastermind” seperti mereka mau mengungkapkan rencananya dengan jelas dan “gratis”. Namun, dia juga harus mencari tahu di mana “bom hidup” lainnya yang terpasang di sekitar kota.


"Kau memiliki berbagai jenis pertanyaan di sini, kan?"


"... Aku tidak yakin tentang apa yang kau harapkan, tapi kami bahkan bisa mendapatkan hal-hal seperti tengkorak manusia."


"Aku paham," kata Mikoto sembari berpikiran bahwa itu hanyalah lelucon. ”Jadi, kau kebetulan saja memiliki jeruk?”


Saat Mikoto bertanya padanya, dia memanipulasi AR semipublic di lantai, meretas sistem keamanan, dan dengan cukup akurat memperhitungkan siapakah yang “meletakkan” rekaman kamera CCTV dan deposito uang elektronik.


Orang itu adalah Setali S Skinikia.


Dia merupakan pemandu Mikoto pada kota ini, dan dia jugalah yang sudah menceritakan kisah tentang jeruk sangat berharga.


Dan nama wanita itu juga terdaftar sebagai penulis di akhir laporan proyek.



Part 8[edit]


Setali menuju bawah tanah dengan menggunakan lift, kemudian berjalan cepat menyusuri lorong yang panjang.


Dia tidak menuju suatu markas rahasia atau semacamnya.


Pusat perbelanjaan raksasa yang dibangun di dataran Rusia, pada dasarnya adalah suatu fasilitas datar yang menyebar secara horizontal. Namun, kota ini tidak memberikan ruang hidup yang cukup untuk lebih dari 50.000 orang pekerja. Oleh karena itu, ruang untuk tempat tinggal dibangun di bawah tanah. Setali kembali ke apartemennya.


Berbagai hal telah berkembang ke arah yang tak terduga.


Tampaknya, gadis bernama Misaka Mikoto itu telah melarikan diri dari kantor petugas keamanan, bahkan kemudian “keluyuran” di pusat perbelanjaan.


Seharusnya, pilihan terbaik adalah melarikan diri.


Di satu sisi, Setali adalah satu-satunya “contact person” yang Misaka Mikoto miliki pada pusat perbelanjaan tersebut.


Tidak kecil kemungkinan, bahwa si esper Level 5 akan datang untuk menemuinya jikalau dia sedang terlibat dalam suatu masalah.


Sesama rekan petugas keamanan tidak perlu memberitahunya, bahwa bertemu dengan gadis itu bukanlah suatu hal yang baik.


Tapi fasilitas transportasi umum ditutup pada waktu itu, dan bahkan jika si esper mencoba untuk menggunakan mobil, itu hanya akan membuatnya lebih “mencolok”. Setali akan mengumpulkan beberapa hal di apartemennya, kemudian menuju hotel wisatawan. Sebagian besar hotel di kota bisa menampung hingga 200.000 orang pengunjung. Jika dia menggunakan nama palsu, dan berbaur dengan semua orang, ia akan sulit untuk ditemukan.


Dia akan mengumpulkan kebutuhan secukupnya di apartemennya, dan dengan cepat menuju ke hotel.


Setelah fajar menyingsing dan fasilitas transportasi umum mulai bergerak lagi, dia akan naik pesawat penumpang dan meninggalkan kota.


Seperti itulah seharusnya akhir dari peristiwa ini.


Si esper tidak akan lagi dapat melacaknya, dan Setali akan berhasil lolos dengan selamat. Pada waktu itu, para petugas keamanan bisa bertindak dan membereskan berbagai hal. Upaya melarikan diri Misaka Mikoto tidak akan bertahan lama. Dia akhirnya akan terlacak, dan ditangkap.


Semuanya berjalan dengan baik.


Bahkan, Setali bisa melihat bahwa tidak ada faktor yang akan membuat rencananya gagal.


Namun, begitu ia membuka pintu depan rumahnya, tangan putih terulur melalui suatu celah, dan menariknya ke dalam ruangan. Dia ditarik ke dalam ruangan yang harusnya tetap terkunci, sampai Setali sendiri yang membukanya.


Punggungnya terbanting ke dinding.


Dia pikir napasnya akan berhenti, tapi itu bukan hanya karena tumbukan dengan dinding.


"Orang-orang sepertinya tidak pernah menyadari ..."


Orang yang menyambar kerah Setali dan berbisik padanya dari jarak dekat, adalah seorang gadis SMP dari Jepang.


"... bahwa aku bisa dengan bebas menggerakkan pin di lubang kunci dengan menggunakan pengendalian magnet. Andaikan saja kau menggunakan pengunci pintu dari kuningan atau stainless steel, kau tidak akan menghadapi masalah seperti ini.”


"Misaka Mikoto ... !?"


"Karena kau begitu terkejut ketika melihatku, aku menduga bahwa kau sudah tahu kenapa aku ada di sini."


Sembari punggungnya menempel dinding, Setali mencoba untuk menyingkirkan lengan Mikoto, tapi Mikoto lebih cepat. Dia dengan ringan menyapu kaki Setali di bawah, sehingga menyebabkan dia roboh ke lantai.


Dia menahan serangan itu, tapi tampaknya Setali tengah kesulitan.


Saat itu, wanita itu benar-benar berhenti bernapas selama beberapa detik.


"Aku tahu bahwa sejumlah jeruk dikirimkan melalui gerbang timur pada waktu sekitar pukul 17:00 kemarin,” kata Mikoto dengan suara rendah, dan mengabaikan wanita itu yang terus batuk.


Dia melemparkan pertanyaan berikutnya pada Setali dengan keras.


"Dua puluh jeruk dikirimkan secara bersamaan!! Hanya satu dari jeruk-jeruk itu yang telah diamankan! Dimana yang 19!? Apakah di dalam buah-buahan itu ditanamkan telur semut tentara berkaki merah panjang!?"


"A-Aku tidak tahu."


"Setelah mereka 'meledak', sejumlah besar semut akan tersebar di mana-mana! Mereka akan memakan semua daging manusia dan hewan, karena mereka harus terus berkembang biak, dan berkembang biak!! Setelah itu terjadi, semuanya sudah terlambat! Dan dengan adanya bom hidup berupa semut tentara berkaki merah panjang, secara sengaja, koloni semut akan dipaksa dalam ‘situasi bahaya’. Sehingga batas dan jumlah ratu semut akan menjadi tidak normal. Setelah semut di dalam menjadi aktif, mereka dapat berkembang biak besar-besaran, lantas mereka akan menelan seluruh kota ini!!”


Setali menggeleng bolak-balik sembari dia terus ditambatkan ke tanah.


"Aku tidak tahu apa-apa tentang jeruk itu!!"


Ada suara tumbukan benda tumpul.


Itu adalah suara Mikoto yang menggebrak lututnya ke lantai, tepat di sebelah sisi Setali.


"Aku mencurigainya karena rumor yang sama telah tersebar di Academy City dan pusat perbelanjaan ini pada saat yang sama. Rumornya adalah tentang jeruk yang sangat berharga. Para petugas keamanan menuduh bahwa aku pasti telah dengan sengaja menyebarkan rumor, dan menciptakan insiden identik dengan itu. Karena aku lah satu-satunya orang yang telah bepergian pada kedua kota tersebut.”


Suatu listrik bertegangan tinggi nyaris tertembak dari ujung jari Mikoto, tapi dia sangat menahan diri.


"Tepi sebenarnya, ada orang lain yang bisa melakukan itu selain aku. Bagaimanapun juga, aku belum pernah mendengar kisah tentang jeruk sangat berharga sampai kemarin, ketika aku datang ke kota ini. Lantas, aku pun pertama kali mendengar kisah itu dari seseorang bernama Setali S Skinikia.”


"... !?"


"Jawab aku. Mengapa kau tahu cerita tentang jeruk sangat berharga yang hanya tersebar pada Academy City di saat itu? Dan seberapa terlibat dirimu dengan insiden ‘bom hidup’ yang terjadi pada pusat perbelanjaan itu?”


"Aku benar-benar tidak tahu apa-apa ..."


Air mata mulai mengalir dari mata Setali.


Mikoto tidak tahu apakah tangisannya hanya karena takut, atau hanya sekedar upaya penipuan.


"Aku pertama kali melihat legenda urban itu beberapa hari sebelumnya di internet. Aku mencari informasi lokal di Academy City agar aku memiliki topik pembicaraan untuk ngobrol denganmu. Aku tidak tahu bahwa berbagai hal berkembang jadi seperti ini. Jeruk apa yang kau bicarakan itu? Apa yang kau maksud dengan ‘bom hidup’?”


"..."


Sementara masih duduk di atas tubuh Setali, Mikoto menatap matanya.


Sembari wajahnya bercucuran air mata, Setali menggeleng.


"Bahkan jika beberapa insiden telah terjadi, dan sesuai dengan legenda urban itu..."


Mikoto mendengarkan kata-kata Setali yang mencoba untuk menentukan apakah semua ini adalah suatu kebenaran atau kebohongan.


Wanita itu terus berbicara dengan suara yang tercampur dengan air mata dan isak tangis.


"... kau pikir, apa yang telah aku lakukan? Jika penyebaran rumor itu sangat terkait dengan kejadian ini, maka si tersangka pasti dapat mengontrol ‘alur’ rumor itu. Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa aku bisa melakukan hal sehebat itu? Memang benar bahwa aku bisa menyebarkan rumor, tapi hanya segelintir orang yang dapat memastikan bahwa rumor itu menyebar, dan menjadi berita utama. Bahkan seorang profesional di televisi bisnis harus bergantung pada keberuntungan untuk bisa melakukan hal semacam itu.”


"Ya," gumam Mikoto.


Dia mulai sampai pada kesimpulan.


Tidak peduli berapa banyak air mata yang mengalir dari mata Setali, tidak peduli berapa banyak wajahnya berkerut karena ketakutan, dan tidak peduli betapa dia bersikeras bahwa ia hanyalah salah satu dari sekian banyak korban dalam insiden ini, dia sedang berbohong.


Bahkan jika Mikoto ingin menghindari tatapannya, dia harus melanjutkannya.


"Proyek Kode EIC."


"....!?"


Saat itu, seluruh tubuh Setali S Skinikia mengejang, seolah-olah arus listrik merambat melalui tubuhnya.


"Itu adalah proyek yang sengaja mengontrol rumor untuk menambah atau menghilangkan nilai pada suatu produk, dan sepenuhnya mengontrol kesuksesan toko. Kota ini sudah memiliki ‘sistem’ untuk mengontrol rumor dan legenda urban. Kau pastinya tahu tentang hal itu. Lagipula, namamu tertera sebagai penulis laporan tersebut.”


"Itu ... !?"


Mikoto tidak menunggu tanggapan.


Tidak, dia tidak bisa menunggu jawaban.


Hal berikutnya yang dia tahu, bunga api berwarna putih kebiruan terbang dari ujung jarinya. Tegangannya adalah sekitar 500.000 volt. Arus listrik setinggi itu terlalu berbahaya bahkan untuk seukuran stun-gun pertahanan diri.


Suatu suara sengatan listrik meledak keluar.


Mikoto memastikan bahwa listrik itu tidak menuju ke arah Setali, sembari ia terus memegang kerah wanita tersebut. Namun, wanita itu tidak mengetahui bahwa Mikoto melakukan itu hanya untuk menakut-nakutinya. Dia sungguh-sungguh merasa terancam.


"Gy-gy-gy-gyaaaahhh !?"


Mungkin itu adalah suatu tindakan yang patut diacungi jempol, karena Setali tidak melepaskan fokus tatapannya.


Tapi Mikoto mengabaikan itu.


"Aku tidak tahu mengapa kau menyebarkan jeruk-jeruk itu di sekitar pusat perbelanjaan, dan aku tidak berniat untuk bertanya." Mikoto tidak lagi tertipu oleh air mata. ”Di mana bom hidup yang lain!? Dimana sisa 19 jeruk itu!? Hanya itu yang ingin aku ketahui darimu. Aku tidak akan memanggil petugas keamanan untuk menangkapmu, jadi jawab saja pertanyaanku!!”


"Aku ... tidak tahu ..." Bahkan kemudian, Setali hanya berkata. ”Aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang legenda urban yang menjadi kenyataan ini.”


"Aku paham."


Mikoto menghela napas.


Dia ragu tentang apa yang harus dia lakukan.


(Apakah ada…)


Haruskah dia melampaui batas kesabaran, lantas menggunakan kekerasan pada wanita itu?


(Apakah ada cara lain ...?)


Mikoto menuangkan kekuatan ke tangannya, dan menyeret Setali dari lantai.


"Kalau begitu, aku akan lihat apakah yang kau katakan adalah benar atau tidak."


Dia masuk semakin dalam pada apartemen itu, sembari menyeret Setali bersamanya. Dia menemukan kamar mandi, membuka pintu, dan melemparkan Setali ke dalam.


"Apakah kamu-?"


Ucapan Setali terhenti dan wajahnya menegang.


Misaka Mikoto menarik jeruk besar dari saku roknya. Itu adalah jeruk aneh yang tampak hampir licin karena telah masak.


Setali bahkan tidak punya waktu untuk berteriak atau berdiri dari lantai ubin.


Mikoto melemparkan jeruk ke dalam kamar mandi dan tanpa ampun menutup pintu. Dia kemudian menyeret mesin cuci dan mendorongnya untuk menutupi pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi kecil, Setali menekan punggungnya ke dinding untuk menjauh sejauh-jauhnya dari jeruk itu. Dia perlahan-lahan mendekati pintu, tapi itu tidak akan terbuka. Dia menggedor pintu dengan tinjunya dan bahkan membanting bahunya, tapi pintu itu tidak akan bergeming.


"Tunggu!! Tunggu!! Apa ini!?"


"Oh ...? Aku tidak paham kenapa kau panik. Jika kau benar-benar berpikir apa yang aku katakan adalah bualan semata, dan kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang jeruk ini, maka seharusnya kau tidak akan tahu betapa berbahaya jeruk ini.”


"Kau pasti sedang bercanda ... kau pasti sedang bercanda!! Kau baru saja mengatakannya kepadaku!! Kau mengatakan bahwa ada jeruk yang tertanam telur semut berbahaya di dalamnya!! Kau mengatakan bahwa semut di dalamnya akan menjadi aktif !! Jika itu benar ... !!”


"Kau tidak perlu khawatir."


Suara Mikoto terdengar ramah.


Untuk sesaat, pikiran Setali mencoba untuk menolak gagasan bahwa jeruk itu hanyalah bualan kosong, tapi ...


"Memang benar bahwa ada larva di dalam jeruk licin ini, dan sekitar setengahnya telah tumbuh menjadi dewasa, tapi kamar mandi ini adalah area tertutup. Bahkan jika itu 'meledak', semut tidak bisa lolos dari ruangan ini dengan begitu mudah. ... Saluran ventilasi dan saluran air mungkin bisa menjadi lubang yang baik untuk meloloskan diri, tetapi ketika kau tahu bahayanya sejak awal, maka kau dapat mengatur ‘perangkap’. Dengan mengirimkan arus tegangan tinggi melalui celah-celah itu, semut yang memasukinya akan terpanggang.”


"T-tidak, tidak!! Apa yang sedang kamu pikirkan!? Ini tidak normal!! Tahukah kau jenis seperti apa semut tentara berkaki merah panjang itu!?”


"Tidak juga, tapi itu adalah nama menyeramkan, bukan? Aku ingin tahu apakah mereka bisa makan sapi atau babi sampai ke tulang-tulangnya.”


"... !!"


Setali terus menggebrak tinjunya ke pintu. Napasnya tidak menentu. Darah merah bocor dari tangannya. Tapi itu tidak baik. Pintu itu tidak akan bergeser bahkan satu milimeter pun.


Dia benar-benar terjebak.


"Kau seharusnya tidak perlu begitu semangat."


Suara Mikoto dari sisi lain pintu terdengar sangat tenang.


Namun, suara tenang itu justru membuat Setali semakin tegang.


"Prediksiku adalah, bom hidup itu memiliki batas waktu yang ditetapkan dengan memanipulasi waktu penetasan dan aktivasi semut secara sengaja. Ketika disimpan, mereka kemungkinan akan tetap bersuhu dingin. Ketika mereka ditempatkan di tempat yang sangat panas dan lembab, saat itulah mereka siap untuk digunakan. ... Jika kau bernapas dengan sangat tak menentu, kau akan membuat suhu kamar mandi ini semakin meningkat karena tubuhmu sendiri juga makin panas.”


"Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh!!Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!”


Jika jeruk itu meledak di sana, lebih dari 100 tentara semut akan meluap ke daerah kecil.


Setali tidak punya tempat untuk lari.


Bahkan jika dia menempel ke langit-langit, ia akan dibanjiri oleh semut tentara.


"Seberapa terlibat kau dengan insiden ini?" Mikoto bertanya seolah-oleh memberikan pertanyaan terakhir.


Dia memberi pengumuman mengerikan yang akan mengirim Setali ke dalam neraka seketika, jika dia tak mengucapkan satu patah kata pun.


"Di mana jeruk yang tersisa?"


Mata hitam Setali bergerak-gerak dengan tidak wajar.


Seakan-akan, jeruk di tengah kamar mandi itu berkeringat layaknya kulit manusia.


Dan kemudian melihat kulit tebal jeruk yang menggeliat dari dalam.


Itu adalah “batas”nya.


"Aku tidak tahu!! Aku benar-benar tidak tahu!! Memang benar aku terlibat dengan proyek kode EIC!! Penelitian terus berlanjut bahkan sampai sekarang, dan kami dengan sengaja menyebarkan rumor!! Tapi aku tidak punya hubungan sama sekali dengan legenda urban itu!! Kode EIC hanya dimaksudkan untuk menyebarkan informasi yang akan meningkatkan nilai produk tertentu. Aku bahkan tidak pernah berpikir tentang menggunakannya untuk menyebarkan legenda urban yang menyeramkan seperti itu!!”


Setali merasa seperti manusia perekam IC. Terlepas dari apakah dia menginginkannya ataukah tidak, dia akan memberitahu rahasia apapun selama seseorang “menekan tombol”nya. Itu cukup menyedihkan. Seorang wanita berumur lebih dari 20 menangis dan berbicara pada seorang gadis SMP. Itu sungguh terlihat menyedihkan


"Kenapa kau menceritakan kisah jeruk yang sangat berharga?"


"Aku tidak tahu!! Aku hanya bercerita begitu saja!! Aku bahkan tidak ingat di mana tepatnya aku mendengar tentang hal itu!! Tapi aku pasti telah mendengarnya dari suatu tempat. Kamu bisa memeriksa sendiri di mana aku menemukan informasi tersebut dengan memeriksa history internetku, atau televisi digital yang aku tonton!! Tapi aku tidak tahu!!”


"Jika Kode EIC digunakan dalam insiden ini, maka para petinggi pusat perbelanjaan adalah pihak yang paling mencurigakan. Taukah kamu siapa para petinggi ini?”


"Tentu saja tidak!! Memang benar bahwa kami adalah lembaga koperasi Academy City yang melakukan eksperimen ekonomi dan penelitian Kode EIC, jadi kami benar-benar memiliki beberapa kelompok ‘tidak resmi’. Tapi tak satu pun dari mereka mirip seperti suatu kelompok teroris yang ingin membahayakan jiwa orang lain!! Ini bukanlah suatu kota berisi organisasi-organisasi penjahat bayangan yang mengendalikan semuanya dari balik layar!!”


"..."


"Tunggu ... Aku mengatakan yang sebenarnya!! Aku tidak tahu apa-apa lagi!! Jadi tolong biarkan aku keluar dari sini!! Jeruk ... jeruk itu bergerak dengan sangat aneh !! Mohon ... mohon selamatkan aku ... !!”


Setali mendengar sedikit suara dari sisi lain pintu.


Setali pikir, itu adalah suara Mikoto yang telah meninggalkannya.


Tampaknya, hanya dia seorang yang tertinggal di dalam kamar mandi mengerikan ini.


"W-waaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?"


Dia menjerit.


Dia tidak tahan lagi.


Dia merasa bahwa kamar mandi kecil itu telah berubah menjadi peti matinya.


Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi.


Mikoto menggeser mesin cuci dari depan pintu.


Pintu terbuka dan Mikoto melangkah masuk ke kamar mandi.


"... Maafkan aku."


"Ah ... uuh?"


Mikoto dengan ringan mengambil jeruk dari tengah kamar mandi, dan Setali menatap dia seakan-akan tidak mempercayai yang dilihat oleh mata-kepalanya sendiri.


Mikoto merobek kulit jeruk dan menunjukkan pada Setali bahwa tidak ada bahaya sama sekali di dalamnya.


"Aku sedikit memotong kulit jeruk dengan pisau, dan menempatkan margarin di dalamnya. Panas melelehkan margarin, dan seakan-akan membuat jeruk tersebut bergerak-gerak.”


"..."


Setali melongo sebentar.


Akhirnya, dia meraung layaknya binatang, dan menjotos wajah Mikoto sekeras yang dia bisa.


Mikoto bahkan tidak mencoba untuk menghindarinya.


Setelah punggungnya terbanting ke dinding, Mikoto menyeka darah yang menetes dari bibir sobeknya.


"Jika semua yang kau katakan adalah benar, maka di luar sana sungguh ada seseorang yang telah menanamkan telur semut tentara berkaki merah panjang di dalam jeruk.”


"... Aku pikir, aku sudah bilang padamu bahwa kota ini tidak memiliki organisasi kejahatan seperti itu."


"Ya." Mikoto mengangguk. ”Jadi seseorang pasti telah bertindak bahwa seolah-olah mereka adalah kelompok gelap yang terdiri dari para petinggi kota. Aku tidak tahu apakah itu seseorang dari dalam atau luar kota, tapi aku tahu bahwa orang-orang ini benar-benar eksis, dan mereka menyebabkan insiden berbahaya di kota.”


Petugas keamanan kota masih tidak tahu bahwa orang-orang ini eksis. Mikoto tidak tahu apakah mereka akan mendengarkan jika dia atau Setali mencoba untuk memberitahu mereka. Ini akan menjadi masalah jika Mikoto ditanyai mengapa dia tahu tentang Kode EIC dan mengapa insiden berskala besar ini bisa terjadi.


Meledaknya bom hidup yang terisi penuh dengan telur semut adalah situasi terburuk yang mungkin terjadi.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Setali. ”Bagaimana kau akan menghentikan mereka?"


"Aku tidak punya pilihan selain mengikuti setiap petunjuk yang telah diberikan."


Artinya, Mikoto hanya bisa mencari informasi dari rekaman kamera CCTV, referensi jeruk dari Lessar, dan Setali yang bercerita tentang legenda urban. Sedangkan faktanya, Mikoto tidak mendapatkan apa-apa dari rekaman CCTV dan Setali.


Kalau begitu, hanya tersisa satu.


"Gadi Lessar itu tampaknya tahu sesuatu, jadi aku harus langsung bertanya padanya tentang hal ini."



Chapter 3[edit]

Part 1[edit]


Ketika Mikoto berpikir kembali tentang hal itu, gadis bernama Lessar memanglah sosok yang mencurigakan sejak awal.


Dia telah mengatakan kepada Mikoto untuk mewaspadai jeruk, dan dia telah meninggalkan Mikoto informasi tentang keberadaan Proyek Kode EIC. Yaitu proyek yang sengaja menyebarkan rumor ke kota untuk dengan bebas menaikkan atau menurunkan penjualan produk pada suatu toko. Proyek ini juga menyediakan informasi bagi Setali S Skinikia yang telah terlibat dalam penelitian.


Sederhananya, Lessar tidak mungkin adalah orang di balik itu semua, tapi dia masihlah sosok yang tahu cukup banyak tentang permasalahan ini.


Mikoto tidak boleh membiarkan gadis itu menyimpan informasi lebih banyak. Dia tidak hanya bermain teka-teki untuk bersenang-senang. Akan lebih cepat jika Mikoto menyuruh Lessar menceritakan segalanya. Karena Mikoto masih tidak tahu di mana letak bom hidup yang tersisa, dia jelas-jelas tidak punya waktu luang.


Pertama-tama, dia harus menemukan di mana Lessar berada, dan menyuruhnya untuk menjelaskan semuanya secara detail.


Setelah itu, satu-satunya pilihan adalah mengejar siapa pun yang menjadi dalang di balik insiden ini. Dia harus menelusuri kembali trik yang telah diterapkan pada rekaman kamera CCTV. Dan dia juga harus mencaritahu mengapa Setali tahu akan cerita jeruk sangat berharga, walaupun ternyata Setali tidak paham mengenai bahaya dari rumor itu.


"... Sialan, jetlag* benar-benar mengganggu."

[Baca NT 8.]

Mikoto perlahan menggeleng, tapi dia tidak yakin bisa membuang rasa kantuknya yang sangat mengganggu.


Fajar sudah terbit.


Dia berada di daerah luar kota dengan barisan gedung-gedung tinggi. Suasananya masih redup, tapi kereta mungkin akan mulai beroperasi tak lama kemudian. Mikoto ingin menyelesaikan masalah ini sebelum seisi kota menjadi panik. Tetapi ternyata, kasus ini menyita lebih banyak waktu dari yang ia harapkan. Dan Setali pun cukup lama “membungkam” mulutnya sendiri.


Tampaknya Setali masih marah karena adanya kenyataan bahwa seseorang telah mengganggu dan menyalahgunakan penelitian yang dia kerjakan. Orang-orang ini telah menyalahgunakan pekerjaan Setali menjadi hal berbahaya seperti bom hidup. Namun, Mikoto menolak ketika wanita itu menawarkan bantuan. Pergerakan Setali sedang diperiksa oleh petugas keamanan lainnya. Rencananya adalah menghindarkan dirinya dari kemungkinan serangan Mikoto. Jika dia tiba-tiba merubah rencana itu, para petugas keamanan akan mencurigainya. Jika bantuannya hanya akan menyusahkan Mikoto, maka itu tidak ada gunanya.


"Bagaimanapun juga ..."


Dia bersembunyi di balik pilar dan memeriksa untuk memastikan tidak ada petugas keamanan yang berpatroli di area tersebut.


"Untuk saat ini, aku harus kembali ke toko okultisme itu."


Ketika Mikoto telah memutuskan apa yang harus dilakukan, ia membeku di tempat.


Tidak jelas apakah mereka hanya keluar untuk bersenang-senang, atau mereka ingin menyelesaikan sarapan dengan cepat agar memiliki lebih banyak waktu untuk bersenang-senang... yang pasti, di sana ada cukup banyak orang berjalan di seluruh area. Dan ada beberapa “manusia berbeda” yang tercampur dengan kelompok orang beraneka ragam.


Mereka adalah petugas keamanan.


Sekelompok pria-wanita terdiri dari 3 orang itu sedang berjalan-jalan.


Mereka mengenakan pakaian yang ketat dan memiliki fungsi. Pakaian mereka juga memiliki pelindung pada bagian siku dan lutut. Pakaian yang tampak seperti seragam dari “olahraga jenis baru” itu mulai populer di kalangan pemuda-pemudi, tapi masih belum layak untuk mendapatkan perhatian ekstra di kalangan para penjual kostum. Namun, tongkat, pistol, radio, dll yang terpasang pada pinggang dan dada mereka terlihat begitu nyata. Tidak seperti di Jepang, di tempat ini tidak ada hukum larangan bersenjata, sehingga kau tidak akan ditangkap hanya karena membawa peralatan berbahaya seperti itu. Namun, tidak ada seorang pun yang mau membawa senjata “se-nyata” itu.


Karena semua orang di sekitarnya bergerak dan berjalan, maka Mikoto akan tampak mencolok jika hanya diam dan membeku di tempat. Mikoto dengan santai menatap pilar, sembari menggunakan jari untuk memainkan poninya. Dia diam-diam mengamati sekelilingnya saat ia melakukan itu.


(Tampaknya mereka bergegas ke sini bukan karena mereka tahu bahwa aku ada di sini.)


Ketiga petugas keamanan mungkin sedang melakukan patroli rutin, atau mereka mungkin sedang menuju ke pos. Terlihat jelas mereka memasang ekspresi lesu di wajah. Bahu mereka sedikit terkulai. Mereka perlahan-lahan mendekati ke arah Mikoto sembari ngobrol dalam bahasa Rusia.


Mereka belum memperhatikan keberadaan Mikoto.


Tapi itu sebabnya dia harus sangat berhati-hati. Dia harus menyembunyikan fakta bahwa dia sedang berhati-hati.


(Bahkan jika aku bisa menipu sensor dan kamera, aku tidak bisa melakukan apa-apa pada “mata telanjang”. Mungkin sulit untuk menuju ke toko okultisme dengan menggunakan “rute terpendek”.)


Sembari memastikan bahwa dirinya tidak terlihat oleh para petugas keamanan itu, Mikoto mengelilingi bagian belakang pilar. Dia membayangkan suatu peta sederhana di kepalanya, dan berpikir tentang bagaimana caranya untuk menuju ke toko dengan rute memutar.


"Hm ...? Apa yang sedang kau lakukan di sana?” kata suara wanita dari belakangnya.


"Mjaeh!?"


"... Oh, itu adalah wajah seorang gadis yang harusnya tidak muncul lagi di keramaian."


"Ah ... Ap.... Kau ...?"


Mikoto segera berbalik dan kemudian dia membeku sekali lagi.


Dia tidak begitu mengenal gadis itu, tapi dia sungguh mengetahuinya.


Itu adalah gadis yang pernah menjadi penjaga di toko okultisme, dan Mikoto yakin betul bahwa namanya adalah Lancis.


Rambut cokelat pendeknya ditarik ke belakang oleh bando untuk menonjolkan dahinya. Pakaiannya seperti seragam Lacrosse*, terdiri dari: satu set kemeja, rok mini, dan spats*. Karena ia mengenakan pakaian itu ketika berada di luar toko, itu tidak pasti bukan seragam toko.

[Lacrosse adalah semacam permainan hoki. Sedangkan spats adalah semacam celana ketat untuk melangsingkan pinggul.]

Lancis memiringkan kepalanya ke samping dengan gerakan mirip gadis pada umumnya.


"Jadi, apa yang kamu lakukan…?"


Mikoto menekan punggungnya terhadap pilar, dan berbicara sambil memasang telinganya untuk mendengar derap langkah kaki para penjaga yang semakin mendekat.


"Oh, aku punya urusan dengan toko okultisme-mu."


"...? Maksudmu Nihon Daruma?”


"Aku enggan untuk berbicara nama toko itu."


Mikoto bergumam saat berbicara, tetapi tampaknya Lancis tidak keberatan meskipun bukan orang Jepang.


"Kau punya urusan apa sehingga menyelinap di sekitar sini? Hm, apakah kau adalah tipe gadis yang tidak ingin orang-orang di sekitarmu tahu bahwa kau sedang membeli jimat keberuntungan?”


"Jujur, aku pikir adalah suatu hal yang masuk akal jika seorang gadis membeli benda seperti itu secara diam-diam,” kata Mikoto dengan ringan menyangkal alasan gadis itu. ”Secara teknis, aku memiliki urusan dengan gadis bernama Lessar, bukan dengan toko itu sendiri. ... Dan kau tidak tahu tentang situasiku? Setidaknya, Lessar tampaknya mengerti.”


"Maksudmu, kau sedang dikejar-kejar oleh petugas keamanan?"


"... Jika kau memahaminya, maka mengapa kau memanggil aku seperti itu? Yah, aku berada di jalan buntu, jadi aku kira, aku benar-benar bersyukur karena kau menemukanku.” Mikoto mengetuk tiang di belakangnya dengan punggung tangan. ”Aku mengalami sedikit kesulitan karena para petugas keamanan berkeliaran di sana. Tampaknya akan sulit untuk langsung menuju toko okultisme, jadi aku berpikir bahwa akan lebih cepat untuk melewati jalan memutar.”


Mikoto mampu tetap tenang selama situasi ini karena dia bisa mengalahkan mereka dengan kekuatan jika itu diperlukan. Namun, setelah dia menggunakan kekuatannya itu, semuanya akan menjadi lebih sulit setelahnya karena dia akan terlihat sangat mencolok.


"Hmm," Lancis mendesah dengan santai ... atau lebih tepatnya, mengantuk. ”Yah, apa pun alasanmu, aku punya firasat bahwa Bayloupe akan meledak-ledak jika aku mengabaikan para pelanggan.”


"?"


Mikoto mengerutkan kening saat Lancis tiba-tiba menyambar lengannya.


Dia mulai menarik Mikoto.


"Lewat sini."


"Hah? Eh? Tunggu, ke mana kau akan membawaku!?”


"Ke kerumunan," adalah jawaban singkat dari Lancis. ”Mengambil jalan memutar tidaklah cukup. Cara terbaik menipu pengamatan ‘mata telanjang’ adalah dengan menyamarkan diri di antara orang-orang.”



Part 2[edit]


Nah, siapa sebenarnya gadis mengenakan ikat kepala bernama Lancis ini?


Karena ia adalah kenalan Lessar, mungkin saja dia hanyalah remaja tidak berbahaya. Ide seperti itu terlintas pada pikiran Mikot sembari dia ditarik oleh si gadis.


Dia seperti mata-mata.


Artinya, dia bukan tipe orang yang mencolok. Dia bukanlah tipe karakter bertuksedo yang bisa mengeluarkan berbagai senjata rahasia, dan memenangkan aksi tembak-menembak melawan 100 agen.


Dia justru sebaliknya.


Dia begitu alami. Meskipun Mikoto sedang dikejar oleh petugas keamanan, dua gadis ini tidak mempercepat langkah mereka, sembari didorong oleh keinginan untuk kabur dan melarikan diri. Malahan, mereka hanya secara normal berjalan untuk mengikuti arus manusia.


Pada saat yang sama, Lancis tidak lupa bahwa mereka sedang berada dalam keadaan darurat. Dia memperhatikan berbagai pintu masuk dan pintu keluar di jalanan, atau bangunan. Mereka harus sesegera mungkin memasuki tempat yang aman. Dia juga terus menjaga jarak sehingga mereka tidak akan bertemu dengan petugas keamanan saat memutar atau sejenisnya. Mungkin juga, dia harus memperhitungkan cara untuk menyebabkan kepanikan di antara orang-orang yang lewat, lantas berjalan menjauhi kerumunan orang yang terlibat kepanikan tersebut.


Mikoto masih memiliki sedikit keraguan, tapi ia mengakui bahwa gadis itu berguna dalam situasi seperti ini.


"Kenapa?" Mikoto menghela napas seolah-olah dia benar-benar curiga akan sesuatu. ”Mengapa kita harus menuju kolam rekreasi, bukannya tempat yang lainnya?”


"Suhu air diatur oleh boiler*, dan tadi malam suhunya cukup panas, jadi aku bertaruh bahwa kolam itu akan penuh sesak seketika dibuka. Kolam renang rekreasi memiliki lima pintu masuk, jadi jika kita menyelipkan diri di antara kerumunan, dan memotong pergerakan mereka. Kita bisa keluar di sebelah toko Nihon Daruma.” Lancis menggunakan tangan kecilnya untuk membenarkan posisi ikat kepalanya. ”Dan menuju kolam renang adalah pilihan yang menguntungkan bagi kita dari segi keamanan.”

[Boiler adalah perlengkapan untuk memanaskan air dengan menggunakan semacam bahan bakar tertentu, bisa batu bara, gas, minyak, dll. Pada khususnya, mesin ini menyediakan panas “lokal”, atau dipergunakan sebagai pusat pemanas suatu sistem. Kamus Oxford.]

"?"


"Para petugas keamanan tidak bisa masuk ke fasilitas kolam renang dengan bersenjata lengkap. Bagian dalam fasilitas kolam renang dan bagian luar berada di bawah yurisdiksi yang berbeda untuk petugas keamanan. Dan pada sudut-sudut kolam renang di mana terletak tempat yang hanya diperbolehkan untuk wanita, yurisdiksi itu bahkan tidak lagi dipermasalahkan. Dengan adanya yurisdiksi yang ‘berbeda-beda’ itu, mereka tidak bisa terus-menerus berpatroli di seluruh area yang kita lewati.”


"Aku paham."


Ini adalah sesuatu hal seperti menuju ke kereta khusus wanita, atau ruang ganti perempuan saat sedang dikejar-kejar oleh seorang pria.


"Dan akan menjadi lebih mudah untuk menyembunyikan diri dalam kerumunan dengan benar-benar mengubah penampilan kita di ruang ganti. Ya, kedengarannya sedikit bodoh, tapi itu masuk akal. ... Tapi aku tidak punya baju renang.”


"Tah dah."


"Lho.... Mengapa kau berjalan-jalan di sekeliling sambil membawa pakaian renang untuk 2 orang?"


"Ini seharusnya adalah produk untuk toko. Ini hanyalah setelan murah dan sederhana. Pilihlah seorang master dan asisten, dan kau juga dapat mencoba untuk berpura-pura melakukan pembaptisan. Dengan memanfaatkan simbol ‘telanjang’, kau akan memiliki kesan ‘kesucian’ sehingga orang-orang tidak akan mengejekmu dengan alasan bahwa pakaian ini tidak senonoh.”


Ketika Lancis berbicara tentang hal yang sama sekali tidak dimengerti oleh Mikoto, dia mendorong salah satu tas plastik bening yang berisi baju renang ke arah Mikoto.


Mikoto melihat suatu wujud pakaian berbentuk segitiga di dalamnya, itu berarti ...


(Mengapa harus bikini ...?)


Mikoto yang keras kepala memandang baju renang lainnya di tangan Lancis, tapi kain terlipat di dalam kantong plastik tampak seperti bagian yang terbuat dari string, juga. Tampaknya pakaiana-pakaian yang dibawanya tidak banyak berbeda. Mikoto menduga bahwa selera gadis itu hanya semata-mata didasarkan pada bagus-tidaknya warna pakaian.


Mikoto menyerah untuk menolak, dan melihat label peringatan di bagian atas paket.


Kelihatannya, peringatan itu adalah tentang ukuran ...


"Kh. Aku masih masuk ukuran cup-nya... !!”


Tentu saja, dia masih bisa mengatur ukuran pakaian itu dengan menyesuaikan panjang string, tapi dia tidak dapat menyingkirkan perasaan bahwa itu sedikit terlalu besar untuknya.


Sekarang, memaksakan pakaian kecil pada gadis yang memiliki ukuran cup besar.... atau, memaksakan gadis kecil pada pakaian yang memiliki cup besar.... manakah yang lebih baik?


Ketika Mikoto berpikir tentang itu, ia melihat sedikit ekspresi kasihan di mata Lancis.


Gadis ber-bando itu kemudian berbicara.


"Ketika aku berbicara dengan Bayloupe dan Lessar, lantas mereka memutuskan bahwa ukuran cup-ku hanya memenuhi standar kriteria terendah, itu terdengar sangat menyakitkan. Tapi sekarang aku cukup lega karena ternyata ada seseorang yang lebih parah dariku ...”


"Berisik!! Ayo kita pergi ke kamar ganti, kemudian bersalin!!”


"?"


"... Kenapa kau tampak begitu bingung?"


Hawa dingin merambat di punggung Mikoto, dan dia memiliki perasaan sangat buruk tentang apa yang Lancis hendak katakan selanjutnya.


"Kita tidak akan pergi ke ruang ganti."


"Hah?"


"Petugas keamanan terus berjaga-jaga di sekitar ruang ganti, untuk mencegah adanya tindak kriminal cabul. Sebenarnya tidak akan jadi masalah jika kita menggunakan ruang ganti, tapi kita harus se-mininal mungkin ber-kontak dengan para penjaga jika benar-benar ingin menghindar dari mereka.”


"L-Lalu, apa yang akan kita lakukan?"


"Kita akan menyelinap masuk melalui pintu masuk karyawan, menembus sisi kolam rekreasi, kemudian pergi melalui pintu masuk karyawan yang berbeda. Tapi tidaklah wajar untuk menembus tepi kolam renang dengan mengenakan pakaian normal, sehingga kita perlu bersalin untuk memakai pakaian renang.”


"Umm? Tunggu sebentar. Jika kita hendak menuju pintu belakang seperti itu, maka kita tidak akan melalui ruang ganti normal, kan? Dan bukankah ruang ganti untuk para karyawan hanyalah ruangan berisi loker kecil? Kita benar-benar tak tahu kapan seseorang bisa datang, beristirahat, atau sejenisnya. Dapatkah kita benar-benar bersalin dengan aman?”


"Seperti yang aku katakan tadi, kita tidak akan pergi ke ruang ganti." ekspresi Lancis tidak berubah sama sekali, ketika dia memberikan kesimpulan. ”Kita tidak akan menggunakan ruang ganti siapapun."


"..."


Railgun, Ace Tokiwadai #3, merasa seperti mulutnya berubah menjadi tanda X * untuk sesaat.

[Maksudnya adalah speechless, atau tidak bisa berekspresi.]

"Um, kalau begitu ... di mana kita akan bersalin ...?"


"Di sana."


Lancis menunjuk ke bayangan sempit, yaitu gang sempit antara bangunan.




Part 3[edit]


"Aku tidak mengerti. Aku sungguh-sungguh tidak mengerti!! Ada ribuan orang di depan sana. Kita hanya berjarak 10 meter dari ruang terbuka yang disinari oleh matahari di siang bolong!! Mengapa kita harus bersalin di sini !?” teriak Misaka.


Dia pernah bersalin dengan gaun merah kemarin, tapi kali ini dia harus bersalin di dekat umum, dan itu sangat berbeda dengan bersalin di dalam ruangan tertutup.


Di sisi lain, Lancis berbicara dengan benar-benar tenang.


"Jika kita menuju ke gang di sudut begitu saja, kita akan segera bertemu dengan salah satu staf di pintu masuk kolam renang rekreasi. Ada terlalu banyak orang yang berlalu-lalang di dekat fasilitas, dan bersalin di lorong tersebut akan sangat mengundang perhatian.”


"Yah, itu mungkin benar jika kau berpikir tentang hal itu secara logis. Tapi bagi seorang gadis berumur 14 tahun yang hendak menginjak usia 15, yaitu gadis hampir memasuki masa puber-nya, tempat terbuka seperti ini bukanlah pilihan untuk membuka kait rokmu dan-dgbh!?”


Mikoto bergumam dan mengeluh pada dirinya sendiri, tapi tiba-tiba ia mulai batuk ketika melihat bagian bawah pinggang Lancis.


Lancis sudah benar-benar menanggalkan semua pakaiannya, sehingga kini dia tanpa busana. Mikoto pun tidak menduga bahwa dia mendengarkan suara "Supo - n".


Ini menyebabkan Mikoto kembali berteriak.


"Bagaimana!? Bagaimana bisa seorang gadis remaja melakukan itu!? Bagaimana kau bisa meletakkan tanganmu di pinggul, dan berpose menakutkan seperti itu sambil memasang mata yang tampak ngantuk!!!???”


"?"


"Memiringkan kepalamu lagi!?"


Tampaknya ini semua tidak akan berakhir sampai Mikoto ikut-ikutan menanggalkan semua kain di tubuhnya. Mikoto meraih kait roknya dengan setengah putus asa. Setelah suara *klik* kecil, ia kemudian membuka ritsleting itu.


Mentalitasnya melintasi batas tertentu.


Setelah rok jatuh ke tanah, dia masih mengenakan celana pendek, jadi secara teknis dia masih “aman”. Namun entah kenapa, ketegangan itu belum berakhir. Dia terus menelanjangi dirinya sendiri dengan semangat, sembari menitihkan air mata. Dia sendiri tidak tahu mengapa dirinya begitu semangat melakukan ini, dan dia cukup sedih karena tidak mampu merasakan “keseksian” sama sekali ketika melakukan aksi pornografi ini.


Ketika bagian bawah tubunya mulai merasakan dingin karena angin sepoi-sepoi tidak lagi tertahan oleh kain, Mikoto meraih baju renang itu. Namun, entah kenapa kantong plastik pembungkusnya tidak mau sobek tak peduli seberapa keras dia menariknya.


(Ohhh !! Aku mengalami perjuangan sengit pada sesuatu yang konyol, sembari berada dalam kondisi yang konyol!!)

RAILGUN SS2 03 010.jpg

Sambil menonton seorang gadis yang tengah berusaha keras, Lancis berbicara.


"... Punyamu adalah bikini, sehingga tidak bisakah kau setidaknya menempatkan bagian bawah terlebih dahulu sebelum melepas rokmu?”


"Mgyaahhh !!!!"


Setelah diberikan saran yang sangat terlambat, wajah merona Mikoto mencapai maksimum. Namun, itu pasti membuatnya lebih berusaha karena paket baju renang itu akhirnya mengeluarkan suara robek, dan terpisah layaknya kerupuk beras.


(Aku harus mengenakan ini dan menutupi diriku secepat mungkin!!)


Mikoto dengan cepat menyambar potongan kain berbentuk segitiga itu. Namun, bikini dan two-piece adalah dua pakaian yang detailnya berbeda walaupun terlihat sama. Dengan kata lain, kedua sisi sempit sekali seperti string, dan bikini yang Mikoto coba untuk kenakan adalah jenis yang mengharuskan dia untuk mengikat string-nya.


Perjuangan sengit Mikoto mencapai ronde kedua.


Dia hanya harus mengikat dua simpul, sehingga seharusnya tidaklah terlalu sulit. Tetapi, karena Mikoto ingin cepat-cepat menutupi kulitnya, itu membuat dia gugup dan emosi. Jari gemetar tidak akan menyelesaikan tugas sederhana, tidak peduli berapa kali ia mencoba.


Sementara itu, gadis telanjang bernama Lancis terus bersalin dengan kecepatan yang sedikit lambat.


"Chiralism* sedang mencapai babak baru ..."

[Chiralism adalah tindakan yang menyebabkan seseorang terus berada dalam kondisi panik, khususnya pada kepanikan terhadap hal-hal berbau mesum. https://maskofreason.wordpress.com/2011/04/22/word-of-the-day-chiralism/]

"Aku tidak ingin mendengar itu dari seorang gadis yang sedang telanjang bulat, sehingga membuat seseorang melotot ketika menatapnya!!”


"Dah Tah. Baju renangku adalah slingshot* V, ini adalah standar ‘emas’* dari baju renang seksi.”

[Baca Railgun SS1, dan kamu juga akan mengerti apa yang dimaksud dengan “emas” di sana. Jika kau pikir itu adalah logam mulia, maka kau salah besar.]

"Karena kau tadi benar-benar telanjang, maka penampilanmu saat ini tidak akan membuatku terkejut!!"


Mikoto meneriakkan pelecehan pada gadis itu, dia pun melepaskan semua rasa malunya, akhirnya menuju ke tahap ketiga perjuangan sengit untuk bersalin dan menutupi bagian atas tubuhnya. Akhirnya, Mikoto berhasil menyelesaikan bersalinnya.


"... Selesai. Tidak, aku tidak bisa santai. Berada di luar dan jalan-jalan dengan mengenakan bikini seperti ini cukuplah memalukan. Aku tidak bisa membiarkan standar-ku dihancurkan oleh ini.”


"Mh. Jika aku tidak menyesuaikan ‘sudut-sudut’ pakaianku, beberapa ‘rambut yang tidak diinginkan’ akan terlihat ...” kata Lancis sembari menatap selangkangannya dan mulai menarik-narik kain pada pakaiannya. Sebagai sesama perempuan, Mikoto tidak ingin melihat langsung tindakan “gelisah” gadis itu.


Setelah kondisi mentalnya terpuruk, Mikoto mengikuti Lancis untuk pergi ke pintu masuk kolam renang rekreasi yang dijaga oleh para staff. Mereka telah memasukkan pakaian mereka yang semula dalam wadah yang tadi digunakan untuk menyimpan pakaian renang. Seragam sekolah akan memperlihatkan tampilan yang khas bahkan ketika sudah dilipat, sehingga Mikoto sedikit khawatir sembari dia menenteng wadah itu. Tapi bagaimanapun juga, itu masih jauh lebih baik daripada membawa seragam sekolah di depan umum tanpa wadah.


Pintu masuk staf itu tidak terkunci.


Mereka melewati pria dan wanita yang mengenakan pakaian renang lomba beberapa kali, tampaknya mereka adalah para pekerja. Tetapi, mereka hanya melambaikan tangan dan tidak mencoba untuk menghentikan gadis-gadis ini.


"Pakaian renang mereka cukup berbeda dari punya kita, tetapi tampaknya mereka tidak keberatan."


"Pekerja dengan tugas yang berbeda memiliki berbagai jenis pakaian renang. Besar kemungkinan bahwa mereka adalah lifeguards*. Para pelayan dan staff sejenisnya mungkin akan mengenakan pakaian yang mirip dengan punya kita.”

[Lifeguards adalah regu penyelamat jikalau ada pelanggan yang tenggelam.]

"(Ada staff yang mengenakan pakaian renang slingshot V? Bukankah itu justru terlihat mencurigakan?)"


"Heh heh heh. Di dalam fasilitas di mana segala macam kesenangan berkumpul, beberapa layanan akan dipadu dengan sedikit keseksian. Ketika itu terjadi, pakaian renang dapat berubah menjadi semacam hal berbau psychedelic*.”

[Psychedelic adalah kepuasan akan sesuatu yang biasanya terkait dengan hal-hal seksual.]

"Hm, begitu?" kata Mikoto dengan perasaan yang janggal.


Masih bersama dengan Lancis, dia menuju ke kolam renang di luar lorong.


Sekarang dia benar-benar melihat fasilitas kolam renang tersebut, dia pikir itu benar-benar suatu fasilitas yang cukup megah.


Area itu dua atau tiga kali lebih besar daripada ukuran: gedung sekolah + halaman sekolah + gym.


Di sisi luar kolam raksasa itu terdapat jalur air yang tampak seperti kurva-kurva kompleks. Sejumlah perosotan air memutar dan berkelok-kelok di atas kepala mereka. Daerah di dalamnya dikelilingi oleh jalur air, dan dipenuhi dengan banyak kolam lebih kecil. Setiap kolam renang pasti memiliki beberapa fitur khusus.


Mikoto melihat sekeliling area itu untuk memeriksa apakah ada petugas keamanan kolam renang yang sedang berpatroli di sekitar.


"Sepertinya tidak ada toko-toko di sini. Aku kira, kita tidak akan menemukan beberapa pelayan dengan wajah melongo yang seliweran menawarkan jasa.”


"Tempat ini diatur sedemikian rupa sehingga kau bisa memesan sesuatu melalui AR semipublic, kemudian ada pelayan keluar dan menghampiri orang yang memesan. Dengan membayar ekstra uang, kau bisa memerintahkan agar mereka keluar dengan mengenakan berbagai macam pakaian.”


"Hmm. Jadi, bagaimana kita melewatinya? Apakah kita akan berjalan melingkari tepi luar kolam?”


"30 meter pada arah jam 10. ... Jangan memutar kepala. Yang memakai jaket-pelampung itu adalah petugas keamanan. Dia tidak melihat kita karena dia sedang membantu seorang anak yang tersesat, tapi ia mungkin akan memperhatikan kita jika kita hanya berjalan di sepanjang tepi kolam renang.”


"Lantas apa yang harus kita lakukan?"


"Splash." seperti biasa, Lancis yang tanpa ekspresi menunjuk ke arah kolam renang melengkung yang menuju sekitar area di tepi luar. ”Tercebur di dalam air tidak akan terlihat mencurigakan, dan kita akan lebih sulit ditemukan jika kita menyembunyikan seluruh badan di bawah air, kecali kepala.”


"Aku paham."


Mikoto dan Lancis menuju tepi kolam tanpa latihan pemanasan. Mikoto pikir bahwa tidak akan mencurigakan jika dia pertama-tama menempatkan kakinya di kolam secara elegan. Tetapi ketika dia melihat tindakan yang dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan seumuran dengannya, hal yang wajar mereka lakukan adalah tercebur ke dalam kolam sambil membuat percikan air raksasa.


Mikoto dan Lancis membawa wadah kantong plastik yang berisi pakaian mereka di dalamnya, tetapi orang-orang di sekitar sedang bermain di kolam renang dan menempatkan barang bawaan mereka di dalam suatu tas.


Layaknya Roma, dan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Roma.


Mikoto dan Lancis tanpa ragu melompat pada kolam renang.


Mikoto merasa dirinya menembus dinding air. Dia bisa mendengar suara air yang menerpanya, dan kebisingan saat tercebur. Rasa dingin membungkus sekitar tubuhnya, seakan-akan suhu tubuhnya turun dengan drastis. Untuk sesaat, Mikoto lupa akan situasi yang tengah dihadapinya, dan menikmati betapa menyenangkan rasanya bermain-main di kolam renang.


Segera setelah itu, ia kembali sadar.


Alasan untuk ini adalah sederhana. Mikoto mengenakan bikini yang hanya terbuat dari string dan kain.


Dengan kata lain, kekuatan air mulai menggeser bagian atas bikininya ketika ia tercebur ke dalam air. Jika terus-terusan seperti itu...


"Uhuk...uhuk.....uhuk!!"


Dengan kepala masih berada di bawah air, Mikoto secara panik menutupi dadanya dengan kedua tangan, dan dia menggunakan semua kekuatannya untuk menghentikan kain yang terus selip. Dia kemudian menggeser daerah cup-nya ke posisi semula.


Sembari mengabaikan tenggorokannya yang tersedak air bergelembung, Mikoto meraih bagian belakang tubuhnya untuk memeriksa tali simpul bikini tersebut. Tampaknya tali simpul bikini itu tidak rusak sama sekali.


(Ahh, tidak!! Aku tidak ingin menghindari kematian dalam situasi seperti ini!!)


Itu adalah ketika tatapannya bertemu dengan orang lain di bawah air.


Mikoto meraba-raba sekujur tubuhnya dengan kecepatan super tinggi untuk memeriksa baju renangnya sendiri, tapi dia sekarang melihat Lancis yang telah melompat pada waktu yang sama.


Slingshot V telah bergeser karena gaya dorong air, dan Mikoto dengan jelas bisa melihat suatu “titik terlarang”.


"Uhuk.... uhuk!!"


Mikoto menggunakan semua kekuatannya untuk menahan Lancis yang begitu menikmati surga air sambil membentangkan lengannya ke udara. Bagi sesama gadis, membiarkan temannya berada pada situasi seperti itu adalah suatu tindakan yang tidak bisa dimaafkan.


Setelah penampilan mereka berdua kembali ke “batas minimum kesopanan”, Mikoto akhirnya mengangkat kepalanya keluar dari air.


Kepala Lancis mengambang di sampingnya.


"... Untuk saat ini, mari kita mengapung bersama dengan arus kolam renang."


"Seberapa jauh kita akan mengapung?"


"Sampai pintu masuk staf ketiga. Ini berada di sisi yang sangat berlawanan. Kita akan melewati kantor petugas keamanan sembari mengapung di permukaan air, jadi pastikan untuk tidak menarik perhatian ketika kita melakukan ini.”


Mereka berdua memulai perjalanan air bagaikan Ninja.


Mikoto dan Lancis mengapung bagaikan seekor buaya Amazon yang tengah mengincar mangsanya.


Ini tidak ada hubungannya dengan situasi mereka, tapi Mikoto menyadari bahwa tidak masalah jika mereka mengenakan bikini ataupun slingshot jika mereka berada di air dalam keadaan seperti itu.



Part 4[edit]


Kedua gadis dengan perlahan terus melintasi kolam renang di sekitar tepi luar fasilitas, kemudian menyelinap keluar pintu staf.


Setelah mereka berhasil sampai ke gang belakang, Mikoto harus menghadapi rasa malu sekali lagi ketika ia dan Lancis bersalin. Setelah Mikoto kembali mengenakan seragam sekolah dan Lancis kembali mengenakan pakaiannya yang mirip seragam lacrosse, gadis itu pun berbicara.


"Untuk amannya, kita harus berpisah di sini."


"Ide bagus."


"Berjalanlah menuju ke utara di sepanjang jalan itu, dan masukilah gedung melalui pintu di sebelah kirimu. Nihon Daruma ada di sana. Karena kau sudah dua kali ke sana, kau harusnya mampu mengenali toko itu dengan mudah.”


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Tidak seperti dirimu, petugas keamanan tidak mencari aku, jadi aku tidak perlu menyembunyikan diri. Menuju ke sana dengan cara normal tanpa bersembunyi adalah pilihan paling tepat bagiku. Aku akan menuju ke kanan melalui tengah-tengah para petugas keamanan, dan mengumpulkan beberapa informasi sembari aku berjalan. Aku harus tahu apakah mereka telah menyadari bahwa kau berada di sini, atau tidak. Jika aku menganalisis pergerakan mereka, harusnya aku bisa menjawab pertanyaan itu.”


"Maaf karena telah merepotkanmu."


"Bagaimanapun juga, aku adalah penerima jasa."


Setelah berpisah dengan Lancis, Mikoto menuju ke toko okultisme dengan melewati rute terpendek. Dalam perjalanan menuju toko itu, dia khawatir jikalau penampilannya yang berambut basah akan menarik perhatian banyak orang, tapi tampaknya ia hanya terlalu cemas.


Dia mencapai toko okultisme di ruko sewaan tanpa masalah.


Dia gugup secara refleks.


Ketika pintu geser dibuka, ia mendengar suara-suara ramai dari dalam.


"Nyaah !! Ow! Itu benar-benar menyakitkan!! Bayloupe, tidakkah mereka mengajarimu di sekolah bahwa pantat seorang gadis harus diperlakukan dengan cara yang halus!? Tidak peduli berapa banyak kau mengkritikku, mataku tidak akan 'terbuka untuk kebenaran' !!”


Mikoto mengintip ke dalam toko, dan melihat gadis yang sejak tadi dia cari sedang ditahan dan dipukuli pantatnya.


Orang yang memukul Lessar adalah seorang gadis tinggi dengan rambut perak pendek.


"Aku sudah bilang!! Berkali-kali!! Untuk tidak memberikan!! Informasi yang tidak perlu!! Pada orang normal!! Lessar!! Dari apa yang aku dengar saat menguping petugas keamanan, seorang gadis SMP jatuh tepat ke dalam perangkap, dan sekarang sedang dikejar-kejar!! Itu berarti, kita juga memiliki tanggung jawab terhadapnya!! Mana yang kau sebut 'demi Inggris'!?”


Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.


Dan itu adalah Inggris British*, bukannya bahasa Inggris Amerika.

[Ya, Inggris British adalah bahasa Inggris murni. Perbedaan yang paling mencolok terletak pada kosakata dan cara pengucapan (pronounciation). Pengucapan Inggris British terdengar lebih rumit daripada Inggris Amerika. Misalnya, pada Inggris Amerika kata “don’t” diucapkan apa adanya. Artinya, huruf “t” terdengar jelas. Namun pada Inggris British, kata “don’t” diucapkan tanpa terdengar huruf “n” dan “t”.]

"Um ..." Mikoto meminta maaf karena memotong pembicaraan mereka, dan kedua gadis itu pun langsung melihat ke arahnya.


Lessar masih ditahan oleh gadis berambut perak, dan wajah tampak berkaca-kaca.


"Nyaah! Nyaah! Tolong! Nyaah! Tolong!! Apakah informasiku berguna!? Tolong beritahu pada Bayloupe, apakah informasi pada kartu pos itu membantumu!! Gadis ini tampaknya bercita-cita jadi seorang instruktur yang sadis!! Jika kau melakukannya, dia akan mengakhiri penyiksaan tidak adil ini!!”


"Hm? Apakah kau adalah gadis SMP yang terlibat masalah dikarenakan tindakan Lessar-kami-ini?”


Gadis berambut perak memiliki kartu nama bertuliskan "Bayloupe" di dadanya yang montok.


Mikoto melambaikan kartu pos yang telah didapatnya dari Lessar.


"Aku mengikuti ‘petunjuk’ pada kartu pos yang telah kau berikan padaku, dan menyerang Setali. Tetapi ternyata dia adalah orang baik-baik, jadi aku datang untuk mendapatkan ‘kembalian’.”


"Lessaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr !!"


"Tidak!! Aku hanya memberinya petunjuk mengenai insiden itu. Aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang pihak yang berada di balik insiden itu! Gyahh gyahh gyahh! Itu benar-benar menyakitkan !!”


