Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 18 Bab 21

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 21 - Kebangkitan (7 Juli 2026/Bulan ke-11 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

“Hanya … KAU …! Yang tidak … akan kumaafkan …”

Crack!!

Dengan suara berat, pedang kedua telah menusuk tubuh Klein.

Air mata terus mengalir dari mata Asuna.

Bahkan ketika masih tertancap ke tanah, Klein mencoba bergerak menggunakan tangan kanannya untuk mendekati si pria bertudung hitam—PoH, mantan ketua guild pembunuh «Laughing Coffin», yang sedang duduk di atas sana dengan pandangan jijik.

“Ahh, Aku tak tahan melihatnya. Orang sepertimu seharusnya enyah saja. Inilah yang terjadi jika kalian menentang kami dan sok menjadi penolong.”

PoH menggelengkan kepalanya sambil merentangkan tangan, kemudian dalam bahasa yang tidak dimengerti Asuna. Ia memberikan perintah pada seorang knight crimson yang berdiri di belakang Klein. Dia mengangguk dan mengangkat pedang lainnya.

Tepat ketika pedang ketiga akan memusnahkan HP terakhir milik Klein—

“Hajimaaaaaaaaaa!!”

Salah satu knight crimson yang ada di belakang barisan pasukan berteriak yang terdengar seperti bahasa Korea dan menahan tusukan tersebut menggunakan pedang miliknya.

***

—Ini pasti bercanda kan .... Kenapa ini sungguh menyakitkan?

Jo Wol-saeng/Moonphase masih terbujur kaku di tanah, menahan rasa sakit di punggungnya karena tebasan si pria bertudung hitam.

AmuSphere yang ia kenakan seharusnya hanya menghasilkan rasa sakit yang sangat lemah. Sebagai contoh, jika kepalanya tergigit oleh rahang naga raksasa dalam permainan yang sering ia mainkan, «Silla Online», ia hanya akan merasa sedikit kejutan nyeri.

Namun, Wol-saeng kini telah merasakan rasa panas yang sangat ketika ia menerima sebuah tebasan.

Tidak, jika ia menerima luka semacam ini di Dunia Nyata, ia tidak akan merasakan seperti ini. Si pria bertudung hitam telah mengayunkan senjata miliknya dengan begitu cepat bahkan Wol-saeng yang menganggap dirinya seorang veteran tak memiliki waktu untuk bereaksi. Ia mungkin akan tewas jika menerima serangan seperti itu di dunia nyata, dan jika tidak, rasa sakit ini pasti akan membuatnya pingsan. Itulah mengapa rasa sakit virtual ini bisa ia tahan.

Tetapi meskipun menyadari akan hal ini, rasa sakit ini benar–benar mengerikan. Wol-saeng hampir ingin meninggalkan tempat ini dan log out secepat mungkin.

Tetapi sambil menggenggam tanah hitam dan menahan rasa sakit, ia tak bisa menerima situasi yang terjadi di depan matanya sekarang.

Hacker Jepang telah «menyerang» server beta test gabungan yang dikembangkan Amerika, Tiongkok, dan Korea. Mereka menyerang pengembang di dalam game. Kami harap kalian bisa membantu melawan kemurkaan para pemain Jepang.

Berita seperti itu yang dibaca para pemain Korea termasuk Wol-saeng dan para pemain Cina sebelum dive kedalam dunia VRMMO ini. Mereka lalu melihat cuplikan kelompok pemain Jepang mengalahkan grup pemain lain, pihak Amerika lebih tepatnya.

Tetapi—benarkah cuplikan tersebut benar-benar nyata?

Ketika Wol-saeng melihatnya, para pemain Jepang-lah yang terlihat kesulitan sementara pemain Amerika seolah menikmati permainan ini. Pemandangan ini tidak berubah, bahkan ketika kondisi pertempuran berubah karena datangnya «bantuan» sebanyak sepuluh ribu pemain Korea dan Cina. Saat ini, meskipun equipment para pemain Jepang hancur dan HP mereka menipis, meraka benar-benar bersungguh-sungguh mempertaruhkan nyawa.... Benar, mereka berusaha melindungi sesuatu, bukan menghancurkannya.

Sebelum Wol-saeng tertebas, seorang pemain dari grup Jepang yang fasih berbahasa Korea berkata seperti ini:

—Kalian semua tertipu. Server ini milik perusahaan Jepang, kami bukanlah hacker, kami sang pemilik. Kalian semua tertipu dengan informasi palsu yang menyuruh kalian dive kesini.

Suara dan ekspresi dari pemain yang bernama Siune menggerakkan hati Wol-saeng. Jadi, sambil berusaha menahan rasa penasaran ia mencoba mendekatinya dan bertanya, “Apakah kamu bisa membuktikan apa yang kamu katakan?”, dan ketika teman Siune menjawab dalam bahasa Jepang, Wol-saeng terkena serangan pria bertudung hitam dan tak bisa menghindar.

Arus peperangan yang terjadi kemudian sangat cepat dan berat sepihak. Pemain–pemain Jepang dikalahkan pasukan crimson. Sebagian besar mereka dengan cepat kehabisan HP lalu ter-log out dari permainan. Sementara sisanya yang berjumlah kurang dari 200 telah dilucuti senjatanya dan dikumpulkan di satu tempat.

Pada saat itu, si pria bertudung hitam muncul lagi di garis depan dan hendak menyatakan kemenangan ini, tetapi ia melakukan suatu hal aneh.

Seorang pemain yang mengenakan pakaian hitam duduk di sebuah kursi roda dan menggenggam dua buah pedang, dipisahkan dari pasukan bantuan Jepang, lalu ia memaki pria tersebut dengan bahasa Jepang.

Ini semakin aneh, pikir Wol-saeng.

Apa gunanya sebuah kursi roda di sebuah dunia virtual—dalam sebuah VRMMO?

Dalam permainan yang sering ia mainkan, «Silla Online», jika kaki seseorang terluka atau mengalami efek status abnormal, gerakan kaki pasti terhambat. Tetapi kamu akan bisa pulih menggunakan magic, medicine, atau menunggu hingga efek tersebut hilang sendiri. Jika kemampuan berjalanmu terganggu sampai kamu butuh kursi roda, itu pastilah bukan hukuman dalam gim semata.

Terlebih lagi, si pria muda itu tampaknya mengalami kekurangan kesadaran, ia tidak bereaksi terhadap perkataan si pria bertudung hitam dan ketika ia digoyang-goyangkan ia tidak melawan. Seseorang pasti berpikir jika dia bukan seorang NPC, ia pastilah karakter kosong yang tidak diisi pemain online.

Akhirnya, karena tidak bisa menahan lagi, si pria bertudung melancarkan tendangan ke kursi roda dan menyungkurkannya. Seketika, Wol-saeng lupa akan sakit yang ia derita dan menahan nafas. Pemain–pemain Korea yang ada di sekitarnya bertanya-tanya keheranan dalam situasi ini.

Akhirnya, pemuda yang tersungkur itu menampakkan sebuah reaksi. Ia mengulurkan lengan kirinya menuju pedang putih yang beberapa saat lalu masih digenggamnya. Wol-saeng akhirnya melihat jika ia tidak memiliki lengan kanan.

Tetapi lengan kirinya masih tidak bisa menyentuh pedang tersebut, karena si pria bertudung telah mengambilnya dahulu dan mengayun–ayunkannya. Si pemuda menggeliat di tanah mencoba untuk mendapatkannya kembali. Si pria bertudung meraih lengan kiri miliknya dan menginjaknya. Suara keras terdengan ketika pipinya dipukul dua hingga tiga kali.

Tiba–tiba, teriakan lain terdengar.

Salah satu pemain Jepang yang tertangkap mencoba menghalau pria bertudung, ia mengenakan armor khas samurai dan bandana di kepalanya.

Tetapi tiba–tiba sebuah pedang milik pemain Korea ditancapkan ke tubuhnya dari belakang. Dengan jelas ia pasti merasakan rasa sakit yang lebih dari Wol-saeng, namun ia mencoba untuk tetap melangkah maju dan ia kahirnya menerima tusukan pedang kedua.

Si pria bertudung mencemooh samurai tersebut yang sedang tertancap di tanah. Ia lalu memberikan perintah untuk membunuhnya.

“Dia gila. Bunuh dia.”

Salah satu prajurit crimson mengangguk dan mengangkat pedang ketiga.

Ia tak bisa hanya berdiam diri melihat hal ini. Ia masih belum bisa membuktikan perkataan Siune, tetapi ia tak tahan atas tindakan si pria bertudung kepada pemuda di kursi roda. Disisi lain, tindakan pria samurai seolah membuktikan ia sedang melindungi temannya.

Wol-saeng tidak memiliki kesan yang bagus terhadap negara Jepang. Kesampingkan masalah sejarah dan wilayah, negara tersebut seolah–olah merasa negara superior di seluruh Asia Timur. Bukti nyatanya adalah ketika Jepang meluncurkan The Seed Nexus ke negara-negara barat, tetapi tidak mengikutsertakan koneksi menuju Korea dan Cina.

—Akan tetapi.

Negara Jepang tidak mencerminkan setiap rakyat yang hidup dan tinggal di dalamnya. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tetapi dalam beberapa server internasional yang muncul sebelum zaman permainan VRMMO, ia sendiri memiliki kenangan tak menyenangkan terhadap pemain Jepang di sana, tetapi tentu saja ia punya pengalaman mengasyikkan ketika bermain bersama.

Wol-saeng sekarang membenci si pria bertudung. Ia ingin meyakini Siune dan sang samurai. Ini tak ada hubungannya dengan masalah Jepang ataupun Korea. Ia ingin melakukan hal yang benar sesuai suara hatinya.

Ketika ia akan bertindak, perasaan yang tak rasional, rasa nyeri yang sangat parah menusuk punggungnya hingga naik ke kepalanya, tapi ia menggertakkann giginya dan berdiri. Ia menghunus longsword miliknya dan mengambil nafas dalam–dalam.

“……… Hajimaaaaaaaaaa!”

Berteriak sekeras yang ia bisa, Wol-saeng berlari kedepan.

Sistem memberikan status rata-rata kepada avatar Ksatria Crimson; gerakan Wol-saeng terasa lebih berat ketimbang karakter yang ia pakai biasanya di Silla Online, «Moonphase». Tetapi karena kekuatan yang entah berasal darimana, Wol-saeng melaju bagaikan angin dan berhasil menahan tebasan yang akan menusuk tubuh si samurai.

“Kau … apa yang kau lakukan?!”

Ksatria crimson yang ada di depannya bertanya dengan nada terkejut sekaligus marah dalam bahasa Korea. Jika ia adalah pemain Cina, ia mungkin akan kesulitan, jadi Wol-saeng menggunakan kesempatan kecil ini untuk membujuk para pemain.

“Aku ingin bertanya pada kalian, bukankah semua ini aneh?! Pertarungan sudah selesai! Mengapa kita membunuhi mereka satu persatu?!”

Mendengarnya berkata seperti itu, rekan–rekan seperjuangannya terdiam dan menatap samurai yang ambruk di tanah dan pemuda berkursi roda di balik Wol-saeng. Mata di balik helm tersebut berkedip, tampak ragu. Dirinya sendiri juga terlalu bingung melihat kondisi ini. Ujung pedang yang menyentuh Wol-saeng agak melemah.

Tetapi sebelum Wol-saeng bisa berbicara lagi, sebuah suara tajam menerobos kerumunan manusia yang sedang berkumpul.

“Baesinja!”

“Bunuh dia juga!”

Ketika ia berpikir bisa meredakan masalah ini, ksatria crimmson di depannya menekan ujung pedangnya sekali lagi.

Tetapi apa yang Wol-saeng dengar selanjutnya melebihi dugaannya.

“Tunggu! Dengarkan kata-katanya!”

“Si pria bertudung bertindak berlebihan!”

Seketika, para pemain Korea juga mulai berargumen. Komentar–komentar mereka semakin keras, membuat mereka terpecah menjadi para radikal—yang ingin membunuh semua pemain Jepang—dan moderat—yang ingin menunggu situasi menjadi jelas sebelum mengambil tindakan selanjutnya. Argumen hebat terjadi di antara keduanya, dan hal ini juga merembet ke pemain Cina: dia bisa mendengar teriakan–teriakan kuat dan lemah di medan ini.

Bagaimana pemimpin mereka akan menyelesaikan masalah ini?

Ketika Wol-saeng memikirkan ini, ia menoleh—

Berdiri di samping pemuda berlengan satu yang terbaring di tanah, si pria bertudung memutar–mutarkan pisau miliknya, senyuman menakutkan terlihat dari balik tudungnya.

Butuh beberapa detik bagi Wol-saeng untuk menyadari jika ia tidak melihat sebuah kemarahan, melainkan tawa yang tertahan. Rasa dingin mengerikan seolah terasa ke tubuh Wol-saeng.

Pria ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan permainan yang dikembangkan bersama antara Cina, Korea, dan Amerika atau apalah sebutannya. Bahkan keberadaan permainan seperti itu sungguh sangat meragukan. Ia masih belum yakin hingga detailnya, tetapi sepertinya pertempuran ini bertujuan untuk mengadu domba pemain dari setiap negara dengan darah dan penderitaan … Tidak, membuat mereka saling bantai. Itulah tujuannya.

“…… Agma ……”

Wol-saeng mendengar suara serak terucap dari mulutnya sendiri.

***

Vassago Casals lahir di San Francisco, di distrik kumuh Tenderloin. Ibunya adalah orang Spanyol sedangkan ayahnya adalah keturunan Jepang.

Akta Kelahiran Negara Amerika menolak nama yang berbahaya bagi seorang anak. Jadi ibunya memberikan nama Vassago, ketimbang Devil, atau Satan. Instansi tersebut tidak menyadari jika Vassago adalah nama iblis kecil berjulukkan «Prince of Hell», dan ia menerima usulan nama tersebut.

Hanya ada satu alasan mengapa ibunya memberikan nama iblis kepada anaknya sendiri. Ia tak ingin Vassago dilahirkan—bahasa kasarnya, si ibu membencinya hingga ke jiwa raga.

Vassago tidak mengetahui detail bagaimana kedua orang tuanya bertemu, ia juga tidak ingin tahu. Sederhananya, mungkin dikarenakan sebuah «transaksi moneter». Ketika sedang mengandung terjadi hal yang tidak terduga. Ibunya ingin ia diaborsi, tetapi terpaksa dilahirkan atas perintah ayah Vassago. Jika seperti itu, apakah itu berarti ayahnya menginginkannya? Tidak seperti itu. Ayahnya hanya beberapa kali mengecek kondisi kesehatan sang anak tanpa memberikan mainan ataupun hadiah. Satu–satunya hal yang ayahnya tinggalkan bagi Vassago adalah pengetahuan mengenai Jepang.

