Seirei Tsukai no Blade Dance Jilid16

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

"—Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

Hitam dan putih. Bilah kedua pedang itu bersilangan.

Absolute Blade Arts, Bentuk Ganda—Purple Lightning Revised.

Ini adalah sebuah teknik yang beradal dari Purple Lightning, sebuah tikaman yang dilakukan dengan kecepatan dewa, dimodifikasi untuk digunakan dengan pedang ganda.

Rinnnnnnnnnnnnnnnnnnnng

Suara nyaring menyerupai kaca pecah terdengar—

Pedang iblis kegelapan dan pedang baja suci menghancurkan pedang iblis merah milik si penyihir.

Lalu, keterkejutan muncul dimata abu-abu milik Greyworth.

Kamito tak melewatkan penampilan dimatanya. Jadi meskipun elementalist terkuat di benua bisa menunjukkan ekspresi seperti ini biarpun cuma sekali? Pemikiran ini melintas dalam benaknya sebentar.

Elemental waffe yang ada ditangannya lebih kuat daripada elemental waffe milik Greyworth—

Saat ini, Kamito telah melampaui pelatihnya untuk yang pertama kalinya.

Kamito merasa seperti dia melihat senyum samar di sudut mulut Greyworth.

Akan tetapi, mungkin itu hanya imajinasinya.

Benturan pedang yang singkat. Penggunaan Absolute Blade Arts yang digunakan oleh Kamito telah menghancurkan pedang iblis itu. Kekuatan tambahan itu dengan mudah menghempaskan Greyworth.

Dibelakang Greyworth adalah sebuah tebing yang mengarah pada mulut Jurang Naga.

Dengan demikian, dia jatuh ke dasar jurang dan perlahan-lahan tertelan oleh kegelapan malam.

Itu terasa seolah ini berjalan sesuai dengan niatnya—

"Greyworth!"

Kamito berteriak keras.


Bab 1 - Kenangan Tersegel[edit]

Bagian 1[edit]

O Raja Naga yang agung yang menguasai langit—

Harap peluk jiwa para pejuangnu sehingga mereka bisa beristirahat dalam damai—

Didalam kuil besar di Benteng Batu Naga, yang biasa dikenal sebagai Benteng Pertahanan, doa-doa dari para princess maiden berkumandang.

Para princess maiden berkabung pada para naga yang telah gugur dalam mempertahankan benteng, mengadakan ritual pemakaman untuk mayat mereka.

Upacara tersebut tampak seperti akan berlangsung sepanjang malam. Kamito berdiri, membungkuk dalam-dalam pada altar, kemudian meninggalkan kuil agung itu.

Dia berjalan dalam diam melewati koridor yang remang-remang yang dibangun dari batu.

Benteng itu saat ini terasa sangat sunyi.


Ada begitu banyak pelayan wanita selama siang hari, tetapi sekarang tak satupun dari mereka yang terlihat.

Menghadapi Greyworth seorang diri, Leonora mengalami cidera parah dan harus menjalani perawatan. Meskipun hidupnya tidak terancam saat ini, sihir penyembuhan biasa tampaknya tidak efektif untuk luka yang disebabkan oleh pedang iblis milik Greyworth. Tampaknya, operasi dilakukan oleh seorang dokter spesialis.

(Greyworth...)

Kamito mengepalkan tangannya ketika berjalan.

Disaat terakhir yang singkat itu—

Dia seharusnya bisa menghentikan dirinya dari terjatuh.

Tetapi saat itu, dia sendiri yang memilih untuk jatuh ke dasar jurang itu.

Para Knight of the Dragon Emperor saat ini mencari keberadaan dari Greyworth yang jatuh.

Kalau dipikirkan lebih jauh lagi, Penyihir Senja itu tak mungkin mati semudah itu karena jatuh dari sebuah tebing—

Lalu, seorang cewek tiba-tiba muncul dari sudut gelap di koridor, disertai dengan kibaran gaun kegelapan miliknya dan lambaian ringan dari rambut hitamnya yang tampak menyatu dengan warna malam.

"Ada apa dengan penampilan murung itu, Kamito?"

Mengatakan itu, cewek roh kegelapan—Restia—tersenyum samar.

"Restia, kamu—"

Mengatakan itu, Kamito berhenti berjalan.

Restia mendekati dia.

"Ayo pergi ke kamarmu. Kita bisa bicara dengan puas."

Berdiri berjinjit, dia bergumam di telinga Kamito.

".....Ya, kamu benar."

Kamito mengangguk dan kembali berjalan.

Bagian 2[edit]

Setelah membawa Restia ke kamarnya, Kamito meletakkan Demon Slayer didinding disamping ranjang. Bagaimanapun juga, pertempuran melawan Greyworth sangatlah melelahkan. Setiap kali dalam kondisi seperti itu, Est mungkin tidak akan bangun kacuali Kamito menuangkan kekuatan suci dalam jumlah yang besar pada dia.

Kamito duduk di ranjang. Restia dalam diam duduk disebelahnya.

"......"

Selama beberapa saat, Kamito tetap diam.

....Ada sangat banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan padanya. Kenapa dia diteleport ke alam manusia dalam wujud cewek manusia? Apa yang terjadi padanya selama dia hilang ingatan...?

Akan tetapi, Kamito mengalami kesulitan dalan mencari kata-kata yang tepat.

Tentu saja, dia bahagia dari dalam lubuk hatinya bahwa Restia telah memulihkan ingatannya.

Bisa dikatakan, setelah menjalani kehidupan bersama dengan Restia versi pemalu selama beberapa saat, dia mendapati dirinya sedikit kesulitan bagaimana berinteraksi dengan Restia yang asli.

Apakah dia membaca pikiran Kamito?

"Ada apa, Kamito?"

Matanya yang berwarna senja menahap Kamito dengan tatapan yang agak nakal.

Kamito merasa jantungnya berhenti berdetak.

"Umm, kami menyelamatkan aku saat itu."

Kamito berbicara sambil menghindari kontak mata.

"Ya, aku senang aku tiba tepat waktu. Gimanapun juga, itu tetaplah cukup menyulitkan untuk menghadapi si Penyihir Senja yang dalam wujud masa keemasannya meskipun itu adalah kamu dan Nona Roh Pedang."

(....Sudah pasti, tanpa kekuatan Restia, aku pasti akan terbunuh.)

Mendesah pelan, Kamito menatap lurus tangannya sendiri.

Mengalahkan Greyworth yang berada dalam masa keemasannya dengan sepenuhnya mengandalkan kesenjanhan dalam tingkat kekuatan dari para roh. Roh iblis bernama Vlad Dracul tak diragukan lagi merupakan roh yang sangat kuat, tetapi bagaimanapun juga, tak bisa dibandingkan dengan roh-roh legendaris seperti Est dan Restia. Jika Greyworth menggunakan roh miliknya sendiri, akan sangat diragukan apakah Kamito bisa menang meskipun menggunakan pedang ganda—

"Kurasa aku harus berterimakasih pada Raja Naga karena audah memulihkan ingatanku."

"Ya, aku sangat berhutang budi padanya."

Kamito setuju dan mengangguk.

Bahamut dari Dracunia adalah sang Raja Naga, yang ketenarannnya menyebar luas diseluruh penjuru benua.

Identitas sejatinya adakah roh naga kelas legendaris dengan penampilan seorang cewek muda yang cantik.

Dimasa lalu, Bahamut adalah bawahan terpercaya dari Ren Ashdoll, sang Elemental Lord Kegelapan. Merasakan kewajiban terhadap mantan tuannya, Bahamut telah membantu Restia memulihkan ingatannya dan memberi bantuan pada mereka.

"Sebenarnya, hutang budi tersebut telah dibayar."

"Huh?"

"—Ketika kamu bertarung melawan penyihir itu, suatu kejadian besar juga terjadi disini."

Mengatakan itu, Restia menceritakan pada Kamito tentang apa yang terjadi ketika dia mendapatkan kembali ingatannya.

Didalam ruang tahta Raja Naga, kardinal dari Kerajaan Suci, Millennia Sanctus, muncul.

Lalu dia melepaskan Kegelapan Dunia Lain, hampir merusak Raja Naga—

"....Jadi serangan Greyworth hanyalah pengalihan?"

Kamito berkomentar ringan.

Siapa yang sangka bahwa sesuatu seperti ini terjadi didalam benteng ketika Kamito sedang bertarung—

Jika Restia tidak bangun tepat waktu, Raja Naga akan ternodai oleh Kegelapan Dunia Lain seperti para Elemental Lord, dengan konsekuensi yang sangat buruk.

"Kalau dipikir-pikir, Millennia bukan sekedar seorang kardinal. Tak disangka bahwa Kegelapan Dunia Lain bersemayam didalam dirinya—"

Dengan penampilan yang langka, Restia bergumam dengan ekspresi serius.

"Ya, cewek itu memang penuh misteri."

Kegelapan Dunia Lain mampu membuat para Elemental Lord gila, namun dia bisa menyimpannya didalam mata kanannya. Transformasi Greyworth mungkin adalah kelakuan dia juga.

Bagaimana dia bisa mempertahankan kewarasannya?

(Atau mungkin. Dia sudah gila sejak dulu...)

Terjadi keheningan.

Tick-tock, tick-tock... Didalam kamar yang tenang itu, hanya suara jam yang terdengar.

Kamito berdeham ringan.

"Jadi, selanjutnya..."

Dia bertanya dengan nada suara berat.

"Saat itu, kenapa kamu tidak hancur?"

"......"

—Saat itu.

Didepan altar Elemental Lord, Restia seharusnya sudah dihancurkan.

Dengan tangannya sendiri, Kamito telah menikam dada Restia.

Meski demikian, dia masih bisa bertahan.

Jauh didalam hutan Laurenfrost, dia berubah menjadi wujud cewek manusia—

"Ya memang—"

Restia mengangguk dan menatap mata Kamito.

"Ijinkan aku menceritakan padamu. Apa yang terjadi padaku dihari itu—"

Bagian 3[edit]

—Hari itu.

Hanya tim pemenang dalam turnamen Blade Dance yang diijinkan bertemu dengan para Elemental Lord di altar mereka—

Kamito dan timnya berusaha membebaskan Elemental Lord Api dari pengrusakan oleh Kegelapan Dunia Lain.

Akan tetapi, berdiri didepan singgasana dengan perasaan yang rumit, Kamito hendak mengayunkan Demon Slayer lalu...

Pikirannya tiba-tiba dikendalikan oleh suaranya, suara milik Elemental Lord Kegelapan, Ren Ashdoll.

—O Raja Iblis, lakukan dan lepaskan kegelapan sejati diatas dunia ini.

Terhadap suara manis itu, yang tampak melahap pikirannya, Kamito berjuang mati-matian namun sia-sia. Dia langsung tertelan oleh kegelapan yang keluar dari singgasana, membuat dia kehilangan kesadaran secara seketika.

Lalu, ditengah-tengah kegelapan itu—

Kamito melihat pemandangan yang menakutkan.

Itu seperti terkubur dalam kegelapan yang tiada akhirnya—

Suatu pasukan dari ribuan, puluhan ribu malaikat yang kuat.

—Jika mahluk-mahluk itu muncul di Astral Zero, dunia akan berakhir.

Itulah yang terpikirkan oleh Kamito secara naluriah. Lalu dalam sekejap, kegelapan yang melingkupi pandangannya menghilang. Saat dia menyadarinya, Kamito melihat bahwa Demon Slayer yang dia pegang telah menusuk singgasana itu.

Tersenyum sambil memeluk Kamito, Restia juga tertikam oleh tusukan itu.

—Sebelum kehendaknya melahapku, Kamito, tolong bunuh aku.

Restia berbicara dengan ekspresi damai diwajahnya.

Jika kehendak Ren Ashdoll, yang terkontaminasi oleh Kegelapan Dunia Lain melahap Restia, kehendak itu akan menggunakan Restia sebagai media untuk mengendalikan pikiran Kamito. Oleh karena itu, Restia berniat mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi Kamito agar tidak tertelan oleh kegelapan.

Roh terkontrak milik Kamito, Restia Ashdoll, kemudian menghilang sedangkan kekuatannya diwariskan pada roh terkontrak lainnya, Est, mengubah Est menjadi Demon King's Sword.

—Itulah yang seharusnya terjadi.

Inilah yang bisa diingat Kamito. Seminggu telah berlalu saat dia terbangun setelah kejadian itu, di ranjang di Akademi Roh Areishia.

"—Saat itu, aku telah meneguhkan hatiku untuk hancur bersama dengan kehendak Ren Ashdoll."

Restia bergumam.

"Akan tetapi, kamu tidak hancur—"

"Ya, aku tidak hancur.,l

Restia mengangguk ringan.

Saat itu, dengan Demon Slayer menancap pada dadanya, Restia pasti hancur tak peduli bagaimana seseorang memikirkan tentang hal itu. Justru karena itu, Kamito mengalami pukulan berat hingga dia kehilangan semua ingatan tentang Restia.

"Tepat saat eksistensiku hampir lenyap, suatu mantra tertentu diaktifkan."

"Mantra?"

"Ya, sepertinya sebuah mantra yang dipasang oleh penciptaku, Elemental Lord Kegelapan. Ketika nyawaku dalam bahaya, kemampuanku sebagai seorang roh disegel, lalu aku dilahirkan kembali di alam manusia. Ini mungkin sihir bertipe sama sepeti yang dia gunakan untuk mentransfer kekuatannya pada para Raja Iblis—"

Jadi Ren Ashdoll telah memperkuat Restia dengan sebuah mantra, huh?

Bahkan tanpa menyadari hal itu, Restia dilahirkan kembali di alam manusia karena sihir ini.

Ketika Kamito bangun di Akademi, segel roh ditangan kirinya telah lenyap, mungkin karena kekuatannya sebagai seorang roh disegel sementara waktu.

"....Aku mengerti, jadi itu sebabnya."

Elemental Lord Kegelapan, Ren Ashbell pasti sudah memperkirakan bahwa Restia akan menghadapi suatu krisis semacam ini dan menanam sihir kebangkitan ini pada dia. Tetapi ironis sekali, tak disangka bahwa krisis ini disebabkan oleh Ren Ashdoll sendiri...

"Gimanapun juga, syukurlah."

Kamito berkomentar dengan tulus.

Karena Restia dilahirkan kembali di alam manusia, dia dibebaskan dari krisis terkorosi oleh Kegelapan Dunia Lain. Ingatannya yang hilang juga dipulihkan dengan bantuan Raja Naga Bahamut.

"Aku setuju, tapi—"

Restia melanjutkan.

"Kamito, apa yang terjadi setelah itu adalah bagian yang penting."

"...Huh?"

Kamito mengernyit dalam menanggapi apa yang dikatakan Restia.

"Apa maksudmu?"

"......."

Mata Restia tampak goyah, itu adalah situasi yang langka—

Lalu dengan tekad yang teguh, dia mulai berbicara.

"....Setelah menghilang dari altar Elemental Lord, kesadaranku terbangun didalam kegelapan yang terbentang tanpa ujung."

"Didalam kegelapan....?"

Kamito mulai bereaksi.

"Jangan bilang itu adalah—"

"Memang, itu adalah mimpi yang sama yang kita mimpikan bersama—"

Beberapa hari belakangan, Kamito bermimpi beberapa kali, melihat Restia meringkuk di dalam kegelapan, menunggu dia didalam kegelapan.

"Setelah dilahirkan kembali, aku terpenjara disana, didalam dimensi kegelapan, suatu perwujudan dari kesadaranku. Lalu disana, aku menyadari kehadiran sesuatu—"

"Sesuatu?"

Kamito bertanya, dan Restia mengangguk.

"Ya, sesuatu tersegel didalam diriku, sebuah kotak hitam yang berisikan ingatan dalam jumlah yang besar—"

"Sebuah kotak hitam...."

"Ya, didalam jurang dari dimensi kegelapan yang terwujud dari kesadaranku, ada sesuatu yang gelap, bahkan lebih gelap daripada kegelapan. Ingatan dalam jumlah yang besar tersegel disana tanpa aku ketahui. Lalu ketika aku membuat kontak dengannya, sejumlah ingatan itu mengalir kedalam pikiranku—"

Dia pasti ingat apa yang terjadi pada saat itu—

Kamito tidak melewatkan Restia yang gemetar pelan.

"Kamito, aku—"

Dia berbicara pelan.

"Aku adalah seorang roh yang dibuat menggunakan Kegelapan Dunia Lain itu."

"....huh?"

Maksud dari kata-kata Restia—

Kamito tak mampu memahaminya dengan segera.

(Restia adalah seorang roh yang dibuat menggunakan Kegelapan Dunia Lain?)

Kamito menelan ludah dan menatap wajah Restia. Tak seperti biasanya, dalam penampilan yang langka, matanya yang berwarna senja sedikit goyah sembari sedikit gelisah.

"....Memangnya ada apa dengan hal itu?"

Akhirnya, Kamito bertanya.

"Tepat seperti yang disiratkan kata-kata itu—Bukan, mungkin menyebut aku diciptakan menggunakan Kegelapan Dunia Lain tidak sepenuhnya akurat."

Restia menggeleng dan berbicara.

"Wujud elemen-elemen dari Astral Zero sebagian besar dari komposisiku, sama seperti roh-roh kegelapan yang lain. Akan tetapi, akar dari eksistensiku, yang membentuk inti diriku, adalah Kegelapan Dunia Lain yang menyebabkan para Elemental Lord menjadi gila. Itu terkubur jauh didalam diriku—"

Restia menyentuh dadanya sendiri dengan ujung jarinya dan tersenyum mengejek diri.

"Kenapa hal semacam itu—"

Tertegun, Kamito bergumam secara tidak sadar.

"...itu, aku sendiri juga nggak tau."

Restia menggeleng.

"Aku nggak tau apakah itu karena sejak awal aku diciptakan menggunakan Kegelapan Dunia Lain, tetapi aku tidak terkorosi. Aku juga nggak tau kenapa, tetapi kegelapan itu sudah pasti ada didalam diriku. Ketika Millennia Sanctus berusaha membunuh Bahamut, aku bisa menyeraolp kegelapan yang dia gunakan karena kegelapan yang ada didalam diriku bangkit—"

".........."

Memang, didalam ruang tahta, ketika Bahamut berada dalam bahaya, Restia menyerap Kegelapan Dunia Lain milik Millennia. Kamito berniat menanyai dia nanti tentang kenapa dia bisa melakukan hal itu. Jika dia memang sejak awal diciptakan menggunakan Kegelapan Dunia Lain, maka semuanya masuk akal.

(Tetapi, ngomong-ngomong...)

Beberapa pertanyaan muncul dibenak Kamito.

Meskipun dia sudah menjelaskannya—

Jika Kegelapan Dunia Lain bersemayam didalam Restia juga, kenapa dia tidak kehilangan kewarasannya seperti para Elemental Lord? Jika penciptanya, Ren Ashdoll sang Elemental Lord Kegelapan, adalah orang yang menanamkan kegelapan itu pada dirinya, untuk alasan apa dia melakukannya? Kenapa dia tidak menyembunyikan fakta ini dari Restia, bawahannya yang setia....?

"Apa kamu ingat sesuatu yang lain?"

Kamito bertanya.

"Umm, ketika kamu membuat kontak dengan ingatan dari kotak hitam itu...."

"Aku hanya bisa membuat kontak dengan sebagian kecil dari ingatan yang tersegel tersebut. Aku dihempaskan segera setelah aku menyentuh disuatu tempat yang lebih dalam."

"Aku mengerti...."

Ingatan tersegel dalam jumlah yang besar yang bahkan Restia sendiri tak mampu masuk.

Apa sebenarnya arti dari semua ini—?

(Pada akhirnya, aku masih tidak tau apa-apa mengenai Restia...)

Kamito merenung.

Lalu—

"Hei, Kamito."

"...Hmm?"

"Apa tepatnya aku ini?"

Restia bertanya disertai ketidak yakinan dalam suaranya.

"....!?"

Kamito tak bisa berkata apa-apa.

(....Oh benar. Restia sendiri seharusnya adalah orang yang paling gelisah mengenai hal ini.)

Kegelapan Dunia Lain mampu membuat roh-roh menjadi gila. Tak disangka bahwa sesuatu seperti itu ada didalam dirinya, disertai ingatan tersegel dalam jumlah yang besar juga. Meskipun seorang roh, yang jangka hidupnya hampir tak terbatas, akan sangat sulit untuk tidak merasa gelisah.

"Restia—"

Memanggil namanya, Kamito memegang tangannya.

STnBD V16 025.jpg

"...Kamito?"

"Tidaklah penting apakah Kegelapan Dunia Lain ada didalam dirimu atau tidak. Aku benar-benar senang kau kembali kesampingku. Ini adalah perasaan sejati yang bisa aku sampaikan padamu sekarang."

Mengatakan itu, Kamito memeluk Restia dengan kuat.

Perasaan rambut lembutnya menyapu pipinya, dia merasakan perasaan nostalgia.

Restia mengerang pelan dan dalam diam merangkulkan lengannya pada punggung Kamito. Menggenggam erat seragam Kamito dengan jari-jarinya. Perasaan kasih sayang ini cukup langka untuk dikihat dari dia.

"...H-Hei, Restia?"

Tanggapannya yang tak terduga membuat Kamito tersipu, membingungkan dia.

"Fufu, aku merasa agak lelah. Kurasa aku butuh tidur."

"....A-Aku mengerti. Wajar saja."

Kamito mengangguk dengan gugup, menempatkan tangannya pada kepala Restia dan membelainya.

....Ini wajar saja. Restia telah bertarung habis-habisan melawan pedang iblis milik Greyworth juga.

"Untuk memulihkan energi, aku butuh istirahat selama beberapa saat—"

"Ya, aku mengerti.... Beristirahatlah dengan baik."

"Terimakasih, Kamito."

Restia tersenyum, terlihat lega. Berubah menjadi partikel cahaya, dia menghilang.

Lalu pedang iblis kegelapan yang akrab terwujud ditangan Kamito. Mengangkatnya dengan lembut, Kamito meletakkan pedang itu disebelah Est dan membaringkan dirinya diatas ranjang.

(....Kegelapan Dunia Lain, dan ingatan tersegel juga... Huh?)

Sejak beberapa saat yang lalu, Kerajaan Suci mati-matian mencari Restia. Mungkinkah ini berhubungan dengan Kegelapan Dunia Lain yang bersemayam didalam Restia...?

Banyak pertanyaan muncul dalam pikiran Kamito secara bersamaan.

Akan tetapi, satu hal yang pasti.

Kamito menatap segel roh dipunggung tangan kirinya.

(....Dia akhirnya kembali.)


Bab 2 - Kegelapan Zohar[edit]

Bagian 1[edit]

Fajar. Setelah tidur beberapa jam, Kamito keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah tas suvenir, lalu berjalan kearah ruang tahta Raja Naga Bahamut.

Kamito ingin menyampaikan rasa terimakasih karena telah memulihkan ingatan Restia. Yang lebih penting lagi, Kamito khawatir pada dia setelah cobaan dari Kegelapan Dunia Lain milik Millennia yang masuk dalam dirinya.

Berjalan disepanjang koridor yang terbuat dari batu, dia sampai di ruang tahta.

Di pintu masuk, dua penjaga berdiri didepan pintu raksasa. Menyadari kedatangan Kamito, mereka dalam diam memberi hormat pada dia.

"Aku ingin menghadap Raja Naga."

"Yang Mulia telah memberi ijin. Silahkan masik."

Sedikit menundukkan kepalanya pada kedua penjaga itu, Kamito berjalan melewati pintu.

(....Tampaknya dia tau aku akan datang.)

Karena dikutuk oleh Elemental Lord Tanah ribuan tahun yang lalu, dia terpenjara didalam benteng ini, tak mampu melangkah keluar meski hanya satu langkah saja. Akan tetapi, dia selalu mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi didalam benteng.

Saat dia berjalan disepanjang koridor, disertai oleh suara langkah kakinya sendiri yang bergema, dia akhirnya sampai di aula besar.

Ini adalah ruang tahta, tempat dimana Raja Naga Bahamut dari Dracunia memerintah.

Kamito mendekati karpet—

"—Selamat datang, orang yang ditakdirkan. O anggota dari ras punya kebiasaan malas."

Sebuah raungan menggelegar, tampak seperti menyebabkan tanah berguncang, bergema di aula.

Kamito berhenti. Cahaya terang terbentuk diatas kepala, menerangi puncak karpet tersebut. Kabut tebal muncul dibawah kaki, seketika memenuhi sekeliling dengan suasana yang tak menyenangkan.

Dibelakang tirai yang tersampir dari langit-langit, siluet besar memasuki pandangan.

Itu adalah bayangan dari naga raksasa yang menakutkan dengan sepasang tanduk yang melengkung.

"Aku, raja dari para raja dan penguasa dari umat naga, telah menunggu engkau—"

"...Uh, bisakah kau menyudahi akting itu?"

Kamito menyela suara menggelegar itu dengan mata yang disipitkan.

"......."

Setelah keheningan sesaat....

"....Ya ampun, itu menjengkelkan karena aku harus mempersiapkan semuanya."

Tirai diatas karpet tersebut naik. Raja Naga Dracunia mengungkapkan wujud sejatinya.

Duduk jauh dibelakang tirai itu bukanlah seekor naga raksasa—

Sebaliknya, itu adalah cewek muda dengan sepasang mata merah yang mempesona.

Bersinar samar dengan pendar, rambutnya yang berkilau berwarna lapis lazuli. Kamito merasa terpesona oleh tubuhnya yang ramping dan pucat.

Akan tetapi, sifat dari sosok cewek itu jelas-jelas bukan manusia.

Disisi kepalanya ada dua tanduk melengkung yang indah.

Memang, wujud sejati dari Raja Naga yang memerintah Dracunia, kekuatan besar dalam skala internasional, adalah—

Roh naga ini dengan penampilan seorang cewek muda yang menggemaskan.

Cewek roh naga, Bahamut, cemberut dan melotot pada Kamito. Dia agak tersinggung bahwa penampilan yang dia persiapakan telah diabaikan.

"....Dari yang bisa kulihat, tampaknya kau baik-baik saja?"

Pada cewek yang ada dihadapannya, Kamito sedikit mengalihkan tatapannya dan berkata.

Ini bukan karena penampilan terbuka dari roh naga terkuat itu. Sebaliknya, dia menghindari tatapan Bahamut yang berbahaya seperti biasanya.

Pucat seperti mutiara yang dipoles, lengan dan kakinya seperti patung yang sangat indah.

Selain itu, ada dua tonjolan lembut didadanya.

Tubuhnya yang indah, seperti mahakarya dari dewa, memasuki pandangan Kamito seutuhnya tanpa adanya penghalang.

Meskipun payudaranya dan bagian bawah tubuhnya tersembunyi diantara cabang-cabang dan daun-daun pohon, Kamito masih tercengang oleh penampilannya yang menggoda.

Apa dia merasakan tanggapan Kamito?

"Ya ampun, apa kamu mengkhawatirkan aku? Aku, sang Raja Naga—"

Dia tersenyum nakal.

"Ya, kurasa begitu...."

"Fufu, sungguh perasaan yang menyenangkan, memiliki seseorang yang mengkhawatirkan aku. Sudah ribuan tahun lamanya sejak terakhir kali aku dikhawatirkan seseorang."

Begitulah seorang roh. Raja Naga dengan santai mengacu pada scala waktu yang tak terbayangkan lamanya. Kamito menaiki tangga ke singgasana dan duduk disebuah pohon disamping singgasana.

"....? Ada apa dengan aroma harum ini?"

Sang Raja Naga mengerutkan alisnya dan berkomentar sambil mengendus.

"Aku membawa oleh-oleh untuk mengunjungimu. Aku benar-benar minta maaf ini hanyalah sesuatu yang murah..."

Kamito mengeluarkan roti kismis, terbungkus kertas minyak, dan menyerahkannya pada sang Raja Naga.

Ini adalah makanan yang dia beli di toko yang dia lewati ketika Leonora mengajak dia berkeliling kota.

Roti itu terdiri dari daging cincang dan sayur-sayuran lalu dibungkus dalam adonan kier, lalu digoreng kering setelah ditaburi lada.

Menurut Leonora, ini rupanya adalah makanan yang paling lezat diseluruh kota. Kamito sudah mencobanya satu waktu itu, dan memang, itu sangat lezat.

"Sungguh persembahan yang langka.... Apa itu makanan?"

Menatap kue itu, sang Raja Naga memeriksanya dengan tatapan yang sangat penasaran.

"Ini adalah salah satu dari keahlian Dracunia yang terkenal, mie goreng... Jangan bilang kau belum pernah mendengarnya?"

"Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya. Seseorang akan kesulitan menemukan makanan biasa ada diantara persembahan."

"Gimanapun juga, kau adalah raja. Bukankah kau bisa mendapatkan persembahan apapun yang kau mau?"

"Mustahil. Sebagai raja, martabatku akan sepenuhnya hancur kalau aku meminta makanan rakyat biasa."

"....Aku mengerti. Kadang-kadang jadi raja memang sulit."

Kamito berkomentar secara sungguh-sungguh.

"Memang. Segalanya sudah lebih baik jaman sekarang. Ada saat-saat dimasa lalu ketika ratusan ternak atau kurban hidup dari seorang wanita muda dipersembahkan padaku. Yah, kurasa aku hanya mendapatkan hidangan penutupku sebagai pelaku untuk menciptakan imej dari Raja Iblis yang kejam..."

"...Kau pahamkan kalau itu sulit."

"Memang....."

Mengatakan itu, sang Raja Naga tiba-tiba mengangkat bahu dan mendekatkan bibir rampingnya pada Kamito.

"...?"

Bingung, Kamito hanya memiringkan kepalanya.

"......"

"......"

"Yah, bisakah kau cepat menyuapkan roti itu padaku?"

"Huh?"

"Yah, tanganku... terikat. Karena kutukan ini."

"O-Ohhhhh, aku paham—"

Tubuh sang Raja Naga terikat pada tanah ini karena kutukan dari Elemental Lord Tanah. Sedikit saja gerakan dari dia, maka cabang-cabang tanaman itu akan menjerat tubuhnya, melumpuhkan dia.

"Tapi jika demikian, apa yang kau lakukan dengan persembahan yang diberikan oleh para princess maiden?"

"Selama ini, aku hanya menyuruh mereka membawa pergi persembahan itu setelah mencium aromanya. Kemungkinan besar, para princess maiden-ku berbagi persembahan tersebut diantara mereka sendiri."

"Aku mengerti...."

Benar, roh tidak memerlukan makanan untuk mempertahankan eksistensi mereka. Yang mereka perlukan adalah mengisi kembali energi spiritual mereka, kekuatan suci.

Meskipun para roh juga bisa mendapatkan beberapa energi dari makanan, para princess maiden menyajikan makanan pada para roh sebagai persembahan hanya untuk menyenangkan mereka. Contohnya, Est dan Scarlet yang ikut makan bersama dengan Kamito dan teman-temannya, tetapi bagi para roh, ini tidaklah penting. Akan tetapi, Kamito merasa tidak enak hati pada Bahanut karena memberikan makanan didepan dia, namun tak mampu memakannya.

"....Baiklah, aku paham. Umm, buku mulutmu."

Uhuk uhuk. Kamito berbicara setelah batuk ringan.

"Hmmm, y-yah, ini membuatku agak gugup...."

Sang Raja Iblis berbicara, rupanya cukup malu, membuka mulutnya yang menggemaskan dengan "Ah~"

Untuk menghindari menatap tubuh telanjangnya, Kamito mengerahkan segala kehendaknya untuk mengalihkan tatapannya. Dengan jari-jarinya, dia memasukan kue itu ke mulut manisnya.

"...Umph. Umph umph."

Raja Naga merasakan kue itu dengan cermat. Siapapun yang melihat adegan ini kemungkinan besar akan kesulitan menghubungkan dia dengan Raja Naga Bahamut dari Dracunia, yang ditakuti oleh semua negara dibenua.

"Ahh, tak disangka bahwa kenikmatan semacam ini ada didunia ini!"

Dengan sisa makanan di mulutnya, dia berseru dengan senyum kebahagiaan yang cerah.

Kamito senang bahwa dia menikmatinya.

"Hei, mulutmu penuh dengan makanan itu."

Kamito hendak menyeka sudut bibirnya ketika....

"T-Tahan. Apa yang kau lakukan!?"

Memerah padam, sang Raja Naga berusaha kabur.

"Jadilah cewek yang patuh dan jangan bergerak."

"....Permisi, haruskah aku mengingatkanmu bahwa aku adalah sang Raja Naga Dracunia? Sebagai komandan terpercaya dari Ren Ashdoll, aku sang roh naga terkuat, kelas legendaris menurut klasifikasi dari jenismu—Mmph!"

"Ya ya, terserahlah...."

Kamito dengan hati-hati mengelap bibir sang Raja Naga yang terus meronta.


....Martabat sang Raja Naga terancam jatuh.

"Lihat, sudah bersih sekarang"

"Ooh, tak disangka kau adalah orang pertama yang membuat aku, sang Raja Naga, berada dalam kondisi malu seperti itu—"

Sang Raja Naga menatap sambil berlinang air mata pada Kamito.

Tersenyum masam, Kamito berdiri.

"Yah, sudah saatnya bagiku untuk kembali."

"....Aku paham. Aku mengerti."

Sang Raja Naga berbicara dengan sedikit kesepian. Sebuah ranting pohon terulur pada kening Kamito dan meninggalkan tanda kecil. Ini adalah Perlindungan Naga untuk pengelana, berdoa demi keselamatan perjalanan, pesona keberuntungan tradisional dari Dracunia.

"Aku mendoakan keberhasilan dalam misimu di Theocracy."

"Ya, kau bisa mengandalkan aku."

Kamito mengangguk serius.

Misi di Theocracy yang disebutkan sebelumnya adalah bagian dari syarat Dracunia untuk mengakui Ordesia Yang Sah. Misi ini melibatkan penyelamatan putri kedua Theocracy, Saladia Kahn, dari pengurungan.

Niat Dracunia mungkin adalah untuk merusak kepengurusan Sjora menggunakan Saladia sebagai boneka. Meskipun penampilan dari Raja Naga adalah seorang cewek muda. Dalam konteks ini, dia adalah penguasa yang mengatur negara ini selama berabad-abad.

(....Alpha Theocracy, huh?)

Ini adalah negeri yang membangun Sekolah Instruksional, berdiri sebagai markas besar dari pemuja Raja Iblis, serta menjadi tempat kelahiran dari Raja Iblis.

Dengan kebangkitannya saat ini yang terjadi secara bertahap sebagai Raja Iblis, Kamito merasa nasiblah yang menuntun dia ke Theocracy pada saat ini. Dalam diam dia mengepalkan tangannya.

Bagian 2[edit]

Sementara itu di Dragon's Peak di Pegunungan Kelbreth, Claire dan rekan-rekannya berada didalam kuil naga hitam, dimana Rubia berlatih sebelumnya, bekerja keras untuk melampaui batas-batas mereka.

Menggunakan perangkat kuno yang dipasang oleh ras Elf, para cewek itu ditransfer ke dimensi alternatif untuk menghadapi ujian mereka masing-masing. Saat ini, mereka terus menarik keluar potensi tersembunyi didalam diri mereka sendiri.

"Ayo maju, Scarlet!"

"Baik, Master!"

Menanggapi pemanggilan Claire, seorang cewek berselimut api muncul. Bergerak diantara pepohonan dengan kecepatan yang lebih cepat daripada yang bisa diikuti mata telanjang, Scarlet mekepaskan serangan tebasan dengan menggunakan sabit miliknya yang berkobar-kobar.

Roh-roh kegelapan yang bodoh segera terbakar menjadi abu. Disana—

"Berubahlah jadi arang!"

Kemampuan Fireball yang dibanggakan Claire meledak dengan timing yang sempurna.

Roh-roh kegelapan disekitar dilenyapkan bersama dengan pepohonan.

Berputar-putar diudara, Scarlet mendarat ditanah. Meskipun mengangkat jempol pada Scarlet dan menunjukkan ekspresi riang, diwajahnya Claire terlihat tanda-tanda kelelahan yang jelas.

"Huff... Huff... Sudah kuduga. Mempertahankan bentuk ini membutuhkan kekuatan suci dalam jumlah yang teramat sangat banyak."

Terengah-engah, Claire terduduk di tempat.

Meskipun dia mengalahkan ilusi dari kakaknya, membebaskan wujud sejati Scarlet dari Ortlinde dengan kehendaknya sendiri, Claire masih memiliki jalan yang panjang untuk menguasai kendali dari roh api ini.

"....Dengan ini, aku tak bisa mengeluarkan elemental waffe juga."

"Dengan latihan yang teratur, kau pasti akan mendapatkan kendali penuh atas diriku, karena Master, bakatmu melampaui bakat Rubia-sama."

"Aku, lebih kuat daripada Nee-sama? Nggak mungkin, kau pasti bercanda—"

Claire membantah, menggelengkan kepalanya.

"Master, aku memilih membuat kontrak denganmu bukannya memilih Rubia-sama. Harap lebih percaya pada dirimu sendiri—"

Menggerakkan telinganya yang berkobar-kobar, Scarlet menyemangati Claire.

"Aku telah memperhatikanmu sepanjang waktu, bahkan sebagai seekor kucing neraka, memperhatikanmu yang telah bekerja keras, Master. Kau pasti baik-baik saja—"

"......"

Claire berdiri secara tidak stabil.

Bergumam, dia terdengar seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

"....Itu benar, aku harus berdiri disamping Kamito—"

Di dimensi lain, ketiga temannya yaitu Ellis, Rinslet dan Fianna pasti sedang menjalani ujian mereka juga. Sebagai pemimpin Tim Scarlet, itu tak bisa diterima untuk menyerah disini.

"Itu baru namanya semangat, Master!"

Scarlet mengangguk tegas. Meskipun sikap tanpa ekspresinya memyaingi Est, masih ada kehangatan dan perasaan dalam kata-katanya.

"....Kalau begitu ayo lanjutka..... Eh, tunggu sebentar—"

...Pada saat itu, Claire tiba-tiba merasa khawatir tentang sesuatu.

".......?"

"Barusan, kau mengatakan bahwa kau memperhatikan aku sepanjang waktu.... Sepanjang waktu? Bahkan pada malam hari ketika aku tidur juga....?"

"Ya, Master."

Scarlet mengangguk.

"A-Aku paham...."

Wajah Claire tersipu merah padam.

"B-Biarkan aku memperjelasnya. Jangan salah sangka tentang apa yang aku lakukan setiap malam sebelum aku tidur, oke? I-Itu hanya latijan untuk membesarkan ukuran payudaraku!"

"....Benarkah? Kupikir kau memuaskan dirimu sendiri setiap malam sambil memikirkan tentang Kamito-sama—"

"...D-Dasar idiot! Kau benar-benar salah!"

Sambil rambut merahnya berdiri tegak, Claire terus memukulkan tangannya pada bahu Scarlet.

Bagian 2[edit]

Langit diatas gurun saat ini diselimuti awan hitam yang tebal.

Ibukota Theocracy, Zohar, adalah kota yang didirikan oleh Raja Iblis Solomon seribu tahun yang lalu.

Selama Perang Raja Iblis, Sacred Maiden Areishia memimpin Pasukan Pembebasan untuk membakar kota itu, mengubahnya menjadi reruntuhan. Beberapa abad kemudian, kota itu bangkit kembali sebagai kota metropolis yang besar, bertindak sebagai pusat transportasi dalam perdagangan di benua.

Di jantung kota Zohar adalah Scorpia, Istana Kalajengking Iblis dimana sang penguasa tinggal.

Meskipun orang-orang selalu berpikir Scorpia sebagai kastil dimana Raja Iblis Solomon tinggal, sebenarnya itu tidak benar. Selama Perang Raja Iblis, itu hanyalah lokasi dari sebuah benteng militer. Kediaman sebenarnya dari Raja Iblis masih menjadi misteri sampai hari ini.

Scorpia di Zohar telah dibangun tiga ratus tahun yang lalu. Karena administrasi yang kacau pada saat itu, itu dikenal sebagai era dari Pemimpin Gila, Targal Solomon, yang menganggap dirinya sebagai reinkarnasi Raja Iblis. Dia dibunuh oleh pengikutnya, Hajid Kahn. Dari situ, kekuasaannya diwarisi oleh keturunannya sebagai penguasa yang berkelanjutan dari penyembah Raja Iblis.

Sekarang ini, orang yang duduk di tahta penguasa adalah Sjora Kahn, si Penyihir Ular Berbisa.

Setelah keputusan dari turnamen Blade Dance, dia nembunuh ayahnya sendiri untuk merebut tahta.

Penyihir dengan mata berwarna merah—

"....Sungguh menjengkelkan. Mereka terus bermunculan seperti kecambah gak peduli seberapa banyak kita membunuh mereka."

Berdiri di balkon istana, Sjora menatap alun-alun dan menggertakkan giginya karena jengkel.

Yang terlihat di alin-alun istana adalah mayat-mayat yang menumpuk dari para penghianat.

Ini dimaksudkan untuk memperingatkan orang-orang yang menentang dia. Akan tetapi, bahkan setelah mengeksekusi setengah dari pengikut lama, pemberontakan dari para penentang terus bermunculan.

Berkat bantuan Kerajaan Suci, kudetanya berhasil, tetapi kendali Sjora atas negara itu sangat jauh dari kata kokoh. Oposisi pada kenaikan Sjora terjadi diseluruh Theocracy, menghasilkan pemberontakan di berbagai kota. Dipimpin oleh Dracunia, negara-negara sekitar juga memperhatikan dengan penuh ancaman. Lalu ada juga Murders, faksi pedagang lokal di Zohar, yang menganggap ini sebagai peluang bisnis dan secara rahasia mengipasi api kerusuhan sipil.

"....Kenapa, kenapa segalanya tidak berada dalam kendaliku!?"

Tak mampu menekan kemarahannya, Sjora melemparkan gelas wine pada dinding, menghancurkannya.

"Sjora-sama! Ada apa!?"

Mendengar keributan tersebut, para princess maiden berlari ke balkon dengan panik.

Seorang cewek bernama Valmira mengurus kebutuhan harian Sjora sejak dia masih kecil. Dia adalah pengikut terdekat Sjora dan satu-satunya pengikut terpercaya di istana.

"....Tidak ada. Ambilkan aku gelas pengganti."

"Dimengerti—"

Menatap cewek takut-takut itu yang menundukkan kepalanya, Sjora bertanya secara tak sabaran:

"Apa kau punya sesuatu untuk dilaporkan padaku?"

"U-Umm...."

Valmira ragu-ragu sebelum menutup mulutnya.

"Celat katakan. Atau kau mau bergabung dengan orang-orang yang terbaring di alun-alun itu?"

Setelah Sjora berbicara dengan nada mengancam, Valmira akhirnya mengumpulkan tekadnya dan berbicara:

"Barusan, aku menerima kabar dari pasukan pemberontak berkumpul di benteng militer Demon's Fist."

"Demon's Fist—"

Sjora sedikit menyipitkan matanya.

Demon's Fist adalah benteng tak tertembus yang dibangun di kota pertambangan Mordis, berlokasi di timur laut Zohar. Dipuncak gunung berbatu, dinamai sesuai dengan penampilannya yang menyerupai tinju yang diangkat. Mordis tidak hanya sebuah basis militer yang penting, tetapi juga penghasil kristal roh tertinggi di negara ini. Tanpa berpegangan pada Mordis, pembicaraan apapun tentang penyatuan negara akan benar-benar mustahil.

"Semua pemberontakan yang sebelumnya hanyalah skala kecil didalam kota, tetapi kali ini mereka telah bersatu. Yang aku takutkan adalah bahwa mengandalkan pasukan domestik kita tak lagi cukup untuk menanganinya."

Tatapan Valmira menunjukkan pendesakan.

Dalam kebenarannya, pasukan Theocracy sangatlah lemah dan menyedihkan dibandingkan dengan Ordesia atau Dracunia. Selain itu, moral mereka telah jatuh drastis setelah penekanan dari peningkatan pemberontakan yang serius. Tidak hanya itu, tentara dalam jumlah yang tidak sedikit telah meninggalkan pasukan dan menghianati sang penguasa dengan cara secara diam-diam bergabung dengan pasukan pemberontak. Jika pasukan negara mereka sendiri gagal meredakan pemberontakan, itu akan memberi peluang negara lain untuk campur tangan dalam hal militer.

