Sugar Dark Indo:Volume 1 Lubang 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Lubang 1: Penggali Makam[edit]

Bab 1[edit]

Tanah di bawah kakinya basah, dan dari sekelilingnya ia bisa mendengar suara pohon yang melambai-lambai dan pekikan burung. Meskipun pemuda itu mengenakan penutup mata, ia dengan cepat menyadari bahwa ia telah dijatuhkan di dekat hutan.


Setelah terlepaskan dari bau busuk mobil Van* polisi, dia merasakan udara segar yang mengisi paru-parunya, dan itu terasa bagaikan suatu kemewahan. Bahkan ketika dia berpikir bahwa dia telah ditangkap sebelumnya, ia tidak ingat pernah menghirup udara yang sesegar ini.


[Mobil Van adalah mobil yang bagian belakangnya dilengkapi ruangan untuk mengangkut barang.]


Namun, saat pemuda itu hendak mengambil napas dalam-dalam, punggungnya ditendang dengan keras.


"Jalan, tahanan 5722*."


[Untuk istilah perbudakan, pada bahasa Jepangnya tertulis [オリッド/ oriddo]. Kemudian, ketika pemuda itu pertama kali menemui Karasu, dijelaskan bahwa istilah ini merupakan bahasa Slag jadul yang digunakan untuk budak pendayung di Galley. Sedangkan Galley adalah sejenis perahu zaman dulu. Mungkin ini adalah suatu kombinasi kata “Dayung” [オール / ouru] dan “Budak” [どれい / dorei]


Ketika disebut namanya, ia mengikuti arahan petugas. pemuda itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata pria muda, dan tubuhnya terkesan begitu kekar. Ketika seseorang melihat bayangan pemuda ini, maka dia akan segera mengira bahwa si pemuda adalah pria dewasa. Tapi, mulutnya, kulit kecokelatan yang mulus, dan tubuhnya yang lemah, mempertegas bahwa dia masih muda.


"Dimana aku? Bukan.... akan lebih baik jika aku bertanya.... kemanakah aku dibawa?" pemuda itu bergumam dengan suara rendah dan serak.


Dia bertanya-tanya apakah ada kamp pamakaman di balik penutup mata yang membutakan penglihatannya ini, dan juga berapa jam ia berada pada mobil Van tersebut. Tak seorang pun mau repot-repot memberitahu ke manakah dirinya dibawa pergi. Ia juga tidak berani bertanya. Akan tetapi, agar bisa berargumen, dia pun harus bertanya. Ia tahu bahwa hanya ada 2 kemungkinan tanggapan yang akan diterimanya. Yaitu, jawaban yang tidak menyenangkan, atau wajahnya mendapatkan dorongan yang kasar.


Dia berpikir bahwa berjalan dengan mata tertutup seperti ini sungguh sangat menyusahkan, namun pada kenyataannya, jalan yang dilaluinya begitu datar. Karena ia tidak bisa menggunakan penglihatannya, indera yang lain bekerja lebih baik daripada biasanya untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan lingkungan di sekitar. Tangannya diborgol, dan tepat di depannya, seorang perwira polisi militer menariknya ke depan. Tidak seperti dirinya, entah kenapa polisi ini tidak terasa seperti seorang manusia.


pemuda itu bisa merasakan sinar matahari yang menyengat di awal musim panas, dan dia menghirup udara alami yang harum dari pepohonan hutan. Meskipun ia sesekali menginjak rumput liar, ia tidak pernah tersandung atau terjungkal karena akar. Tempat ini tidak terasa seperti alam liar.


Tapi, itu justru aneh.


Tempat apakah ini?


Jantungnya berdebar-debar.


Meskipun ia tidak bisa mengatakan dengan pasti, ia merasa bahwa tanah yang dia pijak tidak terasa seperti tanah pada umumnya yang selalu ditemuinya selama hidup 16 tahun.


Ingatan dan gambar pemandangan yang pernah dilalui dan disaksikan olehnya terngiang-ngiang di kepalanya. Pada kota asal si pemuda, terdapat hutan pohon Beech*, dan juga tembok dan jalanan berpaving batu. Dia melihat salju menutupi jalan yang tak bernama, dan seorang prajurit terus menggali parit pada suatu lahan kosong.


[Beech adalah suatu pohon besar yang memiliki kulit kayu mulus berwarna abu-abu, dan juga kayu keras berwarna pucat. Nama ilmiahnya adalah Fagus sylvaticus, banyak terdapat di Eropa. Dikutip dari Kamus Besar Oxford, 2011]


Tidak peduli ke manapun kau pergi, kau akan selalu melihat jejak-jejak cairan yang menetes dari tangki. Aroma minyak, batubara, dan pasir menggantung di udara. Dia menyadari adanya alur unit gerobak pasokan, dan juga bau kotoran kuda yang berserakan. Sisa-sisa perkemahan militer yang hancur dikotori oleh bekas-bekas peledak. Ada juga asap mesiu ... dan bau daging manusia yang gosong.


Keringat mengalir keluar dari pori-porinya. Butiran-butiran air tersebut menetes ke ikatan di lehernya, namun di situ ada sebuah belenggu yang mencegah dia melarikan diri. Meskipun jengkel, tidak ada gunanya walaupun dia ingin melepas besi itu. Baik borgol pada pergelangan tangan, maupun pada ikatan di leher, keduanya mencegahnya melakukan apapun yang dia kehendaki. Terlebih lagi, meskipun kakinya tak terkekang, ia pun mengerti bahwa jika dia mencoba untuk mengangkat pahanya, maka rasa sakit yang menyiksa akan mencabik-cabik kakinya, dan langkah kaki pun akan terasa semakin berat.


Dia tidak ingin berjalan lebih jauh.


Namun, tiba-tiba dalam kegelapan penutup mata, suatu dorongan aneh terasa pada dadanya. Dia berjalan dengan mengenakan sepatu yang tak terikat, itu dilakukan untuk mencegah kemungkinan bunuh diri. Pada saat itu, ia mulai berpikir bahwa tanah yang dipijaknya tidak sepenuhnya tertutupi oleh rerumputan. Itu malah terasa seperti rambut pada janggutnya.


Rasanya seperti berjalan di atas sesuatu yang ...


Tambang yang mengikat pergelangan tangannya ditarik dengan kencang.


Seorang petugas berhenti, sembari mendecakkan lidahnya dengan kencang. Sebagai respon, tubuh pemuda itu menegang, dan dia sudah bersiap untuk menerima siksaan. Namun, rasa sakit akibat sisaan itu tidak pernah datang. Malahan, penutup mata itu dilepaskan dengan begitu kasar dari wajahnya. Pupil mata si pemuda hanya melihat kegelapan sampai beberapa detik yang lalu, namun kini sinar matahari musim panas menyilaukan matanya secara tiba-tiba, dan itu terasa cukup menyiksa. Dia mengelakkan wajahnya, seakan-akan barusan tertampar. Lantas dia menutupi wajahnya, dan itu hanya membuat para petugas mencibir dirinya.


"Buka matamu, pemuda."


Sembari berkedip, pemuda itu melakukan apa yang diperintahkan oleh si petugas.


Pandangannya masih kabur, putih dan tidak jelas.


Hal pertama yang dia lihat adalah seorang penjaga di sampingnya. Seperti yang dia duga sebelumnya, orang itu tampak berusia 30-an tahun, dengan wajah ramping dan panjang. Hal berikutnya yang dia lihat adalah tanah basah dan ditumbuhi tanaman hijau ... kemudian tampaklah suatu kuburan.


Kuburan... kuburan.... dan kuburan.... Yang dia lihat adalah suatu kompleks pemakaman. Tampaknya dia sedang berada di tengah hutan, dan pada bagian hutan yang terpangkas itu, dia melihat barisan patung-patung kematian. Terlihat juga batu-batu nisan yang ukurannya bermacam-macam, dan bahkan interval antara batu-batu nisan tersebut tidaklah seragam. Ada batu yang dipisahkan dengan jarak sekitar sepuluh langkah, namun ada juga batu yang dikelilingi oleh batu lainnya, seakan-akan itu terisolasi. Bahkan ada beberapa makam terletak pada hutan yang belum dipangkas. Beberapa batu nisan terbuat dari granit baru yang segar, dan beberapa kuburan telah terkikis oleh air hujan, sehingga tulisan di atasnya tidak lagi terbaca. Tidak ada rasa keseragaman atau keselarasan di tempat ini.


"Mungkinkah ini...?" Dengan suara seorang pemuda, ia terus bertanya pada si penjaga, "Jangan-jangan kau menyuruhku berjalan ke tempat ini karena tidak mau repot-repot mengangkut mayatku?"


Sembari tertawa, orang itu menjawab, "Kalo iya, kenapa?"


"Kalau begitu, aku menduga bahwa ini adalah suatu tragedi karena salah tangkap."


Namun si penjaga hanya merespon perkataan itu dengan tendangan tepat pada tengah perut si pemuda.


Meskipun dia merasakan sakit yang berlipat ganda, ekspresi wajah pemuda itu tidaklah berubah, dan dia hanya menunjukkan senyum pahit. Karena telah diberitahu bahwa ia akan menerima hukuman seumur hidup, maka ia tidak pernah berpikir akan dieksekusi di sini.


Heh, aku bertaruh bahwa orang ini tidak akan dihukum walaupun dia membunuhku.


"Pokoknya," si penjaga melanjutkan, "di sanalah tempat yang kau tuju."


Dengan jari telunjuk yang bagaikan tulang-benulang, penjaga itu menunjuk ke arah tempat yang akan mereka tuju. Pada salah satu sudut perbatasan antara hutan dan kuburan, pemuda itu melihat sekilas rumah yang besar dengan dinding berwarna putih. Rumah besar itu nyaris tak terlihat, seolah-olah itu telah terkubur dalam daun-daun pepohonan yang hijau. Menurutnya, rumah itu tampak seperti sebuah tempat di mana hanya ada satu orang yang tinggal di sana.


Saat mereka mendekat rumah tersebut, si pemuda ditarik ke depan oleh tali yang melilit borgolnya, dan pada saat itu juga, dia pun menyadari bahwa dinding itu tidak dicat putih. Warnanya memang putih, namun itu bukan karena cat, melainkan akibat bebatuan yang barusan digali. Bangunan itu ternyata tidaklah begitu besar, namun batas-batas rumahnya dikelilingi oleh Palisade* yang terbuat dari besi hitam tanpa secuil pun karat. Tiang-tiang pagar yang tak terhitung jumlahnya mencuat bagaikan tombak-tombak, semuanya menjulang ke langit, seakan-akan siap menusuk setiap pencuri yang hendak memasuki rumah tersebut. Pada sisi gerbang, terdapat pintu besi yang hampir membaur dengan pos jaga, dan pintu itu tertutup serapat-rapatnya. Tentu saja, tidak ada pesta selamat datang yang akan menyambut si pemuda.


[Palisade adalah pagar yang terbuat dari besi panjang.]


pemuda itu mulai ragu apakah ada manusia yang bahkan tinggal di sana. Area itu tidak memberikan tanda-tanda adanya aktifitas kehidupan. Antara pagar dan bangunan terdapat taman kecil, yang sepenuhnya terhampar rumput di atasnya, permukaannya datar, bahkan tidak ada sepucuk pohon atau semak pun. Tidak ada juga air mancur, atau patung, ia bahkan tidak bisa menemukan jemuran untuk mengeringkan pakaian.


Namun, yang dia temukan malahan suatu bel mekanik dan penerima pada suatu sisi pintu masuk yang terbuat dari besi. Orang kelas bawah tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan menggunakan peralatan seperti telegraf, sehingga pesan apapun dari luar tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut. Perkara mesin telegram, meskipun pemuda itu sering melihatnya selama dinas militer, sama halnya dengan tank, itu adalah alat-alat yang hanya dimanfaatkan oleh para perwira khusus. Orang seperti dia, hanyalah "tikus-tikus medan tempur"*, mereka tidak punya kesempatan untuk menyentuh peralatan seperti itu.


[Tikus di sini mungkin berarti umpan-umpan untuk meriam.]


Wow. Anehnya, tempat ini cukup mewah, begitulah pikir si pemuda dengan terkejut, namun dia hanya mengungkapkan itu dalam hati.


Para penjaga, yang tampaknya tidak terbiasa mengoperasikan peralatan itu, dengan canggung menekan belnya. Dia kemudian mengangkat telepon yang terpasang dengan kabel panjang dan kecil.


"Aku polisi militer Filbard, Bintara Barrida. Seperti yang sudah diatur sebelumnya, aku telah mengawal tahanan 5722. "


Setelah beberapa saat, seorang pria yang tampaknya sudah uzur menanggapi dengan suara sangat serak .


"Kami sudah menunggu kedatanganmu. Terima kasih perwira, kami sangat menghargai kinerjamu." * Volume suara itu begitu keras, sampai-sampai si pemuda yang berdiri di sampingnya tidak kesulitan mendengar pesan tersebut.


[Dialog tersebut ditulis dengan bahasa Jepang yang sangat sopan. Seharusnya ada panggilan kehormatan seperti -san, -sama, atau -dono pada kalimat tersebut. Namun dalam terjemahan LN ini, kami lebih memilih untuk menghilangkannya.]


"Perwira, saat ini tugasmu sudah usai. Karena kami sekarang akan menangani situasi ini sendiri, maka kami tidak lagi berhak merepotkan dirimu. Silahkan kembali, dan kami berharap perjalananmu pulang menyenangkan. Mudah-mudahan kau tak mengalami gangguan apapun dan tidak kekurangan apapun sesampainya di rumah."


Mendengar ini, ekspresi penjaga berwajah panjang itu tampaknya berubah menjadi marah. Tidak peduli seberapa sopan kata-kata itu diucapkan, tampaknya harga diri perwira ini tersakiti ketika atasannya itu menyuruh pergi dan membebas-tugaskan dirinya. Dengan suara penuh keluh-kesah, penjaga itu pun menjawab.


"Tapi tugasku adalah memastikan secara pribadi bahwa tahanan sudah dikawal dengan baik. Aku ingin agar kau membukakan pintu untukku. Dan juga, bukankah tidak sopan jika kau tidak menunjukkan wajahmu? "


"Kami menghargai usulmu. Namun, sementara kami berterima kasih karena kau sudah susah payah datang ke sini, kertas kerja tahanan itu telah ditandatangani oleh dua pihak, yaitu aku dan pihak militer-mu. Selanjutnya, mengenai isi dari perjanjian tersebut, aku tidak ingat bahwa ada pasal yang mengharuskan kau menyerahkan pemuda itu secara langsung padaku .... "


"Tapi ..." meskipun perwira itu menolak untuk mundur, sebelum ia bisa bersikeras, suara dari radio memotongnya.


"Maafkan aku, wahai prajurit. Apakah kau Bintara Barrida Clemens yang ditugaskan di wilayah Timur Filbard, dari kamp penjara Racksand? "


"Um, itu benar ..." Si penjaga menjawab dengan curiga setelah mendengar orang tersebut menyebutkan nama-nama itu dengan lancar.


Siapapun orang yang berada di ujung sana, dia berbicara dengan lancar selama sambungan ini belum terputus.


"Untuk kenyamananmu, kami telah memesankan tempat untuk dirimu pada restoran yang terletak di kaki gunung, bernama 'The Cat Earpick'. Di sana kau akan bersenang-senang bersama wanita-wanita yang telah kami sediakan dengan mewah. Tentu saja, minuman dan layanan lainnya telah sepenuhnya dibayar, sehingga kau tidak perlu mengeluarkan budget apapun. Dan karena jadwal kembalimu ke kamp tahanan mungkin akan ditunda sampai besok, maka kami akan menginformasikan hal ini pada atasanmu. Jadi, menurutmu bagaimana dengan tawaran ini? "


Tiba-tiba orang itu menawarkan suatu fasilitas yang jelas-jelas digunakan untuk hiburan, si petugas berwajah seperti kuda itupun kalap, bengong, sembari berkedip-kedip. Suara serak tersebut terus melanjutkan pembicaraan, namun kali ini dia rubah topiknya dengan begitu drastis, seakan-akan lawannya bicara sudah kalah dan takhluk padanya.


"Dan pemuda itu, apakah dia mengenakan pengikat leher?"


"Uh-huh ..." si perwira itu sempat ragu untuk berucap, namun dia segera membenarkan perkataannya. "Betul."


Dengan kesal, si penjaga menutup sambungan radio, lantas dia bergumam tanpa daya, "Aku tidak ingin berada di tempat yang suram ini lagi. Dia berbalik, dan ketika pandangannya bertemu dengan tatapan mata si pemuda, wajah penjaga itu berubah malu.


Kemudian, dia pun sadar bahwa pemuda yang sedang dihadapinya saat ini hanyalah seorang tawanan tak berharga, lantas dia meludahi kaki si pemuda.


"Hei, pembunuh perwira, jangan pernah berpikir untuk melarikan diri!"


Seolah-olah membuang puntung rokok yang tak lagi diperlukan, si penjaga melepas ujung tali yang melilit borgol pemuda itu.


"Sekali sebulan, akan ada inspeksi rutin. Jika ada masalah, kau akan segera dikembalikan ke kamp tahanan. Dan juga, selama majikanmu tidak begitu puas dengan kinerjamu, maka dia akan terus memasang pengikat di lehermu. Selain itu, tidak peduli di mana pun kau berada, tidak ada tempat bagimu untuk kabur.


Sembari tertawa, pemuda itu lantas menjawab, "Jika aku bersembunyi di bawah tanah, sepertinya tak seorang pun bisa menemukanku. "


Mendengar ini, si perwira justru tertawa lebih keras. Suasana hatinya tampaknya membaik 100 kali lipat dibandingkan beberapa menit yang lalu. Jika dilihat dari muka si perwira berwajah kuda, pemuda itu tahu bahwa mungkin saja ada beberapa kali inspeksi mendadak dan tak terduga nantinya.


Pria itu mencabut kunci borgol dari salah satu saku seragamnya, lantas melemparkannya ke halaman. Kemudian, dengan gaya berjalan mirip ketika seseorang menuruni tangga, ia berjalan kembali menuju ke mobil Van-nya.


Dan dengan borgol masih terpasang, pemuda itu ditinggal begitu saja di depan pintu besi.


Dia bertanya-tanya apa yang harus dilakukan sekarang; bagaimanapun juga dia tidak tahu apa-apa tentang orang yang menculik dirinya.


Yahh, apapun yang terjadi sekarang, aku jamin ujung-ujungnya pasti gak bagus.


Saat ia mendekati pintu gerbang besi, dia menginjak-injak daun di bawah kakinya, kemudian terdengar pekikan bernada tinggi "Caww" dari atas kepalanya. Ketika melihat ke asal suara tersebut, dia mendapati gagak raksasa sedang membentangkan sayapnya, dan setelah burung itu terbang, cabang-cabang pohon di sekitarnya pun berguncang. Sulit dipercaya bahwa burung ini, yang suara pekikannya begitu mengerikan, masih ada hubungan keluarga dengan burung kolibri ataupun burung gereja yang bernada merdu.


Dia ingat kata-kata yang barusan saja diucapkan oleh si penjaga. "Aku tidak ingin berada di tempat yang suram ini lagi."


-Si pemuda kini benar-benar setuju.


Bahkan sampai sekarang, perasaan aneh yang menginggapi dirinya ketika matanya masih disekap, masih saja belum hilang. Ia kembali melihat-lihat sekelilingnya. Cuacanya tidak terlalu panas. Mungkin beberapa orang suka berjemur di bawah sinar matahari pada awal musim panas, dan menghirup udara segar yang disaring oleh pepohonan di sekitarnya. Namun demikian, pemuda itu dan si perwira yang barusan pergi, senada dalam suatu hal. Terlepas dari fakta bahwa mereka sedang berada di kompleks pemakaman, ada suatu hal lain yang menyebabkan manusia merasa tak nyaman berada di tempat ini.


Sekali lagi, dengan menggunakan mata-kepalanya sendiri, dia mengamati setiap tanah yang dia pijak.


Tempat ini sungguh tidak menyenangkan. Yahh, seakan-akan aku sedang berjalan pada tumpukan punggung mayat.


Ketika sosok mobil Van polisi itu benar-benar sudah hilang dari pandangan, pintu besi terbuka dengan sendirinya. Dengan suara dentangan keras, terdengar bunyi logam yang saling bertubrukan bergema di udara.