Setelah serangan berulang mengenai pantatnya sampai berasap karena gesekan, Lessar akhirnya dilepaskan. Setelah dibebaskan dari cengkraman Bayloupe, ia jatuh lemas ke lantai.


Tidak memperhatikan rok dan celana dalamnya yang kelihatan ke mana-mana, ia berbaring menghadap ke bawah dengan cara yang aneh. Pantatnya mencuat ke udara, tepatnya ke arah Mikoto.


"... J-jadi, untuk apa kau ke sini?"


"Untuk menanyakan beberapa pertanyaan mendasar. Aku butuh sesuatu yang lebih ‘nyata’ tentang petunjuk dari kartu pos ini. Kita akan menghemat waktu jika kau mengatakan kepadaku tentang segala sesuatu yang kau tahu.”


"..."


Masih roboh di lantai, Lessar menolehkan kepalanya, dan dengan takut menatap Bayloupe. Si gadis berambut perak hanya bisa menghela napas.


"Kau tidak akan pergi bahkan jika kami mengatakan bahwa ini adalah suatu insiden yang tidak perlu melibatkan orang normal, bukankah begitu? Lessar, ini semua semakin rumit karena tindakanmu itu, jadi kaulah yang harus menjelaskannya.”


"D-Dimengerti. Jujur, aku benar-benar tidak suka melakukan hal ini, tapi keinginanku agar Bayloupe tidak menghajarku lagi, jauh lebih besar. Jadi, tanyalah apapun yang kau inginkan.”


"Ok. Kalau begitu, mari kita mulai dengan ...”


Mikoto melipat tangannya dan berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan padanya.


"... Apakah kau benar-benar sudah memakai BH di kelas empat SD?"



Part 5[edit]


"Ya. Pada saat itu, aku dengan bebas bisa menarik perhatian semua anak laki-laki di kelasku dengan sedikit ‘gerakan’. Itu cukup menyenangkan, tapi itu lebih memalukan daripada apapun. Bagaimanapun juga, menjadi satu-satunya orang yang mencolok di antara kelompok adalah hal yang cukup sulit. Namun ketika aku memikirkannya lagi, sebetulnya pertumbuhanku cukuplah normal.”


Setelah Mikoto membahas topik itu, dia tiba-tiba merasa direndahkan.


Tampaknya Lessar secara langsung “me-scan” tubuh Mikoto, dan mendapatkan gambaran umum tentang bagaimana pertumbuhan gadis itu selama ini. Lessar menilai kasta seorang gadis berdasarkan ukuran payudara. Dan dengan cara seperti itu, dia pun berbicara.


"Tapi, aku benar-benar tidak khawatir tentang seberapa besar dadaku akan tumbuh, aku justru takut akan adanya rasa sakit aneh yang muncul seiring pertumbuhan dadaku. Apapun itu, ketika aku bertanya pada teman-teman perempuan, semuanya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rasa sakit seperti itu, jadi aku khawatir aku punya semacam penyakit aneh. Aku akhirnya bertanya tentang hal itu pada Bayloupe, namun dia hanya tertawa padaku.”


"Um, oke, mari kita membahas masalah sebenarnya yang kita hadapi sekara ...?"


"Ha ha ha. Aku tidak tahu trik untuk membuat dada besar. Dadaku tumbuh begitu saja, sesuka hatinya. Oh, dan jika kau pernah mendengar mitos bahwa dada seorang wanita akan tumbuh dengan cepat setelah minum susu, tampaknya itu hanyalah rumor tak berdasar, jadi jangan menganggapnya terlalu serius.”


"Diam atau aku akan membunuhmu, dasar kau si cebol berdada raksasa!!" teriak Mikoto dengan bunga api putih kebiruan yang terbang dari poninya. Lessar akhirnya menghentikan kesombongannya dan menyudahi pidatonya tentang payudara.


"... Jadi, masalah apa yang ingin kau bahas tadi?"


"Jeruk! Bom hidup menggunakan telur semut tentara berkaki merah panjang!! Ini tentang rangkaian insiden yang memanfaatkan legenda urban jeruk yang sangat berharga!!”


"Oh itu. Karena kau mengatakan bahwa kau memahami kartu pos itu, aku kira kamu tahu tentang Kode Proyek EIC.”


"Itu adalah rencana kota ini untuk memanipulasi rumor dengan sengaja. Tujuannya adalah dengan bebas menaikkan atau merendahkan nilai-nilai produk terpilih. Pada akhirnya, mereka bisa secara bebas memanipulasi penjualan seluruh toko. Bila rencana ini sukses, pihak ketiga dapat menyebar rumor baik atau buruk tentang suatu produk, terlepas dari nilai aktual dalam rangka mendapatkan keuntungan. Jika digunakan dengan benar, mungkin sekali bahwa suatu negara dapat terdorong untuk menjadi kekuatan utama, atau negara musuh dapat dihancurkan tanpa menembakkan sebiji peluru pun.”


"Ini dikenal sebagai Economic Intelligence Control* atau disingkat EIC. Jujur, bagiku itu seperti seorang raksasa yang ‘memperkosamu’ untuk menjadi kapitalisme. Ini bahkan melampaui kartel*. Meskipun begitu, mungkin ini lebih natural bagi negara seperti Rusia ...” Lessar duduk di lantai. ”Kejadian yang melibatkan jeruk dan Kode EIC ini harusnya memiliki beberapa jenis keterkaitan. Setidaknya, ada hubungan mengenai betapa cepat tersebarnya legenda urban tentang jeruk sangat berharga. Pada awalnya, cerita itu hanya menyebar melalui Academy City, tapi akhirnya menjadi populer di sini, pada pusat perbelanjaan.”


"Siapa yang melakukannya? Dan mengapa?"


"Kau tadi bilang bahwa kau menyerang Setali. Apa yang dia katakan?"


"Dia mengatakan, tidak ada para petinggi jahat yang bekerja di balik layar pada kota ini. Dia juga mengatakan bahwa Kode EIC sedang digunakan oleh pihak ketiga yang tidak terkait dengan orang-orang yang mengembangkannya.”


"... Hmm." Lessar menyeringai. ”Kalau begitu, saat ini musuh adalah beberapa pihak ketiga yang mengklaim dirinya sebagai para petinggi.”


"Maksudmu, ada beberapa kejahatan ‘lainnya’ di balik ini? Tapi itu…"


"Aku tidak tahu secara pasti, tapi tidakkah itu terkesan lebih ‘natural’? Maksudku, logikanya adalah: ada beberapa pihak yang sengaja menyamar sebagai para petinggi dan berusaha untuk mengacaukan proyek ini. Menurutku itu lebih masuk akal daripada sekelompok petinggi kota yang hendak mengacaukan proyek ini. Apakah masuk akal bagimu ketika ada para petinggi yang semula membentuk kota ini dengan susah payah, lantas kini tiba-tiba mereka ingin menghancurkan kota begitu saja?”


"..."


Mikoto sudah berpikir tentang itu semua, bahkan sejak berada di apartemen Setali.


Dia bisa membuat tebakan sebanyak yang dia inginkan, akan tetapi saat ini dia membutuhkan hal konkrit yang bisa mengantarnya menuju petunjuk selanjutnya. Sehingga dia tahu langkah berikutnya yang harus dia usahakan.


"Kau sudah mencari tahu tentang Kode EIC lebih lama daripada aku, kan? Bagaimana tepatnya mereka mengendalikan rumor yang sanggup memanipulasi nilai-nilai produk itu? Cukup mudah untuk mengatakan pihak mana yang mengganggu, tapi apakah benar-benar ada ‘celah’ untuk seseorang masuk? Jika kita tahu bagaimana mereka melakukan hal-hal ini, kita mungkin bisa mencari tahu siapakah orang yang berada di belakang semua ini.”


"Nnn, aku punya tebakan yang cukup baik," perkataan Lessar terdengar ambigu.


Dia sok jago, tapi Mikoto tidak akan mengijinkannya untuk menghindari pertanyaan lagi.


"Tunggu. Kali ini kita harus benar-benar membahas tentang bom hidup. Jika kita tidak melakukan apa-apa, jeruk-jeruk itu akan menyebarkan ribuan semut tentara berkaki merah panjang di mana pun buah-buahan tersebut telah ditempatkan. Kita tidak bisa hanya duduk-duduk saja dan tidak melakukan apa-apa.”


"... Tapi aku pikir ada batasan lokasi di mana buah-buahan itu dapat ditempatkan."


"?"


"Kau mungkin sudah menyadari hal itu sekarang, tapi batas waktu meledaknya bom hidup itu tergantung pada suhu dan kelembaban. Dengan mengatur lingkungan yang cocok untuk penetasan dan aktivasi semut, suatu 'ledakan' bisa disebabkan secara sengaja. ... Dengan demikian, lokasi di mana bom pertama ditempatkan adalah suatu petunjuk yang penting.”


"Itu berada di dekat pintu masuk gerbang timur ..." kalimat Mikoto terhenti karena dia menyadari sesuatu. ”Aku paham."


"Ya. Ini adalah hari liburan musim panas. Pintu otomatis terus-menerus terbuka dan tertutup, dan itu menyebabkan panas dari luar dan udara dingin dari dalam bercampur bersama-sama. Suhu dan kelembaban di dekat pintu masuk sangatlah tidak teratur. Namun, bom hidup benar-benar ditempatkan di situ, yaitu tempat di mana bomnya dapat diledakkan meskipun ada fakta bahwa lingkungan harus diatur untuk menyebabkan penetasan dan pengaktifan. …Dengan kata lain, kita hanya perlu berpikir ‘mundur’ dari sana.”


"Jadi telur tidak akan menetas dan tumbuh sampai dewasa kecuali di berada lingkungan ekstrim."


"Mereka benar-benar spesies semut khusus. Aku bertanya-tanya bagaimana cara mereka berhasil menetas di alam terbuka. Mungkin mereka tinggal pada pegunungan, di mana cuacanya sering berubah-ubah. Nah, aku kira, sifat itulah yang memungkinkan mereka untuk tetap stabil saat disimpan dan digunakan sebagai ‘bom hidup’.”


Jika itu benar, ini adalah perkembangan besar pada kasus ini. Menginvestigasi seluruh area yang luasnya melebihi 650 stadion berkubah adalah suatu tindakan yang cukup sulit, tapi itu tidak akan terjadi jika mereka bisa memprediksi area-area “khusus” untuk mempersempit ruang lingkupnya. Jika mereka memfokuskan pencarian pada daerah di mana suhu atau kelembaban terus berubah-ubah karena pengaruh “fasilitas buatan”, mereka mungkin akan bisa menemukan bom hidup tersebut. Bahkan mungkin mereka bisa menemukan dalang di balik semua ini, yaitu di saat mereka menyiapkan salah satu dari bom-bom tersebut.


"Tapi itu tidak cukup untuk membuat kita bersantai," kata Mikoto dengan jelas sambil menatap mata Lessar. "Lingkungan semacam itu bisa sengaja dibuat dengan mengkombinasikan fungsi pendingin dan pengering, jadi ini tidaklah sempurna. Aku benar-benar menginginkan suatu informasi yang bisa membuatku menangkap dalang di balik semua ini.”


"Benar."


"Mari kita kembali ke apa yang kau bicarakan sebelumnya. Apakah kau tahu bagaimana seseorang bisa ‘mengganggu’ Kode EIC? Jika kita tahu bagaimana cara si kriminal melakukannya, kita mungkin bisa menemukan di mana mereka berada.”


"Hm. Bukannya menyembunyikan beberapa informasi, tapi ...”


Pada saat itu, tiba-tiba Bayloupe mencari sesuatu sembari menyibak debu pada rak majalah. Matanya melebar dengan syok, dan dia cepat berpindah dari rak majalah.


"Tiarap!!"


"... Sepertinya aku tidak punya waktu untuk memberikan penjelasan secara rinci."


Segera setelah itu, sesuatu yang besar menerobos dinding, dan jatuh ke dalam toko okultisme.


Itu semassa baja yang sangat besar.


Dengan satu serangan, bahan bangunan toko hancur berkeping-keping dan rak majalah di dinding roboh sembari menumpahkan buku-buku yang ada padanya. Kerusakan tidak berakhir hanya sampai situ. Rak lainnya yang berisi produk dagangan dijatuhkan secara paksa ketika massa baja itu tanpa ampun “menggaruk” pusat toko.


"Peralatan konstruksi!?" teriak Mikoto.


Itu adalah peralatan konstruksi yang dilengkapi dengan tapak tebal. Bentuknya seperti tank, dan terdapat juga lengan hidrolik pada bagian depan yang memiliki “pengeruk raksasa” di ujungnya. Benda itu mirip seperti pembajak salju yang mungkin telah dialih-fungsikan sebagai pengeruk. Ukuran pengeruk itu selebar kendaraan, dan itu sangatlah aneh. Mikoto tidak mendengar suara ketika benda sebesar itu mendekat, artinya, benda itu mungkin dijalankan secara elektrik.


"Mengapa sesuatu seperti itu ada di sini!?"


"Ini adalah pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Mereka menjual semuanya di sini, ingat?”


Itu adalah serangan yang jelas.


Pusat perbelanjaan ini memang besar, tapi mereka masihlah berada di dalam toko raksasa pada suatu fasilitas. Meskipun tidak ada terlalu banyak orang di sekitar karena fajar baru saja menyingsing, itu tetaplah suatu tindakan yang gila ketika ada peralatan konstruksi sebesar itu di sana.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Lessar dengan senyum yang tak kenal takut di wajahnya.”Apakah ini adalah salah satu ‘wujud’ dalang yang berada di balik semua insiden ini? Ataukah ini adalah ‘wajah baru’ petugas keamanan? Aku berani berkata, ada kemungkinan sebesar 70% bahwa ini adalah wujud lain dari si kriminal yang berada di balik semua insiden ini. Di sisi lain, ada kemungkinan sebesar 30% bahwa ini adalah ulah para petugas keamanan yang menyamarkan dirinya sebagai si kriminal penyebab semua ini"


"Kedua kemungkinan itu tidaklah masalah bagiku." percikan api terbang dari poni Mikoto.”Jika ada orang yang menghalang-halangi upaya kita meskipun mereka tahu bahaya dari bom-bom hidup itu, maka dia harus dianggap sebagai musuh, bukankah begitu?”


"Hufff. Aku tak peduli apakah kau adalah seorang Railgun atau siapa pun, namun faktanya kau masih bisa terbunuh. Kau tidak perlu dengan sembrono menyerang ke tengah-tengah bahaya, kan?”


"... Kau tahu siapa aku?"


"Kupikir, adalah suatu hal yang aneh ketika seorang gadis biasa ingin tahu segala hal yang terjadi."


"Kalau begitu, seharusnya kau juga tahu bahwa sebaiknya kau tidak menghalang-halangiku."


"Maaf karena telah menghalangimu di saat kau begitu semangat," Lessar menunjuk ke arah kursi pengemudi, ”tetapi tidak ada seorang pun yang mengemudikan benda itu. Siapa sebenarnya yang ingin kau lawan?”


"Ap-?"


Ketika Mikoto menatap kursi pengemudi, dan dia melihat bahwa kursi itu kosong. Sebagai gantinya, ada perangkat kecil dan kamera yang mengatur segalanya di sana. Serangan itu sedang dilakukan dengan menggunakan remote control radio.


Dan dia juga melihat benda silinder yang dihubungkan dengan beberapa kabel warna-warni.


Dia tidak diberi waktu untuk menangani masalah ini secara rasional.


Segera setelah itu, mesin bajak salju tersebut meledak di tengah-tengah toko okultisme.



Part 6[edit]


Tentu saja, situasi tidak normal itu segera dilaporkan kepada petugas keamanan yang bertugas melindungi ketenangan pusat perbelanjaan.


"Ada ledakan!! Tampaknya ada peralatan konstruksi masuk ke fasilitas, dan meledak di dalam suatu toko!!”


"Kemarin semut, dan sekarang bom dalam kendaraan?"


Sembari mengajukan pertanyaan padanya sesama rekannya, Enirya G. Algonskaya berlari daeri kantornya menuju ke daerah terbuka.


Pusat perbelanjaan adalah fasilitas perdagangan yang sangat besar. Itu juga merupakan suatu bangunan datar karena luasnya jauh lebih panjang daripada tingginya. Rute terpendek yang bisa dia ambil adalah “memotong” melalui tengah-tengah fasilitas dengan menggunakan mobil patroli, tetapi tentu saja dia tidak bisa melakukan itu karena bagian tengah dipenuhi dengan toko-toko berisi para pelanggan.


Itulah mengapa para petugas keamanan menggunakan helikopter untuk berpatroli, bukannya mobil.


Mereka menggunakan model helikopter yang agak besar, dan bisa memuat lebih dari 8 orang di belakang. Mereka punya helikopter besar seperti itu karena sejak dulu kala Rusia adalah negara pengembang helikopter, sehingga produknya beraneka macam, di sisi lain, itu juga sangat berguna untuk menahan beberapa kriminal yang tertangkap dan hendak dikirim ke sel tahanan. ... Sederhananya, itu adalah helikopter bergaya militer yang biasa digunakan oleh warga sipil, dan itu disebut Hind.


Petugas keamanan akan menggunakan helikopter besar itu untuk mengambil jalan pintas. Mereka akan melintasi jalur terpendek, kemudian menurunkan personil ke atap fasilitas perbelanjaan. Lantas, mereka hanya perlu menuju pintu masuk terdekat. Dengan cara itu, mereka selalu bisa mengambil tindakan tercepat tanpa harus khawatir tentang kerumunan wisatawan.


Ciri khas utama mereka adalah sejumlah besar antena komunikasi yang dilengkapi untuk memastikan penyelidikan berjalan dengan lancar. Mereka memiliki antena radio normal, maupun antena-antena khusus yang bisa diakses melalui satelit komunikasi dan digunakan pada ponsel.


"Di mana itu terjadi!?"


"Setelah kita sampai di sana, Kau akan segera tahu. Kau akan melihat asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa,” kata Colleauge Enirya sembari ia naik ke kursi pilot helikopter. ”…Menurutmu, kejadian kali ini terhubung pada kasus semut?”


"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang ini," kata Enirya saat ia duduk di kursi penumpang yang terletak langsung di belakang kursi pilot. ”Tapi jika ada beberapa tersangka di lokasi kejadian, kita harus mengorek semua informasi dari mereka secara lengkap.”



Part 7[edit]


Suatu getaran rendah mengguncang satu bagian dari pusat perbelanjaan. Sejumlah besar debu memenuhi lorong, seakan-akan baru saja terjadi peluncuran pesawat ruang angkasa. Peledak itu tampaknya mengakibatkan lebih banyak kerusakan dengan adanya efek gelombang kejut, bukannya api. Semua dinding pada toko okultisme itu benar-benar luluh-lantah. Sudah jelas apa yang terjadi pada segala sesuatu yang berada di dalamnya.


Tapi Mikoto berlari secepat yang dia bisa untuk menembus tirai debu itu.


"Sialan!! Mereka melakukan ini dengan cara yang begitu mencolok!!”


Suara detingan logam bisa terus terdengar. Itu adalah suara Mikoto menyisihkan berbagai macam objek seperti panel-panel logam. Benda-benda keras itu bisa berada di sekitarnya karena Mikoto baru saja menggunakan pengendalian magnet untuk mengumpulkannya menjadi satu, dan menggunakan itu sebagai perisai.


"Kemampuan itu sungguh nyaman," kata Lessar secara sewenang-wenang memuji Mikoto sambil berlari dengan ekspresi tak acuh. ”Terima kasih untuk itu, kemampuanmu sungguh memudahkan aku."


"Tunggu, apakah gadis itu baik-baik saja? Itu lho, yang bernama Bayloupe.”


"Dia baik-baik saja, aku yakin. Dia hanya menggunakan rute yang berbeda untuk melarikan diri. Telingaku bisa mendengar dia mengeluh saat ini juga.”


"?"


Lessar tampaknya tidak memiliki sejenis peralatan komunikasi di telinganya, dan Mikoto tidak bisa mendeteksi gelombang radio, tapi sepertinya gadis itu berkomunikasi dengan menggunakan cara yang sungguh berbeda.


(... Apakah mereka menggunakan inframerah atau semacamnya?)


"Peralatan konstruksi itu menargetkan kami karena kami sedang menyelidiki insiden ini."


"Ya. Kmungkinan besar mereka mencoba untuk mencegahku untuk memberikan demonstrasi, tetapi mengingat momennya, sepertinya ini semua ada hubungannya dengan kasus bom hidup.”


Bahkan dalam situasi itu, Lessar menyengir dengan lebar di wajahnya.


"Tapi kita belajar sesuatu hal lain yang menarik di sini."


"Apa?"


"Dengan asumsi bahwa peralatan konstruksi itu adalah serangan dari si kriminal, maka berarti senjata mereka tidaklah hanya bom hidup semata. Mereka dapat memperoleh bahan peledak seperti itu, namun mereka masih saja bersikeras menggunakan metode penetasan telur semut tentara berkaki merah panjang. Bahan peledak yang bisa diledakkan dengan hanya menekan suatu tombol akan lebih mudah untuk menyebabkan gangguan, tapi kenapa mereka tetap menggunakan semut.”


"Apakah kau sedang berkata bahwa tujuan mereka tersembunyi di balik insiden legenda urban dan penyebaran proyek Kode EIC?”


Mikoto dan Lessar berhenti dan bersandar pada pilar sembari mengatur napasnya.


"Yah, mungkin cara tercepat untuk menyelesaikan masalah ini adalah menangkap dalang di balik insiden ini, lantas menanyainya tentang segala sesuatu.”


"Bagaimana caranya?" Mikoto mengerutkan kening. ”Mereka bahkan memiliki peralatan-konstruksi-menyebalkan yang dikendalikan oleh remote kontrol. Mereka sanggup mempersiapkan peralatan secanggih itu untuk menutup-nutupi aksinya.”


"Mengingat situasi yang terjadi di sekitarmu, aku bertaruh si dalang menyadari bahwa kau memiliki kekuatan yang besar. Mereka menyadari itu ketika kau menghentikan insiden jeruk yang pertama, sehingga mereka ‘mengembangkan’ rencananya agar bisa bersaing denganmu. Mereka mengirimkan serangan kendaraan yang dikendalikan oleh remote kontrol karena mereka tahu akan menderita kekalahan jika melawanmu secara langsung.”


"Jadi?"


"Bisakah kekuatan besarmu itu berguna saat ini?" Lessar menunjuk ke arah pelipisnya sendiri. ”Misalnya, dapatkah kau melacak sumber sinyal yang digunakan oleh remote kontrol tersebut?”


"Aku paham." Mikoto menyadari apa yang Lessar bahas. ”Tapi peralatan konstruksi itu sudah meledak. Aku ragu bahwa mereka terus mengirimkan sinyal.”


"Kau tidak perlu khawatir tentang itu," kata Lessar ketika terdengar suatu kebisingan yang semakin mengeras. "Tampaknya mereka telah mengirimkan ‘yang kedua’."


Suara tapak menggali lantai terdengar. Sepotong peralatan konstruksi raksasa muncul dari seluruh sudut lorong. Seperti sebelumnya, mereka tidak bisa mendengar kedatangannya sampai peralatan kontruksi itu benar-benar mendekat. Tampaknya kendaraan listrik juga cocok untuk menjadi senjata.


"Tiarap!!" teriak Mikoto sambil mendorong kepala Lessar ke bawah.


Seketika itu juga, pilar di samping kedua gadis tersebut hancur dengan suara ledakan berturut-turut. Hujan “peluru” berukuran 7,62 mm tersebar secara horizontal.


Untungnya, tak ada pelanggan di daerah itu.


"Lihatlah di kursi pengemudi. Kaca telah dilepas, dan senapan mesin ringan dipasang pada bagian lengan dan motor. Itulah yang kumaksudkan tadi.”


"Benda mirip drum yang terletak di kursi itu mungkin berisi penuh dengan peluru. Kalau begitu, benda itu bisa melepaskan 30.000 tembakan.”


"Aku kira, benda itu akan menyebarkan sejumlah peluru sampai habis, lantas meledakkan dirinya sendiri."


"Kau dapat mengontrol listrik dan gelombang elektromagnetik, kan? Jadi bisakah kau menghancurkan baterainya, dan mengganggu gelombang radio yang mengendalikannya?”


"Aku mencoba untuk melakukan itu ketika terjadi serangan sebelumnya toko okultisme, tapi benda itu hanya beralih ke mode ‘self-destruction’.”


Tiba-tiba, mereka mendengar beberapa suara desingan yang keras. Itu tampaknya adalah tembakan, tapi tidak sama dengan suara yang sebelumnya. Entah kenapa, yang kali ini terdengar lebih ringan. Beberapa bunga api terbang dari permukaan peralatan konstruksi.


Mikoto pikir, seseorang pasti telah menyerang benda itu, jadi dia mengintip dari balik pilar. Begitu dia melihatmya, matanya melebar kaget dan tubuhnya menegang.


Dia melihat beberapa orang yang bertugas melindungi ketenangan kota sedang mengacungkan pistolnya sambil bersembunyi di balik sudut persimpangan lorong lain.


Dengan kata lain…


"Tidak mungkin ... Petugas keamanan melihat ini dan bergegas datang ke sini!?"


"Astaga. Mereka adalah bala bantuan yang tidak diinginkan, bukan?”


Dan tampaknya, bala bantuan itu tidak diperlukan dan tidak bisa diandalkan saat ini.


Pistol yang mempersenjatai mereka dimaksudkan untuk menghadapi manusia, sehingga mereka tidak bisa menembus lembaran baja yang membalut peralatan konstruksi itu. Peluru-peluru mereka tak bisa menembus bagian bawah, tapak, bahkan ban kendaraan itu. Petugas keamanan melepaskan beberapa tembakan peringatan, dan menuntut pengemudi untuk berhenti, tetapi mereka segera menyadari bahwa tidak ada orang yang duduk di kursi pengemudi.


Sesaat setelahnya, senapan mesin ringan di kursi pengemudi mulai bergerak.


"Mundur!! Cepat !!”


Mikoto tidak tahu apakah teriakannya mencapai telinga mereka ataukah tidak.


Sesaan kemudian, senapan mesin ringan memulai serangannya pada area sekitar fasilitas perbelanjaan itu. Dinding di sudut yang digunakan oleh petugas keamanan untuk bersembunyi hancur layaknya tumpukan pasir yang dikeruk oleh sekop. Tampaknya petugas keamanan harus segera mundur, tapi dari posisinya Mikoto tidak bisa mengatakan apakah mereka baik-baik saja ataukah tidak.


"... Mari kita mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri," saran Lessar.


"Apa?"


"Kita sedang melawan seseorang yang keras kepala dan menyerang kita dari wilayah aman, tapi tampaknya dia jugalah seorang idiot yang kehilangan ketenangannya dengan begitu mudah. Dia mengabaikan kita, yaitu target sesungguhnya, lantas dia malah mengincar para petugas keamanan yang jelas-jelas bukan tandingan mesin-mesin konyol itu.” Lessar melambaikan jari telunjuknya dengan ringan. ”Tapi aku yakin bahwa dia akan mengingat kembali targetnya tak lama lagi. Jika kau cerdas, seharusnya kau melarikan diri sebelum itu terjadi.”


"Tapi ..."


Ketika Mikoto mulai berbicara, beberapa orang yang tampaknya merupakan petugas keamanan mengintip dari balik sudut lorong hancur sementara senapan mesin itu melakukan “istirahat” sejenak. Mikoto mengenali salah satu orang yang memegang pistol. Dia yakin betul bahwa petugas keamanan wanita itu bernama Enirya.


Mikoto pikir, wanita itu akan terus melancarkan tembakan sia-sia pada mesin konstruksi itu, tapi ...


"Oh, hati-hati."


"!?"


Segera setelah Lessar mengeluarkan peringatan, dan Mikoto buru-buru bersembunyi di balik pilar yang rusak, Enirya menembaki mereka, bukannya peralatan konstruksi.


"Apakah si idiot itu masih terobsesi padaku!?"


"Aku sudah bilang. Tak peduli apakah itu peralatan konstruksi atau petugas keamanan, mereka hanya akan mengincarmu jika ‘akal sehat’nya sudah kembali. Akan lebih baik jika mereka saling serang.”


Ketika mereka berbicara, senapan mesin ringan mulai menembaki petugas keamanan sekali lagi. Suara tembakan yang luar biasa bergema di udara. Terlebih lagi, peralatan konstruksi itu menggunakan tapak untuk bergerak sembari terus melepaskan tembakan. Benda itu berpindah ke arah pusat persimpangan antara dua lorong. Peralalatan konstruksi itu menjaga fokusnya pada sudut pilar tempat para petugas keamanan bersembunyi.


Kalau begini terus, petugas keamanan tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi.


Dan pada saat yang sama, mereka tidak bisa menghentikan peralatan konstruksi baja dengan hanya menggunakan pistol.


"..."


"Tunggu, kenapa kau menarik koin dari saku rokmu?"


"Apakah aku benar-benar perlu mengucapkan nama jurus yang hendak aku gunakan?"


"Jangan lakukan itu ..." Lessar menyela, seolah-olah dia muak terhadap kelakuan Mikoto.”Kau tidak akan mendapat apa-apa. Para petugas keamanan tidak akan berhenti menganggapmu sebagai tersangka hanya karena kau menyelamatkan mereka. Bahkan jika kau adalah seorang esper, kau masih akan mati jika tertembak atau tertangkap dalam suatu ledakan, iya kan? Resikonya terlalu besar.”


"Aku belum melakukan dosa apapun sampai detik ini." meskipun tidak tahu kapan peluru bisa datang ke arahnya, Mikoto mengintip dari balik pilar agar mendapatkan timing benar. ”Jadi aku tidak punya alasan untuk takut atau membenci petugas keamanan."


"Oh," gumam Lessar sambil melihat ke langit.


Mikoto berbicara tanpa melihat ke arah Lessar.


"Kamu tetap di sini. Kau tidak punya alasan untuk pergi denganku, dan jika kita berdua terbunuh, semuanya akan percuma. Jika aku benar-benar mati nanti, maka kau harus pergi untuk menemukan siapa yang mengendalikan peralatan konstruksi ini. Apakah kamu mengerti?"


Dia tidak menunggu jawaban.


Petugas keamanan tidak memiliki waktu luang.


Mikoto memastikan bahwa senapan mesin ringan membuat sedikit penyesuaian untuk membidik petugas keamanan, bukan membidik ke arahnya. Dia kemudian menyerang dari balik pilar.


Segera setelah itu, senapan mesin ringan mulai berputar ke arahnya, dan bahkan dia juga mendapatkan “kiriman” peluru dari petugas keamanan, tapi Mikoto tanpa ragu berlari menuju peralatan konstruksi.


Dia berada beberapa puluh meter jauhnya.


Itu hanyalah sela yang sempit, tapi Mikoto berhasil masuk ke bawah peralatan konstruksi, sebelum akhirnya senapan mesin ringan berhasil membidiknya secara langsung.


Itu benar, di berada bawahnya.


Dia melompat ke lantai, dan meluncur ke sela-sela 2 unit tapak.


Sementara masih menghadap ke bawah, dia menekankan telapak tangannya ke lantai seakan-akan menempelkan perangko.


Ibu jari berada di atas.


Dia menembakkan koin arcade hanya dengan menjentikkan ibu jarinya saja ke atas!!


Dengan gemuruh ledakan,”peluru" itu ditembakkan pada kecepatan tiga kali kecepatan suara, lantas menghancur-leburkan peralatan konstruksi.


Hasilnya bahkan lebih parah daripada terbentuknya lubang pada peralatan konstruksi itu.


Kendaraan itu terpental beberapa meter dari tanah, kemudian hancur di udara.


Sementara masih tergeletak di tanah, Mikoto berguling ke samping.


Setelah “menggantung” di udara selama beberapa detik, sisa-sisa serpihan peralatan konstruksi jatuh seperti langit-langit rumah yang ambruk. Mikoto baru saja menghindari hujanan serpihan, lantas dia mendengarkan suara elektrik.


Itu hanyalah suara *bip* yang terdengar pelan.


Pada saat yang sama, titik merah yang bersinar terang di kursi pengemudi berubah menjadi hijau.


(Ia tahu bahwa benda itu tidak bisa lagi dikendalikan, sehingga dia mengalihkannya ke mode self-destruction!!)


Mikoto dengan panik berdiri, dan melompat ke belakang sudut persimpangan jalan. Ketika dia melompat, dia punya pikiran.


(Oh sial.)


Petugas keamanan berada di balik sudut itu.


"Misaka Mikoto !!"


Seperti yang sudah Mikoto duga, pistol sedang diacungkan padanya bersama dengan teriakan peringatan itu.


Sembari punggung mereka menempel pada ranai logam di dinding yang saling berhadapan pada lorong, Mikoto dan petugas keamanan bernama Enirya saling melotot.


Mikoto tidak menghiraukan laras pistol itu, dan dia pun berbicara.


"Menurutku, ini bukanlah waktu untuk melakukan hal itu."


"Apa yang kamu…!?"


Enirya tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.


Segera setelah itu, bajak salju yang Mikoto telah hancurkan dengan Railgun-nya meledak.


Meskipun ia telah mampu melarikan diri ke sudut lorong lainnya, gelombang kejut menghembuskan angin kencang melalui seluruh terowongan. Baik Mikoto maupun Enirya tersingkir ke samping. Sepertinya Enirya tidak sengaja, tetapi dampak gelombang kejut telah menyebabkan jari di pelatuk pistolnya bergerak. Itu cukup untuk menembakkan sebutir peluru. Tembakan itu tepat mengenai di sebelah wajah Mikoto.


Mikoto mencoba bangkit, tapi kemudian ia berhenti bergerak.


Enirya juga telah roboh, tapi dia masih bisa menunjukkan pistolnya ke arah Mikoto dengan tangan gemetar.


"... Kau memang keras kepala. Kau pastinya juga sudah melihat bahwa alat bajak salju itu menyerangku.”


"Aku tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa semua itu hanyalah akting belaka. Benda itu dikendalikan oleh remote. Kau bisa mengendalikannya kapan saja sembari berlarian.”


"Aku benar-benar tak punya alasan untuk melakukan itu," kata Mikoto dengan tenang meskipun tubuhnya masih membeku di tempat. ”Jika aku benar-benar berniat untuk mengenyahkan semua tuduhan kecurigaan padaku, maka tidakkah aku lebih baik melakukan tindakan yang lebih mudah dimengerti? Ini tidak memiliki Seakan-akan insiden kali ini tidak terkait dengan semut tentara berkaki merah panjang, jadi kau pasti tidak menyadarinya.”


"..."


Sementara Enirya memelototinya, Mikoto perlahan mengangkat tangan dan memindahkan tubuhnya. Dia duduk di lantai, dan menekan punggungnya pada rana logam.


"Walaupun terjadi gangguan sebesar ini, para pekerja toko sungguh tenang, ya. Mereka pasti memiliki beberapa langkah-langkah ‘pencegahan’ yang baik terhadap bencana.”


"... Jika kau melihat berbagai hal secara internasional, ‘mentalitas’ layanan negaramu adalah salah satu yang teraneh di dunia. Setelah pelanggan membeli sesuatu, sisanya tidak masalah. Jika pelanggan mulai mengeluh dan bertindak kasar, mereka hanya akan ditendang keluar, dan ketika pelanggan melangkah keluar dari toko, pekerja tidak perlu berurusan dengan mereka. ... Lorong berada di wilayah hukum kami, yaitu petugas keamanan, bukannya pegawai toko. Karena itu, mereka tidak perlu berurusan atau menyelesaikan masalah seperti ini. Itulah cara mereka melihatnya.”


"Tapi kita tidak bisa menelantarkan pekerja begitu saja."


"?"


Enirya mengerutkan kening, tapi kemudian dia menyadari bahwa ada keringat tidak menyenangkan yang menetes pada dahi Mikoto.


Segera setelah itu, salah satu jendela logam terkoyak dari dalam dan peralatan konstruksi lainnya menunjukkan wujud.


Bersamaan dengan rana dan rak toko yang meledak keluar, peralatan konstruksi yang dilengkapi dengan senapan mesin ringan dan bahan peledak muncul tepat di hadapan Mikoto dan Enirya.


Benda itu muncul di tempat yang sempurna untuk memblokir lorong.


"A-Ap- !?"


"Benda itu dikendalikan untuk menembus pertokoan secara langsung. Pasti sudah tercipta semcam terowongan raksasa di belakangnya.”


Mikoto menyeka keringat dari wajahnya dengan punggung tangan, kemudian mendengar suara lain yang lebih tidak menyenangkan.


Dengan suara tapak, semassa peralatan konstruksi muncul dari di sudut persimpangan antara dua lorong. Sekarang rute melarikan diri telah diblokir oleh dua kendaraan raksasa.


Musuh tidak menggunakan cara bertele-tele untuk membunuh mereka seperti memberondong dengan senapan ringan.


Malahan, musuh memastikan kematian mereka dengan cara yang lebih meyakinkan, seperti mengapitnya dengan dua kendaraan konstruksi yang siap meledak kapan saja.


Lampu merah di kursi pengemudi berubah menjadi hijau.


"... !!"


Mikoto segera menggunakan magnet untuk mencoba mengumpulkan sisa-sisa rana.


Tapi ...


Suatu suara tumbukan benda tumpul terdengar.


Sesuatu menusuk dari sisi kursi pengemudi kosong pada peralatan konstruksi, di persimpangan lorong. Itu tampak seperti tombak. Tombaknya memiliki empat pisau yang berbeda pada ujung, sehingga terlihat seperti lengan manusia terbuat dari mesin.


Seseorang telah melemparkan tombak itu dari samping.


Hanya setelah Mikoto menyadari serangan itu, seorang gadis pendek melompat ke peralatan konstruksi, dan dengan tegas meraih gagang tombak.


"Lessar !?"


"Gwaahh! Dasar idiot!! Jangan memanggil namaku di depan petugas keamanan !!” gadis itu langsung saja geram sembari ia menyesuaikan cengkeramannya pada tombak-berbilah-empat, dan dengan tegas memutar pinggangnya.


Sesuatu yang tak masuk akal terjadi.


Bagian atas peralatan konstruksi yang terbuat dari panel baja tebal itu tanpa ampun robek. Puing-puingnya tertusuk pada “garpu” itu bagaikan wortel. Lessar mengayunkannya, layaknya mata pisau “tambahan”. Kendaraan itu terlempar, terbang menjauh, dan akhirnya berguling beberapa puluh meter.


Segera setelah itu, terjadi ledakan.


Bahan peledak di kursi pengemudi telah diledakkan.


"Apakah kau datang untuk menyelamatkanku?"


"Satu hal." Lessar menunjuk belakang Mikoto tanpa menanggapi pertanyaannya. ”Apakah yang satu itu juga akan meledak?”


"!?"


Mikoto memanipulasi magnet untuk secara paksa memindahkan pelat logam antipeluru pada rompi milik Enirya. Dia dipukul mundur, seolah-olah dia telah dipukul oleh lengan tak terlihat, kemudian menjauh dari pembajak salju itu, menuju ke tempat yang aman.


Lessar langsung saja menangkap Mikoto ketika mereka berdua berbelok dengan cepat di sekitar sudut lorong.


Segera setelah itu, ledakan kedua terjadi.


Di tengah asap dan debu, Mikoto lagi-lagi mendengar suara tapak.


Tampaknya musuh punya banyak kendaraan yang mereka kontrol.


Itulah sebabnya mereka tidak ragu-ragu untuk meledakkan senjata mereka sendiri.


"Sialan! Ini tidak ada akhirnya. Kalau begini terus, kita tidak akan pernah mengetahui dalang di balik semua insiden ini!!"


"Kalau kita terus-terusan bermain dengan bom-bom ini, kita hanya akan kelelahan," kata Lessar sembari mengistirahatkan tombak-berbilah-empat di bahunya. ”Tapi jika kita melihat ini dengan sudut pandang yang berbeda, ini bisa menjadi kesempatan baik.”


"Apa maksudmu?"


"Pada dasarnya, bom-bom berjalan ini hanyalah mainan radio kontrol. Jika kau melacak arah datangnya sinyal radio yang mengendalikan mereka seperti yang kita bahas sebelumnya, kau harusnya akan langsung ‘dipertemukan’ dengan dalang di balik semua masalah ini. Sepertinya musuh kita tidak akan menghentikan serangan-serangannya dalam waktu dekat ... Kau dapat melakukan itu dengan memanfaatkan kekuatan psikis yang sangat kau banggakan, bukan?”


Lessar menarik beberapa produk jimat keberuntungan dari dalam paket pada saku jaketnya.


"(... Plant Set A, Boar’s Tooth Notebook, Simple Rune Dyeing Kit, Sticky Blood Color nomor tiga yang dijual terpisah, dan Restorative Aroma — Magical Plant Effect Removal Sheet. Heh hehn. Dengan ini semua, aku mungkin bisa menggabungkan Seiðr dengan mantra-bantuan-pemikiran-otomatis yang digunakan untuk bertempur.)"


"Nah," gumam Lessar. ”Aku akan bersenang-senang di sini. Kau pergilah untuk menyadap sinyal yang dikirimkan pada mainan-mainan itu.”


"Kamu…"


"Oh, ini tidak ada hubungannya dengan berhutang budi pada siapapun dan apapun. Ini aku lakukan hanya karena mereka telah ‘membajak’toko kami. Kami juga sedang menyelidiki ini, jadi mungkin kami adalah salah satu target yang mereka ingin lenyapkan. Ini hanya perkara aku yang ingin membalas mereka, jadi jangan khawatir tentang itu.”


Mikoto kemudian mendengar suara *klik* pelan.


Itu adalah suara pelatuk dari pistol yang dipegang oleh petugas keamanan bernama Enirya. Yaitu orang yang telah terlempar akibat gaya magnet Mikoto.


"... mau pergi kemana kau, Misaka-san?"


"Bukankah sudah jelas? Aku akan pergi mencari bajingan yang memulai semua ini, dan menendang pantatnya.”


"Itu bukan pekerjaanmu."


"Itu juga bukan pekerjaan main-main yang harus kau tangani," potong Lessar. ”Sebenarnya, aku sangat suka melindungi ketenangan di kota ini. Aku tidak akan menghentikanmu, wahai nona petugas keamanan. ... Tentu saja, itu hanya akan terjadi jika kau mampu melewati berondongan peluru senapan mesin ringan itu, dan menemukan si kriminal yang menjadi dalang di balik semua kerusuhan ini.”


Segera setelah menyelesaikan apa yang ia katakan, Lessar dengan tangkas berpindah ke samping, lantas menyerang ke dalam asap dan debu.


Tidak ada waktu untuk menghentikannya.


Seolah-olah meresponnya, tembakan berulang kali yang berasal dari senapan mesin ringan terdengar dari beberapa arah.


Mereka tidak tahu berapa total unit peralatan konstruksi yang ada di sana, tapi yang jelas, benda-benda itu mulai bergerak. Tidak ada waktu untuk mengeluh. Jika mereka ingin menghentikan gangguan itu, mereka harus mengalahkan si kriminal yang mengendalikan kendaraan-kendaraan itu dari jarak jauh, secepat mungkin.


Mikoto berpaling dari Lessar yang telah pergi, dan berlari ke arah bersebrangan.


Enirya tampak bingung, tetapi percikan api dari berondongan peluru senapan mesin ringan mencegahnya untuk maju. Seketika itu, Mikoto sudah membuat jarak yang cukup jauh dari Enirya, sehingga tembakan pistolnya tidak akan kena sasaran.


Mikoto mengikuti sinyal radio yang mengendalikan benda itu, dan menuju ke arah si kriminal.


Dia menuju ke beberapa anak tangga, sembari terus menuju targetnya.




Part 8[edit]


Setelah dia tahu apa yang harus dilakukan, itu cukup sederhana.


Mikoto mengambil kunci beberapa pintu, dan berlari menuruni lorong-lorong panjang.


Fasilitas raksasa itu berukuran lebih dari 650 stadion berkubah, tapi beberapa peralatan konstruksi menyerang dalam gedung. Sinyal radio yang mengendalikannya harus cukup kuat untuk menembus semua dinding. Untuk seseorang yang bisa dengan bebas mengontrol listrik seperti Mikoto, rasanya seperti memiliki fungsi GPS pada ponsel anak-anak.


Dia tahu apa yang harus diambilnya, sehingga semua yang tersisa akan mengikutinya.


"... Di sana, hm?"


Dia datang ke daerah yang berbeda pada fasilitas raksasa. Dia berdiri di depan suatu toko sewa dengan rana yang tertutup. Sinyal radio kuat sedang dikirim dari dalam toko itu.


Mikoto tidak akan mengetuk pintu layaknya orang yang hendak bertamu.


Sebaliknya, ia memanipulasi magnet untuk mencongkel rana logam yang menutupi toko itu.


Dengan suara ledakan, dinding raksasa meledak keluar dari toko. Mikoto melangkah ke dalam melalui pintu yang dia buka dengan paksa.


Tidak ada lampu yang menyala.


Di tengah toko remang-remang, beberapa LED berkedip dan cahaya berasal dari layar kecil yang tampaknya adalah layar PDA.


Tapi hanya itu.


Tidak ada tanda-tanda orang di dalamnya.


Dan ada semacam “bau” yang tidak menyenangkan.


"..."


Mikoto mendekati dinding dan menyalakan tombol lampu.


Dengan suara *klik*, toko dipenuhi dengan cahaya menyilaukan dari lampu neon.


Gambaran lengkap menjadi jelas.


Banyak benda yang berupa aquarium berbaris di sepanjang dinding. Namun, tidak ada air yang mengisi aquarium-aquarium itu, dan tidak ada ikan tropis berenang di dalamnya. Setengah aquarium diisi oleh tanah hitam, dan sejumlah besar serangga hitam kecil di atasnya.


Di dinding yang berlawanan, lebih banyak aquarium ikan berbaris, tetapi di dalamnya terdapat banyak tikus, bukannya semut. Mereka mungkin adalah makanan untuk semut.


Seperti yang sudah diduga, PDA di tengah ruangan terhubung ke perangkat radio. Di sana juga terdapat antena kecil tapi ber-output tinggi. Kemungkinan, dari situlah alat-alat pengeruk salju itu dikendalikan.


Dan ...


Itu semua telah benar-benar hancur.


Kaca aquarium telah dipecahkan, dan beberapa tanah hitam tumpah keluar.


Toko itu berbau insektisida. Semut hitam tidak bergerak. Hanya tikus yang sejatinya dibesarkan untuk menjadi makanan, masih hidup. Mereka berkerumun bersama-sama, dan dengan hati-hati melihat kedatangan Mikoto.


Peralatan radio itu baru saja dalam kondisi dapat digunakan, tetapi layar PDA menampilkan banyak error. Kemungkinan besar, peralatan konstruksi tidak lagi bergerak.


"Ini adalah…?"


Dinding, lantai, dan bahkan langit-langit tertutup dalam cairan berbau tidak menyenangkan. Itu bukanlah jumlah yang normal. Jangan heran jika akan ada orang terbunuh karena cairan sebanyak itu.


Tidak ada seorang pun di sana.


Tetapi tidak adanya penghuni di sana benar-benar membuat Mikoto merasa semakin gelisah. Situasi ini tidak menunjukkan bahwa pernah ada beberapa orang relawan di sini, lantas kabur.


(Siapa yang melakukan ini…?)


Mikoto menuju ke ruangan lebih dalam.


Ada suatu kotak kayu yang terdapat 19 jeruk di dalamnya.


Masing-masing jeruk telah hati-hati hancur, dan daging buahnya mencuat. Seolah-olah pernah ada seseorang yang mengoreknya, dan melihat apa yang terdapat di bagian dalam buah itu.


Mikoto memiliki pikiran yang “sama” sekali lagi.


(Siapa yang melakukan ini…?)



Part 9[edit]


Pada pukul 9:00 AM, pusat perbelanjaan benar-benar dibuka untuk berbisnis, dan sejumlah besar wisatawan memasuki fasilitas raksasa itu.


Lokasi ke-20 jeruk telah ditemukan, dan insiden terkait dengan jeruk sangat berharga tampaknya telah berakhir tanpa korban untuk saat ini.


Mikoto memasuki lorong pengiriman untuk karyawan tanpa izin, sembari mencegah petugas keamanan menyadari keberadaannya.


(... Ini sudah jauh melampaui demonstrasi semata.)


Bom hidup telah ditangani, tapi Mikoto masih belum mendapatkan kembali kebebasannya. Enirya dan petugas keamanan lainnya mungkin masih mencarinya. Si kriminal yang mengembang-baikkan semut tentara berkaki merah panjang telah menghilang, sehingga Mikoto masih tidak sanggup menyelesaikan kesalahpahaman pada petugas keamanan yang telah dibuatnya.


Dan juga, masih ada aspek lain dari insiden ini yang mengganggu Mikoto.


Siapakah si kriminal yang berada di balik insiden penyerangan peralatan konstruksi, dan juga orang yang “sempat” berada di toko sewaan itu?


Dan siapa sebenarnya dalang yang berada di balik insiden tersebut?


"..."


Masalahnya adalah, peralatan-peralatan konstruksi itu tidak berawak.


Itu berarti, tidak ada alibi bagi siapapun.


Si kriminal bisa saja siapapun yang berada di sebelah Mikoto saat ini.


Ya, jika berbicara perkara peluang, Mikoto tak boleh mengesampingkan kemungkinan itu.


Misalnya, Lessar dan teman-temannya bisa saja orang-orang yang mengendalikan peralatan itu.


Mikoto telah masuk ke dalam toko di mana sinyal radio itu berasal. Peralatan konstruksi pasti telah dikendalikan dari sana. Namun, dia tidak bisa mengatakan dengan pasti siapa yang melakukannya. Mungkin sulit bagi Lessar untuk melakukannya, tapi bisa saja para pekerja lain di tokonya melakukan itu, contohnya adalah gadis bernama Lancis dan Bayloupe itu.


Mikoto sudah terlalu dalam terlibat dengan toko okultisme, begitu juga dengan Lessar dan yang lainnya. Mungkin saja mereka sudah menyusun semacam rencana, dan hubungan mereka dengan Mikoto adalah suatu gangguan. Kalau begitu, mereka mungkin menutupi “jejak” secara paksa dengan menghancurkan toko okultisme itu.


Pada saat yang sama, ada orang lain yang juga mencurigakan. Sebagai contoh, petugas keamanan. Mereka bisa saja berpura-pura bertarung melawan peralatan konstruksi, sementara salah satu rekannya mengendalikan kendaraan tersebut untuk mengelabui Mikoto.


Di sisi lain, Mikoto tidak bisa memikirkan alasan mengapa mereka berusaha begitu keras untuk memanipulasi tindakannya. Jika Mikoto mengganggu rencana mereka, sepertinya cara paling efektif untuk membungkam Mikoto adalah menyiapkan bom di bawah toko sewaan itu. Apa yang “mereka” dapat dengan membuat Mikoto percaya bahwa dalang di balik semua insiden ini “sempat” berada di dalam toko sewaan itu, dan mengendalikan semua peralatan konstruksi, lantas toko itu ditinggalkan dan “dihancurkan” oleh pihak lain? Mikoto bisa memahami bahwa seseorang bisa saja memanipulasi sudut pandang para petugas keamanan terhadap kasus ini, tapi apa yang “orang” itu dapatkan dengan membiarkan Mikoto memikirkan semua ini?


Dengan kata lain, Mikoto bingung mengapa dia dibiarkan hidup sampai saat ini dan “diijinkan” menyaksikan semua “konspirasi” ini.


Apakah benar si dalang sempat berada di sana, kemudian dihabisi oleh pihak lain?


Atau apakah dibuat seolah-olah si dalang “belum” mati dan melarikan diri?


Mikoto tidak punya cara untuk mengetahui.


Namun, ada satu hal yang dia bisa ketahui dengan pasti.


Setelah Mikoto melihat pemandangan di dalam toko sewaan itu, ada 2 kemungkinan: pertama, si dalang sudah terbunuh di situ, kedua, si dalang sengaja “dibuat” agar seolah-olah sudah mati. Mikoto tidak tahu kejadian lengkap dari kasus ini.


Ada sesuatu yang “tertidur” di balik kegelapan terdalam.


Dan jika ini belum berakhir, mungkin saja insiden serupa akan terjadi sekali lagi, dan membahayakan orang-orang tak berdosa yang hanya berniat untuk menikmati fasilitas perbelanjaan raksasa ini.


Jika itu yang terjadi ...


"Ampun deh ..." gumam Mikoto sambil menggelengkan kepala dengan ringan untuk mengusir kantuknya. ”Sepertinya tidak hanya Academy City yang bisa membuaku ‘terhibur’.”



Chapter 4[edit]

Part 1[edit]


Enirya G. Algonskaya berdiri dengan sedih di depan toko sewa kecil di dalam fasilitas perdagangan yang besar.


Rana logam telah hancur.


Ruang itu harusnya sudah disewa. Namun seolah-olah, ruangan itu tidak sedang digunakan untuk menjalankan bisnis yang tepat. Pada rak logam terdapat beberapa akuarium besar dan itu terisi penuh dengan tanah. Terdapat juga sejumlah besar semut mati yang berserakan di dalamnya.


Ruang itu berbau insektisida, tetapi bau yang bahkan lebih tajam tercium di sana.


Itu bukanlah bau besi.


Itu adalah bau darah.


"Tidak ada catatan resmi, jadi kemungkinan besar ada seseorang yang masuk ke suatu toko kosong, dan menggunakan itu,” kata salah satu rekannya yang terbungkus perban, dan sedang mencari pada AR semipublic. ”Aku mengirim gambar mereka ke dokter spesialis, dan tampaknya semut-semut mati itu pastilah semut tentara berkaki merah panjang. Apakah kau pikir bahwa tempat ini adalah semacam ‘pabrik senjata’?”


"..."


"Dengan adanya jeruk-jeruk itu di sini, semuanya cocok dengan kesaksian tersangka. Bahkan jumlah jeruknya juga cocok.”


"Tapi kita masih tidak dapat menyangkal kemungkinan bahwa ia ‘mengatur’ semua ini sendirian."


"Kami menemukan sisa-sisa benda yang tampaknya adalah peralatan remote control di dalam toko, dan beberapa dari kami diselamatkan dari peralatan bajak salju oleh tersangka, serta gadis yang tampaknya adalah kenalan si tersangka.”


"Meski begitu." ekspresi Enirya tidak berubah saat ia mencatat berbagai kemungkinan yang masuk ke pikirannya. ”Mari kita asumsikan bahwa mesin di sini memiliki spesifikasi yang cocok untuk mengendalikan peralatan bajak salju. Namun, kita tidak dapat menyangkal kemungkinan bahwa mesin di sini sedang dikendalikan dari jauh oleh mesin lain yang berbeda, pada lokasi yang berbeda. Misaka Mikoto bisa menggunakan peralatan bajak salju untuk menahan kita, sementara dia menyerang tempat ini. Dia bisa melakukan semua itu sambil melarikan diri dengan orang, dan benda yang tidak ingin ditunjukkannya pada kita.”


Enirya menggunakan dagunya untuk menunjuk ke arah noda di dalam toko.


"Apakah itu noda dari manusia?"


"Kemungkinan besar. Kita saat ini sedang membandingkannya dengan database otoritas Rusia... tapi menurut kuantitasnya, sepertinya ini adalah pembunuhan tanpa mayat.”


"Darah untuk transfusi darah bisa diambil secara berulang kali dari satu orang selama periode waktu tertentu, kemudian darahnya berserakan sekaligus di sini. Terlalu dini untuk berasumsi bahwa ada orang yang terbunuh, hanya karena terdapat sejumlah darah.”


Meskipun berkata demikian, Enirya merasa bahwa lebih mungkin telah menjadi pembunuhan sungguhan, daripada suatu tindakan yang dibuat-buat.


Tapi ...


"Jika ini adalah pembunuhan sungguhan, di mana mayatnya tersembunyi?"


"Ya, seharusnya tubuhnya agak besar."


"Pusat perbelanjaan ini merupakan kumpulan dari benda-benda buatan manusia. Tidak peduli ke manapun kau pergi, terdapat peralatan pengawasan aktif, dan terlebih lagi, tidak banyak tempat yang bisa dipergunakan sebagai kuburan. Bagaimanapun juga, hampir semuanya, termasuk tanah, telah berubah menjadi alat pemantau yang dilengkapi dengan AR semipublic. Satu-satunya tempat yang terdapat tanah adalah ‘ruang’ untuk pohon di sepanjang jalanan, tetapi ‘ruang’ tersebut hanyalah sebesar pot bunga.”


"Mari kita asumsikan bahwa mayat itu telah dibakar atau dibuang dengan bahan kimia pelarut."


"Bahkan dengan metode-metode penghancuran mayat seperti itu, akan memakan waktu lama untuk meyakinkan tidak adanya secuil pun tulang yang tersisa. Jika seseorang menghabiskan waktu lama, aku pikir, persiapan dan kerja mereka akan tertangkap oleh peralatan pengawasan.”


Tetapi meskipun demikian, yang terdapat di sana hanyalah noda bercak darah tanpa ada sepotong pun mayat manusia.


"... Tidakkah kau sependapat bahwa pekerjaan ini dilakukan oleh lebih dari satu individu?"


"Tapi tampaknya, si tersangka bertarung bersama seseorang ketika menghadapi peralatan konstruksi itu ...”


(Bukan itu maksudku.)


Sembari menggumamkan itu di dalam hati, Enirya menatap langit-langit lorong.


Diperlukan kerjasama beberapa orang untuk membawa pergi dan membuang mayat, sementara luput dari pengawasan orang-orang di sekitar, maupun kamera CCTV. Tetapi jika ada sejumlah besar orang di sekitar TKP, maka peralatan pengawasan kemungkinan telah merekamnya.


(Berurusan dengan si tersangka yang dapat memanipulasi listrik adalah suatu hal yang rumit. Aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya, tapi ia mungkin bisa “mengganggu” peralatan pengawasan.)


Tapi dia juga berpikir tentang kemungkinan tidak terlibatnya beberapa hal yang misterius.


(Jadi seseorang mengganggu peralatan pengawasan untuk menyembunyikan suatu kelompok, hm?)


Tugasnya adalah untuk menyelidiki dan menemukan setiap tersangka.


Dia harus melanjutkan penyelidikannya tentang Misaka Mikoto, sambil terus mempertimbangkan semua kemungkinan yang tersaji di depan matanya.


(Tapi siapa yang bisa melakukan itu? Jika tidak ada hubungannya dengan kekuatan-kekuatan psikis misterius, maka siapa yang bisa melakukan itu?)



Part 2[edit]


Mikoto memutuskan untuk mengambil istirahat sejenak.


Awalnya, niat Mikoto hanyalah bersandar ke dinding, tapi akhirnya dia tertidur selama lebih dari 5 jam penuh. Tubuhnya tidak berada pada kondisi 100% karena jetlag, terlebih lagi dia terpaksa keluyuran sepanjang malam karena insiden itu. Keletihannya telah jauh melampaui batas normal. Namun, ada fakta melegakan bahwa dia tidak harus khawatir lagi dengan batas waktu “meledaknya” bom-bom hidup itu.


Namun, dia tetap saja bertindak ceroboh.


Hukuman untuk kecerobohannya itu adalah close up* wajah Lessar ketika dia terbangun.

[Maksudnya adalah, pandangan Mikoto “dipenuhi” oleh wajah Lessar ketika dia terbangun. Dengan kata lain, Lessar menatapnya dari jarak sangat dekat.]

"Dwahh !?"


"Ayolah, itu adalah suatu reaksi yang menyedihkan, kau tahu? Tapi aku terkejut karena kau bisa tidur sambil ‘dikelilingi’ petugas keamanan seperti ini. Apa yang akan kau lakukan jika petugas keamanan menemukanmu? Meskipun bom hidup sudah dihentikan, para wisatawan masihlah tahu tentang serangan pembajak salju itu. Semua orang berbicara tentang hal itu.”


"Huh? A-Aku tertidur!? Aku ... ya!?”


