Toaru Majutsu no Index (Indonesia):NT Jilid 12 Chapter 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 3: Peninggalan Seorang Gadis yang Menghilang — Hard_MEMORY.[edit]

Part 1[edit]


Apa yang Kamijou Touma pikirkan pada saat itu?


Mungkin adalah para Sister. Mereka adalah kloning militer yang diproduksi secara massal berdasarkan DNA Academy City Level 5 # 3. Gadis-gadis itu menggunakan gelombang otak identik dan kemampuan pengendalian listrik untuk membangun jaringan data hidup unik yang dikenal sebagai Misaka Network. Mereka menggunakan jaringan tersebut untuk berbagi memori, teknik, dan pengetahuan.


Mungkin adalah rumor yang ia telah dengar tentang Academy City # 5. Monster itu adalah seorang gadis, tapi dikatakan bahwa dia bisa membaca pikiran, berbicara secara telepati, mencuci otak, menghipnotis, dan mengontrol hampir setiap bagian dari pikiran lawannya. Di satu sisi, dia menciptakan sejumlah besar boneka yang dikendalikan oleh menara kontrol tunggal.


Mungkin adalah Dokumen C. Yaitu benda spiritual yang Terra of the Left dari Kursi Kanan Tuhan coba aktifkan di Avignon, Prancis. Efeknya adalah mengarahkan kebencian dunia terhadap Academy City.


Mungkin adalah Leshy. Yaitu suatu mantra pengendali pikiran yang digunakan oleh Saronia A. Irivika di Hawaii sehingga GREMLIN bisa mengambil kontrol administratif dari Amerika Serikat.


Mungkin adalah Yakumi Hisako. Dia adalah mantan anggota dewan direksi Academy City. Dia telah menciptakan proyek Agitate Halation untuk mengumpulkan para pahlawan secara massal di sekitar Fremea Seivelun.


"Uuh ..."


Puluhan orang dengan jas berekor mengelilinginya.


Di gerombolan itu ada laki-laki dan perempuan, tua dan muda, tapi tampaknya mereka telah mencocokkan penampilannya secara paksa agar terlihat sama dengan rekan-rekan lainnya.


Rasanya seperti semacam sinkronisasi atau paralelisme.


Setiap manusia di sekeliling Kamijou berubah menjadi duri yang pernah dilihatnya beberapa menit yang lalu.


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?"


Seluruh rambut di tubuh Kamijou berdiri tegak sembari dia menjerit. Sesaat kemudian, "mereka" datang.


Mereka meledak dari dinding, lantai, dan langit-langit.


Seluruh pemandangan berubah jadi menyimpang dan berombak-ombak. Tombak yang jumlah dan ukurannya tak terhitung ditembakkan dan langsung saja menuju ke arahnya bagai hujan yang deras.


Jika dihitung secara kasar, tampaknya ada seratus Chambord untuk setiap wujud St. Germain.


Keunikan mantra para St. Germain memungkinkan mereka untuk mengontrol berlian, karbon, dan dengan demikian, seluruh benda di bangunan ini juga berada di bawah kendalinya.


Tidak mungkin Kamijou bisa meniadakan setiap serangan dengan hanya menggunakan tangan kanannya.


Jadi tindakan yang ia mengambil adalah sederhana.


Dia menendang tabung pemadam kebakaran yang terletak di dekatnya dan mendorongnya ke depan.


Begitu tabung itu melakukan kontak dengan tombak, gas di dalamnya terkompresi, kemudian meledak keluar. Bubuk pemadam api tampak berwarna lebih merah muda daripada putih, dan itu menutupi semua ruangan. Jarak penglihatan adalah 0m. Tombak yang tak terhitung jumlahnya mengisi seluruh ruangan dalam pola seperti kisi dan menembus penghalang yang terbuat dari bubuk pemadam api.


Tapi Kamijou sudah pergi.


Hanya bubuk pemadam api yang tersisa di sana. Bubuk itu pun tercabik-cabik, kemudian menguap begitu saja ke udara.


(Tidak salah lagi.)


Sekumpulan St. Germain ini tampaknya mengalihkan fokus mereka dari pintu yang hancur ke lubang lift.


Namun, Kamijou telah melarikan diri melalui tabir asap dan menyelinap di sela-sela mereka.


Dia berlari, hampir tersandung, dan melarikan diri ke daerah lain.


(Jika yang St. Germain dapat lakukan “hanyalah” mengontrol Dianoid, maka tidak ada gunanya di muncul di hadapanku. Dia hanya bisa mengubah seluruh bangunan menjadi ratusan duri seperti iron maiden*. Dia tidak melakukan itu ... tidak…..dia tidak bisa melakukan itu, jadi harusnya ada suatu alasan. Harusnya, dia hanya dapat menggunakan sihir pengendali karbon berdasarkan indera yang disinkronisasikan atau dipararelkan dengannya. Tampaknya dia tidak bersembunyi di sini karena ada begitu banyak St. Germain yang bercampur!) [Iron maiden adalah sejenis alat penyiksaan yang terbuat dari semacam lemari, namun bentuknya sangat pas dengan tubuh manusia, dan di dalam lemari tersebut ada banyak duri-duri besi. Ini mirip dengan peti mati mumi yang diisi dengan duri-duri besi. Wikipedia Bebas.]


Kamijou menelan ludah dan berusaha sekeras mungkin untuk menenangkan dirinya.


(Aku tidak sedang melawan seorang Dewa Sihir Yang Mahakuasa di sini. Dia mungkin terlihat seperti itu, tapi pasti ada alasan di balik setiap tindakan individualnya. Harusnya ada semacam batas pada munculnya lubang-lubang di sekujur tubuh manusa itu. Jika tidak, sejak awal dia sudah membuat lubang di lenganku sampai terputus atau melubangi jantungku sampai bocor.)


Dan hal yang sama harusnya berlaku pada kemampuannya dalam melakukan sinkronisasi dan menginfeksi orang lain.


(Aku bisa menemukan kelemahannya.)


Dia mengepalkan tangan kanannya.


Dia masih tidak tahu apa yang harus ia tiadakan, tapi bahkan begitu ...


(Mereka bagaikan senjata berjalan, tetapi pasti ada semacam alat yang mengendalikan semua pergerakannya. Jika gerakan mereka sudah disinkronkan atau dipararelkan, itu berarti orang-orang ini sepertinya adalah para guru dan murid di kota ini. Jika aku dapat melenyapkan itu, mereka akan kembali normal!!)


Dan kemudian ...


"..."


"..."


"..."


"..."


Semua St. Germain ini menolehkan kepala mereka dan menghadapi Kamijou dengan serempak.


"Sialan !!"


Sambil membungkuk dengan rendah, ia bergegas maju.


Gelombang kedua serangan tombak terbang tanpa ampun menghujam ke arahnya.



Part 2[edit]


Setelah sosok-sosok St. Germain yang tak terhitung jumlahnya mengejar Kamijou dari daerah yang berbeda, ruang masuk lift ditinggalkan dalam keadaan kosong.


Namun, salah satu lentera kertas berbentuk persegi yang terdapat pada jalur aliran air itu bergetar.


Seorang gadis setinggi lima belas sentimeter menjulurkan kepalanya keluar dari dalam.


Itu adalah Othinus.


(Anehnya, mereka mempunyai indra yang tidak dapat diandalkan. Apakah perubahan wujud mereka menjadi St. Germain sudah cukup memuaskan, sehingga setiap unit individu belum disesuaikan dengan benar? Apakah dia sudah meningkatkan kemampuannya untuk mengendalikan berlian dan mendapatkan kemampuan untuk mengontrol karbon secara menyeluruh? Jika kami hanya memiliki satu kesempatan di sini, maka dia adalah musuh yang cukup merepotkan.)


Othinus tidak bersembunyi di balik lentera atas kemauannya sendiri. Begitu Kamijou membuat tabir asap dari bubuk pemadam api, dia telah menyelipkan Othinus dalam lentera dan melarikan diri.


Sepertinya Kamijou sengaja menggiring para St. Germain itu agar menjauh dari Othinus.


(Jika itu adalah bagian dari "kebiasaan buruk"-nya, maka ini adalah saat untuk memukulnya, tapi ...)


Dia menghela napas.


Dia menduga Kamijou hanya berusaha untuk mendapatkan informasi tentang St. Germain. Bagaimanapun juga, Othinus pernah menjadi Dewa Sihir seutuhnya dan Othinus pun pernah menganggap dia sebagai lawan yang "merepotkan".


Layaknya saluran telekomunikasi, St. Germain tidak memiliki unit pusat atau unit terminal. Mereka semua disinkronkan dan mereka semua dipararelkan. Inti kristal yang terbentuk di sekitar pendistribusian larutan berkosentrasi tinggi dan bahan yang melekat di sekitarnya, benar-benar identik*. [Dia sedang membicarakan tentang kloning St. Germain. Kloning-kloningnya begitu identik dan memiliki kemampuan serupa.]


Berlian adalah benda yang begitu keras dan memecahkannya tidak akan mengubah struktur materialnya.


(Tapi ...)


Dikatakan bahwa, berlian adalah kristal yang terbuat dari karbon murni, tetapi karbon paling murni sekalipun, kadarnya hanya 99.9%. Lebih dari dua puluh jenis zat kotor mengisi sisanya. Dan kurang dari 0,1% zat kotor bisa mengubah sifat berlian secara keseluruhan. Sifat kekerasan berlian berdampak pada : konduktivitas listrik, warna, dan transparansi. Zat-zat kotor tersebut bukanlah inti dari berlian, tetapi itu adalah controller yang memanipulasi seluruh kristal.


Hal tersebut juga berlaku bagi St. Germain.


Dia adalah seorang penyihir yang bisa mengendalikan berlian. Dia adalah manusia yang bahkan bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, karena tubuh adalah bahan organik, dan semua bahan organik adalah karbon. Jadi, jika St. Germain diibaratkan sebagai suatu kristal raksasa yang diciptakan oleh sinkronisasi dan pararelisasi kelompok, ia harusnya memiliki semacam controller.


Sambil memikirkan itu, Kamijou akan menyerang St. Germain dari barisan sementara Index dan Othinus di barisan belakang akan menganalisis dan menemukan kelemahan mantranya. Itulah strategi yang tepat untuk melawan St. Germain.


"Tapi tetap saja," gumam 15cm Othinus.”Setalah melalui ratusan miliar fase, aku luput dari Misaka Network yang sanggup memanipulasi perbatasan antara hidup dan mati. Apakah manusia itu juga memiliki kemungkinan untuk selalu muncul atau muncul lagi di setiap dunia atau fase yang kubuat?”


Dia melihat ke lantai dan melihat beberapa gumpalan darah.


Dia itu adalah bercak darah milik Kamijou Touma.


(Bagi manusia itu, menggunakan bantuan dari kawannya pasti sama saja dengan menggunakan zat kotor untuk membentuk lubang dalam struktur kristal. Aku yakin bahwa dia tahu apa yang akan terjadi ketika seorang esper Academy City dipaksa menggunakan sihir.)


Othinus terkejut karena hal itu membuat hatinya menjadi tidak senang.


Dari sudut pandangan efisiensi, St. Germain adalah pihak yang benar.


Tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan musuh-musuh mereka di sisi ilmu pengetahuan, yaitu Academy City.


Dalam suatu pertempuran, nyawa manusia memiliki nilai yang tidak setara.


Apakah rasa tidak nyaman di hatinya ini disebabkan oleh pengaruh si anak berambut runcing?


"Ah, betapa merepotkan ... Aku pikir, diriku juga sudah rusak."


Dia menggeleng dan terfokus pada analisisnya sekali lagi.


Jika dia hendak mencari jawaban yang optimal ...


(Kalau dipikir-pikir, kami meninggalkan Index Librorum Prohibitorum di belakang. Nah, jika saja dia berada di sini, Kamijou Touma mungkin memilih tindakan yang berbeda.)


Tubuhnya yang hanya setinggi 15cm bukanlah hal yang buruk.


Ada batasan untuk apa yang bisa dia lakukan, tapi St. Germain hanya bisa menyegel pergerakan musuh dengan memblokir pintu-pintu yang seukuran tubuh manusia normal. Sehingga, tubuhnya yang hanya setinggi 15cm adalah suatu pengecualian.


Dia bisa merangkak di bawah mesin penjual minuman otomatis dan berjalan melalui celah yang sempit. Seekor kucing bisa melompat turun dari ketinggian dua atau tiga lantai, tapi itu bukan hanya karena struktur tubuh dan kemampuan atletiknya. Tubuh kucing yang ringan bisa mengurangi dampak tumbukan dengan tanah.


"Sekarang, prioritas pertamaku adalah menghubungi Index Librorum Prohibitorum. Apakah aku berhasil menemuinya atau tidak, aku harus mencari tahu di mana Kamijou Touma dan St. Germain berada, kemudian mengamati mereka, dan menemukan cara untuk memecahkan struktur kristal St. Germain.”


Suaranya terdengar kesal, tapi ia bisa menyimpulkan apa yang harus ia lakukan.


Itu adalah langkah-langkah penting untuk mencapai kemenangan.


Bagaimanapun juga, ia adalah mantan seorang dewa perang.



Part 3[edit]


Pertempuran berlanjut, Kamijou tidak bisa menghindari serangan St. Germain selamanya.


Sihir yang mengelilinginya adalah seratus tombak yang mengepung dari segala arah, layaknya selimut yang terbuat dari duri landak. Itu adalah sihir yang sederhana, namun begitu efektif untuk melawan Imagine Breaker. Belum lagi, puluhan orang di sekitar Kamijou mampu menggunakan sihir yang sama. Sedangkan, St. Germain tidak sedang berada bersama-sama kerumunan orang yang mengejarnya.


Peluangnya untuk bertahan hidup menurun dengan cepat.


Ini bukanlah suatu keadaan yang mudah, dan situasi ini dipenuhi dengan irregularitas yang begitu tinggi.


"Sialan !!"


Ada banyak cara untuk luput dari kejaran para St. Germain itu. Dan juga, ini hanyalah suatu pertemuan awal. Pertempuran sebenarnya mulai ketika Index atau Othinus menganalisis sihir St. Germain dan menemukan kelemahan.


Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah lari dari satu ruangan ke ruangan lainnya, dan mencoba untuk menjauhkan diri dari mereka.


Dia begitu fokus terhadap lawan-lawannya yang mengejar dari belakang. Sampai akhirnya, ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya.


"Wah !?"


"Lewat sini!"


Seseorang menarik tangannya dan menyeretnya ke belakang meja resepsionis pada ruangan yang sepertinya adalah suatu Gym.


Sembari bersembunyi di belakang meja, Kamijou bisa mendengar beberapa suara derap kaki berlalu di koridor.


Orang yang menyelamatkan Kamijou memeluknya dengan gemetaran, tapi begitu Kamijou melepaskan pelukan tersebut dan memeriksanya, Kamijou yakin benar bahwa dia pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya.


"Apa? Kau adalah si pria bernama Aihana itu, kan?”


"I-I-Iya, sepertinya begitu. Kau tidak salah jika memanggilku dengan sebutan Aihana Etsu.”


Itu adalah anak dengan rambut cokelat semi-panjang.


Kamijou dengan lembut mendesah.


"Yah, apa pun itu, kau sudah menyelamatkanku. Dengar, aku akan meninggalkan tempat ini ketika waktunya sudah tepat, kau di sini saja. Jika kau juga ingin pergi, tunggu beberapa saat dan larilah ke arah yang berlawanan dari mereka. Sepertinya mereka belum pernah melihat wajahmu, namun ketika mereka mengenalimu, mereka akan mengisi tubuhmu dengan lubang-lubang aneh. Aku tidak yakin bahwa aku bisa mengembalikan tubuhmu ke bentuk semula.”


"Tidak," potong Aihana Etsu.


Ketika ia menggeleng, aroma manis tercium dari rambutnya.


"Aku tidak tahu siapa mereka, tapi aku ragu bahwa mereka adalah orang biasa. Mereka tahu bahwa kita sedang berada di sini, tapi mereka mengabaikan kita berdua karena mereka tidak ingin aku ikut campur dalam masalah ini.”


"Apa?"


"Entah kenapa, pria bernama St. Germain ini begitu terobsesi denganku. Bahkan dia mengijinkanku melewati semua pintu dan elevator yang tersegel. Itulah sebabnya aku bisa mencapai tingkat tengah ini. Aku tahu bahwa pria bernama St. Germain ini sedang mengejarmu setelah aku menonton video behind the scenes," Aihana menjelaskannya.”Mereka semua berpakaian sama, jadi mungkin saja, mereka juga berpikiran sama. Itu berarti, membiarkanmu keluar bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Justru, ak harus berada di antara kalian. Jika aku berada di antara kalian, mereka akan kebingungan dan enggan melawanmu.”


Perkataan si bocah membuat Kamijou terkejut, tapi ketika Kamijou dengan refleks mencoba membantahnya, Aihana Etsu menempatkan jari telunjuk rampingnya pada bibir Kamijou untuk mengunci perkataannya.


Sensasi jari ramping itu membuat Kamijou terdiam.


"Apapun tujuannya, St. Germain tidak akan membunuhku dengan segera. Dia hanya ingin bicara padaku. Itu adalah kesempatan kita. Jika aku bisa “melonggarkan bibirnya” dan mendapatkan beberapa informasi darinya, kita mungkin bisa menemukan beberapa cara untuk mengalahkannya. Itu jelas akan lebih baik daripada duduk manis dan menunggu kematian. Lagipula, hanya itu usaha yang bisa kuperbuat.”


Kata-kata anak itu begitu logis, tapi wajahnya sangatlah pucat.


Bahunya gemetar. Seakan-akan bahunya terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja ketika seseorang menyenggolnya.


Dia pasti sedang ketakutan.


Tidak jelas apa yang St. Germain inginkan dan ia bisa mengubah pikirannya setiap saat. Mungkin saja, dia akan mengubah pikirannya dan membunuh Aihana Etsu begitu saja setelah dia tahu bahwa si bocah sedang menyembunyikan sesuatu. Dan jika itu terjadi, si bocah sama sekali tidak dapat melarikan diri.


Andaikan saja posisi mereka dibalik dan Kamijou diminta untuk memainkan peran tersebut, maka tentu saja Kamijou tak akan sanggup melakukan itu.


Dan jika St. Germain mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan, itu sama saja artinya dengan membiarkan Kamijou kabur dengan Aihana Etsu sebagai jaminannya. Ini sungguh mirip seperti pertukaran sandera dalam suatu aksi terorisme.


"Jika ..."


Aihana Etsu berbicara sambil menatap Kamijou. Dia menggenggam mantel Kamijou di dada, dan rasa takut yang dibuatnya sendiri menyebabkan beberapa tetesan air mata berlinang di kelopak matanya.


Namun demikian ...


"Jika aku gagal, bisakah kau melakukan sesuatu untukku? Seorang gadis bernama Frenda Seivelun memiliki suatu apartemen di tingkat atas Dianoid. Mungkin ada sesuatu di sana yang bisa memberiku petunjuk tentang apa yang sudah terjadi pada temanku yang hilang itu. Jika aku memiliki itu, aku mungkin bisa menemukan petunjuk untuk menyelamatkan dirinya. St. Germain mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang 'sisa-sisa bukti terakhir' keberadaannya, tapi aku tidak tahu apakah itu benar ataukah salah. Jika aku tidak kembali, tolong lakukan itu untukku. Jika aku tahu bahwa seseorang mau melakukan itu untukku, maka aku bisa tenang dan aku pun sanggup melakukan rencana tersebut sekarang juga.”


"Hei, berhenti. Kita bahkan baru saja bertemu dan saling kenal. Jika kau tidak sanggup memenuhi tujuanmu sendiri, maka mengapa kau harus melakukan hal sesulit itu untukku!”


"Jangan khawatir," kata Aihana Etsu.


Dia melihat Kamijou tepat di mata dari jarak dekat.


Dan dia berbicara seolah-olah untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Seakan-akan, dia berusaha begitu keras untuk menekan rasa takutnya dan memunculkan jati dirinya yang sebenarnya.


Dia melihat kepada Kamijou, yaitu seorang pria yang percaya bahwa namanya adalah Aihana Etsu.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Tidak ada waktu untuk menghentikannya.


Aihana Etsu melepaskan tangannya dari Kamijou Touma, berlari keluar dari balik meja tersebut, dan berjalan keluar dari ruangan Gym. Dia maju ke tempat di mana terdapat St. Germain yang tak terhitung jumlahnya sedang menunggunya.


Tidak ada gunanya berlama-lama.


Bahkan, memulai pertempuran dengan tiba-tiba bisa menyebabkan Aihana Etsu terkena serangan nyasar.


Kamijou mengerti itu.


Dia lakukan, tapi ...


"... !!"


Dia mengertakkan gigi, mengepalkan tinjunya sampai mengalir darah, namun tidak ada yang bisa dia lakukan di sini.


Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Memastikan hal itu adalah satu-satunya pilihan di sini.



Part 4[edit]


Setelah ia berpindah ke tempat terbuka, pilihan Aihana Etsu jadi menyempit secara signifikan.


Pertama-tama, St. Germain yang tak terhitung jumlahnya terfokus pada dirinya. Mereka mungkin sudah memperhatikan dia dari tadi, tetapi situasi berubah ketika Aihana menampakkan dirinya dan menghadapi mereka secara langsung.


Saat ini, jika Aihana mundur dan mencoba untuk bersembunyi, itu hanya akan membuat mereka melihatnya sebagai musuh yang layak untuk diburu. Dan jika ia mengamuk dan mengabaikan identitasnya sebagai "Aihana Etsu", hanya akan dicincang oleh duri-duri tajam tersebut.


Kemudian...


(Situasi ini tidak akan berkembang jika aku tidak melakukan apa-apa.)


Ketakutannya berubah menjadi ringan saat ia berusaha keras untuk berpikir.


(Aku tidak tahu mengapa St. Germain membiarkan aku pergi. Dia bisa dengan bebas menyerang semua orang lain terperangkap di Dianoid dan aku tidak bisa membayangkan mengapa ia memperlakukanku berbeda. Aku tidak bisa mematuhi begitu saja apa yang dia katakan. Aku harus keluar jalur dan melakukan semuanya sesuai kehendakku sendiri!! Jika tidak demikian, aku tidak akan mampu memperoleh tujuan yang ingin kucapai di tempat ini!!)


Bahkan jika ia mempertaruhkan nyawanya atau mengorbankan dirinya, ia masihlah mempercayakan bagian paling penting dari misinya kepada Kamijou Touma.


Dia harus mengabaikan situasi dan memaksakan senyuman seperti biasanya.


Kamijou Touma adalah nama yang pernah dia dengar ketika dia dihajar oleh preman-preman dan menangis di sela-sela gelapnya gang-gang Academy City. Pada saat itu, dia sama sekali tidak membayangkan bahwa suatu saat nanti, dia akan mempercayakan tugas yang begitu penting pada pria tersebut.


Dia tidak punya hubungan apa-apa dengan orang itu.


Bahkan, hubungan dia dengan Kamijou Touma hanya berasal dari pemberian sebotol air minum, ketika pria jabrik itu mengira bahwa dirinya sedang menderika serangan jantung. Terlalu murah jika dia mempercayakan suatu tujuan yang begitu bermakna bagi hidupnya kepada seorang pemberi botol air mineral. Apa pun itu, dia telah memutuskannya. Walaupun itu adalah suatu hubungan yang begitu samar, dia tak punya pilihan lain karena pada dasarnya, di bangunan semegah Dianoid ini, dia hanya mengenal Kamijou Touma, dan ribuan orang lain hanyalah orang asing baginya.


Dia juga telah menerima sebotol air dari St. Germain.


Namun, ada sedikit perbedaan antara seorang monster yang mencoba untuk menjilatnya, dan Kamijou Touma yang sama sekali tidak menginginkan imbalan.


Satu-satunya pilihan adalah untuk bertaruh pada itu.


Sesungguhnya, ini hanyalah suatu kebodohan layaknya seseorang yang mempertaruhkan semua harta bendanya di atas meja poker.


Dia tahu itu, tapi dia masih saja melakukannya.


Dan sekarang segerombolan besar orang dengan jas berekor menunggunya.


"Hai, halo! Haruskah aku tetap memanggilmu dengan nama Aihana Etsu? Aku agak sibuk saat ini, tapi aku dapat meluangkan beberapa waktu untukmu. Bagaimana dengan perihal Frenda Seivelun?”


"..."


Tidak seperti sebelumnya, yang dihadapinya saat ini bukanlah hanya seorang pria tua. Usia dan jenis kelamin bukanlah masalah. Ketika sendirian, pria tua dengan jas berekor sungguh terlihat mencolok. Namun sekarang, ketika segerombolan orang berpakaian sama, justru Aihana Etsu lah yang terlihat mencolok.


"Bukankah aku sudah memberitahumu untuk bergegas jika kau ingin mengetahui kebenarannya? Bukankah menarik ketika kau mengetahui bahwa kau memiliki suatu peluang yang bagus? Atau haruskah aku mengawalmu untuk menuju ke apartemen di tingkat atas?”


Aihana Etsu menempatkan tangannya di tengah dada.


Ia merubah pola pemikirannya dan terfokus pada kartu ID pelajar tipis di tangannya.


Dia mendongak sambil menatap mereka dengan sorot mata penuh tantangan.


"Aku bisa mengurus masalahku nanti. Yang lebih penting, bagaimana denganmu?”


"Hm?"


"Kau begitu percaya diri, namun sepertinya berbagai hal tidak akan berjalan sesuai dengan yang kau rencanakan. Apakah kamu yakin bahwa kau bisa berhasil?”


Bau cairan berkarat tercium dari gerombolan orang si sekitarnya.


Beberapa dari mereka memiliki perban yang melilit tubuhnya, tapi apakah itu adalah luka akibat bertarung dengan lawannya?


"Oh, jangan khawatir. Mulai sekarang, aku akan lebih berhati-hati dalam memilih. Kau menggunakan berlian untuk memotong berlian, tetapi tampaknya aku menggunakan mereka sedikit terlalu kasar. Mungkin, seharusnya aku hanya menggunakan gurunya saja.”


"...?"


Aihana Etsu belum pernah mendengar tentang efek samping dari penggunaan sihir dan St. Germain sama sekali tidak menjelaskannya.


“Kau tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk menemukan bukti tentang keberadaan Frenda Seivelun hanya dengan berbincang-bincang di sini, kan?”


"Jangan khawatir. Jika kau melenyapkan semua orang yang mengganggu jalanku, aku bisa berlama-lama untuk mencari bukti tentang keberadaan gadis itu.”


"Ha ha! Benar juga. 'Kebaikan' adalah deskripsi yang tepat untukmu. Bagiku, ini seperti membayar seluruh upah secara penuh di depan.”


Salah satu St. Germain mengulurkan tangannya dan menunjuk suatu tempat untuk ngobrol lebih lanjut.


Berikutnya, mereka semua membentangkan lengan layaknya tanaman gandum yang diterpa angin.


Pada saat yang sama, Aihana Etsu mengingat kata-kata temannya.


"Pada akhirnya, kau harus berhati-hati ketika ada seseorang yang memperlakukanmu layaknya seorang teman lama, padahal kau baru pertama kali bertemu dengan orang itu. Orang-orang yang bisa memalsukan ekspresi wajahnya adalah penipu yang sangat buruk dan orang-orang yang hanya bisa mengecoh lewat perkataan adalah penipu yang lebih baik. Tetapi orang-orang yang sanggup membuat suatu emosi palsu adalah penipu yang paling berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang bisa memutar balikkan makna kejahatan dan kebaikan.”


Dia pernah melihat ponsel milik si gadis. Di sana ada puluhan nomor telepon dari berbagai orang. Itu saja sudah membuktikan bahwa teman gadisnya ini lebih mengerti tentang kepribadian manusia daripada dirinya.


"Nee hee hee. Bukannya aku ingin menghubungi orang sebanyak ini dan membiarkan mereka mempengaruhiku.”


"..."


Dia membiarkan St. Germain membimbingnya melalui suatu labirin kematian.


Ia diarahkan ke lift yang membawanya ke atap taman ala Jepang, yaitu tempat di mana ia berbicara dengan St. Germain sebelumnya.


Sesosok St. Germain lainnya telah menunggunya di sana, di bawah sinar bulan.


Yang satu ini jauh lebih tua darinya. Dia tampak seperti seorang mahasiswa atau guru baru. Seorang wanita dewasa berkulit putih, bermata biru, dan berambut pirang panjang bergelombang sampai pinggang.


