Toaru Majutsu no Index ~ Bahasa Indonesia:Jilid NT 12

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Illustrations[edit]

Prolog: Batas Ijin Dunia — Foreign_GODs,or_Evil_KINGs.[edit]


Kegelapan menutupi seluruh daerah.


Tidak seorang pun bisa melihat bahkan satu inci di depan wajahnya, dan kegelapan tampak menembus bola mata serta menekan pikiran.


Namun, orang-orang yang hanyut dalam kegelapan tersebut sama sekali tidak ambil peduli. Mereka secara implisit mengatakan bahwa ini adalah keadaan alami dunia atau seseorang berbisik "biarkan jadi terang".


Arah dan kedalaman sama sekali tidak dapat dibedakan dalam ruang hitam ini, tapi ada tiga eksistensi yang berbeda hadir di sana.


"Jadi kita berhasil menyelesaikan tepat waktu, Nephthys?"


Suara seorang pria tua berbicara dalam kegelapan. Wajahnya lebih dari sekedar "keriput", dan suaranya lebih tepat dideskripsikan dengan kata : "kering ".


Suara yang menanggapinya terdengar seperti suara orang muda dan memiliki keindahan mempesona.


"Ya. Gadis zombie itu berguna di saat-saat seperti ini. Ini semua berkat latar belakangnya, yaitu aktif dalam sejumlah besar budaya, dan ia hampir memiliki afinitas untuk apa pun. "


"Tapi, High Priest," potong suara seorang gadis yang terdengar lebih muda dan juga kekanak-kanakan. "Pada dasarnya, teori milik Nona Zombie sama seperti memegang cermin yang berlawanan, kan? Dengan membelah kekuatan kita secara tak terhingga, kita bisa melemahkan diri kita sendiri secara sengaja dan kita tak lagi dapat menghancurkan dunia hanya dengan menggerakkan lengan atau kaki. "


"Bagaimana, Niang-Niang?"


"Aku hanya ingin tahu apakah simbol ∞ benar-benar akan melemah jika terus dibagi. Aku tidak ingin menghancurkan dunia jadi berkeping-keping layaknya kaca ketika aku menggerakkan tubuhku. Kita tidak seperti Othinus. "


"Asalkan berhasil, aku tidak peduli apakah itu hanya penipuan belaka. Sama seperti strip Moebius* atau botol Klein*, beberapa konsep benar-benar ada walaupun tidak bisa didefinisikan dengan baik, Niang-Niang. " [Strip Moebius dan Botol Klein, keduanya merupakan suatu bidang yang tidak dapat ditelaah permukaannya secara matematis. Strip Moebius bisa kalian buat dengan mudah. Ambil kertas berbentuk strip (persegi panjang dengan sisi panjang yang jauh melebihi lebarnya), pelintir satu kali, kemudian sambungkan kedua ujungnya dengan menggunakan lem, maka kalian akan mendapatkan suatu pelintiran yang seakan-akan tidak pernah lurus. Botol Klein jauh lebih rumit. Ciu tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, jadi silakan telusuri si Wikipedia untuk melihat bentuk-bentuk khayal ini.]


"Ya, tapi aku lebih suka ide-ide praktis daripada teori. Kau bisa mengatakan bahwa aku adalah tipe penemu, bukannya tipe ilmuwan. Aku tidak terlalu percaya pada sesuatu bahkan jika ditambahkan tumpukan-tumpukan teori pendukung. Aku tidak bisa tenang sampai aku mencobanya sendirian dan melihat bahwa itu bekerja. "


"Lalu bagaimana kalau kita mencobanya?"


"Apakah kau yakin bahwa kita harus mengubah dunia menjadi mainan kecil?"


Meskipun berkomentar seperti itu, gadis yang disebut Niang-Niang tertawa dan tidak menunjukkan tanda- tanda keraguan.


Tiga eksistenasi ini dengan sengaja melihat ke arah yang sama.


Tercipta suatu hubungan di dunia yang hanya berisi kegelapan menyeluruh.


Hubungan itu semakin mendalam dan akhirnya menampakkan wujudnya.


Wanita yang disebut Nephthys berdendang dengan suara manis yang tampaknya bisa mempesona siapa pun yang mendengarnya.


"Halo Dunia."


Sebuah hantaman logam berat meledak.


"Halo, sisi ilmu pengetahuan."


Suatu garis vertikal, yaitu cahaya putih tipis muncul di permukaan yang gelap.


"Halo, Academy City."


Suatu pintu ganda terbuka.


Tiga Dewa Sihir mengisi paru-paru mereka dengan udara Academy City.



Academy City tidak berbatasan dengan laut, sehingga rute udara dan jalur darat sangatlah penting. Distrik 11 adalah basis dari rute darat. Di sana ada kontainer logam yang menumpuk layaknya gunung, dan para Dewa Sihir dengan santai mengambil langkah keluar dari kotak kontainer di puncak.


Salah satunya adalah High Priest.


Tubuhnya kurus dan tertutup oleh keriput bagaikan cabang kering pohon kuno. Dia mengenakan jubah pendeta Buddha berwarna ungu yang menutupi kerangka kurus tubuhnya dan membuat perawakannya tampak lebih besar. Hawa keserakahan besar terpancar dari pedang yang ia tekankan ke tanah layaknya tongkat berjalan milik para manula, dan dia mengenakan rakusu* emas berkilauan di atas jubahnya. Dia adalah produk dari mumifikasi Buddha*. Dia berpuasa sampai kelaparan sehingga bentuk manusianya akan melampaui six path* dan menjadi Buddha hanya dalam satu generasi. [Rakusu adalah pakaian tradisional Jepang yang biasanya dipakai oleh para biksu. Bentuknya seperti daster namun bagian depannya terlihat lebih kotak dan kaku. Wikipedia Bebas.] [Mumifikasi Buddha atau Sokushinbutsu (即身仏) adalah cara mumifikasi diri yang dilakukan oleh biarawan Jepang. Praktik ini pertama kali dirintis oleh seorang kepala biara bernama Kuukai di kompleks kuil Gunung Koya di prefektur Wakayama. Wikipedia Indonesia tanpa perubahan.] [Six Path terdiri dari : ranah dewa (Sanskrit), ranah dewa kecemburuan (Asura), ranah manusia (Manussa), ranah hewan (Tiryagyoni), ranah arwah (Petta), dan ranah neraka (Niraya). Wikipedia bebas.]


Lainnya adalah Niang-Niang.


Gadis itu mengenakan gaun putih pendek Cina dengan lengan yang sangat longgar, tapi kulitnya benar-benar pucat bahkan lebih putih dari pakaiannya. Dia mengenakan topi dan memiliki jimat unik yang melekat pada dahinya. Sederhananya, dia adalah seorang Shijie-Xian* China kuno. [Shijie-Xian dapat diartikan sebagai makhluk abadi dalam ajaran Tao. Ada beberapa pengertian, diantaranya adalah : makhluk yang rohnya abadi, makhluk yang fisiknya abadi, ahli kimia, penyihir, dukun, jin, pertapa yang hidup di gunung, atau seseorang yang memiliki bakat abadi. Wikipedia Bebas.]


Yang terakhir adalah Nephthys.


Dia adalah seorang wanita cantik dengan rambut perak panjang dan tubuh telanjangnya yang berwarna coklat benar-benar hanya ditutupi oleh balutan perban putih. Warna matanya berubah sesuai kemauannya dan ada tato bergambar tetesan air mata di bawah kelopak matanya. Dia adalah dewi dari mitologi Mesir yang meneteskan air mata setelah kematian Osiris, tapi anehnya, tidak ada cerita lain yang diketahui tentang dia. Untuk karena itu, beberapa ahli berspekulasi bahwa kedewaannya disimbolkan dengan “wanita menangis” yang hadir dalam suatu acara pemakaman.


"Saat ini ..."


High Priest berbicara sembari menggerakkan jarinya yang tampak begitu rapuh. Seakan-akan jari-jemarinya akan patah hanya karena dia membengkokkannya terlalu kuat. Dan kepalanya terlihat seperti tengkorak yang ditempeli kulit.


"Tampaknya sudah bekerja. Tidak ada tanda- tanda adanya tornado yang terjadi di sisi lain dunia seperti butterfly effect* atau esper holistik. " [Butterfly effect adalah teori yang mengatakan bahwa adanya suatu efek akan menimbulkan dampak lain di suatu tempat yang berbeda. Kamus Besar Oxford.]


"Jadi, aku kira sudah waktunya bagi kita untuk memulai juga."


Komentar riang Niang-Niang membuat jengkel Nephthys yang seluruh tubuhnya terikat oleh perban.


"Tidaklah masalah jika kau berurusan dengan masalah utama, tapi “itu” akan segera mengambil tindakan. Sekarang, kita berada di dunia nyata, tak lama lagi kita akan terdeteksi. "


"Ya, kita mungkin perlu menetapkan segala sesuatu secara pasti. Di satu sisi, “itu” bahkan lebih menyusahkan daripada Othinus. "


"Betapa merepotkan," kata High Priest sambil memijat bahunya.


Niang-Niang manyun sambil meneruskan perkataannya.


"Jujur, mengapa Aleister harus menghancurkan dunia tersembunyi milik kita tanpa pikir panjang? Mungkin kita harus benar-benar sudah membunuhnya. "


"Kami tidak seperti Othinus," jawab High Priest. “Kau sendiri yang bilang begitu, Niang-Niang. Meskipun begitu, bukan berarti kita adalah suatu eksistensi yang tidak berbahaya.”


Suara lembut dan menenangkan darinya membuat Niang-Niang mengangkat kedua tangan.


Tapi, bukan berarti Niang-Niang telah terbujuk oleh suatu khotbah kebajikan.


"Jangan berlagak begitu tinggi dan perkasa, orang tua. Kau lah orang yang naik pitam dan mencoba untuk membunuhnya dulu.”


"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan."


"Itulah masalahnya. Kau telah sepenuhnya menulis ulang definisi kebenaran yang didasarkan pada bagaimana perasaanmu saat ini. Adakah yang lebih berbahaya di dunia ini selain seorang dewa yang mengatakan A, kemudian 5 detik setelahnya mengatakan B? Bagian terburuknya adalah, kau bahkan tidak menyadari hal itu. Sehingga kau benar-benar percaya bahwa itu semua terhubung oleh suatu logika yang berkesinambungan.”


"Pokoknya."


Bukannya menghindari masalah ini, High Priest malah sepenuhnya merubah topik pembicaraan secara refleks.


"Kita telah kehilangan dunia tersembunyi, sehingga kita tidak punya pilihan selain berdiri di atas papan permainan, yaitu di dunia nyata. Aleister, Gemstones, dan Kamijou Touma. Kita memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Atau lebih tepatnya, banyak pekerjaan tak penting yang sudah menumpuk. ... Tapi sekarang kita berdiri di papan ini, dan kita tidak bisa hanya menonton dengan pasif. Sekarang giliran kita tiba, dan kita dipaksa untuk bertindak. Kita tidak bisa lagi berdiri terdiam dan mempercayakan semuanya kepada aliran waktu. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan betul di mana kita berdiri.”


"Yeah yeah."


"Ini mungkin mirip dengan para ahli yang bekerja untuk menghambat satu sama lain. Yang harus diperhatikan adalah fakta bahwa kita terlalu kuat untuk bertindak hanya sebagai potongan permainan, tetapi ada kemungkinan bahwa setiap langkah yang kelihatannya tidak berarti, sejatinya bisa merubah situasi di papan permainannya.”


Namun, pria itu tidak mengatakan bahwa mereka tidak harus bergerak di seluruh papan.


Dia bukan seorang karakter yang begitu besar.


"Jadi jika mungkin, aku ingin meminjamkan bantuanan pada siapa saja yang membuat pergerakan terlebih dahulu, tapi akankah “itu” dengan baik hati bersedia menerima semua kondisi ini dan tidak bertindak sebagai pengacau?"


Saat ia mendengarkan, Nephthys menempatkan tangannya di pinggul dan memandang pemandangan kota yang membentang di kejauhan.


Gunungan kontainer di kakinya mengingatkannya pada kuburan. Dan entah kenapa, itu membuatnya bernostalgia pada masa jaman Paraoh. Yaitu, tentang piramida.


Bibir menawannya bergerak dan melantunkan kata-kata.


Jika dia ingin, Dewa Sihir bisa membentuk dunia seperti tanah liat dan menciptakan surga yang sempurna, dan itu adalah suatu konsep langka yang bisa diterapkan oleh musuh. Bahkan sebelum mempertimbangkan apakah seseorang kuat atau lemah, konsepan tentang mana yang musuh dan mana yang lawan sudahlah cukup untuk membuat dua kubu saling menghabisi. Mungkin, satu-satunya musuh yang layak bagi seorang Dewa Sihir adalah Dewa Sihir lainnya. Sedangkan, seorang Dewa Sihir bisa bergabung pada suatu pihak untuk mengubah dan membengkokkan dunia sesuai dengan kehendaknya.


Namun demikian, Nephthys mengucapkan nama seorang legenda. Alih-alih eregu dengan Dewa Sihir lainnya, dia malah mengucapkan suatu nama tunggal.


"Queen Anne."


Sekarang, apa maksudnya dia mengatakan kata-kata itu?


Sang Dewa terus berbicara.


"Jadi, King Arthur memiliki saudari kembar dan perisai untuk menyarungkan pedangnya."



Chapter 1: Kue Kukus dan Permata — to_the_DIANOID.[edit]

Part 0[edit]


Dari suatu gang belakang yang sempit, langit bersih musim dingin hanya terlihat layaknya sepotong persegi berwarna biru.


Seorang anak laki-laki pendek tergeletak di daerah yang terisi dengan kumpulan tumpukan kantong sampah.


Ia tampak berusia sekitar dua belas tahun. Dia memiliki rambut cokelat sebahu yang cukup panjang, kepalanya dikerudungi oleh jaket berwarna hitam, celana pendek, dan sepatu bot. Kaus kaki dan pakaian yang terlihat dari dalam jaketnya menghadirkan suatu pemandangan yang kontras. Terlihat seperti warna biru langit yang dicoreti oleh garis-garis dari stabilo.


Wajahnya bisa dideskripsikan sebagai anak kecil, sehingga, pembengkakan berwarna cerah di sekitar matanya dan memar biru di pipinya, terlihat begitu menyakitkan.


Dia menghela napas lambat.


Anak itu mengingat suatu percakapan yang sebelumnya terjadi.


“Kau sungguh tidak seharusnya berada di sana. Itu terlalu nekat, bahkan jika kau mengklaim bahwa kau harus menyelamatkan temanmu yang hilang bernama Frenda.”


Kepalanya sakit, dan dia yakin bahwa penyebabnya adalah lebih dari sekedar tinjuan biasa.


Kata-kata itu telah merobek hatinya.


"Aku tidak sok kan dan meremehkanmu. Aku benar-benar mencoba untuk membantu karena aku merasa kasihan padamu. Kau tahu itu, kan? "


Kota ini sejatinya adalah kota tempat hidup para preman.


Dan dia bukannya pria kekanak-kanakan yang sok jadi preman, melainkan, dia adalah seorang preman betulan.


"Aku tidak tahu banyak tentang sisi gelap kota ini dan aku tidak pernah terendam dalam kegelapan tersebut. Itu berarti, aku masih berada pada sisi jujur kota ini. Namun akan lebih tepat jika kau mengatakannya zona abu-abu kota. Itu karena sesungguhnya aku baru saja masuk ke sisi jujur kota. ... Memang ada saat-saat yang tepat untuk menggunakan seseorang seperti itu. Sekarang, misalnya.”


Jika ada seseorang dari sisi gelap datang dan membungkam orang lain, itu akan mengungkapkan bahwa sisi gelap kota terlibat dalam insiden tersebut.


Itulah sebabnya peran tersebut dilimpahkan pada orang "jujur".


Tentu saja, mereka akan memastikan bahwa tidak ada yang melacak jejak pelaku ke sisi gelap kota. Tengkulak yang begitu banyak dipergunakan dan pembayaran dilakukan melalui beberapa metode yang kompleks.


"Dengar, di mana ada uang mengumpul, di sanalah ada sisi gelap kota. Bukan itu targetmu, tapi mereka akan mulai membencimu bahkan jika kau hanya berusaha untuk mencari mereka. Begitulah cara kerjanya. Jika kau tidak memiliki kekuatan yang cukup, maka kau tidak akan bisa kemana-mana. Kau tidak akan bisa mendekati targetmu, malahan kau hanya akan mendapat 5 sampai 10 kali lipat musuh lebih banyak. ... Kalau begini terus, kau akan terbunuh dengan sia-sia. Dan aku juga mengatakan bahwa menjadi seorang preman sepertiku bukanlah hal yang mudah, bahkan aku ditugasi untuk membunuh beberapa orang. Maksudku, kau benar-benar bisa mati. Apakah kau tahu perbedaannya?”


"..."


Anak laki-laki itu duduk di atas tumpukan sampah.


Dia berbalik ke arah pintu gerbang. Ada begitu banyak iklan yang diputar di TV, sehingga kebisingan itu mengijinkan siapa pun bisa masuk dan keluar pada tempat tersebut dengan bebasnya. Namun, siapa pun yang masuk dengan niat jahat akan ketahuan sebelum mereka sanggup menginjakkan kaki di sana dan tim intersepsi akan keluar untuk menghentikannya.


Apakah ada sesuatu di sana yang begitu diperlukan oleh si bocah?


Apakah ada sesuatu yang tersembunyi di sana sehingga mereka tidak bisa membiarkan siapa pun melihatnya?


Bocah itu hanya ingin tahu apa yang telah terjadi kepada temannya yang menghilang ke dalam sisi gelap kota.


Dan dia pasti akan menyelamatkan gadis itu, tidak peduli seberapa jauh dia harus terbenam dalam kegelapan kota.


Ada suatu rahasia berharga untuk merusak keinginan-keinginan itu.


"Tapi aku yakin bahwa kau pernah mendengar tentang ini."


Si preman mendesah dengan berat sembari berbicara pada bocah itu.


"Jika kau bukanlah orang yang cukup unik, maka ada suatu identitas palsu agar dikenal banyak orang. Misalnya, Academy City # 6, Aihana Etsu. Tak seorang pun tahu usia dan jenis kelamin #6. ... Itu berarti, siapa pun yang menyamar sebagai dirinya...tidak akan ada orang yang bisa membedakan apakah dia asli ataukah palsu, kan? Sejak awal, tidak ada yang tau siapakah sesungguhnya si #6.”


Anak itu tidak bisa menyelinap melalui security.


Dia tidak bisa mengakses data.


Tapi ...


Bagaimana jika dia tidak sendirian? Misalnya, seorang pekerja bandara bisa saja menyelinap melewati gerbang tanpa pemeriksaan barang bawaan dan polisi tidak akan menghentikannya di pos pemeriksaan. Bagi presiden, Gedung Putih benar-benar merupakan rumahnya dan seorang astronot bisa tidur siang dengan lelap di suatu stasiun ruang angkasa yang tidak bisa didatangi oleh manusia pada umumnya.


Bagaimana jika ia melakukan hal yang sama?


Dia tidak mendapatkan apa-apa dan berbalik pergi dari pintu gerbang, tapi bagaimana jika ada orang lain yang tidak seperti itu?


Bagaimana jika ia memiliki gelar Level 5, yaitu seseorang pelajar yang paling langka di Academy City?


“Kau ingin tahu mengapa orang yang menghentikanmu mau memberitahumu akan hal itu?"


Preman itu mengangkat bahunya pertanda tak punya ide.


"Karena ceritamu terlalu sedih. Menghentikanmu di sini adalah hal yang paling tepat, dan sudah menjadi sifat manusia untuk selalu ingin memberikan sedikit petunjuk tentang triknya.”


"..."


Bocah laki-laki pendek mengusap pipinyanya yang merah dengan punggung tangannya.


Dia mengisap di udara dingin dan mengembuskan napas hangat.


Dia diam-diam mengumpulkan tekadnya sambil duduk di tumpukan sampah.


Dia akan melakukannya.


Tidak peduli bagaimana ia melakukannya, dia akan tetap menjadi Aihana Etsu, Level 5 Academy City # 6.



Part 1[edit]


Pagi datang lebih awal pada kamar asrama Kamijou Touma di Distrik 7.


Bagaimanapun juga, anak berambut jabrik ini hanyalah seorang pelajar SMA biasa, belum lagi, dia punya tanggungan untuk mengasuh seorang gadis kecil dan kucingnya. Itu berarti, dia tidak bisa hanya melemparkan bahan makanan ke microwave kemudian menyantapnya, karena dua anak asuhnya tersebut pasti akan mendahuluinya dan menghabiskan makanan itu. Dia harus memasak untuk dirinya sendiri. Dia tidak bisa menikmati rasa makanannya secara santai karena dia harus membaginya dengan para penumpang lain yang tinggal bersamanya. Dia sungguh khawatir terhadap pembengkakan biaya hidup, dan dia pun berpikiran : "Hah? Apakah aku bisa lebih kenyang menyantap ramen jika aku berani mengulur mie-nya sampai panjang? Ya, aku berani! S-sekarang aku hanya perlu mengetahui seberapa layak ramen ini untuk dimakan, sehingga aku tidak mati nantinya!" atau "Bonggol kubis? Kamu bisa makan itu! Kau hanya perlu mengirisnya dalam juicer, dan tambahkan beberapa susu, madu, dan apel, dan kemudian tekan tombol juicer-nya sekali lagi!" Dia selalu berjuang untuk membuat hidangan dari bahan-bahan yang sesungguhnya tak layak makan.


Namun, pagi ini datang terlalu cepat.


Index tertidur di kasurnya dan Kamijou Touma sedang terlelap di dalam bak mandi pada suatu kamar mandi yang terkunci. Seakan-akan, dia pura-pura menjalani tidur musim dingin.


Jadi, orang yang bangun lebih awal adalah si pendatang baru.


Dia adalah seorang Dewa Sihir setinggi lima belas sentimeter.


Gadis berwajah pucat, berambut pirang panjang bergelombang dan mengenakan penutup mata itu adalah Othinus.


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!! ???"


Dia berlari secepat mungkin di lantai kayu ketika ada seekor binatang dari neraka mendekatinya dari belakang. Makhluk berbulu yang mengeong itu rupanya adalah kucing calico Jepang, tetapi pada ukuran Othinus, dia tidak berbeda dengan kerabat Cerberus* atau Orthrus*. [Cerberus adalah anjing dari neraka berkepala tiga pada mitologi Yunan kuno. Wikipedia bebas.] [Orthrus juga merupakan anjing neraka, namun berkepala dua. Wikipedia bebas.]



Sejak Othinus tiba, si kucing tampaknya melihatnya sebagai makanan darurat atau mainan kucing, jadi dia begitu sering diserang oleh makhluk berbulu itu.


Si kucing menggeram dan menjatuhkan kaki kanan depannya, sehingga Othinus mengelak dan kemudian berguling untuk menghindar dari injakan kaki kiri. Othinus berhasil mencapai kamar mandi.


Sayangnya, tubuhnya yang hanya setinggi 15cm mencegahnya untuk bisa meraih gagang pintu yang hampir setinggi 1m.


Untungnya, itu bukan target-nya.


"Hnnnn!"


Dia memiringkan kepalanya seperti di olahraga bisbol, mengulurkan tangannya ke depan, membentuk pose merangkak dan melemparkan dirinya sendiri ke lantai. Pintu kamar mandi memiliki celah seukuran dua atau tiga sentimeter di bagian bawah dan dia menyelinap kemudian meluncur melaluinya untuk memasuki kamar mandi.


Pada saat yang sama, ia mendengar suara tubrukan dari balik pintu.


Si kucing telah menerkam tapi kehilangan target dan dia malah membanting kepalanya ke pintu.


Gadis itu menarik napas dalam-dalam namun akhirnya sanggup berdiri. Dia mendengar suara mengeong yang begitu menyedihkan dari balik pintu. Sepertinya si gadis kasihan dengan si kucing, jadi dia melipat kedua tangannya, menghentak-hentakkan kakinya dengan jengkel, melirik ke arah pintu, dan akhirnya berjongkok untuk memeriksa melalui celah di bawah.


Pada saat itu, suatu tapak kaki turun dari atas layaknya pisau pemenggal.


"Cuih!! Aku tahu, aku seharusnya tidak khawatir terhadapmu!!”


Dia dengan panik menarik kepalanya kembali dan mengutuk si hewan dengan jengkel.


"Nnnnn ... Othinus, ada apa dengan neraka yang berisi celana dalam ini? Sepertinya kau sudah malas menciptakan dunia, kan? Zzz ...”


Suara gertakan gigi dan komentar konyol terdengar dari arah bak mandi. Suara-suara itu terdengar begitu santai, dan itu artinya, tempat ini cukup aman.


Si gadis telah melarikan diri ke kamar mandi, sehingga dia sudah aman. Seekor kucing calico tidak akan mampu membuka pintu. Kemenangan mengisi dada Othinus, tapi dia membeku saat mendengar suara gemerincing yang datang dari pintu.


(Tidak mungkin ... Tidak mungkin!!! Apakah dia melompat ke pegangan pintu dan menggantung dengan menggunakan kaki depannya!?)


Keringat tak menyenangkan mengucur dari pori-pori tubuh Othinus, tapi kemudian dia tenang. Itu bukanlah pintu biasa. Itu adalah pintu kamar mandi. Artinya, pintu itu terkunci dari dalam. Seekor kucing hanyalah seekor kucing, sehingga dia tidak bisa memahami konsep cara kerja kunci. Tidak peduli berapa banyak ia mengguncangkan kenop pintunya, itu tidak akan pernah terbuka.


(Usahamu sia-sia!! Ah hah hah !!)


Seperti itulah seharusnya.


(Tunggu ... Pintu itu terkunci, bukan?)


Keraguan secara bertahap mengisi kepalanya disertai dengan ketakutan.


Dia melihat jauh ke atas.


Knop logam tersebut ditempatkan di atas kunci silinder. Posisinya horizontal, tapi apa artinya itu? Bisa saja horizontal ataupun vertikal, tetapi posisi mana yang artinya terkunci dan posisi mana yang tidak terkunci? Dia tidak pernah membuka pintu saat memasuki kamar mandi, jadi dia tidak punya cara untuk mengetahuinya.


(Itu terkunci, bukan!? Jika bocah itu begitu mengantuk dan lupa untuk menguncinya, aku akan membunuhnya nanti!! Atau lebih tepatnya, aku akan menyerang tendon Achilles*-nya !!) [Tendon Archilles = titik lemah. Kamus Besar Oxford.]


Kenop pintu mulai berguncang begitu keras, seakan-akan ada seorang pembunuh yang masuk ke ruangan dengan paksa.


Othinus menatap pintu sembari mengambil beberapa langkah mundur. Dia tahu bahwa doa tidak akan cukup, jadi dia dengan panik berbalik ke arah bak mandi. Seorang pria seukuran bak mandi sedang meringkuk di dalamnya, sehingga Othinus bisa melarikan diri dari binatang neraka itu dan mendapat perlindungan si pria jabrik. Namun, dia tidak bisa menggapainya. Dia hanya berukuran lima belas sentimeter, sehingga baginya, bak mandi seukuran enam puluh sampai tujuh sentimeter tidak berbeda dari tebing. Dan dinding bak mandi yang terbuat dari bahan plastik halus tidak memungkinkannya untuk bisa memanjat.


Berteriak adalah satu-satunya pilihan.


"Heeeeey !! Bangun !! Bangun !! Hidup seorang dewa sedang berada di ujung tanduk sekarang, tidak bisakah kau menjadi sedikit fleksibel!?”


"Nyammm.....Nyammmm... Ya, Nona Manajer Asrama ..."


“Kau sedang tenggelam dalam mimpi terburukmu, ya!? Jika aku mati, aku pasti akan mengutukmu!!”


Teriakan si dewa tidak mencapai telinga si pria.


Dia tidak mendengarkan permohonannya.


Dan di belakangnya, ia mendengar suara yang sangat, sangat tenang dan begitu jelas.


Itu adalah suatu suara berderit.



"Hm? Othinus? Tidak biasanya kau bangun sepagi ini. Apakah semua orang di kamar asrama ini begitu lapar dan menunggu sarapan? Hoaaaaammmm ...”


“………………………………………………………………………………………………………………………”


Si pria tidak mendapat tanggapan.


Si Dewa sudah berada di mulut kucing peliharaan seperti ikan hasil curian dan dibawa pergi diam-diam.



Part 2[edit]


"Perlakuan ini tidak benar," keluh Othinus di atas meja sarapan.


Alih-alih duduk di meja, dia benar-benar duduk di “atas” meja. Sarapan pagi berukuran kecil ditempatkan pada tutup botol plastik yang dibalik.


"Sekarang, aku sadar bahwa hidupku di sini berada pada suatu jenis hukuman khusus. Aku sadar betul akan hal itu, tapi harusnya aku mendapatkan sesuatu yang lebih layak !! Bahkan di penjara, orang memiliki tempat untuk latihan dan dapat menerima bingkisan dari pengunjung. Setidaknya, aku pikir kau harus melakukan sesuatu dengan monster berbulu itu!”


Uap bertiup dari kepala Othinus, tapi mata mengantuk Index tidak menunjukkan banyak perhatian padanya.


Kucing memiliki kebiasaan menyajikan serangga atau tikus tangkapan kepada pemiliknya, dan si suster belum menerima hadiah di pagi ini. Mungkin, si dewa adalah pilihan yang pas untuk persembahan pada pemiliknya.


Kamijou menutupi roti panggang berwarna coklat muda dengan margarin dan menyerahkannya pada Index.


“Kau bilang begitu, tapi dia adalah kucing yang lucu. Apakah kau harus ngambek seperti itu? Kau hanya perlu membiasakan diri sampai si kucing akrab denganmu.”


"Ukurannya bahkan 4x lebih besar daripada ukuran tubuhku! Jika kau jadi aku, hewan itu mirip seperti Harimau Siberia sepanjang 3m dan seberat 200kg, kemudian dia menerkammu!! Pikir dulu sebelum berbicara!!”


Sambil marah-marah, Othinus mulai memakan sayuran tumis yang tersaji di atas tutup botol plastik. Dia meraih tusuk gigi dengan kedua tangan, menusuk sayuran yang dipotong dadu, dan memenuhi mulutnya dengan makanan tersebut.


"Lantas, apa yang harus aku lakukan?" tanya seorang Kamijou dengan jengkel.


"Pastikan keselamatanku. Pastikan aku tidak lagi hidup dalam ketakutan akan terkaman hewan buas!”


"Caranya?"


"Aku ingin kau membuatkanku tempat untuk bersembunyi. Tempat yang hanya diperuntukkan bagiku dan tidak bisa ditembus oleh kucing manapun.”


"Tapi aku sudah membuatkanmu suatu kardus kemarin."


"Dia merubahnya menjadi carikan kertas hanya dalam waktu 5 menit!! Bahkan Three Little Pigs* tidak membuat rumahnya dari kertas, bodoh!!” [Three Little Pigs adalah cerita tentang tiga ekor babi yang berjuang dari buruan serigala. Si serigala memiliki hembusan napas yang begitu kuat sehingga rumah mereka yang sebelumnya terbuat dari jerami diterbangkan dengan mudahnya. Akhirnya mereka membuat rumah yang begitu kokoh dari bata sehingga si serigala tidak bisa memakan mereka.]


"Hmm. Coba kita lihat apa yang kupunyai. Index, ke mana perginya balok-balok itu? Balok terbuat dari plastik berwarna-warni yang pernah kau susun menjadi bentuk dinosaurus itu.....”


"Sudah rusak, dan aku meletakkannya pada dalam kotak di lemari."


"Kalian berdua tidak punya niatan untuk menghancurkan rumahku, kan?"


Pada saat itu, suara ceria penyiar perempuan terdengar dari TV yang mereka biarkan menyala.


"Hari ini adalah awal dari bulan Desember, yaitu ketika perang penjualan Natal dimulai! Tema tahun ini adalah mini-tapi-mewah, sehingga akan ada banyak mainan yang dibuat oleh seniman. Ada kotak musik buatan tangan, boneka, dan rumah boneka. Semuanya memiliki nilai seni klasik.”


"..."


"Yang paling populer dari itu semua adalah boneka dari seorang desainer terkenal! Lihatlah! Masing-masing dari potongan-potongannya hanya seukuran karamel, tapi itu sungguh merupakan batu bata asli yang dipanggang dalam tungku dan dilekatkan bersama-sama dengan menggunakan semen! Hanya seorang desainer yang terampil dalam hal restorasi seni sampai hal konstruksi lah yang bisa membuat mahakarya seperti ini!”


"Itu dia," gumam Othinus.”Jawabannya ada di sana!"


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membuat benda seperti itu dengan memanfaatkan kotak makanan ringan kosong dan selotip.”


"Jawabannya tepat ada di depan matamu, jadi berhentilah menghindar, dasar idiot!! Aku bilang….Belikan barang yang sama persis dengan apa yang ada di layar TV itu!!”


"Eh? Yang itu ...?”


Kamijou punya alasan sederhana untuk khawatir.


Suara ceria penuh dengan semangat Natal dari penyiar di TV terus berbicara.


"Rumah boneka yang kami memperkenalkan tadi, sekarang tersedia di kompleks Dianoid Distrik 15, yaitu pada distrik perbelanjaan Nomor Wahid di Academy City! Jika kau tertarik, silakan mampir !!”


Distrik 15 adalah lokasi fashion yang terbesar dan terhebat.


Tidak hanya itu, Dianoid adalah simbol bagi orang kaya dan termasyur yang dipenuhi dengan banyak Stasiun TV utama. Dan di apartemennya, tinggal beberapa artis papan atas.


Seperti namanya, setiap dinding, pilar, jendela, pintu, lampu, dan perabot dalam bangunan tujuh lantai itu, konon terbuat dari berlian.


Terlebih lagi, di musim Natal, tempat itu akan terisi dengan pasangan-pasangan yang sedang kasmaran.


Secara keseluruhan, Kamijou Touma dengan samar berpikiran bahwa : Jika aku menginjakkan kaki di sana, aku akan mati. Bad mood-ku akan membunuhku.



Part 3[edit]


1 Desember.


Pemandangan telah berubah layaknya lembaran kalender yang disobek. String LED membungkus pohon-pohon di sekitar pinggiran jalan, boneka rusa berjalan di sana-sini, dan wanita-wanita yang menjajakan tisu telah berubah menjadi Sinterklas ber-rok mini.


Misaka Mikoto mendesahkan suatu uap putih dari mulutnya sembari berjalan melalui semua itu.


Dia mengenakan mantel yang membalut seragam musim dingin, tapi pakaian itu tidak terlihat seperti produk baru berteknologi tinggi yang dia pakai ketika berada di daratan bersalju Rusia dan Denmark.


(Berbagai hal masih cukup tenang di sini, tapi seperti apa mereka ketika berada di dalam distrik perbelanjaan?)


Tidak lama sebelumnya, dunia telah mencapai titik didih, dan mereka hendak menyatakan perang habis-habisan terhadap kelompok internasional bersenjata (?) yang bernama Gremlin, tetapi sekarang semua orang sudah menjadi ceria karena bahaya itu telah berlalu. Gegap gempita perayaan Natal tahun ini yang begitu meriah tampaknya adalah pelampiasan dari rasa takut berkepanjangan yang terjadi sebelumnya.


Tapi bagaimanapun ...


(Natal, ya? Bukannya itu tidak berarti apa-apa bagiku.)


Mikoto bersekolah pada SMP Tokiwadai yang dikenal sebagai sekolah kelas wahid dalam hal pengembangan kekuatan psikis. Itu bukanlah sekolah yang memiliki jadwal padat pada hari Natal, tapi para siswi di sekolahan tersebut tentunya dilarang menjalin hubungan tidak layak dengan pria manapun selama malam Natal*. Sama seperti tahun sebelumnya, para siswi akan dikurung di asrama mereka tanpa pilihan dan menunggu sampai badai reda. [Di Jepang, malam Natal identik dengan hubungan intim.]


(Aku mungkin bisa keluar dengan bantuan teleportasi milik Kuroko, tapi tetap saja, dialah yang akan menjadi penghalang terbesarku.)


Sembari ia membuat rencana, tiba-tiba gadis itu mengerutkan kening.


"Hm?"


Sebenarnya, apa yang dia tetapkan sebagai tujuan akhir pribadinya?


Mengapa dia beranggapan bahwa Kuroko hanya akan akan mengganggunya?


Itu bukanlah permasalahan tidak menaati peraturan sekolah, meninggalkan asrama, dan bertemu dengan Kuroko, Uiharu, Saten, kemudian ngerumpi bersama.


(Tunggu, tunggu, tunggu! Tunggu sebentar. Aku punya perasaan buruk jika aku terus berpikir mengenai hal ini, jadi berhenti saja. Berhenti saja. Mengapa aku membayangkan si idiot itu di kepalaku!?)


Dia mengusap pelipis dengan ujung jarinya seperti pekerja kantoran yang kelelahan, tapi ...


"Aduh....Aduh....Bukankah itu adalah Misaka-san?”


"..."


Mikoto membeku di tempat, berbalik ke arah sumber suara itu, dan menemukan seorang gadis Santa ber-rok mini seumuran mahasiswi. Wanita itu mengenakan kacamata dan rambut hitamnya diikat ke belakang. Dia jelas-jelas sedang dikendalikan, sehingga Mikoto menggeleng dan cepat berjalan menjauh darinya.


"Misaka-san? Misaka-saaaan? Bisakah kamu mendengarku?”


"Aku tidak perlu tissu dan aku tidak ingin ramalan telapak tangan. Aku tidak perlu apa-apa dan kau terlihat seperti seorang penipu.”


"Aduh.....Aduh......Apakah kau sudah begitu tua sehingga kemampuan pendengaranmu berkurang? Aku kira, kau memiliki aura seseorang yang berada di SMP selama 10 tahun lamanya.”


"Apa!? Katakan itu pada dirimu sendiri dan gumpalan lemak di dadamu!! Bahkan sepasang payudaramu itu memancarkan suatu hawa yang sungguh mencurigakan!!”


Setelah membentaknya, Mikoto sadar bahwa dia telah jatuh pada perangkap gadis tersebut.


Santa ber-rok mini menempatkan jari telunjuknya ke dagu dan berbicara.


"Aku benar-benar tidak ingin membuat keputusan ini, tapi aku di sini untuk mendiskusikan sesuatu denganmu."


"Kenapa harus aku?"


"Natal akan datang, kan?"


Meskipun tahu bahwa ia sedang dipermainkan, Mikoto berhenti bergerak.


"Aku adalah # 5 dan kau adalah # 3, tapi tak satu pun dari kita bisa melakukan apa-apa ketika Tokiwadai melarang untuk meninggalkan asrama ketika malam Natal tiba. Singkat cerita, pertahanan para guru terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi kita berdua .”


"Ya, bahkan di tempatku, metode bertahan dari sang pengawas asrama lebih mirip penjara bagi para pelajar kriminal. Sia-sia melawannya.”


Dengan adanya Level 3 di tengah dan 2 orang Level 5 di puncak, secara total, Tokiwadai berisikan sekitar 180 orang esper, sehingga pengawas asrama memerlukan kemampuan khusus untuk mengelola mereka semua. Dan para orang dewasa tersebut harus melakukannya dengan bantuan teknologi dan seni bela diri, bukannya kekuatan esper. Terkadang Mikoto jadi merinding ketika memikirkan tentang seberapa banyak monster yang berada di dalam asramanya.


"Tapi," kata orang yang mengendalikan Santa ber-rok mini.”Aku pikir kita kehilangan kesempatan di tahun lalu karena kekuatan 2 orang Level 5 tidak digabungkan. Kita berdua berada di asrama yang berbeda, tapi itu mungkin sengaja diatur oleh para orang dewasa tersebut.”


"Tunggu."


"Jadi aku pikir kita berdua bisa menembus pertahanan kokoh mereka jika kita merencanakan berbagai hal lebih awal dan saling menutupi kelemahan masing-masing. Perkiraan cuaca mengatakan bahwa kita akan mendapati Natal putih tahun ini, jadi, tidakkah terlalu membosankan jika kita menghabiskan dua tahun secara berturut-turut dengan hanya terjebak dalam kamar?”


"..."


Dia benar juga.


Tak peduli apakah itu dukungan secara langsung atau jarak jauh, kebebasan bergerak mereka akan meningkat dramatis dengan adanya 2 orang Level 5 yang bekerja sama. Ini mungkin memberi mereka kesempatan untuk membobol dinding pertahanan Alcatraz* kelas atas, yaitu asrama perempuan Tokiwadai. [Alcatraz adalah nama salah satu penjara terketat di dunia.]


Tapi ...


"Mengapa kau begitu ingin menikmati Natal? Kau mengatakannya dengan cukup santai, tapi bagiku, terdengar seperti, kau sudah mencoba Natal tahun lalu, dan hasilnya adalah kegagalan.”


"Ehhh? Apakah itu masalah bagimu? Dan karena kau sudah menyinggungnya, mengapa kau begitu penasaran dengan masa laluku?”


"Bfhhh !! A-a-a-aku tidak berpikir tentang apa-apa !!”


"Betapa mencurigakan."


"Ya, baiklah, bekerjasama denganmu terasa seperti membebaskan seorang narapidana dari penjara untuk mencari tahu tindak kejahatannya.”


Apapun itu, tidak peduli betapa mereka saling membenci, sekarang mereka memiliki tujuan bersama dan menggabungkan kekuatan adalah pilihan tetbaik saat ini.


Dan setelah berpikir sejauh itu, kedua gadis ini memiliki pemikiran yang sama persis, tepat di waktu yang sama.


(Ya, tapi lebih baik aku mengkhianatinya di saat sangat, sangat, sangat terakhir.)


Setelah itu, mereka memaksakan senyuman di bibir kakunya, dan saling berjabat tangan pertanda suatu kesepakatan telah terbentuk.

NT Index v12 037.png

Pada saat yang sama, sesuatu yang lain terjadi.


Seorang anak berambut runcing menjulurkan kepalanya di sudut jalan.


Mikoto dan Santa ber-rok mini segera melepaskan aksi jabat tangannya. Seperti biasa, Mikoto terfokus pada pria itu, tapi entah kenapa, si gadis Santa perlahan menjauh dan mencoba untuk menghilang di antara kerumunan orang.


Mikoto penasaran mengapa dia bertingkah seperti itu, tapi dia langsung saja menghadap ke arah Kamijou. Dia tidak punya urusan dengan si jabrik saat ini, sehingga seharusnya tidak ada alasan bagi Mikoto untuk memanggilnya, tapi entah kenapa bahunya berguncang begitu hebat dan percikan listrik mulai menyengat dari poninya pertanda kebahagiaan. Mikoto tahu bahwa pria itu punya kebiasaan buruk, yaitu ikut campur dalam urusan orang lain dan membiarkan dirinya sendiri terlibat dalam suatu masalah.


"Ada masalah apa?"


"Ahh ..."


"Apa!? Mengapa matamu terlihat berkaca-kaca!?”


Apa yang terjadi?


Ketika ia menghadapi Academy City # 1 sendirian, ketika ia tidak meraih tangan Mikoto meskipun tahu bahwa itu berarti dia akan jatuh dari langit Rusia, dan ketika ia dikelilingi oleh Five Overs yang tak terhitung jumlahnya dan kalah dari # 3, Kamijou Touma tak pernah sekalipun meneteskan air mata. Sehingga, pria itu sepertinya sekarang berada pada situasi yang begitu menakutkan, sampai-sampai si pria hendak menyerah.


Mungkin saja, bulan akan hancur dan kiamat akan terjadi sebelum Natal tiba.


Mikoto menelan ludah dan bertanya pada pria itu dengan ragu-ragu.


"A-a-apa yang telah terjadi? Kau terlihat begitu terpojok?? Jangan khawatir. Mbak Misaka akan selalu membantumu. Pasti ada jalan keluar tak peduli seberapa pelik masalahmu.”


“Apakah kau akan mendengarkanku, Misaka-san? Apakah kau benar-benar akan mendengarkan apa yang hendak aku katakan!?”


Mikoto memiliki perasaan bahwa setelah mendengarkan cerita dari si pria, dia akan terkirim langsung ke semacam pertempuran luar angkasa pada dimensi lain, tapi dia tidak bisa mengabaikan ini.


Mikoto mengangguk kecil untuk mendesaknya dan wajah si pria dipenuhi dengan kemalangan.


"Aku ..."


Nada bicaranya terdengar seperti seseorang yang sudah mengalami kiamat dan kembali lagi ke masa lalu untuk membenarkan beberapa hal.


"Aku harus mengajak dua orang gadis ke Dianoid, yaitu pada tempat berkencan di Distrik 15. Dan itu adalah distrik perbelanjaan fashionable Nomor Satu di Academy City. Aku sungguh takut setengah mati.”


……………………………………………………………………………………………………………………………


Waktu terhenti sesaat.


Setelah pikiran kosong Misaka Mikoto kembali pulih, ia meneriakkan suatu kata yang secara otomatis merasuki otaknya.


"Ahhhhhhh!!???"


"Eek!? Aku tahu bahwa itu benar-benar tidak masuk akal, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus pergi ke sana! Distrik 15 bukanlah tempat yang pantas untuk kukunjungi dan musim Natal hanya semakin memperburuknya. Sumpah mati, aku akan hancur!! Seluruh dunia akan menghancurkan aku dari semua penjuru!!!!”


"Apa ini? Apakah kau adalah tipe orang yang takut pada roti kukus*?” [Pada suatu kisah, pernah ada sekelompok pemuda yang ingin menjahili temannya. Katakanlah orang yang mau dikerjai ini bernama A. Mereka menanyainya tentang benda yang paling ditakuti. Si A menjawab “roti kukus”, yaitu suatu kudapan yang mirip dengan bakpao. Akhirnya teman-temannya membawakannya bakpao tersebut. Si A menjerit dengan histeris, namun dia melakukannya sembari menyantap bakpao tersebut dengan lahap. Maka jelaslah, yang dikerjai di sini bukanlah si A, melainkan teman-teman si A. Jadi, maksud Mikoto adalah : suatu ketakutan yang dibuat-buat, sedangkan pada kenyataannya, itu adalah hal yang begitu digemarinya.]


"Bukan itu! Aku benar-benar takut !! Orang-orang di Distrik 15 sungguhlah berasal dari dunia lain! Aku yakin mereka semua bermain gitar dan naik sepeda motor*! Klub macam apa itu, dan apa yang sebenarnya mereka lakukan di sana!? Aku ragu, aku bisa memahami perkataan mereka meskipun mereka berbicara dalam Bahasa Jepang !!” [Sepertinya Kamijou sedang membicarakan gaya hidup orang barat.]


Kamijou gemetar dan….mungkin karena rute sekolah mereka berdua tidak sama....dia mulai berjalan menyusuri jalan yang berbeda dari Mikoto.


Setelahnya, Santa ber-rok mini dengan ekspresi kosong di wajahnya muncul di samping Mikoto.


"Shokuhou."


"Ya, kurang-lebih, aku tahu apa yang hendak kau katakan."


Mereka berdua mengulurkan tangan dan berjabat tangan keras-keras.


Jika tujuan mereka adalah malam Natal, mereka memiliki dua puluh tiga hari sampai mereka bisa melarikan diri dari Alcatraz. Sama halnya seperti menggali terowongan dengan sendok atau menuangkan sup miso pada batang logam setiap hari untuk menginduksi karat.....pertempuran yang amat, amat, amat panjang akan segera dimulai.



Part 4[edit]


Hamazura Shiage berada di Distrik 2 Academy City.


Distrik itu dipenuhi dengan industri berat, terutama di bidang industri kendaraan dan amunisi. Perbatasan distrik tersebut terkenal sebagai penghalang keras yang khusus dibuat dengan memancarkan fase balik gelombang suara. Karena luasnya bidang penelitian, pada umumnya distrik tersebut dikait-kaitkan dengan pengembangan senjata.


Namun, Hamazura tidak terlibat dalam semua itu.


Dia kini tengah berada di suatu sirkuit balap. Pada umumnya di Distrik 2, tempat tersebut disusun dengan sangat rapat seperti delapan belas lubang dalam satu lapangan golf*. [Itu jarak yang cukup rapat untuk seukuran lapangan golf meskipun perbandingan luas lubang dan area tidaklah setara.]


Tidak ada seorang pun yang akan mengeluh tentang suara bising yang dihasilkan mesin-mesin besar kendaraan. Peraturan lalu lintas tidak berlaku di jalan pribadi, sehingga para pelajar bisa berkeliling sepuasnya tanpa dikejar oleh sepeda motor polisi yuang sedang berpatroli.


Suatu suara pria paruh baya datang dari radio yang terletak di dalam helm full-face.


"Parameter telah stabil. Aku minta kau untuk mengitari dua lap lagi sehingga kita bisa mendapatkan nilai rata rata. Jaga kecepatanmu seperti saat ini.”


"Hanya perasaanku saja ataukah efisiensi bahan bakar memang sudah menurun? Sesaat, suaranya berdengung dari setiap arah!”


"Memang seharusnya seperti itu. Kami tidak membangun mesin olahraga balap. Ini dimaksudkan untuk mengejar mobil-mobil yang nakal. Sehingga, kecepatan pemulihan lebih penting daripada kecepatan tertinggi.”


Suatu jas hitam halus dan padat menutupi seluruh tubuh Hamazura. Apa yang dia sedang kemudikan jelas-jelas bukanlah sepeda motor biasa karena benda itu dipasangi mesin jet.


Belum ditetapkan apa namanya.


Ini adalah penerus dari prototipe awal yang dikenal sebagai Dragon Rider, tapi spesifikasinya sengaja diturunkan untuk menghemat baya, agar bisa diproduksi secara massal. Tentu saja, jika itu mempengaruhi stabilitas-nya, itu semua akan sia-sia.


Ada alasan sederhana mengapa Hamazura menaiki prototipe itu tanpa pemberitahuan sebelumnya.


“Kau adalah pengendara terbaik dan paling cocok bagi mesin ini. Mungkin tidak secara resmi, tapi hanya kaulah satu-satunya pengendara Dragon Rider yang telah menggunakannya dalam pertempuran sebenarnya.”


"Semuanya berkat powered suit itu."


"Meski begitu. Aneri merasakan dunia luar melaluimu. Sama seperti dengan prosesor IME*. Akan lebih cepat ketika pengguna asli melakukannya” [IME adalah kependekan dari Input Method Editor, yaitu program komputer yang memungkinkan si pengguna komputer memasukkan simbol yang tidak ada di keyboard. Wikipedia Bebas.]


Hamazura melakukan uji coba pada mesin itu dengan mengendarainya melintasi penghalang suara, dan dia pun melakukan sliding menikuk ketika hendak berbelok.


Melakukan hal seperti itu dua atau tiga kali dalam kecepatan tinggi adalah suatu hal yang tak mudah.


Seakan-akan, itu adalah saat-saat terakhir seorang pembalap.


"Terima kasih atas kerja kerasnya."


Setelah menyelesaikan sejumlah lap, melintasi garis finish, dan perlahan-lahan parkir di tempat pemberhentian, suara wanita terdengar di telinganya.


Jika ia mengingatnya dengan benar, namanya adalah Stephanie Gorgeouspalace. Dia adalah seorang gadis yang memiliki rambut pirang pendek dan mengenakan kostum kamuflase salju berwarna putih abu-abu sederhana. Dia rupanya adalah mantan anggota Anti-Skill, tapi dia adalah orang yang penuh misteri, dan bagaimana dia sekarang bisa berada di Distrik 2, jugalah suatu kejanggalan.


Hamazura melepas helm full-face dengan kedua tangan dan turun dari sepeda motor besar tersebut. Dia tidak menendang jagang motornya, tapi benda itu tidak jatuh. Motor itu secara otomatis terus menjaga keseimbangannya dengan menggunakan dua gyro* di kedua sisi roda depan. [Gyro adalah suatu alat yang dipergunakan untuk menjaga keseimbangan atau menetapkan kedudukan. Benda ini biasanya terdapat pada roda depan atau cakram. Kamus Besar Oxford.]


"Aku pikir semuanya berjalan dengan baik. Minggu pertama sudah cukup untuk mengetahui apakah seseorang mampu menjalankan uji coba dengan baik ataukah tidak, dan aku akan mengatakan bahwa kau sudah melewati semuanya dengan bagus.”


"Aku sudah katakan ini sebelumnya, tapi tidakkah berarti kita terlalu mengandalkan segala hal pada armornya? Aku pikir, hasil tesnya akan sama saja, tak peduli siapa pun yang mengendarainya.”


"Ah ha ha. Kau tidak menginginkan beberapa petarung besar atau pejuang veteran sebagai test drivermu. Apakah kau membiarkan robot anime itu terlalu banyak mempengaruhimu? Apa yang kau inginkan adalah kemampuan komunikasi dan kemampuan untuk menangani suatu kasus tak terduga tanpa persiapan yang matang. Lebih tepatnya, kau ingin seseorang yang dapat secara obyektif menjelaskan segala sesuatu yang tampak janggal. Dengan kata lain, seseorang banyak bicara yang mengatakan apa pun dalam kepalanya adalah yang terbaik bagimu.”


"Oh."


Hamazura mengangguk meskipun tidak benar-benar memahami.


Dia punya alasan sederhana untuk melakukan hal itu.


Mugino Shizuri, Kinuhata Saiai, dan Takitsubo Rikou masihlah anggota ITEM, tetapi dia tidak ingin mereka melakukan pekerjaan apapun untuk sisi gelap kota. Tapi dapatkah Hamazura memberikan alasan yang kuat tentang keberadaan mereka ... atau lebih tepatnya, pendapatan keuangan bagi mereka? Dan dapatkah Hamazura memenuhi itu semua tanpa mencuri mobil atau merampok uang dari mesin ATM?


Dia tidaklah begitu cerdas, ia putus asa dan terjebak di Level 0, ia tidak memiliki "senjata" yang bisa dituliskannya di CV*-nya, dan bahkan keahlian tentang mobil serta membobol kunci yang selama ini dia andalkan tidaklah berguna di dunia orang dewasa tanpa adanya surat "rekomendasi" yang sah. [CV = Curriculum Vitae, yaitu daftar riwayat hidup yang biasanya dibuat ketika seseorang hendak mencari kerja.]


Dia sudah mencari segala sesuatu yang bisa ia lakukan. Meskipun, akhirnya dia hanya terdampat di sini, yaitu Distrik 2.


"Oh, benar. Ponselmu dari tadi bergetar, jadi jika kau sekarang sedang istirahat, mungkin kau harus memeriksa inbox emailmu.”


"Terima kasih. Aku akan melakukannya segera setelah aku menyerahkan laporan ke ...”


Dia terdiam karena dia mendengar suara gemuruh mesin. Kemudian, dia merasakan sesuatu benda yang berat menempel pada pinggulnya. Dia melihat ke bawah dan menemukan mesin prototipe yang tidak dikenalinya menekan sisi tubuhnya.


Itu bukanlah adegan seperti seekor kucing yang mengusap-usapkan pipinya ke kaki si majikan.


Stephanie tertawa.


"Ah ha ha. Aneri sedang cemburu.”


"Ini hanyalah software bantuan kemudi, bukan? Aku ragu dia bisa cemburu.”


Tiba-tiba, ponsel Stephanie mulai berdering. Dia menekan ponsel ke telinganya, mengucapkan beberapa kata, dan melirik ke arah Hamazura.


(Hm? Ada apa?)


"Ya ya. Dipahami. Jangan khawatir, jangan khawatir. Aku dapat mengurus satu truk itu. Kau tidak perlu lisensi untuk menggunakan Power Lifter, jadi semuanya akan terkendali selama aku membawa seseorang yang sedang tak ada kerjaan. Sampai jumpa.”


Dia menutup ponsel dan mengatakan keputusan dia sudah dibuat.


"Hamazura, apakah kau tertarik melihat-lihat Distrik 15 selama musim Natal?"


"Apa?"


"Stasiun TV besar di Dianoid telah meminta kami untuk membawa sesuatu pada mereka. Kita harus pergi dari Distrik 2 menuju ke Distrik 15. Untuk memindahkan kontainer angkutan udara, kau harus menggunakan tangga atau lift yang bisa mengendalikan forklift*. Sebagai gantinya, kita harus menggunakan dua Power Lifter.” [Forklift adalah semacam alat untuk mengangkat sesuatu secara tegak lurus seperti yang biasa dijumpai pada mesin-mesin di bandara.]


"Tunggu tunggu. Power Lifter? Aku tidak pernah lihat bentuknya, dan aku juga tak tahu bagaimana cara mengoperasikannya.”


"Jangan khawatir. Itu hanyalah benda yang kau kenakan di punggungmu. Benda itu memiliki dua lengan baja besar yang terpasang pada kedua sisinya. Jika ditempelkan pada tubuhmu, kau akan terlihat seperti robot berlengan empat.”


"Oh oke. Jika aku hanya harus memakainya di punggungku ...”


“Kau akan memilikinya sampai malam ini. Jika kau belajar bagaimana cara menggunakannya sekarang, kau tidak perlu khawatir tentang resiko menginjak seseorang kemudian membunuhnya.”


"Artinya benda itu cukup berbahaya!! Maksudmu benda itu bisa membunuh seseorang !?”



Part 5[edit]


Bahkan ketika makan siang tiba, Kamijou Touma masih dalam suasana hati yang suram.


Saat ini, ia, Aogami Pierce, dan Tsuchimikado Motoharu sedang mengelilingi satu meja dan terlibat dalam pertandingan kematian tiga arah. Namun, mereka tidak bergulat satu sama lain. Sebaliknya, mereka membuat suatu kipas kertas kecil dari loose leaf* dan mencoba untuk melemparkannya ke arah target yang berada di meja guru. [Loose leaf adalah kertas yang tepi kiri atau kanannya terdapat lubang-lubang. Lubang tersebut berguna untuk dikaitkan pada roll besi kemudian membendel kertas-kertas itu untuk menjadi suatu buku catatan.]


Orang mungkin bertanya-tanya mengapa permainan elegan ini begitu populer di sini, tapi semuanya dimulai akibat komentar dari guru sejarah mereka. Yang terjadi seperti ini :


"Lempar kipas populer di akhir periode Edo sampai dengan periode Meiji, tetapi di zaman modern, itu hanya ditemukan pada restoran tradisional di Gion atau Akasaka.”(Guru Sejarah)


"Apa !? Maksudmu itu adalah permainan geisha*!? Aku ingin bermain! Aku sangat ingin bermain! Aku ingin bermain dengan geisha! Atau setidaknya, merasakan suasananya!!”(Para Idiot) [Geisha adalah wanita penghibur.]


Dan ...


"Nyah. Ketika pertama kali kau mengatakannya sebelum kelas homeroom* pagi ini, aku pikir, kau sudah gila. Jadi aku ingin mengangkatmu dan membuangmu keluar jendela, tapi sekarang aku punya waktu untuk berpikir tentang hal itu. Menyelinap ke Dianoid di Distrik 15 adalah suatu hal yang menakutkan bagai menyusup ke neraka. Itu adalah daerah modis yang dipenuhi dengan perang penjualan Natal yang super menakutkan! Bahkan jika tidak terjadi apa-apa, rasanya seperti kesehatanmu semakin melemah karena efek yang dipancarkan oleh lingkungan di sekitarnya!!” [Kelas homeroom adalah suatu sesi kelas dimana guru mengabsen para siswa/siswi dan memberikan beberapa pengumuman. Wikipedia bebas.]


"Aku hanya akan melewatkannya karena itu adalah kerjaan Kamijou Touma, tapi bagiku, apa yang terjadi di pagi ini tampaknya layak masuk berita di koran.”


Mereka sudah makan santapan siangnya, sehingga mereka kini bersaing untuk menentukan siapa yang harus membuang sampah kelas bau.


Namun, meninggalkan kipas kertas loose leaf yang berserakan dimana-mana akan membuat Komoe-sensei sedih, sehingga mereka harus membersihkannya sekarang juga. Itulah sebabnya mereka harus menyalin catatan matematika dan fisika di atas kertas berkerut.


"Jika kau ingin melihat Santa ber-rok mini, Distrik 15 yang mewah bukanlah pilihan terbaik. Distrik 12 yang dipenuhi dengan teologi* dan ekonomi atau Distrik 14 yang berisi pelajar-pelajar asing adalah tempat yang lebih baik untuk dikunjungi. Tapi jika kau lebih suka gadis pekerja paruh waktu murahan, aku tidak akan menghentikanmu, Kami-yan! Sama halnya seperti tanah Jepang yang dipenuhi dengan begitu banyak dewa, tanah itu juga dipenuhi dengan begitu banyak fetish*!!” [Teologi adalah ilmu yang mempelajari Ketuhanan.] [Fetish adalah kegemaran atau kecenderungan seks seseorang.]


“Dengan pemikiran seperti itu, kau hanya akan membuat jengkel beberapa orang religius, Aogami. Apa pun itu, aku mendengar bahwa seluruh bangunan Dianoid terbuat dari berlian. Apakah mereka hanya membual atau sejenisnya?”


"Informasimu jadi tak akurat setelah memainkan beberapa game ponsel, nyah. Secara teknis, bangunan itu terbuat dari bahan karbon seperti serat karbon, portal karbon, dan nanotube karbon yang memiliki beberapa berlian buatan di dalamnya, nyah. Andaikan itu semua adalah berlian, bangunan itu akan benar-benar jadi rapuh dan akan pecah setelah hembusan angin atau gempa bumi yang kuat. Dan berlian akan terbakar ketika kau menyulutkan api padanya, nyah.”


"..."


"..."


"Eh? Eh? Mengapa kalian berdua tidak mengatakan apa-apa, nyah?”


“Kau terus mengocehkan hal-hal yang cukup menakutkan, tapi sepertinya kau tahu betul tentang tempat itu ya." kata Kamijou.


"Apakah kau pikir dia adalah tipe seorang otaku yang mengunci diri di kamar sambil memakan semua kuenya sampai gendut, namun begitu populer di dunia maya? Aku tidak akan membiarkan hal itu. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!”


Aogami Pierce melangkah ke luar, melemparkan kipas kertas loose leaf yang sudah dibentuknya seperti shuriken, dan nyaris saja menyerempet tepi target (yaitu kotak pensil milik Tsuchimikado) pada meja guru.


Sebenarnya, lempar kipas memiliki lebih dari 50 teknik lemparan, tapi karena para idiot ini bahkan sangat payah untuk mengenai targetnya, maka mereka menyederhanakan peraturannya dan menganggap siapa pun yang pertama kali mengenai target, dialah yang menang.


Tsuchimikado kemudian berteriak seperti seseorang yang berada di dalam krisis.


"Apa !? Kapan aku diklaim sebagai otaku hardcore!? Aku adalah orang yang sangat normal, yang kebetulan mencintai adik angkatnya, nyah !!”


"Heh. Aku lega, Tsuchimikado. Di saat kau mengatakan bahwa mencintai seorang adik angkat adalah suatu hal yang wajar, sebetulnya, kau sama saja dengan mengatakan bahwa otaku Jepang adalah suatu identitas yang normal tanpa harus malu-malu diakui. Aku lega karena kau tidak akan lepas dari julukan itu.”


"Kamu bangsat. Apakah kau sedang menghina para imouto?”


"Aku tidak pernah membeda-bedakan fetish seseorang. Bahkan jika ada seorang gadis yang memiliki bagian bawah ular atau laba-laba, Kau akan dengan senang hati menerima. Apa ada yang lain? Kau mengharapkan seorang gadis dengan telinga kucing atau malah seorang gadis dengan kepala kucing sepenuhnya? Memangnya kenapa!?”


Untuk sementara, Kamijou Touma diabaikan karena kedua teman idiotnya terus membahas hal yang tak beguna, tapi ia masih saja memainkan permaianan lempar kipas dan ia membidik targetnya dengan hati-hati.


Layaknya seorang pembunuh yang sembunyi di balik semak-semak, dia mengucapkan suatu perkataan yang bagaikan pisau dan itu menembus punggung kedua teman idiotnya secara langsung.


“Kau tahu, kau mencelup rambutmu agar menjadi pirang dan mengenakan kacamata hitam di kelas, sedangkan kau mencelup rambutmu dalam cat biru dan menindik telingamu. Bagiku, kalian berdua benar-benar ingin tampil beda dan sangat berhasrat untuk menjadi populer lebih dari siapa pun.”


"Apa !?"


"J-jangan konyol, Kami-yan. Bisakah kau berhenti merubah catatan Akashic*!?” [Catatan Akashic adalah catatan dalam ajaran Hindu yang diyakini menuliskan semua kisah seseorang di masa lalu. Kamus Besar Oxford. Maksud Tsuchimikado mengucapkannya adalah, dia tidak ingin Kamijou mengkritik suatu hal yang sudah menjadi ciri khas seseorang. Kalimat ini mirip seperti : “Aku memang sudah seperti ini sejak dulu.” Yah, harap maklum bila ada guyonan-guyonan yang sulit dipahami dalam cerita ini. Bagaimanapun juga, kebudayaan mereka berbeda. Yang bisa Ciu lakukan hanyalah menerjemahkan tanpa merubah konten.]


“Kau terus memanggil dirimu sendiri otaku, tapi rasanya seperti kau sedang berusaha untuk menempatkan dirimu pada posisi yang lebih tinggi daripada orang lain. Dan kau berpikir bahwa kau adalah seorang otaku yang lebih baik daripada otaku-otaku lain di sekitarmu.”


"Gg-gbaaahhh !!! ???"


"B-bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Apa yang telah kita lakukan padamu, Kami-yan !? Kau tidak ingin seisi kelas memburu dan kemudian membunuhmu, kan!! Jadi jangan ucapkan perkataan sekejam itu!!”


Dengan semangat bersaing yang semakin melonjak, Raja Iblis Kamijou Touma mengangkat tangan kanannya.


Dia mengangkat kipasnya dengan gerakan lembut, lantas dia mengucapkan suatu deklarasi.


"Entah sebagai seorang istri atau apa pun itu. Yang terbaik adalah seorang pengawas asrama yang cantiiiiiiiiikkkkkkkkk!!"


Kipas yang terbuat dari kertas loose leaf itu terbang bagaikan pisau, tapi sayangnya ...


"Ah."


Kotak pensil jatuh sebelum kipas kertas mengenainya.


Tampaknya benda itu terjatuh akibat hembusan napas Kamijou yang kuat ketika dia melakukan deklarasi konyol tadi.


Dan tiga orang idiot inipun terjungkal.



Part 6[edit]


Setelah sekolah, Kamijou Touma kembali ke asrama dan kemudian pergi lagi bersama dengan Index dan Othinus.


Tujuan mereka adalah Distrik 15 yang ditengarai oleh kompleks Dianoid raksasa.


"Wow, ini benar-benar bulan Desember. Masih pukul 5:30, tapi sudah sangatlah gelap*.” [Ya, di negara subtropis, matahari tenggelam lebih cepat pada musim dingin.]


Kamijou mengenakan seragam sekolah biasa karena dia berpikir bahwa mengenakan pakaian modis hanya akan membuat para sales menghampirinya dan mengajukan penawaran-penawaran dengan harga fantastis.


Index mengenakan pakaian biarawati putih biasa dan Kamijou benar-benar tidak ingin orang-orang melihat sosok Othinus.


Ketika mereka pergi, Othinus berada di saku jaketnya, tapi dia mendaki saku Kamijou agar sebagian tubuhnya keluar. Dia sekarang duduk di bahunya, tepatnya di dalam syal pada leher Kamijou.


“Kau tidak dapat melihat bintang di langit dari sini. Apakah ini adalah bagian dari tuntutan ilmu pengetahuan, yaitu menghapuskan segala sesuatu?”


"Touma. Aku mendengar suara seruling di sana. Apakah itu adalah charumera* yang sudah begitu sering kudengar!?” [Charumera adalah instrumen yang berhubungan dengan kedai ramen.]


"Hentikan, Index. Jika kita berputar-putar di tempat ini, aku pasti akan kehilangan keberanian untuk mengunjungi Dianoid! Dan jika kita makan ramen di kedai pinggir jalan, aku bisa membayangkan Othinus akan jatuh tepat ke dalam mangkuk ketika aku hendak makan!!”


Mereka menggunakan kereta bawah tanah untuk mencapai Distrik 15. Seperti biasa, Index mengalami kesulitan dengan gerbang otomatis yang tidak membuka bahkan ketika dia sudah memasukkan tiketnya, dan tubuh kecil Othinus hampir saja ditelan oleh mesin bersama-sama dengan tiket miliknya, tapi entah bagaimana, mereka berhasil mengatasi kesulitan masing-masing.


Kereta tersebut menggantungkan iklan dan ada monitor layar datar yang dipenuhi dengan semangat Natal.


Mereka segera bergegas menuju ke Dianoid, sehingga ada banyak iklan di sepanjang jalan.


"Menara berlian yang menjulang di Distrik 15 adalah suatu tengara. Dianoid diisi dengan toko-bermerk-super-kelas-atas dengan kriteria yang begitu unik, sehingga kau dapat menemukan apa pun di sini. Tak peduli apakah kau menginginkan waktu, ruang, kebebasan, atau relaksasi.....di sini kau dapat menemukan apa pun yang tidak ada di dalam hidupmu.”


"Ini adalah pemberitahuan dari siaran langsung publik. Kantor siaran TV Dianoid Orbit sedang mencari penonton untuk menghadiri program-programnya. Program Desember adalah sebagai berikut: 12/1 - Hadiah Kuis Histeris. 12/8 - Kuis Video Raja Finals. 12/13 - Pengrajin Dunia. 12/19 – Istirahat Sore. 12/24 – Musik Streaming Awards. 12/25 – 100 Penerangan Paling Top. 12/30 – Rahasia Di Balik Layar Natal. 12/31 – Memasuki Gempita Tahun Baru dengan Tawa.”


"Pemilihan publik untuk lantai apartemen terbaik akan segera dimulai. Sembilan kamar pada apartemen ini telah dikenal sebagai tempat persembunyian untuk para selebriti, jadi mengapa tidak berdandan layaknya orang terkenal dan bergabung dengan para elit ini?”


Setiap iklan yang ditontonnya semakin membuat Kamijou terpojok dan putus asa.


Dia mulai bertanya-tanya apakah ini adalah dunia yang sama sekali berbeda. Dan apakah ini bukanlah dunia bagi seorang pria malang yang berusaha menghemat ramen selama mungkin agar menekan pembengkakan baiya bulanan.


Sementara itu, Othinus berbicara dengan riang dari syalnya.


"Inilah hinar-binar dunia. Belum lagi, mereka menyajikan itu semua dengan cara yang membuatnya tampak berkelas tinggi, dan bukan membiarkannya begitu saja. Aku bahkan tidak bisa membedakan antara kata 'Selebriti' dan 'mewah' dalam keadaan seperti ini?”


"Aku hanya ingin segera menyelesaikan kegiatan belanja ini, sehingga kita bisa memiliki lebih banyak waktu untuk makan," kata Index.


"Kita di sini untuk mendapatkan rumah bagiku, dasar bodoh. Gunakan ingatan sempurnamu untuk membayangkan hidangan-hidangan lezat dan pikirkan itu lagi berulang-ulang, dasar biarawati pemalas.”


"Tuan Sphinx !!”


"Gyaaah !!"


Rambut Othinus berdiri tegak dan dia masuk ke dalam syal Kamijou. Ketika kucing calico berusaha untuk mencongkelnya keluar, akhirnya Kamijou merasa perlu untuk menghentikannya.


Sementara itu, kereta tiba di stasiun Distrik 15.


Kamijou mengikuti arus garakan orang-orang untuk keluar ke peron. Kebanyakan orang-orang di sana seusia dengan Kamijou, tapi beberapa dari mereka tampak begitu berkilau, seakan-akan mereka adalah artis yang biasa muncul di TV.


"Ini adalah Distrik 15? Hmm, tidak terlihat jauh berbeda," kata Index.


"Itu karena kita masih berada di bawah tanah."


“Kau pernah berkata bahwa Dianoid terbuat dari berlian, kan !? Touma, bisa kita pergi ke sana sekarang? Semakin cepat kita menyelesaikan tugas belanja ini, semakin lama waktu yang bisa kita habiskan untuk makan!!”


"Sebenarnya, kita sudah berada di situ."


Jawaban Kamijou membuat Index dan juga Othinus memiringkan kepalanya pertanda kebingungan.


Hanya si kucing yang mengeong dengan riang di pelukan si biarawati.


"Stasiun kereta bawah tanah ini dibangun ke dalam Dianoid, sehingga kau secara otomatis bisa memasukinya ketika kereta tiba.”


"Hmm ..."


Index menatap langit-langit yang tidak semuanya tampak tinggi dan cantik.


"T-Touma, k-kenapa aku tidak merasakan suatu perasaan luar biasa karena berada di dalam bangunan yang besar?"


Itu bukan urusan Kamijou.



Part 7[edit]


Pria itu selalu berpikir bahwa memanggil dengan sebutan "girly" adalah suatu penghinaan bagi para gadis.


Apapun itu, ia membenci dirinya sendiri karena begitu cengeng.


Tapi tak peduli betapa dia membencinya, lututnya akan mulai gemetar setiap kali terlibat dalam suatu permasalahan yang rumit, walaupun hanya sedikit. Air mata akan mulai mengalir di matanya dan sebelum ia bahkan bisa berpikir untuk menghentikan masalahnya, pikirannya akan kosong. Dan dia tidak akan sanggup memikirkan sesuatu pun.


"Pada akhirnya, itu adalah permasalahan tentang bagaimana kau melihat situasinya."


Seorang gadis pirang pernah mengatakan kepadanya sambil berdiri di sampingnya.


"Maksudku, jika kau melihatnya dengan sudut pandang lain, seseorang akan melihatmu sebagai pria yang meneteskan air mata ketika melihat tragedi yang menimpa orang lain, kan? Artinya kau tidak perlu malu. Bahkan, aku pikir, kau harus bangga akan hal itu.”


Perkataan santai gadis itu telah menyelamatkannya.


Tetapi pada saat yang sama, si gadis pirang mengatakannya dengan berbisik. Ini berarti, dia tidak cukup percaya diri untuk mengatakannya karena dia sendiri belum tentu bisa melakukan hal tersebut.


Si pria tidak tahu jenis dunia macam apa yang dihuni oleh si gadis pirang.


Mereka berjalan bersama-sama ketika menyusuri jalanan kota, tapi seakan-akan terdapat dua lingkaran di sana, dan mereka berjalan menyusuri lingkarannya masing-masing. Ada suatu batas yang sangat tipis, dan si pria tidak bisa menembus batas tersebut.


Si gadis tidak pernah memberitahunya, jadi si pria berpikir bahwa dia tidak ingin membahas hal tersebut. Si gadis tidak pernah mengungkapkan kebenarannya, jadi si pria berpikir bahwa dia tidak ingin agar si pria tahu. Si pria telah memutuskan untuk menghormatinya keputusan si gadis. Si pria tidak perduli dunia apa yang dihuni oleh si gadis pirang. Selama si pria bisa menjumpainya, itu bukanlah suatu masalah.


Si pria yakin bahwa ada suatu tempat di dalam hati si gadis yang disediakan untuknya.


Mungkin itu adalah suatu tempat yang sangat-sangat kecil, yang tersimpan jauh di dalam lubuk hati si gadis. Namun tak peduli seberapa seberapa sempit tempat tersebut, itu sudahlah lebih dari cukup bagi si pria.


Sampai suatu hari......si gadis benar-benar lenyap dari kehidupannya.



"..."


Si pria mengepalkan tangannya ke arah langit berwarna ungu yang bergeser dari senja ke malam.


Dia memegang kartu kecil di dalam kepalan tangan itu.


Aihana Etsu.


Academy City Level 5 # 6.


Itu adalah gelarnya mulai dari sekarang.


Kartu ID siswa memiliki puluhan teknik anti-pemalsuan dan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan mesin pelacak uang palsu yang ada di luar Academy City, tapi ia berhasil menggunakan nama Aihana Etsu. Foto, golongan darah, dan beberapa bagian data lainnya telah diubah, tapi sisanya begitu identik dengan yang asli.


Lagipula, konsep antara yang palsu dan nyata mungkin tidak dapat diterapkan di sini.


"Aihana Etsu" adalah seorang pelajar biasa, jadi tentu saja dia tidak memiliki sarana untuk membuat kartu palsu yang bisa membodohi teknik-teknik anti-pemalsuan. Meskipun dengan menggunakan upaya kerasnya, dia mungkin hanya bisa membuat suatu kartu yang tampilannya identik dengan kartu asli. Dan tentu saja, mesin-mesin pembaca itu akan dengan mudah mengidentifikasi kepalsuan tersebut.