Saat mencapai usia lima belas tahun akhirnya Vassago mengetahui mengapa ayahnya menolak sang ibu untuk mengaborsinya, dan bahkan memberikan sedikit sentuhan sebuah keluarga padanya.

Seorang anak dengan kondisi cacat ginjal kongenital telah terlahir dari sisi keluarga sang ayah, dan Vassago telah diperintahkan untuk menjadi donor baginya. Ia tak bisa menolak, tetapi ia mengajukan satu syarat: ia ingin tinggal di rumah ayahnya di Jepang. Setelah melakukan kewajiban donornya, Vassago kehilangan semua alasannya untuk hidup di mata ayahnya, ia tak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan. Masa depan yang menantinya adalah menjadi pengedar obat–obatan terlarang, jadi ia memutuskan untuk meninggalkan negara ini dan memulai hidup baru.

Sang ayah menerima kondisi ini dan memberikan paspor dan tiket pesawat untuk menggantikan ginjal kiri Vassago. Tanpa berpamitan kepada sang ibu, Vassago pergi ke Jepang. Tetapi apa yang menunggunya di sana adalah takdir yang lebih kejam.

Hukum Jepang membutuhkan prosedur yang sangat rumit untuk pengadopsian luar negeri, bahkan jika Vassago diterima, pihak berwajib tidak memberikan ijin menetap bagi anak yang berusia diatas enam tahun. Jadi sejak awal, satu–satunya hal yang yang ia jalani adalah sebagai kriminal di dunia bawah.

Vassago diadopsi oleh sindikat kriminal Korea yang sedang mencari seorang remaja yang mampu berbahasa Inggris, Spanyol, dan Jepang, lalu melatihnya menjadi seorang pembunuh.

Setelah menyelesaikan sembilan «pekerjaan» di lima tahun terakhir sebelum menginjak usia dua puluh tahun, Vassago menerima pekerjaannya yang ke sepuluh, pekerjaan ini benar–benar berbeda dari pekerjaan yang telah ia terima.

Pekerjaan ini adalah membunuh target di dunia virtual, satu–satunya hal yang tak mungkin bisa dilakukan di dunia nyata.

Pada awalnya ia tidak memahami pekerjaan ini, tetapi ia akhirnya mengerti setelah mendengar inti berita mengenai «insiden SAO» yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Target Vassago menjadi salah satu korban insiden tersebut, ia berada di rumah yang sangat dijaga ketat dan tak akan pernah meninggalkan persembunyian tersebut. Meninggalkannya di permainan kematian tidak membuatnya yakin, karena ia tak yakin kapan si target akan mati, dan bahkan ada kemungkinan jika ia berhasil lolos tanpa kehilangan nyawanya. Tetapi jika Vassago masuk kedalam gim tersebut dan mengurangi HP si target, NerveGear di dunia nyata akan membunuhnya.

Tetapi ada tiga masalah besar dengan metode ini.

Pertama, sebagai seorang pembunuh, Vassago juga tak akan bisa logout dari permainan tersebut sebelum permainannya diselesaikan. Kedua, jika ia mati di dalam permainan, ia juga akan kehilangan nyawanya di dunia nyata. Dan ketiga, Vassago tak bisa menyerang langsung targetnya karena jika terbukti melakukan kekerasan antara sesama pemain, hal itu akan menjadikannya sebagai sebuah bukti pembunuhan.

Berhadapan dengan misi sangat sulit seperti itu, sindikat ini menawarkan sejumlah uang berjumlah banyak sebagai hadiah. Vassago tidak terlalu yakin apakah kelompok ini bisa membayar uang sebanyak itu jika ia berhasil menyelesaikan misinya, namun ia juga tak bisa menolak tawaran tersebut.

Hampir semua NerveGear telah disita oleh kepolisian, tetapi sindikat ini berhasil mendapatkan satu buah. Yang mereka butuhkan sekarang ini adalah sebuah salinan software permainan SAO dan keinginan untuk memasuki permainan kematian atas kehendak sendiri; baik polisi dan perusahaan pengembang permainan tak memiliki hak untuk menghentikannya. Akhirnya, ia sedikit mengalami kesulitan menentukan karakter namanya, tetapi akhirnya ia memilih sebuah nama yang sering digunakan ibunya untuk memanggilnya: «PoH».

Pengalaman pertama Vassago dalam dunia virtual mengubahnya, atau lebih tepatnya membebaskan kepribadiannya. Para pemain Jepang yang berada disekitarnya mengingatkannya atas sang ayah yang telah lama ia lupakan selama bertahun–tahun, ia menyadari membenci mereka semua—semua warga Asia Timur.

Ia harus membunuh targetnya. Tetapi ia juga ingin membunuh pemain lain sebanyak mungkin.

Menguatkan keinginannya, Vassago mendirikan guild pembunuh terbesar dalam SAO, «Laughing Coffin», dan berhasil merenggut banyak nyawa pemain lain selain target pertamanya. Akhirnya, setelah terbentuk organisasi yang terlalu besar, ia merencanakan sebuah pertarungan antara guildnya dan para Pemain Lantai Atas, ia ingin mereka saling bunuh. Tepat ketika ia ingin membunuh mangsa terbesar dan paling ia incar, si «Flash» dan si «Black Swordsman», permainan tersebut berakhir.

Hal pertama yang Vassago rasakan ketika kembali dari permainan kematian bukanlah kesenangan, tetapi sebuah kekecewaan. Meskipun ia tahu ia tak bisa lagi kembali ke dunia tersebut, ia lalu memutuskan untuk kembali ke Amerika untuk mengejar pengalaman yang sama. Bos sindikat menolak menyerahkan hadiah uang, jadi Vassago membunuhnya dan pergi mengambil uang tersebut. Setelah kembali ke Amerika ia masuk ke dalam Departemen Operasi Cyber dari sebuah kontraktor militer swasta yang bermarkas di San Diego.

Dalam latihan pertarungan virtual ia menahan diri ketika melawan perwakilan National Guard dan Navy, dan setelah menunjukkan kemampuan yang telah ia latih dalam SAO, Vassago langsung keluar dan dipromosikan menjadi seorang pelatih. Tetapi bahkan dengan kehidupannya yang berkecukupan, ia tidak merasakan kepuasan dalam hatinya.

Lagi. Ia ingin kembali lagi ke dunia itu. Kembali ke dunia virtual dimana data digital dan manusia menunjukkan sifat aslinya, dunia nyata terlalu penuh kebohongan.

Setelah menahan keinginan ini terlalu lama, ini pastilah sebuah keajaiban, sebuah takdir karena ia telah bertemu dengan si «Flash» dan si «Black Swordsman» sekali lagi dalam dunia virtual bernama Underworld.

Kondisi mental si Black Swordsman sepertinya rusak karena alasan tertentu, tetapi jika Vassago membunuh semua pemain yang ada di sekitarnya, ia pasti akan terbangun. Itu karena si Black Swordsman menunjukkan reaksi kuat terhadap Vassago—PoH ketimbang orang lain yang ada di sekitar. Ia bahkan merasakan jika ia membunuh pemuda ini dengan tangannya sendiri, ia pasti akan melakukan tindakan bunuh diri.

Pertama, ia menghasut banyak pemain Cina dan Korea yang telah tertipu dengan informasi palsu untuk memasuki Underworld, dan terjadilah pertempuran berdarah. Vassago belum pernah merasakan kesenangan seperti ini sebelumnya. Banyak orang yang tersisa mulai beradu mulut dengan tindakannya. Ketika kondisi sudah cukup tegang, yang mereka butuhkan hanya satu hasutan panas.

Pemuda yang telah ia serang sebelumnya berada pada jarak yang cukup dekat, ia tampaknya sedang berusaha membujuk rekan–rekannya untuk berpikir sebelum bertindak. Vassago hanya harus memenggal kepala pemuda tersebut lalu berteriak untuk membunuh semua pemain pengecut, dan dengan begitu kericuhan besar pasti akan terjadi dengan mudah.

“Tunggu saja … Aku akan segera membangunkanmu …”

Vassago membisikkan hal tersebut kepada Kirito yang terjatuh ke tanah. Ia lalu menyadari jika dari dekat wajahnya agak mirip dengan saudara laki–laki dari ibu yang berbeda yang pernah ia temui sejenak sebelum operasi ginjal mereka. Hal menyakitkan menyengat dadanya.

Ia pertama akan membunuh si «Black Swordsman» dan si «Flash» di dunia ini dan memaksa mereka logout, lalu ia akan mencari mereka berdua yang bersembunyi di Ocean Turtle, dan membunuhnya lagi dengan sangat menyakitkan.

Pikiran itu cukup menghilangkan rasa sakit di perut bagian kiri bawah miliknya karena ginjal miliknya telah hilang ketika ia berusia lima belas tahun

Dibalik tudungnya, Vassago menyeringai dan membisikkan lagi kata–kata kepada Kirito:

“Jika kau tetap tertidur seperti ini, semuanya akan mati. Ayo, segeralah bangun.”

Vassago mulai berjalan lagi, tangan kanannya memainkan senjata kesukaannya «Mate Chopper».

***

Crunch.

Jiwanya berusaha mengumpulkan tenaga, Asuna bisa mendengar suara langkah kaki di dekat.

Crunch, crunch. Sebuah suara dingin namun berirama, seperti orang sedang kesenangan.

Itu adalah suara langkah kaki miliknya, suara langkah kaki yang telah ia dengar berkali kali di kastil melayang sana.

Mendongak, ia melihat sosok pria bertudung mendekatinya dari samping Kirito yang tersungkur dua puluh meter darinya.

Tidak, dia tidak berjalan menuju arahnya. Ia berjalan menuju samping kanannya, menuju arah Klein yang telah tertusuk dua buah pedang. Mungkin dia akan mengakhiri nyawa Klein yang masih berpegang teguh pada semangat juangnya sendiri.

Tetapi kemudian, dugaan Asuna salah.

Di dekat Klein yang terbaring di tanah, dua ksatria crimson sedang beradu pendapat dalam bahasa Korea. Asuna juga menyadari jika ribuan pasukan tersebut yang sedang mengelilingi pemain Jepang juga menjadi ricuh.

Ini mungkin adalah sebuah kebimbangan antara pemain yang menyadari kebohongan PoH dan pemain yang masih percaya dengannya. Jika seperti ini, sedikit saja kekacauan akan menyebabkan pasukan ini saling bertempur antara sesamanya. Dan PoH akan berusaha mencegah terjadinya hal tersebut ...

———Tidak.

Tidak. Tidak.

Dia akan membuat pasukan ini saling bunuh

Seperti ketika ia membocorkan lokasi markas «Laughing Coffin», jadi Pemain Lantai Atas menyerang mereka.

Asuna tak memahami keuntungan rencana PoH ini. Tetapi ia yakin, sesuatu yang sangat kejam akan segera terjadi.

PoH melangkah semakin maju dan berbicara dalam bahasa Korea.

Seolah menghapus keraguan mereka sesaat, kedua pemain yang saling beradu argumen saling berjabat tangan.

Dengan cepat, PoH menggencangkan genggamannya pada senjata miliknya.

Ia bermaksud untuk mengeksekusi «pengkhianat» ini, lalu mengangkat kepalanya tinggi–tinggi untuk menunjukkan kepada pemain Cina dan Korea yang masih percaya padanya untuk menyerang para pengecut dalam pasukan.

Asuna tak boleh membiarkan hal ini terjadi. Meskipun tujuan utamanya adalah melindungi penduduk Underworld, ia juga tak bisa melihat pasukan crimson saling bunuh satu sama lain. Bahkan jika jumlah mereka tersisa setengah, jumlahnya masih sepuluh ribuan. Terlebih lagi, hati mereka pasti akan menjadi semakin panas dan marah daripada sebelumnya, lalu kemarahan tersebut pasti akan diarahkan kepada pemain Jepang dan penduduk Underworld.

Diatas itu, separuh pemain Cina dan Korea yang menyadari niat PoH akan terbunuh … mereka mulai mempercayai jika pemain Jepang-lah yang benar. Ia tak bisa melihat mereka terbunuh.

Ia harus bertindak. ia harus berdiri dan mengayunkan pedangnya untuk menghentikan eksekusi PoH.

Tetapi baik kedua lengan dan kakinya tidak memiliki tenaga tersisa. Setiap kali ia menghembuskan nafas, luka-luka yang ada di tubuhnya seolah melemahkannya, membuatnya nyaris pingsan.

……… Tidak … Aku tak bisa berdiri.

Asuna terbata-bata, masih berlutut di tanah.

Ia berusaha mengangkat tubuhnya. Rambutnya tergerai menutupi penglihatannya.

Lalu.


Tak apa. Kamu bisa melakuaknnya, Asuna. Berdirilah.


Suara lemah namun merdu memasuki telinganya.

Lengan lembut namun kuat memeluk pundak Asuna.

Cahaya hangat memenuhi tubuhnya—menuju jiwanya. Udara menyegarkan menghilangkan rasa sakit dalam tubuhnya.


Ayo Asuna. Berdirilah. Untuk melindungi hal terpenting bagimu.


Tangan kanan Asuna bergetar, berusaha mencari benda miliknya yang terjatuh di tanah.

Gagang «Radiant Light», rapier milik Stacia, sang Dewi Pencipta.

Mengangkat wajahnya, ia melihat senjata PoH semakin diangkat tinggi–tinggi. Ksatria crimson yang menyadari tindakannya seolah membeku di tempat. Semua tertuju pada senjata milik PoH yang akan ditebaskan tanpa ampun.

Menahan nafasnya, menggertakkan giginya, Asuna berusaha mengumpulkan kekuatan miliknya yang masih tersisa ... ia lalu menjejak tanah dan melaju.

“Ooh … AAAAAHHHHHHHHHHH!”

Asuna lalu menarik rapier di tangan kanannya sambil berteriak. Ujung rapier miliknya memancarkan kilatan putih. Sebuah Sword Skill dasar yang telah ia gunakan ribuan kali, bahkan puluhan ribu kali di masa lalu: «Linear».

PoH menyadari serangan kejutan Asuna dengan kecepatan mmengagumkan.

“Ohh …”

Asuna mencondongkan tubuhnya kedepan. Ia mengincar wajah PoH di balik tudung.

Ia merasa ada perlawanan. Gumpalan rambut hitam terbang ke langit dan goresan darah muncul dari kulit PoH.

—Ia berhasil menghindar!

Baik itu dalam Underworld maupun di Aincrad, setelah mengaktifkan Sword Skill akan terjadi sebuah celah jeda. Seketika Asuna berhenti sejenak dan senjata PoH akan diayunkan padanya.

Tetapi pada saat yang sama Asuna berkonsentrasi pada kaki milik PoH.

