Volume 18 - Periode Pria Muda - Bab Kerajaan Asura

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Ilustrasi Novel[edit]

Bab 1 : Keberangkatan Menuju Kerajaan Asura[edit]

Bagian 1[edit]

Kami berdelapan.

Ariel, Luke, Sylphy, Elmore, Kleene.

Ghyslaine, Eris, dan aku bergabung sebagai pengawal putri.

Kami membawa sebuah kereta besar beroda dua yang ditarik lima ekor kuda.

Herannya, persiapan menuju Kerajaan Asura ini cukup simpel.

Mungkin itu karena kami harus menyamar, sehingga kami tidak membawa barang-barang yang mewah dan menyita perhatian.

Kami tidak ingin siapapun tahu bahwa kami pergi ke perbatasan kerajaan dengan menggunakan lingkaran sihir teleportasi.

Namun, meskipun kami sedang menyamar, ternyata banyak orang sedang berkumpul di gerbang masuk Kota Sihir Sharia.

Kepala Sekolah Akademi Sihir, bersama dengan anggota dewan pelajar berkumpul di sana.

Begitu pun dengan pimpinan Guild Sihir.

Kepala bengkel alat sihir.

Ada juga pimpinan berbagai organisasi dan bangsawan Tiga Serangkai Sihir.

Mereka semua mengantarkan kepergian Ariel.

Aku jadi bingung, apakah orang-orang ini tidak paham artinya menyamar.

Mereka semua melepas kepergian kami dengan cara yang mewah.

... Yah, mungkin inilah hasil dari keramahan Ariel pada mereka selama ini.

Berbeda dengan si bos, meskipun dia adalah salah satu makhluk terkuat di dunia ini, namun hampir tidak ada seorang pun yang memiliki koneksi dengannya.

Mungkin, inilah pentingnya koneksi.

Namun, setidaknya Orsted masih memiliki aku sebagai perantara untuk berurusan dengan orang-orang lainnya.

Bagian 2[edit]

Sekarang saatnya untuk keberangkatan.

Kami akan berteleport beserta kuda dan kereta sekaligus.

Pertama-tama, kami harus berteleportasi ke Kastil Langit, kemudian dari sana kami akan berteleportasi lagi menuju ke Pegunungan Rahang Atas Naga Merah. Baru dari sanalah kami akan melakukan perjalanan darat.

Perugius telah mengatur lingkaran sihir teleportasi agar kuda dan keretanya bisa ikut terbawa.

Sebenarnya, aku ingin agar Perugius memerintahkan Arumanfi untuk pergi ke Kerajaan Asura, kemudian menggambar kembali lingkaran-lingkaran sihir yang telah dirusak oleh bidaknya Hitogami.

Aku pun menyarankannya agar perjalanan ini lebih efektif, namun Perugius menolaknya karena ternyata di antara keduabelas Tsukkaima, termasuk dirinya, hanya dua orang yang bisa menggambar kembali lingkaran sihir teleportasi.

Yaitu Perugius sendiri, dan Sylvaril.

Lagipula, nampaknya lingkaran sihir teleportasi tidak bisa digambar di sembarang tempat.

Lingkaran sihir teleportasi di Kastil Langit dikendalikan langsung oleh Perugius, namun lingkaran sihir di tempat lainnya yang tersebar di dunia ini memerlukan syarat pengaktifan khusus.

Tentu saja, salah satu syaratnya adalah Mana.

Di masa lalu, para penyihir jenius menentukan beberapa tempat yang memiliki kosentrasi Mana tinggi, seperti dungeon, hutan, reruntuhan, dll. Kemudian, mereka menciptakan alat sihir semi-permanen yang bisa menyerap sejumlah Mana dari lingkungan di sekitarnya. Dengan begitu, lingkaran sihir teleportasi itu bisa berfungsi.

Dengan kata lain, lingkaran sihir teleportasi tidak bisa dibuat di tempat-tempat berkadar Mana rendah.

Bahkan, lingkaran sihir yang kugunakan untuk pergi ke Benua Begaritto berada jauh di delam hutan yang penuh dialiri Mana.

Namun, pada penelitian lebih lanjut, alat sihir semi-permanen itu bisa digantikan dengan kristal sihir yang bisa memancarkan Mana lebih konstan.

Penggunaan kristal sihir seperti itu sering disebut sebagai metode manual.

Sedangkan, area di sekitar Kerajaan Asura berkosentrasi Mana rendah. Itulah sebabnya mereka juga menggunakan metode manual untuk mengaktifkan lingkaran-lingkaran sihir tersebut.

Para bangsawan memasang kristal sihir pada kondisi darurat, kemudian melepasnya jika tidak diperlukan.

Hanya beberapa orang dalam yang tahu posisi-posisi kristal sihir itu secara mendetail.

Sayangnya, laporan terakhir mengatakan bahwa lingkaran sihir yang menggunakan baik kristal maupun alat semi-permanen, sama-sama telah dihancurkan.

Lokasi, peralatan, dan lingkaran sihir.

Jika ketiga faktor itu tidak dipenuhi, maka mengaktifkan lingkaran sihir teleport pada suatu tempat adalah hal yang mustahil.

Lalu, bagaimana cara Perugius pergi ke Istana Kerajaan Asura?

Sementara ini dia hanya mengatakan padaku, ’Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan itu.”

Sepertinya mereka ingin membuat kejutan saat tampil di depan umum nanti.

Bagian 3[edit]

"Luar biasa. Menakjubkan! Rudeus! Lihat! Dari sini kota tampak begitu kecil!"

Eris kegirangan saat melihat pemandangan dari Kastil Langit Chaos Breaker.

Dia segera melompat turun dari kudanya, kemudian berteriak kegirangan.

Aku tak menduga seorang wanita berumur 20 tahunan akan melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu di depan umum. Kami pun hanya bisa memasang senyum masam saat melihat tingkah Eris.

Tapi, aku ikutan senang saat melihat Eris begitu gembira.

Suasana hatiku langsung membaik saat melihat reaksi Eris yang kekanak-kanakan itu.

Di sana ada Sylvaril yang telah menunggu di depan lingkaran sihir.

Meskipun wajahnya tertutup topeng, aku bisa merasakan kegembiraannya saat wanita itu melihat betapa senang ekspresi Eris.

"Kuharap Anda menikmati pemandangan dari Kastil Langit, Chaos Breaker."

"Ini keren sekali! Baru pertama kali aku melihat pemandangan seperti ini!"

Tampaknya Sylvaril semakin menyukai Eris.

Yahh, bagaimanapun juga kejujuran adalah cara berkomunikasi terbaik dengan siapapun.

“Benarkah? Kalau begitu, ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya adalah Tsukkaima pertama Perugius-sama, namaku Sylvaril Sang Hampa. Senang bisa berkenalan dengan Anda.”

"Aku Eris Greyrat!"

Eris sepertinya sudah gatal ingin masuk ke dalam kastil.

Dengan gembira, Sylvaril menunjukkan berbagai hal pada Eris, layaknya seorang pemandu wisata. Apakah dia benar-benar gembira? Atau hanya perasaanku saja? Sekali lagi, topeng itu membuatku kesulitan membaca ekspresi wajahnya.

Sembari melihat kedekatan mereka, kami pun mengikutinya.

Akhirnya, Sylvaril membawa kami ke ruang pertemuan.

Kami berencana menghadap Perugius sebelum keberangkatan.

"Ah, datang juga kalian."

Seperti biasa, Perugius duduk dengan angkuh pada singgahsananya sembari ditemani oleh Tsukkaima lainnya.

Kali ini kami hanya beramah-tamah.

Ariel pun maju, kemudian dia memberikan sambutan formal ... saat dia memperkenalkan Eris, si rambut merah maju selangkah.

"Siapa kau?"

Aku jadi merinding.

Aku membayangkan Eris yang tiba-tiba menjotos Perugius tanpa alasan yang jelas.

Meskipun Perugius sudah memberikan dukungannya pada kami, dia jelas-jelas tidak akan mengampuni siapapun yang membuat keributan di istananya ini.

Namun, saat aku mulai bertindak, Eris pun berlutut padanya.

"Senang bertemu dengan Anda. Namaku Eris Greyrat, dan aku sudah menjadi istri Rudeus Greyrat yang ketiga. Suatu kehormatan bisa berada di tempat semegah ini.”

Aku terkejut.

Apakah si rambut merah yang sedang berlutut itu benar-benar Eris yang selama ini kukenal?

"Aku adalah Raja Naga Armor Perugius Dola. Aku tahu beberapa hal tentangmu, Eris Greyrat. Kau sudah lama berlatih di Dataran Suci Pedang untuk menantang Orsted, dan kau pun mendapatkan julukan Mad Dog saat kecil dulu.”

"Sampai sekarang pun hamba belum dewasa ......."

"Oh."

Meskipun Eris coba berkata sopan, namun nada bicaranya terdengar begitu monoton.

Mungkin karena dia menghapal kalimat-kalimat itu sebelum datang kemari.

"Eris Greyrat. Kau sungguh sopan. Aku menyukainya."

Perugius terlihat senang.

"Kalau begitu, aku juga ingin meminta maaf atas apa yang telah dilakukan rekanku delapan tahun yang lalu.”

Eris mendongak dengan wajah yang tampak bingung.

"Itu bukan masalah."

"Begitukah? ...... Baiklah, baiklah."

Perugius tertawa, kemudian dia bertepuk tangan ringan.

Eris berdiri, kemudian dia berjalan menghampiriku dengan wajah yang tampak begitu puas.

Seolah-olah dia berkata, ”Lihatlah!! Jika aku mencoba, maka aku bisa melakukannya dengan baik!!”

Mungkin dia sudah banyak berlatih sebelumnya.

Yang penting, nampaknya Perugius cukup menyukai Eris.

Sikapnya bahkan berbeda saat berkomunikasi denganku.

Jika kau ingin mendapatkan teman yang baik, maka jadilah dirimu sendiri tanpa menyembunyikan apapun. Hmm, sepertinya pepatah itu ada benarnya.

"Baiklah… semuanya, silahkan ikuti aku."

Setelah sambutan berakhir, Sylvaril mengantarkan kami keluar dari ruangan pertemuan.

Lingkaran sihir teleportasi terletak pada tempat yang cukup tersembunyi di kastil ini. Kau harus melewati jalan memutar menuju dasar kastil, setelah melewati gerbang masuk.

Akhirnya, kami pun tiba pada sebuah aula kosong, dan di sana terlihat jelas ada suatu lingkaran sihir yang memancarkan cahaya redup.

Sylvaril menjelaskan beberapa hal mengenai aula ini, tapi aku mengabaikannya.

Lalu, kami pun menginjak lingkaran sihir tersebut.

Bagian 4[edit]

Lingkaran sihir itu menuju suatu reruntuhan, seperti yang pernah kudapati saat pergi ke Benua Begaritto.

Rerutuhan itu sekaligus berfungsi sebagai tempat pelindung untuk lingkaran sihir teleport di titik relay.

Jenisnya pun sama seperti yang berada di Benua Begaritto dan Kerajaan Ranoa.

Menurut Orsted, di masa lalu terdapat lebih banyak reruntuhan seperti ini, dan itulah yang digunakan oleh berbagai ras untuk berteleport lintas benua.

Semenjak perang berkecamuk, penggunaan lingkaran sihir teleport semakin dibatasi, bahkan dilarang.

Seorang suku naga tertentu membenci peraturan ini, sehingga dia menyembunyikan reruntuhan yang biasa dia gunakan secara pribadi, lalu melindunginya dengan semacam penghalang.

Tak peduli di mana pun kau berada, selalu saja ada seorang pria yang menantang dunia untuk kepentingannya sendiri.

Karena sekarang kami tertolong oleh keegoisan pria itu, maka aku tidak punya hak untuk menyalahkannya.

Reruntuhan itu berada di dalam hutan lebat.

Menurut peta, letaknya sedikit ke arah barat laut dari lembah Pegunungan Rahang Atas Naga Merah. Dan informasi pada peta itu benar adanya.

Namun, disitulah masalahnya.

Kami sudah sampai ke tempat reruntuhan melalui sihir teleportasi, namun kami tidak bisa memindahkan keretanya keluar. Lagian, anggota rombongan kami begitu banyak, kenapa tidak kupikirkan ini sejak awal…..?

Sementara aku masih tercengang keheranan, dua pelayan Ariel mulai membongkar kereta dengan hati-hati.

Mereka membongkar bagian-bagian kereta menjadi potongan yang lebih kecil, kemudian membawanya secara bergiliran keluar reruntuhan.

Secepat itu pula, mereka menyusun kembali potongan-potongan itu menjadi kereta yang utuh.

Setelah meletakkan kembali barang-barang bawaan ke dalam kereta, dan memasangkan kuda ke posisi semula, maka kami pun menuju ke jalan utama terdekat.

Dalam sekejap mata, para pelayan terlatih ini bisa membokar, kemudian memasang kembali kereta tuannya.

Saat mendekati jalan utama hari sudah mulai gelap, maka kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di sana.

"Whew ......"

Di sekitar api unggun, kami menyiapkan makanan.

Tidak perlu mengkhawatirkan kayu bakar, karena di sekitar sini banyak tersedia.

Maksudku, kami mendapatkannya dari beberapa monster yang menyerang kami di hutan.

Monster jenis pohon (Treant) bisa digunakan sebagai kayu bakar, dan juga beberapa ikat rumut liar.

Treant memang mudah dijumpai di mana pun kau berada.

Bahkan, keluarga kami memelihara Treant di rumah. Mungkin, mereka lah penguasa dunia selanjutnya.

Kalau sedang berkemah di alam terbuka seperti ini, biasanya aku hanya duduk di tanah, namun karena kelompok kami bersama seorang putri, maka para pengawalnya sudah menyediakan karpet yang nyaman.

Untung saja ada Ariel….. apakah aku memang harus memujinya?

Sylphy dan kedua pelayan Ariel bertugas memasak.

Aku menawarkan bantuan, tetapi mereka menolaknya dengan sopan.

Yah, toh Sylphy memang jago masak, jadi bantuanku hanya akan mengganggunya.

Untuk jaga-jaga saja, aku pun memberitahu mereka bahwa sihir tanahku bisa menciptakan meja makan atau alat-alat masak lainnya.

Saat mereka menyiapkan memasak, aku mulai bosan karena tidak mengerjakan apapun.

Aku ingin berpatroli di sekitar untuk berjaga-jaga jikalau ada bahaya yang mendekat, namun Ghyslaine dan Eris sudah melakukannya.

Praktis, aku nganggur.

Semua pekerjaan sudah ada yang menangani.

Baru kali ini tenagaku tidak dibutuhkan dalam suatu perjalanan.

Biasanya sih, sihirku selalu diperlukan oleh siapapun yang berpetualang bersamaku.

Keahlianku dalam memanipulasi sihir biasanya berguna bagi orang ataupun kelompok lain.

Misalnya, memurnikan air, menciptakan peralatan makan, atau mungkin membuat ruangan untuk bermalam.

Namun, para pengawal Ariel juga bisa menggunakan sihir, jadi hal-hal seperti itu dapat mereka tangani.

Yahh, lagipula tugas utamaku bukanlah mendampingi Ariel.

Tujuanku jelas…. yaitu menemukan bidak-bidak Hitogami, kemudian mengalahkannya.

Untuk sementara ini, para tersangkanya adalah: Luke, Darius, dan seorang lagi yang masih belum jelas.

Kemungkinan besar, dia adalah Kaisar Utara atau Dewa Air.

Aku telah mendengar cara untuk menghadapi mereka dari Orsted.

Aku sudah mensimulasikan berkali-kali dalam pikiranku, bagaimana cara mengalahkan mereka. Namun, sebelum dicoba dalam pertarungan yang sesungguhnya, semua itu hanyalah teori.

"......Yahh, pokoknya begitu lah….."

Aku melihat Luke sambil bergumam.

Dia adalah pengawal utama Ariel yang selalu siap mengorbankan nyawanya.

Dia tidak pernah jauh dari Ariel.

...... jika Luke benar-benar bidaknya Hitogami….

….dan jika aku memutuskan untuk tidak membunuhnya…..

…..aku penasaran, apakah yang akan Orsted lakukan padanya….

Luke penting bagi Ariel.

Kalau Orsted memerlukan bantuan dari Kerajaan Asura setelah Ariel menjadi raja, maka gawat jadinya kalau di antara orang-orangnya Ariel masih terselip bidaknya Hitogami.

Ah, tidak juga…. toh, bukan sekarang Orsted menginginkan bantuan dari Kerajaan Asura. Mungkin beberapa ratus tahun lagi dia baru membutuhkannya.

Artinya, saat itu kemungkinan besar Luke sudah meninggal.

Jadi, sepertinya itu bukan masalah.

Tapi, meskipun Ariel naik tahta, semua itu tidak ada gunanya jika dia dibunuh tak lama berselang.

Naik tahtanya Ariel akan menjadi pembeda dalam upaya kami mengalahkan Hitogami.

Sebaliknya, naik tahtanya Pangeran Pertama akan berdampak sebaliknya.

Ya ...... Untuk jaga-jaga, aku akan membahasnya bersama Orsted lain waktu.

Tapi, aku pun tidak tahu apakah dia akan bersedia memberitahuku.

Karena, Orsted tidak pernah menceritakan dengan rinci apa yang akan terjadi 100 tahun kemudian.

Aku pernah menanyakan padanya, apakah dunia benar-benar akan berakhir jika Hitogami mati, namun dia hanya menjawab, ‘mungkin saja’.

Seolah-oleh, Orsted tidak mempedulikan apapun yang akan terjadi pada dunia ini, asalkan Hitogami bisa terbunuh.

Pada dasarnya, aku pun begitu. Aku hanya mempedulikan semua hal yang terjadi pada keluargaku saat ini. Misalnya aku menua, kemudian meninggal, aku sudah tidak mempedulikan apapun yang akan terjadi pada dunia saat itu.

Tujuanku saat ini hanyalah melindungi keluargaku semaksimal mungkin.

Perkara masa depan, kuserahkan sepenuhnya pada generasi mendatang.

Tapi, apakah keturunanku tetap akan membantu Orsted meskipun sudah mengetahui bahwa dunia akan hancur jikalau Hitogami mati?

Atau mungkin, mereka akan membantunya tanpa mengetahui hal itu?

Kalau memang benar begitu, itu penipuan namanya, dan mereka pasti akan menyesal.

Untuk jaga-jaga saja, mungkin lebih baik aku mewasiatkan beberapa pesan untuk keturunanku kelak.

"Rudi, makanannya sudah siap. Ghyslaine dan Eris juga, ayo makan!"

Pikiranku terganggu setelah mendengar kata-kata itu.

Yahh, sepulang dari Kerajaan Asura, aku harus menulisnya pada buku harianku.

Biasanya aku akan melupakan hal-hal penting seperti itu.

Makan malamnya sangat lezat.

Sylphy memang jago masak.

Dua pengawal Ariel itu pun tak kalah pintar memasak.

Mereka bisa memasak suatu hidangan yang lezat dari bahan makanan seadanya.

Kalau ada waktu luang, aku ingin berguru pada mereka.

Bagian 5[edit]

Malamnya.

Hanya Ariel yang beristirahat penuh di dalam tenda, sementara yang lainnya berjaga-jaga secara bergiliran.

Setiap giliran, dua orang jaga.

Karena para pengawal berjumlah tujuh orang, maka ada 3 kali giliran jaga.

Mungkin, yang terkuat di kelompok ini adalah aku, Sylphy, Eris, dan Ghyslaine. Semuanya sanggup membunuh monster sendirian.

"Aku akan berpatroli di sekeliling."

Hari pertama adalah giliranku.

Setelah pamit, aku pun berjalan menjauh dari api unggun.

Menuju hutan yang lebat di depan.

Dalam hutan segelap ini, satu-satunya sumber penerangan adalah obor yang kubawa.

Namun, aku tahu bahwa tidak banyak monster di area ini. Paling-paling hanya Treant.

Tetapi, tidak ada salahnya waspada.

"......"

Kemudian, setelah berjalan sekitar lima menit.

Dan cukup jauh dari api unggun.

Tiba-tiba, munculah seorang pria dari dalam kegelapan hutan.

Dia berambut perak bergelombang, dengan mata sipit berwarna keemasan.

Dengan wajah yang begitu menyeramkan bagaikan iblis, dia muncul begitu saja dari balik kegelapan hutan.

"Eek!"

Tanpa sadar, aku menjerit sampai oborku terjatuh.

"Ha ...... ternyata Orsted-san. Terimakasih telah mengikuti kami sampai sini.”

"Ah."

Saat aku menyapanya, dia sedang duduk di dekat akar pepohonan.

Rupanya dia sedang mengikuti rombongan kami.

Sepertinya, Perugius pun tahu akan hal ini.

Karena Orsted juga menggunakan lingkaran sihir yang sama.

Setelah ngobrol sebentar, kami menjadwalkan beberapa pertemuan selama perjalanan ini berlangsung.

Akan mencurigakan jika kami terlalu sering bertemu. Sehingga, aku hanya akan menemui si bos beberapa hari sekali, saat giliranku jaga.

"Bagaimana perkembangannya?"

"Luke tidak membuat gerakan yang mencurigakan. Perjalanan juga masih berlangsung dengan lancar.”

Kemudian, aku menyampaikan laporan rutinku.

Karena ini masih hari pertama, maka tidak banyak yang bisa kuceritakan.

Orsted pun tampaknya sudah memaklumi hal ini, sehingga dia tidak menuntut lebih.

"Bagus. Mungkin selama beberapa hari ke depan tidak akan ada masalah besar."

"Iya, aku harap juga begitu."

"Tapi, selalu berhati-hatilah saat melewati Pegunungan Rahang Atas Naga Merah."

"Baik."

Rahang Atas Naga Merah.

Itu adalah lembah yang terhubung langsung dengan Gugusan Pegunungan Naga Merah yang memisahkan bagian utara Benua Tengah dan Kerajaan Asura.

Lembah itu tidak bercabang, dan cukup lebar untuk dilewati oleh kereta yang besar.

Ngomong-ngomong, dulu aku hampir terbunuh oleh si bos di Lembah Rahang Bawah Naga Merah.

Setelah melewati lembah, ada hutan besar yang menanti kami.

Hutan itu cukup terkenal di Kerajaan Asura.

Hutan itu mereka sebut dengan Janggut Naga Merah

Namun, hutan itu sering dianggap bersatu dengan bagian Lembah Rahang Atas Naga Merah.

Sebelah selatan hutan itu berbatasan langsung dengan Kerajaan Asura.

Perbatasan itu dipisahkan oleh bangunan mirip Tembok Besar China, dan beberapa prajurit ditempatkan di sana untuk berjaga-jaga.

Itu mereka lakukan untuk mengantisipasi serangan monster dari hutan, dan juga invasi dari utara.

Bangunan itu memiliki berbagai fungsi.

Namun, salah satu rumor yang terkenal tentang hutan itu adalah, tempat pembunuhan orang-orang penting yang dianggap mengganggu kedaulatan kerajaan. Jika terjadi pembunuhan di hutan itu, maka tak seorang pun bisa menjadi saksi.

Di beberapa area hutan, terdapat monster kuat, dan juga komplotan perampok yang sering beraksi di sepanjang jalur utara dan selatan.

Hutan itu merupakan tempat yang strategis untuk menghabisi orang-orang yang dianggap berbahaya.

Jika Darius mendengarkan saran dari Hitogami, pasti dia sudah menyiapkan sejumlah pembunuh bayaran yang akan menghabisi kami di hutan itu.

Mereka tidak akan mengirim pasukan resmi ke Lembah Rahang Atas Naga Merah. Karena itu akan dianggap sebagai serangan ke pihak kerajaan lain.

Sedangkan, jika mereka menyerang Ariel setelah melewati pos pemeriksaan selatan Kerajaan Asura, itu akan menjadi berita besar.

Kedua skenario itu akan menyebabkan posisi Darius tersudutkan.

Oleh karena itulah, satu-satunya kesempatan membunuh Ariel yang paling aman adalah menghabisinya di hutan.

Orsted pun memprediksi demikian.

"Itulah yang akan mereka rencanakan."

"Ya."

Kami juga harus mempertimbangkan serangan di jalan utama.

Sehingga, kami perlu menemukan rute alternatif.

Aku juga punya satu tanggungan lagi, yaitu mencari Triss di Guild Pengintai.

Kalau tidak ada serangan, maka Orsted baru akan bergerak.

Seperti itulah rencananya.

Untuk berjaga-jaga, kami banyak membawa gulungan dan kristal sihir.

Perhatikan juga kemungkinan serangan dari hewan magis yang dikendalikan oleh seseorang.

"Jika terjadi serangan, mungkin pelakunya adalah kaki-tangan Kaisar Utara Auber Corvette. Berhati-hatilah dengan orang itu."

"Ya. Kita sudah membahas itu sebelumnya."

"Oh ......"

Jika Kerajaan Asura telah menyewa Kaisar Utara dan Dewa Air, maka mereka bukanlah lawan yang bisa disepelekan.

Orsted menduga, Kaisar Utara punya banyak anak buah yang bisa dimanfaatkannya sebagai pembunuh.

Nampaknya Pendekar pedang bernama Auber itu memang ahli dalam pekerjaan kotor seperti itu.

Tekniknya beraliran Dewa Utara, dan tak seorang pun bisa memprediksi pergerakannya.

Pria itu serba unik, mulai dari model rambut sampai gaya berpakaiannya.

Dia ahli dalam melancarkan serangan mendadak.

Julukannya, Auber Corvette Sang Pedang Merak.

Eris pun sudah kuberitahu tentang kemungkinan bentrok melawan Dewa Air.

Ironisnya, kalau tidak salah Eris pernah menjadi muridnya Auber dan Reida selama beberapa saat.

Tentunya, dia akan kesulitan melawan mantan gurunya.

Namun, saat itu dia hanya menanggapiku dengan, ’Ya! Aku tak sabar menghadapi mereka!’ sembari bersedekap.

Aku jadi penasaran, apakah hubungan Eris dengan kedua gurunya itu tidak sedekat Ghyslaine.

Dengan kata lain, Eris tidak punya banyak teman saat masih berlatih di Daratan Suci Pedang? Aku jadi sedikit khawatir.

"Aku jadi khawatir."

"Tentang apa?"

"Dirimu."

"......"

"Menurutku, kau terlalu optimis dalam misi kali ini."

Optimis.

Benarkah begitu?

Mungkin dia benar.

Tapi, aku memang sudah siap.

Aku pun telah mendengar semua instruksi dari si bos.

Mungkin juga Auber tidak akan menyerang kami saat ini, namun aku masih mensimulasikan beberapa cara di dalam kepalaku untuk menghadapinya.

Aku pun sadar bahwa Auber adalah lawan yang begitu kuat.

Namun, aku harus menghadapinya dengan kepala dingin.

Meskipun rencanaku tidak sempurna, tapi aku tidak boleh grogi menghadapi lawan sekuat itu.

Oleh karena itu, aku harus menjaga diriku setenang mungkin.

"Untuk jaga-jaga, ambil ini."

Orsted mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dadanya.

Itu adalah suatu gulungan yang bergambarkan lingkaran sihir rumit.

"Ini adalah lingkaran berisikan sihir penyembuhan kelas raja. Kau pernah bilang bahwa kau hanya menguasai sihir penyembuhan sampai tingkat lanjut. Jika keadaannya semakin gawat, gunakan saja gulungan ini.”

"Baiklah ......"

Sihir penyembuhan kelas raja. Separah apakah luka yang bisa disembuhkannya?

Setahuku, sihir penyembuhan setinggi itu bisa mengembalikan bagian tubuh yang terpotong dengan sempurna.

Aku masih lemah dalam bertahan dan menghindar, sehingga itulah makan empuk bagi lawan-lawanku.

Dengan begitu, sihir penyembuhan kelas raja adalah jawaban yang tepat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Jadi, sihir penyembuhan kelas raja pun bisa dibuat dari sebuah lingkaran sihir?”

"Hampir segala jenis sihir di dunia ini bisa dibuat kembali oleh lingkaran sihir.”

"Hampir ......... kalau begitu, ada beberapa pengecualian?"

"Ya, selama itu bukan sihir dengan syarat pengaktifan khusus."

"Seperti?"

"Sihir lolongan yang biasa digunakan oleh ras hewan, dan sihir gravitasi yang digunakan oleh Raja Naga. Sihir-sihir yang tidak bisa diungkap secara logis tidak bisa dikemas dalam suatu lingkaran sihir.”

Sihir lolongan? Maksudnya sihir suara yang biasa digunakan Rinia & Pursena?

Aku sih pernah menakut-nakuti orang dengan teriakanku, namun aku tidak yakin apakah itu disebabkan oleh efek sihir atau tidak.

"Aku telah membaca buku harianmu dari masa depan. Tampaknya, suatu hari nanti aku berhasil menguasai sihir gravitasi. Namun, aku yakin kau membutuhkan waktu yang begitu lama untuk mempelajarinya. Kau perlu menelitinya terlebih dahulu, kemudian memahami, dan melatihnya.”

"...... Orsted-san, aku pernah mendengar bahwa kau bisa menggunakan segala jenis teknik di dunia ini. Maka, bisakah kau menggunakan sihir gravitasi juga?”

"Ah iya, tapi sihir itu memberikan dampak negatif bagi penggunanya.”

Oh, jadi kamu bisa juga ya.

Sudah kuduga.

"Tapi, kau tidak menguasainya sejak lahir, kan? Kau juga perlu mempelajarinya, kan?”

"Begitulah."

Aku mengerti.

Saat ini, aku bahkan tidak bisa membayangkannya meskipun aku pernah mendengarnya.

Seiring berjalannya waktu, mungkin suatu saat nanti aku bisa memahami bagaimana cara kerja sihir gravitasi.

Yahh, daripada memikirkan hal yang masih jauh terjadi, lebih baik aku berkosentarasi dengan apa yang harus kulakukan saat ini.

Hal-hal seperti itu bisa kuurus nanti, kalau sudah tidak sibuk.

Baiklah.

Sekarang, yang harus kita bahas selanjutnya adalah ...... Luke.

“Oh iya, ngomong-ngomong… Orsted-san. Andaikan Luke benar-benar dikendalikan oleh Hitogami, maka keputusan untuk membunuhnya diserahkan sepenuhnya padaku, kan?”

"Betul."

"Sekarang begini…. jika misalnya Ariel-sama tetap akan menjadi raja meskipun Luke kubiarkan hidup, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

"Kemungkinan besar tidak akan terjadi apapun. Bahkan, Luke bisa lepas dari pengaruh Hitogami.”

"Apakah kita harus mempertimbangkan kemunculan bidak Hitogami selain tiga orang itu?”

"Tidak perlu. Lagipula, Hitogami hanya akan mengendalikan wayang-wayangnya sampai prediksi masa depannya terjadi.”

Sampai prediksi masa depannya terjadi?

Seharusnya kau katakan hal penting seperti itu lebih awal!

Apa-apaan ini, bagaimana jika aku berasumsi bahwa bidak Hitogami bisa berubah-ubah saat sedang melawan mereka? Bukankah tersangka yang kita curigai akan semakin banyak?

"Dalam mengeksekusi rencananya, Hitogami selalu menetapkan beberapa titik patokan. Jika patokan-patokan itu gagal terwujud, maka bisa dibilang rencananya akan gagal. Dalam kasus ini, patokan tersebut adalah: tersingkirkannya Grabell dan Darius dari percaturan politik, dan terpilihnya Ariel sebagai raja baru. Jika kedua hal itu bisa kita wujudkan, maka rencana Hitogami bisa dianggap gagal.”

"Jadi, sebelum kedua hal itu terwujud, Hitogami tidak akan mengganti bidaknya?”

"Betul."

Muuu, kenapa tidak bilang lebih awal .......

Yahh, okelah….siap bos.

Syukurlah dia masih sempat memberitahuku hal sepenting itu.

Sampai ini selesai, para bidak tidak akan berubah.

Sebaliknya, jika rencana Hitogami gagal, maka saat itu juga mungkin dia akan mencari kaki-tangan baru.

Yahh, tidak menutup kemungkinan dia memilih bidak yang sama, sih.

Dan, menurut penjelasan Orsted…..

Jika bidaknya Hitogami mati sebelum prediksinya terwujud, maka dia tidak bisa mencari bidak baru.

Itulah kenapa, membunuh mereka adalah solusi paling efektif saat ini.

"..... Sekarang, kembalilah. Jika kau tidak lekas kembali, maka mereka akan curiga."

"Siap."

Dengan demikian, aku pun menyelesaikan rapat rutin perdana kami

Aku segera kembali ke api unggun dan melaporkan bahwa area sekeliling tenda aman-aman saja.

Setelah kuselesaikan giliran jaga, aku membungkus diri dengan selimut untuk tidur.

Dan…. hari pertama misi menuju Kerajaan Asura pun berakhir.

Bab 2 : Rahang Atas Naga Merah[edit]

Bagian 1[edit]

Rahang Atas Naga Merah.

Itu adalah nama suatu lembah yang hanya memiliki satu jalan tak bercabang.

Jalannya tidak selurus Jalan Pedang Suci, sih.

Tapi, kau tidak akan menemui perduaan, pertigaan, perempatan, atau semacamnya di sini.

Daerah ini adalah zona bebas yang membatasi dua negara.

Kami melintasi sekelompok kereta ketika melewati jalan tersebut.

Rombongan itu cukup besar, yang mana terdiri dari 10 kereta, dan lebih dari 50 ekor kuda yang menarik kargo.

Tampaknya mereka mendistribusikan barang-barang dari Kerajaan Asura menuju Negeri Tiga Serangkai Sihir.

Ada beberapa petualang yang mengawal rombongan besar itu.

Mereka memelototi kami dengan tatapan tajam.

Melihat itu, tiba-tiba aku jadi teringat masa lalu.

Aku juga pernah menjadi petualang yang mengawal rombongan ke utara.

Tidak sebesar rombongan yang saat ini kami temui, sih. Tapi seingatku ada beberapa pedagang muda di sana.

Jikalau mereka bertemu lagi denganku, kurasa aku sudah melupakan namanya.

Pada saat itu, aku sendirian.

Sendirian.

Kesepian.

Yahh, itulah saat-saat penuh kesengsaraan setelah Eris mencampakkanku begitu saja.

Waktu itu, kurasa hidupku sebagai seorang pria sudah berakhir.

Waktu itu, kurasa sudah tidak ada hal yang penting di dunia ini, dan tak ada lagi orang yang bisa kupercayai.

Waktu itu, yang kupercayai hanyalah Dewi Roxy dan diriku sendiri.

Namun, aku mengalami banyak hal setelahnya.

Aku mendapatkan kejantananku lagi setelah bertemu Sylphy, bahkan sekarang kami sudah dianugrahi seorang putri.

Aku sudah menjadi ayah sekarang.

Aku pun sudah menyelesaikan kesalahpahaman dengan Eris, lalu menikahinya.

Aku juga sudah menikahi Dewi yang selama ini kusembah, dan dia sekarang sedang hamil tua.

Dengan adanya ketiga istriku, kehidupan malamku semakin berwarna.

Jika diriku dari masa lalu melihatku yang sekarang…. apa ya yang akan dia katakan?

Duh…. kok tiba-tiba pengen meremas Oppai-nya cewek ya…. boleh gak ya….

"..... Hei, kenapa kamu tiba-tiba diam?"

Aku mendengar suara Eris dari sampingku.

Aku baru sadar bahwa kami saling bersebelahan.

Oh iya, karena aku tidak bisa menunggangi kuda, maka aku membonceng di kudanya Sylphy.

"Hei, Eris."

"Apa?"

"Bolehkah aku meremas dadamu?"

"Kenapa tiba-tiba minta begituan ......... tentu saja tidak."

Gak boleh ya?

Apakah permintaanku keterlaluan?

............ Yah.

Diriku yang dulu tidak akan berani mengatakan hal seperti itu.

Mungkin kalau melihat dirinya yang sekarang, dia hanya akan tertawa hampa sembari memberiku selamat.

Seperti itulah diriku dari masa lalu.

Dulu, aku tidak akan mau bergaul dengan riajuu seperti itu.

"......"

"Hey, Rudi…."

Sylphy di depanku tiba-tiba mengatakan sesuatu.

"Kau meminta ijin dulu sebelum meremas dadanya Eris, namun kenapa kau tidak melakukan itu padaku ......?"

Tanpa kusadari, tanganku sudah meraba dadanya Sylphy yang sederhana.

Pantas saja, kok rasanya nyaman.

"Oh, maaf. Aku melakukannya tanpa sadar."

“Tidak apa-apa, toh di sekitar sini masih sepi monster. Tapi, bukankah sebaiknya kau jaga sikapmu, setidaknya sampai kita melewati lembah?”

"Terima kasih, terima kasih, Sylphy. Kau memang baik…baik sekali."

"Mendapatkan ucapan terimakasih setelah dadanya diraba… itu agaknya…”

Sambil menggaruk bagian belakang telinganya, Sylphy tersenyum masam.

Setelah menikahinya, setiap kali ada kesempatan, aku selalu meraba dadanya Sylphy.

Dan tampaknya dia semakin terbiasa.

Meskipun dadanya sederhana, aku cukup nyaman merabanya.

"Rudeus, besok giliran aku yang memboncengmu!"

Eris mulai terbakar api cemburu. Dia mengatakan itu dengan tersipu, kemudian memacu kudanya sampai barisan depan.

Haha ..... aku cukup populer ya.

Yah ...... kita akan segera meninggalkan area lembah.

Tak lama lagi, para pembunuh itu akan mulai beraksi. Saat memikirkan itu, aku pun mulai serius.

Bagian 2[edit]

Setelah meninggalkan lembah Rahang Atas Naga Merah, kami mulai memasuki kawasan hutan.

Jalan keluar lembah memiliki elevasi yang sedikit lebih tinggi.

Sehingga, di bawahnya aku bisa melihat hamparan hutan, dan agak jauh di sana bangunan dinding pembatas pun terlihat.

Tetapi, karena hutan itu cukup rimbun, maka aku tidak bisa melihat jalan yang melaluinya. Dan tentu saja, aku tidak bisa memprediksi di manakah tempat-tempat penyerangan yang mungkin akan terjadi.

Apapun yang terjadi di hutan itu, tak seorang pun bisa mengetahuinya.

Setidaknya, begitulah menurut Orsted.

Namun, dari ketinggian ini aku bisa melihat celah antara hutan dan bangunan dinding pembatas.

Dengan kata lain, kami bisa melihat siapapun yang masuk atau keluar dari hutan.

Akan tetapi, begitu kami memasuki hutan, bangunan dinding itu tidak lagi terlihat karena tertutup pepohonan yang begitu tinggi.

Bagi penyerang, ini adalah keuntungan geografis yang bisa memudahkan pekerjaan mereka.

Tempat yang sempurna untuk meringkus kami.

"Akhirnya, aku kembali lagi ke hutan ini."

Saat hendak memasuki hutan, Sylphy menghentikan laju kudanya.

Luke juga berhenti.

Demikian pula dengan kereta yang membawa Ariel.

Eris dan Ghyslaine juga ikutan berhenti.

Lalu, salah seorang pengawal turun dari kursi kemudi.

Luke dan Sylphy juga melakukan hal yang sama.

Kemudian, Ariel keluar dari kereta kuda.

Dia memegang karangan bunga yang tidak terlalu besar.

Di pinggir jalan, kelima orang itu mendekati suatu batu.

Itu tampak seperti batu biasa.

Tidak ada hiasan apapun di sana.

Namun, pada permukaan batunya terukir tanda X.

Kemudian, Ariel meletakkan karangan bunga itu di atas batu.

Lalu, dia berdoa dengan pose yang diajarkan agama Milis.

Ariel bukanlah seorang penganut setia ajaran Milis layaknya Cliff.

Selama ini aku belum pernah melihatnya berdoa pada Tuhan.

Luke pun demikian.

Kalau kedua pengawal itu aku tidak tahu, namun Sylphy berbeda.

Setidaknya, aku tahu bahwa batu itu merupakan nisan para pengikut Ariel yang telah mengorbankan hidupnya.

Kalau tidak salah, yang meninggal di Rahang Atas Naga Merah dan hutan ini adalah ksatria, guru seni, dan pengawal lainnya.

Aku juga pernah dengar bahwa di Rahang Atas Naga Merah, Ariel banyak kehilangan para pemandu, terutama di dekat perbatasan.

Maka, aku pun berdoa untuk arwah mereka.

“Di depan sana, ada banyak pembunuh bayaran yang menunggu kedatangan kita. Jadi, lebih baik kita membangun tenda di sini, kemudian melanjutkan perjalanan lagi esok harinya.”

Setelah mendengar perintah Ariel, Sylphy kembali ke kudanya.

Wajahnya tampak lebih tegang daripada biasanya.

Bagian 3[edit]

Malamnya, kami jaga secara bergiliran lagi,

Setelah itu, kami harus membahas peran masing-masing anggota dengan lebih detail, agar tidak kebingungan jika benar-benar terjadi pertarungan.

Ghyslaine dan Eris adalah penyerang utama kami. Sylphy akan memberikan dukungan dengan sihir penyembuhannya, dan dia juga tangkas mengatasi berbagai masalah. Sedangkan aku akan menjaga barisan belakang dengan kemampuan mata iblis peramalku.

Pada dasarnya, peranku hanyalah mengawasi pertempuran.

Meskipun bisa memprediksi masa depan, namun kemampuan mata iblisku begitu terbatas.

Sedangkan, Elmore dan Luke akan melindungi Ariel.

Kuharap para pengawal Ariel itu juga melengkapi dirinya dengan persenjataan yang layak, namun tampaknya itu tidak akan terlalu berguna karena kemampuan bertarung mereka yang rendah.

Bahkan jika mereka bertarung bersama Ghyslaine dan Eris, mereka hanya akan menjadi beban.

Namun, untuk mengatasi serangan mendadak, mereka harus tetap berada di sisi Ariel.

Untuk semakin memperkecil resiko, kami harus menyiapkan tipuan.

Kleene menggunakan alat sihir yang bisa mengubah penampilan menjadi orang lain. Dan, dia pun menyamar sebagai Ariel.

Bahkan, alat sihir itu bisa merubah warna rambut dan raut wajah.

Untuk membuat penyamarannya lebih meyakinkan, dia memotong rambutnya sepanjang Ariel.

Perawakan dan tinggi badan mereka berbeda…. dan itu tidak bisa dihindari.

Kedua pengawal itu akan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Ariel.

Aku tidak begitu mengenal mereka, namun aku tidak ingin siapapun menjadi korban dalam misi ini.

Besok, kami akan melanjutkan perjalanan dengan asumsi bahwa hari itu terjadi penyerangan.

"Kita menggunakan lingkaran sihir untuk sampai ke sini. Bukankah para pembunuh tidak mengetahui itu? Sehingga mereka tidak akan menduga kita sampai secepat ini?”

Ariel pun menjawab pertanyaan logis itu.

"Menteri Senior Darius adalah orang yang sangat teliti. Dia sudah menyiapkan segalanya saat ayah jatuh sakit.”

Begitulah.

Tak seorang pun tahu musuh macam apa yang akan kita hadapi.

Namun, setidaknya aku sudah memberitahu mereka bahwa Kaisar Utara dan Dewa Air mungkan akan dilibatkan dalam perebutan tahta ini.

Kaisar Utara Auber adalah orang yang harus diwaspadai.

Sembari memperingatkan diri sendiri, aku mengingatkan mereka akan betapa berbahayanya orang itu.

Aku telah memikirkan berbagai cara untuk melawan mereka secara efisien. Namun, kami menduga bahwa Auber dan Luke adalah bidaknya Hitogami, jadi mereka pasti telah memikirkan cara menjebak kami.

Kedua kubu sama-sama menyiapkan cara untuk saling mengalahkan.

Jika itu yang terjadi, aku bahkan tidak bisa lagi mengandalkan mata iblisku.

Maka, kali ini biar kutangani dengan caraku sendiri.

Aku harus memperingatkan mereka akan serangan dadakan Auber, sekaligus melindungi mereka.

Yahh, tapi…. aku merasa seakan-akan akulah yang dilindungi oleh mereka.

Apapun itu, ayo berusaha sebaik mungkin agar tak seorang pun di antara kita terbunuh.

Bagian 4[edit]

Keesokan harinya.

Kami bergerak berdasarkan rencana yang telah kami diskusikan.

Yang menunggang kuda adalah Ghyslaine, Eris, Sylphy, dan aku.

Yang naik kereta adalah Luke, Ariel, bersama dua pengawalnya. Ariel berada di dalam, Luke duduk di kursi belakang, sedangkan kedua pengawalnya memegang kemudi di depan.