Kemudian, sekitar 30 langkah dari posisinya, dari pintu masuk gedung yang tertutup oleh ukiran-ukiran detail, seekor anjing hitam tiba-tiba menyodorkan moncongnya keluar dari balik gagang pintu. Anjing itu lebih besar daripada anjing manapun yang pernah disaksikan oleh si pemuda semasa hidupnya. Jika ia harus mendeskripsikan hewan itu, penampilan anjing itu yang elegan membuatnya terlihat seperti seekor serigala, namun bulu tebalnya yang bagaikan mantel terlihat seperti telah disisir. Sebagai tambahan, sorot matanya begitu kalem seperti anjing yang sudah sering dilatih oleh majikannya. Namun, anjing itu mendekat dengan suara yang elegan ketika tapaknya memijak tanah.


Anjing hitam itu menggigit kunci borgol yang tadi dilempar oleh si perwira, dan si pemuda hanya bisa melongo melihat makhluk itu mendekat ke arahnya. Dari jarak yang cukup jauh seperti ini, dia tidak bisa menduga apakah anjing ini galak ataukah ramah.


"Silakan masuk, Tahanan 5722. Anjing ini akan menunjukkan jalannya." Suara datang dari bawah kap yang digunakan untuk melindungi radio tersebut dari hujan. Pria bersuara serak itu berbicara seolah-olah ia sedang menatap langsung ke wajah si pemuda.


Anjing itu kemudian memutar balik badannya, lantas menghilang dalam kegelapan pintu. Anjing itu bertubuh sangat besar, namun masih ada beberapa celah yang terlihat di antara badannya. Akan tetapi, si pemuda masih saja tidak bisa melihat apapun pada celah-celah tersebut, karena bagian interior rumah itu terlalu gelap.


Sepertinya aku diperintahkan untuk mengikuti hewan ini, akan tetapi....


Tak ada seorang pun menjaganya, dan juga tak ada seorang pun yang menarik-narik tubuhnya dengan tali. Namun, apakah dia benar-benar tak terjaga?


Tidak, bukan. Haruskah ia bersyukur bahwa anjing itu tidak menggigit tali di mulutnya?


Bahkan untuk seorang tahanan, memakai pengikat leher dan diseret ke depan oleh seekor anjing adalah suatu kenyataan yang menyedihkan. Tentu saja, dia tahu bahwa si anjing tidak akan mengerti perasaan seperti itu.


Segera setelah memasuki rumah sangat gelap dan tanpa jendela, dia tidak bisa merasakan apapun selain udara dingin. Tapi, setelah matanya berakomodasi maksimum untuk menyesuaikan dalam kegelapan, ia melihat adanya pintu masuk agak sempit pada lorong. Di sisi kiri dan kanannya, berjajar lampu minyak yang memancarkan cahaya redup.


Setelah menunggu pemuda mulai berjalan, anjing itu terus membimbingnya menyusuri lorong, dan si pemuda hanya bisa mengikuti hewan itu, seakan-akan ditarik olehnya. Terlihat suatu karpet yang tampaknya berkelas, dengan pola geometris tersebar di seluruh lantai. Bahkan, dia merasa bersalah ketika melihat sepatunya yang kotor menimbulkan beberapa cap pada karpet tersebut.


"Selamat datang di Kuburan Massal."


Suara itu bergema saat ia menapaki dalam suatu kamar tamu yang besar. Suara itu terdengar sama seperti suara serak yang membungkam si penjaga beberapa saat yang lalu.


Perlengkapan lampu menghiasi dan menerangi ruang yang terbuat dari potongan kaca, itu terlihat begitu indah, sampai-sampai akal sehatnya tidak bisa menilai seberapa berharga ruangan ini. Ada juga patung manusia memiliki sayap yang membentang dari punggungnya, sebuah lukisan minyak bergambarkan seorang gadis dan hewan peliharaannya yang berdiri di tepi danau, dan lilin emas cantik yang mendekorasi ruang tamu. Dan benda yang terdiam di tengah ruangan itu adalah suatu kursi besar berlapiskan kulit. Di atas bantalan kursi, duduk membungkuk seorang pria tua yang tubuhnya begitu kecil. Meskipun pemuda itu ingin menyembunyikan perasaannya tidak nyaman, ia tak kuasa menahan mulutnya yang terbuka, dan berbicara.


"Apakah kau adalah pemilik tempat ini?" pemuda itu bertanya, tapi menurutnya pak tua itu bukanlah pemilik rumah ini.


Kemudian tanpa menyadarinya, tatapan mata pemuda itu tertuju pada hidung pak tua. Tidak, lebih tepatnya, bagian wajah yang seharusnya terletak hidung. Pada wajah pak tua tersebut, batang hidungnya tampak tercongkel, dan yang tersisa hanyalah dua lubang dalam untuk bernapas. Namun, bagian wajah yang lebih meresahkan adalah tatapan mata kecilnya yang susah dibaca. Dia benar-benar tampak seperti Goblin yang biasa kita jumpai pada cerita-cerita dongeng lama. Namun, ia benar-benar memakai tal coat-nya * yang elegan.


[Tail coat adalah sejenis jas yang memiliki sepasang terusan mirip ekor di belakangnya. Biasanya jas macam ini dipakai oleh seorang pesulap atau pelayan pria (buttler)]


"Maafkan aku karena tidak memperkenalkan diri lebih cepat. Namaku adalah Daribedor. Kamu mungkin menganggapku sebagai juru kunci tempat ini. Seperti yang sudah kau duga sebelumnya, telah diputuskan bahwa mulai hari ini, kau akan bekerja di sini. "


pemuda itu berencana untuk sengaja berbicara dengan sinis, agar mengelabui orang tua tersebut. Dia hendak melakukan itu untuk mengungkapkan kebenaran, namun sikap sopan Daribedor tidak pernah luput. Itu saja sudah cukup bagi si pemuda untuk menyimpulkan bawah pak tua ini bukanlah tipe orang yang menyenangkan.


Dia kemudian bertanya, "Tapi, sebenarnya apa yang seharusnya aku lakukan sekarang?"


Mendengar itu, pak tua berkata sembari menunjukkan senyum kecut dan aneh di wajahnya yang tak normal, "Tidakkah kau berpikir bahwa hanya ada satu hal yang harus dikerjakan oleh seorang tawanan pada tempat seperti ini?"Lalu dari lubang yang seharusnya adalah bekas hidungnya, pak tua tersebut mendengus dengan ekspresi mengejek.


Bab 2[edit]

Bagian 1[edit]

Tawanan.*


[Lihat catatan kaki tentang Oriddo pada bab 1. Makna kata 'tawanan' di sini bukanlah 'sandera' yang biasa kalian ketahui, melainkan istilah untuk budak pendayung kapal.]


Awalnya, para sipir menggunakan kata tersebut (Oriddo) untuk menyebut budak-budak pendayung pada kapal Galley kuno. Karena budak sebagian besar bekerja keras pada kapal komersial, kata tersebut terus digunakan pada lingkungan kerja yang melelahkan. Namun, di masa sekarang, di mana perahu tidak lagi digerakkan dengan mendayung, melainkan digerakkan oleh mesin uap dan roda gigi, semua tahanan dipaksa mengerjakan pekerjaan buruh, tanpa terkecuali.


Para tahanan harus melaksanakan tugas-tugas seperti: menyembelih hewan, membuang kotoran dan limbah, menambang mineral, dan memangkas hutan. Dikarenakan kesulitan dan pekerjaan buruh yang melelahkan, hanya sedikit sekali orang yang bersedia melaksanakan tugas-tugas tersebut. Dan dalam kasus hukuman penjara seumur hidup, para tahanan dipaksa untuk bekerja keras sampai akhir hidup mereka, tanpa adanya kesempatan pembebasan bersyarat.


... .pemuda itu hanya disediakan sebuah sekop kecil yang bahkan lebih pendek daripada sekop pada umumnya. Batang sekop tersebut terbuat dari kayu polos keras yang begitu kering, sedangkan bagian mata pisau dan pegangan sekop terbuat dari logam tahan asam. Sekop itu terlihat baru, seakan-akan barusan dibawa ke sini dari pabriknya.


Sudah tiga hari sejak mobil Van polisi membawanya ke tempat pemakaman umum ini. Dan setiap kali pemuda bernama "tahanan 5722" tidak bisa tidur, ia menggunakan sekopnya untuk terus menggali lubang.


Tempat hidup pemuda itu sungguh bertolak belakang dengan kualitas sekop tersebut. Mengenai tempat tidurnya, ia telah disediakan beberapa ruang pada kandang busuk di belakang perkebunan. Jerami yang tersebar di atas lantai tampaknya sudah membusuk, sepertinya kandang ini sudah lama tidak dipakai untuk membesarkan kuda atau hewan-hewan ternak lainnya. Namun demikian, pada tiang-tiang kayu masih tertinggal aroma khas hewan ternak yang masih tersisa.


Tak lama setelah matahari muncul, pak tua dan seorang wanita tua muncul. Selain pakaian, rambut, dan hidung peseknya yang tampak seperti penyihir tua, penampilan mereka berdua begitu identik. Pak tua itu lebih baik dibandingkan si wanita karena dia masih menjaga perkataannya yang sopan. Namun, si wanita tua yang tampaknya sering mengurusi kuda ini, berbicara dengan kasar, "Bangun, dan kerjakan tugasmu, dasar orang malang."


Lantas, pemuda itu menjejalkan sebuah roti yang begitu keras, dan juga sup asin ke dalam perutnya. Dia pun berjalan ke kuburan setelah selesai makan. Dan di tengah-tengah sinar matahari yang terik, dia terus saja menggali kuburan yang sepertinya akan digunakan untuk menanam mayat seseorang kelak. Dia pun sudah semakin terbiasa dengan semua ketidaknyamanan ini


Sejujurnya, sejak saat penutup mata dilepas dari wajahnya ... .dengan kata lain, saat dia menyadari dia telah dibawa ke kuburan ini, pemuda itu punya firasat yang samar-samar bahwa suatu hari nanti nasibnya akan berakhir pada liang lahat yang digalinya saat ini. Apapun itu, kerja keras ini cocok untuknya. Dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan macam ini. Itu karena menggali lubang dan parit adalah tanggung jawab utama dari seorang tentara rendahan*.


[Maksudnya adalah para tentara yang berperang hanya dengan berlarian ke sana-kemari menggunakan kakinya, tanpa fasilitas-fasilitas seperti tank, mobil, ataupun lainnya.]


... Ia penasaran, berapa banyaknya ksatria yang telah dipindahkan pada garis depan medan perang, lantas ditugaskan kembali sebagai tentara rendahan. Seiring berkembangnya senjata api setelah revolusi industri, ksatria, prajurit tombak, dan prajurit pemanah dari seluruh pelosok dikumpulkan untuk dimanfaatkan tenaganya. Karena semua prajurit dipersenjatai dengan senjata api sebagai dampak dari produksi massal, maka terciptalah permintaan yang besar dari pihak militer untuk memproduksi perisai yang berguna melindungi tubuh mereka dari hujan peluru. Dan karena itu praktis, jumlah para tentara rendahan semakin melonjak ... dengan sekop di tangan, mereka melanjutkan penggalian pada suatu area tanah yang luas. Inilah asal mula sebutan "Tikus medan perang".


Setelah menggali hanya sedalam ukuran kepalanya, pemuda itu mengumpat karena sekopnya mentok pada suatu akar pohon yang besar. Pada saat yang sama, ia melantunkan doa dalam hati untuk menghormati tulang-benulang manusia yang mungkin tidak sengaja dia sekop. Tidak peduli apakah di padang gurun, dataran rendah, tepi hutan, atau ladang gandum yang telah ditelantarkan, aku berdoa untuk para sahabat “tikus”-ku, tidak peduli di mana pun mereka berada ... di mana pun mereka berada ... Aku berdoa mereka masih menggali sepertiku.


Saat itu, ia cukup bersyukur ketika pihak militer memberikan skop padanya untuk alat bantu. Dia begitu mengingat sekop panjang itu. Sekop itu telah membantunya menghindari panas yang menyiksa di balik ikat leher, sedangkan gelungan rambut di belakang kepalanya mencegah sengatan langsung dari terik matahari. Namun, sekop baru yang diberikan pak tua itu agaknya terlalu pendek


Namun demikian, lubang besar seperti ini mungkin tidak diperlukan untuk mengubur satu orang saja.


Dia mengambil nafas sejenak dan menatap hasil kerjanya. Seperti yang telah diperintahkan, dia sudah menggali lubang, tetapi tampaknya lubang tersebut cukup besar untuk digunakan sebagai landasan pondasi rumah sederhana.


"Jika meringkukkan mayat manusia, lantas dikuburkan di sini, mungkin meraka bahkan tidak membutuhkan jarak spasi kesepuluh. Sepertinya mereka berencana untuk mengubur suatu peti mati yang teramat besar, "gumamnya pada diri sendiri.


Atau, sepertinya lubang sebesar inilah yang membuat tempat ini dinamai "Kuburan Massal", pemuda itu bertanya-tanya seberapa banyak orang yang direncanakan akan dikubur di sini.


Setelah pertempuran besar, akan ada banyak mayat datang ke sini ... apakah itu alasan dia dibawa ke sini?


Yahh, aku tak peduli mereka akan menggunakan lubang ini untuk apa.


Ada hal lain yang seharusnya dia pikirkan, dan hal lain yang seharusnya dia temukan.


Selama tiga hari sejak ia tiba di tempat ini, satu-satunya hal yang dia pikirkan selain menggali adalah : melarikan diri. Anehnya, sepertinya dia adalah satu-satunya tawanan yang diperkerjakan pada Kuburan Massal ini.


Pengawasnya ... tidak...... meskipun sepertinya dia diawasi 24 jam sehari, jika Daribedor melakukan sesuatu pada pemuda ini, maka tak akan ada seorang pun yang tahu. Andaikan saja pemuda itu mampu bersembunyi entah di mana, maka bukankah dia bisa lolos dari tugas menggali lubang ini? Namun, jika dia tidak bisa keluar dari sini, maka seluruh sisa hidupnya akan dihabiskan untuk bekerja sebagai buruh dengan nama : "Tawanan # 5772".


"Ini bukan lelucon", gumamnya berulang sembari ia menggali.


Situasi ini sungguh bukan lelucon. Aku harus melarikan diri dari tempat ini. Di sini suram dan menyedihkan ...


Dibandingkan dengan belenggu yang biasa dia pakai dan jeruji besi yang dia dapati ketika menjalani masa uji coba, pengamanan di Kuburan Massal tidaklah begitu ketat, dan ini merupakan kesempatan baik baginya. Pertama-tama, yang harus dia lakukan adalah menyelinap pergi dari tempat ini, entah bagaimana caranya. Kemudian, ia akan pergi dengan memakai nama baru, menyamar menjadi orang yang berbeda, dan memulai hidup pada tempat yang tidak bisa dicapai oleh para militer ataupun polisi ...


Sembari pemuda itu bekerja keras dan hanya memikirkan cara melarikan diri, hari ketiga pun sudah berlalu dan malam datang. Setelah matahari terbenam, suasana kuburan ini menjadi lebih menyeramkan. Sementara kayu-kayu pada kandang kuda terus membusuk, angin bertiup melalui celah-celah bilik, sehingga terasa hawa dingin yang begitu ekstrim. pemuda itu ragu bahwa suasana akan membaik jika dia menyalakan beberapa lilin ataupun lampu minyak. Jadi, setiap kali awan menutupi bulan dan bintang-bintang, kandang kuda yang menjadi tempat tinggalnya benar-benar diselimuti oleh kegelapan. Kondisi ini sama persis ketika ia ditutup matanya. Dia tidak punya pilihan selain menarik selimutnya. Sialan, tertidur di malam pertama saja sudah sulit, dan aku harus mengakui bahwa tempat ini.... menyeramkan.


Tidak ada makhluk-makhluk menyeramkan seperti hantu. Dia yakin betul akan hal itu.


Di tengah-tengah kegelapan total, di mana tak ada seorang pun berada di sana kecuali dirinya sendiri, engsel tua pada bilik-bilik kandang berderit dengan suara menyeramkan, suara angin yang berhembus melalui celah-celah bilik pun terdengar menakutkan. Suasana seperti itu membuat si pemuda berpikir bahwa ada suatu makhluk yang sedang mendekatinya.


Ketika menyadari itu, dia langsung melompat dan memelototkan matanya untuk menegaskan bahwa itu semua hanyalah ilusinya. Namun, karena perasaan ini datang kembali lagi dan lagi, ia mulai meragukan apakah hantu atau roh-roh yang keluar dari mayat di kuburan hanyalah tahayul belaka.


Yahh, setidaknya tempat ini tidak akan diganggu oleh mayat-mayat yang mati penasaran.


Meskipun ia ketakutan, selama 2 hari ini dia membuktikan bahwa rasa takutnya itu tidak pernah menjadi kenyataan.


Untungnya, (untung atau tidak, sebenarnya dia tidak terlalu yakin sih) di malam ketiga ini, tidak ada satu pun awan yang mengambang di langit, dan bulan pun bersinar dengan terang. Sinarnya sangatlah terang, sampai-sampai dia bisa melihat ujung jari-jari kakinya dengan jelas, sehingga malam ini cukup baik untuk berjalan-jalan di sekitar.


pemuda itu bangkit dari tempat tidurnya yang terbuat dari tumpukan jerami dan papan kayu. Saat ia berdiri, seekor anjing hitam yang biasanya tergeletak di atas tanah pada pintu masuk kandang, melihat ke arahnya.


"Aku hanya ingin buang air kecil. Sepertinya malam ini kau tidak tidur di kandangmu, ya?" pemuda itu berkata dengan nada ringan, sembari melambaikan tangannya. Lantas, anjing itu pun keluar kandang dan mengikuti si pemuda di belakangnya.


Anjing ini cukup sopan, meskipun dia terlihat menakutkan, tapi tampaknya dia benar-benar memahami apa yang kukatakan.


Ini mengingatkannya pada dua masalah besar tentang melarikan diri.


Dua masalah tersebut adalah pengikat leher yang terpasang padanya ... dan juga leher anjing ini.


Tidak peduli apa yang pemuda itu lakukan, anjing hitam bernama "Dephen" selalu melihatnya. Dan walaupun pemuda itu tidak memandang si anjing secara langsung, ia merasa seperti selalu diawasi olehnya. Jadi, jika pemuda itu mencoba pergi ke manapun, "Dephen" akan selalu berada di belakang sembari mengikutinya.


"Dengan alasan apapun, seharusnya kau tidak pernah memikirkan upaya untuk melarikan diri," Daribedor berkata kepadanya pada hari pertama. "Dephen adalah penjaga makam yang sangat baik. Dan juga, ia merupakan anjing pemburu yang tak tertandingi. Kepekaannya terhadap bau dan taringnya membuat dia layak menjadi penjaga penjara yang tiada duanya. "


Seekor anjing menjadi penjagaku? Pada awalnya, pemuda itu setengah tidak percaya, tapi ...


Selama tiga hari ia terus diawasi, anjing ini telah melakukan tugasnya dengan standar keamanan yang begitu tinggi. Di masa lalu, manusia sering berperang secara langsung melawan anjing, dan mereka kesulitan meraih kemenangan tanpa menderita beberapa luka. Meskipun pemuda itu tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi jika ia bisa berhasil melakukan serangan mendadak terhadap si anjing dengan menggunakan sekopnya, itu tidak menjadi masalah, karena anjing tersebut selalu menjaga jarak yang cukup agar dia tidak berada dalam jangkauan serang si pemuda.


Sepertinya akan bagus jika Dephen kehilangan kewaspadaan ketika dia sedang makan. Si pemuda pun memancingnya dengan memberikan beberapa potong roti, kemudian dia melarikan diri. Namun itu tidak akan bertahan lama, karena si anjing akan segera menemukannya dengan mengandalkan indra penciuman yang tajam.


Setelah menghilangkan dirinya, pemuda itu tidak langsung kembali ke kandangkuda. Sebaliknya, ia berjalan tanpa tujuan di sekitar pagar samping rumah. Ia enggan menoleh ke arah pemakaman itu. Bahkan suara gemerisik daun karena angin, membuatnya merasa tidak nyaman.


Tapi ... sungguh tidak akan ada orang yang keluar di malam hari, kan? Tidak akan pernah ada pria yang berjalan tanpa kaki, atau makhluk sejenisnya.


Yah, walaupun ia memutuskan untuk menunda melarikan diri, ia masih penasaran dengan apa yang terjadi pada pemakaman ketika matahari sudah terbenam. Tak peduli kemanapun arah tujuannya, jikalau ia melarikan diri di tengah malam, ia harus menembus hutan yang gelap gulita ... dan mungkin itu sama saja dengan upaya bunuh diri. Meskipun dia berhasil menembus hutan, dia masihlah tidak tahu apakah berhasil menemukan kota terdekat. Walaupun dia dapat menemukan beberapa jejak ban, yang membuatnya semakin optimis, ia masih harus menelusuri ke mana berakhirnya jejak ban tersebut. Dan untuk menelusuri jalan itu, dia harus meninggalkan kompleks pemakaman.


