Toaru Majutsu no Index (Indonesia):NT Jilid 12 Chapter 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 1: Kue Kukus dan Permata — to_the_DIANOID.[edit]

Part 0[edit]


Dari suatu gang belakang yang sempit, langit bersih musim dingin hanya terlihat layaknya sepotong persegi berwarna biru.


Seorang anak laki-laki pendek tergeletak di daerah yang terisi dengan kumpulan tumpukan kantong sampah.


Ia tampak berusia sekitar dua belas tahun. Dia memiliki rambut cokelat sebahu yang cukup panjang, kepalanya dikerudungi oleh jaket berwarna hitam, celana pendek, dan sepatu bot. Kaus kaki dan pakaian yang terlihat dari dalam jaketnya menghadirkan suatu pemandangan yang kontras. Terlihat seperti warna biru langit yang dicoreti oleh garis-garis dari stabilo.


Wajahnya bisa dideskripsikan sebagai anak kecil, sehingga, pembengkakan berwarna cerah di sekitar matanya dan memar biru di pipinya, terlihat begitu menyakitkan.


Dia menghela napas lambat.


Anak itu mengingat suatu percakapan yang sebelumnya terjadi.


“Kau sungguh tidak seharusnya berada di sana. Itu terlalu nekat, bahkan jika kau mengklaim bahwa kau harus menyelamatkan temanmu yang hilang bernama Frenda.”


Kepalanya sakit, dan dia yakin bahwa penyebabnya adalah lebih dari sekedar tinjuan biasa.


Kata-kata itu telah merobek hatinya.


"Aku tidak sok kan dan meremehkanmu. Aku benar-benar mencoba untuk membantu karena aku merasa kasihan padamu. Kau tahu itu, kan? "


Kota ini sejatinya adalah kota tempat hidup para preman.


Dan dia bukannya pria kekanak-kanakan yang sok jadi preman, melainkan, dia adalah seorang preman betulan.


"Aku tidak tahu banyak tentang sisi gelap kota ini dan aku tidak pernah terendam dalam kegelapan tersebut. Itu berarti, aku masih berada pada sisi jujur kota ini. Namun akan lebih tepat jika kau mengatakannya zona abu-abu kota. Itu karena sesungguhnya aku baru saja masuk ke sisi jujur kota. ... Memang ada saat-saat yang tepat untuk menggunakan seseorang seperti itu. Sekarang, misalnya.”


Jika ada seseorang dari sisi gelap datang dan membungkam orang lain, itu akan mengungkapkan bahwa sisi gelap kota terlibat dalam insiden tersebut.


Itulah sebabnya peran tersebut dilimpahkan pada orang "jujur".


Tentu saja, mereka akan memastikan bahwa tidak ada yang melacak jejak pelaku ke sisi gelap kota. Tengkulak yang begitu banyak dipergunakan dan pembayaran dilakukan melalui beberapa metode yang kompleks.


"Dengar, di mana ada uang mengumpul, di sanalah ada sisi gelap kota. Bukan itu targetmu, tapi mereka akan mulai membencimu bahkan jika kau hanya berusaha untuk mencari mereka. Begitulah cara kerjanya. Jika kau tidak memiliki kekuatan yang cukup, maka kau tidak akan bisa kemana-mana. Kau tidak akan bisa mendekati targetmu, malahan kau hanya akan mendapat 5 sampai 10 kali lipat musuh lebih banyak. ... Kalau begini terus, kau akan terbunuh dengan sia-sia. Dan aku juga mengatakan bahwa menjadi seorang preman sepertiku bukanlah hal yang mudah, bahkan aku ditugasi untuk membunuh beberapa orang. Maksudku, kau benar-benar bisa mati. Apakah kau tahu perbedaannya?”


"..."


Anak laki-laki itu duduk di atas tumpukan sampah.


Dia berbalik ke arah pintu gerbang. Ada begitu banyak iklan yang diputar di TV, sehingga kebisingan itu mengijinkan siapa pun bisa masuk dan keluar pada tempat tersebut dengan bebasnya. Namun, siapa pun yang masuk dengan niat jahat akan ketahuan sebelum mereka sanggup menginjakkan kaki di sana dan tim intersepsi akan keluar untuk menghentikannya.


Apakah ada sesuatu di sana yang begitu diperlukan oleh si bocah?


Apakah ada sesuatu yang tersembunyi di sana sehingga mereka tidak bisa membiarkan siapa pun melihatnya?


Bocah itu hanya ingin tahu apa yang telah terjadi kepada temannya yang menghilang ke dalam sisi gelap kota.


Dan dia pasti akan menyelamatkan gadis itu, tidak peduli seberapa jauh dia harus terbenam dalam kegelapan kota.


Ada suatu rahasia berharga untuk merusak keinginan-keinginan itu.


"Tapi aku yakin bahwa kau pernah mendengar tentang ini."


Si preman mendesah dengan berat sembari berbicara pada bocah itu.


"Jika kau bukanlah orang yang cukup unik, maka ada suatu identitas palsu agar dikenal banyak orang. Misalnya, Academy City # 6, Aihana Etsu. Tak seorang pun tahu usia dan jenis kelamin #6. ... Itu berarti, siapa pun yang menyamar sebagai dirinya...tidak akan ada orang yang bisa membedakan apakah dia asli ataukah palsu, kan? Sejak awal, tidak ada yang tau siapakah sesungguhnya si #6.”


Anak itu tidak bisa menyelinap melalui security.


Dia tidak bisa mengakses data.


Tapi ...


Bagaimana jika dia tidak sendirian? Misalnya, seorang pekerja bandara bisa saja menyelinap melewati gerbang tanpa pemeriksaan barang bawaan dan polisi tidak akan menghentikannya di pos pemeriksaan. Bagi presiden, Gedung Putih benar-benar merupakan rumahnya dan seorang astronot bisa tidur siang dengan lelap di suatu stasiun ruang angkasa yang tidak bisa didatangi oleh manusia pada umumnya.


Bagaimana jika ia melakukan hal yang sama?


Dia tidak mendapatkan apa-apa dan berbalik pergi dari pintu gerbang, tapi bagaimana jika ada orang lain yang tidak seperti itu?


Bagaimana jika ia memiliki gelar Level 5, yaitu seseorang pelajar yang paling langka di Academy City?


“Kau ingin tahu mengapa orang yang menghentikanmu mau memberitahumu akan hal itu?"


Preman itu mengangkat bahunya pertanda tak punya ide.


"Karena ceritamu terlalu sedih. Menghentikanmu di sini adalah hal yang paling tepat, dan sudah menjadi sifat manusia untuk selalu ingin memberikan sedikit petunjuk tentang triknya.”


"..."


Bocah laki-laki pendek mengusap pipinyanya yang merah dengan punggung tangannya.


Dia mengisap di udara dingin dan mengembuskan napas hangat.


Dia diam-diam mengumpulkan tekadnya sambil duduk di tumpukan sampah.


Dia akan melakukannya.


Tidak peduli bagaimana ia melakukannya, dia akan tetap menjadi Aihana Etsu, Level 5 Academy City # 6.



Part 1[edit]


Pagi datang lebih awal pada kamar asrama Kamijou Touma di Distrik 7.


Bagaimanapun juga, anak berambut jabrik ini hanyalah seorang pelajar SMA biasa, belum lagi, dia punya tanggungan untuk mengasuh seorang gadis kecil dan kucingnya. Itu berarti, dia tidak bisa hanya melemparkan bahan makanan ke microwave kemudian menyantapnya, karena dua anak asuhnya tersebut pasti akan mendahuluinya dan menghabiskan makanan itu. Dia harus memasak untuk dirinya sendiri. Dia tidak bisa menikmati rasa makanannya secara santai karena dia harus membaginya dengan para penumpang lain yang tinggal bersamanya. Dia sungguh khawatir terhadap pembengkakan biaya hidup, dan dia pun berpikiran : "Hah? Apakah aku bisa lebih kenyang menyantap ramen jika aku berani mengulur mie-nya sampai panjang? Ya, aku berani! S-sekarang aku hanya perlu mengetahui seberapa layak ramen ini untuk dimakan, sehingga aku tidak mati nantinya!" atau "Bonggol kubis? Kamu bisa makan itu! Kau hanya perlu mengirisnya dalam juicer, dan tambahkan beberapa susu, madu, dan apel, dan kemudian tekan tombol juicer-nya sekali lagi!" Dia selalu berjuang untuk membuat hidangan dari bahan-bahan yang sesungguhnya tak layak makan.


Namun, pagi ini datang terlalu cepat.


Index tertidur di kasurnya dan Kamijou Touma sedang terlelap di dalam bak mandi pada suatu kamar mandi yang terkunci. Seakan-akan, dia pura-pura menjalani tidur musim dingin.


Jadi, orang yang bangun lebih awal adalah si pendatang baru.


Dia adalah seorang Dewa Sihir setinggi lima belas sentimeter.


Gadis berwajah pucat, berambut pirang panjang bergelombang dan mengenakan penutup mata itu adalah Othinus.


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!! ???"


Dia berlari secepat mungkin di lantai kayu ketika ada seekor binatang dari neraka mendekatinya dari belakang. Makhluk berbulu yang mengeong itu rupanya adalah kucing calico Jepang, tetapi pada ukuran Othinus, dia tidak berbeda dengan kerabat Cerberus* atau Orthrus*. [Cerberus adalah anjing dari neraka berkepala tiga pada mitologi Yunan kuno. Wikipedia bebas.] [Orthrus juga merupakan anjing neraka, namun berkepala dua. Wikipedia bebas.]



Sejak Othinus tiba, si kucing tampaknya melihatnya sebagai makanan darurat atau mainan kucing, jadi dia begitu sering diserang oleh makhluk berbulu itu.


Si kucing menggeram dan menjatuhkan kaki kanan depannya, sehingga Othinus mengelak dan kemudian berguling untuk menghindar dari injakan kaki kiri. Othinus berhasil mencapai kamar mandi.


Sayangnya, tubuhnya yang hanya setinggi 15cm mencegahnya untuk bisa meraih gagang pintu yang hampir setinggi 1m.


Untungnya, itu bukan target-nya.


"Hnnnn!"


Dia memiringkan kepalanya seperti di olahraga bisbol, mengulurkan tangannya ke depan, membentuk pose merangkak dan melemparkan dirinya sendiri ke lantai. Pintu kamar mandi memiliki celah seukuran dua atau tiga sentimeter di bagian bawah dan dia menyelinap kemudian meluncur melaluinya untuk memasuki kamar mandi.


Pada saat yang sama, ia mendengar suara tubrukan dari balik pintu.


Si kucing telah menerkam tapi kehilangan target dan dia malah membanting kepalanya ke pintu.


Gadis itu menarik napas dalam-dalam namun akhirnya sanggup berdiri. Dia mendengar suara mengeong yang begitu menyedihkan dari balik pintu. Sepertinya si gadis kasihan dengan si kucing, jadi dia melipat kedua tangannya, menghentak-hentakkan kakinya dengan jengkel, melirik ke arah pintu, dan akhirnya berjongkok untuk memeriksa melalui celah di bawah.


Pada saat itu, suatu tapak kaki turun dari atas layaknya pisau pemenggal.


"Cuih!! Aku tahu, aku seharusnya tidak khawatir terhadapmu!!”


Dia dengan panik menarik kepalanya kembali dan mengutuk si hewan dengan jengkel.


"Nnnnn ... Othinus, ada apa dengan neraka yang berisi celana dalam ini? Sepertinya kau sudah malas menciptakan dunia, kan? Zzz ...”


Suara gertakan gigi dan komentar konyol terdengar dari arah bak mandi. Suara-suara itu terdengar begitu santai, dan itu artinya, tempat ini cukup aman.


Si gadis telah melarikan diri ke kamar mandi, sehingga dia sudah aman. Seekor kucing calico tidak akan mampu membuka pintu. Kemenangan mengisi dada Othinus, tapi dia membeku saat mendengar suara gemerincing yang datang dari pintu.


(Tidak mungkin ... Tidak mungkin!!! Apakah dia melompat ke pegangan pintu dan menggantung dengan menggunakan kaki depannya!?)


Keringat tak menyenangkan mengucur dari pori-pori tubuh Othinus, tapi kemudian dia tenang. Itu bukanlah pintu biasa. Itu adalah pintu kamar mandi. Artinya, pintu itu terkunci dari dalam. Seekor kucing hanyalah seekor kucing, sehingga dia tidak bisa memahami konsep cara kerja kunci. Tidak peduli berapa banyak ia mengguncangkan kenop pintunya, itu tidak akan pernah terbuka.


(Usahamu sia-sia!! Ah hah hah !!)


Seperti itulah seharusnya.


(Tunggu ... Pintu itu terkunci, bukan?)


Keraguan secara bertahap mengisi kepalanya disertai dengan ketakutan.


Dia melihat jauh ke atas.


Knop logam tersebut ditempatkan di atas kunci silinder. Posisinya horizontal, tapi apa artinya itu? Bisa saja horizontal ataupun vertikal, tetapi posisi mana yang artinya terkunci dan posisi mana yang tidak terkunci? Dia tidak pernah membuka pintu saat memasuki kamar mandi, jadi dia tidak punya cara untuk mengetahuinya.


(Itu terkunci, bukan!? Jika bocah itu begitu mengantuk dan lupa untuk menguncinya, aku akan membunuhnya nanti!! Atau lebih tepatnya, aku akan menyerang tendon Achilles*-nya !!) [Tendon Archilles = titik lemah. Kamus Besar Oxford.]


Kenop pintu mulai berguncang begitu keras, seakan-akan ada seorang pembunuh yang masuk ke ruangan dengan paksa.


Othinus menatap pintu sembari mengambil beberapa langkah mundur. Dia tahu bahwa doa tidak akan cukup, jadi dia dengan panik berbalik ke arah bak mandi. Seorang pria seukuran bak mandi sedang meringkuk di dalamnya, sehingga Othinus bisa melarikan diri dari binatang neraka itu dan mendapat perlindungan si pria jabrik. Namun, dia tidak bisa menggapainya. Dia hanya berukuran lima belas sentimeter, sehingga baginya, bak mandi seukuran enam puluh sampai tujuh sentimeter tidak berbeda dari tebing. Dan dinding bak mandi yang terbuat dari bahan plastik halus tidak memungkinkannya untuk bisa memanjat.


Berteriak adalah satu-satunya pilihan.


"Heeeeey !! Bangun !! Bangun !! Hidup seorang dewa sedang berada di ujung tanduk sekarang, tidak bisakah kau menjadi sedikit fleksibel!?”


"Nyammm.....Nyammmm... Ya, Nona Manajer Asrama ..."


“Kau sedang tenggelam dalam mimpi terburukmu, ya!? Jika aku mati, aku pasti akan mengutukmu!!”


Teriakan si dewa tidak mencapai telinga si pria.


Dia tidak mendengarkan permohonannya.


Dan di belakangnya, ia mendengar suara yang sangat, sangat tenang dan begitu jelas.


Itu adalah suatu suara berderit.



"Hm? Othinus? Tidak biasanya kau bangun sepagi ini. Apakah semua orang di kamar asrama ini begitu lapar dan menunggu sarapan? Hoaaaaammmm ...”


“………………………………………………………………………………………………………………………”


Si pria tidak mendapat tanggapan.


Si Dewa sudah berada di mulut kucing peliharaan seperti ikan hasil curian dan dibawa pergi diam-diam.



Part 2[edit]


"Perlakuan ini tidak benar," keluh Othinus di atas meja sarapan.


Alih-alih duduk di meja, dia benar-benar duduk di “atas” meja. Sarapan pagi berukuran kecil ditempatkan pada tutup botol plastik yang dibalik.


"Sekarang, aku sadar bahwa hidupku di sini berada pada suatu jenis hukuman khusus. Aku sadar betul akan hal itu, tapi harusnya aku mendapatkan sesuatu yang lebih layak !! Bahkan di penjara, orang memiliki tempat untuk latihan dan dapat menerima bingkisan dari pengunjung. Setidaknya, aku pikir kau harus melakukan sesuatu dengan monster berbulu itu!”