Namun, ia telah robek kartu yang dibuatnya itu menjadi tiga bagian.


Misalnya, suatu mata uang memiliki tanda air dan hologram yang tidak dapat disalin, tetapi jika itu terkoyak sehingga bagian-bagian tersebut hilang, maka yang asli dan yang palsu sangatlah sulit dibedakan. Dan jika ada uang kertas yang rusak hanya 2/3 bagian, kemudian dibawa ke bank, maka pihak bank akan tanpa ragu menukarnya dengan yang utuh. Dengan tanda air & hologram yang rusak sebagian, petugas tidak mungkin bisa mengatakan apakah itu asli ataukah palsu.


"Aihana Etsu" telah melakukan hal yang sama.


Dia telah dengan sengaja menghancurkan kartu palsu dan melenyapkan bagian yang dipergunakan untuk menjaga keabsahan kartu asli. Dia telah mengumpulkan potongan-potongan teka-teki yang tersisa dan terang-terangan mengirimnya ke sekolah Aihana Etsu yang asli. Dia mengatakan bahwa dokumen kartu ID di sekolahnya telah hancur dan ia membutuhkan kartu yang baru.


Untungnya, semua proses dilakukan dengan otomatis.


Jika ada seorang petugas yang menangani serangkaian proses validasi kartu dan berbicara pada Aihana Etsu yang asli, semua kepalsuan ini pasti akan terungkap.


(Namun, usahanya ini tidak akan mampu menipu mereka selamanya. Paling-paling, itu hanya akan bertahan satu atau dua hari setelah kartu pengganti dikirim. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk menggunakan reputasi Aihana Etsu yang asli. Aku harus membuat suatu serangan pada Dianoid dan menemukan petunjuk tentang keberadaannya.)


Ini semua berdasarkan pada sesuatu yang pernah dikatakan oleh seorang gadis pirang tertentu bernama Frenda Seivelun.


Si gadis pirang tampaknya memiliki markas rahasia di suatu apartemen kelas atas di Dianoid. Dia mengatakan bahwa ruangan tersebut adalah ruangan yang benar-benar gratis dan tidak memiliki hubungan dengan cahaya ataupun kegelapan.


Si gadis pirang belum tentu lenyap di tempat tersebut, tapi itu adalah salah satu petunjuk yang "Aihana Etsu" miliki. Jika itu adalah tempat di mana si gadis pernah mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya, maka beberapa informasi yang terkait dengan lenyapnya si gadis mungkin masih tersisa di sana. Jika memang si gadis pernah terlilit dengan masalah yang melibatkan "kegelapan" kota, yaitu masalah yang tidak pernah si pria campuri, maka dia mungkin bisa melihat ke dalam kegelapan tersebut melalui Dianoid.


Tindakan apa pun yang akan dia lakukan, itu adalah langkah pertamanya.


Tidak peduli apa yang terjadi, ia akan membawa Frenda kembali.


Tidak peduli bila semua orang di dunia menyebutnya nekat.


"Baik."


Dia mengepalkan tangan kecilnya.


Sesuatu beralih dalam dirinya. Ia mengalihkan pandangannya dari langit ungu menuju ke daerah yang tepat berada di depannya.


Beberapa orang yang berbahaya sudah menyelinap ke dalam pemandangan tersebut.


Sebelum ia menjadi "Aihana Etsu", orang-orang berbahaya seperti itu telah menyeret dia ke belakang gang, memberinya lebih dari sepuluh pukulan "peringatan", dan kemudian melemparkannya ke tumpukan sampah. Dia tidak tahu siapakah yang menyewa orang-orang itu dan mengapa mereka disewa, tapi ia tahu mereka adalah sekumpulan orang yang tak enggan menggunakan kekerasan.


Jantungnya seakan-akan melompat ke tenggorokannya.


Keringat mengalir di wajahnya.


Dia meremas tangan di dadanya dan mencoba mengendalikan dirinya.


Waktu ini, begitu mirip dengan hari itu. Mereka bukanlah orang-orang yang sama persis seperti waktu itu, akan tetapi, mungkin kecurigaan tidak bertambah walaupun orang yang sama dikirim lagi dan lagi.


Apapun masalahnya, dia tidak bisa menipu siapa pun jika ia tidak menipu orang yang pertama.


Jika itu terjadi, ia tidak akan mampu melanjutkan semua upayanya ini.


Dia menatap lurus ke depan.


Dia menggunakan semua kekuatannya untuk menahan dirinya sendiri. Jauh di dalam hatinya, dia adalah seseorang dengan pribadi yang begitu lemah, dan itu tergambar jelas di raut wajahnya. Jumlah mereka lebih dari 10 orang. Mereka berpura-pura menjadi orang-orang yang hanya lewat, tetapi sebenarnya, mereka adalah orang-orang kejam yang saling bekerja sama.


Dalam hal ini, membidik orang yang paling lemah justru akan berdampak sebaliknya.


Agar bisa memberi tekanan mental terhadap mereka, si pria harus menghadapi yang terkuat terlebih dahulu.


Dia perlahan-lahan berjalan menuju seorang pria besar berjaket kulit tebal yang lengan bajunya dililiti oleh suatu kawat berduri.


"Aihana Etsu" akhirnya mulai melawan.


"Apakah kau adalah salah seorang yang sudah berjanjian denganku?"


"Apa?"


"Aku adalah Aihana Etsu. Ku anggap, kau adalah suatu karung tinju profesional yang bersedia untuk jadi tikus percobaanku atas dasar uang?”


"..."


"Aihana Etsu" mendorongkan kartu ID-nya dan si pria besar berhenti bergerak sebentar.


Dia mengenalinya dengan ragu-ragu.


Tidak ada seorang pun yang cukup bodoh mengaku bernama "Aihana Etsu".


Tapi itu berarti, si pria hanya perlu untuk merubah arah keraguan tersebut.


"Oh, ayolah. Jangan bilang kau berpikir bahwa kau akan mendapatkan ¥ 10.000 hanya dengan membiarkan beberapa anak kecil memukulmu. Jika demikian, kau mungkin sedang mabuk. Seseorang pasti sudah berbohong kepadamu. Terlebih lagi, kau sudah menerima uang untuk menjadi seorang kelinci percobaan untuk Level 5 dan menjalani perawatan di rumah sakit, jadi aku tidak ingin mendengar keluhan lagi.”


“Kau ..."


Pikirannya hampir saja kosong.


Dan dia pun mendengar komentar selanjutnya dari lawannya.


“Kau pasti sedang bercanda! Aihana Etsu !? Jadi itulah mengapa ini tampak seperti suatu urusan yang besar!!”


Tidak benar-benar terjadi suatu percakapan.


Massa otot itu tampak seperti dinding yang tak dapat ditembus, tapi ia melewatinya seakan-akan ada angin kencang yang meniupnya. Ia berlari secepat yang dia bisa. Dia bahkan berlari ke sekelompok sepeda yang terparkir ilegal dan tersandung cukup keras. Ketika orang lain melihat tumpukan logam yang berserakan itu, si pria merangkak di antara celah-celahnya, dan seketika keributan pun pecah di tempat itu.


"Aihana Etsu" memegang kartu yang dia jepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Kemudian dia mendorongnya maju seperti pisau.


Itu sudah cukup untuk membuat kerumunan orang yang berdiri di dekat turbin angin jatuh. Itu bukan karena mereka pengecut. Dia perlahan-lahan menggerakkan kartunya dari satu target ke target lainnya. Dan itu sudah cukup untuk membuat orang-orang lainnya jatuh ke tanah dengan posisi telentang.


Hal berikutnya yang dia tahu, mereka semua sudah lenyap.


Dia telah melenyapkan semua penghalang.


Pikirannya yang kosong, jantungnya yang berdegup kencang dan lututnya yang gemetaran, semuanya sudah berhenti.


"Aihana Etsu" telah menjadi Aihana Etsu.


"Heh heh."


Tertawa keluar dari bibirnya.


Dengan hanya selembar kartu sebagai senjata, Aihana Etsu melibas semuanya.


"Ah ha ha! Ah ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha !!”


Dia menggunakan jari telunjuknya untuk menghapus air matanya dan sepertinya pipinya memerah.


(Persetan dengan Academy City. Persetan dengan Level 5. Persetan dengan hirarki! Persetan dengan struktur piramida*!! Aku mengatasi semua itu. Aku sudah berhasil melewati gerbang pertama! Sekarang ... Sekarang tidak ada yang bisa menghentikan aku. Akan kubuat kalian menunjukkan dimana tempat gadis itu disembunyikan!!) [Maksudnya adalah tatanan masyarakat dimana jumlah bagian penting begitu sedikit dan yang terbesar adalah bagian tak penting. Seperti itulah susunan penduduk Academy City. Level 5 hanya ada 7 orang. Sedangkan esper berkekuatan biasa atau bahkan Level 0 begitu banyak.]


Dia berjalan menuju Dianoid.


Dia berjalan menuju labirin terbuat dari karbon yang berisi petunjuk. Yaitu petunjuk yang dia butuhkan untuk menyelamatkan temannya yang hilang, Frenda Seivelun, dari dalam kegelapan.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Setengah tekadnya dia gunakan untuk berlatih, dan setengahnya lagi dia gunakan untuk menghadapi kenyataan. Ia pun membisikkan kata-kata itu sembari berjalan menyusuri jalan kosong.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Ia yakin bahwa ia akan mengucapkan perkataan itu lebih sering mulai dari saat ini. Ketika ia harus mengandalkan pada hal itu, ia akan berada di bawah tekanan besar yang akan mengancam dan mengupas penyamarannya.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Tiba-tiba, seorang gadis yang tampak bodoh muncul di sudut.


Gadis itu pasti tidak mengira ada seorang pria yang sedang berlari karena dia tampak terkejut.


Mereka dipisahkan oleh jarak sekitar 1m, sehingga mereka bisa dengan mudah bertabrakan jika mereka cukup ceroboh.


Dan mereka berdua berbicara dengan serempak.


"Aku adalah Aihana Etsu !!"


"Aku adalah Aihana Etsu !!"


Aihana Etsu terkejut.


Seolah-olah mengacungkan pistol atau pisau, lengan mereka bersilangan satu sama lain dan mereka saling mengulurkan kartu ID pelajar yang semuanya tampak identik kecuali foto.


Si pria meragukan bahwa gadis ini adalah Aihana Etsu yang asli dan si gadis bahkan lebih ragu daripadanya.


Pikiran mereka bersinkronisasi.


Jantung mereka berdetak kencang dan mereka berdua saling meremas tangan di dada mereka.


(Oh, tidak. Dia sama seperti aku !!!)


(Oh, tidak. Dia sama seperti aku !!!)


Hal berikutnya yang mereka tahu, dua Aihana Etsu ini telah terjerembab ke arah yang berbeda.


Kedua pencuri identitas ini mengeluh dalam hati mereka. Dan mereka mengeluhkan hal yang sama yaitu : seorang Level 5 harus lebih baik dalam menjaga identitas dirinya.



Part 8[edit]


Kota ini dihiasi dengan lampu dan jalan-jalan dipenuhi dengan anggur merah atau mobil sport berwarna kuning seperti mustard, tetapi pada malam itu, suatu truk besar melintasi Distrik 15.


Stephanie Gorgeouspalace mengemudi dan Hamazura Shiage duduk di kursi penumpang.


"Wow. Sekarang, ini sungguh menakjubkan.”


"Maksudmu Dianoid?"


"Iya, tapi maksudku, truk ini juga menakjubkan! Bukankah ini adalah salah satu truk hias yang bisa kau lihat di Truk Yarou* atau sejenisnya!? Dan salah satu sisi truk ini bahkan ditutupi oleh gambar besar beberapa penyanyi! Itu sungguh merusak mood!! Apakah kau memiliki sesuatu terhadap Distrik 15!?” [Truck Yarou (トラック野郎 Torakku Yarō) adalah serial sepuluh film komedi-laga Jepang diproduksi oleh Toei dan dirilis dari tahun 1975 ke 1979. Semua sepuluh film dalam serial disutradarai oleh Noribumi Suzuki dan dibintangi Bunta Sugawara sebagai Momojiro Hoshi ("Ichibanboshi" atau "bintang pertama") dan Kinya Aikawa sebagai Kinzo Matsushita, juga dikenal sebagai "Jonathon". Judul Truck Yarou berarti "orang truk", dan film melibatkan dua sopir truk dan berbagai petualangan mereka saat mereka melakukan perjalanan keliling Jepang pada truk sangat dihiasi. Wikipedia Bahas Indonesia tanpa perubahan.]


"Heh heh heh. Yaahh, aku adalah gambaran dari perempuan lajang di manapun aku berada. Ahh, itu sungguh membuatku kesal. Para anak nakal ini menggunakan kehidupan cinta mereka untuk melarikan diri dari kenyataan dan melupakan semua tentang pelajaran. Aku jadi ingin meledakkan lagu kotor pada volume penuh!!”


"Oke, bagaimana kalau kau mulai dengan meminta maaf pada wanita lajang di setiap tempat. Kau tidak boleh begitu saja mengklaim bahwa dirimu adalah gambaran dari setiap wanita lajang !!”


"Ehh? Apakah kau tidak terganggu melihat tempat yang dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang sedang kasmaran ini? Tidakkah itu membuatmu ingin berteriak : Uraaah! Kami adalah orang-orang yang terjebak di tempat kerja pada tanggal 24 Desember!!"


"Sebenarnya, aku punya libur malam Natal dan aku berencana untuk menghabiskannya bersama pacarku."


"Baiklah kalau begitu. Sepertinya ada orang yang akan memiliki sehari penuh ... tidak, tiga hari penuh pergeseran shift kerja secara berturut-turut, termasuk di malam Tahun Baru, karena dia ingin libur pada tanggal 24.”


“Dasar monster!!"


Saat Hamazura berteriak padanya, truk yang tampak aneh tersebut mendekati Dianoid. Truk itu membawa kontainer kargo udara berukuran 2m yang dipergunakan untuk mengangkut barang-barang seni serta dua potong mesin berat khusus disebut Power Lifter.


"Tempat semacam ini sungguh membuatku takut. Jika aku diundang seseorang ke sini, mereka hanya akan menganggapku sebagai preman yang siap merogoh kocek mereka, dan aku pun yakin mereka akan menatapku dengan pandangan dingin.”


"Oh? Semasa kau jadi preman, kau tidak pernah datang ke sini untuk mendapatkan beberapa bonus? Jumlah uang yang orang-orang ini selipkan pada dompetnya sungguh berbeda dari pendapatan biasamu.”


"Jika kami berhasil beroperasi di tempat seperti ini, maka gang-gang kumuh di sekitar gedung-gedung tinggi tersebut sudah kosong dari preman."


Bangunan itu berbentuk prisma heksagonal* raksasa yang menjulang setinggi 70 lantai. Entah hanya untuk hiasan atau justru perkuatan, ada beberapa kabel tebal yang menjuntai turun secara diagonal dari semua sisi. Distrik 15 dipenuhi dengan bangunan bertingkat tinggi, tapi ada kabel menyelinap melalui celah-celah di antara gedung-gedung tersebut. Bangunan utama yang dikelilingi oleh kabel-kabel tersebut diterangi dengan cemerlang oleh lampu di dasar. Keagungan bangunan tersebut menonjol dengan jelas di malam yang gelap. Untuk menegaskan bahwa ini adalah perwujudan dari seni optik dan bukannya hanya pencahayaan belaka, warnanya berubah seiring berlalunya waktu. [Heksagonal = segi 6]


"Bagunan ini secara pokok dibagi menjadi : tingkat atas, tingkat tengah, dan tingkat bawah. Titik pengiriman yang harus kita capai adalah TV Orbit pada tingkat tengah. Setelah menggunakan pintu masuk pengiriman, yaitu suatu lift, jadi harusnya tidak mungkin tersesat.”


"Jadi kita membawa benda-benda besar itu dengan menaiki lift?"


Hamazura berbalik meskipun ia tidak bisa melihat barang bawaannya dari sana.


Stephanie tertawa.


"Tingkat atas berisi suatu hotel kelas tinggi dan apartemen. Di sana ada banyak piano besar dan sistem home teater, sehingga kabarnya, lift tersebut memiliki batas berat yang cukup tinggi. Tetapi jika itu tidak bekerja, kita terpaksa menggunakan “mereka” untuk membawa kontainernya menaiki tangga.”


Dianoid seharusnya lebih besar dua kali lipat daripada stasiun kereta bawah tanah Distrik 15. Jalan raya bertingkat dan jalur kereta bawah tanah rupanya terletak menyeberang satu sama lain seperti persimpangan. Di sana adalah pintu masuk utama dari keempat arah mata angin, tetapi truk yang dihiasi dengan mencolok tersebut menggunakan pintu masuk di tempat yang lebih umum.


Sementara Stephanie menurunkan kaca jendela di pintu gerbang dan berbicara dengan pekerja di sana, ponsel Hamazura berbunyi. Itu adalah email, bukannya panggilan. Dia memeriksa inbox-nya dan Stephanie bertanya kepadanya tentang email tersebut sambil bersenandung dan memutar-mutar setirnya.


"Dari siapa itu?"


"Beberapa teman. Mereka sedang menunggu aku di tingkat tengah Dianoid.”


"Tingkat tengah? Bukankah daerah itu sepenuhnya diisi oleh kantor TV Orbit?”


"Ada beberapa bagian yang dibuka untuk umum. Ada podium, kolam renang, pusat kebugaran, dan beberapa hal-hal lain di sana. Ini tentu saja dibuat agar orang-orang normal dan para artis tidak pernah berpapasan, tetapi mereka harusnya juga sedang berada di sana. Aku mendengar bahwa rekan-rekanku ingin pergi bersenang-senang setelah menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.”


"Eh heh heh. Aku paham bahwa kau sedang menikmati masa mudamu. Mungkin aku bisa pergi ke sana setelah Sunazara terbangun.”


Gerbang itu menuju ke tempat parkir dalam ruangan. Tempat itu dikelilingi oleh dinding buatan manusia yang dingin, bukannya beton berwarna abu-abu yang biasanya ditemukan di deck parkir atau garasi parkir. Tanah, langit-langit, dan kolom tebal diposisikan pada interval yang teratur, sehingga semuanya tampak seperti terbuat dari kayu.


Secara keseluruhan ...


"Tempat ini terlihat seperti bangunan abad pertengahan Jepang palsu dalam film Hollywood."


"Mungkin terlihat seperti itu, tapi ini semua terbuat dari karbon. Aku bisa membenturkan truk ini terhadapnya dan tidak akan menyebabkan suatu kepenyokan sama sekali. Aku benar-benar tidak paham tentang fashion.”


Stephanie memarkir truk di ruang parkir tamu besar dan mereka berdua keluar. Dia memutar kunci cincin di jari telunjuknya, tapi sebelum dia bisa mengitari di belakang truk, Hamazura menggunakan dua kabel untuk membuka kunci pada kontainer.


“Kau tahu, ada berbagai cara untuk menggunakan keterampilanmu. Seorang mata-mata seksi dan penguntit bermulut manis benar-benar melakukan hal yang sama.”


"?"


Hamazura membuka pintu ganda dengan tampilan bingung di wajahnya.


Benda pertama yang ia lihat adalah kotak perak yang ukurannya lebih besar daripada tubuhnya sendiri.


Itu benar-benar merupakan kontainer berisi karya seni.


Di luarnya adalah Power Lifter. Beberapa sabuk karet membentang turun dari langit-langit untuk mengamankan ransel* yang terbuat dari logam besar tersebut. Ada lengan raksasa yang membentang dari mesin-mesin itu, dan ada kaki yang lebih kecil untuk menjaga kestabilan badan mesin. Lengan besar yang menjuntai ke bawah tersebut hampir menyentuh tanah. [Sudah disebutkan bahwa Power Lifter digunakan di punggung seseorang. Sehingga terkadang mesin ini dianalogikan dengan kata “ransel”.]


Ada 2 unit. Satu untuk Hamazura dan satunya lagi untuk Stephanie. Atau mungkin juga, yang satunya berfungsi sebagai cadangan kalau saja ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi.



"Bagaimana menurutmu tentang Power Lifter ini?"


"Aku bekerja keras untuk mempelajari benda ini selama lima jam! Taukah kau berapa kali dagingku hampir terjepit pada sendi bagian depan dari benda ini!?”


"Aneri akan membantumu, sehingga kau akan baik-baik saja."


Hamazura mengeluh sembari ia melangkah masuk dan mengambil sabuk karet.


Tidak seperti powered suit militer, Power Lifter tidak menutupi seluruh anggota tubuh pemakainya dengan armor besi. Perbedaan di antara keduanya mungkin seperti tank dan power shovel*. Mungkin ini lebih disebabkan oleh masalah peraturan untuk produk masyarakat, daripada pertimbangan logis. [Power shovel adalah mesin untuk mengeruk tanah yang digerakkan oleh mesin. Biasanya mesin ini memiliki suatu cakar yang terbuat dari besi. Wikipedia Bebas.]


Mesin itu dikendalikan oleh dua joystick yang terhubung pada kabel dan pada pedal kaki. Bagian pedal kaki juga terhubung pada pijakan kaki penggunanya. Mesin ini tampak usang jika dibandingkan dengan powered suit pada umumnya. Ini karena powered suit sanggup mendeteksi gerakan otot seseorang, sedangkan Power Lifter lebih mirip dengan kendaraan daripada armor.


Hamazura memanjatnya dan menaikinya, sesuatu benda seperti penahan dada yang sering dijumpai pada roller coaster turun dari atas kepalanya dan menyangga tubuhnya. Suatu cahaya membutakan pandangan Hamazura segera setelah mesin itu dinyalakan.


"Wah! Sialan !!”


"Tunggu, tunggu, tunggu! Benda ini seberat dua ton, jadi tolong jangan mencambukkan lengannya dan menyandung semua benda di sekitar.”


"Maaf, tapi aku hanya tidak terbiasa mengoperasikan benda ini."


"Oh, AUD*-nya?" Tanya Stephanie. [AUD adalah kependekan dari Available for Use Data, yaitu bagian dari sistem perkomputeran yang bertugas menyimpan data dan menggunakannya.]


Hamazura memijat pelipisnya dengan jari-jarinya dan menggeleng karena cahaya putih kebiruan muncul lantas membentuk semacam windows, bar, dan pesan peringatan. Ada semacam gambar hologram yang ditampilkan pada udara di depan matanya.


"Udara dipanaskan atau didinginkan secara lokal untuk membuat pembiasan cahaya normal yang menampilkan informasi penting di hadapanmu. Dari beberapa info yang aku dengar, itu sejenis fatamorgana, tapi tidak benar-benar mirip.”


"Aku mulai mengerti, tapi bukan itu masalahnya."


Penglihatan bekerja setelah otak menganalisa informasi yang ditangkap oleh bola mata. AR*, 3D googles*, dan ada beberapa peralatan lainnya yang bisa menampilkan gambar di mata dengan tidak wajar. Peralatan-peralatan seperti itu akan membingungkan otak seseorang. Sebagai contoh, beberapa orang yang menonton film action intens pada layar head-mount* akan mendapatkan penglihatan kabur dalam waktu kurang dari lima menit. [AR adalah kependekan dari Aspect Ratio, yaitu perbandingan antara lebar dan tinggi suatu gambar. Wikipedia Bebas.] [3D googles adalah semacam kacamata 3 dimensi.] [Layar head-mount adalah semacam kacamata yang terikat sempurna pada dahi ataupun kepala. Jika teman-teman pernah melihat penampilan Cyclops pada film X-man. Maka seperti itulah bentuknya.]


Terlebih lagi, pengering rambut yang berhembus seperti angin hangat dan angin dingin terus-menerus mengubah dan menyesuaikan suhu di depan wajah Hamazura, sehingga matanya menjadi kering. Jika diperlukan suatu pelindung, maka seharusnya ada suatu kaca pelindung atau mungkin kacamata google. Namun sama sekali tidak ada benda seperti itu di sana.


(Aku sudah mengira akan mengalami hal semacam ini ketika mencoba suatu prototype mesin Academy City.)


"Tidak ada kesalahan dalam dua sumber daya utama, sumber daya cadangan, kontrol stabilitas, prosesor, atau display pencahayaan. Aktuator 001 sampai 400 telah menyelesaikan tiga kali auto-test. Semua sistem sudah oke. Melepaskan pengaman terakhir secara manual.”


"Untungnya, seluruh Dianoid terbuat dari bahan karbon padat sampai ke pintu geser dan lentera, sehingga kau tidak akan merusak apa-apa jika kau berjalan-jalan di sekitar sini. Jadi, tenang saja.”


"Apakah kau yakin bahwa aku harus melakukan ini hanya karena aku tidak memerlukan lisensi?"


"Ini akan baik-baik saja selama kau tidak membunuh siapa pun."


"Tolong berhenti membuatku takut !!"


Selama percakapan tersebut, mereka menyelesaikan persiapan di dalam truk.


Hamazura mengambil langkahnya yang pertama dengan gugup. Dia meraih kontainer tersebut dengan kekuatan yang berlebihan. Dia perlahan-lahan menggerakkan lengan baja raksasa di tepi kotak dan akhirnya menggunakan kedua lengannya untuk meraih pegangan tersebut.


Secara mengejutkan, Stephanie bergerak dengan lemah lembut sembari dia menyelipkan dirinya pada mesin-mesin itu. Dan Power Lifter mengitari di antara kontainer dan dinding truk. Akhirnya, mereka sanggup mengangkat kontainer seperti dua orang tukang yang mengangkat sofa.


Berbeda dengan jari yang sebenarnya, Hamazura tidak bisa merasakan kekuatan pada genggamannya dan ia khawatir jikalau dia memegang benda tersebut terlalu erat, tapi setidaknya, jari-jari logam tidak akan merusak kontainer itu.


(Apakah ini ... benar-benar akan bekerja?)


"Hamazura, mari kita melangkah keluar seperti ini."


"Bisakah kau melakukan itu sambil mundur?"


"Aku memiliki pengalaman lebih banyak daripada kau."


Mereka menyelinap keluar dari truk sembari mengobrol, tapi ...


"?"


Power Lifter adalah semassa baja berukuran 3m. Itu bukan suatu perangkat militer, namun lengan mesin tersebut masih bisa dengan mudah mengangkat suatu mobil kecil. Takut adanya seseorang yang berada di jalurnya, Hamazura mengawasi keadaan di sekitarnya dengan begitu seksama. Dan dia pun menyadari adanya suatu hal.


Suatu wujud kecil menyelinap di antara mobil. Orang ini memiliki rambut cokelat semi-panjang, jaket yang dikerudungkan di kepalanya, celana pendek, sepatu bot, kemeja berwarna biru langit cerah, dan kaus kaki berwarna sama.


(Um ... Apakah itu anak laki-laki atau perempuan?)


"Sensei."


"Apa?"


"Ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pekerjaan kita, tapi, katakan saja ada seorang anak kecil yang bermain-main di sekitar truk milik kita. Jika anak ini mengganggu dan masuk di bawah kontainer kita, apa yang seharusnya dilakukan oleh para pekerja baik hati seperti kita?”


"Meskipun pengganggu ini tidak ada hubungannya dengan hasil pekerjaan kita, semua jenis halangan harusnya dibasmi. Dengan kata lain….HEI KAU!!!”


"Wah! Jangan lepaskan kontainernya!!”


Stephanie mengendalikan tubuh setinggi tiga meter-nya lantas mengangkat tangan baja.


Sesaat kemudian, wujud kecil tersebut terkejut dan melompat dari belakang tempat kontainer. Anak kecil ini mencoba untuk meloloskan diri sembari hampir terjatuh, namun gerakannya jadi kacau, dia pun roboh dengan posisi duduk, dia gemetaran di tanah, dan mengulurkan sesuatu yang tampaknya adalah kartu ID pelajar.


"A-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-aku a-a-a-a-a-a-a-a-a-adalah Academy City # 6, Aihana Etsu !!"


Tenggorokan Hamazura langsung kering.


Dia merasa ada sesuatu yang meremas di dalam hatinya.


Sinyal peringatan yang tak terkendali memenuhi seluruh tubuhnya. Berkat pengalamannya sebagai preman Level 0 di gang-gang kotor, Hamazura tahu betul betapa mengerikannya kekuatan seorang esper.


Tapi Stephanie Gorgeouspalace membentak anak itu dengan suatu teriakan.


"Oh ya!? Aku adalah seorang sensei! Kau sebaiknya tidak meremehkan kemampuan atletik Nona Stephanie dan pengalamannya melawan berbagai esper !!”


"Hyaaah !!"


Hamazura akhirnya memahami situasinya ketika ia melihat "Aihana Etsu" mengangkat tangan untuk melindungi tubuhnya dari bentakan bervolume tinggi Stephanie.


"Tunggu, sensei! Dia hanyalah anak-anak!”


"Sekarang kau ikut-ikutan membuatku jengkel!! Kau jugalah anak-anak, jadi berhentilah berlagak sok dewasa!!!!”


"Aku pikir kaulah yang harus ditahan terlebih dahulu, bukannya kargo ini!!"


Setelah dua sosok setinggi 3m tersebut selesai bergulat di sebelah kontainer, anak laki-laki....? ... atau mungkin gadis.....? ... tidak lagi terlihat.


Sepertinya dia telah lari entah ke mana.



Part 9[edit]


Kamijou Touma, Index, dan Othinus menaiki lift dari stasiun kereta bawah tanah untuk menuju ke area perbelanjaan yang terletak di tingkatan Dianoid bawah.


Area perbelanjaan mencakup 20 lantai di tingkatan bawah, tapi pusat lantai-lantai itu terbuka layaknya suatu atrium*. Jika kau mendongak ke atas, maka kau akan serasa disedot ke angkasa. [Atrium adalah ruangan terbuka yang terdiri dari beberapa lantai. Ini mirip dengan Hall, sehingga kau bisa melihat apa yang ada di lantai-lantai atas dari bawah.]


Sebagian besar pencahayaan tidak secara langsung disorotkan sehingga seisi bangunan terkesan redup dan teduh. Struktur yang paling mencolok adalah bagian interior. Bangunan itu adalah gedung pencakar langit, tapi setiap sisinya begitu mirip dengan konstruksi bergaya Jepang. Lantainya dipoles dengan warna kuning sehingga mirip dengan lantai kayu dan ruang itu dibagi oleh pintu geser serta layar, bukannya pintu bergaya barat. Bahkan pencahayaan tersebut berasal dari lentera kertas berbentuk persegi yang tergantung di langit-langit.


Semangat Natal seakan-akan lenyap begitu saja ketika mereka menginjakkan kaki di dalam gedung tersebut.


Seperti biasa, Kamijou mengungkapkan perasaannya dengan suara keras.


"Aku rasa, Kanzaki akan suka dengan tempat ini."


Jika Kanzaki berada bersama-sama dengan mereka, mungkin gadis itu sudah berteriak dan menuduh bahwa semua ini palsu. Namun apa boleh buat, semuanya tampak begitu identik dengan aslinya.


Satu-satunya benda yang tekesan canggih adalah monitor layar datar dihias yang dipasang di sana-sini. Beberapa melekat pada dinding dan kolom, sisanya tergantung pada langit-langit.


Ketika Index melihat rekaman yang ditampilkan pada layar tersebut, ia memiringkan kepalanya.


"Touma, TV apa sih itu? Aku tidak pernah melihatnya di koran.”


"Aku tidak yakin, apakah aku harus kagum karena kau sudah menghafal panduan TV di koran ataukah aku harus khawatir karena kau begitu banyak memiliki waktu luang," erang Kamijou.”Itu dadalah siaran behind the scenes* dari TV Orbit. Lantai di tingkat tengah gedung ini berisi suatu stasiun TV, sehingga ada banyak AD* atau orang yang mondar-mandir di sekitar belakang panggung dengan membawa kamera kecil. Itu bukanlah siaran langsung, tetapi beberapa penggemar idol datang ke Dianoid hanya untuk melihatnya.” [Behind the scenes adalah proses pembuatan.] [AD di sini adalah singkatan dari Assistant Director. Wikipedia bebas.]


"Stasiun TV?"


"Oh sial. Apakah aku harus mulai menerangkan semuanya lagi?”


Monitor layar datar yang menggantung dari langit-langit saat ini sedang menampilkan siaran yang menunjukkan seorang idol pria, Hitotsui Hajime, tertidur di sofa ruang gantinya. Pembagian jelas antara sorak-sorai dan ejekan yang datang dari keramaian terkesan begitu kejam.


Tidak hanya menunjukkan siaran behind the scenes, gambar di monitor itu berganti-ganti setiap menitnya. Layaknya seorang DJ yang memilih lagu, segue* antar rekaman tampak membentuk satu presentasi. [Segue adalah pergantian antara lagu, melodi, atau adegan tanpa adanya selingan ataupun gangguan. Kamus Besar Oxford.]


"Panggung pada tingkat tengah dikenal sebagai Aqua Palace karena fokus pada seni air yang meliputi air mancur indoor terbesar di dunia.”


Ketika Kamijou mendengarkan pengumuman itu, ia juga mendengar Othinus berbicara dari balik syal-nya di pundaknya.


"Jadi, di mana toko yang menjual rumah boneka buatan pengrajin?"


"Tunggu, tunggu. Aku tadi sudah mencetaknya di toko.”


Kamijou menggali sakunya, membuka peta, dan memeriksa lokasi.


"Oke, itu ada di lantai lima. Menggunakan eskalator mungkin akan lebih cepat daripada menggunakan lift.”


"Touma, Sphinx benar-benar semakin gelisah."


"Wahai kucing calico, bahkan jika aku jadi seekor kucing sama sepertimu, aku tidak akan melakukan itu. Aku tahu bahwa kau ingin mempertajam cakarmu, tetapi segala sesuatu di sini terbuat dari bahan karbon dan aku yakin bahkan pintu geser itu sanggup memblokir tembakan peluru. Cakarmu tidak akan bisa menggoresnya.”


Setelah itu, mereka menaiki eskalator untuk menuju ke lantai lima.


Karena pusat bangunan itu membentuk atrium raksasa, hanya setengah ruang yang digunakan. Meski begitu, 350 toko dengan merk ternama saling berdesakan di dalamnya. Mereka terletak di seberang dari atrium. (Yang berarti pada tepi "luar") dan ukurannya berkisar dari sekecil toko biasa, sampai sebesar lapangan tenis.


"Mh."


Begitu mereka tiba di lantai lima, Othinus berbicara dari bahunya.


Index juga menatap kosong ke depan sambil memegang kucing di kedua tangannya.


"Ini terlihat ramai."


"Yah, itu adalah fitur pada berita pagi, sehingga orang lain pasti juga ingin datang dan melihat-lihat, sama seperti yang kita lakukan saat ini.”


"Tunggu sebentar. Aku tidak keberatan jika itu populer, tetapi jika kita kehilangan rumah boneka, apa yang akan terjadi pada hari-hariku yang damai!?”


"Hmm," erang Kamijou sambil melihat langit-langit.”Aku kira, aku bisa membuat rumah boneka dari kardus dan kulekatkan dengan menggunakan selotip.”


"Kucing itu akan merobeknya dengan segera!!"


"Jika kau tidak ingin rumahmu hancur, maka tinggal saja di suatu bangun yang halus dan tanpa sambungan," kata Index.”Kau bisa membalikkan baskom cuci kemudian tinggal di dalamnya."


"Apakah kau tidak tahu bahwa kucing itu cukup pintar untuk membalikkan lagi baskomnya!?"


Kamijou dan Index tidak paham ancaman yang dihadapi oleh Othinus.


Othinus menyadari bahwa dia tidak bisa membiarkan hal-hal terus berlangsung seperti ini, jadi dia menarik dirinya sendiri dari syal Kamijou.


"Aku menolak ..."


Dia melompat turun dari bahunya.


"... Untuk menerima ini !!"


Begitu mendarat di lantai yang tampak seperti kayu, ia berjalan melalui kerumunan kaki manusia dan menuju suatu toko.


Ini adalah masalah bagi Kamijou dan Index.


"Gadis itu !! Bagaimana bisa sesosok makhluk bertinggi 15cm membeli rumah boneka itu sendirian !? Bahkan, mungkin saja dia dikira boneka model, kemudian datang seorang anak nakal lantas merobek boneka yang dikiranya mainan gratisan itu!!”


"Ini darurat, tapi jangan khawatir, Touma. Sphinx, pergilah!!”


"Ahhh !! Itu sama saja dengan menambahkan minyak ke kobaran api!!”


Pada saat Kamijou berseru, itu sudah terlambat.


Si kucing dengan lembut mendarat di lantai dan menerkam Othinus seperti anjing yang sedang berburu.


Hancur karena injakan kaki, terkoyak, atau tertangkap oleh kucing pemburu.


Wajah Kamijou memucat ketika membayangkan apa yang bisa terjadi pada Othinus dalam waktu dekat.


"A-Apapun itu, kita harus menemukannya! Dengar, Index. Terus lihat ke bawah. Tidak! Aku ulangi, jangan menginjaknya!!”


"Hm?"


"Aku tidak bercanda !! Jangan menginjak Othinus !!”



Part 10[edit]


Bahkan saat ini, Takitsubo Rikou mengenakan jaket olahraga berwarna pink.


Tingkat tengah Dianoid berisi kantor TV Orbit, tapi di sana juga ada panggung, kolam renang indoor, pusat kebugaran, dan beberapa fasilitas lain yang dibentuk agar tim produksi dan para artis tidak saling berbaur. Tingkat bawah diisi dengan toko-toko bermerk kelas wahid di mana seseorang bisa bebas berbelanja, tetapi tingkat tengah dipenuhi dengan bioskop, salon kecantikan, restoran, dan jasa lainnya yang bisa dinikmati di lokasi. Berbeda dengan tingkat bawah, di sini pembangunan bergaya Jepang terfokus pada air. Sebagai contoh, saluran air sempit terbuat dari palung kayu yang membentang sepanjang sisi koridor seperti kanal di Kyoto.


Tapi gadis-gadis ini berada di dalam suatu kafe, di mana seluruh perimeter lantai dipergunakan untuk menghadirkan pemandangan-pemandangan malam yang mempesona di Distrik 15.


Itu dibuat untuk memberikan suasana santai, sehingga para tamu bisa mengatur aroma ruangan, musik, intensitas cahaya, dan warna cahaya sesuai dengan keinginan masing-masing. Mereka juga bisa menyewa kursi pijat dan footbaths*. Ini adalah jenis kafe yang harga servisnya lebih mahal daripada secangkir kopi. [Footbaths adalah jasa pembasuhan kaki yang biasa dilakukan dengan menyiramkan air hangat.]


Saat ini, Takitsubo berbicara selagi kursinya bergetar untuk efek pemijatan.


"Hamazura mengatakan bahwa dia akan tiba di sini dalam setengah jam."


"Oh? Itu super cepat baginya, "jawab Kinuhata Saiai, seorang gadis dengan potongan rambut bob cokelat yang duduk satu meja dengannya.


Gadis itu sesekali mengenakan masker yang terhubung pada kantong oksigen, dan dia pun memiringkan kepalanya seakan-akan kebingungan bagaiamana cara bersantai dengan benda seperti itu.


Namun, dia tidak berhenti di situ. Dia terus melanjutkan perkataannya sambil menengok ke luar kafe dengan ragu-ragu.


"Masalah sebenarnya adalah, semua tas belanja sudah kita super kumpulkan."


"Apa? Hamazura lah yang mengatakan kepada kita untuk menghabiskan waktu sesampainya di sini," kata Mugino Shizuri, yaitu gadis yang bertanggung jawab atas tumpukan-tumpukan tas belanja tersebut, sembari dia menyilangkan kakinya.


Kinuhata mendesah kesal.


"Hamazura hanya super berkeliaran di sekitar untuk sementara waktu! Lantas mengapa kau tiba-tiba super membeli begitu banyak barang!?”


"Karena aku punya kartu."


"Aku super tidak paham....bagaimana seseorang seperti dia bisa berhasil dalam berbagai pekerjaan sisi gelap kota!!"


"Mugino, Kinuhata, bertoleransilah pada para pelanggan lainnya."


Namun, kedua rekan setimnya itu bukanlah tipe yang mendengarkan kata-kata Takitsubo.


"Dan apa ini !? Kau memiliki berpasang-pasang sepatu bertumit yang bentuknya sama persis!!”


“Kau tidak bisa membedakan antara El Asine dan White Snake? Apakah kau adalah nenekku?”


"Diam, Nona Sok Artis! Aku super marah sekarang!!”


"Tidak peduli apa yang Mugino beli, dia selalu merusak tumit sepatunya, sehingga dia bisa bergerak lebih baik ketika sedang terlibat dalam suatu pertarungan.”


"Itu sebabnya tumit kembar El Asine memiliki engsel. Tumit sepatunya bisa dilipat ke bawah ketika kau perlu bergerak.”


"Kalau begitu, dari awal seharusnya kau tidak memerlukan tumit sepatu!! Pakailah saja beberapa sepatu datar!!!... Jujur, jika kami tidak menghentikanmu, kau sudah super membeli apartemen dengan kartu itu.”


"Apakah kau mencoba untuk mengatakan bahwa ini semua salahku? Hanya salahku seorang??”


"Mugino, jangan pernah menggunakan Meltdowner di sini."


"Ya, itu semua adalah super kesalahanmu. Dan siapa yang akan super membawa tumpukan tas itu? Betapa merepotkan!!! Ini sebabnya aku super menyarankan bahwa kita harusnya pergi melihat film untuk menghabiskan waktu.”


Takitsubo menghembuskan napas panjang melalui hidungnya dan bola matanya berkeliaran ke kiri-kanan.


Mereka telah memesan aquarium berisi ikan mas. Melihat benda berwarna merah berkeliaran di sekitar akan membuat seseorang lebih santai.


Sementara itu, Mugino mengangkat bahu pertanda dia sedang mengejek Kinuhata.


"Suatu film? Maksudmu kita harus duduk di suatu bangku selama 24 jam sampai kaku!? Itu bukan menghabiskan waktu!! Itu lebih mirip dipenjara seumur hidup!!”


"Hypnos adalah pengalaman visual super eksperimental yang bekerja dalam pandanganmu ketika kau pusing dari kurang tidur! Orang yang tidak tahu dampak menonton film dan tidak pernah melakukan penelitian tentang itu hanya bisa memberikan kritik tak bermutu seperti dirimu!!”


"Kedengarannya seperti film D*." [Baca Vol SS2.]


“Kau super santai! Itu bahkan bukan klasifikasi yang nyata !!”


Situasi dengan cepat berubah menjadi kekacauan.


Para gadis ini memanggil si mantan preman dengan sebutan bawahan. Tapi sebenarnya, peran Hamazura adalah pihak yang menjaga agar hubungan antara anggota ITEM tetap harmonis.



Part 11[edit]


Sejumlah besar orang berlalu-lalang di seluruh bagian Dianoid.


Seorang gadis pasti ingin merajut suatu pakaian karena dia melihat wol. Seorang bocah laki-laki sedang berkunjung di beberapa toko untuk melihat apakah ia bisa mendapatkan produk yang sama persis dan lebih murah. Seorang pria kaya tampak kesepian. Seorang gadis SMA juga datang ke sini, tapi dia tidak benar-benar melakukan sesuatu pun.


Di antara kerumunan manusia, ada suatu kelompok yang menuju ke arah berlawanan sembari mereka berkomunikasi dengan berbisik.


"St. Germain mulai bergerak.”


Salah seorang bersandar di dinding.


"Bahkan perkiraan konservatif menyatakan lebih dari sepuluh abad. Setelah perjalanan panjang, St. Germain akhirnya menemukannya.”


Seseorang berpapasan dengan orang lainnya di koridor berserat kayu.


"St. Germain akan mendapatkan semua itu sebelum para Dewa Sihir lainnya bisa.”


Dua orang tetap berada belakang.


Seperti riak yang lembut, kekuatan pikiran disebarkan dari orang ke orang.


Akhirnya, berkumpul di satu titik Dianoid dan mendesak untuk melakukan tindakan tertentu.


"Jadi mengapa tidak membuat sedikit pelecehan? Mengapa tidak menghancurkan sesuatu yang disebut rencananya?”



Part 12[edit]


Kamijou Touma terpisah dari yang lainnya di keramaian.


Othinus seukuran telapak tangan dan kucing adalah masalah utama saat ini, tapi Index begitu mencolok seperti jempol yang sakit dengan pakaian biarawatinya. Dan kini, Index pun ikut menghilang di balik kerumunan dinding manusia.


"Heeeey! Index? Othinus?”


Dia memanggil mereka sementara mengitari atrium tapi tidak menemukan apa pun. Kemungkinan mereka telah berpindah ke lantai yang lain, Kamijou berpaling ke arah eskalator.


Saat itulah ia melihat sesuatu.


"Hahhhha....Hahhh."


Seseorang bersandar pada kolom dengan tangan menyentuh dadanya yang datar. Apakah dia adalah laki-laki atau perempuan? Apa pun itu, pipi orang pendek itu tampak merah dan dia terengah-engah. Ada juga keringat yang menetes layaknya manik-manik besar di dahinya. Kesan yang dihadirkan oleh orang ini adalah atlet yang baru saja menyelesaikan serangkaian latihan berat.


Apa ini?


"H-hei, apakah kau baik-baik saja? Jika di sini terlalu pengap karena banyaknya orang, kau harus pergi beristirahat di bangku yang ada di sana.”


"Hahhh....Haaaahhh ... aku-aku ... aku adalah Ai ..."


"Tenang. Negara ini memiliki alat yang begitu menakjubkan, yang dikenal sebagai mesin penjual minuman otomatis. Aku tahu bahwa menghabiskan ¥ 140 untuk sebotol air adalah suatu kesalahan, tapi mengapa kau tidak mendapatkan sesuatu untuk minum sebelum mencoba berbicara?”


Kamijou meraih tangan orang itu yang sangat hangat dan orang itu mengikutinya sembari menundukkan kepala.


Mereka berdua meninggalkan daerah yang penuh dengan toko-toko bermerk kelas wahid dan tiba pada mesin penjual minuman otomatis yang berada di sudut. Di sana, Kamijou mengangkat ponselnya ke pembaca mesin penjual otomatis tanpa berpikir*. [Di Jepang, beberapa transaksi jual beli bisa dilakukan dengan menggesekkan posel ada ke suatu alat pembaca. Dan tagihan bisa diambil dengan memotong rekening anda via ponsel.]


"Apa? Air lebih mahal daripada minuman olahraga? Apakah pasar sudah gila? Yah, aku kira itu tidak masalah.”


Dia membeli sebotol air mineral yang terkenal karena kemasan botolnya bisa dengan mudah diuraikan, tapi ia cukup yakin bahwa air minum dari keran akan lebih ramah lingkungan. Apapun itu, ia menyerahkan botol tersebut ke ...


(Laki-laki? Ataukah perempuan? Yang mana!?)


"Jika kau terlalu lemas untuk minum, kau mungkin harus pergi ke rumah sakit. Itu berarti, ada masalah dengan saraf otonommu, jadi akan lebih baik jika kau bertanya pada ahli medis tentang gejala yang saat ini kau derita.”


"... Terima kasih."


Anak laki-laki itu mengambil botol yang berisi air bersih itu, melepaskan tutupnya, dan mendekap botol tersebut dengan kedua telapak tangannya. Suara tegukan terdengar kemudian.


"Fiuh."


Dia menghela napas dengan lembut. Bahkan setelah beberapa tegukan, ia tidak batuk sama sekali, jadi Kamijou memutuskan bahwa dia tidak terlalu menderita masalah serius.


Anak laki-laki pendek memegang botol plastik dengan kedua tangannya dan memandang barisan mesin penjual minuman otomatis untuk menghindari tatapan mata Kamijou. Ada beberapa gadis SMA berkumpul di sana dan mereka berbicara dengan nyaring di depan mesin yang tertutup dalam layar LCD. Mesin ber-LCD tersebut menganalisis pergerakan jari seseorang yang ragu-ragu ketika menunjuk produk apa yang hendak dipilihnya. Dengan begitu, mesin itu bisa memperhitungkan kepribadian dan kecenderungan seseorang, kemudian membuat suatu rekomendasi tentang produk apa yang lebih cocok untuk mereka.

NT Index v12 088.png

"Tapi kau tidak perlu khawatir tentangku. Aku tidak menderita stroke panas atau dehidrasi.”


"Akan lebih baik jika kita memastikan hal-hal seperti itu."


"Itu benar. Aku berkeringat karena aku berlari. ... Jujur, aku harus mencari tahu tentang rahasia Dianoid untuk menemukan cara guna menyelamatkan gadis itu, tapi akhirnya aku hanya berakhir dengan melarikan diri dari mesin-mesin mengerikan itu.”


"Gadis itu?..........Melarikan diri?”


Nada bicara Kamijou turun sedikit, sehingga anak itu dengan panik melambaikan tangan di depan wajahnya dan menggeleng.


"A-Apapun itu! Itu hanya karena aku tidak suka menumpahkan darah dan aku adalah tipe orang baik hati yang rela musuhku mendapatkan kemenangan dalam suatu pertempuran! Jika aku serius, dunia akan berakhir! Aku sama sekali tidak pernah serius!!”


"???"


“Kau meragukanku, ya !? Mungkin aku terlihat seperti ini, tapi aku adalah Academy City # 6, Aihana Etsu!”


Udara di sekitarnya tampak bergetar. Pria dan perempuan yang lewat di sekitarnya tampak begitu syok. Itulah kekuatan menakutkan di balik nama Aihana Etsu. Beberapa orang bahkan bergegas pergi.


Itulah sebabnya semua yang terfokus pada "Aihana Etsu" dapat dibagi menjadi dua kategori: (1) melihat dia sebagai sosok yang asli…..atau.....(2) menyimpulkan bahwa dia adalah palsu.


Namun, Kamijou segera angkat bicara.


"Oh, jadi kau adalah salah satu dari mereka. Apakah itu berarti kau kenal Accelerator atau Misaka?”


"Eh? Apa?”


“Kau tidak tampak seperti jenis orang yang suka menyambarkan petir ketika pertama kali berjumpa, jadi sepertinya itu bukanlah masalah . ... Lebih penting lagi, kenapa kau lari?”


“………………………………………………………………………………………………………………………”


(Oh tidak.)


Orang yang kini berada di depan "Aihana Etsu" bahkan tidak memperdulikan apakan dia adalah #6 palsu ataukah asli. Bahkan jika dia 100% asli, pria jabrik ini bahkan tidak takut padanya.


(Distrik 15 Dianoid ini memang adalah tempat yang cocok bagimu!! Ini seperti sarang monster!!)


"Oh, benar. Aku kira tidaklah sopan bila aku tidak memperkenalkan diriku. Namaku adalah Kamijou Touma. Senang berjumpa denganmu, Aihana-san.”


"Hyaaaah !!! ???"


"Aihana Etsu" jatuh ke posisi duduk segera setelah dia mendengar nama itu.


Tidak dapat bangun, ia hanya bisa meluncur mundur di lantai.


"Um ...?"


"K-K-K-Kamijou-san?" tanyanya dengan suara bergetar.”M-m-maksudmu Sang Kamijou Touma yang itu!? Dikatakan bahwa pria itu berjalan melintasi kota di malam hari, menghantam prajurit terkuat dengan kepalan tangan kanannya dan mengamankan semua gadis yang ada di hadapannya, tak perduli apakah mereka tua atau muda!?”


"Oh, Tuhan ... kepalaku mendadak sakit !! Ini mengingatkanku tentang dunia itu !!”


Ini memicu trauma yang disebabkan oleh Dewa Sihir Othinus (yaitu seorang dewa yang ternyata begitu kekanak-kanakan) dan anak laki-laki berambut runcing ini malah menutup kepalanya dengan kedua telapak tangannya.


Biasanya, ia akan bertanya tentang imej apa yang orang-orang pikirkan terhadap dirinya.


Tetapi hal berikutnya yang dia tahu, Aihana Etsu telah lenyap ke dalam kerumunan orang. Kamijou masih bisa mendengar jeritan, sehingga dia bisa tahu ke arah mana anak itu pergi.


Pada saat yang sama, suatu suara “klak” keras mencapai telinga Kamijou.


Semua asumsinya sebelumnya lenyap seketika.


Pada saat ia menyadari itu, suara ketukan tongkat terdengar di lantai, warna lingkungan di sekitarnya jadi terdistorsi.


Seorang pria berusia empat puluh atau lima puluh tahun berdiri dan terdiam. Dia mengabaikan aliran manusia di sekelilingnya. Dia mengenakan semacam jas berekor lucu yang biasa ditemukan di toko-toko kostum dan dia mengenakan topi sutra yang biasanya dipakai oleh para pesulap. Dia bahkan memiliki kacamata berlensa satu di mata kanannya. Tongkat yang dipegangnya membuat suatu kesan bahwa ilusi tersebut bukanlah suatu ilusi biasa.


Orang-orang mengenakan berbagai kostum yang berbeda untuk musim Natal, tapi orang ini terasa begitu berbeda bahkan jika dia mengenakan kostum biasa.


Bukannya mengubah gaya pakaiannya untuk mencocokkan dengan suasana sekitar, justru lingkungan sekitar lah yang seakan-akan mencocokkan dengan penampilan orang tua ini.


"Hai."


Suara santainya membuat Kamijou Touma terkaku di tempat.


Fokus pria tersebut tertuju kepada Kamijou.


Itu membuat Kamijou tidak bisa memalingkan tatapannya darinya. Ini adalah hal yang fatal. Tubuh fisiknya mengirimkan sinyal peringatan sebelum insting dan pengalamannya bekerja.


Semua asumsi sebelumnya telah lenyap.


Dia bisa merasakan semua suara lain juga lenyap dari pikirannya.


Alam bawah sadar Kamijou menciptakan dunia yang hanya berisi dia dan si pak tua. Kamijou pun dengan ragu-ragu mengajukan suatu pertanyaan.


Mengapa ia ragu-ragu?


Bahkan dia tidak tahu jawabannya.


"Kamu….siapa?"


"Aku bisa saja menyebutkan namaku sendiri, tapi anak laki-laki dengan sedikit pengetahuan tentang sisi kami sepertimu mungkin tidak tahu apa artinya itu, bagaimanapun juga kau hanyalah Gap* negatif pada kisi-kisi.” [Gap bisa diterjemahkan sebagai suatu “jarak” atau kesenjangan]


Dia tertawa.


Itu adalah tawa yang terkesan tenang, tapi entah kenapa terdengar seperti suara buatan.


"Hasil dari menguasai 103.000 grimoires. Seseorang yang memulai segalanya sebagai pria, namun melampaui batas manusia. Itulah makna tersirat di balik seorang penyihir. Tapi jika aku boleh mengatakannya dengan makna yang lebih sederhana ...”


Ilusionis itu membuat suatu deklarasi.


"Aku adalah orang yang telah melampaui Othinus. Apakah kau bisa memahami itu?”


Kamijou berpikir jantungnya telah berhenti.


(Seorang Dewa ... Sihir?)


Pengalaman yang begitu pahit dan keputusasaan memenuhi pikirannya.


(Seorang Dewa Sihir? Seorang Dewa Sihir seperti Othinus? Seorang Dewa Sihir dengan kekuatan penuh !? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan !? Othinus adalah orang yang baik. Dia masih memiliki beberapa kebaikan dalam dirinya. Sehingga kami masih bisa menyelesaikan semua permasalahan hanya dengan berdiskusi, tapi bagaimana jika itu tidak akan terjadi pada orang ini? Bagaimana jika dia benar-benar hanyalah semassa kekuatan? Apa yang harus aku lakukan terhadap Dewa Sihir? Apakah yang dia cari? Dapatkah aku menyelesaikan ini semua dengan berdiskusi dengannya? Jika aku tidak bisa, maka tidak ada lagi yang dapat aku lakukan! Aku bahkan tidak pernah bisa mengalahkan Othinus! Semua pertarungan itu berakhir hanya karena dia menyerah tanpa syarat !!)


Suatu hawa panas aneh mengisi kepalanya.


Sementara itu, lingkungan di sekitar Kamijou mulai berubah.


Pemandangan di sekelilingnya meleleh dan terdistorsi. Itu tampak seperti rumah cokelat yang ditempatkan pada tungku pembakar.


Sementara itu, Dewa Sihir masih saja tidak bergerak.


Tidak jelas apakah dia bisa berjalan layaknya manusia normal.


"Jika aku menyakitimu di sini, itu akan menyebabkan beberapa masalah bagi mereka yang telah membangun semua rencana ini dengan begitu rumit. Aku tidak sabar untuk melihat ekspresi wajah mereka ketika aku menghancurkan kisi-kisi yang mereka bangun.”


"Apa- ...?"


Kamijou tidak dapat mengatakan lebih dari itu.


"Chambord."


Dia pikir, dia mendengar suara mendesing dan sesuatu melompat dari lantai di depannya. Mulanya, Kamijou kira itu adalah cairan, tapi itu benar-benar suatu lantai ... atau lebih tepatnya, benda yang tadinya adalah suatu lantai. Benda itu berubah, terdistorsi, dan membentuk duri tajam yang ditembakkan ke arah dadanya seperti peluru.


Dia segera mengangkat tangan kanannya dan duri itupun hancur.


Namun, itu hanyalah suatu pengalih perhatian.


Seorang Dewa Sihir memiliki kontrol penuh dari seluruh hal di dunia ini.


"... !!! ???"


Pada saat ia melihat, sudah terlambat.


Dinding, lantai, dan langit-langit, semuanya mencair dan lebih dari seratus duri mendekatinya dari arah 360 derajat. Seakan-akan dia dikurung dalam dunia yang seluruh permukaannya adalah kulit landak. Serangan itu seakan-akan dilancarkan untuk mengejek kemampuan tangan kanannya yang terbatas.


Tapi, bahkan saat ini terjadi, semua orang masih saja berlalu-lalang dengan tenang di Dianoid.


Ada ruang antara Kamijou dan dinding-dinding berduri itu. Namun ketika ribuan duri itu ditembakkan, semua orang di sekitarnya pasti akan tercacah layaknya daging cincang.


Apa yang akan terjadi pada mereka? Tidak, apa yang telah terjadi pada mereka?


Jawabannya sederhana.


Ada lubang. Lubang yang menganga. Orang-orang yang berlalu-lalang tersebut jelas-jelas berada di sekitar Kamijou, tapi lubang seukuran kepalan tangan manusia terbuka pada dada, sisi, kaki, atau kepala mereka. Dan duri-duri tajam itu dengan mudahnya melewati lubang-lubang tersebut. Ribuan duri tidak pernah benar-benar merobek daging dan darah mereka. Sebaliknya, daging dan tulang mereka membuka jalan bagi duri untuk melewati tubuh orang-orang tersebut. Mengabaikan organ dan kerangka semua orang, terowongan itu menembakkan ribuan duri yang mendekat dari segala arah.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!! ???"


Pada hari itu, sekali lagi Kamijou Touma tidak bisa merasaan dunia di sekitarnya.



Diantara Baris Pertama[edit]


Dianoid adalah titik tengara utama bagi Academy City Distrik 15.


Bangunan berbentuk prisma heksagonal raksasa tersebut memancarkan berbagai warna dan kegaduhan besar sudah mulai terdengar di sekitarnya.


"Apa maksudmu kami tidak boleh masuk?"


"Aku tidak tahu, tapi pintu putar ini tidak mau mengalah."


"Oh, omong kosong. Keretanya juga berhenti. Tapi kereta terakhir akan pergi ketika jam malam tiba!”


Pintu dan jendela tidak mau terbuka.


Dalam suatu bangunan yang normal, itu bukanlah suatu masalah serius. Dalam kasus terburuk, seseorang hanya perlu memecahkan kaca untuk melarikan diri.


Tapi hal-hal itu tidak berlaku bagi Dianoid.


Bangunan itu terbuat dari serat karbon, kerangka karbon, dan nanotube karbon. Dan semuanya dipasangi dengan berlian buatan. Bahkan jika suatu truk menabrak pintu depan dengan kecepatan tinggi, truk tersebut tidak akan menerobos masuk. Bahkan jendela ataupun pintu geser cukuplah kuat untuk memblokir tembakan peluru pistol.


"Tunggu. Apakah kau yakin bahwa ini hanyalah suatu kesalahan sistem? Jika seseorang mengacaukan AC-nya, mereka bisa mengaturnya sehingga orang-orang di dalam akan mati lemas.”


Salah satu orang dalam kerumunan membuat suatu saran, tapi itu tidak dilakukannya karena khawatir. Sebagai bukti, ponsel miliknya menunjuk ke arah gedung Dianoid. Pria itu tidak akan pernah mengakuinya, tapi sepertinya, dia hanya ingin menjadi seorang pahlawan setelah mengunggah video rekaman pada suatu situs populer. Tentunya, dia akan menjadi artis dadakan jika jutaan orang men-share postingan videonya tentang kejadian ini.


Nephthys berbicara di sampingnya.


"Yah, aku ragu ini sangat sederhana, tetapi sepertinya, tempat ini memiliki hawa kematian yang lebih tinggi daripada itu. Bagaimanapun juga ... St. Germain sudah mulai bergerak.”


"Eh? Wah !?”


Anak laki-laki di kerumunan secara santai melirik ke samping dan kemudian berteriak dengan begitu syok.


Seseorang jomblo tidak boleh protes, namun yang bediri di samping anak itu sungguhlah seorang wanita cantik berkulit coklat yang tubuhnya hanya dibalut oleh perban-perban longgar. Bahkan jika kostum cosplay begitu umum selama musim Natal, pakaian wanita itu tidaklah normal. Naluri si bocah secara otomatis memerintahnya untuk merekam wanita aneh ini dengan menggunakan kamera di ponselnya. Namun penampilan si wanita begitu aneh, sampai-sampai si bocah begitu ragu, apakah dia boleh merekam si wanita berperban ataukah tidak.


Dan di sisi lain, High Priest mengoyak kulit keriputnya, lantas berbicara.


"Ya, tapi selera pria itu membuatku bingung. Meskipun begitu, untungnya pria itu tidak menghancurkan dunia seperti yang pernah dilakukan oleh Othinus, dan dia melihat pembagian yang jelas di sana.”


"Eek! Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?”


Anak laki-laki di antara kerumunan manusia hanya bisa berteriak dengan histeris ketika dia melihat di sampingnya ada seorang mumi, atau mungkin mayat, yang seluruh kelembaban tubuhnya sudah mengering.


Tapi pada saat dia akhirnya memutuskan untuk mengarahkan lensa kamera ponselnya pada pemandangan aneh tersebut, dan juga pada saat kerumunan orang di sekitarnya memperhatikan ke arahnya karena si bocah berteriak begitu keras..........kedua Dewa Sihir ini telah lenyap.


Anak laki-laki itu hanya bisa meratapi nasibnya karena melewatkan suatu hal yang begitu langka. Dan kini yang didapatinya hanyalah tatapan penuh curiga dari orang-orang di sekitarnya.



Chapter 2: Kesempatan Bertemu Antara Dewa Sihir dan Seorang Pembohong — St.Germain,and_LIAR.[edit]

Part 1[edit]


Pada saat itu, Hamazura Shiage sedang mendongak ke atas.


Beberapa detik setelah getaran yang tidak teratur, tampilan digital pada lift berhenti di lantai 29. Lampu merah pertanda peringatan yang biasa ada di film-film drama tidak menyala, tapi itu sesuatu yang jelas-jelas salah.


"Berhenti?"


"Tampaknya begitu."


Hamazura dan Stephanie menggunakan Power Lifter baja setinggi 3m untuk membawa kontainer berisi barang-barang seni, dan lift tersebut cukup besar untuk menampung mereka beserta mesinnya, bahkan masih ada ruang kosong yang tersisa. Tampaknya lift tersebut memang sengaja didisain seperti itu agar sekalian bisa digunakan untuk tempat penyimpanan sementara.


Mungkin, itulah mengapa tidak ada getaran mengerikan pada kaki Hamazura. Lift-nya begitu tebal dan kokoh sehingga sulit untuk membayangkan bahwa kotak itu hanya tergantung oleh seutas kawat*. [Ya, pada dasarnya, lift hanyalah kotak yang digantung pada kabel baja.]


Apapun itu ...


"Apa yang akan kita lakukan? Kita harus mengirimkan benda ini pada tingkat tengah gedung tepat waktu, kan?”


"Itu benar, tapi apakah mereka berhak untuk marah pada kita jika kita terlambat karena kerusakan fasilitas Dianoid? Selain itu ...”


Stephanie menggunakan ponselnya, di dalam mesin raksasa yang dipakainya.


"Aku tidak bisa mendapatkan sinyal dari siaran TV Orbit, tapi itu bukan karena kita sedang berada di dalam kotak tebal ini, bukan?”


"Kamu bercanda. Maksudmu ada serangan teroris atau semacamnya!?”


Hamazura bukan khawatir tentang dirinya sendiri, dia lebih mengkhawatirkan keselamatan rekan-rekannya. Yaitu Takitsubo, Mugino, dan Kinuhata yang sedang menunggu di dalam Dianoid. Sebenarnya, gadis-gadis itu adalah esper tingkat tinggi, sehingga dia ragu ada hal yang bisa membuat mereka kesulitan, tapi selalu ada pengecualian. Jika kekuatan Academy City # 4 adalah absolut, maka mungkin Hamazura sudah mati karena dia pernah tiga kali menghadapi monster yang bernama Mugino itu.


"Sensei, dapatkah kau menelepon stasiun TV Orbit? Bagaimana dengan email?”


"Aku tidak mendapatkan respon melalui email dan ponsel hanya menyanyikan ringtones tiada henti."


"Itu berarti ...?"


"Bukankah sudah jelas? Sampai kita mendapatkan pemberitahuan tentang pembatalan secara eksplisit, kita tidak memiliki alasan untuk berhenti bekerja.”


Mereka bertukar pandangan untuk mengkonfirmasi niat mereka dan kemudian mereka berbalik dengan hati-hati untuk mengamati lift. Setelah memeriksa dinding, langit-langit, lampu, kipas AC, dan segala hal lainnya, mereka akhirnya mendapatkan suatu jawaban.


"Sepertinya ada panel lantai. Lihatlah di sini.”


"Tapi bagaimana kita membukanya?"


"Kita memiliki Power Lifter, bukan? Kita akan menerobosnya dengan menggunakan kaki mesin ini.”


Mesin setinggi tiga meter tersebut menginjak lantai, tapi panelnya bahkan tidak penyok.


"Seluruh Dianoid terbuat dari bahan karbon, bukan?" suara Hamazura terdengar kesal.


"Mereka menggunakan bahan yang sama di rompi antipeluru dan kabel ruang lift."


"Oh, ya ampun. Lalu, mengapa kita tidak membakarnya? Menghabiskan baterai Power Lifter untuk mengirimkan arus listrik bertegangan tinggi melalui material karbon mungkin merupakan ide yang baik. Aku cukup yakin aku pernah mendengar bahwa petir adalah salah satu kelemahan terbesar kabel lift ... ah!”


Dengan suara “dunk” bernada rendah, Stephanie tenggelam ke bawah.


Faktanya, Dianoid adalah bangunan yang kokoh. Namun pasti ada beberapa hal yang merusak fakta tersebut karena panel lantai terbuka dan kaki mesin Stephanie hampir saja jatuh ke ruang kosong di bawahnya.


Stephanie dengan panik memulihkan keseimbangannya.


"Hampir saja. Dan WOW, kita sekarang pasti sedang berada di tingkat tengah karena aku tidak bisa melihat sesuatu pun di bawah kita..”


Hamazura mengintip ke bawah lubang yang berbentuk persegi panjang dan akhirnya rasa takut akan ketinggian menggelitik kakinya.


Dia menganggap lift sebagai kotak besar yang digantungkan pada kawat, tapi ia bisa melihat semacam rel yang terpasang di dinding. Dan bagian tepi dari lift terpasang pada rel tersebut. Dia tidak yakin apakah ini adalah suatu pemandangan yang normal, ataukah rel tersebut adalah peralatan khusus yang dipasang agar lift bisa menahan beban lebih berat. Tapi kemudian Stephanie memberilan penjelasan.


"Ini adalah lift linear. Apakah kau tahu seberapa jauh beda jarak antara tingkat bawah, tingkat tengah, dan tingkat atas? Suatu sistem katrol yang normal hanya akan menyebabkan puluhan orang mengantre di depan lift karena waktu pengangkatan yang begitu lama.”


Suara dari lubang lift itu begitu berisik. Suaranya seperti dengungan mesin cuci.


"Itu mungkin adalah suara dari pompa. Tingkat tengah dikenal sebagai Aqua Palace. Di sana ada kolam renang indoor dan salah satu air mancur terbesar di dunia.”


"Aku mengerti. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”


"Ukuran pintu masuk ruang perawatan sangatlah besar, maka seharusnya kita bisa melewatinya sambil tetap berada di dalam Power Lifter.”


"Bagaimana dengan kontainernya?"


"Tentu saja kita akan keluar sembari menggotong benda ini. Apakah itu masalah? Layaknya lengan, kaki Power Lifter juga dapat mengangkat kontainer itu dengan baik. Tidak masalah jika kita terbalik dan memegangnya hanya dengan menggunakan satu tangan atau satu kaki, jadi mari kita coba beberapa gerakan akrobat rumit untuk keluar dari sini.”


"Apakah kau serius?" erang Hamazura, tapi sepertinya tidak ada jalan keluar lain.


Situasi di stasiun TV tidak jelas, tetapi jika mereka berada di tengah-tengah siaran langsung, meskipun hanya terlambat sedetik, pihak stasiun TV akan mengalami kerugian yang lebih besar daripada suatu kecelakaan kereta.


Mereka harus mengirimkan kontainernya tepat waktu tak peduli apa pun alasannya.


Tak peduli apakah orang dewasa ataukah pelajar, mereka harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada mereka.


Tidak hanya jari-jari mesin yang dibuka oleh Stephanie, dia membuka pergelangan tangan dan bahu layaknya mulut buaya.


"Sekarang, mari kita raih kawatnya, bergegaslah mencapai lantai terdekat, dan buka pintu secara paksa dengan tenaga mesin ini. Aku akan memandumu, jadi kau tetaplah siaga. Jangan sekali-kali mengayunkan kontainernya sampai kita menemukan posisi yang pas.”


"Dalam film-film yang pernah ku tonton, lift selalu menyala di saat yang tidak tepat, dan benda ini akan menghancurkan siapa saja yang bekerja di atasnya.”


"Itu benar. Apakah kau adalah tipe penakut yang lebih senang membayangkan para pembunuh sadis ketika sedang berkemah di vila yang jauh dari keramaian? Sadarkah kau bahwa kau dan aku akan celaka jika semua fantasimu itu jadi kenyataan?”



Part 2[edit]


Seluruh dunia berubah warna.


Mengelilingi Kamijou Touma, lebih dari seratus senjata berduri ditembakkan dari dinding, lantai, dan langit-langit. Seakan-akan Kamijou sedang diselimuti dinding yang terbuat dari duri landak.


Karena musim Natal, ada banyak pria dan gadis yang berlalu-lalang di antara Kamijou dan duri-duri itu.


Namun ada suatu lubang ajaib yang terbuka di antara daging dan tulang mereka. Sehingga mereka sama sekali tidak tertikam oleh duri-duri tersebut. Lubang seukuran kepalan tangan terbentuk di dada, perut, atau tengah wajah mereka, tapi tidak setetes darah pun ditumpahkan. Ratusan duri menghujam Kamijou dari seluruh sudut.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!! ???"


Kamijou Touma hanya bisa menjerit ketika melihat adegan luar biasa tersebut.


Baginya, itu terlihat begitu nyata, dan bukan tipuan murahan untuk menghasut pikirannya.


Sekarang dia sedang berada di mana?


Apakah ini benar-benar tempat yang sama seperti ketika dia berdiri sedetik sebelumnya?


Apakah ini adalah tempat yang sama seperti ketika Dewa Sihir Othinus menghancurkan dunia dan menciptakannya lagi secara berulang-ulang?


Pikirannya kosong.


Ia tidak dapat berpikir dengan jernih dan ada semacam cahaya terang yang membutakan ketika dia hendak melakukan sesuatu.


Bagaimana jika pesulap tua ini benar-benar adalah seorang Dewa Sihir? Bagaimana jika ia memiliki kemampuan yang sama dengan yang Othinus miliki? Kala itu, Kamijou berhasil berdiskusi dengan Othinus. Ada suatu kebajikan dalam hati Othinus sehingga itu bisa saja terjadi. Tapi apakah orang ini juga demikian? Akankah Kamijou sanggup melewati semua kegelapan dan dunia tak tehingga hanya untuk mencari tahu? Dan bagaimana jika setelah melakukan semua itu, pikiran dan tubuhnya jadi compang-camping, dan dia masih saja tidak menemukan apa-apa? Bagaimana jika pikiran orang ini hanya berisi suatu keegoisan yang sudah tidak bisa ditawar dengan diskusi, dan dia melakukan ini semua hanya karena alasan kesenangan hati? Itu sama saja dengan melintasi gurun tanpa sebotol minuman pun. Itu sama saja dengan mencari oasis di tengah padang gurun dan akhirnya hanya menemukan suatu fatamorgana. Dan Kamijou tahu betul betapa menakutkannya seorang Dewa Sihir. Dia paham betul akan hal itu, karena dia pernah mengarungi gurun yang tak lain adalah neraka dunia terdistorsi abadi. Sehingga dia tak ingin sembarangan dan ngawur dalam menghadapi situasi ini


Dia tidak bisa menang.


Dia tidak bisa.


Ada ratusan senjata mematikan yang menyerangnya dan itu adalah kekuatan sejati dari Dewa Sihir. Dia harus menghadapinya jika ingin selamat.


Namun, tiba-tiba ada suatu pemikiran yang memasuki kepalanya ...


"Ups."


Itu adalah suara yang tenang.


Pada saat Kamijou menyadari bahwa suara itu datang dari si pria tua dengan jas berekor di depannya,


Pemandangan telah berubah lagi.


Dinding dan langit-langit yang meleleh sudah kembali normal.


Anak laki-laki dan perempuan yang berjalan di sekitar kembali normal dan tidak ada lagi lubang-lubang ajaib di sekujur tubuh mereka.


Kepungan duri-duri dari segala penjuru juga telah lenyap.


Seolah-olah, segala sesuatu yang Kamijou lihat hanyalah ilusi belaka.


(Tidak)


Namun, yang Kamijou rasakan begitu nyata sehingga dia menolak pemikiran bahwa apa yang sudah dilihatnya hanyalah suatu khayalan.


(Aku tidak gila dan itu bukan ilusi. Semuanya terjadi dalam suatu rentang waktu. Tidak ada dunia pararel dan tidak ada waktu yang diputar balik. Itu tadi sungguh-sungguh terjadi. Itu adalah suatu pemandangan yang benar-benar berubah, ratusan duri benar-benar ditembakkan, dan aku benar-benar melihat lubang untuk jalur lewat duri pada tubuh orang-orang itu. Dan setelah itu ... ada fase* yang ditambahkan untuk mengembalikan ke dunia semula!?) [Baca NT Vol 9.]


"Ini adalah kesempatan yang sempurna, tetapi akan menjadi suatu hal yang memalukan jika aku kehilangan 'itu'."


Suatu suara menghentikan pemikiran Kamijou yang masih ling-lung.


Panas yang terjebak dalam tubuhnya meledak dalam bentuk keringat.


Sementara itu, si Dewa Sihir melihat ke arah lain.


Dia sama sekali tidak menghiraukan seorang pria yang mengepalkan tinjunya di hadapannya.


"'Itu sebabnya aku berada di sini. Aku akan malu jika aku kehilangan kesempatanku sembari berurusan dengan pekerjaan sampingan ini.”


Suatu suara “klak” mencapai telinga Kamijou.


Pada saat ia menyadari bahwa itu adalah suara tongkat yang dihentakkan di lantai, beberapa jeda terjadi antara dia dan si Dewa Sihir.


Dan setelah jeda itu berakhir, Dewa Sihir dengan jas berekor sudah hilang.


“………………………………………………………………………………………………………………………”


Kakinya gemetar.


Kekuatan meninggalkan pinggulnya dan gravitasi menariknya ke tanah.


Dia bahkan tidak bisa mengatur napasnya dalam irama yang tepat.


"Touma, apa itu !?"


"Aku hanya mengalihkan pandangan darimu sebentar dan kau sudah menyebabkan keributan? Betapa tak berguna.”


Tiba-tiba, ia menemukan Index dan 15 cm Othinus mendekat.


"Keributan" yang terjadi barusan tampaknya tidak berlaku bagi si Dewa Sihir.