Dengan berhati-hati, kami menyusuri jalanan hutan, kemudian kami menemui sebuah tikungan, sehingga tidak jelas apa yang ada di depan sana,

Tepat sebelum tikungan.

Pada suatu pohon yang kecil, aku mendapati tanda yang terukir di batangnya.

Tanda itu terlihat seperti : $. Aku dan Orsted telah memprediksi ini sebelumnya.

Itu artinya 『ada serangan di depan.』

Bagus, dengan begini semuanya jadi lebih jelas.

Kubuka lebar-lebar mata iblisku, dan kucengkram erat-erat Aqua Hertia.

Aku juga menyiapkan lengan buatan Zariff yang dilengkapi batu sihir penyerap Mana.

Mungkin saja mereka akan menembakkan panah beracun pada kami, atau menghujani kereta Ariel dengan serangan sihir.

Tapi, tak peduli apapun itu, jika mata iblisku bisa melihatnya, maka kami pasti bisa menghindarinya.

Namun, nampaknya aku tidak perlu melakukan itu.

Ghyslaine dan Eris berada di depan.

Di depan sana, ada dua lajur prajurit berarmor yang menghalangi jalan kami.

Lajurnya hanya dua, namun barisannya puluhan.

"Berhenti!"

Di barisan terdepan, Ghyslaine dan Eris menghentikan kuda mereka.

"Siapa kalian?"

Prajurit berarmor itu tidak menjawab pertanyaan Ghyslaine.

Namun, kami juga tidak bisa melihat ekspresi wajah mereka karena mengenakan helm penuh.

Pada pelindung bahunya, ada seseorang yang memakai hiasan bulu yang tampak mencolok.

Pasti dia kaptennya.

"......"

Mereka hanya diam.

Mereka memblokir jalan tanpa bereaksi sedikit pun.

"Rudi ...... turun."

Menanggapi kata-kata itu, aku melompat dari kuda, dan berjalan menuju kereta Ariel.

Sylphy masih menunggang kuda, lalu dia berjalan perlahan ke depan.

Setelah memposisikan kudanya di antara Ghyslaine dan Eris, dia menatap si kapten.

“Aku Fitts Sang Penjaga Keluarga Raja! Di belakangku ini ada kereta Putri Kedua Kerajaan Asura, Ariel Anemoi Asura! Wahai para prajurit, siapakah kalian?! Beritahu aku namamu!"

Sylphy berteriak begitu lantang dengan nada yang jantan.

Keren abis.

"......"

Namun sang kapten tetap diam.

Malahan, diam-diam dia menghunuskan pedangnya.

"!"

Seakan diberi perintah, prajurit-prajurit lainnya pun melakukan hal yang sama.

Sriiiiiiiiiiiiinnngggggg…. suara desingan pedang bernada tinggi pun memenuhi hutan yang senyap ini.

Mereka segera membuat kegaduhan….. * Sraksraksraksrak *.

Hampir semuanya membawa pedang, sedangkan aku hanya mempunyai tongkat, lagipula jumlah kami kalah banyak.

"Serangan musuh!"

Saat turun dari kereta, Luke sudah siap memainkan pedangnya.

Elmore yang duduk di kursi pengemudi mencengkram cambuknya dengan tegang.

Di dalam kereta kuda, ada Kleene yang menyamar sebagai Ariel.

"Uraaaa!"

"Gaaaaa ~!"

Ghyslaine dan Eris sudah menghadapi prajurit terdepan.

Pedang mereka menebas para prajurit dengan sangat cepat, seakan tanpa bayangan.

Keduanya begitu cepat, bahkan para prajurit belum sempat menebaskan pedangnya.

"Biar aku yang mengurus penyihir itu!"

Sylphy harus mengendalikan sihirnya dengan presisi, kalau tidak Eris dan Ghyslaine akan terkena serangannya.

Dari sini aku belum bisa melihatnya, tapi sepertinya Sylphy sudah menyadari adanya penyihir di barisan paling belakang para prajurit itu.

Jumlah musuh hampir 30 personel.

Namun, pasukan-pasukan lainnya terus berdatangan dari kedalaman hutan, sepertinya masih ada sejumlah personel yang bersembunyi.

Meskipun demikian, tampaknya keuntungan jumlah mereka tidak berarti apapun bagi Ghyslaine dan Eris.

Dalam sekejap mata, mereka berdua berhasil memukul mundur semua pasukan.

Eris bergerak bebas sendirian.

Sedangkan Ghyslaine melindunginya dari serangan-serangan yang tidak terjangkau.

Selanjutnya, Sylphy mendukung mereka berdua dengan sihirnya.

Ketiganya terus berotasi agar tidak terkepung oleh para prajurit, sembari membasmi musuh-musuhnya.

Mereka kuat ...... Tiga orang itu seakan tidak ada tandingannya.

Mereka akan baik-baik saja meskipun kubiarkan.

"Luke-senpai! Apakah ada musuh di belakang kita?"

"Tidak!"

Itulah respon Luke yang bertugas mengawasi sisi belakang.

Sepertinya musuh ingin memukul mundur kami.

Sebuah jebakan?

Ya, ini pasti jebakan.

"Apa yang harus kita lakukan, mundur?"

"Tidak, sepertinya kita bisa menekan mereka, jadi ......"

Saat aku melihat ke depan, tiba-tiba gerombolan musuh terbagi menjadi dua.

Kemudian, seseorang muncul di antara mereka. Ghyslaine dan Eris berhenti bergerak.

Orang itu lebih kecil daripada yang kuduga.

Tingginya hanya sekitar 1 meter.

Rupanya dia ras Hobbit.

Meskipun mungil, tubuhnya dilapisi armor penuh.

Armornya dipoles begitu bersih, sampai-sampai memantulkan cahaya mengkilap.

Dengan perawakannya yang pendek dan gemerlapan, ia benar-benar tampak seperti bola disko.

Sepertinya, para prajurit itu merasa aman setelah si pendek itu muncul.

Seolah-olah, bos mereka keluar.

Dia tampak kuat.

Itukah Auber?

"Namaku adalah Raja Utara Wii Taa. Salah satu dari Tiga Pedang Dewa Utara. Aku biasa dipanggil Wii Taa Sang Cahaya dan Kegelapan.”

...... Siapa?

"Aku mengenalmu, Serigala Hitam Ghyslaine. Kutantang kau untuk berduel!”

Si bola disko menarik pedangnya.

Pedang itu terlihat begitu cocok dengannya karena panjangnya hanya 30 cm.

Tapi bilahnya bersinar sangat terang seolah terbuat dari cermin.

Jadi, sekarang giliran duel satu lawan satu, nih?

Padahal mereka jelas-jelas menang jumlah. Apa sih yang direncanakan orang ini?

"Hmph."

Ghyslaine mengarahkan pedangnya pada si cebol, sembari mendengus ringan.

Wii Taa pun mengacungkan pedangnya pada ras hewan itu.

"Baiklah. Aku Ghyslaine Sang Raja Pedang Serigala Hitam, siap menjadi lawanmu.”

Sambil memegang pedang cadangan di pinggangnya, Ghyslaine menghadap pada Raja Utara itu.

Seolah-olah waktu terhenti.

Para prajurit lainnya pun berhenti bergerak, setelah memeriksa keadaan sekitarnya, mereka mundur beberapa langkah.

Sylphy juga mundur sembari mengawasi pergerakan para pasukan itu.

Suasana semakin tegang.

Tapi, sepertinya Eris tidak bisa membaca situasi ini.

Dia melompat ke depan menuju para prajurit yang sedang mundur.

"Daaaaaaa!"

"Ah! Hei! Eris!"

Sylphy akhirnya terpaksa mengikutinya.

Sembari saling menjaga satu sama lain, mereka berdua melanjutkan pertempuran melawan kawanan prajurit berarmor.

Apakah mereka baik-baik saja?

Jumlah musuh sangat banyak.

Saat kulihat sejenak, tampaknya mereka menguasai jalannya pertempuran.

...... Baiklah, untuk saat ini, biarkan saja mereka bertarung.

Aku ingin membantu mereka, tapi aku tidak boleh meninggalkan tempat ini.

Karena amukan Eris, jarak di antara kawanan prajurit dan kereta Ariel sedikit melebar.

Namun, Auber masih belum menunjukkan dirinya.

Aku tidak boleh beranjak dari tempat ini sampai dia muncul.

Auber ahli dalam melancarkan serangan dadakan.

Jika kami lengah sedikit saja, maka dia akan melancarkan serangan dari belakang.

Teorinya sih begitu, dan hanya inilah pilihan terbaik saat ini.

Sedikit saja kelengahan.

Dia akan menyerang dalam hitungan detik.

Dengan serangan secepat itu, dia tidak akan membiarkan seorang penyihir menyelesaikan mantranya.

Itulah kenapa, kata Orsted…..

Saat pertempuran terjadi, jangan pernah gunakan sihir sampai orang itu muncul.

Bahkan jika temanmu terdesak, jangan berikan bantuan padanya.

Jika kau sabar, maka lama-kelamaan dia akan menunjukkan dirinya. Auber akan mengincar mereka yang paling lengah.

Pada saat itulah kau menyerangnya.

Jadi, saat ini aku lebih baik diam.

Aku harus membuka mataku selebar mungkin untuk memperhatikan apapun di sekelilingku.

Meski begitu, aku merasa khawatir.

Alih-alih Kaisar Utara, yang muncul malah Raja Utara Wii Taa.

Kalau petarung kuat selain Auber yang muncul, kurasa lebih baik kita mundur saja.

"Ugh!"

"Hahaa ~! Serigala Hitam Ghyslaine, kau sudah semakin lemah!!”

Ghsylaine sedikit tertekan saat melawan Wii Taa.

Atau lebih tepatnya, gerakan Ghyslaine agak aneh.

Ketika Ghyslaine mencoba menyerang, dia berhenti sebentar seakan ragu untuk menoleh ke arah lain.

Wii Taa tidak melewatkan kesempatan seperti itu.

Dia bergerak mendekati Ghyslaine dengan kecepatan yang hampir mustahil dilakukan orang sekecil itu.

Bahkan serangannya bisa memberikan luka ringan pada Ghyslaine. Sepertinya dia hanya menghindar agar tidak terkena organ vitalnya.

Sejak awal mereka berduel, Ghyslaine belum memberikan satu pun serangan yang berarti.

Dia sudah menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang, namun ketika ada kesempatan, dia selalu menoleh ke arah lain. Dan saat itulah Wii Taa melancarkan serangan balik.

Ada yang tidak beres dengan Ghyslaine.

Tapi aku tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya.

Ada apakah gerangan?

Aku mencoba mengamati Wii Taa.

Saat dia bergerak menyerang Ghyslaine, dia mengulurkan tangan kirinya.

Tangan kirinya tidak memegang apa-apa.

Lalu, apakah dia menggunakan sihir?

Lagi-lagi, Ghyslaine memalingkan mukanya.

Apakah itu pasir?

Dengan kata lain, dia coba mengganggu penglihatan Ghyslaine?

Tidak, sepertinya bukan begitu.

Aku tidak melihat ada sesuatu yang keluar dari tangannya.

Tapi, satu hal yang pasti, Wii Taa sengaja menyebabkan Ghyslaine memalingkan wajahnya.

Ghyslaine tidak bisa melihatnya setiap kali dia menyodorkan tangan kirinya.

...... Oh, iya ya….

Kenapa aku baru sadar…. Bukan pasir yang mengganggunya, melainkan cahaya.

Armornya begitu gemerlap bagaikan bola disko. Aku pun kesulitan melihat gerakannya karena terlalu silau.

Dengan memantulkan sinar matahari melalui armor gemerlapan itu, dia bisa mengalihkan perhatian Ghyslaine.

Setiap kali dia hendak menyerang, matanya silau.

Trik yang licik!

Itulah yang membuat Ghyslaine kesulitan.

Kalau begini terus, dia bisa kalah.

Haruskah aku membantunya?

Apa yang harus aku lakukan?

Jika tidak bertindak sekarang, maka semuanya bisa terlambat.

Tapi, apakah Auber benar-benar berada di sini?

Apa yang harus kulakukan? Tetap berdiam diri di dini menunggu kedatangan Auber, atau membiarkan Ghyslaine dalam bahaya?

.......

Baiklah.

Aku mulai menuangkan Mana-ku pada Aqua Hartia.

Menggunakan sihir bumi dan air.

Dengan kata lain, saatnya kugunakan sihir andalanku sejak kecil. Quagmire.

Namun, kali ini aku sedikit memodifikasinya

"『 Mud Rain 』!"

Tak lama berselang, awan hitam segera menutupi langit.

Namun, tetesan hujan yang turun berwarna coklat.

Medan pertempuran segera terguyur oleh hujan lumpur itu.

Sebenarnya, itu hanyalah hujan biasa, dan aku tidak berniat menyerang siapapun dengan sihir itu.

Namun, tanah yang menjadi licin dan berlumpur mempersulit gerakan para prajurit berarmor itu.

Beberapa orang terpeleset, kemudian jatuh.

Namun itu tidak terjadi pada Eris dan Ghyslaine, karena mereka sudah terbiasa melatih keseimbangan tubuhnya.

Adapun Sylphy, rambutnya yang semula putih terkotori mejadi kecoklatan, tapi lupakan dulu dia sejenak.

"Uoooo?"

Tanpa terkecuali, armor mengkilat Wii Taa pun menjadi kotor, sehingga kehilangan efeknya.

"Gaaaaaaa!"

Jeritan Ghyslaine saat melancarkan serangan bergema di hutan.

Dari pedang yang berada di dekat pinggangnya, Ghyslaine melepaskan teknik Sword of Light.

Wii Taa sengaja menjatuhkan diri untuk menghindari serangan itu, namun sepertinya itu sempat melukainya, karena darah mulai mengalir dari bahunya.

Dengan begini, maka sudah jelas siapa pemenangnya.

Aku masih mewaspadai kemunculan Auber ......

Kemudian, aku melihat ke belakang.

"Apa?"

"?"

Tepat di belakang kami, ada seorang pria.

Aku melihat seseorang yang berpenampilan aneh.

Dia mengenakan jaket berwarna pelangi, celana sepanjang lutut, dan tiga bilah pedang yang tertempel di punggungnya. Ada tato bergambar merak di pipinya, dan gaya rambutnya seperti parabola.

Dia juga mengenakan jubah yang berwarna lusuh di punggungnya.

Pada jubah itu, terlihat bekas-bekas pasir yang menempel.

Agak jauh di belakang Luke, kulihat ada lubang yang menganga di tanah. Sejak kapan lubang itu ada di sana? Apakah orang aneh itu baru saja keluar dari lubang tersebut?

Jadi, dia bersembunyi di sana untuk mengawasi kami?

"......"

Cara berpakaiannya cocok dengan ciri-ciri Auber yang pernah kudengar.

Ya, tak salah lagi….. dia lah Auber Sang Kaisar Utara.

" ...... Ah, ketahuan yaaa."

Sedetik berselang, mata iblisku langsung melihat pergerakan Auber selanjutnya.

Dia menarik pedang dengan tangan kanannya.

"Jarak sedekat ini memang cocok untuk melawan penyihir…… maaf atas serangan dadakannya!!”

Auber mengayunkan pedangnya ke bawah.

Aku segera bereaksi dengan tangan kiriku.

Aku memasang lengan Zariff pada tangan kiriku.

Meskipun aku bisa menggerakkan lengan Zariff dengan bebas, namun gerakan Auber lebih cepat.

"Terbanglah! Zriff!"

"Fuooo!?"

Lengan buatanku terbang dengan kecepatan tinggi.

Meskipun begitu, Auber hanya memiringkan lehernya untuk menghindari serangan lengan terbang itu.

Dengan suara *Zuoooo*, lengan itu terus terbang, kemudian menyangkut pada pohon terdekat.

Sambil masih memegang pedangnya, Auber melihat bolak-balik antara diriku dan lengan Zariff yang sudah nyangkut di pohon itu.

"A, Apa ... itu ... ..."

Jantungku berdegup kencang.

Aku tahu bahwa Auber akan menyerang dengan gerakan tipuannya.

Meskipun aku sudah mengetahui teknik itu dari Orsted, tapi……. ah sial!

Apakah aku telah melakukan kesalahan dengan membantu Ghyslaine tadi?

Sekarang aku harus melawan Auber satu lawan satu.

Lawanku adalah Kaisar Utara. Yaitu, Pendekar pedang yang gelarnya bahkan lebih tinggi daripada Eris ataupun Ghyslaine.

Dia bukanlah lawan yang lemah, dan itu diperparah dengan keahliannya dalam melancarkan serangan dadakan.

Tapi ... aku sudah mendengar banyak masukan tentang apa yang harus kulakukan saat berhadapan dengan orang ini.

Aku masih mungkin menang melawannya, aku akan baik-baik saja, aku hanya perlu tenang…. aku kuat… aku kuat…. aku Strahan [1]…. aku Stallone [2].

"Oww, ternyata kau ya Rudeus sang『 Quagmire 』."

Auber tidak segera menyerang.

Sambil berdiri di sana, dia coba bertukar kata denganku.

"Aku hanya pernah mendengar rumor tentangmu, sih…. Tapi sepertinya kau memang kuat.”

Kenapa dia tidak segera menyerangku?

Padahal, cara ini tidak akan bisa kugunakan jika dia tidak menyerangku ......

"...... Dari mana kamu mendengar tentangku?"

"Dari monster berambut merah yang sedang bertarung di sana itu. Saat aku melatihnya ilmu pedang, dia selalu saja bilang: ’Rudeus itu keren…Rudeus itu kuat….’ atau semacamnya.”

Jadi dia mendengar rumor tentangku dari Eris.

"Seorang pria yang bisa menjinakkan monster sebuas itu, memang layak dipuji. Sepertinya rumor itu bukan isapan jempol belaka…. Bahkan kau bisa menerbangkan lenganmu.”

Sepertinya dia terkesan dengan Rocket Punch-ku. [3]

Dia begitu waspada menatapku, seolah-olah ingin melihat trik-trik aneh lainnya.

Sungguh pria yang aneh.

Aku bukan tontonan woy .......

Tapi, baguslah dia berhati-hati.

Saat kutengok sedikit ke samping, kulihat Ghyslaine telah mengalahkan Wii Taa, kemudian dia bergerak menghampiri kami.

Jaraknya tidak begitu jauh, harusnya dia akan segera sampai.

Jika aku berduet bersama Ghyslaine melawannya, maka peluang menang kami lebih besar.

"Eris si Mad Dog, dan Ghyslaine Sang Serigala Hitam. Silent Fitts, dan Rudeus sang Quagmire. Awalnya, aku memerintahkan Wii Taa untuk menjajal kekuatan kalian, tapi sepertinya percuma. Selama aku belum membunuhmu, tampaknya akan sulit melenyapkan Putri Kedua.”

Auber meyakinkan dirinya, lalu mengangguk.

Aku penasaran, apakah dia benar-benar akan menyerangku.

"Tapi, kalian kalah jumlah!!”

Dia datang.

Dalam situasi seperti ini, kalau aku bisa menahannya sampai Ghyslaine datang, maka semuanya akan terkendali.

Kurang-lebih, aku tahu seperti apakah jurus-jurus yang dimiliki Auber.

Aku bisa melakukan ini.

Aku bisa menahannya.

"Namaku, Auber Corvette Sang Kaisar Utara!"

Auber menarik pedang dengan tangan kirinya, lalu menyarungkan pedang pada tangan kanannya.

Aku meresponnya dengan mengalirkan Mana lebih banyak ke tongkatku ......

"Matilah…………kau!!”

Auber mulai berlari.

Bukan ke arahku, tapi menuju Ghyslaine.

Hah?

Jadi dia tidak menyerangku?

"Auber!"

"Oh, kau kan ...... Ghyslaine! Lama tidak berjumpa!"

"Gaaaaaaa!"

"Sudah kuduga, kau sama sekali tidak berubah."

Sebelum siapapun menyadari, Auber melemparkan tas yang ada di tangannya.

Tas itu terbang melengkung di udara menuju Ghyslaine.

Wanita ras hewan itu segera memotong tas yang masih melayang di udara itu.

Setelah dibelah, tiba-tiba tersebar semacam debu dari dalamnya.

Dan debu itu langsung membungkus wajah Ghyslaine.

Sepertinya ini gawat.

"『 Stone Cannon 』!"

"Uooh ~~!"

Untuk mengganggunya, aku menembakkan sihir bumiku pada mereka. Namun, Auber hanya menghindari meriam batu yang terbang dari belakangnya dengan gerakan yang begitu halus bagaikan aliran air.

Bisakah Ghyslaine menanganinya ... tidak, sepertinya tidak mungkin.

Ternyata debu itu adalah tepung. Setelah wajah Ghyslaine tersirami tepung, matanya langsung berair, dan dia bersin berkali-kali.

Tidak hanya tepung, tampaknya Auber juga mencampurkan beberapa rempah-rempah pada serbuk itu, sehingga efeknya semakin menyerupai gas air mata.

Tapi…. ternyata dia juga tidak berniat menyerang Ghyslaine. Lantas siapa yang dia incar?

Auber meluncur bagaikan kecoa melewati Ghyslaine yang masih dilumpuhkan oleh serbuk itu. Kemudian, dia melesat mendekati Eris dan Sylphy yang masih disibukkan oleh kawanan prajurit berzirah.

"Mundur! Mundur! Mundur sekarang juga!"

Setelah mendengar perintah itu, para pasukan mulai melarikan diri ke kedalaman hutan.

Kemudian, Eris dan Auber saling menatap.

Dia segera memposisikan tubuhnya di depan Sylphy untuk mengintersep serangan Kaisar Utara.

"Ugaaaaaa !!"

"Pedangku, terbakar lah! "

Setelah meneriakkan itu, tiba-tiba api tersulut di pedang Auber.

Dengan gerakan yang begitu cepat layaknya pesulap, dia mengambil sesuatu dari pinggangnya, kemudian memasukkannya ke mulut.

Aku sudah tahu trik itu.

Aku bisa menangkalnya.

"Buuuu ~~!"

"『Water Wall! 』"

Rupanya benda itu adalah sekantong minyak, lalu dia semburkan minyak itu pada pedangnya yang terbakar ke arah Eris.

Mushoku17 04.jpg

Namun, sihir airku berhasil menghentikannya.

Api yang menghantam dinding air segera padam.

Eris tidak mempedulikan dinding air yang terpampang di hadapannya.

Dia terus menebaskan pedangnya secara diagonal ke bawah untuk memotong dinding air beserta Auber.

"Taaaaaa!"

Suara * Zaash *, terdengar.

Dengan sekali belah, tubuh bagian atas Auber terjatuh ke tanah.

"Makan itu!"

"Cih."

Aku kegirangan, namun Eris justru mendecakkan lidahnya.

Saat kuperhatikan lebih seksama, ternyata yang tergeletak itu bukanlah potongan tubuh Auber.

Melainkan hanya batangan kayu.

Sejak kapan dia menukarnya?

Itu hanyalah sepotong kayu yang tertutup jubah.

Hm ......?

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Harusnya mata iblisku sudah melihatnya, tapi aku masih tidak memahami apapun.

Saat itu juga, ada sesuatu yang terbang menuju batangan kayu. Itu adalah cakar besi yang tajam.

Cakar besi teruntai tali itu meluncur pada batangan kayu yang tergeletak di tanah.

Itu menangkapnya, kemudian menarik jubahnya dari kejauhan.

Jubah itu terbang ringan di udara, menuju orang yang menarik tali tersebut.

Itu Auber. Entah sejak kapan dia berada di sana. Dia berdiri di balik bunga-bunga.

Rupanya, Auber ingin mengambil kembali jubahnya dengan cakar besi itu….

Apakah jubah itu semacam benda sihir?

Jangan-jangan, jubah itu mempunyai kemampuan menukar tubuhmu dengan benda lain…. persis seperti yang baru saja Auber lakukan.

Jadi, kau bisa menggunakan Utsusemi no Jutsu [4] ya?

Bos Orsted! Kau belum pernah menceritakan ini padaku!

"Kemampuanmu sudah meningkat, Mad Dog! Aku pamit dulu ya! Kita akan segera bertemu kembali!"

"Tunggu!"

"Tunggu, Eris!"

Eris mencoba mengejar Auber, tetapi dia dihentikan oleh Sylphy.

"Masih banyak prajurit berarmor yang tersebar di hutan ini! Jadi, kumohon jangan kejar dia sendirian!"

Setelah mendengar kata-kata itu, Eris melihat ke arahku.

Kemudian, ke arah di mana Auber menghilang barusan.

Sembari berdecak kesal, akhirnya dia menyarungkan pedangnya.

"Hmph."

Eris berjalan mendekatiku sambil pasang muka cemberut.

Sembari masih memegang tongkatnya dengan waspada, Sylphy terus mengamati setiap arah untuk mencari prajurit-prajurit itu.

Saat ini, tampaknya mereka sudah pergi.

Hanya mayat yang tersisa.

"Fyuuh......"

Sepertinya, serangan mendadak kali ini sudah berakhir.

Tapi, Auber bisa melancarkan serangan serupa kapanpun, jadi kami harus terus waspada.

Setidaknya sampai malam tiba.

Bagian 5[edit]

Setelah pertempuran.

Musuh : hampir terbantai semuanya.

Kami : tidak ada luka serius.

Satu-satunya yang dirugikan adalah Ghyslaine yang masih saja bersin-bersin sampai sejam berlalu.

Sihir detoksifikasi tidak berhasil menyembuhkan efek serbuk itu, dan itu membuat kami cukup khawatir. Tapi untungnya, efeknya mereda setelah muka Ghyslaine dibersihkan dengan sihir air.

Aku sering mendapati beberapa kelemahan sihir detoksifikasi.

Mungkin itu juga tidak bisa menyembuhkan demam.

Tapi, sepertinya tidak ada demam serius di dunia ini ...

Aku membantu mereka membersihkan mayat-mayat itu, kemudian kami menumpuknya di sisi jalan untuk dibakar selanjutnya.

Jika kau meninggalkan mayat-mayat itu di sini, tubuh mereka bisa dibangkitkan kembali sebagai Undead.

Pada dasarnya, tidak diperbolehkan meninggalkan mayat di tempat seperti ini.

Kami menanggalkan armor-armor mereka, lalu mengkremasi jasadnya.

"......"

Saat melakukan itu, wajah Luke terlihat suram.

Semakin banyak membersihkan mayat, semakin suram wajah Luke.

Bukannya dia mengenal para prajurit ini, namun Luke memperhatikan armor-armor yang mereka tinggalkan.

Aku penasaran, apakah ada sesuatu pada armor itu yang menarik perhatiannya.

"Hei, Luke. Bukankah lambang ini ....."

Tak lama berselang, aku menemukan alasannya.

Ada suatu lambang tertentu yang terukir pada armor mayat-mayat ini.

Itu adalah lambang milik suatu keluarga bangsawan dari Kerajaan Asura.

Lambang itu berasal dari suatu tempat bernama Milbotts.

Keluarga tersebut adalah salah satu dari empat keluarga bangsawan terbesar di Asura. Mereka memiliki kekuatan militer yang cukup besar.

Nampaknya, para prajurit yang menyerang kami berasal dari fraksi yang memerintah daerah itu.

Itu berarti...

Luke menggumamkan sesuatu yang sudah kuduga sebelumnya.

"Ini kebodohan ......"

Singkatnya….

Tuan tanah daerah Milbotts ...

Yaitu, Philemon Notus Greyrat….

Dia telah mengkhianati Ariel.

Bab 3 : Dugaan[edit]

Bagian 1[edit]

Sejam setelah penyerangan.

Setelah membereskan mayat-mayat itu, kami mendirikan kemah di kedalaman hutan.

Aku membuat pagar batu di sekitar tenda untuk perlindungan. Kami duduk mengitari api unggun sambil membahas serangan hari ini.

"Bodoh… betapa bodohnya mereka ....."

Luke masih kesal, seakan tidak percaya apa yang dilihatnya siang tadi.

Dia menduga bahwa Philemon telah mengkhianati Putri Kedua. Dia terus mengutuk mereka sambil menatap kosong pada api unggun.

Apakah dia begitu syok?

Sepertinya hanya Luke yang terlihat begitu tertekan.

Ariel dan yang lainnya terlihat tak acuh.

Sepertinya mereka sudah menduga pengkhianatan ini.

Hanya Luke yang terkejut, mungkin karena dia masih satu keluarga dengan Philemon.

Atau jangan-jangan….. dia mulai menyadari ada kebohongan dalam keterangan yang diberikan oleh Hitogami?

Apa yang telah dibualkan Hitogami padanya?

Apakah kenyataan sudah bertentangan dengan nasehat-nasehatnya?

Dia pasti resah setelah mendapati ini semua.

Haruskah aku ... mengungkapkan kebenaran pada Luke?

Tidak, aku harus menunggu kesempatan yang lebih baik.

"Ariel-sama." "Ada apa Rudeus-sama?"

“Aku pikir Auber akan menyerang lagi, tak peduli di dalam hutan, sebelum kita melewati perbatasan, ataupun setelahnya.”

Ariel terlihat bingung.

"Benarkah itu?"

Di situasi seperti ini, kita tidak punya pilihan selain menghadapinya. Sejak awal, begitulah asumsinya.

“Mungkin kali ini aku bisa mengatasi perlawanannya, namun ternyata dia lebih tangguh daripada yang kuduga sebelumnya, terlebih lagi… aku tidak mengira dia punya pasukan sebanyak itu. Rupanya, ada pihak lain yang juga berusaha melenyapkan Anda, Ariel-sama. Serangan berikutnya pasti akan lebih sulit.”

"...... sesulit itu ya melawan mereka?"

Aku menjawabnya dengan anggukan.

“Sebetulnya kita bukannya tanpa peluang ........ tapi, mungkin pos pemeriksaan perbatasan akan menjadi titik serangan berikutnya. Atau bahkan jebakan.”

"Tapi, tanpa sihir teleportasi, kita hanya bisa mencapai Asura melalui perjalanan darat.”

Sudah kuduga dia akan mengatakan itu.

Ariel memang mudah diterka.

Seolah-olah, aku tahu semua yang dia pikirkan.

"Ya, tapi kalau kita sudah menduga di sana ada perangkap, maka satu-satunya hal yang bisa kita usahakan adalah menghindarinya.”

"Yah ...... Kalau begitu, adakah cara lain menuju perbatasan tanpa melewati perangkap mereka?”

"Ada."

"Bagaimana caranya?"

Tanpa kusadari, tatapan mata yang lainnya tertuju padaku dan Ariel.

Aku jadi merasa sedikit grogi.

“Pada setiap kerajaan, selalu ada komplotan perampok dan pedagang budak di daerah perbatasan. Mereka tahu benar cara melewati perbatasan kerajaan dengan aman, karena memang itulah pekerjaan mereka. Selama kita bisa bernegosiasi dengan mereka, maka bukannya tidak mungkin kita diberitahu rute yang aman untuk melewati penjaga perbatasan.”

Setelah mendengar saranku, Ariel berpikir serius sembari menggumamkan, “Hmmm….”.

Sylphy hanya memasang wajah bingung.

Bahkan, Ghyslaine maupun Eris tidak pernah mendengar cara ini.

“Rudeus-sama, bukankah sebelumnya kau pernah berkata bahwa kita tidak boleh melakukan hal yang buruk?”

"Ya, itu benar. Tapi, sepertinya aku telah salah memperhitungkan kekuatan mereka. Jadi, kita perlu cara alternatif untuk mencapai tujuan. Namun, percayalah bahwa prinsipku itu masih kupegang.”

"...... Begitukah?"

Aku mengangguk sembari membenarkan itu. Tampaknya Ariel mulai percaya.

Dengan alis membentuk tanda '/ \', dia melihat Sylphy dan yang lainnya.

"Sylphy, bagaimana menurutmu?"

".... Kupikir itu ide yang bagus. Aku tidak yakin apakah kita bisa mempercayai informasi dari komplotan perampok, tapi jika Rudi menyarankannya, maka kupikir resikonya jauh lebih kecil daripada melewati rute normal.”

"Aku tidak puas dengan saranmu, Rudeus. Mengapa kau tidak mengatakan itu sejak awal? Mengapa kau berpikir begitu setelah penyerangan terjadi? Seakan-akan, kau menunggu terjadinya serangan untuk merubah rencana awal.”

"Luke?"

Saat Ariel menatapnya, Luke menelan ludah karena gugup.

Lalu, dia memalingkan wajahnya seolah melihat hantu.

Dia beralih menatapku dengan begitu curiga.

"Kau….apa yang sedang kau rencanakan ...?"

Dia segera menanyakan itu padaku.

Tapi, suaranya gemetaran.

Wajahnya penuh keraguan.

Dia terus menatapku selama beberapa saat.

"Kau sungguh aneh…. seolah-olah kau sudah tahu bahwa Auber akan menyerang kita saat memasuki hutan.”

"Aku memang sudah memprediksinya, namun aku tidak mengira dia memiliki pasukan sebesar itu."

"Tapi sepertinya kau juga bisa menebak gaya bertarungnya."

"Tentu saja, karena aku punya mata iblis peramal."

Luke… harusnya kau bersyukur karena aku belum membongkar rahasiamu.

"Kaburnya Auber juga terlalu mencurigakan."

"Jika dia berhasil membunuhku, kurasa dia tidak perlu melarikan diri.”

"Aku tahu itu! Tapi kenapa kau tidak mencegahnya kabur?”

"...... Aku bisa saja menghentikannya jika kugunakan sihir berskala besar. Tapi Sylphy dan Eris juga akan terkena dampaknya. Lagipula, ada kemungkinan dia memiliki alat sihir yang bisa menghindari seranganku.”

"......Sungguh?"

Hei.

Jadi kau mencurigaiku bersekongkol dengan Auber?

...... Oh, begitukah?

Skenario macam itukah yang Hitogami sarankan padamu?

Aku bersekongkol dengan Auber, dan Darius merencanakan serangan itu. Seperti itulah kesimpulan yang paling mungkin orang-orang pikirkan.

Ah, celakalah aku.

Tapi, jika kau mau berpikir sedikit lebih tenang, maka kau pasti tahu bahwa aku tidak bersekongkol dengan Auber ataupun Darius ....

"...... Luke-senpai. Bukankah senpai sendiri yang memintaku membantu Ariel-sama?"

“Aku memang meminta bantuanmu ...... Tapi, tindakanmu sungguh aneh. Ayah tidak akan mengkhianatiku, karena ayah…...."

Tingkah Luke semakin mencurigakan.

Aku tahu ini hasil pekerjaanmu, Hitogami.

Nasehat macam apa yang kau berikan pada Luke, Hitogami ......?

Tungguh dulu….

Sebentar…..

Bukankah seharusnya Hitogami tidak bisa melihat Luke saat ini?

Itu karena bos Orsted berada di dekat sini.

Kehadiran Orsted mampu mengacaukan kemampuan Hitogami dalam mengawasi targetnya. Itu karena Orsted mempunyai teknik ras naga kuno yang diajarkan oleh ayahnya itu.

Dengan begitu, Hitogami tidak bisa ‘meng-update’ sarannya pada Luke.

...... Atau, mungkin juga Hitogami sudah melepaskan Luke.

"...... Mau bilang apa kau?"

Eris terlihat semakin geram pada Luke.

Sepertinya dia siap menghajarnya kapanpun dia mau.

Sedangkan Sylphy hanya melihat bergantian antara aku dan Luke dengan tatapan tajamnya.

Ghyslaine hanya terlihat bingung. Sepertinya dia tidak paham apa yang sedang kami perdebatkan.

"Ariel-sama."

Dengan ekspresi tegas di wajahnya, Luke menoleh pada Ariel.

"Aku tidak setuju dengan idenya. Tingkah Rudeus akhir-akhir ini semakin aneh.”

"B…..Begitukah?"

“Lagipula, aku tidak percaya pada informasi yang diberikan oleh komplotan perampok. Kalau pun kita harus menghindari perbatasan, maka satu-satunya cara yang kusetujui adalah kembali ke reruntuhan teleportasi untuk meminta bantuan sekali lagi pada Perugius-sama.”

Meminta bantuan Perugius, ya ....

Ya…. itu ada benarnya, sih.

Kalau Perugius mengijinkan para Tsukkaima-nya bergabung dengan kami, maka melintasi perbatasan lewat rute normal bukanlah masalah.

Boleh juga itu.

Selama Ariel aman, maka aku menyetujui cara apapun yang kita pakai.

Tapi, aku masih harus menghubungi Triss di Guild Pengintai.

Aku tidak bisa selalu bersama Ariel.

Jika aku meninggalkannya sebentar saja, dia bisa terbunuh.

"...... Elmore, Kleene, bagaimana menurutmu?"

"Aku setuju dengan ide Luke-sama"

"Aku juga."

"Begitukah?"

Kedua pengawal itu cenderung sepakat dengan cara Luke.

Sylphy menyetujuiku, sedangkan mereka berdua tidak. Dengan 2 berbanding 3, maka aku kalah suara ya?

Tapi, kita tidak sedang berdemokrasi di sini.

Kalian boleh memberikan suara sebanyak apapun, namun keputusan akhir tetap di tangan Ariel.

Semuanya diputuskan oleh Ariel.

Yahh, kalau kalian tidak menyetujuinya, maka aku akan menghubungi Triss sendirian.

Aku bisa mengarang alasan seperti, melakukan pengintaian seorang diri ke daerah kerajaan untuk mendapatkan informasi lebih banyak, tau semacamnya.

Tapi, bukankah terlalu mencurigakan jika aku pergi sendirian?

...... Mungkin aku harus membawa Eris atau Sylphy.

"......"

Ariel tidak meminta pendapat Eris ataupun Ghyslaine.

Dia menunduk saat menimbang-nimbang keputusan apa yang akan dia ambil.

Dia menyempitkan matanya, menatap api unggun, dan terus berpikir lebih lama.

"Baiklah."

Setelah beberapa saat, dia pun mendongak.

Dia melihatku dan Luke secara bergiliran.

Sampai akhirnya, menghentikan tatapannya pada Luke.

"Aku setuju dengan ide Rudeus-sama."

"Apa!!??"

Luke mulai marah.

"Mengapa, Ariel-sama!!??"

"Perugius-sama tidak akan semudah itu mempercayakan Tsukkaima kebanggaannya pada kita. Sudah untung beliau mau memberikan dukungannya pada calon raja tidak becus yang lari dari kerajaannya sendiri, jadi kita tidak boleh menuntut lebih. Untuk saat ini, kita tidak bisa mengandalkan bantuannya.”

Sembari mengatakan itu, Ariel mengedipkan matanya padaku.

...... Jadi, kau sengaja memihakku?

Kenapa ya?

Mungkin Ariel ingin agar aku berhutang budi padanya.

Aku tidak keberatan sih berhutang budi pada wanita secantik Ariel ..... apalagi kalau nanti dia minta…. Ahhh, sudahlah… kembali fokus pada pekerjaanmu, bung!

"Tapi, dia meminta kita bekerjasama dengan komplotan perampok, Ariel-sama!! Kita tidak bisa menduga hal apa yang akan mereka rencanakan pada kita!”

"Luke…."

Luke masih tidak terima dengan keputusan tuannya.

"Ada apa denganmu, Luke? Kenapa tiba-tiba kau begitu mencurigai Rudeus-sama?”

"Tapi, ayah ... ayah tidak mungkin….."

“Bukankah sebelumnya kita sudah membahas kemungkinan bahwa Philemon akan mengkhianati kita? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa hal seperti itu mungkin saja terjadi?"

"Aku memang berpikir begitu sebelumnya. Namun, aku yakin sekali bahwa ayah ....."

Dan, Luke menutup mulutnya sebelum dia sanggup melanjutkan kalimat itu.

Ariel juga tampak sedikit terkejut dengan reaksinya.

Luke hanya bisa melotot dengan bibir gemetaran.

"Luke, mungkinkah ............ kau telah mendengarnya dari saudaramu?"

Ariel tiba-tiba menghentikan perkataannya.

Kemudian, dengan nada yang berbeda, dia bertanya pada Luke.

"Luke Notus Greyrat, siapakah kau?"

Luke memandang Ariel dengan penuh pengertian.

Lalu dia mengalihkan tatapannya padaku, Sylphy, dan yang lainnya.

Setelah melihat kecemasan di mata kami, dia melihat kembali pada Ariel.

Sembari terus menatap Ariel, akhirnya Luke pun berlutut di hadapannya.

"Aku adalah ksatriamu."

"Dan aku adalah putrimu."

Luke menunduk, dan Ariel membalasnya dengan anggukan.

Keduanya pun tersenyum lega, sehingga semua ketegangan ini berakhir seketika.

Cukup itu yang perlu mereka katakan.

Tidak lebih.

Kami pun ikutan lega.

"Ayo berangkat. Rudeus-sama bimbing kami."

"Ya."

Dengan demikian, kami telah sepakat menghubungi komplotan perampok.

Aku tidak akan mencelakai Luke.

Aku hanya akan mewaspadainya.

Dan aku semakin yakin bahwa Luke adalah salah satu bidaknya Hitogami.

Bagian 2[edit]

Kembali ke jalan, kemudian memasuki hutan lagi.

Aku sudah mengetahui lokasi komplotan perampok itu.

Saat menemui penanda berupa batu, masuklah ke dalam hutan, kemudian terus bergerak ke timur.

Mereka berada di sisi timur hutan.

Rupanya, tempatnya ada di bawah tebing pada kaki gunung.

Namun, kami tidak begitu cepat mencapai sana.

Karena kereta kuda kami telah dibongkar.

Awalnya, Ariel mencoba menunggangi kuda sendirian, tapi setelah dia merasa terlalu tinggi ketika duduk di pelana, dia pun segera turun.

Sepertinya dia takut terjatuh dari kuda.

Kami melewati area yang jarang dilalui oleh para penunggang kuda.

Harusnya kami tidak perlu mengambil rute lebih panjang jika jalannya boleh kubersihkan dengan sihir.

Itu akan meninggalkan jejak bagi para pembunuh bayaran yang mengejar kita.

Namun, jika kita melawan dan membunuh monster selama perjalanan, mau-tidak mau itu juga akan meninggalkan jejak. Nampaknya itu tidak bisa dihindari.

Yah, jangan terlalu memperdulikannya.

Sepanjang jalan, kami beristirahat beberapa kali.

Berulang kali, Ariel mengeluh karena kakinya sakit.

Mungkin karena dia tidak biasa berjalan di hutan.

Untungnya, Ariel tidak mengeluhkan apapun selain itu.

Sylphy berulang kali memberikan sihir penyembuhan pada kaki Ariel, dan menunggunya beristirahat.

"......"

Namun, mereka tidak banyak ngobrol hari ini.

Masalah tentang bidaknya Hitogami masih membebani pikiranku. Seseorang disebut bidaknya Hitogami, ketika dia dihubungi dalam mimpi dan menjalankan nasehat-nasehatnya.

Hampir pasti, Luke adalah bidaknya Hitogami.

Berarti, dia harusnya sudah mendapatkan beberapa saran dari makhluk itu.

Tetapi, aku masih tidak tahu seperti apakah nasehat-nasehat yang dibualkan Hitogami padanya. Bahkan, sebenarnya aku pun tidak tahu apakah Luke menjalankannya.

Kalau dilihat dari kasusku, Hitogami tidak begitu sering memberikan saran-sarannya.

Kami memang beberapa kali bertemu lewat mimpi, namun tidak begitu sering, paling-paling hanya sekali-dua kali dalam setahun.

Mungkin hal yang sama terjadi pada Luke.

Kemungkinan besar, Luke menerima nasihat sebelum dia datang ke tempatku waktu itu, untuk memohon bantuan.

Aku menerima permintaan itu, dan sekarang jadilah aku sekutunya Ariel.

Ya.

Pasti tindakan-tindakan Luke terkait secara langsung dengan saran Hitogami.

Tapi setelah serangan tempo hari, aku merasakan ada hal yang sedikit berbeda.

Mungkin, Luke juga menerima saran-saran mengenai Keluarga Notus.

Dan sekarang, hubungan kami semakin memburuk.

Seperti sebelumnya, dia masih saja menuduhku bekerjasama dengan musuh.

Bahkan, dia sempat menuduhkan hal-hal lainnya seperti: ‘Jangan-jangan kau coba menguasai Keluarga Notus!’ atau semacamnya….

Dasar bodoh.

Kalau kau berpikir sedikit lebih jernih, maka kau akan tahu bahwa aku tidak menginginkan hal seperti itu.

Jika aku benar-benar tertarik dengan kemewahan dunia seperti itu, maka aku tidak akan tinggal di Kota Sihir Sharia, dan tidak akan mendekati tuan putrimu itu. Lebih baik aku meneruskan karirku sebagai petualang, karena tidak sedikit petualang yang hidupnya lebih sukses daripada diriku saat ini.