"... Setidaknya aksi setengah-tidurmu itu cukup menghiburku," kata Lessar sembari memegang suatu kantong kertas berlogo restoran makanan cepat saji internasional. ”Dari tingkahmu, aku bertaruh bahwa kau tidak punya waktu untuk mendapatkan suatu makanan pun.”


"Terima kasih ... tapi aku tidak yakin bahwa aku ingin makan sesuatu yang juicy* seperti itu ketika barusan bangun tidur."

[Juicy di sini maksudnya berlemak.]

"Bagaimana kalau aku menyuapimu layaknya dua sejoli dari Jepang. Heh, ini adalah hidangan yang dimakan oleh semua orang di Barat.”


"... Aku tidak ingin meniru kebiasaan siapapun, lantas menjadi kegemukan. Ada cerita di mana orang Barat melakukan kebiasaan serupa, lantas tidak bisa keluar dari pintu ketika terjadi kebakaran, bukan?”


Saat ia berbicara, Mikoto merogoh kantong kertas itu. Dia menghindari makanan “berat” seperti hamburger, nugget berminyak, dan sosis tebal. Dia malah memilih makanan yang jauh lebih ringan seperti salad dan kentang goreng. Hidangan daging-dagingan berat itupun berakhir di perut Lessar yang kecil.


Mikoto menatap dada Lessar.


"(... Apakah perbedaan selera makan menentukan siapa ‘pemenangnya’?)"


"... Jika kau tertarik, kau bisa memijat ‘punyamu’. Hanya saja, jangan memperlakukan ‘punyamu’ terlalu kasar.”


(Aku sudah muak dengan kepercayaandirinya!!)


Mikoto melampiaskan kemarahannya pada kentang goreng, dan mulai memakannya dengan penuh nafsu.


"Tapi ..."


"Apa?"


"... Kau kembali padaku."


"?"


Lessar tampak bingung.


Mikoto sempat berpikir bahwa Lessar dan teman-temannya dari toko okultisme adalah si tersangka di balik penyerangan kendaraan konstruksi. Dia sempat berpikir bahwa mereka mungkin telah menghancurkan toko okultisme itu untuk “memutuskan” kontak dengan Mikoto yang “terlalu banyak tahu”.


Namun, meskipun toko itu telah dihancurkan, Lessar masih saja datang dan melakukan kontak dengan Mikoto. Artinya, prasangka Mikoto tidak lagi bisa dibenarkan.


Apakah Mikoto terlalu serius memikirkan itu?


"Jam berapa ini?"


"Ini sudah siang."


"... Aku tidak berniat untuk tidur selama itu, dan kepalaku masih terasa berat."


"Tentu saja. Lihatlah di mana kau tertidur. Inilah pertama kalinya aku benar-benar melihat seseorang yang tidur sambil berdiri.”


"Aku tidak melakukannya dengan sengaja." Mikoto menguap sebentar saat berbicara. ”Tapi kau tidak tahu bahwa aku ada di sini, kan? Kau pasti telah berkeliling di seluruh tempat untuk mencariku.”


"Aku hanya merasa bahwa aku belum menyelesaikan beberap urusan denganmu." Lessar mengangkat bahu. ”Jika menghilang begitu saja, dan aku tidak mendengar apa-apa tentangmu, aku akan khawatir. Tapi kamu benar-benar bertindak dengan cara yang mencolok. Hanya karena si kriminal menjebakmu, kau tidak harus membuat mereka menghilang dengan meninggalkan bercak-bercak darah. Bukankah itu keterlaluan?”


"... Hm?" Mikoto mengerutkan kening.


Dia merasa seperti ada kesenjangan antara bagaimana dia dan Lessar melihat situasi ini.


"Tunggu sebentar. Apa yang sedang kamu bicarakan?"


"Apa maksudmu? Pada saat aku mengintip toko yang kau serang, semuanya ‘selesai’. Seakan-akan toko yang ditelantarkan itu adalah tragedi yang disebabkan olehku. Padahal, kamu yang merusaknya, kan?”


"Ah ... eh !? T-Tidak !! Tokonya sudah seperti itu ketika aku sampai di sana!! Aku tidak emosi dan mengamuk di sana!!”


"Hehh. Jadi keputusan kita untuk berpencar di saat itu justru menyebabkan perbedaan informasi. Bagaimana kalau kita mengumpulkan kembali semua informasi yang sudah kita punyai, lantas mengurutkannya?”


"Kita butuh suatu tempat, di mana kita bisa berbicara dengan aman. Bagaimanapun juga, aku masih dikejar-kejar oleh petugas keamanan. Adalah suatu hal aneh jika mereka belum menemukanku yang sudah lama tertidur di sini.”


"Kau tidak perlu khawatir tentang itu."


Lessar mengedipkan mata dan menunjuk ke arah pintu masuk pengiriman.


"Aku tahu tempat yang bagus."



Part 3[edit]


"Selamat Datang di Gerbang Utara toko Nihon Daruma."


Mikoto tercengang setelah mendengar Bayloupe mengatakan itu dengan setengah hati.


Mulutnya terbuka dan tertutup layaknya ikan koi saat ia memandang bolak-balik antara Lessar (di sisinya) dan Bayloupe (di belakang meja registrasi).


"Apa? Apa yang sedang terjadi? Tidakkah toko okultisme kalian meledak karena serangan peralatan konstruksi…?"


"Tidakkah kau dengar dia mengatakan bahwa ini adalah toko gerbang utara? Ini adalah bagian toko yang berbeda. Tidakkah kau memperhatikan bahwa kita berjalan menuju arah yang sungguh berbeda? Atau apakah kau masih setengah tidur?”


"…Aku paham. Ini semacam supermarket, jadi ini adalah suatu rangkaian ...”


Mikoto merasa aneh bahwa toko mencurigakan seperti itu benar-benar ada, tapi tampaknya “bagian tersembunyi” dari planet ini lebih luas daripada yang dia bayangkan.


Seperti sebelumnya, rak-rak di toko itu diisi oleh benda-benda aneh, seperti kelelawar kering dan kristal yang dikantongi. Ketika Mikoto memandang sekeliling benda-benda itu, Lessar membuka mulutnya untuk berbicara.


"Mari kita bicara di belakang. Kami memiliki ruang belakang untuk para staf.”


"Oh, maksudmu tempat di mana kalian menghukum para penguntit?"


"Beberapa orang menyebutnya ruang istirahat."


Sembari Lessar terus bergumam, ia memimpin Mikoto melalui pintu belakang meja registrasi, dan menuju ke ruang luar.


Di sana ada dua gadis yang tertidur dalam posisi saling peluk.


"Beh!?"


"Floris! Lancis!! Berhenti berpose Yuri seperti itu, dan bangunlah!! Kami perlu menggunakan ruangan ini!!”

RAILGUN SS2 04 009.jpg

"Tunggu ... um ... kita tidak terlalu mengganggu di sini ...?"


"Jangan alasan!! Tidak apa-apa. Mereka berdua adalah gadis normal! Lancis hanya memiliki kebiasaan buruk, yaitu naik ke tempat tidur orang lain saat dia mengantuk!!”


Lessar menjitak kepala dua gadis itu, dan mereka pun membuka mata sambil tampak kesal. Mikoto telah bertemu gadis berdahi lebar bernama Lancis sebelumnya, tapi ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan gadis bernama Floris. Dia adalah seorang gadis berkulit putih berseri, rambut pirang khas orang bule miliknya dipotong sampai pundak.


Floris dengan lesu mengusap matanya sambil melihat Mikoto.


"Nn. Apakah kau adalah gadis SMP yang terlibat dalam masalah aneh karena ulah Lessar?”


"Y-ya, aku kira begitu."


"Maafkan dia."


Setelah mengatakan itu, Floris mendorong Lancis yang masih mengantuk, agar menjauh darinya. Dia kemudian meraih tengkuk gadis itu, lantas meninggalkan ruang belakang.


"Oke, silahkan duduk di mana saja. Aku akan pergi untuk mengambil beberapa cangkir teh.”


"... Aku tidak benar-benar ingin duduk di sini. Tempat ini agak lengket, bukan?”


Mikoto sangat berhati-hati, tapi peristiwa-peristiwa aneh seakan datang dari dimensi lain, tidak berakhir di situ. Warna dan bau teh yang Lessar bawakan jelas-jelas terkesan konyol, dan makanan ringan yang biasanya disantap sebagai teman minum teh terbuat dari benda tak dikenal yang tampak seperti cumi-cumi kering cincang hitam berbentuk lembaran.


Mikoto meraih salah satu makanan ringan kering itu, dan diapitnya menggunakan ibu jari dan telunjuknya.


"Apa ini?"


"Kelelawar."


"..."


Dia telah memberi semacam peringatan aneh. Gadis itu mungkin benar-benar marah.


"Oke, bagaimana kalau aku mulai dengan bercerita tentang kami?"


"Tentang ketika Kau melawan peralatan konstruksi itu?"


"Tidak, bukan itu." Lessar meneguk tehnya yang aneh. ”Aku akan mulai dengan, mengapa kami membuka toko ini, dan masuk ke kota ini.”


"?"


"Kami ... um, bagaimana ya bilangnya? ... Metode kami berbeda darimu.”


"Bisakah kau menjelaskannya dengan lebih spesifik?"


"Kami adalah kelompok yang menggunakan kekuatan ‘unik’ dengan mengendalikan diri dalam hal agama, okultisme, dan cara ‘mental’. Meskipun kau menggunakan teori kuantum untuk ‘menarik mental’ ke dunia fisik, kami menggunakan sistem yang berbeda untuk melakukan hal serupa.”


"Hmm," Mikoto mengangguk. ”Jadi, kau menggunakan metode dari jaman ketika tidak ada perbedaan antara kemampuan gaib dan ilmu pengetahuan. ... Hal-hal seperti ramuan sihir mungkin benar-benar berguna dalam penggunaan sumber daya alam, contohnya: tanaman obat dan serangga beracun.”


"... Ah, sialan. Bahkan setelah aku menceritakan sebanyak itu, kau masih salah menafsirkannya, kan? Baik. aku sudah kehilangan minat untuk menjelaskan ini dengan benar kepadamu.” Lessar menempatkan cangkir tehnya di atas cawan. ”Pokoknya, kami membuka toko ini, di sini, untuk menyelidiki rencana tertentu yang sedang berkembang di kota.”


"Maksudmu Kode EIC?"


"Tidak, sesuatu di balik itu." Lessar menggeleng. ”Kode EIC adalah sistem yang memungkinkan seseorang untuk menaikkan atau menurunkan nilai produk terpilih, dengan menyebarkan rumor. Mereka bisa menyebarkan rumor itu pada tingkat tertentu dengan mengendalikan media massa, dan media-media lokal lainnya. Namun, orang-orang yang tertipu tidak akan menyadari itu. Kau bisa mengatakan bahwa proyek tersebut menggunakan psikologi kelompok untuk mengganggu pikiran orang pada tingkat yang lebih mendalam.”


"Dan?"


"Karena kau adalah seseorang yang sering terlibat dengan pengembangan kekuatan psikis, kau harusnya tahu.” Lessar mulai makan salah satu makanan ringan kelelawar itu. ”Mengganggu pikiran seseorang pada tingkat mendalam dapat berakibat ‘menarik’ keluar potensi yang jauh terpendam di dalam dirinya. ... Misalnya, itu bisa ‘menarik’ keluar kemampuan yang melampaui hukum fisika normal.”


"Jangan bilang ..." tenggorokan Mikoto mengering, lantas dia dengan refleks meraih cangkir teh, tapi ia segera berhenti. ”Apakah kau mencoba mengatakan bahwa rumor yang menyebar melalui kota ini bisa menyebabkan orang dapat menggunakan kekuatan psikis secara tiba-tiba?”


"(... Yah, kami berteori bahwa bukan kekuatan ilmiah yang akan muncul. Ini adalah metode magis pemurnian kekuatan hidup manusia menjadi kekuatan sihir, dan menciptakan kumpulan ‘mental’ dengan menggunakan ‘magnet hewan’ yang terkait dengan ‘hipnotisme’.) "


Mikoto tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Lessar gumamkan.


"Kami tidak tahu apakah Kode EIC hanyalah suatu kebetulan, atau proyek itu benar-benar disengaja. Pada kenyataannya, kami bahkan tidak tahu secara pasti apakah proyek itu memiliki kemampuan untuk mengendalikan sesuatu, selain nilai produk berdasarkan rumor. Itulah yang sedang kami selidiki. Tapi ...”


"Tapi?"


"Kami belum mendapatkan hasil yang baik. Sedangkan, insiden jeruk itu sudah dinyatakan selesai.” Lessar menyeka mulutnya dengan saputangan.”Insiden itu meniru legenda urban yang berbeda dari pikiran kami. Ini adalah kasus fenomena aneh yang dibuat dengan menggunakan metode normal.”


"Tapi itu tidak ada hubungannya dengan tujuan awal dari proyek Kode EIC, benar kan? Itu adalah ulah pihak ketiga yang berpura-pura menjadi petinggi kota, dan mengganggu proyek Kode EIC.”


"Apakah kau yakin tentang itu?"


"…Apa maksudmu?"


Mikoto mengerutkan kening.


Lessar menunjuk kedua telapak tangannya ke arah Mikoto.


"Aku tidak meragukan apa yang telah kau katakan. Kemungkinan besar, memang ada pihak ketiga pada toko sewaan itu. Dia telah menciptakan bom hidup dengan menanamkan telur semut tentara berkaki merah panjang di buah jeruk. Mari kita mengesampingkan fakta bahwa kasus itu telah berakhir dengan tidak jelas.”


"Jadi, pihak ketiga adalah orang yang menyalahgunakan Kode EIC dan menyebabkan semua masalah, kan?”


"Tapi," kata Lessar seakan memotong perkataannya, ”bahkan jika pihak ketiga ini adalah orang di balik insiden bom hidup, dapatkah kita benar-benar menyangkal kemungkinan bahwa mereka adalah pihak yang menggunakan Kode EIC untuk menyebarkan legenda urban tentang jeruk sangat berharga?”


Ada keheningan singkat di ruang belakang.


Kemudian, Lessar memberikan senyum tipis yang menantang.


Mikoto berpikir sembari memilah-milah informasi pada kepalanya, sampai akhirnya dia dengan perlahan membuka mulutnya.


"Jadi pada akhirnya ..."


"Apa?"

"Siapa yang sebenarnya mengatur bom-bom hidup itu?"


"Aku tidak mengerti. Terus terang, kita luput menyadari itu. Karena ada pihak lain yang ‘membuang’ si kriminal, maka kita tidak tahu nama atau seperti apa wajahnya. Karena mereka tidak memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan uang, maka mereka mungkin adalah pihak-pihak yang memiliki dendam terhadap pusat perbelanjaan ini.”


"... Jadi seseorang memanfaatkan Kode EIC untuk menyebarkan legenda urban tentang jeruk yang sangat berharga untuk beberapa alasan misterius.”


"Si petugas keamanan bernama Enirya itu mengatakan bahwa legenda urban mulai menyebar pada hari ketika aku datang ke sini, tapi Setali katanya pernah melihat itu di internet beberapa hari sebelumnya.”


"Mungkin ada beberapa tahap. Itu bisa dimulai sebagai ‘kaktus’, lalu arahnya disesuaikan secara bertahap. Adalah suatu hal yang normal ketika seseorang mengingat suatu cerita rumor secara samar-samar, sehingga orang itu akan berpikir bahwa dia mendengarnya sebelum atau sesudah terjadi ‘perubahan’ pada rumor tersebut. Mungkin saja seseorang yang ingin kembali ke kota, mendengar rumor itu pada suatu tempat. Lantas…"


"Mereka mencoba untuk membuatnya seakan-akan menjadi nyata. Aku ingin tahu bagaimana cara orang ini menyebarkan rumor tentang semut tentara berkaki merah panjang, tapi mungkin juga semut itu hanyalah spesies semut populer yang dijual pada suatu tempat di pusat perbelanjaan raksasa ini. Hampir tidak ada jeda waktu antara saat orang mendengar cerita, dan saat mereka melakukan serangan. Mereka mungkin sudah mempersiapkan untuk melancarkan sejenis serangan teroris.”


Karena tidak ada seorang pun di sana, mereka tidak akan pernah mendapatkan jawaban, tak peduli berapa banyak mereka berspekulasi.


Dan, si dalang yang telah menyebabkan teror jeruk bukanlah satu-satunya pihak yang perlu diwaspadai pada kasus ini.


Hal paling penting adalah situasi ini yang masih berkembang.


"... Jadi, itu berarti orang yang menggunakan Kode EIC untuk menyebarkan legenda urban tentang jeruk sangat berharga, tidak terpengaruh oleh semua insiden ini.”


"Ya, mereka benar-benar membuat si kriminal di balik insiden jeruk benar-benar menghilang. Sepertinya, si kriminal yang mengganggu dan meniru rencananya, telah membuat dia marah. ... Hmm, hilangnya seseorang di suatu taman hiburan atau pusat perbelanjaan akan ‘senada’ dengan legenda urban, bukan? Tidakkah mereka berbicara tentang semacam organisasi perdagangan manusia ilegal, atau sepasang kekasih yang menghilang setelah memasuki ruang ganti?”


"Jadi mereka sengaja melenyapkan si kriminal di balik insiden jeruk, dan mereka punya rencana lain. ... Tapi siapakah mereka? Dan apa yang mereka coba lakukan?”


"Siapakah yang memiliki wewenang untuk mengontrol Kode EIC?"


"Para petinggi kota ..." Mikoto mulai berkata, tapi dia menggeleng. ”Tapi tunggu. Setali mengatakan bahwa di kota ini tidak pernah ada organisasi kegelapan yang mengendalikan segala sesuatu layaknya di film-film konspirasi. Menurutku dia tidak berbohong pada situasi seperti itu.”


"Mungkin saja, bawahan seperti Setali tidak memiliki kewenangan untuk berkontak dengan ‘kegelapan’ kota ini. Hanya karena dia bekerja di sini, tidak berarti dia tahu segala sesuatu tentang pusat perbelanjaan. Sangat mungkin bahwa petugas keamanan yang mengejarmu, melihat kau sebagai musuh. Namun mereka sama sekali tidak tahu apa yang dikerjakan oleh atasan mereka. Kode EIC perlahan dapat menentukan arah aliran raksasa dari pasar keuangan dengan memanipulasi hal-hal kecil seperti rumor dan perubahan nilai-nilai produk.”


Mikoto mengingat petugas keamanan bernama Enirya yang mengatakan bahwa Mikoto adalah tersangka dalam insiden jeruk.


Jika Lessar benar, Mikoto merasa sedikit kasihan pada Enirya.


"Mari kita asumsikan bahwa para petinggi kota ini adalah pihak yang menyebarkan legenda urban." Mikoto dengan panik menyimpulkan semua informasi di dalam kepalanya secara bersamaan. ”Kalau begitu, mengapa mereka melakukannya? Mereka tentu saja tidak boleh menyebarkan cerita-cerita mengerikan itu tanpa alasan. Apakah kau punya ide tentang apa yang mereka cari?”


"Tidak. Pada awalnya aku pikir mereka menggunakan Kode EIC untuk penelitian orang yang kondisi mentalitasnya cepat berubah karena dampak psikologi kelompok. Aku sedikit kecewa ketika aku menemukan bahwa fakta itu tidak sepenuhnya benar. Aku tahu mengapa mereka menggunakan efek proyek Kode EIC. Seperti yang kau katakan, mungkin saja ada persiapan untuk rencana yang lebih besar.”


Tindakan si dalang kerusuhan jeruk memperjelas bahwa rencana itu berbahaya ataukah tidak. Tidak peduli apa yang mereka lakukan, sekejam apapun, orang yang mempergunakan bom hidup itu masihlah seorang manusia. Si dalang yang berada di balik insiden jeruk sepertinya telah mati karena dia dianggap sebagai gangguan oleh “pihak” yang memiliki rencana lebih besar. Cara yang mereka gunakan untuk menghabisi si kriminal insiden jeruk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang begitu jahat. Tidak terlalu sulit untuk merasakan “pekatnya” atmosfir bahaya yang berasal dari rencana orang-orang seperti itu.


"Kalau saja kita punya semacam petunjuk tentang apa yang mereka lakukan, dan di mana ..."


"Tapi, tidakkah kita sudah punya satu petunjuk?"


Mikoto terkejut oleh jawaban langsung dari Lessar.


"Apa maksudmu?"


"Mengapa para petinggi di balik semua ini ingin melenyapkan si dalang insiden jeruk?"


"Yah ... karena si kriminal insiden jeruk menghalangi rencana mereka ..."


"Para petinggi adalah pemegang kedudukan tertinggi di kota ini. Posisi itu memungkinkan mereka untuk dengan bebas mengirimkan petugas keamanan. Jika mereka hanya ingin menghentikan si kriminal insiden jeruk yang ‘lepas kendali’, mereka tinggal menyuruh para petugas keamanan untuk berurusan dengannya. Bagaimanapun juga, mereka cukup membuat berita yang bertuliskan: jaringan teroris telah ditembak mati. Aku tidak bisa memikirkan alasan mengapa mereka harus menyembunyikannya. ... Namun, faktanya adalah para petinggi ‘membungkam’ publik akan berita tewasnya si dalang insiden jeruk. Aku pikir, ini bukan masalah MAU atau tidak, melainkan HARUS atau tidak.”


"Jadi, ada alasan untuk membuat si kriminal menghilang, bukannya membunuhnya?"


"Ya."


"Mengapa mereka ingin memilih cara merepotkan dan timpang seperti itu?"


"Karena ada perselisihan."


Sebelum Mikoto bisa bertanya bagaimana, Lessar memberi jawabannya.


"Suatu perselisihan antara Academy City dan lembaga koperasi, yang tidak lain dan tidak bukan adalah pusat perbelanjaan.”


Saat itu, Mikoto benar-benar terdiam.


Dia bahkan tidak pernah memikirkan hal sedalam itu.


"Pikirkan tentang ‘komposisi’ insiden ini. Legenda urban yang sama persis tersebar pada Academy City dan lembaga koperasi. Suatu insiden terjadi berdasarkan rumor itu. Satu-satunya kemungkinan pelaku adalah seorang Level 5 yang pergi dari satu kota ke kota lain. ... Itu adalah suatu tuduhan palsu yang cukup legit, iya kan? Sepertinya, seseorang sedang mencoba untuk memulai beberapa masalah denganku."


"... Tapi sisi mana?" Mikoto bergumam dengan suara bergetar.”Sisi mana yang menghendaki konflik ini?”


"Kita sedang mendiskusikan rencana pada bagian pusat perbelanjaan sekarang, kan?" kata Lessar untuk memberikan jawaban sederhana. ”Menyebarkan rumor yang sama dengan Academy City dan di kota ini adalah rencana pusat perbelanjaan, kan? Dengan membaca paper proyek Kode EIC, semuanya menjadi jelas apakah itu memungkinkan ataukah tidak. Seperti yang kita sebutkan sebelumnya, pihak ketiga menyadari adanya ‘setting’ itu, lantas menggunakannya untuk aksi terorisme. Kita hanya tahu bahwa si pihak ketika memiliki semacam dendam terhadap pusat perbelanjaan ini. Namun,” Lessar menambahkan, ” insiden bom hidup itu sama sekali tidak berhubungan dengan rencana awal. Sehingga, kita tidak tahu apa-apa tentang rumor tertentu yang dimaksudkan untuk menyebar di seluruh wilayah kota. Kita juga tak tahu apakah insiden itu terjadi di kota ini ataukah Academy City. Mungkin saja, ‘rencana awal’ mereka bukanlah kekacauan macam ini, dan juga, metode awal yang mereka maksudkan adalah kebalikannya.”


"Kebalikannya ...? Maksudmu…?"


"Maksudku, mungkin saja mereka bertujuan untuk menyebabkan suatu insiden di Academy City setelah menyebarkan rumor yang sama di kedua tempat.”


"!?"


"Kode EIC adalah sistem untuk ‘menulis ulang’ nilai-nilai produk dengan menyebarkan rumor yang memanfaatkan segala jenis media massa internasional maupun lokal. Namun, kemungkinan besar dampaknya bisa menyebar di luar pusat perbelanjaan dalam bentuk 'berita asing', lantas ‘merambat’ sampai menuju ke Academy City.”


"Untuk mewujudkan tujuan itu, mereka harus terlebih dahulu menyebar legenda urban dalam pusat perbelanjaan ini, kemudian mengirimkannya ke Academy City. Mereka akan mengirimkan informasi tentang produk apa yang populer di kota ini.”


"Mengenai cerita jeruk sangat berharga, tampaknya informasi dari Academy City telah dikumpulkan, disebar melalui pusat perbelanjaan, disesuaikan rinciannya agar menjadi lebih mudah digunakan, lantas dikirim kembali. ... Andaikan saja mereka tidak mengacaukan itu, dan melakukan serangan teroris begitu saja, maka itu adalah suatu cara yang lebih cepat. Yah, mereka menyebarkan legenda urban, dan memastikan ada lebih banyak orang yang tahu tentang cerita tersebut. Dengan demikian, salah satu dampaknya adalah meningkatnya jumlah ‘tersangka’. Pada akhirnya, aku kira itu akan ‘mengelakkan’ tuduhan pada si tersangka yang asli.”


Jika mereka menyebarkan suatu legenda urban di kedua kota dan menyebabkan insiden berdasarkan rumor itu, maka mereka juga bisa melakukannya ke “arah lain”.


"Aku sudah katakan sebelumnya, jika para petinggi pusat perbelanjaan adalah pihak yang bersalah, maka ini semua hanyalah tindakan yang riskan, karena sama saja dengan menyerang kota yang mereka bangun dengan susah payah. Melakukan itu bukanlah suatu hal yang masuk akal, jadi menurutku, mereka tidak akan melakukannya. Jika tujuan sejati mereka adalah ‘menyerang’ kota lain, maka tindakan yang lebih masuk akal adalah menyebabkan kerusakan pada kota target, bukannya kotanya sendiri.”


Jika itu benar, maka para petinggi pusat perbelanjaan akan benar-benar memulai serangan mereka di Academy City sekarang, sesuai dengan rencana awal.


"Tapi mengapa?" tanya Mikoto. ”Pusat perbelanjaan ini merupakan salah satu lembaga koperasi yang bekerjasama dengan Academy City. Mereka berhasil menjadi kota yang maju sampai sejauh ini berkat bantuan teknologi dari kami. Konflik hanya akan membuat mereka kehilangan sokongan dari kami. Mengapa mereka hendak menyebabkan pertikaian yang sama sekali tidak bermanfaat?”


"Mungkin mereka ingin keluar dari hubungan itu." Lessar menanggapi dengan lancar seolah-olah dia sudah menduga bahwa pertanyaan itu akan ditanyakan oleh Mikoto.”Suatu lembaga koperasi tidak akan bisa menerima manfaat yang lebih besar daripada Academy City tidak tidak peduli apapun yang terjadi. Pantas saja, ini tidak membuat mereka puas. Memiliki kesenjangan teknologi sejauh 20 atau 30 tahun akan menyebabkan beberapa ‘gesekan’. Mungkin, pusat perbelanjaan menginginkan terjadinya konflik ini karena mereka bertujuan untuk mengurangi kesenjangan teknologi itu.” Lessar sedikit mengeluh. ”Jika Academy City lenyap, ‘serpihan’ ilmu pengetahuan yang telah didapatkan oleh lembaga koperasi akan menjadi hal yang paling berharga di dunia. Tidak peduli apakah informasi dari Academy City terkait dengan mesin-mesin canggih atau pengembangan kekuatan psikis, keduanya masihlah sangat menguntungkan mereka.”


"Itulah sebabnya mereka mencoba untuk menyebabkan beberapa jenis serangan teroris berskala besar ...?" Mikoto menggeleng. ”Tapi itu tidak akan menghasilkan manfaat apapun bagi mereka!! Menghancurkan Academy City demi mengurangi kesenjangan teknologi hanya akan menjungkir-balikkan level ilmu pengetahuan! Dan Academy City adalah satu-satunya tempat yang dapat mengembangkan kekuatan psikis. Level teknologi di pusat perbelanjaan ini tidaklah cukup untuk menyukseskan itu. Tanpa adanya Academy City, bidang pembangunan kekuatan psikis akan benar-benar hancur!!”


"Mereka tidak peduli tentang itu," Lessar langsung bereaksi. ”Mereka tidak peduli bahkan jika kekuatan psikis akan hilang selamanya. Jika mereka dapat menggunakan ‘serpihan’ pengetahuan ilmiah untuk memajukan penelitian ke arah yang ‘salah’, dan berhasil membuka suatu bidang yang benar-benar baru, maka itu sudah cukup bagi mereka. Banyak teknologi yang tersedia untuk mendukung pengembangan kekuatan psikis. Jika yang mereka inginkan hanyalah keuntungan, memperolehnya dari bidang teknologi adalah cara yang paling efisien.”


"Mereka hanya ingin keuntungan ...?"


"Yah, itu benar. Ada banyak kemungkinan yang akan terbuka dengan mengembangkan kekuatan psikis, tapi kau hanya perlu ingat bahwa mereka tidak selalu memperhatikan lingkungan sekitar ketika mengupayakan itu.”


"Mereka membangun model bisnis," Mikoto bergumam seolah-olah sedang mencamkan kata-kata itu di pikirannya. ”Apakah pusat perbelanjaan ini memiliki fasilitas penelitian seperti Academy City?”


"Aku tidak tahu. Aku belum benar-benar melihat tempat seperti itu, jadi aku tidak bisa mengatakan. Aku hanya tahu bahwa tempat ini tampaknya akan difokuskan pada eksperimen ‘mental’ di bidang keuangan dan ekonomi.” Lessar mengangkat bahu. ”Namun, jika Academy City menerima bencana kerusakan, kualitas 'ujung tombak teknologi' akan sangat terpuruk di seluruh dunia. Aku yakin, bisnis dan organisasi penelitian yang ingin mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin, akan bergantung pada ‘serpihan’ pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga koperasi Academy City, contohnya ya pusat perbelanjaan ini. Bahkan jika pusat perbelanjaan ini tidak melakukan apapun selain menggelontorkan sejumlah uang untuk kegunaan informasi tersebut, dan memanipulasi keuntungan dari penjualan produk berasal dari informasi itu, mereka tetaplah memperoleh keuntungan yang tidak sedikit. Bahkan, keuntungan mereka akan lebih besar daripada pihak lain.”


Suatu dunia di mana terdapat puncak ilmu pengetahuan sedang diguncang.


Dunia itu akan benar-benar terwujud jika Academy City dihancurkan.


Pusat perbelanjaan mengerti benar bahwa distorsi itu akan terjadi, namun yang mereka cari tidak lebih dari suatu keuntungan.


"Pusat perbelanjaan ini memiliki kekuatan dalam bidang keuangan dan ekonomi. Mereka memiliki data semua percobaan yang telah dijalankan, sehingga mereka memiliki kekuatan penting untuk bertahan jikalau ada kekacauan yang terjadi akibat Academy City berhenti berfungsi. Dan di saat yang sama, lembaga koperasi lain akan menderita lebih banyak kerusakan. Di saat itu terjadi, kota ini akan menjadi penguasa baru ‘pasar ilmu pengetahuan’.”


Jika itu terjadi, bukannya tidak mungkin bahwa Academy City “baru” akan muncul, dan dibangun ulang di dunia ini.


Hal yang diinginkan oleh perusahaan dan organisasi di seluruh dunia adalah stabilitas.


Jika “poros” lain muncul, mereka akan berpindah ke pusat baru, dan itu bukanlah masalah. Jika terjadi suatu situasi di mana akan lebih efisien untuk berpindah ke sistem baru daripada mengeluarkan sejumlah uang untuk membangun kembali Academy City, maka tidak akan ada lagi orang yang memerlukan Academy City


"Lalu ..."


"Rumor jeruk sangat berharga sudah digunakan oleh orang lain, sehingga mereka akan menyebarkan legenda urban ‘baru’ di antara dua kota untuk menyebabkan insiden berikutnya. Setelah itu, mereka akan mulai melakukan serangan teroris berskala besar dalam rangka untuk menghancurkan Academy City.”


"..."


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, menyebarkan legenda urban antara kedua kota mungkin memiliki suatu efek. Yaitu munculnya tuduhan-tuduhan palsu yang akan memperbanyak jumlah tersangka, dan menyembunyikan siapa pelaku sebenarnya. Namun, ada juga kemungkinan terciptanya kekacauan campur aduk, di mana tidaklah jelas siapa yang dirusak oleh insiden itu dan siapa yang diuntungkan. ... Dan apa pun yang sedang mereka rencanakan, selama itu menciptakan situasi di mana Academy City akan roboh, pihak Academy City akan melakukan penyelidikan dengan rinci. Kalau begitu, sangatlah mungkin jika pusat perbelanjaan ini dan pihak-pihak lembaga koperasi lainnya yang memiliki ketertarikan pada informasi ilmu pengetahuan, menulis laporan palsu tentang insiden ini, dan itu akan menguntungkan pihak mereka sendiri.”


Mikoto mengeluarkan ponselnya dan melihat ke layar.


Dia sedang dikejar-kejar, jadi menggunakan ponselnya adalah tindakan yang berbahaya. Tapi tidak jelas apakah dia akan sanggup kembali ke Academy City secepat mungkin, pada waktu yang tepat. Dalam hal ini, dia tidak punya pilihan selain meminta tolong pada seseorang di Academy City untuk membantu menyelesaikan insiden ini.


Dia perlu menghubungi orang tertentu yang bertugas melindungi ketenangan kota itu.


Dia perlu menghubungi Shirai Kuroko si anggota Judgement.


(Mereka telah mempersiapkan suatu legenda urban untuk menyebabkan insiden lainnya. Kalau begitu, kita mungkin dapat memprediksi jenis insiden apa yang akan terjadi selanjutnya.)


"Apakah kita tahu jenis rumor macam apa yang akan berkembang selanjutnya?"


"Ada ‘lonjakan’ tak wajar pada pusat perbelanjaan. Kemungkinan, itu dibuat dan dikembangkan secara sengaja. Aku tidak tahu apakah itu juga terjadi di Academy City. Tapi jika dugaanku benar, hal ini juga sedang tersebar di Academy City. Mungkin ini terkait dengan insiden berikutnya.”


"Jenis legenda urban apakah itu?"


"Paling tidak, rumor baru ini pasti lebih mengejutkan daripada mitos tentang jeruk." dengan senyum jahat terpasang pada wajahnya, Lessar berbicara tentang rumor baru yang “merembes” ke kota. ”Kalung kematian. Kamu mungkin pernah mendengar tentang kisah itu. Ini adalah kisah cukup terkenal yang melibatkan uranium.”



Chapter 5[edit]

Part 1[edit]


Ada suatu cerita tertentu.


Ada dua gadis yang merupakan teman akrab. Gadis 1 punya pacar. Sebagai hadiah, pacarnya memberikan suatu kalung pada Gadis 1. Pada kalung itu terdapat batu yang sangat indah.


Gadis 1 sangat gembira dengan adanya hadiah itu, dan memakainya sepanjang waktu.


Tapi hal-hal aneh mulai terjadi padanya sejak saat itu. Wajahnya tampak sakit-sakitan, kesehatannya memburuk, ia tidak bisa tidur, dan akhirnya rambutnya mulai rontok. Gadis 1 seharusnya senang dengan kalung yang begitu dia sayangi, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia dikutuk dengan nasib buruk. Tak lama setelah itu, dia meninggal.


Gadis 2 mewarisi kalung ketika gadis 1 meninggal. Menurut seorang kenalan, batu di kalung itu adalah kristal uranium. Rinciannya tidak diketahui, tapi pacar si gadis 1 telah memberinya kristal uranium sebagai hadiah. Gadis 1 telah dibunuh oleh radiasi uranium.

"…Wow. Seperti biasa, ini adalah suatu cerita yang begitu mengerikan” kata Saten Ruiko, yaitu seorang gadis yang mencintai rumor.


Dia telah browsing melalui website yang membahas tentang legenda urban. Dia telah mengejar rumor Level Upper yang terdengar seperti kebohongan, tapi dia masih berharap itu adalah suatu kenyataan. Dia mendapati jalan buntu dalam pencarian itu, dan setelah beberapa halangan, dia akhirnya menemukan dan membaca legenda urban yang sama sekali berbeda.


Pada umunya, website legenda urban memiliki dua tujuan.


Pertama, mengumpulkan dan memperkenalkan legenda urban yang beredar saat ini, maupun di masa lampau. Namun, kebanyakan orang tampaknya berpikir bahwa itu tidaklah cukup untuk menjamin eksistensi situs tersebut. Umumnya, suatu situs baru bisa disebut layak jika para admin ataupun stafnya memberikan komentar ataupun penjelasan mengenai terjadinya rumor tersebut.


Sering kali, pendapat tentang legenda urban mengatakan bahwa cerita-cerita itu tidaklah nyata.


(Semuanya dimulai dengan membuatmu berpikir bahwa rumor-rumor itu adalah fakta, tapi kemudian orang-orang mencari berbagai macam hal yang menyangkal kebenaran rumor tersebut, dan mengatakan bahwa itu semua hanyalah generalisasi. Bagiku rasanya seperti, memutar balikkan prioritas.)


Namun, dia sungguh memahami perasaan ingin “menghancurkan” suatu legenda urban karena kisah itu tidak mungkin diterangkan secara ilmiah. Legenda urban bisa sangat menyeramkan, sampai-sampai kau tidak akan bisa tenang, lantas membuktikan bahwa cerita-cerita itu hanyalah isapan jempol belaka.


Kisah kalung kematian memiliki beberapa cuil komentar tambahan, seperti berikut:


Suatu kristal yang cukup kecil untuk dimuat di kalung tidak akan memiliki radiasi untuk membunuh seseorang dalam periode waktu singkat. Dengan demikian, “bagian dramatis” yang ditampilkan dalam cerita ini tidak akan benar-benar terjadi.


Legenda urban ini telah menyebar cukup luas di masa lalu juga, tapi tampaknya baru-baru ini ceritanya kembali muncul ke permukaan. Kami sedang menyelidiki apa yang menyebabkan kembalinya cerita ini, tapi kami dapat mengatakan bahwa ini adalah “pola yang sangat umum”.


"... Ini mungkin adalah suatu legenda urban, tapi aku lebih suka jenis cerita menyenangkan yang memiliki banyak unsur fantasi di dalamnya,” gumam Saten sambil menutup windows browser-nya.


Dia juga tidak bisa menemukan informasi mengenai Level Upper pada hari itu.


Ketika ia akhirnya menemukannya, Saten berniat untuk memamerkannya pada Uiharu.



Part 2[edit]


"Iya iya!! Aku sudah memeriksanya, dan cerita itu menjadi lebih populer, terutama di internet! Tapi cerita itu benar-benar terkesan buruk!!” Shirai Kuroko berteriak ke ponsel saat dia bergegas keluar dari asramanya.


Waktunya sudah melewati jam malam, tapi ia bisa masuk dan keluar cukup mudah dengan menggunakan kemampuan teleportasi. Dan juga, dia hampir tak pernah pusing memikirkan jam malam.


"Apakah kau pikir Anti-Skill akan melakukan sesuatu?" kata suara Misaka Mikoto dari ponsel.


"Dengan informasi sesedikit ini, aku ragu. Dan jika aku menceritakan semuanya kepada mereka, mereka akan cenderung mencegahku untuk mengambil tindakan.” Shirai terus membagi informasi yang terhimpun di kepalanya. "Pada dasarnya, Uiharu dan aku adalah satu-satunya orang yang bisa mengambil tindakan."


"Uiharu?"


"Oh, sepertinya kau tidak mengenalnya, Onee-sama. Dia adalah kolegaku. Dia adalah anggota Judgment yang selalu menghabiskan waktunya di depan komputer.”


"... Itu tidak banyak membantu."


"Onee-sama, penilaianmu itu sedikit menyakitkan."


"Pokoknya, semua yang aku jelaskan padamu sepertinya akan terjadi. Aku pikir, musuh sedang berencana untuk menggunakan legenda urban tentang kalung kematian untuk melaksanakan semacam serangan teroris di Academy City.”


"Aku paham. Jujur, ini tidak terasa nyata bagiku, tapi aku akan mempercayaimu, Onee-sama.” Shirai sedikit mengerutkan kening. ”Tapi rasanya kita perlu memberitahu pusat perbelanjaan koperasi untuk tidak terbawa suasana. Aku tidak percaya bahwa mereka mencurigaimu.”


"Aku sendiri juga sudah muak. Tapi aku sedang berlindung di dalam toko okultisme aneh, jadi aku berhasil lolos untuk saat ini.”


"Okultisme?"


"Yahh, di sini aku mengalami kesulitan karena berbagai alasan yang berbeda. Aku terlibat urusan dengan orang-orang aneh seperti Lessar dan Lancis.”


"... O-onee-sama! Sinyal yang dipancarkan dari ‘antena feeling buruk’ milikku sudah mencapai level 3! Di sisimu tidak ada gadis selain diriku, kan!?”


"Umm, ada. Dia benar-benar menjengkelkan, jadi dia kurang-lebih sama sepertimu. Pokoknya, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?”


"Aku harus pergi keluar, dan memastikan bahwa tidak ada kalung mencurigakan yang muncul di mana saja.”


"Tidak harus kalung," kata Mikoto sembari memotong perkataan Shirai.”Pada dasarnya, pasti ada insiden yang kelihatan sama. Mereka bahkan tidak harus menggunakan bahan radioaktif. Sekarang, legenda urban itu telah siap-siap menyebar, dan mereka bisa mengambil tindakan setiap saat.”


Tidak peduli apakah gelombang elektromagnetik berupa cahaya tampak, gelombang mikro, atau wujud lain yang ditentukan oleh panjang gelombang, selama bisa menghasilkan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi sangat tinggi, itu dapat menyebabkan hasil yang sama seperti kalung kematian.


"Tapi, apakah mereka benar-benar bisa mengirimkan tim ke Academy City untuk membuat teror? Bukankah Academy City dijaga dengan sangat ketat?"


"Mungkin saja," Mikoto menjawab setelah berpikir sebentar.”Bagaimanapun juga, pada saat aku berjalan-jalan di wilayah lembaga koperasi. ... Mereka memiliki semacam rencana yang sedang dijalankan sekarang.”


"... Pertama-tama, aku memerlukan daftar semua orang dari pusat perbelanjaan yang berada di kota, dan terdaftar dengan tepat.”


Shirai menutup telepon dan menghubungi nomor yang berbeda.


Dia memanggil Uiharu Kazari, anggota Judgment lain yang telah disebutkan sebelumnya.


"Apakah kau sudah menyelesaikan pencarian!?"


"Aku masih bekerja. Aku tahu ada 52 orang dari pusat perbelanjaan yang berada di Academy City. Aku telah menemukan daftar di mana mereka tinggal, tapi 5 dari mereka terdaftar sebagai anggota VIP, jadi aku tidak bisa menemukan mereka.”


"VIP?"


"Ini tidak terlalu mengejutkan. Mereka adalah peserta dalam suatu forum konferensi internasional pada balai di Distrik 3. Mereka diperlakukan sebagai VIP, jadi mungkin lokasi mereka sedang dirahasiakan untuk mencegah serangan teroris pada mereka.”


"... Hm." Shirai berpikir sebentar.”Uiharu. Jika seseorang akan melaksanakan serangan teroris berskala besar yang benar-benar akan melumpuhkan semua fungsi kota, menurutmu, orang tersebut memerlukan bala bantuan seberapa banyak?”


"A-Aku tidak tahu apa-apa tentang hal berbahaya seperti itu. Tunggu ... apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kau menyuruhku untuk mencari data itu, jadi aku membantumu, tapi apakah kita sedang menghadapi situasi yang berbahaya saat ini?”


(... Yah, aku ragu mereka bisa melakukannya hanya dengan melibatkan 5 orang.)


Setelah kesimpulan sepihak itu, Shirai mengajukan pertanyaan lain.


"Berapa banyak kelompok pengunjung yang ada di kota ini?"


"Um ... 3 atau 4. Mereka terdiri dari staf jet kargo dan sekelompok peneliti ...”


"Beri aku daftarnya," perintah Shirai. ”Jika hanya itu, kemungkinan akan lebih cepat untuk bekerja tanpa berpikir terlalu banyak tentang hal itu.”



Part 3[edit]


Shirai Kuroko adalah seorang esper Teleporter Level 4.


Itu berarti, ia dengan bebas bisa masuk dan keluar di manapun selama dia memperhatikan letak setiap sensor elektromagnetik dan ultrasonik.


Uiharu telah mengirimkan daftar pada ponsel Shirai yang ia gunakan untuk menuju ke hotel, di mana salah satu kelompok itu tinggal. Dia kemudian memasuki salah satu kamar tersebut.


Tentu saja dia tidak mengetuk pintu.


Dia juga tidak menggunakan kartu kunci.


Tempat-tempat seperti hotel, memiliki kamera yang dipasang di tempat-tempat umum contohnya lobi, ruang duduk, lift, dan tangga darurat. Tapi tempat-tempat lainnya cenderung memiliki keamanan yang longgar. Misalnya, lorong-lorong dan kamar pelanggan tidak dipasangi kamera demi privasi.


Dengan demikian, tidak ada yang bisa menghentikan Shirai. Dia bisa berteleportasi tanpa terdeteksi


Dia memeriksa untuk melihat apakah bisa mendengar sesuatu di sisi lain pintu, kemudian dia tanpa ragu memasuki ruangan.


"Nah ..."


Shirai menarik sarung tangan tipis dari saku roknya, dan memakainya sembari ia melihat sekeliling. Seperti yang sudah diduga, tidak ada seorang pun di sana. Lampunya tidak menyala. Sembari menggigit senter di mulutnya, dia memeriksa lemari dan meja di samping tempat tidur.


Dia mendengar suara Uiharu pada ponsel kecil yang tersambung ke telinganya melalui headset.


"Shirai-san, harap berhati-hati. Kami tidak tahu apa itu, tapi mungkin ada sesuatu yang memiliki efek serupa dengan kalung kematian.”


"Jika ini mudah, aku pasti akan menyelesaikannya dengan cepat."


"Bagaimana kalau kau menggunakan alat deteksi sederhana yang diberikan oleh Judgement? Itu adalah alat yang dapat kau hubungkan pada konektor bagian bawah pada ponselmu. Alat itu juga bertindak sebagai sensor dan menempatkan data pada komposisi udara secara bersamaan. Kau juga bisa mendeteksi apakah ada gelombang elektronik berbahaya yang terdapat di sana.”


"Hm?"


"Kita semua menjalani pelatihan tentang cara menggunakan alat itu tempo hari, apakah kau ingat !? Atau apakah seseorang dengan nilai tertinggi di SMP terkenal memiliki kebiasaan tertidur di kelas saat pelajaran dimulai!?”


Ketika Uiharu meneriakkan penjelasan padanya, Shirai mengikuti instruksi si gadis kecil, dan melekatkan perangkat itu pada teleponnya.


Shirai punya kebiasaan berkeliling dengan peralatan yang telah disediakan untuknya, walaupun dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan alat itu. Alasan mengapa dia tidak mau repot-repot mempelajari fungsi alat itu, adalah sederhana.


(Jika aku men-teleport-nya, apa pun dapat digunakan sebagai senjata. Tidak ada gunanya “melempar dua ekor burung dengan sebongkah batu”.)


Dengan pikiran kolot seperti itu, Shirai menempatkan ponsel kecil kembali ke telinganya dan melihat sekitar.


Terdapat suatu koper besar di dalam bagasi.


Itu terkunci, tapi tidak masalah bagi Shirai.


Dengan men-teleport koper itu, dia bisa dengan mudah mendapatkan isinya. Ini mirip memisahkan kulit dan daging buah tanpa mengupas.


Bahkan jika si pemilik koper hanyalah bawahan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan rencana terorisme itu, perlu disiapkan seseorang dalam kelompok untuk merencanakan serangan teroris.


Ada dua kategori utama dalam persiapan ini.


Pertama adalah, benda-benda seperti senjata api dan pisau untuk memperkuat kemampuan bertarung seseorang.


Kedua adalah, benda-benda seperti paspor palsu dan wig yang bertujuan untuk menyembunyikan diri, dan memperkuat keamanan seseorang.


Shirai “memancing” bagasi itu, tapi ...


(... Sepertinya ini adalah suatu kesalahan.)


Shirai berkesimpulan bahwa dia harus mengirimkan setiap benda kembali ke dalam koper dengan kemampuan teleportasinya. Setelah melihat isi koper itu, Shirai menemukan benda-benda misterius. Terlebih lagi, dia sama sekali tidak menemukan sepucuk pun pistol di sana.


Dia pikir, dia tidak akan menemukan “benda-benda penting” itu dengan begitu mudah.


Shirai ber-teleport keluar dari kamar dan menuju hotel tempat kelompok berikutnya tinggal.


Terjadi lagi kesalahan berikutnya.


Tapi kemudian, hanya ada 4 kelompok pada daftar.


Dia berhasil sampai ke daftar terakhir tak lama kemudian.


Dugaan Shirai tidak salah.


"..."


Begitu dia ber-teleport di dalam ruangan, sesuatu tampak janggal.


Tidak ada seorang pun di dalam.


Tidak ada sensor atau perangkap.


Tapi ada sesuatu yang jelas-jelas berbeda dari hotel sebelumnya. Hotel kali ini terlalu bersih. Tentu saja, kamar hotel selalu seperti itu, tapi setelah didiami oleh tamu selama satu jam, “bau” si tamu seharusnya melekat pada ruangan itu. Biasanya, sedikit “jejak” akan tertinggal di tempat tidur atau kamar mandi, tapi tidak ada apapun di sana. Rasanya seperti kamar digunakan sebagai model iklan.


Tidak ada koper, mantel, atau benda-benda lain milik orang yang tinggal di sana.


Shirai mengeluarkan beberapa perangkat dari saku roknya, dan memeriksa sidik jari pada gagang pintu.


Tidak ada yang tersisa.


(Aku tahu bahwa seseorang tidak meninggalkan sidik jari jika dia memakai sarung tangan ...)


Shirai menyimpulkan sesuatu sambil menyentuh ponsel di telinganya dengan jari.


(... akan tetapi, OB memasuki ruangan setiap hari. Karena sidik jari mereka telah lenyap, maka orang yang tinggal di dalamnya memang sengaja memakai sarung tangan. Setidaknya, mereka telah memoles gagang pintu dengan serbet.)


"Uiharu, aku punya petunjuk di sini."


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Kelompok ini dikirim ke sini dari pusat perbelanjaan Rusia untuk pelatihan bisnis. Beri aku gambar 18 anggota, identitas mereka, jadwal mereka di Academy City, lokasi mereka saat ini ... dan, yahh, kirimkan padaku sebanyak mungkin informasi mengenai mereka yang kau dapat temukan.”



Part 4[edit]


Pada kantor cabang Judgement 177, Uiharu Kazari terus bekerja.


Pada pandangan pertama, dia hanyalah seorang gadis tanpa karakteristik menonjol, tetapi sejumlah besar dekorasi bunga di kepalanya adalah suatu ciri khas.


Sementara memainkan komputer, dia berbicara ke ponsel yang dialihkan pada mode loud-speaker.


"Aku sudah melakukan pengumpulan data sepintas, tetapi tampaknya seperti informasi resmi yang rapih. Sepertinya akan sulit untuk menentukan di mana mereka berada saat ini.”


"Kau memiliki gambar semua wajah mereka, kan?"


"Yah... iya sih."


"Kalau begitu, carilah melalui rekaman-rekaman kamera keamanan dan robot di sekitar hotel. Jika kau menelusurinya, kau harusnya dapat menemukan mereka. Dari sana, periksa melalui rekaman kamera yang berbeda di sepanjang jalan untuk mengikuti rute mereka ke tempat sekarang.”


"Haruskah aku benar-benar melakukan itu?"


"Ya, tidak apa-apa."


Izin Shirai terdengar agak sewenang-wenang, tapi Uiharu terus menarikan jari-jemarinya di atas keyboard sesuai instruksi. Tentu saja, apa yang dia kerjakan tidak bisa dilakukan hanya dengan otoritas dari anggota Judgement biasa.


(Sekarang, aku tidak tahu siapa penjahat yang sebenarnya.)


"Ketemu. Mereka menggunakan teknik klasik.”


"?"


"Untuk menghindari tertangkap rekaman kamera CCTV, mereka mengubah pakaian atau memakai wig, lantas melewati beberapa ‘titik buta’ di sepanjang jalan. Mereka berusaha mencegah orang melacak mereka dengan mengubah penampilan sedikit demi sedikit.”


Biasanya, metode itu digunakan dalam kerumunan untuk melarikan diri dari pengejar sesama “manusia”. Namun dalam kasus kamera pengintai, cuplikan rekaman bisa diperiksa dengan teliti lagi dan lagi. Seseorang yang terus menerus merubah pakaiannya benar-benar terlihat mencolok dari sekelilingnya. Pada dasarnya, itu sama saja dengan mengungkapkan penyamarannya sendiri.


"Ini bahkan tidak cukup untuk menipu perangkat lunak pengenalan wajah," Uiharu berkomentar.


"Kau tidak akan tertipu oleh metode macam itu, kan?"


"Mereka bergerak dengan menggunakan bus, kereta bawah tanah, taksi, dan jenis transportasi lain sebanyak yang mereka bisa. Mereka berpisah untuk mengambil beberapa rute, dan kadang-kadang mereka bolak-balik pada satu rute, atau melingkari tempat yang sama. Kemungkinan besar, mereka mencoba untuk menyesatkan si pengejar, atau memeriksa apakah ada beberapa orang yang membuntutinya.”


Uiharu menghubungkan beberapa rekaman kamera CCTV sekaligus, memperhitungkan jalan yang telah mereka ambil, dan menarik garis-garis penghubung pada peta digital.


"Aku telah menemukan itu. Aku telah menemukan itu. Semua anggota yang berpisah bertemu kembali bersama-sama di satu titik.”


"Di mana?"


"Suatu kompleks apartemen untuk para guru di Distrik 8. Tapi hampir tidak ada orang yang benar-benar tinggal di sana. Pada dasarnya, tempat itu sedang disewa oleh orang-orang kaya sebagai 'lemari besar'.”



Part 5[edit]


Suatu ban lengan Judgment cukuplah ampuh.


Bahkan jika sudah lewat waktunya untuk kembali ke asrama, orang-orang dewasa akan mengabaikanmu selama kau berjalan dengan ekspresi serius. Bahkan jika kau berdiam diri di suatu kafe untuk waktu yang lama, atau mengatakan pada sopir taksi untuk mengikuti mobil tertentu, orang lain akan mematuhi semua itu.


Namun, ada kalanya di saat ban lengan itu kehilangan keampuhannya.


Sebagai contoh…


(... Oh, ya ampun. Ada ruang manajer di pintu masuk yang tampaknya bisa terkunci sendiri, dan ada juga penjaga berpatroli di sekitar.)


Shirai berjalan di sekitar gedung apartemen sembari ia memeriksa situasi sekitar. Tempat itu memiliki kesan aman karena dikawal oleh penjaga-penjaga dengan ketat, di sisi lain, seseorang bisa langsung tahu bahwa ada hal istimewa yang tersimpan di dalam tempat itu. Apapun itu, masuk ke sana bukanlah perkara mudah.


(Yah, aku hanya harus ber-teleport untuk masuk ke dalam.)


"Uiharu, apakah kau tahu pada ruangan mana mereka berada? Dari jumlah jendela, ada 20 kamar di setiap lantai. Ada 20 lantai, sehingga harusnya ada sekitar 400 kamar.”


"Ada kamera dekat pintu masuk, tapi sisanya agak sulit. Jika ditinjau dari aspek privasi, adalah hal yang wajar jika tidak ada kamera di dalam gedung apartemen.”


"... Mereka terdiri dari 18 orang. Bagaimana mereka semua masuk ke sana?”


"Eh? Apa maksudmu…? Mereka hanya masuk melalui pintu depan seperti biasa.”


"..."


Bangunan itu adalah suatu gedung apartemen, bukannya hotel. Pada dasarnya, itu disewakan 2DKs. Itu bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh 18 orang sekaligus, jadi biasanya manajer apartemen akan merasa curiga, dan mencoba untuk menghentikan mereka.


Itu berarti ...


(... Manajernya juga bagian dari mereka ...?)


Untuk sesaat, mata Shirai dipenuhi oleh tatapan yang agresif, tapi ...


"Tidak tidak."


"?"


"Jika tempat itu benar-benar sedang digunakan untuk penyimpanan, tidaklah aneh jika ada sekelompok orang yang masuk sekaligus sembari membawa koper.” Shirai menatap gedung dan banyak jendela yang berbaris di sana. ”Mencari setiap orang akan sangat merepotkan. Tidak adakah cara lain untuk mencari tahu di mana posisi mereka berada?”


"Huff. Seperti yang sudah aku katakan, akan sulit untuk mengejar mereka dengan memanfaatkan rekaman kamera.”


"Tapi ada cara lain, kan?"


"Seperti?"


"Bagaimana kau membuat kontrak untuk menyewa salah satu apartemen? Jika apartemennya hanya digunakan untuk penyimpanan, harusnya pemeriksaan cukup sederhana. Jika sewanya bisa dilakukan per bulan melalui internet, tidakkah akan lebih mudah untuk mengecek catatannya?”


"Umm ..."


"Begitupun dengan kamera, kau tidak harus menggunakan kamera dari gedung apartemen. Kamu mungkin dapat menemukan petunjuk dengan menggunakan kamera-kamera dari bangunan lain di dekatnya, atau bahkan kamera mesin ATM atau mesin penjual minuman terdekat. Bahkan jika mereka menghargai privasi pelanggan, robot pembersih masihlah berlalu-lalang di sana dan ... oh, aku tahu. Kau dapat menggunakan satelit untuk memeriksa sumber ter-update, dan mencari tahu di mana posisi orang-orang di dalam ...”


"Aku pikir, mungkin ada metode yang lebih mudah," kata Uiharu memotong omongan Shirai. ”Itu adalah apartemen yang digunakan untuk penyimpanan, sehingga tidak ada yang tinggal di sana. Tidakkah kau dapat memeriksa posisi orang di dalam apartemen berdasarkan jendela yang menyala?”


"..."


Shirai berdeham setelah mengingat hal mendasar itu.


Dia dengan hati-hati menatap gedung apartemen. Tak satu pun dari lampu neon tampak nyala, tapi ada cahaya pucat yang berbeda-beda. Tampaknya itu adalah nyala senter.


Itu ada di lantai tiga.


Itu jendela ke-12 dari kanan.


(Itu sangat mudah ...)


Shirai menghela napas dan tubuhnya menghilang ke udara yang tipis.


Detik berikutnya, ia tiba di lantai lorong ketiga.


Setelah dia benar-benar sampai di dalam, dia langsung tahu di mana targetnya berada. Dia mendengar suara. Itu adalah suara seseorang yang berusaha menyembunyikan desah napas. Biasanya, dia tidak akan menyadari suara setipis itu. Suaranya cukup pelan, dan biasanya akan tercampur dengan kebisingan lainnya di apartemen itu. Namun, karena hampir tidak ada orang di dalam apartemen itu, suara sekecil itu bisa terdengar dengan mudah. Itu hampir sama dengan mendengar bunyi nyamuk yang terbang di dekat telinga seseorang pada malam musim panas.


Saat ia mendekati pintu, Shirai berbicara pada telepon selulernya.


"Aku sudah masuk. Uiharu, kau mengawasi sekitar gedung. Periksa untuk melihat apakah ada orang yang melarikan diri dari bangunan, dan jika mereka melakukannya, pastikan untuk melacak mereka.”


"T-tunggu, Shirai-san. Kau akan baik-baik saja sendirian, kan?”


"..."


Menurut Mikoto, insiden yang melibatkan bom hidup menggunakan semut tentara berkaki merah panjang telah terjadi di pusat perbelanjaan Rusia setelah legenda urban jeruk sangat berharga telah menyebar ke seluruh daerah.


Insiden itu telah dilakukan oleh pihak ketiga yang menyebabkan banyak hal terjadi, tapi orang-orang di balik insiden itu sedang berpikir untuk melakukan sesuatu yang serupa.