"Tentu saja, para penghianat ini layak mendapatkan hukuman—"

Valmira secara takut-takut melirik wajah penguasanya.

Tetapi secara mengejutkan, Sjora tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan.

Menjilat bibirnya yang berwarna merah darah, dia menyeringai.

"Begitukah? Mereka berkumpul di satu tempat, sungguh sempurna."

"....Bolehkah aku bertanya apa maksudnya?"

"Aku lelah bermain dengan para serangga ini. Ini adalah peluang yang bagus untuk melenyapkan mereka dalam sekali libas, orang-orang bodoh yang berani menentangku."

"Yah, kau ada benarnya, tapi...."

Valmira menelan kata-kata yang hendak keluar dari bibirnya.

Lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Sejak jaman kuno, Demon's Fist merupakan benteng tak tertembus. Kemungkinan besar itulah alasan kenapa pasukan pemberontak memilih tempat itu sebagai benteng mereka. Mengingat kekuatan militer Theocracy saat ini, menaklukkan tempat itu tidaklah mudah.

"—Mari gunakan itu dan kita akan bisa mengurus merdeka dalam sekejap."

"Itu....?"

Valmira memiringkan kepalanya... Apa sih yang dia bicarakan?

"Ya, itu akan sempurna sebagai bahan percobaan, kau setuju kan?"

"...!?"

Ketika Sjora khan menyeringai....

Valmira akhirnya memahami niat Sjora.

".....Tak mungkin, kau berniat melepas segel itu!?"


Bab 3 - Reuni[edit]

Bagian 1[edit]

Beberapa hari telah berlalu setelah insiden serangan Greyworth yang mengguncang Dracunia dari atas sampai bawah.

Para Knight of the Dragon Emperor telah melakukan pencarian secara menyeluruh di dasar jurang, tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Tak sedikitpun jejak Greyworth yang bisa ditemukan.

Namun, Kamito tidak terkejut.

(Perempuan tua itu bukanlah tipe orang yang akan mati semudah itu...)

Mungkin aku akan bersilangan pedang dengan dia lagi—Tidak, aku yakin pasti akan bersilangan pedang lagi. Kamito merasakan firasat itu dengan jelas.

Sambil menunggu kembalinya Rubia dan kapalnya dari menjemput Muir dan Lily di Kerajaan Suci, Kamito melatih kemampuan pedang gandanya siang dan malam.

Sekarang Restia telah kembali, akan lebih baik untuk melatih keseimbangannya dalam menggunakan pedang ganda, memberi dia lebih banyak ketajaman ketika melawan Greyworth. Bagaimanapun juga, ilmu pedang yang Greyworth ajarkan pada Kamito hanya terdiri dari kemampuan ksatria orthodok, yang mana pergerakannya bisa dilihat seluruhnya oleh Greyworth.

"Kamito, nggak ada perlunya menggunakan pedang roh kegelapan. Aku saja sudah cukup."

Ketika Kamito berlatih ayunan pedang, Est berbicara dengan suara yang benar-benar tanpa ekspresi sembari berada dalam wujud pedang.

"Begitukah? Kupikir itu mustahil si Penyihir Senja itu akan kalah hanya dengan menggunakan Nona Roh Pedang saja, kan?"

"Kami akan menang. Meskipun tanpa roh kegelapan, Kamito dan aku akan menang."

"Hei, kalian berdua, bisakah kalian akur..."

Meletakkan kedua pedang itu di lantai, Kamito mendesah.

...Argumen-argumen didalam pikirannya seperti ini akan melemahkan konsentrasinya.

"Est, bukankah kamu seperti seorang kakak yang baik ketika Restia hilang ingatan?"

"Yah—"

Est nggak bisa berkata apa-apa.

"Fufu, baikan yuk, Onee-chan."

"Diam kau, roh kegelapan—"

Pedang baja itu bersinar dan menyala dalam kegeraman yang terlihat jelas.

Bagian 2[edit]

".....Syukurlah, kalau saja mereka berdua bisa akur lebih baik lagi."

Setelah mengakhiri latihannya dengan kedua roh terkontraknya dan mandi di tempat pemurnian untuk membasuh keringatnya, Kamito pergi ke fasilitas pengobatan ksatria dimana Leonora dirawat.

Terluka oleh pedang terkutuk milik Greyworth, Leonora memerlukan pemulihan. Dia akhirnya siuman pagi ini dan Kamito mendengar nahwa dia telah pulih sampai titik dimana boleh dijenguk.

Sampai di ruang penyembuhan, Kamito mengetuk pintu.

"Ini aku, Leonora. Boleh aku masuk?"

"Kamito? Y-Ya, nggak masalah—"

Mendengar jawaban itu, Kamito membuka pintunya dengan lembut.

Lalu.....

".....Apa-apaan itu!?"

Mau nggak mau Kamito berteriak terkejut.

Didepan matanya adalah pemandangan yang benar-benar tak terduga.

Duduk di ranjang, Leonora dengan lembut mengelus perutnya yang buncit yang berada dibalik selimut.

"A-Apa, apa apa...."

"....? Apa ada masalah, Kamito?"

"K-K-Kamu, itu...."

Melihat mulut Kamito yang buka-tutup—

"Ohh, maksudmu anak ini?"

STnBD V16 048.jpg

Leonora tersenyum sambil terkikih.

"Ini semakin besar, makasih untuk benihmu—"

Dia mengatakan itu dengan sangat alami.

"...!?"

Kata-kata mengejutkan tersebut membuat pikiran Kamito nge-blank sesaat.

"....T-Tunggu dulu! Aku nggak ngelakuin apa-apa!"

Kamito berteriak panik.

...Itu terjadi di hari ketika Kamito dan rekan-rekannya tiba di Dracunia. Mengajak Kamito berkeliling ibukota naga, Leonora mengajak dia untuk naik sebuah kamar terbang pribadi, sebuah Dragondola, dan bahkan meminta benih Kamito ketika mereka berada didalam kamar itu.

"A-Apa-apaan yang sedang terjadi..."

Melihat Kamito masih kalang-kabut....

"....Ya ampun, Kamito, nggak bisakah kamu bermain-main sedikit?"

"Huh?"

Leonora mengangkat bahu dan tersenyum masam sebelum membuka selimut diatas perutnya.

Apa yang terungkap dibawahnya adalah—

Cukup besar sampai bisa dipeluk seseorang, sebuah telur yang permukaannya memiliki warna lapis lazuli.

"Oh—"

Kamito ingat tentang telur jenis ini. Itu adalah telur drake yang pernah dia lihat di ibukota naga, di toko yang menjual produk khas lokal.

"Ini diberikan padaku oleh seorang teman dari Knight of the Dragon Emperor, karena suatu legenda tua mengatakan bahwa telur drake memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka dan menghilangkan rasa sakit."

"K-Kamu...."

Bergumam mati-matian, Kamito mendesah lega.

"....Yah, kamu tampak seperti lebih sehat dari yang aku bayangkan. Aku senang sekali."

Melangkah masuk kedalam ruang penyembuhan, dia duduk di kursi disamping ranjang.

"Apa lukamu sudah baikan sekarang?"

"Pada dasarnya, ya. Itu berada dalam kondisi kritis beberapa saat, tapi sepertinya tahap itu sudah lewat."

Seperti yang di harapkan dari seseorang yang membuat kontrak dengan naga roh yang memiliki berkat termasuk penguatan fisik. Kemampuan pemulihannya jauh melampaui orang biasa meskipun masih dibawah Kamito, yang dilindungi oleh kekuatan dari Ren Ashdoll sang Elemental Lord Kegelapan.

"Apa kamu bisa makan secara normal sekarang?"

"Ya, nggak ada masalah... Tapi sekarang aku ngidam steak."

".....tidak, kupikir steak kurang bagus."

Sambil membuat komentar tajam, Kamito mengeluarkan beberapa buah dari tas. Dikenal sebagai buah naga, bentuknya seperti sisik naga dan dikatakan memgandung kekuatan suci kualitas tinggi.

Tepat saat Kamito menggunakan sebuah pisau buah untuk mengupas kulitnya yang keras—

"Kamito—"

"Hmm?"

"Kami menepati janjimu padaku."

Kata Leonora.

Janji yang dia sebutkan mungkin mengacu pada permintaannya pada Kamito teoat sebelum dia pingsan.

Lindungi Raja Naga, lindungi Dracunia— Itulah yang dia katakan pada Kamito.

"....Orang yang menyelamatkan Raja Naga adalah Restia, bukan aku."

Kamito menggeleng untuk menanggapinya. Malahan, dia menganggap dirinya sendiri adalah orang yang salah sebab dia meninggalkan Raja Naga karena dia gagal menyadari kalau serangan Greyworth adalah pengalihan.

"Tidak, kamu melindungi Dracunia. Aku menyatakan rasa terimakasihku padamu atas nama Knight of the Dragon Emperor. Makasih Kamito."

Menatap wajah Kamito, Leonora tersenyum lembut. Melihat senyum polos seperti itu dari dia, berkebalikan dengan perilakunya yang biasanya yang menyerupai seekor naga ganas, Kamito mau tak mau merasa terpesona.

"Uh, gimana ya, itu nggak termasuk itungan..."

Sambil berhati-hati untuk tidak menunjukkan ketenangan batinnya yang sudah kacau, Kamito berusaha mati-matian untuk berbicara setenang mungkin.

"Uh, apa ada hal lain yang bisa aku lakuin?"

Sebagai balasan untuk bantuan Leonora di ibukota Ordesia, dia berjanji untuk membalas budi pada dia.

Sesuatu seperti melindungi sang Raja Naga adalah sesuatu yang akan dia lakukan bahkan tanpa perlu dimintai oleh Leonora. Menganggap itu sebagai menepati janjinya adalah sesuatu yang tak bisa diterima Kamito secara pribadi.

"Kalau begitu, seorang anak—"

"Apapun selain yang itu."

"...Hmm, memilih sesuatu selain anak, itu adalah pilihan yang cukup sulit."

Menempatkan jarinya di bibirnya yang manis, Leonora mulai berpikir secara serius... Apa-apaan itu.

Setelah beberapa saat, dia perlahan-lahan mengangkat wajahnya—

"K-Kalau begitu, b-bisakah kamu membantuku membasuh tubuhku?"

"Huh?"

"Uh, karena tidur diranjang begitu lama, aku berkeringat cukup banyak."

"Uh, bukankah lebih baik untuk meminta perempuan yang ada di fasilitas untuk hal semacam itu?"

"Kamito, bukankah kamu mengatakan kamu akan melakukan apapun?"

Leonora cemberut penuh ketidaksenangan.

"Yah, uh..."

"Aku hanya meminta bantuanmu untuk membasuh keringat yang menyebabkan aku merasa nggak nyaman. Atau kamu mengakui kalau kamu memiliki pemikiran-pemikiran bejat?"

"B-Baiklah...."

Kamito menggeleng dengan panik ketika Leonora melototi dia.

(...Haaaah, gimanapun juga aku sudah berjanji.)

Kamito mencelupkan handuk di sebuah wadah air yang ada di meja sebelah ranjang, lalu memerasnya.

Leonora menghadapkan punggungnya pada Kamito dan melorotkan mantelnya. Lekuk elegan dari punggungnya selembut porselen putih.

Kamito dengan gugup menahan nafasnya, lalu segera membulatkan tekadnya dan mengusapkan handuk tersebut pada punggung Leonora.

"...Hyah... Mmmm♪"

Seketika, tubuh Leonora sedikit bergetar.

Kamito sedikit menghela nafas dan mulai menyeka punggungnya yang pucat dengan hati-hati.

Sembari mengalihkan tatapannya dan berusaha untuk tidak menatap payudaranya yang besar, Kamito dengan cermat menyeka keringat dari punggungnya. Meskipun ada otot-otot lentur pada tubuhnya, kulitnya sangat lembut dan halus kontras dengan sosoknya yang memegang sebuah pedang besar. Kemungkinan, ini adalah karena efek penguatan fisik dari sihir atribut naga, yang mana menghindari keperluan untuk meningkatkan otot-otot yang tak diperlukan.

"...Ah... Ahhhh♪"

Ketika Kamito menyentuh punggung bagian bawahnya. Leonora mengeluarkan suara aneh.

"A-Apa-apaan sih!?"

"C-Caramu menyentuhku terasa agak erotis...."

Leonora berbicara dengan penampilan gelisah.

"O-Otakmu yang ngeres!"

"Y-Ya, aku tau.... Tapi, disana... Ah♪"

"Kamu'nya yang terlalu sensitif!"

"M-Maaf, sebenarnya ini, pertama kalinya, kulitku, d-disentuh seorang pria...."

Memerah, Leonora menjelaskan secara canggung.

"A-Aku paham...."

Diberitahu sesuatu seperti itu secara langsung, Kamito nilai merasa jantungnya mulai berdetak kencang juga.

"Oh, uh, aku bisa menyeka bagian depannya sendiri, jangan khawatir."

"Ya, tolong lakukan sendiri, jangan suruh aku...."

Teringat pemandangan dari payudaranya di Dragondola, Kamito tersipu.

Sembari jantungnya berdetak tak terkendali, Kamito menyelesaikan tugasnya untuk memyeka punggungnya, mencelupkan handuk itu ke air dan memerasnya lagi.

Mengenakan mantelnya lagi, Leonora menundukkan kepalanya malu-malu. Tersipu agak mereka, lelehnya tampak sangat seksi.

"Makasih banyak, Kamito. Itu terasa nikmat."

Dengan ekspresi malu, Leonora berterimakasih pada dia.

"....N-Nggak masalah."

Kamito mengangguk secara ambigu sebagai tanggapan lalu batuk ribuan dan berfoto dari kursinya.

"K-Kalau Nah Itu sudah waktunya bagiku untuk pergi. Aku akan mengganggumu kalau kelamaan disini."

"B-Benarkah? Aku nggak nganggap kamu mengganggu..."

Leonora bergumam dengan sedikit kekecewaan. Lalu fia beralih ke ekspresi serius.

"Selanjutnya kamu akan menuju ke Theocracy. Ekstra berhati-hatilah. Selama Blade Dance, aku pernah bertarung sekali dengan si penyihir bernama Sjora Kahn dan merasakan aura berbahaya dari dia."

".....Ya, aku tau."

Kamito mengangguk.

"Aku benar-benar ingin pergi untuk membantumu, tetapi sayangnya, aku masih harus memulihkan diri selama beberapa saat sebelum aku bisa bergerak dengan bebas. Selain itu, kalau aku membantu, pendapat publik mungkin mulai mengatakan bahwa Ordesia Yang Sah mengandalkan kekuatan Dracunia, jadi—"

"Itulah pendapat yang penting. Makasih, Leonora."

Kamito mengulurkan tangan kanannya dan Leonora memegangnya erat-erat.

"Semoga kamu dan rekan-rekanmu diberkati oleh Perlindungan Naga. Mari kita melakukan tarian pedang bersama setelah aku sembuh."

"Ya, aku menantikannya."

"Tentunya, aku nggak mengacu pada tarian pedang malam hari."

"Ya, aku tau!"

Dihadapkan dengan yang pipinya memerah, Kamito langsung membantah.

(...Astaga, cara dia berpikir selalu seperti seekor naga, itulah Leonora.)

Meninggalkan ruang perawatan, Kamito memdesah jengkel sambil berjalan disepanjang koridor.

Akan tetapi, sisi itu dari Leonora juga merupakan bagian dari pesonanya.

Lalu—

"Woi, berhenti disana, Raja Iblis Malam Hari!"

"......?"

Mendengar teriakan penuh kemarahan yang tiba-tiba, Kamito melihat kebelakang.

Di ujung koridor yang jauh adalah ajudan Leonora, Yuri El Cid. Melotot pada Kamito dengan tatapan yang menakutkan, dia mendekat dengan cepat.

Mengidolakan Leonora, Yuri mengancam Kamito dengan rasa permusuhan sejak Blade Dance karena reputasi Kamito yang dirumorkan sebagai Raja Iblis Malam Hari.

"...A-Ada yang bisa aku bantu?"

Terintimidasi oleh suaranya yang angkuh, Kamito bertanya.

"Kami baru saja menerima pesan lewat naga terbang. Teman-temanmu sudah kembali dari Dragon's Peak."

Bagian 3[edit]

Di area pendaratan naga terbang di pangkalan militer ibukota naga, Kamito menyambut Claire dan para cewek.

Dia dihidangkan Teh Naga yang terkenal ketika menunggu di teras di area pendaratan. Setelah setengah jam, dia naga terbang berukuran sedang tiba dari atas Gugusan Pegunungan Kelbreth.

"Oh, tampaknya mereka sudah tiba...."

Berdiri, Kamito melambai dari tengah zona pendaratan.

Segera setelahnya, kedua naga terbang yang membawa Claire dan para cewek perlahan-lahan mendarat setelah berputar satu kali di udara.

"Makasih atas kesabaranmu, Kamito-kun. Sudah seminggu nggak jumpa."
"Kamu sudah menunggu cukup lama, Kamito."

Yang pertama mendarat adalah naga yang membawa Fianna dan Ellis.

Menaruh barang bawaan mereka yang berat di tanah, kedua cewek itu tampaknya cukup optimis menilai dari ekspresi mereka.

"Bagaimana latihan kalian berdua?"

Ketika Kamito bertanya, kedua cewek itu bertukar tatap.

"Tentu saja sangat baik!"
"Memang, aku merasa aku telah berkembang yang bahkan mengejutkan diriku sendiri."

Mereka berdua mengangkat jempol.

"Aku mengerti. Memang benar bahwa aku merasakan suatu getaran yang benar-benar berbeda dari kalian dibandingkan sebelum latihan."

Kamito memberi pendapat jujurnya. Berlatih di Sekolah Instruksional, Kamito bisa merasakan kenaifan dan kurangnya pengalaman seperti siswa pada umumnya dari mereka sebelumnya, tetapi kesan ini telah lenyap sekarang.

(...Sulit dipercayai mereka bisa berubah sedrastis itu hanya dalam pelatihan selama seminggu. Latihan macam apa yang mereka jalani?)

Saat Kamito berpikir demikian...

"Fufu, apa kamu tampak sedikit lebih matang bagimu sekarang?"

Terkikih, Fianna merangkulkan tangannya pada Kamito.

"...H-Hei, Fianna!?"

Tersipu seketika, Kamito berteriak. Lalu....

"B-Berhenti, apa yang kau lakukan pada Kamito, dasar putri bejat!"

"Yang Mulia, i-itu sangat curang!"

Dengan suara cambukan, Claire dan Rinslet juga mendarat.

Claire bergegas mendekati Kamito dan menarik lengan Fianna dari Kamito.

Fianna menjulurkan lidahnya dengan cara yang nakal dan melepaskan Kamito.

"Sheeeeesh, cukup sudah...."

Claire bergumam kebingungan.

Kamito dengan lembut menepuk kepala Claire.

".....Huahhh, apa yang kau lakukan!?"

"Aku senang sekali kalian semua baik-baik saja. Kudengar Dragon's Peak adalah tempat yang berbahaya."

Fianna dan Ellis mengangguk.

"Ya, itu adalah tempat yang berbahaya seperti yang dikabarkan—"

"Memang. Aku nggak pernah menyangka itu akan jadi pelatihan semacam itu...."

"....Seperti apa tepatnya latihan itu?"

Ketika Kamito bertanya penasaran, keempat cewek itu menceritakan pengalaman latihan mereka di Dragon's Peak.

Didataran tinggi yang diselimuti kabut tebal, Scarlet menemukan sebuah kuil kuno, yang mana disana ada Vritra sang naga hitam disegel seribu tahun yang lalu, mengakhiri kuasanya atas wilayah ini. Lalu mereka meminjam situs bersejarah dari naga hitam itu untuk digunakan berlatih—

"Tunggu, seekor naga hitam? Apa kalian baik-baik saja?"

Di pertengahan cerita, Kamito mau tak mau menyela untuk bertanya.

"Menurut naga hitam itu, dia kehilangan kekuatannya ketika Est nampaknya menghadapi dia seribu tahun yang lalu. Apa yang kami temui adakah seekor makhluk aneh yang menyerupai seekor kadal gepeng."

"....Masih ingat, Est?"

"Nggak."

Ketika Kamito bertanya, Demon Slayer yang menggantung di pinggangnya menjawab secara acuh tak acuh.

"....Aku mengerti. Oh yah, jadi, kalian berlatih di reruntuhan kuno, kan?"

"Tepat. Kami memasuki reruntuhan tersebut dan diteleport secara individual ke dimensi alternatif kami masing-masing."

Menurut Claire, situs kuno itu rupanya merupakan sebuah tempat untuk arena duel satu lawan satu melawan seseorang yang harus dilampaui. Claire menghadapi kakaknya, Rubia. Sedangkan Fianna, Ellis dan Rinslet masing-masing harus menghadapi lawan khusus yang ditakdirkan mereka sendiri-sendiri.

"Sama seperti aku, Rubia-sama juga muncul. Tapi bukannya dia yang saat ini, itu adalah Rubia-sama empat tahun yang lalu, orang yang gagal aku hentikan."

"Yang aku temui adalah diriku sendiri yang putus asa karena gagal menyelamatkan Judia."

"A-Aku menghadapi Ren Ashbell-sama."

"A-Aku mengerti...."

Mendengar apa yang dikatakan Ellis, Kamito berpaling, agak malu.

...Gimanapun juga, latihan yang telah diselesaikan Claire dan para cewek benar-benar berbeda dari yang disediakan Akademi.

"Semuanya sudah berusaha begitu keras—"

Tepat saat Kamito bergumam....

"Tampaknya banyak yang terjadi disini juga."

Claire berbicara dengan ekspresi serius.

"Apa kamu sudah mendengar tentang insiden itu?"

"Ya, dalam perjalanan kembali, kami mendengar dari para Knight of the Dragon Emperor. Dari apa yang mereka katakan, Kamito, kau bertarung melawan kepala sekolah di jembatan ketika dia menyerang Benteng."

"Uh, tentang kepala sekolah—"

Melihat Ellis mulai berbicara khawatir, Kamito menggeleng.

"Greyworth jatuh ke jurang. Meskipun para ksatria Dracunia mencari keberadaannya, tak ada yang bisa ditemukan."

"Begitukah—"

Ellis tertunduk dab menggigit bibirnya.

"....Dia masih hidup, kan?"

"Ya, perempuan tua itu nggak akan mati meskipun kau berusaha membunuh dia."

"K-Kurasa kau benar...."

"Ya. Memang begitu."

Bagi para siswa Akademi seperti para cewek ini, Greyworth adalah pahlawan yang paling mereka hormati.

"Kita mungkin harus melawan Greyworth lagi. Ketika saatnya tiba, mari kita sadarkan dia bersama-sama."

"Ya—"

Claire dan para cewek bertukar tatap dan mengangguk tegas.

"—Tapi sebelum itu, kita harus menyelamatkan putri Theocracy terlebih dahulu."

"....Benar. Kapan Rubia-sama dan yang lainnya kembali?"

Melihat ke langit dimana para naga terbang dari Dracunia berputar-putar, Fianna bergumam pelan.

Bagian 4[edit]

Ternyata, secara kebetulan dimalam hari dihari yang sama, Kamito dan rekan-rekannya menerima laporan bahwa Revenant telah kembali ke pangkalan militer Dracunia setelah pergi ke Kerajaan Suci.

"Itu seperti dia tau kapan latihan kita selesai."

Timing yang sempurna ini mengejutkan Claire.

"Ya...."

Spekulasinya mungkin benar. Tak diragukan lagi bahwa memandu Claire dan para cewek ke kuil naga hitam adalah niat Rubia. Tak akan berlebihan untuk membayangkan Rubia memperhitungkan berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan pelatihan mereka.

Kamito dan rekan-rekannya buru-buru mengemas barang-barang mereka dan bertemu di pangkalan militer.

Meskipun Leonora ingin mengantar kepergian Kamito, dia dengan enggan mengalah ketika Kamito berulang kali menyarankan agar dia mengutamakan pemulihan diatas yang lainnya. Sebaliknya, para Knight of the Dragon Emperor menggantikan dia dan menyediakan roh-roh militer tipe terbang sebagai bantuan untuk Ordesia.

"Ini adalah roh terbang tipe Vouivre[1] Yang secara resmi dipakai oleh para ksatria Dracunia. Meskipun tidak cocok untuk pertempuran, mobilitasnya yang tinggi dan kemampuan berbelok yang lincah bisa sangat berguna."

"Terimakasih banyak. Gimanapun juga, selain Ellis, kecepatan pergerakan kami merupakan kelemahan kami."

Kamito dengan senang menerima tablet segel yang diserahkan oleh Yuri sang Wakil Kapten.

"Jangan sampai mati, Tim Scarlet. Meskipun kami kalah dari kalian ketika Blade Dance, kuharap dimasa depan bisa bertarung lagi melawan kalian."

"Jangan khawatir. Kami siap setiap saat."

Claire mengangguk tanpa kenal takut dan menyetujuinya.

"Semoga dewi fortuna ada dipihak kalian. Semoga Ordesia Yang Sah diberkati oleh Perlindungan Naga."

Dipimpin oleh Yuri, para Knight of the Dragon Emperor memberi hormat secara serempak.

Dibawah penerangan pangkalan militer, lambung kapal Revenant mendarat di tanah.

Pintu kapal terbang itu segera terbuka dan tangga setapak turun.

Lalu, sosok mungil dari seorang gadis muda muncul dari pintu tersebut.

"Onii-sama~!"

"...M-Muir!?"

Berlari kearah Kamito dari bawah tangga itu, dia melompat ke dadanya Kamito.

Kamito buru-buru merentangkan lengannya dan menangkap gadis mungil itu.

"Ahah, Onii-sama, aku sangat merindukanmu!"

"Muir, aku nggak bisa bernafas...."

Menggantung di leher Kamito, Muir sangat gembira.

Twintailnya mengusap-usap pipinya, menggelitik dia.

Saat hal ini terjadi pada Kamito, dia merasakan tatapan-tatapan dingin menikam punggungnya.

"T-Tak bisa dipercaya, membuat seorang gadis muda seperti itu memanggil dia 'Onii-sama'...."
"Tidaklah mudah untuk mengubah pendapatku, tetapi pada akhirnya, sifat sejatinya tetaplah seorang Raja Iblis yang keji."
"Aku harus menasehati Leonora-sama untuk menghabisi dia....!"

Dia memutar kepalanya, yang dia lihat, para Knight of the Dragon Emperor membisikkan kata-kata berbahaya diantara mereka sendiri. Kepercayaan yang dia bangun dengan melindungi Leonora nampaknya telah jatuh ke titik terendah.

Sementara itu, para anggota Tim Scarlet....

"Haaaah, Kamito-kun nggak berubah sedikitpun."
"Mm-hmm."
"Sama seperti biasanya."
".....~!"

....di suatu titik, kepercayaan mereka terhadap Kamito tidak berubah sama sekali.

Hal itu memenuhi Kamito dengan perasaan yang campur aduk—

"T-Tunggu, cukup sudah. Menjauhlah sekarang!"

Pada saat itu, rambut merah milik Claire berdiri dan dia berteriak marah.

"Ada apa emangnya? Apa kamu mau berkelahi denganku, Onee-chan? Meskipun kami sangat lemah."

Muir tersenyum dengan sikap merendahkan dan membantah.

"S-Segalanya telah berubah sejak kekalahan kami yang terakhir kali! Kami sudah menjadi lebih kuat!"

"Hmph, sungguh? Kalau begitu ayo main lagi lain kali, tapi sekarang aku nggak mood untuk main. Onii-sama harus main denganku."

Masih memeluk Kamito dan menolak untuk menjauh, Muir menjulurkan lidahnya.

".....~a-a-akan aku ubah kau jadi arang!"

Saat Claire mengangkat cambuk api ditangannya....

"Muir, apa yang kau lakukan? Berhentilah buat perkara ditempat seperti ini."

Rekan Muir, Lily buru-buru menuruni tangga.

"Bukan sebuah konflik, hanya menyapa. Halo."

"Syukurlah..."

Melihat Muir sepenuhnya nggak peduli, Lily mendesah penuh dengan kelelahan mental.

"Halo, lama tak jumpa, Lily."

Ketika Kamito menyapa dia...

"Hmph, nggak pernah kusangka aku akan berkelompok denganmu lagi—"

Mata crimsonnya, keunikan dari ras Elfim, menatap Kamito.

Berperingkat keenam di Sekolah Instruksional— Lily Flame adalah seorang ahli dalam memata-matai dan penyusupan. Dulu saat mereka berada di Sekolah Instruksional, dia sering berkelompok dengan Kamito dalam mengerjakan misi. Meskipun mereka adalah musuh di Blade Dance, Kamito menganggap dia sebagai seseorang yang sangat bisa diandalkan saat mereka berada dipihak yang sama.

"Aku hanya mengerjakan perintah dari Cardinal. Aku nggak berencana untuk akrab denganmu."

"Ya, aku tau."

"Woi kalian. Kalau mau reuni sih nggak masalah, tapi cepatlah naik ke kapal—"

Mendengar suara yang tiba-tiba berasal dari dalam kapal, Kamito dan rekan-rekannya mendongak terkejut.

"Kakak!"

Ellis berteriak keras.

Dengan jubah putih murni tersampir pada dirinya, Velsaria Eba muncul di tangga.

"Kakak, apa kesehatanmu sudah baikan sekarang?"

"Ya, nggak ada masalah."

Dihadapkan dengan pertanyaan Ellis yang penuh kekhawatiran, Velsaria mengangguk ringan. Lalu dia berkata:

"Yang lebih penting lagi, Revenant akan menuju ke kota Mordis di Theocracy."

"Mordis?"

"Benteng dimana pasukan pemberontak dari Theocracy berkumpul. Saat ini Cardinal ada disana."

Bagian 5[edit]

"...O-Ooh... Ooh..."

Didalam kegelapan yang pekat tanpa bisa mendengar dan melihat....

Seorang cewek yang dirantai mengerang kesakitan.

Rambutnya sangat indah. Memiliki mata mempesona yang sama yang bersinar merah seperti mata kakaknya. Cewek ini tak lain tak bukan adalah Saladia Kahn, sang putri kedua dari Theocracy Alpha.

Dihari terjadinya kudeta di Scorpia, dia menentang upaya kakaknya untuk membunuh ayah mereka yang merupakan sang raja, Rajihal Kahn, dan berakhir dipenjara disini, penjara terburuk di Zohar.

...Setelah itu, tak ada yang tau sudah berapa lama waktu yang berlalu.

Didalam kegelapan ini yang terisolasi dari segala sumber cahaya, inderanya untuk merasakan waktu semakin pudar. Pada tingkat ini, dia kemungkinan besar akan melupakan identitasnya sendiri suatu hari nanti.

Dia masih bisa mengenali dirinya sendiri, berkat pelatihannya di Divine Ritual Institute, tetapi jika itu adalah orang lain, maka pasti sudah gila sejak lama.

Kebenaran dari kegelapan ini adalah sebuah penghalang isolasi yang dibuat oleh sebuah kultus penyihir. Tak peduli seberapa lama, tak ada roh yang bisa menghancurkan penghalang ini dari dalam.

(...Kenapa kakakku belum membunuhku?)

Dia menanyai dirinya sendiri dengan pertanyaan ini berulang kali.

Setelah membunuh ayah mereka dan mengambil kendali dari pemerintahan Theocracy, seharusnya nggak ada gunanya bagi dia untuk membiarkan Putri Kedua Saladia Kahn tetap hidup. Faksi-faksi yang menentang Sjora mungkin bersatu dibawah nama Saladia. Atau mungkin, itulah tepatnya niatnya Sjora. Apakah Sjora berencana menggunakan Saladia sebagai sandera untuk melenyapkan tentara pemberontak dalam satu kali libas ketika mereka datang untuk menyelamatkan dia?

....Mustahil untuk membaca pemikiran Sjora. Sejak turnamen Blade Dance, dia berubah. Meskipun sejak awal dia adalah seorang pengatur siasat yang licik, Sjora seharusnya bukanlah seseorang yang akan mengambil tindakan nekat seperti ini.

(Memang, hampir seolah dia telah dirasuki sesuatu—)

Tepat saat dia tenggelam dalam pikirannya....

"—Hei, kau yang disana? sang putri kedua, yang mewarisi garis keturunan dinasti Kahn?"

"Huh?"

Saladia terkaget mendengar suara yang tiba-tiba tersebut.

Itu bukanlah princess maiden yang biasanya membawa makanan dan air.

Sebaliknya, itu adalah suara pria muda, menyerupai suara seekor binatang ganas.

"....Siapa kau?"

Tetap waspada, Saladia bertanya pelan.

"Ditanya malah balik tanya. Apa kau Putri Kedua Saladia Kahn dari Theocracy?"

"....Ya, memang. Aku putri kedua."

—Meski merasa tersinggung oleh pria kasar ini, dia masih menjawab.

Meskipun pengunjung itu tak diketahui identitasnya, setidaknya dia tidak tampak bekerja untuk kakaknya.

"....Aku mengerti. Ha, sepertinya aku beruntung kali ini."

Pria itu tertawa riang dari sebrang kegelapan. Sesaat setelahnya, kegelapan yang menyegel penglihatan dan pendengaran Saladia hancur oleh cahaya dari sebuah kristal roh, segera menerangi sekeliling.

Cahaya yang tiba-tiba memasuki matanya menyebabkan Saladia mengerang.

Saladia tak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena dia memakai tudung yang sampai menutupi matanya.

"Langsung saja. Apa kau tau lokasi Pyramid?"

"....Pyramid?"

"Ya, dikabarkan itu adalah tempat dimana jasad Raja Iblis Solomon di kubur setelah dia tewas seribu tahun yang lalu. Dikatakan bahwa lokasi rahasia tersebut diwariskan pada generasi ke generasi, hanya diketahui oleh mereka yang mewarisi garis keturunan kerajaan—"

Saladia terdiam. Tentu saja, dia tau tentang Pyramid tersebut. Ayahnya, Raja Rajihal Kahn telah memberitahu dia saat dia menyelesaikan ritual pengontrakan dengan roh terkontraknya.

Akan tetapi, kenapa pria ini tau tentang rahasia ini, yang mana tak pernah disebutkan pada siapapun dikuat keluarga kerajaan?

"Mari kita buat kesepakatan. Aku akan membantumu melarikan diri dari tempat ini dan sebagai imbalannya, kau akan membawaku ke Pyramid itu."

"....Apa niatmu?"

Saladia meminta sebuah jawaban serius dari dia. Bagaimana bisa rahasia terbesar dari kultus Raja Iblis diberitahukan pada dia di tempat ini dimana mereka bisa saja didengar orang lain? Menunjukkan jalan untuk dia lebih nggak masuk akal lagi.

"Bukan urusanmu. Lupakan itu, cepat buat keputusan. Meskipun aku sudah menjatuhkan semua penjaga, akan sulit untuk melarikan diri setelah bala bantuan datang. Aku nggak mau menghabiskan sisa hidupmu disini, kan?"

"....Hmm, itu—"

Saladia menggigit bibirnya dan berpikir secara mendalam. Pria ini sangat berbahaya. Nalurinya sebagai seorang princess maiden mengatakan itu. Akan tetapi, ini bisa saja merupakan satu-satunya peluangnya untuk kabur dari genggaman kakaknya.

"Akankah kau bisa membawaku keluar dengan aman dari kota ini?"

"Ya, aku menjaminnya. Meskipun aku menemukan lokasi makam itu, pintunya tak akan terbuka tanpa adanya seseorang yang berdarah kerajaan, kan?"

"....Kau tau cukup banyak."

Saladia mendesah penuh kepasrahan dan membuat keputusan.

....Motif pria ini tak diketahui. Akan tetapi, memerima tawarannya masihlah lebih baik daripada menjaga rahasia keluarga kerajaan sembari menunggu eksekusi untuk dirinya sendiri di tempat ini.

"Baiklah. Misalkan kita berhasil kabir dari Zohar dengan aman, maka aku akan membawamu ke Pyramid tersebut."

"Hmph, setuju."

Pria itu mendengus.

"Bersumpahlah, dengan nama rohmu."

"Kau nggak mempercayai aku?"

"Prinsipku adalah tidak mempercayai siapapun."

Mendengar jawaban pria muda itu, Saladia menggelengkan kepalanya penuh kekesalan.

"Aku dengan ini bersumpah atas nama roh terkontrakku Scheherazade—"

Setelah melantunkan kata-kata sumpah tersebut, tubuh Saladia memancarkan cahaya remang dari kekuatan suci.

Bersumpah atas nama roh adalah sumpah tertinggi bagi seorang elementalist. Pada saat melanggar sumpah, seseorang bisa kehilangan kekuatan dari roh terkontrak.

"Apa kau puas sekarang?"

"Yah, lumayan—"

Mengangguk puas, pria itu melepas tudungnya.

Mengungkapkan wajah kecoklatan dari seorang pria muda dengan mata yang jahat.

"Dan namamu?"

Ketika Saladia bertanya, pria itu tertawa bengis, menunjukkan taringnya.

"Aku Jio Inzagi—penerus Raja Iblis."

Catatan Penerjemah[edit]

  1. Vouivre: nama lain dari Wyvern, reptil mistis yang hidup di Perancis.


Bab 4 - Perjalanan Gurun[edit]

Bagian 1[edit]

Kapal militer yang membawa Kamito dan rekan-rekannya, Revenant, lepas landas dari pangkalan militer Dracunia.

Karena kawasan udara Ordesia adalah kawasan terlarang, kapal mereka pun harus berbelok jauh mengitari Pegunungan Kelbreth, terbang mengikuti rute diatas hutan Ezos yang luas yang mana bukan bagian dari negara manapun.

Mordis adalah sebuah kota gurun dekat dengan perbatasan Lekaisaran Quina dan nampaknya merupakan sebuah benteng militer dari Theocracy saat Perang Ranbal. Benteng tersebut dibangun diatas sebuah gunung tambang yang juga dikenal sebagai Demon's Fist, dan saat ini, faksi anti-Sjora perlahan-lahan berkumpul disana.

Kamito dan rekan-rekannya naik kapal dan masuk ke ruang pertemuan.

Duduk di sebelah kanan Kamito adalah Muir yang menolak melepaskan tangan Kamito, sedangkan Claire duduk disebelah kirinya.

"Jadi Nee-sama nggak ada disini..."

Claire bergumam dengan penampilan yang menunjukkan perasaan campur aduk. Duduk diujung meja, Velsaria mengangguk.

"Memang, Cardinal telah pergi ke Mordis duluan. Dia menyuruh para pengikut kultus Raja Iblis untuk berkumpul."

"....Kultus Raja Iblis?"

Kamito dan rekan-rekannya saling menatap satu sama lain dalam keterkejutan.

"Dari pasukan pemberontak yang berkumpul di Mordis, mayoritas terdiri dari pemuja sesat Raja Iblis yang menentang Sjora Kahn. Memperoleh kerjasama mereka sangat diperlukan untuk keberhasilan dalam menyelamatkan Saladia Kahn."

"Pemuja sesat Raja Iblis? Kakak, bukankah kultus sesat Raja Iblis adalah—"

Lalu, Ellis dengan takut-takut mengangkat tangannya dan bertanya.

"Nampaknya ada segala macam sekte dan faksi didalam kultus Raja Iblis itu sendiri. Dinasti Kahn mengetuai dogma tradisional yang memegang kepemimpinan sebagai yang tertinggi sembari memberi wewenang semua sekte lain sebagai bid'ah. Selama pemerintahan raja yang sebelumnya, keringanan hukuman rupanya bisa didapatkan dengan membayar pajak, tetapi Sjora menolak semua dogma sesat dan bahkan menekankan kejahatan seperti pembantaian para penganut. Karena hal ini, para penganut sesat mengorganisii pemberontakan diseluruh negeri, membentuk garis depan sementara dengan tujuan menjatuhkan kepengurusan Sjora."

"—Aku paham sekarang."

Kamito mengangguk. Tampaknya Sjora memiliki banyak musuh didalam kultus tersebut. Rubia kemungkinan berencana menggunakan mereka.

"Namun, bagaimana caranya dia menyatukan para penganut dari kultus Raja Iblis?"

"Cardinal sebelumnya menghabiskan waktu di Theocracy dan rupanya memiliki kontak tetap dengan salah satu faksi didalam kultus Raja Iblis. Dari yang kudengar, dia mendapatkan sebuah posisi peringkat kedua setelah sang penguasa. Hanya dengan mengandalkan koneksinya dari saat itu dan pesonanya sendiri, merebut hati dari para penganut bukanlah sesuatu yang susah."

"Seperti yang diharapkan dari Rubia-sama...."

"Memang, karisma kepemimpinan bawaan lahir yang luar biasa, kepribadian yang mengagumkan."

Rinslet dan Ellis berkomentar tajam.

"....Memang. Dia berbeda dari aku yang menggunakan rasa takut dan kedisiplinan untuk mendominasi bawahanku dan berakhir dibuang dari Sylphid Knight."

"K-Kakak!? Kau nggak melakukan hal yang salah... Kau tau?"

Melihat Velsaria mengejek dirinya sendiri, Ellis buru-buru memberi dukungan.

"....Yah, mari kita kesampingkan masa lalu untuk sekarang ini."

Berdeham, Velsaria melanjutkan.

"Adapun untuk menyelamatkan Putri Saladia Kahn, kita harus bekerjasama dengan pasukan pemberontak di Mordis. Nggak ada yang keberatan, kan?"

Kelompok Kamito saling bertukar tatap dan mengangguk bersamaan.

"Musuhnya musuh adalah teman kita. Kita nggak bisa apa-apa tanpa bantuan lebih banyak sekutu."

"Benar. Selain itu, saat ini kita merupakan para penghianat dari Ordesia juga. Bisa dikatakan, kita sama seperti mereka."

Claire mengangkat bahu dan berkomentar.

"Kalau begitu, diskusi ini selesai. Silahkan nikmati waktu bebas kalian sampai kita tiba di Mordis."

Bagian 2[edit]

Dengan demikian, rapatnya selesai. Ketika meninggalkan ruang rapat—

Claire tiba-tiba berhenti.

"Ada apa Claire?"

"Aku mau pergi ke tempat belajar Nee-sama untuk meneliti tentang Theocracy. Kalau dia menghabiskan waktu di Kultus Raja Iblis, maka aku yakin dia pasti punya banyak bahan yang telah dikumpulkan."

Terlepas dari penampilannya, Claire memiliki sifat yang sangat analistis. Kembali ketika ikut serta dalam Blade Dance, dia juga meneliti tentang tim-tim lain. Kali ini, tampaknya seperti dia sangat antusias dalam mengumpulkan informasi tentang musuh juga.

"Kalau begitu ayo kesana bersama. Aku juga ingin tau lebih banyak mengenai Raja Iblis."

Mendengar Kamito mengatakan itu....

"B-Benarkah? A-Aku nggak keberatan...."

Claire berpaling agak malu.

"Onii-sama, siapa yang peduli tentang hal itu? Ayo ke kamarku dan bermain."

Muir menarik lengan Kamito dengan kedua tangannya, menolak melepaskan dia.

"....Uh, bagaimana kalau setelah makan malam?"

"Awwwwwwww......"

Muir cemberut tak senang.

Saat Kamito terjebak dalam dilema—

"Muir-san, kalau nggak apa-apa, gimana kalau aku yang bermain denganmu?"

Rinslet tersenyum lembut dan memberi tawaran sambil tersenyum.

"Nggak, aku maunya main sama Onii-sama."

"Muir, aku akan bermain denganmu nanti. Kenapa kau nggak main sama Rinslet saja dulu?"

".......~!"

Setelah Kamito meletakkan tangannya di kepala Muir, Muir dengan sangat enggan berkata:

".....B-Baiklah. Kalau kau bilang gitu, Onii-sama, aku akan main dengan nona ini sebentar."

Akhirnya dia melepaskan pegangannya pada lengan Kamito.

