Toaru Majutsu no Index (Indonesia):Index SP Uiharu Kazari

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Uiharu Kazari[edit]


INDEX SP 247.jpg

Uiharu Kazari adalah seorang gadis SMP kelas 1 yang juga merupakan bagian dari Judgment. Yaitu suatu kelompok yang melindungi kedamaian Academy City (meskipun mereka hanya berurusan dengan isu-isu seputar sekolahan). Biasanya, ia mengenakan seragam pelaut lengan pendek dan memiliki bunga buatan yang menutupi kepalanya, tapi hari ini adalah perkecualian yang jarang terjadi.


"Uuu ... Apakah kemampuan semacam ini benar-benar diperlukan untuk pelatihan berkala pada Judgment...?" gumam Uiharu dengan sedih.


Dia mengenakan pakaian yang mungkin bisa disebut jumpsuit. Itu adalah jenis pakaian yang bagian atas dan bawahnya dipadu menjadi suatu one-piece (terusan), dan terdapat ritsleting di sepanjang leher sampai pinggangnya. Ini membuatnya tampak seperti seorang pembalap F1. Karena pakaian tersebut berwarna oranye terang, dia juga terlihat seperti seorang regu penyelamat dari negara lain.


Terdapat lengan panjang dan celana panjang pada pakaian itu, meskipun cuaca di pertengahan musim panas ini begitu menyengat.


Panas, bau, dan pengap!! Eee!! Ini adalah yang terburuk!!


Dia juga mengenakan sesuatu yang mirip seperti ransel.


Namun, terdapat banyak sabuk yang membelitnya. Ada dua sabuk utama di pundaknya, namun terdapat juga sabuk terbuat dari serat sintetis yang membentang di atas dada, perut, dan sekitar kaki pada paha Uiharu Kazari.


Dengan kata lain, itu adalah suatu parasut.


Jika dia menarik string yang terletak di dekat pinggang, benda itu akan membuka suatu payung raksasa. Tapi saat ini, payung besar itu masih termuat di dalam tas.


Tunggu, bagaimana caraku melepaskan benda ini ...? Hah? Ini ... tidak, tombol ini tidaklah cukup ...?


Alasan Uiharu meronta adalah sederhana.


Dia menyatakan alasan itu dengan lantang dan tatapan bingung di wajahnya.


"Mengapa pelatihan terjun bebas ini tiba-tiba dibatalkan?"



Waktunya adalah pukul 6:10 PM, tanggal 1 Agustus.


Suatu kendaraan besar berjalan di sepanjang jalan utama pada malam hari. Di sekitarnya, ada beberapa kendaraan penjaga yang terus mengelilingi.


Itu mirip dengan sejenis kendaraan penarik, yang biasa digunakan untuk mengangkut gerbong kereta listrik.


Biasanya, alat pengangkut yang super besar itu digunakan untuk mengambil gerbong kereta listrik dari pabriknya. Kendaraan besar itu mirip dengan gerbong lapis baja atau pembajak salju, dan panjangnya lebih dari 30 m termasuk bagian belakang yang menggandeng gerbong kereta listrik. Kereta listrik akan dilingkupi oleh kerangka logam yang bentuknya sesuai dengan gerbong tersebut. Baut dan kabel dipasang secara horizontal dan vertikal untuk menahannya agar tetap berada di tempat.


Namun, itu bukanlah kendaraan penarik kereta listrik.


Itu adalah suatu kendaraan penarik satelit.


Kendaraan raksasa itu disebut “kendaraan pembimbing satelit”.


Dikelilingi oleh beberapa kendaraan penjaga, kendaraan itu mengangkut satelit dari laboratorium Distrik 10 di mana telah diisi dengan bahan bakar, melalui Distrik 7 dan 18, dan akhirnya ke landasan peluncuran roket di Distrik 23.


Harusnya seperti itu.


"Tunggu ... Apa yang sedang kau lakukan ...?"


Perubahan ini pertama kali terlihat ketika mereka berlalu dari Distrik 10, menuju ke Distrik 7. Orang yang menyadarinya adalah si pengemudi kendaraan penjaga, yang menyertainya di depan “kendaraan pembimbing satelit”. Dia pertama kali melihatnya di kaca spion, kemudian dia benar-benar memutar kepalanya untuk melihat dengan matanya sendiri.


Kendaraan yang mengangkut satelit itu mendekat dari belakangnya.


Aksi itu merusak keseimbangan konvoi tersebut.


Atau lebih tepatnya ...


"Serdadu pada Jendral....Serdadu pada Jendral...ganti. Kau terlalu dekat. Melambatlah dan jaga jarakmu. Aku ulangi, Serdadu pada Jendral ... W-wahh !?”


Kendaraan pembimbing satelit raksasa dengan cepat mendekat, seakan-akan hendak berbenturan dengannya. Itu membuat si pengemudi kendaraan penjaga dengan panik memutar kemudinya ke samping, pada detik-detik terakhir. Karena perubahan yang mendadak ini, kendaraan pembimbing satelit menggores lampu belakang dari kendaraan penjaga, dan mereka terus melaju.


"Dasar bodoh!! Penjaga depan tidak mau mengalah. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi hentikan ini semua bahkan jika harus keluar jalur!!” tegur rekannya melalui radio.


"Aku ingin melihat kau mencoba itu," jawab sopir sambil menyeka keringat dingin dari dahinya.


Dia bisa saja menjalankan kendaraan besarnya di luar jalur. Bahkan dengan mengendarai kendaraan sebesar itu, si sopir begitu percaya diri pada kemampuannya untuk melakukannya aksi tersebut.


Namun ...


"Apakah kau tahu jenis bahan bakar apa yang ada di dalam satelit!? Ada sekitar 1500 kg hidrazin* di dalamnya!! Bahan bakar itu beracun! Apakah kau mengerti apa yang akan terjadi jika tangkinya sampai bocor, dan melebar ke kota!?” [Hidrazin (juga disebut diazan) ialah suatu senyawa anorganik dengan rumus N2H4. Senyawa ini adalah suatu cairan tak berwarna yang mudah terbakar dengan bau seperti amonia. Hidrazin sangat beracun dan berbahaya tidak stabil kecuali ditangani dalam larutan. Pada tahun 2002, sekitar 260.000 ton diproduksi setiap tahunnya. Hidrazin terutama digunakan sebagai zat berbusa dalam pembuatan busa polimer, tetapi aplikasi yang signifikan juga mencakup penggunaannya sebagai pendahulu untuk katalis polimerisasi dan obat-obatan. Selain itu, hidrazin digunakan dalam berbagai bahan bakar roket dan pembuatan prekursor gas yang digunakan dalam kantong udara. Hidrazin digunakan baik dalam kedua siklus uap pembangkit tenaga listrik nuklir maupun konvensional sebagai pemangsa (scavenger) oksigen untuk mengontrol konsentrasi oksigen terlarut dalam upaya untuk mengurangi korosi. https://wawasanilmukimia.wordpress.com.]


Ketika kedua orang itu saling membentak melalui saluran radio, kendaraan pembimbing satelit terus mempercepat. Dia terus melesat, menghempaskan kendaraan penjaga untuk menyelamatkannya, kemudian keluar dari konvoi.


Mereka semua memahami kelainan tersebut, dan mereka semua mengerti bahaya serta resikonya.


Namun, tidak satupun dari mereka melakukan sesuatu.


Ketika mereka menontonnya, kendaraan besar yang membawa satelit itu seakan-akan telah berubah menjadi suatu senjata penghancur.



Kantor cabang ke-73 Anti-Skill di Distrik 7 sedang sibuk, bagaikan sarang lebah.


Anti-Skill juga dilindungi kedamaian di Academy City, tapi itu adalah suatu organisasi yang berbeda dari Judgment. Sementara Judgment terdiri dari para pelajar, Anti-Skill terdiri dari para guru yang terlatih.


Uiharu Kazari tiba di suatu tempat yang tampak seperti kantor polisi. Mereka melakukan hal yang berada di luar kebiasaan, dan memanggil Uiharu karena situasi darurat.


Seorang anggota Anti-Skill perempuan yang kebetulan berada di dekat pintu masuk melihat Uiharu dengan ekspresi bingung.


"... Kenapa memasang wajah seperti itu?"


"Oh, umm ... maaf. Aku tiba-tiba dipanggil ke sini di tengah-tengah pelatihan berkala ...” Uiharu yang mengenakan jumpsuit oranye dan parasut, menjawabnya dengan malu-malu.


Mendengar itu, wanita itu semakin mengerutkan keningnya.


"Jenis pelatihan macam apa yang menggunakan serangkaian bunga ...?"


"Eh? Itu!? Bunga-bunga yang berada di kepalaku ini lebih menarik perhatianmu daripada parasut yang aku kenakan!?"


Perkataan bernada tinggi dari Uiharu menarik perhatian beberapa orang dewasa di sekelilingnya. Dia semakin malu, dan akhirnya diam-diam keluar dari kantor itu.


Namun sebelum itu terjadi, wanita yang berbicara dengannya menatap kartu ID Uiharu.


"Jadi, kau adalah Uiharu Kazari dari kantor cabang 177 Judgment. Sebenarnya kami memanggil Shirai Kuroko, si esper teleportasi.”


"M-maaf. Aku tidak bisa membawanya ke sini."


"Andaikan saja dia ada di sini, kita akan memiliki lebih banyak pilihan untuk menangani kasus ini ... aku kira, aku akan mencari melalui Bank tentang nama-nama anggota Judgment lain yang mungkin berguna. Apapun itu, mereka sedang mengadakan pertemuan di sana. Kau bisa mencari tahu tentang situasi yang sedang kami hadapi di sana.”


Mendengar itu, Uiharu dengan patuh menuju ke dalam kantor.


Bahkan jika itu adalah kantor pusat penyelidikan, mereka tidak memiliki banyak waktu untuk mengatur penampilannya. Mereka tidak menggunakan suatu ruangan pertemuan yang mewah. Sebaliknya, pertemuan untuk membahas strategi dilakukan di sudut kantor. Hanya ada papan tulis disertai beberapa kursi yang berkumpul di sekitarnya.