Benar juga. Makhluk-makhluk yang mengerikan seperti hantu tidak pernah ada. Lagipula, bukankah lebih menakutkan ketika pucuk-pucuk senjata diarahkan padaku, seperti pada saat itu?


Setelah pikiran itu terlintas pada benaknya, si pemuda memasang kewaspadaan yang sama ketika matanya disekap dan dipaksa menuju ke kuburan.


Batu-batu nisan yang tak terhitung jumlahnya bermandikan cahaya bulan, sehingga menciptakan sinar biru yang mencolok di tengah kegelapan. Tetapi pada saat yang sama, warna batu lapuk itu membuatnya berpikir tentang tulang-benulang yang terkubur di bawahnya.


Tadinya dia berencana untuk mempelajari seluk-beluk kuburan massal ini, tapi karena pandangannya tidak bisa menembus kegelapan, ia malah merasa bahwa kuburan ini terlalu luas. Tidak peduli menghadap ke arah manapun, yang bisa dia lihat hanyalah batu nisan identik yang berserakan dan hutam gelap gulita sebagai background-nya. Dan karena ia pernah menghadap ke berbagai arah sembari matanya disekap, pemuda itu mendapatkan semacam firasat bahwa dia tidak akan sanggup menemukan jalan kembali ke kandang kuda ketika dia meninggalkannya . Namun, dalam keadaan seperti inipun, dia masih merasa bahwa anjing itu bisa menemukannya dengan mengikuti di belakang.


"Wahai tawanan, tak peduli apakah kau lega ataukah tidak ketika si penjaga meninggalkanmu, anjing itu akan tetap menemanimu sampai akhir. "


Saat ia memikirkan kata-kata Daribedor tersebut, senyum pahit tanpa sadar muncul di wajahnya.


Tidak apa-apa, kan? Tempat ini mungkin serasa angker, tapi pada akhirnya, hantu adalah makhluk-makhluk yang hanya ada di buku cerita.


Sembari angin bertiup, dia berjalan melalui kuburan, namun entah kenapa jiwanya malah terasa begitu bebas.


Tentu saja dia sadar bahwa ini hanyalah perasaannya saja, karena nyatanya, tengkuk dan kedua lengan pemuda itu dikekang dengan begitu erat. Cukup sampai di sini hari ini ... Mungkin aku harus lanjutkan besok ... sembari terus melangkah, pikiran itu terngiang di benaknya.


Tiba-tiba, dia baru sadar bahwa dia sedang berdiri di depan lubang yang telah digalinya tempo hari. Dari posisinya berdiri, seakan-akan semacam ruang bawah tanah bisa dibangun pada lubang besar tersebut. Cahaya bulan tidak sanggup mencapai dasar lubang itu, dan kegelapan tampaknya seperti cairan yang menggenang di bagian bawah ... pada batu nisan di dekatnya juga tidak ada tulisan apapun. Sehingga, bisa dikatakan bahwa kuburan ini bukan milik siapapun.


Krtika siang, ia bertanya-tanya siapakah orang yang akan dikubur di bawah makam ini.


Dan sekarang, pertanyaan tentang apa yang akan terjadi padanya setelah ia mati, menggenang di dadanya.


Jika dia melanggar salah satu aturan dalam batas-batas kamp penahanan, ia akan diberitahu secara rinci tentang hukum pidana. Tapi tidak ada yang mengatakan padanya tentang apa yang akan terjadi jika ia mati di sini. Misalnya, jika upaya melarikan dirinya gagal, lantas ia mati karena tenggorokannya digerogoti oleh anjing hitam, akankah tubuhnya dikubur di pemakaman ini?


Bagi si pemuda, itu tampaknya sia-sia, karena tak seorang pun akan berduka atas kematiannya. Lagipula, sebelum diadili di pengadilan, telah diputuskan bahwa nama pemuda itu (yang namanya merupakan pemberian ayahnya) akan dicabut. Jadi, mungkin saja tulisan pada batu nisannya akan dikosongi.


Penggali makam tidak memiliki makamnya sendiri.


Sindiran itu sekali lagi membuatnya tersenyum getir. Tapi, dia tidak tahu apakah ia harus merasa sedih atau frustrasi dengan situasi seperti ini. Perasaannya tidak menentu, dan dia pun merasa hampa. Bahkan, kehampaan ini menyerupai kegelapan pada dasar kuburan terdalam.


Ketika ia mendengarkan suara angin yang tiba-tiba berhembus, sepertinya dia mendengar sesuatu yang lain. Kedengarannya seperti suara gemerisik pakaian ... tampaknya ada sesuatu yang bergerak.


Ketika memutar kepalanya ke arah datangnya suara, si pemuda melihat bahwa anjing itu telah menghilang tanpa sepengetahuannya.


Keringat dingin mengalir pada tengkuk si pemuda.


Setelah ditinggalkan sendirian, pemuda itu pun menyadari tempat macam apakah ini. Bagaikan seseorang yang merasa bersalah, ia memeriksa keadaan sekitar dengan gelisah.


Yang mengepungnya hanyalah kumpulan batu nisan ...


Lubang raksasa terdapat di hadapan kakinya ...


Terdengar juga suara gemerisik hutan yang gelap ...


Sinar rembulan pun semakin redup ...


Pada sudut pandangannya, dia menyadari bahwa ...


Ada sesuatu di sana.


Selain aku, siapa lagi yang keluyuran pada kuburan terpencil di tengah malam seperti ini?


.......... Pikirannya kosong.


Apa pun itu, postur makhluk itu seukuran manusia dan mengenakan mantel berwarna biru kehitam-hitaman. Mantelnya mencapai ke kaki dan berkibar karena hembusan angin.


Roh*..... Dedemit*..... Setan*.... Di dalam kepalanya, si pemuda hanya bisa memikirkan sosok hantu yang biasa didoktrinkan oleh orang-orang dewasa melalui cerita-ceritanya.


[Roh di sini, Kanji-nya adalah 死霊 , artinya : roh yang kasat mata. Dedemit di sini, Kanji-nya adalah 悪魂機鬼 , artinya : makhluk astral. Setan di sini, Kanji-nya adalah 影魔 , artinya : makhluk mirip dengan hantu, bukan setan yang berhubungan dengan sifat.]


Mantel itu menciptakan bayangan, sehingga si pemuda tidak bisa melihat sosok asli makhluk tersebut. Namun, paling tidak pemuda itu tahu betul bahwa makhluk tersebut menyadari kehadirannya. Karena.... makhluk itu sedang mendatangi tepat ke arahnya.


Haruskah ... Aku ... .lari?


Dia kesulitan bernapas. Dia tidak lari, tetapi itu terjadi karena tubuh tidak mematuhi perintah otaknya. Ketakutan mengambil alih kendali tubuhnya, sehingga menyebabkan dia panik, dan pikirannya pun benar-benar lenyap. Kakinya beku, seolah-olah ia adalah seorang prajurit di depan sebuah granat yang dilemparkan padanya. Dia merasakan pusing yang luar biasa, dan tubuhnya gemetaran tanpa bisa beranjak se-inchi pun. Mungkin dia harus bersyukur karena kandung kemihnya sedang kosong, karena jika tidak, maka celananya pasti sudah basah karena kencing yang mengucur tanpa terkontrol.


Sembari bergoyang perlahan dari sisi ke sisi, kecepatan makhluk yang mendekat itu sebenarnya cukup lambat, tapi dalam situasi seperti ini, pemuda itu tak lagi bisa menilai kecepatan suatu benda.


Apakah aku ... pingsan ...


Itu adalah sensasi yang aneh. Dia harus lari. Itulah satu-satunya hal yang bisa dipikirkan oleh si pemuda. Dia harus lari. Dia harus lari dari kejaran hantu itu ... dan dari kuburan ini. Meskipun kakinya terasa seperti mengakar ke dalam tanah, ia mengerahkan segenap tenaga yang tersisa untuk berusaha menggerakkan tubuhnya.


Tapi beberapa saat kemudian, kekuatan terkuras dari lututnya, dan dia pun jatuh dengan keras. Saat ia jatuh ke bawah, entah kenapa jarak tubuhnya ke tanah terasa lebih jauh dari semestinya.


Bagaimanapun juga, aku sudah tahu bahwa tidak ada hal baik yang akan terjadi padaku.


Di tengah kuburan, di tengah malam, pemuda itu kehilangan kesadaran.


... Tapi beberapa detik sebelum pandangannya berubah menjadi gelap gulita, dalam tudung mantel milik makhluk itu, dia melihat suatu wajah yang begitu putih.


Bagian 2[edit]

... Memori lamanya teringat kembali. Secara bergantian hidup – mati, ia bisa mendengar suara bernada tinggi Kiiiiin.kiiiiin yang datang dari sebelah kamarnya yang kecil. Dia sudah sering melihat langit-langit yang tampak tua seperti ini, dan dia sangat familiar dengan pemandangan tersebut ... karena itu adalah langit-langit rumahnya ... langit-langit rumahnya yang terletak pada kota asal si pemuda.


Sembari berusaha tidak membangunkan saudara laki-laki yang tidur di sampingnya, pemuda muda itu dengan pelan menyelinap keluar dari tempat tidur. Ketika memijakkan kaki pada lantai, dia menyadari bahwa bidang pandangannya lebih rendah daripada sekarang .... Dia dengan samar-samar menyadari bahwa itu adalah mimpinya ketika dia masih kecil.


Kiin ... Kiin ...


Dia segera tahu suara apakah itu. Ayahnya, yang merupakan seorang tukang batu, sedang mengayunkan pahat dan palu.


Si pemuda muda termangu menatap punggung ayahnya yang bulat. sembari ia duduk pada sebuah pijakan tangga kecil. Si ayah terus menuangkan semua pikiran dan energinya pada ukiran batu tersebut.


Sebenarnya dia tidak begitu mengingat suara ayahnya. Tapi dia ingat betul bahwa si ayah adalah orang yang keras kepala dan pendiam. Sebenarnya, dia sangat-sangat tenang ... .bahkan, hampir mirip sebongkah batu. Mungkin saja, jika kau berkutat dengan batu untuk waktu yang lama, maka tubuh dan hatimu juga menjadi sekeras batu. Ayahnya sedikit memangkas jenggot yang tampak berduri seperti sikat gosokan yang sering dia gunakan untuk menyeka papan batu. Dan telapak tangannya sedikit kotor dan kasar bagaikan kulit gajah.


Kemudian, ia ingat tinggi badan ayahnya. Pria itu sungguh lebih tinggi daripada badannya saat ini. Bahkan, jika dipikir-pikir lagi, agaknya aneh bahwa pria setinggi itu mempunyai anak sependek dirinya. Namun, di tengah-tengah memorinya, ia juga ingat bahwa perawakan ayahnya cukup besar. Perawakan tubuh yang kuat dan padat meninggalkan kesan bahwa ayahnya adalah seorang pria yang kuat.


Ketika pemuda itu menatap punggung ayahnya tanpa bergerak sedikit pun, ayahnya pun menolehkan kepala ke arahnya.


"XXXXX, kau tidak bisa tidur?" Ia bertanya, seraya memanggil nama si pemuda muda.


Dia tidak bisa secara akurat mengingat bagaimana bunyi suara itu, mungkin karena ini hanyalah sebuah mimpi. Dan, suara itu benar-benar terdengar lebih cepat daripada apa yang biasa diucapkan oleh ayahnya. Meski begitu, pemuda itu merasa lega. Mungkin kelegaan itu terasa karena si ayah memanggil namanya ...



Sejak kapan aku mulai mengalami mimpi tentang ayahku ... , tawanan itu berpikir di tengah-tengah tidurnya.


Dia segera bangun ... Jika memungkinkan, dia harus bersiap-siap bekerja hari ini sebelum wanita tua berisik itu kembali. Namun, entah kenapa dia merasa begitu hangat dan nyaman, sampai-sampai dia merasa seperti belum terbangun. Rasanya seperti ketika kepekaan panca indra dan kesadaranmu mulai lenyap, saat kau mandi pada suatu bak yang nyaman. Sedikit lagi, dia bisa melanjutkan tidur dan terus bermimpi tentang ayahnya di masa lalu.


Tapi, dia bisa merasakan tanah di mulutnya.


Karena mendapatkan perasaan yang tidak enak, pemuda itu pun membuka matanya.


Namun, meskipun berniat demikian, entah kenapa sisi sebelah kiri tubuhnya begitu gelap. Dia mencoba untuk berkedip, tapi rasa sakit yang tajam menusuk mata kirinya. Dan saat ia berbaring ke sisi sebelah kanan, ia bisa melihat dinding tanah tepat di depannya.


"Apa ini…?"


Karena kaget, ia bangkit. Bukannya berada di kasur, tubuhnya justru terselimuti oleh tanah, kotoran, dan semacamnya. Setengah dari tubuhnya terkubur di bawah tanah ... tidak, lebih tepatnya, tubuhnya telah dikubur. Mungkin terdengar seperti lelucon, namun pemuda itu benar-benar terkubur pada lubang yang dia gali tempo hari.


Betul juga, tadi aku sempat pingsan .


Sebelum ia bahkan memahami keadaan di atasnya, gumpalan tanah dituangkan padanya, dan menutupi kepala si pemuda. "Waah, apa-apa'an ini, ugh." Sembari meludakan benda asing yang masuk ke mulutnya, pemuda itu lantas mendongak.


"Kau masih hidup?" ucap sepasang bibir berwarna mirip bunga sakura.


Mata pisau sekop, yang tampak seperti alat yang baru saja dimiliki oleh si pemuda, tampak memancarkan cahaya perak terang seperti sinar bulan yang terpantul pada logam. Pada mata pisau itu termuat segumpal tanah yang tampaknya akan segera dijatuhkan, namun hal yang paling menarik adalah seorang gadis yang memegang sekop itu sembari melihat ke bawah dari pinggir sisi lubang.


"...."


Jubah biru gelap yang gadis itu kenakan sama persis dengan yang ia lihat sebelum pingsan. Dan dia pun yakin apa yang dilihatnya dibalik tudung itu pastilah wajah manusia, namun sesungguhnya, dia adalah seorang gadis yang begitu cantik. Setidaknya ia berpikir begitu. Tatapan mata gadis itu membuatnya kesulitan bernapas, namun itu bukan karena rasa takut.


Untuk sementara waktu, gadis itu melihat si pemuda tak bergerak yang meringkuk di dalam lubang. Tapi kemudian, ia sedikit memiringkan kepalanya ke samping dan bertanya, "Atau, kau bisa bergerak meskipun sudah mati? "


"... .Apa yang sedang kau bicarakan?" pemuda itu berseru untuk menanggapi pertanyaan sangat aneh yang dilontarkan oleh si gadis, dan kini sikap kakunya sudah benar-benar hilang.


Suara gadis itu begitu pelan dan merdu; mata biru gelap miliknya tampak penuh dengan kecurigaan, dan dari tudungnya sedikit terurai rambut mengkilat yang berwarna coklat kemerahan. Selama hidup 16 tahun lamanya, si pemuda tak pernah melihat makhluk seindah ini. Dan dia pikir, dia tak akan melihat keindahan yang melebih ini di masa depan kelak.


Sd 035.png


…Tunggu. Jangan marah. Apakah kau sudah lupa dimanakah kau berada? pemuda itu bertanya pada dirinya sendiri, sembari memejamkan matanya dengan erat.


Sembari berusaha menenangkan hatinya yang meronta-ronta, sejumlah besar pertanyaan terus menumpuk di dalam benaknya.


Tentu saja, ekspresi gadis itu menyatakan bahwa dia tidak pernah melihat si pemuda bekerja di kuburan ini beberapa hari terakhir. Bahkan dengan sedikit lirikan saja, si pemuda percaya bahwa ia tidak akan pernah melupakan wajah gadis itu. Tapi, apa sih yang dia lakukan di sini, pada jam ini? Tidak, logikanya memaksa si pemuda untuk berpikir bahwa tidaklah wajar bagi seorang gadis keluyuran di tengah-tengah kuburan pada jam segini.


Dia tampak seperti manusia, tapi aku tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa dia bukanlah sesosok hantu cantik


Awalnya sih tidak ...


"Siapa kau?" tanya pemuda itu, sembari berusaha berdiri.


Seperti yang sudah dia duga, gadis berkerudung itu menatap si pemuda dengan pandangan penuh kecurigaan. Meskipun ia tidak terlihat panik atau takut, ekspresinya tampak seperti perpaduan antara kebingungan dan ketertarikan. Seolah-olah, ketika dia berjalan menyusuri jalanan, tiba-tiba dia melihat seekor anak ayam yang menetas dari telur.


Awalnya gadis itu tidak berkata apa-apa, tapi ketika si pemuda mulai bertanya-tanya, apakah dia diam karena tidak memahami pertanyaan yang diajukan oleh si pemuda, gadis itu pun akhirnya mengatakan sesuatu,


"Meria dari Kuburan Massal" *


[Pembaca juga bisa mengartikannya : Meria si Kuburan Massal. Ini seperti nama julukan tentang suatu tempat yang dipadukan dengan nama si karakter tersebut, seperti : Si Buta dari Goa Hantu, Si Naga dari Timur, dll. Namun sang penulis tampaknya berusaha agar nama tersebut terkesan seperti namanya yang sebenarnya.]


Si pemuda memerlukan waktu beberapa menit untuk memahami bahwa gadis itu ternyata sedang berusaha menyatakan namanya.


"Meria?" Untuk memperjelas, ia mengulangi nama tersebut, lantas si gadis meresponnya dengan sedikit mengangguk.


Lanjut, si pemuda pun bertanya, "Apa-apa'an yang kau lakukan di sini, tengah malam begini?"


Gadis itu menjawab, "Ini wajar, karena aku adalah sang penjaga kuburan."


Seolah-olah, si gadis sedang berusaha untuk melengkapkan penjelasannya ... sehigga, Meria tidak mengatakan apa-apa lagi.


Karena tidak lagi mampu menahan tatapan mata gadis itu, si pemuda mengalihkan pandangannya, kemudian dia memutuskan untuk fokus merangkak keluar dari lubang. Saat ia berusaha keluar dari lubang yang dalamnya hampir sama seperti tinggi badannya, ia akhirnya melihat cap kaki di pinggir lubang yang berantakan di mana dia kehilangan keseimbangan.


Beberapa saat lalu, dia pikir Meria adalah hantu sehingga dia hendak melarikan diri, kemudian dia jatuh, dan kebetulan kepalanya terbentur sesuatu, lantas dia kehilangan kesadaran. Mungkin itu juga alasan mengapa dia merasakan sakit pada lehernya. Sungguh tak ada yang lebih tidak menyenangkan daripada rasa sakit itu. Yahh, apapun itu, dia kini semakin bersemangat karena tahu bahwa gadis centik itu meresponnya. Lantas, dengan wajah memerah, ia mendaki lereng lubang tersebut.


Setelah kakinya akhirnya menyentuh permukaan, ia berdiri dan mlihat ke bawah pada gadis itu, sedangkan si gadis malah mendongak ke atas untuk melihat wajahnya. Dengan berdiri berdampingan, tinggi gadis itu hanyalah sedadanya. Untuk seorang gadis, sepertinya tinggi badan Meria tidaklah begitu baik.


Mereka berdua tampaknya seumuran, atau mungkin Meria sedikit lebih muda. Tubuh kecil dari kepala sampai ke pergelangan kakinya benar-benar tertutup oleh mantel biru gelap. Hanya wajahnya saja yang ketara, dan selain wajahnya, bagian tubuh yang terungkap adalah kakinya yang telanjang dan berwarna putih bersih.


"... Dan kau adalah.........?" tanya gadis itu, sembari memiringkan kepalanya ke samping.


Bayangan wajah si pemuda tercermin jelas pada mata biru jernih milik Meria, yang bagaikan permukaan danau tanpa riak sedikit pun.


Kamu siapa?


Pertanyaan dan tatapan matanya secara langsung menembus pikiran si pemuda.


Nah lo ... siapa ya aku ini ... ? Dia bertanya-tanya bagaimana ia harus merespon pertanyaan itu, dan banyak sekali jawaban yang terlintas di pikirannya.


Putra ketiga dari seorang tukang batu, tikus tanah medan pertempuran, pembunuh atasan, tahanan # 5722. Dan sekarang, Penggali Makam tak bernama. Masing-masing julukan yang dia pikirkan begitu cocok dan mewakili dirinya dengan tepat.


Tapi…


Panggilan apa sih yang ingin kudengar tentang diriku?


"Muoru".


Nama aslinya.......... sudah diambil.........


"Namaku Muoru Reed."*


[Mouru adalah kata serapan bahasa Jepang untuk “Mole” dari bahasa Inggris, yang berarti tikus tanah.]


