Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 17

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 20 - Pertarungan Satu Sama Lain (7 Juli 2016/Bulan ke-11 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

5:00 A.M.

Lebih dari 3.000 pemain berkumpul di kubah besar Pohon Dunia yang menjulang di tengah kota Alne, di pusat dunia ALfheim Online.

Ksatria putih yang menjaga kubah telah dihapus. Sekarang , kesembilan ras peri sering menggunakan tempat ini untuk pertemuan dan jual beli, atau tempat berkumpulnya suatu event.

Hanya empat orang yang bertatap muka dengan sekitar 3,000 pemain lain yang telah berkumpul pada pertemuan besar ini.

Raksasa Gnome Agil, Samurai Salamander Klein, Beast Tamer Cait Sith Silica, dan Blacksmith Leprechaun Lisbeth— teman «Black Swordsman» Kirito yang masih belum terbangun dalam dive-nya di «Underworld».

Pukul 4:20 A.M, ketika Klein dan Lisbeth telah mengirim pesan kepada setiap teman yang ada di daftar pertemanan mereka, hanya ada tiga pemain berstatus Penguasa yang sedang online. Tetapi, setelah memohon mereka dan teman-temannya, para Penguasa melanggar taboo untuk menghubungi pemain di dunia nyata. Sebagai hasilnya, semua pemain yang berhasil dihubungi telah berkumpul di kubah dalam waktu kurang lebih 40 menit.

Di tempat yang cukup luas ini, sekitar 30% dari para pemain terbang melayang maupun yang berdiri, menggunakan akun yang baru saja diciptakan. Mereka bukan orang baru dalam dunia VRMMO. Mereka para veteran dari permainan VRMMO lain yang diciptakan The Seed, mereka diundang oleh teman yang memiliki akun ALO.

Dengan kata lain, 3.000 orang yang sedang berkumpul di kubah Pohon Dunia adalah pemain elit dari yang paling elit diantara para pemain VRMMO di Jepang. Mereka adalah harapan terakhir Yui, si top-down AI: mereka semua adalah satu-satunya pasukan yang bisa diharapkan untuk menyelamatkan Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia di Underworld.

Di kubah yang hening ini, suara yang dibesarkan secara sihir milik Blacksmith Leprechaun Lisbeth masih terus berkumandang secara emosional.

“… Apa yang aku akan katakan bukanlah kebohongan, bukan juga lelucon! Sebuah organisasi penelitian Jepang telah menggunakan anggaran negara dan The Seed untuk menciptakan dunia virtual bernama «Underworld», dan ribuan pemain amerika yang tidak mengetahui fakta ini akan dive kedalamnya dan melakukan pembantaian pada penduduk yang tinggal di dalamnya!”

Lisbeth merasa malu akan nada bicaranya sendiri, tetapi tetap berusaha mempertahankannya karena inilah satu-satunya kesempatan, ia melanjutkan:

“Para penduduk Underworld bukanlah sekedar NPC! Mereka adalah kecerdasan buatan yang sebenarnya, terlahir dari data yang bersumber dari banyaknya dunia VRMMO yang kalian mainkan! Mereka memiliki emosi seperti kita, mereka memiliki jiwa seperti kita! Kumohon, untuk melindungi mereka, pinjamkan kekuatan kalian! Tolong ubah data karakter kalian untuk masuk ke dalam Underworld!”

Mengakhiri pidato lima menitnya, Lisbeth memantau para pemain, dan berharap.

Wajah-wajah para kerumunan peri terlihat bingung. Tentu saja, tak mungkin mereka langsung memahami apa yang baru saja didengarnya. Bahkan Lisbeth sendiri pun masih kurang memahami penjelasan Yui mengenai dunia Underworld, dan juga «Artificial Fluctlights» yang hidup didalamnya.

Lambaian tangan berusaha untuk menenangkan para pemain yang ribut.

Penguasa Sylph Sakuya melangkah maju, tubuh langsing-nya berbalutkan jubah hijau.

“Lisbeth. Aku tak akan menuduh jika kamu dan teman-temanmu melakukan semua ini hanya untuk guyonan, terlebih lagi, pasti ada suatu masalah besar jika si bocah Kirito tidak log in selama sepuluh hari belakangan. Namun..”

Suara kalem dan lancar milik Sakuya menenangkan kebingungan pemain lainnya.

“… Sejujurnya, sulit untuk menerima semua yang telah kamu katakan secara tiba-tiba. Ada AI yang memiliki jiwa, dan militer Amerika berusaha menguasai mereka …? Fakta-fakta tersebut sulit dinalar … tentu saja, untuk membuktikan kata-katamu, kami harus log in dan melihat dengan mata kami sendiri… tetapi kamu bilang jika dive ke dalam «Underworld» akan menyebabkan beberapa masalah, kan? Bisakah kamu menjelaskannya dulu?”

—Saat ini akhirnya tiba.

Lisbeth mengambil nafas dalam-dalam, menutup matanya untuk sementara.

Waktunya untuk jujur. Jika aku gagal, tak ada seorangpun yang akan membantu kita.

Membuka matanya dan memberi tatapan pasti pada Sakuya, Penguasa lain, dan pemain lainnya, Lisbeth menjawab dengan serius:

“Oke. —Underworld tidak beroperasi seperti permainan VRMMO, jadi akan ada beberapa masalah jika kamu dive kedalamnya. Pertama-tama, tidak ada jendela operasi dalam Underworld. Dengan kata lain, kalian tak akan bisa log out sesuka hati.”

Keributan menjadi semakin parah.

Tak bisa log out sesuka hati; bukankah ini kata-kata yang akan menggambarkan permainan kematian di masa lalu, «Sword Art Online»? Sekarang ini, semua permainan yang dibuat berdasarkan The Seed, termasuk ALO, memiliki dua cara untuk log out: bisa menggunakan jendela operasi maupun perintah suara.

“Satu-satunya cara untuk log out adalah “tewas” di dalam Underworld. Tetapi itupun menimbulkan masalah kedua. Dalam Underworld … tidak ada Pain Absorber. Jika kamu menerima damage besar yang membuat HP milikmu menjadi nol, kamu akan menderita rasa sakit yang cukup menyakitkan.”

Teriakan semakin keras terdengar.

Penahan rasa sakit adalah fungsi utama bagi server VR saat ini. Di dunia virtual yang tak memiliki fungsi ini, mendapat sebuah tebasan pedang ataupun luka bakar akan mengakibatkan rasa sakit yang menyakitkan di dunia nyata. Yang lebih parah, bekas luka tersebut mungkin muncul pada kulit fisik seseorang.

Bukan ini saja, masih ada masalah yang lebih besar ketika dive ke dalam Underworld.

Menunggu keributan menjadi agak tenang, Lisbeth lalu menginfokan para pemain efek samping ketiga dan juga yang paling parah.

“—Satu lagi. Underworld yang saat ini sedang berjalan bahkan tak bisa diatur oleh developer yang mengoperasikannya. Dengan kata lain … kita tak bisa menjamin jika data karakter kalian bisa di convert kembali ke dalam permainan aslinya … bisa saja, karakter itu sendiri akan tewas.”

Setelah jeda sejenak—

Teriakan makian bergema di dalam kubah.

Lisbeth, Klein, Silica dan Agil yang ada di tengah-tengah lantai kubah, dengan Yui yang duduk di pundak Klein dalam bentuk pixie-nya; masih diam berdiri, tubuh mereka berusaha menahan makian yang datang dari berbagai arah.

Reaksi seperti ini telah diduga oleh mereka berlima.

3,000 pemain elit ini telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk meningkatkan karakter mereka. Bagi pemain ALO, mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk menebas monster, dan itu hanya mendapat satu EXP; tindakan itu seperti usaha untuk mengeringkan sebuah danau dengan menggunakan ember, dilakukan setiap hari.

Bagaimana mungkin mereka akan tetap diam setelah mendapat info jika mereka akan kehilangan karakter yang mereka kembangkan dengan sepenuh jiwa?

“J… Jangan bercanda!!” seorang pemain dari dalam kerumunan berteriak sambil mengacungkan jari tengahnya ke Lisbeth.

Dia adalah pemain Salamander yang mengenakan armor crimson, sambil membawa kapak di punggungnya. Dia tampaknya pemain setingkat Komandan dibawah pimpinan Penguasa Mortimer dan General Eugene.

Melepas helm miliknya dan menunjukkan mata yang terisi kemarahan, Salamander tersebut berteriak hingga mampu membuat kelompok lain dibelakangnya terdiam:

“Kau menyuruh kami berkumpul disini lalu dive ke dalam server ampas; sungguh konyol. Sekarang kau mengatakan jika kita bisa kehilangan karakter?! Apa kau mampu membayar jika kami kehilangan karakter itu selamanya?! Ataukah ini adalah sebuah jebakan untuk melemahkan seluruh ras Salamander?!”

“………Gh!”

Lisbeth menahan Klien yang akan menonjoknya, lalu berusaha menjawab dengan tenang:

“Maaf, kami tak bisa. Aku sangat tahu jika karakter yang telah kalian kembangkan sungguh berharga. Itulah mengapa kami memohon kalian untuk menolong kami … apa yang sebenarnya ingin kukatakan adalah, tolong bantu teman kami yang ada di Underworld, mereka mempertaruhkan nyawanya di garis depan melawan serangan pemain Amerika.”

Meskipun Lisbeth tidak berteriak, suaranya masih bisa terdengar di dalam kubah. Si Salamander tampaknya bisa menahan emosinya, tetapi tiba-tiba emosinya semakin meluap.

“‘Teman’ yang kau bicarakan itu seorang SAO survivor, benarkan?! Mereka itu orang-orang yang selalu berekspresi ‘Aku-lah yang terkuat’ di wajahnya! Aku tahu itu, kalian yang berasal dari SAO selalu memandang rendah kami!!”

Kali ini giliran Lisbeth yang tak bisa bicara.

Lisbeth tak pernah berpikir jika ada orang yang berpikiran sama dengan si Salamander. Tetapi, jika dipikirkan lagi. Setelah mendapat status player-nya, ia menuju New Aincrad bukannya kota dibawah, ia tak pernah turun dari Kastil Melayang dan hanya berbicara dengan kawan lamanya; itu memang benar.

Si Salamander meneruskan ucapannya, setelah melihat ekspresi penyesalan Lisbeth:

“Siapa yang peduli dengan artificial intelligence, atau rahasia negara?! Jangan terlalu pede dan membawa-bawa dunia nyata kedalam VRMMO! Kau bisa pergi sendiri sana! Bukankah itu lebih baik, wahai sang Survivor?!!”

Yeah, pergi sendiri sana; makian seperti itu semakin terdengar dari kerumunan.

—Aku tak bisa melanjutkan.

Kata-kata-ku tak bisa tersampai pada mereka.

Lisbeth hanya bisa meneteskan air mata ketika ia menatap para pemain kuat asli ALO yang ia kenal— Penguasa Sylph Sakuya, General Salamander Eugene, dan Penguasa Cait Sith Alicia Rue.

Meskipun mata mereka bertemu dengannya, mereka tetap membisu.

Tatapan mata mereka seolah menunjukkan pada Lisbeth arti tunjukkan kami ketetapan yang kau miliki.

Lisbeth mengambil nafas dalam-dalam, lalu menutup matanya erat-erat. Ia memikirkan Asuna yang sedang kesusahan bertarung saat ini; juga Kirito, yang masih terluka; Leafa dan Sinon, yang telah lebih dahulu masuk ke dalam Underworld.

— Pada levelku yang sekarang, bahkan jika aku mengkonvert-nya. Aku tak akan bisa bertarung seperti Asuna atau yang lainnya. Tetapi pasti ada yang bisa aku lakukan. Sekarang ini, tempat ini adalah pertarunganku.

Membuka matanya dan menyeka air matanya, Lisbeth melanjutkan pidatonya:

“… Ya, aku memang membawa masalah dunia nyata ke sini. Dan seperti yang kau katakan, orang-orang yang berasal dari SAO mungkin senang mencampurkan dunia nyata dan dunia virtual. Akan tetapi, kami tak pernah menganggap diri kami sebagai seorang pahlawan.”

Menggenggam tangan Silica, yang juga berair matanya, ia melanjutkan:

“Silica dan aku saat ini sedang masuk ke dalam sekolah bagi para survivor yang kau sebutkan tadi. Kami tak memiliki pilihan, karena sekolah kami sebelumnya telah mengeluarkan kami di tengah tahun pelajaran. —Semua siswa-siswi di sekolah survivor harus mengikuti konseling setiap bulan. Mereka memonitori aktivitas gelombang otak kami menggunakan AmuSpheres, dan kami diajukan beberapa pertanyaan yang tak mengenakkan seperti, ‘Apakah kamu tak bisa membedakan kenyataan’, atau, ‘Apakah kamu ingin menyakiti orang lain’. Ada anak-anak yang dipaksa meminum obat yang mereka benci. Bagi pemerintah, kami ini seperti kriminal yang butuh penanganan kusus.”

Terkadang ketika pidatonya, gelombang makian tampak mereda, dan keheningan melanda kubah ini. Bahkan si Salamander yang tadi memaki membuka matanya karena terkejut.

Lisbeth tak tahu akan membawa arah pidatonya kemana. Dia tak bisa menghentikan emosinya yang mengalir ke dalam perkataan:

“tetapi… sejujurnya, para pemain lama SAO bukanlah satu-satunya yang diperlakukan begini. Semua pemain VRMMO juga dipandang seperti ini, kurang lebih. Beberapa orang berkata jika kita hanyalah kumpulan orang yang tak bisa bersosialisali, beberapa orang menganggap kita melarikan diri dari membayar pajak dan uang pensiun… ada yang bahkan menerima panggilan untuk kembali bekerja, memaksa kita kembali ke masyarakat!”

Lisbeth bisa merasakan kegelisahan yang melanda ribuan pemain. Jika ia berbicara ketus, kemarahan mereka akan berlipat ganda melebihi sebelumnya.

Tetapi Lisbeth meletakkan tangan kirinya ke dada, dan berteriak:

“Tetapi aku tahu! Dan aku yakin! Jika ini kenyataan!!”

Tangannya menyapu ke sekeliling— menuju seluruh Alfheim.

“Dunia ini, dan banyak dunia virtual lainnya saling terhubung, bukanlah tempat untuk melarikan diri! Bagiku, ada kehidupan sejati di sini, teman nyata, tawa, musuh, juga perpisahan … ini kenyataan!! Aku tidak sendiri, benar kan?! Karena kita yakin dunia ini adalah kenyataan lain sehingga kita bisa berusaha keras, benar kan?! Namun, jika kita menganggap ini hanya sebuah permainan, sebagai dunia virtual, dan meninggalkannya, jadi dimana ‘kenyataan’ milik kita …?!!”

Tak bisa menahan mereka lebih lama, Lisbeth merasa air mata menuruni wajahnya. Tetapi dia tak ingin menyekanya, lalu mengutarakan kata-kata terakhir:

“…Dunia yang telah kalian capai; dunia tersebut saling terhubung seperti Pohon Dunia ini, dan kini telah berkembang. Dan kuncup bunga yang disebut Underworld telah mekar, aku ingin melindunginya! Kumohon, aku memohon kalian … pinjami kekuatan kalian …!!”

Lisbeth menuju bagian atas kubah.

Dalam pandangannya yang ditutupi air mata, kemilau cahaya dari sayap ribuan peri terpantul.

***

Sebuah cahaya perak menyilaukan membentuk lintasan berbentuk busur di pagi hari.

Sedetik kemudian, dengan sekali hentak tali tebal tersebut putus dan menari di udara bagaikan ular hitam. Sepuluh prajurit musuh yang bergelantungan di tali tersebut terjatuh ke lembah tak berdasar, mereka berteriak. «Twin Edged Wings», sebuah Divine Instrument yang berhasil memotong tali tersebut dengan begitu mudahnya kini kembali ke tangan Integrity Knight Renri Synthesis Twenty-Seven.

Meskipun Renri telah berhasil memotong lima dari sepuluh tali yang disiapkan pasukan Tanah Kegelapan untuk menyeberangi lembah dengan begitu mudah, wajahnya tidak menunjukkan rasa bangga. Malahan ia merasa terbebani oleh perintah untuk melukai pasukan musuh yang tak berdaya yang berusaha menyeberangi lembah tersebut.

Hal yang sama juga berlaku bagi Asuna yang berada di sebelah Renri sambil menggenggam tali kekang kuda putihnya.

Ketika Asuna, Renri, Integrity Knight Alice Synthesis Thirty, Integrity Knight Sheyta Synthesis Twelve, dan Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One tiba, sambil menunggang kuda, ratusan pasukan musuh telah berhasil menyeberangi lembah tersebut, mereka berlima mulai menyerang musuh yang mencoba melindungi tali yang tersisa. Banyak musuh telah tewas oleh tiga Knight yang berada paling depan: Bercouli, Sheyta, dan Alice. Beberapa diantara mereka mencoba menyerang Renri dari samping, Asuna terpaksa mengayunkan rapier-nya.

Di dunia virtual «Underworld», yang tercipta berdasarkan paket program The Seed, Sword Skills dan Skill Horse Riding dari era SAO masih bisa digunakan.

Tak hanya itu, Asuna sekarang menggunakan Super Account «Dewi Pencipta, Stacia» yang mana memiliki parameter yang cukup tinggi; untuk tambahan, rapier yang digunakannya, «Radiant Light» memiliki status lebih tinggi dari Divine Instrument milik Integrity Knight. Malahan, Sword Skill dasar «Linear», bisa dengan mudah menembus armor milik seorang Dark Knight mupun tubuh para Petarung Tangan Kosong.

Darah dari musuh yang terluka, teriakan kesakitan mereka, nyawa yang melayang, semuanya nyata.

Orang-orang di Underworld, baik yang berasal dari Kerajaan Manusia atau Tanah Kegelapan memiliki jiwa yang sama dengan Asuna— Fluctlights. Musuh Asuna tak perlu ditanyakan lagi adalah manusia seperti dirinya, namun mereka dengan mudah terbunuh dengan satu serangan karena nilai status senjata yang digunakannya; kenyataan ini menambah kesakitan dan kengerian dalam hati Asuna.

Yang lebih parah, mereka maju secara tragis, sungguh jelas jika para Dark Knight dan Petarung Tangan Kosong tidak melakukan hal tersebut atas kehendaknya sendiri.

Fluctlights Buatan ini memiliki sifat tak bisa melawan perintah yang diberikan oleh atasan. Dibawah perintah «Dewa Kegelapan, Vektor », seorang manusia dunia nyata yang menggunakan sebuah Super Account seperti Asuna. Pasukan ini terus melancarkan serangan mereka meskipun tahu jika mereka akan mati sia-sia. Dengan kata lain, mereka hanyalah korban yang terjerat karena permasalahan perebutan teknologi di dunia nyata.

Tetapi Asuna masih berjuang sepenuh tenaga agar menekan pemikiran ini dari dalam dirinya.

Sekarang ini, prioritas utamanya adalah melindungi «Putri Cahaya» Alice, yang sedang diincar oleh Vektor— juga Kirito yang berada di perkemahan dibelakang mereka.

Ia mendapat informasi jika pasukan musuh dari Tanah Kegelapan yang tersisa adalah para Petarung Tangan Kosong dan Dark Knight. Jika mereka berlima bisa memanfaatkan kesempatan ketika musuh sedang menyeberang dan menghabisi mereka, Vektor tak akan memiliki pasukan lagi.

“—Baiklah, ini yang ke-enam!!”

Suara ketetapan Integrity Knight Bercouli membuyarkan pikiran-pikiran Asuna. Setelah Alice, Sheyta, dan Renri mengiyakan, Asuna juga mengikutinya.

Tepat ketika mereka memutar kuda dan bersiap untuk bergerak ke barat, tiupan terompet terdengar dari belakang.

Menoleh kebelakang, mereka bisa melihat Pasukan Pengecoh Penjaga Kerajaan Manusia berhenti di sebuah bukit satu kilol jauhnya, mulai menuruni dengan formasi teratur. Setelah melakukan persiapan lima belas menit dari waktu keberangkatan para Integrity Knights, mereka turun untuk membantu.

“Mereka ini… membuatku gelisah.”

Kata-kata Bercouli agak menyindir, tetapi karena sudah ada 500 Petarung Tangan Kosong yang berhasil menyeberangi lembah, bukan waktu yang buruk bagi bala bantuan untuk muncul. Selama para Penjaga bisa menahan pasukan musuh, memotong sisa lima tali agak terasa cukup mudah.

—Tampaknya kita memenangkan pertarungan ini, Vektor-san.

Asuna membatin—

Sebelum ia bisa menyelesaikan pemikirannya, fenomena aneh memasuki pandangannya.

Tertutupi cahaya matahari terbit, objek misterius mulai berjatuhan dari atas langit.

Garis merah. Bukan hanya satu. Sepuluh… Seratus.

Tidak, Ribuan.

Garis tersebut terlihat seperti noda kecil yang saling terhubung. Menyipitkan matanya, Asuna melihat noda tersebut bukan angka maupun huruf dari alfabet bahasa Inggris.

Garis-garis ini turun perlahan ke sisi lembah, kira-kira satu atau dua kilol di bagian timur medan pertempuran.

Perlahan, tidak hanya Asuna, tetapi juga Integrity Knights, dan bahkan Dark Knights juga Petarung Tangan Kosong dari Tanah Kegelapan, menahan pertempuran untuk melihat peristiwa ini.

Garis merah pertama menusuk tanah hingga retak dan mulai bergetar—

Hanya butuh beberapa detik hingga garis tersebut berubah menjadi sosok manusia.

***

Apa yang ia lihat membuat ketua Petarung Tangan Kosong Iskahn melupakan kemarahan yang menyelimuti tubuhnya, bahkan walau itu hanya beberapa detik.

—Apa itu?

Di sisi lain lembah besar, lima ratus Pasukan Tanah Kegelapan yang berhasil menyeberang jembatan tali tanpa takut menghadapi lima Integrity Knight.

Namun gerakan mereka tiba-tiba terhenti, dan mata mereka terarah ke sisi lain medan pertempuran.

Wajah Iskahn juga tertarik akan pemandangan ini, secara tak sadar menoleh ke sisi yang sama. Disana, ia melihat hujan berwarna merah darah berjatuhan di arah timur sekitar dua kilol.

Dengan gemuruh aneh, garis-garis merah berjatuhan dari surga. Ketika menyentuh tanah, dengan cepat mereka membentuk sosok manusia.

Prajurit baru telah muncul dihadapan mereka, tubuhnya berbalut armor crimson, dengan membawa pedang panjang, kapak perang, dan tombak.

Meskipun warnanya berbeda, bentuk armor mereka sangat mirip dengan Dark Knight Order. Dengan sekali pandang, mereka tampaknya adalah bala bantuan yang dipanggil Kaisar Vektor.

Lalu, Iskahn merasakan ada sesuatu yang ganjil.

Para prajurit merah ini berbaris tak beraturan tanpa ada yang memimpin. Mereka tak seperti prajurit yang dilatih dibawah komando Jendral Kegelapan Shasta yang telah meninggal. Beberapa diantara mereka mengobrol dengan angkuh, beberapa duduk di tanah, dan beberapa memutar-mutarkan senjata mereka tanpa menunggu perintah.

Yang paling mengejutkan adalah— jumlah mereka.

Setelah hujan berhenti, pasukan yang telah berkumpul berjumlah mengerikan. Ia mengira-ngira jika jumlah mereka melebihi sepuluh ribu, duapuluh ribu … sepertinya tiga puluhribu. Jika Dark Knight Order memiliki tim bala bantuan sekuat itu, mengapa mereka tidak menggulingkan Sepuluh Pemimpin Bangsawan sejak lama dan membuat Tanah Kegelapan dalam kuasa Shasta.

Terlebih lagi, rasa terkejut dan bisik-bisik terjadi diantara Dark Knights dala pasukan di sisi lembah ini. Bahkan mereka tak tahu menahu. Apa-apaan itu?

Jika seperti ini, para prajurit merah tersebut pastilah “Pasukan Tanah Kegelapan” yang sesungguhnya yang telah dipanggil Kaisar mereka, Dewa Kegelapan Vector menggunakan secret arts.

Setelah menyadari ini, keterkejutan Iskahn berubah menjadi kemarahan.

Jika dia bisa memanggil pasukan sebesar ini —

Mengapa ia tak melakukannya sejak tadi?! Itu berarti para Petarung Tangan Kosong dan Dark Knight yang susah payah menyebrangi lembah hanya digunakan sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian musuh?!

Tunggu— bagaimana jika memang seperti itu??

Apakah pemberian perintah oleh Kaisar memang bertujuan untuk mengulur waktu agar bisa memanggil kawan-kawannya?

…… Tidak.

Bukan hanya perintah ini. Ketika pertarungan di Gerbang Besar Timur, kekalahan Pasukan Tanah Kegelapan sungguh tak normal. Baik itu para Goblins, Raksasa, Ogre, atau bahkan Guild Pengguna Dark Art, mereka semua telah disapu habis. Namun Kaisar bahkan tidak berduka atas kematian mereka.

Dengan kata lain, bagi Kaisar Vector, lima ribu orang dari Pasukan Tanah Legelapan hanyalah bidak sejak awal!

Sampai saat ini, Iskahn, si pemimpin muda dari Guild Petarung Tangan Kosong hanyalah seorang pemuda yang hanya memikirkan latihan untuk mengasah skill-nya dan demi suku-nya.

Tetapi sekarang, pikirannya telah menyimpulkan untuk pertama kali, mencapai titik dimana ia bisa melihat kenyataan yang ada di seluruh Tanah Kegelapan, Kerajaaan Manusia, dan seluruh Underworld. Cara pandang ini menimbulkan konflik di pikirannya.

Kaisar adalah keberadaan yang terkuat. Ia harus mematuhi yang terkuat, tanpa perlu memprotes.

Tetapi.

Tetapi—

“Guh…!”

Merasakan rasa sakit yang belum pernah dirasakan sebelumnya, kini menusuk mata kanannya. Iskahn mengerang sambil menutupi mata kanannya. Si Pemimpin Petarung Tangan Kosong terjatuh, dan berlutut.

Dengan susah payah, ia bisa melihat ke tigapuluh ribu pasukan crimson mulai berlari, berbicara dengan bahasa yang tak ia mengerti.

Di lokasi yang mereka tuju, hampir seribu pasukan Kerajaan Manusia menyatukan formasi dengan Integrity Knight untuk melakukan serangan balik.

Diantara kedua pihak, lima ratus Petarung Tangan Kosong dan Dark Knights masih terdiam, kebingungan.

Tampaknya, meskipun menerima perintah tak berbelas kasih dari Kaisar, sang Kaisar sepertinya berniat menyelamatkan lima ratus prajurit tersebut.

Iskahn menenangkan dirinya ketika rasa sakit masih menyerang mata kanannya.

—Bahkan setelah pengorbanan mereka, ia masih meremehkan betapa kejamnya Kaisar Vektor.

Seketika lima ratus Prajurit Tanah Kegelapan, Penjaga Kerajaan Manusia, dan Pasukan Kegelapan bertemu—

Tak terhitung banyaknya pedang, kapak perang, dan tombak tersinari cahaya matahari terbit—

Lalu, dengan teriakan haus darah, Pasukan Kegelapan menebas Petarung Tangan Kosong yang seharusnya menjadi teman mereka.

***

“Orang-orang ini… mengapa?!”

Ini pertama kalinya Asuna mendengar teriakan terkejut dari Komandan Knight Bercouli, tetapi kata-kata tersebut sudah diduganya.

30.000 prajurit yang baru saja turun … bukan, lebih tepatnya dive ke medan peperangan bagian timur ini dipastikan dipanggil oleh Kaisar Vektor.

Tetapi dari mana ia mendapat orang sebanyak ini?

Apakah ia menciptakan karakter menggunakan sistem control? Tetapi Pusat Console masih terkunci, dan perintah macam ini tak mungkin dilakukan oleh administrator; satu-satunya cara untuk menambah petarung adalah dari dunia nyata, lalu dive seperti yang Asuna lakukan, tetapi para penyerang hanya memiliki dua STL.

Asuna panik untuk sesaat—

Kebingungannya terganggu oleh teriakan Pasukan Crimson yang akan mendekat dalam jarak ratusan mel.

“Charge ahead!!”

“Give ‘em hell!!”

—Bahasa Inggris!

Orang-orang ini adalah manusia dari dunia nyata— menilai dari aksen mereka, mereka orang Amerika!

Tetapi, mengapa mereka ada disini… Underworld seharusnya terisolir dari dunia nyata.

Tidak.

Tidak––

Mungkin, bagi orang yang dive menggunakan STL, Underworld adalah dunia berbeda yang diciptakan menggunakan “Mnemonic Visual” dengan kenyataan yang mendekati dunia nyata. Tetapi, dasar bagi setiap VRMMO, «The Seed» juga digunakan dalam mendesain dunia ini. Dengan kata lain, selama seseorang menggunakan AmuSphere, mereka bisa dive ke dunia ini menggunakan server sederhana yang menggunakan polygon— terlebih lagi, Ocean Turtle memiliki jaringan bandwith kelas satelit militer.

Lalu, jika seseorang membuat sebuah client program yang mengikutsertakan alamat server utama Underworld dan beserta akun informasi dan menyebarkannya di dunia nyata—

Tak hanya memanggil puluhan ribu; bahkan memanggil ratusan ribu pasukan sangatlah mungkin.

Tetapi yang lebih mengejutkan Asuna adalah bagaimana Pasukan Crimson tersebut bertindak; mereka mulai menyerang teman sendiri, pasukan Dark Knight dan Petarung Tangan Kosong, tanpa keragu-raguan.

“Ap, Apa yang mereka laku…?!”

“Bukankah mereka seharusnya temenan??!!”

Para Knight berteriak sambil mencoba menahan serangan, tetapi jumlah mereka sangatlah keterlaluan, dan lagi, status senjata dan armor Pasukan Crimson lebih tinggi daripada equipment milik Pasukan Tanah Kegelapan.

Satu persatu pedang dan perisai mulai patah dengan bunyi klang dari masing-masing musuh, cipratan darah mulai membanjiri.

“Dude that’s awesome!!”

“Pretty gore!!”

Orang-orang Amerika ini mungkin tak sadar tentang kondisi peperangan ini. Mereka mungkin menganggap dive mereka ke dalam dunia ini sebagai pemain beta test dalam suatu VRMMO. Terlebih lagi, Asuna tak bisa menyalahkan mereka yang mengayunkan senjata dan membunuh semuanya. Karena bagi mereka, para prajurit bukanlah makhluk yang setara dengan manusia; mereka NPC, sesuatu yang tak berharga. Tentu saja, tak semuanya benar-benar brutal; di dunia nyata, mereka tetaplah pemain VRMMO yang ramah dan sering bekerja sama dengan pemain lain dalam server yang sama. Jika ada waktu untuk menginfokan kondisi Underworld dan Artificial Fluctlight ini, Asuna yakin jika banyak diantara mereka yang akan menurunkan senjatanya.

Tetapi mereka terlalu sibuk saat ini. Bahkan jika Asuna mencoba memasuki pertempuran dan menjelaskan situasi ini dalam bahasa Inggris, mereka hanya akan menganggap dirinya sebagai seorang NPC. Jika berkata pada mereka “membunuh musuh sekarang akan mendapatkan point, dan kalian bisa menukarkannya untuk rare items setelah pembukaan resmi”, bahkan pemain Jepang akan melakukan hal yang sama.

Singkat kata, meyakinkan mereka melalui suara tak mungkin.

Orang-orang yang hendak dibunuh pemain Amerika bukanlah NPC, melainkan Artificial Fluctlights yang memiliki jiwa. Setelah menghabisi pasukan Tanah Kegelapan, orang-orang dari Kerajaan Manusia akan menjadi target selanjutnya. Lalu, karena menjadi satu-satunya yang menggunakan tubuh palsu, Asuna harus bertarung.

Dengan ketetapan seperti itu, Asuna mengangkat rapier di tangan kanannya dan mulai melafalkan perintah.

“System call! Create field object!”

Cahaya berwarna-warni berkumpul di rapier-nya.

Tak mungkin menciptakan lembah tak berdasar seperti yang ia lakukan sebelumnya; jika ia melakukannya lagi, Asuna akan memutus jalan pulang Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia. Lalu Asuna membayangkan batu raksasa setajam tombak dan menebaskan rapier-nya kebawah.

Laa—, dengan suara merdu. Cahaya berwarna-warni melesat dari ujung rapier-nya tepat menuju ke tanah diantara pasukan Amerika dan Tanah Kegelapan yang sedang bertempur.

Tanah dihadapannya tiba-tiba berguncang hebat dan memunculkan tombak-tombak tanah yang menjulang setinggi 30 mel. Sepuluh Pasukan Crimson yang berdiri diatasnya terlontar jauh.

Empat gunung muncul dari tanah, menjulang ke langit, dan tanah makin bergetar tiada henti. Memaki dalam bahasa inggris, ratusan pasukan crimson terlempar tinggi; beberapa orang bahkan tertusuk bebatuan, sementara yang lain jatuh ke tanah dan bermandikan darah.

Asuna tak bisa mengeluarkan semangat karena membayangkan bagaimana orang-orang ini tewas, rasa sakit yang begitu intens menyerang pikirannya dan membuatnya terjatuh ke belakang kuda.

Percikan keperakan bermunculan di penglihatannya ketika ia berusaha bernafas dan mulai bangkit. Rasa sakit kali ini lebih parah ketika ia menciptakan lembah tadi malam. Asuna kini menerima rasa sakit karena data dataran yang mengalir masuk ke jiwa-nya sangat besar … rasa sakit ini seperti mencabik Fluctlight dirinya sendiri.

—Aku tak boleh gagal disini.

Jika demi Kirito yang terluka, ia akan melakukan sebisanya. Asuna memikirkan ini ketika menggeramkan gigi dan mencoba mengeratkan tali kekang kuda.

Semangat milik pemain Amerika yang datang dari medan peperangan bagian timur tampaknya semakin berapi-api dari sebelumnya. Tetapi karena lima gunung yang diciptakan selebar 500 mel, mereka akan segera mengitarinya.

Aku harus menciptakan dinding batu di bagian selatan, jadi Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia bisa mundur.

Asuna mengangkat tangan kanannya yang gemetaran sekali lagi, kelelahan—

Tetapi tangan tersebut di genggam erat oleh tangan berbalut armor yang bersinar karena cahaya matahari terbit.

“… Alice?!…” Asuna memanggil knight emas dengan suara parau.

Wajah putih cantik knight emas seolah menahannya, ia menggelengkan kepala.

“Jangan terlalu memaksakan diri, Asuna. Serahkan ini pada kami para Integrity Knight.”

“T… Tetapi, orang-orang ini musuh dari Dunia Nyata … dari duniaku…!”

“… Meskipun begitu, jika hanya sepuluh ribu pasukan yang haus darah sambil mengayunkan senjata-nya, itu tak akan membuat kami takut.”

“Yep, dan kali ini giliran kita menunjukkan kemampuan kami.”

Bercouli menambahkan sambil menyeringai tak gentar.

Meskipun nada suara para Knight agak meredakan ketakutannya, Asuna bisa melihat salah pemahaman di wajah mereka tentang Dunia Nyata, bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

Jumlah pasukan crimson 30 kali lebih banyak dari jumlah Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia.

Ini bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi hanya menggunakan keberanian. Tetapi Komandan Knight mengangkat pedang panjang miliknya tinggi-tinggi, dan berteriak mengucapkan perintah.

“Dengar! Semua pasukan, buatlah pertahanan ketat! Jangan biarkan musuh menerobos!”

***

“Oh… Ohh…”

Apa yang keluar dari mulut Iskahn bukan lagi bahasa manusia.

“Oh… OHHHHHHHHHH—!”

Darah berjatuhan dari penyebrang pertama. Tetapi si Petarung muda ini berteriak seperti hewan liar, seperti tak merasakan rasa sakit.

Teman Iskahn, Dempe, yang berdiri di sisinya bisa merasakan apa yang dirasakan Iskahn, ia menunduk … menunduk ke bawah.

Semua tewas. Semua dikorbankan.

Prajurit sukunya, dalam kekacauan semakin menghilang, tak bisa bertahan dari pedang-pedang hitam yang menerjang, jiwa mereka menghilang di dalam kabut darah.

Terlebih lagi, pasukan kita tak bisa berhenti untuk menyebrang menggunakan lima tali yang tersisa, mereka tak bisa berhenti karena perintah Kaisar untuk “sampai ke sisi seberang” masih berlaku. Mereka hanya bisa mematuhi perintah atasan, dengan hati-hati menyeberangi jembatan, lalu dikepung pasukan crimson dan ditebas tanpa belas kasih.

Mengapa— mengapa Kaisar tidak memberi perintah untuk berhenti menyeberang lembah, atau memberi perintah pada pasukan itu untuk berhenti menyerang Pasukan Tanah Kegelapan?

Apakah prajurit suku-nya hanyalah umpan, hanyalah tumbal untuk memanggil pasukan crimson?

“Harus… Ke Kaisar…”

Ia harus melapor pada Kaisar. Ia harus memohonnya untuk menghentikan operasi ini.

Geram dan gelisah, Iskahn mengambil langkah pelan menuju kereta komando di belakang mereka. Hampir separuh penglihatan kanannya memerah, rasa sakit menusuk mata kanannya.

Lalu, Dempe melihatnya, wajah cemasnya seperti ingin mengatakan sesuatu.

Seketika itu, sebuah bayangan hitam raksasa terbang diatasnya.

Iskahn serta Dempe secara insting melihat keatas menuju bayangan yang ada di langit; itu seekor naga.

Mengendarai diatasnya adalah sesosok manusia yang mengenakan armor hitam, berambut emas, serta mengenakan mantel mewah— Kaisar Vector sendiri.

“Ah… AH…!!”

Meskipun ia bisa mendengar teriakan Iskahn, Kaisar yang duduk memandang bawah sekilas. Tak ada emosi dari mata hitamnya. Tatapannya sedingin es, tak memiliki rasa kasihan— bahkan bagi prajuritnya yang tewas.

Lalu, Kaisar Vector memalingkan wajahnya dari Iskahn, dan menuju selatan lembah bersama naganya.

Ini— Dewa. Inikah tindakan seorang pemimpin.

Tetapi, jika pemimpin seperti ini, jika si paling kuat memiliki kekuatan yang begitu besar—

Ia seharusnya bisa bertanggung jawab!!

Memimpin pasukannya. Memerintah, membawa kemakmuran daerahnya; itulah kewajiban seorang pemimpin. Terlebih lagi, seseorang yang mengirim sepuluh ribu nyawa hingga tewas tanpa merasakan apapun— sang Kaisar— mata kanan— tidak kompeten— mata kanannya sakit— untuk menjadi seorang pemimpin …!!

“Uwo…. OH… OHHHHHHH!!”

Iskahn mengangkat tinjunya tinggi-tinggi, dan membentuk jarinya seperti sebuah kait.

Tanpa penyesalan, ia menusukkan jari tersebut ke sumber panas pikirannya — mata kanannya sendiri.

“Ke… Ketua!! Apa yang kau lakukan?!”

Ishkhan mengangkat telapak tangan kirinya untuk menahan Dempe menghampirinya, kemudian, mencukil bola mata kanan miliknya sendiri. Bola putih tersebut memancarkan sinar di telapak tangannya, tetapi seketika itu pula cahayanya meredup.

Sekarang, Iskahn telah sampai ke titik dimana telah berhasil melepas «Code 871» menggunakan semangatnya sendiri, seperti Alice dan Eugeo. Terlebih lagi, ia masih tak bisa membantah perintah pengkhianatan terhadap Kaisar, ataupun menolak dua perintah Kaisar, yaitu: “Melanjutkan operasi menyeberang lembah” dan “Kau tak boleh menyeberangi jembatan tali”.

Namun, ia telah menemukan cara yang agak kasar guna mengakali perintah Kaisar— dan metode ini cukup penuh dengan kegagalan.

Iskahn berbalik dan berbicara pada Dempe yang menatapnya tak berkata-kata.

“Kaisar tidak mengatakan pada kita mengenai pasukan crimson, benar kan?”

“Ah… Tidak, dia tidak. Tetapi…”

“Lalu, jika kita membunuh mereka, berarti kita tidak melanggar perintah Kaisar kan.”

“… Champion…”

Iskahn memandang tampang bodoh Dempe dengan mata kirinya, lalu membuat perintah.

“Dengar… setelah menyeberangi jembatan, semua suku Petarung Tangan Kosong akan menyerang pasukan crimson. Tak peduli apapun, kita harus menolong teman-teman kita.”

“Hah…?! Maksudmu jembatan, bagaimana… maksud…”

“Kau tau apa yang akan aku lakukan. Kuserahkan sisanya padamu.”

Dengan kata-kata kalem tersebut, Iskahn berbalik memandang lembah.

Tiba-tiba, api menyala di kakinya.

Lalu si pemimpin Petarung Tangan Kosong perlahan mulai berlari menuju lembah, meninggalkan jejak kaki dibelakangnya. Ia berlari semakin cepat, hingga berubah menjadi kilatan api.

Jika aku tak boleh menyeberangi tali.... maka aku tinggal melompat saja!

Berteriak seperti itu di hatinya, ia menjejakkan kakinya menuju lembah yang lebarnya hampir seratus mel.

“Melompat” adalah skill penting dalam latihan Petarung Tangan Kosong.

Latihan ini perlahan bermula dari melompati lubang pasir, lalu berlanjut untuk meningkatkan kepercayaan diri dengan melompati tumpukan pisau dan minyak, dan sebagai dasar pembentuk teknik lompatan itu sendiri; dengan kata lain «incarnation».

Akhirnya, jarak lompat seorang Petarung bisa melebihi 20 mel. Di dunia dimana kau tak bisa terbang, lompatan ini adalah jarak terjauh yang bisa dicapai tubuh manusia.

Namun, apa yang hendak dilompati Iskahn sekarang ini adalah lembah tak berdasar yang lebarnya lima kali lipat. Para Petarung Tangan Kosong mulai menatap ke depan, hatinya seperti terbawa angin, tubuhnya meninggalkan jejak api.

Sepuluh mel, duapuluh mel. Tubuhnya masih melambung.

Tigapuluh mel. Tigapuluh lima mel. Angin kuat berhembus dari bawah lembah, mendorongnya semakin tinggi seolah ia memiliki sayap tak kasat mata.

Empatpuluh mel.

Tinggal sedikit lagi— ia hanya perlu naik sedikit lagi … lalu ia akan bisa sampai ke seberang—

Tetapi.

Tepat sebelum ia mencapai tengah lembah, angin hembusan berhenti seketika. Tubuhnya kehilangan dorongan; batas lompatannya mencapai titik maksimal, dan ia mulai turun seperti panah.

Ia… kurang lima mel menuju titik tengah.

“UWOOOOOHHH!!”

Iskahn berteriak, menjulurkan tangan kanannya ke depan, berusaha menggapai udara hampa. Tetapi tak ada tempat untuk tangannya atau kakinya; hanya udara dingin dari kegelapan dibawahnya, menyelimuti tubuhnya agar terjatuh.

Seketika —

“CHAMPIOOOOOOOOOON!!”

Teriakan menggetarkan sampai ke telinga Iskahn.

Ia memutar kepalanya.

Temannya, Dempe, telah menggenggam batu besar, dan bersiap untuk melemparnya.

Si Pemimpin menyadari apa yang akan dilakukan sahabat setianya. Tetapi— melempar batu besar lebih dari limapuluh mel sungguh mustahil bagi manusia …

Gowa.

Tangan kanan Dempe tiba-tiba berotot, otot dan uratnya tampak, seolah seluruh kekuatan ditubuhnya menuju ke satu titik.

“OHHHHH!!”

Si pria kekar berlari beberapa langkah, dan melemparkan batu besar dengan sepenuh tenaga menggunakan kekuatannya.

Udara bergetar hebat, batu besar tersebut seolah diluncurkan oleh meriam— lalu, Tangan Kanan Dempe meledak, daging dan darah berhamburan ke segala arah.

Iskahn melihat sosok Dempe terjatuh ke tanah menggunakan mata kirinya, menggeramkan giginya, lalu memfokuskan konsentrasinya menuju batu yang terbang ke arahnya.

“… YAAAAAAAH!!”

Dengan sebuah teriakan, ia menjejakkan kaki kirinya ke batu tersebut.

Bagaaan!! Batu besar tersebut hancur berkeping-keping menahan daya tolak, tetapi tubuh kecil Iskahn kini melayang ke udara. Swordsmen yang saling bertarung di sisi lain lembah semakin dekat dengannya.

***

“Damn!!”

Asuna mencabut rapier miliknya dari tubuh pemain Amerika yang memaki sambil kesusahan bernafas di kuda miliknya.

Ini berbeda ketika ia harus melawan orang-orang dari Tanah Kegelapan; ia tak perlu menahan diri apabila harus mencabut nyawa seseorang. Asuna yang dulunya dikenal sebagai “The Flash”, kemudian “Berserk Healer”, akhirnya bisa menggunakan kombo Sword Skill; jumlah pasukan crimson yang berjatuhan karena tebasannya mencapai sepuluh orang.

Tetapi— meskipun begitu, mereka terlalu banyak!!

Tak hanya Asuna, Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia dan empat Integrity Knights juga harus bertarung susah payah, dan akhirnya bisa membuka jalan ke selatan. Tubuh-tubuh telah bertumpuk bagaikan gunung dihadapan pasukan yang maju.

Akan tetapi, mereka tak bisa menahan gelombang serangan pasukan crimson yang tak ada akhirnya, dan pasukan kita hanya bisa bertahan di posisi semula. Yang lebih penting, mereka dengan sigap sadar jika musuh yang telah dihancurkan akan menghilang dalam hitungan detik, tak meninggalkan jejak darah di tanah— mereka menyadari jika musuh bukanlah orang hidup, melainkan pasukan hantu. Kemudian…

“Uwah… No… AAAAHHH—!!”

Teriakan semangat membuat Asuna berbalik arah.

—Lalu, ia melihat lubang terbuka di barisan formasi bertahan pasukan-nya, dan orang-orang Amerika berebutan memasuki celah tersebut sambil memaki Penjaga yang lemah. Para Penjaga dikelilingi musuh yang melebihi jumlah mereka, lalu terjadilah; daging dan darah berhamburan ke udara, teriakan kesakitan perlahan berubah menjadi teriakan kematian. Gambaran kematian yang begitu nyata tampaknya membuat pasukan crimson semakin haus darah, seketika mereka semakin melaju guna mengincar mangsa baru untuk ditebas.

“Hentikan…. HENTIKAN…!!” Asuna berteriak.

Ia sadar jika harus mengorbankan beberapa prajurit dan harus segera ke selatan secepat mungkin. Tetapi ia tak bisa mengontrol dirinya dan meloncat dari kudanya.

“HENTIKAN—!!”

Melaju menuju pasukan crimson seorang diri, teriakannya menyedihkan.

Ia tahu jika pemain Amerika telah diperdaya, ia tak bisa menahan kemarahannya lebih lama.

Zzkukukuk—!!

Tangan kanannya bercahaya, dan «Radiant Light» menebas lurus menuju helm prajurit crimson. Empat orang terluka dan menjatuhkan senjata mereka, berteriak kesakitan.

Melihat reaksi tersebut, Asuna mengerti meskipun mereka dive menggunalan AmuSpheres, mereka tak dilindungi oleh Pain Absorber. Sejujurnya, Asuna sudah menyadarinya sejak tadi, jadi dia mencoba untuk melancarkan serangannya menuju jantung, membunuh langsung orang tersebut dan membuat mereka log out dari dunia ini, tapi cara pemikiran seperti ini seketika menghilang dari diri Asuna.

Memanfaatkan prioritas senjatanya, ia kini menargetkan tusukan rapier-nya menuju armor milik musuh, membuat mereka terjatuh dan terkadang mematahkan pedang mereka menjadi dua.

Bagi pemain Amerika, musuh yang ada dihadapan mereka hanyalah poligon, dan darah mereka hanyalah spesial efek yang diciptakan computer. Tetapi bagi Asuna yang dive menggunakan STL, mereka nyata, dan darah yang menyembur terasa hangat, baunya juga terasa.

Beberasa saat kemudian, genangan darah mencapai ke kaki Asuna, dan secara tak sengaja ia terpelincir dan jatuh. Pasukan yang berbadan besar lalu mengelilinginya ketika ia hendak berdiri.

“Take this!!”

Sebuah kapak perang mengayun ke bawah, Asuna berusaha menghindar ke kanan. Tetapi sebelum ia bisa menarik tangan kirinya, kapak perang tersebut berhasil menebas.

Gatsu.

Dengan suara keras, lengan kirinya putus dari ujung siku, tangan tersebut melayang ke udara.

“… AAHH—!!”

Merasakan rasa sakit yang tak terkira membuat Asuna mematung dan mati rasa. Sesaat kemudian, ia bernafas berat dan dengan susah memegang lengan kirinya yang bercucuran darah. Melalui pandangannya yang tertutup air mata, ia bisa melihat empat atau lima sosok bayangan yang mengelilinginya sedang mengangkat senjata mereka.

Tiba-tiba —

Kepala si pria yang menggenggam kapak perang meledak dan menghamburkan daging dan darah.

Asuna mendengar suara pukulan seperti senapan api. Setiap kali suara itu terdengar, tubuh-tubuh prajurit yang berusaha mendekatinya meledak dan berhamburan.

“Hmph… Apa-apaan, begitu lemah?”

Asuna menahan rasa nyari dan mencoba berdiri; sebelum bisa melakukannya, seorag pemuda dengan rambut jabrik bagaikan nyala api berdiri di hadapannya.

—Seseorang dari Tanah Kegelapan!

Asuna menarik nafas dalam-dalam dan melupakan rasa sakitnya untuk sementara. Dari warna kulit dan sabuk kulit yang mengikat tubuhnya, ia adalah anggota Petarung Tangan Kosong yang telah dilawannya beberapa waktu lalu.

Tetapi mengapa seseorang dibawah pimpinan Kaisar Vektor menyerang pasukan crimson yang telah dipanggil?

—Seolah ia memang berniat menolong Asuna.

Asuna menatap dan menyadari jika pemuda ini hanya memiliki satu mata, luka kasar di mata kanannya dan jejak darah di wajahnya bagaikan air mata.

Dengan sisa matanya, si pemuda menatap marah pada pemain Amerika yang mendekatinya, ia lalu mengangkat tinju kanannya setinggi mungkin.

Seketika, tinjunya terselimuti api merah.

“Wa… RAAAAAAHHH!!”

Dengan teriakan tersebut, si pemuda menjejak tanah.

Guwa!!

Ketika ia menghentakkan tinjunya ke tanah, gelombang kejut meledak bagaikan dinding api, melontarkan pasukan crimson yang ada dihadapannya.

—Sungguh kuat!

Asuna mengakui. Jika ia melawan orang ini, mungkin ia akan kalah …

Si Petarung Tangan Kosong tanpa berkata-kata mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Asuna dan membantunya berdiri, menatap wajah Asuna lalu.

“… Mari buat kesepakatan.”

Sword Art Online Vol 17 - 045.jpg

Asuna tak bisa langsung memahami apa yang diinginkan pemuda ini.

“Sebuah… kesepakatan?”

“Benar. Kau yang membuat tombak-tombak batu dan lembah tersebut kan? Dengar, buatlah jembatan ke seberang lembah, walaupun kecil tak masalah. Disana, kami memiliki empat ribu pasukan Guild Petarung Tangan Kosong yang akan bertarung bersamamu, kita bekerjasama hingga berhasil membereskan pasukan merah sialan itu.”

Bertarung bersama— Pasukan Tanah Kegelapan?

Apakah hal seperti itu mungkin dilakukan? Orang-orang dari Tanah Kegelapan, bukan, orang-orang dari dunia ini tak bisa melawan perintah atasan, karena adanya «Code 871».

Tetapi, si pemuda dihadapannya sekarang ini telah kehilangan mata kanannya. Apakah ini berarti ia telah melepas segel mata kanan dengan kemauannya sendiri? Apakah ia, seperti Alice, sebuah Fluctlight yang telah berkembang hingga bisa mematahkan ikatan dunia ini?

Alice telah berkata semalam: “Untuk menghilangkan «Code 871», mata seseorang akan meledak”, tetapi luka miliknya seperti tidak terlihat seperti bekas luka ledakan, luka tersebut malahan seperti akibat mata yang dicongkel paksa … Apa yang harus aku putuskan?

Keragu-raguan sesaat Asuna terbuyarkan oleh suara tebasan dan teriakan dari samping kanannya.

“Orang ini, walaupun bertampang bodoh. Dia jujur kok.”

Seseorang yang memotong kepala beberapa prajurit yang mendekat menggunakan pedang hitam tipis yang hampir tak kelihatan, adalah Integrity Knight wanita berambut perak, Sheyta Synthesis Twelve.

Menatap wajah Sheyta, senyuman semangat bercampur malu muncul dari wajah si Pertarung muda ini. “Hei,” ia membalas.

Sesaat Asuna melihat senyuman ini, ia memutuskan pilihannya.

—Aku akan percaya padanya.

Ini mungkin terakhir kalinya bisa menggunakan kemampuan «geographical manipulation». Jadi bukankah lebih baik jika menggunakannya untuk menciptakan daripada menghancurkan?

“… Aku mengerti, serahkan jembatannya padaku.”

Asuna menggerakkan tangan kanan yang tadi memegang luka tangan kirinya, lalu ia mengangkat rapier ke udara dengan tangan kanannya.

Laa────────.

Suara bagaikan ribuan malaikan terdengar ketika cahaya berwarna-warni meluncur dari langit dan menuju utara, melintasi lembah, dan menghubungkan kedua sisi.

Dengan gemuruh, tanah yang ada dibawah lembah mulai bergetar.

Semuanya memandang ketika dua tiang batu melesat dari kedua sisi lembah dan semakin merentang, kemudian bersatu di tengah, semakin lebar, dan akhirnya menjadi jembatan batu untuk bisa diseberangi.

“OOOOHHHH, AHHHHHHH!!”

Teriakan semangat dari empat ribu pasukan Guild Petarung Tangan Kosong terdengar lebih keras dari getaran tanah tadi. Dipimpin oleh sosok pria kekar berlengan satu, mereka melintasi jembatan batu.