"Saat ini, kendaraan khusus yang mengangkut satelit sedang berada di luar kendali. Kendaraan tersebut menyimpang dari rute yang dijadwalkan, dan saat ini sedang menuju utara pada jalur # 49," kata seorang pria, suaranya mengisi seluruh sudut kantor. ”Secara teknis, itu bukanlah satelit biasa. Itu hanyalah suatu modul* Hikoboshi II yang memungkinkan mereka untuk melakukan eksperimen tambahan. Namun, modul itu dapat memisahkan diri dari pesawat induk, dan menavigasi dirinya sendiri. Sehingga pada dasarnya, modul itu sama dengan satelit. Modul itu tidak dikategorikan sebagai satelit agar berbagai urusan menjadi lebih mudah untuk diatasi. Tentu saja, selama itu bersangkutan dengan perjanjian internasional.” [Modul di sini artinya adalah bagian pesawat luar angkasa yang bisa dibongkar-pasang. Kamus Oxford.]


Seorang guru berkacamata biasanya akan mengajar di kelas, tapi sekarang ia menjelaskan inti insiden tersebut. Salah satu anggota Anti-Skill lainnya mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan, layaknya pelajar di kelas.


"Bisakah kita menghubungi si sopir?"


"Tidak ada masalah dengan radio pada kendaraan tersebut, tapi hal yang menjadi masalah adalah....." si anggota Anti-Skill berkacamata menghela napas sejenak. ”Pesan yang muncul di internet terhubung dengan sistem GPS di dalam kendaraan itu. Pesan tersebut mengatakan bahwa: jika si sopir tidak mengikuti jalan yang ditampilkan oleh sistem GPS, kendaraan tersebut akan ditabrakkan dengan menggunakan sistem remote control. Berkat ancaman ini, pengemudi wanita tersebut tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengikuti jalur yang telah ditentukan si kriminal. Bahkan dia sendiri tidak tahu ke mana arah yang akan dia tuju.”


"... Jadi ini adalah suatu pembajakan kendaraan yang dilakukan oleh seorang penjahat misterius. Jaman macam apa ini.”


Uiharu duduk di suatu kursi yang kebetulan kosong pada kantor itu, tanpa ada yang mempersilahkan. Dan sekarang, dia memberanikan dirinya untuk mengajukan pertanyaan.


"Apa maksud pesan tersebut, dengan menabrakkan suatu kendaraan yang menggunakan sistem remote control?”


"Judgment, hm?"


Anggota Anti-Skill berkacamata yang dari tadi memberikan penjelasan, melihat Uiharu dan pakaian aneh yang dikenakannya dengan tatapan bingung. Tetapi sejak awal, mereka lah yang meminta bantuan dari Judgment. Pria itu tampaknya berpikir bahwa Uiharu ikut campur dalam urusannya, tetapi dia masih menjawab pertanyaan Uiharu.


"Kendaraan itu memiliki sistem penghindaran otomatis dalam keadaan darurat. Jika pengemudinya kehilangan kesadaran karena serangan jantung atau pendarahan otak, sistem dapat menghentikan kendaraan dengan aman di sisi jalan. Tampaknya keuntungan semacam inilah yang sudah disalahgunakan oleh si kriminal," dia menjelaskan. ”Sistem penghindaran ini dapat mengontrol kendaraan hanya dalam rentang waktu 100 detik. Namun, ini adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyebabkan beberapa jenis kecelakaan. Bagaimanapun juga, sistem tersebut memiliki kontrol penuh terhadap pedal gas dan kemudi.”


"Tapi ini belum pernah diuji sebelumnya. Ini mungkin hanyalah gertak sambal."


"Kita tidak bisa mengambil risiko seperti itu," kata pria itu dengan sedikit marah, ketika menanggapi komentar yang terkesan menganggap remeh. ”Satelit itu memuat 1500 kg bahan bakar beracun yang dikenal sebagai hidrazin. Jika kendaraan itu benar-benar mengalami kecelakaan, satelit bisa hancur dan bahan bakar bisa terbakar. Jika itu terjadi, zat beracun itu akan terkirim ke udara, mencemari segala sesuatu dalam radius satu kilometer. Angin musiman bisa memperparah kondisi ini. Jika kau menghirup bahan bakar itu, seluruh organ dalammu dari tenggorokan sampai ke paru-paru akan meradang. Ini bukan situasi di mana kita dapat mengandalkan kata: 'mungkin'. Si sopir membuat keputusan yang benar.”


Orang-orang dewasa yang memakai setelan itu mendesah, dan juga mendecakkan lidah mereka.


Tentu saja, decakan lidahnya tidak ditujukan pada rekan mereka yang telah mengajukan pertanyaan aneh. Itu adalah karena mereka tidak menyukai situasi ini.


"Kriminal merentas sistem GPS untuk menampilkan pesan tersebut. Mereka terus-menerus menampilkan semacam lingkaran merah di layar secara langsung, dan si sopir harus terus mengemudikan kendaraannya di dalam lingkaran merah tersebut. Ini jelas lebih dari sekedar lelucon. ... Kita harus menganggap bahwa si kriminal benar-benar dapat melaksanakan ancaman mereka, jika akhirnya datang ke sana.”


Napas Uiharu tercekat di tenggorokannya karena situasi ini amatlah buruk.


"... Ke mana si kriminal ini mengirim kendaraan tersebut?" Uiharu bertanya.


"Itulah yang harus kita cari tahu. Kami mengharapkan bantuan dari kemampuan analisis informasi milikmu.”



Suatu kendaraan khusus sepanjang lebih dari tiga puluh meter, dan satelit yang dimuat padanya, meraung-raung di jalur # 49, Distrik 7. Sangatlah berbahaya jika ada suatu mobil yang menyamai kecepatannya, dan para pelajar yang melintasi penyeberangan harus berhamburan untuk menyingkir. Kendaraan itu menerobos lampu merah yang padat tanpa ragu-ragu. Untungnya, satelit pemandu kendaraan membuat benda itu meliuk-liuk untuk menghindari kerumunan mobil dan manusia. Dan kendaraan raksasa itu pun berguncang ke kiri dan kanan.


Suatu mobil sport melesat untuk mengikuti kendaraan pembimbing satelit.


Seorang wanita mengenakan track suit* warna hijau, dan seorang pria berotot berada di dalam mobil itu. [Track suit adalah baju olahraga yang terdiri jadi jaket dan celana training panjang.]


Mereka adalah Yomikawa Aiho dan Saigou Ryouta.


Mereka juga merupakan anggota Anti-Skill.


"Itu dia. Nomornya cocok. Itu pasti adalah kendaraan yang memiliki kode Jenderal."


"T-tetapi, haruskah kita benar-benar melakukan ini, Yomikawa-san? Kepala Cabang memerintahkan agar semua anggota menghadiri pertemuan ...”


"Kami bisa melaksanakan tugas yang kita emban tanpa mengikuti rapat seperti itu. Tidak ada gunanya kita berada di sana. Aku yakin bahwa isi rapat itu hanyalah argumen tantang apakah kita harus memasang barikade jalan ataukah tidak," jawab Yomikawa dengan nada ringan. "Mengurus ini adalah suatu hal yang lebih penting.”


Saigou mendesah dan menginjak pedal gas lebih kencang.


Dia melaju di samping kendaraan pembimbing satelit, seolah-olah ia hendak menyalipnya. Lantas dia mencocokan kecepatan mobilnya dengan kendaraan itu, kemudian dia mendekatinya seolah-olah akan membenturkan mobilnya ke samping.


Seorang wanita berusia hampir 40 tahunan duduk di kursi pengemudi yang dikelilingi oleh lembaran logam tebal, dan dia memandang mereka dengan syok.


Yomikawa mengatur frekuensi radio, dan menggunakan sinyal untuk berbicara dengan wanita itu.


"Um, hai. Apakah kau adalah Sangaku Youko-san, si sopir?"


"!? ... Kamu siapa ...?"


"Aku Yomikawa dari Anti-Skill. Aku bersama rekanku, Saigou. Kami datang ke sini untuk menangani situasi ini. Jadi, akan sangat membantu jika kau menuruti semua yang akan kami instruksikan.”


Tampaknya Sangaku mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tidak terdengar. Yomikawa memberikan senyum lembut melalui jendela, dan berbicara melalui radio sekali lagi.


"Pertama-tama, aku akan bergabung denganmu di sana. Apakah itu tidak masalah?"


"Bergabung denganku? ... !!"


Si sopir begitu terkejut.


Ini karena Yomikawa sudah membuka jendela mobil sport, dan menjulurkan badannya keluar.


Bahkan Saigou, anggota Anti-Skill asli, membuka matanya lebar-lebar karena syok ketika ia melihat aksi rekannya itu.


Baik kendaraan pembimbing satelit, maupun mobil sport....keduanya tidak mematuhi aturan tentang batas kecepatan. Saat ini, kendaraan pembimbing satelit sedang melesat melintasi kota dengan kecepatan 120 km/jam agar tetap berada pada lingkaran merah.


"T-tunggu! Yomikawa-san !?"


"Tenang. Seorang profesional tidak boleh khawatir, terutama di depan orang yang seharusnya kita lindungi.”


Hanya Yomikawa sendiri yang sanggup tetap tenang. Dia mengulurkan lengannya, sembari mencuat dari jendela mobil. Ransel di punggungnya pasti berisi berbagai jenis alat karena mereka bisa mendengar suara *klang* ketika tubuhnya diterpa angin kencang.


Ketika ujung jari Yomikawa hendak mencapai sisi pintu pengemudi pada kendaraan tersebut ...


Sinar matahari senja terpantul di kaca pada sisi-sisi bangunan. Sinar itu tiba-tiba menyorot secara langsung ke mata Saigou, saat ia mengemudikan mobil sport. Dengan pandangan yang tiba-tiba terganggu, Saigou menginjak rem tanpa pikir panjang. Ini menyebabkan tubuh Yomikawa terguncang hebat, sembari dia tergantung di luar jendela mobil. Hal berikutnya yang dia tahu, mobil sport tersebut telah mundur beberapa meter, dan kini sejajar dengan satelit yang diangkut oleh kendaraan khusus itu.