Uap bertiup dari kepala Othinus, tapi mata mengantuk Index tidak menunjukkan banyak perhatian padanya.


Kucing memiliki kebiasaan menyajikan serangga atau tikus tangkapan kepada pemiliknya, dan si suster belum menerima hadiah di pagi ini. Mungkin, si dewa adalah pilihan yang pas untuk persembahan pada pemiliknya.


Kamijou menutupi roti panggang berwarna coklat muda dengan margarin dan menyerahkannya pada Index.


“Kau bilang begitu, tapi dia adalah kucing yang lucu. Apakah kau harus ngambek seperti itu? Kau hanya perlu membiasakan diri sampai si kucing akrab denganmu.”


"Ukurannya bahkan 4x lebih besar daripada ukuran tubuhku! Jika kau jadi aku, hewan itu mirip seperti Harimau Siberia sepanjang 3m dan seberat 200kg, kemudian dia menerkammu!! Pikir dulu sebelum berbicara!!”


Sambil marah-marah, Othinus mulai memakan sayuran tumis yang tersaji di atas tutup botol plastik. Dia meraih tusuk gigi dengan kedua tangan, menusuk sayuran yang dipotong dadu, dan memenuhi mulutnya dengan makanan tersebut.


"Lantas, apa yang harus aku lakukan?" tanya seorang Kamijou dengan jengkel.


"Pastikan keselamatanku. Pastikan aku tidak lagi hidup dalam ketakutan akan terkaman hewan buas!”


"Caranya?"


"Aku ingin kau membuatkanku tempat untuk bersembunyi. Tempat yang hanya diperuntukkan bagiku dan tidak bisa ditembus oleh kucing manapun.”


"Tapi aku sudah membuatkanmu suatu kardus kemarin."


"Dia merubahnya menjadi carikan kertas hanya dalam waktu 5 menit!! Bahkan Three Little Pigs* tidak membuat rumahnya dari kertas, bodoh!!” [Three Little Pigs adalah cerita tentang tiga ekor babi yang berjuang dari buruan serigala. Si serigala memiliki hembusan napas yang begitu kuat sehingga rumah mereka yang sebelumnya terbuat dari jerami diterbangkan dengan mudahnya. Akhirnya mereka membuat rumah yang begitu kokoh dari bata sehingga si serigala tidak bisa memakan mereka.]


"Hmm. Coba kita lihat apa yang kupunyai. Index, ke mana perginya balok-balok itu? Balok terbuat dari plastik berwarna-warni yang pernah kau susun menjadi bentuk dinosaurus itu.....”


"Sudah rusak, dan aku meletakkannya pada dalam kotak di lemari."


"Kalian berdua tidak punya niatan untuk menghancurkan rumahku, kan?"


Pada saat itu, suara ceria penyiar perempuan terdengar dari TV yang mereka biarkan menyala.


"Hari ini adalah awal dari bulan Desember, yaitu ketika perang penjualan Natal dimulai! Tema tahun ini adalah mini-tapi-mewah, sehingga akan ada banyak mainan yang dibuat oleh seniman. Ada kotak musik buatan tangan, boneka, dan rumah boneka. Semuanya memiliki nilai seni klasik.”


"..."


"Yang paling populer dari itu semua adalah boneka dari seorang desainer terkenal! Lihatlah! Masing-masing dari potongan-potongannya hanya seukuran karamel, tapi itu sungguh merupakan batu bata asli yang dipanggang dalam tungku dan dilekatkan bersama-sama dengan menggunakan semen! Hanya seorang desainer yang terampil dalam hal restorasi seni sampai hal konstruksi lah yang bisa membuat mahakarya seperti ini!”


"Itu dia," gumam Othinus.”Jawabannya ada di sana!"


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membuat benda seperti itu dengan memanfaatkan kotak makanan ringan kosong dan selotip.”


"Jawabannya tepat ada di depan matamu, jadi berhentilah menghindar, dasar idiot!! Aku bilang….Belikan barang yang sama persis dengan apa yang ada di layar TV itu!!”


"Eh? Yang itu ...?”


Kamijou punya alasan sederhana untuk khawatir.


Suara ceria penuh dengan semangat Natal dari penyiar di TV terus berbicara.


"Rumah boneka yang kami memperkenalkan tadi, sekarang tersedia di kompleks Dianoid Distrik 15, yaitu pada distrik perbelanjaan Nomor Wahid di Academy City! Jika kau tertarik, silakan mampir !!”


Distrik 15 adalah lokasi fashion yang terbesar dan terhebat.


Tidak hanya itu, Dianoid adalah simbol bagi orang kaya dan termasyur yang dipenuhi dengan banyak Stasiun TV utama. Dan di apartemennya, tinggal beberapa artis papan atas.


Seperti namanya, setiap dinding, pilar, jendela, pintu, lampu, dan perabot dalam bangunan tujuh lantai itu, konon terbuat dari berlian.


Terlebih lagi, di musim Natal, tempat itu akan terisi dengan pasangan-pasangan yang sedang kasmaran.


Secara keseluruhan, Kamijou Touma dengan samar berpikiran bahwa : Jika aku menginjakkan kaki di sana, aku akan mati. Bad mood-ku akan membunuhku.



Part 3[edit]


1 Desember.


Pemandangan telah berubah layaknya lembaran kalender yang disobek. String LED membungkus pohon-pohon di sekitar pinggiran jalan, boneka rusa berjalan di sana-sini, dan wanita-wanita yang menjajakan tisu telah berubah menjadi Sinterklas ber-rok mini.


Misaka Mikoto mendesahkan suatu uap putih dari mulutnya sembari berjalan melalui semua itu.


Dia mengenakan mantel yang membalut seragam musim dingin, tapi pakaian itu tidak terlihat seperti produk baru berteknologi tinggi yang dia pakai ketika berada di daratan bersalju Rusia dan Denmark.


(Berbagai hal masih cukup tenang di sini, tapi seperti apa mereka ketika berada di dalam distrik perbelanjaan?)


Tidak lama sebelumnya, dunia telah mencapai titik didih, dan mereka hendak menyatakan perang habis-habisan terhadap kelompok internasional bersenjata (?) yang bernama Gremlin, tetapi sekarang semua orang sudah menjadi ceria karena bahaya itu telah berlalu. Gegap gempita perayaan Natal tahun ini yang begitu meriah tampaknya adalah pelampiasan dari rasa takut berkepanjangan yang terjadi sebelumnya.


Tapi bagaimanapun ...


(Natal, ya? Bukannya itu tidak berarti apa-apa bagiku.)


Mikoto bersekolah pada SMP Tokiwadai yang dikenal sebagai sekolah kelas wahid dalam hal pengembangan kekuatan psikis. Itu bukanlah sekolah yang memiliki jadwal padat pada hari Natal, tapi para siswi di sekolahan tersebut tentunya dilarang menjalin hubungan tidak layak dengan pria manapun selama malam Natal*. Sama seperti tahun sebelumnya, para siswi akan dikurung di asrama mereka tanpa pilihan dan menunggu sampai badai reda. [Di Jepang, malam Natal identik dengan hubungan intim.]


(Aku mungkin bisa keluar dengan bantuan teleportasi milik Kuroko, tapi tetap saja, dialah yang akan menjadi penghalang terbesarku.)


Sembari ia membuat rencana, tiba-tiba gadis itu mengerutkan kening.


"Hm?"


Sebenarnya, apa yang dia tetapkan sebagai tujuan akhir pribadinya?


Mengapa dia beranggapan bahwa Kuroko hanya akan akan mengganggunya?


Itu bukanlah permasalahan tidak menaati peraturan sekolah, meninggalkan asrama, dan bertemu dengan Kuroko, Uiharu, Saten, kemudian ngerumpi bersama.


(Tunggu, tunggu, tunggu! Tunggu sebentar. Aku punya perasaan buruk jika aku terus berpikir mengenai hal ini, jadi berhenti saja. Berhenti saja. Mengapa aku membayangkan si idiot itu di kepalaku!?)


Dia mengusap pelipis dengan ujung jarinya seperti pekerja kantoran yang kelelahan, tapi ...


"Aduh....Aduh....Bukankah itu adalah Misaka-san?”


"..."


Mikoto membeku di tempat, berbalik ke arah sumber suara itu, dan menemukan seorang gadis Santa ber-rok mini seumuran mahasiswi. Wanita itu mengenakan kacamata dan rambut hitamnya diikat ke belakang. Dia jelas-jelas sedang dikendalikan, sehingga Mikoto menggeleng dan cepat berjalan menjauh darinya.


"Misaka-san? Misaka-saaaan? Bisakah kamu mendengarku?”


"Aku tidak perlu tissu dan aku tidak ingin ramalan telapak tangan. Aku tidak perlu apa-apa dan kau terlihat seperti seorang penipu.”


"Aduh.....Aduh......Apakah kau sudah begitu tua sehingga kemampuan pendengaranmu berkurang? Aku kira, kau memiliki aura seseorang yang berada di SMP selama 10 tahun lamanya.”


"Apa!? Katakan itu pada dirimu sendiri dan gumpalan lemak di dadamu!! Bahkan sepasang payudaramu itu memancarkan suatu hawa yang sungguh mencurigakan!!”


Setelah membentaknya, Mikoto sadar bahwa dia telah jatuh pada perangkap gadis tersebut.


Santa ber-rok mini menempatkan jari telunjuknya ke dagu dan berbicara.


"Aku benar-benar tidak ingin membuat keputusan ini, tapi aku di sini untuk mendiskusikan sesuatu denganmu."


"Kenapa harus aku?"


"Natal akan datang, kan?"


Meskipun tahu bahwa ia sedang dipermainkan, Mikoto berhenti bergerak.


"Aku adalah # 5 dan kau adalah # 3, tapi tak satu pun dari kita bisa melakukan apa-apa ketika Tokiwadai melarang untuk meninggalkan asrama ketika malam Natal tiba. Singkat cerita, pertahanan para guru terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi kita berdua .”


"Ya, bahkan di tempatku, metode bertahan dari sang pengawas asrama lebih mirip penjara bagi para pelajar kriminal. Sia-sia melawannya.”


Dengan adanya Level 3 di tengah dan 2 orang Level 5 di puncak, secara total, Tokiwadai berisikan sekitar 180 orang esper, sehingga pengawas asrama memerlukan kemampuan khusus untuk mengelola mereka semua. Dan para orang dewasa tersebut harus melakukannya dengan bantuan teknologi dan seni bela diri, bukannya kekuatan esper. Terkadang Mikoto jadi merinding ketika memikirkan tentang seberapa banyak monster yang berada di dalam asramanya.


"Tapi," kata orang yang mengendalikan Santa ber-rok mini.”Aku pikir kita kehilangan kesempatan di tahun lalu karena kekuatan 2 orang Level 5 tidak digabungkan. Kita berdua berada di asrama yang berbeda, tapi itu mungkin sengaja diatur oleh para orang dewasa tersebut.”


"Tunggu."


"Jadi aku pikir kita berdua bisa menembus pertahanan kokoh mereka jika kita merencanakan berbagai hal lebih awal dan saling menutupi kelemahan masing-masing. Perkiraan cuaca mengatakan bahwa kita akan mendapati Natal putih tahun ini, jadi, tidakkah terlalu membosankan jika kita menghabiskan dua tahun secara berturut-turut dengan hanya terjebak dalam kamar?”


"..."


Dia benar juga.


Tak peduli apakah itu dukungan secara langsung atau jarak jauh, kebebasan bergerak mereka akan meningkat dramatis dengan adanya 2 orang Level 5 yang bekerja sama. Ini mungkin memberi mereka kesempatan untuk membobol dinding pertahanan Alcatraz* kelas atas, yaitu asrama perempuan Tokiwadai. [Alcatraz adalah nama salah satu penjara terketat di dunia.]


Tapi ...


"Mengapa kau begitu ingin menikmati Natal? Kau mengatakannya dengan cukup santai, tapi bagiku, terdengar seperti, kau sudah mencoba Natal tahun lalu, dan hasilnya adalah kegagalan.”


"Ehhh? Apakah itu masalah bagimu? Dan karena kau sudah menyinggungnya, mengapa kau begitu penasaran dengan masa laluku?”


"Bfhhh !! A-a-a-aku tidak berpikir tentang apa-apa !!”


"Betapa mencurigakan."


"Ya, baiklah, bekerjasama denganmu terasa seperti membebaskan seorang narapidana dari penjara untuk mencari tahu tindak kejahatannya.”


Apapun itu, tidak peduli betapa mereka saling membenci, sekarang mereka memiliki tujuan bersama dan menggabungkan kekuatan adalah pilihan tetbaik saat ini.


Dan setelah berpikir sejauh itu, kedua gadis ini memiliki pemikiran yang sama persis, tepat di waktu yang sama.


(Ya, tapi lebih baik aku mengkhianatinya di saat sangat, sangat, sangat terakhir.)


Setelah itu, mereka memaksakan senyuman di bibir kakunya, dan saling berjabat tangan pertanda suatu kesepakatan telah terbentuk.

NT Index v12 037.png

Pada saat yang sama, sesuatu yang lain terjadi.


Seorang anak berambut runcing menjulurkan kepalanya di sudut jalan.


Mikoto dan Santa ber-rok mini segera melepaskan aksi jabat tangannya. Seperti biasa, Mikoto terfokus pada pria itu, tapi entah kenapa, si gadis Santa perlahan menjauh dan mencoba untuk menghilang di antara kerumunan orang.


Mikoto penasaran mengapa dia bertingkah seperti itu, tapi dia langsung saja menghadap ke arah Kamijou. Dia tidak punya urusan dengan si jabrik saat ini, sehingga seharusnya tidak ada alasan bagi Mikoto untuk memanggilnya, tapi entah kenapa bahunya berguncang begitu hebat dan percikan listrik mulai menyengat dari poninya pertanda kebahagiaan. Mikoto tahu bahwa pria itu punya kebiasaan buruk, yaitu ikut campur dalam urusan orang lain dan membiarkan dirinya sendiri terlibat dalam suatu masalah.


"Ada masalah apa?"


"Ahh ..."


"Apa!? Mengapa matamu terlihat berkaca-kaca!?”


Apa yang terjadi?


Ketika ia menghadapi Academy City # 1 sendirian, ketika ia tidak meraih tangan Mikoto meskipun tahu bahwa itu berarti dia akan jatuh dari langit Rusia, dan ketika ia dikelilingi oleh Five Overs yang tak terhitung jumlahnya dan kalah dari # 3, Kamijou Touma tak pernah sekalipun meneteskan air mata. Sehingga, pria itu sepertinya sekarang berada pada situasi yang begitu menakutkan, sampai-sampai si pria hendak menyerah.


Mungkin saja, bulan akan hancur dan kiamat akan terjadi sebelum Natal tiba.


Mikoto menelan ludah dan bertanya pada pria itu dengan ragu-ragu.


"A-a-apa yang telah terjadi? Kau terlihat begitu terpojok?? Jangan khawatir. Mbak Misaka akan selalu membantumu. Pasti ada jalan keluar tak peduli seberapa pelik masalahmu.”


“Apakah kau akan mendengarkanku, Misaka-san? Apakah kau benar-benar akan mendengarkan apa yang hendak aku katakan!?”


Mikoto memiliki perasaan bahwa setelah mendengarkan cerita dari si pria, dia akan terkirim langsung ke semacam pertempuran luar angkasa pada dimensi lain, tapi dia tidak bisa mengabaikan ini.


Mikoto mengangguk kecil untuk mendesaknya dan wajah si pria dipenuhi dengan kemalangan.


"Aku ..."


Nada bicaranya terdengar seperti seseorang yang sudah mengalami kiamat dan kembali lagi ke masa lalu untuk membenarkan beberapa hal.


"Aku harus mengajak dua orang gadis ke Dianoid, yaitu pada tempat berkencan di Distrik 15. Dan itu adalah distrik perbelanjaan fashionable Nomor Satu di Academy City. Aku sungguh takut setengah mati.”