Kamijou Touma tiba-tiba menjerit dan jatuh ke tanah.


Gadis setinggi 15 cm itu adalah satu-satunya tanda bahwa dia kini sedang berada di dunianya yang semula.


"Othi ... nus?"


"?"


Dia mulai ragu-ragu.


Dia menengok ke arah gadis setinggi 15 cm itu. Dia telah menghabiskan suatu jangka waktu yang begitu lama bersama-sama dengan gadis itu. Dan Kamijou pun menanyakan suatu pertanyaan dengan ekspresi tersenyum disertai sedikit tangisan.


"Apakah ini masih dunia kita?"


"Apa?"


“Kaulah yang mengembalikan dunia ini, jadi aku ingin mendengar jawabannya darimu. Kita tidak sedang berada di suatu labirin tanpa akhir, kan?”



Part 3[edit]


"Haaaahhh.....Haaaahhhhh....."


Di balik pilar, di lantai yang sama, sepasang tangan kecil memegang mulut dan sepasang pantat kecil duduk dengan menekan lantai. Ada orang lain di sana. Itu adalah seorang anak laki-laki dengan rambut semi-panjang coklat, mengenakan jaket hitam yang dikerudungkan di kepalanya, celana pendek, sepatu, kemeja berwarna biru langit terang layaknya es krim mint, dan kaus kaki yang berwarna sama.


Itu adalah Aihana Etsu.


Meskipun tangannya diletakkan di mulutnya, beberapa napas yang berat terselip di antara jari-jemarinya.


(Apa…...itu tadi?)


Dia tidak bisa memahami apa yang telah dilihatnya beberapa saat sebelumnya. Orang sering mengatakan bahwa "apa yang kau lihat adalah apa yang kau percayai ", tetapi ketika seseorang melihat sesuatu yang tidak atau sulit dia percayai, suatu beban akan menimpa hatinya.


(Apa-apaan itu tadi!?)


Pemandangan telah sepenuhnya berubah.


Duri yang tak terhitung jumlahnya telah ditembakkan layaknya tombak.


Kata “Chambord” telah diucapkan sebelum itu terjadi, apakah itu adalah namanya?


Untuk mengamankan jalur tembakan duri-duri itu, lubang-lubang seukuran kepalan tangan terbuka di sekujur tubuh orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.


Dan kemudian, semuanya telah kembali normal dalam sekejap mata.


Itu adalah suatu adegan yang benar-benar jelas, bahkan seharusnya dia tidak akan melewatkan adegan itu hanya dengan berkedip beberapa kali.


(Apakah itu rahasia dari Dianoid?)


Mungkin iya.


Mungkin tidak.


(Tidak, tidak masalah jika ini bukanlah apa yang aku cari. Bahkan jika aku berkeliling di sisi lain dari gedung, aku tetaplah bisa melihat keanehan itu karena semuanya terjadi dengan begitu nyata.)


Dia datang ke sini untuk mencari temannya yang hilang.


Dia bahkan telah memalsukan kartu ID pelajar dengan nama Aihana Etsu, yaitu sang Academy City Level 5 # 6.


Teman gadis yang dia cari memiliki tempat persembunyian rahasia di apartemen tingkat atas dan mungkin saja, petunjuk hilangnya si gadis masih tersisa di sana.


Tapi ...


Meski begitu ...


(Dapatkah aku ... terus melanjutkan semua ini?)


Dia terguncang.


Dia bergoyang.


Sekali lagi, dirinya yang lemah menunjukkan wujudnya. Setiap kali terlibat dalam suatu masalah, jiwanya akan terguncang, pikirannya akan menjadi kosong, dan air mata akan mengalir sebelum dia sanggup menahannya. Dia tidak sungguh tidak ingin menyerah. Namun setiap kali memikirkan itu, ada suatu bendera putih yang berkibar di dalam pikirannya.


Kelopak matanya digenangi oleh air.


Ketika air itu mulai menetes, dia berhasil untuk menahannya sehingga pipinya masih kering.


(Apakah aku ... Apakah aku benar-benar memiliki keberanian untuk masuk lebih dalam ke Dianoid, sedangkan, tempat ini dipenuhi oleh monster-monster seperti itu yang terus berkeliaran?)


Ada bisikan suara yang menyarankannya agar menyerah saja.


Kau jelas-jelas tidak akan dapat mencapai sesuatu pun di tempat ini. Kau tidak akan memperoleh sesuatu pun sampai akhir hayatmu. Kau selalu meringkuk, memeluk lututmu dengan kedua tanganmu, dan meneteskan air mata menyedihkan. Dan pada akhirnya, kau hanya akan menyerah tanpa pernah bisa berdiri kembali. Jadi, menyerahlah saja sekarang. Kau harusnya bersyukur karena tidak tertusuk oleh duri-duri itu. Hanya itu pencapaian terbesar di dalam hidupmu. Kau sudah bekerja keras untuk sampai sejauh ini, sehingga paling tidak, kau harus memberikan penghargaan terhadap usahamu ini. Dan penghargaan yang paling pantas adalah menyerah.


Pada saat itu, suara yang berbeda melintas di pikirannya.


"Pada akhirnya, ini semua hanyalah permasalahan tentang bagaimana sudut pandangmu ."


Ini bukanlah suara hati Aihana Etsu.


Itu adalah pemikiran orang lain yang dituangkan dalam bentuk kata-kata dan dijejalkan ke dalam telinganya..


Ini adalah kata-kata milik si gadis yang telah diberikan kepadanya ketika mereka berdua berjalan menyusuri kota bersama-sama.


"Maksudku, jika kau melihatnya dengan sudut pandang lain, seseorang akan melihatmu sebagai pria yang meneteskan air mata ketika melihat tragedi yang menimpa orang lain, kan? Artinya kau tidak perlu malu. Bahkan, aku pikir, kau harus bangga akan hal itu.”


(...)


"Persetan dengan ini semua."


Dia masih meringkuk di lantai.


Meski begitu, ia menggunakan punggung tangannya untuk menghapus air mata yang hendak membasahi pipinya yang lembut. Seolah-olah mematikan keran, ia secara mental menahan air mata yang berlinang di kelopak matanya.


Dia membenci fakta bahwa dia adalah seorang yang cengeng, tapi seorang gadis telah menerima dia apa adanya.


Si gadis mengatakan bahwa : tidak ada yang salah dengan menitihkan air mata ketika seseorang ingin menangis. Si gadis mengatakan bahwa menangis adalah cara pelampiasan seseorang agar tetap tegar menghadapi cobaan, cara berbagi emosi dengan sesama, dan tanda bahwa seseorang sedang membutuhkan perhatian orang lain.


Sebenarnya dia tidak terlalu memahami identitas asli dari si gadis.


Dia tidak bisa membayangkan seperti apa kepribadian si gadis yang sebenarnya.


Tapi dia ingat benar senyuman si gadis dan dia bersumpah untuk terus menjaga senyuman itu agar tidak lenyap bagai debu.


"Aku tidak akan menangis."


Dia ragu bahwa si gadis memberikan pujian pada tangisannya.


Tangisan yang dibuatnya bukanlah suatu tanda bahwa dia sudah menyerah, merelakan semua hal, dan lari dari kenyataan.


"Ini bukan tempat untuk menangis."


Aihana Etsu berusaha untuk melenyapkan kepribadiannya yang begitu cengeng.


Dengan punggung menempel pada pilar tebal, dia mengumpulkan kekuatan di kakinya yang gemetaran layaknya rusa yang baru lahir dan perlahan-lahan berdiri.


Dia akan mencari si gadis.


Dia akan melacak keberadaan si gadis.


Jika ia kehilangan kesempatan ini, ID pelajar palsu yang selama ini dia andalkan akan segera ditemukan. Dia tidak akan pernah bisa menyusup ke Dianoid lagi, jadi ini adalah kesempatan pertama sekaligus yang terakhir.


Tidak peduli apakah ini semua hanyalah tipuan. Dan dia tidak perduli bahwa dia meminjam reputasi orang lain.


Untuk saat ini, ia adalah # 6.


Dia akan menyelesaikan ini sebagai Aihana Etsu.


Dia perlahan menghela napas dan menghadap ke depan sekali lagi.


"Hai."


Seorang pria dengan jas berekor berdiri tepat di depannya.


Seketika, dia kehilangan semua kekuatan untuk melanjutkan semua upayanya ini.


Hanya beberapa detik setelah dia berhasil menumbuhkan semua kepercayaan diri dan keberaniannya.....namun kini, semuanya berbalik 180º.



Part 4[edit]


Pada tingkat bawah Dianoid, ada beberapa pintu putar yang tampaknya terbuat dari kaca, tapi itu benar-benar cukup kuat untuk menahan tabrakan truk yang menerjang dengan kecepatan penuh. Pintu masuk utama penuh sesak dengan anak laki-laki dan perempuan yang terjebak di dalamnya.


Tidak ada aksi saling dorong atau berdesakan, tetapi beberapa suara berbisik di tengah suasana menyedihkan tersebut.


"Akhirnya, kita dapat satu."


"Apakah mereka bersama dengan Aihana Etsu sekarang? Terlepas dari itu, setidaknya kita sudah memilikinya.”


Ada sesuatu yang sungguh nampak aneh di situ.


Dan itu melihat situasi dari perspektif objektif.


"Kontainernya juga telah memasuki stasiun TV dengan aman."


"Kita bisa saja menciptakan benda itu dari ketiadaan, tapi aku kira, memanfaatkan benda yang sudah ada adalah prioritas utama. Tidak peduli seberapa hati-hati kau menciptakannya, benda yang alami adalah yang terbaik. Dan kita tidak boleh mengulangi kesalahan Othinus, yaitu menciptakan sesuatu yang setengah komplet.”


Mereka mengevaluasi situasi.


Dan evaluasi itu menyesuaikan beberapa jalur imajiner.


"Tinggal Kamijou Touma."


"Pria itu selalu bisa diabaikan, tetapi kita perlu mengingat apa yang sudah terjadi pada Othinus."


Mungkin tak ada artinya mengucapkannya dengan keras.


Mungkin lebih baik mereka meneruskan pengevaluasiannya.


"Bisa bernegosiasi dan berdiskusi dengan seorang Dewa Sihir adalah suatu hal yang cukup ireguler. Mungkin pria harus dipandangan sebagai Gap negatif dalam suatu kisi.”


"Dia adalah prioritas yang rendah."


Tapi suara dia melanjutkan perkataannya.


Seolah-olah mereka menempatkan suatu ruang ekstra antara bagian-bagian mesin untuk mencegah terjadinya masalah yang tak terduga.


"Tapi, begitu tugas ini selesai, mungkin lebih baik jika kita menggunakan kekuatan besar untuk melenyapkan pria itu.”



Part 5[edit]


Suara raungan besar meledak.


Pintu otomatis lift, yang menyerupai pintu geser terbuat dari kayu, dilepaskan dari rel dan rodanya dienyahkan.


"Fiuh. Sepertinya, kita akhirnya bisa beristirahat.”


Stephanie Gorgeouspalace merangkak keluar dengan gerakan halus sembari tetap berada di dalam Power Lifter miliknya. Berikutnya, Hamazura Shiage berhasil lolos dari lubang lift.


Dan tentu saja mereka membawa kontainer yang terlihat seperti peti mati.


Mereka berada di tingkat tengah Dianoid. Tingkat di bawahnya memiliki atrium yang dipenuhi dengan toko-toko kecil layaknya sarang lebah, tapi lantai ini dibuat agar orang-orang di dalamnya merasakan sensasi luas dan lapang. Mungkin karena bahan karbon, lantai tampak seperti lantai kayu dojo* atau panggung teater Jepang, dan bukannya mirip gym. Pencahayaan tidak langsung diberikan oleh lentera kertas berbentuk persegi. [Dojo adalah tempat latihan tradisional orang Jepang yang hampir semua bangunannya terbuat dari kayu.]


Fitur utama tingkat tengah adalah tangki air yang tertanam di dinding layaknya jendela, saluran air dekoratif yang terletak di tepi ruangan, dan dekorasi-dekorasi lainnya yang bernuansakan air.


Dan entah kenapa, orang-orang yang berlalu-lalang di sana juga tampak berbeda.


Mereka tidak mengenakan pakaian modis seperti yang biasa dipakai oleh warga Distrik 15. Banyak orang yang mengenakan kaus santai, celana jins, rok panjang keriput dan turtleneck*. [Turtleneck adalah sejenis sweater yang kerahnya menutup semua bagian leher.]


"Sepertinya kita keluar di sisi stasiun TV."


"Apa?"


"Aku sudah mengatakan bahwa tingkat tengah dibagi menjadi kantor TV Orbit dan layanan indoor seperti panggung tontonan dan kolam renang, kan?”


"Oh, benar. Dan kita menggunakan lift yang terhubung ke tempat parkir staf. Aku merasa seperti, kita menggunakan terowongan vertikal rahasia yang dibuat agar para artis bisa pergi tanpa terlihat oleh publik.”


"Mari kita pergi check-in sebagai pengunjung di pintu gerbang dan memberikan kontainernya."


"Ya, sepertinya sekarang ada sedikit keributan yang sedang terjadi."


Gerbang itu tidak jauh dari ruang lift. Suatu pintu putar murahan yang memiliki satu poros terdapat di sana, dan dua orang penjaga mengenakan seragam biru tua berdiri di sampingnya. Meja resepsionis-nya pasti berada di lantai yang berbeda karena tidak ada petugas resepsionis ataupun counter di sini.


Power Lifter milik mereka bisa dengan mudah menembus pintu itu, tapi tempat ini adalah titik pemeriksaan "terowongan vertikal rahasia", sehingga jika mereka sudah menginjakkan kaki di sana, sepertinya mereka sudah dipercaya. Ini tidak berbeda dengan para petugas keamanan bandara yang ketat, namun ketika sudah masuk dan melewati pintu pemeriksaan, para penumpang bisa bersantai semau mereka.


"Hai. Kami memiliki kontainer untuk Produser Endou dari acara Hadiah Kuis Histeris. Apakah kau ingin memindai isi kontainer ini?”


Setelah Stephanie berbicara dengan penjaga sebentar, mereka membuka pintu gerbang pengiriman yang terletak di sebelah pintu putar. Beberapa pria muda tiba, kemudian mereka mendorong beberapa gerobak pengangkut barang yang amat besar, jadi sudah waktunya untuk menyerahkan semuanya kepada mereka. Mereka dengan lembut menempatkan kontainer mirip peti mati tersebut pada gerobaknya, mengamankannya, dan menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa mereka telah mengoper kontainernya kepada pihak yang lebih berhak.


"Terima kasih banyak," kata salah satu penjaga sambil membungkuk.


"Tentu. Ngomong-ngomong, apakah kau tahu apa yang sedang terjadi di luar?”


"Di luar?"


Penjaga itu tampak bingung, jadi Stephanie tersenyum dan melambaikan salah satu tangan raksasa Power Lifter-nya.


"Oh maaf. Kami baru saja terjebak dalam lift, jadi aku pikir, aku harus melaporkan kerusakan itu padamu. Jika lift tersebut tidak kembali diaktifkan, kami harus menggunakan tangga untuk turun ke bawah. Tentu saja, kita punya Power Lifter, sehingga aku kira, kami tidak akan menemukan kesulitan berarti ketika turun.”


Begitu dia mengatakan itu, seorang wanita muda berbicara. Dia mengenakan kardigan* yang membalut gaun panjangnya. Tampaknya, dia bekerja di bagian produksi, dan bukan sebagai artis. [Kardigan adalah rompi berlengan panjang.]


"Wow, mereka benar-benar mengirimkannya dengan sesuatu yang menakjubkan. Apakah yang kalian kenakan itu adalah suatu peralatan khusus dari Anti-Skill atau Judgement? Yah, itu tidak masalah sih. Jika kalian bisa mengoperasikan benda-benda sebesar itu, bisakah kalian melakukan sesuatu terhadap ini?”


Kebingungan, Stephanie menjawab pertanyaan wanita itu dengan pertanyaan lainnya.


"Apa yang sedang terjadi? Seorang esper mengamuk? Atau apakah ada hewan buas peliharaan artis yang melarikan diri dari sangkarnya?”


“Kau benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi, kan? Aku sedang berbicara tentang pintu keluarnya. Entah kenapa, semuanya disegel. Tidak hanya lift yang rusak, tapi kita tidak bisa membuka pintu yang menuju ke tangga darurat.”


Tampaknya, wanita ini belum meninggalkan kantor selama beberapa hari. Itu terlihat dari bau tubuhnya yang mulai tidak sedap dan dia berbicara dengan nada jengkel.


"Bukannya terkunci atau ada beberapa sistem yang tidak bekerja dengan wajar. Aku tak yakin, apakah itu terjadi pada bagian engsel ataukah rel, namun beberapa komponen pintu telah mencair dan menyatu bersama-sama. Pintu-pintu itu tidak mau terbuka, tidak peduli seberapa kuat kami menarik atau mendorongnya. Lampu lift bahkan tidak berkedip, jadi aku punya perasaan bahwa seluruh bagian di bangunan ini sedang terkurung.”


"Aku mengerti."


“Kau tidak paham tentang apa yang dimaksudkan wanita itu, kan?"


Hamazura memotong perkataan Stephanie, tapi sensei-nya itu benar-benar mengabaikannya.


Wanita bergaun terus berbicara.


“Tadi kalian sanggup menghancurkan pintu lift, bukan? Dapatkah kalian melakukan hal yang sama pada pintu penghubung tangga darurat sehingga kami bisa turun?”


Hamazura dan Stephanie saling melirik.


"Segala sesuatu di Dianoid terbuat dari bahan karbon yang begitu kokoh, bukan?"


"Oh, sial. Aku bertaruh, bahkan pintu darurat juga terbuat dari material yang sangat padat. Apakah Power Lifter ini cukup untuk menerobosnya?”


Mereka berdua berjalan dengan susah payah sambil mengenakan mesinnya untuk mengecek daerah sekitar.


Ketika mereka mendekat, para pria dan wanita berkumpul di koridor dan menjauh dari pintu. (Namun demikian, tampaknya mereka begitu berharap dengan sosok Power Lifter yang begitu kuat.) Harapan itu sepertinya adalah efek dari keputusasaan mereka.


Tingkat tengah meliputi lantai ke-20 s/d lantai ke-40.


Dengan lumpuhnya jalur lift dan tangga darurat, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Memecahkan jendela dan keluar darinya bukanlah pilihan yang tepat. Ini bukanlah film laga, jadi tidak ada orang yang cukup konyol untuk mempertaruhkan hidupnya hanya dengan mengandalkan kemampuan panjat tebing.


Bahkan menuruni tangga dari ketinggian seperti ini adalah suatu hal yang bodoh, tapi mereka tidak bisa hanya duduk dan menunggu sampai lift-nya nyala kembali. Dan mereka pun tak tahu kapan lift itu akan nyala kembali.


Apakah mereka benar-benar akan menggunakan tangga darurat ataukah tidak, mereka harus mendobrak pintu penghubungnya terlebih dahulu.


Jika mereka sungguh berhasil membukanya, mereka bisa bersantai sembari menunggu pulihnya lift. Paling tidak, keadaan mental mereka bisa sedikit lebih tenang.


Namun ...


"Huh? Oh sial! Benda ini sama sekali tidak akan bergeming!!”


"Stop! Tunggu, sensei! Silinder lengan mesinmu membuat suara layaknya gerinda. Dan Aneri memperingatkanmu bahwa jika kau terus melakukannya seperti itu, mesinnya akan terbakar!”


Singkatnya, mendorong, menarik, atau memukul tidaklah berguna di sini.


Mereka bahkan tidak bisa membuat pintu itu penyok, apalagi menembusnya.


Tidak peduli berapa banyak mereka membanting tinju baja terhadap pintu itu.


"Itulah karbon. Aku rasa tidak ada material yang lebih kuat atau awet dari itu.”


"Dan itu terlihat seperti pintu geser yang terbuat dari kayu."


Kekecewaan pada suara Hamazura dengan cepat menyebar. Orang-orang belum berputus asa untuk mengandalkan kekuatan mesin milik Hamazura, tapi mereka juga memberikan tatapan sinis kepadanya. Seakan-akan mereka melakukan protes tanpa suara.


Ini membuat Hamazura menjadi canggung, tapi ia memiliki hal lain yang perlu dikhawatirkan.


Dia meraba pintu darurat tersebut dengan jari-jari baja.


"Apa yang menyebabkan jadi seperti ini? Dari apa yang kita dengar, sepertinya ini bukanlah suatu kecelakaan.”


"Apakah kau mengatakan bahwa ada seseorang yang menyebabkan ini semua?"


"Tapi jika memang demikian, mengapa mereka ingin menjebak kita di sini?"


"Itu pertanyaannya. Dan aku ragu mereka bisa membuat kita terkurung lama di sini.”


"?"


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, bahan karbon lemah terhadap api atau listrik bertegangan tinggi. Mungkin pintu ini tidak bergeming bahkan jika kita memukul, menendang, dan menabrakkan truk padanya, tetapi ketika Anti-Skill mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah, mereka pasti langsung datang sambil membawa obor asetilena*. Kemudian mereka akan membakar pintu ini untuk membuat jalan keluar dengan paksa. Walaupun begitu, aku menolak untuk membuat semacam kebakaran di sini. Aku tidak mau menambah catatan kriminalku lagi karena para pemadam kebakaran pasti akan datang dengan segera.” [Asetilena (Nama sistematis: etuna) adalah suatu hidrokarbon yang tergolong kepada alkuna, dengan rumus C2H2. Asetilena merupakan alkuna yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari dua atom karbon dan dua atom hidrogen. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]


Tidak ada gunanya mendobrak pintu yang tidak bisa dipenyokkan hanya dengan menggunakan kekuatan fisik, jadi mereka berdua mulai menjauh darinya.


"Jadi mereka hanya perlu menunggu sedikit lebih lama sampai para Anti-Skill itu datang? Apakah mereka sanggup menunggu dengan sabar, sedangkan mereka punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan di luar sana?”


"Betapa merepotkan," kata Stephanie.


Mereka tidak akan tenang walaupun bermandikan ion negatif dari air terjun*. [Betapa di bawah air terjun diyakini bisa menenangkan pikiran seseorang. Karena airnya diyakini mengandung ion negatif yang bisa mengobati berbagai kepenatan hidup.]


Tangga dan lift sudah tidak bisa berfungsi, sehingga hanya ada satu pilihan di sana. Itu adalah lubang yang mereka buat ketika masuk ke ruangan tersebut, yaitu lubang yang terdapat di lift.


Memanjat ke atas atau bawah dengan tangan telanjang sama saja dengan upaya bunuh diri, tapi mereka berdua memiliki Power Lifter.


"Untungnya, kami berhasil memberikan kontainernya, tetapi masalahnya tidak akan selesai sampai kita semua keluar dari gedung ini, jadi kita perlu membuat jalan keluar jika memungkinkan.”


"Aku sudah mengira bahwa kau akan mengatakan itu."


Mereka berdua memutuskan bahwa mereka hendak menggunakan cara yang sama ketika datang dan memasuki ruangan tersebut.


Suara Hamazura terdengar datar karena beberapa temannya sudah datang ke Dianoid dan mereka pasti telah menunggu lama.


Rekan-rekan Hamazura juga berada di lantai tengah, tetapi stasiun TV tidak terhubung ke fasilitas indoor. Itu sengaja dilakukan untuk mencegah agar para artis tidak berbaur dengan para pengunjung biasa. Jika dia ingin bertemu dengan Takitsubo dan yang lainnya, ia harus terlebih dahulu membuat jalan ke bawah atau tingkat atas, kemudian mencari suatu terowongan rahasia di tingkat tengah. Apa pun itu, itu adalah suatu pekerjaan yang lama dan melelahkan.


Mereka tidak bisa menggunakan lift atau tangga pada saat ini, tapi mereka bisa menggunakan Power Lifter untuk memanjat ke atas atau turun ke bawah lubang lift.


Namun, mereka hanya boleh meminjam mesin tersebut untuk keperluan kerja.


Sulit untuk meyakinkan Stephanie bahwa mesin-mesin tersebut harus digunakan untuk sesuatu yang lain.


"Hamazura."


"Apa?"


Suatu jalur kebebasan tunggal terpampang di hadapan mereka.


Stephanie berbicara selangkah di depan lubang lift.


"Aku yakin kau sudah tahu akan hal ini, tapi alat ini bukan milik pribadi kita. Bahkan jika mesin-mesin ini merupakan peralatan sipil yang tidak memerlukan lisensi, kau masih dapat membunuh seseorang jika kau menggunakannya dengan salah.”


Hamazura siap untuk mengatakan bahwa ia mengerti, sensei-nya memotongnya.


"Tapi untuk menjaga keamanan menjadi prioritas utama dan mengatasi kesulitan sejak awal, kita perlu dengan cepat menghilangkan apa saja yang bisa mempengaruhi efisiensi kerja kita. Bahkan jika itu tidak memiliki koneksi langsung ke pekerjaan kita.”


Hamazura tidak punya kata-kata untuk diucapkan.


Sambil tercengang, ia menatap atasannya dan melihat senyum menggoda di bibirnya.


"Dengan begitu banyaknya kebingungan yang terjadi di hari ini, tidak akan ada yang memeriksa dengan teliti jikalau kita sedikit menyelewengkan penggunaan mesin ini. Aku ragu siapa pun di Distrik 2 akan memantau tindakan kita sementara kita terjebak di dalam Dianoid.”


"Eh? Tapi ...”


"Oh, ayolah! Bukannya kau ingin segera bertemu dengan mereka untuk bersenang-senang? Pergilah dan periksa untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja dan kemudian kembalilah bekerja! Aku akan mengembalikan Power Lifter di Distrik 2, tetapi setidaknya kau harus kembali ke truk di tempat parkir !!”


Stephanie menepuk punggung Hamazura.


Namun, tampaknya Stephanie telah lupa bahwa dialah yang menggunakan Power Lifter tersebut dengan begitu mahir. Dia bahkan bisa mengoperasikan mesin itu untuk mengangkat kontainer dengan hanya menggunakan satu tangan.


Hamazura mengintip ke dalam lubang lift yang menganga melalui pintu yang sebelumnya telah mereka rusak, jadi apa yang akan terjadi ketika seseorang memukul punggungnya?


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?"


Dia terbalik dan jatuh.


Pelakunya menggaruk kepalanya sambil tangannya memegang kabel joystick dan dia mendesah secara tidak bertanggung jawab.


"Ahh, ahh. Kau memberikan orang itu kesempatan dan ia membuangnya.”



Part 6[edit]


Itu adalah situasi yang aneh.


Lift dan tangga lumpuh total dan semua orang terjebak di lantai tingkat tengah. Orang-orang yang khawatir bergegas menuju pintu keluar, tapi itu sia-sia saja. Tidak ada orang yang mencoba menyentuh pintu setelah mereka menyadari bahwa peralatan tersebut telah dirusak. Akibatnya, mereka terhentak tepat di depan pintu darurat yang masih tertutup. Dan mereka berdempetan seperti susunan kartu domino


Bahkan dengan adanya puluhan orang berisik di sekitarnya, mata Takitsubo Rikou masih saja berputar-putar tanpa tujuan.


Mugino Shizuri dan Kinuhata Saiai berbicara di depannya.


"Aku sudah memeriksa sendi pada pintu darurat, semuanya telah meleleh dan bersatu. Bukannya mirip seperti pintu yang terkunci dan bukannya mirip seperti pintu yang dihalangi dengan tumpukan furniture. Ini lebih mirip seperti, pintu tersebut dicor oleh dinding yang begitu tebal.”


"Jadi apakah ada esper yang melakukan hal ini?"


"Kerusakan pada level ini, masih mungkin diakibatkan oleh peralatan berteknologi tinggi, tapi bagaimanapun juga, ini terkesan disengaja. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya atau apa alasannya, tetapi bukankah ada orang-orang super kaya yang menggunakan Dianoid sebagai brangkas uang karena konstruksinya yang solid? Terutama di apartemen pada tingkat atas. Menurutku, tempat-tempat itu tidak cocok sebagai rumah hunian warga.”


"Ya." sepertinya, Mugino dengan samar-samar mengingat sesuatu.”Tidakkah Frenda memiliki semacam persembunyian di sini?”


"Dia mungkin berpikir bahwa itu adalah tempat rahasia, tapi itu super jelas. Jadi apakah kau berpikir bahwa ini adalah sejenis bisnis sampingan baginya? Dia memiliki keterampilan kimia yang begitu baik tentang bahan peledak, tapi tampaknya dia bukanlah tipe orang yang suka berhubungan dengan para petinggi atau kaum rendahan.”


"Sangat mencurigakan, dia bahkan tidak pernah meminum obat flu, jadi dia tidak akan membuat sesuatu seperti 'batu permen'. Tempat itu mungkin merupakan lahan tes untuk bahan peledak jenis baru.”


Itu adalah tempat yang cukup berbahaya, tetapi itu belum cukup untuk mengejutkan ITEM.


Mereka mengambil cuti dari pekerjaan sehari-hari, tapi mereka masihlah anggota dari sisi gelap kota.


Takitsubo memiringkan kepalanya dan mengajukan pertanyaan sembari matanya masih saja berkeliaran tanpa tujuan.


"Apa yang akan kita lakukan, Mugino?"


"Tidak terlalu penting. Aku tidak tertarik untuk membobol brangkas besi. Kita harus menentukan keputusan, tapi aku melihat dua pilihan yang nyata di sini. Yang pertama adalah, menemukan Hamazura yang mungkin sedang berada di tempat lain pada lantai tengah ini.”


"Apa pilihan super yang kedua?"


"Membuat jalan keluar dengan rute tercepat. Seperti ini misalnya.”


Saat ia berbicara, Mugino dengan santai mengulurkan tangannya secara horizontal.


Sesaat kemudian, sinar cemerlang melonjak luar dan merobek dinding Dianoid yang dapat menahan hantaman langsung dari meriam kapal perang.


Itu adalah kekuatan Academy City Level 5 # 4, Meltdowner.


Tembakan cahaya ultra tersebut adalah hasil dari pencegahan elektron agar tetap berada pada fase ambigu*. Pintu darurat dan dinding di sekitarnya langsung saja berubah menjadi lubang yang berbentuk lingkaran sempurna berdiameter sekitar 2m. Tepi lingkaran tersebut menyala dengan warna oranye. Tak jelas apa yang sudah terjadi pada material yang tadinya berada di tengah-tengah lingkaran berpijar itu. Pemandangan itu seakan-akan mengabaikan hukum dasar kekekalan massa. [Yah, pernah Ciu jelaskan di suatu catatan tertentu.]


Kebisingan di sekitar sudah mulai jadi tenang. Dan ini disebabkan oleh.........


Pertama, orang-orang di dalam gedung telah hanyut dalam rasa takut akibat kekuatan Mugino Shizuri yang sanggup meleleh bahan karbon secara langsung.


Kedua, pintu keluar akhirnya dibuka, tapi tidak ada orang yang ingin mendekatinya karena tepi lubang tersebut masih berpijar dan berwarna oranye.


Dan ketiga ...


Dengan suara seperti tali yang hampir putus, garis yang tak terhitung jumlahnya menyebar secara horizontal dan vertikal. Garis-garis itu menutup lubang berpijar dengan membentuk kisi.


Jalan menuju kebebasan hanya terbuka dalam kurun waktu 5 detik saja.


Bahan bangunan mengalir keluar dan menyebar melalui garis-garis tersebut. Material baru mengisi dan memperbaiki lubang pada dinding yang baru saja dibuat oleh #4.


"?"


Setelah memiringkan kepalanya dengan gerakan centil, Mugino melepaskan tembakan kedua.


Kemudian, tembakan ketiga, keempat, kelima, dan keenam.


"T-tunggu, tunggu, tunggu! Mugino, tunggu!”


“Kau menembak terlalu banyak! Mugino, itu super terlalu banyak !! Dan mengapa aku harus super mengambil peran Hamazura sebagai pengontrol dirimu!?”


"Tapi tembok itu beregenerasi."


"Mugino, itu bukan alasan."


"Dan super berhentilah memasang bibir cemberut di wajahmu! Semua orang di sekitar kita super panik! Cobalah pahami situasinya!!”


"Seorang gadis nitrogen menyuruhku untuk membaca situasi? Heh heh heh. Kau hanya semakin menambahkan resiko, gadis kecil.”


"Ahh! Ini terlalu sulit untuk bisa kutangani! Apakah kau tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini !?”


Pembuluh darah Kinuhata melotot keluar di wajahnya dan Mugino meraih dahinya untuk menahan gadis kecil itu agar mundur.


Takitsubo yang mengenakan jaket olahraga hanya bisa membisu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Kita memiliki dua pilihan. Pertama, kita bisa menyerah dan melarikan diri. Kita akan menemukan Hamazura, mencari beberapa jalan keluar dari sini, dan melihat siapakah bajingan yang menyebabkan semua kekacauan di dalam Dianoid ini.”


"Pilihan super apa yang kedua?"


"Itu sudah jelas."


Kinuhata menyesali pertanyaannya setelah dia menyadari bahwa jawabannya sama saja dengan yang tadi, tapi itu sudah terlambat.


Dia mendengar beberapa suara seperti cahaya yang mengisi tabung neon.


Ya, beberapa.


Sepuluh sampai dua puluh titik cahaya seukuran kepalan tangan melayang di sekitar # 4.

NT Index v12 135.png

"Kita akan terus mencoba untuk membuat jalan keluar. Mari kita lihat berapa tingkat kejenuhan material ini.”


Sesaat kemudian, dia rentetan tembakan.


Salah satu dinding Dianoid penuh dengan lubang layaknya sarang tawon.



Part 7[edit]


Dia tidak berpikir bahwa si gadis punya suatu alergi, tetapi teman masa lalunya itu bersikeras untuk tidak minum obat flu.


"Tidak, aku baik-baik saja, aku baik-baik saja! Tidur sudah cukup bagiku untuk menyembuhkan flu ini, jadi aku tidak perlu benda-benda pahit itu. Obat bekerja dengan cepat, tetapi menurunkan kapasitas tubuh secara keseluruhan sebagai gantinya. Itu seperti sesuatu yang bisa memulihkan HP tapi menyusutkan bar max HP*. Aku bahkan tidak perlu menjelaskan mengapa antibiotik berbahaya, kan?” [Dia sedang membicarakan tentang HP (Health Points) yang biasa dijumpai pada game RPG.]


Jadi, apakah semua makanan kalengan itu oke bagimu?


"Pada akhir proses produksi, setiap kaleng makanan diberikan perlakuan berupa aliran hawa panas dan disegel sehingga kuman tidak bisa tumbuh di dalamnya. Makanan kalengan yang murahan tidak seperti itu, tapi biasanya, tidak ada bahan kimia yang ditambahkan untuk mensterilkan, menjaga, dan mengamankan makanan di dalamnya. Dan itulah mengapa mackerel kalengan adalah yang terbaik. Mengerti?”


Dia sudah mempersiapkan semua argumen tersebut, namun si pria tahu bahwa itu semua hanyalah dalihnya agar terhindar dari obat yang pahit.


"Ugh ..."


Suatu erangan terucap dari mulut kecil Aihana Etsu.


Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menusuk. Kelopak matanya terbuka sedikit dan ia merasakan cahaya yang samar-samar. Dia melihat langit malam Distrik 15. Cahaya bintang yang normal telah hanyut dan sebagai gantinya, terdapat banyak pencahayaan dari lampu-lampu dekorasi bangunan.


Tapi mengapa dia bisa berada di luar?


Bukankah dia tadi ada di dalam Dianoid?


Tanpa tahu jawaban dari pertanyaan tersebut, ia perlahan-lahan duduk.


(Dimana aku?)


Dia tidak ingat bagaimana ia pingsan. Dia hanya ingat bahwa dia berpapasan dengan sesosok yang begitu menyeramkan sehingga dia tidak akan pernah melupakan sosok tersebut.


"..."


Dia berada di suatu taman berwarna abu-abu yang tertutup oleh kerikil halus. Pinus pendek, pohon maple*, dan pohon sakura ditanam di sana. Jembatan berwarna merah terang yang dipernis menyeberangi suatu kolam kecil. Dia sedang rebahan di bangku yang terletak di bawah payung kertas besar dan tampak seperti etalase pada suatu rumah teh di Kyoto. [Pohon maple adalah pohon yang daunnya mirip seperti gambar pada bendera negara Kanada.]


Dia begitu bingung karena semua pemandangan tradisional ini tidak cocok dengan teknologi-teknologi canggih Academy City. Tetapi, lantas dia memikirkan suatu kemungkinan yang bisa menerangkan semua pemandangan ini.


"Apakah ini adalah atap Dianoid?"


Dan ...


Seorang pria dengan jas berekor duduk di bangku, tepat di sampingnya.


"Hai."


"... !!! ???"


Dia dengan panik mencoba untuk menjauh tapi dia hanya berhasil jatuh dari bangku tersebut dengan posisi pantat mendarat terlebih dahulu. Kemudian, dia mencoba untuk merangkak menjauh dengan menggunakan tangannya.


(Aku ingat.)


(Aku ingat, aku ingat, aku ingat !!)


Lantai, dinding, dan langit-langit, semuanya berubah menjadi ratusan duri layaknya selimut yang terbuat dari kulit landak. Dan pria tua ini mencoba untuk menghujam seorang pria tertentu dengan menggunakan semua duri tersebut . Agar bisa menyerang si pria dengan lancar, laki-laki tua ini membuat suatu lubang ajaib yang muncul di sekujur tubuh orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.


Pria itu tertawa sembari ia berbicara.


“Kau pasti takut. Seperti inikah batu permata yang kabarnya memiliki kutukan? Yaaah, Aku memaklumi rasa takutmu karena kau melihat suatu makhluk yang tingkatannya jauh lebih tinggi daripada dirimu.”


"Ah, aahh, aaahhh ..."


Aihana Etsu menempatkan tangan di tengah dada datarnya dan dia gemetaran.


Monter itu menatap si bocah yang berlinang air mata, tapi ia terus menunjukkan senyuman lembutnya.


“Kau pingsan karena syok mental, bukannya karena dehidrasi. Dan kau memiliki cukup banyak energi yang tersisa, jadi mengapa kau tidak meminum sesuatu?”


Suatu botol minuman 250 ml muncul di tangan pria itu, entah darimana. Ukurannya seperti sebuah apel, tapi darimana datangnya? Aihana Etsu bahkan tidak yakin akan hal itu.


(Minuman yang lain. Apakah aku terlihat rentan terhadap serangan jantung?)


Masih duduk di tanah, ia melirik ke arah botol air mineral yang pria itu letakkan di bangku. Tiba-tiba, pria tua itu memiliki sesuatu yang lain di tangannya.


Itu adalah sejenis wadah transparan berbentuk kotak yang digunakan untuk menempatkan beberapa pil rasa mint. Tapi ketika si pria tua mengguncangkan kotak pil tersebut, pil hitam yang tampak begitu kuno keluar darinya.


"Aku tidak membutuhkan makanan normal. Selama aku memiliki air dan gandum, aku tidak menua. Berkat itu, orang-orang telah salah sangka, dikiranya aku memiliki beberapa jenis jimat awet muda.”


"A-apa yang sedang kau bicarakan?"


"Yah, jujur saja, aku bukanlah pokok permasalahan di sini. Permasalahannya ada pada dirimu.”


Setelah fokus pembicaraan dialihkan padanya, keringat dingin Aihana Etsu mengucuri wajah kecilnya.


Syarafnya berdenyut dengan sangat keras. Napasnya berhembus dari mulutnya dan menciptakan suatu hawa panas berwarna putih di udara.


Dia tidak tahu siapa orang ini, tapi dia jelas-jelas seorang monster. Kalau begini terus, identitas palsunya sebagai "Aihana Etsu" pasti akan terbongkar. Dan ketika itu terjadi, semua orang di dunia tidak akan menganggap eksistensinya. Tekanan yang menusuk-nusuk kulitnya terasa begitu kuat. Apa yang diinginkan monster ini? Apakah dia memiliki urusan dengan "Aihana Etsu"? Atau memang seperti inilah kepribadian monster yang menyamar tersebut?


"Ada beberapa alasan mengapa aku ada di sini, tapi salah satunya adalah dirimu. Dan dirimu adalah alasan yang memiliki prioritas tertinggi. Ya, aku di sini untuk melihatmu.”


Jika dia hanya ingin melihat Aihana Etsu, mungkin pria ini hanyalah penguntit yang menyeramkan, tapi bukan itu yang terjadi di sini.


Pada tingkat yang sangat mendasar, ada sesuatu yang siap untuk menghapus eksistensi si pria kecil.


Hatinya membisikkan padanya bahwa tatapan mata pria tua ini sangat-sangat-sangatlah berbahaya.


"A-a-a-a-aku ..."


"Ya?"


"Aku tidak mengenalmu."


“Tentu saja kau tidak mengenalku. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu denganmu secara langsung.”


Pria itu perlahan berbicara sambil melemparkan pil ke dalam mulutnya.


"Tapi itu tidak terlalu penting."


"?"


"Secara teknis, kau bisa mengatakan bahwa apa yang aku cari adalah “dirimu atau mungkin bukan dirimu”."


"Apa artinya itu?"


"Kamu tidak tahu?"


Pria itu tersenyum dengan mata yang berbinar melebihi cahaya bulan, tapi tidak ada keikhlasan yang terpancar dari senyuman itu.


"'Aihana Etsu' tidak penting di sini. Apa yang membuatku tertarik adalah dirimu. Dan apakah kau benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau miliki?”


"...?"


Titel "Aihana Etsu" sudah tidak lagi penting.


Ini pastinya adalah situasi yang mematikan, namun rasa bahaya menghilang karena pikiran bocah itu kosong.


Dengan monster selevel dirinya, si bocah kecil sama sekali tidak memiliki peluang untuk melawan atau bahkan melarikan diri.


Tapi jika yang dikatakan pria tua itu adalah kebenaran, maka benda berharga apa yang ada di dalam dirinya?


"Aihana Etsu" tidak memiliki apa-apa. Itulah alasannya mengapa dia mau repot-repot memalsukan kartu ID pelajar agar bisa masuk ke Dianoid. Dan semua yang dia lakukan semata-mata untuk menyelamatkan Frenda Seivelun yang telah hilang ditelan kegelapan kota.


Apa orang ini melihat ke dalam dirinya?


Apa yang ada di dalam dirinya, sehingga monster sekuat dia tertarik padanya?


"Jika kau benar-benar tidak mengerti, aku bersedia untuk menjelaskan. Bahkan, aku telah hidup selama berabad-abad untuk melakukan hal ini. Tapi, sebaiknya aku memulai bercerita darimana? Aku hanya bisa mengatakan bahwa semuanya telah berjalan sesuai rencana, tetapi pada saat yang sama, tampaknya ada sedikit kontaminasi. Rasanya seperti, aku melihat suatu batu yang dilapisi dengan minyak jari.”


"Apa ... Apa yang aku miliki?"


"Aku katakan ..."


Pria itu terhenti saat seluruh bangunan Dianoid berguncang lagi dan lagi.


Aihana Etsu menjerit pendek sembari masih duduk di tanah.


Dia merasa seperti sedang berada di suatu jembatan gantung. Ini sungguh tidak terasa seperti berada di atap bangunan berteknologi canggih.


Pria itu perlahan mendongak ke langit sembari masih duduk di bangku.


"Tampaknya masalah baru telah muncul."


"A-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a-apa- !?"


"Jangan khawatir tentang hal itu. Hanya pemisahan dasar yang menyebabkan bangunan ini berguncang begitu hebat. Itulah yang seharusnya terjadi si sini.”


Ekspresi pria itu tetap tenang.


Suatu gemuruh ledakan keluar dari dalam gedung setiap kali guncangan terjadi, tapi dia sama sekali tidak memeperdulikannya. Dia menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap situasi yang terjadi, dan itu membuat seakan-akan dia begitu memperdulikan keberadaan "Aihana Etsu".


"Yah, aku bisa menangani itu nanti. Pertama, aku membutuhkan perisai untuk melindungi Gap positif ini. Jika semuanya berjalan seperti yang direncanakan, benda itu harusnya tiba di stasiun TV saat ini juga. Aku selalu bisa membuatnya dari ketiadaan, tapi itu benar-benar terlalu membosankan.”


"???"


Kata-katanya mungkin tidak ditujukan pada "Aihana Etsu".


Karena si bocah sama sekali tidak memahami perkataan itu.


Dia tidak perlu membalas perkataan si pria tua atau tersenyum dengan sopan. Hanya si pria tua yang tahu makna dari perkataannya.


Dia adalah kebalikan dari "Aihana Etsu".


"Aku akan senang tinggal di sini untuk ngobrol denganmu, tetapi tidak lucu jika perisai itu terkena tembakan nyasar. Aku akan pergi. Sampai bertemu lagi, Gap of Anne.”


"Gap? Anne? Apa?”


“Kau juga tidak punya waktu untuk duduk-duduk dan mengobrol, kan?"


Pria itu berdiri dari bangku etalase rumah teh dengan begitu lemah gemulai seakan-akan semua persendiannya tertekuk.


“Repot-repot memalsukan identitas kemudian datang ke sini, kau pasti punya alasan untuk melakukan itu semua, bukan? Jika kau tidak terburu-buru, kau akan kehilangan semua kesempatanmu. Tampaknya struktur kokoh Dianoid tidak berarti apa-apa bagi penduduk kota ini dan kau tidak ingin sisa-sisa bukti terakhir dari keberadaan Frenda Seivelun lenyap begitu saja, kan?”


Ketika ia mendengar itu, Aihana Etsu berpikir bahwa jantungnya akan berhenti.


Bukan karena orang itu mengatakan bahwa Dianoid bisa runtuh.


Bukan karena orang itu tahu bahwa dia memiliki tujuan di Dianoid.


Bahkan karena pria itu tahu nama teman gadisnya hanya dengan sekali tebak.


"Sisa-sisa bukti terakhir?"


Matanya terbuka lebar.


Pikiran si bocah mendadak kosong, dan dia tertegun di depan pria rua itu.


“Kau bilang sisa-sisa bukti terakhir dari kebeadaan Frenda Seivelun, bukan!? Maksudmu dia ... dia sudah ... !!”


"Seharusnya bukan aku yang mendiskusikan perkara itu denganmu."


"Lalu kau ini siapa!? Berapa banyak yang kau tahu!?”


"Kalau sudah tiba saatnya, aku akan memberitahumu. Aku berjanji.”


Suara pria itu terdengar begitu santai layaknya seorang ibu rumah tangga yang menyiapkan makan malam.


Begitu selesai, sebagian dari bangku menjorok keluar dengan tajam.


Dengan suara lengket, bangkunya terdistorsi, menjadi tajam, pecah jadi beberapa bagian, dan membentuk tombak yang langsung saja digenggam oleh pria tua itu.


Inilah yang pria itu sebut dengan Chambord.


Dia memikul obyek itu pada bahunya dan berbalik ke arah Aihana Etsu.


"Aku akan membantumu hanya sekali ini saja. Prioritas utamaku adalah mengambil perisai di stasiun TV, tapi aku akan membuat jalan memutar untuk mencapai tempat itu. Aku akan memastikan Dianoid tidak runtuh sebelum kau menemukan rahasia tertentu. Sisanya terserah kau. Gunakan kekuatanmu sendiri untuk mencapai kebenaran bersembunyi di labirin ini.”


"..."


"Dan juga, pintu dan lift di luar sedang tersegel, tapi aku akan melepas segel itu untukmu. Kau dapat bergerak ke setiap lantai dengan bebas untuk mencapai tujuanmu.”


Pria dengan jas berekor yang terus berbicara.


"Sebagai imbalannya, aku akan memaksamu untuk mendengarkanku setelah semua ini berakhir. Kau bisa melakukan itu semua, bukan?”


“Kau ..."


Aihana Etsu kebingungan bahkan saat ia membuka mulutnya untuk berbicara, jadi pertanyaannya tidak begitu jelas.


"Kau ini siapa?"


"Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah memperkenalkan diri, ya. Aku disebut sebagai orang yang memahami aturan hidup dan telah mencapai keabadian. Aku disebut sebagai penjelajah waktu. Aku disebut sebagai seorang teknisi yang dapat mengembalikan perhiasan rusak. Aku dipanggil dengan banyak julukan dalam berbagai legenda, tapi ...”


Pria itu berbalik dengan senyum di wajahnya yang benar-benar kekanak-kanakan.


"Nama aku adalah St. Germain. Aku adalah salah seorang yang sudah melampaui penyihir pada umumnya. Aku akan menghargaimu jika kau bisa mengingat itu.”



Part 8[edit]


"..."


Kamijou Touma terbaring di lantai di depan Index dan 15 cm Othinus.


Untuk sementara waktu, da khawatir tentang semua permasalahan ini.


Dia bahkan tidak bisa memutuskan dari mana dia harus memulai.


Situasi ini begitu tidak masuk akal.


Dia merasakan putus asa yang begitu besar.


Akhirnya, ia perlahan-lahan mendongak dan mulai berbicara.


"Seorang Dewa Sihir telah muncul."


"Apa?"


"Aku paham bahwa kau begitu ingin tahu. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu. Othinus, apakah ada Dewa Sihir selain dirimu? Atau apakah kau yang berada di puncak dunia ini?”


"Yah ... Secara teoritis, mungkin ada lebih dari satu." Othinus menghela napas kecil. ”Sejatinya, Dewa Sihir hanyalah suatu tujuan yang mampu dicapai oleh manusia. Bisa saja mitologi India, Buddhisme, mitologi Yunani, Maya, Voodoo, atau di negara ini, yaitu Shinto atau Shugendo*. Jika seseorang menguasai jalur tersebut sampai akhir, beberapa Dewa Sihir yang berbeda bisa saja terbentuk.” [Shugendo adalah ajaran berbasis Budha yang berkaitan dengan perpaduan alam dan manusia. Wikipedia Bebas.]


Tangan Othinus tampak begitu halus, seakan-akan tangan tersebut akan pecah jika disentuh oleh seseorang, lantas dia menggunakannya ibu jarinya untuk menunjuk ke arah Index.


Ya, 103.000 grimoires yang ada di dalam kepala Index adalah suatu nilai tambah yang memungkinkan seseorang untuk mencapai posisi Dewa Sihir jika digunakan dengan benar. Apakah itu benar atau tidak, seluruh penyihir dari sisi sihir melihat Dewa Sihir sebagai suatu posisi yang sulit dipahami layaknya awan yang beterbangan di langit. Tapi, posisi Dewa Sihir terkesan begitu realistis, bukannya mimpi belaka. Sehingga, seorang penyihir yakin bahwa dirinya suatu saat nanti pasti berhasil mencapai ranah itu.


Kalau begitu, apakah identitas sebenarnya dari pria dengan jas berekor itu?


Apakah dia benar-benar seorang penyihir yang telah berhasil mencapai ranah Dewa Sihir dengan menggunakan beberapa metode yang berbeda dengan Othinus?


Wajah Kamijou memucat, tapi Othinus tidak ragu-ragu untuk meneruskan perkataannya.


"Tapi apakah kau sudah lupa? Kau pikir, berapa banyaknya dunia yang sudah kubuat dan kubuat lagi ketika aku menghadapimu? Jika di dunia ini ada seorang Dewa Sihir yang setara denganku, dia pasti sudah mengganggu pertarungan kita kala itu.”


"Maksudmu ...?"


"Paling tidak, seharusnya tidak ada Dewa Sihir yang berasal dari “dunia ini”. Bukankah itu terdengar sebagai suatu kesimpulan yang masuk logika?”


Othinus benar.


Dia seharusnya benar.


Tetapi beberapa kegelisahan melanda hati Kamijou. Dia menolak pemikiran bahwa dunia penuh duri yang diciptakan oleh pria tua itu hanyalah ilusi yang semata-mata diciptakan untuk mengganggu mentalnya. Jauh di dalam pikirannya, Kamijou berpendapat bahwa pria itu akan kembali lagi untuk memburunya jika dia berpaling dari kenyataan ini.


Ini mungkin adalah pemikiran yang dia dapati setelah mengalami sendiri kekuatan sebenarnya dari seorang Dewa Sihir.


(Tapi ...)


Namun jika dia tidak menghentikan pemikirannya sendiri, mungkin dia sudah meringkuk ketakutan tanpa bisa maju ke depan.


(Bagaimana jika itu tadi adalah suatu kenyataan? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melalui semua dunia terdistorsi itu lagi? Apakah aku harus menerima siksaan neraka tak terhingga itu lagi sampai keadaan mentalnya lelah, seperti yang pernah aku lakukan terhadap Othinus? Tapi mungkin Dewa Sihir ini tidak memiliki setitik pun kebaikan dalam dirinya! Itu tidak berbeda dengan menambang emas di planet yang hanya berisi bebatuan seperti Mars!!)


Jika pria tua itu benar-benar seorang Dewa Sihir berkekuatan penuh, maka ia bisa menyusun ulang dunia bahkan lebih cepat dari menjentikkan jari.


Bahkan, dunia yang menurut Kamijou "nyata" ini, mungkin sudah digantikan oleh dunia lain yang sangat mirip.


Dia harus menetralisir lawannya kali ini tidak peduli apa konsekuensinya, tapi dia juga tidak mampu untuk memprovokasi pria tua itu.


Ini adalah suatu upaya yang begitu mustahil layaknya melepaskan baris terbawah dari suatu tumpukan kartu berbentuk piramid.


Apakah satu-satunya pilihan yang tersisa baginya hanyalah kehancuran?


Ini sama saja dengan apa yang dialaminya sebelumnya. Apakah ia harus menghancurkan dunia sampai menjadi serpihan dan mengulang segala sesuatu dari dunia hitam legam*? [Baca NT 9.]


"..."


Masih duduk di lantai, Kamijou melihat sekelilingnya.


Dia merasakan adanya udara panas dan melihat pancaran cahaya lampu-lampu Jepang yang lembut. Beberapa anak laki-laki normal dan para gadis berlalu-lalang di sekitar. Kucing calico, Othinus, dan Index berdiri di dekatnya. Setelah saling bertukar pandangan, ia diam-diam dan perlahan-lahan menggelengkan kepala.


Dia tidak bisa melakukannya.


Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


Tetapi pada saat yang sama, dia tidak bisa mengabaikan ini. Setidaknya, pria dengan jas berekor itu adalah seorang musuh bagi Kamijou. Semuanya terjadi secara cepat dan kebetulan, tapi orang itu pasti akan menyerang Kamijou lagi setelah menyelesaikan tugas yang harus dirampungkannya dengan cepat. Tak perduli tugas apa pun itu.


Dan jika mereka berhadapan satu-lawan-satu, Dewa Sihir tanpa ampun akan menghancurkan dunia. Dia akan menciptakan dunia yang dapat memberikan kemudahan baginya dan menyembelih Kamijou dalam suatu pertandingan yang tidak imbang.


Kamijou tidak tahu apakah itu mungkin terjadi, tapi dia harus mengalahkan sang Dewa Sihir sebelum dia bisa menjentikkan jarinya.


Jika ia tidak bisa menghentikan pertarungan ini secepat mungkin, dunia akan berakhir.


Sampai dia bisa menemukan cara untuk mengalahkannya, suatu serangan ceroboh sama saja dengan bunuh diri.


(Apa yang harus aku lakukan?)


Di Denmark, ketika dunia menyerang untuk menghabisi Othinus dalam keadaan lemah, Kamijou begitu marah dengan ketidakadilan tersebut.


Tapi ketika melihat dari luar, dia bisa mengerti.


Bumi, alam semesta, semua ini hanya seperti balon bagi seorang Dewa Sihir. Sang Dewa Sihir hanya perlu menusukkan duri kaktus pada balon tersebut, dan semuanya akan berakhir. Itu akan membuat seisi dunia jadi panik. Ketika seseorang yang pernah mengalami pertarungan dengan Dewa Sihir menganalisis situasi ini, maka hal yang paling dikhawatirkan adalah kepribadian dari Dewa Sihir itu sendiri. Kekuatannya mutlak, sehingga satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah memberikan pengertian tentang betapa buruk efek yang akan terjadi di dunia ini ketika dia menggunakan kekuatannya sembarangan. Namun tentu saja, itu semua tergantung dari sifat asli sang Dewa Sihir. Jika memang Dewa Sihir tersebut sama sekali tak punya secercah pun cahaya di dalam hatinya, maka semuanya akan usai.


(Idealisme yang tidak realistis, tidaklah penting. Sebenarnya apa yang hendak kau lakukan ketika berhadapan dengan monster seperti itu!?)


Hanya kematian yang ada di hadapan Kamijou Touma.


Ini jauh melampaui kesalahan yang besar.


Sementara itu, Kamijou hanya tahu Dewa Sihir bernama Othinus. Hanya karena kau kenal dengan seorang artis, tidak berarti kau bisa ikut-ikutan tampil di depan kamera. Jika ia dihadapkan dengan orang ini, dia akan kalah. Dia harus berurusan dengan ini semua secepat mungkin, tapi situasi itu begitu suram. Seakan-akan, satu-satunya jalan untuk menghentikan orang ini adalah menunda pertandingan sampai hari kiamat tiba.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Othinus mini.”Apakah kau mencoba untuk menanggung semuanya sendirian, seperti biasa?”


"Aku berharap, aku bisa menanggungnya sendirian," ia menyemburkan perkataan itu dengan suara berat.”Tapi aku tidak akan sanggup. Kali ini, aku benar-benar tidak sanggup. Othinus, aku tahu bahwa ini adalah suatu pertanyaan yang kejam, mengingat kau hanyalah seorang mantan Dewa Sihir. Tapi, bagaimanakah cara mengalahkan seorang Dewa Sihir? Aku tidak mungkin menangis dan memohon agar dia menghentikan perbuatannya. Apakah ada cara tertentu untuk benar-benar mengalahkan dia?”


"Hmph."


Othinus tampak kesal karena Kamijou masih berbicara tentang hal itu.


Apa pun itu, Othinus akhirnya memberikan suatu jawaban. Tapi tampaknya, jawaban ini lebih mirip seperti seorang ibu yang memberikan mantra-mantra ajaib kepada seorang anak, agar anak itu terhibur dan tidak mengalami mimpi buruk ketika tidur di malam hari.


"Ollerus menggunakan mantra peri. Itu adalah metode yang lambat, tetapi mantranya berhasil berbentrokan dengan Gungnir dan mulai menghancurkan tubuhku dari dalam. Jika digunakan dengan benar, mantra itu bisa berubah menjadi suatu teknik untuk membunuh Dewa Sihir.”


Tapi pada waktu itu, bahkan dalam keadaan menerima mantra peri, Othinus masih bisa menghancurkan dunia berkali-kali dan dia sama sekali tidak menghitungnya.


Metode itu masihlah bisa menyebabkan Kamijou terperangkap di dalam dunia hitam legam.


"Ada yang lain? Apakah ada cara untuk mengakhiri pertempuran ini tanpa sekalipun menghancurkan dunia?”


"Itu adalah perkara yang sulit. Ini sama saja dengan merobohkan deretan kartu domino tanpa sedikit pun menyentuhnya. Dalam suatu pertarungan yang melibatkan Dewa Sihir, mengalahkannya tanpa sedikitpun menghancurkan dunia adalah suatu hal yang hampir mustahil terjadi.”


Seakan-akan sudah tidak ada harapan lagi.


Tapi Kamijou tidak bisa berhenti di sini. Orang ini adalah musuhnya, dan membiarkan dia menyerang Kamijou terlebih dahulu adalah suatu hal yang buruk. Bagaimanapun juga, perbedaan kekuatan diantara keduanya adalah seperti bumi dan langit.


Mungkin jika Kamijou berhasil melancarkan serangan terhadapnya terlebih dahulu, dia masih memiliki peluang menang. Namun jika si pria tua menyerangnya terlebih dahulu, maka peluang menang Kamijou merosot sampai 0%.


"Ini buruk sekali," gumamnya sambil perlahan berdiri.


Dia merasa sangat tidak termotivasi, tapi ia tahu bahwa ia hanya akan berputus asa jika ia tidak mengambil suatu inisiatif. Tidak peduli seberapa sembrono itu, ia harus mengambil tindakan.


Dia meraih pagar atrium untuk membantunya berdiri dan menatap dua orang gadis di hadapannya.


"Index."


"Apa?"


"Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku ingin agar kau menganalisis dia sebanyak mungkin. Bantulah aku dengan kemampuan memorimu. Dan Othinus?”


"Katakan apa yang kau inginkan, manusia."


“Menurutmu aku salah, tapi 103.000 grimoires mungkin tidak akan cukup untuk melawan orang ini. Jadi kau pergilah bersamaku. Kau pernah menjadi Dewa Sihir seutuhnya, sehingga harusnya kau bisa membedakan apakah dia adalah Dewa Sihir sempurna ataukan bukan.”


Perlahan tapi pasti, ia memikirkan segala rencana yang mungkin bisa bekerja melawan pria tua itu.


Situasi ini tidak berbeda dengan pertarungannya melawan beberapa penyihir tempo hari. Dia memaksakan diri untuk berasumsi. Dia untuk sementara mengabaikan peluang keberhasilan dari rencananya yang teramat kecil. Dia dengan tenang akan mengamati Dewa Sihir, menganalisis mantra yang digunakannya dan juga benda spiritual yang ia pakai. Jika dia bisa menemukan kelemahan setelah melakukan analisis, itu adalah hal yang bagus. Setidaknya, ia ingin tahu apakah dia bisa menggunakan Imagine Breaker dalam pertarungan ini dan hal apa yang harus dihancurkannya untuk memperbaiki situasi.


Tentu saja setelah mengamati dan menganalisis segala sesuatu, selalu saja ada jalan buntu, yaitu : "Dia tidak memiliki kelemahan sama sekali."


"Baik."


Dia meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa ini hanyalah suatu pertempuran biasa yang sudah sering dia jalani. Jika tidak begitu, Kamijou hanya akan stress dan menyerah lebih dini sebelum bertarung.


Pada saat itu, dia melakukan sesuatu.


Bahkan Kamijou sendiri tidak tahu kenapa.


Dia tiba-tiba melirik ke atas sambil berpegangan pada pagar atrium.


Salah satu monitor layar datar dihias yang terdapat pada tingkat bawah Dianoid sedang menampilkan behind-the-scenes suatu acara Orbit TV. Dan itu adalah video yang berisi tentang rekaman kejadian masalah operasional gedung yang baru saja terjadi. Sederhananya, pada video itu terlihat bahwa beberapa anggota staf seperti AD sedang menggunakan kamera kecil untuk mengambil gambar di tingkat tengah.


Itu lebih terlihat seperti suatu film dokumenter daripada video behind- the-scenes.


Monitor itu menampilkan adegan tentang anggota staf yang sedang berlalu-lalang di sekitar stasiun TV dengan panik karena lift dan tangga lumpuh total. Di sana juga terdapat rekaman dari panggung pertunjukan dan kolam renang indoor. Stasiun TV dan panggung seharusnya tidak secara fisik terhubung, tapi mungkin ada pintu tersembunyi agar para VIP bisa lewat.


Namun, fokus Kamijou tidak tertuju pada adegan hiruk-pikuk itu.


Pada monitor itu, dia melihat sesuatu yang dihancurkan seketika.


"Ini tidak bagus."


"Ada apa, Touma?"


Dia bahkan tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan Index.


"Ini benar-benar tidak bagus! Terkutuklah dia!!”


Pada saat ia mengeluarkan teriakan itu, ia mulai berlari.



Part 9[edit]


Setelah Stephanie Gorgeouspalace (dengan sembrono) mendorong Hamazura ke bawah lubang lift, Hamazura Shiage berhasil menangkap sesuatu yang menonjol di dinding dengan menggunakan lengan bajanya.


Jika bangunan Dianoid tidaklah super kokoh, ia mungkin sudah merobek obyek yang dipegangnya itu. Bagaimanapun juga, kekuatan fisik Hamazura meningkat berlipat-lipat ganda karena dia kini tengah mengenakan Power Lifter.


Keringat tak menyenangkan menutupi wajahnya sembari ia bergelantungan ke bawah.


Namun, dia lebih mengkhawatirkan suatu hal yang lain.


"..."


Dia telah mendengar langkah kaki.


Sepasang langkah kaki berjalan menuju pintu lift yang sudah retak dan terbuka sedikit. Langkah kaki itu adalah milik seorang pria tua dengan jas berekor dan lensa mata.


Tapi darimana dia datang?


Jika memori Hamazura akurat, lift raksasa telah turun sesaat sebelumnya.


Seharusnya, tidak ada orang yang bisa menggunakan tangga atau lift, jadi mengapa fakta itu tidak bekerja pada orang ini?


(Dan ...)


Hamazura berpikir sembari mendukung dirinya dengan satu tangan.


(Tombak apa itu?)


Pria itu mengistirahatkan tombak di bahunya.


Tapi itu tidak tampak logis. Ia tidak tahu sama sekali material apa yang menyusun tombak itu. Itu tidak terlihat seperti logam atau fiber glass. Hamazura sempat berpikir bahwa tombak itu terbuat dari serpihan material Dianoid yang dilelehkan, diplintir, dan kemudian ujungnya diruncingkan.


Masalahnya bukanlah ketajaman dari ujung tombak tersebut.


Masalahnya adalah, tombak tersebut seakan-akan dibuat dengan begitu cepat dan sederhana.


Tulisan "St. Germain" terukir di samping tombak itu.


Untuk sesaat, Hamazura ragu apakah dia membaca tulisan itu dengan benar, tapi ia segera menyadari suatu perasaan aneh. Dia menyadari keanehan tersebut karena pernah ada merek suatu roda sepeda motor yang bernama sama, yaitu St. Germain. Namun baginya, makna dari kata-kata tersebut masihlah menjadi suatu misteri.


Tapi tidakkah sudah ada berita yang menyebutkan bahwa semua penghuni Dianoid sedang terjebak di dalam karena beberapa pintu keluar sudah lumpuh total? Dan bukankah semua sendi pintu memeleh dan menyatu, sehingga seakan-akan setiap pintu keluar sudah dilas?


Kalau begitu, apa fungsi dari tombak itu?


(Apakah pria tua ini memiliki kemampuan untuk melelehkan logam? Jadi, dia kah dalang di balik semua kekacauan ini?)


Aneri, sistem pendukung yang awalnya ditempatkan pada Dragon Rider, menggunakan AUD untuk memberikan peringatan pada visi Hamazura.


Tingkat ancaman: belum ditentukan.


Merekomendasikan untuk bersembunyi.


Peringatan yang disarankan oleh Aneri malah membuat Hamazura semakin takut. Lebih baik dia bertarung satu lawan satu daripada bersembunyi begini.


Dan ada kebetulan lain yang terjadi.


Suatu getaran yang luar biasa merambat melalui lantai. Lengan mekanik Hamazura hampir terlempar dari dinding. Perutnya dipenuhi dengan hawa dingin, tetapi pada saat yang sama, ia bertanya-tanya tentang kekuatan macam apa yang bisa membuat bangunan Dianoid berguncang.


Hanya ada satu kemungkinan yang bisa dipikirkannya.


(Mugino?)


Dan jika #4 ada di sana ...


(Apakah Kinuhata dan Takitsubo juga berada di dekatnya!?)


Dia mendengar langkah kaki.


Bahkan seorang idiot tahu bahwa ada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya. Apapun tujuannya, dalang dari semua kekacauan ini pasti ingin agar semua orang terjebak di dalam Dianoid. Jadi bagaimana jika ada sekelompok gadis yang ingin menentang si tersangka? Pasti, dia akan membungkam sekelompok penentang tersebut.


Hamazura tahu bahwa Mugino Shizuri tidak mudah dikalahkan.


Takitsubo Rikou mungkin tidak dapat membantu dengan kekuatan penuh, tapi Kinuhata Saiai jugalah seorang esper yang tangguh.


Namun, selalu ada pengecualian.


Hamazura sendiri telah diselamatkan berkali-kali oleh semacam keajaiban yang tidak masuk akal.


Tapi sebelum itu ...


(Ini bukan perkara siapa yang kuat atau siapa yang lemah.)


Dia memperketat cengkeraman lengan bajanya di dinding.


(Aku sudah muak terhadap semua orang berbahaya yang selalu saja mengancam keberadaan gadis-gadis itu!!)


Dia siap menggunakan dua joystick yang terhubung dengan kabel dan dua pedal kaki untuk melompat ke atas.


Saat ini, pria tua itu sepertinya tidak memliki pertahanan sama sekali, sehingga Hamazura mungkin bisa menghantamnya dengan serangan mendadak menggunakan armor baja miliknya.


Paling tidak, seperti itulah yang direncanakannya.


Tapi, ternyata ia terlalu naif.


Suatu suara yang memekakkan telinga sampai pada telinganya.


Sesaat kemudian, seorang anak berambut runcing jatuh langsung dari atasnya. Si pria jabrik menendangnya dengan sekuat tenaga. Ini menyebabkan Power Lifter kelebihan muatan. Dan akhirnya, cengkraman Hamazura lepas.


Dia bahkan tidak punya waktu untuk menjerit.


Dalam waktu singkat, ia terikat oleh gaya gravitasi dan dua pria ini jatuh bersama-sama ke dasar lorong lift.



Part 10[edit]


Beberapa waktu yang lalu, Kamijou Touma melihat Hamazura dan Dewa Sihir berada di adegan behind-the-scene yang ditampilkan pada monitor layar datar.


Segera setelah itu, ia langsung saja berlari.


Jika Hamazura menyerang Dewa Sihir secara sembrono, dunia benar-benar bisa berakhir.


Untuk memastikan itu tidak terjadi, Kamijou harus mencegah pertemuan mereka berdua.


Dia mulai dengan memeriksa situasi secara umum.


Ia menekan tombol lift dan berlari ke pintu tangga darurat, tapi itu sia-sia belaka. Dia menyentuh bagian roda pada pintu geser yang sudah mencair dan menyatu, tapi logam tersebut sudah padat sehingga Imagine Breaker tidak bisa berbuat banyak.


"Sialan! Aku punya perasaan bahwa ini akan gagal!!”


Dia membentakkan teriakan tanpa berpikir, tapi di sekelilingnya banyak gumaman dari para pria dan wanita yang tidak puas dengan sistem operasional Dianoid. Teriakannya seakan tenggelam dalam keluhan para penghuni gedung itu yang tidak bisa kemana-mana.


Terus berada di sana bukanlah pilihan, jadi dia beralih ke pemikiran lain. Dia berlari ke stan majalah dan dengan kasar meraih suatu pamflet Dianoid. Dia membacanya secara menyeluruh, tetapi pamflet tersebut tidak berisi informasi yang jelas mengenai struktur bangunan Dianoid. Ini dilakukan untuk mencegah para teroris menemukan informasi berharga.


Panggung yang berada di tingkat tengah juga dikenal dengan sebutan Aqua Palace.


Di sana terdapat begitu banyak seni air dan juga terdapat salah satu air mancur terbesar di dunia.


"Aku rasa, ini adalah satu-satunya pilihan ..."


Dia memandang sekelilingnya, melihat ke bawah melalui atrium, dan melihat toko yang ia targetkan.


"Touma, Touma! Apa yang sedang kamu lakukan !?”


"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan. Ikutlah saja denganku!”


Dia menempatkan Othinus di bahunya dan menyeret Index bersamanya sembari berlari ke toko barang-barang olahraga.


Sebenarnya dia mengkhawatirkan harga barangnya karena semua toko di sana adalah toko bermerek kelas wahid. Namun anehnya, benda yang dia ingin beli ternyata tidak begitu mahal..


"Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?" tanya Othinus mini.


"Aku harus pergi ke panggung di tingkat tengah, entah bagaimana caranya. Dan aku memerlukan benda ini."


Dia sudah tahu ke mana ia harus pergi.


Lift dan tangga darurat disegel, tapi pintu ke toko-toko indoor dan eskalator baik-baik saja. Dia berlari menuruni eskalator yang berhenti beroperasi sampai dia mencapai tingkat terendah.


Dia akhirnya tiba di ruang pompa Dianoid.


Anehnya, pintu geser yang terlihat seperti pintu kayu begitu mudah dibuka dan ia menemukan sejumlah besar mesin yang berdenyut-denyut di dalamnya.


Sambil memegang barang yang sudah dia beli, ia pun mengerang.


"Ini benar-benar ide yang buruk."


"Hei, cukup! Terangkan apa rencanamu!" tuntut Othinus yang berada di bahunya.


Kamijou menjawabnya sembari mencari suatu barang di sekitarnya. Dan dia pun menemukan sebuah kotak peralatan.


"Tadi, aku melihat Dewa Sihir itu pada suatu cuplikan video. Dia sedang berada di tingkat tengah Dianoid. Kabar buruknya adalah, ada seseorang pria yang kukenal juga berada di sana, dan dia sedang mencoba untuk menyerang si Dewa Sihir..”


"..."


"Kita mungkin masih belum tahu identitas pria tua itu yang sebenarnya, tetapi jika ia benar-benar seorang Dewa Sihir asli, ini benar-benar buruk. Aku tidak ingin memprovokasi dia sampai kita tahu pasti identitasnya, jadi aku harus menghentikan serangan pria yang kukenal ini!”


"Tapi kau tidak dapat menggunakan tangga atau lift, bahkan eskalator juga sudah berhenti beroperasi. Jika kau tidak tahu cara untuk mencapai tempat itu, lantas mengapa kau masuk ke ruang pompa?”


Kamijou mengambil kunci Inggris dari kotak alat, memutarkannya dengan satu tangan, dan menaiki tangga yang menuju ke atas peralatan pompa raksasa.


"Tingkat tengah Dianoid dikenal sebagai Aqua Palace dan memiliki salah satu air mancur terbesar di dunia. Untuk kebutuhan pasokan pada saluran air, kolam renang, dan apa pun itu, berton-ton air harus terus dipompakan tiap detiknya.”


"Tunggu."


"Itu berarti harusnya ada pipa air khusus yang benar-benar tebal. Selama aku memiliki cara untuk bernapas, aku hanya perlu menghanyutkan diriku pada aliran air tersebut.”


Dia mengeluarkan barang yang dibelinya tadi dari tas berbelanja.


Itu adalah masker menyelam yang sangat kecil dan dilengkapi dengan semacam tabung seukuran kaleng semprot rambut.


Index berteriak dari lantai bawah.


"Touma! Apakah kau lagi-lagi hendak pergi ke suatu tempat sendirian !?”


"Sayangnya, aku hanya memiliki satu masker. Aku tidak mampu membeli yang kedua.”


Dia menggunakan kunci Inggris untuk melepas baut yang menutup lubang palka pada peralatan perawatan pompa.


“Kau dapat melihat apa yang terjadi di tingkat tengah dengan menggunakan monitor. Jika aku mendapatkan koneksi online, aku akan mengirim video dengan kamera ponselku. Dan jika kau tidak bisa mendengar suaraku nanti, lakukan apa pun yang kau bisa untuk menganalisis kekuatan Dewa Sihir ini. Kita bisa berbagi informasi tentang apa saja yang sudah kita dapati jika bertemu lagi nanti.”


Lubang palka seukuran badan pria dewasa tersebut terbuka dengan suara “dung”.


Sejumlah besar air mengocor di bawahnya. Terdengar suara mirirp seperti suara air yang tersedot ke dalam parit pada musim hujan yang lebat.


Kamijou mengenakan masker menyelam dan membungkus kepalanya dengan semacam kantong karet.


Dia kemudian menurunkan Othinus dari bahunya.


"Sejujurnya, aku merasa tidak sanggup melakukan sesuatu pun sendirian. Index, Othinus, kalian adalah pemain utama di sini. Dapatkah aku mempercayakan nyawaku pada kalian?”


"Hmph. Aku sih senang, ketika kau mengatakan bahwa kau tidak ingin melakukan semua ini sendirian.”


Othinus menyilangkan lengannya. Dan seperti biasa, dia berbicara dengan nada angkuh.


"Tapi apakah kau yakin bahwa kau ingin melakukan ini?"


"Hm?"


“Kau dapat menggunakan pipa air tebal itu jika kau mau, tapi tidak ada seorang pun yang menjamin bahwa pipa air itu akan membawamu ke tingkat tengah. Jika ternyata banyak kelok-kelokan pada pipa itu, kau akan menghantam sisi-sisi pipa dengan kecepatan seperti roller coaster. Kau hanya akan bernasib sama seperti batu yang terombang-ambing dalam arus sungai yang deras.”


"Eh? Tung- ..”


Kamijou mulai berpikir untuk membatalkan rencananya, tapi kakinya terpeleset di atas air yang memercik dari lubang palka pipa tersebut.