"Kalau gitu, Rinslet, aku percayakan Muir padamu."

"Serahkan saja padaku. Baiklah, Muir-san, maukah pergi ke aula disana?"

Rinslet sedikit membungkuk dan meraih tangan Muir.

"A-Aku bukan anak kecil—"

"Ya ampun, kalau begitu, permisi."

Tersenyum dengan suara "fufu", Rinslet pergi bersama Muir.

Menyaksikan pemandangan ini, Kamito agak terkejut.

(....Aku nggak bisa percaya Muir bisa berperilaku begitu penurut pada seseorang selain Lily. Aku nggak pernah melihatnya sebelumnya.)

Mungkin karena Muir dan Mireille diusia yang hampir sama, Rinslet cukup terampil dalam menangani dia.

"Ka-Kalau begitu, ayo kita pergi juga—"

"Hmm? Oh, iya."

Ruang belajar milik Rubia berada di lantai dua di kapal tersebut.

Kamito menuruni tangga sambil memperhatikan twintail yang ada didepan dia, melambai naik turun.

.....Entah kenapa, itu terasa seperti Claire sudah sedikit lebih dewasa.

Apakah ini adalah hasil dari latihannya di Dragon's Peak juga?

Saat dia berpikir seperti itu, dia tiba-tiba sedikit tersesat dalam pemikirannya.

Ketika Rubia tidak ada di kapal, Revenant tampaknya di kendalikan oleg Velka dan Delia, si kembar dari Sekolah Instruksional. Mereka berdua tidak tampak cukup akrab dengan kendali kapal.

"Ngomong-ngomong, apa kau yakin nggak apa-apa masuk ke ruangan Rubia tanpa ijin?"

Tiba-tiba, dia menanyai Claire yang berjalan didepan.

"Bukankah jawabannya sudah jelas nggak apa-apa? Aku adalah adiknya, lho?"

"Tunggu dulu, logika itu sedikit...."

Kamito menyipitkan matanya dan berkomentar.

Didepan ruang belajar tersebut.....

"Ngomong-ngomong, apa kau punya kuncinya?"

"Enggak."

"Terus apa yang harus kita lakuin?"

"Gini—Melelehlah."

Claire merapal sebuah mantra, seketika melelehkan lubang kunci.

"Waduh, jangan gitu dong...."

Melihat ideologi arang yang biasanya, Kamito tersenyum masam.

(....Kurasa ini adalah satu sisi dari dia yang nggak berubah sedikitpun.)

Dengan hancurnya lubang kunci tersebut, pintunya terbuka perlahan-lahan dengan suara menderit.

Yang pertama memasuki pandangan adalah rak buku yang memenuhi seluruh dinding, berisikan koleksi buku dalam jumlah yang besar.

Satu-satunya forniturnya adalah meja di pinggiran ruangan. Ruang belajar ini, difokuskan pada ke praktisan, benar-benar mencerminkan kepribadian Rubia.

".....Koleksi yang menakjubkan. Ini dipenuhi dengan buku-buku langka yang nggak akan kau temukan di perpustakaan Akademi."

Sebagai seorang kutu buku, Claire berteriak kagum segera setelah dia melangkah masuk.

...Meskipun Kamito nggak tau sedikitpun tentang kelangkaannya, dia bisa melihat bahwa rak-rak tersebut sudah pasti dipenuhi dengan teks-teks kuno. Ada buku-buku sejarah dari berbagai negara, kamus-kamus spiritologi, buku-buku tentang spesies naga dengan sampul yang terbuat dari sisik naga, bahkan buku-buku Ancient High yang mana judul-judulnya tak bisa dibaca oleh Kamito.

(...Tunggu sebentar, bukankah buku-buku Ancient High mustahil untuk didapatkan oleh orang biasa!?)

Menurut ketentuan dari perjanjian internasional, kepemilikan pribadi dari buku-buku Ancient High peninggalan ras Elfim adalah hal yang dilarang. Itu adalah barang-barang yang mana seseorang bahkan tak akan bisa menjumpainya kecuali mengunjungi Perpustakaan Tersegel dibawah yurisdiksi Divine Ritual Institute.

"Katakanlah, Claire...."

"Apa?"

"Jangan bilang buku-buku ini dicuri dari perpustakaan Divine Ritual Institute?"

"N-Nee-sama nggak akan melakukan hal semacam itu, kan?"

Claire mengernyit dan berkata:

"Akan tetapi, jimat penyegel pada buku ini tampak berantakan..."

"......"

"......"

"A-Aku yakin di pasti berniat mengembalikannya nanti. Ya, itu pasti."

Mengucurkan keringat dingin, Claire memalingkan tatapannya.

Kamito melihat rak-rak buku itu lagi, yang dia lihat adalah buku-buku penelitian tentang para Elemental Lord dan sejarah serta geografi Kerajaan Suci. Koleksi buku milik Rubia nampaknya benar-benar menjangkau segala bidang.

Yang lebih mengejutkan lagi, itu juga temasuk novel-novel populer di ibukota kekaisaran. Akan tetapi, judul-judulnya agak berbeda dari novel-novel romance yang dibaca Claire—

"Kakakmu adalah seorang pembaca yang menakjubkan..."

Kamito tertegun oleh kualitas dan kuantitas koleksi buku tersebut.

"Ya, Nee-sama mulai membaca banyak buku-buku rumit sejak kecil. Ketika dia masih di Divine Ritual Institute, dia bahkan menerima medali kekaisaran untuk penerbitan sebuah laporan spiritologi. Aku ingat dia masih berusia 12 tahun saat itu."

"....Sungguh jenius."

Seperti yang diduga dari seseorang yang terpilih sebagai seorang Ratu, puncak tertinggi dari princess maiden.

"Ketika aku masih kecil, aku sering meminta Nee-sana untuk membacakan buku untuku...."

Menatap rak buku tersebut, Claire bergumam sembari bernostalgia.

"Tapi itu mustahil untuk kembali ke masa lalu...."

"......."

Kamito hendak mengatakan sesuatu, tapi memutuskan untuk tidak mengatakannya.

Dalam perjalanan ke Dracunia, Claire merasa gelisah karena kurangnya interaksi antara dirinya dan Rubia. Itu tampak seperti mereka masih belum bisa bercakap-cakap secara normal.

Suatu keadaan yang rumit tampaknya masih ada diantara kedua kakak beradik itu.

"—Ketemu. Buku tentang Theocracy."

Mengatakan itu, Claire mengambil sebuah buku dari rak.

Itu adalah sebuah buku yang cukup kuno, terikat dengan kulit hewan. Meskipun judulnya tidak tertulis dalam bahasa Ancient High, itu tetaplah tertulis dalam bahasa kuno yang sudah tidak digunakan lagi jaman sekarang.

"Bisakah kau menerjemahkannya?"

"...Ya, aku akan mencobanya."

Claire mengeluarkan kacamatanya, menyalahan api sihir di udara, lalu memfokuskan tatapannya pada buku tersebut.

Seperti yang diharapkan dari siswa terhormat dari Kelas Gagak. Meskipun terkadang mengalami kesulitan, dia masih bisa menerjemahkan isi buku tersebut secara perlahan-lahan.

Kamito hanya bisa memperhatikan dan terpesona oleh penampilan samping dari wajahnya yang sedang berkonsentrasi penuh.

"Ada apa?"

"....Oh, nggak ada. Aku mau lihat-lihat apakah ada buku yang bisa kubaca."

Kamito dengan panik berpaling dan mulai mencari buku.

(Uh, buku tentang Raja Iblis...)

Dalam kenyataannya, apa yang ingin Kamito pelajari bukanlah sejarah Theocracy, tetapi informasi tentang Solomon, sang Raja Iblis seribu tahun yang lalu. Karena kekuatan dari Elemental Lord Kegelapan, Ren Ashdoll yang bersemayam didalam dirinya bangkit secara bertahap, Kamito merasa bahwa itu akan lebih baik untuk mendapatkan pemahaman yang rinci dari pria yang memiliki kekuatan yang sama seperti dirinya.

Mencari-cari di rak buku, Kamito akhirnya menemukan sebuah buku yang bisa dia baca.

...Itu seperti sebuah buku ringkasan sejarah Theocracy. Kamito membuka daftar isinya dan mulai menelusuri bagian yang berisijan catatan-catatan yang berkaitan dengan Raja Iblis Solomon.

—Theocracy Alpha didirikan kira-kira seribu tahun yang lalu. Ibukota saat ini adalah Zohar, yang mana merupakan sebuah kota kecil di gurun pada saat itu.

Seorang pemuda berusia 16 tahun muncul pada saat itu. Solomon. Mampu menggunakan roh-roh meskipun seorang pria, dia dipatuhi oleh 72 roh yang terbengkalai diseluruh negeri. Dia ingin mewujudkan ambisinya dan dengan cepat melenyapkan seluruh benua. Saat itu, konsep mengerahkan roh-roh kedalam peperangan manusia tidaklah ada, oleh karena itu setiap negara kalah telak melawan pasukan Raja Iblis yang menggunakan roh.

Akan tetapi, saat semua orang berpikir bahwa pasukan Raja Iblis akan menundukkan seluruh benua, seorang gadis muda, yang menggembala domba, muncul di tempat yang saat merupakan perbatasan Kerajaan Suci Lugia.

Membuat kontrak dengan pedang suci legendaris, gadis itu mengumpulkan Tentara Pembebasan untuk mengalahkan Raja Iblis. Dengan demikian, terjadilah Perang Raja Iblis yabg berlangsung selama 3 tahun.

Setelah banyak pertempuran sengit diseluruh benua, sang Raja Iblis akhirnya kalah pada pedang milik Sacred Maiden Areishia. Dan hasilnya, Sacred Maiden Areishia lenyap bersama dengan pedang suci legendaris hingga keberadaannya tidak diketahui—

Kamito menutup buku tersebut dengan lembut.

(....Nggak ada yang menarik disini.)

Selain itu, ada beberapa penghapusan didalam buku ini.

Kamito mengetahui nasib akhir yang sebenarnya dari Sacred Maiden Areishia. Menderita oleh kutukan dari pedang suci yang telah melenyapkan banyak roh, tubuhnya berubah menjadi sebuah patung.

Dan pedang suci legendaris tersebut saat ini—

(...Ada ditanganku, huh? Takdir terasa lebih dan lebih tak bisa dipercaya bagiku.)

Saat Kamito tenggelam dalam pemikiran memilukan ini....

"Kamito, aku sudah menerjemahkan buku ini cukup jauh...."

Claire mengangkat wajahnya dari buku yang dia pegang dan berkata pada Kamito.

"Benarkah?"

Mendengar itu, Kamito mengintip buku tersebut.

"Huahhhh, w-wajahmu terlalu dekat, bego!"

"M-Maaf...."

"Sheesh..."

Tersipu, Claire berdeham.

"Lalu, tentang apa buku ini sebenarnya?"

Ketika Kamito bertanya....

"Ya, ini adalag sebuah buku tentang para princess maiden milik Raja Iblis—"

".......!?"

Mendengar apa yang dikatakan Claire, Kamito menahan nafasnya.

"Para princess maiden Raja Iblis"—Tentu saja dia tau cukup banyak mengenai istilah tersebut.

Kabarnya, Raja Iblis Solomon telah membagikan kekuatannya dengan 9 selir yang dia dapatkan dari negara-negara yang ditaklukkan, memberi mereka kepercayaan dan posisi penting sebagai jenderal dalam tentara Raja Iblis. Rubia telah memperkirakan, bertanya-tanya apakah ini sama dengan Kamito yang berbagi kekuatan Ren Ashdoll dengan para cewek dalam kelompoknya melalui ciuman.

"—Raja Iblis Solomon nampaknya memaksa para putri dari negara-negara yang ditaklukkan untuk melayani dia dalam semua hal... S-Sungguh pria bejat!"

"Y-Ya. Raja Iblis benar-benar bejat!"

Kamito memalingkan matanya agak mengelak.

"Secara kebetulan, ini benar-benar sesuatu dengan namanya sebagai sebuah buku terlarang, disegel oleh Divine Ritual Institute. Buku-buku sejarah di perpustakaan Akademi tak menyebutkan satupun tentang eksistensi dari para princess maiden Raja Iblis."

Claire mengeluarkan komentar sembari membacanya.

"Yah, Divine Ritual Institute akan berakhir dalam posisi yang sulit jika informasi bahwa para princess maiden membantu Raja Iblis bocor."

"Itulah sebabnya mereka menyembunyikannya, yang mana agak—Kyah"

Pada saat itu, Revenant tiba-tiba berguncang keras, menyebalkan buku-buku berjatuhan.

".....!"

Kamito buru-buru melompat keatas Claire untuk melindungi Claire menggunakan punggungnya.

STnBD V16 085.jpg

"Oww... Apa kamu baik-baik aja, Claire?"

"Eh? Y-Ya...."

Matanya yang seperti ruby melebar terkejut. Claire mengangguk pelan.

"Si kembar itu tampaknya nggak terbiasa mengemudikan kapal—"

Saat Kamito mau bangun....

"Hyah♪"

Claire berteriak pelan.

"...?"

Lalu, Kamito akhirnya menyadarinya.

Boing.

Ada perasaan yang tidak terlalu besar ditangan kanannya.

Rupanya, dia menekankan tangannya pada dada Claire disaat mereka jatuh ke lantai.

".....M-Maaf!?"

Kamito buru-buru menarik tangannya dan berdiri.

"B-Barusan, itu murni kecelakaan!"

"A-Aku tau...."

"Huh?"

"T-Terimakasih, karena melindungi aku..."

Tersipu merah cerah, Claire memalingkan wajahnya dan menghindari kontak mata dengan malu-malu.

(....A-Apa yang terjadi?)

Kamito terkejut. Biasanya dia pasti akan memasuki mode mengamuk.

"Ngomong-ngomong, ayo rapikan buku-buku yang berjatuhan terlebih dahulu—"

Menepuk roknya, Claire berdiri.

"Y-Ya, itu benar..."

Kamito mengulurkan tangannya untuk mengambil buku yang jatuh, lalu...

"Kyahhh, a-apa-apaan sih itu?"

"Ada apa?"

Kamito mengikuti arah tatapan Claire—

Yang ada disana, buku yang tadi dibaca Claire, terbuka ke suatu halaman tertentu.

"Apa!?"

Kamito tak bisa berkata apa-apa. Gimanapun juga, isinya menunjukkan—

Ilustrasi yang tak layak disebutkan dari para princess maiden dalam segala jenis pose yang tak senonoh.

".....~! B-Bego, kau buat aku lihat apa, dasar bejat!"

Buru-buru menutup buku tersebut, Claire memerah padam sambil memukulkan tangannya pada Kamito.

"T-Tunggu, ini bukan salahku!"

"Memang benar, tapi, ooooooh~....."

Dengan mata berkaca-kaca, Claire berdiri dan dengan kasar memasukkan buku-buku yang berserakan ke rak.

"A-Aku akan mencari buku di rak sebelah sana!"

Setelah memasukkan buku tersebut, dia dengan canggung mengalihkan matanya dan pergi ke rak buku disisi lain.

(Syukurlah, buku-buku macam apa yang disimpan Rubia disini....?)

Sambil bergumam, Kamito hendak mengembalikan buku yang ada ditangannya ke tempat aslinya....

".....Hmm?"

Dia tiba-tiba mengerutkan kening.

Dia melihat beberapa surat diantara buku-buku tersebut.

Tulisan tangan yang ada pada surat formal ini sangat akrab bagi Kamito.

(Mungkinkah ini....?)

Bagian 3[edit]

"Ahh. Bidaknya terguling, jadi permainan barusan tidak sah."

"S-Sungguh tidak adil! Jelas-jelas aku menang barusan!"

Ketika Muir menyarankan untuk memulai ulang permainan, Rinslet memprotes.

bidak-bidak kayu dari permainan tersebuy yang didesain seperti naga atau sinhar untuk menirukan para roh, berhamburan di lantai. Karena goncangan kapal barusan, seluruh papan permainan terbalik.

"Gantian, Rinslet. Aku akan jadi lawannya kali ini."

Mengatakan itu, Giannat mulai menaruh bidak-bidak di papan permainan.

Sebagai tanggapan, Muir mengernyit nggak senang.

"Nggak mungkin. Kau tampak sangat kuat."

"A-Apa kau menganggap aku lemah!?"

Marah, Rinslet berteriak keras-keras.

"Aku cukup percaya diri dibidang permainan papan. Gimanapun juga, aku terbiasa bermain sendirian dengan bidak-bidak ketika aku mengurung diri di istana setiap hari."

"A-Aku mengerti...."

Nggak tau bagaimana harus bereaksi, Rinslet membalas dengan ambigu.

Pada saat itu, pintu tiba-tiba terbuka.

"—Kurasa sudah waktunya mempersiapkan makan malam. Ada yang mau request?"

Ellis datang untuk bertanya setelah melatih kemampuan tombaknya di dek.

"....Jadi sudah waktunya untuk makan malam? Ijinkan aku membantu, Kapten."

"Aku mengerti. Makasih untuk bantuannya."

"Kita akan menentukan nilainya nanti."

"Eh—"

Kehilangan seorang lawan yang sepadan, Muir terdengar tidak senang.

"Biarkan aku membantu juga. Nggak apa-apakan Ellis?"

Mengatakan itu, Fianna hendak berdiri.

Ellis membeku sesaat lalu segera menggelengkan kepalanya dengan panik.

"N-Nggak boleh, bagaimana bisa sang putri dari Ordesia Yang Sah mengerjakan tugas semacam itu—"

"Yah! Yang Mulia, kau main saja sama Muir-san."

"....B-Begitukah?"

Dihadapkan dengan penentangan dari dua cewek ity, Fianna memiringkan kepalanya kebingungan.

Bagian 4[edit]

Masuk kedalam dapur, Ellis dan Rinslet segera mengenakan apron mereka dan mulai mempersiapkan makan malam secara efesien.

Nggak ada yang perlu diragukan dari Rinslet, yang mana kemampuan memasaknya menyaingi seorang koki profesional. Ellis memiliki bakat yang sama dalam memasak. Meskipun persediaan bahan di gudang makanan tidak terlalu banyak, mereka berdua masik bekerja bersama dengan koordinasi yang diam namun penuh pemahaman untuk mengambil bahan-bahan yang bisa digunakan satu per satu.

"Ini mengingatkan aku pada praktek memasak di Akademi."

"Ya, memang....."

Rinslet bergumam nostalgia.

Sekarang ini, mereka telah menjadi penghianat yang mengangkat bendera pemberontakan terhadap Ordesia. Mereka kemungkinan besar tak punya kesempatan untuk kembali ke Akademi Roh Areishia sebagai siswa lagi—

"Biar aku yang ngerjain sup dan hidangan pembuka, serta hidangan dagingnya. Kamu mau buat apa?"

"Aku mau coba buat hidangan tahu yang baru-baru ini aku pelajari."

"....Tahu huh? Aku ingat kalau itu adalah makanan yang berasal dari kampung halaman Kamito."

"Ya, masakan itu sangat sehat dan kaya akan nutrisi."

Rinslet menjentikkan jarinya dan memanggil Fenrir, roh terkontraknya.

Ketika Fenrir membuka rahangnya lebar-lebar, banyak bahan dan peralatan masak yang tersimpan di Astral Zero muncul.

Tahu dan bahan-bahan lain yang mana bukan berasal dari Ordesia termasuk didalamnya.

"Ini adalah tahu buatan sendiri yang aku persiapkan di Laurenfrost."

Rinslet membusungkan dadanya penuh kebanggaan. Namun, Ellis terlihat sedikit gelisah.

"Tahu memang lezat, tetapi sebagai hidangan utama, tidakkah rasanya terlalu hambar?"

Dia mengeluarkan pertanyaan ini.

"Oh, nggak usah khawatir. Aku akan membuat hidangan tahu legendaris yang populer di Kekaisaran Quina. Namanya 'mapo doufu'."

"Mapo doufu...?"

"Ya, itu adalah hidangan dimana cabe dan rempah dalam jumlah yang banyak digunakan untuk membuat pasta yang secara sempurna mencampurkan kelezatan dan rasa pedas. Menurut sastra kuno, rasanya membuat ketagihan."

"...Aku mengerti. Pastinya itu adalah sesuatu yang akan aku nantikan."

Ellis menelan ludah.

"Kalau begitu aku akan membuat beberapa hidangan gaya Quina untuk mendampingi hidanganmu."

"Ya ampun, Kapten, sejak kapan kau mulai mempelajari masakan Quina?"

"A-Aku nggak bisa membiarkan diriku terus tertinggal..."

Tersipu, Ellis batuk ringan beberapa kali.

Lalu—

"Apa yang kalian lakukan? Cewek cemilan dan cewek berekor."
(Maaf kalo sebutannya aneh, aku bingung nerjemahin "tail person", jadi aku terjemahin aja asal-asalan jadi "cewek berekor"... Buahahahahahaha)

Mengucek mata mengantuknya sambil berjalan masuk agak sempoyongan, itu adalah Est si roh pedang.

Seharusnya sedang sedang tidur dalam wujud pedang di kamar Kamito, tampaknya dia bangun karena waktu makan malam sudah hampir tiba.

"C-Cewek berekor, apa itu aku?"

Ellis menyentuh kuncir ekor kudanya, agak tersinggung.

"Makan malam..."

Est bergumam kosong lalu melompat untuk mengintip meja dapur.

".....Tahu."

Tanpa adanya ekspresi wajah, mata ungu milik Est langsung berkilauan cerah.

"Ya, Nona Roh Pedang. Kami akan membuat hidangan dengan tahu kesukaanmu hari ini."

"Tahu, tahu♪"

Est bersenandung dengan suara pelan...

"Kalau begitu, aku akan membantu sedikit—"

Dia mengubah dirinya menjadi sebilah pisau dapur, terwujud ditangan Rinslet.

"Makasih banyak, Nona Roh Pedang."

"Apa-apaan ini!?"

Ellis berseru terkejut.

"Fufu, pisau dapur Nona Roh Pedang sangat menakjubkan, lho?"

Mengatakan itu, Rinslet mengambil daun bawang dan mengirisnya dengan cepat menggunakan pisau dapur tersebut beberapa kali. Membentuk jalur melengkung yang indah, irisan daun bawang tersebut terbang ke mangkok satu per satu.

"....B-Benar-benar menakjubkan, tapi apa nggak apa-apa menggunakan pedang suci legendaris seperti ini?"

Dengan ekspresi rumit, Ellis bertanya kebingungan.

"Fufu, asaljan aku menciptakan sebuah legenda baru."

Sambil bercanda, Rinslet menyiramkan minyak pada panci besi yang diambil dari mulut Fenrir dan menyalakan tungku.

"Apinya kurang besar...."

"Mau gimana lagi. gimanapun juga ini adalah peralatan di sebuah kapal militer."

Meskipun seekor roh salamander kecil tersegel didalan kristal roh di tungku tersebut, sejak awal itu memang bukan roh yang kuat. Ditambah fakta bahwa tidak ada berkah tanah ketika berada di ketinggian, roh-roh tampak cukup lesu.

"...Hmm, akan mustahil untuk membuat mapo doufu asli denhan menggunakan api selemah ini!"

Tepat saat Rinslet menggerutu dengan ekspresi jengkel.

"Meow..."

Dia melihat seekor kucing neraka yang diselimuti kobaran api, berjalan di koridor diluar dapur.

Ketika tuannya, Claire sedang pergi bersama Kamito untuk melakukan penelitian, Scarlet sepertinya berjalan-jalan dengan bebas di dalam kapal.

"Nona Kucing Neraka, waktu yang sempurna!"

Rinslet melambaikan tangan pada Scarlet.

"Meow?"

Memiringkan kepalanya kebingungan, Scarlet berjalan mendekat.

Biasanya, roh terkontrak tidak akan memperhatikan siapapun selain tuan mereka. Tapi katanya Rinslet sering memberi cemilan lezat, Scarlet cukup dekat dengan dia.

"Tolong besarkan apinya—"

Ketika Rinslet berkata begitu. Scarlet dengan cekatan berjalan ke bawah panci besi dan mengeluarkan api yang kuat dari ekornya. Dibandingkan dengan api dari salamander yang tersegel didalam roh kristal, perbedaan kekuatannya layaknya langit dan bumi.

"Fufu, seperti yang diharapkan dari roh terkontrak milik Claire!"

Menuangkan pasta berwarna merah cerah beserta tahu ke panci besi, Rinslet mulai mengaduknya dengan sungguh-sungguh. Api yang berkobar tampak seperti akan membakar langit-langit setiap saat.

"A-Apa kau yakin menggunakan api sebesar itu? Itu bisa menyebabkan dapurnya kebakaran!"

"Ohohoho, nggak usah khawatir. Serahkan saja semuanya padaku, orang yang membawa nama Rinslet sang Api Neraka!"

"....Tunggu sebentar, bukankah julukanmu adalah Rinslet sang Iblis Es?"

....Apa terjadi suatu pergantian yang aneh? Melihat Rinslet menyalakan api lebih besar lagi, Ellis melihat dengan mata khawatir.

Bagian 5[edit]

Di Zohar, ibukota Theocracy, disebuah gang kecil dimana tak ada sinar matahari yang meneranginya, dia sosok melintas dengan cepat.

"Hei, cepat, dasar si bego yang kikuk. Apa kau mau kembali ke penjara itu?"

"J-Jaga mulutmu, asal kau tau aku adalah putri kedua negara ini."

Saladia Kahn memprotes nada suara yang sangat kasar dari pria muda itu.

"Huh? Apa kau paham dengan situasimu?"

Jio Inzagi memutar kepalanya, melotot dengan mata merahnya. Tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, bahu Saladia gemetar.

"Sekarang ini, kau bukanlah seorang putri. Seperti aku, kau hanyalah seorang tahanan yang kabur. Diam dan patuhi aku kalau kau mau pergi dari tempat ini hidup-hidup."

"....Y-Yah...."

Saladia membuka mulutnya, mencoba untuk membantah—

"...Kurasa, ya. Apa yang kau katakan memang benar..."

Tetapi dia menggigit bibirnya dalam kekecewaan.

"Hmph, senang kau paham. Sekarang hentikan obrolan yang nggak ada gunanya, putri agung."

Setelah mengatakan itu secara sarkatis, Jio Inzagi bersembunyi di balik bayangan bangunan.

Ini kira-kira berjarak tiga distrik jauhnya dari penjara dimana Saladia dikurung.

Alasan kenapa mereka baru bisa mencapai jarak ini yang mana termasuk lambat adalah karena kaburnya Saladia diketahui dengan cepat dan prajurit dalam jumlah yang banyak telah dikirim ke kota. Akan mudah bagi Jio Inzagi untuk kabur sendirian karena dia adalah seorang lulusan dari Sekolah Instruksional, tetapi semuanya tak semudah itu karena dia harus membawa Saladia bersamanya.

Setelah beberapa minggu dipenjara, dia telah sangat melemah. Dengan demikian perlu untuk memberi dia waktu untuk memulihkan energi yang cukup untuk berlari.

"—Tsk, bikin jengkel aja. Sekelompok elementalist militer."

Bersembunyi di bayangan bangunan sembari menyembunyikan hawa keberadaannya, Jio Inzagi memggerutu. Sekelompok ksatria membawa kristal roh untuk penerangan telah muncul, berjalan di gang gelap. Itu adalah penjaga kerajaan milik Sjora Kahn.

"Tahan nafasmu sampai mereka lewat—"

Saladia mengangguk dalam diam.

(Pria ini, meskipun aku nggak tau seberapa kuatnya dia—)

Dia diam-diam menilai "penerus Raja Iblis" gadungan yang ada di depannya.

Menilai dari fakta bahwa dia menyelusup seorang diri ke penjara untuk menyelamatkan dirinya, pria itu pasti cukup kuat. Tetapi meski demikian, Saladia tidak berpikir dua adalah tandingan dari para elementalist militer. Nggak peduli seberapa tangguh tubuh fisik mereka, sudah pasti tidak mungkin bagi orang biasa untuk menang melawan para elementalist—Ini adalah kebenaran mutlak, mustahil untuk dibantah.

Saladia membanggakan dirinya sendiri setara dengan kakaknya sebagai seorang elementalist, tetapi tak ada kesempatan sedikitpun untuk menang ketika dikelilingi para ksatria roh sebanyak ini.

"Tetapi dengan jaring sekuat itu, nggak mungkin untuk bisa lepas. Dan aku punya beban yang mana bahkan nggak bisa lari—"

Jio Inzagi menggerutu pelan.

"Setelah fajar, melarikan diri akan semakin sulit. Kalau penjaga kerajaan milik kakakku menangkap kita, aku akan dibawa kembali ke penjara itu, dan kau akan dijatuhi eksekusi burung."

"Eksekusi burung?"


"Avian execution?"

"Dikuliti dan semua tulang diambik diatas gunung berbatu, kau akan tetap hidup sembari organ-organmu dimakan oleh burung-burung. Ini adalah bentuk eksekusi tradisional dari Theocracy."

Saladia tersenyum. Dia ingin melihat rasa takut muncul diwajah pria ini yang selalu menunjukkan penghinaan dan arogansi sepanjang waktu.

Akan tetapi—

"....Oh, itu. Aku sudah bosan melihat pertunjukan itu ketika aku masih muda."

"Huh?"

"Kami sudah pernah melihat neraka yang sebenarnya ketika masih anak-anak. Dan sekarang, tak satupun dari kami yang takut akan kematian."

Jio Inzagi menyeringai dan tertawa mengejek.

Ekspresinya yang menakutkan membuat Saladia merasakan teror yang mengerikan.

(Pria ini, siapa dia sebenarnya....)

—Lalu.

"Hei, siapa disana!?"

Sebuah teriakan tajam datang dari kegelapan.

"Tsk, kita harus lari—"

Jio mendecakkan lidahnya, memegang pergelangan tangan Saladia dan berlari di gang tersebut.

"Ketemu, itu Saladia Kahn—!"

Disaat yang sama, panah api turun dari atas disertai suara perapalan sihir roh di sekeliling.

Saladia tiba-tiba berhenti dan buru-buru merapal kata-kata pemanggilan untuk mengeluarkan elemental waffe.

"—O roh-roh yang tersegel dibalik gerbang ke dunia lain, muncullah disini sekarang!"

Partike-partikel cahaya muncul dan sebuah buku terwujud ditangannya.

Ini adalah Alf Laylah Wa-Laylah, elemental waffe dari roh iblis Scheherazade.

Cahaya muncul dari halaman yang dibuka, memanggil Gas Cloud, roh dalam wujud asap hitam.

Gas Cloud menjadi besar dalam sekejap mata, menelan semua panah api.

Alf Laylah Wa-Laylah adalah sebuah elemental waffe yang mampu memanggil roh dalam jumlah yang tak terbatas yang ada didalam buku tersebut. Meskipun roh-roh berperingkat tinggi tak bisa dipanggil, mereka cukup serba guna.

"Hei, menarik sekali roh yang kau miliki—"

Tertarik, Jio Inzagi bergumam.

"Akan tetapi, ini bahkan nggak akan bisa mengulur waktu terhadap para royal guard."

"Tidak, itu cukup. Ini sangat cocok dengan kekuatanku."

"...Huh?"

Jio Inzagi mendengus tanpa kenal takut lalu melepas jubahnya.

Ini mengungkapkan tubuh berotot, dengan kulit berwarna agak kecoklatan, serta pola-pola aneh terukir disekujur tubuhnya.

"Apa yang kau rencanakan?"

"Diam dan lihatlah—"

Sesaat setelahnya, garis-garis yang terukir di sekujur tubuhnya mulai bersinar—

"...N-Nggak mungkin, segel persenjataan terkutuk!?"

Saladia melebarkan matanya dan berteriak. Pemasangan segel persenjataan terkutuk seharusnya telah dilarang oleh perjanjian internasional setelah Perang Ranbal.

Tidak, kesampinhkan itu dulu, yang lebih mengejutkan adalah—

"K-Kau adalah seorang pria, lalu kenapa kau bersinar dengan kekuatan suci—"

"Hah, bukankah sudah jelas? Aku adalah penerus Raja Iblis."

Dengan seringai jahat, Jio menjawab.

"A-Ada apa dengan pria itu—"
"Mustahil, segel persenjataan terkutuk!?"
"Seorang elementalist!?"

Para royal guard menyiapkan elemental waffe mereka, lalu mengepung Jio dan Saladia dengan penuh kewaspadaan.

"....Nggak ada jalan untuk kabur sekarang."

Saladia menggigit bibirnya. Sudah pasti nggak mungkin menang melawan musuh sebanyak ini.

Namun—

"Katakanlah, putri agung. Bisakah buku milikmu memanggil roh tanpa batas?"

Pria yang ada didepan dia, dengan mata merah bersinar, mengeluarkan senyum samar.

"Ya, asalkan kekuatan suciku nggak habis. Akan tetapi—"

Mendengar jawaban Saladia, Jio Inzagi mendengus.

"Bagus, buat roh-roh itu dirasuki segel persenjataan terkutuk milikku."

"Huh?"

Saladia tak bisa mempercayai telinganya sendiri.

"B-Bagaimana mungkin sesuatu seperti itu bisa dilakukan—"

"Prinsipnya sama seperti menyegel roh kedalam paling. Cepat lakukan, kecuali kau mau ditangkap lagi oleh orang-orang ini—!"

"...B-Baiklah!"

Memang, ini bukanlah saatnya untuk tanya jawab. Meskipun dia bingung, Saladia masih memanggil delapan roh berelemen berbeda.

Menggunakan tangannya untuk menyentuh segel persenjataan terkutuk yang bersinar merah ditangan Jio, dia menyegel roh-roh tersebut didalam segel persenjataan terkutuk itu.

"Ya, bagus... Perasaan ini membangkitkan kenangan—"

(...Apa yang ingin dilakukan pria ini?)

Saat Saladia menatap pria itu sambil terkejut....

"—Biar kutunjukkan padamu, putri agung. Ujung dari kekuatan Raja Iblis."

Dengan senyum tak kenal takut, Jio Inzagi—

Lalu dia menendang tabah dan meluncur pada para royal guard yang mengepung mereka.

(...!?)

Dengan kilatan dari sebilah pedang, darah terciprat.

Awalnya, Saladia tidak tau apa yang terjadi.

Setelah beberapa saat, dia akhirnya menyadari Jio Inzagi telah mewujudkan sebuah pedang roh ditangannya, seketika menebas satu anggota dari royal guard.

"Hah, sini kau kalau kau mau mati!"

STnBD V16 103.jpg

Dia tidak berhenti bergerak. Satu demi satu, dia mewujudkan roh-roh, menyerang para royal guard.

Pemandangan dari cara bertarungnya, seperti seorang iblis ganas, menyebabkan Saladia gemetar.

(....Tak bisa dipercaya, aku nggak bisa percaya dia menggunakan roh seperti barang sekali pakai!)

Dari sudut pandang seorang elementalist seperti Saladia. Cara bertarungnya sepenuhnya tak dapat diterima. Akan tetapi. Sosok menakutkan dari pria itu, mengayunkan pedang-pedang sembari bermandikan darah yang berhamburan, secara aneh tampak menarik.

(....Mungkinkah pria ini benar-benar penerus Raja Iblis?)

Sosok menakutkan itu membuat Saladia gemetar lagi.


Bab 5 - Tangan Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Sebelum Fajar. Kapal yang membawa Kamito dan rekan-rekannya, Revenant, mendarat di sebuah gua besar dari Demon's Fist yang seperti sebuah lubang raksasa disisi gunung.

Bahkan setelah memasuki kawasan udara Theocracy, tak satupun kapal militer yang menghadang mereka. Ini cukup mengejutkan bagi Kamito dan rekan-rekannya. Kabar bahwa militer bagian perbatasan tak bisa berfungsi secara normal dikarenakan kekacauan sipil ternyata memang benar.

Meninggalkan Lily, Vivian Melosa si mekanik dan si kembar dari Sekolah Instruksional tetap dikapal, Kamito dan yang lainnya berangkat.

"Setelah makan hidangan tahu itu, aku merasa seperti bisa menyemburkan api..."

Menjulurkan lidahnya yang merah, Claire berkomentar.

"Aku nggak pernah menyangka itu akan sepedas ini."

"Namun, yang aneh adalah gimana bisa rasa pedas itu membuatmu makan tanpa henti."

"Ya, saat aku menyadarinya, semuanya sudah selesai."

"Aku, Muir, nggak bisa menahan yang terlalu pedas...."

Apa yang diobrolkan Claire dan para cewek adalah tentang kemampuan khusus Rinslet dalam membuat hidangan pedas. Tentu saja, Kamito mencicipinya juga, dan memang, itu sangat pedas hingga dia merasa seperti menyemburkan api, tapi rasanya sangat lezat.

Saat ini kembali ke wujud pedang, Est tampaknya dia sangat menikmati hidangan tahu tersebut yang dimasak dalam gaya asing.

(...Bisa dikatakan, pada akhirnya, aku masih tak bisa mendapatkan apapun mengenai Raja Iblis.)

Sambil menuruni tangga, Kamito bergumam dalam hatinya.

Setelah apa yang terjadi sebelumnya, Kamito dan Claire mencari-cari di rak buku milik , tetapi informasi yang mereka temukan kebanyakan adalah kisah-kisah mitos. Adapun untuk buku-buku terlarang yang tercatat dalam bahasa Ancient High, bahkan Claire tak bisa menerjemahkan buku-buku itu secara keseluruhan.

(Haaaaa, Kurasa aku harus bertanya rinciannya pada Rubia nanti.....)

Kesimpulan itulah yang dia dapatkan.

"—Selamat datang, semuanya."

Saat kelompok itu turun dari kapal, seorang cewek muda berpakaian seragam tempur kulit menyambut mereka.

Namanya adalah Siska dan merupakan salah satu dari anak yatim dari Sekolah Instruksional yang diadopsi Rubia. Pertama kali mereka mereka menaiki Revenant, dia adalah orang yang menandu mereka untuk menemui Rubia.

"Aku akan memandu ke lokasi Master. Silahkan ikuti aku—"

Setelah mengatakan itu tanpa ekspresi, cewek itu mulai berjalan masuk kedalam gua besar itu.

Bagian 2[edit]

Dipandu oleh Siska, Kamito dan rekan-rekannya berjalan di bagian yang luas dari Demon's Fist.

"K-Kali ini mereka nggak akan meminta kita untuk melepas daleman kita atau semacamnya, kan...?"

"Nggak, aku nggak berpikir kita perlu khawatir tentang hal itu."

Melihat Claire menggosokkan kakinya penuh kekhawatiran, Kamito menyakinkan dia.

....Atau lebih tepatnya, dia berharap bahwa Dracunia adalah satu-satunya dari sekian banyak negara yang memiliki peraturan semacam itu.

"Asal kau tau, Onii-sama, dalemanku sudah aku lepas♪"

Memegang tangan Kamito, Muir menyandarkan dirinya pada dia.

"M-Muir?"

"T-Tunggu, apa yang kau lakukan! Menjauh dari dia!"

"Nggak mau, Onii-sama adalah milikku."

"—Kalian berdua, diamlah."

Berjalan didepan, Siska menghadap ke belakang dan tanpa ekspresi memperingatkan kedua cewek itu.

Didalam basis itu, hampir tak ada seorangpun. Meskipun kedua benteng militer tersebut dibangun didalam gunung, tempat ini benar-benar berbeda dari benteng bukit naga di Dracunia yang memanfaatkan sebuah gua alami. Entah itu lantai atau langit-langitnya, tenpat ini dipenuhi dengan permukaan batu yang datar dan rata, memberikan sebuah perasaan klaustrophobia.[1]

Pada saat itu, Ellis yang berjalan di samping Kamito, bergumam pelan:

"Suasana disini mengingatkan aku pada tambang di Gado."

"Ya, pastinya..."

Gado kota tambang terabaikan di Ordesia adalah tempat dimana roh militer kelas strategik, Jormungandr, disegel. Bagi Ellis, ini juga merupakan sebuah tempat dengan kenangan menyakitkan dimana dia kalah pada Jio Inzagi, yanb mana menuenankani rekan-rekannya, Rakka dan Reishia terluka.

"Jio Inzagi huh? Pria itu mengocehkan tentang Raja Iblis juga—"

"Hanya seorang gadungan."

Mendengar itu, Claire mengangkat bahu.

"Ngomong-ngomong, kakak, kau merupakan tahanan bersama pria itu di Penjara Balsas kan?"

Mendengar pertanyaan Ellis, Velsaria mengangguk sambil terus berjalan.

"Memang. Di penjara itu, pria itu terus bersikeras bahwa dia adalah penerus Raja Iblis. Tentunya, tak seorangpun yang memperhatikan dia—"

Lalu dia bergumam seolah baru mengingatnya.

"Aku ingat bahwa dia kabur ketika Cardinal menyerang penjara itu."

"Apa!?"
"Apa kau seriuk, kak!?"

Claire dan Ellis berteriak terkejut.

"Ya. Cardinal awalnya berencana untuk merekrut dia, tapi dia dengan cepat mengingkari janjinya dan kabur."

"Nggak mungkin—"

"Ternyata wanita itu naif juga...."

Mendengar itu, Muir berkomentar pasrah.

"Semoga saja, hal itu nggak menyebabkan masalah..."

Jio Inzagi, yang menyatakan dirinya sendiri sebagai penerus Raja Iblis, sangat terobsesi pada Kamito, orang yang memilki kekuatan Raja Iblis. Abaikan dulu itu, tak ada yang tau apa yang akan dilakukan Jio.

—Lalu....

"Jangan khawatir. Aku sudah menyegel semua ingatan tentang Kamito."

Turun pelan-pelan disertai dengan bulu-bulu hitam, seorang cewek mengenakan pakaian hitam tiba-tiba muncul.

Itu adalah Restia, yang sampai sekarang tetap dalam wujud pedang iblis.

"Akan jadi masalah kakau dia memberitahu para ksatria Ordesia mengenai kamu dan aku kan?"

"....Yah, itu melegakan."

"Ngomong-ngomong, Muir Alenstarl—"

Tiba-tiba, mata Restia yang berwarna senja menatap muir.

"Ada apa, roh kegelapan?"

"Siapa yang mengijinkan kau untuk memegang tangan Kamito? Tangan kanannya memang aku pinjamkan pada Nona Pedang Suci, tapi aku nggak ingat memberikan hak atas tangan kirinya padamu."

"Diam kau. Berhati-hatilah atau aku akan menggunakan Jester's Vice untuk menghancurkanmu, paham?"

Muir menatap balik Restia dengan kesal.

"H-Hei, kalian berdua...."

Melihat pertarungan hendak terjadi diantara mereka berdua, Kamito buru-buru berusaha menghentikan mereka.

Karena suatu alasan, mereka berdua memang punya hubungan yang buruk sejak di Sekolah Instruksional. Hal itu bahkan sering mengarah pada pertarungan yang merusak benteng Sekolah, Cave Castle.

"Ya ampun, ternyata mulutmu semakin nggak tau diri, Muir Alenstarl. Namun dimasa lalu, kau sering sekali ngompol, terlalu takut untuk berjalan ke toilet dimalam hari."

Mendengar ejekan Restia—

"...!?"

Wajah Muir perlahan-lahan menjadi pucat.

"....A-Apa, r-roh kegelapan... k-k-kenapa kau bisa tau..."

"Fufu, aku tau segalanya. Termasuk banyak rahasia yang lainnya..."

Restia tersenyum penuh kepercayaan diri.

"...Ah, ooh.. T-Tidak, jangan percaya dia, Onii-sama, ngompol, mana mungkin—"

Berlinang air mata, Muir mati-matian membantahnya.

"Uh, ya, tentu...."

Kamito memalingkan tatapannya sebagai tanggapan.

Dalam kenyataannya, Kamito mencuci pakaian dalam dan selimut milik Muir berkali-kali dimasa lalu, tetapi Muir tetap nggak menyadarinya.

"Kau masih anak kecil saat itu kan? Kurasa nggak perlu malu tentang hal itu."

Apa dia mengasihani Muir? Ellis menghibur Muir.

"Memang. Claire masih ngompol saat berusia sembilan tahun."

"B-Benarkah?"

"T-Tunggu, Rinslet!?"

