Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 13 Selingan IV

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Selingan IV[edit]

Ada dua belas deck pada kapal besar yang mendorong dirinya sendiri yang membuat keseluruhan panjangnya empat ratus meter dan lebar dua ratus lima puluh meter, «Ocean Turtle».

Memikirkan bagaimana Oasis of the Seas [1], kapal pesiar terbesar di dunia—meskipun jauh lebih kecil dibandingkan dengan Ocean Turtle, tentu saja—dapat menahan delapan belas deck, itu kelihatannya sedikit menggunakan ruangan secara berlebihan. Tetapi, itu tidak dibangun untuk pesiar, tapi untuk penelitian kelautan, dan kelihatannya dibutuhkan spesifikasi tepat yang mampu untuk semua jenis observasi dan mesin penganalisis. Normalnya, tidak hanya Asuna yang merasakan tidak puas terhadap tinggi dari langit-langit.

Lantai pertama dari garis air adalah dek mengapung, ruangan mesin mengambil lantai kedua, sementara lantai ketiga sampai lantai kedelapan terdiri dari semua jenis fasilitas penelitian, seperti biologi kelautan, sumber daya laut, dan lempeng tektonik. Lantai kesembilan dan kesepuluh memiliki kabin, lantai kesebelas adalah deck yang dibuat lagi dengan ruang tamu, ruang olahraga, kolam renang dan seperti itu, dan disamping dari radar dan antenna yang dipasang di lantai terakhir, lantai keduabelas, itu memiliki pelataran observasi juga.

Kapal itu berasal dari Agensi Jepang untuk Penelitian Tekonolgi Kelautan Bumi, itu hanya setengah dari kebenarannya.

Selain dari penghubung yang memanfaatkan reaktor bertekanan air dari dalam negeri, pembangunannya dilakukan melalui kerja sama dengan Self-Defense Forces dan anggotanya tersebar keluar, dengan aktif menjaganya bahkan setelah penyelesaiannya.

Itu bukanlah semuanya, pilar yang tercampur titanium—yang disebut «bagian utama», tertusuk ke dalam bagian utama lambung kapal yang benar-benar di bawah pengelolaan dari Self-Defense Forces dan penelitian yang sangat rahasia dengan benar-benar tidak memiliki hubungan dengan lautan yang sedang dilakukan di sini. Salah satu yang menduplikat jiwa dari bayi yang baru lahir, yang dibawa menuju dunia virtual, dan kelihatannya memberikan kelahiran pada bottom-up artificial intelligence pertama di dunia—yang bernama «Alicization Project».

6 Juli 2026, Senin, 7:45 AM.

Setelah mengunjungi Kirito—Kirigaya Kazuto, yang menjalani perawatan di bagian atas dari bagian utama, yang disebut «bagian atas», Yuuki Asuna memakan sarapannya di ruangan deck kesebelas dengan Koujiro Rinko, peneliti teknologi fulldive.

Dia mengetahui bahwa dia tidak memiliki kesempatan untuk mengeluh, melihat bahwa dia bukanlah tamu dari kapal pesiar yang mewah—atau bahkan, dia bahkan telah diantar menuju kamar penahanan (meskipun dia tidak mengetahui jika itu benar-benar ada) jika itu bukanlah keputusan dari Jendral Kolonel Kikuoka Seijirou, yang mengawasi proyek, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain untuk menerima makanan prasmanan sudah cukup baik untuk diterima.

Rinko, yang memasukkan pisau pada ikan putih yang diolesi mentega pada sisi lain dari meja, berbicara saat dia menatap keras pada potongan yang melintang itu.

"Aku ingin tahu jika ikan ini ditangkap dari Ocean Turtle?"

"Si-Siapa yang tahu..."

Memiliki makanan yang sama sebagai hidangannya, Asuna dengan perlahan membawa bagian kecil menuju mulutnya. Irisan daging putih yang lembut itu dengan mudah terpotong tapi itu memiliki tekstur yang lembut ketika dikunyah. Dia tidak memiliki keraguan bahwa itu benar-benar segar, tapi dia sama sekali tidak berpikir jika ikan itu sebenarnya dapat ditangkap dengan melempar kail pancing di lautan terbuka ini.