... Ketika dia lahir ... .itu adalah nama yang diberikan ayahnya.


Kata itu berbeda dari tanah yang ada di mulutnya. Dia mampu mengungkapkannya tanpa rasa tidak nyaman.


Jika dipikir-pikir, itu adalah nama yang konyol. Tapi selama memori seseorang tidak memudar, tidaklah mungkin nama seseorang dibuang.


"Muoru, ya?" Seolah-olah meniru ekspresi tercengang sebelumnya, si gadis mengulang kembali nama pemuda itu.


Si pemuda mengambil langkah mundur untuk sedikit menjauhkan diri dari Meria.


Kemudian, seakan hendak melindungi jantungnya, si pemuda meraih dadanya.


Mengapa aku begitu terkejut ketika seseorang memanggil namaku?


Dia terkejut karena hal semacam itu, lantas si pemuda mencari alasannya mengapa dia begitu terkejut. Mungkin, meskipun dia bisa menyatakan namanya, dia sungguh lupa bagaimana rasanya dipanggil namanya oleh orang lain.


Pasti itu. Itu adalah satu-satunya alasan.


Gadis itu lagi-lagi memiringkan kepalanya ke samping, rambut mengkilap miliknya sedikit melambai di depan dadanya.


"Jadi, apa yang sedang kau lakukan di sini?" gadis itu bertanya.


"Aku hanya ... Pihhhh ... .."


[Pada novel ini tertulis し ょ ... う, kanjinya :「小便」 Mungkin dia menahan malu karena terkencing-kencing.]


"..."


"..."


"Pihh?" tanya Meria dengan suara yang manus, dia mengulang kembali perkataan yang diucapkan oleh si pemuda dengan ragu-ragu.


"Lega deh,"* Muoru mengulang perkataannya yang tak jelas sembari mengkerutkan dadanya.


[Kanjinya adalah : 手洗 い , yang merupakan ungkapan setelah orang keluar dari toilet.]


"Baiklah." gadis itu mengangguk, dan ketika dia melakukan itu, si pemuda melihat tulang selangka ramping yang tersingkap di antara tudung dan rambut milik si gadis.


"Ah, umm ..." seraya bergumam, pemuda itu mencoba menyusun kalimat.


Meskipun seharusnya ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, anehnya otak si pemuda berputar dengan begitu lamban, sehingga tak satu pun pertanyaan bisa dia ungkapkan. Ketika kembali menatap si gadis, ia bisa merasakan pikirannya menjadi sedikit mati rasa, seperti ketika dia mabuk akibat alkohol, dan juga bau bunga*. Namun, ini adalah pertama kalinya ia mengalami sensasi tersebut ketika berbicara dengan orang lain. Dan itu begitu menyenangkan baginya ....


[Ini pasti bunga aromatis yang bisa menimbulkan candu.]


Tiba-tiba gadis itu berpaling.


"Ya sudah kalau begitu ...." kata Meria, dia dengan cepat berjalan pergi, seolah-olah telah kehilangan semua minat pada si pemuda.


"Tu ... tunggu sebentar!" Muoru berteriak seketika.


"... ..?"


"Tidak ... ..anu....," meskipun ini adalah saat yang tepat untuk menghentikan Meria, lagi-lagi otaknya serasa berhenti berputar, sehingga dia pun tidak punya ide tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dengan posisi masih berpaling, Meria menengok si pemuda. Wajahnya setengah tertutupi oleh tudung mantel, namun gadis itu menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip, seolah-olah mereka berdua sedang bermain permainan tahan-tatap*.


[Ciu menyebutnya “tahan-tatap”, ini adalah suatu permainan yang biasa dilakukan oleh anak kecil pada masa Ciu masih muda dulu. Peraturannya adalah, dua orang anak saling menatap satu sama lain, dan yang terlebih dahulu berkedip, maka dia lah yang kalah. Belakangan ini, permainan ini sudah jarang dimainkan, mungkin semakin ditinggalkan karena dianggap konyol. Dan Ciu baru tahu bahwa permainan ini ternyata juga ada di Jepang, sepertinya memang berasal dari sana]


Si pemuda tidak yakin apakah dia terlalu teliti dalam mengamati atau tidak, tapi meskipun dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun, seolah-olah gadis itu menunggunya mengucapkan sesuatu, dan seakan-akan waktu telah berhenti.


"... Sekop itu.... sepertinya adalah milikku. Maaf, tapi bisakah kau meninggalkannya di sana?" akhirnya si pemuda bisa mengajukan sebuah pertanyaan. Sepertinya Meria barusan tersadar, sehingga dia melihat sekop yang berada di tangannya. Kemudian, dia menatap kembali pada lubang yang barusan coba dia timbun, lantas dia melihat ke arah Muoru lagi.


"Apakah kau yang menggali lubang ini?" tanyanya.


pemuda itu mengangguk, dan Meria terus menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.


Kemudian tanpa peringatan, Meria bergegas lari ke arahnya. Dia nyaris tersandung karena terburu-buru. Tapi sebelum menabrak si pemuda, dia berhasil menghentikan langkahnya kira-kira 1 meter di hadapan si pemuda, lantas Meria mengulurkan sekop logam tersebut. Secara refleks, pemuda itu menerima sekopnya. Seperti yang terjadi sebelumnya, otaknya tidak mampu berputar dengan benar sehingga tak satu pun ide yang mampu dia pikirkan.


Namun, si pemuda masih sanggup berkata, "Terima kasih".


Ia merasa bahwa kesopanan tidak diperlukan ketika seseorang mengembalikan barang miliknya, namun dia tidak bisa mengungkapkan apapun selain perkataan itu.


"..."


Entah kenapa, gadis itu mengedipkan matanya dengan cepat. Saat Meria menatapnya, Muoru bisa melihat pantulan bulan yang indah di matanya. Lalu tiba-tiba, bagaikan seorang tentara yang mengambil langkah mundur ketika kalah berperang, ia menjauhkan diri dari si pemuda.


"Selamat tinggal," kata gadis itu. "Ummm ... ..Muoru?"


"Ya…"


Ketika si pemuda masih diam mematung, Meria berjalan menjauh tanpa sedetik pun membalikkan badannya.


Muoru hanya bisa menatap si gadis berjubah, tapi setelah beberapa saat, Meria benar-benar memudar ke dalam kegelapan ...... bagaikan hantu atau sejenisnya.


Bab 3[edit]

Ketika cacing tercangkul bersama-sama tanah, makhluk tak beruntung itu putus menjadi 2 bagian, lantas mati.


Seekor tikus tanah selalu melihat cacing setiap harinya, dan Muoru pun sering melihat cacing walaupun 'tikus' hanyalah nama julukannya. Karena cacing sering kali tiba-tiba muncul di area perkuburan, tentu saja dia beberapa kali tak sengaja memotong tubuh hewan melata itu.


Meskipun membunuh cacing adalah hal yang biasa untuk seorang penggali tanah, hari ini Muoru terpesona oleh apa yang seharusnya hanyalah pemandangan biasa. Dia tidak tahu mengapa dia begitu antusias menatap mayat cacing yang sudah mengering, namun pada akhirnya ia menjatuhkannya begitu saja ke tanah.


Mulai hari ini, ia diperintahkan untuk menggali lubang baru, mungkin dia keliru ketika berpikir bahwa makam yang dia gali kemarin dimaksudkan untuk dirinya. Untungnya, kali ini hanya sebuah lubang untuk seorang manusia berukuran normal. Namun, saat ia menggali lubang yang lebih dalam, berarti ia harus mengangkut lebih banyak tanah. Kemudian tanah itu dia pindahkan ke sutu tempat. Waktu yang diperlukan untuk memindahkan tanah itu bahkan lebih lama daripada waktu yang dia perlukan untuk menggali.


Yahh ... ia sudah melihat empat ekor cacing yang telah dia sekop. Kedalaman lubang yang harus dia gali dibatasi oleh penggaris kayu panjang, yang terikat dengan sepotong kain hitam. Pembatasan ukuran itu seolah-olah membuatnya tampak seperti orang yang tidak paham matematika. Menurut panduan itu, tugas hari ini adalah menggali sedalam ½ – 1 meter.


... Tapi Muoru tahu bahwa tugas itu membuatnya harus menggali sedalam tumit sampai dengan pangkal kakinya. Sayangnya, karena Muoru sering bengong, beberapa kali dia luput menyekop tanah. Malahan, kakinya sendiri yang dia sekop.


"Berhenti melamun, dan terus fokus," bocah itu bergumam keras pada dirinya sendiri, sembari memukul kepalanya dengan sengaja.


Tidak peduli seberapa keras ia mencoba, ia tidak dapat berkonsentrasi penuh sepanjang hari. Atau mungkin, dia harus mengakui bahwa pikirannya tidak bisa berkosentrasi pada pekerjaan ini. Meskipun tubuhnya menggali, pikirannya seperti masih setengah tertidur.


Pada saat ia selesai menggali lubang, matahari pun sudah terbenam. Bagi Muoru, kerja hari ini terasa begitu lama. Sebenarnya dia tidak memaksakan dirinya sendiri, toh juga tak ada seorang pun yang mau memujinya karena pekerjaan ini ... bahkan perlakuan pada dirinya tidak kunjung membaik. Di sisi lain, dia juga tidak berkenan untuk bekerja dengan efisien, karena menurutnya itu bukanlah keputusan terbaik di sini.


"Tuan Tawanan," * Muoru mendengar Daribedor memanggilnya pada saat dia mulai membereskan peralatan. "Tampaknya kau baru saja selesai," orang tua itu melanjutkan, seraya melihat lubang yang baru saja Muoru selesaikan.


"Yahh ..."


[Pada bahasa aslinya, Daribedor mengucapkan -dono. Cara bicara pak tua ini memang sungguh sopan.]


Itu benar, pekerjaan hari ini memang gampang banget!!! Itu hanyalah suatu majas ironi, namun dia tak mengucapkan sindiran itu, melainkan hanya menelannya di tenggorokan. Dia merasa bahwa akan sulit berurusan dengan pak tua pesek ini karena dia tak pernah berubah sejak pertama kali bertemu.


"Aku tahu, sepertinya kau kelelahan, tapi sekarang kuingin kau membantuku pada suatu proses pemakaman ... ..oh jangan khawatir, kau hanya perlu menimbun tanah, dan kupikir itu cukup sederhana. Dan tempatnya adalah lubang yang kau gali kemarin, jadi aku tak perlu menunjukkan arahnya, 'kan? "


"Ya, aku paham," Muoru menjawab dengan singkat, kemudian berjalan pergi sambil membawa sekopnya.


"... Ah, benar, benar."


Namun, ketika dia semakin jauh, Daribedor berteriak padanya untuk berhenti.


"Karena pendahulumu juga tinggal di area ini, aku harap kau berhati-hati. Bahkan sebagai tahanan, jika kau tidak ingin memasuki lubang yang kau gali sendiri, maka akan lebih baik bagimu untuk tidak ikut campur lebih jauh dengan urusannya. "


"...?"


Apapun itu, Muoru tidak mengerti. Tapi sebelum dia bisa bertanya lebih jelas, pak tua itu bergegas kembali ke kediamannya.


Saat ia berjalan, Muoru merenungkan apa maksud perkataan orang tua itu.


... Mungkin pak tua itu tahu bahwa dia kemaren berjalan-jalan mengelilingi area pemakaman ini, untuk menemukan jalan melarikan diri.


Kemudian, dia ingat pertemuan dengan seorang gadis.


Meria.


Gadis itu dinamai Meria dari Kuburan Massal.


Jika ia percaya apa yang dikatakan oleh si gadis, maka kemungkinan besar dia lah si penjaga makam di area ini.


Namun, dia juga belum tahu secara pasti apakah tugas dari "Penjaga Makam", dan apakah tanggung jawabnya. Adapun untuk urusan menggali lubang, dia juga sudah melakukan hal itu, dan pengawas pemakaman ini adalah orang-orang yang tinggal di rumah itu, yaitu Daribedor dan yang lainnya.


Jika ia boleh berspekulasi, mungkin penjaga makam ditugasi untuk melindungi kuburan dari perampok atau orang yang mencoba mencuri isi kuburan tersebut. Tetapi walaupun kejahatan semacam itu benar-benar mungkin terjadi, ia tidak melihat bahwa sosok Meria adalah orang yang tepat untuk bertarung melawan penjahat-penjahat tersebut. Namun, walaupun perkataan dan ucapan gadis itu seperti sesuatu dari dunia lain*, Muoru hanya menganggap Meria sebagai seorang gadis lemah yang perlu dilindungi ... yahh, dia pun harus mengakui bahwa penampilan gadis itu jauh dari kata normal.


[Dunia lain (浮世場慣れている部分), sepertinya frasa ini lebih cocok diartikan Menara Ivory. Beberapa oknum menerjemahkan Menara Ivory sebagai Menara Gading. Makna frasa ini memerlukan penjabaran yang lebih dalam karena pertama kali termaktub dalam Song of Solomon (7:4) dan terus mengalami perubahan makna sejalan dengan perkembangan jaman. Namun simpelnya, Menara Gading adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengamati ranah lain secara terpisah. Misalnya, ketika seseorang mengamati angkasa, maka dia tidak perlu berada di tempat tersebut, melainkan cukup melakukannya dari observatorium. Dalam artian ekstrim, malaikat jug bisa mengamati dunia kita dari sudut pandang Menara Gading. Intinya, ini adalah suatu tempat dari alam yang berbeda untuk mengamati suatu ranah. Dikutip dari Oxford, dan wikipedia bebas.]


Apapun itu, malam ini pun Meria akan berpatroli di sekitar makam. Yahh, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Muoru. Setiap malam, gadis itu tampaknya berpatroli pada suatu area. Karena Muoru masih berhasrat untuk melarikan diri, maka sebaiknya dia mempertimbangkan hal ini. Dan karena alasan itu, Muoru hendak memeriksa apakah Meria sedang berjaga ataukan tidak.


Tetapi, ketika dia menuju ke area pemakaman, dia bisa melihat orang-orang yang berkumpul dari kejauhan. Ada banyak pria berkumpul dalam jumlah besar di sekitar lubang yang Muoru gali tempo hari.


Mereka mungkin sedang menghadiri proses pemakaman.


... Namun, dari sudut pandang Muoru, dia tidak merasakan adanya suasana berkabung di sana. Meskipun itu adalah suatu proses pemakaman, Muoru tidak merasakan secuil pun kesedihan yang seharusnya mereka alami ketika kerabatnya mati. Bahkan tak seorang pun meratap atau menangis.


Saat ia berusaha bergerak lebih mendekat, ia bisa melihat bahwa orang-orang itu mengenakan pakaian berkabung seperti jas hitam, mantel, dan ... wajah mereka ditutupi oleh semacam topeng berwarna putih. Topeng putih yang benar-benar tanpa ekspresi, tapi masih ada sedikit celah pada mata mereka melalu lubang benang. Mereka sangat banyak, seperti topeng kematian. Meskipun fisik mereka berbeda-beda, topeng mereka semua sama.


Jenis acara macam apakah ini? Seharusnya mereka tidak boleh menggelar acara pesta topeng di tengah-tengah makam seperti ini, begitulah pikir Muoru. Tentu saja, bocah tikus ini tidak pernah menghadiri acara semacam itu.


Sd 047.png


... Mungkin melihat hal seperti itu adalah sesuatu yang tidak sopan.


Meskipun Muoru curiga terhadap tujuan mereka, pemuda itu membungkuk sedikit ke arah orang-orang yang tampaknya telah melihat dia, lantas Muoru terus mendekati mereka ... saat itulah ia melihat sesuatu yang aneh.


Di tengah-tengah kuburan raksasa di mana dia pernah ditanam sebagian oleh Meria ... lubang tersebut telah diisi oleh kepala binatang raksasa.


Ketika pertama kali melihatnya, ia tidak segera memahami secara persis apa yang sedang ia pandang. Namun tentu saja, itu masih bisa dimengerti. Apa pun itu, benda tersebut adalah sesuatu yang tidak dilihat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terburu-buru, ia mengusap kelopak matanya, Muoru pun berdoa bahwa apa yang dilihatnya hanyalah sebuah halusinasi. Dia kemudian membuka matanya sekali lagi.


Dia bisa melihat wajahnya tercermin pada mata raksasa milik suatu makhluk. Bahkan, mata makhluk itu sebesar ukuran kepala manusia.


Sekarang tidak perlu diragukan lagi, benda yang dimakamkan di kuburan ini pastilah kepala seekor monster raksasa yang bukan berasal dari dunia ini. Tidak, lebih tepatnya lagi, itu adalah monster raksasa yang seluruh tubuhnya terdiri dari kepala sangat besar. Hal yang bahkan lebih sulit untuk dipercaya adalah, di bawah rahang berbulu monster itu, (jika dianalogikan dengan tubuh manusia, seharusnya bagian itu adalah lehernya), ada sesuatu seperti tubuh kadal yang muncul padanya. Jika dibandingkan dengan besarnya kepala, tubuh kadal tersebut relatif lebih kecil, tetapi meskipun begitu, tampaknya kadal itu memiliki otot yang kuat dan cakar menakutkan.


Tubuh makhluk itu telah tertusuk sepenuhnya oleh tombak yang berbentuk seperti pasak, dan rahang serta sisi tubuhnya terikat oleh kawat-kawat berduri. Monster itu benar-benar tidak bisa bergerak. Namun, Muoru masih saja diselimuti ketakutan yang luar biasa ketika menyaksikan pemandangan tersebut. Menurutnya, MAKHLUK ITU tidak benar-benar mati. Bahkan, sekarang dia punya perasaan bahwa jika ikatan tersebut lepas, maka dia akan bangkit, kemudian memangsanya kapan saja.


"...."


Sebuah suara aneh keluar dari tenggorokan makhluk itu, tapi pada akhirnya, Muoru berhasil mendapatkan kembali ketenangannya. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya, dan wajahnya memanas seolah-olah terbakar. Lututnya berguncang saat ia gemetar. Dia tidak tahu makhluk macam apa yang sedang dia lihat saat ini, tapi dia tahu betul bahwa makhluk berbahaya seperti itu tidak dijumpai manusia pada kehidupan sehari-hari.


Ketika berusaha mencari bantuan, ia melihat pada orang-orang di sekelilingnya ... tapi para pria bertopeng itu berdiri di sampingnya, sembari membentuk suatu garis lurus. Seakan-akan, mereka diselimuti oleh suatu panel kaca gelap, yang menghalangi Muoru menatap mata mereka. Seseorang keluar dari barisan yang membentuk garis lurus tersebut, lantas dia mendekati Muoru.


"Yahh, sekop tanahnya," dia memberikan perintah dengan suara yang tenggelam dari balik topeng putih itu.


Karena kurang memahami maksud dari perintah itu, Muoru hanya menatap kosong pada pria tersebut.


Lalu ia ingat bahwa ia mencengkeram sekop dengan begitu erat di tangan kirinya.


"Cepat!", pria bertopeng kecil itu berkata dengan suara kesal. "Cepat kubur dia! "


Pemuda tahanan ini ragu-ragu, sembari termangu di tepi lubang. Seolah-olah, dia merasa sedang berdiri di tepi gerbang menuju neraka.


"Cepat," pria bertopeng itu mendesak beberapa kali. "Cepat, cepat!!"


Muoru mendorong sekop ke dalam tumpukan tanah yang sebelumnya dia timbun, kemudian dia dengan beringas menyekop sejumlah tanah, lantas dilemparkannya ke dalam lubang. Dia tidak memperhatikan tangan ataupun tubuhnya sendiri ... satu-satunya hal yang dia pandang adalah monster yang tak lagi bergerak di bawah.


Apa ini? Apa-apa'an ... ini?


Ia hanya pernah mendengar adanya makhluk seperti itu pada suatu fabel. Makhluk itu begitu aneh, dan berbeda dari kaidah-kaidah yang berlaku di dunia ini. Sebagai contoh, rahang raksasa itu mungkin bisa memakan kepalanya hanya dengan sekali gigit. Penampilan luarnya bagaikan iblis, dan tentu saja makhluk seperti ini akan begitu menikmati ketika dia menyantap manusia.


Meskipun ia hanya mengulangi beberapa gerakan yang sudah biasa dia lakukan, entah kenapa napasnya cepat habis. Pemuda itu berulang kali mengambil napas pendek dan tidak menentu, namun ada sesuatu yang merasuki tangan dan memaksanya untuk terus menyekop. Tidak ada perbedaan antara putih dan hitam pada mata monster itu, yang ada hanyalah warna kusam. Tapi yang tidak bisa dia abaikan adalah ukuran matanya yang begitu besar, dan ada juga beberapa mata kecil disekelilingnya.


Entah kenapa, si pemuda merasa bahwa mata itu sedang menatap lurus ke arahnya ... dan begitu terpusat padanya.