Yomikawa tidak mencoba untuk naik ke kendaraan pembimbing satelit. Sebaliknya, dia secara refleks meraih kerangka logam di sekitar satelit untuk mempertahankan keseimbangan.


"Kau idiot!! Apakah kau mencoba untuk membunuhku juga!?" Yomikawa berteriak, tapi ia tidak menerima respon dari Saigou.


Tanpa peringatan terlebih dahulu, kendaraan pembimbing satelit tiba-tiba banting setir. Itu menyebabkan kerangka logam di bagian belakang terbanting ke arah mobil sport.


Serangan kendaraan berukuran tiga puluh meter itu seperti sabetan ekor naga ke tubuh manusia biasa.


Tampaknya Saigou mencoba untuk menghindarinya, tapi ia tidak berhasil tepat waktu. Dengan kecelakaan besar, mobil sport itu terpental. Remnya berdecit, tapi dia tidak pernah bisa mengembalikan kontrol mobil sport tersebut. Itu berakhir dengan menabrak turbin angin di dekatnya.


Tampaknya tidak mungkin Sangaku Youko, si sopir, membanting setirnya dengan sengaja.


Seseorang telah menyalahgunakan sistem penghindaran otomatis darurat.


"Saigou!! Sial!!" teriak Yomikawa ketika dia melepaskan diri dari kerangka logam, yang digunakan untuk menjaga satelit agar tetap berada di tempat.


Dia menyadari bahwa si sopir tidak bisa mendengarnya, sehingga dia mengeluarkan radionya lagi.


"Y-Yomikawa-san. Aku ... baik-baik saja. Aku minta maaf. Sepertinya mesin mobil menderita kerusakan serius ..."


"Itu tidak masalah. Sebaliknya, hubungi saja anggota Anti-Skill lainnya. Kemudian kau harus membimbing orang-orang dan kendaraan lainnya untuk menjauhi lokasi ini. Kalau begini terus, kerusakan benar-benar akan menyebar ke seluruh tempat!!”


Entah bagaimana, Yomikawa berhasil memijakkan salah satu kakinya di atas gandengan kendaraan. Itu dia lakukan ketika kendaraan tersebut melaju dalam keadaan stabil, dan posisinya pun kembali stabil.


(Berengsek. Jika si sopir tidak mengikuti petunjuk pada GPS, si kriminal akan menghancurkan benda ini. Dan perlambatan mendadak itu menyelamatkan hidupku. Jika aku bergabung dengan si sopir pada kursi kemudi, mungkin keadaan tidak banyak berubah ...)


Dia mengertakkan giginya, tapi tidak ada rasa takut di wajahnya.


(Kalau begitu, aku hanya harus menghentikan kendaraan ini dengan cara yang lebih paksa.)


Meledakkan ban akan menjadi metode tercepat, tapi itu juga bisa menyebabkan tabrakan dengan mudah.


Metode lain adalah ...


Aku tahu! Knalpot.


Tidak peduli seberapa kompleks atau rumit kendaraan itu, mesinnya masihlah suatu perangkat yang menggunakan sistem pengapian. Benda itu menggunakan oksigen dan melepaskan karbon monoksida. Jika dia bisa memotong aliran itu, sistem pengapian yang menggerakkan mesinnya akan berhenti berfungsi.


Yomikawa melihat bagian belakang kompartemen* pengemudi. [Kompartemen adalah bagian kontainer yang terpisah.]


Tidak seperti kendaraan pada umumnya, kendaraan pembimbing satelit harusnya memiliki cerobong asap yang terlihat seperti pipa knalpot.


Tapi ...


"Tidak ada ... Tidak ada knalpot sama sekali!?"


Knalpot yang seharusnya ada, tidak tampak di sana. Yomikawa melihat sekeliling sambil berpegangan pada kerangka logam, tapi dia tidak bisa menemukan benda itu di mana pun.


"Sialan. Jangan bilang bahwa kendaraan sebesar ini dikendalikan secara elektrik!!”


(Andaikan saja kendaraan itu memiliki mesin hidrogen, atau sistim listrik yang memiliki knalpot ...)


Bagaimanapun, dia tidak bisa menggunakan metode tersebut.


Akhirnya, Yomikawa menerima transmisi melalui radio-nya.


Dia menganggap itu dari Saigou, tapi ternyata tidak.


"Ksshh ... ini adalah Uiharu Kazari dari kantor cabang 177 Judgment."


"Judgment ... Dasar Kepala Cabang sialan. Sekarang dia melibatkan anak-anak pada kerusuhan macam ini ...”


"Apa?"


"Tidak. Ini adalah Yomikawa Aiho dari kantor cabang 73. Saat ini aku sedang menggantung dari kerangka logam dibagian belakang kendaraan pembimbing satelit. Apakah ada yang bisa aku lakukan?”


Pada awalnya, Uiharu terkejut ketika mendengar Yomikawa sudah memanjat pada kendaraan itu tanpa menggunakan suatu peralatan pun, tapi ia dengan cepat menyadari bahwa ini bukanlah waktu untuk syok. Sepertinya, Uiharu tidak terbiasa berurusan dengan insiden asli, karena Yomikawa bisa mendengar suara dokumen kertas berserakan.


"B-baik ... Pertama, pindah ke kompartemen pengemudi."


"Kompartemen pengemudi? Aku ragu masalah ini dapat diselesaikan hanya dengan menginjak pedal rem.”


"Um ... Jika kau bisa mengikuti arahan dariku, aku ingin agar kau mengirimkan data padaku. Yaitu data dari sistem GPS secara langsung.”


"Dimengerti," jawab Yomikawa dengan ringan, lantas dia mulai bergerak melintasi kendaraan yang sedang melaju dengan kecepatan 120 km/jam.


Dia memanjat bagian kerangka yang terpasang secara diagonal, memijakkan kakinya di samping satelit berbentuk silinder, dan bergerak layaknya monyet.


Ketika Yomikawa sampai di atap tebal kompartemen pengemudi, dia membungkuk dengan gerakan mirip orang mengintip ke dalam sumur. Dia pun memunculkan kepalanya di sisi jendela penumpang.


Ini mengejutkan si sopir, Sangaku Youko.


"Wah wah !?"


"Oh, jangan takut!! Jangan membanting setir!! Namaku Yomikawa. Senang berjumpa dengan mu!!”


Setelah mengatakan itu dengan setengah hati, Yomikawa memanjat melalui jendela.


Seperti yang dilaporkan, sistem GPS tersebut menampilkan lingkaran merah. Sangaku terus mengemudi untuk menjaga kursor yang menunjukkan posisi kendaraan, agar tidak meninggalkan lingkaran merah yang terus bergerak itu. Selain lingkaran merah, ada juga indikator segitiga yang memberikan petunjuk arah umum untuk mengemudi, tapi itu tidak cukup untuk mengetahui ke manakah destinasi akhir dari perjalanan ini.


Lingkaran merah terus bergerak pada layar, sesuai harapan si kriminal. Hal ini membuat Sangaku cukup kesulitan.


"Tak lama setelah pesan asli samapi di GPS, roda kemudi berhenti bekerja selama 5 detik.”


"Jadi si kriminal memberimu suatu ancaman," kata Yomikawa dengan nada pahit.


Jika mengingat bahwa mobil Saigou dihantam dengan timing yang begitu pas, si kriminal pasti sedang mengawasi kendaraan pembimbing satelit, entah bagaimana caranya. Apapun itu, Yomikawa telah berhasil mendarat di atas kendaraan khusus tersebut berkat itu ...


(Aku kira, dia pun takut untuk menyebabkan kecelakaan sebelum kendaraan ini mencapai tujuan. Atau mungkin juga, dia tidak melihatku sebagai ancaman serius.)


Terdengar suatu suara instruksi otomatis dari GPS. Dan suara tersebut terdengar mengerikan.


Yomikawa mendecakkan lidahnya, melihat ke layar GPS, lantas berbicara pada radionya.


"Aku sudah berhasil sampai ke kursi penumpang. Jadi apa yang harus aku lakukan berikutnya?”


"Menurut keterangan spec kendaraan, harusnya ada suatu kabel komunikasi Standar-C* pada dashboard*. Gunakan itu untuk menghubungkan sistem GPS pada ponselmu. Sistem ini adalah model yang mampu terhubung ke internet, jadi, modem internal harusnya juga berfungsi sebagai modem eksternal.” [Standar-C adalah suatu aturan pemprograman pada komputer.] [Dashboard adalah panel instrumen dan kendali yang berada di hadapan sopir pada suatu kendaraan. Kamus Oxford.]


Yomikawa melakukan apa yang diperintahkan, dan ponselnya mulai men-transmisi-kan sejumlah besar data.


"Dengan begini, petunjuk yang dikirimkan secara langsung oleh si kriminal juga akan dikirimkan kepadaku. Jika aku menganalisis datanya, aku mungkin bisa mencari tahu ke mana si kriminal mengarahkan kendaraan ini.”


"Apakah tidak ada cara untuk memecahkan situasi ini sedikit lebih langsung? Menemukan si kriminal adalah persoalan penting, tetapi menghentikan kendaraan ini adalah prioritas yang lebih utama.”


"Benar ..." kata Uiharu sambil melihat berbagai dokumen. ”Si kriminal menyalahgunakan sistem penghindaran otomatis darurat. Sistem ini dimaksudkan untuk menghentikan kendaraan dengan aman, jikalau si pengemudi tiba-tiba kehilangan kesadaran.”


"Dan?"


"Sistem ini hanya dapat berfungsi, ketika kendaraan yang sedang bergerak harus dihentikan. Sistem ini tidak bisa menyebabkan kendaraan untuk bergerak lagi jika sudah berhenti. Jika motor listrik yang menjalankan kendaraan benar-benar berhenti, si kriminal tidak akan lagi bisa melakukan apa-apa.”


Metode paling sederhana adalah menginjak pedal remnya.


Namun, kendaraan raksasa itu memiliki panjang 30 meter dan berat lebih dari 10 ton. Kendaraan sebesar itu tidak bisa berhenti seketika. Begitu mereka meninggalkan lingkaran merah yang ditampilkan pada sistem GPS, si kriminal akan mengambil alih dan menyebabkan kecelakaan.