Dengan kata lain, sekarang legenda urban tentang kalung kematian telah menyebar melalui Academy City dan juga pusat perbelanjaan, mereka akan berusaha untuk menyebabkan insiden yang terkait dengan rumor itu di Academy City.


Suatu kelompok yang hendak mewujudkan itu benar-benar ada.


Dalam hal ini, kalung tentunya menjadi benda paling mencurigakan, tetapi tidak harus kalung. Bisa jadi suatu benda berfrekuensi gelombang elektromagnetik tinggi yang berbahaya. Bisa jadi itu adalah suatu benda yang tak terlihat, dan tidak ada cara yang bagus untuk menangani benda seperti itu, tapi ...


(Yah, aku punya ini.)


Shirai dengan ringan menyentuh ponsel di telinganya yang terhubung dengan alat deteksi sederhana.


(Mereka mungkin menyelesaikan persiapan untuk membawa suatu benda dengan aman. Normalnya, itu harus tersimpan dalam satu paket atau semacamnya.)


Shirai Kuroko mungkin mampu menarik kesimpulan sederhana itu karena dia tidak punya kepekaan terhadap bahaya benda yang tak terlihat.


"Aku pergi," kata Shirai sambil menekan ke dinding sebelah pintu.


Saat itulah dia merasa ada sesuatu yang janggal.


Shirai sudah tahu dimana posisi targetnya ketika ia masuk ke lorong itu. Bagaimanapun juga, ruangan itu adalah satu-satunya tempat yang terdengar suara “kehidupan”. Itu adalah gedung apartemen yang hampir sepenuhnya digunakan untuk penyimpanan.


Jika dia bisa mendengar suara-suara yang mereka buat, maka mereka mungkin juga mampu mendengar suara-suara yang Shirai buat.


(Oh tidak…)


Suatu jendela yang terbuat dari kaca buram di sisi pintu masuk pecah dari dalam. Retak tersebar di seluruh jendela, tetapi terbuka lubang yang agak kecil. Suatu benda silinder terbang melalui lubang dan meluncur ke lorong tempat Shirai berada.


Ponsel kecil di telinganya mengeluarkan nada elektronik yang tajam.


Alat deteksi sederhana memberi peringatan.


"Shirai-san! Alat ini telah mendeteksi adanya SC39 !!”


"?"


"Itu adalah jenis detektor untuk gelombang elektromagnetik berbahaya. Dengan kadar yang tepat, itu bisa berubah warna tergantung: keberadaan, panjang gelombang, dan kekuatan gelombang elektromagnetik.”


Sambil mendengarkan penjelasan Uiharu, Shirai mengingat benda itu.


Dia cukup yakin bahwa dia pernah tahu benda itu dalam pelajaran bersama anggota Judgment lainnya.


"Benda itu terdeteksi beberap waktu lalu karena ada bahaya terbakar atau ledakan ketika sejumlah besar detektor menerima gelombang elektromagnetik kuat dengan frekuensi sangat tinggi !!”


Saat itulah Shirai melihat sesuatu memancarkan cahaya berkedip di jendela yang pecah. Itu tidak hanya senter. Cahaya adalah tampak ungu dan mengerikan.


Karena kaca yang buram, dia tidak bisa melihatnya dengan detail, tapi apa pun itu, tampaknya benda itu melekat pada ujung semacam tiang.


Suatu hawa dingin merambat melalui tulang punggungnya.


Dia secara akurat membaca apa yang berusaha dilakukan oleh musuh.


Dia segera ber-teleport pada waktu yang sama ketika cahaya ungu tak menyenangkan mulai bereaksi.


Tiba-tiba, suatu ledakan kecil terjadi di lorong gedung.


Api merah menyala pada dinding dan langit-langit. Penyebaran gelombang kejut tak berwarna melanda lorong dalam sekejap. Beberapa alarm mulai berdering, tetapi tidak ada warga yang membuka pintu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tampaknya, semua kamar benar-benar tidak lebih dari area penyimpanan kosong. Manajer atau penjaga kemungkinan akan berada di sana tak lama lagi, tapi Shirai tidak begitu peduli.

RAILGUN SS2 05 013.jpg

Keringat aneh mengucur di tubuh Shirai Kuroko ketika dia berdiri di tempat yang agak jauh.


Dia hampir panik.


Dia tidak terluka oleh ledakan. Gelombang kejut telah melanda tubuhnya, tapi itu masih berada pada level yang aman. Gendang telinga dan organ tubuhnya kemungkinan besar tidak rusak.


Itu tidak masalah.


Karena Shirai tahu bagaimana ledakan itu terjadi, dia tidak bisa bersantai meskipun dia tidak kesakitan.


Dia tahu.


Tepat sebelum ledakan, ia mendengar suara seperti jepretan kamera.


Dan dia tahu suara apa itu.


Legenda urban yang mereka gunakan kali ini adalah kalung kematian.


Mereka telah menggunakan detektor gelombang elektromagnetik berbahaya SC39 untuk menyebabkan ledakan itu.


Yang berarti ...


(... Suatu senjata elektromagnetik ber-frekuensi ultra-tinggi!?)


"A-apa itu tadi, Shirai-san !? Suatu garis aneh melintasi gambar dari satelit! Aku tidak bisa memindai daerah di sekitarmu!!”


"Cih. Tampaknya itu adalah gelombang mikro relatif!!”


"T-Tolong keluar dari sana, Shirai-san!! Kau tidak dapat melakukan apa-apa tanpa adanya pakaian pelindung!!”


Itu persis seperti apa yang dia ingin lakukan.


Dia juga takut ledakan yang dibuat menggunakan detektor gelombang elektromagnetik berbahaya, tapi ancaman terbesar adalah radiasi tak terlihat yang bisa menembus melalui rintangan apapun.


Tapi lawannya lebih cepat.


Dia mendengar suara lain dari kamar yang seharusnya jauh dari tempat dia berada. Itu adalah suara elektronik yang sangat tenang. Shirai merasa dia hanya mampu mendengarnya karena kemampuan indra pendengarannya meningkat berkat suasana di gedung itu yang begitu tenang.


(Jangan bilang mereka menempatkan SC39 di seluruh tempat untuk jaga-jaga bahwa suatu hal yang tak terprediksi terjadi!!)


Tak peduli apakah mereka telah mendeteksi di mana posisi Shirai, atau mereka hanya menembaknya secara acak, Shirai tetap saja akan terbunuh.


Mereka menggunakan senjata gelombang elektromagnetik, sehingga gelombang tersebut bisa menembus melalui benda padat.


Ke manapun Shirai berlari, tidak ada gunanya jika pada titik tersebut juga terdapat benda serupa. Jika mereka mengaktifkan detektor gelombang elektromagnetik berfrekuensi sangat tinggi di saat itu juga, tubuh Shirai akan hancur berkeping-keping seketika.


"... !!"


Dengan demikian, Shirai lolos menggunakan “titik buta”.


Alih-alih bergerak secara horizontal, ia teleport ke lantai dua.


Segera setelah itu, ia mendengar suara jepretan kamera seperti gelombang yang ditembakkan. Setelah itu, terjadi banyak ledakan. Jika mereka menganggap target hanya mampu bergerak melalui lorong-lorong, tangga, dan lift, maka Shirai bisa menunggu mereka di luar sana.


(Gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi yang bertindak sebagai pemicu lebih menakutkan daripada ledakan itu sendiri! Senjata pembunuh yang tidak memberikan rasa sakit cukup untuk membuat seseorang merasa gelisah! Aku perlu melakukan pemeriksaan rinci setelah ini berakhir !!)


Dia mendengar beberapa suara dentang logam.


Kedengarannya seperti sesuatu melompat turun dari balkon ke atas atap mobil. Shirai ingat di mana letak dirinya dan lawanya berada.


Dia berada di lantai dua, dan si penyerang berada di lantai tiga.


(Jumlah mereka ada 18 orang.)


"(... Uiharu, beberapa dari mereka telah meninggalkan tempat! Jangan biarkan mereka melarikan diri!!)"


"Lebih penting lagi, Shirai-san, aku mendeteksi beberapa gelombang selain frekuensi ultra-tinggi!”


"...?"


"Mereka tampaknya sedang mencari pola terdistorsi magnet manusia yang menyebabkan gelombang elektromagnetik, dan mentargetkan itu! Artinya, mereka akan menemukanmu bahkan jika kau berada di belakang penutup dinding atau langit-langit!!”


"Tolong beri tahu aku bagian itu terlebih dahulu!!"


Shirai dengan panik ber-teleport untuk pergi bahkan sebelum ia selesai berbicara.


Dia pindah dari kamar ke kamar.


Suara misterius seperti jepretan kamera mengikutinya sembari dia berpindah.


Kalau begini terus, dia akhirnya akan terkena ledakan.



Part 6[edit]


Reaksinya menghilang.


(...?)


Pria memegang senapan aneh yang berada pada salah satu ruangan dari gedung apartemen menggerakkan matanya untuk memandang jauh dengan ekspresi ragu-ragu di wajahnya. Tabung tebal melekat di sisi kiri pistol adalah alat untuk menembakkan paket berisi SC39 di dalamnya.


Dia berbicara kepada kawan yang juga memindai daerah dengan senapan yang tampak identik.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Dia mungkin telah melarikan diri," itu adalah respon yang jujur.”Bahkan jika dia sudah jadi mayat, kita harusnya mampu mendeteksi reaksi magnetik dari tubuhnya. Karena fenomena ini sungguh tidak normal, maka aku bisa bilang bahwa dia sudah menghilang.”


Tentu saja, tidaklah normal bagi manusia menghilang dan menembus dinding, serta lorong-lorong. Namun, target telah membuat beberapa gerakan aneh bahkan sebelum dia menghilang. Dia begitu yakin dengan akurasi pelaratannya, sehingga dia percaya bahwa tergetnya telah benar-benar lenyap ditelan bumi.


"Jadi ini adalah Academy City."


"Dia pasti seorang Teleporter."


Jika lawan mereka telah melarikan diri, itu berarti dia masih hidup. Tidak berhasil membunuhnya adalah langkah yang salah, tapi mereka berdua memutuskan itu tidaklah penting. Sudah terlambat bagi si target untuk lakukan apapun.


Mereka adalah satu-satunya orang di sana.


Sisanya telah melompat dari balkon dan masuk ke dalam kendaraan.


Bangunan apartemen itu hanyalah suatu titik pertemuan.


Dengan menggunakan berbagai metode, mereka telah berhasil membawa barang-barang penting untuk mewujudkan rencana mereka, sekaligus bagian untuk ”barang-barang” pada Academy City. Mereka akan mengumpulkan semua “barang” itu secara bersamaan di satu tempat, mengumpulkannya, kemudian membawanya ke titik pertemuan berikutnya. Dengan mengulangi itu lagi dan lagi, mereka akan menyelesaikan “benda” penting itu sedikit demi sedikit.


Bahkan pada tahap saat ini, mereka sudah selesai merakit “poros” utama.


Jika mereka bisa mengumpulkan benda-benda “pendukung” kecil, mereka bisa mulai untuk benar-benar melaksanakan rencananya.


"Peran ‘berkumpul’ ini telah usai. Kita harus menghapus semua jejak kehadiran kita, dan keluar dari sini secepat mungkin.”


"Kau menembakkan terlalu banyak tembakan yang tidak perlu. Kau harus tahu bahwa tindakanmu itu bisa membuat kita berada dalam resiko.”


Pakaian pelindung yang mereka kenakan sangatlah sederhana. Dari kejauhan, mereka mungkin tampak seperti dua jas hujan berjalan. Mereka berpakaian seperti itu hanya untuk meredam tumbukan setelah terjadi tembakan.


Mereka melaksanakan misi "pembersihan" seperlunya, kemudian menuju pintu masuk sementara masih mengenakan pakaian pelindung seperti jas hujan.


Ketika salah satu dari mereka meraih gagang pintu, paku logam menembus langsung melalui telapak tangan setelan pelindung sekaligus gagang pintu.


"Oh."


Untuk sesaat, ia tidak merasa sakit.


Sebelum indra perasanya kembali berfungsi, panah logam lain menyerangnya.


"Oh ... oh ... ooooohhhhhhh!?"


Beberapa paku logam menembus kedua tangan dan kedua kakinya, dan ia mulai roboh ke lantai. Namun, pria mengenakan setelan pelindung itu tidak benar-benar jatuh karena telapak tangannya “dijahit” pada gagang pintu. Senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi tergelincir dari tangannya. Pria itu hanya paham bahwa seseorang telah menyerangnya dengan menggunakan beberapa cara aneh, dan ia berbicara kepada teman di sampingnya.


"Hei, pindai daerah ini!! Kita perlu setidaknya mencari tahu di mana si musuh....."


Pria itu terhenti saat kata-katanya tercekat di tenggorokan.


Temannya roboh ke lantai. Pria lain mendapati paku logam menusuk ke dalam tubuhnya di titik-titik seperti pria pertama.


Dan ...


"Kau tidak boleh mengayunkan benda-benda berbahaya seperti itu," kata suara seorang gadis.


Suara itu berasal dari tengah ruangan.


Pria itu segera memindahkan lengannya yang telah tertusuk ke tulang untuk mengambil senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi, tapi tangannya “tertambatkan” di lantai sebelum dia bisa melakukan itu.


Rasa sakit merambat melalui lengannya.


Tapi berat badannya jauh lebih besar daripada gadis kecil itu.


Sambil mengerang, pria itu menatap wajah si penyerang.


"A-Apa ... !?"


"Kau menggunakan gelombang elektromagnetik untuk mencari reaksi magnetik tubuh manusia, bukan?” gadis itu berbicara sambil memamerkan tubuhnya yang berbinar abu-abu gelap. "Kemudian reaksiku akan hilang jika aku melakukan ini, kan? Meskipun penampilanku seperti ini, aku bisa dengan leluasa 'membawa' benda seberat 130,7 kilogram, lho.”


"Suatu armor baja ... !?"


"Karena aku bisa ‘menentengnya’ sendirian, tampaknya ini lebih mirip seperti ornamen daripada armor untuk berperang.”


"T-tunggu, mengapa kau memiliki benda seperti itu!?"


"Ini adalah tempat penyimpanan untuk orang kaya. Kau tahu bagaimana cara kerja baju armor, kan? Kau akhirnya membeli satu, tapi kemudian kau tidak punya tempat untuk menaruhnya, sehingga kau letakkan begitu saja di sudut ruangan, lantas tertutup debu.”


"Apa? Tidak!! Kenapa kau berpikir bahwa aku tahu suatu hal tentang itu!?” pria itu berteriak tanpa berpikir untuk protes terhadap situasi tak masuk akal yang tengah dia hadapi sekarang ini.


"Pukulan armor, tendangan armor, sundulan armor, tubrukan armor!!"


"Gbhfgyeh !?"


Setelah menerima serangan-serangan secara berurutan, pria itu mengalami batuk darah serius, kemudian pingsan.


Shirai mendesah ringan sembari masih mengenakan baju besi tebal, kemudian memandang rekan pria itu. Dia tidak bergerak, dan tampaknya ia telah kehilangan kesadaran akibat syok yang dialaminya karena tertusuk begitu banyak paku.


Shirai meraih ponselnya dengan jari-jari tebal baju besi.


"Aku sudah selesai sampai di sini. Uiharu, kau melacak orang-orang yang melarikan diri, kan? Oh, dan hubungi Anti-Skill. Jika kita menunjukkan kepada mereka senapan elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi ini, mereka tidak akan mampu untuk mengatakan bahwa itu hanya omong kosong dari beberapa pelajar.”


"Sh-Shirai-san !!"


Suara tertekan Uiharu bergetar di gendang telinga Shirai.


Ada beberapa nada listrik statis merambat melalui suaranya.


Segera setelah itu, sejumlah besar gelombang elektromagnetik berbahaya telah ditembakkan dari jarak jauh, lantas menembus ruangan gedung apartemen.



Part 7[edit]


Ledakan itu sangat mudah untuk dipahami.


Di sisi lain, gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi di bawah permukaan jauh lebih menakutkan daripada api atau aliran panas.


Gelombang itu tanpa suara mendekat, dan merrusak struktur makhluk hidup.


Sejumlah besar gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi dalam waktu singkat menyebabkan risiko tinggi merusak siklus pembelahan sel. Dan bahkan jika seseorang baik-baik saja setelahnya dalam waktu singkat, bahaya tiba-tiba bisa tampak setelah 5 sampai 10 tahun berikutnya.


Sejumlah besar gelombang elektromagnetik berbahaya menyapu ruangan pada gedung apartemen.


Tapi ...


"Hoo ..." Shirai Kuroko napas.


Tubuhnya tidak lagi dibalut oleh armor.


Dia memegang dua orang dalam pelukannya.


"Kami diselamatkan oleh fakta bahwa kami berada di lantai tiga. Sayangnya, aku tidak bisa teleport dua tumbuh pria bersama denganku.”


Dengan kata lain, ia melompat dari lantai tiga.


Hanya ruang itu yang ditargetkan, sehingga selama mereka melarikan diri dari sana, nyawa mereka tidak akan terenggut oleh gelombang itu.


"... Bahkan jika itu adalah cara peledakan yang sangat terarah, itu agak sembrono."


Orang-orang dari pusat perbelanjaan Rusia mungkin tidak peduli karena mereka dengan senang hati akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah, tapi bagi Shirai dan yang lainnya dari Academy City, itu adalah masalah besar.


(Detektor dan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi bukanlah satu-satunya senjata mereka. Itu tidak lebih dari senjata populer yang dibagikan dan dimiliki oleh semua anggota. Memang benar bahwa itu dapat digunakan untuk secara diam-diam menembakkan ledakan, dan menyebabkan sedikit kerusakan, tapi ...)


"Uiharu, apakah Anti-Skill sudah mengambil tindakan?"


"Y-ya. Bagaimanapun juga, gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi cukup kuat untuk bisa terlihat pada satelit. Dari cara mereka bertindak, aku cukup berharap untuk menerima catatan protes yang menanyakan mengapa kita tidak melaporkan hal ini lebih cepat.”


Shirai mengutuk Anti-Skill dalam hati, tetapi jika ditinjau dari sudut pandang yang berbeda.


"Lalu, hubungi lembaga penelitian dan sarankan agar mereka mempersiapkan beberapa powered suit yang digunakan untuk bekerja di fasilitas nuklir. Mereka tidak ragu-ragu untuk menggunakan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi. Tetapi pada saat yang sama, hanya itulah kemampuan mereka. Jika kita dapat menetralisir kemampuan mereka untuk melakukan kerusakan dengan serangan gelombang, kita tidak lagi perlu takut pada mereka.”


Ada juga ledakan yang disebabkan dengan menggunakan detektor gelombang elektromagnetik berbahaya, dan mereka mungkin telah dipersenjatai dengan senjata api lainnya, tetapi bahkan powered suit non-combat cukup kuat untuk bertahan dari serangan peluru. Powered suit dari fasilitas nuklir akan sepenuhnya sanggup menutupi tubuh penggunanya tanpa celah, sehingga armor itu mungkin lebih baik daripada powered suit model militer ditinjau dari segi ketangguhan.


(Sebenarnya mengalahkan mereka cukuplah sederhana ... Caranya adalah mengakhiri semua ini sebelum mereka jadi frustasi dan memulai aksi baku tembak.)


"Shirai-san, apa yang akan kau lakukan?"


"Pertanyaan bagus ..." Shirai Kuroko menarik borgol dari saku roknya, dan dia pun menoleh ke arah pria yang roboh, sembari ia menanggapi Uiharu.”Beri aku data pelacakan yang tersisa. Aku akan melanjutkan penyelidikan dengan caraku sendiri.”



Part 8[edit]


Di kantor petugas keamnan, Enirya G. Algonskaya melihat bahan penyelidikan yang ditampilkan pada tembok AR semipublic.


Misaka Mikoto masih belum ditemukan.


Bulam ada petunjuk berkaitan dengan kelompok yang mungkin telah membunuh seseorang, dan membuang tubuh mereka dari “pabrik produksi jeruk” berisikan telur semut tentara berkaki merah panjang.


Apakah itu adalah dua hal yang berbeda?


Atau adakah hubungan di antara mereka?


"..."


Sebagai petugas keamanan, adalah tugas Enirya untuk melindungi ketenangan pusat perbelanjaan. Dia terkejut pada fakta bahwa seseorang tahu bagaimana cara untuk menghindari pendeteksian dalam pusat perbelanjaan. Orang ini pasti berpengetahuan lebih baik daripadanya. Dia pikir, petugas keamanan adalah pihak yang paling memahami kota dengan sempurna.


Dengan kata lain…


(Ada sesuatu yang mengintai kota ini di daerah yang lebih ‘dalam’ daripada sepengetahuanku.)


Dia punya perasaan samar-samar bahwa metode penyelidikan normal tidak akan langsung “membawa” dia pada targetnya. Tetapi pada saat yang sama, itu adalah kasus yang lebih rumit. Jika pembangunan pusat perbelanjaan benar-benar seperti apa yang mereka pikirkan, maka mustahil bagi tersangka untuk menyelinap melalui pengawasan mereka seperti itu.


Apakah mayat tersebut dilenyapkan oleh Misaka Mikoto atau beberapa kelompok lainnya, mereka melampaui pengetahuan Enirya, dan melakukan hal-hal yang berada di luar perkiraannya.


Jika dia memeriksa bagian-bagian insiden yang bahkan dia tidak mengerti, dia mungkin mampu menemukan beberapa jawaban yang logis.


Apakah pelakunya adalah Misaka Mikoto ataukah orang lain?


Mengejar si tersangka yang bertanggung jawab pada insiden semut tentara berkaki merah panjang adalah pekerjaannya sebagai petugas keamanan, tapi jika situasi berkembang jadi sejauh ini, dia merasa perlu untuk mengambil “sedikit jalan memutar” yang kompleks.


(... Para petinggi, hm?)


Enirya hanya menatap langit-langit dan memikirkan sesuatu hal lain.


Dia nyaris tidak menyadarinya sampai saat ini ... atau lebih tepatnya, dia dan rekan-rekannya di tempat kejadian merasa lebih banyak tahu tentang kota ini daripada “mereka”. Tapi sekarang, eksistensi mereka tampaknya melampaui perkiraan Enirya.


Orang-orang yang telah melakukan segala sesuatu dari merancang sampai dengan mengelola kota, pastinya lebih tahu banyak hal daripada Enirya.


Jika dia memikirkan segala sesuatu sekali lagi setelah dia memiliki informasi itu, maka dia mungkin bisa memahami logika kejadian ini. Atau dia mungkin bisa memprediksi apa yang akan datang. Mungkin saja dia bisa memprediksi ke mana arah yang akan dituju oleh si tersangka sebenarnya, dan apa yang mereka akan coba lakukan.


(Tapi masalahnya adalah, apakah “anjing peliharaan” macam dia memiliki kebebasan yang cukup untuk mendapatkan informasi “terlarang”?)


Ketika Enirya diam-diam berpikir tentang itu, dia mendengar suara seorang rekannya.


"Kau punya waktu? Aku tidak yakin apakah ini ada hubungannya dengan kasus ini, tapi ...”


"Apa?"


"Lihat ini."


Dengan mengoperasikan AR semipublic di tembok, rekan Enirya mengatur windows-nya agar bisa dilihat juga oleh Enirya. Layar menampilkan internet. Di situ tertulis "Fitur Khusus Fenomena Misterius".


"Jika ingatanku benar, pada hari insiden semut tentara berkaki merah panjang, cerita jeruk sangat berharga menyebar ke seluruh daerah dengan begitu cepat, dan kejadian yang sebenarnya terjadi tak lama setelah itu. Beberapa hari sebelumnya, ada kisah yang menceritakan kaktus dan kalajengking, tapi tiba-tiba berubah menjadi kisah jeruk pada hari ketika tersangka utama muncul di sini. ... Lihatlah cerita lain ini. Ini adalah cerita yang benar-benar tidak masuk akal, tetapi sepertinya tersebar ke seluruh wilayah. Bagaimana jika…?"


"Bagaimana jika insiden berikutnya terjadi sesuai dengan cerita yang berkembang kali ini?"


"Bagiku itu mungkin saja..."


"Apakah kau sudah memeriksa dari mana asal mula kisah itu?"


"Ya, tapi kemungkinan besar sumbernya tidak bersalah. Sumber cerita-cerita ini adalah seorang pekerja toko bunga, seorang pekerja hotel, seorang turis dari Brasil, dan bahkan sesama petugas keamanan seperti kita ... Aku tidak melihat koneksi apapun.”


"..."


Sudah sama sejak pertama kali tersebarnya cerita jeruk sangat berharga. Tulisan itu telah tersebar dalam waktu yang begitu singkat, tapi tak ada hubungan dengan masing-masing individu. Ketika itulah mereka mulai terfokus pada Misaka Mikoto, dan mereka menuduhnya sebagai orang yang awalnya membawa cerita ke jaringan lokal pusat perbelanjaan.


"Jadi legenda urban ini adalah tentang ..." Enirya mengerutkan kening. ”Kalung kematian?"


"Tidak" Rekannya melakukan scroll ke bawah pada laman internet itu. ”Itu adalah cerita berikutnya."



Part 9[edit]


Di dalam Kantor Cabang Judgement 177, Uiharu perlahan menggeliat.


Dia berpikir bahwa tidak seharusnya seorang siswi kelas 1 SMP memiliki bahu sekaku itu, tapi itulah masalah yang dihadapi semua orang (tak peduli berapapun usianya) ketika duduk di depan komputer terlalu lama.


Dia mengambil waktu untuk meregangkan tubuh karena insiden itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.


Dia bersandar di kursinya dan perlahan menghela napas.


(Tapi ada apa dengan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi itu? Harusnya aku tadi menyuruh Shirai-san menceritakan semua yang ia ketahui.)


Mengeluh tentang hal itu tidak akan ada gunanya, dan metode Shirai Kuroko tidak akan berubah dengan begitu mudah. Itu adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh seseorang memiliki kemampuan besar, jadi itu tidaklah biasa.


Tiba-tiba, ponselnya berdering.


Dia menerima email, bukan panggilan telepon.


Uiharu berpikir bahwa ada perkembangan lebih lanjut mengenai insiden itu, dan ponselnya mendapat email tentang informasi tersebut dari rekannya. Namun bukan seperti itu isi email yang masuk ke ponselnya. Itu adalah pesan dari teman sekelasnya, Saten Ruiko. Sementara memperhatikan monitor komputernya, Uiharu mengoperasikan ponselnya. Kalau dia boleh jujur, sebenarnya ia merasa lega karena seakan-akan dia dibawa kembali ke kehidupan normalnya. Sepertinya, dia merindukan saat-saat di mana ponselnya dipenuhi dengan email yang berisi hal-hal konyol, bukannya informasi-informasi serius dan menegangkan.


Isi email tersebut adalah sebagai berikut:


Pengirim: Saten Ruiko


Perihal: Periksa ini segera


Isi: Hei, Uiharu, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Legenda urban khusus di Channel CS119 semakin mengagumkan.


Itu memang agak konyol, tapi itu cukup populer dibicarakan oleh kalangan para pelajar yang memiliki kegemaran seperti aku. Namun, ini adalah hal yang cukup aneh. Isinya adalah sesuatu yang cukup penting dan sayang untuk dilewatkan, bagaikan insiden terkini ataupun kasus kriminal yang kompleks.]]


Uiharu menggerak-gerakkan ibu jarinya di tombol.


Perihal: Sekarang?


Isi: Aku tidak mengurusi pertunjukan-pertunjukan kecil


Itu adalah respon yang singkat.


Kurang dari 10 detik kemudian, ia menerima balasan. Mereka saling balas-membalas email, layaknya sedang melakukan chatting.


Uiharu lebih cepat dalam hal mengetik di komputer, tapi Saten lebih cepat dalam hal menggunakan ponsel. Bahkan, ia adalah satu-satunya gadis yang bisa secepat itu ketika mengetik dengan menggunakan jempol.


Pengirim: Saten Ruiko


Perihal: Pertanyaan


Isi: Eh? Kau memiliki kabel serat optik untuk siaran relay, kan?


Perihal: Jawaban


Isi: Hmm, iya...


Pengirim: Saten Ruiko


Perihal: Kalau, begitu, aku punya permintaan


Isi: CS memiliki layanan “trial”. Akan ada beberapa teks mengganggu di tengah-tengah layar yang memberitahumu bagaimana caranya untuk mendaftar, tapi kau hanya perlu melewatkannya, sehingga itu tidak akan menjadi masalah. Hanya lihatlah CS119!!


Perihal: Aku sedang kerja


Isi: Aku sedang berada di kantor Judgment, jadi aku juga tidak dapat melihatnya


Pengirim: Saten Ruiko


Perihal: Harus sekarang!


Isi: Eh? Sayang sekali. Mereka tengah-tengah berada pada suatu diskusi mengagumkan tentang kalung kematian! Jika kau tidak rburu-buru, mereka akan membahas perihal berikutnya!!


Mata Uiharu melebar karena syok, dan ibu jarinya hampir berhenti bergerak.


Tapi Saten hanya berbicara tentang suatu variety show konyol yang membicarakan rumor menyebar di kota. Mereka tidak akan berbicara tentang insiden berbahaya melibatkan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi, atau pakaian pelindung. Bahkan minor CS sekalipun tidak akan mampu menyiarkan sesuatu seperti itu.


Uiharu mencoba untuk mencocokkan percakapan dengan gadis teman sekelasnya itu.


Dia mencoba untuk terlibat pada diskusi konyol tersebut.


Perihal: Kalung kematian?


Isi: Itu adalah cerita tentang gadis yang meninggal setelah menerima kalung kristal uranium dari pacarnya, kan?


Pengirim: Saten Ruiko


Perihal: Sayang sekali !!


Isi: Ya, kau cukup tajam, Uiharu! ... itulah yang hendak aku ceritakan, tapi itu versi cerita yang lama. Legenda urban terbaru telah “maju” ke tahap berikutnya !!


Saat itu, Uiharu merasa perutnya membeku.


Ibu jarinya tidak bergerak.


Dia ingin mengajukan pertanyaan, tapi pandangannya menjadi buram, dan dia tidak bisa menekan tombol..


Tentu saja Saten tidak menyadari itu, dan dia pun terus mengirim email lainnya.


Pengirim: Saten Ruiko


Perihal: info terbaru


Isi: Ia mengatakan bahwa ada pusat perbelanjaan misterius di Rusia yang menjual produk apapun. Mereka melakukan bisnis pada segala macam hal, di sana. Senjata, obat, budak, dan bahan nuklir !! Ini adalah pasar gelap yang memperjualkan segala sesuatu yang ada di pikiranmu!


Uiharu sangat berharap agar teman sekelasnya berhenti mengetik.


Namun, dia tidak bisa menekan tombol untuk mengungkapkan itu.


Sementara itu, informasi dari Saten terus berlanjut.


Hati Uiharu “tertusuk” oleh legenda urban yang ceritanya semakin memburuk dan terus memburuk.


(Kelanjutan Isi) Pokoknya, sepotong bahan nuklir sangat padat yang dijual di sana, dibuat menjadi bentuk patung dan ditutupi dengan lapisan lelehan timah. Lantas, benda itu dibawa ke Academy City. Menurut cerita, benda itu diserahkan pada suatu tempat di kota sebagai cinderamata “kesepakatan”, tapi benda itu harus ditemukan sebelum teroris yang tersembunyi di Academy City “memodifikasi”nya, dan membuatnya menjadi bom nuklir!!



Chapter 6[edit]

Part 1[edit]


"Suatu bom nuklir!?" Misaka Mikoto berteriak ke ponselnya di ruang belakang dari toko okultisme.


Dia sedang menghubungi Shirai Kuroko.


"Ya. Aku tidak tahu bagaimana bisa rumornya berubah menjadi seperti itu. ... Mungkin ini karena cerita aslinya membahas tentang kristal uranium, sehingga membuat orang-orang berpikir bom nuklir.”


"... Aku ingin tahu apakah perubahan ini adalah bagian dari rencana mereka."


Masalahnya adalah, pihak yang dengan sengaja akan menyebabkan suatu insiden berkaitan dengan legenda urban tersebut.


Dan ada juga fakta bahwa saat ini terdapat teroris tersembunyi di Academy City yang dipersenjatai dengan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi. Tentu saja, mereka telah didatangkan dari pusat perbelanjaan Rusia.


Senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi saja sudah cukup untuk menjadi ancaman, tapi kemungkinan besar akan terjadi ancaman yang jauh lebih tinggi daripada itu.


Lagipula…


"Pusat perbelanjaan menggunakan sistem Kode EIC untuk menyebarkan rumor. Jika ornamen uranium merupakan bagian dari rencana pusat perbelanjaan yang dikendalikan oleh para petinggi, maka mereka akan menyebabkan insiden yang terkait dengan itu. Jika rencana mereka adalah menyebabkan bencana kerusakan pada Academy City sehingga informasi ilmu pengetahuan akan “jatuh”, dan mereka tak lagi dapat mengembangkan kekuatan psikis dengan drastis, maka semakin besar skala insiden itu, semakin besar juga...”


"Memang benar bahwa metode ini akan ‘menyelesaikan’ segalanya jauh lebih mudah daripada sekedar membuat kerusakan kecil dengan menggunakan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi dan detektor gelombang elektromagnetik berbahaya.”


"Pihak yang mencoba untuk menyebabkan insiden mungkin telah merevisi conten legenda urban, untuk meledakkan bom nuklir ...”


Lessar mengoperasikan layar smartphone dengan jari telunjuknya, kemudian memukul ringan meja dengan sudut device-nya. Ketika Mikoto memandang, Lessar menunjukkan layar itu padanya.


Layar ini menunjukkan hasil pencarian dari mesin pencari.


Ada daftar situs dan board yang tertulis kata kunci "ornamen uranium" padanya. Jumlah hasil pencarian sudah melampaui 100.000 buah.


Mikoto mulai berpikir bahwa rumornya pasti benar-benar sudah mulai menyebar pada pusat perbelanjaan Rusia, tapi kemudian dia menyadari bahwa dia salah.


Mesin pencari milik Lessar tidak menggunakan mode lokal yang hanya meninjau kawasan pusat perbelanjaan saja. Itu adalah pencarian pada web di seluruh dunia.


(... Apa? Apakah efek dari Kode EIC sudah begitu meluas?)


"Kuroko, sudahkah setiap jenis bahan nuklir atau bom ditemukan di Academy City?"


"Belum. Tapi Uiharu... yaitu, seorang rekanku sedang melacak rute pelarian mereka. Aku berasumsi bahwa benda itu belum dibuat menjadi bom, dan aku berpikir bahwa benda seperti itu tidak dapat ‘dimodifikasi’ sembari dipindah-pindahkan.”


"Tapi itu masihlah mungkin. Bahkan ada risiko kerusakan yang disebabkan oleh bahan yang diperkaya dengan uranium, setelah benda itu meninggalkan wadah ketika ditekan.” Mikoto berpikir sejenak. ”Bagaimana kalau kita mengevakuasi warga Academy City?"


"Tidak akan sesulit ini, jika kita bisa melakukan evakuasi. Jika kita membeberkan informasi pada publik, itu akan menyebabkan kepanikan di seluruh kota, dan menciptakan kerusakan ‘sekunder’. Jika 2,3 juta warga Academy City mencoba untuk meninggalkan kota sekaligus, fasilitas transportasi akan lumpuh, dan akan terjadi kekacauan di dekat gerbang.”


"..."


"Dan juga, mayoritas Anti-Skill meragukan tentang adanya bom nuklir. Mereka menafsirkan insiden ini sebagai upaya teroris bersenjatakan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi untuk mencoba membuat kota ini menjadi panik, sehingga Anti-Skill tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Dan itu memungkinkan mereka untuk melarikan diri.”


Mikoto merasa bahwa itu terlalu “tenang” mengingat terjadinya situasi, tapi adalah suatu fakta bahwa mereka tidak punya bukti bom nuklir itu ada di Academy City. Itu hanya legenda urban.


"Mengerti. Hubungi aku lagi setelah Anti-Skill memulai operasi pencarian mereka.”


"Apa yang akan kau lakukan, Onee-sama?"


"Aku akan melakukan apapun yang aku bisa," Mikoto menghela napas. ”Orang-orang yang menjadi otak dibalik semua insiden ini tengah berada di kota ini. Jika aku mengalahkan mereka, aku harusnya bisa mendapatkan informasi akurat tentang apa yang para teroris di Academy City miliki, dan apa yang mereka hendak melakukan.”


Dia menutup telepon.


Situasi sudah menjadi lebih serius. Krisis baru ini seakan-akan tidak sebanding dengan rumor jeruk berisi telur semut berbahaya.


"Itu sungguh tampaknya buruk," kata Lessar sembari meluncurkan jari-jari pada permukaan smartphone-nya.


Seolah-olah, situasi ini tidak mengganggu dirinya. Bagi orang asing seperti Lessar, mungkin itu bagaikan seperti perang yang terjadi pada suatu negeri yang jauh.


"Legenda urban yang menyebar melalui pusat perbelanjaan dan juga Academy City, kini telah mulai menyebar ke seluruh dunia. Ada pihak yang jelas-jelas ada di balik semua insiden ini. Aku tidak tahu apa yang mereka coba lakukan, tetapi tampaknya ‘jendela untuk keluar’ telah terbuka pada Kode EIC. ... Mereka mungkin tidak dapat secara mudah mengontrol media di luar pusat perbelanjaan dengan cara yang sama, tetapi mereka dapat memberikan ‘stimulus’ melalui berbagai media dengan jeda menggunakan 'berita asing' sebagai gantinya.”


Bahkan di dalam pusat perbelanjaan saja, Kode EIC telah menyebabkan masalah begitu besar.


Jika dampaknya menyebar ke seluruh dunia, skala insiden ini akan meroket.


Rumor tak beralasan bisa memiliki efek pada dunia secara fisik.


Hanya dengan menambahkan cerita lainnya, mereka bisa “menghancurkan” pikiran orang.


"Sebelumnya, kau berbicara seolah-olah kau tahu bagaimana cara mengendalikan Kode EIC. Kau bilang bahwa kau ingin menjelaskannya, tapi tidak ada cukup waktu.”


"Aku tidak berusaha untuk mempersulit suatu informasi penting atau sejenisnya. Kebetulan saja, saat itu ada bajak salju yang dikendalikan oleh remote melaju ke gedung.”


"Tapi sekarang sudah aman, kan?" kata Mikoto memotong omongan Lessar.”Katakan di sini, dan saat ini juga, ‘pusat’ Kode EIC. Kita harus menghancurkan secara langsung sumber legenda urban menyebalkan ini.”



Part 2[edit]


Mikoto keluar toko okultisme, dan merasa bahwa ada sesuatu yang janggal. Itu adalah atmosfir tidak menyenangkan yang “mencubit-cubit” kulitnya. Itu adalah rasa ketegangan yang begitu aneh. Seakan-akan, suatu “senggolan” kecil akan bisa membuat terpecahnya kerusuhan berdarah. Ini mirip ketegangan saat sekelompok polisi hendak menghajar para demonstran yang hendak mengamuk.


"Tunggu, apa yang sedang terjadi di sini ...?"


"Nah, Academy City bukan satu-satunya tempat yang penuh dengan legenda urban," kata Lessar dan dia pun tertawa. ”Nee hee hee. Orang-orang di pusat perbelanjaan ini telah mencapai ‘titik jenuh’ mental. Mereka tidak bisa membedakan antara kebenaran dan kebohongan, jadi ketika mereka mendengar rumor bahwa suatu bom nuklir berada di suatu lokasi yang tidak diketahui, mereka bisa ‘meledak’ kapanpun. Mereka mulai menganggapnya serius. Setidaknya begitulah menurutku.”


Tiba-tiba, Mikoto mendengar suara pelan.


Mereka berada di daerah yang penuh dengan toko-toko sewaan kecil dan pria berkulit putih besar keluar dari salah satu toko.


Ada sorotan aneh di matanya.


Takut, marah, dan sukacita. Semuanya bercampur pada sorot mata orang itu, sehingga sepertinya dia bisa menghancurkan sesuatu dengan entengnya,


Ketika ia melihat Mikoto, ia pertama kali menggumamkan sesuatu dalam bahasa Rusia.


Kemudian, ia meneriakkan sesuatu layaknya auman.


"Dia berteriak 'Aku telah menemukannya'."


"Kau tidak perlu memberitahu aku tentang itu! Aku bisa mengerti bahasa Rusia!! Yang lebih penting lagi, apa-apaan dengan reaksi itu!? Apakah petugas keamanan menyebarkan gambarku sebagai tersangka dalam kasus jeruk!?”


"Hmm, sepertinya rincian cerita ornamen uranium telah diubah untuk ‘menguntungkan’ pihak Academy City, dan ‘merugikan’ pihak pusat perbelanjaan. Tapi aku pikir perubahan itu terjadi dalam proses ‘dari-mulut-ke-mulut’, bukannya dengan menggunakan Kode EIC untuk mengendalikannya.”


"Apa?"


"Jika mereka mengarang cerita bahwa orang-orang dari pusat perbelanjaan ini adalah penjahat yang menjalankan pasar gelap, itu tidak akan banyak menarik perhatian mereka. Jadi, cerita itu akhirnya diubah. Cerita berikutnya mengatakan bahwa benda diperkaya uranium dijual di sini, tapi benda berbahaya itu dibawa oleh seseorang dari Academy City. Lantas, orang ini mencoba menyebabkan ledakan nuklir di sini untuk melenyapkan pusat perbelanjaan."


"Dengan kata lain…"


Ketika Mikoto mulai mencoba untuk bersuara, orang kulit putih besar yang baru saja berteriak itu meraih sesuatu pada pinggangnya sendiri. Ada sarung yang melekat pada ikat pinggangnya.


"... Mereka mungkin telah menjaga kerahasiaan informasi pribadiku sampai hari di saat demonstrasi itu tiba, tapi, mungkin ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa esper dari Academy City tersebut adalah seorang gadis seusia pelajar SMP.”


Sambil melihat sepucuk pistol kecil aneh yang tidak sesuai dengan tubuh besar si pria, Lessar berbicara.


"Aku kira, sekarang setiap gadis SMP berwajah Asia dari Academy City akan diperlakukan seperti teroris di kota ini.”


Mikoto dan Lessar bergerak pada saat yang sama, seakan-akan meraka saling tolak.


Saat mereka bergerak cepat ke kiri dan kanan untuk melompat pilar terdekat, desingan tembakan meledak.


"Aku tidak suka warga bersenjata!! Mengapa kalian membiarkan sembarang orang memiliki senjata !?”


"Gadis yang bisa merubah sekeping koin menjadi Railgun tidak berhak protes seperti itu.”


"Masalahnya adalah," Mikoto mengubah topik pembicaraan,”aku tidak takut pada seorang pria sangar yang membawa pistol mini. Yang lebih kutakutkan adalah tembakan nyasar yang bisa membunuh warga tak bersalah.”


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku tentu saja akan ..."


Sementara ditembaki beberapa peluru menyebabkan percikan api terbang dari pilar yang ia gunakan sebagai perisai, Mikoto dengan tenang menyaksikan gerakan target tanpa menutup matanya.


"... membungkamnya dengan cepat."


Segera setelah dia mengatakan itu, suatu suara elektrik datang dari tempat di samping si pria berkulit putih.


Sosok yang tampak seperti manusia melompat di tepi penglihatan si pria.


Pria itu segera melihat ke sana, tapi kemudian dia membeku.


Hanya dinding yang ada di sana.


Pria itu telah mengalihkan pandangannya pada gambar Mikoto di AR semipublic.


(Bidikannya telah melenceng!!)


Segera setelah itu, suara bahan bangunan meledak bisa didengar.


Itu datang dari atas.


Suatu kabel listrik setebal ibu jari melintasi langit-langit. Dan kabel yang terpasang menggunakan pengikat besi pada interval tetap.


Mikoto mengendalikan magnet untuk memanipulasi pengikat itu, agar kabel listrik tersebut bergerak.


Si pria berkulit putih berhenti bergerak sembari tercengang ketika melihat kabel itu terbang secara tidak wajar.


Suara udara yang teriris bisa didengar.


Suatu serangan menukik dari bawah mementalkan pistol dari tangan pria itu. Namun, itu tidak cukup untuk melumpuhkan si pria. Mikoto pun terus mengayunkan kabel.


Lima serangan beruntun tertuju pada pria berkulit putih itu.


Pria itu menggunakan lengannya yang tebal untuk menutupi wajah dan tubuh bagian atas. Mikoto melesat dari balik pilar, dan berlari ke arah pria itu. Dengan merunduk di bawah lengan si pria yang sedang bertahan, dia menjegalnya seakan mencoba untuk memeluk pinggangnya, sehingga si pria roboh ke lantai.


Suatu suara tumbukan benda tumpul terdengar begitu keras.


"Ok!! Sekarang aku-!!"


Mikoto hendak mengikat lengan dan kaki pria itu dengan menggunakan beberapa kabel yang lebih kecil, tapi dia tiba-tiba membeku karena syok.


Orang yang telah roboh ke tanah itu masih bisa mengulurkan tangannya.


Harusnya, serangan Mikoto sudah cukup untuk membuat dia tak sadarkan diri.


Setidaknya, harusnya si pria putih mengalami kesulitan bernapas sesaat.


"Dia sedang geram! Dia penuh adrenalin, tapi alasan kemarahannya tidaklah normal!! Rumor Kode EIC telah membuatnya gelisah. Ada kemungkinan bahwa ia tidak bisa merasakan rasa sakit seperti biasa!!” teriak Lessar dari jarak dekat.


"... !!"


Untuk menghindari kakinya tersambar, Mikoto melangkah mundur dan membuat jarak beberapa meter antara dirinya dan si pria Rusia berkulit putih.


Dengan tubuhnya condong ke samping, orang kulit putih perlahan-lahan mencoba untuk berdiri kembali. Dan juga, pistol itu sekarang kembali ke tangannya.


"Apa yang harus aku lakukan ...?"


Hanya membuat dia tak sadarkan diri atau menghentikan pergerakannya tidaklah cukup.


Kemungkinan besar, dia masih akan datang lagi bahkan jika lengan dan kakinya patah. Kemungkinan besar, bahkan jika organ tubuhnya rusak, dia akan terus bergerak sampai saat-saat jantungnya berhenti. Untuk menghentikan si perusuh, Mikoto akan membutuhkan serangan yang lebih kejam.


Dengan kata lain, dia tidak bisa menghentikannya kecuali melakukan pembunuhan.


Dan ia tidak punya waktu untuk ragu.


Jumlah perusuh bertambah.


Dia melihat beberapa laki-laki dan perempuan mengintip di sudut lorong.


Mereka kemungkinan besar menuju ke arahnya setelah mendengar suara tembakan. Pada awalnya, mereka tampak terkejut setelah melihat Mikoto dan si pria berkulit putih, tapi ekspresi mereka segera berubah.


(Ini buruk.)


Mikoto merasakan hawa dingin merambat pada tulang punggungnya.


Dia praktis bisa melihat ilusi berupa api kecil yang menyebar di seluruh area.


"Bantu aku!! Dia adalah seorang monster! Dia tiba-tiba datang dan memukul aku, sementara aku hanya berjalan-jalan!!”si pria berkulit putih berteriak marah sambil meraih sesuatu.


Mikoto tidak punya waktu untuk meneriakkan protes.


Ekspresi pria dan wanita yang melotot padanya (istilah “mengintip” atau “melihat” tidak lagi akurat untuk mengungkapkan apa yang mereka lakukan) dari sekitar sudut, begitu aneh. Sampai-sampai mereka hampir tidak tampak seperti manusia.


"Oh sial."


Mikoto mengambil tindakan cepat setelah melihat salah satu dari mereka memegang sejenis kapak yang digunakan oleh petugas pemadam kebakaran atau untuk melarikan diri pada kondisi darurat.


Dia memanipulasi beton bertulang di bawah kakinya untuk menyebabkan terbentuknya lubang di lantai.


Dengan suara yang besar, Mikoto jatuh ke lantai berikutnya di bawah.


"Jika kau hendak lari, setidaknya beri isyarat dulu dong," kata Lessar dengan suara riang.


Mikoto tidak tahu sejak kapan gadis Inggris ini jadi begitu akrab dengannya.


Tapi dia tidak punya waktu untuk khawatir tentang hal itu.


"Astaga. Ini buruk, ini buruk. ... Aku bahkan sama sekali tidak bercanda ketika aku mengatakan bahwa daerah ini benar-benar, benar-benar buruk.”


"Ke-kenapa?"


"Seakan-akan semua orang bergegas ke sini dan berharap untuk mengubah hidup mereka dalam satu kali tembakan. Toko senjata sudut cukup banyak yang dijarah.”


"Ugehgeh!! Mengapa kita terjebak ke daerah yang penuh senjata !?”


Mata Mikoto melebar.


Ini tampaknya adalah tempat yang terdapat penuh toko-toko menjual persenjataan pada pusat perbelanjaan, tapi toko-toko itu berdampingan dengan toko lain yang menjual es krim, seakan-akan tidak ada masalah sama sekali dan itu adalah hal yang lazim di tempat ini. Toko-toko berisikan persenjataan berbahaya itu diperlakukan layaknya kedai buku yang memperbolehkan pengunjungnya baca buku secara gratis. Perasaan terhadap senjata sangatlah berbeda dengan di Jepang.


"Aku pikir, pusat perbelanjaan ini seharusnya dibagi menjadi area yang menjual: benda keperluan sehari-hari , benda-benda hiburan, atau benda-benda mewah!”


"Apa yang sedang kamu bicarakan? Senapan memang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari di sini.”


"... Serius?"


"Di negeri ini, hiburan adalah suatu hal yang akan kau capai ketika kau sudah punya peluncur roket atau gatling gun.”


"Oh, persetan ... Lain kali, jangan bilang bahwa orang-orang di sini akan tertawa dengan bahagia jika sudah bisa menembakkan Railgun."


"Pokoknya, semuanya akan semakin buruk jika aksi penjarahan ini terus berlanjut."


"Apakah kau sedang mengatakan bahwa suatu hal yang bahkan lebih buruk akan terjadi!?"


"Dengan pikiran yang mudah emosi seperti ini, aku ragu bahwa mereka melakukan ini semua dengan sengaja. Tapi ada lemari besi besar pada ruang bawah tanah yang terletak agak jauh di belakang toko senjata. Ukurannya sebesar hanggar atau bandara pribadi.”


"Apa yang ada di dalam lemari besi itu?"


"Viner," Lessar dengan cepat merespon.”Itu diisi dengan senjata yang dijadwalkan akan tampil pada pameran senjata musim panas. Itu semua adalah senjata darat khusus. Ada senjata yang berasal dari 14 perusahaan besar di dunia, termasuk Academy City. Ada suatu perbedaan besar antara ‘senjata sehari-hari’ di sini, dan senjata yang tersimpan di sana.”


"Kau pasti sedang bercanda ..."


Ribuan senapan berbaris dengan rapi di etalase, seolah-olah itu adalah toko tas bermerek terkenal. Area penyimpanan di belakang terisi penuh dengan senjata dan amunisi.


Tapi kaca etalasenya telah hancur berkeping-keping.


Bunyi alarm bernada tinggi menyakiti telinga mereka.


Tidak ada orang yang menoleh ketika Mikoto datang dari atas karena mereka menyebabkan kebisingan yang sama kerasnya.


Puluhan pasang tangan menyambar merek senapan baru seperti orang berebut produk diskon selama penjualan promo. Amunisi tumpah-ruah pada seluruh lantai. Beberapa orang berlari di sekitar, sementara mendorong beberapa senjata ke kereta belanja. Beberapa orang mengaitkan pistol ke ikat pinggang, dan beberapa orang menyambar sekelompok senapan. Ada beberapa orang yang saling jotos karena mereka berebut senjata. Tidak ada ampun ditunjukkan kepada siapa pun, tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Senjata beterbangan di seluruh tempat. Pemandangan ini mirip seperti ketika suatu toko membagi-bagikan paket telur gratis yang terbatas, beberapa orang bahkan menyuruh anaknya ikutan mengantre agar mendapatkan ektra telur.


Wajah Mikoto memucat setelah melihat adegan yang di luar nalar orang Jepang pada umumnya.


"... Apakah mereka bodoh? Aku bisa memahami jika mereka mengambil satu atau dua pucuk senjata, tapi apa yang mereka akan lakukan dengan setumpuk senjata seperti itu!?”


"Aku ingin tahu, apakah mereka juga akan bertindak seperti ini ketika menjarah toko logam mulia, ataukah orang-orang di sini memperlakukan senjata setara dengan logam mulia. Apapun itu, sepertinya ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat.”


Mungkin adalah suatu kesalahan ketika mereka berbicara dalam bahasa Jepang.


Orang-orang tidak bereaksi ketika langit-langit runtuh, tapi tatapan dan laras senjata mereka ditujukan ke arah Mikoto sembari dia berbicara.


"Wow. Semua musuh dianggap memiliki kekuatan super ketika ‘pembenaran’ didoktrinkan ke dalam kepala mereka!”


"Ini bukanlah waktunya untuk berkomentar dengan riang gembira!!"


Mikoto menarik lengan Lessar dan melompat ke belakang rak terdekat. Setelah dia lakukan itu, dia begitu terkejut ketika mengetahui bahwa rak tersebut penuh dengan amunisi, tapi sudah terlambat untuk mencari tempat persembunyian lain.


Segera setelah itu, suara tembakan mengikuti mereka.


Rak yang terlihat cukup berat dan produk amunisi yang berbaris padanya tanpa ampun ditembus oleh peluru. Lawan mereka menembakkan senapan militer, bukannya pistol.


Rak tidak akan sanggup menjadi perisai terhadap serangan macam itu.


Mikoto mengeluh pelan sembari ia melompat di balik rak lain yang terdapat aksesoris amunisi dan juga suatu benda mirip tripod.


"Apa-apaan mereka!? Bahkan ada orang tua yang menembaki kita sambil memasang wajah mengerikan!! Seseorang perlu menghentikannya sebelum ia roboh karena tekanan darah tinggi!!”


"Kita masih beruntung karena spesifikasi senjata itu sengaja diturunkan agar bisa digunakan oleh warga sipil dengan mudah. Jika senjata-senjata itu dirancang dengan spesifikasi otomatis penuh, ini akan menjadi lebih buruk.”


"Bahkan dengan mode semi-auto, senjata itu masih cukup banyak memuntahkan peluru daripada senapan pada umumnya.”


Lawan mereka bukanlah satuan tentara di bawah komando yang sistematis. Mereka hanyalah segerombolan perusuh tanpa aturan. Tampaknya beberapa dari mereka mencoba untuk mengepung, tapi Mikoto lebih khawatir jikalau mereka akhirnya akan baku tembak antar teman.


Mikoto memandang sekeliling area itu sembari bergegas keluar dari tempatnya di balik rak. Dia menuju lorong terbuka, dan masuk lagi ke area lain yang juga terdapat barisan rak.


"Di mana para petugas keamanan?"


"Mereka tidak akan mampu memadamkan kerusuhan ini. Layaknya api yang telah menyebar ke rumput kering, jumlah orang bersenjata semakin banyak, bahkan tak seorang petugas keamanan pun dapat mengatasi situasi ini. Apa yang bisa mereka lakukan hanyalah mengisolasi ‘api’nya sehingga tidak merambat ke ‘kilang minyak’.”


Kota ini sedang runtuh disertai kegaduhan.


Ketika keseimbangan kekuatan antara mereka yang melindungi ketenangan kota, dan orang-orang yang menghancurkan kota, terbalik.... seolah-olah, “minyak tanah” tercecer di lantai, lantas tersulut api. “Tirai” mimpi buruk tersibak, dan menelan semua orang.


Mikoto menyadari bahwa seluruh tubuhnya gemetar.


Kekacauan yang tersaji di depan matanya kali ini berasal dari dimensi yang benar-benar berbeda dari kekacauan yang pernah dia saksikan pada perkelahian antar preman di gang-gang gelap Academy City. Jika terus seperti ini, maka tinggal tunggu waktu saja semuanya tertelan dalam kehancuran. Yang baik maupun yang buruk, penyerang maupun korban, dan orang-orang lainnya.... semuanya akan tenggelam ke dalam lautan darah yang telah mereka ciptakan dengan tangan mereka sendiri.


"Aku harus menghentikan ini ..." Mikoto bergumam sembari ia menghentikan langkah kakinya. Dia pun berhenti berpindah-pindah dari satu rak ke rak lain. ”Aku harus menghentikannya sebelum senjata-senjata itu menguasai semua orang di kota ini!!”


"Secara pribadi, aku pikir tindakanmu itu sia-sia," kata Lessar dengan nada mengejek.


Sepertinya, si gadis Inggris misterius ini sudah beberapa kali mengalami situasi seperti ini.


"Semuanya sudah ‘mengalir’ ke arah kehancuran. Kekacauan telah menyebar ke setiap sudut dan celah kota ini. Bahkan jika kau berhasil memukul-mundur semua orang di toko senjata, itu tidak akan menghentikan gangguan secara keseluruhan. Banyak orang yang sudah memiliki pistol.”


"Lalu apa?" kata Mikoto sembari berbicara terlalu cepat karena kegugupannya.”Mungkin memang benar bahwa mengalahkan orang-orang yang memiliki pistol dan menghentikan penjarahan di toko-toko senjata tidak akan menghentikan semua kerusuhan primitif ini. Tetapi jika semua senjata semakin tersebar di seluruh wilayah, kekerasan akan semakin meningkat secara signifikan. Ini akan sampai ke level di mana tidak ada seorang pun yang mampu bertahan, bahkan jika terjadi keajaiban. Itu sebabnya aku harus setidaknya menghentikan hal itu terjadi. Aku harus menekan kekerasan ini ke level di mana keajaiban bisa menghentikannya.”


Lessar mendesah.


"... Um. Apakah kau sadar bahwa kau tidak akan melakukan apa-apa kecuali memuaskan dirimu sendiri selama kau tidak menyelesaikan akar masalahnya?”


"Aku tahu, aku tahu."


"Dan apakah kau tahu bahwa kau akan mempertaruhkan nyawamu sendiri untuk memuaskan perasaan suatu individu?”


"Aku juga tahu akan hal itu," kata Mikoto sambil menatap langsung ke mata Lessar.”Itu sebabnya aku tidak memintamu untuk pergi bersamaku. Kau harus pergi ke fasilitas Kode EIC yang merupakan poros dari semua rencana gila ini. Kita tidak bisa membiarkan kerusuhan ini menyebar lebih jauh, tapi itulah sebabnya kita harus sesegera mungkin menemukan poros proyek Kode EIC, lantas menghentikannya.”


"Ngomong memang gampang ..." Lessar berpikir sebentar, kemudian berbicara dengan tenang.”Kau menyarankan agar kita berpisah, tapi bagaimana aku bisa lolos dari situasi ini? Semua perusuh memiliki senapan. Belum lagi, kita sudah terkepung.”


"Belum tentu."


"?"


Lessar mengerutkan kening dan Mikoto mengetuk kakinya ke tanah.


"Ada saluran bagus yang melewati bawah. Namun, jika kita berdua melaluinya dan menghilang dari pandangan mereka, di saat itu juga kita akan ketahuan.”


Tetapi jika mereka berpisah di sana, dan salah satu dari mereka menghadapi para perusuh, maka fokus mereka akan terpusat pada dia. Di saat itu, orang yang kabur dengan aman bisa menyelinap ke fasilitas pusat Kode EIC dan menghancurkannya.


"... Pada dasarnya, para perusuh ini berada dalam kepanikan karena mereka ‘termakan’ legenda urban tentang ornamen uranium, sehingga mereka dapat kembali tenang jika Kode EIC dihentikan.”


"Tidak ada jaminan rencanamu itu bisa berhasil. Dengan jumlah orang sebanyak ini, bahkan Level 5 sepertimu bisa kelelahan. Jika kau bertarung habis-habisan, atau melarikan diri untuk mengharapkan mereka berhenti, tetapi ternyata mereka tidak juga berhenti, maka di saat itu semuanya sudah terlambat.”


