Difference between revisions of "So What If It’s an RPG World!? (Indonesia):Jilid 1 Prolog"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Bab 1 - Prolog)
 
m (Prolog)
 
Line 5: Line 5:
 
"Halo, HP potionnya seharga 5 gold, terima kasih telah mampir."
 
"Halo, HP potionnya seharga 5 gold, terima kasih telah mampir."
   
"Apa bisa kurang? Aku 'kan sudah membeli 30 lebih HP potion ini."
+
"Apa bisa kurang? Aku 'kan sudah membeli 30 lebih HP potion."
   
 
"Halo, HP potionnya seharga 5 gold, terima kasih telah mampir."
 
"Halo, HP potionnya seharga 5 gold, terima kasih telah mampir."

Latest revision as of 15:16, 2 June 2020

Prolog[edit]


"Halo, HP potionnya seharga 5 gold, terima kasih telah mampir."

"Apa bisa kurang? Aku 'kan sudah membeli 30 lebih HP potion."

"Halo, HP potionnya seharga 5 gold, terima kasih telah mampir."

"Hei! begitu aku membeli barang darimu, kau langsung menjadi NPC. Bukannya kita baru saja asik berbincang tadi?!"

"Halo, HP pot-"

"Ok, cukup!"

Aku melangkah mundur. Senyum terpaksa paman Kane menghilang, dan kembali normal.

Tentu saja, "kembali normal" di sini maksudku menjadi seperti orang biasa.

"Hei, Fir! Apa kau puas dengan barang-barangnya?"

"... Biasa saja, sampai jumpa."

"Jangan lupa mampir lagi!"

"Tentu~"

Aku mengangguk dan meninggalkan distrik perbelanjaan.

Apa-apaan! Aku tidak akan ke sana lagi!

Aku harus menemukan cara untuk pergi dari desa awal ini, lalu menuju kota selanjutnya, atau orang-orang ini akan membuatku gila!

Namaku Lin Fir, tentu saja, itu bukan nama asliku. Tetapi, begitu aku datang ke dunia ini, aku lupa nama asliku. Lin Fir, nama aneh itulah yang menjadi nama baruku.

Tetapi, selain namaku, ingatanku yang lain masih utuh, karenanya ini membuatku sedikit bingung.

Ah, tempat ini disebut benua Raya. Tetapi, konyolnya aku tidak bisa menemukan peta atau sejenisnya yang dapat memperlihatkan gambaran dunia ini.

Sebenarnya, aku terkejut, bahwa desa ini disebut Desa Pemula.

Di sisi lain, penduduk desa ini semuanya aneh. Biasanya, aku dapat berbincang dengan mereka dengan normal, namun ketika kami membicarakan hal tertentu, mereka berubah menjadi NPC yang hanya bisa mengulangi dialog yang sama.

Parah, ini parah sekali! Di dunia bagian mana aku ini!

"Hei, kau mau uang? Apa kau tahu caranya pergi dari desa ini?"

Tepat ketika aku meratapi nasibku, ada suara yang memanggilku.

Aku berbalik, kulihat seorang gadis yang bahkan tingginya tidak sampai sedadaku. Ia mengenakan armor ringan berwarna hitam, dan membawa dua pedang pendek di punggungnya. Gadis dengan rambut kuncir dua yang putih berkilau itu mengernyitkan dahinya sembari memandangiku.

"Kau tidak sama dengan NPC-NPC ini yang hanya bisa diam di tempat yang sama, 'kan?"