Cahaya berwarna-warni muncul dari tanah lalu menghilang. Asuna menggunakan kemampuan Dewi Pencipta Stacia untuk mengangkat tanah di bawah kaki PoH beberapa sentimeter ke udara.

Meskipun hanya mengubah sedikit tekstur tanah tetapi kepalanya diserang oleh rasa sakit seperti tersambar petir. Setelah melakukannya, senjata PoH kehilangan keseimbangan dan hanya menebas pakaian Asuna.

“Gur … rgh!”

Keluar dari jeda Sword Skill, Asuna menarik rapier milinya sekali lagi.

“Rrgh!”

PoH mengayunkan senjatanya, tudungnya berputar.

Kedua tebasan sangat cepat saling bertabrakan, mengeluarkan percikan api putih dan merah.

Asuna mengumpulkan semua kekuatannya untuk menahan serangan PoH.

“Apa yang ingin … kau lakukan?”

Ujung bibir PoH terdiam sesaat, lalu ia membalas dengan suara serak:

“Apakah aku harus memberitahumu? Aku ingin «dia» … sejak pertama kali aku berusaha membunuhnya di lantai kelima Aincrad, dialah yang aku inginkan.”

“ … Mengapa kau begitu membenci Kirito-kun? Apa yang telah ia lakukan padamu?”

“Benci … ?”

PoH mengulangi, seolah kecewa. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik:

“Aku kira dari semua orang, kaulah yang memahami jika aku sangat mengincarnya. Dialah satu–satunya orang di dunia ini yang aku percayai. Tidak peduli berapa kali rasa sakit yang aku berikan, dia tidak mundur. Tidak peduli berapa kali aku memprovokasinya dia tidak bergeming. Dia memberiku harapan dan kesenangan setiap hari. Jadi … aku tak bisa membiarkannya dia seperti ini selama aku tak ada. Aku akan membuatnya terbangun. Oleh karena itu, aku tak peduli berapa banyak ribuan ... bahkan puluhan ribu orang yang harus aku bunuh.”

Kata–kata PoH membuat Asuna membisu sesaat.

“Harapan … ? Kesenangan … ? Apa yang kau lakukan, tahukah kau betapa banyak yang Kirito ………!”

Ia ingin membalas perkataan PoH, tetapi ujung senjata mereka yang sedang bertemu semakin mendekat ke arah Asuna.

Tidak—Keinginan Asuna untuk bertarung belum padam. Pedang Mate Chopper yang dipegang tangan kanan PoH bergetar seolah hidup.

PoH tampaknya menyadari keterkejutan Asuna: ia tersenyum.

“Aku akhirnya sadar bagaimana dunia ini bekerja. Di sini, darah yang tertumpah dan nyawa yang melayang akan langsung diubah menjadi energi. Seperti ketika «Putri Cahaya» menembakkan pilar cahaya dan memanggang pasukan Tanah Kegelapan.”

Sebelum Asuna dive ke dunia ini, ia juga mendengarkan penjelasan sistem yang menjadi dasar Underworld. Sistem tersebut dinamakan «Spatial Resources», tetapi energi sistem tersebut memerlukan mantera maupun equipment tertentu agar bisa diserap. Bahkan ketika Mate Chopper membesar karena Spatial Resources, PoH tidak menyalakan perintah tertentu dan juga Mate Chopper seharusnya adalah sisa–sisa data akun SAO, jadi senjata tersebut seharusnya tidak memiliki kemampuan menyerap Energi dalam Underworld.

Tetapi ketika memikirkan hal tersebut, PoH melanjutkan:


“Dalam Aincrad, «Mate Chopper» akan semakin lemah ketika kau membunuh banyak monster menggunakannya, tetapi semakin kuat jika kau membunuh pemain … manusia, senjata ini akan menjadi semakin kuat. Yeah, tampaknya kutukan ini akan hilang jika kau mengayunkannya pada banyak monster, dan akan berubah menjadi sebuah katana dengan nama yang sama. Yang lebih penting adalah kemampuan aslinya untuk menghisap nyawa manusia dan meningkatkan kekuatannnya juga bekerja di Underworld. Nyawa para pemain Amerika yang kau bunuh dan pemain Jepang yang dibunuh Cina dan Korea masih bertebaran di medan peperangan ini. Jika pemain Cina dan Korea juga mulai saling bunuh, energi yang tercipta akan semakin banyak.”

Ketika PoH menjelaskan, Mate Chopper mulai bergetar dan menghasilkan suara gigi, gigi tanpa henti. Equipment GM milik Asuna «Radiant Light» seolah tak bisa menahannya lagi. Semua suara di sekitar semakin memudar digantikan suara nafas Asuna dan detak jantungnya sendiri.

Seolah senjata milik PoH semakin membesar, mendorong Asuna. PoH berbisik:

“Setelah aku menghisap semua nyawa mereka, aku akan membunuh semua Artificial Fluctlights yang ada di dunia ini. Tidak hanya pria yang terbaring disana … monster di Tanah Kegelapan dan manusia di Kerajaan Manusia juga akan kubunuh. Aku tak tahu ada berapa puluh ribu nyawa di dunia ini, dia akan bangun. Jika dia si «Black Swordsman» aku yakin.”

Udara dingin menerpa tudung hitamnya, menunjukkan mata yang ada di baliknya. Mata itu bersinar merah.

Dia iblis. Bukan manusia. Dia benar–benar iblis.

Inilah sosok asli pria bernama PoH. Tidak peduli apakah dia memiliki gelar «Cheerful Inciter» di Aincrad, ataupun gelar lainnya «Stern Commander» di medan peperangan ini, semuanya palsu. PoH yang asli adalah seorang pria yang memiliki hasrat untuk menyiksa dan membunuh …

Lutut Asuna goyah. Rapier miliknya terdorong lagi dan ujung senjata PoH akan menekan tenggorokannya.

“Tenang. Aku tak akan membunuhmu. Aku hanya akan memastikan kau tidak menggangguku. Karena aku ingin kau melihat ... melihatnya terbangun, melihatnya terbunuh di tanganku.”

Mate Chopper kini telah membesar dua kali lipat dari ukuran semula. Radiant Light mengeluarkan suara goresan dan retakan kecil muncul di tubuhnya.

Kini dengan satu kaki berdiri, pandangan Asuna tertutupi oleh pedang hitam. Dalam kegelapan ia hanya bisa melihat gagang pedang dan mata yang menyala merah.

Sebelum ia akan jatuh, sebuah tangan kecil … Mendorong punggung Asuna sekali lagi

Tak apa. Aku selalu ada di sisimu


Cahaya biru mengisi dada Asuna dan menghilangkan cahaya hitam di hadapannya.

Tergambar jelas dalam Mate Chopper, Asuna melihat sayap putih terbentang di balik punggungnya sendiri.

Semua suara muncul kembali, dan dia mendengar teriakan dari sahabatnya dalam kebisingan medan perang

“Asuna! Bertahanlah, Asuna!”

“Asuna-san! Asuna-saaaaaaan!”

“Berdiri, Asuna!”

“Asunaaaaaaa!”

Lisbeth. Silica. Agil. Klein.

Bukan hanya sahabatnya. Suara dari sisa–sisa pemain ALO, termasuk Sakuya dan Alicia, Siune dan Sleeping Knights, Renri dan sisa Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia, Tiese, Ronye, Sortiliena dan banyak Penjaga serta regu Ascetics memasuki telinga Asuna.

—Terima kasih, semuanya

—Terima kasih, Yuuki.

—Aku masih bisa bertarung. Kalian memberiku kekuatan.

“… Aku tak boleh kalah … Aku tak akan kalah dari … orang sepertimu yang hanya tahu kebencian!!”

Sambil Asuna berteriak, cahaya putih memancar dari Asuna dan mendorng PoH kebelakang.

Asuna berdiri. Menggenggam rapier di tangan kanannya dengan seluruh tenaga. Cahaya keunguan menyelimuti seluruh rapier.

“Nurgh…!!”

Asuna mengaktifkan Original Sword Skill yang telah ia terima dari «Absolute Sword» Yuuki.

Dimulai dari bagian kanan atas ia menusukkan lima tusukan sangat cepat, menyisakan bekas bekas cahaya secara diagonal menuju bagian bawah.

Lima tusukan dari bagian kiri atas kini ia lancarkan sekali lagi dan menyisakan lima bekas cahaya.

“Guaagh…”

Bahkan ketika PoH memuntahkan darah, senjata miliknya masih bercahaya crimson. Jika Asuna terkena serangan balik, HP miliknya pasti akan habis.

Tetapi serangan Asuna masih belum berhenti.

“WOOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!”

Mengkonsentrasikan sisa–sisa tenaganya ke ujung rapier, Asuna melancarkan serangan ke bagian tengah jejak cahaya—inilah serangan terkuat miliknya.

Kombo sebelas serangan OSS, «Mother’s Rosary».

Cahaya ungu terpatri ke dada PoH seperti meteor.

PoH terlempar ke udara dan terjatuh ke tanah cukup jauh.

Sekarang, setelah menghabiskan semua tenaga yang ia miliki, Asuna terjatuh sekali lagi sambil memegang dadanya.

—Terima kasih, Yuuki.

Sword Art Online Vol 18 - 042.jpg

Asuna tak bisa mendengar jawabannya. Mungkin suara dan tangan tadi hanyalah ilusi yang dihasilkan oleh kenangan Asuna. Meskipun begitu, di dunia ini dimana segala hal diciptakan berdasarkan ingatan, kejadian tadi pasti bukanlah hal palsu.

Ya—Asuna seharusnya tidak bisa menggunakan OSS Mother’s Rosary di Underworld. Bahkan Higa dan Kikuoka yang telah menerapkan Sword Skill lama dari SAO beserta The Seed. Sedangkan Asuna memperoleh OSS Mother’s Rosary menggunakan akun Undine di ALO. Ia tidak mengkonversi akun Undine dan malah menggunakan akun Stacia, Asuna seharusnya tidak memiliki data OSS tersebut.

Tetapi OSS milik Yuuki masih bisa aktif dengan sempurna. Jika ini adalah kekuatan imajinasi, maka Yuuki yang menyemangati Asuna sesaat benar–benar nyata. Karena kenangan tak pernah hilang.

Avatar milik PoH masih tergeletak di tanah. Tetapi meskipun telah menerima serangan sebelas kali menggunakan senjata GM, ia pasti tidak akan selamat. Tidak seperti pemain lain, dia dive menggunakan STL, yang berarti jika dia mati, tubuhnya tidak akan pecah menjadi partikel cahaya dan hanya tergeletak di tempat seperti penduduk Kerajaan Manusia ataupun Tanah Kegelapan.

Meletakkan rapier miliknya dan berusaha berdiri, Asuna kini berbalik melihat Klein. Perutnya masih tertusuk pedang, tetapi ketiga pemain yang ada di sisinya telah meninggalkannya dan melihat Asuna tanpa berkata–kata bersama dengan ksatria keempat yang berusaha menghentikan pembunuhan Klein.

Meskipun Asuna ingin berada di sisi Kirito sesegera mungkkin, ia harus menarik pedang yang menyiksa Klein lalu menyembuhkan lukanya, tepat ketika ia hendak melakukannya—

Asuna merasakan tanah sedikit bergetar.

Asuna menahan nafas dan melihat kebelakang.

PoH masih terbaring di tanah. Tetapi sebuah cahaya merah kehitaman muncul dari Mate Chopper yang ia genggam. Melihat lebih dekat, Asuna menyadari jika udara di sekitar medan peperangan sedikit berputar dengan senjata tersebut berada di pusatnya.

“Tidak … Senjata itu menghisap Sacred Power!!”

Pemimpin Penjaga Sortiliena berteriak dari bagian depan Pasukan Kerajaan Manusia.

Asuna menggertakkan giginya dan berlari untuk menghancurkan pedang tersebut.

Tetapi sedikit terlambat, tubuh PoH terangkat dari tanah seolah ditarik oleh Mate Chopper, yang kini melayang di udara.

Sobekan besar membuka kulitnya yang tertutup pakaian kulit. Di sana ada lubang menganga yang diakibatkan oleh serangan OSS Asuna.

Melihat PoH masih bisa berdiri meskipun dadanya berlubang, penduduk Underworld berteriak ketakutan. Teriakan kejam terdengar dari pemain Cina dan Korea yang hanya mengira jika ini adalah dunia VRMMO biasa.

Tampaknya senjata Mate Chopper telah menghisap banyak Spatial Resources dan mengubahnya menjadi HP bagi PoH. Bahkan mengetahui hal ini, Asuna merasa ketakutan.

PoH dive menggunakan sebuah STL.

Jika seperti itu maka ia akan mengalami rasa sakit yang sama di dunia nyata sana. Asuna telah merasakan rasa sakit ketika tombak menembusnya; tak bisa dibayangkan rasa sakit yang muncul jika dadamu berlubang dan masih hidup.

Tetapi bibir PoH yang bersimbah darah mulai membuka—lalu ia berteriak hingga sampai terdengar di seluruh medan peperangan:

“Kawan! Inilah sifat asli pemain Jepang! Bunuh semua pengkhianat dan juga pemain Jepang!!”

PoH berteriak dalam bahasa Korea tetapi Asuna sedikit paham ada yang ia katakan.

Aura merah kehitaman terpancar dari PoH yang mengangkat tinggi Mate Chopper.

Ohhhh….

OHHHHHHHHHHHHH!!

Separuh pemain Cina dan Korea mengangkat senjata mereka dengan penuh kebencian.

Mereka mulai menyerang pemain yang berusaha membujuknya … dan sebagian dari mereka mulai menyerang pemain Jepang dan pasukan Underworld. Asuna tak bisa menghentikan mereka.

Tiba–tiba, seseorang seolah memaksanya duduk dan Asuna terjatuh ke tanah. Rapiernya yang rusak parah terjatuh dan berguling di tanah kering.

Jauh didepan sana, Kirito berusaha menjulurkan tangan kirinya menuju arah Asuna.

“…… Kirito-kun.”

Asuna membalas, mencoba mengangkat tangan kanannaya pada Kirito dan menunggu detik–detik pembantaian.

Bagian 2[edit]

Aku mengantuk di dalam kelas, tetapi rasanya aku bermimpi sangat lama.

Sebuah mimpi yang menyenangkan, menyakitkan, dan menyedihkan. Aku mencoba untuk mengingat lebih detail tentang mimpi tersebut ketika aku berjalan melalui koridor kosong, aku benar–benar tak bisa mengingat mimpi tersebut.

Aku menyerah dan berganti sepatu di pintu masuk.

Setelah melewati pintu gerbang sekolah, sebuah hembusan angin musim gugur menerpa rambutku yang agak panjang.