Ada berbagai jenis jas berekor, tapi ia mengenakan setelan yang mirip dengan para asisten wanita dalam suatu pertunjukan sulap. Itu adalah suatu pakaian yang terdiri dari kombinasi antara jaket dan jas kelinci.


Dia mengenakan kacamata berlensa satu yang bentuknya menyerupai sayap kupu-kupu dan entah kenapa wajahnya begitu tampak bersahabat.


Jika saja Frenda tumbuh dewasa, mungkin saja dia sekarang secantik gadis ini.


"Karbon yang membentuk setiap berlian hanyalah karbon biasa, tetapi zat kotor yang terdiri kurang dari 0,1% bagian berlian bisa membuat varietas berlian yang tak terhitung jumlahnya. Benda kecil yang tidak berarti dan tidak diinginkan itulah yang membuat manusia membeda-bedakan kelas suatu berlian. Jika kau dipoles dengan benar, mungkin suatu saat nanti kau akan menjadi seperti diriku. Dan aku berharap pembicaraan kita akan berlangsung dengan lancar.”


Si St. Germain pirang tertawa dengan santai.


Wanita itu pasti memiliki kehidupan, kepribadian, rasa hormat, dan kebahagiaan miliknya sendiri.


Tapi semua kebaikan yang tampak dari si wanita tidak cukup untuk membuat Aihana keluar dari masalah ini.


Ini bukanlah situasi yang bisa diatasi oleh topeng "Aihana Etsu".


"Sini, sini, sini. Dari mana kita harus memulai? Pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang ingin ku katakan, tapi dari mana aku harus memulai agar kau tidak begitu bingung? Oh, sudah sejak lama. Sudah sejak lama aku bertemu dengan suatu proposisi yang begitu menyenangkan.”


"Pertama-tama, aku ingin kau berjanji tentang sesuatu."


"Jangan hanya satu. Mintalah sebanyak yang kau mau.”


“Kau sudah tahu bahwa aku mendekatimu karena temanku, kan?"


"Oh, maksudmu orang yang begitu ingin kau loloskan itu?"


"Tidak ada gunanya menyembunyikannya. Aku sekarang sudah berada di sini, jadi jangan sekali-kali menganggu pria itu. Jika kau melanggar janjimu, aku menolak untuk berbicara denganmu.”


"Baiklah."


Si St. Germain pirang langsung setuju sembari dia menggeserkan suatu kotak seukuran tempat pensil, dan dia pun menjatuhkan beberapa pil hitam dari kotak tersebut ke telapak tangannya yang lembut.


"Aku sebenarnya tidak ingin menepati janjiku perkara pria itu, tetapi demi kau, aku akan melakukannya. Dan kenapa harus dia? Selama kau mau berbicara denganku, aku akan berjanji untuk tidak menyakiti siapa pun di dalam Dianoid ini.”


Ketika ia mendengar itu, tanpa pikir panjang Aihana Etsu menunjukkan wajah sebenarnya di depan musuhnya itu.


Dia menghela napas lega.


Suatu hembusan hawa panas berwarna putih memenuhi langit malam bulan Desember yang dingin.


St. Germain diam-diam tersenyum saat dia melihat ekspresi yang begitu jarang dilihatnya itu.


Ya.


St. Germain hanya tertarik pada suatu kebenaran tunggal.


Untuk mendapatkannya, dia rela membuat bahkan milyaran kebohongan sembari memasang senyum di wajahnya.



Part 5[edit]


Dia mendengar ledakan besar dan bangunan terasa bergoncang, tapi itu bukan hal paling menakutkan yang Hamazura rasakan ketika mencari rekan-rekannya di tingkat tengah Dianoid dengan menggunakan Power Lifter. Bukannya penglihatan dan pendengaran, adalah indra penciuman yang menuntunnya ke tempat tersebut.


Baunya seperti kembang api dan ada sedikit aroma karat.


Analisis Aneri mengatakan bahwa itu adalah oksida reaksi nitrogen yang merujuk pada suatu kemungkinan tertentu.


(Jangan bilang ada bom.)


Kepalanya mulai memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan, tapi dia sebisa mungkin menolak pemikiran itu.


Tidak mungkin.


Sungguh tidak mungkin.


Lantas, bau aneh apakah itu? Kemana orang yang bernama St. Germain itu pergi setelah menjebak begitu banyak orang di Dianoid? Apa yang telah dilakukannya terhadap gadis-gadis ITEM, dimana terdapat seorang Level 5 yang bisa membobol semua pintu dengan Meltdowner miliknya? Apakah Hamazura sekali lagi akan melihat neraka yang pernah dialaminya dulu ketika berada di Rusia?


"Haaahh.....Haaaahhh."


Meskipun menggunakan Power Lifter, dia masih merasa begitu lelah ketika memakai kedua kakinya untuk menginjak pedal.


Dia tahu bahwa dahinya sedang meneteskan sejumlah keringat yang tidak biasa.


Aneri mengirimkan peringatan mental dan menyarankan untuk memainkan video dengan efek menenangkan jiwa, tapi ini bukan saatnua untuk nonton film.


"Apa yang sedang terjadi? Sialan !!”


Semakin dekat dengan TKP, semakin sulit dia berjalan. Alasan mengapa ini terjadi adalah sederhana : banyak anak laki-laki dan prempuan yang berlari ke arahnya untuk menjauh dari TKP, dan mereka terus memekikkan suatu jeritan ketakutan akibat rasa teror dan ancaman. Mereka tidak terfokus pada Hamazura. Mereka hanya mencoba untuk melarikan diri dari lokasi ledakan secepat mungkin.


Keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi membuatnya harus melawan arus pergerakan dari kerumunan manusia tersebut, tapi dia tidak bisa begitu saja menggunakan kekuatan Power Lifter untuk mendorong mereka agar tidak menghangi jalannya.


Langkahnya melambat dan rasa kekhawatiran yang memuncak cukup untuk membuat syaraf-syarafnya menegang.


Apa yang terjadi dengan gadis-gadis yang telah menunggunya di Dianoid?


Di mana Mugino Shizuri? Di mana Kinuhata Saiai?


Dan di mana Takitsubo Rikou berada?


Dia hampir saja berteriak, tapi kemudian ia melihat sesuatu yang aneh: ia bukan satu-satunya orang yang berjalan melawan arus pergerakan kerumunan manusia.


Jauh di depan, ada seorang pria yang berjuang melawan dinding manusia sambil memelototkan matanya.


Itu adalah Kamijou Touma.


(Dia?)


Anak itu melihat kerumunan orang yang sedang kebingungan sekali lagi dan kemudian berbalik.


Sesaat kemudian, neraka berwarna merah darah terbuka.


Pertama, ada gelombang-gelombang yang terdapat pada dinding dan lantai.


Berikutnya, sejumlah besar tombak terbang menuju Kamijou Touma.


Akhirnya, lubang seukuran kepalan tangan terbuka di sekujur tubuh dan wajah anak laki-laki dan perempuan, kemudian tombak-tombak tersebut melewati mereka.


"A- ..."


Itu adalah adegan mengerikan yang tak terelakkan.


Tidak peduli apa alasannya, Hamazura tidak bisa menerima apa yang sedang dilihatnya karena itu begitu mustahil dan tidak bisa diterim akal sehat.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?"


Layaknya dibungkus oleh selimut yang terbuat dari duri landak, seratus tombak bergegas menuju Kamijou Touma.


Tidak mau hanya menonton sambil melongo, Hamazura Shiage mengambil tindakan sembari masih menjerit.


Aneri mengikuti kehendaknya dan dengan cepat memberikan bantuan.


Lengan baja raksasa Power Lifter terbuka layaknya mulut buaya dan meraih beberapa tombak yang melayang di udara. Dia menggunakan semua kekuatannya untuk menghancurkannya.


Ini membuat suatu ruang kosong pada serangan tombak yang ditembakkan dari sudut 360º.


Kamijou berlari ke arah ruang kosong tersebut untuk menghindari tikaman tombak-tombak lainnya.


Ujung tombak yang tak terhitung jumlahnya datang bersama-sama layaknya iron maiden.


"Keluar dari sini !!" teriak Hamazura.”Cepat !!"


Bukan saatnya untuk mengkhawatirkan peraturan.


Dia meraih dua joystick dan menggunakan kaki mekanik untuk membuat suatu lompatan yang tinggi. Dia mendarat di dinding sambil mencengkarm beberapa obyek agar tidak terjatuh. Dan dengan cara yang sama dia bergerak melewati kerumunan manusia (yang penuh dengan lubang) dan mendarat di samping Kamijou Touma yang sedang kewalahan menghadapi tombak-tombak tersebut.


Itu bukanlah murni keterampilan Hamazura sendiri.


Gerakab akrobat tersebut berkat perhitungan yang dilakukan oleh Aneri.


Beberapa bunga api melayang ketika kaki besi menggaruk lantai karbon.


"Kupikir aku sudah melumpuhkanmu!!"


"Kamu benar-benar sudah melakukannya dengan baik! Tapi apakah kau sungguh berpikir bahwa mereka akan mendengarkan apa yang kita katakan!?”


Kamijou menunjukkan ibu jarinya ke belakang.


Hamazura menoleh ke belakang dan matanya terbuka lebar.


Dia melihat seorang pria dengan jas berekor.


Dan orang itu tidak sendirian. Ada lima atau sepuluh orang berjalan bersama-sama dengan mereka.


Layaknya berlian, ada semacam hawa panas yang menyebar di antara mereka dalam sekejap, sehingga mereka seakan-akan sedang dibakar oleh api amarah.


"Kamu bercanda!! Kau telah pasti sedang bercanda!! Sejak kapan aku berurusan dengan orang sebanyak itu!”


"Semuanya akan berakhir jika kau mati! Kau sudah terlanjur terlibah dalam ini semua, tapi kau masih bisa lari sekarang!”


"Aku masih tidak tahu apakah pacarku selamat ataukah tidak!! Ini akan merobek hatiku sendiri jika aku meninggalkannya sendirian sekarang!!”


"Sialan. Aku mengerti.”


Kamijou memejamkan matanya dengan berani dan dia terlihat sedang melepaskan sesuatu.


Dia berbalik dan menghadapi St. Germain sebelum akhirnya berbicara.


"Kalau begitu, kita akan berbagi beban tanggungan. Kau pergi dan lakukan apa yang harus kau lakukan, sedangkan aku akan menahan mereka di sini.”


"Bagaimana caranya!?"


"Aku akan mencari tahu! Kau bilang bahwa kau sudah menghentikanku, bukan? Itu berarti kau lah pemenangnya, dan seorang jawara harus mendapatkan tempat yan terbaik!! Jadi pergilah!!”


Kini giliran Hamazura menggosok alisnya dan menggeleng.


Akan lebih mudah untuk meninggalkan anak itu sendirian, kemudian bergegas menuju Takitsubo dan yang lainnya.


Jika Hamazura menimbang-nimbang prioritasnya. Bocah jabrik ini sama sekali tidak layak jika dibandingkan dengan keselamatan Takitsubo.


Tapi akankah Takitsubo dan yang lainnya memaafkannya jika Hamazura membuat suatu keputusan yang begitu egois?


Apakah ia telah jatuh cinta dengan seseorang seperti itu?


Tidak lagi. Dia tidak akan membiarkan hal ini terulang lagi. Kakine Teitoku, para pemburu di Rusia, kumbang badak Dark Matter, sampai kawanan kecoa buatan Yakumi Hisako. Di masa lalu dia selalu saja lari dari musuh-musuhnya dan meninggalkan seorang teman yang siap berkorban di belakang. Itu semua terjadi karena di lemah. Namun tidak untuk kali ini.


"... Sialan."


Dia meludahkan kutukan dari lubuk hatinya yang terdalam.


Lengan raksasa Power Lifter kemudian menyambar anak berambut runcing pada bagian belakang lehernya.


"Ah! Tunggu! Apa yang kau ... !?”


Tidak ada waktu untuk menjelaskan.


Masih memegang Kamijou, dia memerintahkan kaki Power Lifter untuk menancap ke dalam pilar tebal. Mesin tersebut terpental layaknya bola pinball. Beberapa kali dia menggunakan dinding atau bahkan langit-langit sebagai pijakan, meraih objek di dinding, dan melintasi seluruh lantai dengan lompatan-lompatan yang tidak teratur tanpa pernah menyentuh tanah.


"..."


"..."


"..."


"..."


St. Germain yang tak terhitung jumlahnya berbalik dan menatapnya.


Sesaat kemudian, tombak yang tak terhitung jumlahnya mencuat dari lantai dan terbang menuju Power Lifter seperti sekelompok rudal darat.


"Aneri, prediksi balistik!! Dan kau dapat mematikan inersia Gs limiter!!”


Dia berjalan ke daerah yang belum terinfeksi oleh St. Germain.


Dia melompat ke teater, melompat lurus ke atas, dan mencoba untuk menggunakan kursi di lantai yang kedua atau ketiga untuk mencapai lantai atas.


Namun, St. Germain lebih cepat.


Beberapa pasang mata menatapnya dari kursi bawah. Kursi dan dinding memutar dan berubah menjadi tombak yang tak terhitung jumlahnya, kemudian mendekatinya layaknya dinding terbuat dari tombak.


Ruang terbuka teater melawan dia.


Namun Power Lifter lebih gesit, tapi dia tidak bisa terpental layaknya bola pinball tanpa adanya benda yang digunakan sebagai pijakan. Gerakannya terkunci di udara selama beberapa detik.


Musuh bisa dengan mudah membidiknya dan mengoyak mesin itu bersama-sama dengan tubuhnya.


Tapi sebelum itu terjadi, suara gemuruh yang besar memenuhi udara.


Mesin lain datang dari kursi lantai tiga pada teater tersebut. Layaknya meteor, Power Lifter itu melakukan tendangan terbang dan memecahkan tombak yang mendekat dengan paksa.


Bahkan jika itu bukanlah senjata militer, Power Lifter bukanlah jenis alat berat yang menyebar ke masyarakat umum.


Hanya ada dua unit di Dianoid, sehingga hanya ada seseorang yang bisa mengoperasikannya.


(Stephanie.)


"Sensei!?"


Dia berteriak tanpa berpikir, tapi ini bukan waktunya untuk melongo. Setelah menghancurkan tombak-tombak yang membidik Hamazura, Power Lifter milik Stephanie mengayunkan lengan dan kakinya di udara untuk menyeimbangkan dirinya sendiri. Dia pun terjatuh ke tempat yang terdapat banyak St. Germain yang sedang menunggu.


Hamazura masih tidak tahu apakah Mugino, Kinuhata, atau Takitsubo aman.


Dan sekarang Stephanie telah terlibat ke dalam bahaya.


"Kh."


Tangan bajanya meraih pagar kursi lantai ketiga dan ia naik sembari mengambil napas. Setelah itu, erangan terucap dari mulutnya.


Dia langsung berteriak.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!"



Part 6[edit]


Pada saat itu, Stephanie Gorgeouspalace harusnya memiliki beberapa pilihan.


Dia telah melihat Hamazura Shiage dari salah satu monitor layar datar.


Dia telah berjalan ... tidak, melarikan diri dari "sesuatu" yang menggunakan teknologi aneh dan bisa menusuk manusia tanpa luka.


Saat ia terbang di udara, tombak yang tak terhitung jumlahnya telah mengejarnya dari belakang.


Dia seharusnya meninggalkan Hamazura.


Dia harusnya pura-pura tidak tahu dan fokus pada keselamatan dirinya sendiri.


Tapi entah kenapa, ia tiba-tiba teringat sesuatu.


Dia ingat masa-masa sebelum menyerang Academy City karena Sunazara Chimitsu, dia juga mengingat gurunya sebagai seorang tentara, dan juga masa-masa sebelum memasuki dunia tentara bayaran. Itu adalah waktu ketika ia masih tinggal di Academy City.


Saat itu, ia pernah menjadi guru.


Dia juga pernah menjadi anggota Anti-Skill yang melindungi kehidupan para pelajar.


Jadi ...


(Aku tidak memiliki banyak pilihan, kan?)


Bunga api terbang dan dia merobek lantai sembari mendarat di depan musuh-musuhnya. Dia pun tersenyum sedikit.


(Aku adalah orang dewasa di sini!! Kalian hanyalah digolongkan sebagai anak-anak SMA!!)


Segera setelah itu, beberapa serangan segera didapatnya.


Sekaligus, ratusan tombak menyerbunya. Dia mengayunkan lengan baja padanya, tapi itu jauh dari kata cukup. Dia pun melontarkan tendangan untuk menangkisnya. Tombak-tombak itu semakin berkurang dan serangan tersebut semakin mereda. Namun, jika ada satu tombak saja yang tersisa dan menghujam ke arahnya, maka fatal akibatnya.


(Andai saja ...)


Tombak-tombak berikutnya segera menyusul. Sampai akhirnya dia kewalahan dan berhenti menangkis serangan-serangan itu.


Dia mencoba untuk melindungi dirinya dengan lengan logam, tetapi tombak tak terhitung jumlahnya menghancurkan, merobek, dan memecahkan Power Lifter sampai berkeping-keping.


(Andai saja aku bisa mendapatkan informasi itu kepada orang lain.)


Tombak-tombak karbon itu menghancurkan mesinnya. Dan beberapa detik lagi daging lembutnya akan tercincang, dan Hamazura Shiage tidak akan sanggup melarikan diri tepat waktu.


Beberapa detik lagi, Hamazura akan melihat senyum sensei-nya yang dipenuhi keringat hanya dalam kenangan.


Namun ...


Suatu sinar terang ditembakkan dari samping dan membatalkan kematiannya.


Setiap inchi dari tombak-tombak tersebut langsung menguap.


Suatu pusaran panas yang terik mencairkan pintu dan juga dinding sekitarnya.


Suatu suara pecah memenuhi ruangan itu.


Waktu serasa berhenti.


"Hai."


Pemilik serangan brutal itu melangkah ke teater.


Itu adalah Mugino Shizuri.


Dia adalah sang Meltdowner, Academy City Level 5 # 4.


Tubuh feminimnya yang indah dikelilingi oleh pusaran bola elektron yang tak terhitung jumlahnya. Hawa panas terpancar dari bola-bola elektron itu dan semakin menambah kepenatan suasana di ruangan tersebut.


"Jika kau mencari tukang bom tua bangka, dia ada di sana. Pastikan untuk membersihkan segalanya bersama-sama dengannya. Dia membuatku susah dengan menciptakan kekacauan di tempatku.”


Para St. Germain berbalik ke arah Mugino.


Dia dikelilingi oleh tatapan mata penuh nafsu membunuh, tapi # 4 tidak menunjukkan tanda- tanda peduli.


Tidak hanya itu, seorang gadis yang mengenakan gaun rajut dan seorang gadis yang mengenakan jaket olahraga berwarna merah muda berbicara dari belakangnya.


"Umm, hanya untuk super meyakinkanmu, orang-orang ini sedikit aneh untuk jadi musuh kita. Jika kau tanpa ampun membantai mereka, mungkin suatu hari nanti kau akan dikejar oleh orang-orang yang ingin membalas dendam atas kematian mereka. Menjadi target dari beberapa orang yang ingin membunuhmu karena suatu cerita menyedihkan usang adalah hal yang paling berbahaya dalam bekerja di sisi gelap kota.”


"Tutup mulutmu. Salah mereka sendiri, mau dikendalikan.”


"Dan Mugino," tambah seorang gadis berjaket olahraga.”Dapatkah aku membuat satu permintaan?"


"?"


"Ada atrium di sana, kan? Tembakan Meltdowner secara lurus ke arah itu.”


"Oh?"


Mugino tampak tidak peduli, tapi dia masih mau mengangkat telapak tangannya dan melepaskan seberkas cahaya mematikan sampai menembus ke atrium.


"Sekarang, waktunya untuk berbisnis."


"Apakah kau mendengarkan aku tadi!? Jika kau yang super membantai orang yang secara teknis tidak bersalah, kita akan berakhir dengan dikejar-kejar oleh beberapa pahlawan kebenaran atau sesuatu sejenisnya!”


"Kalau begitu mari kita lihat siapa yang dapat mengalahkan mereka lebih banyak. Jika kau dapat dengan aman mengalahkan mereka semua dengan Offense Armor milikmu, aku sama sekali tidak harus menggunakan Meltdowner milikku.”


"Tidak adil! Kau hanya super mempermudah dirimu sendiri!”


St. Germain tidak menunggu para gadis ini sampai selesai saling bentak.


Mereka meluncurkan tombak yang tak terhitung jumlahnya kepada mereka berdua sebagai serangan mendadak.


Mugino bahkan tidak punya waktu untuk melepaskan Meltdowner.


Namun ...


"Apakah kamu serius?"


Dia terdengar jengkel.


Pertama, dia dengan ringan mengayunkan kepalanya.


Berikutnya, lengan rampingnya dengan mudah menangkap tombak yang dihujamkan ke arah wajahnya.


Tidak.


Tidak seperti itu...


"Aku sudah bilang padamu bahwa si tukang bom tua itu sudah gagal, bukan? Kinuhata dan aku merobek bom darinya dan melemparkannya entah kemana. Berkat itu, tidak ada seorang pun yang mati dan kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan.”


Dengan suara “krak”, Mugino tanpa ampun menghancurkan tombak karbon yang berada di dalam genggamannya. Gerakan halus tangannya disertai dengan suara desingan mesin.


Itu adalah tangan buatan.


Setelah Mugino Shizuri “dibunuh” oleh Hamazura Shiage, ia telah mengganti mata, lengan, dan semua kulitnya dengan material pengganti buatan.


Bukannya semakin lemah, dia justru memodifikasi tubuhnya agar sesuai dengan kegemarannya bertarung.


"Jangan hanya memandang seorang Level 5 dari segi kekuatan. Aku akan membunuhmu.”


Setelah mengucapkannya, monster bernama Mugino Shizuri dan Kinuhata Saiai tanpa ampun menyerang ke arah kelompok St. Germain.



Part 7[edit]


Di antara kursi lantai ketiga, Kamijou berteriak ketika melihat pancaran cahaya tebal menembus Dianoid secara vertikal.


Aneri memberi peringatan tentang adanya panas bersuhu tinggi.


"Wah !? Ap-apa !?”


Di sisi lain, Hamazura menjadi begitu tegang.


Itu adalah sinyal.


Cahaya itu adalah semacam pengumuman yang mengatakan bahwa semua bahaya akan tersapu oleh kekerasan yang dibuat oleh beberapa gadis.


"Ha ha. Itu benar. Mereka bukanlah tipe yang mati dengan begitu mudah. "


"Apa maksudmu?"


Hamazura mendengar suatu suara cegukan yang datang dari dirinya sendiri.


Pada saat yang sama, beberapa air mata menggenangi kelopak matanya.


Dia menangis sambil tersenyum.


"Hanya berbicara sendiri! Ini berarti, mereka tidak perlu bala bantuan. Tentu saja mereka tidak perlu. Bagaimana mungkin seorang Level 0 berpikir bahwa dirinya perlu menolong dua orang Level 4 dan seorang Level 5? Ha ha ha ha ha !!”


"???"


Kamijou benar-benar bingung, tapi Hamazura tampaknya telah menetapkan sesuatu dalam hatinya.


Dia sekarang memiliki kelonggaran untuk fokus pada masalah Kamijou.


Dia meninggalkan kursi lantai ketiga dan menemukan koridor yang belum "terinfeksi" oleh St. Germain.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku ingin menyelamatkan bocah bernama Aihana Etsu. Dia menghampiri St. Germain…itu adalah nama orang-orang yang mengenakan jas berekor.....dan membiarkan aku melarikan diri. Sekarang giliranku untuk membalas budi.”


"Aihana?"


Hamazura mengerutkan kening dan mengingat seorang bocah berjenis kelamin gak jelas yang tadi menyelinap di sekitar tempat parkir Dianoid.


"Apakah dia sungguhan? Maksudku, apakah kau yakin bahwa dia bukanlah seseorang yang memalsukan nama orang lain?”


"Itu tidak masalah. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan hidupku, jadi dia adalah seorang pahlawan sejati bagiku.”


Kamijou terus berbicara.


"Dan aku ingin tahu tentang tindakan dan tujuan St. Germain. Dia rupanya terobsesi dengan Aihana, tapi bukankah tindakan-tindakan yang dia lakukan terkesan tidak konsisten?”


"Apa? Bisakah kau memperjelasnya sedikit?”


"Jika semua yang ia inginkan hanyalah mendapatkan Aihana, ia tidak perlu mencoba untuk membunuh kita. Bahkan, ia tidak perlu menutup semua jalan keluar di Dianoid. Dia bisa perlu menunggu di gang-gang gelap dan kemudian menculik Aihana.”


"Benar juga ..."


"Tidak mungkin dia menyandera semua orang di gedung ini hanya untuk berkomunikasi dengan Aihana. Tapi itu menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar. Apakah St. Germain sungguh tertarik dengan Aihana Etsu? Apakah itu benar-benar tujuan terakhirnya?”


"Namun, dia sempat menggunakan kekuatannya untuk membantu Aihana. Itu berarti ...”


"Dia mungkin menggunakan Aihana untuk beberapa tujuan lainnya. Atau dia mendorong Aihana untuk melakukan sesuatu untuknya.”


Kamijou memilih kata-katanya dengan hati-hati.


"Kata-kata terakhir yang diucapkan Aihana membuatku penasaran. Dia mengatakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di Dianoid ini. Dan hal itu mungkin membantunya untuk menyelamatkan temannya yang hilang. Jika dia tidak kembali, dia ingin agar aku mencari rahasia Frenda Seivelun yang tersembunyi di gedung ini.”


"Frenda?" tanya Hamazura tanpa berpikir.


Aneri secara otomatis mulai mencari nama, tapi dia juga tidak memiliki tanda atau catatan di sisi gelap kota karena tampilan windows-nya dibekukan.


Namun, jawaban yang benar ada di memori Hamazura.


Seketika, Hamazura mengingat kembali nasib buruk yang dialami gadis itu. Bagian bawah tubuhnya terkoyak dengan keji dan bagian atas tubuhnya diseret kemana-mana layaknya boneka beruang yang rusak dan jerohannya tercecer dimana-mana.


Tak ada seorang pun yang sempat menyelamatkannya.


"Apakah kau barusan mengatakan Frenda !?"


"Ya. Kau tahu siapa dia?”


"Yahhh, gimana ya ..."


Nasibnya bukanlah suatu kisah yang bisa dengan mudah dijelaskan, tapi peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kamijou.


"Jika Aihana dikendalikan oleh St. Germain untuk melakukan sesuatu, maka kita bisa menggunakan rahasia tentang gadis bernama Frenda ini untuk membuat dia kembali pada kita. Sepertinya kita bisa menemukan rahasia tersebut jika kita mencari di tingkat atas gedung ini, jadi kita perlu melakukan itu. Aku tidak tahu apakah Aihana benar-benar merupakan tujuan St. Germain atau hanya sesuatu yang dia perlukan untuk sekedar bersenang-senang, tetapi tidakkah kau berpikir bahwa kita bisa menangkap St. Germain jika kita melepaskan Aihana dari kendalinya?”


"Cukup," potong Hamazura.”Jika Frenda adalah bagian dari semua ini, maka aku harus terlibat. Itu adalah alasan yang cukup bagiku untuk mengikuti semua insiden ini sampai akhir.”


Dengan Power Lifter, perjalanan ke tingkat atas tidaklah begitu sulit.


Mereka hanya perlu menerobos pintu lift dan menggunakan lubang lift.


Jika mereka naik terowongan ke langit, mereka akan mencapai apartemen kelas wahid di tingkat atas Dianoid.


Kebenaran yang mereka inginkan ada di sana.



Part 8[edit]


Gadis itu memiliki rambut pirang panjang bergelombang dan kulit putih.


Wanita seumuran mahasiswi dengan jas berekor duduk di bangku etalase dan Aihana Etsu duduk di sampingnya.


Mereka berada di taman yang diterangi cahaya bulan.


Di atap Dianoid, St. Germain mengambil pil hitam dari kotak dan melemparkannya ke mulutnya.


"Nama St. Germain dikenal secara luas selama tahun 1600-an. Dia dikenal sebagai alkemis* yang tahu ilmu tentang keabadian atau seorang pria yang berasal dari masa depan dan menguasai teknik perjalanan waktu. Namun, sesungguhnya aku sudah aktif sejak tahun 500. Dari tentu saja, aku belum pernah menggunakan seorang pun dari awal sampai akhir. Sebaliknya, tujuan utamaku terus bertambah tanpa akhir.” [Alkemis di sini artinya ahli kimia. Di masa lalu, ahli kimi tak jauh berbeda dengan penyihir.]