Dalam keadaan setengah linglung, ia melanjutkan pekerjaannya. Ketika ia selesai menyekop gumpalan terakhir, keadaan tanah di sana tampak berbeda dengan area di sekitarnya. Tak seorang pun akan berpikir bahwa ada monster yang terkubur di sana.


Tiba-tiba, kuburan di mana ia berada, seakan-akan semakin memperluas dan lebar.


Tidak mungkin ... apakah yang terkubur di sini hanyalah makhluk-makhluk seperti itu? Di bawah batu nisan ini, apakah berisi jasad monster-monster semacam itu?


Meskipun pertanyaan menakutkan itu terus bermunculan di kepalanya, tampaknya tak ada seorang pun di sini yang sanggup menjawab pertanyaan itu. Dari sekelompok pria bertopeng itu, salah seorang maju ke depan untuk menuju tempat di mana Muoru telah memakamkan kepala monster raksasa yang besarnya 2 kali tubuhnya. Pria itu meletakkan sebuah batu nisan berbentuk salib, yang dia pikul pada bahunya. Dan pada saat itu, Muoru merasakan suatu erangan semu yang terdengar dari dalam tanah.


Sepertinya kawanan pria bertopeng itu tidak perlu menjalani prosesi pemakaman seperti pembacaan kitab suci atau persembahan untuk si monster, lantas mereka menyaksikan dengan membisu sampai batu nisannya selesai ditambatkan. Kemudian setelah itu selesai dilakukan, mereka pergi begitu saja.


Dari kejauhan, Muoru secara samar-samar bisa mendengar suara knalpot yang dikeluarkan oleh kendaraan berukuran besar, yang terletak pada gerbang masuk pemakaman. Tapi suara itu memudar dengan cepat, dan meninggalkan Muoru sendirian. Dia hanya bisa menatap tanah dalam keadaan bingung, seperti ketika dia menggali tanah sebelumnya.


Meskipun ia merasa seperti mengalami mimpi buruk, dia merasa tidak kunjung terbangun, tak peduli selama apapun waktu berlalu.


Apakah hal semacam ini..... nyata?


Muoru membutuhkan seseorang untuk menepuk bahunya dan mengatakan kepadanya bahwa ini semua hanyalah lelucon. Tetapi walaupun dia menunggu sampai matahari terbenam, bayang-bayang kengerian ini tak kunjung lenyap.


Kepalanya mendidih, dan hampa... dia pun tak mampu memikirkan apapun. Ini semua terlalu aneh.


... Jika ia mencoba untuk berpikir dengan tenang, monster semacam itu seharusnya tak pernah ada. Ya, itu benar. Mungkin aku harus mencoba dan menggali. Jika ini semua hanya halusinasi, ketika dia menggali kembali lubang itu, seharusnya tidak ada apapun di dalamnya.


Pemuda itu mengambil sekop dan melemparkannya ke tanah. Namun, ketika ia mengangkat segumpal tanah pertama ... tangannya berhenti bergerak, dan mood-nya membeku. Jika dia harus mengungkapkannya dalam bentuk perkataan, “konyol” adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan tindakannya saat ini.


Tidak peduli apa yang dimakamkan di sini, setelah matahari terbenam, tidaklah mungkin bagiku melihat apapun yang ada di dalam lubang ini, karena semuanya terlalu gelap.


Tangannya melemas, cengkeramannya mengendur pada pegangan sekop, dan gumpalam tanah di sekopnya tumpah.


... Haruskah aku kembali?


….ke mana?


Dia bisa mendengar suara giginya sendiri yang bergemeletakan. Kembali? Dia adalah seorang tawanan. Dan memang di sinilah dia dipenjarakan untuk menjadi budak yang dipaksa bekerja. Dia tidak mampu meninggalkan tempat ini. Walaupun dia bisa melarikan diri, kemanakah dia harus menuju? Satu-satunya tempat tinggi pemuda ini adalah kandang kuda peyot dan bobrok yang biasanya digunakan sebagai tempat tidur. Hanya itulah bonus yang diberikan pemakaman ini padanya. Selain kandang itu, kemanakah dia harus pergi?


Mengapa aku ragu-ragu?


Yahh, pokoknya bergerak ...


Kaki kanannya terasa sangat berat, tapi ia berhasil memindahkannya satu langkah ke depan. Tapi, ujung jari kakinya tidak menuju ke arah kandang, jari-jemarinya malah menuju pintu gerbang kuburan. Dan setelah memaksa dirinya untuk mengambil langkah pertama, langkah selanjutnya terasa jauh lebih mudah.


Dia membuang sekop butut itu, dan dengan segenap energi yang berhasil dihimpunnya, dia pun berlari. Seolah-olah ia melarikan diri dari kamp militer yang hendak diluluh-lantahkan oleh musuh.


Meskipun ia tidak memiliki tujuan atau rencana dalam pikirannya, dan meskipun ia bisa saja terluka, ia memaksa otaknya untuk mengabaikan segala resiko itu. Dan yang dia pikirkan hanyalah lari, lari, dan lari. Satu-satunya yang dia tahu adalah, setiap kakinya melangkah, dia semakin menjauh dari monster itu.


Kehabisan energi sungguh tidak menyenangkan. Namun, meskipun dalam kegelapan, dan cahaya bulan tidak bisa diandalkan, dia merasa seolah-olah dunia semakin cerah, seakan-akan matahari sedang terbit di hadapannya.


Tapi, secepat itu pula, dia menyadari bahwa harapannya untuk keluar dari tempat ini hanyalah suatu ilusi belaka.


Dia tidak maju begitu jauh, bahkan ia belum meninggalkan kompleks pemakaman ini, lantas dia pun merasakan semacam angin yang mendekat dari belakang. Satu-satunya hal yang pemuda itu bayangkan adalah monster berkepala raksasa yang begitu membuatnya takut. Dia membayangkan bahwa makhluk itu bangkit kembali dari kematiannya, kemudian merangkak keluar dari lubang, dan memburunya untuk balas dendam.


Ketakutan membuat tubuhnya mencapai batas, dan dia pun melesat terus ke depan. Dia benar-benar lari begitu kencang layaknya seekor herbivora yang tengah dimangsa oleh karnivora. Namun, napasnya sudah semakin menipis. Meskipun julukannya adalah tikus tanah, dia memiliki stamina terbatas untuk menggali tanah.


Kemudian, entah mengapa dia merasa bahwa pengejaran ini hampir berakhir, Muoru pun mengumpulkan segenap keberanian untuk menoleh ke belakang.


Dan tanpa diragukan lagi, dia melihat sesosok makhluk hitam di belakangnya. Namun, ukuran makhluk itu bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari monster yang dilihatnya di makam barusan.


Sebaliknya, anggota badan makhluk itu bergerak dengan begitu cepat, dan ekornya tampak seperti kemoceng ... Sialnya, kaki kanan Muoru terasa seperti terkilir, dan dia tahu bahwa dirinya berada dalam masalah yang besar sekarang.


Sembari melesat, makhluk itu melompat, menerkam, dan membuat Muoru jatuh terjerembab. Karena momentum kecepatan, dia pun terus berguling-guling ke depan.


"Ugh ... dasar anjing sialan!!"


Muoru menjulurkan tangannya untuk mencekik leher anjing itu. Sekarang pahanya sedang digigit oleh si anjing, sehingga Muoru terseret di tanah. Namun, ketika dia mampu meraih bulu anjing itu, lagi-lagi dia terseret sehingga jatuh pada posisi telungkup. Ketika ia menimba ilmu bela diri di kemiliteran, ia harus belajar bagaimana caranya tidak terluka ketika dilempar oleh sang instruktur. Namun, karena anjing itu terus menyeret dirinya sampai berputar-putar, Muoru tidak mampu menggunakan teknik slap-out, dan dia hanya jatuh telungkup mencium bumi. Ada rasa nyeri yang aneh ketika hidungnya membentur tanah. Sembari mencoba untuk menahan rasa sakit, ia mengepalkan tinjunya dan berpikir, aku akan mematahkan tengkorak anjing ini dengan kakiku.


[Slap out adalah suatu teknik bela diri. Ketika kau terlempar ke tanah, maka kau bisa meminimalisir tumbukan keras dengan menamparkan tanganmu ke tanah.]


"Dephen, berhenti!"


Suara itu datang dari kejauhan.


Itu adalah suara wanita yang terdengar tegas dan serius.


Gerakan anjing itu pun berhenti. Tampaknya rahang anjing itu kehabisan tenaga. Air liur juga membasahi rahangnya, dan terdengar suara pelan ketika dia melepaskan taring dari paha Muoru. Sebuah cairan berwarna merah merembes ke permukaan kulit beberapa detik setelahnya, kemudian kucuran darah keluar dari paha yang terkoyak.


Setelah ia yakin anjing itu tidak akan datang untuk menyerang lagi, Muoru memeriksa lukanya yang tampak menjijikkan. Celana raminya telah merobek bagaikan kertas, dan di balik kain rami, dia bisa melihat beberapa lubang yang cukup dalam. Ketika melihat ke rahang anjing, Muoru menemukan segumpal daging yang tergantung. Dan karena tubuhnya masih dibanjiri oleh adrenalin, ia tidak merasakan apa-apa selain mati rasa; namun dia tahu bahwa luka kotor seperti ini pasti akan merugikan di kemudian hari.


"Sialan," bocah itu bergumam.


"Muoru?"


Gadis berkerudung gelap berjalan ke sisi anjing untuk memperjelas sosoknya. Dan meskipun itu bukanlah niatnya, sekali lagi, gadis itu berada di posisi melihat ke bawah padanya, persis seperti yang terjadi di lubang tadi malam.


"….Apakah itu menyakitkan?"


Tanpa ekspresi jijik di wajahnya, gadis itu menatap kaki kanan Muoru yang berlumuran darah.


Muoru dengan hampa memandangi lukanya, dia penasaran apakah yang dipikirkan oleh si gadis ketika melihat dirinya yang tidak menjawab pertanyaan itu. Untuk sementara waktu, gadis itu terus berdiri di samping si pemuda. Akhirnya, seolah-olah berbicara kepada dirinya sendiri, gadis itu pun mendesah.


"Aku tidak suka rasa sakit," gumam si gadis.


Karena tersentak, Muoru melompat berdiri.


Terlihat sedikit ekspresi bingung pada wajah gadis itu. Dia tampaknya menyadari bahwa keadaan Muoru berbeda dari apa yang dilihatnya kemaren.


Muoru memandang si gadis dengan tatapan liar, namun dia hanya cemberut. Dan gadis itu membalas tatapan Muoru dengan ekspresi gelisah. Dia menatapnya, seolah-olah pemuda itu adalah seekor hewan buas yang terluka ... apakah dia takut, atau menganggapku sebagai musuh?, pikir Muoru.


"Katamu, kau adalah penjaga makam ini," kata Muoru dengan nada mengancam. "Jika benar begitu, maka tahukah kamu apa yang terkubur di sini?" sembari melontarkan pertanyaan itu, Muoru menunjuk tanah di bawahnya.


Emosi telah mendidih dalam dirinya, dan rasa takut terhadap si monster membuat pemuda itu tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia juga bisa merasakan panas yang berdenyut pada kaki kanannya. Semua itu merenggut ketenangan si pemuda, sehingga kini dia menganggap siapa pun sebagai musuh.


Muoru pun mengerti bahwa kemarahan yang ditujukannya pada gadis itu hanyalah suatu bentuk pelampiasan tanpa alasan yang jelas, tapi seperti biasanya, gadis itu hanya menatapnya dengan mata sejernih air di danau. Muoru tidak paham apakah si gadis bisa menampakkan ekspresi selain itu.


Namun, kecantikan dan kelemahan gadis itu membuatnya jengkel.


"Apapun itu, katakan padaku!!! ... Atau, apakah kau temannya makhluk itu? "


Seolah-olah akan menyerang dia, Muoru mengulurkan tangan dan meraih kerah pada jubah si gadis..... Tapi, begitu tangan besar si pemuda menyentuhnya, dia langsung jatuh ke tanah seraya mendesah, "Ah".


Sama sekali tanpa perlawanan, bagaikan menusukkan tangan pada permukaan air.


Gadis itu jatuh terlalu cepat, dan karena Muoru sejak tadi berdiri dengan satu kaki untuk melindungi cederanya, dia pun ikut roboh karena tidak menduga pergerakan si gadis. Lututnya menghantam tanah, kemudian tubuhnya menjorok ke depan, sehingga wajahnya berhadap-hadapan dengan si gadis.


... Seolah-olah ia berusaha untuk merobohkan gadis itu.


Dalam keadaan tergencet, Muoru akhirnya yakin bahwa gadis itu memiliki tubuh, berat badan, aroma mirip manusia ... dan juga kulit yang terasa begitu hangat. Gadis itu tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan dia hanya mengedip-kedipkan matanya. Dan sementara Muoru berbaring di atas tubuhnya, mereka saling bersentuhan mulai dari siku sampai jari-jemari, si gadis pun hanya bisa menatap ke matanya.


Yang dilakukan Muoru hanya membeku seperti bocah terkejut karena menjatuhkan piring ke lantai. Dia tidak berencana untuk melakukan hal ini. Itu adalah murni kecelakaan ... .tapu, mungkin Muoru telah menyakiti gadis lemah itu. Ketika berpikiran demikian, pemuda itu pun akhirnya kembali tersadar.


"Baumu seperti matahari ..." gadis itu benar-benar terselimuti oleh tubuh Muoru, dan dia membisikkan kalimat itu pada pipinya.


Dengan terburu-buru, Muoru segera memindahkan tubuhnya.


"Aku ... aku ... minta maaf. Apakah aku memukul kepalamu, atau apakah kau terluka?" sembari berusaha melupakan rasa penasaran terhadap tubuh si gadis, Muoru tanpa sadar memuntahkan perkataan itu. Emosinya yang mulai memuncak telah menghilang, dan sepertinya nalarnya sudah kembali.


Muoru hendak membantu gadis itu, tetapi ketika ia berusaha untuk mengangkat tubuhnya sendiri, ia sadar bahwa dirinya tidak sanggup melakukan itu. Luka pada kaki kanannya yang telah dia lupakan, tampaknya semakin parah, dan rasa sakit menyiksanya dari ujung kaki sampai ke pusat kepala.


Ia berhasil membuat tubuhnya berjongkok, tapi ia tidak dapat menahan rintihan kesakitan yang tanpa sengaja terucap dari mulutnya. Untuk sementara waktu, ia tidak bisa berpikir jernih, dan rasa sakit seakan-akan melumpuhkan salah satu panca indranya. Sampai rasa sakit mereda, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu. Ia memejamkan matanya dengan rapat, menggertakkan gigi, dan tak sanggup sedikit pun bergerak. Yang bisa dia lakukan hanyalah menahan sakit.


Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya yang berkeringat, tapi Meria sudah pergi.


"Yah, itu tidak mengejutkan bagiku."


Setelah apa yang dia lakukan, masuk akal bahwa Meria akan semakin waspada terhadapnya. Dia mungkin akan meminta maaf jikalau dia sudah tidak kesal pada anjing sialan itu ... tapi ... meskipun dia telah membayar lunas kesalahannya, entah kenapa ia merasakan suatu kepahitan pada mulutnya. Dia menyesali perbuatannya, dan merasa bersalah karena tindakan kasar terhadap Meria.


Sembari berusaha menahan aliran pembuluh darah yang pecah, Muoru sekali lagi memeriksa kondisi pahanya.


Celana pada kaki kanan telah robek sampai menjadi potongan-potongan kecil, dan kain itu terendam oleh rembesan darah. Dia bahkan bisa melihat tanda gigi mengerikan pada dagingnya. Namun untungnya, meskipun bekas gigitan begitu dalam, sepertinya pembuluh darah arteri, tulang, atau saraf pada kakinya tidak terkoyak ... .Akan tetapi, dia masihlah merasa tidak nyaman. Setelah melihat rahang anjing itu yang begitu tangguh, Muoru sadar jika anjing itu mengerahkan seluruh tenaganya, maka hewan tersebut akan berpesta daging segar lebih banyak.


Seraya memikirkan itu, ia menoleh dan melihat binatang hitam tersebut sedang duduk berjongkok dengan tenang, tampaknya bau darah tidak membangkitkannya sedikit pun. Seakan-akan, beberapa menit yang lalu hewan itu tidak pernah bertarung dengannya. Tepi mulut Muoru melengkung sedikit karena dia mulai tersenyum.


Ha ha ...jadi kau sudah menganggap remeh diriku.


Meskipun Daribedor hanya bergurau ketika mengklaim bahwa anjing itu adalah "anjing penjaga superior", Muoru harus mengakui bahwa gelar itu cukup tepat. Anjing itu benar-benar mengganggu, dan dia seratus kali lebih tangguh daripada penjaga manusia yang hanya suka tertidur. Terlepas bahwa tindakan Muoru ini merupakan latihan yang baik untuk melarikan diri, namun harga yang dia bayar cukuplah mahal.


... Akan tetapi, jika ia membiarkan lukanya seperti itu, maka pasti akan cepat bernanah. Dia pun tidak berharap mendapatkan perawatan mewah seperti perban bersih ataupun antiseptik, paling tidak jika dia mendapatkan sejenis cairan alkohol, maka ia bisa membersihkan luka pada kaki dan mulutnya. Tapi itu tampaknya tidak mungkin, karena wanita tua-pelit itu tidak akan memberikan fasilitas seperti itu pada seorang tawanan yang berusaha kabur.


Sehingga, masa depannya tampak semakin suram. Ia pun merasa bahwa, walaupun ia kembali ke kandang kuda dalam keadaan saat ini, umurnya tidak akan panjang.


Ia hanya berdiri termangu di sana untuk sementara waktu. Ketika hendak berputus asa, tiba-tiba dia melihat cahaya oranye perlahan melintasi kuburan. Cahaya itu bergoyang maju-mundur, dan bergerak semakin mendekat.


... Jikalau dia masih berpikiran seperti yang dulu, dia pasti mengira bahwa cahaya itu adalah perwujudan arwah penasaran atau sejenisnya.


Tapi, kini dia tidak lagi berpikiran seperti itu. Sebenarnya, akan lebih menguntungkan jika dia ketakutan, lantas lari terbirit-birit... namun, kemanakah rasa takut itu pergi?


... Yahh, mungkin rasa takutnya akan hantu sudah lenyap setelah dia melihat eksistensi yang jauh lebih mengerikan terkubur di bawah kakinya.


Dia mencoba menunggu sedikit lebih lama, lantas dia menyadari bahwa cahaya itu hanyalah sinar yang muncul dari sebuah lentera. Benar. Tidak mungkin cahaya hangat seperti itu adalah perwujudan arwah penasaran.


Seraya cahaya itu semakin mendekat, tampaklah sesosok manusia berjubah gelap yang membawa lentera tersebut dengan tangan kirinya. Anehnya, dia adalah Meria. Gadis itu sungguh tidak bergerak dengan cepat, namun melihat langkahnya saja sudah cukup untuk membuat Muoru berhenti bernapas. Rasa takutnya tidaklah berdasar, namun napasnya yang berat seakan-akan membuat dia nampak seperti seseorang yang bisa mati kapan saja.


Di tangan berlawanan Meria, dia memegang sebuah kotak kayu kecil.


Setelah diam sejenak, gadis itu berjongkok tepat di sebelah si pemuda, lantas ditempatkannya lentera itu pada tanah sembari dia mengulurkan kotak. Bahkan sebelum Muoru mengambilnya, ia bisa mencium aroma larutan antiseptik secara samar-samar.


Setelah mendapatkan benda itu, Muoru pun merasa sungkan melulurkan cairan itu pada lukanya.


Meria hanya terdiam, dan Muoru tidak dapat membaca emosi apapun yang terpana dari mata Meria yang besar ... Mata itu hanya menatap lurus padanya. Setelah menyerahkan obat-obatan, dia tidak mencoba untuk lari atau semacamnya, dan juga tidak ada tanda-tanda ketakutan di wajahnya. Karena Meria sedang berjongkok, bagian bawah mantelnya meringkuk sedikit ke atas, sehingga tampaklah kaki indah yang sehalus porselen.


"Apakah tidak masalah jika aku gunakan ini?"


Meskipun akan sangat menarik jika gadis itu berkata tidak, Muoru merasa bahwa dia tetap harus meminta ijin terlebih dahulu. Gadis itu menegaskan pertanyaannya dengan anggukan.


"Terima kasih untuk bantuannya."


Dalam kotak itu terdapat sederetan penuh barang-barang medis seperti kain kasa, kapas penyerap, antiseptik, kompres, dan benda-benda lainnya untuk menghangatkan luka, semua yang ada di sana adalah pertolongan pertama untuk orang yang terluka. Dan semuanya baru, tanpa ada sedikitpun tanda-tanda barang bekas.