"..."


Mikoto mengerti adanya resiko itu.


Bagaimanapun juga, dia adalah target utama dari para perusuh. Jika dia melakukan kesalahan sedikit pun, dia pasti akan menerima siksaan yang panjang dan lama dari para perusuh ini.


Pemahaman yang cukup baik, Mikoto berbicara.


"... Kau bukanlah orang yang harus mengkhawatirkan tentang itu."


"Serius? Semangat yang berapi-api seperti itu bukanlah sifatku, jadi aku tidak akan ikut denganmu.”


"Kalau begitu pergilah."


"Chehh," gumam Lesser sebelum akhirnya dia menarik senjata tombak-empat-berbilah, entah dari mana.


Dia menusuk lantai, dan salah satu pisau menembus celah pada penutup saluran berbentuk persegi. Dia menggunakan prinsip pengungkit* untuk dengan mudah membukanya.

[Baca pelajaran IPA SD bab “pesawat sederhana”. Ummm, Ciu tak yakin sekarang namanya apa \ :v /]

"Aku tidak akan meneteskan air mata jika kau mati, jadi cobalah untuk tetap hidup."


"Aku akan menghantuimu jika aku tewas, jadi setidaknya beritahu aku di mana letak fasilitas pusat Kode EIC."


"Mereka ada di fasilitas bawah tanah yang disebut Stock Market Center*. Saham dari semua toko yang terdaftar di pusat perbelanjaan ini diperdagangkan di sana, dan penawaran dibuat dengan menggunakan uang dari seluruh dunia.”

[Diterjemahkan: Pusat Bursa Saham.]

"Aku paham. Suatu jaringan komunikasi berskala besar membutuhkan ‘prosesor’ yang dapat menghitung sejumlah besar data secara langsung. Itu adalah tempat yang sempurna sebagai fasilitas pusat Kode EIC.”


"Dilihat dari betapa pentingnya fasilitas itu, pastinya mereka tidak ingin menyebarkan ‘hasil’ yang selama ini sudah diperoleh. Aku jadi punya perasaan buruk, dan sepertinya berbagai macam ‘rintangan’ sudah dipersiapkan oleh mereka untuk menghalangi siapapun yang mendekati fasilitas itu.”


Setelah mengatakan itu, Lessar melompat ke dalam lubang persegi.


Hanya kepalanya yang mencuat.


"Oke, aku berharap tidak melihatmu lagi dalam wujud hantu."


"Maaf, tapi orang-orang dari Academy City tidak percaya pada fenomena spiritual, jadi jika aku akan menghantuimu, aku akan melakukannya secara ilmiah.”


Lessar menunduk ke bawah dan Mikoto memindahkan penutup persegi dengan menggunakan kakinya sehingga ‘pintu masuk’ pun tertutup.


Mikoto kemudian mendengar suara berderit.


Itu tidak datang hanya dari satu tempat. Suara itu tampaknya berasal dari sekelilingnya, dan itu perlahan mendekatinya.


"Nah ..." percikan putih kebiruan terbang dari poninya.”Aku berpikir sudah waktunya untuk bersenang-senang dan mendemonstrasikan betapa kuat Academy City #3.”



Part 3[edit]


Petugas keamanan bernama Enirya G. Algonskaya berteriak ke radionya.


"Aku sudah bilang!! Tutup semua rana yang masih berfungsi!! Potong semua koneksi komunikasi!! Jangan biarkan mereka ambil bagian dalam kerusuhan sehingga kekacauan mencapai tingkat yang tidak lagi dapat dikendalikan!! Mereka hanyalah warga sipil! Kita tidak perlu takut pada mereka jika kita bisa melumpuhkan dan menyegel pergerakan mereka!!”


Dia secara refleks merunduk ketika mendengar beberapa suara desingan tembakan.


Percikan api terbang dari barikade yang terbuat dari model mobil dari suatu dealer.


(... Sialan. Mereka menggunakan pistol, tetapi itu bukanlah peluru normal. Andaikan saja aku tidak meletakkan benda-benda itu di dalam mobil, tubuhku pasti sudah tertembus.)


Ruangan cukup lapang di dalam mobil itu dipenuh dengan potongan-potongan besi. Benda itu adalah kaleng-kaleng hancur yang dikumpulkan jadi satu untuk didaur -ulang. Bahkan sesuatu yang lemah seperti itu bisa efektif jika dikumpulkan bersamaan.


Namun, tidak hanya kaleng-kaleng itu yang berkumpul jadi satu.... para perusuh juga melakukan hal yang serupa..


"Sekarang, kerusuhan bahkan sudah semakin menyebar ke berbagai area!! Mereka sebagian besar berada di sekitar gerbang timur dan utara, tapi mereka sedang menuju ke dalam. Kalau begini terus, mereka akan menyebar ke seluruh penjuru kota !!”


"Ini adalah Unit C. Tampaknya mereka telah menyadari bahwa kita menggunakan peluru karet yang tidak mematikan! Tindakan mereka jelas semakin berani !! Kita tidak bisa menandingi pistol sungguhan dengan persenjataan seperti ini!! Bahkan jika kita memakai rompi antipeluru, kita akan tertahan jika ditembaki secara beruntun!!”


(Jadi kita sudah berada di batas akhir...)


Wajah Enirya berubah pucat.


Melindungi perdamaian hanyalah suatu hal yang efektif jikalau jumlah pelanggar peraturan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pentaat peraturan. Jika setiap orang di kota ini berhenti mendengar himbauan dari para penegak hukum ini, maka efektifitas itu akan lumpuh total.


Setelah itu terjadi, maka mereka hanya akan berbicara dengan menggunakan senjata sampai salah satu sisi bungkam.


Dan terlebih lagi ...


(Kami sedang dipukul-mundur karena perbedaan dalam segi jumlah, bukannya kualitas senjata ... Mereka memiliki kekuatan lebih banyak sekarang. Jika mereka menyadari itu, para perusuh akan mendapatkan rasa superioritas. Lantas, tidak ada himbauan maupun tindakan yang akan mereka dengar!!)


"Sialan ..." Enirya mengumpat.”Apa yang bisa kita lakukan!? Mengikuti buku petunjuk dan mengutamakan prioritas? Mengawal para VIP agar selamat? Kau pikir berapa banyaknya warga sipil akan mati jika kita melindungi orang-orang tua yang hanya memikirkan keselamatannya sendiri itu!?”


"Aku tidak bisa menghubungi para petinggi," kata seorang koleganya yang bersembunyi di balik barikade darurat. ”Mereka memerintahkan kita untuk mengamankan rute pelarian C, dan memungkinkan anggota penting untuk melarikan diri ke tempat aman. Tapi sejak saat itu, aku belum mendengar kabar dari mereka lagi. Mereka seharusnya memiliki pemancar untuk mengatakan di mana lokasi mereka berada, tapi ....”


"Apakah Kau pikir mereka sudah ‘ditelan’ oleh para perusuh?"


"Aku tidak ingin berpikir bahwa mereka bodoh. Jujur saja, aku lebih milih mati daripada terus-terusan mengikuti perintah mereka.”


"Aku juga sama," kata Enirya sembari memeriksa berapa banyak cadangan peluru yang dia punya. ”Kemungkinan besar, para petinggi melakukan sesuatu secara rahasia, sehingga mereka tidak perlu menginformasikannya kepada kita. Mereka mungkin sedang melaksanakan suatu rencana ‘induk’ yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan menghentikan para perusuh itu. Dengan kata lain, mereka mungkin hanya meninggalkan kita di sini sampai mati.”


"Apa yang harus kita lakukan?" kata rekannya samnil dengan hati-hati memilih kata-katanya.”Apakah kita hanya melaksanakan ‘peran anjing’ untuk tetap 'tinggal' sampai kelaparan, lantas mati?”


"Tugas kita adalah melindungi ketenangan kota ini," Enirya menanggapi tanpa penundaan sedetik pun. "Aku tidak keluar dari pekerjaanku sebagai inspektur polisi, dan tidak datang ke sini hanya untuk mentaati kepentingan orang-orang tua."


Jika mereka berhenti mengawal rute pelarian para petinggi yang mungkin tidak akan pernah datang, mereka memiliki lebih banyak pilihan. Seperti yang dia katakan sebelumnya, para perusuh itu merupakan warga sipil. Hanya dengan meletakkan perangkap dan mundur kembali, mereka bisa menetralisir dan menyudutkan kelompok sebanyak itu.


Apa yang harus mereka lakukan untuk melumpuhkan semangat juang para perusuh tanpa membunuhnya, sementara pada saat yang sama mereka harus tetap menyelamatkan nyawa sendiri?


Enirya membayangkan tata letak fasilitas dalam pikirannya sembari ia mendengar sepotong informasi baru.


"Aku mendapat laporan dari Unit G yang bekerja untuk menekan para perusuh di dekat area toko senjata!!”


"Sialan, sudahkan area itu jatuh ke tangan mereka !? Semua senjata darat untuk pameran senjata tersimpan di sana!!”


"Tidak, sampel untuk Viner masih aman." rekannya terdengar seolah-olah tidak percaya dengan apa yang ia katakan.”Aku tidak bisa mengkonfirmasi itu pada rekaman kamera pengintai, tapi ... tampaknya seorang warga sipil tunggal sedang berjuang untuk menahan para perusuh yang hendak menyerang area toko senjata!!”


"Seorang..... warga ... sipil ...?"


"Itu adalah Misaka Mikoto."


Enirya benar-benar tercengang dan rekannya terus berbicara.


"Sepertinya dia sedang berusaha untuk mencegah tersebarnya senjata-senjata mematikan tersebut. Bagaimanapun juga, seluruh kerusuhan ini tampaknya berpusat padanya.”


"..."


Enirya memiliki beberapa pengalaman di saat itu.


"... Apakah ada jalan ke area toko senjata?"


"Apakah Kau berencana untuk memberikan bantuan padanya? Meskipun dia melakukan hal seperti itu, dia masihlah si tersangka utama, kau tahu!?”


"Tidak, bukan itu." sembur Enirya.”Kerusuhan ini tampaknya telah dipicu oleh legenda urban tentang ornamen uranium. Dan tujuan mereka adalah membunuh gadis yang seharusnya mencoba untuk meledakkan bom nuklir.”


"Jangan bilang ..."


"Semua perusuh terfokus pada gadis itu, jadi kita perlu menahan mereka sebelum hal terburuk terjadi.”


Kemungkinan besar, kerusuhan tidak akan berhenti bahkan jika Misaka Mikoto benar-benar tewas. Setelah kekerasan primitif mendapatkan momentum, itu akan berlanjut untuk beberapa waktu sebelum emosi mereka mereda.


Tapi pada saat yang sama, gadis itu sedang berada di tengah-tengah kerusuhan.


Gadis yang sangat bisa mengubah arah kerusuhan. Dia bahkan sanggup mengontrol mereka. Mereka tidak bisa kehilangan itu. Mereka membutuhkannya.


"Targetnya terus bergerak di sekitar, bukannya berdiam di satu tempat."


"Tentu saja dia melakukan itu. Jika tidak, dia akan ditelan oleh gelombang manusia,” Enirya mengatakan itu dengan tak acuh.”Gunakan peralatan pengawasan untuk menentukan di mana titik kerusuhan terkuat. Di situlah kita akan menemukan gadis itu.”



Part 4[edit]


Misaka Mikoto melompat keluar dari balik rak yang sudah compang-camping.


Pada saat yang sama, beberapa tembakan mengejar dia.


Bunga api putih kebiruan intens terbang dari seluruh tubuhnya, dimulai dari poninya. Kilatan cahaya dan gemuruh tampak seperti petir sungguhan. Cahaya dan kebisingan luar biasa bercampur dengan ketakutan intens. Semua itu menusuk-nusuk hati para perusuh yang menatap Mikoto melalui bidikan senjata mereka.


Sederhananya, itu mirip dengan stun grenade*.

[Diterjemahkan: granat setrum. Baca Index SP.]

Namun, masalahnya adalah, mereka memegang senapan atau pistol di tangan. Kilatan cahaya dan gemuruh membuat mereka bergeming dan menjauh. Itu berhasil melumpuhkan beberapa indera mereka, tetapi pada saat yang sama, jari-jari mereka secara refleks menarik pelatuk.


Peluru yang bahkan lebih banyak melayang di udara.


Mikoto menuju ke rak terdekat, tapi akhirnya dia berhenti mencari-cari rak untuk berlindung. Masih mengandalkan rak, namun dia menggunakan pengendalian magnet untuk menggerakkan benda besi tersebut agar mendekatinya.


Peluru senapan bisa dengan mudah menembus rak secara langsung.


Namun, Mikoto sekali lagi menggunakan pengendalian magnet untuk ‘mengancurkan’ dan ‘memadatkan’ rak tersebut. Sebagai hasilnya, tikaman peluru mematikan itupun bisa ditahannya.


Mikoto kemudian melemparkan rak hancur pada sekelompok perusuh.


Beberapa orang terpental seolah-olah mereka adalah pin bowling.


"Gaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh !!"


Sambil meneriakkan itu, pria dan wanita terus menyerangnya meskipun kucuran darah mengalir dari dahi mereka. Tidak peduli apakah mereka memegang senjata ataukah tidak. Mikoto telah dianggap sebagai perwujudan kejahatan yang sebenarnya, sehingga mereka tanpa ampun menyerang Mikoto, seolah-olah mereka sangat menikmati pertarungan tak imbang ini.


(Mereka tidak lagi bisa berpikir dengan jernih, sehingga sensitifitas terhadap rasa sakit menurun ... Sialan, ini begitu mirip dengan adegan pada film zombie !!)


Bunyi bunga api putih kebiruan meledak keluar.


Suatu arus bertegangan tinggi terbang lurus ke depan, dan akhirnya melumpuhkan beberapa perusuh sampai pingsan.


Seperti itulah yang “seharusnya” terjadi.


"Gh ... gh ..."


Meski telah roboh, ujung jari si perusuh menggeliat dan itu menyebabkan seorang Mikoto pun terkaget.


Dan kemudian…


(...?)


Mikoto mendengar suara berderit dari samping.


Begitu ia mendengarnya, beberapa rak dari toko-toko senjata runtuh sekaligus, seakan telah terkena hantaman mesin berat.


"!? Ap-"


Pada saat itu, Mikoto teringat suatu film dokumenter tentang lautan tropis yang pernah dia tonton sebelumnya.


Lebih tepatnya, dia teringat anemon laut.


Mengapa dia teringat hewan laut itu? Karena dia hanya melihat tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan, tangan !!!!!


"... !! Apa yang terjadi dengan senjata kalian!?”


Mikoto mengendalikan magnet untuk menggerakkan salah satu rak yang telah terjungkal. Dia mengirimkan rak tersebut untuk meluncur di lantai dengan kecepatan tinggi seolah-olah seperti meluncur di atas es. Rak itu menjegal kaki para perusuh dan membuat mereka ganti terjungkal.


Tapi itu tidak cukup.


Dia kemudian mendengar bunyi *klik* logam di belakangnya.


"Aku tidak berharap kalian mengambil kembali senjata-senjata itu!!"


Beberapa tembakan terdengar.


Mikoto menarik tangannya ke bawah, seakan-akan mengikuti perintahnya, beton bertulang di langit-langit turun dari atas. Sejumlah besar bahan bangunan runtuh seperti rana, dan menciptakan perisai untuk menahan berondongan peluru.


Suatu keringat tak menyenangkan menetes di sekujur tubuh Mikoto.


Ada beberapa perusuh di dekat Mikoto yang juga berada di jangkauan tembak. Mereka benar-benar tak mempedulikan mana yang teman, dan mana yang lawan. Pada dasarnya mereka hanyalah sekumpulan “orang buta”.


Mikoto tidak bisa terus berhenti di satu tempat.


Dia harus menghentikan tersebarnya senjata dari area toko persenjataan, tapi tertelan oleh gelombang manusia ini tidak akan membantu apa-apa.


"... !!"


Mikoto mengertakkan gigi dan bergerak dengan cepat. Dia menembakkan serangan listriknya yang berfungsi layaknya stun grenade, lantas melumpuhkan beberapa perusuh. Lalu, dia bergerak secepat mungkin untuk meninggalkan area itu.


Dia “memotong” jalan di dekat toko kelontong, dan masuk ke dalam toko pertukangan do-it-yourself* di sudut lorong. Sementara itu, beberapa peluru masih saja ditembakkan di dekatnya.

[do-it-yourself adalah kepanjangan dari DIY. Artinya adalah, aktivitas mendekorasi, membuat perabotan, dan memperbaiki rumah dengan upaya sendiri, bukannya menyewa pekerja profesional. Kamus Oxford.]

(Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika aku tidak menetralisir senjata mereka.)


Mikoto merunduk dan berlari antara rak-rak sembari melindungi kepalanya dari sisa-sisa produk yang meledak karena hujaman peluru.


(Kekuatanku dapat melakukan banyak hal, tapi akan lebih mudah jika aku menggerakkan barang-barang logam di sekitar dan memanfaatkannya sebagai pelindung, bukannya menggunakan serangan listrik secara langsung. Bahkan jika aku bisa menembakkan Railgun, itu agaknya ...)


Mikoto langsung saja meluncur ke pojok, dan meraih paket dia yang sudah diincarnya. Itu adalah kantong plastik besar seukuran kantong beras.


(Dan pengendalian magnetku juga meliputi pasir besi.)


Di dalam kantong plastik itu adalah produk penghangat tangan.


Paket itu berisi lusinan penghangat tangan, dan Mikoto menggunakan pengendalian magnet untuk merobek bungkusnya dari dalam.


Ada beberapa jenis penghangat tangan, tapi yang mereka punya adalah serbuk besi.


"Secara pribadi, aku lebih suka pasir besi karena mudah digunakan, tetapi aku kira ini bukanlah waktu untuk pilih-pilih."


Dia mendengar suara mirip serangga terbang di dekat telinganya.


Keuntungan dari pasir besi atau serbuk besi adalah, benda itu dapat dengan mudah dikendalikan melalui medan magnet. Jika dia membuatnya bergetar dengan kecepatan tinggi, dia bisa memotong objek seolah-olah menggunakan gergaji, Mikoto juga bisa mengubahnya menjadi bentuk pedang, tombak, ataupun cambuk.


Sebagai contoh, tidaklah sulit bagi Mikoto untuk mengendalikan benda itu karena bobotnya begitu ringan. Dia bisa menembakkannya agar masuk ke dalam laras pistol, kemudian menggetarkannya untuk berubah menjadi “mode gergaji”. Dan dalam sekejap, pistol itu pun robek dari dalam.


Terdengar suara desingan benda logam.


Namun, itu bukanlah suara peluru senapan.


Itu adalah suara "peluru" serbuk besi milik Mikoto yang telah dipaksakan masuk ke dalam sela-sela laras pistol para perusuh.


(Ini akan berfungsi.)


Kali ini dia begitu yakin, dan dia mulai berlari lagi.


Namun kali ini, dia tidak lari untuk kabur. Dia lari untuk melawan.


(Dengan cara ini, aku bisa menetralisir semua senjata yang dijarah dari toko itu! Aku bisa menghindari situasi terburuk!!)


Ketika berpikir demikian, Mikoto secara sensitif merasakan “arus” tak terlihat di atmosfer. Itu bukanlah “arus” fisik di udara. Itu adalah “arus” emosi yang telah menyebar ke seluruh area dan menimbulkan kerusuhan.


Secara berantakan, arus itu menyebar melalui seluruh area layaknya balon raksasa yang terisi sampai batasnya dalam ruang kedap udara.


Namun, seolaholah kesenjangan telah dibuat.


Perasaan tegang mulai menginggapi Mikoto.


Pada awalnya, Mikoto pikir itu hanyalah perasaan buruk yang terjadi karena para perusuh sudah memulai serangan baliknya.


Tapi ternyata bukan itu.


Itu adalah…


“Arus” emosi itu adalah ...


(Target kebrutalan para perusuh ... telah berubah ke suatu hal lain?)


Mikoto mengerutkan kening sambil terus menghancurkan senapan para perusuh dari dalam.


(Cerita ornamen uranium versi Rusia telah membuatku berperan sebagai penjahat utama. Mengapa mereka mulai meninggalkan target utama begitu saja ...?)


Apakah kekerasan sudah berkembang ke level di mana target utama tidak lagi berarti? Jika demikian, akan terjadi masalah lebih besar karena Mikoto tak lagi dapat “menggiring” kerusuhan ini, tapi ...


(Tunggu.)


Mikoto tiba-tiba menyadari sesuatu.


(Kerusuhan ini disebabkan oleh Kode EIC. Bagaimana jika kerusuhan ini sengaja dibuat agar aku tidak bisa mendekati “inti” dari proyek tersebut ...?)


Mikoto berhenti berjalan tanpa dia sadari.


(Itu berarti, target kerusuhan telah berpindah ke Lessar yang sedang mendekati fasilitas pusat Kode EIC!!)


Mikoto bukanlah satu-satunya orang yang berada dalam bahaya.


Lessar lah yang kini berada dalam keadaan lebih berbahaya karena dia sedang menuju ke pusat Kode EIC.

RAILGUN SS2 06 027.jpg

Dia akhirnya menyadari fakta itu, tapi puluhan perusuh masih saja menyerbu ke arahnya layaknya tanah longsor.


"Jangan menghalangi…"


Percikan api berderak di sekitar Mikoto.


Sejumlah besar serbuk besi menggeliat layaknya makhluk hidup.


"Jangan menghalangi jalankuuuuuuuuuuuuuuuuu!!"



Part 5[edit]


Lessar sedang berlari menyusuri lorong sempit yang panjang.


Saluran sempit itu tidak berujung pada tujuannya. Ada area di mana ia harus keluar ke atas permukaan tanah. Dan bahkan jika dia melanjutkan, pada akhirnya dia akan dibawa ke ruang terbuka. Jika para perusuh melihat saat dia melalui area yang sempit, maka ia akan terjebak.


Dengan demikian, Lessar menuju ke arah tertentu melalui saluran, kemudian keluar lagi pada lantai pertama.


"Aku tak mengira bakal semudah ini ..."


Dia berlari dengan kecepatan penuh tanpa melirik belakangnya.


"... Namun itu adalah suatu pengalaman yang sungguh aneh!!"


Rasanya seperti adegan pada film petualangan ber-genre action, di mana jagoannya dikejar oleh bola baja raksasa.


Namun, ada puluhan pria dan wanita mengejar Lessar, bukannya bola baja.


Karena mereka memiliki kaki, mereka tidak perlu menggelinding, tapi barisan depan akan merobohkanmu dan menginjak-injakmu, kemudian baris berikutnya akan menggilasmu dengan cara yang sama. Ini seakan-akan seperti sedang dikejar oleh bola raksasa yang terbuat dari manusia.


Lessar bisa merasakan hawa dingin merambat di tulang punggungnya, sementara itu sensasi menegangkan malah membuatnya tersenyum.


(Ini buruk. Sangat, sangat buruk. Aku cukup yakin bahwa jalanku masih panjang untuk mencapai Stock Market Center, yang merupakan fasilitas pusat Kode EIC.)


Dia bisa merasakan kekejaman yang samar-samar sedang mengejarnya bersamaan dengan para perusuh itu.


(Sepertinya pendekatanku ke fasilitas pusat sudah terdeteksi, dan mereka membagi kelompoknya sebagian untuk mengejarku.)


Ketika berpisah dengan Mikoto, Lessar sudah siap karena dia tahu bahwa hal ini akan terjadi.


Tapi tiba-tiba Lessar melihat sekelompok besar perusuh yang mengalir keluar di depan matanya, pada lorong yang panjang. Dia diserang dari kedua sisi. Pisau dan alat pemadam kebakaran di tangan mereka tampak lebih berbahaya daripada senjata yang bisa membunuh dalam satu kali tembakan.


(Wow! Jari mereka bergetar layaknya orang gila!!)


Lessar tiba-tiba berubah arah dan melompat ke sisi lain dari pintu besi di sebelah lorong. Dia menyegel pintu dengan meja serta benda berat lainnya, dan dia pun akhirnya menyadari situasi macam apa yang tengah dihadapinya. Dia sudah muak dengan ini semua.


Ruangan itu cukup kecil.


Itu bukan tempat bagi pelanggan. Kemungkinan besar, peralatan kebersihan tersimpan di dalam ruangan itu. Tidak ada pintu keluar lain.


Dia terisolasi.


Tapi Lessar benar-benar lupa tentang “misinya” di kota ini.


Bahaya yang lebih besar terbentang di depan matanya.


"Mengapa ...?" Gumamnya. ”Mengapa ada ‘bom sihir’ yang ditempatkan pada kota bertemakan ilmu pengetahuan seperti ini?"


Suatu batu yang cukup besar, seukuran pelukan lengan pria dewasa berbaring di tengah ruangan. Tidak, secara teknis, itu bukanlah batu. Itu adalah batu jimat yang diciptakan dari puluhan, ratusan, bahkan ribuan perkamen yang direkatkan.


(... Ini menggunakan penafisran salah dari Revelation*. Aku kira, itu adalah bom skala besar yang menggunakan api belerang. Yahh, itu adalah metode yang cukup populer untuk mengubah deskripsi ke mode penyerangan.)

[Diterjemahkan: Wahyu.]

Sulfur api tentu saja bukanlah sesuatu benda fisik ataupun kimia.


Dalam hal ini, itu adalah suatu api yang memberikan rasa sakit intens dan tahan lama. Api itu bisa membakar kulit dan merusak organ-organ internal.


Api itu tidak bisa dilihat.


Api itu menembus semua rintangan.


Namun, itu adalah serangan yang pasti akan merusak setiap orang dalam jangkauan luas.


Bom itu tidak membunuh. Sebaliknya, itu memberikan rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan pada korbannya.


(Jika "bom tak terlihat" ini diledakkan di sini, sementara ada rumor yang beredar tentang seseorang tersembunyi di kota, dan mencoba untuk meledakkan bom nuklir, maka jelaslah apa yang akan terjadi pada para perusuh itu. Mereka akan salah sangka, karena sejak awal mereka sudah disesatkan.)


Sambil melihat api belerang yang terdiri dari semassa jimat raksasa, Lessar merogohkan tangan ke dalam sakunya. Dia menarik keluar benda spiritual komunikasi berbentuk kartu yang terbuat dari kertas tebal.


"Halo, Bayloupe?"


"Ada apa, Lessar?"


"Aku telah menemukan sedikit bom Revelation. Apakah ini adalah hasil pekerjaanmu, ataukah kebetulan ada orang lain yang meletakannya?”


"Bilang apa kau? Kau menuduhku melakukan itu? Bilang lagi kalo berani, dan aku akan memberimu 100 kali tamparan di bokong.”


"Hmm, aku paham ..."


"Jadi, maksudmu ada asosiasi sihir lain yang tersembunyi di sini selain kita?"


"Kurang-lebih begitu," kata Lessar sebelum menepok jidatnya sendiri.”Achahh!"


Suatu suara benturan terus terdengar. Para perusuh bersatu-padu untuk membobol pintu besi itu


"Artinya, situasi ini mungkin akan semakin rumit ..."


"Lessar," Bayloupe memotong untuk menghentikan pikiran Lessar.”Maaf karena telah menyela di saat kau semakin bersemangat, tapi aku berpikir bahwa kita tidak mendapat keuntungan apapun jika masalah di sini semakin pelik.”


"Meskipun ini adalah masalah murni sisi ilmu pengetahuan, dan mulai melibatkan sisi sihir juga?”


"Itu adalah pekerjaan untuk kelompok resmi seperti Necessarius. Ini tidak sesuai dengan tujuan kita. Ada semacam rencana yang sedang dilakukan di kota ini, dan beberapa penyihir selain kita mungkin terlibat, tetapi tidak perlu bagi kita untuk membersihkan mereka. Tidak ada manfaat bagi kita jika situasinya semakin beresiko, jadi kita perlu mundur secepatnya.”


"... Sepertinya, aku tidak bisa mendapatkan bala bantuan dari kalian."


"Bahkan jika kita menyelamatkan semua orang di kota ini, kita tidak akan mendapatkan keuntungan apapun."


"Kalau begitu, apa boleh buat" kata Lessar yang setuju dengan perkataan koleganya itu.”Bayloupe."


"Apa?"


"Mari kita berantem ketika ini semua selesai nanti. Kau boleh menggunakan Gjallarhorn atau apapun yang kau mau."


Setelah mengatakan apa yang dia katakan, Lessar memotong sambungan komunikasi.


Dia melakukan analisis umum pada wujud belerang api dengan menglihatnya sekilas.


(... Wujudnya simpel, tapi karena jumlahnya cukup masif, maka akan memakan waktu cukup lama jika aku membongkarnya. Sepertinya itu akan memakan waktu antara 15 dan 30 menit.)


Dia mendengar bunyi gedebuk besar yang datang dari pintu besi. Pintu mulai penyok ke dalam.


(Masalahnya adalah, sepertinya mereka tidak akan memberiku banyak waktu.)


Tapi dia tidak bisa membiarkannya begitu saja, dan menunggu sampai detonatornya diaktifkan.


Lessar mengeluarkan beberapa "souvenir" Nihon Daruma dari sakunya. Dia mengoleskan zat kimia berwarna kuning pada ibu jarinya, menggumamkan mantra dengan pelan, kemudian mengulirkan ibu jari pada salah satu jimat yang membentuk seperti batu.


Jimat itu jatuh seperti daun kering.


(Aku perkirakan ada sekitar 30.000 lapisan. Aku sudah sebisa mungkin menyederhanakan “upacara pembongkaran”, tapi aku masih tidak berhasil tepat waktu.)


Ketika jari Lessar terus mengulirnya, jimatnya terkelupas satu per satu.


Namun, tentu saja dia terlalu lambat.


Suatu suara *ding* keras terdengar dari pintu besi, dan itu adalah tanda bahwa waktunya telah habis. Pintu itu sudah membungkuk dan beberapa mata bisa terlihat mengintip melalui celah.


Dia menduga suara tegang yang dia dengar berasal dari engsel pintu.


Tiba-tiba, suatu linggis berbentuk L menembus celah antara pintu dan dinding.


Dengan suara retak, celah mulai melebar karena prinsip pengungkit.


(Tidak baik…!!)


Pintu itu tidak akan bertahan.


Jika para perusuh membobol masuk sebelum ia mengelupas semua lapisan api belerang, semua warga sipil di area akan menerima dampak bom magis.


Lessar memikirkan itu, tapi ...


Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dan linggis itu terpental.


Suara tembakan tidak datang dari luar pintu. Itu jelas-jelas berasal dari dalam ruangan. Tapi tidak ada orang di dalam ruang selain Lessar.


Lessar berbalik ke arah sumber suara. Dan dia pun terkejut


"... Di atas?"


"Bergerak melalui saluran adalah bagian dari film action."


Potongan langit-langit berbentuk persegi telah lepas, dan tubuh bagian atas seorang wanita muncul terbalik melalui celah itu. Mereka tengah berada di fasilitas Rusia tapi pistol yang wanita itu pegang adalah pistol “asing”, mungkin itu adalah senjata favoritnya.


(Jadi kota ini memiliki saluran yang terdapat pada bagian bawah dan atas lorong.)


"Kamu siapa?"


"Aku adalah Enirya G. Algonskaya, si petugas keamanan," kata wanita berambut merah sembari memberikan perkenalan sederhana.”Aku bergegas ke sini karena tadinya aku pikir Misaka Mikoto ada di sini, tapi kelihatannya aku salah. Bagaimanapun juga, tampaknya kau terjebak di sini. Aku akan melindungimu, jadi raihlah tanganku."


"Aku benar-benar, benar-benar ingin melakukannya, tapi ..."


"?"


"Apakah kau tahu benda apa yang sedang aku bongkar ini? Nn, aku kira kau tidak akan tahu. Yah ... anggap saja benda ini adalah bom waktu yang diisi dengan cairan peledak. Jika aku meninggalkannya di sini begitu saja, para perusuh berisik itu akan meledak dengan parah.”


"Suatu bom? ... Sialan,” Enirya mengumpat.


Dia menarik bagian atas tubuhnya kembali ke dalam saluran, kemudian menjatuhkan diri ke ruangan kecil itu, dan mendarat dengan menggunakan kakinya.


"Apakah kau memiliki keterampilan untuk membongkar itu? Karena kau sudah menyentuhnya, aku sangat yakin bahwa kau adalah seorang spesialis.”


"Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Yang lebih penting adalah…"



Suatu suara *ding* keras mulai datang dari pintu besi sekali lagi.


"Bisakah kau melakukan sesuatu terhadap mereka?"


"Aku akan melakukan yang terbaik."


Enirya menodongkan laras pistolnya ke celah antara pintu dan dinding, lantas menarik pemicu tanpa ragu-ragu. Desingan tembakan terdengar, dan dari sisi lain pintu terasa ada beberapa sosok yang roboh.


"Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk membongkar benda itu!?"


"Lima belas menit jika kita beruntung. Tiga puluh menit jika kita sial.”


Bahkan ketika Lessar mengatakan itu, tangannya terus membelai kumpulan jimat dan lembaran demi lembaran terus terkelupas. Sejumlah besar perkamen jatuh layaknya tumpukan bulu.


Enirya terus menembaki celah di pintu, dan tampak menghubungi seseorang melalui radio di telinganya. Dia mungkin mengirimkan unit petugas keamanan ke lorong di luar pintu. Tetapi akankah mereka berhasil datang tepat waktu? Bisakah mereka mempersiapkan bala bantuan yang cukup untuk menahan sekelompok orang yang merupakan perwujudan kumpulan kekejaman?


Tiba-tiba, suara grinding baru terdengar.


Itu datang dari sisi lain dinding.


Dinding di seberang pintu.


"Uuh ... Aku memiliki perasaan yang sangat buruk tentang ini."


"?"


"Kau adalah salah satu petugas keamanan tempo hari, kan? Maka kau harusnya mengenali suara itu. Tidakkah kau pernah mendengar suara itu ketika sekelompok peralatan konstruksi menyerang tokoku?”


"Itu suara ... tapak ...?"


Enirya berhenti menembak dan berbalik ke arah dinding yang berlawanan.


Segera setelah itu, alat bajak berat menembus dinding beton bertulang, dan munculah debu yang tebal.


Itu adalah alat bajak salju kecil.


Kali ini, alat itu tidak dilengkapi dengan senapan mesin ringan, dan tidak ada bahan peledak di atasnya. Itu hanyalah peralatan konstruksi biasa yang dikemudikan oleh seorang perusuh marah.


Lessar dan Enirya melompat ke dinding di sebelah kiri dan kanan, ketika bajak salju menghujam ke bagian tengah. Alat itu membajak meja dan pintu logam di sisi lain ruanganan, dan terus melaju ke lorong yang terisi penuh dengan perusuh.


Meski begitu, suara berikutnya yang terdengar adalah suara sorak-sorai.


Para perusuh meneriakkan suara gembira karena mereka bisa melanjutkan aksi brutal setelah pintu penghalang itu terbongkar.


Enirya melepaskan beberapa tembakan, tapi itu tidak berarti.


Perusuh yang tak terhitung jumlahnya menyerbu melalui dua lubang yang terbuka di dinding.


Lessar tidak menghentikan pembongkarannya terhadap jimat, dan dia terpaksa membungkus lengannya di sekitar bom, seakan-akan sedang berusaha untuk melindunginya.


Dia merasa tenggorokannya kering, tapi tak ada tempat untuk melarikan diri.


Dia akan tertelan gelombang manusia itu.


Tak ada gunanya meminta bantuan dari Enirya. Wanita itu akan termakan di tengah-tengah kerumunan seperti dia.


Lengan ...


Kaki ...


Lengan dan kaki terbang ke arahnya, dan rasa nyeri “meledak” tepat di bawah kulitnya. Sebelum rasa sakit itu lenyap, serangan berikutnya akan datang. Dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya. Sejumlah hantaman terakumulasi dalam waktu singkat. Dia mencoba untuk meringkuk dan melindungi organnya semampu yang dia bisa, tapi dia tidak yakin seberapa efektif usahanya itu. Dia masih beruntung karena para perusuh terlalu berdesakan, sehingga mereka tidak memiliki ruang untuk membidikkan senjata padanya. Namun, “didorong” ke kematian oleh serangan dari tangan dan kaki sudah cukup untuk membuatnya merasakan secuil siksaan neraka.


Situasi mungkin telah benar-benar menjadi buruk.


Lessar merasakan cairan beraroma besi yang menggumpal di tenggorokannya. Dia bisa merasakan bahwa kesadarannya semakin buram. Rasa sakitnya melebihi tingkat tertentu, dan kini dia hanya merasakan panas yang menyiksa tubuhnya.


(... Api ...)


Pikiran yang samar-samar masuk ke kepalanya.


(Api ... belerang ...)


Massa yang ia pegang di tangannya jatuh berkeping-keping. Ledakan terakhir menyebabkan jimat itu kehilangan efeknya dan tergelincir dari tangan Lessar.


Bahkan di saat kesadarannya semakin memudar, Lessar masih sempat tersenyum.


Dan kemudian, sesuatu yang terbang pada kecepatan tinggi menembus dinding di sebelah kiri dan kanan yang belum hancur.


Ada suatu benda berkecepatan tiga kali kecepatan suara yang merobek dinding di sana.


Suatu proyektil sangat kecil menembus dinding yang dekat pada langit-langit. Proyektil itu menghancurkan seluruh dinding, dan menyebarkan potongan beton ke mana-mana.


Suatu garis oranye menyala, dan “membakar” retina semua orang yang menyaksikannya.


Tak lama setelah itu, para perusuh yang membanjiri ruang kecil itu terpental seolah-olah terkena dampaknya. Beberapa orang terhempaskan karena sapuan gelombang kejut, dan beberapa lainnya terkena hantaman serpihan beton yang berputar. Seolah-olah, kebrutalan mereka dibalas oleh kekerasan yang “baik hati”. Itu berarti, mereka dilumpuhkan tanpa ada yang mengalami luka serius. Situasi benar-benar berbalik dalam sekejap.


Suara gemuruh pelan bisa terdengar.


Karena empat dinding di setiap sisi ruangan telah hancur, kini langit-langit tidak tertopang, dan mulai runtuh. Para perusuh yang masih bisa bergerak dengan panik berlari dari ruangan tersebut, tapi “tragedi” yang mereka takutkan tidak pernah terjadi.


Seakan-akan mengabaikan gravitasi, langit-langit beton melayang di udara.


Seolah-olah, ada medan magnet kuat yang membuat langit-langit tetap mengambang di udara.


"... Chehh. Kau mencuri bagian yang terbaik,” gumam Lessar sementara masih roboh di tanah.


Enirya menoleh ke arah sosok yang diajak bicara oleh Lessar, dan dia menemukan siapa yang "mengendalikan" ini semua.


"Misaka Mikoto ... ..."


Enirya meludahkan beberapa air liur bercampur darah, lantas menyesuaikan cengkeraman pada pistolnya dengan tangan berdarah. Dia telah dihajar oleh aksi brutal sehingga dia kesulitan berdiri, tapi ia masih sanggup mengacungkan lengan kanannya yang memegang pistol ke arah gadis SMP itu.


Ekspresi Mikoto tidak berubah meskipun pistol itu diacungkan padanya.


"Bukankah kau sedang membidik ke arah orang yang salah?"


"T ... tidak. Kau adalah ... prioritas tertinggi.”


Tangannya gemetaran, tapi sorot matanya begitu tajam.


Di tengah keheningan yang aneh, Enirya menatap sambil membidikkan pistolnya pada si tersangka, dan dia pun mengajukan suatu pertanyaan.


"Misaka Mikoto .... Apakah kau ... otak ... di balik ... insiden ini?”


Mikoto tersenyum sedikit setelah mendengar pertanyaan itu.


Dan kemudian dia tanpa ragu menjawab.


Tampaknya, tanggapannya diarahkan tidak hanya pada Enirya, tetapi juga pada semua perusuh di sana.


"Apakah kau benar-benar berpikir orang seperti itu akan datang ke sini untuk menyelamatkan seorang petugas keamanan?" kali ini, giliran Mikoto yang mengajukan pertanyaan.”Apakah kau punya ide, siapakah sekiranya yang berada di balik semua ini?"


"Itulah ... yang sedang aku ... selidiki. Bukan hanya ... kau. Aku benar-benar ... menyelidiki ... setiap orang ... yang mencurigakan.”


Kekuatannya sudah mencapai batas.


Setelah mengatakan itu, tangan kanan Enirya jatuh ke lantai. Tampaknya dia telah kehilangan kesadaran.


Ruangan itu mendadak sunyi.


Lantas, suara berisik dari bunga api putih kebiruan yang terbang dari poni Mikoto menghancurkan keheningan itu,


"... Aku benar-benar marah sekarang."


Dia tidak lari. Dia langsung menuju ke arah para perusuh.


Dia melakukannya karena dia tahu benar.


Dia tidak ragu-ragu.


"Aku tidak akan mencoba untuk membunuh seorang pun dari kalian ketika aku maju ke depan, tetapi jaga baik-baik diri kalian sendiri agar tidak ada yang babak belur, ataupun bunuh diri.”



Part 6[edit]


Enirya bangun sembari masih merasakan nyeri yang menusuk.


Itu berbeda dari perasaan sebelumnya, di mana dia sudah tidak lagi bisa membedakan panas.


Dia menyadari bahwa itu adalah efek desinfektan yang sudah diberikan padanya, dan dia pun berusaha bangkit dari lantai.


"Kau tak boleh banyak bergerak," kata seorang rekan petugas keamanan.


"Di mana ... aku?" kata Enirya sambil menggerakkan bibirnya yang berlumuran darah kering.


Kelihatannya, dia tidak begitu jauh dari tempat di mana dia telah diserang oleh para perusuh. Ada beberapa petugas keamanan bersenjata yang ditempatkan di lorong panjang dan sempit itu.


(... Apa yang terjadi? Apakah aku diselamatkan oleh “strategi penindasan” ...?)


Tiba-tiba, Enirya ingat apa yang sebenarnya terjadi.


Tepat sebelum ia pingsan, orang selain petugas keamanan telah muncul.


Enirya meminta penjelasan mengenai situasi ini, sembari meraih kerah rekannya.


"Apa yang terjadi?"


"Adalah Misaka Mikoto."


"Apa yang terjadi dengan tersangka utama !? Dia berada di sini sebelumnya, kan !?”


Tapi rekannya menggeleng.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya ..."

Hanya karena pertempuran berakhir di satu tempat, tidak berarti bahwa kerusuhan itu benar-benar usai.


Bagaimanapun juga, kerusuhan telah menyebar ke seluruh pusat perbelanjaan. Kerusuhan telah melampaui tingkat di mana seorang individu sekuat Mikoto tidak bisa berbuat apa-apa. Ini tidak bisa dihentikan tanpa kekuatan kelompok.


"Tidakkah kau terlalu mempermudah si petugas keamanan itu?" kata Lessar sembari membubuhkan disinfektan pada luka-lukanya. ”Dari bagaimana cara dia bertindak, aku bertaruh dia masih akan menyerangmu suatu saat nanti.”


"Aku tidak perlu khawatir tentang itu. Jika dia benar-benar berusaha untuk menemukan siapa di balik insiden ini, dia bukanlah musuhku, walaupun dia menghalang-halangi aku.” setelah mengatakan itu, Mikoto merubah topik pembicaraan. ”Tapi, orang seperti apakah para petinggi itu?"


"Aku yakin mereka tidak menginginkan kerusakan separah ini. Ada kemungkinan bahwa mereka tidak memiliki ‘banyak kartu tersisa untuk dimainkan’. Mereka mungkin sudah ‘menyulut api dengan puntung rokok’, dan sekarang mereka tidak mampu memadamkannya.”


"Mereka memiliki kontrol penuh terhadap Kode EIC, dan mereka dapat mengirimkan informasi apapun yang mereka inginkan, bukankah begitu? ... Dalam hal ini, tidakkah mereka dapat menggunakan berita dan media masa untuk mengontrol skala dan mengatur jalannya kerusuhan?”


"Orang-orang tidak tahu tentang Kode EIC. Seharusnya, ketika mereka mengirimkan perintah dengan menggunakan Kode EIC, orang-orang tidak wajib mematuhinya. Sebaliknya, mereka mempunyai kemampuan untuk ‘mengarahkan’ orang-orang itu tanpa disadari. Jika mereka mencoba untuk dengan paksa mengubah ‘arah’ orang-orang tersebut, ada resiko bahwa para perusuh akan melihat inkonsistensi. Jika itu terjadi, menurutmu kemana para perusuh akan melampiaskan kekesalannya? Manusia mudah tertipu, tapi tentu saja tak ada manusia yang mau tertipu.”


Lessar mengajak Mikoto ke fasilitas bawah tanah pada pusat perbelanjaan.


Di sana banyak terdapat bilik yang terbagi dengan partisi* transparan terbuat dari kaca yang kuat. Selain itu, terdapat layar normal, monitor, dinding, langit-langit, dan permukaan lainnya yang tertutupi AR semipublic. Seluruh ruang terisi dengan angka-angka yang “mengalir”. Ukuran area itu sebesar ruang konser kecil. Suatu fasilitas mencolok dibangun dari garis lurus dan berwarna biru pucat.

[Partisi adalah sekat-sekat yang biasanya terbuat dari papan.]

"Ini seperti skema berwarna pada kamar mandi laki-laki," Lessar berkomentar dan dia tampak terganggu.


Mikoto mengabaikannya.


"Jadi inikah?"


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, ini adalah pusat pasar saham yang terkosentrasi pada toko sewa milik pusat perbelanjaan. Saham semua perusahaan di kota ditangani di sini. Ini adalah pasar yang terhubung ke seluruh dunia melalui jaringan. Ini tercantum dalam pamflet pusat perbelanjaan sebagai salah satu tempat wisata. Seseorang bisa mendapat pengalaman tentang pasar saham ‘sungguhan’ di sini.”


Ketika dia mengamati lebih dekat, Mikoto melihat adanya ruang di atas dinding yang mengelilingi seluruh area. Mikoto begitu tercengang, mungkin ini mirip ketika seorang turis menyukai pemandangan di pasar ikan* Jepang.

[Baca NT 8, di Jepang terdapat pasar ikan terbesr di dunia, dan itu cukup menarik para wisatawan.]

Mikoto menunduk ke bawah sambil berpikir.


"Jadi ada komputer raksasa yang bisa melaksanakan sejumlah besar perhitungan, dan server berskala besar yang dapat bertukar data perdagangan dari seluruh dunia, tanpa lag ...”


"Jika para petinggi ingin memperluas Kode EIC ke luar pusat perbelanjaan, tidak ada fasilitas yang lebih baik untuk itu, kan?”


"Aku tahu itu, tapi ..."


Mikoto melihat sekeliling.


Di lantai, dinding, langit-langit, partisi, monitor, layar, dan segala sesuatu yang lain, terdapat ribuan angka kecil memusingkan yang bergulir, serta grafik melengkung yang bergerak naik-turun. Investor dari seluruh dunia akan bersukacita ataupun khawatir setelah mereka melihat perubahan angka-angka kacau itu. Tergantung pada situasinya, beberapa orang akan berakhir dengan gantung diri, sedangkan beberapa orang lainnya akan bermandikan uang kertas.


Tapi ...


Meskipun terjadi perubahan intens pada angka-angka itu, Mikoto tidak bisa mendeteksi seorang pun dalam Stock Market Center. Angka-angka terus berubah, sehingga perdagangan tak pernah usai. Dan bahkan jika perdagangan di hari itu berakhir, harusnya setidaknya ada seorang penjaga.


"Apa yang sedang terjadi? Mengapa tidak ada pengusaha atau operator di sini?”


"Aku tidak mengerti. Mereka mungkin telah meninggalkan kota karena hilangnya fungsi disebabkan kerusuhan. Atau mereka mungkin telah kabur untuk menemukan tempat berlindung karena mereka tahu kita akan datang.”


"Tapi pusat perbelanjaan tampaknya perlu Kode EIC. Tidakkah seharusnya mereka coba melawan kita?”


"Mungkin ada beberapa ‘sub-sistem’. Atau mungkin mereka sedang mempersiapkan beberapa cara untuk mengganggu dari jarak jauh.”


"Yah, berspekulasi tidak akan menyelesaikan apa-apa."


Mikoto menatap komputer raksasa di pusat fasilitas.


Area itu lebih besar dari 8 ruang kelas, dan tingginya setara dengan bangunan berlantai tiga. Karena itu terpasang di tengah, seluruh fasilitas berbentuk seperti donat.


"Kalau begitu, aku akan mendapatkan semua informasi yang aku bisa. Kita dapat memikirkan hal ini setelah kita memiliki informasi penting.”


Lessar berpisah dari Mikoto dan mulai menyelidiki area tersebut.


Mikoto merogoh saku roknya dan mengeluarkan PDA.


Karena ia berada di salah satu lembaga koperasi Academy City, mereka menggunakan jenis konektor yang sama. Dia menghubungkan PDA ke komputer raksasa dengan kabel, dan dia pun mulai "mengintip" ke dalam sistem.


"... Chehh. Area perhitungan yang digunakan untuk perdagangan saham hanya membutuhkan sepertiga. Aku menebak sisanya terkait dengan Kode EIC. Itu membaca aktivitas masyarakat melalui semua kamera CCTV dan memperkirakan bagaimana ‘perasaan’ mereka. Lantas, secara otomatis membuat sumber berita yang menggunakan timing terbaik untuk menyebarkan rumor secara gelombang. Itu mengendalikan orang secara massal, bukannya secara individual ...)


Mikoto telah menemukan program yang terkait dengan Kode EIC, tapi dia tidak menyentuhnya karena tidak punya buku petunjuk. Mikoto tidak menjamin jika dia mematikan program itu begitu saja, efeknya akan berhenti, atau malah menyebabkan kekacauan semakin parah.


Dia berfokus untuk menemukan rincian apapun tentang pusat perbelanjaan dan rencana yang telah ditetapkan oleh para petinggi.


Bagaimanapun juga, mereka mungkin telah membawa senjata nuklir ke Academy City.


(Mereka menggunakan Kode EIC untuk menyebarkan legenda urban tentang ornamen uranium, sehingga apa yang mereka rencanakan di Academy City dan rincian insiden berdasarkan legenda urban sebagai motif... semuanya mungkin berada di dalam komputer ini.)


Mikoto menggunakan PDA untuk mencari tempat penyimpanan besar komputer, tetapi jari-jarinya akhirnya berhenti bergerak.


Dia telah menemukannya.


"Mengenai Fluktuasi dalam Nilai Informasi Ilmiah ketika Academy City Sudah Hancur "


Persis seperti apa yang Mikoto dan Lessar telah prediksi.


Jika Academy City hancur dan tidak bisa lagi berfungsi sebagai “poros” ilmu pengetahuan dunia, kualitas "ilmu pengetahuan mutakhir" dunia akan turun secara drastis. Jika itu terjadi, perusahaan dan organisasi di seluruh dunia akan melihat “nilai berharga” pada “serpihan” ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh pusat perbelanjaan.


Jika pengembangan kekuatan psikis berhasil diciptakan dari “serpihan” informasi itu, maka tidaklah masalah. Dan bahkan jika itu tidak terjadi, kemudian teknologi lain tercipta dari “serpihan” informasi tersebut, itu masihlah akan memberikan keuntungan pada pihak pusat perbelanjaan.


Hilangnya Academy City tentunya menjadi pukulan telak bagi dunia, tapi tidak serta-merta umat manusia ikut hancur.


Bagaimanapun juga, Academy City selama ini telah menyembunyikan teknologi canggih yang mereka kembangkan secara rahasia. Bahkan jika teknologi rahasia yang tidak pernah diungkap ke publik itu hancur, orang di seluruh dunia masihlah dapat melanjutkan hidupnya sehari-hari.


Tentu saja, akan ada kerusakan yang tampak nyata dalam perihal keuangan dan ekonomi dunia, tetapi pusat perbelanjaan adalah ahlinya dalam bidang-bidang seperti itu. Kami bisa menahan kerusakan sampai level paling minimum, dan mengatur ulang jaringan pasar yang berada dalam situasi bingung untuk menguntungkan pihak kami sendiri.


Kami akan menciptakan suatu model bisnis.


Itulah yang pusat perbelanjaan coba lakukan.


Masalahnya adalah, bagaimana caranya untuk menghancurkan Academy City ...


(... Sarana menggunakan bom hidrogen Solntse?)


Mikoto membaca kata-kata, kemudian mulai merasa pusing.


Apa artinya ornamen uranium?


Itu telah melampaui tingkat fisi* nuklir belaka.

[Fisi adalah reaksi pada nukleus atom berat yang dipisahkan menjadi dua, dan melepaskan banyak energi. Kamus Oxford.]

"... Rencana utama adalah menyebarkan Solntse pada Academy City, kemudian mengaktifkan detonator sesuai waktunya. Bomnya akan meledak setelah para mata-mata melarikan diri.”


Itu pasti adalah identitas sebenarnya dari para penyerang bersenjatakan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi yang Shirai telah temui.


"Jika rencana utama mereka menyebabkan banyak masalah, maka kita segera akan beralih ke rencana sekunder. Keputusan itu tidak perlu dibahas dengan mata-mata yang melaksanakan rencana utama. Jika diperlukan, maka kita akan beralih.”


Suatu hawa dingin merambat pada tulang punggungnya.


Sepinya Stock Market Center membuat dada Mikoto terasa semakin sesak.


"Rencana sekunder adalah ..."


Setelah membaca sampai sejauh itu, Mikoto mengerutkan kening.


Dia tidak bisa menemukan teks pada rencana sekunder. Di sana tertulis bahwa dokumen itu hanya akan ditunjukkan kepada mereka yang memiliki otoritas tinggi.


(Apakah ada teks lagi? Ataukah sisanya hanya diberitahu secara lisan agar tidak meninggalkan catatan?)


Dia tidak bisa membuat penilaian berdasarkan informasi tak lengkap yang dia punya.


Mikoto beralih dari laporan itu, dan melihat melalui komputer raksasa untuk mencari file lain.


Seperti yang sudah diduga, dia tidak bisa menemukan apa pun yang menjelaskan rencana sekunder, tapi ia menemukan beberapa potong data referensi yang disamarkan. Dia melihat beberapa file terenkripsi dan beberapa item yang mulai menunjukkan wujudnya.


(MIG-21 modifikasi ...?)


Tampaknya itu menjadi tujuan pesawat Rusia.


Mikoto melihat salah satu file referensi.


File itu memiliki foto dan video di dalamnya.


(Ini adalah pesawat tempur yang awalnya dikembangkan selama perang dingin. Karakteristik khasnya adalah betapa rendah harga per unit. Fungsinya dapat diringkas dalam istilah: "model lama".)


Mikoto memindai data yang ditampilkan pada PDA.


(Pada akhir perang dingin, sebagian besar senjata Soviet dijual dengan harga yang sangat rendah, tidak terkecuali MIG-21. Harga per unit adalah 30.000 dolar. Kalau dibandingkan dengan pesawat tempur Amerika yang harganya 100.000.000 dolar per unit, itu adalah pesawat tempur sangat murah yang dapat dimiliki oleh hampir semua orang.)


Semuanya memiliki spesifikasi normal MIG-21.


Para petinggi pusat perbelanjaan telah membeli satu unit karena harganya yang rendah, dan betapa mudahnya mendapatkan satu unit. Kemudian, pesawat-pesawat tempur itu dimodifikasi sendiri.


Pesawat-pesawat tersebut telah dimodifikasi untuk berperan dalam rencana mereka saat ini.


Mikoto membuka diagram pesawat tempur modifikasi, dan memindai suatu spesifikasi yang dia pilih.


Saat itu, dia benar-benar berpikir bahwa ingatannya hilang total.


Dikatakan sebagai berikut:


Ditambahkan suspensi untuk senjata nuklir.


Modifikasi untuk membawa Solntse.


Mikoto menyimpulkan bahwa pesawat itu akan digunakan untuk “memaksakan” suatu ledakan jika rencana utama gagal.



Part 7[edit]


Lessar dengan ringan mengepalkan tangan dan mengetuk dinding dengan punggung tangannya.


Dia perlahan-lahan bergerak sembari mengetuk-ngetuk beberapa titik dengan interval yang seragam.


Sembari terus berjalan, Lessar menyimak suara ketukan yang dibuatnya sendiri, tapi dia akhirnya berhenti.


Suara ketukan itu telah berubah.


Suaranya menjadi lemah. Seolah-olah ada suatu ruangan di sisi lain dinding yang tipis itu.


Lessar menganga untuk menarik napas panjang, dan dia memecahkan kotak kaca di dinding dengan menggunakan hantaman sikunya.


Di dalamnya terdapat kapak yang biasanya digunakan untuk keadaan darurat. Benda semacam itu mungkin adalah benda yang jarang dijumpai di Jepang, tapi di luar negeri, itu adalah alat yang umum seperti semprotan pemadam api.


Dia meraih kapak, dan tanpa ragu menebas dinding.


Percikan api terbang dari layar AR semipublic, tapi Lessar tak menghiraukannya. Dia mengayunkan lagi kapaknya tiga atau empat kali. Dengan suara retak, dinding akhirnya runtuh ke arah lainnya. Itu lebih mirip seperti “membobol” dinding, bukannya “memotong” dinding.


"Oh, itu adalah pintu geser. Dan aku mendorongnya maju,”gumam Lessar saat ia melemparkan kapak ke samping.


Mungkin di sana terdapat kunci elektronik yang ketat, tapi dia tidak peduli.


Dia melangkah masuk.


Dia mencium aroma “nostalgia”.


Area remang-remang itu tampaknya adalah suatu lorong yang lurus. Tidak jelas apakah itu adalah semacam fasilitas rahasia ataukah hanya jalan keluar biasa. Lessar menyeringai dan masuk lebih jauh ke dalam.


Lorong berubah di sudut kanan.


"Ini adalah…?"


Ketika dia mengintip di sudut, ia mendengar Mikoto yang masih berada di Stock Market Center berteriak memanggilnya.


"Lessaaaar!!! Tunggu! Datanglah ke sini sebentar!! Aku sudah menemukan beberapa data yang menakjubkan.”


"Oh, kedengarannya penting."


"Sepertinya mereka sudah memodifikasi pesawat tempur tua untuk bisa memuat senjata nuklir!! Bagaimana denganmu? Apakah kau menemukan sesuatu !?”


"Tidak" Lessar mengintip di sudut lorong sekali lagi.”Tidak ada apa-apa di sini. Aku akan segera ke sana.”


(... Yah, aku kira, tidak memberitahu dirinya adalah keputusan yang tepat.)


Lessar menemukan suatu lorong yang panjang dan lurus. Di dalam lorong tersebut terdapat 9 mayat tanpa kepala. Mereka telah tewas terbunuh sebelum berhasil sampai ke ujung lorong. Tampaknya, mereka hendak kabur.


Semua mayat itu mengenakan pakaian kelas tinggi yang tidak normal dipakai oleh seorang salaryman*. Ada benda yang tergantung pada sisa-sisa leher mereka, itu adalah kartu ID dengan “peringkat tertinggi”. Pada foto di kartu ID itu terlihat jelas kepala si korban yang telah lepas. Di foto itu, dia tersenyum mengerikan, seolah-olah dia tak pernah tahu bahwa suatu hari nanti kepalanya akan terpisah dari tubuhnya

[Salaryman adalah pegawai kantor biasa di Jepang.]

Dinding, lantai, dan langit-langit.


Darah segar tersebar di seluruh ruangan tampak seperti bagian dari lelucon yang buruk.


Para petinggi sudah mati.


Jika dilihat dari cara si pembunuh memotong leher korbannya, itu adalah hasil kerja seorang profesional. Tidak mungkin para perusuh melakukannya.


Tapi Lessar sama sekali tidak tertarik dengan mayat itu.


Ada hal lain yang menarik perhatiannya, itu adalah simbol yang terdapat pada leher si korban.


(... Lambang pedang. Dan karena ornamen gulungan juga ada di situ, ini pasti berkaitan dengan St. Paul.)


"Ini adalah cita rasa yang mengerikan," gumam Lessar.