"..."


"Menurutmu, mengapa bisa begitu?" Tanya St. Germain dengan senyum lembut di wajahnya.”Menurutmu, bagaimana caranya aku bisa hidup begitu lama?”


Aihana Etsu menggeleng.


"Bagaimana aku tahu?"


"Betapa jujur dirimu. Tapi tak ada alasan untuk berbelit-belit di sini. St. Germain dikenal sebagai individu misterius yang muncul di masyarakat kelas tinggi, pada begitu banyak negara selama periode waktu yang tak terhitung jumlahnya, tapi tujuanku adalah sesuatu yang bisa kau temukan pada buku cerita bergambar anak-anak.”


Entah kemana, kotak pil berbentuk persegi panjang lenyap dari tangannya


Jika diamati lebih dekat, itu hanyalah suatu trik sulap, bukannya kekuatan supranatural.


"Aihana. Berapa banyak yang kau ketahui tentang legenda King Arthur?”


"Arthur?"


“Kau tahu, pria yang menjadi raja setelah menarik pedang dari sebongkah batu. Tentu saja, kebanyakan orang hanya tahu bagian pertama dari legenda tersebut dan orang-orang tidak tahu kehidupan macam apa yang dijalani oleh pria itu.”


Pada saat itu, Aihana Etsu akhirnya ingat tentang sebilah pedang bernama Excalibur.


Kemudian, ia mengenal benda itu karena ada benda dengan nama serupa pada konsol game RPG 3D miliknya. Dia ingat bahwa pada game yang pernah dimainkannya, benda itu adalah pedang terkuat ketiga di dunia. Dan pedang itu bisa membuatmu menyerang 4x pada satu kali giliran.


"Omong-omong, apakah kau tahu siapakah ksatria terkuat pada legenda yang sangat, sangat, sangat lama?"


"Eh? Maksudmu dia bukan raja?”


"Tidak" St. Germain mengibaskan jari telunjuknya.”Bahkan, raja sendiri tidaklah sekuat itu. Dia dipilih oleh pedang tersebut, tetapi ia bisa menjadi Raja Inggris berkat ksatria di sekitarnya. Raja belum tentu karakter utama dari setiap cerita.”


"Aku mengerti."

NT Index v12 249.png

"Secara teknis, tidak benar bahwa Kesatria Meja Bundar adalah tim terkuat. Sistemnya diperkenalkan kemudian hari dan itu tidak termasuk salah satu ksatria tua yang awalnya mendukung raja. Jadi jika kau melihat semua legenda, siapakah yang benar-benar merupakan ksatria terkuat?”


Dia berhenti mengibaskan jarinya dan melanjutkan perkataannya.


"Jawabannya adalah Galahad. Dia adalah ksatria utama yang lahir dari pasangan Lancelot dan Elaine, Puteri dari Holy Grail Castel. Dia adalah seorang ksatria murni yang melampaui raja dan berkembang di tengah-tengah ketidaksempurnaan Lancelot. King Arthur menjadi Raja Inggris sambil menghunus pedangnya, tetapi dikatakan bahwa Galahad memiliki pedang suci juga perisai suci secara bersamaan dan akhirnya memperoleh Holy Grail dengan kemurnian dan kekuatannya. ... Di sisi lain, dia begitu sempurna dan tidak memiliki pri kemanusiaan, jadi dia bagaikan suatu mesin tempur.”


Apa yang harus dilakukannya?


Aihana Etsu bingung dan sepertinya itu terlukis jelas di wajahnya karena St. Germain tersenyum lembut sekali lagi.


"Apakah semua ceritaku hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan, karena ini semua bukanlah bidang keahlianmu? Sang Raja memperoleh pedang, tapi Galahad mengalahkan dia dengan mendapatkan pedang dan juga perisai. Namun, yang menimbulkan pertanyaan. Bukankah seharusnya sejak awal Sang Raja bisa mengatasi kedua senjata itu dengan mudah? Apakah memang ada sebuah perisai di suatu tempat di dunia ini yang cukup kuat untuk melawan Excalibur?”


Jika ia memiliki gelar "King", King Arthur harusnya berada di tingkat teratas dari hierarki masyarakat.


Dan tentu saja, ada banyak orang yang ingin mendapatkan apa pun yang dia miliki.


Informasi tentang perisai tersebut bisa saja dengan mudah disembunyikan di partai-partai masyarakat kelas atas dan komunitas para bangsawan.


Apakah itu sebabnya St. Germain berbaur dengan para petinggi?


Aihana Etsu hanya bisa membayangkannya mirip seperti suatu dongeng, tapi ...


"Dan sudahkan kau mendengar rumor lainnya, nak?"


"...?"


"Raja itu memiliki saudara kembar. Namanya Anne, lebih tepatnya Queen Anne. Dia tidak pernah muncul di legenda sebagai ksatria atau sebagai seorang putri dan tidak ada yang tahu apakah yang terjadi padanya. Karena alasan itu, dia diperlakukan seperti tambahan cerita palsu. Tapi bagaimana kalau cerita palsu itu benar?”


Senyuman manis yang aneh memenuhi wajahnya.


"Legenda berakhir ketika raja dan putranya Mordred saling bunuh. Darahnya tetap mengalir di tubuh beberapa kerabat jauh seperti Constantine, tetapi garis keluarga langsung terputus di sana. ... Namun Kehadiran Queen Anne sepenuhnya membatalkan itu. Darah King Arthur mungkin masih diteruskan.”


Jika itu benar, itu sungguh suatu hal yang besar.


Itu akan menghidupkan kembali legenda kuno.


Tapi ...


"Apakah kau benar-benar percaya padaku?"


Si St. Germain pirang tertawa.


"Keberadaan Queen Anne bukanlah masalah sebenarnya. Aku mencari dan mencari tetapi tidak pernah menemukan apa-apa. Bagaimanapun juga, kemungkinan dia hanyalah suatu kepalsuan. Aihana, tapi yang penting adalah….. ada celah dalam legenda pedang tersebut. Masih ada kemungkinan adanya saudara kembar Anne dan ruang untuk mencocokkan pedang dengan perisai. Raja dan pengkhianat dibunuh bersama-sama dan berakhir saat itu juga. Namun bagaimana jika ada kesinambungan dari kisah itu. Itu bukanlah akhir dan kisahnya masih bisa berlanjut. Ya, perisai itu adalah benda yang aku inginkan. Ada orang yang dipilih oleh perisai tersebut. Aku ingin menemui orang yang dipilih oleh perisai legendaris itu, yaitu benda yang bisa menandingi Excalibur.”


St. Germain tertawa lagi.


Demi mendapatkan itu, dia bersedia untuk dipanggil pembohong di masa lalu. Dia bersedia untuk disebut seorang penipu saat ia menyelinap ke masyarakat kelas atas yang terobsesi dengan uang. Dia rela melakukan itu semua lagi dan lagi. Dan dia menceritakan itu semua sembari mengingat kembali pengalaman-pengalamannya di masa lalu.


"T-tapi jika itu terjadi, mengapa kau sekarang ada di Academy City? Aku tidak sepenuhnya mengerti, tetapi seharusnya tidakkah lebih baik kau mencari benda seperti itu di negara-negara Eropa seperti ... um ... Inggris atau Perancis?”


"Aku melakukannya. Aku mencari, mencari dan mencari selama 1500 tahun tanpa menemukan apa-apa. Dan kemudian aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa menemukannya tidak peduli seberapa jauh aku menjelajahi dunia, jadi aku bertanya pada diri sendiri di manakah tempat yang belum kukunjungi.”


Aihana Etsu menelan ludah seakan-akan menelan madu manis.


“Jangan bilang ..."


"Academy City. Suatu titik buta yang mengejutkan, bukan? Hanya ini tempat di dunia yang sama sekali tidak terdapat sihir dan misteri. Namun dalam keadaan darurat, markas ilmu pengetahuan ini melakukan kontak dengan sisi sihir lewat Gereja Anglikan. Ini bukanlah tempat yang buruk untuk menyimpan legenda kelahiran Inggris. Bahkan sepertinya, Index Librorum Prohibitorum disimpan di sini, jadi aku harus melihat pengecualian ini lebih cepat," katanya.”Kau bertanya mengapa aku berada di sini. Yah, aku punya satu alasan.”


Dengan bunyi yang berat, dia menekan bagian bawah perisai emas raksasa yang bersinar ke taman kerikil.


"Ini adalah perisai untuk mencocokkan pedang. Demi fantasi tertentu, aku menyebutnya Anne’s Shield. Bahkan di dunia kita, Queen Anne adalah kiasan untuk seseorang yang tidak ada, hanya seperti fatamorgana oasis di suatu padang pasir. Walaupun ini dipasangkan dengan pedang, adalah suatu hal yang salah jika kita menyebutnya perisai milik sang raja karena ia tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dan karena benda ini tidak pernah muncul dalam legenda, maka tidak pernah diceritakan siapakah yang memiliki perisai ini. Karena pemiliknya tidak diketahui, menyebutnya Queen Anne’s Shield adalah suatu nama yang sempurna, bukan?”


Seseorang yang tidak ada.


Fatamorgana oasis di padang pasir.


Si St. Germain pirang mengaku telah mencari perisai tersebut selama bertahun-tahun.


Kata-kata tersebut seakan-akan mencela diri sendiri, tetapi juga bermakna bahwa dia adalah seseorang yang bebas melakukan apa pun di dunia ini.


"Dianoid dikatakan berfungsi sebagai lemari besi raksasa untuk menyembunyikan berbagai 'rahasia' dari para elit. Karena adanya hubungan antara sisi ilmu pengetahuan dan sisi sihir, bukankah ini adalah tempat yang begitu sempurna untuk menyembuntikan sesuatu yang tidak boleh ditemukan?”


"..."


"Anne’s Shield dijadwalkan akan diangkut ke stasiun TV dalam kontainer terselubung, tapi sekarang aku memilikinya. Aku mencurinya sementara # 4 terfokus pada diriku yang lain.”


Si St. Germain pirang tersenyum tipis di bawah sinar bulan.


Tujuan pertamanya adalah mengambil perisai, tapi itu bukan tujuan satu-satunya.


Dia memiliki sesuatu yang lain.


"Pada akhirnya, aku tidak pernah berhasil membuktikan keberadaan Queen Anne. Sihir adalah suatu bidang pengetahuan dan juga seperangkat teknik, tetapi tampaknya Anne’s Shield memiliki semacam segel yang berdasarkan keturunan sedarah dan hanya bisa diaktifakn oleh seseorang dari keturunan Queen Anne. Tapi itu hanyalah probabilitas sehingga orang sering menyebutnya kebetulan. Aku hanya harus menemukan seseorang dengan informasi genetik yang cukup mirip dengan keturunan Queen Anne, dan juga beberapa bercak darah pada benda-benda peninggalan sang raja. Berbicara masalah darah, gen, dan DNA...Academy City merupakan tempat yang sangat efisien. Untuk keperluan pengembangan kekuatan esper, masing-masing sekolah menyimpan peta DNA pelajar. Setelah aku punya catatan data dari benda yang ditinggalkan oleh raja, aku pergi keliling dunia untuk mencarinya. Ini mirip seperti menemukan kunci setelah kau memiliki gemboknya. Tentu saja, aku harus menemukan seseorang mampu melakukan itu dan mengubahnya menjadi St. Germain.”


"Itu ... luar biasa ..."


"Bagaimana? Aku menerangkannya sepotong demi sepotong.”


"Tapi ... Queen Anne? Benda yang bisa menandingi Excalibur? Ini adalah Academy City, markas dunia ilmu pengetahuan di mana kekuatan psikis dibuat dengan memanfaatkan teknologi. Ini ... ini bukanlah tempat di mana kau akan menemukan beberapa tokoh sejarah dari suatu buku tebal yang ditulis pada perkamen.”


"Ha ha. Itu hanyalah sisi Academy City yang kau kenal.”


"?"


"Ladylee Tangleroad, Fräulein Kreutune, dan DRAGON. Bahkan kota ini berisi beberapa makhluk yang tidak dapat dijelaskan dengan versi ilmu pengetahuan. Kau hanya belum diberitahu tentang mereka. Atau lebih tepatnya, makhluk-makhluk itu adalah perwujudan dari ilmu pengtahuan pada tingkatan yang benar-benar sempurna, dan itu sulit untuk didapatkan jika hanya mengandalkan analisis ilmuan biasa. Layaknya berlian, tidak ada istilah 100,0% dalam ilmu pengetahuan.”


"Eh? Apa? Tunggu ...”


"Ku pikir, menerangkan padamu begitu banyak hal secara langsung dan sekaligus adalah suatu perbuatan yang keterlaluan. Tapi apakah aneh bagimu jika kau berpikir tentang hal tersebut secara rasional? Pikirkan tentang British Halloween yang terjadi selama kudeta di Inggris. Berita di TV mengatakan bahwa bentrokan antara senjata modern dan senjata dari dalam legenda hanyalah suatu pertarungan imajinasi dan histeria massal, tapi mengapa Curtana dimunculkan pada saat itu? Mengapa sesuatu yang begitu terkenal seperti Excalibur tidak terlihat? Bukankah itu terasa seperti ada suatu potongan puzzle yang hilang? Bagiku, adalah wajar untuk mengasumsikan bahwa benda tersebut tersembunyi di tempat lain.”


Pikiran Aihana Etsu mendekati panik.


Kata-kata si wanita pirang meluncur begitu lancar dari mulutnya, sehingga dia pun beranggapan bahwa si wanita tidak hanya mengoceh tanpa persiapan...melainkan, sudah memiliki persiapan materi pembicaraan yang begitu matang di dalam otaknya. Beberapa peristiwa yang Aihana tidak sadari memang mengandung suatu logika tertentu. Sama seperti suatu buku yang ditulis dalam bahasa asing. Tidak ada yang salah pada informasi di dalam buku tersebut, namun jika seseorang tidak menguasai bahasanya, maka sejelas apa pun informasi itu, hanya kebingungan lah yang dia dapatkan.


Kalau begitu ...


Jika St. Jerman benar, beberapa anak di Academy City lahir dengan kemampuan untuk mengaktifkan perisai legendaris ini. Dan itu bukan karena keturunan; itu adalah murni kebetulan.


Jika ini adalah suatu peristiwa murni kebetulan, maka betapa besar peluangnya? Semuanya tidak ditentukan sebelum dia lahir dan tidak ada seorang pun yang mengatur terjadinya peristiwa tersebut. Mendapatkan kunci dari perisai tersebut adalah suatu hal yang hanya bergantung pada keberuntungan semata. Ini mirip seperti memberikan password yang benar pada suatu program yang terkunci, pada percobaan pertama.


Lantas siapa orang yang bisa mengaktifkan perisai itu?


Untuk sesaat, Aihana Etsu benar-benar bertanya-tanya tentang hal itu.


Untuk sesaat, Aihana Etsu sama sungguh berpikir bahwa orang berharga itu bukanlah seorang Level 0 penakut yang bisa masuk ke Dianoid dengan memalsukan suatu kartu ID pelajar.


Tapi kemudian St. Germain menunjuk jari telunjuknya ke arah hidung kecil Aihana Etsu.


"Kau lah orang yang sangat kurindukan, wahai raja perisaiku yang tersayang."



Part 9[edit]


Suatu suara berdenting keras terdengar melalui kegelapan.


Power Lifter milik Hamazura sedang mendaki lubang lift secara vertikal dengan brutal. Mesin baja tersebut memiliki kekuatan yang cukup untuk menyamai kecepatan suatu mobil kecil.


Kamijou menempel di mesin itu, tapi ...


"Oh? Ohhhhhh !! A-a-a-a-a-apa !? Ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, apa yang terjadi, ini bergetar!!”


"Aneri !! Aku tahu, pria yang menempel ini adalah orang asing, tapi dia bukanlah musuh! Jadi jangan mengguncangnya!!”


Setelah Hamazura meneriakkan perintah itu, Power Lifter tersebut akhirnya menghentikan getaran tidak wajarnya.


Situasi itu bahkan membuat Kamijou tidak mampu menyeka keringat dari keningnya, sehingga dia kembali ke topik pembicaraan semula dengan suara gemetar.


"J-jujur, yang paling kutakuti adalah St. Germain menyuruh Aihana Etsu menggunakan sihir."


"Sihir?"


Pertanyaan Hamazura membuat Aneri memulai suatu pencarian, tapi tidak ada koneksi internet, jadi Aneri hanya bisa menarik data dari file-file sementara yang ditinggalkan oleh pencarian sebelumnya. Dan satu satunya data yang dia temukan adalah dari situs video Hawaii dan Denmark, jadi itu sama sekali tidak berguna.


"Birdway pernah menjelaskannya kepadamu sebelumnya, ingat? Kupikir, akan lebih mudah untuk mendiskripsikan bahwa sihir adalah semacam kekuatan supranatural yang berbeda dari kekuatan esper. Tapi sihir tidak bergantung pada bakat bawaan….jadi sepertinya, seorang Level 0 macam kita bisa menembakkan api atau es dari tangan jika kita menginginkannya. ... Yah, meskipun begitu, aku tidak yakin tentang apa yang sudah kupunyai. Imagine Breaker hanya akan mengacaukan definisi tentang hal-hal itu.”


Kamijou mengatakan itu semua dengan begitu mudah, tapi tak ada bukti bahwa itu adalah suatu kebenaran.


Hamazura sendiri telah melihat penyihir di Hawaii dan selama insiden Fräulein Kreutune, tapi jika dipikir-pikir kembali, itu semua hanya membuat kepalanya jadi pusing karena semuanya tidak bisa dijelaskan oleh logika dan akal sehat.


Dengan adanya sihir, semua hirarki yang didirikan oleh Academy City akan hancur.


Dengan adanya sihir, Level 0 bisa membebaskan diri dari keterpurukannya.


Dengan adanya sihir, Daftar Parameter akan kehilangan semua maknanya.


Dengan adanya sihir, itu akan membawa begitu banyak perubahan yang membahagiakan.


Namun, Kamijou belum selesai berbicara.


Dan apa yang dia katakan selanjutnya menghancurkan semua harapan itu.


"Meskipun begitu, sihir bukanlah sesuatu yang begitu baik. Khususnya bagi para esper Academy City yang sudah terbiasa menggunakan kekuatan psikis.”


Nada berbicaranya mengatakan bahwa ini adalah suatu hal yang benar-benar tercela.


Hamazura mengerutkan kening, jadi Kamijou menerangkan dengan lebih jelas.


"Tampaknya kekuatan esper dan sihir menyebabkan suatu konflik di dalam tubuh. Ketika seorang esper menggunakan sihir, itu menyebabkan kerusakan mengerikan di dalam tubuhnya. Itu akan merusak pembuluh darah dan saraf. Dalam kasus terburuk, mereka akan mati.”


"Serius?"


"Serius. Tentu saja, ini semua diketahui dari percobaan yang gagal. Bahkan, penggunaan kekuatan psikis mungkin hanya berguna untuk menyegel seorang penyihir yang terlalu kuat.”


Nada bicara Kamijou terdengar kesal.


"Jadi, kalau St. Germain meyakinkan Aihana untuk menentang kita, itu bisa mengakibatkan dua bahaya. Yang pertama adalah ancaman bagi kehidupan kita, yang kedua adalah, dia akan dipaksa untuk bermain Russian Roulette* tanpa dia sadari.” [Baca NT Vol 4.]


Kerusakan tersebut bukanlah sesuatu yang terakumulasi. Efek samping dari penggunaan sihir menyebabkan kerusakan di beberapa bagian tubuh secara acak, sehingga sangat mungkin pembuluh darah jantung akan pecah.


"Ini tidak baik," gumam Hamazura sembari mengoperasikan Power Lifter.”Ini sungguh tidak baik. Ini begitu kejam dan aku tidak tahan terhadap hal itu.”


"Itulah sebabnya kita akan melakukan sesuatu."


"Dan itulah mengapa kita perlu mencari rahasia sebenarnya dari Frenda, hm?"


Dengan ledakan keras, Hamazura menendang pintu lift yang tampak seperti kayu dan memasuki ruang masuk lift bersama dengan Kamijou.


Bukan masalah lokasi atau objek.


Begitu mereka menghirup udara, mereka bisa merasakan suatu atmosfir yang sungguh aneh di sana. Seakan-akan, kau sedang berjalan-jalan di dalam suatu museum yang sepi, namun kau merusak segalanya dengan memainkan musik keras dari MP3-mu.


Mereka berada di daerah apartemen tingkat atas.


Kamar tersebut sudah nampak begitu mewah tanpa harus mengetahui benda-benda yang ada di dalamnya.


Dan tampaknya, kamar-kamar tersebut berfungsi sebagai lemari besi untuk menyembunyikan benda-benda rahasia, dan bukannya sebagai tempat tinggal. Sehingga, seorang VIP dengan uang yang melimpah akan membelinya hanya untuk ketenangan pikiran.


Tidak seperti asrama atau apartemen pada umumnya, pintu masuknya adalah pintu geser ganda. Pada ketinggian seperti ini, piano tidak akan dapat dibawa masuk melalui jendela dengan menggunakan mesin derek. Jadi, bagian depan pintu masuk harus dibuat cukup besar agar berbagai benda bisa diangkut ke dalam. Tentu saja, ada beberapa sistem keamanan yang dipasang pada pintu tersebut agar tidak ada maling yang masuk dengan paksa.


Aneri memulai pencarian untuk mengumpulkan informasi di seluruh wilayah apartemen kelas tinggi itu. Komunikasinya hampir terputus, tetapi mungkin ada sistem akses lokal dalam gedung.


Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, tempat itu seperti bank rahasia di Swiss atau Kepulauan Cayman*. Begitu rahasia bocor, tempat itu kehilangan semua nilainya. Bahkan jika satu pintu berhasil dibobol, para pelanggan akan mulai mempertanyakan kredibilitas dari tempat ini. [Kepulauan Cayman adalah suatu tempat di lautan Karibia, di tempat ini terdapat offshore financial centre (OFC), yaitu kebijakan pemberian pajak rendah pada perusahan tambang lepas pantai. Wikipedia Bebas.]


Meskipun mengetahui fakta tersebut, Hamazura mudah berbicara.


"Aku akan mengurus permasalahan kunci."


"Aku mengandalkanmu. Tapi pertama-tama, kita harus mencari tahu kamar mana yang merupakan milik gadis Frenda itu.”



Part 10[edit]


Dia tidak mengerti.


"Eh? Apa? Um, apa ???”


Setelah mendengarkan pengumuman tiba-tiba itu, Aihana Etsu hanya berkedip-kedip dan St. Germain yang mengenakan jas berekor jenis kelinci membuat penjelasan berikutnya.


Ya.


Layaknya seorang ksatria yang berada di hadapan rajanya, wanita itu membungkukkan lututnya dan menunduk.


Dia melakukannya sambil memegang Anne’s Shield emas yang berkilauan.


"Ahh, apakah kau mengerti, perisai ini bisa mencocokkan dengan pedang? Kau adalah Gap positif dalam kisi. Kau mengakibatkan perubahan unik yang tidak bisa kulakukan sebagai kisi karbon yang teratur. Apakah kau tahu berapa lama aku telah bermimpi sampai bertemu denganmu sekarang?”


Dia menundukkan kepalanya sehingga ekspresi wajahnya tersembunyi, tetapi suaranya terdengar penuh dengan emosi.


Wanita itu diliputi oleh emosi.


Seperti itulah gairah yang terdengar dari suaranya.


"Orang-orang bisa memanggilku ilusionis jika mereka mau. Aku tidak keberatan jika mereka meludahi aku dan menyebutku penipu. Tapi. Satu hal yang tidak pernah bisa kumaafkan adalah ketika ada seseorang menolak hal-hal yang begitu kupercayai . Ya. Akhirnya, aku dihargai. Tubuhku telah terkoyak karena aku berenang melalui laut bangsawan megah yang hanya dipenuhi dengan uang dan hasrat. Tapi, upaya dan rasa sakit yang tak terhingga itu akhirnya membuahkan hasil. Apakah kau tahu bagaimana rasa sakit yang telah kualami?”


Si St. Germain pirang meraih tangan Aihana Etsu. Dia menarik bocah itu ke arahnya dan berusaha untuk menempatkan punggung tangannya di pipinya.


Dia adalah eksistensi yang begitu besar dan berharga baginya.


Namun, ini seperti mengelus kepala seekor anjing piaraan setelah anjing tersebut berhasil menangkap mangsanya.


Namun, Aihana menolaknya.


Dia mengumpulkan kekuatan dan menarik tangannya kembali.


"Tidak, bukan aku."


Dia tidak lagi punya alasan untuk hanya duduk dan mendengarkan.


Dia mengucapkan kata-kata yang ada di dalam kepalanya begitu saja.


“Kau tidak boleh berharap bahwa aku mempercayaimu! Dan bagaimana denganmu? Kami baru saja bertemu, jadi, kau tidak tahu orang macam apa aku ini. Bagaimana ... bagaimana bisa kau merendahkan kepalamu padaku dengan begitu mudah? Bagaimana bisa kau menyerahkan semua mimpimu padaku dengan begitu mudah!?”


"Kenapa? Karena berdiri di atas orang lain bukanlah hal yang aku inginkan setelah benar-benar menguasai sihir.”


"Sihir?"


"Legenda pedang tersebut mencakup cerita tentang seorang pria yang menguasai segala macam sihir, tapi dia tidak pernah berpikir untuk menjadi raja. Dia hanyalah seorang pendukung aturan raja," kata St. Germain dengan hormat sembari masih menundukkan kepalanya.”Aku sama. Aku telah menguasai sihir, tapi aku tidak punya niata untuk menjadi seorang Dewa Sihir. Aku memerlukan skill ini untuk mencapai tujuanku, tapi adalah suatu hal yang tidak masuk akal jikalau aku lenyap dalam kekuatanku sendiri. Daripada menjadi penyihir atau Dewa Sihir, aku lebih suka menjadi makhluk unik yang orang-orang sebut dengan nama St. Germain. Aku ingin menjadi pihak ketiga yang hanya dapat dideskripsikan dengan istilah 'St. Germain ', sama halnya seperti orang-orang yang tidak menyebut berlian dengan nama arang, padahal kedua benda itu jelas-jelas tersusun dari unsur yang sama, yaitu karbon. Itu sebabnya aku menempatkan diriku ke puncak legenda tersebut. Aku ingin bertemu dengan seorang raja sejati yang layak menerima pelayananku. Tapi ketika St. Germain muncul ke dunia, raja itu sudah tidak lagi hidup. Mengapa Excalibur bisa menembus bumi tanpa bisa dicabut oleh seorang pun, kecuali orang yang terpilih? Bukan karena ketajamannya, namun karena adanya orang pilihan yang bisa mengemban tugas berat dan menyelesaikan semua masalah. Legenda telah berakhir dan raja sudah mati, tapi selama aku punya pedang tersebut, mungkin aku bisa memilih seorang raja baru di masa depan. Tapi pedangnya juga telah hilang. Jadi aku mencari. Aku mencari dan mencari dan mencari. Sisik Anubis dan tombak Valkyrie. Ada banyak legenda tentang penghakiman jiwa manusia terhadap perbuatan yang mereka telah perbuat semasa hidupnya, tapi satu-satunya legenda yang cocok dengan tujuanku adalah Anne’s Shield. Dan orang yang dipilih oleh perisai itu ... adalah kau.”


Aihana Etsu tersentak.


"Keturunan sedarah tentu adalah suatu hal yang penting dalam legenda para raja, tetapi itu tidaklah mutlak. Mungkin saja ini disebabkan oleh kesamaan insidental, tapi Anne’s Shield telah memilihmu, layaknya mesin tambang yang menemukan berlian di antara bebatuan. Peluang terjadinya peristiwa ini sunggu, sungguh, sungguh kecil. Namun ini benar-benar terjadi. Jangan-jangan ini adalah pertanda bahwa dunia menginginkan lahirnya seorang raja baru.”


Aihana menempatkan tangan di dadanya dan berpikir tentang apa yang dia omongkan.


Dan Aihana pun berbicara dengan suara bergetar seakan seorang anak yang secara ragu-ragu hendak mengelus kepala anjing piaraan baru miliknya.