……………………………………………………………………………………………………………………………


Waktu terhenti sesaat.


Setelah pikiran kosong Misaka Mikoto kembali pulih, ia meneriakkan suatu kata yang secara otomatis merasuki otaknya.


"Ahhhhhhh!!???"


"Eek!? Aku tahu bahwa itu benar-benar tidak masuk akal, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus pergi ke sana! Distrik 15 bukanlah tempat yang pantas untuk kukunjungi dan musim Natal hanya semakin memperburuknya. Sumpah mati, aku akan hancur!! Seluruh dunia akan menghancurkan aku dari semua penjuru!!!!”


"Apa ini? Apakah kau adalah tipe orang yang takut pada roti kukus*?” [Pada suatu kisah, pernah ada sekelompok pemuda yang ingin menjahili temannya. Katakanlah orang yang mau dikerjai ini bernama A. Mereka menanyainya tentang benda yang paling ditakuti. Si A menjawab “roti kukus”, yaitu suatu kudapan yang mirip dengan bakpao. Akhirnya teman-temannya membawakannya bakpao tersebut. Si A menjerit dengan histeris, namun dia melakukannya sembari menyantap bakpao tersebut dengan lahap. Maka jelaslah, yang dikerjai di sini bukanlah si A, melainkan teman-teman si A. Jadi, maksud Mikoto adalah : suatu ketakutan yang dibuat-buat, sedangkan pada kenyataannya, itu adalah hal yang begitu digemarinya.]


"Bukan itu! Aku benar-benar takut !! Orang-orang di Distrik 15 sungguhlah berasal dari dunia lain! Aku yakin mereka semua bermain gitar dan naik sepeda motor*! Klub macam apa itu, dan apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana!? Aku ragu, aku bisa memahami perkataan mereka meskipun mereka berbicara dalam Bahasa Jepang !!” [Sepertinya Kamijou sedang membicarakan gaya hidup orang barat.]


Kamijou gemetar dan….mungkin karena rute sekolah mereka berdua tidak sama....dia mulai berjalan menyusuri jalan yang berbeda dari Mikoto.


Setelahnya, Santa ber-rok mini dengan ekspresi kosong di wajahnya muncul di samping Mikoto.


"Shokuhou."


"Ya, kurang-lebih, aku tahu apa yang hendak kau katakan."


Mereka berdua mengulurkan tangan dan berjabat tangan keras-keras.


Jika tujuan mereka adalah malam Natal, mereka memiliki dua puluh tiga hari sampai mereka bisa melarikan diri dari Alcatraz. Sama halnya seperti menggali terowongan dengan sendok atau menuangkan sup miso pada batang logam setiap hari untuk menginduksi karat.....pertempuran yang amat, amat, amat panjang akan segera dimulai.



Part 4[edit]


Hamazura Shiage berada di Distrik 2 Academy City.


Distrik itu dipenuhi dengan industri berat, terutama di bidang industri kendaraan dan amunisi. Perbatasan distrik tersebut terkenal sebagai penghalang keras yang khusus dibuat dengan memancarkan fase balik gelombang suara. Karena luasnya bidang penelitian, pada umumnya distrik tersebut dikait-kaitkan dengan pengembangan senjata.


Namun, Hamazura tidak terlibat dalam semua itu.


Dia kini tengah berada di suatu sirkuit balap. Pada umumnya di Distrik 2, tempat tersebut disusun dengan sangat rapat seperti delapan belas lubang dalam satu lapangan golf*. [Itu jarak yang cukup rapat untuk seukuran lapangan golf meskipun perbandingan luas lubang dan area tidaklah setara.]


Tidak ada seorang pun yang akan mengeluh tentang suara bising yang dihasilkan mesin-mesin besar kendaraan. Peraturan lalu lintas tidak berlaku di jalan pribadi, sehingga para pelajar bisa berkeliling sepuasnya tanpa dikejar oleh sepeda motor polisi yuang sedang berpatroli.


Suatu suara pria paruh baya datang dari radio yang terletak di dalam helm full-face.


"Parameter telah stabil. Aku minta kau untuk mengitari dua lap lagi sehingga kita bisa mendapatkan nilai rata rata. Jaga kecepatanmu seperti saat ini.”


"Hanya perasaanku saja ataukah efisiensi bahan bakar memang sudah menurun? Sesaat, suaranya berdengung dari setiap arah!”


"Memang seharusnya seperti itu. Kami tidak membangun mesin olahraga balap. Ini dimaksudkan untuk mengejar mobil-mobil yang nakal. Sehingga, kecepatan pemulihan lebih penting daripada kecepatan tertinggi.”


Suatu jas hitam halus dan padat menutupi seluruh tubuh Hamazura. Apa yang dia sedang kemudikan jelas-jelas bukanlah sepeda motor biasa karena benda itu dipasangi mesin jet.


Belum ditetapkan apa namanya.


Ini adalah penerus dari prototipe awal yang dikenal sebagai Dragon Rider, tapi spesifikasinya sengaja diturunkan untuk menghemat baya, agar bisa diproduksi secara massal. Tentu saja, jika itu mempengaruhi stabilitas-nya, itu semua akan sia-sia.


Ada alasan sederhana mengapa Hamazura menaiki prototipe itu tanpa pemberitahuan sebelumnya.


“Kau adalah pengendara terbaik dan paling cocok bagi mesin ini. Mungkin tidak secara resmi, tapi hanya kaulah satu-satunya pengendara Dragon Rider yang telah menggunakannya dalam pertempuran sebenarnya.”


"Semuanya berkat powered suit itu."


"Meski begitu. Aneri merasakan dunia luar melaluimu. Sama seperti dengan prosesor IME*. Akan lebih cepat ketika pengguna asli melakukannya” [IME adalah kependekan dari Input Method Editor, yaitu program komputer yang memungkinkan si pengguna komputer memasukkan simbol yang tidak ada di keyboard. Wikipedia Bebas.]


Hamazura melakukan uji coba pada mesin itu dengan mengendarainya melintasi penghalang suara, dan dia pun melakukan sliding menikuk ketika hendak berbelok.


Melakukan hal seperti itu dua atau tiga kali dalam kecepatan tinggi adalah suatu hal yang tak mudah.


Seakan-akan, itu adalah saat-saat terakhir seorang pembalap.


"Terima kasih atas kerja kerasnya."


Setelah menyelesaikan sejumlah lap, melintasi garis finish, dan perlahan-lahan parkir di tempat pemberhentian, suara wanita terdengar di telinganya.


Jika ia mengingatnya dengan benar, namanya adalah Stephanie Gorgeouspalace. Dia adalah seorang gadis yang memiliki rambut pirang pendek dan mengenakan kostum kamuflase salju berwarna putih abu-abu sederhana. Dia rupanya adalah mantan anggota Anti-Skill, tapi dia adalah orang yang penuh misteri, dan bagaimana dia sekarang bisa berada di Distrik 2, jugalah suatu kejanggalan.


Hamazura melepas helm full-face dengan kedua tangan dan turun dari sepeda motor besar tersebut. Dia tidak menendang jagang motornya, tapi benda itu tidak jatuh. Motor itu secara otomatis terus menjaga keseimbangannya dengan menggunakan dua gyro* di kedua sisi roda depan. [Gyro adalah suatu alat yang dipergunakan untuk menjaga keseimbangan atau menetapkan kedudukan. Benda ini biasanya terdapat pada roda depan atau cakram. Kamus Besar Oxford.]


"Aku pikir semuanya berjalan dengan baik. Minggu pertama sudah cukup untuk mengetahui apakah seseorang mampu menjalankan uji coba dengan baik ataukah tidak, dan aku akan mengatakan bahwa kau sudah melewati semuanya dengan bagus.”


"Aku sudah katakan ini sebelumnya, tapi tidakkah berarti kita terlalu mengandalkan segala hal pada armornya? Aku pikir, hasil tesnya akan sama saja, tak peduli siapa pun yang mengendarainya.”


"Ah ha ha. Kau tidak menginginkan beberapa petarung besar atau pejuang veteran sebagai test drivermu. Apakah kau membiarkan robot anime itu terlalu banyak mempengaruhimu? Apa yang kau inginkan adalah kemampuan komunikasi dan kemampuan untuk menangani suatu kasus tak terduga tanpa persiapan yang matang. Lebih tepatnya, kau ingin seseorang yang dapat secara obyektif menjelaskan segala sesuatu yang tampak janggal. Dengan kata lain, seseorang banyak bicara yang mengatakan apa pun dalam kepalanya adalah yang terbaik bagimu.”


"Oh."


Hamazura mengangguk meskipun tidak benar-benar memahami.


Dia punya alasan sederhana untuk melakukan hal itu.


Mugino Shizuri, Kinuhata Saiai, dan Takitsubo Rikou masihlah anggota ITEM, tetapi dia tidak ingin mereka melakukan pekerjaan apapun untuk sisi gelap kota. Tapi dapatkah Hamazura memberikan alasan yang kuat tentang keberadaan mereka ... atau lebih tepatnya, pendapatan keuangan bagi mereka? Dan dapatkah Hamazura memenuhi itu semua tanpa mencuri mobil atau merampok uang dari mesin ATM?


Dia tidaklah begitu cerdas, ia putus asa dan terjebak di Level 0, ia tidak memiliki "senjata" yang bisa dituliskannya di CV*-nya, dan bahkan keahlian tentang mobil serta membobol kunci yang selama ini dia andalkan tidaklah berguna di dunia orang dewasa tanpa adanya surat "rekomendasi" yang sah. [CV = Curriculum Vitae, yaitu daftar riwayat hidup yang biasanya dibuat ketika seseorang hendak mencari kerja.]


Dia sudah mencari segala sesuatu yang bisa ia lakukan. Meskipun, akhirnya dia hanya terdampat di sini, yaitu Distrik 2.


"Oh, benar. Ponselmu dari tadi bergetar, jadi jika kau sekarang sedang istirahat, mungkin kau harus memeriksa inbox emailmu.”


"Terima kasih. Aku akan melakukannya segera setelah aku menyerahkan laporan ke ...”


Dia terdiam karena dia mendengar suara gemuruh mesin. Kemudian, dia merasakan sesuatu benda yang berat menempel pada pinggulnya. Dia melihat ke bawah dan menemukan mesin prototipe yang tidak dikenalinya menekan sisi tubuhnya.


Itu bukanlah adegan seperti seekor kucing yang mengusap-usapkan pipinya ke kaki si majikan.


Stephanie tertawa.


"Ah ha ha. Aneri sedang cemburu.”


"Ini hanyalah software bantuan kemudi, bukan? Aku ragu dia bisa cemburu.”


Tiba-tiba, ponsel Stephanie mulai berdering. Dia menekan ponsel ke telinganya, mengucapkan beberapa kata, dan melirik ke arah Hamazura.


(Hm? Ada apa?)


"Ya ya. Dipahami. Jangan khawatir, jangan khawatir. Aku dapat mengurus satu truk itu. Kau tidak perlu lisensi untuk menggunakan Power Lifter, jadi semuanya akan terkendali selama aku membawa seseorang yang sedang tak ada kerjaan. Sampai jumpa.”


Dia menutup ponsel dan mengatakan keputusan dia sudah dibuat.


"Hamazura, apakah kau tertarik melihat-lihat Distrik 15 selama musim Natal?"


"Apa?"


"Stasiun TV besar di Dianoid telah meminta kami untuk membawa sesuatu pada mereka. Kita harus pergi dari Distrik 2 menuju ke Distrik 15. Untuk memindahkan kontainer angkutan udara, kau harus menggunakan tangga atau lift yang bisa mengendalikan forklift*. Sebagai gantinya, kita harus menggunakan dua Power Lifter.” [Forklift adalah semacam alat untuk mengangkat sesuatu secara tegak lurus seperti yang biasa dijumpai pada mesin-mesin di bandara.]


"Tunggu tunggu. Power Lifter? Aku tidak pernah lihat bentuknya, dan aku juga tak tahu bagaimana cara mengoperasikannya.”


"Jangan khawatir. Itu hanyalah benda yang kau kenakan di punggungmu. Benda itu memiliki dua lengan baja besar yang terpasang pada kedua sisinya. Jika ditempelkan pada tubuhmu, kau akan terlihat seperti robot berlengan empat.”


"Oh oke. Jika aku hanya harus memakainya di punggungku ...”


“Kau akan memilikinya sampai malam ini. Jika kau belajar bagaimana cara menggunakannya sekarang, kau tidak perlu khawatir tentang resiko menginjak seseorang kemudian membunuhnya.”


"Artinya benda itu cukup berbahaya!! Maksudmu benda itu bisa membunuh seseorang !?”



Part 5[edit]


Bahkan ketika makan siang tiba, Kamijou Touma masih dalam suasana hati yang suram.


Saat ini, ia, Aogami Pierce, dan Tsuchimikado Motoharu sedang mengelilingi satu meja dan terlibat dalam pertandingan kematian tiga arah. Namun, mereka tidak bergulat satu sama lain. Sebaliknya, mereka membuat suatu kipas kertas kecil dari loose leaf* dan mencoba untuk melemparkannya ke arah target yang berada di meja guru. [Loose leaf adalah kertas yang tepi kiri atau kanannya terdapat lubang-lubang. Lubang tersebut berguna untuk dikaitkan pada roll besi kemudian membendel kertas-kertas itu untuk menjadi suatu buku catatan.]


Orang mungkin bertanya-tanya mengapa permainan elegan ini begitu populer di sini, tapi semuanya dimulai akibat komentar dari guru sejarah mereka. Yang terjadi seperti ini :


"Lempar kipas populer di akhir periode Edo sampai dengan periode Meiji, tetapi di zaman modern, itu hanya ditemukan pada restoran tradisional di Gion atau Akasaka.”(Guru Sejarah)


"Apa !? Maksudmu itu adalah permainan geisha*!? Aku ingin bermain! Aku sangat ingin bermain! Aku ingin bermain dengan geisha! Atau setidaknya, merasakan suasananya!!”(Para Idiot) [Geisha adalah wanita penghibur.]


Dan ...


"Nyah. Ketika pertama kali kau mengatakannya sebelum kelas homeroom* pagi ini, aku pikir, kau sudah gila. Jadi aku ingin mengangkatmu dan membuangmu keluar jendela, tapi sekarang aku punya waktu untuk berpikir tentang hal itu. Menyelinap ke Dianoid di Distrik 15 adalah suatu hal yang menakutkan bagai menyusup ke neraka. Itu adalah daerah modis yang dipenuhi dengan perang penjualan Natal yang super menakutkan! Bahkan jika tidak terjadi apa-apa, rasanya seperti kesehatanmu semakin melemah karena efek yang dipancarkan oleh lingkungan di sekitarnya!!” [Kelas homeroom adalah suatu sesi kelas dimana guru mengabsen para siswa/siswi dan memberikan beberapa pengumuman. Wikipedia bebas.]


"Aku hanya akan melewatkannya karena itu adalah kerjaan Kamijou Touma, tapi bagiku, apa yang terjadi di pagi ini tampaknya layak masuk berita di koran.”


Mereka sudah makan santapan siangnya, sehingga mereka kini bersaing untuk menentukan siapa yang harus membuang sampah kelas bau.


Namun, meninggalkan kipas kertas loose leaf yang berserakan dimana-mana akan membuat Komoe-sensei sedih, sehingga mereka harus membersihkannya sekarang juga. Itulah sebabnya mereka harus menyalin catatan matematika dan fisika di atas kertas berkerut.


"Jika kau ingin melihat Santa ber-rok mini, Distrik 15 yang mewah bukanlah pilihan terbaik. Distrik 12 yang dipenuhi dengan teologi* dan ekonomi atau Distrik 14 yang berisi pelajar-pelajar asing adalah tempat yang lebih baik untuk dikunjungi. Tapi jika kau lebih suka gadis pekerja paruh waktu murahan, aku tidak akan menghentikanmu, Kami-yan! Sama halnya seperti tanah Jepang yang dipenuhi dengan begitu banyak dewa, tanah itu juga dipenuhi dengan begitu banyak fetish*!!” [Teologi adalah ilmu yang mempelajari Ketuhanan.] [Fetish adalah kegemaran atau kecenderungan seks seseorang.]