(Simbol dari santo pelindung sering menunjuk di bagian tubuh mana santo tersebut menerima penganiayaan, misalnya: mencungkil bola mata atau payudara yang teriris. Tetapi menggunakan lambang terpenggalnya St. Paul untuk menyembelih kepala orang lain ... Itu “berbau” sihir Barat modern yang menyukai trik rahasia.)


Tapi dalam hal ini, sesuatu yang tak dapat dijelaskan muncul ke “permukaan”.


Sesuatu yang jelas-jelas berbeda telah tercampur dengan insiden yang telah berkembang berdasarkan cara ilmiah.


“Hukum dari dunia lain” yang disebut sihir, telah campur tangan dalam insiden ini.


Dan ...


(Bahkan jika para petinggi telah disembelih, rencana yang melibatkan senjata nuklir masih terus berlanjut.)


“Roda-roda gigi” yang menggantung ke bawah, masih terus berputar, sehingga pihak yang “menggerakkannya” tidak akan bisa dihentikan dengan begitu mudah. Setidaknya, Lessar sekarang tahu bahwa pihak-pihak yang bisa menghentikan Kode EIC secara damai, telah tiada.


(Jadi, siapakah si idiot yang meneruskan rencana ini?)


Lessar tersenyum tipis sambil berbalik, dan kembali melalui lorong ke arah Mikoto.


"Sepertinya ini semakin menarik."



Chapter 7[edit]

Part 1[edit]


Sekelompok Anti-Skill mengenakan powered suit yang bekerja di fasilitas nuklir telah memulai operasi pembersihan di Academy City.


Para teroris bersenjatakan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi, dan sejumlah besar detektor. Pada dasarnya, mereka memiliki senjata api elektromagnetik khusus yang bisa menembus segala halangan, dan akan secara fatal menghancurkan sel-sel manusia. Mereka juga memiliki bahan peledak yang digunakan untuk memantik senjata-senjata itu.


“Pertahanan” dalam hal tembak-menembak yang melibatkan senjata modern, tidak serta-merta tentang menghindari hujaman peluru. Sebaliknya, “pertahanan” adalah menyembunyikan diri di balik sesuatu yang berfungsi sebagai perisai. Oleh karena itu, senjata gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi yang bisa menembus penghalang apapun adalah suatu ancaman besar.


Namun, selama kau bisa membela diri dengan sesuatu yang benar-benar bisa mem-blok gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi, maka kau dapat memutar balikkan situasi.


Shirai Kuroko berbicara melalui telepon selulernya.


"Onee-sama. Para prajurit mengenakan baju besi telah mengakhiri baku tembak itu. Mereka baik-baik saja. Penindasan selesai. Tidak ada tanda ledakan nuklir. Tampaknya, mereka hampir selesai mengumpulkan semuanya, tapi untungnya timer-nya masih belum aktif. ... Itu adalah laporan yang aku terima.”


"Tunggu, Kuroko!! Jangan tutup teleponnya!!”


"Onee-sama?"


"Sepertinya pusat perbelanjaan Rusia memiliki rencana sekunder semisal timer bom nuklirnya gagal meledak. Mereka mungkin sudah beralih ke rencana sekunder. Kau harus menginformasikan ini pada Anti-Skill !!”


Mikoto kemudian tampak ragu.


Tapi kemudian dia membulatkan tekad, dan melanjutkan omongannya.


"Suatu pesawat tempur berisi bom hidrogen sedang melaju dari Rusia, menuju ke Academy City. Jika Unit pertahanan udara tidak segera bertindak, maka bomnya akan dijatuhkan tepat di atas kepalamu!!”

Tiga pesawat temput model lama melintasi Laut Jepang pada titik hanya beberapa meter di atas gelombang laut. Mereka terbang begitu rendah untuk sebanyak mungkin mengurangi resiko terlihat di radar. Namun, itu tidak cukup untuk benar-benar menipu satuan jaringan pengawas udara. Jaringan pengawas udara sangatlah peka, jika tidak, maka tidak akan ada yang mau menghabiskan begitu banyak uang untuk mengembangkan teknologi siluman.


"Klyuch Samolyot pada semua psawat. Aku telah mendeteksi beberapa gelombang radar. JSDF* kemungkinan sudah menangkap kita di radar jarak jauh milik mereka. Mulai sekarang, ini tidak akan mudah.”

[TNI-nya Jepang.]

"Prisluga Samolyot pada Klyuch Samolyot. Mereka tidak idiot. Mereka pastinya sudah melihat kita. Karena adanya alasan diplomatik, mereka hanya menunggu sampai kita melewati perairan Rusia.”


"Nochi Samolyot pada semua pesawat. Rusia juga akan mulai mengambil tindakan dengan segera. Aku lebih khawatir tentang datangnya Sukhoi di belakang kita.”


" Klyuch Samolyot pada semua kapal. Academy City adalah musuh terbesar kita. Mereka akan segera menyadari apa yang kita coba lakukan. Ini adalah saat yang kritis.”


Tidak ada gunanya lagi terbang begitu rendah.


Tiga pesawat temput model lama perlahan-lahan mengangkat ketinggian mereka, mengubah cara terbang mereka dengan hati-hati, dan berakselerasi dengan kecepatan penuh.


Mereka sedang menuju ibukota Jepang, Tokyo.


Mereka adalah pesawat tempur yang memiliki kemampuan untuk mengangkut senjata nuklir, dan mereka sedang menuju pusat sisi ilmu pengetahuan, yaitu Academy City.

Mikoto mondar-mandir pada Stock Market Center, di bawah pusat perbelanjaan. Dia hanya berkeliling di sekitar bagaikan orang bingung. Malahan, dia hanya disibukkan untuk menenangkan syarafnya sendiri yang begitu tegang.


"... Kami mencapai pusat fasilitas Kode EIC, tapi peralatan hanyalah peralatan. Kami tidak menemukan orang yang mengendalikannya, jadi kami tidak bisa menghentikan rencana pusat perbelanjaan ini.”


Mikoto bergumam sendiri untuk menenangkan pikirannya, tapi Lessar mendengarkan itu.


(Ya, aku setuju saja dengan itu, tapi ...)


Lessar mengingat apa yang telah ia lihat di lorong jauh yang tersembunyi.


(Masalahnya adalah, pihak-pihak yang tampaknya berada di balik semua ini sudah dipenggal. Dan mereka dibunuh secara sihir. Jadi ... siapakah yang memegang kendali rencana ini sekarang?)


Berbagai dugaan telah terbukti, dan kini rencana sesungguhnya telah tampak.


Solntse bom hidrogen.


Senjata yang memiliki kekuatan destruktif “konyol” dan itu benar-benar “lawakan” yang sangatlah buruk.



Part 2[edit]


"Aku punya saran," kata Lessar pada Mikoto sembari si gadis SMP itu terus berpikir.


Mikoto tampak bingung.


"Ada apa tiba-tiba?"


"Jika MIG-21 modifikasi itu terus melaju pada tingkat normal, maka akan mencapai pusat Academy City dalam waktu kurang dari satu jam. Kita tak perlu mengkhawatirkan itu. Yang harus kita lakukan adalah menemukan siapakah pengendali rencana ini.”


"Dan?"


"Kekuatan destruktif Solntse sangatlah masif, sehingga para petinggi harusnya menyiapkan sistem untuk mencegah pilot mengkhianati mereka. Sederhananya, mustinya ada suatu cara agar bom itu tidak akan meledak, bahkan jika si pilot menjatuhkannya begitu saja. Setelah pilot menjatuhkannya, para petinggi akan mengirimkan sinyal detonator. Aku bertaruh bahwa sistem ‘pencegahan’ seperti itu benar-benar ada,” Lessar menjelaskan. "Jika tidak, ada risiko si pilot mengkhianati para petinggi, dan menjatuhkan Solntse di pusat perbelanjaan. Dan jika unit pesawat temput model lama itu benar-benar ada, mereka bisa saja menjatuhkan sebiji bom di sini, kemudian kabur sembari melenyapkan seriap pesawat pengerjar yang membututinya.”


Mikoto mulai mengangguk untuk setuju, tapi ...


(... Huh?)


Sesuatu mengganggunya.


Namun, dia tidak bisa memahami apa itu.


Sementara itu, Lessar terus berbicara.


"Dengan kata lain, bahkan jika mereka berhasil melewati pertahanan udara Academy City dan JSDF, Solntse tidak akan meledak selama sinyal detonator tidak dikirim."


"Kalau begitu, ada sesuatu yang bisa kita lakukan selain duduk di sini, dan memutar-mutar ibu jari."


"Ya, kita dapat menemukan dan menangkap prang yang mengendalikan rencana ini."


Ketika Lessar berbicara, ia melemparkan sesuatu dari antara jari-jarinya.


Benda itu berputar-putar di udara layaknya Frisbee*, dan melayang ke arah Mikoto. Sesaat setelahnya, Mikoto sadar bahwa itu adalah kartu ID.

[Frisbee adalah cakram plastik yang biasanya dipakai untuk bermain lempar-lemparan bersama seekor anjing.]

"Ini adalah…?"


"Aku menemukannya di lorong tadi. Itu adalah kartu yang memiliki otorisasi peringkat tertinggi. Jika kita mencari di semua tempat, dan juga data mengenai orang itu, kita bisa mendapatkan informasi tentang para petinggi yang misterius. Kita bahkan mungkin dapat mencari tahu di mana tempat mereka menyembunyikan ‘barang-barang’nya.”


Dia tidak berbohong.


Tetapi, ada fakta baru bahwa "siapa pun yang mengendalikan rencana ini" mungkin akan beralih dari para petinggi, ke “pihak ketiga”.



Part 3[edit]


Pada kartu ID terdapat: nama pemiliknya, gambar, posisi, dan peringkat kewenangan.


"Nama dan gambarnya mungkin asli, tetapi posisinya mungkin palsu. Aku ragu bahwa dia memiliki kartu bertuliskan 'Organisasi Rahasia' yang tergantung di lehernya. Kita mungkin tidak akan menemukan tempat persembunyian mereka dengan mengikuti posisi itu.”


"Itu tidak masalah. Kita hanya harus menggunakan ‘pembukaan’ yang berbeda.”


"?"


"Mereka memiliki peringkat otoritas tertinggi. Bahkan di pusat perbelanjaan sebesar ini, tidak ada begitu banyak area yang ‘dibatasi’. Jadi, jika kau membuka peta ...”


Mikoto mengoperasikan AR semipublic dengan kode otomatis. Di sana tertera “warna tingkat keamanan” pada peta area tersebut.


Peringkat tertinggi ditandai dengan warna merah.


Hanya 5 area yang berwarna seperti itu.


"Lihat? Ia cukup sering keluar-masuk area ini, sehingga harusnya ada beberapa informasi yang ditinggalkan di sana. Ada kemungkinan dia sendiri sedang bersembunyi di sana saat ini.”


Ketika mereka benar-benar pergi ke sana, mereka menemukan suatu pintu kecil di ujung lorong sempit, bukannya sesuatu yang seperti pintu lemari besi raksasa. Suatu tanda di pintu itu mengatakan: "hanya untuk staf " dan itu tampak seperti ruang istirahat bagi pekerja dari salah satu toko.


"Inikah tempatnya?"


"Ya, tapi biasanya, beberapa petugas keamanan akan ditempatkan di sekitar sini. Atau, aku pikir penjaganya adalah satuan khusus yang berseragam berbeda, agar para petugas keamanan pun tidak tahu-menahu tentang rahasia mereka.”


"Menurut laporan dari Bayloupe dan Lancis, kerusuhan telah sedikit mereda, tapi itu masihlah suatu masalah yang merepotkan.”


Ketika Mikoto meluncurkan kartu ID melalui card reader di dekat kenop, beberapa suara metalik terdengar. Pintu otomatis terbuka ke dalam, dan terlihat bahwa pintu itu tebalnya sekitar 1 meter. Suatu segel karet ditempatkan di sekitar tepi pintu. Kemungkinan, itu dilakukan agar ruangan tersebut menjadi kedap udara ketika pintu tertutup.


"Ini benar-benar terkesan seperti suatu markas rahasia."


"Mengapa para pria suka menciptakan atmosfer semacam ini?"


Sembari mereka berdua ngobrol “ke kanan-kiri”, dua gadis itu memasuki ruangan.


Tempat itu lebarnya sekitar dua ruang kelas, tetapi sama sekali tidak memberikan kesan lapang. Sesuatu seperti rak buku mengisi ruangan itu. Itu sebenarnya adalah rak baja yang terdapat sejumlah besar hard disk layaknya barisan buku.


"Suatu tempat penyimpanan Offline ..." Mikoto melihat sekeliling. ”Kode EIC terus terhubung ke jaringan, sehingga ada resiko bahwa seseorang akan ‘menyerangnya’ secara online. Ada juga risiko bahwa data pada hard disk bisa rusak atau hilang. Ini adalah cadangan kalau saja hal buruk seperti itu terjadi.”


"Ada juga dokumen kertas berserakan."


"Mungkin saja, pria ini memiliki kebiasaan mencetak datanya untuk diperiksa berulang kali, atau mencetak data-data penting lantas meleparkannya begitu saja ke sini agar tak seorang pun menemukan data tersebut. Apapun itu, kita diuntungkan karena telah menemukan tempat ini.”


Mikoto dan Lessar mulai menyelidiki ruangan tersebut. Mikoto memeriksa data yang tersimpan, dan Lessar memeriksa dokumen kertas.


(Aku tahu bahwa pemilik tempat ini sudah mati, tapi ...)


Lessar berpikir sendiri sembari melirik Mikoto yang masih saja mengoperasikan AR semipublic.


(Aku tidak berpikir bahwa penyihir yang bertanggung jawab atas beberapa mayat terpenggal itu hanyalah orang luar. Aku setuju bahwa orang luar bisa saja menemukan jalan rahasia itu, tapi penyihir ini berhasil “membuka dan menutup pintu” dengan metode sisi ilmu pengetahuan yang tepat. …Kemungkinan besar, si penyihir dan para petinggi memiliki hubungan sejak awal.)


Dalam hal ini, hal yang ia harus fokuskan adalah ...


(Jika ini adalah tempat di mana data rahasia tersimpan, maka beberapa data tentang penyihir yang berhubungan dengan para petinggi pusat perbelanjaan mungkin masih tersisa di sini. Aku harus menggunakan informasi tersebut untuk mengejar penyihir ini.)


"…Ini dia."


Setelah menganalisis tumpukan kertas sebentar, Lessar mengeluarkan amplop besar. Dalamnya adalah suatu foto tunggal dan beberapa lembar kertas fotokopi. Itu adalah dokumen tentang latar belakang penyelidikan yang dilakukan oleh suatu kantor detektif.


(Sepertinya, pihak-pihak dari pusat perbelanjaan ini telah melakukan investigasi untuk menyelidiki seberapa “aman” berhubungan dengan penyihir itu.)


Foto dan namanya yang tertera di sana cukuplah jelas, tapi sisanya adalah suatu bagian yang begitu aneh. Sama sekali tidak ada konsistensi dalam teks tersebut. Sebagai contoh, satu halaman mendaftar nama orang-orang yang tinggal di hotel, dan halaman berikutnya mencantumkan hotel yang berbeda.


Lessar mencibir.


Penyihir ini mungkin telah melindungi dirinya sendiri dengan mantra yang memungkinkan orang lain untuk menerima laporan “inkonsisten” tanpa menganggapnya aneh.


Tetapi efek mantra itu sudah memudar setelah laporan tersebut berubah ke bentuk data digital.


Akibatnya, informasi tidak konsisten yang tercantum dalam data itu, kini terlihat begitu jelas. Dan pusat perbelanjaan telah menganggap penyihir ini sebagai pihak yang berbahaya.


Informasi dan data digital sangatlah mungkin melakukan error. Namun ketika informasi yang “dibubuhi” mantra berkontakan dengan sistem digital ilmu pengetahuan, akan sangat sulit untuk menjaga “keampuhan” mantra tersebut. Dan efeknya lama-kelamaan akan semakin memudar.


(... Nama penyihir wanita itu adalah Caliche I Niknosh. Yahh, namanya agak meragukan, tapi dia gagal menyamarkan informasinya pada foto. Dari ornamen kecil dan “jejak” tersisa pada potongan leher, jelas bahwa dia adalah anggota gagal dari Gereja Ortodoks Rusia. Tapi ...)


Sembari Lessar berpikir sendirian, ia melirik Mikoto.


Gadis itu tampaknya cukup mahir ketika melibatkan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi Academy City, tapi Lessar tidak cukup sembrono untuk melibatkan dia dalam masalah sisi sihir. Lessar bukanlah seseorang yang tugasnya menjaga perdamaian, tapi karena dia tidak terikat oleh aturan yang ketat, ia tahu benar di manakah “batasan-batasan” yang boleh dan tidak boleh dilanggar oleh setiap orang.


Caliche, yaitu si penyihir yang telah menyembelih para petinggi, adalah salah satu contoh “orang kurang aja” yang telah menyalahi “batasan-batasan” kedua sisi.


"Aku punya saran."


"Saran lagi?"


"Mari kita berpencar," kata Lessar sambil menyeringai.”Sejujurnya, mencari sesuatu pada data yang sebegini banyaknya adalah pekerjaan yang lebih cocok untukmu. Aku pikir, aku tidak banyak membantu. Academy City akan berada dalam keadaan darurat tak lama lagi. Jadi aku pikir, akan lebih baik jika aku benar-benar melakukan sesuatu daripada duduk diam di sini.”


"Yahh, aku akan senang jika kau bisa membantuku entah bagaimana caranya. Tetapi, apakah kau punya ide nyata untuk menyelesaikan masalah ini sekaligus?"


"Tidak, jika aku punya ide seperti itu, aku sudah memberitahumu dari tadi."


"…Aku paham. Yahh, kalau begitu, pergilah untuk berpatroli di sekitar atau semacamnya.”


"Selagi aku keluar, aku pikir, aku akan makan beberapa sampel hidangan gratis di salah satu toko kelontong," Lessar berkata begitu saja ketika ia mulai meninggalkan ruangan.


"Tunggu."


"Apa?"


"Jika kau menemukan sesuatu, jangan pergi seenaknya sendiri. Setelah melakukan itu sebelumnya, aki bisa bilang bahwa itu tidaklah menyenangkan. Jika kau menemukan petunjuk, kembali ke sini dulu, ya?” Mikoto menunjukkan rasa khawatir pada gadis yang barusan dikenalnya itu.


"..."


Untuk sesaat, Lessar tercengang.


Tapi sesaat kemudian, senyum nakalnya kembali seperti biasa.


"Dimengerti."


Setelah menjawab demikian, dia meninggalkan ruangan.


(Betapa menyusahkan. Apakah ada orang yang tidak memperhatikan keselamatannya sendiri setelah mendengar kata-kata seperti itu terucap dari mulut orang lain?)


Lessar mendesah dan berpikir tentang apa yang akan dia lakukan.


Nama-nama beberapa asosiasi sihir utama Rusia terpikirkan di kepalanya. Mikoto masih terus melanjutkan penyelidikan “ilmiah”nya, tapi kemungkinan besar dia hanya akan mencapai jalan buntu dengan cara penyelidikan seperti itu. Mulai saat ini, Lessar lah yang berada di “garis depan”. Dia mengukuhkan hatinya, dan menyusun tindakan yang hendak dia lakukan.


Dan tentu saja, ia akan menggunakan metode sisi sihir.



Part 4[edit]


Pertama-tama, Lessar menuju ke toko kelontong di pojok.


Kerusuhan sudah sedikit menenang, tapi dampaknya masih bisa dilihat. Banyak rak yang terguling, jumlah produk raib meningkat secara signifikan, dan banyak barang-barang tersisa telah diinjak-injak. Lessar tidak melihat adanya para pekerja. Mereka mungkin sudah memutuskan untuk pergi karena gaji mereka tidak sebanding dengan resiko.


Dia berkeliling di sekitar tempat yang tadinya terdapat rak berisi bumbu dan rempah-rempah. Dia jongkok dan melihat botol kecil di lantai.


"Oh, sage* dan peterseli ... dan ini adalah kunyit. Ditemukan juga Sanshou* dan paprika. Dengan adanya barang-barang ini, aku mungkin dapat mengurangi pekerjaanku.”

[Sage adalah sejenis tumbuhan yang daunnya harum dan biasa digunakan sebagai bumbu penyedap masakan. Sedangkan Sanshou adalah bubuk merica Jepang.]

Lessar mengumpulkan beberapa produk, dan dia memikirkan sesuatu.


"Betapa ironis. Pihak yang berusaha mencegah kerusuhan, kini mencuri untuk mencapai tujuan mereka.”


Namun, Lessar pun tidak ragu-ragu mengambil rempah-rempah itu tanpa membayar.


Itu menunjukkan bahwa dia bukanlah pihak yang berusaha menjaga perdamaian.


Lessar belum kembali berdiri. Sementara masih berjongkok, ia membuka botol rempah-rempah. Dia kemudian memindahkan lengannya untuk menggambar suatu lingkaran seukuran lubang got di lantai.


Sama seperti pada budaya lainnya, wanita Norse juga menggunakan tanaman. Tanaman yang memiliki “nilai magis” sangat berbahaya, bumbu dan rempah-rempah.... semuanya dijual di toko-toko biasa. Dan itu dapat digunakan sebagai benda sihir oleh mereka. Jika kau memiliki pengetahuan yang tepat, bahan sihir bisa kau dapatkan di supermarket terdekat.


"Yah, aku yakin bahwa gadis itu dan otaknya yang hanya berisi ilmu pengetahuan serius (ha) akan merasionalisasi ini sebagai sugesti tentang obat tradisional atau hal konyol semacamnya.”


Lessar melambaikan ekor yang memanjang dari dalam rok mininya. Dia suka menggunakan mantra berdasarkan mitologi Norse yang sengaja terdistorsi oleh ajaran Kristen. Dengan menggunakan bentuk setan, dia bisa mengendalikan fenomena yang tidak bisa terjadi pada standar mitologi Norse.


Sembari ia memikirkan itu, Lessar menggambar beberapa bentuk lagi di dalam lingkaran yang terbuat dari rempah-rempah.


(Akan jauh lebih mudah ketika kau mencampur unsur kekristenan. Bagaimanapun juga, aku hanya harus menggunakan alfabet modern. Itu jauh lebih baik daripada aku harus menerjemahkan setiap hal kecil dalam rune kuno. Masing-masing alfabet tidak memiliki arti yang kompleks untuk itu, sehingga kau dapat membuat lingkaran sihir hanya dengan menyusun “syarat-syarat” yang dibutuhkan. Kau tidak perlu khawatir tentang terjadinya konflik antara simbol dan makna huruf yang berbeda, kemudian membuat noda pada lingkaran sihirmu, lantas berakhir dengan kegagalan.)


Lessar menyelesaikan lingkaran sihir okultisme, kemudian menempatkan jari telunjuknya di tepi lingkaran.


Segera setelah itu, api putih kebiruan muncul di tempat yang baru saja disentuh oleh jarinya. Seolah-olah menyebar pada suatu garis yang diolesi minyak, api tersebut tersebar pada lingkaran sihir yang kompleks. Tidak ada perubahan pada ekspresi wajah Lessar. Ujung jari telunjuknya berada pada api putih kebiruan, tapi itu tidak terasa panas.


"Sekarang." Lessar menatap ke tengah lingkaran sihir seolah-olah dia sedang menikmati ini.”Aku sudah membuka titik kontak ke luar, jadi bagaimana dia akan bereaksi?"


Detik berikutnya, ia melepaskan jarinya dari lingkaran sihir.


Itu bukan karena dia mulai merasa kepanasan.


Pisau es muncul dari udara tipis, menusuk ke pusat lingkaran sihir, lantas mengirimkan api bercampur rempah-rempah ke segala arah.


Itu jelas-jelas suatu tindakan defensif.


Andaikan saja dia tidak melepas jarinya sesaat sebelumnya, jarinya pasti sudah hilang bersama dengan lingkaran sihir itu.


Tapi Lessar hanya tersenyum.


Dia tersenyum seperti orang yang baru saja melihat 7 baris sama pada mesin slot pachinko.


"Ya, itu hanyalah pilihanmu!!" dia perlahan berdiri.”Bagaimanapun juga, aku akan mengirim pesan ke lima asosiasi sihir utama di Rusia, dan mengatakan bahwa salah seorang penyihir telah mengambil tindakan di dalam wilayah mereka. Nama dan fotomu akan ditransmisikan bersama dengan pesan itu!! Kau tahu bahwa aku bisa melacak lokasimu dari itu, tapi kau masih harus menginterferensi secara sihir!!”


Lessar tanpa ragu mulai berlari.


Rempah-rempahnya telah meledak oleh tindakan defensif tadi ... atau seperti itulah seharusnya yang terjadi. Pada kenyataannya, itu memperjelas jalan ke lokasi penyerang, seolah-olah garis pasir besi yang terperangkap dalam garis magnet.


(Pelacakannya sukses!! Aku yakin si penyerang melihat itu, tapi berbaur dalam keramaian adalah teknik yang terbaik. Aku tidak bisa kehilangan dia pada jarak ini!!)


Lessar berlari melalui toko kelontong di pojok dan menyerang ke dalam lorong melalui pintu yang terbuka untuk para pekerja. Pisau es terbang ke arahnya dengan kecepatan tinggi dari seluruh sudut pada lorong yang memutar, tapi Lessar menghindari itu dengan memutar tubuhnya bagian atas.


Pisau melewati hanya beberapa milimeter dari kulitnya, tapi ekspresi Lessar tidak menunjukkan rasa takut.


Lessar adalah seorang gadis yang kepribadiannya terfokus pada hal-hal positif, dan tidak menghiraukan hal-hal negatif. Itulah sifat yang membuat dirinya “dibenci” oleh rekan-rekannya seperti Bayloupe dan Lancis.


Berpikiran positif pada situasi yang ...


(Dia dekat.)


Sembari Lessar menghimpun kekuatan pada kakinya, ia berlari melalui lorong sempit.


(Jika tidak, dia tidak akan panik dan mencoba menghentikan aku seperti itu!!)


Setelah menuju tikungan berikutnya, ia melihat punggung seorang wanita yang sedang melarikan diri.


Itu adalah Caliche I Niknosh.


(Bingo!! Orang yang mencurigakan selalu melakukan hal-hal yang mencurigakan!!)


Lessar tidak meneriakkan perkataan bodoh seperti "tunggu".


Peringatan semacam itu maknanya adalah,”tunggulah jika kau tidak ingin mati". Itu tidak akan berpengaruh pada seseorang yang akan mati, atau sedang terbunuh.


Dengan demikian, Lessar menarik oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru, dan berlari dengan kecepatan penuh.


Penyihir itu mulai merasa seperti mendengar langkah kaki yang datang dari belakangnya.


Wanita itu berada pada jarak sekitar 30 sampai 50 meter di depan.


Dengan asumsi bahwa tidak ada perangkap konyol, Lessar tidak akan kehilangan dia.


Dia mendengar suara keras.


Lessar merasa bahwa ia mendengar suara pintu yang dibanting terbuka, dan dia melangkah melaluinya seolah menyelinap melalui celah.


Dia sekarang berada di luar ruangan.


Area itu tampaknya adalah tempat parkir bisnis untuk pengiriman bahan. Seluruh area tampak datar. Lampu jalan berjajar dengan interval yang tetap. Selain itu, tidak apa-apa di sana. Caliche sudah hampir melalui pohon pendek yang mengelilingi sisi luar parkir, tapi Lessar tisak menunjukkan tanda-tanda khawatir.


Entah dari mana, objek berbentuk seperti tombak muncul di tangannya.


Itu adalah Steel Glove*.

[Diterjemahkan: Saerung Tangan Besi.]

Empat pisau yang melekat pada ujung senjata dan itu tampak seperti suatu lengan pencengkram.


Lessar menggunakan “jari-jari” pisau itu untuk mengambil tas kain kecil. Di dalam tas itu adalah rempah-rempah tadi yang dicampur dengan suatu rasio takaran tertentu.


Dengan tas tergantung pada ujung tombaknya, Lessar menggunakan kedua tangannya untuk mengayunkan senjata panjang itu di atas kepalanya.


Dia menggunakan tas itu dengan gerakan mirip senjata proyektil kuno manusia. Sebelum penemuan busur, manusia melakukan gerakan semacam itu dengan hanya menggunakan otot lengan, untuk meningkatkan kekuatan tembak.


Proyektil kuno adalah senjata yang berupa tali atau sabuk dibentuk seperti huruf U, disertai sebongkah batu berukuran kepalan tangan. Diperlukan gaya sentrifugal untuk menembakkan batu tersebut. Tapi seiring berkembangnya teknologi, penyederhanaan dikombinasikan dengan penggunaan pengungkit telah berkembang menjadi suatu perangkat yang mirip seperti tongkat lacrosse. Kemudian, ditambahkan semacam cangkir logam di ujung tongkat tersebut.


(Tiga kali ... tidak, lima kali putaran harusnya cukup ... !!)


Lessar secara bertahap menurunkan sumbu rotasi di atas kepalanya, sampai ia mengayunkan itu dengan gerakan mirip melempar palu. Setelah ia menghimpun gaya sentrifugal yang cukup, ia membuka empat pisau yang “memegang” tas berisi rempah-rempah.


Tas kecil terbang dengan membentuk lengkungan busur tinggi di udara, dan menerjang target dari atas.


Benda itu terbang lebih seperti suatu granat, daripada peluru.


Dan efek sebenarnya juga lebih mirip seperti granat.


Kemungkinan besar, Caliche telah melihat proyektil itu datang ke arahnya. Beberapa pisau es muncul dari udara tipis, ia mungkin bermaksud untuk menembak jatuh tas itu.


Tapi sudah terlambat.


Sebelum wanita itu sempat melakukan apa-apa, pengikat yang tadinya menahan tas itu, kini memudar dan terbuka. Sehingga, hasilnya akan sama saja, tak peduli tas itu berhasil “ditembak” jatuh ataukah tidak.


Dengan sedikit suara ledakan, rempah-rempah yang sebelumnya tersimpan di dalam tas, kini menyebar melalui udara. Bumbu masakan itu melayang di udara, dan secara otomatis menciptakan lingkaran sihir yang kompleks.


Lessar kemudian memindahkan ibu jari secara horizontal, dan berbicara dengan pelan.


"Api dari kanan dan air dari belakang, mencampur warna dari arahmu dengan angin."


Itu adalah cara menggunakan Empat Jenis Kekuatan yang biasa dipakai oleh Asosiasi Sihir Golden-Style*.

[Baca : Index SP.]

Seakan-akan mengikuti perintah ibu jari Lessar yang secara akurat menunjukkan arah tanpa kompas, suatu kekuatan tak terlihat berputar-putar di atas.


"Angin dari belakang yang mengendalikan aktif dan pasif secara kontradiktif, menjadi ‘itu’ yang menunjukkan bencana dan titik balik!!”


Segera setelah itu, kilatan cahaya meledak dari lingkaran sihir yang mengembang di atas kepala Caliche.


Angin peledak diciptakan.


Kekuatan dari atas membanting tubuh wanita yang tengah melarikan diri itu ke tanah, pohon-pohon pendek di sekitar tempat parkir retak dan pecah, bunga api meledak dari trotoar. Terdapat AR semipublic di permukaan tempat parkir, dan itu dirancang agar truk-truk besar bisa lewat di atasnya, tapi itu tidak mampu menahan serangan sihir Lessar.


"Aku harap kau menyadari bajwa aku memberikan belas kasihan dengan memanggilmu keluar," kata Lessar sambil mengistirahatkan Steel Glove di bahunya, setelah meraih tas kain dengan empat bilah pisau di ujung tombaknya.


Dia melintasi tempat parkir luas itu.


"Aku telah menggunakan fasilitas pusat Kode EIC untuk menyelidiki apa yang telah kau lakukan pada pusat perbelanjaan ini. Sekarang, bagaimana kalau kau memberitahu aku, mengapa kau membunuh para petinggi, kemudian kau ambil alih rencana mereka?”


"..."


Caliche menggeliat di tanah.


Wajahnya ditutupi oleh rambut, tapi senyum samar bisa dilihat pada bibirnya.


Lessar merasa merinding, tapi dia tidak punya waktu untuk mengambil tindakan.


Hanya setelah suara gemuruh terdengar di telinganya, Lessar tergencet di bawah seorang pria besar.


Pria itu jatuh dari langit dan mendarat di atas tubuh kecil Lessar.


Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari itu.


Syok telah mengguncang kepalanya.


(Sialan ... !! Dia tidak sendirian ... !?)


Pria itu langsung saja duduk di atas tubuhnya, tapi ia masih belum cukup seimbang.


(Apa yang terjadi!? Dari mana dia datang!? Kami berada di tengah-tengah area parkir kosong!!)


Lessar hendak mengguncangkan pria besar itu ke samping, tapi pria itu mengangkat punggungnya, kemudian mengayunkan dahinya yang sekeras batu.


Suatu suara tumbukan benda tumpul meledak tepat di sebelah telinga Lessar.


Kepalanya menumbuk trotoar tepat di samping Lessar. Kepala pria itu cukup keras, sehingga tidak heran jika paving beton itu hancur berkeping-keping. Ketika pria itu mengangkat kepalanya, Lessar akhirnya menyadari apa yang sejak tadi pria itu lakukan.


Si pria “memegang” gagang Steel Glove di mulutnya seperti anjing menggigit tulang.


(Tidak baik…)


Lessar kemudian mendengar suara Caliche untuk pertama kalinya.


"Terima kasih, Ivan."


Kemudian, dia menyebut beberapa nama orang lain.


"Sergei, Drag, Milly, Wengo, Marian, Sevche, Aria ... semuanya, bergabunglah."


(Sial !!)


Lessar melemparkan pria itu dari atas tubuhnya, dan segera berguling ke samping.


Suara beberapa ledakan kecil terdengar dari kejauhan.


(Di atap!!)


Lessar menoleh ke arah suara itu, dan melihat beberapa pasang kaki mendekati dirinya layaknya rudal.


Kemungkinan besar, mereka “meledakkan” udara di bawah kaki setelah melompat turun pada jarak 20 meter dari atap gedung ke tempat Lessar, secara horizontal. Mereka “memperhalus” cara mendarat, namun bagi Lessar yang berada di bawah, itu hanya terdengar seperti suara ledakan.


(Cih! Dapatkah aku menghindari mereka semua!?)


Sembari Lessar berguling, sejumlah besar kaki jatuh secara tegak lurus, dan mengikutinya seperti peluru yang ditembakkan dari senapan mesin.


Dia tidak bisa melarikan diri ke tempat yang aman, hanya dengan bergulir ke samping.


Namun, “ledakan udara” yang mereka gunakan untuk “memperhalus” pendaratan ternyata menguntungkan bagi Lessar. Dengan bantuan angin akibat “ledakan udara” itu, tubuh kecil Lessar berhasil terpental, dan mendapatkan jarak cukup jauh terhadap mereka.


Akibatnya, salah satu kaki itu mendarat persis di samping wajah Lessar.


Seolah-olah penari breakdance, Lessar menggunakan momentum gulungannya untuk berdiri.


Dia berhasil menghindari serangan musuh-musuhnya, tapi dia tidak punya waktu untuk bernapas lega.


(Caliche dan para pria besar itu, semuanya berjumlah sekitar 10 orang. Dan mereka telah mengambil Steel Glove milikku.)


Lessar menoleh, dan saat itu juga dia melihat pria besar bernama Ivan melempar Steel Glove miliknya ke samping.


Area parkir seluas ini adalah tempat yang cocok bagi suatu kelompok untuk mengeroyok dia.


"Apakah kau menyadari bahwa aku sengaja menggiring kau ke sini?" Caliche berkata sambil mendekatinya perlahan-lahan.


Lessar menarik dua atau tiga tas kain dari dalam jaketnya.


"... Tampaknya kau tak akan menyebutkan nama sihirmu."


"Aku tidak perlu."


Saat ia berbicara, Caliche dengan ringan melambaikan suatu benda yang tampak seperti pasak yang tipis dan panjang.


Lessar akhirnya menyadari bahwa itu adalah pena ballpoint. Namun, kemungkinan besar pena itu tidak memiliki tinta normal di dalamnya. Mengingat mantra ia digunakan, kemungkinan besar terdapat minyak suci di dalamnya.


Bukannya “modernisasi” personal, tampaknya itu adalah format yang digunakan oleh seluruh asosiasi sihir rahasia. Para anggota lain juga telah merubah pena ballpoint, atau alat tulis lainnya menjadi benda spiritual untuk menyusun mantra.


"Kalau begitu, matilah sekarang."


"Kau dengar itu?"


Entah kenapa, Lessar berbicara dengan santai.


Caliche mengerutkan kening karena bingung, tapi Lessar mengabaikannya begitu saja, dan terus berbicara.


"Ya, ya, itu benar. Kurang-lebih begitu. Dari kualitas barang spiritualnya, mereka mungkin memiliki anggota lain yang bersembunyi dan memberikan dukungan secara logistik, tapi kurasa ini ‘meringkas’ kekuatan tempur mereka yang sebenarnya untuk saat ini. Ya, ya ... baik, aku mengerti.”


Ya, dia mengabaikan wanita itu.


Lessar bertindak seolah-olah dia benar-benar mengabaikan orang di depannya, dan berbicara pada telepon genggamnya.


Tepat setelah Caliche memikirkan hal itu, ia merasakan bahaya.


"Jangan bilang ... !!"


"Sangat terlambat."


Lessar mengejek wanita itu sembari menjulurkan lidahnya, dan ...


Dengan suara gemuruh, rune yang tak terhitung jumlahnya muncul, dan petir hijau aneh melanda seluruh area.


Petir itu sangat berbeda dari petir alami yang langsung turun dari atas. Bunga api tebal terbang dengan lintasan berbentuk busur dari cakrawala, dan terus menghujani tempat parkir.


Caliche telah merasakan bahaya, sehingga ia segera mengambil tindakan untuk menghindar, tapi pria dan wanita di sekelilingnya tidak bisa mengikuti. Tubuh terhantam pukulan satu demi satu, dan mereka berlutut sebelum akhirnya benar-benar ambruk ke tanah.


"Ini adalah peran normalku. Aku bergerak dengan cepat, dan bertindak sebagai ‘pemandu’. Setelah kami memiliki informasi akurat tentang lokasi musuh, Bayloupe mengirimkan rentetan tembakan perusak dari jarak jauh. Jika perlu, Lancis dapat mencegah musuh yang akan menghindar secara efektif, dengan menggunakan segala macam serangan pengubah ‘keadaan’ pada wilayah yang luas. Floris dapat menggunakan sayapnya untuk meraih dan menarikku dari jangkauan serangan musuh.”


Petir hijau itu mirip dengan pemboman merata, sehingga Lessar sendiri juga harus menghindari lengkungan-lengkungan bunga api itu sembari ia berbicara kepada Caliche.


"Tapi Bayloupe benar-benar berlebihan. Dan aku mungkin masih bisa bertahan ketika melawannya selama dia tidak menggunakan Gjallarhorn. Mungkin adalah keputusan yang tepat ketika aku tidak memintanya untuk memberikan tembakan perlindungan terhadap para perusuh.”


"…Kamu…"


Lessar dan Caliche saling berhadapan di tengah kilatan cahaya hijau yang menari-nari.


Caliche tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahwa dia sedang terguncang, tapi Lessar menampakkan senyum berani pada wajahnya.


"Mari kita bertarung dengan simpel, seperti yang biasa kita lakukan sebagai penyihir tanpa aturan."


"Ya," Caliche menanggapi seolah-olah dia sudah tidak serius lagi.


Listrik hijau menghujani di atas kepalanya, tapi ia tidak bergerak.


Dia hanya mengangkat pena ballpoint yang diisi dengan minyak suci, dan muncul bunga api tersebar di setiap arah.


Dengan suara aneh, sepotong perkamen muncul dari udara yang tipis.


Potongan kertas terbang menjauh seperti peluru kosong, dan Caliche berbicara sambil memegang benda spiritual di udara.


"Mari kita saling bunuh satu sama lain."


Baik Lessar maupun Caliche menuju ke depan pada saat yang sama.


Suara langkah kaki mereka meledak, dan dua penyihir bentrok pada jarak sangat dekat, di tengah-tengah kilatan hijau tak terhitung jumlahnya yang menari-nari.


Di tangan Lessar tas berisi rempah-rempah yang memiliki efek mirip geranat. Senjata itu bisa menciptakan banyak reaksi sihir yang berbeda.


Di tangan Caliche terdapat pena ballpoint terisi minyak suci yang dengan bebas bisa membuat pisau es.


Pisau es milik Caliche lebih cepat dalam hal melepaskan serangan tunggal.


Suatu perkamen terbang ke udara seperti peluru kosong, dan banyak pisau yang berbeda muncul.


"... !!"


Lessar menghindari pisau yang menikam tenggorokannya hanya dengan menggerakkan tubuh bagian atas, dan melemparkan tas kain ke depan saat ia menghindar.


Dia meneriakkan mantra meskipun dia akan “terkena” juga.


"Bumi dari kiri dan air dari belakang, mencampur warna dari arahmu dengan angin. Angin dari belakang kiri yang juga menunjukkan kepasifan menjadi ‘itu’ yang menunjukkan perdamaian dan stagnasi!!”


Suara ledakan terdengar.


Namun, itu berbeda dari ledakan menggunakan “geranat tas” sebelumnya. Dampak seperti terkena pukulan di wajah oleh airbag* yang padat menghantam Lessar dan juga Caliche.

[Airbag adalah kantong empuk berisi udara yang otomatis keluar di depan kemudi ketika mobil bertabrakan.]

Namun, karena mengetahui bahwa dampak itu akan datang, dan tidak berubah dengan cepat, mereka berdua bisa mengambil tindakan berikutnya.


Lessar sudah menggerakkan bibirnya.


"Pengusiran setan."


Dia melangkah lebih jauh ke depan.


"Angin dari belakang kiri akan cepat pudar. Ini akan menjauhkan diri dari perdamaian dan stagnasi angin dari belakang kiri, bukannya memanggil bencana dan suatu titik balik!!”


Dia memukul kepalan tangannya ke depan.


Bukannya tubuh kecil Lessar terdorong ke depan oleh suatu kekuatan misterius, yang terjadi di sana adalah, tubuh Lessar dan tubuh Caliche ditarik bersama-sama oleh suatu “magnet” kuat.


Tentu saja, Caliche tidak punya cara untuk menghindar jika mereka saling tertarik secara paksa.


Namun ...


"Terlalu lambat."


Seiring dengan kata-kata Caliche, suatu pisau guillotine* terbalik muncul di tanah.

[Baca OT vol 14.]

Pisau itu seukuran papan gambar, dan memblokir serangan kepalan tangan Lessar layaknya rana logam.


Ketika suara *klang* terdengar, perkamen lain terbang ke udara.


Lessar mengeluarkan tas kain lain, dan melemparkannya ke depan dengan licik. Dia begitu dekat dengan musuhnya, sehingga benda itu hanya lewat dan terbang di belakang Caliche, tapi apapun itu, Lessar komat-kamit sekali lagi.


"Api dari kanan dan air dari belakang, mencampur warna dari arahmu dengan angin. Angin dari belakang kanan menguasai aktif dan pasif secara kontradiktif menjadi ‘itu’ yang menunjukkan bencana dan titik balik!!”


Saat itu, cahaya berhembus keluar dan angin peledak diciptakan.


Caliche pasti ketakutan oleh ledakan yang Lessar ciptakan di belakangnya, karena dia memutar tubuhnya ke kanan untuk menghindar.


Tapi itu bukan tujuan akhir Lessar.


Dia mentargetkan perkamen yang dikeluarkan seperti peluru kosong setelah Caliche mengaktifkan mantra.


Perkamen itu tertiup angin melalui udara, dan Lessar meraihnya di antara jari telunjuk dan jari tengah.


"Aku benar. Ini adalah Ex Voto. Ini adalah metode yang lebih mudah untuk menyebabkan ‘mukjizat’ dengan memanjatkan permintaanmu pada Anak Tuhan melalui pihak ketiga. Ini metode yang pernah dilakukan oleh salah satu dari santo pelindung selama sejarah. Kau menggunakan perkamen, bukannya obyek. Ini sangat mirip dengan asosiasi sihir rahasia bergaya Rusia. Apakah kau mencoba untuk memilikinya sesuai dengan ikon?”


"... !!"


Suatu pisau berputar raksasa seperti yang digunakan untuk memotong kayu muncul di tanah.


Tapi Lessar mengabaikannya dan terus berbicara.


"Dengan adanya Ex Voto sebagai bukti bahwa doa seorang wakil dipanjatkan, upacara berakhir ketika korban yang terkait dengan doa dibawa ke altar santo pelindung. Misalnya, itu bisa menjadi teks yang menunjukkan isi dari doa yang dipanjatkan. Namun ...” Lessar menempatkan jari telunjuknya di dekat pisau berputar yang semakin mendekat.”Sangatlah simple ketika kau menentukan metode untuk membatalkan mantra setelah memiliki teks tersebut, bukankah begitu?”


Dengan suara yang jelas, pisau berputar hancur.


Lessar bahkan tidak memberikan waktu pada wanita itu untuk terkejut.


Dia menyerang menembus pecahan-pecahan es yang berkilauan seperti dekorasi, dan menuju ke arah Caliche.


Dia memegang tas kain di tangannya.


"Api dari kanan dan angin dari depan, mencampur warna dari arahmu dengan angin. Angin dari depan kanan yang juga menunjukkan keaktifan menjadi ‘itu’ yang menunjukkan serangan dan perubahan!!”


Caliche tahu dia tidak akan sempat.


Benda itu akan meledak tepat di depan matanya.


Namun, ia masih menghasilkan pisau es dari udara tipis meskipun tahu itu akan sia-sia.


Dan kemudian…


"Pengusiran setan."


Lessar terus berbicara.


"Angin dari kanan depan akan cepat pudar. Ini akan menjauhkan diri dari serangan dan perubahan angin dari depan kanan, sebaliknya menunjukkan pertahanan dan kekekalan!!”


Pada saat Caliche menyadari apa yang terjadi, itu sudah berakhir.


Es pisau yang diciptakan dengan mantranya sendiri tidak menusuk Lessar. Sebaliknya, pisau itu hancur dan banyak potongan-potongan menusuk ke tubuh bagian atas Caliche sendiri.


Simbol pertahanan dan kekekalan.


Seolah-olah pisau telah terpantul.



Part 5[edit]


Mikoto menyelidiki data di area penyimpanan.


Dia berusaha untuk menemukan rincian dan lokasi para petinggi misterius yang mengendalikan rencana ini.


Pusat perbelanjaan berusaha untuk menjatuhkan bom nuklir di Academy City menggunakan pesawat tempur model jadul, tapi Lessar meramalkan bahwa para petinggi memiliki kode peledakan Solntse untuk mencegah berkhianatnya para pilot.


Kurang-lebih, Mikoto setuju pada dugaan Lessar.


Untuk menghentikan peledakan Solntse, mereka harus menemukan para petinggi, dan mencegah diaktifkannya kode peledakan sebelum bomnya dijatuhkan.


Namun ...


"... Aku tidak dapat menemukan apa-apa," Mikoto akhirnya bergumam sambil melihat layar PDA-nya.


Dia telah menemukan nama orang dengan tingkat otorita tertinggi sesuai dengan dokumen, tapi menurut apa yang bisa dia temukan, orang itu hanya berurusan dengan pertunjukan, dan memiliki sedikit hubungan dengan pekerjaan yang sebenarnya. Kemungkinan besar, orang ini benar-benar tidak menyadari adanya “kegelapan” di balik pusat perbelanjaan ini.


Tetapi mengingat bahwa orang-orang yang mengendalikan pusat perbelanjaan dari balik layar benar-benar eksis, hasil ini mencurigakan. Mereka harusnya berusaha untuk tidak meninggalkan jejak sama sekali, karena eksistensi mereka sangatlah dirahsiakan. Mereka tentu saja tidak terdapat pada daftar manapun, dan nama mereka tidak tercantum pada secarik dokumen pun.


Mikoto menatap kartu ID dengan otoritas tertinggi yang diberikan oleh Lessar.


Setidaknya, orang yang telah mengalungkan kartu ini di lehernya pastilah “pernah hidup” di dunia ini, tetapi data yang mencantumkan namanya sangatlah meragukan.


(... Aku paham mengapa Setali benar-benar yakin bahwa tidak ada “petinggi jahat” di balik kota ini.)


Tapi satu hal yang pasti.


Rencana pengiriman Solntse ke Academy City dan menjatuhkan bom-bom hidrogen dengan menggunakan pesawat tempur model lama, masihlah terus berlanjut.


Jika dia tidak menemukan para petinggi secepat mungkin, rencana itu tidak akan berhenti.


Sembari terus memikirkan itu, Mikoto lanjut mencari data yang tersimpan, tapi dia tidak menemukan sesuatu pun.


Ketika dia hendak mendesah, ujung-ujung jarinya tiba-tiba berhenti.


Itu adalah data yang tidak terkait dengan para petinggi, tapi dia telah menemukan beberapa data yang menarik perhatiannya.


"Ini adalah…?"


(... Data tentang rencana sekunder ...)


Komputer besar di fasilitas pusat Kode EIC hanya memiliki data tentang rencana utama, yaitu membawa Solntse ke Academy City dan meledakkannya sesuai waktu. Di sana, tidak pernah ada file tentang rencana sekunder, bila rencana primer gagal..


Namun sekarang ia telah menemukan penjelasan dari rencana sekunder.


(Aku yakin rencana sekunder hanyalah rencana untuk menembak jatuh Solntse dari MIG-21 yang dimodifikasi, tapi ...)


Andaikan saja Mikoto membaca penjelasan rinci pada pusat perbelanjaan, dia mungkin menemukan beberapa data berguna yang belum diketahuinya. Andaikan saja dia menemukan informasi tentang jalur penerbangan, atau informasi tentang waktu modifikasi MIG-21s, akan lebih mudah untuk mencegat mereka.


Mikoto membuka file itu dengan harapan menemukan data “melegakan” seperti itu, tapi ...


"Eh ...?"


Dia lupa bernapas untuk sesaat.


Mikoto mengulanginya sembari masih melihat PDA.


"Eh ...?"



Part 6[edit]


Beberapa jalur asap melewati atas kepala Shirai Kuroko.


Itu kemungkinan berasal dari pesawat tempur canggih yang membelah udara dari Distrik 23. Tidak hanya ada 2 atau 3 unit. Shirai tahu bahwa ada lebih dari 10 pesawat tempur yang terbang di atas kepalanya.


Mereka pasti telah melintasi Academy City sekaligus meningkatkan ketinggian karena suara itu cukup keras terdengar oleh Shirai yang berada di bawah.


(Aku ingin tahu apa alasan resmi yang diberikan pada mereka, sehingga mereka diijinkan menuju ke luar kota ...)


Dia meragukan bahwa mereka benar-benar bisa lenyap dari radar. Dan bahkan jika mereka bisa, akan sulit untuk mengabaikan mereka karena orang-orang di bawah sudah melihatnya. Dia menduga bahwa Academy City sedang mempersiapkan semacam pengumuman resmi.


Tapi dia tidak punya waktu untuk terkejut dengan itu.


Jika informasi dari Mikoto benar, setidaknya satu unit MIG-21 modifikasi dengan kemampuan untuk mengangkut senjata nuklir sedang menuju ke kota, melintasi Laut Jepang. Mereka tidak bisa membiarkan sesuatu yang konyol seperti bom hidrogen dijatuhkan di Academy City.


Pada awalnya Anti-Skill meragukan tentang apa yang Shirai katakan, tapi suasana telah benar-benar berubah. Bagaimanapun juga, para teroris yang tadinya menggunakan senapan gelombang elektromagnetik berfrekuensi ultra-tinggi, kini ternyata benar-benar memiliki bom hidrogen.


Sejak Anti-Skill mengambil perintah penyelidikan, Shirai tidak bisa melangkah melewati “pita kuning” yang memotong jalan.


Dari luar, dia berbicara pada powered suit di dalam.


"Apakah ornamen uranium sudah diamankan ... bukan, apakah bom hidrogen sudah diamankan sekarang?"


"Untungnya, tingkat bahaya jauh lebih rendah karena itu diamankan sebelum timer diaktifkan. Namun, sepenuhnya memotong sirkuit adalah pekerjaan yang sulit. Para teknisi nuklir dan penjinak bom harus bekerja bersama-sama secara hati-hati untuk mengerjakannya dengan aman.”


Ada kesenjangan 20 atau 30 tahun antara teknologi di dalam Academy City dan luar. Harusnya, kota memiliki keuntungan dalam hal teknologi, tetapi menjinakkan bom hidrogen masihlah membuat mereka bekerja dengan ekstra hati-hati.


Dan juga, Academy City tidak menjinakkan bom dengan memotong kabel berwarna-warni menggunakan pemotong kawat seperti di film-film drama. Mereka menggunakan bahan kimia khusus untuk menyebabkan reaksi kimia yang mengubah bahan peledak tersebut menjadi bahan “jinak”. Atau, mereka akan membuangnya ke bagian belakang suatu truk lapis baja khusus yang terlihat seperti tank, lantas meledakkannya begitu saja dari dalam. Upaya untuk menjinakkan benda-benda berbahaya seperti itu sering kali dikerjakan oleh robot yang dikendalikan dari jarak jauh dengan mengontrol lengannya.


Namun, lain ceritanya jika menjinakkan bom hidrogen.


Bom semacam itu tidak bisa diledakkan dengan aman.


"Semakin merusak dan semakin berbahaya bomnya, maka kita harus semakin bergantung pada metode klasik. ... Betapa ironis.”


"Tapi setidaknya, kita tidak perlu melakukan pekerjaan dengan timer yang terhitung mundur seperti di film-film.”


Para petugas Anti-Skill yang mengenakan powered suit menatap jejak tersisa dari jalur asap di langit.


"... Tapi masalah yang sebenarnya baru terjadi sekarang. Suatu MIG-21 modifikasi bisa menjatuhkan bom hidrogen lainnya di sini, kapanpun.”


Shirai merasakan hal yang sama.


"Aku tahu ancaman itu sedang mendekat, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan ... Sungguh, ini tidak baik bagi perutku.”



Part 7[edit]


Pisau es hancur di depan mata Lessar.


Pecahan es berkilau yang tak terhitung jumlahnya melanda tubuh bagian atas Caliche, seakan-akan tembakan senapan.


Tubuh Caliche terpental beberapa meter sementara darahnya tersemprotkan di sekitar.


"Yah, aku kira itu menyelesaikan semuanya."


Lessar memandang sekeliling area, dan tampaknya sebagian besar rekan Caliche telah roboh dan tidak bisa bergerak karena serangan petir hijau. Akan menjadi masalah jika salah satu dari mereka berpura-pura roboh, tapi tampaknya tak seorang pun dari mereka memiliki kekuatan tersisa untuk melakukan serangan balik seperti itu.


Lessar berjalan sambil menyeret tubuhnya yang lelah, dan mengambil Steel Glove miliknya. Dia kemudian berbalik ke arah Caliche yang roboh telungkup di tanah.


Sembari tidak menghiraukan pendarahan pada wanita iu, Lessar dengan paksa mengangkat wajahnya. Dia membungkuk dan menatap wajah wanita itu.


"Bahkan jika kau tetap diam, aku punya cara untuk 'melihat ke dalam' pikiranmu, jadi tidak ada gunanya keras kepala.”


"..."


"Kenapa kau membunuh para petinggi pusat perbelanjaan, dan mengambil alih rencana mereka? Apakah kamu memiliki kode peledakan nuklirnya?”


"Benda spiritual kami ..." Caliche menggerakkan bibirnya yang berdarah, tapi dia tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Lessar.”Dari jumlah dan rincian benda spiritual milik kami, kau menyadari bahwa kami memiliki orang-orang tersembunyi yang memberikan dukungan logistik. Di samping itu, ada juga unit yang bertugas untuk menangani pertempuran langsung ...”


"Apa…?"


"Jika kau tahu sebanyak itu, kenapa kau tidak menyadarinya? Mengapa kau tidak menyadari bahwa meninggalkan orang-orang yang memiliki kemampuan khusus dalam pekerjaan dan pembangunan benda spiritual jauh, lebih berbahaya daripada menghadapi unit pertempuran secara langsung?”


Napas Lessar tercekat di tenggorokannya.


Pada waktu yang hampir sama, massa raksasa konstruksi menerobos dinding dari fasilitas bisnis besar, menuju ke tempat parkir.


"Chehh ..."


Lessar perlahan berdiri dari posisi berjongkok saat ia melihat sosok raksasa melalui debu yang telah ditiup angin.


Apa yang dilihatnya sungguh sulit untuk digambarkan.


Sosoknya seperti suatu roda raksasa. Benda itu pada dasarnya terbuat dari batu putih seperti marmer, dan tepi luar yang menyentuh tanah diperkuat dengan logam berwarna emas.


Yang kecil memiliki radius 3 meter dan yang besar memiliki radius 15 meter.


Roda itu terlihat begitu kompleks. Sebaliknya, itu terbuat dari roda berukuran tak sama yang saling kait satu-sama-lain layaknya sepeda gunung.


Roda besar dan kecil terkait ke setiap roda gigi lainnya, menghubungkannya bersama-sama, layaknya ular raksasa.


Sementara membuat suara berderit, “roda ular raksasa” itu perlahan membungkukkan wujudnya yang begitu besar. Seolah-olah benda itu membidik ke arah Lessar.


Jika monster itu datang padanya, ia akan penyet dan pipih bagaikan selembar kertas.


"Oh, yang benar saja? Rasanya seperti Telesma yang dikumpulkan bersama-sama secara paksa.”


"Pada awalnya, kami membuat itu sebagai ‘asuransi’." tanpa bangun, Caliche memindahkan kepalanya saja untuk melihat, dan tersenyum pada Lessar.”Kami akan menggunakannya jika pusat perbelanjaan memutuskan untuk tidak memberikan ‘hadiah’ kami. Situasi menjadi tak terkendali, dan kami kehilangan kesempatan untuk menggunakannya. Tetapi bagaimanapun juga, tidak ada salahnya menciptakan benda seperti itu.”


Sosok raksasa yang muncul melalui tirai debu, paling tidak memiliki panjang lebih dari 70 meter. Itu mungkin adalah senjata yang dirancang untuk menghancurkan sesuatu dengan memanfaatkan berat sendirinya.


Meskipun pusat perbelanjaan ini sangatlah besar, mereka tidak memiliki ruang yang diperlukan untuk menyembunyikan senjata sebesar itu. Entah apakah ada lingkaran sihir tersembunyi untuk memanggilnya dari jarak jauh, atau apakah ada teknik khusus yang membuat bagian-bagian kecil terkumpul dan menyusunnya menjadi sosok sebesar itu.


Senjata itu kemungkinan besar dapat menyebabkan kerusakan parah hanya dengan bebas berkeliaran, dan membuat lekukan-lekukan berbentuk U sembari melintasi beberapa bangunan. Tapi Caliche tidak akan memanggilnya hanya karena alasan seperti itu.


Anggap saja, ada beberapa kekuatan magis yang ditambahkan pada monster itu.


"Jangan bilang bahwa benda itu juga dijual," sindir Lessar, tapi Caliche tidak merespon.


Ketika dia benar-benar membuka mulutnya untuk berbicara, dia membahas suatu hal yang sungguh berbeda.


"Itu bukanlah kami."


"?"


"Kami tidak tertarik dengan jeruk atau bahan nuklir. ... Kode EIC adalah murni ‘produk’ ilmiah. Namun, sisi ilmu pengetahuan tidak cukup untuk menyelidiki bagaimana proyek itu mempengaruhi pikiran manusia. Oleh karena itu, mereka menghubungi kami secara rahasia, dan meminta kami untuk mengamati pikiran manusia dari sudut pandang sihir. Kami telah menandatangani proyek itu, walaupun banyak bagian yang ‘disensor’.”


"..."