Pada saat ia merasa pandangannya mulai berputar-putar, dia sudah terlempar ke lubang pipa tersebut dengan posisi terbalik.


"Bshhh. A-a-a-a-apes deeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!?”


Dia tidak tahu rute jenis apa yang akan dia lalui di dalam pipa tersebut.


Dia sama sekali tidak pernah mengamati jalur pipa dan cara kerjanya.


Setelah suara gemuruh besar yang ada di dalam hatinya, ia terlempar " ke luar". Setelah melalui sensasi mengambang sejauh lima meter, ia merasa dirinya menerobos air dan menyadari bahwa ia masih hidup.


"G-Gaaaahh! Bshfh !! Bshfsh !!!”


Dia terengah-engah dengan begitu keras dan kemudian melihat sekeliling. Permukaan air tepat berada di pinggangnya. Langit-langit berada jauh di atas kepalanya dan daerah itu terlihat begitu terang. Seakan-akan dia baru saja keluar dari mulut seekor singa yang begitu gelap. Nyatanya, Kamijou sekarang sedang berada di suatu kolam renang indoor. Seketika dia tiba di daerah itu, banyak cewek-cewek tajir yang mengenakan bikini mahal, dan mereka menatap ke arahnya dengan takut.


Dia merobek masker menyelam, naik ke permukaan kolam renang, kemudian berpikir sendirian.


(Aku sudah berhasil sampai ke tingkat tengah. Sekarang aku hanya perlu mencari tahu di mana posisi Hamazura berada.)


"Sialan! Mudah-mudahan tepat waktu!!”


Dia berlari menjauh dari kolam renang, tapi sesuatu yang aneh terjadi kemudian. Ternyata, dia sedang berada di suatu stasiun TV yang dijaga dengan ketat, bukannya di tempat umum yang diisi oleh pengunjung-pengunjung biasa.


"A-apa?"


Kedua area tersebut harusnya tidak terhubung, tapi pasti ada suatu pintu tersembunyi khusus untuk para artis.


Dan ada keanehan lain di ruangan lift stasiun TV tersebut.


Salah satu pintu lift telah rusak dan terbuka karena efek hantaman kekuatan yang besar.


"..."


Kamijou melihat ke lubang lift tersebut.


Lorong tersebut begitu dalam dan gelap sehingga membuat kakinya gemetaran, tapi ia benar-benar melihat seseorang di dalam kegelapan itu.


Ini cocok dengan situasi yang dia lihat pada monitor di tingkat bawah Dianoid.


"Ketemu."


Kamijou Touma membuat keputusan.


Dia tidak memiliki mesin seperti Power Lifter atau sihir yang bisa membuatnya terbang.


Dan dia hanya punya satu nyawa.


Tetapi jika Hamazura Shiage dan Dewa Sihir berbentrokan sekarang, mungkin saja dunia akan hancur sekali lagi, dan dia tidak bisa merasakan rasa takut seperti biasanya. Dan mungkin saja, dia akan terlempar ke dunia yang paling ditakutinya. Yaitu dunia yang hanya berisi kebahagiaan, namun tidak memerlukan eksistensi dirinya. Walaupun dunia itu bagai surga, namun bagi Kamijou Touma, itu adalah neraka yang sesungguhnya.


Dan pria jabrik ini pun tidak ragu-ragu lagi.


Dia terjun bebas ke dalam lubang yang sangat-sangat dalam.Seharunya, dia kini berada pada ketinggian 20-40 lantai di atas permukaan tanah.



Part 11[edit]


Mereka bertemu dengan tiba-tiba.


Kamijou Touma bertabrakan dengan Power Lifter milik Hamazura Shiage.


Lengan baja raksasa tersebut melepaskan cengkramannya dari tonjolan di sisi lubang lift.


Dan mereka jatuh.


"Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?"


Mereka jatuh bersama-sama ke dalam lubang lift yang sungguh gelap.


Mereka terjun bebas sejauh 3 lantai.


Untungnya, ada kotak lift yang berhenti di bawah mereka.


Meski begitu, mereka menghasilkan suara gemuruh yang besar seperti suara panci logam yang jatuh ke lantai, namun puluhan kali lipat lebih bising. Penyesuaian gyro* dari Power Lifter dan bantuan Aneri membuat Hamazura bisa mendarat dengan cukup mulus, tapi temannya tidak begitu beruntung. Setelah memantul dari atas Power Lifter, ia jatuh pada posisi terbalik, dan dia pun terbatuk beberapa kali. [Giro di sini berarti alat penyeimbang.]


Hamazura tersentak saat melihat wajah pria itu.


Tidak seperti sebelumnya, Aneri mendefinisikan ini sebagai ancaman level "rendah". Aneri menyarankan agar melenyapkan si bocah jabrik dengan segera, tapi Hamazura hanya berteriak pada pria itu.


"Apa-apaan yang kau lakukan!!!?"


"Ugh. Uhuk....Uhuk....!! T-tolong dengarkan aku ...”


Kamijou mengalami kesulitan bernapas, tapi ia masih berhasil berbicara.


"Orang itu terlalu berbahaya ... Kau tidak akan bisa melawan seorang Dewa Sihir. Aku tahu bahwa kita harus melakukan sesuatu terhadapnya, tapi sekali kita kalah, semuanya akan habis. Uhuk....!!! Jadi, jika kau hendak melakukan sesuatu, mari kita lakukan bersama-sama. Setidaknya, tunggu sampai aku siap.”


Kamijou tidak menyarankan untuk mundur atau melakukan semuanya sendirian.


Mungkin saja, ini adalah perubahan besar pada tabiat seorang pria yang bernama Kamijou Touma.


Tapi Hamazura Shiage mendongak sedikit dan berbicara.


"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bersiap-siap?"


"Berapa lama?"


"Asal tahu saja, sepertinya si tua itu sedang dalam perjalanan untuk menghadapi beberapa orang yang aku kenal. Salah satunya adalah pacarku. Akankah kita berhasil tepat waktu jika kita menggunakan metodemu?”


"..."


Wajah Kamijou Touma menjadi kusut pada saat itu.


Hanya itu yang Hamazura ingin ketahui.


Kamijou bukanlah orang jahat. Dia tidak meremehkan Hamazura atau mencoba untuk menghalang-halangi langkah Hamazura. Dia memikirkan cara yang terbaik, kemudian memilih cara untuk memastikan kelangsungan hidup semua orang. Kamijou pun memutuskan bahwa ia harus menjauhkan Hamazura dari si pria tua sebelum dia bisa menerangkan semua permasalahannya. Untuk melakukan itu, dia bahkan menyerang Hamazura dengan melompat turun dari lubang lift tanpa pikir panjang. Dia memprioritaskan untuk melindungi Hamazura agar tidak melakukan tindakan sembrono. Hamazura mengerti semua usahanya itu.


Tapi ...


Kamijou tidak memiliki solusi yang pasti. Itulah yang membuat keadaan semakin pelik. Pada akhirnya, mungkin saja Kamijou bisa memecahkan semua masalah ini. Tapi, Hamazura tahu betul bahwa gadis yang ingin diselamatkannya adalah seorang esper Level 5 bertempramen yang tidak akan menunggu dengan sabar.


Jadi ...


"Sudahlah….." sembur Hamazura Shiage.


Mungkin saja Kamijou telah menyelamatkan hidupnya sekarang, tapi ada sesuatu yang tidak bisa Hamazura terima, walaupun itu adalah suatu hal yang benar.


"Jika kau tidak memiliki cara untuk melindungi mereka, maka minggirlah. Aku tidak mengatakan bahwa kau salah. Sepertinya kau benar…. Aku mungkin saja akan dikalahkan oleh si tua itu. Tapi aku masih harus memastikan bahwa mereka dapat melarikan diri. Kau bisa melihat aku dikalahkan oleh si tua bangka itu. Analisis pertarungan kami, dan temukan kelemahan untuk mengalahkannya.”


"Bagaimana jika ..."


Kamijou Touma langaung saja memberikan tanggapan.


Dia perlahan-lahan menggeleng dan menjawab.


"Bagaimana jika orang itu cukup kuat untuk menghancurkan dunia? Mungkin ini terdengar konyol bagimu. Tapi dia bisa saja menghancurkan seisi dunia, termasuk segala sesuatu yang sayangi. Apakah kau masih berani pergi dan menantangnya?”


"Maaf."


Setelah jawaban singkat itu, Hamazura memerintahkan pada Aneri untuk memberinya gerakan dengan kinerja mesin yang lebih tinggi.


Dengan suara gemuruh, lengan baja Power Lifter merobek udara.


Kamijou mengertakkan gigi dan mengayunkan tubuh bagian atasnya untuk menghindari ayunan lengan Power Lifter. Tinju baja dari mesin milik Hamazura tersebut tidak mengenai targetnya, kemudian menerobos pintu lift di belakang anak berambut runcing. Ketika Kamijou menyadari bahwa mesin itu sedang mempersiapkan suatu tendangan, ia berguling ke ruang masuk lift agar mendapatkan jarak yang cukup jauh darinya.


Power Lifter perlahan melangkah maju.


Hamazura membanting dua kepalan baja secara bersamaan dan memberi jawaban pada lawannya.


"Aku tidak peduli apakah tindakanku ini begitu sembrono atau bodoh. Bahkan jika aku menjadi musuh bagi mereka, aku masihlah ingin melindungi gadis-gadis itu. Hanya itu tujuanku.”


"..."


Bahkan Hamazura sendiri mungkin tidak menyangka bahwa dirinya bisa melantunkan kata-kata seperti itu.


Itu adalah sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh Kamijou.


Sembari memikirkan hal itu, Kamijou Touma menyipitkan matanya dan memberikan tanggapan.


Ia melakukannya sembari sedikit tersenyum.


"Aku juga sama sepertimu."


Ia mengalirkan kekuatan mengerikan ke tangan kanannya.


Tidak ada penjahat di sini. Mereka berdua berdiri di posisi yang berbeda.


Tapi itu sudah cukup.


Kamijou Touma dan Hamazura Shiage.


Bentrokan dua pahlawan telah dimulai.



Part 12[edit]


Ruang masuk lift cukup lapang.


Kamijou Touma dengan cepat menganalisis mesin Hamazura. Dan mereka berdua terpisah sejauh 7-8 meter.


(Itu bukan powered suit militer. Apakah ini adalah prototype model dari Power Lifter? Mesin ini digunakan untuk mengangkut kargo, tapi lengan-lengan baja itu masihlah suatu ancaman. Jika salah satunya meraih tubuhku dan melakukan gerakan gulat, aku akan diterkam. Tapi sepertinya mesin ini punya suatu kelemahan. Mungkin karena masalah peraturan, tetapi ia tidak dilindungi oleh baju besi seperti yang orang-orang pakai pada powered suit. Seranganku masih bisa mengenainya!!)


Pemikirannya mungkin tepat, tapi Kamijou telah salah menilai skala lawannya.


Tinggi Power Lifter sekitar tiga meter.


Bagi Hamazura dan mesinnya, perbedaan jarak mereka berdua yang kurang dari 10m akan bisa ditempuh hanya dengan beberapa langkah saja.


Mesin itu mengambil langkah maju dengan kuat.


Hal berikutnya yang Kamijou tahu, pandangannya diisi oleh mesin logam besar.

NT Index v12 175.png

"Kh !?"


Hamazura tidak mencoba untuk mengayunkan tinju atau mencengkramnya dengan menggunakan jari-jari raksasa itu.


Dia mengayunkan kaki mesinnya ke arah Kamijou dengan gerakan mirip seorang pesepakbola. Bukannya memberikan tekanan pada udara, aksinya ini lebih mirip merobek udara. Kamijou segera mencoba untuk bergulir ke samping, tetapi tepi pakaiannya tertangkap.


Itu sudah cukup untuk menekan tubuhnya, membuat dia berputar ke udara, dan membanting dia ke lantai yang bercorak kayu.


"Gbah! Uhuk.... Uhukk! Eugh…..Uhukk!?”


(Sialan, aku tidak cocok untuk jenis lawan seperti ini. Bukankah ini sama seperti melawan sebongkah mesin penggiling hanya dengan menggunakan tangan kosong!?)


Terlebih lagi, dia tidak punya waktu untuk menarik napas dan menyusun rencana.


Massa baja setinggi tiga meter tersebut berlari dan kemudian melompat ke arahnya. Kamijou tidak yakin apakah benda itu beratnya sekitar 100 kg atau justru 1 ton, tetapi ia tahu bahwa tubuhnya akan penyet jika benda seberat itu menindihnya.


(Aku akan tewas seketika !!)


Dia langsung saja berguling ke samping dan berhasil menghindarinya.


Ketika raungan meledak, Hamazura mengayunkan dua joystick. Lengan baja mengikuti gerakan tersebut dan tekanan telapak tangan raksasa menghujan ke bawah.


Hamazura telah memprediksi tindakan Kamijou.


Tubuhnya tergencet antara lantai dan telapak tangan robot, dan darah di dalam tubuh Kamijou seakan diperas.


"Bghueh !?"


Lengan terbuka seperti mulut buaya, meraih tubuh anak itu, dan mengangkatnya.


Sepertinya itu adalah gerakan yang kejam, tapi karena benda ini hanyalah sebuah mesin, maka pengemudinya bisa memberikan perintah untuk menggenggam targetnya dengan halus. Seperti seorang pegulat yang menggenggam sebutir telur dan tidak memecahkannya.


Hamazura tidak ingin repot-repot untuk mengatakan sesuatu.


Dia akan membuat Kamijou tidak sadarkan diri secepat yang dia bisa. Dia bisa mengatakan semua yang dia inginkan setelah si jabrik pingsan. Hamazura pun melakukannya.


Suara mekanik gigi dan silinder dari lengan mesin tersebut terdengar tenang.


Tapi, bahkan pada saat Kamijou tidak bisa menggerakkan diafragmanya dan mengalami kesulitan bernapas, ia dengan berputus asa mengayunkan lengannya ke sekitar. Dibandingkan dengan lengan mesin yang mencengkram seluruh tubuhnya, lengan Kamijou yang hanya terbuat dari daging dan tulang tampak begitu rapuh.


Namun, situasi segera berubah.


Kamijou Touma menggenggam tangki oksigen seukuran kaleng semprot rambut. Itu adalah oksigen cadangan untuk masker menyelam.


Dan ia mendorongnya ke persendian yang terdapat pada siku besi mesin.


Tekanan dari jepitan sendi sudah cukup untuk meledakkan tangki logam seperti balon.


Dengan suara “pop”, lengan yang mencengkram tubuh Kamijou berhenti bergerak dan dia tergelincir dari cengkeramannya. Mesinnya tidak rusak, tapi internal shock yang tiba-tiba pasti sudah memicu sistem pengaman otomatis.


"Aneri? Respon, Aneri !! Sialan !!”


Begitu ia menyadari bahwa satu tangan mesinnya tidak lagi bergerak sedikit pun, Hamazura mengayunkan lengannya yang lain.


Namun, Kamijou sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Dia menanggalkan mantelnya dan, layaknya seorang matador, dia mengelak ke samping pada detik terakhir. Mantel tersebut membungkus dan terjepit di sela-sela sendi lengan baja yang masih bergerak. Tampaknya, ini juga bisa menghentikan kinerja mesin.


Lengan itupun juga berhenti bergerak.


Tubuh manusia akan kehilangan keseimbangan jika lengannya berhenti bergerak. Suatu eksperimen pernah membuktikannya. Ada beberapa orang yang berjalan selama lima puluh meter dengan tangan terikat di belakang punggung, dan setelah berjalan beberapa saat, keseimbangan tubuh mereka mulai goyah. Jadi apa yang akan terjadi pada Power Lifter yang kehilangan keseimbangan pusat gravitasi setelah melepaskan suatu pukulan dengan segenap tenaganya?


Suatu suara tubrukan yang luar biasa terdengar di telinga Kamijou.


Hamazura dan Power Lifter terjatuh ke lantai seolah-olah dibanting oleh seorang ahli Judo. Mesin itu terbaring dalam posisi miring dan Kamijou dengan cepat berputar ke sisi perut mesin. Di sana, dia menemukan Hamazura yang terjerembab tanpa perlindungan.


Dia bahkan tidak punya waktu untuk membalas lawannya.


Dia hanya berencana untuk menendang ulu hati Hamazura dengan gerakan layaknya pemain sepak bola profesional agar Hamazura secepat mungkin tidak sadarkan diri.


Namun, itu hanyalah sebuah rencana yang tidak menjadi kenyataan.


Tepat sebelum menerima tendangan, Hamazura memblokirnya dengan menggunakan lengannya sendiri, yaitu lengan yang hanya tersusun dari daging-dan-darah. Sesaat kemudian, alat keamanan yang tampak seperti penahan tubuh penumpang roller coaster melonjak, Hamazura terbebas dan benda itu sekaligus menyapu kaki Kamijou.


Kamijou roboh dalam posisi telentang dan Hamazura menungganginya.


Mereka berguling bersama-sama di lantai dan saling berjual-beli jotosan. Sensasi tumbukan benda tumpul terasa di kepalan tangan mereka, pandangan mereka semakin kabur, bagian dalam mulut mereka robek, suatu cairan yang baunya mirip besi mulai mengalir, dan ada rasa panas yang berkumpul di ujung hidung. Mereka terus baku hantam tanpa jeda waktu untuk bernapas dan kesadaran mereka perlahan-lahan mulai memburam.


"Seperti yang aku katakan!! Caramu!! Tidak cukup!! Untuk mengalahkan Dewa Sihir!!”


"Itu tidak masalah! Sama sekali tidak masalah!! Jika aku menurutimu, aku tidak akan berhasil tepat waktu untuk menyelamatkan Takitsubo dan yang lainnya!! Mereka hampir saja berhadapan dengan seorang pria yang berbahaya!! Sekarang !!”


"Jangan mencoba untuk melawan Dewa Sihir ketika kau bahkan tidak tahu identitasnya!! Jika kau melakukannya, kau hanya akan berakhir sepertiku!!”


"Aku tidak peduli !! Aku benar-benar tidak peduli apa yang terjadi selama aku bisa menyelamatkan mereka !!”


Kemungkinan besar, Kamijou Touma atau bahkan Hamazura Shiage, tidak mengerti apa yang harus mereka katakan lagi.


Mereka bukanlah seorang ahli strategi yang bisa dengan mudah memikirkan berbagai macam rencana dan memilih rencana lain ketika salah satunya tidak bekerja.


Mereka berguling lagi dan lagi, sembari terus saling hantam.


(Maaf, Hamazura. Aku tahu kau merasa bertanggung jawab untuk suatu hal yang sangat penting di sini. Dan aku tahu bahwa hal itu begitu penting bagimu, sampai-sampai kau akan naik pitam dengan mudah ketika ada seseorang yang memintamu untuk mundur.)


Kamijou berada di atas. Dia mengepalkan tangan kanannya sekeras batu, mengertakkan gigi, dan melepaskan tinjunya ke pusat wajah Hamazura.


(Tapi serahkan saja semuanya padaku. Aku tidak bisa membiarkanmu berakhir dalam dunia hitam legam seperti yang pernah kualami!)


Saat efek tumbukan mencapai pahanya. Hamazura memegang suatu logam ramping yang menyerupai pena. Mungkin itu adalah salah satu komponen Power Lifter. Ujung benda itu tumpul dan berbentuk setengah lingkaran. Langsung saja, Hamazura menikamkan benda itu pada paha Kamijou. Darah tidak mengucur, tapi rasa sakit intens akibat tusukan benda tumpul sudah cukup untuk membuat Kamijou mengerang.


"Gah ... ah !?"


Tubuh bagian atas Kamijou runtuh karena pahanya menderita rasa sakit yang luar biasa, dan itu adalah suatu kesalahan. Kepala mereka berdua saling mendekat, Kamijou kehilangan keuntungan berada di atas. Hamazura meraih kerahnya dan menariknya lebih dekat.


Kemudian tangan Hamazura yang lain memberikan suatu deruan.


Meskipun Hamazura tidak bisa menghantam pinggul Kamijou, pukulan langsung ke batang hidung tampaknya cukup untuk menggelapkan pandangan Kamijou. Kamijou kehilangan keseimbangan, sehingga Hamazura mendorongnya pergi dan dia pun memulai serangan balik.


Dan ...


Dan ...


Dan ...


"Bahkan jika ..."


Pada saat yang sangat-sangat terakhir, Hamazura Shiage berada di atas angin.


Wajahnya sendiri lebam, bengkak, dan berlumuran darah akibat banyak luka sobek.


"Bahkan jika kau adalah seorang pahlawan yang mengakhiri Perang Dunia Ketiga dan juga berhasil mengakhiri pertempuran dengan GREMLIN ...”


Dia mengangkat kepalan tangannya yang berlumuran darah.


Apakah Hamazura atau Kamijou?


Dia tidak tahu, tapi senyum muncul di wajahnya yang sudah babak belur.


" St. Germain bajingan itu sedang membahayakan gadis yang amat kucintai, jadi adalah tugasku untuk menyelamatkannya."


Suara tumbukan yang mengerikan terdengar.



Part 13[edit]


"..."


Kamijou Touma menghela napas lemah sementara masih berbaring tergeletak di lantai.


Sekujur tubuhnya sudah babak belur, dan dia merintih kesakitan ketika menggerakkan persendian tubuhnya.


Hamazura dan Power Lifter telah pergi. Hanya jaket yang tadi digunakannya untuk menyegel pergerakan Power Lifter tersisa di sana. Setelah sistem mesin tersebut pulih dari error, sepertinya Hamazura naik kembali ke armornya dan pergi untuk menyelamatkan teman-temannya.


(Ahh ...)


Dia bahkan tidak sanggup menutupi wajahnya yang bengkak dengan telapak tangannya, dan Kamijou berbicara dengan ekspresi kosong ke udara.


"Aku benar-benar lemah."


Dia hanya mengeluh pada dirinya sendiri.


Kalimat itu tidak ditujukan kepada orang lain.


Namun demikian, ada seseorang yang menjawabnya.


“Harusnya kau sudah tahu itu dari awal. Aku masih bisa hidup sampai saat ini mungkin karena beberapa kebetulan yang menyelamatkanku, dan itu bukan berarti bahwa kau adalah seseorang yang kuat.”


"Othinus?"


Gadis seukuran boneka itu berdiri dengan pose angkuh di lantai Dianoid dan menunjukkan betapa bodoh tindakan yang sudah diambil oleh Kamijou.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Kamijou.”Bagaimana kau bisa ke sini?"


"Apakah kau sudah lupa? Tidak ada yang mustahil bagi seorang Dewa.”


Kamijou tahu bahwa itu bukanlah jawaban yang logis, sehingga dia berpikir dengan rasional.


Dia berhasil sampai ke tingkat tengah dengan terselip, panik, tersedot dan dimuntahkan oleh sebuah pipa air raksasa. Dia tidak punya waktu untuk fokus pada sekelilingnya ketika itu semua terjadi, sehingga mungkinkah Othinus memanfaatkan ukuran mininya untuk menyelinap dan menyelipkan diri pada masker selam tepat sebelum dia jatuh ke pipa?


"Tunggu sebentar. Tunggu sebentar, Othinus. Jadi sejak tadi kau menyelinap di sela-sela maskerku, dan aroma tubuhmu membuat aku menjadi bergairah dan bersemangat....sehingga aku bisa melewati semburan pipa air itu dengan selamat...dan - gyaaaaahhhh!?”


"Manusia, bisa tidak kita kembali ke topik?"


Dengan komentar acuh, Othinus membenamkan kepalan kecilnya ke tubuh Kamijou.


Meskipun sebagai dewa Norse, ia tampaknya tahu banyak tentang titik-titik akupunktur tubuh. Rasa sakit intens merambat di sekujur tubuh Kamijou dan tulangnya serasa bergetar. Kakinya pun seketika kejang dan menjadi lurus.


"Bh! Bhfh !? O-Othinus? B-Bukankah kau tadi hendak mengatakan sesuatu?”


"Tentu saja. Jika bukan karena ocehan anehmu itu, aku sudah melanjutkan perkataanku.”


Dia mengangkat bahu dengan ekspresi jengkel di wajahnya.


"Jangan salah. Jika kau kuat, aku pasti sudah selamat, ketika kita berdua ada di Denmark.”


"..."


"Apa pun itu, kau sangatlah berbeda dengan sorang Dewa Sihir. Entah memiliki kekuatan atau tidak, Dewa Sihir adalah suatu makhluk yang begitu superior jika dibandingkan denganmu. Bukankah itu benar? Jadi merasa malu karena kau lemah adalah suatu kebodohan murni. Dirimu yang sebenarnya menampakkan wujudnya ketika kau sadar bahwa kau kekurangan sesuatu, kemudian kau memaksakan untuk melakukan berbagai hal dengan wujudmu yang lemah.”


Ketika ia mendengar itu, mata Kamijou menyempit dengan gerakan lembut.


Kamijou merentangkan tangannya ke arah Othinus dan mengusap kepala kecilnya dengan ujung jari.


“Kau terlalu ramah, manusia."


"Maaf. Tapi, jangan pernah lelah untuk mengingatkanku ketika aku membuat suatu kesalahan.”


Kamijou berbicara tanpa rasa malu.


"Ingatkan juga bahwa aku selalu punya lawan yang tidak bisa kukalahkan dan harus kuakui ketangguhannya.”


"Hmph."


Othinus mendengus dengan kesal, tapi dia membiarkan Kamijou terus mengelus kepalanya.


Kamijou tahu bahwa dirinya begitu lemah.


Dia telah berhasil sampai sejauh ini karena dia memiliki sesuatu yang tidak ingin dilepaskan, walaupun dia begitu lepas.


Menjadi lemah bukanlah alasan untuk berhenti bergerak maju.


Othinus mengingatkan dia tentang hal itu.


Jadi ...


"Jangan khawatir," kata Kamijou.


Kali ini, ia hanya menggunakan kekuatannya sendiri untuk perlahan-lahan berdiri.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang, Othinus. Tadinya aku berharap untuk menghentikan Hamazura di sini, tapi aku tidak boleh lari dan meninggalkan Dewa Sihir padanya. Aku tidak ingin dia melihat hancurnya dunia, dan semua orang menyalahkannya. Namun situasi telah berkembang, aku harus menyesuaikan rencanaku untuk mencocokkan dengan situasinya.”


"Bagaimana tepatnya?"


"Aku masih membutuhkan bantuanmu untuk menganalisis pria bernama St. Germain ini, tapi aku akan menggabungkan kekuatan Hamazura dan yang lainnya bersama-sama. Prioritas utamanya adalah meloloskan teman-teman Hamazura dari bahaya. Aku bersedia bertindak sebagai umpan untuk itu. Setidaknya, St. Germain sudah tahu wajahku.”


Pada saat itu, Kamijou menyadari bahwa satu mata Othinus terbuka lebar dan dia membuat suatu ekspresi wajah yang Kamijou belum pernah lihat sebelumnya.


Othinus kemudian mengajukan suatu pertanyaan yang jelas.


"St. Germain?”



Part 14[edit]


Dikatakan bahwa ia telah memperoleh teknik rahasia untuk memperoleh keabadian, ia hanya makan air, gandum, dan pil, dan dia tak pernah menua.


Dikatakan bahwa ia adalah seorang bangsawan misterius yang pernah hidup pada abad pertengahan Eropa.


Dikatakan bahwa ia pernah beberapa kali muncul pada tempat dan waktu yang berbeda, sehingga orang-orang menyimpulkan bahwa dia menguasai suatu teknik penjelajahan waktu.


Dikatakan bahwa ia memiliki banyak teknik ajaib yang berhubungan dengan perhiasan dan ia sangat dihargai oleh para bangsawan lainnya karena kemampuannya dalam memperbaiki berlian yang tergores menjadi seperti baru lagi.


Dikatakan bahwa dia adalah seorang individu misterius yang menulis grimoire milik Cagliostro*. [Alessandro Cagliostro adalah seorang penganut okultisme asal Itali, 2 Juni 1743 – 26 Agustus 1795. Kami sengaja tidak menerangkannya lebih lanjut. Wikipedia Bebas]


Dikatakan bahwa tidak ada catatan yang akurat tentang kelahirannya.


Dikatakan bahwa tidak ada catatan yang akurat tentang kematiannya.


Dengan kata lain, St. Germain yang legendaris ini adalah suatu makhluk yang berasal dari masa lalu, namun terus hidup sampai masa kini.


Dengan contoh-contoh lain seperti Rasputin* dari Rusia atau Daji* dari China kuno, orang misterius kadang-kadang akan muncul di tempat politik atau masyarakat kelas tinggi, dan membawa kekacauan pada bangsa atau dunia. [Grigori Yefimovich Rasputin (Bahasa Rusia: Григо́рий Ефи́мович Распу́тин) (lahir 10 Januari 1869 – meninggal 29 Desember 1916 pada umur 47 tahun) adalah legenda Rusia pada masa-masa akhir Dinasti Romanov. Rasputin memainkan peranan penting pada masa Tsar Nicholas II, istrinya Tsarina Alexandra, dan satu-satunya putranya Tsarevich Alexei, yang menderita hemofilia. Rasputin sering disebut sebagai Biarawan Sinting, meski ia tak pernah menjadi biarawan dan tak pernah merahasiakan pernikahannya. Ia diduga seorang starets (ста́рец), atau religius, dan ia dipercaya dapat menyembuhkan penyakit fisik maupun mental. Ia dapat dipandang sebagai salah satu tokoh kontroversial pada sejarah abad ke-20, meski Rasputin kini dipandang oleh para sejarawan hanya sebagai kambing hitam. Ia memainkan peran kecil namun penting pada jatuhnya Dinasti Romanov yang akhirnya membawa kemenangan Bolshevik dan didirikannya Uni Soviet. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.] [Daji (妲己) adalah selir Kaisar Zhou dari Dinasti Shang. Ia adalah salah satu dari wanita cantik yang meruntuhkan dinasti di Cina.Pengaruh Daji terhadap Kaisar Zhou terlihat dari pesta pora yang diadakan di istana untuknya. Selain itu, Kaisar Zhou juga sering menjamu orang-orang terpandang atas pengaruh Daji. Kaisar Zhou pun meningkatkan penggunaan hukuman penyiksaan karena Daji ternyata menyukai jeritan orang kesakitan. Hal ini membuat rakyat berusaha menggulingkan pemerintahannya. Akhirnya, Raja Wu dari Dinasti Zhou yang membalas dendam atas kematian ayah dan kakaknya, berhasil menggulingkan Raja Zhou. Raja Zhou membakar diri sampai mati, sedangkan Daji akhirnya menggantung dirinya sendiri. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]


Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa St. Germain adalah contoh terbesar di dunia ini.


Setelah mengganggu bangsa demi bangsa, beberapa legenda lainnya akan berakhir ketika mereka dikalahkan oleh seorang penyihir terkenal atau sekawanan tentara. Beberapa legenda, seperti Tamamo-no-Mae* dari Jepang, melibatkan beberapa negara (meskipun teori ini mengatakan bahwa Daji dan Tamamo-no-Mae adalah orang yang sama), tapi dia bahkan sudah dipenggal pada suatu tempat di ujung dunia. [Tamamo-no-Mae (玉藻前 atau 玉藻の前, 玉藻御前?) adalah tokoh legendaris dalam mitologi dan cerita rakyat Jepang. Dalam Otogizoshi, kumpulan prosa Jepang ditulis selama periode Muromachi, Tamamo-no-Mae diceritakan sebagai selir Kaisar Konoe yang bertahta dari tahun 1142 hingga 1155. Ia dikatakan sebagai wanita paling cantik dan pintar di Jepang. Tubuh Tamamo-no-Mae secara misterius mengeluarkan wangi harum, dan pakaiannya tidak pernah lusuh atau kotor. Tamamo-no-Mae tidak hanya cantik, tetapi ia berpengetahuan luas dalam berbagai bidang ilmu. Walaupun ia terlihat baru berusia dua puluh tahun, tak ada pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya dapat ia jawab, mulai dari mengenai musik hingga agama dan astronomi. Kecantikan dan kecerdasannya membuat setiap orang di Istana Kekaisaran kagum dengannya. Kaisar Konoe juga sangat mencintainya. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]


Namun, St. Germain tidak cocok dengan deskripsi seperti itu.


Kemunculannya tersebar di beberapa daerah dan tersebar di seluruh periode waktu. Bukannya menghilang selama beberapa tahun saja pada suatu waktu tertentu, ia akan lenyap selama beratus-ratus tahun sebelum akhirnya muncul lagi. Suatu pemeriksaan hati-hati terhadap berbagai catatan sejarah telah menunjukkan bahwa dia sering membicarakan tentang berbagai informasi yang tidak mungkin orang-orang ketahui pada masa tersebut. Dan juga, tidak ada yang mampu mereproduksi perhiasan dan pilnya.


Benda-benda yang tidak bisa diproduksi dengan menggunakan level dan standar teknologi pada zaman tersebut dikenal sebagai artefak misterius. Dan jika dianalogikan, St. Germain adalah contoh hidup dari artefak-artefak misterius itu. Bukannya dikelilingi oleh artefak-artefak misterius yang tak terhitung jumlahnya, dia sendiri tampak tidak cocok dengan periode waktu tersebut.


Dan tidak ada catatan yang menginformasikan bahwa dia pernah dikalahkan.


Setiap informasi tentang makam yang diduga adalah kuburannya, ternyata tidak begitu terpercaya kebenarannya. Dan tak ada seorang pun yang mengaku sebagai keturunannya.


Kemunculannya begitu tidak teratur sehingga ia dikenal sebagai orang yang abadi atau penjelajah waktu, tetapi jika ada seseorang yang dengan hati-hati membaca berbagai legenda, maka dia akan memahami bahwa itu bukanlah isapan jempol belaka.


Atau lebih tepatnya, fenomena St. Germain telah mencapai tingkat yang tak dapat dijelaskan kecuali dengan beberapa ide yang benar-benar konyol.


Itulah sebabnya tidak ada yang tahu tentang dirinya.


Dia mungkin benar-benar suatu eksistensi yang abadi.


Dia mungkin berasal dari zaman kuno dan terus melakukan perjalanan lebih jauh ke masa depan.


Dia mungkin berasal dari masa depan dan terus melakukan perjalanan lebih jauh ke masa lalu.


Hanya ada suatu cara untuk mengetahuinya dengan pasti : perolehlah pengetahuan rahasia yang sama dengannya dan jadilah suatu mahkhluk yang sama dengannya.



Part 15[edit]


"Hai."


Dan, pria yang menamai dirinya sendiri dengan sebutan St. Germain muncul tepat di depan para gadis ITEM sambil membawa tombak aneh bernama Chambord. Dan dia mengistirahatkan tombak tersebut di pundaknya.


Mugino Shizuri menyipitkan matanya sedikit dan segera menyadari apa maksud dari tombak tersebut.


Mugino menunjuk ke arah dinding luar yang penuh dengan lubang.


"Apakah itu hasil pekerjaanmu?"


"Ya. Sejujurnya, aku tidak memerlukannya lagi ketika aku bisa sampai ke tingkat tengah yang terdapat stasiun TV Dianoid ini dan aku harus mendapatkan kembali perisai yang menghasilkan Gap positif dalam kisi, tetapi sayangnya, aku sudah membuat suatu janji. Bisakah kau sedikit tenang sebentar agar aku bisa mengabulkan keinginan seseorang?”


"Kinuhata." Mugino mengabaikannya.”Jika kau tidak ingin mati, tetaplah di tempat, dan lindungi Takitsubo dengan menggunakan Offense Armor milikmu. Aku akan mengurus orang ini.”


"Apakah kau yakin, Mugino?" tanya Takitsubo.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Jika kau khawatir Mugino akan super menggila dan membunuh pria itu, maka aku akan setuju denganmu.”


Pria dengan jas berekor itu pun tertawa.


“Apakah kau berpikir bisa lepas dari lubang maut dengan hanya menggunakan itu?"


“Sebagai orang asing, kau cukup percaya diri, pak."


Saat ia mendengarkan Mugino, St. Germain mengumpulkan beberapa kekuatan kecil di Chambord yang masihh beristirahat di bahunya. Dengan suara siulan, dia mengayunkan tombaknya di udara dengan gerakan setengah lingkaran dan mengacungkannya ke arah Mugino.


"Aku akan meminta untuk terakhir kali, wanita muda."


"Jika kau ingin mengeluh, lakukan saja di neraka."


"Sayang sekali. Aku kira inilah sebabnya mengapa mereka mengatakan bahwa ketidaktahuan adalah sebuah dosa.”


Dengan senyum ringan, mata St. Germain mendadak jadi serius.


"Sekarang, apakah kau akan tetap sombong ketika jantungmu sudah berada di luar tubuhmu?”


Sesaat kemudian, Meltdowner milik Mugino tanpa ampun menguapkan Chambord bersama-sama dengan lengan St. Lengan Germain.


Lengan pria itu menghilang sampai bahu.


Panas yang terik benar-benar membakar luka, sehingga tidak ada perdarahan.


Academy City # 4 yang berhati dingin berbicara kepada St. Germain. Dan si pria tua hanya bisa menatap kosong ke arah lengannya yang sudah tiada.


"Apakah kau mengejek aku?"


Suatu ledakan emosi segera terjadi.


Namun, itu tidak datang dari Mugino ataupun St. Germain. Itu datang dari kerumunan orang ketakutan yang berkumpul di panggung. Dengan jeritan yang memekakkan telinga dan teriakan kemarahan, mereka melarikan diri dengan sekuat tenaga. Mereka berlarian tunggang-langgang, sehingga beberapa kali, ada orang yang saling tindih layaknya kartu domino.


Orang-orang di sekitarnya menghilang, wilayah itu sekarang benar-benar kosong, dan St. Germain berbicara.


Meskipun lengannya sudah lenyap, ia masih bisa tersenyum.


"Ngomong-ngomong, wanita muda. Apakah kau memiliki seseorang yang begitu ingin kau lindungi?”


"Apa?"


"Jika demikian, kau harus memperhatikan ini dengan lebih serius. Terutama, jikalau kau adalah tipe orang yang begitu perhatian pada sesama, maka kau sebaiknya mendengarkan ini.”


Mungkin akibat panas yang berlebihan, beberapa kancing di jas berekornya jatuh ke lantai.


Jas berekor itu terbuka dan memperlihatkan sesuatu seperti tanah liat yang terikat di perutnya.


Mugino segera menyadari benda apa itu.


“Kau- ... !!"


Pria itu sama sekali tidak menunjukkan keperdulian terhadap lengannya yang hilang. Tampaknya, itu juga berlaku bagi nyawanya.


"Biarkan aku memberitahumu suatu hal."


Pria merubah topik pembicaraannya sembari terus tersenyum.


"Bahkan jika seorang St. Germain meninggal, ideologi St. Germain tidak akan pernah binasa. ... Itu tidak akan pernah binasa.”


Bahkan tidak berlangsung sedetik.


Suatu ledakan besar menyerang ITEM dan melanda seisi bangunan sampai ke pojok-pojok ruangan.



Part 16[edit]


"Ugh ..."


Aihana Etsu memegang kepalanya ketika berada di atap Dianoid.


Dia jauh-jauh datang ke sini untuk mengejar temannya yang hilang dan menyelamatkannya dari kegelapan.


Dia tidak bisa mengandalkan metode normal untuk mencari rahasia temannya, sehingga dia menggunakan bantuan suatu unsur ireguler seperti St. Germain. Dan sepertinya itu bisa meningkatkan kemungkinan berhasilnya.


Tapi ...


Suatu visi mengerikan melintas melalui pikirannya.


Chambord yang tak terhitung menonjol dari dinding dan lantai. Untuk menembus berbagai hambatan yang menghalanginya, lubang-lubang seukuran kepalan tangan muncul di tubuh dan wajah setiap orang yang lewat. Adegan mimpi buruk itu tidak terasa nyata baginya dan suatu hal yang janggal terus merasuki kepalanya ketika dia mengingat pemandangan itu.


Mungkinkah ia benar-benar menggunakan sesuatu seperti itu?


Apakah itu benar-benar sesuatu yang bisa dikendalikan oleh seseorang?


"Pada akhirnya, jika kau lemah, kau harus melakukan segala hal dengan cara yang lemah pula."


Suara lain tiba-tiba memasuki pikirannya dan bercampur bersama-sama dengan mimpi buruk tersebut.


Dia mengendalikan napasnya secara teratur.


Bahkan jika itu hanyalah gambaran mental, ia masihlah harus berusaha begitu keras untuk melepaskan diri dari rantai-rantai yang seakan-akan menyegel kesadarannya itu.


"Tentu saja, menjadi seseorang yang kuat adalah hal terbaik, tapi selama kau tahu seberapa banyak hal yang dapat kau lakukan dan seberapa jauh jarak yang bisa kau capai, kau tidak akan salah. Yang menakutkan adalah, tipe orang yang tidak tahu pencapaian apa yang harus diusahakannya. Itu sama saja berjudi dengan hidupmu sendiri.”


"..."


Ketika si gadis mengatakan itu, si pria tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan.


Tapi sekarang dia tahu.


St. Germain adalah eksistensi yang terlalu misterius. Jika ia mengandalkan itu, ia hanya akan ditikam dari belakang. Dia masih akan mencari rahasia temannya yang terletak di Dianoid, tapi dia harus melakukan semuanya sendirian agar berhasil. Dia tidak bisa hanya duduk manis dan mengandalkan keberuntungan datang menghampirinya.


Dia punya rencana sekarang.


Dia melihat sekeliling dan mulai menuju pintu keluar.


(St. Germain mengatakan bahwa pintu itu akan terbuka untukku.)


Dia mencoba memutar knobnya dan pintu itu sungguh-sungguh terbuka dengan mudah.


Pintu itu terbuka tanpa suatu halangan pun dan udara panas lembut meniup wajahnya.


Bukannya melewati pintu atau menutupnya, ia malah menempatkan batu yang diambilnya dari kebun, kemudian meletakkannya di antara pintu dan kusen sebagai palang.


"Dan sekarang ..."


Kali ini, ia berlari ke tepi atap.


Dianoid terdiri dari tujuh puluh lantai, sehingga percuma saja mencoba turun dari ketinggian itu. Dia tidak bisa turun atau bahkan berkomunikasi dengan orang yang ada di bawahnya. Jika ia menulis catatan dan melemparkannya ke bawah, ia tidak tahu siapakah yang akan menemukan catatan itu.


(Tapi kalau aku bisa memberitahukan kepada mereka bahwa pintu atap sedang terbuka, maka Anti-Skill bisa datang dengan membawa helikopter untuk menyelamatkan semua orang.)


Dia berjalan di sepanjang tepi atap.


Entah untuk memperkuat Dianoid atau hanya untuk dekorasi, ada kabel tebal yang tergantung secara diagonal di antara dinding bangunan dan permukaan. Dia tentu saja tidak berniat untuk mendaki salah satu dari kabel-kabel tersebut, tetapi jika ia meluncur suatu benda padanya, maka ia bisa menjatuhkan benda tersebut dari atas gedung, dan gaya gesek yang terjadi pada kabel pasti bisa memperlambat gerak jatuhnya.


Ia menemukan salah satu kabel di tepi atap.


Dia melepas kawat tipis yang mengikat pohon-pohon pinus di taman dan membuat ikatan berbentuk lingkaran kecil di sekitar kabel tebal. Dia mengeluarkan ponsel lipat miliknya, mengaktifkan alarm GPS, mengikatkan gantungan ponsel pada kawat, menempatkan catatan di antara ponsel lipat tersebut, dan melepaskannya.


Seperti layaknya lift ski, ponsel itu meluncur menuruni kabel Dianoid yang tebal.


Ketika ada pihak berwajib yang mendeteksi sinyal GPS, mereka akan bergegas untuk mencarinya. Jika mereka menemukan catatan itu, mudah-mudahan mereka akan tahu bahwa pintu di atap Dianoid sedang terbuka.


(Hanya ini yang bisa ku usahakan.)


Aihana Etsu berbalik di tengah malam Academy City yang kelam.


Dia berjalan melalui pintu yang terbuka untuk kembali masuk sekali lagi ke Dianoid.


(Aku juga harus mengambil tindakan.)



Part 17[edit]


"Dasar idiot. Aku bertanya-tanya tentang apa yang begitu kau khawatirkan, tapi ternyata kau benar-benar bodoh!”


Othinus mini sangat marah, seakan-akan dia tampak akan meletus.


Kamijou bingung dengan kemarahan Othinus yang tiba-tiba.


"Eh? Um, apa?”


"Dengar." Othinus menekan jari telunjuknya pada pelipisnya sendiri. ”Legenda St. Germain sangatlah terkenal. Itu bahkan sudah meluap dari sisi sihir dan mencapai masyarakat umum. Jika kau menanyai seorang penyihir secara acak tentang nama sepuluh orang paling terkenal, nama St. Germain pastilah akan disebut bersamaan dengan Rosenkreuz* dan Mathers*. Itu karena posisinya sangatlah tinggi.” [Christian Rosenkreuz adalah pendiri Order of the Rosy Cross, dan kami sengaja tidak bahas lebih lanjut. Wikipedia Bebas.] [Samuel Liddell MacGregor Mathers adalah pendiri Hermetic Order of the Golden Dawn, dan kami sengaja tidak bahas lebih lanjut. Wikipedia Bebas.]


"U-um ..."


Kamijou mengerutkan kening karena dia sama sekali tidak mengerti betapa terkenal nama Rosen.....apalah itu.


"Tidakkah itu berarti St. Germain sangatlah terkenal, sangatlah kuat, dan protagonis dari beberapa mitologi?”


"Tapi," Othinus memotong dengan tegas.”St. Germain hanyalah suatu nama.”


"Eh?"


Kamijou bahkan tidak sedikit pun mengerti tentang apa yang ia maksud.


"Di sisi sihir, ia mungkin dikenal sebagai semacam tukang tipu yang langka. Pada awalnya, pesta bangsawan adalah suatu event bebas yang memungkinkan kau menyelinap ke acara tersebut, kemudian kau bahkan bisa memperoleh investasi dari orang-orang kaya di sana. Sudah merupakan hal yang umum ketika kau memakai nama orang terkenal saat menyelinap dalam suatu pesta bangsawan, tetapi identitas St. Germain begitu identik dengan tempat rendahan layaknya comberan. Anggap saja dia adalah seorang tengkulak yang suka menjual bola kaca murahan, namun dia selalu mengatakan pada pembeli bahwa itu adalah suatu berlian mutu tinggi. Keabadian? Penjelajah waktu? Itu semua bahkan tidak layak disebut trik.”


"Tunggu Tunggu! Kau bercanda, kan? Maksudku ...”


"Menciptakan legenda tentang keabadian atau penjelajah waktu adalah perkara gampang. Dia berbicara tentang waktu dan tempat yang belum pernah dia lihat. Dia bisa mengirimkan surat sebagai bukti bahwa ia pernah ada di suatu tempat. Bahkan terkadang, dia menambahkan penundaan waktu pada catatan sejarah sehingga seakan-akan dia sedang berada di suatu time capsule. Itu semua hanya alibi murahan karangannya.”


"Tunggu !! Dia ... dia benar-benar membuat dunia terdistorsi di depan mata-kepalaku sendiri! Itu seperti ... seperti ini ... Ahhh....Sulit untuk dijelaskan, tapi dinding, lantai, dan langit-langit….semuanya berubah menjadi senjata, lubang-lubang muncul pada sekujur tubuh orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar, dan semua senjata itu menyerangku sekaligus!”


"Apakah kau lupa?" Othinus terdengar benar-benar jengkel.”Ini adalah Dianoid. Seluruh bangunan terbuat dari bahan karbon. Itu berarti kau tidak perlu mengendalikan setiap fase, setiap dimensi, dan setiap elemen untuk menciptakan dunia yang “seakan-akan” tampak terdistorsi. Seorang penyihir yang mampu mengendalikan karbon bisa dengan mudah melakukannya.”


"..."


"Ada dua legenda utama tentang St. Germain. Yang pertama adalah bagaimana dia menaklukkan penuaan. Dia tidak akan menua karena dia adalah eksistensi abadi atau bisa melakukan perjalanan waktu. Dia bisa melakukan prediksi tentang masa depan dan dia juga bisa mengetahui berbagai rahasia besar. Itu semua karena dia bisa melakukan perjalanan waktu. Yang kedua adalah kemampuannya untuk mengontrol perhiasan dan mengembalikan berlian tergores ke bentuk semula. Bukankah itu tampak sesuai dengan situasi klise yang kau hadapi sekarang?”


Berlian adalah karbon.


Bangunan ini terbuat dari karbon.


Tubuh manusia adalah bahan organik. Dan semua bahan organik juga terbuat dari karbon


Apa artinya?


"Tapi ... dia tahu."


"Tahu apa?"


"Tahu tentang Dewa Sihir! Othinus, tanpa kau, ide tentang Dewa Sihir hanya akan menjadi fantasi. Bahkan pengetahuan 103.000 grimoires tidak banyak tahu tentang hal itu! Bagaimana ia bisa berpura-pura menjadi seorang Dewa Sihir dengan begitu akurat !?”


"Jangan bodoh," sembur Othinus.”Apakah kau lupa dengan apa yang telah terjadi di Denmark? Karena gangguan Amerika, beritanya tersebar sampai ke seluruh pelosok bumi. Mungkin berita itu tidak cukup detail untuk menceritakan tentang apa itu Dewa Sihir, dan bagaimana cara kerja kekuatan Dewa Sihir. Dan bahkan, mungkin berita itu tidak cukup detail untuk menerangkan apa itu sihir dalam arti sederhana. Tapi siapa pun bisa memperoleh informasi lebih banyak setelah mengamati bentuk dan cara kerjanya. Orang yang bernama St. Germain ini sepertinya sudah memeriksa setiap situs video untuk menemukan semua informasi yang ia butuhkan. Mungkin ini sungguh memalukan, tapi kau harus mengakui bahwa kau sudah ditipu mentah-mentah.”


“…………………………………………………………………………………………………………………………”


Lalu, dia itu apa?


Jika St. Germain bukanlah Dewa Sihir seperti Othinus, maka dia hanyalah seorang penyihir normal (jika itu bahkan tidak berarti apapun pada saat ini) yang belum mencapai tingkat itu?


"Tapi," kata Othinus.”Jika kita melawan St. Germain di sini, itu akan menciptakan masalah yang jauh berbeda dengan Dewa Sihir yang terkonsentrasi pada satu titik.”


"Apa maksudmu?"


"St. Germain tidak hanya dikenal sangat piawai dalam hal tipu-menipu. Apakah kamu tahu apa yang menyebabkan rumor tentang dirinya begitu dikenal dan menyebar?”


Dia menjawab pertanyaannya sendiri.


"Legenda itu palsu. Ini dimulai dengan kabar burung dan sama sekali tidak memiliki kredibilitas. Tetapi seseorang pasti telah menghidupkan karakter St. Germain. Mereka menggunakan legenda dan sihir yang sudah tersedia di masyarakat untuk melihat apakah mereka bisa membuat legenda tersebut menjadi nyata. Proses yang sama juga terlihat pada Necronomicon*. Dengan menggunakan luasnya lautan ilmu pengetahuan, mereka sengaja membesar-besarkan kisah kecil ini menjadi suatu legenda. Aku tidak tahu apakah mereka memang terpesona dengan kisah itu, atau apakah mereka menggunakannya untuk menyamarkan sesuatu. Namun mereka menyebarkan rumor tersebut dengan melibatkan beberapa pihak dan orang-orang yang ingin melihat legenda itu dengan mata-kepalanya sendiri. Dengan begitu, mereka mendapatkan sekumpulan orang yang begitu percaya dan yakin terhadap legenda tentang St. Germain.” [Necronomicon adalah buku karangan H. P. Lovecraft pada tahun 1922 yang berisi tentang hukum-hukum kematian. Wikipedia Bebas.]


Othinus terus melanjutkan kalimatnya untuk memberikan pernyataan terakhir.


"Ideologi St. Germain adalah mensinkronisasikan pikiran masyarakat dan menginfeksinya. Dan ia melakukannya dengan sangat mudah. "


Kamijou mendengar langkah kaki.


Dan itu bukanlah langkah kaki satu orang saja. Dia dan Othinus terkepung.


Mereka mengisi setiap pintu keluar dari ruang lift.


Kamijou dengan cepat melihat sekeliling dan sepanjang mata memandang, ia hanya bisa melihat orang-orang yang mengenakan jas berekor. Setidaknya, beberapa puluh St. Germain mengamati dia dengan tenang.


Mungkin tidak ada sosok asli yang menjadi pusat kendali di antara mereka.


Layaknya sistem transmisi, mereka semua adalah menara kontrol dan mereka semua adalah terminal. Kehilangan salah satu dari mereka tidak akan menjadi masalah.


Apa pun itu, salah satu dari mereka mulai berbicara.


"Jadi kita bertemu lagi dengan begitu cepat, Kamijou Touma."


Sesaat kemudian, mereka berubah wujud menjadi tombak yang tak terhitung jumlahnya. Sekeliling ruangan tersebut seakan-akan berubah menjadi selimut yang terbuat dari duri landak.



Diantara Baris Kedua[edit]


Aku sudah terbiasa dipanggil pembohong.


Jika kau tidak sudi memanggilku Dewa Sihir, dan itu bisa sedikit melegakan amarahmu, silakan saja.


Tidak ada gunanya memasukkan aku dalam katagori "penyihir" atau mengkelompokkan aku dalam ranah "Dewa Sihir". Keberadaanku hanya dapat dideskripsikan sebagai "aku".


Aku adalah seorang kategori ketiga.


Aku bukanlah seorang penyihir ataupun Dewa Sihir.


Aku adalah St. Germain.


Tidak ada suatu istilah pun yang bisa menggambarkan aku, tetapi tampaknya beberapa orang keras kepala mengalami kesulitan dalam memahami konteks tersebut. Hal ini mirip dengan betapa mereka terobsesi dengan logika. Dan sekelompok orang tidak bisa memahami kilauan dari struktur kristal-buatan-tidak-stabil yang disebut berlian.


Berdebat melawan orang-orang yang tidak kompeten adalah suatu perbuatan yang sia-sia belaka.


Tidak ada gunanya berbicara pada orang-orang yang begitu mendewakan "akal sehat". Bukannya mereka pandai, mereka hanya terlalu bodoh untuk melihat kebenaran.


Tidak peduli berapa kali kau membuktikan kebenaran, para kaum skeptis itu seakan-akan memiliki suatu filter yang melarang mereka percaya pada bukti-bukti nyata, walaupun itu tersaji di depan mata-kepala mereka sendiri.


Namun aku tidak pernah melarang manusia bersenang-senang dalam kegembiraan menyedihkan itu.


Aku hanya bisa menonton dalam kepuasan dikala mereka menua, menipis, dan akhirnya ingin mengandalkan metode keabadian milikku.


Tentu saja, aku tidak terselip ke dalam masyarakat kelas tinggi karena aku tertarik pada ketenaran atau keberuntungan.


Justru sebaliknya, pada kenyataannya, aku mengumpulkan kekayaan yang tidak diinginkan dan keberuntungan murahan. Menurutku, menampilkan hal-hal mewah seperti itu justru suatu hal yang paling tidak penting ketika kau ingin muncul pada suatu kelompok dan komunitas.


Sebenarnya, kemalangan seperti itulah yang kuharapkan didapatkan oleh kaum-kaum kelas atas.


Mereka telah memungkinkan kerangka itu membusuk dan menjadi cangkang kosong seperti sedia kala, tapi apa yang aku inginkan masihlah tetap terletak di dalamnya.


Dan jadi aku mencarinya. Aku terus berenang melalui lautan lumpur yang begitu busuk dan hina untuk mencari suatu kemungkinan. Aku hampir tenggelam dalam lautan hasrat dan keinginan manusia yang tak terhitung jumlahnya.


Ah.


Nak, sudahkah kau menyadari nilaimu yang sebenarnya?


Kau tampaknya telah mendapatkan kekuatan sementara dengan melihat dirimu sendiri sebagai orang lain, tetapi sudahkah kau menyadari nama apa yang kau tanggung dan kekuatan apa yang kau genggam?


Tidak semua orang harus menjadi nomor 1.


Kau hanya perlu mencari sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain.


Kau dapat mendengar ide seperti itu dimana saja, tetapi itu tidak dapat digunakan sebagai alasan oleh para pengalah yang tertawa dan menolak untuk berkompetisi. Hal ini tidaklah sesederhana itu. Daripada mengikuti jalan ke puncak gunung yang telah ditetapkan oleh orang lain untukmu, lebih baik kau buat jalur baru sendiri. Itu jauh lebih sulit namun sangatlah terpuji.


Nak, kau telah memperoleh itu.


Pastinya, aku tidak berharap menemukannya di Academy City, tapi itu menjelaskan mengapa aku tidak sanggup menemukan tanda-tanda itu di Paris, Berlin, atau Moskow. Tidak…..Sudah cukup. Aku hanya harus menerima kegagalan dan terus maju. Aku harus fokus pada fakta bahwa Gereja Anglikan memiliki hubungan erat dengan Academy City.


Bagaimanapun juga, akhirnya aku bisa bertemu denganmu, nak.


Perisai yang cocok bagi pedang.


Menurutmu, sudah berapa lama aku mencarinya? Terlalu memalukan jika kau menjawab : "sejak 1600-an". Kau tidak dapat mengandalkan sejarah yang ditetapkan oleh para kaum skeptis dan orang-orang yang tidak mampu bekerja untuk diri mereka sendiri.


Jika dipikir ulang, itu adalah kurun waktu yang sia-sia, tetapi berpikir secepat ini sudah cukup untuk menghapus semua kelelahan.


Sekarang, saatnya untuk memanen buah dari hasil kerjaku.


Apakah kau sedang melihatnya, wahai para Dewa Sihir? Sama seperti seorang penyihir Inggris kuno yang menggunakan pedang unik untuk memilih satu jiwa, aku telah memperoleh sesuatu yang tidak kau miliki.


Aku adalah St. Germain. Aku hanya menginginkan kebenaran tunggal.


Dan untuk itu, aku akan menyebar kebohongan yang tak terbatas.



Chapter 3: Peninggalan Seorang Gadis yang Menghilang — Hard_MEMORY.[edit]

Part 1[edit]


Apa yang Kamijou Touma pikirkan pada saat itu?


Mungkin adalah para Sister. Mereka adalah kloning militer yang diproduksi secara massal berdasarkan DNA Academy City Level 5 # 3. Gadis-gadis itu menggunakan gelombang otak identik dan kemampuan pengendalian listrik untuk membangun jaringan data hidup unik yang dikenal sebagai Misaka Network. Mereka menggunakan jaringan tersebut untuk berbagi memori, teknik, dan pengetahuan.


Mungkin adalah rumor yang ia telah dengar tentang Academy City # 5. Monster itu adalah seorang gadis, tapi dikatakan bahwa dia bisa membaca pikiran, berbicara secara telepati, mencuci otak, menghipnotis, dan mengontrol hampir setiap bagian dari pikiran lawannya. Di satu sisi, dia menciptakan sejumlah besar boneka yang dikendalikan oleh menara kontrol tunggal.


Mungkin adalah Dokumen C. Yaitu benda spiritual yang Terra of the Left dari Kursi Kanan Tuhan coba aktifkan di Avignon, Prancis. Efeknya adalah mengarahkan kebencian dunia terhadap Academy City.


Mungkin adalah Leshy. Yaitu suatu mantra pengendali pikiran yang digunakan oleh Saronia A. Irivika di Hawaii sehingga GREMLIN bisa mengambil kontrol administratif dari Amerika Serikat.


Mungkin adalah Yakumi Hisako. Dia adalah mantan anggota dewan direksi Academy City. Dia telah menciptakan proyek Agitate Halation untuk mengumpulkan para pahlawan secara massal di sekitar Fremea Seivelun.


"Uuh ..."


Puluhan orang dengan jas berekor mengelilinginya.


Di gerombolan itu ada laki-laki dan perempuan, tua dan muda, tapi tampaknya mereka telah mencocokkan penampilannya secara paksa agar terlihat sama dengan rekan-rekan lainnya.


Rasanya seperti semacam sinkronisasi atau paralelisme.


Setiap manusia di sekeliling Kamijou berubah menjadi duri yang pernah dilihatnya beberapa menit yang lalu.


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?"


Seluruh rambut di tubuh Kamijou berdiri tegak sembari dia menjerit. Sesaat kemudian, "mereka" datang.


Mereka meledak dari dinding, lantai, dan langit-langit.


Seluruh pemandangan berubah jadi menyimpang dan berombak-ombak. Tombak yang jumlah dan ukurannya tak terhitung ditembakkan dan langsung saja menuju ke arahnya bagai hujan yang deras.


Jika dihitung secara kasar, tampaknya ada seratus Chambord untuk setiap wujud St. Germain.


Keunikan mantra para St. Germain memungkinkan mereka untuk mengontrol berlian, karbon, dan dengan demikian, seluruh benda di bangunan ini juga berada di bawah kendalinya.


Tidak mungkin Kamijou bisa meniadakan setiap serangan dengan hanya menggunakan tangan kanannya.


Jadi tindakan yang ia mengambil adalah sederhana.


Dia menendang tabung pemadam kebakaran yang terletak di dekatnya dan mendorongnya ke depan.


Begitu tabung itu melakukan kontak dengan tombak, gas di dalamnya terkompresi, kemudian meledak keluar. Bubuk pemadam api tampak berwarna lebih merah muda daripada putih, dan itu menutupi semua ruangan. Jarak penglihatan adalah 0m. Tombak yang tak terhitung jumlahnya mengisi seluruh ruangan dalam pola seperti kisi dan menembus penghalang yang terbuat dari bubuk pemadam api.


Tapi Kamijou sudah pergi.


Hanya bubuk pemadam api yang tersisa di sana. Bubuk itu pun tercabik-cabik, kemudian menguap begitu saja ke udara.


(Tidak salah lagi.)


Sekumpulan St. Germain ini tampaknya mengalihkan fokus mereka dari pintu yang hancur ke lubang lift.


Namun, Kamijou telah melarikan diri melalui tabir asap dan menyelinap di sela-sela mereka.


Dia berlari, hampir tersandung, dan melarikan diri ke daerah lain.


(Jika yang St. Germain dapat lakukan “hanyalah” mengontrol Dianoid, maka tidak ada gunanya di muncul di hadapanku. Dia hanya bisa mengubah seluruh bangunan menjadi ratusan duri seperti iron maiden*. Dia tidak melakukan itu ... tidak…..dia tidak bisa melakukan itu, jadi harusnya ada suatu alasan. Harusnya, dia hanya dapat menggunakan sihir pengendali karbon berdasarkan indera yang disinkronisasikan atau dipararelkan dengannya. Tampaknya dia tidak bersembunyi di sini karena ada begitu banyak St. Germain yang bercampur!) [Iron maiden adalah sejenis alat penyiksaan yang terbuat dari semacam lemari, namun bentuknya sangat pas dengan tubuh manusia, dan di dalam lemari tersebut ada banyak duri-duri besi. Ini mirip dengan peti mati mumi yang diisi dengan duri-duri besi. Wikipedia Bebas.]


Kamijou menelan ludah dan berusaha sekeras mungkin untuk menenangkan dirinya.


(Aku tidak sedang melawan seorang Dewa Sihir Yang Mahakuasa di sini. Dia mungkin terlihat seperti itu, tapi pasti ada alasan di balik setiap tindakan individualnya. Harusnya ada semacam batas pada munculnya lubang-lubang di sekujur tubuh manusa itu. Jika tidak, sejak awal dia sudah membuat lubang di lenganku sampai terputus atau melubangi jantungku sampai bocor.)


Dan hal yang sama harusnya berlaku pada kemampuannya dalam melakukan sinkronisasi dan menginfeksi orang lain.


(Aku bisa menemukan kelemahannya.)


Dia mengepalkan tangan kanannya.


Dia masih tidak tahu apa yang harus ia tiadakan, tapi bahkan begitu ...


(Mereka bagaikan senjata berjalan, tetapi pasti ada semacam alat yang mengendalikan semua pergerakannya. Jika gerakan mereka sudah disinkronkan atau dipararelkan, itu berarti orang-orang ini sepertinya adalah para guru dan murid di kota ini. Jika aku dapat melenyapkan itu, mereka akan kembali normal!!)


Dan kemudian ...


"..."


"..."


"..."


"..."


Semua St. Germain ini menolehkan kepala mereka dan menghadapi Kamijou dengan serempak.


"Sialan !!"


Sambil membungkuk dengan rendah, ia bergegas maju.


Gelombang kedua serangan tombak terbang tanpa ampun menghujam ke arahnya.



Part 2[edit]


Setelah sosok-sosok St. Germain yang tak terhitung jumlahnya mengejar Kamijou dari daerah yang berbeda, ruang masuk lift ditinggalkan dalam keadaan kosong.


Namun, salah satu lentera kertas berbentuk persegi yang terdapat pada jalur aliran air itu bergetar.


Seorang gadis setinggi lima belas sentimeter menjulurkan kepalanya keluar dari dalam.


Itu adalah Othinus.


(Anehnya, mereka mempunyai indra yang tidak dapat diandalkan. Apakah perubahan wujud mereka menjadi St. Germain sudah cukup memuaskan, sehingga setiap unit individu belum disesuaikan dengan benar? Apakah dia sudah meningkatkan kemampuannya untuk mengendalikan berlian dan mendapatkan kemampuan untuk mengontrol karbon secara menyeluruh? Jika kami hanya memiliki satu kesempatan di sini, maka dia adalah musuh yang cukup merepotkan.)


Othinus tidak bersembunyi di balik lentera atas kemauannya sendiri. Begitu Kamijou membuat tabir asap dari bubuk pemadam api, dia telah menyelipkan Othinus dalam lentera dan melarikan diri.


Sepertinya Kamijou sengaja menggiring para St. Germain itu agar menjauh dari Othinus.


(Jika itu adalah bagian dari "kebiasaan buruk"-nya, maka ini adalah saat untuk memukulnya, tapi ...)


Dia menghela napas.


Dia menduga Kamijou hanya berusaha untuk mendapatkan informasi tentang St. Germain. Bagaimanapun juga, Othinus pernah menjadi Dewa Sihir seutuhnya dan Othinus pun pernah menganggap dia sebagai lawan yang "merepotkan".


Layaknya saluran telekomunikasi, St. Germain tidak memiliki unit pusat atau unit terminal. Mereka semua disinkronkan dan mereka semua dipararelkan. Inti kristal yang terbentuk di sekitar pendistribusian larutan berkosentrasi tinggi dan bahan yang melekat di sekitarnya, benar-benar identik*. [Dia sedang membicarakan tentang kloning St. Germain. Kloning-kloningnya begitu identik dan memiliki kemampuan serupa.]


Berlian adalah benda yang begitu keras dan memecahkannya tidak akan mengubah struktur materialnya.


(Tapi ...)


Dikatakan bahwa, berlian adalah kristal yang terbuat dari karbon murni, tetapi karbon paling murni sekalipun, kadarnya hanya 99.9%. Lebih dari dua puluh jenis zat kotor mengisi sisanya. Dan kurang dari 0,1% zat kotor bisa mengubah sifat berlian secara keseluruhan. Sifat kekerasan berlian berdampak pada : konduktivitas listrik, warna, dan transparansi. Zat-zat kotor tersebut bukanlah inti dari berlian, tetapi itu adalah controller yang memanipulasi seluruh kristal.


Hal tersebut juga berlaku bagi St. Germain.


Dia adalah seorang penyihir yang bisa mengendalikan berlian. Dia adalah manusia yang bahkan bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, karena tubuh adalah bahan organik, dan semua bahan organik adalah karbon. Jadi, jika St. Germain diibaratkan sebagai suatu kristal raksasa yang diciptakan oleh sinkronisasi dan pararelisasi kelompok, ia harusnya memiliki semacam controller.


Sambil memikirkan itu, Kamijou akan menyerang St. Germain dari barisan sementara Index dan Othinus di barisan belakang akan menganalisis dan menemukan kelemahan mantranya. Itulah strategi yang tepat untuk melawan St. Germain.


"Tapi tetap saja," gumam 15cm Othinus.”Setalah melalui ratusan miliar fase, aku luput dari Misaka Network yang sanggup memanipulasi perbatasan antara hidup dan mati. Apakah manusia itu juga memiliki kemungkinan untuk selalu muncul atau muncul lagi di setiap dunia atau fase yang kubuat?”


Dia melihat ke lantai dan melihat beberapa gumpalan darah.


Dia itu adalah bercak darah milik Kamijou Touma.


(Bagi manusia itu, menggunakan bantuan dari kawannya pasti sama saja dengan menggunakan zat kotor untuk membentuk lubang dalam struktur kristal. Aku yakin bahwa dia tahu apa yang akan terjadi ketika seorang esper Academy City dipaksa menggunakan sihir.)


Othinus terkejut karena hal itu membuat hatinya menjadi tidak senang.


Dari sudut pandangan efisiensi, St. Germain adalah pihak yang benar.


Tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan musuh-musuh mereka di sisi ilmu pengetahuan, yaitu Academy City.


Dalam suatu pertempuran, nyawa manusia memiliki nilai yang tidak setara.


Apakah rasa tidak nyaman di hatinya ini disebabkan oleh pengaruh si anak berambut runcing?


"Ah, betapa merepotkan ... Aku pikir, diriku juga sudah rusak."


Dia menggeleng dan terfokus pada analisisnya sekali lagi.


Jika dia hendak mencari jawaban yang optimal ...


(Kalau dipikir-pikir, kami meninggalkan Index Librorum Prohibitorum di belakang. Nah, jika saja dia berada di sini, Kamijou Touma mungkin memilih tindakan yang berbeda.)


Tubuhnya yang hanya setinggi 15cm bukanlah hal yang buruk.


Ada batasan untuk apa yang bisa dia lakukan, tapi St. Germain hanya bisa menyegel pergerakan musuh dengan memblokir pintu-pintu yang seukuran tubuh manusia normal. Sehingga, tubuhnya yang hanya setinggi 15cm adalah suatu pengecualian.


Dia bisa merangkak di bawah mesin penjual minuman otomatis dan berjalan melalui celah yang sempit. Seekor kucing bisa melompat turun dari ketinggian dua atau tiga lantai, tapi itu bukan hanya karena struktur tubuh dan kemampuan atletiknya. Tubuh kucing yang ringan bisa mengurangi dampak tumbukan dengan tanah.


"Sekarang, prioritas pertamaku adalah menghubungi Index Librorum Prohibitorum. Apakah aku berhasil menemuinya atau tidak, aku harus mencari tahu di mana Kamijou Touma dan St. Germain berada, kemudian mengamati mereka, dan menemukan cara untuk memecahkan struktur kristal St. Germain.”


Suaranya terdengar kesal, tapi ia bisa menyimpulkan apa yang harus ia lakukan.


Itu adalah langkah-langkah penting untuk mencapai kemenangan.


Bagaimanapun juga, ia adalah mantan seorang dewa perang.



Part 3[edit]


Pertempuran berlanjut, Kamijou tidak bisa menghindari serangan St. Germain selamanya.


Sihir yang mengelilinginya adalah seratus tombak yang mengepung dari segala arah, layaknya selimut yang terbuat dari duri landak. Itu adalah sihir yang sederhana, namun begitu efektif untuk melawan Imagine Breaker. Belum lagi, puluhan orang di sekitar Kamijou mampu menggunakan sihir yang sama. Sedangkan, St. Germain tidak sedang berada bersama-sama kerumunan orang yang mengejarnya.


Peluangnya untuk bertahan hidup menurun dengan cepat.


Ini bukanlah suatu keadaan yang mudah, dan situasi ini dipenuhi dengan irregularitas yang begitu tinggi.


"Sialan !!"


Ada banyak cara untuk luput dari kejaran para St. Germain itu. Dan juga, ini hanyalah suatu pertemuan awal. Pertempuran sebenarnya mulai ketika Index atau Othinus menganalisis sihir St. Germain dan menemukan kelemahan.


Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah lari dari satu ruangan ke ruangan lainnya, dan mencoba untuk menjauhkan diri dari mereka.


Dia begitu fokus terhadap lawan-lawannya yang mengejar dari belakang. Sampai akhirnya, ada seseorang yang mengalihkan perhatiannya.


"Wah !?"


"Lewat sini!"


Seseorang menarik tangannya dan menyeretnya ke belakang meja resepsionis pada ruangan yang sepertinya adalah suatu Gym.


Sembari bersembunyi di belakang meja, Kamijou bisa mendengar beberapa suara derap kaki berlalu di koridor.


Orang yang menyelamatkan Kamijou memeluknya dengan gemetaran, tapi begitu Kamijou melepaskan pelukan tersebut dan memeriksanya, Kamijou yakin benar bahwa dia pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya.


"Apa? Kau adalah si pria bernama Aihana itu, kan?”


"I-I-Iya, sepertinya begitu. Kau tidak salah jika memanggilku dengan sebutan Aihana Etsu.”


Itu adalah anak dengan rambut cokelat semi-panjang.


Kamijou dengan lembut mendesah.


"Yah, apa pun itu, kau sudah menyelamatkanku. Dengar, aku akan meninggalkan tempat ini ketika waktunya sudah tepat, kau di sini saja. Jika kau juga ingin pergi, tunggu beberapa saat dan larilah ke arah yang berlawanan dari mereka. Sepertinya mereka belum pernah melihat wajahmu, namun ketika mereka mengenalimu, mereka akan mengisi tubuhmu dengan lubang-lubang aneh. Aku tidak yakin bahwa aku bisa mengembalikan tubuhmu ke bentuk semula.”


"Tidak," potong Aihana Etsu.


Ketika ia menggeleng, aroma manis tercium dari rambutnya.


"Aku tidak tahu siapa mereka, tapi aku ragu bahwa mereka adalah orang biasa. Mereka tahu bahwa kita sedang berada di sini, tapi mereka mengabaikan kita berdua karena mereka tidak ingin aku ikut campur dalam masalah ini.”


"Apa?"


"Entah kenapa, pria bernama St. Germain ini begitu terobsesi denganku. Bahkan dia mengijinkanku melewati semua pintu dan elevator yang tersegel. Itulah sebabnya aku bisa mencapai tingkat tengah ini. Aku tahu bahwa pria bernama St. Germain ini sedang mengejarmu setelah aku menonton video behind the scenes," Aihana menjelaskannya.”Mereka semua berpakaian sama, jadi mungkin saja, mereka juga berpikiran sama. Itu berarti, membiarkanmu keluar bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Justru, ak harus berada di antara kalian. Jika aku berada di antara kalian, mereka akan kebingungan dan enggan melawanmu.”


Perkataan si bocah membuat Kamijou terkejut, tapi ketika Kamijou dengan refleks mencoba membantahnya, Aihana Etsu menempatkan jari telunjuk rampingnya pada bibir Kamijou untuk mengunci perkataannya.


Sensasi jari ramping itu membuat Kamijou terdiam.


"Apapun tujuannya, St. Germain tidak akan membunuhku dengan segera. Dia hanya ingin bicara padaku. Itu adalah kesempatan kita. Jika aku bisa “melonggarkan bibirnya” dan mendapatkan beberapa informasi darinya, kita mungkin bisa menemukan beberapa cara untuk mengalahkannya. Itu jelas akan lebih baik daripada duduk manis dan menunggu kematian. Lagipula, hanya itu usaha yang bisa kuperbuat.”


Kata-kata anak itu begitu logis, tapi wajahnya sangatlah pucat.


Bahunya gemetar. Seakan-akan bahunya terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja ketika seseorang menyenggolnya.


Dia pasti sedang ketakutan.


Tidak jelas apa yang St. Germain inginkan dan ia bisa mengubah pikirannya setiap saat. Mungkin saja, dia akan mengubah pikirannya dan membunuh Aihana Etsu begitu saja setelah dia tahu bahwa si bocah sedang menyembunyikan sesuatu. Dan jika itu terjadi, si bocah sama sekali tidak dapat melarikan diri.


Andaikan saja posisi mereka dibalik dan Kamijou diminta untuk memainkan peran tersebut, maka tentu saja Kamijou tak akan sanggup melakukan itu.


Dan jika St. Germain mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan, itu sama saja artinya dengan membiarkan Kamijou kabur dengan Aihana Etsu sebagai jaminannya. Ini sungguh mirip seperti pertukaran sandera dalam suatu aksi terorisme.


"Jika ..."


Aihana Etsu berbicara sambil menatap Kamijou. Dia menggenggam mantel Kamijou di dada, dan rasa takut yang dibuatnya sendiri menyebabkan beberapa tetesan air mata berlinang di kelopak matanya.


Namun demikian ...