Muoru sekali lagi menyeka darah dengan kain celananya, kemudian dia meletakkan kapas yang dibasahi oleh antiseptik pada luka tersebut. Kandungan alkohol pada antiseptik itu merangsang syaranya dengan rasa sakit yang menyengat.


Meria tetap terdiam, dan terpaku padanya bagaikan seseorang yang sedang menonton pertunjukan langka atau semacamnya.


Entah kenapa, Muoru tak bisa tenang, dia pun menempelkan perban dengan tangan gemetaran layaknya orang kikuk. Terlebih lagi, dia harus mengakui bahwa napasnya semakin tak menentu dan liar.


Setelah dia berhasil mengobati lukanya, Muoru mengembalikan kotak kayu itu pada Meria, lantas gadis itu pun bangkit.


Kemudian, dia berkata, "Aku bukanlah The Dark."


"... The ... da ...?"


Si pemuda mencoba untuk mengulangi frasa itu, tapi kemudian dia mengingat kata-kata yang pernah dia ucapkan ketika mendorong Meria jatuh ke tanah ... "Apakah kau temannya makhluk itu?"


Saat berikutnya, seakan-akan bahan bakarnya telah habis, terdengar suara "wusss", lantas api pada lentera itu pun padam. Mata Muoru kesulitan berakomodasi pada kegelapan karena dia melihat cahaya cukup lama, dan tiba-tiba dia kehilangan sosok gadis itu.


Kemudian, dengan sekejap mata, dia mendengar ucapan, "Selamat tinggal."


Suara monoton itu terdengar sangat kesepian. Tapi, apakah itu hanya perasaannya Muoru ... atau apakah itu yang ingin dia dengar ...?


Apapun itu, si pemuda kini telah ditinggalkan sendirian, dan tak seoran pun bisa dia tanyai.


Bab 4[edit]

Bagian 1[edit]

... Hanya sekejap saja, Muoru menelusuri kembali memorinya.


Dia berada di tengah-tengah ruangan kamar pada kamp tahanan Rakasand. Itu adalah hari di kala dia menerima vonis bersalah, pada saat itu dia sedang menunggu orang-orang di belakangnya untuk menolak hukuman yang dijatuhkan padanya.


Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, sebagian besar orang yang bersalah akan dipaksa untuk berpartisipasi dalam perburuhan penjara. Tapi tentu saja selalu ada pengecualian, misalnya pada kasus tahanan yang telah berencana untuk memotong royalti, dan tidak memiliki postur tubuh yang cocok untuk menjadi buruh.


Pria itu tidak memiliki lengan kanan, bahu kanan, ataupun telinga kanan. Dia dikenal sebagai Pengebom Kereta, dan dipenjarakan pada sel di depan Muoru. Tapi, Muoru tidak tahu namanya. Sama seperti bagaimana Muoru mendapatkan julukan “Tahanan 5722”, mereka adalah orang-orang yang nama aslinya telah diambil, dan sekarang namanya adalah tahanan 367 yang sedang mengantre menuju kematian.


Bertempat di rumah sakit yang sama dengan korban lainnya, ia selamat secara ajaib, tapi ia telah kehilangan sebagian dari sisi kanan atas tubuhnya. Dan dampaknya, dengan penampilan seperti itu, dia begitu mudah disangka sebagai pelaku kejahatan.


Muoru teringat pria itu mengatakan kepadanya dengan wajah tersenyum, sembari menahan rasa sakit, bahwa jika ia mati dalam keadaan seperti ini, dia akan bersyukur apa adanya.


Meskipun Muoru tidak tahu apakah pria itu sudah menginjak usia 40 ataukah belum, mereka memang memiliki tipe tubuh yang sama kuat. Dan meskipun ia menderita akibat cidera serius itu, pria tersebut masih saja cerewet tentang makanan, dan juga meminta alkohol seperti tawanan-tawanan sehat lainnya.


Karena pembangunan lorong, kamp penahanan itu sungguh riuh oleh gema suara. Bahkan kebisingan suara para narapidana menggelegar menyusuri semua lorong. Mereka begitu semangat dan ceria ... sampai saatnya eksekusi diumumkan.


Tiga hari kemudian ... salah satu rekan tahanan Muoru mengatakan bahwa ia melihat keadaan terpidana mati yang tubuhnya tinggal setengah itu, dia pun berpikir bahwa sepertinya pria itu sudah menjadi pribadi yang sungguh berbeda.


Rambut yang tersisa di sisi kirinya telah menjadi putih, dan dia tampak menua lebih dari 20 tahun dalam waktu yang singkat. Jika seseorang mencoba berbicara dengannya, maka dia tidak akan mendapatkan respon yang normal. Dan kegembiraannya terhadap makanan sudah tidak lagi tampak.


Yang dia lakukan hanyalah menusuk-nusuk bekas lukanya, sehingga membuat orang yang berada di sekitarnya meringis jijik.


Kebetulan, tahanan 5722 bisa melihat perubahan ini yang terjadi tepat di depan matanya.


Setelah terlibat dalam serangkaian kasus bom bunuh diri, maka seharusnya dia sudah bersiap kehilangan nyawanya sejak awal. Dengan demikian, seharusnya dia sudah berasumsi bahwa nyawanya akan melayang bahkan jika rencananya berhasil. Tapi, entah karena karma atau karena takdirnya, pria itu lolos dari maut. Tapi sekarang, anehnya ia sedang terpojok oleh rasa takut yang muncul akibat kematiannya sudah semakin dekat. Kematiannya semakin dekat seraya jarum jam terus berdetak.


Meski begitu, pada pagi hari ketiga, hal yang aneh terjadi. Ketika Muoru bangun, tahanan 367 mengangkat salah satu tangannya sembari menyambut Muoru dengan senyum lebar di wajah.


Meskipun rambutnya masih berwarna putih, meskipun luka pada setengah tubuhnya masihlah belum berubah, namun sikapnya kembali ceria seperti ketika belum mendengarkan pengumuman mengenai eksekusi mati dirinya. Dan di matanya tidak ada sedikitpun tanda-tanda frustasi ... malahan, sepertinya dia sudah menemukan rasa damai dalam pikirannya.


Muoru bertanya-tanya, apakah terjadi perubahan kondisi psikologi pada tahanan 367 selama tiga hari terakhir ... .namun tak seorang pun bisa mengetahui hal itu, sampai kapanpun tidak akan ada orang yang bisa mengetahuinya.


Koridor kamp penahanan menggemakan suara dengan begitu baik. Pasti, bangunan ini sengaja dibuat untuk saat-saat seperti ini.


Muoru mendengar suara tembakan yang mengakhiri nyawa tahanan 367, suara itu begitu jelas seakan-akan tidak ada hambatan sama sekali pada telinga Muoru.


*


Fajar menyibak kegelapan pada batu nisan yang tak terhitung jumlahnya, dan juga bayang-bayang pohon pada tanah. Embun berkilauan, titik-titik airnya seolah-olah menghiasi pucuk-pucuk rumput bagaikan hiasan dari permata.


Meskipun Muoru menyadari keanehan pada kuburan ini, pemandangan pagi hari tidaklah berbeda dengan tempat-tempat lain pada umumnya. Dan kehidupan yang sama seperti kemarin pun kembali terulang. Si perempuan tua menendangnya sampai terbangun, kemudian dia 'memanjakan' perut Muoru dengan berbagai jenis makanan yang tak layak, setelah itu ia akan bekerja keras di pemakaman untuk menggali lubang seperti biasa.


Namun, sampai kemarin dan bahkan hari ini, hampir tak ada perubahan pada pekerjaannya.


... Ujung sekop memukul sesuatu yang keras.


Saat ia menyeka tanah, mata raksasa berwarna seperti empedu muncul, dan melotot pada si pemuda yang semalam kenyenyakan tidurnya terganggu.


Halusinasi pun datang secara tiba-tiba. Dari suatu sisi, Muoru hanya tampak seperti seorang pemuda laki-laki dengan lengan berotot yang tiba-tiba membeku di tempat. Tapi bagi dirinya, setiap kali ia melihat halusinasi itu, keringat dingin merendam tubuhnya. Ketakutan itu bukanlah hal yang fana.


Tentu saja, pikirannya mencoba untuk mencari tahu makhluk macam apa yang telah dia lihat kemaren. Tapi, pada kamp tahanan ini, tentu saja tak satu pun orang mau membuka mulutnya untuk memberikan informasi yang dia harapkan. Setidaknya, jika seseorang memberinya petunjuk atau sejenisnya, mungkin dia tidak akan terus-terusan diteror oleh halusinasi dari bawah tanah .... Kalau begini terus, mungkin makhluk itu akan menjumpainya lagi di dalam mimpi.


Dan setelah menyeringai puluhan kali sebagai tanda pencelaan terhadap dirinya sendiri, tiba-tiba…


"Yo, tahanan penggali makam," suara yang tidak familiar memanggilnya.


Bagaikan seekor ikan pada kolam yang dilempari batu, sontak Muoru berbalik ke arah datangnya suara tersebut. Di belakangnya, sekitar sepuluh langkah atau lebih, seorang bocah bertubuh kecil duduk di atas batu nisan. Dia tidak mengenali bocah itu, Muoru pun merasa gelisah karena dia tak pernah merasakan kehadiran bocah itu ... .tunggu, bocah laki-laki? ... tidak, gadis? Dia tidak bisa membedakannya dengan jelas. Wajah dan tubuhnya terlihat seperti seorang bocah, namun entah kenapa dia tidak bisa membedakan jenis kelamin orang tersebut.


Dia memiliki gaya rambut Bob sampai sedagu, dan dia mengenakan jubah kuning yang tampak kekanak-kanakan. Kaki rampingnya menjulur keluar dari celana bermotif kotak-kotak, dan meskipun tidak memakai kaus kaki, entah kenapa dia masih saja memakai sepatu bot tentara.


"Siapa kau?" Tanya Muoru tanpa berusaha menyembunyikan kecurigaannya.


"Oh, kata-katamu sungguh tidak ramah. Mungkin saja kau sudah bertemu denganku dan yang lainnya, kan?” Orang itu memiringkan kepalanya ke arah Muoru, sembari mengangkat salah satu ujung bibirnya untuk menampilkan senyum yang ramah. "Kau tahu apa maksudku? Wajar saja bila kau tidak mengenalku pada wujud seperti ini. Sini ... lihat ini. "


Orang itu merogohkan tangannya ke dalam saku ... lantas mengeluarkan sebuah topeng putih. Tentu saja, Muoru ingat betul pada topeng putih itu, karena bersamaan dengan benda itu, dia berjumpa dengan salah satu makhluk yang menjadi sumber ketakutannya selama ini.


Muoru mulai merinding. Memori itu mengingatkannya pada mimpinya yang terburuk. Meskipun dia ingat betul pernah melihat sesosok bocah kecil di antara pria-pria itu, namun yang dia ingat saat ini hanyalah wajah monster raksasa yang mengerikan itu.


Benar juga, aku sudah ingat .... Meskipun akulah yang menggali lubang itu, bukankah aku tidak pernah berjalan mendekati mereka?


Orang itu menyadari bahwa wajah Muoru mulai kaku, namun dia tidak peduli dan terus melanjutkan omongannya. "Baik sekali, kau sudah menyelesaikan tahap pertama pekerjaanmu, tetapi kau perlu waktu istirahat. Jika kau tidak keberatan, bagaimana jika kutawarkan minuman? "


Anehnya, sembari dia berbicara dengan lagak orang dewasa, dia memasukkan kembali topeng putih itu ke sakunya, lantas menarik keluar sebotol minuman keras. Botol itu berisikan cairan berwarna kuning yang meluber ke stiker merk.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Muoru kembali menggali. Dia tidak menemukan alasan yang membuatnya harus berurusan dengan orang ini.


"Ah, apakah kau mengabaikanku? Ya, kau benar-benar telah mengabaikanku. Dan setelah berbagai masalah yang kau timbulkan, sebenarnya aku ingin menceritakan sesuatu tentang makhluk yang kau lihat kemaren."


Ketika Muoru mempertimbangkan apakah dia perlu berurusan dengan orang ini ataukan tidak, bocah itu mengangkat dagunya seolah-olah ingin merendahkan Muoru, dan dia duduk bersila di atas batu nisan. Dia meletakkan botol minuman keras itu di mulutnya, lantas melepaskan tangan dari botol tersebut. Dengan hanya menyangga botol menggunakan bibir dan giginya, bocah itu meminumnya dengan suara tegukan yang keras.


Sembari melakukan itu, sesekali dia melirik ke arah Muoru.


Muoru mendesah dengan ekspresi kecewa. Rupanya bocah tengik ini benar-benar ingin bicara dengannya. Tak peduli seberapa besar rasa penasaran Muoru pada makhluk itu, tidak berarti dia ingin menanyakan hal tersebut pada orang-orang ini. Namun…


"Jika kau bersedia memberikan informasi tentang makhluk itu padaku, akankah kau mendapatkan keuntungan atau semacamnya? "


Pertanyaannya dimaksudkan untuk melihat seberapa serius si bocah memberitahu kebenaran akan situasi ini. Dan meskipun ada banyak hal yang tidak Muoru ketahui tentang monster, baginya bocah ini tetap saja tampak begitu mencurigakan. Bagi Muoru, tidak peduli seberapa banyak monster yang eksis di dunia ini, dia tidak bisa menerima bahwa makhluk seperti itu dikubur di bawah batu nisan bersama-sama jasad manusia.


Si bocah pun melepas botol dari mulutnya, dan dengan wajah yang sedikit memerah, dia berbicara dengan nada terkejut:


"... Hah, kau ini memang seekor tikus yang skeptis ya? Apakah kau baru saja makan cacing goreng atau sejenisnya?"


Muoru menjawab dengan tegas, "Sup asin sudah cukup bagiku."


Mendengar jawabannya, bocah yang duduk bersila di atas batu nisan itu menghela napas panjang, namun tak lama berselang, senyuman kembali nampak di wajahnya.


"Yup, aku akan mendapatkan semacam keuntungan," katanya.


"Jadi, ada sesuatu di sini."


"Benar, akan tetapi ..." dia melompat, kemudian berdiri di atas batu nisan yang sama sembari merentangkan tangannya lebar-lebar. "Yahh, untuk saat ini, sebut saja aku ini begitu keras kepala seperti dirimu; Aku hanya suka menanam kebenaran yang tanggung pada pikiran seseorang. "


Kemudian, seolah-olah terpana oleh apa yang dia katakan, bocah itu menatap Muoru dari atas batu nisan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tinggi bocah itu bahkan belum sampai setengah tinggi tubuh Muoru. Namun, karena dia berdiri di atas batu nisan, dia bisa melihat ke bawah pada Muoru. Akan tetapi, total tinggi bocah itu hanya sedikit di atas Muoru


Secara tidak sadar, suatu tawa terselip keluar dari mulut Muoru, tapi ia mencoba untuk menutupinya dengan pura-pura menguap.


Yah, mungkin akan lebih baik jika aku membuat mereka menceritakan sesuatu.


Tentu saja, tidak peduli apakah yang mereka katakan benar atau tidak, mendapatkan suatu informasi jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Oke, kita jadi bicara tentang apa yang sedang terjadi di sini, ataukah tidak ... ah, sebelum itu …" Muoru menusukkan sekop ke dalam tanah, kemudian dia gunakan gagang sekopnya sebagai tumpuan untuk meringankan beban yang diterima kaki kanannya yang masih terluka. Lalu ia bertanya, "Siapakah namamu?"


Bocah itu menarik poninya ke belakang, untuk menunjukkan wajahnya yang sebenarnya pada Muoru. "Namaku Karasu," katanya, "Lihatlah rambutku, bukankah warnanya seperti bulu pada sayap gagak?*"


[Karasu (く ら す) artinya “burung gagak”.]


Muoru memutar matanya dan tersenyum pahit. Dia merasa tidak perlu menanggapi bocah ini. Tidak peduli seberapa banyak kau memikirkannya, “Karasu” pastilah hanya suatu nama samaran.


Sekali lagi duduk di atas batu nisan, bocah yang menyebut dirinya sendiri dengan nama Karasu itu balik bertanya, "Dan siapakah namamu?"


Untuk beberapa detika, si pemuda ragu memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Jujur saja, dia tidak pernah tertarik untuk memberikan namanya yang sebenarnya. Lalu, tiba-tiba nama yang Karasu panggil sebelumnya, muncul di benak Muoru.


"Kau bisa memanggilku Tikus Tanah," jawab Muoru.


"Baiklah kalau begitu, aku adalah Gagak dan kau adalah Tikus Tanah." Karasu terkikik dan tampak begitu senang. "Hei Muoru-kun*. Aku suka kamu. Jadi, kita harus menjadi teman. Apakah kau tidak keberatan? "


[Oke, jangan bingung hey para pembaca. Seperti yang Ciu sudah terangkan di atas, bahwa pada Bahasa Jepang terdapat suatu kata serapan (loanword), yaitu Muoru yang berasal dari Bahasa Inggris Mole. Artinya : Tikus Tanah. Nah, pada dialog di atas, Muoru tidak menyatakan namanya secara harfiah. Nampaknya dia ingin membalas Karasu yang memakai nama hewan pada panggilannya sendiri. Sehingga, Muoru menjawab “Tikus Tanah”. Tentu saja, secara otomatis Karasu memanggilnya Muoru.]


"Aku menolak," Muoru segera menjawab.


"Sungguh sayang sekali," Karasu berteriak lepas tanpa sedikit pun nada kekecewaan pada ucapannya. Kemudian, tanpa peringatan, Karasu dengan samar mengatakan, "30.270.000. Kau tahu angka apakah itu? "


"... Ummm."


Muoru masihlah penasaran terhadap identitas yang sebenarnya dari monster raksasa itu, sehingga dia terpaksa menerka-nerka apa yang ditanyakan oleh Karasu. Namun pada akhirnya, dia tidak tahu apa-apa..


"Mungkin itu adalah seberapa banyak isi dompetku," katanya, sembari mencoba melawak. Tapi, ia bahkan tidak memiliki dompet, apalagi uang.


Karasu dengan riang memberitahu jawabannya. "Itu adalah jumlah populasi manusia saat ini pada negara ini, menurut laporan resmi data statistik dari Biro Umum Filbard. Kau tidak tahu itu? "


Tidak mungkin dia tahu hal seperti itu. Jika bicara soal angka, yang Muoru tahu hanyalah jumlah tentara musuh dan sekutu, hal-hal seperti jumlah populasi tidak pernah melintas di pikirannya. Dengan demikian, ia pun tidak tahu apakah jumlah itu banyak ataukah sedikit. Mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut seseorang yang tampak seperti bocah kecil, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


"Jadi, jumlah penduduk sekitar 100 tahun yang lalu adalah sekitar 2.600.000. Yahh, pada jaman itu, cukup susah untuk mengetahui jumlahnya secara pasti. Hei, tidakkah kau berpikir ini cukup luar biasa? Hanya dalam 100 tahun, populasi meningkat lebih dari sepuluh kali lipat. Menurutmu, mengapa ledakan penduduk seperti itu terjadi? "


Kali ini, Muoru berpikir lebih lama daripada ketika dia menerima pertanyaan sebelumnya. Meskipun tidak ada bukti yang mendukung pernyataan Karasu, untuk saat ini, anggap saja bahwa data-data itu benar adanya. Jika memang populasi telah meningkat lebih dari sepuluh kali lipat, maka mungkin telah terjadi suatu faktor yang signifikan. Jika dianalogikan dengan semut, adanya ratu semut bisa meningkatkan populasi mereka, tapi kasusnya tidak sesederhana itu pada manusia.


Muoru kesulitan membayangkan seberapa besar jumlah populasi yang Karasu sebutkan, lantas dia coba menyusutkan jumlah tersebut pada skala yang dia bisa bayangkan. Pertama-tama, dia membayangkan sebuah desa di pikirannya dengan jumlah penduduk 100 orang. Faktor apa yang menyebabkan jumlah itu meningkat menjadi 1000 jiwa dalam kurun waktu 100 tahun?


Muoru menjawab, "Apakah jumlah makanan yang didistribusikan meningkat?"


Bagi manusia, tidak peduli apapun yang mereka lakukan, prioritas pertama selalu makanan. Ini mirip seperti mobil yang tidak bisa berjalan tanpa adanya bensin, jika manusia tidak mendapatkan nutrisi dengan benar, maka mereka tidak akan bergerak. Jadi, jika jumlah orang meningkat dengan begitu signifikan, maka mungkin saja tersedia banyak sumber makanan di sana. Tidak juga sih, jumlah makanan bukanlah satu-satunya penyebab fenomena ini, melainkan kemampuan untuk memanen makanan juga menentukan jumlah populasi, apakah benar demikian?