"Sebagai gantinya, kami akan menggunakan improvisasi Kode EIC pada pikiran manusia. Namun kali ini, kami boleh ‘memanfaatkan’ proyek itu dari sudut pandang psikologi. Tapi perjanjian itu telah disalahi. Untuk membayar kelicikan mereka, kami membunuh para petinggi, kemudian mencoba untuk memanfaatkan Kode EIC sekali lagi untuk kepentingan kami sendiri.”


Caliche berbicara seolah-olah dia bahkan tidak melihat Lessar yang berdiri tepat di depannya.


Mungkin saja kesadarannya telah memudar karena kehilangan banyak darah.


Memang benar bahwa Kode EIC bisa sangat berguna dari sudut pandang agama. Dengan menggunakan informasi “tidak pasti” seperti rumor dan legenda urban, orang bisa mengisolasi satu kelompok, dan dengan bebas memanfaatkan orang-orang dalam komunitas itu. Seseorang dapat membuat markas, pemimpin, atau musuh sesuai dengan keinginannya.


Itu sama dengan menaikkan atau menurunkan nilai suatu produk.


Beberapa orang dalam masyarakat akan muncul sebagai si “pencerah” dan “menyinari dunia”. Sedangkan pihak lainnya akan muncul sebagai sosok yang stagnan, gelap, dan jatuh ke dalam bayangan.


Sebenarnya, tujuan terciptanya Kode EIC bisa juga disebut “agama keuangan”.


Hanya dengan mengubah sesuatu yang menjadi “inti”, semua komunitas yang emlingkupinya juga bisa berubah.


Dan prinsip yang sama juga bisa diterapkan pada dunia tempat tinggal Lessar dan Caliche, yaitu dunia sihir.


"Tapi itu bukan kami," kata Caliche dengan ketegasan aneh pada suaranya, meskipun kondisinya semakin memburuk. "Seseorang meneruskan rencana ini, dan mengirimkan Solntse, tetapi itu bukan kami."


"Apa…?"


Lessar semakin terfokus pada Caliche, bukannya senjata raksasa yang terbuat dari sejumlah roda gigi besar. Wanita itu hanya tersenyum. Kemungkinan besar, dia tidak akan berkata lebih banyak, bahkan jika Lessar memaksanya untuk membocorkan informasi lain. Bahkan, jika Lessar terus memaksanya, wanita itu pada akhirnya hanya akan batuk darah, dan tak lama lagi berubah menjadi mayat yang tersenyum seakan-akan mengejek Lessar yang tidak mendapatkan potongan informasi terpenting.


Dan yang paling penting, musuh raksasa yang muncul dari pusat perbelanjaan itu tidak akan membiarkan dia menghabiskan waktu untuk menginterogasi wanita itu.


"Tidak baik, tidak baik."


Sembari menggunakan alat komunikasi sihir untuk memerintahkan “pemboman tambahan” dari Bayloupe, Lessar mengulurkan Steel Glove miliknya.


"Ini bukan waktunya untuk khawatir tentang menghentikan ledakan nuklir yang tidak ada urusannya denganku.”



Part 8[edit]


Meskipun terbungkus perban, petugas keamanan Enirya G. Algonskaya masih melanjutkan pekerjaannya.


"Jadi kerusuhan menyebar melalui fasilitas pusat bisnis, melebihi hotel dan bandara. Jumlah orang yang mencoba untuk mengambil keuntungan dari kekacauan meningkat ...”


Enirya berpikir sembari dia memeriksa situasi ini dengan menggunakan AR semipublic.


Kerusuhan mulai dengan dalih melindungi perdamaian. Yaitu, dengan menghilangkan orang berbahaya dari Academy City yang mencoba meledakkan bom hidrogen, tetapi alasan itu mulai dipertanyakan.


Namun, itu juga berarti bahwa para perusuh mulai mendapatkan kembali kemampuan mereka untuk berpikir secara rasional. Artinya, situasi ini mencapai titik di mana para petugas keamanan bisa “mengguncang” perusuh secara mental, dengan menggunakan peringatan lisan, bukannya kekerasan. Situasi ini bisa diselesaikan lebih mudah, tapi ...


Tiba-tiba, salah satu dari rekan-rekannya yang sama-sama terluka memanggilnya.


"Aku memiliki laporan."


"Setelah ini semua, tak banyak hal yang bisa mengejutkanku."


"Suatu konstruksi raksasa berukuran 70 meter telah ditemukan di fasilitas bisnis. Tampaknya benda itu akan bergerak sembari menghancurkan bangunan yang dilewatinya.”


"Apa!? Seperti apa bentuknya!?"


Enirya membentak rekannya, tapi ia tampaknya dia tidak memperhatikan kondisinya yang masih babak belur.


Enirya mengerang saat ia menerima penjelasan bahwa itu adalah konstruksi misterius yang mungkin merupakan senjata atau kendaraan, dan tampak seperti kumpulan gigi roda raksasa.


"... Apakah para petinggi benar-benar mencoba untuk ‘secara harfiah’ menghancurkan kerusuhan menggunakan suatu senjata rahasia dari penggiling jalan atau semacamnya?”


"Rinciannya tidak diketahui, tetapi tampaknya benda ini sanggup ‘membungkam’ kerusuhan di berbagai tempat. Tampaknya pikiran orang-orang berubah dari: bergabung dalam situasi berbahaya, menjadi: menonton situasi yang tidak mereka mengerti.”


Tiba-tiba, suatu informasi baru muncul pada AR semipublic yang sejak tadi Enirya tonton. Dia mengerutkan kening dan mengatur layar pada mode yang juga bisa dilihat oleh rekannya.


"Tampaknya penggunaan darurat militer telah disetujui."


"Persetujuan dari petinggi diperlukan untuk itu."


Itu memang kesempatan mereka untuk mengakhiri kerusuhan. Jika darurat militer diijinkan sementara para perusuh terfokus pada sosok raksasa itu, mereka bisa menghentikan aliran perusuh satu sama lain dengan memotong arus informasi. Setelah itu, mereka bisa menghancurkan kerusuhan secara individual. Mereka akan melumpuhkan cukup banyak perusuh sampai mereka tidak bisa melanjutkan aksi brutalnya.


Rekannya tampak lega.


"Kami kehilangan jejak di mana para petinggi berada pada saat kerusuhan terjadi, tetapi tampaknya mereka baik-baik saja. Dan mereka masih sanggup mengambil tindakan yang bisa mengembalikan fungsi kota seperti sedia kala.”


Tapi ...


"Tunggu sebentar," kata Enirya memotongnya.”Tidakkah seharusnya lebih dari setengah anggota petinggi memberikan tanda tangan elektronik mereka untuk memberlakukan perintah khusus, seperti menyatakan darurat militer atau memaksakan perintah ‘pembungkaman’?”


"Y-ya. Kenapa emangnya?”


"Untuk alasan keamanan, tanda tangan elektronik mereka hanya berlaku jika dilakukan melalui perangkat di ruang manajer. Dan karena para petinggi sekarang ‘hilang’, maka mereka tentu saja tidak sedang berada di ruangan tersebut.” Enirya berhenti sejenak sebelum melanjutkan omongannya.”Lantas siapa yang membuat tanda tangan elektronik ini, dan dari mana asalnya?”


"B-Bukankah itu terjadi karena kita berada dalam keadaan darurat? Aku tidak tahu ke mana para petinggi dievakuasi, tapi selama mereka semua berkumpul di satu tempat, mereka masih bisa memberlakukan salah satu pesan khusus tanpa melalui ruangan manajer.”


"Bukan itu masalahnya. Bahkan jika para petinggi benar-benar melakukan ini, mereka tidak bisa mengabaikan masalah keamanan beitu saja. Bahkan jika mereka diamankan di dalam suatu shelter, mereka tidak akan mampu mengirimkan tanda tangan elektronik pada keadaan seperti itu.”


"Lalu ..."


"Sekali lagi, ada beberapa sistem yang tidak pernah kita sadari keberadaannya," kata Enirya seolah-olah dia telah menyerah untuk mencaritahu.”Tapi jika demikian, kita tidak memiliki bukti bahwa tanda tangan elektronik tersebut benar-benar asli dan diberikan oleh para petinggi secara syah. Untuk secara akurat menganalisis situasi ini, kita perlu mencari tahu siapakah yang membuat tanda tangan elektronik itu.”


"..."


"Kita benar-benar akan menyelidiki ini." Enirya menunjuk dinding yang menampilkan windows AR semipublic.”Kita akan mencari tahu siapa yang membuat ini, dan dari mana terkirimnya."



Part 9[edit]


Roda ular raksasa menerobos dinding pusat perbelanjaan, dan muncul di luar.


Namun, Lessar masih optimis.


Roda ular raksasa itu memang senjata yang dinamis dan terfokus pada kehancuran, tetapi sepertinya itu adalah suatu senjata yang telah disiapkan untuk menghancurkan seluruh markas musuh, bukannya seorang penyihir secara individual.


Itulah sebabnya Lessar memiliki kesempatan untuk menang. Jika kerusakan tersebar melalui skala yang besar, maka akan ada sedikit “celah” bagi Lessar untuk “menyelip”. Roda ular raksasa terbuat dari lingkaran-lingkaran besar. Ketika ada “bola” yang terselip di antara roda-roda itu, pastilah ada celah-celah di keempat sudutnya*. Jika Lessar terus bergerak diantara celah-celah itu, dia bisa menghindari serangan musuh.

[Ciu harap pembaca bisa membayangkan ketika ada 4 lingkaran besar yang saling bersinggungan, lantas ditambahkan lingkaran baru di tengah-tengah keempatnya.]

Seperti itulah yang seharusnya terjadi.


Lessar tiba-tiba menyadari bahwa puing-puing bahan bangunan rusak tersedot ke arah permukaan roda raksasa.


Itu bukan hanya kumpulan roda raksasa biasa. Itu adalah benda spiritual raksasa yang telah diciptakan oleh asosiasi sihir rahasia.


Lessar lupa fakta sederhana itu, sehingga ia lengah.


Segera setelah itu, roda besar dan kecil yang tak terhitung jumlahnya menghujam menuju ke arah Lessar dengan raungan gerinda keras.


Permukaan jalan pecah karena berat sendiri monster itu. Sisa-sisa serpihan tersedot dan menyumbat celah-celah antara roda gigi. Sembari rodanya berputar, serpihan material yang menyumbat itu diremukkan sekali lagi. Tak lama lagi, tubuh kecil Lessar akan bernasib sama dengan reruntuhan material itu.


Ketika raksasa itu masuk ke tempat parkir, Lessar sudah “tiada”.


Roda raksasa “mengunyah” segala sesuatu yang menghalangi jalannya.

Tatapannya buram.


Dia tidak bisa merasakan gaya gravitasi atau kerasnya tanah di kakinya, yang tergantung lunglai ke bawah.


Bahkan aliran darahnya tidak stabil, jadi dia telah kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan benar.


Dalam kondisinya seperti sekarang, Lessar masih bisa berkedip.


"... Hah? Mengapa aku dipeluk oleh Floris?”


"Karena aku menyelamatkanmu," jawab Floris, yaitu seorang gadis yang juga bekerja di Nihon Daruma.


Sama seperti Lessar yang memiliki ekor membentang dari rok mininya, Floris memiliki “dekorasi” seperti sayap kecil yang melekat pada bahunya. Saat ini, ada semacam sayap cahaya yang membentang dan memperlebar “sayap dekorasi” tersebut, dan ia terbang dengan kecepatan tinggi beberapa meter di atas tanah. Ketika Floris harus menyesuaikan arah, dia sesekali menghentak tanah dengan ringan.


Mereka “memotong” di antara bangunan dan terbang melewati pohon-pohon yang berjajar di sepanjang jalan, tapi Lessar tidak merasa takut. Sama seperti ketika naik bus atau kereta api, “manuver” yang pengemudi lakukan tidaklah terasa berarti bagi para penumpang.


Yang terjadi adalah, mereka berusaha sekuat tenaga melarikan diri dari kejaran roda raksasa. Roda itu menggilas, menyedot, menyumbat, dan meremukkan sekali lagi material-material yang mengganggu jalannya. Roda itu menghancurkan setiap pohon maupun lampu jalanan yang tertata rapih di depannya.


Floris berbicara saat ia berusaha menjaga kestabilan penerbangannya.


"Tapi, benda apakah itu? Sepertinya itu adalah senjata yang meremukkan segala sesuatu dengan menggunakan berat sendiri dan ukurannya yang besar. Apakah itu digunakan untuk melenyapkan markas musuh dengan menghancurkan semuanya sampai rata?”


"Jika memang seperti itu ... ew. Caliche dan yang lainnya pasti telah diremas menjadi setipis koran oleh benda spiritualnya sendiri.”


"Bukankah itu diatur untuk tidak menghancurkan sekutunya? Misalnya, benda itu bisa diatur untuk ‘meringankan’ dirinya ketika melindas kawan.”


"Apa yang kau pikir mantra dasarnya bekerja seperti itu?"


"Aku hanya melihat dari jauh, tetapi tampaknya senjata mereka yang satu ini berbeda dari teknik santo pelindung yang mereka gunakan sampai sejauh ini. Roda-roda Telesma itu mungkin memiliki dasar pada Ophanim*.”

[Ophanim adalah salah satu nama malaikat dalam ajaran Yahudi.]

"Tapi kualitas kekuatan yang digunakan tampaknya berasal dari Michael. Entah kenapa, ia dicatat sebagai seorang malaikat dan juga santo pelindung, kan?”


"Mereka memaksakan kekuatannya pad benda spiritual yang memiliki simbol asimetris. Kelihatannya mereka akan kehilangan sedikit kekuatan jika menyusunnya seperti itu.”


"Aku cukup yakin bahwa ada beberapa cerita tentang Michael yang ada hubungannya dengan rantai. Atau benda lain yang bisa menghubungkan lingkaran secara bersamaan.”


"Maksudmu menyegel malaikat gagal tertinggi selama 1000 tahun? Hmm, betul juga, penyerapan material reruntuhan mungkin berkaitan dengan kisah itu. Dan kemampuan roda itu untuk tidak melukai sekutu bisa ditambahkan oleh interpretasi bahwa rantai tersebut hanya akan menyegel kejahatan, bukannya orang-orang beriman.”


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" Lessar melihat kembali ke belakang, sementara Floris masih menggendongnya. "Senjata itu hanya meremukkan lawan dan menginjaknya dengan memanfaatkan berat sendiri yang besar, jadi, mungkin saja benda itu akan mengejar kita sampai mati. Jika dilihat dari kecepatannya, sepertinya laju sayapmu tidak akan kalah.”


"Tentu saja, aku akan berbalik arah seketika." Floris menanggapi secara sepihak.”Tetapi, sepertinya benda itu tidak akan menunggu dengan santai.”


"?"


Lessar bahkan tidak punya waktu untuk bingung.


Roda ular raksasa menabrak dinding di dekatnya, dan menyerang ke arah Lessar serta Floris. Lawan mereka mengabaikan tata letak jalan dan hanya membajak langsung menembus bangunan untuk mendapatkan mangsanya.


"Eh? Kau bercanda!! Benda itu bergerak mirip dengan sekumpulan gigi roda. Dengan banyaknya puing-puing di sana, benda itu seharusnya berhenti layaknya kain yang tersendat pada sela-sela roda gigi!!”


"Yah, itu adalah bagian dari fenomena okultisme."


"Kalau begitu, aku tidak keberatan."


Petir hijau yang meliuk-liuk membentuk busur muncul dari kejauhan, dan menyerang roda ular raksasa, tapi Lessar meragukan bahwa serangan itu berdampak padanya. Dengan ekor bunga api yang mengikutinya, konstruksi raksasa itu menekan ke arah Lessar dan Floris.


Roda itu mulai membuat suara berderak keras secara terus menerus.


Kontruksi roda berbentuk ular raksasa itu berubah. Layaknya roda gigi sepeda yang berubah, polanya bertransformasi menjadi bentuk yang lebih efektif untuk mengejar dua orang target.


"Sudahkah kau menemukan kelemahannya!?"


"Sama sepertimu... aku belum menemukan apa-apa."


Floris berbalik dengan tajam, dan terbang melalui jalan-jalan sambil melesat menembus celah-celah di antara serpihan material yang disemburkan roda itu. Lessar mengalihkan fokusnya ke roda ular raksasa yang terus mengikuti mereka, sembari menghancurkan bangunan dan pohon.


Lebih tepatnya, ia fokus pada titik-titik di mana roda-roda raksasa itu saling “melekat”.


"Ketika benda itu menelan potongan puing-puing yang terlalu besar dan ketika mengalami perubahan susunan roda gigi, dia mengabaikan gravitasi untuk sementara waktu, dan saling menjauh satu sama lain. Tentu saja, dibutuhkan kekuatan sihir untuk menyebabkan fenomena mistis seperti itu. Dalam hal ini, Telesma lah yang menyebabkannya.”


"Benar."


"Jika pada waktu itu kita dengan hati-hati ‘mengganggunya’, pola penataan ulang normal akan gagal, dan sesuatu yang mengerikan bisa terjadi. Sejumlah besar kekuatan dibutuhkan untuk memindahkan sesuatu sebesar itu. Jika kita mengacaukan kekuatan itu, dan membuatnya lepas kendali, maka kerusakan yang diterimanya jugalah sangat besar.”


"Benar, benar." Floris memperkuat sayap cahaya miliknya.”Tapi masalah utamanya adalah, benda itu tidak sama seperti roda atau roda gigi sederhana. Untuk membuatnya berhenti, kita perlu menganalisis simbol magis apa yang dipakainya, dan proses apa yang digunakannya untuk mengatur ulang susunan roda gigi.”


"Ada dua cara untuk melakukan itu," saran Lessar sembari menggerakkan jari-jarinya.”Yang pertama adalah, membiarkannya terus menyerang kita seperti ini. Jika kau cukup terampil untuk menghindari semua serangan roda itu, aku dapat melakukan analisis yang perlahan tapi pasti. Tapi sepertinya kau tidak memiliki mobilitas luang untuk melakukan itu, dan rencana untuk menjatuhkan suatu bom nuklir di Academy City masihlah berlangsung. Tidaklah baik jika kita berlama-lama berurusan dengan benda itu.”


"Apa cara yang kedua?"


"Tentu saja menghampirinya secara langsung untuk mendekati roda gigi raksasa itu."


Floris terdiam setelah mendengar itu.


Dia akhirnya membuka mulut untuk berbicara, sambil terus terbang dengan cepat di ketinggian rendah.


"... Apakah kau mengerti apa yang kau katakan?"


"Tentu saja. Hanya pemandu spesialis kalian – yaitu aku – yang dapat melakukan analisis akurat pada suatu benda spiritual. Kau tidak bisa melakukannya, Floris.”


"Jika aku melepaskanmu sekarang, kau akan terbalik. Bahkan jika kau mendarat di atas roda berjalan raksasa itu secara normal, kakimu akan terjebak dan tersedot ke dalamnya. Kau hanya akan dilemparkan terbalik ke dalam celah-celah antara roda.”


"Sumbu rodanya tidaklah berputar. Hanya roda di sekitarnya yang berputar dengan kecepatan tinggi. Jika aku bisa menentukan arahku pada bagian itu, aku tidak akan terjebak di dalamnya.”


"Apakah kau melihat seberapa cepat benda itu bergerak? Apakah kau tidak berpikir bahwa kau akan terlempar oleh inersia* jika menikung dengan tajam?”

[Inersia adalah gaya tolak disebabkan oleh benda yang berotasi.]

"Jika aku bisa menghampirinya cukup dekat, analisisku tidak akan memakan waktu lama. Jika aku bisa menganalisis simbol magis apa yang digunakan pada regulasi interval sebelum tubuhku terlempar, maka kau dan yang lainnya dapat mengalahkan roda ular raksasa itu.”


"Jika kau gagal sedikit saja, kau akan mati !! Dan semua data yang kau gunakan dalam rencanamu itu hanyalah spekulasi! Jika salah satu asumsimu salah, kau hanya akan mendapati jalan buntu!!"


"Floris," Lessar perlahan menyela.”Kita di sini memiliki tujuan, kan?"


"..."


"Tujuan itu adalah, tidak mati di sini. Dan bahkan jika aku mati, kita harus menghindari kehancuran total. Apakah kamu mengerti? Menganalisis simbol-simbol magis diperlukan untuk mengalahkan benda itu, hanya aku yang bisa melakukan analisis dengan akurat, dan aku harus menghampirinya cukup dekat untuk menyentuh roda tersebut, kemudian melakukan perhitunganku. Seperti itulah situasi yang kita hadapi saat ini.”


"Persetan."


"Jika kau sudah paham, kalau begitu lepaskan aku setelah hitungan ketiga. Ok. Tiga, dua, satu ...”


Tidak ada keragu-raguan dalam suara Lessar.


Secara realistis, tidak ada cara lain.


Ketika Floris terus terbang di ketinggian rendah, dia sekali lagi menendang tanah dengan keras. Itu membuatnya terbang hingga sekitar 10 meter ke langit. Dan kemudian dia melepaskan Lessar.



Part 10[edit]


Ponselnya tidak kunjung terhubung.


Mikoto meremas ponselnya dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkannya, tapi dia masih tidak bisa terhubung.


Pada awalnya, dia pikir itu terjadi karena tempat penyimpanan tersebut dikelilingi oleh dinding tebal, namun dia telah meninggalkan ruangan itu. Ke mana pun dia berpindah, ponselnya tidak kunjung terhubung.


Fasilitas komunikasi kota mungkin telah rusak karena kerusuhan, atau jaringan komunikasi mungkin telah sengaja dipotong.


Itu tidak masalah, selama dia bisa menghubungi Shirai Kuroko atau orang lain di Academy City.


Namun, ketika rencana sekunder benar-benar terwujud, tak peduli apakah dia bisa menghubungi mereka atau tidak, mereka hanya akan memiliki 2 pilihan yaitu hidup atau mati.


(Ahh, sialan !! Pertama, aku perlu mencari tahu seberapa parah komunikasi terputus. Kalau begini terus, Solntse masih bisa diledakkan !!)


Saat itulah ponselnya tiba-tiba berdering.


(Kenapa ...? Tidak, mungkin itu masih bekerja di dalam kota.)


Nomor tak dikenal muncul di layar, tapi dia tidak begitu peduli.


Dia menjawab telepon.


"Hai. Jika aku berkata ‘sudah lama ya tidak berjump’, dapat kau mengetahui siapa aku?”


"Oh, sayang. Jadi transfer bank penipuan juga populer di luar Jepang, ya.”


"Ini adalah Lancis si pemalu dan bahagia. Kita pernah telanjang bersama-sama di gang belakang, kemudian bersalin untuk memakai pakaian renang.”


"…Wow. Kau mengingatkanku kembali pada suatu memori yang paling ingin aku lupakan. Dan mengapa kau tahu nomorku?”


"Apakah kau tahu berapa banyak informasi yang dapat diambil dari ponsel pada mode dompet*?”

[Ya, ponsel di Jepang juga berfungsi sebagai dompet. Jadi kau bisa melakukan pembayaran, isi ulang, dsb hanya dengan satu unit ponsel.]

Mikoto hampir saja berteriak,”Katakan saja di mana kau benar-benar mendapatkan nomorku!!", tapi dia berhasil menahan luapan emosinya itu.


"Oke, apa yang kau inginkan? Oh, dan aku perlu bertanya: dapatkah kau menghubungkan aku ke luar kota dengan menggunakan ponselmu? Ada sesuatu yang salah dengan sinyalnya, dan aku tidak bisa mendapatkan koneksi.”


"Aku belum mencoba, jadi aku tidak tahu. Dan aku tidak meneleponmu untuk membahas sinyal telepon.”


"?"


"Yah, itu lho ..."


"Hei, kenapa kau tiba-tiba diam seperti itu?"


"Ini sulit untuk diungkapkan, tapi Lessar ..."



Part 11[edit]


Kakinya terpeleset.


Adalah keajaiban sehingga Lessar berhasil mendarat pada sumbu yang tak berotasi tanpa tergiling roda raksasa.


Dan sekali ia mendarat, sisanya tidak akan membutuhkan waktu lama.


Memang benar bahwa senjata itu cukup kuat, dan tergilas sekali saja kemungkinan akan memberikan dia luka yang tak pernah bisa disembuhkan.


Namun, itu juga berarti diperlukan usaha keras untuk mengendalikannya. Mereka mungkin telah memutuskan untuk membuat simbol-simbol magis yang jelas, tampak, dan begitu mudah dimengerti.


Begitu dia sampai di dekatnya, ia dengan cepat bisa menganalisanya.


Dan setelah itu, tidak akan sulit untuk menghancurkan roda ular raksasa tersebut.


Tiba-tiba, ia merasa getaran dari tumbukan benda tumpul. Dia merasa itu datang dari kakinya, sehingga Lessar pun melihat ke bawah, tapi ia dengan cepat menyadari bahwa dia salah.


Seluruh roda ular raksasa itu berguncang dengan keras.


Sembari roda itu tersusun ulang, seluruh sosok struktur raksasa itu berubah dari wujud "ular" yang lurus, menjadi suatu bentuk segitiga.


Tapi, sama halnya seperti roda gigi sepeda, roda itu tidak tersusun pada garis yang benar-benar lurus. Malahan, roda-roda itu bergeser sedikit ke sisi, pada setiap sambungan.


Konstruksi raksasa itu tampaknya mencoba untuk mengikis dan menghancurkan sedikit "tanah" dari sisinya.


Jika bagian "atas" segitiga di atas kepalanya turun langsung ke bawah, Lessar pasti akan teremas karena dia berdiri di sumbu tengah.


Tenggorokan Lessar mengering kering dengan cepat.


Proses berpikirnya mencapai titik di mana ia tidak bisa memikirkan apa-apa, selain hidup atau mati.


Pada saat itu, ia memiliki dua pilihan.


Pertama, dia bisa melompat sejauh dan secepat mungkin, kemudian berlari sejauh yang dia bisa untuk menghindari gilasan roda yang berayun ke bawah. Namun, roda ular raksasa bisa beralih setiap saat. Dia meragukan, dia bisa melarikan diri dengan berjalan kaki, dan tidak ada jaminan bahwa Floris akan mampu menjemputnya tepat waktu.


Kedua, dia bisa melakukan analisis simbol magis pada roda tersebut, walaupun dia tahu bahwa tubuhnya akan segera tergencet. Namun, bahkan jika ia sanggup menyelesaikan analisis itu, ia masih harus mengumpulkan mantra untuk menghentikan gerakan roda, sehingga peluang suksesnya cukup rendah.


Dan pilihan yang dia ambil adalah ...


"Yeah," katanya sambil tersenyum kecil.


Wajahnya tak menunjukkan rasa takut sedikit pun.


"Bahkan jika aku akan terbunuh di sini, aku harus mengambil salah satu pilihan yang tidak akan meninggalkan perasaan bersalah!!"


Dia berteriak.


Dia melangkah maju.


Dia mengulurkan tangannya.


Dia menempatkan telapak tangannya yang nyaris tergelincir pada sisi roda yang berputar dengan cepat, dan dia membacakan sesuatu bersama napasnya yang terengah-engah.


Lessar menyingkirkan pilihan melompat dari as roda, dan memusatkan seluruh energinya pada penganalisisan simbol magis.


Dia merasa seolah-olah telah memahami sesuatu.


Tapi pada waktu itu, roda ular raksasa yang telah menjadi segitiga, terus turun di atas kepalanya. Dengan kata lain, ruang tempat Lessar berada semakin menyempit. Benda itu bergerak ke bawah dengan perlahan tapi akurat, dan perputaran rodanya lebih mirip seperti gergaji yang digunakan untuk memotong kayu, bukannya senjata tumpul.


Ini memberi kesan yang kuat akan datangnya kematian.


Lessar hampir bisa melakukan perhitungan mundur sampai roda itu menggergaji dirinya.


Meski begitu, dia terus berjuang untuk menemukan cara mengalahkan roda ular raksasa yang turun sampai detik-detik akhir.


Dan ...


Dengan suara ledakan, seluruh permukaan berguncang.


Tubuh besar roda ular raksasa gemetar.


Sosoknya tampak semakin berubah.


Namun, bentuknya yang berubah tidak disebabkan oleh sistem roda itu sendiri.


Kali ini, ada kekuatan eksternal yang membuat rodanya berubah.


Roda itu berubah karena terhantam oleh “kekuatan lain” yang berlawanan dengan sihir.


Dengan kata lain…


Itu adalah sang Railgun SMP Tokiwadai.

RAILGUN SS2 07 027.jpg

Lessar mendengar ledakan setelah sedikit jeda.


Massa roda raksasa sangat memutar ke samping, tetapi masih berhasil memaksa bergerak ke arah Lessar.


Namun kali ini, garis roda yang telah dipelintir oleh Railgun terlempar terlalu jauh sehingga tidak bisa menghantam Lessar. Kekuatan eksternal telah menyebabkan rodanya kehilangan titik awal serangan.


Dan ...


Apakah rodanya terkena atau luput, setelah terserang, roda itu kehilangan momentum sampai bisa menyerang lagi. Untuk mengatur ulang posisi roda-rodanya, dan menyerang Lessar lagi, roda itu harusnya membuat sedikit “celah”.


(Ini akan bekerja. Aku sudah membaca isi dari benda spiritual milik mereka!!)


"Bayloupe, Floris, Lancis, aku membutuhkan bantuan!! Benda ini memang terkait dengan Michael! Benda ini menggunakan properti pembawa keseimbangan dunia melalui kekuatan militer untuk terus memberikan stabilitas, penjagaan, dan pengaturan pada ruang antara roda!!”


Kalau begitu, syarat untuk membuat ledakan adalah sederhana.


Sama seperti semua malaikat lainnya, Michael tidak bisa dihancurkan atau diganggu. "Kestabilan" pada situasi apapun sudah diinput ke dalam dirinya, jadi dia akan mengambil tindakan yang optimal, dan memberikan hasil yang optimal. Tapi Lessar dan yang lain tidak sedang terancam oleh Michael “asli”. Itu tidak lebih dari energi yang didasarkan pada kekuatan Michael.


Apa yang dianggap "stabil" telah ditulis ulang oleh si pengguna sihir yang telah memberikan Telesma.


Itu berarti, mereka bisa dengan mudah menyebabkan roda ular raksasa itu menghancurkan dirinya sendiri. Yang mereka harus lakukan adalah “menulis ulang” definisi “stabil” yang telah ditetapkan oleh si pembuat roda ini sebelumnya.


Roda ular raksasa mencoba untuk mengatur ulang konstruksinya, mengubah bentuk, dan menghancurkan Lessar.


Lessar tidak mengabaikan itu.


Hanya ini kesempatannya.


"Malaikat dan santo pelindung adalah St. Michael memegang rantai dan kunci. Rantai mengikat kelas tertinggi dari malaikat gagal, dan menyegel kunci lubang di mana raja setan dilemparkan, sehingga stabilitas 1000 tahun dapat terjadi.” Dia membacakan mantra.”Tapi sekarang, kunci itu akan ditegaskan kembali!! Dapatkah kunci itu benar-benar menutup lubang? Apakah cukup untuk menutup raja setan? Apakah itu sesuai untuk mewujudkan 1000 tahun stabilitas !? Menghitung ulang output yang diperlukan untuk mencocokkan kondisi tersebut !!”


Fenomena yang terjadi kemudian adalah cukup sederhana.


Kehancuran terjadi.


Roda raksasa jatuh dan benar-benar hancur menjadi puing-puing, lantas menghujani jalan di bawahnya.


Harusnya, segala sesuatu di bawahnya akan tertelan dan hancur. Tidak akan tersisa sesuatu pun di area itu. Tidak akan tersisa bangunan, pohon, atau apapun itu.


Tapi sesaat sebelumnya, Lessar telah menulis ulang kondisinya. Stabilitas di antara roda telah hilang, dan roda tak terhitung jumlahnya, baik besar maupun kecil, telah tersebar. Beberapa bagian runtuh ke samping seperti koin, kemudian terus bergulir sampai akhirnya membentur dinding.


"Oh, oh, oh, oh ..."


Lessar melompat ke tanah dari as roda yang masih tersisa. Tingginya hanya sekitar 5 meter. Orang amatir mungkin akan mematahkan beberapa tulang setelah terjatuh dari tempat setinggi itu, tapi seorang stuntman terlatih bisa melompat ke bawah tanpa bantal sekalipun.


Jalan pada permukaan seharusnya telah dirancang sebagai bagian dari AR semipublic, tapi itu tidak mampu menahan berat roda yang jatuh di atasnya. Percikan-percikan api terbang pada berbagai sisi area, dan rodanya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda bisa berfungsi.


Ketika ia mendarat, Lessar melihat pose Mikoto yang mencolok dan menakutkan. Mikoto menempatkan tangan pada pinggulnya.


Lessar memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi.


"Aku pikir, aku sudah bilang padamu agar tidak pergi sendirian."


"Yeah, anuu..."


Tanggapan setengah hati itu membuat Mikoto mengirimkan beberapa sengatan listrik padanya.



Part 12[edit]


"Tampaknya, mencari para petinggi pusat perbelanjaan adalah pekerjaan sia-sia. Um ... kelompok asing yang mengendalikan roda ular raksasa tersebut tampaknya telah terlibat juga, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka bukanlah satu-satunya pihak yang mengontrol serangan berencana untuk menggunakan Solntse di Academy City. Dengan kata lain ...” kata Lessar.


Dia menyembunyikan fakta bahwa para petinggi pusat perbelanjaan telah berubah menjadi mayat tanpa kepala. Tapi kurang-lebih, dia berhasil memahami situasinya.


"Masih ada pihak lain yang telah mengambil kendali rencana itu?"


"Benar."


Mikoto menepuk jidatnya.


Dia sudah tahu tentang rencana sekunder di ruang penyimpanan, dan situasi ini tidak terlihat baik.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan rencana sekunder? Apakah itu bukan rencana untuk menggagalkan MIG-21 modifikasi yang memuat Solntse?”


"Tidak, tidak. Ternyata…"



Part 13[edit]


Sejumlah suara ledakan terdengar di atas Laut Jepang.


MIG-21 modifikasi berisikan sekam dan suar*, tapi semua ada batasnya. Pesawat tempur mutahir disiapkan oleh Academy City dengan tingkat teknologi dua generasi lebih maju. Dan selisih angka itu terlalu besar.

[Suar (Inggris:Flare) adalah salah satu bentuk piroteknik yang menghasilkan cahaya yang sangat terang atau panas tinggi tanpa menghasilkan ledakan. Suar digunakan untuk memberi tanda, penerangan dan alat pertahanan militer. Secara umum, Suar menghasilkan cahaya yang dihasilkan dari pembakaran logam magnesium, kadang-kadang dicampur dengan logam lain untuk menghasilkan warna yang berbeda-beda. Suar kalsium digunakan di bawah air untuk penerangan. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]

Adalah suatu hal yang mustahil bagi pesawat tempur jadul untuk terus-terusan lari dari kejaran pesawat tempur modern.


Tidak ada cara untuk melarikan diri setelah target terkunci.


Setelah rudal ditembakkan, semua usai.


Bahkan saat mengambil manuver khusus seperti rotasi cepat, dan menggunakan “tipuan” seperti menaburkan sekam dan suar, mereka tidak bisa terus-terusan menghindari bahan peledak yang terus mendekat dengan sudut tajam.


"Klyuch Samolyot pada Nochi Samolyot !! Cukup!! Eject sekarang. Asap datang dari sayap utamamu yang sudah tertembak. Kalau begini terus, kau hanya akan terjebak dalam ledakan !!”


"Nochi Samolyot pada semua pesawat !! Belum! Selama kita semua belum jatuh, kita masih bisa menang!! Aku akan menarik perhatian pesawat musuh ke arahku!! Sementara aku lakukan itu ... !!”


Laut itu terlalu lebar.


Academy City masih terlalu jauh.


Pilot Klyuch Samolyot melihat pengukur di kokpit dengan perasaan tidak enak di perutnya.


Hanya sedikit lagi.


Waktu itu datang.


Tidak peduli seberapa tak teratur ia terbang, atau bahkan jika ia melakukan loop-the-loop, keringat dinginnya tidak akan berhenti. Ia dikepung dari semua sisi. Hidupnya tidak akan berlangsung lama. Itu adalah perasaan yang sederhana. Dia tentu saja kalah dalam hal jumlah, dan juga kalah dalam hal mutu, tapi MIG-21 modifikasinya juga memiliki berat raksasa yang tergantung turun. Tidaklah mungkin untuk ambil bagian dalam pertempuran udara seperti itu.


Tembakan senapan mesin mulai datang dari salah satu pesawat tempur terdepan, yang berposisi tepat di belakang ekor pesawat miliknya, dan garis lesatan peluru mendekatinya. Tak lama kemudian, suara mengerikan dari logam yang robek bergema melalui pesawat tempur.


"Sial !! Aileron* kananku kena!!”

[Aileron adalah permukaan berengsel pada tepi sayap suatu pesawat, digunakan untuk mengendalikan roll pesawat pada sumbu longitudinalnya. Kamus Oxford.]

Dengan hancurnya benda itu, ia tidak bisa lagi memiringkan pesawat. Sederhananya, itu sama saja seperti kemudi yang tidak lagi bekerja. Dan jelas bahwa ia akan ditembak jatuh dalam waktu singkat. Hukuman lain telah ditambahkan pada situasi yang sulit.


Tapi pilot Klyuch Samolyot tersenyum saat melihat apa yang tertera pada salah satu pengukurnya.


Mereka telah menang.


" Klyuch Samolyot pada semua pesawat."


Dengan itu, mereka telah menang.


"Saatnya telah tiba. Tidak perlu berlama-lama dengan ini lagi! Mari kita mengakhiri ini dengan cepat !!”


Setelah berteriak itu, pilot Klyuch Samolyot menyentakkan tuas yang mengaktifkan perangkat ejeksi. Dengan sedikit ledakan, kaca depan bersih yang meliputi kokpit terpisah dari badan pesawat, dan benda itu mental seolah-olah memiliki peluncur. Segera setelah itu, kursi dan pilot di dalamnya keluar.


Prisluga Samolyot dan pilot Nochi Samolyot juga terlontar dari para pesawat tempur jadul mereka, dan parasutnya pun mengembang.


"Apa?" Kata seorang pilot Academy City yang tengah kebingungan. ”Mereka meninggalkan bom hidrogennya begitu saja. Padahal itu adalah harapan terakhir mereka, sekaligus kartu as mereka. Aku ragu mereka bisa berenang kembali ke Rusia setelah mereka jatuh di laut. Mereka hanya akan berakhir dengan dipungut oleh salah satu kapal kami. Seakan-akan, mereka sengaja menyerahkan diri, kemudian ditangkap.”


"... Lihatlah, sialan. Ada suatu kapal selam yang muncul ke permukaan. Sejak awal, mereka sudah berencana untuk memungut pilot-pilot tersebut.”


"Haruskah kita tenggelamkan itu?"


"Kita hanya diperintahkan untuk pertempuran udara. Kita tidak memiliki torpedo.”


Sementara itu, pilot yang jatuh ke laut, telah dipungut.


Salah satu pilot Academy City mendecakkan lidahnya pada kapal selam yang mulai menenggelamkan diri.


"Aku kira, kita harus bersukacita karena mereka menyerahkan bom hidrogennya. Hubungi kapal penyelamat, dan suruh mereka memulai operasi pemulihan bom hidrogen seperti yang telah direncanakan. Sekarang kita tahu bahwa musuh memiliki kapal selam, Kau harus memberitahu mereka untuk memastikan membersihkan laut dari bahan peledak.”


Pilot-pilot Academy City “membersihkan” laut di mana kapal selam itu baru saja tenggelam.


"Jadi pada akhirnya, apa yang mereka cari?"



Part 14[edit]


"Tolong katakan bahwa ini adalah lelucon ..." Lessar mengucapkannya sembari mengintip di PDA yang Mikoto pegang.


Namun, itu adalah fakta.


Ditampilkan rincian rencana sekunder yang mulai berlaku jika rencana utama mengalami kegagalan, yaitu menggunakan timer untuk meledakkan bom hidrogen Solntse yang telah dibawa ke Academy City.


Di sana tertulis:


Kita hanya bisa mempersiapkan Solntse tunggal yang digunakan sebagai ornamen uranium. Itu artinya, rencana ini harus disusun dengan matang, sehingga percobaan pertama dapat dimanfaatkan dengan optimal.


Pada rencana sekunder, tiga MIG-21s modifikasi yang membawa senjata nuklir akan dikirim sebagai pengalih perhatian. Mereka akan mengangkut bom palsu dengan ukuran yang sama seperti Solntse. Mereka bertiga akan menarik perhatian jaringan pertahanan udara, sehingga musuh tidak akan menyadari apa yang sedang kita cari.


Kita akan mengirimkan UAV* kecil. Itu akan terbang di atas Academy City dan bertindak sebagai mobile antena yang dapat digunakan untuk mengirimkan sinyal ledakan pada Solntse sebagai ornamen uranium.

[Pesawat tanpa awak atau Pesawat nirawak (english = Unmanned Aerial Vehicle atau disingkat UAV), adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot atau mampu mengendalikan dirinya sendiri, menggunakan hukum aerodinamika untuk mengangkat dirinya, bisa digunakan kembali dan mampu membawa muatan baik senjata maupun muatan lainnya . Penggunaan terbesar dari pesawat tanpa awak ini adalah dibidang militer. Rudal walaupun mempunyai kesamaan tapi tetap dianggap berbeda dengan pesawat tanpa awak karena rudal tidak bisa digunakan kembali dan rudal adalah senjata itu sendiri. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]

Bahkan jika timer dihentikan atau ditemukan sebelum aktif, Solntse akan meledak segera setelah menerima sinyal ledakan dari UAV.


Semakin dekat UAV dengan Academy City, maka risiko akan semakin kecil, tetapi jika terlalu dekat, itu dapat terdeteksi bahkan sebelum lepas landas. Dengan demikian, UAV akan lepas landas dari suatu kapal penjelajah di Teluk Tokyo.


" MIG-21s modifikasi hanya umpan? Mereka hanya memiliki kemampuan untuk membawa senjata nuklir, tetapi tidak benar-benar berisi bom hidrogen?”gumam Lessar sambil syok.


Wajah Mikoto juga memucat, tapi bagian dari rencana ini begitu masuk akal baginya.


Lessar pernah menduga bahwa Solntses yang dijatuhkan dari MIG-21 modifikasi bisa saja tidak diledakkan oleh pilot. Lessar pernah menyimpulkan bahwa bom itu tidak akan meledak sebelum menerika kode konfirmasi dari para petinggi, sebagai tindak pencegahan jikalau pilot mereka berkhianat.


Tapi itu tidak akan bekerja.


Untuk mencegah kebocoran informasi tentang teknologi mereka, Academy City memiliki “jamming sinyal” kuat yang terdapat pada dinding luar kota. Bahkan jika mereka mentransmisikan sinyal itu dari pusat perbelanjaan Rusia, tidak ada jaminan bahwa sinyalnya akan sampai pada Solntse yang berada di dalam Academy City.


Untuk itulah UAV diluncurkan.


“Lingkungan” yang memungkinkan transmisi jarak jauh telah diciptakan, sehingga orang yang berada di balik rencana ini bisa mengirimkan sinyal ledakan pada UAV, atau bahkan membatalkannya jika diperlukan.


Setelah UAV kecil dengan sinyal ledakan di dalamnya sampai ke Academy City, benda itu bisa mengirimkan sinyal tanpa dipengaruhi oleh jamming tersebut.


Itu akan meledakkan Solntse yang Anti-Skill bahkan telah mengamankannya sebelum timer diaktifkan, dan saat ini sedang dipersiapkan untuk dibongkar.


"Itu berarti…"


"Bahayanya tidak akan berakhir bahkan jika pesawat tempur tua itu ditembak jatuh," kata Mikoto seolah-olah melanjutkan ucapan Lessar.”Jika UAV yang mengirimkan sinyal ledakan berhasil sampai ke Academy City, kota itu akan benar-benar meledak!!”


Dia tidak akan tepat waktu jika dia mencoba untuk kembali ke Academy City.


Hal yang Mikoto dan Lessar bisa lakukan hanyalah menemukan siapa yang telah mengambil alih rencana, dan menghentikan semuanya “dari atas”.


Tapi di manakah “otak terakhir” itu berada?


Wajah para petinggi pusat perbelanjaan Rusia sudah terungkap melalui foto-foto pada kartu ID tersebut. Dan grup penyihir yang tampaknya telah mengendalikan mereka dari balik layar juga sudah tidak melanjutkan rencana nuklir tersebut. Lantas siapakah orang terakhir yang mengendalikan rencana itu? Apakah benar-benar ada “banyak lapisan” kelompok rahasia yang bekerja di balik bayang-bayang kelompok sebelumnya?


"Ini tidak akan berubah menjadi situasi di mana sebenarnya tidak ada orang lain di balik semua ini, kan?” kata Lessar dengan tenang.


"Maksudmu rencana menggunakan bom nuklir akan terus berlangsung meskipun tidak ada orang yang mengendalikannya?"


"Tidak, bukan itu." sepertinya, Lessar sedang mengalami kesulitan untuk mengatakan apa yang dia maksudkan.”Aku tidak tahu begitu banyak tentang ilmu pengetahuan, sehingga pelajar elit Academy City sepertimu mungkin bisa menertawakan aku, tapi ...”


"Apa?"


"Kota ini tampaknya memiliki cara untuk ‘memindahkan’ seluruh organisasi tanpa keberadaan ‘bos yang nyata’ ...”


Suatu perasaan yang sangat buruk menghinggapi Mikoto.


Itu juga datang ke pikirannya.


Ketika ia memikirkannya, ini semua sangat terkait pada insiden pertama. Yaitu tersebarnya legenda urban. Itu telah menyebabkan kerusuhan. Penggunaan kamera secara bebas dan AR semipublic, itu dapat membaca reaksi seseorang. Maka secara otomatis, sumber beritanya bisa tersebar, dan memanipulasi psikologi kelompok layaknya mobil mainan.


"Yang berada di balik ini ... adalah Kode EIC itu sendiri ...?" Mikoto bergumam dengan hampa.


Normalnya, jawabannya adalah tidak. Suatu “mesin” yang memiliki kemampuan untuk memberontak adalah cerita yang terlalu konyol. Siapapun yang secara teratur menggunakan komputer tahu bahwa komputer nyata dan program tidak berperilaku seperti itu.


Tapi ...


Kode EIC adalah sistem yang dibuat untuk mengganggu pikiran manusia dengan menggunakan rumor, untuk mengubah nilai-nilai produk terpilih.


Pada dunia tanpa “kemanusiaan”, Kode EIC adalah tujuan, dan sistem itu bisa menampilkan kemampuan terbesarnya di dunia yang dipenuhi oleh manusia. Dalam hal ini, ada kemungkinan bahwa sistem tanpa memiliki "kehendak" tersebut bisa menentang manusia, seperti kebencian terhadap kemanusiaan atau ingin mengisi dunia dengan tatanan baru. Hanya dengan mematuhi perintah-perintah sederhana, sistem itu sanggup memperluas fungsinya, atau memperbanyak pilihan yang akan diambil olehnya.


Apakah Mikoto, Lessar, toko okultisme, para pekerja di pusat perbelanjaan, para petinggi, dan kelompok penyihir itu.... semuanya telah dimanipulasi oleh Kode EIC?


Apakah serangan terhadap Academy City merupakan perintah yang diperlukan untuk memperluas fungsi sebagai mesin?


Setelah memikirkan semua itu, Mikoto menggeleng.


"…Ya benar."


"?"


"Para petinggi pusat perbelanjaan tidak suka perbedaan antara teknologi Academy City dan teknologi yang diungkapkan kepada lembaga koperasi. Mereka memutuskan bahwa mereka akan membuat suatu model bisnis bahkan jika itu berarti kehancuran pada bidang pengembangan kekuatan psikis. Dan mereka mencoba untuk mengurangi kesenjangan teknologi sejauh 20 atau 30 tahun dengan Academy City dengan menyiapkan Solntse. Mereka berencana untuk menyebabkan kerusakan besar pada Academy City, dan membawa data yang dapat membuat pihak mereka menjadi ‘pemimpin baru dunia’.” sembari Mikoto berbicara, dia mengurutkan semua pokok pikiran yang berbeda dalam kepalanya sendiri.”Tapi pusat perbelanjaan Rusia bukan satu-satunya tempat yang akan mendapat manfaat dari itu!! Jika data ilmiah yang dimiliki oleh lembaga koperasi akan tumbuh jauh lebih berharga setelah penghancuran Academy City, maka banyak lembaga koperasi lain yang akan mendapat manfaat dari itu. Memang ada beberapa orang yang akan mendapat manfaat dari ini. Menuduh ‘seseorang’ sebagai tersangka adalah cara berpikir yang jauh lebih realistis daripada mengatakan bahwa ada sistem komputer yang mulai mengendalikan orang untuk memperluas fungsinya sendiri !!”


"Lalu ..."


"Ya. Ada orang yang sebenarnya berada di balik ini semua. Orang ini mungkin bersembunyi di balik Kode EIC dan mencoba untuk ‘menuduhkan’ semua dosa pada sistem komputer. Tapi kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika orang ini mengendalikan rencana, kita harus menghentikan mereka !!”


Rencana sekunder dilanjutkan dengan tujuan utama adalah mengaktifkan kembali bom hidrogen Solntse yang telah dibawa ke Academy City.


Seseorang yang masih misterius berada di balik ini semua.


Suatu UAV yang bertindak sebagai antena untuk mengirimkan sinyal peledakan sedang menuju ke Academy City dari Teluk Tokyo.


Mereka harus menghentikan semua ini.


Ini adalah pertempuran terakhir.



Chapter 8[edit]

Part 1[edit]


Pesawat itu panjangnya 80 cm dan lebarnya 50 cm termasuk ujung utama sayap. Benda kecil itu membawa kehancuran ke Academy City. Bentuk dasarnya sama seperti sejenis mainan yang menggunakan baterai serta motor, dan memperoleh propulsi* dari baling-baling. Biasanya, benda itu dikendalikan dari jarak jauh, tetapi jika sinyal melemah, itu bisa terus terbang secara otomatis sesuai dengan program.

[Propulsi adalah tenaga pendorong.]

Itu adalah UAV kecil.


Terdapat sinyal peledakan untuk bom hidrogen Solntse pada pesawat itu, dan akan tanpa ampun meledakkan bom yang telah Anti-Skill amankan, setelah memasuki wilayah udara Academy City.


Seseorang telah mengirimnya.


Seakan-akan, sesosok malaikat maut telah melipat surat cinta pada pesawat kertas, lantas melemparkannya menuju Academy City.

Mikoto mengeluarkan ponselnya.


Sebelumnya, ia tidak mampu menghubungi Academy City. Itu mungkin karena situasi belum membaik, tapi dia menolak untuk menyerah.


Lessar (dengan enggan) memberikan pertolongan pertama pada Caliche dan yang lainnya. Mikoto melesat melalui lorong karyawan sempit, untuk menuju ke lantai di mana dia pikir dia akan mendapatkan sinyal yang lebih baik.


Dia membuka buku alamatnya, menyorot nomor Shirai Kuroko, dan menekan tombol panggilan.


Dia harus mengirimkan pesan ini sesegera mungkin.


Jika mereka puas hanya setelah berhasil mencegat para pesawat tempur jadul di atas Laut Jepang, maka mereka tidak akan mampu menghentikan UAV yang perlahan mendekat.


Jika itu terjadi, semuanya berakhir.


Academy City akan menghilang dalam kilatan cahaya.


(Jawab, jawab, jawab. Jawablah dengan segera!!)


Dering terus terdengar.


Kebingungan pasti tengah berlanjut di “ujung” telepon. Mikoto meragukan mereka akan benar-benar mengumumkan bahwa ada suatu bom hidrogen yang sedang mendekat, tapi hiruk-pikuk sambungan darurat mungkin bisa membebani jaringan komunikasi. Dia harus mengirimkan informasi tersebut sebelum itu terjadi.


Dia tahu bahwa dia harus melakukannya, tapi ...


Ia harus memberitakannya tidak peduli apapun itu, tapi ...


Tidak peduli berapa kali ia mencoba, teleponnya tidak akan terhubung pada siapa pun di luar pusat perbelanjaan.


"Sialan !!" umpat Mikoto.


Dia menekan tombol panggil, tapi tidak kunjung terhubung. Dia bahkan tidak beralih ke pusat layanan.


Perasaan buruk menginggapi dadanya, dan dia menyerah untuk mencoba menelepon. Sebaliknya, dia mulai mengetik email dengan ibu jarinya. Tepat setelah ia menekan tombol send, dia mendapat email baru sebagai respon. Itu terlalu cepat. Dia memeriksa kotak masuk dan menemukan pesan baru dengan subjek yang secara “dingin” mengatakan bahwa emailnya telah gagal terkirim.


(Tapi aku berhasil terhubung dengan gadis Lancis itu sebelumnya!! Apakah aku hanya bisa menghubungi orang di dalam kota ini!?)


Kekuatan Mikoto dapat digunakan melalui jaringan. Namun, ia gagal bahkan ketika dia mencoba dengan paksa membuka saluran komunikasi. Yang terjadi adalah, salurannya dipotong dengan suatu metode khusus atau konektornya terhapus secara fisik.


Kemudian, Lessar yang datang dari koridor karyawan membuka pintu, dan menuju ke arahnya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Tidak baik."


Mikoto menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Seperti biasa, Lessar memasang ekspresi sedikit murung.


"Kita sama sekali tidak tahu apakah detonator Solntse telah dibongkar ataukah belum. Academy City tidak tahu UAV ini sedang menuju ke sana. ... Dengan keadaan seperti ini, bisakah mereka benar-benar menghindari bahaya ini?”


"Tampaknya sulit. Aku yakin mereka akan tetap waspada untuk saat ini, tetapi mereka hanya akan fokus pada kelompok-kelompok ‘terlihat’ yang masih berada di dalam Academy City. Mereka tidak akan menduga bahwa masih ada peluang meledaknya Solntse, karena mereka sudah menganggap bom hidrogen itu telah sepenuhnya dijinakkan.”


"Jadi apa yang akan kita lakukan?"


Mikoto dengan ringan mengguncang telepon selulernya dalam menanggapi pertanyaan Lessar.


"Kita menemukan orang yang menghalangiku menggunakan ini. Siapa pun itu, dia pastinya masih tetap bersembunyi di dalam pusat perbelanjaan. Pertama, kita perlu menemukannya dari metode dan rute yang digunakannya untuk memblokir sinyal. ... Dan jika mereka adalah orang-orang yang berada di balik semua ini, mereka mungkin memiliki lokasi rinci di manakah UAV berada. Jika aku bisa mengirimkan informasi tersebut pada Kuroko, peluang kita mencegah resiko terburuk akan meningkat.”


"Caliche I Niknosh tampaknya tidak memiliki sekutu yang lain," kata Lessar sambil berpikir. "Haruskah kita memukulnya lagi untuk melihat apakah dia mau berbicara lebih banyak?"


"Setelah kehilangan darah sebanyak itu, bisa-bisa dia mati jika kau terus menyiksanya. Dan jika kelihatannya kita tidak mendapatkan informasi apapun, itu hanya membuang-buang waktu.”


(Yahh, bahkan aku sendiri ragu bahwa Caliche paham metode pemblokiran sinyal ponsel.)


"?"


Mikoto tampak bingung, tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.


Dia fokus, dan mengkosentrasikan kekuatannya pada ponsel.


"Pertama-tama, kau akan mengecek ke mana?"


"Jaringan transmisi pusat perbelanjaan untuk Academy City. Aku mengecek kembali jalur data dari ponsel ke arah ‘tujuan’. Harusnya ada sedikit ‘celah’ yang pihak ketiga yang gunakan untuk memotong dan mengganggu sinyalnya.” kali ini Mikoto menggunakan kemampuannya untuk melacak jaringan komunikasi via ponsel. Pada dasarnya, ini tak berbeda ketika dia meretas sistem komputer via internet.


Saat ia menjawab, Mikoto memanipulasi kerja internal ponsel secara langsung dengan menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan listrik, tapi dia sangat gelisah.


Mereka berada di bagian klimaks. Apapun yang dia lakukan, dia tidak punya waktu. Jika beberapa “raksasa” baru dan organisasi rahasia berbahaya lainnya muncul, kemungkinan besar dia tidak akan mampu berurusan dengan mereka. Dia harus berdoa bahwa musuhnya kali ini adalah pihak yang bisa dia kalahkan dengan cepat sebelum UAV tiba di Academy City dari Teluk Tokyo.


Saat ia memikirkan itu, Mikoto tiba-tiba mengerutkan kening.


"Apa itu?"


"Aku memeriksa bagaimana cara data dari ponselku menuju ke Academy City, tapi tampaknya semua data ponsel di pusat perbelanjaan ini dikumpulkan terlebih dahulu pada satu tempat, sebelum akhirnya dikirim ke luar.”


Itu adalah suatu metode yang tidak biasa.


Pada area yang berurusan dengan informasi di tingkat tertentu, saluran telepon tidak hanya “disebarkan” di sekitar layaknya jaring laba-laba. Semua data akan dikumpulkan bersama-sama dalam suatu server raksasa, dan diperiksa secara faktual, sebelum dikirim keluar. Pada dasarnya, terdapat suatu stasiun pemeriksa.


Benar-benar ada suatu server “terisolasi” seperti yang biasa terdapat pada informasi kartu kredit di kasino, tapi “pipa output utama” tampaknya dipotong karena situasi darurat.


Itu sedikit berbeda dari apa yang ia duga sebelumnya, tapi sekarang masalahnya adalah, di mana “stasiun pemeriksa” telepon dan email itu berada.


Mikoto masih saja terlihat bingung, dan berbicara kepada Lessar.


"Ini adalah komputer utama di Stock Market Center. Dengan kata lain…"


"Pusat Kode EIC?"


Komputer itu telah diatur dengan dalih mengumpulkan data dari seluruh saham dunia, dan mengolah semua data itu dengan kecepatan tinggi. Secara rahasia, Kode EIC mengirimkan informasi kepada berbagai jenis media, baik media massa maupun media lokal, untuk secara bebas memanipulasi orang-orang dalam pusat perbelanjaan. Apapun itu, tidaklah terlalu aneh bahwa komputer tersebut bertindak sebagai titik relay untuk data ponsel.


Namun, timing-nya aneh.


Kode EIC telah dibekukan, dan tak seorang pun mengendalikannya saat ini. Namun masih saja, komputer itu memblokir transmisi yang akan menginformasikan bahwa Academy City berada dalam bahaya.


Mikoto berpikir sebentar tentang apa maksud ini semua, tapi pikirannya terputus oleh Lessar.


Secara teknis, itu adalah suara yang datang dari pakaian Lessar.


Dia merogohkan tangannya melalui kerah kemeja seragam seperti lacrosse miliknya.


"Oh, sepertinya tanganku juga penuh dengan transmisi."


"... Bukankah sedikit keterlaluan menyelipkan sesuatu ‘di sana’ dengan pakaian seperti itu?"


"Heh heh heh. Sepertinya begitu, tapi ‘punyaku’ cukup besar untuk menjepit benda di ‘antaranya’."


"Berisik," bentak Mikoto.


Pada saat yang sama, Lessar menarik keluar suatu perangkat tanpa kabel.


Tapi ...


"Um ... Kenapa kau memegang potongan kardus yang tampak seperti ponsel?"


"Kau tak perlu tahu."


Lessar tidak berusaha untuk menjelaskan mengapa dia terlihat layaknya sang juara.


"Halo halo. Apakah ini Bayloupe?”


"Ya. Saat ini aku berada di atap grand hotel.”


Mikoto tampak terkejut. Itu jelas-jelas selembar karton, namun benda itu bergetar dan menghasilkan suara manusia.


(??? Apakah itu sejenis ponsel yang dibuat dari material baru ...?)


Dia pikir itu adalah benda lokal, tapi dia juga berpikir bahwa itu tidak cocok untuk digunakan pada kehidupan sehari-hari. Tampaknya sudut karton itu akan mengelupas jika kau menggenggamnya terlalu erat.