"Apakah kau sungguh-sungguh ... tidak merencanakan hal yang lainnya? Apakah kau benar-benar hanya ingin melayani aku?”


"Itu karena mereka tidak melihat apa yang telah aku dapatkan. Orang-orang gagal untuk memahamiku dan melihat aku hanya sebagai seorang penipu. Itu membuat aku berhasrat untuk menemukan seorang raja dan itu adalah satu-satunya kartu As. Dia bahkan bisa mengalahkan para Dewa Sihir. Aku mempecundangi setiap penyihir dan menolak para Dewa Sihir ketika mereka mendorong aku untuk bergabung dengan golongan mereka. Aku terus berusaha untuk menjadi sebongkah kristal stabil yang mereka namai dengan sebutan St. Germain. Mereka dengan sombingnya menyebut diri mereka dengan julukan Dewa Sihir, tetapi mereka tidak lebih dari penasehat tanpa seorang raja. Mereka hanyalah kelompok makhluk bodoh yang belum menyadari bahwa kekuatan sejati tidak dapat diperoleh sendirian. Di sisi lain, aku telah mendapatkan kau sebagai inti dari semua rencanaku. Ahh, andaikan saja Othinus memahami Kamijou Touma sebelum kehilangan kekuatannya, sekarang dia mungkin sudah menjadi seorang Dewa Sihir sejati yang menjalani takdir berbeda.”


"..."


"Rajaku, maafkan kelancanganku, tapi sepertinya, kau masih belum cukup percaya bahwa dirimu yang kau anggap hina, sejatinya adalah seorang pemimpin yang memiliki kekuatan mutlak, sampai-sampai semua oarang harus tunduk dan melayanimu.”


Masih berlutut, St. Germain terus berbicara seolah-olah mengungkap misteri dari masa lalu.


"Tapi jika kau memikirkannya lagi, maka itu adalah suatu hal yang wajar. Inggris menempatkan seseorang dengan bakat sihir luar biasa di Academy City. Akan sangat riskan bila bakat sihir seagung itu dihancurkan dengan memberinya materi-materi tentang pengembangan kekuatan psikis. Sederhananya, kau sedang dijejali oleh obat yang berisikan materi Kurikulum. Itulah mengapa kau tidak memiliki kekuatan. Mereka hanya bisa melabelimu dengan sebutan Level 0. Namun semua potensi dirimu bisa saja muncul saat ini juga.”


Semua informasi yang didengar Aihana mulai masuk akal. Seakan-akan semuanya terhubung oleh suatu sambungan yang nyata.


Perisai tersebut adalah suatu benda yang begitu tidak nyata dan jauh layaknya planet Pluto, tapi, secara bertahap, benda itu semakin nyata dan kini ada di genggamannya. Aihana mulai menganggap semua yang didengarnya adalah suatu kebenaran sejati, dan itu jugalah yang menerangkan kenapa kehidupannya di masa lalu begitu suram dan tidak dihargai.


“Kau adalah Gap positif dan itu semua ada di dalam genggamanmu."


Si St. Germain pirang mengangkat kepalanya dan memberikan rajanya suatu saran.


"Aku akan memberikanmu sihir apapun yang kau kehendaki. Kau boleh meminta untuk menjadi Dewa Sihir, meminta peraturan yang tidak masuk akal di dunia ini, atau apa pun itu. Kau boleh meminta apa pun yang menyenangkan sampai-samapi kau merasa sedang berada di surga. Kau hanya perlu menunjukkannya kepadaku dan aku berjanji bahwa aku akan segera melenyapkan rintangan tersebut.”


Bagaimana jika posisinya sebagai Level 0 ternyata memiliki suatu arti?


Bagaimana jika ia ternyata memiliki suatu bakat khusus yang akan membuat siapapun iri padanya dan bagaimana jika ia ternyata memiliki suatu bintang yang bersinar terang dan bersedia untuk selalu membimbing jalannya?


Itu akan membawa kebahagiaan bagi hidupnya.


Itu akan memberinya arti hidup yang jauh lebih bermakna daripada keadaannya saat ini.


"Aihana Etsu" bukanlah orang yang kuat. Selama ini, dia hanya menerima makian dan dijuluki sebagai orang yang paling tak berdaya, bisakah dia benar-benar merubah semua kehidupannya secara ajaib layaknya kisah Cinderela atau Si Bebek Buruk Rupa? Mungkinkah ia merubah hidupnya agar tidak berakhir seperti Gadis Penjual Korek Api?


Tapi ...


"Itu ..."


Aihana Etsu menggeleng, mengirimkan hamburan aroma manis dari rambut semi-panjangnya.


Dia tidak berniat untuk menyentuh perisai emas yang ada di hadapannya.


"Itu bukanlah hal yang kuinginkan."


"..."


"Memang benar bahwa aku hanyalah orang kecil. Memang benar bahwa aku adalah tipe orang yang selalu berharap memiliki suatu kekuatan tersembunyi yang bisa membuat semua orang iri padaku. Memang benar bahwa aku bahkan tidak bisa berada di sini tanpa memalsukan suatu identitas. Tapi, bukan itu yang aku inginkan.”


Dia mencoba untuk menarik diri dari St. Germain.


"Adalah suatu hal yang salah jika aku harus menyakiti orang lain untuk membuktikan kekuatanku. Itu bukanlah hal yang ingin aku lakukan. Bukankah suatu kekuatan yang besar diciptakan untuk melindungi sesama? Mungkin aku bukanlah orang yang tepat untuk mengatakan hal itu karena nyatanya aku hanyalah seorang Level 0 yang lemah, tetapi bahkan jika aku tidak memiliki kekuatan apa pun, aku sudah berhasil masuk ke Dianoid tanpa menyakiti siapa pun.”


"Apakah begitu?"


"Jadi, aku tidak bisa melakukan ini. Jika untuk mengaktifkan kekuatan itu, aku harus menyakiti orang lain, maka aku tidak bisa menerimanya.”


"Meski begitu, aku bertanya sekali lagi: Apakah kau yakin?"


Si wanita pirang berbicara dengan suara yang begitu tulus, namun terdengar seperti bisikan setan.


"Apakah kau lupa bahwa aku mengatakan kepadamu untuk mencari sisa-sisa bukti terakhir keberadaan Frenda Seivelun?"


"... !!! ???"


"Bukan hartanya, tapi sisa-sisa bukti terakhir tentang keberadaannya. Tentunya, kau tahu betul bahwa suatu istilah bisa mengubah makna dari suatu zat. Layaknya arang dan berlian.”


Si wanita tersenyum.


Dan tersenyum.


Dan tersenyum.


St. Germain mengaktifkan senjata pamungkasnya, yaitu kemampuan untuk menyanjung orang lain.


"Dan selalu ada alasan di balik kematian seseorang. Setelah kau menemukan alasan kematian Frenda Seivelun, apakah kau masih tetap memegang teguh pendirianmu untuk tidak menyakiti orang lain?”



Part 11[edit]


Pintu geser ganda yang tak terhitung jumlahnya berjajar di sepanjang lorong. Hal yang sama juga tersaji di beberapa lantai, sehingga tampaknya mustahil untuk menemukan tempat persembunyian Frenda Seivelun tanpa adanya suatu petunjuk.


"Sepertinya nomor ruangan tidak diatur dalam suatu urutan yang baku. Apakah pihak manajemen membiarkan klien memilih nomor manapun yang mereka inginkan?”


Namun, mereka berdua menemukan suatu petunjuk yang tak terduga.


Hamazura Shiage berbicara dari Power Lifter-nya.


"Antara 0 dan 9, ia lebih suka angka 9."


"?"


"Antara 1 dan 8, ia lebih suka angka 1. Antara 2 dan 7, ia lebih suka angka 7. Antara 3 dan 6, ia lebih suka angka 6. Antara 4 dan 5 ..."


Tampaknya Aneri sedang menggunakan fungsi pembelajaran untuk menganalisis pola, tetapi diperlukan beberapa masukan dari Hamazura.


Akhirnya, Hamazura mengangkat kepalanya dan meminta Kamijou untuk mengikutinya.


"Mungkin ke sini. Ayo.”


Keduanya berjalan menyusuri lorong. Jarak antara pintu menunjukkan bahwa setiap kamar dibatasi oleh ruangan yang cukup luas, tetapi jumlahnya begitu banyak. Meski begitu, Hamazura sanggup menuju ke kamar targetnya.


Kebingungan, Kamijou bertanya tentang hal itu.


“Jadi, kau tahu banyak tentang gadis ini?"


"Kami tidak mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, tapi dia punya kebiasaan buruk. Dia selalu menggunakan password yang sama untuk segalanya jenis kunci. Itu dia lakukan karena dia benci mengingat berbagai kombinasi angka yang berbeda. Itu juga membatasi Mugino dan Kinuhata. Oke, ini adalah tempatnya.”


Mereka berdiri di depan salah satu pintu geser.


Tampaknya terbuat dari kayu, tapi tentu saja itu terbuat dari bahan karbon. Pintu itu bisa bertahan walaupun ditabrakkan suatu mobil terhadapnya.


Tapi begitu Hamazura turun dari Power Lifter, ia menelusuri permukaan pintu dengan menggunakan jari-jemarinya.


Mesin seberat 2 ton itu memasuki Mode Stanby secara bebas dan mengamati struktur kunci yang terletak di atas bahu Hamazura.


"Jadi ini adalah Method Pin Type 29? Secara teknis, mereka mengeklaim bahwa mengopi kuncinya secara ilegal adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi, tapi aku harus bisa menjebolnya.”


"Bagaimana caramu membukanya?"


"Berpikirlah secara terbalik. Kuncinya tidak dapat dicopy tidak dapat dibor, diambil, atau dilelehkan. ... Jadi bagaimana jika pemiliknya kehilangan kuncinya? Akankah ruang ini tidak pernah terbuka lagi? Jika semisal ada bayi yang terjebak di dalam kamar ini, dia akan mati.”


"Oh."


"Tentunya, si pembuat kunci tidak mau bertanggung jawab atas tindakan ceroboh si pelanggan, sehingga mereka selalu menyembunyikan cara darurat untuk membuka, melepas dan menukar kuncinya. Tentu saja, mereka tidak memberitahu pelanggan tentang informasi tersebut. Karena jika ada seseorang yang mengetahui informasi itu, maka seluruh sistem keamanan ini akan sia-sia belaka.”


Kamijou melihat pekerjaan Hamazura tetapi dia tidak tahu apa yang sedang Hamazura lakukan. Namun ia melakukannya, Hamazura dengan cepat melepas seluruh gembok, menekan kait di dalam, dan membuka pintu. Pintu itu begitu besar sehingga piano, home theater, dan berbagai benda besar lainnya bisa masuk, sehingga Power Lifter bisa masuk ke dalam.


Setelah mereka membuka pintu geser ganda, mereka menemukan ruang yang amat besar.


Namun, hanya terdapat satu ruangan di sana.


"Ini adalah suatu apartemen, tapi ini terlihat seperti pintu masuk penginapan," komentar Kamijou.”Wow, bahkan ada tangga.”


"Tempat ini terlihat seperti villa yang berharga ratusan juta yen, kan? Bagaimanapun juga, ini adalah tempat persembunyian Frenda. Takitsubo adalah pengecualian, tapi aku ingin tahu apa yang dia sembunyikan dari Mugino dan Kinuhata.”


"?"


"Apa pun yang disembunyikan di sini, kita hanya perlu berdoa bahwa itu bukanlah bahan peledak. Mengingat kebiasaan Frenda, mungkin ada semacam sistem-penghancuran-diri untuk melenyapkan bukti-bukti keberadaannya.”


Tidak ada tanda-tanda orang pernah tinggal di apartemen ini, tapi itu bukan karena pemiliknya telah pergi begitu lama.


Walaupun itu adalah apartemen, tidak pernah ada orang yang menempatinya. Itu lebih mirip seperti tempat penyimpanan kelas tinggi. Atau mungkin suatu brangkas untuk menyimpan apa pun untuk memastikan keamanannya.


Kamijou dan Hamazura tidak bisa mengatakan dengan pasti tanpa melakukan pencarian menyeluruh, tapi lantai ini saja tampaknya memiliki lebih dari lima kamar. Berapa banyak lagi yang mereka akan temukan jika mereka menaiki tangga ke lantai lain?


"Dengar. Hati-hati ketika kau menginjak lantai kayu, jangan sembarangan membuka layar geser, jangan menyentuh sakelar, jangan main-main dengan perangkat aneh yang kau temukan, jangan tertangkap oleh tripwires* atau sinar inframerah, hati-hati pada gelombang ultrasonik dan gelombang mikro, sangatlah berhati-hati pada sesuatu yang terlihat seperti sayuran atau pot tanaman. Layaknya pastry* koki kelas atas yang bisa menciptakan kue manis apa pun, Frenda mungkin telah menyamarkan bahan yang berguna.” [Tripwires adalah sejenis kawat yang dibentangkan di tanah untuk mengaktifkan jebakan, ledakan, atau alaram ketika diinjak. Kamus Besar Oxford.] [Pastry adalah adonan tepung, air, lemak, yang digunakan sebagai dasar atau selimut kue pencuci mulut atau pie. Kamus Besar Oxford.]


"Lantas, apa yang boleh kulakukan?"


Apa pun yang mereka katakan, satu-satunya pilihan tersisa adalah memeriksa semua layar geser.


Mereka memulainya dari layar yang berada lurus di depan aula besar pintu masuk.


"Biasanya, ini akan menuju pada ruang tamu."


"Dengan ruangan selapang ini, mungkin ini adalah ruang permainan atau ruang proyeksi. Tapi tempat ini adalah gudang raksasa, sehingga tampaknya, penggunaan ruangan ini tidaklah normal. Aku hanya berharap kita tidak menemukan satu ton bom berbahan bakar udar di sana.”


"Hanya ingin tahu, siapa sih sebenarnya mbak Frenda ini?"


"Satu-satunya hal yang layak diketahui, gadis itu adalah kakaknya Fremea."


Setelah pemeriksaan sangat menyeluruh di daerah sekitar layar, Hamazura meraih tombol dengan tangan baja besar Power Lifter.


Level ancaman: belum ditentukan.


Peringatan Aneri berarti, mereka bisa menemukan apa pun di sisi lain ruangan tersebut.


"Dengar. Pergilah lebih jauh dan tanggung sendiri resikonya. Jika banyak benda yang terlihat berbahaya, langsunglah tiarap ke lantai. Jika kau mengambil tindakan setelah bomnya dipantik, maka semuanya sudah terlambat.”


Frenda telah menyembunyikan sesuatu yang tidak diketahui oleh seluruh anggota ITEM.


Aihana Etsu menginginkan benda itu, tak peduli apa pun wujudnya. Karena itu bisa menuntunnya ke temannya yang hilang tersebut


Hamazura berpikir untuk sesaat, tapi kemudian ia memindahkan tangan mekaniknya pada kenop.


Dan ia meluncur ke samping.



Part 12[edit]


"Ampun deh."


St. Germain wanita yang mengenakan pakaian asisten pesulap menyerupai setelan kelinci dan jaket sedang berlutut di taman sembari diterangi cahaya bulan.


"Aku belum menggali dalam ke masalah di sekitar Frenda Seivelun. Bagaimanapun juga, aku hanyalah orang luar.”


"..."


Aihana Etsu dengan perlahan kembali menatap wajah St. Germain.


Beberapa helai rambut pirangnya tertiup angin malam kemudian terselip di antara bibirnya.


Wanita berkulit putih, berbadan ramping, dan berambut pirang bergelombang itu tertawa.


"Namun, aku tahu cukup banyak informasi karena Dianoid. Ini adalah gudang raksasa yang sering digunakan oleh para VIP Academy City untuk menyembunyikan rahasia mereka dengan aman. Ini adalah tempat yang paling cocok untuk mempelajari rahasia orang lain.”


"Apakah kau melihat kamarnya?"


"Tidak" St. Germain menggeleng.” Dianoid menyimpan benda-benda yang lebih berharga daripada sekedar koleksi. Itu juga termasuk DNA komputer berbasis karbon dan berbasis organik. Sederhananya, itu juga termasuk pengelolaan harta digital. Aku bisa memanipulasi benda-benda itu secara langsung, jadi apa boleh buat, aku terpaksa memanfaatkannya untuk kebutuhanku.”


"Lantas, apakah itu ada di sana?"


"Iya." St. Germain menjatuhkan pil lain dari kotak pilnya.”Tapi ternyata itu adalah masalah yang lebih menyusahkan daripada yang kuharapakan karena aku harus mengakses komputer DNA secara langsung. Bahkan jika mesin itu adalah karbon, benda itu masihlah menggunakan kabel serat optik. Aku dapat mengendalikan mesin, tapi aku tidak bisa menyentuh kabel. Itu berarti, aku tidak dapat menggunakan jaringan kamera keamanan yang luas. Betapa memalukan.”


"Itu tidak masalah," potong Aihana Etsu.


Dia tidak lagi mengamati ekspresi wajah atau ketakutan karena emosi yang diluap-luapkan oleh wanita itu. Apakah ini sebabkan karena hati Aihana Etsu sudah dirasuki dan dikuasai oleh rasa benci yang begitu kelam?


Atau apakah dia sudah tidak bisa mengerem hasratnya karena tujuannya selama ini tepat disajikan di depan matanya?


Suatu kelegaan yang, entah kenapa, terasa begitu jahat meliputi dirinya. Dia menggerakkan matanya yang sudah mulai berubah jadi gelap dan sedikit membuka bibirnya. Dia pun terus berbicara.


"Katamu tadi, kamar itu berisi 'sisa-sisa bukti terakhir' keberadaannya. Berapa banyak yang kau tahu? Apakah kau sudah memperlajari seluruh Dianoid?”


"Apakah anda ingin tahu, paduka?"


"Jawab aku."


"Bahkan jika itu akan menyebabkan anda menyesal setengah mati?"


"Jawab aku, St. Germain!!!!"


Wanita pirang menjentikkan jarinya.


St. Germain lainnya datang dan membawa tablet seukuran buku diktat menuju Aihana Etsu.


Tanpa pikir panjang, Aihana mengambilnya dan mendengarkan St. Germain yang wajahnya menyerupai versi dewasa Frenda.


"Sekarang lihat sendiri, paduka. Ini adalah penyesalan yang telah kau pilih.”


Tidak jelas apakah Aihana mendengarkannya ataukah tidak, yang pasti, dia menatap layar tablet di hadapannya dengan sorot mata serius.


Dalam sekejap, pikirannya dipenuhi dengan beberapa bayangan.


.............................................................jalan layang yang disertai dengan rel kereta di bawahnya. .......................Seorang pria dan perempuan berbicara bersama-sama........................................... Benda yang diseret oleh si gadis terlihat seperti boneka beruang yang terkoyak.......................... ......................................................................................................................Seorang teman akrab Merah dan hitam............................................................................................................................ .....................................................Terlalu banyak bagian yang hilang.......................................... Suatu potongan badan................................................................................................................... ..........................................................................Robek-terpisah dengan warna yang begitu buruk


Seorang gadis berambut pirang panjang bergelombang dan kulit putih telah kehilangan nyawa dan tampak seperti kertas kering yang lusuh, matanya kosong tanpa cahaya, warna merah menetes keluar dari sudut mulutnya, tubuh ramping itu telah kehilangan segala sesuatu dari bagian tengah sampai bawah, sesuatu yang lembut dan berwarna merah gelap bergelantungan dari sobekan tubuhnya, potongan tubuhnya yang masih lembek mengelurkan cairan, dan itu mengecat lantai di bawahnya dengan warna merah berbau amis, terlihat jelas bahwa dia diseret-seret layaknya karung busuk yang......


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!! ???"


Hal berikutnya yang dia tahu, Aihana Etsu berteriak tak terkendali.


Dia cukup lama tidak mendengar kabar tentang teman gadisnya itu. Seakan-akan si gadis tinggal di dunia yang berbeda darinya. Skenario kasus terburuk ini sempat terlintas dalam pikirannya, tetapi dia repot-repot datang ke sini untuk membuktikan bahwa kekhawatirannya itu salah. Jika dia bisa membersihkan semua kegelapan dan menyalakan secercah cahaya, ia berharap untuk menghilangkan ketakutannya. Dia terus berdoa agar senyuman hangat itu kembali dan dia bisa menghabiskan hari-harinya dengan si gadis seperti dulu kala.


Tapi ...


Apa ini?


Ini lebih dari tertusuk, tercekik, atau kepalanya tertembus peluru.


"Ah ... aahh ... aaahhh ..."


Kelenjar air matanya tak mampu lagi membendung genangan air.


Dia berteriak dengan begitu keras, dan setelah itu, tenaganya habis...yang tersisa dari dirinya saat ini hanyalah jasad kosong tanpa jiwa, tapi dia tidak mati. Anggota tubuhnya tergantung lemas dan matanya tetap terbelalak seperti boneka rusak. Tekad dan semangatnya telah hancur. Aliran emosi meluap dari raganya, dan menjelma menjadi kucuran air mata.


Ini sungguh mengerikan.


Ini teramat mengerikan.


Ini terlalu parah.


Mungkin ada perbedaan mendasar dalam kematian seseorang. Apakah mayatnya masih utuh dengan sempurna ataukah sudah terkoyak menjadi serpihan, itu masihlah mayat biasa. Tapi, pemandangan macam apa yang dia saksikan di layar barusan? Dosa macam apa yang sudah dilakukan si gadis sehingga dia harus mati dengan cara seperti itu? Tubuhnya telah terbelah dua, diseret di tanah, dan mirip seperti makanan hewan ternak.


Menurutnya, itu adalah kematian yang tak layak bagi seorang manusia. Bahkan hewan sekalipun tidak layak dibunuh dengan cara seperti itu.


Itulah mengapa ia menolak untuk menerima kematian ini dan mengambil langkah ke dalam kegelapan kota.


Tapi dia telah salah.


Ada sesuatu setelah kematiannya.


Apakah dia sudah dimakamkan dengan layak untuk menjaga martabatnya?


"Pernahkah anda mendengar tentang hal ini, paduka?"


St. Germain tertawa dengan berdesis dan berbicara lebih lanjut.


"Suatu bom jenis baru yang tersembunyi di Dianoid."


"..."


"Paling tidak, anda harus curiga mengapa Frenda dibunuh dengan begitu kejamnya.”


"Apakah kau hendak mengatakan bahwa dia sudah dikhianati?"


"Sulit bagiku untuk mengatakannya."


Pada saat itu, gemuruh mencapai mereka dan seluruh atap bergetar keras.


Aihana Etsu melihat ke atas kepalanya begitu saja dan St. Germain berbisik kepadanya.


"Sepertinya, dia adalah Mugino Shizuri."


"Siapa itu?"


"Gadis dalam rekaman video itu. Saat ini, dia sedang membasmi para St. Germain lainnya.”


Suatu getaran aneh dan sensasi mati rasa mencapai ujung jari Aihana Etsu.


Dialah orang yang melakukan semua "ini".


Dan saat ini pun, gadis itu sedang bebas sambil menghirup segarnya udara luar. Bahkan saat ini pun, dia sedang melakukan aksi kekerasan seakan-akan tidak menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Tidak salah lagi, paduka. Mugino Shizuri bukanlah masalah di sini.”


"Bukan masalah?"


Aihana tercengang sejenak.


Bagaimanapun juga, dia telah melakukan "ini". Jika bukan karena dia, semua kenestapaan ini tak akan terjadi pada temannya.


Tapi St. Germain menjelaskan.


"Sebagai contoh hipotetis, bagaimana jika terjadi suatu pertarungan mematikan untuk memperebutkan sepotong roti pada daerah konflik? Siapakah yang tanggung jawab untuk itu? Aturan dunia telah terdistorsi, sehingga….Bukankah seharusnya aturan dunia yang terdistorsi itu dihukum atau dilenyapkan terlebih dahulu? Setelah kita merubah sistem tersebut, barulah pihak-pihak yang tidak adil kita hukum dan basmi.”


"..."


"Kisah tentang teman anda adalah suatu tragedi," kata St. Germain.”Tapi yang paling menyedihkan dari semua itu adalah…. Cerita pilu tersebut bukan satu-satunya tragedi yang terjadi di dunia ini. Lantas bagaimana cara melenyapkan semua tragedi di dunia ini sekaligus? Apakah itu mungkin? Tentu saja mungkin. Selama kita merubah seluruh sistem di dunia ini, maka kita akan mendapatkan dunia baru tanpa adanya tragedi-tragedi seperti itu.”


"Apa yang kamu bicarakan !?" bentak Aihana Etsu dengan nyaring.”Apalagi yang kau mau!?"


St. Germain menjawab rajanya.


"Eksistensi Kamijou Touma tidak diperlukan dalam dunia yang ideal."


Pada awalnya, komentar itu mungkin tampak tidak masuk akal.


Tapi dia adalah seseorang dengan kekuatan sejati, yang dapat mengubah segalanya.


"Hanya itu. Cukup dengan melakukan itu, kita bisa membalikkan dunia ini 180 derajat. Jadi tidak ada gunanya anda membenci Mugino Shizuri, Kakine Teitoku, atau orang lain yang terlibat langsung. Jangan memulai sesuatu yang tidak berguna. Pertama, anda menghakimi sistem, menghapus filter sistem yang ditempatkan pada situasinya, dan kemudian menghukum mereka semua yang terlibat. Jika anda masih menemukan hal yang tidak berguna, maka anda dapat mengikis itu sampai semuanya rata. Aku tidak sedang mencoba untuk melindungi Mugino Shizuri. Tapi jika kejahatan tidak dihakimi dengan benar, anda tidak dapat melakukan balas dendam yang layak.”


Bagi Aihana Etsu, ini tidak masuk logika dan tidak terasa nyata. Dia pernah sesekali mendengar nama Kamijou Touma ketika dia masih berkeliaran di gang-gang gelap Academy City, tapi ini terlalu ekstrim. Dan ia tidak bisa memutuskan seberapa banyak dia harus mempercayai si pirang.


Dan dia bertanya.


"Jika ..."


"Ya?"


"Jika misalnya Kamijou Touma berada di sana pada waktu itu, apakah Frenda bisa selamat?"


Itu adalah suatu pertanyaan bodoh. Karena jelas-jelas dia sudah mengetahui bahwa temannya telah mati.


Apa dia masih tidak percaya dengan hal yang dilihatnya barusan?


Tapi ...


"Tentu saja, dia sanggup menyelamatkan seseorang dengan kepalan tangan kanannya. Mungkin pria itu memiliki tubuh yang rapuh layaknya manusia pada umumnya, tetapi pada saat ini, ia mendapatkan keuntungan untuk bisa melawan eksistensi yang lebih tinggi seperti diriku.”


Dia membuatnya terdengar jelas.


Seakan-akan, hancurnya sebagian rencana adalah skenario untuk menjalankan rencana yang lebih besar.


Seakan-akan, diperlukan seseorang yang istimewa untuk melawan pria itu.


Mungkin saja, si pria jabrik telah berjalan di takdir yang seperti itu.


Tapi ...


(Kenapa tidak ada seorang pun yang berhasil tepat waktu menyelamatkan Frenda?)


Hakimi sistemnya.


Jangan membenci kegilaan umat manusia, bencilah sistem yang menyebabkan terjadinya semua kegilaan itu.


(Tidak peduli siapa, mengapa tidak ada seorang pun yang berada di sana untuk mendengarkan jeritan Frenda?)


Suatu suara gertakan terdengar dari mulut Aihana Etsu sembari ia menggencet giginya.


Dia tahu bahwa hatinya sedang tertuju ke suatu arah yang sesat.


"Apa yang akan anda lakukan?"


St. Germain memegang perisai emas sekali lagi.


"Tidak diragukan lagi, Mugino Shizuri adalah seekor setan. Jika anda membunuhnya, anda bisa membalas dendam dengan sukses. ... Tapi apakah itu cukup? Membuat penghakiman tanpa mengirim semua kejahatan pada cahaya. Itu sama saja dengan menunda kejahatan yang lain. Ada seseorang yang membunuh 2 orang, kemudian dia dihukum mati. Di sisi lain, ada seseorang yang membunuh 200 orang, kemudian dia juga dihukum mati. Lantas apa bedanya? Apakah membunuh 200 orang dan membunuh 2 orang adalah suatu hal yang sama?”


"..."


"Begitu juga dengan kasus ini, pada akhirnya, apa yang Frenda Seivelun tinggalkan akan dibawa ke cahaya. Jika itu disalahgunakan, maka namanya akan ternoda.”


Perisai emas itu memantulkan sinar bulan.