“Dengan pemikiran seperti itu, kau hanya akan membuat jengkel beberapa orang religius, Aogami. Apa pun itu, aku mendengar bahwa seluruh bangunan Dianoid terbuat dari berlian. Apakah mereka hanya membual atau sejenisnya?”


"Informasimu jadi tak akurat setelah memainkan beberapa game ponsel, nyah. Secara teknis, bangunan itu terbuat dari bahan karbon seperti serat karbon, portal karbon, dan nanotube karbon yang memiliki beberapa berlian buatan di dalamnya, nyah. Andaikan itu semua adalah berlian, bangunan itu akan benar-benar jadi rapuh dan akan pecah setelah hembusan angin atau gempa bumi yang kuat. Dan berlian akan terbakar ketika kau menyulutkan api padanya, nyah.”


"..."


"..."


"Eh? Eh? Mengapa kalian berdua tidak mengatakan apa-apa, nyah?”


“Kau terus mengocehkan hal-hal yang cukup menakutkan, tapi sepertinya kau tahu betul tentang tempat itu ya." kata Kamijou.


"Apakah kau pikir dia adalah tipe seorang otaku yang mengunci diri di kamar sambil memakan semua kuenya sampai gendut, namun begitu populer di dunia maya? Aku tidak akan membiarkan hal itu. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!”


Aogami Pierce melangkah ke luar, melemparkan kipas kertas loose leaf yang sudah dibentuknya seperti shuriken, dan nyaris saja menyerempet tepi target (yaitu kotak pensil milik Tsuchimikado) pada meja guru.


Sebenarnya, lempar kipas memiliki lebih dari 50 teknik lemparan, tapi karena para idiot ini bahkan sangat payah untuk mengenai targetnya, maka mereka menyederhanakan peraturannya dan menganggap siapa pun yang pertama kali mengenai target, dialah yang menang.


Tsuchimikado kemudian berteriak seperti seseorang yang berada di dalam krisis.


"Apa !? Kapan aku diklaim sebagai otaku hardcore!? Aku adalah orang yang sangat normal, yang kebetulan mencintai adik angkatnya, nyah !!”


"Heh. Aku lega, Tsuchimikado. Di saat kau mengatakan bahwa mencintai seorang adik angkat adalah suatu hal yang wajar, sebetulnya, kau sama saja dengan mengatakan bahwa otaku Jepang adalah suatu identitas yang normal tanpa harus malu-malu diakui. Aku lega karena kau tidak akan lepas dari julukan itu.”


"Kamu bangsat. Apakah kau sedang menghina para imouto?”


"Aku tidak pernah membeda-bedakan fetish seseorang. Bahkan jika ada seorang gadis yang memiliki bagian bawah ular atau laba-laba, Kau akan dengan senang hati menerima. Apa ada yang lain? Kau mengharapkan seorang gadis dengan telinga kucing atau malah seorang gadis dengan kepala kucing sepenuhnya? Memangnya kenapa!?”


Untuk sementara, Kamijou Touma diabaikan karena kedua teman idiotnya terus membahas hal yang tak beguna, tapi ia masih saja memainkan permaianan lempar kipas dan ia membidik targetnya dengan hati-hati.


Layaknya seorang pembunuh yang sembunyi di balik semak-semak, dia mengucapkan suatu perkataan yang bagaikan pisau dan itu menembus punggung kedua teman idiotnya secara langsung.


“Kau tahu, kau mencelup rambutmu agar menjadi pirang dan mengenakan kacamata hitam di kelas, sedangkan kau mencelup rambutmu dalam cat biru dan menindik telingamu. Bagiku, kalian berdua benar-benar ingin tampil beda dan sangat berhasrat untuk menjadi populer lebih dari siapa pun.”


"Apa !?"


"J-jangan konyol, Kami-yan. Bisakah kau berhenti merubah catatan Akashic*!?” [Catatan Akashic adalah catatan dalam ajaran Hindu yang diyakini menuliskan semua kisah seseorang di masa lalu. Kamus Besar Oxford. Maksud Tsuchimikado mengucapkannya adalah, dia tidak ingin Kamijou mengkritik suatu hal yang sudah menjadi ciri khas seseorang. Kalimat ini mirip seperti : “Aku memang sudah seperti ini sejak dulu.” Yah, harap maklum bila ada guyonan-guyonan yang sulit dipahami dalam cerita ini. Bagaimanapun juga, kebudayaan mereka berbeda. Yang bisa Ciu lakukan hanyalah menerjemahkan tanpa merubah konten.]


“Kau terus memanggil dirimu sendiri otaku, tapi rasanya seperti kau sedang berusaha untuk menempatkan dirimu pada posisi yang lebih tinggi daripada orang lain. Dan kau berpikir bahwa kau adalah seorang otaku yang lebih baik daripada otaku-otaku lain di sekitarmu.”


"Gg-gbaaahhh !!! ???"


"B-bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Apa yang telah kita lakukan padamu, Kami-yan !? Kau tidak ingin seisi kelas memburu dan kemudian membunuhmu, kan!! Jadi jangan ucapkan perkataan sekejam itu!!”


Dengan semangat bersaing yang semakin melonjak, Raja Iblis Kamijou Touma mengangkat tangan kanannya.


Dia mengangkat kipasnya dengan gerakan lembut, lantas dia mengucapkan suatu deklarasi.


"Entah sebagai seorang istri atau apa pun itu. Yang terbaik adalah seorang pengawas asrama yang cantiiiiiiiiikkkkkkkkk!!"


Kipas yang terbuat dari kertas loose leaf itu terbang bagaikan pisau, tapi sayangnya ...


"Ah."


Kotak pensil jatuh sebelum kipas kertas mengenainya.


Tampaknya benda itu terjatuh akibat hembusan napas Kamijou yang kuat ketika dia melakukan deklarasi konyol tadi.


Dan tiga orang idiot inipun terjungkal.



Part 6[edit]


Setelah sekolah, Kamijou Touma kembali ke asrama dan kemudian pergi lagi bersama dengan Index dan Othinus.


Tujuan mereka adalah Distrik 15 yang ditengarai oleh kompleks Dianoid raksasa.


"Wow, ini benar-benar bulan Desember. Masih pukul 5:30, tapi sudah sangatlah gelap*.” [Ya, di negara subtropis, matahari tenggelam lebih cepat pada musim dingin.]


Kamijou mengenakan seragam sekolah biasa karena dia berpikir bahwa mengenakan pakaian modis hanya akan membuat para sales menghampirinya dan mengajukan penawaran-penawaran dengan harga fantastis.


Index mengenakan pakaian biarawati putih biasa dan Kamijou benar-benar tidak ingin orang-orang melihat sosok Othinus.


Ketika mereka pergi, Othinus berada di saku jaketnya, tapi dia mendaki saku Kamijou agar sebagian tubuhnya keluar. Dia sekarang duduk di bahunya, tepatnya di dalam syal pada leher Kamijou.


“Kau tidak dapat melihat bintang di langit dari sini. Apakah ini adalah bagian dari tuntutan ilmu pengetahuan, yaitu menghapuskan segala sesuatu?”


"Touma. Aku mendengar suara seruling di sana. Apakah itu adalah charumera* yang sudah begitu sering kudengar!?” [Charumera adalah instrumen yang berhubungan dengan kedai ramen.]


"Hentikan, Index. Jika kita berputar-putar di tempat ini, aku pasti akan kehilangan keberanian untuk mengunjungi Dianoid! Dan jika kita makan ramen di kedai pinggir jalan, aku bisa membayangkan Othinus akan jatuh tepat ke dalam mangkuk ketika aku hendak makan!!”


Mereka menggunakan kereta bawah tanah untuk mencapai Distrik 15. Seperti biasa, Index mengalami kesulitan dengan gerbang otomatis yang tidak membuka bahkan ketika dia sudah memasukkan tiketnya, dan tubuh kecil Othinus hampir saja ditelan oleh mesin bersama-sama dengan tiket miliknya, tapi entah bagaimana, mereka berhasil mengatasi kesulitan masing-masing.


Kereta tersebut menggantungkan iklan dan ada monitor layar datar yang dipenuhi dengan semangat Natal.


Mereka segera bergegas menuju ke Dianoid, sehingga ada banyak iklan di sepanjang jalan.


"Menara berlian yang menjulang di Distrik 15 adalah suatu tengara. Dianoid diisi dengan toko-bermerk-super-kelas-atas dengan kriteria yang begitu unik, sehingga kau dapat menemukan apa pun di sini. Tak peduli apakah kau menginginkan waktu, ruang, kebebasan, atau relaksasi.....di sini kau dapat menemukan apa pun yang tidak ada di dalam hidupmu.”


"Ini adalah pemberitahuan dari siaran langsung publik. Kantor siaran TV Dianoid Orbit sedang mencari penonton untuk menghadiri program-programnya. Program Desember adalah sebagai berikut: 12/1 - Hadiah Kuis Histeris. 12/8 - Kuis Video Raja Finals. 12/13 - Pengrajin Dunia. 12/19 – Istirahat Sore. 12/24 – Musik Streaming Awards. 12/25 – 100 Penerangan Paling Top. 12/30 – Rahasia Di Balik Layar Natal. 12/31 – Memasuki Gempita Tahun Baru dengan Tawa.”


"Pemilihan publik untuk lantai apartemen terbaik akan segera dimulai. Sembilan kamar pada apartemen ini telah dikenal sebagai tempat persembunyian untuk para selebriti, jadi mengapa tidak berdandan layaknya orang terkenal dan bergabung dengan para elit ini?”


Setiap iklan yang ditontonnya semakin membuat Kamijou terpojok dan putus asa.


Dia mulai bertanya-tanya apakah ini adalah dunia yang sama sekali berbeda. Dan apakah ini bukanlah dunia bagi seorang pria malang yang berusaha menghemat ramen selama mungkin agar menekan pembengkakan baiya bulanan.


Sementara itu, Othinus berbicara dengan riang dari syalnya.


"Inilah hinar-binar dunia. Belum lagi, mereka menyajikan itu semua dengan cara yang membuatnya tampak berkelas tinggi, dan bukan membiarkannya begitu saja. Aku bahkan tidak bisa membedakan antara kata 'Selebriti' dan 'mewah' dalam keadaan seperti ini?”


"Aku hanya ingin segera menyelesaikan kegiatan belanja ini, sehingga kita bisa memiliki lebih banyak waktu untuk makan," kata Index.


"Kita di sini untuk mendapatkan rumah bagiku, dasar bodoh. Gunakan ingatan sempurnamu untuk membayangkan hidangan-hidangan lezat dan pikirkan itu lagi berulang-ulang, dasar biarawati pemalas.”


"Tuan Sphinx !!”


"Gyaaah !!"


Rambut Othinus berdiri tegak dan dia masuk ke dalam syal Kamijou. Ketika kucing calico berusaha untuk mencongkelnya keluar, akhirnya Kamijou merasa perlu untuk menghentikannya.


Sementara itu, kereta tiba di stasiun Distrik 15.


Kamijou mengikuti arus garakan orang-orang untuk keluar ke peron. Kebanyakan orang-orang di sana seusia dengan Kamijou, tapi beberapa dari mereka tampak begitu berkilau, seakan-akan mereka adalah artis yang biasa muncul di TV.


"Ini adalah Distrik 15? Hmm, tidak terlihat jauh berbeda," kata Index.


"Itu karena kita masih berada di bawah tanah."


“Kau pernah berkata bahwa Dianoid terbuat dari berlian, kan !? Touma, bisa kita pergi ke sana sekarang? Semakin cepat kita menyelesaikan tugas belanja ini, semakin lama waktu yang bisa kita habiskan untuk makan!!”


"Sebenarnya, kita sudah berada di situ."


Jawaban Kamijou membuat Index dan juga Othinus memiringkan kepalanya pertanda kebingungan.


Hanya si kucing yang mengeong dengan riang di pelukan si biarawati.


"Stasiun kereta bawah tanah ini dibangun ke dalam Dianoid, sehingga kau secara otomatis bisa memasukinya ketika kereta tiba.”


"Hmm ..."


Index menatap langit-langit yang tidak semuanya tampak tinggi dan cantik.


"T-Touma, k-kenapa aku tidak merasakan suatu perasaan luar biasa karena berada di dalam bangunan yang besar?"


Itu bukan urusan Kamijou.



Part 7[edit]


Pria itu selalu berpikir bahwa memanggil dengan sebutan "girly" adalah suatu penghinaan bagi para gadis.


Apapun itu, ia membenci dirinya sendiri karena begitu cengeng.


Tapi tak peduli betapa dia membencinya, lututnya akan mulai gemetar setiap kali terlibat dalam suatu permasalahan yang rumit, walaupun hanya sedikit. Air mata akan mulai mengalir di matanya dan sebelum ia bahkan bisa berpikir untuk menghentikan masalahnya, pikirannya akan kosong. Dan dia tidak akan sanggup memikirkan sesuatu pun.


"Pada akhirnya, itu adalah permasalahan tentang bagaimana kau melihat situasinya."


Seorang gadis pirang pernah mengatakan kepadanya sambil berdiri di sampingnya.


"Maksudku, jika kau melihatnya dengan sudut pandang lain, seseorang akan melihatmu sebagai pria yang meneteskan air mata ketika melihat tragedi yang menimpa orang lain, kan? Artinya kau tidak perlu malu. Bahkan, aku pikir, kau harus bangga akan hal itu.”


Perkataan santai gadis itu telah menyelamatkannya.


Tetapi pada saat yang sama, si gadis pirang mengatakannya dengan berbisik. Ini berarti, dia tidak cukup percaya diri untuk mengatakannya karena dia sendiri belum tentu bisa melakukan hal tersebut.


Si pria tidak tahu jenis dunia macam apa yang dihuni oleh si gadis pirang.


Mereka berjalan bersama-sama ketika menyusuri jalanan kota, tapi seakan-akan terdapat dua lingkaran di sana, dan mereka berjalan menyusuri lingkarannya masing-masing. Ada suatu batas yang sangat tipis, dan si pria tidak bisa menembus batas tersebut.


Si gadis tidak pernah memberitahunya, jadi si pria berpikir bahwa dia tidak ingin membahas hal tersebut. Si gadis tidak pernah mengungkapkan kebenarannya, jadi si pria berpikir bahwa dia tidak ingin agar si pria tahu. Si pria telah memutuskan untuk menghormatinya keputusan si gadis. Si pria tidak perduli dunia apa yang dihuni oleh si gadis pirang. Selama si pria bisa menjumpainya, itu bukanlah suatu masalah.


Si pria yakin bahwa ada suatu tempat di dalam hati si gadis yang disediakan untuknya.


Mungkin itu adalah suatu tempat yang sangat-sangat kecil, yang tersimpan jauh di dalam lubuk hati si gadis. Namun tak peduli seberapa seberapa sempit tempat tersebut, itu sudahlah lebih dari cukup bagi si pria.


Sampai suatu hari......si gadis benar-benar lenyap dari kehidupannya.



"..."


Si pria mengepalkan tangannya ke arah langit berwarna ungu yang bergeser dari senja ke malam.


Dia memegang kartu kecil di dalam kepalan tangan itu.


Aihana Etsu.


Academy City Level 5 # 6.


Itu adalah gelarnya mulai dari sekarang.


Kartu ID siswa memiliki puluhan teknik anti-pemalsuan dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan mesin pelacak uang palsu yang ada di luar Academy City, tapi ia berhasil menggunakan nama Aihana Etsu. Foto, golongan darah, dan beberapa bagian data lainnya telah diubah, tapi sisanya begitu identik dengan yang asli.


Lagipula, konsep antara yang palsu dan nyata mungkin tidak dapat diterapkan di sini.