Sakit kepala yang lebih menyakitkan daripada kehilangan sebelah lengan kini membanjirinya; Asuna hampir kehilangan kesadaran, dan harus menancapkan rapier-nya ke tanah agar tidak ambruk.

Ia tak bisa lagi melihat dimana Alice, yang seharusnya memandu seluruh Pasukan Penjaga dan untuk menembus musuh.

Asuna hanya bisa berharap ia selamat… dan pasukan Petarung Tangan Kosong akan bekerja sama dengan mereka seperti janji si pemimpin.

— Kirito-kun, Aku pergi sekarang, oke?

Dalam hati mengucapkan nama kekasihnya, rasa sakit yang dirasakannya berlahan menghilang, semakin menghilang.

***

Semenit sebelumnya, di ujung paling selatan medan peperangan —

Integrity Knight Alice telah berhasil menebas banyak pasukan crimson yang terus saja menerobos.

Orang-orang ini— mereka aneh.

Mereka bukanlah swordsmen, maupun prajurit yang ahli menggunakan sword skill; mereka terus menerus menerobos, menginjak-injak tubuh kawan mereka sendiri serta berteriak dengan bahasa asing. Tampaknya mereka benar-benar tak menghargai arti sebuah nyawa— nyawa musuh mereka, dan bahkan nyawa teman mereka sendiri, semuanya tampak tak berharga di mata mereka. Bahkan tampaknya mereka tak peduli dengan nyawa mereka sendiri.

Jika orang-orang yang tinggal di Dunia Nyata seperti ini, tampaknya apa yang dikatakan Asuna ada benarnya, “Dunia kami bukan dunia dewa-dewi.”

Dengan musuh yang terus membanjiri, reaksi gerak Alice bahkan mulai menurun.

Ia tak kuat. Ini tak bisa disebut pertempuran.

Cepat — cepat terobos mereka, dan keluar dari sini.

“Jangan menghalangi… JANGAN MENGHALANGI!!”

Alice berteriak ketika menebaskan Fragrant Olive Sword ke samping. Kepala dan tangan musuh berjatuhan ke tanah.

“System call!”

Lalu, ia dengan cepat mulai merapal incantation, menciptakan sepuluh Thermal Element, dan membentuknya menjadi tombak api dan menembakannya.

“Discharge!”

Dogou!!

Meskipun tidak seperti Conflagrant Flame Bow milik Deusolbert, sebuah ledakan besar berhasil merusak formasi musuh dan menciptakan jalan keluar.

Dan dibaliknya adalah—

Ia melihatnya. Sebuah bukit, menjulang di tanah hitam.

Jika ia bisa menembus kepungan ini dan sampai ke sana, ia bisa menggunakan Sacred Energy yang tersebar di medan peperangan ini dan menggunakan Art “Light Pillar”, dan membakar para pasukan ini.

“MENYINGKIR!!”

Alice berteriak dan menendang tanah.

“… Nona Kecil!!”

Teriakan Komandan Knight Bercouli terdengar dari belakang. Tetapi Alice tidak mendengar kata-kata selanjutnya: Jangan pergi terlalu jauh.

—Hampir sampai. Kita hampir menerobos.

Ia tak bisa berhenti menebaskan pedangnya hingga ke musuh terakhir yang menghalangi jalan. Alice akhirnya berhasil menerobos kepungan musuh dan melaju ke daerah selatan.

Ia menyarungkan pedang tersayang miliknya ke sarung pedang dan berlari, menghirup udara yang bercampur dengan bau darah.

Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi gelap.

Apakah matahari tertutup awan? Alice berpikir untuk sesaat.

Lalu, ia merasakan hembusan angin dari belakang punggungnya, dan ia dicengkeram oleh kaki naga yang melayang; ketika menyadarinya, ia telah terangkat.

Alice mencoba mengaktifkan Armament Full Control Art miliknya, tetapi sebelum ia bisa berhasil merapalkan, pandangannya tertelan kegelapan, rasa dingin menyelimuti tubuhnya.

Apakah ini Dark Art yang dilakukan penunggang naga? —Tidak, bukan. Kesadarannya semakin melemah, terhisap kegelapan pekat.

Ini adalah Incarnation milik musuh, benar-benar berbeda dari Incarnation sekuat baja milik Komandan Knight Bercouli, dan juga berbeda dari Incarnation petir milik Pemimpin Tertinggi Administrator; Incarnation musuh menghisap segalanya: sebuah Incarnation Kehampaan.

Itulah hal terakhir yang bisa dipikirkan Alice sebelum pingsan.

***

Bagi Kaisar Vektor / Gabriel Miller, situasi ini untung-untungan.

Meskipun begitu, ia yakin selama puluhan ribu pemain Amerika yang masuk ke peperangan bisa mengepung Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia, si «Putri Cahaya» Alice akan menerobos kepungan tersebut seorang diri — atau dengan tim kecil — untuk melancarkan serangan pilar cahaya raksasa lagi.

Itulah mengapa ia tetap menunggu di punggung naga, jauh dari peperangan dan menunggu. Ia merasa jika situasi ini menjadi watu terlama ia menunggu sejak dive ke dalam Underworld.

Kemudian, ia melihatnya. Kilauan keemasan yang menerobos pasukan crimson.

“Alice… Alicia.”

Gabriel tersenyum aneh ketika menggumamkan nama tersebut. Ia mengencangkan kekangan di tangannya, si naga turun cepat.

Imajinasi mengerikan yang membentuk Incarnation Kehampan telah menelan AI si naga, mengubahnya menjadi alat yang melayaninya. Dibawah perintahnya, si naga turun bagaikan batu, sayapnya kaku, membuka cakarnya menuju tanah dan mencengkeram punggung si Knight emas.

Whoosh—!

Kemudian, suara memekakkan tercipta dari sayap yang mengembang, naga tersebut terbang ke langit lagi.

Ia tidak memperhatikan peperangan berdarah yang telah ia ciptakan.

Baginya, apapun yang terjadi pada Pasukan Tanah Kegelapan, Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia, atau orang-orang yang ia panggil dari dunia nyata, mereka semua tak berarti baginnya.

Sekarang, ia hanya perlu menuju system console terdekat dari lokasinya, yaitu «Altar Ujung Dunia », dan dari sana, ia akan keluar dan menarik jiwa Alice ke dunia nyata.

Pandangan Gabriel tertarik ke bawah, dan menatap rambut emas yang terurai oleh hembusan angin dari Knight yang pingsan.

Aku ingin segera merasakannya. Tubuh ini, jiwa ini, aku ingin segera merasakannya ke dalam hatiku.

Masih agak lama menuju system console, mungkin akan memerlukan beberapa hari jika menggunakan naga. Ia mungkin akan menggunakan waktu yang ada untuk menikmati Alice yang masih memiliki tubuh fisik di Underworld.

Memikirkan ini, perasaan senang muncul dari perut Gabriel, membuat mulutnya terbuka.

***

Bagaimana mungkin?

Ia— membuang lima ribu pasukan Tanah Kegelapan dan tigapuluh ribu pasukan baru yang baru saja dipanggil, hanya untuk …

Menangkap seorang gadis!

Ketika Komandan Knight Bercouli merasakan Incarnation Kehampaan yang meluap-luap dari sosok yang dikenal sebagai Kaisar Vektor, perasaan tak mengenakkan mengisi dirinya. Tetapi ketika melihat Alice yang telah berhasil ditangkap, ia akhirnya menyadari niat musuh yang sebenarnya.

Setelah melihat apa yang terjadi sepuluh mel didepan sana, Bercouli melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukannya selama puluhan tahun terakhir — ia berteriak penuh kemarahan.

“Kau sialan, apa yang akan kau lakukan pada muridku!!”

Kata-katanya menggetarkan udara, seperti gemuruh petir.

Namun ia diacuhkan oleh si penculik, si penunggang naga terbang menuju langit selatan tanpa menoleh.

Bercouli mengangkat pedangnya dan mulai mengejar si naga terbang. Tetapi jalan keluar yang telah berhasil diciptakan Alice kini kembali tertutup oleh pasukan crimson yang memperbaiki formasi; mereka mendekat, sambil berteriak memaki terus menerus.

“Kalian sebaiknya bersiap…”

Sebelum Bercouli berhasil menyingkir, cahaya keperakan terlihat di atas kepalanya.

Kirikirikiri, dengan bunyi berdesing melewatinya, itu adalah Divine Instrument milik Integrity Knight Renri, Twin Edged Wings.

Suara nyaring si knight muda terdengar dari belakang.

“Release recollection!”

Dengan kilatan cahaya, kedua pisau lempar kini bersatu. Membentuk pisau yang saling bersilangan, pisau tersebut terbang rendah di atas tanah, berdesis ke arah depan dan meninnggalkan musuh-musuh yang terpotong di sisinya.

“Pergilah, Komandan!!”

Renri berteriak, lalu Bercouli berbalik untuk membalas.

“Maaf! Kuserahkan sisanya padamu!”

Seketika, ia menjejakkan kakinya ke tanah. Dengan cepat, tubuhnya seolah berubah menjadi angin kencang, melontarkan musuh-musuh di sekitar jalan keluar, ia lebih cepat beberapa kali lipat dari martial dance milik Petarung Tangan Kosong dari Tanah Kegelapan. Tetapi naga Kaisar Vektor yang menculik Alice kini telah berubah menjadi titik kecil di langit sana.

Ketika berlari, Bercouli meletakkan jari tangan kiri ke mulutnya dan bersiul kencang.

Sedetik kemudian, sepasang sayap perak terlihat di langit, itu naga milik Bercouli, Hoshigami.

Tetapi bukan hanya satu naga yang menuju ke arahnya. Naga kesayangan Alice, Amayori, dan naga milik Eldrie, Takiguri, juga mengikuti.

“Kalian…”

Bercouli menahan emosinya, tak peduli apa yang ia lakukan, ia tak bisa memerintah kedua naga tersebut untuk berdiam diri.

Hoshigami turun ke tanah dan meluncur mendekati Bercouli, mengulurkan kedua kakinya ke depan. Sang Komandan Knight mencengkeram cakar di kaki kirinya dan naik ke punggung, mengencangkan tali kekang dan menghunuskan pedang panjangnya ke depan.

“Jalan!”

Hoshigami, Amayori, dan Takiguri bergerak sesuai perintah; tiga pasang sayap mengepak hebat, lalu mereka terbang ke langit keunguan. Jauh didepan formasi ke tiga naga, dalam cakar sang naga hitam, cahaya keemasan terlihat untuk beberapa detik.

***

Setelah ke empat ribu Petarung Tangan Kosong menyeberangi jembatan batu, mereka bergabung dengan ke dua ratus teman mereka yang masih tersisa, lalu memperkuat formasi Pasukan Pertahanan Dunia Manusia, dan menuju ke tengah-tengah formasi musuh.

Mereka membuat barisan sepuluh orang di setiap sisi, kemudian bersama-sama mengangkat tinju kanan mereka, lalu mempertahankan posisi itu.

“U… RA!”

Dengan pukulan selaras, sepuluh petarung menusuk dan menghancurkan armor dan pedang milik pasukan crimson. Teriakan dan darah berhamburan ke segala arah; dengan sekali pukul, lebih dari duapuluh musuh terlontar ke belakang.

Setelah pukulan penuh semangat tersebut selesai, sepuluh orang tersebut mundur ke samping, dan kini digantikan oleh sepuluh orang lainnya yang maju dengan posisi yang sama persis.

“URARA!!”

Kali ini, sepuluh orang menghujamkan kaki mereka secara bersamaan, menghamburkan musuh ke segala arah, seperti sebuah ledakan di tengah-tengah.

“… Wow.”

Asuna hanya bisa terkagum-kagum sambil mengobati luka tangan kirinya menggunakan Healing Art yang ia pelajari tadi malam. Bahkan Sheyta, yang sedang minum air siral disebelahnya tampak terkagum.

Teknik bertempur milik Petarung Tangan Kosong entah mengapa mirip dengan teknik switch yang digunakan melawan bos ketika jaman SAO dulu, tetapi pergerakan mereka seirama dan lebih terarah. Sepuluh orang berbaris, sepuluh orang dibelakangnya; ada lebih dari empat puluh grup dengan seratus orang yang siap menggempur musuh secara terus menerus.

“Jangan duduk dan menonton. Bahkan jika kita menuju ke arah selatan, apa yang kita lakukan setelahnya? Karena musuh ada banyak, bahkan jika kita berhasil menembusnya, bagi kami cukup sulit untuk membunuh mereka.”

Aliansi sementara Asuna, si pemimpin berambut merah sedang menyilangkan tangannya dengan wajah tegang.

Memang benar, bahkan bagi Petarung Tangan Kosong yang sedang menerobos barisan musuh, mengalahkan pasukan crimson cukup sulit jika jumlah mereka berbeda jauh. Menurut pengamatan Asuna, pemain Amerika kini tinggal sekitar duapuluh ribu.

“… Lalu… setelah kita menembus musuh dan bergerak menuju selatan, kita harus segera menjauh. Aku akan menciptakan lembah lain untuk memisahkan mereka dari pasukan kita.”

Asuna membalas dengan suara datar.

—Tetapi bisakah ia melakukannya? Sekarang ini, ia hanya bisa menciptakan jembatan kecil dan hampir kesulitan menerima efek sampingnya. Jika ia mengubah dataran dengan ruang lingkup luas, ia mungkin akan dipaksa log out— yang lebih parah, otaknya mungkin akan rusak …

Asuna menggigit bibirnya, berusaha menyingkirkan pikiran tersebut. Walau bimbang, ia harus melakukannya. Memanggil pemain Amerika ke dunia ini mungkin strategi terakhir Kaisar Vektor. Jika ia bisa menyingkirkan mereka, bahkan jika ia dipaksa log out, mereka tak akan bisa melakukan apapun pada Alice.

Tiba-tiba, dari arah selatan, seorang penjaga berlari ke arah Asuna yang ada di sisi utara peperangan.

“Perintah baru!! Perintah baru—!!”

Prajurit tersebut terluka parah karena sebagian wajahnya berlumuran darah, ia tertunduk di depan Asuna, dan berusaha berkata-kata dengan sisa kekuatan miliknya.

“Informasi ini datang dari Integrity Knight Renri-sama!! Integrity Knight Alice-sama, telah ditangkap oleh komandan musuh! Ia menggunakan naga dan telah terbang ke arah selatan…!!”

“Apa…”

Asuna seperti orang bodoh.

Tentu saja— ia tak pernah berpikir jika situasi saat ini hanyalah kamuflase untuk memancing Alice agar menjauh dari Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia …!!

“Kaisar… telah melarikan diri?!”

Suara tajam tersebut bukan dari Asuna maupun Sheyta, tetapi dari pemimpin Petarung Tangan Kosong yang kini matanya bersinar agak aneh.

“Jadi… seperti itu, naga tadi … bukan bermaksud mengawasi kita dari udara … Hei, nona!!”

Mata si pemimpin muda menatap Asuna, ia meminta penjelasan.

“Alice itu «Putri Cahaya»?! mengapa Kaisar begitu menginginkannya?! Jika Putri Cahaya jatuh ke tangan Kaisar, apa yang akan terjadi?!”

“Dunia ini … akan hancur.”

Asuna menjawab. Ekspresi Ishkhan seolah disiram air dingin.

“Ketika Dewa Kegelapan membawa Putri Cahaya Alice ke «Altar Ujung Dunia»… dunia ini, baik itu Kerajaan Manusia atau Tanah Kegelapan, setiap penghuninya akan dimusnahkan.”

Suara Asuna terasa datar sebelum ia menyadari jika ia terdengar seperti seorang NPC dari suatu permainan RPG, tetapi ini benar-benar kenyataan. Ketika para penyerang memperoleh jika Alice, sangat bisa dibayangkan nasib Light Cube Cluster yang tak memiliki arti lagi — mereka akan menghancurkannya tanpa simpati.

Lalu, apa yang bisa ia lakukan … bahkan Super Account «Stacia» yang digunakan dirinya tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Bagaimana ia akan mengejar Vektor?

Seorang yang menjawab kekhawatiran Asuna adalah knight berambut perak yang berdiri di sampingnya, Sheyta. Setelah menghabiskan isi botol yang tergantung di sabuknya, si knight berwajah dingin ini berkata:

“Bahkan bagi seekor naga … ia tak bisa terbang selamanya. Ia harus istirahat, paling tidak setengah hari.”

Mendengar ini, si Pemimpin Petarung Tangan Kosong mencuri-curi pandang pada wajah Sheyta, lalu kembali berpaling; ia memukulkan tangannya dan menyelesaikan kalimat Sheyta dengan suara lantang.

“Kalau begitu tinggal kejar mereka!!”

“Mengejar mereka … tetapi, bukankah kau ini…”

Asuna menatap Ishkhan penuh tanda tanya.

“Bukankah kau ini pasukan Tanah Kegelapan? Mengapa kau bertindak sejauh ini …”

Ishkhan menjawab seperti seorang anak yang telah dibuang orang tuanya.

“Kaisar Vektor… tidak mengatakan kepada kami, para Sepuluh Bangsawan Tanah Kegelapan. Ia hanya ingin Putri Cahaya. Jika ia memperolehnya, ia tak akan peduli apa yang terjadi pada kami. Karena sekarang ia sudah mendapatkannya, berarti Kaisar telah memperoleh keinginannya … dengan kata lain, misi Pasukan Tanah Kegelapan telah selesai. Setelah ini, bukankah kami bebas bertindak semau kita, bahkan jika itu berarti bekerja sama dengan Kerajaan Manusia lalu merebut kembali Putri Cahaya?!!”

Absurd banget.

Asuna tak bisa berkata-kata menanggapi Ishkhan. Ekspresi di wajahnya benar-benar berbeda dari sebelumnya; kini dipenuhi dengan tujuan baru.

Ketua Petarung Tangan Kosong menatap lurus ke mata Asuna, lalu berbisik.

“… Aku tak bisa… kami tak bisa membantah perintah langsung Kaisar. Kekuatannya meluap-luap … bahkan Jendral Kegelapan Shasta yang lebih kuat dariku terbunuh seketika tanpa bisa menyentuhnya. Jika Kaisar memberikan perintah langsung pada kami agar bertarung melawan kalian, kami harus mematuhinya … itulah mengapa, kami para Petarung Tangan Kosong akan menahan pasukan crimson disini. Kau dan Pasukan Penjaga kejarlah Kaisar secepat mungkin. Lalu… si Kaisar … si sialan itu…”

Kata-kata Ishkhan tiba-tiba berhenti, dan ekspresinya memucat— seolah tersiksa rasa sakit yang datang dari mata kanannya.

“Katakan… pada si sialan, ‘kami bukan bonekamu’!”

Seketika, teriakan datang dari Petarung Tangan Kosong dari medan peperangan bagian selatan. Para Penjaga akhirnya berhasil menerobos pasukan crimson, dan kini mulai berlari.

“Bagus…”

Zudan! Pemimpin muda ini kini menghantamkan kaki kanannya ke tanah dan memberikan perintah baru dengan suara lantang.

“Kalian semua, pertahankan posisi kalian!”

Lalu, ia menatap Asuna dan berkata.

“Cepat!! Kami tak bisa menahan lebih lama.”

Asuna mengambil nafas— dan mengangguk.

—Orang ini, juga seorang manusia.

Tak peduli apakah ia seorang Artificial Fluctlight, jiwanya yang terisi rasa kebanggaan senyata manusia. Kami memotong tali yang mereka gunakan untuk melintasi lembah, dan membunuh lebih ratusan teman-temannya; ia seharusnya akan membalas dendam kepada kami.

“… Terima kasih banyak.”

Asuna hanya bisa berkata seperti itu, lalu berbalik.

Dari belakang punggungnya, terdengar suara Integrity Knight Sheyta.

“Aku akan… tetap disini.”

Menerima tindakannya, Asuna menoleh dan memberikan senyum pada knight berambut perak ini.

“Aku mengerti. Kami akan mengandalkanmu di sisi ini.”

***

Iskahn melihat tanpa bisa berkata-kata pada knight wanita berambut chesnut yang kini telah memimpin sekitar tujuh ratus orang untuk menerobos formasi musuh yang sedang bertarung dengan bawahannya, lalu berpaling pada Integrity Knight tanpa emosi di sisinya.

“… Kau tak apa-apa seperti ini, nona?”

“Aku sudah memperkenalkan namaku kan.”

Ditatap pandangan menusuk, Ishkhan hanya bisa tertawa getir dan mengganti cara bicaranya.

“Tak apa kalau begini, Sheyta? Aku tak tahu jika kita akan berhasil bertahan hidup-hidup.”

Si knight langsing mengangkat bahunya, armor baru miliknya tampak kebesaran.

“Akulah yang akan membunuhmu. Tak boleh orang lain.”

“Hmph, kau yang ngomong ya.”

Kali ini, Iskahn tertawa sepenuh hati.

Ingin menolong teman-temannya dari kematian tragis — ia memilih untuk bekerja sama dengan Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia di pikirannya. Tetapi sekarang ini, ia meminta seluruh bawahannya untuk melindungi orang-orang Kerajaan Manusia dari pasukan crimson; sungguh luar biasa. Kini hatinya seolah terbuka lebar, seperti dimasuki angin sepoi-sepoi.

Yah, jika ia mati disini, tak begitu buruk kok.

jika ia tewas berusaha melindungi dunia ini, ayahnya, saudaranya laki-laki dan perempuan yang menunnggu di kampung halaman pasti akan memaklumi.

“Baiklah!! Keluarkan seluruh kemampuan kalian!!”

Teriakan “URAAA!!” bergema di seluruh medan peperangan.

“Bentuk lingkaran!! Pertahankan segala sisi!! Tendang para orang bodoh yang akan mendekat!!”

“Kau benar-benar semangat, Champion.”

Dempe telah sampai di sebelah Iskahn sekali lagi, lalu tangan kirinya mengeluarkan suara berderu.

***

Sementara Asuna memimpin pasukan menuju bukit diselatan sana lalu mundur ke hutan dimana Pasukan Persediaan berada, Knight Renri memberitahunya tentang Komandan Knight yang telah membawa tiga naga dan terbang mengejar Kaisar Vektor.

“… Menurutmu ia akan berhasil mengejar?”

Pada pertanyaan tajam Asuna, wajah kekanakan Renri agak ragu-ragu.

“Sejujurnya, kemungkinannya sangat kecil. Karena, keduanya terbang dengan kecepatan yang sama, dan mereka juga perlu waktu istirahat… Tetapi, Alice-sama juga ditangkap naga milik Kaisar Vektor, kuharap ia masih memiliki Life. Di lain sisi, Komandan Knight bisa berganti naga untuk meminimalisir kelelahan mereka, jadi secara teori, ia akan bisa memperpendek jarak diantara mereka berdua …”

Sword Art Online Vol 17 - 065.jpg

Dengan kata lain, mereka hanya bisa berdoa jika Komandan Knight akan bisa mengejar Kaisar Vektor sebelum sampai ke Altar Ujung Dunia.

Tetapi, jika ia berhasil mengejarnya pun—

Bisakah Komandan Knight mengalahkan Super Account Vector seorang diri?

Karena Asuna tak pernah mengira jika musuh akan log in menggunakan sebuah Super Account, ia tak bertanya pada Higa Takeru tentang kemampuan yang dimiliki Vektor. Tetapi jika Vektor memiliki kemampuan yang sama seperti skill “Geographic Manipulation[1]” milik Stacia— bahkan bagi seorang pemimpin Integrity Knights, menang melawannya dalam pertarungan satu lawan satu akan sangat menyulitkan …

Ketika memikirkan hal ini, Renri berkata dengan nada riang.

“Jika ia berhasil mengejar, Komandan Bercouli pasti akan menyelamatkan Alice-sama. Karena, orang itu … adalah manusia terkuat di dunia ini.”

“… Yeah, memang benar.”

Asuna mengangguk sungguh-sungguh.

Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang ini adalah harus yakin. Karena, beberapa menit lalu ia telah melihat banyaknya semangat bertempur milik orang-orang Underworld.

“Nah, ayo menuju ke bagian selatan dengan seluruh pasukan. Untungnya, hanya ada padang rumput di depan kita. Kita mungkin tak akan bisa mengejar Bercouli-san, tetapi kita mungkin akan berguna jika bertemu dengannya.”

“Oke, Asuna-sama. Aku akan menginformasikan semua orang untuk berlari.”

Renri mempercepat langkahnya, lalu berlari ke dalam hutan.

Melihatnya menghilang, Asuna berkata pada dirinya sendiri.

Kirito ingin melindungi Alice dan seluruh dunia ini.

Ia juga harus melindungi mereka juga, tak peduli luka apa yang akan ia terima … tak peduli berapa banyak rasa sakit yang harus ia tahan.

***

Pada saat yang sama—

Di ruang kontrol Ocean Turtle, Critter telah bersiap untuk memasukkan 20,000 pemain Amerika yang akan dive ke dalam Underworld sebagai gelombang ke-dua.

Dan lokasi turun mereka adalah posisi Gabriel Miller saat ini— kira-kira sepuluh kilol dari lokasi turunnya gelombang pertama.

Bagian 2[edit]

“……Gh!!”

Menarik nafas dalam-dalam, Vassago Casals memaki.

Ia menggelengkan kepala berambut keritingnya, dan memandang sekeliling.

Tembok baja disekeliling, lantai anti licin, dan banyak monitor yang bercahaya di kegelapan.

Ketika ia melihat pria kurus duduk di kursi kulit di depannya, Vassago akhirnya menyadari jika ia telah kembali ke ruang kontrol utama «Ocean Turtle», di dunia nyata.

Salah seorang kru— Critter, bersin, suaranya penuh sindiran.

“Whoa, kau benar-benar bangun. Aku kira sel-sel otakmu membusuk.”

“… Berisik.”

Vassago mengerang, dan memeriksa tubuhnya sendiri. Ia kini sedang berbaring di kasur kecil di pojok ruangan, sebuah jaket sembarangan diletakkan menutupi perutnya.

Apa yang terjadi?Vassago menggelengkan kepalanya semakin keras. Tindakan ini membuat kesakitan lebih parah ke kepalanya, ia memaki lagi. Ia lalu berjalan ke sisi ruangan, sebagian besar anggota tim-nya masih duduk melingkar dan bermain kartu, ia bertanya:

“Hei, ada yang punya aspirin?”

Si jenggot Brigg, salah satu anggota penyerang, tanpa kata-kata langsung menyerahkan botol plastik di sakunya kepada Vassago. Vassago menangkapnya, lalu membuka tutup tersebut, memasukkan semua isinya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya.

Bersamaan rasa pahit yang menyengat lidahnya, ingatannya akhirnya mulai muncul.

“Jadi… aku terjatuh dalam lubang raksasa…”

“Bagaimana kau mati? Kau dive selama delapan jam penuh.”

“De…Depalan jam?!”

Terkejut, Vassago melonjak, bahkan melupakan rasa sakit kepalanya.

Ia memandang jam di pergelangan tangan kirinya, menunjukkan pukul 6.30 A.M, Waktu Standar Jepang. Kurang dari duabelas jam sebelum batas waktu ketika Pasukan Pertahanan meninggalkan Kapal Penghancur Aegis, Nagato dan mendobrak masuk ke dalam Ocean Turtle.

Tetapi lebih penting saat ini—

Karena ia telah tak sadar selama delapan jam, beberapa bulan seharusnya telah terlewat di dalam Underworld. bagaimana kondisi peperangan? Misi untuk menangkap Alice?

Tetapi seolah membaca keterkejutan milik Vassago, tsk-tsk, Critter membunyikan lidahnya.

“Jangan terkejut begitu, matamu akan copot. Tanang saja, ketika kau mati di dalam sana, percepatan waktu telah diturunkan menjadi satu.”

“S… Satu?!”

Itu berarti tak perlu khawatir. Tetepi, bukannya itu malah memperburuk keadaan!

“Hei, kacamata, apa kau mengerti situasinya? Kita hanya memiliki waktu duabelas jam sebelum Pasukan Pertahanan menyerang tempat ini!”

Vassago menolak penjelasan Critter, lalu ia menggelengkan tangannya penuh sok.

“Tentu aku tahu. Ini juga perintah Kapten Miller.”

Jadi, “rencana penyerangan” yang dijelaskan Critter membuat Vassago tak bisa berkata-kata, meskipun ia sangat berpengalaman menjadi seorang pemain VRMMO.

Sebelum ia meninggalkan sistem console di Obsidia, ibukota timur Tanah Kegelapan, Letnan Gabriel Miller secara rahasia telah memberi perintah kepada Critter di dunia nyata.

Buatlah website iklan tentang sebuah beta test VRMMO kekerasan yang tak memiliki aturan— the Underworld laws, tentu saja— buatlah koneksi client program. Lalu, atur ratio akselerasi menjadi satu pada 7 Juli 16 12:00 A.M., dan pada saat yang sama, mulailah perekrutan pemain beta test dari seluruh Amerika, Critter menjelaskan.

“Dengan konsol yang terbatas, aku hanya bisa melihat koordinat milikmu dan kapten, begitu juga dengan pengiriman jumlah pasukan, jadi rencana ini adalah rencana cadangan jika Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia lebih kuat dari yang kita kira.”

Jari-jari kurus Critter menari di atas keyboard, menunjukkan peta seluruh Underworld.

Di peta yang akan berbentuk segitiga runcing tersebut, dua garis merah membentang dari sudut paling timur menuju ke barat.

“Ini adalah log pergerakan milikmu dan kapten. Dengar, kau baru saja berkeliaran di sekitar Gerbang Besar Timur Kerajaan Manusia, dan tiba-tiba kau tewas.”

Salah satu garis merah tersilang oleh tanda sebuah ‘X’, di selatan «Gerbang Besar Timur».

“Tetapi komandan melewatimu dan sedang menuju selatan. Ia bahkan meinggalkan seluruh pasukan Tanah Kegelapan di utara dan bergerak sendiri. Itu berarti …”

“Ia sedang mengejar Alice atau telah mendapatkannya.”

Vassago bergumam. Critter mengangguk dan lanjut menjelaskan.

“Berdasarkan rencana awal kita, ketika waktu telah berkurang sampai delapan jam, atau ketika Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia benar-benar hancur, kita akan meningkatkan kembali kecepatan akselerasi menjadi 1,000 kali lipat. Jika seperti itu, kita masih memiliki waktu bertahun-tahun di dunia tersebut. Tentu saja, ketika ratio akselerasi ter-reset, para pemain Amerika yang sedang dive akan ter log-out paksa karena synchronization error, tetapi selama kita berhasil memenangkan peperangan, siapa peduli?”

“Kalau begitu tingkatkan ratio kecepatannya sekarang! Tak ada waktu tersisa.”

“Tidak sesederhana itu. Coba lihat disini—”

Critter menekan tombol dan memperbesar peta.

Beberapa kilometer di Gerbang Besar Timur yang memisahkan Kerajaan Manusia dan Tanah Kegelapan, terbentang padang rumput, bebukitan, dan hutan. Pasukan Pertahanan telah memasang serangan kejutan di hutan… dengan kata lain, itu adalah tempat dimana Vassago tewas.

Tetapi entah mengapa, diantara hutan dan padang rumput tersebut, sebuah lembah raksasa yang lebarnya hampir 50 kilometer terbentang dari barat ke timur. Disekitar lembah tersebut, pusaran titik-titik bergerumul menjadi satu, berbagai warna: merah, hitam, dan putih.

“Yang merah adalah pemain Amerika yang aku masukan ke dalam Underworld. banyak yang sudah menghilang, tetapi masih tersisa 20,000. Dan lingkaran hitam yang dikepung titik merah adalah pasukan Tanah Kegelapan. Jumlahnya 4,000.”

“H… Hei, hei, kau juga lihat kan kalau si merah menyerang si hitam”

“Itu karena informasi beta test mengatakan jika mereka bisa bebas membunuh para NPC yang tampak nyata. Bagi pemain Amerika yang sedang dive, tak ada perbedaan antara pasukan Kerajaan Manusia dan Tanah Kegelapan. Tetapi, karena beberapa alasan, titik hitam ini menurun sedikit lamban daripada yang aku harapkan. Pasukan Tanah Kegelapan seharusnya tunduk pada Kaisar, tak mungkin mereka bertarung melawan pasukan Amerika, karena mereka berpikir pasukan merah telah dipanggil oleh Kaisar.”

“Mungkin mereka menikmati saling bunuh.”

“Yah, mari asumsikan jika si hitam akan berkurang. Terlebih lagi, yang menjadi masalah itu di sebelah sini, kelompok putih kecil ini.”

Critter menggerakkan kursor. Benar, sebuah kelompok titik putih sedang bergerak menuju selatan— seolah mereka mengejar Kaisar Vektor, atau Kapten Miller.

“Mereka adalah Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia. Meskipun jumlah mereka sedikit, sekitar 700. Akan tetapi, akan jadi masalah kalau mereka berhasil mengejar kapten, jadi kita harus menghentikan mereka.”

“Menghentikan mereka? …Apa yang akan kau lakukan?”

Critter tidak langsung menjawab pertanyaan Vassago, tetapi sedikit tersenyum dan lanjut mengetik keyboard.

Ia membuka jendela baru di peta. Didalamnya, sekumpulan awan merah bergumul dalam latar belakang hitam.

“Mereka adalah pemain Amerika yang ketinggalan gelombang pertama, dan sedang menunggu gelombang kedua. Saat kouta 8,000 pemain terpenuhi, aku akan memasukkan 20.000 pasukan melawan Pasukan Penjaga. Setelahnya, kita akan meningkatkan ratio akselerasi menjadi 1.000 lagi. Dengan cara itu, kita akan memiliki cukup waktu agar kapten bisa membawa Alice ke sistem konsol di ujung selatan”

“… Jika semudah itu.”

Vassago membalas, mengelus janggutnya.

“Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia lebih kuat daripada yang kau bayangkan. Khususnya mereka yang disebut Integrity Knight, mereka kelewat gila; mereka memusnahkan pasukan pertama Tanah Kegelapan, kalau kau tak tahu? Jika tidak ada mereka, aku mungkin sudah tewas mengenaskan … seperti gelombang pertama…”

Seketika, Vassago teringat.

Tepat bagaimana dan oleh siapa ia tewas.

Nafasnya tertahan dan matanya terbuka lebar. Di dalam kepalanya, sebuah kenangan tiba-tiba sembuh, sosok bagaikan dewi yang turun dari langit, menatapnya. Ia secara insting memaki dalam bahasa jepang ketimbang inggris.

“— «The Flash»…!! Yeah… Tak diragukan lagi, itu pasti dia…!!”

“Hah? Apa yang kau bicarakan?”

Vassago menggenggam kerah baju Critter.

“Dengar, kutubuku sialan! Orang-orang RATH juga sedang melakukan rencana menggunakan ruang sub kontrol!! Dalam Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia, ada pemain-pemain VRMMO jepang yang membaur!!”

“Apa?!”

Mengabaikan ekspresi Critter, Vassago bersin.

“Karena Asuna «The Flash» juga disana, mungkinkah, “orang itu” juga dive? … Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku hanya berdiam diri disini … Hei, aku ingin kembali masuk! Masukan aku bersama dengan 20,000 pemain, dan turunkan aku ke lokasi titik putih!!”

“Kau ingin dive lagi … Tetapi akun Dark Knight yang kau gunakan telah hilang. Tentu saja, jika kau tak keberatan menggunakan akun pasukan crimson seperti mereka, aku punya banyak.”

“Aku punya akun sendiri… akun yang sudah aku simpan sangat lama.”

Kekek. Tenggorokan Vassago terdengar seperti terkekeh ketika ia mengambil kertas dari dekat console, menarik sebuah pena dari kantong Critter, lalu dengan cepat menuliskan sesuatu.

“Dengar, gunakan ID dan password ini yang ada di menu «The Seed Nexus» Jepang, lalu convert karakternya ke dalam Underworld. aku akan masuk menggunakan akun tersebut.”

Memberikan kata-kata tersebut, Vassago mulai berjalan menuju pintu ruang STL.

Setelah beberapa langkah, ia terhenti.

Ketika ia berbalik, wajah Vassago berubah menjadi beringas, cukup membuat takut si cyber criminal Critter. Seolah karakter vulgar, energik, dan kasar yang nanti akan ia gunakan seperti belahan jiwanya.

Lalu, Vassago berjalan menuju Critter, dan membisikkan instruksi lain ditelinganya. Sedetik kemudian, ruang STL menelannya, si hacker melihat pintu sendirian, kertas tipis tersebut masih dipegangnya.

Di kertas ada tiga huruf berbahasa Inggris dan delapan angka numerik. Critter tak pernah mengerti maksud tiga huruf ‘S’, ‘A’ dan ‘O’.

***

Ketika para Penjaga bersiap untuk berangkat, Asuna meninggalkan kerumunan dan mendatangi kereta persediaan. Sebuah kursi logam tampak, dengan seorang pemuda berambut hitam gemetaran, dua gadis bersamanya.

Ronye mengangkat wajahnya ketika ia mendengar langkah kaki. Menyadari kedatangan Asuna, wajahnya mulai memerah karena malu sekaligus menangis, ia berbicara:

“A… Asuna-sama! Kirito-senpai ingin… ingin pergi keluar … lalu…”

Asuna menggigit bibirnya dan mengangguk. Ia berlutut di depan Kirito dan menggenggam tangan kirinya yang kurus.

“Aku mengerti… Alice… telah ditangkap musuh. Kirito-kun pasti merasakannya.”

“Apa?… Alice-sama telah…?!”

Tieze menjerit, wajah putihnya semakin pucat.

Apa yang memecah ketegangan ini adalah suara Kirito.

“Ah… uh…”

Tangan kirinya bergetar, mencoba menyentuh sisa-sisa lengan kiri Asuna.

“Kirito-kun… Apa kau, mengkhawatirkanku…?”

Asuna berbisik pelan. Seketika, Ronye akhirnya menyadari luka-luka Asuna dan menjerit.

“Ah, Asuna-sama! Lengan anda…!!”

“Tak apa. Ini cuma luka sementara …” ia berguman. Asuna dengan lembut mengangkat lengan kirinya, bagian dari siku kebawah telah terpotong.

Higa Takeru telah memberikan informasi singkat mengenai teknologi «Mnemonic Visual». Meskipun semua benda telah diciptakan menggunakan program The Seed seperti di ALO, bagi Asuna dan Kirito yang telah dive menggunakan STL serta bagi Artificial Fluctlights seperti Tieze dan lainnya, semua yang ada di dunia ini seperti «shared memory» yang disimpan di Main Visualizer, sebuah realitas berbeda yang diciptakan menggunakan kekuatan imajinasi.

Life atau HP Super Account Stacia benar-benar sangat banyak, hampir mencapai batas maksimal sistem. Tetapi, jika ia diserang menggunakan senjata normal maupun ditusuk ratusan hingga ribuan kali, Life miliknya tak akan menyentuh nol.

Tetapi ketika pasukan crimson mengayunkan kapak perangnya dan mengincar lengan kirinya, Asuna benar-benar merasa takut; ia berpikir, terkena tebasan kapak sebesar ini, lenganku pasti akan putus, dan imajinasinya menjadi kenyataan.

Hal yang sama juga berlaku bagi lengan kanan Kirito. Meskipun Life-nya telah terobati, lengannya tidak kembali normal, karena ia terus menerus menghukum diri.

Asuna meletakkan lengan kanan ke bekas lukanya, dan berkonsentrasi, menutup matanya, dan berkata pada dirinya sendiri.

Aku tak akan takut lagi. Hingga aku telah melindungi Kirito-kun dan dunia ini hingga akhir, aku tak ingin kehilangan seseorang … atau apapun.

Cahaya putih terkonsentrasi menuju lukanya dengan bunyi pop. Cahaya hangat tersebut semakin luas, lengan kirinya telah kembali seperti semula.

Tersenyum pada kedua gadis yang seolah menyaksikan sebuah keajaiban, Asuna mengulurkan lengan kirinya dan memeluk kepala Kirito.

“Lihat? Aku baik-baik saja. Aku akan menyelamatkan Alice dan membawanya pulang. Jadi… ketika saat itu datang, Kirito-kun jangan terus menyalahkan diri ya …”

Asuna tak tahu apakah kata-katanya sampai ke hati Kirito atau tidak, tetapi ia merasa jika tubuhnya yang gemetaran kini sudah tenang. Asuna tetap memeluknya selama beberapa detik, lalu berdiri.

“Kita harus membawa seluruh pasukan dan mengejar Kaisar Vektor. Komandan Knight Bercouli telah membawa para naga mengejarnya, dan kita pasti akan mengejar mereka yang da di depan. Ketika saat itu, aku menitipkan Kirito-kun pada kalian… Ronye-san, Tieze-san.”

“Y… Ya!”

“Serahkan saja pada kami, Asuna-sama!”

Tersenyum pada kedua gadis dan ia menyerahkan Kirito pada Ronye, Asuna kini keluar dari kereta.

Sesaat setelah ia menginjak tanah, ia melihat seorang swordswoman berlari ke arahnya, ia juga ikut pada “Kompetisi Berbagi Kenangan” bersama-nya dan Ronye tadi malam. Armor peraknya penuh dengan bekas darah dan tanah dan kepalanya berbalut perban, tetapi ia tampak tak terluka parah.

“Kau tak apa-apa, Sortiliena-san.”

Mendengar suara Asuna, si swordswoman memberi hormat dan membalas:

“Aku juga senang Asuna-sama baik-baik saja… —hanya saja, aku mendengar kabar jika Alice-sama telah ditangkap pemimpin musuh…”

“Ya. Aku baru saja menjelaskan pada Ronye-san jika Kaisar Vektor meninggalkan seluruh pasukannya dan menangkap Alice-san. Aku tak mengira jika ia melakukan hal tersebut …”

“… Bagaimana mungkin…”

Menggunakan lengan kirinya yang baru sembuh, Asuna menepuk bahu Sortiliena.

“Tak perlu khawatir. Bercouli-san telah mengejar Vektor dengan menggunakan naga. Kita juga akan mengejarnya.”

“Mengerti.”

Mereka mengangguk, dan kembali ke tengah-tengan Pasukan Pengecoh.

Dibawah pimpinan Integrity Knight Renri, regu Ascetic telah selesai menyembuhkan yang terluka, dan ke 700 Penjaga hampir siap untuk bergerak. Para Penjaga telah berbaris bersama regu Astetic dan regu Persediaan.

Setelah menerima laporan Renri jika persiapan telah selesai, Asuna memberikan Renri arahan baru.

“Kau adalah Integrity Knight yang masih tersisa, Renri. Perintah untuk bergerak harus diberikan olehmu, si pemimpin.”

“Y… Ya, aku mengerti.”

Ekspresi si knight muda entah mengapa gugup, tetapi ia mengangguk pasti. Mengangkat tangan kanannya ke atas, ia memberikan perintah dengan suara keras.

“Alice-sama telah berbaik hati melindungi kita di pertempuran Gerbang Besar! Kini giliran kita menolongnya! Kita harus mengambilnya dari musuh dan kembali ke Kerajaan Manusia bersama-sama!”

“OH!!” teriakan semangat bergemuruh. Renri mengangguk, dan dengan cepat mengayunkan lengan kanannya ke bawaah.

“—Semua pasukan, maju!”

Renri memimpin pasukan didepan menggunakan naganya sendiri, Kazenui. Ia diikuti oleh 400 Penjaga baik menunggang kuda atau berjalan kaki, serta delapan kereta persediaan yang berisi makanan dan tim pembantu sekitar 300 orang.

Hanya satu naga— naga milik Integrity Knight Sheyta tetap ditahan, diam tak bergerak. Dengan sisik seperak rambut pemiliknya, si naga menggeram kuurrr ketika ia dibebaskan dari kekangannya, lalu ia terbang ke utara— menuju peperangan di selatan lembah, tempat pemiliknya berada.

Di depan kereta persediaan, Asuna berpikir sambil menggelengkan kepalanya:

Musuh terakhir adalah Kaisar Vektor.

Identitas aslinya adalah manusia dari dunia nyata, keberadaannya disini hanyalah sosok virtual. Itulah mengapa jika ia harus bertarung dengannya, ia harus mengalahkannya. Demi orang-orang yang telah menahan pasukan crimson: Knight Sheyta, si pemimpin Petarung Tangan Kosong, dan 4,000 bawahannya.

Beberapa menit sesudahnya, pasukan yang berangkat dari hutan kini telah memasuki jalanan berbentuk cekung. Sebuah jalan kecil memotong tanah cekung menuju selatan.

Jika seperti event-event RPG, di ujung jalan seperti itu pastilah sebuah kota maupun reruntuhan kota. Namun ia telah mendengar jika area selatan Tanah Kegelapan tidak dikuasai demihumans. Dengan kata lain, jalan ini akan berakhir di «Altar Ujung Dunia», dan Kaisar Vektor telah memasuki jalanan ini bersama Alice.

Naga Kaisar Vektor dan naga milik Bercouli kini sedang saling kejar di udara sana. Akan tetapi, ke 700 Pasukan Penjaga kini sedang melewati jalan ini secepat mungkin; jalanan ini bergetar ketika mereka melangkah.

Menjejaki jalan cekung ini— ketika seluruh pasukan pengecoh sampai di dasar jalan.

Sesuatu bergetar.

Vvvvvv… m. Sebuah getaran sayap serangga.

“…?”

Asuna menengok ke atas, kiri, kanan, dan belakangnya.

Tepat ketika ia melihat ke depan, ia akhirnya menemukan sumber suara itu.

Garis, garis merah.

Ribuan garis tipis merah berjatuhan dari langiit ke tanah.

“……… Tak mungkin………”

Bibir Asuna bergetar, suara serak keluar.

—Tak mungkin. Tolong. Jangan lagi…

Tetapi.

Zaaaa—!!

Ledakan-ledakan terdengar ketika garis-garis itu turun. Mereka memblokir jalan di ujung sana, menghalangi para penjaga.

Meskipun ia telah bertekat tidak akan takut lagi, Asuna merasakan kekuatan meninggalkan tubuhnya.

Apa yang muncul di depan sana adalah pasukan crimson— para pemain VRMMO dari dunia nyata.

“Semua… Semua pasukan, jangan berhenti!! Serang!! Serang—!!”

Integrity Knight Renri memberikan perintah di depan sana. Seluruh Pasukan Penjaga menerima dengan suara: Uooo! Lalu melangkah maju.

Tetapi, jika mereka telah mengantisipasi gerakan kita dengan menempatkan pasukan baru di ujung jalan selatan, tetapi jumlah mereka ada seribu … tidak, hampir duapuluh ribu.

Haruskah aku log out dengan menggunakan Skill Stacia lagi? Jika ia tidak berhati-hati, tindakan tersebut akan menjadi tindakan bunuh diri dan malahan mengorbankan Pasukan Penjaga.

Sesaat kemudian, ekspresi bimbang Asuna digoyahkan oleh raungan naga di depan sana.

Dari paling depan, naga milik Knight Renri, Kazenui telah menghembuskan nafas api dan melaju ke depan tanpa menoleh ke belakang.

“Jangan… Renri-sama akan mengorbankan dirinya untuk membuka jalan …”

Seolah ia mendengar rintihan kesakitan Sortiliena yang ada di samping Asuna, Renri perlahan berbalik dari atas naga.

—Tolong jaga yang lain.

Bibir Renri bergerak.

Lalu, ia menghunuskan pisau lempar di pinggangnya dan melaju ke depan.

Tepat sebelum itu terjadi.

Warna langit di atas sana berubah tiba-tiba.

Seolah merobek warna langit merah darah Tanah Kegelapan, kini yang Asuna lihat adalah warna langit kebiruan di sana.

Baik pasukan crimson yang akan maju menyerang, para penjaga yang siap berkorban, maupun Knight Renri yang di depan sana, semua orang mengangkat kepalanya ke langit seperti Asuna.

Seolah surga telah terbuka lebar ke dunia ini.

Dari baliknya, sebuah bintang terang turun.

Bukan, itu seseorang. Mengenakan armor sebiru warna langit, dan baju seputih awan, rambut pendeknya yang berkibar berwarna biru air. Sumber cahaya memilaukan adalah sebuah busur besar di tangan kirinya. Wajahnya tak bisa terlihat kerena silau.

—Siapa…? Kau siapa?

Seolah merespon pertanyaan bisu Asuna, orang yang melayang diudara kini mengarahkan busurnya dari langit. Lengan kanannya menarik tali busur, dan kekuatan penuh menariknya ke belakang.

Dengan cahaya memilaukan, sebuah panah cahaya muncul diantara busur dan tali busur.

Baik Pasukan Penjaga dan Pasukan Crimson terpaku, tak bisa berkata-kata. Satu-satunya yang bisa Asuna dengar adalah suara rendah Sortiliena:

“……… Solus-sama…?”

Seolah menanggapi panggilannya, panah cahaya tersebut dilepaskan dari atas langit.

Dengan cepat panah tersebut membelah dan menyebar ke segala arah.

Panah tersebut berubah menjadi tembakan sinar panas dan menghujani mereka yang ada di bawah.

Sword Art Online Vol 17 - 085.jpg

Kata-kata Pemimpin Penjaga Sortiliena Serlut hampir benar.

Diatas jalan cekung ini, seseorang dari dunia nyata telah muncul, tidak, lebih tepatnya telah log in menggunakan Super Account 02, «Dewi Matahari, Solus ».

Akun ini memiliki kemampuan «Wide-Ranged Annihilatory Attack»[2].

***

Sinon/Asada Shino melihat ke bawah dimana serangan telah ia luncurkan, dan mengingat kembali penjelasan dari Higa yang disampaikan melalui intercom.

“Um, Sinon-san, meskipun Super Accounts benar-benar kuat, mereka bukanlah pembuat keajaiban. Karena mereka disiapkan untuk saat-saat ketika harus membuat perubahan besar di dalam Underworld, kami mencoba untuk membuat akun tersebut agar cocok sesuai dengan lingkungannya.”

“Jadi… kamu mau bilang akun-akun tersebut bukanlah akun GM, hanya akun yang sangat kuat?”

Sinon berbicara melalui microphone ketika ia berbaring di dalam mesin STL yang mirip seperti mesin Fulldive Generasi Pertama, berlokasi di cabang perusahaan misterius «RATH» Roppongi. Apa yang ia dengar selanjutnya adalah bunyi click— seperti seseorang sedang menekankan jarinya.

“Ya. Tepat. Itulah mengapa akun «Solus» yang akan kamu gunakan tak bisa terus menerus diandalkan karena memerlukan energy dalam Underworld. Setiap serangan menggunakan busurmu memerlukan Tenaga Spacial, tak peduli apapun serangannya. Karena Solus memiliki kemampuan mengisi ulang otomatis, setiap serangan yang kamu gunakan tidak akan membuatmu kelelahan jika digunakan di siang hari, tetapi kamu tak bisa terus menerus menembakannya.”

Seperti yang Higa katakan, busur putih bersih yang digenggam Sinon menggunakan tangan kirinya kini mulai melemah setelah melakukan serangan jarak luas. Meskipun busur tersebut telah mulai bercahaya kembali, butuh sekitar dua-tiga menit untuk melakukan serangan kekuatan penuh lagi.

—Tak ada combo ya? Hmph,sempurna.

Dibandingkan senjata otomatis, senjata manual lebih cocok dengan dirinya.

Sinon turun perlahan, memastikan api ledakan di tanah telah menghilang.

Di ujung jalan cekung sepanjang satu kilol ini, banyak tubuh-tubuh mulai menghilang dengan efek cahaya. Satu tembakan yang dilancarkannya telah memusnahkan sekitar 5,000 musuh. Untungnya, mereka bukan penduduk asli Underworld, tetapi pemain Amerika yang log in dari dunia nyata seperti Sinon. Para pemain tersebut percaya jika ini semua adalah closed beta sebuah permainan dan mereka kelihatannya mulai marah-marah.

Dipusat jalan cekung ini, pasukan skala kecil yang kalah jumlah dengan pasukan crimson mulai melaju. Meskipun jumlah musuh lebih dari 10,000, kebanyakan dari mereka tak bisa bergerak karena takut kena tembakan selanjutnya— lebih tepatnya disebut ledakan, hingga membuat Pasukan Penjaga mulai menerobos.

Sinon menatap di kejauhan, mengamati formasi Pasukan Penjaga.

Ia akhirnya menyadari ada seorang gadis berambut chestnut yang sedang menunggang kuda putih, ia juga menatapnya.

Sinon hanya bisa tersenyum ketika ia turun menggunakan kemampuan lain yang dimiliki akun Solus account, «unlimited flight»[3]. Meskipun ia telah diceramahi oleh Higa jika “kamu bisa terbang menggunakan imajinasimu”, ketika ia merasa ini tak berbeda jauh dengan terbang di ALO. Ia melihat kereta dibelakang Asuna, ia lalu terbang lurus ke bawah.

Ketika ujung sepatu miliknya menyentuh atap kereta, ia dengan lembut mengangkat tangan kanannya.

“Maaf membuatmu menunggu, Asuna.”

Ketika Asuna melihat senyum hangat miliknya, air mata mulai mengalir ke pakaian seputih mutiara miliknya. Ia berdiri di kuda miliknya dan melompat ke kanopi kereta:

“——Sinonon… !!”

Asuna memeluknya erat-erat sambil berteriak.

Sinon perlahan memandang Asuna dan berkata:

“Kau telah bekerja keras. Tak apa … serahkan sisanya padaku.”

Ketika ia masih dipeluk Asuna yang lebih tinggi darinya, ia melihat indikator pengisian ulang busur miliknya masih 20%, lalu perlahan menarik tali busur dengan tangan kanannya.

Equipment khusus yang dipakai oleh akun Solus— Busur panjang «Annihilate Ray» bisa mengatur kekuatannya berdasarkan kekuatan tarikan tali busur, dan bisa mengatur arah serangan berdasarkan sudut incaran busur. Sebuah panah cahaya yang lebih tipis dari sebelumnya muncul ketika tali busur itu ditarik kebelakang sejauh 10 centimeters. Sinon mengincar musuh yang menghalangi naga di depan sana.

Vishu! Suara anak panah melesat.

Agak miring 20 derajat ke kanan, anak panah tersebut berubah menjadi tembakan cahaya yang terus membelah dan mendarat selebar 10 mel, menciptakan sebuah ledakan yang hampir setara dengan sebuah misil. Pasukan crimson berterbangan ke udara lalu menghilang. Mengambil kesempatan ini, sang naga langsung maju kedepan. Sekitar sepuluh prajurit yang terlempar ledakan kini dihantam kepala naga, ditusuk cakar besarnya, dan langsung tewas.