Sangaku Youko, si sopir, mengertakkan gigi.


Dia memandang kunci kendaraan yang terletak di dekat kemudi.


"Memutar kunci kontak adalah pekerjaan yang cukup sederhana, tapi itu terkunci ketika kendaraannya masih bergerak. Tidak mungkin menghentikan mesin tanpa menghentikan kendaraannya terlebih dahulu.”


"Hmm ..." Uiharu berpikir sebentar. ”Jadi, kita hanya perlu melakukan sesuatu pada kunci itu. Kendaraan itu harusnya memiliki suatu kotak yang di dalamnya berisi peralatan-peralatan listrik. Jika kita mengacaukan itu, kita harusnya bisa memutar kunci dan mematikan motornya.”


"Dimana kotak itu!?" tanya Yomikawa.


"... Di bawah," jawab Uiharu dengan canggung.


"Hah?"


"Maaf, tapi ... itu terletak tepat di bawah kompartemen pengemudi, yaitu tepat di atas jalan.”



Uiharu menghadapi komputer notebook-nya di kantor cabang Anti-Skill ke-73. Orang-orang dewasa di sekeliling mengerumuninya. Pada mulanya, dia dipanggil untuk membantu meningkatkan efisiensi, tapi dia menangani berbagai hal dengan begitu cepat, sehingga orang lain susah menyelanya. Dia hampir mengendalikan semua situasi pada kantor tersebut.


Tiba-tiba, pandangan Uiharu beralih dari komputernya.


Dia mendengar suara-suara yang datang dari pintu masuk kantor. Ada seorang gadis seusia dengannya, dan seorang bocah laki-laku yang tampaknya lebih muda. Pada awalnya, Uiharu berpikir bahwa mereka adalah bala bantuan dari Judgment, tapi mereka bertindak aneh. Terjadi beberapa keributan, dan anak-anak tersebut dipaksa untuk meninggalkan lokasi.


"... Mereka adalah anak-anak si sopir, Sangaku-san," kata seorang anggota Anti-Skill berkacamata, namun orang-orang di sekitarnya tidak bisa mendengar. ”Mereka adalah pelajar Academy City. Aku paham bahwa mereka khawatir tentang keadaan ibu mereka, tapi kita tidak bisa mengundang mereka di markas penyelidikan. Ini mungkin sedikit kejam, tetapi mereka harus diusir dari di sini.”


Uiharu menggigit bibirnya setelah mendengar itu.


Dia telah berbicara kepada Sangaku Youko melalui radio, tapi percakapan itu tidaklah bermakna apa-apa kecuali jika Uiharu adalah anggota keluarganya. Namun mereka tidak diizinkan untuk menggunakan saluran komunikasi tersebut.


Suara-suara di pintu masuk kantor secara bertahap semakin menenang dan menenang.


Meski begitu, Uiharu dengan jelas masih mendengar seseorang berkata "Selamatkan ibuku."


"..."


Anggota Anti-Skill berkacamata mengalihkan pandangannya sedikit.


Kemungkinan besar, para anggota Anti-Skill yang berurusan dengan anak-anak itu tidak memberikan janji. Anti-Skill, semua organisasi modern, dan perusahaan-perusahaan tidak akan membuat janji yang tidak bisa mereka jaga. Itu adalah cara untuk mencegah tuntutan hukum.


Uiharu adalah anggota Judgment.


Dia telah diajarkan bagaimana menangani situasi seperti ini, selama pelatihannya.


Tapi ...


"... Aku akan menyelamatkannya," kata Uiharu dengan tenang. ”Tidak peduli apapun yang akan terjadi, aku akan memastikan bahwa tidak ada yang kehilangan, termasuk Sangaku-san.”


(Aku akan menulis penjelasan resmi atas tindakanku ini, jika itu diperlukan.)


Jika dia diam saja setelah mendengar seorang anak mengatakan hal seperti itu, maka dia merasa bahwa sudah saatnya baginya untuk keluar dari Judgment.



Sambil duduk di kursi penumpang kendaraan pembimbing satelit, Yomikawa melepaskan tali bahu ranselnya, dan meletakkan itu di pangkuannya. Dia membukanya, menarik keluar alat berwarna perak, kemudian mendorong ransel ke dalam ruang di bawah kakinya.


"Oke, aku pergi."


Yomikawa membuka pintu penumpang kendaraan pembimbing satelit, menjulurkan tubuhnya keluar, dan mengintip ke dalam ruang sempit antara bagian bawah kendaraan dan jalan. Roda depan kendaraan yang begitu besar berputar di sebelah telinganya, dan aspal berterbangan layaknya gergaji. Itu hanyalah berjarak beberapa sentimeter di bawah bagian atas kepalanya yang terbalik.


"Ini dia. Aku melihat kotak perak sepanjang 40 cm dan tebal 10 cm.”


"Itu adalah kotak kontrol elektronik. Harusnya kotak itu ditutup oleh sekrup di empat sudut. Kau bisa melepaskan sekrup-sekrup itu?”


"Tentu saja," gumam Yomikawa, sembari ia berfokus pada alat di tangannya.


Dia sedang memegang suatu perangkat yang tampak seperti ujung pena, dan dilengkapi suatu mesin. Itu mirip dengan perangkat yang digunakan oleh dokter gigi untuk mengikis gigi pasiennya. Itu adalah pemotong mikro. Sederhananya, itu adalah tipe-ex yang bahkan bisa digunakan untuk mengorek besi, bukannya tulisan pada kertas.

INDEX SP 263.jpg

Alih-alih membuka sekrupnya, Yomikawa justru mencongkel seluruh sekrupnya.


Dengan kebisingan gerinda yang mengerikan, bunga api oranye terbang, dan empat sekrup hancur.


Tutup logam jatuh.


Sebelum Yomikawa bisa menangkapnya, penutup tersebut jatuh begitu saja ke aspal. Seakan-akan, aspal bergerak dengan kecepatan tinggi, sehingga penutup itu memantul beberapa kali dan hilang entah ke mana.


Ketika Yomikawa melihat bagian dalam kotak, dia mengeluh.


"Sepertinya ada lebih dari 100 kawat di sini. Jangan bilang, aku harus memotong kawat merah, tapi jangan sampai yang putih terpotong, atau semacamnya.”


"Ah ha ha. Kau boleh mengabaikan kawat-kawat itu. Harusnya ada tiga tombol di atas sisi kanan. Pertama, matikan saklar tengah.”


"Ahn? ... Yang ini?”


Yomikawa mengulurkan tangannya, dan menekan tombol tengah dengan jari telunjuknya.


"Selesai."


"Itu harusnya mengaktifkan keamanan pada sistem penghindaran darurat otomatis, yang disalahgunakan oleh si kriminal.”


"Jadi, kita boleh menginjak remnya sekarang?"


"T-tidak! Itu hanyalah suatu sistem keamanan tambahan. Itu hanya mencegah kontrol kemudi yang tiba-tiba lepas. Pada dasarnya, itu hanya membuat si kriminal tidak bisa mengendalikan kendaraannya selama sekitar 30 detik, setelah kau meninggalkan lingkaran merah.”


"Tiga puluh detik ..."


Kendaraan pembimbing satelit berbobot 10 ton. Bahkan jika menginjak rem, tidaklah mungkin benda sebesar itu berhenti hanya setelah 30 detik berlalu. Layaknya kereta, alat transportasi seperti itu pasti memerlukan beberapa saat untuk mengurangi kecepatannya sampai nol. Dan rentang waktu itu seharusnya lebih dari 30 detik.


"Sepertinya, melepaskan kunci kontak untuk mematikan motor selagi kendaraan masih berlari, adalah suatu percobaan terbaik yang mungkin bisa dilakukan. Setelah motor dihentikan, sistem penghindaran darurat otomatis tidak dapat disalahgunakan lagi," kata Uiharu.


"Cih. Kalau begitu, mari kita selesaikan ini secepat mungkin.”


"O-oke. Um, adakah suatu kotak yang bahkan lebih kecil di sisi kiri bawah kotak tersebut? Harusnya ada 8 sekrup yang menahan kotak kecil itu.”


"Ketemu. Jadi aku hanya harus membuka ini lagi?”


Ketika Yomikawa mengulurkan tangannya, angin tiba-tiba bertiup melintasinya.


Kendaraan pembimbing satelit bergoyang ke kiri dan kanan, seolah-olah angin sanggup menggoyahkan kendaraan monster sebesar itu. Gerak itu menyebabkan lengan Yomikawa semakin mendekati aspal. Suatu tonjolan aspal terbang dan merobek track suit Yomikawa, bahkan menggores kulitnya.


"!! Gwaahhh !?”


Dia dengan panik menarik kembali lengannya, tapi sayangnya dia kehilangan pegangan pada cutter mikro. Alat itu jatuh ke aspal dan menghilang entah kemana.


"Yomikawa-san. Apa ada yang salah, Yomikawa-san!?”


"Sialan, aku menjatuhkan alatku. Aku tidak bisa membuka kotak itu lagi!!”


"Tidak ..."


"Apakah ada cara lain!? Aku tahu! Si kriminal dapat berkomunikasi dari jarak jauh, kan? Jadi kita hanya perlu mengganggu sinyal yang dia guna- ...”


Dia terdiam karena teriakan Sangaku Youko.


"Kembalilah!! Cepat!!”


"?"


Begitu Yomikawa mengangkat kepalanya, dia melihat tepi suatu terowongan yang mendekat.


Keringat dingin menutupi tubuhnya.


"Sial!!"


Dia dengan panik menarik bagian atas tubuhnya untuk kembali ke kursi penumpang. Beton tebal pada dinding terowongan menabrak pintu penumpang yang masih terbuka. Dengan suara logam hancur, pintu terbanting menutup layaknya rahang naga, kemudian jatuh ke jalan karena engselnya telah rusak.


Sialnya, sebelum jatuh, bagian dalam pintu yang jatuh terkait dengan tali ransel.


(Oh, tidak! Sisa alatnya ... !!)