Aku mengayunkan tasku ke bagian kiri bahu dan memasukkan kedua tanganku ke saku lalu berjalan sambil menundukkan kepala.

Tepat di depanku, teman sekelasku sedang asyik mengobrol satu sama lain. Agar tidak mendengar percakapan mereka, aku memasukkan earphone pemutar musikku ke dalam telinga hingga sampai rumah.

Dalam perjalanan pulang, aku berhenti pada sebuah toko dan mengecek majalah mingguan permainan, aku memilih dan membeli sebuah majalah yang dikhususkan untuk «Sword Art Online», yang mana akan segera rilis satu bulan dari sekarang. Aku juga berusaha menukarkan beberapa kupon poin kedalam e-wallet milikku juga.

Aku tak akan melakukan hal macam ini jika aku memiliki sebuah kartu kredit, dan meskipun aku memintanya kepada ibuku, aku langsung diceramahi untuk memikirkan bagaimana masuk kuliah. Jika dipikirkan, aku seharusnya bersyukur jika dia peduli pada seorang anak yang bukan darah dagingnya, jadi aku menghargai pendapat ibu.

Ini saatnya kita meninggalkan uang kertas dan menggantinya menggunakan uang elektronik … aku berpikir seperti itu sambil berjalan keluar toko.

Lalu aku menyadari sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang yang sebelumnya tidak ada di sana saat aku memasuki toko, mereka berkumpul di pojok tempat parkir. Mereka mungkin telah tiba sementara aku masuk fokus melihat–lihat majalah. Tempat di sekitar mereka penuh dengan sampah roti dan makanan ringan.

Menilai dari seragam mereka, mereka berasal dari sekolah yang sama denganku, tentu saja aku tidak mempedulikan mereka dan akan pergi ketika—

Salah satu dari mereka memandangku.

Dia adalah laki–laki bertubuh kecil. Dia berada di kelas yang beda denganku tapi kita saling kenal—tidak, aku harus berkata jika untuk beberapa waktu, kita pernah menjadi teman.

Dia juga pernah ikut serta dalam Closed Beta Sword Art Online yang dilaksanakan musim panas lalu.

Bagi seribu orang di seluruh Jepang untuk terpilih, pastilah sebuah keajaiban jika dua orang dari sekolah yang sama, bahkan tiingkat kelas yang sama bisa terpilih. Meskipun begitu aku pergi dan mengontakknya atas keinginanku sendiri setelah mendengar dia terpilih.

Kami saling mengobrol setelahnya sebelum liburan musim panas dan berhenti ketika musim panas tiba—lebih tepatnya ketika Closed Beta SAO ditutup. Ketika tes beta kita menjadi sebuah tim setiap tiga hari sekali di sana, dan saling mengenal cukup baik. Namun, ketika aku menemuinya lagi setelah satu bulan di awal semester dua, kepribadianku berpikir seperti ini “Siapa sebenarnya orang ini?” kini aku menemuinya di dunia nyata—seseorang yang pernah kukenal di dunia virtual—muncul lagi.

Aku merasa dalam tubuhnya, ada seseorang yang berbeda, seseorang yang tidak aku kenal. Seketika pikiran seperti itu melintas dikepalaku aku tak bisa bersosialisasi dengannya lagi. Karena aku juga merasakan hal yang sama terhadap orang tua dan adik perempuanku.

Tampaknya dia tetap menginginkan menjadi temanku setelah peluncuran SAO di bulan Oktober, baik itu di dunia nyata, tetapi ia menjaga jarak setelah mengetahui tingkah lakuku. Setelah itu kita tidak pernah saling berbicara lagi.

Jadi mengapa dia duduk di tempat parkir dengan siswa– lsiswa yang tampaknya tidak bisa diajak berteman?

Dari matanya dan dari kata–kata yang diucapkan siswa disampingnya, akhirnya jelas terungkap.

“Apa yang kau lihat? Apa maumu?”

Ketika siswa lainnya mengepalkan tinju sambil menakut–nakuti.

Dengan kata lain, dia telah diincar oleh «siswa nakal» dan sedang diperas oleh mereka. Dan kini dia seolah ingin meminta tolong padaku.

Perkataan yang sebenarnya ingin aku katakan adalah “Ayo kita pulang”. Tetapi mulutku bergerak dengan sendirinya.

Dan kata–kata yang terucap adalah ....

“……… Tidak ada.”

Sebuah suara serak tak acuh. Lalu aku berjalan meninggalkan mantan temanku dan terus berjalan. Dia tidak berkata–kata, meskipun aku bisa melihat dia seolah akan menangis.

Setelah meninggalkan toko tersebut, aku berjalan di jalanan berwarna merah karena pantulan sinar matahari. Aku tidak memikirkan apapun. Aku menatap aspal, berjalan, dan berjalan.

Matahari tenggelam di belakangku dan jalanan menjadi gelap. Apa yang seharusnya jalan yang kukenal kini tampak asing bagiku. Hanya suara langkah kaku yang terdengar, tidak ada orang maupun mobil ketika aku melihat.

Pat, pat, pat… crunch, crunch, crunch.

“Huh……?”

Aku berhenti. Aspal di kakiku kini menjadi rumput. Apakah ada jalanan seperti ini menuju rumahku? Aku berpikir sambil mendongak atas.

Tetapi aku tidak melihat jalanan kereta Kota Kawagoe di Perfektur Saitama. Malahan aku menatap pada sebuah jalan kecil menuju sebuah hutan.

Aku melihat sekeliling sebelum melihat tubuhku sendiri.

Seragam hitam sekolah yang aku kenakan menghilang, diganti dengan jubah berwarna biru dan sebuah armor kulit. Tanganku tertutupi sarung tangan, kakiku memakai sepatu dengan alas logam. Di punggungku yang menggantung tas kini digantikan oleh sebiah pedang berat.

“Dimana … aku ……?”

Aku berguman, tetapi tidak ada jawaban. Aku mulai berjalan melewati jalanan berkayu.

Butuh waktu sekitar satu menit sebelum ingatanku menjadi jelas. Hutan–hutan dan rerumputan ini. Aku sedang berada di bagian paling tenggara dari Lantai 1 Aincrad, «Town of Beginnings». Jika dugaanku benar, maka Desa Horunka seharusnya ada di depan sana.

Aku harus memasuki desa dan menginap di penginapan. Apa yang aku inginkan sekarang hanyalah beristirahat. Hanya ingin tidur tanpa memikirkan apapun.

Aku semakin berjalan melalui pepohonan yang kini terlihat berwarna kebiruan akibat cahaya bulan.

Tiba–tiba aku mendengar sebuah teriakan dari depan.

Aku berhenti, lalu mulai berjalan kedepan. Pepohonan kini berganti dengan jalanan curam. Aku mendengar suara teriakan lagi. Dan juga auman seekor monster.

Aku melangkah mendekati, lalu mengintip dari batang kayu.

Di sana kondisi tanahnya mirip lantai dansa, sebuah bayangan bergerak–gerak, diterangi cahaya putih kebiruan.

Lima hingga enam tentakel monster tipe tanaman bergeliat tanpa henti. Yang diincarnya adalah seorang pemuda yang berpakaian mirip denganku. Dia asal–asalan mengayunkan pedangnya, tetapi tentakel tersebut beregenerasi terus menerus.

Melihat wajahnya, aku akhirnya sadar.

Dia dan aku telah membentuk sebuah party, saling bekerja sama untuk mendapatkan equipment dari monster tipe tanaman. Nama pemain itu adalah … Coper. Tetapi mengapa ia dikelilingi monster tersebut?

Walaupun tidak tahu mengapa, karena dia adalah pertnerku aku harus menolongnya.

Meskipun aku tahu hal tersebut, kakiku tidak mau bergerak. Seolah tertancap ke tanah. Aku tak bisa melangkahkan kakiku.

Sebuah tentakel meluncur dari belakang, melilit kakinya. Coper terbanting ke tanah. Monster tersebut mendekatinya, lalu membuka mulutnya yang berisi gigi–gigi yang mirip dengan manusia.

Wajahnya ketakutan, Coper mengulurkan tangan kirinya padaku.

Tetapi sosoknya kini dikerubungi monster, lalu terdengar bunyi keras dan pecahan cahaya kebiruan muncul.

“Ahh…………”

Mengeluarkan suara serak, aku menunduk, seperti saat aku meninggalkan temanku di depan toko.

Aku menatap rerumputan di kakiku, aku gemetaran, lalu mengubah arah jalanku dan mulai memasuki hutan lagi.

Crunch, crunch, crunch… clack, clack, clack.

Aku berhenti. Rerumputan di bawah kakiku kini tergantikan oleh batu–batu licin.

Aku melihat keatas dan sadar ini bukan lagi Lantai 1 Aincrad; kini sekarang aku berada di jalanan gelap. Ini pastinya dalam labirin … tetapi aku tak bisa menebak lantai mana ini.

Tanpa aku sadari, equipment dan pedang di punggunngku telah bergantii ketika aku berjalan dalam koridor. Aku terus berjalan dan berjalan, seolah mengejar bayanganku yang tercipta akibat lampu minyak dalam labirin. Labirin terbesar Aincrad lebarnya 300 meter, jadi sebuah koridor sepanjang ini tidak mungkin ada, tetapi aku tidak berhenti juga tidak menoleh ke belakang. Aku terus menggerakkan kakiku.

Kini aku mendengar sebuah suara lemah dari depan sana.

Itu bukan teriakan, melainkan suara semangat. Beberapa suara semangat terdengar dari depan.

Entah mengapa, suara tersebut terasa kukenal. Aku mempercepat langkah kakiku menuju sumber suara.

Akhirnya aku melihat pintu masuk segiempat di dinding pada sisi kiriku, pintu tersebut berwarna kuning menyala. Aku mempercepat langkahku dan masuk kedalam.

Melihat dari pintu masuk, aku melihat sebuah ruangan yang cukup luas. Empat pemain membelakangiku.

Aku tak perlu melihat wajah mereka untuk akhirnya sadar siapa mereka.

Si pemegang tombak dengan rambut acak–acakan adalah Sasamaru.

Si tinggi pemegang perisai dan palu adalah Tetsuo.

Si pengguna pisau adalah Ducker.

Dan akhirnya, si gadis pendek yang memakai tombak adalah … Sachi.

Mereka semua adalah anggota guild yang sama denganku. Si pemimpin guild Keita masih bernegosiasi mengenai harga rumah guild, mereka berempat masuk ke labirin ini untuk mencari tambahan uang guna membeli perabotan.

Syukurlah ... semuanya aman.

Aku tak tahu mengapa pikiran seperti itu terlintas dalam kepalaku ketika aku ingin berbicara dengan mereka, tetapi mulutku kini tak bisa dibuka. Kakiku tak bisa digerakkan seolah terlem ke tanah.

Aku membisu di tempat, mereka berempat menemukan peti harta besar di samping dinding. Ketika aku menyadarinya, hawa dingin mengisi pundakku.

Ducker, si pencuri berusaha menghilangkan jebakan pada peti tersebut.

—Tidak. Hentikan. Tidak.

Aku berteriak dalam hati, aku tak bisa mengeluarkan suara. Tak peduli berapa inginnya aku memasuki ruangan itu, kakiku tidak bisa bergerak.

Ducker perlahan membuka peti tersebut.

Seketika, alarm berbunyi dan dua pintu di dinding kanan dan kiri terbuka. Banyak monster memasuki ruangan ini.

“Ah…… AH………!”

Mulutku mengeluarkan suara serak.

Itulah yang bisa kulakukan. Aku bahkan tak bisa menggerakkan jariku. Aku hanya bisa menyaksikan teman–temanku di kelilingi monster.

Orang yang pertama tewas adalah Sasamaru. Lalu Ducker, kemudian Tetsuo meledak menjadi pecahan cahaya. Kini hanya Sachi yang berbalik dan menatapku.

Bibirnya tersenyum tipis dan bergerak sedikit.

Selanjutnya, senjata para monster dan cakar mereka menghujani tubuh mungilnya tanpa ampun, ia terselimuti cahaya kebiruan.

“………………!!”

Aku menjerit dalam diam, Sachi berubah menjadi serpihan kaca dan berhamburan di depan mataku.

Puluhan monster juga menghilang, seolah menguap dan ruangan ini menjadi gelap.

Akhirnya aku bisa bergerak, aku berlutut.

Cukup. Aku tak ingin berjalan lagi. Aku tak ingin melihatnya lagi.

Masih berlutut di lantai sedingin es, aku menutup mata dan telingaku seerat mungkin. Tetapi kenangan sedingin es mengguyurku tanpa henti.

Dua tahun yang kuhabiskan dalam kastil melayang.

Terbang ke langit di kerajaan peri.

Peluru merah yang saling bertubrukan di gurun pasir.

Aku tak ingin mengingatnya lagi. Aku tak ingin tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Aku terus memohon, tetapi banjir ingatan terus menghantam kepalaku tanpa henti.

Tiba–tiba seolah ditarik ke dunia nyata.

Aku terbangun di kelilingi hutan lebat.

Berjalan kedepan untuk mencari sumber suara kapak yang diayunkan, lalu tiba di akar pohon raksasa, aku bertemu dengannya.

Aku bertarung melawan para goblin. Pohon raksasa tumbang.

Perjalanan menuju pusat dunia. Dua tahun yang kuhabiskan di Akademi.

Sesulit apapun kesulitan yang kualami, dia selalu menemaniku sambil tersenyum.

Dengannya, aku bisa melalukan apapun.

Saling bahu membahu mendaki menara putih, mengalahkan musuh–musuh kuat.

Sampai ke atas menara pada akhirnya.

Bertarung melawan penguasa dunia ini.

Dan diakhir pertarungan berdarah tersebut ....

Dia ... Nyawa

Nyawanya———

“AH… AHHHHHHHHHHHHH—!!”

Aku memegangi kedua kepalaku, dan berteriak sekeras mungkin.

Karena aku. Tak berguna, bodoh, lemah, dia terbunuh. Seharusnya dia tidak terbunuh.

Aku yang seharusnya mati. Nyawaku di dunia ini hanya sementara. Tak akan terjadi apa-apa jika aku yang mati.

“AHHHH… AHHHHHHHH…!!”

Menangis semakin menjadi. Aku ingin mengambil pedang yang tergantung di punggungku. Aku akan menggunakannya untuk menusuk jantung dan menggorok leherku.

Tetapi tidak ada apa-apa di sana. Aku mencari di sekeliling, kukira aku jatuhkan, tetapi hanya yang kulihat hanyalah cairan hitam pekat.

Aku menyobek pakaian hitamku.

Aku mencakar dan melubangi bagian dadaku menggunakan jemari tangan kananku.

Kulitku terkelupas dan dagingku terkoyak. Tetapi aku tidak merasakan rasa sakit apapun. Aku terus menusuk dadaku sendiri.