Karasu memberinya anggukan besar untuk menanggapi jawaban sebelumnya.


"Yup, tidak buruk. Sepuluh poin untukmu." lalu Karasu tertawa. "Tapi, tentu saja nilai sempurna adalah 100. "


"Apanya yang tidak buruk . "


"Itu adalah salah satu sudut pandang. Tentu saja karena peningkatan benih dan pupuk kandang, jumlah biji yang bisa menghasilkan gandum yang layak meningkat. Tapi pada saat yang sama, jika populasi petani meningkat, maka kebutuhan akan lahan pertanian juga meningkat. Jika itu terjadi, maka jumlah populasi manusia harusnya tidak bisa meningkat 10 x lipat. Ada beberapa faktor lain yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Itulah kenapa jawabanmu hanya kuberi 10 poin "


"Jadi ada beberapa faktor lain?" Muoru menekankan pertanyaannya. Ini benar-benar tidak memiliki hubungan dengan perkara monster itu, akan tetapi dia begitu terganggu dengan cara bicara Karasu yang begitu fasih, seakan-akan semua ini berhubungan satu sama lain. Ditambah lagi, sudah lama dia tidak ngobrol dengan orang yang mampu berbicara dengan ringan seperti ini.


Namun, kata-kata Karasu berikutnya sama sekali tidak mirip dari siapapun yang pernah berbicara dengannya.


"Seperti yang kau katakan sebelumnya, karena perbaikan di bidang industri pertanian, maka jumlah panen pun meningkat. Setelah itu, teknologi-teknologi seperti lampu gas dan listrik semakin banyak digunakan, maka semuanya semakin praktis dan hidup manusia semakin panjang. Mesin uap ditemukan, sehingga kereta api uap dan kapal berhasil dibuat. Kemajuan jaringan transportasi terbentuk, dan pergerakan semakin cepat. Berkat hal ini, sejumlah sumber daya manusia, sumber daya alam, dan mobilitas informasi sangat meningkat. Kematian yang disebabkan oleh kelaparan pun menurun ... "


Muoru benar-benar diam, sehingga Karasu pun bertanya, "Apakah kau masih mendengarkan aku?"


Seolah-olah menyerah, Muoru menggeleng.


"Yah ... jika aku memberikan setiap contoh dari perkembangan ini, maka percakapan ini tidak akan pernah selesai. Tapi, jika aku harus menyimpulkan semua faktor tersebut menjadi suatu faktor utama, maka aku bisa mengatakan bahwa inilah yang disebut perkembangan peradaban."


"Peradaban ya ..." dengan penasaran, pemuda itu mengulangi kembali perkataan Karasu dengan nada pelan.


"Perkembangan peradaban," lanjut Karasu. "Dengan kata lain, kau juga bisa mengatakan peningkatan kualitas hidup ... Dengar, mungkin kau menyebut bahwa kulkas adalah salah satu perwujudan kemudahan peradaban , 'kan? Seiring dengan semakin meluasnya peradaban, manusia yang serakah akan semakin meningkatkan lahan untuk tempat tinggal dan juga masa bermukim. Dan ketika itu terjadi, tentu saja kebutuhan akan seks semakin meningkat. "


Pada saat itu Karasu berhenti berbicara, mungkin dia melakukannya untuk melihat apakah kata-katanya itu memancing reaksi pada wajah Muoru. Namun, si pemuda segera berpaling dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Sakan-akan merasa puas, Karasu pun memasang senyum lebar di wajahnya.


"Nah, tentu saja, jumlah anak-anak juga meningkat. Dan berkat kemajuan di bidang kedokteran, hal-hal seperti keguguran dan kematian bayi saat lahir, semakin menurun. Mungkin peristiwa seperti itu terjadi karena para dokter tidak mencuci tangan sebelum operasi. Sebelum kemajuan-kemajuan itu terjadi, tampaknya pasien tidak mendapatkan obat bius ketika hendak operasi, dan mereka juga tidak mendapatkan transfusi darah. Karena alasan itulah, melahirkan bayi akan memberikan dampak yang begitu signifikan pada nyawa sang ibu. Tentu saja, seiring berjalannya waktu, ditemukanlah mikroskop yang bisa meneliti eksistensi berbagai jenis bakteri, lantas penelitian tentang imunisasi semakin maju. Hasilnya adalah, rata-rata kelangsungan hidup seseorang meningkat menjadi 20 tahun. "


Sementara Muoru mendengarkan ocehan Karasu, luka di bawah perban pada kaki kanannya kembali terasa sakit.


Tentu dia telah membersihkan lukanya tadi malam. Tetapi jika Meria tidak membawakan kotak berisi peralatan medis itu, lukanya pasti sudah bernanah. Dalam kasus terburuk, mungkin ia telah mati karena tetanus. Meskipun dia bukanlah siswa yang pintar ketika bersekolah dulu, dia tahu hal-hal sederhana semacam ini. Ini adalah pengetahuan yang bahkan dipahami oleh seekor tikus tanah seperti dirinya


Tapi lebih dari 100 tahun yang lalu, tidak pernah ada alat-alat seperti mikroskop, dan bahkan para dokter tidak mengetahui keberadaan bakteri.


Di era itu, tidak peduli seberapa ringan cidera atau luka seseorang, dia bisa mati dengan mudah. Fakta bahwa ini tidak lagi terjadi, adalah definisi dari 'kemajuan peradaban' yang mereka maksudkan.


Namun setelah penjelasan Karasu yang begitu lancar, dari berbagai tanda tanya di benaknya, dia bisa meringkas apa yang telah terjadi di sini sekitar 100 tahun yang lalu. Namun, Muoru masih merasa bahwa pertumbuhan penduduk 10 x lipat adalah hal yang mustahil terjadi.


Sembari membaca emosi yang nampak di wajah si pemuda, Karasu melanjutkan omongannya.


"Yah ... masalah sebenarnya adalah seperti ini: Sejarah manusia terus berfluktuasi selama beberapa ribu tahun terakhir. Namun, mengapa setelah era ini berlalu, tiba-tiba peradaban mulai maju? Dengan kata lain, mengapa peradaban tidak dapat berkembang sebelum era tersebut terjadi, yaitu "Abad Kegelapan"? …Itu mudah. Jawabannya adalah, karena ada semacam kendala yang mencegah peradaban berkembang. " Karasu tidak menunggu respon Muoru, dan dia terus melanjutkan omongannya, "Sebenarnya, pelakunya ada di bawah kakimu."


Tanpa disadari, pemuda itu menurunkan pandangannya ke bawah, lantas dia melihat sepatunya yang usang berlapis dengan lumpur, dan ada beberapa ekor serangga yang merayap di atasnya.


"Asal tahu saja, aku tidak sedang membahas tentang serangga bulat yang merayap-rayap di atas sepatumu itu," kata Karasu dengan nada mengejek.


Dengan tampilan masam, Muoru menendang beberapa gumpal tanah dari sepatunya, lantas menjawab, "Sepertinya mereka ini adalah semut dari dunia lain, atau sejenisnya. "


... Jujur, ia bersyukur bahwa bocah bernama Karasu itu menyelipkan beberapa guyonan dalam omongannya yang masih penuh teka-teki.


Tidak peduli berapa banyak penguburan berlangsung, Muoru tidak bisa menerima fakta-fakta ini, yang seakan-akan menghancurkan semua nalar yang dia miliki sampai sekarang.


Kemudian, tingkah Karasu yang gembira, tiba-tiba lenyap.


"Iblis. Monster abadi. Kengerian malam. Segerombolan makhluk aneh. The Dark." Sembari menekuk jarinya, Karasu menyatakan setiap istilah itu dengan ekspresi jijik di wajahnya, seakan-akan mau muntah.


"Mereka disebut dengan berbagai nama, tetapi semuanya mengidentifikasikan hal yang sama, yaitu: musuh terburuk manusia. Makhluk-makhluk ini tidak memiliki hal yang kita sebut 'kehidupan'. Seperti namanya, mereka abadi. Walaupun kau memotong mereka, membakar mereka, atau mencincang mereka menjadi potongan-potongan yang sangat kecil, percayalah mereka akan hidup kembali ... Ah, aku bisa melihat dari wajahmu bahwa kau tidak percaya padaku. Mungkin karena benar-benar mengerikan untuk dipikirkan. Walaupun anggota badan monster-monster ini dirobek dan disebarkan, potongan-potongan itu akan kembali lagi ke tanah, kemudian saling tempel satu sama lain. Pemandangan seperti itu akan menyebabkan sedikit trauma, tapi aku yakin, paling tidak kau sudah pernah melihatnya sekali. "


Muoru memiringkan kepalanya dan menjawab, "Yah, aku sungguh terkejut ketika aku memimpikannya ... " Mungkin dia tidak perlu mencemaskannya, akan tetapi hal yang diucapkan oleh Karasu benar-benar mengganggunya. Dengan membawa topik pembicaraan lain, dia pun bertanya pada si bocah, "Jadi, mereka punya anggota badan yang lain... maksudmu tidak hanya wajah saja?"


"Ya, mereka memiliki sejumlah bentuk yang tidak terbatas. Tetapi kesamaan mereka semua adalah, kegemarannya membunuh manusia. Dan mereka juga benci matahari. Untungnya, makhluk-makhluk ini tidak bisa bergerak di bawah sinar matahari. Namun, semakin besar tubuhnya, tentu saja mereka semakin kuat. Dengan logika demikian, maka monster yang kau lihat kemaren cukuplah tangguh. "


"... Apa ... sungguh?"


"Yahh, nama dan penampilan mereka tidaklah penting. Tapi, hal yang perlu kamu ingat, mereka adalah musuh terburuk bagi kita, manusia ... Dengan kata lain, mereka juga bisa disebut 'musuh alami manusia'. Mereka memang membunuh manusia, tapi tidak memakannya. Apakah kau memahami perbedaannya?"


Muoru perlahan menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Terlepas dari semua tuduhan palsu yang ditujukan padanya, ketika mendengar kata 'membunuh', instingnya sebagai tentara langsung muncul.


Begitu Muoru menyadari Karasu merenungkan apa yang harus dikatakan selanjutnya, tiba-tiba Karasu mulai menceritakan kisah yang menyenangkan.


"Sebagai contoh, meskipun akan sulit, jika kau mampu memenjarakan singa pada suatu sel berisi pasokan makanan yang banyak. Misalkan pasokan makanan tersebut seekor tikus tanah. Ketika singa itu mulai lapar, tidak peduli seberapa keras ia mencoba untuk menahan, mungkin setelah sekitar 3 menit, tikus tanah tersebut pasti sudah terbunuh. Dan si singa akan mendapatkan menunya. Jika itu tidak terjadi, singa mungkin akan mati kelaparan. Namun, bagaimana jika singa itu sudah kenyang? Dan pada sel yang sama, seseorang mencoba meletakkan tikus tanah dan bangkai kuda? Tentunya dalam situasi seperti itu, tikus tanah tidak akan segera dibunuh. "


"Umm, apa sih maksudmu?"


"Satu-satunya alasan mengapa seekor karnivora mau repot-repot memburu mangsanya adalah karena mereka harus bertahan hidup. Maka, dengan logika demikian, jika kucing peliharaan menerima makanan dari tuannya, apakah tidak mungkin bagi si kucing menyelinap ke rumah sebelah untuk berburu tikus?"


"Manusia ... mungkin membunuh sesama manusia," si pemuda menundukkan pandangannya sembari mengatakan kalimat itu dengan terang-terangan.


"Benar, sebagian besar dari mereka tidak memiliki suatu tujuan tertentu." entah kenapa, kali ini nada bicara Karasu mengandung sedikit rasa simpati.


"Tentu saja, ada banyak orang di dunia ini yang memiliki hati bengis, dan sebagai hasilnya, banyak peristiwa tragis terjadi. Namun, mungkin saja ada beberapa orang yang membunuh hanya karena mereka ingin melakukannya, 'kan?


"Ah, bukankah itu gila? Orang-orang seperti itu bukanlah manusia, mereka adalah monster. "


"Tepat sekali. Dan makhluk yang berada di bawah kakimu jugalah sesosok monster tak berperikemanusiaan. "


Muoru menanggapi dengan diam.


"Karena para bajingan inilah, selama ribuan tahun sebelumnya, manusia tidak dapat meningkatkan peradabannya. Seseorang mungkin saja bisa menemukan sesuatu secara tidak sengaja, namun mereka belum tentu menyampaikan temuannya pada khalayak umum, entah karena mereka memang tidak berminat melakukannya, atau mereka terbunuh sebelum bisa mempublikasikan temuannya. Meskipun melakukan segala yang mereka bisa untuk bertahan hidup, pengetahuan masyarakat umum sangatlah terbatas tentang keberadaan makhluk-makhluk ini. Semua orang gelisah dan tidak tahu kapan iblis ini akan keluar di tengah-tengah malam, untuk membunuh mereka semua. Namun, seiring dengan berlalunya hari-hari penuh kegelapan itu, beberapa orang berhasil mengumpulkan dan menyimpan informasi untuk masa depan. "


Muoru keberatan untuk bagian terakhir paragraf panjang itu, tapi dia tetap diam tanpa menyuarakan pendapatnya. Tampaknya, cerita panjang Karasu akan segera berakhir.


"Perubahan hubungan kekuasaan antara manusia dan iblis-iblis ini mulai terjadi, tapi itu adalah 300 tahun yang lalu. Sehingga, para manusia berusaha menemukan cara untuk mengalahkan iblis-iblis abadi ini. Dan karena hal itu, selama 200 tahun terakhir, dunia telah berkembang ke suatu arah tertentu. Bahkan, sekarang kita sedang mendekati era kemakmuran yang tak pernah kita alami sebelumnya. "


Muoru masih merasa ambigu terhadap apa yang Karasu paparkan sejak tadi. Atau mungkin lebih tepat jika kita menyebut bahwa diperlukan waktu lebih lama untuk mencerna maksud omongan bocah ini.


Mungkin memang seperti itu. Bagi seorang tahanan yang tidak lebih dari pria muda yang lahir sebagai anak tukang batu miskin.... manusia, peradaban, iblis, musuh alami manusia, dan berbagai istilah itu bukanlah hal yang masuk dalam cakupan nalarnya. Sayangnya, ekspresi wajah Muoru mengungkapkan fakta tersebut. Tapi sebelum Karasu menyadari ekspresi ini, dia pun melanjutkan perkataannya, "Singkatnya ..." Muoru mengelus jenggotnya. "Orang-orang sepertimu berhasil mengalahkan monster itu. Bukankah itu yang ingin kau katakan? "


Karasu tersenyum puas.


"Kau mengerti dengan baik. Hmm, sepertinya tak hanya ototmu saja yang keras, otakmu juga encer. "


"Janganlah menambah deritaku dengan ejekan seperti itu. Oh, ngomong-omong, apakah benar bahwa burung lupa bernapas setelah tiga langkah?" *


[Ini adalah guyonan dari Muoru bahwa Karasu (burung gagak) ngomong dengan begitu lancar dan cepat, seakan-akan lupa bernapas.]


"Hei! Itu kejam. Kau keliru. "


Muoru melihat Karasu kesal terhadap guyonan itu, dan itu sekaligus membuktikan bahwa dia hanyalah bocah biasa. Tapi sepertinya agak aneh jika seorang bocah dari kota datang jauh-jauh ke tempat ini hanya untuk membicarakan masalah ini pada seorang tahanan yang tak berharga. Terlebih lagi, apa sih maksud dari topeng berwarna putih polos itu?


Namun, sebelum Muoru bisa bertanya tentang kota-kota terdekat, Karasu mengatakan, "Sampai jumpa lagi," dia pun mengucapkan salam perpisahan, seolah-olah sudah selesai menceritakan segala hal yang ingin dia sampaikan.


Bagaikan seekor burung yang meluncur terbang, Karasu melompat dari batu nisan. Dia melambai, lantas lari menjauh seperti seorang anak kecil yang sudah selesai bermain. Dia pun menghilang bak menguap di udara.


Pemuda yang tertinggal di sana sendirian mendesah, lantas mengistirahatkan dagunya pada pegangan sekop yang ditancapkannya ke tanah. Seraya ia menatap cahaya matahari yang mulai terbenam, ia merenungkan kata-kata Karasu.


*


... Tiga hari setelah diumumkan bahwa dia akan ditembak mati, Muoru penasaran apakah ada perubahan psikologis yang drastis pada mental tahanan no 137 tersebut. Tapi, sekarang sudah terlambat, dan tidak ada cara untuk mengetahui apakah itu benar ataukah tidak.


Namun Muoru benar-benar mempelajari sesuatu ketika mengamati orang itu dari dekat.


Tak peduli seberapa berat hukuman yang diberikan pada seseorang, dia akan sanggup menyiapkan mentalnya untuk menerima hukuman tersebut, jika diberikan jangka waktu yang cukup. Setidaknya, itu juga terjadi pada tahanan 137.


Ketika seseorang duduk termangu menanti saat-saat terakhirnya, sorotan matanya yang kosong adalah perwujudan kepuasan hampa.


Jika seseorang berpikir bahwa nyawanya akan segera berakhir, maka tidak ada bedanya apakah dia sudah siap mati ataukah belum.


Namun, apakah tahanan ini akan berjalan dengan sendirinya ke tempat eksekusi sembari membusungkan dada dan menegakkan kepalanya? Apakah dia masih bisa melakukan kebiasaannya itu? Ataukah dia menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit sembari terkencing-kencing dan meratapi betapa malang nasibnya? ... .Tentu saja, ini membuktikan bahwa kesiapan seseorang benar-benar membuat suatu perbedaan.


Namun, jika dibandingkan dengan situasinya saat ini, hukuman yang dijatuhkan pada tahanan 367 jauh lebih baik. Monster itu bukanlah makhluk yang bisa Muoru hadapi. Dan ada fakta bahwa mereka tidak bisa dibunuh.


Dan kuburan bukanlah 'kandang' yang bisa kau hindari eksistensinya.


Betul…


Apa yang harus aku lakukan?


Itu adalah satu-satunya hal yang penting.


Walaupun dia sudah mengetahui julukan-julukan dan sejarah monster itu, sepertinya itu tidak akan mengubah realitas yang tengah dihadapinya sekarang.


Apa yang harus kulakukan?


Apa yang harus kulakukan?


Apa yang harus aku lakukan?


Bagian 2[edit]

"... Tangan," perintah gadis itu, dan sebagai tanggapan, si anjing hitam menaruh lengan bawahnya pada tangan putih si gadis. Ukuran telapak tangan si anjing pun tidak beda jauh dari telapak tangan gadis itu.


Sekali lagi, Muoru berjumpa dengan Meria di kuburan ketika matahari sudah terbenam ... tidak, dia tidak berjumpa dengannya, akan lebih tepat jika disebut bahwa Muoru bertemu dengannya. Pertemuan kali ini jauh berbeda daripada ketika mereka pertama kali berjumpa di tepi lubang, atau ketika Muoru melarikan diri dari kejaran anjing. Kali ini, pertemuan mereka disengaja.


Walaupun semua yang Karasu katakan itu benar, tugasnya menggali kuburan tidaklah berubah. Bagi Muoru, tidak ada perbedaan besar antara menggali kuburan untuk manusia ataupun untuk monster. Dan sepertinya tugas ini tidak akan berubah sampai akhir hayatnya. Itu ... itu bukan lelucon.


Aku harus melarikan diri.


Namun, saat ini Muoru melihat telinga si anjing yang sedang melebar, dan itu artinya anjing ini merupakan ancaman yang besar baginya, bahkan lebih berbahaya daripada monster yang terkubur di bawah.


Dia melihat Dephen mendenyutkan kakinya. Meskipun berkat Meria lukanya tidak membusuk dan kondisi tubuhnya membaik, melarikan diri saat ini tampaknya adalah suatu usaha yang percuma. Namun, walaupun ia bisa berlari lagi, peristiwa semalam hanya akan terulang kembali.


Lagipula, hanya ada satu jalan keluar dari kuburan ini. Jika ia terus-terusan mengawasi jalan keluar itu, maka keinginannya untuk melarikan diri akan semakin kuat. Sekarang, jika dia boleh memohon, maka dia menginginkan suatu peta.


Tapi, lehernya masih diikat.


Bukan leher si anjing, namun lehernya sendiri juga demikian. Walaupun belakangan ini dia sudah mulai terbiasa dengan pengikat leher itu, bagaimanapun juga dia harus melepasnya suatu saat nanti. Meskipun nomor tahanan dirinya sudah tertera, seakan-akan ikat leher itu berteriak pada orang-orang di dekatnya: "Aku adalah seorang tahanan!" sambil berjalan. Bahkan jika dia berhasil melarikan diri ke suatu tempat, polisi militer dan sheriff setempat akan menangkap dia, karena mereka ingin mendapatkan prestasi dari atasannya setelah berhasil membekuk seorang tahanan yang kabur. Namun, itu bukanlah alasan untuk menjadi penakut ketika berhadapan di depan orang lain.