"Jika aku gagal, bisakah kau melakukan sesuatu untukku? Seorang gadis bernama Frenda Seivelun memiliki suatu apartemen di tingkat atas Dianoid. Mungkin ada sesuatu di sana yang bisa memberiku petunjuk tentang apa yang sudah terjadi pada temanku yang hilang itu. Jika aku memiliki itu, aku mungkin bisa menemukan petunjuk untuk menyelamatkan dirinya. St. Germain mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang 'sisa-sisa bukti terakhir' keberadaannya, tapi aku tidak tahu apakah itu benar ataukah salah. Jika aku tidak kembali, tolong lakukan itu untukku. Jika aku tahu bahwa seseorang mau melakukan itu untukku, maka aku bisa tenang dan aku pun sanggup melakukan rencana tersebut sekarang juga.”


"Hei, berhenti. Kita bahkan baru saja bertemu dan saling kenal. Jika kau tidak sanggup memenuhi tujuanmu sendiri, maka mengapa kau harus melakukan hal sesulit itu untukku!”


"Jangan khawatir," kata Aihana Etsu.


Dia melihat Kamijou tepat di mata dari jarak dekat.


Dan dia berbicara seolah-olah untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Seakan-akan, dia berusaha begitu keras untuk menekan rasa takutnya dan memunculkan jati dirinya yang sebenarnya.


Dia melihat kepada Kamijou, yaitu seorang pria yang percaya bahwa namanya adalah Aihana Etsu.


"Aku adalah Aihana Etsu."


Tidak ada waktu untuk menghentikannya.


Aihana Etsu melepaskan tangannya dari Kamijou Touma, berlari keluar dari balik meja tersebut, dan berjalan keluar dari ruangan Gym. Dia maju ke tempat di mana terdapat St. Germain yang tak terhitung jumlahnya sedang menunggunya.


Tidak ada gunanya berlama-lama.


Bahkan, memulai pertempuran dengan tiba-tiba bisa menyebabkan Aihana Etsu terkena serangan nyasar.


Kamijou mengerti itu.


Dia lakukan, tapi ...


"... !!"


Dia mengertakkan gigi, mengepalkan tinjunya sampai mengalir darah, namun tidak ada yang bisa dia lakukan di sini.


Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Memastikan hal itu adalah satu-satunya pilihan di sini.



Part 4[edit]


Setelah ia berpindah ke tempat terbuka, pilihan Aihana Etsu jadi menyempit secara signifikan.


Pertama-tama, St. Germain yang tak terhitung jumlahnya terfokus pada dirinya. Mereka mungkin sudah memperhatikan dia dari tadi, tetapi situasi berubah ketika Aihana menampakkan dirinya dan menghadapi mereka secara langsung.


Saat ini, jika Aihana mundur dan mencoba untuk bersembunyi, itu hanya akan membuat mereka melihatnya sebagai musuh yang layak untuk diburu. Dan jika ia mengamuk dan mengabaikan identitasnya sebagai "Aihana Etsu", hanya akan dicincang oleh duri-duri tajam tersebut.


Kemudian...


(Situasi ini tidak akan berkembang jika aku tidak melakukan apa-apa.)


Ketakutannya berubah menjadi ringan saat ia berusaha keras untuk berpikir.


(Aku tidak tahu mengapa St. Germain membiarkan aku pergi. Dia bisa dengan bebas menyerang semua orang lain terperangkap di Dianoid dan aku tidak bisa membayangkan mengapa ia memperlakukanku berbeda. Aku tidak bisa mematuhi begitu saja apa yang dia katakan. Aku harus keluar jalur dan melakukan semuanya sesuai kehendakku sendiri!! Jika tidak demikian, aku tidak akan mampu memperoleh tujuan yang ingin kucapai di tempat ini!!)


Bahkan jika ia mempertaruhkan nyawanya atau mengorbankan dirinya, ia masihlah mempercayakan bagian paling penting dari misinya kepada Kamijou Touma.


Dia harus mengabaikan situasi dan memaksakan senyuman seperti biasanya.


Kamijou Touma adalah nama yang pernah dia dengar ketika dia dihajar oleh preman-preman dan menangis di sela-sela gelapnya gang-gang Academy City. Pada saat itu, dia sama sekali tidak membayangkan bahwa suatu saat nanti, dia akan mempercayakan tugas yang begitu penting pada pria tersebut.


Dia tidak punya hubungan apa-apa dengan orang itu.


Bahkan, hubungan dia dengan Kamijou Touma hanya berasal dari pemberian sebotol air minum, ketika pria jabrik itu mengira bahwa dirinya sedang menderika serangan jantung. Terlalu murah jika dia mempercayakan suatu tujuan yang begitu bermakna bagi hidupnya kepada seorang pemberi botol air mineral. Apa pun itu, dia telah memutuskannya. Walaupun itu adalah suatu hubungan yang begitu samar, dia tak punya pilihan lain karena pada dasarnya, di bangunan semegah Dianoid ini, dia hanya mengenal Kamijou Touma, dan ribuan orang lain hanyalah orang asing baginya.


Dia juga telah menerima sebotol air dari St. Germain.


Namun, ada sedikit perbedaan antara seorang monster yang mencoba untuk menjilatnya, dan Kamijou Touma yang sama sekali tidak menginginkan imbalan.


Satu-satunya pilihan adalah untuk bertaruh pada itu.


Sesungguhnya, ini hanyalah suatu kebodohan layaknya seseorang yang mempertaruhkan semua harta bendanya di atas meja poker.


Dia tahu itu, tapi dia masih saja melakukannya.


Dan sekarang segerombolan besar orang dengan jas berekor menunggunya.


"Hai, halo! Haruskah aku tetap memanggilmu dengan nama Aihana Etsu? Aku agak sibuk saat ini, tapi aku dapat meluangkan beberapa waktu untukmu. Bagaimana dengan perihal Frenda Seivelun?”


"..."


Tidak seperti sebelumnya, yang dihadapinya saat ini bukanlah hanya seorang pria tua. Usia dan jenis kelamin bukanlah masalah. Ketika sendirian, pria tua dengan jas berekor sungguh terlihat mencolok. Namun sekarang, ketika segerombolan orang berpakaian sama, justru Aihana Etsu lah yang terlihat mencolok.


"Bukankah aku sudah memberitahumu untuk bergegas jika kau ingin mengetahui kebenarannya? Bukankah menarik ketika kau mengetahui bahwa kau memiliki suatu peluang yang bagus? Atau haruskah aku mengawalmu untuk menuju ke apartemen di tingkat atas?”


Aihana Etsu menempatkan tangannya di tengah dada.


Ia merubah pola pemikirannya dan terfokus pada kartu ID pelajar tipis di tangannya.


Dia mendongak sambil menatap mereka dengan sorot mata penuh tantangan.


"Aku bisa mengurus masalahku nanti. Yang lebih penting, bagaimana denganmu?”


"Hm?"


"Kau begitu percaya diri, namun sepertinya berbagai hal tidak akan berjalan sesuai dengan yang kau rencanakan. Apakah kamu yakin bahwa kau bisa berhasil?”


Bau cairan berkarat tercium dari gerombolan orang si sekitarnya.


Beberapa dari mereka memiliki perban yang melilit tubuhnya, tapi apakah itu adalah luka akibat bertarung dengan lawannya?


"Oh, jangan khawatir. Mulai sekarang, aku akan lebih berhati-hati dalam memilih. Kau menggunakan berlian untuk memotong berlian, tetapi tampaknya aku menggunakan mereka sedikit terlalu kasar. Mungkin, seharusnya aku hanya menggunakan gurunya saja.”


"...?"


Aihana Etsu belum pernah mendengar tentang efek samping dari penggunaan sihir dan St. Germain sama sekali tidak menjelaskannya.


“Kau tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk menemukan bukti tentang keberadaan Frenda Seivelun hanya dengan berbincang-bincang di sini, kan?”


"Jangan khawatir. Jika kau melenyapkan semua orang yang mengganggu jalanku, aku bisa berlama-lama untuk mencari bukti tentang keberadaan gadis itu.”


"Ha ha! Benar juga. 'Kebaikan' adalah deskripsi yang tepat untukmu. Bagiku, ini seperti membayar seluruh upah secara penuh di depan.”


Salah satu St. Germain mengulurkan tangannya dan menunjuk suatu tempat untuk ngobrol lebih lanjut.


Berikutnya, mereka semua membentangkan lengan layaknya tanaman gandum yang diterpa angin.


Pada saat yang sama, Aihana Etsu mengingat kata-kata temannya.


"Pada akhirnya, kau harus berhati-hati ketika ada seseorang yang memperlakukanmu layaknya seorang teman lama, padahal kau baru pertama kali bertemu dengan orang itu. Orang-orang yang bisa memalsukan ekspresi wajahnya adalah penipu yang sangat buruk dan orang-orang yang hanya bisa mengecoh lewat perkataan adalah penipu yang lebih baik. Tetapi orang-orang yang sanggup membuat suatu emosi palsu adalah penipu yang paling berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang bisa memutar balikkan makna kejahatan dan kebaikan.”


Dia pernah melihat ponsel milik si gadis. Di sana ada puluhan nomor telepon dari berbagai orang. Itu saja sudah membuktikan bahwa teman gadisnya ini lebih mengerti tentang kepribadian manusia daripada dirinya.


"Nee hee hee. Bukannya aku ingin menghubungi orang sebanyak ini dan membiarkan mereka mempengaruhiku.”


"..."


Dia membiarkan St. Germain membimbingnya melalui suatu labirin kematian.


Ia diarahkan ke lift yang membawanya ke atap taman ala Jepang, yaitu tempat di mana ia berbicara dengan St. Germain sebelumnya.


Sesosok St. Germain lainnya telah menunggunya di sana, di bawah sinar bulan.


Yang satu ini jauh lebih tua darinya. Dia tampak seperti seorang mahasiswa atau guru baru. Seorang wanita dewasa berkulit putih, bermata biru, dan berambut pirang panjang bergelombang sampai pinggang.


Ada berbagai jenis jas berekor, tapi ia mengenakan setelan yang mirip dengan para asisten wanita dalam suatu pertunjukan sulap. Itu adalah suatu pakaian yang terdiri dari kombinasi antara jaket dan jas kelinci.


Dia mengenakan kacamata berlensa satu yang bentuknya menyerupai sayap kupu-kupu dan entah kenapa wajahnya begitu tampak bersahabat.


Jika saja Frenda tumbuh dewasa, mungkin saja dia sekarang secantik gadis ini.


"Karbon yang membentuk setiap berlian hanyalah karbon biasa, tetapi zat kotor yang terdiri kurang dari 0,1% bagian berlian bisa membuat varietas berlian yang tak terhitung jumlahnya. Benda kecil yang tidak berarti dan tidak diinginkan itulah yang membuat manusia membeda-bedakan kelas suatu berlian. Jika kau dipoles dengan benar, mungkin suatu saat nanti kau akan menjadi seperti diriku. Dan aku berharap pembicaraan kita akan berlangsung dengan lancar.”


Si St. Germain pirang tertawa dengan santai.


Wanita itu pasti memiliki kehidupan, kepribadian, rasa hormat, dan kebahagiaan miliknya sendiri.


Tapi semua kebaikan yang tampak dari si wanita tidak cukup untuk membuat Aihana keluar dari masalah ini.


Ini bukanlah situasi yang bisa diatasi oleh topeng "Aihana Etsu".


"Sini, sini, sini. Dari mana kita harus memulai? Pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang ingin ku katakan, tapi dari mana aku harus memulai agar kau tidak begitu bingung? Oh, sudah sejak lama. Sudah sejak lama aku bertemu dengan suatu proposisi yang begitu menyenangkan.”


"Pertama-tama, aku ingin kau berjanji tentang sesuatu."


"Jangan hanya satu. Mintalah sebanyak yang kau mau.”


“Kau sudah tahu bahwa aku mendekatimu karena temanku, kan?"


"Oh, maksudmu orang yang begitu ingin kau loloskan itu?"


"Tidak ada gunanya menyembunyikannya. Aku sekarang sudah berada di sini, jadi jangan sekali-kali menganggu pria itu. Jika kau melanggar janjimu, aku menolak untuk berbicara denganmu.”


"Baiklah."


Si St. Germain pirang langsung setuju sembari dia menggeserkan suatu kotak seukuran tempat pensil, dan dia pun menjatuhkan beberapa pil hitam dari kotak tersebut ke telapak tangannya yang lembut.


"Aku sebenarnya tidak ingin menepati janjiku perkara pria itu, tetapi demi kau, aku akan melakukannya. Dan kenapa harus dia? Selama kau mau berbicara denganku, aku akan berjanji untuk tidak menyakiti siapa pun di dalam Dianoid ini.”


Ketika ia mendengar itu, tanpa pikir panjang Aihana Etsu menunjukkan wajah sebenarnya di depan musuhnya itu.


Dia menghela napas lega.


Suatu hembusan hawa panas berwarna putih memenuhi langit malam bulan Desember yang dingin.


St. Germain diam-diam tersenyum saat dia melihat ekspresi yang begitu jarang dilihatnya itu.


Ya.


St. Germain hanya tertarik pada suatu kebenaran tunggal.


Untuk mendapatkannya, dia rela membuat bahkan milyaran kebohongan sembari memasang senyum di wajahnya.



Part 5[edit]


Dia mendengar ledakan besar dan bangunan terasa bergoncang, tapi itu bukan hal paling menakutkan yang Hamazura rasakan ketika mencari rekan-rekannya di tingkat tengah Dianoid dengan menggunakan Power Lifter. Bukannya penglihatan dan pendengaran, adalah indra penciuman yang menuntunnya ke tempat tersebut.


Baunya seperti kembang api dan ada sedikit aroma karat.


Analisis Aneri mengatakan bahwa itu adalah oksida reaksi nitrogen yang merujuk pada suatu kemungkinan tertentu.


(Jangan bilang ada bom.)


Kepalanya mulai memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan, tapi dia sebisa mungkin menolak pemikiran itu.


Tidak mungkin.


Sungguh tidak mungkin.


Lantas, bau aneh apakah itu? Kemana orang yang bernama St. Germain itu pergi setelah menjebak begitu banyak orang di Dianoid? Apa yang telah dilakukannya terhadap gadis-gadis ITEM, dimana terdapat seorang Level 5 yang bisa membobol semua pintu dengan Meltdowner miliknya? Apakah Hamazura sekali lagi akan melihat neraka yang pernah dialaminya dulu ketika berada di Rusia?


"Haaahh.....Haaaahhh."


Meskipun menggunakan Power Lifter, dia masih merasa begitu lelah ketika memakai kedua kakinya untuk menginjak pedal.


Dia tahu bahwa dahinya sedang meneteskan sejumlah keringat yang tidak biasa.


Aneri mengirimkan peringatan mental dan menyarankan untuk memainkan video dengan efek menenangkan jiwa, tapi ini bukan saatnua untuk nonton film.


"Apa yang sedang terjadi? Sialan !!”


Semakin dekat dengan TKP, semakin sulit dia berjalan. Alasan mengapa ini terjadi adalah sederhana : banyak anak laki-laki dan prempuan yang berlari ke arahnya untuk menjauh dari TKP, dan mereka terus memekikkan suatu jeritan ketakutan akibat rasa teror dan ancaman. Mereka tidak terfokus pada Hamazura. Mereka hanya mencoba untuk melarikan diri dari lokasi ledakan secepat mungkin.


Keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi membuatnya harus melawan arus pergerakan dari kerumunan manusia tersebut, tapi dia tidak bisa begitu saja menggunakan kekuatan Power Lifter untuk mendorong mereka agar tidak menghangi jalannya.


Langkahnya melambat dan rasa kekhawatiran yang memuncak cukup untuk membuat syaraf-syarafnya menegang.


Apa yang terjadi dengan gadis-gadis yang telah menunggunya di Dianoid?


Di mana Mugino Shizuri? Di mana Kinuhata Saiai?


Dan di mana Takitsubo Rikou berada?


Dia hampir saja berteriak, tapi kemudian ia melihat sesuatu yang aneh: ia bukan satu-satunya orang yang berjalan melawan arus pergerakan kerumunan manusia.


Jauh di depan, ada seorang pria yang berjuang melawan dinding manusia sambil memelototkan matanya.


Itu adalah Kamijou Touma.


(Dia?)


Anak itu melihat kerumunan orang yang sedang kebingungan sekali lagi dan kemudian berbalik.


Sesaat kemudian, neraka berwarna merah darah terbuka.


Pertama, ada gelombang-gelombang yang terdapat pada dinding dan lantai.


Berikutnya, sejumlah besar tombak terbang menuju Kamijou Touma.


Akhirnya, lubang seukuran kepalan tangan terbuka di sekujur tubuh dan wajah anak laki-laki dan perempuan, kemudian tombak-tombak tersebut melewati mereka.


"A- ..."


Itu adalah adegan mengerikan yang tak terelakkan.


Tidak peduli apa alasannya, Hamazura tidak bisa menerima apa yang sedang dilihatnya karena itu begitu mustahil dan tidak bisa diterim akal sehat.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !?"


Layaknya dibungkus oleh selimut yang terbuat dari duri landak, seratus tombak bergegas menuju Kamijou Touma.


Tidak mau hanya menonton sambil melongo, Hamazura Shiage mengambil tindakan sembari masih menjerit.


Aneri mengikuti kehendaknya dan dengan cepat memberikan bantuan.


Lengan baja raksasa Power Lifter terbuka layaknya mulut buaya dan meraih beberapa tombak yang melayang di udara. Dia menggunakan semua kekuatannya untuk menghancurkannya.


Ini membuat suatu ruang kosong pada serangan tombak yang ditembakkan dari sudut 360º.


Kamijou berlari ke arah ruang kosong tersebut untuk menghindari tikaman tombak-tombak lainnya.


Ujung tombak yang tak terhitung jumlahnya datang bersama-sama layaknya iron maiden.


"Keluar dari sini !!" teriak Hamazura.”Cepat !!"


Bukan saatnya untuk mengkhawatirkan peraturan.


Dia meraih dua joystick dan menggunakan kaki mekanik untuk membuat suatu lompatan yang tinggi. Dia mendarat di dinding sambil mencengkarm beberapa obyek agar tidak terjatuh. Dan dengan cara yang sama dia bergerak melewati kerumunan manusia (yang penuh dengan lubang) dan mendarat di samping Kamijou Touma yang sedang kewalahan menghadapi tombak-tombak tersebut.


Itu bukanlah murni keterampilan Hamazura sendiri.


Gerakab akrobat tersebut berkat perhitungan yang dilakukan oleh Aneri.


Beberapa bunga api melayang ketika kaki besi menggaruk lantai karbon.


"Kupikir aku sudah melumpuhkanmu!!"


"Kamu benar-benar sudah melakukannya dengan baik! Tapi apakah kau sungguh berpikir bahwa mereka akan mendengarkan apa yang kita katakan!?”


Kamijou menunjukkan ibu jarinya ke belakang.


Hamazura menoleh ke belakang dan matanya terbuka lebar.


Dia melihat seorang pria dengan jas berekor.


Dan orang itu tidak sendirian. Ada lima atau sepuluh orang berjalan bersama-sama dengan mereka.


Layaknya berlian, ada semacam hawa panas yang menyebar di antara mereka dalam sekejap, sehingga mereka seakan-akan sedang dibakar oleh api amarah.


"Kamu bercanda!! Kau telah pasti sedang bercanda!! Sejak kapan aku berurusan dengan orang sebanyak itu!”


"Semuanya akan berakhir jika kau mati! Kau sudah terlanjur terlibah dalam ini semua, tapi kau masih bisa lari sekarang!”


"Aku masih tidak tahu apakah pacarku selamat ataukah tidak!! Ini akan merobek hatiku sendiri jika aku meninggalkannya sendirian sekarang!!”


"Sialan. Aku mengerti.”


Kamijou memejamkan matanya dengan berani dan dia terlihat sedang melepaskan sesuatu.


Dia berbalik dan menghadapi St. Germain sebelum akhirnya berbicara.


"Kalau begitu, kita akan berbagi beban tanggungan. Kau pergi dan lakukan apa yang harus kau lakukan, sedangkan aku akan menahan mereka di sini.”


"Bagaimana caranya!?"


"Aku akan mencari tahu! Kau bilang bahwa kau sudah menghentikanku, bukan? Itu berarti kau lah pemenangnya, dan seorang jawara harus mendapatkan tempat yan terbaik!! Jadi pergilah!!”


Kini giliran Hamazura menggosok alisnya dan menggeleng.


Akan lebih mudah untuk meninggalkan anak itu sendirian, kemudian bergegas menuju Takitsubo dan yang lainnya.


Jika Hamazura menimbang-nimbang prioritasnya. Bocah jabrik ini sama sekali tidak layak jika dibandingkan dengan keselamatan Takitsubo.


Tapi akankah Takitsubo dan yang lainnya memaafkannya jika Hamazura membuat suatu keputusan yang begitu egois?


Apakah ia telah jatuh cinta dengan seseorang seperti itu?


Tidak lagi. Dia tidak akan membiarkan hal ini terulang lagi. Kakine Teitoku, para pemburu di Rusia, kumbang badak Dark Matter, sampai kawanan kecoa buatan Yakumi Hisako. Di masa lalu dia selalu saja lari dari musuh-musuhnya dan meninggalkan seorang teman yang siap berkorban di belakang. Itu semua terjadi karena di lemah. Namun tidak untuk kali ini.


"... Sialan."


Dia meludahkan kutukan dari lubuk hatinya yang terdalam.


Lengan raksasa Power Lifter kemudian menyambar anak berambut runcing pada bagian belakang lehernya.


"Ah! Tunggu! Apa yang kau ... !?”


Tidak ada waktu untuk menjelaskan.


Masih memegang Kamijou, dia memerintahkan kaki Power Lifter untuk menancap ke dalam pilar tebal. Mesin tersebut terpental layaknya bola pinball. Beberapa kali dia menggunakan dinding atau bahkan langit-langit sebagai pijakan, meraih objek di dinding, dan melintasi seluruh lantai dengan lompatan-lompatan yang tidak teratur tanpa pernah menyentuh tanah.


"..."


"..."


"..."


"..."


St. Germain yang tak terhitung jumlahnya berbalik dan menatapnya.


Sesaat kemudian, tombak yang tak terhitung jumlahnya mencuat dari lantai dan terbang menuju Power Lifter seperti sekelompok rudal darat.


"Aneri, prediksi balistik!! Dan kau dapat mematikan inersia Gs limiter!!”


Dia berjalan ke daerah yang belum terinfeksi oleh St. Germain.


Dia melompat ke teater, melompat lurus ke atas, dan mencoba untuk menggunakan kursi di lantai yang kedua atau ketiga untuk mencapai lantai atas.


Namun, St. Germain lebih cepat.


Beberapa pasang mata menatapnya dari kursi bawah. Kursi dan dinding memutar dan berubah menjadi tombak yang tak terhitung jumlahnya, kemudian mendekatinya layaknya dinding terbuat dari tombak.


Ruang terbuka teater melawan dia.


Namun Power Lifter lebih gesit, tapi dia tidak bisa terpental layaknya bola pinball tanpa adanya benda yang digunakan sebagai pijakan. Gerakannya terkunci di udara selama beberapa detik.


Musuh bisa dengan mudah membidiknya dan mengoyak mesin itu bersama-sama dengan tubuhnya.


Tapi sebelum itu terjadi, suara gemuruh yang besar memenuhi udara.


Mesin lain datang dari kursi lantai tiga pada teater tersebut. Layaknya meteor, Power Lifter itu melakukan tendangan terbang dan memecahkan tombak yang mendekat dengan paksa.


Bahkan jika itu bukanlah senjata militer, Power Lifter bukanlah jenis alat berat yang menyebar ke masyarakat umum.


Hanya ada dua unit di Dianoid, sehingga hanya ada seseorang yang bisa mengoperasikannya.


(Stephanie.)


"Sensei!?"


Dia berteriak tanpa berpikir, tapi ini bukan waktunya untuk melongo. Setelah menghancurkan tombak-tombak yang membidik Hamazura, Power Lifter milik Stephanie mengayunkan lengan dan kakinya di udara untuk menyeimbangkan dirinya sendiri. Dia pun terjatuh ke tempat yang terdapat banyak St. Germain yang sedang menunggu.


Hamazura masih tidak tahu apakah Mugino, Kinuhata, atau Takitsubo aman.


Dan sekarang Stephanie telah terlibat ke dalam bahaya.


"Kh."


Tangan bajanya meraih pagar kursi lantai ketiga dan ia naik sembari mengambil napas. Setelah itu, erangan terucap dari mulutnya.


Dia langsung berteriak.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!"



Part 6[edit]


Pada saat itu, Stephanie Gorgeouspalace harusnya memiliki beberapa pilihan.


Dia telah melihat Hamazura Shiage dari salah satu monitor layar datar.


Dia telah berjalan ... tidak, melarikan diri dari "sesuatu" yang menggunakan teknologi aneh dan bisa menusuk manusia tanpa luka.


Saat ia terbang di udara, tombak yang tak terhitung jumlahnya telah mengejarnya dari belakang.


Dia seharusnya meninggalkan Hamazura.


Dia harusnya pura-pura tidak tahu dan fokus pada keselamatan dirinya sendiri.


Tapi entah kenapa, ia tiba-tiba teringat sesuatu.


Dia ingat masa-masa sebelum menyerang Academy City karena Sunazara Chimitsu, dia juga mengingat gurunya sebagai seorang tentara, dan juga masa-masa sebelum memasuki dunia tentara bayaran. Itu adalah waktu ketika ia masih tinggal di Academy City.


Saat itu, ia pernah menjadi guru.


Dia juga pernah menjadi anggota Anti-Skill yang melindungi kehidupan para pelajar.


Jadi ...


(Aku tidak memiliki banyak pilihan, kan?)


Bunga api terbang dan dia merobek lantai sembari mendarat di depan musuh-musuhnya. Dia pun tersenyum sedikit.


(Aku adalah orang dewasa di sini!! Kalian hanyalah digolongkan sebagai anak-anak SMA!!)


Segera setelah itu, beberapa serangan segera didapatnya.


Sekaligus, ratusan tombak menyerbunya. Dia mengayunkan lengan baja padanya, tapi itu jauh dari kata cukup. Dia pun melontarkan tendangan untuk menangkisnya. Tombak-tombak itu semakin berkurang dan serangan tersebut semakin mereda. Namun, jika ada satu tombak saja yang tersisa dan menghujam ke arahnya, maka fatal akibatnya.


(Andai saja ...)


Tombak-tombak berikutnya segera menyusul. Sampai akhirnya dia kewalahan dan berhenti menangkis serangan-serangan itu.


Dia mencoba untuk melindungi dirinya dengan lengan logam, tetapi tombak tak terhitung jumlahnya menghancurkan, merobek, dan memecahkan Power Lifter sampai berkeping-keping.


(Andai saja aku bisa mendapatkan informasi itu kepada orang lain.)


Tombak-tombak karbon itu menghancurkan mesinnya. Dan beberapa detik lagi daging lembutnya akan tercincang, dan Hamazura Shiage tidak akan sanggup melarikan diri tepat waktu.


Beberapa detik lagi, Hamazura akan melihat senyum sensei-nya yang dipenuhi keringat hanya dalam kenangan.


Namun ...


Suatu sinar terang ditembakkan dari samping dan membatalkan kematiannya.


Setiap inchi dari tombak-tombak tersebut langsung menguap.


Suatu pusaran panas yang terik mencairkan pintu dan juga dinding sekitarnya.


Suatu suara pecah memenuhi ruangan itu.


Waktu serasa berhenti.


"Hai."


Pemilik serangan brutal itu melangkah ke teater.


Itu adalah Mugino Shizuri.


Dia adalah sang Meltdowner, Academy City Level 5 # 4.


Tubuh feminimnya yang indah dikelilingi oleh pusaran bola elektron yang tak terhitung jumlahnya. Hawa panas terpancar dari bola-bola elektron itu dan semakin menambah kepenatan suasana di ruangan tersebut.


"Jika kau mencari tukang bom tua bangka, dia ada di sana. Pastikan untuk membersihkan segalanya bersama-sama dengannya. Dia membuatku susah dengan menciptakan kekacauan di tempatku.”


Para St. Germain berbalik ke arah Mugino.


Dia dikelilingi oleh tatapan mata penuh nafsu membunuh, tapi # 4 tidak menunjukkan tanda- tanda peduli.


Tidak hanya itu, seorang gadis yang mengenakan gaun rajut dan seorang gadis yang mengenakan jaket olahraga berwarna merah muda berbicara dari belakangnya.


"Umm, hanya untuk super meyakinkanmu, orang-orang ini sedikit aneh untuk jadi musuh kita. Jika kau tanpa ampun membantai mereka, mungkin suatu hari nanti kau akan dikejar oleh orang-orang yang ingin membalas dendam atas kematian mereka. Menjadi target dari beberapa orang yang ingin membunuhmu karena suatu cerita menyedihkan usang adalah hal yang paling berbahaya dalam bekerja di sisi gelap kota.”


"Tutup mulutmu. Salah mereka sendiri, mau dikendalikan.”


"Dan Mugino," tambah seorang gadis berjaket olahraga.”Dapatkah aku membuat satu permintaan?"


"?"


"Ada atrium di sana, kan? Tembakan Meltdowner secara lurus ke arah itu.”


"Oh?"


Mugino tampak tidak peduli, tapi dia masih mau mengangkat telapak tangannya dan melepaskan seberkas cahaya mematikan sampai menembus ke atrium.


"Sekarang, waktunya untuk berbisnis."


"Apakah kau mendengarkan aku tadi!? Jika kau yang super membantai orang yang secara teknis tidak bersalah, kita akan berakhir dengan dikejar-kejar oleh beberapa pahlawan kebenaran atau sesuatu sejenisnya!”


"Kalau begitu mari kita lihat siapa yang dapat mengalahkan mereka lebih banyak. Jika kau dapat dengan aman mengalahkan mereka semua dengan Offense Armor milikmu, aku sama sekali tidak harus menggunakan Meltdowner milikku.”


"Tidak adil! Kau hanya super mempermudah dirimu sendiri!”


St. Germain tidak menunggu para gadis ini sampai selesai saling bentak.


Mereka meluncurkan tombak yang tak terhitung jumlahnya kepada mereka berdua sebagai serangan mendadak.


Mugino bahkan tidak punya waktu untuk melepaskan Meltdowner.


Namun ...


"Apakah kamu serius?"


Dia terdengar jengkel.


Pertama, dia dengan ringan mengayunkan kepalanya.


Berikutnya, lengan rampingnya dengan mudah menangkap tombak yang dihujamkan ke arah wajahnya.


Tidak.


Tidak seperti itu...


"Aku sudah bilang padamu bahwa si tukang bom tua itu sudah gagal, bukan? Kinuhata dan aku merobek bom darinya dan melemparkannya entah kemana. Berkat itu, tidak ada seorang pun yang mati dan kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan.”


Dengan suara “krak”, Mugino tanpa ampun menghancurkan tombak karbon yang berada di dalam genggamannya. Gerakan halus tangannya disertai dengan suara desingan mesin.


Itu adalah tangan buatan.


Setelah Mugino Shizuri “dibunuh” oleh Hamazura Shiage, ia telah mengganti mata, lengan, dan semua kulitnya dengan material pengganti buatan.


Bukannya semakin lemah, dia justru memodifikasi tubuhnya agar sesuai dengan kegemarannya bertarung.


"Jangan hanya memandang seorang Level 5 dari segi kekuatan. Aku akan membunuhmu.”


Setelah mengucapkannya, monster bernama Mugino Shizuri dan Kinuhata Saiai tanpa ampun menyerang ke arah kelompok St. Germain.



Part 7[edit]


Di antara kursi lantai ketiga, Kamijou berteriak ketika melihat pancaran cahaya tebal menembus Dianoid secara vertikal.


Aneri memberi peringatan tentang adanya panas bersuhu tinggi.


"Wah !? Ap-apa !?”


Di sisi lain, Hamazura menjadi begitu tegang.


Itu adalah sinyal.


Cahaya itu adalah semacam pengumuman yang mengatakan bahwa semua bahaya akan tersapu oleh kekerasan yang dibuat oleh beberapa gadis.


"Ha ha. Itu benar. Mereka bukanlah tipe yang mati dengan begitu mudah. "


"Apa maksudmu?"


Hamazura mendengar suatu suara cegukan yang datang dari dirinya sendiri.


Pada saat yang sama, beberapa air mata menggenangi kelopak matanya.


Dia menangis sambil tersenyum.


"Hanya berbicara sendiri! Ini berarti, mereka tidak perlu bala bantuan. Tentu saja mereka tidak perlu. Bagaimana mungkin seorang Level 0 berpikir bahwa dirinya perlu menolong dua orang Level 4 dan seorang Level 5? Ha ha ha ha ha !!”


"???"


Kamijou benar-benar bingung, tapi Hamazura tampaknya telah menetapkan sesuatu dalam hatinya.


Dia sekarang memiliki kelonggaran untuk fokus pada masalah Kamijou.


Dia meninggalkan kursi lantai ketiga dan menemukan koridor yang belum "terinfeksi" oleh St. Germain.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku ingin menyelamatkan bocah bernama Aihana Etsu. Dia menghampiri St. Germain…itu adalah nama orang-orang yang mengenakan jas berekor.....dan membiarkan aku melarikan diri. Sekarang giliranku untuk membalas budi.”


"Aihana?"


Hamazura mengerutkan kening dan mengingat seorang bocah berjenis kelamin gak jelas yang tadi menyelinap di sekitar tempat parkir Dianoid.


"Apakah dia sungguhan? Maksudku, apakah kau yakin bahwa dia bukanlah seseorang yang memalsukan nama orang lain?”


"Itu tidak masalah. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan hidupku, jadi dia adalah seorang pahlawan sejati bagiku.”


Kamijou terus berbicara.


"Dan aku ingin tahu tentang tindakan dan tujuan St. Germain. Dia rupanya terobsesi dengan Aihana, tapi bukankah tindakan-tindakan yang dia lakukan terkesan tidak konsisten?”


"Apa? Bisakah kau memperjelasnya sedikit?”


"Jika semua yang ia inginkan hanyalah mendapatkan Aihana, ia tidak perlu mencoba untuk membunuh kita. Bahkan, ia tidak perlu menutup semua jalan keluar di Dianoid. Dia bisa perlu menunggu di gang-gang gelap dan kemudian menculik Aihana.”


"Benar juga ..."


"Tidak mungkin dia menyandera semua orang di gedung ini hanya untuk berkomunikasi dengan Aihana. Tapi itu menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar. Apakah St. Germain sungguh tertarik dengan Aihana Etsu? Apakah itu benar-benar tujuan terakhirnya?”


"Namun, dia sempat menggunakan kekuatannya untuk membantu Aihana. Itu berarti ...”


"Dia mungkin menggunakan Aihana untuk beberapa tujuan lainnya. Atau dia mendorong Aihana untuk melakukan sesuatu untuknya.”


Kamijou memilih kata-katanya dengan hati-hati.


"Kata-kata terakhir yang diucapkan Aihana membuatku penasaran. Dia mengatakan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di Dianoid ini. Dan hal itu mungkin membantunya untuk menyelamatkan temannya yang hilang. Jika dia tidak kembali, dia ingin agar aku mencari rahasia Frenda Seivelun yang tersembunyi di gedung ini.”


"Frenda?" tanya Hamazura tanpa berpikir.


Aneri secara otomatis mulai mencari nama, tapi dia juga tidak memiliki tanda atau catatan di sisi gelap kota karena tampilan windows-nya dibekukan.


Namun, jawaban yang benar ada di memori Hamazura.


Seketika, Hamazura mengingat kembali nasib buruk yang dialami gadis itu. Bagian bawah tubuhnya terkoyak dengan keji dan bagian atas tubuhnya diseret kemana-mana layaknya boneka beruang yang rusak dan jerohannya tercecer dimana-mana.


Tak ada seorang pun yang sempat menyelamatkannya.


"Apakah kau barusan mengatakan Frenda !?"


"Ya. Kau tahu siapa dia?”


"Yahhh, gimana ya ..."


Nasibnya bukanlah suatu kisah yang bisa dengan mudah dijelaskan, tapi peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kamijou.


"Jika Aihana dikendalikan oleh St. Germain untuk melakukan sesuatu, maka kita bisa menggunakan rahasia tentang gadis bernama Frenda ini untuk membuat dia kembali pada kita. Sepertinya kita bisa menemukan rahasia tersebut jika kita mencari di tingkat atas gedung ini, jadi kita perlu melakukan itu. Aku tidak tahu apakah Aihana benar-benar merupakan tujuan St. Germain atau hanya sesuatu yang dia perlukan untuk sekedar bersenang-senang, tetapi tidakkah kau berpikir bahwa kita bisa menangkap St. Germain jika kita melepaskan Aihana dari kendalinya?”


"Cukup," potong Hamazura.”Jika Frenda adalah bagian dari semua ini, maka aku harus terlibat. Itu adalah alasan yang cukup bagiku untuk mengikuti semua insiden ini sampai akhir.”


Dengan Power Lifter, perjalanan ke tingkat atas tidaklah begitu sulit.


Mereka hanya perlu menerobos pintu lift dan menggunakan lubang lift.


Jika mereka naik terowongan ke langit, mereka akan mencapai apartemen kelas wahid di tingkat atas Dianoid.


Kebenaran yang mereka inginkan ada di sana.



Part 8[edit]


Gadis itu memiliki rambut pirang panjang bergelombang dan kulit putih.


Wanita seumuran mahasiswi dengan jas berekor duduk di bangku etalase dan Aihana Etsu duduk di sampingnya.


Mereka berada di taman yang diterangi cahaya bulan.


Di atap Dianoid, St. Germain mengambil pil hitam dari kotak dan melemparkannya ke mulutnya.


"Nama St. Germain dikenal secara luas selama tahun 1600-an. Dia dikenal sebagai alkemis* yang tahu ilmu tentang keabadian atau seorang pria yang berasal dari masa depan dan menguasai teknik perjalanan waktu. Namun, sesungguhnya aku sudah aktif sejak tahun 500. Dari tentu saja, aku belum pernah menggunakan seorang pun dari awal sampai akhir. Sebaliknya, tujuan utamaku terus bertambah tanpa akhir.” [Alkemis di sini artinya ahli kimia. Di masa lalu, ahli kimi tak jauh berbeda dengan penyihir.]


"..."


"Menurutmu, mengapa bisa begitu?" Tanya St. Germain dengan senyum lembut di wajahnya.”Menurutmu, bagaimana caranya aku bisa hidup begitu lama?”


Aihana Etsu menggeleng.


"Bagaimana aku tahu?"


"Betapa jujur dirimu. Tapi tak ada alasan untuk berbelit-belit di sini. St. Germain dikenal sebagai individu misterius yang muncul di masyarakat kelas tinggi, pada begitu banyak negara selama periode waktu yang tak terhitung jumlahnya, tapi tujuanku adalah sesuatu yang bisa kau temukan pada buku cerita bergambar anak-anak.”


Entah kemana, kotak pil berbentuk persegi panjang lenyap dari tangannya


Jika diamati lebih dekat, itu hanyalah suatu trik sulap, bukannya kekuatan supranatural.


"Aihana. Berapa banyak yang kau ketahui tentang legenda King Arthur?”


"Arthur?"


“Kau tahu, pria yang menjadi raja setelah menarik pedang dari sebongkah batu. Tentu saja, kebanyakan orang hanya tahu bagian pertama dari legenda tersebut dan orang-orang tidak tahu kehidupan macam apa yang dijalani oleh pria itu.”


Pada saat itu, Aihana Etsu akhirnya ingat tentang sebilah pedang bernama Excalibur.


Kemudian, ia mengenal benda itu karena ada benda dengan nama serupa pada konsol game RPG 3D miliknya. Dia ingat bahwa pada game yang pernah dimainkannya, benda itu adalah pedang terkuat ketiga di dunia. Dan pedang itu bisa membuatmu menyerang 4x pada satu kali giliran.


"Omong-omong, apakah kau tahu siapakah ksatria terkuat pada legenda yang sangat, sangat, sangat lama?"


"Eh? Maksudmu dia bukan raja?”


"Tidak" St. Germain mengibaskan jari telunjuknya.”Bahkan, raja sendiri tidaklah sekuat itu. Dia dipilih oleh pedang tersebut, tetapi ia bisa menjadi Raja Inggris berkat ksatria di sekitarnya. Raja belum tentu karakter utama dari setiap cerita.”


"Aku mengerti."

NT Index v12 249.png

"Secara teknis, tidak benar bahwa Kesatria Meja Bundar adalah tim terkuat. Sistemnya diperkenalkan kemudian hari dan itu tidak termasuk salah satu ksatria tua yang awalnya mendukung raja. Jadi jika kau melihat semua legenda, siapakah yang benar-benar merupakan ksatria terkuat?”


Dia berhenti mengibaskan jarinya dan melanjutkan perkataannya.


"Jawabannya adalah Galahad. Dia adalah ksatria utama yang lahir dari pasangan Lancelot dan Elaine, Puteri dari Holy Grail Castel. Dia adalah seorang ksatria murni yang melampaui raja dan berkembang di tengah-tengah ketidaksempurnaan Lancelot. King Arthur menjadi Raja Inggris sambil menghunus pedangnya, tetapi dikatakan bahwa Galahad memiliki pedang suci juga perisai suci secara bersamaan dan akhirnya memperoleh Holy Grail dengan kemurnian dan kekuatannya. ... Di sisi lain, dia begitu sempurna dan tidak memiliki pri kemanusiaan, jadi dia bagaikan suatu mesin tempur.”


Apa yang harus dilakukannya?


Aihana Etsu bingung dan sepertinya itu terlukis jelas di wajahnya karena St. Germain tersenyum lembut sekali lagi.


"Apakah semua ceritaku hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan, karena ini semua bukanlah bidang keahlianmu? Sang Raja memperoleh pedang, tapi Galahad mengalahkan dia dengan mendapatkan pedang dan juga perisai. Namun, yang menimbulkan pertanyaan. Bukankah seharusnya sejak awal Sang Raja bisa mengatasi kedua senjata itu dengan mudah? Apakah memang ada sebuah perisai di suatu tempat di dunia ini yang cukup kuat untuk melawan Excalibur?”


Jika ia memiliki gelar "King", King Arthur harusnya berada di tingkat teratas dari hierarki masyarakat.


Dan tentu saja, ada banyak orang yang ingin mendapatkan apa pun yang dia miliki.


Informasi tentang perisai tersebut bisa saja dengan mudah disembunyikan di partai-partai masyarakat kelas atas dan komunitas para bangsawan.


Apakah itu sebabnya St. Germain berbaur dengan para petinggi?


Aihana Etsu hanya bisa membayangkannya mirip seperti suatu dongeng, tapi ...


"Dan sudahkan kau mendengar rumor lainnya, nak?"


"...?"


"Raja itu memiliki saudara kembar. Namanya Anne, lebih tepatnya Queen Anne. Dia tidak pernah muncul di legenda sebagai ksatria atau sebagai seorang putri dan tidak ada yang tahu apakah yang terjadi padanya. Karena alasan itu, dia diperlakukan seperti tambahan cerita palsu. Tapi bagaimana kalau cerita palsu itu benar?”


Senyuman manis yang aneh memenuhi wajahnya.


"Legenda berakhir ketika raja dan putranya Mordred saling bunuh. Darahnya tetap mengalir di tubuh beberapa kerabat jauh seperti Constantine, tetapi garis keluarga langsung terputus di sana. ... Namun Kehadiran Queen Anne sepenuhnya membatalkan itu. Darah King Arthur mungkin masih diteruskan.”


Jika itu benar, itu sungguh suatu hal yang besar.


Itu akan menghidupkan kembali legenda kuno.


Tapi ...


"Apakah kau benar-benar percaya padaku?"


Si St. Germain pirang tertawa.


"Keberadaan Queen Anne bukanlah masalah sebenarnya. Aku mencari dan mencari tetapi tidak pernah menemukan apa-apa. Bagaimanapun juga, kemungkinan dia hanyalah suatu kepalsuan. Aihana, tapi yang penting adalah….. ada celah dalam legenda pedang tersebut. Masih ada kemungkinan adanya saudara kembar Anne dan ruang untuk mencocokkan pedang dengan perisai. Raja dan pengkhianat dibunuh bersama-sama dan berakhir saat itu juga. Namun bagaimana jika ada kesinambungan dari kisah itu. Itu bukanlah akhir dan kisahnya masih bisa berlanjut. Ya, perisai itu adalah benda yang aku inginkan. Ada orang yang dipilih oleh perisai tersebut. Aku ingin menemui orang yang dipilih oleh perisai legendaris itu, yaitu benda yang bisa menandingi Excalibur.”


St. Germain tertawa lagi.


Demi mendapatkan itu, dia bersedia untuk dipanggil pembohong di masa lalu. Dia bersedia untuk disebut seorang penipu saat ia menyelinap ke masyarakat kelas atas yang terobsesi dengan uang. Dia rela melakukan itu semua lagi dan lagi. Dan dia menceritakan itu semua sembari mengingat kembali pengalaman-pengalamannya di masa lalu.


"T-tapi jika itu terjadi, mengapa kau sekarang ada di Academy City? Aku tidak sepenuhnya mengerti, tetapi seharusnya tidakkah lebih baik kau mencari benda seperti itu di negara-negara Eropa seperti ... um ... Inggris atau Perancis?”


"Aku melakukannya. Aku mencari, mencari dan mencari selama 1500 tahun tanpa menemukan apa-apa. Dan kemudian aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa menemukannya tidak peduli seberapa jauh aku menjelajahi dunia, jadi aku bertanya pada diri sendiri di manakah tempat yang belum kukunjungi.”


Aihana Etsu menelan ludah seakan-akan menelan madu manis.


“Jangan bilang ..."


"Academy City. Suatu titik buta yang mengejutkan, bukan? Hanya ini tempat di dunia yang sama sekali tidak terdapat sihir dan misteri. Namun dalam keadaan darurat, markas ilmu pengetahuan ini melakukan kontak dengan sisi sihir lewat Gereja Anglikan. Ini bukanlah tempat yang buruk untuk menyimpan legenda kelahiran Inggris. Bahkan sepertinya, Index Librorum Prohibitorum disimpan di sini, jadi aku harus melihat pengecualian ini lebih cepat," katanya.”Kau bertanya mengapa aku berada di sini. Yah, aku punya satu alasan.”


Dengan bunyi yang berat, dia menekan bagian bawah perisai emas raksasa yang bersinar ke taman kerikil.


"Ini adalah perisai untuk mencocokkan pedang. Demi fantasi tertentu, aku menyebutnya Anne’s Shield. Bahkan di dunia kita, Queen Anne adalah kiasan untuk seseorang yang tidak ada, hanya seperti fatamorgana oasis di suatu padang pasir. Walaupun ini dipasangkan dengan pedang, adalah suatu hal yang salah jika kita menyebutnya perisai milik sang raja karena ia tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dan karena benda ini tidak pernah muncul dalam legenda, maka tidak pernah diceritakan siapakah yang memiliki perisai ini. Karena pemiliknya tidak diketahui, menyebutnya Queen Anne’s Shield adalah suatu nama yang sempurna, bukan?”


Seseorang yang tidak ada.


Fatamorgana oasis di padang pasir.


Si St. Germain pirang mengaku telah mencari perisai tersebut selama bertahun-tahun.


Kata-kata tersebut seakan-akan mencela diri sendiri, tetapi juga bermakna bahwa dia adalah seseorang yang bebas melakukan apa pun di dunia ini.


"Dianoid dikatakan berfungsi sebagai lemari besi raksasa untuk menyembunyikan berbagai 'rahasia' dari para elit. Karena adanya hubungan antara sisi ilmu pengetahuan dan sisi sihir, bukankah ini adalah tempat yang begitu sempurna untuk menyembuntikan sesuatu yang tidak boleh ditemukan?”


"..."


"Anne’s Shield dijadwalkan akan diangkut ke stasiun TV dalam kontainer terselubung, tapi sekarang aku memilikinya. Aku mencurinya sementara # 4 terfokus pada diriku yang lain.”


Si St. Germain pirang tersenyum tipis di bawah sinar bulan.


Tujuan pertamanya adalah mengambil perisai, tapi itu bukan tujuan satu-satunya.


Dia memiliki sesuatu yang lain.


"Pada akhirnya, aku tidak pernah berhasil membuktikan keberadaan Queen Anne. Sihir adalah suatu bidang pengetahuan dan juga seperangkat teknik, tetapi tampaknya Anne’s Shield memiliki semacam segel yang berdasarkan keturunan sedarah dan hanya bisa diaktifakn oleh seseorang dari keturunan Queen Anne. Tapi itu hanyalah probabilitas sehingga orang sering menyebutnya kebetulan. Aku hanya harus menemukan seseorang dengan informasi genetik yang cukup mirip dengan keturunan Queen Anne, dan juga beberapa bercak darah pada benda-benda peninggalan sang raja. Berbicara masalah darah, gen, dan DNA...Academy City merupakan tempat yang sangat efisien. Untuk keperluan pengembangan kekuatan esper, masing-masing sekolah menyimpan peta DNA pelajar. Setelah aku punya catatan data dari benda yang ditinggalkan oleh raja, aku pergi keliling dunia untuk mencarinya. Ini mirip seperti menemukan kunci setelah kau memiliki gemboknya. Tentu saja, aku harus menemukan seseorang mampu melakukan itu dan mengubahnya menjadi St. Germain.”


"Itu ... luar biasa ..."


"Bagaimana? Aku menerangkannya sepotong demi sepotong.”


"Tapi ... Queen Anne? Benda yang bisa menandingi Excalibur? Ini adalah Academy City, markas dunia ilmu pengetahuan di mana kekuatan psikis dibuat dengan memanfaatkan teknologi. Ini ... ini bukanlah tempat di mana kau akan menemukan beberapa tokoh sejarah dari suatu buku tebal yang ditulis pada perkamen.”


"Ha ha. Itu hanyalah sisi Academy City yang kau kenal.”


"?"


"Ladylee Tangleroad, Fräulein Kreutune, dan DRAGON. Bahkan kota ini berisi beberapa makhluk yang tidak dapat dijelaskan dengan versi ilmu pengetahuan. Kau hanya belum diberitahu tentang mereka. Atau lebih tepatnya, makhluk-makhluk itu adalah perwujudan dari ilmu pengtahuan pada tingkatan yang benar-benar sempurna, dan itu sulit untuk didapatkan jika hanya mengandalkan analisis ilmuan biasa. Layaknya berlian, tidak ada istilah 100,0% dalam ilmu pengetahuan.”


"Eh? Apa? Tunggu ...”


"Ku pikir, menerangkan padamu begitu banyak hal secara langsung dan sekaligus adalah suatu perbuatan yang keterlaluan. Tapi apakah aneh bagimu jika kau berpikir tentang hal tersebut secara rasional? Pikirkan tentang British Halloween yang terjadi selama kudeta di Inggris. Berita di TV mengatakan bahwa bentrokan antara senjata modern dan senjata dari dalam legenda hanyalah suatu pertarungan imajinasi dan histeria massal, tapi mengapa Curtana dimunculkan pada saat itu? Mengapa sesuatu yang begitu terkenal seperti Excalibur tidak terlihat? Bukankah itu terasa seperti ada suatu potongan puzzle yang hilang? Bagiku, adalah wajar untuk mengasumsikan bahwa benda tersebut tersembunyi di tempat lain.”


Pikiran Aihana Etsu mendekati panik.


Kata-kata si wanita pirang meluncur begitu lancar dari mulutnya, sehingga dia pun beranggapan bahwa si wanita tidak hanya mengoceh tanpa persiapan...melainkan, sudah memiliki persiapan materi pembicaraan yang begitu matang di dalam otaknya. Beberapa peristiwa yang Aihana tidak sadari memang mengandung suatu logika tertentu. Sama seperti suatu buku yang ditulis dalam bahasa asing. Tidak ada yang salah pada informasi di dalam buku tersebut, namun jika seseorang tidak menguasai bahasanya, maka sejelas apa pun informasi itu, hanya kebingungan lah yang dia dapatkan.


Kalau begitu ...


Jika St. Jerman benar, beberapa anak di Academy City lahir dengan kemampuan untuk mengaktifkan perisai legendaris ini. Dan itu bukan karena keturunan; itu adalah murni kebetulan.


Jika ini adalah suatu peristiwa murni kebetulan, maka betapa besar peluangnya? Semuanya tidak ditentukan sebelum dia lahir dan tidak ada seorang pun yang mengatur terjadinya peristiwa tersebut. Mendapatkan kunci dari perisai tersebut adalah suatu hal yang hanya bergantung pada keberuntungan semata. Ini mirip seperti memberikan password yang benar pada suatu program yang terkunci, pada percobaan pertama.


Lantas siapa orang yang bisa mengaktifkan perisai itu?


Untuk sesaat, Aihana Etsu benar-benar bertanya-tanya tentang hal itu.


Untuk sesaat, Aihana Etsu sama sungguh berpikir bahwa orang berharga itu bukanlah seorang Level 0 penakut yang bisa masuk ke Dianoid dengan memalsukan suatu kartu ID pelajar.


Tapi kemudian St. Germain menunjuk jari telunjuknya ke arah hidung kecil Aihana Etsu.


"Kau lah orang yang sangat kurindukan, wahai raja perisaiku yang tersayang."



Part 9[edit]


Suatu suara berdenting keras terdengar melalui kegelapan.


Power Lifter milik Hamazura sedang mendaki lubang lift secara vertikal dengan brutal. Mesin baja tersebut memiliki kekuatan yang cukup untuk menyamai kecepatan suatu mobil kecil.


Kamijou menempel di mesin itu, tapi ...


"Oh? Ohhhhhh !! A-a-a-a-a-apa !? Ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, ini bergetar, apa yang terjadi, ini bergetar!!”


"Aneri !! Aku tahu, pria yang menempel ini adalah orang asing, tapi dia bukanlah musuh! Jadi jangan mengguncangnya!!”


Setelah Hamazura meneriakkan perintah itu, Power Lifter tersebut akhirnya menghentikan getaran tidak wajarnya.


Situasi itu bahkan membuat Kamijou tidak mampu menyeka keringat dari keningnya, sehingga dia kembali ke topik pembicaraan semula dengan suara gemetar.


"J-jujur, yang paling kutakuti adalah St. Germain menyuruh Aihana Etsu menggunakan sihir."


"Sihir?"


Pertanyaan Hamazura membuat Aneri memulai suatu pencarian, tapi tidak ada koneksi internet, jadi Aneri hanya bisa menarik data dari file-file sementara yang ditinggalkan oleh pencarian sebelumnya. Dan satu satunya data yang dia temukan adalah dari situs video Hawaii dan Denmark, jadi itu sama sekali tidak berguna.


"Birdway pernah menjelaskannya kepadamu sebelumnya, ingat? Kupikir, akan lebih mudah untuk mendiskripsikan bahwa sihir adalah semacam kekuatan supranatural yang berbeda dari kekuatan esper. Tapi sihir tidak bergantung pada bakat bawaan….jadi sepertinya, seorang Level 0 macam kita bisa menembakkan api atau es dari tangan jika kita menginginkannya. ... Yah, meskipun begitu, aku tidak yakin tentang apa yang sudah kupunyai. Imagine Breaker hanya akan mengacaukan definisi tentang hal-hal itu.”


Kamijou mengatakan itu semua dengan begitu mudah, tapi tak ada bukti bahwa itu adalah suatu kebenaran.


Hamazura sendiri telah melihat penyihir di Hawaii dan selama insiden Fräulein Kreutune, tapi jika dipikir-pikir kembali, itu semua hanya membuat kepalanya jadi pusing karena semuanya tidak bisa dijelaskan oleh logika dan akal sehat.


Dengan adanya sihir, semua hirarki yang didirikan oleh Academy City akan hancur.


Dengan adanya sihir, Level 0 bisa membebaskan diri dari keterpurukannya.


Dengan adanya sihir, Daftar Parameter akan kehilangan semua maknanya.


Dengan adanya sihir, itu akan membawa begitu banyak perubahan yang membahagiakan.


Namun, Kamijou belum selesai berbicara.


Dan apa yang dia katakan selanjutnya menghancurkan semua harapan itu.


"Meskipun begitu, sihir bukanlah sesuatu yang begitu baik. Khususnya bagi para esper Academy City yang sudah terbiasa menggunakan kekuatan psikis.”


Nada berbicaranya mengatakan bahwa ini adalah suatu hal yang benar-benar tercela.


Hamazura mengerutkan kening, jadi Kamijou menerangkan dengan lebih jelas.


"Tampaknya kekuatan esper dan sihir menyebabkan suatu konflik di dalam tubuh. Ketika seorang esper menggunakan sihir, itu menyebabkan kerusakan mengerikan di dalam tubuhnya. Itu akan merusak pembuluh darah dan saraf. Dalam kasus terburuk, mereka akan mati.”


"Serius?"


"Serius. Tentu saja, ini semua diketahui dari percobaan yang gagal. Bahkan, penggunaan kekuatan psikis mungkin hanya berguna untuk menyegel seorang penyihir yang terlalu kuat.”


Nada bicara Kamijou terdengar kesal.


"Jadi, kalau St. Germain meyakinkan Aihana untuk menentang kita, itu bisa mengakibatkan dua bahaya. Yang pertama adalah ancaman bagi kehidupan kita, yang kedua adalah, dia akan dipaksa untuk bermain Russian Roulette* tanpa dia sadari.” [Baca NT Vol 4.]


Kerusakan tersebut bukanlah sesuatu yang terakumulasi. Efek samping dari penggunaan sihir menyebabkan kerusakan di beberapa bagian tubuh secara acak, sehingga sangat mungkin pembuluh darah jantung akan pecah.


"Ini tidak baik," gumam Hamazura sembari mengoperasikan Power Lifter.”Ini sungguh tidak baik. Ini begitu kejam dan aku tidak tahan terhadap hal itu.”


"Itulah sebabnya kita akan melakukan sesuatu."


"Dan itulah mengapa kita perlu mencari rahasia sebenarnya dari Frenda, hm?"


Dengan ledakan keras, Hamazura menendang pintu lift yang tampak seperti kayu dan memasuki ruang masuk lift bersama dengan Kamijou.


Bukan masalah lokasi atau objek.


Begitu mereka menghirup udara, mereka bisa merasakan suatu atmosfir yang sungguh aneh di sana. Seakan-akan, kau sedang berjalan-jalan di dalam suatu museum yang sepi, namun kau merusak segalanya dengan memainkan musik keras dari MP3-mu.


Mereka berada di daerah apartemen tingkat atas.


Kamar tersebut sudah nampak begitu mewah tanpa harus mengetahui benda-benda yang ada di dalamnya.


Dan tampaknya, kamar-kamar tersebut berfungsi sebagai lemari besi untuk menyembunyikan benda-benda rahasia, dan bukannya sebagai tempat tinggal. Sehingga, seorang VIP dengan uang yang melimpah akan membelinya hanya untuk ketenangan pikiran.


Tidak seperti asrama atau apartemen pada umumnya, pintu masuknya adalah pintu geser ganda. Pada ketinggian seperti ini, piano tidak akan dapat dibawa masuk melalui jendela dengan menggunakan mesin derek. Jadi, bagian depan pintu masuk harus dibuat cukup besar agar berbagai benda bisa diangkut ke dalam. Tentu saja, ada beberapa sistem keamanan yang dipasang pada pintu tersebut agar tidak ada maling yang masuk dengan paksa.


Aneri memulai pencarian untuk mengumpulkan informasi di seluruh wilayah apartemen kelas tinggi itu. Komunikasinya hampir terputus, tetapi mungkin ada sistem akses lokal dalam gedung.


Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, tempat itu seperti bank rahasia di Swiss atau Kepulauan Cayman*. Begitu rahasia bocor, tempat itu kehilangan semua nilainya. Bahkan jika satu pintu berhasil dibobol, para pelanggan akan mulai mempertanyakan kredibilitas dari tempat ini. [Kepulauan Cayman adalah suatu tempat di lautan Karibia, di tempat ini terdapat offshore financial centre (OFC), yaitu kebijakan pemberian pajak rendah pada perusahan tambang lepas pantai. Wikipedia Bebas.]


Meskipun mengetahui fakta tersebut, Hamazura mudah berbicara.


"Aku akan mengurus permasalahan kunci."


"Aku mengandalkanmu. Tapi pertama-tama, kita harus mencari tahu kamar mana yang merupakan milik gadis Frenda itu.”



Part 10[edit]


Dia tidak mengerti.


"Eh? Apa? Um, apa ???”


Setelah mendengarkan pengumuman tiba-tiba itu, Aihana Etsu hanya berkedip-kedip dan St. Germain yang mengenakan jas berekor jenis kelinci membuat penjelasan berikutnya.


Ya.


Layaknya seorang ksatria yang berada di hadapan rajanya, wanita itu membungkukkan lututnya dan menunduk.


Dia melakukannya sambil memegang Anne’s Shield emas yang berkilauan.


"Ahh, apakah kau mengerti, perisai ini bisa mencocokkan dengan pedang? Kau adalah Gap positif dalam kisi. Kau mengakibatkan perubahan unik yang tidak bisa kulakukan sebagai kisi karbon yang teratur. Apakah kau tahu berapa lama aku telah bermimpi sampai bertemu denganmu sekarang?”


Dia menundukkan kepalanya sehingga ekspresi wajahnya tersembunyi, tetapi suaranya terdengar penuh dengan emosi.


Wanita itu diliputi oleh emosi.


Seperti itulah gairah yang terdengar dari suaranya.


"Orang-orang bisa memanggilku ilusionis jika mereka mau. Aku tidak keberatan jika mereka meludahi aku dan menyebutku penipu. Tapi. Satu hal yang tidak pernah bisa kumaafkan adalah ketika ada seseorang menolak hal-hal yang begitu kupercayai . Ya. Akhirnya, aku dihargai. Tubuhku telah terkoyak karena aku berenang melalui laut bangsawan megah yang hanya dipenuhi dengan uang dan hasrat. Tapi, upaya dan rasa sakit yang tak terhingga itu akhirnya membuahkan hasil. Apakah kau tahu bagaimana rasa sakit yang telah kualami?”


Si St. Germain pirang meraih tangan Aihana Etsu. Dia menarik bocah itu ke arahnya dan berusaha untuk menempatkan punggung tangannya di pipinya.


Dia adalah eksistensi yang begitu besar dan berharga baginya.


Namun, ini seperti mengelus kepala seekor anjing piaraan setelah anjing tersebut berhasil menangkap mangsanya.


Namun, Aihana menolaknya.


Dia mengumpulkan kekuatan dan menarik tangannya kembali.


"Tidak, bukan aku."


Dia tidak lagi punya alasan untuk hanya duduk dan mendengarkan.


Dia mengucapkan kata-kata yang ada di dalam kepalanya begitu saja.


“Kau tidak boleh berharap bahwa aku mempercayaimu! Dan bagaimana denganmu? Kami baru saja bertemu, jadi, kau tidak tahu orang macam apa aku ini. Bagaimana ... bagaimana bisa kau merendahkan kepalamu padaku dengan begitu mudah? Bagaimana bisa kau menyerahkan semua mimpimu padaku dengan begitu mudah!?”


"Kenapa? Karena berdiri di atas orang lain bukanlah hal yang aku inginkan setelah benar-benar menguasai sihir.”


"Sihir?"


"Legenda pedang tersebut mencakup cerita tentang seorang pria yang menguasai segala macam sihir, tapi dia tidak pernah berpikir untuk menjadi raja. Dia hanyalah seorang pendukung aturan raja," kata St. Germain dengan hormat sembari masih menundukkan kepalanya.”Aku sama. Aku telah menguasai sihir, tapi aku tidak punya niata untuk menjadi seorang Dewa Sihir. Aku memerlukan skill ini untuk mencapai tujuanku, tapi adalah suatu hal yang tidak masuk akal jikalau aku lenyap dalam kekuatanku sendiri. Daripada menjadi penyihir atau Dewa Sihir, aku lebih suka menjadi makhluk unik yang orang-orang sebut dengan nama St. Germain. Aku ingin menjadi pihak ketiga yang hanya dapat dideskripsikan dengan istilah 'St. Germain ', sama halnya seperti orang-orang yang tidak menyebut berlian dengan nama arang, padahal kedua benda itu jelas-jelas tersusun dari unsur yang sama, yaitu karbon. Itu sebabnya aku menempatkan diriku ke puncak legenda tersebut. Aku ingin bertemu dengan seorang raja sejati yang layak menerima pelayananku. Tapi ketika St. Germain muncul ke dunia, raja itu sudah tidak lagi hidup. Mengapa Excalibur bisa menembus bumi tanpa bisa dicabut oleh seorang pun, kecuali orang yang terpilih? Bukan karena ketajamannya, namun karena adanya orang pilihan yang bisa mengemban tugas berat dan menyelesaikan semua masalah. Legenda telah berakhir dan raja sudah mati, tapi selama aku punya pedang tersebut, mungkin aku bisa memilih seorang raja baru di masa depan. Tapi pedangnya juga telah hilang. Jadi aku mencari. Aku mencari dan mencari dan mencari. Sisik Anubis dan tombak Valkyrie. Ada banyak legenda tentang penghakiman jiwa manusia terhadap perbuatan yang mereka telah perbuat semasa hidupnya, tapi satu-satunya legenda yang cocok dengan tujuanku adalah Anne’s Shield. Dan orang yang dipilih oleh perisai itu ... adalah kau.”


Aihana Etsu tersentak.


"Keturunan sedarah tentu adalah suatu hal yang penting dalam legenda para raja, tetapi itu tidaklah mutlak. Mungkin saja ini disebabkan oleh kesamaan insidental, tapi Anne’s Shield telah memilihmu, layaknya mesin tambang yang menemukan berlian di antara bebatuan. Peluang terjadinya peristiwa ini sunggu, sungguh, sungguh kecil. Namun ini benar-benar terjadi. Jangan-jangan ini adalah pertanda bahwa dunia menginginkan lahirnya seorang raja baru.”


Aihana menempatkan tangan di dadanya dan berpikir tentang apa yang dia omongkan.


Dan Aihana pun berbicara dengan suara bergetar seakan seorang anak yang secara ragu-ragu hendak mengelus kepala anjing piaraan baru miliknya.


"Apakah kau sungguh-sungguh ... tidak merencanakan hal yang lainnya? Apakah kau benar-benar hanya ingin melayani aku?”


"Itu karena mereka tidak melihat apa yang telah aku dapatkan. Orang-orang gagal untuk memahamiku dan melihat aku hanya sebagai seorang penipu. Itu membuat aku berhasrat untuk menemukan seorang raja dan itu adalah satu-satunya kartu As. Dia bahkan bisa mengalahkan para Dewa Sihir. Aku mempecundangi setiap penyihir dan menolak para Dewa Sihir ketika mereka mendorong aku untuk bergabung dengan golongan mereka. Aku terus berusaha untuk menjadi sebongkah kristal stabil yang mereka namai dengan sebutan St. Germain. Mereka dengan sombingnya menyebut diri mereka dengan julukan Dewa Sihir, tetapi mereka tidak lebih dari penasehat tanpa seorang raja. Mereka hanyalah kelompok makhluk bodoh yang belum menyadari bahwa kekuatan sejati tidak dapat diperoleh sendirian. Di sisi lain, aku telah mendapatkan kau sebagai inti dari semua rencanaku. Ahh, andaikan saja Othinus memahami Kamijou Touma sebelum kehilangan kekuatannya, sekarang dia mungkin sudah menjadi seorang Dewa Sihir sejati yang menjalani takdir berbeda.”


"..."


"Rajaku, maafkan kelancanganku, tapi sepertinya, kau masih belum cukup percaya bahwa dirimu yang kau anggap hina, sejatinya adalah seorang pemimpin yang memiliki kekuatan mutlak, sampai-sampai semua oarang harus tunduk dan melayanimu.”


Masih berlutut, St. Germain terus berbicara seolah-olah mengungkap misteri dari masa lalu.


"Tapi jika kau memikirkannya lagi, maka itu adalah suatu hal yang wajar. Inggris menempatkan seseorang dengan bakat sihir luar biasa di Academy City. Akan sangat riskan bila bakat sihir seagung itu dihancurkan dengan memberinya materi-materi tentang pengembangan kekuatan psikis. Sederhananya, kau sedang dijejali oleh obat yang berisikan materi Kurikulum. Itulah mengapa kau tidak memiliki kekuatan. Mereka hanya bisa melabelimu dengan sebutan Level 0. Namun semua potensi dirimu bisa saja muncul saat ini juga.”


Semua informasi yang didengar Aihana mulai masuk akal. Seakan-akan semuanya terhubung oleh suatu sambungan yang nyata.


Perisai tersebut adalah suatu benda yang begitu tidak nyata dan jauh layaknya planet Pluto, tapi, secara bertahap, benda itu semakin nyata dan kini ada di genggamannya. Aihana mulai menganggap semua yang didengarnya adalah suatu kebenaran sejati, dan itu jugalah yang menerangkan kenapa kehidupannya di masa lalu begitu suram dan tidak dihargai.


“Kau adalah Gap positif dan itu semua ada di dalam genggamanmu."


Si St. Germain pirang mengangkat kepalanya dan memberikan rajanya suatu saran.


"Aku akan memberikanmu sihir apapun yang kau kehendaki. Kau boleh meminta untuk menjadi Dewa Sihir, meminta peraturan yang tidak masuk akal di dunia ini, atau apa pun itu. Kau boleh meminta apa pun yang menyenangkan sampai-samapi kau merasa sedang berada di surga. Kau hanya perlu menunjukkannya kepadaku dan aku berjanji bahwa aku akan segera melenyapkan rintangan tersebut.”


Bagaimana jika posisinya sebagai Level 0 ternyata memiliki suatu arti?


Bagaimana jika ia ternyata memiliki suatu bakat khusus yang akan membuat siapapun iri padanya dan bagaimana jika ia ternyata memiliki suatu bintang yang bersinar terang dan bersedia untuk selalu membimbing jalannya?


Itu akan membawa kebahagiaan bagi hidupnya.


Itu akan memberinya arti hidup yang jauh lebih bermakna daripada keadaannya saat ini.


"Aihana Etsu" bukanlah orang yang kuat. Selama ini, dia hanya menerima makian dan dijuluki sebagai orang yang paling tak berdaya, bisakah dia benar-benar merubah semua kehidupannya secara ajaib layaknya kisah Cinderela atau Si Bebek Buruk Rupa? Mungkinkah ia merubah hidupnya agar tidak berakhir seperti Gadis Penjual Korek Api?


Tapi ...


"Itu ..."


Aihana Etsu menggeleng, mengirimkan hamburan aroma manis dari rambut semi-panjangnya.


Dia tidak berniat untuk menyentuh perisai emas yang ada di hadapannya.


"Itu bukanlah hal yang kuinginkan."


"..."


"Memang benar bahwa aku hanyalah orang kecil. Memang benar bahwa aku adalah tipe orang yang selalu berharap memiliki suatu kekuatan tersembunyi yang bisa membuat semua orang iri padaku. Memang benar bahwa aku bahkan tidak bisa berada di sini tanpa memalsukan suatu identitas. Tapi, bukan itu yang aku inginkan.”


Dia mencoba untuk menarik diri dari St. Germain.


"Adalah suatu hal yang salah jika aku harus menyakiti orang lain untuk membuktikan kekuatanku. Itu bukanlah hal yang ingin aku lakukan. Bukankah suatu kekuatan yang besar diciptakan untuk melindungi sesama? Mungkin aku bukanlah orang yang tepat untuk mengatakan hal itu karena nyatanya aku hanyalah seorang Level 0 yang lemah, tetapi bahkan jika aku tidak memiliki kekuatan apa pun, aku sudah berhasil masuk ke Dianoid tanpa menyakiti siapa pun.”


"Apakah begitu?"


"Jadi, aku tidak bisa melakukan ini. Jika untuk mengaktifkan kekuatan itu, aku harus menyakiti orang lain, maka aku tidak bisa menerimanya.”


"Meski begitu, aku bertanya sekali lagi: Apakah kau yakin?"


Si wanita pirang berbicara dengan suara yang begitu tulus, namun terdengar seperti bisikan setan.


"Apakah kau lupa bahwa aku mengatakan kepadamu untuk mencari sisa-sisa bukti terakhir keberadaan Frenda Seivelun?"


"... !!! ???"


"Bukan hartanya, tapi sisa-sisa bukti terakhir tentang keberadaannya. Tentunya, kau tahu betul bahwa suatu istilah bisa mengubah makna dari suatu zat. Layaknya arang dan berlian.”


Si wanita tersenyum.


Dan tersenyum.


Dan tersenyum.


St. Germain mengaktifkan senjata pamungkasnya, yaitu kemampuan untuk menyanjung orang lain.


"Dan selalu ada alasan di balik kematian seseorang. Setelah kau menemukan alasan kematian Frenda Seivelun, apakah kau masih tetap memegang teguh pendirianmu untuk tidak menyakiti orang lain?”



Part 11[edit]


Pintu geser ganda yang tak terhitung jumlahnya berjajar di sepanjang lorong. Hal yang sama juga tersaji di beberapa lantai, sehingga tampaknya mustahil untuk menemukan tempat persembunyian Frenda Seivelun tanpa adanya suatu petunjuk.


"Sepertinya nomor ruangan tidak diatur dalam suatu urutan yang baku. Apakah pihak manajemen membiarkan klien memilih nomor manapun yang mereka inginkan?”


Namun, mereka berdua menemukan suatu petunjuk yang tak terduga.


Hamazura Shiage berbicara dari Power Lifter-nya.


"Antara 0 dan 9, ia lebih suka angka 9."


"?"


"Antara 1 dan 8, ia lebih suka angka 1. Antara 2 dan 7, ia lebih suka angka 7. Antara 3 dan 6, ia lebih suka angka 6. Antara 4 dan 5 ..."


Tampaknya Aneri sedang menggunakan fungsi pembelajaran untuk menganalisis pola, tetapi diperlukan beberapa masukan dari Hamazura.


Akhirnya, Hamazura mengangkat kepalanya dan meminta Kamijou untuk mengikutinya.


"Mungkin ke sini. Ayo.”


Keduanya berjalan menyusuri lorong. Jarak antara pintu menunjukkan bahwa setiap kamar dibatasi oleh ruangan yang cukup luas, tetapi jumlahnya begitu banyak. Meski begitu, Hamazura sanggup menuju ke kamar targetnya.


Kebingungan, Kamijou bertanya tentang hal itu.


“Jadi, kau tahu banyak tentang gadis ini?"


"Kami tidak mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama, tapi dia punya kebiasaan buruk. Dia selalu menggunakan password yang sama untuk segalanya jenis kunci. Itu dia lakukan karena dia benci mengingat berbagai kombinasi angka yang berbeda. Itu juga membatasi Mugino dan Kinuhata. Oke, ini adalah tempatnya.”


Mereka berdiri di depan salah satu pintu geser.


Tampaknya terbuat dari kayu, tapi tentu saja itu terbuat dari bahan karbon. Pintu itu bisa bertahan walaupun ditabrakkan suatu mobil terhadapnya.


Tapi begitu Hamazura turun dari Power Lifter, ia menelusuri permukaan pintu dengan menggunakan jari-jemarinya.


Mesin seberat 2 ton itu memasuki Mode Stanby secara bebas dan mengamati struktur kunci yang terletak di atas bahu Hamazura.


"Jadi ini adalah Method Pin Type 29? Secara teknis, mereka mengeklaim bahwa mengopi kuncinya secara ilegal adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi, tapi aku harus bisa menjebolnya.”


"Bagaimana caramu membukanya?"


"Berpikirlah secara terbalik. Kuncinya tidak dapat dicopy tidak dapat dibor, diambil, atau dilelehkan. ... Jadi bagaimana jika pemiliknya kehilangan kuncinya? Akankah ruang ini tidak pernah terbuka lagi? Jika semisal ada bayi yang terjebak di dalam kamar ini, dia akan mati.”


"Oh."


"Tentunya, si pembuat kunci tidak mau bertanggung jawab atas tindakan ceroboh si pelanggan, sehingga mereka selalu menyembunyikan cara darurat untuk membuka, melepas dan menukar kuncinya. Tentu saja, mereka tidak memberitahu pelanggan tentang informasi tersebut. Karena jika ada seseorang yang mengetahui informasi itu, maka seluruh sistem keamanan ini akan sia-sia belaka.”