Sembari wanita itu berlutut, sorot mata St. Germain berbicara dengan jelas kepada Aihana Etsu.


Seseorang yang “tidak bisa” melakukan sesuatu dengan seseorang yang “tidak” melakukan sesuatu adalah dua hal yang jauh berbeda.


Dan kekuatan yang sanggup membuat dia “bisa” melakukan sesuatu ada di depan matanya.


"Baiklah," gumamnya.


Tangan kecilnya meraih perisai emas.


"Aku akan membersihkan semuanya. Sembari aku melakukannya, Mugino Shizuri bisa menunggu beberapa saat. Kamijou Touma adalah prioritas utama. Apakah dia terlibat atau apakah dia tidak terlibat. Aku akan cari tahu nanti.”


"Itu tidak masalah. Jika memang surga itu ada, aku yakin teman anda sekarang sedang tersenyum dari sana.”


"..."


Dia tidak membalasnya dengan kata-kata, tapi dia melanjutkan perkataannya di dalam hati.


(Jika eksistensi Kamijou Touma bisa berubah takdir Frenda, maka aku dapat mengatakan bahwa ketidakmunculannya di waktu itu adalah suatu kejahatan ...)


Dia merasakan bobot perisai yang ada di tangannya.


(Kalau begitu, ketidakmunculanku di sana pada waktu itu, jugalah suatu kejahatan. Maka aku akan menghukum diriku sendiri setelah semua ini selesai.)


"Apa yang bisa Anne’s Shield lakukan?"


"Perisai itu tidaklah penting. Yang penting adalah, anda tahu bahwa benda itu telah memilih anda. Layaknya pedang Excalibur. Ketajamannya bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah orang yang telah mencabutnya.”


"Aku tidak ingin menyanjung diriku sendiri. Aku ingin sesuatu yang dapat kugunakan dengan segera.”


"Heh heh. Sebetulnya aku ingin membuat kejutan untuk anda, tapi sepertinya, aku akan memberikan penjelasan umum. Ingatlah bahwa ini bukanlah efek dari kekuatan perisai itu. Ini semua adalah murni kekuatan anda, Anne’s Shield hanyalah alat bagi anda.”


St. Germain berbicara seakan mengungkapkan suatu rahasia yang berharga.


"Pedang King Arthur adalah simbol dari pemerintah kerajaan yang aktif dan positif. Dia memerintah melalui dominasi dan ekspansi wilayah. Sebagai tandingannya, apa yang dilambangkan oleh Anne’s Shield? Jawabannya adalah sisi pasif dan negatif dalam memerintah kerajaan.”


"Jawablah dengan lebih spesifik."


"Benda itu dapat menembak apa pun. Benda spiritual defensif terkuat ini menggunakan cahaya terkecil untuk merobek apa pun yang ada di depan anda. Benda itu bisa membuat .......yah, katakan saja lubang seukuran sedotan.”


"Terkuat? Benarkah?”


"Tidak perduli material apa pun yang ada di hadapan anda, benda itu bisa menembusnya. Benda itu bahkan bisa menembus 2.000.000 ksatria sekaligus. Itu adalah serangan horizontal yang mematikan. Bukankah itu adalah suatu kekuatan yang cukup pantas untuk melebihi Imagine Breaker, dan merobek Kamijou Touma menjadi serpihan?”



Part 13[edit]


Hamazura Shiage dan Kamijou Touma menemukan pemandangan yang tak terduga di balik layar geser.


Itu bukanlah bom jenis baru atau bahan peledak.


"Apa ini?"


Kamijou melihat tikar tatami pada ruang tamu yang tampak cukup besar untuk kelas ekonomi.


Bagaimanapun juga, sepertinya tempat ini tidak pernah dihuni. Bahkan, di sana tidak tersedia cukup banyak perabotan.


Sebaliknya, seluruh ruangan dipenuhi dengan kotak.


Beberapa kotak berukuran sekecil kotak bento dan ada yang lebih besar dari lemari es.


Pembungkus warna-warni dan pita yang terdapat pada kotak tersebut mengingatkan Hamazura pada sesuatu.


"Natal? Tidak, ini adalah ...”


"Sepertinya ini adalah hadiah ulang tahun. Dan ada kalender di sini.”


Kamijou menunjuk kalender yang ditempel dengan paku payung di dinding. Di sana ada gambar makhluk laut dan ditandai dengan stabilo.


Tapi tidak hanya satu atau dua hari.


Bahkan, ada banyak hari yang ditandai dengan stabilo.


Dari sudut matanya, Hamazura melihat Aneri merekam nama-nama yang ditulis pada kotak tersebut dan membangun database.


"Kalau dipikir-pikir, Frenda adalah anggota ITEM yang paling banyak koneksinya. Aku rasa, dia pernah bilang bahwa dia kenal ribuan orang dari sisi gelap kota maupun sisi terang kota.”


"Maka ini adalah ...?"


"Apakah ini semua adalah hadiah ulang tahun? Ini terlihat seperti ketika suatu perusahaan mempersiapkan hadiah akhir tahun untuk semua orang karyawannya.”


Kamijou membalik-balik kalender sambil mendengarkan suara terkejut dari Hamazura.


Kalender itu belum diperbarui selama beberapa bulan, tapi semua tanggal ulang tahun telah ditulis beberapa bulan ke depan. Dia berhenti setelah membalik-balik beberapa bulan.


1 Desember.


Itu adalah tanggal pada hari ini. Nama yang tertulis di sana bukanlah "Aihana Etsu", tapi dia mengenali wajah pada stiker foto kecil yang ditempelkan di sana.


"..."


"(Aku bisa paham mengapa ia tidak ingin Mugino atau Kinuhata melihat ini.)"


Hamazura bergumam pada dirinya sendiri sambil melihat sekeliling ruangan sekali lagi.


Scan Aneri mengkopi beberapa nama familiar yang terdapat di kotak-kotak itu.


Tidak ada perangkap, tidak ada senjata, dan tidak ada motif tersembunyi.


Tempat ini adalah sisi lain dari Frenda yang sama sekali tidak berbahaya.


Ini akan menjadi tempat dimana ia menyegel sisi lembut dari dirinya. Dia memiliki sisi kepribadian berbeda yang tunjukkannya di dunia normal dan yang ditunjukkannya di dunia kegelapan kota. Di tempat ini, dia tidak harus berperilaku sebagai kakak yang teladan bagi Fremea atau berprilaku sebagai pembunuh yang mematikan di sisi gelap kota. Ini adalah tempat tinggal mungil miliknya, dimana dia bebas menjadi dirinya sendiri.


Setiap orang memiliki beberapa sisi.


Semua nyata dan tidak satupun palsu.


Kalau ada seseorang yang menilai sisi kemanusiaan Frenda Seivelun didasarkan pada setiap bagian dari dirinya, mungkin orang tersebut akan mendakwanya sebagai seorang gadis yang jahat.


Sama sekali tidak ada kata maaf untuk semua hal yang telah dia ledakkan dan semua nyawa yang sudah dia renggut.


Ketika dia menang, dia sama sekali tidak memikirkan nasib orang-orang yang telah dibunuhnya. Dan jika dia hampir kalah, dia tiba-tiba akan mulai berbicara panjang lebar tentang kesucian hidup. Ketika dia dibunuh, dia menikmatinya. Ketika dia hampir dibunuh, dia akan menjual temannya dan akan memohon dengan sangat untuk diampuni. Dia adalah jenis gadis yang egois sekaligus gadis yang baik.


Tapi ...


Kenyataan itu tidak sepenuhnya membatalkan apa yang telah mereka temukan di sini.


Beberapa remote kontrol berbaris di tepi meja. Remote-remote itu adalah milik beberapa perkakas rumah tangga seperti : TV, AC, perekam digital, proyektor, tirai, dll. Ketika Hamazura mengambil salah satunya dan menekan tombol power, muncul semacam program yang terpampang pada dinding di sebelah kiri hadiah-hadiah tersebut. Pada program tersebut terdapat daftar benda-benda berbeda yang diinginkan beberapa orang.


"Jaka-jaka-jan ... Tidak, itu tidak benar. Jaka-jaka-jaka-jan! Apakah itu?”


Perekam digital itu berisi beberapa video, dan di sana terekam Frenda sedang menari-nari.


Hamazura beranggapan, bahwa ia sedang berlatih untuk beberapa jenis pertunjukan di pesta ulang tahun, tapi ...


"Jaka jaka Jahn Jan Ini dia! Pada akhirnya, pasti yang itu. ... Heh heh heh. Mugino pasti akan sangat terkejut.”


"..."


Hamazura menyaksikan suatu senyuman yang riang.


Di rekaman itu, seakan-akan Frenda tidak mengerti apa yang bakal terjadi pada hidupnya.


Hamazura dengan tenang menggunakan remote perekam digital untuk mematikan rekaman tersebut.

NT Index v12 291.png

Jauh di dalam hatinya, Hamazura berkata pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan Mugino tahu akan hal ini.


Kamijou akhirnya berpaling dari kalender itu.


"Aihana mengatakan bahwa di tempat ini kita akan menemukan alasan mengapa Frenda Seivelun menghilang, tapi apakah kita harus berasumsi bahwa dia salah tentang hal itu?”


"Ya. Aku ragu dia meninggalkan benda seperti itu di sini," sembur Hamazura sebelum mengucapkan hal lainnya.”Tapi itu tidak sepenuhnya percuma."


Saat itulah mereka melihat sesuatu yang berkedip di balik tumpukan hadiah.


Itu melekat pada dinding. Kamijou lah yang melihat itu pertama kali dan Hamazura menyadari bahwa Kamijou sedang mengamati sesuatu. Mereka memeriksa dan menemukan layar sentuh datar dan suatu ponsel yang terpasang pada penerima.


Mereka awalnya berpikir bahwa itu adalah interkom, tapi ternyata bukan.


"Apa ini?"


Layar itu menampilkan lantai apartemen dan lampu merah berkedip pada pintu masuk utama.


"Oh, aku mengerti. Ini adalah peringatan keamanan karena aku membuka pintu depan dengan paksa.”


Hamazura membungkuk ke depan dari Power Lifter dan menyentuh layar itu.


"Hm? Apa-apaan ini!?”


Dia mungkin telah salah mengoperasikannya karena lantai yang ditampilkan di layar hilang.


Malahan, di sana terpampang gambar lebih dari satu apartemen.


Seluruh Dianoid ditampilkan pada layar tersebut. Puluhan atau bahkan ratusan foto muncul di sana-sini. Itu menunjukkan rekaman : beberapa pintu masuk bangunan, di dalam toko tingkat rendah, di depan lift dan eskalator, seta dalam stasiun TV pada tingkat tengah.


Kamijou berbicara dengan lantang setelah dia mengamatinya.


"Kamera keamanan?"


"Tapi kenapa? Mengapa dia merekam tempat-tempat yang tidak berada di sekitar kamarnya?”


"Mungkin itu adalah hak istimewa untuk para VIP. Untuk semakin meyakinkan pelanggannya, pihak management menjual privasi orang lain'.”


Aneri tidak terikat oleh kabel, tapi pengamatan pada layar sudah cukup untuk membuat beberapa prediksi rinci tentang bagaimana cara untuk mengoperasikan suatu perangkat.


Kali ini, Hamazura mengendalikannya sesuai keinginan.


Dia memeriksa history login dan tidak menemukan apa-apa kecuali momen pada saat kontrak sewa ditandatangani. Sepertinya, Frenda telah melihat perangkat ini saat memeriksa sistem keamanan apartemen dan tidak pernah menyentuhnya lagi sejak itu. Itu berarti, dia tidak pernah menginstallnya dan benda itu sudah ada sejak dia pertama kali datang di apartemen ini.


Selama pekerjaannya di sisi gelap kota, dia mungkin menggunakan peralatan semacam ini dengan senang hati. Semakin banyak informasi yang dia miliki, maka semakin menguntungkan posisinya. Dan dia bukanlah orang yang khawatir terhadap privasi orang lain.


Tapi waktunya di sini berbeda.


Di tempat ini, Frenda tak berlu bersandiwara karena tidak ada gangguan dari sisi gelap ataupun sisi terang kota. Di tempat ini, dia hanya merencanakan berbagai hadiah untuk ulang tahun kolega-kolega yang dia kenal. Sehingga dia tidak perlu pusing-pusing memikirkan busuknya identitas kota.


Kesal, Hamazura melepaskan jarinya dari layar, tapi giliran Kamijou memegangnya dari samping.


Dia menyentuh salah satu gambar-gambar yang tak terhitung jumlahnya.


"Hei!"


"Tunggu sebentar. Lihat di sini.”


Dia mengganggu Hamazura dan memperluas windows kamera keamanan.


Di sana, ada gambar yang merekam taman bermandikan cahaya bulan purnama di atas atap Dianoid.


Ada seorang anak laki-laki yang berdiri dan dikelilingi oleh puluhan orang dengan jas berekor.


Dia berbicara dengan wanita berambut pirang yang mengenakan setelan kelinci dan jaket kombinasi.


"Itu adalah Aihana Etsu. Untunglah, dia masih baik-baik saja.”


"Itu dia? Bagiku, dia tidak terlihat seperti # 6. Dia lebih mirip seorang Level 0.”


Tidak seperti rekaman video normal, kamera keamanan tidak memberikan suara.


Untungnya, Aneri menampilkan potongan teks di bagian bawah layar seperti subtitle film.


"Ikut aku, paduka."


"Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak? Aku hanya pernah mendengar tentang Kamijou Touma dari rumor, tapi kau tahu apa kekuatannya yang sesungguhnya, bukan?”


"Tidakkah aku memberitahu anda sebelumnya? Aku telah mencari raja yang benar-benar bisa kulayani. Dan Kamijou Touma adalah lawan yang sangat baik untuk menguji kekuatan sang raja. Sudah sewajarnya jikalau anda membalas dendam dan mendapatkan kembali hal yang seharusnya anda miliki.”


"Apakah ini ... benar-benar suatu aksi balas dendam?"


"Andaikan saja Kamijou Touma tiba tepat waktu di saat itu, Frenda Seivelun tidak akan mati. Bukankah itu benar? Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi siapa pun yang kenal benar tentang dirinya pasti akan setuju denganku.”


"... Kamijou Touma."


"Istilah Dewa Sihir mungkin tidak berarti banyak bagi anda, tapi aku menganggap bahwa anda setidaknya pernah mendengar berita dan melihat video dari insiden di Denmark. Itu adalah perang yang dilancarkan terhadap seorang Dewa Sihir yang begitu dibenci oleh seluruh dunia. Bahkan ketika dihadapkan dengan kebencian enam miliar orang, Kamijou Touma masihh saja melindung Dewa Sihir sampai akhir. Jika ia bisa melakukannya, mengapa ia tidak begitu perduli dengan kegelapan Academy City?”


"..."


"Aku mengambil tindakan dan masuk ke dalam stasiun TV untuk mencuri kontainer, jadi gunakan itu untuk melindungi manusia sebanyak yang anda inginkan.”


Dan Kamijou Touma pun bisa mendengar percakapan ini, karena Hamazura membacakan informasi yang Aneri sajikan padanya dengan suara lantang.


Mereka berdua hanya menerima potongan-potongan percakapan, sehingga hampir mustahil untuk memahami semuanya dengan akurat.


Tapi mereka masih bisa membuat beberapa tebakan berdasarkan potongan informasi yang tidak menyenangkan itu.


"Aku tidak tahu apa yang sedang wanita itu bicarakan," gumam Hamazura Shiage.


Kebingungan itu membuatnya berteriak.


"Kami memang mengangkut kontainer ke TV Orbit, tapi itu bukanlah sebuah perisai. Kontainer itu untuk acara yang menggunakan teknologi mutakhir. Itu adalah suatu acara untuk melihat seberapa akurat Jam Jerman Kuno bisa menjaga waktu!!”


"..."


Kamijou menyipitkan matanya.


Seseorang sedang berbohong. Apakah itu orang yang telah membuat pesanan terhadap Hamazura ataukah St. Germain yang bersikeras bahwa dia mendapatkan perisai dari kontainer tersebut?


Hamazura tampak benar-benar bingung.


"Dan apa apa maksudnya King Arthur? Bukankah itu adalah seorang raja yang muncul dalam game RPG?”


"Itu menunjukkan bagaimana terkenalnya dia. Di sisi sihir, ia mungkin adalah seorang penyihir atau Saint sungguhan," sembur Kamijou.”Tapi Aihana berasal sisi ilmu pengetahuan, jadi, akankah suatu nama seperti itu benar-benar cukup untuk meyakinkan dia agar bertindak?”


"Aku agak mengerti." Hamazura berpikir sejenak.”Academy City adalah markas sisi ilmu pengetahuan terbesar, tetapi berita pagi masihlah memberikan acara tentang horoskop. Ini bukan tentang logika. Semua orang menontonnya meskipun mereka tahu itu adalah omong kosong. Jika kau hanya percaya pada aturan Academy City, Level 0 akan selamanya menjadi Level 0. Hukum fisika terkesan begitu kejam jika kau adalah orang yang lemah. Jadi kau akan panik dan sangat ingin tahu ketika kau menemukan adanya suatu hukum yang sama sekali berbeda dari hukum fisika. Yaitu suatu hukum yang jauh lebih mudah untuk diterapkan, tidak memerlukan bakat, dan bahkan bisa membuat seorang Level 0 menjadi dewa, iya kan?”


"..."


"Jika ada celah, semua orang ingin menggunakannya. Mengatakan bahwa kau punya bakat tersembunyi atau tidak cukup serius, itu semua hanyalah suatu alasan klise yang usang. Dan dengan diperkuat oleh kisah-kisah tentang beberapa tokoh besar dalam sejarah atau senjata yang terkenal, maka beberapa orang akan semakin percaya, dan kau akan beranggapan bahwa mimpimu akan menjadi kenyataan. Ini mirip seperti mencari tahu bahwa kau adalah seorang kerabat kandung salah satu dari tujuh Level 5 dan memiliki informasi genetik kuat yang tersembunyi di dalam dirimu.”


Hamazura mencoba untuk memberikan jawaban yang tenang, tapi ia pun sadar bahwa amarah yang sudah lama terpendam dalam dirinya ikut-ikutan meluap. Bagaimanapun juga, dia berada di posisi yang tak jauh berbeda dengan Aihana Etsu.


Cinderella dan Si Bebek Buruk Rupa mungkin hanya ada dalam cerita dongeng.


Para pahlawan di buku cerita bergambar anak-anak tidak benar-benar berusaha dalam mengatasi masalah-masalahnya. Mereka memiliki bakat khusus sejak lahir dan mereka hanya perlu beberapa orang khusus membimbing mereka, lantas semua urusan selesai. Di satu sisi, mereka bisa disebut sebagai pemalas. Dan mungkin, orang-orang yang hanya mengandalkan cerita-cerita dongeng tanpa mau bekerja keras juga bisa disebut dengan julukan serupa.


Tapi orang-orang melakukan itu karena mereka tidak punya banyak pilihan.


Jika mereka bisa mengubah diri sendiri dengan usaha yang cukup atau jika upaya mereka pernah membuahkan suatu hasil yang nyata, maka tidak ada orang yang bakal kesulitan di dunia ini. Mereka terus dibodohi oleh Daftar Parameter dan pertumbuhan mereka dikendalikan untuk keuntungan orang-orang dewasa, tapi mereka masih mencoba untuk mengejar impian mereka.


Bakat instan yang ditawarkan tanpa banyak memerlukan upaya mungkin adalah suatu ilusi untuk orang-orang berhati lemah.


Aihana Etsu mungkin bukanlah orang yang kuat. Dan dia adalah orang yang tidak mampu merubah keadaan hidupnya menjadi lebih baik.


Tapi ...


Apakah ada seseorang yang berhak mencemoohnya hanya karena dia lemah?


"St. Germain sedang menyuruhnya untuk melakukan apa? Aku yakin betul bahwa namamu, Kamijou Touma, disebutkan dalam percakapan antara mereka berdua.”


"Ada sesuatu." Kamijou sedikit menyipitkan matanya.”Ada sesuatu yang harusnya terjadi jika aku ada di sana, pada waktu itu. Bukannya aku adalah seseorang yang hebat. Aku hanyalah orang yang memenangkan berbagai pertarungan setelah menggunakan beberapa trik di buku diktat sekolah, dan menerima bantuan dari banyak teman.”


"Apa......Apaan maksudmu?"


"Paling tidak, aku yakin bahwa Aihana Etsu melihat sesuatu yang harusnya terjadi di masa lalu. Frenda Seivelun, kan? Mungkin saja, dia berpikir bahwa gadis itu meninggal karena aku tidak menyelamatkannya tepat waktu.”


"Apa-apaan itu!?"


Hamazura berteriak kebingungan.


Jika argumen itu benar, berarti Kamijou Touma bertanggung jawab atas kehidupan enam atau tujuh miliar orang di planet ini. Jika misalnya saja ada seseorang celaka di suatu waktu, dan di suatu tempat, maka Kamijou Touma lah yang harus disalahkan.


Itu lebih mirip seperti pekerjaan untuk Tuhan.


Dan ...


"Itu sungguh merupakan omong kosong. Kau bahkan tidak kenal Frenda, kan !? Kalau begitu, mana mungkin kau harus bertanggung jawab ketika Frenda berada di ambang kematiannya. Aihana dan St. Germain sama sekali tidak membicarakan tentang Frenda!!”


"Tidak, memang tidak, tapi bukan itu masalahnya."


Kamijou berbicara dengan tenang dan berpikir tentang beberapa esper dan penyihir yang terlah berkonfrontasi dengannya di masa lalu.


"Orang-orang membalas dendam dengan tidak melihat realitas. Ada beberapa kasus dimana kematian seseorang ternyata berhubungan dengan kepentingan dan manupulasi suatu pihak. Jadi, hanya perlu sedikit kebohongan untuk melencengkan niat Aihana Etsu yang pikirannya sudah gelap.”


"Tapi !!"


Perkataan Hamazura tercekat di tenggorokan, sehingga ia perlahan-lahan mengambil napas dan mulai berbicara lagi.


"Memang benar bahwa insiden itu begitu mengerikan. Semua orang menjadi gila, zona aman yang normal pun dilanggar, dan cita-cita orang dewasa tidak berlaku sedikit pun. Frenda meninggal dan banyak orang lain sepertinya juga meninggal. Hal yang paling bisa kulakukan hanyalah mengakhiri itu semua. Meskipun begitu, aku tidak bisa dengan bangganya mengatakan bahwa aku menyelesaikan semua urusan.”


"..."


"Tapi kita semua berusaha setengah mati untuk mewujudkannya! Semua orang yang terlibat adalah manusia-manusia mengerikan, tapi kita terus maju untuk bertahan hidup walaupun tubuh sudah berlumuran darah!! Jadi, apa-apaan ini!! Apa yang salah dengan ketidakhadiran Kamijou Touma? Persetan dengan itu! Itu menodai semua udaha keras yang aku dan teman-temanku lakukan sampai sejauh ini. Seakan-akan itu mengatakan bahwa semua takdir hanya ditentukan oleh Kamijou Touma seorang, tak perduli seberapa keras upaya yang kami usahakan!!”


"Aku tahu itu." Kamijou menggeleng.”Dunia tidak berputar mengelilingiku, melainkan akulah yang berputar mengelilingi dunia. Sangat konyol ketika kau berpikir bahwa semua usahamu sia-sia jika aku tidak bertindak. Aku hanyalah orang yang berjuang untuk keegoisanku sendiri dan menciptakan masa depan sesuai dengan keinginanku. Aku sama sekali tidak melakukan hal besar yang bisa mengambil alih pencapaian orang lain yang telah berusaha keras.”


Tetapi beberapa orang tidak menyadari itu.


Tanpa bergantung pada ilusi itu, beberapa orang tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan seseorang yang berharga.


Itu tidak berbeda dari Cinderella yang atau Si Bebek Buruk Rupa.


Itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh hati lemah, tetapi meskipun hati mereka lemah, apakah seseorang punya hak untuk merendahkan dan mencemooh mereka?


"Jadi ... bagaimana? St. Germain sedang membuat Aihana melakukan hal apa terhadapmu?”


"Mungkin tidak hanya membunuhku. Jika dia hanya menginginkan kematianku, St. Germain bisa melakukannya sendirian. Dia bisa menyerang dari setiap arah tanpa bisa terjangkau oleh tangan kananku, jadi tidak ada alasan untuk mempercayai orang asing seperti dia.”


"Lalu ..."


"Sebaliknya," sembur Kamijou dengan kesal.”Ingatkah kau akan efek samping yang akan diderita seorang esper bila dia menggunakan sihir? Aku tidak tahu persis hal apa yang perisai itu mampu lakukan, tapi aku ragu bahwa perisai itu mempunyai kekuatan yang bisa mengalahkan Imagine Breaker milikku. St. Germain ingin mengadu Aihana Etsu denganku, sehingga Aihana mati. Dia ingin aku menanggung dosa pembunuhan. Itulah tujuannya di sini.”


"Kenapa begitu!?"


"Itu aku tidak tahu. ... Mungkin dia ingin membinasakan 'ilusi dari hati lemah', yang kita bicarakan sebelumnya.”


Tidak ada konsistensi dalam tindakan St. Germain.


Meskipun tampaknya terobsesi dengan Aihana Etsu, dia menyegel Dianoid dan mencoba untuk membunuh Kamijou bersama teman-temannya. Perbuatan-perbuatannya itu sama sekali tidak diperlukan jika dia hanya ingin mendapatkan Aihana Etsu.


Tapi perubahan sudut pandang membuat semuanya jadi jelas.


Aihana Etsu bukanlah semata-mata yang dia cari. Dia hanya bagian dari keseluruhan rencana. St. Germain menggunakan Aihana Etsu untuk membunuh Kamijou atau membuat dia menderita. Pertempuran melawan St. Germain mungkin adalah suatu hal yang sulit, tetapi jika nyawa Aihana Etsu dipertaruhkan, maka Kamijou tidak takut.


Katakanlah ada seseorang yang bertarung melawan harimau pemakan manusia dengan putus asa. Itu karena si manusia telah menginjak anak harimau sampai mati. Dalam kasus ini, kedua pihak sama-sama salah, namun kedengkian di dalam hati si manusia berbeda dengan si harimau.


Mungkin itu sudah cukup untuk mengubah pendirian Kamijou Touma.


Si pria jabrik kadang-kadang mendengar desas-desus tentang "sifat asli Kamijou Touma" yang diperbincangkan oleh orang-orang di sekitarnya. Dia tidak menyadari hal itu, tapi mungkin ada sesuatu hal istimewa yang dilihat orang lain pada dirinya. Dia mungkin bisa menemukan petunjuk di sana jika ia berbicara dengan Ollerus atau Othinus, tapi ia tidak pernah melakukannya.


Dan tentu saja, rasa panas yang memuakkan bergolak di dalam tubuh Kamijou.


"Persetan dengan ini. Kau tidak boleh memutuskan begitu saja bahwa Aihana Etsu adalah seorang yang lemah. Bajingan bernama St. Germain sudah mengarang cerita-cerita murahan dan membat Aihana terpojok !!”


"Tunggu sebentar. Jangan bilang bahwa kau berpikir untuk pergi dan menyelamatkan Aihana Etsu. Mungkin banyak hal yang sudah berubah, dan dia sedang berusaha untuk membunuhmu!”


"Memangnya kenapa? Tidakkah sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak pernah meremehkan orang ketika aku menyelamatkan mereka dan aku hanya berjuang untuk menciptakan masa yang kuingini? Jadi, tidak masalah jika dia membenciku atau tidak meminta bantuan! Aku akan menyeretnya keluar dari malapetaka ini dengan paksa jika perlu!!”


Hamazura Shiage menepuk jidatnya dalam Power Lifter.


Dia sekarang mengerti mengapa Aihana terkena ilusi murahan dari St. Germain.


(Dia terus-menerus mengaku menjadi seorang egois, tapi matanya jadi buta dan gelap ketika dia dihadapkan dengan kematian Frenda.)


Dan dia memutuskan bahwa mengikuti St. Germain adalah suatu pilihan yang baik.


"Jadi sebenarnya, apa yang akan kau lakukan? Bahkan jika kau ingin pergi menyelamatkan dia, dia dikelilingi oleh para St. Germain, ia memiliki senjata dengan efek samping yang mematikan, dan mungkin saja kita memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan Aihana bahwa dia telah salah.”


"Kami hanya harus menyingkirkan St. Germain."