"Aihana Etsu" adalah seorang pelajar biasa, jadi tentu saja dia tidak memiliki sarana untuk membuat kartu palsu yang bisa membodohi teknik-teknik anti-pemalsuan. Meskipun dengan menggunakan upaya kerasnya, dia mungkin hanya bisa membuat suatu kartu yang tampilannya identik dengan kartu asli. Dan tentu saja, mesin-mesin pembaca itu akan dengan mudah mengidentifikasi kepalsuan tersebut.


Namun, ia telah robek kartu yang dibuatnya itu menjadi tiga bagian.


Misalnya, suatu mata uang memiliki tanda air dan hologram yang tidak dapat disalin, tetapi jika itu terkoyak sehingga bagian-bagian tersebut hilang, maka yang asli dan yang palsu sangatlah sulit dibedakan. Dan jika ada uang kertas yang rusak hanya 2/3 bagian, kemudian dibawa ke bank, maka pihak bank akan tanpa ragu menukarnya dengan yang utuh. Dengan tanda air & hologram yang rusak sebagian, petugas tidak mungkin bisa mengatakan apakah itu asli ataukah palsu.


"Aihana Etsu" telah melakukan hal yang sama.


Dia telah dengan sengaja menghancurkan kartu palsu dan melenyapkan bagian yang dipergunakan untuk menjaga keabsahan kartu asli. Dia telah mengumpulkan potongan-potongan teka-teki yang tersisa dan terang-terangan mengirimnya ke sekolah Aihana Etsu yang asli. Dia mengatakan bahwa dokumen kartu ID di sekolahnya telah hancur dan ia membutuhkan kartu yang baru.


Untungnya, semua proses dilakukan dengan otomatis.


Jika ada seorang petugas yang menangani serangkaian proses validasi kartu dan berbicara pada Aihana Etsu yang asli, semua kepalsuan ini pasti akan terungkap.


(Namun, usahanya ini tidak akan mampu menipu mereka selamanya. Paling-paling, itu hanya akan bertahan satu atau dua hari setelah kartu pengganti dikirim. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk menggunakan reputasi Aihana Etsu yang asli. Aku harus membuat suatu serangan pada Dianoid dan menemukan petunjuk tentang keberadaannya.)


Ini semua berdasarkan pada sesuatu yang pernah dikatakan oleh seorang gadis pirang tertentu bernama Frenda Seivelun.


Si gadis pirang tampaknya memiliki markas rahasia di suatu apartemen kelas atas di Dianoid. Dia mengatakan bahwa ruangan tersebut adalah ruangan yang benar-benar gratis dan tidak memiliki hubungan dengan cahaya ataupun kegelapan.


Si gadis pirang belum tentu lenyap di tempat tersebut, tapi itu adalah salah satu petunjuk yang "Aihana Etsu" miliki. Jika itu adalah tempat di mana si gadis pernah mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya, maka beberapa informasi yang terkait dengan lenyapnya si gadis mungkin masih tersisa di sana. Jika memang si gadis pernah terlilit dengan masalah yang melibatkan "kegelapan" kota, yaitu masalah yang tidak pernah si pria campuri, maka dia mungkin bisa melihat ke dalam kegelapan tersebut melalui Dianoid.


Tindakan apa pun yang akan dia lakukan, itu adalah langkah pertamanya.


Tidak peduli apa yang terjadi, ia akan membawa Frenda kembali.


Tidak peduli bila semua orang di dunia menyebutnya nekat.


"Baik."


Dia mengepalkan tangan kecilnya.


Sesuatu beralih dalam dirinya. Ia mengalihkan pandangannya dari langit ungu menuju ke daerah yang tepat berada di depannya.


Beberapa orang yang berbahaya sudah menyelinap ke dalam pemandangan tersebut.


Sebelum ia menjadi "Aihana Etsu", orang-orang berbahaya seperti itu telah menyeret dia ke belakang gang, memberinya lebih dari sepuluh pukulan "peringatan", dan kemudian melemparkannya ke tumpukan sampah. Dia tidak tahu siapakah yang menyewa orang-orang itu dan mengapa mereka disewa, tapi ia tahu mereka adalah sekumpulan orang yang tak enggan menggunakan kekerasan.


Jantungnya seakan-akan melompat ke tenggorokannya.


Keringat mengalir di wajahnya.


Dia meremas tangan di dadanya dan mencoba mengendalikan dirinya.


Waktu ini, begitu mirip dengan hari itu. Mereka bukanlah orang-orang yang sama persis seperti waktu itu, akan tetapi, mungkin kecurigaan tidak bertambah walaupun orang yang sama dikirim lagi dan lagi.


Apapun masalahnya, dia tidak bisa menipu siapa pun jika ia tidak menipu orang yang pertama.


Jika itu terjadi, ia tidak akan mampu melanjutkan semua upayanya ini.


Dia menatap lurus ke depan.


Dia menggunakan semua kekuatannya untuk menahan dirinya sendiri. Jauh di dalam hatinya, dia adalah seseorang dengan pribadi yang begitu lemah, dan itu tergambar jelas di raut wajahnya. Jumlah mereka lebih dari 10 orang. Mereka berpura-pura menjadi orang-orang yang hanya lewat, tetapi sebenarnya, mereka adalah orang-orang kejam yang saling bekerja sama.


Dalam hal ini, membidik orang yang paling lemah justru akan berdampak sebaliknya.


Agar bisa memberi tekanan mental terhadap mereka, si pria harus menghadapi yang terkuat terlebih dahulu.


Dia perlahan-lahan berjalan menuju seorang pria besar berjaket kulit tebal yang lengan bajunya dililiti oleh suatu kawat berduri.


"Aihana Etsu" akhirnya mulai melawan.


"Apakah kau adalah salah seorang yang sudah berjanjian denganku?"


"Apa?"


"Aku adalah Aihana Etsu. Ku anggap, kau adalah suatu karung tinju profesional yang bersedia untuk jadi tikus percobaanku atas dasar uang?”


"..."


"Aihana Etsu" mendorongkan kartu ID-nya dan si pria besar berhenti bergerak sebentar.


Dia mengenalinya dengan ragu-ragu.


Tidak ada seorang pun yang cukup bodoh mengaku bernama "Aihana Etsu".


Tapi itu berarti, si pria hanya perlu untuk merubah arah keraguan tersebut.


"Oh, ayolah. Jangan bilang kau berpikir bahwa kau akan mendapatkan ¥ 10.000 hanya dengan membiarkan beberapa anak kecil memukulmu. Jika demikian, kau mungkin sedang mabuk. Seseorang pasti sudah berbohong kepadamu. Terlebih lagi, kau sudah menerima uang untuk menjadi seorang kelinci percobaan untuk Level 5 dan menjalani perawatan di rumah sakit, jadi aku tidak ingin mendengar keluhan lagi.”


“Kau ..."


Pikirannya hampir saja kosong.


Dan dia pun mendengar komentar selanjutnya dari lawannya.


“Kau pasti sedang bercanda! Aihana Etsu !? Jadi itulah mengapa ini tampak seperti suatu urusan yang besar!!”


Tidak benar-benar terjadi suatu percakapan.


Massa otot itu tampak seperti dinding yang tak dapat ditembus, tapi ia melewatinya seakan-akan ada angin kencang yang meniupnya. Ia berlari secepat yang dia bisa. Dia bahkan berlari ke sekelompok sepeda yang terparkir ilegal dan tersandung cukup keras. Ketika orang lain melihat tumpukan logam yang berserakan itu, si pria merangkak di antara celah-celahnya, dan seketika keributan pun pecah di tempat itu.


"Aihana Etsu" memegang kartu yang dia jepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Kemudian dia mendorongnya maju seperti pisau.


Itu sudah cukup untuk membuat kerumunan orang yang berdiri di dekat turbin angin jatuh. Itu bukan karena mereka pengecut. Dia perlahan-lahan menggerakkan kartunya dari satu target ke target lainnya. Dan itu sudah cukup untuk membuat orang-orang lainnya jatuh ke tanah dengan posisi telentang.


Hal berikutnya yang dia tahu, mereka semua sudah lenyap.


Dia telah melenyapkan semua penghalang.


Pikirannya yang kosong, jantungnya yang berdegup kencang dan lututnya yang gemetaran, semuanya sudah berhenti.


"Aihana Etsu" telah menjadi Aihana Etsu.


"Heh heh."


Tertawa keluar dari bibirnya.


Dengan hanya selembar kartu sebagai senjata, Aihana Etsu melibas semuanya.


"Ah ha ha! Ah ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha !!”


Dia menggunakan jari telunjuknya untuk menghapus air matanya dan sepertinya pipinya memerah.


(Persetan dengan Academy City. Persetan dengan Level 5. Persetan dengan hirarki! Persetan dengan struktur piramida*!! Aku mengatasi semua itu. Aku sudah berhasil melewati gerbang pertama! Sekarang ... Sekarang tidak ada yang bisa menghentikan aku. Akan kubuat kalian menunjukkan dimana tempat gadis itu disembunyikan!!) [Maksudnya adalah tatanan masyarakat dimana jumlah bagian penting begitu sedikit dan yang terbesar adalah bagian tak penting. Seperti itulah susunan penduduk Academy City. Level 5 hanya ada 7 orang. Sedangkan esper berkekuatan biasa atau bahkan Level 0 begitu banyak.]


Dia berjalan menuju Dianoid.


Dia berjalan menuju labirin terbuat dari karbon yang berisi petunjuk. Yaitu petunjuk yang dia butuhkan untuk menyelamatkan temannya yang hilang, Frenda Seivelun, dari dalam kegelapan.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Setengah tekadnya dia gunakan untuk berlatih, dan setengahnya lagi dia gunakan untuk menghadapi kenyataan. Ia pun membisikkan kata-kata itu sembari berjalan menyusuri jalan kosong.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Ia yakin bahwa ia akan mengucapkan perkataan itu lebih sering mulai dari saat ini. Ketika ia harus mengandalkan pada hal itu, ia akan berada di bawah tekanan besar yang akan mengancam dan mengupas penyamarannya.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Tiba-tiba, seorang gadis yang tampak bodoh muncul di sudut.


Gadis itu pasti tidak mengira ada seorang pria yang sedang berlari karena dia tampak terkejut.


Mereka dipisahkan oleh jarak sekitar 1m, sehingga mereka bisa dengan mudah bertabrakan jika mereka cukup ceroboh.


Dan mereka berdua berbicara dengan serempak.


"Aku adalah Aihana Etsu !!"


"Aku adalah Aihana Etsu !!"


Aihana Etsu terkejut.


Seolah-olah mengacungkan pistol atau pisau, lengan mereka bersilangan satu sama lain dan mereka saling mengulurkan kartu ID pelajar yang semuanya tampak identik kecuali foto.


Si pria meragukan bahwa gadis ini adalah Aihana Etsu yang asli dan si gadis bahkan lebih ragu daripadanya.


Pikiran mereka bersinkronisasi.


Jantung mereka berdetak kencang dan mereka berdua saling meremas tangan di dada mereka.


(Oh, tidak. Dia sama seperti aku !!!)


(Oh, tidak. Dia sama seperti aku !!!)


Hal berikutnya yang mereka tahu, dua Aihana Etsu ini telah terjerembab ke arah yang berbeda.


Kedua pencuri identitas ini mengeluh dalam hati mereka. Dan mereka mengeluhkan hal yang sama yaitu : seorang Level 5 harus lebih baik dalam menjaga identitas dirinya.



Part 8[edit]


Kota ini dihiasi dengan lampu dan jalan-jalan dipenuhi dengan anggur merah atau mobil sport berwarna kuning seperti mustard, tetapi pada malam itu, suatu truk besar melintasi Distrik 15.


Stephanie Gorgeouspalace mengemudi dan Hamazura Shiage duduk di kursi penumpang.


"Wow. Sekarang, ini sungguh menakjubkan.”


"Maksudmu Dianoid?"


"Iya, tapi maksudku, truk ini juga menakjubkan! Bukankah ini adalah salah satu truk hias yang bisa kau lihat di Truk Yarou* atau sejenisnya!? Dan salah satu sisi truk ini bahkan ditutupi oleh gambar besar beberapa penyanyi! Itu sungguh merusak mood!! Apakah kau memiliki sesuatu terhadap Distrik 15!?” [Truck Yarou (トラック野郎 Torakku Yarō) adalah serial sepuluh film komedi-laga Jepang diproduksi oleh Toei dan dirilis dari tahun 1975 ke 1979. Semua sepuluh film dalam serial disutradarai oleh Noribumi Suzuki dan dibintangi Bunta Sugawara sebagai Momojiro Hoshi ("Ichibanboshi" atau "bintang pertama") dan Kinya Aikawa sebagai Kinzo Matsushita, juga dikenal sebagai "Jonathon". Judul Truck Yarou berarti "orang truk", dan film melibatkan dua sopir truk dan berbagai petualangan mereka saat mereka melakukan perjalanan keliling Jepang pada truk sangat dihiasi. Wikipedia Bahas Indonesia tanpa perubahan.]


"Heh heh heh. Yaahh, aku adalah gambaran dari perempuan lajang di manapun aku berada. Ahh, itu sungguh membuatku kesal. Para anak nakal ini menggunakan kehidupan cinta mereka untuk melarikan diri dari kenyataan dan melupakan semua tentang pelajaran. Aku jadi ingin meledakkan lagu kotor pada volume penuh!!”


"Oke, bagaimana kalau kau mulai dengan meminta maaf pada wanita lajang di setiap tempat. Kau tidak boleh begitu saja mengklaim bahwa dirimu adalah gambaran dari setiap wanita lajang !!”


"Ehh? Apakah kau tidak terganggu melihat tempat yang dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang sedang kasmaran ini? Tidakkah itu membuatmu ingin berteriak : Uraaah! Kami adalah orang-orang yang terjebak di tempat kerja pada tanggal 24 Desember!!"


"Sebenarnya, aku punya libur malam Natal dan aku berencana untuk menghabiskannya bersama pacarku."


"Baiklah kalau begitu. Sepertinya ada orang yang akan memiliki sehari penuh ... tidak, tiga hari penuh pergeseran shift kerja secara berturut-turut, termasuk di malam Tahun Baru, karena dia ingin libur pada tanggal 24.”


“Dasar monster!!"


Saat Hamazura berteriak padanya, truk yang tampak aneh tersebut mendekati Dianoid. Truk itu membawa kontainer kargo udara berukuran 2m yang dipergunakan untuk mengangkut barang-barang seni serta dua potong mesin berat khusus disebut Power Lifter.


"Tempat semacam ini sungguh membuatku takut. Jika aku diundang seseorang ke sini, mereka hanya akan menganggapku sebagai preman yang siap merogoh kocek mereka, dan aku pun yakin mereka akan menatapku dengan pandangan dingin.”


"Oh? Semasa kau jadi preman, kau tidak pernah datang ke sini untuk mendapatkan beberapa bonus? Jumlah uang yang orang-orang ini selipkan pada dompetnya sungguh berbeda dari pendapatan biasamu.”


"Jika kami berhasil beroperasi di tempat seperti ini, maka gang-gang kumuh di sekitar gedung-gedung tinggi tersebut sudah kosong dari preman."


Bangunan itu berbentuk prisma heksagonal* raksasa yang menjulang setinggi 70 lantai. Entah hanya untuk hiasan atau justru perkuatan, ada beberapa kabel tebal yang menjuntai turun secara diagonal dari semua sisi. Distrik 15 dipenuhi dengan bangunan bertingkat tinggi, tapi ada kabel menyelinap melalui celah-celah di antara gedung-gedung tersebut. Bangunan utama yang dikelilingi oleh kabel-kabel tersebut diterangi dengan cemerlang oleh lampu di dasar. Keagungan bangunan tersebut menonjol dengan jelas di malam yang gelap. Untuk menegaskan bahwa ini adalah perwujudan dari seni optik dan bukannya hanya pencahayaan belaka, warnanya berubah seiring berlalunya waktu. [Heksagonal = segi 6]


"Bagunan ini secara pokok dibagi menjadi : tingkat atas, tingkat tengah, dan tingkat bawah. Titik pengiriman yang harus kita capai adalah TV Orbit pada tingkat tengah. Setelah menggunakan pintu masuk pengiriman, yaitu suatu lift, jadi harusnya tidak mungkin tersesat.”