Sampai saat ini, pasukan musuh akhirnya sadar terhadap serangan cahaya dan mangsa mereka kini mulai lari. Sambil memaki, mereka mengejar bagaikan gelombang tsunami berwarna merah.

Sinon mengalungkan busurnya ke lengan, meletakkan kedua tangannya ke pundak Asuna dan memisahkan diri.

“Asuna. Aku bisa melihat sesuatu seperti reruntuhan sekitar 5 kilometer ke selatan dari sini. Jalannya tinggal lurus saja, juga beberapa batu besar ada di kedua sisi. Kita tak perlu khawatir jika dikepung oleh musuh, dan kita bisa mempersempit medan peperangan. Ayo kita temukan cara agar bisa memukul mundur musuh.”

Asuna juga seorang petarung, dan setelah mendengar perkataan Sinon, matanya menjadi bersemangat. Ia mencoba menghapus air mata miliknya dan berucap:

“Aku paham, Sinonon… Sinon. Tak peduli berapa banyak pasukan VRMMO Amerika yang muncul, mereka tak mungkin muncul lagi. Jika kita bisa memukul mundur puluhan ribu musuh, mereka mungkin akan menyerah… kukira.”

“Yeah,serahkan saja padaku. … Well, kurang lebih seperti itu....”

Setelah memastikan setiap Penjaga berhasil melewati kepungan pasukan crimson, Sinon menatap lagi sahabatnya.

“… Um, apakah Kirito…. Ada diantara pasukan?”

Asuna hanya bisa menunjukkan senyum masam.

“Kamu tak perlu khawatir. Kirito-kun berada disini.”

Asuna menunjuk jari telunjuknya ke bawah kakinya.

“Oh, sungguh. Yah… Aku akan menyapanya.”

Menelan ludah, Sinon mulai bergerak dari atap kereta dan meluncur ke dalam dengan bantuan kemampuan terbang miliknya.

Ia menunggu Asuna agar ikut, lalu ia menuju bagian dalam kereta kayu.

Hal pertama yang memasuki pandangannya adalah dua gadis berseragam dengan armor tipis. Mata mereka terbuka lebar bersamaan lalu bergumam pelan:

“S… Solus-sama…?”

Sinon melihat pakaiannya sendiri, lalu membalas:

“Halo, senang berkenalan dengan kalian. Meskipun aku mirip Solus, aku bukan dia. Namaku Sinon.”

Ia mencoba tersenyum pada kedua gadis ini, tetapi keduanya kebingungan. Tetapi ketika mereka berdua melihat Asuna, keduanya tampak mulai paham.

“Oh iya, aku ini manusia dari Dunia Nyata sama seperti Asuna. Aku juga teman.... Kirito.”

“Aku… mengerti.”

Sementara si gadis berambut merah masih menatap, si gadis berambut coklat menunjukkan ekspresi rumit, dan berbisik pelan: Mengapa semuanya perempuan?

Masih ada yang menunggu. Sinon berdeham ketika ia mulai melangkah kedalam ketika kedua gadis ini membuka jalan.

Sinon melihat pemuda berpakaian hitam duduk diatas kursi roda, ia memeluk dua buah pedang panjang menggunakan satu tangannya.

Meskipun ia telah diberitahu mengenai kondisi Kirito melalui penjelasan Higa Takeru, setelah melihat lukanya secara langsung, hatinya berdetak semakin kencang dan ia mulai meneteskan air mata.

“… Ah…”

Bahkan mata kosong tersebut tidak menatapnya, tenggorokannya mengeluarkan bunyi aneh. Sinon tertunduk dihadapan musuh, teman, serta penyelamatnya.

Bersandar di kursi roda, tubuh Kirito tampak semakin kurus dan rapuh ketika Sinon menyentuhnya. Sinon meletakkan busur panjangnya ke meja, lalu memeluk sosok ringkih Kirito.

Ia telah mendengar jika jiwa Kirito — Fluctlight miliknya, atau bisa dikatakan «tubuh utama» yang dikenal sebagai diri sendiri telah mengalami luka parah. Higa mengatakan padanya dengan suara mudah jika masih belum ada cara bagaimana menyembuhkannya.

Tetapi, Sinon menutup matanya lagi, air mata mengalir ketika ia menjerit dalam hati: Yah, itu mudah.

Banyak orang telah membuat kenangan bersama Kirito berulang kali, juga emosi kuat terhadap Kirito. Mereka cukup perlu berkumpul disini, sedikit demi sedikit dan berbagi hati mereka.

— Hei, tak bisakah kau merasakannya?… jiwamu yang ada dalam diriku. Lidah tajam, sedikit nakal, naif … dan kuat, lebih baik dari siapapun. Itulah dirimu.

Sinon lupa jika Asuna masih menatap di belakangnya; ia memutar kepalanya dan mencium wajah Kirito.

Seketika—

Asada Shino masih belum menyadari jika pikiran emosional miliknya telah memberikan bekas goresan pada jiwa terluar Kirigaya Kazuto.

Apakah Sinon sudah memahami struktur Underworld dan Fluctlights, baginya mungkin akan bisa menyelesaikan masalah ini. Tetapi penjelasan yang diberikan kepada Sinon sebelum ia dive hanyalah sebatas kondisi peperangan dan bagaimana cara menggunakan akun Solus.

Itulah mengapa Sinon tidak menyadari alasan dibalik gemetaran Kirito dan naiknya suhu tubuh Kirito ketika bibirnya menyentuh Kirito.

Sinon dengan cepat melepas tubuh Kirito, berdiri, dan berbalik ke tiga orang dibelakang.

“Jangan khawatir, Kirito akan cepat sembuh kok. Ketika kita membutuhkannya.”

Asuna dan kedua gadis mengangguk.

“Yah… aku akan terbang ke reruntuhan di selatan untuk memastikan kondisi geografi. Aku akan meninggalkan Kirito kepada kalian.”

Setelah berkata seperti itu, Sinon berjalan menuju pintu masuk kereta–

Tiba-tiba, Asuna menggenggam pundaknya.

Melihat tatapan keheranan dimatanya, Sinon terpaksa berhenti.

“A… Asuna, ada apa…”

Sinon pikir jika Asuna akan menginterogasinya karena memberikan ciuman pada Kirito, tetapi—

“H-Hei, Sinon, barusan kau bilang akan terbang?! Kau… bisa terbang?!”

Pada pertanyaan ini, Sinon langsung mengangguk.

“Y… Ya. Mereka bilang jika terbang adalah kemampuan dasar akun Solus. Jika aku tak salah dengar sepertinya tak ada batas waktu …”

“Maka bukan kami yang perlu ditolong! Alice… kejarlah Alice, ia telah diculik oleh Kaisar!!”

Situasi yang dijelaskan Asuna setelahnya lebih membahayakan menurut Sinon.

Integrity Knight Alice, kunci segalanya, telah ditangkap oleh Kaisar Vektor yang dive menggunakan sebuah Super Account seperti mereka berdua, dan kini sedang terbang ke selatan menggunakan seekor naga. Satu-satunya orang yang sedang mengejar adalah seorang swordsman bernama Bercouli, sang Komandan Knight.

“Melawan sebuah Super Account, bahkan bagi Komandan Knight masih terlalu berat. Jika kita tak bisa menyelamatkan Alice sebelum Kaisar sampai ke «Altar Ujung Dunia», seluruh dunia ini akan hancur! Tolong Sinon, bantulah Bercouli-san!”

Setelah semua menjadi jelas dan ia mengira-ngira sosok Komandan Knight Bercouli di pikirannya, Sinon akhirnya terbang menuju langit.

Ke 700 Pasukan Penjaga telah menerobos.

Mengejar mereka dari utara, pasukan crimson memiliki jumlah 20 kali lipat dari mereka.

—Aku akan segera kembali setelah menolong Alice. Bertahanlah sampai saat itu Asuna.

Mengatakan seperti itu dalam hatinya, Sinon berimajinasi agar mempercepat terbangnya ke arah selatan. Ia berubah hingga seperti meteor berekor putih yang membelah langit merah darah.

Melihat ke tanah gelap tak berhingga di bawah sana, Sinon akhirnya teringat:

Ia benar-benar lupa—

Dimana Leafa yang juga dive bersama dengan dirinya?

Bagian 3[edit]

Di belakang pasukan Kerajaan Manusia yang dipimpin oleh Integrity Knight Renri adalah gelombang kedua pasukan Amerika.

Jauh di utara sana, di sisi selatan lembah yang diciptakan Asuna. Iskahn dan Guild Petarung Tangan Kosong, serta Integrity Knight Sheyta, masih bertempuran dengan pasukan crimson yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu.

Dan dibagian paling utara dari pertempuran tersebut—

Di hutan belantara di sisi lain Gerbang Besar Timur, yang kini penuh dengan tumpahan darah, berdiri sesosok demihuman.

Tubuhnya di selimuti armor baja. Mantel berbulu tertiup angin. Dua telinga ramping bergelantung di kedua sisi kepalanya, sedangkan hidungnya mancung ke depan.

Dia adalah Pemimpin Orc, Rirupirin.

Setelah diberi tugas bersama dengan tiga ratus pasukannya agar berjaga di belakang, ia kini mengunjungi Gerbang Besar Timur seorang diri. Ia tidak membawa satupun pengawal, karena ia tak ingin siapapun melihatnya berlutut.

Setelah meraba-raba pasir, Rirupirin akhirnya menemukan apa yang ia cari: sepasang anting perak.

Apa yang ia ambil dengan telapak tangannya sendiri adalah objek milik putri knight Renju yang selalu ia pakai, ia mematuhi perintah Kaisar lalu dijadikan tumbal.

Anting tersebut adalah satu-satunya yang tersisa dari Renju. Di hutan ini, bahkan armor miliknya tak tersisa, ia tewas bersama dengan tiga ratus pasukan Orc. Dark Art yang digunakan Ium hitam benar-benar menghancurkan tubuh dan equipment mereka, lalu diubah menjadi Energi Kegelapan.

Dan Dee Ai Ell, orang yang menyarankan perintah keji tersebut kini telah menghilang bersama Kaisar.

Dee, Pemimpin Guild Pengguna Dark Art telah tewas setelah menerima serangan balik milik «Putri Cahaya», kemudian Kaisar mengejar Putri Cahaya ke selatan tanpa memberikan Rirupirin perintah baru.

Sisa – sisa tiga ribu pasukan Orc tidak mungkin menahan Pasukan Kerajaan Manusia dan Integrity Knights guna menjaga Gerbang Besar Timur. Keinginan lima ras Tanah Kegelapan untuk menguasai Kerajaan Manusia telah hancur.

—Jika seperti itu.

Mengapa?

Mengapa teman masa kecil Rirupirin, Renju serta tiga ratus pasukan Orc dikorbankan, juga dua ribu pasukan Orc tewas? Apakah kematian mereka ada nilainya?

Tidak ada jawaban. Sama sekali tak ada jawaban.

Hanya karena penampilan kaum kami, lima ribu penduduk asli Tanah Kegelapan tewas sia-sia.

Rirupirin memeluk antiing-anting ke dadanya, lalu ia berlutut ke tanah. Tangisan penuh sedu serta duka yang sangat dalam keluar dari dirinya— ketika ia hendak menangis—

Pada saat itu.

Sebuah suara terdengar dari arah belakang.

Pemimpin Orc berdiri dan membalik kepalanya, lalu melihat seorang wanita menghunuskan busur ke arahnya. Berambut kekuningan dan berkulit putih bersih, mengenakan pakaian berwarna kehijauan dan armor berkilau … bukan seorang dari Tanah Kegelapan, pasti dari Kerajaan Manusia.

Tidak terkejut melihat sosoknya, maupun marah karena melihat sosok manusia, hal pertama yang Rirupirin rasakan adalah rasa malu seperti, “jangan tatap aku”.

Karena gadis tersebut yang berdiri dihadapannya terlalu cantik.

Ia mungkin adalah perempuan Ium Putih pertama yang pernah ia lihat dari jarak dekat, mereka tak berbeda dari wanita Ium Hitam di Tanah kegelapan. Tangan dan kaki-nya terlihat ringkih seolah ia bisa dengan mudah mematahkannya, rambut-nya masih tetap cantik meskipun tertimpa sedikit cahaya matahari, matanya menatap lurus seperti orang bodoh, namun seperti mata crystal emerald.

Rirupirin mengutuk dirinya sendiri memikirkan hal tersebut.

Pada saat yang sama, ia takut jika mata gadis tersebut terisi tekad bulat.

“Jangan… Jangan lihat!! Jangan lihat aku!!”

Ia berteriak sambil menutupi wajahnya dengan tangan kirinya, lalu menggenggam gagang pedang dengan tangan kanannya.

Sebelum gadis tersebut bisa berteriak, ia akan memotong kepalanya.

Ketika ia akan menghunus pedangnya, Rirupirin merasa anting yang ada di telapak tangannya menusuk – nusuk. Sebuah perasaan seolah ia sedang dimarahi oleh Renju sehingga ia menahan gerakannya, kemudian ia terkejut mendengar suara miliknya—.

“Err… Selamat siang. Eh, selamat pagi, mungkin?”

Menurunkan busurnya, si gadis tersenyum ramah.

Tertutupi bayangan telapak tangannya, Rirupirin kaget dan berkedip beberapa kali.

Tak ada rasa permusuhan maupun kemarahan dalam mata gadis tersebut, bahkan tak ada rasa takut. Bagi anak – anak Ium Putih, para Orc dari Tanah Kegelapan adalah dongeng horor pemakan manusia.

“M… Mengapa?”

Kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri, seolah kebingungan menghadapi situasi seperti ini. Seolah ia bukan salah satu dari Sepuluh Bangsawan Tanah Kegelapan.

“Mengapa kau tidak lari? Mengapa kau tidak berteriak? Kau malah menyapa, jelaskan?”

Si gadis tampak kebingungan.

“Mengapa… Karena.”

Kemudian, ia memastikan sekeliling dan memandang langit merah di atas sana, ia melanjutkan:

“Karena kau juga manusia, benar kan?”

Sejenak, Rirupirin tak bisa memahami mengapa perutnya bergetar. Menggenggam ujung pedang miliknya, si pemimpin Orc berteriak:

“M… Manusia? Aku? Hal bodoh macam apa itu? Kau jelas bisa melihatnya! Aku ini seorang Orc! Seorang Orc disamakan dengan manusia babi oleh kalian para Ium!!”

“Tetapi, kau masih tetap manusia kan.”

Mengangkat tangan ke bibirnya, si gadis tersebut seolah seperti orang tua yang mengajari anaknya.

“Lihat, kita bisa bisa saling bicara. Terlebih lagi, apa yang kamu ingin tahu?”

“Apa… ingin…”

Rirupirin tak bisa menjawab lagi. Kata – kata penuh percaya diri yang diucapkan oleh gadis bermata hijau ini terlalu tak normal bagi Pemimpin Orc yang selama ini hidup dengan amarah terhadap manusia.

… Jika kamu bisa bicara, kamu berarti manusia?

Hanya itukah syarat menjadi seorang “manusia”? Goblin, Ogre, dan Raksasa bisa bicara. Tetapi keempat ras termasuk Orc telah dipanggil “demihumans” sejak dimulainya sejarah Tanah Kegelapan, mereka berempat telah dipandang rendah daripada manusia.

Rirupirin hanya bisa bernafas agak tersengal-sengal ketika ia berdiri seperti orang bodoh. Dengan ucapan “Tak usah khawatirkan itu dulu”, si gadis menyapu kekagetannya dan melihat sekeliling lagi.

“… Dimana… ini?”

***

Leafa/Kirigaya Suguha menyadari jika ia telah muncul di tempat yang sangat jauh dari lokasi asli, lalu melihat keatas menuju langit berwarna merah.

Setelah mendengar jika mesin STL 6 yang ia gunakan adalah mesin baru yang bahkan belum pernah dikeluarkan dari kardusnya, ia merasa tak nyaman. Suguha tak pernah merasa nyaman menggunakan shinai yang baru dibeli, terlebih lagi, ia tak pernah yakin pada mesin elektronik yang baru dibuka. Karena entah mengapa, ia selalu merasa ada masalah yang akan muncul pada mesin tersebut.

Ketika ia log in, seperti Sinon yang masuk menggunakan Mesin STL Prototype 1, lokasi dive miliknya seharusnya ada di dekat Asuna, tetapi karena ia tak bisa melihat Asuna maupun Sinon, sesuatu pastilah terjadi sebelum ia tiba. Tetapi bukan berarti jika tempat yang ia tuju adalah tempat kosong, dihadapannya berdiri seorang manusia berwajah babi— dengan kata lain, seorang «Orc».

Berdasarkan warna cursor yang akan aktif seketika setelah dive, Orc ini seharusnya bukanlah musuh yang harus ia hadapi— para pemain VRMMO Amerika, tetapi Orc ini adalah sebuah “Artificial Fluctlight” yang hidup di dalam Underworld, “bottom-up” artificial intelligence seperti yang Yui jelaskan.

Setelah mendengar penjelasan Yui mengenai orang-orang Underworld, Leafa berjanji tidak akan menghunuskan pedangnya terhadap mereka hingga saat – saat genting.

Sudah jelas kan— bagaimana mungkin ia bisa membunuh “manusia” yang Kakaknya coba lindungi? Jika sebuah Artificial Fluctlight tewas di dunia ini, jiwa mereka akan hancur, tak bisa dihidupkan.

Terlebih lagi—

Bahkan bagi Leafa, yang sudah akrab dengan grafik kelas atas ALO, kerumitan model Orc, yang juga ada di dalam The Seed Nexus, benar – benar menakjubkan. Gerakan dan hembusan nafas dari hidung kemerahan, texture armor logam yang membalut sosok besarnya dan mantel berbulu, terlebih lagi, dua mata hitamnya serta ekspresi miliknya benar – benar bukti jika sosok ini memiliki jiwa.

Ia harus bertanya pada Orc ini, ia malu – malu menjauhkan wajahnya karena suatu alasan, melihat sekelilingnya, ia masih belum mendapatkan jawaban. Memutuskan untuk menyelesaikan masalah yang hadir di depan mata, Leafa mengajukan pertanyaan lainnya.

***

“Nah… siapa namamu?”

Agak mundur, pemimpin Orc kini mengutarakan jawabannya atas pertanyaan kedua yang diajukan si gadis Ium Putih. Mungkin namanya sendiri adalah satu – satunya hal yang tidak ia benci.

“Aku… Aku, Rirupirin.”

Ia tiba – tiba menyesali telah menjawab. Karena sebelumnya, ketika ia bepergian menuju Ibukota Obsidia untuk pertama kalinya, para Dark Knights dan Pengguna Dark Art tertawa setelah mendengar nama Rirupirin.

Tetapi gadis ini tersenyum tulus, tanpa menyembunyikan emosi apapun, lalu mengulangi nama Rirupirin dengan suara jelas:

“Rirupirin… Sungguh nama yang bagus. Aku Leafa. Senang berkenalan denganmu.”

Kemudian, ia melakukan gerakan membingungkan untuk kesekian kalinya.

Ia mengulurkan tangan putih lembutnya ke depan.

Berjabat Tangan— tentu saja ia tahu kebiasaan ini. Tindakan ini juga hal yang wajar diantara Orc. Tetapi ia tak pernah mendengar seorang Ium yang mau berjabat tangan dengan seorang Orc.

Ada yang salah dengan orang ini? Apakah ini jebakan, atau semacam Art? Apakah aku akan terkena Art sebelum bisa menyadarinya?

Menatap tangan kecil yang terjulur, Rirupirin hanya bisa melongo tanpa bergerak. Si gadis memandang Rirupirin hampir sepuluh detik, kemudian menurunkan tangannya penuh kekecewaan. Melihatnya si gadis seperti itu, ia merasa rasa sakit menusuk hatinya.

Jika ia terus berbicara pada si gadis … Tidak, hanya menatapnya saja, ia tak akan tahu apa yang akan terjadi pada otaknya. Rirupirin telah memutuskan jika ia tak ingin membunuh manusia yang ada di hadapannya, tetapi ia harus menemukan solusi lain, ia berbicara:

“Kau ini… seorang Penjaga dari Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia kan, bukan, seorang Knight. Aku ingin membawamu sebagai tahanan. Membawamu kepada Kaisar!”

Meskipun ia adalah gadis muda, armor yang ia kenakan dan pedang panjang yang ada di pinggang kirinya tak seperti penjaga lain, tak peduli bagaimana ia memandangnya. Desain dan material untuk membuat senjata dan armor tersebut bahkan mungkin lebih tinggi dari bahan – bahan pembuat equipment milik Rirupirin.

Si gadis tidak menunjukkan rasa takut atas perkataan Rirupirin, ia seolah berpikir akan sesuatu, lalu ia bertanya:

“Kaisar yang kamu bicarakan adalah Dewa Kegelapan Vektor, benar?”

“Y… Yeah.”

“Oke. Baiklah. Bawa aku ke Kaisar.”

Ia mengangguk, mengangkat kedua tangannya untuk diikat. Ini jelas – jelas bukanlah postur tubuh untuk berjabat tangan, tetapi memintanya untuk mengikat kedua tangannya.

Apa yang sedang ia pikirkan?

Sword Art Online Vol 17 - 107.jpg

Rirupirin mengambil ikat pinggang dari pinggangnya, dan agak kasar— tetapi sedikit longgar, ia mengikat pinggang si gadis. Setelah mengikat ujung ikat pinggang, ia ingat jika Kaisar tidak berada di Perkemahan Tanah Kegelapan.

Tetapi jika ia berpikir hal – hal rumit, otaknya akan terasa panas. Bahkan jika Kaisar tidak berada di sana, masih ada para Dark Knight dengan ekspresi jijik mereka, atau seseorang seperti Pemimpin Guild Perdagangan, Lengil yang tak tahu harus apa.

Beberapa detik setelah ia berbalik, ia mulai berjalan sambil menarik tali dengan lembut.

Tiba – tiba, pandangan hitam pekat mengelilinginya. Bau mengerikan tercium di hidungnya. Semuanya menjadi gelap, lalu Rirupirin memandang sekeliling.

“Ah…?!”

Ucapan terkejut tersebut pastilah berasal dari gadis yang menyebut namanya Leafa.

Memutar kepalanya ke sekeliling, Rirupirin melihat sebuah lengan mencuat dari dalam kegelapan kabut dan dengan kasar menjambak rambut Leafa.

Kemudian, pemilik tangan tersebut muncul.

Wanita ini seharusnya sudah mati— Pemimpin Guild Pengguna Dark Art, Dee Ai Ell berdiri di sana, bibirnya menunjukkan senyum kejam.

***

Mengapa aku tak bisa mengejarnya?

Bercouli, ketua Integrity Knights merasa semakin depresi.

Ketiga naga bersama dirinya telah mengejar selama dua jam lebih.

Mereka telah melewati hutan, dimana Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia mendirikan perkemahan, melewati reruntuhan dengan patung – patung besar, lalu menuju daerah selatan Tanah Kegelapan, tetapi jarak antara mereka berdua tidak menunjukkan berkurang. Setelah berhasil menculik Integrity Knight Alice, naga milik Kaisar Vektor masih saja berupa titik hitam kecil di langit sana.

Kaisar dan Alice menunggangi satu ekor naga.

Sementara Bercouli berganti terus antara Hoshigami, Amayori, dan Takiguri, mencoba untuk meminimalkan kelelahan mereka. Secara teori, ia seharusnya telah berhasil mengejar sekarang ini.

Mengapa ia masih belum bisa mengejarnya? Apakah Kaisar bisa dengan bebas mengontrol Life naga miliknya?

Tak mungkin. Bahkan Pemimpin Tertinggi Administrator tak bisa mengontrol Life sesuka hati, itu adalah Taboo terbesar.

Tentu saja, Kaisar tak akan bisa terbang selamanya. Ia harus mengistirahatkan naga miliknya dua kali sebelum sampai ke «Altar Ujung Dunia» di bagian paling selatan Tanah Kegelapan. Tetapi naga milik Bercouli juga perlu istirahat. Karena kecepatan mereka sama, ia tak akan bisa mempersempit jarak.

Tak akan— bisa.

Bercouli tak bisa menggunakan Art yang bisa mempersempit jarak seketika. Untuk menembus masalah ini, satu – satunya kesempatan yang bisa ia lakukan adalah—

Komandan Knight dengan lembut mengelus pedang tersayang miliknya yang sedang tergantung di pinggang.

Sebuah perasaan dingin, namun bisa diandalkan. Hanya dengan sentuhan tersebut, ia bisa merasakan Life pedang-nya masih jauh dari terisi penuh. Armament Full Control Art yang ia gunakan di Gerbang Besar Timur telah memakan banyak Life dari yang ia duga.

Teknik yang hendak digunakan Bercouli adalah teknik paling tinggi dari Divine Instrument «Time Piercing Sword», namun akan memerlukan banyak Life.

Ia hanya bisa menggunakannya satu kali. Dan tebasannya harus lebih akurat daripada memasukkan sebuah jarum ke targetnya.

Bercouli dengan lembut menyentuh leher Takiguri, dan melompat ke punggung Hoshigami.

Meskipun ia tidak mengunakan tali kekang, Bercouli memasukkan kesadarannya pada partner yang telah bertarung bersamanya selama bertahun - tahun, lalu dengan teliti mengatur posisi terbangnya.

Ia mengincar titik hitam di kejauhan sana.

Meskipun ia ingin mengincar Kaisar sendiri, pada jarak sejauh ini ia tak akan bisa melihat sosoknya, jadi lemungkinan gagal terlalu tinggi. Ia harus melihat pergerakannya dan memusatkan tenaga miliknya menuju sayap sang naga.

Berdiri tegak, Bercouli perlahan menggerakkan tangan kanan dan menghunus pedang miliknya dari sarung pelindung,

Pedang yang digenggam dengan tangan kanannya memunculkan cahaya lemah. Release Recollection Art yang diaktifkan tanpa menggunakan incantation lalu pedang panjang tersebut bergetar.

Komandan Khight menatap lurus kedepan, sambil meminta maaf pada naga yang tak bersalah didepan sana.

Kemudian, menyipitkan mata birunya— Bercouli, knight paling tua di dunia berteriak.

“Time Piercing Sword— Arcane Slash!!”

Dengan suara keras, ia mengayunkan pedang ke bawah dengan cepat. Tak terhitung kilatan kebiruan memancar dari arah tebasan, lalu menghilang satu per satu.

Jauh di depan sana, sayap kiri naga hitam yang dinaiki Kaisar Vektor terpotong dari pangkalnya.

***

“Bau ini … Aku bisa menciumnya … Bau manis ini adalah bau Life …”

Menjambak rambut si gadis dan mengangkat seluruh tubuhnya ke atas, bibir Dee Ai Ell mengeluarkan suara serak.

Rirupirin hanya bisa menatapnya seperti orang bodoh, tak peduli berapa banyak kebencian yang ia berikan, seolah tak sampai padanya.

Kulit gelapnya seolah dilumuri minyak sehingga berkilat, sedangkan rambut hitamnya kini acak - acakan. Seluruh tubuhnya tertutupi luka akibat tebasan pedang sehingga memancarkan darah tiada henti. Ketika Dee bergerak, lukanya semakin lebar dan memancarkan lebih banyak darah. Tetapi asap hitam yang menyelimuti-nya segera berkumpul di sekitar luka, mengeluarkan bau mengerikan dan berusaha menghentikan cucuran darah.

Sumber asap tersebut adalah kantong kulit kecil yang menggantung di pinggang Dee. Setelah melihat lebih dekat, ketika kantong tersebut terbuka, benda yang mirip serangga secara terus menerus memunculkan kepalanya untuk menciptakan asap tebal. Benda itu pastilah Dark Art yang berfungsi untuk menahan Life yang berkurang.

Menatap Rirupirin, yang menutup hidungnya seolah jijik. Dee membentak.

“Mangsa yang tepat. Aku memerintahkanmu, babi. Sebagai hadiah, aku akan menunjukkanmu sesuatu yang hebat.”

Tepat setelah ia mengatakannya—

Dee menurunkan kuku seperti cakar miliknya menuju kerah baju si gadis, yang mana kini semakin menunjukkan ekspresi kesakitan sambil rambutnya dijambak.

Tanpa belas kasihan, armor perak dan baju berwarna kehijauan milik Leafa dirobek dan jatuh ke tanah.

Kulit putih bersih pada tubuh atasnya kini terbuka, wajah si gadis semakin kesakitan. Memandangnya, Dee menunjukkan kekejamannya dan senyum liar.

“Bagaimana? Ini pertama kalinya kau melihat tubuh wanita, kan? Ini mungkin cukup menggoda bagi seekor babi! Tetapi pertunjukannya baru akan dimulai …!!”

Kelima jari di tangan kanan Dee mulai menggeliat dan bergerak seolah telah kehilangan tulangnya.

Entah bagaimana, jarinya kini telah berubah menjadi cacing licin berkilau. Di ujung jari tersebut, garis seperti mulut mulai membuka lebar, tampak menjijikan.

“Tonton ini…!!”

Ketika Dee berteriak, kelima jarinya— bukan, lima cacing panjang membentang semakin panjang dan melilit tubuh atas Leafa. Cacing – cacing tersebut tak hanya menghentikan gerakannya; ujung cacing tersebut mengangkat kepalanya— lalu menusuk ke dalam kulit.

“AH…!!”

Darah menyembur ke segala arah dari gadis bernama Leafa ini, mata hijaunya terbuka lebar. Ia berusaha menarik ulat tersebut menggunakan tangannya, tetapi tubuh atasnya terikat dan pinggangnya terikat oleh sabuk milik Rirupirin.

Darah yang mengalir dari lima luka yang diterimanya seolah tampak berhenti, tetapi kenyataanya tidak begitu. Rirupirin sadar jika cacing dari jari – jari milik Dee semakin masuk ke dalam; cacing tersebut menghisap darah Leafa.

Si Pengguna Dark Art mengangkat kepalanya dan mulai merapal incantation.

“System call!! Transfer human unit durability… Right to Self!!”

Pop, cahaya kebiruan muncul dari luka si gadis. Kemudian, seolah terhubung dengan darahnya sendiri, darah Leafa terhisap menuju cacing milik Dee. Rasa sakit si gadis semakin menjadi – jadi, tubuhnya melengkung ke belakang seolah mau patah.

“Ah… Sungguh hebat… sungguh hebat!! Sangat kaya … dan manis!!”

Cibiran kejam menusuk ke telinga Rirupirin

Seolah tersadar, si ketua Orc berteriak:

“Apa… Apa yang kau lakukan!! Gadis ini tahananku!! Aku akan membawanya ke Kaisar!!”

“Diam, babi bodoh!!”

Dee berteriak secara arogan, matanya haus darah.

“Apakah kau lupa jika Kaisar telah memberikan perintah operasi padaku?! Keinginanku adalah keinginan Kaisar!! Perintahku adalah perintah Kaisar!!”

Gu. Rirupirin tak bisa berkata - kata.

Bukankah penyerangan ini telah gagal? Ia ingin menjawab. Tetapi Kaisar telah menghilang dari medan peperangan tanpa memberikan perintah baru. Sekarang ini, tak ada seorangpun yang bisa membantah “perintah” dari Dee.

Ketika Rirupirin menyaksikan, si gadis hanya berteriak pelan dan pergerakannya mulai melemah. Dengan kata lain, luka – luka milik Dee perlahan mulai menutup satu demi satu.

“Uh… Guh…”

Menggeramkan giginya sendiri.

Bagi Rirupirin, si gadis yang Life-nya perlahan di hisap, seperti sosok Renju yang dikorbankan.

Cahaya mulai hilang dari mata si gadis. Kulitnya mulai berubah dari putih menjadi pucat, dan tangannya mulai turun terkulai. Tetapi tentakel di tangan kanan Dee masih menghisap dengan rakus, berusaha menghisap darah milik Leafa sampai habis.

Tewas… dia akan tewas.

Tahanan aneh ini.

Bukan, manusia pertama yang tidak takut maupun menghina dirinya.

Seketika—

Sebuah kejadian yang tak bisa terpikir, lebih tepatnya sebuah keajaiban terjadi. Mata Rirupirin terbuka semakin lebar.

Tanahnya.

Tanah kehitaman daerah Tanah Kegelapan dibawah gadis tersebut, mulai bersinar hijau.

Apa yang tampak seperti rumput hijau, yang mana tak pernah terlihat kecuali di bagian tertentu Tanah Kegelapan, kini mulai bermunculan dari tanah, dan banyak bunga – bunga berbagai warna mekar ke segala arah. Bau bunga – bunga yang terbawa oleh angin, dan bahkan cahaya merah matahari mulai berubah menjadi hangat.

Pemandangan tersebut, penuh dengan Life. Kini berkumpul dan terhisap oleh tubuh si gadis.

Kulit pucatnya kini mulai mendapat kembali warnanya, lalu matanya mulai bersinar lagi.

Ilusi sesaat tersebut kini menghilang, Rirupirin sadar jika Life si gadis telah pulih kembali. Rasa senang memenuhi hatinya.

Tetapi kemudian dirusak oleh teriakan.

“Tak mungkin… Life-nya sudah hampir habis … kini penuh lagi!!”

Dee memaki, lukanya juga telah pulih.

Ia melepas cengkraman pada rambut Leafa dan mengubah kelima jari lainnya menjadi cacing buruk rupa.

Terbentuk kini agak besar, kelima tentakel yang baru diciptakan mulai melilit dan menusuk kulit milik Leafa.

“… AHH…!!”

Tawa milik Dee seolah menyatu dengan teriakan kesakitan si gadis.

“AHAHAHAHA!! AH— HAHAHAHAHA!! Milikku! Dia milikku—!!”

***

Aku harus menahannya.

Menderita akibat rasa sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya baik di dunia nyata maupun ALO, Leafa hanya bisa mengulangi perkataan tersebut.

Sebelum ia dive, ia mendengar penjelasan mengenai kemampuan Super Account 03 «Dewi Tanah, Terraria».

Unlimited automatic recovery[4]. Secara otomatis menghisap energi dari lingkungan di sekitarnya untuk memulihkan durability miliknya sendiri maupun benda hidup atau mati. Berdasarkan penjelasan Higa, batas HP yang dimilikinya, serta kemampuan tersebut, membuat Leafa tak mungkin mati karena kehabisan HP.

Itulah mengapa Leafa memutuskan untuk berani ditangkap guna menantang Dewa Kegelapan Vektor, dan mencoba agar tidak menghunus pedangnya pada orang – orang Underworld.

Wanita yang menyiksanya sekarang ini adalah penduduk Underworld seperti Rirupirin— sebuah Artificial Fluctlight. Jika ia ditebas menggunakan pedang, jiwanya akan hancur. Tanpa mengetahui mengapa ia bisa terluka dan mengapa ia ingin sembuh, Leafa tak ingin berterung dengannya.

Ahh— Tetapi.

Mengesampingkan pakaiannya yang telah dirobek, rasa sakit ketika Life miliknya dihisap benar – benar luar biasa.

Apakah ini rasanya sakit ketika tubuhmu tak bisa terluka?

***

“… Hentikan.”

Rirupirin tak menyadari jika kata – kata tersebut meluncur dari mulutnya sendiri.

Tetapi, kali ini lebih jelas terasa di mulutnya dan tenggorokannya.

“Hentikan!”

Matanya menyipit, mata milik Dee seolah hendak menerkam. Menahan rasa marah di perutnya, pemimpin Orc melanjutkan:

“Bukanlah Life milikmu telah penuh? Kau tak perlu menyedot habis tubuh si Ium Putih!”

“… Sekarang apa? Berani memberiku perintah …?”

Dee berkata pelan, seolah menekan nada piano.

Tiba – tiba, kesepuluh tentakel menggeliat semakin hebat, memaksa masuk semakin dalam, semakin cepat menghisap darah. Kulit Dee kini telah kembali ke warna eksotis miliknya, dan rambutnya kini semakin panjang dan lembut dari sebelumnya.

Tak hanya itu, Life yang dihisap secara berlebihan mulai memancar ke udara disekeliling menjadi partikel kebiruan. Namun Dee tak menunjukkan tanda – tanda untuk menghentikan siksaannya pada si gadis, kini Dee mulai mencengkram dari belakang.

“Aku sudah bilang, kan. Tahanan ini menjadi milikku sekarang. Tak peduli berapa banyak Life yang aku hisap, tak peduli berapa banyak aku menyiksanya di depanmu, babi, atau bahkan ketika aku ingin membunuhnya sekarang, sudah bukan menjadi urusanmu”

Kuku, kukuku, sebuah tawa keluar dari tenggorokannya.

“Tetapi, yah, tentu. Kau yang menemukannya, jadi aku harus menunda pembayarannya kan? Kalau begitu… lepas semua pakaianmu.”

“Ap… Apa yang kau katakan…”

“Sudah sejak lama, melihatmu mengenakan armor dan mantel membuatku mau muntah. Kau ini babi, namun berlagak berpakaian seperti manusia. Jika kau mau bertelanjang, merangkak, dan memohon padaku, mungkin aku akan mengembalikan tahanan manismu ini.”

Gu.

Tiba – tiba, seberkas cahaya merah memasuki pandangannya. Diiringi dengan rasa sakit seperti di tusuk jarum panas terasa di mata kanannya

Hanya seekor babi.

Seperti manusia.

Kata – kata milik Dee bertolak belakang dengan kata – kata Leafa.

Kau juga manusia, benar kan?

Terlebih lagi, apa yang ingin kamu tahu?

Ia tak boleh membiarkan Dee membunuh gadis ini. Bukan, ia tak ingin Leafa mati. Karena ini... karena ini.

Tangan bergetar milik Rirupirin menyentuh ujung mantel, dan membukanya.

Dibalik mantelnya, Rirupirin menggerakkan tangannya ke sabuk yang mengikat seluruh armornya.

Tiba – tiba, suara lemah terdengar.

“… Jangan.”

Kepalanya terangkat, matanya bertemu mata milik Leafa yang sedang menatapnya.

Mata emerald miliknya berkedip beberapa kali.

“Aku… tak apa. Jadi, jangan … lakukan.”

Suaranya terputus – putus. Dee menggigit wajah Leafa.

“Jika kau terus mengucapkan hal – hal yang tak perlu, aku akan menggigit wajah cantikmu ini. Kita sedang bermain lho. Hei, apa yang kau tunggu babi. Lepas pakaianmu. Ataukah kau mulai merasa senang melihat tubuh manusia telanjang?”

Kyahahahaha, tawanya tak berhenti.

Tangan miliknya yang memegang sabuk kini mulai bergetar.

Ia tak peduli dengan rasa sakit di mata kanannya. Karena, dibandingkan dengan kemarahan dan penyiksaan yang mengisi hatinya, rasa sakit ini tak ada apa – apanya .

“Aku… Aku… Aku…”

Tiba – tiba, sesuatu mengalir dari matanya, turun hingga ke pipi. Tetesan yang jatuh di sebelah kiri berwarna bening, sementara yang jatuh di sisi kanan berwarna merah terang.

Tangan kanannya mulai melepas dari ikat pinggang— dan bergerak menuju pangkal pedang di pinggang kiri.

“Aku seorang manusia!!”

Ketika ia berteriak, rasa sakit yang tak pernah dirasakannya menyerang menyerang mata miliknya, lalu meledak.

Meskipun setengah buta. Rirupirin bisa menemukan lokasi Dee secara tepat. Tawa sadis miliknya berhenti dan mulutnya terbuka.

Dengan sepenuh tenaga, Rirupirin mengayunkan pedang miliknya menuju kaki milik Dee.

Tetapi— karena kehilangan sebelah mata, incarannya agak meleset.

Ujung pedang miliknya hanya menyerempet betis Dee. Tubuh Rirupirin kehilangan keseimmbangan dan bahu kirinya ambruk ke tanah.

Mengangkat kepalanya, ia melihat Dee yang kini mulai murka.

“Babi busuk ini … beraninya melukaiku …!”

Ia melempar tubuh Leafa ke belakang dan melepas tentakelnya. Dengan deru suara, tentakel tersebut berubah menjadi pedang hitam tajam.

“Aku akan mencincangmu, dan menjadikanmu makanan babi hutan!!”

Pemimpin Orc menunggu ketika pedang tersebut sampai menebasnya.

Thump.

Thump.

Dua suara terdengar pada saat yang sama. Pergerakan Dee terhenti.

Bingung, Rirupirin melihat jika lengan milik Dee terjatuh dan menancap tanah.

Ekspresi Dee juga terkejut. Wanita tersebut perlahan menoleh ke belakang, darah bagaikan air terjun mengalir deras dari punggungnya.

Sosok Leafa memasuki pandangan Rirupirin.

Dibandingkan dengan sosok rampingnya yang tak memiliki otot, pedang panjang terlihat sulit untuk diayunkan ke depan. Meskipun kedua tangannya terikat, Leafa lah yang telah menebas tangan Dee.

Dee berbatuk dan berkata:

“Seorang manusia … membantu seekor babi, dan menebas manusia lainnya …?”

Melihat Pengguna Dark Art memaju mundurkan kepalanya tak percaya, Leafa membalas:

“Bukan, aku hanya menebas orang jahat untuk menolong orang baik.”

Ia mengangkat pedang panjangnya lalu mengayun.

Hya-ka!

Si gadis mundur ke belakang.

Sungguh— ajaib.

Pergerakannya tidak berlebihan, namun cepat dan teknik miliknya luar biasa.

Sekali lagi, Rirupirin menangis— karena terbawa emosi kali ini. Ketika ia memandang Dee., Pengguna Dark Art nomor satu di Tanah Kegepalan dan yang terkuat diantara Sepuluh Bangsawan Penguasa, terpotong menjadi dua.

Bagian 4[edit]

Gabriel Miller melihat secara jelas ketika si naga hitam mengepakkan satu sayapnya, mendarat pelan, lalu meraung.

Ketika matanya berpaling, semua hal yang berhubungan dengan keberadaan sang naga yang ada di pikiran dan ingatannya lenyap. Ia memandang sekitar tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

Lokasi ia jatuh adalah sebuah daerah dengan banyak pilar batu. Pilar yang ia pijak di bagian tengah memiliki tinggi 100 yards dan lebar 30 yards.

Melompat turun bukanlah hal yang bijak. Ia masih belum akrab dengan Art yang mengatur elemen di dunia ini, juga ia tak bisa meninggalkan Putri Cahaya Alice di kakinya.

Jika ia memiliki tali, jangkar, atau tangga tali, Gabriel bisa dengan mudah turun ke bawah dari ketinggian ini. Tetapi tak perlu melakukannya saat ini, karena musuh yang entah bagaimana berhasil menumbangkannya kini telah mendekat dari arah utara bersama dengan tiga ekor naga. Ia harus mengurus musuh ini, mengambil alih kendali AI si naga, lalu terbang ke selatan.

Gabriel mengangkat wajahnya dan menatap ke atas. Matahari virtual yang mengambang di langit merah telah mencapai titik puncak.

Tak banyak waktu tersisa ketika Critter mengatur ulang waktu akselarasi. Bisakah Pemain Amerika yang berjumlah 50,000 menyapu habis Pasukan Kerajaan Manusia sebelum dipaksa log out karena percepatan akselerasi? Dengan jumlah 1,000 orang tersisa, Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia tak akan bisa bertahan.

Yang membuat ia ragu adalah para Integrity Knights yang telah berhasil menyapu pasukannya satu persatu. Tetapi salah satu diantaranya, Alice, telah berhasil ia culik, maka pengejarnya pastilah salah satu Knight juga, hanya ada satu dua orang Knight yang tersisa di medan peperangan utara sana.

Segera Gabriel memutuskan keinginannya, ia kini berbalik pada Integrity Knight Alice yang sedang pingsan di bawahnya.

Sungguh sangat—cantik.

Begitu cantik hingga kesenangan yang ada dalam dirinya tak bisa berhenti.

Gabriel sedikit bingung: haruskah ia melepas senjata dan armor miliknya sebelum memborgolnya? Itu adalah pilihan paling masuk akal, tetapi musuh sedang mendekat dan tampaknya akan agak sulit dilakukan.

Ia harus menunnggu waktu akselerasi dan mengulur waktu. Bahkan ketika ia akan melonggarkan armor milik Alice, Gabriel harus melakukannya dengan lembut, dan serius.

“… Tidur nyenyak sekarang, Alice… Alicia.”

Berbisik lembut pada Alice, Gabriel berjalan ke tengah pilar bundar menunggu musuh.

Baik itu Gabriel Miller yang sedang menggunakan Super Account 04 «Dewa Kegelapan Vektor», maupun Critter yang berhasil mencurinya, keduanya tidak mengetahui fakta ini: Alice si Knight terkuat telah jatuh pingsan selama beberapa jam hanya dengan dicengkeram naga, itu karena kemampuan Vektor itu sendiri.

Empat Super Accounts di Underworld diciptakan guna melakukan perintah langsung— penciptaan keajaiban— di dunia ini dan lingkungan sekitar.

Stacia, yang bisa mengubah dataran.

Solus, yang bisa menghancurkan apapun.

Terraria, yang bisa menyembuhkan durability.

Dan Vektor, yang bisa mengatur pikiran Artificial Fluctlights itu sendiri.

Secara khusus, ia juga bisa mengedit ingatan lingkungan— data Vektor dalam Fluctlights dan memindahkannya ke suatu tempat yang jauh, ataupun menciptakan bangunan baru.

Karena tindakan tersebut agak berbeda dengan ketiga Dewi yang lain namun memiliki konsep yang sama, cukup sulit baginya menjadi subjek untuk disembah oleh penduduk. Terlebih lagi, Vector tak hanya memiliki Prioritas equipment dan Life paling tinggi, ia juga memiliki kemampuan pelindung terhebat “Kemampuan tak bisa dijadikan target Art”. “Anak Hilang Vektor”, adalah salah satu dongeng yang diwariskan dalam Underworld, cerita tersebut diwariskan berdasarkan salah satu perintah operasi pada penduduk setemmpat.

Kombinasi kekuatan Dewa Kegelapan Vektor dan imajinasi unik milik Gabriel Miller, ataupun Incarnation yang bisa menimbulkan efek berlipat ganda yang bahkan tak bisa diprediksi oleh teknisi «RATH».

Ia bisa menghisap kesadaran seseorang tanpa menggunakan Art.

Fluctlight milik Alice juga berhasil ditaklukkan dan dipaksa untuk tertidur.

Kombinasi kekuatan Vektor serta Gabriel telah sukses menghancurkan serangan maut milik Jendral Kegelapan Shasta sebelumnya.

Dan sekarang ini, rival Shasta— Integrity Knight Bercouli akan mengalami jejak yang sama.

***

Bercouli melihat naga Kaisar Vektor telah jatuh ke batu pilar besar sehingga ia tak bisa lari.

Ia manahan kelelahan hebat karena menggunakan teknik paling tinggi miliknya.

“Bagus… Tolong terbang sedikit lagi, Hoshigami, Amayori, Takiguri!!”

Saat ia menyelesaikan kalimatnya, ketiga naga dengan sekuat tenaga mengepakkan sayap mereka. Selama musuh tetap berada disana bahkan jarak sepuluh kilol akan bisa dikejar dengan singkat.

Sesaat sebelum memasuki pertempuran, Bercouli mulai merenungkan. Ingatannya mulai mengingat mimpi tadi pagi.

— Apakah kau pernah merasakan tanda-tanda kematian?

Pemimpin Tertinggi Administrator bertanya dalam mimpinya, dan bagi Bercouli yang mengenalnya selama ratusan tahun, ia tetap menjadi sosok yang tak bisa dikalahkan sampai akhir.

Setelah ia dilepaskan dari Deep Freeze dan diberitahu Alice mengenai kematian Pemimpin Tertinggi, ia merasakan kekagetan dan sedikit lega: Terima kasih atas hasil kerjamu selama ini. Kematian Pemimpin Tetua Chudelkin membuatnya lebih kaget.

Karena hal tersebut, ia tak pernah menanyakan secara jelas mengenai kematian Administrator kepada Alice , juga situasi yang dialami oleh Alice. Tentu saja, di sisi lain ia terlalu sibuk melatih Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia, dan di sisi lainnya ia tak ingin mau tahu— mengenai sifat keras kepala dan hasrat milik wanita bermata dan berambut perak tersebut ketika melakukan dosa paling besar tentang eksperimen – eksperimen anehnya.

Administrator selalu lesu, tak konsisten, dan berubah – ubah pada Bercouli. Meskipun ia selalu mematuhinya, Bercouli tidak memujanya seperti yang Chudelkin lakukan.

Tetapi—

Ia juga tidak benci mematuhi perintahnya.

Benar … Percayakan padaku kali ini.

Knight paling tua berguman, dan membuka matanya.

Ia bisa melihat dengan jelas sosok Alice yang berbaring di batu mengenakan armor emas miliknya, dan sosok Kaisar Vektor berdiri diam dihadapannya.

“Baiklah… kalian bertiga berjaga saja di udara! Jika aku tewas, mundur ke utara dan bergabung dengan pasukan lain!”

Mengisyaratkan dengan lembut pada ketiga naga, Bercouli terjun dari punggung Hoshigami.

***

Sinon meninggalkan jejak udara bagaikan meteor jatuh, ke 700 orang Pasukan Penjaga dengan susah payah kini menuju arah selatan.

Mereka mulai kewalahan menangani pasukan crimson di belakang mereka. Tetapi baik Penjaga maupun kuda – kuda tak akan bisa berlari terus seperti ini.

Asuna berdiri di atas atap kereta Kirito, Tieze, dan Ronye, berdoa sambil menatap arah selatan.

Setelah sekitar dua puluh menit penjelasan Sinon, pemandangan reruntuhan kastil raksasa mulai tampak.

Tak ada tanda – tanda manusia, demihumans, maupun binatang raksasa lainnya. Hanya ada bebatuan yang diam di tanah.

Di depan jalan lurus ini ada dua kuil datar. Tingginya sekitar 20 mel, dan lebarnya 300 mel. Kuil ini mungkin bisa dijadikan garis pertahanan agar musuh tidak mengepung mereka.

Diantara kedua kuil tersebut, jalanan masih berlanjut ke arah selatan. Pemandangan ini memberikan kesan seperti roti lapis, karena selain ada di tengah – tengah, juga ada patung besar di kedua sisi.

Itu bukanlah patung Budha, juga bukan patung khas negeri barat. Sejujurnya, patung tersebut seperti sosok persegi yang ada di reruntuhan Amerika Selatan. Semuanya dipahat dengan mata bulat dan mulut besar, dan tangan mereka disilangkan di depan dada.

Apakah patung tersebut di desain oleh teknisi RATH ketika Underworld diciptakan? Ataukah diciptakan secara otomatis menggunakan paket program The Seed?

Ataukah patung tersebut— dipahat dari gunung batu oleh penduduk Tanah Kegelapan …? Seperti tanda makam bagi yang telah tewas …?

Asuna menarik nafas, menyingkirkan pikiran – pikiran tersebut.

Ia berteriak pada Knight Renri yang sedang memimpin pasukan sambil menunggang naga:

“Ayo kita serang musuh di dekat jalan sana”

Jawaban “Mengerti!” terdengar.

Beberapa menit kemudian, Penjaga mulai membentuk formasi diantara kedua kuil. Patung seperti Mammoth ada di kedua sisi, seolah menatap mereka. Tapal kuda dan sepatu penjaga bergetar mengisi jalanan kering ini.

Renri memando mereka, suaranya memotong udara dingin:

“Baiklah. Penjaga, bagi posisi! Biarkan kereta barang dan tim persediaan lewat!”

Para Penjaga kini terbagi menjadi dua, kemudian delapan kereta barang melewati mereka, diikuti dengan tim persediaan yang kebanyakan para Astetic. Setelah sampai di bagian belakang, mereka berhenti. Angin kencang bertiup dari pintu masuk raksasa di jalan sana, rambut Asuna tertiup.

Sungguh senyap. Pemain Amerika yang mengejar mereka mulai kelihatan, debu – debu beserta getaran mulai terasa.

Asuna melompat dari kereta barang, dan berkata pada gadis – gadis yang menonjolkan kepala mereka ke atas atap:

“Ini pertempuran terakhir. Aku akan menyerahkan Kirito-kun pada kalian.”

“Ya! Serahkan pada kami, Asuna-sama!”

“Kami akan melindunginya!”

“—Bahkan jika harus bertaruh nyawa.”

Ketika Tieze, Ronye dan Sortiliena meletakkan tinju ke depan dada mereka, Asuna melakukan hal yang sama dan tersenyum lelah.

“Istirahatlah. Aku tak akan membiarkan musuh sampai ke tempat ini.”

Kata – kata tersebut seperti sebuah janji pada dirinya sendiri. Asuna melambaikan tangan dan berbalik arah dengan segala keputusan.

Renri kini masih ada di depan pasukan penjaga, mengatur mereka.

Jalanan ini luasnya sekitar 20 mel. Meskipun cukup sempit untuk dijaga, menjaga jalan ini sambil formasi saling bergantian mungkin saja.

Hal paling penting adalah mencegah angka kematian sebesar mungkin ketika melawan 10,000 musuh lebih, karena regu Ascetic juga melakukan penyembuhan dari belakang. Untungnya, diantara pasukan crimson tak ada pengguna Art. Meskipun sepertinya para pemain tersebut tak menemukan cara untuk mengaktifkan system command yang cukup rumit di Underworld dalam waktu singkat, situasi ini sepertinya sebuah keajaiban.

Jika situasi ini mungkin berubah—

Aku akan membunuh seluruh pasukan seorang diri.

Asuna mengambil nafas dalam – dalam dan berkonsentrasi.

Memikirkan jumalah Life milik Stacia dan Prioritas equipment miliknya, ia tak akan kalah karena kerusakan berdasarkan angka. Masalahnya adalah apakah ia mampu menahan rasa sakit. Ketika ia menerima luka di jantung, tubuh virtualnya ini akan terluka, dan bahkan jika ia memaksa, ia mungkin akan jatuh dalam kondisi dimana ia tak akan bisa menggenggam pedang.

Asuna memejamkan mata, memikirkan Kirito yang masih terluka. Ia membayangkan luka dan duka yang ia alami.

Ketika Asuna sudah ada di garis depan, rasa takut lenyap dari dirinya.