Menaruh ke bawah pisau di tangan kanannya, Asuna membalikkan matanya menuju jendela di kiri meja sementara membawa gelas es tehnya. Permukaan laut yang tenang berwarna hitam gelap, tanpa satupun kapal nelayan terlihat, lupakan ikan-ikan.

Sekang dia memikirkan itu, Asuna tidak mendengar apapun tentang lokasi sekarang dari Ocean Turtle, selain dari «laut di dekat Pulau Izu». Bahkan jika itu sementara di sekitar Pulau Izu, itu adalah jarak yang jauh dari utara dan selatan. Jika dia mengingatnya dengan benar, bahkan Pulau Hachijyou yang mendekati bagian tengah memiliki jarak sekitar hampir tiga ribu kilometer dari Tokyo.

Dia bisa saja dapat menyalakan aplikasi lokasi dan memperlihatkan lokasinya sekarang melalui portable terminal yang dia bawa dari Tokyo jika dia dapat menggunakannya, tapi sayangnya, dia tidak memiliki izin untuk menghubungkan dengan Wi-Fi kapal itu yang disebabkan oleh keamanan atau sesuatu. Dia dapat memainkan file musik dan sebaginya yang tersimpan di local memory, jadi dia merasa cukup beruntung bahwa itu tidak disita, tapi rasa frustasi benar-benar berkumpul ketika tertahan pada situasi tidak mampu untuk melakukan «pencarian cepat sewaktu-waktu pemikiran terpikir olehnya». Dia tidak pernah merasakan rasa tidak puas saat di SAO, dimana dia bahkan tidak dapat menerima satupun berita dari dunia nyata, lupakan melakukan pencarian, bagaimanapun juga.

Menelan ke kembali helaan nafasnya dengan es the, Asuna berpikir untuk menyegarkan suasana hatinya.

Apakah «project» Kikuoka Seijirou, Higa Takeru, dan pekerja lainnya kerjakan hanya sebatas pada penjelasan yang mereka jelaskan kemarin? Bukankah masih banyak rahasia tersembunyi yang disembunyikan dari dunia virtual , «Underworld»? Juga—akankah Kazuto, menerima perawatan pada Soul TransLator nomor 4, terbangun ketika besok telah tiba seperti yang Suster Aki Natsuki telah katakan...?

Tidak, mengesampingkan dua hal yang pertama, dia harus menyisihkan keraguannya pada yang ketiga. Dia hanya dapat sepenuhnya mempercayai itu untuk sekarang. Ketika besok—7 Juli datang, kerusakan jaringan saraf Kazuto akan segera beregenerasi dan dia akan mendapatkan kesadarannya kembali. Asuna tidak memiliki pilihan lain selain kembali ke Tokyo melalui helikopter yang berangkat dari Ocean Turtle pada jam tujuh malam, tapi seharusnya ada waktu yang cukup untuk saling bertukar beberapa kata. Dan waktu Asuna untuk memeluk dengan erat tubuh yang melindunginya.

Setelah mendapatkan suatu semangat dengan membayangkan kejadian itu, Asuna melanjutkan makan sementara bertanya pada Rinko di sisi lainnya.

"Rinko-san, apa kau memiliki rincian pada lokasi kapal ini sekarang? Aku tidak pernah mendengar apapun yang jauh lebih jelas dari laut di dekat Pulau Izu."

"...Sekarang kau memikirkan itu, aku pikir aku hanya tahu sebanyak yang kau tahu..."

Setelah menyelesaikan memakan ikan yang diolesi mentega, Rinko perlahan memiringkan kepalanya dan menaruh tangannya pada saku dari jas putihnya. Dia kelihatannya hendak mengambil portable terminalnya, tapi kelihatannya dia mengingat kembali bahwa dia tidak dapat menghubungkan pada internet dengan segera setelahnya dan samar-samar merengut.

"Erm, aku yakin Higa-kun mengatakan bahwa kita telah berada pada seratus atau dua ratus kilometer ke barat dari Pulau Mikura...atau tunggu, apakah Pulau Miyake..."