Yomikawa segera mengulurkan tangan, tapi dia tidak berhasil tepat waktu.


Dengan beberapa kali suara *klang*, pintu yang sudah terlepas dari badan kendaraan tersebut mementaldan akhirnya hilang entah kemana.


"Sialan!!"


Dia selamat, tapi situasi masih tidak bagus.


Lampu oranye yang biasanya terdapat di terowongan mengelilingi dua wanita tersebut.


Sangaku memandang lengan berdarah Yomikawa.


"K-kau baik-baik saja?"


"Kurang lebih begitu. ,, Hm ...?"


Saat ia berbicara, Yomikawa menempatkan radio ke telinganya, tapi ia tidak mendapat respon. Sinyalnya mungkin telah terputus ketika mereka sudah memasuki terowongan.


Lalu ...


"Roda ..." kata Sangaku dengan ekspresi pucat. ”Aku tidak bisa mengendalikan rodanya! Apa yang sedang terjadi!?”


(Tidak mungkin ...)


"Suatu pembalasan gangguan sinyal! Apakah sejak awal sudah ditanamkan suatu program yang akan mengunci secara otomatis jika sinyalnya terputus !?”


"Tapi aku tidak pernah menyimpang dari jalur yang diinginkan si kriminal ... !!"


Ponsel dapat digunakan di dalam beberapa terowongan modern. Mungkin si kriminal telah menduga bahwa terowongan yang saat ini sedang mereka lalui adalah salah satu dari beberapa terowongan modern tersebut.


Sementara itu, kendaraan pembimbing satelit terus melesat.


Tampaknya terowongan ini masih panjang, tapi dinding terowongan tersebut secara perlahan semakin mendekati kendaraan. Kalau begini terus, kendaraan akan mengikis dinding, dan mungkin kehilangan keseimbangan, lantas terguling.


Jika perangkap menggunakan sistem penghindaran otomatis darurat, penguncian sistem hanya bisa bertahan selama 100 detik. Tetapi tampaknya mereka tidak punya banyak waktu sebelum mereka menabrak dinding.


"Sialan!!"


Yomikawa segera menarik keluar tongkat, dan mengulurkannya pada bukaan yang tadinya adalah pintu penumpang. Dengan menggunakan tongkat, dia mencoba untuk mendorong dinding yang semakin mendekat, walaupun itu hanya sedikit. Namun, itu bahkan tidak berlangsung selama satu detik. Seketika ujung tongkat tersebut menyentuh dinding beton, dampak tumbukan yang begitu keras menyerang lengan Yomikawa.


Rasa sakit itu begitu mengerikan, Yomikawa tidak punya pilihan selain melepaskan tongkatnya.


Pada saat yang sama, ujung terowongan pun sudah menjadi terlihat.


Mana yang lebih dulu….Keluar dari terowongan....atau terkikis dinding dengan kecepatan tinggi?


Hanya takdir yang menentukan.


Kendaraan pembimbing satelit meraung-raung ketika keluar dari terowongan dengan kecepatan yang luar biasa, dan sinyal pun kembali lancar. Kontrol pada roda pun telah kembali normal, Sangaku segera menyeimbangkan kendaraannya.


Yomikawa menghubungi Uiharu melalui radio.


"Uiharu! Apa yang harus kami lakukan sekarang? Kami tidak bisa menggunakan kunci kontak. Apakah tidak ada cara lain!?”


Namun, Uiharu tidak menanggapi.


Yomikawa mengerutkan kening dan akhirnya mendengar Uiharu berbicara. Namun, itu terdengar lebih seperti dia berbicara pada dirinya sendiri.


"Kau pasti sedang bercanda. Ini adalah ...?”



Uiharu membeku.


Komputer notebook-nya menampilkan tujuan akhir dari kendaraan tersebut. Ia bisa memprediksi itu dengan melakukan perhitungan dari data yang diberikan oleh sistem GPS kendaraan tersebut. Tujuan kendaraan itu adalah ...


"Pusat konvensi internasional di Distrik 3!?"


Ke-12 dewan direksi yang menjalankan Academy City, dan 7 kepala negara lain sedang ber-konferensi di sana. Jika kendaraan pembimbing satelit menabrak bangunan itu, 1500 kilogram hidrazin akan berserakan, dan menyebabkan kekacauan yang Uiharu tidak bisa bayangkan.


(Kh ...)


Uiharu melihat sekeliling kantor.


Atmosfer ruangan kantor Anti-Skill tersebut telah berubah. Para orang dewasa ini seharusnya bekerja untuk menghentikan kendaraan pembimbing satelit, dan menangkap si kriminal di balik insiden ini. Tapi seolah-olah mereka sekarang bekerja untuk suatu tujuan yang berbeda, layaknya kereta api yang telah beralih rel. Anggota Anti-Skill berkacamata sedang menelpon seseorang, dan dia memberi gesture* pada Uiharu. Dia menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaannya. [Gesture adalah isyarat untuk berkomunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh.]


(...)


Uiharu berulang kali menekan-nekan tombol pada komputernya.


Dia merentas jaringan lokal yang dibuat hanya untuk pihak-pihak tertentu, dan dia pun menemukan rekaman yang dicarinya. Besarnya kerusakan yang diprediksi, instruksi ketika ada orang terluka yang dikirimkan ke rumah sakit, dan pembersihan setelah terjadinya kecelakaan. Hal-hal seperti itu layak sekali untuk mendapatkan perhatian untuk memperkirakan secara cermat kerugian yang akan terjadi.


(Aku tahu itu. Si kriminal berniat untuk menghentikan kendaraan tersebut sebelum mencapai tujuannya ...)


Namun, itu artinya, ada sesuatu yang benar-benar berbeda saat ini.


Sekarang, target perlindungan Anti-Skill semakin terfokus. Mereka hanya perlu berusaha utnuk melindungi para VIP di pusat konvensi internasional. Bisa dikatakan, ini jauh lebih baik daripada kerusakan yang diperkirakan oleh Anti-Skill sebelumnya, yaitu pencemaran udara yang bisa mencelakakan seisi kota.


"Uiharu," kata si pria Anti-Skill berkacamata. ”Jika memang itu tujuannya, kita perlu mengirim tim penyelamat di danau itu. Kita perlu mengatur helikopter, jadi bantu kami.”


Mereka sudah mengasumsikan bahwa kendaraan pembimbing satelit tersebut akan berakhir di suatu danau. Jika uiharu hanya mengikuti perintah itu, artinya dia mengabaikan Sangaku Youko.


(Apakah ada yang bisa aku lakukan ...?)


Uiharu dengan panik berpikir.


Dia tidak mau menyerah.


(Ada. Pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk mengatasi masalah ini!!)


Namun, yang bisa dia lakukan hanyalah terbatas di dalam kantor itu.


Dan karena Anti-Skill telah merubah rencana secara keseluruhan, mereka mungkin semakin membatasi tindakannya.


(Setelah mengetahui rute yang diprediksi bakal dilalui kendaraan itu, harusnya mereka akan melintasi suatu titik di dekat kantor Anti-Skill ini. Jika aku memang bisa melakukan sesuatu, pasti inilah saatnya. Jika aku membiarkan perubahan ini berlalu, aku mungkin tidak akan mampu melakukan hal lainnya!!)


"Ada apa?"


"Tidak ada," jawab Uiharu. ”Kau membutuhkan helikopter penyelamat, kan? Dipahami. Pergilah dan hubungi unit bantuan. Aku akan berurusan dengan dokumen-dokumennya.”


Setelah berpikir sejenak, Uiharu pun berdiri.


Dia tidak akan pergi untuk memanggil helikopter.


Setelah semua ini berakhir, Uiharu rela menulis laporan pertanggungjawaban sebanyak apapun, mengenai aksinya yang tidak sesuai dengan perosedur.



"Aku telah tiba di titik yang ditunjuk. Aku akan mulai 'bekerja'," kata seorang pria di atas bangunan.


Dia mengumpulkan berbagai bagian logam, lantas membuat senapan. Itu adalah Metal Eater MX. Yaitu, suatu senapan-anti-tank-otomatis berkaliber 80 cm buatan Academy City.


Pria yang memegang senapan sambil berbaring telungkup itu bernama Sunazara Chimitsu.


Dia adalah seorang penembak jitu yang biasanya bekerja di luar Academy City. Setelah membuat “deal” yang sesuai, ia akan menembak sasarannya, tak peduli apakah itu seorang perampok dengan sandera atau politisi yang menyerukan perdamaian.


"Aku akan menghentikan kendaraan pembimbing satelit di tengah jalan seperti yang kalian diperintahkan, Anti-Skill.”


Ekspresi Sunazara tidak berubah, sembari ia memegang senapan khusus yang bisa meledakkan tank sungguhan dari jarak 2000 meter.


Dia mengikuti perintah kliennya, dan tanpa ragu menarik pelatuknya.


Peluru raksasa yang ia tembakkan mengiris udara, dan menyerang target dengan akurasi yang menakutkan.



Yomikawa merasakan suara yang bergema dari dalam perutnya, layaknya kembang api yang meledak di langit malam.


(Apa ...?)


Suara itu datang dari kejauhan.


Namun, Sangaku memberi teriakan dari kursi pengemudi di sampingnya.


"G-GPS-nya!!"


Yomikawa cepat menoleh ke arah layar, dan melihat beberapa informasi tambahan tentang suatu kecelakaan. Jalan layang pada titik sejauh 3 km di sebelah utara mereka telah runtuh, dan itu memblokir jalan yang membentang di bawahnya.


Dan tampaknya, rute yang diatur oleh si kriminal melewati titik kecelakaan itu. Di saat Yomikawa menonton, semakin banyak serpihan jalan layang yang runtuh, dan rute jalan lain pun ikut terblokir. Yomikawa tahu bahwa ini bukanlah kecelakaan yang tidak disengaja.


"Sialan. Apa yang terjadi ...?”


"Yomikawa-san!!" terdengar suara di radio.


Uiharu pasti tengah berlarian di suatu tempat, karena ia terdengar ngos-ngosan.