Nggak pernah menyangka rahasianya sendiri akan terbongkar, Claire buru-buru menutup mulut Rinslet.

"Tolong diam semuanya—"

Siska melihat kebelakang dan berkata dengan dingin.

Bagian 3[edit]

Kamito dan kelompoknya masuk semakin dalam. Lalu sampai pada sebuah perangkat elevator yang digerakkan oleh kristal roh berelemen angin.

Dengan suara keras, lantai dibawah kaki turun. Ini adalah suatu penerapan dari teknis roh termutakhir yang bahkan Akademi Roh Areishia tak memiliki perangkat semacam itu.

"Kita mau pergi kemana?"

"Tempat perkumpulan dibawah tanah."

Siska menjawab tanpe ekspresi.

Setelah beberapa saat, perasaan mengambang yang aneh menghilang dan pintu elevatornya terbuka.

Lalu, yang memasuki pandangan mereka adalah—

"...!?"

Berkumpul di sebuah ruangan yang menyerupai sebuah ruangan bioskop raksasa adalah suatu kerumunan orang yang besar, jumlahnya ribuan orang.

Kebanyakan dari mereka adalah orang tua dan anak-anak mengenakan jubah abu-abu.

"Orang-orang ini...."

Saat Kamito tak bisa berkata apa-apa—

"Ini adalah para pengungsi yang dianiaya oleh Sjora Kahn dan melarikan diri ke Mordis."

Velsaria berbicara sambil menatap para anggota dari kerumunan yang ada dibawah mereka, satu per satu.

"Rakyat jelata yang campur aduk, hidup dengan nama 'pasukan pemberontak'."

"Disini, siapa sebenarnya Rubia-sama...."

Saat Fianna mengernyit dan mengungkapkan rasa bingungnya....

"—Si perampas tahta, Sjora Kahn, telah mengambil kendali atas ibu kota Raja Iblis, Zohar, untuk melakukan segala macam kejahatan. Akan tetapi pemerintahannya yang tidak sah akan segera runtuh dan hancur!"

Suara yang akrab dan bermatabat bergema didalam seluruh gua bawah tanah yang sangat besar itu.

"N-Nee-sama!?"

Claire berteriak terkejut.

Tatapan Claire diarahkan pada sosoknya, yang berdiri ditengah kerumunan orang yang berkumpul.

Seorang princess maiden mengenakan sebuah topeng iblis, rambut crimsonnya yang panjang berkibar dibelakangnya, terlihat seolah-olah itu adalah kobaran api.

Mengenakan pakaian ritual berwarna putih polos, dia tak lain tak bukan adalah Rubia Elstein.

"—Saat-saat yang telah lama diantisipasi akhirnya datang! Malam ini, di Demon's Fist ini, mari kita sambut kebangkitan dari Raja Iblis sejati yang telah kita tunggu selama seribu tahun!"

Yeahhhhhhhhhhhhhhhhh!

Seperti gelombang yang mengamuk, sorakan memekakan telinga dari kerumunan itu mengguncang gua bawah tanah yang besar tersebut.

"—Sekarang adalah saatnya untuk berdoa atas kembalinya sang Raja Iblis, para penganut kultus Raja Iblis yang tertindas!"

Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis!

Gelombang demi gelombang, sorakan yang kuat bergema diseluruh gunung berbatu, Mordis.

"....A-Apa yang dia bicarakan?"

....Kamito dan rekan-rekannya hanya bisa berdiri tertegun, menyaksikan pemandangan dibawah.

Bagian 4[edit]

Setelah pidato yang meriah dari Rubia, para pengikut kultus Raja Iblis bubar—

Kamito dan rekan-rekannya dibawa ke tingkat paling bawah di gua tersebut, suatu aula mirip dengan ruangan pertemuan.

Menurut Siska, yang telah pergi segera setelah memimpin kelompok Kamito ke tempat itu, ruangan itu dulunya digunakan sebagai markas besar bagi staf pasukan selama Perang Ranbal.

Dikelilingi dinding batu yang kokoh, aula tersebut tidak hanya kedap suara tetapi juga terdapat sihir isolasi yang terukir untuk memblokir penyusupan dari roh militer tipe mata-mata.

Kamito dan rekan-rekannya duduk di meja panjang di tengah dan menunggu datangnya Rubia.

Restia kembaki menjadi pedang untuk standby, sedangkan Muir tidur, berbaring telentang di meja. Kemampuan untuk tidur dengan cepat tak peduli ada dimana adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh semua orang yang berlatih di Sekolah Instruksional.

"Apa yang direncanakan Nee-sama....?"

Claire bergumam penuh kekhawatiran.

...Yah, seseorang tak bisa menyalahkan kekhawatirannya. Rubia yang menyampaikan pidato sebelumnya benar-benar berbeda dengan Rubia yang mereka kenal.

"....Dia nampaknya berbicara tentang kebangkitan Raja Iblis. Apaan sih yang dia maksudkan?"

"Para pengungsi yang berkumpul disini semuanya merupakan pengikut kultus Raja Iblis yang dianiaya oleh Sjora Kahn sebagai penguasa. Cardinal berniat meningkatkan keyakinan dan kesetiaan mereka, itulah yang aku duga."

Velsaria mengatakan penilaiannya sendiri.

"Kalau begitu pembicaraan tentang kebangkitan Raja Iblis hanyalah sekedar penyesatan...?"

"Mungkin—"

Sambil menopang dagunya, Fianna berbicara secara ambigu.

"Dengan menggunakan sihir Soul Recall, contohnya, Raja Iblis benar-benar bisa dibangkitkan atau semacamnya—"

Mendengar gumamannya yang pelan, tiba-tiba Kamito menyadarinya.

(...Ngomong-ngomong, Rubia pernah membangkitkan Nepenthes Lore sebelumnya.)

Kalau dipikir-pikir lagi, itu sudah lama, tapi hal itu terjadi selama babak awal dari Blade Dance.

Pada saat itu, dia menggunakan mantra tabu, Soul Recall, untuk membangkitkan Nepenthes Lore, monster yang mewarisi kekuatan Raja Iblis. Pada dasarnya merupakan spesimen Raja Iblis gagal, monster yang seorang diri menghancurkan tim milik Milla Bassett dari Kerajaan Rossvale dan sepenuhnya menghancurkan basis Tim Scarlet.

"Akan tetapi, bahkan bagi Rubia-sama, membangkitkan Raja Iblis yang sebenarnya akan sepenuhnya mustahil."

"Memang, tak seorangpun tau dimana jasad Raja Iblis menghilang."

"Ya, aku tau, tapi ini hanyalah spekulasi—"

Fianna mengangkat bahu dan menggeleng. Lalu...

"—Terimakasih sudah mau menunggu."

Pintu ke aula tersebut terbuka dan Rubia muncul.

"...!"

Semua orang yang hadir menatap Rubia.

Dia telah melepas pakaian princess maiden yang barusan dan berganti menjadi seragam militer Theocracy.

Topeng iblisnya juga dilepas untuk mengungkapkan wajah aslinya.

Duduk di ujung meja, Rubia mengarahkan tatapannya pada wajah semua orang secara bergantian, lalu perlahan-lahan mulai bicara.

"Pertama-tama, aku minta maaf karena tak bisa menemui kalian di Dracunia. Selama beberapa hari belakangan, situasi di Theocracy telah berubah secara drastis. Akibatnya, itu menjadi penting untuk mengambil kendali atas kota ini lebih awal dari yang dijadwalkan—"

"Dari apa yang kami lihat tadi, tampaknya kau berhasil."

Kali ini Kamito berkomentar.

"Ya, aku sudah mencapai kesepakatan dengan kader kultus Raja Iblis yang memimpin para pengungsi. Sebagai pertukaran untuk menyelamatkan Saladia Kahn, mereka telah meminta untuk ikut dalam aliansi dengan Ordesia Yang Sah."

"....Seperti yang diharapkan darimu."

Sembari merasa terkesan, Kamito menatap Rubia dengan tajam.

"—Akan tetapi, memfabrikasikan harapan palsu dengan kebohongan tentang kebangkitan Raja Iblis, itu sedikit berlebihan."

Dia menyuarakan keraguan yang ada didalam hatinya sejak tadi.

Banyak pengungsi yang terpesona oleh pidato Rubia.

Mereka percaya dari lubuk hati mereka bahwa penyelamat mereka, sang Raja Iblis, akan dibangkitkan.

Dia sangat tidak senang dengan metode Rubia dalam mengeksploitasi keyakinan orang lain, meskipun untuk memenangkan hati dari pasukan pemberontak.

Dari apa yang bisa Kamito katakan, Claire dan para cewek memilki perasaan yang sama.

Akan tetapi, Rubia menerima tatapan Kamito secara langsung—

"Aku nggak punya niat memfabrikasi harapan palsu."

Lalu Rubia mengatakan hal itu.

"...?"

Kamito menatap dia dengan terkejut.

"Jangan bilang kau benar-benar akan membangkitkan Raja Iblis Solomon?"

"Tidak—"

Rubia menggeleng dan menyatakan secara perlahan-lahan:

"—Sang Raja Iblis sudah ada disini."

"...Huh?"

Semua orang yang hadir mulai meragukan apa yang telah mereka dengar.

Catatan Penerjemah[edit]

  1. Phobia terhadap tempat tertutup dan sempit.


Bab 6 - Raja Iblis Gadungan[edit]

Bagian 1[edit]

—Raja Iblis sudah ada disini.

Kamito segera memahami arti dibalik kata-kata Rubia.

"...Lalu apa-apaan itu?"

Melihat benda yang diletakkan dimeja oleh Siska—

Kamito menyipitkan matanya dan menanyai Rubia.

Sebuah jubah merah dengan warna darah disertai bagian bahi yang dihiasi duri-duri yang tak terhitung jumlahnya.

Armor hitam terukir dengan pola binatang iblis. Sebuah tongkat berbentuk seperti ulat yang saling melilit satu sama lain. Terakhir, ada topeng tengkorak yang menakutkan dengan lubang mata yang pas dengan kristal roh merah.

"Apa aku perlu menjelaskan?"

"...Ya, untuk berjaga-jaga—"

Menekan pelipis matanya, Kamito mengerang.

....Akan tetapi, dia sudah bisa menebak tentang apa ini tanpa perlu mendengar jawaban Rubia.

"Kazehaya Kamito, kau akan menjadi Raja Iblis."

"Aku menolak."

Kamito segera menjawab.

(...Sudah kuduga, bukankah ini tepat seperti yang aku prediksi?)

Akan tetapi, Rubia tetap tak terpengaruh dan melanjutkan.

"Apa yang membuatmu nggak senang? Apakah desain topengnya?"

"Bukan. Yah, itu juga masuk perhitungan... Tapi bukan itu masalahnya. Tunggu sebentar, jangan bilang kau membuat seluruh pakaian ini?"

"Semuanya. Dalam hal ini, bagian mana yang nggak kau senangi?"

"...Semuanya. Kenapa juga aku harus jadi Raja Iblis!?"

Kamito memprotes keras.

"Memang, Kamito-kun memang sudah jadi Raja Iblis Malam Hari."
"Benar, dengan ini..."
"Aku setuju."
"Hmm, Kamito memang sudah jadi seorang Raja Iblis, kan?"

Meskipun mendengar komentar-komentar ini dibelakang dia, Kamito memutuskan untuk mengabaikan mereka.

"Karena ini adalah metode yang paling efektif untuk menyatukan para pengungsi."

Rubia menyatakan dengan dingin.

"....!"

"Dianiaya oleh Sjora Kahn, dibuanh oleh kampung halaman mereka, para pengikut kultus Raja Iblis ini telah berkumpul di Demon's Fist ini. Cepat atau lambat, tak lama lagi, mereka akan bangkit melawan Sjora. Akan tetapi, kultus Raja Iblis bukanlah entitas monolitik. Menyatukan para pemberontak membutuhkan suatu simbol yang disetujui semua orang, yakni sang Raja Iblis—"

"....Tapi itu artinya menciptakan seorang Raja Iblis gadungan untuk menipu mereka, kan?"

Mengatakan itu, Kamito menatap tajam pada Rubia.

"Seperti Raja Iblis Solomon, kau memiliki kekuatan dari Elemental Lord Kegelapan didalam dirimu. Ini adalah kebenaran yang tak terbantahkan."

"Itu adalah kata-kata yang manis. Aku bukan Raja Iblis Solomon. Baiklah, anggap saja aku mengakui bahwa memang diperlukan untuk sebuah simbol untuk menyatukan para pemhunhduu, lalu kenapa nggak kau saja yang melakukannya? Seperti ketika kau berpura-pura menjadi Ren Ashbell di Blade Dance."

Kamito menanggapi sembari mengejek.

"Para pengikut ini tidak akan menerima Raja Iblis kecuali itu adalah kau, seorang elementalist pria."

"Yah—"

Saat Kamito mau mengeluarkan penolakan—

Dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan menutup mulutnya.

Dia melihat getaran samar di mata Rubia yang menatap langsung pada dia.

"Kazehaya Kamito, apa kau melihat kerumunan orang dalam jumlah yang mencengangkan itu? Diasingkan oleh kampung halaman mereka, dianiaya, orang-orang ini—"

"Ya...."

"Orang-orang ini telah kehilangan segalanya. Bukan hanya tanah dan kekayaan, tetapi juga harapan untuk hidup. Sekarang ini, apa yang mereka butuhkan adalah seorang penyelamat."

"Aku paham dengan logika itu, tapi...."

"Aku nggak memintamu untuk memerintah orang-orang ini sebagai Raja Iblis. Yang diperlukan adalah untuk menyebarkan berita bay Raja Iblis telah dibangkitkan disini. Meskipun itu bohongan, selama ada secercah harapan, orang-orang akan bisa bertahan hidup—"

Pada saat ini, Kamito akhirnya mengetahui emosi yang ada didalam mata Rubia.

(...Aku mengerti sekarang. Jadi itulah yang dia rasakan secara sungguh-sungguh.)

Dari para pengungsi ini, dia melihat bayangan dari wilayah Elstein yang merupakan kampung halaman yang telah dihanguskan oleh bencana Elemental Lord Api. Saat itu, bahkan sebagai Ratu Api, dia gagal menyelamatkan orang dalam jumlah yang besar, yang mana dia merasa sangat bersalah bahkan sampai hari ini.

Kamito tetap diam, memikirkan tentang kerumunan orang itu.

Mereka sangat mempercayai apa yang dikatakan Rubia tentang kebangkitan Raja Iblis.

Itu bukan hanya karena mereka adalah para pengikut dari kultus Raja Iblis. Pada saat yang sama, mereka pasti telah merasakan emosi yang meluap-luap pada pidato yang disampaikan Rubia.

"..."

Mendesah dalam-dalam, Kamito—

"...Yang perlu aku lakukan adalah berpura-pura menjadi Raja Iblis didepan para pengungsi itu kan?"

Dia berbicara.

"Kamito!?"

Dia mendengar Claire berseru dibelakangnya.

"Memang, cuma itu."

Rubia menatap Kamito dan mengangguk.

"....Baiklah."

Dengan demikian, Kamito mengambil topeng Raja Iblis dan berkata:

"—Kali ini saja. Hanya sekali ini, aku akan menjadi Raja Iblis."

Bagian 2[edit]

—Begitulah jadinya.

Meskipun Kamito bersedia untuk memainkan peran Raja Iblis—

"Kamito-kun, berusahalah sebaik mungkin dalam memainkan peran Raja Iblis."

"Karena kau bertindak seperti Raja Iblis yang sebenarnya mulai dari sekarang dan seterusnya, tentunya itu akan baik-baik saja."

"Hmm, kupikir yang perlu kau lakukan adalah berperilaku seperti biasanya."

"Bertindak saja secara alami, Kamito."

".....Apa-apaan maksudnya itu?"

Membawa pakaian Raja Iblis ditangannya, Kamito menyimpitkan matanya dan membantah.

....Menatap topeng tengkorak yang menakutkan itu, pemikiran-pemikiran tentang penyesalan muncul dalam hatinya, meskipun sudah terlambat.

Pada Claire dan para cewek yang bertindak seolah mereka tak terlibat, Rubia berkata:

"Jangan mengambil kesimpulan bahwa ini nggak ada hubungannya dengan kalian. Aku sudah mempersiapkan peran untuk kalian."

"...Huh?"

Claire dan para cewek langsung membeku, saling menatap satu sama lain.

"....K-Kami juga?"

"Memang. Kalian berempat akan memainkan peran selir Raja Iblis."

Mendengar kata-kata Rubia yang tiba-tiba—

" " " "Ehhhhhhhhhh!" " " "

Claire dan para cewek berteriak.

"Rubia-sama, a-apa maksudnya?"

"Menurut legenda, Raja Iblis Solomon dilayani oleh banyak selir. Tentunya, dengan adanya kalian berempat, kebangkitan Raja Iblis akan menjadi lebih meyakinkan."

Rubia menjawab pertanyaan Fianna tanpa mengubah ekspresinya.

...Memang, Kamito telah melihat sebuah buku sejarah di ruangan Rubia yang mana memcatat bagaimana Raja Iblis Solomon dilayani oleh banyak selir, bahkan termasuk ilustrasi dari segala macam pose yang tak bisa disebutkan.

Mungkin teringat pada buku yang dia lihat di kapal terbang, wajah Claire langsung menjadi merah.

"Tunggu, bukankah itu jelas-jelas nggak bisa diterima!?"

Kamito sangat keberatan. Para cewek bangsawan muda ini memiliki harga diri yang amat tinggi. Meskipun memainkan peran, meminta mereka bertindak sebagai selir Raja Iblis akan benar-benar tak bisa diterima—

"M-Mau gimana lagi..."
"Nggak ada jalan lain."
"Hmm, memang, selir Raja Iblis adalah peran yang diperlukan."
"Ya, keaslian sangatlah penting."

....Huh? Kenapa itu terasa seperti mereka sangat termotivasi...

Rubia mengangguk ringan dan berkata:

"Ada empat pakaian, sudah dipersiapkan dimasing-masing ruangan kalian. Pergi sana ganti pakian."

"W-Woy..."

Meskipun Kamito keberatan, Claire dan para cewek sepenuhnya nggak peduli.

Lalu, batuk ringan terdengar dari sudut ruangan.

Kamito menoleh, yang terlihat disana adalah mata berwarna biru es milik Velsaria menatap dingin pada Rubia.

"Ada apa, Velsaria Eva?"

Ya, Kamito punya harapan.

Mengingat kepribadian Velsaria yang lurus, tentunya dia akan keberatan.

Akan tetapi, apa yang dia katakan ternyata—

"Uh, apakah peranku nggak diperlukan....?"

Kata-kata yang tak terduga.

"Apa, Velsaria!?"

Kamito mau tak mau berteriak.

...Memang, apa yang dikatakan Rubua barusan adalah "kalian berempat."

Dengan kata lain, selir-selir Raja Iblis tidak termasuk Muir atau Velsaria.

Apa ada semacam pembatasan usia—

"Velsaria Eva, apa kau mau menjadi selir Raja Iblis juga?"

"...T-Tentu saja enggak!"

Mendengar pertanyaan Rubia, Velsaria menggeleng.

"A-Aku hanya mencari konfirmasi. Sebagai seorang ksatria dari keluarga Faglhrengart, gimana bisa aku terlibat dalam tindakan nggak tau malu seperti itu, meskipun hanya akting?"

"Uh, kakak, aku nggak setuju kalau ini dianggap nggak tau malu..."

Ellis memprotes dengan suara pelan.

"Velsaria, kau akan menjalani pemyesuaian dsrir Vivian Melosa di fasilitas milik Demon's Fist ini. Revenant tidak berperlengkapan memadai untuk penyesuaian total, tetapi karena tempat ini adalah sebuah fasilitas militer, wanita itu harusnya berhasil memnuat output Juggernaut."

"....B-Begitukah? Dimengerti."

Mengembalikan ekspresinya yang seperti es yang biasanya, Velsaria mengangguk.

...Kamito bertanya-tanya apakah hanya perasaannya saja bahwa ada kekecewaan samar yang dia dengar dari suara Velsaria.

Lalu Rubia berjalan mendekati Muir yang sedang tidur diatas meja.

"Muir Alenstarl—"

Rubia menarik kerah belakangnya.

"...Uwah? A-Apa?"

Tidur mendengkur, Muir tiba-tiba bangun dan melotot pada Rubia.

"Tunggu, apa yang kau lakukan?"

"Aku punya misi khusus untukmu dan Lily. Pergilah mengintai ibukota Theocracy, Zohar, dan cari tau keberadaan Saladia Kahn."

"Ehhhh, misi pengintaian lagi? Aku masih mau main dengan Onii-sama lagi..."

Mendengar itu, Muir cemberut tak senang.

"Menurutmu kenapa aku membawa kalian kembali dari Kerajaan Suci? Keberhasilan dari misi penyelamatan Saladia bergantung pada hasil kalian."

"...O-Owwwww, paham, paham. Berhenti membuat pelipisku lecet!"

Muir berteriak sembari berlinang air mata... Itu tampak cukup menyakitkan.

"Itulah gerakan pembunuh milik Nee-sama. Dia pernah menggunakannya padaku sekali saat aku masih kecil."

Duduk disebelah Kamito, Claire menjelaskan dengan suara pelan sembari keringat dingin mengucur di keningnya.

"Heh, jadi kau pernah bertengkar dengan kakakmu?"

"Ya, karena kakakku dengan penuh perhatian menanam pohon pir, tetapi secara nggak sengaja aku membakarnya menjadi arang."

"....Kalau begitu, yang salah memang kamu."

Dilepaskan oleh Rubia, Muir berjalan terhuyung-huyung ke Kamito dan berkata:

"Onii-sama, aku akan segera kembali. Ayo main ketika aku sudah kembali."

"Ya, hati-hati."

Kamito meletakkan tangannya di kepala Muir dan mengelus dia pelan-pelan.

"Huah, Onii-sama..."

Muir setengah menutup matanya dalam kenikmatan lalu berjalan keluar dari ruang pertemuan.

"Selanjutnya, Upacara Pembangkitan akan berlangsung malam ini. Pastikan kalian sudah siap sebelum waktunya tiba."

Pertemuan diakhiri dengan pernyataan serius dari Rubia.

Bagian 3[edit]

Setelah berpisah dengan Claire dan para cewek, Kamito dibawa ke ruang perwira militer yang terletak di satu lantai dibawah ruang pertemuan.

Meskipun itu adalah sebuah ruangan perwira, karena tidak digunakan dalam waktu yang begitu lama, ruangan itu menjadi lebih seperti gudang.

(...Ya ampun, apa aku harus berganti dengan pakaian ini?)

Mendesah, Kamito menggantung seragam Akademinya di lemari ruangan yang dipenuhi debu ini, berganti pakaian armor hitam legam yang terukir dengan binatang iblis.

Lalu dia memakai jubah merah darah dan sepatu dengan hiasan sampingnya berbentuk duri.

Akhirnya, dia menutupi wajahnya dengan topeng tengkorak yang menakutkan.

(Kusangka pandanganku akan terblokir, tapi daya pandangnya ternyata sangat bagus...)

Kristal roh berwarna merah telah dipasang pada mata tengkorak tersebut dan sepertinya diperkuat dengan sihir Penglihatan Malam yang mana membuat dia bisa melihat dengan jelas ditempat yang gelap. Selain itu, armor uanh dipakai dibawah jubah tersebut juga terasa lebih ringan daripada uanb diduga, sangat nyaman.

(....lalu, kurasa ini adalah "naskah" ku.)

Kamito melempar seikat kertas ke meja.

Naskah tersebut dipersiapkan oleh Rubia. Dia rupanya mengumpulkan kutipan-kutipan penting dari Raja Iblis Solomon, berdasarkan sumber sejarah dari bagian Raja Iblis.

(Aku merasa bahwa sumber-sumber sejarah itu kacau...)

Dengan penuh keraguan, Kamito membuka naskah tersebut.

"Uh, aku adakah Solomon sang Raja Iblis, bangkit setelah seribu tahun berlalu—"

Saat dia membaca kata-kata di halaman pertama, lalu...

Bagian mulut dari topeng tersebut mengeluarkan asap hitam.

"...A-Apa-apaan ini!?"

Dengan panik Kamito melepas topeng itu.

Topeng tengkorak itu menghantam lantai dan memantul, menyemburkan asap sambil berputar-putar.

".....Jadi topeng itu punya desain semacam ini."

Kamito bergumam jengkel. Lalu....


"Fufu, itu sangat cocok denganmu, Kamito... Fu, fufu, fufufu..."

"...!?"

Dia melihat kebelakang, yang ada disana adalah Restia yang telah kembali ke wujud manusia tanpa dia sadari, tertawa menggemaskan sambil berguling-guling di ranjang, sayapnya bergetar.

"....A-Ayolah... Aku berusaha mati-matian ini."

Ketika Kamito protes tidak senang...

"Fufu, maaf. Soalnya, penampilan itu aneh sekali—"

"....A-Apakah benar-benar aneh? Dari yang aku lihat di buku di ruangan Rubia, penampilan Raja Iblis memang seperti ini."

Meskipun ada perbedaan-perbedaan kecil, gambaran Raja Iblis pada dasarnya seperti ini.

"Memang, dia sering memakai jubah berwarna merah darah. Namun, dia nggak pernah memakai topeng semacam itu ataupun menyemburkan asap—"

Restia tertawa diatas ranjang.

(.....!?)

Lalu....

Kamito akhirnya menyadari sesuatu yang penting.

(....! Oh benar, Restia adalah roh milik Raja Iblis—)

Memang, Dulu Restia memegang gelar Demon King's Sword. Itu sebabnya orang-orang tua di Sekolah Instruksional memberi tugas pada dia untuk mendidik Kamito, sang penerus Raja Iblis.

—Kenapa aku gagal menyadarinya sampai sekarang?

Dibandingkan dengan memeriksa buku-buku sejarah, dia harus melakukan sesuatu terlebih dahulu.

Jelas-jelas, Restia memiliki lebih banyak informasi mengenai Raja Iblis—

Kamito menarik nafas dalam dan...

"Katakankahy, Restia—"

Dia memulai percakapan.

"Apa itu, Kamito?"

"Bisakah kamu memberitahuku tentang Raja Iblis Solomon?"

Mendengar itu, Restia duduk diranjang sambil memiringkan kepalanya.

"....Kenapa kamu ingin tau tentang dia?"

Matanya yang berwarna senja menatap lurus pada Kamito.

Kamito mau tak mau menghindari kontak mata.

"....Anu, hanya untuk referensi, karena aku akan memainkan peran Raja Iblis sebentar lagi—"

Jawabannya terdengar seperti sebuah alasan.

Ya, itu adalah sebuah alasan. Ketertarikannya pada Raja Iblis yang hidup seribu tahun yang lalu memang asli, tapi tidak terbatas pada hal itu saja. Sejujurnya, dia agak penasaran pada pria yang menggunakan Restia dimasa lalu seperti yang dia lakukan.

(...Sheeesh, ada apa dengan persaingan yang kekanak-kanakan ini?)

Kamito mengejek dirinya sendiri dalam benaknya.mungkin, kecemburuan secara tak sadar inilah yang mencegah dia dari memilih untuk menanyai Restia tentang Raja Iblis.

Kamito tidak tau kalau Restia membaca pikirannya, tetapi—

Dia terkikih dan....

"—Ya. Tentu saja aku tau beberapa rincian lebih banyak daripada buku-buku sejarah milik manusia, tetapi sebenarnya, aku nggak mengenal dia dengan sangat baik."

"...Huh?"

Mendengar jawaban yang tak terduga tersebut, mau tak mau Kamito bertanya:

"Tetapi bukankah orang-orang di Sekolah Instruksional menyebutmu Demon King's Sword—"

"Ya, aku memang digunakan oleh sang Raja Iblis. Akan tetapi, pria itu hanya sekedar menggunakan aku sebagai sebuah alat yang kuat bukannya roh terkontrak."

"....Bukan sebagai roh terkontrak?"

Kamito meragukan telinganya.

"Ya, itu benar—"

Restia mengangguk.

"Aku bukanlah roh terkontrak milik Raja Iblis. Bukan, dan bukan hanya aku saja. Legenda mengatakan 72 roh dibawah komandonya, tetapi dalam kenyataannya, dia tidak membuat kontak roh dengan mereka. Dka hanya menggunakan kekuatan Ren Ashdoll untuk mendominasi mereka, itu saja—"

"...Apakah itu yang terjadi?"

Sudah pasti ini adalah fakta yang tak terekam dalam buku sejarah.

Bisa dikatakan, itu mungkin serupa dengan Jio Inzagi yang menggunakan Bloodstone untuk mengendalikan para roh. Tentu saja, kasus Raja Iblis berada dalam skala yang benar-benar berbeda—

Tatapan Kamito tiba-tiba jatuh pada segel roh ditangan kirinya.

(....Aku mengerti. Restia tidak melakukan kontak roh, huh?)

Sembari merasa terkejut dengan apa yang Restia ungkapkan, anehnya Kamito juga merasa lega.

"Fufu, ada apa, Kamito?"

Restia terkikih dan mengintip untuk mengamati ekspresi Kamito.

"...Oh, enggak, uh—"

Kamito buru-buru menggeleng.

"Tapi Restia, bukankah kamu bertanggung jawab atas misi memandu kebangkitan Raja Iblis?"

Dia menanyakan pertanyaan yang muncul dalam benaknya.

Misi asli milik Restia Ashdoll sang roh kegelapan adalah untuk mendorong kebangkitan dari penjelmaan dalam wujud manusia dari kekuatan milik Ren Ashdoll, memandu dia untuk menjadi pembunuh untuk melenyapkan para Elemental Lord gila.

Jika Raja Iblis Solomon hanya menggunakan dia sebagai alat semaya, lalu bagaimana dengan misinya—?

"....Nggak ada yang bisa aku lakukan. Dia nggak menggubris kata-kataku."

Restia mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.

"Dari ketika aku dibebaskan dari segel, dia hanya menggunakan aku sebagai sebuah senjata dan menolak interaksi apapun. Dia menggunakan kekuatanku sesuai dengan kehendaknya sendiri untuk melenyapkan roh dalam jumlah yang tak terhitung—"

"....Jika demikian, penaklukkan benua agresif pada benua yang dilakukan Raja Iblis Solomon bukan karena dia mengendalikan kehendak dari Ren Ashdoll."

"Gimanapun juga, tujuan Ren Ashdoll adalah untuk menghancurkan para Elemental Lord."

Berhenti sebentar, Restia melanjutkan.

"Memulai Perang Raja Iblis adalah idenya sendiri. Aku nggak yai pertimbangan macam apa yang ada didalam kepalanya hingga dia memulai perang itu. Raja Iblis nggak pernah menujukkan pemikiran dan perasaannya pada para roh. Kalaupun ada yang mengerti hati pria itu, kemungkinan besar adalah dia (perempuan)—"

Menerawang ke kejauhan, Restia berbisik.

"...Dia?"

"Satu-satunya roh yang dia percayai dan membuat kontrak dengan Raja Iblis Solomon."

"Memangnya ada roh yang seperti itu?"

"Ya. Akan tetapi, legenda mengatakan bahwa roh itu bersemayam bersama dengan Raja Iblis. Didalam Pyramid disuatu tempat di gurun—"

Dengan perasaan nostalgia dimatanya, Restia Bergumam.

Bagian 4[edit]

Di sebuah fasilitas militer bawah tanah, jauh dibawah Scorpia, sebuah tempat yang dikenal sebagai "wilayah tersegel"—

Sjora Kahn dan pengikut kepercayaannya, Valmira, telah menghabiskan beberapa hari disini.

Di dinding dari ruang segi empat ini adalah sebuah lingkaran sihir raksasa yang ditulis dengan bahasa Ancient High.

Seperti yang disiratkan nama "wilayah tersegel", ini adalah sebuah tempat terisolasi menggunakan pintu kokoh dan penghalang yang tak terhitung jumlahnya. Seekor mahluk berbahaya yang memerlukan tindakan ekstrim semacam itu saat ini disegel dibawahnya.

—Leviathan, sang roh kota.

Dalam kepatuhan terhadap perjanjian pada akhir Perang Ranbal, itu adalah salah satu dari tujuh roh militer kelas strategik yang disegel dan dihapuskan oleh banyak negara. Menurut catatan resmi, selama pertarungan pertama roh itu dikerahkan, roh ini telah menghancurkan sebuah kota secara menyeluruh di sebuah negara kecil hanya dalam waktu 17 jam.

Ruangan ini adalah perangkat sihir untuk mengendalikan Leviatan. Pada saat yang sama, ini adalah situs bersejarah dari Demon's Circuit, diciptakan oleh Raja Iblis seribu tahun yang lalu.

Mengenakan sebuah topeng pengikut Raja Iblis, princess maiden kepercayaan Sjora, Valmira, melaporkan:

"Persiapan untuk terhubung pada Leviathan sudah selesai. Operasinya nggak ada masalah."

Tetapi setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Apa itu?"

"Ada masalah kendali. Jika segelnya terangkat sebagaimana mestinya, kemungkinan besar Leviathan akan mengamuk."

"....Hmm, itulah yang jadi masalahnya sekarang."

Menopang dahinya, Sjora tampak merenung.

"Butuh berapa lama penyesuaiannya?"

"Perkiraan sekitar setengah bulan atau lebih—"

"Begitukah? Kalau gitu mau gimana lagi—"

Sjora mendesah kecewa, lalu....

"Kalau begitu, aktifkan dibawah kondisi tak sempurna."

"...!?"

Dihadapkan dengan pernyataan penguasanya yang acuh tak acuh namun menakutkan, Valmira tak bisa berkata apa-apa.

"M-Maafkan aku karena lancang, Nyonya Penguasa, tetapi misalkan Leviathan diaktifkan dalam kondisi saat ini, maka akan ada ribuan, tidak, puluhan ribu korban di kota Zohar, penduduk akan menjadi korban—"

Pengoperasian normal dari roh militer kelas strategik membutuhkan sebuah tim yang terdiri dari para elementalist terlatih untuk melakukan ritual berskala besar selama beberapa hari. Jika kendalinya hilang, roh militer akan mencuri kekuatan suci dari sekitarnya tanpa pandang bulu sebelum pada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.

Akan tetapi—

"—Lalu kenapa?"

Tersenyum, Sjora mencibir.

"...Sjora... -sama...?"

Seluruh tubuh Valmira gemetar.

Sebenarnya, puluhan princess maiden, yang sudah mengorbankan nyawa mereka, telah ditunjuk sebagai korban—

Akan tetapi, Sjora berencana untuk mengorbankan seluruh Zohar.

Ini bukanlah pola pikir orang normal. Jika sesuatu semacam itu dilakukan, Theocracy itu sendiri akan runtuh meskipun pasukan pemberontak yang berkumpul di Demon's Fist bisa dimusnahkan.

"....Aku mohon padamu... Harap pertimbangan ulang, Sjora-sama!"

Valmira, sang princess maiden yang melayani Sjora sejak anak-anak berlutut dilantai dan memohon.

Akan tetapi, Sjora Kahn tertawa mengejek.

"Entah itu orang-orang atau negara ini, nggak ada hubungannya dengan kami—"

"...!?"

Valmira mendongak dan mengernyit.

Suara yang berasal dari bibir Sjora terdengar seperti suara pria tua berjumlah banyak yang berbicara secara bersamaan. Sangat aneh.

"Sjora-sama, kau... Bukan, siapa kau sebenarnya—"

Valmira segera melompat kebelakang dan menghadapi penguasanya.

Nalurinya sebagai seorang princess maiden memberitahu dirinya.

Sjora Kahn telah dirasuki oleh sesuatu yang aneh—

Valmira segera membuat tanda tangan dan bersiap merapal sihir eksorsis.

Namun—

"Bodoh—"

"...Ah, guh...!"

Sjora Kahn menggambar sebuah lingkaran dengan jarinya—

Seketika, sebuah pola menyerupai seekor ular melingkar muncul di leher Valmira.

"...Hu, guh... Guh, o-ooh..."

Pola itu perlahan-lahan membesar, mencekik erat-erat leher Valmira yang ramping.

Mengerang kesakitan, dia meronta ganas—

Akhirnya, dia menghembuskan nafas terakhirnya secara tragis.

"—Kau adalah korban pertama. Merasa terhormatlah."

Sjora Kahn—atau lebih tepatnya, orang yang merasuki dia berbicara pelan. Meskipun baru saja membunuh pengikut yang mengikuti dia sejak anak-anak, dia menunjukkan senyum mengerikan di wajahnya.

—Lalu.

"Sungguh malang sekali. Kau sangat menyukai dia kan?"

Di ruangan ini, dimana seharusnya tak seorangpun selain Sjora Kahn dan mayat Valmira, suara menggemaskan dari seorang gadis tiba-tiba terdengar.

Metode apa yang digunakan memasuki "wilayah tersegel" ini?

Sjora melihat kebelakang untuk melihat ada seseorang yang berdiri disana tanpa disadari.

Pakaian putih polos, menyimbolkan aturan dan perintah. Rambut pirang berkilauan.

Maga kanan berwarna ungu nan indah. Mata kiri tertutup oleh penutup mata.

Dia tak lain tak bukan adalah Millennia Sanctus, seorang cardinal dari Kerajaan Suci.

"Kau betul-betul bisa muncul dimana saja—"

"Mamang, cahaya yang ada dimana-mana adalah atribut milikku."

Millennia Sanctus terkikih lalu menggunakan tangannya untuk membuat tanda pada Valmira yang telah mati, membuat tanda berdoa dari Kerajaan Suci untuk orang mati agar beristirahat dalam damai.

"Pembunuhan dari Raja Naga tampaknya gagal."

"Itu nggak ada pengaruhnya pada rencana tuanku. Disisi lain, kehilangan salah satu dari diriku adalah harga yang menyakitkan untuk dibayar—"

"Oh, rencana?"

Sjora Kahn berbisik, cukup tertarik.

"Bukan urusanmu, Sjora—bukan, haruskah aku memanggilmu Tuan Penguasa?"

"Yang manapun nggak masalah. Sebuah gelar semata nggak punya arti bagi kita disaat yang genting ini."

Mata penyihir itu menyala samar-samar.

Selama Blade Dance di Ragna Ys, apa yang telah merasuki Sjora Kahn adalah—

Suatu mahluk yang bisa digambarkan sebagai konglomerasi dendam dan obsesi atas generasi yang tak terputuskan dari para pemimpin kultus Raja Iblis sejak jaman dahulu. Menggunakan teknik ortodoks rahasia yang diturunkan pada kultus tersebut, mereka berulang kali mereinkarnasi diri mereka sendiri kedalam para princess maiden berdarah kerajaan, terlibat dalam persekongkolan rahasia dibawah bayangan sejarah.

Tujuan utama mereka adalah untuk memperoleh kekuatan Raja Iblis—

Seribu tahun yang lalu, mereka telah gagal. Akan tetapi, sekarang karena seseorang yang mewarisi kekuatan Raja Iblis telah muncul, para hantu ini sekarang gelisah untuk melahap kekuatan itu dan mengklaimnya sebagai milik mereka.

"Jadi, Nona Millennia, apa kau sudah mendapatkan peti magir yang terbaring terbengkalai didalam Pyramid itu?"

Dia berbicara dengan suara yang suram yang terdengar seperti banyak orang berbicara secara bersamaan.

"Lurie dalam proses pemulihan. namun, itu mustahil dalam waktu dekat ini."

Millennia menggelengkan kepalanya.

"Seperti yang diduga dari segel milik Sacred Maiden. Mendapatkan Demon Slayer di Akademi akan menghemat lebih banyak usaha—"

"Percepat pemulihan. Setelah peti mati tesebut didapatkan, tujuan kita sudah setengah tercapai."

"Ya, aku tau. Lakukan apapun yang kau bisa untuk menenggelamkan benua ini kedalam kekacauan."

"Nggak perlu mengingatkan aku kalau masalah itu."

Orang yang merasuki tubuh Sjora berbicara dengan penuh kebencian.

Tujuan dari Millennia Sanctus dan organisasi Des Esseintes yang ada dibelakang dia masih tidak diketahui.

Bantuannya pada Theocracy tidak tampak seperti dia sedang mencari keuntungan. Itu seolah menggunakan peluang ini untuk menciptakan kekacauan di benua ini merupakan tujuannya—

Akan tetapi, tujuan Kerajaan Suci sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.

Selama ketertarikan mereka selaras, eksploitasi bisa dilakukan—

Sjora Kahn meneteskan tetesan darah pada lingkaran sihir yang tertulis dalam bahasa Ancient High.

"—Aku harap Leviathan ini akan membawa hasil yang kau inginkan."


Bab 7 – Bangkitnya Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Pada akhirnya, setelah mendengarkan Restia, Kamito masih tau sedikit saja tentang Raja Iblis—


Pokoknya, dengan berkostum sebagai Raja Iblis, Kamito berjalan ke ruang konferensi pada Revenant yang ditambatkan untuk berlatih sebelum pertarungan yang sebenarnya.


Mungkin karena cewek membutuhkan lebih banyak waktu untuk berdandan, tak satupun di antara mereka yang berada di ruang konferensi sekarang.


(...Apa boleh buat. Kupikir, aku akan berlatih sendiri sampai semuanya berkumpul di sini.)


Kamito mengambil buntelan naskah.


"Aku adalah Raja Iblis, Akulah Raja Iblis... Aku adalah Raja Iblis yang menguasai dunia..."


Sementara mondar-mandir di sekitar ruangan, dia mulai bergumam pelan pada dirinya sendiri.


"Tak peduli apakah kekayaan, wanita, roh, atau segala sesuatu di dunia ini… semuanya adalah milikku. K-Kuhahahaha...!"


Dia membaca naskah dengan nada monoton dan tawanya terdengar hampa.


(...Apakah Raja Iblis Solomon benar-benar mengatakan hal-hal seperti ini?)


Sementara keringat bercucuran di dahinya, Kamito memiringkan kepalanya. Hufff, memang, citra Raja Iblis yang beredar dalam cerita rakyat cukup mirip dengan gaya ini....


"Semua yang menentangku akan mati, gahahahahaha... Ha... Hei, apa-apaan sih ini...?"


Karena jengkel, Kamito hendak membuang naskah yang ditulis Rubia, kemudian...


"Kamito, apakah kau telah menghafalkan baris ini?"


Tiba-tiba, seseorang berbicara kepadanya.


Dia tiba-tiba melihat pada arah suara itu berasal.


"...Cl...aire!?"


Di balik topeng tengkorak, mata Kamito melebar sebulat-bulatnya.


Penampilan Claire mirip dengan cewek setengah telanjang.


Dia mengenakan pakaian tipis yang tembus pandang, sehingga kulitnya terlihat jelas, diperlengkapi juga dengan gaun permata yang hampir mirip pakaian dalam. Sarung indah bersulam membuka bagian pahanya yang terlihat kencang. Pakaian eksotis dan seksi sangat mirip seperti ilustrasi selir Raja Iblis yang mereka pernah lihat dalam penelitian Rubia.


Dihadapkan dengan penampilan mengejutkan dari Claire, yang berbusana dengan cara yang seharusnya tidak pernah bisa dia terima—


"P-pakaianmu..."


Mau tak mau jantungnya yang berdegup kencang.


"...~A-a-aku tau.... b-b-berhenti menatapku!"


Sambil memerah sampai ke telinganya, Claire menutupi dadanya yang kecil dengan lengan, sembari melotot pada Kamito dengan ekspresi sebal.


...Dengan mengenakan pakaian minim, lututnya gemetaran, namun dia tampak luar biasa imut.


Kamito buru-buru menggeleng.


"...Tidak, eh, walaupun aku sangat terkejut, kau tampak... sungguh cantik..."


Dia mengutarakan pendapatnya dengan jujur.


"... Huaah, sh-sheesh, apa yang kamu bicarakan..."


Claire semakin dan semakin malu, seluruh wajahnya berubah merah cerah. Kemudian...


"L-lagian kamu, tampak mengerikan dengan pakaian Raja Iblis itu..."


Seolah-olah mencoba menyembunyikan rasa malunya, Claire mengangkat kepalanya dan berkomentar dengan cepat.


"Menurutku, tidak semua orang terlihat pantas dengan kostum itu."