"Jadi kita membawa benda-benda besar itu dengan menaiki lift?"


Hamazura berbalik meskipun ia tidak bisa melihat barang bawaannya dari sana.


Stephanie tertawa.


"Tingkat atas berisi suatu hotel kelas tinggi dan apartemen. Di sana ada banyak piano besar dan sistem home teater, sehingga kabarnya, lift tersebut memiliki batas berat yang cukup tinggi. Tetapi jika itu tidak bekerja, kita terpaksa menggunakan “mereka” untuk membawa kontainernya menaiki tangga.”


Dianoid seharusnya lebih besar dua kali lipat daripada stasiun kereta bawah tanah Distrik 15. Jalan raya bertingkat dan jalur kereta bawah tanah rupanya terletak menyeberang satu sama lain seperti persimpangan. Di sana adalah pintu masuk utama dari keempat arah mata angin, tetapi truk yang dihiasi dengan mencolok tersebut menggunakan pintu masuk di tempat yang lebih umum.


Sementara Stephanie menurunkan kaca jendela di pintu gerbang dan berbicara dengan pekerja di sana, ponsel Hamazura berbunyi. Itu adalah email, bukannya panggilan. Dia memeriksa inbox-nya dan Stephanie bertanya kepadanya tentang email tersebut sambil bersenandung dan memutar-mutar setirnya.


"Dari siapa itu?"


"Beberapa teman. Mereka sedang menunggu aku di tingkat tengah Dianoid.”


"Tingkat tengah? Bukankah daerah itu sepenuhnya diisi oleh kantor TV Orbit?”


"Ada beberapa bagian yang dibuka untuk umum. Ada podium, kolam renang, pusat kebugaran, dan beberapa hal-hal lain di sana. Ini tentu saja dibuat agar orang-orang normal dan para artis tidak pernah berpapasan, tetapi mereka harusnya juga sedang berada di sana. Aku mendengar bahwa rekan-rekanku ingin pergi bersenang-senang setelah menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.”


"Eh heh heh. Aku paham bahwa kau sedang menikmati masa mudamu. Mungkin aku bisa pergi ke sana setelah Sunazara terbangun.”


Gerbang itu menuju ke tempat parkir dalam ruangan. Tempat itu dikelilingi oleh dinding buatan manusia yang dingin, bukannya beton berwarna abu-abu yang biasanya ditemukan di deck parkir atau garasi parkir. Tanah, langit-langit, dan kolom tebal diposisikan pada interval yang teratur, sehingga semuanya tampak seperti terbuat dari kayu.


Secara keseluruhan ...


"Tempat ini terlihat seperti bangunan abad pertengahan Jepang palsu dalam film Hollywood."


"Mungkin terlihat seperti itu, tapi ini semua terbuat dari karbon. Aku bisa membenturkan truk ini terhadapnya dan tidak akan menyebabkan suatu kepenyokan sama sekali. Aku benar-benar tidak paham tentang fashion.”


Stephanie memarkir truk di ruang parkir tamu besar dan mereka berdua keluar. Dia memutar kunci cincin di jari telunjuknya, tapi sebelum dia bisa mengitari di belakang truk, Hamazura menggunakan dua kabel untuk membuka kunci pada kontainer.


“Kau tahu, ada berbagai cara untuk menggunakan keterampilanmu. Seorang mata-mata seksi dan penguntit bermulut manis benar-benar melakukan hal yang sama.”


"?"


Hamazura membuka pintu ganda dengan tampilan bingung di wajahnya.


Benda pertama yang ia lihat adalah kotak perak yang ukurannya lebih besar daripada tubuhnya sendiri.


Itu benar-benar merupakan kontainer berisi karya seni.


Di luarnya adalah Power Lifter. Beberapa sabuk karet membentang turun dari langit-langit untuk mengamankan ransel* yang terbuat dari logam besar tersebut. Ada lengan raksasa yang membentang dari mesin-mesin itu, dan ada kaki yang lebih kecil untuk menjaga kestabilan badan mesin. Lengan besar yang menjuntai ke bawah tersebut hampir menyentuh tanah. [Sudah disebutkan bahwa Power Lifter digunakan di punggung seseorang. Sehingga terkadang mesin ini dianalogikan dengan kata “ransel”.]


Ada 2 unit. Satu untuk Hamazura dan satunya lagi untuk Stephanie. Atau mungkin juga, yang satunya berfungsi sebagai cadangan kalau saja ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi.



"Bagaimana menurutmu tentang Power Lifter ini?"


"Aku bekerja keras untuk mempelajari benda ini selama lima jam! Taukah kau berapa kali dagingku hampir terjepit pada sendi bagian depan dari benda ini!?”


"Aneri akan membantumu, sehingga kau akan baik-baik saja."


Hamazura mengeluh sembari ia melangkah masuk dan mengambil sabuk karet.


Tidak seperti powered suit militer, Power Lifter tidak menutupi seluruh anggota tubuh pemakainya dengan armor besi. Perbedaan di antara keduanya mungkin seperti tank dan power shovel*. Mungkin ini lebih disebabkan oleh masalah peraturan untuk produk masyarakat, daripada pertimbangan logis. [Power shovel adalah mesin untuk mengeruk tanah yang digerakkan oleh mesin. Biasanya mesin ini memiliki suatu cakar yang terbuat dari besi. Wikipedia Bebas.]


Mesin itu dikendalikan oleh dua joystick yang terhubung pada kabel dan pada pedal kaki. Bagian pedal kaki juga terhubung pada pijakan kaki penggunanya. Mesin ini tampak usang jika dibandingkan dengan powered suit pada umumnya. Ini karena powered suit sanggup mendeteksi gerakan otot seseorang, sedangkan Power Lifter lebih mirip dengan kendaraan daripada armor.


Hamazura memanjatnya dan menaikinya, sesuatu benda seperti penahan dada yang sering dijumpai pada roller coaster turun dari atas kepalanya dan menyangga tubuhnya. Suatu cahaya membutakan pandangan Hamazura segera setelah mesin itu dinyalakan.


"Wah! Sialan !!”


"Tunggu, tunggu, tunggu! Benda ini seberat dua ton, jadi tolong jangan mencambukkan lengannya dan menyandung semua benda di sekitar.”


"Maaf, tapi aku hanya tidak terbiasa mengoperasikan benda ini."


"Oh, AUD*-nya?" Tanya Stephanie. [AUD adalah kependekan dari Available for Use Data, yaitu bagian dari sistem perkomputeran yang bertugas menyimpan data dan menggunakannya.]


Hamazura memijat pelipisnya dengan jari-jarinya dan menggeleng karena cahaya putih kebiruan muncul lantas membentuk semacam windows, bar, dan pesan peringatan. Ada semacam gambar hologram yang ditampilkan pada udara di depan matanya.


"Udara dipanaskan atau didinginkan secara lokal untuk membuat pembiasan cahaya normal yang menampilkan informasi penting di hadapanmu. Dari beberapa info yang aku dengar, itu sejenis fatamorgana, tapi tidak benar-benar mirip.”


"Aku mulai mengerti, tapi bukan itu masalahnya."


Penglihatan bekerja setelah otak menganalisa informasi yang ditangkap oleh bola mata. AR*, 3D googles*, dan ada beberapa peralatan lainnya yang bisa menampilkan gambar di mata dengan tidak wajar. Peralatan-peralatan seperti itu akan membingungkan otak seseorang. Sebagai contoh, beberapa orang yang menonton film action intens pada layar head-mount* akan mendapatkan penglihatan kabur dalam waktu kurang dari lima menit. [AR adalah kependekan dari Aspect Ratio, yaitu perbandingan antara lebar dan tinggi suatu gambar. Wikipedia Bebas.] [3D googles adalah semacam kacamata 3 dimensi.] [Layar head-mount adalah semacam kacamata yang terikat sempurna pada dahi ataupun kepala. Jika teman-teman pernah melihat penampilan Cyclops pada film X-man. Maka seperti itulah bentuknya.]


Terlebih lagi, pengering rambut yang berhembus seperti angin hangat dan angin dingin terus-menerus mengubah dan menyesuaikan suhu di depan wajah Hamazura, sehingga matanya menjadi kering. Jika diperlukan suatu pelindung, maka seharusnya ada suatu kaca pelindung atau mungkin kacamata google. Namun sama sekali tidak ada benda seperti itu di sana.


(Aku sudah mengira akan mengalami hal semacam ini ketika mencoba suatu prototype mesin Academy City.)


"Tidak ada kesalahan dalam dua sumber daya utama, sumber daya cadangan, kontrol stabilitas, prosesor, atau display pencahayaan. Aktuator 001 sampai 400 telah menyelesaikan tiga kali auto-test. Semua sistem sudah oke. Melepaskan pengaman terakhir secara manual.”


"Untungnya, seluruh Dianoid terbuat dari bahan karbon padat sampai ke pintu geser dan lentera, sehingga kau tidak akan merusak apa-apa jika kau berjalan-jalan di sekitar sini. Jadi, tenang saja.”


"Apakah kau yakin bahwa aku harus melakukan ini hanya karena aku tidak memerlukan lisensi?"


"Ini akan baik-baik saja selama kau tidak membunuh siapa pun."


"Tolong berhenti membuatku takut !!"


Selama percakapan tersebut, mereka menyelesaikan persiapan di dalam truk.


Hamazura mengambil langkahnya yang pertama dengan gugup. Dia meraih kontainer tersebut dengan kekuatan yang berlebihan. Dia perlahan-lahan menggerakkan lengan baja raksasa di tepi kotak dan akhirnya menggunakan kedua lengannya untuk meraih pegangan tersebut.


Secara mengejutkan, Stephanie bergerak dengan lemah lembut sembari dia menyelipkan dirinya pada mesin-mesin itu. Dan Power Lifter mengitari di antara kontainer dan dinding truk. Akhirnya, mereka sanggup mengangkat kontainer seperti dua orang tukang yang mengangkat sofa.


Berbeda dengan jari yang sebenarnya, Hamazura tidak bisa merasakan kekuatan pada genggamannya dan ia khawatir jikalau dia memegang benda tersebut terlalu erat, tapi setidaknya, jari-jari logam tidak akan merusak kontainer itu.


(Apakah ini ... benar-benar akan bekerja?)


"Hamazura, mari kita melangkah keluar seperti ini."


"Bisakah kau melakukan itu sambil mundur?"


"Aku memiliki pengalaman lebih banyak daripada kau."


Mereka menyelinap keluar dari truk sembari mengobrol, tapi ...


"?"


Power Lifter adalah semassa baja berukuran 3m. Itu bukan suatu perangkat militer, namun lengan mesin tersebut masih bisa dengan mudah mengangkat suatu mobil kecil. Takut adanya seseorang yang berada di jalurnya, Hamazura mengawasi keadaan di sekitarnya dengan begitu seksama. Dan dia pun menyadari adanya suatu hal.


Suatu wujud kecil menyelinap di antara mobil. Orang ini memiliki rambut cokelat semi-panjang, jaket yang dikerudungkan di kepalanya, celana pendek, sepatu bot, kemeja berwarna biru langit cerah, dan kaus kaki berwarna sama.


(Um ... Apakah itu anak laki-laki atau perempuan?)


"Sensei."


"Apa?"


"Ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pekerjaan kita, tapi, katakan saja ada seorang anak kecil yang bermain-main di sekitar truk milik kita. Jika anak ini mengganggu dan masuk di bawah kontainer kita, apa yang seharusnya dilakukan oleh para pekerja baik hati seperti kita?”


"Meskipun pengganggu ini tidak ada hubungannya dengan hasil pekerjaan kita, semua jenis halangan harusnya dibasmi. Dengan kata lain….HEI KAU!!!”


"Wah! Jangan lepaskan kontainernya!!”


Stephanie mengendalikan tubuh setinggi tiga meter-nya lantas mengangkat tangan baja.


Sesaat kemudian, wujud kecil tersebut terkejut dan melompat dari belakang tempat kontainer. Anak kecil ini mencoba untuk meloloskan diri sembari hampir terjatuh, namun gerakannya jadi kacau, dia pun roboh dengan posisi duduk, dia gemetaran di tanah, dan mengulurkan sesuatu yang tampaknya adalah kartu ID pelajar.


"A-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-aku a-a-a-a-a-a-a-a-a-adalah Academy City # 6, Aihana Etsu !!"


Tenggorokan Hamazura langsung kering.


Dia merasa ada sesuatu yang meremas di dalam hatinya.


Sinyal peringatan yang tak terkendali memenuhi seluruh tubuhnya. Berkat pengalamannya sebagai preman Level 0 di gang-gang kotor, Hamazura tahu betul betapa mengerikannya kekuatan seorang esper.


Tapi Stephanie Gorgeouspalace membentak anak itu dengan suatu teriakan.


"Oh ya!? Aku adalah seorang sensei! Kau sebaiknya tidak meremehkan kemampuan atletik Nona Stephanie dan pengalamannya melawan berbagai esper !!”


"Hyaaah !!"


Hamazura akhirnya memahami situasinya ketika ia melihat "Aihana Etsu" mengangkat tangan untuk melindungi tubuhnya dari bentakan bervolume tinggi Stephanie.


"Tunggu, sensei! Dia hanyalah anak-anak!”


"Sekarang kau ikut-ikutan membuatku jengkel!! Kau jugalah anak-anak, jadi berhentilah berlagak sok dewasa!!!!”


"Aku pikir kaulah yang harus ditahan terlebih dahulu, bukannya kargo ini!!"


Setelah dua sosok setinggi 3m tersebut selesai bergulat di sebelah kontainer, anak laki-laki....? ... atau mungkin gadis.....? ... tidak lagi terlihat.


Sepertinya dia telah lari entah ke mana.



Part 9[edit]


Kamijou Touma, Index, dan Othinus menaiki lift dari stasiun kereta bawah tanah untuk menuju ke area perbelanjaan yang terletak di tingkatan Dianoid bawah.


Area perbelanjaan mencakup 20 lantai di tingkatan bawah, tapi pusat lantai-lantai itu terbuka layaknya suatu atrium*. Jika kau mendongak ke atas, maka kau akan serasa disedot ke angkasa. [Atrium adalah ruangan terbuka yang terdiri dari beberapa lantai. Ini mirip dengan Hall, sehingga kau bisa melihat apa yang ada di lantai-lantai atas dari bawah.]


Sebagian besar pencahayaan tidak secara langsung disorotkan sehingga seisi bangunan terkesan redup dan teduh. Struktur yang paling mencolok adalah bagian interior. Bangunan itu adalah gedung pencakar langit, tapi setiap sisinya begitu mirip dengan konstruksi bergaya Jepang. Lantainya dipoles dengan warna kuning sehingga mirip dengan lantai kayu dan ruang itu dibagi oleh pintu geser serta layar, bukannya pintu bergaya barat. Bahkan pencahayaan tersebut berasal dari lentera kertas berbentuk persegi yang tergantung di langit-langit.


Semangat Natal seakan-akan lenyap begitu saja ketika mereka menginjakkan kaki di dalam gedung tersebut.


Seperti biasa, Kamijou mengungkapkan perasaannya dengan suara keras.


"Aku rasa, Kanzaki akan suka dengan tempat ini."


Jika Kanzaki berada bersama-sama dengan mereka, mungkin gadis itu sudah berteriak dan menuduh bahwa semua ini palsu. Namun apa boleh buat, semuanya tampak begitu identik dengan aslinya.


Satu-satunya benda yang tekesan canggih adalah monitor layar datar dihias yang dipasang di sana-sini. Beberapa melekat pada dinding dan kolom, sisanya tergantung pada langit-langit.


Ketika Index melihat rekaman yang ditampilkan pada layar tersebut, ia memiringkan kepalanya.


"Touma, TV apa sih itu? Aku tidak pernah melihatnya di koran.”