Kamijou melihat pekerjaan Hamazura tetapi dia tidak tahu apa yang sedang Hamazura lakukan. Namun ia melakukannya, Hamazura dengan cepat melepas seluruh gembok, menekan kait di dalam, dan membuka pintu. Pintu itu begitu besar sehingga piano, home theater, dan berbagai benda besar lainnya bisa masuk, sehingga Power Lifter bisa masuk ke dalam.


Setelah mereka membuka pintu geser ganda, mereka menemukan ruang yang amat besar.


Namun, hanya terdapat satu ruangan di sana.


"Ini adalah suatu apartemen, tapi ini terlihat seperti pintu masuk penginapan," komentar Kamijou.”Wow, bahkan ada tangga.”


"Tempat ini terlihat seperti villa yang berharga ratusan juta yen, kan? Bagaimanapun juga, ini adalah tempat persembunyian Frenda. Takitsubo adalah pengecualian, tapi aku ingin tahu apa yang dia sembunyikan dari Mugino dan Kinuhata.”


"?"


"Apa pun yang disembunyikan di sini, kita hanya perlu berdoa bahwa itu bukanlah bahan peledak. Mengingat kebiasaan Frenda, mungkin ada semacam sistem-penghancuran-diri untuk melenyapkan bukti-bukti keberadaannya.”


Tidak ada tanda-tanda orang pernah tinggal di apartemen ini, tapi itu bukan karena pemiliknya telah pergi begitu lama.


Walaupun itu adalah apartemen, tidak pernah ada orang yang menempatinya. Itu lebih mirip seperti tempat penyimpanan kelas tinggi. Atau mungkin suatu brangkas untuk menyimpan apa pun untuk memastikan keamanannya.


Kamijou dan Hamazura tidak bisa mengatakan dengan pasti tanpa melakukan pencarian menyeluruh, tapi lantai ini saja tampaknya memiliki lebih dari lima kamar. Berapa banyak lagi yang mereka akan temukan jika mereka menaiki tangga ke lantai lain?


"Dengar. Hati-hati ketika kau menginjak lantai kayu, jangan sembarangan membuka layar geser, jangan menyentuh sakelar, jangan main-main dengan perangkat aneh yang kau temukan, jangan tertangkap oleh tripwires* atau sinar inframerah, hati-hati pada gelombang ultrasonik dan gelombang mikro, sangatlah berhati-hati pada sesuatu yang terlihat seperti sayuran atau pot tanaman. Layaknya pastry* koki kelas atas yang bisa menciptakan kue manis apa pun, Frenda mungkin telah menyamarkan bahan yang berguna.” [Tripwires adalah sejenis kawat yang dibentangkan di tanah untuk mengaktifkan jebakan, ledakan, atau alaram ketika diinjak. Kamus Besar Oxford.] [Pastry adalah adonan tepung, air, lemak, yang digunakan sebagai dasar atau selimut kue pencuci mulut atau pie. Kamus Besar Oxford.]


"Lantas, apa yang boleh kulakukan?"


Apa pun yang mereka katakan, satu-satunya pilihan tersisa adalah memeriksa semua layar geser.


Mereka memulainya dari layar yang berada lurus di depan aula besar pintu masuk.


"Biasanya, ini akan menuju pada ruang tamu."


"Dengan ruangan selapang ini, mungkin ini adalah ruang permainan atau ruang proyeksi. Tapi tempat ini adalah gudang raksasa, sehingga tampaknya, penggunaan ruangan ini tidaklah normal. Aku hanya berharap kita tidak menemukan satu ton bom berbahan bakar udar di sana.”


"Hanya ingin tahu, siapa sih sebenarnya mbak Frenda ini?"


"Satu-satunya hal yang layak diketahui, gadis itu adalah kakaknya Fremea."


Setelah pemeriksaan sangat menyeluruh di daerah sekitar layar, Hamazura meraih tombol dengan tangan baja besar Power Lifter.


Level ancaman: belum ditentukan.


Peringatan Aneri berarti, mereka bisa menemukan apa pun di sisi lain ruangan tersebut.


"Dengar. Pergilah lebih jauh dan tanggung sendiri resikonya. Jika banyak benda yang terlihat berbahaya, langsunglah tiarap ke lantai. Jika kau mengambil tindakan setelah bomnya dipantik, maka semuanya sudah terlambat.”


Frenda telah menyembunyikan sesuatu yang tidak diketahui oleh seluruh anggota ITEM.


Aihana Etsu menginginkan benda itu, tak peduli apa pun wujudnya. Karena itu bisa menuntunnya ke temannya yang hilang tersebut


Hamazura berpikir untuk sesaat, tapi kemudian ia memindahkan tangan mekaniknya pada kenop.


Dan ia meluncur ke samping.



Part 12[edit]


"Ampun deh."


St. Germain wanita yang mengenakan pakaian asisten pesulap menyerupai setelan kelinci dan jaket sedang berlutut di taman sembari diterangi cahaya bulan.


"Aku belum menggali dalam ke masalah di sekitar Frenda Seivelun. Bagaimanapun juga, aku hanyalah orang luar.”


"..."


Aihana Etsu dengan perlahan kembali menatap wajah St. Germain.


Beberapa helai rambut pirangnya tertiup angin malam kemudian terselip di antara bibirnya.


Wanita berkulit putih, berbadan ramping, dan berambut pirang bergelombang itu tertawa.


"Namun, aku tahu cukup banyak informasi karena Dianoid. Ini adalah gudang raksasa yang sering digunakan oleh para VIP Academy City untuk menyembunyikan rahasia mereka dengan aman. Ini adalah tempat yang paling cocok untuk mempelajari rahasia orang lain.”


"Apakah kau melihat kamarnya?"


"Tidak" St. Germain menggeleng.” Dianoid menyimpan benda-benda yang lebih berharga daripada sekedar koleksi. Itu juga termasuk DNA komputer berbasis karbon dan berbasis organik. Sederhananya, itu juga termasuk pengelolaan harta digital. Aku bisa memanipulasi benda-benda itu secara langsung, jadi apa boleh buat, aku terpaksa memanfaatkannya untuk kebutuhanku.”


"Lantas, apakah itu ada di sana?"


"Iya." St. Germain menjatuhkan pil lain dari kotak pilnya.”Tapi ternyata itu adalah masalah yang lebih menyusahkan daripada yang kuharapakan karena aku harus mengakses komputer DNA secara langsung. Bahkan jika mesin itu adalah karbon, benda itu masihlah menggunakan kabel serat optik. Aku dapat mengendalikan mesin, tapi aku tidak bisa menyentuh kabel. Itu berarti, aku tidak dapat menggunakan jaringan kamera keamanan yang luas. Betapa memalukan.”


"Itu tidak masalah," potong Aihana Etsu.


Dia tidak lagi mengamati ekspresi wajah atau ketakutan karena emosi yang diluap-luapkan oleh wanita itu. Apakah ini sebabkan karena hati Aihana Etsu sudah dirasuki dan dikuasai oleh rasa benci yang begitu kelam?


Atau apakah dia sudah tidak bisa mengerem hasratnya karena tujuannya selama ini tepat disajikan di depan matanya?


Suatu kelegaan yang, entah kenapa, terasa begitu jahat meliputi dirinya. Dia menggerakkan matanya yang sudah mulai berubah jadi gelap dan sedikit membuka bibirnya. Dia pun terus berbicara.


"Katamu tadi, kamar itu berisi 'sisa-sisa bukti terakhir' keberadaannya. Berapa banyak yang kau tahu? Apakah kau sudah memperlajari seluruh Dianoid?”


"Apakah anda ingin tahu, paduka?"


"Jawab aku."


"Bahkan jika itu akan menyebabkan anda menyesal setengah mati?"


"Jawab aku, St. Germain!!!!"


Wanita pirang menjentikkan jarinya.


St. Germain lainnya datang dan membawa tablet seukuran buku diktat menuju Aihana Etsu.


Tanpa pikir panjang, Aihana mengambilnya dan mendengarkan St. Germain yang wajahnya menyerupai versi dewasa Frenda.


"Sekarang lihat sendiri, paduka. Ini adalah penyesalan yang telah kau pilih.”


Tidak jelas apakah Aihana mendengarkannya ataukah tidak, yang pasti, dia menatap layar tablet di hadapannya dengan sorot mata serius.


Dalam sekejap, pikirannya dipenuhi dengan beberapa bayangan.


.............................................................jalan layang yang disertai dengan rel kereta di bawahnya. .......................Seorang pria dan perempuan berbicara bersama-sama........................................... Benda yang diseret oleh si gadis terlihat seperti boneka beruang yang terkoyak.......................... ......................................................................................................................Seorang teman akrab Merah dan hitam............................................................................................................................ .....................................................Terlalu banyak bagian yang hilang.......................................... Suatu potongan badan................................................................................................................... ..........................................................................Robek-terpisah dengan warna yang begitu buruk


Seorang gadis berambut pirang panjang bergelombang dan kulit putih telah kehilangan nyawa dan tampak seperti kertas kering yang lusuh, matanya kosong tanpa cahaya, warna merah menetes keluar dari sudut mulutnya, tubuh ramping itu telah kehilangan segala sesuatu dari bagian tengah sampai bawah, sesuatu yang lembut dan berwarna merah gelap bergelantungan dari sobekan tubuhnya, potongan tubuhnya yang masih lembek mengelurkan cairan, dan itu mengecat lantai di bawahnya dengan warna merah berbau amis, terlihat jelas bahwa dia diseret-seret layaknya karung busuk yang......


"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!! ???"


Hal berikutnya yang dia tahu, Aihana Etsu berteriak tak terkendali.


Dia cukup lama tidak mendengar kabar tentang teman gadisnya itu. Seakan-akan si gadis tinggal di dunia yang berbeda darinya. Skenario kasus terburuk ini sempat terlintas dalam pikirannya, tetapi dia repot-repot datang ke sini untuk membuktikan bahwa kekhawatirannya itu salah. Jika dia bisa membersihkan semua kegelapan dan menyalakan secercah cahaya, ia berharap untuk menghilangkan ketakutannya. Dia terus berdoa agar senyuman hangat itu kembali dan dia bisa menghabiskan hari-harinya dengan si gadis seperti dulu kala.


Tapi ...


Apa ini?


Ini lebih dari tertusuk, tercekik, atau kepalanya tertembus peluru.


"Ah ... aahh ... aaahhh ..."


Kelenjar air matanya tak mampu lagi membendung genangan air.


Dia berteriak dengan begitu keras, dan setelah itu, tenaganya habis...yang tersisa dari dirinya saat ini hanyalah jasad kosong tanpa jiwa, tapi dia tidak mati. Anggota tubuhnya tergantung lemas dan matanya tetap terbelalak seperti boneka rusak. Tekad dan semangatnya telah hancur. Aliran emosi meluap dari raganya, dan menjelma menjadi kucuran air mata.


Ini sungguh mengerikan.


Ini teramat mengerikan.


Ini terlalu parah.


Mungkin ada perbedaan mendasar dalam kematian seseorang. Apakah mayatnya masih utuh dengan sempurna ataukah sudah terkoyak menjadi serpihan, itu masihlah mayat biasa. Tapi, pemandangan macam apa yang dia saksikan di layar barusan? Dosa macam apa yang sudah dilakukan si gadis sehingga dia harus mati dengan cara seperti itu? Tubuhnya telah terbelah dua, diseret di tanah, dan mirip seperti makanan hewan ternak.


Menurutnya, itu adalah kematian yang tak layak bagi seorang manusia. Bahkan hewan sekalipun tidak layak dibunuh dengan cara seperti itu.


Itulah mengapa ia menolak untuk menerima kematian ini dan mengambil langkah ke dalam kegelapan kota.


Tapi dia telah salah.


Ada sesuatu setelah kematiannya.


Apakah dia sudah dimakamkan dengan layak untuk menjaga martabatnya?


"Pernahkah anda mendengar tentang hal ini, paduka?"


St. Germain tertawa dengan berdesis dan berbicara lebih lanjut.


"Suatu bom jenis baru yang tersembunyi di Dianoid."


"..."


"Paling tidak, anda harus curiga mengapa Frenda dibunuh dengan begitu kejamnya.”


"Apakah kau hendak mengatakan bahwa dia sudah dikhianati?"


"Sulit bagiku untuk mengatakannya."


Pada saat itu, gemuruh mencapai mereka dan seluruh atap bergetar keras.


Aihana Etsu melihat ke atas kepalanya begitu saja dan St. Germain berbisik kepadanya.


"Sepertinya, dia adalah Mugino Shizuri."


"Siapa itu?"


"Gadis dalam rekaman video itu. Saat ini, dia sedang membasmi para St. Germain lainnya.”


Suatu getaran aneh dan sensasi mati rasa mencapai ujung jari Aihana Etsu.


Dialah orang yang melakukan semua "ini".


Dan saat ini pun, gadis itu sedang bebas sambil menghirup segarnya udara luar. Bahkan saat ini pun, dia sedang melakukan aksi kekerasan seakan-akan tidak menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Tidak salah lagi, paduka. Mugino Shizuri bukanlah masalah di sini.”


"Bukan masalah?"


Aihana tercengang sejenak.


Bagaimanapun juga, dia telah melakukan "ini". Jika bukan karena dia, semua kenestapaan ini tak akan terjadi pada temannya.


Tapi St. Germain menjelaskan.


"Sebagai contoh hipotetis, bagaimana jika terjadi suatu pertarungan mematikan untuk memperebutkan sepotong roti pada daerah konflik? Siapakah yang tanggung jawab untuk itu? Aturan dunia telah terdistorsi, sehingga….Bukankah seharusnya aturan dunia yang terdistorsi itu dihukum atau dilenyapkan terlebih dahulu? Setelah kita merubah sistem tersebut, barulah pihak-pihak yang tidak adil kita hukum dan basmi.”


"..."


"Kisah tentang teman anda adalah suatu tragedi," kata St. Germain.”Tapi yang paling menyedihkan dari semua itu adalah…. Cerita pilu tersebut bukan satu-satunya tragedi yang terjadi di dunia ini. Lantas bagaimana cara melenyapkan semua tragedi di dunia ini sekaligus? Apakah itu mungkin? Tentu saja mungkin. Selama kita merubah seluruh sistem di dunia ini, maka kita akan mendapatkan dunia baru tanpa adanya tragedi-tragedi seperti itu.”


"Apa yang kamu bicarakan !?" bentak Aihana Etsu dengan nyaring.”Apalagi yang kau mau!?"


St. Germain menjawab rajanya.


"Eksistensi Kamijou Touma tidak diperlukan dalam dunia yang ideal."


Pada awalnya, komentar itu mungkin tampak tidak masuk akal.


Tapi dia adalah seseorang dengan kekuatan sejati, yang dapat mengubah segalanya.


"Hanya itu. Cukup dengan melakukan itu, kita bisa membalikkan dunia ini 180 derajat. Jadi tidak ada gunanya anda membenci Mugino Shizuri, Kakine Teitoku, atau orang lain yang terlibat langsung. Jangan memulai sesuatu yang tidak berguna. Pertama, anda menghakimi sistem, menghapus filter sistem yang ditempatkan pada situasinya, dan kemudian menghukum mereka semua yang terlibat. Jika anda masih menemukan hal yang tidak berguna, maka anda dapat mengikis itu sampai semuanya rata. Aku tidak sedang mencoba untuk melindungi Mugino Shizuri. Tapi jika kejahatan tidak dihakimi dengan benar, anda tidak dapat melakukan balas dendam yang layak.”


Bagi Aihana Etsu, ini tidak masuk logika dan tidak terasa nyata. Dia pernah sesekali mendengar nama Kamijou Touma ketika dia masih berkeliaran di gang-gang gelap Academy City, tapi ini terlalu ekstrim. Dan ia tidak bisa memutuskan seberapa banyak dia harus mempercayai si pirang.


Dan dia bertanya.


"Jika ..."


"Ya?"


"Jika misalnya Kamijou Touma berada di sana pada waktu itu, apakah Frenda bisa selamat?"


Itu adalah suatu pertanyaan bodoh. Karena jelas-jelas dia sudah mengetahui bahwa temannya telah mati.


Apa dia masih tidak percaya dengan hal yang dilihatnya barusan?


Tapi ...


"Tentu saja, dia sanggup menyelamatkan seseorang dengan kepalan tangan kanannya. Mungkin pria itu memiliki tubuh yang rapuh layaknya manusia pada umumnya, tetapi pada saat ini, ia mendapatkan keuntungan untuk bisa melawan eksistensi yang lebih tinggi seperti diriku.”


Dia membuatnya terdengar jelas.


Seakan-akan, hancurnya sebagian rencana adalah skenario untuk menjalankan rencana yang lebih besar.


Seakan-akan, diperlukan seseorang yang istimewa untuk melawan pria itu.


Mungkin saja, si pria jabrik telah berjalan di takdir yang seperti itu.


Tapi ...


(Kenapa tidak ada seorang pun yang berhasil tepat waktu menyelamatkan Frenda?)


Hakimi sistemnya.


Jangan membenci kegilaan umat manusia, bencilah sistem yang menyebabkan terjadinya semua kegilaan itu.


(Tidak peduli siapa, mengapa tidak ada seorang pun yang berada di sana untuk mendengarkan jeritan Frenda?)


Suatu suara gertakan terdengar dari mulut Aihana Etsu sembari ia menggencet giginya.


Dia tahu bahwa hatinya sedang tertuju ke suatu arah yang sesat.


"Apa yang akan anda lakukan?"


St. Germain memegang perisai emas sekali lagi.


"Tidak diragukan lagi, Mugino Shizuri adalah seekor setan. Jika anda membunuhnya, anda bisa membalas dendam dengan sukses. ... Tapi apakah itu cukup? Membuat penghakiman tanpa mengirim semua kejahatan pada cahaya. Itu sama saja dengan menunda kejahatan yang lain. Ada seseorang yang membunuh 2 orang, kemudian dia dihukum mati. Di sisi lain, ada seseorang yang membunuh 200 orang, kemudian dia juga dihukum mati. Lantas apa bedanya? Apakah membunuh 200 orang dan membunuh 2 orang adalah suatu hal yang sama?”


"..."


"Begitu juga dengan kasus ini, pada akhirnya, apa yang Frenda Seivelun tinggalkan akan dibawa ke cahaya. Jika itu disalahgunakan, maka namanya akan ternoda.”


Perisai emas itu memantulkan sinar bulan.


Sembari wanita itu berlutut, sorot mata St. Germain berbicara dengan jelas kepada Aihana Etsu.


Seseorang yang “tidak bisa” melakukan sesuatu dengan seseorang yang “tidak” melakukan sesuatu adalah dua hal yang jauh berbeda.


Dan kekuatan yang sanggup membuat dia “bisa” melakukan sesuatu ada di depan matanya.


"Baiklah," gumamnya.


Tangan kecilnya meraih perisai emas.


"Aku akan membersihkan semuanya. Sembari aku melakukannya, Mugino Shizuri bisa menunggu beberapa saat. Kamijou Touma adalah prioritas utama. Apakah dia terlibat atau apakah dia tidak terlibat. Aku akan cari tahu nanti.”


"Itu tidak masalah. Jika memang surga itu ada, aku yakin teman anda sekarang sedang tersenyum dari sana.”


"..."


Dia tidak membalasnya dengan kata-kata, tapi dia melanjutkan perkataannya di dalam hati.


(Jika eksistensi Kamijou Touma bisa berubah takdir Frenda, maka aku dapat mengatakan bahwa ketidakmunculannya di waktu itu adalah suatu kejahatan ...)


Dia merasakan bobot perisai yang ada di tangannya.


(Kalau begitu, ketidakmunculanku di sana pada waktu itu, jugalah suatu kejahatan. Maka aku akan menghukum diriku sendiri setelah semua ini selesai.)


"Apa yang bisa Anne’s Shield lakukan?"


"Perisai itu tidaklah penting. Yang penting adalah, anda tahu bahwa benda itu telah memilih anda. Layaknya pedang Excalibur. Ketajamannya bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah orang yang telah mencabutnya.”


"Aku tidak ingin menyanjung diriku sendiri. Aku ingin sesuatu yang dapat kugunakan dengan segera.”


"Heh heh. Sebetulnya aku ingin membuat kejutan untuk anda, tapi sepertinya, aku akan memberikan penjelasan umum. Ingatlah bahwa ini bukanlah efek dari kekuatan perisai itu. Ini semua adalah murni kekuatan anda, Anne’s Shield hanyalah alat bagi anda.”


St. Germain berbicara seakan mengungkapkan suatu rahasia yang berharga.


"Pedang King Arthur adalah simbol dari pemerintah kerajaan yang aktif dan positif. Dia memerintah melalui dominasi dan ekspansi wilayah. Sebagai tandingannya, apa yang dilambangkan oleh Anne’s Shield? Jawabannya adalah sisi pasif dan negatif dalam memerintah kerajaan.”


"Jawablah dengan lebih spesifik."


"Benda itu dapat menembak apa pun. Benda spiritual defensif terkuat ini menggunakan cahaya terkecil untuk merobek apa pun yang ada di depan anda. Benda itu bisa membuat .......yah, katakan saja lubang seukuran sedotan.”


"Terkuat? Benarkah?”


"Tidak perduli material apa pun yang ada di hadapan anda, benda itu bisa menembusnya. Benda itu bahkan bisa menembus 2.000.000 ksatria sekaligus. Itu adalah serangan horizontal yang mematikan. Bukankah itu adalah suatu kekuatan yang cukup pantas untuk melebihi Imagine Breaker, dan merobek Kamijou Touma menjadi serpihan?”



Part 13[edit]


Hamazura Shiage dan Kamijou Touma menemukan pemandangan yang tak terduga di balik layar geser.


Itu bukanlah bom jenis baru atau bahan peledak.


"Apa ini?"


Kamijou melihat tikar tatami pada ruang tamu yang tampak cukup besar untuk kelas ekonomi.


Bagaimanapun juga, sepertinya tempat ini tidak pernah dihuni. Bahkan, di sana tidak tersedia cukup banyak perabotan.


Sebaliknya, seluruh ruangan dipenuhi dengan kotak.


Beberapa kotak berukuran sekecil kotak bento dan ada yang lebih besar dari lemari es.


Pembungkus warna-warni dan pita yang terdapat pada kotak tersebut mengingatkan Hamazura pada sesuatu.


"Natal? Tidak, ini adalah ...”


"Sepertinya ini adalah hadiah ulang tahun. Dan ada kalender di sini.”


Kamijou menunjuk kalender yang ditempel dengan paku payung di dinding. Di sana ada gambar makhluk laut dan ditandai dengan stabilo.


Tapi tidak hanya satu atau dua hari.


Bahkan, ada banyak hari yang ditandai dengan stabilo.


Dari sudut matanya, Hamazura melihat Aneri merekam nama-nama yang ditulis pada kotak tersebut dan membangun database.


"Kalau dipikir-pikir, Frenda adalah anggota ITEM yang paling banyak koneksinya. Aku rasa, dia pernah bilang bahwa dia kenal ribuan orang dari sisi gelap kota maupun sisi terang kota.”


"Maka ini adalah ...?"


"Apakah ini semua adalah hadiah ulang tahun? Ini terlihat seperti ketika suatu perusahaan mempersiapkan hadiah akhir tahun untuk semua orang karyawannya.”


Kamijou membalik-balik kalender sambil mendengarkan suara terkejut dari Hamazura.


Kalender itu belum diperbarui selama beberapa bulan, tapi semua tanggal ulang tahun telah ditulis beberapa bulan ke depan. Dia berhenti setelah membalik-balik beberapa bulan.


1 Desember.


Itu adalah tanggal pada hari ini. Nama yang tertulis di sana bukanlah "Aihana Etsu", tapi dia mengenali wajah pada stiker foto kecil yang ditempelkan di sana.


"..."


"(Aku bisa paham mengapa ia tidak ingin Mugino atau Kinuhata melihat ini.)"


Hamazura bergumam pada dirinya sendiri sambil melihat sekeliling ruangan sekali lagi.


Scan Aneri mengkopi beberapa nama familiar yang terdapat di kotak-kotak itu.


Tidak ada perangkap, tidak ada senjata, dan tidak ada motif tersembunyi.


Tempat ini adalah sisi lain dari Frenda yang sama sekali tidak berbahaya.


Ini akan menjadi tempat dimana ia menyegel sisi lembut dari dirinya. Dia memiliki sisi kepribadian berbeda yang tunjukkannya di dunia normal dan yang ditunjukkannya di dunia kegelapan kota. Di tempat ini, dia tidak harus berperilaku sebagai kakak yang teladan bagi Fremea atau berprilaku sebagai pembunuh yang mematikan di sisi gelap kota. Ini adalah tempat tinggal mungil miliknya, dimana dia bebas menjadi dirinya sendiri.


Setiap orang memiliki beberapa sisi.


Semua nyata dan tidak satupun palsu.


Kalau ada seseorang yang menilai sisi kemanusiaan Frenda Seivelun didasarkan pada setiap bagian dari dirinya, mungkin orang tersebut akan mendakwanya sebagai seorang gadis yang jahat.


Sama sekali tidak ada kata maaf untuk semua hal yang telah dia ledakkan dan semua nyawa yang sudah dia renggut.


Ketika dia menang, dia sama sekali tidak memikirkan nasib orang-orang yang telah dibunuhnya. Dan jika dia hampir kalah, dia tiba-tiba akan mulai berbicara panjang lebar tentang kesucian hidup. Ketika dia dibunuh, dia menikmatinya. Ketika dia hampir dibunuh, dia akan menjual temannya dan akan memohon dengan sangat untuk diampuni. Dia adalah jenis gadis yang egois sekaligus gadis yang baik.


Tapi ...


Kenyataan itu tidak sepenuhnya membatalkan apa yang telah mereka temukan di sini.


Beberapa remote kontrol berbaris di tepi meja. Remote-remote itu adalah milik beberapa perkakas rumah tangga seperti : TV, AC, perekam digital, proyektor, tirai, dll. Ketika Hamazura mengambil salah satunya dan menekan tombol power, muncul semacam program yang terpampang pada dinding di sebelah kiri hadiah-hadiah tersebut. Pada program tersebut terdapat daftar benda-benda berbeda yang diinginkan beberapa orang.


"Jaka-jaka-jan ... Tidak, itu tidak benar. Jaka-jaka-jaka-jan! Apakah itu?”


Perekam digital itu berisi beberapa video, dan di sana terekam Frenda sedang menari-nari.


Hamazura beranggapan, bahwa ia sedang berlatih untuk beberapa jenis pertunjukan di pesta ulang tahun, tapi ...


"Jaka jaka Jahn Jan Ini dia! Pada akhirnya, pasti yang itu. ... Heh heh heh. Mugino pasti akan sangat terkejut.”


"..."


Hamazura menyaksikan suatu senyuman yang riang.


Di rekaman itu, seakan-akan Frenda tidak mengerti apa yang bakal terjadi pada hidupnya.


Hamazura dengan tenang menggunakan remote perekam digital untuk mematikan rekaman tersebut.

NT Index v12 291.png

Jauh di dalam hatinya, Hamazura berkata pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan Mugino tahu akan hal ini.


Kamijou akhirnya berpaling dari kalender itu.


"Aihana mengatakan bahwa di tempat ini kita akan menemukan alasan mengapa Frenda Seivelun menghilang, tapi apakah kita harus berasumsi bahwa dia salah tentang hal itu?”


"Ya. Aku ragu dia meninggalkan benda seperti itu di sini," sembur Hamazura sebelum mengucapkan hal lainnya.”Tapi itu tidak sepenuhnya percuma."


Saat itulah mereka melihat sesuatu yang berkedip di balik tumpukan hadiah.


Itu melekat pada dinding. Kamijou lah yang melihat itu pertama kali dan Hamazura menyadari bahwa Kamijou sedang mengamati sesuatu. Mereka memeriksa dan menemukan layar sentuh datar dan suatu ponsel yang terpasang pada penerima.


Mereka awalnya berpikir bahwa itu adalah interkom, tapi ternyata bukan.


"Apa ini?"


Layar itu menampilkan lantai apartemen dan lampu merah berkedip pada pintu masuk utama.


"Oh, aku mengerti. Ini adalah peringatan keamanan karena aku membuka pintu depan dengan paksa.”


Hamazura membungkuk ke depan dari Power Lifter dan menyentuh layar itu.


"Hm? Apa-apaan ini!?”


Dia mungkin telah salah mengoperasikannya karena lantai yang ditampilkan di layar hilang.


Malahan, di sana terpampang gambar lebih dari satu apartemen.


Seluruh Dianoid ditampilkan pada layar tersebut. Puluhan atau bahkan ratusan foto muncul di sana-sini. Itu menunjukkan rekaman : beberapa pintu masuk bangunan, di dalam toko tingkat rendah, di depan lift dan eskalator, seta dalam stasiun TV pada tingkat tengah.


Kamijou berbicara dengan lantang setelah dia mengamatinya.


"Kamera keamanan?"


"Tapi kenapa? Mengapa dia merekam tempat-tempat yang tidak berada di sekitar kamarnya?”


"Mungkin itu adalah hak istimewa untuk para VIP. Untuk semakin meyakinkan pelanggannya, pihak management menjual privasi orang lain'.”


Aneri tidak terikat oleh kabel, tapi pengamatan pada layar sudah cukup untuk membuat beberapa prediksi rinci tentang bagaimana cara untuk mengoperasikan suatu perangkat.


Kali ini, Hamazura mengendalikannya sesuai keinginan.


Dia memeriksa history login dan tidak menemukan apa-apa kecuali momen pada saat kontrak sewa ditandatangani. Sepertinya, Frenda telah melihat perangkat ini saat memeriksa sistem keamanan apartemen dan tidak pernah menyentuhnya lagi sejak itu. Itu berarti, dia tidak pernah menginstallnya dan benda itu sudah ada sejak dia pertama kali datang di apartemen ini.


Selama pekerjaannya di sisi gelap kota, dia mungkin menggunakan peralatan semacam ini dengan senang hati. Semakin banyak informasi yang dia miliki, maka semakin menguntungkan posisinya. Dan dia bukanlah orang yang khawatir terhadap privasi orang lain.


Tapi waktunya di sini berbeda.


Di tempat ini, Frenda tak berlu bersandiwara karena tidak ada gangguan dari sisi gelap ataupun sisi terang kota. Di tempat ini, dia hanya merencanakan berbagai hadiah untuk ulang tahun kolega-kolega yang dia kenal. Sehingga dia tidak perlu pusing-pusing memikirkan busuknya identitas kota.


Kesal, Hamazura melepaskan jarinya dari layar, tapi giliran Kamijou memegangnya dari samping.


Dia menyentuh salah satu gambar-gambar yang tak terhitung jumlahnya.


"Hei!"


"Tunggu sebentar. Lihat di sini.”


Dia mengganggu Hamazura dan memperluas windows kamera keamanan.


Di sana, ada gambar yang merekam taman bermandikan cahaya bulan purnama di atas atap Dianoid.


Ada seorang anak laki-laki yang berdiri dan dikelilingi oleh puluhan orang dengan jas berekor.


Dia berbicara dengan wanita berambut pirang yang mengenakan setelan kelinci dan jaket kombinasi.


"Itu adalah Aihana Etsu. Untunglah, dia masih baik-baik saja.”


"Itu dia? Bagiku, dia tidak terlihat seperti # 6. Dia lebih mirip seorang Level 0.”


Tidak seperti rekaman video normal, kamera keamanan tidak memberikan suara.


Untungnya, Aneri menampilkan potongan teks di bagian bawah layar seperti subtitle film.


"Ikut aku, paduka."


"Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak? Aku hanya pernah mendengar tentang Kamijou Touma dari rumor, tapi kau tahu apa kekuatannya yang sesungguhnya, bukan?”


"Tidakkah aku memberitahu anda sebelumnya? Aku telah mencari raja yang benar-benar bisa kulayani. Dan Kamijou Touma adalah lawan yang sangat baik untuk menguji kekuatan sang raja. Sudah sewajarnya jikalau anda membalas dendam dan mendapatkan kembali hal yang seharusnya anda miliki.”


"Apakah ini ... benar-benar suatu aksi balas dendam?"


"Andaikan saja Kamijou Touma tiba tepat waktu di saat itu, Frenda Seivelun tidak akan mati. Bukankah itu benar? Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi siapa pun yang kenal benar tentang dirinya pasti akan setuju denganku.”


"... Kamijou Touma."


"Istilah Dewa Sihir mungkin tidak berarti banyak bagi anda, tapi aku menganggap bahwa anda setidaknya pernah mendengar berita dan melihat video dari insiden di Denmark. Itu adalah perang yang dilancarkan terhadap seorang Dewa Sihir yang begitu dibenci oleh seluruh dunia. Bahkan ketika dihadapkan dengan kebencian enam miliar orang, Kamijou Touma masihh saja melindung Dewa Sihir sampai akhir. Jika ia bisa melakukannya, mengapa ia tidak begitu perduli dengan kegelapan Academy City?”


"..."


"Aku mengambil tindakan dan masuk ke dalam stasiun TV untuk mencuri kontainer, jadi gunakan itu untuk melindungi manusia sebanyak yang anda inginkan.”


Dan Kamijou Touma pun bisa mendengar percakapan ini, karena Hamazura membacakan informasi yang Aneri sajikan padanya dengan suara lantang.


Mereka berdua hanya menerima potongan-potongan percakapan, sehingga hampir mustahil untuk memahami semuanya dengan akurat.


Tapi mereka masih bisa membuat beberapa tebakan berdasarkan potongan informasi yang tidak menyenangkan itu.


"Aku tidak tahu apa yang sedang wanita itu bicarakan," gumam Hamazura Shiage.


Kebingungan itu membuatnya berteriak.


"Kami memang mengangkut kontainer ke TV Orbit, tapi itu bukanlah sebuah perisai. Kontainer itu untuk acara yang menggunakan teknologi mutakhir. Itu adalah suatu acara untuk melihat seberapa akurat Jam Jerman Kuno bisa menjaga waktu!!”


"..."


Kamijou menyipitkan matanya.


Seseorang sedang berbohong. Apakah itu orang yang telah membuat pesanan terhadap Hamazura ataukah St. Germain yang bersikeras bahwa dia mendapatkan perisai dari kontainer tersebut?


Hamazura tampak benar-benar bingung.


"Dan apa apa maksudnya King Arthur? Bukankah itu adalah seorang raja yang muncul dalam game RPG?”


"Itu menunjukkan bagaimana terkenalnya dia. Di sisi sihir, ia mungkin adalah seorang penyihir atau Saint sungguhan," sembur Kamijou.”Tapi Aihana berasal sisi ilmu pengetahuan, jadi, akankah suatu nama seperti itu benar-benar cukup untuk meyakinkan dia agar bertindak?”


"Aku agak mengerti." Hamazura berpikir sejenak.”Academy City adalah markas sisi ilmu pengetahuan terbesar, tetapi berita pagi masihlah memberikan acara tentang horoskop. Ini bukan tentang logika. Semua orang menontonnya meskipun mereka tahu itu adalah omong kosong. Jika kau hanya percaya pada aturan Academy City, Level 0 akan selamanya menjadi Level 0. Hukum fisika terkesan begitu kejam jika kau adalah orang yang lemah. Jadi kau akan panik dan sangat ingin tahu ketika kau menemukan adanya suatu hukum yang sama sekali berbeda dari hukum fisika. Yaitu suatu hukum yang jauh lebih mudah untuk diterapkan, tidak memerlukan bakat, dan bahkan bisa membuat seorang Level 0 menjadi dewa, iya kan?”


"..."


"Jika ada celah, semua orang ingin menggunakannya. Mengatakan bahwa kau punya bakat tersembunyi atau tidak cukup serius, itu semua hanyalah suatu alasan klise yang usang. Dan dengan diperkuat oleh kisah-kisah tentang beberapa tokoh besar dalam sejarah atau senjata yang terkenal, maka beberapa orang akan semakin percaya, dan kau akan beranggapan bahwa mimpimu akan menjadi kenyataan. Ini mirip seperti mencari tahu bahwa kau adalah seorang kerabat kandung salah satu dari tujuh Level 5 dan memiliki informasi genetik kuat yang tersembunyi di dalam dirimu.”


Hamazura mencoba untuk memberikan jawaban yang tenang, tapi ia pun sadar bahwa amarah yang sudah lama terpendam dalam dirinya ikut-ikutan meluap. Bagaimanapun juga, dia berada di posisi yang tak jauh berbeda dengan Aihana Etsu.


Cinderella dan Si Bebek Buruk Rupa mungkin hanya ada dalam cerita dongeng.


Para pahlawan di buku cerita bergambar anak-anak tidak benar-benar berusaha dalam mengatasi masalah-masalahnya. Mereka memiliki bakat khusus sejak lahir dan mereka hanya perlu beberapa orang khusus membimbing mereka, lantas semua urusan selesai. Di satu sisi, mereka bisa disebut sebagai pemalas. Dan mungkin, orang-orang yang hanya mengandalkan cerita-cerita dongeng tanpa mau bekerja keras juga bisa disebut dengan julukan serupa.


Tapi orang-orang melakukan itu karena mereka tidak punya banyak pilihan.


Jika mereka bisa mengubah diri sendiri dengan usaha yang cukup atau jika upaya mereka pernah membuahkan suatu hasil yang nyata, maka tidak ada orang yang bakal kesulitan di dunia ini. Mereka terus dibodohi oleh Daftar Parameter dan pertumbuhan mereka dikendalikan untuk keuntungan orang-orang dewasa, tapi mereka masih mencoba untuk mengejar impian mereka.


Bakat instan yang ditawarkan tanpa banyak memerlukan upaya mungkin adalah suatu ilusi untuk orang-orang berhati lemah.


Aihana Etsu mungkin bukanlah orang yang kuat. Dan dia adalah orang yang tidak mampu merubah keadaan hidupnya menjadi lebih baik.


Tapi ...


Apakah ada seseorang yang berhak mencemoohnya hanya karena dia lemah?


"St. Germain sedang menyuruhnya untuk melakukan apa? Aku yakin betul bahwa namamu, Kamijou Touma, disebutkan dalam percakapan antara mereka berdua.”


"Ada sesuatu." Kamijou sedikit menyipitkan matanya.”Ada sesuatu yang harusnya terjadi jika aku ada di sana, pada waktu itu. Bukannya aku adalah seseorang yang hebat. Aku hanyalah orang yang memenangkan berbagai pertarungan setelah menggunakan beberapa trik di buku diktat sekolah, dan menerima bantuan dari banyak teman.”


"Apa......Apaan maksudmu?"


"Paling tidak, aku yakin bahwa Aihana Etsu melihat sesuatu yang harusnya terjadi di masa lalu. Frenda Seivelun, kan? Mungkin saja, dia berpikir bahwa gadis itu meninggal karena aku tidak menyelamatkannya tepat waktu.”


"Apa-apaan itu!?"


Hamazura berteriak kebingungan.


Jika argumen itu benar, berarti Kamijou Touma bertanggung jawab atas kehidupan enam atau tujuh miliar orang di planet ini. Jika misalnya saja ada seseorang celaka di suatu waktu, dan di suatu tempat, maka Kamijou Touma lah yang harus disalahkan.


Itu lebih mirip seperti pekerjaan untuk Tuhan.


Dan ...


"Itu sungguh merupakan omong kosong. Kau bahkan tidak kenal Frenda, kan !? Kalau begitu, mana mungkin kau harus bertanggung jawab ketika Frenda berada di ambang kematiannya. Aihana dan St. Germain sama sekali tidak membicarakan tentang Frenda!!”


"Tidak, memang tidak, tapi bukan itu masalahnya."


Kamijou berbicara dengan tenang dan berpikir tentang beberapa esper dan penyihir yang terlah berkonfrontasi dengannya di masa lalu.


"Orang-orang membalas dendam dengan tidak melihat realitas. Ada beberapa kasus dimana kematian seseorang ternyata berhubungan dengan kepentingan dan manupulasi suatu pihak. Jadi, hanya perlu sedikit kebohongan untuk melencengkan niat Aihana Etsu yang pikirannya sudah gelap.”


"Tapi !!"


Perkataan Hamazura tercekat di tenggorokan, sehingga ia perlahan-lahan mengambil napas dan mulai berbicara lagi.


"Memang benar bahwa insiden itu begitu mengerikan. Semua orang menjadi gila, zona aman yang normal pun dilanggar, dan cita-cita orang dewasa tidak berlaku sedikit pun. Frenda meninggal dan banyak orang lain sepertinya juga meninggal. Hal yang paling bisa kulakukan hanyalah mengakhiri itu semua. Meskipun begitu, aku tidak bisa dengan bangganya mengatakan bahwa aku menyelesaikan semua urusan.”


"..."


"Tapi kita semua berusaha setengah mati untuk mewujudkannya! Semua orang yang terlibat adalah manusia-manusia mengerikan, tapi kita terus maju untuk bertahan hidup walaupun tubuh sudah berlumuran darah!! Jadi, apa-apaan ini!! Apa yang salah dengan ketidakhadiran Kamijou Touma? Persetan dengan itu! Itu menodai semua udaha keras yang aku dan teman-temanku lakukan sampai sejauh ini. Seakan-akan itu mengatakan bahwa semua takdir hanya ditentukan oleh Kamijou Touma seorang, tak perduli seberapa keras upaya yang kami usahakan!!”


"Aku tahu itu." Kamijou menggeleng.”Dunia tidak berputar mengelilingiku, melainkan akulah yang berputar mengelilingi dunia. Sangat konyol ketika kau berpikir bahwa semua usahamu sia-sia jika aku tidak bertindak. Aku hanyalah orang yang berjuang untuk keegoisanku sendiri dan menciptakan masa depan sesuai dengan keinginanku. Aku sama sekali tidak melakukan hal besar yang bisa mengambil alih pencapaian orang lain yang telah berusaha keras.”


Tetapi beberapa orang tidak menyadari itu.


Tanpa bergantung pada ilusi itu, beberapa orang tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan seseorang yang berharga.


Itu tidak berbeda dari Cinderella yang atau Si Bebek Buruk Rupa.


Itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh hati lemah, tetapi meskipun hati mereka lemah, apakah seseorang punya hak untuk merendahkan dan mencemooh mereka?


"Jadi ... bagaimana? St. Germain sedang membuat Aihana melakukan hal apa terhadapmu?”


"Mungkin tidak hanya membunuhku. Jika dia hanya menginginkan kematianku, St. Germain bisa melakukannya sendirian. Dia bisa menyerang dari setiap arah tanpa bisa terjangkau oleh tangan kananku, jadi tidak ada alasan untuk mempercayai orang asing seperti dia.”


"Lalu ..."


"Sebaliknya," sembur Kamijou dengan kesal.”Ingatkah kau akan efek samping yang akan diderita seorang esper bila dia menggunakan sihir? Aku tidak tahu persis hal apa yang perisai itu mampu lakukan, tapi aku ragu bahwa perisai itu mempunyai kekuatan yang bisa mengalahkan Imagine Breaker milikku. St. Germain ingin mengadu Aihana Etsu denganku, sehingga Aihana mati. Dia ingin aku menanggung dosa pembunuhan. Itulah tujuannya di sini.”


"Kenapa begitu!?"


"Itu aku tidak tahu. ... Mungkin dia ingin membinasakan 'ilusi dari hati lemah', yang kita bicarakan sebelumnya.”


Tidak ada konsistensi dalam tindakan St. Germain.


Meskipun tampaknya terobsesi dengan Aihana Etsu, dia menyegel Dianoid dan mencoba untuk membunuh Kamijou bersama teman-temannya. Perbuatan-perbuatannya itu sama sekali tidak diperlukan jika dia hanya ingin mendapatkan Aihana Etsu.


Tapi perubahan sudut pandang membuat semuanya jadi jelas.


Aihana Etsu bukanlah semata-mata yang dia cari. Dia hanya bagian dari keseluruhan rencana. St. Germain menggunakan Aihana Etsu untuk membunuh Kamijou atau membuat dia menderita. Pertempuran melawan St. Germain mungkin adalah suatu hal yang sulit, tetapi jika nyawa Aihana Etsu dipertaruhkan, maka Kamijou tidak takut.


Katakanlah ada seseorang yang bertarung melawan harimau pemakan manusia dengan putus asa. Itu karena si manusia telah menginjak anak harimau sampai mati. Dalam kasus ini, kedua pihak sama-sama salah, namun kedengkian di dalam hati si manusia berbeda dengan si harimau.


Mungkin itu sudah cukup untuk mengubah pendirian Kamijou Touma.


Si pria jabrik kadang-kadang mendengar desas-desus tentang "sifat asli Kamijou Touma" yang diperbincangkan oleh orang-orang di sekitarnya. Dia tidak menyadari hal itu, tapi mungkin ada sesuatu hal istimewa yang dilihat orang lain pada dirinya. Dia mungkin bisa menemukan petunjuk di sana jika ia berbicara dengan Ollerus atau Othinus, tapi ia tidak pernah melakukannya.


Dan tentu saja, rasa panas yang memuakkan bergolak di dalam tubuh Kamijou.


"Persetan dengan ini. Kau tidak boleh memutuskan begitu saja bahwa Aihana Etsu adalah seorang yang lemah. Bajingan bernama St. Germain sudah mengarang cerita-cerita murahan dan membat Aihana terpojok !!”


"Tunggu sebentar. Jangan bilang bahwa kau berpikir untuk pergi dan menyelamatkan Aihana Etsu. Mungkin banyak hal yang sudah berubah, dan dia sedang berusaha untuk membunuhmu!”


"Memangnya kenapa? Tidakkah sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak pernah meremehkan orang ketika aku menyelamatkan mereka dan aku hanya berjuang untuk menciptakan masa yang kuingini? Jadi, tidak masalah jika dia membenciku atau tidak meminta bantuan! Aku akan menyeretnya keluar dari malapetaka ini dengan paksa jika perlu!!”


Hamazura Shiage menepuk jidatnya dalam Power Lifter.


Dia sekarang mengerti mengapa Aihana terkena ilusi murahan dari St. Germain.


(Dia terus-menerus mengaku menjadi seorang egois, tapi matanya jadi buta dan gelap ketika dia dihadapkan dengan kematian Frenda.)


Dan dia memutuskan bahwa mengikuti St. Germain adalah suatu pilihan yang baik.


"Jadi sebenarnya, apa yang akan kau lakukan? Bahkan jika kau ingin pergi menyelamatkan dia, dia dikelilingi oleh para St. Germain, ia memiliki senjata dengan efek samping yang mematikan, dan mungkin saja kita memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan Aihana bahwa dia telah salah.”


"Kami hanya harus menyingkirkan St. Germain."


Kamijou pasti menjawabnya sambil berpikir, karena dia berkata dengan cepat.


"Untuk memastikan bahwa dia tidak terkena efek samping sihir, kita perlu memulai serangan kejutan atau sesuatu untuk memisahkan dia dari perisai.”


"Dan setelah itu?"


"..."


"Tunggu sebentar. Jangan bilang!”


"Bahkan jika itu adalah suatu lelucon yang tidak lucu, kenyataannya adalah, Aihana Etsu sedang dimotivasi oleh rasa balas dendam. Jika kita memenuhi keinginan itu, dia akan berhenti, jadi tidak ada alasan untuk berpikir ulang. Dia hanya perlu memukulku sampai puas. Dengan, um ... oh, benar. Ini seperti kasus Mitsuari Ayu ... mungkin saja .”


"Tapi kemudian bagaimana denganmu!?"


"Aku tidak akan hanya duduk dan membiarkan dia membunuhku. Aku juga masih ingin hidup. Jadi jangan khawatir. Aku cukup percaya diri pada kemampuanku untuk menahan pukulan.”


Kamijou tersenyum tipis.


"Tapi ada alasan lain mengapa kita perlu mengambil perisainya sejak awal. ... Tidak ingin mati dan perasaan yang mengisi hati Aihana adalah dua hal yang berbeda. Aku ragu dia akan berhenti hanya karena aku mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin mati. Aku tidak tahu bagaimana Aihana melihat peristiwa yang terjadi di Denmark, tapi aku harus membayar kembali padanya untuk harapan salah yang telah kuperbuat.”


Itu adalah kata-kata menakutkan.


Itu adalah pemikiran Hamazura yang berbeda dengan sebelumnya.


Hamazura mengingat dongeng Happy Prince yang pernah ia dengar semasa anak-anak. Suatu patung pangeran dihiasi emas dan permata. Dengan bantuan burung yang lewat, potongan-potongan tubuh patung tersebut dikikis dan dikelupas untuk dibagikan pada orang-orang miskin di kota. Kamijou Touma mengaku bahwa dirinya adalah orang yang cukup egois, namun logika Kamijou selalu menunjukkan bahwa pria itu siap untuk dikorbankan demi orang lain.


Berapa banyak tabir yang harus dilepas untuk menemukan keegoisan yang sesungguhnya?


Atau jika dilihat dari sisi yang benar-benar berbeda, apakah ini bentuk keegoisan Kamijou Touma yang sebenarnya?


"Dengar. Setelah Aihana Etsu memenuhi keinginannya untuk membalas dendam padaku, dia tidak akan memiliki alasan untuk melawan. Dan sekali rencana St. Germain berantakan, dia akan menyerang dari segala sisi. ... Aku akan mengandalkan Lifter Power milikmu. Pastikan setidaknya kau membawa Aihana keluar dari sana.”


Hamazura tidak dapat membalas dengan segera.


Tapi kemudian ...


"...?"


Suatu titik merah baru muncul di dasar gambar rangka bangunan.


Ini adalah sejenis peringatan berkedip yang muncul ketika mereka berdua membobol kamar Frenda. Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah, sehingga sesuatu pasti sedang terjadi di sana.


Kamijou menempelkan jari telunjuknya ke arah layar sentuh.


Dan ketika ia menyentuh titik merah itu, layarnya menampilkan...



Part 14[edit]


Mungkin karena perbedaan tekanan udara, pintu geser itu terbuka. Hembusan angin kencang menyapu para St. Germain saat mereka berjalan ke ruang bawah tanah Dianoid.


Kelompok ini bukanlah kelompok yang pergi bersama Aihana Etsu dan mereka memiliki tujuan yang jelas.


"Ide-ide dari Academy City selalu begitu mengejutkan. Aku memiliki ide-ideku sendiri pada pengendalian karbon, tapi ini adalah sesuatu yang tidak aku miliki.”


Mereka semua adalah St. Germain dan semuanya akan berpikir hal yang sama ketika mereka melihat ini, tapi dia dengan sengaja mengucapkan kata-katanya dengan keras dan terkesan dibuat-buat.


Ada yang tua, ada yang masih muda, ada yang laki-laki, dan ada yang wanita.


Seorang pria St. Germain paruh baya berbicara kepada mereka semua.


"Dianoid. Ya, Dianoid. Tempat ini sungguh mencerminkan namanya.”


Panel lantai di kakinya berwarna bening, sebening kaca.


Karena seluruh Dianoid terbuat dari bahan karbon, kemungkinan tempat ini memiliki sifat yang mirip dengan berlian.


Apa yang berada di bawah kakinya adalah suatu rahasia yang tersembunyi di titik tengara terbesar Distrik 15.


Ya.


Pada dasar Dianoid, bangunan seberat 120 ribu ton ini melayang sejarak 10cm dari permukaan bumi.


Salah satu cara untuk melindungi bangunan dari gempa bumi adalah mengapungkannya beberapa sentimeter dari tanah dengan memanfaatkan kekuatan udara. Ini akan melindunginya dari getaran.


Tapi itu hanya berlaku untuk rumah biasa.


Adalah mustahil untuk mengangkat suatu bangunan 70 lantai dan tetap berdiri tanpa kehilangan keseimbangan.


Harusnya begitu.


"Suatu perangkat pengendali gaya gravitasi buatan, hm?" St. Germain tersenyum.”Berlian secara perlahan terbentuk ketika molekul karbon terkompresi di bawah tanah. Dengan kata lain, berlian buatan manusia membutuhkan lingkungan dengan tekanan tinggi yang ekstrim. ... Tetapi pada tingkatan ini, Dianoid juga bisa berfungsi sebagai laboratorium. Yaitu laboratorium yang dapat menghasilkan berlian seperti permen di pabrik.”


Dan ....


Penggunaan rahasia dari Dianoid ini bisa memproduksi berlian secara massal.


Sebagai contoh ...


"Suatu bom lubang hitam ... Yaah, mungkin tidak banyak. Paling-paling mereka hanya bisa membuat suatu bom bintang yang kerdil.”


Rumor dari sisi gelap kota mengatakan bahwa tipe baru bom tersembunyi di Dianoid. Siapa pun yang akrab dengan Frenda Seivelun berpikiran bahwa rahasia itu terkait dengannya, tapi ...


“Kau bisa mengatakan bahwa ini seperti mengompresi bumi dan bulan menjadi benda seukuran kepalan tangan manusia. Materi menghasilkan panas ketika dikompresi, jadi sepertinya, proses ini akan menghasilkan suhu dengan kisaran 10,000-20,000ºC. Bahkan Imagine Breaker pun tak akan mampu menahannya.”


St. Germain tidak memiliki dendam terhadap seseorang bernama Kamijou Touma.


Bahkan, ia tidak tertarik sama sekali pada Kamijou.


Dari awal, ia tidak memperhatikan Aihana Etsu maupun Kamijou Touma.


"Apakah yang sedang kalian saksikan, wahai para Dewa Sihir?"


Dia tertawa.


Dia bukanlah seorang penyihir ataupun Dewa Sihir. Dia adalah suatu eksistensi yang dikategorikan berbeda.


Tampaknya, dia sedang menantang seseorang.


"Pedang telah memilih siapa yang akan menjadi raja dan aku memperoleh Aihana Etsu bersama dengan perisai, tetapi kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Mainan berhargamu akan mati di sini. Jadi apa yang akan kau lakukan sebagai Dewa Sihir? Apakah ini adalah saat untuk mengejek Aleister tanpa memperdulikan dunia?”


Pada saat ini, suatu suara dentangan lembut terdengar, dan itu adalah pertanda liftnya telah sampai pada lantai yang dituju.


Para St. Germain berbalik ke arah itu.


Ketika mereka melihat anak yang melangkah keluar, ekspresi mereka menjadi tenang.


Mereka tampak raja kecil yang memegang perisai emas.


"Hai, paduka. Aku sudah menunggumu.”


Entah kenapa, mata Aihana Etsu tampak gelap dan kosong.


Dia lebih tampak seperti pisau yang sudah tumpul karena dipakai berkali-kali daripada pisau yang diasah sampai tajam.


Dengan ekspresinya kosong, anak itu perlahan-lahan membuka bibirnya.


Dan dia pun berbicara.


"Di mana ini?"


"Panggung terakhir."


Si St. Germain pirang berdiri di sampingnya untuk mengambil alih.


"Tidak peduli apa yang dikatakan orang, si idiot sok jago itu akan melihat bahwa ada yang salah dan langsung saja berlari ke sini. Anda hanya perlu menunggu di sini, paduka. Warisan Frenda akan mengundang musuh-musuhnya.”


"Semudah itu?"


"Kemudahan seperti itulah yang membuat dunia begitu membingungkan. Maka dari itu, adalah suatu hal yang aneh ketika pria itu tidak muncul sewaktu Frenda Seivelun dalam bahaya.”


"..."


Aihana Etsu mengambil napas dalam-dalam sambil mendengarkan.


Mengapa Kamijou Touma tidak tiba tepat waktu untuk Frenda Seivelun?


Jika memungkinkan, dia ingin menanyainya.


Tapi, ia juga harus menanyai dirinya sendiri pertanyaan yang sama. Mengapa Aihana tidak berada di sana waktu itu?


(Mengapa aku tidak tiba datang tepat waktu untuk menyelamatkannya?)



Part 15[edit]


Kinuhata Saiai berhadapan dengann dua puluh orang St. Germain.


Secara keseluruhan, lawannya bisa menghasilkan dua ribu tombak sekaligus dan mereka menyerang secara beruntun dari segala arah.


Namun, ekspresinya tidak muram.


Offense Armor mengelilinginya dengan penghalang kompresi nitrogen setebal beberapa sentimeter. Pada kekuatan penuh, itu memberikan pertahanan yang cukup untuk menangkis peluru sniper. Jika digunakan untuk menyerang, ia bisa mengangkat mobil dengan satu tangan.


Jadi bahkan jika dia menerima dua ribu serangan sekaligus, Offense Armor miliknya tidak akan tertembus selama kekuatan destruktif serangan tersebut masih berada di bawah tingkatan tertentu.


Dia tahu hal lain apa yang harus dikhawatirkan.


(Menerima kerusakan super di tempat yang sama secara berulang-ulang. Bahkan jika itu hanya setebal beberapa sentimeter, aku harus super menggeser titik kontak antara dinding nitrogen dan tusukan tombak-tombak tersebut.)


Karena dia bisa bertahan hidup dari serangan-serangan itu, ia dengan cepat berhasil mempelajari bagaimana pola serangan dari St. Germain.


(Aku pikir kemampuan untuk membuka lubang di sekujur tubuh manusia adalah yang paling berbahaya, tapi ...)


Dia terfokus pada tombak yang dibelokkan oleh Offense Armor-nya.


Tak lama, sesuatu muncul di depan matanya.


(Pada dasarnya, ada suatu titik setebal sehelai rambut, namun kemudian titik itu melebar jadi lingkaran super berdiameter 50-100cm, kemudian super tombak-tombak itu menembus lubang tersebut tanpa melukai orang sedikitpun. Iti dia.)


Suatu gemuruh meledak.


Bahkan ketika menghadapi dua puluh orang St. Germain, dia tidak punya alasan untuk tetap bertahan. Dia bisa menghentikan tombak, sehingga dia juga bisa mendekati dan memukul mereka dengan kepalan kompesi nitrogennya.


Untungnya, ia mampu membuat pingsan orang-orang yang telah berubah menjadi St. Germain. Jika mereka terus bangkit kembali, Kinuhata terpaksa harus mematahan lengan atau kaki, bahkan membunuh mereka.


Dan juga, ada tangan lain yang meraih dan menghancurkan tombak-tombak yang ditembakkan ke arah Kinuhata layaknya peluru.


Itu adalah tangan milik Mugino Shizuri.


Dia memiliki cara sederhana untuk bertahan. Mata mekaniknya akan melacak gerakan tombak-tombak itu dan tangan palsunya yang dipersenjatai akan berayun dengan kecepatan super. Dengan suara seperti mesin jahit, dia meraih dan memecahkan setiap tombak yang mendekat.


Itu begitu sederhana untuk digambarkan, namun kenyataannya ini adalah suatu upaya yang cukup rumit. Pandangannya akan terancam jika targetnya bergerak cukup cepat, dan beberapa bayangan bisa terbentuk sebagai efek sampingnya.


Suara bagaikan mesin jahit meraung dan serpihan tombak-tombak yang berjatuhan membentuk semacam dinding yang kokoh di depan mereka.


"Cuih. Betapa merepotkan. Tidak bisakah kita mengurangi sedikit jumlah mereka?”


"Jaga perkataanmu. Dan jangan lupa bahwa orang-orang di depan mata kita kemungkinan adalah mereka yang super “tidak berdosa”.”


"Tapi jika mereka ..."


"Ya, aku juga mengakui bahwa ada beberapa hal yang super tidak masuk akal tentang semua ini."


Sebagai pengguna nitrogen, Kinuhata dengan cepat memahami tentang apa yang St. Germain kuasai, yaitu unsur karbon. Yang mereka lakukan adalah mengubah dinding dan lantai Dianoid ke wujud mirip peluru tombak dan meluncurkannya.


Itu sudah lebih dari cukup untuk mengancam manusia normal, tapi itu tampak begitu timpang dan terlalu dangkal.


Jika mereka benar-benar bisa secara langsung memanipulasi karbon, harusnya mereka memiliki variasi serangan yang lebih beragam.


"Apakah mereka lupa untuk melatih setiap individu karena mereka hanyalah super barang buangan?"


"Memenangkan pertarungan ini bukanlah tujuan mereka, tapi untuk apa mereka mengulur waktu? Sialan, ini sungguh membuatku kesal!!”


Ketika jumlah mereka semakin berkurang, hujan serangan tiba-tiba berhenti.


St. Germain pergi.


"Kita hanya mengurangi sekitar setengah dari jumlah mereka, kan?"


"Sepertinya sisanya super mundur dari medan perang."


Ada beberapa anak laki-laki dan perempuan ambruk di lantai sembari berlumuran darah, tapi itu bukan karena kekejaman Mugino atau Kinuhata. Jika kedua gadis ITEM ini mencoba untuk menyakiti mereka dengan serius, mereka sudah berada pada kondisi yang lebih mengkhawatirkan dari ini.


Darah yang mengucur tampak berasal dari luka internal, bukannya luka eksternal.


"Jadi, apakah kita hanya melumpuhkan yang cacat? Persetan dengan mereka. Mereka tahu benar bagaimana cara untuk mengakali kita berdua.”


Mugino mengatakan bahwa ada kemungkinan mereka hanya mengulur-ngulur waktu, namun atas dasar tujuan apa mereka melakukannya?


"Ah," kata Takitsubo Rikou.


Saat matanya berputar-putar tanpa tujuan, dia melihat salah satu monitor layar datar yang dihias.


Itu menampilkan diagram Dianoid.


Ada titik merah di tingkat paling bawah dan ada simbol singkatan khusus yang menyediakan beberapa jenis informasi tambahan. Seorang pelajar normal tidak akan tahu makna gambar-gambar itu, tapi Mugino dan Kinuhata mengerutkan alis mereka dengan kesal ketika melihat rangkaian huruf tersebut.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Struktur isolasi dasar jenis gravitasi? Serius? Jika seseorang menyalahgunakan teknologi itu, mereka bisa mengompres seluruh planet menjadi seukuran kepalan tangan.”


Yang lebih penting lagi, adalah jelas mengapa seseorang dengan sengaja membocorkan informasi ini.


"Itu seakan-akan bilang : ‘Datanglah ke sini jika kalian bisa’....Bukankah begitu?"


"Aku super tidak tahu apakah ini ditujukan untuk kita, tapi.....mengapa kita tidak ikut-ikutan merusak pesta menyebalkan ini?”



Tingkat bawah Dianoid disusun oleh struktur pondasi terisolasi dengan menggunakan perangkat pengendali gaya gravitasi buatan. Lantainya menyerupai kaca tebal dan melayang beberapa sentimeter dari tanah.


Aihana Etsu menyandarkan punggung kecilnya terhadap salah satu pilar yang ditempatkan secara merata di sepanjang permukaan datar.


Tidak, Aihana Etsu bukanlah nama yang sebenarnya dari bocah ini.


Seorang mantan raja sudah lenyap dan dilupakan, tetapi darah keturunan Anne masih tetap ada karena itu tidak hancur atau hilang dalam legenda. Bocah ini adalah salah seorang yang mewarisi darah itu.


Si pembawa perisai emas ini berbicara kepada St. Germain wanita yang berdiri di sampingnya.


"Apakah kau tidak kecewa ketika kau mengetahui bahwa orang yang kau cari selama ini ternyata hanyalah seorang pemalsu identitas yang bahkan tidak memiliki keberanian untuk memasuki gadung ini?”


"Hah! Adalah Gap dan kotoran lah menyebabkan berlian bisa bersinar dengan terang. Apakah anda benar-benar berpikir bahwa aku akan kecewa setelah aku menemukan seseorang yang sudah ribuan tahun kucari sampai-sampai aku menyebarkan begitu banyak kebohongan? Ini adalah fakta bahwa segala jeri payahku selama ini tidak sia-sia, dan aku benar-benar mencari sesuatu yang eksis. Bagaimana anda bisa menganggap itu sebagai hal yang bururk?”


"Aku tidak sepertimu. Kau memiliki kekuatan yang sesungguhnya, jadi apakah kau tidak menyesali ini?”


"Jika aku benar-benar menuruti apa yang para bangsawan suka pamer itu katakan, bahkan suatu pulau harta karun pun tidak akan cukup dan aku tidak melihat makna berakraban dengan mereka. Yang lebih penting, jika ada yang ingin berbicara, maka bicaralah. Itu sesuai dengan orang-orang yang menggunakan filter mereka hanya untuk melihat realitas yang mereka sukai saja, tidak peduli berapa banyak bukti menumpuk di depan mata-kepala mereka. Heh heh. Tetapi sebenarnya, mereka hanyalah orang-orang yang begitu terobsesi dengan keabadian dan begitu menginginkan teknik perjalanan waktu. Itu karena mereka sangat takut membusuk dalam kematian”


"..."


"Yang lebih penting lagi, apakah anda lupa, paduka? Gap positif milik anda adalah sesuatu yang hanya keluar sekali dalam kurun waktu 2000 tahun. Untuk menyembunyikannya, anda bahkan dikirim ke Academy City. Yaitu suatu kota yang tidak pernah menghargai bakat alamimu dan para orang dewasa itu hanya menilai segala sesuatu berdasarkan Kurlikulum, sehingga orang seperti anda hanya akan menjadi badut-badut lawakan di sekolah, bahkan masyarakat.”


Bocah pengguna perisai ini masih tidak mengerti.


St. Germain mengulanginya lagi dan lagi. Ia telah dipilih oleh Anne’s Shield dan kekuatan perisai itu adalah kekuatan miliknya.


Anne’s Shield bisa menembak semua yang ada di depannya. Tidak peduli ditujukan pada siapa, suatu kekuatan yang kecil bisa merobek semua musuh-musuhnya.


Ini adalah benda bertahan yang bisa menempatkan lubang di dahi 2.000.000 manusia dalam sekejap.


Aihana Etsu menatap ke kejauhan sambil menyeret perisai yang tidak diketahui material penyusunnya itu.


Dia melihat ke tangga, saluran, tangga pemeliharaan, dan lift.


Ada beberapa pintu masuk ke tingkat terendah.


Saat ia membayangkan siapa yang akan datang, emosi negatif berputar di dalam kepalanya.


"Aku paham bahwa sama sekali tidak perlu mengatakan iini. Tugas anda adalah untuk menargetkan Kamijou Touma. Itulah hasrat terbesar anda dan permintaan terakhir Frenda. Aku akan menghilangkan semua hambatan yang tidak perlu yang mengganggu jalan anda, sehingga anda bisa menjadi seorang raja tanpa halangan.”


Untuk hanya sekejap, wajah familiar temannya muncul di pikirannya.


Rasanya, Frenda sedang mengucapkan sesuatu, tapi suara itu tidak lagi bisa menggapainya.


Dia mencoba membayangkan wajah gadis itu, kemudian membaca pergerakan mulutnya. Dia yakin betul bahwa Frenda sedang berkomunikasi padanya. Tapi dia sama sekali tidak sanggup mendengarnya.


Dia menghapus semua fantasi itu, dan menatap ke depan..


Kemudian dia membanting bagian bawah perisai emas ke lantai.


"Mari kita mulai."



Seorang gadis berjaket olahraga pink, Takitsubo Rikou, meninggalkan pertempuran intens tersebut dan berjongkok.


Namun, dia tidak gemetar ketakutan karena dia tidak punya kemampuan bertarung.


Dia mengambil benda kecil yang sedang berlarian di lantai.


"Apa ini?"


"Whoa !? Aku ditemukan ... dan ditangkap !? Kh. Lepaskan aku, manusia !!”


"?"


Takitsubo memiringkan kepalanya pertanda kebingungan setelah dia melihat boneka (?) seukuran lima belas sentimeter di tangannya. Benda itu mengenakan semacam kostum Halloween yang begitu minimum, sampai-sampai sebagian besar permukaan kulitnya telanjang. Mungkin benda itu memiliki suatu giroskop* dan remote kontrol karena bisa bergerak-gerak dengan cukup gesit. [Giroskop di sini maknanya adalah alat penyeimbang.]


Sementara itu, Stephanie telah meninggalkan mesin penghancurnya, yaitu Power Lifter dan dia tampak begitu sibuk meladeni pertempuran dengan para St. Germain sekaligus menyelamatkan Takitsubo. Seakan-akan waktu terasa terhenti ketika dia bergerak bolak-balik.


"Oh, ya ampun! Apa yang sedang terjadi!? Tapi karena tampaknya mereka mulai mundur, kita harus memanfaatkan ini untuk bersembunyi. Kita tidak akan banyak membantu dalam pertarungan ini, jadi tinggal di sini hanya akan membatasi mereka kebebasan.”


Beberapa suara logam menyertai suara Stephanie.


Takitsubo berbalik ke arah wanita berambut pirang sambil memegang boneka (?) yang terus meronta.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Menyusun PDW*. Aku membongkar beberapa komponen Power Lifter dan menyusunnya kembali. Memiliki sepucuk pistol adalah tindakan ilegal, tetapi tidak ada larangan untuk memiliki beberapa bagian yang bisa disebut pistol. Bukan berarti sesederhana itu merakitnya!” [PDW (bahasa Inggris: Personal Defence Weapon) atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Senjata Beladiri Perorangan adalah jenis senjata dengan kelas antara pistol mitraliur dan senapan serbu. Bentuk dan berat yang ringkas dan lebih ringan tetapi mempunyai kemampuan penetrasi di atas pistol mitraliur, hal ini didukung dengan pemakaian peluru dengan kaliber 5,7 x 28 mm yang mampu menembus rompi anti peluru standar CRISAT, hal ini tidak dapat dilakukan oleh peluru pistol mitraliur yang memakai kaliber 9 x 19 mm Parabellum. Wikipedia Bahas Indonesia tanpa perubahan.]


Meskipun ia menyebutnya sebagai PDW, benda itu tidak benar-benar menembakkan peluru menggunakan bubuk mesiu. Sepertinya, benda itu menggunakan gas bertekanan tinggi untuk menembakkan peluru tiruan yang terbuat dari baja tungsten. Namun, itu masihlah memiliki daya tembak yang cukup untuk melubangi tubuh manusia ketika ditembakkan dari jarak 20-30m.


(Senjatanya bahkan lebih kompleks daripada pistol yang sebenarnya!!!)


Tiba-tiba, boneka (?) yang dibawa oleh Takitsubo bergerak.


Melalui sela-sela jarinya, boneka itu menyelinap dari genggamannya, dan mendarat di lantai. Kemudian berlari ke koridor dan di sudut ruangan.


Gadis berjaket olahraga warna pink mengejar dan Stephanie mengikutinya begitu saja. Dia memutuskan bahwa mengikuti gadis ini lebih baik daripada memaksanya untuk bersembunyi.


Tapi Takitsubo kehilangan boneka (?) tersebut setelah berbelok.


Tidak ada lagi yang bergerak-gerak di koridor yang dipoles mirip dengan kayu.


"?"


Dia memiringkan kepalanya dengan pandanganan kosong di matanya.


Gadis itu tidak melihat ke arah saluran penutup kecil yang terbuka di dekat lantai dan dinding.



Othinus setinggi 15cm bahkan tidak harus membungkuk saat ia berlari dengan kecepatan penuh melalui terowongan gelap saluran air.


(Ampun deh, ini bukan waktunya untuk melakukan hal seperti ini.)


Dia masih tidak berhasil bertemu dengan Kamijou Touma setelah ia menarik perhatian beberapa St. Germain tadi. Dan sekarang berbagai monitor layar datar mengisyaratkan adanya bom gravitasi di tingkat terendah. Melihat situasinya, pasti ini adalah hasil kerjaan St. Germain dan bukan orang lain. Dia tidak tahu bagaimana situasi telah berkembang sampai segawat ini, tapi jelas-jelas suatu umpan untuk menarik keluar Kamijou Touma.


Yang berarti ...


(Aku bisa bertemu dengan dia di tingkat terendah. Namun, itu tidak cukup. St. Germain bukanlah seorang penyihir biasa dan juga bukan seorang Dewa Sihir. Dia bagaikan kristal yang disinkronisasi dan diparalelkan. Ketika jaringan pararelnya bekerja, itu tidak bergantung pada gelombang otak, ia bisa mempengaruhi siapa pun tanpa terkecuali. Aku perlu menghubungi perpustakaan grimoire dan bekerja sama untuk menganalisis sihirnya. Sifat dari berlian murni adalah 99,9%. Dan kurang dari 0,1%-nya adalah zat kotor. Baginya, zat kotor itulah yang dipergunakan sebagai pengendali atau pengaturan file. Kita harus untuk menemukan itu.)


Sembari menyusun rencana dengan pemikiran rasional, ia melompat ke dalam lubang di dalam saluran.


Memanjat ke atas dan bawah tidaklah mudah bagi tubuh kecilnya, namun meluncur turun di dalam suatu saluran adalah pekerjaan gampang.


Mengingat kembali kondisi ketika mereka berpisah, Index harusnya sedang berada di area perbelanjaan tingkat bawah.


(Tapi pertanyaannya adalah pada lantai berada dia berada? Setidaknya ada dua puluh lantai pada tingkat bawah. Aku hanya berharap dia memiliki ide untuk tetap tinggal dan menunggu di tempat kami meninggalkannya tadi.)


Tapi ketika Othinus meluncur turun ke tingkat yang lebih rendah, sesosok monster keluar dari samping, ketika dia melintasi perpotongan dengan saluran lain yang terbuka.


"O-Ohhhhhhhh !?"


Dia berteriak, tapi binatang itu tidak menunjukkan belas kasihan.


Setelah suara memekakkan telinga dan suara gemuruh mengeong, Othinus dipaksa keluar dari saluran layaknya ikan yang dicuri dari aquarium.


Dia mengerang dan tergantung lemas di mulut si hewan buas.


"K-Kau lagi? Aku tidak tahan. ... A-a-a-uhuk!!...uhuk!!-a-apakah kucing tidak memiliki rasa hormat pada seorang dewa "


"Sphinx nakal!! Jika kau mengunyah dia, aku akan marah padamu!”


Seorang biarawati putih berteriak dari dekat, tapi si kucing mengabaikan Index dan dengan bahagia menyajikan "hadiah" tersebut di kakinya.


"Hahh!!...Hahhh!! ... Y-yang lebih penting, kita harus menuju ke tingkat terendah Dianoid. Sekarang St. Germain sedang menuntun dia ke sana. Kamijou Touma pasti akan pergi ke sana. Mungkin tinju kanannya memang kuat, tapi dia hanya akan mati jika tidak mengerti lawannya. Akan lebih baik jika kita bisa menentukan bagaimana cara kerja network non-gelombang-otak milik St. Germain. Apa yang aku tahu hanyalah, cara kerjanya berdasarkan struktur kristal yang berkembang dengan sinkronisasi dan pararelisasi berulang kali.”



Kamijou dan Hamazura menghadapi perangkat mirip interkom di dinding persembunyian rahasia Frenda.


Peringatan tentang adanya bahaya di tingkat terendah telah diinformasikan secara khusus pada tingkat atas apartemen, tapi ...


"Aku berharap ini cukup untuk menginformasikan pada yang lainnya."


"Informasi ini akan dipahami oleh siapa pun yang mengerti tentang huruf singkatan, jadi setidaknya Takitsubo dan Mugino bisa membaca pesan yang tersembunyi di balik kode ini.”


"Aku ragu Index bisa membacanya, tapi Othinus harusnya sanggup."


"Tapi," gumam Hamazura dari Power Lifter.”Data bom gravitasi dikirim ke semua apartemen tingkat atas, kan? Tidakkah itu berarti kita membuat kepanikan lebih awal?”


"Kompleks apartemen ini digunakan hanya sebagai lemari besi bagi orang-orang kaya. Bahkan di sini mungkin sama sekali tidak terdapat penghuni.”


Kamijou menjauh dari layar panel datar.


"Kami sudah melakukan apa yang bisa kita perbuat, jadi mari kita pergi sekarang."


"Tapi bom gravitasi adalah suatu benda yang terlalu jauh di luar bidang keahlianku! Aku bahkan tidak tahu di mana harus memulai!”


"Tidak, Aihana Etsu adalah prioritas utama kita. Itu tidak berubah.”


"Tunggu sebentar."


Hamazura mengerutkan kening dan memikirkan suatu pertanyaan.


"Pondasi Dianoid ini mengapung beberapa sentimeter dari permukaan tanah, kan? Dan para St. Germain telah menguasai perangkat pengendali gaya gravitasi buatan, sehingga dia bisa melakukan berbagai hal. Bukankah itu adalah suatu alat yang bisa memampatkan bumi menjadi seukuran kepalan tangan bila semisal lepas kendali!? Maka jelaslah apa yang mereka benar-benar cari di sini! Aihana Etsu hanyalah umpan !!”