Kamijou pasti menjawabnya sambil berpikir, karena dia berkata dengan cepat.


"Untuk memastikan bahwa dia tidak terkena efek samping sihir, kita perlu memulai serangan kejutan atau sesuatu untuk memisahkan dia dari perisai.”


"Dan setelah itu?"


"..."


"Tunggu sebentar. Jangan bilang!”


"Bahkan jika itu adalah suatu lelucon yang tidak lucu, kenyataannya adalah, Aihana Etsu sedang dimotivasi oleh rasa balas dendam. Jika kita memenuhi keinginan itu, dia akan berhenti, jadi tidak ada alasan untuk berpikir ulang. Dia hanya perlu memukulku sampai puas. Dengan, um ... oh, benar. Ini seperti kasus Mitsuari Ayu ... mungkin saja .”


"Tapi kemudian bagaimana denganmu!?"


"Aku tidak akan hanya duduk dan membiarkan dia membunuhku. Aku juga masih ingin hidup. Jadi jangan khawatir. Aku cukup percaya diri pada kemampuanku untuk menahan pukulan.”


Kamijou tersenyum tipis.


"Tapi ada alasan lain mengapa kita perlu mengambil perisainya sejak awal. ... Tidak ingin mati dan perasaan yang mengisi hati Aihana adalah dua hal yang berbeda. Aku ragu dia akan berhenti hanya karena aku mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin mati. Aku tidak tahu bagaimana Aihana melihat peristiwa yang terjadi di Denmark, tapi aku harus membayar kembali padanya untuk harapan salah yang telah kuperbuat.”


Itu adalah kata-kata menakutkan.


Itu adalah pemikiran Hamazura yang berbeda dengan sebelumnya.


Hamazura mengingat dongeng Happy Prince yang pernah ia dengar semasa anak-anak. Suatu patung pangeran dihiasi emas dan permata. Dengan bantuan burung yang lewat, potongan-potongan tubuh patung tersebut dikikis dan dikelupas untuk dibagikan pada orang-orang miskin di kota. Kamijou Touma mengaku bahwa dirinya adalah orang yang cukup egois, namun logika Kamijou selalu menunjukkan bahwa pria itu siap untuk dikorbankan demi orang lain.


Berapa banyak tabir yang harus dilepas untuk menemukan keegoisan yang sesungguhnya?


Atau jika dilihat dari sisi yang benar-benar berbeda, apakah ini bentuk keegoisan Kamijou Touma yang sebenarnya?


"Dengar. Setelah Aihana Etsu memenuhi keinginannya untuk membalas dendam padaku, dia tidak akan memiliki alasan untuk melawan. Dan sekali rencana St. Germain berantakan, dia akan menyerang dari segala sisi. ... Aku akan mengandalkan Lifter Power milikmu. Pastikan setidaknya kau membawa Aihana keluar dari sana.”


Hamazura tidak dapat membalas dengan segera.


Tapi kemudian ...


"...?"


Suatu titik merah baru muncul di dasar gambar rangka bangunan.


Ini adalah sejenis peringatan berkedip yang muncul ketika mereka berdua membobol kamar Frenda. Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah, sehingga sesuatu pasti sedang terjadi di sana.


Kamijou menempelkan jari telunjuknya ke arah layar sentuh.


Dan ketika ia menyentuh titik merah itu, layarnya menampilkan...



Part 14[edit]


Mungkin karena perbedaan tekanan udara, pintu geser itu terbuka. Hembusan angin kencang menyapu para St. Germain saat mereka berjalan ke ruang bawah tanah Dianoid.


Kelompok ini bukanlah kelompok yang pergi bersama Aihana Etsu dan mereka memiliki tujuan yang jelas.


"Ide-ide dari Academy City selalu begitu mengejutkan. Aku memiliki ide-ideku sendiri pada pengendalian karbon, tapi ini adalah sesuatu yang tidak aku miliki.”


Mereka semua adalah St. Germain dan semuanya akan berpikir hal yang sama ketika mereka melihat ini, tapi dia dengan sengaja mengucapkan kata-katanya dengan keras dan terkesan dibuat-buat.


Ada yang tua, ada yang masih muda, ada yang laki-laki, dan ada yang wanita.


Seorang pria St. Germain paruh baya berbicara kepada mereka semua.


"Dianoid. Ya, Dianoid. Tempat ini sungguh mencerminkan namanya.”


Panel lantai di kakinya berwarna bening, sebening kaca.


Karena seluruh Dianoid terbuat dari bahan karbon, kemungkinan tempat ini memiliki sifat yang mirip dengan berlian.


Apa yang berada di bawah kakinya adalah suatu rahasia yang tersembunyi di titik tengara terbesar Distrik 15.


Ya.


Pada dasar Dianoid, bangunan seberat 120 ribu ton ini melayang sejarak 10cm dari permukaan bumi.


Salah satu cara untuk melindungi bangunan dari gempa bumi adalah mengapungkannya beberapa sentimeter dari tanah dengan memanfaatkan kekuatan udara. Ini akan melindunginya dari getaran.


Tapi itu hanya berlaku untuk rumah biasa.


Adalah mustahil untuk mengangkat suatu bangunan 70 lantai dan tetap berdiri tanpa kehilangan keseimbangan.


Harusnya begitu.


"Suatu perangkat pengendali gaya gravitasi buatan, hm?" St. Germain tersenyum.”Berlian secara perlahan terbentuk ketika molekul karbon terkompresi di bawah tanah. Dengan kata lain, berlian buatan manusia membutuhkan lingkungan dengan tekanan tinggi yang ekstrim. ... Tetapi pada tingkatan ini, Dianoid juga bisa berfungsi sebagai laboratorium. Yaitu laboratorium yang dapat menghasilkan berlian seperti permen di pabrik.”


Dan ....


Penggunaan rahasia dari Dianoid ini bisa memproduksi berlian secara massal.


Sebagai contoh ...


"Suatu bom lubang hitam ... Yaah, mungkin tidak banyak. Paling-paling mereka hanya bisa membuat suatu bom bintang yang kerdil.”


Rumor dari sisi gelap kota mengatakan bahwa tipe baru bom tersembunyi di Dianoid. Siapa pun yang akrab dengan Frenda Seivelun berpikiran bahwa rahasia itu terkait dengannya, tapi ...


“Kau bisa mengatakan bahwa ini seperti mengompresi bumi dan bulan menjadi benda seukuran kepalan tangan manusia. Materi menghasilkan panas ketika dikompresi, jadi sepertinya, proses ini akan menghasilkan suhu dengan kisaran 10,000-20,000ºC. Bahkan Imagine Breaker pun tak akan mampu menahannya.”


St. Germain tidak memiliki dendam terhadap seseorang bernama Kamijou Touma.


Bahkan, ia tidak tertarik sama sekali pada Kamijou.


Dari awal, ia tidak memperhatikan Aihana Etsu maupun Kamijou Touma.


"Apakah yang sedang kalian saksikan, wahai para Dewa Sihir?"


Dia tertawa.


Dia bukanlah seorang penyihir ataupun Dewa Sihir. Dia adalah suatu eksistensi yang dikategorikan berbeda.


Tampaknya, dia sedang menantang seseorang.


"Pedang telah memilih siapa yang akan menjadi raja dan aku memperoleh Aihana Etsu bersama dengan perisai, tetapi kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Mainan berhargamu akan mati di sini. Jadi apa yang akan kau lakukan sebagai Dewa Sihir? Apakah ini adalah saat untuk mengejek Aleister tanpa memperdulikan dunia?”


Pada saat ini, suatu suara dentangan lembut terdengar, dan itu adalah pertanda liftnya telah sampai pada lantai yang dituju.


Para St. Germain berbalik ke arah itu.


Ketika mereka melihat anak yang melangkah keluar, ekspresi mereka menjadi tenang.


Mereka tampak raja kecil yang memegang perisai emas.


"Hai, paduka. Aku sudah menunggumu.”


Entah kenapa, mata Aihana Etsu tampak gelap dan kosong.


Dia lebih tampak seperti pisau yang sudah tumpul karena dipakai berkali-kali daripada pisau yang diasah sampai tajam.


Dengan ekspresinya kosong, anak itu perlahan-lahan membuka bibirnya.


Dan dia pun berbicara.


"Di mana ini?"


"Panggung terakhir."


Si St. Germain pirang berdiri di sampingnya untuk mengambil alih.


"Tidak peduli apa yang dikatakan orang, si idiot sok jago itu akan melihat bahwa ada yang salah dan langsung saja berlari ke sini. Anda hanya perlu menunggu di sini, paduka. Warisan Frenda akan mengundang musuh-musuhnya.”


"Semudah itu?"


"Kemudahan seperti itulah yang membuat dunia begitu membingungkan. Maka dari itu, adalah suatu hal yang aneh ketika pria itu tidak muncul sewaktu Frenda Seivelun dalam bahaya.”


"..."


Aihana Etsu mengambil napas dalam-dalam sambil mendengarkan.


Mengapa Kamijou Touma tidak tiba tepat waktu untuk Frenda Seivelun?


Jika memungkinkan, dia ingin menanyainya.


Tapi, ia juga harus menanyai dirinya sendiri pertanyaan yang sama. Mengapa Aihana tidak berada di sana waktu itu?


(Mengapa aku tidak tiba datang tepat waktu untuk menyelamatkannya?)



Part 15[edit]


Kinuhata Saiai berhadapan dengann dua puluh orang St. Germain.


Secara keseluruhan, lawannya bisa menghasilkan dua ribu tombak sekaligus dan mereka menyerang secara beruntun dari segala arah.


Namun, ekspresinya tidak muram.


Offense Armor mengelilinginya dengan penghalang kompresi nitrogen setebal beberapa sentimeter. Pada kekuatan penuh, itu memberikan pertahanan yang cukup untuk menangkis peluru sniper. Jika digunakan untuk menyerang, ia bisa mengangkat mobil dengan satu tangan.


Jadi bahkan jika dia menerima dua ribu serangan sekaligus, Offense Armor miliknya tidak akan tertembus selama kekuatan destruktif serangan tersebut masih berada di bawah tingkatan tertentu.


Dia tahu hal lain apa yang harus dikhawatirkan.


(Menerima kerusakan super di tempat yang sama secara berulang-ulang. Bahkan jika itu hanya setebal beberapa sentimeter, aku harus super menggeser titik kontak antara dinding nitrogen dan tusukan tombak-tombak tersebut.)


Karena dia bisa bertahan hidup dari serangan-serangan itu, ia dengan cepat berhasil mempelajari bagaimana pola serangan dari St. Germain.


(Aku pikir kemampuan untuk membuka lubang di sekujur tubuh manusia adalah yang paling berbahaya, tapi ...)


Dia terfokus pada tombak yang dibelokkan oleh Offense Armor-nya.


Tak lama, sesuatu muncul di depan matanya.


(Pada dasarnya, ada suatu titik setebal sehelai rambut, namun kemudian titik itu melebar jadi lingkaran super berdiameter 50-100cm, kemudian super tombak-tombak itu menembus lubang tersebut tanpa melukai orang sedikitpun. Iti dia.)


Suatu gemuruh meledak.


Bahkan ketika menghadapi dua puluh orang St. Germain, dia tidak punya alasan untuk tetap bertahan. Dia bisa menghentikan tombak, sehingga dia juga bisa mendekati dan memukul mereka dengan kepalan kompesi nitrogennya.


Untungnya, ia mampu membuat pingsan orang-orang yang telah berubah menjadi St. Germain. Jika mereka terus bangkit kembali, Kinuhata terpaksa harus mematahan lengan atau kaki, bahkan membunuh mereka.


Dan juga, ada tangan lain yang meraih dan menghancurkan tombak-tombak yang ditembakkan ke arah Kinuhata layaknya peluru.


Itu adalah tangan milik Mugino Shizuri.


Dia memiliki cara sederhana untuk bertahan. Mata mekaniknya akan melacak gerakan tombak-tombak itu dan tangan palsunya yang dipersenjatai akan berayun dengan kecepatan super. Dengan suara seperti mesin jahit, dia meraih dan memecahkan setiap tombak yang mendekat.


Itu begitu sederhana untuk digambarkan, namun kenyataannya ini adalah suatu upaya yang cukup rumit. Pandangannya akan terancam jika targetnya bergerak cukup cepat, dan beberapa bayangan bisa terbentuk sebagai efek sampingnya.


Suara bagaikan mesin jahit meraung dan serpihan tombak-tombak yang berjatuhan membentuk semacam dinding yang kokoh di depan mereka.


"Cuih. Betapa merepotkan. Tidak bisakah kita mengurangi sedikit jumlah mereka?”


"Jaga perkataanmu. Dan jangan lupa bahwa orang-orang di depan mata kita kemungkinan adalah mereka yang super “tidak berdosa”.”


"Tapi jika mereka ..."


"Ya, aku juga mengakui bahwa ada beberapa hal yang super tidak masuk akal tentang semua ini."


Sebagai pengguna nitrogen, Kinuhata dengan cepat memahami tentang apa yang St. Germain kuasai, yaitu unsur karbon. Yang mereka lakukan adalah mengubah dinding dan lantai Dianoid ke wujud mirip peluru tombak dan meluncurkannya.


Itu sudah lebih dari cukup untuk mengancam manusia normal, tapi itu tampak begitu timpang dan terlalu dangkal.


Jika mereka benar-benar bisa secara langsung memanipulasi karbon, harusnya mereka memiliki variasi serangan yang lebih beragam.


"Apakah mereka lupa untuk melatih setiap individu karena mereka hanyalah super barang buangan?"


"Memenangkan pertarungan ini bukanlah tujuan mereka, tapi untuk apa mereka mengulur waktu? Sialan, ini sungguh membuatku kesal!!”


Ketika jumlah mereka semakin berkurang, hujan serangan tiba-tiba berhenti.


St. Germain pergi.


"Kita hanya mengurangi sekitar setengah dari jumlah mereka, kan?"


"Sepertinya sisanya super mundur dari medan perang."


Ada beberapa anak laki-laki dan perempuan ambruk di lantai sembari berlumuran darah, tapi itu bukan karena kekejaman Mugino atau Kinuhata. Jika kedua gadis ITEM ini mencoba untuk menyakiti mereka dengan serius, mereka sudah berada pada kondisi yang lebih mengkhawatirkan dari ini.


Darah yang mengucur tampak berasal dari luka internal, bukannya luka eksternal.


"Jadi, apakah kita hanya melumpuhkan yang cacat? Persetan dengan mereka. Mereka tahu benar bagaimana cara untuk mengakali kita berdua.”


Mugino mengatakan bahwa ada kemungkinan mereka hanya mengulur-ngulur waktu, namun atas dasar tujuan apa mereka melakukannya?


"Ah," kata Takitsubo Rikou.


Saat matanya berputar-putar tanpa tujuan, dia melihat salah satu monitor layar datar yang dihias.


Itu menampilkan diagram Dianoid.


Ada titik merah di tingkat paling bawah dan ada simbol singkatan khusus yang menyediakan beberapa jenis informasi tambahan. Seorang pelajar normal tidak akan tahu makna gambar-gambar itu, tapi Mugino dan Kinuhata mengerutkan alis mereka dengan kesal ketika melihat rangkaian huruf tersebut.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Struktur isolasi dasar jenis gravitasi? Serius? Jika seseorang menyalahgunakan teknologi itu, mereka bisa mengompres seluruh planet menjadi seukuran kepalan tangan.”


Yang lebih penting lagi, adalah jelas mengapa seseorang dengan sengaja membocorkan informasi ini.


"Itu seakan-akan bilang : ‘Datanglah ke sini jika kalian bisa’....Bukankah begitu?"


"Aku super tidak tahu apakah ini ditujukan untuk kita, tapi.....mengapa kita tidak ikut-ikutan merusak pesta menyebalkan ini?”



Tingkat bawah Dianoid disusun oleh struktur pondasi terisolasi dengan menggunakan perangkat pengendali gaya gravitasi buatan. Lantainya menyerupai kaca tebal dan melayang beberapa sentimeter dari tanah.


Aihana Etsu menyandarkan punggung kecilnya terhadap salah satu pilar yang ditempatkan secara merata di sepanjang permukaan datar.


Tidak, Aihana Etsu bukanlah nama yang sebenarnya dari bocah ini.


Seorang mantan raja sudah lenyap dan dilupakan, tetapi darah keturunan Anne masih tetap ada karena itu tidak hancur atau hilang dalam legenda. Bocah ini adalah salah seorang yang mewarisi darah itu.


Si pembawa perisai emas ini berbicara kepada St. Germain wanita yang berdiri di sampingnya.


"Apakah kau tidak kecewa ketika kau mengetahui bahwa orang yang kau cari selama ini ternyata hanyalah seorang pemalsu identitas yang bahkan tidak memiliki keberanian untuk memasuki gadung ini?”


"Hah! Adalah Gap dan kotoran lah menyebabkan berlian bisa bersinar dengan terang. Apakah anda benar-benar berpikir bahwa aku akan kecewa setelah aku menemukan seseorang yang sudah ribuan tahun kucari sampai-sampai aku menyebarkan begitu banyak kebohongan? Ini adalah fakta bahwa segala jeri payahku selama ini tidak sia-sia, dan aku benar-benar mencari sesuatu yang eksis. Bagaimana anda bisa menganggap itu sebagai hal yang bururk?”


"Aku tidak sepertimu. Kau memiliki kekuatan yang sesungguhnya, jadi apakah kau tidak menyesali ini?”


"Jika aku benar-benar menuruti apa yang para bangsawan suka pamer itu katakan, bahkan suatu pulau harta karun pun tidak akan cukup dan aku tidak melihat makna berakraban dengan mereka. Yang lebih penting, jika ada yang ingin berbicara, maka bicaralah. Itu sesuai dengan orang-orang yang menggunakan filter mereka hanya untuk melihat realitas yang mereka sukai saja, tidak peduli berapa banyak bukti menumpuk di depan mata-kepala mereka. Heh heh. Tetapi sebenarnya, mereka hanyalah orang-orang yang begitu terobsesi dengan keabadian dan begitu menginginkan teknik perjalanan waktu. Itu karena mereka sangat takut membusuk dalam kematian”


"..."


"Yang lebih penting lagi, apakah anda lupa, paduka? Gap positif milik anda adalah sesuatu yang hanya keluar sekali dalam kurun waktu 2000 tahun. Untuk menyembunyikannya, anda bahkan dikirim ke Academy City. Yaitu suatu kota yang tidak pernah menghargai bakat alamimu dan para orang dewasa itu hanya menilai segala sesuatu berdasarkan Kurlikulum, sehingga orang seperti anda hanya akan menjadi badut-badut lawakan di sekolah, bahkan masyarakat.”


Bocah pengguna perisai ini masih tidak mengerti.


St. Germain mengulanginya lagi dan lagi. Ia telah dipilih oleh Anne’s Shield dan kekuatan perisai itu adalah kekuatan miliknya.


Anne’s Shield bisa menembak semua yang ada di depannya. Tidak peduli ditujukan pada siapa, suatu kekuatan yang kecil bisa merobek semua musuh-musuhnya.


Ini adalah benda bertahan yang bisa menempatkan lubang di dahi 2.000.000 manusia dalam sekejap.


Aihana Etsu menatap ke kejauhan sambil menyeret perisai yang tidak diketahui material penyusunnya itu.


Dia melihat ke tangga, saluran, tangga pemeliharaan, dan lift.


Ada beberapa pintu masuk ke tingkat terendah.


Saat ia membayangkan siapa yang akan datang, emosi negatif berputar di dalam kepalanya.


"Aku paham bahwa sama sekali tidak perlu mengatakan iini. Tugas anda adalah untuk menargetkan Kamijou Touma. Itulah hasrat terbesar anda dan permintaan terakhir Frenda. Aku akan menghilangkan semua hambatan yang tidak perlu yang mengganggu jalan anda, sehingga anda bisa menjadi seorang raja tanpa halangan.”


Untuk hanya sekejap, wajah familiar temannya muncul di pikirannya.


Rasanya, Frenda sedang mengucapkan sesuatu, tapi suara itu tidak lagi bisa menggapainya.


Dia mencoba membayangkan wajah gadis itu, kemudian membaca pergerakan mulutnya. Dia yakin betul bahwa Frenda sedang berkomunikasi padanya. Tapi dia sama sekali tidak sanggup mendengarnya.


Dia menghapus semua fantasi itu, dan menatap ke depan..


Kemudian dia membanting bagian bawah perisai emas ke lantai.


"Mari kita mulai."



Seorang gadis berjaket olahraga pink, Takitsubo Rikou, meninggalkan pertempuran intens tersebut dan berjongkok.


Namun, dia tidak gemetar ketakutan karena dia tidak punya kemampuan bertarung.


Dia mengambil benda kecil yang sedang berlarian di lantai.


"Apa ini?"


"Whoa !? Aku ditemukan ... dan ditangkap !? Kh. Lepaskan aku, manusia !!”


"?"


Takitsubo memiringkan kepalanya pertanda kebingungan setelah dia melihat boneka (?) seukuran lima belas sentimeter di tangannya. Benda itu mengenakan semacam kostum Halloween yang begitu minimum, sampai-sampai sebagian besar permukaan kulitnya telanjang. Mungkin benda itu memiliki suatu giroskop* dan remote kontrol karena bisa bergerak-gerak dengan cukup gesit. [Giroskop di sini maknanya adalah alat penyeimbang.]


Sementara itu, Stephanie telah meninggalkan mesin penghancurnya, yaitu Power Lifter dan dia tampak begitu sibuk meladeni pertempuran dengan para St. Germain sekaligus menyelamatkan Takitsubo. Seakan-akan waktu terasa terhenti ketika dia bergerak bolak-balik.


"Oh, ya ampun! Apa yang sedang terjadi!? Tapi karena tampaknya mereka mulai mundur, kita harus memanfaatkan ini untuk bersembunyi. Kita tidak akan banyak membantu dalam pertarungan ini, jadi tinggal di sini hanya akan membatasi mereka kebebasan.”


Beberapa suara logam menyertai suara Stephanie.


Takitsubo berbalik ke arah wanita berambut pirang sambil memegang boneka (?) yang terus meronta.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Menyusun PDW*. Aku membongkar beberapa komponen Power Lifter dan menyusunnya kembali. Memiliki sepucuk pistol adalah tindakan ilegal, tetapi tidak ada larangan untuk memiliki beberapa bagian yang bisa disebut pistol. Bukan berarti sesederhana itu merakitnya!” [PDW (bahasa Inggris: Personal Defence Weapon) atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Senjata Beladiri Perorangan adalah jenis senjata dengan kelas antara pistol mitraliur dan senapan serbu. Bentuk dan berat yang ringkas dan lebih ringan tetapi mempunyai kemampuan penetrasi di atas pistol mitraliur, hal ini didukung dengan pemakaian peluru dengan kaliber 5,7 x 28 mm yang mampu menembus rompi anti peluru standar CRISAT, hal ini tidak dapat dilakukan oleh peluru pistol mitraliur yang memakai kaliber 9 x 19 mm Parabellum. Wikipedia Bahas Indonesia tanpa perubahan.]


Meskipun ia menyebutnya sebagai PDW, benda itu tidak benar-benar menembakkan peluru menggunakan bubuk mesiu. Sepertinya, benda itu menggunakan gas bertekanan tinggi untuk menembakkan peluru tiruan yang terbuat dari baja tungsten. Namun, itu masihlah memiliki daya tembak yang cukup untuk melubangi tubuh manusia ketika ditembakkan dari jarak 20-30m.


(Senjatanya bahkan lebih kompleks daripada pistol yang sebenarnya!!!)


Tiba-tiba, boneka (?) yang dibawa oleh Takitsubo bergerak.


Melalui sela-sela jarinya, boneka itu menyelinap dari genggamannya, dan mendarat di lantai. Kemudian berlari ke koridor dan di sudut ruangan.


Gadis berjaket olahraga warna pink mengejar dan Stephanie mengikutinya begitu saja. Dia memutuskan bahwa mengikuti gadis ini lebih baik daripada memaksanya untuk bersembunyi.


Tapi Takitsubo kehilangan boneka (?) tersebut setelah berbelok.


Tidak ada lagi yang bergerak-gerak di koridor yang dipoles mirip dengan kayu.


"?"


Dia memiringkan kepalanya dengan pandanganan kosong di matanya.


Gadis itu tidak melihat ke arah saluran penutup kecil yang terbuka di dekat lantai dan dinding.



Othinus setinggi 15cm bahkan tidak harus membungkuk saat ia berlari dengan kecepatan penuh melalui terowongan gelap saluran air.


(Ampun deh, ini bukan waktunya untuk melakukan hal seperti ini.)


Dia masih tidak berhasil bertemu dengan Kamijou Touma setelah ia menarik perhatian beberapa St. Germain tadi. Dan sekarang berbagai monitor layar datar mengisyaratkan adanya bom gravitasi di tingkat terendah. Melihat situasinya, pasti ini adalah hasil kerjaan St. Germain dan bukan orang lain. Dia tidak tahu bagaimana situasi telah berkembang sampai segawat ini, tapi jelas-jelas suatu umpan untuk menarik keluar Kamijou Touma.


Yang berarti ...


(Aku bisa bertemu dengan dia di tingkat terendah. Namun, itu tidak cukup. St. Germain bukanlah seorang penyihir biasa dan juga bukan seorang Dewa Sihir. Dia bagaikan kristal yang disinkronisasi dan diparalelkan. Ketika jaringan pararelnya bekerja, itu tidak bergantung pada gelombang otak, ia bisa mempengaruhi siapa pun tanpa terkecuali. Aku perlu menghubungi perpustakaan grimoire dan bekerja sama untuk menganalisis sihirnya. Sifat dari berlian murni adalah 99,9%. Dan kurang dari 0,1%-nya adalah zat kotor. Baginya, zat kotor itulah yang dipergunakan sebagai pengendali atau pengaturan file. Kita harus untuk menemukan itu.)


Sembari menyusun rencana dengan pemikiran rasional, ia melompat ke dalam lubang di dalam saluran.


Memanjat ke atas dan bawah tidaklah mudah bagi tubuh kecilnya, namun meluncur turun di dalam suatu saluran adalah pekerjaan gampang.


Mengingat kembali kondisi ketika mereka berpisah, Index harusnya sedang berada di area perbelanjaan tingkat bawah.


(Tapi pertanyaannya adalah pada lantai berada dia berada? Setidaknya ada dua puluh lantai pada tingkat bawah. Aku hanya berharap dia memiliki ide untuk tetap tinggal dan menunggu di tempat kami meninggalkannya tadi.)


Tapi ketika Othinus meluncur turun ke tingkat yang lebih rendah, sesosok monster keluar dari samping, ketika dia melintasi perpotongan dengan saluran lain yang terbuka.


"O-Ohhhhhhhh !?"


Dia berteriak, tapi binatang itu tidak menunjukkan belas kasihan.


Setelah suara memekakkan telinga dan suara gemuruh mengeong, Othinus dipaksa keluar dari saluran layaknya ikan yang dicuri dari aquarium.


Dia mengerang dan tergantung lemas di mulut si hewan buas.


"K-Kau lagi? Aku tidak tahan. ... A-a-a-uhuk!!...uhuk!!-a-apakah kucing tidak memiliki rasa hormat pada seorang dewa "


"Sphinx nakal!! Jika kau mengunyah dia, aku akan marah padamu!”


Seorang biarawati putih berteriak dari dekat, tapi si kucing mengabaikan Index dan dengan bahagia menyajikan "hadiah" tersebut di kakinya.


"Hahh!!...Hahhh!! ... Y-yang lebih penting, kita harus menuju ke tingkat terendah Dianoid. Sekarang St. Germain sedang menuntun dia ke sana. Kamijou Touma pasti akan pergi ke sana. Mungkin tinju kanannya memang kuat, tapi dia hanya akan mati jika tidak mengerti lawannya. Akan lebih baik jika kita bisa menentukan bagaimana cara kerja network non-gelombang-otak milik St. Germain. Apa yang aku tahu hanyalah, cara kerjanya berdasarkan struktur kristal yang berkembang dengan sinkronisasi dan pararelisasi berulang kali.”



Kamijou dan Hamazura menghadapi perangkat mirip interkom di dinding persembunyian rahasia Frenda.


Peringatan tentang adanya bahaya di tingkat terendah telah diinformasikan secara khusus pada tingkat atas apartemen, tapi ...


"Aku berharap ini cukup untuk menginformasikan pada yang lainnya."