"Kami tahu apa yang kriminal itu cari. Sasarannya adalah pusat konvensi internasional. Beberapa orang VIP berkumpul di sana! Tampaknya, para petinggi mengambil langkah ekstrim untuk melindungi tamu-tamunya. Apakah kau menemukan suatu gangguan di hadapanmu!?”


(Oh, jadi itu maksudnya ...)


Yomikawa langsung paham.


Jika mereka terus maju, mereka akan bertabrakan dengan reruntuhan, tetapi jika mereka mencoba untuk menghindar ke sekitarnya, sistem penghindaran darurat otomatis akan mengambil alih kendali dan menyebabkan mereka menabrak. Apapun pilihannya, mereka tidak akan mencapai pusat konvensi internasional.


Setelah mengutak-atik GPS, Yomikawa menemukan danau buatan yang terletak di dekat jalan layang yang pertama kali runtuh. Seakan-akan, danau itu memanggil-manggil nama mereka, agar mereka meluncurkan kendaraan itu ke dalam kolam, jika mereka tidak mau mati.


"Sialan ..."


Yomikawa mengertakkan giginya.


Memang benar bahwa menggunakan air sebagai bantalan akan mengurangi momentum tabrakan pada suatu batas tertentu. Itu juga menurunkan kemungkinan bocornya bahan bakar berbahaya yang dimuat satelit tersebut. Mungkin juga, tak akan ada seorang pun warga sipil yang mati akibat insiden ini. Tapi apa yang akan terjadi pada si sopir dan orang yang berada di dalam kendaraan itu? Tidak akan ada kata ampun, dan mereka akan dibunuh oleh gelombang kejut hasil dari tabrakan itu. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi ketika mereka tenggelam ke danau dingin, dalam keadaan tidak sadarkan diri dan kaki yang patah?


Apapun itu, para petinggi sudah menyetujui metode ini.


Mereka sama sekali lupa bahwa si sopir jugalah seorang warga sipil.


"Tidak!! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!! Hei, Uiharu. Aku akan mencoba untuk menemukan sesuatu yang bisa digunakan sebagai alat. Aku akan mencoba untuk melanjutkan pekerjaan yang kami lakukan sebelumnya!!”


"Aku ... juga sedang menuju ke sana! Ada satu titik di mana aku bisa berpapasan dengan kendaraan kalian ... !!”


Sementara itu, jalan buntu tersebut sudah mulai nampak pada pandangan mereka.


Di ujung jalan yang sangat-sangat panjang, debu berwarna abu-abu bisa terlihat hampir naik di cakrawala. Kemungkinan besar, itu adalah akhir dari jalan ini. Jika mereka tidak menghentikan kendaraan pembimbing satelit tepat sebelum melintasi titik tersebut, tragedi yang mengerikan akan terjadi.


Yomikawa mencari di dashboard untuk menemukan sesuatu (apapun itu) yang dapat digunakan untuk melepaskan sekrup pada kotak kecil itu. Selama ada secercah harapan, dia tidak akan menyerah. Sorot matanya menunjukkan betapa kuat tekadnya.


Dia menghamburkan barang-barang kecil seperti peta dan senter di lantai. Dia hanya melirik sekali, dan langsung melemparkan barang yang dinilainya tidak akan membantu dalam situasi seperti ini.


"Kita akan berbelok ke kanan di persimpangan berikutnya, jadi siapkan dirimu!!" Sangaku memperingatkan.


Sambil terus “me-scan” benda-benda yang berserakan itu, Yomikawa melakukan semua hal yang diperintahkan padanya.


Lalu ia melihat sesuatu yang aneh.


Suara otomatis GPS tetap terdiam.


Tiba-tiba, kendaraan raksasa berbelok ke kiri, bukan kanan.


"Ap- ...?"


Yomikawa terbanting ke samping, karena dia tidak mengira kalau kendaraan itu akan berbelok ke kiri. Sehingga, itu menyebabkan dia kehilangan keseimbangan. Ia berusaha untuk menemukan sesuatu untuk dipegang, tapi tangannya hanya meremas udara.


(Jangan bilang ...)


Dengan pandangan yang mulai kabur, Yomikawa melihat GPS. Tangan Sangaku menekan tombol untuk mematikan suara.


Dia telah berbohong.


Dia sengaja mengatakan arah yang berlawanan pada Yomikawa, untuk membuatnya terbanting.


(Sialan.)


Sisi penumpang tidak punya pintu.


Setelah kehilangan keseimbangan, Yomikawa jatuh dari kendaraan.


"Gwaaahhh!!"


Yomikawa tidak jatuh di aspal yang keras.


Beberapa toko di pinggir jalan pasti sedang direnovasi, karena di dekat trotoar ada truk dan boneka beruang raksasa yang ukurannya 2 kali tinggi tubuh Yomikawa. Yomikawa terpelanting dan membenamkan dirinya sendiri di dalam tumpukan benda empuk itu.


Meski begitu, gelombang kejut menembus tubuhnya.


Napasnya benar-benar terhenti untuk sesaat, tapi ia tidak merasakan kemarahan pada Sangaku.


Sangaku Youko tidak mengkhianatinya.


Dia bukanlah si kriminal yang jadi biang kerok semua insiden ini.


Yomikawa melihat sesuatu yang membuat dia tidak mungkin bisa marah pada si sopir.


"Kau......dasar idiot ..."


Tepat sebelum ia terhempas dari pintu, ia melihat wajah Sangaku Youko. Dengan berusaha keras mencengkram kemudinya, wanita itu menggunakan semua kekuatannya untuk memberikan senyum di wajahnya. Sembari melihat ke arah Yomikawa, dia mengucurkan tetes air mata terakhirnya.


"Dasar idiot sialaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnn!!"


Pada saat Yomikawa meneriakkan itu, kendaraan raksasa tersebut sudah pergi.


Si sopir sedang menuju rute perjalanan terakhirnya untuk mengakhiri semua insiden ini.



"... Kh ..."


Ketika Sangaku Youko mengemudikan kendaraan pembimbing satelit, napasnya tercekik di dalam tenggorokan.


(Bagus.)


Semua kekuatan di dalam tubuhnya lenyap, dan dia hampir roboh ke kemudi, tapi Sangaku berhasil menenangkan diri.


(Aku tidak bisa membiarkan wanita itu mati di sini ...)


Dia sekarang bisa melihatnya dengan mata telanjang.


Gelagar jembatan telah hancur, menyebabkan serpihan beton jalan layang tersebut runtuh, dan memblokir jalan. Seolah-olah, barikade puing telah dibentuk untuk memblokir laju kendaraannya.


Dan ada danau buatan di sampingnya.


Untungnya, Sangaku bisa mengabaikan instruksi GPS selama 30 detik, karena Yomikawa telah menekan saklar yang terletak di kotak bawah. Itu adalah jeda waktu yang cukup baginya. Dia bisa mendorong massa logam sepanjang 30 meter tersebut ke dalam danau.


"Maafkan aku," kata suara gugup pada radio kendaraan.


Itu adalah suara anggota Anti-Skill berkacamata. Mereka berdua pernah bertemu ketika berlangsungnya sesi penjelasan tentang prosedur kendaraan penjaga yang mengiringi laju kendaraan pembimbing satelit dalam suatu konvoi.


"Kami sedang memanggil tim penyelamat ke daerah itu. Bahkan jika kau jatuh ke dalam danau, mereka akan segera pergi untuk menyelamatkanmu. Pintu penumpang sudah patah, kan? Kalau begitu, kecil kemungkinan bahwa kau terperangkap di dalam kendaraan tersebut.”


"Ya." Sangaku Youko memikirkan berbagai hal, menelan ludah, dan akhirnya melanjutkan omongannya. ”Terima kasih."


Setelah mengatakan dua patah kata, pikirannya pun sudah bulat.


Dia mendengar satu kata permintaan maaf terakhir sebelum sambungan terputus.


Dia harus melakukannya saat itu.


Jika ia membiarkan kesempatan ini berlalu, dia hanya akan menabrak tumpukan puing-puing beton. Jika satelit itu hancur, bahan bakar beracun, hidrazin, akan berserakan. Setidaknya area dengan radius satu kilometer akan terkontaminasi. Angin musiman bisa memperparah keadaan. Akan ada puluhan ribu korban. Dia harus mencegah hal itu terjadi.


(Aku bisa melakukan ini.)


Dia mencengkram kemudi begitu erat sampai tangannya terluka.


Selembar foto tertempel di salah satu sudut kompartemen pengemudi.


Itu adalah foto seluruh keluarganya yang penuh dengan senyuman.


(Aku akan melakukan ini ... !!)


Ketika dia melepaskan semua keraguan di benaknya dan hendak mengubah arah rodanya, ia mendengar suara statis yang berasal dari radio.


"... Betapa mengagumkan," kata suara seorang gadis muda.


Dari suaranya, gadis itu pasti seusia dengan anaknya. Namun suara itu tidak asing di telinganya, dan dia cukup yakin bahwa itu adalah suara si gadis Judgment yang telah membantu Yomikawa melalui sambungan radio.


"Sangaku Youko-san, kau adalah orang yang benar-benar hebat. Hanya dengan melihat apa yang telah kau lakukan barusan, seakan-akan aku mendapatkan suatu kekuatan misterius yang membuat aku bisa melakukan apa saja yang tidak pernah bisa aku lakukan sebelumnya.”


"Apa ...?"


"Sederhananya, orang sepertimu tidak harus mati di sini."


Sangaku benar-benar bingung dan kendaraan melewati bawah trotoar.


Dia kemudian mendengar bunyi yang datang atap.


(Tidak mungkin ...)


Apapun itu, benda yang terjatuh ke atap kendaraan tidak mungkin 100% meredam momentum tumbukan*. Jadi, tampaknya benda itu sedikit bergeser ke belakang. Beberapa benturan terdengar di bagian belakang kendaraan yang mengangkut satelit. [Maaf, untuk memahami paragraf ini, pembaca harus mempelajari bab momentum dan impact pada pelajaran fisika. Dan ceritanya panjang, jadi Ciu lebih memilih untuk tidak menjelaskan.]