Sementara mengatakan informasi yang tidak jelas, Rinko membalikkan matanya menuju jendela yang cukup besar untuk kapal. Asuna, juga, menatap pada permukaan laut yang biru kehitaman sekali lagi.

Matahari pagi seharusnya bersinar dari jendela di sisi lain, jadi arah yang wajah mereka berdua berbalik seharusnya menuju barat. Jika Ocean Turtle benar-benar berada di barat dari Pulau Izu sekarang, tidak ada Pulau Mikura atapun Pulau Miyake yang terlihat, apalagi Pulau Honsu...

Suara pelan "Ah" keluar dari Asuna yang menatap pada lautan dari kanan ke kiri dengan pikiran itu di pikirannya. Dia tidak menyadarinya ketika dia melihat pada jendela sebelumnya, tapi itu bersinar putih karena cahaya dari matahari pagi. Sesuatu yang kecil dan dibuat manusia, mengapung di lautan jauh—Menilai dari ukurannya itu sangat sulit tanpa perbandingan untuk membandingkannya, tapi itu kelihatannya sedikit besar.

"Rinko-san, di sebelah sana."

Asuna menaruh pisaunya sebelum menunjuk, membuat Rinko menyipitkan matanya dan mengangguk.

"Oh, itu adalah kapal, bukan. Mungkin kapal pemancing yang menangkap ikan barusan......atau tidak, itu kelihatannya..."

"Eh, itu bukan?"

Itu terlalu besar untuk kapal pemancing dan warnanya biasa juga...di samping itu, itu memiliki banyak sekali antena.

Rinko meninggalkan dari kursinya dan berjalan menuju jendela, jadi Asuna pergi ke sisinya. Pandangannya tidak dapat dikatakan buruk, tapi kapal di kejauhan itu perlahan berguncang, mengaburkan bagian rincinya, mungkin disebabkan oleh uap air yang keluar dari permukaan laut. Tetapi, ada sejumlah besar antena yang terpasang mengelilingi tiang yang menjulang tinggi di bagian tengah kapal itu. Sangat mirip dengan antena besar yang berdiri menjulang tinggi di atas dari Ocean Turtle, yang seharusnya berada tepat di atas ruangan ini. Rangka kapal itu memliki desain bergaris juga, jadi daripada kapal pemacing, itu jauh lebih mirip kapal pengangkut, tidak, justru...

"...Kapal perang...?"

Pada saat Asuna berguman seperti itu, suara muram terdengar dari belakang.

"Itu adalah kapal Jepang. Jepang tidak memiliki satupun kapal perang."

Dia membalikkan kepalanya bersamaan dengan Rinko. Seseorang yang berdiri disana memegang sarapannya dengan kedua tangannya adalah laki-laki dengan seragam putih bersih dengan lengan baju yang pendek—Letnan Nakanishi.

"Selamat pagi, Nakanishi-san."

"Selamat pagi."

Ketika mereka berdua mengucapkan salam, Nakanishi yang tinggi itu dengan hati-hati menaruh nampan di meja di dekatnya sebelum membungkukkan bagian atas tubuhnya dan membalas salam.

"Selamat pagi, Professor Koujiro, Yuuki-san."

"Kesempatan ini sangat jarang, jadi maukah kau sarapan di meja kami?"

Dia memikirkan undangan Rinko untuk sebentar sebelum mengangguk dengan "Aku akan menerima permintaanmu, kalau begitu." Menunggu sampai Nakanishi memindahkan nampannya, Asuna dan Rinko lalu duduk kembali pada kursi awal mereka. Melihat pada porsi sarapan dari anggota Self-Defense Forces, itu sangat besar seperti yang diduga, dengan telur, daging, dan tumpukan salad pada pirng besar itu.

"Bagaimana rasanya jika dibandingkan dengan sarapan yang ada pada Self-Defense Forces?"

Nakanishi mengeluarkan sedikit tawa keras pada pertanyaan Rinko yang dapat dikatakan cukup sulit dan menjawab saat dia mengambil garpunya.

"Jika berbicara secara jujur. Sarapan di Ocean Turtle sedikit lebih baik aku rasa. Juga tomat dan timun ini bahkan tumbuh diluar kapal."