"Informasi ini akan dipahami oleh siapa pun yang mengerti tentang huruf singkatan, jadi setidaknya Takitsubo dan Mugino bisa membaca pesan yang tersembunyi di balik kode ini.”


"Aku ragu Index bisa membacanya, tapi Othinus harusnya sanggup."


"Tapi," gumam Hamazura dari Power Lifter.”Data bom gravitasi dikirim ke semua apartemen tingkat atas, kan? Tidakkah itu berarti kita membuat kepanikan lebih awal?”


"Kompleks apartemen ini digunakan hanya sebagai lemari besi bagi orang-orang kaya. Bahkan di sini mungkin sama sekali tidak terdapat penghuni.”


Kamijou menjauh dari layar panel datar.


"Kami sudah melakukan apa yang bisa kita perbuat, jadi mari kita pergi sekarang."


"Tapi bom gravitasi adalah suatu benda yang terlalu jauh di luar bidang keahlianku! Aku bahkan tidak tahu di mana harus memulai!”


"Tidak, Aihana Etsu adalah prioritas utama kita. Itu tidak berubah.”


"Tunggu sebentar."


Hamazura mengerutkan kening dan memikirkan suatu pertanyaan.


"Pondasi Dianoid ini mengapung beberapa sentimeter dari permukaan tanah, kan? Dan para St. Germain telah menguasai perangkat pengendali gaya gravitasi buatan, sehingga dia bisa melakukan berbagai hal. Bukankah itu adalah suatu alat yang bisa memampatkan bumi menjadi seukuran kepalan tangan bila semisal lepas kendali!? Maka jelaslah apa yang mereka benar-benar cari di sini! Aihana Etsu hanyalah umpan !!”


"Apakah kau yakin?" Tanya Kamijou.”Jika memang itu tujuan mereka, maka itu adalah suatu hal yang sangatlah buruk. Jika bukan karena Aihana, kita tidak akan pernah mengunjungi ruangan ini. Tanpa dia, kita tidak mungkin melihat peringatan keamanan yang dikirim ke apartemen kelas wahid ini. Yang terjadi adalah sebaliknya. Tak peduli bom black hole* atau bom white dwarf* atau apa pun tujuan sebenarnya dari St. Germain, seharusnya, dia tidak akan pernah memberikan kita clue di sini, itu jauh lebih masuk akal karena rencananya akan berjalan dengan lebih mulus tanpa gangguan. Kesimpulannya, akan jauh lebih baik jika dia tidak membiarkan kita bertemu dengan Aihana sejak awal.” [Black Hole adalah lubang hitam yang menyerap semua kehidupan, sedangkan White Dwarft adalah asal mula alam semesta yang berasal dari titik cahaya super-masif. Dua istilah ini hanyalah penekanan terhadap betapa dahsyatnya bom tersebut.]


"Tunggu, tunggu, tunggu."


Hamazura memotong perkataan Kamijou dan dengan lembut membentangkan tangan bajanya, seakan-akan dia membuat dinding untuk menghentikan Kamijou.


"Itu tidak masuk akal. Jika dia benar-benar mencari Aihana, St. Germain pasti tidak akan pernah membiarkan kita ada di sini. Jika yang dia inginkan hanyalah meyakinkan Aihana untuk bertindak, pilihan yang terbaik adalah menjaga rahasia Frenda dan menggunakan rasa curiga untuk mengisi Aihana dengan keinginan balas dendam. Karena St. Germain tidak menghalang-halangi kita melihat ini semua, itu berarti dia tidak mencari Aihana ataupun bomnya.”


"Itu benar." Luar biasa, Kamijou langsung setuju.”Pendapat kita akhirnya senada. Tujuan St. Germain bukanlah Aihana Etsu ataupun bom gravitasi. Dia melihat sesuatu yang sama sekali berbeda.”


"... Apa?"


"Berpikirlah sekali lagi ke belakang, serangan yang pertama sangatlah aneh. Dia mencari Aihana? Dia mencari perisainya? Itukah sebabnya dia berhenti menyerangku dan fokus pada hal-hal lainnya? Ya benar. Jika ia bisa membunuhku kapan saja, maka dia bisa saja menghabisiku terlebih dahulu kemudian fokus pada Aihana. Tapi dia tidak pernah melakukannya. Ada sesuatu hal lain yang memaksa dia untuk meninggalkan aku. Lantas, aku bertaruh bahkan itu hanyalah isu sampingan baginya.”


"Masih ada tujuan lainnya!? Seperti apa !?”


“Kau tidak ingin tahu." Kamijou terus membahasnya.”Bagaimanapun, kita harus menghentikan St. Germain secepat mungkin! Dan untuk mewujudkannya, kita harus mulai dengan Aihana Etsu. Kelihatannya, tidak mungkin untuk mengetahui apakah St. Germain memiliki pemimpin atau bawahan, tapi berdasarkan apa yang terjadi, dia hanya berkosentrasi pada Aihana. Jika kita hendak mengetahui lebih jauh tentang St. Germain, mendekati Aihana adalah cara yang terbaik !!”


Hamazura mencoba untuk memikirkan semua itu, tetapi pikirannya begitu jenuh.


Namun, Kamijou tidak berhenti.


Mungkin karena dia terlalu banyak berurusan dengan penyihir di masa lalu.


"Dengar, St. Germain telah menunjukkan ada tanda-tanda berkomunikasi melalui ponsel atau radio. Kita sudah melihat puluhan jumlah mereka, tapi mungkin jumlahnya mencapai ratusan di gedung ini dan pikiran mereka semua terhubung satu sama lain. Dugaanku adalah, mereka menggunakan semacam telepati sihir. Aku tidak tahu apakah itu cukup untuk membuat satu pusat kemauan besar, jika demikian, sistem ini bahkan lebih simpel daripada Misaka Network karena tidak terikat oleh gelombang otak!!”


"Tunggu, tunggu, tunggu !! Aku tahu kau telah berpengalaman, tapi tolong jelaskan padaku dengan mudah sehingga aku bisa mengerti!!”


"Artinya, bukanlah masalah St. Germain mana yang hendak kita serang!" teriak Kamijou.”Layaknya jaringan telekomunikasi, mereka semua adalah pusat transmisi dan mereka semua adalah terminal. Kedengarannya seperti suatu sistem jarak jauh yang terus bereproduksi dengan pasokan pengganti yang tak terbatas, tapi mungkin tidak seperti itu. Kau bisa mengatakan mereka semua adalah komputer. Tidak peduli di mana virus memasuki jaringan komputer, semua komputer dalam sistem akan terinfeksi! Kita tidak boleh membiarkan diri kita dialihkan oleh jumlah mereka. Walaupun melawan hanya satu orang St. Germain, kita tidak boleh mengendurkan fokus kita !!”


"Suatu virus? Kau bisa menerangkannya dengan lebih spesifik !?”


"Mungkin penjelasanku terdengar seperti seorang ahli, tapi sebenarnya aku jugalah seorang amatir," Kamijou mengakuinya tanpa ragu.


Dia tidak lagi bersikeras untuk berjuang sendirian. Dia akan menggunakan segala sesuatu yang tersedia baginya.


Itu adalah jalan yang ia pilih.


"Tapi aku kenal seorang biarawati yang memahami berton-ton informasi tentang sihir seperti ini. Jika kita mengkombinasikannya dengan beberapa pengetahuan Dewa Sihir, maka itu akan menjadi kolaborasi yang sempurna. ... Ya. Itu benar. Grimoires original menginfeksi otak manusia. Dia memiliki 103.000 grimoires di kepalanya, jadi dia mungkin mampu memikirkan suatu metode khusus untuk menangani hal semacam ini!!”


“Lagi-lagi kau tidak masuk akal. Tapi bagaimanapun juga, Aihana Etsu dan St. Germain sedang menunggu pada tingkat terendah, kan? Itu saja yang perlu kuketahui sekarang!”


"Benar." Kamijou dengan perlahan menghela napas dan berbicara.”Aku akan melakukan sesuatu tentang Aihana Etsu. Dan setelah aku berurusan dengannya, St. Germain pasti akan terfokus padaku. Kau bisa saja mengambil Aihana dengan Power Lifter milikmu ketika pikirannya sudah kembali ke akal sehatnya, tapi jangan pernah lakukan itu. Aku juga akan mengurusnya, sebagai gantinya kau berurusan lah dengan bom gravitasi. Kau pandai dalam urusan mesin, kan? Sayangnya, aku sungguh bodoh dalam hal itu. Jika aku menangani bomnya, kita semua pasti akan mati diledakkan.”


"Apakah kau masih berpikiran sepertiitu? Tidak ada gunanya mengurusi balas dendam Aihana Etsu.”


"Sayangnya, kita tidak punya waktu untuk menjelaskan semua hal kepadanya. Tapi tidak peduli apapun situasinya, kita tidak bisa membiarkan dia mati. Lantas bagaimana dengan nyawaku sendiri? Bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu, bahkan kau sendiri harus bersiap-siap untuk kepentingan terburuk.”


"..."


"Hamazura?"


"... Maaf."


Pada awalnya, Kamijou tidak tahu mengapa Hamazura harus meminta maaf.


Tapi sesaat kemudian, telapak tangan raksasa Power Lifter mendekat dan mendorong anak itu mundur.


"Gah !!"


Punggung Kamijou membentur tikar tatatami dan udara terperas dari paru-parunya, tapi dia segera menyadari bahwa ada suatu hal yang harus lebih dikhawatirkannya.


Hamazura sudah melangkah ke luar dari ruang tamu besar.


Layar geser ruangan sudah menutup, tapi itu bukanlah layar geser normal Jepang yang terbuat dari kertas dan bingkai kayu. Itu terbuat dari bahan karbon mutakhir yang bisa dengan mudah menghentikan pistol peluru.


"Hoi!!!! Apa yang kau lakukan, Hamazura!!!!????"


Dia segera bangkit dan meraih layar geser, tapi benda itu tidak bergerak. Tampaknya Hamazura telah membuatnya macet sehingga tidak bisa bergeser. Kamijou berpikir sejenak dan menendang benda itu dengan menggunakan bagian bawah kakinya, tapi itu tidak ada gunanya.


Dia mendengar suara samar di sisi lain ruangan.


"Balas dendam Aihana Etsu tidaklah masuk akal. Aku tidak peduli apakah itu bagian dari strategimu, tapi menurutku, apapun alasannya, adalah suatu kesalahan jika kau diserang hanya karena hal seperti itu.”


"Apa!!!!???? Apakah kamu sadar bahwa ini bukanlah waktunya untuk berdebat!!!!????”


"Iya," kata Hamazura.”Ha ha. Oh, aku mengeti. Aku kira kau tidak akan tahu karena kau tidak berada di sana waktu itu.”


"?"


"Apakah kau tahu nama orang yang tepat berada di depan mayat Frenda Seivelun saat itu?"


"..."


Tidak mungkin.


Suatu perasaan yang sangat buruk memasuki pikiran Kamijou Touma.


Apa pun itu, Hamazura Shiage memberikan jawabannya.


"Itu adalah aku. Frenda meninggal karena aku tidak sanggup menyelamatkannya tepat waktu.”


"Sialan," sembur Kamijou.


Bagi Hamazura Shiage, rencana Kamijou Touma bagaikan tali simpul yang menjerat lehernya.


Dia akhirnya memahami situasi.


"Jadi jika kita harus membagi pekerjaan ini, akan lebih masuk akal jika akulah yang menjadi target balas dendam Aihana Etsu.”


"Tunggu!!! Hamazura ...!!!!!"


"Aku akan menarik perhatian Aihana dan St. Germain, sehingga kau bisa melakukan sesuatu terhadap bom gravitasi. Jika kau tidak dapat melakukannya sendiri, cari saja bantuan dari orang yang mengerti permasalahan itu. Pastikan kau bisa melakukan sesuatu dengan bom itu, oke?”


"Tunggu!!!! Kesepakatan kita tadi tidak seperti ini!!!!!”


"Hah."


Suara di luar layar semakin menjauh.


Tidak, lebih jauh.


"Ini adalah saat yang tepat bagimu untuk mengerti seperti apa rasanya diselamatkan dan dilindungi."


Hanya itu.


Suaranya benar-benar sudah menghilang.


Hamazura Shiage telah pergi bersama Power Lifter miliknya dari apartemen kelas tinggi. Dia sedang menuju Aihana Etsu yang memiliki perisai sihir dan bantuan dari St. Germain yang tak terhitung jumlahnya.


"Sialan!!!!!"


Dibiarkan sendirian, Kamijou berteriak dan menendang layar karbon beberapa kali lagi, tapi benda itu sama sekali tidak bergeming.


Kemudian dia mencari di sekitar ruangan lagi.


"Tunggu."


Matanya berhenti pada satu titik.


Benda yang dilihatnya, mungkin tidak akan membantunya untuk melarikan diri dari ruangan, tapi ia secara ragu-ragu meraih objek yang ditempatkan dalam tumpukan hadiah ulang tahun.


Dia mungkin telah membuat kesalahpahaman mendasar.


Mungkin saja, ada cara untuk menyelesaikan berbagai urusan dengan Aihana Etsu, selain hanya duduk di sana dan bersedia menerima pukulannya dengan ikhlas.


Dan jika demikian ...


"Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal ini."


Kamijou berjalan ke dapur yang terhubung dengan ruang tamu dan pandangan matanya berhenti pada sejenis keranjang yang biasa digunakan untuk membawa makanan di rumah-rumah besar. Dia menempatkan beberapa barang berat padanya dan mengikatnya dengan menggunakan kabel listrik. Ini dilakukan untuk meningkatkan berat keranjang tersebut.


"Membiarkan Aihana mati bukanlah pilihan, akan tetapi jika kau juga mati, maka semuanya akan sis-sia, Hamazura!”


Dia kembali ke ruang tamu.


Dia membidik layar yang terbuat dari karbon, mengambil sepuluh langkah ke belakang sebagai ancang-ancang dan menabrakkan keranjang itu pada layar.


Layar itu terhentak mundur dan terbuka.


Kamijou pun keluar ruangan dan segera menuju ke pintu masuk lift.


Hamazura sudah tidak terlihat.


Dia segera berlari ke ruang lift. Seperti sebelumnya, ada salah satu pintu lift yang rusak.


Aihana Etsu dan St. Germain berada di tingkat terendah. Mereka semua berada di bagian bawah. Jika saja Hamazura mempunyai cara berpikir yang begitu aneh, maka dia akan terjun lurus ke bawah dengan menggunakan Power Lifter.


Kamijou mengintip ke dalam jurang terowongan lift.


Dia tidak bisa melihat bagian bawah lubang lift yang begitu gelap, sehingga pemandangan itu tampak seperti rahang mosnter raksasa yang menganga.


Bahkan dengan menggunakan lengan baja, nyawa seseorang tidak terjamin keselamatannya.


Oleh karena itu, Kamijou yang hanya terdiri dari daging dan tulang tidak mungkin melakukan hal serupa, jadi ...


(Ini akan berisiko.)


Kamijou menelan ludah dan dengan cepat melepas jaketnya. Dia membungkus tangannya seperti ketika melatih anjing polisi dan meraih kabel licin yang dilumuri dengan minyak mesin.


Dia mengabaikan rasa takutnya dan melompat ke lubang lift gelap tersebut.



Sinar Meltdowner milik Mugino Shizuri membakar habis pintu dari tangga.


Gadis #4 itu berbicara dengan Takitsubo dan Kinuhata.


"Apa-apaan itu? Apakah benda berbentuk donat yang berada di dekat langit-langit perangkat gravitasi itu?”


"Jika Frenda diam-diam mengacaukan itu, bisa saja itu adalah suatu super bom gravitasi. Apa yang kau super pikirkan?”


"Dia memang begitu, aku tidak akan tekejut. Dia adalah tipe gadis yang sanggup mencuci bercak darah dari tangannya dengan tenang dan pergi ke toko mewah sambil senyum-senyum. Berbicara tentang kebajikan dan kejahatan padanya adalah hal yang percuma.”


Takitsubo Rikou mengajukan pertanyaan sembari menatap ke segala arah.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Bukankah sudah jelas?" Mugino menjawab dengan segera.”Mari tangani ini dan segera kembali pulang."



Dipandu oleh Othinus setinggi 15cm, Index memegang kucing calico dan merangkak melalui saluran sempit.


Kedua gadis ini membuka penutup saluran dan melihat ada banyak St. Germain di tempat itu. Ada seorang anak laki-laki yang berada di pusat kerumunan itu.


Jika diamati lebih detail, mereka melihat ke arah perisai emas yang berada di tangan mungil si bocah.


"Hei, bisakah kau ceritakan benda apa itu?"


"Queen Anne’s Shield. Suatu legenda mengatakan bahwa benda itu mencocokkan sebilah pedang.”


"Tapi benda itu seharusnya tidak pernah ada. Sang Raja yang tidak memiliki saudara kembar.”


Konon katanya, legenda pedang telah dibuat ketika seorang pria yang merupakan ksatria dan juga seorang penulis mengumpulkan berbagai cerita ksatria yang tersebar di seluruh Eropa Barat dan mengaturnya ke dalam satu cerita tunggal. Itu mengakibatkan cukup banyak perbedaan pada suatu cerita legenda dan beberapa informasi telah hilang ketika proses penggabungan cerita.


Keberadaan Queen Anne adalah salah satu dari potongan-potongan informasi yang terabaikan.


Tidak ada bukti eksistensi orang seperti itu.


Bahkan, jika ada seseorang yang menyelidiki tentang kekuatan pendorong di balik penceritaan kisah, itu tidak lebih dari bagian yang paling menarik, sedangkan eksistensinya masihlah diragukan. Selama legenda kehidupan raja, dikatakan bahwa dia telah melepaskan Excalibur dan malah menggunakan pedang yang berbeda. Tapi keberadaan Queen Anne bahkan lebih aneh daripada itu. Pencarian melalui teks-teks tua dan bahkan catatan-catatan pada semak-semak menunjukkan bahwa namanya tidak pernah muncul, namun beberapa peneliti mengatakan bahwa nama orang itu adalah "An", bukannya "Anne". Dan dalam bahasa Inggris Kuno, "an*" digunakan untuk mengganti "if*", jadi, itu dikatakan sebagai suatu kiasan atau lawakan untuk "kisah yang tidak pernah ada". Namun, kisah ini mulai dianggap serius ketika disusun dan kemudian berubah menjadi nama seseorang. [An = sesuatu, if = jikalau.]


Tandingan Excalibur kini muncul bersama-sama dengan orang yang disebut-sebut pewarisnya, namun Index memberikan jawaban dengan tenang.


"Aku pikir ini adalah 'pembalikan logika'."


Ada beberapa hal yang seseorang bisa bayangkan dalam pikirannya dan dia akan menyadarinya jika orang lain menunjukkan kepadanya. Namun pemeriksaan yang cermat akan menunjukkan bahwa tidak ada legenda yang jelas atau mitos di balik itu.


Misalnya, suatu benua yang tenggelam ke dasar Samudra Atlantik.


Misalnya, sebilah pedang magis yang digunakan untuk melawan Shogun*. [Shogun = jenderal Jepang.]


Misalnya, seutas benang merah yang menghubungkan antar jari kelingking pada dua orang kekasih.


“Aku membacanya dari buku itu”. “Aku mendengarnya dari orang itu”. Ada beberapa sumber yang jelas, tetapi pemeriksaan yang lebih menyeluruh akan mengalami jalan buntu. Mungkin mereka tidak memiliki bukti obyektif dalam bentuk catatan karena tersebar secara lisan, mungkin pernah ada catatan di atas papan tulis batu atau lukisan dinding yang hilang seiring berlalunya waktu, dan mungkin beberapa pendapat personal dari si penulis terselip pada kompilasi catatan yang dibuatnya.


Dan seperti itulah legenda menyebar dari orang ke orang, kredibilitas terbentuk secara perlahan, itu akan memperkaya sejarah walaupun tidak benar-benar ada.


Misalnya surga dan neraka, tak seorang pun pernah melihatnya, namun beberapa orang bisa menggambarkannya dengan begitu jelas.


Salah satu pengecualian adalah Queen Anne’s Shield.


Index dan Othinus belum pernah melihatnya karena itu adalah legenda yang tidak ada, namun, walaupun hanya seklias melihatnya, mereka yakin benar bahwa benda itu adalah Anne’s Shield.


"Sangat mudah untuk memberikan makna sejarah secara fisik pada beda selegendaris itu. Kau hanya perlu membuat bukti sendiri, tak perduli itu palsu ataukah asli. Ini seperti menggambar peta harta karun buatan di atas perkamen kuno. Orang-orang akan langsung mempercayainya, bahkan kau bisa mendapatkan sponsor untuk melakukan ekspedisi penggalian harta karun fiktif tersebut”


"Jadi, mungkin saja perisai tersebut dibuat oleh St. Germain? Bagiku, itu seperti tindakan yang biasa dilakukan oleh seorang pembohong.”


"Tapi bahkan jika itu merupakan benda palsu, sihir tetaplah sihir. Jika esper Academy City menggunakan itu ...”


"Efek samping akan merobek tubuhnya menjadi berkeping-keping. Jika itu merupakan bagian dari rencana St. Germain untuk melawan Kamijou Touma, maka sudah jelas apa yang dia inginkan. Dia mencoba untuk mencabik-cabik perasaan Kamijou Touma ketika dia melihat lawannya tewas di depan matanya.”



Aihana Etsu perlahan menyipitkan matanya dan menyeret perisai emas.


Dalam kenangannya, ada "seseorang" yang tersenyum.


Bahkan setelah kematian temannya, Aihana masih bisa mendengarkan bisikan-bisikan Frenda dari kenangannya di masa lalu, dan itulah yang membuat dia bisa bertahan sampai saat ini. Namun sekarang, entah kenapa suara-suara itu tidak lagi bisa didengarnya.


Sedikit demi sedikit, bayangan si gadis hancur bagaikan foto yang dilahap api.


Fakta bahwa Frenda sudah mati tampaknya merupakan suatu pukulan telak bagi kepribadiannya.


Pada saat itu, hati Aihana Etsu juga sudah mati.


Kini yang tersisa hanyalah raga Aihana tanpa nyawa, dia tidak lagi merasakan kesakitan atau ketakutan.


Dia tidak peduli apakah ia akan mati di sini.


Jika dia bisa bertahan, dia akan terus berjuang sampai akhirnya dia mati.


Pintu lift dipecahkan oleh kekuatan yang sangat besar.


Orang yang keluar bukanlah Kamijou Touma. Itu adalah seseorang yang Aihana Etsu tidak pernah harapkan kedatangannya. Bahkan, dia tidak pernah mengenal orang ini. Secara teknis, mereka pernah bertemu di tempat parkir beberapa waktu yang lalu, namun Aihana sudah lupa.


Aihana hanya mengeluarkan suara rendah.


“Kau bukanlah orang yang aku harapkan kedatangannya."


"Begitukah? Bahkan jika aku mengaku bahwa aku adalah orang yang membiarkan Frenda Seivelun mati?"


"..."


Suatu suara berderit terdengar dari pegangan perisai emas saat ia meremasnya.


Hamazura masih berada di dalam Power Lifter dan dia membanting dua tinju baja bersamaan.


"Aku tahu gambaran umum dari situasi ini, tapi jika kau hendak menyerang Kamijou Touma, itu sangatlah tidak masuk akal. Jika kau ingin membalas dendam atas kematian Frenda, ada seseorang yang jauh lebih cocok.”


"Kau siapanya Frenda?"


"ITEM," jawab Hamazura dengan singkat.”Itu hanyalah suatu organisasi yang kecil. Dan aku mungkin hanyalah menjadi babu di sana, tapi aku masih menjadi bagian dari ITEM. Mendukung Frenda adalah salah satu kewajibanku….....Jadi, sekarang ini, pekerjaanku adalah menghentikan seorang bocah yang akan mati atas nama Frenda.”


Alih-alih Aihana Etsu, St. Germain lah yang bereaksi.


Tapi sebelum tombak Chambord yang tak terhitung jumlahnya menunjukkan diri, Aihana Etsu berbicara.


“Kau tidak perlu melakukannya, St. Germain."


"Tapi, paduka."


"Ini adalah pekerjaanku. Jika apa yang dia katakan benar, maka aku harus melawannya.”


Hamazura merasa sedikit lega setelah mendengar perkataan itu.


Aihana Etsu dan Kamijou Touma tidak akan berbentrokan. Skenario St. Germain tidak akan terwujud, dan tentu saja dia kini jadi panik.


(Ini mungkin tidak memuaskan dia. Sama seperti menghidangkan ramen pada seseorang yang memesan Gyudon, ia mungkin masih merasa lapar setelah menyantapnya.)


Hamazura mengingat masa-masa setelah pemimpin Skill-Out yang karismatik, Komaba Ritoku, meninggal. Untuk melindungi diri sendiri, mereka mengambil beberapa pekerjaan kotor dan mencoba untuk membunuh orang dewasa yang tidak bersalah.


Namun, dia tidak menggunakan imajinasi gelapnya dan mengayunkan alat pembunuhnya secara membabi buta layaknya seekor monyet.


(Tapi ini akan mengajarkan padamu betapa buruk rasanya suatu kekerasan. Kau akan merasakan betapa mengerikan pekerjaan ini. Jari jemarimu akan gemetaran ketika kau menggunakannya untuk menusuk perut seseorang dan perutmu akan mual ketika kau melihat kepala seseorang yang terpenggal. Kau bisa memegang senjata dengan tenang dan begitu polos karena kau belum tahu betapa menjijikkan hal itu. Jadi aku akan mengajarimu bagaimana rasanya.)


Ada tipe orang yang menjadi lebih berani ketika mereka menggenggam suatu senjata mematikan. Beberapa orang akan mabuk pada kekuatan destruktif dan menghancurkan diri mereka sendiri.


Tapi Hamazura meragukan Aihana Etsu adalah orang semacam itu.


Dia memberi alasan di dalam hatinya.


(Bila kau mengetahui kematian Frenda Seivelun, kau tahu betapa tidak masuk akal kematiannya.)


Sekujur tubuh Aihana Etsu akan terluka jika ia menggunakan perisai itu, tapi Hamazura tidak akan begitu memperdulikannya. Mereka berdua mempertaruhkan nyawa di sini dan Hamazura Shiage bukanlah orang yang sebaik Kamijou Touma.


Jadi ...


"Mari kita lakukan ini." Dia mengangkat lengan Power Lifter dan memasang kuda-kuda.”Aku sudah muak dengan orang-orang seperti Silver Cross dan Kuroyoru. Yaitu orang-orang yang menggali kembali omong kosong yang sama berulang-ulang! Pada masa Edo, jika kau membunuh orang-orang yang membalas dendam terhadapmu, itu tidak dihitung sebagai suatu kejahatan. Kau hanya memiliki satu kesempatan. Hanya itu yang akan kuberikan padamu!! Jadi mari kita lakukan ini, Aihana Etsu !!”


"Baiklah."


Hanya sekali, Aihana Etsu mengetuk lantai transparan dengan bagian bawah perisai emas.


"Aku akan membunuhmu terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan membunuh Kamijou Touma juga. Dan ketika semua gangguan ini sudah kulenyapkan, aku akan mencari dan membunuh semua pelaku dan penjahat. Aku akan melakukan apa saja yang tidak bisa dilakukan gadis itu.”


Aihana Etsu merasakan ada sesuatu yang menusuk ke dalam jantungnya setiap kali dia berbicara. Seiring berjalannya waktu, memori di pikirannya yang sudah hancur, sedikit demi sedikit semakin hancur.


Pada dasarnya, balas dendam bukanlah suatu tindakan mencelakakan lawanmu.


Balas dendam yang dia lakoni saat ini hanyalah tindakan mengotori tangan sendiri, menghina diri sendiri, dan bunuh diri.


Tetapi bahkan ketika ia menyadari hal itu, dia tidak bisa berhenti lagi.


Bagaimanapun juga, apa lagi yang bisa dia lakukan?


Teman yang telah dia cari sekian lama sudah mati, tidak ada cara untuk menyelamatkannya, dan angan-angannya untuk bertemu kembali dengan teman gadisnya sudah pupus.


Jadi apa yang seharusnya dilakukannya?


Mimpinya telah pupus, harapannya telah hancur, dan cita-citanya telah lenyap.


Haruskah ia meringkuk dan menyerah seperti bayi cengeng? Haruskah ia berteriak bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Tidak bisakah dia memutuskan hal yang realistis, efisien, dan logis? Tidak bisakan dia menekan tombol reset dan mengulangi semua ini sekali lagi? Haruskah ia membuang eksistensi Frenda Seivelun ke dalam sampah dan hidup seperti biasa di esok hari?