Pertempuran besar ini adalah yang terakhir, diterangi cahaya matahari siang hari.

Sekitar duapuluh pemain Amerika yang mengenakan armor berat kini maju ke reruntuhan, mencari darah dan teriakan yang dijanjikan pengumuman dalam website.

Namun apa yang menunggu mereka bukanlah NPC yang didesain untuk hiburan semata, tetapi para pejuang yang berkeinginan untuk menyelamatkan dunia dan menolong teman mereka si Integrity Knight emas. Meskipun terluka parah, pedang mereka masih memancarkan cahaya keingianan untuk menahan senjata musuh dan menghancurkan armor musuh.

Sesosok manusia menatap ke bawah dari ketinggian, diatas pasukan crimson yang telah dihancurkan.

Mengenakan pakaian yang tidak memantulkan cahaya armor, seperti jaket sepeda motor besar. Jaket tersebut ditutupi dengan paku – paku keperakan.

Senjata yang ia gunakan hanyalah pisau pemotong daging besar yang menggantung di pinggang kirinya. Wajahnya tertutup. Tubuhnya dibungkus pakaian kulit hitam seperti jas hujan, hingga menutupi ke mulutnya.

Bibirnya tersenyum kejam.

Dia adalah Vassago Casals.

Setelah dive sekali lagi ke dalam Underworld dan berhasil menghindari serangan laser milik Sinon, ia kini menyamar diantara pasukan Amerika yang mengejar Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia. Akan tetapi, ia tidak ikut dalam serangan awal, malahan ia memanjat dinding kuil bagian timur, dari atas kepala sebuah patung ia bisa mengamati jalannya peperangan, ia mumutuskan untuk menikmati hiburan menarik ini.

“Kekek, bajingan itu selalu terburu – buru seperti biasanya ketika marah. Ia membunuh banyak orang.”

Ia berguman dengan tawa kesenangan.

Persis seperti dalam ingatan masa lalu Vassago, gadis berarmor mutiara dengan rambut coklat— Asuna «The Flash» kini mulai mengangkat gagang rapier miliknya yang mulai bercahaya.

Dahulu, Vassago juga dalam posisi yang sama, menonton pertempuran Asuna dari kejauhan. Ia telah bersumpah pada dirinya sendiri: Aku akan menghabisimu sebelum dunia ini berakhir.

Bersama dengan seorang swordsman berpakaian hitam yang juga bertarung lebih ganas di sampingnya.

***

Ketika ia meloncat dari punggung naga, Bercouli masih berada sekitar dua ratus mel diatas tanah. Jika ia meloncat langsung seperti itu, ia tak akan bisa menahan benturan yang akan terjadi.

Tetapi ia seolah menuruni sebuah tangga tak kasat mata, Komandan Knight turun dengan gerakan melingkar.

Setiap langkah yang ia jejaki, sebenarnya ia menciptakan Wind Element dibawah kakinya sebagai batu loncatan, dengan begitu ia bisa mengurangi daya benturan. Mengontrol Element dengan kedua kakinya sebenarnya adalah teknik milik Pemimpin Tetua Chudelkin yang ia curi beberapa puluh tahun lalu.

Menggenggam gagang pedangnya, knight paling tua ini semakin mendekat, menuju titik buta Kaisar Vektor. Vektor berdiri di tengah pilar tepat dibawahnya.

Bunuh dia dengan sekali tebas.

Adalah hasrat membunuh milik Integrity Knight Bercouli yang ditunjukkan semenjak ia membunuh Jendral Kegelapan dua generasi sebelumnya – sekitar seratus lima puluh tahun lalu. Dalam tahun – tahun setelahnya, ia tak pernah memiliki musuh yang mampu menarik hasrat tersebut.

Bahkan ketika ia bertarung dengan bocah Eugeo yang menerobos Katherdal Pusat seorang diri, Bercouli telah bertarung serius, namun tidak menunjukkan hasrat membunuh. Tetapi, jika ia melihat saat ini, bahkan melawan Jendral Kegelapan Shasta, ia tak pernah menunjukkan emosi negatif seperti marah maupun benci.

Dengan kata lain, ini adalah pertama kalinya Bercouli menunjukkan kegarangannya setelah sekian lama.

Setiap tubuh dirinya benar – benar terbakar. Terlebih lagi bukan saja karena telah menculik Alice.

Musuh ini datang dari dunia luar yang disebut Dunia Nyata, orang ini telah memaksa orang – orang Tanah Kegelapan menuju medan peperangan ketika mereka telah menerima masa kedamaian, juga ia mengirim puluhan ribu penduduknya mati sia – sia, benar – benar tindakan yang tak patut dipuji.

Kaisar Vektor, aku tak tahu alasan apa yang memotivasimu.

Tetapi jika orang – orang dari Dunia Nyata seburuk dirimu. Aku jadi mengerti begitu melihat ekspresi nona Asuna.

Itu berarti, satu – satunya kejahatan yang tak bisa diampuni adalah dirimu.

Jika begitu, aku akan membinasakanmu.

Aku akan menebus nyawa Jendral Kegelapan Shasta, Integrity Knight Eldrie, dan nyawa orang – orang yang telah gugur dalam peperangan ini.

Nah rasakan … serangan ini!!

“Ze… AHH!”

Melompat sepuluh mel dari udara, Komandan Knight mengayunkan pedangnya sekuat tenaga kebawah menuju kepala Kaisar Vektor yang tak terlindung.

Udara berdesis, menimbulkan cahaya putih. Cahaya tersebut menyilaukan pandangan, bahkan menelan warna sekeliling.

Tak perlu ditanya, serangan ini adalah teknik pedang paling kuat dalam sejarah Underworld. Prioritas serangannya bahkan mampu menulis kembali mnemonic data dalam Main Visualizer. Dengan kata lain, segala hal yang ada dalam jangkauan serangan ini, berapapun nilai statusnya tak ada artinya.

Bahkan bagi Super Account 04— Life tak terbatas milik Kaisar Vektor akan hancur jika terkena serangan ini.

Jika terkena serangan ini, begitulah.

Bahkan jika meteor hendak menghantam kepalanya, wajah Vektor masih tak beremosi.

Kecepatan serangan ini sangatlah cepat bahkan seseorang tak akan bisa melihatnya. Serangan tersebut datang tiba - tiba; tak peduli berapa cepat reaksimu, mereka tak akan mampu menghindar.

Tetapi dalam sekejap, tubuh Vector yang terbungkus armor crystalline hitam, dengan tanpa suara bisa bergeser.

Untuk menghindari serangan ini, bergeser sedikit saja bisa menghindar.

Pedang milik Bercouli hanya menggores mantel merah yang berkibar di udara. Seketika menyentuh pedang tersebut, mantel tersebut berubah menjadi debu.

Zugaaaaang!! Dengan bunyi nyaring, bekas goresan terukir ke pilar batu tersebut. Seluruh pilar tersebut berguncang, pecahan – pecahannya berjatuhan ke bawah.

Ia menghindarinya?

Menatap seperti orang bodoh, Bercouli tidak berhenti melancarkan serangan lanjut. Melalui pengalaman bertahun – tahun, ia telah mempelajari untuk tidak berhenti dalam kondisi yang tak terduga.

Ia mengambil langkah lagi, menerjang ke sisi Kaisar. Lalu, ia menebas serangan horizontal. Sekitar setengah detik berlalu sejak serangan pertama yang gagal.

Namun, Vektor bisa menghindar serangan ini.

Tubuhnya seperti asap hitam yang tertiup angin, sulit dicapai tanpa persiapan. Ujung pedang miliknya menggores permukaan armor, percikan bunga api tercipta.

Akan tetapi.

Kali ini, Bercouli yakin akan kemenangannya.

Serangan terkuat miliknya telah gagal, namun kekuatannya tidak menghilang. Armament Full Control Art milik pedang «Time Piercing Sword • Empty Slash»— sebuah kemampuan untuk ‘menebas masa depan’ telah diaktifkan. Serangan ini adalah teknik yang akan meninggalkan tebasan pada siapapun yang berada pada arah tebasan, membunuh siapa saja yang menyentuh langsung pedang tersebut; teknik ini membuat Eugeo kesulitan waktu berada dalam Katherdal.

Punggung Kaisar condong ke depan dimana tiga tebasan tak terdeteksi.

Serangan pertama mengenai rambut perak miliknya.

Mahkota di atas kepalanya hancur dengan bunyi khas logam.

Tangan Vektor terangkat ke atas seolah meminta ampun.

Bercouli bisa merasakannya, seketika, tubuh miliknya pasti akan putus menjadi dua.

Slap.

Sebuah bunyi terdengar.

Sumbernya adalah— tangan milik Kaisar yang mengepal diatas kepala belakang miliknya.

Ia menghentikan «Empty Slash» dengan tangan kosong? Tanpa menoleh?

Tak mungkin. Meskipun teknik rahasia untuk menahan tebasan pedang dengan kedua tangan telah diturunkan secara bergenerasi pada Petarung Tangan Kosong di Tanah Kegelapan, teknik tersebut bisa dilakukan jika tanganmu sekeras baja. Terlebih lagi, bahkan Pemimpin Petarung Tangan Kosong tak mungkin menahan serangan tak kelihatan dengan tangan kosong.

Pikiran ini terlintas sejenak, setelahnya, Bercouli akhirnya berhenti.

Terlebih lagi, ia hanya bisa menatap apa yang terjadi setelahnya.

Tebasan yang tertinggal di udara dihisap oleh tangan Kaisar.

Pada saat yang sama, mata biru Kaisar menjadi warna hitam pekat.

Di bagian terdalam kegelapan tersebut, banyak cahaya bisa terlihat— apakah itu, bintang - bintang…?

Bukan.

Itu Jiwa. Jiwa – jiwa yang telah ia hisap dan dikurung ada disana. Jiwa Jendral Kegelapan Shasta dan pendamping perempuannya kemungkinan juga ada disana …

“… Bangsat, kau bisa menghisap Incarnation milik orang lain?”

Pada gumaman Bercouli, Vector perlahan menurunkan tangannya yang kini telah menelan tebasan seluruhnya, lalu berkata pelan.

“Shin’i?13 … Aku paham, pikiran dan jiwa.”

Suaranya membuat tulang bergetar; seolah bisa menelan apapun. Dan sumber suara tersebut adalah bibir kecil yang kini sedang tersenyum.

“Pikiranmu seperti anggur tua yang nikmat. Kental dan kaya rasa … dengan rasa yang berat di awal. Meskipun bukan kesukaanku … pikiranmu cukup nikmat disajikan sebelum aku menikmati main course.”

Tangan pucat Kaisar kini menggenggam ujung pedang panjang yang ada di pinggangnya.

Pedang tipis yang perlahan ia tarik dari sarung pedangnya berwarna violet. Mengayunkan pelan ke bawah, Kaisar Vektor tersenyum sekali lagi.

“Nah, ijinkan aku menikmati lebih banyak.”

***

Akhirnya pedang besar berhasil menggores lengan kiri Asuna.

Rasa sakit terasa, seperti luka yang tersiram air panas.

—Ini bukan apa – apa!

Ia berpikir cepat, luka kecil di lengannya seketika langsung menghilang.

Kemudian, dengan kilatan terang, pedang miliknya berhasil menusuk dada penyerang sebanyak empat kali. Wajah si pria menyusut kemudian tertunduk ke tanah.

Asuna telah lupa berapa banyak yang telah ia bunuh.

Pada saat yang sama, ia juga tak menghitung berapa banyak waktu yang telah berlalu sejak dimulainya pertempuran di reruntuhan ini. Ia hanya yakin jika jumlah pasukan crimson yang menerjang terus menerus masih sangat banyak.

Hmph,tebasan rapier seperti ini tak akan cukup. Di Aincrad Lama, pertempuran melawan boss selama tiga atau empat jam adalah hal yang wajar.

Asuna menyemangati dirinya, melewati tubuh – tubuh tak bernyawa para penjaga, lalu menghadapi musuh baru yang menggunakan kapak perang.

Keseimbangan musuh goyah karena serangannya; Asuna langsung menyerang jantung sambil tengok kanan kiri.

Lokasi Asuna bertempur sekarang ini adalah di tengah – tengah jalanan, di sisi kanannya, Integrity Knight Renri masih terus melempar dua pisau lempar dengan tenaga dan akurasi yang konstan. Ia tampak baik – baik saja.

Masalahnya ada di sisi kiri yang dipimpin oleh Sortiliena, Penjaga yang ditempatkan disana, sangat jelas terlihat jika garis depan miliknya mulai terdorong ke belakang.

“Sayap Kiri, saling berganti antar penjaga bisakah lebih cepat! Fokuskan Art Penyembuh ke sisi tersebut”

“Asuna-sama, aku masih bisa bertarung!”

Seseorang yang merespon adalah Sortiliena di garis paling depan, ia mengatifkan teknik pedang dua tangan, «Cyclone». Pedang panjang miliknya berputar cepat dengan cahaya hijau dan menghempaskan tiga orang musuh, tetapi Liena terjatuh setelahnya. Menilai dari percakapan mereka tadi malam, para swordsmen dalam kelas bangsawan biasanya berfokus pada pertempuran satu lawan satu, jadi pertempuran panjang dengan banyak musuh seperti ini benar – benar tak adil.

Meskipun teknik pedang Liena cukup mematikan, bagi Asuna yang baru saja tiba di dunia ini kemarin, teknik tersebut terlalu kaku. Liena terlalu banyak menggunakan serangan sebelum serangan utama, sehingga senjata musuh pasti akan menggores tubuhnya sebelum teknik miliknya mencapai klimaks. Armor miliknya telah penuh bekas goresan, jejak darah ada diseluruh seragam Penjaga yang dikenakannya.

“Mundur dan istirahat dulu, Liena-san! Percaya pada teman - temanmu!”

Pada perintah Asuna, Liena menggigit bibir dan mengangguk lalu mundur sambil berkata “Aku akan segera kembali!” posisi miliknya langsung digantikan Komandan Penjaga, tetapi wajahnya cukup kelelahan.

Selain kelelahan yang dialami sayap kiri, ada hal lain yang mengganjal hati Asuna.

Pasukan crimson yang sedang mereka lawan bukanlah monster humanoid yang dikendalikan algoritma, tetapi pemain veteran asal Amerika, tempat lahirnya MMORPGs. Mereka yang telah lama akrab dengan pertarungan akan langsung sadar jika penyerbuan sederhana tak akan efektif, seharusnya mereka memikirkan strategi lain.

Apa yang akan dirinya lakukan jika situasinya terbalik? Asuna mengayunkan Rapier miliknya semakin cepat.

Seharusnya, ia akan melakukan serangan jarak jauh dari samping. Tetapi tak ada pengguna Art diantara musuh, dan jikapun ada, mereka tak akan langsung paham mengenai bahasa Art dalam Underworld yang begitu rumit dalam waktu singkat.

Selain Art, ada juga pemanah. Untungnya, hanya ada pemanah di Pasukan Penjaga, musuh tak bisa menggunakan akun pemanah. Usaha terakhir mereka adalah mengayunkan senjata dengan kedua tangannya, tetapi tindakan itu pasti membuat mereka tak cukup cepat, karena jika senjata mereka terlempar, mereka tak akan bisa ikut dalam peperangan ini setelahnya.

Sepertinya musuh tak memiliki banyak pilihan.

Lalu, ia semakin yakin bisa mengalahkan sepuluh ribu pasukan musuh.

Tepat setelah Asuna memikirkan hal tersebut—

Pintu masuk kuil dikelilingi kegelapan.

Cahaya matahari terblokir oleh perisai besar di garis depan musuh juga tombak – tombak yang diacungkan kedepan.

Pengguna Tombak!

“Ber… Bersiaplah menahan serangan!! Berusahalah untuk bisa meghindari ujung tombak!! Dekati musuh agar bisa menyerang mereka!”

Tepat setelah Asuna berteriak, dengan suara dentingan logam, tombak – tombak besar melaju lurus ke depan secara bersamaan.

““”Assaaaaaaaaaault!!”””

Sebaris penuh 20 pengguna tombak berteriak lalu mulai melaju.

Para Penjaga mulai tertekan oleh serangan ini. Kumohon, tolong tenanglah, Asuna berdoa dalam diam sambil memandang pengguna tombak yang melaju langsung ke arah mereka. Pengguna tombak melaju lurus ke arah mereka.

Tunggulah sampai saatnya dan — Cling!

Cahaya kekuningan bersinar dari ujung rapiernya dan ditujukan pada pengguna tombak.

“… Haaah!!”

Sambil berteriak, ia menancapkan rapier miliknya ke armor musuh, melihat ke depan, ia melihat jika rapier miliknya menusuk tenggorokan musuh. Dengan daya dorongan, darah menyembur ke seluruh pelindung kepala miliknya.

Teriakan yang terdengar bukan saja dari musuh, tetapi dari para Penjaga.

Beberapa penjaga yang berada di sayap kiri tak berhasil menahan pengguna tombak, mereka tertusuk - tusuk.

“Gh……….!!”

Mengeraskan giginya, Asuna meninggalkan posisinya dan berlari ke kiri. Dengan tebasan «Linear», ia menusuk pasukan crimson yang menarik tombaknya dari penjaga yang telah tewas. Mau menggenggam pedang berlumuran darahnya lagi, Asuna memotong kedua tangannya dan melancarkan dua tusukan, «Parallel Sting».

Asuna berhasil menghindar tusukan tombak ketiga dengan melompat ke atas. Mendarat di tombak, ia berlari ke bahu musuh, mencopot helm miliknya dan menusukkan rapier ke leher musuh.

Musuh terjatuh sambil berteriak. Kini mundur, Asuna berteriak:

“Bawa yang terluka ke bagian belakang! Sembuhkan mereka!!”

Menilai sekeliling sekali lagi, tampaknya Knight Renri dan para Penjaga mengalami kesulitan menghadapi pengguna tombak, enam orang Penjaga telah mengalami luka parah karena tertusuk tombak. Tiga diantaranya sepertinya tak bisa ditolong.

Jika musuh mengulangi strategi ini, pasukan Pertahan Kerajaan Manusia tak akan mampu menahan kondisi ini karena kalah jumlah.

Ketakutannya menjadi kenyataan. 20 orang pengguna tombak selanjutnya siap untuk menerjang.

Asuna memandang musuh yang akan datang lalu memandang jika dirinya telah berada di tengah – tengan medan pertempuran.

Disana ada seorang Penjaga yang masih sangat muda, mencoba mengontrol pedangnya, meskipu kakinya gemetaran.

“AH………!!”

Berteriak kencang, Asuna berlari ke kanan.

Ia melaju menuju Penjaga muda yang masih membatu dan pasukan tombak yang akan datang. Rapier miliknya tak akan tepat waktu untuk menahan serangan tersebut. Ia hanya bisa menjangkau ujung tombak dengan ujung tangannya.

Jika ini adalah dunia VRMMO, maka Asuna yang memiliki reaksi kecepatan dan kekuatan pasti akan mampu menahannya. Tetapi di Underworld, parameter yang tak bisa dihitung yang mana berbeda dengan SAO dan ALO, ada.

Tombak baja menusuk ke perutnya—

Daya dorong terasa di seluruh tubuhnya. Tak bisa mengutarakan suara, Asuna dengan diam melihat ke samping, sebuah logam telah menusuk ke perut miliknya.

***

Meminimalkan gerakan akan meningkatkan efektifitas pedang miliknya.

Bagi Komandan Knight Bercouli, teknik pedang milik Kaisar Vektor benar – benar berbeda dari style pedang yang pernah ia lihat sebelumnya.

Pertama, ia hampir tak pernah menggunakan kakinya. Ketika ia menghindari serangan, ia hanya menggeser dirinya dari pijakan. Juga, ketika ia mau menyerang, ia tak kelihatan melakukan persiapan. Pedang yang ia genggam agak renggang akan tiba – tiba meluncur ke jarak paling dekat.

Singkatnya, memprediksi gerakannya sangat tak mungkin. Bercouli bahkan hampir tak bisa menahan lima serangan kuat milik Kaisar.

Tetapi lima serangan sudah cukup.

Karena pengalaman bertarung miliknya, Bercouli yang sudah mengamati teknik Vektor mulai menyerang balik ketika Kaisar hendak memulai serangan ke enam.

“Hsss!”

Melepaskan sedikit semangatnya, ia menebaskan tebasan ke arah kepala sebelum Vektor bisa melakukannya.

Bersama bunyi logam, percikan putih menyembur ke segala arah.

Kedua pedang saling bertabrakan di tengah udara. Dari sini, hanya adu kekuatan saja. Pedang milik musuh terdorong ke bawah. Tampaknya tak bisa menahan tekanan, tubuh Vektor mulai membungkuk.

Ini saat – saat kritis!!

Bercouli memasukkan Incarnation dalam pedang miliknya. Pedang baja tersebut bercahaya perak. Time Piercing Sword perlahan menekan pedang hitam Vektor, sampai ke pundaknya, dan menggores armor—

Tiba – tiba, pedang Vektor mulai memunculkan cahaya.

Pendar tersebut seperti makhluk hidup, membungkus Time Piercing Sword. Pada saat yang sama, cahaya perak milik Time Piercing Sword menghilang, seolah dihisap.

Apa ini?

Tidak…

Apa, apa yang aku lakukan …?

Dengan suara gemercik, ia merasakan rasa dingin di punggung kirinya. Bercouli membuka matanya, melompat ke belakang, mengambil nafas panjang, dan mendapatkan kembali kesadarannya yang hilang sejenak.

Apa itu tadi?

Seseorang sepertiku, ada di medan peperangan ini!

Berpikir keras, Bercouli sadar jika tak sepele itu.

Kegelapan menyelimuti pikirannya sehingga ia tak tahu mengapa ia disini, atau megerti alasannya.

“Sialan… kau menghisap Incarnation milikku lewat pedangku?”

Bercouli memaki dengan suara rendah.

Jawaban musuhnya hanya senyum sunyi.

Ia memandang bahu kirinya. Hanya goresan, namun cukup dalam.

“Hmph… Sungguh menarik, benar kan, Kaisar? Tetapi tak bisa mengayunkan pedang sungguh menyusahkan.”

Bercouli terkekeh. Berbeda dengan Vektor yang tersenyum dan bergumam.

“… Benar. Yah, ada hal lain yang belum aku coba.”

Setelah itu, ia menjulurkan pedang di tangan kanannya ke depan, tetapi bagaimanapun kau melihatnya, cukup jauh jarak mereka berdua. Tak mungkin pedang tersebut mengenainya—

Dari ujung pedang yang terangkat, sebuah tembakan cahaya biru gelap muncul.

Tak mungkin, dari jarak jauh?!

Tepat ketika ia menyimpulkan, cahaya tembakan tersebut menyentuh dadanya.

Kesadarannya menghilang bagaikan api lilin yang tertiup angin.

Pedang panjang milik musuh menjangkau Komandan Knight, turun lurus menuju lengan kirinya— namun ia hanya berdiri disana, hanya bisa menonton kejadian tersebut.

Pedang musuh terayun dari atas.

Dengan bunyi khas, lengan kokoh Bercouli tertebas dari tubuhnya.

***

“Ku… u… ughh!!”

Asuna berhasil menahan jeritannya yang hampir keluar. Rasa sakit yang amat sangat— seperti terkena semburan api secara terus menerus hingga batas rasa sakit.

Rasa sakit ini bukan apa - apa!

Hanya goresan, tak terasa apa – apa!!

Tombak hitam yang menancap di perut kiri Asuna telah menembus keluar sejauh setengah meter.

Asuna memutar kepalanya untuk melihat. Ujung tombak tersebut hanya menyentuh pipi si Penjaga muda yang berdiri melongo. Dengan sekuat tenaga ia tersenyum pada laki – laki tersebut, ia menatap pucat pada Asuna.

Dibandingkan nyawa berharga anak ini … apalah arti luka virtual?!

“Ungh… Ah!!”

Berteriak hebat, Asuna memasukkan kekuatan ke tangan kirinya, lalu menggemggam tombak yang menembus tubuhnya.

Dengan bunyi retakan, logam yang berdiameter lima cen patah dengan pukulannya. Ia lalu mengambil tusukan tombak yang ada di punggung dan menariknya.

Kunang – kunang menari di matanya, dan rasa sakit kesemutan mengalir dari ujung jari hingga kakinya. Tetapi tangan Asuna tak peduli, ia menarik tombak tersebut dengan brutal dan melemparkannya ke tanah.

Darah menyembur dari mulut serta bekas luka di perutnya, tetapi tubuhnya masih tetap berdiri tegak. Asuna mengelap darah yang ada di mulut lalu menatap musuh dengan pandangan murka.

Pemilik tombak tersebut berkedip beberapa kali, matanya kebingungan.

“Oh, gosh.”

Berucap dalam bahasa inggris.

“… The hell, man… This type of game isn’t fun at all. I’m logging out.”

Setelah mendengar kata – kata tersebut, Asuna menusuk jantung musuh menggunakan Rapier di tangan kanannya. Tubuh musuh tertunduk lalu menghilang dengan efek pecahan.

Nyeri di perutnya tidak membuat Asuna menangis, namun matanya berlinangan air mata.

Rasa sakit dan kebencian yang memenuhi medan peperangan ini seharusnya tak terjadi dari awal.

Pemain Amerika dan Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia tak memiliki alasan untuk saling bantai. Jika kondisi mereka bertemu berbeda, kedua sisi seharusnya bisa menjadi teman— seperti yang Asuna alami.

Dunia Virtual … dunia VRMMO seharusnya tidak seperti ini.

“T… To… Tolong… Gh!”

Sebuah teriakan dalam bahasa jepang memasuki telinga Asuna. Menoleh, ia melihat tombak besar menusuk seorang Penjaga yang tak bisa bergerak di tanah.

“U… AAAAAAAHH!!”

Emosi Asuna tak bisa ditahan ketika ia melaju ke sana.

Rapier di tangan kanannya menebas tiada henti dan cahaya yang muncul dari ujungnya membungkus tubuh Asuna; kaki Asuna meninggalkan tanah ketika ia melaju lurus seperti komet. Serangan lurus tertinggi bagi rapier miliknya, «Flashing Penetrator».

Pemegang tombak yang hendak membunuh Penjaga terhempas ke udara, juga teman yang ada di belakangnya. Musuh ketiga juga terhempas.

Setelah menerbangkan musuh keempat yang ada di bawah patung besar, sword skill miliknya berhenti kemudian ia berbalik, menghembuskan nafas.

Gelombang kedua serangan tombak telah menyebabkan lima orang tewas di Pasukan penjaga. Bersamaan itu juga, gelombang ketiga serangan tombak hendak bersiap - siap.

Asuna menarik rapier miliknya dari mayat musuh lalu berteriak.

“Semua pasukan, jangan meninggalkan posisimu! Renri-san, tolong ke sini!”

Asuna membuat senyuman kecil, memastikan Knight muda yang melihat sosoknya yang berlumuran darah di sana – sini agar tenang.

“—Aku akan menghancurkan formasi musuh. Kuserahkan musuh yang berhasil lolos padamu.”

“A… Asuna-sama?!”

Asuna mengangkat tangan kirinya ke atas pada Renri dan para Penjaga yang kelelahan.

Kemudian, ia berlari.

***

Pusat keseimbangan Bercouli tiba – tiba bergoyang, dan apa yang menyebabkannya adalah lengan kirinya yang terjatuh ke tanah.

Apa yang menyadarkannya bukanlah rasa sakit, tetapi rasa kengerian yang dingin.

“Guh…!”

Ia melompat ke belakang, berusaha menjaga jarak antara dirinya dan Vektor.

Percikan darah dari lengan kirinya bercucuran di pilar batu.

Apa – apaan ini?

Ia mengarahkan pedangnya padaku, dan kesadaranku dipaksa menghilang …?

Bercouli mengangkat kedua jarinya yang menggenggam gagang Time Piercing Sword untuk menyembuhkan luka, memeras otak secepat mungkin. Healing Art yang tak dilafalkan dengan cepat menghentikan percikan darah dengan bekas cahaya kebiruan. Akan tetapi, tak ada cukup Sacred Energy di bebatuan sekitar sini untuk menyambungkan lengan miliknya.

Bagaimana aku menghadapi musuh seperti ini?

Armament Full Control Art «Time Piercing Sword • Empty Slash» miliknya tak efektif. Incarnation yang ada pada tebasan akan dihisap oleh musuh.

Pilihan terakhir miliknya adalah menggunakan Release Recollection Art «Arcane Slash». Tetapi jika ia menggunakan teknik itu lagi, ia harus mendapatkan saat yang tepat. Pertama, musuh tak boleh mengganggu serangannya. Kedua, harus sangat akurat …

Bercouli menyeka keringat yang ada di dahinya dengan cepat.

Lalu, ia menyadari.

Aku sangat putus asa.

Entah mengapa, aku tak punya hal lagi yang bisa diandalkan.

Dengan kata lain, disinilah aku akan mati. Serangan selanjutnya mungkin akan menyebabkanku mati.

“… Heh.”

Setelah menyadari kondisinya, ketimbang berkerut, Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One malah menyeringai.

Matanya berpaling dari Kaisar Vektor menuju Knight emas yang pingsan dibalik Kaisar Vektor— Alice Synthesis Thirty.

Nona Kecil.

Aku masih belum bisa memberi apa yang kamu inginkan, Nona Kecil. Aku belum bisa memberikan kasih sayang seorang ayah. Karena, aku sendiri juga tak bisa mengingat apapun mengenai orang tuaku.

Tetapi, ada satu hal yang pasti.

Mereka yang disebut orang tua pasti akan melindungi anak mereka.

“Bajingan sepertimu … tak akan bisa mengerti, dasar monster!!”

Bercouli menjejak pilar dan maju kedepan.

Tanpa menyiapkan rencana, ia mengisi segala sesuatu yang ada dalam dirinya menuju pedang, si Knight tertua tersebut berlari.

Sword Art Online Vol 17 - 155.jpg
***

“Ga… Hah…”

Batuk darah keluar dari mulutnya dan tumpah ke tanah yang ia pijak.

Asuna masih tetap berdiri, bahkan jika ia hanya bisa menggenggam Rapier di tangan kanannya. . Setelah menahan gelombang tombak ketiga dan keempat, ia terluka sepuluh kali lipat di seluruh tubuh. Armor dan pakaian mutiara putih miliknya kini robek dan darah ada dimana – mana.

Setelah menerima serangan langsung dari tombak hingga membuat lubang di tubuhnya, sungguh heran mengapa ia masih bisa bergerak. Faktanya, HP miliknya yang sangat banyak tidak menurunkan kekuatan miliknya.

Tubuh ini akan tewas jika hatiku lengah.

Jadi, aku harus tetap berdiri.

Seluruh tubuhnya telah mati rasa. Hanya rasa panas yang menyelimuti seluruh indranya, hingga membuat pandangannya agak kabur.

Gelombang pasukan tombak kelima mulai muncul di pandangannnya yang kabur, lalu ia mencabut Rapier miliknya dari tanah.

Ia sudah tak bisa menghindar secara langsung. Ia hanya bisa menghentikan tombak dengan tubuhnya lalu melancarkan serangan sword skills.

Rapier seberat bulu milik Asuna kini seolah menjadi cukup berat di genggamannya, tetapi kini ia mengangkatnya dengan kedua tangan, menunggu kedatangan musuh.

“—Go!!”

Tanah berguncang, 20 orang pengguna tombak mulai melaju.

Boom, boom, boom boom boom boom…

Dalam suara langkah kaki, suara bergema terdengar dari suatu tempat.

Mata Asuna terangkat ke atas.

Dari langit merah, garis – garis mulai berjatuhan. Garis tersebut seperti kode digital.

Bala bantuan… untuk musuh…?

“…… Ahh……”

Dalam jeritannya, ia merasa sangat khawatir dan ketakutan.

Tetapi—

Warna garis tersebut bukanlah warna crimson, tetapi biru tua seperti warna langit fajar.

Asuna tak bisa melihat warna tersebut, ia hanya menyaksikan dengan kedua matanya, menunggu apa yang akan terjadi.

Garis – garis tersebut berhentii sepuluh meter di atas tanah; kode digital tersebut mulai memadat dan bercahaya, menjadi sosok manusia.

Voom.

Udara bertiup, dan sosok – sosok tersebut mulai berputar. Seperti angin tornado, sosok tersebut akhirnya turun.

Tepat dibawahnya, ke 20 pengguna tombak berhenti dan juga menatap atas seperti orang bodoh.

Tornado biru tersebut mendarat di tengah formasi musuh.

Kemudian, pasukan crimson berhamburan.

Darah. Pasukan musuh yang terkena tornado tersebut terpotong – potong, darahnya tertiup angin ke berbagai arah.

Akhirnya, di tengah pasukan tombak yang tewas, tornado tersebut mulai melambat dan membentuk sosok manusia.

Sosok tersebut memunggungi Asuna, tubuhnya langsing namun tinggi. Ia mengenakan armor khas jepang. Tangan kirinya menggenggam sarung pedang di pinggang, dan tangan kanannya menggenggam pedang panjang, bukan, sebuah katana, yang kini ia acungkan ke depan musuh.

Asuna telah melihat serangan itu sebelumnya, di dunia lain.

Sebuah Sword Skill.

Serangan berat senjata katana— «Tsumujiguruma».

Sosok tersebut akhirnya berdiri, memanggul katana miliknya ke punggung, lalu ia memandang Asuna.

Dibawah bandana miliknya, wajah agak berjanggut menyeringai padanya.

“Hei, maaf membuatmu menunggu, Asuna.”

“K… lein…?”

Asuna tak bisa mendengar suaranya sendiri.

Tiba – tiba, getaran yang sama juga terdengar di seluruh langit. Meskipun efek suara yang ditimbulkan hampir sama ketika pemain Amerika muncul, namun bagi Asuna, suara ini adalah suara malaikat yang akan turun.

Lalu ribuan cahaya biru kode digital mulai turun satu persatu dari langit merah.

***

Terpotong.

Kesadaran menghilang.

Rasa sakit menmuatnya terbangun.

Bercouli telah lupa berapa banyak ia telah melalui proses tersebut.

Melalui pertarungan ini, Kaisar Vektor tak pernah memberikan serangan fatal. Tetapi Bercouli tahu jika darah yang mengalir dari luka – lukanya, adalah Life miliknya yang semakin menghilang.

Tetapi karena kekuatan imajinasi yang ia kuasai selama dua ratus tahunan, ia berhasil mengusir rasa takut dan kengerian miliknya, ia hanya memikirkan satu hal dalam pikirannya.

Menghitung.

Lebih tepatnya menghitung waktu.

Bercouli memiliki kemampuan khusus untuk mengkonfirmasi waktu menggunakan pikirannya, dan sekarang ia bergantung pada kemampuan tersebut lalu mengingatnya. Bahkan ketika pikirannya menghilang karena pedang Kaisar, ia masih tetap menghitung dalam bawah sadar.

Empat ratus delapan puluh tujuh.

Empat ratus delapan puluh delapan.

Bercouli menghitung sambil meluncurkan serangan yang tak berarti.

“… Teknik pedang milikmu … sepertinya tak berhasil menggoresku … wahai komandan.”

Empat ratus sembilan puluh lima.

“Kau tak akan mampu membunuhku dengan teknik pedang seperti itu ….”

Empat ratus sembilan puluh delapan.

“Lihat ini, aku masih belum selesai.!”

Sambil berteriak, ia mengayunkan pedangnya ke depan.

Lima ratus.

Pedangnya menyentuh pedang Kaisar.

Incarnation terhisap, pikirannya buyar.

Ketika ia sadar, ia telah berlutut, darah menetes dari pipi kirinya.

Lima ratus depalan.

Hampir sampai, kumohon bertahanlah.

Bercouli berdiri kesulitan, dan memandang Kaisar yang ada di belakangnya.

Pandangan jijik muncul pada wajah tak berekspresi miliknya. Alasannya adalah ketika ia menebas pipi Bercouli, darah miliknya menyiprat di pipi Vektor.

Vector mengelap noda tersebut dan berguman.

“… Sudah cukup.”

Ia mengambil langkah ke depan menuju genangan darah yang diciptakan Bercouli.

“Jiwamu terlalu berat. Terlalu kental. Terasa di lidahku. Dan kini membosankan, kau hanya berpikir untuk membunuhku.”

Kaisar berkata dengan nada datar, lalu mengambil satu langkah lagi ke depan.

“Matilah.”

Terangkat pelan, pedang hitam memunculkan cahaya menyilaukan.

Ekspresi Bercouli tidak berubah, tetapi ia menggeramkan giginya.

Sedikit lagi. Tinggal tiga puluh detik.

“Heh… Jangan berkata seperti itu. Aku masih bisa … menahannya.”

Komandan Knight mengambil langkah ke depan, dan dengan gemetaran ia mengangkat pedang panjang miliknya.

“Kemana kau akan.... pergi. Kemana kau akan melangkah. Oh, disana…?”

Dengan cahaya redup di matanya, Komandan Knight mengayunkan pedangnya.

Clog. Ia menebaskan pedang ke suatu arah, lalu semakin gemetar.

“Ah… Ataukah … disini…?”

Ia melancarkan tebasan lain walaupun agak lemah. Lalu, ia menyeret kakinya yang mati rasa, Bercouli menebas ke arah secara acak.

Kerena pandangannya mulai buram karena kehilangan banyak darah, pikirannya juga menjadi kabur— ia sudah tahu akan hal ini.

Akan tetapi, ini adalah tindakan terakhir milik Komandan Knight.

Mata biru miliknya yang sudah kehilangan cahaya hanya berfokus pada satu hal.

Jejak kaki.

Hampir sepuluh menit melakukan serangan tak berarti, Bercouli telah menumpahkan darahnya ke bebatuan yang ada di kakinya. Meskipun tidak luas tetapi dua jejak kaki bisa terlihat jelas, ada jejak sepatu milik Kaisar Vektor dan sandal kulit milik Komandan Knight, bisa terlihat jelas dan mudah dibedakan.

Dengan kata lain, ini adalah jejak pergerakan keduanya.

Walaupun begitu, Bercouli telah mencari jejak kaki milik Kaisar yang telah mengering ketika ia menebas lengan Bercouli sepuluh menit lalu.

Setelahnya, Bercouli mulai menghitung meskipun tak sadar.

Itu berarti, ia bisa mengetahui kemana Kaisar Vektor bergerak sepuluh menit lalu. Lalu, jejak kaki yang ia buat berhasil merekam kemana ia melaju, dan dimana ia berhenti.

Lima ratus depapan puluh sembilan.

Lima ratus sembilan puluh.

“Oh… Aku menemukanmu …”

Bercouli bergumam, semakin gemetaran ketika ia mengayunkan Time Piercing Sword.

Ini adalah serangan terakhirnya.

Baik itu pedang maupun pemiliknya, keduanya telah mencapai batas Life mereka.

Dan Bercouli semakin kelelahan, ia mengaktifkan Release Recollection Art milik Divine Instrument-nya, Time Piercing Sword.

«Time Piercing Sword • Arcane Slash».

Kebalikan teknik «Empty Slash» yang bisa menebas masa depan, teknik «Arcane Slash» bisa menebas masa lalu.

Dalam Main Visualizer dari Underworld, pergerakan semua manusia telah direkam selama enam ratus detik, atau sepuluh menit.

Time Piercing Sword bisa merusak rekaman ini, menyebabkan sistem salah mengenali lokasi seorang manusia saat ini menjadi lokasi masa lalu.

Sebagai hasilnya, pedang yang tadi dilancarkan bisa berpindah ke tubuh seseorang yang ada di masa lalu. Tak bisa dihindari, tak bisa diblokir, sesuai namanya, teknik ini seolah mempecundangi teknik pedang lain dan kerja keras seorang swordsmen.

Itulah sebabnya Bercouli selalu berpikir dua kali sebelum mengaktifkan «Arcane Slash». Ketika bertarung melawan Eugeo, walaupun terkena Release Recollection Art dari Blue Rose Sword, ia memutuskan tak akan menggunakan teknik ini karena ia bisa menang dengan mudah. Ia tahu jika Pemimpin tetua Chudelkin akan menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap Gereja Axiom.

Tetapi karena lawannya Kaisar Vektor yang memiliki kekuatan melebihi dirinya, ia tak perlu berpikir dua kali.

Ketika Kaisar Vektor turun dari naganya, Bercouli mengambil keuntungan tentang fakta bahwa musuhnya hanya terbang lurus dengan kecepatan tetap sehingga ia bisa mengetahui lokasi terbang sepuluh menit sebelumnya. Namun, karena jarak dekat, ia harus benar – benar memastikan lokasinya dengan sangat tepat.

Tentu saja, jika ia bisa mengingat lokasi musuh sepuluh menit lalu, ia bisa mengaktifkan teknik ini. Tetapi menggunakan cara tersebut, jika pengaktifan teknik pedang miliknya terganggu oleh musuh, akan menjadi sulit untuk menghitung sepuluh menit lagi.

Tepat seperti ini.

“Kau kelihatan mengincar sesuatu.”

Kaisar Vektor mendekat, dan Bercouli dipaksa menghindari Incarnation berwarna biru gelap dari pedang panjang musuh. Seperti itu, «sepuluh menit masa lalu» yang telah ia rekam menghilang selamanya.

Aku melewatkan kesempatanku.

Bercouli sekali lagi menyiapkan Time Piercing Sword miliknya yang akan mengaktifkan Release Recollection.

Ia berada di ujung tanduk.

Karena Kaisar telah menyadari jika ia mengincar sesuatu, ia akan langsung mengaktifkan serangan terakhir miliknya. Kenyataannya, cahaya Incarnation pedang panjang milik Vektor telah melaju ke arah Bercouli.

Berusaha melawannya, Komandan Knight berusaha menghindar sekuat tenaga.

Berguling.

Berguling, berguling, dan terjatuh. Ia tahu sejak lama jika ia akan menjumpai maut dengan cara sulit.

Tiga kali, empat kali.

Tepat pada serangan kelima, Bercouli berhasil menghindari semua serangan.

Tetapi setelahnya, cahaya kebiruan berhasil menyentuh tubuhnya.

Kesadarannya berhasil menghilang.

Ketika Bercouli membuka matanya lagi, apa yang ia lihat adalah pedang panjang Vektor yang menembus kedalam perutnya.

Dengan suara whoosh, pedang tersebut tertarik, sisa – sisa Life milik Komandan Knight menyembur lagi.

Ketika ia terjatuh ke belakang, ia melihat—

Sosok naga yang terbang tinggi di langit, kini melaju ke bawah dengan kecepatan mengerikan.

Hoshigami.

Hei, kau kusuruh berjaga kan? Mengapa kau menentang perintahku, kau tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, benar kan?

Sang naga membuka lebar mulutnya, api kebiruan mulai menyembur.

Melawan serangan seperti itu yang berhasil memusnahkan ribuan pasukan, Kaisar Vektor kini merentangkan tangan kirinya dan menangkapnya.

Armor hitam yang ada di tangannya berhasil memantulkan api ke segala arah. Api berhamburan ke segala arah.

Pedang di tangan Kaisar menembakkan cahaya biru gelap sekali lagi, menembus api biru dan menusuk tepat ke kepala Hoshigami. Naga Bercouli menerima teknik pedang berkekuatan penuh yang berhasil mengontrol naga Dark Knight Order sebelumnya— tetapi gerakannya tidak terhenti.

Kebalikannya, Hoshigami mengubah seluruh Life miliknya menjadi sinar putih yang ditembakkan dari sayapnya, langsung ke arah Kaisar berada.

Rasa jijik muncul lagi dari wajah Kaisar; ia mengangkat pedangnya tinggi – tinggi dan dan menusukkan tusukan menuju rahang sang naga, berusaha menghancurkannya. Cahaya gelap menyelimutinya, menghisap Life sang naga dan menghancurkan tubuhnya berkeping - keping.

Hoshigami telah memberikan Life miliknya untuk mengalihkan perhatian Kaisar selama tujuh detik—

Bercouli tak akan menyia – nyiakan kesempatan tersebut.

Komandan Knight bisa merasakan nafas terakhir milik naga tersayangnya yang telah menghabiskan seluruh hidupnya bersama Bercouli lalu mengayunkan Release Recollection Time Piercing Sword tinggi – tinggi.

Teknik untuk mengingat “posisi musuh sepuluh menit lalu” hanya bisa diaktifkan setiap sepuluh menit sekali.

Namun, rekaman pergerakan yang ada di tanah bisa menunjukkan posisi musuh sepuluh menit sebelumnya.

Tujuh detik setelah Bercouli menatap posisi dimana ia tidak bisa melakukan serangannya, jejak kaki Kaisar bisa terlihat, ia lalu meluncurkan serangannya.

Ada karakteristik lain pada teknik «Time Piercing Sword • Arcane Slash».

Dengan memasuki system secara langsung, kekuatan pedang ini bisa “menghapus nilai Life dari target yang akan ditebas”. Terlebih lagi, serangan ini tak akan bisa ditahan bahkan oleh sebuah Incarnation.

Benar, kemampuan Kaisar Vektor untuk menonaktifkan dan menghisap semua serangan Incarnation tak akan bisa diaktifkan.

Terus, nilai Life tak terbatas milik Vektor langsung terubah menjadi nol.

Sebagai hasilnya, tubuh Kaisar langsung terpotong dari bahu hingga pinggang kanannya.

Bahkan ketika tubuhnya terpotong menjadi dua, ekspresi wajah Kaisar Vektor masih tetap pucat tanpa ekspresi. Mata birunya hanya menatap kosong menuju langit.

Sesaat setelah tubuh atasnya mendarat ke tanah, di sekitar dadanya, cahaya hitam menyembur, menciptakan ledakan tak bersuara.

Setelah ledakan berhenti, tak tersisa jejak tubuh maupun keberadaan Kaisar Vektor.

Sedetik kemudian, Time Piercing Sword yang telah kehabisan Life hancur menjadi debu dengan suara menyedihkan.

***

begitu hangat.

Aku ingin berada disini lebih lama.

Terbangun dari tidurnya, Integrity Knight Alice tersenyum kecil ketika masih diantara batas bangun dan tidur.

Menghalau sinar matahari.

Ia mulai berdiri dengan kedua kakinya.

Sebuah tangan dengan lembut membelai rambutnya.

………Ayah.

Sudah berapa lama ia berbaring disini? Ia telah lama merindukan masa – masa tenang seperti ini … Perasaan terlindungi, tak mengkhawatirkan apapun.

Ahh… Tapi, sudah saatnya untuk bangun.

Lalu, Integrity Knight Alice membuka kelopak matanya.

Yang muncul di depan matanya adalah sosok swordsman berumur, matanya menyipit ketika ia memandang Alice.

Di wajah dan dadanya, terdapat bekas luka. Luka tersebut kini bertambah karena luka yang kini bertambah.

“……… Paman?”

Alice berbisik, akhirnya ia benar – benar sadar.

Benar, aku telah diculik Kaisar Vektor. Beneran nih, aku benar – benar ceroboh, aku maju tanpa berpikir panjang.

Tetapi seperti prediksi Paman, bahkan ketika aku tertangkap oleh musuh, ia akan menyelamatkanku. Selama orang ini ada disini, aku bisa merasa aman.

Tersenyum lagi, Alice berdiri. Ia menyadari luka yang ada di wajah dan dada Komandan Knight, ia menghembuskan nafas lega.

Lengan kirinya terpotong dari atas bahu. Jubah miliknya berlumuran darah kering. Dan dibawah dadanya, luka mengerikan berada.

“P… Paman… !! Paman Bercouli!!”

Alice berteriak dan mengulurkan kedua tangannya, jari milik Alice menyentuh pipi Komandan Knight Bercouli.

Lalu ia menyadari jika Knight tertua di dunia ini telah menghabiskan Life miliknya.

***

Aw, jangan menangis seperti itu Nona Kecil.

Kematian pasti akan datang, hanya saja datang sekarang, benar kan?

Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One berkata ramah ketika ia melihat kebawah pada Alice yang memeluknya. Namun suaranya tak bisa keluar.

…Nona Kecil, jika ini kamu. Aku akan baik – baik saja. Bahkan jika sendirian, kamu akan bisa terus hidup.

Karena, kamu ini muridku.... putriku.

Pemandangan dibawah kini meninggalkan mata Bercouli. Membuat senyum terakhir pada murid kesayangannya, matanya kini menatap langit utara di kejauhan.

Ia memikirkan seorang knight wanita lain yang ada jauh disana..

Ia tak tahu apakah mereka akan sukses atau tidak, tetapi saat ini, hati miliknya terisi oleh perasaan mendalam setelah menemui ujung hidupnya yang mana ia pikir akan hidup abadi.

… Yah,tak begitu buruk kok, benar kan?

“Ya, kau harus bersyukur karena ada orang – orang yang menangis untukmu.”

Ketika ia menoleh menuju sumber suara, ia melihat seorang gadis melayang disana, tubuh telanjangnya tertutupi rambut perak.

“… Hei, jadi kau masih hidup.”

Bercouli mengangkat bahunya, dan Pemimpin Tertinggi Administrator berkedip dan tersenyum.

“Tetapi itu tak mungkin, benar kan? Bisa muncul dihadapanmu, aku ini ingatan dalam dirimu. ‘Aku’ Cuma ingatan Administrator yang tersimpan dalam jiwamu.”

“Hmm, aku masih tidak begitu paham … tetapi, jika kau ini ada dalam ingatanku. Aku senang kamu bisa tersenyum seperti ini.”

Bercouli merespon sambil menyeringai, dan tiba – tiba disampingnya ada naga tersayang milik Bercouli, Hoshigami. Ia menjulurkan leher panjangnya menuju tubuh Bercouli.

Komandan Knight dengan lembut memegang leher peraknya. Lalu ia melompat bersama Pemimpin Tertinggi keatas.

“Apa kamu membenciku?” Komandan Knight hanya bisa menggeleng. “Apakah kamu tak membenciku yang telah membuatmu hidup abadi dan menghapus ingatanmu berulang kali?”

Setelah beberapa saat, Bercouli menjawab.

“Meskipun memang benar dan cukup bosan, yah, hidup yang aku jalani cukup menyenangkan.”

“… Sungguh?.”

Berpaling pada jawaban Administrator, Bercouli menarik tali kekang Hoshigami.

Sang naga membentangkan sayap transparan miliknya, lalu perlahan terbang menuju langit luas.

***

Dibawah langit berbintang—

Di tanah kering sekitar reruntuhan «Gerbang Besar Timur». Di sebelah timur dan barat reruntuhan, sepuluh ribu pasukan Tanah Kegelapan yang tertinggal dan empat ribu Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia telah membentuk formasi, bersiap untuk saling serang.

Karena Kaisar Vektor telah menghilang tanpa jejak, pasukan Tanah Kegelapan tak bisa bergerak bebas. Pasukan Penjaga juga kebingungan sehingga mereka juga tak bergerak.

Didekat reruntuhan gerbang hanya terdengar suara angin, ada sosok knight wanita. Dia adalah Integrity Knight yang tinggal untuk memimpin Pasukan utama, Fanatio Synthesis Two. Ia telah memerintahkan Penjaga dan regu Ascetics untuk beristirahat akan pertempuran yang akan terjadi, tetapi dirinya sendiri tak bisa tidur di tenda. Sehingga ia berjalan sendiri di reruntuhan Gerbang Besar Timur.

Langit malam telah lama berlalu. Solus telah tenggelam di langit merah Tanah Kegelapan dan langit biru Kerajaan Manusia.

Lebih dari satu setengah hari berlalu sejak pasukan pengecoh Kerajaan Manusia berangkat menuju bagian selatan Tanah Kegelapan. Meskipun ia tahu mengenai misi mereka tak akan mudah, ia harus menunggu disini.

Tepat ketika Fanatio menutup matanya, ingin berdoa pada ketiga dewi agar mereka bisa kembali dengan selamat—

Matanya terbuka mendadak.

Ia merasa pria yang ia cintai sedang berbicara di telinganya.

Maaf, Fanatio. Tampaknya kita tak akan bisa bertemu lagi.

Aku menyerahkan sisanya padamu. Biarkan anak itu hidup bahagia …

Belum lama ini, Fanatio telah mendengar perkataan yang sama. Itu adalah perkataan ketika Komandan Knight Bercouli hendak bernagkat.

Berpakaian armor silver, tangan Fanatio menyentuh perutnya dengan lembut.

Nyawa baru yang ada di tubuhnya adalah sesuatu yang terjadi tiga bulan lalu. Bercouli, yang mana telah pergi selama lebih dari seratus tahun tanpa menyentuh Fanatio, ia mungkin telah memprediksinya ketika ia melanggar taboo.

Memprediksi kematiannya sendiri.

Merasakan jika Life milik Komandan Knight Bercouli telah menghilang di kejauhan sana, Fanatio perlahan tertunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Tak bisa menahan, ia terisak.

Alasan mengapa Bercouli selalu menjauh dari Fanatio maupun perempuan lain, ia pernah mendengarnya dahulu kala.

Pria dan wanita di Kerajaan Manusia hanya bisa menikah dibawah pengawasan pendeta Gereja Axiom, dan hanya bisa membuat seorang anak melalui sebuah kontrak. Namun seorang Integrity Knights berperan juga sebagai seorang pendeta dan tak memerlukan pesta pernikahan. Mereka hanya harus bersumpah saling mencintai, berbagi ranjang, dan bisa memiliki seorang keturunan.

Namun anak ini akan menua dan tewas ketimbang orang tuanya karena Life mereka telah dibekukan. Bahkan, mengijinkan anak ini mengalami hal yang sama bahkan lebih kejam dari tindakan Pemimpin tertinggi.

Meskipun begitu, karena Pemimpin Tertinggi telah meninggal, Bercouli akhirnya menerima perasaan Fanatio. Maka, ia memutuskan untuk melindungi anak ini dan membuatnya terus hidup sampai ajal menjemput.

Maka—

“… Beristirahatlah dengan tenang, Bercouli. Aku akan membesarkan anak ini. Aku akan membuatnya menjadi seorang pria yang kuat seperti dirimu.”

Menghentikan isak tangisnya, Fanatio membuat keputusan.

Tetapi sekarang ini.

Sekarang ini, biarkan aku menangis.

Terjatuh ke tanah, Fanatio menggenggam butiran pasir bekas jejak kaku Komandan Knight Bercouli, lalu menangis tanpa menahan diri.