"...Cukup adil."


Claire mengangkat bahu. Sembari masih menutupi dadanya dengan tangan, dia memasuki ruangan.


...Memakai pakaian seperti itu, bahkan berjalan pun terasa sangat memalukan.


"... J-Jadi, apakah kau tidak masalah dengan naskahnya?"


"Yah, itu tidak banyak, jadi seharusnya tidak masalah—"


Dibandingkan dengan menghafal password Sekolah Instruksional, ini jauh lebih mudah.


Tentu saja, karena ada begitu banyak baris yang Kamito tak akan omongkan dengan normal, sehingga berlatih sampai dia bisa berbicara secara alami akan membutuhkan waktu yang tidak singkat—


"Apakah kau tidak mempermasalahkan akhirnya?"


"Menurutmu untuk apa kau membawaku? Aku adalah yang nomor satu tahun ini, kau tau?"


"...Kurasa kau benar. K-Kalau begitu, maukah kau berlatih bersama-sama denganku?"


"T-Tentu, nggak masalah..."


Claire mengangguk, menggenggam naskahnya, dan berdiri berhadapan dengan Kamito.


"I-Ini membuat aku merasa sedikit gugup..."


"Aku juga..."


Claire batuk ringan, lantas mengarahkan pandangannya ke naskah.


Kemudian—


"A-Aku adalah hamba Raja Iblis yang setia. Tubuh ini dan pikiran ini, semuanya adalah milikmu."


...Benar-benar monoton. Bahkan sebagai siswa terhormat, sepertinya dia perlu banyak membenarkan keterampilan bersandiwaranya.


"O-Oke, giliranmu—"


"Y-Ya..."


Kamito buru-buru membuka naskahnya.


"Ya, kau milikku. Berikan hati, tubuh, dan semuanya padaku—"


"U-Uh... B-Baik!"


Ketika dia membacakan baris itu, Claire mengangguk dengan patuh.


"...? Tunggu, kau mengacaukan bagian itu, kan? Bagian itu harusnya dijawab dengan 'kekuatanku sebagai Princess Maiden pasti akan membantu memenuhi ambisimu, Oh Raja Iblis Yang Agung, benar ‘kan?"


"... Oh, k-kau, b-benar!"


Wajah Claire memerah lagi, dan dia berbicara dengan gugup.


...Apakah dia gugup? Dia tampak begitu menyedihkan.


Lalu—


"Oh, jadi kalian berdua sudah mulai berlatih—"


Ellis, Fianna dan Rinslet memasuki ruangan.


"...!?"


Kamito merasa denyut jantungnya meningkat lagi.


Mengenakan pakaian selir Raja Iblis yang sangat terbuka, masing-masing dari mereka tampak sangat cantik, sehingga memancarkan daya pikat yang berbeda dari biasanya.


Kalau dipikir-pikir lagi, Tim Scarlet memanglah terdiri dari cewek-cewek cantik yang lebih mempesona di antara pelajar-pelajar Akademi Roh Areishia. Sejak awal, mereka adalah kumpulan cewek-cewek berparas cantik.


Ditambah lagi, dengan memakai kostum cabul seperti itu, degupan jantung yang semakin cepat tidaklah terhindarkan lagi.


"Kamito-kun, b-bagaimana pakaian kami?"


"K-Kamito, eh, berhenti menatapku..."


"Ya, t-terasa sangat memalukan bila terus dilirik seperti ini."


Sembari saling memandang dengan malu, mereka terus mengusap kaki telanjang mereka.


"M-Maaf..."


Kamito dengan panik mengalihkan pandangannya.


"Eh, kalian, apakah kalian tidak mempermasalahkan naskahnya?"


"Tentu saja."


"Hmm, aku hafal semuanya."


"Fufu, aktris yang sempurna seperti diriku tidak membutuhkan naskah. Akan kubuat kalian mengerti ketika aku memainkan peran utama untuk drama yang didedikasikan sebagai persembahan kepada roh-roh."


Sembari mengatakan itu, Rinslet mengibaskan rambutnya.


"Rinslet, semuanya akan sia-sia jika akhirnya kau menggagalkan pertunjukan Raja Iblis."


"A-Aku tau."


Rinslet cemberut.


"Oke, mari kita mulai latihannya—"


"Ya."


Kamito dan para cewek berkumpul di tengah ruangan dan mulai berlatih. Namun, karena penampilan mereka yang menggoda, Kamito sama sekali tidak bisa memfokuskan konsentrasinya—


Bagian 2[edit]

—Malam pun tiba di Demon Fist.


Dilubang bawah tanah, telah berkumpul kerumunan yang melampaui ribuan orang.


Semua orang ada disini untuk melihat sekilas Raja Iblis yang diperkirakan akan dibangkitkan disini malam ini.


Bagi mereka, kebangkitan Raja Iblis merupakan harapan diantara perselisihan.


Di tengah-tengah antusiasme ini—


Mengenakan pakaian ritual, Rubia Elstein sedang memberikan pidato.


"—Malam ini, Raja Iblis Solomon akan bangkit dari tidur panjangnya selama seribu tahun, untuk bangkit tepat di samping kalian, wahai para pemuja Raja Iblis Yang Berkuasa—"


Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis!


Kerumunan, menempati seluruh lubang tanah, bersorak keras, dan menggetarkan seluruh bagian Demon’s Fist.


"Kamito, saatnya bagimu untuk tampil—"


"Y-Ya..."


Setelah mendengarkan aba-aba tenang dari Claire, Kamito mengangguk dengan sedikit gugup sembari mengenakan kostum Raja Iblisnya.


Mereka saat ini sedang berada di dalam lorong bawah tanah. Lorong-lorong yang luas telah dibangun selama era Perang Ranbal, dan semakin memperluas layaknya jaring laba-laba di dalam Demon Fist.


Lorong-lorong terhubung ke berbagai bagian Demon Fist, dan digunakan untuk mengangkut pasokan serta tentara. Rencananya adalah, Kamito dan para gadis muncul di lorong, dimana para kerumunan berkumpul, setelah pidato Rubia berakhir.


"Aku tak bisa menahan rasa gugup..."


Kamito bergumam di balik topengnya.


"Kamito-kun, bertingkahlah biasa saja, maka kau akan baik-baik saja."


"Ini sudah biasa..."


"T-Tenang, pidatonya sudah berakhir—"


Ketika Claire memberi aba-aba...


"—Sekarang, mari memulai Ritual Pembangkitan Raja Iblis!"


Suara Rubia terdengar. Dia mulai melantunkan mantra untuk menghidupkan kembali Raja Iblis.


Dengan ini sebagai sinyal, lift yang membawa Kamito dan yang lainnya mulai naik secara perlahan-lahan.


Mantra itu sama seperti apa yang dia rapalkan untuk membangkitkan Nepenthes Lore sebelumnya, tapi karena tak satupun orang disini memahami bahasa High Ancient yang dikuasai oleh para Ratu, maka sepertinya ini tidaklah masalah.


Lingkaran sihir raksasa yang tergambar diatas tanah mulai menyala secara mengerikan. Api unggun melonjak secara dramatis.


Kemudian di tengah kobaran api merah, Raja Iblis terbalut jubah berwarna merah darah menunjukkan dirinya.


Mata merah di balik topeng tengkorak itu memancarkan cahaya mengerikan.


Di tangannya terdapat tongkat berbentuk lilitan ular, sedangkan burung iblis menakutkan bertengger di bahunya.


Yang menunggunya di bawah kakinya adalah empat putri cantik dengan tatapan dingin.


Langsung terdengar teriakan dan sorak-sorai ribuan orang.


"Apakah kalian adalah orang-orang yang telah membangunkan aku dari tidur panjangku selama ribuan tahun—"


Sembari mendarat di tanah, Kamito menatap kerumunan orang yang bersujud di kakinya, lantas dia berbicara.


Melalui efek sihir angin, suaranya terdengar dengan keras dan jelas.


"Kami telah lama menunggumu, Oh Raja Iblis—"


Sembari berlutut di depan Kamito seperti gadis-gadis lainnya, Rubia menunduk dengan hormat.


"Princess Maiden, mengapa kau mengganggu tidurku?"


"Aku mohon agar engkau menghancurkan perampas Theocracy—"


Seraya mempertahankan posisi berlututnya, Rubia menjawab.


"Hmph, perampas ya? Jadi, hama-hama itu telah bermunculan ketika aku tertidur."


Kamito menggeram, dan topeng tengkoraknya menyemburkan asap hitam.


"Tentu, ini adalah negaraku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun bertindak seenaknya—"


Pada deklarasi Kamito—


Sekali lagi sorak-sorai meletus di dalam terowongan.


"Aku menjamin kemenangan kalian—"


YEAAAAAAAAAAAAAAAH!


Bertepatan dengan momen Kamito mengacungkan tongkatnya, Claire dan para cewek berdiri.


"Api merahku akan menyapu seluruh dunia untuk mendatangkan kehancurannya!"


"Angin tajamku akan menerbangkan pasukan Zohar."


"Para ksatria kegelapanku akan membuat pengorbanan darah musuh!"


"Kegelapan akan membanjiri seluruh dunia, Ohohoho!"


Meskipun Claire dan Ellis membacakan naskah mereka dengan monoton, Rinslet tampaknya telah berubah menjadi mode serius.... Yahh, setidaknya ini hanyalah peran pembantu.


Sambil memelototi orang banyak, Kamito berteriak:


"Aku akan menghancurkan semua musuh dan mengambil kembali ibukotal!"


Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis!


Kegembiraan penonton mencapai klimaks, tapi pada saat itu ...


Sebuah ledakan besar meletus di lorong.


Bagian 3[edit]

BOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!


Tiba-tiba, disertai dengan kilatan cahaya, terdengar ledakan, yang hampir merobek gendang telinga mereka.


(...A-Apa yang terjadi !?)


Di tengah-tengah awan debu yang mengepul, Kamito langsung bereaksi dan memeriksa keadaan sekitar.


Tampaknya Kamito tau betul kilatan cahaya yang meledak di kerumunan orang itu.


(Cahaya pelepasan roh—)


Seperti yang sudah diduga, di depannya, bayangan kelam muncul pada awan debu. Setelah debu mereda, terlihat sesosok monster raksasa bertubuh singa, dengan tambahan kepala kambing dan kepala ular pada ekornya.


"... Itukah Roh Militer bertipe Chimera!?"


Claire berteriak dengan kaget.


Roh binatang magis, Chimera, adalah roh kelas militer taktis yang disiapkan pada garda depan selama Perang Ranbal. Meskipun itu dua generasi lebih tua daripada roh raksasa Glasya-Labolas yang dikerahkan pada jajaran resmi militer berbagai negara, dalam hal kemampuan tempur, roh ini setara dengan Glasya-Labolas.


"...K-Kenapa ada Roh militer di sini—"


"Entahlah..."


Kamito menyiapkan Demon Slayer dan Vorpal Sword pada kedua tangannya, lantas dia menghadapi binatang magis itu.


Seraya berkumpul di alun-alun, penonton masih belum memahami situasinya.


Dihadapkan dengan roh militer yang tiba-tiba muncul, mereka hanya bisa membeku di tempat.


"Claire, arahkan orang-orang untuk dievakuasi—"


—Ketika Kamito meneriakkan itu...


Guoooooooooooooooooo!


Binatang magis meraung dan mengayunkan kaki raksasanya.


"...!?"


Kamito dan Claire langsung melompat ke kiri dan kanan, untuk menghindari serangan itu.


Dengan hantaman yang menggelegar, ubin batu terkeruk, sehingga sejumlah besar puing-puing terbang ke udara.


(...Kekuatan penghancur yang sungguh luar biasa...)


Sambil berguling di tanah, Kamito mengutuk makhluk itu. Tubuh manusia hanya akan robek oleh hantaman seperti itu.


Serpihan ubin yang tak terhitung jumlahnya menghujani kerumunan orang.


(...Cih, sialan!)


Kamito hanya bisa mendecakkan lidahnya. Lalu...


"—Taring es pembeku, melesat dan tembuslah—Freezing Arrow!"


Rinslet melepaskan panah yang menembus puing-puing raksasa dengan akurat—


"Oh angin, sapulah—Wond Bombs!"


Serpihan-serpihan kecil tersapu oleh sihir angin milik Ellis.


"Kami akan mengurus ini, cepat pergilah ke tempat yang aman!"


Ellis berteriak keras pada kerumunan orang.


"Kesini, cepatlah. Ke dalam penghalang!"


Kerumunan menyerbu masuk ke dalam penghalang bertahan yang dibentuk oleh Fianna.


Sambil mengenakan jubah merah cerah yang berkibar, Kamito mendarat di tanah dan mulai mencari sesuatu yang berbaur dengan keramaian.


(Elementalist yang melepaskan roh militer harusnya masih berada di dekat sini—)


Tiba-tiba, di tengah alun-alun yang kacau, Kamito menyadari aura membunuh yang tajam.


Itu karena instingnya.


Dihadapkan dengan pisau yang terbang dari balik kegelapan, Kamito menepisnya menggunakan Demon Slayer—


Kemudian dia menggunakan Vorpal Sword untuk menebas pisau lainnya yang terbang dari arah berbeda.


(...Pisau pertama adalah pengalihan, ya? Dan pisaunya juga berwarna hitam.)


Pekerjaan pembunuh profesional yang terlatih, ini tidak diragukan lagi.


(Mungkin dia adalah pembunuh dari Theocracy—)


Meskipun memiliki efek Night Vision, topeng Raja Iblis masih cukup mengganggu bidang pandangannya. Dan Kamito pun mengeluh.


Mungkin saja, ini adalah pembunuhan yang menargetkan Rubia. Tapi dia tidak pernah menduga bahwa roh militer dipanggil ke sini—


(...Oh iya, bagaimana dengan Rubia!?)


Kamito menyadari peringatan tiba-tiba, lantas dia berbalik untuk mengamati sekelilingnya.


Tak lama berselang, dia menemukan cewek itu.


Dia telah pingsan di bawah reruntuhan.


Mungkin terpentalkan oleh hantaman tadi. Dahinya juga tampak berdarah.


Meskipun dia sanggup mengimbangi Kamito ketika Blade Dance—


Itu murni karena dia telah memanggil kekuatan Sacred Maiden ke dalam tubuh fisiknya, dan juga membentuk kontrak dengan roh api terkuat, Laevateinn. Tidak peduli seberapa tinggi kemampuannya sebagai seorang Princess Maiden, kekuatan fisiknya harusnya sama seperti Fianna.


"Rubia—"


Kamito dengan panik mencoba untuk menghampirinya. Saat itu...


Dua sosok mengenakan kerudung abu-abu bergegas mendekat dari kerumunan yang berhamburan.


(...!)


Kamito melepaskan kekuatan suci untuk menendang tanah dengan kerasnya.


Ini adalah penerapan dari Absolute Blade Art berkecepatan dewa, Purple Lightning. Tubuh Kamito pun langsung lenyap.


Sebuah kilatan pedang membelah udara. Dalam sekejap, Kamito menebas kedua pembunuh itu.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya—"


Dengan ditopang satu lutut, Rubia pun berdiri.


Dia melirik wajah si pembunuh yang kerudungnya sudah terbuka. Mereka tampaknya adalah gadis-gadis muda yang kira-kira seusia dengan Kamito.


"...Petarung dari Sekolah Instruksional!?"


Kamito hanya bisa berteriak kaget.


"Mereka pernah menjadi bagian dari tentara pribadiku. Sjora Kahn pastilah orang yang telah mengirim mereka."


Rubia berbicara dengan menahan rasa sakit dalam suaranya.


Rubia telah mengadopsi anak yatim piatu setelah kehancuran Sekolah Instruksional, kemudian dia membesarkan mereka sebagai tentara pribadinya. Namun, selama Blade Dance berlangsung, Sjora Kahn telah mencuri mereka.


Sjora telah mengirimkan gadis-gadis ini sebagai pembunuh.


"Kamito, mereka datang—"


Sambil memegang cambuk yang menyala, Claire berteriak.


Chimera mengayunkan ekor raksasanya untuk menyapu tanah.


Kamito merangkul Rubia dalam pelukannya, kemudian melompat ke udara.


Setelah mendarat, dia dengan lembut meletakkan Rubia.


"Kalahkan roh militer itu, Ren Ashbell."


"Ya, tidak perlu kau beritahu—"


Dia hendak melepaskan mantelnya, ketika...


"Lakukan dengan penampilanmu yang sekarang."


"Hah?"


Mendengar itu, Kamito pun membalasnya dengan bertanya.


"Tunjukkan pada orang-orang ini kekuatanmu sebagai Raja Iblis."


"Apakah kamu bercanda...?"


...Armor Raja Iblis ini, hanya dibuat untuk penampilan, mobilitas kostum ini bahkan jauh lebih buruk daripada seragam akademi, yang dirancang khusus untuk Dance Blade. Selain itu, topeng tengkorak itu sungguh berat dan menghalangi lebih dari setengah pandangannya. Namun—


Jika dia melepas topeng Raja Iblis sekarang, dia pasti akan menunjukkan wajahnya di depan orang banyak.


"Roh militer dari zaman dahulu kala bukanlah tandinganmu sekarang, kan?"


"Ngomong sih gampang."


Kamito mengeluh, kemudian menatap roh binatang magis yang melototi semuanya.


Serangannya harus ditujukan pada kepala untuk menghancurkan roh itu, tetapi kepala kambing dan ekor ular itu cukup merepotkan.


"Claire, lumpuhkan dia! Rinslet, lindungi aku! Ellis, lindungi semuanya!"


"Mengerti!" "Mengerti!" "Ya, serahkan padaku!"


Kamito meluapkan kekuatan suci pada dua pedangnya.


"Est, Restia…. Ayo buat serangan yang besar!"


(Ya, Kamito—)


(Dimengerti.)


Menanggapi panggilannya, pedang suci perak-putih bersinar dengan cahaya yang membutakan, sedangkan pedang iblis hitam legam meledakkan halilintar.


Gemuruh Chimera mengguncang udara. Setelah menghentakkan kaki belakangnya, makhluk itu melompat.


Pada saat itu, kekuatan suci Kamito yang telah terkonsentrasi di kakinya pun ikut meledak.


"Absolute Blade Art, Bentuk Ketujuh—Bitting Dragon!"


Ini adalah Absolute Blade Art anti-udara yang memanfaatkan Purple Lightning. Cahaya kekuatan suci meledak. Dalam sekejap mata, dua sosok saling melintas. Kaki roh binatang magis raksasa itu pun melayang.


Guoooooooooooooooo!


Karena kehilangan keseimbangan di udara, roh binatang magis jatuh pada dinding lorong dengan keras.


Setelah mendarat di tanah, Kamito langsung bergegas menuju Chimera yang gerakannya sudah terhenti.


Namun, kepala kambing di punggungnya berbalik dan meraung.


Beberapa bola api yang berkobar, segera muncul melalui udara tipis, lantas menghujani Kamito.


—Itu adalah sihir roh Fireball.


(...sistem kontrol independen!?)


Kamito membelalakkan matanya, tapi—


"Bakar itu semua, api yang terik —Fireball!"


Pada saat yang sama, Claire melepaskan bola api, sehingga kedua sihir itu saling berhantaman dengan dahsyat.


Api meledak di udara, dan menerangi langit malam yang gelap.


Sambil menghancurkan dinding terowongan dengan rahangnya, singa itu berdiri dengan menggunakan satu kaki, lantas dia meraung marah. Ular di ekornya meronta-ronta kesakitan. Kepala kambing di bagian belakang tubuhnya mulai merapalkan sihir roh lagi.


Tapi di saat itu—


"—Angin yang ganas, mengamuklah!"


"Taring es pembeku, melesat dan tembuslah—Freezing Arrow!"


Pedang angin milik Ellis menebas ekor makhluk itu….


Panah Rinslet menusuk kepala kambing.


"Lakukan sekarang, Kamito!"


"Ya—"


Sembari memegang pedang suci dan pedang iblis, yang keduanya diluapi kekuatan suci, Kamito pun berlari.

"Absolute Blade Art, Bentuk Penghancur—Bursting Blossom Spiral Blade Dance — Duabelas Tebasan Beruntun!"

Dia melepaskan tebasan yang tak terhitung jumlahnya pada roh binatang magis itu—


Roh militer kelas taktis itu berubah menjadi partikel cahaya, kemudian lenyap.


Setelah menurunkan kedua pedangnya, Kamito berbalik untuk melihat kerumunan.


Mereka tampak masih berantakan.


Suara doa dan tangisan terdengar dimana-mana.


Meskipun angin dari ledakan dan serpihan bebatuan yang beterbangan telah ditahan oleh penghalang milik Fianna, beberapa orang telah terluka akibat ledakan ketika roh militer itu pertama muncul.


(...Jadi, apa yang harus aku lakukan?)


Kamito menatap ke arah Rubia.


Rubia sedikit menggelengkan kepalanya... Lakukan sesukamu, sepertinya begitu.


(...Aku harus berimprovisasi huh?)


Kamito mendesah di balik topeng tengkorak, sambil menggelengkan kepalanya.


(Apa boleh buat...)


Setelah menusukkan kedua pedangnya ke tanah, Kamito merentangkan lengannya dengan ringan ke arah kerumunan.


"Tenanglah, wahai orang-orangku."


Suara seriusnya langsung membuat penonton tenang.


"....Kalian telah menyaksikan kekuatanku, ‘kan? Memusnahkan aku adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu tidak akan terulang lagi. Orang-orang bodoh milik Zohar yang berani menentangku akan dihukum!"


Pada pernyataan Raja Iblis yang kuat, orang-orang bergemuruh—


"YEAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"


Meledaklah sorakan yang cukup membuat tanah berguncang.


"Wow, dia benar-benar Raja Iblis!" "Lawannya adalah roh yang mengerikan, namun dia bisa menghancurkannya dengan mudah!" "Raja Iblis akan membuat para penyihir Theocracy mendapatkan pelajaran!"


Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis! Raja Iblis!


Sekali lagi, rasa takut dan teror, serta semangat, menggetarkan tempat ini.


Sorak-sorai seakan tak akan berhenti.


Bab 8 - Princess Maiden Merah[edit]

Bagian 1[edit]

Di tengah-tengah keramaian alun-alun yang tersapu oleh kehancuran—


Raja Iblis dan keempat selirnya lenyap di tengah kepulan asap hitam.


"...Aku nggak pernah mengira mereka akan menggunakan roh militer di tempat seperti ini—"


Dengan menggunakan lift yang sama yang dia gunakan untuk muncul, Kamito kembali ke dalam tanah sembari berkomentar.


"Ya, tapi kurasa hal bagusnya adalah nggak ada korban tewas pada kerumunan tersebut."


Sambil mendengarn dia, Ellis mengangguk.


"Apakah Kamito-kun adalah targetnya?"


"Tidak, berita kedatangan kita disini harusnya belum sampai ke telinga mereka. Kemungkinan besar, target mereka adalah Rubia—"


Seorang Princess Maiden misterius yang telah menguasai tentara pemberontak hanya dalam beberapa hari, harusnya itulah yang membuat Sjora khawatir. Sjora harusnya telah memprediksi bahwa tentara pemberontak akan berantakan setelah dia tersingkir.


"Ngomong-ngomong, sandiwaramu tadi bagus juga..."


"Ya, itu bahkan tidak kelihatan seperti sandiwara. Atau mungkin, sifat aslimu memang seperti itu, Kamito-kun?"


"T-Tidak, itu semua hanyalah sandiwara!"


Kamito membalasnya.


"Batu melayang" yang membawa Kamito dan para cewek berhenti di bawah tanah.


Dan yang mereka lihat adalah—


Rubia Elstein, mengenakan topeng merah, sedang menunggu mereka.


"Sebagai permulaan, izinkan aku untuk memberikan pujian atas kerja keras kalian. Malam ini, tentara pemberontak akhirnya bersatu sebagai suatu kesatuan yang utuh dari kolektif, seperti sedia kala—"


"Jangan bilang kaulah yang mengatur serangan tadi?"


Kamito menanyakan itu dengan nada tinggi. Menyiapkan serangan, kemudian memenangkan pertarungan itu sendiri, dengan cara seperti itu mereka akan mendapatkan kepercayaan banyak orang, metode itu sering digunakan oleh para penguasa, namun sepertinya agak aneh jika Rubia merencanakan hal semacam itu. Jika ada kesalahan sedikit saja, korban jiwa akan melayang dengan mudahnya—


"Aku mengakui bahwa personil Zohar yang menyusup ke dalam Demon Fist tidaklah luput dari perhatianku."


"...Apa!?"


Mendengar jawaban Rubia, Claire dan yang lainnya menunjukkan kemarahan di wajah mereka.


"—Begitulah, tapi aku nggak menduga para pembunuh memanggil roh militer kelas taktis. Kurangnya kecerdasan mereka bukanlah tanggung jawabku."


Mencoba menggunakan roh militer yang berbahaya seperti itu hanya dengan dua orang, mungkin inilah yang disebut kenekatan ekstrim. Hanya orang-orang dengan kemampuan seperti Muir Alenstarl yang bisa melaksanakan misi itu dengan sukses.


"Apakah kau sengaja membebaskan pergerakan mereka?"


"Memang. Daripada menangkap mata-mata musuh, akan lebih baik jika kita memanfaatkan mereka."


(Nekat sekali nih cewek....)


Meskipun kegagalan ada di pihaknya, serangan barusan telah digunakan untuk meningkatkan citra Raja Iblis.


Pada dasarnya, dia menguasai tentara pemberontak yang berkumpul di Mordis.


"Perang yang sesungguhnya belum datang. Kalian semua harus beristirahat dengan benar."


Sambil mengatakan itu, dia mengenakan pakaian ritual, lantas Rubia berbalik dan menghilang ke dalam bayangan terowongan.


Setelah cewek itu menghilang, Rinslet pun mendesah.


"...Sungguh melelahkan."


"Pokoknya, ayo kita membersihkan diri."


"Ya, p-p-pakaian memalukan ini, aku harus melepasnya secepat mungkin."


Mendengar saran Fianna, semuanya pun mengangguk.


"Fufu, tuanku Raja Iblis, apakah kau ingin bergabung dengan kami?"


"A-Apa yang kau bicarakan!?"


Kamito langsung menggeleng untuk menanggapi senyum nakal Fianna.


Bagian 2[edit]

Claire dan para gadis tiba di fasilitas pemandian terbuka, di Demon Fist, lantas mereka langsung merendamkan diri disana.


Karena Demon Fist dibangun di atas gunung berapi aktif, maka air panasnya tidaklah asli, mereka mendapatkan air panas dengan memanaskan mata air menggunakan kristal roh api yang sangat murni. Itu cukup efektif untuk memulihkan tubuh mereka dari kelelahan.


"Mm~, ini terasa begitu nyaman... Kualitas air ini dapat mendatangkan uang bagi mata air Elstein."


Claire merentangkan tangannya seperti kucing, sambil menutup matanya sebagian karena kenikmatan.


"Menurut legenda lokal di Mordis, ini seharusnya menjadi tempat dimana para selir Raja Iblis memulihkan energi mereka."


"Eh..."


"Yang Mulia, apakah ini benar?"


"Memangnya aku tau? Bagaimanapun ini hanyalah sebuah legenda. Tidak ada yang bisa memastikan kebenarannya. Namun, bukankah menyenangkan bisa memasuki tempat yang biasa digunakan oleh para selir Raja Iblis?"


Sambil bersandar di batu, Fianna tertawa.


"...T-Tidak sedikit pun! A-Apanya yang selir!"


"H-Hmm, memiliki beberapa selir... Sungguh bejat si raja iblis itu—"


"P-Perselingkuhan!"


Tiga cewek lainnya memprotes dengan wajah memerah.


"Tapi itu menurut budaya orang Ordesia, kan? Di Theocracy, sangatlah umum bagi raja untuk menikahi beberapa cewek. Dari sudut pandangku, itu bukanlah hal yang tidak bermoral atau semacamnya."


"Y-Yah..."


Karena tidak mampu memberikan bantahan, Claire pun mulai meniup gelembung di permukaan air.


Setelah memasuki Divine Ritual Institute sejak kecil, Fianna sering punya kesempatan untuk menemui Princess Maiden dari negara lain. Akibatnya, dia tidak merasa kesulitan menerima budaya dan adat istiadat asing yang masuk ke Ordesia. Sebaliknya, Claire, Rinslet dan Ellis tumbuh berkembang di dalam keluarga bangsawan Ordesian yang bergengsi, maka mereka memiliki kesulitan dalam memahami kebiasaan Theocracy yang bertentangan dengan konsep mereka tentang pernikahan tradisional. Dan mereka pun menyimpulkannya sebagai suatu tindak asusila.


"Ngomong-ngomong, haruskah Legitimate Ordesia mengizinkan poligami seperti Theocracy, aku penasaran?"


"A-Apa, y-yang kamu bicarakan!? I-Itu tidak bisa diterima, benar-benar tidak bisa diterima!"


"Oh sayang, tapi aku adalah raja Ordesia yang sah, kau tau? Aku memiliki hak untuk memutuskan hukum."


"I-Itu diktator namanya!"


"Kami meminta pendirian dewan!"


"Astaga, inilah mengapa para bangsawan Ordesia berisikan orang-orang bodoh dan keras kepala..."


Fianna mengangkat bahu dengan putus asa.


"Namun, jangan-jangan, Kamito-kun malah menyetujui rencana itu."


"Eh?"


Ketiga cewek itu menatap satu sama lain.


"A-Apa yang kau maksud..."


"M-Menurutmu, seberapa menjiwai kah Kamito-kun terhadap perannya sebagai Raja Iblis?"


"...!"


Claire dan para cewek saling memandang satu sama lain.


Memang, Kamito bertingkah tidak seperti biasanya ketika dia mengenakan topeng Raja Iblis tadi.


Meskipun Kamito bersikeras bahwa dia hanya bersandiwara, apakah itu benar?


Mungkin saja, sejak awal Kamito sudah memiliki watak seperti itu, dan sifatnya semakin jelas ketika dia berperan sebagai Raja Iblis.


Jika ini benar, Kamito mungkin saja setuju dengan tawaran Fianna, kemudian dia mendekati setiap gadis yang ada di sisinya, kemudian dia terpikat oleh setiap gadis yang ditemuinya, dan tidak punya kesetiaan sama sekali.


(T-t-t-tidak m-m-mungkin)


Pada saat itu...


"Fufu, kelihatannya cukup menyenangkan. Bolehkah aku gabung....?"


"...! K-Kau—!?"


Mendengar suaranya dari sana, Claire pun langsung melebar matanya.


Keluar dari bayang-bayang bebatuan, munculah roh kegelapan bersayap hitam legam.


Dia tidak mengenakan baju berwarna gelap biasanya. Sekarang dia benar-benar telanjang, dan dia mencelupkan dirinya ke dalam air.


Matanya jernih berwarna senja. Diterangi kemisteriusan di bawah sinar bulan, sosoknya begitu indah, sampai-sampai membuat Claire begitu terpesona meskipun jenis kelamin mereka sama.


"Roh Kegelapan, a-apa yang kau lakukan di sini!?"


Claire berdiri dengan hati-hati.


Tidak ada masalah ketika dia kehilangan ingatan, tapi sekarang, dia bukanlah seseorang yang bisa dipercaya.


Meskipun sepertinya dia tidak akan berbalik melawan Kamito, tapi Claire dan yang lainnya masihlah tidak mempercayainya.


"Tidak ada. Aku di sini tidak melakukan apa-apa, Nona Kucing Neraka—"


Restia tertawa.


"Aku kesini hanya untuk menikmati air panas. Aku tadinya ingin berendam bersama-sama dengan Kamito, tapi dia malah menceramahiku dan mengatakan tidak. Jadi aku tidak punya pilihan selain datang ke sini."


"APA.... B-Bukankah itu tidak bisa diterima!!??"


"I-Itu benar. M-meskipun kau adalah roh terkontraknya, m-m-mandi bersama agaknya....."


Claire dan Ellis berteriak dengan wajah memerah.


"—Ngomong-ngomong, bukankah kau adalah roh? Dan roh tidak perlu mandi, kan!?"


"Oh ya ampun, tapi roh juga menikmati berendam di air panas, kau tau? Bagaimanapun juga, ini sangat cocok untuk mengisi kekuatan suci."


Byurrrr. Restia merentangkan kakinya di dalam air.


Rambut hitamnya yang indah dan berkilau, tersebar di permukaan air, seakan-akan berbaur dengan gelapnya malam,


"....Dan juga, aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian semua."


"Terima kasih?"


Setelah mendengar itu, Claire mengerutkan kening, dengan penuh kecurigaan.


"Ya, selama ingatanku hilang, bukankah kalian semua menolong diriku yang lain? Meskipun diriku yang sekarang ini tidak pernah mengalaminya, memori tidak penah hilang."


Restia mengarahkan tatapannya pada Claire dan para gadis secara bergantian.


"Meskipun kita memiliki banyak perbedaan di masa lalu, mari kita berdamai sekarang."


Dia dengan lembut mengulurkan tangan ke arah Claire.


"... P-Perdamaian?"


Wajah Claire tampak terkejut.


Trio Ellis, Fianna dan Rinslet menatap satu sama lain dengan ekspresi kebingungan.


Claire memelototi Restia sebelum dan berkata:


"K-Kau masih ingat semua yang pernah kau lakukan terhadap kami, kan?"


Dia pernah memberikan Claire roh Berserk ketika dia sedih karena kehilangan Scarlet, dia pernah mengarahkan Jio Inzagi untuk menyerang Academy, dia juga bersekutu dengan monster kegelapan Nepenthes Lore selama babak penyisihan Blade Dance untuk menyerang Tim Scarlet—


Masa lalu mereka yang rumit dengan roh kegelapan tidak bisa dihapus dengan mudah.


"Kau benar. Aku telah melakukan hal-hal seperti itu kepadamu untuk membalas dendam. Aku minta maaf."


Melihat dia menundukkan kepalanya dengan tulus, Claire pun terdiam.


Dia benar-benar tau dalam hatinya. Semua hal yang pernah dilakukan oleh roh kegelapan ini, berdasarkan pertimbangan untuk Kamito.


Pengorbanannya untuk Kamito adalah suatu hal yang nyata. Justru karena dia tau ini, Claire punya perasaan yang rumit di dalam hatinya. Namun—


Claire memandang trio gadis di belakangnya.


Lalu dengan ekspresi tenang, mereka semua mengangguk lembut.


(...Benar juga. Aku harus bertindak sedikit lebih dewasa.)


Claire dengan tenang menghela napas, kemudian menatap mata Restia dengan sungguh-sungguh.


"...Kurasa, aku juga perlu mengucapkan rasa terimakasih padamu."


"...Eh?"


"Aku mendengarnya dari Kamito sebelumnya. Kau adalah orang yang membantu Kamito untuk memulihkan hati dan perasaannya, ketika dia mendekati titik lemahnya. Andaikan kau tidak menyelamatkan Kamito, maka kami tidak akan pernah bertemu dengan Kamito saat ini."


Claire menghela napas dan menjabat tangan Restia.


"... Baik, biarkan masa lalu mengalir menjauh."


Mata Restia melebar sedikit karena terkejut. Kemudian...


"—Terima kasih."


Dia mengucapkan kata-kata terima kasih.


"Kalau begitu, bolehkah aku bergabung denganmu?"


"Tentu saja boleh, tapi singkirkan sayap itu. Itu melanggar peraturan."


"Fufu, aku paham—"


Ketika Claire mengatakan itu, sayap hitam legam berubah menjadi partikel cahaya dan lenyap.


Sambil merendam tubuhnya hingga bahu di dalam air panas, Restia membacakan mantra.


Tak lama berselang, beberapa cangkir kecil muncul dari balik udara tipis.


"Ini adalah anggur mawar, spesial dari Mordis. Ijinkan aku memberikan ini pada kalian sebagai tanda perdamaian."


"... Mari kita minum."


Di bawah sinar bulan, Claire dan cewek-cewek lainnya bersulang tanpa suara.


Bagian 3[edit]

—Pada saat yang sama, Kamito sedang menikmati rendaman santai di dalam air panas terbuka.


"Hoo, aku merasa hidup lagi—"


Kamito menempatkan handuk basah pada dahinya, sambil bersandar pada batu berlumut.


Melawan roh militer raksasa, bahkan Kamito tidak bisa menghindari penggunaan sejumlah besar kekuatan suci. Bahkan Est, yang diletakkan pada batu di dekatnya, harus tetap dalam bentuk pedang untuk saat ini.


"Tapi aku tak pernah menduga menjadi Raja Iblis ..."


Sambil menatap langit yang bertaburan bintang berkelap-kelip, Kamito bergumam dalam keadaan linglung.


Awalnya, rencananya adalah memerankan Raja Iblis sesuai naskah yang diberikan oleh Rubia, tapi sebelum dia menyadarinya, semacam pembatas di alam bawah sadarnya sepertinya telah terlepas, sehingga membuat dia menyatakan hal-hal yang tidak akan pernah dia ucapkan secara normal.


(Jangan bilang, topeng ini juga terisi oleh semacam sihir...)


Dengan mata penuh kecurigaan, Kamito melirik topeng Raja Iblis yang mengambang di atas permukaan air.


—Lalu


Byurr.


Dengan suara percikan air yang samar, riak-riak kecil mulai menyebar di permukaan air.


"—Sepertinya kau belum sepenuhnya mengendalikan kekuatan Darkness Elemental Lord, Ren Ashbell."


"...!?"


Ketika mendengar suara itu, Kamito terkaget, lantas berdiri.


Dia melihat sosok yang muncul di balik uap panas—


Seorang Princess Maiden berambut merah, dan mengenakan pakaian ritual putih.


"...R-Rubia!?"


Ketika melihat sosoknya, Kamito langsung tersentak. Mengapa dia muncul di sini? Sebelum dia bisa menanyakan itu, kesadaran Kamito terhenti karena paras cantik gadis itu.


"A-Apa yang kau lakukan—"


Sembati mengabaikan Kamito yang kebingungan, Rubia perlahan-lahan mencelupkan dirinya ke dalam air panas.


Rambut cantik panjangnya yang bagaikan permata menyebar pada permukaan air seperti kelopak bunga yang berjatuhan.


Kemudian, dengan mata merah seperti Claire, dia menatap tajam pada Kamito—


"Kau pasti telah menghabiskan banyak kekuatan suci dalam pertempuran sebelumnya. Aku disini untuk memastikan apakah kau telah terkontaminasi oleh kekuatan Ren Ashdoll."


Dengan jari-jari ramping, dia secara lembut menyentuh wajah Kamito.


"...!"


Karena pakaian ritualnya basah, kulitnya pun terlihat menerawang.


Merasakan rangsangan yang tak terduga, jantung Kamito pun mulai berpacu.


Claire jugalah gadis yang manis selama dia tidak banyak berbuat kegaduhan, namun penampilan Rubia terlihat seperti versi dewasanya Claire, dengan tambahan daya tarik melankolis yang tidak dimiliki adiknya.


"Y-Ya, aku baik-baik saja..."


Sembari menjauhkan tatapannya dari tubuh indah cewek itu, Kamito menjawab.


Meski telah melakukan langkah berani dengan menggunakan Bursting Blossom Spiral Blade Dance, Kamito tidaklah habis-habisan dalam pertarungan tadi. Ini tidak seperti ketika dia menyelamatkan Fianna di ibukota kekaisaran.


"Begitukah—"


Namun, Rubia menyipitkan matanya yang seindah permata—


"... Kau sudah terkontaminasi cukup parah, huh?"


"...? Apa maksudmu—"


Kamito menyela, namun kalimatnya juga terputus.


Karena cewek itu tiba-tiba menekan bibirnya padanya.


"...!?"


Untuk sesaat, dia merasakan kenikmatan yang melumpuhkan syaraf.


Dihadapkan dengan tindakan tak terduga, Kamito sama sekali tidak dapat bereaksi.


Sementara membelai pipi Kamito dengan lembut, Rubia perlahan-lahan menggerakkan bibirnya menjauh.


"...! ... K-Kau, apa-apa’an...sih..."


Kamito bergumam dalam keadaan linglung.


—Segera setelah dia berbicara....


"...H-Hah?"


Dia menyadari bahwa tubuhnya tiba-tiba merasa lebih ringan.


Kekuatan suci yang mulai mengaliri tubuhnya, langsung melepaskan semua kelelahan yang dideritanya.


"..Apa yang kamu lakukan?"


"Sudah kuduga. Bahkan kau sendiri tidak menyadarinya."


Rubia menatap Kamito dengan tajam.


"Kalau dibiarkan begini terus, kau akan termakan oleh kekuatan kegelapan."


Katanya.


"...!? Kekuatan kegelapan? Aku sama sekali tidak merasakannya."


Kamito keberatan.


Dalam pertempuran sebelumnya, Kamito sama sekali tidak merasakan bawah kekuatannya terkontaminasi oleh kegelapan Ren Ashdoll. Dia memang pernah merasakan kontaminasi kegelapan beberapa kali sebelumnya, namun tidak pada pertempuran barusan. Sejauh yang dia tau, dia tidak mendengar suatanya, yang mencoba membujuknya untuk membangkitkan Raja Iblis.


"Itu karena kekuatan sucimu bergabung dengan kekuatan Ren Ashdoll secara bertahap. Kau sudah terkontaminasi oleh kekuatan kegelapan."


"...Apa!?"


Tak bisa berkata, Kamito hanya sanggup menatap tangannya.


(...Jangan bilang, ini juga terjadi waktu itu, huh?)


Ngomong-ngomong, selama pertempuran melawan Greyworth, saat ketika dia hampir termakan oleh kekuatan kegelapan—


Dia sudah merasakan semacam sensasi belenggu yang terlepas.


Anggaplah apa yang dikatakan Rubia itu benar, maka kekuatan kegelapan akan memakannya ketika kekuatan suci semakin menipis.


"Ini adalah kelalaianku. Aku gagal menyadari bahwa kau sudah terkontaminasi sampai separah ini, bahkan aku telah memintamu untuk melawan roh militer itu."


Sambil menarik tangannya dari pipi Kamito, Rubia perlahan berdiri.


Tetesan air perlahan-lahan jatuh dari ujung rambutnya yang basah kuyup.


"A-Apa—"


"Mulai sekarang, setiap kali kau mulai termakan oleh kekuatan kegelapan... Gunakan diriku, Ren Ashbell."


"...? Apa maksudmu—"


Setelah mendengarkan pernyataan itu, Kamito menanggapi dengan bingung.


Kemudian—


"Dengan kata lain, gunakan tubuhku semaumu—"


Rubia berbicara dengan nada tenang.


"Aku bisa melayanimu sebagai Ratu, untuk menjadi korban kontaminasi kekuatan kegelapan."


Sambil mengatakan itu, dia dengan ringan melucuti pakaian ritualnya yang sudah basah.


"...!?"


Pada saat itu, Kamito membelalakkan matanya.


Di bawah sinar bulan, tubuhnya yang indah, terbasahi oleh kemilau tetesan air, tanpa tertutupi sehelai benang pun.


Dua tonjolan di dadanya melekuk dengan indah. Kaki ramping indah semakin menyempurnakan penampilannya. Rambut merah tuanya, terkulai di atas kulit putih pucat. Dia tampak bak seorang dewi.


Namun—


"—Tubuh yang jelek, kan?"


Dia mencela dirinya sendiri.


Tubuh telanjangnya yang indah—


.....dinodai oleh berbagai pola menyerupai lilitan ular yang tak terhitung jumlahnya.


"Segel persenjataan terkutuk ditanamkan pada seluruh tubuhku untuk memanggil kekuatan Sacred Maiden dan roh api tertinggi, Laevateinn. Tubuh ini sungguh jauh dari Princess Maiden yang murni. Ini hanyalah wadah beracun yang ditutupi oleh kutukan kotor. Aku tak peduli bagaimana kau memperlakukan diriku. Lakukan saja sesukamu, setiap kali kau menginginkannya. Aku bisa menjadi pelampiasanmu untuk menekan kekuatan kegelapan. Inilah satu-satunya hal yang bisa kulakukan karena aku sudah kehilangan kemampuanku sebagai elementalist—"

STnBD V16 178.jpg

"...!"