Setiap orang memiliki pilihannya sendiri.

Dan tidak semua orang menginginkan uang dan kekuasaan di dunia ini.

Kita terlalu mudah terhasut, jika seseorang mengatakan, ’Hey, dia menginginkan hal yang sama denganmu…’, maka manusia akan cenderung mempercayainya begitu saja. Itu karena mereka tidak suka disaingi.

Dengan kata lain, mungkin yang Luke damba-dambakan selama ini adalah memimpin Keluarga Notus.

Tapi, aku tidak berhak menuduhkan itu padanya.

Sedangkan, fakta berkata bahwa Philemon telah mengkhianati Ariel.

Mungkin ini juga ulah Hitogami, karena saran-saran makhluk itu selalu berujung pada bencana.

Tapi, buku harian si kakek tidak memberikan keterangan apapun tentang hal ini ...

Tunggu dulu, aku pernah membaca bahwa Eris berada di kediaman Philemon saat itu.

Eris adalah anggota keluarga Boreas yang memihak pada Pangeran Pertama.

Kalau dipikir-pikir lagi, tanpa campur tangan Hitogami pun, pengkhianatan Philemon bukanlah suatu hal yang mengejutkan.

Jadi, belum tentu Philemon merupakan salah satu bidaknya Hitogami.

Kalau dilihat dari pengaruh dan kemampuannya, Darius lah yang lebih pantas dicurigai.

Ya, Darius sangatlah berbahaya.

Menteri Senior Darius Silva Ganius.

Aku pun penasaran, nasehat macam apa yang Hitogami bualkan pada orang sehebat itu. Maksudku, dia hampir memiliki segalanya, dan kehidupannya hampir sempurna. Apa lagi yang dicari orang seperti itu dengan menuruti saran-sarannya Hitogami?

Paling tidak, Hitogami memberitahukan hal-hal seperti: ‘Ariel sedang menuju ke Istana Kerajaan.’

Ariel pernah berkata, ‘Darius harusnya sudah menduga kedatangan kita saat ayah mulai jatuh sakit.’

Namun, kekuatan musuh kita terlalu besar.

Kaisar Utara dan Raja Utara. Belum lagi Dewa Air.

Mereka bukanlah petarung-petarung biasa.

Bagaimana kau bisa menghadapi musuh yang kekuatannya tidak terduga?

Kalau soal Pangeran Kedua, kita bahas saja nanti.

Kami tiba ke sini dengan menggunakan sihir teleportasi.

Jika rumornya berkembang dari Kota Sihir Sharia, aku tidak tahu seberapa cepat kabar itu sampai ke Istana Kerjaan Asura.

Seharusnya, rumor tersebut tidak secepat itu mencapai telinga Auber dan Wii Taa. Namun faktanya, kami sudah diserang begitu memasuki hutan. Itu terlalu dini.

Dan juga…. kenapa Auber seakan lebih tertarik padaku daripada Ariel.

Jika dia benar-benar dibayar oleh Pangeran Pertama, maka target utamanya adalah Ariel. Lantas, kenapa dia malah menyerangku terlebih dahulu?

Kalau dipikir-pikir lagi….

...... Mungkin juga Darius lebih menginginkan nyawaku daripada Ariel.

Ah, apapun itu, tidak masalah.

Hitogami dan Darius sama-sama menganggap diriku dan Ariel sebagai pengganggu.

Apapun yang Hitogami sarankan, pasti tujuan akhirnya adalah melenyapkan diriku dan Ariel.

Itu mudah dipahami.

Akan tetapi, bidak terakhir belum jelas identitasnya.

Aku masih merenungkan kalimat terakhir Auber sebelum dia melarikan diri.

Auber bilang, dia sengaja membawa Wii Taa untuk menguji kami.

Apakah itu berarti ......

Ah tidak, mungkin Darius lah yang menyuruhnya.

Hanya dengan menganalisis serangan tempo hari, aku belum bisa menuduh siapapun sebagai bidaknya Hitogami yang ketiga.

Mungkin Auber sudah menduga keikutsertaanku sejak awal, tapi mungkin juga dia mendengarnya dari Darius.

Apapun itu, Auber adalah lawan yang harus kukalahkan.

Meski begitu, gaya bertarung Auber masihlah sangat misterius bagiku.

Dia juga ahli menggunakan beberapa alat.

Seperti minyak dan serbuk mirip tepung itu.

Aku yakin dia masih menyimpan beberapa trik lainnya.

Tapi menurut Orsted, dia cukup kuat meskipun tidak memakai trik-trik itu.

Meskipun aku sudah banyak mendengar tentangnya, namun teori dan praktik selalu tidak bisa disamakan.

Aku sempat lengah saat memutuskan untuk membantu Ghyslaine yang sedang kesulitan menghadapi si bola disko. Dan saat itulah Auber menampakkan dirinya. Sekali lagi kecerobohan seperti itu, mungkin aku tidak akan selamat.

Lain kali pasti akan kuhabisi dia ...

Namun, Orsted pun bilang bahwa dia bukanlah orang yang gampang dibunuh.

Penampilannya begitu mencolok, namun dia bisa lenyap dengan begitu mudah di kedalaman hutan.

Kaisar Utara bukan hanya sekedar julukan.

Kalau menurutku, orang ini lebih cocok disebut Ninja, daripada Pedang Merak ataupun Kaisar Utara.

Dia lah Ninja di dunia pararel ini.

...... Aku jadi penasaran, apakah aku bisa meniru teknik minyak penyembur api dan serbuk pembuta mata itu.

Bagian 3[edit]

Tengah malam.

Aku menghubungi Orsted.

Karena sudah terjadi pertempuran, maka ada banyak hal yang perlu dilaporkan.

"Apakah Auber sulit ditangkap?"

"Ya, aku minta maaf. Padahal kau sudah memberikan banyak informasi tentangnya ....."

"Tidak, tidak apa-apa. Ngomong memang lebih mudah daripada dipraktekkan. Lagipula, kalau Auber benar-benar berusaha melarikan diri, maka kau pun akan kesulitan memburunya.”

Auber sangat cepat saat melarikan diri.

Aku tidak bisa memprediksi pola pergerakannya.

Tapi Orsted sepertinya tahu sebagian besarnya,

Kalau aku, sama sekali tidak bisa membalasnya.

Yah, itu artinya, bos Orsted saja yang membunuhnya, gampang kan…

...... Tidak, jangan terlalu mengandalkan campur tangan bos.

Cara terbaik menyelesaikan masalahmu adalah dengan tidak mempercayakannya pada orang lain.

Aku harus mencoba mengalahkan Auber.

Aku harus melakukannya.

Aku percaya aku bisa.

"Ngomong-ngomong, siapa itu Wii Taa?"

"Yang pasti kemampuannya masih di bawah Auber. Seseorang telah memanggilnya, mungkin atas saran Hitogami.”

"...... Yah, pria macam apa dia itu?"

Untuk jaga-jaga, aku harus mempelajari kemampuan lawan.

“Wii Taa Sang Cahaya dan Kegelapan. Dalam faksi teknik Dewa Utara, dia adalah murid Kalman III. Sudah lama dia bekerja sebagai pengawal Keluarga Notus.”

Pengawal keluarga Notus?

Jangan-jangan, dia sempat melatih Luke atau Paul?

"Seperti julukannya, saat bertarung siang hari dia memiliki kemampuan membutakan musuhnya dengan pantulan cahaya armornya yang berkilauan. Pada malam hari, dia menggunakan alat sihir yang dapat menyemprotkan asap hitam, agar berbaur dengan kegelapan.”

Jadi, jika bertarung melawannya pada siang hari, aku harus mengotori armornya, sedangkan pada malam hari, aku harus menerangi medan pertempuran.

Seharusnya sih begitu.

"Keterampilan pedangnya tidak buruk, tapi ... Ghyslaine dan Eris seharusnya bisa menanganinya."

Itu masuk akal.

Meskipun dia menggunakan trik murahan, namun itu hanya untuk melengkapi tekniknya.

Tidak mungkin ada orang yang bisa mendapatkan gelar setinggi Raja Utara hanya dengan mengandalkan trik murahan seperti itu.

"Namun, kita tidak tahu petarung dari mana lagi yang telah disiapkan oleh pihak musuh.”

"Maksudmu masih ada Raja Utara lainnya?"

"Tidak hanya Raja Utara. Raja Air, Kaisar Air, atau Kaisar Pedang mungkin juga terlibat."

"Berapa banyak Pendekar pedang yang mereka sewa untuk melenyapkan kita?"

“Kurasa tidak begitu banyak, karena Darius sudah menyewa salah satu Pendekar pedang terkuat dari tiga aliran pedang, yaitu Dewa Air.”

Dengan adanya Dewa Air di pihak mereka, tampaknya musuh sudah cukup puas.

Mungkin saja Hitogami menyarankan penambahan petarung-petarung hebat lainnya pada kubu mereka.

Tapi, bagaimanapun juga itu hanya saran.

“Tiga Pedang Dewa Utara juga berada di Kerajaan Asura, jadi ada kemungkinan mereka juga disewa.”

"Tiga Pedang Dewa Utara, siapakah mereka?"

"Ah, biar aku beritahu cara menghadapi mereka."

Tiga Pedang Dewa Utara.

Mereka adalah orang-orang yang menyebut dirinya sendiri sebagai pemimpin aliran Dewa Utara. Sebenarnya, semuanya berjumlah empat orang.

Masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan yang unik dan khas.

Setelah mengajariku cara melawan mereka, kami membicarakan topik lainnya.

"Bagaimana dengan Luke?"

"Sepertinya prediksi masa depan Hitogami mulai melenceng. Jika dia mengendalikan beberapa orang secara bersamaan, kesalahan-kesalahan seperti itu mungkin saja terjadi.”

Itu karena, sejak awal Hitogami tidak pernah berniat bekerjasama dengan para bidaknya. Dia hanya memanfaatkan mereka.

Tidak juga menutup kemungkinan terjadi perselisihan di antara para bidak. Seperti yang terjadi saat ini, Luke masih menganggap Darius sebagai musuh, dan begitu pun dengan Auber.

Pada awalnya, saran Hitogami mungkin terkesan nyata, namun sisanya hanyalah kebohongan belaka.

Malangnya, sepertinya saran yang diterima Luke sebagian besar hanya berisi kebohongan.

"Menurutmu, mungkinkah Hitogami sudah meninggalkan Luke?"

"Ya, kemungkinan besar begitu. Takdir Luke lemah. Hitogami tidak banyak berharap pada bidak-bidak yang bertakdir lemah. Dia hanya menggunakan orang-orang bertakdir lemah sebagai anjing pengawas. Namun, karena aku berada di dekat kalian, maka kemampuannya mengawasi semakin terbatas.”

"... Tapi, dengan hanya mengendalikan 3 bidak, nampaknya mubazir jika Hitogami tetap memanipulasi Luke.”

Saat mendengar itu, Orsted mulai pasang wajah cemberut.

"Bagi Hitogami yang hampir mengetahui segalanya di dunia ini, satu-satunya kekhawatirannya adalah lawan yang tidak bisa dia awasi. Luke masih tetap berharga baginya, walaupun hanya digunakan sebagai anjing pengawas.”

"......Aku paham."

Sebenarnya, kemampuan terbaik Hitogami adalah keberadaannya di Dunia Hampa yang tidak bisa terjamah oleh siapapun. Namun, itu juga yang membuatnya tidak bisa mengawasi dunia ini secara penuh.

Tanpa adanya Luke, dia pasti akan kesulitan memprediksi perubahan masa depan.

Dengan tidak adanya informasi yang terpercaya, dia tidak bisa menggagalkan rencana kami dengan mudah.

Dengan kata lain, Luke masih layak dipertahankan sebagai bidaknya.

Uh-huh, ini terlalu rumit, untuk saat ini biarkan saja semuanya berjalan dengan normal.

"Apakah tidak masalah jika saat ini kita membiarkan Luke melakukan apapun yang dia inginkan?"

"Ya. Tapi berhati-hatilah. Kalau Hitogami sudah kehabisan akal, dia bisa saja menyuruh bidaknya melakukan hal-hal gila yang tidak pernah kau duga sebelumnya.”

"Ya, itu benar."

Itu pun terjadi padaku, saat aku menciptakan Magic Armor untuk menyerang Orsted. Sebelumnya, tak pernah terpikirkan olehku melawan makhluk sekuat Orsted. Itu sungguh keputusan yang gila dan nekad.

"Bunuh dia sebelum melakukan hal-hal yang berbahaya.”

"...... Sebelum aku melakukan itu, bolehkah aku berbicara dengan Luke?"

"Apa yang akan kamu bicarakan?"

"Apakah dia berhubungan dengan Hitogami dan apakah dia menerima saran darinya. Sehingga, aku bisa meyakinkannya untuk tidak mendengar perkataan Hitogami lagi. Siapa tahu, dia sadar dan akhirnya memihak pada kita. Dengan begitu, Luke bisa memberikan informasi yang berharga tentang rencana Hitogami.”

"Hooo ......"

Tapi, aku pun tahu itu tidak mudah.

Luke telah mencurigaiku bersekongkol dengan musuh.

Aku yakin kecurigaan itu mulai tumbuh setelah dia mendengarkan bualan Hitogami.

Aku tidak pandai meyakinkan orang lain, terlebih lagi pada orang yang tidak begitu dekat denganku, seperti Luke.

Hubunganku dengan Luke hanya sebatas kenal.

"Kurasa itu sia-sia saja ... tapi cobalah."

Dia mengijinkanku.

Waktuku tidak banyak. Aku harus segera kembali, jika tidak mereka akan khawatir.

"Sejauh ini, semuanya berjalan dengan baik. Hitogami belum melakukan langkah-langkah yang signifikan. Mudah-mudahan saja, semuanya berjalan lancar sampai akhir."

"Ha ha!"

Dengan demikian, laporan rutin hari ini pun selesai.

Bagian 4[edit]

Aku meninggalkan tempat Orsted.

Semuanya berjalan sesuai rencana.

Setidaknya, begitulah menurutku.

Setelah melewati serangan Auber, sekarang saatnya menghubungi Triss.

Ada beberapa hal yang tidak kami duga sebelumnya, namun secara keseluruhan rencana masih berjalan sesuai kehendak kami.

Aku pun percaya kami akan berhasil.

Meskipun begitu, aku masih mengkhawatirkan gangguan-gangguan kecil.

Khususnya mengenai Luke, dia bisa merusak rencana kami dengan cara yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Meskipun demikian, tampaknya Orsted masih tenang-tenang saja.

Mungkin karena dia tidak berkomunikasi langsung dengan Luke.

Atau mungkin dia hanya mengincar hasil akhir.

Atau…. mungkin juga aku terlalu banyak memikirkannya.

Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Orsted.

Selama dia tidak turun tangan secara langsung, artinya tidak ada masalah yang serius.

Seperti itulah menurutku.

Orsted juga tidak boleh bergerak sembarangan, atau semuanya akan berantakan.

”Lebih baik menyesal telah melakukannya, daripada menyesal tanpa berbuat apapun.”, pepatah itu sering kudengar pada kehidupanku sebelumnya. Namun itu tidak selalu benar.

Ada banyak pilihan yang bisa kulakukan, namun aku takut akan konsekuensi yang kudapati setelahnya.

Untuk saat ini, status quo adalah langkah terbaik.

Aku ingin mengambil pilihan dengan resiko sekecil mungkin.

Kalau kuingat-ingat lagi, Luke tampak begitu ngotot mempertahankan pendapatnya di hadapan Ariel.

Ada beberapa hal yang tidak kupahami dari perdebatan mereka saat itu.

Kalau ada kesempatan, aku akan menanyakannya nanti.

Apakah mungkin aku bisa menyadarkan Luke akan bahaya Hitogami?

Aku masih tidak tahu bagaimana aku harus berargumen dengannya nanti.

Mungkin aku harus menceritakan rencana-rencana jahat Hitogami padaku sebelumnya.

Tapi untuk saat ini, lebih baik jangan membahas itu dengannya.

"......"

Sambil memikirkan itu, aku kembali ke perkemahan.

Aku melaporkan bahwa daerah di sekitar aman-aman saja.

Yang mendapat giliran berpatroli kali ini adalah Kleene, Sylphy, dan aku.

Giliranku berpatroli tidaklah lama, paling-paling hanya 30 menit.

Tapi, kulihat ada orang lain di dekat api unggun.

Semuanya ada tiga orang.

Apakah seseorang terbangun?

Kalau monster menyerang saat aku bertemu Orsted tadi, mungkin Ghyslaine dan Eris segera bangun untuk membasminya.

Siapakah itu? Dari kejauhan aku tidak bisa mengenalinya.

Sosoknya tidaklah begitu besar, namun juga tidak sekecil Sylphy.

Kalau dia wanita, postur tubuhnya paling hanya sebesar Kleene.

Punggungnya lebih panjang daripada Ghyslaine ataupun Eris.

Mungkinkah dia Elmore?

Kenapa dia terbangun?

Ketika aku semakin mendekat, salah satu dari sosok-sosok itu berdiri.

"Malam yang indah ya, Rudeus-sama."

Ternyata itu Ariel. Cahaya redup api unggun semakin membuat wajah cantiknya berseri.

Dengan wajah secantik itu, dia bisa membuat wanita manapun cemburu, termasuk Sylphy.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" katanya seraya tersenyum.

Tanpa ragu sedikit pun, dia mengajakku jalan-jalan.

Bab 4 : Pilihan Ariel[edit]

Bagian 1[edit]

Di bawah sinar rembulan.

Aku berjalan-jalan bersama Ariel mengelilingi hutan.

Hanya kami berdua.

Sylphy, dua pengawal, dan Luke tidak ada di sini.

Ariel memegang obor sembari berjalan memimpin di depan.

Kalau berjalan sedikit lebih jauh lagi, kita akan sampai ke tempat pertemuanku dan Orsted tadi.

"Rudeus-sama, sudah lama aku ingin berbicara empat mata bersamamu.”

Kleene dan Sylphy tidak mengikuti kita.

Kemudian, Ariel pun menghentikan langkah kakinya.

Katanya, dia ingin membicarakan sesuatu yang penting, sehingga aku dibawanya semakin masuk ke dalam hutan.

Pembicaraan tengah malam.

Aku penasaran, topik apa yang akan kami bahas.

Aku tidak disuruh menemaninya pergi ke toilet, kan?

Aku sih oke saja jika kau tunjukkan sesuatu yang biasanya kau rahasiakan. Tapi mengapa harus aku?

Sembari berjalan menjauh dari api unggun, kami ngobrol selama sekitar 5 menit.

Dia beberapa kali melihat ke belakang untuk memastikan kami sudah berjalan cukup jauh.

"Rudeus-sama, yang akan kubicarakan ini adalah rahasia. Itulah kenapa aku hanya mengajakmu.”

Baiklah, berhenti bercanda.

Ariel ingin berbicara tentang masalah yang serius.

"...... Apa yang ingin Anda diskusikan denganku?"

Sebenarnya aku sudah menduganya, tapi tetap saja kutanyakan untuk memastikannya.

Seakan tanpa ragu sedikit pun, lalu dia tersenyum dan membelai pipiku.

Tuan Putri, jangan menyentuh titik-titik sensitifku!

"Yah, santai saja lah…. Toh, malam juga masih panjang.”

"Meskipun malam masih panjang, tapi waktu tidur kita terbatas, Tuan Putri."

"Ahh, jangan terlalu serius begitu. Aku kan ingin bicara bebas bersamamu, Rudeus-sama.”

Setelah mengatakan itu, Ariel melepaskan belaiannya, kemudian duduk di akar pohon terdekat.

Bahaya, kurasa aku harus mengaktifkan mata iblisku secepatnya.

Bukannya aku waspada terhadap Ariel.

Aku hanya berjaga-jaga jikalau ada bahaya yang mengincar Ariel.

"Aku heran Eris-sama dan Sylphy bisa begitu akrab.”

Jadi, kau ingin membicarakan tentang istri-istriku?

Tidak, itu hanya pembuka percakapan.

"Yah ... awalnya kupikir mereka akan banyak bertengkar, tapi nampaknya hubungan mereka cukup akrab.”

Sejujurnya, dulu aku sempat khawatir bahwa memperistri Eris akan menyebabkan kekacauan di dalam rumah tanggaku.

Lalu bagaiman dengan hubungan antara Roxy dan Sylphy? Apakah mereka juga sering bertengkar tanpa sepengetahuanku?

Tidak boleh ada perselisihan di antara anggota keluarga.

“Beberapa hari yang lalu, saat Rudeus-sama sedang berpatroli, aku berbicara pada mereka berdua.”

"Apa yang Anda bahas?"

“Eris-sama berkata, ’Semuanya akan baik-baik saja, asalkan Anda serahkan semuanya pada Rudeus. Anda hanya perlu duduk dan mendengarkan apapun sarannya. Namun, terkadang dia juga membuat kesalahan, itulah mengapa kita juga harus mendengar saran Sylphy.’

Aku bersyukur kau mempercayaiku, Eris. Tapi itu namanya terlalu melebih-lebihkan kemampuanku.

Aku juga senang kau telah mempercayai Sylphy.

Kurasa mereka masih mencemaskanku yang telah bersekutu dengan Orsted.

Tapi, kalian tidak pernah mengeluh atau bahkan protes.

"Kedua wanita itu sungguh berbeda. Eris-sama akan selalu melindungi di hadapanmu, sedangkan Sylphy akan mendukungmu dari belakang.”

"Aku pun bersyukur mereka selalu memberikan yang terbaik untukku ...."

Itulah yang membuatku semakin mencintai mereka.

Aku tidak akan melupakan mereka sampai ajal menjemput.

"Yang menarik adalah, Sylphy bisa memarahi Eris-sama ketika membuat kesalahan, bagaikan kakak yang kesal pada adiknya sendiri.”

"Adiknya sendiri?"

"Ya. Eris-sama pun mendengarkan perkataan Sylphy dengan sepenuh hati, meskipun dia enggan menasehatinya.”

Begitukah?

Aku baru menyadarinya.

Iya juga sih, belakangan ini aku jarang berkomunikasi dengan mereka berdua secara bersamaan.

Aku terlalu berpikiran sempit.

Kurasa aku sudah banyak memahami perasaan Eris, jadi aku tidak terlalu memperhatikannya.

...... Aku bahkan tidak menyadari betapa keras perjuangan Sylphy memahami perasaan Eris.

"Aku sangat tertarik melihat upaya Sylphy menjaga Eris-sama."

"Ariel-sama bahkan memperhatikan hal sekecil itu?"

"Ya, sedangkan Rudeus-sama pasti melewatkannya."

Sambil mengatakan itu, Ariel menatapku dengan penuh gairah.

Dia begitu memikat.

Hey, berhentilah menggoda pria yang sudah beristri tiga.

"Yah, aku pun tahu bahwa Rudeus-sama begitu sibuk. Setiap hari kau mengerjakan banyak hal, dan memikirkan berbagai macam rencana, baik yang kau ungkapkan pada kami, maupun yang kau rahasiakan.”

Ariel terus menatapku seakan ingin menggali informasi lebih dalam.

Apakah dia sedang mengintrogasiku?

“Satu hal yang ingin kutanyakan kepada Rudeus-sama adalah .... apa yang kau pikirkan tentang Luke?”

Luke.

Apa yang aku pikirkan tentang Luke?

Tadi kukira dia hendak membahas tentang Orsted.

"Luke-senpai ya…. hmmm, bagaimana ya….”

Hey Tuan Putri, jawaban macam apa yang kau inginkan dariku?

"Rudeus-sama, kebiasaan burukmu mulai muncul."

"Apa?"

“Jawab saja dengan jujur. Aku cukup ahli bernegosiasi dengan orang lain. Keterampilan itu adalah hal yang wajib bagi seorang putri sepertiku. Jadi, aku tahu kau sedang berbohong atau tidak.”

Kebiasaan.

Apakah aku memiliki kebiasaan buruk seperti itu?

Belakangan ini aku sudah banyak memikirkan berbagai hal.

Tentang Orsted, tentang Hitogami.

Bukan hanya itu saja.

Keluargaku juga.

"Kalau menurutku, sih….. kurasa, Luke telah mengkhianati kita.”

Dan tiba-tiba, Ariel dengan tegas mengatakan itu.

Pengkhianatan Luke.

Oh, itu tepat sasaran.

"Tapi, aku belum mengatakan itu pada Sylphy ataupun yang lainnya.”

Astaga, ini cukup mencengangkan.

"..... Tadinya kupikir Ariel-sama begitu mempercayai Luke."

Aku jadi penasaran, apakah Ariel benar-benar mempercayai kesetiaan Luke.

Jika dia tidak dikendalikan oleh Hitogami, kurasa ikemen itu tidak akan mengkhianati putrinya.

Sama seperti Luke, Sylphy juga tidak akan mengkhianati Ariel.

Kedua pengawal itu pun demikian.

"Ya, aku memang mempercayainya."

"......"

“Sebenarnya, tidak ada alasan bagi Luke untuk mengkhianatiku. Jika dia ingin mengkhianatiku, harusnya sudah dia lakukan sejak dulu. Luke bisa saja membunuhku kapanpun dia mau saat aku tertidur.”

"..... Lalu mengapa Anda mengatakan itu?"

“Tapi, orang sesetia Luke pun bisa mengkhianatiku ketika dia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Luke sangat sayang pada keluarganya. Misalnya, jika ada seseorang menyandera keluarga Luke, kemudian dia meminta tebusan nyawaku, maka Luke tidak akan punya pilihan selain membunuhku……”

Ariel berkata dengan tenang.

Keluarganya disandera.

Aku paham.

Walaupun tanpa pengaruh Hitogami, tidak menutup kemungkinan bahwa Luke bisa mengkhianati tuannya.

Darius menyandera keluarga Luke, dan memaksanya mengkhianati Ariel.

Kemudian, dengan adanya para prajurit dari Keluarga Notus yang menyerang Ariel, maka janji itu tidak lagi berlaku.

Ya, semuanya mulai masuk akal.

Tetapi Luke hanya diam seribu bahasa.

Apakah Luke menyadari bahwa Ariel mengetahui rahasianya ... kemudian dia bimbang hendak berpihak pada Ariel atau Darius.

"Itu sebabnya aku ingin mendengar pendapatmu. Bagaimana menurutmu? Aku perlu pendapatmu, Rudeus-sama.”

Mungkin, Ariel juga mencurigaiku.

Dengan asumsi bahwa aku telah bekerjasama dengan Luke.

“Apakah Anda benar-benar yakin membicarakan hal ini di tempat sesepi ini? Bagaimana jika ternyata aku bekerjasama dengan Luke untuk merenggut nyawamu?”

“Kalau memang begitu kenyataannya, maka aku memang pantas mati. Karena aku sudah salah menilaimu. Seorang pemimpin yang salah memilih orang kepercayaannya memang pantas mati.”

Benarkah begitu? Baiklah, kalau begitu aku akan menguji keberanianmu itu dengan pura-pura menyerangmu.

Ah, lebih baik jangan lakukan itu, toh aku tidak pernah berniat mengkhianatinya.

“..... Kurasa, Luke tidak mengkhianati Anda. Dia hanya sedang dikendalikan.”

"Oleh siapa?"

Itu bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab.

Tapi, aku pun penasaran, bagaimana respon Ariel jika mendengar nama Hitogami disebut.

Gampangnya sih, aku ceritakan semuanya, tapi .....

Tunggu dulu, jangan-jangan Ariel adalah bidak Hitogami yang terakhir.

Tapi Orsted bilang itu tidak mungkin terjadi.

Tenang.

Pikirkan matang-matang apa keuntungan dan kerugian mengungkapan hal tersebut pada Ariel.

Ayo kita pertimbangkan lebih dalam, pertama-tama…..

"Sepertinya Rudeus-sama kesulitan menjawab pertanyaanku. Ya, tentu saja begitu, kalau mudah sih, Rudeus-sama pasti sudah memberitahunya sejak awal.”

Aku pun tersentak mendengar perkataan Ariel itu.

"Lalu, bolehkah aku meminta satu hal lagi padamu?"

Ariel tertawa.

Dalam kegelapan, aku melihat senyumnya yang ramah.

"Bisakah kau kenalkan aku pada orang yang biasa kau hubungi…. yaitu, Orsted-sama."

"Apa?"

Mengapa kau minta hal seperti itu.

Ini semakin rumit.

Darimana kau tahu aku biasa berhubungan dengan Orsted?

Bukankah tadi kita sedang membicarakan Luke?

Kenapa tiba-tiba membahas Orsted?

Apa sih maksud gadis ini yang sebenarnya?

“Itu tidak mengejutkan, kan? Karena, bagaimanapun juga Rudeus-sama adalah sekutunya Orsted-sama.”

"......"

"Aku hanya ingin memastikan Orsted-sama berpihak pada kubu mana."

Jadi, kau ingin tahu Orsted berpihak pada fraksi Grabell atau fraksimu?

Sial, aku tidak ingin percakapan bertele-tele seperti ini.

Apa yang terjadi padamu Ariel? Biasanya kau selalu mengutarakan maksudmu dengan jelas tanpa banyak basa-basi.

"...... Jika Anda sudah tahu Orsted-san berpihak pada siapa, maka apa yang akan Anda lakukan?”

"Kalau Orsted-sama benar-benar berpihak padaku, maka aku akan mendekat padanya, tak peduli betapa menakutkan dia.”

"Mendekat padanya?"

"Bagi kaum bangsawan, bersosialisasi dengan orang-orang yang mengerikan adalah suatu hal yang penting, asalkan mereka menguntungkan bagi kami. Oleh karena itu, aku pasti bisa bertahan.”

Aku mengerti, jadi begitu ya.

Tapi, aku ragu apakah kutukan Orsted bisa dia tanggung dengan alasan sesederhana itu.

"Bagaimana kalau dia berpihak pada lawan?"

"Aku tetap akan mendekatinya, lalu memintanya bergabung dengan fraksiku."

Ariel mengatakan itu dengan penuh keyakinan.

Kau sungguh luar biasa, nona.

"Dia berada di sekitar sini, kan ......? Kita bisa menghubunginya kapan saja, kan."

Namun, aku tidak yakin dengan ini.

Aku tidak yakin bisa memutuskan ini sendirian.

Meskipun Ariel sudah mengukuhkan niatnya untuk mendekati Orsted, namun kutukan si bos masih terlalu kuat.

Dia bisa membuat siapapun membencinya hanya dengan bertatap muka.

Kalau Ariel terkena efek kutukan Orsted, kemudian dia juga melihatku sebagai musuh, maka kacau lah semuanya.

Tapi jika aku menolaknya, seolah-olah ada suatu rahasia besar yang sedang kututup-tutupi.

Tuan Putri, kau harus yakin bahwa si bos akan membantumu sampai menjadi raja.

Hitogami lah musuh yang sebenarnya bagi kita, namun aku pun berada di sini untuk menggagalkan rencana-rencana busuknya.

Itu adalah suatu hal yang sangat simpel, namun begitu sulit dijelaskan.

Uh huh.

"Jangan mengkhawatirkan itu."

Tiba-tiba, terdengar suatu suara dari belakangku.

Aku segera menoleh ke belakang, dan ternyata dia sudah berdiri di sana.

Dia lah iblis berambut perak dan bermata emas…. Eh, maksudku si bos.

"Ariel Anemoi Asura. Jika kau ingin berbicara denganku secara langsung, aku tidak keberatan."

Tatapan tajam Orsted membungkam Ariel.

Kaki Ariel gemetaran, bahkan celananya mulai basah.

"Oh ...... Oh ......"

Ketakutan terlihat jelas di wajahnya, seolah-olah mimpi buruknya menjadi kenyataan.

Gawat, tampaknya gadis ini tidak cukup kuat menanggung kutukan Orsted.

"A-a-a- ......"

Namun, tiba-tiba wajah Ariel berubah kegirangan seperti orang yang ketagihan.

Heh? Ada apa dengannya.

Tapi nampaknya dia baik-baik saja, ya.

Tunggu dulu, sepertinya aku tahu mengapa bisa jadi begini.

Kalau tidak salah, gadis ini maso.

Bagian 2[edit]

Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya ekspresi Ariel kembali normal seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Aku membersihkan celana dan sempaknya Ariel yang basah dengan sihir kombinasi Dry Steaming. Itu merupakan gabungan sihir angin dan api. Cara kerjanya mirip hair dryer, yaitu mengeringkan sesuatu dengan hawa panas.

Namun, kain baju bisa cepat rusak bila terlalu sering dikeringkan dengan sihir ini.

Aisha pun marah jika aku menggunakannya, sehingga ini merupakan sihir terlarang di rumahku.

Tapi, sekarang adalah keadaan darurat, jadi aku tidak punya pilihan selain menggunakannya.

…..ah, aku bahkan tidak pernah bermimpi mencuci sempaknya seorang putri.

Putri kerajaan memang luar biasa, bahkan sempaknya terbuat dari bahan-bahan berkualitas.

Saat aku mencuci celana dan celana dalamnya, Ariel memakai jubahku untuk menutupi auratnya.

Setelah kering, Ariel kembali mengenakannya.

Aku pun kembali mengambil jubahku. Saat kupakai, tercium aroma keringat Ariel dari jubah tersebut. Aku jadi terangsang.

Beberapa hari terakhir, praktis aku tidak bisa bermalam bersama istri-istriku. Mungkin karena itulah aku jadi cepat terangsang.

Yahh, apa boleh buat, terpaksa pake tangan untuk mengeluarkannya.

Tapi, tempat ini terlalu dekat dengan perkemahan, dan di sana ada Eris dan Sylphy. Tahan sebentar om gajah, nanti saja ya di tempat yang agak jauhan.

Orsted menatapku dengan curiga saat imajinasiku semakin liar.

"Aku minta maaf Orsted-san, wajahku terlihat aneh ya.”

"Ah tidak…. tidak apa-apa."

Setelah semuanya tenang, Ariel mulai berbicara pada Orsted.

Wajahnya sedikit pucat, tetapi dia tidak menunjukkan ketakutan saat menghadapi Orsted.

"............"

"Orsted-san, jangan pasang wajah menyeramkan begitu."

"Wajahku memang sudah seperti ini sejak lahir."

"Oh, itu pasti karena efek kutukan."

"Benar."

Tapi, aku penasaran apa yang membuat Orsted keluar dari tempat persembunyiannya.

Ah, sudahlah.

Toh, bos sendiri yang memutuskannya.

Sekarang, tugasku adalah mengawasi percakapan antara kedua orang ini.

"Aku mengerti. Sebelumnya, aku sudah banyak bertemu dengan Miko dan anak-anak terkutuk lainnya…. namun, baru kali ini aku melihat kutukan sekuat ini.”

"Tapi sepertinya kau bisa mengatasinya."

"Mampu bernegosiasi secara diplomatis dalam keadaan apa pun adalah keunggulan anggota keluarga Kerajaan Asura.”

"Padahal, jauh di dalam lubuk hatimu kau memendam keraguan padaku.”

"Ya, karena itulah aku berharap mendapat kesempatan untuk bisa berbicara dengan Anda."

Percakapan ini tampaknya akan berjalan lancar.

Namun, aku masih merasa tidak nyaman.

Mungkin, aku hanya perlu mendengarkan diskusi mereka dengan tenang.

Tapi, bau keringat Ariel yang masih melekat di jubahku membuatku gagal konsen.

"Langsung saja ke intinya. Orsted-sama, benarkah Anda mendukungku? Atas alasan apa Anda melakukan itu?”

"Itu benar. Aku mendukungmu karena Darius dikendalikan oleh musuhku.”

"Darius dikendalikan oleh musuh Anda ...... apakah maksudnya kakakku? Pangeran pertama Grabell?"

"Bukan dia."

"Lalu, siapakah orang yang Anda maksud?"

Tuan putri, pertanyaan itu tidak mudah dijawab lho, bahkan bos pun akan kesulitan memikirkan jawabannya.

"Dewa Manusia."

Oalah, enteng sekali kau menyebutnya, bos.

Aku jadi penasaran, apakah Orsted mempunyai maksud tertentu dengan menyebut nama itu.

Kurasa kau tidak perlu melakukan itu.

"Maksud Anda, apakah Dewa Menusia yang merupakan mitos, atau salah satu ciptaan Tuhan?”

"Makhluk yang kau kenal sebagai Dewa Manusia tidaklah sama dengan musuhku. Namun, begitulah dia menyebut dirinya sendiri.”

"Lalu, atas alasan apa Dewa Manusia mengendalikan Darius?"

"Untuk membunuhmu, dan menjadikan Grabell raja."

"Haa ......"

Ariel terlihat terkejut.

Masih dengan ekspresi terkejut, dia perlahan-lahan menoleh padaku.

"..... Aku mengerti. Meskipun masih sulit kupercaya, tapi tampaknya Rudeus-sama tidak menyangkalnya.”

Wajahku digunakannya sebagai detektor kebohongan.

Semudah itukah dia bisa membaca wajahku?

Padahal aku sedang memasang muka sepolos mungkin.

Nanti akan kubahas ini bersama Sylphy.

Akan kuminta dia mengamati wajahku.

...... Apakah dia hanya akan bilang, ’Kau tampan, kok’.

"Tapi, mengapa kakakku dibantu oleh Dewa ... ...? Apakah karena dia lebih cocok jadi raja?”

"Tidak, Dewa Manusia tidak memiliki alasan sebaik itu. Dia melakukannya hanya karena keegoisan.”

"...... Bisakah Anda menjelaskannya lebih rinci?"

Orsted menatapku.

Kemudian, dengan ekspresi wajah sedikit kebingungan, dia kembali menatap Ariel.

"Sekitar 100 tahun ke depan, Kerajaan Asura akan berada dalam bahaya."

"!"

"Entah kau ataupun Grabell yang menjadi raja, kalian akan menentukan bagaimana nasib Kerajaan Asura di masa mendatang.”

Hei, aku belum pernah mendengar cerita ini sebelumnya.

“Jika Grabell menjadi raja, ia akan coba menyelesaikan krisis melalui jalan militer. Jika kau menjadi raja, maka kau akan menyelesaikan krisis melalui sihir."

"100 tahun kemudian, apakah kita masih hidup ...?"

“Mungkin tidak, tapi kalian membuat kebijakan yang diteruskan oleh raja-raja berikutnya. Grabell akan mengembangkan persenjataan, sedangkan kau sihir.”

Bos, kenapa baru cerita sekarang?

"Jika kekuatan militer yang berkembang, maka Kerajaan Asura tidak akan bertahan lama. Namun kalau sihir yang berkembang, maka negaramu akan selamat.”

"......"

"Dewa Manusia menginginkan hancurnya Kerajaan Asura."

Mungkinkah, Orsted hanya berbohong?

Jangan-jangan, dia sengaja mengarang cerita untuk meyakinkan Ariel.

...... Waduh, kalau Ariel coba mengecek omongan Orsted melalui wajahku sekali lagi, kebohongan si bos bisa terungkap, dong?

"Mengapa Dewa Manusia ingin Kerajaan Asura binasa ......?"

"Karena orang yang akan mengalahkannya lahir di Kerajaan Asura."

"Orang itu akan menjadi rintangan baginya?"

"Betul."

Ariel terlihat semakin yakin.

"Dengan kata lain, Orsted-sama membutuhkan kehadiran orang itu?"

"Betul."

Ariel menempatkan dagunya di tangan, kemudian dia mulai berpikir serius.

Dan benar saja, kemudian dia menoleh padaku dengan wajah bingung.

Berhenti! Jangan lihat aku!

Jangan gunakan detektor kebohongan!

Tidak, wajah polos ini akan melindungi Orsted.

"Yah, aku bahkan tidak pernah membayangkan konspirasi seperti itu, jadi aku sedikit bingung. Aku masih sulit mempercayainya ...... "

Sepertinya dia meragukan kebenaran jawaban si bos.

Sial.

"Aku akan mengungkap semua yang ingin kau tahu, namun aku tidak pernah memaksamu untuk mempercayaiku.”

"Sungguh?"

Ariel tampak terkejut dengan perkataan si bos.

"Belakangan ini, kau terganggu dengan tingkah Luke Notus Greyrat yang mulai berubah, kan? Asal tahu saja, dia tidak berniat mengkhianatimu. Dia hanya dikendalikan oleh Dewa Manusia.”

Senyum pada wajah Ariel langsung lenyap saat mendengar itu.

Senyuman adalah ekspresi standar bagi Ariel, namun itu pun lenyap.

"Dia dikendalikan?"

"Dewa Manusia memberikan beberapa nasehat padanya dengan dalih demi kepentingan Putri Kedua. Namun, dia disesatkan perlahan-lahan.”

"Meski suka wanita, namun Luke adalah pria yang bijak, apakah Anda yakin dia bisa tertipu dengan begitu mudahnya?”

"Jika seseorang memberimu informasi yang berguna dan terbuki kebenarannya, maka kau tidak perlu waktu lama untuk mempercayai orang tersebut.”

Tapi bos, kau sendiri sering menutup-nutupi informasi yang berguna padaku.

Yahh, tapi aku tetap mempercayaimu, sih.

"Aku masih belum siap dengan semua cerita ini…. ini terlalu mendadak bagiku…. Rudeus-sama, bagaimana menurutmu?”

Aku langsung tersentak saat Ariel tiba-tiba meminta pendapatku.

Kalau pun si bos berbohong, kurasa itu adalah keputusan yang benar.

Tapi, kebohonganmu kali ini cukup gila, bos.

Kalau aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, Ariel pasti akan langsung mencium kejanggalan pada cerita Orsted. Bagaimanapun juga, dia sangat peka.

Namun, jawaban macam apa yang harus kuberikan…..

Biarkan aku berpikir sejenak….. Hmmm….

Baiklah….

"Jujur saja, aku juga pernah dikendalikan oleh Dewa Manusia dalam waktu yang lama. Tiba-tiba saja, dia muncul dalam mimpiku, kemudian dia memberikan saran-saran yang terbukti kebenarannya secara instan. Dan berkat itu, aku memperoleh banyak pencapaian dalam hidupku. Akan tetapi….. itu semua hanyalah persiapan untuk menjebakku di kemudian hari. Karena sudah termakan omongannya, aku melakukan semua sarannya tanpa ragu sedikit pun. Dan di situlah aku hampir celaka. Untungnya, masih ada orang yang mencegahku untuk tidak mengikuti omongan Dewa Manusia. Jika tidak, maka habislah semuanya. Bahkan, aku pernah menuruti sarannya untuk melawan Orsted-san…. Ariel-sama, aku yakin hal yang sama juga terjadi pada Luke.”

Wow, aku sendiri terkejut dengan omonganku sepanjang itu.

Masih tanpa senyum sedikit pun, Ariel kembali mengarahkan pandangannya pada Orsted.

Beberapa kali dia komat-kamit tanpa suara, sepertinya dia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Dia juga menggeleng-gelengkan kepalanya seakan coba melepaskan diri dari keraguan.

Akhirnya, dia mengangkat kepalanya, dan siap mengucapkan sesuatu.

"Itu berarti ...... Luke tidak memihak Darius, kan?”

"Ya, dia hanya digiring untuk melancarkan rencana Darius. Bahkan, dia sendiri tidak menyadari itu.”

Tampaknya, topik yang ingin dibicarakan Ariel malam ini hanyalah tentang Luke.

Terlepas dari benar-tidaknya keterangan Orsted.

"..... Aku lega mendengarnya."

"Jadi, kau sudah mempercayaiku?"

"Seandainya kita membicarakan hal lain, mungkin aku akan meragukan kata-kata Anda, Orsted-sama. Namun, kali ini aku mempercayai Anda. Aku sangat yakin ada yang salah dengan tingkah laku Luke akhir-akhir ini. Aku menyadarinya karena Rudeus-sama berkali-kali melirik Luke saat dalam perjalanan.”

He? Aku meliriknya berulang kali?

"Ini terlalu mudah. Seakan-akan Anda datang dari masa depan untuk memperingatkanku…. Anda bisa saja menipuku, namun aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mempercayainya.”

Ariel menjawab sambil melihat ke arahku.

Aku penasaran, apakah karena wajahku dia mempercayai Orsted?

Ya, syukurlah kalau begitu, namun ini tidak benar.

"Jadi, apakah ada orang lain yang juga dikendalikan oleh Dewa Manusia?"

"Kemungkinan besar, Darius lah orangnya."

"Kupikir juga begitu. Lalu, adakah yang lain?"

"Kemungkinan besar, mereka adalah Kaisar Utara Auber atau Dewa Air Reida."

"...... Kalau begitu, hanya ada tiga orang?"

"Ya, tidak bisa lebih dari itu."

"Aku mengerti."