Bagian 5[edit]

“Meskipun aku tak memiliki masalah dengan kalian …”

Mengacungkan katana merahnya pada pasukan crimson, pedang miliknya bergetar di penjuru reruntuhan.

“Aku akan membalas kalian karena telah melukai temanku. Aku akan membalas tiga kali lipat … Tidak, aku akan membalas ribuan kali lipat sialan!!”

Tepat setelah berteriak, ia melaju ke arah musuh. Asuna begitu kebingungan hingga ia melupakan rasa sakit yang ada di perutnya. Tiba – tiba, garis kode lain muncul disebelah Klein, membentuk sosok manusia.

Sosoknya begitu besar, seorang pria berkulit coklat dan menggenggam kapak besar.

“… Agil-san!!”

Asuna memanggil namanya.

Ketika “si penjual”, yang pernah menyediakan persediaan pertempuran bagi pemain atas SAO, menoleh pada Asuna, ia mengacungkan jempolnya ke atas udara sambil tersenyum.

Setelahnya, ia berbalik dan mengejar Klein yang telah berlari.

Orang ketiga dan keempat muncul dihadapan Asuna.

Seorang gadis berambut pendek, mengenakan pakaian merah kecoklatan serta pelindung dada berwarna perak, ia juga menggunakan palu perak yang menggantung di pinggangnya.

Selanjutnya, seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian dan tunik biru laut, rambutnya diikat twin tail.

“— Liz!! Silica-chan!!”

Kedua mata Asuna terisi air mata.

Kekuatan meninggalkan tubuhnya. Sambil tetap di posisi semula, Asuna membuka kedua tangannya pada temannya yang ia sayangi.

“Kalian… Kalian telah datang…”

“Tentu dong kami datang!”

“Beneran”

Menjawab pada saat yang sama, Lisbeth dan Silica menggenggam tangan kanan dan kiri milik Asuna lalu memeluknya. Ekspresi keduanya juga menjadi terharu.

“— Selalu memaksakan diri … kau berdarah tahu … kau terlalu sok kuat, Asuna.”

“Serahkan sisanya pada kami, yang lainnya juga datang lho.”

Merasakan pelukan dari Lisbeth dan Silica, Asuna merasakan jika rasa sakit pada luka – lukanya berubah menjadi rasa hangat.

“Terima kasih… Terima kasih …”

Tertutupi cucuran air mata, Asuna melihat hujan garis digital yang memasuki pertempuran ini.

Sword Art Online Vol 17 - 178.jpg

Yang muncul disana adalah ribuan swordsmen yang memakai armor yang sama.

“Musuh yang berarmor merah adalah musuh kita!”

“Pasukan, serang! Pukul mundur musuh!”

“Para Penjaga, mundurlah sementara dan sembuhkan luka kalian!”

Setelah mendarat, mereka mulai berteriak dalam bahasa Underworld, bukan, bahasa Jepang — mereka mengangkat pedang, kapak, dan tombak lalu mulai melaju ke depan.

Menilai dari kemampuan bertarung individu dan mengerti cara bekerja sama, mereka kemungkinan adalah para pemain veteran VRMMO.

Jadi seperti itu.

Asuna akhirnya menyadari situasi yang muncul dihadapan matanya.

Karena pemain Amerika muncul di medan peperangan ini, ratio akselerasi Underworld mungkin telah diubah oleh penyerang menjadi 1:1. Dengan kata lain, sangat memungkinkan untuk Dive menggunakan AmuSpheres dari Jepang.

Tetapi menilai dari equipment serta senjata, tampaknya mereka tidak menggunakan akun default Penjaga.

Itu berarti— mereka mengkonvert akunnya.

Tak salah lagi jika mereka mengubah karakter mereka — karakter yang telah lama mereka latih — ke dalam Underworld.

Tampaknya mereka tidak tahu apakah mereka bisa kembali ke dunia VRMMO asal mereka. Alasannya adalah— kondisi Underworld itu sendiri, mungkin saja karakter mereka akan hancur ketika mereka tewas, namun mereka …!

“Semuanya… Maaf… Aku minta maaf …”

Dengan suara separo menangis, Asuna meminta maaf pada kedua temannya dan kepada para swordsmen yang telah maju ke garis depan.

“Kamu ngomong apa sih, Asuna?”

Perkataan Lisbeth terisi oleh ketetapan hati.

“Alasan kamu berhasil sukses di SAO dan ALO adalah karena kami yakin jika kami suatu hari akan menyelamatkan dunia ini.”

“Yeah… benar… terima kasih semuanya…”

Berbisik berterima kasih, Asuna mengangguk.

Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal. Bagaimana Liz dan lainnya yang ada di sunia nyata tahu mengenai kondisi Underworld dan mencari bala bantuan? Tak mungkin Kikuoka dan Higa, karena mereka berdua berada di ruang sub kontrol Ocean Turtle.

“Hei Liz, Silica-chan. Siapa orang yang membawa kalian kesini …?”

Pada pertanyaan Asuna, mereka berdua saling pandang dan tersenyum.

“Tunggu, Asuna, bukankah sudah jelas?!”

“Tentu saja Yui-chan! Ia telah berusaha sangat keras menjelaskan kondisi Underworld dan penduduknya!”

Ketika mendengar kata – kata tersebut, hatinya bergetar dan air mata semakin menuruni pipinya.

Yui. Terlahir sebagai Top-Down AI dalam SAO, putri Asuna dan Kirito. Ya… pastilah Yui yang memberi tahu mereka. Ia menyadari rencana musuh yang tak bisa diprediksi oleh Asuna, Kikuoka, dan yang lain, ia pasti mengambil tindakan.

“……… Terima kasih, Yui-chan.”

Sambil bersyukur, lengan kirinya yang terluka telah sembuh dan luka di seluruh tubuhnya langsung hilang begitu ia berdiri.

Pada saat itu, suara lemah terdengar dari belakang.

“Um… Asuna-sama? Orang – orang ini… atau para knight ini adalah …”

Integrity Knight Renri berdiri disana dengan pandangan heran. Dibelakangnya para Penjaga juga memiliki ekspresi yang sama.

Asuna, setelah menatap Renri, Lisbeth, dan yang lain kemudian tersenyum dan membalas.

“Teman - temanku. Mereka datang dari Dunia Nyata untuk menolong kita.”

Renri berkedip beberapa kali, lalu menatap Lisbeth dan Silica—

Ekspresi lega muncul dari wajahnya.

“…Jadi begitu… aku sungguh bersyukur. Aku kira semua orang yang datang dari Dunia Nyata adalah orang – orang menyeramkan, tidak seperti Asuna-sama …”

“Hei, tak mungkin!!”

Sambil tersenyum marah dan teriakan mengintimidasi, Lisbeth menepuk pundak Renri.

“Aku Lisbeth. Salam kenal, Knight-kun.”

“Ah… Y… Ya. Namaku Renri. Salam kenal.”

Asuna yang menyaksikan pemandangan ini sambil tersenyum.

Ia, selama masih hidup tak akan melupakan pemandangan ini.

Momen ketika orang – orang yang terlahir dari dua dunia yang berbeda saling sapa dan menjalin persahabatan. Kisah ini akan berlanjut hingga masa depan nanti.

Asuna mengambil nafas dalam, mengubah nada bicaranya dan bertanya pada Lisbeth.

“Liz, berapa orang yang mengubah akun?”

“Ah, yah, sekitar dua ribuan mungkin. Aku mencoba sebisaku, tetapi… aku masih tak bisa membujuk semua orang …”

Asuna memuji temannya.

“Ini lebih dari cukup. Tetapi… untuk bisa mengkonvert akun mereka lagi, kita harus mencegah jatuhnya korban sebanyak mungkin. Jangan terlalu memaksa, mundurlah untuk pengobatan. Liz dan Silica-chan, bawalah dua ratus penjaga mundur dan bantu tim pendukung.”

Mengganti kekhawatirannya akan pertempuran, Asuna memberikan perintah pada Renri dan Para Penjaga.

“Kalian semua, meskipun cukup sulit, kumohon mundur dulu menuju tim Ascetics dan gunakan Healing Arts. Para swordsmen dari Dunia Nyata tak begitu akrab dengan Sacred Arts, jadi akan sangat membantu jika kalian mengajari mereka cara bacanya.”

“Me… mengerti, Asuna-sama! Kalian dengar, Para Penjaga! Kita akan mendukung bala bantuan!”

Pada teriakan Renri, para Penjaga yang kelelahan akibat bertempur kini merespon secara kompak.

“… Lalu apa yang akan kamu lakukan, Asuna-san?”

Pada pertanyaan Silica, Asuna berkedip.

“Tentu saja aku akan menyerang garis depan.”

Aku sudah tidak merasa kehilangan.

Melaju kedepan sana, ia menenali beberapa wajah dari ALO — ada Penguasa Sylph Sakuya, Penguasa Cait Sith Alicia, Jendral Salamander Eugene, dan lainnya, mereka berusaha keras memukul mundur musuh.

Mereka tak hanya mengubah akun mereka dari ALO.

Pemain yang mendukung para swordsmen sambil menembakkan anak panah dengan cepat dan sangat tepat kemungkinan adalah pemain Gun Gale Online, seperti Sinon.

Terlebih lagi, tim – tim yang saling kompak melindungi satu sama lain sambil menyerang musuh, mereka seperti Guild terkuat dari segala macam jenis VRMMO, mereka adalah anggota «Sleeping Knights».

Menyadari Asuna, si mage Siune tersenyum padanya. Ketika Asuna melambaikan tangannya, ia menahan air mata yang akan menetes.

Mereka bersungguh – sungguh membantu meskipun sadar bisa kehilangan avatar mereka. Lalu, karena ia sendiri dilindungi oleh sebuah Super Account, ia harus meminimalkan jumlah korban sebanyak mungkin.

Asuna berlari ke medan peperangan, memberikan perintah pada pasukan terdekat untuk membentuk formasi oval di depan pintu masuk kuil.

Tetapi tak peduli berapa kuat equipment dan status ke 2,000 pemain ini, masih ada sekitar 10,000 pemain Amerika. Jika menghitung kasar, jumlah korban pasti akan terus bertambah.

Terlebih lagi, masih ada hal lain yang mengganjal.

Rasa sakit yang tak bisa dihindari dalam Underworld.

Tak seperti pemain Amerika yang telah tewas dan log out ketika merasakan rasa sakit. Siklus para pemain jepang yang mendapat luka, mundur, dan disembuhkan akan membuat mereka sengsara. Dan Asuna telah mengalaminya, rasa sakit yang hampir merenggut semangatnya.

Kumohon semuanya. Lakukan yang terbaik. Hingga 10.000 pemain ini musnah.

Jika kita bisa melakukannya, maka kemungkinan para penyerang «Ocean Turtle» akan gagal. Selanjutnya, kita hanya perlu mengurus Kaisar Vektor yang sedang dikejar Komandan Knight Bercouli dan Sinon, lalu menyelamatkan Alice.

Asuna mengangkat rapiernya ke depan lalu berteriak penuh semangat.

“Tak masalah … kita bisa menang! Jika kita berusaha, kita akan menang!!”

Sword Art Online Vol 17 - 185.jpg
***

Hirono Takashi, seorang pemain VRMMO asal Jepang bertanya pada dirinya sendiri: Mengapa aku datang ke tempat seperti ini? Tak ada untungnya kan.

Alasan mengapa ia menerima permintaan “terlalu mendadak” dari ALO, membuatnya terbangun pada pukul 5:00 a.m. setelah ditelpon temannya, bukan karena si gadis memohon maupun karena ia bersimpati.

Sejujurnya, ia percaya pada nyalinya sendiri.

Terlebih lagi satu hal yang ingin ia ketahui, Dunia VRMMO macam apa yang menggunakan dana negara? Hal lain seperti, Aku mendapat nilai penerimaan masuk sekolah menengah atas paling buruk, jadi AmuSphere milikku pasti akan segera disita. Dan sebagian dirinya— Mungkin akan ada ‘suatu’ kenyataan yang tak akan pernah aku temui dalam game yang pernah aku mainkan.

Setelah Takashi mengubah karakter yang ia latih selama dua tahun dan log in menuju server yang belum pernah ia dengar sebelumnya, apa yang menunggu dihadapannya adalah pria besar memakai armor merah, ia memaki – maki dalam bahasa Inggris sambil mengayunkan senjatanya.

Ia melompat ke belakang dan hampir berteriak, tetapi ujung senjata milik musuh menggores armor kaki kirinya, menerobos masuk dan menusuk kulitnys sesaat. Ia tak pernah merasakan rasa sakit seperti itu sejak ia terjatuh dari sepeda dan mematahkan tulang di sekolah dasar.

Tak ada yang bilang akan menjadi seperti ini—!! Takashi berteriak dalam kepalanya ketika mundur semakin ke belakang, entah bagaimana ia berhasil menahan musuh dengan pedang sangat langka miliknya, ia menuju ke samping ke tim pendukung ketika ia merasa agak linglung karena darah mengucur dari kakinya.

Cukup sudah. Aku akan log out!

Mengucapkan hal seperti itu, Takashi kemudian disembuhkan oleh seorang gadis pendeta yang seumuran, ia mengenakan pakaian berwarna biru langit.

Entah mengapa, ketika menatapnya, ia memiliki perasaan aneh.

“Aku akan mengobatimu secepatnya, tolong tahan sebentar Knight-sama.”

Si gadis berbicara fasih, lalu menyentuhkan tangannya ke kaki kiri yang terluka ringan — terluka parah menurut pandangan Takashi — lalu ia mulai merapal. Melihatnya bersungguh – sungguh, Takashi berpikir sesaat bahwa ia hanyalah seorang NPC.

Akan tetapi, ekspresi serius yang tampak dalam mata abu – abu kecoklatan miliknya, sosok imut antara wajah khas negara timur dan barat, dan kehangatan yang datang dari cahaya putih yang muncul dari tangannya, membuat Takashi bingung apakah dia seorang NPC ataukah pemain Jepang, tetapi ia adalah seorang penduduk yang tinggal di dunia ini.

Tetapi apakah hal seperti ini benar – benar nyata? Ia berbicara fasih dalam bahasa Jepang, tetapi apakah ia orang Jepang ataukah seorang NPC. Siapa gadis ini sebenarnya?

Menyadari kenyataan ketika ia merasa sakit saat tertusuk, Takashi kini melihat kakinya yang telah sembuh oleh sihir gadis ini: ia tidak berada dalam event sebuah game, tetapi dalam suatu keadaan yang sangat luar biasa.

“Baiklah sudah selesai Knight-sama.”

Ketika si gadis mengangkat tangannya dengan sedikit ekspresi bangga, luka kakinya kini benar – benar menghilang seutuhnya, hanya menyisahkan bekas luka kecoklatan.

“Te… Terima kasih.”

Menggenggam lagi pedangnya, Takashi akhirnya mengungkapkan rasa terima kasihnya. Oh, apakah aku cocok kalau dipanggil seorang «Knight-sama»? ia berpikir, rada geer. Namun wajahnya memerah, dan lidahnya menjadi mati rasa. Ketika ia menyadarinya, ia telah melakukan tindakan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia mengulurkan kedua tangannya dan dengan lembut memeluk tubuh langsing si gadis.

Jika ini adalah sebuah dunia VRMMO normal, tindakan Takashi akan disebut sebagai «Tindakan Tak Sopan pada sebuah» dan ia akan mendapat sebuah peringatan.

Namun si gadis hanya kaget atas pelukan Takashi, lalu mengambil nafas. Sedetik kemudian, Takashi merasa lengan si gadis dengan agak canggung melingkari tubuhnya dengan sedikit tekanan.

“Tak apa, Knight-sama dari atas langit.”

Dekat telinganya, suara yang terdengar cukup pelan namun pasti.

“Bahkan sister dalam pelatihan seperti ku mampu melakukan tindakan sederhana ini, aku cukup bersyukur dan bangga. Knight-sama, kamu bertempur lebih banyak dan lebih berani. Ingatlah … kamu mengangkat pedangmu untuk melindungi banyak orang, untuk melindungi dunia ini.”

Si gadis lalu dengan lembut menyentuhkan telapak tangannya ke punggung Takashi.

Baik itu dunia nyata ataukah dunia virtual, Takashi belum pernah memeluk seorang gadis sebelumnya. Namun jika ia memiliki seorang pacar di dunia nyata, ia merasa tak akan pernah merasa emosional seperti saat ini.

Setelah berangan – angan, Takashi menetapkan tujuannya ketika tubuh mereka berpisah.

“Um… Bisakah kamu memberitahuku namamu?”

Noda merah tampak dalam wajah si sister, lalu ia mengangguk.

“Tentu… Namaku Frenica. Frenica Szeski.”

“Frenica…”

Namanya terdengar agak asing, tetapi cara ia mengucapkannya sungguh fasih. Tak seperti kebiasaanya, Takashi juga menyebutkan namanya sendiri. Bukan nama karakternya, Velios. Tetapi nama aslinya, nama yang selalu tak ia banggakan.

“… Namaku Takashi… Hirono Takashi… Um… Bisakah kita bertemu lagi, ketika perang selesai?”

Frenica mengangkat alisnya sedikit, tersenyum lembut lalu mengangguk.

“Tentu saja, Knight Takashi-sama. Ketika perang selesai dan kedamaian terjadi, kita akan bertemu. Aku akan berdoa pada ketiga Dewi agar kamu bisa selamat.”

Frenica perlahan menarik tangan kiri Takashi dan membantunya berdiri.

Frenica memberi hormat dan berlari menuju korban lain yang terluka. Ketika Takashi melihat punggungnya, ia menyadari sesuatu: jika ia bertingkah dengan bangga— seperti seorang knight dihadapannya, ia harus bisa bertarung dengan berani sampai akhir. Dunia ini bukan lagi sebuah game, tetapi kenyataan lain yang setara dengan dunia nyata dimana Takashi lahir dan tumbuh.

Bahkan jika ia kehilangan HP, bukan, nyawanya, lalu dipaksa keluar dari dunia ini, ia akan mengangkat dan menebaskan pedangnya hingga saat – saat terakhir. Tak peduli berapa banyak luka yang ia dapat. Ia tak akan bisa bertemu Frenica lagi jika ia gagal.

Takashi berdiri dan berteriak “Baiklahhhhh!”, lalu ia berlari menuju garis depan bukan untuk menjalankan quest, tetapi menjalankan kewajibannya.

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. kemampuan untuk mengubah bentuk daratan sesuka hati
  2. kemampuan untuk menyerang ke berbagai arah
  3. kemampuan untuk terbang selamanya
  4. kemampuan untuk menyembuhkan diri secara otomatis


Bab 21 - Kebangkitan (Bulan ke-11 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

“Kita berhasil … benar kan…?”

Higa Takeru berucap sambil meregangkan kedua tangannya yang kelelahan bekerja.

Meskipun mengalami banyak kesulitan, ia telah berhasil mengubah kurang lebih 2.000 akun data yang telah ditransfer dari jaringan The Seed yang ada di jepang menuju Underworld, hanya dalam waktu satu jam. Permukaan keyboard masih memiliki bekas jari tangannya.

“Kita akhirnya berhasil.”

Professor Koujiro Rinko membalas pelan sambil melemparkan botol air kepada Higa.

Menerima botol tersebut, Higa langsung memutar tutupnya dengan tangan kanan dan langsung meneguknya. Cairan yang mengalir ke mulutnya terasa hangat, tetapi cairan ini mengisi perutnya yang kosong.

Setelah meneguk setengah botol, Higa menarik nafas dan menggelengkan kepalanya pelan.

“Serius nih… Kejadian ini membuatku agak khawatir …”

Setelah diberi tahu oleh dua gadis SMA yang menyebut diri mereka Leafa dan Sinon, yang mendadak menuju cabang Roppongi «RATH» mengatakan jika para penyerang membuat orang – orang dari dunia nyata dive ke dalam Underworld, pikiran Higa kosong selama lima detik penuh.

Terlebih lagi, jika orang yang mengetahui semua ini adalah si top-down AI yang terhubung ke terminal portable milik Yuuki Asuna, maka ia harus mengakui jika ada celah dalam system miliknya.

Mereka lalu mengijinkan kedua gadis ini, yang mana mengaku mengenal Letnan Kolonel Kikuoka, dan dive kedalam Underworld menggunakan Super Accounts yang masih tersisa, setelah menjelaskan semuanya, mereka dive bersama 2.000 orang pemain VRMMO jepang menuju lokasi Asuna saat ini.

Jika mereka gagal mengalahkan 50.000 pasukan pemain Amerika, maka Alice pasti akan jatuh ke tangan musuh. Kenyataannya, Letnan Kolonel Kikuoka serta Kapten Nakanishi yang akhirnya menyadari situasi ini lalu mempertimbangkan untuk mengatur ulang dinding luar «Ocean Turtle» guna menghancurkan antena satelit.

Akan tetapi, untuk sampai ke dinding luar, mereka harus membuka dinding pengaman yang membagi bagian atas dan bawah selama beberapa menit. Jika para penyerang menyadarinya, kemungkinan mereka kehilangan ruang sub kontrol akan terjadi...

Terlebih lagi, Kikuoka dan Higa telah mempercayakan semuanya pada satu hal: tiga gadis SMA yang dive ke dalam Underworld menggunakan «Tiga Dewi» [1], dan para pemain VRMMO asal jepang yang dengan senang hati mau membantu peperangan ini, meskipun tahu akan kehilangan akun mereka.

Dari saat mereka menstabilkan koneksi, lebih dari setengah informasi rahasia mengenai «Project Alicization» telah diketahui publik.

Tetapi itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan lagi.

Yang perlu dikhawatirkan saat ini adalah kehilangan Alice, kemudian dikontrol oleh industri militer Amerika, lalu kalah dalam zaman senjata AI yang akan datang jika itu terjadi.

“Benar…”

Higa berbisik dan hampir tak terdengar, ia merobohkan tubuhnya ke kursi.

“Alice bukanlah AI sederhana yang mengontrol UAV[2]. Sekarang ini ia adalah seorang manusia yang terlahir di dunia yang berbeda… Kau sudah mengetahuinya kan… Kirigaya-kun?”

Matanya bergerak dari monitor utama yang menampilkan bagian selatan Underworld menuju layar pojok yang menunjukkan Fluctlight milik Kirigaya Kazuto.

Cahaya terang seperti biasanya, memancar di tengah – tengah dinginnya kehampaan. Kerusakan di pusat Fluctlight … Dirinya sendiri.

Tak kuasa melihat jendela tersebut. Higa menggerakkan kursor dan meminimizenya.

Kemudian, ketika ia hampir menekan tombol kiri mouse, jemarinya terhenti mendadak.

“Hm…?”

Menekan kacamata bundarnya, ia memastikan log aktivitas Fluctlight yang muncul di bawah jendela.

45 menit sebelumnya, log tersebut hanya berupa garis datar yang tidak bergerak, kini ada sedikit puncak. Ia seketika menggerakkan kursornya lagi dan menggeser log ke sebelah kiri. Ia melihat ada puncak yang lebih tinggi sekitar 10 jam lalu.

“Uh… Um, Rinko-senpai. Bisakah kau kesini dan melihat yang ada di layar?”

“Bisakah berhenti memanggilku seperti itu?”

Professor Koujiro berdiri lalu melihat layar utama.

“Ini monitor Fluctlight milik Kirigaya-kun kan? … grafik apa itu?”

“Ia seharusnya telah kehilangan kesadarannya, tetapi selama beberapa detik grafik monitor ini menunjukkan sedikit aktivitas … atau sesuatu seperti itu, tetapi.... itu seharusnya tak mungkin terjadi.”

“Bicaramu kurang kumengerti. —Mungkin ia mendapat dorongan dari luar?”

“Jika seperti itu, circuit yang memberikan stimulus masih tetap stabil. …Nah ayo kita lihat, pada waktu…”

Higa mengklik ujung puncak grafik dan keterangan waktu yang muncul. Tetapi bahkan jika ia melakukannya, kita tak akan tahu kapan itu terjadi di dalam Underworld.

Pada saat itu—

“Tunggu sebentar.”

Professor Koujiro berbicara dengan nada sedikit cemas.

“Tepat pada waktu itu. Bukankah saat para gadis masuk menggunakan STL? Puncak grafik pertama adalah Asuna-san, dan puncak lainnya adalah Sinon-san dan Leafa-san yang dive dari Roppongi…”

“Huh, beneran? …Whoa, benar ternyata.”

Higa mengambil nafas dalam – dalam, garis – garis puncak yang muncul di monitor pastilah saat gadis – gadis dive kedalam Underworld. Ini saja masih sulit untuk memberikan penjelasan.

“Um, apa yang sebenarnya terjadi …? Apakah itu reaksi yang wajar jika bertemu orang – orang yang cukup dikenal? Tidak… luka Kirigaya-kun bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan hanya dengan bertemu … pasti ada alasan lain … seperti alasan yang masuk akal …”

Higa berdiri dari kursinya dan berkeliling di depan konsol. Mungkin karena sedang mood, ia memandang Kikouka yang duduk agak jauh serta para teknisi.

Tetapi Higa tidak terlalu memperhatikan mereka dan lanjut berpikir.

“Diri sendiri… Sosok sendiri… sebuah gambaran yang mencerminkan jiwa orang itu … mem-backup pola quantum seperti itu…? Tidak, tak mungkin … Fluctlight milik Kirito-kun tak pernah di duplikat sebelumnya. Bahkan jika sudah di duplikat, tak mungkin memisahkan jiwa tersebut dan mengkopinya … sebuah pola dinamic quantum yang bisa menghubungkan ke dalam Fluctlightnya…? Dimana… Dimana aku pernah melihatnya …”

“Hei… Hei, Higa-kun.”

Setelah namanya dipanggil beberapa kali, Higa akhirnya menoleh.

“Ada apa?”

“Apa maksudmu ketika kamu bilang jika Kirito ‘kehilangan jiwanya?”

“Erm… Yah, itu…”

Higa berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut:

“«Seseorang yang melihat dan mengetahui»… dengan kata lain, ‘diri sendiri’ yang ada di dalam hati yang paling dalam. Secara filosofi, kita menganggap ia sebagai Subject, bukannya sebagai Object. Dia adalah prosesor utama yang mengatur penerimaan rangsangan melalui indera - indera.”

“Oke… Dengan kata lain, kau telah mematerialkan dua hal yang bertolak belakang melalui STL. Yah, tak apa lah. Apa yang ingin aku tanyakan adalah, bisakah kau memisahkan si Subject dan Object dengan mudah?”

“… Hah?”

Higa berkedip beberapa kali pada pertanyaan tak terduga ini.

Kikuoka dan si teknisi tak berkata – kata. Di ruangan yang hanya ada suara hembusan angin sistem pendingin ini. Suara serak Professor Koujiro memecah kesunyian.

“Subject, seseorang yang mengenal. Object, seseorang yang dikenal. Kedua kata tersebut hanyalah konsep filosofis yang digunakan untuk menyatakan hubungan. Aku tak menyangka jika kamu menerapkan konsep tersebut dalam sebuah kesadaran yang ditampilkan sebagai Fluctlights. Manusia itu makhluk yang bersosialisasi, bukan sosok penyendiri yang menghindari orang lain … Mereka saling terhubung, seperti sebuah jaringan yang saling meluas. Bukanlah kau juga berpikir seperti itu?”

“Dirimu… yang ada di… orang lain…”

Setelah berkata – kata, Higa menyadari jika konsep ini adalah salah satu dari hal – hal yang pernah ia lihat sebelumnya.

Bagaimana aku dipandang? Bagaimana aku dibandingkan dengan orang lain?

Bagaimana Koujiro Rinko memandangku?

Bagaimana jika aku dibandingkan dengan Kayaba Akihiko?

—Yeah…

—Aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri. Jika aku menggambarkan diriku sendiri, hasilnya pasti seperti harapanku namun di lain pihak bukanlah aku yang sesungguhnya. Itu karena aku telah menolak diriku sendiri— diriku yang tak berguna, diriku yang tak akan pernah menyaingi Kayaba-senpai dalam hal fisik maupun mental. Jadi begitu, Subject dalam diriku hanyalah sebatas itu.

Yeah, mungkin levelku begitu rendah hingga kau mungkin bisa meniru gerak – gerik seorang «Higa Takeru».

Oke, aku mengakui, Higa berpikir sambil membuka mulutnya, lalu tersenyum—

Tiba pada kesimpulan seperti itu, Higa akhirnya sadar apa yang ingin Koujiro Rinko katakan.

“… Sebuah backup… diri sendiri.”

Ketika ia berucap, rasa malu muncul di wajah Higa ketika ia mendongak.

“Aku paham… ada, ada kok! Data yang mampu mengembalikan Subject milik Kirigaya-kun yang telah hilang! Itu ada di dalam Fluctlight milik orang – orang yang dekat dengannya…!!”

Higa berteriak dan mulai dengan cepat kembali bekerja.

“Tetapi, kita membutuhkan sebuah STL untuk mengekstrak data tersebut … Juga, mengekstrak data tersebut dari satu orang akan cukup sulit hingga mendapat data yang lebih lengkap … Kita butuh setidaknya dua, tidak … kita butuh tiga… orang…”

Ia mengambil nafas dalam – dalam, lalu berhenti.

Seseorang yang paling memahami Kirigaya Kazuto hingga hal – hal paling sepele dalam jiwanya. Tak perlu ditanyakan lagi, dia adalah Yuuki Asuna— dan ia kini sedang terhubung dengan STL disamping Kirito.

Terlebih lagi, dalam STL di kantor cabang Roppongi, ada dua gadis lain yang memiliki hubungan erat dengan Kirito.

Higa berbalik menuju Letnan Kolonel Kikuoka, dan berteriak:

“Kiku-san. Apakah anak – anak yang dive di Roppongi… memiliki hubungan dengan Kirigaya-kun?”

“… Ahh, tentu saja.”

Kikuoka mengangguk, memandang dari balik kacamata hitamnya.

“Sinon-kun adalah partner Kirito ketika berurusan dengan kasus «Death Gun» setengah tahun yang lalu, dan Leafa-kun adalah adik perempuan Kirito.”

Untuk sesaat, atmosfir di ruangan ini menjadi sepi. Kata – kata serak Higa memecahnya.

“… Bagus! Luar biasa! Kita bisa melakukannya... kita mungkin bisa memperbaiki jiwa Kirito! Ayo mulai memisahkan imej Kirigaya-kun dari Fluctlights ketiga orang itu, lalu, kita akan menghuubungkannya dengan area berlubang … Data tersebut mungkin bisa mengisi lubang di jiwa Kirito dan mengaktifkannya, seharusnya itu bisa mengembalikan Subject yang hilang…”

Didorong oleh semangat dalam dirinya, Higa menepukkan kedua tangan.

Sedetik kemudian.

Hawa dingin menyapu semangat tersebut.

“Ah… Ahh… Tak mungkin… Aaaahh…”

“Ada apa, ada apa Higa-kun?!”

Melihat Professor Koujiro berteriak khawatir, Higa berguman.

“Untuk melakukan … operasi ini... kita harus melakukannya di ruang kontrol utama …”

Sekali lagi, rasa sepi menutupi ruangan ini.

Komandan Kikuoka berujar.

“Benar … seperti itulah … Jangan kecewa begitu, Higa-kun. Kita telah berhasil melihat jalan cerah untuk menyembuhkan Kirito-kun. Untuk melakukan tindakan tersebut, setelah situasi ini selesai dan kita berhasil mengusir para penyusup dari «Ocean Turtle»…”

“Itu sudah sangat telat …”

Higa memotong ucapan Kikuoka, ia memegangi kepalanya.

“Ketika Nagato [3] memulai penyerangan seperti yang diperintahkan, jika terjadi kerusakan besar di lorong utama, daya cadangan akan dimatikan. Mereka mungkin juga akan menghancurkan peralatan di ruang utama. Tentu saja, STL Kirigaya-kun akan dimatikan, dan dia akan log out dari Underworld dan tak akan bangun. Tetapi.... aku khawatir jika Kirigaya-kun tak akan bisa terhubung lagi dengan STL. Dalam kondisinya sekarang ini, ia tak akan bisa melewati tahap pemulihan … Untuk menyembuhkannya, kita tak memiliki pilihan lain selain bergantung pada tiga gadis yang saat ini masih dive di Underworld.”

Higa berucap ringan. Ia merasa dirinya dipenuhi rasa yakin.

Apa yang akan ia lakukan di situasi ini?

Subject milik Higa pasti akan menjawab seperti ini: Tak ada yang bisa aku lakukan, aku bukan seorang Kayaba-senpai.

Namun, ini bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Itu adalah alasan untuk menghindar.

Higa Takeru yang aku kenal, seorang genius yang mendesain STL dan Underworld pasti akan berkata seperti ini:

“… Aku akan pergi, Kiku-san.”

“… Kemana?”

Melihat Komandannya yang mengenakan pakaian Hawaii, Higa mengambil nafas dalam – dalam lalu menjawab:

“Aku tidak akan pergi menerobos ke dalam ruang kontrol utama. Dengar… Di samping sisi buritan lorong utama yang membentang di «Ocean Turtle», ada saluran pipa yang terhubung menuju ruang STL Dua dimana Kirigaya-kun sekarang berada, juga ruang kontrol utama ada di bawah dinding penahan. Seharusnya disana ada colokan kabel. Jika aku memasuki saluran tersebut menggunakan tangga dari ruang STL Dua dan bisa menghubungkan laptopku dengan colokan tersebut, aku mungkin bisa mengoperasikan STL milik Kirigaya-kun.”

Mendengar ide milik Higa, mata Kikuoka terkejut dibalik kacamata hitamnya untuk sesaat. Tetapi ia langsung menunjukkan ekspresi cemas dan menyanggah.

“Tetapi colokan tersebut ada di balik dinding penahan yang memisahkan kita dan para penyerang. Untuk bisa mengakses colokan itu, kunci dinding penahan yang menyegel saluran pipa harus dilepas sementara. Terlebih lagi, saluran itu bisa juga diakses dari ruang STL Satu yang mana ada di sebelah ruang kontrol utama. Jika musuh menyadari kunci telah dilepas dan menyadari apa yang kita lakukan, mereka mungkin akan menyerang kita dari bawah.”

“Maka kita harus melawan menggunakan umpan.”

“Umpan… katamu?”

Mata Kikuoka menyipit tajam. Higa dengan cepat menggeleng dan menjawab:

“Kita tak bisa menggunakan umpan manusia tentu saja. Seketika kita melepas dinding penahan, kita akan bisa dengan cepat turun menggunakan tangga di sisi lain saluran… itulah apa yang akan kita gunakan.”

“Oh begitu … «Ichiemom», huh. Untungnya, dia sedang di simpan di ruang penyimpanan. Bisakan seseorang membawanya ke sini?”

Dibawah perintah Kikuoka, dua orang pegawai yang duduk bersandarkan dinding berdiri dan meninggalkan ruangan ini agak berlari. Di sisi lain, Professor Koujiro berbicara dengan tatapan khawatir:

“Tunggu sebentar … kita menggunakan Ichiemom sebagai umpan, tetapi dia hanya bisa berjalan pelan di tangga, kau tahu kan. Jika ia memancing perhatian musuh, ia tak akan bisa berlari cepat.”

Ichiemom, nama sebenarnya adalah «Electroactive Muscled Operative Machine 1», merupakan sebuah mesin percobaan berbentuk manusia yang digunakan untuk menampung Fluctlight buatan. Menggunakan otot polymer untuk menggerakkan keranggka logamnya, bisa dibilang ia adalah robot humanoid[4]. Karena ia masih tahap eksperimen, tubuhnya masih kelihatan robot dan kabel ada dimana - mana, juga tidak memiliki kemampuan anti peluru.

Meskipun Rinko yang diminta oleh Higa untuk menstabilkan kemampuan berjalan Ichiemom tempo hari, telah mengkomplain beberapa kali, ia tampaknya memiliki banyak pikiran mengenai “Operasi Umpan Ichiemom”. Tentu saja, Higa juga agak menyesali strategi ini, tetapi sekaranglah bukan saatnya menahan diri.

“Aku sungguh sedih menggunakan Ichiemom, tetapi ia harus melakukan apa yang ia bisa sekarang ini. Tetapi, tampaknya, kau tahu kan, musuh mungkin akan langsung menembakinya hingga meledak.”

“… Benar…”

Tepat ketika bicara, pintu bergeser terbuka dan troli besar didorong menuju ruangan ini. Ia sedang dalam posisi duduk, kepalanya yang agak bulat memiliki tiga lensa seperti mata.

Professor Koujiro menatap Ichiemom dengan ekspresi rumit dan berbalik arah:

“… Yah, dia memang tampak mencurigakan, dan mungkin musuh akan berpikir jika kita sedang merencanakan sesuatu …”

“Yah setidaknya si Ichi semoga tak diacuhkan. Saat musuh mengurus Ichiemom, aku akan menyusup melalui saluran kabel dan mengoperasikan mesin STL milik Kirigaya-kun melalui colokan itu. Masalahnya adalah seberapa banyak waktu yang aku miliki …”

Pada pernyataan Higa, Kikuoka bertanya sambil meregangkan sandal miliknya:

“Kalau begitu, bagaimana jika kita juga mengumpankan «Niemom»?”

“Sayangnya kita tak bisa melakukannya.”

Higa membalas:

“Meskipun kemampuan fisik Niemom lebih kuat, dia diciptakan secara khusus agar sebuah Fluctlight Buatan bisa mengoperasikannya, dan tak seperti Ichiemom, Niemon tak dilengkapi dengan sistem penyeimbang. Dalam kondisinya saat ini, Niemon pastilah akan jatuh ketika menuruni tangga.”

“Sungguh…”

Tatapan Rinko bergerak menuju arah kanan, jauh dari wajah komandan yang mengangguk - angguk. Ia menatap lantai dengan ekspresi aneh, lalu ia bertanya seolah baru saja bangun dari mimpi.

“Tapi, Higa-kun, bahkan jika kita berhasil menyelinap melewati dinding, ada kemungkinan kamu bisa terlihat ketika dindingnya terbuka. Bukannya masih lebih baik jika membawa pengawal bersamamu kan?”

“Tidak, sekarang ini Pasukan Pertahanan masih terlalu berharga buat kemampuan tempur kita. Terlebih lagi, hanya akulah yang cukup kecil yang mampu berjalan melalui saluran itu dengan cepat. Tenang saja kok, aku bisa keluar masuk dengan cepat.”

Meskipun ia menjawab dengan nada normalnya, jantungnya berdetak semakin kencang ketika ia menyadari kondisi saat ini.

Jika ia ditemukan oleh musuh dan ditembaki ketika masih dalam saluran, tak akan ada jalan lembali. Seperti peristiwa penembakan sebelumnya di «Ocean Turtle», Higa bukanlah seorang petarung, ia tak bisa menghadapi musuh begitu ia mendengar suara tembakan.

—Akan tetapi.

Aku… Tidak, seluruh organisasi «RATH» telah berhutang banyak pada Kirigaya-kun. Higa Takeru memikirkan hal ini dalam pikirannya.

Jika mereka mengesampingkan menghapus ingatannya, membuat ia dive selama tiga hari, namun setara dengan 10 tahun di Underworld, dan menjadikannya cahaya paling menyilaukan kedalam Fluctlights Buatan. Demi kelahiran sebuah Fluctlight yang mendobrak batasan antar dunia, «Alice», itu semua adalah berkat usaha Kazuto sejak awal.

Tetapi setelahnya, meskipun masih dalam masa pengobatan, menyambungkannya dalam STL dengan berbagai kondisi hingga menyebabkan Fluctlight miliknya terluka. Ini semua karena ia bertarung sengit dengan organisasi yang mengatur Underworld demi melindungi Alice, lalu menyebabkannya kehilangan banyak teman. Terlebih lagi, selama ada kesempatan untuk mengobatinya, Higa akan mengambil resiko tersebut. Jika ia tidak melakukannya, ia tak akan mampu menanggung rasa bersalah seumur hidupnya.

Higa Takeru mengepalkan tinjunya, dan mengangguk pada Kikuoka.

Pada saat itu.

Suara keempat bergema di ruang sub kontrol.

“Errm… Aku juga, Aku juga akan pergi bersama Ketua Higa…”

Mata semuanya tertuju pada salah satu staf tehnisi RATH yang hingga sekarang hanya duduk membelakangi dinding.

Tingginya setara dengan Higa, rambut panjangnya ia ikat dibelakang kepala. Berusaha mengumpulkan keberanian sebanyak yang ia dapat, ia melanjutkan perkataannya.

“Aku juga cukup kecil… Tetapi, setidaknya aku bisa berguna bagi ketua… Dan juga, aku terbiasa dengan urusan kabel dan colokan …”

Higa memandang pria ini, yang suaranya hampir tak terdengar.

Ia cukup tua, mungkin berusia sekitar tiga puluh tahun. Telah berada di Ocean Turtle selama beberapa bulan, kulitnya jadi agak pucat putih. Jika ingatannya tak salah, pria ini keluar dari perusahaan pengembang game untuk bergabunng dengan «RATH».

Sword Art Online Vol 17 - 207.jpg

Meskipun kemampuan bertarungnya tak sepadan dengan Pasukan Pertahanan, memiliki pendamping cukup melegakan. Higa lalu berdiri dari kursinya dan membungkuk berterima kasih kepada anggota staf ini.

“… Sejujurnya. Aku tak tahu dimana lokasi colokan tersebut. Terima kasih banyak sudah menemani, Yanai-san.”

Bagian 2[edit]

Kembali ke Dunia Nyata, Gabriel Miller perlahan membuka kelopak matanya yang tertutup mesin STL #2.

Dibilang kembali, lebih tepat kalau ia dipaksa keluar. Masih dalam posisi tidur di kasur gel, Gabriel mengunyah sisa makanan yang menyangkut di mulutnya.

Bagaimana mungkin ia bisa kalah dalam pertarungan satu lawan satu di Dunia Virtual? Musuhnya bahkan bukan seorang manusia, dia hanyalah seorang AI.

Mengapa ia bisa kalah melawan Knight tersebut? Gabriel menghabiskan beberapa detik untuk memikirkan alasan dibalik kekalahannya.

Kekuatan hasrat? Ikatan antar jiwa? Kekuatan cinta yang menghubungkan orang – orang...?

— Sungguh konyol.

Mulut Gabriel kini tersenyum dingin. Baik itu Dunia Nyata maupun Dunia Virtual, jika kekuatan semacam itu benar – benar ada, maka hanya ada satu kekuatan yang menyemangatinya — kekuatan takdir.

Dengan kata lain, kekalahannya tak bisa dielakkan. Karena memang begitulah terjadinya. Takdir tak ingin Gabriel untuk bertarung menggunakan akun pinjaman seperti Dewa Kegelapan Vektor, tetapi ingin agar ia menggunakan akun asli miliknya. Takdir ingin agar ia dive kembali ke dunia itu sekali lagi.

Maka ia akan menyelesaikan masalah ini sampai akhir.

Setelah selesai berpikir, Gabriel keluar dari mesin STL.

Melihat ke mesin STL lain, ia terkejut jika Vassago Casals masih dive ke dalam Underworld. ia mengira jika Vassago telah tewas dan ter-log out, tampaknya ia juga menemukan sesuatu yang menarik dari kekalahannya.

— Yah, lakukan sesukamu.

Mengangkat bahunya, Gabriel membuka pintu menuju Ruang Kontrol Utama. Anggota team lain yang masih menatap monitor akhirnya berbicara:

“Kau sudah berjuang, Kapten. Ahh, kau juga dikalahkan ya.”

“Cuma sementara.”

Gabriel membalas. Critter merubah ekspresinya dan melaporkan sesuatu:

“Yah, seperti yang kau perintahkan, aku telah memasukkan 50,000 pemain dari berbagai negara bagian di Amerika. Separuhnya telah berhasil dikalahkan, tetapi ya itu, tujuan akhir untuk menghancurkan Pasukan Kerajaan Manusia akan segera tercapai. Untuk tambahan, pihak RATH juga melakukan hal yang sama… aku sudah memastikan adanya koneksi skala besar yang berasal dari jepang menuju medan peperangan. Jumlahnya sekitar 2,000, jadi aku tak menganggap itu sebagai sebuah ancaman.”

“Oh…?”

Mengangkat alisnya, Gabriel melihat ke layar utama.

Peta dunia Underworld bagian selatan muncul. Garis hitam yang membentang ke selatan dari «Gerbang Besar Timur» dan tanda “X”, kemungkinan adalah log pergerakan super account milik Gabriel, Dewa Kegelapan Vektor. Masih ada separuh perjalanan sebelum akhirnya sampai ke console system di ujung dunia bagian selatan, tetapi Alice pasti masih ada di daerah bertanda X yang ada di peta.

Setelahnya garis putih juga bergerak ke selatan mengikuti garis hitam. Itu pasti Pasukan Kerajaan Manusia. Mereka berhasil berkumpul dan sedang berhenti saat ini.

Pasukan Kerajaan Manusia hampir dihancurkan oleh Pasukan Crimson yang jumlahnya sangat banyak. Berasumsi jika garis merah adalah pemain VRMMO asal Amerika, maka garis biru terang yang membentang menjadi pelindung antara garis merah dan garis putih adalah 2,000 pemain asal Jepang.

“Apakah pemain Jepang menggunakan akun default yang tersedia di Kerajaan Manusia?”

“Kukira tidak, menurutmu?”

“Tidak…”

Gabriel mengambil botol air mineral yang diberikan Critter dan meminumnya.

Mungkinkah para pemain VRMMO asal Jepang mengkonvert akun berharga mereka dan dive kedalam Underworld?

Jika seperti itu. Gabriel tersenyum dingin lagi.

Sekitar setengah bulan yang lalu, Gabriel ikut serta dalam sebuah turnamen PvP[5] di server Jepang di VRMMO «Gun Gale Online». Jika mereka yang dengan mudahnya ia kalahkan, dive ke dalam Underworld dan mengetahui permasalahan yang sebenarnya, para pemain jepang tak akan mengambil resiko kehilangan karakter mereka.

Sosok wajah terlintas dalam kepalanya, seorang sniper perempuan berambut biru yang tetap bertarung sampai akhir meskipun terdesak, tetapi Gabriel langsung menghilangkan pikiran tersebut.

“Baguslah, aku akan dive lagi. Convert akunku agar bisa log in ke Underworld.”

Ia mengambil kertas san pulpen yang tergeletak di dekat console, lalu menulis ID dan password miliknya dan menyerahkannya pada Critter. Critter terkejut.

“Whoa, Kau juga, Kapten?”

“‘Juga’, maksudnya…?”

“Yah, Vessago terbangun setelah kalah kan? Dan entah mengapa tampaknya ia terlihat senang, lalu mengconvert akun miliknya dan dive lagi.”

“Oh…?”

Mata Gabriel tertarik pada secarik kertas di sisi tangan Critter. Itu tampaknya akun asli milik Vassago, tiga huruf karakter miliknya membuatnya tertarik.

“Oh begitu… aku paham.”

Kek. Sangat jarang Gabriel mengeluarkan suara tawa. Bahkan Critter keheranan mendengarnya, Gabriel menepuk bahunya dan berkata:

“Jangan khawatir. Mungkin ia tidak menunjukkannya,tepi ia memiliki… masalahnya sendiri. Yah, sisanya kuserahkan padamu.”

Gabriel berbalik dan melangkah menuju ke ruang STL, senyum menggantung di ujung bibirnya.

***

Sementara itu, Vassago Casals sedang tersenyum dibalik tudung hitam avatar miliknya ketika memandang peperangan ini.

Berdiri di atas kepala sebuah patung raksasa yang ada di pintu masuk reruntuhan, ia bisa melihat seluruh pertarungan antara pemain Amerika dan pemain Jepang.

Bukan, bukan pertarungan. Lebih tepatnya jika disebut pembantaian satu sisi.

Di tengah – tengah pintu masuk reruntuhan kuil ini, 2,000 Pemain Jepang membentuk formasi oval dan terus menerus berhasil memukul mundur Pasukan Crimson tanpa kehilangan seorang anggota dari pihak sendiri. Alasan mengapa mereka berhasil melakukannya karena perbedaan equipment dan kerjasama antar pemain, terlebih lagi anggota yang bertugas sebagai pendukung yang ada di bagian belakang mereka. Pemain yang terluka akan dibawa ke belakang dan disembuhkan menggunakan art penyembuh, lalu mereka akan maju lagi dengan semangat yang telah terisi penuh.

Mereka memiliki semangat juang yang sangat tinggi, meskipun luka yang diterima sama sakitnya jika terjadi di dunia nyata. Tetapi jika dinalar, bahwa 2,000 pemain jepang ini mengkonvert karakter mereka dan ikut serta dalam peperangan ini sunggu sebuah keajaiban tersendiri.

Situasi seperti ini mungkin akan dicap tak mungkin oleh Gabriel Miller sendiri—

Tetapi, kondisi ini telah diprediksi oleh Vassago Casals.

Jika menghubungkan server Amerika mungkin, maka pihak Jepang juga akan melakukan hal yang sama guna membantu Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia. Terlebih lagi, Vassago juga telah memprediksi jika mereka akan mengkonvert akun pribadi miliknya.

Diantara para pemain Jepang yang bertarung dengan serius ini, selain «The Flash» Asuna, ada beberapa wajah yang ia kenal. Hal ini membuat jantungnya berdetak hebat.

Terlebih lagi, permainan kematian yang selalu ia dambakan kini muncul dihadapannya dengan peraturan yang sedikit berbeda.

Bukan, bahkan jika mereka mati di dunia ini, nyawa si pemain tak akan menghiang.

Tetapi di Underworld, ada hal yang tak muncul di dalam kastil melayang Aincrad, dan di kastil melayang tersebut muncul hal yang tak ada di Underworld.

Dengan kata lain —

Ada rasa «sakit»

Tetapi tidak ada «Kode Anti Kriminal».

Maka, hal ini membuatnya kegirangan, mungkin lebih mengasyikan ketimbang merenggut nyawa orang dengan tangannya sendiri.

“Kek, kekek, kekkekkek.”

Vassago tak bisa menyembunyikan tawanya dari balik tudung.

***

— Aku tidak berhasil.

Sinon memandang ke seorang knight yang penuh dengan luka, dan seorang knight perempuan berambut emas yang sedang menangis tersedu – sedu sambil memeluknya.

Kedua ekor naga raksasa di samping knight tersebut juga menundukkan kepalanya, seolah menunjukkan rasa kehilangan.

Guna mengejar «Putri Cahaya» Alice, yang telah ditangkap oleh Dewa Kegelapan Vektor, serta Komandan Knight Bercouli, Sinon telah terbang melesat sekuat tenaga. Ia telah menggunakan kemampuan terbang terbaiknya yang telah ia latih terus menerus di ALO, ia lalu terbang ke selatan dengan kecepatan penuh, tetapi pertarungan telah selesai begitu ia sampai di sana.

Tidak — Apa yang perlu diakui adalah kekuatan milik Bercouli.

Karena ia telah berhasil menyusul Vektor dan tanpa diduga bisa mengalahkan sebuah Super Account yang mana sangat kuat.

Tetapi sungguh tak adil.

Kematian Komandan Knight Bercouli berarti musnahnya jiwa miliknya. Sedangkan kematian Dewa Kegelapan Vektor, hanyalah kematian palsu.

Sinon sadar ia harus meyakinkan Alice bahwa bahaya masih belum selesai, tetapi ia tak bisa menemukan kata – kata yang tepat untuk dikatakan padanya.

Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, orang yang berkata pertama adalah Alice.

Bahkan dengan pipinya yang masih basah oleh air mata, kecantikan Alice membuat Sinon takjub. Alice memandang mata milik Sinon. Bibir merah cerinya bergerak, suara yang keluar bagaikan sebuah lonceng:

“Apa kau… dari Dunia Nyata?”

“Yeah…”

Sinon mengangguk, dan berbicara agak canggung.

“Aku Sinon. Teman Asuna dan Kirito. Aku datang untuk menyelamatkanmu dan Bercouli-san dari Dewa Kegelapan Vektor … maaf, aku terlambat.”

Sinon meminta maaf lalu menundukkan kepalanya pada Alice. Alice, akan tetapi menggelengkan kepalanya pelan.

“Tidak… Ini kesalahanku. Aku lengah dan tidak mengawasi bagian belakangku sehingga aku berhasil ditangkap; ini kesalahanku. Nyawaku tidak sebanding dengan Ojii-sama… sang Komandan Integrity Knight?”

Rasa menyalahkan diri sendiri tercampur dalam suara Alice. Berusaha menahan air matanya, Alice mengajukan pertanyaan lain:

“Bagaimana kondisi peperangan?”

“… Asuna dan Pasukan Kerajaan Manusia berhasil menahan pasukan Dunia Nyata.”

“Maka aku akan kembali ke arah utara.”

Alice melangkahkan kakinya menuju salah satu naga, tapi Sinon berusaha menghentikannya.

“Kau tak boleh kesana, Alice-san. Kau harus terus ke selatan, ke «Altar Ujung Dunia». Jika kamu menyentuh console… bukan, menyentuh kristal di atas altar tersebut, kau bisa menghubungi Dunia Nyata.”

“Mengapa? Bukankah Kaisar Vektor sudah tewas?”

“… Tidak… tidak seperti itu.”

Lalu, Sinon menjelaskan situasinya kepada Alice. Bahkan jika manusia Dunia Nyata tewas di Underworld, mereka tidak kehilangan nyawa mereka. Musuh seperti Kaisar Vektor akan mendapatkan tubuh lagi dan kembali menyerang.

Alice tampak sangat marah, seolah emosinya yang sampai sekarang ditahan kini meledak ledak.

“Ojii-sama… kehilangan nyawanya guna membunuh musuh, dan musuh tidak tewas?! Ia hanya menghilang untuk sementara dan akan segera kembali seperti tak terjadi apapun … itu maksudmu?!”

Alice mendekat ke arah Sinon, armor emasnya berkelontangan.

“Bagaimana mungkin … Bagaimana mungkin hal seabsurd itu terjadi?! Maka… untuk apa Ojii-sama… untuk apa ia mengorbankan nyawanya?! Pertarungan tersebut tak sebanding bagi kedua pihak... terlalu... terlalu palsu”

Air mata menetes dari mata biru milik Alice sekali lagi, Sinon hanya bisa memandangnya.

— Aku tak punya hak berkata - kata.