"Aku tidak yakin, apakah aku harus kagum karena kau sudah menghafal panduan TV di koran ataukah aku harus khawatir karena kau begitu banyak memiliki waktu luang," erang Kamijou.”Itu dadalah siaran behind the scenes* dari TV Orbit. Lantai di tingkat tengah gedung ini berisi suatu stasiun TV, sehingga ada banyak AD* atau orang yang mondar-mandir di sekitar belakang panggung dengan membawa kamera kecil. Itu bukanlah siaran langsung, tetapi beberapa penggemar idol datang ke Dianoid hanya untuk melihatnya.” [Behind the scenes adalah proses pembuatan.] [AD di sini adalah singkatan dari Assistant Director. Wikipedia bebas.]


"Stasiun TV?"


"Oh sial. Apakah aku harus mulai menerangkan semuanya lagi?”


Monitor layar datar yang menggantung dari langit-langit saat ini sedang menampilkan siaran yang menunjukkan seorang idol pria, Hitotsui Hajime, tertidur di sofa ruang gantinya. Pembagian jelas antara sorak-sorai dan ejekan yang datang dari keramaian terkesan begitu kejam.


Tidak hanya menunjukkan siaran behind the scenes, gambar di monitor itu berganti-ganti setiap menitnya. Layaknya seorang DJ yang memilih lagu, segue* antar rekaman tampak membentuk satu presentasi. [Segue adalah pergantian antara lagu, melodi, atau adegan tanpa adanya selingan ataupun gangguan. Kamus Besar Oxford.]


"Panggung pada tingkat tengah dikenal sebagai Aqua Palace karena fokus pada seni air yang meliputi air mancur indoor terbesar di dunia.”


Ketika Kamijou mendengarkan pengumuman itu, ia juga mendengar Othinus berbicara dari balik syal-nya di pundaknya.


"Jadi, di mana toko yang menjual rumah boneka buatan pengrajin?"


"Tunggu, tunggu. Aku tadi sudah mencetaknya di toko.”


Kamijou menggali sakunya, membuka peta, dan memeriksa lokasi.


"Oke, itu ada di lantai lima. Menggunakan eskalator mungkin akan lebih cepat daripada menggunakan lift.”


"Touma, Sphinx benar-benar semakin gelisah."


"Wahai kucing calico, bahkan jika aku jadi seekor kucing sama sepertimu, aku tidak akan melakukan itu. Aku tahu bahwa kau ingin mempertajam cakarmu, tetapi segala sesuatu di sini terbuat dari bahan karbon dan aku yakin bahkan pintu geser itu sanggup memblokir tembakan peluru. Cakarmu tidak akan bisa menggoresnya.”


Setelah itu, mereka menaiki eskalator untuk menuju ke lantai lima.


Karena pusat bangunan itu membentuk atrium raksasa, hanya setengah ruang yang digunakan. Meski begitu, 350 toko dengan merk ternama saling berdesakan di dalamnya. Mereka terletak di seberang dari atrium. (Yang berarti pada tepi "luar") dan ukurannya berkisar dari sekecil toko biasa, sampai sebesar lapangan tenis.


"Mh."


Begitu mereka tiba di lantai lima, Othinus berbicara dari bahunya.


Index juga menatap kosong ke depan sambil memegang kucing di kedua tangannya.


"Ini terlihat ramai."


"Yah, itu adalah fitur pada berita pagi, sehingga orang lain pasti juga ingin datang dan melihat-lihat, sama seperti yang kita lakukan saat ini.”


"Tunggu sebentar. Aku tidak keberatan jika itu populer, tetapi jika kita kehilangan rumah boneka, apa yang akan terjadi pada hari-hariku yang damai!?”


"Hmm," erang Kamijou sambil melihat langit-langit.”Aku kira, aku bisa membuat rumah boneka dari kardus dan kulekatkan dengan menggunakan selotip.”


"Kucing itu akan merobeknya dengan segera!!"


"Jika kau tidak ingin rumahmu hancur, maka tinggal saja di suatu bangun yang halus dan tanpa sambungan," kata Index.”Kau bisa membalikkan baskom cuci kemudian tinggal di dalamnya."


"Apakah kau tidak tahu bahwa kucing itu cukup pintar untuk membalikkan lagi baskomnya!?"


Kamijou dan Index tidak paham ancaman yang dihadapi oleh Othinus.


Othinus menyadari bahwa dia tidak bisa membiarkan hal-hal terus berlangsung seperti ini, jadi dia menarik dirinya sendiri dari syal Kamijou.


"Aku menolak ..."


Dia melompat turun dari bahunya.


"... Untuk menerima ini !!"


Begitu mendarat di lantai yang tampak seperti kayu, ia berjalan melalui kerumunan kaki manusia dan menuju suatu toko.


Ini adalah masalah bagi Kamijou dan Index.


"Gadis itu !! Bagaimana bisa sesosok makhluk bertinggi 15cm membeli rumah boneka itu sendirian !? Bahkan, mungkin saja dia dikira boneka model, kemudian datang seorang anak nakal lantas merobek boneka yang dikiranya mainan gratisan itu!!”


"Ini darurat, tapi jangan khawatir, Touma. Sphinx, pergilah!!”


"Ahhh !! Itu sama saja dengan menambahkan minyak ke kobaran api!!”


Pada saat Kamijou berseru, itu sudah terlambat.


Si kucing dengan lembut mendarat di lantai dan menerkam Othinus seperti anjing yang sedang berburu.


Hancur karena injakan kaki, terkoyak, atau tertangkap oleh kucing pemburu.


Wajah Kamijou memucat ketika membayangkan apa yang bisa terjadi pada Othinus dalam waktu dekat.


"A-Apapun itu, kita harus menemukannya! Dengar, Index. Terus lihat ke bawah. Tidak! Aku ulangi, jangan menginjaknya!!”


"Hm?"


"Aku tidak bercanda !! Jangan menginjak Othinus !!”



Part 10[edit]


Bahkan saat ini, Takitsubo Rikou mengenakan jaket olahraga berwarna pink.


Tingkat tengah Dianoid berisi kantor TV Orbit, tapi di sana juga ada panggung, kolam renang indoor, pusat kebugaran, dan beberapa fasilitas lain yang dibentuk agar tim produksi dan para artis tidak saling berbaur. Tingkat bawah diisi dengan toko-toko bermerk kelas wahid di mana seseorang bisa bebas berbelanja, tetapi tingkat tengah dipenuhi dengan bioskop, salon kecantikan, restoran, dan jasa lainnya yang bisa dinikmati di lokasi. Berbeda dengan tingkat bawah, di sini pembangunan bergaya Jepang terfokus pada air. Sebagai contoh, saluran air sempit terbuat dari palung kayu yang membentang sepanjang sisi koridor seperti kanal di Kyoto.


Tapi gadis-gadis ini berada di dalam suatu kafe, di mana seluruh perimeter lantai dipergunakan untuk menghadirkan pemandangan-pemandangan malam yang mempesona di Distrik 15.


Itu dibuat untuk memberikan suasana santai, sehingga para tamu bisa mengatur aroma ruangan, musik, intensitas cahaya, dan warna cahaya sesuai dengan keinginan masing-masing. Mereka juga bisa menyewa kursi pijat dan footbaths*. Ini adalah jenis kafe yang harga servisnya lebih mahal daripada secangkir kopi. [Footbaths adalah jasa pembasuhan kaki yang biasa dilakukan dengan menyiramkan air hangat.]


Saat ini, Takitsubo berbicara selagi kursinya bergetar untuk efek pemijatan.


"Hamazura mengatakan bahwa dia akan tiba di sini dalam setengah jam."


"Oh? Itu super cepat baginya, "jawab Kinuhata Saiai, seorang gadis dengan potongan rambut bob cokelat yang duduk satu meja dengannya.


Gadis itu sesekali mengenakan masker yang terhubung pada kantong oksigen, dan dia pun memiringkan kepalanya seakan-akan kebingungan bagaiamana cara bersantai dengan benda seperti itu.


Namun, dia tidak berhenti di situ. Dia terus melanjutkan perkataannya sambil menengok ke luar kafe dengan ragu-ragu.


"Masalah sebenarnya adalah, semua tas belanja sudah kita super kumpulkan."


"Apa? Hamazura lah yang mengatakan kepada kita untuk menghabiskan waktu sesampainya di sini," kata Mugino Shizuri, yaitu gadis yang bertanggung jawab atas tumpukan-tumpukan tas belanja tersebut, sembari dia menyilangkan kakinya.


Kinuhata mendesah kesal.


"Hamazura hanya super berkeliaran di sekitar untuk sementara waktu! Lantas mengapa kau tiba-tiba super membeli begitu banyak barang!?”


"Karena aku punya kartu."


"Aku super tidak paham....bagaimana seseorang seperti dia bisa berhasil dalam berbagai pekerjaan sisi gelap kota!!"


"Mugino, Kinuhata, bertoleransilah pada para pelanggan lainnya."


Namun, kedua rekan setimnya itu bukanlah tipe yang mendengarkan kata-kata Takitsubo.


"Dan apa ini !? Kau memiliki berpasang-pasang sepatu bertumit yang bentuknya sama persis!!”


“Kau tidak bisa membedakan antara El Asine dan White Snake? Apakah kau adalah nenekku?”


"Diam, Nona Sok Artis! Aku super marah sekarang!!”


"Tidak peduli apa yang Mugino beli, dia selalu merusak tumit sepatunya, sehingga dia bisa bergerak lebih baik ketika sedang terlibat dalam suatu pertarungan.”


"Itu sebabnya tumit kembar El Asine memiliki engsel. Tumit sepatunya bisa dilipat ke bawah ketika kau perlu bergerak.”


"Kalau begitu, dari awal seharusnya kau tidak memerlukan tumit sepatu!! Pakailah saja beberapa sepatu datar!!!... Jujur, jika kami tidak menghentikanmu, kau sudah super membeli apartemen dengan kartu itu.”


"Apakah kau mencoba untuk mengatakan bahwa ini semua salahku? Hanya salahku seorang??”


"Mugino, jangan pernah menggunakan Meltdowner di sini."


"Ya, itu semua adalah super kesalahanmu. Dan siapa yang akan super membawa tumpukan tas itu? Betapa merepotkan!!! Ini sebabnya aku super menyarankan bahwa kita harusnya pergi melihat film untuk menghabiskan waktu.”


Takitsubo menghembuskan napas panjang melalui hidungnya dan bola matanya berkeliaran ke kiri-kanan.


Mereka telah memesan aquarium berisi ikan mas. Melihat benda berwarna merah berkeliaran di sekitar akan membuat seseorang lebih santai.


Sementara itu, Mugino mengangkat bahu pertanda dia sedang mengejek Kinuhata.


"Suatu film? Maksudmu kita harus duduk di suatu bangku selama 24 jam sampai kaku!? Itu bukan menghabiskan waktu!! Itu lebih mirip dipenjara seumur hidup!!”


"Hypnos adalah pengalaman visual super eksperimental yang bekerja dalam pandanganmu ketika kau pusing dari kurang tidur! Orang yang tidak tahu dampak menonton film dan tidak pernah melakukan penelitian tentang itu hanya bisa memberikan kritik tak bermutu seperti dirimu!!”


"Kedengarannya seperti film D*." [Baca Vol SS2.]


“Kau super santai! Itu bahkan bukan klasifikasi yang nyata !!”


Situasi dengan cepat berubah menjadi kekacauan.


Para gadis ini memanggil si mantan preman dengan sebutan bawahan. Tapi sebenarnya, peran Hamazura adalah pihak yang menjaga agar hubungan antara anggota ITEM tetap harmonis.



Part 11[edit]


Sejumlah besar orang berlalu-lalang di seluruh bagian Dianoid.


Seorang gadis pasti ingin merajut suatu pakaian karena dia melihat wol. Seorang bocah laki-laki sedang berkunjung di beberapa toko untuk melihat apakah ia bisa mendapatkan produk yang sama persis dan lebih murah. Seorang pria kaya tampak kesepian. Seorang gadis SMA juga datang ke sini, tapi dia tidak benar-benar melakukan sesuatu pun.


Di antara kerumunan manusia, ada suatu kelompok yang menuju ke arah berlawanan sembari mereka berkomunikasi dengan berbisik.


"St. Germain mulai bergerak.”


Salah seorang bersandar di dinding.


"Bahkan perkiraan konservatif menyatakan lebih dari sepuluh abad. Setelah perjalanan panjang, St. Germain akhirnya menemukannya.”


Seseorang berpapasan dengan orang lainnya di koridor berserat kayu.


"St. Germain akan mendapatkan semua itu sebelum para Dewa Sihir lainnya bisa.”


Dua orang tetap berada belakang.


Seperti riak yang lembut, kekuatan pikiran disebarkan dari orang ke orang.


Akhirnya, berkumpul di satu titik Dianoid dan mendesak untuk melakukan tindakan tertentu.


"Jadi mengapa tidak membuat sedikit pelecehan? Mengapa tidak menghancurkan sesuatu yang disebut rencananya?”



Part 12[edit]


Kamijou Touma terpisah dari yang lainnya di keramaian.


Othinus seukuran telapak tangan dan kucing adalah masalah utama saat ini, tapi Index begitu mencolok seperti jempol yang sakit dengan pakaian biarawatinya. Dan kini, Index pun ikut menghilang di balik kerumunan dinding manusia.


"Heeeey! Index? Othinus?”


Dia memanggil mereka sementara mengitari atrium tapi tidak menemukan apa pun. Kemungkinan mereka telah berpindah ke lantai yang lain, Kamijou berpaling ke arah eskalator.


Saat itulah ia melihat sesuatu.


"Hahhhha....Hahhh."


Seseorang bersandar pada kolom dengan tangan menyentuh dadanya yang datar. Apakah dia adalah laki-laki atau perempuan? Apa pun itu, pipi orang pendek itu tampak merah dan dia terengah-engah. Ada juga keringat yang menetes layaknya manik-manik besar di dahinya. Kesan yang dihadirkan oleh orang ini adalah atlet yang baru saja menyelesaikan serangkaian latihan berat.


Apa ini?


"H-hei, apakah kau baik-baik saja? Jika di sini terlalu pengap karena banyaknya orang, kau harus pergi beristirahat di bangku yang ada di sana.”


"Hahhh....Haaaahhh ... aku-aku ... aku adalah Ai ..."


"Tenang. Negara ini memiliki alat yang begitu menakjubkan, yang dikenal sebagai mesin penjual minuman otomatis. Aku tahu bahwa menghabiskan ¥ 140 untuk sebotol air adalah suatu kesalahan, tapi mengapa kau tidak mendapatkan sesuatu untuk minum sebelum mencoba berbicara?”


Kamijou meraih tangan orang itu yang sangat hangat dan orang itu mengikutinya sembari menundukkan kepala.


Mereka berdua meninggalkan daerah yang penuh dengan toko-toko bermerk kelas wahid dan tiba pada mesin penjual minuman otomatis yang berada di sudut. Di sana, Kamijou mengangkat ponselnya ke pembaca mesin penjual otomatis tanpa berpikir*. [Di Jepang, beberapa transaksi jual beli bisa dilakukan dengan menggesekkan posel ada ke suatu alat pembaca. Dan tagihan bisa diambil dengan memotong rekening anda via ponsel.]


"Apa? Air lebih mahal daripada minuman olahraga? Apakah pasar sudah gila? Yah, aku kira itu tidak masalah.”


Dia membeli sebotol air mineral yang terkenal karena kemasan botolnya bisa dengan mudah diuraikan, tapi ia cukup yakin bahwa air minum dari keran akan lebih ramah lingkungan. Apapun itu, ia menyerahkan botol tersebut ke ...


(Laki-laki? Ataukah perempuan? Yang mana!?)


"Jika kau terlalu lemas untuk minum, kau mungkin harus pergi ke rumah sakit. Itu berarti, ada masalah dengan saraf otonommu, jadi akan lebih baik jika kau bertanya pada ahli medis tentang gejala yang saat ini kau derita.”