Ariel pun mengangguk.

"Kalau begitu…. Rudeus-sama…. Orsted-sama…. Alasan kalian bertarung melawan orang-orang yang dikendalikan oleh Dewa Manusia adalah untuk menggagalkan rencananya?”

"Ya. Kau memang cerdas."

"Ah, syukurlah aku orangnya cepat tanggap."

Meskipun Ariel mengatakan itu dengan bangga, dia tidak tersenyum.

Sejak tadi, ekspresi wajahnya kaku.

"Orsted-sama, aku punya suatu tawaran."

"Apakah itu?"

"Karena tujuan kita sama, maka kurasa aku akan mengikuti arahan Orsted-sama.”

"...... Meskipun kau menuruti perintahku, bawahanmu tidak akan menyetujuinya. Itu karena mereka sangat membenciku karena kutukanku.”

"Kalau begitu, ya jangan memberitahu mereka bahwa Anda lah yang memberikan perintah. Meskipun aku menjual nyawaku pada iblis, tak seorang pun akan khawatir bila aku merahasiakannya.”

"......"

Ah, Orsted tampak sedikit sedih saat Ariel membandingkannya dengan iblis.

"Aku siap melakukan apapun asalkan aku naik tahta. Semakin kuat sekutuku, semakin besar pula peluangku menang.”

"...... Bukannya kau masih mencurigaiku berbohong padamu, dan mengkhianatimu pada saat-saat terakhir?”

"Aku bukanlah orang bodoh yang menyia-nyiakan peluang karena takut akan resiko sekecil itu.”

Tuan Putri, perkataanmu itu memang keren, tapi kau jadi mirip seperti tokoh antagonis yang siap menjadi hamba Raja Iblis untuk mewujudkan ambisinya.

Tapi, aku juga merasakan hal yang sama saat Orsted menawarkan bantuannya padaku tempo hari.

Bagaimanapun juga, menjadi sekutu Orsted akan memberimu keuntungan yang tidak sedikit.

Jika dalam suatu perusahaan kau mendapati seorang bos yang tampak sangar dan gahar, belum tentu dia akan berlaku buruk padamu.

"Baiklah, untuk sekarang, kuserahkan urusan Luke pada Anda."

"Em."

"Anda dan Rudeus-sama akan berjuang melawan bidak-bidaknya Dewa Manusia, sedangkan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan bantuan dari para bangsawan dan juga Luke. Jika kita saling bekerjasama seperti ini, maka beban yang kita tanggung akan semakin ringan.”

"..... Yahh, itu ide yang bagus. Bujuklah Luke semampumu agar dia mau kembali berpihak pada kita, tapi jika tingkahnya semakin mencurigakan, bunuh saja dia.”

"Siap, laksanakan."

Ariel berlutut di depan Orsted, dan Orsted menyambutnya dengan wajah seram seperti biasa.

Bagian 3[edit]

Mulai sekarang, Ariel resmi menjadi bawahan Orsted sepertiku.

Dan Orsted mengungkapkan rencana masa depannya, untuk semakin meyakinkan Areil.

"Rudeus-sama. Jaga rahasia ini dari Sylphy dan yang lainnya, ya."

"Ya, tapi apakah Tuan Putri benar-benar yakin dengan keputusan ini?"

"Aku yakin. Sekarang aku sungguh merasa lega. Tapi bukan lega karena aku ngompol di celana, lho.”

Saat mengatakan itu, wajah Ariel tampak puas. Ya ampun, kenapa jadi dihubungkan dengan ngompol. Yahh, tampaknya benar kata mereka bahwa bangsawan Asura orangnya mesum-mesum.

"Sekarang, Rudeus-sama tidak lagi menyembunyikan rahasianya padaku.”

"Benar."

Tapi, ada beberapa hal yang masih membuatku tidak nyaman.

Yahh, biarkan saja lah. Untuk saat ini, aku hanya perlu mengikuti arahan Orsted.

"Ariel-sama"

"Ya?"

"Karena tidak ada lagi rahasia di antara kita, maka aku akan mengungkapkan ini dengan terus terang. Silahkan Anda berusaha sebaik mungkin untuk membujuk Luke kembali berpihak pada kita, namun kalau sampai dia membahayakan Sylphy dan Eris, maka aku tidak segan membunuhnya.”

"....... Kau tidak mengikuti arahan Orsted-sama?"

"Aku mengikuti perintah Orsted-san dengan tujuan melindungi keluargaku. Jadi, kalau mereka berada dalam bahaya, aku tidak akan ragu menyalahi perintah siapapun.”

Kuputuskan untuk memperingatkan Ariel sebelumnya.

Tentu saja, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku hanya mengungkapkan bahwa aku tidak akan segan membunuh Luke jika keluargaku terancam bahaya.

Tapi untuk saat ini, mari kita percayakan semuanya pada Ariel.

Daripada aku yang meyakinkan Luke, lebih baik Ariel yang melakukannya.

"Aku mengerti, Rudeus-sama. Kalau begitu, aku mohon bantuannya."

"Aku juga."

Dengan demikian, Ariel menjadi bawahan Orsted.

Posisi kami sama.

Kemudian kami berdua kembali ke perkemahan, dan tentu saja di sana telah menunggu Sylphy sembari menggembungkan pipinya.

Bab 5 : Tristina[edit]

Bagian 1[edit]

Keesokan harinya.

Kami memasuki wilayah komplotas perampok.

Tidak ada yang membuntuti kita.

Juga tidak ada tanda-tanda kehadiran Auber dan bawahannya.

Tampaknya, musuh belum tahu bahwa kami mengambil rute alternatif.

Tapi, harusnya Hitogami tahu.

Mungkin kemampuannya itu melemah karena aku mengenakan gelang yang diberikan Dewa Naga ini.

Berkat itu, Hitogami tidak lagi bisa memprediksi masa depan dengan akurat.

Dengan kata lain, Hitogami pun tidak menyangka bahwa kami telah mengambil rute alternatif.

Ya, semoga saja begitu.

Aku juga tidak boleh melupakan catatan-catatan si kakek, karena itulah yang membantuku memprediksi apa gerakan Hitogami selanjutnya.

Tapi menurut Orsted, catatan buku harian itu tidak sepenuhnya benar, karena takdir sudah banyak berubah semenjak si kakek menemuiku.

Aku pun sepertinya tidak mengingat isi buku harian itu dengan baik.

Sembari memikirkan itu semua, tiba-tiba terjadi sesuatu.

".... Berhenti!"

Ghyslaine yang sedang memacu kudanya sedikit di belakangku, tiba-tiba meraih pundakku.

"Biar aku duluan."

Pada saat yang sama, Eris pun maju ke depan.

Aku segera menghentikannya.

Gawat kalau si rambut merah ini ikutan bernegosiasi dengan komplotan perampok. Semuanya hanya akan berakhir dengan baku hantam.

Setelah kuyakinkan Eris, dia pun kembali mundur.

Namun, dia menatapku tajam dari belakang.

"Mereka sudah mengelilingi kita."

"Bukankah sudah kubilang? Aku hendak bernegosiasi dengan mereka."

"...... Baiklah, kalau begitu aku akan melindungi Tuan Putri."

Ghyslaine juga bergerak mundur.

Saat kutoleh ke belakang, Ghyslaine sedang membicarakan sesuatu dengan Sylphy.

Aku juga mendapati Ariel sedang menatapku.

Seolah-olah, pandangan matanya mengatakan, ’Berhati-hatilah.’

Dia begitu tenang, seolah-olah tidak terjadi apapun kemarin malam.

Dia mengatakan padaku untuk menyerahkan masalah Luke dan para bangsawan padanya.

Sepanjang jalan, aku melihat dia banyak berdiskusi dengan Luke, namun aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan……

Apapun itu, Orsted telah menyetujui keinginan Ariel untuk membujuk Luke agar kembali berpihak pada kami.

Aku hanya perlu mengikuti kata-katanya.

"......"

Sekarang, aku harus berkosentrasi dengan masalah yang sedang kuhadapi, yaitu bernegosiasi dengan komplotan perampok.

Aku harus memenangkan negosiasi ini.

Mulai dari perkenalan diri.

Tapi, aku juga harus memperkenalkan rombongan ini.

"...... Hmpf."

Tepat di belakangku, Eris melihat sekelilingnya dengan curiga.

Saat kulihat apa yang Eris amati, di sana ada sekelebat bayangan yang muncul, kemudian menghilang lagi.

Hari ini pertama kalinya kami menghadapi lawan yang tidak tampak.

Ah, mungkin juga tidak.

Semenjak serangan kemaren, Eris semakin mendekatkan dirinya padaku.

Mungkin Eris semakin waspada, karena serangan Auber memang sulit diduga.

Setelah beberapa saat.

Eris berhenti memindai sekelilingnya.

Rupanya, kami benar-benar telah terkepung.

"Setidaknya ada lima orang yang mengepung kita. Berhati-hatilah."

Eris memberitahu kami dengan suara rendah.

Kapan kau mempelajari keterampilan seperti itu.

Pada saat itu juga, keluarlah seorang pria dari balik semak-semak.

Kemudian bersamaan dengan itu, munculah sosok-sosok lainnya dari atas pohon dan tempat-tempat yang berbeda di sekitar kami.

Satu ...... Lima ...... Sepuluh .......

Hei, Eris-san, ternyata ada 20 orang, lho.

Lima orang? Pengamatanmu melenceng jauh, kan?

Ada seorang pria di depan kami.

Dia adalah seorang pria berjanggut yang mengenakan pakaian bulu mewah. Berbekal parang di pinggangnya, dia memegang obor yang tidak menyala dengan satu tangan. Tampaknya om inilah pemimpin komplotan perampok itu.

Tak peduli dilihat dari manapun, dia memang tampak seperti preman.

Dia mulai bicara dengan suara yang cukup keras sehingga kami bisa mendengarnya.

"Apa yang dipantulkan oleh gema?"

Kau memerlukan kata sandi untuk menjawab pertanyaan itu, untungnya bos Orsted sudah memberitahuku.

"Gudang berisi kelinci yang gelap."

Maksud dari pertanyaan itu adalah, ’Ada urusan apa kalian di sini?’

Dan jawaban itu berarti, ’Kami mencari salah seorang anggota Guild Pengintai.’

Jika kau ingin jual-beli budak, maka kata sandinya adalah, ’Serigala membesarkan anak.’

Jika kau mencari seseorang, bilang saja, ’Kami menginginkan kucingmu.’

Jika kau ingin membunuh seseorang yang menyeberangi Janggut Naga Merah, bilang saja, ’Bangunkan beruangnya.’

Untuk berurusan dengan mereka, kau harus tahu kata-kata sandi seperti itu. Jika tidak, kau tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau mau.

"Ah...?"

Setelah kujawab demikian, om preman itu tampak terkejut.

"Tina Thrush?"

"Biji buah bercorak loreng."

Itu adalah kode untuk Triss.

Wajah om preman terlihat semakin bingung.

Kemudian dia mengangkat bahu, seolah mengatakan ’Yahh, baiklah…’, lalu mengangkat satu tangan.

Sosok-sosok di sekitar kami tiba-tiba menghilang.

"Ikuti aku."

Si pimpinan perampok mengatakan itu, kemudian menyalakan obornya.

Aku mengkode, “oke” pada teman-teman di belakang, dan Ariel pun tampak lega.

Saat kutengok Eris, dia melihatku dengan mata melotot.

Entah kenapa, dia terlihat begitu antusias.

"Rudeus memang jempolan."

Sehebat itukah percakapanku dengan om itu?

Kurasa tidak.

"Ayo."

"Baik!"

Kami mengikuti perampok itu masuk semakin dalam ke hutan.

Bagian 2[edit]

Di dalam hutan, kami dibawa pada suatu gubuk.

Ada kandang di luar, sedangkan di dalam ada gudang dan kamar tidur.

Pada kamar itu terdapat tiga tempat tidur bertingkat.

Spreinya lembab dan sepertinya selimutnya dipenuhi dengan kutu, namun masih layak dipakai tidur.

Seperti inikah pondok penebangan kayu?

Aku belum menanyakan nama om itu, namun aku memberinya uang sewa.

"Aku akan membawa Thrush ke sini sebelum fajar esok hari. Untuk sementara waktu, kalian bisa tinggal di sini...."

Hanya itu yang dia katakan, kemudian pergi.

Dia akan pergi ke Guild Pengintai, kemudian membawa Triss ke sini.

Dia bahkan tidak menanyakan hal lainnya pada kami.

Dia tidak peduli atas alasan apa kami ingin menemui Triss.

Semuanya beres setelah kau membayar sejumlah uang. Seperti itulah peraturan di sini.

"Fyuuhh."

Setelah meletakkan barang-barang bawaan kami, aku menjelaskan rencana kita ke depannya.

Kita akan melintasi perbatasan saat fajar menyingsing.

Kemudian, meminta bantuan pada wanita bernama Triss itu.

Malam ini, kita akan menginap di sini.

"Kita hanya bisa berharap Darius tidak menemukan tempat ini sebelum fajar menyingsing.” seperti itulah komentar Luke dengan sedikit nada menyindir.

Yahh, aku pun juga berharap demikian.

Semuanya masih berjalan lancar, namun di saat-saat seperti ini, malapetakan bisa datang kapanpun.

Namun, itu hanya firasatku saja.

“Rudeus-sama, para perampok itu tidak akan menjebak kita, kan? Jika itu terjadi, kumohon jangan jual Kleene dan Elmore, oke?"

Ariel mengatakan itu sambil bercanda.

Kurasa, dia sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya ......

Oh, hei, Kleene dan Elmore menatapku dengan curiga.

Tolong hentikan itu, majikan kalian hanya bercanda.

“Yahh, setidaknya malam ini kita bisa tidur pada ruangan beratap ....... besok kita akan melewati perbatasan melalui rute alternatif, dan itu pasti akan sangat melelahkan. Jadi, beristirahatlah dengan baik malam ini.”

Setelah Ariel mengatakan itu, kami pun mulai bersiap untuk beristirahat.

Wajah Ariel terlihat sangat lelah.

Sepertinya dia tidak terbiasa bepergian melintasi hutan belantara.

Para pengawal itu harusnya juga kelelahan, namun anehnya mereka tampak cukup segar.

Mereka sedang memijat kaki Ariel sekarang.

Nampaknya mereka sudah berlatih 7 tahun lamanya, hanya untuk saat-saat seperti ini.

Luke berdiri di samping jendela, sembari mengawasi pemandangan di luar dengan begitu waspada.

Sesekali, dia melirikku dengan tajam.

Apakah dia masih mencurigaiku?

Mungkin dia sudah mendapatkan informasi dari Hitogami tentang siapa sajakah yang harus dilenyapkan.

Padahal, Hitogami hanya memperalatnya untuk menghabisi musuh-musuhnya.

Terlepas dari semua itu, kami sudah memutuskan untuk menyerahkan urusan Luke pada Ariel.

Saat ini, aku hanya akan mengamati perkembangannya.

Ghyslaine berdiri di sudut sembari mengawasi seisi ruangan.

Nampaknya, itulah cara dia mengawasi kami.

Saat aku melihatnya sekilas, dia merespon dengan anggukan.

Hanya itu.

Sylphy masuk ke dalam kamar tidur, lalu mulai membersihkannya.

Aku sih sudah terbiasa tidur di mana pun, tapi…. beneran nih kita akan menggunakan sprei lembab dan selimut penuh kutu itu?

Oh iya, aku kan bawa kain cadangan, jadi lebih baik kita gunakan kasurnya saja.

Di belakangku, Eris sedang memoles pedangnya sambil senyum-senyum sendiri.

Dengan pedang segarang itu, pria manapun pasti ketakutan melihat Eris saat ini.

Yahh, dia memang bisa diandalkan.

Sebenarnya aku ingin melaporkan sesuatu pada si bos ......

Tapi, aku tidak bisa meninggalkan gubuk pada saat-saat seperti ini. Karena itu terlalu mencurigakan.

Sekarang, lebih baik aku memeriksa peralatan.

Bagian 3[edit]

Sudah dua jam berlalu?

Di luar, hujan mulai turun.

Hujannya tidak sederas saat di Hutan Agung, sih. Tapi suara tetesan air terdengar begitu nyaring dari atap gubuk.

Ariel sudah tertidur.

Dia menggunakan tempat tidur yang sudah disiapkan oleh Sylphy. Dengkurannya terdengar pelan dan tenang.

Elmore juga sudah beristirahat, sementara Luke masih berjaga-jaga di pintu depan.

Tiga orang, yaitu: Kleene, Eris, dan Sylphy, sedang membicarakan sesuatu dengan suara pelan.

Kleene dan Sylphy sesekali tertawa, mungkin mereka tidak membahas sesuatu yang serius.

Bercanda juga penting karena kita tidak boleh terus-terusan berada dalam tekanan.

Ghyslaine tidak bergerak sedikit pun dari posisi sebelumnya.

Sekarang dia duduk di dekat pintu masuk dengan mata terpejam.

Tapi, kurasa dia belum tidur.

Dia hanya terdiam di sana.

Aku sudah selesai memeriksa peralatanku, jadi sekarang aku punya waktu luang.

Sepertinya aku perlu memanfaatkan waktu luang ini.

"...!"

Pada saat yang sama, telinga Ghyslaine berkedut.

"Seseorang sedang menuju ke sini."

Ketika mendengar itu, Eris langsung bangkit.

Mereka langsung memegang pedangnya masing-masing.

Ruangan ini mendadak mencekam.

Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu.

Suaranya menggema di dalam ruangan yang senyap.

"......"

Ghyslaine mengedipkan mata padaku.

Aku membalasnya dengan anggukan yang menyatakan, ’Kau saja yang buka pintunya…’

Kemudian seseorang masuk, dia adalah seorang wanita yang wajahnya ditutupi kerudung.

Dia mengenakan jas hujan yang dibuat dengan kulit monster.

Meskipun badannya terbungkus jas hujan, namun lekukan tubuhnya jelas-jelas menandakan bahwa dia adalah seorang wanita.

"Ya ampun ....... cepat buka pintunya, bodoh."

Sambil mencela, akhirnya wanita itu melepaskan jas hujannya.

Orang berambut coklat terang seperti dirinya banyak dijumpai di Kerajaa Asura.

Namun, pakaian yang membalut dada besarnya cukup jarang ditemui di Kerajaan Asura.

Oppai-nya besar.

Hmm, besaran mana ya dengan punya Eris?

"Siapa di antara kalian yang mencariku?"

Mushoku17 05.jpg

Sembari menghadap pada kami, wanita itu berbicara dengan lantang.

“Kumohon jangan meminta yang aneh-aneh, seperti menyewaku semalaman sebagai pelacur. Urus saja nafsumu sendiri! Aku sedang sibuk!”

Suaranya terdengar mengintimidasi dan dia tampaknya sedang frustasi.

Eris mengerutkan kening dan Kleene menatapnya dengan jijik.

Sebelum dia meneruskan omelannya, Sylphy segera menanggapi wanita itu.

"Aku minta maaf, tapi di antara kami ada yang sudah tidur, jadi bisakah kau berbicara sedikit lebih pelan?”

"Hah?"

Setelah mendengar itu, mood wanita ini langsung memburuk.

“Kalau sedang hujan begini, bukankah sudah sewajarnya kita bicara keras-keras? Kau coba mempermainkanku ya!? Asal tahu saja, Triss bukanlah orang yang penyabar.”

Jadi, dia lah Triss.

Kesannya sedikit berbeda dari apa yang terdiskripsikan di buku harian si kakek.

Kupikir dia lebih pendiam.

Namun, tiba-tiba aku merasa kesal.

Di buku harian si kakek, Triss cukup menghormatiku karena aku berhasil mencuri sihir penyembuhan tingkat dewa dari Gereja Milis. Dengan kata lain, sebagai perampok dia mengagumiku yang telah mencuri salah satu benda paling berharga di dunia ini.

Diriku yang sekarang bukan pencuri, jadi dia tidak punya alasan menghormatiku.

Namun, bos Orsted sudah memikirkan hal ini.

"Ah sial!! Jangan macam-macam denganku! Mood ku sedang buruk. Aku kalah bermain dadu dengan Donovan! Aku kena ludah wanita yang sudah menjadi budak! Aku repot-repot datang ke sini sewaktu hujan! Kalau tidak ada yang perlu denganku, maka aku akan kembali sekarang juga! Hari ini aku sungguh sial! Besok aku akan bersenang-senang sampai puas!”

Sebagian besar yang dia keluhkan adalah harinya yang buruk.

Tapi, aku justru menginginkan dia melampiaskan semua amarahnya.

Ketika aku mencoba menenangkannya, Luke tiba-tiba mendekat. Dia meraih tangan Triss, lalu menyeka air yang mengalir pada dahinya dengan saputangan.

“Aku minta maaf karena telah memanggilmu tiba-tiba, Nona Triss. Kumohon tenanglah dulu. Dan bisakah kau meluangkan waktu berhargamu untuk mendengarkan cerita kami?”

Ucapan dari mulut seorang ikemen yang penuh gombalan.

Tapi, itu cukup efektif.

Triss hanya bisa megap-megap saat tangannya dipegang oleh Luke.

Dia tersipu malu, lalu menundukkan wajahnya.

"Yah, k-k-kalau kau memaksa ...... b-baiklah, akan kudengarkan ceritamu."

Luar biasa, ternyata si ikemen ini bukannya tidak berguna.

Seperti inikah kekuatan pria populer?

"......"

Luke menoleh padaku, lalu mengedipkan matanya.

Seakan berkata, ’Sekarang giliranmu.’

Luke melepaskan tangannya, lalu menjauh. Namun, Triss segera menghentikannya.

"..... Oh, kau ini siapa!? Kau bahkan belum memperkenalkan dirimu!”

"...... Namaku Luke."

Luke tidak menyebutkan nama keluarganya. Setelah mengungkapkan nama depannya, dia mundur ke belakang kami.

Tidak ...... sepertinya Triss pernah mendengar nama itu sebelumnya, karena dia terlihat sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu.

Baiklah, sekarang giliranku.

"Senang berjumpa denganmu, Triss-san.”

Aku menyambutnya dengan senyum terbaikku.

"Kamu siapa?"

Seketika, wajah Triss kembali cemberut.

Dia terlihat begitu curiga padaku.

Sepertinya senyumanku tidak seampuh gombalannya Luke.

Mulai sekarang, kalau ada waktu aku akan melatih senyumanku.

Mungkin Aisha bisa membantuku…… karena dia ahlinya tersenyum.

Oke, kita lihat saja nanti.

"Namaku Rudeus."

Aku menunduk sambil menyatakan namaku.

Triss mengangkat alisnya, kemudian dia memindai setiap jengkal tubuhku dengan tatapan matanya.

"Rudeus ....... kok kayaknya pernah dengar, ya ...... Oh…. jangan-jangan kau adalah…."

Sepertinya dia mengingat sesuatu.

Dia mengangkat alisnya dengan terkejut, lalu berkata….

"Kau adalah si Quagmire."

Muu, jadi aku lebih populer dengan julukan itu?

"Kau adalah penyihir terburuk dan terkejam seantero Sharia, mengapa kau ada di tempat seperti ini!??”

Terburuk dan terkejam?

Rumor apa lagi ini??

Saat aku masih memikirkan itu……

Tuk.

Terdengar sesuatu.

Saat itu pun, Triss kembali cemberut.

Aku merasakan sesuatu yang gatal di punggungku.

"......"

Tuk, tuk, tuk, tuk…. suara berirama itu terus terdengar.

Setelah kutemukan sumber suara itu, di sana kudapati Eris sedang mengetuk-ngetuk gagang pedangnya.

Itu adalah peringatan.

Dia menunjukkan kekesalannya dengan mengetuk-ngetuk gagang pedangnya.

Ini mirip seperti ular derik yang menggoyangkan ekornya saat wilayahnya diganggu musuh.

Saat aku mengetahui itu, keringat dinginku mulai mengucur.

Dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku gemetar ketakutan.

"Ah, maaf…maaf."

Namun, yang menggigil bukan hanya aku.

Bahu kecil Triss juga sedikit gemetaran.

"Aku tidak bermaksud mengganggu kalian.”

Kata-kata itu sepertinya dia tujukan pada wanita berambut merah di sana.

Dengan sekali dengusan, akhirnya Eris berhenti mengetuk pedangnya.

Hampir saja.

“Kalau kau berurusan dengan perampok, maka informasi adalah segalanya. Kau harus mengetahui nama orang-orang yang berbahaya, dan seperti apa penampilannya.”

"Aku bukanlah penyihir yang berbahaya, kok."

"Ya, aku mengerti. Mungkin Rudeus bukanlah nama yang terkenal, namun orang sudah banyak mengenal Quagmire. Aku pun tahu wanita berambut merah di sana itu adalah si Mad Dog. Dan wanita ras hewan di sana adalah si Serigala Hitam. Apakah aku salah?”

"...... Tidak, kau benar."

Jika dia sendirian, dia tidak boleh berkata seperti itu.

Namun, ternyata dia mengetahui Eris.

Jangan bilang kau jugalah bidaknya Hitogami?

...... Tidak, itu tidak mungkin.

Meskipun dia tahu Quagmire, toh dia tidak mengenal Rudeus.

Informasi tentang Mad Dog, Serigala Hitam, dan Quagmire rupanya telah tersebar luas.

Jika aku coba mengaitkan ini semua pada Hitogami, mungkin perhitunganku akan salah.

"Jadi, apa yang diinginkan seorang Quagmire yang terkenal itu dari Triss si perampok biasa?”

Sekarang, aku harus membahas tentang masa lalunya.

Kami harus memanfaatkan wanita ini untuk menggulingkan Darius.

Namun, aku tidak bisa membahas hal sensitif itu begitu saja, atau dia akan menolak memberikan keterangan.

Jadi, aku tidak bisa serta-merta mengatakan, ’Kau adalah Tristina Purplehorse, mantan bangsawan Asura.’ kemudian membongkar aibnya begitu saja.

Lawanku adalah salah satu bangsawan paling kuat di Asura.

Jika aku mengungkapkan fakta-fakta yang mengejutkan secara langsung, bisa-bisa aku sendiri yang celaka.

Oleh karena itu, kita harus mendekatinya selangkah demi selangkah.

Pertama-tama, kita harus menjadi teman yang akrab.

Kemudian, selama perjalanan berlangsung, aku akan mengorek informasi darinya.

Pada akhirnya, akan kuungkapkan tujuanku yang sebenarnya, yaitu menggulingkan bangsawan yang telah menghancurkan masa depan wanita malang ini.

Seperti itulah rencanaku.

Kalau dia menolak bekerjasama, maka aku harus sedikit memaksanya.

Baiklah.

"Kau adalah Tristina Purplehorse, kan?”

Bukan aku yang mengatakan itu, melainkan seseorang dari belakangku.

Hancur sudah rencanaku.

Saat kutengok ke belakang perlahan-lahan, di sana berdirilah seorang wanita cantik berambut pirang.

Ariel.

Dia baru saja bangun, jadi rambutnya tidak serapih biasanya.

Tapi, suaranya selalu berkarisma.

Mata Triss terbelalak saat mendengar itu.

"K-k-kenapa kau tahu nama itu ........!!?"

"Yahh, tidak salah lagi, kau benar-benar Tristina ....... Hei, apa kamu sudah lupa? Bukankah kita pernah bertemu saat aku berulang tahun pada umur lima tahun?”

Sementara aku masih kebingungan mau berbicara apa, Ariel terus saja mengajaknya bicara.

Kemudian, Ariel mengedipkan matanya sekilas padaku.

Baiklah, aku percayakan semuanya padamu.

"Oh ...... kau adalah……. Ariel-sama .....!?"

Triss semakin tampak terkejut.

Dia terus mengamati Ariel, sembari mengingat-ingat masa lalu.

Wajah terkejutnya seolah-olah mengatakan, ’Hey…aku pernah mengenalmu sebelumnya…’

"K-kenapa Ariel-sama…. ada di tempat seperti ini ...?"

Dengan kaki gemetaran, Tris segera berlutut di hadapannya.

Aku menjauh, kemudian Ariel mendekati wanita itu.

"Aku kembali karena mendengar kabar bahwa ayah telah jatuh sakit, tapi…. sepertinya kakak tidak menyambut kepulanganku dengan baik.”

Ariel menjawabnya, sambil tersenyum kecewa.

Gak papa nih mengatakan hal seperti itu?

Kata pepatah sih, percayalah pada orang lain agar mereka mempercayaimu, namun aku tidak begitu menyetujuinya.

"Oh, aku mengerti ... Jadi, Anda memerlukan jasa kami untuk melintasi perbatasan melalui jalan alternatif.”

Triss mengangguk sembari meyakinkan jawabannya.

Mungkin, dia sudah mendengar kabar bahwa tempo hari terjadi serangan di hutan.

"Mengapa Tristina ada di tempat seperti ini ... aku pernah mendengar bahwa kau hilang?"

"Itu ......"

Triss kebingungan menjawabnya.

Namun, setelah mencoba meyakinkan diri, akhirnya dia membuka mulutnya.

"Sebenarnya ――"

Bagian 4[edit]

Setelah itu, dia menceritakan semuanya dengan cepat.

Aku tidak dibutuhkan sama sekali.

Triss mengungkapkan semua pengalaman hidupnya pada Ariel.

Dia diculik pada saat masih kecil.

Diperlihara Darius sebagai budak seks.

Lalu dijual ke komplotan perampok.

Kemudian dia hidup sebagai pencuri atas arahan bosnya.

Saat bosnya diganti, dia pun dibebaskan. Namun dia hanya bisa meneruskan kehidupannya sebagai seorang perampok.

Ada beberapa hal menarik semasa hidupnya, namun Triss terus menceritakan itu tanpa tertawa ataupun menangis.

Ariel mencucurkan air matanya saat mendengar kisah Triss yang menyedihkan.

Itu adalah air mata yang ikhlas dari lubuk hatinya.

Sembari terisak-isak, Ariel pun berjanji, “Meskipun aku tidak sepenuhnya memahami penderitaanmu, namun aku berjanji bahwa orang yang menyebabkan ini semua akan mendapatkan hukuman yang setimpal.”

Kemudian, Ariel mengungkapkan tujuan sebenarnya mengapa kami mengundang Triss ke sini, “Aku ingin kau bersaksi atas semua kejahatan Darius.”

Kerja bagus, Tuan Putri. Langsung saja ke intinya.

Triss tidak langsung memahami permintaan itu.

Kerajaan Asura sangat kuat, dan Darius adalah orang yang licik, itulah kenapa dia belum tentu dihukum, meskipun kebenaran berpihak pada kami.

Namun, Ariel sudah memikirkan cara lain.

Dia yakin dengan menggunakan nama besar Perugius, dan bantuan dari Eris, Ghyslaine, Sylphy, serta diriku, kami akan mampu menjatuhkan Darius, kemudian merebut tahta.

Triss masih bingung.

Dia perlu waktu berpikir selama sejam penuh.

Setelah itu, akhirnya dia mengangguk untuk menyetujui permintaan kami.

Kemudian dia bersumpah demi Tuhan bahwa dia akan membawa Ariel ke ibukota dengan aman, dan membantu kami menjatuhkan Darius.

Triss pun menjadi teman Ariel.

Aku tidak melakukan apapun.

Karena kemampuannya bernegosiasi, Ariel dengan mudah mendapatkan persetujuan Triss.

Tentu saja, itu juga karena Orsted menyarankan pada kami untuk bersekutu dengan Triss.

Namun, dia tidak menyebutkan caranya dengan detail.

Ternyata, pendekatanku secara perlahan-lahan tidak berguna di sini.

Haruskah aku memuji Ariel sekali lagi?

Seperti yang dia bilang sebelumnya, Ariel akan menangani para bangsawan, termasuk Triss.

Kalau begitu, aku juga harus berkonsentrasi pada pekerjaanku.

Mulai besok, perjalanan dimulai kembali.

Bab 6 : Sepanjang Jalan[edit]

Bagian 1[edit]

Pagi berikutnya.

Setelah selesai persiapan, kami meninggalkan gubuk.

Matahari pagi belum terbit.

Hutan tampak gelap, sunyi, dan mengerikan.

"Baiklah, ikuti aku."

Sembari memimpin kami, Triss masuk ke hutan lebih dalam.

Karena matahari belum terbit, aku tidak tahu kemana kah arah yang kita tuju.

Kalau dilihat dari kondisi tanah yang semakin menanjak, tampaknya kita sedang menuju ke daerah pegunungan.

Kami terus bergerak tanpa banyak saling bertukar kata.

Kurasa, kita sudah masuk ke hutan semakin dalam, sehingga sulit diikuti oleh siapapun.

Tapi, setelah menembus beberapa semak-semak….

"Oooh ......"

Hutannya tiba-tiba terputus.

Yang tersaji di hadapan kami adalah sebuah danau yang besar.

Menurutku bentuknya mirip rawa, tapi ini adalah danau.

Danau ini berbentuk bulan sabit, diapit oleh tebing tinggi dan hutan lebat di sekitarnya. Warnanya biru bersih.

Tidak ada sungai apalagi air terjun di sisi-sisinya.

Apakah ada sumber mata air di dekat sini?

"Daerah ini belum dipetakan."

“Bahkan dari kejauhan, siapapun tidak akan melihat danau ini. Satu-satunya cara menuju sini adalah dengan mengikuti peta yang kami buat secara khusus.”

"Hee."

Triss bergerak sambil menjelaskan itu semua pada kami.

Kami berjalan di sepanjang tepi danau untuk menuju tebing di seberang sana.

Ketika kami sampai di sekitar tebing, Triss membacakan semacam mantra pada seonggok batu lempeng mirip prasasti.

Kemudian, bagian tebing yang menghadap danau tiba-tiba menghilang, dan terbukalah sebuah gua di sana.

"Masuklah. Hati-hati…. licin."

Triss menyusuri tepi tebing yang berbatasan langsung dengan danau.

Air yang menggenangi tepi tebing tampaknya cukup dangkal.

Hanya sedalam lutut.

"Rudeus! Ayo cepat!"

Dengan begitu antusias, Eris segera ingin memasuki gua itu.

Meskipun sudah berumur 20 tahun, Eris masih saja kegirangan saat melihat hal-hal yang menantang. Sifatnya itu tidak pernah berubah.

Yah, sebenarnya aku juga tertarik dengan gua itu, sih.

"Kau boleh saja terburu-buru, tapi jangan sampai kudamu terpeleset, dan membuatmu tercebur ke dalam air.”

"Aku tahu."

Meskipun berkata begitu, nampaknya Eris mengabaikan peringatanku, lalu dia pun memacu Matsukaze mendekati danau.

Matsukaze tampaknya tidak suka berendam di dalam air, tapi Eris memaksanya.

Dia terlihat seperti Kappa ...

Eris terus memeluk kuda itu, dan memaksanya masuk ke air. Dia memang jago bergulat, bahkan melawan kuda sekalipun.

"Rudi, selanjutnya kita."

"Ah"

Setelah Sylphy membuat aba-aba, kuda-kuda kami pun berbaris untuk memasuki gua satu per satu.

Air danaunya dingin.

Sekarang saja sudah sedingin ini, lantas bagaimana kalau musim salju datang?

Apakah kuda-kuda kami akan bertahan dengan suhu sedingin itu?

Ah tidak juga, kalau musim salju datang, maka danaunya akan membeku, sehingga lebih mudah dilewati.

Karena kemarin hujan, mungkin volume airnya telah meningkat.

Dalam keadaan normal, mungkin airnya hanya sedalam badan anak sapi.

Pintu masuk ke gua sedikit menanjak, maka kami pun mentas dari danau.

"Tetap di belakangku, medannya cukup berat.”

Triss memimpin paling depan sembari membawa obornya.

Untuk jaga-jaga, aku pun memanggil roh cahaya.

Saat kutengok ke belakang, kulihat Ariel tampak kesulitan karena celananya yang basah.

"Ariel-sama, nanti akan kukeringkan celanamu."

"Ya, aku mengerti."

Kata Ariel sembari memaksakan senyum manis di wajahnya.

"......"

Kalau dipikir-pikir lagi, kami sangat beruntung karena Ariel bisa langsung berteman akrab dengan Triss.

Seperti biasa, karisma Ariel begitu efektif mempengaruhi orang lain. Meskipun baru saja kenal.

Kami pun mengakui kehebatannya.

Namun, entah kenapa Eris tampak kesal.

Lupakan saja dia sementara.

"...... Rudi."

Saat aku dan Ariel saling pandang, tiba-tiba Sylphy membisikkan namaku dari samping.

"Ada apa, wahai istriku tercinta?”

"Kalau kau terlalu lama memandang Ariel-sama, akan kujewer telingamu."

"Aku mengerti. Kalau begitu, ijinkan aku memandang wajahmu yang cantik itu selama mungkin."

Akhirnya, dia tetap saja menjewer telingaku.

Entah kenapa, Sylphy begitu cemburu saat aku berinteraksi dengan Ariel. Saat aku bersama Roxy ataupun Eris, dia tidak pernah seperti ini.

.... Anggap saja kasusnya mirip dengan Nanahoshi.

Mungkin, dia pikir akan mau menikah lagi.

Aku membalasnya dengan menjilat telinga panjangnya dari belakang.

Bagian 2[edit]

Anehnya, lantai gua ditekel dengan rapih.

Tampaknya itu buatan manusia.

“Di depan kita menanti labirin yang rumit, jadi jangan sampai tersesat. Hewan magis tidak sering muncul, tetapi selalu waspadalah karena terkadang-kadang mereka muncul dari belakang. Jika kau melihat cahaya di kejauhan, jangan mendekatinya. Karena itu akan mengarahkanmu ke teritori Naga Merah."

Kami terus bergerak sembari mendengarkan penjelasan Triss.

Gua ini memiliki langit-langit yang sangat lebar dan tinggi.

Menurut Triss, gua ini terdapat banyak jalan yang berliku dan bercabang. Namun, ini bukanlah Dungeon, melainkan hanya buatan manusia.

"Entah kenapa, aku mengagumi tempat ini."

Kata Sylphy tiba-tiba.

"Rudi, apakah ini bukan Dungeon?"

"Apa? Oh iya. Ini bukan Dungeon."

"Tapi, gua ini begitu besar…. Bagaimana cara membuatnya ya, apakah kau tahu?"

Aku bingung menjawab pertanyaan Sylphy.

"Yah ......... dari apa yang pernah kudengar, Naga Merah mulai tinggal di gunung ini sekitar 400 tahun yang lalu. Kalau dilihat dari barang-barang peninggalannya, sepertinya gua ini dahulu dihuni oleh Naga Merah dan Dwarf.”

"Oh, begitukah ...... kalau begitu, terowongan ini cukup tua."

Aku dan Sylphy terus berjalan sambil saling ngobrol.

Di depan, Eris mengamati setiap jengkal gua dengan begitu penasaran, sampai akhirnya Ghyslaine menariknya agar melanjutkan perjalanan.

Kemungkinan terburuknya, kami akan bermalam di gua ini.

"Ngomong-ngomong, Rudi ....."

"Apa?"

"....... Ah tidak, tidak apa-apa."

Setelah Sylphy mengatakan itu, dia melirik ke belakang.

Ariel sedikit terpisah di belakang kami.

........ Kelompok kami tidak boleh terpisah.

Kurasa, tidak baik kalau jarak di antara kami terlalu jauh.

Mungkin tidak banyak monster di sini, namun kalau sampai tersesat, itu tidak lucu.

Bagian 3[edit]

Kami pun berhasil keluar dari gua.

Kalau dilihat dari posisi matahari, sepertinya hari hampir sore.

Sejak kami berangkat sebelum subuh, sepertinya sudah 8 jam berlalu.

Nampaknya, pintu masuk dan keluar gua ini disembunyikan oleh semacam mantra.

Setelah keluar dari hutan, lagi-lagi kami disambut oleh hutan belantara.

Menurut Triss, diperlukan perjalanan pagi sampai malam untuk melintasi perbatasan melalui rute alternatif.

Dan dari malam sampai tengah malam, kita akan terus berjalan menjauhi area perbatasan.

Dengan begini, para penyelundup tidak akan ketahuan oleh prajurit kerajaan.

Kami sengaja dibuat menunggu di gubuk itu agar waktunya pas.

"Ya, kita sekarang sudah mencapai Kerajaan Asura."

Harusnya kita saat ini berada di sebelah tenggara perbatasan.

Jika kau menuju ke selatan dari sini, maka kau akan memasuki wilayah Donati.

Jika kau menuju ke tenggara, maka kau akan mencapai wilayah Fedoa.

"Ariel-sama, Anda telah berhasil melewati perbatasan! Yaaay… Selamat!”

"Eee ...... Terima kasih."

Triss coba mencairkan suasana, tapi Ariel terlihat kelelahan.

Dibandingkan dengan dua pengawal dan Luke, kemampuan fisik Ariel jauh lebih rendah.

Yahh, tapi kemampuannya sebagai seorang pemimpin yang karismatik sudah tidak perlu diragukan lagi.

Tapi, meskipun dia tidak bisa melatih Mana ataupun Touki, setidaknya dia perlu jogging tiap pagi untuk menjaga stamina.

Tak peduli apapun pekerjaanmu, stamina sangatlah diperlukan.

Tapi, meskipun ototnya kelelahan, dia masih bisa bergerak.

Itu karena efek dari sihir penyembuhan.

Sihir penyembuhan dapat mengatasi masalah nyeri otot, nyeri punggung, dan juga leher kaku. Beneran, ini bukan iklan.

Namun, itu tidak bisa mengurangi kelelahan.

Kami terus menuju ke luar hutan, sembari istirahat beberapa kali sepanjang perjalanan.

Bagian 4[edit]

Perjalanan keluar perbatasan berjalan dengan lancar.

Triss mengetahui banyak jalan alternatif di Kerjaan Asura.

Meskipun hanya jalan alternatif, namun tidak sulit dilewati.

Dibandingkan dengan jalan utama yang menghubungkan antar kota, jalan-jalan alternatif lebih banyak keuntungannya.

Dengan keterampilan para pengawalnya, kereta sang putri dapat kembali dibangun. Sebelumnya, aku tidak pernah menyangka bahwa kereta itu bisa dibongkar-pasang. Kami meneruskan perjalanan dengan melewati jalanan desa. Sayangnya, kereta itu banyak menarik perhatian warga.

Kami terus bergerak dengan cepat, sembari bersiap menghadapi serangan Auber selanjutnya. Namun mereka tidak pernah datang.

...... Mungkin ini semua berkat rute yang disarankan Triss. Namun, belum tentu Hitogami tidak mengetahuinya. Itulah sulitnya menghadapi makhluk yang hampir tahu segalanya.

Kurasa, musuh sedang memusatkan pasukannya di dekat Istana Kerajaan.

Yah ...... tak peduli Darius ataupun Hitogami yang menyarankan itu, tampaknya ada sedikit kesalahan pada rencana mereka.

Bagian 5[edit]

Selama perjalanan, kami melewati area yang berdekatan dengan daerah Fedoa.

Beberapa tahun telah berlalu sejak pembangunan kembali digalakkan. Terlihat hamparan ladang gandum di sana-sini.

Para penduduknya pun semakin bertambah.

Namun, tak peduli seberapa banyak ladang gandum yang mereka tanam kembali, itu tidaklah sama seperti ladang gandum yang tersimpan dalam kenangan kami.

Butuh beberapa puluh tahun lagi untuk mengembalikan Fedoa seperti semula.

Dari kuda mereka yang berlari berurutan, Sylphy dan Eris menatap hamparan ladang gandum dan padang rumput di sana.

Wajah keduanya terlihat kontras.

Sylphy sepertinya kangen dengan kampung halamannya.

Sedangkan Eris hanya pasang wajah cemberut.

"Ladangnya bertambah luas, ya."

"Benarkah? Aku tidak begitu ingat."

"Pembangunan kembali berjalan dengan baik."

"...... Hmph, itu tidak penting."

Eris memalingkan wajahnya dengan cemberut.

“Jangan bilang kau tidak peduli dengan pembangunan kembali wilayah Fedoa. Ini adalah tanah kelahiranmu, kan. Dan kau tidak berencana kembali ke Fedoa, Eris?”

"Tidak. Aku dibenci di sana."

"Tapi, aku juga dibenci ....."

Sylphy mengatakan itu sembari menyipitkan matanya, seolah sedang mengenang masa lalu.

Ahh, kangen juga sama saat-saat itu.

Keduanya lahir di sana, namun dengan nasib yang jauh berbeda.

Sylphy menghabiskan masa kecilnya dengan dibully.

Sebaliknya, Eris menghabiskan masa kecilnya dengan membully anak lain.

Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika sewaktu kecil kedua gadis ini bertemu.

...... pasti akan terjadi hal yang mengerikan.