Untuk mengambil jantungku dan menghancurkannya.

Inilah yang bisa kulakukan untuknya ... dan bagi semua orang yang pernah kukhianati dan kutinggalkan sampai hari ini … inilah saat…———

“Kirito-kun…”

Tiba-tiba seseorang memanggil namaku.

Tanganku berhenti, dan aku menoleh.

Dibalik kegelapan sana, seorang gadis berambut kastanye sedang berdiri.

Wajahnya sedang menangis.


“Kirito…”

Suara kedua terdengar, seseorang muncul. Seorang gadis yang memakai kacamata juga sedang menangis.

“Onii-chan…”

Orang ketiga muncul.

Seorang gadis berambut hitam pendek disana, air mata menetes di pipinya.

Keinginan dan emosi dari ketiga gadis itu berubah menjadi cahaya dan memasuki tubuhku.

Sebuah cahaya hangat menyembuhkan lukaku, menghilangkan dukaku.

—Tetapi.

Tetapi … Ahh, tetapi.

Bagaimana mungkin aku bisa dimaafkan seperti ini?

“Maaf.”

Aku mendengar kata-kata tersebut meluncur dari mulutku.

“Maaf, Asuna. Maaf, Sinon. Maafkan aku. Aku ... tak bisa lagi. Aku tak bisa bertarung lagi. Maaf …”

Lalu, aku bersiap untuk menghancurkan jantuung dalam dadaku.

***

“Mengapa ... apa yang terjadi, Kirito-kun?!”

Higa Takeru berteriak kesal sambil berusaha mempertahankan kesadarannya yang semakin menipis karena kehilangan banyak darah di bahu kanannya.

Dia telah menerima banyak Mnemonic Data dari STL Yuuki Asuna, Asada Shino, dan Kirigaya Suguha untuk memperbaiki kerusakan Fluctlight miliknya. Bahkan Higa yang telah melakukan banyak eksperimen dalam karirnya terkejut atas betapa banyaknya Data yang mengalir.

Tetapi diagram 3 Dimensi yang menunjukkan gerakan Fluctlight milik Kazuto di layar handphonenya telah berhenti bergerak.

“Apa ... tidak cukup …?” Higa mengeluh.

Jika seperti ini, «Tubuh Utama» Kirigaya Kazuto yang hampir sembuh—gambaran dirinya, tidak akan bisa kembali ke dunia nyata, ia akan terus menerus tersiksa kenangan menyakitkan. Apa yang menunggunya adalah mimpi buruk yang tak akan berakhir. Jika seperti ini, lebih baik tewas saja daripada tersiksa terus menerus.

Dia butuh setidaknya satu orang lagi.

Jika ada satu orang yang memiliki ikatan mendalam dengan Kazuto.

Tetapi menurut Letnan Kolonel Kikuoka Seijirou, ketiga gadis ini adalah orang yang benar–benar mengenal dan menyayangi Kirigaya Kazuto di dunia ini. Terlebih lagi, tidak ada lagi mesin STL di cabang RATH Roppongi ataupun Ocean Turtle.

“Sialannnn …”

Higa menggertakkan giginya, dan akan membenturkan tangannya menuju dinding.

Tetapi ia menyadari hal itu.

“… Apa … ini …? Koneksi … ini …?”

Higa berguman, ia mendekatkan matanya ke layar telepon miliknya.

Dia tidak menyadarinya, tetapi kali ini ia sadar jika jendela yang menunjukkan kondisi Fluctlight Kirigaya Kazuto, ada koneksi lain yang terhubung dengannya. Koneksi keempat—sebuah garis abu–abu lemah berada di bawah diagram.

Garis itu seolah terhisap, Higa menyentuh layar dengan jempolnya dan menggeser keatas.

Sumber garis ini adalah...

“Ini … Berasal dari Main Visualizer!? Mengapa …?”

Higa berteriak, lupa diri akan lukanya.

Main Visualizer adalah pusat penyimpanan data yang terletak di pusat Light Cube Cluster, yang mana menyimpan seluruh jiwa penduduk Underworld.

Hanya kondisi geografi, bangunan, benda–benda, dan objek yang berhubungan dengan Underworld disimpan disana, tidak ada jiwa manusia disana.

Tetapi—

“Objek … Ingatan sebagai objek…”

Otak Higa serasa diperas sambil mengucapkan kata tersebut.

“Ingatan Fluctlights dan Objek Underworld, format Data keduanya sama … jika seperti itu, jika seseorang memasukkan keinginan dan pikiran kedalam sebuah objek ... apakah objek itu memiliki fungsi yang sama ... dengan sebuah Fluctlight …?”

Bahkan jika ia sampai pada kesimpulan ini, Higa masih setengah ragu. Jika hal itu mungkin, maka keinginan seseorang dalam Underworld tentunya bisa digunakan untuk mengendalikan objek yang tak hidup.

Tetapi ia harus yakin, ia harus percaya pada garis abu–abu ini yang menjadi harapan terakhir Higa.

Apa yang akan terjadi?—Higa tak bisa memprediksi apakah situasi akan menjadi lebih baik atau buruk, tetapi ia harus menguatkan keyakinannya dan akan membuka jalan bagi Main Visualizer dan STL milik Kazuto.

***

“Kirito.”

Tepat sebelum jantungku hancur—

Sebuah suara baru memanggil namaku. Sebuah suara kuat namun hangat.

“Kirito.”

Aku perlahan memutar kepalaku dan melihat ...

Dia berdiri di tempat yang sebelumnya hanya terisi kegelapan.

Tidak ada bekas luka pada pakaian birunya. Rambutnya yang acak–acakan tampak terang di kegelapan, dan senyumnya begitu tenang.

Mata hijaunya seperti biasa, terisi oleh keinginan yang kuat.

Tanganku kiriku berhenti dan kuarahkan padanya.

Suara lemah kukeluarkan untuk memanggil namanya.

“… Eugeo.”

Lagi.

“Kau masih hidup, Eugeo?”

Sahabatku, partner terbaikku, Eugeo—

Ia menganggukkan kepalanya, senyum muram mengisi senyumnya.

“Tubuh ini adalah ingatanmu tentang aku yang ada di dalam hati. Juga adalah serpihan ingatan yang aku tinggalkan.”

“Ing … atan……”

“Yeah. Apa kau lupa? Bukankah kita pernah membahasnya? Ingatan-ingatan …”

Eugeo menggerakkan tangan kanannya dan mengarahkan ke bagian dada.

“… tersimpan disini.”

Aku mengikuti gerakannya dan berkata:

“Selalu, disini.”

Eugeo tersenyum, dan pada saat ini Asuna melangkah maju dari samping Eugeo:

“Hati kami selalu terhubung denganmu, Kirito-kun.”

Melangkah dari sisi lainnya, Sinon mengangguk dan wajahnya bergetar.

“Tak peduli berapa jauh kita terpisah ... suatu saat kita pasti akan mengatakan selamat jalan.”

Muncul dari sisi Sinon, Suguha melanjutkan dengan suara penuhh energi:

“Ingatan dan Perasaan kita selalu terhubung, benar kan?”

Cairan bening nan hangat mulai mengalir dari kedua mataku.

Aku maju melangkah, mencoba mendekati sahabatku.

“Bisakah aku melakukannya … Eugeo? Bisakah aku maju ... sekali lagi?”

Jawabanhnya sangat cepat dan yakin.

“Tentu saja, Kirito. Banyak orang menunggumu. Nah, ayo kita lakukan bersama ... aku akan selalu bersamamu.”

Tangan kami berdua bertemu. Tangan Asuna, Sinon, dan Suguha lalu menyentuh tangan kami.

Seketika, keempat orang di depanku berubah menjadi cahaya dan mengalir dalam tubuhku.

Lalu———

Bagian 3[edit]

Sebuah sepatu berarmor merah menginjak tangan Asuna yang menunjuk arah Kirito.

Ia mendongak. Ia melihat mata dibalik helm sang ksatria crimson terisi oleh rasa marah ketika dia hendak mengangkat pedangnya.

Pedang panjang miliknya meluncur kebawah, diikuti oleh gelombang teriakan memekikkan.

Asuna sudah benar – benar kehabisan tenaga, namun ia tak ingin menutup matanya. Dengan semangat tersebut, Asuna menatap pedang yang akan menembus dadanya.

Clang.

Bunyi benturan. Bunga api tercipta.

Pedang ksatria crimson terlempar ke udara, ditangkis oleh pedang yang tak terlihat.

“Uh…?”

kebingungan, si ksatria mengayunkan pedangnya lagi. Tetapi pedang miliknya terlontar dan tak bisa menyentuh Asuna.

Ia mencoba untuk ketiga dan keempat kali, namun tetap gagal.

Ia tak mencoba kelima kali. Sortiliena datang dan menyerang kaki ksatria tersebut dengan ujung pedang besar miliknya, dengan menggunakan Sword Skill, «Torrent».

Sortiliena membantu Asuna berdiri, sambil bertanya dengan nada terkejut:

“Tadi kamu menggunakan «Pedang Incarnation» … itu perbuatanmu kan, Asuna-san?!”

“Incarnation…?”

Mendengar kata baru untuk pertama kalinya, Asuna menggelengkan kepala.

“Tidak, itu bukan perbuatanku.”

“Maka… Renri-dono…?” Sortiliena bertanya dan menoleh kebelakang. Asuna menoleh juga, tetapi si knight muda yang terluka parah itu masih memberikan perintah pada tiap prajurit untuk melancarkan serangan balasan pada pasukan crimson. Dia tampaknya tidak melindungi Asuna.

Mereka berdua berhenti mencari penyebab kejadian tersebut, setiap detik yang berharga ini sebaiknya ia gunakan untuk menolong penduduk Underworld.

Mencoba berdiri sambil dibantu Sortiliena, Asuna mengumpulkan sisa – sisa tenaganya dan mulai melihat kondisi sekitar.

Lalu ia merasakan rasa putus asa lagi yang mengisi hatinya seperti air es.

Lebih dari 80 persen 20000 pemain Cina dan Korea saling berkonflik, tetapi pihak yang pro peperangan memiliki keunggulan dalam semangat bertempur. Serpihan cahaya biru sebagai tanda hancurnya avatar pemain terus bermunculan, dan setiap kali ada yang hancur teriakan keganasan makin terdengar keras.

Lebih buruk, sebagian pemain pro peperangan — yang berjumlah lebih dari 2000 pemain — mulai mendekati pemain Jepang dan Pasukan Pertahanan Dunia Manusia yang berkumpul di satu tempat. Pemain jepang hampir tidak memiliki sisa – sisa kekuatan untuk bertempur, dan penduduk Underworld yang dilindungi Integrity Knight Renri banyak yang terluka. Bahkan dengan kemampuan Sacred Art dan Sword Skill milik mereka, tak mungkin bisa menahan musuh.

Tak bisa berkata – kata, Asuna yang masih dibantu berdiri Sortliena mendengar…

Tawa keras milik PoH.

Dengan lubang menganga di dadanya, Mate Chopper yang telah membesar di genggaman tangan kanannya ia angkat tinggi – tinggi. Sebuah awan hitam terbentuk diatasnya, tubuh PoH menghisap Life Resource yang tercipta dari medan peperangan; awan itu kini membentuk pusaran angin.

Dengan kata lain, pedang iblis yang ada di genggamannya yang menghisap Resource. Jika kita bisa menghancurkan pedang tersebut, sumber energi yang diberikan pada pemiliknya akan hancur, dan tanpa energi tersebut PoH pasti akan ter log out karena lupang di dadanya itu.

Tetapi jika hanya mengalahkan pemimpin musuh tak akan cukup untuk mengendalikan situasi ini. Terprovokasi oleh kata – kata PoH, pasukannya telah termotivasi untuk menghancurkan pemain Jepang. Peperangan ini akan berakhir sampai pemain jepang dan ppenduduk Underworld terbunuh semua.

Apa yang harus kulakukan?

Apa yang harus———

Kepala Asuna penuh dengan rasa takut dan putus asa, ia akhirnya menyadari sesuatu hal baru.

Hingga beberapa detik lalu tanah disekitar hanya ada kerikil – kerikil hitam, tetapi sekarang tertutupi oleh sedikit lapisan kabut putih.

Meluncur dan melebar seperti untaian pita, kabut tersebut sampai ke kaki Asuna dan teman – temannya. Lalu, sebuah bau harum memancar dari kuncup kabut ini.

Kuncupnya ... mekar ……?

Mata Asuna dan Sortiliena mengikuti arah laju kabut tersebut.

Kemudian, mereka berdua menemukan sumber kabut ini, bibir mereka terbuka.

“Ahh………”

Dan lagi

“Ahh.”

Sumber kabut ini berasal dari seorang pemuda yang tergeletak di tanah beberapa meter jauhnya.

Lebih tepatnya jika dibilang jika sumber kabut ini adalah sebuah pedang panjang berwarna putih kebiruan yang ada di tangan kirinya. Pedang itu sudah patah, tetapi kabut tersebut tampaknya akan memperbaiki pedang itu sendiri.

“Kirito-kun…”

Tepat saat Asuna mengucapkan nama orang yang disayanginya.

“Incarnation ini… Ini milik Kirito…” Sortiliena berguman sambil menahan emosinya yang akan meluap.

Sebelum mereka berdua menyadarinya, kabut putih ini telah menyelimuti tanah yang dipijak pemain Cina dan Korea dan masih meluas. Karena fokus bertempur, mereka tampaknya tidak menyadari hal ini, tanah yang mereka pijak telah tertutupi kristal es putih.

Akhirnya menyadari kejadian ini, PoH berhenti tertawa.

Matanya berpindah ke kaki, lalu berpindah pada tubuh Kirito yang ada di belakangnya. Tubuh PoH mulai bergetar sambil memegangi Mate Chopper di tangan kanannya, lalu ia melaju cepat ke arah Kirito.

Satu langkah. Dua langkah.

Pada langkah ketiga

Seperti sebuah bisikan, hampir seperti sebuah nyanyian … yang begitu kuat terdengar di seluruh medan peperangan.


Enhance armament.


Suara tersebut adalah suara Kirito, namun tampaknya terdengar suara lain yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Seketika.

Sebuah fenomena mengagumkan, skalanya tak bisa dibayangkan — luasnya hampir melampaui kemampuan Geographical Manipulation milik Stacia— menyelimuti seluruh medan peperangan.

Duri – duri es transparan yang terbentuk dari kabut putih menyelimuti PoH dan 20.000 pemain Cina dan Korea. Sulur – sulur tersebut tampak rapuh nan lembut, seolah bisa dihancurkan dengan sekali sentuh. Tetapi gerakan semua pemain kini terhenti dalam sekejap, seolah meraka terkena sihir pengikat.