Tidak.


Dia tidak akan sanggup melakukan itu.


Dia tidak ingin meninggalkan temannya. Dia tidak peduli apakah ia keras kepala atau menggurui. Dia ingin terus berusaha untuk melakukan sesuatu untuknya. Tidak peduli jika ini tidak realistis, efisien, atau logis. Dia tidak ingin membuang memori tentangnya ke tempat sampah dan melupakannya begitu saja. Bahkan dia tidak tahu cara untuk melanjutkan hidup di esok hari jika ia kehilangan semua ini


Jadi bunuhlah hatimu.


Kikis semua kelebihan lemak dan tinggalkan tulangnya saja.


Jadilah seonggok mesin yang hanya tahu urusan balas dendam.


"Aku akan mulai denganmu," katanya sambil menyiapkan perisai emas.


Dia merasa suhu tubuhnya secara bertahap menurun ketika ia terus berbicara.


“Kau bisa menceritakannya padaku tentang apa yang seharusnya kau lakukan pada hari kematiannya, sembari aku menghancurkan dirimu."


Pandanganan mereka berbentrokan.


Tidak lagi masalah, bahkan bila pria yang di depannya bukanlah Kamijou Touma atau Mugino Shizuri.


Dia tidak mengatasi kekurangannya.


Pada akhirnya, ia masihlah Aihana Etsu. Dia masihlah orang menyedihkan yang hanya bisa memalsukan kartu ID pelajar lain.


Ini adalah hal ekstrim yang berlawanan.


Dia telah mengalami terlalu banyak perasaan negatif dan emosinya telah mati rasa.


Dan ia tidak peduli jika itu terjadi.


Dia hanya peduli tentang melawan musuhnya.


Mengaktifkan perisai dan membunuh Hamazura Shiage adalah prioritas utama saat ini. Tetapi bahkan jika perisai itu menolak untuk diaktifkan, ia masih bisa merobohkan lawannya dengan tangannya sendiri dan mencabut nyawanya. Tidak masalah jika lengannya patah dan matanya tercongkel ketika dia melawan musuhnya. Dalam kasus terburuk, ia hanya akan mati dan menjadi tumpukan mayat busuk. Selama dia bisa menghindari itu, tidak ada hal lain yang lebih penting.


Sejatinya, balas dendam adalah tindakan merobek dagingmu sendiri, bukan musuhmu.


Itu adalah tindakan membunuh dirimu sendiri melalui musuhmu.


(Ya.)


Aihana Etsu secara bertahap melihat kebenaran yang ada di dalam dirinya sendiri.


(Kukira, apa pun yang St. Germain katakan tidaklah penting. Tidak masalah jika perisai ini asli atau jika aku istimewa.)


Dia bisa merasakan pikirannya yang tadinya terurai, kini berkumpul pada satu titik.


Mereka bergerak ke arah tujuan yang jelas, namun itu merupakan jalan buntu.


(Mungkin aku tidak akan mampu hidup di dunia tanpa adanya temanku.)


Jadi ia ingin pergi.


Ia ingin menghilang ke suatu tempat lain layaknya balon yang talinya terpotong.


(Tapi aku akan meninggalkan tanda dimana tempatku tinggal.)


Dia merobek angin dengan bahunya, berjalan dengan dua kakinya sendiri, dan langsung mendekati Hamazura Shiage.


Dia sengaja bergerak di sekitar Power Lifter.


(Setidaknya, aku harus melakukan satu hal untuknya!! Setidaknya, aku harus melakukan satu hal yang dia inginkan!! Dan aku akan mengukir bukti hasil kerjaku pada tubuh orang ini!!)


Ini adalah pertempuran awal. Sekali dimulai, ini tidak bisa dihentikan.


Sorotan matanya begitu dingin dan dia pun bersiap-siap menyerang.


Tapi sesuatu terjadi sebelum dia melakukannya.



Kamijou Touma memanjat pintu lift yang rusak dari lubang lift dan mendekati salah satu pilar tingkat terendah.


Aihana Etsu berdiri di depan Hamazura Shiage yang masih menaiki Power Lifter, ia memegang perisai emas besar, dan para St. Germain menunggu di belakangnya.


Tidak adakah yang bisa menghentikan dia sekarang?


Apakah tidak ada cara untuk menghentikan keinginannya membalas dendam tanpa pertumpahan darah?


(Tidak)


Kamijou mencapai suatu kesimpulan.


(Dia akan menghentikannya. Jika dia benar-benar melakukan ini untuk temannya, dia akan menghentikannya.)


Kamijou mempunyai suatu kartu As di tangannya.


Jika Aihana Etsu kembali ke akal sehatnya, pertunjukan St. Germain ini akan berakhir. St. Germain pasti akan membuang bocah itu setelah rencananya berantakan dan Kamijou meragukan dia bisa bertahan dari serangan segala arah hanya dengan menggunakan Imagine Breaker.


(Jadi, aku membutuhkanmu.)


Kamijou menatap kembali Hamazura dari balik pilar.


(Jangan mati sekarang. Aku membutuhkanmu, sehingga kita semua bisa pulang dengan senyum di wajah seperti sedia kala!!)


Sambil terfokus terhadap apa yang ada di depannya, ia berpindah dari pilar ke pilar.


Sedikit demi sedikit, ia mendekati mereka. Ada lebih dari lima puluh orang St. Germain di sana, tapi mereka tidak memiliki indra manusia layaknya orang normal. Mereka bukanlah makhluk yang memiliki mata di belakang kepala dan mereka tidak bisa memindai seluruh wilayah dengan gelombang ultrasonik layaknya hewan malam.


Yang dilakukan para St. Germain itu hanyalah menonton gerakan Aihana Etsu, sehingga mereka tidak akan melihat pergerakan Kamijou selama ia tidak banyak menarik perhatian.


(Aku tahu seseorang yang benar-benar menyerahkan seluruh hidupnya pada balas dendam, Aihana Etsu.)


Dia telah bertemu orang tersebut di daratan bersalju Baggage City. Dia punya dua nama: Kihara Kagun dan Bersi. Dia telah menelan baik musuh ataupun sekutu dan ia sudah meninggalkan dunia ini setelah melaksanakan aksi balas dendam dengan sempurna.


Jika ada seseorang yang bertanya, apakah dia senang dengan hasil jeri payahnya, dia pasti akan mengatakan bahwa dia puas.


Tapi Kamijou akan memberikan jawaban yang berbeda jika ditanya apakah ia menyetujui hal yang telah terjadi.


Tidak peduli jika itu adalah keputusan yang paling benar di dunia.


Tidak peduli jika semua orang yang terlibat telah menerimanya atau orang-orang menganggap bahwa mengungkit-ungkit permasalahan itu adalah suatu hal yang tidak penting.


Kamijou Touma pasti akan berkata bahwa, dirinya tidak akan setuju dan sudi mengikuti pilihan yang diambil pria itu.


Jika Kamijou melihat seseorang yang mengikuti pilihan si pria, dia akan sekuat tenaga menariknya ke jalan yang benar. Kamijou akan meraih tangannya.


(Aku tidak akan membiarkanmu berakhir seperti itu.)


Dia menyelinap beberapa meter di sekitar para St. Germain dan berpikir dengan tenang.


Dia punya alasan yang kuat untuk membuat pendekatan terhadap Aihana meskipun ini adalah tindakan yang beresiko pada dirinya sendiri.


(Pilihan yang terbaik adalah melepas hawa nafsu membalas dendam sebelum dia bisa melampiaskannya. Hal yang paling menakutkan adalah ketika seseorang sanggup melampaui emosi dan menganggap tindakannya tersebut sebagai sesuatu hal yang normal. Itu hanya akan membuat seseorang menjadi ketagihan, walaupun emosinya sudah mereda, dia tidak akan bisa tenang tanpa hasrat yang sama.)


Dia memeriksa apa yang dipegangnya di tangan.


Ini mungkin tidak ada artinya jika dibandingkan dengan enam atau tujuh miliar orang di bumi ini, tapi ini mungkin adalah kunci terakhir untuk situasi ini.


(Jadi aku tidak akan membiarkan kau berakhir seperti itu.)


Dia menggertakkan giginya dan terus menuju jalan kematian.


(Aku tidak akan membiarkan kau menggunakan balas dendam sebagai alasan. Kau tidak perlu menginginkan bantuanku dan aku tahu bahwa ini semua hanya keegoisanku, tapi aku tidak akan membiarkan memori berharga milikmu tentang gadis itu dikotori dengan noda darah!! Jadi ingatlah, Aihana Etsu. Ingatlah perasaan pertamamu yang kau tanam di dalam hati!!)


Dan kemudian, Kamijou Touma mengambil tindakan akhir.



Sesuatu meluncur di sepanjang lantai.


Para St. Germain melihatnya, tapi Aihana Etsu mengulurkan tangannya dan menghentikannya sebelum Chambord tajam bisa merobeknya jadi potongan-potongan kecil.


Anak itu melihatnya.


Benda itu tidak mungkin beharga lebih dari ¥ 3.000, tapi baginya, itu adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan walaupun berada du ujung dunia sekalipun.


Benda itu adalah kotak berukuran sepuluh sentimeter yang dibungkus kertas berwarna hijau pucat dan pita merah.


Pita disilangkan di atas kotak sehingga selembar katu bisa diikatkan padanya. Sepertinya di dalam kotak itu terdapat alat elektronik murah yang dapat memainkan musik, karena ada bunyi nyanyian melodi ulang tahun yang sudah terdengar kusam.


Itu mungkin adalah suatu pesan.


Dan bersamaan dengan melodi itu, terdengar suara seorang gadis tertentu.


"Selamat ulang tahun !! Hei, hei, hei. Pada akhirnya, ini adalah hadiah kejutan untukmu, Kanou-chan !!”


"..."


Aihana Etsu ... bukan, bocah yang menggunakan nama tersebut merasakan sesuatu menggeliat di kepalanya.


Sisa-sisa memori yang hangus layaknya foto terbakar, kini kembali seketika.


Mungkin kata-kata itu tidak punya makna dan hanya ucapan biasa.


Itu tidak mengubah fakta bahwa si gadis sudah mati, kenyataan tidak akan berubah secara ajaib, dan membenamkan dirinya dalam kenangan lama mungkin tidak berbeda dari berbincang-bincang dengan sahabat khayalan.


Tapi ...


"Nee hee hee. Kau adalah tipe orang yang suka lupa pada hari ulang tahunnya sendiri, bukan? Tapi! Jangan meremehkan kemampuan komunikasi Nona Frenda! Aku sudah mencaritahu apa yang kau inginkan jauh-jauh hari sebelumnya! Sekarang, sekarang. Buka kotak ini dan gemetarlah karena isinya sangat mengerikan. Gah hah hah !!”


Aihana Etsu telah memutuskan untuk melepaskan semua dagingnya dan berubah menjadi sebongkah mesin yang hanya tahu tentang balas dendam.


Namun kini, daging-daging itu kembali membungkus mesin, dan dia kembali menjadi seorang manusia. Keinginannya untuk membalas dendam pun semakin memudar.


Dia berhenti.


Dia tenggelam.


Dia terbenam.


Sedikit demi sedikit, roda-roda gigi mesin lepas. Mesin sudah kehilangan fungsinya. Sosoknya semakin dekat ke ranah manusia.


Memorinya yang tadinya pudar, kini kembali jelas dan tersimpan di dalam ingatannya.


Dia mengingat seorang gadis yang sering bercengkrama dengannya, sebelum dia memalsukan nama Academy City # 6.


"Pada akhirnya, kau menghina dan memanggil dirimu sendiri dengan sebutan cengeng, tapi kau tidak bisa begitu selamanya. Aku bukanlah tipe orang yang baik hati, kau tahu? Aku juga tidak pernah mencoba untuk berhubungan baik dengan 6 milyar manusia di luar sana. Kau adalah salah satu dari teman-teman yang Frenda pilih! Menurutku, itu adalah sesuatu yang dapat dibanggakan !!”


Waktu berhenti.


Aihana Etsu berhenti bergerak.


Ada sesuatu yang meresap ke dalam hati kecil bocah itu.


Ini tidak seperti St. Germain yang berbicara panjang-lebar tentang dunia dengan sok tau.


Ini adalah hal yang nyata.


Ini adalah kata-kata dari teman yang ia kejar begitu lama.


"Air matamu adalah pengampunan dari seluruh tindakan salah yang sudah kau lakukan. Air matamu memastikan bahwa kau tidak menyimpang dari jalur yang benar, tidak peduli seberapa tidak masuk akal hambatan yang menghadangmu. Itu adalah sesuatu yang tidak kumiliki, jadi aku kagum padamu karena kau punya hal yang tidak pernah bisa kucapai! Ada begitu baaaaaaaanyak orang di dunia ini yang hanya akan berakhir dengan melakukan tindakan mengerikan jika mereka ada di posisimu saat ini, namun kau adalah orang yang kuat dan kau tidak mungkin meniru mereka. Jadi, banggalah pada dirimu sendiri. Pada akhirnya, kau harus bangga pada dirimu sendiri karena kau berani menangis dan mengampuni dosa seseorang!!”


"Oh ..."


Suatu suara dentangan benda berat mengguncang ruangan tersebut. Ini karena perisai emas tergelincir dari tangan si bocah dan jatuh ke lantai.


Dia tidak lagi memerlukan Anne’s Shield.


Dia tidak lagi memerlukan benda legendaris atau apalah itu. Dia hanya memerlukan sepasang kakinya sendiri untuk bisa berdiri tegak.


Dia menggunakan tangannya untuk menutupi wajahnya.


"Aku ingat sekarang, St. Germain."


Dia bukan salah satu dari Level 5 Academy City.


Dia bukan seseorang yang sanggup menciptakan legenda besar layaknya seorang ksatria yang dulu pernah dipilih oleh sebilah pedang.


Tapi apakah itu penting?


Anak ini telah lahir ke dunia ini sebagai dirinya sendiri. Dia tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain dan ia adalah seorang individu yang tak tergantikan untuk dunia ini. Tidak peduli seberapa kecil dan sepele eksistensinya di dunia ini. Seseorang gadis telah tersenyum dan merayakan hari ulang tahunnya. Dengan demikian, ia telah membuktikan keberadaannya.


Ini adalah sifat tunggal.


Itu bukanlah solusi muahan. Berbeda dengan seorang manusia unggulan yang memperoleh semua pencapaian karena bakatnya yang begitu hebat, ia adalah tipe manusia yang harus membuka jalan ke depan dengan usahanya sendiri. Itu adalah jalan yang jauh lebih sukar daripada seseorang yang sudah dibekahi begitu banyak kelebihan sejak lahir.


"Aku ingat namaku, St. Germain. Namaku adalah Kanou Shinka.”


Meski begitu, iblis di bahunya terus membisikkan sesuatu ke telinganya.


Tapi kini dia tidak peduli jika dia dipanggil menyedihkan, kasihan, tidak sedap dipandangan, atau memalukan.


Dia tidak akan mengikuti jalan pintas dan akan memilih jalan panjang yang lebih susah dilalui. Itu adalah pilihan yang bodoh. Namun selama dia menggunakan kedua kakinya sendiri untuk melalui jalan tersebut, itu tidaklah masalah baginya.


Dia tidak akan mendengarkan lagi godaan St. Germain, tak perduli apa pun alasannya. Dia tidak akan menggunakan kematian Frenda Seivelun sebagai pembenaran atas semua tindakannya. Dia tidak akan bergantung pada reputasi # 6 yang misterius atau Queen Anne yang tidak jelas keberadaanya.


Dia akan berdiri dengan kekuatannya sendiri.


Dia akan menggunakan pikirannya sendiri untuk mengingat hal yang benar-benar ingin dia lakukan.


Setidaknya, pikirannya adalah hal yang murni. Itu bukanlah pemikiran palsu yang dibuat-buat dengan menuangkan minyak pada kobaran api dendam.


Frenda Seivelun telah menyimpan "sesuatu" yang tersembunyi dan gadis itu tidak akan menjerumuskan anak ini ke jalan berdarah yang sesat. Mungkin si gadis telah menyadari bahwa pria ini adalah seorang individu berhati kuat yang berani menangis dan mengampuni orang lain. Menangis tidak berarti lemah. Dan orang terkuat adalah orang yang bisa menahan emosinya dan memaafkan dosa orang lain


Jika demikian, jalan apa yang harus ia ambil?


Sebagai orang yang berhati kuat, pilihan apa yang harus dia ambil?


"Jadi, St. Germain, sekarang aku bisa melihat musuhku yang sebenarnya. Musuhku bukanlah siapa-siapa. Musuhku adalah aku sendiri!! Aku adalah orang yang menodai kematian Frenda! Aku menggunakan alasan kematian Frenda sebagai alat untuk membunuh orang lain!! Dan aku tidak akan menerimamu lagi!!”


St. Germain bereaksi dengan cepat.


Dengan suara ledakan, Chambord menusuk bingkisan ulang tahun itu dari bawah.


Pembungkus dan pitanya robek. Kotak itu tercabik-cabik dan melayang di udara.


Tapi ekspresi anak itu tidak berubah dan ia mengangkat tangan kecilnya.


Sebuah arloji saku murah jatuh ke telapak tangannya.


Dia menggenggam alat berwarna perak tersebut dan meraih kartu ucapan yang melayang-layang di udara. Dia jepit kartu itu diantara jari telunjuk dan jari tengahnya


Selamat ulang tahun, Kanou Shinka.


Seperti itu tulisannya


Seorang gadis yang tak lagi hidup memberinya perayaan dan pengakuan pada keberadaannya. Dia memegang bukti berharga itu dan dia pun berbicara.


"Terima kasih, Frenda."


Ia menghancurkan topeng bernama "Aihana Etsu" yang selama ini dikenakannya.


Bocah ini, kini telah menjadi pria dewasa.


Dia adalah Kanou Shinka dan bukan orang lain.


Dalam ucapan selamat ulang tahun, gadis itu mengucapkan nama Kanou Shinka, bukannya Aihana Etsu. Jadi, dia tidak akan menyia-nyiakan nama ini. Dia pun kini merasa cukup kuat untuk berjuang melawan dunia, ia akan menghadapi musuh sejati.



Pada saat itu, Kamijou Touma tersenyum sembari masih berjongkok.


Pada saat itu, Hamazura Shiage mendesah sembari masih berada di dalam Power Lifter miliknya.


Mereka berdua memikirkan hal yang sama.


"Apa boleh buat."


"Apa boleh buat."


Mereka bukanlah teman lama.


Mereka hanyalah setitik noktah diantara 6 milyar manusia di bumi ini.


Tapi mereka tahu akan satu hal: Adalah hal yang sangat memalukan jika Aihana Etsu meninggal.


Dan bukan lagi Aihana Etsu. Dia adalah seorang pria yang punya nama sendiri, dan itu adalah Kanou Shinka.


Jadi ...



Dia sudah menemukan alasan untuk bertarung, dan dia tidak takut lagi pada kematian, sehingga ia tidak ragu-ragu menyerang kerumunan St. Germain.


Sampai suatu hal terjadi.


Tepat ketika St. Germain mulai menggunakan tombak Chambord yang tak terhitung jumlahnya untuk menebang Kanou Shinka yang sudah tidak lagi bisa dia kendalikan.


Kamijou dan Hamazura menyela. Mereka menggunakan Imagine Breaker dan lengan Power Lifter untuk menerobos hujan tombak. Kamijou meraih Kanou Shinka melalui suatu sela yang sempit, menariknya, dan kemudian mendorongnya ke depan.


Sesaat kemudian, pancaran cahaya cemerlang ditembakkan.


Itu adalah # 4, Meltdowner.


Tetapi anehnya, dia tidak menargetkan Chambord. Mata Hamazura terbuka lebar.


"Sialan, Mugino!! Mengapa kau mencoba untuk membunuh Kanou !?”


"Eh? Tapi aku sama sekali tidak perduli dengan perubahan hati dan tekad bocah itu. Dia tampak seperti berada di sisi musuh, jadi aku tidak punya alasan untuk mempermudahnya.”


"Ini semua sungguh berhubungan denganmu!! Semua ini salahmu, salahmu, salahmu, dan salahmu!! Aku mungkin bukanlah orang yang pantas berbicara seperti ini, tapi sejak awal kau lah yang menyebabkan semua iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!”


Dia berteriak sekuat tenaga, tapi Mugino hanya mendesah.


Sebagai seseorang yang bekerja di sisi gelap kota, dia hanya menanggapi semua ini dengan ekspresi datar. Mugino tidak bisa menganggap seseorang sebagai teman ataupun musuh jika orang tersebut “berwarna abu-abu”, bukannya “putih” atau “hitam”. Dia hanya akan melenyapkan itu semua. Bisa saja itu adalah orang yang menyerang dari “dalam selimut”, orang tak bersalah yang terhipnotis, atau mungkin pihak ketiga yang hendak balas dendam. Jika Mugino tidak benar-benar yakin bahwa orang tersebut adalah sekutunya, profesional macam dia hanya akan melihat orang tersebut sebagai target Meltdowner miliknya.


"Jadi."


Mugino Shizuri menciptakan bola cahaya baru dari udara tipis dan membidik St. Germain.


“Sepertinya yang benar-benar “berwarna hitam” di sini adalah kau, ya? Dasar brengsek!!"


Ada gerakan di tempat lain juga.


"Touma !!"


"Oh, ya ampun. Apakah semua orang harus muncul sekarang juga!?”


Itu adalah Index, biarawati berpakaian putih dengan bordir emas, dan Stephanie, wanita berambut pirang pendek yang bertindak sebagai pengawal si biarawati dengan menggunakan PDW miliknya.


Index bersama dengan 15cm Othinus di bahunya dan juga Takitsubo Rikou, yaitu seorang gadis yang mengenakan jaket olahraga pink dan berdiri di belakang Stephanie.


Kamijou Touma tidak mengatakan apa-apa dan Hamazura Shiage tidak menyela.


Kini si bocah bisa melakukan segala sesuatu dengan tangan-dan-kakinya sendiri, sehingga mereka berdua membiarkannya berjuang.


Kanou Shinka berdiri sekali lagi dan membuat pernyataan sembari diapit oleh dua orang pahlawan.


"Aku akan mengambilnya kembali, St. Germain."


Dia menghadapi monster yang namanya sudah melegenda sejak dahulu kala.


Kini, dia menantangnya dengan namanya sendiri, dan usahanya sendiri.


"Aku akan mengambil kembali setiap kebanggaan temanku yang telah kau injak-injak!!"

NT Index v12 360-361.png



Diantara Baris Ketiga[edit]


Seekor golden retriever memiliki suatu gudang persenjataan di tiap-tiap 23 distrik.


Kihara Noukan berjalan di Distrik 23.


Ia tiba di suatu fasilitas perawatan pesawat yang berukuran jauh lebih besar dari gym sekolah. Pintu masuknya lebih tampak seperti dinding bergerak daripada pintu biasa karena benda itu perlahan membuka ke kiri dan kanan. Lampu di dalamnya menyala secara otomatis.


Tampat itu dipenuh dengan beberapa kontainer ejeksi dan truk-truk besar untuk menariknya.


Bagi Noukan, ini adalah lemari-berjalan miliknya. Dia bisa memilih pakaian yang sesuai untuk berbagai acara dan keluar ke pesta makan malam dengan penampilan yang optimal. Dan dia akan menggunakan peluru, bukannya sopan santun. Dia akan menggunakan granat, bukannya etiket. Dia akan menggunakan sinar laser, bukannya kasih sayang. Dia akan menggunakan nitrogen cair, bukannya keramah-tamahan. Dia akan menggunakan gelombang mikro pembunuh, bukannya rasa hormat.


Tujuan golden retriever adalah untuk menghancurkan elemen-elemen yang tidak teratur dalam dunia stabil yang berkaidahkan hukum fisika ini.


Yakni, sihir.


Dan musuh terbesarnya adalah ...


"Jadi, para Dewa Sihir telah membuat pergerakan."


Sesungguhnya, ia tidak punya dendam yang nyata terhadap penyihir atau Dewa Sihir. Ia juga tidak memiliki dendam masa lalu, dimana ada suatu hal berharga yang diambil dari dirinya.


Tapi ia tahu orang yang telah mengubah seekor anjing biasa menjadi makhluk seperti dia sekarang. Itu adalah orang-orang yang pernah disebut sebagai Kihara original.


Belum genap 100 tahun sejak Kihara mendapatkan wujud yang sebenanya. Konsep ini mungkin bisa dianalogikan dengan pertumbuhan akar rumput. Tetapi baru-baru ini, konsepan itu berkumpul dan membentuk suatu Kihara yang nyata.


Dia datang ke sini pada saat kesibukan pembangunan setelah perang di masa lalu. Dan juga setelah “manusia” itu menciptakan Academy City. Jadi, konsep tentang Kihara memanglah baru saja terwujud baru-baru ini


Ketujuh orang itu pun hanyalah manusia biasa yang bisa tertawa dan menangis.


Sebelum masa ini, tidak diketahui apa itu Kihara dan kenestapaan apa yang disebabkan olehnya. Bahkan dengan semua kegilaannya, mereka masih saja memilih jalan ilmu pengetahuan sebagai takdir yang dilalui . Memang seperti itulah mereka.


Seseorang yang men-support si golden retriever selalu berada di sampingnya sembari menepuk-nepuk kepala si anjing. Dan dia selalu meminta maaf jikalau ada salah dalam bahasa manusia


Bagi orang normal, mereka hanya membuat lebih banyak orang menderita, tetapi sebagai peneliti, laporan eksperimen yang sukses membawa suatu kenikmatan tersendiri. Wajah mereka selalu berisi campuran emosi yang kompleks.


"Jika segala sesuatu di dunia dapat dijelaskan dengan rumus ilmiah, maka dunia ini hanya akan berisi keputus-asaan dan kepasrahan. Melakukan hal itu sama saja dengan memanggil teori setan Laplace*.” [Teori setan Laplace adalah suatu teori yang dicetuskan oleh Pierre-Simon Laplace pada tahun 1814. Yang dimaksud Laplace dengan “setan” di sini adalah seseorang yang mengetahui setiap atom dan momentum di seluruh alam semesta. Dan ketika ada makhluk seperti itu, Laplace menduga bahwa makhluk itu bisa melakukan perjalanan waktu ke masa depan ataupun masa lalu. Wikipedia Bebas.]


Itu benar, tapi bukankah seseorang yang mengelus-elus kepala seekor anjing dengan kasih sayang sama sekali tidak mirip dengan seorang Kihara?


"Tapi pada saat yang sama, suatu dunia yang tidak masuk akal, tidak akan memiliki kesempatan untuk mencelakakan orang. Sekarang, sudut pandang mana yang benar?”


Anggota asli sudah pergi sekarang.


Mereka menggunakan dirinya sendiri untuk mendefinisikan apa itu Kihara, menyimpulkan dengan cara yang bisa dipahami siapa pun, dan kemudian meninggalkan dunia tersebut. Bahkan pada saat mereka menggila, mereka terus memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal dengan menggunakan akal sehat. Seperti itulah para Kihara hari ini.


Itulah sebabnya Kihara Noukan tidak memiliki dendam tertentu terhadap sisi sihir.


Itulah mengapa golden retriever tidak tertarik pada dunia yang didamba-dambakan anggota asli.


"Jangan khawatir."


Pengetahuan ilmiah mungkin belum mampu membuktikan keberadaan surga.


Hukum fisika mungkin belum mampu mengukur beratnya arwah.


Tapi anjing besar ini berbicara.


"Bahkan jika kau telah meninggalkan dunia ini, Kihara masihlah tetap berada di sini."


Golden retriever memberikan instruksi dari pikirannya dan seketika itu, truk yang tak terhitung jumlahnya memuat kontainer ejeksi. Terdengar suara pengapian mesin yang meraung. Kelap-kelip lampu mulai terlihat disana-sini.


Semassa logam duduk di sana.


Sekumpulan armor yang dikenal sebagai Anti-Art Attachment mengikuti pergerakan Kihara Noukan saat ia berbalik.


Dia menatap ke dalam kegelapan yang tak terbatas di luar. Kelap-kelip lampu truk mengikuti dirinya sembari dia berkata di dalam hati.


Hanyalah fokus untuk menjadi Kihara.


Dengan keinginan itu, manusia yang sudah berubah menjadi anjing ini memulai pekerjaannya.