Aku membayangkan adegan di mana Eris membully Sylphy dengan begitu kejamnya.

Sewaktu kecil, Eris lebih liar daripada sekarang.

Jika mereka saling kenal, maka masa kecil Sylphy akan jauh lebih menyedihkan daripada sebelumnya.

Mungkin, nasibnya mirip seperti N*bita yang selalu saja dipukuli Gi*ant. [5]

"Sylphy. Asal tahu saja….."

"Ada apa, Eris?"

"Meskipun aku kembali ke Fedoa, tak banyak yang bisa kulakukan.”

"......?"

Sylphy memiringkan kepalanya kebingungan.

Saat melakukannya, dia tampak semakin imut seperti seekor tupai.

"Oh, benar jauga. Eris adalah putrinya tuan tanah Fedoa. Aku hampir melupakan itu.”

"Hmph, mereka hanyalah boneka."

"Tapi, kurasa Eris tidak nyaman hidup sebagai putri bangsawan yang tertutup?"

"...... Memang."

Suasana hati Eris mulai membaik.

Mudah sekali mood-nya berubah-ubah.

"Lagipula, aku tidak ingin menjadi tuan tanah. Banyak orang yang menyebutku tidak cocok dengan peran itu.”

"Kurasa Eris lebih cocok menjadi pendekar yang bebas mengayunkan pedangnya."

"Iya, kan?"

Mereka pun terus mengobrol.

"Tapi, tidak menutup kemungkinan Eris akan menjadi bangsawan Kerajaan Asura suatu saat nanti.”

"Tidak mungkin."

“Dengan menikahi Rudi, kurasa dia akan membimbingmu menjadi seorang bangsawan yang cakap. Kemudian, di masa depan kau akan menjadi ketua Keluarga Boreas yang baru.”

Sylphiette, delusimu terlalu berlebihan.

"Jangan-jangan, Rudi mau menceraikanku, kemudian mendekati Ariel-sama. Kemudian, Keluarga Boreas menjadi sekutu fraksi Putri Kedua. Bersama Rudi dan Eris, pecahlah pertempuran melawan Darius dan Grabell.”

Aku tidak setuju.

Sylphy-san, begitu tidak percaya kah kau pada ketulusan cintaku?

Jika itu benar-benar terjadi, mungkin Sylphy dan aku tidak akan bertemu lagi.

Meskipun itu hanya khayalannya, tapi sepertinya cukup bagus juga.

"Lalu, apa lagi yang terjadi?"

"Eris akan menjadi ketua Keluarga Boreas, Rudi akan menjadi letnan. Sepertinya kalian berdua akan menjadi pasangan yang serasi ... "

"Aku hanya bisa mengayunkan pedang tiap hari, dan membuat anak bersama Rudeus.”

Eris berkata terus terang.

Aku merasa malu saat mendengarkan itu.

Sepertinya ini termasuk pelecehan seksual.

"Sylphy, apakah ada hal yang membuatmu kecewa?"

“Tidak, jujur saja aku sudah puas dengan semuanya. Setelah menikahi Rudi, hidupku semakin berwarna.”

"......"

“Hubungan suami-istri kami cukup hangat. Saat kami sendirian di rumah, Rudi selalu saja menggendongku ke tempat tidur, sambil memasang wajah mesum. Hatiku berdebar kencang saat memikirkan apa yang akan Rudi lakukan padaku di ranjang….. Ahh, kita tidak pantas membahas hal seperti ini di siang bolong, kan?”

Oh, itu benar, hentikan itu sekarang juga.

Sejak tadi, Eris beberapa kali melirik padaku dengan tatapan cemburu.

Duh, malam ini sepertinya aku akan diculik oleh wanita sange ke dalam semak-semak.

Aku sih mau-mau saja, tapi sepertinya itu tidak benar.

Sekarang bukanlah saatnya melakukan hal seperti itu.

"Meskipun aku sudah puas dengan apa yang kumiliki saat ini, namun aku tetap saja takut jika Rudi menikah lagi.”

"...... Kalau aku…. aku tidak yakin bakal punya anak."

"Hah, kalau pun anak Eris dan Rudi lahir, dia pasti akan menjadi anak yang nakal.”

"Apa maksudmu berbicara begitu ......"

Kalau anak kami mewarisi sifatku, pasti dia akan menjadi orang yang sangat mesum.

Wah, aku jadi khawatir dengan masa depan Lucy.

Meskipun Sylphy tidak terlalu mesum, tapi neneknya adalah si tante girang, Elinalise.

Sifat mesumnya Elinalise berpadu dengan sifat mesumku. Itu adalah kombo yang berbahaya. Aku takut Lucy akan tumbuh menjadi gadis liar yang hobi berburu perjaka.

Baiklah, kalau begitu kita harus memberikan pendidikan moral sedini mungkin. Dan kami harus mengawasi tumbuh-kembangnya.

"Aku juga ingin segera punya anak."

"Kau pasti bisa, Eris. Bagaimanapun juga, kalian sama-sama ras manusia. Jadi, kecocokan genetis kalian bahkan lebih baik daripada ras Elf sepertiku.”

Mengapa Sylphiette-san mengatakan sesuatu yang begitu merendahkan dirinya sendiri?

Kecocokan genetis kami tinggi.

Kau jangan khawatir sayang, om gajahku siap membuat anak kedua bersamamu kapanpun kau siap.

"Tapi, prioritas utamaku saat ini adalah melindungi Rudeus.”

"Ya, itu benar."

Mereka terus ngobrol selama perjalanan.

Mereka bahkan telah merencanakan sesuatu sepulangnya ke rumah.

Saat kami pulang nanti, Sylphy akan mengajari Eris memasak. Karena Roxy sedang hamil tua, maka mereka akan membawakan beras yang lezat dari wilayah Fedoa. Sepertinya itu cocok untuk ibu hamil.

Eris dan Sylphy bergaul dengan baik. Mungkin Eris merasa sedikit minder pada Sylphy, karena dia telah mengakui kemampuan Sylphy sebagai ibu rumah tangga yang lebih baik daripada dirinya. Itulah kenapa Eris mau mendengarkan omongan Sylphy tanpa banyak protes.

Mendengarkan percakapan mereka membuatku tenang, lalu kupeluk Sylphy dari belakang.

Dalam keadaan genting seperti ini, di mana serangan bisa terjadi kapanpun, aku masih bisa tenang asalkan mereka bersamaku.

Bagian 6[edit]

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar sepuluh hari, akhirnya kami tiba pada sebuah kota bernama Rickett.

Ini adalah kota besar yang menghubungkan ujung wilayah Donati dengan Ibukota Asura.

Banyak jalur transportasi membentang dari utara menuju ke pusat Asura.

Lebih banyak pedagang yang bepergian ke utara daripada selatan.

Oleh karena itu, banyak orang penting dari wilayah Donati tertarik menuju sini.

Mereka juga menjual hasil panen ke selatan, dan membeli hasil tani dari daerah lain.

Banyak transaksi perniagaan penting yang terjadi di Kerajaan Asura.

Aku pun penasaran, begitu pentingnya kah peran Kerajaan Asura bagi perekonomian dunia?

Perdagangan di kota-kota seperti ini, bahkan lebih besar daripada perdagangan di Kota Sihir Sharia.

Kami tidak boleh menarik perhatian selama melakukan perjalanan ke ibukota.

Kami mengumpulkan berbagai macam informasi dari setiap desa, sembari berusaha menghilangkan jejak agar tidak terdeteksi oleh para pengejar.

Di kota besar seperti ini, kau bisa menemukan tempat persembunyian dengan mudah, sedangkan para pembunuh bayaran itu tidak bisa seenaknya membuat keributan dengan menyerang kami.

Namun, itu semua percuma jika kita malah menarik perhatian warga.

Bahkan, penampilan Eris, Ghyslaine, dan Sylphy begitu mencolok.

Seorang wanita berambut merah, wanita bertelinga serigala, dan wanita ras Elf Berkuping Panjang…. mereka sungguh unik.

Ditambah lagi, Luke adalah seorang selebriti dari Kerajaan Asura.

Sayangnya, kita tidak bisa menghindari kota ini.

Meskipun sudah hafal berbagai macam jalan alternatif, namun dia tidak bisa menemukan rute baru.

Setiap jalan berhubungan dengan berbagai tempat yang berbeda.

Namun, semua jalan dari ibu kota Asura menuju wilayah Donati pasti akan melewati kota ini.

Kota ini menjadi tempat transit yang nyaman, jadi Auber bisa menemukan kami dengan mudah di sini.

Kota ini adalah tempat pemberhentian yang nyaman setelah melalui perbatasan kerajaan.

Namun, herannya….

Kami tidak dihentikan oleh penjaga di gerbang masuk kota, dan kami juga tidak menemukan seorang pun prajurit berarmor yang menghalang-halangi jalan menuju pusat kota.

Dipandu oleh Triss, kami pun memilih hotel yang sudah direkomendasikannya.

Sekilas, hotel itu mirip seperti penginapan pada umumnya, namun ternyata para pelanggannya adalah orang-orang dunia hitam dari organisasi yang sama seperti Triss.

Bangunan-bangunan lainnya yang mengelilingi penginapan ini juga milik organisasi hitam. Bahkan, sudah tersedia jalur bawah tanah, jikalau seseorang ingin melarikan diri dengan aman.

Ini seperti Rumah Ninja.

Ariel tetap berada di dalam penginapan, sedangkan Triss keluar untuk mengorek informasi.

Kami juga tinggal di hotel untuk menjaga Ariel.

Bagian 7[edit]

Saat ini, Ghyslaine dan aku berada di dekat tangga lantai pertama.

Sylphy dan Eris berada di dekat kamar Ariel, lantai dua.

Kami semua menjaga lokasi kami masing-masing.

Di kamar Ariel ada Luke dan kedua pengawalnya yang sedang menyamar.

Kuharap Luke tidak melakukan hal gila seperti menusuk Ariel tiba-tiba. Yahh, anggap saja dia tidak akan melakukan hal segila itu, tak peduli apapun yang Hitogami katakan padanya.

Tapi, kalau dia sampai tega melakukannya, maka aku sendiri yang akan menghabisinya ....

Namun…..

Kemudian, aku melihat Ghyslaine.

"......"

Sembari berdiri di sisi tangga, dia melihat ke arah pintu masuk dengan telinga berdiri tegak.

Belakangan ini aku jarang berbicara dengan Ghyslaine.

Dia bahkan lebih serius mengawal Ariel daripada diriku.

Kurasa, aku akan coba mengajaknya ngobrol.

Namun, dia bilang indra pendengarannya jadi terganggu jika terlalu banyak ngobrol dengan orang lain, maka dia pun memintaku diam.

Mungkinkah dia mulai membenciku?

Aku sempat berpikir begitu.

Namun, dia juga tidak mengajak Eris bicara.

"Rudeus."

Tak lama berselang, justru dia yang terlebih dahulu berbicara padaku.

"Ya, ada apa?"

"Terimakasih telah menyelamatkanku tempo hari."

..... Tempo hari, kapan?

"Ketika pandanganku dibutakan oleh teknik Wii Taa."

Oh, pertarungan pertama itu.

"Tidak perlu berterima kasih, sudah tugasku memberikan bantuan padamu.”

"Tindakanmu yang cekatan membuatku teringat masa lalu."

Saat dia bilang ‘masa lalu’ ... mungkin yang dimaksud adalah 10 tahun yang lalu.

Sejak saat itu, aku sudah banyak berubah.

Meskipun di mata Ghyslaine, aku tetaplah sama seperti dulu.

“Namun, kecerdasanmu itu malah akan menyebabkan masalah suatu saat nanti. Saat itu terjadi, andalkan Eris-ojousama untuk membantumu."

Oh.

Jadi, itukah yang ingin dibicarakan Ghyslaine?

Mungkin yang dia maksud adalah, kecerdasanku cenderung membuatku ingin menangani semuanya sendirian. Dan itulah yang akan menyulitkanku suatu saat nanti.

"Eris-ojousama selalu bekerja keras untuk menjagamu."

"...... aku tahu."

Kenapa ya.

Aku ingin Sylphy dan Roxy menjaga rumah dengan nyaman.

Tapi, sepertinya hal yang sama tidak akan terjadi pada Eris.

Seperti yang Ghyslaine katakan, nampaknya dia lebih nyaman bertarung di sisiku daripada menjaga rumah.

Tak pernah kubayangkan Eris bisa duduk berpangku tangan di rumah, sembari menunggu suaminya pulang.

Eris bilang dia ingin segera punya anak, tapi apakah dia betah beristirahat total di rumah sebagai ibu hamil?

...... Aku jadi khawatir.

"......"

Setelah itu, percakapan pun terhenti.

Apa yang harus kulakukan untuk menghidupkan suasana?

Mau membahas topik apa lagi?

Mungkin kita perlu membicarakan tentang masa lalu.

"Oh iya, Ghyslaine apakah kau masih belajar membaca dan menulis?"

"Oh maaf, sejak terakhir kali kau ajari dulu, aku sudah tidak pernah melatihnya lagi. Sekarang, sebagian besarnya aku sudah lupa. Maaf, padahal kau telah berusaha keras mengajariku."

Dia meminta maaf dengan sopan.

Aku yakin Eris pun sudah melupakan sebagian besar materi yang pernah kuajarkan dulu sebagai guru privatnya. Dia perlu meniru Ghyslaine dalam meminta maaf.

"Orang-orang di Dataran Suci Pedang tidak percaya bahwa aku dulu pernah belajar menulis surat.”

"Tapi, bukankah kau bisa membuktikannya?"

“.... Tidak, sebagian besar orang di sana juga tidak bisa membaca dan menulis. Jadi, ketika kutunjukkan hasil tulisanku, mereka pikir itu hanyalah coret-coretan.”

"Ha ha."

Aku jadi penasaran melihatnya.

"Kau sendiri bagaimana? Apakah masih berlatih pedang?"

"Sedikit. Ketika aku punya waktu, aku selalu menyempatkan diri berlatih mengayunkan pedang secara rutin."

"Tadinya kupikir kau telah meninggalkannya, karena toh kau adalah seorang penyihir."

"Seorang penyihir juga harus melatih ototnya, kan?"

Tapi, aku memang tidak berniat memperdalam ilmu pedangku.

Paul lah yang menginginkanku menjadi seorang Pendekar pedang, namun dia telah tiada.

Yahh, setidaknya aku masih bisa mengajari sedikit teknik berpedang pada Norn.

Tapi bagi seorang Pendekar pedang, ketidakmampuan menggunakan Touki berarti kematian.

"Apakah kau masih ingat janjimu, Rudeus?"

"Janji?"

"Jangan bilang kau sudah lupa. Kau pernah berjanji akan membuatkan patung diriku."

Oh, aku pernah mengucapkannya ya?

Oh iya, kalau tidak salah saat aku berulangtahun pada usia 10 tahun.

Ahh, kangen juga pada saat-saat itu.

"Seseorang pernah berkata padaku bahwa sampai sekarang pun kau masih rajin membuat patung. Jadi, kalau kau ada waktu, buatkan satu untukku.”

"Ya, tentu saja"

"Aku tidak tahu banyak tentang seni, tapi aku menyukai patung yang kau buat."

Aku cukup terharu mendengarkan perkataan itu ...

Mengapa orang-orang di dunia ini selalu mengucapkan kata-kata yang menyedihkan sebelum bertarung melawan musuh?

Enatah kenapa, aku mulai merasa takut.

Ini bukan death flag, kan?

Di duniaku sebelumnya, pembicaraan seperti ini bisa jadi pertanda buruk yang berujung pada kematian.

Namun ini berbeda.

Kau harus mengumpulkan semua hal yang bisa menyemangatimu untuk terus bertahan hidup. Termasuk, janji-janji seperti ini. Terkadang, hal-hal seperti itulah yang bisa menentukan hidup-matinya seseorang. Mereka yang masih menjaga janji pada seseorang, cenderung akan berjuang lebih keras untuk menghindari kematian.

"Nn."

Kemudian, hidung dan telinga Ghyslaine berkedut.

Aku segera meresponnya dengan mencengkram tongkatku lebih erat. Sepertinya bahaya sedang mendekat. Tapi, Ghyslaine memintaku untuk kembali tenang.

"Tenanglah…. Tidak ada apa-apa."

Seseorang berjalan melewati pintu penginapan, ternyata itu hanya Triss.

Karena kedua tangannya penuh dengan tas, maka dia menutup pintu dengan kakinya.

Sembari menatap kami berdua, dia berjalan mendekat, lalu menyodorkan tas-tas itu.

"Ini…bekal persediaan makanan."

"Terima kasih banyak."

"Berterimakasihlah pada Tris-neesan yang telah membawakan semua makanan ini padamu."

Tas itu berisikan buah-buahan macam pir.

Dia mengambil satu, lalu melemparkannya pada Ghyslaine. Dia pun langsung memakannya tanpa mengupas kulitnya.

"Yah, terimakasih banyak."

Sambil melambaikan tangannya, Triss naik ke lantai dua penginapan.

Hubungan kami dengan Triss baik-baik saja semenjak kedatangannya.

Kepribadiannya mirip dua pengawal setia Ariel.

Dia begitu mempercayai Ariel.

Dia sedikit nakal, tapi jelas bukan orang jahat.

Bajunya cukup terbuka, jadi aku kesulitan memalingkan wajahku saat berhadapan dengannya.

Sebenarnya Ghyslaine pun demikian. Tapi dia lebih mirip seorang prajurit. Tubuhnya seperti lelaki karena otot-ototnya begitu kekar.

Yahh, bagaimanapun juga otot adalah seni.

"Tampaknya hari ini Triss sedang senang."

"Benar juga, aku penasaran apa yang telah terjadi."

Sambil berbicara, aku juga mengambil buah pir itu.

Aku mengelupas kulit dengan pisau, lalu menggigitnya.

Rasanya renyah, tapi kurang manis, dan asam.

Tidak semua buah di dunia ini bisa dimakan.

Yah, tapi lumayan lah.

"Mungkin dia mendapatkan kabar bagus. Gisu juga seperti itu, ketika dia mendapatkan informasi berharga, maka mood-nya langsung membaik.”

"Begitu ya."

Triss terus mengumpulkan berbagai macam informasi untuk Ariel.

Mulai dari lokasi prajurit pribadi Darius, bawahan Auber, dan masih banyak yang lainnya.

Dia melaporkan segala sesuatu yang menarik perhatiannya pada Ariel.

Setelah menyusun dan menyaring info-info itu, dia pun datang padaku untuk membahasnya.

Aku juga mengumpulkan informasi, lho. Tapi, tetap saja aku harus mendengarkan Triss, karena aku mungkin telah melewatkan beberapa informasi yang berharga.

Yahh, mungkin lebih baik kuserahkan saja urusan mengumpulkan informasi padanya.

Karena aku tidak begitu pintar mengaturnya.

“Oh iya, kalau tidak salah Gisu pernah bilang bahwa dia akan pergi ke Kerajaan Asura. Jangan-jangan kita akan bertemu lagi dengannya.”

"Jika dia benar-benar sedang singgah di kota ini, maka dia duluan yang akan menemukan kita."

Benar juga.

Gisu adalah tipe pria seperti itu.

Dia lebih suka menghampiri daripada dihampiri. Mungkin dia sedang menyiapkan berbagai hal untuk bereuni kembali dengan kami.

Ya…reuni yang menyenangkan.

"Dia orang yang payah dalam berjudi. Kalau sudah kalah banyak, maka dia akan kabur ke negara lain begitu saja.”

"Gisu payah berjudi?"

"Tapi, kemampuannya justru membaik jika sedang bokek."

Kerajaan Asura bukanlah tempat yang bisa membuat para petualang hidup dengan mudah.

Aku pernah mendengarnya dari Roxy.

Di sini tidak banyak terdapat mosnter yang bisa diuangkan jasadnya.

Bahkan, para ksatria dikirim ke tempat-tempat pedesaan.

Kalau pun ada monster, para penyihir dan ksatria kerajaan akan dikirim untuk membasminya. Mereka juga memanfaatkannya sebagai sarana berlatih.

Dengan begitu, quest berburu monster di Guild Petualang semakin sedikit.

Guild besar memiliki beberapa Klan yang anggotanya banyak, maka para petualang individual tidak mendapatkan lahan untuk berburu monster.

Quest untuk mengawal seseorang juga tidak banyak, karena kerajaan ini cukup aman.

Paling-paling, quest yang tersedia hanyalah tugas-tugas membosankan seperti mengantarkan barang atau mencari sesuatu.

Meskipun begitu, banyak juga quest tentang membantu pertanian, karena negara ini sangatlah subur.

Namun, itu tidak sebanding dengan quest-quest di negara lain yang gajinya lebih menggiurkan.

Semakin dekat posisimu dengan Ibukota Kerajaan Asura, yaitu Ars, semakin jarang pula quest yang tersedia.

Oleh karena itu, para petualang muda lebih memilih pergi ke wilayah Donati dan Fedoa untuk meningkatkan peringkat mereka. Dan ketika mereka berhasil mencapai rangking yang cukup tinggi, mereka akan pergi ke utara ataupun selatan untuk mengembangkan karir.

Jika kau cukup pintar atau kuat, kudengar kau akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan sebagai guru atau pengawal, tetapi hanya segelintir orang yang mau melakukannya. Karena profesi terpopuler di dunia ini masihlah petualang.

Singkatnya, Kerajaan Asura sudah memiliki banyak ahli di bidangnya masing-masing, sehingga pekerjaan petualang tidaklah diperlukan. Pada dasarnya, petualang hanyalah orang yang menyanggupi mengerjakan apapun asalkan dibayar, namun orang-orang di kerajaan ini lebih percaya pada para profesional.

Di sini bukan tempatnya orang sangar mencari uang.

Kerajaan Suci Milis juga memiliki Guild Petualang, namun di sana juga tidak tersedia banyak pekerjaan untuk kaum petualang.

".... Hn?"

Ghyslaine mengatakan itu sambil mengangkat telinganya.

Wajahnya sedikit tegang, mungkin ada musuh yang sedang mendekat.

Aku segera membuang biji buah pir, lalu kugenggam kembali tongkatku sambil menatap ke arah pintu masuk penginapan.

Namun, tatapan Ghyslaine tidak tertuju pada pintu masuk tersebut.

Melainkan di atas tangga.

Telingaku mendengar suara seseorang berdebat dari atas tangga.

Apa?

"Biar aku yang memeriksanya!"

"Baiklah!"

Setelah menaiki tangga, kudapati Sylphy dan Eris sedang menatap cemas pada ruangan Ariel.

Apakah terjadi sesuatu?

"Sylphy."

"Oh, Rudi. Beberapa saat yang lalu, setelah Triss-san kembali, entah kenapa Luke dan Ariel-sama mulai memperdebatkan sesuatu."

"......"

Luke dan Ariel adu mulut?

Hey hey, Tuan Putri yang terhormat, bukankah kau pernah bilang, ’Serahkan urusan Luke padaku’….?

Ah, mungkin itu hanya perkelahian biasa antar sesama teman. Sesekali, hal seperti itu memang diperlukan.

"Maaf… ini Rudeus. Aku masuk, ya…."

Untuk berjaga-jaga, aku berusaha menengahi mereka. Setelah kuketuk pintunya sekali, aku langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.

Di sana, kudapati Luke sedang berdiri dengan wajah pucat.

Dan Ariel sedang duduk di kursi dengan wajah kaku.

Ada juga Triss yang terlihat kebingungan.

"Rudeus-sama, kau datang di saat yang tepat."

Setelah melihat kedatanganku, Ariel dengan tenang mengatakan itu.

"Apakah terjadi sesuatu?"

"Ya. Tris membawa beberapa informasi."

Saat mendengarnya, Triss tampak merasa bersalah.

"Informasi apa?"

"....... Informasi mengenai Sauros Boreas Greyrat."

Sauros.

Jadi, ini menyangkut janji Ariel pada Ghyslaine.

Apakah Ariel sengaja menyuruh Triss mencari informasi tentang Sauros?

"Orang-orang di sini lebih banyak tahu tentang kejadian-kejadian di Istana Kerajaan Asura, daripada mereka yang tinggal di ibukota. Namun, jika kau mengetahui beberapa hal yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang-orang dari ibukota, maka para bangsawan akan membungkammu.”

Jadi, begitu ya.

"Aku mengerti. Baiklah….. kalau kau mencari informasi tentang Sauros-sama, maka kau tahu orang yang telah membunuhnya, kan?”

"Membunuhnya ...... kau bilang!!??"

"......"

Luke segera bereaksi dengan wajah yang menakutkan.

Ariel hanya pasang wajah datar tanpa ekspresi.

"Luke, kau harus tahu…. orang itu berasal dari fraksi kita, jadi tidak aneh jika dia menyimpan dendam pada Sauros-sama yang sejatinya adalah pendukung fraksi Pangeran Pertama.”

Ariel mengatakan itu tanpa acuh.

"Orang itu adalah Philemon Notus Greyrat."

Philemon membunuh Sauros.

Itu masuk akal.

Keluarga Notus adalah keluarga bangsawan terbesar di fraksi Ariel.

Sedangkan, Keluarga Boreas adalah pendukung fraksi Grabell.

Jadi, mereka saling bermusuhan.

Terlebih lagi, tampaknya Philemon membenci Sauros secara pribadi.

Sedangkan Sauros dituduh sebagai orang yang bertanggungjawab atas terjadinya bencana metastasis. Maka, Philemon tidak punya alasan untuk menyia-nyiakan kesempatan itu guna melenyapkan musuhnya.

Ya, itu bukanlah hal yang mengejutkan.

Tak peduli seberapa besar kebencianmu pada Sauros, saat itu dia masih menjabat sebagai tuan tanah, sehingga tidak mudah menjatuhkannya.

Meskipun dia kehilangan wilayahnya, dia masih mendapatkan perlindungan dari Pangeran Pertama. Tak seorang pun bisa mengalahkannya kecuali keluarga bangsawan yang memiliki kekuasaan setara dengannya.

"... Jadi, apa yang akan Anda lakukan Ariel-sama?"

"Seperti yang sudah kujanjikan pada Ghyslaine, aku akan menyerahkan Philemon padanya."

Luke menggigit bibirnya.

Tentu saja dia geram saat mendengar itu.

Ariel pun tahu betapa besar rasa bangga Luke pada keluarganya.

Dalam keadaan seperti ini, dia harus memilih antara Luke atau Ghyslaine.

"Namun… tak peduli apakah Philemon-sama benar-benar mengkhianati kita atau tidak, kebenaran informasi ini tidaklah mutlak.”

"............"

"Kalau pun dia benar-benar telah berkhianat, maka aku tidak akan segan mengeksekusinya. Kemudian, akan kutunjuk Luke sebagai kepala keluarga penerusnya.”

"Tapi, jika ternyata Anda tidak dikhianatinya?"

"Aku akan membujuk Ghyslaine agar tidak merenggut nyawanya, kemudian kita cari orang lain yang bersalah.”

"...... Siapakah dia?"

Ah, aku mengerti, meskipun Philemon tersangka utamanya, dia masih berguna bagi Ariel.

Biarkan pentolannya hidup, lalu bunuh kroco-kroconya terlebih dahulu.

Itu adalah suatu keputusan yang egois, namun dia tidak punya pilihan lain.

Aku pun bukan orang suci. Jika aku harus mengorbankan orang lain untuk keselamatan kerabatku, maka aku tidak akan ragu melakukannya.

"Luke, kau tidak keberatan, kan?"

"... Terlepas dari pengkhianatan ataupun pembunuhan, kita sama sekali tidak punya bukti yang konkret."

Wajah Luke terlihat masam.

Aku mulai kesulitan menerka isi hatinya.

Saat mendengar ayahnya akan dieksekusi, Luke tidak menanggapinya dengan histeris.

"Seseorang mungkin mencoba memancing kita ke dalam perangkap ..."

Sembari mengatakan itu, dia mengarahkan tatapannya padaku.

"Luke, yakinlah. Seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya….. Rudeus-sama tidak menginginkan posisi sebagai kepala Keluarga Notus.”

"Ariel-sama, kenapa Anda justru membicarakan itu semua di hadapan Rudeus ...!"

"Justru karena dia berada di sini, kita harus memperjelas semuanya."

Kata Ariel sambil menghirup nafas panjang, seolah bersiap-siap menyatakan sesuatu.

"Tak peduli sebanyak apapun jasamu pada Ariel-sama dengan membantunya naik tahta, aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai kepala Keluarga Notus!!”

Aku juga tidak menginginkan status itu.

Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu.

"......"

Luke menatapku dengan begitu murka, seolah-olah aku adalah musuh abadinya.

Bagian 8[edit]

Keesokan harinya, ada laporan dari Ariel.

Setelah keributan kemaren, akhirnya Luke mengakui sesuatu.

Ternyata, Luke memang menerima saran dari makhluk bernama Dewa Manusia.

Namun, Luke hanya menerima satu saran.

Hitogami menjumpainya di dalam mimpi, saat kelompok ini bersiap-siap menuju Asura.

Pada dasarnya, saran itu berbunyi: ’Berhati-hatilah pada pengkhianatan Rudeus.’

Detailnya, Hitogami berkata seperti ini:

”Karena mengincar posisi kepala Keluarga Notus, Rudeus akan membelot pada pihak Darius.

Dia mengincar status, uang, dan kemolekan tubuh Ariel.

Dia akan beraksi dari balik layar, tanpa diketahui oleh istrinya, Sylphy.

Dengan berpura-pura menjadi sekutu Ariel, dia akan membawa kelompok kalian pada jebakan.

Pada malam hari, dia akan mengirimkan berbagai macam informasi tentang Ariel pada Darius.

Semua itu telah dia rencanakan secara diam-diam semenjak beberapa tahun yang lalu.

Menikahi Sylphy juga merupakan salah satu skenario busuknya.

Rudeus benar-benar berbakat.

Sangat berbakat, bahkan aku ingin menjadi seperti dirinya.

Jika aku bisa menjadi orang sejahat itu, mungkin hidupku akan jauh lebih mudah.”

Awalnya Luke berpikir, ’Tidak mungkin Rudeus mengincar status sosial seperti itu.’, dan dia pun tidak mempercayai omongan Hitogami.

Aku yakin Luke bukanlah orang jahat, sehingga dia tidak akan mempercayai hasutan Hitogami begitu saja. Namun, terjadilah beberapa peristiwa yang seakan membenarkan hasutan itu. Mulai dari serangan mendadak dari Auber, sampai kedekatanku dengan Ariel.

Ditambah lagi dengan kasus perusakan lingkaran-lingkaran sihir teleportasi di dalam istana Asura, dan serangan para prajurit dari Milibotts, maka ramalan Hitogami ’semakin dekat dengan kenyataan’.

Kepercayaan Luke padaku terkikis sedikit demi sedikit.

Akhirnya dia pun mempercayai bualan Hitogami, kemudian mencurigaiku.

Sampai sekarang pun, sepertinya dia masih mencurigaiku. Ariel memintanya membuktikan kecurigaan itu.

Ariel harus tegas padanya, agar dia tidak melakukan hal-hal yang nekad suatu saat nanti.

Yahh, kalau saran yang diterima Luke hanya itu, sepertinya dia tidak terlalu berbahaya saat ini.

Bahkan, aku belum pernah melihat wajah Darius.

Aku juga tidak tertarik dengan mantan keluarga Paul.

Dan aku tidak menginginkan tubuhnya Ariel, meskipun begitu sempurna.

Tak peduli sebesar apapun kecurigaan Luke padaku, dia tidak bisa membuktikannya.

Sungguh kejam saran dari Hitogami.

Tapi yang bisa kusimpulkan adalah, Hitogami juga tidak berharap banyak pada Luke, karena dia hanya menemuinya sekali dalam mimpi.

Aku pun tidak sepantasnya membenci Luke.

Namun, keberadaan Luke tetaplah menjadi kunci penting dalam susunan rencana busuk Hitogami.

Bagian 9[edit]

Keesokan harinya aku pergi ke kota.

Dengan tatapan benci, Luke berdiri di dekatku sembari berusaha memisahkanku sejauh mungkin dengan Ariel.

Karena Ariel sudah menjamin bahwa aku tidak menginginkan posisi itu, mungkin Luke berpikir bahwa rencanaku selanjutnya adalah membunuh sang putri, kemudian mengantarkan kepalanya pada Darius.

Aku sih tidak masalah dijauhkan dari Ariel.

Meskipun berpikiran seperti itu, toh dia juga berusaha melindungi Ariel.

Dengan begitu, kekhawatiranku berkurang satu.

Aku tidak tahu, apakah Ariel sudah mengantisipasi semua ini, namun sang putri memang hebat.

Oh ya, mengenai kasus Sauros, Ariel telah membicarakan semuanya secara langsung pada Ghyslaine dan Eris.

“Dengan kata lain, orang yang telah membunuh Sauros-sama mungkin adalah salah satu pengikut fraksiku.”

"Begitukah?"

"Fuun."

Eris terlihat tidak acuh, namun tatapan mata Ghyslaine dipenuhi nafsu membunuh.

Tapi, bukan berarti Eris mengabaikan percakapan ini, dia hanya memendam kekesalannya. Aku tahu itu, karena kulihat dia mencengkram pedang di pinggangnya dengan begitu erat. Sampai jari-jarinya berwarna pucat pasi.

"Ghyslaine, sebagai ketua fraksi yang didukung oleh sang terduga pembunuh Sauros, apakah kau dendam padaku?”

"..... Tidak. Tapi, aku siap membunuh siapapun yang Anda sarankan."

Ghyslaine tampaknya hanya terobsesi dengan membunuh Philemon.

Aku penasaran, apakah Ariel bisa membujuknya, mengingat dendam Ghyslaine selama ini cukup kuat.

Eris terus terdiam.

Tapi, setelah Ghyslaine mengatakan itu, dia menanggapinya dengan mengangguk.

"Yah, aku juga akan membunuh musuh yang mencoba menyerang Rudeus."

Eris masih tenang seperti biasanya.

Dengan begini, tujuan kita selanjutnya adalah ibukota.

Diperlukan waktu sekitar 20 hari untuk mencapainya.

Dengan mengambil rute alternatif, kami terus menuju Ibukota Kerajaan Asura.

Akhirnya, kami pun tiba di Ibukota Kerajaan, Ars.

Bab 7 : Ibukota Kerajaan Asura, Ars[edit]

Bagian 1[edit]

Ibukota Kerajaan Asura, Ars.

Inilah ibukota terbesar di dunia.

Kota ini dinamai sesuai dengan nama pahlawan yang memenangkan ras manusia pada perang besar iblis-manusia beberapa ratus tahun silam.

Ini adalah sebuah kota yang membuat siapapun takjub saat melihatnya.

Pada kota ini terdapat Istana Perak mewah yang berdiri di atas bukit.

Istana itu dikelilingi oleh rumah-rumah raksasa milik para bangsawan kelas tinggi.

Jalan utama membentang keluar dari tembok-tembok tinggi menjulang yang memagari pinggiran kota.

Terdapat sebuah coliseum yang besar.

Itu merupakan tempat latihan yang indah bagi para ksatria.

Ada juga gereja cantik untuk tempat ibadah para pengikut ajaran Milis.

Terdapat sistem saluran air yang tersebar di setiap jengkal kota.

Kota ini juga merupakan pusat perdagangan terbesar di dunia.

Banyak terdapat dojo untuk tempat berlatih para Pendekar pedang beraliran Dewa Air.

Ada juga distrik pertunjukan opera yang padat.

Sedangkan distrik kedai dipenuhi dengan dekorasi yang cantik dan aroma wewangian wanita.

Dibuat juga monumen berupa gerbang untuk mengenang kemenangan ras manusia dari Kampanye Laplace.

Sejauh mata memandang terbentang luas rumah-rumah penduduk dan berbagai infrastruktur.

Sampai melalui Sungai Mother Aruteiru, dan masih jauh lagi…..

Konon katanya, ini adalah kota tertua dalam peradaban ras manusia.

Seperti itulah bunyi kutipan yang diambil dari buku berjudul ‘Menjelajahi Dunia’, karangan seorang petualang bernama Bloody Kant.

Bagian 2[edit]

Ketika melihat ibukota kerajaan dari sebuah bukit kecil di kejauhan, Eris dan aku hanya bisa berdecak kagum dengan mulut menganga.

Ibokta kerajaan sangatlah besar.

Belum pernah kulihat kota sebesar ini sebelumnya.

Terlebih lagi, istana kerajaan yang berdiri di atas bukit itu.

Istana yang bersinar keperakan itu mungkin seukuran atau bahkan lebih besar daripada Chaos Breaker milik Perugius.

Di sekelilingnya ada dinding tebal seperti benteng.

Dinding yang cukup tinggi, mungkin lebih dari 20 meter.

Meskipun ada seekor Stray Dragon yang menyerangnya, dinding itu tidak akan bergeming.

Di sekeliling dinding terhampar banyak rumah-rumah mewah.

Sebagian besarnya dihuni oleh para bangsawan kelas atas.

Bahkan, rumah-rumah mewah itu seukuran istana.

Distrik itu juga dikelilingi oleh tembok.

Dari sana, tersebar lah jalan-jalan utama kota.

Terdapat juga banyak tembok batu yang saling membatasi satu sama lain.

Kota ini mungkin telah berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun.

Lapisan dinding baru ditambahkan untuk mengakomodasi perluasan kota. Dari kejauhan, dinding-dinding itu terlihat seperti lapisan bawang merah.

Namun, tembok-tembok itu tidak lagi terlihat setelah lapisan kelima.

Mulai dari sana, bangunan-bangunan terhampar ke segala arah, seolah-olah sampai melintasi cakrawala.

Sepertinya biaya yang dibutuhkan terlalu mahal jika mereka meneruskan pembangunan tembok-tembok itu.

Oleh karena itu, sebagai pengganti dinding, ditugaskan lah para ksatria yang bekerja secara bergantian untuk menjaga keamanan kota dari serangan monster.

Aku pernah mengunjungi kota-kota besar lain sebelumnya, seperti Rikarisu, Milishion, bahkan Ranoa. Tapi semuanya seakan terlihat kecil jika dibandingkan dengan Ars.

Seolah-olah, aku melihat sebuah kota dari negeri dongeng.

"......"

"Aku pulang."

Namun, ekspresi wajah kami berbeda-beda saat melihat ibukota kerajaan.

Dengan serius, kami memelototi istana kerajaan berwarna keperakan itu.

Bahkan Ariel turun dari kereta, dan melihat istana kelahirannya itu.

"Ayo pergi."

Dengan perintah Ariel, kami pun memasuki wilayah ibukota kerajaan.

Bagian 3[edit]

Dari luar, Ars tampak begitu mengintimidasi siapapun yang melihatnya, namun ternyata tidak demikian setelah kau memasukinya.

Pintu masuk kota tidak berbeda dengan pintu masuk kota-kota lain pada umumnya.

Terlihat para pedagang dan petualang di mana-mana.

Dibandingkan dengan kota-kota lain, para petualang di kota ini tampak relatif lebih muda.

Ada juga beberapa orang petualang senior, namun mereka terlihat seakan sudah kehilangan semangat untuk melanjutkan petualangannya.

Adapun yang berbeda, jalan di sini lebih luas.

Setidaknya, enak kereta bisa melewati jalan ini secara bersamaan.

Ada tiga jalur di setiap arah.

Jalan ini tampaknya membentang sampai alun-alun utama kota.

"Kami akan menuju ke rumah keduaku, dan kita akan menggunakannya sebagai markas sementara. Kita pun harus mempersiapkan semuanya sebelum memasuki Istana Kerajaan.”

Setelah Ariel mengatakan itu, kami segera bergerak.

Kami akan menuju rumah Ariel yang terletak di distrik bangsawan kelas atas.

Menuju sana saja membutuhkan waktu setengah hari.

Luke memimpin pada urutan terdepan, diikuti oleh Eris, Sylphy, Ghyslaine, kereta kuda Ariel, dan aku.

Kami menuju ke sana dengan formasi seperti itu.

Meskipun jalannya cukup lebar, kami tidak ingin mengganggu para bangsawan lainnya, sehingga menimbulkan masalah.

Biasanya, bangsawan kelas atas ataupun keluarga kerajaan tidak akan memberikan jalan untuk bangsawan kelas rendah atau pun warga kota, namun kali ini kita harus mengalah. Ariel bahkan tidak menunjukkan lambang keluarganya pada kereta kudanya.

Lambang keluarga akan menarik banyak perhatian.

Dengan begitu, kami terus melintasi kota yang megah ini.

Setelah beberapa saat, kami tiba di distrik yang berbeda.

Sebelumnya banyak petualang dan pedagang di sekitar kami, sekarang yang ada hanyalah warga sipil.

Pada saat itu, para penduduk kota yang penasaran mengalihkan perhatiannya pada rombongan kammi.

"Hei ...... bukankah itu Fitts-sama dan Luke-sama ......?"

"Kau benar ...... kalau begitu, yang berada di dalam kereta itu harusnya ......?"

"Apakah Ariel-sama ada di dalamnya?"

"Dia mungkin kembali setelah mendengar kabar bahwa Paduka Raja jatuh sakit.”

Mereka dengan mudah mengenali wajah Luke dan Sylphy.

Dengan kata lain, kami sudah tidak perlu lagi menyembunyikan identitas kami.

Lagipula, kamu juga tidak berniat menyembunyikan Ariel sepenuhnya.

Tidak pantas seorang pria semacamku mewakili Ariel.

Meskipun sampai sejauh ini tampaknya Darius tidak melihat pergerakan kami, namun mungkin saja dia sudah menyiapkan serangan selanjutnya.

Saat ini, kami tidak terburu-buru.

"Kyaa, Luke-sama!"

"Fitts-sama!"

"Ariel-sama! Anda telah kembali!"

Wah, mereka begitu terkenal.

Sorak-sorai terdengar dari berbagai arah.

Bahkan, sesekali bunga dilemparkan kepada kami.

Sebenarnya, tidak semua orang bereaksi atas kedatangan kami, yahh kira-kira 20%-nya lah.

Aku tak menyangka Ariel sepopuler ini.

Luke pun membalas sahutan mereka dengan lambaian tangannya.

Ariel sudah meninggalkan kerajaan ini selama 10 tahun lamanya, namun dia masih sepopuler ini.

Sungguh mengesankan.

Yang menarik adalah, orang-orang yang semula berkerumun, segera membukakan jalan untuk kami.

Aku jadi penasaran, apakah ada semacam norma di kalangan penduduk yang menyatakan bahwa tidak boleh ada seorang pun yang menghalangi kereta bangsawan.

Atau mungkin, itu semacam ancaman seperti, siapapun yang menghalang-halangi Damyo akan ditebas dengan pedangnya.

"Lihatlah, itu Fitts-sama!"

Setiap kali mendengar pujian, Sylphy langsung menggaruk bagian belakang telinganya yang lebar.

Sebenarnya, itu adalah kebiasaan Sylphy ketika dia kebingungan.

Nanti akan kugoda dia.

Ketika kami melewati alun-alun, sorak-sorai terdengar semakin keras.

Orang-orang bergegas berdatangan ke alun-alun setelah mendengar kabar kepulangan Ariel.

Dengan adanya keributan seperti ini, aku heran mengapa para penjaga kerajaan tidak segera datang untuk menenangkan mereka.

Bagaimana jika Auber memanfaatkan keramaian ini untuk menikam kami dari belakang.

... Itu sungguh menakutkan.

Meskipun aku sangat mengkhawatirkannya, namun nyatanya tidak ada satu pun serangan yang datang.

Bukan berarti tidak ada prajurit kerajaan di sini.

Karena ternyata beberapa dari mereka ikut bersorak-sorai dengan para warga.

Bahkan, komandan prajurit ada juga yang bergabung dengan warga beserta bawahannya.

Semuanya menyambut kedatangan Putri Kedua. Pastinya, mereka adalah para pendukung Ariel.

Dengan kata lain, ada sejumlah orang yang tidak puas dengan pemerintahan saat ini, sehingga mereka mendukung agar Ariel naik tahta.

Kami terus disanjung bak pahlawan.

Aku cukup kesulitan menangani situasi ini.

"Ini hebat!"

Tapi, Eris malah antusias menerima sorakan warga dan para prajurit.

Setelah kami memasuki distrik kediaman para bangsawan, sorak-sorai pun mulai mereda.

Kurasa, Ariel populer di kalangan rakyat biasa, namun tidak di kalangan bangsawan.

Atau mungkin, para bangsawan saja yang enggan bersorak-sorai di pinggiran jalan untuk menyambut kedatangan Ariel?

Aku tak tahu mana yang benar.

Saat memasuki distrik bangsawan, mulai terlihat para prajurit berzirah yang berpatroli.