Kamito kehabisan kata-kata ketika menghadapi Rubia yang telah menyampaikan itu dengan serius.


Sambil mengepalkan tinju dengan gemetar, dia menatap tepat pada mata gadis itu.


Menatap mata bagaikan permata berwarna merah yang memancarkan api—


"Kau selalu saja bertingkah begini—"


"...Apa?"


"Membebankan semuanya pada dirimu sendiri, dan berusaha untuk menanggungnya sendirian. Itu sebabnya empat tahun lalu, kau lenyap tanpa mengungkapkan perasaan dan pemikiranmu pada Fianna, atau satu-satunya adikmu."


"Aku hanya berniat menebus dosaku."


Mendengar apa yang dia katakan, Rubia menggeleng.


"Bukanlah salahmu bahwa tanah Elstein dilahap oleh api."


"Itu karena dosaku. Karena aku adalah Ratu yang melayani Elemental Lord Api—"


Dia tetap meyakini itu dengan keras kepala.


Demi menebus dosa itu, dia telah mengukir segel persenjataan terkutuk yang tak terhitung jumlahnya pada tubuhnya.


...Dia pasti telah menetapkan tekad sepenuh jiwa.


Dia telah bertempur dengan gagah berani sendirian.


Menekan semua emosinya di balik topeng merah itu—


Dan sekarang, dia masih berniat untuk mengorbankan dirinya sendiri.


"..."


Kamito dan Rubia saling menatap selama beberapa detik.


Namun Rubia terlebih dahulu memalingkan tatapannya.


Dia perlahan-lahan membalikkan tubuhnya dan berkata pada Kamito dengan suara dingin seperti biasanya.


"Dalam beberapa hari, pasukan pemberontak akan menyerang Zohar. Saat ini, pulihkan dirimu dan istirahatlah sebaik mungkin, Raja Iblis"


Sementara Rubia bersiap-siap untuk pergi, Kamito berbicara padanya dari belakang:


"...Aku pernah melihat penelitianmu di kapal terbang."


Kamito berkata kepadanya.


Rubia berhenti.


"Secara kebetulan, aku menemukannya. Surat-surat yang Claire tulis padamu."


Ya, itu terselip di antara buku-buku penelitian Rubia. Surat-surat itu ditulis dengan tulisan tangan kekanak-kanakan, cewek itu mengirimkan semuanya pada kakaknya yang terpisah jauh darinya, ketika memasuki Divine Ritual Institute.


Rubia harusnya telah membaca surat-surat itu berkali-kali. Pada surat-surat itu terdapat bekas bahwa sudah dibaca ribuan kali.


"Claire selalu ingin berbicara padamu—"


"Aku bukan lagi kakaknya. Aku sudah kehilangan hak itu—"


"... Apakah kau puas dengan hal-hal seperti itu!?"


"Ya. Orang yang bernama Rubia Elstein sudah menjadi abu ketika terjadi kebakaran hari itu. Yang sekarang berdiri di hadapanmu hanyalah mayat yang disisakan oleh api merah."


Setelah mengatakan itu, dia menghilang ke dalam kegelapan malam.


Bagian 4[edit]

"—Baiklah, berhenti bergerak. Tenang."


"... Diam. Jangan sentuh aku."


Saladia baru saja merapalkan mantra penyembuhan ketika Jio Inzagi mengibaskan tangannya dengan keras.


"Secara alami, ini akan sembuh dengan sendirinya. Bagaimanapun juga, aku adalah penerus Raja Iblis."


Sembari memamerkan segel persenjataan terkutuk yang diukir di lengannya, Jio menyeringai tanpa rasa takut.


"...Lakukan sesukamu. Tapi kalau lukanya bernanah, aku tidak tanggung jawab."


Saladia mendesah putus asa, lantas menutup elemental waffe yang berbentuk buku.


"Tempat ini akan segera ditemukan, kan? Kita tidak boleh berlama-lama di sini."


Mereka saat ini bersembunyi di kapel Raja Iblis, yang telah dihancurkan oleh Sjora Kahn, dan mengubahnya menjadi reruntuhan.


Masih banyak ksatria dari penjaga kerajaan disekitarnya, saat ini mereka sedang mencari Saladia.


Meskipun Saladia telah membentuk penghalang isolasi di sekitar struktur untuk mencegah orang mendekat, akan tetapi Elementalist terlatih pasti akan melihat penghalang ini.


Di luar kapel, badai pasir sedang menderu.


Badai pasir biasa berhembus di Zohar selama beberapa malam setiap bulan. Meskipun mereka tidak bisa bersembunyi di sini selamanya, faktanya mereka tidak punya cara untuk meninggalkan tempat ini sampai badai pasir berakhir.


"Cih, dasar badai pasir menjengkelkan."


"Ini adalah napas Raja Iblis."


"Hah?"


"Sebuah legenda. Badai pasir ini adalah napas Raja Iblis Solomon—"


"Takhayul bodoh."


"Mungkin..."


Sementara sependapat dengannya, Saladia bergumam dalam benaknya.


(...Di sisi lain, aku berpikir bahwa kabar tentang reinkarnasi Raja Iblis itu lebih tidak masuk akal daripada tahayul.)


Tentunya, dia tidak menyuarakan pendapatnya—


Tak peduli apakah orang ini adalah reinkarnasi Raja Iblis atau bukan, dia cukup baik sebagai pengawal.


Memang, menakjubkan adalah satu-satunya kata yang pas untuk menggambarkan gaya tempur Jio Inzagi saat ini.


Berturut-turut melepaskan roh-roh yang telah disegel Saladia pada segel persenjataan terkutuk, dia membuang roh-roh itu segera setelah menggunakannya. Gaya tempur mengerikan ini sungguh di luar nalar bagi seorang elementalist normal.


Di bawah penerangan redup bola cahaya, Saladia menatap sosok pemuda itu.


Akhirnya, dia mengumpulkan keberanian dan bertanya:


"...Siapa sih sebenarnya kau ini?"


"Aku adalah penerus Raja Iblis."


"Bukan, bukan itu yang kutanyakan... Orang biasa akan mati jika memiliki begitu banyak segel persenjataan terkutuk yang ditanamkan pada dirinya. Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu—"


Jio Inzagi memamerkan gigi dan menyeringai tanpa rasa takut.


"Dari fasilitas tertentu yang telah membesarkan dan melatihku—"


"Fasilitas?"


"Sebuah fasilitas yang seorang putri sepertimu tidak akan pernah tau. Aku dibawa kesana semenjak bayi, dan mereka melakukan apapun pada tubuhku seenak perutnya... Oh, singkatnya, itu adalah neraka dunia. Mereka yang tidak memiliki bakat tidak akan bertahan, kemudian mati satu per satu. Setelah cukup besar dan bisa berbicara, anak-anak dipaksa untuk membunuh satu sama lain, kemudian dilempar ke bagian bawah lembah bagaikan onggokan sampah—"


"Tidak mungkin..."


Saladia menutupi mulutnya dengan tangannya, dan tidak mampu berbicara apapun.


...Apa yang diomongkan orang ini mungkin benar. Berdasarkan naluri seorang Princess Maiden, dia bisa melihat suatu kebohongan.


Namun, karena dibesarkan di istana kerajaan, dia tidak dapat membayangkan adanya neraka seperti itu di dunia ini.


"Hei, kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah kau mengasihaniku?"


Jio Inzagi menyipitkan matanya dengan tajam dan melotot Saladia.


"Jangan menggunakan standarmu untuk mengukur orang lain. Aku sangat bersyukur memiliki tubuh seperti ini. Berkat ini, aku satu langkah lebih dekat pada Raja Iblis"


Sambil melihat segel persenjataan terkutuk yang diukir di lengannya, dia menampakkan senyum menakutkan di wajahnya.


"Mengapa kau begitu ... terobsesi pada Raja Iblis"


Ketika Saladia hendak bertanya padanya—


Lantai kapel bergetar, sementara debu dan puing-puing di langit-langit berjatuhan.


"...Apa, gempa bumi?"


"...Tidak, tidak pernah terjadi gempa bumi di Zohar sebelumnya—


Sambil mengatakan itu, dia berhenti, dan tubuhnya gemetar ketakutan.


"-Mungkinkah kakakku telah melepaskan segel itu?"


Bagian 5[edit]

Sembari melintasi padang pasir yang disertai badai pasir menderu sepanjang malam, dua naga tanah melesat.


Mereka membawa Muir dan Lily, menuju ke Zohar untuk pengintaian.


"Masih satu jam lebih menuju Zohar. Jangan ceroboh, Muir."


"Tidak perlu khawatir. Jika kita ketahuan, habisi saja musuhnya, dan semua akan baik-baik saja, oke?"


"Misi kita sederhana hanya memata-matai lalu kembali sambil membawa informasi yang berhasil kita kumpulan. Kita sebisa mungkin harus menghindari pertempuran—"


Lily memarahinya. Lalu—


Tiba-tiba, ada gemuruh menakutkan dari dalam tanah. Padang pasir pun bergetar dengan keras.


"...A-Apa?" "Apa yang sedang terjadi!?"


Gemuruh menakutkan di tanah terus bertahan. Naga tanah berjongkok ketakutan.


Ini bukanlah gempa biasa.


Getaran ini hampir mirip seperti pergerakan makhluk misterius dari dalam tanah—


"Lily, ada sesuatu yang mendekat—"


"...Apa?"


Lily menatap tajam melalui badai pasir yang masih menderu.


Kemudian matanya melebar kaget.


"...Bukankah itu Zohar !?"


Bab 9 – Leviathan[edit]

Bagian 1[edit]

Sebelum fajar. Setelah bersantai di air panas, kemudian kembali ke kamarnya untuk tidur dengan nyaman, Kamito membuka mata dan merasakan gerakan di tempat tidurnya.


"...A-Apa yang terjadi!?"


Dia tiba-tiba duduk dan dengan panik mengangkat selimutnya—


"Oh, kau sudah bangun. Sayang sekali."


Sambil mengenakan gaun bergaya Theocracy, Restia tertawa dengan senyum nakal, dan bersandar pada Kamito di tempat tidur.


"A-A-A-Apa yang kau lakukan!?"


Yang bisa Kamito lakukan hanyalah berteriak panik.


"Karena aku harus terus berwujud pedang, aku tidak bisa memainkan peran dalam sandiwara selir Raja Iblis, iya kan? Tidak adil kalau hanya cewek-cewek itu yang merasakan peran selir—"


Restia perlahan bangkit, dan menyeka rambut hitam indah yang menggantung pada lehernya.


Dihiasi dengan renda indah, pakaian tipisnya menerawang kulit putih bersih tanpa cacat. Penampilannya, sungguh mempesona dan memikat, membuat Kamito menatapnya tanpa berkedip, dan dia pun tidak ingat apa yang sekarang sedang terjadi.


"Bagaimana, Kamito? Apakah aku terlihat cocok mengenakan ini?"


"Y-Ya, sangat... sangat cocok..."


Dengan kepala yang masih pusing dan setengah mengantuk, dia mengutarakan pendapatnya dengan jujur.


"Fufu, terima kasih—"


Bibir Restia terbuka oleh senyuman menawan, kemudian dia meletakkan kepalanya dengan lembut pada bahu Kamito.


Helai rambutnya yang halus menyentuh pipi Kamito, sehingga membuat jantungnya semakin berpacu.


"H-Hei, Restia!?"


Semakin memerah, Kamito pun berteriak. Lalu—


"Kamito, lihat aku juga."


"...!?"


Setelah mendengar suara dari sisi berlawanan, dia memutar kepalanya, kemudian semakin tersentak.


"Aku juga mengenakan gaun seorang putri—"


"E-Est!?"


STnBD V16 193.jpg


Kamito langsung kembali terhuyung-huyung.


Yang dia lihat adalah—


Est yang hampir tanpa busana, dia hanya mengenakan kaus kaki selutut untuk menutupi kakinya.


"A-Apa, a-apa...!"


"...? Kamito, ada apa?"


Masih tanpa ekspresi, Est memiringkan kepalanya dengan bingung.


Kamito buru-buru mengalihkan pandangannya.


"A-Apanya yang gaun seorang putri... Bukankah kau hampir tidak mengenakan apa-apa !?"


Dia langsung menunjukkan pokok permasalahannya disini.


...Yah, ini bukan pertama kalinya bagi Est masuk tempat tidurnya tanpa mengenakan apa-apa selain kaus kaki selutut, tapi meskipun demikian, ini masihlah bukan sesuatu yang biasa.


Lagipula, Est mengatakan bahwa dia sedang mengenakan gaun putri sekarang.


Tapi, yang Kamito lihat adalah, Est mengenakan kaus kaki selututnya seperti biasa, apa yang sedang terjadi sih...?


Namun—


"...? Kamito, apa yang kau bicarakan?"


Matanya yang bersih dan sayu menatap tepat ke arah Kamito.


...Dia tampaknya tidak bercanda.


Lagipula, sejak awal kelihatannya Est tidak bercanda. Tentu saja, dia juga tidak berbohong.


"Fufu, gaun itu benar-benar terlihat cantik padamu, Nona Roh Pedang."


Pada saat yang sama, Restia berkomentar.


"...Hah?"


Kamito sekali lagi memeriksa penampilan Est.


...Namun tak peduli berapa kalipun dia periksa, yang dia kenakan hanyalah kaus kaki selutut seperti biasanya. Tidak ada baju sama sekali.


"A-Apa yang terjadi?"


Melihat Kamito memiringkan kepalanya, Est berputar-putar di tempat.


"Kamito, ini adalah gaun tenunan dari kekuatan suci, dan hanya kau yang bisa melihatnya."


Dia dengan bangga membusungkan dada mungilnya.


"..."


"Karena aku juga tidak bisa melihatnya, maka roh kegelapan lah yang membantuku mengenakannya."


Kamito perlahan menoleh ke arah Restia.


Disana terlihat Restia yang menutupi mulutnya, dan tertawa dengan licik.


(...Aku mengerti sekarang.)


Kamito mendesah dan menghadapi Est lagi.


"Uh, Est, sulit bagiku untuk mengatakan ini, tapi mungkin kau telah ditipu."


"...?"


"—Aku tidak melihat apa-apa."


"...?"


"Est, kau tidak mengenakan apa-apa."


"......"


Setelah beberapa detik tidak berkomentar—


Tanpa emosi sama sekali, mata sayu Est menatap Restia yang ada di sebelah Kamito.


"Roh kegelapan, apakah kau telah menipuku?"


"Fufu, bagaimana mungkin ada gaun seperti itu?"


Restia mengangkat bahu, dan menanggapinya, "oh ya ampun".


Pada saat itu, rambut Est bersinar dengan cahaya kuat, dan selimut di kasur terangkat dengan ringan.


Gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk gruk...!


"Roh kegelapan, kau memang perlu dihancurkan—"


"Oh ya ampun, sungguh menakutkan. Itu hanya lelucon."


Restia tersenyum tanpa rasa takut, lantas dia memeluk lengan Kamito erat-erat.


"R-Restia!?"


"Singkirkan tanganmu, roh kegelapan. Kamito adalah kontraktorku."


Tak mau kalah dengan Restia, Est memeluk lengan Kamito lainnya.


"Est!?"


Suara Kamito berubah menjadi melengking.


Bagaimanapun juga, Est hampir telanjang saat ini. Sesuatu yang lembut tertekan pada lengannya.


Sementara itu, Restia juga merangsangnya, dan Kamito bisa merasakan dua tonjolan terbalut gaun tipis tertekan pada lengannya.


Terjepit di antara dua roh terkontrak, seluruh tubuh Kamito membeku dan tidak bisa bergerak.


...Ini bukan roh sandwich seperti yang waktu itu.


Sensasi ini sangatlah berbahaya—


(... Mungkinkah ini roh mille-feuille?) [1]


Ketika istilah itu muncul dalam pikirannya ...


"Kamito, b-berita buruk—Apa!?"


Tiba-tiba pintu terbuka.


Yang masuk melalui pintu itu adalah Claire berpakaian piyama.


"A-Apa, a-apa y-y-yang kau lakukan!?"


Melihat Kamito dipeluk oleh dua roh, twintail milik Claire berdiri di hadapannya layaknya pilar kobaran api.


"T-Tidak! P-Pada dasarnya, mereka berdua membuat roh mille-feuille—"


...Kamito memberikan penjelasan koheren dan tak bisa dimengerti.


"B-Berubahlah j-jadi arang!!"


"Tunggu, Claire, sekarang bukan waktunya!"


Kali ini, giliran Rinslet tiba. Bagaikan menyingkirkan kucing, dia menangkap Claire pada bagian kerah bajunya.


"...K-Kau benar."


Claire batuk ringan, kemudian memasang ekspresi serius di wajahnya.


"Kamito, cepatlah kemari kita punya berita buruk —"


Bagian 2[edit]

"—Zohar mendekat!?"


Mendengar laporan itu, Kamito hanya bisa bertanya dengan kaget.


Kelompok ini berkumpul di ruang konferensi bawah tanah Demon Fist. Di sekitar meja itu duduklah Ellis, Fianna yang mengenakan seragam Akademi, dan juga Rubia.


"—Memang. Menuju ke sini, ke Mordis, secara langsung."


"Eh, aku tidak mengerti—"


Kamito menunjukkan ekspresi bingung. Claire dan Rinslet, yang telah pergi untuk memanggil Kamito, mungkin melewatkan penjelasan detail, dan mereka pun menunjukkan ekspresi bingung juga.


"Sebuah kota yang bergerak menuju ke sini, bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?"


"Mungkinkah tim pengintai melakukan kesalahan...?"


"Aku sih tidak ingin mempercayainya, tapi sepertinya itu benar—"


Rubia dengan tenang menggeleng, kemudian mengulurkan tangannya ke arah cermin proyeksi di meja.


"Ini adalah gambar yang dikirim oleh Lily melalui Telepati satu jam yang lalu—"


Setelah diresapi dengan kekuatan suci, cermin proyeksi bersinar dengan cahaya putih. Ini adalah artefak sihir yang mampu menampilkan gambar dari jauh, dan juga digunakan oleh penonton selama Blade Dance berlangsung.


"...I-Ini adalah!?"


Melihat gambar yang ditampilkan di cermin, semuanya menatap dengan takjub.


Yang ditunjukkan disana adalah sebuah kejadian yang tidak masuk akal dan menakjubkan.


Sebuah kota raksasa, dikelilingi oleh dinding, menghasilkan kepulan debu di belakangnya, kota itu bergerak menyusuri tanah.


Tentakel yang tak terhitung jumlahnya menjuntai dari belahan tembok, dan maju perlahan-lahan seolah-olah melahap pasir.


Merangkak di tanah, kota itu mengingatkan kita pada jamur berlendir, dan membuat orang-orang yang melihatnya merasa jijik.


"...A-Apa ini...!?"


Claire mengerang dengan suara kaku.


"...Mungkinkah mereka melepaskan segel Leviathan?"


Sambil duduk di samping Kamito, Restia berbicara pelan dengan ekspresi serius.


"Leviathan?"


"Roh militer kelas strategis yang dikerahkan selama Perang Ranbal. Kelasnya sama seperti Jörmungandr yang tidur di tambang gunung Ordesia, itu adalah senjata pemusnah massal yang bahkan melebihinya—"


"...Roh? Zohar adalah roh?"


"Leviathan adalah roh militer tipe perasuk. Tugasnya adalah bergabung dengan sebuah kota, dan mengubahnya menjadi benteng raksasa bergerak. Menurut catatan perang, Leviathan menghancurkan sebuah kota hanya dalam tujuh belas jam beroperasi."


Rubia menjelaskan dengan tenang.


"Roh yang menyatu dengan kota..."


"...B-Bagaimana ini bisa... s-sesuatu seperti itu masih bisa disebut roh!?"


Ellis menggebrakkan tinjunya yang gemetaran di atas meja. Karena kehilangan martabat sebagai roh, dia diubah menjadi senjata yang begitu menakutkan, tentu saja dia merasa kesal melihat roh berpenampilan seperti itu.


"Namun, tujuh roh militer kelas strategis seharusnya telah disegel berdasarkan ketentuan perjanjian internasional. Kalau melanggar larangan tersebut, apakah artinya Sjora Kahn berniat untuk memusuhi negara-negara di sekitarnya?"


"...Sesungguhnya, aku tidak memperkirakan hal ini."


Menghadapi pertanyaan Fianna, Rubia hanya bisa mengangguk.


"Satu-satunya kesimpulan adalah, dia sudah tidak mempedulikan dirinya sendiri. Namun, fakta bahwa pasukan pemberontak telah berkumpul di Demon Fist, memberikan kesempatan yang sempurna baginya."


"Dia bermaksud untuk menghancurkan mereka sekaligus..."


Gambar di cermin proyeksi terlihat kabur karena gangguan dari badai pasir, kemudian transmisi segera terputus.


"Hanya inilah yang dikirim oleh Telepati. Menurut kecepatan gerakan benda itu, yang aku takutkan kota itu akan tiba disini dalam beberapa jam."


Mendengar apa yang dikatakan Rubia, semuanya terdiam.


Dari sudut pandang Kamito, dia merasa sangat khawatir akan keselamatan Muir dan Lily, meskipun dia pikir mereka berdua tidak akan membuat kesalahan fatal. Mudah-mudahan, mereka tidak terperangkap oleh benda itu—


"Apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghentikan roh militer kelas strategis itu?"


Claire menanyakannya.


"Setelah diaktifkan, Leviathan tidak akan berhenti sampai pasokan kekuatan suci terputus. Selanjutnya, benda itu kemungkinan besar akan mencuri kekuatan suci warga Zohar—"


"Apa katamu!?"


Claire tersentak.


Roh militer biasanya dikendalikan oleh tim elementalist terlatih. Namun, menurut penjelasan Rubia, Leviathan mampu memperoleh kekuatan sucinya sendiri, itulah sebabnya dia bisa terus beroperasi tanpa akhir.


(Dia tidak akan berhenti sampai semua penduduk Zohar telah kehilangan nyawanya—)


"Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk mengungsi?"


Saran Rinslet.


"Menurut kami, itu akan berguna. Tapi, mengungsikan seluruh penduduk ke tempat ini adalah suatu hal yang mustahil."


"Oh tidak..."


Memang, Rubia benar. Mengevakuasi begitu banyak pengungsi dalam waktu sesingkat ini hanya mungkin terjadi di dalam teori. Lagipula, bahkan jika mereka berhasil melarikan diri, tempat ini bagaikan jalan buntu bagi mereka. Hanya dua takdir yang menanti mereka, mati di atas padang pasir terik, atau dihancurkan oleh Leviathan ketika memusnahkan Mordis—


(...Bagaimana bisa kita membiarkan mereka mati?)


Di bawah meja, Kamito diam-diam mengepalkan tinjunya.


Para pengungsi memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Kamito — atau yang lebih dikenal sebagai Raja Iblis yang telah bangkit.


Tidak mungkin baginya mengkhianati kepercayaan itu.


"...Apakah ada cara untuk menghentikannya?"


"Hanya ada satu cara untuk menghentikan roh militer kelas strategis, yaitu menyusup ke dalam Zohar untuk menghancurkan pusat yang mengkatalis penggabungan Leviathan dan Zohar."


"Dimanakah pusat itu berada?"


Ketika Kamito bertanya, Rubia menyebar peta di atas meja.


"Apa ini?"


"Desain lantai Scorpia, yaitu kediaman keluarga kerajaan Theocracy. Aku diam-diam memperolehnya selama bergabung dengan aliran pemuja Raja Iblis."


"Kau memang hebat, selalu saja cekatan—"


"Anggaplah ada sesuatu yang mengoperasikan Leviathan, maka fasilitas militer yang disebut Demon Circuit terletak di bawah Scorpia, tak diragukan lagi disitulah intinya—"


"...Demon Sirkuit?"


"Itu adalah reaktor amplifikasi kekuatan suci yang dibuat oleh Raja Iblis Solomon ribuan tahun yang lalu. Memang, dengan menggunakan itu, bahkan seorang Princess Maiden setingkat Sjora Kahn mampu melepaskan Leviathan—"


Restia berbicara pelan dengan ekspresi misterius di wajahnya.


"...Paham. Apapun itu, yang perlu kita lakukan adalah menghancurkannya."


Claire menjadi bersemangat sambil menyatakan itu.


"Namun, menyusup ke markas musuh adalah tindakan sembrono."


"B-Benar..."


"Aku setuju pada rencana yang sembrono, karena tidak ada cara lain untuk menghentikan Leviathan—"


"..."


Mendengar Rubia, Claire dan yang lainnya membisu seribu bahasa.


"Kalau begitu, aku saja yang menghentikannya. Bagaimanapun juga, aku sudah berjanji sebagai Raja Iblis."


Pada saat itu, Kamito berdiri.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Aku juga ikut."


"Aku juga."


"A-Aku juga akan pergi."


"Dan aku, tentu saja. Sebagai selir Raja Iblis ini, tentu saja aku akan melakukannya—"


Claire, Ellis, Rinslet dan Fianna berdiri satu demi satu, kemudian mereka melihat Kamito.


"Tidak, aku bisa melakukan ini sendirian…."


Kamito menghentikan kalimatnya di tengah-tengah.


Mata para gadis memohon dengan tekad yang kuat.


—Kau tidak akan meninggalkan kami, kan?


(Uh...)


Itu adalah tatapan intens yang membuat Kamito goyah.


Dia sudah tau bahwa hal ini pasti akan terjadi, meskipun Rubia jelas-jelas menyatakan ini adalah rencana yang sembrono. Tentu saja, cewek-cewek ini adalah partner yang dapat diandalkan, tetapi pada saat yang sama, mereka juga cewek-cewek berharga yang layak dilindungi.


Membawa mereka ke dalam bahaya yang mengancam jiwa, agaknya—


Lalu—


"Bawa mereka. Mereka pasti akan membantumu."


"Restia?"


Tak bisa dipercaya, yang pertama kali memecah keheningan adalah Restia yang duduk di sampingnya.


Terkejut, Kamito terus menatapnya, untuk melihat senyumnya yang tenang dan mengangguk tanpa kata.


Claire dan para cewek lain mungkin juga terkejut atas saran roh itu. Mereka tampak sedikit gelisah, dan mereka pun melihat satu sama lain.


Namun, tatapan mereka segera kembali ditujukan pada Kamito—


"Y-Ya, kami sudah banyak berlatih agar bisa bertarung di sisimu."


"Ya, kami tidak akan menjadi beban." "Aku akan menembak jatuh setiap tentakel menjijikkan itu." "Biarkan aku mendukungmu dari belakang."


Mendengar pernyataan Claire, tiga cewek lainnya mengangguk dengan ekspresi percaya diri.


Dengan empat sahabat dan roh terkontrak yang menatap pada dirinya—


Kamito akhirnya membuat keputusan.


(...Aku tidak percaya bahwa tadinya aku berpikir untuk bertarung sendirian. Mungkin aku terlalu egois.)


Bagaimanapun juga, Kamito telah menerima bantuan mereka dalam banyak situasi tanpa harapan.


"Aku mengerti. Ayo bertarung di sisiku."


"Ya—"


Kamito menyetujuinya, dan gadis-gadis pun mengangguk dengan penuh semangat.


"—Kami berlima akan menyusup ke dalam Zohar, tidak masalah ‘kan?"


Kamito menengok ke arah Rubia dan bertanya.


"Aku sih tidak masalah, namun Fianna harus tetap tinggal di sini—"


"Eh?"


"Rubia-sama, kenapa!?"


Fianna protes.


"Untuk melindungi Mordis. Untuk bertahan terhadap serangan Leviathan, kita perlu membangun penghalang berskala besar di sekitar kota."


"Ya, aku mengerti..."


Mengingat laju kecepatan Leviathan, menghancurkan intinya sebelum mencapai Mordis adalah tantangan yang berat. Mungkin mereka perlu memperkuat pertahanan untuk menahan makhluk itu selama mungkin.


"...Mengerti. Kalau begitu, aku akan tinggal di sini untuk melindungi kota."


Meskipun menyetujui rencana itu, Fianna masih tampak kecewa.


"Aku mengandalkanmu, Fianna."


"Kuserahkan padamu."


"Ya, serahkan saja padaku."


Fianna mengangguk dengan tegas untuk menanggapi permintaan Kamito dan Claire.


"—Kalau begitu, pertemuan ini selesai. Ada pertanyaan?"


Rubia menatap mereka semua satu per satu.


"Apakah penyesuaian kakakku belum siap?"


Pada saat itu, Ellis mengangkat tangannya.


"Velsaria Eva masih menjalani penyetelan ulang. Setelah Elemental Panzer siap, aku akan menugaskan dia untuk memperkuat pertahanan kota."


"Dimengerti."


Memang, Juggernaut milik Velsaria mempunyai daya tembak yang luar biasa, tetapi juga terbatasi oleh waktu operasi, sehingga tidak cocok untuk misi penyusupan. Menggunakannya sebagai benteng pertahanan adalah pilihan yang lebih baik.


"Aku juga punya pertanyaan. Dapatkah Revenant menyelinap ke Zohar?"


"Tidak, Revenant tidak dapat digunakan."


Rubia menggeleng. L


"Kapal terbang militer dilengkapi dengan mekanisme roh sebagai sumber tenaga. Itu mengandung reaktor kekuatan suci, lagipula mekanisme roh adalah mangsa yang sempurna bagi Leviathan. Ketika kapal sebesar itu mendekat dari langit, itu pasti akan menjadi sasaran empuk bagi pertahanan anti-udara."


"Bahkan mereka memiliki anti-udara..."


"Tentu saja. Bukankah itulah sebabnya mereka disebut senjata kelas strategis?"


"Benar juga..."


"Lalu bagaimana cara kita menyusup ke dalam?"


Tanya Claire.


"Gunakan roh naga terbang yang disediakan oleh Dracunia."


"Oh itu..."


Roh militer naga terbang pasti unggul dalam beradaptasi dengan perubahan situasi, dan cocok untuk misi penyusupan.


"Ada pertanyaan lain?"


Ketika semuanya menggelengkan kepala, Rubia pun berdiri.


"Kalau begitu, rapat diakhiri. Setelah kalian siap, berkumpulan di zona pendaratan naga terbang."


Kamito dan yang lainnya bangkit dari kursi mereka, lantas meninggalkan ruangan rapat.


Ketika Claire, orang terakhir, hendak pergi, Rubia menghentikannya.


"Claire Rouge. Jangan pergi dulu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Hah?"


Bagian 3[edit]

Beberapa menit kemudian, Kamito sudah siap dan berdiri di zona pendaratan naga terbang, pada puncak Demon Fist, dia melihat ke bawah di jalan-jalan Mordis.


Berita mendekatnya Zohar membuat seisi kota gempar. Namun, dengan adanya Rubia, dan berbagai upaya dari para pemimpin sekte, mereka berhasil mencegah keadaan semakin panik.


Meskipun situasi ini menyedihkan, kerumunan orang tidak menyebabkan keributan besar. Mungkin ini dikarenakan bangkitnya Raja Iblis, sehingga mereka mendapatkan ketenangan secara moral.


"Hampir waktunya untuk pergi, Kamito—"


Melihat ke kejauhan, disana ada Ellis yang sedang berseru.


Kamito menatap padang pasir, disana hanya terlihat debu yang membumbung di cakrawala.


"Itu cukup cepat ..."


"Ya, dibandingkan dengan apa yang kita lihat dalam gambar, kecepatannya sepertinya telah meningkat."


"Sungguh besar...."


Suara Rinslet sedikit gemetaran.


Bagaimanapun juga, kota itu sendiri telah berubah menjadi senjata bergerak. Jika benda sebesar itu menyerang, bahkan benteng kokoh seperti Demon Fist tidak akan mampu menahannya.


"Terima kasih telah menunggu, semuanya—"


Pada saat ini, Claire datang menaiki tangga, dengan terengah-engah.


"Apa yang kau bicarakan dengan Rubia?"


Tanya Kamito.


"...T-Tidak ada yang penting ..."


Claire memalingkan tatapannya, dia tampaknya malu.


Meskipun Kamito menyadari bahwa tingkah Claire sedikit aneh dan dia mengerutkan kening, dia pun mengabaikannya untuk saat ini. Bagaimanapun juga, seharusnya dia tidak mencampuri urusan keluarga orang lain.


"Kalau begitu, ayo kita bergegas pergi…."


Kamito mengeluarkan sebuah bongkahan batu, kemudian melepaskan Wyvern, yaitu sejenis roh naga terbang.


Rinslet bersama dengan Claire menunggangi naga yang cukup besar, sedangkan Kamito naik naga yang lebih kecil. Bukannya naga terbang, Ellis lebih memilih naik Simorgh.


"Rinslet, apakah kau sudah memiliki surat ijin pengemudi ganda untuk roh terbang?"


"Ya, aku memperoleh surat ijin terbaik dari sebuah sekolah pelatihan Ostdakia tahun lalu."


"Lupakan tentang pengemudi ganda, aku bahkan tak memiliki surat ijin pengemudi tunggal."


Begitulah, Kamito pernah mempelajari skill mengendarai roh naga terbang ketika masih di Sekolah Instruksional.


"Sekarang, waktu semakin sempit—"


Sambil memeluk leher Simorgh raksasa, Ellis berseru dengan tegas.


Malam hari di gurun perlahan-lahan berubah menjelang fajar.

Catatan Penerjemah[edit]

  1. Mille-feuille adalah cake khas Perancis yang terdiri dari 3 lapisan, yaitu pastry, krim vanilla, dan selai. Mungkin Kamito mengumpamakan posisinya saat ini seperti kue ini, karena dia diapit oleh 2 lapisan legit.


Bab 10 – Benteng Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Angin kencang yang menderu. Naga terbang membawa Kamito dan yang lainnya terbang melintasi padang pasir. Yang memimpin didepan adalah Simorgh milik Ellis, dia menciptakan arus udara untuk mengarahkan rekan-rekannya.


"–Berpeganganlah yang erat pada kendalimu, kita akan segera mendekatinya!"


Ellis berteriak dengan keras.


Sebuah bayangan raksasa muncul di ujung cakrawala yang terhalang badai pasir.


Itu adalah tembok kota ibukota Theocracy, Zohar, benda itu mendekat sedikit demi sedikit dengan gemuruh yang bising.


"...! Apa sih, itu–"


Fenomena aneh dan sangat khayal itu membuat Kamito dan yang lainnya terkejut sampai-sampai kehabisan kata-kata.


Yang menjulur dari celah tembok kota batu itu adalah tentakel menyerupai ular yang tak terhitung jumlahnya, mereka menggeliat dan meronta-ronta seakan-akan menderita rasa sakit yang luar biasa, perlahan-lahan melaju di atas padang pasir. Ah, rasanya tidak tepat jika kita menyebutnya ‘perlahan-lahan’, dengan massa sebesar itu, kecepatannya sudah terbilang cukup tinggi.


"...Sungguh menakutkan... Apakah itu benar-benar roh...?"


Sembari terbang di barisan terdepan, Ellis gemetaran.


"S-Sungguh menjijikkan!"


"Aku benar-benar ingin membakarnya sampai jadi arang..."


Sambil menaiki naga yang sama, Rinslet dan Claire mengungkapkan kejijikkan mereka.


...Tak seorang pun bisa menyalahkan mereka. Bagaimanapun juga, tampilan "roh" ini begitu mengerikan.


Sementara perlahan-lahan merayap melintasi padang gurun, dan mencemarinya, kota itu tampak seperti cetakan lendir besar.


Pemandangan ini benar-benar menodai makna ‘roh’ yang seharusnya suci. Di mata seorang elementalist, ini sungguh pemandangan yang menjijikkan.


'Kamito, itu bukan lagi Roh'


Suara Est terdengar dalam pikiran Kamito.


Suaranya tenang tanpa sedikitpun emosi yang tak menentu. Namun, setelah menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya, Kamito bisa mendengar perasaan dalam suaranya.


–Est sedang marah. Kemarahannya ditujukan pada semua manusia yang tak bertanggung jawab yang telah mengubah Leviathan, yaitu roh kelas tinggi, menjadi makhluk seburuk ini…


'Aku setuju. Raja Laut Agung Leviathan sudah tiada. Meskipun kita pernah melawannya ketika Perang Roh berlangsung, aku tidak bisa mentolerir penistaan seperti ini.'


Raja Laut Agung Leviathan adalah komandan terbesar yang melayani Elemental Lord Air. Selama perang roh berlangsung, Leviathan telah terlibat dalam banyak pertempuran sengit melawan Restia dan Raja Naga Bahamut.


Melihat saingan abadi berubah menjadi roh militer, dan kehilangan semua martabatnya, seperti apakah perasaan Est saat ini?


'Setidaknya, ayo kita akhiri kegilaan ini. Demi saingan masa lalu dalam peperangan'


"Ya, aku mengerti–"


Untuk menenangkan kemarahan Est dan juga menjaga perasaan Restia–


Kamito mencengkeram gagang kedua pedangnya erat-erat.


"Jarak menuju target: 60, 50, 40, 30, 20–"


Sebagai barisan terdepan, Ellis memperkeras suaranya.


Untuk menembus pertahanan anti-udara Theocracy, mereka harus menyerangnya secara langung–


(...!?)


–Kemudian, setelah selamat dari ribuan situasi berbahaya sejak kecil, Kamito secara naluriah merasakan eksistensi yang mengerikan.


"Ini buruk! Ellis, menjauhlah!"


"Apa?"


ROOOOOOOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAAAAR!


Leviathan meraung .


"Kyah!" "Apa-apa’an ini!?"


Raungan gelombang suara menghantam Kamito dan yang lainnya di langit, di atas Zohar.


Saling menjerit dengan nada tinggi, roh-roh naga terbang mulai lepas kendali.


(...! Kita akan berbenturan!?)


Bagian 2[edit]

Sementara itu, di dalam Demon Fist dikota benteng Mordis, persiapan untuk menahan laju Leviathan sedang dikerjakan secepat mungkin.


"Oh cahaya suci yang menerangi dunia, bentuklah perisai kokoh untuk melindungi kami–"


Di atas tembok pertahanan kota, sekte Princess Maiden sedang membangun penghalang di bawah arahan Fianna.


Itu adalah penghalang berskala besar yang melindungi Mordis dan sekitarnya. Penyambungan Leyline menghasilkan resonansi antara beberapa penghalang, sehingga menghasilkan kekuatan pertahanan hingga puluhan kali lebih besar dari biasanya. Dengan adanya Leyline utama yang menjalar melalui tambang, ini merupakan keuntungan geografis sekaligus alasan mengapa Mordis bisa menjadi benteng yang tak tertembus.


Perisai Alexandros adalah penghalang strategis yang digunakan oleh pasukan militer selama Perang Ranbal terakhir.


"Fiuh, untuk saat ini, semuanya selesai."


Setelah selesai membuat penghalang akhir, Fianna menyeka keringat di dahinya.


Dia dengan cepat kelelahan karena mendirikan beberapa penghalang dalam waktu singkat.


Karena Theocracy tidak memiliki lembaga pendidikan nasional seperti Akademi Roh Areishia, hanya terdapat sedikit Princess Maiden yang terlatih, sehingga ini membuat beban Fianna semakin berat.


Meskipun Rubia, sang mantan Ratu, telah menangani lingkaran sihir dan persiapan lainnya, setelah dia ditanamkan segel persenjataan terkutuk dan kehilangan roh kontraknya, dia tidak bisa lagi menggunakan kekuatan Princess Maiden-nya dengan bebas.


"Kau semakin hebat. Tempo hari, membangun penghalang bukanlah pekerjaanmu."


Sambil mengenakan topeng merah, Rubia berdiri di atas tembok kota, dan berbicara dengan pelan.


"Aku masih jauh darimu, Rubia-sama, bahkan dirimu 4 tahun yang lalu tidak akan bisa kusamai, begitupun dengan Reicha."


Fianna perlahan-lahan menggeleng.


"Namun, aku memang merasa sudah berkembang. Setelah bertemu Kamito-kun serta adikmu–"


"Aku paham."


Rubia berhenti berbicara dan terdiam.


Tatapannya terfokuskan pada Leviathan, yang terus mendekat disertai badai gurun.


Saat ini, mereka cukup dekat sehingga orang-orang bisa melihat bentuk menakutkan Leviathan dengan mata telanjang, tanpa bergantung sihir Far Vision.


(Aku mendengar jeritan roh...)


Fianna menutup matanya sambil menampakkan ekspresi sedih, dan menggenggam tangannya dengan erat.


Banyak roh di Zohar telah dimakan oleh Leviathan untuk mencuri semua kekuatan suci mereka.


Roh yang kehilangan kekuatan sucinya bahkan tidak bisa kembali ke Astral Zero, sehingga terhapus dari dunia ini.


Sembari membaca doa, Fianna berdiri pada dinding pertahanan, dan memberi perintah kepada para Princess Maiden Theocracy yang telah dikumpulkan.


"Selanjutnya, kita akan mengaktifkan penghalang strategis. Bersiaplah, kalian semua–"


Seakan menanggapi suara khidmat Fianna–


Dengan berbaris rapi pada dinding pertahanan, para Princess Maiden membuat tanda dengan tangannya secara serempak–


Saat itu juga, banyak lingkaran sihir terbentuk di sekitar benteng kota, dan mulai bersinar dengan reaksi berantai.


Titik-titik cahaya langsung saling hubung, sehingga penghalang raksasa yang mencakup seluruh Mordis sudah selesai dibuat.


Gempa yang disebabkan oleh Leviathan sudah terasa sampai disini.


Para Princess Maiden dari berbagai sekte saling memandang sahabat mereka di dekatnya dengan khawatir.


Untuk memberikan keberanian pada mereka, Fianna berdiri pada dinding pertahanan dan melotot tepat ke arah Leviathan yang mendekat.


Meskipun tidak ada yang tau berapa lama penghalang strategis ini bisa bertahan–


(...Kamito-kun, kami percaya bahwa kau pasti akan melindungi tempat ini.)


Didorong oleh teladannya, para Princess Maiden berhenti menunjukkan rasa ketakutan dan saling mengangguk dengan penuh ketabahan.


"–Mirip sekali dengan gadis suci."


"Tidak, aku hanyalah selir Raja Iblis, Rubia-sama–"


Fianna tersenyum tanpa rasa takut.


Bagian 3[edit]

Sambil melahap gurun, Leviathan meraung, dan menggetarkan udara di sekelilingnya.


Terhantam langsung oleh gelombang kejut, roh naga terbang yang ditunggangi Kamito berputar tak terkendali, kemudian jatuh.


"T-Tunggu, jangan jatuh, Rinslet!"


"Aku tahu! Tapi naga terbang ini tidak mau mendengarkan perintahku!"


Naga terbang yang membawa Claire dan Rinslet juga meraung, dan berputar-putar pada lintasan yang tak terkendali. Rinslet berupaya keras untuk mendapatkan kembali kendalinya, dia pun mengalirkan kekuatan suci pada naga terbang itu, namun dia masih tidak sanggup menghentikan naga yang mengamuk itu.


'Kamito, naga terbang ini sudah tidak berguna. Fungsinya sebagai roh militer sudah benar-benar rusak–'


Dia mendengar suara Restia dalam pikirannya.


(Raungan itu dapat menghancurkan kewarasan roh militer, huh?)


Itu adalah sistem pertahanan anti-udara Leviathan. Jika mereka bergegas kesini menggunakan Revenant, kemungkinan besar mekanisme roh sebagai sumber daya akan lepas kendali, dan itu akan mengakibatkan tragedi.


'–Aku pusing.'


"Ya aku juga–"


Bisakah roh pedang menderita pusing? Sementara pertanyaan itu terlintas dalam pikirannya, Kamito memutar otak.


Kalau begini terus, mereka akan jatuh dengan cepat ke tanah.


"–Kamito!"


Saat itu, dia mendengar sebuah suara dari atas.


Dia mendongak ke atas, di sana terlihat Ellis yang mati-matian mengulurkan tangan padanya sembari berpegang pada leher roh angin miliknya. Rupanya, sebagai roh tingkat tinggi, Simorgh tidak terpengaruh oleh raungan itu.


Kesempatan hanya ada sesaat. Kamito mengulurkan tangan, menangkap tangannya dan melompat.