"Apakah kau yakin?" Tanya Kamijou.”Jika memang itu tujuan mereka, maka itu adalah suatu hal yang sangatlah buruk. Jika bukan karena Aihana, kita tidak akan pernah mengunjungi ruangan ini. Tanpa dia, kita tidak mungkin melihat peringatan keamanan yang dikirim ke apartemen kelas wahid ini. Yang terjadi adalah sebaliknya. Tak peduli bom black hole* atau bom white dwarf* atau apa pun tujuan sebenarnya dari St. Germain, seharusnya, dia tidak akan pernah memberikan kita clue di sini, itu jauh lebih masuk akal karena rencananya akan berjalan dengan lebih mulus tanpa gangguan. Kesimpulannya, akan jauh lebih baik jika dia tidak membiarkan kita bertemu dengan Aihana sejak awal.” [Black Hole adalah lubang hitam yang menyerap semua kehidupan, sedangkan White Dwarft adalah asal mula alam semesta yang berasal dari titik cahaya super-masif. Dua istilah ini hanyalah penekanan terhadap betapa dahsyatnya bom tersebut.]


"Tunggu, tunggu, tunggu."


Hamazura memotong perkataan Kamijou dan dengan lembut membentangkan tangan bajanya, seakan-akan dia membuat dinding untuk menghentikan Kamijou.


"Itu tidak masuk akal. Jika dia benar-benar mencari Aihana, St. Germain pasti tidak akan pernah membiarkan kita ada di sini. Jika yang dia inginkan hanyalah meyakinkan Aihana untuk bertindak, pilihan yang terbaik adalah menjaga rahasia Frenda dan menggunakan rasa curiga untuk mengisi Aihana dengan keinginan balas dendam. Karena St. Germain tidak menghalang-halangi kita melihat ini semua, itu berarti dia tidak mencari Aihana ataupun bomnya.”


"Itu benar." Luar biasa, Kamijou langsung setuju.”Pendapat kita akhirnya senada. Tujuan St. Germain bukanlah Aihana Etsu ataupun bom gravitasi. Dia melihat sesuatu yang sama sekali berbeda.”


"... Apa?"


"Berpikirlah sekali lagi ke belakang, serangan yang pertama sangatlah aneh. Dia mencari Aihana? Dia mencari perisainya? Itukah sebabnya dia berhenti menyerangku dan fokus pada hal-hal lainnya? Ya benar. Jika ia bisa membunuhku kapan saja, maka dia bisa saja menghabisiku terlebih dahulu kemudian fokus pada Aihana. Tapi dia tidak pernah melakukannya. Ada sesuatu hal lain yang memaksa dia untuk meninggalkan aku. Lantas, aku bertaruh bahkan itu hanyalah isu sampingan baginya.”


"Masih ada tujuan lainnya!? Seperti apa !?”


“Kau tidak ingin tahu." Kamijou terus membahasnya.”Bagaimanapun, kita harus menghentikan St. Germain secepat mungkin! Dan untuk mewujudkannya, kita harus mulai dengan Aihana Etsu. Kelihatannya, tidak mungkin untuk mengetahui apakah St. Germain memiliki pemimpin atau bawahan, tapi berdasarkan apa yang terjadi, dia hanya berkosentrasi pada Aihana. Jika kita hendak mengetahui lebih jauh tentang St. Germain, mendekati Aihana adalah cara yang terbaik !!”


Hamazura mencoba untuk memikirkan semua itu, tetapi pikirannya begitu jenuh.


Namun, Kamijou tidak berhenti.


Mungkin karena dia terlalu banyak berurusan dengan penyihir di masa lalu.


"Dengar, St. Germain telah menunjukkan ada tanda-tanda berkomunikasi melalui ponsel atau radio. Kita sudah melihat puluhan jumlah mereka, tapi mungkin jumlahnya mencapai ratusan di gedung ini dan pikiran mereka semua terhubung satu sama lain. Dugaanku adalah, mereka menggunakan semacam telepati sihir. Aku tidak tahu apakah itu cukup untuk membuat satu pusat kemauan besar, jika demikian, sistem ini bahkan lebih simpel daripada Misaka Network karena tidak terikat oleh gelombang otak!!”


"Tunggu, tunggu, tunggu !! Aku tahu kau telah berpengalaman, tapi tolong jelaskan padaku dengan mudah sehingga aku bisa mengerti!!”


"Artinya, bukanlah masalah St. Germain mana yang hendak kita serang!" teriak Kamijou.”Layaknya jaringan telekomunikasi, mereka semua adalah pusat transmisi dan mereka semua adalah terminal. Kedengarannya seperti suatu sistem jarak jauh yang terus bereproduksi dengan pasokan pengganti yang tak terbatas, tapi mungkin tidak seperti itu. Kau bisa mengatakan mereka semua adalah komputer. Tidak peduli di mana virus memasuki jaringan komputer, semua komputer dalam sistem akan terinfeksi! Kita tidak boleh membiarkan diri kita dialihkan oleh jumlah mereka. Walaupun melawan hanya satu orang St. Germain, kita tidak boleh mengendurkan fokus kita !!”


"Suatu virus? Kau bisa menerangkannya dengan lebih spesifik !?”


"Mungkin penjelasanku terdengar seperti seorang ahli, tapi sebenarnya aku jugalah seorang amatir," Kamijou mengakuinya tanpa ragu.


Dia tidak lagi bersikeras untuk berjuang sendirian. Dia akan menggunakan segala sesuatu yang tersedia baginya.


Itu adalah jalan yang ia pilih.


"Tapi aku kenal seorang biarawati yang memahami berton-ton informasi tentang sihir seperti ini. Jika kita mengkombinasikannya dengan beberapa pengetahuan Dewa Sihir, maka itu akan menjadi kolaborasi yang sempurna. ... Ya. Itu benar. Grimoires original menginfeksi otak manusia. Dia memiliki 103.000 grimoires di kepalanya, jadi dia mungkin mampu memikirkan suatu metode khusus untuk menangani hal semacam ini!!”


“Lagi-lagi kau tidak masuk akal. Tapi bagaimanapun juga, Aihana Etsu dan St. Germain sedang menunggu pada tingkat terendah, kan? Itu saja yang perlu kuketahui sekarang!”


"Benar." Kamijou dengan perlahan menghela napas dan berbicara.”Aku akan melakukan sesuatu tentang Aihana Etsu. Dan setelah aku berurusan dengannya, St. Germain pasti akan terfokus padaku. Kau bisa saja mengambil Aihana dengan Power Lifter milikmu ketika pikirannya sudah kembali ke akal sehatnya, tapi jangan pernah lakukan itu. Aku juga akan mengurusnya, sebagai gantinya kau berurusan lah dengan bom gravitasi. Kau pandai dalam urusan mesin, kan? Sayangnya, aku sungguh bodoh dalam hal itu. Jika aku menangani bomnya, kita semua pasti akan mati diledakkan.”


"Apakah kau masih berpikiran sepertiitu? Tidak ada gunanya mengurusi balas dendam Aihana Etsu.”


"Sayangnya, kita tidak punya waktu untuk menjelaskan semua hal kepadanya. Tapi tidak peduli apapun situasinya, kita tidak bisa membiarkan dia mati. Lantas bagaimana dengan nyawaku sendiri? Bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu, bahkan kau sendiri harus bersiap-siap untuk kepentingan terburuk.”


"..."


"Hamazura?"


"... Maaf."


Pada awalnya, Kamijou tidak tahu mengapa Hamazura harus meminta maaf.


Tapi sesaat kemudian, telapak tangan raksasa Power Lifter mendekat dan mendorong anak itu mundur.


"Gah !!"


Punggung Kamijou membentur tikar tatatami dan udara terperas dari paru-parunya, tapi dia segera menyadari bahwa ada suatu hal yang harus lebih dikhawatirkannya.


Hamazura sudah melangkah ke luar dari ruang tamu besar.


Layar geser ruangan sudah menutup, tapi itu bukanlah layar geser normal Jepang yang terbuat dari kertas dan bingkai kayu. Itu terbuat dari bahan karbon mutakhir yang bisa dengan mudah menghentikan pistol peluru.


"Hoi!!!! Apa yang kau lakukan, Hamazura!!!!????"


Dia segera bangkit dan meraih layar geser, tapi benda itu tidak bergerak. Tampaknya Hamazura telah membuatnya macet sehingga tidak bisa bergeser. Kamijou berpikir sejenak dan menendang benda itu dengan menggunakan bagian bawah kakinya, tapi itu tidak ada gunanya.


Dia mendengar suara samar di sisi lain ruangan.


"Balas dendam Aihana Etsu tidaklah masuk akal. Aku tidak peduli apakah itu bagian dari strategimu, tapi menurutku, apapun alasannya, adalah suatu kesalahan jika kau diserang hanya karena hal seperti itu.”


"Apa!!!!???? Apakah kamu sadar bahwa ini bukanlah waktunya untuk berdebat!!!!????”


"Iya," kata Hamazura.”Ha ha. Oh, aku mengeti. Aku kira kau tidak akan tahu karena kau tidak berada di sana waktu itu.”


"?"


"Apakah kau tahu nama orang yang tepat berada di depan mayat Frenda Seivelun saat itu?"


"..."


Tidak mungkin.


Suatu perasaan yang sangat buruk memasuki pikiran Kamijou Touma.


Apa pun itu, Hamazura Shiage memberikan jawabannya.


"Itu adalah aku. Frenda meninggal karena aku tidak sanggup menyelamatkannya tepat waktu.”


"Sialan," sembur Kamijou.


Bagi Hamazura Shiage, rencana Kamijou Touma bagaikan tali simpul yang menjerat lehernya.


Dia akhirnya memahami situasi.


"Jadi jika kita harus membagi pekerjaan ini, akan lebih masuk akal jika akulah yang menjadi target balas dendam Aihana Etsu.”


"Tunggu!!! Hamazura ...!!!!!"


"Aku akan menarik perhatian Aihana dan St. Germain, sehingga kau bisa melakukan sesuatu terhadap bom gravitasi. Jika kau tidak dapat melakukannya sendiri, cari saja bantuan dari orang yang mengerti permasalahan itu. Pastikan kau bisa melakukan sesuatu dengan bom itu, oke?”


"Tunggu!!!! Kesepakatan kita tadi tidak seperti ini!!!!!”


"Hah."


Suara di luar layar semakin menjauh.


Tidak, lebih jauh.


"Ini adalah saat yang tepat bagimu untuk mengerti seperti apa rasanya diselamatkan dan dilindungi."


Hanya itu.


Suaranya benar-benar sudah menghilang.


Hamazura Shiage telah pergi bersama Power Lifter miliknya dari apartemen kelas tinggi. Dia sedang menuju Aihana Etsu yang memiliki perisai sihir dan bantuan dari St. Germain yang tak terhitung jumlahnya.


"Sialan!!!!!"


Dibiarkan sendirian, Kamijou berteriak dan menendang layar karbon beberapa kali lagi, tapi benda itu sama sekali tidak bergeming.


Kemudian dia mencari di sekitar ruangan lagi.


"Tunggu."


Matanya berhenti pada satu titik.


Benda yang dilihatnya, mungkin tidak akan membantunya untuk melarikan diri dari ruangan, tapi ia secara ragu-ragu meraih objek yang ditempatkan dalam tumpukan hadiah ulang tahun.


Dia mungkin telah membuat kesalahpahaman mendasar.


Mungkin saja, ada cara untuk menyelesaikan berbagai urusan dengan Aihana Etsu, selain hanya duduk di sana dan bersedia menerima pukulannya dengan ikhlas.


Dan jika demikian ...


"Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal ini."


Kamijou berjalan ke dapur yang terhubung dengan ruang tamu dan pandangan matanya berhenti pada sejenis keranjang yang biasa digunakan untuk membawa makanan di rumah-rumah besar. Dia menempatkan beberapa barang berat padanya dan mengikatnya dengan menggunakan kabel listrik. Ini dilakukan untuk meningkatkan berat keranjang tersebut.


"Membiarkan Aihana mati bukanlah pilihan, akan tetapi jika kau juga mati, maka semuanya akan sis-sia, Hamazura!”


Dia kembali ke ruang tamu.


Dia membidik layar yang terbuat dari karbon, mengambil sepuluh langkah ke belakang sebagai ancang-ancang dan menabrakkan keranjang itu pada layar.


Layar itu terhentak mundur dan terbuka.


Kamijou pun keluar ruangan dan segera menuju ke pintu masuk lift.


Hamazura sudah tidak terlihat.


Dia segera berlari ke ruang lift. Seperti sebelumnya, ada salah satu pintu lift yang rusak.


Aihana Etsu dan St. Germain berada di tingkat terendah. Mereka semua berada di bagian bawah. Jika saja Hamazura mempunyai cara berpikir yang begitu aneh, maka dia akan terjun lurus ke bawah dengan menggunakan Power Lifter.


Kamijou mengintip ke dalam jurang terowongan lift.


Dia tidak bisa melihat bagian bawah lubang lift yang begitu gelap, sehingga pemandangan itu tampak seperti rahang mosnter raksasa yang menganga.


Bahkan dengan menggunakan lengan baja, nyawa seseorang tidak terjamin keselamatannya.


Oleh karena itu, Kamijou yang hanya terdiri dari daging dan tulang tidak mungkin melakukan hal serupa, jadi ...


(Ini akan berisiko.)


Kamijou menelan ludah dan dengan cepat melepas jaketnya. Dia membungkus tangannya seperti ketika melatih anjing polisi dan meraih kabel licin yang dilumuri dengan minyak mesin.


Dia mengabaikan rasa takutnya dan melompat ke lubang lift gelap tersebut.



Sinar Meltdowner milik Mugino Shizuri membakar habis pintu dari tangga.


Gadis #4 itu berbicara dengan Takitsubo dan Kinuhata.


"Apa-apaan itu? Apakah benda berbentuk donat yang berada di dekat langit-langit perangkat gravitasi itu?”


"Jika Frenda diam-diam mengacaukan itu, bisa saja itu adalah suatu super bom gravitasi. Apa yang kau super pikirkan?”


"Dia memang begitu, aku tidak akan tekejut. Dia adalah tipe gadis yang sanggup mencuci bercak darah dari tangannya dengan tenang dan pergi ke toko mewah sambil senyum-senyum. Berbicara tentang kebajikan dan kejahatan padanya adalah hal yang percuma.”


Takitsubo Rikou mengajukan pertanyaan sembari menatap ke segala arah.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Bukankah sudah jelas?" Mugino menjawab dengan segera.”Mari tangani ini dan segera kembali pulang."



Dipandu oleh Othinus setinggi 15cm, Index memegang kucing calico dan merangkak melalui saluran sempit.


Kedua gadis ini membuka penutup saluran dan melihat ada banyak St. Germain di tempat itu. Ada seorang anak laki-laki yang berada di pusat kerumunan itu.


Jika diamati lebih detail, mereka melihat ke arah perisai emas yang berada di tangan mungil si bocah.


"Hei, bisakah kau ceritakan benda apa itu?"


"Queen Anne’s Shield. Suatu legenda mengatakan bahwa benda itu mencocokkan sebilah pedang.”


"Tapi benda itu seharusnya tidak pernah ada. Sang Raja yang tidak memiliki saudara kembar.”


Konon katanya, legenda pedang telah dibuat ketika seorang pria yang merupakan ksatria dan juga seorang penulis mengumpulkan berbagai cerita ksatria yang tersebar di seluruh Eropa Barat dan mengaturnya ke dalam satu cerita tunggal. Itu mengakibatkan cukup banyak perbedaan pada suatu cerita legenda dan beberapa informasi telah hilang ketika proses penggabungan cerita.


Keberadaan Queen Anne adalah salah satu dari potongan-potongan informasi yang terabaikan.


Tidak ada bukti eksistensi orang seperti itu.


Bahkan, jika ada seseorang yang menyelidiki tentang kekuatan pendorong di balik penceritaan kisah, itu tidak lebih dari bagian yang paling menarik, sedangkan eksistensinya masihlah diragukan. Selama legenda kehidupan raja, dikatakan bahwa dia telah melepaskan Excalibur dan malah menggunakan pedang yang berbeda. Tapi keberadaan Queen Anne bahkan lebih aneh daripada itu. Pencarian melalui teks-teks tua dan bahkan catatan-catatan pada semak-semak menunjukkan bahwa namanya tidak pernah muncul, namun beberapa peneliti mengatakan bahwa nama orang itu adalah "An", bukannya "Anne". Dan dalam bahasa Inggris Kuno, "an*" digunakan untuk mengganti "if*", jadi, itu dikatakan sebagai suatu kiasan atau lawakan untuk "kisah yang tidak pernah ada". Namun, kisah ini mulai dianggap serius ketika disusun dan kemudian berubah menjadi nama seseorang. [An = sesuatu, if = jikalau.]


Tandingan Excalibur kini muncul bersama-sama dengan orang yang disebut-sebut pewarisnya, namun Index memberikan jawaban dengan tenang.


"Aku pikir ini adalah 'pembalikan logika'."


Ada beberapa hal yang seseorang bisa bayangkan dalam pikirannya dan dia akan menyadarinya jika orang lain menunjukkan kepadanya. Namun pemeriksaan yang cermat akan menunjukkan bahwa tidak ada legenda yang jelas atau mitos di balik itu.


Misalnya, suatu benua yang tenggelam ke dasar Samudra Atlantik.


Misalnya, sebilah pedang magis yang digunakan untuk melawan Shogun*. [Shogun = jenderal Jepang.]


Misalnya, seutas benang merah yang menghubungkan antar jari kelingking pada dua orang kekasih.


“Aku membacanya dari buku itu”. “Aku mendengarnya dari orang itu”. Ada beberapa sumber yang jelas, tetapi pemeriksaan yang lebih menyeluruh akan mengalami jalan buntu. Mungkin mereka tidak memiliki bukti obyektif dalam bentuk catatan karena tersebar secara lisan, mungkin pernah ada catatan di atas papan tulis batu atau lukisan dinding yang hilang seiring berlalunya waktu, dan mungkin beberapa pendapat personal dari si penulis terselip pada kompilasi catatan yang dibuatnya.


Dan seperti itulah legenda menyebar dari orang ke orang, kredibilitas terbentuk secara perlahan, itu akan memperkaya sejarah walaupun tidak benar-benar ada.


Misalnya surga dan neraka, tak seorang pun pernah melihatnya, namun beberapa orang bisa menggambarkannya dengan begitu jelas.


Salah satu pengecualian adalah Queen Anne’s Shield.


Index dan Othinus belum pernah melihatnya karena itu adalah legenda yang tidak ada, namun, walaupun hanya seklias melihatnya, mereka yakin benar bahwa benda itu adalah Anne’s Shield.


"Sangat mudah untuk memberikan makna sejarah secara fisik pada beda selegendaris itu. Kau hanya perlu membuat bukti sendiri, tak perduli itu palsu ataukah asli. Ini seperti menggambar peta harta karun buatan di atas perkamen kuno. Orang-orang akan langsung mempercayainya, bahkan kau bisa mendapatkan sponsor untuk melakukan ekspedisi penggalian harta karun fiktif tersebut”


"Jadi, mungkin saja perisai tersebut dibuat oleh St. Germain? Bagiku, itu seperti tindakan yang biasa dilakukan oleh seorang pembohong.”


"Tapi bahkan jika itu merupakan benda palsu, sihir tetaplah sihir. Jika esper Academy City menggunakan itu ...”


"Efek samping akan merobek tubuhnya menjadi berkeping-keping. Jika itu merupakan bagian dari rencana St. Germain untuk melawan Kamijou Touma, maka sudah jelas apa yang dia inginkan. Dia mencoba untuk mencabik-cabik perasaan Kamijou Touma ketika dia melihat lawannya tewas di depan matanya.”



Aihana Etsu perlahan menyipitkan matanya dan menyeret perisai emas.


Dalam kenangannya, ada "seseorang" yang tersenyum.


Bahkan setelah kematian temannya, Aihana masih bisa mendengarkan bisikan-bisikan Frenda dari kenangannya di masa lalu, dan itulah yang membuat dia bisa bertahan sampai saat ini. Namun sekarang, entah kenapa suara-suara itu tidak lagi bisa didengarnya.


Sedikit demi sedikit, bayangan si gadis hancur bagaikan foto yang dilahap api.


Fakta bahwa Frenda sudah mati tampaknya merupakan suatu pukulan telak bagi kepribadiannya.


Pada saat itu, hati Aihana Etsu juga sudah mati.


Kini yang tersisa hanyalah raga Aihana tanpa nyawa, dia tidak lagi merasakan kesakitan atau ketakutan.


Dia tidak peduli apakah ia akan mati di sini.


Jika dia bisa bertahan, dia akan terus berjuang sampai akhirnya dia mati.


Pintu lift dipecahkan oleh kekuatan yang sangat besar.


Orang yang keluar bukanlah Kamijou Touma. Itu adalah seseorang yang Aihana Etsu tidak pernah harapkan kedatangannya. Bahkan, dia tidak pernah mengenal orang ini. Secara teknis, mereka pernah bertemu di tempat parkir beberapa waktu yang lalu, namun Aihana sudah lupa.


Aihana hanya mengeluarkan suara rendah.


“Kau bukanlah orang yang aku harapkan kedatangannya."


"Begitukah? Bahkan jika aku mengaku bahwa aku adalah orang yang membiarkan Frenda Seivelun mati?"


"..."


Suatu suara berderit terdengar dari pegangan perisai emas saat ia meremasnya.


Hamazura masih berada di dalam Power Lifter dan dia membanting dua tinju baja bersamaan.


"Aku tahu gambaran umum dari situasi ini, tapi jika kau hendak menyerang Kamijou Touma, itu sangatlah tidak masuk akal. Jika kau ingin membalas dendam atas kematian Frenda, ada seseorang yang jauh lebih cocok.”


"Kau siapanya Frenda?"


"ITEM," jawab Hamazura dengan singkat.”Itu hanyalah suatu organisasi yang kecil. Dan aku mungkin hanyalah menjadi babu di sana, tapi aku masih menjadi bagian dari ITEM. Mendukung Frenda adalah salah satu kewajibanku….....Jadi, sekarang ini, pekerjaanku adalah menghentikan seorang bocah yang akan mati atas nama Frenda.”


Alih-alih Aihana Etsu, St. Germain lah yang bereaksi.


Tapi sebelum tombak Chambord yang tak terhitung jumlahnya menunjukkan diri, Aihana Etsu berbicara.


“Kau tidak perlu melakukannya, St. Germain."


"Tapi, paduka."


"Ini adalah pekerjaanku. Jika apa yang dia katakan benar, maka aku harus melawannya.”


Hamazura merasa sedikit lega setelah mendengar perkataan itu.


Aihana Etsu dan Kamijou Touma tidak akan berbentrokan. Skenario St. Germain tidak akan terwujud, dan tentu saja dia kini jadi panik.


(Ini mungkin tidak memuaskan dia. Sama seperti menghidangkan ramen pada seseorang yang memesan Gyudon, ia mungkin masih merasa lapar setelah menyantapnya.)


Hamazura mengingat masa-masa setelah pemimpin Skill-Out yang karismatik, Komaba Ritoku, meninggal. Untuk melindungi diri sendiri, mereka mengambil beberapa pekerjaan kotor dan mencoba untuk membunuh orang dewasa yang tidak bersalah.


Namun, dia tidak menggunakan imajinasi gelapnya dan mengayunkan alat pembunuhnya secara membabi buta layaknya seekor monyet.


(Tapi ini akan mengajarkan padamu betapa buruk rasanya suatu kekerasan. Kau akan merasakan betapa mengerikan pekerjaan ini. Jari jemarimu akan gemetaran ketika kau menggunakannya untuk menusuk perut seseorang dan perutmu akan mual ketika kau melihat kepala seseorang yang terpenggal. Kau bisa memegang senjata dengan tenang dan begitu polos karena kau belum tahu betapa menjijikkan hal itu. Jadi aku akan mengajarimu bagaimana rasanya.)


Ada tipe orang yang menjadi lebih berani ketika mereka menggenggam suatu senjata mematikan. Beberapa orang akan mabuk pada kekuatan destruktif dan menghancurkan diri mereka sendiri.


Tapi Hamazura meragukan Aihana Etsu adalah orang semacam itu.


Dia memberi alasan di dalam hatinya.


(Bila kau mengetahui kematian Frenda Seivelun, kau tahu betapa tidak masuk akal kematiannya.)


Sekujur tubuh Aihana Etsu akan terluka jika ia menggunakan perisai itu, tapi Hamazura tidak akan begitu memperdulikannya. Mereka berdua mempertaruhkan nyawa di sini dan Hamazura Shiage bukanlah orang yang sebaik Kamijou Touma.


Jadi ...


"Mari kita lakukan ini." Dia mengangkat lengan Power Lifter dan memasang kuda-kuda.”Aku sudah muak dengan orang-orang seperti Silver Cross dan Kuroyoru. Yaitu orang-orang yang menggali kembali omong kosong yang sama berulang-ulang! Pada masa Edo, jika kau membunuh orang-orang yang membalas dendam terhadapmu, itu tidak dihitung sebagai suatu kejahatan. Kau hanya memiliki satu kesempatan. Hanya itu yang akan kuberikan padamu!! Jadi mari kita lakukan ini, Aihana Etsu !!”


"Baiklah."


Hanya sekali, Aihana Etsu mengetuk lantai transparan dengan bagian bawah perisai emas.


"Aku akan membunuhmu terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan membunuh Kamijou Touma juga. Dan ketika semua gangguan ini sudah kulenyapkan, aku akan mencari dan membunuh semua pelaku dan penjahat. Aku akan melakukan apa saja yang tidak bisa dilakukan gadis itu.”


Aihana Etsu merasakan ada sesuatu yang menusuk ke dalam jantungnya setiap kali dia berbicara. Seiring berjalannya waktu, memori di pikirannya yang sudah hancur, sedikit demi sedikit semakin hancur.


Pada dasarnya, balas dendam bukanlah suatu tindakan mencelakakan lawanmu.


Balas dendam yang dia lakoni saat ini hanyalah tindakan mengotori tangan sendiri, menghina diri sendiri, dan bunuh diri.


Tetapi bahkan ketika ia menyadari hal itu, dia tidak bisa berhenti lagi.


Bagaimanapun juga, apa lagi yang bisa dia lakukan?


Teman yang telah dia cari sekian lama sudah mati, tidak ada cara untuk menyelamatkannya, dan angan-angannya untuk bertemu kembali dengan teman gadisnya sudah pupus.


Jadi apa yang seharusnya dilakukannya?


Mimpinya telah pupus, harapannya telah hancur, dan cita-citanya telah lenyap.


Haruskah ia meringkuk dan menyerah seperti bayi cengeng? Haruskah ia berteriak bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Tidak bisakah dia memutuskan hal yang realistis, efisien, dan logis? Tidak bisakan dia menekan tombol reset dan mengulangi semua ini sekali lagi? Haruskah ia membuang eksistensi Frenda Seivelun ke dalam sampah dan hidup seperti biasa di esok hari?


Tidak.


Dia tidak akan sanggup melakukan itu.


Dia tidak ingin meninggalkan temannya. Dia tidak peduli apakah ia keras kepala atau menggurui. Dia ingin terus berusaha untuk melakukan sesuatu untuknya. Tidak peduli jika ini tidak realistis, efisien, atau logis. Dia tidak ingin membuang memori tentangnya ke tempat sampah dan melupakannya begitu saja. Bahkan dia tidak tahu cara untuk melanjutkan hidup di esok hari jika ia kehilangan semua ini


Jadi bunuhlah hatimu.


Kikis semua kelebihan lemak dan tinggalkan tulangnya saja.


Jadilah seonggok mesin yang hanya tahu urusan balas dendam.


"Aku akan mulai denganmu," katanya sambil menyiapkan perisai emas.


Dia merasa suhu tubuhnya secara bertahap menurun ketika ia terus berbicara.


“Kau bisa menceritakannya padaku tentang apa yang seharusnya kau lakukan pada hari kematiannya, sembari aku menghancurkan dirimu."


Pandanganan mereka berbentrokan.


Tidak lagi masalah, bahkan bila pria yang di depannya bukanlah Kamijou Touma atau Mugino Shizuri.


Dia tidak mengatasi kekurangannya.


Pada akhirnya, ia masihlah Aihana Etsu. Dia masihlah orang menyedihkan yang hanya bisa memalsukan kartu ID pelajar lain.


Ini adalah hal ekstrim yang berlawanan.


Dia telah mengalami terlalu banyak perasaan negatif dan emosinya telah mati rasa.


Dan ia tidak peduli jika itu terjadi.


Dia hanya peduli tentang melawan musuhnya.


Mengaktifkan perisai dan membunuh Hamazura Shiage adalah prioritas utama saat ini. Tetapi bahkan jika perisai itu menolak untuk diaktifkan, ia masih bisa merobohkan lawannya dengan tangannya sendiri dan mencabut nyawanya. Tidak masalah jika lengannya patah dan matanya tercongkel ketika dia melawan musuhnya. Dalam kasus terburuk, ia hanya akan mati dan menjadi tumpukan mayat busuk. Selama dia bisa menghindari itu, tidak ada hal lain yang lebih penting.


Sejatinya, balas dendam adalah tindakan merobek dagingmu sendiri, bukan musuhmu.


Itu adalah tindakan membunuh dirimu sendiri melalui musuhmu.


(Ya.)


Aihana Etsu secara bertahap melihat kebenaran yang ada di dalam dirinya sendiri.


(Kukira, apa pun yang St. Germain katakan tidaklah penting. Tidak masalah jika perisai ini asli atau jika aku istimewa.)


Dia bisa merasakan pikirannya yang tadinya terurai, kini berkumpul pada satu titik.


Mereka bergerak ke arah tujuan yang jelas, namun itu merupakan jalan buntu.


(Mungkin aku tidak akan mampu hidup di dunia tanpa adanya temanku.)


Jadi ia ingin pergi.


Ia ingin menghilang ke suatu tempat lain layaknya balon yang talinya terpotong.


(Tapi aku akan meninggalkan tanda dimana tempatku tinggal.)


Dia merobek angin dengan bahunya, berjalan dengan dua kakinya sendiri, dan langsung mendekati Hamazura Shiage.


Dia sengaja bergerak di sekitar Power Lifter.


(Setidaknya, aku harus melakukan satu hal untuknya!! Setidaknya, aku harus melakukan satu hal yang dia inginkan!! Dan aku akan mengukir bukti hasil kerjaku pada tubuh orang ini!!)


Ini adalah pertempuran awal. Sekali dimulai, ini tidak bisa dihentikan.


Sorotan matanya begitu dingin dan dia pun bersiap-siap menyerang.


Tapi sesuatu terjadi sebelum dia melakukannya.



Kamijou Touma memanjat pintu lift yang rusak dari lubang lift dan mendekati salah satu pilar tingkat terendah.


Aihana Etsu berdiri di depan Hamazura Shiage yang masih menaiki Power Lifter, ia memegang perisai emas besar, dan para St. Germain menunggu di belakangnya.


Tidak adakah yang bisa menghentikan dia sekarang?


Apakah tidak ada cara untuk menghentikan keinginannya membalas dendam tanpa pertumpahan darah?


(Tidak)


Kamijou mencapai suatu kesimpulan.


(Dia akan menghentikannya. Jika dia benar-benar melakukan ini untuk temannya, dia akan menghentikannya.)


Kamijou mempunyai suatu kartu As di tangannya.


Jika Aihana Etsu kembali ke akal sehatnya, pertunjukan St. Germain ini akan berakhir. St. Germain pasti akan membuang bocah itu setelah rencananya berantakan dan Kamijou meragukan dia bisa bertahan dari serangan segala arah hanya dengan menggunakan Imagine Breaker.


(Jadi, aku membutuhkanmu.)


Kamijou menatap kembali Hamazura dari balik pilar.


(Jangan mati sekarang. Aku membutuhkanmu, sehingga kita semua bisa pulang dengan senyum di wajah seperti sedia kala!!)


Sambil terfokus terhadap apa yang ada di depannya, ia berpindah dari pilar ke pilar.


Sedikit demi sedikit, ia mendekati mereka. Ada lebih dari lima puluh orang St. Germain di sana, tapi mereka tidak memiliki indra manusia layaknya orang normal. Mereka bukanlah makhluk yang memiliki mata di belakang kepala dan mereka tidak bisa memindai seluruh wilayah dengan gelombang ultrasonik layaknya hewan malam.


Yang dilakukan para St. Germain itu hanyalah menonton gerakan Aihana Etsu, sehingga mereka tidak akan melihat pergerakan Kamijou selama ia tidak banyak menarik perhatian.


(Aku tahu seseorang yang benar-benar menyerahkan seluruh hidupnya pada balas dendam, Aihana Etsu.)


Dia telah bertemu orang tersebut di daratan bersalju Baggage City. Dia punya dua nama: Kihara Kagun dan Bersi. Dia telah menelan baik musuh ataupun sekutu dan ia sudah meninggalkan dunia ini setelah melaksanakan aksi balas dendam dengan sempurna.


Jika ada seseorang yang bertanya, apakah dia senang dengan hasil jeri payahnya, dia pasti akan mengatakan bahwa dia puas.


Tapi Kamijou akan memberikan jawaban yang berbeda jika ditanya apakah ia menyetujui hal yang telah terjadi.


Tidak peduli jika itu adalah keputusan yang paling benar di dunia.


Tidak peduli jika semua orang yang terlibat telah menerimanya atau orang-orang menganggap bahwa mengungkit-ungkit permasalahan itu adalah suatu hal yang tidak penting.


Kamijou Touma pasti akan berkata bahwa, dirinya tidak akan setuju dan sudi mengikuti pilihan yang diambil pria itu.


Jika Kamijou melihat seseorang yang mengikuti pilihan si pria, dia akan sekuat tenaga menariknya ke jalan yang benar. Kamijou akan meraih tangannya.


(Aku tidak akan membiarkanmu berakhir seperti itu.)


Dia menyelinap beberapa meter di sekitar para St. Germain dan berpikir dengan tenang.


Dia punya alasan yang kuat untuk membuat pendekatan terhadap Aihana meskipun ini adalah tindakan yang beresiko pada dirinya sendiri.


(Pilihan yang terbaik adalah melepas hawa nafsu membalas dendam sebelum dia bisa melampiaskannya. Hal yang paling menakutkan adalah ketika seseorang sanggup melampaui emosi dan menganggap tindakannya tersebut sebagai sesuatu hal yang normal. Itu hanya akan membuat seseorang menjadi ketagihan, walaupun emosinya sudah mereda, dia tidak akan bisa tenang tanpa hasrat yang sama.)


Dia memeriksa apa yang dipegangnya di tangan.


Ini mungkin tidak ada artinya jika dibandingkan dengan enam atau tujuh miliar orang di bumi ini, tapi ini mungkin adalah kunci terakhir untuk situasi ini.


(Jadi aku tidak akan membiarkan kau berakhir seperti itu.)


Dia menggertakkan giginya dan terus menuju jalan kematian.


(Aku tidak akan membiarkan kau menggunakan balas dendam sebagai alasan. Kau tidak perlu menginginkan bantuanku dan aku tahu bahwa ini semua hanya keegoisanku, tapi aku tidak akan membiarkan memori berharga milikmu tentang gadis itu dikotori dengan noda darah!! Jadi ingatlah, Aihana Etsu. Ingatlah perasaan pertamamu yang kau tanam di dalam hati!!)


Dan kemudian, Kamijou Touma mengambil tindakan akhir.



Sesuatu meluncur di sepanjang lantai.


Para St. Germain melihatnya, tapi Aihana Etsu mengulurkan tangannya dan menghentikannya sebelum Chambord tajam bisa merobeknya jadi potongan-potongan kecil.


Anak itu melihatnya.


Benda itu tidak mungkin beharga lebih dari ¥ 3.000, tapi baginya, itu adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan walaupun berada du ujung dunia sekalipun.


Benda itu adalah kotak berukuran sepuluh sentimeter yang dibungkus kertas berwarna hijau pucat dan pita merah.


Pita disilangkan di atas kotak sehingga selembar katu bisa diikatkan padanya. Sepertinya di dalam kotak itu terdapat alat elektronik murah yang dapat memainkan musik, karena ada bunyi nyanyian melodi ulang tahun yang sudah terdengar kusam.


Itu mungkin adalah suatu pesan.


Dan bersamaan dengan melodi itu, terdengar suara seorang gadis tertentu.


"Selamat ulang tahun !! Hei, hei, hei. Pada akhirnya, ini adalah hadiah kejutan untukmu, Kanou-chan !!”


"..."


Aihana Etsu ... bukan, bocah yang menggunakan nama tersebut merasakan sesuatu menggeliat di kepalanya.


Sisa-sisa memori yang hangus layaknya foto terbakar, kini kembali seketika.


Mungkin kata-kata itu tidak punya makna dan hanya ucapan biasa.


Itu tidak mengubah fakta bahwa si gadis sudah mati, kenyataan tidak akan berubah secara ajaib, dan membenamkan dirinya dalam kenangan lama mungkin tidak berbeda dari berbincang-bincang dengan sahabat khayalan.


Tapi ...


"Nee hee hee. Kau adalah tipe orang yang suka lupa pada hari ulang tahunnya sendiri, bukan? Tapi! Jangan meremehkan kemampuan komunikasi Nona Frenda! Aku sudah mencaritahu apa yang kau inginkan jauh-jauh hari sebelumnya! Sekarang, sekarang. Buka kotak ini dan gemetarlah karena isinya sangat mengerikan. Gah hah hah !!”


Aihana Etsu telah memutuskan untuk melepaskan semua dagingnya dan berubah menjadi sebongkah mesin yang hanya tahu tentang balas dendam.


Namun kini, daging-daging itu kembali membungkus mesin, dan dia kembali menjadi seorang manusia. Keinginannya untuk membalas dendam pun semakin memudar.


Dia berhenti.


Dia tenggelam.


Dia terbenam.


Sedikit demi sedikit, roda-roda gigi mesin lepas. Mesin sudah kehilangan fungsinya. Sosoknya semakin dekat ke ranah manusia.


Memorinya yang tadinya pudar, kini kembali jelas dan tersimpan di dalam ingatannya.


Dia mengingat seorang gadis yang sering bercengkrama dengannya, sebelum dia memalsukan nama Academy City # 6.


"Pada akhirnya, kau menghina dan memanggil dirimu sendiri dengan sebutan cengeng, tapi kau tidak bisa begitu selamanya. Aku bukanlah tipe orang yang baik hati, kau tahu? Aku juga tidak pernah mencoba untuk berhubungan baik dengan 6 milyar manusia di luar sana. Kau adalah salah satu dari teman-teman yang Frenda pilih! Menurutku, itu adalah sesuatu yang dapat dibanggakan !!”


Waktu berhenti.


Aihana Etsu berhenti bergerak.


Ada sesuatu yang meresap ke dalam hati kecil bocah itu.


Ini tidak seperti St. Germain yang berbicara panjang-lebar tentang dunia dengan sok tau.


Ini adalah hal yang nyata.


Ini adalah kata-kata dari teman yang ia kejar begitu lama.


"Air matamu adalah pengampunan dari seluruh tindakan salah yang sudah kau lakukan. Air matamu memastikan bahwa kau tidak menyimpang dari jalur yang benar, tidak peduli seberapa tidak masuk akal hambatan yang menghadangmu. Itu adalah sesuatu yang tidak kumiliki, jadi aku kagum padamu karena kau punya hal yang tidak pernah bisa kucapai! Ada begitu baaaaaaaanyak orang di dunia ini yang hanya akan berakhir dengan melakukan tindakan mengerikan jika mereka ada di posisimu saat ini, namun kau adalah orang yang kuat dan kau tidak mungkin meniru mereka. Jadi, banggalah pada dirimu sendiri. Pada akhirnya, kau harus bangga pada dirimu sendiri karena kau berani menangis dan mengampuni dosa seseorang!!”


"Oh ..."


Suatu suara dentangan benda berat mengguncang ruangan tersebut. Ini karena perisai emas tergelincir dari tangan si bocah dan jatuh ke lantai.


Dia tidak lagi memerlukan Anne’s Shield.


Dia tidak lagi memerlukan benda legendaris atau apalah itu. Dia hanya memerlukan sepasang kakinya sendiri untuk bisa berdiri tegak.


Dia menggunakan tangannya untuk menutupi wajahnya.


"Aku ingat sekarang, St. Germain."


Dia bukan salah satu dari Level 5 Academy City.


Dia bukan seseorang yang sanggup menciptakan legenda besar layaknya seorang ksatria yang dulu pernah dipilih oleh sebilah pedang.


Tapi apakah itu penting?


Anak ini telah lahir ke dunia ini sebagai dirinya sendiri. Dia tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain dan ia adalah seorang individu yang tak tergantikan untuk dunia ini. Tidak peduli seberapa kecil dan sepele eksistensinya di dunia ini. Seseorang gadis telah tersenyum dan merayakan hari ulang tahunnya. Dengan demikian, ia telah membuktikan keberadaannya.


Ini adalah sifat tunggal.


Itu bukanlah solusi muahan. Berbeda dengan seorang manusia unggulan yang memperoleh semua pencapaian karena bakatnya yang begitu hebat, ia adalah tipe manusia yang harus membuka jalan ke depan dengan usahanya sendiri. Itu adalah jalan yang jauh lebih sukar daripada seseorang yang sudah dibekahi begitu banyak kelebihan sejak lahir.


"Aku ingat namaku, St. Germain. Namaku adalah Kanou Shinka.”


Meski begitu, iblis di bahunya terus membisikkan sesuatu ke telinganya.


Tapi kini dia tidak peduli jika dia dipanggil menyedihkan, kasihan, tidak sedap dipandangan, atau memalukan.


Dia tidak akan mengikuti jalan pintas dan akan memilih jalan panjang yang lebih susah dilalui. Itu adalah pilihan yang bodoh. Namun selama dia menggunakan kedua kakinya sendiri untuk melalui jalan tersebut, itu tidaklah masalah baginya.


Dia tidak akan mendengarkan lagi godaan St. Germain, tak perduli apa pun alasannya. Dia tidak akan menggunakan kematian Frenda Seivelun sebagai pembenaran atas semua tindakannya. Dia tidak akan bergantung pada reputasi # 6 yang misterius atau Queen Anne yang tidak jelas keberadaanya.


Dia akan berdiri dengan kekuatannya sendiri.


Dia akan menggunakan pikirannya sendiri untuk mengingat hal yang benar-benar ingin dia lakukan.


Setidaknya, pikirannya adalah hal yang murni. Itu bukanlah pemikiran palsu yang dibuat-buat dengan menuangkan minyak pada kobaran api dendam.


Frenda Seivelun telah menyimpan "sesuatu" yang tersembunyi dan gadis itu tidak akan menjerumuskan anak ini ke jalan berdarah yang sesat. Mungkin si gadis telah menyadari bahwa pria ini adalah seorang individu berhati kuat yang berani menangis dan mengampuni orang lain. Menangis tidak berarti lemah. Dan orang terkuat adalah orang yang bisa menahan emosinya dan memaafkan dosa orang lain


Jika demikian, jalan apa yang harus ia ambil?


Sebagai orang yang berhati kuat, pilihan apa yang harus dia ambil?


"Jadi, St. Germain, sekarang aku bisa melihat musuhku yang sebenarnya. Musuhku bukanlah siapa-siapa. Musuhku adalah aku sendiri!! Aku adalah orang yang menodai kematian Frenda! Aku menggunakan alasan kematian Frenda sebagai alat untuk membunuh orang lain!! Dan aku tidak akan menerimamu lagi!!”


St. Germain bereaksi dengan cepat.


Dengan suara ledakan, Chambord menusuk bingkisan ulang tahun itu dari bawah.


Pembungkus dan pitanya robek. Kotak itu tercabik-cabik dan melayang di udara.


Tapi ekspresi anak itu tidak berubah dan ia mengangkat tangan kecilnya.


Sebuah arloji saku murah jatuh ke telapak tangannya.


Dia menggenggam alat berwarna perak tersebut dan meraih kartu ucapan yang melayang-layang di udara. Dia jepit kartu itu diantara jari telunjuk dan jari tengahnya


Selamat ulang tahun, Kanou Shinka.


Seperti itu tulisannya


Seorang gadis yang tak lagi hidup memberinya perayaan dan pengakuan pada keberadaannya. Dia memegang bukti berharga itu dan dia pun berbicara.


"Terima kasih, Frenda."


Ia menghancurkan topeng bernama "Aihana Etsu" yang selama ini dikenakannya.


Bocah ini, kini telah menjadi pria dewasa.


Dia adalah Kanou Shinka dan bukan orang lain.


Dalam ucapan selamat ulang tahun, gadis itu mengucapkan nama Kanou Shinka, bukannya Aihana Etsu. Jadi, dia tidak akan menyia-nyiakan nama ini. Dia pun kini merasa cukup kuat untuk berjuang melawan dunia, ia akan menghadapi musuh sejati.



Pada saat itu, Kamijou Touma tersenyum sembari masih berjongkok.


Pada saat itu, Hamazura Shiage mendesah sembari masih berada di dalam Power Lifter miliknya.


Mereka berdua memikirkan hal yang sama.


"Apa boleh buat."


"Apa boleh buat."


Mereka bukanlah teman lama.


Mereka hanyalah setitik noktah diantara 6 milyar manusia di bumi ini.


Tapi mereka tahu akan satu hal: Adalah hal yang sangat memalukan jika Aihana Etsu meninggal.


Dan bukan lagi Aihana Etsu. Dia adalah seorang pria yang punya nama sendiri, dan itu adalah Kanou Shinka.


Jadi ...



Dia sudah menemukan alasan untuk bertarung, dan dia tidak takut lagi pada kematian, sehingga ia tidak ragu-ragu menyerang kerumunan St. Germain.


Sampai suatu hal terjadi.


Tepat ketika St. Germain mulai menggunakan tombak Chambord yang tak terhitung jumlahnya untuk menebang Kanou Shinka yang sudah tidak lagi bisa dia kendalikan.


Kamijou dan Hamazura menyela. Mereka menggunakan Imagine Breaker dan lengan Power Lifter untuk menerobos hujan tombak. Kamijou meraih Kanou Shinka melalui suatu sela yang sempit, menariknya, dan kemudian mendorongnya ke depan.


Sesaat kemudian, pancaran cahaya cemerlang ditembakkan.


Itu adalah # 4, Meltdowner.


Tetapi anehnya, dia tidak menargetkan Chambord. Mata Hamazura terbuka lebar.


"Sialan, Mugino!! Mengapa kau mencoba untuk membunuh Kanou !?”


"Eh? Tapi aku sama sekali tidak perduli dengan perubahan hati dan tekad bocah itu. Dia tampak seperti berada di sisi musuh, jadi aku tidak punya alasan untuk mempermudahnya.”


"Ini semua sungguh berhubungan denganmu!! Semua ini salahmu, salahmu, salahmu, dan salahmu!! Aku mungkin bukanlah orang yang pantas berbicara seperti ini, tapi sejak awal kau lah yang menyebabkan semua iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!”


Dia berteriak sekuat tenaga, tapi Mugino hanya mendesah.


Sebagai seseorang yang bekerja di sisi gelap kota, dia hanya menanggapi semua ini dengan ekspresi datar. Mugino tidak bisa menganggap seseorang sebagai teman ataupun musuh jika orang tersebut “berwarna abu-abu”, bukannya “putih” atau “hitam”. Dia hanya akan melenyapkan itu semua. Bisa saja itu adalah orang yang menyerang dari “dalam selimut”, orang tak bersalah yang terhipnotis, atau mungkin pihak ketiga yang hendak balas dendam. Jika Mugino tidak benar-benar yakin bahwa orang tersebut adalah sekutunya, profesional macam dia hanya akan melihat orang tersebut sebagai target Meltdowner miliknya.


"Jadi."


Mugino Shizuri menciptakan bola cahaya baru dari udara tipis dan membidik St. Germain.


“Sepertinya yang benar-benar “berwarna hitam” di sini adalah kau, ya? Dasar brengsek!!"


Ada gerakan di tempat lain juga.


"Touma !!"


"Oh, ya ampun. Apakah semua orang harus muncul sekarang juga!?”


Itu adalah Index, biarawati berpakaian putih dengan bordir emas, dan Stephanie, wanita berambut pirang pendek yang bertindak sebagai pengawal si biarawati dengan menggunakan PDW miliknya.


Index bersama dengan 15cm Othinus di bahunya dan juga Takitsubo Rikou, yaitu seorang gadis yang mengenakan jaket olahraga pink dan berdiri di belakang Stephanie.


Kamijou Touma tidak mengatakan apa-apa dan Hamazura Shiage tidak menyela.


Kini si bocah bisa melakukan segala sesuatu dengan tangan-dan-kakinya sendiri, sehingga mereka berdua membiarkannya berjuang.


Kanou Shinka berdiri sekali lagi dan membuat pernyataan sembari diapit oleh dua orang pahlawan.


"Aku akan mengambilnya kembali, St. Germain."


Dia menghadapi monster yang namanya sudah melegenda sejak dahulu kala.


Kini, dia menantangnya dengan namanya sendiri, dan usahanya sendiri.


"Aku akan mengambil kembali setiap kebanggaan temanku yang telah kau injak-injak!!"

NT Index v12 360-361.png



Diantara Baris Ketiga[edit]


Seekor golden retriever memiliki suatu gudang persenjataan di tiap-tiap 23 distrik.


Kihara Noukan berjalan di Distrik 23.


Ia tiba di suatu fasilitas perawatan pesawat yang berukuran jauh lebih besar dari gym sekolah. Pintu masuknya lebih tampak seperti dinding bergerak daripada pintu biasa karena benda itu perlahan membuka ke kiri dan kanan. Lampu di dalamnya menyala secara otomatis.


Tampat itu dipenuh dengan beberapa kontainer ejeksi dan truk-truk besar untuk menariknya.


Bagi Noukan, ini adalah lemari-berjalan miliknya. Dia bisa memilih pakaian yang sesuai untuk berbagai acara dan keluar ke pesta makan malam dengan penampilan yang optimal. Dan dia akan menggunakan peluru, bukannya sopan santun. Dia akan menggunakan granat, bukannya etiket. Dia akan menggunakan sinar laser, bukannya kasih sayang. Dia akan menggunakan nitrogen cair, bukannya keramah-tamahan. Dia akan menggunakan gelombang mikro pembunuh, bukannya rasa hormat.


Tujuan golden retriever adalah untuk menghancurkan elemen-elemen yang tidak teratur dalam dunia stabil yang berkaidahkan hukum fisika ini.


Yakni, sihir.


Dan musuh terbesarnya adalah ...


"Jadi, para Dewa Sihir telah membuat pergerakan."


Sesungguhnya, ia tidak punya dendam yang nyata terhadap penyihir atau Dewa Sihir. Ia juga tidak memiliki dendam masa lalu, dimana ada suatu hal berharga yang diambil dari dirinya.


Tapi ia tahu orang yang telah mengubah seekor anjing biasa menjadi makhluk seperti dia sekarang. Itu adalah orang-orang yang pernah disebut sebagai Kihara original.


Belum genap 100 tahun sejak Kihara mendapatkan wujud yang sebenanya. Konsep ini mungkin bisa dianalogikan dengan pertumbuhan akar rumput. Tetapi baru-baru ini, konsepan itu berkumpul dan membentuk suatu Kihara yang nyata.


Dia datang ke sini pada saat kesibukan pembangunan setelah perang di masa lalu. Dan juga setelah “manusia” itu menciptakan Academy City. Jadi, konsep tentang Kihara memanglah baru saja terwujud baru-baru ini


Ketujuh orang itu pun hanyalah manusia biasa yang bisa tertawa dan menangis.


Sebelum masa ini, tidak diketahui apa itu Kihara dan kenestapaan apa yang disebabkan olehnya. Bahkan dengan semua kegilaannya, mereka masih saja memilih jalan ilmu pengetahuan sebagai takdir yang dilalui . Memang seperti itulah mereka.


Seseorang yang men-support si golden retriever selalu berada di sampingnya sembari menepuk-nepuk kepala si anjing. Dan dia selalu meminta maaf jikalau ada salah dalam bahasa manusia


Bagi orang normal, mereka hanya membuat lebih banyak orang menderita, tetapi sebagai peneliti, laporan eksperimen yang sukses membawa suatu kenikmatan tersendiri. Wajah mereka selalu berisi campuran emosi yang kompleks.


"Jika segala sesuatu di dunia dapat dijelaskan dengan rumus ilmiah, maka dunia ini hanya akan berisi keputus-asaan dan kepasrahan. Melakukan hal itu sama saja dengan memanggil teori setan Laplace*.” [Teori setan Laplace adalah suatu teori yang dicetuskan oleh Pierre-Simon Laplace pada tahun 1814. Yang dimaksud Laplace dengan “setan” di sini adalah seseorang yang mengetahui setiap atom dan momentum di seluruh alam semesta. Dan ketika ada makhluk seperti itu, Laplace menduga bahwa makhluk itu bisa melakukan perjalanan waktu ke masa depan ataupun masa lalu. Wikipedia Bebas.]


Itu benar, tapi bukankah seseorang yang mengelus-elus kepala seekor anjing dengan kasih sayang sama sekali tidak mirip dengan seorang Kihara?


"Tapi pada saat yang sama, suatu dunia yang tidak masuk akal, tidak akan memiliki kesempatan untuk mencelakakan orang. Sekarang, sudut pandang mana yang benar?”


Anggota asli sudah pergi sekarang.


Mereka menggunakan dirinya sendiri untuk mendefinisikan apa itu Kihara, menyimpulkan dengan cara yang bisa dipahami siapa pun, dan kemudian meninggalkan dunia tersebut. Bahkan pada saat mereka menggila, mereka terus memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal dengan menggunakan akal sehat. Seperti itulah para Kihara hari ini.


Itulah sebabnya Kihara Noukan tidak memiliki dendam tertentu terhadap sisi sihir.


Itulah mengapa golden retriever tidak tertarik pada dunia yang didamba-dambakan anggota asli.


"Jangan khawatir."


Pengetahuan ilmiah mungkin belum mampu membuktikan keberadaan surga.


Hukum fisika mungkin belum mampu mengukur beratnya arwah.


Tapi anjing besar ini berbicara.


"Bahkan jika kau telah meninggalkan dunia ini, Kihara masihlah tetap berada di sini."


Golden retriever memberikan instruksi dari pikirannya dan seketika itu, truk yang tak terhitung jumlahnya memuat kontainer ejeksi. Terdengar suara pengapian mesin yang meraung. Kelap-kelip lampu mulai terlihat disana-sini.


Semassa logam duduk di sana.


Sekumpulan armor yang dikenal sebagai Anti-Art Attachment mengikuti pergerakan Kihara Noukan saat ia berbalik.


Dia menatap ke dalam kegelapan yang tak terbatas di luar. Kelap-kelip lampu truk mengikuti dirinya sembari dia berkata di dalam hati.


Hanyalah fokus untuk menjadi Kihara.


Dengan keinginan itu, manusia yang sudah berubah menjadi anjing ini memulai pekerjaannya.



Chapter 4: Suatu Terobosan Tunggal — Hand_Made_ROUTE.[edit]

Part 1[edit]


Lantai transparan melayang beberapa sentimeter dari atas tanah.


Suatu mesin berbentuk donat raksasa terletak di atas tiang yang berjarak seragam


. Itu adalah suatu perangkat pengendali gaya gravitasi buatan.


Namun sekarang alat itu sudah dirusak, bom gravitasi mungkin adalah nama yang lebih tepat.


Benda itu menutupi segala sesuatu. Tempat itu pun seakan-akan tertindas oleh langit berbintang.


"..."


Kerumunan St. Germain berpisah layaknya Laut Merah dan mereka mengubah formasi.


Salah seorang St. Germain memiliki rambut panjang pirang bergelombang dan kulit putih. Dia mungkin sengaja dibuat menyerupai Frenda Seivelun untuk melawan Kanou Shinka. Jas berekornya menyerupai seorang asisten pesulap di panggung dan bertemakan kelinci.


Wanita itu berdiri di tengah-tengah kawanan St. Germain lain, dan rangsangan menyebar melalui mereka seperti panas yang melalui berlian.


Dia menarik tombak yang melilit dari tanah dan memegangnya dengan satu tangan.


"Apakah kau benar-benar berpikir bisa mengalahkan struktur kristal kokoh hanya dengan beberapa individu yang berbeda?”


Si St. Germain pirang tersenyum saat berbicara.


“Kau tampaknya salah paham tentang sesuatu. Aku bukan penyihir ataupun Dewa Sihir. Aku adalah seorang kategori ketiga yang tidak mirip dengan kedua makhluk itu. Jika kau benar-benar ingin menghancurkanku, kalian harus memiliki kekuatan yang bisa melenyapkan 'penyihir' atau 'Dewa Sihir'. Dengan berkumpul bersama, kalian hanya mempermudah tugasku, karena aku tidak perlu repot-repot mencari dan memburu kalian.”


"Cukup bicaranya," sembur Kanou Shinka.


Dia menggelengkan rambut semi-panjang sembari berbicara dengan begitu tegas.


"Ayo kemari dan lawan kami, jika kau bisa. Atau apakah kau menolak untuk berkelahi kecuali seseorang melemparkan sarung tangan padamu*?” [Melemparkan sarung tangan adalah kiasan yang sering dipakai oleh ksatria-ksatria pada jaman Eropa kuno. Maknanya adalah : menantang dan mengajak duel. Wikipedia Bebas.]


"..."


St. Germain terdiam sejenak, tapi senyumnya tetap dan dia pun akhirnya mendesah.


Segera setelah itu, lebih dari lima ribu Chambord menikam dengan kecepatan menakutkan dari sudut 360º di sekelilingnya.


Mungkin tidak ada suatu hal pun yang bisa dia lakukan sendirian.


Jumlah lawannya mungkin terlalu banyak dan dia hanya akan berakhir dengan ditusiki bagai sate.


Tapi Kamijou Touma memiliki Imagine Breaker, Hamazura Shiage memiliki Power Lifter, Mugino Shizuri memiliki Meltdowner, dan Kinuhata Saiai memiliki Offense Armor.


Kekuatannya sendirian mungkin mirip seperti kaca yang rapuh, namun jika kekuatan mereka semua digabungkan, mereka akan menjadi pilar penumbuk permata.


Bahkan dengan ratusan atau ribuan serangan simultan dari St. Germain, Kanou Shinka tak perlu khawatir akan keselamatan dirinya. Jika para jagoan ini mengelilingi Kanou dan siap untuk mencegat berbagai serangan dari semua arah, mereka bisa menangkis tombak-tombak yang terkonsentrasi ke satu arah dan menghancurkannya.


Jika mereka berempat berjaga-jaga di depan, belakang, kiri, dan kanan, mereka bisa melindungi nyawa si bocah.


Mereka berempat memiliki semacam kekuatan yang tidak biasa.


"Ada yang salah, St. Germain?" Tanya Kamijou.”Aku muak melihat semua yang sudah kau lakukan. Kau adalah ancaman yang kuat dan juga banyak, jadi, dapatkah kita mengakhiri ini sekarang?”


"Ini sungguh merepotkan," potong Mugino sembari ia mengarahkan telapak tangannya ke arah St. Germain pirang. "Jadi pada dasarnya, kita hanya perlu mengurangi jumlah mereka tanpa membunuh mereka, iya kan? Yaaahh, teknologi Academy City cukuplah hebat; salah satu buktinya adalah tubuhku sendiri. Jadi jangan khawatir, mereka masih bisa hidup normal bahkan jika aku meledakkan satu atau tiga anggota tubuhnya!!”


Suatu sinar cemerlang melonjak keluar, tapi St. Germain pirang hanya tersenyum kecil.


Dia tidak mengelak dengan sekuat tenaga atau bahkan merunduk.


Dia hanya memutar tombak di tangannya.


Pancaran sinar itu pasti akan mengenainya, tapi ...


"Apa !?"


"Seaneh itukah?" tanya St. Germain dengan senyum.”Itu adalah serangan yang sudah kulihat.”


Dia menangkapnya dengan bagian ujung tombak Chambord. Dia melakukannya dengan begitu mudah layaknya seorang atlet bisbol yang memukul bola dengan pentungannya.


"Apa yang kau sebut tombak sebenarnya tidak lebih dari akar Chambord. Nama itu berasal dari laboratorium yang pernah kugunakan. Sederhananya, ini adalah alat yang kugunakan untuk mencari tema penelitianku. Layaknya akar tanaman, kau bisa menyebut benda ini sebagai alat untuk menyerap air dan nutrisi dari lingkungan sekitarnya. Tetapi di sisi lain, kau juga bisa mengibaratkannya sebagai akar rapuh yang tidak akan mempertahankan bentuknya jika tidak dilindungi.”


Dia menarik bola cahaya itu dengan memutar tombaknya. Ujungnya menjadi berwarna oranye karena kepanasan.


"Tapi sekali, bahkan akar yang rapuh sekalipun bisa menjadi kuat dengan melilit secara bersama-sama. Hal yang sama juga terjadi pada batang dan cabang pohon. Walaupun bagian tumbuhan tersebut rapuh dan selalu terkena udara luar, mereka akan menjadi kuat dengan melilit satu sama lain. Daya tahannya akan berkali-kali lipat menjadi lebih besar secara harfiah.”


"Akar?"


Masih di dalam Power Lifter-nya, Hamazura memikirkan tentang makna perkataan itu.


Aneri mencatat setiap istilah yang didengarnya dan menarik hubungan satu sama lain.


"Cabang dan batang juga? Kau ini sedang bicara apa sih?”


"Orang-orang mengatakan bahwa mengendalikan berlian, karbon, dan bahan organik lainnya tidak lebih dari suatu kiasan hidup.”


Bola cahaya itu berubah menjadi suatu bentuk yang mirip dengan angka 8 atau simbol “tak terhingga” yang biasa dijumpai pada pelajaran matematika.


Dan ujung tombak itu pun menunjuk langsung ke depan.


"Apakah kau tahu perbedaan antara tanaman dan hewan, wahai bocah gagal? Ada sedikit perbedaan mendasar yang dikenal banyak orang, tapi yang paling terkenal adalah perbedaan antara membran sel dan dinding sel. Sel-sel tumbuhan adalah sel multifungsi yang sanggup menyusun berbagai organ seperti kulit, kerangka, dan pembuluh darah, tetapi sel-sel tersebut sulit bergerak sesuai dengan kehendaknya sendiri. Itu adalah suatu takdir yang konyol, tetapi pada saat yang sama, ada hal menarik dibalik itu semua.”


Suatu sensasi merinding aneh merambat di tulang Kinuhata.


"Misalnya, bagaimana jika sel-sel tumbuhan dibagi menjadi fungsi-fungsi yang berbeda seperti kulit, kerangka, pembuluh darah, dan otot? Dan bagaimana jika mereka kemudian bersatu kembali untuk merangsang suatu optimasi? Maka, evolusi pohon macam apa yang akan terjadi? Jika kamu membandingkan membran sel hewan dan dinding sel tanaman, maka tentu saja dinding sel tanaman lebih kuat. Seekor binatang buas yang terbuat dari sel tanaman akan jauh lebih kuat daripada hewan biasanya, bukankah begitu?”


Mereka tidak menunggu lebih lama lagi.


Mugino Shizuri menembakkan Meltdowner andalannya ke St. Germain pirang lagi dan lagi.


Namun, tidak ada teriakan atau jeritan.


Rentetan cahaya itu ditangkap oleh St. Germain lantas ditampungnya sehingga dia memiliki bola-bola cahaya yang semakin membengkak.


Ada sesuatu yang melindunginya.


Terdengar luapan gemuruh seperti tekanan mesin uap. Lantai Dianoid bergetar bagai kerumunan serangga. Perlahan-lahan itu menunjukkan bentuk aslinya. Tingginya tidak sampai 2 meter, namun panjangnya menjapai 4 meter. Secara keseluruhan, sosoknya menyerupai kalajengking dengan ekor tebal yang melengkung di belakang.


Tapi bukannya kaki, bagian bawah makhluk itu terlilit oleh semacam akar. Bukannya mulut, terdapat suatu kelopak bunga putih dengan sedikit titik-titik merah. Dan bukannya dua capit raksasa, tangannya terbuat dari kantong bergigi yang biasa dijumpai pada tanaman kantong semar.


Itu adalah campuran dari tumbuhan dan hewan, tampak seperti belalang anggrek.


Pada tubuh bagian atas pria dengan jas berekor, tumbuh suatu ekor yang dilengkapi dengan penyengat layaknya kalajengking. Tak perlu dikatakan lagi, pria itu hanyalah salah satu dari sekian banyak St. Germain. Seakan-akan pria itu memiliki Power Lifter seperti milik Hamazura, namun bentuknya jauh lebih aneh.


Untuk sesaat, Hamazura berpikir bahwa Aneri mengalami error serius setelah melihat dan menganalisis semua pemandangan tak masuk akal di depannya.


Namun dalam kenyataannya, diperkirakan kekuatan otot makhluk itu sangatlah tinggi.


(Apa ...?)


Makhluk kalajengking setengah bunga bersinar oranye karena panas dari Meltdowner, namun sosoknya tetap utuh dan kaki yang tak terhitung jumlahnya menggores tanah. St. Germain pirang mendorong tombak Chambord ke depan, seolah-olah itu adalah tongkat dirigen musik.


"Aku sekarang akan mengungkapkan pada kalian tentang hukum trinitas diantara bahan organik, karbon, dan kehidupan.”


Makhluk kalajengking setengah bunga sepanjang empat meter maju ke depan layaknya peluru, dan St. Germain laki-laki membentangkan ekor tebalnya sehingga menghasilkan suara riuh sembari mengayunkan tubuhnya.


"Oh."


Rasa merinding segera merambat pada tubuh Hamazura.


Dia mempercayakan semuanya pada Aneri dan ia menyesuaikan cengkeramannya pada joystick.


"Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!!!!!"


Pertama, Meltdowner milik Mugino terus dilayangkan dari jarak jauh.


Tapi makhluk kalajengking setengah bunga tersebut mempertahankan momentum tubuhnya dan Hamazura menggunakan lengan baja untuk secara paksa menahan penjepit besar milik lawannya.


Dengan suara menggerinda yang mengerikan, Power Lifter meluncur mundur. Index dan Takitsubo berpindah ke samping agar terhindar dari mesin milik Hamazura.


Kinuhata Saiai membentengi dirinya dengan Offense Armor dan menyerang. Sementara Kamijou melemparkan tinju kanannya ke perut makhluk itu.


Akhirnya, pergerakan monster itu berhenti.


(Itu pasti bekerja.)


Kamijou mengalihkan fokus dari makhluk yang sudah berhenti bergerak dan menuju ke arah St. Germain.


Tapi itu adalah suatu kesalahan.


Bagian belakang makhluk kalanjengking setengah bunga terbelah dari depan ke belakang layaknya bunga tropis raksasa. Ekor dan punggung makhluk itu terbelah, dan kini bergerak-gerak dengan sendirinya. Dia sedang bertransformasi, setelah beberapa kali terbelah, sosok baru menampakkan wujudnya. Itu adalah sejenis buaya yang terbuat dari beberapa tumbuhan menjalar dan kantung bergerigi.


Makhluk itu membuka mulutnya, beberapa taring yang terlihat berantakan mendekati si pria jabrik yang tadinya menganggap bahwa musuhnya sudah tidak sanggup bergerak.


Kamijou bahkan tidak punya waktu untuk menjerit.


Buaya setengah tanaman ini lebih besar dari manusia. Dia langsung menyerang kepala Kamijou sebelum dia bisa memasang kuda-kuda.


"Super terima ini !!"


Untungnya, Kinuhata Saiai berada di dekatnya, sehingga ia meluncurkan pukulan kuat.


Buaya jadi-jadian itu terlempar jauh ke udara, dan St. Germain laki-laki yang tertanam di dalam tubuhnya ikut terhempas. Pada binatang apa pun, perut adalah titik terlemah karena minim perlindungan, dan sekarang pertahanannya terbuka.


Kinuhata mempersiapkan jotosan kedua, tapi si buaya kembali tengkurap sehingga bagian perutnya terlindungi.


Dia kembali bertransformasi, tubuhnya terbuka, terbuka, terbuka lagi. Ini mirip suatu film Amerika tentang robot yang bisa berubah bentuk*. [Iya, maksud saya Transformer.]


"Apa-apaan ini !?" teriak Kamijou.


Itu seperti boneka matryoshka*. Binatang itu tumbuh semakin kecil, dan sekarang menyerupai gurita menyeramkan yang melekat di langit-langit layaknya kelelawar. Dan tentakelnya terbuat dari tumbuhan yang menjalar. [Matryoshka (bahasa Rusia: матрёшка), adalah boneka khas Rusia yang dapat diisi dengan bentuk boneka-boneka yang lebih kecil. Nama "matryoshka" diambil dari nama "Matryona", yang merupakan nama dari seorang wanita yang bertubuh gemuk. Model-model boneka matryoshka dapat bervariasi sebagai contoh bentuk gadis petani dengan pakaian tradisional, karakter dongeng sampai para pemimpin Soviet. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]


St. Germain laki-laki muncul di bagian kepala gurita jadi-jadian ini, sehingga sosoknya sungguh mirip siluman manusia setengah gurita. Sembari menempel di langit-langit, dia kembali mengayunkan tombaknya.


Suatu denyut yang mengganggu berlarian melalui kepala ... tidak, bagi gurita, itu adalah tubuhnya. Apapun itu, bagian bulat tersebut tampak mengembung seperti balon, dan bunga-bunga kecil tumbuh di atasnya. Ini menghasilkan suara seperti botol minuman berkarbonasi yang dibuka.


Begitu Hamazura mencium bau yang perlahan turun dari atas, wajahnya menjadi pucat.


Aneri menganalisis komposisi gas itu kemudian mengungkapkan suatu hal yang mengerikan. Hamazura pun langsung meneriakkan hasil analisis Aneri.


"Itu adalah karbon monoksida !! Mugino, cepat bakar udaranya! Jika tidak, kita semua akan tamat!!”


Pancaran cahaya meluncur di beberapa arah sekaligus.


Gas mematikan itu biasanya dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna. Suatu reaksi oksidasi intens akan mengubahnya menjadi karbon dioksida yang relatif aman. Pada tampilan di windows Power Lifter milik Hamazura, Aneri mewarnai gas tersebut dengan warna merah. Dan kini warna merah itu sudah lenyap.


Tubuh si gurita telah layu seperti buah yang membusuk, sepertinya tugasnya telah selesai dilaksanakan dan dia pun mulai jatuh ke lantai. St. Germain laki-laki itu pasti sudah menghirup racunnya sendiri karena ia ambruk ke lantai dan tidak lagi bergerak.


Sementara perhatian tertuju ke si pria, St. Germain pirang memutar-mutar tombaknya beberapa kali.


Lantai transparan mulai bergelombang.


Seekor laba-laba hijau raksasa berlumut muncul, dan St. Germain laki-laki tenggelam ke punggungnya seolah olah itu adalah tempat tidur atau sofa. Seekor belalang terselimuti oleh kulit pohon layaknya baju besi, dan seorang St. Germain wanita memiliki dua lengan seperti sabit yang melekat pada bahunya dan menyeretnya bagai jubah. Seekor ular raksasa terbuat dari pilinan akar yang tak terhitung jumlahnya, dan St. Germain tua terdapat di bagian ekor, kemudian menggetarkannya bagaikan ular derik.


Ini semua adalah hewan jadi-jadian.


Mereka semua adalah makhluk yang mengkombinasikan kekuatannya dengan material tumbuhan. Setiap St. Germain memegang Chambord bagaikan suatu penyengat dan hawa kehancuran yang brutal terpancar dari senjata ini.


"Biarkan aku menjelaskan suatu fakta mendasar."


Si St. Germain pirang tersenyum sambil mengistirahatkan Chambord di atas bahunya.


Dia membentangkan tangannya secara horizontal dan itu seakan-akan merupakan suatu tanda yang menunjukkan bahwa dia adalah bosnya di sini.


"Jika kalian mau menghadapi 'aku', maka kalian harus mengatasi rangka setiap individu. Setelah semua bualan yang kalian buat, aku harap kalian memiliki semangat juang yang cukup untuk mengubah 'aku' menjadi limpahan.”


Pada saat yang sama, para St. Germain yang sudah berubah bentuk itu menyerang bersama-sama dengan hujanan tombak yang telah diciptakannya.



Part 2[edit]


Serangan St. Germain telah mencapai intensitas maksimum.


Itu seperti minyak penyulingan atau alkohol sebelum dipantik. Itu seperti pemotong berlian berbentuk laser yang menembakkan debu berlian buatan dengan kecepatan tinggi. Itu seperti ledakan debu yang disebabkan oleh sejumlah debu karbon yang tersebar.


Beberapa kali, mereka menembakkan hujan tombak. Beberapa kali, mereka mengubah bentuk hewannya yang terbuat dari material tumbuhan ke wujud baru. Dan beberapa kali mereka membungkus akar dan tanaman merambat di sekitar untuk membentuk pegas besar.


Si St. Germain pirang melompat dengan bebas di sekitar, memijak pilar atau langit-langit, dan Kamijou Touma hanya bisa memandanginya dari lantai, tetapi beberapa kali mereka berdua berbentrokan.


Chambord bergesekan dengan tangan kanan anak itu dan hancur sedikit demi sedikit. Lapisan luarnya terkelupas sedikit demi sedikit layaknya Baumkuchen*. [Baumkuchen atau "Kue Pohon" adalah kue khas Jerman yang populer pada saat perayaan penting dan pesta pernikahan. Bentuknya seperti menara dengan cincin tak rata berlapiskan coklat putih atau hitam. Kue ini berasal dari kota Salzwedel di Jerman dan diciptakan tahun 1820. Baumkuchen terbuat dari lapisan mentega yang disusun di atas putaran kayu di depan api. Perlu keahlian khusus untuk membangun 15 lapis jenis campuran bahan yang kemudian dipotong untuk membentuk cabang-cabang pohon. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]


Tatapan mata mereka saling berbentrokan layaknya dua orang samurai yang sedang berduel, dan mereka pun saling lempar perkataan.


"Cukup dengan semua trik murahanmu. Kau tidak lagi dapat memanipulasi orang lagi dan kau tidak lagi bisa mengelabui orang dengan semua kebohonganmu!!”


"Aku tidak begitu yakin bisa memenuhi tuntutanmu. Hal yang harus aku lakukan adalah memastikan semuanya bekerja sesuai rencana sampai akhir. Kehilangan Aihana Etsu bukanlah masalah besar bagiku.”


Si St. Germain pirang tersenyum tipis.


Kamijou akhirnya menyadari bahwa wanita itu benar-benar serius. Dia sudah mempersiapkan pertempuran ini dengan ribuan tipu muslihatnya.


"Aku pikir, kau tidak sepenuhnya menyadari situasi ini. Gerbang neraka sudah dibuka. Para Dewa Sihir sudah memasuki dunia nyata. Dan apakah kau tahu apa yang mereka kehendaki?”


“Para Dewa Sihir?”


“Tentu saja mereka mengincarmu.”


Dia dengan paksa mengayunkan tombaknya yang sudah setengah hancur.


Dengan suara dentangan keras, mereka berdua terpisahkan beberapa meter.


"Sama seperti pedang yang menginginkan kehadiran sang raja dan St Germain yang menginginkan Aihana Etsu, sudah lama para Dewa Sihir menginginkan pemuda yang bernama Kamijou Touma. Itulah sebabnya mereka iri pada Othinus yang bisa bergerak sesuka hatinya. Heh heh. Ya itu betul. Itulah sebabnya mereka iri padanya!! Bukan untuk menggunakan nama GREMLIN, dan bukan untuk memutar dunia agar menjadi seperti yang diharapkannya! Mereka hanya marah karena dia bisa memonopoli seseorang yang dikenal sebagai Kamijou Touma !! "


"..."


"Sebelum bertanya-tanya tentang kredibilitasku, kau pastinya bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu tentang ratusan miliaran neraka yang pernah kau alami, bukan? Yah, aku mengerti. Aku bukanlah penyihir ataupun Dewa Sihir. Tapi jangan berani-berani mengatakan bahwa eksistensi St. Germain adalah sesuatu yang lebih rendah dari Dewa Sihir. Tidak peduli seberapa sempurna dan bahagia dunia yang diciptakan oleh Dewa Sihir, aku akan selalu ada di dunia tersebut, terlepas dari seperti apa keadaan dunia tersebut. Aku adalah makhluk yang melampaui hubungan sebab-akibat dan fase."


Hamazura dengan Power Lifter-nya tanpa ampun menyerang si St. Germain pirang dari belakang.


Tapi sebelum tinju baja bisa mencapainya, laba-laba hijau bergegas meng-intersep dari samping, dan menambatkan Power Lifter itu ke lantai. Hamazura terjatuh dan terseret bagaikan pesawat terbang yang melakukan pendaratan darurat.


Kamijou membentak St. Germain yang berada di bawah bom gravitasi berbentuk donat.