Mereka mengenakan armor berwarna perak dan helm yang membungkus penuh kepalanya. Pasti itu berat.

Tingkah mereka terkesan lebih serius daripada para prajurit yang bersorak-sorai tadi.

Kalau boleh kubandingkan dengan kehidupanku sebelumnya, para prajurit tadi mungkin setara dengan polisi, sedangkan mereka adalah tentara. Artinya, kemampuan militer mereka lebih tinggi.

"Aku penasaran, siapakah mereka?"

"Mereka adalah para ksatria yang sedang magang."

Eris segera menjawab pertanyaanku.

"Salah satu cara menjadi ksatria tanpa mengikuti Fraksi Ksatria adalah dengan magang seperti mereka.”

"Oh ......"

"Tampaknya, salah satu tugas ksatria junior adalah berpatroli mengelilingi distrik bangsawan.”

"Kau tahu banyak ya, Eris."

"Fufun, aku mendengarnya dari seorang teman."

Aku terkejut ketika Eris bilang punya teman.

Kalau dilihat dari nada bicaranya sih, itu bukan teman khayalan macam Tomo-chan. [6]

"Teman dari Dataran Suci Pedang?"

"Ya."

Artinya, temannya juga seorang Pendekar pedang.

Atau mungkin, Tomo-ken. <ref>Artinya ‘teman pedang’.</i>

"Aku senang kau punya teman, Eris. Kau pasti sudah berusaha keras menahan egomu, sehingga berhasil mendapatkan teman.”

"Tapi, orang itu ......"

Kemudian, Eris menghentikan kalimatnya.

Tiba-tiba Eris menyadari sesuatu, kemudian dia sontak meraih pedangnya.

Rupanya, Eris menyadari ada salah seorang prajurit berarmor yang sedang memperhatikan rombongan kami.

Karena helmnya menutupi muka, maka aku tidak bisa membaca ekspresi wajahnya.

Apakah dia musuh?

Aku merasakan sesuatu yang janggal.

Orang itu mengatakan sesuatu pada komandannya, kemudian berlari mendekati kami.

".....!"

Seketika, Sylphy, Ghyslaine, dan Luke langsung menarik senjatanya masing-masing.

Hebatnya, Sylphy lebih cepat menarik tongkat sihirnya daripada Ghyslaine menghunuskan pedangnya.

"Ap ......!"

Karena terkejut melihat ketiga pengawal Ariel menarik senjatanya, orang itu pun berhenti bergerak.

Tanpa menyembunyikan kebingungannya, orang itu segera mengangkat tangan ke atas, lalu melepas helmnya.

Ternyata, yang tersingkap di balik helm itu adalah seorang wanita cantik.

Kecantikannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Mushoku17 06.jpg

Rambutnya panjang menjuntai, dahinya basah oleh keringat…. Oh, dia begitu menggoda.

"Eris! Ghyslaine! Ini aku!"

Dia mengarahkan pandangannya pada kami.

Atau lebih tepatnya, Eris.

"............"

Eris balik menatap wanita itu dari atas kudanya.

"Eris. Jadi kau masih hidup, ya. Shisho bilang, kau tidak akan selamat jika melawan Dewa Naga ....... Terus, kenapa kau sekarang ada di Kerajaan Asura? Kalau saja kau menghubungiku lebih cepat, maka ―― "

"Siapa kamu?"

"! ......"

Wanita itu tersentak seakan tidak percaya dengan pertanyaan Eris.

Lalu, wajahnya tampak sedih.

Seolah-olah wajah sedihnya berkata, ’Yahh, Eris mah emang gitu orangnya….’

Artinya, wanita ini sudah hafal betul dengan watak Eris.

"...... Bercanda, kok."

Ternyata Eris hanya menggodanya, kemudian dia pun melompat dari kudanya untuk menyambut wanita itu.

"Lama tidak berjumpa ya. Isolte sih pakai armor aneh segala….. tadi kukira siapa….”

"Armor aneh apanya? Ini zirah resmi Kerajaan Asura, lho…. Keren, kan…”

"Kelihatannya sulit digerakkan."

"Pengguna Teknik Dewa Air memang tidak perlu banyak bergerak, jadi armor ini cocok sekali denganku.”

Saat mengetahui bahwa wanita itu ternyata kenalannya Eris, Luke pun menyarungkan kembali pedangnya.

Sylphy juga kembali tenang, namun dia masih menggenggam tongkat sihirnya.

Ghyslaine pun masih memegang pedangnya sembari terus mengawasi sekitar.

Saat kau lengah, di situlah kau kalah. Jadi, mereka harus tetap waspada.

"Apakah kau sedang mengawal orang yang berada di dalam kereta kuda ini? Kudengar Putri Kedua telah kembali ke kerajaan, jadi sepertinya itu Ariel-sama ...... Tapi, kenapa Eris? ...... Oh iya, aku pernah mendengar kabar bahwa Ariel-sama sedang bersekolah di Kota Sihir Sharia ..... jadi, setelah kau bertemu dengannya ....... dia pun menyewamu sebagai pengawalnya…. Begitu, kan?”

Berbeda dari penampilannya yang tampak lemah lembut, ternyata gadis ini banyak cakap juga.

Eris hanya mendengarkannya dengan tenang.

Dia hanya memasang pose khas keluarga Greyrat sembari mendengarkan ocehan bertubi-tubi dari gadis ini.

Akhirnya, Eris pun membalas dengan, ".................. Yahh, semacam itulah."

Rupanya, dia mulai bosan mendengar ocehan gadis ini.

Aku yakin saat masih bersama dulu, mereka berdua selalu ngobrol seperti ini.

"Atas rekomendasi Shisho, aku memutuskan untuk menjadi seorang ksatria. Setelah diterima sebagai ksatria resmi, aku berencana mendapatkan gelar Kaisar Air.”

"Wah, bagus dong."

"Ya."

Luke membalikkan kudanya.

Dia mendekati kemi, lalu berhenti.

Dengan ekspresi lembut di wajahnya, dia mengajukan suatu pertanyaan.

"Aku mohon maaf karena telah mengganggu reuni kalian ..... apakah kau kenalannya Eris-san?"

"Ya, itu betul."

"Maaf, tapi sekarang kami sedang buru-buru, jadi kumohon simpan percakapan kalian untuk nanti, sehingga kami tidak kehabisan waktu.”

"Aku mengerti."

Sembari menghadapi Isolte, Luke mengucapkan perkataan lembut itu sambil membungkuk.

"Kalau begitu, kami mohon diri, nona. Sayang sekali, tapi saat ini kami sedang menjalankan tugas. Semua ada tempatnya, jadi kami tidak boleh sembarangan. Mohon terimalah permintaan maafku yang ikhlas ini.”

"Tidak masalah."

"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu."

Luke bahkan tidak mengaktifkan senyum playboy-nya pada wanita secantik Isolte, kemudian dia meninggalkannya begitu saja. Lalu dia kembali ke barisan depan bersama kudanya.

Sayangnya, Isolte melihat si ikemen dengan jijik.

"Itukah pria yang bernama Rudeus? Sudah kuduga, dia begitu menjijikkan ...... katamu dia seorang penyihir, tapi kok bawa pedang segala? Mau pamer apa? Eris, jangan bilang kau sudah menikahi pria seperti itu.”

"...... Aku memang sudah menikahi Rudeus."

"Hah ......? Ganteng juga sih, tapi bagaimana bisa dia membungkuk seperti itu pada wanita lain? Di depan istrinya sendiri pula! Eris, seburuk itukah seleramu?”

"......?"

Isolte mengatakan itu dengan berbisik, agar tidak didengar Luke.

Eris hanya menanggapinya dengan wajah bingung.

Rupanya, Isolte mengira Luke diriku.

Duh, saat mendengar wanita bergosip ria seperti ini, rasanya ingin cepat-cepat pergi.

Yahh, sebenarnya aku juga ingin punya pedang, tapi aku tidak pamer kok.

"Aku pergi sekarang."

"Baiklah, aku minta maaf karena telah mengganggumu saat bekerja…. Berapa lama kau akan tinggal di Kerajaan Asura?”

Saat mendengar itu, Eris pun melirikku.

Setidaknya, kita akan menetap di kerajaan ini sampai Ariel naik tahta.

Aku pun mengangguk padanya.

Saat itu, untuk pertama kalinya Isolte melirikku.

Wajahnya terlihat bingung.

"Um, kalau dia siapa?"

Duh….aku jadi serba salah.

Haruskah aku berterus-terang bahwa aku lah Rudeus?

Mungkin aku harus memperkenalkan diri dengan nama samaran….. tapi, susah juga kalau aku tetap berada di sini sambil mendengarkan mereka menggosipkan Rudeus.

"Hihin!"

Kemudian, Matsukaze mulai meringkik.

Tanpa kusuruh, dia bergerak mendekati Eris, kemudian sedikit menyundul Eris dengan kepalanya.

Hey, jangan bergerak tanpa perintahku, nanti kau tidak kuberi kubis, lho.

"Oh maaf, jadi kalian sedang terburu-buru ya."

Saat melihat gerakan Matsukaze, Isolte pun menyadari bahwa kami tidak bisa berhenti di sini lama-lama.

"Yahh, kalau aku sedang bebas tugas, akan kuajak kau berkeliling kota ini…. pada saat itu, kumohon perkenalkan orang itu padaku.”

Saat mengatakan ‘orang itu’, dia melirikku.

Andaikan saja dia tahu bahwa aku adalah Rudeus, bakal seperti apakah raut mukanya?

"Aku tidak yakin punya kesempatan jalan-jalan, sih…. tapi okelah.”

“Ah, seperti biasanya, kau selalu ragu-ragu. Baiklah, hati-hati di jalan ya, mudah-mudahan perlindungan Saint Milis selalu bersamamu.”

Setelah membungkuk dengan anggun, Isolte pun pergi.

Hmm, jadi dia adalah penganut agama Millis.

Eris terus melihat kepergiannya selama beberapa saat, kemudian kembali menaiki kudanya.

Setelah memastikan Eris sudah siap, Luke mulai bergerak, dan kereta kuda pun mengikutinya.

"Dia adalah Isolte Sang Raja Air. Aku sempat dekat dengannya saat masih berlatih di Dataran Suci Pedang.”

"Aku mengerti. Aku ikut senang kau punya teman yang baik sepertinya."

"Yah, tapi ..."

Saat memotong kalimatnya, Eris kembali memandang Isolte yang terus bergerak menjauh.

Kemudian, kawanan prajurit berarmor itu terus berjalan, sampai menghilang di balik gang.

"…..mungkin dia akan menjadi musuh kita."

Oh, begitukah?

Raja Air Isolte Cruel.

Orsted pun pernah bilang bahwa wanita itu mungkin saja akan muncul sebagai lawan kami.

Sejak awal, aku sudah mengingatkan Eris bahwa Dewa Air Reyda mungkin akan menjadi musuh kita.

Pada saat itu, Eris mungkin juga sudah menduga bahwa dia akan berhadapan dengan Isolte.

Tapi, saat ini dia masih berposisi sebagai ksatria junior, jadi belum tentu dia akan terlibat langsung dengan percaturan politik keluarga kerajaan. Namun, semuanya mungkin terjadi.

Posisinya mungkin masih rendah, tapi dia sudah mendapat gelar setinggi Raja Air.

Saat skala pertempuran semakin membesar, bukannya mustahil dia akan turun tangan.

"...... Eris, kau yakin bisa melawannya?"

"Aku malah tidak sabar ingin melawannya. Bagaimanapun juga, dia sering mengalahkanku saat kami masih berlatih di Daratan Suci Pedang. Jadi, inilah saatnya membuktikan kemampuanku yang sebenarnya.”

"Begitukah?"

Aku tidak mengerti mengapa Eris mengatakan itu tanpa ragu sedikit pun, padahal mereka terlihat cukup akrab.

Mungkin, seperti inilah persaingan antar Pendekar pedang.

Aku masih sulit memahaminya.

Mengapa mereka harus bertarung sampai mati hanya untuk membuktikan diri?

Jika memungkinkan, aku ingin mereka berdua tetap hidup, dan terus bersaing untuk menjadi lebih baik. Tidak perlu ada korban jiwa di sini.

Saat kau mati, maka segalanya berakhir. Tak peduli siapapun yang benar atau salah.

Bagian 4[edit]

Kami berbelok tepat pada jalanan yang terus menanjak.

Lalu, kami disambut oleh tembok yang dijaga penuh dengan prajurit, namun kemudian Luke menunjukkan lambangnya, dan kami pun diperbolehkan lewat dengan mudah.

Selanjutnya, kami tiba di distrik yang tampaknya dihuni oleh kaum bangsawan kelas menengah. Lagi-lagi kami disambut oleh lapisan dinding, dan hamparan rumah yang seukuran kastil kecil.

Setelah melaluinya, saatnya memasuki distrik bangsawan kelas atas.

Rumah kedua Ariel berada agak jauh dari istana kerajaan.

Meskipun terletak di dalam kota, besarnya mungkin lima kali rumahku.

Tapi, masih kalah besar dari rumah Eris yang juga berfungsi sebagai benteng saat perang. Namun tetap saja, bangunan itu terlalu besar untuk menjadi rumah pribadi.

Malam pun tiba.

Sejak memasuki Ars siang tadi, kami sudah menghabiskan waktu setengah hari.

Rumah kedua Ariel mempunyai taman yang luas, dan saat memasukinya, kami segera disambut oleh pria-pria yang tampaknya bekerja sebagai pelayan.

Saat melihat Luke, mereka segera kembali ke dalam, kemudian membawa para pelayan wanita untuk menyambut kedatangan kami.

Totalnya, ada sekitar 5 orang atau lebih.

Meskipun sudah lama ditinggal Ariel, mereka tetap merawat rumahnya dengan baik.

Setelah disambut, kami pun dipersilahkan masuk.

Di dalam, disain interiornya luar biasa.

Perbotan di sini tidak sebagus milik Perugius sih, namun tetap saja nyaman dipandang mata. Semewah inikah kediaman keluarga kerajaan Asura?

Kelasnya sudah setara dengan kediaman Eris dulu.

Setelah memilih kamar, aku langsung mandi untuk melepaskan lelah.

Banyak terdapat dekorasi dari logam di dalam kamar mandi, bahkan ember airnya pun berkilauan.

Kamar mandinya sudah dilengkapi bak mandi.

Mungkin aku tidak akan menggunakannya.

Setelah mandi, aku makan.

Ada empat orang di meja makan, yaitu aku, Eris, Sylphy, dan Ariel.

Kedua pengawal Ariel lainnya tampaknya sedang makan di ruangan yang terpisah.

"Rudeus-sama…."

"Ya?"

"Berkat bantuanmu, Rudeus-sama, akhirnya aku berhasil pulang dengan selamat.”

Setelah makan selesai, Ariel memanggilku lagi.

"Mulai besok, aku akan memulai persiapan menyambut Perugius-sama, dan juga mengatur tempat untuk menjatuhkan Mentri Senior Darius. Kita juga perlu mengumpulkan para bangsawan kelas atas dan informasi terbaru. Dan jangan lupakan para pengikutku yang sudah mempersiapkan diri di Istana Kerajaan. Setelah ini, kita akan sangat sibuk.”

"Ya."

"Sebelum Darius bergerak, ayo kita siapkan tempatnya secepat mungkin. Untungnya, para bangsawan yang berpengaruh sudah berkumpul di Istana Kerajaan setelah mendengar kabar sakitnya ayahanda.”

Tak lama lagi, kita akan mencapai klimaks misi ini.

"Berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menyiapkan itu semua?"

"Sepuluh hari"

"Baiklah."

...... Sepuluh hari.

Itu cukup singkat.

“Aku sudah mengumpulkan semua kartu As-ku. Selama kita bisa menandingi perlawanan fraksi oposisi, maka kemenangan pasti bisa diraih. Tidak menutup kemungkinan bahwa tempat yang kita siapkan untuk menjatuhkan Darius akan berubah menjadi medan pertempuran.”

Kita bisa mempersiapkan segalanya serapih mungkin, namun semuanya tergantung pada perlawanan pihak oposisi.

“Kurasa kekuatan kita cukup besar, namun semuanya masih tidak menentu jika pihak oposisi mampu memberikan perlawanan yang signifikan. Jadi, kita juga perlu mengikis kekuatan lawan sebanyak mungkin.”

"Itu betul."

"Rudeus-sama, Eris-sama, dan Sylphy, kupercayakan tugas itu pada kalian."

Kikis kekuatan musuh sebanyak mungkin ...

Sebagian besar pasukan lawan menguasai Teknik Dewa Utara, karena mereka dipimpin langsung oleh Auber.

"Namun, melancarkan serangan pada lawan dan melindungi Tuan Putri Ariel pada saat yang sama bukanlah pekerjaan mudah.”

Di kota ini, Ariel memiliki banyak sekutu.

Namun, tak ada yang sekuat Kaisar Utara.

Eris, Sylphy, dan aku tergabung dalam tim penyerang. Sedangkan Luke dan Ghyslaine bekerjasama untuk melindungi Ariel.

Ghyslaine dapat diandalkan, namun jika Auber mengirimkan lebih dari satu Raja Utara, maka dia akan berada dalam masalah.

"Oleh karena itu, aku akan menjadi umpan."

"Umpan...... ?"

“Aku akan membuat mereka menyerang tempat ini. Jangan khawatir, aku memiliki beberapa benda sihir yang bisa menyelamatkan diriku sendiri.”

Misalnya, cincin perubah wujud itu.

Seseorang dapat menggunakannya untuk meniru penampilan Ariel.

Dengan begitu, lawan akan berpikir bahwa kita sudah terpojok, dan saat itu juga kita serang balik mereka.

Pada saat yang sama, Ariel juga akan bergerak.

Dia akan menemui para bangsawan, dan bersiap untuk menjatuhkan Darius.

Kita akan terus bekerja saat pagi, siang, maupun malam hari.

Saat ini, kita kesulitan menemukan posisi musuh. Oleh karena itu, kita akan melakukan sebaliknya, yaitu mempersilahkan musuh menghampiri kita.

"Tapi Sylphy, bukankah itu terlalu berbahaya untukmu ....."

"Tidak masalah."

Sylphy segera membalasnya dengan yakin.

"Ini adalah pertaruhan terakhir kita, jadi ayo lakukan yang terbaik."

Sylphy akan menyamar sebagai Ariel ...

Yahh, jika sampai terjadi pertarungan, maka tidak ada tempat yang aman.

Kalau sudah begini, tidak ada lagi tempat bersembunyi yang aman.

Karena Sylphy sudah membulatkan tekadnya, maka satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah melindunginya sekuat tenaga.

"Tapi, benarkah mereka akan memakan umpannya?"

"Belum tentu. Mungkin peluangnya 50 : 50."

Bagaimanapun juga, selama ini kami belum menyerang sekali pun. Jadi, mungkin inilah saat yang tepat.

Kami tidak bisa terus bertahan dari serangan-serangan mereka yang tidak jelas kapan datangnya. Pasti ada peluang untuk melawan balik.

Jika Ariel berhasil menjatuhkan Darius di tempat yang sudah dia sediakan, maka selanjutnya akan mudah.

"Mudah-mudahan mereka terpancing umpan kita. Kalaupun gagal…. Yah, setidaknya kau aman."

"Jika aku sampai tertangkap…. maka aku tidak punya pilihan selain memberikan perlawanan habis-habisan.”

"Rudeus-sama pasti tidak akan tinggal diam. Tapi, seperti yang sudah kau bilang sebelumnya, melawan musuh sembari melindungi seseorang bukanlah pekerjaan mudah.”

Tentu saja aku tidak akan tinggal diam.

...... Tapi, apakah ini benar-benar ide yang bagus?

"Apakah kita tidak punya bala bantuan?"

"Sebenarnya, Kerajaan Ranoa telah menyiapkan bala bantuan. Tapi, mereka hanyalah Pendekar pedangen dan penyihir tingkat lanjut. Karena lawan diperkuat oleh Kaisar Utara dan Dewa Air, maka mereka tak punya peluang menang.”

Itu benar.

"Kalau sampai terdesak, maka sebaiknya kita pinjam kekuatan orang itu."

"Orang itu?"

Maksudmu Orsted?

Aku tidak tahu apakah si bos sudah sampai di kota ini.

Kami masih sering berhubungan sih, namun tidak banyak yang kita bicarakan, karena dia orangnya pendiam.

Karena Luke semakin curiga, maka sepertinya Ariel berhenti menemui Orsted.

"Yah, itu benar. Kita bisa meminta bantuannya."

Sylphy memiringkan kepalanya kebingungan, tentu saja dia tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan.

"Kumohon bantuannya."

"Baik."

Kami sudah memutuskan apa yang perlu kami kerjakan selama 10 hari ke depan.

Mulai besok, pertempuran merebut tahta Raja Asura akan dimulai.

Bab 8 : Pertarungan Mematikan Saat Senja[edit]

Bagian 1[edit]

Keesokan harinya.

Aku berangkat ke istana bersama Ariel.

Triss masih tinggal di markas untuk menunggu gilirannya beraksi.

Kedua pengawal Ariel tidak bersama kami.

Saat ini, kami hanya berenam.

Kedua pengawal itu hanya akan menjadi beban jika pertarungan serius terjadi.

Mereka pun masih punya keluarga yang penting bagi Ariel.

Namun, bukannya Ariel tidak membagi tugas pada mereka berdua. Pada saat seperti ini, kerja setiap anggota tim sangatlah penting, dan itu tidak harus bertarung.

Ariel benar-benar ingin menyelesaikan semuanya dalam sepuluh hari ke depan.

Aku melihat Istana Kerajaan untuk pertama kalinya.

Dilihat dari jauh, istana kerajaan Kerajaan Asura begitu besar.

Mungkin bahkan lebih besar daripada Kastil Langit Perugius.

Singgahsana raja terletak di balik istana.

Di sanalah keluarga kerajaan tinggal, dan tempat itu dipenuhi dengan taman.

Harusnya sih, siapapun tidak boleh memasuki tempat itu kecuali keluarga kerajaan, tapi peraturan semacam itu tidak lagi penting sekarang.

Aku sedikit penasaran dengan selir-selir sang raja, tapi saat ini aku tidak punya urusan dengan mereka.

Tujuan kami datang ke sini hari ini adalah menjenguk sang raja yang tengah sakit, dan menyiapkan tempat untuk menjatuhkan Darius.

Aku mendapati suatu hal yang menarik saat memasuki istana kerajaan.

Yahh, bukannya hal yang luar biasa, sih.

Tidak aneh jika benda seperti itu ada di Istana Kerajaan Asura.

Namun, tetap saja benda itu menyita perhatianku.

Benda yang kumaksud adalah gambar Perugius.

Ada tiga gambar yang berjajar, dan salah satunya adalah gambar Sang Raja Naga Armor.

Pada gambar itu, terlihat jelas ciri khas ras naga.

Kalau aku boleh berkomentar, gambar itu lebay. Di sana, Perugius tampak 10 tahun lebih muda daripada aslinya. Maksudku, 10 tahun lebih muda jika dianalogikan dengan umur manusia normal, ya. Ras naga umurnya panjang seperti halnya Ras Elf, jadi aku yakin 10 tahun yang lalu pun penampilan Perugius masih seperti itu.

Bahkan, aku sempat pangling dengan sosok pria pada gambar itu.

Awalnya, aku hanya melihatnya sekilas sembari berpikir, ’Ah, siapa sih….’

Namun, aku kembali mengamati gambar itu setelah melihat papan nama di bawahnya yang bertuliskan “Perugius Dola”.

Aku pun terkejut.

Aku terkejut karena gambar Perugius disejajarkan dengan raja-raja Asura yang pernah memerintah negeri ini sebelumnya.

Di sampingnya, tergantung gambar ras manusia yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Itu adalah gambar seorang pria berambut perak yang berpadu dengan beberapa helai rambut pirang.

Perugius pernah membicarakan orang dengan ciri-ciri serupa padaku. Sehingga, aku langsung bisa mengenali siapakah pria ini.

Dia lah Karuman Sang Dewa Utara.

Di sebelahnya, ada juga gambar seorang ras naga setengah manusia. Kalau tidak salah, dia lah Raja Naga Ulpen.

Mereka adalah tiga pahlawan yang mengalahkan Dewa Iblis Laplace. Atau lebih tepatnya, belahan jiwa Raja Naga Iblis Laplace. Yahh, setidaknya begitulah menurut Orsted.

Dulunya sih, aku tidak begitu menghormati ketiganya karena pekerjaan mereka belum tuntas. Mereka hanya bisa menyegel Laplace, dan sang Dewa Iblis bisa muncul lagi setiap saat.

Namun, setelah mendengar cerita si bos, aku tidak lagi meremehkan mereka.

Bagaimanapun juga, mereka telah mengalahkan Dewa Iblis dengan kekuatan penuh.

Sebelum Orsted bereinkarnasi, makhluk terkuat di dunia ini adalah Raja Naga Iblis Laplace, dan Dewa Iblis Laplace adalah bagian darinya.

Itulah kenapa mereka dianggap pahlawan sepanjang masa, dan gambarnya dipajang di istana penuh kehormatan ini.

Semua orang yang melihatnya harus mengenang dan menghormati jasa-jasa mereka.

Mereka sungguh hebat.

Duh, tapi bagaimana jika Perugius tampil di depan umum nanti? Apakah orang-orang akan kecewa saat melihat penampilan sang pahlawan yang tidak sesuai dengan gambar di dinding?

Yahh, setidaknya posisi Perugius disejajarkan dengan raja-raja terdahulu.

Jadi, kurasa semuanya akan baik-baik saja.

Bagian 2[edit]

Sudah tiga hari berlalu.

Rencana masih berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Ariel mulai menyiapkan tempatnya.

Menurutnya, semakin banyak kaum bangsawan yang ingin melihat kepulangannya.

Sembari mendampinginya, Ariel memperkenalkanku dengan puluhan bangsawan kerajaan.

Sejujurnya, aku tidak ingat semua nama mereka.

Pangeran Pertama Grabell dan Menteri Senior Darius.

Aku belum diperkenalkan kepada mereka, tetapi aku memiliki kesempatan untuk melihat mereka dari kejauhan.

Kalau aku boleh mendeskripsikan Darius dengan satu kata, maka kata tersebut adalah: culun.

Tubuhnya gemuk, pipinya berlemak, dan tatapan matanya menjijikkan.

Dengan postur tubuh seburuk itu, dia terlihat seperti monster babi.

Dia terlihat ketakutan saat melirikku.

Seolah-olah dia melihat malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya.

Padahal, aku sendiri tidak yakin apakah penampilanku sesangar itu ....

Karena reaksinya mudah dibaca, maka aku tidak perlu meragukan lagi apakah dia benar-benar bidaknya Hitogami.

Pangeran Pertama Grabell adalah pria tua yang tampak normal dengan rambut pirang ikal.

Padahal, tadinya aku mengira bahwa dia berumur belasan atau dua puluhan tahun.

Dengan penampilan mirip pria berumur 30 tahunan dan kumis yang tebal, dia jauh dari citra pangeran gagah yang kubayangkan sebelumnya.

Tapi saat melihatnya, aku merasakan kharisma yang tak kalah hebatnya dari Ariel. Dia adalah orang yang tidak akan kesulitan menemukan bawahan setia.

Ngomong-ngomong, aku pernah mendengar rumor bahwa Pangeran Kedua Halfaus kehilangan peluangnya bersaing dengan Pangeran Pertama. Saat ini, dia hanya mendekam di dalam rumah tahanan.

Aku jadi penasaran, apakah Orsted telah melakukan sesuatu padanya.

Mungkin Orsted sudah terlebih dahulu mengetahui hal ini, sehingga dia meyakinkanku agar tidak memikirkan Pangeran Kedua.

Bagaimanapun juga, para pendukung Pangeran Kedua sudah patah arang. Dan dengan sedikit stimulus, aku yakin mereka akan mengalihkan dukungannya pada Ariel.

Tampaknya mereka sedang membantu Ariel menyiapkan tempat itu.

Ariel berjuang sendirian, sedangkan tugasku adalah menjamin keselamatannya.

Kami sudah diserang beberapa kali.

Belum ada pertarungan yang serius, tapi itu hanya menunggu waktu.

Sejauh ini, target mereka hanyalah Areil.

Atau lebih tepatnya, Sylphy yang menyamar sebagai Ariel.

Sampai beberapa hari ke depan, aku tidak bisa tenang sedikit pun. Bahkan, aku tidak bisa menikamati makan, tidur, ataupun buang air.

Ariel yang asli sedang menyamar sebagai pelayan dengan menggunakan wig.

Dia akan memakan hidangan kelas rendah yang biasa dimakan oleh pelayan miskin (tapi, masih lebih mendingan daripada makanan ksatria kelas rendah), dan tidur di kamar pelayan yang jelek.

"Ada beberapa pembunuh bayaran yang dikirim untuk merenggut nyawaku, dan jumlahnya semakin meningkat tiap harinya. Tapi itu bukan masalah karena Rudi selalu bersamaku.”

Itulah yang dikatakan Sylphy (sebagai Ariel).

Para pembunuh bayaran itu hanyalah kroco, namun setidaknya mereka berguna untuk latihan Eris, Ghyslaine, dan aku.

Tapi, tetap saja mereka berbahaya.

Untung aku bersama dua Raja Pedang, kalau tidak aku pun akan kesulitan meladeni mereka.

Itu karena aku selalu ragu membunuh orang.

Untungnya, belum muncul satu pun musuh yang kemampuannya melebihi Eris ataupun Ghyslaine.

Kalau mereka sengaja menyimpan kartu As sampai saat yang tepat, maka bisa-bisa terjadi pertumpahan darah di tempat pertemuan yang telah disiapkan Ariel untuk menjatuhkan Darius.

Mungkin aku masih bisa menangani Raja Utara atau Kaisar Utara, tapi hanya bila terjadi pertempuran satu lawan satu. Kalau mereka mengeroyokku bersamaan, maka habislah aku.

Sylphy bisa mengurus prajurit-prajurit lainnya.

Namun, yang tersisa adalah Dewa Air.

Dan kalau masih ada lawan kuat lainnya, maka nyawa Ariel berada dalam bahaya.

Kuharap Orsted telah menemukan cara mengatasinya, tapi sayangnya kami tidak lagi bertemu semenjak aku memasuki Ibukota Ars.

Kami bahkan tidak tahu apakah Orsted sudah tiba di kota ini.

Aku sih percaya bahwa dia tidak akan meninggalkan kami sendirian, tapi kepercayaan saja tidaklah cukup.

Untuk berjaga-jaga, aku ingin mengurangi jumlah musuh.

Saat berkonsultasi dengan Ariel, dia pun menyetujui rencanaku.

"Baiklah, ayo kita jebak mereka."

Hari itu, Ariel berbincang-bincang pada seorang bangsawan dari Fraksi Pangeran Pertama.

Topik pembicaraannya cukup vulgar. Ariel mengarang cerita bahwa Eris dan Ghyslaine bisa disewa semalaman penuh sebagai pemuas hawa nafsu.

Sepertinya, bangsawan itu mulai tertarik dengan tubuh Eris.

Eris terlihat sangat risih saat bangsawan itu memelototinya.

Namun sayangnya, jebakan ini tidak berhasil.

Mungkin sudah terlalu jelas.

Keesokan harinya, para pembunuh tidak muncul.

Bagian 3[edit]

Hari kelima.

Tidak ada serangan.

Karena serangan beralih pada bangsawan-bangsawan berpengaruh yang mendukung fraksi Ariel.

Sebagian besar dari mereka menyetujui pertemuan itu.

Namun, para bangsawan itu tidak bodoh. Mereka juga mempunyai pengawal yang tidak lemah. Jadi, kami tidak perlu mengkhawatirkan mereka.

Namun, serangan itu adalah peringatan bagi kami.

Pangeran Pertama hanya menegur kami dengan menggerakkan lalat-lalat kecil itu.

Pada hari itu, aku bertemu seseorang.

Philemon Notus Greyrat.

Seperti yang sudah kami duga sebelumnya, dia membelot ke fraksi Grabell.

Philemon.

Dia berumur sekitar 30 tahunan.

Wajahnya sangat mirip seperti Paul.

Namun, kepercayaandirinya dan keangkuhannya berbeda dengan Paul.

Malahan, dia terlihat seperti tikus yang ketakutan dan kelaparan.

Dia adalah tipe pria pengecut yang akan lari secepat mungkin saat nyawanya terancam.

Aku sih tidak membenci pria seperti itu, tapi entah kenapa dia begitu membenci Sauros.

Luke terlihat sedang membicarakan banyak hal dengannya.

Sebenarnya, itu lebih mirip perdebatan. Mereka sedang bertengkar.

Luke banyak melayangkan protes pada ayahnya, seperti kenapa mengkhianati Ariel, kenapa lebih memilih Grabell, dsb.

Philemon mengabaikan protes Luke dengan mengatakan, “Kau tidak akan mengerti meskipun kujelaskan panjang-lebar.”

Luke seakan tidak percaya dengan jawaban ayahnya.

Namun, Luke memohon kepadanya untuk kembali memihak Ariel sebelum semuanya terlambat.

Philemon tidak mendengarkannya.

Akhirnya, Philemon menutup perdebatan itu dengan cemoohan, “Kau pikir dirimu lebih baik daripada saudaramu sebagai penerus keluarga? Hah, jangan melawak di depanku.” kemudian dia meninggalkan Luke begitu saja.

Hey pak, tidak sopan melakukan itu di depan umum.

Setidaknya, bukan seperti itu caranya memperlakukan anakmu yang telah mengabdi pada negaranya selama lebih dari 10 tahun.

Namun, Paul juga pernah seperti itu.

Aku bisa mengerti rasa sakitnya.

Bangsawan Asura juga memiliki waktaknya masing-masing, jadi aku tidak berhak mendakwanya.

Dengan begini, maka Luke tidak bisa berdalih lagi di hadapan Ariel.

Dan Grabell sudah mendapatkan dukungan dari saudaranya.

Itu artinya, tak peduli Ariel ataupun Grabell yang naik tahta, posisi Keluarga Notus masih aman di kerajaan ini, karena terdapat wakilnya di tiap-tiap fraksi.

Kalau dilihat dari sikapnya, mungkin ayahnya tidak yakin Ariel bisa memenangkan perebutan tahta ini, sehingga dia menyebrang ke kubu sebelah. Dan sepertinya dia tidak begitu menyayangi putranya.

Dengan begini, maka tidak ada seorang pun dari kami yang bisa menghalangi Ghyslaine membunuh Philemon.

Keluarga Luke berada dalam masalah.

Mereka akan segera kehilangan kepala keluarganya, dan Luke mungkin akan menggantikannya jika Ariel naik tahta.

Tapi, mungkin Luke punya pendapat sendiri untuk menyikapi hal ini.

Ini gawat.

Bagian 4[edit]

Hari ke sembilan.

Persiapan tempat sudah selesai.

Akan digelar pesta di sana.

Semua bangsawan terkenal Kerajaan Asura akan menghadirinya.

Ariel memang menginginkan ini.

Kedok pesta ini sungguh aneh, yaitu Ariel hendak merekomendasikan Pangeran Pertama Grabell sebagai penerus raja.

Andaikan aku berada di kubu oposisi, maka aku tidak akan mengikuti pesta seperti ini, karena sudah jelas perangkap.

Lalu, mengapa para pengikut Ariel masih saja menghadiri pesta ini? Yahh, itu sudah menjadi tugas mereka untuk memeriahkan acara yang digelar di istana.

Tampaknya ada sejumlah gangguan, tetapi Ariel berhasil mengatasi semuanya.

Sekarang, saatnya eksekusi.

Giliranku.

Besok akan menjadi hari yang berat.

Mungkin akan ada yang terbunuh.

Apakah itu Eris? Atau Sylphy? Atau Ghyslaine?

Aku akan berusaha sebisa mungkin agar tidak satu pun dari kami terbunuh.

Mungkin malam ini aku tidak bisa tidur.

Mungkin aku harus minta tidur bersama Eris ...

Bagian 5[edit]

Malamnya, terjadi sesuatu.

Bulan tidak tampak malam ini.

Semua persiapan sudah selesai, dan satu-satunya yang tersisa adalah menunggu terbitnya matahari esok hari.

Malam ini, kami hanya perlu tidur dan beristirahat.

Sembari memikirkan semua itu, kami kembali ke markas.

Saat dalam perjalanan pulang, kudapati seorang pria berdiri menghadangku.

Kalau dilihat dari telinga di kepalanya, tampaknya dia adalah ras hewan.

Telinganya seperti kelinci ...... tentu dia berasal dari ras Mirudetto.

Kalau saja dia wanita, maka bisa kupanggil ”bunny girl”, tapi sayangnya dia pria. Lantas apa namanya? ”Bunny boy”?

"......"

Dengan mengenakan armor hitam legam, dia berdiri sambil menghunuskan pedangnya.

Dia menghadang kereta kuda kami.

"Siapa kau!"

Luke yang berada di sisi depan kereta kuda membentaknya.

Dia diam saja.

Aku pun tahu dia tidak akan menjawabnya.

Namun, akhirnya dia membuka mulutnya.

Dan, nama pria ini adalah ――

"Aku adalah salah satu dari Tiga Pedang Dewa Utara. Akulah Raja Utara yang dijuluki Pedang Kembar. Orang-orang memanggilku Knuckle Guard.”

Dia tanpa ragu mengungkapkan nama, peringkat, dan julukannya.

"......"

Sesaat berikutnya, sosok Knuckle Guard terbagi menjadi dua.

Tubuhnya benar-benar terpisah menjadi dua seakan fatamorgana ....

"Knuckle-niichan. Gak papa nih kita ungkapkan nama kita?"

"Haha, seharusnya sih tidak. Aku terkesan .... Guard memang pintar."

"Hehe, itu karena selama beberapa tahun terakhir aku rajin belajar."

Oh, ternyata tubuhnya tidak terbelah. Ternyata ada 2 orang di sana.

Mereka kembar.

Mereka adalah dua Pendekar pedang berwajah identik.

"Harusnya, Darius tidak mengijinkan kita banyak bicara.”

"Tapi, sebagai pembunuh bayaran seharusnya kita tidak mengungkapkan nama tuan kita.”

"Knuckle-niichan. Kau benar juga."

"Tentu saja."

Yahh, kalian tidak bilang pun, kami sudah tahu siapa bos kalian.

Saat pasangan kembar itu sibuk dengan diri mereka sendiri, Eris pun maju.

Dia turun dari kuda, lalu mencabut pedangnya.

"Eris Greyrat."

Telinga pasangan kembar itu berkedut saat merasakan nafsu membunuh Eris yang luar biasa.

"Oh, jadi kau si Mad Dog itu, ya!"

"Katanya, kemampuan pedangmu setajam taring, dan amarahmu sekejam iblis!”

"Kami, suku Mirudetto bersyukur telah bertemu orang sepertimu!"

"Kami ingin sekali melawanmu!"

Eris telah mengangkat pedangnya ke atas.

Si kembar itu mulai pasang kuda-kuda dengan gerakan yang identik bagaikan bayangan cermin.

"Kami adalah ras hewan setengah manusia."

"Kami berdua adalah satu."

“Meskipun dua lawan satu.”

"Kami tidak akan menyebutnya pengecut."

Aturan dari mana itu. Dua lawan satu tidaklah adil.

Pada saat yang sama, sosok cebol muncul dari belakang kereta kuda.

Dia mengenakan armor hitam legam seolah-olah tersiram oleh tinta pekat.

Di tangannya, dia memegang pedang dan perisai yang juga berwarna hitam.

"......"

Si cebol itu tidak perlu menyebutkan namanya.

Dia langsung pasang kuda-kuda.

Targetnya adalah Ghyslaine.

Tentu saja, Ghyslaine juga sudah menyiapkan pedangnya.

"Hari ini, akan kubayar lunas hutang kemaren."

"...... Mata Ras Dorudia semakin tajam di malam hari ...... sepertinya posisiku tidak menguntungkan."

Dia lah Wii Taa sang bola disko.

Pada pertarungan tempo hari, Ghyslaine terpojok olehnya.

Tapi aku sudah membongkar semua trik Wii Taa pada Ghyslaine.

Aku tidak tahu apakah Ghyslaine memahami penjelasanku, tapi kukira kali ini dia akan baik-baik saja.

Ada manusia kelinci di depan, dan Hobbit di belakang.

Kami diapit olah Raja Utara dari kedua arah.

Siapa yang harus kubantu terlebih dahulu?

Mungkin aku harus membantu Eris, sementara Luke dan Sylphy mendukung Ghyslaine.

Dengan begitu, Eris tidak akan sendirian menghadapi si kembar itu.

Setidaknya, itulah yang kurencanakan.

Aku tidak melihat Auber di sekitar sini, tapi bagaimana kalau dia bersembunyi seperti serangan tempo hari?

Ariel pun tidak ada di sini.

Dengan menggunakan rute yang berbeda, Ariel telah dipindahkan ke rumah kedua yang aman dari istana kerajaan.

Karena masih ada ancaman dari Auber, maka sebaiknya aku tidak bergerak. Sehingga, mungkin formasi terbaik adalah Luke membantu Ghyslaine, kemudian Sylphy mendukung Eris.

Tapi, ketika Sylphy bergerak, maka saat itu pula musuh akan menyadari bahwa Ariel tidak berada di sini.

Kemudian, mereka akan mundur.

Mereka jelas akan melakukan itu, karena target yang mereka cari tidak ada.

Besok, mereka akan menyerang kita pada waktu dan posisi yang lebih menguntungkan.

Pada saat itu, mereka akan membawa bala bantuan.

Dengan kata lain, sekarang lah kesempatan terbaik membunuh Raja Utara. Selagi mereka tidak membawa bala bantuan, kami harus menghabisinya sekarang juga.

Jika tidak, maka peluang menang kami akan semakin tipis.

Tunggu dulu…..

Lebih baik aku pikirkan lagi formasi yang tepat….

Aku tidak boleh salah mengambil keputusan.

Jika Luke membantu Ghyslaine, dan aku melindungi Eris…..

Maka, Auber yang belum jelas posisinya, punya kesempatan menyerang Sylphy.

Sylphy tidak akan menang melawan Kaisar Utara.

Bukannya aku meremehkan kemampuan Sylphy, namun Orsted berpendapat demikian.

Ah, sial…. Aku mulai bingung sendiri.

"......Tidak."

Berpikir lah.

Atau…. lebih baik aku menemukan posisi Auber terlebih dahulu?

Saat terakhir kali melawannya, dia mana dia bersembunyi?

Sekarang kami tidak sedang berada di hutan, jadi dia tidak mungkin memendam tubuhnya di dalam tanah seperti saat itu.

Kali ini, pasti dia cari tempat lain.

Kalau dia bersembunyi di dekat sini, maka kami bisa menemukannya.

Aku hanya perlu mencari tempat-tempat yang mencurigakan.

Begitu ketahuan, habisi dia seketika.

Dengan begitu, aku bisa membantu Ghyslaine dan Eris tanpa khawatir.

"Tidak apa-apa Rudeus, aku bisa melawan mereka sendirian."

Tiba-tiba, Eris mengatakan itu padaku. Suaranya bergema di tengah keheningan malam.

Memang, Eris bukanlah Pendekar pedang yang mudah dihentikan, bahkan Knuckle Guard atau apalah itu harus berusaha keras mengalahkannya.

Lawannya adalah sepasang ras hewan kembar yang mengaku dirinya setengah manusia. Mereka sudah mencapai level Raja Utara, namun yang mana? Apakah keduanya Raja Utara? Ataukah hanya salah satu dari mereka? Atau…. mereka bisa mencapai level itu jika kemampuannya digabungkan? Kalau begitu, bukankah itu berarti kemampuan setiap orang hanya sebatas Saint Utara?

Kalau hanya melawan Saint Utara, Eris pasti bisa mengalahkan mereka hanya dengan sekali tebas.

Jika Eris hanya menyerang salah satu dari mereka, maka dia bisa membunuhnya dengan mudah.

Jika salah satu dari si kembar ini mati, maka kacau lah formasi mereka.

Di sisi lain, Ghyslaine memiliki keunggulan dalam jangkauan.

Postur tubuh Ghyslaine jauh lebih tinggi daripada Wii Taa si Hobbit, sehingga jangkauan serangannya pun berbeda.

Namun, dia tidak akan semudah itu menemukan celah pada pertahanan Wii Taa.

Selama mereka masih mengira Ariel berada di sini, maka mereka tidak akan mundur.

Mereka pun berniat menghabisi kami.

Aku masih belum bisa menemukan posisi Auber.

Tapi, dia pasti sedang mengincar kami dari tempat yang memudahkannya melancarkan serangan.