Aku telah tewas berkali – kali dalam pertarungan di GGO dan ALO. Dan seperti Dewa Kegelapan Vector, aku bisa terus hidup jika tewas di dunia ini. Orang sepertiku tak berhak —

Tetapi Sinon menatap Alice, menarik nafas dalam – dalam lalu berkata:

“Jadi… Alice-san, apa kamu mau bilang jika rasa sakit milik Kirito juga palsu?”

Si Knight emas menahan nafasnya.

“Kirito juga berasal dari Dunia Nyata. Jika ia tewas di dunia ini, jiwanya tak akan hilang. Akan tetapi, luka yang ia derita nyata. Rasa sakit yang ia rasakan merusak jiwanya, luka tersebut nyata …”

Sinon berhenti sejenak lalu setelah tersenyum ia melanjutkan:

“Aku… mencintai Kirito. Sangat mencintainya. Begitu juga Asuna. Ada banyak orang yang menyukainya juga. Mereka khawatir akan Kirito, mereka semua. Mereka berdoa agar Kirito segera membaik. Dan juga meskipun tidak mengatakannya, mereka juga berpikir, ‘Mengapa Kirito selalu memaksakan diri seperti itu?’”

Sinon maju dan menepuk pundak Alice perlahan, lalu berucap:

“Kirito terluka agar bisa menyelamatkanmu, Alice. Itulah alasan ia tetap bertarung. Apa kamu mau bilang jika alasan tersebut juga palsu? Tidak, tidak hanya Kirito, Komandan Knight juga. Agar bisa menyelamatkanmu, ia terluka parah dan mengorbankan nyawanya agar kamu bisa lari dari genggaman musuh.”

Sinon tidak langsung mendengar jawaban.

Alice memandang jasad Bercouli yang terbaring di tanah.

Sekali lagi, tetes air mata membasahi pipi Alice — Lalu Alice memejamkan mata erat –erat seolah memikirkan sesuatu. Ia lalu bertanya dengan suara serak:

“Sinon, Jika… jika aku pergi ke Dunia Nyata melalui «Altar Ujung Dunia», bisakah aku kembali? Bisakah aku kembali agar bisa menemui orang – orang yang kusayangi…?”

Sinon tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut. Satu – satunya hal yang ia yakini yaitu jika Alice sampai jatuh ke tangan musuh, seluruh Underworld akan hancur dan menghilang.

Jika ia bisa melindungi dunia ini dan Alice, ia yakin hal tersebut tak akan terjadi.

Kemudian, Sinon mengangguk.

“Yeah. Selama kamu … dan Underworld aman.”

“Aku mengerti… Aku akan pergi ke selatan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi du «Altar Ujung Dunia»… tetapi jika itu adalah keinginan Ojii-sama dan Kirito…”

Alice berlutut ke tanah. Ia menyentuh rambut milik Bercouli, lalu menyentuh bibir dan dahinya.

Ketika ia berdiri lagi, sebuah aura yang berbeda seolah muncul dari seluruh tubuhnya.

“Amayori, Takiguri. Kumohon bertahanlah sebentar lagi.”

Setelah berkata pada kedua naga, Alice berbalik menuju Sinon.

“Apa… apa yang akan kamu lakukan, Sinon-san?”

“Kali ini, giliranku untuk melindungimu.”

Sinon tersenyum sedikit dan melanjutkan:

“Dewa Kegelapan Vektor mungkin akan muncul lagi disini. Aku akan coba mengalahkannya … sekaligus memberimu beberapa waktu agar bisa kabur.”

Alice menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya.

“Aku serahkan ini padamu. Aku akan segera menuju ke selatan.”

Setelah melihat kedua naga terbang ke arah selatan, Sinon mengambil busur putih yang ada di pundaknya.

Kelompok yang menyerang «Ocean Turtle» kemungkinan adalah prajurit militer yang disewa pemerintahan Amerika. Salah satu penyerang menggunakan Super Account 04, «Dark God Vector», untuk menyerang Alice.

Di dunia nyata, Sinon hanyalah seorang siswi SMA, tak mungkin ia menghadapi orang seperti itu.

Tetapi di tempat ini, selama itu pertarungan satu lawan satu di dunia virtual —

Tak peduli siapapun yang aku lawan, aku harus menang.

Bersumpah pada diri sendiri, Sinon menunggu musuh yang akan dive sekali lagi ke dunia ini.

***

Ketika ia menarik pukulan tangan kanannya, suara tulang patah terdengar.

Pemimpin Guild Petarung Tangan Kosong, Ishkan menatap musuh yang telah berhasil ia bunuh tepat di bagian tengah dadanya, ia menatap tangan kanannya.

Pukulannya mampu menghancurkan besi maupun logam apapun. Namun kini lengan tersebut bagaikan sebuah kulit yang melindungi tulang miliknya, tangan tersebut berlumuran darah.

Tangan kirinya juga mengalami hal yang sama beberapa menit lalu. Sedangkan kakinya penuh luka darah. Ia tak bisa lari, hanya bisa menendang.

“Kau bertarung seperti seorang petarung sejati, Champion.”

Suara serak milik Dempe membuat Iskahn menoleh ke belakang.

Setelah kehilangan kedua lengannya, pria kekar tersebut kini terduduk di tanah setelah bertarung hanya dengan membenturkan kepalanya dan memukul mundur musuh dengan tabrakan tubuhnya, tubuh dan wajahnya penuh luka tebasan pedang. Mata penuh semangat tempur miliknya kini telah kusam, seolah menampakkan jiwa Dempe yang telah kelelahan.

Iskahn mengangkat tinjunya sebagai tanda penghormatan pada jiwa petarung tersebut, lalu menjawab:

“Yeah, jika kita tewas seperti ini, kita tak akan malu jika ketemu para leluruh di akhirat sana.”

Mencoba menyeret kakinya, ia berusaha menemani temannya yang masih terduduk di tanah.

Setelah pertarungan sengit nan lama, pasukan crimson yang awalnya berjumlah dua puluh lima ribu kini telah berkurang menjadi tiga ribu pasukan saja. Tetapi sebagai gantinya, pasukan miliknya telah tersisa tiga ratus orang Petarung. Terlebih lagi, kondisi mereka semua telah terluka parah. Mereka kini tak bisa berkumpul menjadi formasi tempur, mereka bagaikan menunnggu ajal.

Tetapi alasan mengapa pasukan musuh belum menghabisi mereka adalah karena —

Seorang Integrity Knight dan naganya masih bertarung mati – matian dihadapan mata Iskahn dan Dempe.

***

Tubuh dan pikirannya telah ditekan sampai batas maksimal.

Namun begitu, seketika bayangan musuh muncul di hadapannya, Integrity Knight Sheyta Synthesis Twelve masih tetap mengangkat tangan kanannya dan menebaskan Black Lily Sword.

Suara udara tertebas terdengar jelas.

Ujung pedang tersebut menyentuh armor pundak sang musuh. Seperti sebuah jarum, pedang tersebut terus memotong sampai ke bagian paha.

“Ha… AAHHHH!!”

Teriakan kemarahan yang muncul dari tenggorokannya seolah mematahkan nama panggilan miliknya «Si Pendiam». Pedang tersebut mengiris musuh dan memotongnya menjadi dua bagian.

Saat si musuh terjatuh, Sheyta menarik senjatanya dengan berat.

Alasan dibalik rasa lelah miliknya adalah karena jumlah musuh yang hampir tak terbatas, dan juga tebasannya seolah menjadi terasa berat ketika menebas musuh.

Incarnation miliknya seolah menjadi tak berarti. Meskipun senjata dan armor musuh bukanlah tandingan Divine Instrument milik Sheyta, ketika ia menebasnya seolah terasa ada yang menahan. Serangan musuh juga sama. Mereka hanya mengandalkan tenaga dan tebasan tak beraturan sehingga Sheyta kesulitan memprediksi arah serangan mereka.

Ia seolah bertarung melawan hantu. Pasukan ini seolah tak ada disini, seperti sebuah bayangan saja karena tak terhitung banyaknya.

Bertempur dengan mereka juga tak menyenangkan. Sheyta menebas mereka, dan mereka muncul lagi, terus menerus seperti itu tanpa henti.

— Mengapa?

— Tak peduli jika musuhku adalah bayangan maupun sosok tubuh manusia, bahkan sebuah batu, aku merasakan kesenangan jika mereka bisa ditebas. Aku hanyalah sebuah boneka yang hanya mencari kesenangan dalam tebasan …

Black Lily Sword adalah sebuah Divine Instrument yang memiliki Priority tertinggi dalam ujung bilah pedangnya yang sangat tipis. Pedang ini diciptakan dengan tujuan hanya untuk menebas, persis seperti Sheyta. Jika salah satu keduanya kehilangan arti kesenangan untuk menebas, sosok jati dirinya akah menjadi tak berarti.

Pemimpin Tertinggi Administrator telah mengubah sebuah bunga lili hitam yang telah diambil oleh Sheyta dari bekas peperangan di Tanah Kegelapan. Ketika ia menyerahkan pedang tersebut padanya, Pemimpin Tertinggi berkata padanya:

— Pedang ini adalah perwujudan luka goresan yang ada di jiwamu. Sebuah kutukan atas nama pembunuhan yang tercipta oleh parameter kepribadian di dalam jiwamu. Tebaslah, tebaslah, dan teruslah menebas. Ketika kamu menapaki jalan berdarah ini sampai akhir, kamu akan menemukan jawaban untuk melepaskan kutukan ini … Mungkin.

Pada saat itu, Sheyta tak mengerti apa maksud perkataan Pemimpin Tertinggi.

Ia hanya mematuhinya dan terus menebas selama bertahun tahun. Kemudian, akhirnya ia menemukan musuh yang layak. Dia adalah sosok yang sangat keras dan sulit untuk ditebas oleh pedangnya, berbeda dengan musuh – musuhnya selama ini: ia adalah si Petarung Tangan Kosong.

Ia berharap untuk bertarung dengannya sekali lagi. Hanya lewat pertempuran ia akan memahami sesuatu.

Terbawa pikiran ini, Sheyta membantu Pasukan Kerajaan Manusia dan tetap disini. Namun tampaknya ia tak bisa bertarung lagi melawan Petarung Berambut Merah tersebut.

Ia menelan ludah dan menyeka kulitnya yang berkeringat lalu menoleh ke belakang.

Ia melihatnya, sedang duduk di atas sebuah batu, si Pemimpin Petarung Tangan Kosong. Tubuhnya penuh luka. Tersirat, rasa kehilangan terpampang di wajahnya ketika ia menatap Sheyta.

Sheyta merasakan dadanya tersengat sesuatu.

— Rasa sakit apa ini?

— Aku seharusnya menebas pria tersebut. Aku ingin merasakan pertarungan sebelumnya, menikmati pukulan kerasnya. Itulah yang aku inginkan. Namun mengapa hatiku … rasa sakit apa ini …?

Crack.

Suara lemah terdengar dari tangan kanannya.

Sheyta mengangkat Black Lily Sword, mengamatinya perlahan. Pada bagian tengah pedang hitam yang tampaknya bisa menghisap segala jenis cahaya tersebut terdapat sebuah retakan setipis benang laba - laba.

Ahh…

Aku mengerti.

Sheyta menarik nafas dan tersenyum.

Semua pertanyaan yang ingin ia jawab kini telah ia temukan. Sheyta akhirnya memahami perkataan Administrator, dan juga mengenai kutukan yang ia miliki.

Getaran terasa di atas tanah. Ia berbalik lagi dan melihat seorang prajurit menuju kearahnya sambil membawa palu raksasa.

Sheyta menghindari serangan tersebut dan menusukkan pedang di tangan kanannya ke bagian tengah dada musuh.

Sesuai namanya, si Pendiam. Serangan tersebut mendekati musuh, Black Lily Sword menusuk ke jantung musuh dan merenggut nyawanya — kemudian, serangan tersebut perlahan berubah menjadi banyak kelopak bunga yang tersebar ke segala arah.

Sheyta perlahan membisikkan sesuatu ke gagang pedang yang telah hancur tersebut:

“… Terima kasih, sudah menemaniku selama ini.”

Seketika, ia mencium bau bunga walaupun samar – samar.

Di sisi kanannya, sang naga Yoiyobi yang menjadi temannya menghancurkan musuh dengan sabetan ekornya.

Sisik abu – abu si naga telah berwarna merah akibat luka yang cukup banyak, dan cakar sertaa giginya beberapa ada yang patah. Ia tak bisa menyemburkan api lagi dan pergerakannya melambat.

Sheyta memastikan pergerakan musuh berhenti, lalu berjalan mendekati naga tersayangnya dan mengusap lehernya.

“Terima kasih juga, Yoiyobi. Kamu lelah kan?… Istirahatlah.”

Kemudian, Sheyta dan naganya bergerak menuju bukit kecil dimana sisa – sisa Guild Petarung Tangan Kosong berkumpul.

Masih duduk di batu, Pemimpin Petarung Tangan Kosong mengangkat tangannya dan menyambut kedatangan Sheyta.

“Maaf… Pedangmu jadi hancur …”

Sheyta menggelengkan kepalanya:

“Tak apa. Aku akhirnya mengerti mengapa selama ini aku terus menebas …”

Sheyta duduk kelelahan, mengangkat kedua tangannya dan menyentuh wajah Iskhan.

“Untuk menemukan hal yang tak boleh aku tebas. Selama ini aku bertarung agar aku bisa melindungi. Itu… kau. Jadi aku tidak memerlukan Black Lily Sword lagi.”

Seketika, kedua mata Ishkan terbuka lebar dan air mata mengalir. Berlawanan akan hal ini, Sheyta malah kaget.

Ishkah menggertakkan giginya dan berkata serak:

“Ah… sial. Aku juga ingin berkeluarga denganmu juga. Kita akan memiliki anak yang sangat kuat. Lebih kuat dari pada leluhurku, lebih kuat dariku, hingga menjadi Petarung Tangan Kosong terkuat yang pernah ada …”

“Tidak. Anak itu akan menjadi seorang Knight.”

Keduanya saling tatap untuk sesaat, lalu tersenyum. Dipandangi oleh Dempe yang berbadan kekar, Sheyta dan Iskahn menjadi malu, lalu duduk berdekatan.

Tiga ratus Petarung Tangan Kosong, seorang Integrity Knight, dan seekor naga kini duduk menunggu datangnya pasukan crimson yang semakin mendekat.

***

“Seperti permainan… atur dan serang, benar kan?”

Klein berkata seperti itu ketika ia dan Asuna kembali ke posisi belakang. “Benar,”Asunna membalas.

Luka keduanya sedang disembuhkan oleh pemain Jepang menggunakan Sacred Arts yang baru saja dipelajari. Ia tak bisa memaksimalkan penggunaan Art seperti para regu Asthetic dari Underworld, tetapi karena karakter miliknya berlevel tinggi, seharusnya ia bisa menggunakan Art kelas atas untuk penyembuhan.

“Terima kasih telah datang kemari.”

Asuna berterima kasih pada pemain jepang dan Klein yang berdiri di sampingnya.

“Terima kasih juga, Klein. Aku tak tahu harus berkata apa …”

Melihat Asuna seperti itu, Klien menggosok hidungnya karena malu.

“Hei, jangan perlakukan aku seperti orang asing. Aku berhutang padamu dan si Kirito lebih banyak… ia juga disini kan?”

Klein memelankan suaranya. Asuna mengangguk pelan.

“Ya. Temuilah dia setelah peperangan ini. Jika ia mendengar lelucon burukmu mungkin ia akan segera terbangun.”

“Hei, itu kejam.”

Sebuah senyuman muncul di wajah Klein, tetapi mata miliknya seolah penasaran. Ia juga tahu tentang luka yang dialami Jiwa Kirito.

— Ah, tetapi …

Setelah semuanya selesai, setelah mereka berhasil mengusir musuh dari Underworld dan «Ocean Turtle», jika Sinon, Leafa, Klein, dan semua pemain asli SAO, juga Sakuya, Alicia, dan orang – orang dari ALO… lalu Alice, Tiese, Ronye, Sortiliena, dan semua orang ada di dekat Kirito, maka ia akan bangunkan?

Ia harus tetap bertarung, hingga saat itu datang, ia akan menyambutnya dengan senyuman.

Saat lukanya menutup, Asuna berterima kasih lagi dan berdiri.

Seperti yang dikatakan Klein, nasib peperangan ini tak bisa diprediksi. Jumlah pemain Amerika telah berkurang sangat banyak, dan mereka seolah kehilangan semangat bertarungnya karena mereka menyerang tanpa pikir panjang.

Tetapi pertempuran di reruntuhan kuil ini hanyalah pertarungan yang terlihat.

Poin pentingnya adalah «Putri Cahaya» Alice yang telah ditangkap oleh Kaisar Vektor. Komandan Knight Bercouli serta Sinon masih mengejarnya, mereka harus bisa mengalahkan Vektor dan membawa kembali Alice. Terlebih lagi, ia harus memilih pemain paling elit dari akun konverter dan meminjam kuda dari Pasukan kerajaan Manusia lalu segera menuju selatan secepat mungkin.

Jika berhasil mengejar mereka, bahkan jika musuh menggunakan sebuah Super Account, ia tak akan mungkin bisa mengalahkan pasukan elit dari pemain jepang. Kekuatan mengalir ke dalam diri Asuna. Para swordsmen yang datang kesini menggunakan pedang, perisai, dan armor yang seolah memantulkan sinar, mirip dengan mitologi Einherjar of Norse …

Asuna mengusap air matanya.

Kuda Pasukan Persediaan telah ditarik di dekat pintu keluar reruntuhan, dan kemah darurat sementara berada disana. Asuna juga bisa melihat para pemain jepang yang masih disembuhkan oleh regu Asthetic Underworld.

“… tak apa, semuanya akan baik – baik saja… pasti.”

Perasaan Asuna seolah terbaca oleh Klein yang ada disampingnya:

“Tentu. Baiklah, ayo maju lagi.”

“Ya.”

Asuna mengangguk dan bergerak lagi ke depan —

Tetapi perhatiannya teralihkan oleh sesuatu disana, membuatnya terkejut.

— Apa itu. Sosok hitam… hitam pekat…

Mata Asuna bergerak untuk sesaat, lalu ia melihatnya.

Patung raksasa yang ada di kedua sisi pintu masuk reruntuhan kuil.

Berdiri di atas patung tersebut adalah sesosok manusia.

Karena patung tersebut memantulkan cahaya, sehingga sosok tersebut cukup jelas dilihat dalam langit merah Tanah Kegelapan.

Apakah ia pemain Amerika? Ataukah seorang pengintai dari Jepang?

Terpaku, Asuna bergerak mendekat dan menyadari jika sosok tersebut mengenakan jubah hitam. Tudungnya menutupi wajah sosok tersebut sehingga tak terlihat.

Tetapi.

“Hei, Klein. Orang itu…”

Klein akan maju ke garis depan tetapi Asuna mencengkram tangan kanannya dan mengacungkan jari kirinya.

“Orang yang berdiri disana, apakah kamu pernah melihatnya?”

“Huh…? Whoa, ia menonton seluruh pertempuran dari atas sana. Sialan, siapa dia?… mengenakan tudung kepala. Aku tak bisa melihat wajahnya … tunggu…”

Suara Klein tiba – tiba terputus.

Asuna menatapnya, wajah Klein menjadi pucat seolah warna dihisap dari seluruh wajahnya.

“Hei, ada apa? Kamu mengenalnya? Siapa dia?”

“Tidak… tak mungkin, itu… apa aku… melihat sesosok hantu…?”

“Sesosok hantu…? Apa maksudmu?”

“Ka… Karena, tudung hitam itu, bukan, pakaian itu… ciri khas LaughCoff…”

Seketika mendengar nama tersebut.

Asuna merasa otaknya membeku seketika.

LaughCof. Dikenal juga dengan nama «Laughing Coffin». Dari lantai tengah sampai akhir permainan kematian SAO, mereka adalah guild merah paling mengerikan yang ada di kastil melayang Aincrad.

Banyak pemain PK, termasuk «Red-Eyed XaXa» dan «Johnny Black» ada di dalamnya, dan guild ini memiliki anggota pemain hijau … Akhirnya, setelah pertarungan mematikan dalam sebuah penyergapan oleh pemain – pemain elit, guild tersebut berhasil dihancurkan.

Pada pertempuran tersebut, hampir setiap anggota «Laughing Coffin» kalau tidak tewas, maka dijebloskan ke Black Iron Palace, tetapi ada yang berhasil lolos dari pertarungan tersebut. Dia adalah sang ketua, dia tiba – tiba menghilang ketika lokasi guild terbongkar, dan dia juga dengan cara langsung mauupun tak langsunng berhasil membunuh banyak pemain SAO. Namanya adalah — «PoH». Ia biasanya mengenakan pakaian hitam bertudung dan menggunakan pisau besar. Dua tahun setelahnya kini ia turun ke Underworld dan memandang kebawah ke Asuna dan Klein.

“………. Tak mungkin.”

Asuna hanya bisa berguman dalam pikirannya.

Ini tak nyata, aku sedang melihat sesosok hantu kan.

Pergi. Pergilah.

Tetapi, seolah menghina harapan Asuna, sosok hitam tersebut melambaikan tangan kanannya perlahan. Tangan tersebut lalu digerakkan ke depan dan belakang, seolah mengejek Asuna.

Apa yang mengikutinya —

Bisa dideskripsikan sebagai sebuah mimpi buruk.

Sosok baru muncul di samping sosok hitam tersebut. Lalu satu lagi, satu lagi.

Diatas patung raksasa sana, pasukan baru perlahan muncul. Di bagian kiri, sepuluh orang muncul.

— Berhenti. Berhenti .

Asuna memohon. Ia takut tak akan mampu menghadapi kengerian ini.

Akan tetapi.

Pasukan Crimson baru terus bermunculan, terus menerus. Seribu, lima ribu, sepuluh ribu.

Kini pasukan itu berjumlah sekitar tiga puluh ribu, Asuna memperkirakan.

Tak mungkin.

Lima puluh ribu pasukan Amerika dilawan dengan susah payah. Tak mungkin pasukan sebanyak itu bisa dikumpulkan dengan mudah, dan mereka bukanlah pemain Jepang. Jika perekrutan diumumkan di website jepang, Klein dan yang lainnya pasti akan tahu.

Bagaikan hantu. Bagaikan hantu yang dipanggil menggunakan Art.

Pada titik ini, Para pemain Jepang yang hampir menghancurkan pemain Amerika di garis depan sana menghentikan pertarungan dan melihat ke atas patung. Medan peperangan kini menjadi sunyi.

Garble, garble.

Bunyi gemericing dari pasukan crimson di atas sana terdengar bagaikan deru angin di telinga Asuna.

Asuna tak bisa memahami bahasa apa yang mereka gunakan karena tercampur bunyi gemericing. Ia memfokuskan pendengarannya, dan akhirnya menangkap perkataan yang cukup keras dari lainnya.

— Bigeobhan ilbon-in.

— Uli nalaleul jikyeola.

— Ganchuu renmen.

Bukan bahasa Inggris. Juga bukan bahasa Jepang.

Pada saat itu, Klein menggeram.

“Ah… Ini buruk… sangat buruk… Pasukan baru itu bukan dari Jepang maupun Amerika…”

Asuna merasa keringat dingin menuruni punggungnya ketika mendengar kata – kata selanjutnya:

“……… Mereka dari Cina dan Korea.”

Sword Art Online Vol 17 - 236.jpg

Bagian 3[edit]

Mungkin karena universitas sedang melaksanakan liburan musim panas, bar VR di daerah Cheongjin-dong, Distrik Jongno di Seoul kini terlihat padat.

Jo Wol-saeng baru saja selesai mengisi formulir masuk, ia lalu memesan minuman soda di bar. Ia memasuki sebuah ruangan, bersandar ke tempat duduk lalu menarik nafas.

Ia belum pernah merasa selega ini sebelumnya. Ia sebenarnya sudah mengetahui alasannya. Ia kini sudah berusia 20 tahun, seorang mahasiswa tingkat dua, dan tahun selanjutnya ia akan absen untuk melakukan wajib militer.

Ia dibatasi sampai umur 30 tahun untuk melakukannya, jadi ia bisa saja menunda – nunda, tetapi seorang mahasiswa yang belum melakukan wajib militer sebelum kelulusan akan dianggap sebelah mata dalam dunia pekerjaan. Hampir semua teman seangkatannya akan mengikuti wajib militer tahun berikutnya, dan karena orang tuanya juga mendesak terus, ia tak bisa lari lagi.

Wol-saeng meneguk soda miliknya dan merasa lega.

Semua hal ini membuatnya resah, apakah ia bisa menjalani latihan keras itu, bagaimana jika ia akan dibuli oleh para prajurit. Tetapi yang paling membuatnya depresi adalah fakta bahwa masa hidupnya selama dua tahun akan dirampas. Yah, meskipun ia tak memikirkan hidupnya di dunia nyata, sedangkan di dunia virtual, disitulah ia pertama kali merasakan hidup setelah diundang oleh teman – teman kuliahnya — dua tahun penuh tak bisa memasuki dunia itu, sangat membuatnya stres.

“…… Jika saya di militer ada hal semacam ini …”

Ia berguman ketika mengambil mesin FullDive yang ada di meja — the «AmuSphere». Benda ini milik bar VR, sering dipakai umum. Tapi bagi Wol-saeng, mesin ini lebih bercahaya ketimbang seorang malaikat.

Tiga tahu lalu — di 2023, mesin ini dirilis di Jepang lalu dikirim ke luar negeri tahun berikutnya, dan menjadi booming di Korea Selatan, dimana industri game online sedang diminati. Dulu bernama «PC Bars», kafe – kafe internet mulai mengganti nama mereka menjadi «VR Bars», karena memiliki AmuSpheres. Anak - anak muda mulai terpikat oleh VRMMORPG, baik yang dikembangkan Jepang maupun Amerika.

«Silla Empire», game yang dimainkan Wol-saeng selama satu setengah tahun ini adalah permainan yang telah dilokalisasikan ke Korea dari developer asal Jepang «Asuka Empire». Game ini bukan hanya ditranslate, bahkan kota, avatar, dan isi quest telah disesuaikan dengan dinasti Silla Korea. Permainan ini memiliki popularitas tertinggi sejak pertama kali diluncurkan.

Di sisi lain, para pemain ingin segera memiliki game yang murni diciptakan oleh Korea sendiri, jadi banyak perusahaan yang mengembangkan VRMMO menggunakan softwere gratis bernama «The Seed Nexus». Akan tetapi, software tersebut juga masih buatan Jepang, jadi tanpa menghubungkan ke «The Seed Nexus» yang berbasis di jepang, siapapun tak bisa memaksimalkan fungsi yang ada. Tetapi VRMMO Jepang membatasi hubungan koneksi ke Korea dan China sehingga keduanya tak bisa menghasilkan permainan yang menyamai kualitas «Silla Empire», hal ini membuat banyak pemain Korea menjadi tak puas.

— Aku ingin memainkan semua game Korea sebelum masuk wajib militer, tapi sepertinya hal itu tak mungkin …

Wol-saeng mengeluh, lalu membuang harapannya tersebut. Ia bersandar ke kursi dan mengenakan AmuSphere.

“… Link Start!”

Ia mengucapkan suaranya dan menutup mata.

Melewati sinar warna – warni, ia mengisi user ID dan password, lalu ia sampai di Launching Area[6] untuk bersiap mengklik icon «Silla Empire».

Tetapi, ia menyadari ada notifikasi window networking yang melayang di sisi kanan ruang tersebut, lalu menscroolnya ke bawah dengan cepat. Sepertinya ada ribuan orang yang memposting berita yang sama secara bersamaan.

“……… Apa – apaan ini?”

Kebingungan, Wol-saeng menekan program di sisi kiri lalu menarik window networking ke hadapannya. Lalu ia mengklik berita, memeprbesarnya dan membacanya.

“Hmm… ‘Korea, America, dan China sedang melakukan pengembangan VRMMO baru dan tes server yang sedang dijalankan… telah di serang oleh pemain Jepang, mereka juga menyerang pemain beta test?! Apa – apaan ini?!”

Sejujurnya, Wol-saeng sadar jika berita macam ini sulit untuk dipercaya. Tetapi lampiran yang ada di bagian akhir berita menunjukkan suatu video; ia mengkliknya tanpa ragu.

Sebuah window terbuka, lalu —

“Penjaga, Serang!!”

Teriakan pemain menggelora. Wol-saeng yang juga beberapa kali menonton Anime Jepang sadar jika apa yang ia katakan adalah bahasa Jepang.

Video tersebut menunjukkan pemain Jepang yang mengenakan armor silver sedang menyerang pemain berarmor crimson, membunuhnya satu persatu. Darah terus menerus muncul ketika pedang mereka diayunkan, pemain Amerika mengutuk tindakan tersebut.

Menduga karena tak ada hukum yang mengatur tempat tersebut, kejadian ini pastilah terjadi di tes server. Seperti yang dikatakan berita tersebut, pemain jepang sedang membantai pemain Amerika.

Ketika video 30 detik itu berakhir, Wol-saeng merasa bimbang.

Sebuah «server attack» biasanya diartikan sebagai tindakan menghancurkan suatu website, tetapi dive kedalam dunia VR dan menyerang para pemainnya … ini pertama kalinya Wol mendengar berita semacam ini. Jika isi video itu benar – benar nyata, itu berarti kejadian ini masih berlangsung, tetapi sesuatu mengganggunya.

Memang… di video itu, para pemain jepang memiliki equipment dan kemampuan yang melebihi pemain Amerika, mereka sedang menghajar para pemain Amerika. Akan tetapi ia merasa pihak yang sedang diserang bukanlah Amerika, melainkan pihak Jepang. Menyerang sebuah server adalah lelucon biasa, tetapi… orang – orang ini seolah sedang mempertaruhkan nyawa …

Tiba – tiba, bunyi ding-dong terdengar, membuat Wol-saeng menolehkan kepalanya.

Itu adalah teman satu guild «Silla» yang sedang mengiriminya permintaan pesan suara. Ia menekan tombol “Accept” kemudian sebuah window muncul dan berteriak pada karakter milik Wol-saeng.

“Hei, Moonphase, kau sudah lihat kan?!”

“Uh… ya, aku baru saja …”

“Lalu apa yang kau tunggu? Cepat download client-nya!”

“C… Client?”

Ia kembali melihat ke window networking dan menggeser kesamping.

Tertulis disana — Guna menolong para pemain dari serangan pihak Jepang, kami sedang merekrut relawan dari seluruh pemain VRMMO Korea. Jika kamu berminat, silahkan download software ini dan menginstalnya ke AmuSpheres milikmu.

“…Ini?… Hwan-ung, kau pikir ini nyata?”

“Tentu saja, bukankah sudah jelas di video itu?! Selagi kita bicara teman – teman kita sedang di serang!!”

“Memang… Tetapi, video itu…”

Wol-saeng ingin mengutarakan pendapatnya, tetapi ia didahului.

“Kalau begitu, instal saja dan cepatlah! Myung-hoon dan Helix sudah dive, jadi aku akan menunggumu disana!”

Panggilan itu berakhir, dan kesunyian muncul diruangan ini.

Meskipun Wol-saeng masih memiliki banyak keraguan, hampir seluruh anggota guildnya telah ikut serta, ia tak tahu apa jadinya jika ia tak ikiut serta. Ia mungkin akan menemukan petunjuk tentang apa yang terjadi disana — terlebih lagi, gangguan semacam ini pastilah sebuah event menarik bagi pembukaan suatu game baru. Jika ia tak ikut serta, ia mungkin tak akan mendapat keuntungan.

Membuat keputusan, Wol-saeng menekan tombol “Download” dan menginstalnya ke AmuSphere, lalu muncul icon baru untuk dijalankan. Setelah menekan icon crimson, sebuah kata berwarna hitam pekat yang bertuliskan “BANTU KAMI” muncul, Wol-saeng merasa kesadarannya telah dihisap ke suatu dimensi yang berbeda.

***

Bahkan setelah mentransfer koneksi yang jumlahnya sangat banyak dari Cina dan Korea ke dalam Underworld, Critter masih merasa ragu.

Meskipun ia telah mengikuti perintah Vassago Casals untuk memberikan client koneksi ke dua negara yang ada di dekat Jepang, ia merasa ada hal yang mencurigakan disini.

— ‘Bukankah Jepang dan Korea hampir mirip?

Banyak orang Amerika tidak tahu jika Jepang dan Korea adalah negara yang berbeda, dan ada juga yang menganggap jika Korea dan Jepang adalah bagian dari negara Cina. Meskipun Critter tidak terlalu memusingkannya, ia menganggap jika ketiga negara ini adalah negara yang rukun. Bukankah ketiga negara ini cukup rukun, seperti EU?

Itulah mengapa Critter tak bisa menemukan hal mencurigakan pada rencana Vassago.

Karena ia tak memiliki waktu untuk membuat situs palsu, maka ia menggunakan sosial media untuk menyebarkan berita ini. Berita pertama : “Orang – orang Jepang sedang menyerang server VRMMO yang sedang dikembangkan Amerika, Cina, dan Korea!”

Berita kedua memberikan penjelasan: “Pemain Jepang ingin memonopoli The Seed Nexus jadi mereka menyerang server dan mulai menciptakan karakter – karakter kuat. Mereka menyerang pemain test Amerika, Cina, dan Korea. Karena server tersebut masih belum dilengkapi dengan pain absorption dan kode anti kriminal, teman – teman kami masih dibantai dengan rasa sakit yang nyata.” Critter lalu melampirkan sebuah video yang ia ambil dari dalam Underworld.

Video tersebut adalah rekaman Pasukan Kerajaan Manusia yang sedang menyerang pemain Amerika, tetapi penduduk Underworld berbicara dengan bahasa Jepang. Tempaknya video tersebut memiliki dampak yang cukup besar, jumlah berita yang disebarkan meningkat drastis, dan jumlah client yang didownload pemain Korea dan Cina telah melebihi client yang didownload Amerika.

Bersandar kembali, Critter berfikir sejenak.

— Mengapa rasanya pemain Jepang tidak akur dengan pemain Cina dan Korea ya?

***

— Oh, malah semakin memburuk. Mereka saling serang satu sama lain.

Vassago Casals yang telah kembali ke Underworld menggunakan karakter «Laughing Coffin» miliknya, «PoH» mulai menyeringai lagi.

Ia mengangkat tangan kanannya tinggi – tinggi, dan berteriak pada pemain crimson yang ada dibelakangnya menggunakan bahasa Korea.

“— Pergilah, lindungi teman – teman kita!! Tebas dan tusuk mereka semua seperti yang mereka lakukan pada teman kita!!”

Seketika pasukan yang berjumlah 50.000 ini mendengar kata – kata tersebut, mereka langsung maju kedepan. Bagi mereka, pasukan Amerika yang sedang dibunuh oleh pemain Jepang kini sudah mereka anggap sebagai teman.

Mencoba tidak tertawa, Vassago mengayunkan tangannya kedepan.

Seperti suara deru badai, pasukan crimson yang baru saja muncul mulai melakukan penyerangan pada pemain Jepang.

— Ayo, saling bunuhlah. Menarilah sampai kalian mati.

***

“… Dia datang.”

Sinon berguman pada dirinya sendiri.

Ia melihat garis – garis kode hitam berjatuhan dari langit merah, seperti gumpalan benang.

Sekarang ini, ia ingin menggunakan skill «Annihilate Ray» dengan kapasitas maksimumnya ketika musuh muncul di depan mata. Karenanya musuh tak mungkin menghindar atau bertahan.

Tetapi sekarang ini ia perlu mengulur waktu. Jika musuh mampu membuat akun – akun berlevel atas, maka membunuhnya akan jadi sia - sia.

Pertama, ia harus mampu menarik perhatian musuh, lalu mengamati reaksinya. Jika musuhnya seolah mempertahankan diri dengan sangat serius, ia bisa memastikan jika musuh menggunakan akun pribadi miliknya. Lalu, ia akan melakukan serangan penuh, sehingga membuatnya tak bisa log in memakai akun yang sama.

Tetapi, dalam sebuah event dimana akun bisa dibuat secara banyak, ia tak bisa membunuhnya. Ia harus berusaha mengulur waktu bagi Alice agar bisa sampai ke «Altar Ujung Dunia».

Jadi Sinon tidak menarik lagi busurnya dan kini hanya menunnggu musuh untuk muncul.

Tempat kode – kode hitam muncul adalah tempat jasad Komandan Knight Bercouli berada beberapa menit lalu.

Sekarang jasadnya telah dipindahkan ke atas punggung naga oleh Integrity Knight Alice; ia ingin memberikan pemakaman yang layak baginya di Kerajaan Manusia.

Shino bertanya padanya: “Dia seseorang yang kau sayang?” Alice tersenyum lembut dan membalas: “Kau juga saingan orang yang kusayang.”

— Syukurlah.

Pada saat ini, Sinon tak boleh ter-log out dengan mudah. Ia harus menjaga dunia ini, hingga Kirito terbangun.

Sinon menetapkan tekadnya dan memandang tanah di bawah sana .

Garis hitam tadi kini menyentuh tanah dan membentuk suatu cairan.

Warnanya sungguh hitam, seperti lubang neraka.

Ketika garis terakhir berkumpul menjadi satu —

Bloop.

Sebuah wajah mulai terbentuk. Lalu tangan kanan mulai muncul. Ketika Sinon melihat lima buah jari yang terbentuk, ia merasakan hawa dingin di punggungnya.

Ia mencoba mengalihkan perasaan ini, dan menunggu musuh untuk memadat.

Setelah tangan kanan, tangan kiri mulai terbentuk.

Kepala si musuh kini hampir terbentuk.

— Apa yang membuat Sinon terkejut adalah fakta jika karakter musuh tidak diedit melalui edit feature; itulah anggapan Sinon, ia tak terlalu tampan. Rambut emas pendeknya tergerai, hidung dan bibirnya tipis, dan dia seperti orang Caucasian, menurutnya.

Apakah karakter ini adalah tubuh asli orang yang menggunakan Super Account Dewa Kegelapan Vektor?… Sinon berpikir keras.

Orang itu mengangkat tubuh bagian atasnya, menampakkan mata birunya, akhirnya ia menatap Sinon yang sedang terbang.

Seketika, Sinon merasa ada yang aneh.

Ia merasa jika pernah melihatnya entah dimana. Mata itu adalah mata yang merefleksikan apapun, namun tampak seolah menelan segalanya di saat yang sama; sepasang mata yang tak memiliki emosi.

Mata tersebut melebar ketika melihat Sinon. Lalu sebuah senyum muncul di wajah musuh.

Ya. Aku pernah melihatnya. Aku pernah melihat mata … dan wajah itu. Terjadi belum lama ini, dimana —

Ketika Sinon menatapnya, splat, seketika ia meloncat.

Posisi menyerangnya cukup aneh. Ia juga telah mengkonvert equipment miliknya; ia tak mengenakan armor metal. Seragam bagian atas dan bawah disambungkan dengan sebuah sabuk, dan kakinya memakai sepatu boot, hampir mirip seperti seorang prajurit di dunia nyata. Senjata miliknya adalah sebuah pedang panjang di pinggang kiri dan sebuah busur di tangan pinggang kanan.

Ketika tubuhnya hampir utuh memadat, gumpalan cairan hitam tidak menghilang. Namun tetap memadat sendiri seperti seekor binatang. Bukan, memang sebuah binatang, cairan itu berubah menjadi sebuah sayap tipis.

Bukan seperti sayap burung, maupun sayap naga, lebih seperti sayap kelelawar. Dibagian ujung sayap tersebut terdapat empat mata dan sebuah ekor panjang.

Ketika si pria mendekati binatang tersebut, makhluk bersayap ini membentangkan sayapnya dan menuju ke ketinggian dimana Sinon berada.

Makhluk itu hanya berjarak 30 meter dari Sinon, dan si pria masih tersenyum padanya.

Entah mengapa, musuh mengangkat tangannya yang tak bersenjata dan merentangkannya ke bagian depan. Sinon menjadi waspada, berpikir jika ia akan memulai incantation. Tetapi tak ada yang terjadi. Si pria lalu melingkarkan tangannya seolah hendak mencekik leher Sinon.

Seketika itu juga, Sinon akhirnya mengingat. Suara serak keluar dari mulutnya.

“…… Subtilizer……”

Itu dia. Seorang pemain Amerika yang berhasil membunuhnya ketika final PvP Turnamen di Gun Gale Online — «Fourth Bullet of Bullets», yang diselenggarakan dua minggu sebelumnya.

Tetapi mengapa ia ada disini?

Lupa akan busur yang ia genggam, Sinon masih terkejut, matanya semakin melebar.

***

Dibagian tengah Ocean Turtle yang berbentuk seperti piramid, disokong oleh poros tebal yang terbuat dari bahan titanium.

Di bagian bawah poros berbentuk lingkaran setinggi seratus meter ini terdapat sebuah mesin yang dilindungi oleh berbagai lapis dinding pelindung — Reaktor Bertekanan Air. Diatas reaktor ini terdapat Ruang Kontrol Utama, dan Ruang STL 01.

Underworld, lebih tepatnya fokus penelitian Project Alicization — Light Cube Cluster ada di bagian atas ruang kontrol utama. Area tersebut berada di bagian poros bawah.

Diatas Light Cube Cluster adalah lantai yang memisahkan poros atas dan poros bawah. Area diatas dinding yang ada di poros atas ada: berbagai macam peralatan pendingin, dan Ruang Sub Kontrol dimana pekerja RATH sedang bersembunyi saat ini, juga ada ruang STL 02 yang sedang digunakan Kirigaya Kazuto dan Yuuki Asuna.

Pada 7 Juli, pukul 9:00 am. Sebuah robot humanoid mulai bergerak atas kemauannya sendiri di ruang peralatan pendingin, menuruni tangga di bagian samping kapal. Dia adalah mesin prototipe yang dikembangkan RATH, «Ichiemom». Meskipun bergerak sendiri, sebenarnya ada tiga orang pasukan JSDF[7] yang mengikutinya.

— Syukurlah, aku bukanlah seorang claustrophobic[8], acrophobic[9], atau nyctophobic[10].

Higa Takeru menguatkan dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama. Ia merasa jika memiliki phobia bukanlah hal yang memalukan.

Karena, lorong yang hanya diterangi lampu emergency hanya memiliki panjang 40 meter. Jika tangannya berkeringat maupun salah menempatkan kaki, ia kan langsung terjatuh ke bawah dan menjemput ajal.

Jika ia mengetahui hal ini sebelumnya. Ia akan meminta Yanai berjalan dahulu. Jika ia berjalan didepan, Higa tak akan terus menerus menatap kebawah.

— Omong – omong, ia berkata akan melindungiku. Tetapi malah menyuruhku “Berjalan didepan”. Apa - apaan?

Higa memandang beberapa meter di keatas, Yanai masih menuruni tangga.

Akan tetapi, setelah melihat jika wajahnya semakin pucat ketika ia menuruni tangga per tangga. Higa tak jadi mengeluh. Keberanian Yanai untuk ikut serta dalam misi ini sudah cukup untuk diberi pujian, dan senjata pistol yang ada di pinggangnya cukup memberi rasa aman.

Ketika Higa kembali menuruni tangga, earphone yang ada di telinga kirinya memancarkan suara.

“Bagaimana, Higa-kun? Baik – baik saja kan?”

Suara ini milik Koujiro Rinko, ia masih mengintip di lubang masuk di atas sana.

Higa menjawab apa adanya.

“Ah… yah, seperti ini. Sekitar lima menit lagi kita akan bisa sampai ke dinding pemisah.”

“Oke. Ketika kalian siap, aku akan memberikan perintah penyerangan pada tim Ichiemom. Kalian harus membuka sekatnya ketika musuh sudah menyerang Ichiemom.”

“Roger. Wow, ini seperti Mission Impossible ya.”

“Ohhhh, maka buatlah misi ini menjadi Possible. Aku hanya khawatir mengenai kondisi kesehatan Kirito-kun yang ada di Underworld … Maaf, Yanai-san, tolong awasi anak ini ya.”

Kalimat terakhirnya ditujukan kepada Yanai. Setelah Higa mendengar Yanai berkata “Roger”, ia hanya bisa memprotes.

— “Anak ini”, huh?

Ia menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangga yang kini semakin berkeringat.

Melihat kebawah, ia bisa melihat sekat dinding pemisah semakin kelihatan.

***

Critter masih menatap layar besar yang kini menampilkan pergerakan pemain Cina dan Korea yang telah dive, namun tiba – tiba bunyi alarm membuatnya terkejut.

“Ap…?!”

Ia menyisir console dengan panik, lalu menemukan alarm merah bersinar di sisi kanan monitor.

“Whoa… Dinding penahan telah terbuka. Kalian pergilah dan cek lorong itu!!”

Sebelum ia selesai berteriak, anggota tim penyerang yang paling tinggi, Hans, langsung menggenggam senjata dan berlari keluar.

“Sialan, kartuku sedang hoki padahal!”

Brigg berguman dan melempar kartu ke lantai, lalu ia juga mengejar Hans.

Apakah Rath yang tak diuntungkan dalam hal peralatan dan senjata mulai melakukan serangan bunuh diri? Ataukah mereka merencanakan sesuatu …?

Critter meninggalkan console dan bergerak menuju pintu masuk ruang kontrol. Daya elevator telah dimatikan, jadi ia harus menggunakan tangga jika sesuatu terjadi. Hans dan Brigg juga menyimpulkan hal yang sama; bunyi keras logam terdengar dari atas sana.

Tetapi bunyi langkah kaki kini terhenti, dan berganti teriakan.

“Woah!!“

“Are you kidding?!“

Lalu terdengar bunyi rentetan tembakan.

***

Higa bisa mendengar dengan jelas suara ratatatat dari luar lorong ini, suara tembakan senjata api.

Pada saat ini, di sisi lain dinding. Membran kulit titanium Ichiemon pasti telah berlubang karena peluru tersebut. Akan tetapi, baterai dan kontrol sistem yang mengaturnya ada di bagian belakang. Jadi meskipun kena banyak tembakan, ia masih bisa bergerak.

“Baiklah! Sekarang buka sekat dinding ini!”

Melalui suara Professor Koujiro yang ada di telinganya, Higa melompat lubang palka anti tekanan diantara sekat pemisah dinding. Dengan suara psshh, alat pengatur tekanan air mulai bergoyang, dan pelindung logam mulai terangkat.

Di sisi lain dinding, yang berada di bawah sekat ini, juga diterangi lampu orange emergency. Di sisi pertempuran sana juga berwarna sama.

Higa menelan ludah, mengatur kembali tas punggung yang berisi laptop mini, lalu mendorongnya ke akses panel yang semakin menyempit. Kemudian, ia menuruni anak tangga lain, dan semakin menurun.

— saat – saat seperti ini, orang yang ada di suatu film pasti akan mulai menjerit – jerit.

“Ayo ayo ayo!!“

Ia berguman, dan suara bingung Rinko membalas.

“Um, apa yang kamu katakan?”

“T-Tak ada. …Sekitar sepuluh meter dari colokan kabel maintenance … Ah, Aku melihatnya, ada disana!”

Banyak kabel fiber optik tebal menggulung menuju sebuah kotak hitam. Jika ia mencolokkan laptopnya ke colokan maintenance, secara teori ia akan bisa mengontrol Units #3 dan #4 yang ada di Ruang STL 2, dan juga Units #5 dan #6 yang berada sangat jauh di cabang Roppongi sana.

— Tunggulah, Kirigaya-kun. Aku akan membangunkanmu!

Higa lupa akan rasa takutnya, dan menuruni tangga ini, sebuah suara terdengar di earphone miliknya.

“Aku juga akan turun ke ruang Sub Kontrol untuk melihat Fluctlight milik Kirito-kun. Semoga berhasil, Higa-kun!!”

Dipuji oleh Professor Koujiro — yang ia biasa panggil Koujiro-senpai, seolah membuatnya terkenang masa – masa kuliah dulu, itu membuat Higa tambah semangat.

Ia kini melihat Yanai, yang juga sedang menuruni tangga. Wajahnya tampak depresi.

Higa menghembuskan nafasnya, lalu melihat kotak hitam yang semakin mendekat.

***

Setelah muncul kembali ke medan pertempuran yang kini porak – poranda akibat pertarungan sebelumnya, si pria berseragam tempur melihat ke selatan dan berguman dengan suara datar:

“… Alice kabur ya? Tak masalah, aku bisa mengejarnya …”

Lalu ia menatap Sinon lagi, dan tersenyum.

“… Jika aku ingat – ingat, kita pernah bertempur di turnamen Gun Gale Online tournament kan. Namamu… «Sinon»? siapa sangka kita bisa bertemu lagi di tempat seperti ini?”

Mendengarkan suara datarnya yang tak menyerupai manusia, si pria adalah Dewa Kegelapan Vektor dan Subtilizer pada saat yang sama, Sinon mencoba menghentikan tangannya yang gemetaran. Tetapi jarinya mati rasa, telapak tangannya berkeringat, dan ia merasa jika ia membuat gerakan tiba – tiba, Bow of Solus mungkin akan ia jatuhkan ke tanah.

Berdiri ke piringan hitam berbentuk monster bersayap, Subtilizer tersenyum lagi dan kembali berbicara dalam bahasa jepang yang cukup lancar.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku dengar tak ada lagi mesin STL di Jepang … Mungkinkah kamu pegawai RATH? Ataukah, kamu seorang prajurit bayaran yang memang ingin datang ke tempat ini?”

Cukup kesulitan, Sinon memaksa bibir keringnya untuk bergerak dan berbicara:

“Subtilizer… Aku ingin bertanya, mengapa kamu ada disini?”

“Karena aku tak bisa menolaknya.”

Subtilizer merentangkan tangannya, seolah tak bisa menjangkau sesuatu:

“Ini adalah takdir. Kekuatan jiwa yang bisa membuatmu dan aku bertemu.”

Nada bicaranya perlahan berubah. Suaranya semakin dingin.

“Ya… Aku menginginkanmu. Itulah mengapa kita bisa bertemu. Ini akan menjelaskan banyak hal. Siapapun targetnya yang aku hisap melalui STL, baik itu Artificial Fluctlights maupun Jiwa Manusia dari Dunia Nyata … Aku akan bisa memahami jiwamu yang manis itu, aku tak mampu merasakannya di turnamen GGO.”

Ketika Sinon mendengar perkataannya, kata – kata yang orang ini ucapkan ketika final BoB ke-empat terngiang di kepala Sinon.

— Your soul will be so sweet.

— Your soul will be so sweet.

Tubuh Sinon semakin dingin, nafasnya tak terkendali.

“Kemari… kemarilah, Sinon. Berikan padaku.”

Cahaya dingin memancar dari kedua mata Subtilizer.

Zzt. Dunia menghilang.

Udara, suara, bahkan cahaya seolah dihisap kedalam mata Subtilizer.

“Apaa………”

Apa ini?

Ia seolah ditarik sesuatu.

— Tidak. Aku harus menahannya. Aku harus melawannya.

Jiwa Sinon berteriak, seolah sangat lemah.

Akhirnya, armor biru Sinon terhisap ke lengan Subtilizer yang terbuka.

Jari – jari lemah Sinon berusaha menarik tali busur yang mengambang di udara.

Beberapa detik kemudian, kesadarannya semakin terselimuti, Sinon merasa tubuhnya semakin lemas ditelan kegelapan Subtilizer.

Tangan kirinya memeluk punggung Sinon, sedangkan tangan kanannya menyentuh wajah dan membelai rambut yang ada disamping wajah Sinon.

Bibir tipis Subtilizer mendekat ke telinga Sinon, lalu membisikkan sesuatu.

“Sinon, apa kau tahu arti dibalik nama «Subtilizer»?”

“…………?”

Tak bertenaga. Sinon menggelengkan kepalanya.

“Nama tersebut mirip dengan nama, «Satori», dalam amerika itu berarti seseorang yang sangat disayang. Tetapi, kata ini jika diartikan dalam bahasa Inggris berarti «Subtilizer». Kata yang bermakna «seseorang yang membersihkan», «seseorang yang memahat», «seseorang yang memilih»… Dan «seseorang yang mencuri».”

Cahaya semakin terang dari kedua mata Subtilizer, cahaya tersebut kini mendekati wajah Sinon.

“Aku akan mencurimu. Aku akan mencuri jiwamu…”

***

Tempat dimana Jo Wol-saeng mendarat adalah sebuah batu yang telah retak dan ditutupi lumut.

Ini bukan batu alami, ini buatan manusia. Ia muncul di atas sebuah kuil raksasa. Sekelilingnya adalah pemain Korea yang baru saja log ini, dan jumlah mereka sekitar ribuan... mungkin sepuluh ribu.

Karena tidak ada pilihan karakter, equipment semuanya berbeda – beda, begitu juga senjatanya, tetapi equipment dan senjata tersebut berwarna merah crimson. Wol-saeng melihat kedua tangannya sendiri yang kini juga diselimuti sarung tangan merah crimson, ia lalu menoleh ke belakang.

Meskipun ia tak bisa mengetahui pemandangan sekeliling karena tertutupi keramaian, ia masih bisa melihat pertempuran yang sedang terjadi di padang rumput di depan sana. Tetapi pemain Korea yang ada di sekelilingnya tidak bergerak sedikitpun, mungkin karena hasil pertarungan ini sudah bisa dipastikan. Grup yang mengenakan armor warna – warni sepertinya adalah pemain Jepang, mereka tampaknya telah menghabisi pasukan berwarna crimson seperti yang ia kenakan. Mereka telah mengatur pasukan, mereka juga seolah tidak bersenang – senang akan hasil yang mereka capai.

Ia tahu. Ada yang aneh. Tetapi ia tak bisa menyimpulkan.

Sepertinya, ini bukanlah sebuah event promosi sebuah game seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Area ini, hanya ada langit merah dan tanah gersang, terlihat terlalu sederhana, dan tak adanya panduan dan peringatan sebelum ia dive mengindikasikan tidak adanya sebuah event official.

Meskipun begitu, ia masih tak percaya pada berita yang ia baca. Terlebih lagi, apa maksud menyerang pemain test server dan membunuh mereka? Meskipun pemain jepang bisa menguasainya, bukan berarti mereka akan menghentikan pengembangan sebuah game.

Hampir separuh pemain Korea yang ada disekitarnya juga berpikiran sama tentang situasi ini. Suara - suara “Apa yang kita lakukan?” “Apa mereka beneran pemain Jepang?” saling bersautan.

— Tetapi, kemudian.