Suara terkejut dan marah mulai muncul, tetapi suara tersebut juga cepat menghilang. Pemain Cina dan Korea tertutupi sepenuhnya oleh sulur es dan membeku dalam hitungan detik.

Asuna melihat knight crimson yang berusaha menolong Klein, tetapi ia juga diubah menjadi patung es. Ia seolah tidak merasakan rasa sakit, tetapi mata dibelakang helmnya perlahan menutup. Sulur ini tidak berfungsi untuk menyakiti atau memberi luka, tetapi hanyalah sebuah teknik untuk mengunci pergerakan musuh—

Menolehkan kepalanya kembali, Asuna melihat jika PoH juga telah menjadi patung es. Ia melihat ke wajah Sortiliena dan mengangguk.

“Terima kasih, Liena-san… Aku tak apa sekarang.”

Si Pemimpin Penjaga menarik tangannya dan Asuna menyentuh tanah yang membeku sambil memandang Kirito. Sortiliena di belakngnya dan juga Ronye juga datang mendekat.

Kirito masih terbaring dan tidak bergerak di atas tanah, lengan kirinya masih memeluk pedang patah tersebut. Tetapi Asuna mengerti.

Ini adalah saat – saat ketika Hati Kirito akan sembuh. Ia hanya bisa menggenggam tangannya erat –erat dan memanggil namanya agar Kirito segera kembali. Asuna yakin.

Jarak 10 meter ini terasa sangat jauh. Durasi 10 detik terasa sangat lama. Selangkah demi selangkah Asuna mendekat. Ia akan segera menghampiri Kirito dan akan memegang tangannya—

Tepat ketika tangan kanan Asuna hendak menyentuh rambut hitam miliknya.

Sebuah suara memekakan terdengar dari belakang.

Asuna langsungmenolehkan wajahnya dan melihat...

Si pria bertudung tellah memecahkan sulur es dan maju kedepan.

Tudungnya tertiup angin, PoH berteriak keras.

“Aku telah lama menantikan saat ini …!! Nah, bangunlah … KIRITO!!”

Memanggil namanya untuk pertama kali sejak masa SAO, PoH menggenggam erat Mate Chopper di tangan kanannya dan melaju seperti seekor burung.

Terselimuti aura merah kehitaman pedang tersebut diayunkan kebawah. Serangan ini tidak ditujukan untuk Kirito, melainkan Asuna dan yang lain.

“Tidak…!”

Sortiliena berlari dan mengangkat pedang panjangnya keatas kepala, bersiap untuk menerima serangan.

Tetapi pedang iblis tersebut yang kini telah membesar tiga kali lipat dari ukuran semula, tidak perlu menyentuh pedang milik Sortiliena, aura yang menyelimutinya sudah cukup untuk mematahkan senjata milik Sortiliena menjadi dua bagian.

Daya hantam membuat Sortiliena terjatuh. Asuna dan Ronye berusaha melindunginya dari belakang.

Tebasan mematikan dituujukan kearah mereka bertiga—

Shiiiiiiiing!!

Sebuah suara hantaman membuat Asuna dan dua orang lainnya terjatuh.

Pedang milik PoH tidak menghantam mereka. Pedang tersebut menghantam dinding transparan. Seperti beberapa saat lalu fenomena yang sama terjadi pada Asuna.

Asuna akhirnya kali ini menyadari. Perasaan dilindungi oleh sepasang tangan hangat yang sungguh ia rindukan.

Ia bisa menangkap pantulan benda yang ada di depan pelindung ini. Sebuah cahaya keemasan itu adalah sebuah tangan lengkap dengan kelima jari sedang terbuka.

Sebuah suara pelan terdengar.

Asuna menoleh ke sisi kiri melalui matanya.

Menunduk ke tanah, Kirito telah menusukkan pedang putih patah ke tanah dengan tangan kirinya.

Lalu, menggunakan pedang tersebut sebagai tumpuan, ia perlahan mengangkat tubuhnya.

Lengan kanannya yang putus tertiup angin. Lengan tersebut perlahan menunjuk ke depan — mendekati partikel emas yang sedang menahan pelindung.

Seketika itu juga lengan miliknya kembali.

Sebuah ledakan cahaya emas melontarkan pusaran aura kemerahan dibelakang pelindung. Pelindung itu mendorong tubuh PoH dengan kuat hingga membuatnya mundur.

Saat cahaya itu meredup, pandangan Asuna telah pulih sepenuhnya. Ia memandang lurus dan melihatnya.

Perlahan tersenyum. Mata hitam itu menatapnya.

Bibirnya bergerak, dan suaranya memanggil nama Asuna.

“Aku kembali, Asuna.”

Air mata bercucuran dari kedua matanya. Asuna menggenggam erat kedua tangannya berusaha menahan emosi yang meluap – luap.

“……… Selamat datang, Kirito-kun.”

Lalu Sortiliena dan Ronye memanggil secara bersamaan:

“Kirito…” “Kirito-senpai.”

Setelah tersenyum dan mengangguk pada keduanya, Kirito kembali menatap ke depan. Ia kini telah berlutut.

Setelah terlempar sejauh sepuluh meter, PoH perlahan berdiri dan kedua kakinya kini menyentuh tanah setelah sebelumnya hanya melayang.

Seharusnya sudah tidak ada lagi Spatial Resources baru karena para pemain Cina dan Korea yang saling bunuh telah ditahan dan membeku leh duri - duri es, tetapi awan hitam diatas PoH masih berputar dan mengelilingi senjata miliknya. Sepertinya jika pedang itu tidak dihancurkan, maka PoH tak akan bisa dihentikan.

Walau agak telat dibandingkan PoH, Kirito kini berdiri sepenuhnya. Asuna berusaha menahan diri untuk tidak membantunya berdiri. Karena ia tidak memiliki sisa tenaga untuk berjalan, ia hanya akan mengganggunya. Sekarang, ia harus memercayai Kirito. Ia harus tetap diam dan percaya padanya.

Kirito mengangkat lengannya yang telah beregenerasi dan pedang hitam yang terbaring cukup jauh darinya terbang mendekat dan ia tangkap.

Bentuk pedang tersebut berbeda dari «Elucidator», pedang miliknya dahulu di jaman SAO, dan pedang putih yang ada di tangan kirinya. Kedua pedang tersebut memberikan kesan yang sama saat Asuna bertemu dengannya pada hari itu: Si «Black Swordsman».

Pedang putih milik Kirito masih bersinar dan menyebarkan debu salju. Meskipun ia menggunakan tehnik mengagumkan dengan membekukan lebih dari 20,000 pemain pada saat yang bersamaan, wajah Kirito tidak menunjukkan tanda kelelahan. Seolah ada orang lain yang berdiri di sampingnya, meminjamkan kekuatan.

Mata milik PoH bersinar merah dari balik tudungnya, Kirito perlahan mendekatinya. PoH membuka kedua tangannya seolah menyambut kedatangan Kirito, sehingga lubang besar di dadanya terlihat jelas.

“… Akhirnya terbangun juga? Sudah lama kita tidak saling bertatap muka seperti ini sejak …”

Suara miliknya seperti logam yang saling bergesekan, dan pertanyaan tersebut dibalas dengan jawaban enteng namun dingin oleh Kirito:

“Entahlah? Aku sudah lupa. Tetapi aku yakin inilah pertemuan terakhir kita.”

Whiuu PoH bersiul.

“Mengagumkan… Kau memang yang terhebat, Kirito. Ayo… kemari. Kita lanjutkan pertunjukan yang tertunda di Aincrad.”

Dengan ayunan tangan kanannya, PoH mengangkat Mate Chopper miliknya yang telah membesar tiga kali lipat dari ukuran semula. Awan hitam yang berputar diatasnya semakin kencang, dan kini mulai memunculkan kilatan petir berwarna merah kehitaman.

Berdiri dihadapannya, Kirito kini memegang pedang panjang kesayangannya.

Ketika Kirito memegang bagian gagang pedang, tubuhnya tampak kesulitan tak bisa menahan beban pedang tersebut.

Asuna telah menyadari jika Underworld bukanlah dunia VRMMO semata yang diciptakan The Seed. Setiap objek didalamnya adalah «Mnemonic Visual» — sebuah ingatan, dan bisa diubah melalui imajinasi.

Menurut Integrity Knight Alice, Kirito telah menghabiskan hampir setengah tahun di dunia ini tidak sadarkan diri. Tak jelas apakah ia memiliki ingatan mengenai periode setengah tahun ini atau tudak, tetapi ia harusnya sadar jika selama ini ia telah tak sadarkan diri. Mungkin Kirito memikirkan “Aku telah melemah” sehingga mempengaruhi kinerja tubuhnya.

Tidak, mungkin tidak disebabkan hal itu saja.

Higa Takeru dari RATH telah menjelaskan alasan dibalik kerusakan jiwanya — yaitu, Dirinya Sendiri.

—Kirito-kun tampaknya memiliki beberapa sahabat. Hampir semuanya binasa saat bertarungan melawan Gereja Axiom, dan sebagai hasilnya ketika ia berhasil mengontak RATH, ia merasa sangat bersalah. Dengan kata lain, Kirito menyerang Fluctlight miliknya sendiri. Tepat pada saat itu, orang – orang berbakaian hitam di Ocean Turtle memotong kabel daya dan hal itu menyebabkan gangguan pada STL. Akibatnya, rasa bersalah Kirito menjadi kenyataam, «dirinya» tak bisa bergerak.

Itu bukanlah informasi yang bisa langsung Asuna pahami, tetapi jika Kirito kehilangan orang berharga di dunia ini. Jiwanya merasa sangat menyesal. Asuna hanya tahu nama orang tersebut. Malam itu ketika ia berbicara dengan Alice, Ronye, dan Sortiliena hingga pagi hari, Asuna mendengar nama itu disebut beberapa kali.: Elite Swordsman-in-Training Eugeo.

Meskipun secara ajaib Kirito bisa memulihkan jiwanya, ia masih tak bisa menerima kepergian Eugeo. Rasa duka yang masih tertinggal membuat jiwa.... dan tubuhnya melemah.

─ Kirito-kun.

Asuna memanggil dalam diam sambil menatap sosok Kirito yang berusaha mengangkat pedang hitam miliknya.

─ Sekarang ini, Aku… tak bisa membayangkan betapa sakitnya dan kehilangan yang kamu alami. Tetapi ada satu hal yang aku yakini.

─ Sahabat sejatimu tetap hidup di jiwamu. Seperti Yuuki yang hidup dalam diriku. Kenangan tersebut akan memberimu kekuatan. Kekuatan untuk mengangkat kembali pedangmu lalu bertempur.

Pikiran Asuna seolah menjadi suara yang tersampaikan ─

Tangan kanan Kirito masih memegang pedang hitam, sementara tangan kirinya kini memegangi pedang putih yang patah di dadanya.

Melihat ini sebagai sebuah serangan pembuka, PoH bergerak.

Tubuhnya yang cukup tinggi melaju cepat dalam jarak 10 meter, ia seperti sedang meluncur. PoH lalu mengayunkan senjata miliknya yang sudah sangat membesar ke bawah.

Kirito tidak berusaha menghindar. Kirito menggeser pedang di tangan kanannya untuk menahan serangan. Tetapi Asuna menyadarinya, tebasan milik Kirito terlalu pelan dan tak tajam.

Pedang hitam panjang membentur senjata PoH dan nyaris terpental, daya hantam kedua senjata tersebut membuat kaki Kirito terdorong 30 sentimeter kebelakang.

“… Hei, hei, jangan buat aku kecewa. Aku sudah menunggu dua tahun untuk hari ini …”

Mengutarakan kekesalannya, PoH kini memegang gagang Mate Chopper dengan kedua tangannya.

Semakin pedang tersebut mendorong, pijakan Kirito semakin terdorong. Jika ia bisa menggunakan kedua tangannya seperti PoH... tetapi Kirito malahan memegangi pedang putih itu. Terlebih lagi, pedang itu jelas – jelas telah patah. Dan tak bisa digunakan sebagai serangan balasan.

Sebuah seringai kejam muncul dari wajah PoH. Perlahan namun pasti, ia mendorongkan ujung senjata miliknya ke leher Kirito.

“… Kirito…!” Sortiliena berteriak parau, memegang pedangnya yang patah dan siap untuk maju.

Tetapi Asuna menahannya dengan penuh keyakinan.

“Tak apa, Liena-san.” Ia bergumman pada Pemimpin Penjaga Wanita ─ Yang juga mentor Kirito di Akademi Master Pedang Kerajaan Manusia ─ sambil harap – harap cemas.

“Kirito-kun akan baik – baik saja. Ia tak akan kalah ... dari pria sepertinya.”

Di sisi lain, murid Kirito mengangguk setuju.

“Yep. Kirito-senpai tak akan kalah.”

“…… Benar.” Sortiliena membalas sambil memegangi tangan Asuna yang ada di pundaknya.

Tepat kemudian.

Mate Chopper milik PoH semakin mendorong Kirito. Kaki Kirito kini terbenam ke tanah. Tangan kanannya gemetaran sambil memegangi pedang hitam, seolah memberi kesan ia akan tamat.

Ketika Kirito menggertakkan giginya, PoH mendekatkan wajahnya dan berkata:

“… Saat kau menggunakan pedang patahmu dan menggunakan tangan kirimu. Kau telah menyadari jika pemain Cina dan Korea yang kau bekukan telah membunuh banyak temanmu, benar kan? Bukankah tak apa bagimu jika kini mereka saling bantai?”

PoH berbisik ─ Kirito masih berusaha menahan dan membalas:

“Aku tahu cara – cara licikmu. Membuat orang – orang saling bunuh, menanam biji kebencian dan membuat banyak konflik. Itu membuatku kesulitan saat masa SAO, tetapi di Underworld ini... kau tak akan bisa lari lagi.”

“Oho… dan apa yang akan kau lakukan? Saat es itu meleleh, mereka akan membunuh setiap pemain Jepang dan penduduk Underworld yang kau lindungi sepenuh hati. Satu – satunya cara menghentikan mereka adalah membunuhhnya. Bunuhlah mereka saat tak bisa bergerak. Teman – temanmu pasti bisa melakukannya. Ayoo, beri mereka perintah... bunuh pemain Cina dan Korea.”

“……”

Kirito tak berkata pada pancingan PoH.

Asuna juga sadar akan motif PoH.

Terikat oleh sulur es, pemain Cina dan Korea tampaknya tidak merasakan rasa sakit, tetapi memecahkan es tersebut akan menyebabkan rasa sakit yang tak terkira. Rasa sakit tersebut akan menambah kemarahan pada pemain Jepang.