Akan sangat menyenangkan bila ikatan leher ini bisa dilepaskan, namun hal seperti itu tidaklah mudah terjadi, karena orang yang memberikan ikatan tersebut pasti telah mempertimbangkan upaya-upaya yang mungkin dilakukan Muoru untuk melepaskannya. Sehingga, inti dari ikat leher tersebut menggunakan serat unik yang disebut "Benang Penyihir." Selama masa-masa penuh pembunuhan, penyihir*, dan sejenisnya biasa menggunakan bahan ini untuk berbagai keperluan. Benang ini begitu tipis, sehingga sangat sulit untuk menemukannya, bahkan tang ataupun gunting berkualitas tinggi pun tidak akan bisa memutuskannya.


[Dalam hurigana dibaca い か さ ま 師 yang artinya penipu / menipu, tapi Kanji-nya dibaca 魔法 使 い yang berarti penyihir.]


Dan untuk lebih memperburuk keadaan, mereka mengatakan bahwa Muoru akan ditahan dalam kurun waktu lebih dari 5 tahun, untuk mencegah dia melepas ikat leher tersebut, dibuatlah suatu sambungan antara benang-benangnya dan arteri karotis pada leher pemuda itu. Jika ada tahanan lain yang mencoba melepaskan ikatan leher tersebut dengan paksa, maka arteri karotis Muoru akan ikut terpotong oleh "Benang Penyihir" semudah memotong telur rebus*. Karena para pembunuh biasa menggunakan teknik Garrote* dengan benar itu, maka kemampuan benang tersebut sudah terjamin.


[Para penjual mie ramen di Jepang biasa memotong telur rebus dengan menggunakan benang. Cara ini diyakini lebih efektif dan rapih ketimbang menggunakan pisau. Garrote adalah teknik membunuh dengan mencekik lawan menggunakan benang atau senar. Kamus Oxford, 2011.]


Untungnya, Muoru sudah tidak lagi terganggu oleh fakta mengerikan pada ikatan lehernya. Namun, beberapa tahanan sungguh merasa stress dan tidak nyaman ketika mengetahui ikatan leher mereka terhubung dengan pembuluh darah, dan bisa merobeknya setiap saat ... mereka menjadi gila, dan akhirnya merobek pengikat leher mereka sendiri untuk mengakhiri derita. Salah seorang dokter botak pernah mencoba untuk mengintimidasi dia selama operasi, dengan mengatakan bahwa kegilaan ini merenggut nyawa lima atau enam orang per tahun.


Tetapi walaupun pengikat leher itu berhasil dilepas, ia masih akan merasa terisolasi dan tak berdaya.


Ibu, ayah, dan saudara-saudaranya harusnya masih hidup, akan tetapi, meskipun berhasil kabur, tidak berarti dia bisa pulang ke rumah dan berkumpul dengan mereka. Adalah suatu kebohongan besar jika dia mengatakan bahwa ia tidak ingin berjumpa dengan mereka. Muoru dan keluarganya sudah terpisah selama lima tahun sejak ia terakhir kali meninggalkan rumah, namun ia tidak merasakan kerinduan atau sesuatu seperti itu.


Pada dasarnya, ia telah ditelantarkan semenjak dia dibesarkan, sehingga Muoru tidak mengharapkan mereka memberikan bantuan padanya, karena sejak awal dia memang tidak pernah merasakan kasih sayang dari keluarganya. Bahkan, Muoru pun berpikir bahwa akan lebih baik jika keluarganya tidak melihat dia lagi selamanya.


Aneh jika mereka tidak merasa sedih. Mungkin, ini dikarenakan banyaknya hal penting lain yang perlu mereka pikirkan. Atau mungkin, dia adalah orang yang berhati dingin. Namun, pemuda itu mengerti bahwa ada perbedaan besar antara pihak ketiga yang terlibat dalam situasinya.


Dan salah satunya.... tidak, akan lebih tepat jika disebutkan bahwa satu-satunya teman yang dimilikinya saat ini adalah Meria.


Muoru tahu benar bahwa dia adalah seorang gadis yang misterius. Bahkan kepribadiannya tidak jelas. Tapi, kemarin dia telah memberinya obat, dan meskipun ia adalah seorang tahanan, Meria tidak menghindarinya. Sungguh tidak mungkin bahwa gadis seperti Meria adalah orang jahat.


Ditambah lagi, jika ia mendapat informasi dari gadis yang dikenal sebagai penjaga makam itu, dan jika dia mampu bekerja sama dengannya, maka mungkin saja peluangnya untuk melarikan diri dari tempat ini sedikit meningkat.


Tentu saja, hubungan mereka berdua hanyalah sepasang orang asing yang kebetulan pernah bertatap muka. Jadi, jika tiba-tiba ia mencoba untuk menanyakan sesuatu seperti, "Aku ingin melarikan diri, maukah kau membantuku?" ungkapan tersebut jauh dari kata 'kerja sama', sehingga mungkin saja Meria kembali mengirimnya ke kamp tahanan. Tapi, tidak ada salahnya Muoru mendekati Meria, paling tidak dia bisa sedikit melemahkan kewaspadaan gadis itu. Jika itu terjadi, maka pada akhirnya si gadis akan secara sukarela membantunya.


Hal semacam ini, ah, apa ya namanya? Itu adalah suatu ungkapan yang tidak biasa dia pakai, namun setelah mengingatnya, dia pun memikirkan kata ini sembari mempererat genggaman tangannya. Benar, namanya adalah : “memikat lawan”.


Dan ketika dia sudah memutuskan tujuannya, ia merasa jauh lebih baik untuk mengambil tindakan, daripada sekedar berjongkok di sana sambil memikirkan hal-hal yang gak jelas. Maka, Muoru pun kembali ke kuburan pada malam hari, dan menempatkan diri di mana ia bisa menyergap Meria untuk sedikit mengejutkannya, tapi ...


"Muoru?"


Sembari meringkuk di tanah, gadis berambut coklat terang itu memanggil nama si pemuda seraya membelai anjing di samping, dan menatapkan dagu ke arahnya.


Setelah mendengar dia memanggil namanya, Muoru ragu-ragu tentang apa yang harus dikatakan.


"Umm ... itu ... ah, um, tidak apa-apa," pemuda itu tergagap, kemudian keheningan kembali menenangkan suasana antara mereka berdua.


Ini bukan apa-apa, Muoru!


Muoru berusaha meyakinkan dirinya sendiri karena tidak sanggup menyatakan kata dengan lancar. Mas depannya tergantung pada seberapa lihai dia menarik perhatian Meria.


Dia berpikir tentang topik pembicaraan menyenangkan yang biasa dia bahas dengan sesama rekan tentara di dekat api unggun. Tapi, kemudian ia ingat bahwa inti topik pembicaraan tersebut hanyalah lelucon-lelucon melibatkan pengemudi tank veteran yang membual tentang seberapa hebat senapan yang mereka miliki.


Sembari berjongkok agak jauh darinya, si gadis dengan penasaran menyaksikan Muoru yang berupaya keras untuk berbicara. Wajahnya tercengang dan tenggorokannya tersedak oleh kata-katanya sendiri.


Mata Meria begitu gelap bagaikan laut yang dingin, dan juga berwarna biru layaknya laut dalam yang siap menenggelamkan pemuda itu kapanpun.


Sekali lagi, keheningan membungkam keduanya. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan; gadis di hadapannya benar-benar membungkam mulut Muoru sehingga tak sepatah kata pun bisa terucap.


Sepasang mata biru itu terus menatap dan menunggunya untuk berbicara, tetapi kepala pemuda itu benar-benar kosong dan tidak ada ide yang terbersit di benaknya. Gadis itu benar-benar berbeda dari kedua orang perwira polisi militer yang hanya melakukan tugas mereka sembari memasang wajah masam. Sedangkan Karasu berbicara terlalu santai, seolah-olah mereka adalah teman baik.


Lalu, tiba-tiba ia menyadari satu kesalahan mendasar dalam taktik sebelumnya.


Bagaimana sih caranya 'memikat' seorang gadis?


Muoru Reed, tamtama E-1, master tikus medan tempur.


Setiap saat, tidak peduli bagaimanapun kondisi cuacanya, tikus tanah diperintahkan untuk menggali lubang tanpa henti. Dengan hanya dibekali pakaian yang awet, mereka mampu merangkak sepanjang lebih dari 5 Km. Dan mereka mampu membongkar dan membersihkan senapan militer dalam sekejap mata.


Tapi dia tidak pernah tahu bagaimana caranya mencantolkan kait pada seorang gadis polos yang kini tepat berada di hadapannya ...


"Meria ..."


Hanya sependek itu kata yang mampu terucap dari mulutnya. Kecenderungannya untuk tetap membisu mencegah dia memperpanjang kalimat tersebut.


Dia menelan ludah dengan keras. Berapa lama lagi aku terus-terusan gugup seperti ini? Dia bahkan tidak merasa bahwa menelan ludah akan menimbulkan suara yang begitu keras.


Ketika dia berhasil memutuskan sesuatua, ia pun segera berkata, "Apakah kau mau menjadi temanku?" perasaan, dia pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, entah di mana.


Gadis itu berkedip beberapa kali, kemudian bertanya, "Apa?" dengan suara lirih dan bingung.


Aku seharusnya tidak bertanya tentang hal itu.


Dia gagal. Dia menyinggung topik yang sungguh salah. Lansung saja, wajahnya berubah menjadi merah, seperti saat dia menenggak sebotol alkohol yang kuat dalam sekali tegukan. Dia serasa ingin mencabut pistol, menempelkannya pada pelipis, kemudian meledakkan otak tololnya.


Sementara bocah itu hampir pingsan karena ketololannya sendiri, si gadis di hadapannya hanya berkedip lagi dan lagi, tamapaknya dia sungguh tak paham maksud perkataan pria itu. Namun kemudian, dengan begitu lambat, layaknya pasir yang jatuh sebutir demi sebutir pada sebuah jam pasir, pipi gadis itu pun mulai memerah.


Dan setelah beberapa saat, si gadis berpaling darinya, dan berkata, "... Aku tidak bisa."


Ini adalah pertama kalinya Meria berbicara tanpa menatap wajah Muoru secara langsung. Muoru bisa melihat ujung telinga yang menonjol dari tudung di kepala Meria berubah menjadi merah padam.


Itu aneh, tapi meskipun gadis itu jelas-jelas menolaknya, Muoru merasa lega.


Sembari tertawa pada dirinya sendiri, ia pun bertanya, "Mengapa?"


Meria berdiri, kembali menghadap padanya, lantas menjawab. "Itu karena aku tidak paham. Ketika kau mengatakan teman, apa maksudmu?"


"... Yahh itu ... um, bahkan aku sendiri tidak bisa memberimu definisi yang tepat."


Muoru juga memalingkan muka, dia berpikir sebentar sebelum memberikan penjelasan yang masihlah gak nyambung. "Teman, yahhh, um ... itu adalah salah satu langkah untuk proses saling kenal ... apa sih namanya ... 'Saling mengenal'? Tidak, lebih dari itu ... untuk mengenal satu sama lain, sebaiknya 2 insan manusia berpikir lebih terbuka ... atau semacamnya. "


Pada dasarnya, semua yang dia katakan pada Meria setara dengan kalimat, "Biarkan aku lebih dekat denganmu. "


Dipenuhi dengan rasa malu, Muoru tidak mampu melanjutkan penjelasan lebih dari itu.


Kemudian, seolah-olah mengenyahkan ide di pikirannya, si gadis menundukkan kepala dalam keheningan. Sementara ia menunggu, Muoru menyaksikan cahaya berkedip-kedip dari lentera yang dia telah tempatkan di tanah. Terlihat bayangan rahang Meria yang bergoyang tidak menentu.


Tak lama kemudian, gadis itu mengangkat wajahnya, tapi dia tidak hendak membatalkan penolakannya yang tadi dia ungkapkan.


"Dari mana asalmu, Muoru?" Ia bertanya.


Setelah ragu-ragu sejenak, pemuda itu pun menjawab, "Kamp tahanan Rakasand."


"Rakasand?"


"Ah, itu terletak di Kerajaan Timur. Kau tidak pernah mendengar tentang hal itu? "


Wajah merah Meria mengangguk dalam. "Aku tidak pernah meninggalkan tempat ini".


Muoru bingung sejenak, kemudian dia melirik leher putih Meria bagaikan seseorang yang mengintip melalui lubang. Tentu saja, tidak ada bukti bahwa dia adalah seorang tahanan di sini, sehingga membuatnya agak sulit untuk percaya. Tapi pada saat yang sama, ini sungguh masuk akal.


Aku mengerti. Dia benar-benar telah dipisahkan dari dunia ini.


Ada satu hal yang dapat sedikit dipercaya dari cerita yang telah disampaikan oleh Karasu sebelumnya. Sebelum mesin uap diciptakan, dengan kata lain, sampai sekitar 100 tahun yang lalu, transportasi darat terbaik adalah kuda. Selain itu, satu-satunya hal yang dapat kau lakukan untuk bepergian adalah berjalan. Pada masa itu, rakyat biasa tidak punya ide tentang bepergian ke suatu tempat. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak mengikuti kampanye militer, bahkan tidak pernah bisa meninggalkan kota asal mereka.


Bahkan sekarang, jika seseorang tinggal pada suatu negara atau desa pertanian, kasus seperti ini mungkin masih bisa ditemui ...


Sambil menatap pemuda itu, si gadis bertanya, "Jadi, katakan padaku ... kau berasal dari tempat seperti apa, Muoru? "


Untuk sementara waktu, mereka berdua berbicara dengan kerlip cahaya lentera diantaranya.


Meria mendengarkan setiap kata-kata Muoru dengan serius, namun dia mengajukan pertanyaan jika ada sesuatu yang membuatnya tertarik. .Dan saat ia mengajukan pertanyaan, Muoru hanya bisa menjawab dengan kikuk.


Ketika Muoru minum alkohol bersama rekan-rekan tentaranya, dia cukup cerewet. Dia menceritakan tentang kota tempat ia dilahirkan, keluarganya, jenis tank apa yang dinaikinya, pentingnya parit yang ditempatkan secara strategis, jatah favoritnya, bagaimana kubis tumbuh ... dsb.


Apa sih yang aku bicarakan? Aku tidak berbicara tentang hal-hal seperti ini kepada teman-teman, atau siapa pun juga.


Ia mampu menangani setiap pertanyaan yang pernah diajukan temannya, namun ketika pertanyaan yang relatif sama dilontarkan dari lisan Meria yang begitu terfokus padanya, entah kenapa dia merasa sangat canggung dan malu. Namun, pada saat yang sama, itu sedikit menyeramkan.


Dia menggunakan ranting pohon untuk menggambar peta di tanah, sembari menengadah ke langit, Muoru merasa bernostalgia, namun dia sama sekali tidak menatap mata gadis itu. Saat itulah, tiba-tiba ia memahami bagaimana cara mengajak Meria berkomunikasi.


Dia memang sudah memikirkan beberapa rencana, namun di samping itu, Meria tampaknya adalah seorang pendengar yang luar biasa. Mengaku tidak pernah meninggalkan kuburan ini, dia kadang-kadang tidak memahami premis dari beberapa cerita. Namun, meskipun penjelasan pemuda itu cukup sulit dimengerti, Meria tampaknya bisa menyimpulkan inti dari penjelasan Muoru.


... Tapi, butuh upaya lebih banyak untuk membuat Meria paham tentang konsep "hewan ternak".


Muoru menceritakan kisah bagaimana para juru masak perang menyiapkan babi panggang kecil sebagai hadiah untuk dia dan teman-teman tentaranya selama perayaan kemenangan. Muoru mengingat aroma harum dari lemak hewan dan rempah-rempah, namun dia langsung tersadar bahwa itu semua hanyalah ilusi ketika air liur mulai terakumulasi di mulutnya. Tapi Meria tidak tertarik pada rasa makanan atau bagaimana hidangan-hidangan itu disiapkan; malahan dia menunjukkan minat pada apa yang Muoru bicarakan berikutnya.


"Setelah dimasak, apakah 'babi kecil' itu mendapatkan penguburan yang layak?"


"Tidak ... Kayaknya kami menggunakan tulangnya untuk membuat dashi*."


[Dashi adalah sejenis kaldu. Biasanya sih dipakai untuk hidangan mie macam ramen.]


"Dashi?"


"Letakkan tulang ke dalam panci besar dan rebus untuk waktu yang lama. Akhirnya akan berubah menjadi sesuatu seperti kaldu sup. "


"Kalian bahkan memakan tulangnya? Itu ... kejam," gumamnya dengan ekspresi sedih di wajah.


Tapi untuk hewan ternak, seharusnya kita tidak perlu mempertimbangkan kejam ataukah tidak. Kita tidak perlu berpikir sampai sejauh itu untuk sesuatu yang akan kita makan.


Dengan upaya keras, Muoru mencoba menjelaskan. Entah bagaimana caranya, ia berusaha menjelaskan pada Meria, bahwa hewan ada untuk dibesarkan sebagai hewan ternak, lantas dimakan (atau untuk dibunuh), tapi kata-kata yang tepat tidak kunjung keluar dari lisannya. Baginya, itu adalah pengetahuan umum yang tampak sangat lumrah, namun Muoru tidak bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk membuat Meria paham.


Percakapan itu hanya bergerak ke kiri dan kanan tanpa arah yang jelas. Beberapa pertanyaan aneh dari si gadis menyebabkan percakapan ini melenceng ke arah lain, kemudian karena kesalahpahamannya, percakapan ini semakin gak jelas tujuannya, namun tiba-tiba mereka kembali membicarakan topik semula.


Dan ketika Muoru berhasil menjelaskan sesuatu dengan lancar, tiba-tiba topiknya kembali melenceng jauh ... dan seterusnya. Percakapan ini bagaikan suatu mobil yang meluncur secara tiba-tiba setelah sekian lama tidak bergerak. Jadi, pada akhirnya Muoru tidak bisa menjernihkan kebingungan gadis itu.


Namun, walaupun beberapa kali melenceng jauh dari topik awal, percakapan mereka terus berjalan, tanpa berakhir dengan tiba-tiba. Muoru merasa bahwa itu cukup ajaib ...


"... Pada dasarnya, sepertinya aku cukup mengerti," kata si gadis sambil berdiri. Bulan pada awan nan jauh di sana telah bergerak ke tengah-tengah langit.


Anehnya, sikap tenang gadis itu sepertinya semakin memudar, dan kini dia mulai tegang. Seakan-akan, dia baru saja menyadari suatu fakta yang mencengangkan.


"The Dark, di dunia tempat kau berasal, mereka tidak ada, 'kan?" Sekali lagi, kata yang terucap dari bibir gadis itu kemaren, kini kembali terdengar.


Muoru mengalami kesulitan menebak arti kata itu.


"Itu benar," gumamnya.


Pemuda itu menatap si gadis.


Dalam cahaya bulan redup, wajah gadis itu, yang tersembunyi di dalam tudung dan sedikit menunduk ke tanah, terlihat begitu indah. Sampai-sampai, Muoru berpikiran bahwa keindahan itu bukanlah sesuatu yang berasal dari dunia ini.


Sembari menatapnya, Muoru tidak mampu berdiri, dan alasan ini tidak terkait dengan cidera yang dialami kakinya.


Dan meskipun Meria tidak pernah menunjukkan emosi di wajahnya, di dalam bagian matanya yang tenang, Muoru jelas-jelas bisa merasakan kondisi batinnya yang terguncang.


Ini seperti syok yang dia rasakan ketika pertama kali melihat eksistensi monster itu.


Sepertinya, fakta bahwa ada suatu dunia dimana monster-monster itu tidak eksis, membuat gadis yang telah hidup lama itu begitu tercengang


Keduanya sangat mirip, namun mereka hidup pada dua dunia yang sungguh berbeda. Bagaikan bulan dan matahari yang tak pernah bersinggungan, jarak di antara mereka begitu jauh.


Dingin, musim panas, angin malam bertiup di atas batu nisan berbaris di tanah yang tak terhitung jumlahnya.


"Sudah waktunya bagiku untuk pergi", kata Muoru, sembari beranjak berdiri.


"Besok aku juga akan menggali lubang sejak pagi, sama seperti hari-hari biasa."


Dia bisa melihat Meria mengangguk.


"... .sampai jumpa," kata pemuda itu sekali lagi, sembari berharap si gadis membalasnya dengan anggukan.


Tapi tidak ada respon.