"Gh ... Uhuk!! U-uuhh ... Ini sama sekali tidak mirip dengan peralatan bergerak yang kami pakai ketika simulasi ...”


Sangaku mendengar suara batuk dan angin yang menderu.


Itu sudah cukup baginya untuk memahami apa yang sedang terjadi.


"M-Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama," kata gadis itu.


Gadis itu melompat ke kendaraan yang melesat begitu kencang untuk menyelamatkan Sangaku Youko.


"Namaku Uiharu Kazari dari kantor cabang Judgment ke 177. Aku sekarang akan mengambil tindakan untuk menyudahi semua kekonyolan ini dengan menyelamatkanmu, yaitu seorang warga sipil.”



Uiharu Kazari telah mengutarakan itu dengan segenap keberaniannya, tapi sebenarnya kesadarannya sedikit kabur.


Itu adalah pertama kalinya ia melompat dari jembatan, ke suatu kendaraan yang bergerak dengan begitu cepat. Dia tidak tahu apa-apa tentang bagaimana cara melakukannya yang benar. Sehingga, ia telah gagal mendarat, kemudian membentur kerangka logam di sekitar satelit. Itu membuat beberapa tetes darah merembes dari dahinya.


Meski begitu, Uiharu tidak menjatuhkan radionya.


Dia membutuhkan radionya untuk berbicara dengan Sangaku Youko, yang telah begitu pasrah pada situasi ini.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sangaku dengan tercengang. ”Tidak ada cara lain. Bahkan jika kau mencoba untuk mengutak-atik kotak yang ada di bawah sekarang, Kau tidak akan memiliki cukup waktu! Tidak bisakah kau melihat jalan buntu di depan !?”


"Jangan khawatir ..."


Ada banyak hal yang Uiharu ingin katakan, dan juga hal-hal logis yang dia coba jelaskan, tapi dia mengesampingkan itu semua. Tak satu pun dari hal tersebut berhasil dia ungkapkan. Yang diucapkannya dari bibirnya justru.......


"Aku akan menyelamatkanmu, jadi mari kita bersama-sama hidup lebih lama lagi."


"Jangan konyol. Aku tidak bisa bertaruh pada sesuatu yang tidak akan pernah berhasil. Satelit yang ada di bawahmu itu berisi penuh dengan hidrazin. Kita tidak bisa membiarkan zat itu bocor. Pilihan terbaik adalah mendorong aku dan kendaraan ini ke danau!! Hanya itu satu-satunya cara!!”


"Itu tidak benar," kata Uiharu dengan sisa-sisa kekuatan. ”Kematianmu bukanlah pilihan terbaik. Aku tidak akan menerimanya.”


"Tidak ada cara lain!!"


"Lalu mengapa anak-anakmu menangis!?"


"... !?"


"Anak-anakmu sudah jauh-jauh datang ke markas penyelidikan. Bahkan ketika orang-orang dewasa dari Anti-Skill mencoba untuk menghentikan mereka, mereka terus meminta agar ibunya diselamatkan. Jadi bagaimana bisa kau mengatakan bahwa pilihan terbaik adalah menyerah!?”


"Yah ..."


"Bagi anak-anak di kota ini, seorang guru Penjaskes yang menakutkan adalah hal paling mengerikan. Dan anggota Anti-Skill terlatih dan kuat adalah sosok yang bahkan ditakuti oleh para orang dewasa di kota ini. Lantas, taukah kau apa yang dilakukan oleh anak-anakmu!!?? Mereka berani berdiri dan menentang para pria Anti Skill sangar itu untuk menanyakan kondisi ibunya!! Mereka benar-benar tidak ingin kau mati!! Tidak ada satu pun anak di dunia ini yang rela melihat orang tuanya meninggal!! Jadi, hentikan omong kosong bahwa pengorbanan adalah pilihan terbaik!!”


Setelah meneriakkan itu, Uiharu tersenyum.


Ekspresinya tidak bisa dilihat melalui radio, tapi emosinya bisa didengar dengan jelas dari suaranya.


"... Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa mukjizat itu ada." suaranya terdengar lembut namun serius. ”Aku akan menunjukkan keajaiban. Yaitu keajaiban yang akan mengejek orang-orang yang sudah merelakan kematianmu dan berputus asa menolongmu. Yaitu keajaiban yang akan membawa kabar gembira bagi mereka yang memohon agar kamu tetap hidup. Mari selesaikan ini semua dan pulang. Di saat kita pulang nanti, kau bisa tertawa sepuasnya pada wajah-wajah tercengang yang tak percaya bahwa kau masih hidup.”


Untuk sesaat, terjadi suatu keheningan.


Tapi kemudian keheningan itu berubah menjadi erangan, dan akhirnya teriakan.


Sangaku meneriakan dua nama dengan luapan penuh emosi.


Uiharu menduga bahwa itu adalah nama anak-anaknya yang sudah dia lihat.


"... Tapi bagaimana caranya?" tanya Sangaku Youko dengan putus asa. ”Kendaraan ini benar-benar tidak dapat dihentikan!! Jika kita melakukan sesuatu, sistem penghindaran otomatis darurat akan menghancurkannya!! Kita hanya memiliki waktu sekitar 30 detik! Itu tidak akan cukup untuk menghentikan kendaraan ini sepenuhnya, dan memutar kunci kontak untuk mematikan motor!! Si kriminal sudah menguasai semuanya!! Bagaimana caramu menghentikan ini!?”


"Jangan khawatir," kata Uiharu sambil tersenyum. ”Aku akan memberikanmu suatu tanda. Ketika aku melakukannya, injak rem dengan semua sisa kekuatan yang kau miliki. Tidak peduli apa yang terjadi, terus injak remnya sekuat mungkin. Itu akan menyelesaikan segalanya.”


"Tapi ... !!"


"Percayalah padaku. Itu akan berhenti.”


"..."


Sangaku terdiam.


Kendaraannya sudah tiba di sekitar danau. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari puing-puing jalan layang yang runtuh. Namun, Sangaku mengabaikan danau tersebut.


Dia malah berkata, "Dimengerti. Beri aku sinyal kapanpun kau siap.”


"Akan kulakukan."


Uiharu mempersiapkan diri dan menarik napas dalam-dalam.


"Sekarang! Rem!!”


Ketika ia berteriak, semua ban pada kendaraan pembimbing satelit tersebut mulai melengking. Suara bernada tinggi menusuk telinganya. Proses pengeriman sedang berlangsung, tetapi bongkahan baja itu terus meluncur ke depan. Itu karena berat kendaraan tersebut adalah 10 ton, dan melesat pada kecepatan 120 km/jam.


Rem tidak akan bekerja seperti biasa.


Situasi ini lebih mirip berhentinya kereta api, bukannya kendaraan pada umumnya.


Suatu kereta perlahan akan menurunkan kecepatan saat mendekati stasiun tujuan, dan kemudian akan menggunakan rem untuk berhenti di tempat yang ditunjuk. Jika kereta tiba-tiba menempatkan remnya dengan kecepatan penuh, maka kereta tersebut akan terus meluncur di sepanjang trek, dan tidak berhenti sampai jarak 100 meter lebih.


Kendaraan pembimbing satelit juga sama.


Rem sedang ditekan sampai rata, tapi kendaraan itu tidak mau berhenti!!


"Apa yang akan kau lakukan !?" Sangaku berteriak.


Ibu itu tidak berteriak karena frustasi. Dia benar-benar ingin tahu apa yang telah direncanakan oleh Uiharu untuk menyelamatkan mereka berdua. Metode apa yang akan Uiharu gunakan untuk mencegah kendali dari si kriminal, atau mencegah kendaraan menabrak tumpukan puing jalan layang?


Itulah sebabnya Uiharu tersenyum sedikit.


Kesadarannya semakin kabur, tapi dia masih sanggup berbicara.


"Apakah kau tahu bagaimana cara para pembalap menghentikan mobilnya yang melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam?”


Sangaku tetap diam.


Dia pasti tahu jawabannya. Dan itulah yang Uiharu hendak lakukan.


Rasanya, Uiharu mendengar suatu pekikan yang menyuruhnya untuk berhenti melakukan rencananya, tapi dia mengabaikan itu.


"Gaya tarik parasut!!"


Pada saat itu, Uiharu sedang memegang suatu benda seperti tangga yang diletakkan di atas kerangka besi penahan satelit. Tangga itu adalah rangkaian batang besi yang terdapat di "atap" kerangka logam, dan biasa digunakan sebagai jalan. Untuk memantapkan posisi tubuhnya ke tangga itu, Uiharu mengikatkan beberapa utas tali ke tubuhnya yang mungil. Lantas, dia menjulurkan tangannya pada benda semacam ransel yang dari tadi dia gendong di belakang punggungnya.


Itu adalah parasut. Dan dia belum tahu bagaimana cara melepas parasut itu.


Dia memberikan sentakan kuat pada tali pelepas, dan ranselnya pun meledak. Payung putih raksasa muncul dan mengembang seketika. Ini terjadi karena hembusan angin yang luar biasa kencang dari kendaraan pembimbing satelit.

INDEX SP 281.jpg

Gaya tahan udara memiliki kekuatan yang mengejutkan.


Efeknya meningkat seiring dengan semakin cepatnya kendaraan yang melaju, sehingga, metode ini sering digunakan pada balapan berkecepatan gila macam F1.


Uiharu melakukan hal yang sama.


Rem kendaraan normal tidak bisa membuatnya berhenti hanya dalam waktu 30 detik. Dengan demikian, dia harus menambahkan jenis rem baru yang bisa menghentikan gerakan tersebut lebih cepat.


Jika kendaraan itu sanggup berhenti dalam sekejap, kuncinya bisa diputar untuk mematikan motornya.


Setelah motor mati, sistem penghindaran otomatis darurat tidak lagi bisa digunakan oleh si kriminal.


Itu berarti ada satu hal yang harus ia lakukan.


Dia harus menggunakan parasut untuk menghentikan kendaraan pembimbing satelit sesegera mungkin !!


(Gh ... !!)