Setelah itu, PoH dengan Mate Chopper miliknya akan memanen resources yang ada di udara akibat kematian pemain Cina dan Korea. Ia akan memiliki kekuatan untuk mengalahkan Kirito, dan dengan mudah memusnahkan seluruh pemain Jepang dan penduduk Underworld.

Kirito seharusnya juga menyadari hal ini. Tak mungkin ia terjebak hasutan PoH, tetapi untuk menghindari amukan seluruh pemain. Yang hanya bisa ia lakukan adalah mempertahankan Art skala besar yang membekukan para pemai dari pedang putih miliknya; namun, sambil menahan serangan musuh, ini adalah hal yang sulit dilakukan.

Seluruh tangan kananya bergetar menahan senjata PoH, percikan bunga api memancar. Ujung senjata PoH semakin menekan, kini hanya berjarak dua kepal tangan menuju pundak Kirito.

“… Nah, tak masalah bagiku jika kebodohanmu membunuhmu.” Ejek PoH.

“Tenang. Setelah aku membunuhmu, aku akan mengirim si «Flash», dan semua orang menuju peti mati mereka, hingga tak tersisa seorang pun.”

Dibalik tudung hitam, mata PoH semakin memerah. Mulutnya yang terbuka mengekspos giginya yang tajam.

“Ayoo… biarkan aku menikmati darah dan jiwamu, Kirito.”

PoH semakin bersemangat mendorong Mate Chopper. Sedangkan pedang hitam Kirito semakin terdorong ─

Tiba – tiba, suara lemah terdengar dari belakang Asuna.

“Kumohon, Eugeo-senpai. Selamatkan Kirito-senpai.”

Ketiganya melihat kebelakang dan melihat gadis berambut merah disana ─ Tiese.

Seketika, Asuna merasakannya. Rambut Tiese tertiup hembusan angin sepoi –n sepoi.

Asuna menoleh kembali.

Sekarang Mate Chopper telah menyentuh punggung Kirito.

Seperti itu, pakaian kirito kini terkelupas. Menunggu untuk menggores kulit miliknya, Asuna hanya bisa menahan nafas.

Tetapi─

Tepat setelahnya, Mate Chopper tak bisa mendorong lebih lanjut.

Perlahan namun pasti, ia didorong oleh pundak Kirito.

“Ah……”

Sebuah teriakan lemah keluar dari Ronye ataupun Sortiliena.

Asuna juga melihatnya. Sebuah tangan transparan keemasan menggenggam gagang pedang hitam milik Kirito.

Berhenti sejenak, Kirito juga menyadari tangan tersebut. Matanya terbuka lebar dan wajahnya merasa tenang. Air mata menetes dari ujung matanya, dan menari di udara.

Bibirnya bergerak, tetapi tak ada suara terdengar.

Tetapi─

“Ohh… OHHHHHHHHHH!!”

Sebuah teriakan yang cukup keras keluar dari mulut Kirito dan ia mendorong kembali Mate Chopper. Lengan PoH terdorong ke belakang, ia memaki.

Kirito akhirnya berdiri dan menegakkan tubuhnya lalu mengangkat pedang patah di tangan kirinya ke langit dan berteriak:


“RELEASE RECOLLECTION!!“


Sebuah cahaya menyilaukan meledak dan suasana sekitar menjadi putih. PoH menutupi wajahnya dan mundur, seolah dia tak bisa menahan cahaya menyilaukan ini.

Bahkan ketika menyipitkan matanya, Asuna bisa melihatnya.

Cahaya tersebut berkumput pada pedang yang patah, lalu meregenerasinya menjadi kebentuk semula.

Setelah kembali ke bentuk semula, pedang tersebut bersinar semakin terang ─

Swoosh! Kilatan cahaya semakin melebar.

Sejenak, suara memekakan telinga terdengar di seluruh medan peprangan, seperti bunyi puluhan ribu lonceng. Membalikkan tubuhnya, mata Asuna dan ketiga gadis tadi melebar.

Banyak bunga es berwarna putih mulai bermekaran dari tubuh pemain Cina dan Korea. Bunga itu menyerupai pahatan kaca, sungguh indah berwarna biru transparan.

Setelah mekar sempurna, kelopak mawar mulai mengambil partikel silver dari dasarnya. Asuna tau jika itu adalah Life Resources ─ HP milik pemain.

Pemain – pemain tersebut yang sebelumnya terisi oleh kemarahan dan siap saling bunuh kini satu persatu mulai tertidur, terbungkus cahata lalu menghilang. Tidak ada rasa sakit ataupun semacamnya, seolah mereka dipaksa log out dengan cara yang menenangkan.

Biji kebencian yang ditanam PoH di hati pemain Cina dan Korea tidak jadi muncul.

“Bajingan… Jangan main – main…!”

PoH memaki karena rencananya gagal, tetapi ia tersenyum sambil mengangkat Mate Chopper di tangan kanannya.

Melihat pergerakan PoH, Asuna menyadari apa yang ia rencanakan.

Medan peperangan ini telah terisi oleh Life Resources yang dilepaskan oleh mawar kebiruan ─ dalam bahasa Underworld, udara di sekitar penuh dengan Sacred Power. PoH berencana untuk mengambil semua Sacred Power menggunakan kemampuan Mate Chopper miliknya.

“Kirito-kun…!”

Sambil gemetaran, Asuna memanggil kekasihnya.

Dengan menghisap Sacred Power dari Pemain Jepang yang terbunuh sebelumnya, yang mana jumlahnya 2000 orang. Mate Chopper menjadi besar tiga kali lipat dari ukuran semula. Bahkan senjata itu mampu melampaui equipment GM akun Stacia. Jika PoH mengambil lagi Sacred Power yang besarnya sepulluh kali lipat sebelumnya, PoH akan benar – benar menjadi iblis … Tidak, dia akan menjadi Satan. Jika Kirito tidak mengambil tindakan menggukan Art skala besar, maka Asuna akan membantunya ─

Tetapi, tepat ketika Asuna berusaha menggerakkan kakinya yang kaku untuk berdiri.


Tak apa… Lihatlah.


Asuna berpikir jika suara itu telah menghilang, tetapi suara Yuuki masih bisa ia dengar samar – samar.

Lalu Asuna menyadarinya, Cahaya keperakan berkumpul di tengah udara seperti pita – pita, , menghiraukan Mate Chopper milik PoH. Tak peduli bagaimana PoH mengayun – ayunkan senjatanya, cahaya tersebut tidak mendekatinya.

Suara itu datang lagi.


Kau sendiri yang bilang kan, Asuna. Setiap nyawa diwariskan pada setiap jiwa.

Orang – orang yang berkumpul dari negara tadi tidak ingin saling membunuh satu sama lain.

Semuanya memiliki harapan yang sama. Untuk menuju sebuah dunia menyenangkan dan mengasyikkan, sebuah dunia penuh tawa seperti Kerajaan Peri dimana aku bertemu denganmu, Asuna… Seperti itulah.


“… Yup. Benar, Yuuki.”

Balasan Asuna yang hampir tidak terdengar menjadi titik balik apa yang terjadi selanjutnya.

Kirito masih tetap mengangkat pedang putihnya tinggi – tinggi, lalu mengangkat pedang hitamnya ke atas juga.

Awan hitam yang dipanggil oleh PoH kini melebar. Seubah cahaya matahari keemasan muncul dari pusatnya seolah menembus langit biru, membuat tubuh pedang hitam Kirito bersinar seperti kristal hitam.

“Release recollection.“

Hampir secara reflek kali ini, Kirito mengucapkan perintah yang sama seperti sebelumnya.

Pada saat itu ─

Pita – pita keperakan yang beterbangan di langit diatas medan peperangan berkumpul menjadi satu, seolah dihisap oleh pedang hitam milik Kirito.

“Suck!!“

Memaki dalam bahasa inggris, PoH mengacung – acungkan Mate Choper untuk mengganggu Kirito. Tetapi pita – pita tadi seolah bergerak atas keinginannya sendiri, menghindari senjata PoH dan terus menerus masuk kedalam pedang Kirito.

“… Eugeo-senpai pernah berkata padaku sebelumnya, Pedang Hitam milik Kirito-senpai aslinya adalah sebuah pohon cedar raksasa yang tumbuh di Daerah Utara Kerajaan Manusia.” Tiese berkata sambil gemetaran dibelakang Asuna. Selanjutnya, Sortiliena mengangguk tanda ia paham.

“Jadi begitu… Itulah mengapa pedang hitam tersebut memiliki kemampuan untuk menyerap Sacred Power…”

Ucapan tersebut agak tercampur dengan bisikan milik Yuuki di kepala Asuna, Asuna akhirnya menyadari peristiwa apa yang terjadi dihadapannya sekarang.

Meskipun pedang hitam milik Kirito memiliki kemampuan menghisap Resources, lalu mengapa Mate Chopper milik PoH tak bisa menghisap Resources yang dilepaskan oleh mawar – mawar biru ini, bukannya kedua senjata tersebut memiliki kemampuan yang sama? Itu karena kemampuan utama Mate Chopper bukanlah «absorb life», melainkan «absorb death».

PoH telah menjelaskannya sendiri tadi. Semakin banyak pemain… yang dibunuh Mate Chopper, senjata ini akan semakin kuat. Jika imajinasi si pemegang pedang ingin pedang tersebut memiliki kemampuan menghisap Resource, maka senjata miliknya hanya bisa menghisap «Death Resources» yang dilepaskan dengan niatan membunuh, maka senjata PoH tak akan bisa menghisap «Life Resources» yang mana dilepaskan tanpa adanya kematian atas bantuan pedang putih.

Akan tetapi, pedang hitam milik Kirito berbeda, karena pada mulanya pedang tersebut dulunya adalah sebuah pohon yang bisa bertahan melawan bumi dan matahari, maka baik pedang dan si pemegang senjata seharusnya memiliki imajinasi yang cukup kuat untuk menghisap life.

Pedang putih di tangan kirinya telah membekukan target dan melepaskan life mereka ke udara.

Pedang hitam yang ada di tangan kanannya menghisap life yang ada di udara sekitar dan mengubahnya menjadi energi.

Ini adalah tehnik yang sangat sederhana, namun memerlukan kekompakan yang sangat kuat.

Ketika menghisap banyak kumpulan pita, pedang hitam mulai bersinar keemasan di tengahnya. Resources mengalir dari gagang pedang menuju tangan Kirito.

Tubuh Kirito mulai kembali menjadi berisi seketika. Yang kembali normal bukan saja tubuhnya, bahkan baju hitam yang sobek – sobek akibat pertempuran beregenerasi, sarung tangan muncul di kedua telapak tangan dan kini kakinya terselimuti oleh sepatu bot.

Sinar cahaya terus mencapai pundak dan turun ke punggung, sesaat kemudian menjadi sebuah pakaian kulit hitam. Pakaian itu adalah ciri khas Kirito saat masa SAO. Ketika sudah mulai tenang, dua buah sarung pedang muncul di punggungnya membentuk tanda silang.

“……… Kirito… kun………”

Luapan emosi memenuhi hati Asuna, ia memandang «Black Swordsman» yang telah pulih sepenuhnya dengan mata berkaca – kaca. Air mata juga menetes di pipi Sortliena dan Ronye. Tangisan pelan terdengar dari Tiese dibelakang sana.

Beberapa detik kemudian, setelah menelan semua pita, Kirito perlahan menurunkan kedua pedangnya.

Kebanyakan pemain Cina dan Korea telah log out dari medan peperangan ini. Asuna membalikkan kepalanya untuk berterima kasih pada prajurit crimson yang berusaha menolong Klein. Tepat setelahnya, dia juga ikut menghilang dan kini hanya tersisa tanah kosong seolah pertarungan sengit sebelumnya hanyalah mimpi belaka.

Satu – satunya hal yang bisa didengar adalah suara tiupan angin dan suara logam nyaring. Sumber suara tersebut adalah pedang hitam yang telah menghisap banyak energi dan agak bersinar keemasan.

Menyerah untuk menghisap Resource yang ada, PoH menurunkan Mate Chopper miliknya.

Dadanya masih memiliki lubang besar yang dibuat oleh Original Sword Skill Mother’s Rosary milik Asuna. Saat Resources yang tersisa di pedang tersebut habis, nyawa PoH akan berakhir.

Meskipun seharusnya ia memahami hal ini, PoH tidak lagi memaki malahan ia hanya berdiri diam. Tetapi, ia tampaknya tidak mengakui kekalahan ini sama sekali, hawa dingin menyerang tubuh Asuna meskipun ia cukup jauh melihat PoH.

Dibalik tudung tersebut, PoH mulai tersenyum gembira.

“Kau memang yang terbaik, Kirito. Kau adalah orang pertama dan terakhir yang ingin aku bunuh dengan tanganku sendiri. Sungguh disayangkan kita harus menyelesaikannya disini, tetapi tak akan ada kesempatan lainnya …”

Perlahan mempersiapkan senjata miliknya, ia mengarahkan ke kiri. Kemudian ia seolah menunjukkan tanda tato «Laughing Coffin» yang dulu ada di punggung telapak tangannya.

“… Nah, mari kita nikmati pertunjukannya, Black Swordsman?”

Dihadapkan dengan kata – kata yang terisi oleh kebencian, Kirito menjawab:

“Ya, mari kita akhiri disini.”

Kirito melebarkan kakinya, menurunkan pinggangnya lalu menempatkan pedang putih di depan dan pedang hitam di belakang.

Energi pertarungan muncul dari keduanya seperti sebuah ledakan, bunga api bermunculan diantara keduanya.

Seperti yang mereka berdua katakan: serangan selanjutnya akan menjadi sebuah akhir. Sambil menahan nafas, Asuna melihat pertempuran keduanya dengan mata terbuka.

Angin berhembus: si Black Swordsman dan Pria Bertudung bergerak disaat yang bersamaan.

Menahan nafas, Mate Chopper milik PoH terisi oleh cahaya hitam kemerahan. Selanjutnya, ia berlari dengan kecepatan mengerikan dan menjadi tiga buah tubuh. Itu adalah sebuah Sword Skill yang tidak diketahui Asuna.

Di sisi lain, pedang di tangan kanan Kirito masih diarahkan kebawah sementara pedang putih di tangan kirinya bersinar merah. Ini adalah sebuah Sword Skill pedang satu tangan untuk pedang panjang: «Deadly Sins».

Tebasan PoH dari arah kiri, kanan, dan tengah di cegah oleh serangan kombo Kirito. Setiap benturan dari Mate Chopper dan Pedang Hitam menyebabkan getaran hebat di tanah dan udara.

Ketiga PoH menyerang dua kali dengan total serangan enam buah; lalu mereka menghilang. Sekarang, tubuh asli PoH mengayunkan senjatanya dari atas kepala menuju bawah. Kirito menahan serangan tersebut dengan tebasan diagonal ke kiri menyebabkan daya bentur yang mengerikan.