"Wah, apakah ada kebun sayuran?"

Anggota Self-Defense Forces itu menunjukkan sedikit senyuman bangga pada waktu Asuna yang matanya terbuka lebar.

"Ya, di belakang deck kedelapan. Aku yakin itu adalah percobaan untuk pertaniaan skala besar di laut, namun."

"Aku berpikir jika itu adalah sesuatu yang memberikan tomat sedikit rasa asin."

Dan itu adalah gurauan dari Rinko.

"Benarkah?"

Melihat pada Nakanishi, mengunyah irisan tomat dengan ekspresi muram, Asuna dan Rinko menjadi tertawa. Tepat saat dia mengambil garpu dan pisau untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda, Asuna mengingat kalimat pertama Nakanishi dan memiringkan kepalanya.

Jepang tidak memiliki satupun kapal perang, dia bilang, tapi seharusnya bukan itu, Bukankah tempat kerja aslinya sebagai anggota dari Self-Defense Forces angkatan laut seharusnya adalah kapal perang...tidak, Self-Defense Forces bukanlah tentara, jadi mereka memiliki sesuatu yang bukan kapal perang, atau seperti yang logika katakan, huh. Dengan kata lain, kapal yang terlihat di sisi lain dari jendela adalah...

"Jadi, itu...bukan kapal perang, tapi erm, kapal pertahanan Jepang...?"

"Itu cukup dekat. Kapal yang dimiliki oleh Self-Defense Forces angkatan laut disebut kapal penjaga."

Nakanashi memperlihatkan senyumannya, membalikkan matanya sendiri pada kapal di kejauhan dan melanjutkan.

"Kapal itu adalah kapal penghancur yang baru dibuat DD-127 «Nagato»[2]. Alasan kenapa itu berlayar di daerah laut ini, sayangnya, aku tidak berani untuk......hmm...?"

Kata-kata jelasnya terpotong secara tidak normal dan Asuna melihat ke arah wajah Nakanishi sebelum dia mengembalikan pandangannya menuju laut.

Ketika dia melakukannya, kapal perang abu-abu itu—tidak, kapal penjaga itu baru saja bergerak untuk mengganti arahnya. Memutar buritannya menuju Ocean Turtle dalam waktu kurang dari sepuluh detik, itu terus memperpendek jarak diantaranya.

Setelah melihat itu, Nakanashi berdiri tanpa peringatan dan memutar punggungnya pada Asuna dan Rinko, mengeluarkan terminal portable yang tidak dapat dijelaskan dari sakunya. Menaruh itu di telinganya dengan gerakan cepat, dia mulai berbicara dengan suara pelan.

"Jendral Kolonel Kikuoka Seijirou, aku meminta maaf karena mengganggu istirahatmu, ini Nakanishi. Tetapi mengenai «Nagato», bukankah itu seharusnya tidak menjaga kapal ini sampai 1200 hari setelah besok...tidak, itu berganti rute menuju barat seperti...ya, aku akan segera ke sana."

Selesai dengan panggilan teleponnya, dia dengan cepat berbalik dengan terminal yang masih berada di dekat wajahnya. Tiba-tiba ekspresi kaku terlihat dengan sendirinya pada wajah dari anggota Self-Defense Forces.

"Professor, Yuuki-san, aku meminta maaf tapi aku akan segera pergi dari sini."

"Semoga berhasil dengan itu. Aku akan membersihkan peralatan makanmu."

"Aku akan menerima penawaranmu, kalau begitu. Aku pergi dulu."

Dengan segera setelah menundukkan bagian atas tubuhnya pada perkataan Rinko, Nakanashi meninggalkan ruangan dengan kecepatan yang mendekati berlari.

"...Aku ingin tahu apa ada masalah yang terjadi?"

"Siapa yang tahu..."

Memiringkan sedikit kepalanya, dia melihat kembali menuju luar jendela.

Merasakan sedikit, kegelisahan yang tidak beralasan sementara melihat kapal penjaga yang menghilang di balik kabut pagi hari, Asuna perlahan menggenggam erat tangan kirinya.


Catatan Penerjemah[edit]