Di sebelah kiri kami ada dinding, sedangkan sebelah kanannya ada kediaman seorang bangsawan.

Sepertinya, ada banyak tempat bersembunyi di kediaman bangsawan itu.

Di sana ada taman yang juga dibatasi dinding tinggi.

Ada juga gang di antara rumah-rumah mewah itu.

Namun gangnya cukup lebar, bahkan kereta kuda pun bisa melewatinya, maka itu bukanlah tempat yang strategis untuk bersembunyi.

Lalu, apakah dia bersembunyi di taman itu? Kemudian, jika saatnya tepat, dia akan menerobos tembok untuk menyerang kami?

Ah tidak, itu tindakan bodoh, dia bukan Badigadi.

Lantas, bagaimana dengan dinding di sebelah kiri?

Dindingnya sangat tinggi, sampai-sampai aku perlu mendongak untuk melihat ujungnya.

Mungkin dia akan melompat turun dari atas sana dengan menggunakan tali?

Atau melompat turun begitu saja?

Itu bukanlah hal yang mustahil bagi seorang Kaisar Utara ....

Ataukah dia akan menggunakan trik yang sama dengan tempo hari, yaitu bersembunyi di dalam tanah? Ah tidak… lupakan itu.

Dia pun tahu bahwa kami sudah belajar dari kesalahan.

Ah sial! Dimanakah Auber berada ....

Apakah ada titik buta yang kami lewatkan?

Aku berjalan menjauh dari belakang kereta kuda.

Luke berada tepat di depan kereta.

Di sini, hanya ada dua sumber cahaya.

Yaitu, obor yang terpasang pada kereta kuda.

Dan juga roh cahaya yang kupanggil dengan gulungan sihir.

Meskipun hanya ada 2 sumber penerangan, namun cahayanya cukup kuat, sampai-sampai aku bisa melihat dengan jelas sosok Wii Taa yang berarmor hitam pekat itu.

Hampir tidak ada tempat yang redup.

Tapi, dinding itu begitu lebar, harusnya ada tempat yang tidak terjangkau pencahayaan kami.

...... apakah dia bisa bersembunyi pada dinding dengan menggunakan semacam alat sihir?

Aku mengirim roh cahaya ke dinding,

"......!"

Itu dia.

Tadinya aku tidak begitu mempedulikan dinding itu.

Di tengah-tengah dinding, ada kain yang berpola sama dengan warna dinding.

Andaikan saja kami lewat sini pada siang hari, pastinya tonjolan seperti itu terlihat jelas. Namun, lain ceritanya pada malam hari.

Cahaya dari obor yang terpasang pada kereta kuda tidak cukup terang untuk mengungkapnya.

Tapi, roh cahaya ini bisa melakukannya.

Aku menang.

Aku segera mengarahkan tongkatku pada dinding.

"......"

Tidak perlu meneriakkan nama jurus.

Biasanya, aku akan meneriakkan nama sihirku untuk memperingatkan siapapun di sekitarku, namun aku tidak melakukannya kali ini.

Stone Cannon.

Kekuatan penuh.

............ hantam dia.

Selamat tinggal, Auber.

"Kuoo!?"

Apakah ini instingku?

Aku bahkan tidak ragu sedetik pun.

Namun, sepertinya Auber menyadari sesuatu.

Dia melepaskan kain itu di detik-detik terkahir, kemudian berhasil menghindari sihirku.

Tidak, dia tidak sepenuhnya menghindarinya.

Stone Cannon menembus kaki Auber, lalu meninggalkan lubang besar di dinding.

Dia pun jatuh dari tembok dengan posisi bertahan.

"Nuguua!"

Serangan ini sekaligus menjadi penanda dimulainya pertarungan.

"Chi!"

Aku menembakkan Stone Cannon lagi pada Auber.

Sekarang dia sudah berdiri jejak di tanah, jadi dia bisa menangkisnya dengan mudah.

"Toaaa!"

Luke lah yang melancarkan serangan selanjutnya.

Namun, Auber menangkis serangan Luke dengan tebasan pedang di tangan kirinya.

Karena kakinya terluka, gerakan Auber jadi terganggu, namun dia masih bisa mengacaukan keseimbangan Luke, kemudian berusaha menusuknya.

Tak akan kubiarkan. Aku pun melepaskan Stone Cannon sekali lagi untuk mencegahnya.

"Nukku!"

Auber melompat, lalu berdiri dengan satu kaki.

Dengan luka seperti itu, tidak mungkin Auber bergerak selincah biasanya.

Sambil berdiri dengan satu kaki, dia melihat ke depan, belakang, padaku, dan kereta kuda.

"......"

Sembari mengikuti tatapan matanya, aku berusaha mengawasi jalannya pertarungan.

Eris bisa mengalahkan dua orang itu sendirian. Luar biasa Eris!

Tapi, bukannya dia tanpa luka. Aku bisa melihat bahu kirinya terpotong kasar.

Dan itu membuat tangan kirinya tergantung lunglai.

Tapi, seakan tidak peduli dengan lukanya sendiri, Eris segera menoleh ke arah kami.

Dia menatap Auber.

Di sisi lain, Ghyslaine juga telah mengalahkan Wii Taa.

Wii Taa sudah kehilangan satu lengannya.

Wii Taa juga sudah melepaskan perisainya, sementara Ghyslaine tidak mengalami luka sedikit pun.

Lalu, Ghyslaine melepaskan serangan penutup untuk menyudahi perlawanan Wii Taa.

"Aubeeer!"

Teriak Wii Taa.

Dan, pada saat yang sama dia melemparkan sesuatu ke tanah.

Itu adalah senjatanya yang mirip tepung, lalu seketika kami terbungkus debu.

Apakah tepung itu semacam alat sihir? Atau benda sihir?

Di malam hari, Wii Taa menggunakan tepung itu untuk membutakan lawannya.

Meskipun sudah tahu trik itu, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa saat terjebak di dalam kepulan debu ini.

Aku tidak bisa melihat apa pun.

Dalam debu yang tebal ini, aku mendengar langkah kaki Wii Taa yang sedang berlari.

Ghyslaine mengikutinya.

Sebilah pedang tiba-tiba berayun di hadapanku.…. itulah yang kulihat dengan mata iblisku.

Aku dengan cepat menghindarinya.

Wii Taa berlari ke arahku.

Apakah sekarang dia beralih mengincarku?

Tidak, dia mengincar kereta kuda itu.

"Serahkan padaku!"

Sesaat berikutnya, pintu kereta kuda terbuka, kemudian Sylphy keluar sembari melepaskan sihirnya.

Sihir kombinasi, 『Flame Tornado』.

Itu adalah perpaduan sihir berelemen api dan angin. Seketika, hembusan hawa panas menyapu debu itu, dan cahaya terang menyala.

Kondisi saat ini:

Ghyslaine, hidup dan tanpa luka.

Luke, hidup dan tanpa luka.

Sylphy, hidup dan tanpa luka.

Eris, hidup dan sedikit terluka.

Wii Taa, sudah melarikan diri di balik gang.

Dia berhasil lolos?

Yah, biarlah. Meskipun Wii Taa berhasil lolos, setidaknya kami tinggal membunuh Auber yang sudah cacat.

Auber .... menghilang?

Hah!? Dimana dia?

"Rudeus!"

Teriak Eris.

Aku mengikuti ke arah Eris memandang, dan di sana kudapati Auber sedang memanjat dinding dengan tali dan cakar besinya bagaikan kecoa.

Dia mencapai puncak dinding dengan kecepatan yang luar biasa, kemudian menghilang begitu saja.

Tak satu pun dari kami bisa mengikutinya.

Tapi, sekarang bukan saatnya ragu-ragu.

"Kami akan mengikuti Wii Taa!"

Kami segera memutuskan itu, lalu menuju ke arah gang.

Bisakah kita menangkapnya?

Hati kecilku berkata, ’Apakah ini keputusan yang tepat?’

Setelah Wii Taa melarikan diri, apakah kami harus mengejarnya?

Si cebol itu sudah kehilangan lengannya.

Seperti halnya Auber, gerakannya pasti tidak lagi seimbang. Tidak mungkin dia bisa berlari cepat dalam keadaan seperti itu.

Tapi, karena mereka adalah pendekar beraliran Dewa Utara, maka harusnya mereka sudah berlatih keras untuk mengatasi saat-saat seperti ini….

Sembari memikirkan itu, aku terus berlari ke arah gang.

Lalu, saat itu juga aku berhenti.

Tak jauh di depanku, kulihat Wii Taa sudah tersungkur.

Dia mati.

Ada lubang besar yang menganga di tubuhnya. Dari lubang itu mengucur darah yang merendam jasad Wii Taa.

Aku pernah merasakan itu sebelumnya.

Seseorang pernah berusaha membunuhku dengan cara serupa.

Tidak ada tanda-tanda siapapun di sekitar.

Tapi….. pasti dia yang melakukannya.

Ya….

Orsted barusan berada di sini.

"Rudeus ...... kau berhasil."

Eris mengatakan itu dari belakang.

Darah mengucur dari bahunya yang terpotong kasar. Eris berjalan sempoyongan, namun dalam keadaan seperti itu dia masih bisa meringis dan tertawa padaku.

"Oh, sepertinya begitu ..."

Lalu, aku memberikan sihir penyembuhan padanya.

Luka yang cukup parah.

Untungnya, tendonnya tidak terpotong.

Hatiku ikutan sakit saat melihatnya terluka seperti itu.

"Terima kasih."

Eris mengucapkan terimakasih singkat padaku, lalu kembali ke kereta kuda.

Dia berteriak untuk memberitahu rekan-rekan lainnya.

"Rudeus baru saja membunuh si cebol itu!"

Setelah mendengar itu, mereka tampak lega.

"Maaf, sepertinya aku telah menyusahkanmu."

"Tidak, aku tahu Rudeus melakukan itu karena punya kesempatan menyerang Auber, tapi ......"

"Sebenarnya aku bisa membunuhnya di saat-saat terakhir, tapi aku terlalu lambat.”

"Aku juga melewatkan kesempatan itu, lho!"

Sembari membicarakan hal-hal itu, kami membersihkan mayat mereka.

Kalau aku menggunakan sihir yang lebih tinggi, mungkin Auber tidak akan punya kesempatan melarikan diri.

Atau….harusnya kugunakan Quagmire untuk menyegel pergerakannya.

Yah, tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang.

Pertarungan berakhir dalam sekejap mata.

Yang penting kami menang. Tak peduli apapun yang kita bahas sekarang, keadaan tidak akan berubah.

Kali ini….

Raja Utara Wii Taa.

Raja Utara Knuckle - Guard.

Dua orang telah terbunuh…. eh, lebih tepatnya tiga.

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, kami berhasil mengikis kekuatan musuh sedikit demi sedikit.

Auber telah melarikan diri, tetapi aku boleh bilang kami memenangkan pertempuran ini.

Sekarang, tinggal menunggu acara utamanya besok.

Tiga Pedang Dewa Utara.

Auber Sang Pedang Merak. Gaya bertarungnya sulit diduga. Dia bahkan lihai memanfaatkan medan dan alat sihir.

Dia dijuluki merak karena penampilannya yang mencolok. Namun, ternyata tidak semudah itu menemukannya saat sedang bersembunyi. Julukan itu seakan bertolak belakang dengan keahliannya bersembunyi.

Wii Taa Sang Cahaya dan Kegelapan. Dia adalah ras Hobbit. Untuk menutupi kekurangannya itu, dia berusaha membutakan lawannya dengan berbagai trik.

Namun, dia memiliki kemampuan bertarung dengan baik di dalam kabut debu.

Orsted telah membunuhnya.

Knuckle - Guard Sang Pedang Kembar.

Dia memiliki kemampuan menyudutkan lawannya dengan serangan identik bagaikan bayangan cermin.

Dua orang yang bersatu padu.

Eris telah membunuhnya.

Meskipun namanya Tiga Pedang Dewa Utara, sebenarnya mereka ada empat.

Bab 9 : Medan Pertempuran Ariel[edit]

Bagian 1[edit]

Pesta diselenggarakan di istana kerajaan.

Di sana ada ruangan yang sengaja dibuat untuk mengadakan pesta berskala besar.

Meja panjang berjajar.

Urutan tempat duduk sudah ditentukan sebelumnya.

Seseorang tidak akan percaya bahwa tempat semewah ini hanya disiapkan dalam 10 hari.

Setelah semuanya selesai, maka yang selanjutnya adalah penyambutan tamu.

Aku pun meneguhkan tekadku untuk menghadapi acara inti ini.

Sebagai penjaga pintu masuk, Eris dan aku bersiap-siap di ruang tunggu dekat pintu masuk. Kami terus mengamati para tamu.

Ruang tunggunya tidak terlalu kecil, bahkan di sana ada meja prasmanan.

Beberapa orang terlihat sudah menduga apa yang akan terjadi di pesta ini.

Wajah mereka penuh dengan kecemasan.

Anehnya, orang-orang seperti itu justru datang lebih awal.

Mereka masih berada di ruang tunggu. Aku pun penasaran, apa yang akan mereka lakukan setelah mendengar pidato Ariel nanti.

Dukungan macam apa yang akan mereka berikan pada Fraksi Grabell nanti?

Sama halnya seperti kami, hari ini adalah hari penentuan bagi mereka.

Namun, ada juga orang-orang yang datang untuk mendapatkan hiburan.

Mereka hanyalah penggembira.

Singkat kata, semua hadirin memiliki tujuannya masing-masing. Tidak ada orang iseng di pesta ini.

Orang-orang penting justru datang terlambat.

Philemon Notus Greyrat.

Dia datang ditemani seorang pendamping dan putra sulungnya. Saat melewati ruang tunggu dekat pintu masuk, dia menatapku dengan jijik, seolah ingin mengumpat.

Lalu, dia pun mengatakan sesuatu padaku.

".......... Luar biasa…. kau kira bisa kembali ke Keluarga Notus setelah meninggalkan rumah begitu saja?”

Aku tak mengira dia akan berkata seperti itu.

"Aku bahkan tidak pernah memikirkan itu."

"Aku tahu, aku tahu…. tapi, kau bahkan masih memakai nama Greyrat.”

"Eh, oh, ya"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia menunggu sebentar di ruang tunggu, kemudian beranjak ke ruang pribadi yang telah disiapkan untuk kaum bangsawan kelas atas.

"Ngomong apa dia barusan ......!?"

Eris terlihat kesal.

Oh iya, aku ingat saat masih bekerja di rumahnya Eris dulu.

Paul menyuruhku untuk menghormati Keluarga Boreas.

Untung saja Paul menitipkanku ke Keluarga Boreas, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi bila dia mengirimkan aku kembali ke Keluarga Notus.

Pasti mereka akan menghabisiku…..

Philemon adalah adiknya Paul, dengan kata lain dia adalah pamanku.

Tapi, Ghyslaine akan membunuhnya nanti.

Aku tidak akan merasa kehilangan karena dia memang brengsek.

Setelah kedatangan Philemon, para undangan penting lainnya menunjukkan dirinya satu per satu.

Orang tua Triss juga datang beserta dua pengawal pribadinya.

Juga dua keluarga besar dari empat penguasa wilayah.

Yaitu Euro, Zephyrus…..

Dan tidak ketinggalan…. Boreas.

Tunggu dulu… siapakah kepala Keluarga Boreas sekarang? Aku lupa.

Kalau tidak salah, namanya Thomas, Gordon, atau semacamnya ....?

Kalau tidak salah, namanya mirip seperti acara animasi kereta untuk anak-anak. [7]

Ah, iya…. namanya James.

Dia juga membawa putra sulungnya.

Kalau dari segi wajah, kurasa dia lebih mirip Sauros ketimbang Philip.

Perawakannya juga kekar.

Tapi wajahnya kurus.

Menurut cerita Ariel, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri. Sepertinya, dia sengaja melakukan itu agar bisa berkosentrasi penuh bekerja sebagai tuan tanah.

Sebagai tuan tanah yang telah kehilangan wilayahnya, aku dengar dia sering mendapatkan kesulitan.

Namun, bukan berarti Keluarga Boreas hancur.

Mungkin, mereka bisa bertahan karena tanahnya masih ada, walaupun wilayahnya telah lenyap.

Atau, mungkin juga itu berkat kerja keras James.

...... Berusahalah om.

Pembangunan kembali wilayah Fedoa masih stagnan.

Namun, James telah berusaha sekeras mungkin. Itu terlihat dari wajahnya yang kurus.

Dia juga mengalami bencana metastasis.

Pria yang menyedihkan, namun dia selamat.

Orang-orang yang mengalami bencana metastasis secara langsung akan memahami makna “bertahan hidup” yang sesungguhnya.

Tapi, aku tidak mengenalnya, dan dia juga tidak tahu siapa saja yang mengalami bencana tersebut.

"......"

Sekilas, dia melirik Eris yang berdiri tepat di sampingku, sebelum akhirnya beranjak ke ruangan pribadinya.

Dan akhirnya…..

Yang paling ditunggu-tunggu tiba…..

Menteri Senior Darius datang lebih terlambat daripada yang lainnya.

Dia diikuti oleh seorang pengawalnya.

Ketika Darius melihatku, dia cepat-cepat membuang wajahnya karena ketakutan.

Pengawalnya melihatku, lalu mendekatiku.

Awalnya, aku tidak bisa melihat orang itu dengan jelas karena pencahayaan di sana redup.

Namun, setelah dia mendekat ke ruang tunggu yang terang, akhirnya sosoknya terlihat jelas.

Dia adalah seorang pria yang mengenakan baju mencolok, dengan gaya rambut aneh berbentuk parabola.

Empat bilah pedang berjajar di pinggangnya.

“Hai, ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Perkenalkan, namaku adalah Auber Corvette Sang Kaisar Utara. Orang-orang lebih mengenalku dengan julukan Pedang Merak.”

Ketika aku melirik ke bawah, dia berdiri dengan mantab seakan kakinya tidak pernah terluka.

Dia sama sekali tidak terlihat pincang saat berjalan.

Sepertinya dia sudah disembuhkan total.

Jika dia menggunakan jasa para penyihir penyembuh dari Kerajaan Asura, luka seperti itu gampang saja disembuhkan.

"Senang bertemu denganmu. Aku pernah mendengar nama besarmu. Aku Rudeus Greyrat."

"Ooohhh, jadi kau ya yang dijuluki Quagmire itu? Ah tidak…. mungkin lebih tepat jika kusebut ‘Anjingnya Naga’.”

Naga? Ohh, jadi dia sudah tahu bahwa aku adalah anak buahnya Orsted.

Anjing ya… ahh, jadi kangen sama Dead End. [8]

Gukk….gukk….

Tapi…. darimana dia tahu bahwa aku adalah anak buahnya Orsted?

Oh iya…. tentu saja dari Hitogami. Maka jelaslah bahwa Auber adalah salah satu bidaknya Hitogami.

"Ups, maafkan aku ...... aku dengar kalian pernah diserang beberapa kali saat dalam perjalanan menuju ibukota.”

".... Ah, ya."

"Rupanya kau bisa menangani para pembunuh yang licik itu, ya.”

Kau menyebut temanmu sendiri licik ...?

Dia pun berbicara dengan nada bercanda, kemudian tertawa.

Tapi, sorot matanya tidak bahagia.

"Lain kali, hadapi aku satu lawan satu."

Sekilas, dia menunjukkan wajah serius yang berbeda dari tawa palsunya, kemudian Auber pergi meninggalkanku begitu saja.

Bagiku, itu adalah suatu tantangan duel.

Kurasa, dia akan menjadikanku target pertama, atau setidaknya kedua setelah Ariel.

Kalau begitu, Auber adalah bidak Hitogami yang ketiga setelah Luke dan Darius.

Pangeran Pertama Grabell tidak singgah di ruang tunggu.

Dia langsung beranjak menuju ruang pesta.

Dengan begini, semua aktornya sudah berkumpul.

Bagian 2[edit]

Sudah saatnya pesta dimulai.

Golongan ningrat masuk, lalu duduk di kursi yang sudah ditentukan.

Aku melihat ke arah para pengawal yang berjejer di sebelah dinding.

Hari ini, jumlah para prajurit yang mengamankan tempat ini tidak begitu banyak.

Karena para bangsawan sudah membawa pengawalnya masing-masing.

Ghyslaine dan Eris berdiri di sampingku, sembari mengawasi sekelilingnya.

Sylphy tidak ada di sini.

Dia memiliki tugas yang sangat penting untuk pesta ini, jadi dia keluar ruangan.

Sembari melihat para bangsawan dari segala kelas yang sibuk mencari tempat duduknya, Ariel berdiri dan memberikan sambutan pembuka.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu di antara kesibukan tuan dan nyonya sekalian untuk menghadiri pesta ini.”

Ariel memulai sambutannya.

Dia mulai berbicara tentang penyakit ayahanda, dan beberapa informasi terkini mengenai kerajaan.

Dia juga membicarakan pemikirannya tentang Kerajaan Asura saat belajar di luar negeri .....

Kemudian, saatnya menyerang.

"Hari ini, di tempat ini, bagi hadirin sekalian yang telah berkumpul di sini… Ada dua orang yang ingin kuperkenalkan pada Anda sekalian.”

Bersamaan dengan pernyataan Ariel, munculah seorang wanita bergaun indah yang terlihat begitu menggoda.

Dia keluar dari pintu masuk, kemudian perlahan-lahan melewati aula untuk menuju podium.

Kemudian, dia berdiri di samping Ariel.

Saat melihat wajah wanita itu, mata Darius terbelalak selebar-lebarnya.

Wajah pucat pun menghiasi beberapa bangsawan yang hadir di sini.

Mereka adalah keluarga Purplehorse.

“Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Dia adalah Putri Kedua Keluarga Purplehorse, Nona Tristina Purplehorse.”

Dia pun memperkanalkan Triss.

Triss sedikit mengangkat roknya, kemudian membungkuk begitu sempurnya pada para hadirin. Eris tidak akan bisa meniru gerakan sesempurna itu.

"Seperti kata Tuan Putri Ariel, aku adalah Tristina Purplehorse."

Seisi ruangan seketika terkejut.

Harusnya wanita ini sudah hilang.

Ada juga rumor yang menyebutkan bahwa dia sudah mati.

Namun, ternyata dia masih hidup.

Dia tumbuh menjadi seorang wanita yang begitu cantik.

Di sebelah sana, ada sedikit kegaduhan.

"Tapi bagaimana bisa…. kenapa dia ada di sini ......?"

"Saat menemukannya, aku memutuskan untuk membawanya karena dia begitu lemah. Sekarang, dia ingin menyampaikan sesuatu pada salah seorang hadirin yang terhormat.”

Seolah diperintah, Triss pun melangkah maju.

Kemudian, dia duduk di samping Darius yang duduk di kursi khusus.

Triss ...... mulai membicarakan berbagai hal sembari melihat pria itu dengan tatapan hina, bagaikan memandang babi.

Namun, tata bahasanya begitu sopan seperti layaknya bangsawan pada umumnya. Dia tidak menggunakan bahasa kasar yang biasa dia gunakan sehari-hari saat bekerja di komplotan perampok.

Dia dikhianati oleh keluarganya sendiri, kemudian dijual ke Menteri Senior Darius.

Dia menceritakan pengalamannya saat dipelihara bagaikan anjing oleh Darius.

Dia hampir terbunuh oleh insiden metastasis saat berada di Fedoa.

Untungnya, dia ditemukan oleh seorang perampok, kemudian dijadikan wanitanya.

Lalu, Ariel datang membantunya.

Sebenarnya cerita itu sedikit didramatisir, namun dia mengucapkannya dengan tak acuh.

Mereka sengaja membuat cerita yang membuat para pendengarnya menitihkan air mata.

Tristina bertahan hidup dengan usahanya sendiri sebagai perampok dan pengintai.

Singkat cerita, suatu hari Ariel menemukan dan menolongnya.

Itu adalah kisah yang menyentuh.

Ada beberapa bangsawan yang menangis saat mendengar kisah pilu itu…. tapi, kurasa mereka adalah orang-orangnya Ariel.

Beberapa orang, terutama yang berpihak pada Darius, tidak bisa menyembunyikan kebingungan di wajahnya.

Sedangkan, para bangsawan dari Keluarga Purplehorse tidak bisa menghentikan tetesan keringat gugupnya.

Herannya, si tersangka utama Darius cukup tenang. Pasti karena dia sudah berkali-kali lolos dari keadaan sulit semacam ini.

Setelah beberapa saat, cerita mereka pun berakhir.

"Nah, sekarang ......"

Ariel kembali ke podiumnya.

Sebelum membuka mulut untuk melanjutkan pidatonya, Ariel tersenyum dingin.

"Sungguh mengejutkan ya, Darius-sama. Aku tidak menyangka bahwa kejahatanmu itu tidak langsung terendus oleh publik. Ah… tentu saja tidak. Dengan menggunakan kekuasaanmu, kau bisa mencuri anak bangsawan manapun, lalu memeliharanya sebagai budak seks.”

Nada bicara Ariel tiba-tiba memanas.

Dia terus mencela Darius dengan berapi-api.

"Bagaimana bisa hal sehina itu dilakukan oleh Menteri Senior yang sudah menjadi tulang punggung pemerintahan! Di Kerajaan Asura ini, kejahatan sehina itu tidak bisa lagi dimaafkan! Tak ada ampun bagi orang-orang sepertimu!”

Darius hanya mendengus dan tertawa dengan suara parau.

Dia berdiri perlahan.

"Ariel-sama, bukankah leluconmu agak ekstrim hari ini?"

Saat mengatakan itu, Darius menatap Triss dengan santai bagaikan melihat teman lama.

“Bagaimana bisa kau membawa wanita antah-berantah ini ke sini, kemudian mengklaim bahwa dia adalah putri Keluarga Purplehorse yang terbuang? Tidak, tidak, tidak. Darius tidak akan terpengaruh dengan rumor murahan seperti ini.”

Sambil tertawa, Darius melihat sekelilingnya.

Dia bergestur: ’Tristina ini palsu’ pada orang-orang di sekelilingnya untuk mendapatkan dukungan.

"Jadi Darius-sama, menurutmu cerita kami hanyalah suatu kebohongan belaka?”

"Tepat sekali. Tapi…. ijinkan aku menanyakan ini padamu, Ariel-sama. Jika wanita ini benar-benar Tristina Purplehorse, maka bisakah kau membuktikan itu?”

"Tristina."

Menanggapi perkataan Ariel, Tristina mengeluarkan sesuatu dari sela-sela dadanya.

Itu adalah sebuah cincin.

Sebuah cincin dengan permata ungu yang indah.

Pada permatanya, terukir gambar kuda.

"Benda ini biasa digunakan oleh Keluarga Purplehorse untuk membuktikan ikatan darah. Gambar kuda yang terukir pada permata ini adalah buktinya."

Namun, setelah diungkapkan bukti seotentik itu, wajah Darius masih tidak berubah.

Malahan, senyum menjijikkan merekah di wajahnya.

"Aku mengerti, aku mengerti. Dengan adanya benda itu, maka jelaslah dia putri Keluarga Purplehorse.”

Sambil menjulurkan lidahnya, dia melihat Ariel dan Triss dengan tatapan mata yang menjijikkan.

"Kalau begitu… biarkan aku mengatakan ini….”

Darius tertawa.

"Sayangnya!! Nona Tristina Purplehorse telah ditemukan beberapa saat yang lalu.”

"Ditemukan?"

Ariel memiringkan kepalanya kebingungan.

"Semuanya pasti masih ingat operasi di Ibokata Kerajaan bulan lalu. Waktu itu, ada komplotan perampok yang menginvasi Ars. Saat itu, kami sudah menemukan mayat Nona Tristina Purplehorse.”

"!?"

Bulan lalu.

Oh, rupanya dia sudah mempersiapkan ini jauh hari sebelumnya.

“Komplotan perampok itu dibantai habis oleh pasukan kita, sehingga sulit menemukan mayat yang memiliki cincin itu. Namun, ada tanda tertentu pada tubuh Tristina yang hanya dikenali oleh keluarganya. Itu adalah tanda lahir berbentuk bulan sabit di dadanya.”

Itu bohong.

Dia hanya mengarang cerita.

Tristina tidak pernah memiliki tanda lahir seperti itu.

Seharusnya tidak ada.

Setidaknya, aku juga mengetahuinya saat melihat Triss mengenakan pakaian seksi tempo hari.

“Bukankah itu benar? Wahai kepala Keluarga Purplehorse, Freitas Purplehorse-dono?"

Tetapi, meskipun dia berbohong, kami tidak bisa membuktikannya.

Sekarang, giliran kepala Keluarga Purplehorse berbicara pada Ariel untuk memastikannya.

Jika Triss diminta menunjukkan tanda lahir itu, tentu saja dia tidak memilikinya.

Apa yang akan kau lakukan, Ariel.

Apakah masih ada kartu yang belum kau buka?

Ariel masih terlihat tenang, namun kuharap itu bukan hanya sandiwara belaka.

"......"

Pria bernama Freitas itu pun berdiri dari kursinya.

Kalau diamati lebih dekat, wajahnya memang tampak seperti Triss.

Tubuhnya gemetaran, dan sudut mulutnya berkedut. Dia tampak gelisah.

“Jadi, Freitas Purplehorse-dono…. Bukankah kau sendiri yang telah mengidentifikasi mayat Tristina. Dengan kata lain, Tristina tidak lagi menghilang, karena dia sudah mati.”

Darius tersenyum sambil berbisik seperti setan.

"Oleh karena itu, nyatakan sejelas-jelasnya bahwa wanita yang berdiri di sana adalah Tristina palsu. Bisakah kau mengatakan itu? Mari kita akhiri bersama tuduhan yang tidak berdasar ini. Jika tidak, maka kita tak punya pilihan selain menelanjangi Tristina palsu itu di depan para hadirin sekalian.”

Darius masih tenang.

Dan Ariel juga masih tersenyum.

Hanya Freitas yang menggigil ketakutan.

Suasananya semakin berat.

Menontonnya saja membuat tenggorokanku kering.

"P-putriku ......"

Freitas membuka mulutnya perlahan.

"Putriku telah dicuri oleh Menteri Senior Darius ....."

"Freitas-dono! Apa kau bilang!?"

“Yang berdiri di sana adalah putri asliku, Tristina! Ariel-sama, kumohon hukumlah Menteri Senior Darius atas dosanya menculik, menahan, dan merenggut kesucian putriku!”

Darius langsung naik pitam.

"Jangan bicara omong kosong, Freitas! Harusnya kau sendiri tahu tanda lahir itu!”

"Darius-sama. Tidak pernah ada tanda lahir seperti itu di tubuh Tristina."

"...!"

Ariel tersenyum kecil.

Oh begitu.

Begitu rupanya.

Harusnya aku sudah menduganya.

Ariel sudah menghubungi keluarga Purplehorse.

Dia sudah membaca dan mengatasi rencana Darius.

Aku harus belajar banyak dari bosnya istriku ini.

"Ya, Menteri Senior Darius...... Apa yang dikatakan oleh kepala Keluarga Purplehorse adalah benar."

Entah kenapa, kini senyum Ariel berubah menjadi nakal.

“Penculikan, penahanan, dan pelecehan seksual terhadap anak bangsawan…. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Raja, kejahatan adalah kejahatan tidak peduli siapapun yang melakukannya. Kau tidak lagi bisa memungkiri dosamu, jadi bersiaplah mengaku di hadapan Pengadilan Kerajaan Asura.”

Ekspresi wajah Darius mulai berubah

Wajahnya yang sudah jelek, kini semakin jelek, dan dia melihat orang-orang di sekitarnya.

Saat ini, tidak ada seorang pun yang bisa membela Darius.

Kalau sudah terpojok seperti ini, maka pastilah dia akan jatuh.

Jika ada orang yang menyelamatkannya, mungkin dia masih bisa bertahan.

Namun, para hadirin lainnya pasti berpikir bahwa orang tersebut adalah anteknya Darius.

Ya, kemungkinan besar begitu.

Namun, meskipun Darius telah jatuh, belum tentu peluang Pangeran Pertama Grabell berkurang.

Sementara Ariel mengungsi ke luar negeri, Grabell telah mempersatukan para pengikutnya.

Saat ini, Darius hanya menjadi penghalang bagi Grabell. Jasanya sudah tidak diperlukan.

Aku yakin Grabell pun tidak keberatan kalau dia dihukum.

Inilah akhir dari karir Darius.

Ariel mampu mengalahkannya.

Meskipun Darius berhasil lolos dari hukuman hakim, para bangsawan lainnya akan mengucilkannya.

Kemudian, jika Darius melakukan kesalahan lagi sekecil apapun, mereka tidak akan segan menjatuhkannya, karena citranya sudah rusak.

Namun, di detik-detik jatuhnya Darius, tiba-tiba seseorang angkat bicara.

"Pesta ini berisik sekali."

Seolah-olah, dia sengaja memilih waktu yang tepat untuk bicara.

Pria itu merespon.

Dia adalah seorang pangeran berambut pirang setengah baya.

Dia lah Pangeran Pertama Grabell.

Dia berjalan menuju kursi terbaik di aula ini, sembari menatap dingin pada Ariel.

Babak kedua dimulai.

Bagian 3[edit]

Grabell Zafin Asura.

Dia bergerak langsung menuju Ariel.

"Ariel, apa-apa’an kau ini? Mengapa kau membuat kegaduhan seperti ini di saat ayahanda sedang sakit keras?”

"Kegaduhan apa ... aku tidak melakukan apapun selain melindungi kehormatan bangsawan Kerajaan Asura.”

"Tapi lihatlah waktu dan tempatnya."

Grabell menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan kening.

"Sekarang ayahanda sedang sakit. Tanpa kemampuan orang seperti Darius, mau jadi apa negara ini?”

"Tetapi, kejahatan tetaplah kejahatan."

“Ini hanyalah perselisihan antara Menteri Senior dan keluarga bangsawan tingkat menengah. Negara masih punya segudang urusan lebih penting yang harus diselesaikan.”

Dengan terang-terangan, dia sebut Keluarga Purplehorse sebagai bangsawan tingkat menengah.

Dalam kehidupanku sebelumnya, ketidakadilan macam ini pasti sudah mengundang protes berlebih. Tapi, ini adalah Kerajaan Asura.

Di negara ini, status sosial adalah segalanya. Meskipun kau tertindas, kau tidak akan bisa berbuat apapun selama status sosialmu rendah.

"Kau benar, kakak. Tapi biar kuulangi sekali lagi, kejahatan tetaplah kejahatan. Jika dia tidak dihakimi, maka moral kerajaan ini akan semakin rusak.”

“Kejahatan ya ......? Ya, kau juga benar. Tapi Ariel, kau harus tahu bahwa di ruangan ini tidak hanya Darius yang pernah berbuat kejahatan berat. Jika kita mengungkap dosa mereka satu per satu…. aku penasaran, bisakah kau menghukum semuanya?”

"Bisa saja. Kalau perlu, kita akan hukum semuanya."

Secara tidak langsung, yang dimaksud Grabell adalah, ’Jika kejahatan mereka tidak ada hubungannya denganku, maka biarkan saja.’

Kalau ini dibiarkan, maka Kerajaan Asura akan semakin membusuk karena banyaknya petinggi yang tidak bermoral.

"Dan kurasa…. kejahatan Darius tidak ada hubungannya denganmu.”

Grabell melayangkan senyum tenangnya pada Ariel, kemudian dia tertawa sinis.

"Sepertinya pendapat kita berbeda tentang kejahatan."

"Memang berbeda.”

Grabell menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas panjang.

Dia memandang sekitarnya.

“Tidak ada gunanya kita memperdebatkan masalah ini di sini. Sebelum masalah ini terselesaikan, Menteri Senior Darius akan terus terpojok dengan tuduhan tersebut.”

Kemudian, Grabell menghadap ke arah hadirin.

Aku pun penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Menurut aturan dasar, keputusan akan ditentukan oleh suara terbanyak. Karena kau sudah bersusah payah mengumpulkan begitu banyak bangsawan di sini, maka mengapa tidak kita biarkan mereka menentukan siapakah yang benar…. kau atau aku?”

Demokrasi .......

Ketika tidak ada jalan lain, maka itulah satu-satunya pilihan.

Dia meminta para bangsawan melakukan voting.

Pendapat siapakah yang akan mereka setujui…. Ariel ataukah Grabell?

Namun, sepertinya Grabell sudah yakin bahwa dia pasti menang.

Dengan begini, Grabell juga ingin memastikan seberapa banyakkah orang yang mendukung fraksi Ariel.

Bagaimanapun juga, musuh yang kelihatan lebih mudah dibasmi daripada mereka yang tak kasat mata.

"......"

Herannya, para hadirin tidak membuat keributan apapun.

Mungkin mereka sudah mengira bahwa saat-saat seperti ini akan datang, entah cepat atau lambat.

Atau mungkin, mereka sudah mengalami perselisihan serupa antara Pangeran Pertama Grabell dan Pangeran Kedua Halfaus.

Apapun itu.

Kaum-kaum ningrat ini harus menentukan pilihannya.

Saat ini, di tempat ini juga, kau harus menentukan akan membela Grabell ataukah Ariel.

Ini bukanlah tempat di mana mereka bisa merahasiakan pilihannya.

Mereka akan memilih tepat di hadapan calon-calon pemimpin negara itu.

Sekarang adalah kesempatan untuk menentukan pilihanmu.

Darius hanya meringkuk ketakutan.

Bagi anggota fraksi Grabell, kasus ini adalah pukulan telak.

Namun.

Bukan berarti Grabell kehilangan para pengikutnya begitu saja.

Untuk sementara ini, sudah ada dua keluarga penguasa wilayah yang berada di kubu mereka, yaitu Notus dan Boreas.

Selain mereka, Grabell juga sudah didukung oleh beberapa bangsawan kelas atas.

Kalau kita berbicara soal rasio kekuatan, Grabell kemungkinan besar akan menang.

“Baiklah, kakak. Tapi sebelum itu, aku ingin memperkenalkan seorang lagi pada kalian.”

"Apa?"

Ariel mengirim kode dengan jentikan jari-jarinya.

Elmore, yang berada di luar teras menanggapi kode itu, kemudian dia mengirimkan pesan dengan menggunakan cincin sihir.

Sesaat berikutnya.

Bersamaan dengan suara ledakan, suatu pilar api melonjak dari salah satu sudut istana.

Itu adalah sihir api level menengah 『Flame Pillar』.

Seraya menghanguskan dinding kastil, kobaran api yang dilepaskan sekuat tenaga itu melesat sampai ke langit.

Tentu saja itu adalah perbuatan Sylphy.

"Apa yang ... Ooo !?"

".....!"

"Tidak mungkin... !"

Para bangsawan melihat api yang membumbung tinggi itu.

Tapi, mereka tidak terkejut melihatnya.

Karena sihir selevel ini bukanlah hal yang aneh di Istana Kerajaan. Penyihir manapun yang menguasai elemen api bisa melakukannya dengan mudah.

Yang membuat mereka keheranan bukanlah itu, melainkan sesuatu yang datang setelahnya.

Tak peduli selama apapun kau tinggal di Ibukota Kerajaan, kau tidak akan pernah melihat pemandangan seperti ini.

Disinari oleh pilar api, benda raksasa itu mengambang di langit malam.

Dan…. bayangan raksasa itu adalah…..

"Kastil Langit!?"

"...... Sejak kapan Kastil Langit sedekat itu dengan istana!?"

Ya, itulah Kastil Langit yang keberadaannya bagaikan legenda bagi penghuni Istana Kerajaan Asura. Itulah Chaos Breaker, yang merupakan singgahsana salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah umat manusia.

Kastil megah itu terus mendekat dengan kecepatan yang konstan. Siapapun merinding melihatnya.

Kastil itu terbang begitu rendah, seolah-olah bisa menabrak istana kerajaan kapanpun.

Semua hadirin gemetar ketakutan saat melihat pemandangan sekali seumur hidup itu.

Akhirnya kastil itu berhenti.

Tepat di atas istana.

Chaos Breaker berhenti tepat di atas Istana Perak Asura.

"......"

Hening.

Semuanya kehabisan kata-kata.

Meski begitu, aku penasaran apakah Perugius benar-benar akan turun.

Tidak mungkin ...... Tidak mungkin dia akan melompat dari ketinggian itu.

Ah, dia kan ahli sihir pemanggilan dan teleportasi.

Jika hanya melakukan teleportasi ke bawah, itu sangatlah gampang baginya.

"Tidak mungkin!! ...... Benarkah itu dia ......!!?"

"......"

"T-tidak mungkin, tapi ...."

Seseorang bergumam.

Dengan wajah kegirangan seakan melupakan ketegangan barusan, mereka melihat ke luar jendela.

Elmore berlutut dengan satu kakinya di depan pintu masuk.

Semua orang tahu kastil siapakah itu, namun tak satupun dari mereka yakin apakah sang pahlawan benar-benar akan menghadiri pesta ini.

Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki.

Ada seorang pria di sana.

Tetapi, para pengawal bangsawan yang terlatih langsung tahu bahwa pria itu tidak datang sendirian.

Total, ada 13 orang di sana.

Mereka yang menyadari ini mulai gemetaran.

Seperti yang sering diceritakan di legenda.

Langkah kaki itu berhenti di depan pintu.

"Beliau telah tiba."

Beberapa orang tersentak saat mendengar perkataan Elmore itu.

Kemudian, pintunya terbuka.

Suasana di dalam aula berubah.

".....!"

Sembari mengenakan jubah putih, munculah seseorang berambut perak dan bermata emas.

Penampilannya sedikit berbeda dengan sosok yang terpajang di gambar istana, namun dengan aura sekuat ini, tidak salah lagi bahwa dia lah pahlawan umat manusia yang legendaris itu.

Dia membawa 12 Tsukkaima.

Rasa takut dan hormat bercampur aduk saat mereka melihat sosoknya.

Dia meneruskan langkahnya masuk ke dalam aula, sembari menerima tatapan dari semua bangsawan yang hadir.

Dia terus melangkah menuju tempat Ariel dan Grabell.

Keduabelas Tsukkaima membagi dirinya menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama berdiri mengawal Ariel.

Sedangkan kelompok lainnya berdiri mengawasi Darius dan Auber.

Sylvaril, yang hari ini berpenampilan berbeda, mendekat ke sebelahku.

Seperti biasa, aku tidak bisa membaca ekspresinya karena wajahnya tertutup topeng, tapi sepertinya suasana hatinya sedang baik.

“Aku sangat senang telah kau undang hari ini, Ariel Anemoi Asura. ...... Apakah aku terlambat?"

"Tidak, lagipula… pepatah mengatakan bahwa aktor utama boleh datang terlambat.”

Perugius hanya menanggapinya dengan tawa bahagia.

Ariel juga tersenyum lebar.

Grabell cuma bisa tercengang.

Dia mendongak ke arah Perugius dengan mata terbelalak.

"Para hadirin sekalian, biarkan aku memperkenalkan beliau. Inilah salah satu dari Tiga Pahlawan Penakhluk Dewa Iblis Laplace, dia lah Raja Naga Armor Perugius Dola-sama.”

Perugius tidak membungkuk atau pun melirik ke arah para hadirin.

Dengan panik, para bangsawan di sekitarnya segera berdiri, kemudian mereka membungkuk dan berlutut.

"Aku Perugius Dola."

Bagaikan tokoh fiktif yang keluar dari buku cerita, Perugius menyapa hadirin dengan suara yang tak kalah wibawanya dengan Raja Asura.

Perugius memang luar biasa.

Mungkin, auranya melebihi Raja Asura itu sendiri ...

Yahh, setidaknya itulah yang akan kau pikirkan saat melihat reaksi orang-orang di sini.

"Semuanya, angkatlah kepala kalian. Malam ini, aku hanyalah tamu. Aku tidak akan berlama-lama di sini, namun bolehlah kita duduk bersama untuk menikmati pesta ini sejenak. Jangan sungkan denganku.”

Mendengar perintahnya, para bangsawan segera kembali ke kursinya masing-masing dengan linglung.

Saat itu, Perugius bertanya, “Mana kursiku?”

Masih ada 3 kursi termewah yang kosong.

Ketiganya adalah kursi kehormatan.

Ketiganya sudah dipersiapkan untuk Ariel, Grabell, dan Perugius.

"Ooh, ini ada tiga kursi kosong. Di sini kah aku harus duduk? Ariel Anemoi Asura… Grabell Zafin Asura…. sebaiknya aku duduk di sebelah mana?”

".....!"

Saat namanya disebut, Grabell tersentak.

Aku bisa mendengar suaranya menelan ludah.

Tidak hanya aku, yang lainnya pun bisa mendengarnya.

Tak peduli betapa dia terkejut, Grabell harus menjawab pertanyaan sang pahlawan legendaris.