"St Germain tidak pernah ada. Para Dewa Sihir yang kau sebut itu adalah fiksi!"


"Seakan-akan memang begitu adanya, ya kan?" dia tersenyum dengan licik, seolah-olah dia memberikan suatu petunjuk. "Tapi tentunya kau menyadari sesuatu, nak. Ketika mendiskusikan kebenaran dunia, sejarah 'nyata' yang diyakini kebenarannya oleh beribu-ribu orang, pada dasarnya hanyalah kisah tanpa dasar yang jelas. Apakah kau menemukan istilah Othinus ketika menyelidiki legenda tentang Odin? Bagaimana bisa seorang pria berotot terhubung dengan seorang gadis berusia 14 tahun!? "


"..."


"Kau bilang, kau mendengarnya dari seseorang atau melihatnya tertulis di suatu tempat. Tapi apakah yang dikatakan oleh sumber-sumber informasimu itu ketika membicarakan tentang perihal St. Germain? Dan bandingkan semua informasi itu dengan fakta yang kau lihat menggunakan mata-kepalamu sendiri. "


Sekali lagi, pemahaman Kamijou Touma terguncang.


Semua yang ada di dalam pemikirannya dikalahkan oleh bualan si wanita pirang.


"Aku adalah St Germain. Aku adalah kategori ketiga yang bisa dengan mudah memisahkan diri dari para penyihir biasa, dan aku pun menolak untuk bergabung dengan para Dewa Sihir itu. Aku hanya dapat dideskripsikan dengan istilah 'St. Germain ', dan tidak ada yang lain. Mengapa kau tidak dapat memahami fakta sederhana itu? "


Layaknya orang yang tidak bisa membedakan arah pada suatu daratan putih bersalju, seakan-akan pikiran Kamijou Touma dilemparkan ke dalam suatu dunia antah-berantah.


Dan dia pun berbicara.


"Apakah ada peranmu yang lain?"


Senyum si St. Germain pirang membeku, seperti retak yang memasuki permata.


"Menurutku, itu aneh" sembur Kamijou. "Jika semua yang kau inginkan hanyalah menipu Aihana Etsu agar melakukan sesuatu yang salah, maka tak ada gunanya menyegel seluruh Dianoid dan menjebak semua orang di dalamnya. Jika tujuanmu adalah meledakkanku dengan bom gravitasi, maka tak ada gunanya mengelabui Aihana Etsu. Dan apa artinya perisai emas yang tadi Aihana miliki? Jika kau ingin mengisi dia dengan kebencian dan mengadu domba Aihana dengan aku, akan lebih baik jika kau beri dia pistol atau pisau. Kau tidak perlu memberinya kuliah tentang persihiran, dan dia akan mematuhimu dengan mudah jika kau memberinya senjata. Tidak perduli dilihat dari segi manapun, tindakan-tindakanmu tidaklah masuk akal."


"..."


"Pada awalnya, sepertinya kau memiliki beberapa rencana induk besar, tetapi itu sama sekali bukanlah rencana. Itulah bentuk asli dari St. Germain. Yang kau rencanakan bukanlah berasal dari dendam yang sudah kau pendam sejak sepuluh tahun yang lalu, bukanlah strategi yang sudah kau susun sejak dua puluh tahun yang lalu, bukanlah tujuan yang sudah kau cari sejak tiga puluh tahun yang lalu....sama sekali bukan....itu hanyalah pemikiranmu selama lima detik yang diperindah dengan bualan-bualan yang keluar dari mulut busukmu. Tentu saja, kedustaan semacam itu tidak akan berlangsung lama. Ketika kau melaksanakannya, sedikit demi sedikit rencanamu yang cacat ini akan kacau. Kau tidak bisa mempertahankan sesuatu seperti ini dalam waktu yang lama."


Mustahil untuk membantah St. Germain dalam perkara kebajikan dan kejahatan.


Bahkan jika ia membunuh seseorang untuk uang, dia akan mengklaim telah membunuh pembunuh ayahnya ketika seseorang bertanya padanya tentang hal itu. Dan jika ada yang menuduhnya membuat suatu cerita menyedihkan palsu, ai bahkan akan menyuap polisi dan hakim yang akan mengadilinya. Pada akhirnya, tindakannya selalu benar.


"Ketika kau pertama kali menyerangku, kau mengklaim bahwa kau tidak punya waktu untuk berurusan denganku karena akan bertemu dengan Aihana, tapi itu tidak benar. Anda takut 103.000 grimoires milik Index dan pengalaman Othinus sebagai Dewa Sihir sepenuhnya. Kau takut menunjukkan dirimu secara sembrono di depan orang-orang yang tahu bagaimana dunia ini benar-benar bekerja! Jika kau bertemu dengan mereka saat itu juga, maka semua kebohonganmu akan terkuak dan semua tuduhan akan dilimpahkan padamu!! "


Seperti itulah cara dia menyempurnakan tipuannya.


Setelah menumpuk begitu banyak alasan dan pengikutsertaan terhadap dirinya, ia mengingkari semuanya dan dia membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan Dewa Sihir. Penyihir seeperti itulah dia.


"Kau bukan Dewa Sihir. Kau adalah St. Germain? Kategori ketiga? Kami tidak sedang mabuk di sini. Definisi baru tidak akan muncul secara serta-merta seperti itu! Kau hanyalah seorang penyihir normal. Kau sama seperti kebanyakan penyihir yang pernah kulihat sebelumnya. Tapi kau takut disebut seperti itu, bukankah begitu!? "


Itu membuat isu baru.


Suatu isu yang begitu mendasar.


"Apakah kau benar-benar St. Germain?"


"..."


"Atau jangan-jangan kau hanyalah orang yang menyadari bahawa memanfaatkan namanya adalah suatu hal yang begitu mudah dilakukan!?"


"Aku tak tahu apa yang sedang kau ucapkan."


St Germain menyeringai dengan lebar dan beberapa butir keringat muncul di dahinya yang kecil.


"Tak perlu dikatakan lagi, aku adalah seorang penjelajah waktu yang dikenal sebagai St. Germain. Orang yang telah melalui 1500 tahun untuk mencari seorang raja, kemudian melayaninya. Aku adalah orang yang tidak pernah memiliki cukup uang untuk bersaing dengan mereka, yaitu para bangsawan kotor. Jadi aku menggunakan kata-kataku untuk mempermudah semua masalah jika diperlukan dan bukankah itu merupakan cara yang efisien untuk menipu mereka yang memiliki kebiasaan boros dan mewah dan itu bukan salahku karena aku sudah melakukan yang terbaik, yang aku bisa untuk dunia ini dan aku akan berasumsi bahwa kau tidak ingin dunia ini dikuasai oleh para Dewa Sihir karena kau tahu secara langsung betapa mengerikan ancaman mereka dan kau tahu sesuatu yang harus dilakukan…tidak hanya satu, tapi beberapa Dewa Sihir sudah lepas ke dunia ini dan karena aku memiliki kekuatan seperti itu, maka aku harus melakukan sesuatu tentang hal itu dan kau adalah orang yang mereka cari dan tentu saja kau ada di dalam rencana mereka, jadi, menghancurkanmu sekarang akan memaksa mereka untuk memperbaiki rencananya dan sangat memalukan jika kita tidak dapat membicarakan ini semya, tetapi kau menolak untuk memahami penjelasanku dan itu semua salahmu karena tidak memahaminya, jadi, adalah kau adalah masalah sesungguhnya di sini, bukannya aku, jadi tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan – sama sekali tidak ada – dan sekarang aku mengerti akan hal itu, aku dapat bersantai dan- Defrag lengkap:. Laporan # 1006632901 "


Kamijou Touma perlahan menyipitkan matanya dan menggeleng.


Dia tahu bahwa semua aksi St. Germain ini hanyalah pikiran sekilas selama hanya lima detik, tapi itulah mengapa dia mengatakan hal tersebut.


"Kasihan kau."


Si St. Germain pirang menggigit sudut bibirnya dengan gigi taring, dan dia mengayunkan Chambord-nya secara horizontal meskipun benda itu sudah rusak.


Seratus tombak muncul dari dinding di belakangnya dan bergegas menuju Kamijou.


Namun, Hamazura menggunakan kaki Power Lifter untuk menendang laba-laba hijau dan mengarahkannya ke jalur tembak ratusan tombak tersebut. Si laba-laba terbang dan bertindak sebagai perisai. Dan dia pun ditusuk oleh ratusan tombak di udara. St. Germain yang tertanam di belakang laba-laba dengan panik memisahkan diri dan melarikan diri.


Meskipun bercampur dengan suara bising, Kamijou terus berbicara.


"Aku kasihan padamu bukan karena kau melakukan kekacauan yang tidak konsisten.”


"Kh."


“Kau mungkin dapat membuat moralitas dan menyelip di dalam kisah abad pertengahan hanya dalam lima detik, dan kau mungkin bisa terus menulis ulang dan menulis ulang sejarah sampai kau mendapat kisah yang sesuai dengan keinginanmu.” Kamijou terus menghujaminya dengan perkataan.”Tetapi bagaimanapun juga, kau masih tidak dapat melarikan diri darinya. Itu sebabnya aku merasa kasihan padamu. Bagaimanapun juga, setiap penyihir memiliki awal. Kau mulai dengan beberapa kenyataan yang tidak sanggup kau terima, sehingga kau bersumpah untuk membatalkan itu, kau pun mengukir nama sihir di dalam hatimu berdasarkan kenyataan itu, dan kemudian menjadi seorang penyihir, benar begitu? Oleh karena itu, pasti ada suatu kisah yang melatar-belakangi kau mengumbar semua kebohongan ini. Tidak peduli seberapa mudah kau dapat berbohong atau seberapa mudah kau mengelabuhi dunia ini, kau tidak dapat melarikan diri dari kenyataan pahit yang melatar-belakangi kau melakukan semua ini. Jadi, pada dasarnya kau tidak pernah mendapatkan suatu pengikutsertaan pun. Kau mungkin dapat menipu orang lain, tapi kau tidak pernah bisa menipu dirimu sendiri.”


"Apakah hanya itu yang ingin kau katakan?"


"Ya. Hanya itulah yang bisa kukatakan di sini.”


Selama ini, Kamijou hanya berbicara dari sudut pandang musuhnya.


"Sekarang giliranmu berbicara. Tapi jangan berbicara padaku. Bicaralah pada hatimu sendiri, dasar penipu murahan.”


Segera setelah itu, bentrokan mereka berlanjut lagi.



Part 3[edit]


"Putuskan sambungannya!"


Teriakan kemarahan terus mengisi kantor produksi TV Orbit di tingkat tengah Dianoid.


"Secara fisik, putuskan kabelnya jika itu harus dilakukan. Jaga terus penyiaran kita. Cepat !!”


Tak perlu dikatakan, ketakutan terbesar ketika suatu stasiun TV diambil alih bukanlah kehancuran peralatan siaran. Ketakutan terbesar adalah ketika peralatan siaran digunakan untuk tujuan jahat.


Suatu stasiun TV atau bagian dari media massa dapat menyebabkan kematian jika disalahgunakan. Itu hanyalah suatu kecelakaan, tetapi ketika suatu stasiun radio Amerika membacakan drama-bergaya-berita tentang kedatangan alien, itu akan menyebabkan kepanikan nasional bahkan penembakan. Jika kecelakaan akibat salah pemberitaan bisa separah itu, maka berapa banyaknya kekacauan yang akan terjadi ketika mereka dengan sengaja menyebarkan suatu informasi tidak akurat? Dalam kasus terburuk, itu akan didasarkan pada kasus-kasus sensitif macam diskriminasi.


Kurangnya produksi massal untuk editing berspesifikasi tinggi dan peralatan penyiaran menyebabkan biayanya mencapai ratusan juta yen, tapi kehidupan masyarakat adalah suatu hal yang jauh lebih berharga. Dan itu bukanlah hal yang baik. Jika mereka menggugat, reparasi dan penurunan citra perusahaan di mata publik akan semakin menyebabkan kerugian yang besar.


Mereka mendapati suatu penyusup dan kontainernya telah hilang, sehingga banyak hal yang tidak mungkin dilakukan pada hari itu.


Tetapi orang-orang di stasiun lebih takut jika ada seseorang yang menyebarkan informasi palsu. Itu akan menyebabkan kerusuhan besar-besaran di seluruh Academy City.


Mereka sungguh tidak pernah membayangkan bahwa hal tersebut akan menyebabkan "ini".


Suatu suara langkah kaki terdengar di belakang mereka. Hawa dingin mengikuti setelahnya.



Part 4[edit]


Jumlah St. Germain yang berada di bawah bom gravitasi berbentuk donat berkurang sedikit demi sedikit.


Secara mengejutkan, penyebab pembantaian ini bukanlah Mugino Shizuri atau Kinuhata Saiai. Dia adalah Stephanie. Sementara esper-esper kuat tersebut disibukkan dengan menahan hujanan tombak dan binatang setengah tanaman, Stephanie dengan bebas menembak para St. Germain dengan menggunakan PDW-nya.


PDW-nya tidak menggunakan peluru yang ditembakkan oleh mesiu. Sebaliknya, menggunakan gas terkompresi untuk meluncurkan peluru tiruan yang terbuat dari baja tungsten.


Dalam rentang dua puluh hingga tiga puluh meter, itu sudah cukup untuk melubangi tubuh manusia yang hanya terbuat dari daging dan darah, jadi masihlah suatu senjata yang mengerikan di ruangan ini. Namun, selalu ada cara lain untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh senjata tersebut. Bagaimanapun juga, targetnya adalah manusia-manusia tak berdosa.


Misalnya, dia bisa menembak melalui pakaian atau tumpukan kertas untuk mengurangi laju peluru.


Misalnya, dia bisa memantulkan peluru pada dinding atau langit-langit untuk mengurangi laju peluru.


Semburan cepat tembakan terdengar dan para St. Germain terkena pada sisi rahang atau pelipis. Itu mengguncang tengkorak mereka dengan paksa. Setelah kehilangan sedikit darah, mereka runtuh ke lantai karena gegar otak ringan.


"Cih. Para orang dewasa itu mencuri bagian terbaiknya!”


"Benda apa itu? Super point-blank* sniper? Jenis apa itu!?” [Point blank artinya senjata jarak dekat. Kamus Besar Oxford.]


St. Germain menggunakan berbagai variasi serangan dengan menggunakan karbon, seperti: tombak yang tak terhitung jumlahnya, armor dari hewan setengah tanaman, dan semprotan karbon monoksida. Namun bagian yang paling berbahaya adalah serangan simultan dari berbagai sudut yang berbeda dengan penundaan waktu. Setiap kali dikalahkan, pola serangan mereka akan berubah.


Kelompok yang menyerang Mugino dan Kinuhata masih relatif ringan.


Tentu saja Stephanie juga bisa bergerak dengan bebas di sekitar area.


Area yang paling berbahaya adalah di sekitar tempat anak berambut runcing yang bertarung dengan mengandalkan tangan kanan dan Hamazura Shiage yang mengenakan Power Lifter.


Tidak ada alasan untuk bertahan, semakin banyak St. Germain yang mereka lumpuhkan, maka ancaman juga semakin berkurang.


Dan apakah mereka dikendalikan atau tidak, Academy City # 4 pasti tidak akan mau nyawanya digunakan sebagai taruhan. Dia pun tidak bisa benar-benar menjamin nyawa para sandera.


Tapi sesuatu bergerak untuk menghalanginya ketika Mugino Shizuri mengulurkan telapak tangannya.


Itu bukanlah salah satu St. Germain atau binatang setengah tanaman yang tampak seperti kombinasi antara belalang sembah dan anggrek raksasa.


Hamazura lah yang menghalang-halangi jalur tembak Meltdowner milik Mugino.


"Merepotkan sekali!! Mungkin akan lebih baik jika aku menembaknya sekalian.”


"Tunggu, Mugino, tunggu," Takitsubo Rikou menyela dengan tenang.


"... !?"


Sesaat kemudian, Mugino merasakan gemetar aneh merambati tulang punggungnya.


Dia berbalik dengan kaget, tapi si gadis berjaket merah muda menatap kosong ke suatu arah.


(Apa itu? Apakah aku hampir kehilangan kendali?)


"Tunggu !! Ada apa dengan tatapan mata yang super kosong itu!? Apakah aku harus bekerja sendirian sedangkan kalian mendapatkan hasilnya sebagai suatu tim!? Itu super kejam !!”


Ketika Kinuhata Saiai membentaknya, Mugino kembali ke pertempurannya.


Keduanya secara paksa menghentikan pergerakan St. Germain dan Stephanie membuat mereka tak sadarkan diri dengan tembakan akurat.


Setan ini telah mengambil alih Dianoid, tetapi mereka memiliki cara untuk kembali menyesuaikan situasi.


"Aku super tidak tahu berapa banyak St. Germain yang ada di gedung ini, tapi menekan jumlah mereka adalah pilihan yang terbaik! Jadi mari kita melumpuhkan mereka semua!!”


"Jika kita dapat mengambil beberapa sampel dari mereka, dua gadis di belakang itu akan menganalisis sumber dari semua ini, kan? Kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri. Kita hanya harus menahan mereka di tempat dalam waktu yang cukup lama.”


Dua gadis di belakang yang dimaksudkan Mugino adalah Index dan Othinus.


Mereka berdua telah menarik salah satu dari St. Germain yang mengalami gegar otak dan memeriksa seluruh tubuh serta mengintip pupil matanya.


"Kata Touma, ada sesuatu hal konyol yang sanggup menggunakan kebalikan dari proses asli grimoires. Itu mereka gunakan untuk menginfeksi pikiran orang, tapi ...”


"Ya. Bagi mereka yang menggunakan nama seperti St. Germain, metodenya pasti tentang hal-hal yang dasar. Sepertinya, mereka menggunakan keadaan tidak sadarkan diri untuk menulis ulang kontennya. Dia memandang dirinya sebagai karbon pembentuk berlian, jadi dia harus memurnikan zat kotor untuk mendapatkan kristal yang stabil. Ini cukup logis.”


Ketika suatu kelompok berusaha untuk menghubungi yang mati, biasanya mereka tidak dapat mencakup siapa pun yang memiliki keraguan dalam hatinya. Sering kali, itu membuat orang-orang melihat teknik tersebut sebagai tipuan, tapi ada alasan logis untuk itu.


Dengan memakai "seragam" yang sama, makan makanan yang sama, dan mengatur lokasi pada tanggal dan jam yang sama…...terutama suatu ruang bawah tanah atau jauh di dalam hutan….mereka akan menciptakan dunia kecil yang terputus dari dunia luar. Membuat grup dengan nuansa yang unik adalah cara untuk membengkokan pengetahuan umum dalam masyarakat terisolasi kecil.


Jika seseorang menempatkan setetes tinta ke laut, itu akan diencerkan dengan cepat, namun akan ada suatu hasil yang begitu berbeda jika medianya adalah secangkir air.


Untuk menyelesaikan ritualnya, asosiasi penyihir memiliki teknik untuk mengisi diri dengan pikiran yang tepat secara langsung. Mereka memiliki cara untuk memutar keyakinan dan prinsip-prinsip mereka sendiri hanya dalam beberapa hari layaknya memutar dial untuk mencocokkan malaikat yang inign mereka panggil, fenomena yang ingin mereka hasilkan, waktu dan tanggal, atau posisi bintang-bintang.

[Yak, beberapa paragraf di atas dan bawah membahas mekanisme sihir. Jadi nikmati saja.]

Pada akhirnya, mereka sepenuhnya akan memurnikan diri mereka sendiri sehingga mereka bisa melakukan sinkronisasi dan pararelisasi.


Legenda St. Germain memiliki kecenderungan seperti itu sejak pertama kali terdengar.


Ia disebut sebagai eksistensi tak terduga dan tidak ada seorang pun tahu apa yang dia pikirkan, tapi dia telah muncul di beberapa pihak dan pertemuan kerajaan dan bangsawan yang terputus dari masyarakat normal. Dan di sana, ia menggunakan pemahamannya tentang harapan dan keinginannya yang merajalela untuk berbaur dengan mereka. Setelah melakukannya, ia akan memanfaatkan mereka secara menyeluruh. Keabadian, penjelajah waktu, pengetahuan kuno, dan harta karun, itu semua adalah hal yang sangat diterima dan digemari oleh orang-orang kuat yang memiliki banyak waktu luang.


Dan akhirnya, posisi mereka akan diputar-balikkan.


Bukannya mati dalam jati dirinya sendiri, bangsawan dan daya tarik bangsawan akan terlimpahkan pada individu yang bernama St. Germain. Para bangsawan dan orang-orang kaya itu akan menggunakan sejumlah besar uang untuk mendapatkan St. Germain, yaitu orang yang tahu segalanya dan orang yang akan menempatkan tekanan serius pada kota atau negara mereka. Pada saat itu, tidak ada peran utama, peran kecil, aktor, atau khalayak ramai. Layaknya sebongkah kristal, jika ada materi yang ditarik ke dalam inti kristal, maka materi itu tidak berbeda dengan inti kristal secara fundamental. St. Germain juga begitu, dengan kemampuannya berbaur dan melebur bersama-sama dengan orang-orang elit, maka dia pun berubah menjadi orang elit yang sesungguhnya. Itu adalah pertunjukan teater yang gila.


Dalam hal itu ...


"Dia bahkan tidak harus menggunakan racun dari grimoire asli. Ketika penyihir mulai merasa tidak sehat di tengah-tengah upacara besar, ada teknik 'penyadaran' yang digunakan untuk membatalkannya dengan cepat. Dia hanya menggunakan itu secara aktual.”


"Yah, itu hanyalah suatu sandiwara, sehingga maknanya tidak begitu dalam. Bagaimana kalau kita memulai dan menggunakan kelemahan ini untuk menghancurkan seluruh jaringan St. Germain? Karena dia senang membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan berlian, harusnya ada suatu controller atau pengaturan file terhadap 0,1% zat kotor yang bersembunyi di antara 99,9% karbon, itu akan terkuak jika kita mengguncangnya dengan cukup keras.”


Salah seorang diantara dua gadis ini adalah ahli dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan menjadi-Dewa-Sihir karena 103.000 grimoires yang tersimpan di kepalanya.


Yang satunya adalah ahli dalam segala hal yang berhubungan dengan setelah-menjadi-Dewa-Sihir karena dia pernah sekali menjadi Dewa Sihir yang sesungguhnya dan mengamati semua fenomena tersebut.


Jika mereka berkolaborasi, hampir tidak ada pengetahuan sihir yang tidak mereka pahami. Jika mereka menggunakan pengetahuannya secara optimal, mereka pasti bisa menciptakan semacam virus yang sanggup mengacaukan jaringan St. Germain, sehingga orang-orang yang dikendalikannya bisa terbebas.


Mugino, Kinuhata, dan Stephanie menahan sebagian besar dari mereka, sehingga mereka berdua bisa bekerja dengan tanpa gangguan.


"...?"


Tapi kemudian, Takitsubo Rikou tiba-tiba mengangkat kepalanya.


Tingkat terendah Dianoid adalah permukaan datar yang tertutup pilar dengan jarak seragam, tapi terdapat monitor layar datar pada pilar-pilar ini. Monitor-monitor itu mungkin dimaksudkan untuk memantau perangkat pengendali gaya gravitasi buatan, dan bukannya untuk dekoratif semata.


Apapun itu, monitor- monitor itu menampilkan beberapa informasi yang aneh.



Part 5[edit]


"Ini belum berakhir."


Si St. Germain pirang berbicara kepada Kamijou dengan mulut robek akibat senyuman yang lebar.


"Aku belum selesai, nak."


"Tidak, kau sudah di ambang batas. Kau bahkan tidak melihat musuhmu yang sebenarnya, sehingga kau tidak pernah memiliki kesempatan untuk menang!”


"Aku tidak berbicara tentang kemauan atau semangat juang. Jangan meremehkan St. Germain si kategori ketiga.”


Dia menjentikkan jarinya dan banyak monitor layar datar yang melekat pada pilar-pilar diaktifkan.


"Apakah kau sudah lupa? Aku sudah menyegel Dianoid dan orang-orang yang tak terhitung jumlahnya terperangkap di dalamnya.”


“Jangan bilang ..."


"Dan St. Germain mensinkronisasi, menginfeksi, dan menyebar. Selama aku bisa memberikan stimulus pengkristalan, aku dapat menyebar tanpa akhir, layaknya listrik yang merambat dalam larutan garam berkosentrasi tinggi. Dan bukankah kau tahu, di tingkat tengah Dianoid terdapat stasiun TV!!??”


“Jangan bilang... !!"


Suara aaliran listrik statis yang memekakkan telinga terdengar. Gambar demi gambar menari-nari di monitor layardatar, terlalu cepat untuk diikuti: pemandangan yang terputus-putus, suatu page tentang dokumen kuno, grafik yang aneh, gambar realistis tengkorak tiga dimensi, dll. Secara keseluruhan, itu tampak seperti semacam karya seni aneh yang ditayangkan dengan sepatah-patah.


Aneri mencoba menganalisis pola gambar itu, tapi dengan cepat ia menghasilkan error.


Hamazura mengerang sementara mengoperasikan Power Lifter di dekat Kamijou.


"Apa ... apa sih itu !? Jangan bilang rekaman aneh itu ditayangkan di seluruh lantai bangunan! Dan tolong jangan bilang bahwa semua orang yang melihatnya akan berubah menjadi St. Germain!”


"Mengapa kau berpikir bahwa efek tayangan tersebut adalah sesuatu yang berskala kecil?" jawab St. Germain sambil tertawa.”Tidakkah aku memberitahumu? Dianoid berisi seluruh stasiun TV."


Tanpa pikir panjang, Hamazura Shiage benar-benar lupa tentang pertempuran ekstrim di sekitarnya dan dia secara refleks melihat ke samping dan memalingkan pandangan dari monitor. Dia tidak bisa melihat pemandangan di luar karena tingkat terendah Dianoid terletak jauh di bawah tanah. Bahkan Aneri tidak bisa mengumpulkan banyak informasi dengan sensor Power Lifter. Hamazura hanya bisa membayangkan hamparan tak berujung kota di malam hari.


Apa yang sedang terjadi di Academy City?


Dunia macam apa yang akan mereka dapati setelah menginjakkan kaki di luar Dianoid yang tersegel?


Keadaan ini hampir membuat Hamazura patah semangat, tapi Kamijou Touma tetap menghadapi St. Germain pirang.


"Tidak. Apakah ini hanya salah satu permainan darimu?”


"..."


"Jika kau bisa memanfaatkan video online untuk menyinkronkan, memparalelkan, mengkristalkan, dan tumbuh tanpa akhir, kau akan membuat kristal tunggal dari populasi di seluruh dunia. Kau tidak akan menjadi kategori ketiga atau semacamnya; kau akan menjadi kristal yang dikenal sebagai umat manusia. Kau mungkin perlu untuk menanamkan informasi seperti itu di kepalamu, tapi itu bukanlah cerita yang lengkap. Harus ada semacam pemicu yang menentukan di akhir.”


Kamijou Touma terus berbicara.


"Hei, St. Germain. Mengapa kau terus berdusta? Aku sudah muak dengan senyummu yang lebar itu. Bagimu, berbohong adalah senjata dan sandiwara adalah perisai. Kau pasti punya alasan untuk itu. Bagaimana kalau aku menggali lebih dalam? Kau mulai panik, bukan? Apakah kami sudah benar-benar memojokkanmu? Itulah mengapa kau memutuskan bahwa kau perlu mengubah situasi ini dengan kata-kata dan menghancurkan ritme serangan kami.”


“…………………………………………………………………………………………………………………………”


Si St. Germain pirang tersenyum diam-diam.


Dan saat ia tersenyum, suatu keringat tak menyenangkan mengalir dari wajahnya. Namun pada senyuman yang tampak sempurna itu, seikat Vena* membengkak di pelipisnya. [Vena adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah dengan sedikit kandungan oksigen.]


"Oh, aku tahu."


Perkataan Kamijou tidak berhenti.


Pada saat ini, Kamijou menjadi lebih cerewet daripada seorang penjilat yang telah terus-menerus menipu petinggi dan bangsawan dengan kebohongan yang tak terhitung jumlahnya.


"Bagaimana dengan ini?"


Dia dengan perlahan mengulurkan tangannya dan menunjuk sesuatu tepat di depannya.


Sudah waktunya untuk jawaban yang menentukan.


"Pilnya. St. Germain selalu membawa pil.”


Tapi suatu suara datang secara langsung dari belakangnya.


Itu datang dari Kanou Shinka yang telah terabaikan dari fokus St. Germain sejak tadi.



Part 6[edit]


St. Germain bisa memanipulasi karbon.


Pada tingkatan mikro dan makro.


Dalam hal ini, pada dasarnya, kemampuan St. Germain bukanlah menanamkan informasi pada pikiran seseorang layaknya mental Out milik #5. Metodenya harus menggunakan karbon.


Misalnya, pil hitam dalam kotak pil.


Pada legenda, pernah diceritakan bahwa ia tidak pernah makan makanan normal dan hidup selama ratusan tahun. Satu-satunya rahasia kemampuan awet mudanya adalah mengonsumsi gandum, dan air.


Bagaimana jika pil itu sebenarnya adalah ribuan atau bahkan puluhan ribu mikroba tertentu yang dikeringkan?


Ketika dikeringkan, fungsi kehidupan mereka akan terhenti namun mereka bisa tetap hidup dalam fase seperti itu selama bertahun-tahun. Begitu mikroba-mikroba ini menyerap cairan seperti air liur, mereka akan melanjutkan fungsi kehidupannya dan menyerang tubuh manusia yang telah menelan mereka.


Keberadaan mikroba-mikroba itu dalam tubuh seperti 0,1% zat kotor di dalam 99,9% kristal murni.


Itu bukanlah inti atau terminal, itu benar-benar merupakan zat asing bagi tubuh. Dan seperti halnya berlian yang berwarna, itu berfungsi sebagai pengontrol guna mengatur ulang sifat-sifat seluruh kristal.


Ada beberapa contoh lain yang sangat pas untuk mendeskripsikan eksistensi mereka. Dia adalah Last Order dalam Misaka Network atau posisi Fremea Seivelun dalam proyek Agitate Halation.


Tetapi jika Germain St. berulang kali memperluas jaringannya dengan mengandalkan pil, maka seharusnya itu juga bisa membatasi mereka. Zat kotor dalam suatu berlian harus selalu kurang dari 0,1%. Jika kosentrasinya terlalu banyak, itu akan menyebabkan cacat pada struktur kristal.


Jadi, zat kotor tersebut adalah bagian yang paling tidak stabil dari struktur berlian.


Tak perduli apakah itu anggota baru, anggota lama, atau anggota yang telah bekerja begitu keras sehingga kehilangan kontrol, pengaturan file bekerja untuk menstabilkan error pada mereka.


Bagaimana jika mikroba seperti itu adalah pemicunya?


Bagaimana jika mikroba-mikroba tersebut bisa dibudidayakan di dalam media air dan gandum, kemudian mereka bisa menginfeksi tubuh manusia?


Dapatkah itu membentuk sosok St. Germain, yaitu orang yang terus menebarkan kebohongan selama ribuan tahun?


Apakah dia benar-benar ...



Part 7[edit]


Suatu lagu puji-pujian memenuhi ruangan.


Suara itu datang dari Index yang melipat tangannya sembari ia berlutut di samping salah seorang St. Germain yang roboh.


Kristalisasi St. Germain bekerja dengan memurnikan pikiran orang dan menggunakan teknik pengubah kepribadian, sehingga si korban bertindak layaknya orang yang kerasukan. Mantra dadakan ini akan menghapus teknik itu dan mengembalikan kepribadian asli si korban.


Ini bukanlah sihir. Ini adalah teknik yang lebih mendasar.


Itu tidak menggunakan kekuatan sihir, sehingga secara teknis itu bukanlah kemampuan supranatural.


Jadi, seakan-akan pemikiran St. Germain meluap keluar, tapi sejatinya itu hanya ilusi. Itu tidak lebih dari sekedar kata-kata yang diocehkan oleh St. Germain tak sadarkan diri. Seolah-olah ia mencoba untuk melawan sesuatu.


Dari luar, terlihat seperti dia sedang mengalami mimpi buruk tentang masa lalu yang pahit.


"... --- ......"


Bagi telinga manusia normal, mungkin terdengar seperti suara aliran listrik statis, tetapi bagi orang yang cukup memahami tentang sihir, jeritan itu cukup terdengar seperti suara yang asli. Layaknya jarum yang menggores piringan disk recorder.


Dan itu membawa beberapa rumus pada pikiran Index.


(Seperti inikah cara bekerjanya? Pil, rahasia kehidupan, dan identitas yang membuat seseorang menjadi St. Germain.)


Itu lebih dari hanya sekedar suara.


Jari St. Germain yang roboh berpindah sedikit. Jari telunjuknya bergerak, lantas menulis angka 0 dan 1. Ujung jarinya meluncur di lantai untuk menulis suatu pola. Index menambahkan informasi-informasi tersebut ke dalam pikirannya.


Namun, apa yang dia temukan adalah suatu kebenaran mengerikan.


(Semua ini tidak terjadi secara alami. Pil dan makhluk-makhluk ini diproduksi?)


Tapi diproduksi oleh siapa?


Mikroba tidak mungkin bisa keluar dari labu laboratorium yang digunakan untuk membudidayakan mereka.


Sama halnya dengan menggunakan roti untuk menumbuhkan jamur, seseorang telah menggunakan air dan gandum untuk mempersiapkan lingkungan optimal untuk menghasilkan mereka.


(Siapa yang bisa melakukannya?)


Index mulai mempersiapkan mentalnya dan menjulurkan tangannya.


Ada suatu pintu di sana.


Dia mencapai ke arah tabir kerahasiaan yang memasuki dunia masa lalu.


(Atau apakah mereka adalah bagian dari- ...)


"Jangan tertipu."


Suatu suara menyeret pikirannya kembali ke kenyataan.


Suara itu datang dari 15cm Othinus.


"Itu tidak pernah ada. Membuat kau berpikir 'bisa saja' atau 'mungkin saja' adalah keahlian penipu ini. Tampaknya tidak mungkin dihasilkan oleh suatu standart yang sederhana, tetapi jika saja itu benar, semuanya akan semakin menarik. St. Germain tidak menggunakan kredibilitas untuk membodohi orang. Dia menggunakan rasa ingin tahu. Jadi, sebenarnya tidak ada apa-apa di sana. Semua fakta itu hanyalah suatu kebohongan yang membosankan.”


Selain itu, tujuan mereka berdua bukanlah untuk melakukan penyelidikan secara penuh.


Layaknya perjalanan, ini adalah suatu persimpangan yang tak berarti. Mereka harus fokus pada tujuan semula dan tidak disesatkan oleh informasi-informasi sampingan.


Untuk mengatasi segalanya, mereka harus menghapus semuanya, termasuk tanda cakar yang tersembunyi di kedalaman terdalam.



Part 8[edit]


Punggung St. Germain pirang menjadi lurus secara tidak wajar dan mengejang. Seakan-akan dia telah terkena stun-gun.


Tidak terjadi apa-apa padanya dari sisi luar.


Itu berasal dari struktur internal kerangka St. Germain.


Seseorang sedang bekerja untuk menghapus mereka semua beserta jaringannya.


Dan mereka semua telah sepenuhnya terjebak dalam upaya tersebut.


Dia akan lenyap hanya dalam beberapa menit ke depan, begitupun dengan kawanan yang lain. Setiap St. Germain yang hidup dalam periode ini akan lenyap.


"Gah ... kah ... !!! ???"


Bahkan saat berteriak dan tenggorokannya tercekik, dia masih bisa menghasilkan tombak baru dari lantai dan meraih Chambord tersebut dengan satu tangan.


Dinding dan lantai di sekitar mengerang layaknya makhluk hidup. Kemudian beberapa makhluk hewan setengah tumbuhan muncul dari sana. Kali ini wujudnya adalah singa. Namun singa ini tidak memiliki rambut panjang bagai mahkota raja hutan, melainkan kelopak bunga.


Bahkan St. Germain pirang masih berusaha untuk mengenakan armor yang berwujud seperti monster jadi-jadian tersebut.


Dia sedang bersiap untuk membantai musuhnya.


Dan nama musuh itu adalah ...


“Kau membuat satu kesalahan," kata Kamijou Touma.


Dengan suara ledakan, tangan kanannya menghentikan armor singa yang hendak digunakan oleh si pirang.


Itu saja sudah cukup untuk menghancurkan armor itu.


"Bukannya kau tidak membuat bom gravitasi tepat waktu, bukannya kau gagal mengendalikan Aihana Etsu, bukannya kau tidak berhasil mengusir kami semua dari sini, dan bukannya kebohonganmu tidak cukup untuk menipu dirimu sendiri.”


Dia membuka kepalan tangannya dan menunjuk lurus ke depan.


Tapi ia tidak menunjuk pada St. Germain pirang.


Dia menunjuk orang yang mengendalikan semua St. Germain ini, yaitu orang yang benar-benar menjadi dalang dari semua insiden ini.


“Kau salah melawan musuh!! Musuh sejatimu adalah orang yang ada di sisimu sejak awal!!”


"Gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!"


St. Germain mencoba mengayunkan tombaknya sembari dia berbalik.


Dengan kata lain, tempat dimana musuhnya berdiri.


Itu adalah # 6, Aihana Etsu. Tidak, itu adalah satu-satunya manusia di bumi ini yang bernama Kanou Shinka. Dan dia telah melepaskan semua topengnya.


Sebelumnya, Kanou telah mengatakan bahwa ia sendiri akan mengambil kembali kebanggaan temannya yang telah dirusak dan diinjak-injak.


Jadi, sejak awal Kamijou Touma bukanlah tokoh utama dalam cerita ini. Ia berada di sini hanya untuk membenarkan Kanou Shinka yang hampir saja tersesat karena terbenam di dalam kegelapan masa lalu.


Sekarang semuanya sudah kembali dan Kanou pun sudah mendapatkan kepribadiannya sendiri. Dan kali ini, akan sangat sulit untuk mengalahkan bocah kecil ini, yaitu bocah yang sudah berani berdiri dengan kedua kakinya sendiri.


Suatu gemuruh ledakan terdengar.


Suara yang memekakkan telinga tersebut datang dari pukulan Kanou. Mungkin saja, ini adalah kali pertama dia berani menghantam seseorang.

NT Index v12 407.png

Pil yang merupakan sarana untuk pengaturan file telah lepas darinya dan fatal error menyebar, sehingga jaringan St. Germain berantakan. Meluapnya 0,1% zat kotor dalam 99,9% kristal berlian murni telah menyebabkan batu mulia tersebut menjadi buram, sangat buram, dan semakin pekat layaknya air gambut.



Epilog: Akhir dari Suatu Percepatan Semangat yang Ekstrim — CRAZY_1st_cry.[edit]


Masih berada di dalam Power Lifter, Hamazura Shiage berdiri pada suatu panggung sempit mirip catwalk dan berjalan melintasi dinding pada tingkat terendah Dianoid.


Dia punya alasan sederhana untuk melakukan ini.


"Oh, omong kosong. Donat aneh ini adalah masalah! Benda ini membuat macam suara mendecit yang aneh!! Apakah ini karena terlalu banyak tegangan!?”


Tapi Kinuhata Saiai dan Mugino Shizuri tampak riang dan tak ambil pusing sembari mereka menatapnya dari lantai dengan tangan ditempatkan di pinggul.


"Mesin cuci masih super baik-baik saja, bahkan ketika mengeluarkan bunyi-bunyi aneh."


"Ini bukan mesin cuci !! Ini adalah perangkat pengendali gaya gravitasi buatan! Jika benda ini meledak, seluruh planet akan menciut menjadi seukuran kepalan tangan !!”


"Siapa peduli. Jika itu masalahnya, aku hanya harus menguapkannya dengan menggunakan Meltdowner-ku.”


"Sekali lagi, itu bukan mesin cuci!! Belum lagi, benda ini mendukung bangunan 70 tingkat di atasnya! Jika berhenti bekerja secara tiba-tiba, seluruh bangunan bisa roboh seperti tumpukan kartu domino!!”


"Oh."


"Jadi, kita harus super pergi dari sini dengan cepat?"


Nada bicara Kinuhata sama sekali tidak menunjukkan keprihatinan seakan mirip seperti seorang yang hendak memborong mayones untuk persediaan beberapa bulan kedepan karena harga sedang turun.


"Eh? Tunggu. Bagaimana dengan aku?” tanya Hamazura.


"Ayolah, Hamazura. Donat yang ada di langit-langit itu sedang menyemprotkan uap ke mana-mana. Tidak bisakah kau super melakukan sesuatu padanya?”


"Contohnya!?"


"Bagaimana aku tahu? Cobalah meraih sendi pada selang itu.”


"Ini bukan mesin cuci yang bocor! Tidak ada cara untuk memperbaikinya !!”


Hamazura mengeluh, tapi ia tak punya ide lain tentang bagaimana cara untuk memperbaikinya. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengandalkan kebodohannya. Dia mencoba menekan uap aneh tersebut (tidak jelas apakah itu benar-benar uap air) dengan tangan raksasa Power Lifter, dan sepertinya itu terbukti ampuh.


Sementara itu, Mugino dan Kinuhata melarikan diri dengan cepat dari tingkat terendah. Mereka mulai dengan berjalan ke arah pintu yang mengarah ke tangga.


"Ini adalah hari yang mengerikan."


"Kamu tidak percaya takhayul bahwa orang memiliki keberuntungan pada jumlah yang tetap, kan? Ini semua bermuara pada probabilitas, sehingga kita tidak bisa melihat insiden ini sebagai tanda bahwa beberapa super keberuntungan akan segera datang secepatnya.”


"Tunggu! Tunggguuuuuuuuuuuuuu!!”


Hamazura berteriak ke arah dua gadis itu, tapi mereka sudah lenyap.


Ditinggalkan sendirian, ia kita terpaksa menjaga donat raksasa yang bisa meledak setiap saat.


Tetapi bahkan seandainya saja Tuhan telah meninggalkan Academy City, tampaknya beberapa sesuatu yang gaib - baik itu horoskop jenis darah atau teori investasi tentang data besar - masihlah mencari tempat itu.


Setelah semua kesialan menghampirinya, akhirnya sesuatu datang untuk menebusnya.


"Hamazura."


"Takitsubo-shan?"


"Mengapa wajahmu tertutup air mata dan ingus?"


Seorang gadis berjaket olahraga pink telah menaiki tangga untuk mencapai lantai catwalk dan dia berjalan di samping Power Lifter raksasa milik Hamazura.


"Pintu masuk di permukaan telah terbuka dan Anti-Skill harusnya segera datang tak lama lagi."


"Ya, pasti akan menjadi masalah serius jika keajaiban macam itu tidak kunjung datang !!"


"Hamazura, kau merengek bagaikan cewek?"


Takitsubo dengan lembut bergerak ke sampingnya.


Tidak ada alasan untuk melakukan itu.


Mereka berada di posisi di mana mereka bisa bersandar satu sama lain. Dan mereka tak memerlukan alasan untuk melakukan itu.


Atau setidaknya, itulah yang mereka inginkan.


Sesaat kemudian, Hamazura dengan terampil mengayunkan seluruh tubuhnya untuk menghindari si gadis berjaket olahraga pink sementara masih memegang persendian selang yang membentang dari benda berbentuk donat.


Gagal bersandar pada sesuatu, Takitsubo Rikou terjerembab dan ekspresinya menjadi benar-benar kosong.


Dia berbicara kepada pacarnya dengan suara lemah lembut.


"Hama- ...?"


"Tidak, tunggu. Aku tidak melakukannya. Aku tidak melakukan itu! Apa yang sedang terjadi di sini? Oh tunggu. Jangan bilang itu gara-gara Aneri!”


"Siapa Aneri?"


"Tunggu, Takitsubo. Bukankah berlebihan jika kau cemburu pada suatu program komputer!? Tunggu tunggu. Aku akan menjelaskannya. Aku akan menjelaskan semuanya dari awal! Dan Aneri, berhenti mencoba untuk mendorong Takitsubo !!”



Permukaan jalanan tampak seperti bendungan yang pecah.


Pintu masuk dan pintu keluar Dianoid telah terbuka karena kekalahan St. Germain, sehingga semua anak laki-laki dan gadis-gadis yang terjebak di dalam, dengan panik bergegas keluar.


"Wah, wah!"


Seorang anak kecil terseret di antara mereka.


Itu adalah Aihana Etsu. Bukan, itu adalah Kanou Shinka yang telah menggunakan nama itu.


Dia juga telah terbebaskan dari belnggu St. Germain dan telah kembali di permukaan jalanan. Dia pun tertelan oleh gelombang manusia.


Tapi kemudian suatu tangan meraihnya.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


Itu adalah Kamijou Touma.


Hal berikutnya yang mereka tahu, mereka telah terlempar pada suasana malam di Distrik 15.


Si pria berambut jabrik menoleh dan memberikan ekspresi kesal pada kerumunan manusia tersebut.


"Sepertinya bertemu dengan orang lain akan menjadi hal yang sulit pada situasi seperti ini. Mungkin aku harus menunggu sampai semuanya mereda, kemudian memanggil mereka.”


"Um ..."


"Oh, bom gravitasi? Hamazura dan si wanita bernama Stephanie akan mengurus itu. Semua orang terbebaskan dari Dianoid dan tim ahli dari Anti-Skill akan segera berada di sini untuk mengambil alih. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


"Tidak, eh, bukan itu."


"Oh, benar. Jika kau hendak pergi, aku sarankan agar melakukannya sekarang. Aku akan pergi dan berbicara pada Anti-Skill untuk menjelaskan situasinya, tapi bagaimana denganmu? Apakah lebih baik bagimu jika tidak berbicara dengan mereka?”


Kamijou melambaikan tangannya secara tidak acuh saat ia berbicara, tapi Kanou Shinka hanya menggeleng.


"Aku akan pergi juga. Aku telah menyebabkan banyak masalah bagi orang-orang, tapi aku tidak melakukan suatu hal pun yang pantas dirahasiakan.”


"Begitukah?" ekspresi Kamijou melunak sedikit. ”Tapi aku melihat bahwa kau tidak lagi berbicara dengan tegas seperti saat melawan St. Germain.”


"Itu karena tadi aku sedang emosi. Kepribadian seseorang tidak akan berubah semudah itu. "


"Ya, mungkin juga tidak."


Seseorang tumbuh dan berkembang, tetapi jiwa mereka mungkin tidak berubah dengan begitu mudah.


Kanou Shinka kemungkinan akan tetap sebagai pribadi yang cengeng, tapi ia telah mendapatkan kekuatan yang ia butuhkan untuk terus maju ke depan dan menahan air mata ketika kesedihan melanda hatinya.


Itu adalah perubahan kecil yang ia telah jalani.


Dia telah tumbuh dan berkembang namun ada bagian dari dirinya di masa lampau yang masih tersisa dan tidak berubah. Yaitu bagian yang begitu disukai oleh si gadis berambut pirang.


Itu adalah suatu pengalaman yang tak telupakan seumur hidupnya.


Lagipula ...


"Frenda pasti masih ada," desah Kanou Shinka.”Sekarang sudah terlalu terlambat dan tidak ada cara untuk menyelamatkannya, tapi aku berhasil menemukan kebenaran tentang dirinya. Dan aku puas dengan itu.”


Menerima kebenaran sulit tanpa lari dari kenyataan adalah tindakan para manusia yang kuat. Setidaknya, ia kini bukan lagi bocah yang hanya bisa gemetaran dan memejamkan mata ketika menghadapi suatu masalah.


"Hei."


Kedengarannya seperti, dia baru saja menyadari sesuatu kemudian dia menanyakan hal yang dari tadi sudah dia pikirkan.


"Kenapa kau menyerahkan benda itu kepadaku?"


"Hm?"


"Pada akhirnya. Mungkin akulah yang telah memberikan pukulan terakhir pada St. Germain, tapi ... Yaaahh ... seharusnya tidak seperti itu. Aku yakin bahwa kau sendiri bisa mengalahkan St. Germain. Jadi mengapa tidak kau lakukan?”


Kamijou tiba-tiba tersenyum seolah-olah pertanyaan itu menyerangnya dalam keadaan lengah.


Dan ia berkata untuk memberikan jawaban.


"Apa yang kamu bicarakan? Pahlawan di sini adalah kau, Kanou Shinka.”


Dia tidak membutuhkan kekuatan Level 5. Dia tidak perlu gelar Academy City # 6.


Dia tidak membutuhkan kekuatan perisai legendaris yang dikatakan milik Queen Anne, yaitu tokoh yang tidak pernah eksis.


Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Dan itu adalah peraturan yang simpel untuk menyelamatkan dunia.



2,3 juta orang tinggal di Academy City. Ada kegembiraan yang tak terhitung jumlahnya dan juga banyak duka terjadi di sana setiap hari. Tidak ada orang yang tinggal di sana bisa mengklaim hidup bahagia.


Jika seseorang memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya dengan lebih jelas, maka itu adalah suatu fakta yang tak terbantahkan.


Sesosok gadis kecil meringkuk dan menangis.


Dia mencucurkan air mata dan tersedu-sedu.


Suara isak tangisan itu datang dari suatu asrama pelajar umum di Academy City.


Air mata itu milik seorang gadis SMP. Lampu kamarnya mati, dia mengkerudungi kepalanya dengan selimut, dan ia gemetaran. Alasan untuk semua ini adalah jelas.


Ini adalah cerita yang berbeda dari kisah kali ini.


Setiap tiga hari, game kematian rahasia dimainkan.


Dia telah mengikuti aturan neraka yang diberikan oleh Game Master dan melewati game-game yang banyaknya tak terhingga. Kadang-kadang ia sendirian dan kadang-kadang ia bekerja sama dengan pemain lain, tapi tidak ada yang terjadi. Banyak teman-temannya telah hilang selama pertandingan sebelumnya dan pemain yang hilang dibuang saat pertandingan berikutnya dimulai.


Dia harus menghentikannya, tapi ia tidak punya cara untuk melakukannya.


Dia hanya bisa terus berjuang sesuai aturan Game Master dan meninggalkan permainan itu adalah suatu hal yang mustahil.


Waktu hampir habis.


Jika dia membiarkan permainan itu dimulai, teman-temannya akan kehilangan nyawa, dan dia benar-benar akan terisolasi sendirian, orang-orang lain dalam permainan tersebut akan bekerja memusuhi dia dan dia juga akan lenyap.


Tidak ada yang bisa dia lakukan.


Bahkan dengan kekuatan esper, kemampuan akademik, uang, hubungan keluarga, kekuatan fisik, kualifikasi, kepribadian, dan segala sesuatu yang dia miliki, dia tidak bisa menemukan cara untuk melarikan diri dari situasi ini.


Dan saat itulah bel pintunya berdering di waktu larut malam.


"...?"


Bahunya melompat kaget, tapi hanya itu yang terjadi.


Semenit, lima menit, dan kemudian sepuluh menit berlalu, tidak ada hal lain yang terjadi.


Dia perlahan-lahan berbalik menuju pintu depan dan akhirnya berdiri. Masih memegang selimut, ia mendekati pintu. Dia tidak melihat seorang pun melalui lubang intip, jadi dia membuka pintunya sedikit dan rantai pengaman masih di tempat.


Ketika ia juga tidak menemukan siapa pun, lantas dia memiringkan kepalanya dengan tatapan mata hampa.


Saat itulah ia melihat sesuatu di dalam kotak surat kabar yang melekat di pintu. Itu adalah amplop berukuran A4. Khawatir benda itu dipasangi dengan silet tajam, ia dengan hati-hati mengangkatnya dan membukanya, tapi kertas itu tidak rusak sama sekali dan masih mulus.


Saat ia melirik halaman demi halaman dari dokumen sulit tersebut, dia mengerutkan kening.


Itu adalah kumpulan informasi pribadi.


Ini juga berisi pesan yang mengatakan bahwa dia bisa mengubah identitasnya hanya dengan memotong dan menempel bagian kertas yang relevan.


Ketika ia menjungkir-balikan amplop tersebut dan mengguncangnya, ada kartu yang dilaminasi terjatuh. Dengan bibir gemetaran, dia mengucapkan nama yang tertera di sana.


"Academy City # 6? Aihana ... Etsu?”



Sementara itu, seorang anak berandalan memberikan laporan melalui ponselnya sembari dengan gesit menyelip melalui sensor keamanan dan melarikan diri ke jalanan di malam hari.


"Ahh, ahh! Aku mentransferkan 'Aihana Etsu' ke tempat lain, seperti yang kau inginkan. Jujur, ini adalah tindakan bodoh. Kau memiliki kekuatan # 6, jadi pastinya kau bisa menyelamatkan mereka secara langsung, bukannya membuat semua masalah ini. Apakah kau suka meremehkan orang lain seperti ini?”


"..."


"Bukankah ini semua tak ada artinya, kecuali mereka menyelesaikan masalahnya sendiri? Itulah yang kumaksud dengan “meremehkan orang lain”, dasar kau orang elit! Mungkin aku bukanlah orang yang pantas mengatakan ini karena aku juga menolong beberapa orang intelek bersama-sama dengan hobinya. Ini benar-benar bukan pekerjaan untuk Yokosuka the Organ Crusher*, kau tahu?” [Diterjemahkan Yokosuka si Penghancur Organ.]


"..."


"Oh, tutuplah mulutmu dan langsung pergilah ke neraka. Aku pikir, jika aku bekerja dengan seseorang di atas # 7, aku akan bisa menemukan cara untuk menghadapi si pria ber-nyali menyebalkan itu, tapi ternyata aku hanya melakukan pekerjaan fisik berupah ¥ 700/jam. Apa lagi setelah ini? Apakah Lie sedang menunggu untuk membantu mereka melarikan diri? Itu bisa saja terjadi jika pekerjaan para amatiran itu berantakan. Tunggu sebentar lagi, sialan! Aku bukanlah seorang pahlawan! Persetan dengan itu semua!! Meskipun begitu, aku masih saja akan melakukannya!!”


Si berandalan ini mendecakkan lidahnya dan mengakhiri panggilan telepon.


Dia dengan cepat berbalik ke arah asrama pelajar dan berbicara.


"Selamat datang di sisi gelap kota, 'Aihana Etsu' # ... oh, nomer berapa ya? Aku sudah kehilangan hitungan."



"Hm."


Pada suatu taman yang tak jauh dari Dianoid, Dewa Sihir yang berpenampilan bagai mumi menggunakan pedang emas sebagai tongkat dan berbicara dengan suara yang kering dan renta.


Dia adalah High Priest.


Jari-jemarinya yang bagaikan ranting pohon menjulur dari jubahnya yang terbuka dan tertutup dengan perlahan.


"Aku senang melihat St. Germain dikalahkan dengan aman. Dia seperti virus yang selalu muncul di suatu tempat, tidak peduli fase apa yang ditambahkan atau tak peduli seberapa berbahagia dunia yang diciptakan. Dan tak ada seorang pun yang membicarakan tentangnya, ini semua berkat kebencian yang dibuatnya sendiri. Kita bisa saja ikut campur secara langsung, tapi kita terlalu kuat untuk itu. Tujuan kita akan gagal jika ketika melawannya, kita tak sengaja menghancurkan dunia.”


"Ya, tapi itu semua sudah berakhir sekarang," bisik seorang wanita cantik dengan kulit coklat dan rambut perak.


Dia adalah Nephthys yang tubuhnya ditutupi oleh perban putih.


"Voodoo Zombie melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Aku yakin akan hal itu karena aku sudah berkeliling di sekitar tempat tersebut dan melihatnya. Mantranya telah disesuaikan pada tubuh kita, jadi sekarang kita dapat bergerak melintasi dunia tanpa menghancurkannya.”


"Nee hee hee. Membagi kekuatan seperti berdiri di depan cermin, ya?”


Niang-Niang tertawa bagaikan anak nakal. Dia mengenakan gaun China putih pendek dan ada semacam jimat aneh yang ditempelkan pada dahinya. Dia pun menyodok-nyodok dan memainkan jimat itu dengan jari telunjuknya.


"Dengan membagi kekuatan kita yang tak terbatas, kita bisa menyesuaikan diri dengan dunia ini pada level yang pas. ... Tapi dengan begini, mungkin ini adalah transformasi terburuk, kan? Seseorang bisa terus membunuh dan membunuh kita tanpa akhir. Layaknya suatu boneka matryoshka atau lapisan bawang, seseorang harus menjalani suatu pertempuran abadi jika ingin membunuh kita.”


"Tidak ada gunanya ragu-ragu. Kita sudah sepenuhnya menjadi Dewa Sihir, jadi tidaklah masuk akal jika ada seseorang yang bisa mengalahkan kita.”


"High Priest, inilah mengapa kau tidak bisa mencapai pencerahan. Sampai kapan kau bisa menyadarinya?”


Bagaimanapun juga, para Dewa Sihir memiliki teknik bergerak melintasi dunia, bahkan jika itu adalah jalur setipis es.


Itu artinya, mereka benar-benar akan memulainya.


Mereka tidak lagi memasrahkannya pada orang lain atau mengijinkan orang lain ikut campur.


Kali ini, sekelompok Dewa Sihir sungguhan sedang bergerak.


"Aku pikir, Kamijou Touma adalah prioritas utama," kata High Priest sambil menatap langit berbintang.” Aleister mungkin sudah memintanya dan bahkan Othinus telah ikut campur, tapi itu bukanlah ide buruk. Kita akan dengan mudah memperoleh apa yang kita butuhkan untuk tujuan kita.”


"Orang tua, pria pencemburu adalah yang terburuk, kau tahu? Inilah mengapa kau tidak mendapatkan seorang pun pengikut bahkan setelah kau mengalami mumifikasi.”


Tiba-tiba, suara listrik statis mengisi taman pada malam hari.


Suara itu datang dari speaker besar yang biasa digunakan untuk menunjukkan waktu pada siang hari, dan memberikan informasi tentang bencana pada keadaan darurat.


"Apakah kalian benar-benar berpikir bahwa aku akan membiarkan itu terjadi?" tanya suatu suara yang sudah familiar di telinga mereka.


"Oh, apakah itu kau, Aleister? Aku senang melihat kau masih hidup dan sehat. Maafkan aku tempo hari. Pada usiaku saat ini, harusnya aku tidak mudah naik pitam dan marah-marah.”


Dia berbicara seakan-akan sedang sekarat.


Bukannya mengikuti rencana berlebihan atau membuat persiapan yang matang, ia lebih memilih untuk bertindak dengan emosi.


Kata-kata High Priest menunjukkan bahwa dia adalah makhluk yang begitu gemar menyiksa orang yang lemah. Dan yang terburuk dari itu semua, "manusia yang tak tercerahkan" itu tidak melihat adanya satu pun keburukan dalam dirinya. Bahkan dia sendiri tidak akan sadar jika lukanya digosok oleh garam. Dia benar-benar percaya bahwa dia menunjukkan apresiasinya terhadap orang berkonfrontasi dengannya.


"Kemudian, kami telah berhasil memijakkan kaki di sini. Kami mungkin akan menyebabkan beberapa masalah di halaman belakang rumahmu dan jika kami sudah bertindak, mungkin tempat ini tidak lagi bisa disebut kota, tetapi cobalah untuk memaafkan kami. Bagaimanapun juga, kami adalah tipe orang berpikiran pendek.”


"Memijakkan kakimu? Maksudmu, mantra yang sanggup membagi kekuatan tak terbatas Dewa Sihir? Itu hanya mengelabui dunia dengan memberikan layer selamanya pada semua eksistensi manusia. Dan itu cukup kecil untuk mengisi seluruh dunia.”


"Kau memang pandai bersilat lidah. Apapun itu, ini mungkin adalah kesempatan yang sangat baik untukmu, Aleister. Kekuatan kami terbatas pada apa yang dapat dijelaskan di dunia ini, jadi ini adalah saat terbaik untuk membunuh kami.”


Meskipun begitu, tersirat suatu makna, yaitu : "namun, pada dasarnya itu adalah suatu hal yang mustahil bisa terjadi".


Entah kenapa, walaupun kekuatan mereka saat ini bisa didefiniskan oleh dunia, masihlah tidak ada seorang individu pun yang sanggup membunuhnya. Tak peduli apakah kekuatan Dewa Sihir dibagi oleh miliaryan atau triliunan kali, seorang penyihir biasa masihlah mustahil untuk bisa membunuh mereka.


Keberadaan Dewa Sihir adalah sesuatu yang berlapis-lapis layaknya boneka matryoshka atau bawang. Sejak awal, membunuh Dewa Sihir adalah sesuatu yang mustahil, tapi seseorang harus membunuh mereka triliunan atau kuadriliunan kali sebelum mereka lenyap.


Jadi pada dasarnya, tidak ada orang yang bisa menghentikan High Priest, Nephthys, ataupun Niang-Niang.


Mereka bisa merajalela di atas dunia dan siapa saja yang menentang mereka akan hancur di bawah kakinya.


Orang-orang hanya bisa meringkuk, gemetar ketakutan, dan menunggu terlahirnya suatu bencana. Dan jika saja ada seseorang yang secara kebetulan mendekati ranah Dewa Sihir , mereka akan hancur berkeping-keping karena "kesialannya".


Tak perlu dikatakan, Academy City kini tengah berada di dalam suatu bencana besar.


Namun ...


"Mungkin benar bahwa ini adalah waktu yang paling tepat untuk membunuh kalian."


"...?"


Begitu High Priest mengerutkan kening, ia merasa ada benda aneh yang menembus dada keringnya.


"Apa ... !?"


Dia terkejut, tapi dia bukanlah satu-satunya yang terkena. Nephthys dan Niang-Niang juga meringis sambil memegangi dada mereka.


"Jika kalian bisa memprediksi apa yang harus dilakukan dan apa yang harus terjadi, kalian dapat mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya. Untuk memasuki dunia ini, Dewa Sihir perlu menggunakan mantra umum pada tubuh mereka sendiri. ... Apakah kalian benar-benar berpikir bahwa aku tidak akan mengambil keuntungan dari fakta itu? Itu adalah kesempatan yang sempurna untuk menulis ulang struktur internal kalian dengan parameter baru yang aku inginkan.”


"..."


High Priest terdiam sejenak, tapi ...


"Tidak, seharusnya itu mustahil. Hasil yang kau dapat hanyalah kegagalan yang kau sebut dengan nama Aiwass. Bagaimana mungkin kau bisa mempersiapkan mantra yang tidak hanya mempengaruhi 1 Dewa Sihir, namun 3 Dewa Sihir sekaligus dengan cara yang serupa? Seharusnya, kau memerlukan informasi kemampuan kami secara khusus sebelum menyusun mantra tersebut.”


"Oh, ayolah," kata Aleister tanpa tanda- tanda emosi dalam suaranya.”Mengapa kalian berpikir aku menantang Dewa Sihir sendirian? Bahkan Othinus sudah dikalahkan. Tunggu. Aku akan menebaknya. Pasti kalian tidak berpikir bahwa 'manusia' seperti aku bisa naik pitam karena ada setitik noda sederhana dalam jurnalku.”


“Jangan ... bilang ..."


"Aku harus mengambil parameter penting secara paksa. Hanya itu. Aku tetap saja melakukannya meskipun beberapa orang menertawaiku.”


Itulah mengapa ia tidak peduli walaupun dia telah kalah.


Dia hanya perlu mencuri beberapa parameter Dewa Sihir melalui kontak langsung dan kemudian menghidupkannya kembali.


"Aku menguburnya di dalam tubuhmu," kata Aleister.


Suara dingin "manusia" itu menantang para Dewa Sihir.


"Apakah kalian ingin tahu apa yang kukubur di dalam tubuh kalian? Gemetarlah dalam ketakutan, wahai GREMLIN yang asli. Ada suatu makna besar dalam ketidaksabaranmu dan ketakutanmu. Dengar, aku tidak lagi melihat kalian sebagai ancaman. Kalian mungkin sudah lupa karena kalian telah hidup dalam waktu yang begitu lama, tapi sudah saatnya kalian mengingat kembali bagaimana rasanya kematian.”


"Tidak," bantah High Priest.”Itu masihlah mustahil terjadi. Pernyataanmu yang paling mendasar adalah salah. Kau mengklaim memiliki sesuatu yang cukup kuat untuk mengalahkan Dewa Sihir seperti kami dan kau mengaku telah menggunakan kesempatan ini untuk menyuntikkan itu ke dalam diri kami, tapi kau harus menukar mantra Zombie. Tak peduli apakah kau memiliki mantra tersebut ataukah tidak, kau harus mengalahkan Zombie, Dewa Sihir, untuk menggantikan mantra tersebut! Itu tidak berbeda dari mengunci gembok di dalam lemari besi. Argumen awalmu tidaklah kuat!!”


"Benar."


Sesuatu suara berat bisa terdengar dan merobek angin.


Fluktuasi kebisingan yang terus-menerus menunjukkan bahwa benda itu berputar dengan lambat sembari terbang. Para Dewa Sihir secara refleks menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mereka melihat ada sesuatu yang jatuh dari langit malam.


Benda itu mendarat tepat di tengah-tengah mereka.


Itu adalah benda berbentuk silang yang terbuat dari balok baja yang saling berpotongan.


Benda itu dibungkus dengan kawat berduri dan menyerupai simbol mawar ajaib.


Dengan raungan yang memekakkan telinga dan awan berdebu, salib itu menusuk ke dalam tanah dan ada sesuatu yang melekat padanya.


Sesosok manusia terpaku pada salib dengan paku baja tungsten yang tak terhitung jumlahnya dan kawat berduri menjeratnya dengan begitu erat.


"Zom ... bie?" gumam High Priest saat melihat gadis yang sekujur tubuhnya ditutupi jahitan.


"Aku lebih suka tidak menggunakan bahasa yang janggal seperti itu," kata Aleister.


Pria itu seharusnya adalah makhluk yang sangat dingin dan tidak berperasaan, namun kata-katanya mengandung suatu makna.


"Tapi......Mungkinkah.......Kalian menganggapku orang bodoh?"



"..."


Dari kejauhan, golden retriever menyipitkan matanya.


Dengan begini, tugasnya selesai. catapult injeksi elektromagnetik yang begitu tinggi terlipat.


Ada suatu lengan logam kecil yang membantu dia menghisap cerutu. Dan sembari melakukan itu, suatu memori yang ramah memasuki pikirannya.


Ini adalah memori tentang orang-orang original dari masa lalu, yaitu orang-orang yang tidak lagi bersama dengannya.


Dia tidak punya dendam yang nyata terhadap siapa pun dan ia tidak memiliki permusuhan terhadap sihir.


Dia hanya menjalani hidupnya yang sudah ditakdirkan seperti ini.


Tergantung bagaimana dia menggunakan memori yang tersisa di dalam otaknya.


"Sekarang. Aku kira, aku harus memulai.”


Asap manis terhembus dari mulut anjing sambil mendesah.


Deklarasi perang sudah dinyatakan.


Itu berarti sudah waktunya untuk berperang. Konflik sesungguhnya antara ilmu pengetahuan dan sihir tidak dapat terhindarkan.


"Aku harus memulai ketika mereka berhenti, bahkan jika itu berarti harus mengandalkan hukum asing yang begitu mereka benci. Aku bisa membanggakan diriku, karena itu adalah suatu hal yang menentang aturan umum. Dan itulah makna Kihara yang sebenarnya”


Dia hanya terfokus untuk menjadi Kihara yang seutuhnya.


Mereka tidak mampu melanjutkan upaya mereka, tetapi ia akan memastikan bahwa apa yang mereka sudah upayakan bukanlah sia-sia belaka.



"Oh?"


Dalam Katedral St. George, Archbishop Laura Stuart, dia adalah seorang wanita dengan rambut pirang panjang yang dilipat. Panjang rambutnya adalah 2,5 kali tinggi badannya. Dia berbicara tanpa emosi yang jelas dalam suaranya.


"Jadi dia bahkan tidak mencoba untuk menyembunyikannya lagi dariku. Aku pikir, dia sedang mengejekku.”


Beberapa potong benda terletak di papan.


Benda-benda itu mewakili Academy City dan para Dewa Sihir yang mungkin akan menentang kota.


Gereja Anglikan terkenal karena pertempurannya melawan penyihir, tetapi ini pastinya bukanlah lawan yang enteng bagi mereka.


(Biasanya, aku akan menunggu sampai mereka saling menjatuhkan dan kemudian aku akan bergerak, tapi itu tidak akan berarti jika aku tidak dapat sepenuhnya mengontrol tindakan kedua belah pihak.)


Dia mengetuk jari telunjuknya di papan sambil berpikir.


Namun, ia tidak khawatir terhadap musuh yang sudah dia lihat.


Yang paling menakutkan adalah mereka yang perannya belum ditentukan.


Mereka adalah kekuatan yang bisa melakukan apa saja.


"Kemudian ..."


Dengan suara “klak” yang tenang, dia menempatkan potongan benda baru di tepi papan. Potongan-potongan lainnya disusun menurut semacam sistem. Mereka berbahaya, tapi dia masih bisa memprediksi apa yang akan mereka lakukan. Potongan baru ini, ditempatkan pada posisi yang jauh dari yang lainnya, namun tidak ada yang bisa mengabaikannya.


Potongan ini bukanlah milik Academy City, Dewa Sihir, atau Gereja Anglikan.


Suatu nama anak laki-laki tertentu masuk ke pikiran Laura sembari dia memain-mainkan potongan tersebut, dengan menggunakan jarinya.


"”Ini” mungkin menentukan apa yang akan terjadi."


Pertempuran berikutnya mulai.


Beberapa orang mengaku begitu memahami situasi ini, tetapi apakah mereka benar-benar melihat segala sesuatu yang ada di papan?


Tak ada yang yakin, sedangkan nasib begitu banyak jiwa di dunia ini sedang dipertaruhkan.



Kata Penutup[edit]


Jika kalian membeli setiap satu volume per satu, selamat datang kembali. Jika kalian membeli semuanya sekaligus, selamat datang.


Ini adalah Kamachi Kazuma.


Tema kali ini adalah St. Germain!! Dia cukup terkenal dalam dunia persihiran, tapi aku selama ini belum pernah menyinggungnya karena jaraknya dari pemimpin asosiasi sihir barat modern seperti Mathers dan Crowley. Dan karena penelitian selama ini hanya akan memberikan informasi tentang betapa misteriusnya penyihir satu ini. Dia pun dikenal sebagai sesosok penipu yang ulung.



Tapi aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencampur sisi murni dan tidak murni dari dirinya dalam seri ini. Dan seperti itulah New Testament Vol 12 lahir.


Tema kali ini adalah dusta, sandiwara, teater, dan peran. Apapun itu, aku pikir ini merupakan faktor yang tidak dapat dihindari dalam okultisme. Tidak begitu banyak bahasan dalam perilah agama atau mitologi murni, tapi pastilah banyak hal tentang ritual sihir yang diselenggarakan oleh kaum intelektual yang berasal dari masyarakat kelas tinggi.


Untuk menonjolkan tema kali ini, aku juga menambahkan pembohong di sisi sekutu. Dia sepenuhnya mengandalkan dustanya, tetapi karena ia sanggup mengatasi kenyataan pahit, ia akhirnya membuang topengnya, berdiri di atas kedua kakinya sendiri, dan mengumumkan namanya sendiri. Dan dengan kebenaran tersebut, ia mengalahkan St. Germain yang merupakan pusat dari semua kebohongan. Seperti itulah cerita yang ingin kusampaikan.


Manusia memiliki berbagai alasan untuk berbohong.


St. Germain melakukannya, Kanou Shinka melakukannya, dan bahkan Frenda melakukannya di masa lalu, perihal penampilannya.


Setiap kebohongan dan sandiwara memiliki alasan tersendiri. Contohnya adalah kebohongan Frenda terhadap Kanou Shinka. Jika kau terfokus pada mengapa Frenda melakukannya, bukannya kata-kata Frenda, kau mungkin akan menyadari bahwa Frenda sebenarnya hanya bersandiwara.


Aku sengaja membuat akhir yang menggantung tentang St. Germain, dan bukannya memberikan akhir yang jelas. Tapi aku sungguh memiliki jawaban yang pasti sebagai penulis. Apakah dia (?) adalah seorang penyihir yang langka dan unik ataukah dia hanya artis penipu murahan? Pastikan kau memikirkannya dengan serius. Dan juga, proyek Agitate Halation pada New Testament Vol 7 mungkin terlihat tanpa belas kasih pada pandanganan pertama. Tetapi kau juga bisa melihat kisah ini sebagai jawaban atas efek apa yang akan terjadi jika proyek tersebut berhasil, namun tentu saja, Yakumi Hisako membuatnya lepas kendali.


Sebagai percobaan untuk cerita ini, aku membuat Kamijou Touma menjadi peran pembantu.


Itu sebabnya ia dikalahkan oleh Hamazura Shiage dan itulah mengapa ia membiarkan Kanou Shinka melancarkan pukulan terakhir.


Tampaknya ini adalah berita buruk bagi dirinya, tapi aku pikir perkataannya : "Apa yang kau bicarakan? Pahlawan di sini adalah dirimu" adalah bukti bahwa Kamijou sudah jauh berubah, dan dia tidak lagi ngotot untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Bagaimana menurut kalian?


Aku juga terfokus pada Frenda sehingga novel ini akan sesuai dengan New Testament Vol 1.


Aku tidak benar-benar menyembunyikannya, tapi ketika aku menciptakan karakter Frenda Seivelun di Old Testament Vol 15, aku meminta Haimura-san untuk membuatnya sebagai karakter yang sangat imut sehingga sepertinya tak ada orang yang mengira bahwa dia akan mati. ... Tapi nyatanya, itu membuatnya menjadi salah satu karakter yang paling populer bahkan diantara puluhan karakter lainnya dalam seri ini, jadi aku hanya bisa menganggap ini sebagai hasil kerja keras dari seorang ilustrator profesional.


Lantas aku menetapkan Frenda sebagai karakter yang tidak baik maupun tidak jahat. Itu mungkin adalah suatu posisi yang jarang ada di seri ini. Karena kita umumnya melihat dia bekerja di sisi gelap, dia mungkin tampak lebih cenderung di sisi jahat, tapi aku pikir dia memiliki sejumlah sisi lain yang cukup signifikan sehingga dia adalah tokoh yang netral. Jika kau mulai bertanya-tanya tentang : dimanakah tempat dia ingin pulang?? Sampai-sampai dia mengkhianati Mugino, Takitsubo, dan Kinuhata di Old Testament Vol 15, kau mungkin bisa membayangkan sisi Frenda yang tidak murni jahat.


Kemudian, aku belajar suatu fakta, yaitu betapa kuat sifat "seorang gadis cantik yang sudah mati". Memang Ada banyak pelajaran tentang membangun suatu karakter.


Berbicara tentang karakter, aku menggali lebih dalam karakter Kihara Noukan saat ini. Dia tampaknya adalah suatu eksistensi yang lebih tinggi dan berbeda dengan para Kihara lainnya, tapi prinsipnya adalah : "hanya terfokus untuk menjadi Kihara", dan itu juga merupakan ideologi utama dari Kihara Enshuu. Pada dasarnya, keinginan mereka untuk menjadi Kihara murni adalah hal-hal irasional dan fantasi yang melampaui formula ilmiah. Meskipun berada di inti dari para Kihara, ia juga telah menginjakkan satu kakinya di luar bidang ilmu pengetahuan murni. Dia berjalan melalui kegelapan bersama Aleister yang telah menguasai dan juga membenci sihir. Aku harap kau dapat berpikir tentang karakter Kihara Noukan berdasarkan beberapa informasi yang hanya sepotong-sepotong ini.


Aku memberikan terima kasih kepada ilustratorku Haimura-san dan editorku Miki-san, Onodera-san, dan Anana-san. Dengan adanya Dianoid, Power Lifter, para St. Germain, dan armor hewan setengah tanaman, aku yakin ada banyak elemen yang sulit di seri ini. Aku benar-benar bersyukur mereka berhasil melampaui ini semua.


Aku juga memberikan terima kasih kepada para pembaca. Dengan adanya berbagai Dewa Sihir, termasuk Othinus, apakah kau sudah mulai menyadari cara kerja GREMLIN? Susunannya telah selesai, sehingga pertempuran skala besar dengan Dewa Sihir akhirnya akan dimulai pada kesempatan berikutnya. Aku harap kau akan terus membaca.


Ini adalah waktu untuk menutup halaman sambil berdoa halaman buku berikutnya akan terbuka.


Dan aku membaringkan penaku untuk saat ini


Kini giliran Mikoto menjadi sorotan, bukan?


-Kamachi Kazuma