“Kawan - kawan!”

Sebuah teriakan berbahasa Korean terdengar dari depan sana.

Wol-saeng meninggikan kepalanya, karena ia tertutupi banyak pemain lain, ia tak bisa melihat siapa yang berbicara. Akan tetapi, ia berhasil menangkap sebuah logo merah, [Leader] mengambang di atas seseorang di depan sana. Suara tersebut berasal dari bawah logo itu.

“Terima kasih telah menjawab panggilan kami! — Sayangnya, semua pemain beta test telah dibunuh oleh pemain jepang, tidak, penjajah jepang! Tetapi mereka akan bersiap – siap bergerak menuju lokasi test lain dan bermaksud melakukan hal yang sama!”

Selanjutnya —

Wol-saeng merasakan amarah yang muncul dari beberapa ribu pemain.

Apa yang membuat mereka marah kemungkinan adalah kata “penjajah” [11]. Rasa bingung dan curiga yang menyelimuti pemain Korea kini menguap, tergantikan oleh rasa marah di seluruh area.

“… BIGEOBHAN ILLBONIN!“

Seseorang berteriak, kemudian satu demi satu teriakan mulai bergema. Setelah cukup mereda, si «Leader» kembali memprovokasi:

“Para pemain Jepang meng-hack server kita, dan menciptakan equipment berlevel tinggi bagi mereka sendiri! Dan kita, hak milik kita telah dirampas, kita hanya bisa menggunakan default equipment, wahai kawan! Tetapi, semangat juang kalian tak akan kalah dengan armor dan pedang manapun!”

Pada saat ini, teriakan yang semakin keras makin terdengar.

“ULI NALALEUL JIKYEOLA!“

Lalu, dari samping paling kanan, sebuah teriakan yang bukan bahasa Korea juga terdengar.

“GANCHUU RANMEN!”

Wol-saeng tak memahami maksud kata – kata itu, tetapi ia paham jika itu bahasa Cina. Tempaknya jumlah pemain Cina juga hampir sama dengan pemain Korea.

Bahkan saat suasana makin memanas, Wol-saeng masih merasa ada yang aneh. Tetapi pada saat ini, ia sadar tak ada yang mampu menghentikan amarah para pemain Korea dan Cina.

Kemudian, si «Leader» mengangkat tangan kanan yang terselimuti sarung tangan hitam ke urara.

“——— Go!!“

Menerima perintah tersebut, baik pemain Korea dan Cina kini melaju kedepan seperti binatang yang sangat marah, getarannya sangat terasa di tanah yang ia pijak.

***

“Pa… Pasukan! Pasukan Persediaan! Lariiii—!”

Asuna berteriak sebelum pasukan crimson yang baru saja muncul mulai bergera kdari atas sana.

Pasukan Persediaan Kerajaan Manusia sebelumnya masih berkemah di dekat pintu masuk reruntuhan kuil ini. Kuil ini membentang di kedua sisinya. Dengan kata lain, puluhan ribu pasukan crimson langsung melaju ke arah pasukan persediaan.

“Tinggalkan barang – barang kalian dan larilah, larilah kalian!!”

Meskipun ia telah memerikan perintah itu, sudah terlalu terlambat. Pasukan baru ini telah memasuki medan peperangan, pemain Cina dan Korea langsung melompat dari atas patung dan menuju posisi tengah pasukan persediaan.

Asuna menggertakkan giginya dan mengangkat rapier di tangan kanan tinggi – tinggi.

Memusatkan imajinasinya ke ujung pedang, ia lalu mengayunkannya ke bawah. Terang, berbagai macam sinar muncul dan menghantam patung – patung yang ada di kedua sisi.

Meskipun rasa sakit bermunculan di kepala Asuna, ia masih mengkonsentrasikan imaginasinya. Patung – patung batu ini mulai berjatuhan dan tangan patung yang terbuka mulai menjatuhi pasukan yang ada di atap.

Pasukan crimson yang ada di bagian depan buru – buru mundur namun tak bisa karena didorong dari belakang. Mereka berjatuhan seperti sebuah domino. Mengambil kesempatan ini, delapan kereta kuda, dua ratus pasukan Aschetic, dan pasukan persediaan mulai bergerak.

Asuna hanya bisa mengendalikan patung – patung ini selama 30 detik sebelum rasa sakit yang muncul menjadi menyakitkan, ia akhirnya terjatuh. Namun, Pasukan Kerajaan Manusia sudah berhasil kabur menuju bagian utara reruntuhan. Sekitar 500 Penjaga dan 2,000 Pemain Jepang mulai maju dan membentuk formasi bertahan di kedua sisi, bersiap untuk menyerang.

Tetapi karena area sekitar reruntuhan tidak datar, mereka hanya bisa bertahan untuk menerima serangan puluhan ribu musuh. Mereka bisa bertahan dari pemain Amerika yang jumlahnya banyak karena adanya dinding yang membatasi garis depan, juga karena adanya Art penyembuh dari bagian belakang. Tetapi sekarang ini mereka telah dikepung oleh 50.000 pasukan Cina dan Korea. Hanya masalah waktu sebelum pasukan ini dihancurkan.

“Urgh……”

Menggenggam sedikit kekuatan yang masih tersisa, Asuna berusaha bangkit dan menggenggam rapier miliknya.

— Kumohon, sekali lagi.... biarkan aku membuat dinding yang bisa melindungi semuanya.

Ia berdoa sambil mengkonsentrasikan pikirannya.

Tetapi.

Yang terjadi malahan seluruh tubuhnya bagai di hantam listrik, Asuna terjatuh lagi. Sesuatu muncul dari dalam tenggorokannya dan ia muntahkan, itu adalah darah.

“Jangan terlalu memaksakan diri, Asuna! Biarkan kami juga membantu!”

Klein berteriak.

“Ya, serahkan saja pada kami.”

Agil juga membalas.

Ketika keduanya berdiri dan mengangkat katana dan kapak mereka —

Pasukan crimson yang telah pulih dari kejutan mulai turun sekali lagi. Karena mereka 20 meter dari atas tanah, banyak diantara mereka yang tidak berhasil mendarat dan terluka parah, bahkan ada yang tak bisa bergerak, lalu pasukan yang ada di belakang menggunakan teman mereka yang terluka sebagai sebuah trampolin untuk mendarat dengan aman.

“DOLGYEO —— G!!“

“TU —— JI!!“

Asuna tak pernah mempelajari bahasa Cina atau Korea, tetapi instingnya berkata jika dua teriakan tersebut berarti ‘serang’.

Pasukan crimson mulai menyerang dari kanan dan kiri, semakin mendekat dan orang yang menghadang mereka pertama adalah Klein dan Agil.

“Zeiryaaaaaaaaahhhhh!!“

“U…. raaaaaaaaahhhhh!!“

Ditemani tekanan udara, Sword Skills berskala luas diluncurkan dari katana dan kapak dua orang ini. Cahaya putih dan kebiruan menghantam musuh dan puluhan musuh terlempar ke udara.

Di kedua sisi Klein dan Agil, Penguasa ALO, teman – teman mereka, dan anggota Sleeping Knights mulai bertarung sekuat tenaga.

Hantaman – hantaman senjata mulai berdentuman. Sebuah ledakan terjadi. Pedang, kapak, dan tombak saling bercahaya karena mengeluarkan Sword Skill, menebas musuh tanpa jeda.

Pasukan musuh berhenti sejenak.

Tetapi —

Usaha tersebut seperti menahan gelombang bendungan dengan tangan kosong, hal yang sia – sia.

Masih terbaring di tanah, Asuna seolah mendengar tawa mencemooh dari atas medan peperangan ini meskipun medan peperangan masih terselimuti teriakan kemarahan.

Ia mengedipkan matanya yang masih berair dan menangkap sosok manusia berpakaian hitam ada di atas reruntuhan kuil, ia seolah menari kegirangan menonton pertarungan ini.

***

Higa masih mendengarkan rentetan tembakan yang berasal dari balik sisi dinding sambil masih menuruni tangga secepat yang ia bisa.

Akhirnya, ia sampai didepan kotak hitam yang memantulkan cahaya lampu emergency, ia mencoba membuka menggunakan sidik jarinya.

Didalamnya ada berbagai macam kabel fiber optik, ini membuat Higa takjub sementara. Namun, Higa menggeser berbagai macam kabel dan akhirnya menemukan colokan maintenance.

Ketika ia menggapainya.

Ia mengambil nafas dalam – dalam, lalu mengambil sebuah kabel dan laptop dari tas punggungnya. Ia mencolokkan ujung kabel ke colokan dan ujung satunya ke laptop miliknya, lalu ia menjalankan control program STL dengan antusias.

Sebuah jendela hitam muncul, dan di bagian kiri paling atas mulai berkedip – kedip. Akhirnya, kursor kanan ia gerakkan dan menampilkan status pesan.

STL #3, Connecting…… OK.

STL #4, Connecting…… OK.

Status yang pertama muncul adalah dua unit STL yang ada di ruang sub kontrol.

Lalum koneksi satelite dari Ocean Turtle ke unit STL #5 dan #6 di cabang Roppongi juga telah masuk.

“… Oke!”

Higa berguman. Sekarang ia bisa mengoperasikan empat unit STL yang sedang digunakan Kirigaya Kazuto serta ketiga gadis.

Sayangnya, untuk memblokir koneksi satelit hanya bisa dilakukan dari ruang main kontrol, jadi ia tak bisa menjalankan dua unit lainnya yang ada di Ruang 01. Jika itu mungkin, ia bisa menendang para penyerang yang sedang dive ke Underworld menggunakan mesin STL #1 dan #2.

Menunda gejolak pikirannya, Higa menggerakkan jari – jarinya dan bersiap untuk menjalankan program ini.

— Ayo kita mulai!

Ketika ia akan mulai, teriakan terdengar dari atas kepalanya.

“… B… Berhenti!”

Itu suara milik Yanai. Apa maksud perkataannya tadi?

Higa menoleh ke atas, kebingungan karena ia melihat sebuah pistol berwarna biru kehitaman sedang ditodongkan ke wajahnya. Yanai menatapnya dengan mata haus darah, ia berteriak lagi.

“Singkirkan tanganmu dari laptop! Atau aku akan menembakmu!”

“……… Huh?”

Ia hanya berkedip beberapa kali.

Higa akhirnya menyadari situasi sekarang ini dan mulai menebak mengapa Yanai melakukan hal tersebut.

— Dialah orangnya!

Yanai adalah orang yang membocorkan informasi Project Alicization kepada Amerika.

Tetapi sayangnya, Higa tak bisa melakukan serangan balik. Apa yang bisa ia lakukan adalah bertanya padanya.

“… Yanai-san. Mengapa?”

Keringat dingin menetes dari dahi Yanai yang pucat. Bibirnya bergetar sesaat, lalu ia mengatakan sesuatu.

“Pertama… Pertama, kau memihak tokoh yang salah. Aku bukanlah pengkhianat disini.”

— Apa maksudmu, “pikir dong”? kau ini si pengkhianat!

Melihat Higa yang terdiam, Yanai melanjutkan.

“Aku hanya menjalankan rencana asliku. Aku akan menyelesaikan misi akhir atasanku … itulah mengapa aku menyusup kedalam RATH..”

“Misi… misi terakhir atasanmu? Apa yang kau bicarakan?….”

Higa kebingungan. Yanai menyibakkan rambut yang ada di dahinya menggunakan tangan kiri, lalu menjawab dengan tatapan orang gila.

“Mungkin kalian mengenalnya sebagai… Sugou-san.”

“Ap…”

— Apaaaa?!

Dampak rasa kaget tersebut lebih hebat ketimbang ditodong sebuah pistol, matanya melebar.

Sugou Nobuyuki. Pria yang bekerja di Labolatorium Shigemura di Touto Technical University. Ia seangkatan dengan Higa, Koujiro Rinko, dan Kayaba Akihiko. Ia sangat ingin bersaing dengan Kayaba si super genius. Tetapi ia tak bisa melampauinya. Mungkin karena hal tersebut, ia menyandera ratusan pemain SAO untuk melakukan percobaan manusia.

Karena aksi Kirigaya Kazuto, tindakan Sugou berhasil diungkap ke publik. Setelah ditahan, ia mendapat hukuman dari jaksa dan masih berada di Mahkamah Agung Tokyo.

“… Ia masih belum tewas.”

Higa merespon dan Yanai hanya tertawa mengejek.

“Memang apa bedanya? Ia akan dipenjara setidaknya sepuluh tahun dan bagi seorang ilmuan, sepuluh tahun itu sama saja kematian. Aku juga hampir ketangkap, tetapi aku berhasil menyalahkan orang lain dan bebas dari hukuman.

“Jadi kau … bekerja sama dengan Sugou ketika eksperimen manusia itu?”

“Kerja sama? Akulah orang yang mengumpulakan data percobaan. Penelitian itu menyenangkan lho... seperti bagian tentakel dan semacamnya …”

— Mengapa Letnan Kolonel Kikuoka tidak mengecek riwayat hidup kriminal semacam ini?!

Higa kembali berpikir, tetapi ia tak bisa menyalahkan hal tersebut pada Kikuoka.

Alasan utama mengapa perusahaan RATH diciptakan adalah untuk menciptakan teknologi pertahanan yang kini telah didominasi Amerika. Dengan kata lain, pendirian perusahaan ini mungkin akan membuat zaibatsu [12] kehilangan kepercayaan asing.

Terlebih lagi, sangat sulit untuk mencari dan menyewa para teknisi. Hampir tak ada yang mau pindah dari perusahaan besar ke tempat kecil ini, mungkin itulah mengapa para petinggi RATH menerima Yanai yang pernah bekerja di perusahaan pengembang teknologi Fulldive, RECT.

Yanai tempaknya masih memandang Higa, ia lalu cepat – cepat mengangkat pistolnya lagi. Pengaman pistol tersebut kini ia lepas. Awalnya, Kikouka memasukkan para teknisi ke pelatihan senjata guna jaga – jaga. Ironisnya, kini ia malah ditodong sesama teknisi.

Untungnya, Yanai masih memiliki akal sehat, ia melanjutkan perkataannya.

“… Untungnya, nyawa bosku telah tamat. Tetapi koneksinya masih terus berjalan. Jadi, jika aku tidak menggunakannya sebaik mungkin. Semuanya akan menjadi sia – sia.

“Koneksi… Kemana?”

Higa merespon. Yanai tampak ragu sesaat, lalu ia tersenyum dan menjawab.

“Dinas Keamanan Nasional Amerika.”

“Ap… Apa katamu?!”

Higa kembali terkejut, tetapi dalam dirinya ia sudah menduga.

Aktivitas mereka, termasuk mata – mata dan pengawasan komunikasi antara Jepang oleh Dinas Keamanan Nasional Amerika sudah menjadi rahasia umum. Mereka tak tertarik pada teknologi Fulldive yang dikembangkan Jepang. Sejak mereka memiliki intel pada Project Alicization dari Yanai, rekan Sugou. Pihak NSA lalu menyewa sebuah kapal selam Navy dan berusaha mencuri «A.L.I.C.E.».

Yanai masih mengumbar capaiannya tanpa ada rasa bersalah.

“… Jika para Amerika yang kami sewa bisa mencuri Alice. Aku akan menerima banyak uang dan posisi atas di Amerika. Itulah apa yang ingin dicapai oleh Sugou-san.”

— suatu saat keamanan dunia akan berada dalam cengkeraman bayang – bayang senjata otomatis yang dikembangkan pihak Amerika.

Higa benar – benar tak ingin hal itu terjadi. Ia ingin menggagalkan rencana tersebut.

— Sadari apa yang sedang terjadi, Rinko-san!

Tepat ketika Higa akan bergerak, Laptop yang ada di tangan kirinya tergelincir dan ia buru – buru menangkapnya.

“D-Diam!!”

Seketika, teriakan Yanai memasuki telinga Higa ketika ia menodongkan senjata ke dinding dan menariknya. Kilatan cahaya keemasan terlihat dan dorongan air membuat telinganya berdengung.

Percikan api muncul dari dinding ini —

Dorongan keras menabrak bahu kanan Higa.

“Huh?”

Higa terkejut.

Sword Art Online Vol 17 - 271.jpg
***

Sinon menatap mata tersebut seperti orang linglung, mata tersebut seolah tak memiliki dasar.

Ini seperti ketika ia bangun dari mimpi di pagi hari.

Ia harus melakukan sesuatu. Tetapi ini seperti melakukan sesuatu dalam mimpi, sedangkan di dunia nyata ia masih linglung. Seperti itu terus menerus.

Jari sedingin es menyentuh lehernya. Rasa takut mengisi hatinya, tetapi rasa tersebut lalu menghilang ditelan kehampaan.

— Jangan.

Ini bukanlah ilusi dalam dunia virtual lagi.

Fakta tersebut terlintas di kesadarannya seperti alarm. Ia berusaha untuk berkonsentrasi padanya, tetapi cairan hitam lengket itu telah naik sampai ke pinggangnya tanpa ia sadari. Ia tak bisa lari maupun menolaknya.

Wajah pria ini semakin mendekat. Bibir tipisnya menghisap udara. Seolah ikut menghisap emosi, pikiran, dan jiwanya.

— Hentikan.

— Jangan curi itu semua.

Namun itu semua terjadi sangat cepat, kini hanya menyisakan rasa hampa.

“Henti…… kan………”

Bibir si pria semakin mendekati mulut Sinon yang gemetaran —

Crack!!

Sebuah dorongan mengejutkan pikiran Sinon.

Sinon membuka matanya lebar – lebar dan melihat percikan api keperakan dari atas pakaiannya.

— Ini membakar!!

Seketika, sensasi seperti listrik itu mengejutkan si pria. Sinon memaksakan kesadarannya yang mulai pulih untuk melepaskan pelukannya dan kini bebas.

Sinon menggunakan kemampuan terbang Solus untuk membuat jarak.

“……… Urgh…”

Mengambil nafas, Sinon menggerakkan tangan kanannya menuju objek yang masih memercikan api.

Benda ini masih terikat oleh sebuah rantai tipis. Berbentuk sebuah piringan berdiameter 1.5 cm dengan sebuah lubang.

“Me… mengapa, ini…”

— Disini?

Sinon berguman kebingungan.

Itu adalah sebuah kalung yang selalu dipakai Asada Shino di Dunia Nyata. Bukan sebuah kalung mahal. Rantai kalung ini terbuat dari stainless steel, dan token yang menggantung juga hanyalah sebuah aluminium.

Akan tetapi, bagi Sinon. Kalung ini memiliki banyak makna.

Diakhir tahun lalu, Sinon terlibat dalam «Insiden Death Gun».

Salah satu teman Sinon adalah anggota grup kriminal tersebut, ia menyerang dirinya dengan jarum suntik berisi racun succinylcholine. Kirigaya Kazuto — Kirito menerjang dan melindunginya, tetapi dadanya malah tersuntik sebuah racun.

Ia bisa terhindar dari racun tersebut karena ia lupa untuk menarik sebuah elektroda ECG yang ada di dadanya.

Setelah insiden tersebut, Sinon menemukan elektroda tersebut terjatuh di kamarnya. Ia menarik selotip yang menempel dan membuatnya menjadi sebuah kalung tanpa memberitahu Kirito atau Asuna. Ia dive di cabang RATH Roppongi branch, dan pegawai bernama Hiraki bahkan tak bisa melihat kalung tersebut.

Itulah mengapa kalung kecil ini tak bisa dimaterialisasikan kedalam Underworld.

— Tetapi.

Kirito pernah berkata di Dicey Cafe: dunia virtual yang diciptakan oleh STL bukan hanya terbuat dari objek poligon.

Ia berkata seperti itu — dunia tersebut diciptakan melalui ingatan dan imajinasi.

Mungkin begitulah, kalung ini bisa tercipta karena imajinasi milik Sinon.

Sinon kini mencium kalung tersebut, dan menyimpannya kembali dibalik bajunya.

Lalu, setelah tersadar penuh, ia menatap makhluk hitam bersayap yang masih terbang di langit.

Subtilizer masih berdiri di atas punggung makhluk itu, masih memandangi tangan kanannya. Sinon bisa melihat ada asap yang muncul dari jarinya.

Tampaknya sadar jika Sinon memandanginya, Subtilizer mendongak dan memunculkan senyum tak puas. Sinon masih memandangnya, lalu ia berbicara:

“Kau bukanlah dewa, juga bukanlah iblis. Kau hanyalah seorang manusia.”

Benar, Subtilizer memang sangat kuat. Ia seolah memiliki imajinasi yang sangat gila hingga bisa mempengaruhi kesadaran Sinon… dengan kata lain, Fluctlight miliknya.

— Tetapi jika kita berbicara tentang imajinasi dan konsentrasi, aku tak mungkkin kalah darimu.

Karena dua hal tersebut adalah kekuatan terbesar seorang Sniper.

Sinon menggenggam equipment Super Account Solus, busur «Annihilate Ray» dengan kedua tangannya lalu memfokuskan konsentrasinya.

Bagian tengah busur putih ini mulai membentuk sebuah moncong berwarna hitam kebiruan.

Warna ini perlahan menyebar dan membungkus seluruh bagian busur hingga akhirnya membentuk silinder kehitaman yang terbuat dari baja. Gagang, scoop, pelatuk mulai bermunculan pada bentuk baru ini.

Akhirnya, Sinon tidak lagi memegang sebuah busur cantik.

Tetapi sebuah sniper rifle kaliber .50 yang kokoh, angkuh, namun menawan bernama — «Ultima Ratio Hecate II».

Dengan suara nyaring, Sinon menarik pelatuk sambil menyeringai.

Senyum menyeringai Subtilizer kini menghilang dan tergantikan oleh ekspresi kemarahan.

Sword Art Online Vol 17 - 279.jpg
***

Serangan balik yang terjadi tujuh menit lalu kini telah tiada. Berganti menjadi pola bertahan dari gelombang serangan musuh.

“Lindungi sekuat tenaga…! Tak peduli bagaimana caranya, kita harus melindungi orang – orang Underworld ……!!”

Asuna berteriak sekuat tenaga, sambil menghunuskan rapier miliknya di garis depan tanpa memedulikan rasa sakit yang muncul di otaknya.

Tetapi ia tak bisa mendengar satupun jawaban.

Disekelilingnya, satu persatu pemain Jepang kini telah dikepung oleh pasukan crimson yang baru saja log in. Mereka ditusuk oleh pedang dan tombak di sekujur tubuh. Teriakan kesakitan, penyesalan, dan kematian terus terdengar.

Dibandingkan kepungan ini, serangan tombak beruntun pemain Amerika masih bisa dianggap enteng.

Entah itu karena datangnya bala bantuan musuh atau karena kemarahan yang tak masuk akal mereka, pasukan baru ini hanya bertujuan untuk memusnahkan. Mereka menerjang target lalu menjatuhkannya ke tanah dan menginjak – injak pemain Jepang tanpa peduli. Menghadapi serangan macam ini, taktik kami tak akan mampu mengalahkan jumlah musuh.

Dua ribu formasi melingkar pasukan jepang kini makin tertembus dihadapan mata Asuna.

Menggunakan rapiernya, Asuna menghunus sembarangan dan berlari menjauhi musuh yang mengejarnya. Ini adalah pertama kalinya Asuna ketakutan sejak pertama kali turun ke Underworld.

Seseorang, selamatkan kami.

***

Di dalam peperangan ini, salah satu pasukan yang masih bertempur dengan gagah berani adalah Swordsmen Hijau yang dipimpin oleh Sakuya, si Penguasa Sylph Alfheim Online.

Ras Sylph mengandalkan serangan yang berfokus pada kecepatan. Strategi semacam ini pernah digunakan melawan ras Salamander yang menyerang menggunakan pasukan bersenjata berat. Pasukan ini bermanuver saling melindungi satu sama lain sehingga tak ada teman mereka yang diseret dan diinjak – injak oleh musuh.

“— Bagus, kita buat celah pada pertahanan mereka! Rindou Team, Suzuran Team, dorong garis depan ke kanan!!”

Sakuya berdiri di garis depan, menebaskan katana rampingnya ke segala arah sambil berteriak memberi perintah.

Pada saat ini, mereka seharusnya bisa berkumpul dengan tim Salamander yang masih bertarung di sisi kanan mereka, dan meminta mereka agar saling membantu untuk menerobos formasi musuh dengan sekali serang. Selagi pasukan Underworld bisa lari dari reruntuhan ini dan mempersempit medan perang, mungkin kami bisa menurunkan semangat juang musuh seperti yang dilakukan pada pemain Amerika.

“Maju! Siapkan «Synchro Sword Skill»!! Siap, 5, 4, 3…”

Tepat sebelum Sakuya memberikan perintah.

Teriakan kesakitan terdengar dari samping kiri medan peperangan yang sedang ia lindungi.

“— Jangan menyerah teman – teman. Tinggal sedikit lagi!!”

Sakuya tiba – tiba menahan nafas dan menoleh ke kiri.

Pasukan Jepang yang berequip kekuningan tampaknya telah ditelan pasukan crimson. Berada di posisi paling depan, sang pemimpin dilempar menuju tanah.

“Alicia!!”

Sakuya berteriak. Seketika itu juga, ia berubah dari seorang pemimpin yang tenang menjadi seorang gadis mahasiswi universitas biasa.

“Berhentiii —— !!“

Ia menjerit dan langsung menuju ke sisi kiri. Ia menebas dan menerbangkan musuh yang menghalangi jalannya dan tanpa peduli sekeliling, ia berlari menuju sahabatnya.

Pedang panjang menusuk dada dan perut Penguasa Cait Sith, Alicia Rue, tetapi saat ia menyadari jika Sakuya menghampirinya. Ia berteriak sambil memuntahkan darah.

“Jangan, mundurlah Sakuya-chan!! Atur pasukanmu!!”

Dengan kata – kata tersebut, sosok Cait Sith bertubuh kecil kini mulai menghilang dihadapan mata Sakuya.

“Alicia —— !!“

Sakuya berteriak dan kini menerobos menuju musuh yang telah membunuh pasukan Cait Sith. Ia terus menerus mengaktifkan Sword Skills, semakin kedepan semakin banyak darah dan tubuh yang ia tebas. Sedikit lagi ia akan sampai ke temannya yang telah gugur...

Snikt.

Sebuah tusukan, ia menoleh kebawah dan melihat sebuah tombak besar menusuk perut kanannya.

Rasa sakit pertama yang ia terima di Underworld menjalar ke seluruh urat nadinya, seolah mengambil semua tenaganya.

Meskipun begitu, ia masih bisa mengambil empat langkah ke depan sebelum akhirnya ia roboh ke tanah.

Selanjutnya, Sakuya seolah ditelan oleh gelombang kebencian. Katana miliknya dirampas dari tangan kanannya, lengan kirinya dipotong menjadi dua, dan tubuhnya ditusuki oleh berbagai macam senjata logam.

***

Diantara dua ribu pemain — meskipun jumlahnya semakin berkurang — Jepang yang dive ke Underworld, seseorang yang menyadari situasi saat ini adalah pemimpin ketiga guild «Sleeping Knights», An Si-Eun/Siune.

Ayahnya adalah warga Korea yang tinggal di Jepang dan ibunya asli orang Jepang, jadi Siune mampu memahami dua bahasa tersebut. Terlebih lagi, dia mendengar teriakan kemarahan yang muncul dari pemain crimson yang baru dive. Jadi ia bisa menebak informasi apa yang bisa memancing kemarahan orang – orang ini.

Berbagai macam konflik telah terjadi antara negara Jepang dan Korea sebelum Siune lahir di awal abad 21. Ada berbagai alasan dibalik konflik tersebut, tetapi tampaknya dampak pengembangan internet semakin memperlebar jarak antara kedua negara tersebut.

Dengan semakin tipisnya hal benar dan salah, hubungan kedua negara tersebut sampai memasuki dunia game online yang Siune dan kawan – kawan sukai. Bahkan di tahun 2026, dimana server international VRMMO sudah menjadi hal yang mainstream. Sudah menjadi hal yang biasa dimana sebuah area farming dikuasai pemain dari negara tertentu. Game – game seperti ALO menolak untuk berbagi koneksi antar negara. Hal inilah yang menimbulkan hubungan antara Jepang dan Korea semakin menjauh.

Siune yang tumbuh diantara budaya Jepang dan Korea merasa bimbang terhadap situasi ini. Anggota Sleepiing Knight yang berada di kamar rawat VR sangat ramah dan menerima dirinya setelah mengetahui masa lalunya. Jadi ia berpikir.... untuk semuanya, ia telah menghapus jurang pemisah tersebut.

Tetapi sekarang ini.

Pria yang berada di atap reruntuhan kuil ini telah menghancurkan kesenangan bermain VRMMO yang seharusnya dinikmati pemain dari berbagai negara. Ia memanipulasi sebelah pihak, membuat mereka saling bunuh, dan saling tebar kebencian.

— Aku harus... aku harus melakukan sesuatu. Aku mungkin hanyalah satu – satunya pemain Jepang yang mampu berbahasa Korea.

— Jika aku tidak melakukan sesuatu, mereka tak akan memahaminya. Benar kan, Yuuki?

Menyebut pemimpin guild sebelumnya yang telah meninggal tiga bulan lalu dihatinya, ia memberikan instruksi kepada empat sahabat yang ada disampingnya.

“Teman – teman, sekali lagi. Mari kita buka pertahanan musuh!!”

Jun, pemegang dua pedang yang masih bertarung didepan angkat bicara:

“Mengerti! Tecchi, Talken, Nori, kerahkan seluruh kemampuan kalian sekaligus! 3, 2, 1!”

Serangan kuat Sword Skill serentak tersebut membuat ledakan hebat dan menerbangkan puluhan musuh.

Dalam keheningan sesaat ini. Siune berlari menuju seorang pemain Korea yang tampaknya adalah si pemimpin, ia menangkap tebasan musuh yang diayunkan kearahnya.

Telapak tangannya tergores dan darah mulai mengalir.

Tetapi rasa sakit virtual semacam ini bukanlah hal yang berat dibandingkan transplantasi dan kemoterapi penyakit Leukimia yang Siune alami. Ia hanya menyeringai dan mulai memandang mata musuh, ia lalu berteriak dalam bahasa Korea.

“— Dengarkan aku, kalian semua telah ditipu!! Server ini dimiliki oleh perusahaan Jepang, kami bukanlah hacker, kami adalah pemiliknya!!”

Suaranya terdengar nyaring, mengisi keheningan untuk sesaat.

Pemain Korea yang pedangnya digenggam oleh Siune mundur sedikit, seolah ia terintimidasi oleh teriakan tersebut, tetapi ia dengan sinis membalas:

“— Bohong! Aku melihatnya sendiri, kalian membantai pemain berarmor crimson seperti kami!!”

“Mereka juga dibohongi seperti kalian, pemain Amerika tertipu dan diundang untuk dive kemari oleh informasi palsu! Pihak yang menyerang server ini adalah kalian!! Pikirkan baik – baik… apakah kemarahan dan kebencian kalian semua datang dari lubuk hati kalian?!”

Kata – kata Siune menyebabkan pemain Korea terdiam, menjadi ragu – ragu.

Lalu, sebuah suara nyaring namun kebingungan terdengar dari arah samping.

“Apa kamu mengatakan yang sesungguhnya?!”

Seseorang yang berteriak dalam bahasa Korea tadi kini berlari kedepan, dia adalah seorang pemain yang mengenakan armor crimson seperti yang lain. Siune secara tak sadar membentuk posisi bertahan, tetapi ketika dia sampai di depan Siune, dia menurunkan senjatanya dan membuka pelindung kepala miliknya.

“Aku «Moonphase», siapa namamu?”

Siune seolah merasa de javu ketika ditanya namanya. Mata pemuda yang menyebut dirinya Moonphase memiliki cahaya redup.

Siune melepaskan tangan yang menahan pedang, mengelap darah ke dadanya lalu berbicara.

“… Aku Siune.”

“Siune-san, ya? Aku juga berpikiran hal yang sama jika ada hal yang aneh disini.”

Perkataan Moonphase meredam kemarahan pemain korea yang ada di sekitar. Ia menyarungkan pedang miliknya, lalu melangkah ke depan.

“— Apa kamu memiliki bukti jika apa yang kamu katakan itu benar?!”

“…………”

Siune hanya bisa menahan nafas.

Dunia «Underworld» adalah sebuah dunia virtual yang dikembangkan oleh perusahaan yang dijalankan dan dikembangkan oleh pihak pemerintahan Jepang, dan para penyerangnya adalah pihak Amerika yang berusaha mencuri hasil penelitian ini, sebuah AI — Siune tak pernah meragukan kata – kata Lisbeth yang sebelumnya ia katakan di Kubah ALO. Tetapi ketika ia diminta untuk membuktikannya, ia kesulitan.

Tak ada bukti nyata jika menyangkut dunia virtual. Hanya ada kesaksian dari beberapa orang, tetapi apapun yang dikatakan pemain jepang, pemain korea tak akan mempercayainya. Siune kini merasakan rasa marah yang terkumpul ketika melihat dirinya terdiam seperti ini. Apa yang harus ia lakukan … Dimana ia harus menjelaskan …

“Siune, penduduk Underworld!”

Nori tiba – tiba berteriak belakangnya.

“Apakah dia pernah bertemu penduduk Underworld, dan setelah ia melihatnya jika penduduk berbahasa jepang, mereka akan paham jika ini adalah server jepang!”

“Ah………!”

Ya, itu mungkin benar. Meskipun Siune dan yang lainnya hanya beberapa kali berbicara dengan penduduk Underworld ketika beristirahat, setelah menyedari jika penduduk ini bukanlah manusia asli maupun NPC, Siune langsung terkejut melihat perkataan mereka. Tetapi — tidak, karena ada penghalang antara mereka dan pemain Korea, pemain Korea pasti merasakan hal yang sama. Selama mereka mencoba untuk mengajak berbicara, mereka akan sadar.

Siune akan mentranslate apa yang baru saja Nori katakan kepada Moonphase.

Seketika itu juga, sebuah cahaya merah datang dari belakangnya.

“Ah… Awaas……”

Siune mencoba untuk memperingatkannya, tetapi sudah terlambat. Sebuah pisau telah tertancap di punggung Moonphase dan melemparkannya sejauh sepuluh meter.

“Guaagh……”

Menggantikan Moonphase yang sedang kesakitan di tanah, kini berdiri seorang pria bertudung hitam yang sebelumnya ada di atas atap.

Ia mengangkat tangan kanannnya yang masih menggenggam pisau — yang mirip seperti pisau daging khas Cina, kearah Moonphase dan berteriak dalam bahasa Korea.

“Medan peperangan ini bukan tempat bagi penghianat!”

Lalu ia mengarahkan pisau tersebut menuju pemain Korea yang ada di sekeliling.

“Jangan tertipu trik murahan pemain jepang!”

Suara miliknya kuat namun dingin.

Ia lalu mengarahkan pisaunya kearah Siune yang masih mematung.

“Jika ini adalah server Jepang, dan kalian adalah pemiliknya. Lalu mengapa kalian memiliki equipment yang sangat kuat? Mereka menggunakan equipment GM! Kalian menciptakannya dengan cara curang!!”

Benar, benar, tepat! Suara – suara baru mulai bermunculan.

Siune mencoba menghalau tuduhan tersebut.

“… Tidak! Equipment kami berbeda karena kami mengkonvert akun berlevel atas milik kami untuk dive ke Underworld!’

Seketika Siune berkata seperti itu, si pria bertudung hitam mengeluarkan tawa.

“Hah, idiot macam apa yang mau mengkonvert akun mereka kedalam test server?! Pembohong, kalian pembohong!!”

“Itu benar, percayalah!! Kami datang kesini juga tak ingin kehilangan akun kami…”

Whoosh. Suara tebasan angin terdengar.

Sebuah pisau melayang menuju pundak kanannya, Siune tak mengkhawatirkan rasa sakit yang muncul. Melainkan rasa putus asa yang sangat dalam. Ia tak bisa membalas perkataan si pria yang telah melemparkan senjatanya.

Sekelompok kecil pemain Cina mengacaukan gencatan senjata sesaat dan mulai menyerang dari sisi kanan. Si pemimpin Korea yang melihat ini semua kini menendang Siune hingga terjatuh.

Terbaring disana, Siune mendengra suara langkah kaki keempat sahabatnya yang mulai mendekatinya, tetapi ia tak bisa berdiri lagi.

***

— Mengapa?

Integrity Knight Renri Synthesis Twenty-Seven merasakan kebencian yang begitu dalam dari seluruh medan peperangan, ia hanya bisa mengulang pertanyaan tersebut di kepalanya.

— Mengapa orang – orang ini saling membenci meskipun mereka sama – sama dari Dunia Nyata?

Tidak, mungkin ia tak punya hak untuk berkata seperti itu. Bahkan orang – orang Underworld juga terbagi menjadi Kerajaan Manusia dan Tanah Kegelapan, dan telah berperang selama ratusan tahun. Tepat beberapa hari yang lalu, darah yang tercipta di Gerbang Besar Timur mungkin sama banyaknya dengan darah yang diciptakan pada peperangan hari ini. Bahkan Divine Instruments yang menggantung di pinggang Renri, «Twin Edged Wings» telah mengambil banyak nyawa Goblin.

Tetapi, seharusnya ada alasan.

Ia selalu percaya jika Dunia Nyata yang ada diluar Underworld adalah sebuah dunia tanpa konflik dan kebencian dimana perang tak pernah terjadi.

Tetapi itu adalah imajinasi miliknya sendiri. Meskipun orang – orang Dunia Nyata, Asuna dan sahabatnya berbicara dengan bahasa yang sama dengan penduduk Underworld. Suara teriakan yang muncul dihadapannya kini tak bisa dipahami oleh Renri. Jika kita terhalang hanya karena bahasa, apakah mungkin kita bisa berdamai.

Apakah mungkin jika peperangan adalah sifat alami manusia?

Baik itu di dunia ini maupun Dunia Nyata, bahkan mungkin dunia diluar Dunia Nyata, apakah hanya ada lingkaran kebencian antara manusia?

— Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?!

Renri menggertakkan tinjunya, ia menahan seluruh kekuatannya.

Integrity Knight Sheyta telah tinggal di belakang untuk melawan musuh bersama Guild Petarung Tangan Kosong dari Tahan Kegelapan. Ia pasti telah menerima persahabatan dengan orang – orang Tanah Kegelapan. Bahkan diujung jalan penuh darah, masih ada sebuah harapan.

Maka dari itu, aku harus bertarung. Aku tak boleh dilindungi terus dan berdiri saja seperti orang bodoh.

Renri mengambil langkah menuju garis depan, bersiap untuk menolong bala bantuan Dunia Nyata yang masih terus berjuang.

Tepat saat itu, sebuah suara datang dari bagian belakang.

“Knight Yang Terhormat, aku juga akan pergi.”

Ia menoleh dan melihat siswi berambut merah Tiese, yang terus berada di pasukan persediaan. Ia memegang sebuah pedang kecil. Ekspresi wajahnya telah membuat ketetapan.

“… Tak boleh, kamu harus melindungi orang itu...”

“Tugas itu telah kuserahkan pada Ronye… Karena Eugeo-senpai yang aku sayangi telah …”

Bola mata kecoklatan Tiese berkaca- kaca.

“Dia kehilangan nyawanya karena melindungi seseorang yang berharga. Aku harus melanjutkan misinya.”

“……… Aku mengerti.”

Renri menggigit bibirnya.

Bahkan ia sendiri yang seorang Integrity Knight sedikit tak yakin jika ia kan melewati peperangan ini hidup - hidup. Ia tak yakin jika Tiese yang bahkan bukanlah seorang Penjaga bisa selamat tanpa tergores.

Saat itu juga, sebuah suara baru muncul.

“Aku juga akan pergi, Tuan Knight.”

Seorang Penjaga wanita melangkah dibelakang Tiese. Ia tampaknya telah bertarung terus, pakaiannya robek – robek, armornya retak, dan wajahnya masih memiliki sedikit semangat bertaruung.

“Aku masih belum memenuhi janjiku pada Kirito. Sekarang ini, aku tak bisa meninggalkan penduduk yang coba ia lindungi.”

“Sortiliena-senpai…”

Tiese memanggil namanya dengan agak gemetar. Si pemimpin penjaga tersenyum kecil dan mengangguk.

Bertarung bukanlah untuk kehormatan, juga ketenaran, melainkan untuk melindungi.

Renri merasa jika ketetapan kedua wanita ini mempengaruhi hatinya.

Ia dengan lembut mengambil Divine Instruments yang ada di pinggangnya dan mengangguk kuat.

“… Aku mengerti. Maka, aku akan melindungi kalian … jangan jauh – jauh dariku.”

“Siap, tuan!”

“Kami mengandalkanmu, Knight Terhormat!”

Tiese dan Sortiliena menjawab dan menarik pedang mereka.

Renri mencengkram Divine Instruments di kedua tangannya, ia berkata dalam hati.

— Eldrie-san. Sheyta-san. Dan Komandan Knight Bercouli.

— Seperti kalian semua. Kini aku telah menemukan tujuan hidupku.

Lalu, Integrity Knight Renri dan kedua swordswomen pergi menuju medan peperangan yang masih terselimuti rasa kebencian dan putus asa.

Bagian 4[edit]

Koujiro Rinko berlari kembali menuju ruang sub kontrol dan duduk di tempat yang sebelumnya biasa diduduki Higa Takeru.

Beberapa jendela muncul di monitor besar didepannya, tetapi yang pertama ia lihat adalah sebuah jendela kecil yang berada di bagian paling bawah. Apa yang ada disana adalah tiga buah grafik yang menunjukkan status Fluctlight milik Kirigaya Kazuto.

Di bagian tengah cahaya yang memantulkan berbagai macam warna, ada sebuah titik hitam yang merepresentasikan sebuah «kerusakan tubuh utama».

Saat ini, Higa Takeru telah mengontrol empat unit STL dan bersiap untuk memperbaiki kerusakan ini menggunakan ingatan tiga gadis yang memiliki hubungan dengan Kazuto. Untuk melakukan hal tersebut, Higa sedang berada di bagian bawah yang masih dikuasai musuh. Dia disana seorang diri — tunggu, ada satu orang lagi.

Pada saat ini, para penyerang masih berfokus pada «Ichiemom» yang bergerak pada anak tangga. Tetapi, tubuh baja miliknya tak mungkin bisa bertahan melawan rentetean peluru. Ketika Ichiemom hancur, musuh pasti akan berpikir begini: Apa yang orang Jepang pikirkan sih?

— Lebih cepat, Higa-kun!

Memikirkan hal itu, pintu geser kini terbuka dan seorang pria berpakaian Hawaai masuk.

“Bagaimana… Bagaimana kondisi Kirito-kun?!”

“Higa-kun sedang mengoperasikannya. Apakah umpannya berhasil?”

Ia menjawab juga sambil bertanya, nafas Kikuoka Seijirou ngos – ngosan ketika ia duduk.

“Kami melempar semua bom asap dari belakang Ichiemom. Seharusnya sih bisa memberi kita banyak waktu, tetapi jika kita tak segera menutup kembali dinding pemisah akan cukup gawat. Kita tak punya banyak waktu.”

“Higa-kun berkata jika ia butuh waktu lima menit untuk berhasil …”

Rinko menutup mulutnya, lalu menatap monitor lagi.

Fluctlight milik Kirigaya Kazuto masih tak berubah. Ia mengepalkan tinjunya dan menatap monitor utama.

Ia melihat sebuah peta dari dunia fantasi — tidak, ini memang sebuah peta dari dunnia fantasi, yang bernama Underworld.

Dibandingkan dengan peta Kerajaan Manusia yang ia lihat beberapa hari lalu ketika sampai di Ocean Turtle, peta yang sekarang ia lihat sungguh sangat luas. Dibagian selatan Kerajaan Manusia yang dilingkari pegunungan, sepertinya ada sebuah reruntuhan. Sebuah titik kecil yang menunjukkan posisi Yuuki Asuna, titik – titik biru melambangkan Pasukan Kerajaan Manusia, dan titik – titik putih yang melambangkan bantuan Pemain Jeapng kini telah berkumpul di satu posisi.

Gelombang crimson telah mengepung mereka semua sepertinya adalah pemain Amerika yang dimasukkan oleh para penyerang — atau seperti itulah dugaannya. Jumlah mereka 20, tidak, 30 kali lebih banyak dari pemain Jepang.

Apa ini tak masalah? Rinko mencari dua titik lain selain Yuuki Asuna dan akhirnya menemukan titik biru air yang ada jauh di selatan. Itu pastilah Asada Shino.

Lalu dimana perginya Kirigaya Suguha? Rinko menyisir peta dan menemukan titik kuning kehijauan ada jauh di utara, jauh dari medan pertempuran. Ada juga titik merah yang melambangkan musuh disana, tetapi Higa berkata jika mereka berdua seharusnya dive ke posisi Yuuki Asuna berada. Rinko mengangkat alisnya karena frustasi, bagaimana bisa —

Seketika, ia menyadari sebuah titik putih lain yang ada dibalik titik milik Suguha, seolah menutupinya.

“………?”

Seharusnya tak ada orang RATH yang sedang dive menggunakan STL. Apa – apaan ini?

Ia secara tak sadar menggerakkan mouse dan perlahan mengklik titik tersebut, muncullah jendela baru. Rinko membaca kata – kata yang berbahasa Inggris tersebut.

“Um… Restriction, Confrontational Index… Threshold Detection… Report? Apa ini?…”

Tepat setelah ia berkata seperti itu, “Aku tak bisa memahaminya”.

“App… Appaaaaa?!”

Kikuoka berteriak kencang, membuat Rinko terbangun dari tempat duduk.

“Ada apa?

Tetapi Kikuoka tidak langsung merespon, malah mengambil mouse dari Rinko dan memperbesar jendela yang baru saja muncul. Ia menatap monitor dan wajahnya pucat pasi.

“Unf… Ya, tak salah lagi, ada Fluctlight lain yang telah menerobos pembatas jiwanya! Tetapi, mengapa sekarang?!”

Mata Rinko terbuka lebar, lalu ia menatap Kikouka yang sedang menggaruk – garuk kepalanya.

“Huh… maksudmu «A.L.I.C.E.» kedua?”

“Ya, tepat… Ah, tidak, tunggu… Ini…”

Kikuoka dengan cepat menscroll jendela kebawah dan mulai berguman.

“… Sulit dikatakan tetapi ini tidak sama seperti «Alice». AI ini menerobos pembatas tidak melalui sirkuit logical, tetapi menerobos sirkuit emosional miliknya … tetapi, ini sebuah penemuan mengagumkan. Jika saja aku bisa kesana … Oh, sial, mereka mulai bergerak menuju selatan dimana pasukan Amerika berada!”

Rinko mencuri kembali mouse dari Kikuoka dan menatap log Artificial Fluctlight tersebut ketika menerobos pembatas jiwa miliknya.

“Hmm… Yeah, sebuah titik – titik yang dihubungkan seperti rantai telah hancur di zona emosi … Huh—? Hei, Kikuoka-san?”

“Apa… Apa ini?”

Memutar tubuhnya, Kikuoka memiringkan lehernya ketika menatap monitor.

“Perintah apa ini yang tertulis disana? Aku tak memahaminya… seolah perintah ini sengaja ditanamkan untuk mengekang sirkuit.”

Rinko menatap perintah kode yang cukup kecil tersebut.

“Penanaman rasa sakit… itu lho yang ada di pojok kanan? Tetapi, meskipun sebuah Artificial Fluctlight berusaha sekuat tenaga untuk menerobos pembatas tersebut, mereka akan dihentikan oleh rasa sakit akibat kode ini. Kalian juga menanamkan perintah semacam ini pada penduduk Underworld?”

“Tidak… tidak, kami tak melakukannya. Tak mungkin kami melakukannya, tindakan semacam itu akan menghalangi tujuan murni kami … ini hanyalah penghalang terbesar kami.”

“Hmm… benar juga. Pemrogaman sampai mendetail ini juga bukan tugas Higa … Ah, ada sebuah komentar disana … «Code 871»? Apa itu Code 871?”

“871? Aku tak pernah mendengar angka itu sebelumnya … Tidak, tunggu… Tunggu, tunggu, aku kira.... beberapa menit lalu …”

Kikuoka mulai berlari, suara yang ditimbulkan sandal kayunya terdengar keras. Ia menuju kursi terdekat, mengambil jas putih, dan mebukanya lalu menatap ke sebuah saluran.

“Hei, ada apa, apa yang terjadi?”

Atas pertanyaan Rinko, Kikuoka membuka lebar matanya dan menyerahkan mantel putih kepada Rinko.

Disitu, ada sebuah tanda yang dibuat menggunakan marker permanen, angka [871].

“Mantel putih ini... milik seorang teknisi bernama Yanai, ia baru saja menuruni saluran ini bersama Higa …”

Berkata seperti itu, Rinko menahan nafasnya.

Yanai. YA NA I.

“… 8 7 1?” [13]

Rinko dan Kikuoka berdiri membatu seperti kerasukan.

***

Pemimpin Guild Petarung Tangan Kosong masih melihat pasukan crimson yang akan menghampirinya.

Setelah membentuk formasi mengepung dalam jarak duapuluh mel, pasukan ini berbicara dengan bahasa asing dan menganggap jika pasukan Ishkan telah kehilangan semangat tempur.

Mereka lalu berteriak dan melompat secara bersamaan.

Dengan tangan kirinya yang masih terluka, Iskahn menggenggam tangan sang knight wanita yang ada di sampingnya. Ia membalas genggaman tersebut, hingga membuat mati rasa-nya agak menghilang.

Ia menundukkan kepala, dan tampaknya akan menutup mata untuk menerima kekalahan ini, tetapi —

“……… Apa ini…?”

Suara Sheyta membuatnya kembali menoleh.

Ia melihat sekelompok pasukan datang dari sisi lain lembah ini, dari bagian utara medan peperangan.

Penampilan mereka besar, memiliki hidung panjang, dan telinga yang menjuntai.

Orcs.

“… Mengapa?”

Iskahn kebingungan. Setelah diberi perintah oleh Kaisar Vektor, pasukan Orcs seharusnya menunggu di «Gerbang Besar Timur» di utara sana. Karena sang Kaisar telah lenyap, perintah tersebut seharusnya tak bisa dilenyapkan. Namun faktanya, sisa – sisa Dark Knight juga ikut bersama mereka.

Masih kebingungan, Iskahn menyadari dalam pasukan Orcs tersebut ada sosok manusia memimpin di bagian paling depan.

Dia bukan seorang Orcs. Dia memiliki rambut kuning kehijauan, serta memakai pakaian hijau keputihan. Dia memang manusia tak salah lagi, dan pastinya seorang wanita dari Kerajaan Manusia.

Tetapi mengapa swordswoman kecil ini memimpin seluruh Pasukan Orcs?

Tampaknya menyadari pasukan yang melaju ke arah sini, pasukan crimson yang mengepung pasukan Petarung Tangan Kosong kini berhenti.

Sebuah kilatan menyilaukan muncul. Si gadis itu telah menarik katana miliknya.

Seketika, tangan kanan Sheyta yang masih menggenggam tangan kiri Iskahn bergetar, seolah merasakan sesuatu.

Ketika sang gadis berlari ke tengah jembatan batu sambil mengangkat katana miliknya tinggi – tinggi ke udara. Pada saat itu, jarak antara dirinya dengan pasukan crimson masuh sejauh duaribu mel.

Tetapi —

Pedang dan tangan sang gadis seolah menjadi asap. Bahkan mata Ishkan tak bisa melihat tebasan miliknya. Kilatan cahaya perak terjadi sekejap mata, lalu terjadilah pemandangan yang menakjubkan.

Kilatan cahaya menjalar melalui tanah gelap ini — tetapi tidak hanya itu, puluhan pasukan crimson yang berdiri diatas cahaya tersebut terpotong dan berjatuhan ke tanah sambil berteriak kesakitan.

Katana yang telah diayunkan kebawah kini diayunkan keatas dengan kecepatan mengerikan. Kilatan cahaya kedua menembus pasukan crimson dan mereka yang mengenakan armor berat terpotong menjadi dua.


“…… Sungguh kuat.”

Sheyta berbisik pelan melihat pemandangan ini.

***

Tanpa menunggu – nunggu, Sinon mengangkat senjata kesayangannya, Hecate II, yang telah ia ciptakan dari Bow of Solus.

Ia kini hanya berjarak 20 meter dari Subtilizer. Sungguh terlalu dekat untuk menembak menggunakan sebuah sniper. Bahkan melihat pergerakan musuh dengan teleskop saja sungguh sangat sulit.

Karena itu, Sinon memutuskan untuk menentukan hasil pertarungan ini sebelum Subtilizer membuat sebuah gerakan; ia menarik pelatuk seketika ia melihat bayangan hitam di lensanya.

Sebuah tembakan cahaya. Dengan bunyi ledakan hebat.

Daya dorong dirasakan tubuh Sinon dan ia hampir tak bisa mengontrol tubuhnya untuk berputar. Setiap tembakan membuat tubuhnya bergerak, jadi ia tak bisa menembak beruntun tetapi selama ia bisa mengenai sasarannya maka semua akan berakhir.

Dengan kesulitan ini, Sinon mengatur tubuhnya dan menatap Subtilizer.

Lalu matanya terbuka lebar.

Si pria yang sedang berdiri di makhluk hitam bersayap kini mengangkat tangannya dan memposisikan jarinya seperti sebuah cakar.

Di telapak tangannya ada pusaran kegelapan dan cahaya yang masih berputar, dan yang ada di bagian tengah pusaran tersebut adalah partikel cahaya. Itu pastinya adalah peluru yang Sinon tembakkan.

Dengan kata lain, ia juga bisa menghisap peluru seperti ia menghisap kesadaran Sinon?

Sebuah peluru yang mampu menembus baja setebal 2cm dan ditembakkan dari sebuah sniper berkaliber .05 …

Sedikit rasa takut muncul didalam hati Sinon. Lalu, kegelapan di tangan kiri Subtilizer semakin menjadi pekat.

“Jangan kalah…”

Sinon berteriak kencang:

“Jangan kalah, Hecate!!”

Bang.

Dengan suara itu, cahaya ditembakkan menuju kegelapan sekali lagi.

Sebuah lubang tercipta di telapak tangan Subtilizer; daging dan darah muncul disana.

— Aku bisa melakukannya!!