"Bagaimana keadaan di hotel?"


"Mengenai kerusuhan? Semuanya tampak relatif tenang di sini. Sepertinya, fasilitas belanja adalah tempat yang terburuk, tapi semua orang menatap tak percaya ketika melihat roda ular raksasa itu mengamuk,” gadis yang tampaknya bernama Bayloupe kemudian mengubah topik pembicaraan.”Bisakah Kau melihatnya dari sana?"


"Melihat apa?"


"Salah satu bagian dari bandara di pinggir kota terbuka. Rasanya mustahil ada lubang untuk menjebak seekor gajah di sini, oleh karena itu, pasti itu adalah fasilitas peluncuran roket atau rudal.”


Mikoto dan Lessar bertukar pandang.


"Suatu rudal ...? Ini tidak berhubungan dengan Solntse, bukan?”


"Jika mereka benar-benar menggunakan beberapa bom hidrogen, mereka harusnya menempatkannya di pesawat tempur jadul, bukankah begitu? Mereka menggunakan berbagai cara untuk meledakkan kembali bom hidrogen yang sudah diamankan oleh Academy City dengan mengandalkan metode detonator jarak jauh, jadi seharusnya mereka tak punya bom yang kedua ataupun ketiga. Logikanya, jika mereka punya bom lainnya, mereka tak akan repot-repot menggunakan detonator itu.”


"Yang berarti…"


"Suatu roket?"


Mikoto berpikir sebentar.


Apa alasan meluncurkan roket yang belum diubah menjadi senjata ...?


"Kami masih belum menemukan siapa pun yang berada di balik rencana ini."


"Kalau begitu, apakah menurutmu mereka sedang terpojok, lantas mencoba melarikan diri dengan menggunakan roket tersebut?” Lessar berkata dengan tatapan bingung.”Tapi apa yang akan mereka lakukan bahkan jika mereka berhasil sampai ke luar angkasa? Bahkan jika mereka berhasil melarikan diri dari jangkauan kita, suatu pesawat ruang angkasa yang tidak mendapatkan pasokan dari stasiun ruang angkasa, hanya bisa bertahan beberapa hari di sana. Terlebih lagi, tempat pendaratannya pun dapat diprediksi dari permukaan bumi. Bahkan, suatu rudal balistik dengan hulu ledak normal bisa menembak jatuh mereka. Metode melarikan diri seperti itu hanya akan menyudutkan mereka.”


"Sepertinya, mereka tak berencana kembali lagi ke bumi," kata gadis yang sepertinya bernama Bayloupe itu. ”Jika mereka ‘tidak perlu persediaan dan perbekalan’, maka itu tidak akan menjadi masalah.”


"Aku paham," Mikoto menyela. Dia dengan sopan menyela perbincangan mereka berdua dengan Bahasa Inggris British.”Jadi seseorang bertindak secara rahasia untuk membuat kita berpikir bahwa Kode EIC adalah pihak yang bertanggung jawab di balik semua ini."


"Mereka takut dituduh bersalah, jadi mereka merancang semua ini agar terlihat seolah-olah ‘otak’nya adalah suatu program komputer. Tetapi ada resiko bahwa ‘jejak’ mereka bisa terdeteksi jika komputer utama diselidiki secara menyeluruh. Mereka mengirimkan komputernya keluar tata surya, sehingga tak seorang pun dapat menyelidikinya.”


"Tapi bukankah data rencananya sudah tersimpan dalam pusat penyimpanan offline ...?"


"Aku yakin mereka sudah memikirkan hal itu. Mereka bisa menambahkan beberapa bagian yang tidak wajar pada catatan tersebut. Sehingga, seolah-olah itu terlihat seperti catatan palsu Kode EIC yang dibuat untuk memanipulasi orang.”


"Yang berarti," kata Mikoto dengan percaya diri, ”Mereka saat ini sedang membuat persiapan di ruang kontrol landasan peluncuran itu. Jika kita menangkap mereka, dan mendapatkan seluruh cerita darinya, maka kita dapat mengakhiri insiden ini.”



Part 2[edit]


Suatu mesin yang tampak seperti pesawat model, terbang melintasi ibukota Jepang.


Itu tidak cukup tinggi untuk dikatakan: melayang di langit.


Benda itu melintasi angin pada ketinggian yang sama dengan lampu lalu lintas. Benda itu hampir saja bersinggungan dengan kabel listrik ataupun jalan layang.


Itu tidak luput dari perhatian.


Orang-orang yang memiliki waktu luang untuk bengong, mendongak. Mereka kebingungan saat melihat mesin terbang yang terdorong oleh propulsi baling-baling itu.


Benda itu tidak “membaur” dengan pemandangan sekitar yang terdiri dari gedung-gedung tinggi menjulang. Itu terlihat begitu mencolok. Sebagian besar orang tidak percaya bahwa benda sekecil itu bisa terbang dengan lancar, namun mereka masih berpikir bahwa ada suatu “hukum ilmiah” yang mengendalikan benda itu.


Tapi ...


Pada saat yang sama, tidak ada yang mengira bahwa itu adalah suatu senjata militer. Benda itu hanya tampak seperti mainan.


Pada kenyataannya, mesin presisi dilengkapi kamera yang dapat mengirimkan informasi secara faktual, diklasifikasikan sebagai persenjataan militer.


Sebagian besar benda yang disebut “satelit militer” hanya digunakan untuk pengintaian. Benda-benda itu tidak memiliki sesuatu seperti persenjataan laser yang terpasang padanya. Bahkan, hal seperti itu sudah diketahui oleh masyarakat suatu negeri yang sudah “ditumpulkan” oleh perdamaian.


Informasi dapat digunakan sebagai senjata.


Bahkan, informasi bisa lebih berguna daripada meluncurkan peluru atau bom secara langsung.


Dan pesawat kecil itu memuat serangkaian angka di dalamnya. Itu bukanlah angka-angka memusingkan yang biasa tampak di akun bank, itu adalah sejumlah data yang bisa meledakkan pusat kota dengan mengaktifkan kembali bom hidrogen.


Banyak orang melihat UAV karena benda itu menuju lurus ke Academy City.


Itu diperkirakan akan tiba di tempat tujuan dalam tiga puluh menit.


Begitu menembus dinding luar kota, seluruh kota akan “dihapus” dari peta.



Part 3[edit]


Enirya G. Algonskaya menuju helikopter besar yang diparkir di heliport. Helikopter itu memiliki banyak antena, sehingga dia bisa berkomunikasi dalam berbagai cara. Bahkan itu memiliki sarana untuk mengakses satelit komunikasi pada ponsel.


"Aku benar," gumamnya ke koleganya.”Tanda tangan elektronik yang digunakan untuk menyatakan darurat militer tidak berasal dari para petinggi. Itu dibuat oleh pihak ketiga. Apakah kamu tahu apa artinya ini?”


"..."


Rekannya tidak menanggapi. Tidak berarti bahwa dia tidak tahu; ia hanya tidak ingin mengakuinya. Itulah sebabnya Enirya melanjutkan omongannya tanpa menunggu respon.


"Beberapa orang tak dikenal, atau pihak yang saat ini memegang kekuasaan, kini telah menggantikan “posisi” para petinggi. Karena para petinggi tidak menunjukkan tanda-tanda mencoba untuk menghentikan ini, kemungkinan besar mereka benar-benar telah pergi. Pihak ketiga ini mungkin secara langsung memaksa mereka untuk meninggalkan kota, atau mereka mungkin telah meninggalkan kota karena beberapa alasan lain.”


"Data tersebut berasal dari fasilitas peluncuran roket."


"Pihak ketiga ini mungkin telah memerintahkan kita untuk menghentikan kerusuhan dengan darurat militer, sehingga perusuh tidak akan mengganggu rencana apa pun yang sedang dilakukan di sana.” Enirya melihat rekannya sembari berjalan bersama. ”Bisakah kau menghubungi fasilitas peluncuran?"


"Para Staf mengunci fasilitas tersebut ketika kerusuhan pecah, dan dievakuasi ke area bawah tanah yang lebih aman.”


"Yah, aku kira itu adalah keputusan terbaik. Fasilitas peluncuran terisi dengan bahan bakar dan oksidan, sehingga jikalau kerusuhan terjadi di sana, semuanya akan berubah menjadi lautan api.”


"Tapi itu juga berarti bahwa area tersebut pasti telah benar-benar ditinggalkan."


"Ya, tapi kita tahu seseorang sedang berada di sana," jawab Enirya.”Apakah pencarian akun memunculkan sesuatu?”


"Jika hasil ini benar, maka kemungkinan besar orang ini adalah....."


Menurut informasi yang ditampilkan pada windows di kaki mereka ...



Part 4[edit]


Mikoto dan Lessar memasuki satu bagian dari bandara internasional di pinggiran kota raksasa yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan.


Itu adalah fasilitas peluncuran roket.


Di kota itu, fasilitas pengembangan ruang angkasa mungkin tidak lebih dari bisnis lain yang akan digunakan untuk “mencetak” uang. Namun, Mikoto tidak yakin apakah layanan itu adalah untuk meluncurkan penumpang dan benda ke ruang angkasa, atau untuk mengumpulkan informasi dari satelit yang telah diluncurkan ke ruang angkasa.


"Kau tahu ..." Mikoto melihat sekeliling area datar sembari ia berlari.”Tempat ini mengingatkanku pada District 23 Academy City. Mengapa semuanya harus begitu besar ketika berhubungan dengan penerbangan dan ruang angkasa!?”


"Tampaknya ada lebih dari satu modul* peluncuran." Lessar tampaknya mulai lelah, saat ia berlari bersama Mikoto.”Jumlah totalnya adalah 25. Semuanya ditata pada pola 5 x 5.”

[Modul di sini artinya adalah bagian yang bisa terlepas pada suatu pesawat luar angkasa, dan bisa dimuati sesuatu. Kamus Oxford.]

"Apakah kau tahu di mana roket berisi inti Kode EIC?"


"Menurut apa yang Bayloupe dapat lihat dari atas hotel, itu adalah modul pada baris keempat dan kolom keempat.”


"Dan di mana kita berada?"


"Baris kesatu kolom kesatu."


"Kami hampir berada pada titik yang sebaliknya!! Apakah kalian tidak memiliki kepekaan terhadap arah!!??”


Sembari mereka berbicara, dua gadis itu berlari melintasi area peluncuran roket.


Modul peluncuran adalah lubang melingkar besar yang menganga di tanah. Diameternya sekitar 30 meter dan dalamnya sekitar 30 meter. Pada tepi lubang tidak ada pagar, sehingga mereka tidak ingin mendekat ke sana. Namun, tampaknya roket berdiri di tengah lingkaran. Roketnya dikelilingi oleh alat seperti derek yang terpasang kabel dan tabung untuk pengiriman data dan bahan bakar. Modul yang Mikoto dan Lessar kelilingi memiliki itu semua, minus roket itu sendiri.


Modul raksasa tersebut didirikan pada area dengan tata letak 5 x 5.


Tiba-tiba, Lessar menyadari sesuatu saat ia berlari, dan dia pun merogoh sakunya.


Tampaknya dia telah menerima panggilan melalui benda mirip ponsel yang terbuat dari kardus.


"Halo, ini adalah Floris. Aku sudah menyelinap ke tengah Stock Market Center, dan aku menemukan sesuatu yang menarik."


"?"


"Suatu bagian dari komputer Kode EIC raksasa telah dilepas layaknya sepotong puzzle. Bagian yang hilang adalah ... Aku kira seukuran kulkas kecil.”


"Aku kira, bagian itu dibawa ke roket."


"Yeah, dan aku ragu bahwa kotak persegi panjang itu memiliki kaki dan bisa berjalan dengan sendirinya. Meskipun begitu, aku yakin beberapa orang akan bersikeras bahwa itu dilakukan oleh pihak yang dimanipulasi oleh Kode EIC.”


"Kau bilang namamu adalah Floris, kan?" Mikoto menyela dalam bahasa Inggris.”Karena kau sedang berada di Stock Market Center, bisakah kau mencoba untuk membuat saluran telepon kembali terhubung? Tampaknya semua sistem telepon yang menuju ke luar kota, melalui sana, jadi kemungkinan besar itu adalah tempat di mana segala hal diatur.”


"Aku tidak terlalu paham tentang hal semacam itu."


"Lakukan saja apa yang kau bisa. Yang aku inginkan hanyalah melihat apakah kau bisa membuatnya kembali online dan terhubung dengan dunia luar. Bahkan jika kita berhasil mengumpulkan sejumlah informasi di sini, itu sama sekali tidak berguna untuk mencegat UAV jika aku tidak bisa mengirimkan informasi tersebut ke Academy City. Jadi, lakukan saja apa yang kau bisa.”


"Dimengerti," katanya dan mengakhiri transmisi.


Dan di detik berikutnya, transmisi lain tiba.


Kali ini, dari seorang pekerja yang berbeda di toko okultisme.


"Hee hee."


Tapi Mikoto tidak tahu sedang berbicara dengan siapa jika yang didengarnya hanyalah tawa.


"Hee hee hee. Nyu ha ha. I-itu g-geli ... Nyahh.”


"Halo, siapakah yang bermain-main di tengah situasi darurat seperti ini?"


"Lancis. I-Inyi adalah Lancish. Nyuhu. Uuh, aku tidak tahan. Kekuatan sihir benar-benar ... menggelitik ...”


Lancis terus bergumam hal yang tidak masuk akal, tapi ia perlahan-lahan memaksa dirinya untuk tenang.


"Heh ... heh. Aku menerima beberapa informasi baru dari asosiasi sihir itu.”


"Aku heran mereka mengatakan sesuatu padamu."


"Bukan dari orang-orang itu ... nyuhu ... aku mengumpulkan informasi yang tertinggal pada roda ular raksasa.”


"Tapi asosiasi sihir itu bukanlah yang berada di balik semua ini."


"Tampaknya mereka ... hee hee ... mengumpulkan informasi dari seluruh pusat perbelanjaan untuk melihat apakah ada orang yang akan menghalang-halangi rencana mereka.”


"Dan kau menemukan beberapa informasi tentang siapakah yang mungkin berada di balik insiden ini?"


"Tampaknya lembaga koperasi Perancis sangat terlibat dalam semua insiden ini. Nyuha. Seorang pria bernama Peter Wellgo diundang ke sini untuk melihat demonstrasi #3, tetapi tampaknya dia memiliki koneksi ke para petinggi pusat perbelanjaan lebih dari itu."


"Peter Wellgo ...?"


Mikoto mengerutkan kening dan mengaktifkan AR semipublic di tanah. Suatu windows terbuka layaknya bayangan di kakinya. Dia menggunakan beberapa trik untuk mengakses data yang dimaksudkan untuk Misaka Mikoto, sembari menggunakan akun yang berbeda. Dia pun mengakses data demonstrasi.


Dia menemukan nama yang sama di sana.


Dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang telah diundang untuk melihat demonstrasi sebagai perwakilan dari lembaga koperasi.


"Lembaga koperasi?" kata Lessar sembari melirik Mikoto saat mereka berlari.


Mikoto mengangguk.


"Dengan anggapan bahwa informasi yang kudapat tidak dimaksudkan untuk menyesatkan kita, tampaknya dia adalah orang di balik semua ini. Bahkan jika rencananya terungkap ke publik, dan Academy City serta pusat perbelanjaan hancur secara bersamaan, lembaga koperasi Perancis bisa memperoleh manfaat dengan membangun model bisnis menggunakan informasi ilmiah yang mereka miliki.”


Ini dimulai dengan jeruk berisi semut tentara berkaki merah panjang, dilanjutkan dengan laporan Kode EIC, ada juga serangan oleh mesin pembajak salju dikendalikan remote kontrol, ornamen uranium, dan pembentukan model bisnis. Banyak orang telah terlibat dalam rencana besar ini. Belum ada suatu "insiden" atau "kriminal", namun akhirnya rencana ini lepas kendali dan tidak sanggup dikontrol oleh para petinggi pusat perbelanjaan yang menciptakannya sejak awal.


Banyak hal yang telah terjadi.


Tapi mereka akhirnya tiba ke orang terakhir yang memanipulasi semuanya dari bayang-bayang.


Peter Wellgo.


Jelas ia mencoba untuk memuat inti Kode EIC pada roket dan meluncurkannya ke ruang angkasa.


Dia mungkin tahu kode ledakan nuklir, dan jalur penerbangan UAV.


Dengan kata lain…


"Jika kita dapat menangkap si Peter Wellgo, dan mendapatkan rincian rencana yang melibatkan Academy City, para Anti-Skill hampir dipastikan dapat menembak jatuh UAV, dan mencegah meledaknya Solntse.”


"Wellgo datang ke pusat perbelanjaan dengan ... nee hee ... beberapa pengawal, tapi kemungkinan hanya dia lah satu-satunya orang yang terlibat dalam rencana ini. Dia pasti ingin sebisa mungkin merahasiakan koneksi dengan pusat perbelanjaan, sehingga tuduhan yang jatuh pada lembaga koperasi Perancis akan benar-benar lenyap.”


Tiba-tiba, suatu pilar api meletus naik dari modul peluncuran ke arah mereka secara langsung.


Ledakan besar itu memenuhi lubang berdiameter 30 meter secara keseluruhan. Pilar api berwarna merah pijar itu mencapai atas kepala Mikoto dan Lessar. Setelah mencapai 50 meter di atas tanah, api itu akhirnya berhenti meluncur, dan mulai menyebar ke segala arah.


"A- !? Apa itu!?"


"Bahan bakar cair di wilayah peluncuran pasti telah meledak! Tapi, aku tidak tahu apakah itu oksigen atau hidrogen cair!!”


Gelombang kejut dari ledakan itu membuat Lessar menjatuhkan ponsel kardusnya, namun dia tidak berusaha memungut kembali alatnya itu.


Api di atas kepala Mikoto dan Lessar menciptakan semacam "langit-langit".


"Tapi modul yang itu tidak memiliki roket di dalamnya!!"


"Untuk membuat ledakan dengan bahan bakar, kau hanya perlu tangki pasokan dan pipa. Aku bertaruh ada seseorang yang dengan sengaja mengaturnya untuk meledak dari jarak jauh!”


"Jadi, pada dasarnya tak ada yang dikerjakan oleh manusia. Dengan menggunakan alat dan peralatan di sini, dia bisa membuatnya seolah-olah seperti Kode EIC yang melakukan hal ini.”


Langit-langit api itu goyah.


Ujungnya turun seolah-olah tersedot gaya gravitasi.


"Bukankah itu benar, Peter Wellgo!?"


Ketika Mikoto berteriak, langit-langit api runtuh.


Apinya berubah menjadi massa berpijar yang tak terhitung jumlahnya, dan menghujani area peluncuran, sembari Mikoto dan Lessar berlari melintasinya.


Mikoto berlari dan Lessar melompat, tetapi mereka tidak akan menghindar tepat waktu. Akhirnya mereka menggelinding di sepanjang tanah yang terbuat dari AR semipublic, dan api menggilas area tepat di belakang mereka.


Bahayanya tidak berakhir hanya sampai di sana.


Tanah yang keras pecah karena getaran. Mikoto menutupi wajahnya dengan kedua lengan untuk melindungi terhadap pecahan-pecahan material panas, dan dia bisa melihat cahaya menyilaukan lewat di antara lengannya.


Itu berasal dari salah satu pipa bahan bakar yang telah terkubur di dalam tanah.


Pipa yang terbuat dari baja tebal telah sebagian robek, dan menyemprotkan api di sekitar seperti penyembur api.


"Ada lebih banyak!! Di atas !!” teriak Lessar.


Suatu wadah yang lebih besar dari truk tangki menyemprotkan api keluar, dan jatuh atas kepala Mikoto seperti bola bisbol.


Tapi kali ini Mikoto tidak panik.


Bagaimanapun juga, pipa yang menggeliat di sekitarnya adalah ...


"Ini terbuat dari baja, jadi aku bisa mengatasinya!!" teriak Mikoto, dan dia pun menggunakan pengendalian magnet untuk secara paksa menghentikan pipa-pipa tersebut.


Dia menunjukkan celah penyembur api lurus ke atas, dan menabrakkannya terhadap tanki raksasa yang mengirimkan api ke bawah.


Api bersuhu tinggi dengan cepat meningkatkan suhu internal tangki.


Hanya satu bagian yang pecah, jadi itu terus memuntahkan api, tetapi seluruh tangki kemudian menyala.


Akibatnya, itu meledak.


Ledakan baru di udara meniup sisa-sisa plafon api yang masih runtuh dan menghujani area itu.


Ketika itu terjadi, Mikoto dan Lessar berlari secepat yang mereka bisa.


AR semipublic di tanah pastinya telah dirusak oleh api, karena aliran listrik kompleks merambat di atasnya.


Modul-modul peluncuran lainnya juga menyemburkan pilar api dari lubangnya, banyak pipa pasokan yang terkoyak, dan tanki berpijar menyerang mereka seperti rudal.


Tapi tak satu pun dari itu sanggup menghentikan laju mereka.


Mereka tahu bahwa terus bergerak maju ke depan adalah cara terbaik untuk melindungi diri dari serangan api yang terus-menerus.


"Itu ada!! Baris keempat, kolom empat !! Inti dari Kode EIC ada di sana!!”


"Dan begitu juga dengan Peter Wellgo !!"


Area peluncuran dipenuhi dengan api berwarna oranye dan listrik dari AR semipublic yang rusak. Mikoto dan Lessar terus berlari melalui itu.


Sembari memegang benda seperti tombak, Lessar mengajukan pertanyaan.


"Apakah kau tahu di mana pintu masuk ke fasilitas peluncuran roket itu?"


"Baris keempat, kolom keempat!! Tidakkah rekanmu di hotel tadi memberitahumu tentang hal itu!?”


"Tidak, tidak! Di situlah roket diluncurkan. Namun, pintu yang digunakan untuk keluar-masuk orang pasti berada di tempat lain!!”


"Itulah yang kita butuhkan."


Mikoto tersenyum dan berlari melintasi permukaan tanah berwarna abu-abu.


Suatu lubang raksasa terbuka pada tanah, di depannya seperti semacam crop circle* yang aneh.

[Crop Circle diyakini sebagai area pendaratan.]

"Jika kita melompat di sana, kita akan persis menuju ke pintu masuk!!"


Dia melompat tanpa ragu-ragu.


Lubang raksasa itu berdiameter 30 m dan dalamnya 30 m. Suatu pilar besar berdiri di pusat lingkaran, sehingga lubang tersebut terlihat seperti donat. Beberapa derek yang membentang dari samping terhubung ke pilar utama. Itu berfungsi untuk mencegah pilar runtuh, atau untuk menghubungkan kabel pentransfer data.


Itu adalah roket.


Mikoto memfokuskan pengendalian magnet pada telapak kakinya, mengabaikan gravitasi saat ia melompat, dan menempel di sisi roket. Dia kemudian berpindah secara vertikal di sisi roket layaknya seseorang pemain ski menuruni lereng curam.


Percikan api terbang dari poninya.


Di atasnya, Lessar mengintip dari tepi lubang, dan dengan panik berteriak ke arahnya.


"Sebagian besar roket diisi dengan bahan bakar cair!! Jika kau membuat serangan ceroboh, semuanya akan meledak!!”


(Aku tahu itu.)


Mikoto tidak berniat meledakkan dirinya sendiri, dan kehancuran total tidak akan menyelesaikan situasi saat ini. Dia harus mengambil inti Kode EIC pada roket tanpa ada kerusakan berarti, sehingga benda itu bisa dianalisis ulang.


Mikoto meluncur di sisi roket. Di sisi lubang silinder trdapat banyak jendela tebal yang digunakan untuk mengamati roket. Melalui jendela-jendela itu, potongan peralatan raksasa yang tidak ada di toko-toko elektronik, bisa terlihat. Itu mungkin digunakan untuk mengontrol selama atau setelah peluncuran.


Dia melihat suatu sosok di tengah-tengah peralatan aneh tersebut.


Dia adalah salah satu dari beberapa orang dalam daftar yang mendapatkan kehormatan khusus untuk menonton demonstrasi Mikoto.


Dia adalah Peter Wellgo.


Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu, tapi Mikoto secara alami mampu menebak siapa dia. Dan dia tidak ragu-ragu.


"... !!"


Dia mengubah aliran magnet.


Dia menarik tubuhnya ke arah pintu baja di sisi lain dinding yang tebal.


Tubuhnya terbang secara horizontal.


Suatu jendela tebal terbuat dari kaca menghadangnya, tapi Mikoto mengabaikan dan menghancurkan itu.


Dengan suara pecah bernada tinggi, ia memasuki fasilitas tersebut.


Pria di dalam segera mencoba untuk melindungi diri dari pecahan kaca yang tak terhitung jumlahnya. Ketika ia menutupi wajah dengan tangannya dan membungkuk, Mikoto "mendarat" langsung padanya. Tumbukan yang dia terima terasa lebih keras daripada tabrakan tubuh biasa. Mikoto memutuskan pengendalian magnetnya dan menjatuhkan orang itu ke lantai, lantas duduk di atasnya.


(Dia adalah ...?)


Pria yang Mikoto telah bekuk tampaknya berumur sekitar 50 tahun. Dia adalah seorang pria kulit putih yang tinggi. Dia memiliki rambut pirang pucat bercampur abu-abu. Dia mengenakan jas kelas tinggi, tapi tampaknya dia mengenakan itu untuk menyembunyikan otot-otot yang mulai layu dimakan usia.


"Skak mat, Peter Wellgo."


Mikoto menusukkan ibu jarinya ke arah tenggorokan si pria tua, dan mengirim bunga api putih kebiruan terbang sehingga listriknya hampir mencapai kulit si pria tua.


"Aku di sini karena aku telah melihat semua rencanamu. Aku tahu bahwa kau berasal dari lembaga koperasi Perancis. Aku tahu bahwa kau mendukung pemberontakan pusat perbelanjaan ini, sehingga kau juga bisa mendapatkan keuntungan dengan membangun model bisnis menggunakan informasi ilmiah yang kau miliki. Dan aku tidak cukup bodoh untuk berpikir bahwa kau benar-benar hanya ‘dikontrol’ oleh Kode EIC.”


"..."


"Kau menempatkan komputer utama Kode EIC pada roket itu, dan berusaha untuk meluncurkannya ke ruang angkasa sehingga tidak dapat diselidiki. Tapi ini semua telah berakhir. Sekarang, hentikan roketnya. Jika tidak, Aku akan menghancurkan fisikmu dengan sengatan listrik bertegangan tinggi.”


Mikoto merasa itu akhirnya berakhir.


Dia tidak berpikir bahwa Peter bisa membalikkan keadaan pada situasi itu. Dari apa yang dia bisa lihat, tidak ada orang lain bersembunyi di area itu, tapi pak tua masih bisa mengatasinya jika ia memiliki bawahan yang bersembunyi di suatu tempat. Itu benar-benar skakmat. Dia akan aman mengambil inti komputer Kode EIC, mendapatkan semua informasi dari Peter, dan mendapatkan informasi UAV yang tengah menuju ke Academy City. Dengan kalahnya orang yang berada di balik semua rencana ini, dia akhirnya bisa melakukan panggilan telepon, dan memberitahu Academy City tentang informasi yang mereka butuhkan untuk menghancurkan UAV. Suatu kapal kecil yang bisa terbang di mana saja mungkin adalah target yang sulit dilacak, tetapi mereka tidak akan punya masalah seketika mereka menemukan lokasinya detailnya.


Itulah yang dipikirkan oleh Mikoto, tapi ...


"... Bukan aku orangnya..."


Suara aneh mencapai gendang telinganya.


Butuh sedetik untuk menyadari makna suara tersebut, karena itu begitu jauh dari harapan Mikoto.


Peter Wellgo berbicara sekali lagi, dari posisinya di lantai.


"Bukan aku orangnya."


Suatu senyum menyobek wajahnya.


Senyum itu terlihat seperti sekumpulan serangga yang menggeliat di bawah permukaan kulitnya, dan hendak merobek-robek mulutnya.


Mikoto memiliki suatu pikiran.


Mengabaikan logika dan perhitungan, pikiran yang murni muncul dari lubuk hatinya, dan membentuk kata-kata.


Apa yang dia katakan?


Apakah ia benar-benar Peter Wellgo?


Orang tua dan suasana itu begitu aneh, sehingga ia mulai ragu terhadap asumsi yang telah dia buat sejak awal. Keraguan didorong oleh fakta bahwa pria itu tak pernah mengakui bahwa namanya adalah Peter Wellgo.


Tapi ia tidak bisa membiarkan dirinya disesatkan.


Lembaga koperasi Perancis tidak akan mendapatkan apa-apa dengan membeberkan fakta sesungguhnnya. Peter Wellgo akan memilih untuk tetap diam atau berbohong.


Bagaimanapun juga, rencana untuk menghancurkan Academy City masih berlangsung. Setelah Solntse diledakkan, dan komputer inti Kode EIC sudah dilenyapkan, lembaga koperasi Perancis bisa meneguk “anggur kemenangan”.


(Bagaimana aku bisa memaksanya berbicara?)


Mikoto merasa keringat yang aneh menetes di pipinya.


(Dan bahkan jika ia tidak bicara, bagaimana aku bisa menentukan apakah dia mengatakan kebenaran !?)


Pada saat yang sama, suatu suara ledakan datang melalui jendela hancur.


Itu tidak berakhir hanya dengan satu suara. Ledakan terus berlanjut, satu demi satu. Dinding dan langit-langit bergetar keras karena jendela kedap suara telah pecah. Terdengar suatu kebisingan yang jauh lebih mengganggu daripada proyek konstruksi jalanan.


"... Hentikan," kata Mikoto.


Dia pikir, dia telah mencapai skak mat, tapi ternyata Mikoto lah yang bimbang.


Bagaimana bisa kau mengalahkan lawan yang terus bermain catur bahkan setelah Rajanya dibunuh?


"Hentikan roketnya!! Aku memecahkan jendela! Jika roket diluncurkan sekarang, api dan angin yang terik akan mengisi ruangan ini. Jika itu terjadi, tak satu pun dari kita akan bertahan hidup. Kita akan mati!! Mengirim Kode EIC ke ruang angkasa sekarang tidak akan memberikan kemenangan bagimu!!”


Setelah mendengar kata-kata itu, senyum Peter bahkan jadi semakin lebar.


Mikoto merinding karena melihat senyum seperti itu masih bisa ditampilkan oleh seseorang yang seharusnya berada pada keadaan sangat tidak diuntungkan.


"... Ini bukan salahku."


Kata-katanya seperti mantra.


Rasa legitimasi yang “bengkok” berarti ia tidak akan menyerah bahkan ketika berhadapan dengan listrik bertegangan satu miliar volt, atau api 2000 derajat celcius.


"Itu semua salah mesin. Aku hanyalah alat. Kami semua hanya digunakan, jadi aku tidak bisa menghentikan ini.”


Itu lah hal yang dia inginkan.


Tidak peduli apa, itu adalah "kebenaran" ia ingin agar dunia melihatnya.


(Dia tidak melakukan hal ini demi kehidupan atau posisinya sendiri ...)


Akhirnya, Mikoto memahami kondisi apa yang diinginkan oleh si pria tua.


(Dia hanya ingin membawa kesejahteraan bagi lembaga koperasi Perancis tempatnya bernaung, dan melenyapkan semua dosa yang dituduhkan pada mereka. Itu semua yang dia inginkan. Itu saja!!)


Apa makna lembaga koperasi bagi pihak Prancis?


Apakah Peter Wellgo adalah pemimpin lembaga tersebut, atau dia hanya bertanggung jawab atas misi itu?


Dia tidak tahu jawaban untuk semua itu.


Dan dia menuju ke kesimpulan insiden dengan semua informasi yang begitu minim.


Getaran dalam fasilitas itu semakin menjadi. Roket akan meluncur tak lama lagi. Setelah itu, benda yang bisa membuktikan siapa di balik insiden tersebut akan dikirim ke luar tata surya. Mikoto dan Peter akan diselimuti oleh api tanpa mendapatkan informasi apapun tentang bom hidrogen atau UAV. Ketika UAV tiba, Solntse pada Academy City akan meledak, sehingg pihak yang berada dibalik insiden itu akan mendapatkan keuntungan dengan membangun model bisnis mereka.


Dia harus menghentikannya.


Tapi menyerang roket secara acak hanya akan menyebabkan ledakan lainnya. Ada juga resiko komputer inti Kode EIC akan terpanggang dalam api, dan informasi itu akan lenyap selamanya. Dan lagi penting lagi, ledakan akan membunuh Mikoto dan Peter. Hasilnya akan sama saja.


(Apa yang harus aku lakukan…?)


Sementara masih menahan Peter, Mikoto melihat sekeliling.


Banyak perangkat kontrol yang berbaris dalam ruangan itu. Mikoto tahu banyak tentang komputer, tapi bahkan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan peralatan khusus seperti itu. Roketnya tidak akan serta-merta berhenti jika dia mematikan programnya begitu saja.


(Apa yang harus aku lakukan!?)


Roket mulai meluncur, dan UAV hampir masuk ke kawasan Academy City.


Tidak ada lagi waktu luang.


Dan ...



Part 5[edit]


Hitung mundur mencapai nol.


Derek penstabil kedudukan yang melekat pada sisi roket-tiga-tingkat, jatuh ke samping, dan lepas satu per satu.


Campuran oksigen cair dan hidrogen cair yang bertindak sebagai bahan bakar menghasilkan sejumlah ledakan besar.


Pada saat yang sama, sejumlah besar air disemprotkan keluar seperti shower, dari sisi fasilitas peluncuran.


Air itu memastikan agar panas tinggi mesin tidak merusak fasilitas. Gas putih mengembang layaknya permen kapas yang sering terlihat di video peluncuran itu adalah uap, bukannya asap.


Roket mulai mengapung di udara.


Itu hanya beberapa sentimeter, tapi pasti telah meninggalkan tanah. Kekuatan beberapa mesin roket perlahan mendorong roket ke atas. Beberapa puluh detik pertama adalah waktu yang paling “halus”. Setelah memperoleh kekuatan yang cukup untuk membebaskan diri dari jeratan gaya gravitasi, tidak ada yang bisa menghentikannya.


Suatu komputer raksasa itu dimuat di bagian depan.


Tidak ada perhitungan untuk menstabilkan orbit.


Isi roket terlah lepas dari bumi.


Massa raksasa buatan manusia itu mulai bergerak naik lebih cepat.


Dorongan yang diciptakan oleh mesin roket mengalahkan gaya gravitasi yang menarik massa besar ke tanah.


Seolah-olah, benda itu tiba-tiba ditembakkan ke atas.


Roket-tiga-tingkat melanggar salah satu fenomena yang paling dasar dari suatu planet, sembari menembus langit seolah-olah karet gelang yang dilontarkan.


Dan tiba-tiba, semua cahaya menghilang dari mesin roket yang telah menciptakan sejumlah besar energi.


Itu terjadi tepat setelah roket-tiga-tingkat melambung sekitar 5 meter di udara.


Tiba-tiba, roketnya berhenti memuntahkan api, dan massa raksasa tersebut ditarik oleh gravitasi bumi untuk kembali ke lantai fasilitas peluncuran bawah tanah. Bagian bawah mesin hancur dan tubuh roket utama bergetar dalam posisi vertikal. Setelah kehilangan sokongan, “kendaraan” raksasa itu tidak lagi mampu menjaga keseimbangannya. Benda itu mulai jatuh ke samping fasilitas, dan tubuh utamanya bengkok ketika menghantam dinding.


Pada bagian badan roket yang bengkok, retak muncul dan asap putih bocor.


Itu pasti adalah oksigen cair atau hidrogen cair yang digunakan sebagai bahan bakar.


Bahan bakar hanya mampu bertahan dalam keadaan cair dengan disimpan pada suhu lebih rendah dari minus sepuluh derajat celcius. Pada suhu normal, bahan bakar itu akan segera kembali ke wujud gas, dan menguap ke udara.


"..."


Misaka Mikoto berdiri menghadap jendela yang pecah.


Telapak tangannya direntangkan ke arah fasilitas peluncuran.


"Tidak ada gunanya. Roketnya tidak bisa terbang lagi.”


Entah kenapa, roket telah gagal meluncur.


Atau, roketnya telah berhenti dari peluncuran.


Namun, senyum Peter Wellgo tidak menghilang, sembari ia masih berbaring roboh di lantai. Roket itu sendiri telah jatuh, tetapi rencananya belum sepenuhnya tamat. Dengan cara penghentian peluncuran yang begitu kasar, bahan bakar cair pasti akan menyala dan meledak. Dia hanya bisa berspekulasi mengenai secanggih apakah teknologi Academy City dalam menganalsisi data, tapi ia cukup yakin bahwa sebagian data dari komputer inti Kode EIC tidak akan terbaca setelah terkena ledakan bersuhu tinggi dalam waktu yang cukup lama.


Keselamatannya 100% telah diturunkan menjadi 90%.


Namun, dia masih akan menang.


Serangan bom hidrogen pada Academy City masih berlangsung.


Kota itu akan hancur, dan mereka tidak memiliki cara untuk mengetahui fakta bahwa lembaga koperasi ada di balik semua ini, sehingga model bisnis mereka masih bisa berjalan dengan mapan.


Tidak peduli bahwa roket itu akan meledak dan membunuhnya.


Hasil akhirnya adalah kemenangan bagi Peter.


Tapi ...


"Aku bilang: tidak ada gunanya," kata Mikoto, memotong pikiran pria tua itu.”Cairan oksigen dan hidrogen tidak akan meledak lagi. Itulah mengapa roket tidak bisa diluncurkan atau diledakkan. Tidak ada cara bagimu untuk menang sekarang.”


Pada awalnya, Peter tidak mengerti apa maksudnya, dan hanya menatap kosong padanya.


Akhirnya, ia melihat bahwa tidak ada yang meledak, dan ekspresinya tiba-tiba berubah.


Dari mana pria tua itu mendapatkan ekstra tenaga?


Peter Wellgo berdiri dengan paksa, dan mendorong tangannya ke dalam saku. Bunga api putih kebiruan terbang dari poni Mikoto, dan menghantam Peter, tapi pria itu tidak berhenti. Saat ia berteriak, ia melemparkan sesuatu yang ditarik keluar dari sakunya. Benda itu terbang melalui jendela yang pecah dan keluar ke fasilitas peluncuran.


Itu adalah minyak korek api.


Korek itu terbang dengan lintasan busur parabola, dan jatuh ke dalam bagian paling bawah dari fasilitas peluncuran. Sejumlah besar bahan bakar yang telah bocor dari mesin rusak pasti telah berkumpul di sana. Oksigen cair dan hidrogen cair. Bahan bakar itu telah siap untuk memberikan dorongan peledak, bahkan di area yang tidak terdapat udara. Itu cukup untuk membuat ledakan besar yang dengan seketika membungkus seluruh fasilitas peluncuran bawah tanah dalam api.


Tapi ...


"Kenapa ...?"


"Apakah aku tidak memberitahumu?"


"Kenapa? Mengapa tidak terjadi?”


"Itu tidak akan meledak walaupun kau menggunakan penyembur api. Aku memastikan itu,” jawab Mikoto dengan ringan pada Peter Wellgo yang berdiri gemetar di tepi jendela.”Cara mesin roket menggunakan oksigen cair dan hidrogen cair adalah sederhana. Oksigen dibutuhkan untuk pembakaran, dan hidrogen menyebabkan kekuatan ledakan tanpa terkecuali. Itulah sebabnya oksigen cair dan hidrogen cair dicampur agar hidrogen bisa meledak dengan ‘mengkonsumsi’ oksigen, bahkan di tempat kedap udara.”


"..."


"Dan molekul oksigen dapat mudah dipecah dengan menggunakan tenaga listrik. Ketika dua atom oksigen terikat bersama-sama, mereka menciptakan suatu molekul oksigen, tapi tiga atom oksigen akan menciptakan ozon. Tentu saja, oksigen dan ozon memiliki sifat yang berbeda. Campuran ozon dan hidrogen tidak akan menyala, apalagi meledak.*”

[Ini adalah teknik yang sama ketika seorang Sister melawan Accelerator. Baca manga To Aru Majutsu No Index, Sister arc.]

Peter mengintip ke dalam fasilitas peluncuran.


Api telah menghilang dari minyak korek api. Lingkungan dan kondisi yang menyebabkan api menyala, tidak terjadi di sana.


"Yah, aku hampir saja gagal melakukan metode itu. Ketika seluruh area peluncuran terbakar sebelumnya, aku tidak bisa berurusan dengan itu, dan yang lebih penting, aku mungkin bisa berakhir dengan mati kehabisan napas. Tapi terdapat celah sempit pada bagian bawah modul yang tertutup, sehingga itu tidak mempengaruhi pernapasanku sendiri.”


Mikoto menyeka keringat dari wajah dengan punggung tangannya.


"Rencanamu untuk meluncurkan Kode EIC ke ruang angkasa, dan membuat insiden ini menjadi ‘remang-remang’ telah gagal,” kata Mikoto seakan-akan menusukkan perkataan itu pada Peter.”Sekarang, katakan padaku segala sesuatu yang kau tahu tentang UAV digunakan untuk meledakkan Solntse. Dimana itu diluncurkan, rute apa yang diambilnya, dan kapan benda itui akan memasuki Academy City? Jika kita tahu itu, kita dapat mencegatnya. Tidak ada lagi manfaat bagimu untuk menyerang Academy City.”


"Heh."


Bahu Peter Wellgo bergetar sedikit.


Dia tampak tertawa.


Itu terjadi segera setelahnya.


Dia bahkan tidak berbalik.


Dia hanya melompat langsung keluar jendela yang pecah.


Aksi itu terjadi secara refleks, seperti kantong plastik yang tersapu oleh angin. Karena itu, Mikoto sedikit terlambat dalam bereaksi. Ketika dia akhirnya menyadari apa yang terjadi, Peter Wellgo sudah menghilang dari pandangannya.


"Kh ... !!"


Mikoto dengan panik memanipulasi magnet, tapi dia gagal meraih sesuatu pun. Dia kemudian mendengar suara yang tidak menyenangkan.


Dia melongok keluar jendela, dan melihat ke bawah.


Sesosok manusia roboh di bagian bawah modul, tepat di sebelah roket yang miring. Dia tidak menyentuh genangan bahan bakar cair yang bocor, tapi ia tidak bergerak, dan Mikoto tahu bahwa pria itu sedang sekarat.


Tiba-tiba, ia mendengar Lessar berteriak dari atas fasilitas peluncuran.


"UAV-nya masih belum berhenti!! Kalau begini terus, Solntse akan meledak!! Cepatlah dan temukan di mana rute UAV!!”


"Tapi bagaimana dengan dia !?" Mikoto berteriak kembali.”Tidak ada oksigen di sana! Bahkan sebatang korek api pun tidak akan menyala! Semua molekul oksigen telah berubah menjadi ozon!! Bahkan jika dia masih bernapas, ia tidak akan bertahan lebih lama dari beberapa menit di sana!!”


"Agh! Baik, maka aku akan mengambil dia!”


"Bagaimana !?"


"Aku hanya harus melakukannya tanpa bernapas, kan!? Santai saja, aku pasti akan berhasil mengatasinya!!”


Setelah memberikan balasan dengan “alasan berbau sihir”, Lessar melompat ke dinding fasilitas peluncuran. Dia kemudian meluncur ke bawah seakan sedang ber-ski. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda menderita, sehingga dia pasti benar-benar memiliki beberapa cara untuk "mengatasinya ".


(Rute UAV...)


Mikoto berpikir.


Peter Wellgo telah “menyegel” informasi itu dengan melempar dirinya sendiri ke luar jendela.


Apakah ada orang lain yang memiliki pengetahuan lengkap tentang insiden tersebut, dan rute UAV?


(Tunggu sebentar.)


Mikoto mendongak dan melihat keluar jendela yang pecah.


Matanya terpaku pada ujung roket yang sudah bengkok.


(Dia mencoba untuk ‘melimpahkan’ semua tanggung jawab pada komputer inti Kode EIC. Kalau begitu, tidak akan mengejutkan jika ia memasukkan semua data tentang insiden ini di dalam komputer, untuk memastikan penyamaran yang sempurna. Dia akan memastikan bahwa ada ‘catatan’, sehingga terlihat seolah-olah Kode EIC sendiri yang telah ‘memikirkan’ dan ‘menjalankan’ semua rencana!!)


Peter takut komputer inti Kode EIC akan diamankan oleh pihak berwajib, tapi ia akan mencoba segala yang dia bisa. Sangatlah mungkin bahwa file komputer yang dimuat pada roket, memiliki rekaman semua insiden.


Mikoto berteriak melalui jendela yang pecah.


"Sudahkah gadis bernama Floris itu menghubungi dirimu!? Sudahkah dia memperbaiki saluran telepon!?”


"Aku tidak tahu! Aku kehilangan benda spiritual komunika.... uhhhh ... perangkat komunikasiku ketika terjadi banyak ledakan tadi! Dan Floris sudah bilang bahwa dia tidak tahu banyak tentang mesin !!”


(Sialan. Walaupun saluran komunikasi sudah kembali terhubung, aku tidak tahu apa-apa dalam kondisi seperti ini!!)


Mikoto segera mulai memanipulasi magnet.


Dia melompat keluar jendela dan terbang secara horizontal, sebelum akhirnya mendarat di sisi roket bengkok.


Dia kemudian berlari ke bagian atas.


(Kumohon tepat waktu ....)


Dia menarik keluar PDA-nya.


Dia mengiris pelindung besi di bagian atas roket dengan pedang pasir besi, untuk mendapatkan komputer di dalamnya.


" Kumohon tepat waktu!!"



Part 6[edit]


Pada saat yang sama, UAV kecil yang lepas landas dari Teluk Tokyo mengangkat ketinggiannya sedikit.


Itu pasti dilakukannya untuk menyeberangi dinding luar Academy City.


Dinding luar dibuat untuk memancarkan sinyal jamming yang diarahkan secara vertikal guna mencegah bocornya informasi.


Dengan demikian, sinyal yang dikirim dari luar tembok tidak akan mencapai apa pun di dalam Academy City.


Ketika UAV melalui bagian atas dinding luar, penerbangannya menjadi sedikit tidak stabil.


Tapi UAV terus terbang sementara terguncang.


Benda itu memiliki sinyal yang diperlukan untuk meledakkan bom hidrogen di dalam kota.


UAV mengambil tindakan akhir yang dibutuhkan untuk meledakkan Solntse yang telah diamankan oleh Anti-Skill.


Itu melewati dinding luar.


Itu melewati sinyal jamming.


UAV masuk ke dalam Academy City. Itu mencapai area di mana tidak ada yang akan memblokir sinyalnya.


UAV memiliki hubungan yang jelas dengan Solntse.


Dan ...


Ledakan ...



Part 7[edit]


Mikoto duduk di lantai yang datar.


Dia berada di dalam puncak roket.


PDA-nya terhubung pada komputer raksasa dan beberapa potongan informasi yang ditampilkan pada layar kecil.


Dia memegang ponsel dengan satu tangan.


Suara listrik statis bisa didengar melalui alat itu.


Itu bukan hubungan yang tepat.


Mikoto menggunakan ponsel secara wajar layaknya gadis SMP Jepang pada umumnya, tapi ini adalah pertama kalinya ia melihat suatu koneksi yang aneh.


Dia tidak bisa mendengar suara apapun.


Dia tidak bisa merasakan siapapun yang bernapas di ujung lain sambungan telepon.


Dia tidak bisa membayangkan adegan apapun yang terjadi di ujung lain sambungan telepon.


Bagaimana kalau ... semuanya tiba-tiba menghilang.


"..."


Untuk sementara, Mikoto terdiam.


Semua kekuatan meninggalkan tubuhnya.


PDA meluncur jatuh dari tangannya.


Namun dia masih sanggup menggenggam erat-erat ponselnya karena dia dipercaya hubungannya dengan orang di ujung lain sambungan telepon.


Dan ...


"... e ... sama ..."


Akhirnya, ia mendengar suara yang datang melalui telepon.


Tapi terdengar berbeda dari biasanya. Suaranya terdengar sangat kasar dan sulit untuk didengar seolah-olah suara tersebut terucap dari tenggorokan seseorang yang sangat-sangat kering.


Si pembicara adalah Shirai Kuroko.


Dia memberikan laporan akhirnya.


"UAV ... berhasil ditembak jatuh ... Dan ... itu berkat ... informasi yang kau berikan pada kami ... Onee-sama ...”


Mendengar itu, Mikoto akhirnya ingat untuk bernapas.


Sementara itu, Shirai terdengar bingung.


"Tapi suaramu ... terdengar sangat jauh."


"Itu mungkin karena aku tidak menggunakan antena yang tepat."


Saat ia berbicara, Mikoto menatap langit melalui celah yang telah dibuatnya pada sisi roket.


Ponsel di tangan Mikoto bukanlah miliknya.


Ponsel lain itu telah jatuh ke bawah, dari atas, di tengah-tengah hitungan mundur.


Dia mendengar suara sesuatu yang berulang kali “mengoyak” udara di atasnya.


Dia mendongak dan melihat suatu helikopter besar berputar-putar di sekitar. Huruf Rusia yang bisa dibacanya di sisi helikopter, menandakan bahwa itu milik petugas keamanan.


Pintu helikopter telah dibuka dan Mikoto mengenali wajah yang muncul dari sana.


(Enirya ... kan?)


Tampaknya wanita itu susah payah datang ke sini setelah mengikuti beberapa informasi yang berbeda, tetapi pada akhirnya dia menyelamatkan Mikoto dan Academy City.


Helikopter besar penuh dengan segala macam peralatan komunikasi, sehingga dia bisa melakukan penyelidikan dengan lancar. Helikopternya memiliki antena untuk sinyal radio sederhana, dan juga memiliki perangkat yang bisa mengakses satelit ponsel.


Enirya telah melemparkan ponselnya ke bawah, dan Mikoto telah menangkapnya.


Enirya mungkin telah memutuskan bahwa dia harus membantu Mikoto karena helikopter tersebut sudah mengintersep transmisi Mikoto yang gagal, saat ia mencoba untuk memberikan informasi pada Academy City selama hitungan mundur terjadi.


"Jadi bagaimana situasinya?"


Ketika Mikoto bertanya, kualitas suaranya menjadi lebih jelas.


Antena helikopter mungkin telah melakukan semacam penyesuaian.


"Seperti yang kau beritahu sebelumnya, UAV yang mendekati dinding luar sudah dicegat. Solntse tidak menunjukkan tanda-tanda akan diledakkan. Tampaknya mustahil, tapi mungkin juga UAV kedua atau ketiga dikirimkan pada saat yang sama, sehingga saat ini Solntse sedang dikirim ke fasilitas bawah tanah tertutup. Bahkan jika ada UAV lain, bomnya tidak bisa lagi menerima sinyal.”


"Jadi untuk saat ini, bahaya telah dihindari."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku sudah mendapatkan inti dari komputer super pusat perbelanjaan Rusia, tapi ini hanyalah umpan. Orang yang benar-benar di balik semua ini adalah ...”


Mikoto menunduk di tepi roket.


Lessar melihat ke arahnya sambil memegang Peter Wellgo.


"Yah, dia masih hidup. Jika kita bertanya padanya tentang rincian insiden, kita harusnya bisa mendapatkan info lebih lanjut tentang latar belakang situasi ini. Tapi, tampaknya ada beberapa petugas keamanan yang begitu bersemangat di kota ini, jadi sepertinya semua tuduhan terhadapku sudah dibersihkan. Ini semua sudah berakhir,” kata Mikoto sambil menghela napas.


Insiden di sekitar pusat perbelanjaan Rusia dan serangan Solntse pada Academy City telah usai.


Dia merasa lelah, bukannya lega.


Akhir dari insiden ini begitu mirip seperti akhir suatu game RPG.



Part 8[edit]


"Jadi pada akhirnya, apa yang terjadi?" gumam seorang gadis berambut perak bernama Bayloupe.


Dia mengendarai suatu pesawat charter kecil, bukannya pesawat penumpang yang besar. Pesawat itu menunggu giliran di sudut bandara, untuk menggunakan landasan pacu.


Seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang ujungnya dikepang, duduk di sebelah Bayloupe.


Namanya Lessar.


"Apa maksudmu?"


"Akhir UAV itu, lho?" tambah seorang gadis pirang bernama Floris yang terbenam di dalam kursi pijat. Dengan kesal, ia mendorong gadis lain, yaitu Lancis, agar menyingkir dari pangkuannya. ”Dengan Misaka Mikoto? Gadis Jepang itu berupaya cukup keras, tapi apakah dia benar-benar tepat waktu?”


"Benar, benar." Bayloupe bersandar di dinding.”Meskipun dia mengetahui rute UAV dari komputer inti Kode EIC, dan mengirimkan informasi tersebut pada Academy City, apakah unit pertahanan benar-benar bergerak dengan begitu cepat? Bagaimanapun juga, itu hanyalah perkataan seorang gadis SMP. Aku ragu mereka akan segera mengirimkan bala bantuan untuk menuruti kata gadis itu.”


"Biasanya, mereka akan bertindak begitu lambat, UAV akan mendapatkan sinyal pengaktifan ledakan, dan ... boomm!”


Bayloupe dan Floris berbicara ke kiri-kanan, tapi kemudian Lessar berbicara.


"Yah, mungkin itu adalah niat mereka dari awal."


"?"


"Mungkin para petinggi Academy City sudah memprediksi adanya ‘elemen’ berbahaya pada lembaga koperasi dan mereka menunggu kesempatan untuk ‘mencabut’ bahaya itu. Dengan hati-hati, mereka memantau pusat perbelanjaan Rusia, dan mereka bisa menemukan orang-orang berbahaya yang terlibat dengan organisasi itu.”


"Yang berarti ..."


"Mungkin mereka terus-menerus memantau keberadaan Solntse dan UAV dengan menggunakan sumber informasi yang berbeda. Dengan membiarkan situasi berkembang sejauh mungkin, mereka bisa melihat betapa banyak kekuatan yang dimiliki oleh ‘elemen’ berbahaya itu. Dan sebagai hasilnya, mereka juga berhasil ‘mencabut’ lembaga koperasi lain yang mendukung pusat perbelanjaan. Tentu saja, mereka benar-benar menangkap Peter Wellgo.”


"Uehh," seseorang mengerang.


"Apakah mereka sudah merencanakan sampai sejauh itu?" tanya Bayloupe.


"Begitulah kota itu."


"Tapi Solntse adalah bom hidrogen."


"Di Academy City, bahkan bom hidrogen sekalipun tidak akan jadi masalah," jawab Lessar dengan ringan.”Bukannya aku tahu seberapa tajam para petinggi di kota itu, tetapi mereka mungkin telah berpikir tentang kemungkinan terjadinya perang di masa depan antara sihir dan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari penghapusan musuh di sisi mereka sendiri, sebelum perang seperti dimulai.”


Mereka berempat terdiam.


Kata "perang" sangat membebani mereka.


"Yahh, jika benar-benar terjadi perang, Rusia kemungkinan besar akan menjadi medan perangnya."


"Dan lembaga koperasi lainnya adalah Perancis, yaitu lokasi berbahaya lain."


"Jadi mereka menyusun kekuatan dengan menyingkirkan lembaga yang ‘tidak diperlukan’ sebelum pertempuran dimulai. Dengan tewasnya para petinggi, pusat perbelanjaan ini kemungkinan akan benar-benar ditutup,” kata Bayloupe sambil menyeringai. ”Aku kira, kita beruntung karena tidak ada lembaga koperasi Inggris yang tersingkir.”


"Aku juga memikirkan hal yang sama. Setidaknya, partisipasi kita dalam membantu menyelesaikan insiden ini, mungkin akan sedikit membodohi mereka.”


Tiba-tiba, Lancis berbicara untuk pertama kalinya.


Dia memutar tubuhnya, seakan-akan suatu tangan tak terlihat sedang menggelitik sisi tubuhnya. Dia pun membalik sesuatu benda yang tampak seperti buku kecil.


"... Hee ... hee hee. Ini menemukannya.”


"?"


"Coronation Sword*. Aku ... hee hee ... mendapat ‘sinyal’ dari benda spiritual ini ... heh heh ... secara otomatis melakukan ‘penggalian’. Ini akan menemukannya. Ini akan ... hee hee ... memulai penggalian sebenarnya sekarang. Heh heh.”

[Diterjemahkan: Pedang Penobatan.]

"Hmm," Lessar tersenyum tipis.


Itu adalah senyum yang jahat.


Itu adalah senyum yang menunjukkan kebusukan di dalam hatinya.


"Jika revolusi di Inggris berhasil, aku ragu bahwa kerjasama dengan Academy City adalah suatu hal yang penting, tapi kita akan menyeberangi ‘jembatan’ itu ketika kita datang ke sana. Bagaimanapun juga, kita adalah kelompok yang melakukan terbaik untuk Inggris.”


Mereka mendapat izin untuk menggunakan landasan pacu.


Pilot perlahan menggerakkan pesawat charter.


Mereka tiba di salah satu ujung landasan pacu lurus, dan mulai mempercepat pesawat untuk lepas landas.


Ketika pesawat mulai terbang, Lessar mengatakan, ”Aku kira, kita harus mulai mempersiapkan perang dengan serius.”



Part 9[edit]


"Onee-sama, apakah kau masih dapat memakai ponselmu?"


"Kita masih belum lepas landas. Aku masih bisa menggunakannya sekitar 10 menit ke depan.”


Mikoto memegang ponselnya di dalam pesawat penumpang. Pesawat besar tampaknya menunggu giliran di landasan. Saat ini, ia bisa melihat suatu pesawat charter kecil lepas landas.


"Tapi," kata Shirai Kuroko melalui telepon yang terdengar kesal.”Pusat perbelanjaan Rusia adalah tempat yang mengerikan. Aku tidak percaya mereka melakukan serangan teroris untuk membangun model bisnis dengan menggunakan pengetahuan parsial ilmiah yang mereka punyai! Aku tidak percaya mereka membawa suatu bom hidrogen ke sini untuk mewujudkan rencananya! Dan aku sangat tidak percaya mereka mengejarmu dan mencoba menangkapmu!! Para petugas keamanan pengganti polisi itu benar-benar tidak berguna!”


"Y-Yahh, pada akhirnya para petugas keamanan melakukan pekerjaan dengan baik, dan membersihkan segala tuduhan padaku. Aku pikir, tak ada gunanya menyalahkan mereka lagi.”


"Tentu saja ada !! Petugas keamanan itu seharusnya melindungi orang normal sepertimu, Onee-sama! Hal hebat yang mereka lakukan di saat-saat terakhir tidak serta-merta menebus kesalahan mereka sebelumnya!!”


Tiba-tiba Mikoto memiliki perasaan bahwa Shirai akan terus berteriak melalui telepon.


Dia tidak berpikir bahwa Academy City adalah surga. Dia tidak berpikir bahwa kota itu menanggung beban keadilan seluruh dunia. Tapi dia masih cukup terkejut ketika mendapati musuh Academy City yang sebenarnya.


Mengapa dia begitu terkejut?


Apakah ia hanya terkejut pada fakta bahwa Academy City punya musuh?


Atau dia terkejut bahwa kota yang seharusnya tidak memiliki musuh, ternyata sangat dibenci oleh negara lain.


Tidak akan pernah ada suatu sistem yang benar-benar sempurna.


Tidak akan pernah ada satu sistem tanpa syarat yang bisa mengandalkan selamanya.


Sama seperti pusat perbelanjaan, Academy City mungkin memiliki sisi gelap tersendiri.


Suatu kegelapan yang cukup dibenci, sehingga muncul musuh-musuh berbahaya seperti itu.


"Hei, apakah kau mendengarkanku, Onee-sama?"


"Ya, aku mendengarkan," Mikoto menanggapi dengan tak acuh, sembari ia melihat keluar jendela pesawat.


Dia membuat pistol dengan jari-jarinya, dan menunjuk ke arah tanah Rusia yang akan segera dia tinggalkan.


"Tapi, kau tahu, ini benar-benar menjadi suatu demonstrasi yang menyebalkan."

RAILGUN SS2 08 026.jpg