Tubuh Uiharu ditusuk-tusuk oleh sabuk penahan parasut yang melilit tubuhnya, dan beberapa tali yang mengikat dirinya ke tangga logam. Dia merasakan sakit seperti kawat setebal jempol yang mencekik tubuhnya. Uiharu berteriak kesakitan, tapi dia juga terus menempel ke kerangka logam lebih erat. Kekuatan yang luar biasa meremas-remas jari rampingnya. Angin yang terbendung pada parasut itu memberinya tarikan yang begitu kejam pada tubuh mungilnya. Seolah-olah gravitasi telah berubah searah tegak lurus, dan meningkat beberapa kali. Rasanya seperti menggantung pada tebing dengan sejumlah beban yang ditali pada tubuhnya. Namun secara horizontal.


(Aku tidak akan ... melepaskannya ...!)


Namun, jika dia kehabisan kekuatan, ini semua berakhir.


Jikalau kendaraan tersebut menabrak tumpukan puing, sama saja, semuanya juga berakhir.


(Aku tidak akan... melepaskannya ... !!)


Tiba-tiba, ia mendengar suara dentuman benda tumpul.


(Tidak ... tidak mungkin ...!)


Suara itu tidak datang dari tangan Uiharu. Suara itu berasal jalan berbentuk tangga logam yang digunakannya sebagai tempat menambatkan diri. Harusnya, tangga itu tidak dirancang untuk memikul banyak beban, karena baut yang mengikat antar kerangka mulai terkoyak satu per satu.


Uiharu bahkan tidak punya waktu untuk berpikir.


Kekuatan luar biasa angin mulai merobek sebagian tangga besi itu, dan Uiharu masih menempel di sana.


Beberapa tali yang terjerat pada titik buhul rangka pasti sudah mengendur, dan tak lama kemudian, tubuh Uiharu sudah benar-benar terlepas.


"... !!"


Karena tak ada lagi yang menahannya, Uiharu pun terbang ke udara.


Kekuatan parasut mulai menarik punggungnya.


Meski begitu, Uiharu terus meronta dan berusaha keras menjulurkan tangannya.



... Pada saat itu, Uiharu Kazari kehilangan kesadaran sesaat.


Tetapi, bahkan dalam keadaan setengah sadar, dia terus mencengkram kerangka logam. Dia memegang bagian lain dari tangga logam tersebut, karena sebagian sudah lepas.


Situasi ini tidak baik.


Uiharu masih ditarik oleh gaya tahan udara mengerikan yang diciptakan oleh parasut. Suara berderit tidak menyenangkan terdengar dari persendian tulang di lengannya. Rasa sakit terus menyiksanya, seolah-olah semua persendian tulangnya ditarik oleh mesin. Rasanya, jari-jemari yang mencengkram tangga besi hendak meledak.


Meski begitu, Uiharu masih bisa bertahan.


Bahkan ketika parasut itu terus menyiksanya, ia masih sanggup menggertakkan giginya dan bertahan.


Kesadarannya semakin redup, tapi dia mengingat satu hal dengan jelas.


Dia teringat kata-kata yang didengarnya di kantor Anti-Skill. Hanya dua patah kata, tapi kesan yang tertanam di perkataan itu sudah cukup untuk memberinya tenaga tambahan, walaupun tubuhnya tidak lagi mampu bertoleransi


Selamatkan ibuku.


(... Iya.)


Dia akan menyelamatkannya.


"... Tentu saja aku akan menyelamatkannya."


Tidak peduli apapun yang terjadi, akan ia pastikan tidak ada yang menjadi korban, termasuk Sangaku-san.


"Tentu saja aku akan menghentikan insiden sialan ini!!"


Suara decitan rem merobek telinganya.


Bau menyengat dari karet yang terbakar karena gesekan aspal menusuk hidungnya.


Kendaraan raksasa terus meluncur, dan tumpukan puing jalan layang runtuh semakin mendekat.


Parasut melebar dan meraup segumpal angin yang terus terhimpun.


Uiharu Kazari terbenam dalam rasa sakit, dan dia pun berteriak sekencang-kencangnya.


Dan ...



Kendaraan pembimbing satelit raksasa telah melakukan perjalanan sejauh lebih dari 7 kilometer sejak pesan pertama tiba melalui sistem GPS. Tapi sekarang monster itu berhenti tepat di depan tumpukan puing-puing jalan layang.


Semassa raksasa baja itu tidak lagi bergerak.


Kaca bagian depan telah benar-benar luluh lantah. Kendaraan berhenti hanya beberapa sentimeter dari tumpukan puing, tapi beberapa tonjolan tajam beton masih sempat menusuknya.


Serpihan beton setajam pisau telah menembus kaca depan, mengoyak kursi pengemudi, dan menghamburkan irisan-irisan kaca kemana-mana.


Namun, Sangaku Youko berhasil memindahkan kepalanya ke samping pada detik terakhir.


"..."


Tangannya meraih kunci di dekat kemudi.


Itu adalah kunci kontak untuk mematikan motor listrik kendaraan.


Dan dia memutarnya ke posisi off.


Kendaraan pembimbing satelit itu sudah benar-benar berhenti.


Si kriminal yang telah menyalahgunakan sistem penghindaran otomatis darurat tidak bisa lagi mengganggu.


Sangaku Youko masih tidak percaya apa yang telah terjadi.


Mereka telah menang.


Mereka telah mengalahkan si kriminal pengecut.


Dan yang paling penting, anak-anaknya tidak perlu berduka cita.


Dia berhasil melindungi senyum anak-anaknya.


"Ha ha."


Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa.


"Ah ha ha ha !! Ah ha ha ha ha ha ha ha ha ha !!”



Uiharu menaruh tangannya di sisi satelit, menempatkan kakinya pada kerangka logam, dan perlahan menuruni sisi belakang kendaraan. Telapak tangannya diwarnai garis-garis merah, daerah di antara ibu jari dan telunjuknya tampak sedikit terbelah, dan daerah dari bahu sampai ke pergelangan tangan telah berubah warna menjadi keunguan. Rasa nyeri merambat di seluruh tubuhnya, dan sedikit darah mengalir dari dahinya.


Bau yang mengerikan tercium dari ban kendaraan.


Ketika dia melihat jalanan, dia menyaksikan garis-garis hitam yang membentang selama beberapa ratus meter di belakangnya. Gesekan luar biasa meledakan beberapa ban raksasa. Seakan-akan, itu adalah kerusakan akibat serangan seekor monster raksasa. Namun, kekejaman dari kendaraan itu sendiri lah yang sudah mengakibatkan semua ini. Uiharu dan Sangaku telah mengatasinya bersama-sama.


"..."


Uiharu hanya bisa menatap seluruh adegan menakutkan itu selama beberapa saat.


Tapi sebelum dia bisa berpikir terlalu dalam, seluruh kekuatan lenyap dari tubuhnya.


Luka-lukanya dan kelegaan telah melepaskan semua tekanan di benaknya.


Dengan pikiran kosong, Uiharu memandang kursi pengemudi.


Yomikawa dan Uiharu telah berjuang untuk menyelamatkan Sangaku Youko.


Namun, Sangaku sendiri lah yang telah menyelamatkan nyawanya pada saat-saat terakhir. Bagaimana ia bisa mengumpulkan kekuatan seperti itu di detik-detik terakhir? Setelah berpikir tentang itu sebentar, Uiharu berbicara dengan suara kosong.


"... Tidak menyerah sampai akhir memang sungguh menakjubkan."



Dua sosok berdiri dari kejauhan.


Dia adalah Misaka Mikoto, dan yang satunya lagi adalah Shirai Kuroko.


Mereka berdua adalah siswi esper dari SMP Tokiwadai yang ternama.


"Yah, entah bagaimana caranya, sepertinya mereka berhasil," kata Mikoto sambil menghela napas.


Dia pasti telah merencanakan sesuatu, karena percikan api terbang di sekelilingnya. Apapun itu, dia tidak harus melakukan apa-apa lagi, karena semuanya sudah berakhir.


"Tapi aku tidak tahu, bahwa ternyata Uiharu-san adalah seorang gadis yang sangat bersemangat. Datang dengan membawa parasut, dan bertindak sebagai “rem manusia”....itu semua adalah hal yang gila.”


"Yah, terlepas dari penampilannya, Uiharu bergabung dengan Judgment benar-benar sebagai seorang relawan. Bahkan jika dia tidak sering tampil ke permukaan, mungkin saja ada sesuatu yang membara di dalam jiwanya.”


"... Dan kau membiarkan gadis bersemangat itu untuk melakukan semua proses investigasi sendirian, bukan? Apakah kau menemukan dalang di balik semua insiden ini?”


"Ampun deh, berapa kali aku harus memberitahumu, Onee-sama? Kau hanyalah warga sipil biasa.”


Meskipun Shirai berkata seperti itu, entah kenapa, ekspresi wajahnya terlihat senang.


Dia menggelengkan kepalanya, seakan menyerah pada sesuatu, sebelum akhirnya berbicara.


"Ada jejak perintah yang dipalsukan. Dan itu memungkinkan penerimaan data GPS jarak jauh dari kendaraan pembimbing satelit. Hal itu dilakukan melalui dua atau tiga server, jadi aku ragu bahwa pelakunya telah ditemukan," katanya sambil melihat ponselnya yang menampilkan file insiden tersebut. ”Si wanita Anti-Skill dan Uiharu tidak terhempas dari kendaraan karena si kriminal mengandalkan informasi GPS untuk mengawasi kendaraan itu. Kendaraan Anti-Skill yang mendekat harusnya menyadari itu karena sistem GPS-nya sendiri, tapi si kriminal tidak punya cara untuk memperhatikan orang yang memanjat kendaraan.”


"Jadi pada dasarnya," kata Mikoto dengan anggukan dan mengedipkan mata. ”Kau sudah tahu di mana letak si bajingan ini, iya kan?”


"Ya, sekarang saatnya untuk penangkapan bergaya kuno. Ingin ikut, Onee-sama?”


"Apakah aku harus menjawab itu?"


Bunga api putih kebiruan terbang.


Suatu senyuman nakal yang tidak cocok dengan citra siswi dari SMP ternama, muncul di wajahnya.


"Aku lebih suka melakukannya dengan cara seperti ini."