Ketika seluruh tubuhnya melayang di udara, tiba-tiba dia merasa lebih ringan. Angin dari roh sihir yang Ellis rapalkan telah menyelimutinya.


Saat berikutnya, Ellis menarik tubuh Kamito padanya dengan sekuat tenaga.


"Kau menyelamatkan aku, Ellis–"


"Y-Ya..."


Ellis melepaskan tangannya dengan muka memerah, sangat merah.


"Huaah, tenang, tenang!"


"Claire, aku tidak bisa berbuat apa-apa jika kau menempel begitu erat padaku!"


Naga terbang Rinslet dan Claire terlihat bisa jatuh setiap saat.


Ellis membungkuk ke depan dan berteriak pada dua cewek itu.


"Kalian berdua, carilah saat yang tepat untuk melompat! Kamito dan aku akan menangkap kalian dari bawah!"


"Ehhh!?" "Tidak, itu gila!"


"Percayalah pada kami–"


Ellis mengarahkan Simorgh untuk menikung tajam.


"B-Baik..."


"Satu-satunya pilihan adalah bertaruh..."


Seperti yang sudah diduga sebelumnya, mereka berani mengambil resiko ini karena mereka pernah terlibat berkali-kali dalam pertempuran sengit.


Sambil mempersiapkan diri, mereka mengangguk dan menunduk dengan tenang.


"Lompat-Sekarang!"


Ellis berteriak.


Kemudian, Claire dan Rinslet melompat dari punggung naga terbang yang mengamuk.


Boom–Dengan gemuruh, angin yang dihasilkan dari sihir roh menyebabkan dua cewek itu mengapung dengan enteng di udara. Dengan momen yang sempurna, Simorgh memposisikan dirinya di bawah mereka, sehingga memungkinkan Ellis untuk menangkap Claire, sementara Kamito menangkap Rinslet, kemudian menarik mereka dengan aman ke atas.


"... Ah, K-Kamito-san!?"


Rinslet langsung tersipu malu ketika wajahnya bertabrakan dengan dada Kamito. Ketika mengendus wangi cewek yang khas, jantung Kamito pun berpacu.


–Lalu, Simorgh kehilangan keseimbangan saat terbang.


"Membawa empat orang tampaknya terlalu membebaninya. Kita akan mendarat di alun-alun itu."


"Ya, aku mengerti–"


Menanggapi perintah Ellis, Simorgh mengepakkan sayap raksasanya dan mendarat di sebuah alun-alun terbuka yang lebar.


"–Kau sudah bekerja sangat keras, Simorgh."


Ellis membelai punggung Simorgh untuk menghiburnya.


Roh angin mengaok beberapa kali, kemudian lenyap menjadi partikel cahaya di udara. Di saat yang sama, elemental waffe Ray Hawk muncul di tangan Ellis.


"...Kita masih jauh dari Scorpia."


Claire membalikkan tatapannya ke istana yang menjulang tinggi, disana tampak beberapa bangunan yang jauh.


"Ya, tapi tidak terlalu jauh. Kita bisa menuju ke arah sana secara langsung–"


"–Tapi, kelihatannya tidak mudah!"


Kamito berteriak sambil menebas tentakel yang menyerang.


Ditutupi oleh tentakel yang tak terhitung jumlahnya, Zohar telah berubah bentuk menjadi sebuah kota iblis.


"...Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia sama sekali. Apa yang terjadi dengan semua penduduk kota?"


Ellis berbicara dengan ekspresi serius.


"Lihat itu–"


Claire menunjuk ke atas sebuah bangunan yang menyerupai tempat suci.


Banyak benda menyerupai kepompong berbagai ukuran yang menggantung dari atap, dan berdenyut secara menyeramkan.


"Jangan bilang–"


"Ya, kemungkinan besar Leviathan menggunakan kepompong-kepompong itu untuk mengisi kekuatan sucinya dari warga...."


"Semua kepompong itu adalah–"


"Sungguh kejam sekali–"


Ellis berseru dengan marah.


"Bisakah kita menyelamatkan mereka?"


"Sayangnya, menyelamatkan mereka satu per satu akan menghabiskan banyak waktu..."


Terlihat pancaran emosi di mata Claire. Dia mempersiapkan cambuknya yang menyala.


"Jadi, menghancurkan inti Leviathan adalah satu-satunya pilihan huh..."


Karena bereaksi terhadap kekuatan suci tim Kamito, tentakel mulai menggeliat dan bergerak secara aktif.


"Saatnya untuk menyerang–"


"Ya!"


Bagian 4[edit]

Ketika tim Kamito telah berhasil menyerang Zohar...


Di dalam Demon Sirkuit yang berperan untuk mengendalikan Leviathan, jauh di bawah tanah Scorpia, sedang terjadi sesuatu yang mengerikan.


"...Ah, gagagaga ... Sjora ... -sa, ma ... Ahhhhhh!"


Seorang Princess Maiden muda sedang melantunkan doa sembari muntah darah, kemudian dia roboh pada lingkaran sihir di lantai. Ketika kekuatan sucinya terperas habis, si gadis itu muda mati dengan cara seperti itu.


...Sudah yang keenam. Jika dihitung mulai korban pertama, Valmira, maka dia adalah yang ketujuh.


"Fufu, sudah habis ya? Aku harus cepat-cepat mempersiapkan pengorbanan berikutnya..."


Hierarch Sjora Kahn–bukan, lebih tepatnya monster yang dahulu bernama Sjora Kahn– dia sedang menatap mayat para Princess Maiden yang berbaring di kuil, dan dia pun tersenyum dengan gembira.


Jantung raksasa yang melayang di udara berdetak dengan keras.


Jantung ini adalah inti roh militer kelas strategis, Leviathan.


Sjora Kahn sekarang bergabung dengan inti itu.


Setengah dari tubuh cantiknya yang berupa daging terkubur di dalam jantung itu.


Untuk mengendalikan senjata yang seharusnya dioperasikan oleh puluhan Elementalist, bahkan Sjora Kahn tidak punya pilihan selain melakukan metode seperti ini.


Namun, ada efek samping ketika dia bergabung dengan inti Leviathan.


Karena indera mereka bekerja bersamaan, maka dia sekarang menyadari segala sesuatu yang terjadi pada Zohar, seolah-olah dia merasakan sesuatu yang merambat di permukaan kulitnya.


Memang, misalnya, ada gangguan dari Ren Ashbell, sang penerus Raja Iblis.


"K-Kuku, sungguh konyol... skor kita dari Ragna Ys dapat diselesaikan sini–"


Bibir Sjora Kahn melengkung, sementara dia mulai merapalkan mantra.


Itu adalah mantra terlarang High Ancient yang diturunkan oleh sekte Raja Iblis, sangat mirip dengan pelantunan Soul Recall yang Rubia telah bacakan di bawah tanah Ragna Ys, ketika Blade Dance berlangsung.


"Bangunlah di sini dan sekarang. Yang tergelap dan tidur di Zohar–"


Bagian 5[edit]

"–Kalian semua, berubahlah menjadi arang!"


Claire mengayunkan cambuk menyala, dan menyapu tentakel berdaging yang menggeliat. Namun tidak seperti yang dia katakan, apinya begitu kuat sampai-sampai tentakel-tentakel itu terbakar habis tanpa menyisakan sekeping arang pun, kekuatannya sudah jauh bertambah kuat.


"A-Apa sih yang kau lakukan selama latihan!?"


"Ini belum apa-apa. Aku masih bisa melakukan lebih baik dari ini!"


Sambil menjawab Kamito yang berjalan di sampingnya, Claire mengayunkan cambuknya lagi dengan keras. Sabetan api ke segala penjuru menghancurkan tentakel yang tak terhitung jumlahnya dalam sekejap mata.


"Kami juga–" "Kami tidak akan ketinggalan!"


Ellis dan Rinslet juga menyiapkan Elemental Waffe milik mereka masing-masing


"Turunlah, proyektil pembeku iblis es– Freezing Meteor!"


Proyektil es yang tak terhitung jumlahnya meluncur secara otomatis dan menghujani tentakel-tentakel itu–sesaat setelahnya, semua proyektil meledak, dan menghasilkan bunga es yang mekar dengan indah.


"Menakjubkan–"


Kamito hanya bisa berteriak kagum.


"Fufu, ini adalah hasil latihanku di Dracunia!"


Rinslet mengibaskan rambutnya dengan bangga.


"Aku juga tidak boleh ketinggalan–"


Sambil mengatakan itu, Kamito baru saja menuangkan kekuatan suci pada dua pedangnya.


"Kamito, kau adalah kartu asnya. Jadi, hematlah kekuatan sucimu sebanyak mungkin."


Namun, Claire mengingatkannya.


"Y-Ya, aku mengerti–"


Bahkan, pada saat ini, Kamito mungkin bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengayunkan pedangnya.


Scorpia terlihat di ujung jalan utama, dan tertutupi oleh kepompong yang tak terhitung jumlahnya.


Itu adalah sebuah bangunan dengan gaya arsitektur aneh, dilengkapi kubah besar di bagian atas.


"Di sana huh!?"


Kamito memusatkan kekuatan suci di kakinya, menendang tanah, dan melesat. Claire, Ellis dan Rinslet juga mengikutinya dari dekat.


"Tidak ada tentara yang menjaga istana…."


"Mungkin seperti orang-orang kota, mereka ditelan oleh Leviathan."


Ketika Kamito menjawabnya–


CRAAAAASH!


"...!?"


Tiba-tiba, sebuah bangunan di dekat jalan runtuh, sehingga menghasilkan hujan puing-puing material di atas kepala mereka–


"Oh angin pelindung dunia, lindungi kami – Wind Shield!"


Ketika mereka hampir terkubur di dalam reruntuhan, sihir roh diaktifkan oleh Ellis. Berpusat di sekitar tombak yang Ellis angkat, auman badai menyapu puing-puing bangunan itu, dan menjauhkannya.


"A-Apa !?" "Apa yang sedang terjadi!?"


Berikutnya, dari balik gedung runtuh, lengan raksasa perlahan-lahan muncul.


"Itu...!"


ROOOOOAAAAR!


Gemuruh mengguncang atmosfir di sekitarnya.


Boom – Tanah berguncang ketika roh humanoid raksasa berjalan mendekat.


Itu adalah Glasya Labolas, roh militer kelas taktis yang pernah Kamito lawan ketika pertama kali tiba di Academy. Dibandingkan dengan roh militer lainnya, roh ini relatif mudah untuk dikontrol, dan memiliki kekuatan yang mencengangkan, itulah mengapa Glasya Labolas banyak digunakan oleh beberapa negara selain Ordesia.


"...Cih, ini merepotkan."


Sambil menatap raksasa yang menjulang di atas awan debu, Kamito menggerutu.


Sesosok roh militer kelas taktis tidak akan memberikan banyak ancaman. Meskipun roh seperti ini merupakan lawan yang sulit bagi pelajar Academy yang belum pernah mengalami pertarungan sesungguhnya, setidaknya dia bukanlah lawan Kamito, atau para cewek yang kemampuannya telah banyak meningkat setelah banyak berlatih. Namun–


"...K-Kelompok lainnya mendekat!"


Claire berteriak.


Suatu pasukan yang kurang-lebih terdiri dari sepuluh roh aneh, sekarang sedang mendekat sembari menghentak tanah.


Kamito menuangkan kekuatan suci pada kedua pedang di tangannya. Dengan begitu banyaknya roh militer, bahkan Claire atau yang lain pasti akan mengalami kesulitan–


(...CIh, tidak ada waktu untuk meladeni mereka semua–)


Namun, tangan Kamito yang mencengkram pedang dengan keras, dihentikan oleh sentuhan lembut Ellis.


"Ellis?"


"Serahkan padaku. Kalian berdua pergilan."


"Tapi..."


"Jangan khawatir. Tak peduli apakah diriku ataukah Simorgh, kemampuan kami telah meningkat pesat setelah menjalani latihan."


Ellis tersenyum, kemudian menghentakkan tombak elemental waffe di tanah.


"Meskipun menghabiskan banyak kekuatan suci, selama pertempuran bisa diselesaikan dengan cepat, maka tidaklah masalah bagiku."


Ellis menutup matanya. Tak lama berselang, seluruh tubuhnya bersinar dengan kekuatan suci.


"...I-Ini adalah!?"


"Oh roh iblis angin, tunjukkan kekuatan sejatimu! Elemental Waffe, bentuk kedua – Ray Hawk Ragna!"


Ellis meneriakkan mantra pelepasan.


Pada saat itu, tombak elemental waffe melepaskan cahaya menyilaukan, dan langsung berubah bentuk–


Tombak itu terukir dengan pola spiral yang menyerupai angin puyuh. Hiasan menyerupai kepala burung suci muncul pada ujung mata pisaunya. Ujung tajam tombak terpecah menjadi tiga mata pisau yang melebar bagaikan sayap, dan memancarkan cahaya suci.


"Bentuk kedua elemental waffe!?"


"Ya, ini adalah kekuatan baru yang Simorgh dan aku telah kuasai setelah berlatih!"


Ellis mengeluarkan tombak dan memutarnya sekali di atas kepalanya. Gerakan sederhana ini mampu memanggil pusaran angin puyuh yang menyapu semua puing-puing di sekitarnya.


"... S-Sungguh menakjubkan"


"Dibandingkan dengan elemental waffe sebelumnya, levelnya sekarang benar-benar berbeda..."


Rinslet dan Claire terkagum-kagum, sedangkan Kamito juga terkesan di dalam batinnya.


Memang, Ellis telah membuat kemajuan signifikan dalam kualitas dan kuantitas kekuatan suci dibandingkan dengan sebelumnya.


Dia akhirnya cukup kuat untuk mengeluarkan kekuatan sejati iblis angin.


Dengan rambut ekor kudanya yang melambai-lambai ketika ditiup angin, Ellis berdiri di depan roh militer kelas taktis itu.


Mungkin makhluk-makhluk itu bereaksi terhadap kekuatan suci intens yang dilepaskan oleh Ellis–


ROOOOOOOAAAAAAR!


Mata raksasa itu bersinar merah sembari mereka menghujamkan lengan besarnya pada Ellis.


"Ellis!"


Kamito bergegas berlari menuju Ellis, dan berniat untuk melindunginya. Namun–


Ellis melompat tinggi dan mengayunkan tombak elemental waffe.


Sesaat berikutnya–


"Tembus musuh-musuhku, tombak suci penghukum – Ray Hawk Ragna!"


Tombak yang dilemparnya melesat lurus di udara, lantas menusuk dada roh raksasa!


Dada roh raksasa robek terbuka, meninggalkan lubang besar. Namun, seperti yang telah diduga sebelumnya, daya tahan roh militer kelas taktis jauh melampaui roh biasa. Oleh karena itu, mereka belum hancur.


Namun–


"-Oh iblis angin, mengamuklah!"


Ellis berteriak.


Tombak yang tertanam di dada roh raksasa menghasilkan badai angin pada ujungnya, dan mulai berputar dengan kecepatan super tinggi.


Angin yang meraung-raung langsung membabat habis armor roh raksasa, lantas menusuk perut dengan momentum yang keras.


Tumbang!


Roh raksasa roboh ke tanah, dan menghasilkan kepulan awan debu.


"Tidak mungkin, dia menembus armor roh militer hanya dengan sekali serang!?"


Kamito terkejut dan kehabisan kata-kata.


Kekuatan serangan yang barusan itu cukup untuk menyaingi skill pedang naga milik Leonora.


Setelah menghancurkan roh raksasa, Ray Hawk Ragna berputar-putar di udara sebelum akhirnya kembali ke tangan Ellis.


"Sudah lihat jurus baruku? Rinslet dan aku akan menangani musuh-musuh di sini."


Ellis mengatakan itu sembari memutar-mutar tombaknya di tangan dengan cekatan.


"Kami akan menangani ini."


Sambil mengatakan itu, Rinslet menyiapkan busur sihir es miliknya, dan mengibaskan rambutnya.


Memang, meskipun masih berstatus pelajar Academy, kekuatan Ellis telah jauh melampaui ksatria roh.


Dengan bekerja sama dengan Rinslet, yang kemampuannya juga telah berkembang, mereka harusnya mampu menangani situasi di sini.


Bruk, bruk – Raksasa lainnya mendekat.


"...Baiklah. Kami serahkan urusan disini pada kalian berdua."


"Ya, tenang saja." "Aku akan mengalahkan mereka semua."


Kedua cewek mengangguk dengan ekspresi penuh percaya diri.


"Ayo kita pergi, Kamito–"


"Ya!"


Di bawah hujan panah es, Kamito dan Claire mulai berlari.


STnBD V16 228.jpg


Bab 11 – Hantu Benteng Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Zapzapzapzapzap–


Halilintar yang intens meledak ketika melintasi padang pasir berdebu. Dinding kota Zohar, kota iblis yang telah bergabung dengan Leviathan, saat ini sedang bersinggungan dengan penghalang Mordis.


Saat terbakar oleh petir suci, tentakel-tentakel menakutkan itu meronta-ronta kesakitan.


"...Ini berfungsi. Sepertinya kita bisa menunda waktu, Rubia-sama."


Berdiri di atas tembok kota, Fianna menoleh ke belakang pada Rubia.


"T-Tidak–"


"...Eh?"


Saat melihat masa lalu Fianna yang muram, Rubia menggeleng.


Fianna berbalik dan memandang Zohar sekali lagi.


–Hanya dalam sekejap mata, tentakel yang seharusnya sudah hancur, kini beregenerasi lagi.


"...B-Bagaimana mungkin!?"


"Leviathan memiliki fungsi regenerasi yang sangat ampuh. Jadi, bahkan penghalang strategis dengan skala seperti ini tidak sanggup mengulur waktu...?"


Fianna bisa merasakan sedikit kecemasan pada nada bicara Rubia.


–Penghalang itu hanya bertahan selama beberapa menit.


"Fianna-sama, penghalang telah ditembus!"


Seorang Princess Maiden yang mengawasi dinding memberikan laporannya dengan hampir menjerit.


Bongkahan tentakel yang terus beregenerasi, menyerang penghalang tanpa henti meskipun cahaya suci membakar mereka, akhirnya menciptakan lubang besar pada penghalang. Setelah ditembus, penghalang akan menjadi rapuh dan dengan cepat runtuh dalam reaksi berantai.


"...!"


Fianna menggigit bibirnya. Meskipun dia tidak pernah mengira bisa menahan roh militer kelas strategis hanya dengan penghalang saja–


(Aku tidak mengira bahwa penghalang itu bakal ditembus secepat ini.)


Penghalang berbentuk kubah raksasa yang meliputi daerah sekitar Mordis telah lenyap. Baris pertahanan terakhir kota yang masih tersisa hanyalah dinding batu.


Ditutupi dengan sejumlah besar tentakel, dinding Zohar mendekat dengan kepulan awan debu dan pasir di belakangnya.


"...! Sebentar lagi terjadi tabrakan! Semuanya, siapkan diri kalian untuk menahan benturannya!"


Fianna berteriak kepada para Princess Maiden di sekitarnya.


Ketika semuanya yang berada di dinding berjongkok–


BOOOOOOOM!


Tepi luar Zohar bertabrakan dengan tembok kota Mordis.


Pada zona tubrukan, seluruh potongan dinding batu tercungkil. Menara pengawaspun langsung hancur.


"Kyahhhh!"


Terpental oleh gelombang kejut, Fianna jatuh dari dinding ke jalanan kota.


Sekujur tubuhnya pun terasa sakit, membuat dia tak bisa bernapas untuk beberapa saat.


(...Bagaimana keadaan semuanya!?)


Dengan kesadaran yang masih kabur, Fianna melihat sekelilingnya.


Seperti yang dia alami, para Princess Maiden di dinding yang bertugas menjaga penghalang telah terpental oleh dampak tubrukan. Bahkan berdiri adalah hal yang sulit bagi mereka. Beberapa dari mereka dahinya berdarah, ada yang tak sadarkan diri, sementara yang lainnya mengerang kesakitan dan kakinya terpelintir ke arah yang tidak wajar.


"...Ah, guh, ooh..."


"...Tenang. Aku akan menyembuhkanmu dengan segera!"


Dengan bermaksud untuk menyembuhkan, Fianna mulai merapal sihir roh elemen suci.


–Tapi pada saat itu...


Sebuah suara menjijikkan merobek udara.


Detik berikutnya, tentakel menakutkan menjalar pada tembok kota Mordis, lantas menyerang para Princess Maiden yang sudah tidak bisa bergerak satu per satu.


"Kyahhhhhhh!" "Eeek–!" "T-Tidaaaaakkkkkk!"


Jeritan para Princess Maiden terdengar sesaat, kemudian menghilang seketika. Pada setiap ujung tentakel terbuka rahang yang lebar, dan langsung menelan seluruh Princess Maiden.


"–Oh raja suci, aku mohon kepadamu untuk menghukum si pelaku kejahatan – Holy Edge!"


Pada gerombolan tentakel yang masuk, Fianna menggunakan pedang sihir roh untuk merobek mereka.


–Namun, perlawanan semacam ini tidak lebih dari setetes air di lautan melawan banjir gelombang tentakel yang menyerbu dinding. Tampaknya tentakel-tentakel itu tidak bergerak di bawah kendali manusia. Sepertinya mereka hanya menyerang dalam merespon kekuatan suci para Princess Maiden.


Beberapa tentakel yang lolos dari hujaman pedang roh sihir, mendekati Fianna.


(...!)


Fianna hanya bisa menutup matanya.


Namun, saat itu juga–


"Bahkan waktu tak dapat lolos dari takdir membeku, lautan api bersuhu nol – Frost Blaze!"


Deruan api biru Elstein segera menghancurkan tentakel dalam sekali serangan.


"...! Rubia-sama..."


"Jangan menyerah, Fianna Ray Ordesia–"


Dengan Frost Blaze yang membungkus tangan kirinya, dia berdiri di atas tembok kota.


Sosoknya, dengan rambut merah panjang yang berkibar oleh hembusan angin–


Itu adalah citra sang putri ideal yang pernah Fianna kagumi di masa lalu.


"–Percayalah pada Raja Iblismu."


Bagian 2[edit]

Di bawah telapak kaki terasa getaran seperti bumi berguncang–


Yang bisa mereka dengarkan adalah suara-suara pertempuran di belakang–


Kamito dan Claire berlari dengan penuh konsentrasi menuju Scorpia.


"Jenis latihan macam apa yang telah kau jalani dalam beberapa hari terakhir?"


Sambil berlari, Kamito bertanya pada Claire yang berada di sampingnya. Meskipun dia bisa tau sekilas bahwa cewek-cewek ini sekarang jauh lebih kuat daripada sebelumnya, dia tidak pernah mengira peningkatannya akan sepesat ini….


"Bukannya berlatih, yang kurasakan adalah, aku sudah menaklukkan rintangan yang mengganjal di dalam hatiku–"


"Apa maksudmu?"


"Umm, sulit untuk menjelaskan dengan pas... Tapi, bagaimanapun, seperti itulah intinya."


"Apa sih maksudmu...?"


Ketika Kamito bingung, dia mendengar suara Restia dalam pikirannya.


'Sejak awal, cewek-cewek ini memiliki potensi yang sangat kuat yang terpendam di dalam diri mereka. Namun, masing-masing dari mereka tidak mengimbanginya dengan kekuatan mental yang baik, sehingga itulah yang menghalangi mereka berkomunikasi dengan roh-roh mereka…'


"Dengan kata lain, mereka telah melepaskan potensi tersembunyi dalam diri mereka, huh?"


–Sesaat kemudian, sebuah gerbang besar muncul di hadapan mereka ketika mereka berlari di sepanjang jalan.


Batas ini dan seterusnya adalah wilayah Scorpia.


"Kamito, aku merasakan sesuatu yang menjijikkan."


"Ya, aku mengerti apa yang kau maksudkan..."


Mereka berdua berhenti, lantas mengamati sekitar.


Pada saat itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Gerbang istana terbuka dari dalam dengan suara berat.


"...!?"


Yang bisa mereka lihat di balik pintu itu adalah sebuah taman besar.


Di tengah taman, sesuatu yang menyerupai racun gelap berkeliaran.


"Apa itu?"


Seakan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Claire yang sedang mengerutkan kening…


Racun gelap itu berguncang dengan keras dan berubah bentuk.


Kemudian tujuh ksatria mengenakan armor berwarna hitam legam pun muncul.


Mereka masing-masing menghunuskan pedangnya, dan memasang kuda-kuda. Sebuah mata merah tunggal bersinar dengan cahaya menakutkan di balik helmnya.


Adegan ini, seperti inkarnasi kegelapan, ini adalah sesuatu yang Kamito pernah lihat sebelumnya.


"...Mungkinkah mereka Nepenthes Lore!?"


Kamito terkaget sembari menelan suaranya.


Nepenthes Lore adalah monster yang memiliki kekuatan Raja Iblis ketika Blade Dance berlangsung, mereka pernah dibangunkan oleh Restia. Makhluk itu pernah menghancurkan beberapa tim perwakilan nasional, bahkan menghancurkan Knight of the Dragon Emperor yang dipimpin oleh Leonora.


Nepenthes Lore jauh lebih menakutkan dan lebih kuat daripada roh militer kelas taktis yang mereka hadapi sebelumnya.


–Dan sekarang, tujuh makhluk sejenis sedang menghadang mereka.


"Apa-apa’an ini ... Mengapa ada monster kegelapan di sini...?"


'Nepenthes Lore adalah hasil akhir ketika manusia termakan oleh kekuatan Raja Iblis. Sekte Raja Iblis mengawetkan mayatnya. Sjora pasti telah menggunakan kekuatan Demon Circuit untuk membangkitkan mayat ini ...'


"...I-Itu curang..."


Diselimuti racun hitam, tujuh Nepenthes Lores bergerak tanpa suara untuk mengelilingi Kamito dan Claire.


Smbari menyiapkan Elemental Waffe milik mereka masing-masing, Kamito dan Claire berdiri dengan punggung saling berhadapan.


Sesaat berikutnya–


"Claire, awasi aku dari belakang–"


"Hah?"


Seketika mendengar apa yang dikatakan Kamito, Claire berseru terkejut.


Tempo hari, Kamito biasanya mengatakan hal-hal seperti "tolong lindungi aku", bukannya "awasi aku dari belakang." Meskipun dia sudah mengakui kekuatan Claire, dia tidak pernah mempercayakan keselamatannya pada orang lain tanpa sarat. Namun–


"Aku sedikit kewalahan. Bukankah kau sudah berlatih untuk menjadi lebih kuat?"


Sekarang, rekan-rekannya di Tim Scarlet telah berkembang pesat. Itu cukup bagi Kamito, yang selalu bertarung sendirian, untuk mempercayakan keselamatannya kepada mereka tanpa rasa khawatir.


"...B-Baiklah, serahkan padaku!"


Claire mengangguk dengan ekspresi gembira di wajahnya, kemudian di menebaskan cambuknya, Flametongue.


"...Aku akan menggunakan jurus khusus yang aku pelajari selama latihan. Ini akan memakan waktu, tapi itu tidak masalah bagimu, ‘kan?"


"Apakah jurus itu bisa berguna pada Nepenthes Lore?"


"Ya."


Claire mengangguk.


"Aku mengerti, kalau begitu sampai jurus itu siap, akulah yang akan menjagamu…"


Kamito menyiapkan pedang gandanya, dan berhadapan melawan tujuh Nepenthes Lores.


Di belakangnya, Claire mulai mengucap kata-kata yang terdengar seperti perapalan mantra–


–Seketika itu, racun hitam meluas sekaligus.


Racun bergelombang keluar dari seluruh tubuh Nepenthes Lores, berubah menjadi cambuk, dan berayun sekaligus.


"...!?"


Pada saat yang sama, Kamito dan Claire melompat ke kiri dan kanan.


Ubin batu di lantai alun-alun meledak, lantas berubah menjadi rawa racun.


Dengan gemuruh yang menakutkan, tujuh Nepenthes Lores menyerang.


(... Cih mereka bergerak sangat cepat meskipun tubuhnya begitu besar!)


Kamito memusatkan kekuatan suci di bawah kakinya, meledakkannya, kemudian mengayunkan Demon Slayer pada Nepenthes Lore di depannya.


Armor hitam legam hancur, kemudian memuncratkan racun hitam ke atas. Meskipun setiap kontak dengan racun akan merusak dan menghabiskan kekuatan suci, Est sang roh pedang tertinggi memiliki sifat anti-sihir yang bisa menetralisir racun tersebut.


(Satu tumbang–)


Bahkan tanpa melihat musuh yang roboh, Kamito segera beralih ke pergerakan berikutnya.


Seraya menuangkan kekuatan suci pada Vorpal Sword dengan genggaman terbalik, dia menyerang dan membidik tenggorokan Nepenthes Lore lainnya. Kemudian–


"–Tembuslah, Vorpal Blast!"


Dia berteriak. Petir demonic hitam legam langsung meledak dari pedangnya, kemudian menghancurkan kepala monster itu.


(Dua tumbang!)


Kamito segera berbalik untuk menuju target berikutnya. Pada saat itu–


'–Masih belum, Kamito!'


Est memperingatkan dia.


"...!?"


Kamito langsung merunduk. Ujung pedang raksasa langsung menyapu udara tepat di atas kepalanya.


Pedang itu ditebaskan oleh Nepenthes Lore yang barusan telah kehilangan kepalanya.


Injakan kaki besar berlapis armor dihujamkan padanya. Kamito berguling di tanah dan nyaris saja terkena injakan penghancur itu. Dengan menggunakan momentum menghindar, dia berdiri dan melompat ke belakang.


Kedua Nepenthes Lores, yang seharusnya telah menderita luka fatal, menyerang dengan pedang mereka seolah-olah tak pernah terjadi apapun pada tubuhnya.


(Monster sialan–)


Kamito mengumpat dengan suara pelan.


(...Jadi satu-satunya cara untuk mengalahkan mereka adalah dengan mencincang tubuhnya sampai terpisah, iya kan?)


Sejak awal, skill pedang Kamito tidak cocok untuk melawan musuh non-manusia. Semua skill membunuh yang pernah dia pelajari di Sekolah Instruksional, mengajarinya untuk mengincar titik lemah pada tubuh manusia. Dalam kasus Greyworth, skill pedang yang diajarkan olehnya, pada dasarnya adalah teknik-teknik untuk melumpuhkan pergerakan manusia, sehingga dia bisa memenangkan Blade Dance dengan efektif. Tentu saja, dia memiliki jurus seperti Bursting Blossom Spiral Blade Dance untuk melawan target yang besar, tapi teknik itu terlalu merugikan jika ditinjau dari menurunnya kekuatan fisik dan habisnya kekuatan suci. Menghabiskan banyak kekuatan suci dalam situasi saat ini, bisa berakibat dengan bangkitnya kekuatan Ren Ashdoll.


(...Itu berarti, mereka bukanlah musuh yang bisa kukalahkan jika aku tidak serius.)


–Bagaimanapun juga, mereka pernah menjadi calon Raja Iblis di masa lalu, seperti Kamito. Berkat kekuatan roh Crusader yang disegel di dalam mata Milla Bassett, Tim Scarlet berhasil mengalahkan Nepenthes Lore waktu itu.


Sembari mengatur ulang kuda-kudanya, Kamito melirik Claire di belakangnya. Cewek itu pasti sedang mempersiapkan jurus yang cukup kuat. Seraya dengan gesit menghindari serangan dari cambuk racun, dia terus merapalkan mantranya.


Dua Nepenthes Lores maju untuk menyerang Kamito.


Sembari menuangkan kekuatan suci pada kedua pedangnya, Kamito melompat.


"Absolute Blade Art, Bentuk Ketiga, Alpha Variant – Shadowmoon Waltz, Mayor Double Turn."


Ini adalah variasi jurus pedang ganda pada anti-army Shadowmoon Waltz. Ini adalah jurus baru yang dikembangkan oleh Kamito sendiri, setelah pertarungannya melawan Greyworth. Kiri dan kanan, kedua pedangnya menebas ke segala arah, dia langsung memotong semua lengan Nepenthes Lores.


Namun, itu bukanlah luka fatal. Sebagai perwujudan racun hitam, Nepenthes Lore bisa dengan mudah memperbaiki bagian tubuhnya yang rusak.


"Absolute Blade Art, Bentuk Ketiga, Beta Variant–"


Dia segera membalik pedangnya, menebas Nepenthes Lore secara horizontal dengan sekali tebas.


(–Apakah berhasil!?)


Dari sudut matanya, dia bisa melihat tubuh Nepenthes Lore tercincang menjadi dua bagian.


Meskipun dia tidak tau apakah itu berhasil mengalahkan mereka, setidaknya regenerasinya tidak secepat lengan yang terpotong.


Namun–


'–Kamito, menghindar!'


Suara Restia terdengar dalam pikirannya.


Tidak lama setelah dia berbicara, bagian setengah atas tubuh Nepenthes Lore meledak.


Racun hitam langsung saja menyebar dan hendak menelan Kamito.


(...! Sial–)


Racun hitam adalah racun merepotkan yang akan mengabiskan kekuatan suci dalam satu sentuhan. Jika tersiram dalam jumlah besar, maka kekuatan suci Kamito pasti akan terlahap sekaligus, sehingga dia akan kehabisan kekuatan suci. Dengan begitu, sumber kekuatan Kamito lainnya akan terbangun, yaitu Ren Ashdoll.


Kamito melompat, mencoba untuk mengindar–


Namun, Nepenthes Lore yang lain telah meregenerasi lengannya, kemudian dia menangkap kaki Kamito dengan menggunakan lilitan cambuk racun.


(...!?)


Lalu....


"Oh api, turunkan malam merah pada dunia – Crimson Judgement."


Pandangan Kamito langsung berwarna merah terang.


Api merah melahap kegelapan, dan langsung melahap tubuh besar Nepenthes Lore.


"...Apa!?"


Kamito tak bisa bicara, dan hanya bisa menahan napas. Mungkinkah api ini adalah–


–Kobaran api yang menyala intens kemudian mulai berubah wujud menjadi gadis muda mungil.


Yang muncul adalah–


Seorang gadis cantik dengan rambut merah, semua anggota tubuhnya diselimuti api.


"Scarlet Valkyrie – Ortlinde. Aku baru saja mendapatkan wujud di dunia ini, setelah mendengar seseorang yang memanggil namaku yang sebenarnya."


Sembari mengatakan itu, gadis bertelinga kucing menunduk hormat dengan ekspresi serius pada wajahnya.


Bagian 3[edit]

"–Tenanglah! yang masih bisa bergerak, perbaiki penghalangnya sekarang juga!"


Seraya berdiri di atas tembok kota yang telah roboh, Fianna berteriak untuk menyemangati para Princess Maiden yang tersisa.


Saling serang masih terjadi pada tepi kota Zohar.


Tentakel Leviathan, merayap di tembok kota, dan mulai menyerang seperti gelombang yang mengamuk.


Tidak puas dengan Zohar saja, makhluk itu mungkin juga berencana untuk bergabung dengan Mordis. Tingkat invasi ini lebih cepat daripada yang telah diprediksi sebelumnya.


(...Hmm, kalau begini terus, bahkan wilayah kota ini akan dimakan!)


Meskipun roh ksatrianya yang telah dipanggil mengayunkan pedang raksasanya untuk menebas tentakel-tentakel itu, upaya ini hanya bagaikan buih di lautan.


"Fianna, mundur ke belakang. Kau adalah ratu Ordesia Yang Sah. Kita tidak boleh kehilangan dirimu di sini–"


"...! Rubia-sama..."


Rubia, berdiri sambil saling menopang pundak dengan Fianna, pada nada bicaranya terdengar suatu kelelahan yang sangat berat.


Setelah melepaskan Frost Blaze terus menerus, kekuatan sucinya hampir habis.


Andaikan dia dalam kondisi prima, dia bisa saja membakar habis semua tentakel, tapi sekarang–


"...Cepatlah... Serahkan urusan di sini padaku–"


"Tidak–"


"...Apa?"


"Aku tak ingin kembali menjadi seorang putri yang selalu dilindungi oleh orang lain–"


Sambil menggunakan sihir roh untuk menekan serangan tentakel, Fianna menjawabnya.


Matanya yang berwarna senja menatap lurus pada Zohar, yaitu tempat yang dituju oleh tim Kamito.


"Aku akan percaya pada Kamito-kun-aku akan percaya pada rekan-rekanku dan bertarung di sini."


Dia tidak boleh membiarkan dirinya mundur pada saat ini, untuk membayar kepercayaan teman-temannya yang sudah memberikan kesempatan bergabung dengan Tim Scarlet, meskipun dirinya hanyalah seorang putri yang tak berguna, bahkan tidak mampu mengendalikan roh.


"...Kau selalu memiliki sisi keras kepala."


Rubia mengangkat bahunya yang tak berdaya, sambil menunjukkan senyum kecut di wajahnya.


"Oh, Rubia-sama? Apakah barusan kau tersenyum?"


"..."


Menghadapi Fianna yang menatapnya dengan heran, Rubia hanya bisa memalingkan pandangannya.


...Melihat dia bereaksi seperti itu, Fianna tertawa. Sudah berapa lama semenjak terakhir kali dia melihat senior Princess Maiden-nya ini tersenyum–?


"Kita tidak boleh membiarkannya menyerang area kota. Cegat dia di sini."


"Ya!"


Bagian 4[edit]

"Scarlet..."


Melihat gadis yang muncul di depan matanya, Kamito terkejut.


Scarlet Valkyrie – Ortlinde.


Menurut Restia, dia adalah salah satu senjata roh yang mengamuk selama Perang Roh, dia adalah salah satu yang tersisa dari 13 roh Series Valkyrie terkuat.


"Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu dengan wujud ini. Masternya master–"


STnBD V16 247.jpg


Dengan wujud manusia seperti itu, Scarlet membungkuk dengan hormat sekali lagi. Meskipun panggilan ‘masternya master’ sedikit mengganggu Kamito, dia hanya bisa mendesah pasrah, sekarang bukan waktunya untuk mempermasalahkan tentang hal itu.


Kamito mengarahkan pandangannya pada Claire.


"Claire, jadi kau sudah bisa melepaskan nama yang Scarlet yang sebenarnya."


"...Y-Ya... Namun ini cukup... menguras tenaga..."


Sambil terengah-engah, Claire sedikit mengangkat jempolnya.


Ini adalah "jurus khusus" yang telah dia latih di Dracunia–


Memang, tidak ada yang lebih handal dari ini.


Di hadapan kekuatan luar biasa roh senjata senior, Nepenthes Lores tampak waspada, kemudian mereka berhenti bergerak.


Dengan telinga kucingnya yang berkedut, api di seluruh tubuh Ortlinde langsung menyala hebat.


"–Bagus sekali, waktunya untuk memulai pemusnahan, master."


"Ya..."


Ketika Kamito mempersiapkan pedang gandanya lagi...


Raungan terdengar di dekatnya, sepertinya suara itu berasal dari bawah tanah.


(...Apa!?)


Karena merasakan kehadiran sosok yang menakutkan dan kuat, napas Kamito pun terhenti sejenak.


Dengan ekspresi gugup, Claire dan Scarlet mengamati sekitar mereka. Kemudian...


Di tengah taman yang luas, segumpal massa racun gelap dan padat, mulai perlahan-lahan merubah wujudnya menjadi manusia.


"... Masih ada lagi!?"


"Tidak, itu adalah–"


Kamito menatap tajam pada racun yang memadat itu.


Kegelapan semakin mampat dan membentuk wujud seorang manusia yang ramping, dan lebih kecil daripada Nepenthes Lore.


Ditutupi oleh kegelapan hitam legam, itu tampak seperti bayangan yang bisa saja hilang kapanpun.


Namun–


(–Makhluk ini bukanlah monster biasa.)


Kamito mengetahuinya secara naluriah. Rasa merinding menjalar di tengkuknya, sehingga membuat seluruh tubuhnya gemetar.


Pada wajah yang terbuat dari bayangan gelap, sepasang mata merah menyala, bersinar dengan cahaya mengerikan.


'–Tidak mungkin, bahkan makhluk seperti ini telah dibangkitkan!?'


"...! Kau tau dia, Restia?"


'Ya, itu adalah calon Raja Iblis terkuat, lahir di Kerajaan Suci tujuh ratus tahun yang lalu–'


Petir hitam meledak dari Vorpal Sword di tangannya, seolah-olah mengeluarkan peringatan.


"...!?"


Bayangan gelap itu dengan tenang mengangkat pedangnya.


Dilihat dari sikap, gerak, dan perilakunya, entah kenapa Kamito merasakan sesuatu yang sudah tak asing baginya


(Gerakan itu, mungkinkah–!?)


'–Avril Ciel Mais , sang Sword Saint.'


Tidak lama setelah Restia mengucapkan itu, sang bayangan pun lenyap.


Bab 12 - Absolute Blade Asura[edit]

Bagian 1[edit]

Tebasannya, dieksekusi dengan kecepatan tak kasat mata, dan melintas bagaikan cahaya.

Jikalau dia menghindar sedikit lebih lambat, leher Kamito akan terlepas dari tubuhnya.

Suatu goresan kecil menyisakan jejak darah di pipinya.

Kamito berhasil bereaksi tepat waktu, karena dia mengenali gerakan itu, bukannya karena dia membaca gerakan pedang musuh.

Meskipun Kamito tidak begitu paham gerakan pedang musuh, tidak diragukan lagi, jurus itu adalah…..

"... Aku tidak percaya bahwa itu adalah Absolute Blade Arts Halilintar Ungu!?"

Kamito terdiam.

Mengapa monster semacam ini tahu bagaimana menggunakan Absolute Blade Arts, yang seharusnya diturunkan oleh guru ke muridnya, tanpa diajarkan ke pihak lain.

Seakan tidak sabar, Restia sudah mengisyaratkan jawabannya.

Avril Ciel Mais, Pedang Suci.

Seperti itulah Restia menyebut monster itu.

"Ciel Mais" -Dalam bahasa roh, ini adalah istilah yang berarti "seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk pedang." Namun itu bukanlah hal yang bisa ditemukan dimana pun. Itu bukanlah nama keluarga yang jarang di antara para bangsawan. Sepertinya, bukanlah kebetulan bahwa makhluk ini memiliki nama keluarga yang sama seperti perempuan itu.

"... Katakan padaku, Restia, siapakah makhluk itu sebenarnya?"

Sambil menyeka darah di pipinya, Kamito akhirnya berbicara.

'Avril Ciel Mais adalah Pedang Suci yang lahir di Kerajaan Suci Lugia. Dia merupakan tokoh legendaris yang telah mencapai puncak ilmu pedang. Dia adalah pendiri aliran Absolute Blade Arts yang digunakan oleh Dusk Witch, sama sepertimu, dia juga merupakan kandidat Raja Iblis yang telah mewarisi kekuatan Ren Ashdoll- '

"Pendiri aliran Absolute Blade Arts ...!?"

Kamito membelalakkan matanya.

Dia pernah mendengar Greyworth bilang bahwa dia pernah memiliki mentor. Itu adalah fakta bahwa Absolute Blade Arts selalu diturunkan pada seorang murid, dan diwariskan generasi demi generasi sepanjang sejarah ...

Jika monster kegelapan yang berdiri di hadapannya sekarang adalah sang pendiri aliran pedang itu…..

"Maka Greyworth adalah keturunan kandidat Raja Iblis?"

"Tidak diketahui apakah dia keturunan langsung atau bukan. Lagipula, nama Ciel Mais setara dengan gelar ilmu pedang tertinggi. Mungkin juga penyihir itu mengklaim gelar itu sendiri. Namun…….'

Saat ini, Restia berhenti sejenak.

'Apapun itu, akan lebih baik jika kau tidak menyamakannya dengan Nepenthes Lore, yang Rubia Elstein bangkitkan di Ragna Ys. Selain Raja Iblis Salomon sendiri, dia adalah makhluk yang kekuatannya paling mendekati Raja Iblis'

"..."

Kamito menyiapkan kedua pedangnya untuk berhadapan dengan bayangan hitam pekat.

Tekanan pedang suci kuno sangat luar biasa, bahkan sebagai kandidat Raja Iblis di antara Nepenthes Lores.