Sword Art Online Vol 18 - 093.jpg

«Deadly Sins» adalah kombo serangan berjumlah tujuh buah. Ketika skill tersebut berakhir, Kirito memiliki banyak celah. Jika PoH masih memiliki serangan lainnya, Kirito tak akan bisa menahannya.

Daya bentur tadi menyebabkan tudung milik PoH terbuka, untuk pertama kalinya sejak masa SAO wajah PoH selalu tersembunyi.

Wajah tersebut tidak terlalu Jepang, seketika wajah tersebut menyeringai. Sekali lagi, PoH menyiapkan senjatanya yang terselubungi aura merah kehitaman lalu menyerang dada Kirito. Sebuah serangan ke delapan.

Tepat seketika itu.

Pedang Hitam yang digenggam Kirito memunculkan cahaya merah baru. Cahaya tersebut berwarna merah api dan lebih terang dari «Deadly Sins».

Terbebas dari masa jeda, pedang hitam tersebut melancarkan tusukan cepat. Mengaktifkan banyak Sword Skills pada pedang di tangan kiri dan kanan yang hanya bisa dilakukan oleh Kirito — «Skill Connect».

Dengan bunyi benturan logam, serangan «Vorpal Strike» bertubrukan dengan kombo serangan 8 buah milik PoH.

Gelombang serangan terasa di sekitar. Hembusan angin dan pasir yang beterbangan, tetapi Asuna tak bergerak sama sekali karena melihat dengan seksama akhir dari pertarungan ini.

Ketika debu mereda, ia bisa melihat keduanya tak bergerak, ujung pedang hitam dan golok merah raksasa saling bersentuhan.

Pertarungan itu masih belum selesai, keduanya masih memfokuskan energi pada titik tertentu, mencoba untuk mendorong serangan musuhnya.


Jika membandingkan jumlah resource yang tersimpan di dalam senjata, maka Pedang Hitam milik Kirito telah menghisap sekitar 20000 jiwa, melampaui Mate Chopper milik PoH. Tetapi situasi ini tidak sesederhana itu. Di dunia ini, Imajinasi… atau «Incarnation» seperti yang dikatakan para Knight, memiliki kemungkinan untuk mengalahkan apapun.

Incarnation milik PoH begitu kuat karena suatu alasan. Untuk membunuh... ingin mengisi dunia ini dengan rasa ketidakpercayaan, PoH memulai perang ini dengan kebencian dan permusuhan.

Lalu untuk apa Kirito bertarung sekarang?

Ia telah kehilangan sahabat di dunia ini. Juga ada faktor luar yang terjadi, tetapi ia harus berduka dan membuat Kirito tak sadarkan diri selama setengah tahun. Namun kini ia berdiri dan menggenggam pedangnya lagi. Incarnation macam apa yang memberikan Kirito kekuatan seperti itu …?

Asuna tak bisa menemukan jawaban yang tepat, tetapi ia tidak melihatnya seperti itu. Kirito telah menanggung banyak hal dalam beberapa pertarungan hingga saat ini. Baik itu di SAO, ALO, atau GGO. Dan kali ini hal itu tidak berubah.

Rasa bingung, sakitm dan duka bisa menjadi sumber kekuatan. Air mata bisa berubah menjadi cahaya. Cahaya itu tak akan kalah dari kegelapan milik PoH.

Benar begitu?… Kirito-kun.

Asuna tak tau apakah harapan miliknya sampai ke Kirito atau tidak, tetapi sesaat kemudian sebuah jawaban lemah terdengar.

Crack.

Senjata milik PoH, «Mate Chopper» yang hanya berfungsi untuk membunih manusia lain mulai retak dari bagian ujung hingga ke gagangnya dengan cahaya kemerahan.

Selanjutnya, golok raksasa tersebut hancur dan bertebaran ke segala arah—.

Bersama dengan pedangnya, Vorpal Strike milik Kirito menerbangkan PoH hingga lima meter.

Sedetik kemudian hembusan angin kedua membuat Asuna tak bisa menahan untuk berdiri,. Tiese dan orang di sisinya bersama Klein, Silica, Lisbeth, dan semuanya yang telah terbebas kini berdiri.

Setelah debu turum, kedua orang yang sedang bertarung mulai tampak.

Tak bersenjata, dada PoH tertusuk oleh Pedang Hitam Kirito. Tetapi karena sejak awal dada tersebut berlubang karena serangan Asuna, maka PoH tidak mendapatkan luka akibat serangan Kirito.

Mungkin karena Resource yang disediakan Mate Chopper telah hilang, darah keluar dari mulut PoH dan dari lubang di dadanya, tetapi PoH masih tersenyum lebar.

“… Sudah kuduga, itulah yang aku pikirkan. Tetapi… ini bukanlah akhir. Bahkan jika kau log out dari dunia ini. Aku akan muncul sekali lagi, dan lagi. Tak peduli berapa banyak aku akan memotong lehermu dan juga si «Flash»…”

Dihadapkan dengan makian seperti ini.

Jawaban Kirito terdengar tenang dan tak berekspresi.

“Tidak, inilah akhir. Kau tak akan bisa log out dari Underworld.”

Kemudian, Pedang Hitam memunculkan cahaya terang,

Lalu Kirito perlahan mencabut pedang dari dada PoH dan mundur beberapa langkah.

Bahkan tanpa bantuan Resource, PoH masih belum pingsan. Senyum mengerikan tergambar di wajahnya seolah hendak mengatakan sesuatu.

Tetapi mulutnya kini membeku tak bisa berbicara.

Lengan dan kakinya juga. Membeku dalam posisi aneh, dadanya menciut seolah berubah bentuk. Pakaian hitam miliknya berubah menjadi material berserabut.

Kirito berbicara lagi kepada PoH.

”… Pedang ini dulunya adalah pohon cedar raksasa, warga Desa Ruild memanggilnya «Pohon Iblis». Kapak milik penduduk tidak bisa menebasnya selama 200 tahun. Dan sekarang «Ingatan Pedang» miliknya mengalir kedalam tubuhmu.”

Seperti yang ia katakan, lebih dari separuh tubuh PoH telah berubah menajadi batang kayu berwarna kehitaman. Kaki PoH bersatu dan mulai menancapkan akarnya ke tanah; kedua tiga lubang kecil.

“Saat mereka tahu jika pemain Cina dan Korea telah log out, kawananmu mungkin akan mempercepat waktu akselerasi. Aku tak tahu berapa tahun berlalu sebelum mereka bisa membuatmu keluar dari dalam STL … atau mungkin beberapa pulluh tahun, jadi aku akan berdoa semoga tidak terlalu lama waktu berlalu jika aku menjadi dirimu. Jika beberapa penduduk membangun sebuah desa di sekitar sini, mungkin anak – anak yang iseng membawa kapak akan merubuhkanmu.”

Kirito tak tahu apakah PoH masih bisa mendengarnya atau tidak. Objek yang ada dihadapan Kirito bukan lagi seorang manusia, tetapi sebuah pohon cedar setinggi dua meter.

Setelah melihatnya beberapa lama, Kirito berbalik dan menatap Asuna dan kawan – kawan. Ia tersenyum dan menatap para pemain Jepang dan penduduk Underworld yang terluka.

Lalu, Kirito mengangkat pedang hitamnya tinggi – tinggi, cahaya keemasan masih tersisa di dalamnya—

“System call. Transfer durability, menuju area.”

Vsssshhhh…

Sebuah suara lemah mengisi medan peperangan.

Lalu mulai turun hujan.

Resources berhamburan keluar dari dalam pedang menuju udara, lalu turun bagaikan hujan cahaya. Hujan tersebut menyembuhkan tubuh pemain Jepang dan Pasukan Pertahanan Kerajaan Manusia yang terluka maupun yang kelelahan dari peperangan.

Mungkin, jiwa mereka juga disembuhkan—

Mengeluarkan sisa – sisa Resources yang tersimpan, Kirito perlahan memasukkan Pedang Hitam dan Pedang Putih kedalam sarungnya yang ada di punggung.

Dalam tetesan hujan cahaya, Asuna hanya bisa menatap Kirito yang perlahan mulai mendekatinya.

Asuna tidak bergerak maupun membuka mulutnya untuk mencoba berbicara. Ia merasa jika mengatakan sesuatu, mungkin semua ini hanyalah ilusi semata. Jadi, Asuna hanya bisa membuka matanya lebar – lebar dan tersenyum.

Berjalan kearah Asuna adalah Klein.

Tangan kiri dan tubuhnya yang terluka telah sembuh, tapi ia masih memegangi dadanya yang sedikit kesakitan.

“Kirito… Oh, Kirito.”

Suara ceria miliknya sedikit terdengar cemas.

“Kau selalu… Kau selalu mendapat peran penting, dasar..”

Kini suaranya sedikit cengeng.

Si pengguna katana memegangi pundak Kirito, dan meletakkan bandana di kepala miliknya menuju dada. Ia sedikit menangis.

“Uhhh… Uhhhhhhhh….”

Kirito memegangi tangan milik sahabatnya yang masih menangis. Klein sedang memejamkan mata sambil menggertakkan giginya, wajahnya penuh haru.

“… Senpai.”

Ronye berguman disamping Asuna, lalu melompat dan berlari. Air mata menetes dari matanya ketika ia berlari, ia memeluk pundak kanan Kirito. Sortiliena berada di belakangnya.

Mata milik Agil juga berair. Lisbeth dan Silica juga saling histeris. Dari kerumunan pemain jepang di sekitar mereka — wajah – wajah Pemimpin ALO SakuyaAlicia, dan Eugene, Siune dan Jun dari Sleeping Knights, dan banyak diantara mereka menangis.

Para Penjaga dan regu Ascetic Pasukan Kerajaan Dunia Manusia melihat di kejauhan dengan mata memerah. Semuanya berlutut, mereka menundukkan kepala dan memberikan posisi salam di dada.

“…… Sejak pertama kali aku melihatmu. Aku tahu, jika orang itu dan kedua pedangnya akan menyelamatkan kita semua.”

Sebuah suara tenang terdengar dari bagian belakang.

Asuna berbalik dan melihat si Knight Muda Renri, ditemani dengan naga miliknya. Keduanya telah terluka parah, namun kini luka yang masih membekas adalah goresan – goresan di armor keduanya.

Dada Asuna terasa penuh. Ia hanya bisa mengangguk satu dua kali. Renri membalas anggukan tersebut dan berjalan menuju Tiese yang masih berlutut di tanah, Renri lalu duduk di sampingnya.

Melihat sekeliling untuk memastikan, 20.000 pemain VRMMO dari Cina dan Korea kini telah menghilang tanpa jejak.

Ketika para penyerang menyadari jika mereka semua telah log out, mereka akan mengubah taktik mereka dari membawa bala bantuan pemain dunia nyata menjadi mengubah kecepatan akselerasi menjadi maksimum. Pada saat itu, Klein dan lainnya yang log in menggunakan AmuSphere secara otomatis akan terputus.

Menyadari hal ini, Kirito menyingkirkan lengan Klein dan berjalan, lalu melihat seluruh pemain Jepang.

Ia menundukkan kepalanya dalam – dalam, lalu berbicara.

“Terima kasih… semuanya. Aku tak akan menyia – nyiakan emosi, darah, dan keringat kalian semua. Aku sungguh – sungguh berterima kasih.”

Ya—

Pertarungan ini masih belum berakhir.

Meskipun musuh sampingan PoH bersama pemain Amerika, Cina, dan Korea telah dikalahkan. Dalang di balik peperangan ini, Kaisar Vektor masih ada di dunia ini. Setelah menangkap buah Project Alicization — Integrity Knight Alice, pada saat ini ia telah terbang ke bagian paling selatan menuju «World End Altar».

Asuna menarik nafas dalam – dalam lalu berdiri.

Terisi beratus – ratus emosi seketika, ia melewati pemain – pemain yang masih mematung, perlahan ia menuju Kirito.

Kirito melihatnya.

Seketika, gelombang emosi mengguyurnya, ia berhenti bernafas.

Sekarang. Ia hanya ingin memeluk kekasihnya. Menangis seperti gadis kecil dan melepaskan seluruh emosi yang ia miliki.

Tetapi Asuna menahan itu semua dan mengatakan sesuatu yang ada di kepalanya.

“Kirito-kun… Kaisar Vector, ia menangkap Alice-san—”

“Ya. Aku memiliki ingatan samar – samar atas kondisi saat ini..”

Kirito mengangguk. Lalu mengangkat tangan kannanya.

“Ayo selamatkan dia. Bantu aku, Asuna.”

“………….”

Ia tak bisa menahannya lagi.

Asuna mengambil tangan Kirito dan meletakkannya di pipi.

Lengan kiri Kirito memeluk pinggang Asuna.

Walaupun hanya sesaat, tetapi Asuna merasakan seolah jiwa mereka saling berbagi informasi yang tak bisa diungkapkan dengan kata – kata.

Kirito memandang Asuna, mengangguk, lalu matanya tertuju ke langit bagian selatan.

Kirito mengangkat tangan kanannya ke arah itu. Kelima jarinya bergerak, seolah mencari sesuatu.

“…… Ketemu.”

“Huh…?”

Asuna berkedip, tetapi Kirito tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Melihat kerumunan sekali lagi. Kirito lalu menepuk pundak Klein dan kepala Ronye sebelum berkata.

“Nah, ayo kita kesana.”

Kemudian—

***

Kemudian Lisbeth melihat Kirito dan Asuna terselimuti cahaya kehijauan dan terbang dengan kecepatan mengerikan ke arah selatan.

Ia mengedipkan mata beberapa kali, lalu menghembuskan nafasnya.

“Syukurlah… Selalu saja seperti ini. Dia itu selalu terburu - buru …”

Silica tertawa kecil di samping.

Klein bertepuk tangan dan berucap.

“Tunggu sebentar, sialan… si kurang ajar itu. Ia tak terkalahkan, kan? Sialannnn, ia selalu mencuri perhatian banyak orang ....”

Klein mengomel, namun ia tersenyum. Baginya, Kirito akan selalu menjadi orang yang sellau bisa diandalkan sejak mereka pertama bertemu di Aincrad. Seorang pahlawan tak terkalahkan selamanya.

─Dan dia juga sama.

Lisbeth menolehkan wajahnya ke langit selatan.

Ia ingin mengenang dunia ini, dunia ini akan sebentar lagi ditinggalkan, mereka mungkin tak akan bisa kembali ke dunia ini lagi.

Dan untuk menyampaikan pesan kepada pemain – pemain yang telah gugur dan dipermalukan, perjuangan pemain Jepang tidak sia – sia.

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

Hajima: Hentikan Baesinja: Pengkhianat Agma: Iblis