Sinon mengambil nafas dalam – dalam dan menarik pelatuk Hecate II. Peluru yang telah habis melayang di udara lalu terjatuh.

Subtilizer menatap tangannya yang terluka sambil masih terdiam. Meskipun cairan hitam kini telah menutup lubang tersebut, luka separah itu sepertinya tak bisa sembuh dengan cepat.

Ia mengangkat wajahnya yang seolah ingin tertawa, lalu menatap Sinon.

Tangan kanannya kini mulai mengambil busur di pinggangnya.

“…Hmph.”

Sinon mengeluarkan sedikit udara melalui hidungnya. Bagaimana mungkin senjata seperti tiu bisa mengalahkan sebuah sniper …

Flex.

Busur tersebut kini mulai berubah bentuk.

Bagian kanan dan kiri ujung busur tersebut mulai menebal dan memanjang dua kali lipat. Yang tadinya sebuah bagian berkayu kini mulai menjadi sebuah logam hitam.

Setelah beberapa detik, tangan kanan Subtilizer kini telah menggenggam sebuah sniper sebesar Hecate. Sinon mengenali senjata ini.

The Barrett XM500.

Seperti Hecate II, senjata miliknya menembakkan peluru kaliber .50, tetapi senjata miliknya lebih modern dibanding Hecate miliknya.

Sebuah senyum muncul di pinggir mulut Subtilizer.

“… Kemarilah.”

Sinon bergumam dan menekan kembali pelatuk Hecate II.

***

“Ya ampun… K-Kau tak apa?”

Yanai tampaknya peduli pada Higa sehingga ia sedikit melupakan rasa sakitnya lalu berteriak:

“He… Hei, kau ini yang menembakku, mengapa kau menanyakan hal seperti itu padaku hah …?!”

“Tidak, tidak, aku sebenarnya tak bermaksud menembakmu. Aku tak ingin ada korban jiwa. Butuh perjuangan berat agar aku bisa hidup di vila di tepi pantai, tetapi jika aku tinggal disana sambil menyesal seumur hidup, aku tak ingin itu terjadi?”

Ketika Higa sadar jika Yanai benar – benar serius, tangan miliknya seolah kehilangan tenaga. Ia tahu jika dirinya telah terluka di bagian pundak.

Tampaknya peluru yang telah ia tembakkan telah menancap di dinding dan menembus bagian tulang bahu. Higa menahan rasa sakit tersebut dan mati rasa mulai menyebar di seluruh tubuhnya. Bagian perut dari pakaiannya telah berlumuran darah. Ini bukan hanya luka biasa.

Takut akan situasi semacam ini, rasa sakit tersebut semakin cepat menyebar ke perut Higa. Membuatnya kesulitan bernafas. Beberapa meter di atas kepalanya, Yanai masih membuat wajah campur aduk.

“Sejujurnya, aku hanya ingin memperlambat kerjamu, Higa-san. Setelah aku menghancurkan colokan penghubung aku akan berlari menuju ruang kontrol utama. Setelah itu, aku pasti bisa kabur menggunakan kapal selam. Tak ada seorangpun yang tewas dari pihak RATH jika aku berhasil mencuri Alice.

“Tak seorangpun… yang tewas…?”

Higa memaki Yanai, melupakan rasa sakit pada dirinya.

“… Jika aku tak membuat kesempatan untuk menyembuhkan Kirigaya-kun, kesadarannya akan hilang selamanya! Seseorang yang membunuhnya adalah kau, Yanai-san! Dan kau bilang tidak akan membunuh siapapun, hah!”

“Ahh. Ahh… Beenarr…”

Wajah Yanai menjadi pucat pasi. Dibawah lampu emergency, wajahnya semakin putih.

“Hmm… Siapa yang peduli jika ia mati.”

“Appaa……”

“Karena, dialah orang yang membunuhnya. Admii-chan kesayanganku.”

“Ad… mii…?”

Yanai menatap Higa yang kebingungan akan nama tersebut, Yanai lalu berteriak:

“Yang Mulia, Pemimpin Tertinggi Administrator dari Gereja Axiom! Aku berjanji padanya jika aku akan membantunya mengatur seluruh Underworld. Dan aku setuju dengannya jika aku akan menyimpan Light Cube miliknya jika server diformat.”

Mata Higa kini terbuka lebar.

Gereja Axiom adalah organisasi yang menguasai Kerajaan Manusia di Underworld. organisasi ini memerintah seluruh penduduknya dengan hukum – hukum dan kekuatan yang sangat memaksa.

Alasan mengapa Higa tidak bisa memperoleh Fluctlight «Alice» yang telah menerobos pembatas Jiwa ketika ia pertama kali muncul dalam Underworld yang telah berakselarasi karena Gereja Axiom telah berhasil mengambilnya dan menerapkan modifikasi ingatan di Fluctlight miliknya.

Ya, kecepatan mereka benar – benar gila dan cara – cara gereja Axiom sangat efektif.

Meskipun mereka tak mengetahui jika mereka sendiri adalah sebuah Artificial Fluctlight.

Namun karena alasan tersebutlah. Gereja Axiom — ataupun seorang Artificial Fluctlight yang bernama «Administrator» telah berhasil menguasai dan memahami struktur dunia tersebut.

“… Apakah kau yang mengotori Underworld?…”

Higa bertanya pelan, dan Yanai hanya cemberut.

“Tidak, tidak, anak itu yang pertama kali menghubungiku. Aku masih bekerja lembur saat itu, dan ketika aku mendengar suara seorang gadis kecil dari speaker, itu membuatku ketakutan setengah mati … dia telah menemukan seluruh daftar perintah Underworld seorang diri dan membuat saluran komunikasi ke dunia luar. Jika kami yang bekerja sebagai teknisi berpendapat, kaulah tersangka disini karena lupa menghapus seluruh perintah tersebut, Higa-san.”

Neheheheh. Yanai tertawa beberapa kali, lalu melanjutkan ceritanya:

“Aku terus berpikir, jika seperti ini terus seluruh Underworld akan diformat total. Karena suatu saat pasti akan dihapus, makanya aku diam – diam menggunakan STL dan pergi untuk menemui Admii-chan. Kemudian... Ya Tuhan, aku tak pernah melihat sosok gadis secantik dia. Gadis yang di kurung Sugou-san dalam ALO memang cantik, tetapi kepribadian Admii-chan, suaranya, dan sikapnya benar – benar membuatku terpesona… — Gadis itu membuat kesepakatan denganku. Jika aku membantunya maka dia akan menjadi pelayanku. Di masa depan nanti ia akan menguasai seluruh dunia bersamaku, dan menjadikanku seorang raja …”

— Tidak.

Orang yang mencemari dunia itu adalah orang ini.

Higa merasakan seluruh rambut di tubuhnya berdiri ketakutan. Yanai mungkin memang seorang pengkhianat, tetapi juga seorang idiot. Orang macam apa Administrator, sehingga mampu mengontrolnya sesuka hati?

Tiba – tiba, wajah Yanai kembali kosong.

“Tetapi… gadis itu kini telah mati. Dibunuh… bocah itu bukan hanya menghalangi eksperimen Sugou-san, ia juga membunuh Admii-chan. Jika aku tak membalaskan dendam Admii-chan, aku akan sangat kasihan padanya …”

Yanai mengarahkan pistolnya kearah Higa. Senjata tangan otomatis akan leluasa jika setelah menembakkan peluru pertama, maka tembakan kedua akan tak perlu memerlukan tekanan yang lebih keras. Jika jari telunjuknya sedikit saja menyentuk pelatuk, peluru lain mungkin akan benar – benar melayang.

“… YA, benar … YA, aku memang harus membunuh satu orang, sebagai tumbal untuk gadis itu …”

Yanai menyipitkan matanya sambil gemetaran.

… Sialan. Ia banar – banar serius kali ini.

Higa hanya bisa pasrah dan menutup matanya.

***

— Aku tak akan sempat.

Merasa jika Asuna, Klein, dan Lisbeth masih sangat jauh dari posisinya sekarang, Leafa menggigit bibirnya.

Tetapi didepan matanya, hampir sekitar 3000 pasukan crimson telah menghalangi jalan di depannya.

Ia telah meminta Rirupirin, sang ketua Orc untuk membawa bala bantuan menuju daerah selatan untuk menolong Asuna dan Kirito, tetapi mereka masih belum menemukan Pasukan Kerajaan Manusia.

Menurut penjelasan Rirupirin, beberapa ratus orang yang dikepung pasukan yang dive dari Dunia Nyata adalah para Petarung Tangan Kosong yang termasuk pasukan Tanah Kegelapan seperti Orcs. Leafa terkejut mendengar penjelasan tersebut, tetapi langsung memutuskan untuk membantu mereka.

“Aku akan maju ke pasukan musuh. Rirupirin, kamu dan anggotamu bergabunglah dengan Petarung Tangan Kosong, dan seranglah jika musuh menyerangmu.

Atas saran ini, Rirupirin memprotes keras: “Aku juga ingin bertarung!” tetapi Leafa menggelengkan kepalanya, sambil menggenggam tangan gempal si Orcs lalu berkata:

“Tidak, aku tak ingin ada satupun dari kalian yang tewas. Jangan khawatirkan aku... pulluhan ribu musuh seperti ini bukan hal sulit untuk dilawan kok.”

Setelah berkata seperti itu, Leafa maju sendirian menuju pasukan crimson.

Ia mengetahui jika Super Account Terraria memiliki HP yang sangat banyak dan kemampuan regenerasi yang tak terbatas. Terlebih lagi, orang – orang dari Underworld memiliki kehidupannya sendiri di dunia ini. Meskipun akan terlambat untuk membantu Kirito, Leafa tak bisa membiarkan para Orcs tewas sia – sia disini.

Setelah membunuh puluhan musuh menggunakan serangan jarak super jauh, Leafa melaju menuju pasukan musuh tanpa keraguan.

Untuk beberapa alasan, ia bisa menggunakan Sword Skills dengan jarak jauh beberapa kali lipat dibandingkan di ALO tanpa adanya jeda. Setiap kali cahaya bersinar di equipment Akun Terraria «Verduras Anima», musuh terpotong – potong dengan pola tetap.

Tetapi ketika cooldown antara Sword Skill satu ke Sword Skill lainnya, banyak pedang melayang dan menebas armor dan bagian tubuhnya. Ia tak bisa menghindari itu semua, dan jumlah luka di tubuhnya semakin bertambah, membuat rasa sakit di kepalanya dan membuat matanya berkunang - kunang — Tetapi.

“HA — AAH!!“

Ia berteriak dan menjejakkan kaki kanannya ke tanah. Cahaya kehijauan muncul dibawahnya dan seketika seluruh luka ditubuhnya telah sembuh.

Leafa bisa menahan rasa sakit ini dan mulai berkonsentrasi mengayunkan pedang miliknya.

Bahkan jika setiap bagian tubuhnya ditusuk, setidaknya ia akan menyingkirkan seluruh musuh dari dunia nyata.

Meskipun lokasi dive dirinya telah melenceng jauh dari lokasi asli, ia ingin menyelamatkan penduduk Underworld sebanyak mungkin. Mereka adalah orang – orang yang ingin dilindungi Kirito.

“Gadis ini benar – benar sinting!!“

Leafa menggunakan tangan kirinya untuk menghentikan sebuah pedang yang hendak diayunkan padanya.

“Haiyah!!“

Satu lagi musuh yang berhasil ia lenyapkan.

Leafa menggertakkan giginya pada pedang yang menancap ke tangannya, lalu membuang pedang tersebut sambil memuntahkan banyak darah dari mulut.

***

Kedua buah peluru mereka tampaknya saling berbenturan.

Peluru yang ditembakkan dari dua buah sniper anti-material berbenturan satu sama lain, lalu menghilang di udara.

Sinon tidak kehilangan keseimbangan kali ini, ia berdiri dengan dua kaki sambil bertumpu pada udara ketika menahan daya dorong yang muncul. Dihadapan matanya, Subtilizer juga masih berdiri tegap diatas makhluk bersayap miliknya.

Ini pertama kalinya sinon mengalami pertarungan udara di tempat terbuka antar sesama sniper. Sebuah game seperti GGO tak akan mensupport pemain untuk terbang, terlebih lagi Hecate sebenarnya tak bisa digunakan sambil terbang kesana kemari. Daya dorong yang timbul dari setiap tembakan benar – benar diluar nalarnya.

Pertarungan ini —

Siapapun yang mampu bertahan dan mengenai sasaran adalah sang pemenang. Sinon berpikir seperti ini sambil menarik pelatuk.

Subtilizer mungkin juga memiliki pikiran yang sama. Ketika Sinon terbang ke kanan untuk mendekatinya, musuh terbang ke kiri untuk melawan.

Pada saat yang hampir bersamaan, keduanya mulai melaju dengan kecepatan penuh.

Dalam kondisi ia tak kehilangan keseimbangan, Sinon menukik tajam ke suatu sudut. Sambil memfokuskan bidikannya dan juga berusaha menghindari bidikan musuh.

Tetapi Subtilize telah mengangkat Barrett miliknya tiba – tiba dengan kecepatan mengagumkan, ia tampaknya telah memprediksi gerakan Sinon.

— Datang!!

Sinon menggertakkan giginya dan membuka matanya lebar –lebar.

Percikan api meletus dari moncong senapan Barrett.

Sinon terbang secepat mungkin sambil menikung ke kiri.

Peluru musuh menabrak dadanya, hampir menembus ke kulitnya. Armor biru miliknya kini hancur.

— Hindarilah!

Ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia harus menembak sebelum Subtilizer memiliki kesempatan lain.

Akan tetapi, ketika Sinon mengangkat Hecate miliknya.

Ia melihat peluru lain melayang kearahnya.

Tembakan beruntun — mengapa bisa?!

Ah… sial.

Berbeda dari Hecate yang perlu dikokang setiap kali ingin menembak, Barrett milik musuh adalah sniper semi-automatic.

Ketika pikiran ini melintas ke otak Sinon, kaki kiri Sinon telah terpotong di atas lutut.

Sword Art Online Vol 17 - 315.jpg
***

Masih mampu berdiri dalam situasi seperti ini, adalah Asuna yang menggunakan Super Account, Integrity Knight Renri, seorang penduduk asli Underworld dan naga kesayangannya, juga Siswi Swordswoman Tiese dan Ketua Penjaga Sortiliena. Mereka masih mengayunkan senjatanya deengan gagah berani.

Meskipun matanya kelelahan, Asuna melihat Knight Renri bertarung dengan kokoh.

Sekitar sepuluh menit lalu, si knight telah muncul di garis depan dan langsung melemparkan pisau terbang miliknya. Pisau tersebut berputar diudara sambil memotong musuh yang melaju kemari. Kekuatan hebat ini mampu memukul mundur musuh selama beberapa menit. Nafas api yang dimuntahkan sang naga juga membuat musuh ketakutan, membuat status Integrity Knight sebagai penunggang naga nomor satu di Underworld.

Tetapi itu tak berlangsung lama hingga musuh menyadarinya. Ketika Knight Renri melemparkan senjatanya, tubuhnya sendiri benar – benar tak terlindungi.

Ketika ia melempar pisaunya untuk menyapu pasukan garis depan, banyak tombak yang dilemparkan kearahnya dari samping. Pasukan musuh akhirnya menggunakan taktik bertempur seperti yang digunakan Asuna saat melawan pemain Amerika.

Tombak - tombal tersebut bagaikan hujan di langit merah ini.

Naga milik Renri melebarkan sayapnya dan tubuhnya untuk melindungi sang tuan dari gelombang serangan musuh.

Tetapi ia langsung rubuh, sisik – sisiknya terkelupas dan mulai menumpahkan darah.

Selanjutnya, gelombang hujan tombak mulai diluncurkan.

Knight Renri melihat keatas pada tombak – tombak yang semakin mendekat, ia memeluk Tiese dan melindungi tubuhnya.

Setelahnya, dua buah tombak menancap ke punggung Renri, membuatnya terjatuh diatas tubuh Tiese. Kehilangan kontrol, pisau lempar yang berputar diudara kini berhenti dan menancap di tanah.

Pasa saat ini, di bagian lain medan peperangan, hasil pertempuran ini sudah bisa dipastikan.

Mencoba melampiaskan kemarahan mereka, pasukan crimson masih menyeret – nyeret pemain Jepang yang telah jatuh kerena kelelahan. Lalu menancapkan senjata – senjata mereka ke tubuhnya. Daging dan darah menari – nari di udara, sambil ditemani teriakan – teriakan kesakitan, lalu menghilang bagaikan asap.

Banyak armor dan perisai milik orang – orang telah retak dan hancur, mereka diseret ke tanah, benar – benar tanpa perlindungan. Air mata bercucuran dari wajah mereka karena tak bisa melihat darah yang terus mengalir dari luka yang muncul.

Dua ribu pemain yang telah mengkonvert akun mereka dan perlindungan pada Pasukan Kerajaan Manusia kini telah terbuka.

Untuk melindungi Pasukan Persediaan dan Regu Aschetic, hampir sebanyak 400 Penjaga Kerajaan Manusia telah membuntuk formasi melingkar dan kini sedang mengangkat pedang mereka. Wajah – wajah Penjaga mencerminkan keputusasaan akan datangnya serangan akhir yang dilancarkan pasukan crimson.

“……… Berhenti………”

Asuna mendengar sebuah suara lemah dari bibirnya.

Itu bukanlah suara yang mencerminkan rasa sakit pada tubuhnya, melainkan suara putus asa dan duka yang telah mengelilingi kondisi sekitar.

“Aku mohon.... berhenti.....”

Ketika ia berbicara, rapier yang ada di tangan kanannya telah terjatuh. Air mata menetes ke pipinya, turun hingga ku ujung rapier.

Tetapi pasukan crimson yang ada dihadapannya tak peduli, mereka mengangkat dua ratus senjata ke udara.

— Seketika itu.

Sebuah teriakan bagaikan petir menghentikan pedang – pedang yang akan dihujamkan kearah Asuna dari berbagai arah.

“Berheennnttiiii!!”

Seseorang yang mengucapkan kata – kata tersebut adalah si pria bertudung hitam yang dari tadi mengamati jalannya peperangan dari atap sana. Ia adalah hantu PoH, pemimpin dari guild merah — Laughing Coffin.

Para pemain dari negara asing tampaknya menyadari jika pria bertudung hitam ini adalah sang komandan pasukan, mereka lalu menurunkan senjata. Si pria yang hendak mengeksekusi Asuna menggigit bibir dan menyarungkan pedangnya, tetapi sebagai ganti ia menendang Asuna.

Asuna tersengkur, tetapi memaksa untuk berdiri bertumpu pada kedua lengannya yang tak bertenaga.

Asuna mengangkat wajahnya dan melihat seorang pria tinggi menuju kearahnya, tudung hitamnya berkibar karena angin. Ia tampaknya berbicara pada pemain sekeliling menggunakan bahasa Korea, Asuna tak bisa memahami maksud perkataannya.

Kemudian, para pasukan crimson mengangguk satu persatu dan menyampaikan pesan tersebut ke teman yang ada disampingnya.

Tiba – tiba, si pria yang ada disamping Asuna menjambak rambutnya dan ditarik keatas. Asuna berteriak kesakitan, tetapi si pria tak menghiraukan dan menyeretnya kedepan.

Hal yang sama juga terjadi disekeliling Asuna, mereka tampaknya mengumpulkan sisa – sisa pemain Jepang kedalam satu tempat.

Si pria bertudung hitam lalu berjalan kearah Penjaga Kerajaan Manusia yang masih mengangkat pedangnya. Ia berbalik dan melambaikan tangan, membuat semacam tanda kepada ‘dia’ jika ia sedang menjambak rambut Asuna.

Lalu Asuna merasakan sebuah tendangan di punggungnya dan melemparnya sejauh beberapa meter, lalu jatuh ke tanah. Satu persatu, pemain Jepang juga dikumpulkan disekitarnya.

Hanya ada sekitar 200 orang tersisa.

HP milik mereka semua hampir habis, padahal orang – orang ini adalah pemain kelas atas. Asuna melihat sekeliling, tetapi tak bisa menemukan Penguasa ALO, maupun anggota Sleeping Knights.

Equipment mereka kalau tidak hancur maka telah dilepas secara paksa; apa yang tersisa adalah pakaian tipis yang menempel ditubuh. Banyak diantaranya telah terluka parah, dan pedang masih tertancap ke tubuhnya. Wajah mereka tampak frustasi dan tak bertenaga.

Asuna tak tahan melihat mereka lagi. Ia juga ingin menyerah seperti mereka.

Tetapi ia masih bisa melihat teman – temannya di pikirannya, seolah akan dihancurkan.

Matanya menyisir daerah sekitar sekali lagi, lalu melihat seorang pemain wanita tertunduk tak jauh darinya, bahunya gemetaran. Rambut pendek berwarna merah jambu miliknya telah kotor, celemek miliknya juga telah robek sana – sini.

Bergerak mendekatinya, Asuna kini memeluk sahabat terbaiknya tersebut.

Tubuh Lisbeth melemah, ia menyandarkan kepalanya ke dada Asuna. Wajahnya gemetar, benar – benar berantakan, lalu ia berbisik:

“Semuanya… Aku menghancurkan … akun… semuanya…”

“Tidak… tidak, Liz!”

Asuna berbisik sambil menangis.

“Ini bukan salahmu, Liz. Ini salahku … Jika aku mampu menanganinya, jika aku mampu memprediksi hal semacam ini…”

“Asuna… Aku… Aku tak tahu apapun. Betapa mengerikannya sebuah peperangan.. betapa menyedihkannya kehilangan... aku tak tahu apapun …”

Asuna tak bisa menemukan jawaban yang tepat, lalu memeluk Lisbeth semakin erat. Air mata mulai menetes. Lalu ia mendengar sesegukan, membuatnya berbalik dan melihat Agil tak bergerak di tanah, dan Silica berlutut disampingnya.

Luka Agil sangat parah dan cukup mengejutkan jika ia masih hidup. Luka tersebut mungkin disebabkan karena pertempuran sambil melindungi Silica. Tubuh besarnya banyak menancap pedang dan tombak, dan perutnya memiliki luka memar hantaman. Asuna melihatnya masih menggertakkan gigi, Agil pasti sangat kesakitan.

Disamping Agil ia bisa melihat Klein duduk bersila di tanah. Lengan kirinya terluka dari bagian bahu, dan ia membalut luka tersebut menggunakan bandana miliknya.

Kondisi semua pemain yang tersisa hampir sama.

Si pria bertudung menatap ke 200 orang yang telah kalah, mengambil senjata, armor, dan moral mereka — ia menyeringai atas kemenangannya ini.

Lalu ia berbalik dan melihat para Pasukan Penjaga Kerajaan Manusia.

Asuna menunggu, ketakutan jika ia akan mulai membunuh mereka satu persatu.

Tetapi dia malah memberikan perintah dalam bahasa Jepang.

“Buang senjata kalian dan menyerahlah. Kami akan mengampuni kalian seperti para tahanan dibelakang kami.”

Rasa terkejut mulai bermunculan di wajah para Penjaga, tetapi langsung tergantikan oleh amarah. Salah satu diantara mereka maju kedepan, berhadap – hadapan langsung dengan si pria; dia adalah pemimpin Penjaga, Sortiliena. Pedang miliknya sudah tumpul dan darah mengalir dari dahinya, mungkin karena terlalu sering bertempur di garis depan seperti Klein dan yang lain.

Meskipun begitu, penampilan ini tidak membuat kecantikannya berkurang. Sortiliena berteriak:

“… Lelucon macam apa ini?! Kau pikir kamu akan menyerah seperti ini …”

“Lakukan apa yang ia minta—!!“

Asuna berteriak, memotong perkataan Sortiliena.

Masih memeluk Lisbeth, Asuna mengangkat kepalanya dan memohon:

“Kumohon... kamu tak boleh mati disini! Tak peduli seberapa besar penghinaan, kamu harus hidup!! Itulah… satu… satunya……”

Harapan.

Asuna merasakan dadanya dingin hingga ia tak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Tetapi, meskipun Sortiliena dan para Penjaga seolah memprotes tindakan ini, gemetaran, lalu pada akhirnya mereka mulai merendahkan bahunya.

Clang, clang. Melihat mereka kehilangan senjata satu persatu, pemain – pemain dari Dunia Nyata kini bersorak atas kemenangan ini dengan menyebut – nyebut nama negara mereka.

Si pria bertudung mengangkat tangannya cepat – cepat, memanggil beberapa pemain dan memberikan isyarat pada mereka. Mereka lalu mengangguk, lalu menuju ke pasukan Kerajaan Manusia, dan mengelilingi mereka.

Sebelum Asuna mengerti apa yang akan mereka lakukan, si pria bertudung melangkah kearah Asuna.

Bahkan dalam jarak dekat ini, Asuna masih tak bisa melihat wajahnya yang tertutupi tudung tersebut. Ia hanya bisa melihat bibir dan untaian rambut keriting di lehernya.

Bibirnya terbuka, lelu mengatakan sesuatu dengan suara gembira.

“Hei, lama tak ketemu, «Flash».”

— Orang ini adalah dia!!

Asuna menahan nafasnya, dan mengeluarkan kata yang telah ia pendam dihatinya.

“… Kau… PoH…!”

“Aw, sungguh nama yang nostalgia. Aku senang kau bisa mengingatnya.”

Pada saat ini, Klein yang masih memegangi lengan kanannya yang terluka melihat kearah si pria bertudung dengan emosi yang menyala.

“Kau… kau benar - benar. Kau masih hidup … dasar pembunuh!!”

Klein mencoba mencekiknya, tetapi pria terdekat menendangnya kesamping.

Asuna menggeramkan giginya dan berbisik.

“Apa ini … balas dendam? Balas dendam terhadap anggota pemain lantai atas yang telah menghancurkan Laughing Coffin…?”

“………”

PoH terdiam menatap Asuna beberapa saat. Asuna bisa melihat bahunya sedikit gemetar.

Lalu, ia akhirnya tak bisa menahan hal tersebut. Tubuhnya bergetar ketika ia mengeluarkan teriakan bercampur tawa: heheheh, hahahah.

Setelah tawanya berakhir. PoH mengacungkan jari tengahnya dan berbicara bahagia:

“Ah, hmm… bagaimana mengungkapkannya dalam bahasa jepang ya … aku telah tinggal di Amerika cukup lama, aku lupa mengungkapkannya.”

Jari tengahnya ia putarkan ke udara beberapa kali, lalu akhirnya berhenti.

“Ah ya, ‘Apa kau bodoh?‘ sungguh tak masuk akal, benar begitu …”

Dia menunduk, lurus menuju wajah Asuna dalam jarak dekat. Matanya bersinar dalam gelapnya tudung yang menyelimuti seluruh wajahnya.

“… Aku ceritakan padamu deh. Orang yang membocorkan lokasi persembunyian Laughing Coffin pada pemain Lantai Atas, adalah aku.”

“Appaa………”

Asuna, Klein, dan bahkan Agil yang tertidur di tanah membuka mata mereka mendengar penjelasan tersebut.

“Mengapa… kau melakukan hal itu …”

“Biasanya, karena aku ingin melihat sekumpulan orang – orang bodoh saling bunuh … tetapi alasan utama aku melakukannya mungkin karena: Aku… ingin membuat kalian semua menjadi seorang «pembunuh». Kalian semua, maksudku adalah para pemain yang selalu memikirkan dirinya sendiri hebat, Para Pemain Lantai Atas yang selalu membanggakan diri mereka di garis depan. Persiapanku butuh waktu lama… aku harus mengirimkan peringatan pada anggota LaughCof pada detik – detik akhir, dan waktunya benar – benar tepat, mereka tak bisa lari tetapi mereka masih bisa melawan.”

— Jadi itu mengapa informasi rahasia penyerangan lokasi persembunyian berhasil bocor? Asuna terkejut dan mulai berpikir.

Demi alasan ini, para Pemain Lantai Atas yang diunggulkan secara level dan equipment malah menerima kerugian setelah pertempuran dimulai, beberapa diantara mereka terbunuh. Hanya ada beberapa orang yang membalik keadaan atas usaha Kirito yang mana seorang pemain solo untuk mengumpulkan kekuatan. Para Pemain Lantai Atas bisa membalikkan keadaan karena Kirito telah membereskan beberapa pemain atas Laughing Coffin…

“… Jadi itu… tujuanmu?”

Asuna menggeram.

“Untuk membuat Kirito-kun… tunduk karena rasa bersalah telah melakukan PK…?”

“Ya. Tepat sekali.“

PoH mengkonfirmasi jawaban Asuna sambul tertawa.

“Pada saat itu, aku menonton pertempuran tersebut. Ketika Blackie-sensei menjadi marah dan membunuh dua orang. Aku tak bisa menahan tawa milikku. Rencana selanjutnyya adalah melumpuhkan kalian dengan racun Paralysis dan menginterogasi kalian secara langsung bagaimana perasaan kalian setelah melakukan PK … Yah tapi aku tak mengira jika permainan tersebut berakhir di lantai 75.”

Untuk sesaat, gelombang kemarahan membuat Asuna lupa akan luka – lukanya.

“Apa… Apa kau tak memikirkan penderitaan Kirito-kun setelah kejadian tersebut?!”

“Oh, mengagumkan pastinya.”

Suara PoH sedingin es menanggapi jawaban Asuna.

“Tetapi, itu aneh. Jika ia benar – benar menyesali perbuatannya.... pastinya ia tak akan dive kedalam permainan VR lain, bukan begitu? Karena rasa bersalah telah membunuh dan semacamnya. Aku tahu ia disini, aku bisa merasakannya. Meskipun aku tak tahu mengapa ia bersembunnyi dibalik kereta barang itu... terserah, aku akan menanyakannya secara langsung.”

PoH tersenyum pada Asuna, lalu ia berdiri.

Diantara sorak – sorakan yang masih terjadi, suara mencekap nan dingin terdengar:

“It’s show ti—me!”

PoH mengucapkan kalimat khasnya dalam SAO. Lalu ia mengangkat tangan kanannya tiba – tiba, dan didepannya sudah ada —

Disana ada kursi roda yang telah didorong oleh seorang pemain crimson, dan juga ada seorang gadis berpakaian abu – abu yang ditarik dibelakangnya.

Ah…

Berhenti.

Jangan.

Asuna berdoa dan memohon dalam hatinya. Klein tetapi berusaha untuk menghentikan PoH, tetapi langsung didorong dari belakang.

PoH membungkuk, menatap kursi roda yang ada dihadapannya.

“……… Hmm?”

Ia membuat suara dan menyenggol kaki rapuh yang menggantung di kursi roda dengan kakinya.

“Apa ini? Hei, Blackie, bangun. Kau dengar aku kan, Black Swordsman Yang Terhormat?”

Bahkan ketika ia menyebut nama panggilannya — Kirito tidak menunjukkan reaksi apapun.

Tubuhnya mengenakan pakaian hitam, tetapi itu tak menutupi jika tubuh Kirito sungguh sangat kurus. Ia bersender pada kursi roda, kepalanya tertunduk kebawah. Tangan kiri miliknya memegang dua buah pedang.

Ronye berlari kesamping Asuna, air mata menetes lalu ia berbisik:

“Kirito-senpai… ketika kamu bertarung, ia-ia mencoba untuk berdiri.. meskipun tak memiliki kekuatan... tetapi... air mata.. air mata... terus mengalir dari matanya …”

“Ronye-san…”

Asuna menjulurkan lengan kirinya dan memeluk tubuh ramping Ronye.

Lalu ia melihat dan meneriaki PoH:

“Kau paham kan. Ia bertarung, bertarung, dan terus bertarung dan akhirnya ia terluka parah. Berhentilah menjahilinya! Biarkan Kirito-kun istirahat!!”

Tetapi si pria bertudung tak mempedulikan perkataan Asuna, dan masih terus menatap wajah Kirito dari jarak dekat.

“Hei, hei, hei, kau bercanda kan! Bagaimana mungkin kita menutup pertunjukan seperti ini!? Hei, bangun! Hei, bangun! Selamat Paa… aagggiiii!!“

PoH menjulurkan kaki kirinya dan menendang kursi roda cukup keras.

Kursi roda tersebut terlempar kencang dan tubuh yang duduk diatasnya terjatuh ke tanah.

Asuna dan Klein mencoba berdiri bersamaan, tetapi dihentikan. Agil mengeluarkan raungan kemarahan, sementara Lisbeth, Silica, dan Ronye menjerit pelan.

Tetapi PoH tak menanggapi mereka semua, ia malah berjalan kesamping Kirito dan membalikkan tubuhnya menggunakan ujung kakinya.

“Apa ini… dia beneran hancur? Sang pahlawan besar kini hanyalah sebuah boneka?”

Ia lalu menggenggam pedang putih yang ada di pelukan lengan kiri Kirito. Lalu ia menariknya dari sarung pedang dan mengetahui jika pedang putih ini hanyalah separuh bagian.

PoH mencibir, dan hendak membuang pedang tersebut. Ketika —

“Ah… Ah…”

Kirito mengeluarkan suara serak, dan lengan kirinya berusaha mengambil pedang putih tersebut.

“Huh?! Ia bergerak!! Kau menginginkannya?”

Sword Art Online Vol 17 - 330.jpg

PoH mengayun – ayunkan pedang putih tersebut, seolah memanas – manasi Kirito. Ia lalu melukai lengan kiri Kirito yang masih menjulur ke udara, kemudian ia menendangnya.

“Hei, katakan sesuatu!!“

PoH menampar pipi Kirito dengan tangan kirinya.

Pandangan Asuna telah menjadi kemerahan karena amarah. Tetapi ketika ia hendak bangun, teriakan milik Klein meledak ke sekeliling.

“Kau bangsat!! Jangan berani kau menyentuh Kirito, kau sialan — !!“

Ketika Klein hendak menyerang PoH, sebuah pedang besar ditusukkan ke punggungnya dan membuatnya tertancap ke tanah.

Ia memuntahkan banyak darah dari mulutnya, tetapi Klein menghiraukannya dan mencoba untuk merangkak.

“Hanya… KAU…!! Tak akan pernah… kumaafkan…”

Crack!!

Dengan suara berat, sebuah pedang besar kedua menembus punggung Klein lagi.

Air mata tak terbendung kini membanjiri mata Asuna sekali lagi, seolah air mata ini tak akan kering.

***

Pada saat ini, rasa takut dalam hati Sinon untuk tak bisa terbang lebih besar ketimbang rasa sakit ketika kakinya diledakkan.

Dihadapannya, Sinon yang tadi bisa terbang bebas dengan menginjak udara. Kini hanya bisa menghindar menggunakan kaki kanannya sambil ia terus turun kebawah.

“Urgh………”

Sinon menggeramkan giginya, menggubah gerakannya menjadi manuver yang ia bisa gunakan— terbang kebelakang tanpa henti. Darah yang mengalir dari kaki kirinya bagaikan garis – garis di udara.

Ia membuat jarak antara dirinya dan Subtilizer semakin lebar secepat yang ia bisa, sambil mengincar musuh dan mengerahkan tembakan ketiga.

Tetapi musuh bisa mengejarnya dengan mudah dan sniper musuh juga menembakkan tembakan keempat.

Kedua buah peluru melaju pada lajur yang sama, menimbulkan suara dan gemercik api ketika saling bergoresan, dan berubah arah.

Sinon mengokang snipernya, rasa takutnya semakin besar, ia lalu menembakkan peluru keempat.

Dua buah bunyi keras terdengar bersamaan. Dua buah peluru saling bertubrukan, lalu menghilang.

Tembakan kelima. Tembakan keenam.

Hasilnya sama saja. Subtilizer memang sengaja mengincar dan menembak ketika Sinon menembak, membuat kedua peluru terus bertabrakan tanpa henti.

Skill seperti itu tak ada dalam GGO, kesampingkan dunia ini. Tetapi di dunia ini, imajinasi menjadi sumber segala hal. Tak hanya Subtilizer yang menyadari hasil pertempuran saling tembak ini, Sinon juga harus menyadarinya; itulah mengapa kedua peluru terus menerus saling bertabrakan.

Meskipun begitu, ketiga hal tindakan mengokang, mengincar musuh, dan menarik pelatuk, Sinon tak bisa melakukan hal lainnya.

Tembakan ketujuh saling berbenturam lalu sisa peluru menghilang di udara.

Kokang. Incar.

— Click.

Ketika jemari Sinon hendak menarik pelatuk, hanya timbul bunyi saja.

Isi peluru Hecate II hanya tujuh biji. Ia tak punya peluru cadangan.

Sebaliknya, Isi peluru Barrett XM500 adalah 10. Sisa dua peluru.

Sinon bisa melihat dengan jelas jika musuh tersenyum dingin dari jarak 100 meter.

Percikan api muncul dari ujung snipernya.

Selain kaki kirinya, kini tangan kanan Sinon meledak juga.

Hal tersebut membuatnya tak bisa lagi terbang lurus, ia mulai turun.

Mengontrol daya dorong, Subtilizer mendekatkan mata kanannya ke bidikan, bersiap untuk melancarkan tembakan terakhir. Mata yang terlihat dari bidikan tersebut mengincar dada Sinon.

— Maaf.

Maaf, Asuna. Maaf, Yui. Maaf… Kirito.

Setelah Sinon berguman sendiri. Tembakan kesepuluh XM500 terdengar.

Peluru tersebut meninggalkan lintasan peluru, menuju armor biru Sinon, menyentuh pakaiannya, dan menembus tubuhnya —

Bang!!

Percikan api muncul sekali lagi.

Sinon membuka matanya lebar – lebar, dan melihat peluru tersebut dihentikan oleh kalung silver yang sangat kecil.

Berada di pusat percikan cahaya putih selebar dua millimeter adalah kekuatannya yang masih tersisa. Seketika Sinon melihat ini, air mata menetes ke pipinya.

— Aku tak boleh menyerah.

Aku tak boleh menyerah. Aku harus yakin. Percaya pada diriku sendiri. Percaya pada Hecate. Dan aku harus percaya pada dia yang memiliki kalung ini.

Sinon mengangkat Hecate dan meletakkan jari telunjuknya ke pelatuk.

Meskipun senjata ini telah diubah menjadi sebuah sniper menggunakan imajinasinya. Properti sistem miliknya tak berubah — benar, kemampuan dari Bow of Solus: kemampuan untuk menyerap energi sekitar menjadi kekuatannya sendiri.

Maka ini pasti bisa menembakkan. Meskipun isi pelurunya kosong, Hecate pasti akan merespon.

“Go… oooo——!!“

Sinon menarik pelatuk.

Apa yang tertembak bukanlah sebuah peluru logam.

Sebuah peluru cahaya putih murni menyembur dari ujung Hecate, membuat garis lurus seolah membelah langit.

Senyum menghilang dari wajah Subtilizer. Ketika ia berusaha menghindar, cahaya putih menghantam Barrett.

Sebuah bola api keemasan muncul, menelan Subtilizer —

Sebuah bunyi dentuman hebat, sebuah ledakan.

Sinon merasakan hantaman udara menabrak wajahnya, membuatnya terjatuh dan menghantam tanah.

Ia tak memiliki kekuatan untuk merangkak, apalagi terbang. Rasa sakit yang muncul dari kekinya membuatnya semakin sulit untuk menjaga kesadarannya tetap terjaga.

Meskipun begitu, Sinon tetap membuka kedua matanya untuk melihat hasil tembakan akhir miliknya.

Angin menyapu asap hitam yang muncul di langit sana.

Apa yang muncul — adalah Subtilizer yang masih berdiri di udara.

Ia terluka. Seluruh tangan kanannya meledak akibat tembakan Sinon dan asap hitam masih mengepul dari punggungnya. Wajah bagian kanan miliknya hancur dan ia memuntahkan darah dari mulutnya.

Aura membunuh akhirnya muncul dari wajah Subtilizer.

— Ayo sini. Aku akan meladenimu sebanyak yang aku bisa.

Sinon memfokuskan sisa – sisa kekuatannya, dan mencoba untuk mengangkat Hecate.

Sedetik kemudian, Subtilizer berpaling. Makhluk bersayap yang ada dibawahnya kini berubah arah dan meninggalkan jejak asap hitam, ia terbang menuju selatan.

Sinon meletakkan sniper miliknya ke tanah; ia benar – benar kelelahan. Ketika sniper ini menyentuh tanah, ia berubah kembali ke bentuk aslinya, busur putih.

Ia menggunakan tenaga terakhirnya untuk mengangkat kedua tangan dan memegang kalung yang menjuntai.

“……… Kirito…”

Ia berbisik, air mata menetesi pipinya.

***

Leafa tak memiliki waktu untuk mencabut senjata yang tertancap ditubuhnya.

Semua rasa sakit bercampur aduk, langsung menembus ke urat syarafnya.

Beberapa luka miliknya cukup parah. Setiap saat ia bergerak, dua buah pedang yang saling menusuk perutnya menggesek organ dalamnya dan pedang yang tertancap dari punggungnya telah menembus jantung Leafa.

Tetapi Leafa tidak berhenti bergerak.

“Ura… AAHHHHH!!”

Banyak darah menyembur ketika ia mengayunkan Sword Skill untuk kesepuluh kali — atau seratus kali.

Katana «Verduras Anima» memotong horizontal dengan cahaya hijau.setelah beberapa saat berkonsentrasi, cahaya tersebut melebar dan banyak tubuh musuh terpotong.

Beberapa musuh mengambil kesempatan cooldown ini, dan melaju kearahnya. Leafa mundur tetapi tak bisa menghindari semua serangan. Tombak besar berhasil mengiris lengan kirinya.

Ia mencoba mengendalikan tubuhnya karena hampir terjatuh....

“HAAAHHH!!“

Pedang miliknya ia ayunkan sekali lagi, tiga orang terpotong lagi.

Leafa mengambil lengannya yang terpotong dan memasangnya kembali, ia lalu menjejakkan kakinya ke tanah.

Bunga dan rerumputan mucul bersamaan dengan cahaya hijau. HP miliknya kembali normal dan meskipun lukanya masih kelihatan, lengan kirinya telah tersambung kembali.

Dalam situasi semacam ini, kemampuan infinite regeneration yang dimiliki Super Account Terraria tak bisa disebut lagi sebuah anugerah dewi.

Lebih mirip sebuah kutukan. Tak peduli berapa banyak luka yang ia terima, berapa banyak rasa sakit yang dirasakan, ia tak akan kalah. Ia tak bisa mati, ia bukannya tak terkalahkan, Leafa malah merasakan sebuah siksaan.

Satu – satunya hal yang membuat Leafa tetap bertahan adalah sebuah keyakinan.

— Jika yang mengalami Onii-chan.

Ia tak akan mundur dengan luka semacam ini.

Aku tak boleh kalah. Mereka hanya tiga ribu orang. Aku bisa mengatasinya seorang diri. Karena.... aku... adalah.... Adik Perempuan..... «Black Swordsman» Kirito…

Cahaya kemerahan menyala dari ujung katana yang ia genggam.

Zoom! Katana tersebut ia hunuskan kedepan dan menembakkan sebuah pilar cahaya sejauh ribuan meter. Tubuh – tubuh musuh tertelan dan menghilang.

“… Huff… Huff…….”

Ketika ia bernafas, ia memuntahkan darah.

Leafa mengelap mulutnya sambil gemetaran, lalu sebuah tombak datang dan menancap ke mata kirinya dan menembus ke kepala.

Ia mundur beberapa lanngkah — tetapi Leafa tidak tewas.

Ia menggenggam pegangan tombak dengan tangan kirinya dan mencabutnya. Sebuah sensasi rasa sakit mengerikan mengalir ke tengkoraknya.

“Urgh… Uraaaaaaagh!”

Ia berteriak, menginjakkan kakinya ketanah untuk memulihkan HP miliknya. Mata kirinya yang hancur kini telah pulih.

Ia memandang sekeliling dan menyadari daerah sekitar hanya tersisa sekitar seratus orang.

Leafa menyeringai, menjulurkan tangan kirinya yang berdarah kedepan, ia mengundang musuh untuk maju.

Melawan pasukan yang menerjang dirinya, Leafa mengayunkan katana miliknya dengan keras .

“Eeyah… AAAAAHHH!”

Tebasan pedang.

Darah menyembur ke udara ketika serangan Leafa menghantam pasukan musuh.

Kira – kira tiga menit setelahnya, setelah musuh terakhir musnah. Tubuh Leafa telah tertancapi lebih dari sepuluh senjata.

Perutnya mati rasa ketia ia terjatuh kebelakang, namun ia tak menyentuh tanah karena tertahan ujung senjata.

Mendengarkan Rirupirin dan yang lain memanggil namanya, juga mendengar langkah kaki mendekatinya, Leafa menutup mata dan berbisik pelan:


“Aku… Hebat, kan… Onii-chan…”

***

Ketika Yanai menarik pelatuk, sebuah teriakan datang dari telinga kiri Higa.

“Higa-kun, menghindar!!”

Huh?

Menghindar… menghindari peluru?

Sambil berpikir seperti itu, Higa mendengar sebuah suara benda jatuh dari atas saluran ini.

Clang!

Itu bukan suara sebuah tembakan. Suara benda jatuh dari pintu masuk diatas sana, lalu menghantam dahi Yanai.

Mata Yanai terbuka lebar ketika melihat keatas. Tangan kirinya yang menggenggam tangga terpeleset.

“Whoa… Tunggu…”

Higa seolah lupa rasa sakit di pundaknya lalu merapatkan tubuhnya ke tangga.

Sebuah obeng besar terjatuh, lalu sebuah pistol terjatuh.

Akhirnya tubuh tak sadarkan diri Yanai terjatuh di saluran ini.

“Hee… Heee!”

Higa kembali ke posisi semula.

“……… Ah.”

Ketika Higa membuat keluhan itu, Yanai telah terjatuh kebawah sedalam 50 meter. Beberapa bunyi kelontangan terdengar ketika ia menghantam lantai.

“………. Um.”

Apa dia … mati? Tidak, sepertinya ia hanya mematahkan dua atau tiga tulang … tidak, mungkin lima atau enam …

Sambil berpikir apa yang menimpa Yanai, sebuah teriakan terdengar di telinganya sekali lagi.

“Higa-kun… Hei, Higa-kun!! Apa kamu baik – baik saja?! Jawab aku, hei!!“

“………. Ah, tidak, aku hanya terkejut … kau mampu membuat suara berisik seperti itu, Rinko-senpai.”

“Bagaimana... bagaimana mungkin kamu memikirkan hal konyol seperti itu?! Apa kamu terluka? Apa ia menembakmu?!”

“Ah, um…”

Higa melihat luka di pundak kanannya.

Jumlah darah yang hilang benar – benar banyak. Tangan kanannya mulai mati rasa, dan dingin. Pikirannya tak secepat biasanya.

Tetapi Higa mengambil nafas panjang dan mengumpukan kekuatan di perutnya sesaat, lalu membalas seceria mungkin:

“Tidak, aku baik – baik saja kok! Hanya luka gores. Aku akan melanjutkan operasi ini, tolong awasi monitor Kirito-kun, Senpai!!”

“Apa kamu serius tak apa?! Aku akan coba percaya, oke?! Jika kamu menipuku aku tak akan memaafkanmu, oke?!”

“Tentang itu… percaya saja padaku.”

Higa melihat keatas dan melambaikan tangannya pada Rinko yang mengintip dari pintu masuk saluran. Karena jarak cukup jauh dan minim penerangan, seharusnya ia tak bisa milihat pendarahan Higa.

“Nah… aku akan menuju monitor, dan jika gambarnya berubah aku akan mengabarimu! Semoga berhasil, Higa-kun!!”

Seketika sosoknya menghilang, Higa keceplosan berbisik memanggil namanya:

“Ah… Rin-Rinko-senpai.”

“Apa, ada sesuatu?!”

“Bukan… Um, uh…”

— Tahu nggak? Di kampus, bukan hanya Kayaba-senpai dan si sialan Sugou yang mengagumimu, aku juga mengagumimu lho.

Higa ingin berkata seperti itu, tetapi ia merasa jika ia mengungkapkannya... maka....

“Um, setelah ini semua berlalu, maukah kita makan bareng?”

“… Oke. Aku akan mentraktirmu hamburger, daging asap, atau apalah, semoga berhasil!!”

Lalu sosok Professor Koujiro benar – benar menghilang dari pandangan Higa.

— Ia benar = benar pelit.

Coba pikir, saat – saat «terakhir», kata – katanya tak terdengar keren.

Higa tersenyum pahit, lalu membalikkan laptop di tangan kirinya. Ia meletakkan jarinya yang mati rasa ke keyboard dan mulai mengetik.

STL #3… Connected to #4. #5, #6… Connected.

Mungkin karena kehilangan banyak darah, kata – kata yang muncul didepan mata Higa kini berlipat ganda. Ia menggelengkan kepala dan berbisik dalam hati.

— Baiklah, Kirito-kun, waktunya untuk bangun.

***

Sambil bercucuran airmata, Asuna menatap kekasihnya sambil berdoa.

— Kumohon, Kirito-kun. Aku bersedia mencurahkan seluruh hatiku, hidupku, segalanya... jadi, bangunlah.

— Kirito-kun.

***

— Kirito.

***

— Onii-chan.

***

……… Sekarang… Kirito…

Bagian 5[edit]

Kirito.

Sword Art Online Vol 17 - 348.jpg

Seseorang memanggil namaku —

Aku terbangun dari tidur panjangku.

Membuka kelopak mataku, aku bisa melihat partikel – pertikel cahaya berwarna orange beterbangan.

Pandanganku perlahan mulai fokus.

Sebuah kain putih — Gorden.

Sebuah jendela berwarna perak. Bergaya klasik.

Sebuah ranting pohon yang melambai. Sebuah pesawat perlahan melintas di langit sana, membelah langit cerah.

Aku mengambil nafas dalam – dalam, mengangkat tubuh atasku dan melihat sebuah seragam ada di depan papan tulis kehijauan. Penghapus diayunkan, menghapus tulisan yang masih tersisa.

“… Um, Kirigaya-kun.”

Aku mendengar seseorang memanggil namaku lagi. Aku berbalik, dan melihat seorang siswi menatapku agak malu.

“Aku ingin menggeser meja ini.”

Tampaknya aku ketiduran di kelas lagi, aku bangun ketika kelas sudah selesai.

“Ah… Maaf.”

Aku menjawab, lalu mengangkat tas milikku dari meja dan berdiri.

Kepalaku pusing.

Seperti kelelahan yang terus menumpuk — ketika menonton sebuah film yang sangat lama. Aku tak bisa mengingat seluruh filmnya, tetapi emosi yang tercipta telah melekat di hatiku. Aku menggeleng kepala.

Aku berpaling dari siswi yang menatap keheranan, mengambil langkah menuju pintu keluar kelas, dan berguman.

“Sungguh… Apa itu mimpi…”


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. Super Account yang ada dalam Underworld
  2. Semacam kendaraan militer
  3. Kapal perang milik angkatan laut Jepang
  4. Robot yang berbentuk manusia
  5. Player versus Player, sistem battle dimana seorang pemain melawan pemain lainnya
  6. Tempat kosong sebelum memasuki dunia VR
  7. Japan Self Defense Force, semacam pasukan pertahanan
  8. Phobia tempat sempit
  9. Phobia tempat tinggi
  10. Phobia tempat gelap
  11. Invaders: 침략 (chimlyag), merupakan kejadian di tahun 1910 dimana Kekaisaran Jepang mencaplok Semenanjung Korea yang masih dikuasai Kerajaan Joseon
  12. Konglomerat perusahaan bisnis dan industri
  13. 871 bisa juga dibaca YA NA I dalam bahasa Jepang


Catan Pengarang[edit]

Terima kasih telah membaca Sword Art Online 17: Alicization Awakening.

Saya benar – benar meminta maaf telah membuat semua orang menunggu sangat lama setelah volume terakhir, ”Exploding”. Arti judul “Awakening”, berarti “Bangkit”, jadi itu berarti Kirito san yang telah tertidur lama sejak Volume 15 akhirnya terbangun?! Semuanya mungkin berpikir seperti itu, tetapi saya minta maaf karena beberapa alasan aku meminta semuanya menunggu hingga volume selanjutnya dengan sebuah tanda tanya besar, “Apakah ia benar – benar terbangun…? Ataukah ia masih tetap tertidur…?” endingnya menggantung. Sejujurnya, aku ingin memasukkan seluruhnya kedalam ”Chapter 21: Kebangkitan”, tetapi itu akan membuat seluruh volume ini menjadi tebal dan volume selanjutnya menjadi sangat tipis, jadi aku memutuskan untuk memotongnya. Sungguh pilihan sulit, tetapi semuanya mohon bersabar hingga volume berikutnya.

Nah, aku ingin membahas isi volume ini. Karena Gabriel, Vassago, dan Critter telah menyusun rencana untuk memasukkan banyak sekali pemain VRMMO dari Amerika, Korea, dan China kedalam Underworld dan memulai pertempuran dengan Pasukan Kerajaan Manusia dan pemain Jepang. Ketika aku membuat alur semacam ini dalam versi web sepuluh tahun lalu, itu karena pada waktu itu suasana tidak kondusif dalam dunia game online terhadap pemain asing, jadi kuharap kalian semua bisa memahami setelah membacanya. Tetapi karena kemampuan menulisku tidak bisa menggambarkan semua peristiwa itu, aku malah menciptakan suatu suasana dimana kemarahan menjadi penggerak utama musuh, aku benar – benar malu.

Ketika aku mengedit tulisanku kedalam versi Dengeki Bunko, aku memutuskan untuk mengubah bagian tersebut, tetapi setelahnya malah terasa hampa… akhirnya aku tidak mengubah alur utama. Dan bagaimana Kirito akan mengatasi keresahannya setelah «Terpaksa melakukan PK» oleh Vassago/PoH yang mengadu domba Para Pemain Lantai Atas, semua akan terjawab di volume berikutnya.

Limabelas tahun telah berlalu sejak SAO tercipta dipojok dunia internet. Aku kagum karena telah bertahan selama ini. Tetapi akan ada movie, video games, dan banyak project lain untuk melebarkan dunia SAO, aku meminta semuanya tetap mendukung. Akhirnya, untuk abec-san yang telah menggambarkan Leafa, Sinon, dan kawan – kawan yang masuk kedalam Underworld dengan begitu cantiknya dan sangat menawan, juga Miki-san yang memulai tantangan baru sebagai editorku, terima kasih banya!

Suatu hari di bulan Maret 2016

Kawahara Reki