"... Terima kasih."


Anak laki-laki itu mengambil botol yang berisi air bersih itu, melepaskan tutupnya, dan mendekap botol tersebut dengan kedua telapak tangannya. Suara tegukan terdengar kemudian.


"Fiuh."


Dia menghela napas dengan lembut. Bahkan setelah beberapa tegukan, ia tidak batuk sama sekali, jadi Kamijou memutuskan bahwa dia tidak terlalu menderita masalah serius.


Anak laki-laki pendek memegang botol plastik dengan kedua tangannya dan memandang barisan mesin penjual minuman otomatis untuk menghindari tatapan mata Kamijou. Ada beberapa gadis SMA berkumpul di sana dan mereka berbicara dengan nyaring di depan mesin yang tertutup dalam layar LCD. Mesin ber-LCD tersebut menganalisis pergerakan jari seseorang yang ragu-ragu ketika menunjuk produk apa yang hendak dipilihnya. Dengan begitu, mesin itu bisa memperhitungkan kepribadian dan kecenderungan seseorang, kemudian membuat suatu rekomendasi tentang produk apa yang lebih cocok untuk mereka.

NT Index v12 088.png

"Tapi kau tidak perlu khawatir tentangku. Aku tidak menderita stroke panas atau dehidrasi.”


"Akan lebih baik jika kita memastikan hal-hal seperti itu."


"Itu benar. Aku berkeringat karena aku berlari. ... Jujur, aku harus mencari tahu tentang rahasia Dianoid untuk menemukan cara guna menyelamatkan gadis itu, tapi akhirnya aku hanya berakhir dengan melarikan diri dari mesin-mesin mengerikan itu.”


"Gadis itu?..........Melarikan diri?”


Nada bicara Kamijou turun sedikit, sehingga anak itu dengan panik melambaikan tangan di depan wajahnya dan menggeleng.


"A-Apapun itu! Itu hanya karena aku tidak suka menumpahkan darah dan aku adalah tipe orang baik hati yang rela musuhku mendapatkan kemenangan dalam suatu pertempuran! Jika aku serius, dunia akan berakhir! Aku sama sekali tidak pernah serius!!”


"???"


“Kau meragukanku, ya !? Mungkin aku terlihat seperti ini, tapi aku adalah Academy City # 6, Aihana Etsu!”


Udara di sekitarnya tampak bergetar. Pria dan perempuan yang lewat di sekitarnya tampak begitu syok. Itulah kekuatan menakutkan di balik nama Aihana Etsu. Beberapa orang bahkan bergegas pergi.


Itulah sebabnya semua yang terfokus pada "Aihana Etsu" dapat dibagi menjadi dua kategori: (1) melihat dia sebagai sosok yang asli…..atau.....(2) menyimpulkan bahwa dia adalah palsu.


Namun, Kamijou segera angkat bicara.


"Oh, jadi kau adalah salah satu dari mereka. Apakah itu berarti kau kenal Accelerator atau Misaka?”


"Eh? Apa?”


“Kau tidak tampak seperti jenis orang yang suka menyambarkan petir ketika pertama kali berjumpa, jadi sepertinya itu bukanlah masalah . ... Lebih penting lagi, kenapa kau lari?”


“………………………………………………………………………………………………………………………”


(Oh tidak.)


Orang yang kini berada di depan "Aihana Etsu" bahkan tidak memperdulikan apakan dia adalah #6 palsu ataukah asli. Bahkan jika dia 100% asli, pria jabrik ini bahkan tidak takut padanya.


(Distrik 15 Dianoid ini memang adalah tempat yang cocok bagimu!! Ini seperti sarang monster!!)


"Oh, benar. Aku kira tidaklah sopan bila aku tidak memperkenalkan diriku. Namaku adalah Kamijou Touma. Senang berjumpa denganmu, Aihana-san.”


"Hyaaaah !!! ???"


"Aihana Etsu" jatuh ke posisi duduk segera setelah dia mendengar nama itu.


Tidak dapat bangun, ia hanya bisa meluncur mundur di lantai.


"Um ...?"


"K-K-K-Kamijou-san?" tanyanya dengan suara bergetar.”M-m-maksudmu Sang Kamijou Touma yang itu!? Dikatakan bahwa pria itu berjalan melintasi kota di malam hari, menghantam prajurit terkuat dengan kepalan tangan kanannya dan mengamankan semua gadis yang ada di hadapannya, tak perduli apakah mereka tua atau muda!?”


"Oh, Tuhan ... kepalaku mendadak sakit !! Ini mengingatkanku tentang dunia itu !!”


Ini memicu trauma yang disebabkan oleh Dewa Sihir Othinus (yaitu seorang dewa yang ternyata begitu kekanak-kanakan) dan anak laki-laki berambut runcing ini malah menutup kepalanya dengan kedua telapak tangannya.


Biasanya, ia akan bertanya tentang imej apa yang orang-orang pikirkan terhadap dirinya.


Tetapi hal berikutnya yang dia tahu, Aihana Etsu telah lenyap ke dalam kerumunan orang. Kamijou masih bisa mendengar jeritan, sehingga dia bisa tahu ke arah mana anak itu pergi.


Pada saat yang sama, suatu suara “klak” keras mencapai telinga Kamijou.


Semua asumsinya sebelumnya lenyap seketika.


Pada saat ia menyadari itu, suara ketukan tongkat terdengar di lantai, warna lingkungan di sekitarnya jadi terdistorsi.


Seorang pria berusia empat puluh atau lima puluh tahun berdiri dan terdiam. Dia mengabaikan aliran manusia di sekelilingnya. Dia mengenakan semacam jas berekor lucu yang biasa ditemukan di toko-toko kostum dan dia mengenakan topi sutra yang biasanya dipakai oleh para pesulap. Dia bahkan memiliki kacamata berlensa satu di mata kanannya. Tongkat yang dipegangnya membuat suatu kesan bahwa ilusi tersebut bukanlah suatu ilusi biasa.


Orang-orang mengenakan berbagai kostum yang berbeda untuk musim Natal, tapi orang ini terasa begitu berbeda bahkan jika dia mengenakan kostum biasa.


Bukannya mengubah gaya pakaiannya untuk mencocokkan dengan suasana sekitar, justru lingkungan sekitar lah yang seakan-akan mencocokkan dengan penampilan orang tua ini.


"Hai."


Suara santainya membuat Kamijou Touma terkaku di tempat.


Fokus pria tersebut tertuju kepada Kamijou.


Itu membuat Kamijou tidak bisa memalingkan tatapannya darinya. Ini adalah hal yang fatal. Tubuh fisiknya mengirimkan sinyal peringatan sebelum insting dan pengalamannya bekerja.


Semua asumsi sebelumnya telah lenyap.


Dia bisa merasakan semua suara lain juga lenyap dari pikirannya.


Alam bawah sadar Kamijou menciptakan dunia yang hanya berisi dia dan si pak tua. Kamijou pun dengan ragu-ragu mengajukan suatu pertanyaan.


Mengapa ia ragu-ragu?


Bahkan dia tidak tahu jawabannya.


"Kamu….siapa?"


"Aku bisa saja menyebutkan namaku sendiri, tapi anak laki-laki dengan sedikit pengetahuan tentang sisi kami sepertimu mungkin tidak tahu apa artinya itu, bagaimanapun juga kau hanyalah Gap* negatif pada kisi-kisi.” [Gap bisa diterjemahkan sebagai suatu “jarak” atau kesenjangan]


Dia tertawa.


Itu adalah tawa yang terkesan tenang, tapi entah kenapa terdengar seperti suara buatan.


"Hasil dari menguasai 103.000 grimoires. Seseorang yang memulai segalanya sebagai pria, namun melampaui batas manusia. Itulah makna tersirat di balik seorang penyihir. Tapi jika aku boleh mengatakannya dengan makna yang lebih sederhana ...”


Ilusionis itu membuat suatu deklarasi.


"Aku adalah orang yang telah melampaui Othinus. Apakah kau bisa memahami itu?”


Kamijou berpikir jantungnya telah berhenti.


(Seorang Dewa ... Sihir?)


Pengalaman yang begitu pahit dan keputusasaan memenuhi pikirannya.


(Seorang Dewa Sihir? Seorang Dewa Sihir seperti Othinus? Seorang Dewa Sihir dengan kekuatan penuh !? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan !? Othinus adalah orang yang baik. Dia masih memiliki beberapa kebaikan dalam dirinya. Sehingga kami masih bisa menyelesaikan semua permasalahan hanya dengan berdiskusi, tapi bagaimana jika itu tidak akan terjadi pada orang ini? Bagaimana jika dia benar-benar hanyalah semassa kekuatan? Apa yang harus aku lakukan terhadap Dewa Sihir? Apakah yang dia cari? Dapatkah aku menyelesaikan ini semua dengan berdiskusi dengannya? Jika aku tidak bisa, maka tidak ada lagi yang dapat aku lakukan! Aku bahkan tidak pernah bisa mengalahkan Othinus! Semua pertarungan itu berakhir hanya karena dia menyerah tanpa syarat !!)


Suatu hawa panas aneh mengisi kepalanya.


Sementara itu, lingkungan di sekitar Kamijou mulai berubah.


Pemandangan di sekelilingnya meleleh dan terdistorsi. Itu tampak seperti rumah cokelat yang ditempatkan pada tungku pembakar.


Sementara itu, Dewa Sihir masih saja tidak bergerak.


Tidak jelas apakah dia bisa berjalan layaknya manusia normal.


"Jika aku menyakitimu di sini, itu akan menyebabkan beberapa masalah bagi mereka yang telah membangun semua rencana ini dengan begitu rumit. Aku tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah mereka ketika aku menghancurkan kisi-kisi yang mereka bangun.”


"Apa- ...?"


Kamijou tidak dapat mengatakan lebih dari itu.


"Chambord."


Dia pikir, dia mendengar suara mendesing dan sesuatu melompat dari lantai di depannya. Mulanya, Kamijou kira itu adalah cairan, tapi itu benar-benar suatu lantai ... atau lebih tepatnya, benda yang tadinya adalah suatu lantai. Benda itu berubah, terdistorsi, dan membentuk duri tajam yang ditembakkan ke arah dadanya seperti peluru.


Dia segera mengangkat tangan kanannya dan duri itupun hancur.


Namun, itu hanyalah suatu pengalih perhatian.


Seorang Dewa Sihir memiliki kontrol penuh dari seluruh hal di dunia ini.


"... !!! ???"


Pada saat ia melihat, sudah terlambat.


Dinding, lantai, dan langit-langit, semuanya mencair dan lebih dari seratus duri mendekatinya dari arah 360 derajat. Seakan-akan dia dikurung dalam dunia yang seluruh permukaannya adalah kulit landak. Serangan itu seakan-akan dilancarkan untuk mengejek kemampuan tangan kanannya yang terbatas.


Tapi, bahkan saat ini terjadi, semua orang masih saja berlalu-lalang dengan tenang di Dianoid.


Ada ruang antara Kamijou dan dinding-dinding berduri itu. Namun ketika ribuan duri itu ditembakkan, semua orang di sekitarnya pasti akan tercacah layaknya daging cincang.


Apa yang akan terjadi pada mereka? Tidak, apa yang telah terjadi pada mereka?


Jawabannya sederhana.


Ada lubang. Lubang yang menganga. Orang-orang yang berlalu-lalang tersebut jelas-jelas berada di sekitar Kamijou, tapi lubang seukuran kepalan tangan manusia terbuka pada dada, sisi, kaki, atau kepala mereka. Dan duri-duri tajam itu dengan mudahnya melewati lubang-lubang tersebut. Ribuan duri tidak pernah benar-benar merobek daging dan darah mereka. Sebaliknya, daging dan tulang mereka membuka jalan bagi duri untuk melewati tubuh orang-orang tersebut. Mengabaikan organ dan kerangka semua orang, terowongan itu menembakkan ribuan duri yang mendekat dari segala arah.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!! ???"


Pada hari itu, sekali lagi Kamijou Touma tidak bisa merasaan dunia di sekitarnya.



Diantara Baris Pertama[edit]


Dianoid adalah titik tengara utama bagi Academy City Distrik 15.


Bangunan berbentuk prisma heksagonal raksasa tersebut memancarkan berbagai warna dan kegaduhan besar sudah mulai terdengar di sekitarnya.


"Apa maksudmu kami tidak boleh masuk?"


"Aku tidak tahu, tapi pintu putar ini tidak mau mengalah."


"Oh, omong kosong. Keretanya juga berhenti. Tapi kereta terakhir akan pergi ketika jam malam tiba!”


Pintu dan jendela tidak mau terbuka.


Dalam suatu bangunan yang normal, itu bukanlah suatu masalah serius. Dalam kasus terburuk, seseorang hanya perlu memecahkan kaca untuk melarikan diri.


Tapi hal-hal itu tidak berlaku bagi Dianoid.


Bangunan itu terbuat dari serat karbon, kerangka karbon, dan nanotube karbon. Dan semuanya dipasangi dengan berlian buatan. Bahkan jika suatu truk menabrak pintu depan dengan kecepatan tinggi, truk tersebut tidak akan menerobos masuk. Bahkan jendela ataupun pintu geser cukuplah kuat untuk memblokir tembakan peluru pistol.


"Tunggu. Apakah kau yakin bahwa ini hanyalah suatu kesalahan sistem? Jika seseorang mengacaukan AC-nya, mereka bisa mengaturnya sehingga orang-orang di dalam akan mati lemas.”


Salah satu orang dalam kerumunan membuat suatu saran, tapi itu tidak dilakukannya karena khawatir. Sebagai bukti, ponsel miliknya menunjuk ke arah gedung Dianoid. Pria itu tidak akan pernah mengakuinya, tapi sepertinya, dia hanya ingin menjadi seorang pahlawan setelah mengunggah video rekaman pada suatu situs populer. Tentunya, dia akan menjadi artis dadakan jika jutaan orang men-share postingan videonya tentang kejadian ini.


Nephthys berbicara di sampingnya.


"Yah, aku ragu ini sangat sederhana, tetapi sepertinya, tempat ini memiliki hawa kematian yang lebih tinggi daripada itu. Bagaimanapun juga ... St. Germain sudah mulai bergerak.”


"Eh? Wah !?”


Anak laki-laki di kerumunan secara santai melirik ke samping dan kemudian berteriak dengan begitu syok.


Seseorang jomblo tidak boleh protes, namun yang bediri di samping anak itu sungguhlah seorang wanita cantik berkulit coklat yang tubuhnya hanya dibalut oleh perban-perban longgar. Bahkan jika kostum cosplay begitu umum selama musim Natal, pakaian wanita itu tidaklah normal. Naluri si bocah secara otomatis memerintahnya untuk merekam wanita aneh ini dengan menggunakan kamera di ponselnya. Namun penampilan si wanita begitu aneh, sampai-sampai si bocah begitu ragu, apakah dia boleh merekam si wanita berperban ataukah tidak.


Dan di sisi lain, High Priest mengoyak kulit keriputnya, lantas berbicara.


"Ya, tapi selera pria itu membuatku bingung. Meskipun begitu, untungnya pria itu tidak menghancurkan dunia seperti yang pernah dilakukan oleh Othinus, dan dia melihat pembagian yang jelas di sana.”


"Eek! Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?”


Anak laki-laki di antara kerumunan manusia hanya bisa berteriak dengan histeris ketika dia melihat di sampingnya ada seorang mumi, atau mungkin mayat, yang seluruh kelembaban tubuhnya sudah mengering.


Tapi pada saat dia akhirnya memutuskan untuk mengarahkan lensa kamera ponselnya pada pemandangan aneh tersebut, dan juga pada saat kerumunan orang di sekitarnya memperhatikan ke arahnya karena si bocah berteriak begitu keras..........kedua Dewa Sihir ini telah lenyap.


Anak laki-laki itu hanya bisa meratapi nasibnya karena melewatkan suatu hal yang begitu langka. Dan kini yang didapatinya hanyalah tatapan penuh curiga dari orang-orang di sekitarnya.