Berbeda dengan Nepenthes Lores lainnya, kau bisa merasakan adanya kesadaran yang jelas di balik sepasang mata merah itu.

(Betapa ironis. Aku tidak percaya bahwa aku berjumpa dengan pendiri teknik aliran pedang yang saat ini aku gunakan.)

Pedang Kegelapan Saint-Avril Ciel Mais menyiapkan pedangnya tanpa suara.

Sambil mengarahkan pandangan pada musuh di depannya, Kamito berkata pada Claire:

"Claire, serahkan makhluk ini padaku."

"Apakah tidak masalah bagimu?"

Tanya Claire dengan cemas. Intuisinya yang bagus telah memperhatikan bahwa Nepenthes Lore yan gdihadapi Kamito kali ini sungguh berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya.

"Ya, pengguna Absolute Blade Arts hanya bisa dikalahkan oleh pengguna Absolute Blade Arts lainnya. Lagipula…."

Seraya mengatakan itu, Kamito memelototi musuh di hadapannya.

"Itu adalah lawan yang harus aku selesaikan dengan……….."

…Ya, meskipun kini penampilannya berubah menjadi monster, dia tetaplah pendiri aliran Absolute Blade Arts.

Jika tidak mengalahkannya di sini, tidak mungkin Kamito bisa menang melawan Greyworth yang telah pulih.

Kamito tidak tahu apakah Claire merasakan tekadnya ataukah tidak, tapi gadis itu mengangguk setuju.

"Paham, kalau begitu aku akan menyerahkannya padamu. Scarlet dan aku akan mengurus Lengan Nepenthes lainnya."

"Yeah, kuserahkan padamu…."

"Serahkan padaku, masternya master."

Ortlinde dengan lihai memutar sabit api yang besar di tangannya.

"Tunggu, Scarlet, apa yang kau maksud dengan masternya master?"

Ketika Claire bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, Scarlet me-ngeong dan memalingkan pandangannya.

ROOOOOAAAAAR!

Deru Pedang Suci yang gelap dipenuhi dengan dendam.

Untuk melawan tekanan pedang sekuat ini, Kamito menutupi dirinya dengan kekuatan suci.

"Ijinkan aku mencoba dan melihat apakah kemampuan pedangku sudah cukup baik….."

Setelah mengentak tanah, dia mempercepat gerakannya.

"Absolute Blade Arts, Lightning Light bentuk pertama!"

Sekelibat sabetan pedang, dan hembusan api.

Pedang Suci Kegelapan mempersiapkan kuda-kudanya, sembari dia memblok Absolute Blade Arts yang dieksekusi oleh Kamito dengan kecepatan cahaya.

"….Sudah kuduga, Pedang Suci memang hebat. Namun, jurus ini hanyalah balasan yang tadi."

Sambil menyeringai dengan kejam, Kamito segera mengayunkan pedangnya lagi.

Demon Slayer dan Pedang Vorpal – Dengan menggunakan elemental waffen terkuat, dia melancarkan gelombang serangan beruntun.

…..Namun, Pedang Suci kegelapan masih bisa menangkisnya dengan gerakan yang begitu lancar bagaikan aliran air.

R-ROOOOOOOOAAAAAAAAAR ...!

Avril melolong.

Suara itu terdengar bagaikan amukan, namun juga ada kesan gembira yang tercampur di dalamnya. Itu adalah kegembiraan karena akhirnya dia menemukan lawan yang benar-benar sepadan setelah ratusan tahun. Bahkan setelah berubah menjadi monster seperti ini, hatinya tetap memendam kebanggaan karena telah mendedikasikan seumur hidupnya untuk ilmu pedang. Kamito bisa merasakannya.

Namun…..

"Maaf, aku tidak punya waktu untuk menikmati tarian pedang bersamamu…."

Kamito maju dengan segenap nafas, dia mengayunkan Demon Slayer yang bercahaya putih pucat.

Tidak diketahui berapa lama Fianna dan yang lainnya bisa bertahan di Mordis. Semakin lama pertarungan di sini berlanjut, maka semakin besar kerusakan di dalam kota.

"…..Hehehe, berikan sertifikat kelulusanku!"

Dengan tebasan penuh amarah dan angin yang melolong, benturan baja terdengar berulang kali.

Sudah kuduga, gaya pedangnya mirip seperti punya Greyworth.

(... Jurus pedang mereka hampir sama, ya?)

Dalam hatinya, Kamito mengaku kagum.

Dalam hal ilmu pedang murni, Greyworth adalah satu-satunya yang bisa menandingi Kamito. Tak peduli apakah itu Leonora, Paladin Luminaris, ataupun Lurie Lizaldia Number, semuanya lebih rendah darinya…..

Namun, monster ini menyandang nama Ciel Mais & Mash;

Kamito mengayunkan kedua pedangnya, namun terhalang oleh pedang yang diselimuti oleh miasma gelap.

Mata Avril yang merah tampak gemetar karena kegembiraan.

Sesaat berikutnya, suatu dinding miasma gelap muncul, mengelilingi mereka yang terkunci dalam duel pedang.

"... apa yang kau rencanakan?"

Sementara pedang mereka terus berbentrokan, untuk membuktikan siapakah yang terbaik, Kamito bertanya pada bayangan di hadapannya. Namun, dia tidak pernah berharap mendapat jawaban….

'….Ini adalah dinding miasma. Sepertinya dia mengharapkan duel satu lawan satu bersamamu. "

"...Aku paham."

Arena khusus untuk dua orang, dimana tidak ada yang bisa ikut campur.

Tak peduli apakah Claire atau Scarlet, ataukah Nepenthes Lores…. Semuanya tidak boleh mengganggu.

Di samping itu, melarikan diri juga tidak mungkin.

Kamito mengertakkan gigi, kemudian tersenyum tanpa rasa takut.

"Aku paham, aku akan melawanmu sampai titik darah penghabisan, seperti yang kau inginkan. Namun, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat!"

Bagian 2[edit]

"...! Kamito !?"

Setelah melihat pusaran dinding gelap yang membungkus Kamito, Claire hampir menjerit.

Sambil menghindari tentakel Nepenthes Lore yang terus menyerang, dia melepaskan roh sihir Fireball terhadap dinding miasma yang bergetar.

Serangannya mengenai sasaran, namun tidak meledak. Dinding miasma menyerap Fireball.

"Ada apa dengan tembok itu ..!?"

"Master, itu adalah penghalang kegelapan, itu akan melahap semua sihir roh….."

Scarlet menahan pedang Nepenthes Lore dengan sabitnya yang menyala. Ketika berkontak’an dengan pedang hitam legam, tiba-tiba itu meledak.

"Oh tidak.....”

Tiga Nepenthes Lores melepaskan tentakel kegelapan.

Claire dan Ortlinde menghindar pada saat bersamaan dengan melompat ke kiri dan kanan.

"Percayakan semuanya pada Kamito-sama, yang perlu kita lakukan adalah bertahan dari serangan-serangan ini.....”

"Ya!"

Sembari menghindari serangan tanpa henti, Claire menembakkan Fireball.

Serangan tiga kali berturut-turut. Nyala api menyerang armor besi Nepenthes Lore secara langsung, sehingga menyebabkan hebat ledakan.

Namun, serangan setingkat ini tidak lebih dari sekedar hiburan. Claire juga mengerti akan hal itu. Yang bisa Claire lakukan sekarang, hanyalah melindingi Scarlet, yang memiliki kekuatan cukup besar untuk memusnahkan lawan-lawannya.

"Pergi dan menarilah, nyala api merah pemanggil kehancuran - Hell Blaze!"

Pada badai ledakan yang melolong, Claire melepaskan teknik yang disebut sebagai sihir roh api terkuat.

Api yang terik, mampu mencair batu sekalipun, bersama-sama Nepenthes Lore. Selanjutnya….

"Oh api, turunkan malam membara pada dunia ini – Crimson Judgement!"

Sambil mengayunkan sabit berapi-api, Scarlet melepaskan salah satu teknik terkuatnya.

Terikat dalam api merah padam, Nepenthes Lore segera lenyap tanpa bekas.

"... Masih, lima lagi ... Kuh.....”

Sambil mencengkeram dadanya, Claire terjatuh sampai berlutut.

Sudah kuduga, bentuk manusia Scarlet sangat menguras energi suci.

"Master!"

Scarlet berseru.

Rupanya, roh kontrak Claire juga merasakan kelelahan masternya melalui segel roh mereka.

(... Aku belum selesai ... Aku sudah memutuskan untuk bertarung bersama Kamito ...)

Claire berdiri sambil terengah-engah.

(Dan juga, aku sudah menyanggupi misi yang dipercayakan Nee-sama kepadaku ...!)

Bagian 3[edit]

"Ohhhhhhhhhhhhhhhhh!"

Di dalam dinding kegelapan yang menjulang….

Kamito dan hantu Pedang Suci Avril terus mengadu pedangnya dengan intens.

"Maju dan tembus mereka, hukum pembantai iblis – Vorpal Blast!"

Petir hitam pekat yang dilepaskan dari Pedang Vorpal menghujam badan Avril.

Namun, hampir tidak ada kerusakan pada tubuh Avril. Ketika melawan Nepenthes Lore yang memiliki unsur kegelapan, elemen anti-sihir milik Est tampaknya lebih efektif.

‘.....Kamito, gantian aku menjagamu. Gunakan Miss Sacred Sword sebagai serangan utamamu. '

"Mengerti.....”

Atas saran Restia, Kamito mendistribusikan kembali kekuatan suci yang sebelumnya diberikan pada Pedang Vorpal, menuju pada Est.

'Apakah Kau yakin, wahai roh kegelapan-'

'Ya. Sebagai gantinya, tolong beri aku hak untuk menyelinap ke tempat tidurnya. '

'Tidak dapat diterima-'

Est langsung menjawab. Kamito sangat berharap tidak ada perjanjian aneh seperti ini ditengah-tengah pertempuran yang genting.

Demon Slayer di tangan Kamito bersinar dengan cahaya putih-perak.

Berikutnya-

ROOOOOAAAAAAR--

Avril meraung. Pada saat itu, Kamito mencium bau kematian yang intens, kemudian dia dengan cepat melompat ke samping.

Tiga kilatan pedang tersapu. Ujung pedang menggores keningnya, sehingga poninya langsung koyak.

Absolute Blade Arts, kemungkinan besar itu adalah prototip Shadowmoon Waltz. Kamito berhasil menghindari serangan itu, karena dia sudah familiar dengan gerakannya.

Pergerakan pedang prototipe itu tidak semulus keahlian pedang Greyworth, tapi akibatnya, prediksi Kamito sedikit meleset karena Kamito lebih terbiasa menangani serangan-serangan dari Greyworth.

(...! Siaaaal!)

Dengan memanfaatkan kesempatan saat Kamito kehilangan keseimbangan, pedang Avril langsung menghujam celah pada pertahanan Kamito.

Kamito sesegera mungkin menahannya dengan menggunakan Pedang Vorpal di tangan kirinya, tapi….

Pada saat itu, sensasi rasa sakit yang menyiksa merambat melalui tubuhnya dengan suara mendesis.

Punggungnya telah menyentuh penghalang kegelapan

"... Guh, ooh ...!"

Sembari menggertakkan giginya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa, Kamito mengumpulkan semua kekuatannya untuk mempertahankan kuda-kudanya.

(Sudah kuduga, dia cukup kuat ...)

Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Kamito.

Meskipun tubuhnya telah berubah menjadi mayat, keahlian pedangnya yang luar biasa masih tetap seperti sedia kala.

Yang berada di hadapan Kamito bukanlah monster sembarangan, melainkan master pedang sejati.

….Tetapi pada saat bersamaan, pikiran lain melintas di benak Kamito. Bahkan bagi master yang telah mencapai level tertinggi, dan seseorang yang dimahkotai gelar Sword Saint, dia masih menyerah pada kekuatan Ren Ashdoll, sehingga berubah menjadi monster semacam ini

Sambil memegang pedangnya di kedua tangan, Avril menyerang Kamito dengan sengit. Itu mungkin prototipe Absolute Blade Arts - Crushing Fang, untuk menghancurkan senjata lawannya…..

(Sekarang saatnya….)

Seketika, Kamito menundukkan tubuhnya, dan melepaskan satu demi satu kekuatan suci yang terkumpul di kakinya.

"Absolute Blade Arts, wujud ketujuh – Bitting Dragon!"

Apa yang dia gunakan adalah Absolute Blade Arts yang dikembangkan dari gerakan tusukan Purple Lightning, itu adalah suatu serangan untuk melambungkan musuh ke atas.

Diliputi miasma, Pedang Saint Avril meluncur ke udara.

Sambil melompat ke udara, Kamito langsung membalikkan pedangnya.

"Absolute Blade Arts, Wujud Kedua - Meteor!"

Sambil menuangkan semua kekuatan suci ke dalam Demon Slayer, dia mengayunkan tangannya.

BOBOOOOOOOOOOOOOM!

Dengan suara ledakan, tanah tercongkel, dan menghasilkan awan debu.

"... H-Huff, huff, huff.....”

Konsekuensi penggunaan Absolute Blade Arts sebanyak dua kali berturut-turut adalah, tubuhnya terasa semakin berat.

‘.....Kamito, akan berbahaya jika kau sembarangan memaksakan dirimu lebih jauh lagi. Kekuatanku tidak akan cukup terus memberikan tekanan padanya.’

Setelah mendengar peringatan Restia ...

"Ya, aku tahu..."

Kamito menjawab dengan segera.

Kekuatan suci di dalam dirinya mulai berantakan. Kontrol terhadap kekuatan suci lama-kelamaan semakin sulit.

Dalam situasi ini….

Saat itu, debu semakin mereda dan bayangan yang terbungkus dalam miasma perlahan berdiri.

"Jadi itu pun tidak berhasil ..."

Tenggorokan Kamito berkedut.

Ilmu pedang mereka berdua hampir sama. Namun, lawannya memiliki tubuh kekal, karena dia bertransformasi menjadi Nepenthes Lore. Lagipula, jumlah kekuatan suci musuh seakan tidak pernah habis.

Jika terus-terusan menggunakan kekuatan suci sampai batas terkahir, dia bisa saja berakhir dengan termakan oleh kekuatan kegelapan.

Namun, dia bukanlah lawan yang bisa dikalahkan tanpa mengerahkan seluruh kekuatan.

(Aku harus menyudahi pertandingan ini di serangan berikutnya-)

Kamito mencengkeram Demon Slayer dengan erat.

Bagian 4[edit]

“.... penghalang ketiga telah ditembus!"

"Tidak ada gunanya, kita tidak bisa mempertahankan ini lagi-Kyahhh!"

Jeritan princess maiden terdengar melalui komunikator kristal roh, lalu lenyap bebarengan suara listrik statis. Laporan serupa datang dari mana-mana di atas tembok kota.

(Tak lama lagi tempat ini juga ...)

Fianna menggigit bibirnya dengan keras.

Diposisikan di zona kontak dengan Zohar, dia bertanggung jawab atas tempat yang paling banyak diserang. Penghalangnya masih bertahan, walaupun hampir ditembus. Jika ada penghalang lagi yang hancur, maka pertahanannya pasti jebol bagaikan efek domino.

"... Kamito-kun ...!"

Fianna menggenggam kedua tangannya seperti berdoa, dia memikirkan Kamito yang berada di wilayah musuh.

Dia percaya padanya. Tapi meski dengan keyakinan seperti itu, dia tetap tidak bisa mengubah fakta bahwa dia begitu khawatir pada Kamito.

Di belakang Fianna, Rubia berbicara:

"Fianna, tempat ini tidak akan bertahan. Mundurlah ke Demon Fist, dan buat kembali barisan pertahanan.....”

"Tapi kalau kita melakukan itu, daerah kota Mordis akan.....”

"Apa boleh buat, menyerahkan pinggiran kota adalah satu-satunya solusi, setidaknya lebih baik daripada semuanya tersapu bersih di sini….."

Rubia berbicara dengan ekspresi tenang. Namun, wajahnya terlihat begitu lelah.

Memang, dia benar. Kalau begini terus, garis pertahanan akan runtuh.

"... Di-Dimengerti, aku akan mengarahkan princess maiden yang menjaga penghalang untuk mundur.....”

Ketika Fianna akan memberi perintah menggunakan kristal roh untuk komunikasi ...

"…Gawat… penghalang keempat ..."

"...!?"

Suara itu tiba-tiba terputus.

Pada saat itu, penghalang yang melemah hancur. Sekumpulan tentakel melonjak masuk sekaligus.

"Kyahhhhhhhhh!" "Tidaaaaaaaaaaaaakkk!"

Sembari terlilit oleh tentakel-tentakel, para princess maiden ditelan kepompong besar satu demi satu.

(...Tidak mungkin!?)

Serbuan tentakel Leviathan menyerupai gelombang pasang. Georgios yang tengah menjaga para princess maiden juga hampir ditelan-

"Georgios ...!”

Sedetik sebelum tentakel hendak melahap Fianna ...

Suatu cahaya melintas di belakang, menyapu Zohar, tembok kota, dan juga tentakel-tentakel lainnya.

(...Hah?)

Dengan suara ledakan yang memekakkan telinga, suatu pilar api raksasa menjulang tinggi ke langit, dan langsung saja menguapkan tentakel-tentakel yang tersapu oleh api tersebut.

Atmosfernya bergetar. Serpihan dan puing-puing yang telah terlempar, mulai turun satu per satu.

"Apa yang terjadi?"

Tidak lama setelah dia berbicara, Fianna terkapar di tanah karena dampak ledakan itu, lantas dia melihat bayangan raksasa jauh di atas.

Dia mendongak jauh ke atas, dan melihat………

Suatu benteng yang mengambang di langit

Benteng itu terselimuti oleh lapisan-lapisan pertahanan. Reaktor kristal roh menyala dengan warna merah. Selain itu, senapan yang tak terhitung jumlahnya terpasang di tubuhnya-

Velsaria Eva, dia menaiki benteng roh Elemental Panzer.

"Velsaria, kamu datang tepat pada waktunya, ya.....”

Kata Rubia.

"Aku mohon maaf atas keterlambatanku. Modifikasi ini membutuhkan banyak waktu.....”

Penutup yang menutupi kepalanya terbuka, kemudian tampaklah wajah Velsaria.

Benteng roh menurunkan pengemudinya sambil perlahan turun, dan akhirnya mendarat di tembok kota.

Brakk – Karena tergencet bobot benteng roh yang begitu berat, sebagian tembok kota pun runtuh.

Untuk melindungi Fianna dan yang lainnya, dia melangkah ke depan tentakel-tentakel yang terus beregenerasi, kemudian dia berkata:

"Atas nama Ksatria Fahrengart, dan atas kehormatan Ksatria Sylphid dari Akademi Roh Areishia, aku akan memastikan bahwa tidak akan ada musuh yang sanggup maju selangkah pun. Siapa pun yang ingin menaklukkan Mordis harus mengalahkan Silent Fortress ini dulu! "

Pada saat itu, semua senjata api di sekujur tubuhnya terbuka. Kekuatan super benteng roh menyerang semua musuh sekaligus.

Tentakel terkoyak, robek dalam ledakan. Satu demi satu, kepompong yang telah menelan para princess maiden jatuh ke tanah, di dalamnya terlihat sosok gadis-gadis yang tertutup lendir.

"Wahai para princess maiden, sekarang saatnya untuk membangun kembali penghalang.....”

"...! Mengerti!"

Fianna mengangguk dan berteriak kepada para princess maiden yang tersisa.

“....Ini belum berakhir. Percayalah pada Raja Iblis kita dan pertahankan tanah kita di sini!"

Bagian 5[edit]

Demon Slayer yang berada di tangan Kamito bersinar dengan cahaya keputihan yang lebih intens.

'Kamito, kau terlalu banyak menyedot kekuatan suci…..! "

Suara Restia hampir menjerit.

"... Maaf, bertahanlah di sana ... sedikit lagi-!"

Walaupun merasa jantungnya berdegup kencang, Kamito masih saja melimpahkan kekuatan suci.

Dia sudah bisa merasakan kekuatan Ren Ashdoll menyerangnya. Sambil tergenggam erat di tangan kirinya, Pedang Vorpal berderik dan melepaskan kilatan berwarna hitam pekat.

Restia sebisa mungkin berusaha menekan kekuatan kegelapan.

... Aku tidak bisa menyia-nyiakan waktu lagi di sini.

Demi Ellis, Rinslet, Fianna, dan orang-orang lain yang melindungi kota, belum lagi Claire dan Scarlet yang sudah susah payah menahannya-

Para pengungsi Mordis, yang percaya pada Raja Iblis paslu ini……….

ROOOOOOAAAAAAR!

Pedang gelap Saint-Avril Ciel Mais-menderu dan terus menyerangnya. Dia melepaskan banyak miasma gelap,

Mungkin karena merasakan kekuatan suci Kamito yang terus melimpah.

"Ayo, gunakan jurus terkuatmu.....”

Kamito memejamkan mata sejenak, menunggu saat yang tepat.

Lalu dia melangkah maju.

Kamito sedang menunggu. Menunggu lawannya melepaskan Absolute Blade Arts yang paling kuat.

Diiringi oleh angin puyuh, kilatan pedang pun dilepaskan.

Itu adalah prototipe skill pedang untuk mengalahkan roh raksasa - Bentuk Perusak, Brusting Blossom Spiral Blade Dance.

Di dunia ini, hanya ada satu jurus yang mampu melawan skill ini.

Dan si Pedang Saint mungkin tidak mengetahuinya. Adanya suatu jurus untuk melawan skill pedang paling kuat……

Lagi pula, Brusting Blossom Spiral Blade Dance adalah jurus paling kuat yang bisa dikuasai oleh seorang pengguna terakhir dari Absolute Blade Arts.

Tidak perlu menciptakan skill pedang ekstra yang mampu melawannya.

Oleh karena itu, ini adalah Absolute Blade Arts yang bukan diciptakan oleh pendirinya, namun oleh penerusnya…..

"…..Ini adalah perpisahanku denganmu, Avril Ciel Mais!"

Absolute Blade Arts, wujud terakhir - Last Strike.

Inilah teknik mistis tertinggi yang membuat Greyworth mengorbankan karirnya sebagai elementalist.

Cahaya kilat putih yang menyilaukan mengiris Sword Saint kegelapan menjadi 2 bagian.

Kamito tidak melihat ke belakang. Dia tahu tanpa harus menoleh ke belakang.

"... Menak ... jubkan ..."

Dari belakang, dia mendengar satu kata itu.

Selanjutnya, tak lama berselang, Nepenthes Lore-Sword Saint Avril Ciel Mais berubah menjadi abu hitam pekat dan tersebar.

Kamito menundukkan kepala dengan hormat kepada Sword Saint-

"Guh.....”

Tiba-tiba, dia menikam pedangnya ke tanah dan berlutut.

"Ah ... Guh, ahhhhhhhhhhhhh ...!"

Seolah-olah mengisi kekuatan suci yang terkuras, kekuatan kegelapan pun menelan Kamito.

Bagian 6[edit]

Potongan garis merah merobek udara. Nepenthes Lore lainnya pun hancur.

Inilah api penyucian Scarlet Valkyrie yang pernah mengguncang Astral Zero di masa lalu-

“....Apakah kau baik-baik saja, Master?"

Karena khawatir terhadap kekuatan suci Claire yang terus terkuras, Scarlet pun bertanya.

"... Y-ya, aku masih bisa ... lanjut ..."

Dengan keringat menetes dari dahinya, Claire memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Ellis, Rinslet dan Fianna…. semuanya telah berhasil mendapatkan kemajuan dramatis.

(... Sebagai kapten tim, aku tidak boleh kalah dengan mereka!)

….Pada saat itu...

Dari dalam, kilatan cahaya memangkas penghalang yang seharusnya melindungi mereka dari semua gangguan eksternal….

Cahaya yang menyilaukan, dan cukup kuat untuk menembus penghalang. Inilah cahaya yang dilepaskan dari kekuatan suci.

(... Kamito !?)

Claire tertegun.

Dia teringat apa yang telah dia dengar dari kakaknya sebelum menjalani misi ini.

Cahaya itu begitu terang. Jika dia menggunakan kekuatan suci sampai sebanyak ini, tubuh Kamito akan-

“.... Kamito!"

Claire berlari menuju penghalang kegelapan.

Sebelum berangkat dari Mordis, Claire pernah mendengar dari kakaknya tentang kekuatan kegelapan yang menyerang tubuh Kamito.

Saat ini, kekuatan Darkness Elemental Lord Ren Ashdoll sedang menggerogoti tubuh Kamito. Begitu dia menggunakan kekuatan suci secara berlebihan, Kamito akan dimakan oleh kekuatan kegelapan, sehingga mengubahnya menjadi makhluk seperti Nepenthes Lore.

Est sendiri sudah banyak menguras kekuatan suci. Di samping itu, ada juga pedang iblis roh kegelapan. Sekalipun kekuatan suci Kamito luar biasa besar, dengan menggunakan dua roh seperti itu, pasti akan terkuras dengan cepat.

Kakaknya telah mengatakan demikian, dan jika itu terjadi…..

"Kau harus menyelamatkan dia sebagai princess maiden-nya Raja Iblis.....”

Dikatakan bahwa, princess maiden yang memiliki ikatan kuat dengan Raja Iblis dapat memperbaiki peredaran kekuatannya.

Seperti yang terjadi di Blade Dance, Claire berhasil mengembalikan Kamito menjadi normal melalui ciuman-

Kau harus bisa melakukannya… Itulah yang kakaknya katakan.

Di depan penghalang kegelapan yang menjulang tinggi, Claire berhenti.

Meskipun Nepenthes Lore yang menciptakan dinding kegelapan itu telah dikalahkan, namun tidak ada tanda-tanda dindingnya akan memudar.

"Mengapa..."

Claire merasakan sakit yang membakar begitu dia menyentuh penghalang itu, kekuatan sucinya pun segera berkurang.

"...! Apa yang harus aku lakukan...?"

Di sisi lain penghalang, Kamito sedang menderita.

Kalau begini terus, dia mungkin akhirnya terlahap oleh kekuatan kegelapan seperti yang telah dijelaskan oleh kakaknya….

Claire ragu-ragu sesaat, kemudian dia membulatkan tekadnya.

(... Satu-satunya pilihanku adalah menggunakan End of Vermilion untuk menembus dinding ini.)

…. Kobaran api sejati Elstein harusnya mampu menghancurkan penghalang yang menyerap sihir roh ini.

Dia tidak tahu apakah dia sanggup mempertahankan Ortlinde, tapi….

Dia memusatkan konsentrasi ke telapak tangannya untuk menciptakan api kecil.

Api kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya. Dengan wujud seperti itu, dia berjalan ke penghalang kegelapan.

"... Ahhhhhhhh ...!"

Nyeri hebat dan keletihan menyiksa seluruh tubuhnya.

Sembari merintih kesakitan, Claire terus maju.

(... Kamito ...)

Kesadarannya mulai memudar. Meski begitu, kakinya tidak berhenti.

"Ah, guh, ahhhhhhhh ...!"

Dia bisa melihat sosok Kamito di sisi lain penghalang.

Kamito sedang berlutut di tanah, mencengkeram kepala di tangannya, dan mengerang kesakitan.

"Tunggu aku, Kamito ... aku akan, ke sana ..."

Setelah melewati penghalang, Claire dengan lembut memeluk kepala Kamito yang menderita.

Kakaknya telah mengatakan bahwa tidak akan ada dampak, kecuali jika dia terhubung dengan Raja Iblis melalui ikatannya.

Karenanya-

(... Kamito, aku mencintaimu ... aku sangat mencintaimu.)

Dengan membawa perasaan yang selalu disembunyikannya, dia mencium pria itu.

Bagian 7[edit]

“....to ... Kamito ...!"

Rambut merah menyapu pipinya.

Begitu Kamito terbangun, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Claire.

"... Clai ... re ...?"

"Kamito, syukurlah ...!"

Claire merasa lega, dan dia pun mengembuskan napas dalam-dalam.

Kamito perlahan duduk tegak. Tubuhnya terasa sangat ringan. Pada saat dia sadar, kekuatan Ren Ashdoll telah lenyap. Kekuatan suci yang terasa seperti api mulai beredar di dalam tubuhnya.

Ini sangat mirip seperti kekuatan suci yang Rubia tuangkan padanya di fasilitas pemurnian Mordis.

"Ah, uh ... Umm, nah, jadi ... Nee-sama bilang, dengan melakukan ini, aku bisa menyelamatkanmu.....”

Claire bergumam dengan wajah merah padam.

Akhirnya, Kamito menyadari apa yang telah terjadi.

Itu mirip seperti saat dia menyelamatkan Fianna di ibukota kekaisaran. Kekuatan Ren Ashdoll dalam tubuh Kamito ditransferkan ke tubuh Claire, pada saat yang sama, kekuatan suci Claire juga mengalir ke tubuh Kamito.

Sensasi lembut terus terasa di bibirnya.

Seraya memandangi Claire, Kamito melihat pipi Claire yang semakin berwarna merah padam.

"... Claire, terima kasih banyak, aku baik-baik saja sekarang."

Sambil memegang dua pedangnya, Kamito perlahan berdiri. Meskipun kekuatan suci telah pulih sampai batas tertentu, karena telah melepaskan Last Strike, otot di seluruh tubuhnya kesakitan.

Sekali ayunan Demon Slayer yang dialiri oleh kekuatan suci, memusnahkan penghalang miasma sepenuhnya.

Di luar penghalang, Scarlet dikepung dalam pertempuran sengit melawan tiga Nepenthes Lores.

"Serahkan ini padaku, kalian berdua, pergilah untuk menghentikan Leviathan."

Scarlet berbicara sambil mengayunkan sabit masifnya.

"Apakah kau baik-baik saja, Scarlet?"

Mendengar itu, Claire bertanya cemas.

Meskipun sepertinya Scarlet tidak bisa merasa lelah, nyala api di tubuhnya semakin redup.

"Aku adalah Senjata Roh dan dapat bekerja dengan sendirinya sampai batas tertentu. Begitu Sirkuit Demon yang menyediakan kekuatan suci terhadap hantu-hantu ini dihancurkan, mereka tidak akan mampu mempertahankan dirinya lagi. "

"... mengerti."

Claire mengangguk lalu berlari menghampiri Scorpia, yang memancarkan aura tak menyenangkan.

Beberapa Nepenthes Lore bermaksud mengejar Kamito dan Claire, tapi Scarlet menghalangi mereka, sembari tetap memegang sabit masifnya.

Api yang membungkus anggota tubuhnya mulai melonjak tajam.

Inilah kekuatan Ren Ashdoll yang mengalir ke tubuh Claire.

"Tapi lupakan mengulur waktu, aku bisa mengalahkan mereka dengan langsung.....”

Bagian 8[edit]

Setelah menembus pintu penghalang, kemudian memasuki Scorpia-

Apa yang menyambut Kamito dan Claire adalah pemandangan bagaikan di neraka.

"...!"

Claire membelalakkan matanya dan terpaksa menutupi mulut dengan kedua tangannya.

Di dalam istana, tentakel yang tak terhitung jumlahnya merangkak bagaikan pembuluh darah, dan berdenyut-denyut mengerikan.

Tidak ada tentara patroli atau princess maiden yang menunggu di dalam. Tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan.

Di sini, tidak ada satupun benda mirip kepompong yang membungkus korban-korbannya.

(... Apakah semua orang sudah dievakuasi, atau-)

Spekulasi yang muncul di benak Kamito membuatnya mual.

Kemungkinan besar, istana ini merupakan tempat pertama untuk bergabung dengan Leviathan.

Dengan kata lain, semua orang di dalam istana sudah-

"... Ayo pergi, Claire."

"Ya..."

Kamito dan Claire mengangguk dengan tenang, mereka terus menebas tentakel-tentakel yang mengganggu, dan terus melaju ke dalam istana.

"Restia, bisakah kamu mencari tahu dari mana perangkat Sirkuit Demon itu berada?"

Sambil berlari, Kamito bertanya pada pedang iblis di pinggangnya.

'Ya, di bagian paling belakang Hierarki Hall, yaitu tempat diselenggarakannya upacara besar, harusnya ada bagian yang menuju ke fasilitas militer bawah tanah- '

“....Mengerti."

Kamito mengeluarkan Pedang Vorpal dan membakar tentakel-tentakel yang mengganggu dengan menggunakan kilatan hitam pekat.

Setelah melintasi istana yang telah berubah menjadi bagian dalam tubuh Leviathan, mereka sampai di Hierarki Hall, di sana terdapat lingkaran sihir raksasa yang tergambar di lantai.

Sudah terduga-

Di bagian paling belakang ada pintu logam yang rapat.

"Kamito, apa ini !?"

Claire berteriak dengan ketakutan.

Mendengar itu, Kamito segera menyadarinya. Dia pernah melihatnya sebelumnya, sesuatu yang mirip dengan pintu ini.

Di bagian terdalam bawah tanah kota Gado, Kamito dan tim telah melihat jenis pintu yang sama.

Namun, pintu pada kota Gado tersebut memiliki ukiran lambang Lord Elemental Darkness, sedangkan pintu ini memiliki lambang Lima Elemental Lords yang sudah terhapus.

"...!"

Tiba-tiba, Claire mencengkeram kepalanya kemudian dia terjerembab ke lantai, seakana-akan dia menderita pusing yang begitu keras.

"Claire, apa kau baik-baik saja?"

"... Kami ... to ... Di dalam sini, adalah sesuatu yang sangat kuat ..."

Claire menanggapi dengan setengah merintih.

Karena berasal dari keturunan yang sama, Claire telah mewarisi bakat sebagai princess maiden. Kemungkinan besar, dia sudah merasakan kehadiran roh militer kelas strategis yang telah mencuri kekuatan suci dari penduduk Zohar.

"….Apakah kau bisa menghancurkan pintu itu?"

‘.....Ya, Kamito.'

Est menjawab.

Kamito menyiapkan Demon Slayer yang menyala, kemudian dia mengayunkan pintu yang tertutup rapat itu dengan sekali napas.

Pintu itu hancur, kemudian di baliknya tampak kegelapan kental yang menempati interior.

Dindingnya ditutupi oleh daging yang menyerupai selaput lendir, dan berdenyut tanpa henti. Kamito menggunakan pijaran Demon Slayer untuk penerangan, kemudian dinding daging di sekitarnya bergetar seolah-olah ketakutan.

"Apakah ini tempat Sirkuit Demon ...?"

"Tidak, lokasinya lebih rendah lagi.....”

Jawab Restia

"... Hmm, aku merasa sedikit pusing."

"Ya aku juga."

Sembari terus melangkah ke kegelapan, Kamito merasakan kelelahan yang intens.

Kecerobohan sedikit saja, maka seseorang bisa kehilangan kesadaran di sini.

'Kekuatan sucimu akan terus tersedot meskipun hanya berdiam diri di sini-'

"Sepertinya kita harus bergegas."

Kamito dan Claire dengan tenang menuruni tangga yang menuju ke bawah tanah.

-Setelah tahu berapa tingkatnya ...

Setelah menghabiskan waktu lama dalam kegelapan, dan hampir pingsan, akhirnya mereka sampai di ujung tangga.

Berikutnya adalah lorong menuju pintu lain.

"Ayo pergi, Kamito.....”

"Ya..."

Sekali lagi, Kamito menuangkan kekuatan suci ke dalam Demon Slayer dan menghancurkan pintunya.

Kemudian-

"...!?"

Yang pertama terlihat adalah warna merah yang menutupi lantai sepenuhnya.

Dihadapkan dengan pemandangan yang paling mengerikan, Kamito menutup mulutnya, sedangkan Claire terpaksa memalingkan mukanya.

Di lantai menggenang kubangan darah.

Di dalam lautan merah darah, terlihat tubuh princess maiden yang telah kehabisan energi kehidupan. Tak ada satu pun jasad yang masih bernapas, semuanya sudah mati.

"A-apa ini ..."

Suara Claire bergetar. Dia erat-erat mencengkeram lengan Kamito dengan ketakutan.

Kemungkinan besar, para princess maiden ini adalah orang-orang yang telah melepaskan segel Leviathan.

Saat ini-

“....Betapa indahnya, wahai penerus Raja Iblis. Aku tak sangka kau bahkan berhasil menaklukkan Sword Saint dari jaman dahulu."

Di dalam ruang segitiga yang luas, suara tua dan serak terdengar.

"...!?"

Kamito mendongak dengan kuat, dan mengangkat Demon Slayer yang bercahaya.

Dia pun melihat bagian paling atas dari ruangan berbentuk segitiga sama sisi ini……..

Sosok Sjora Kahn, putri Theocracy.

"Sjora !?"

Claire berteriak kaget.

Setelah kehilangan penampilannya yang menggoda, Sjora sekarang hanya memiliki kulit dan tulang, sama sekali tidak ada keindahan pada tubuhnya. Selain itu, bagian bawahnya tergabung dengan jantung merah yang berdetak kencang.

"Rencana awalku adalah melenyapkan tentara pemberontak yang berkumpul di Mordis, dan menyerap kekuatan suci mereka. Aku tidak pernah mengira kalian lah yang menjadi bonusnya.....”

Bibir merah Sjora Kahn meringkuk, dan tampaklah seringai yang menakutkan.

"Siapkan dirimu, Sjora Kahn. Untuk kejahatan menggunakan roh militer kelas strategis, dan membantai bangsamu sendiri, kekejamanmu akan diadili dan dihukum oleh pengadilan internasional!"

Sambil mengangkat cambuknya yang menyala, Claire berteriak.

"Itu tidak penting lagi. Kami akan mengakui kekalahan kami pada kesempatan ini. Kau juga bisa mendapatkan Zohar. Namun, kota semacam ini tidak dihitung sebagai suatu kerugian. Terima saja sebagai hadiah untuk merayakan kebangkitan Raja Iblis yang sesungguhnya. K-Kukukuku, kuhahahahahah!"

Tawa mengejek Sjora terdengar di sekitar. Suaranya tidak seperti suara Sjora yang Kamito dan kawan-kawannya ketahui, sebaliknya, itu terdengar mirip seperti suara orang tua renta.

Sesaat berikutnya, bersama-sama dengan detak jantung raksasa yang bergabung dengannya, tubuh Sjora meluncur ke bawah dengan ringan, lantas dia jatuh di kaki Kamito dan Claire.

"...Apa!?"

Kamito kehabisan kata-kata.

Sjora Kahn. Gadis yang dikenal sebagai penyihir Teokrasi.

Dengan senyum menyeramkan di wajahnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya.

"Leviathan menyedot semua kekuatan sucinya."

Claire bergumam pelan.

"Aku tidak pernah mengira sang Putri Teokrasi akan menemui ajal senaas ini ..."

"Ya ... Tapi di saat-saat terakhir, dia mengatakan hal yang membuatku penasaran ..."

Kebangkitan Raja Iblis yang sesungguhnya ... Apa artinya itu?

"Mungkin itu adalah legenda di sekte Raja Iblis atau semacamnya. Ayo kita selidiki nanti."

"..."

Kamito mendongak ke langit-langit ruang berbentuk segitiga sama sisi.

Setelah kehilangan Sjora sebagai pengendalinya, jantung Leviathan masih terus berdetak. Selama jantung ini ada, Leviathan mungkin akan terus menyerap kekuatan suci tanpa henti.

Sembil menyiapkan Demon Slayer, Kamito membidik jantung yang masih aktif itu.

"Est, aku mengandalkanmu. Ayo selesai ini.....”

'Ya, Kamito-'

Sementara suara Est terngiang dalam pikirannya, mata pedang Demon Slayer memancarkan cahaya perak keputihan.

Kamito mengayunkan pedang suci secara langsung, dan mengiris jantung itu menjadi 2.

Epilog[edit]

Semerah darah, matahari terbenam tenggelam pada cakrawala gurun yang luas.

Dalam keadaan masih tergabung dengan Leviathan, Zohar berhenti ketika tengah menggigit tembok kota Mordis, dan itu tampak seperti puing-puing kota…

Dalam keadaan masih tertelan dalam kepompong untuk memasok kekuatan suci, banyak warga telah diselamatkan oleh pasukan Rubia dan tim penyembuhan Fianna.

Namun, orang-orang yang terletak di wilayah inti Leviathan, yaitu di sekitar Scorpia, mereka benar-benar telah berhenti bernapas dan kekuatan sucinya telah terkuras habis.

Meskipun jumlahnya tidaklah jelas, setidaknya diperkirakan ratusan warga sipil telah dikorbankan.

Fianna berada pada kuil, dia sedang mempersembahkan tarian do’a untuk para almarhum.

Muir dan Lily ditemukan di dekat tembok kota, dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Mereka tampaknya telah berbentrokan dengan Zohar yang bergerak selama misi pengintaian, dan akhirnya tertelan oleh tentakel-tentakel itu. Satu-satunya alasan mengapa mereka berdua tanpa cedera, mungkin karena Leviathan tidak menyukai kemampuan Muir Alenstarl yang tidak biasa, yaitu Jester Vise. Seperti itulah dugaan Rubia.

….Setelah kembali dengan aman dari dari Zohar, tim Kamito ini disambut oleh sorak-sorai riuh dari pengungsi Mordis. Seluruh jalan-jalan dipenuhi pujian untuk Raja Iblis, dan teriakan-teriakan dari princess maiden pun bisa terdengar dengan jelas. Suatu api unggun besar dinyalakan pada alun-alun.

"... Betapa merepotkan. Apakah aku harus membuat pidato lagi?"

Di pusat komando Demon Fist, di mana Rubia mempersembahkan…

Kamito mendesah di tengah-tengah laporannya.

"Memang. Para pengungsi punya harapan tinggi pada Raja Iblis."

Kata Rubia.

"Ya, aku tahu itu ..."

Sebagai pemimpin Teokrasi, Sjora telah biasa menggunakan roh militer kelas stategis, dan mencoba untuk mengorbankan dirinya demi orang banyak. Masa depan seperti apakah yang tersisa untuk Teokrasi? Tak peduli apakah para pengungsi dari Mordis atau penduduk Zohar, semuanya pasti merasa cukup gelisah.

"Kalau saja kita bisa menemukan Saladia Kahn, setidaknya."

"Itu cukup adil. Saat ini, bawahanku sedang melakukan pencarian."

Putri kedua Teokrasi, Saladia Kahn, dia tidak ditemukan di manapun di dalam Zohar. Kabarnya, sebelum Leviathan diaktifkan, seseorang telah membawanya keluar dari penjara, lalu hilang. Saladia adalah seorang Elementalist yang cukup terlatih, dia tidak mungkin melemah kemudian mati dalam waktu sesingkat itu ... Jikalau dia berhasil memiliki kesempatan untuk melarikan diri selama kekacauan, maka dia pasti selamat, tetapi jika itu yang terjadi, cukup membingungkan mengapa ia tidak muncul di depan tentara pemberontak yang mendukungnya.

"Karena keberadaan Saladia Kahn tidak diketahui, mengapa kau tidak menjadi Raja Iblis saja, kemudian memerintah Teokrasi?"

"Kamu pasti bercanda."

"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda?"

Sambil menatap tepat di mata Kamito, Rubia mengatakan itu.

Kamito mengangkat bahu dan menggeleng.

"Jadi Raja Iblis sungguhan? Nggak deh."

Setelah mengambil topeng Raja Iblis, Kamito berbalik dan berjalan keluar dari kamar Rubia.

Di bagian luar, Claire dan yang lainnya sedang menunggunya, mereka berpakaian sebagai selir Raja Iblis.

"Kamito, waktunya untuk pergi ..."

"Setiap orang menunggu."

"Ya..."

Sembari memakai topeng tengkoraknya, Kamito membungkus jubah berwarna merah darah pada tubuhnya sendiri.

Teokrasi telah dibebaskan dan berhasil memperoleh perlindungan Naga Raja.

Berita ini akan segera mengguncang Konferensi Antar Bangsa di Kekaisaran Ordesian.

... Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang mengganggu Kamito. Itu adalah saat-saat terakhir Sjora Kahn.

….Kebangkitan Raja Iblis yang sesungguhnya. Apa artinya itu?

Merasakan sensasi perang dan kekacauan, Kamito si Raja Iblis palsu menunjukkan dirinya di balkon.