"T-tentu saja di sebelah sini… i-inilah kursi terbaik yang kami miliki."

Suara Grabell gemetaran.

Hanya itu yang bisa dia ucapkan.

Tampaknya dia masih tidak percaya Perugius menghadiri pesta ini.

Padahal Perugius tidak memiliki kekuasaan setingkat raja.

Padahal Perugius tidak memiliki hak untuk memutuskan dimana dia duduk.

Jadi, mengapa dia begitu terintimidasi?

Harusnya situasi sudah terkendali.

Harusnya semua sudah sesuai dengan rencana mereka

Namun, semuanya sirna karena kedatangan seseorang.

Tampaknya para bangsawan juga sudah tahu, mengapa Darius dilucuti aibnya sebelum Perugius datang.

Kemudian, sang pahlawan legendaris mengatakan sesuatu dengan begitu santainya.

"Tidak. Sudah terlalu lama aku meninggalkan kerajaan ini. Jadi, aku tidak pantas duduk di kursi terbaik, yang seharusnya ditempati oleh sang penerus negara ini.”

Sembari mengatakan itu, Perugius memegang punggung Ariel.

Setelah itu, dia mendorong Ariel dengan halus.

"Ariel. Kau saja yang duduk di sana. Biar aku duduk di sebelahmu."

Seketika, para bangsawan pun memahami maksud perkataan Perugius.

Bahwa raja generasi selanjutnya adalah Ariel.

Bagian 4[edit]

Ariel menang.

Auber tidak bisa berkutik.

Luke tidak melakukan apapun yang mencurigakan.

Kami berhasil memojokkan Darius dengan menggunakan pengakuan Triss.

Kami pun membungkam Grabell dengan kedatangan Perugius.

Yahh, pertarungan ini belum selesai sih, tapi kami hampir pasti meraih kemenangan.

Grabell dan Darius tidak memiliki apa pun yang bisa melebihi pengaruh Perugius.

Ya…. harusnya sih begitu.

"...... Perugius-sama!"

Saat Sylvaril tiba-tiba menjerit….

Langit-langit aula runtuh.

Salah seorang bangsawan menjadi korban setelah tertimpa reruntuhan.

Dan beberapa bangsawan lainnya terluka.

Kerusakannya tidak besar.

Reruntuhan langit-langit juga menghancurkan meja.

Tunggu dulu…. tidak hanya langit-langit yang jatuh.

Ada suatu sosok di sana.

Dia lah yang menjebol langit-langit, kemudian menjatuhkan dirinya ke ruangan ini.

Tubuhnya kecil, dan kulitnya keriput.

Dia menusukkan pedang emasnya ke lantai, bagaikan orang tua yang menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.

Lalu, wanita tua itu pun berdiri.

"Wah, persis seperti yang kulihat di dalam mimpi ..."

Gumamnya.

Dia mendarat di aula.

Kemudian, sembari melihat sekelilingnya, dia berkata….

"Ayolah, aku datang untuk menolongmu."

Dewa Air Reida Ryia.

Dia mengatakan itu pada Darius.

Kartu As Hitogami sudah datang.

Bab 10 : Medan Pertempuran Rudeus[edit]

Bagian 1[edit]

Teknik Dewa Air memiliki lima jurus rahasia.

Pencipta teknik ini adalah dia yang menemukan jurus rahasia terkuat.

Jika kau bisa menggunakan tiga saja dari kelima jurus rahasia itu, maka kau sudah layak disebut Dewa Air.

Sepanjang sejarah perkembangan Teknik Dewa Air, ada beberapa orang yang sanggup menguasai empat dari lima teknik rahasia tersebut, tapi………

Hanya Dewa Air pertama lah yang bisa menggunakan kelimanya.

Dewa Air Reida Ryia hanya bisa menggunakan tiga.

Dia adalah seorang wanita tua.

Masa kejayaannya telah lama berlalu, dan kemampuannya sudah terkikis oleh umur.

Dengan melihat fakta itu, orang-orang pun mempertanyakan mengapa dia masih menyandang gelar Dewa Air.

Selama bertahun-tahun, dia dipekerjakan oleh Kerajaan Asura untuk mengajarkan ilmu berpedang pada para ksatria dan prajurit.

Selama itu pula, dia belum mengangkat penerusnya.

Lantas, mengapa dia masih saja menyandang gelar Dewa Air?

Apakah karena dia memiliki bakat luar biasa yang tidak dimiliki pengguna Teknik Dewa Air lainnya?

Sepertinya, itulah alasannya.

Tidak diragukan lagi, Dewa Air Reida adalah seorang Pendekar pedang yang jenius.

Dia tidak kalah dari para pendahulunya.

Tapi, sehebat apapun bakatnya, umur jugalah yang membatasinya.

Lantas, apakah dia sudah habis saat ini?

Bukan begitu.

Saat ini, ada beberapa pendekar yang juga menguasai tiga dari lima teknik rahasia dewa air.

Tapi, mengapa mereka tidak berniat mengambil alih gelar itu dari Reida?

’Mereka tidak pantas menerima gelar itu.’ begitulah ungkap salah seorang Kaisar Air yang masih mendukung Reida mempertahankan posisinya.

Mengapa?

Itu karena Dewa Air Reida mampu menggunakan dua teknik tersulit dari lima teknik rahasia tersebut.

Bahkan, Reida mampu menciptakan teknik baru dengan mengkombinasikan dua teknik tersulit itu. Orang-orang sering menyebutnya teknik rahasia keenam.

Dan Reida sendiri menamainya, Deprivation Sword Kingdom[9].

Dengan menggunakan teknik itu, dia bisa menyerang dari satu posisi, baik itu tebasan menukik ke bawah, atas, kiri atau kanan.

Dia bisa membunuh lawannya dari segala arah.

Jika lawan bergerak selangkah saja, dia akan segera meresponnya dengan gerakan yang mampu menebas apapun.

Bagian 2[edit]

"Jangan ada yang bergerak. Jika memungkinkan, aku tidak ingin melukai siapapun."

Tsukkaima Perugius, Arumanfi Sang Cahaya, segera bergerak saat Reida muncul.

Dalam sekejap, dia sudah berada di belakang Reida ...... namun, detik berikutnya dia sudah terpotong menjadi dua.

Bukan potongan mayat yang tergeletak di sana, Arumanfi berubah menjadi partikel-partikel cahaya saat Reida berhasil menebasnya.

Kemudian, giliran Trofimus Sang Gelombang yang bergerak.

Dia menggerakkan tangannya ke arah Reida, seolah hendak menembakkan sesuatu.

Tapi, Reida hanya sedikit memiringkan pedangnya, kemudian Trofimus juga terbelah menjadi dua.

Sama seperti Arumanfi, dia pun menghilang menjadi partikel cahaya.

Kucoba mengangkat tanganku untuk membidikkan sihir, namun dia segera mendekatiku, lalu memotong lengan kiriku.

Sedetik kemudian, tangan kiriku lepas.

Namun, untungnya itu hanya lengan buatan Zariff.

Aku segera merasakan ketakutan yang luar biasa saat menyadari lengan Zariff terpotong dengan begitu mudahnya.

Berikutnya, yang bergerak adalah seorang bangsawan senior.

Dia berusaha melarikan diri, namun dalam sekejap tendon kakinya terpotong.

Dia menjerit kesakitan, sebelum akhirnya jatuh tersungkur.

Reida segera mengakhiri perlawanannya dengan menghantamkan punggung pedang pada bangsawan malang itu.

Tak seorang pengawal pun bisa bergerak.

Bahkan Eris dan Ghyslaine hanya bisa terdiam saat melihat aksi salah satu Pendekar pedang terkuat di dunia itu.

Aku, Ariel, Perugius, dan semua Tsukkaima-nya hanya bisa terpaku.

Semua yang berada di ruangan ini sadar bahwa mereka berada dalam jangkauan serangan Reida.

Mereka pun tahu jika bergerak sedikit saja, maka nyawa bisa melayang.

“..... Sepertinya tidak ada yang berani bergerak, ya. Hei, Auber."

Saat namanya dipanggil, Auber terkejut.

Bahkan pendekar sekaliber Auber pun tidak bisa lolos dari intimidasi Reida.

"S-sedang apa kau di sini ......?"

"Ariel, Perugius ...... dan Quagmire. Cepat potong leher mereka."

Hanya Auber yang bisa bergerak.

Dia menatap Reida dengan bingung.

"A-Aku?"

"Benar. Siapa lagi?"

"T-Tapi ......"

Pada saat itu, Auber melirik Eris.

Reida meludah saat melihatnya sekilas.

"Rupanya kau ragu melawan Eris, ya. Saat menyerang mereka di hutan ataupun di jalanan kota, kau tidak melakukannya dengan serius. Tapi, pendekar pengecut sepertimu masih saja ingin berlagak keren di hadapan muridmu.”

Reida terus mencemoohnya sembari menahan pergerakan kami.

"Lantas, apakah pantas mereka membayarmu dengan harga yang begitu tinggi? Apakah gelar Kaisar Utara-mu itu hanya kau gunakan untuk mendapatkan uang? Kau bahkan telah membiarkan kedua murid dan pasukanmu mati sia-sia.”

"......"

"Serendah itukah kau?"

"......Yahh."

Auber mulai bergerak.

Dengan mengangkat pedang di tangan kanannya, dia mendekati kursi kehormatan.

Pertama-tama, dia menuju ke tempat Ariel.

Gawat.

Aku harus melakukan sesuatu.

Tapi, aku masih tidak bisa bergerak.

Apa yang harus aku lakukan.

Dia adalah bidaknya Hitogami.

Tadinya kupikir keadaan sudah berpihak pada kami. Namun, dengan kedatangan seorang Dewa Air saja, semuanya berubah.

Orsted pernah membicarakan cara melawan teknik Dewa Air padaku.

Aku pun mendengar penjelasannya dengan hati-hati.

Tapi, sebenarnya itu hanyalah saran agar situasinya tidak menjadi seburuk ini.

Menurut si bos, aku harus berusaha lari secepat mungkin sebelum melihat kedatangan Dewa Air, kemudian bersiap-siaplah menyerang dari jarak yang cukup aman.

Larilah kemanapun selagi kau bisa.

Namun, tampaknya itu terlambat.

Situasinya sudah menjadi seburuk ini.

"... Na!"

Tiba-tiba, para prajurit memasuki aula.

Mereka adalah ksatria berarmor.

Armornya berwarna keperakan ...... bukankah itu berarti mereka adalah ksatria junior?

"S-Singkirkan pedangmu ....!"

"Jangan bergerak!"

Teriakan Reida menghentikan ksatria junior itu.

Namun, ada seseorang yang tidak mendengarkan perintahnya, dan dia terus mendekat.

Setelah berjalan beberapa langkah, dia pun melepas helmnya.

Aku mengenalnya tempo hari.

Dia lah Raja Air Isolte Cruel.

Kenapa dia di sini?

Seharusnya, hari ini para ksatria tidak menjaga aula ini.

Apakah Darius yang menyuruhnya?

Untuk mengantisipasi situasi seperti itu, apakah dia sudah memerintahkan para ksatria junior?

Ataukah ini hanya kebetulan?

"Shisho, apa yang sedang terjadi di sini?"

"Oh, kau kah itu Isolte ....?"

"Mengapa kau menggunakan teknik rahasia di tempat seperti ini .....!"

“Ya, ya, biar kujelaskan nanti. Tapi yang pasti, hari ini Dewa Air dan Kaisar Utara akan mengamuk di sini!”

"Me…….ngamuk?"

Isolte mengerutkan keningnya penuh tanda tanya, namun Reida terus melanjutkan omongannya.

"Jadi begini ...... kami berdua telah bersekongkol dengan Kerajaan Raja Naga. Mereka membayar kami dengan sejumlah besar emas. Tugas kami adalah membantai semua bangsawan kerajaan ini, termasuk Putri Kedua Asura. Lalu, kami akan pura-pura dikalahkan oleh seorang ksatria junior yang kebetulan datang, yaitu kau. Isolte Cruel akan menjadi pahlawan, sehingga nama baik Teknik Dewa Air akan semakin dikenang.”

Reida meringis, kemudian mengalihkan tatapannya pada Pangeran Pertama.

"Ya, bukankah ini alur cerita yang bagus? Seharusnya aku menjadi penulis ... ... bukankah begitu, bocah Grabell?"

"Cerita bodoh macam apa itu, Shisho ...!"

Isolte berusaha melangkah lebih dekat, namun kakinya segera terhenti.

Sepertinya dia merasakan bahaya karena telah memasuki jangkauan serangan gurunya.

"...... Cepat, Auber."

"......"

"Apa? Apa yang kau tunggu? Apakah kau takut nama baikmu sebagai Kaisar Utara akan tercoreng!? Jangan melawak! Semuanya sudah kurencanakan! Nama baik kita akan tetap bersih! Sudah terlambat jika kau ingin mundur! Tenangkan dirimu, dan turuti saja perintahku!”

Auber menggelengkan kepalanya.

Sembari menggenggam pedangnya, dia terus mendekati Ariel.

Tapi, dia terlihat sangat ragu.

Dia kebingungan.

"Apa yang kamu lakukan, Auber! Bunuh Ariel sekarang juga! Sekalian bunuh pelacur buangan itu!”

Sekarang giliran Darius yang membentaknya. Dia juga ingin menghabisi Triss.

Darius tidak hanya menginginkan kematian Ariel.

Kalau Triss masih hidup, meskipun Grabell berhasil naik tahta, dia tetap akan mendapatkan masalah di kemudian hari.

"Jangan mengkhawatirkan yang terjadi nanti! Biar aku yang urus semuanya!”

Mendengar bentakan Darius, keraguan Auber tampaknya lenyap seketika.

Kali ini Auber terlihat lebih yakin, kemudian dia menyiapkan pedangnya untuk menebas leher Ariel.

Gawat.

Situasi ini.

Apakah sudah tidak ada jalan lain?

"Chi ......"

Eris coba bergerak.

Dia mencoba sebisa mungkin melepaskan diri dari kekangan Reida.

"Eris, jangan lakukan itu."

"Tapi…."

"Hentikan."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan .....?"

Aku tidak ingin melihat Eris mati di hadapanku.

Tapi, apa yang bisa kulakukan?

Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak tahu jawabannya.

Bagaimana jika kita bergerak bersamaan?

Tidak, itu bukan pilihan bagus.

Tekniknya tidak bisa dipatahkan begitu saja dengan gerakan kombinasi.

Lagipula, kurasa jarak kami terlalu jauh untuk melakukan itu.

Bagaimana dengan Perugius?

Sejak tadi dia belum bergerak sedikit pun.

Dia hanya menatapku dengan wajah bosan.

Seolah-olah wajah itu berkata padaku, ’Nah, sekarang apa yang bisa kau lakukan?’

Meskipun dua Tsukkaima-nya telah dikalahkan dengan sekali tebas, dia tidak terlihat panik sama sekali.

Apakah dia masih menyimpan suatu cara?

Ataukah ada sesuatu yang bisa dia andalkan?

Tidak, jangan berharap pada hal seperti itu.

Auber sedang mencoba membunuh Ariel sekarang.

Tidak ada pilihan…..

Tidak ada pilihan selain bergerak.

Aku akan menyerang Reida dan Auber pada saat bersamaan.

Aku akan menggunakan Electric.

Tapi, resikonya adalah orang-orang di sekitarku juga akan terkena.

Bahkan, aku sendiri bisa lumpuh karena sengatan listriknya, sedangkan mereka mungkin saja bisa menghindarinya.

Teknik Dewa Air bisa menghindari serangan apapun, termasuk sihir. Jadi, kemungkinan berhasilnya rendah .......

"Rudeus ...... ayo kita lakukan."

Seakan menyadari gerakan jariku, Eris memberiku sinyal dengan tatapan matanya.

Tapi, kita bisa mati bersama ......

Sylphy, tolong keremasi kami nanti….

"......!"

Dan, pada saat itu, tiba-tiba…..

Tubuhku merasakan suatu getaran.

"A-apa ini ...!"

Tubuh Auber mulai bergetar, kemudian langkah kakinya berhenti.

Dahi Reida mulai berkeringat deras.

Bukan hanya dua orang itu.

Sebagian besar hadirin juga mulai gemetaran dan kejang-kejang.

Mereka masih berusaha menahan geraknya karena kekangan Reida, namun wajahnya mulai memucat dan gemetaran.

Oh, ini pasti perbuatan si bos.

Ah, syukurlah ....

Pasti cincin itu melepaskan sihir yang segera direspon oleh si bos.

"Sialan, aku menyerah ...... Darius, aku terlalu banyak menghabiskan waktu bicara ......"

"...... A-Apa? Apa yang terjadi!? Hawa dingin apa ini ......!"

"Auber, rubah rencananya! Kau bawa Darius, lalu kita kabur sekarang juga!”

Auber masih bingung dengan perintah Reida yang mendadak.

"Kenapa harus Darius? ...... bukankah Pangeran Pertama Grabell lebih penting?"

"Bahkan nenek tua sepertiku tidak akan melupakan hutang budinya.”

Reida tertawa tipis.

"Cepat! Kalau dia sampai datang, kita semua akan mati, tak peduli lawan atau kawan!”

“Dia siapa!??”

Setelah itu, Auber berpikir sejenak, lalu mengangguk.

Auber memegang tangan Darius, menyeret tubuh beratnya, lalu membawanya pergi.

"Sebelah sini."

"Hu, Ya ......"

Auber melarikan diri ke arah yang berbeda dari masuknya para ksatria junior tersebut.

Tidak ada yang bisa menghentikan mereka.

Aku masih tidak bisa bergerak.

"......"

Keheningan menyelimuti ruangan ini.

"Fyuhh. Seberapa jauh mereka akan melarikan diri? Kalau saja aku tahu bakal begini jadinya, harusnya aku tidak pernah datang .... "

".....Mengapa?"

Seseorang menanyakan pertanyaan tersebut.

Dia lah Ariel.

Ekspresi wajahnya tidak berubah, padahal dia hampir saja menjemput ajalnya.

Tampaknya dia masih kebingungan mengapa Reida membantu Darius.

Aku juga membingungkan hal yang sama.

"Kalian bertanya, mengapa…mengapa…dan mengapa. Ayolah, ini bukan sesuatu yang luar biasa, kok."

Reida tampak cemberut.

“Cerita bermula saat nenek ini masih muda. Dia selalu dipuji sebagai pendekar yang jenius. Dan si jenius itu pernah mengalahkan seorang bangsawan seumurannya pada suatu pertandingan di Dojo ... bangsawan itu tidak terima, kemudian membalasnya setelahnya. Dia membawa banyak anak buah, sehingga si jenius pun dikeroyok dan akhirnya kalah. Tangannya hendak dipotong, dan itu berarti masa depannya sebagai seorang Pendekar pedang akan berkahir. Namun, pada saat-saat terakhir, dia berhasil diselamatkan oleh seseorang bangsawan yang kedudukannya lebih tinggi.”

...... Apa?

Apakah itu Darius?

"Akhirnya gadis jenius itu menjadi Dewa Air, dan terpilih sebagai pengajar di kerajaan ini. Ketika dia mencoba untuk mengucapkan terima kasih, ternyata bangsawan penyelamatnya itu sudah berubah menjadi seorang pria gendut, licik, dan moralnya bermasalah. Dia pun tidak lagi mengingatku."

...

"Aku benar-benar merasa kecewa. Bagaimanapun juga, meskipun dia tampak mengerikan, namun aku masih menganggapnya sebagai orang yang pernah menyelamatkanku. Yahh, mungkin pikiranku itu terlalu naif.”

Reida menatap kosong pada kejauhan, seakan sedang mengenang masa lalu.

Dia mengingat kenangan yang membekas di pikirannya.

"Yah, seperti itulah akhir kisah cinta si gadis ...... Tapi, aku tidak pernah menyesalinya, aku hanya perlu membalas budi baiknya.”

Kata Reida.

Dia mengungkapkan cintanya pada seseorang yang sudah berubah tidak sesuai dengan harapannya.

"Jujur, sebenarnya aku ingin melupakannya. Tapi dalam perjalananku kembali ke Asura, tiba-tiba aku memimpikan sesuatu. Menurut mimpi itu, jika aku kembali ke Istana Kerajaan sebagai instruktur, maka aku bisa membalas budi baiknya.”

Itu pasti pekerjaan Hitogami.

Dan sekarang, orang yang paling membenci Hitogami di dunia ini sedang menuju ke sini.

Sayangnya, auranya yang mengerikan terasa sampai sini, sehingga membuat bidak-bidaknya Hitogami lari tunggang-langgang.

Mungkin saja Auber sedang berlari ke arah yang berlawanan dengan si bos.

Mereka tidak memiliki kemampuan untuk melacak kehadirannya, tapi yang jelas mereka mengerti bahwa bencana akan segera datang.

Auber adalah orang yang sensitif terhadap tanda-tanda bahaya seperti itu.

"Ini lucu. Padahal dia sudah sepenuhnya melupakanku."

"......"

"Tapi itu tidak masalah bagiku, toh aku juga sudah setua ini. Jika rasa cintaku sudah lenyap, maka setidaknya aku ingin membalas hutang budiku.”

Kemudian Reida membuka matanya.

"...... Wah, akhirnya datang juga."

Pintu depan terbuka.

Sesosok pria melangkah masuk.

"Hiiiyy!?"

Sontak, rasa takut menelan semua orang yang melihat sosoknya.

Beberapa orang sampai terkencing-kencing, sedangkan beberapa lainnya pingsan.

Ada juga orang yang terlihat begitu marah saat dia datang.

Namun, semua orang di aula ini memikirkan hal yang sama, yaitu….

’Tamatlah riwayatku.’

Rambut keperakan dan pupil mata emas.

Di sana berdirilah sesosok pria dengan wajah menakutkan bagaikan iblis.

Dia lah Orsted.

"Lama tidak berjumpa. Apakah kau datang untuk memakamkan nenek tua yang umurnya sudah pendek ini?”

"Benar. Karena kau adalah bidaknya Hitogami.”

“Bidak, ya ... Jadi, dulu kau melepaskanku karena aku belum menjadi bidaknya? Oh ya ampun…. di sisa-sisa umurku ini, mengapa aku harus melawan musuh sekonyol dirimu.”

Orsted mendekati Reida dengan tatapan lurus padanya.

Tak ada keraguan sedikit pun.

"Deprivation Sword Kingdom."

Tubuh Reida tampak kabur.

Pedangnya juga tampak kabur.

Setiap kali Orsted mendekat, pedang emas itu melepaskan tebasan-tebasan tak kasat mata yang ditujukan padanya.

Mushoku17 07.jpg

Namun, semuanya ditangkis.

Percikan api tersebar di sekitar tubuh Orsted.

Dia menangkis serangan-serangan itu hanya dengan tangan kosong.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.

Banyaknya percikan api meningkat setiap langkah Orsted mendekat.

Orsted masih tidak berhenti.

Tak lama berselang, Orsted benar-benar berdiri di hadapan Reida.

"Matilah."

Dia terlalu cepat.

Tanpa ada perlawanan yang berarti, dada Reida tertembus oleh tangan Orsted.

Dengan kecepatan tak kasat mata, Orsted mencabut tangannya dan membuang nenek itu seperti bangkai ikan yang amis.

"Shishoooooo!!"

Isolte menjerit. Tidak lagi terasa nafsu membunuh darinya, yang tersisa hanyalah kesedihan.

Tapi, tak seorang pun bisa bergerak, seolah-olah waktu berhenti.

Apa yang baru saja terjadi? Tidak ada yang memahaminya.

Hanya rasa takut yang mendominasi tempat ini.

Semua orang berpikir bahwa mereka akan menjadi korban berikutnya.

Akhirnya, yang pertama bergerak adalah Isolte.

Dia menarik pedang dan mengacungkannya pada Orsted dengan kaki gemetaran.

"Beraninya kau melakukan itu pada Shihso ......!"

"......"

Seolah-olah tidak terjadi apapun, Orested mengabaikannya begitu saja, kemudian meninggalkan aula.

Isolte mulai berlari mengejarnya ke teras.

"Rudeus-sama!"

Teriak Ariel seketika.

"Tolong kejar Auber dan Darius! Mereka tidak boleh kabur!"

Aku pun segera bergerak melaksanakan perintahnya.

Para bangsawan yang egois segera melarikan diri bersama pengawal-pengawalnya.

Tiga orang. Ghyslaine, Eris, dan aku berlarian keluar dari aula untuk mengejar Darius.

"Ru-Rudi? Apa yang terjadi?"

Sylphy juga datang.

Dia sepertinya tidak memahami situasinya.

Apa yang harus aku lakukan, membawanya bersamaku?

Tidak, Isolte masih ada di dalam.

Saat Sylphy melihat ke arah teras, dia dibuat tertegun oleh keberadaan Orsted.

Dia pun berhenti melangkah ....

"Sylphy, kau jaga saja Ariel-sama! Hati-hati dengan Isolte! Biar kami yang mengejar Darius!"

"Baik!"

Aku meninggalkan Sylphy dan Luke untuk melindungi Ariel.

Setelah memutuskan itu di menit-menit terakhir, kami pun lanjut mengejar Auber.

Bagian 3[edit]

Sebenarnya aku ragu kenapa Ariel berteriak, ’Kejar Darius!’

Mungkinkah dia meneriakkan itu tanpa sadar?

Jangan biarkan Darius lolos!

Ataukah karena dia mendengar kisah dari nenek itu?

Suatu hal yang kuyakini adalah, Ariel punya alasan lain saat memerintahkan kami mengejar Darius.

Bagaimanapun juga, dia juga anjingnya naga sama sepertiku.

Mungkin alasannya hanyalah: ’Jangan biarkan bidak Hitogami lolos!’, atau semacamnya.

Yang pasti, kami harus membunuh Darius.

Aku pun menerima perintah itu.

"Sebelah sini!”

Sembari diarahkan oleh indra penciuman Ghyslaine, kami terus menelusuri istana.

Ghyslaine dan Eris segera mematuhi perintah Ariel tanpa ragu sedikit pun.

Seraya terus mengejar buruannya, mereka tersenyum kaku.

Aku juga terus berlari sambil merasakan adrenalinku yang memuncak.

Keamanannya rendah.

Masih terlihat beberapa prajurit, sih…. tapi tampaknya mereka sedang sibuk mencari orang lain.

Terdengar, “Dia melarikan diri ke Istana Kerajaan!” dari mereka.

Mungkin mereka mengejar Orsted.

" ... Aku melihatnya!"

Tanpa gangguan dari para prajurit, akhirnya kami menemukan mereka setelah berlarian selama beberapa menit.

Darius, dengan tubuh besarnya, sedang dibawa oleh Auber.

Mereka menyusuri koridor dengan napas terengah-engah.

"...... Cih!"

Sesaat, Auber menoleh ke belakang dengan tatapan tajamnya, kemudian mendecakkan lidahnya.

Dia membopong bahu Darius, kemudian memasuki ruangan terdekat.

Kami segera mengikutinya ... dan tiba-tiba berhenti.

Darius ngos-ngosan, sementara Auber sudah menghunuskan pedangnya dalam posisi siap pada kami.

"..... Ku, Ku!"

Darius segera melotot padaku.

"Agh, kenapa harus terjadi hal sebodoh ini? Ini aneh… terlalu aneh…”

"Darius-dono, kau sudah lama hidup, jadi harusnya kau sudah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Lebih baik kau sekarang menenangkan diri, kemudian berpikirlah bagaimana caranya keluar dari situasi sulit ini.”

Auber menjawab teriakan Darius.

"Aku sudah melaksanakan semua kehendak Dewa! Lantas mengapa aku masih saja mendapati kesulitan seperti ini!”

Dengan wajah merah padam, Darius menyesalinya.

"...... Ya ampun, ternyata kau orang yang begitu taat, ya. Setidaknya, tenangkan napasmu dulu, kemudian berdoalah agar aku bisa mengalahkan mereka."

Sambil menggaruk pipinya, Auber mengangkat pedangnya, namun wajahnya tampak pasrah.

Kali ini, dia duluan yang mengayunkan pedangnya.

Lagi-lagi, dia memperkenalkan dirinya sebelum bertarung.

"Aku adalah Auber Corvette Sang Kaisar Utara."

Ghyslaine dan Eris juga memperkenalkan nama mereka untuk menjawab tantangan itu.

"Eris Greyrat, Raja Pedang."

"Ghyslaine Dedorudia, Raja Pedang juga."

Haruskah aku juga memperkenalkan diri?

Sementara aku ragu-ragu, Darius mengacungkan jarinya pada Eris.

"Hoi, yang berambut merah di sana! Aku tahu kau berasal dari Keluarga Boreas!”

Saat dipanggil nama keluarganya, Eris mengerutkan kening dan menggigit bibirnya. Dia tampak marah.

"...... Tidak lagi."

"Aku sudah berkali-kali membantu keluargamu!”

Darius tidak mendengar jawaban Eris, dia terus membentak sambil menyemprotkan air liurnya.

"Meskipun sudah kehilangan Wilayah Fedoa, tapi aku masih saja menyumbangkan emas-emasku pada kalian!"

...... kalau tidak salah…..

Darius lah yang mendanai Grup Pencarian Wilayah Fedoa. Yaitu kelompok tempat Paul bernaung dulu.

......?

Aku pernah dengar bahwa dia menyembunyikan maksud tertentu di balik sumbangannya itu.

Dia sengaja ingin mengalihkan perhatian kami.

Tapi, tak peduli apapun maksud tersembunyi yang dia miliki, grup itu sudah menyelamatkan banyak nyawa korban metastasis.

"Itu tidak ada hubungannya denganku!"

Eris meludahkan kata-katanya dengan kasar.

Dia cerdas. Dia sudah tahu kalau Darius sedang mencari celah.

"J-James juga telah menerima bantuanku!"

James

Kepala Keluarga Boreas saat ini, atau pamannya Eris.

"Aku telah membelanya dari tekanan-tekanan para bangsawan lain, dan aku juga yang mengangkatnya menjadi kepala keluarga!”

Itu masalah lain. Kami sama sekali tidak berhubungan dengan itu semua.

"Oleh karena itulah, pembangunan kembali Wilayah Fedoa berjalan dengan baik!”

Tidak, tidak, itu bohong.

"Aku pernah melewati perbatasan Fedoa. Yang kulihat hanyalah pembangunan mangkrak.” kataku.

“Jangan dengarkan pria itu! Andaikan saja Keluarga Boreas runtuh, para tuan tanah lainnya pasti sudah menjual wilayah tersebut, kemudian mentelantarkannya!”

Dia hanya mendramatisir.

Tapi, apakah itu benar?

Faktanya, rekonstruksi belum dikerjakan dengan baik, bahkan seakan berjalan di tempat.

Apakah ada cara lain yang lebih baik?

"Kalau begitu, harusnya kau bantu Sauros-sama ..."

Aku meludahkan kalimat itu dengan lantang.

Pada saat itu, ekspresi wajah Darius berubah secara drastis.

"Sauros? Jangan sebut nama si idiot itu di hadapanku! Dia hanyalah singa ompong yang tidak memahami keadaan ini! Si tua itu coba menggunakan seluruh kekayaan Boreas untuk merekonstruksi Wilayah Fedoa tanpa memikirkan konsekuensinya!"

"......"

Kurasa, itu pilihan yang bertanggung jawab ... tapi.

Yah, memang itu bukanlah langkah yang benar.

Kalau dia menggunakan seluruh kekayaannya, maka Keluarga Boreas akan kehabisan aset, dan mereka akan menjadi santapan empuk bagi para bangsawan lainnya yang kelaparan.

"Aku menyelamatkan James yang datang merengek kepadaku! Aku membunuh Sauros yang bersikeras menangani masalah ini dengan caranya sendiri! Kemudian, kunobatkan James menjadi kepala keluarga! Itulah kenapa sampai sekarang pun Keluarga Boreas dan Wilayah Fedoa masih ada! Itu semua berkat bantuanku! Jadi, sekarang giliranmu menolongku!”

Aaaaa.......

Gawat….gawat….

Kau salah langkah, pak gendut…harusnya kau tidak boleh menjelek-jelekkan Sauros di depan si rambut merah ini.

Kurasa, kedua Raja Pedang ini sudah tidak bisa dihentikan lagi.

"Dengan kata lain, kau adalah musuh Sauros-ojiisama."

"Ohh, aku mengerti sekarang….”

Setelah Eris mengatakan itu, Ghyslaine segera mengangguk. Mereka mulai mengangkat pedangnya masing-masing dengan aura membunuh yang luar biasa.

"Kalau begitu, akan kuhabisi kau sekarang juga."

"Hiiiiyyyyy!"

Darius menjerit pendek.

Auber mendesah.

"Kurasa, itu berarti negosiasi telah gagal."

Dengan begini, saat dimulai ronde terakhir.

Bagian 4[edit]

"Fu ~ u ...... Fu ~ u ......"

Kenapa Dairus malah tampak tenang?

Dia duduk di kursi terdekat, sembari mengambil napas dalam-dalam.

Dia tampak begitu santai, seolah-olah semua kepanikannya barusan hanyalah suatu kebohongan.

"Auber, bisakah kamu menang?"

"Yah, masih bisa kuusahakan jika lawanku hanyalah dua wanita Raja Pedang itu, namun si penyihir itu sungguh merepotkan.”

Sembari membelakangi Darius, dia mengacungkan pedangnya padaku.

Sepertinya, dia juga cukup tenang.

Namun, matanya tidak fokus.

Dari tatapan matanya, aku tahu bahwa dia sedang gelisah. Tapi, apakah itu hanya tipuan?

"............ Aku tahu. Dewa juga telah mengatakannya."

"Benarkah?"

"Penyihir berjubah kelabu itu akan datang untuk membunuhku. Lalu, aku lakukan semua sarannya, mulai dari menghancurkan lingkaran sihir teleportasi di sekitar istana, sampai menyewamu…. tapi inilah hasilnya. Sekarang aku tidak lagi percaya padanya.”

Demi mengikuti perintah Hitogami, dia melakukan berbagai hal secara rahasia.

Seperti yang telah Orsted katakan, strategi Hitogami mudah dibaca.

Jika dianalogikan dengan seorang atlet, dia adalah pecatur yang buruk.

Mungkin dia tidak suka main game berdua seperti itu.

"Lakukan sesuatu. Buktikan bahwa kau layak kusewa. Keahlianmu adalah melawan musuh yang jumlahnya lebih banyak, kan?”

"Dimengerti ...... andaikan aku menang, kau akan memberiku bonus khusus, kan?”

"Tentu saja! Aku berjanji!"

―― Setelah percakapan singkat itu, Auber menghadap kami.

Dia mulai menegapkan bahunya, dan memasang kuda-kuda.

Melihat ini, Eris dan Ghyslaine pun mulai bersiap.

"Teknik Dewa Utara ......『 Red Ink 』"

"Gaaaaaaaa!"

"Uraaaaaaa!"

Saat Auber menggumamkan nama jurusnya, Eris dan Ghyslaine bereaksi.

Tapi, aku sudah mengerti apakah yang dimaksud dengan 『Red Ink』.

Orsted juga sudah memberitahuku tentang jurus ini.

Ada karpet merah yang terhampar di lantai.

Tanpa pernah kami sadari, di karpet itu berserakan bola-bola yang juga berwarna merah.

Saat kami melihatnya, semuanya sudah terlambat.

"Ini….!"

"Nu !?"

Di kaki Ghyslaine dan Eris, terdengar suara letusan "Darrr" yang keras.

Tampaknya bola itu berisikan cairan perekat, sehingga membuat kaki keduanya merekat kuat di lantai.

Cairan itu dibuat oleh seorang Saint Utara yang juga ahli kimia.

Proses pembuatannya cukup rumit, sehingga aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Cairan itu terus melekatkan kaki Eris dan Ghyslaine, sehingga pergerakan keduanya terhenti.

"『 Water Flow 』!"

Namun, aku segera menggunakan sihir air untuk membilas kaki mereka.

Begitu kelembapan meningkat, perekat itu kehilangan kekuatannya.

Tapi, Eris dan Ghyslaine sudah kehilangan keseimbangannya.

Kuda-kuda mereka sudah goyah, sehingga tidak bisa melancarkan serangan. Namun kaki mereka sudah terlatih untuk tetap berdiri tegap.

Lambat.

Auber telah memulai langkah selanjutnya.

Dia segera memposisikan dirinya di antara Ghyslaine dan Eris.

Pedang Ghyslaine berhenti.

Pedang Eris pun berhenti.

Salah satu aturan dasar Teknik Dewa Pedang adalah, jangan pernah melepaskan jurus Sword of Light saat ada rekan yang berada di lintasan serang pedangmu.

"Pertama, kau duluan…. Rudeus Greyrat!"

Target Auber bukanlah Ghyslaine ataupun Eris.

Melainkan aku.

Dia mengayunkan dua bilah pedang dengan kedua tangannya padaku.

Itulah yang kulihat dengan mata iblisku.

Berkat sering berlatih dengan Eris, mata iblisku bisa memprediksi gerakan Auber lebih baik.

Aku segera menggerakkan lengan Zariff untuk menghadang tebasan pedangnya.

Langkah pertama.

Lalu, aku menggunakan sihir 『Earth Shield』 untuk melindungi tangan kananku.

"Teknik Rahasia Dewa Utara ...... 『Oboro Cross 』!"

Tangan Auber terlihat kabur.

Auber melemparkan pedangnya ke udara, menunduk, lalu mencabut pedang lain yang masih menempel di pinggangnya.

Aku bisa melihat semuanya.

Mata iblisku berhasil menangkap gerakannya.

Aku segera membentuk perisai dari tanah untuk melindungi tangan kananku.

Perisai ini cukup keras untuk menangkis tebasan pedang Auber.

Tapi, perisainya cukup berat sehingga tanganku tidak bisa bergerak dengan leluasa.

Pertama-tama, Auber mengincar tangan kiriku terlebih dahulu.

Lengan Zariff adalah lengan buatan yang berisikan Mana, dan itu cukup kuat untuk menahan tebasan pedang Auber.

Auber mencoba menarik pedang lainnya sambil berguling ke samping.

Gerakannya begitu lincah, sehingga sulit kuhindari.

Meskipun masih ada celah untuk menghindar, namun aku tidak akan sempat melakukannya.

Aku memutuskan untuk mengambil resiko.

Aku melompat, kemudian kusodorkan kaki kiriku padanya. Pedang Auber menebas kaki kiriku dengan telak.

Sensasi panas membakar tulang keringku.

Ketika aku mendarat, kaki kiriku terasa seperti tertekuk tidak wajar.

Saat kulihat bagian di bawah lutut kiriku, kudapati suatu sayatan lebar di sana.

Nyeri datang belakangan.

"Ugh!"

Aku menahan rasa sakit dengan menggertakkan gigiku.

Kemudian, kuamati sekitarku.

Eris sudah bisa bergerak, Ghyslaine melihat ke belakang pada diriku yang berdiri tertatih-tatih.

Aku belum mati.

Auber, tidak mungkin melarikan diri karena dikepung oleh kami bertiga.

".....?"

Saat itu, ada sesuatu yang menarik perhatianku.

Apakah Auber berniat menggunakan salah satu trik anehnya lagi?

Sepertinya tidak.

Di ujung sana, ada sesuatu yang bergerak.

Itu adalah Darius, dia sedang mengarahkan tangan kanannya pada kami.

"Wahai roh api, yang berada di mana pun antara langit dan bumi, aku memohon perlindunganmu…. Perlindungan suci dari roh api agung, dimana semua permintaan….”

Ghyslaine dan Eris juga menyadarinya.

Namun, kedua wanita itu melakukan hal yang berbeda.

Eris menghadap Darius, sementara Ghyslaine mendekati Auber.

"――『 Fire Bullet 』."

Tangan kanan Darius menembakkan sebongkah api.

Kekuatan dan kecepatannya sungguh mematikan. Peluru berapi itu melesat ke arah kami.

"...... Gu!"

Eris memotong bola api itu menjadi dua dengan pedangnya.

Namun, tanpa disadari oleh siapapun…..

Auber melemparkan sebilah belati mirip Kunai, dan menembus tubuh Eris.

Masih dalam posisi melemparkan senjatanya, Ghyslaine segera merespon dengan menebaskan pedangnya untuk memangkas bahu Auber.

Auber berhasil menggerakkan pedangnya pada detik-detik terakhir untuk menahan serangan itu.

Namun, tebasan Ghyslaine lebih kencang, dan pedang Auber pun pecah.

Bahunya tersayat, akan tetapi itu hanyalah luka dangkal.

Lengannya masih bisa digerakkan.

"Fu!"

"Gaaa!"

Auber segera mengambil beberapa langkah untuk menjauh.

Eris pun menyambutnya dengan tendangan keras.

Tapi, mungkin gerakan Eris melambat karena Kunai itu masih menancap di tubuhnya. Sehingga, Auber bisa menghindar.

"......"

Gawat, dia semakin menjauh.

Aku tahu menyerang Auber dari jarak sejauh ini bukanlah ide yang baik.

Kenapa?

Karena pria itu memiliki banyak trik aneh.

Tidak hanya itu.

Kaki kiriku sudah tersayat, dan aku ragu Eris bisa bergerak selincah biasanya.

Maka, sekarang satu-satunya orang yang bisa menghadapi Darius dan Auber dalam keadaan 100% hanyalah Ghyslaine.

Ya.

Tapi, setidaknya aku harus melakukan sesuatu pada Darius.

Sembari membuang Earth Shield, aku mengarahkan tongkatku pada Darius.

"Stone Canon!"

"!?"

"Oooaa!"

Peluru batu itu terbang dengan kecepatan tinggi, namun Auber berhasil menangkisnya.

Aku sudah mengiranya.

Tembakan yang barusan kulepaskan itu bukanlah Stone Cannon biasa.

"!?"

Sebetulnya, aku sudah mengembangkan teknik ini jauh hari sebelumnya, yaitu saat masih berpetualang melintasi Benua Iblis. Peluru batunya kubuat berongga, sehingga ketika meledak, serpihan-serpihan batu kecil menyebar ke segala arah untuk melukai targetnya.

Kunamai teknik ini, Explosive Stone Cannon.

"Gugyaaaaaa!"

Serpihan-serpihan batu tajam melesat, kemudian melukai mata Darius. Dia menjerit kesakitan dan meringkuk sembari memegangi wajahnya.

"Nuu?"

Perhatian Auber terbagi.

"Daaaaaa!"

Eris segera memanfaatkan peluang ini.

Sword of Light.

".....!?"

Auber ..... menahannya.

Dia menahan serangan itu dengan sisi tebal pedangnya.

Tapi, serangan Eris tidak terhenti. Tusukan pedangnya terus melaju dan menembus pedang Auber bagaikan pisau yang mengiris mentega, kemudian mendarat di lengannya.

Lagi-lagi, di saat-saat terakhir Auber berhasil menghindar, sehingga tusukan pedang Eris hanya memberikan luka dangkal pada lengannya.

Tampaknya, teknik Eris tidak sempurna karena dia terluka.

Pedang Eris hanya menyayat lengan Auber, tanpa bisa memberikan luka yang lebih dalam.

"Gaaaaaa!"

Setelah itu, giliran Ghyslaine menyerang.

Dengan kedua lengannya terluka, pergerakan Auber semakin terbatas.

Ghyslaine juga melepaskan teknik Sword of Light yang sama seperti Eris.

Sebenarnya, itu bukanlah teknik yang mudah dihindari, karena itulah jurus andalan para pendekar beraliran Dewa Pedang.

Auber kehilangan momentum untuk menghindar.

Itu bukanlah jurus yang bisa kau hindari tanpa persiapan yang matang.

Auber menyadari itu.

Tidak mungkin lagi dia selamat.

Serangan Ghyslaine masuk pada pundak Auber, sampai menembusnya ke sisi belakang.

"...... Mengesankan."

Sambil menggumamkan itu, akhirnya Auber roboh.

Dia ambruk di genangan darahnya sendiri.

Tubuhnya bergetar sebentar, lalu dia kehilangan kesadaran masih dengan mata terbuka.

............ Dia sudah mati.

"......"

"Aaaaa, mataku, mataku! Auber, lakukan sesuatu ...... Auber!"

Masih meringkuk, Darius terus meronta sambil memegangi matanya.

Ghyslaine menatap ke bawah pada Darius yang tersiksa karena teknik Explosive Stone Cannon-ku.

"......"

Ghyslaine mengayunkan pedangnya ke bawah tanpa mengucap sepatah kata pun.

Slash…. Berakhir sudah….

Darah Darius sampai terciprat ke pipiku.

Bagian 4[edit]

Aku meninggalkan mayat Darius di sana.

Kami sudah membicarakan ini dengan Ariel sebelumnya.

Bahwa…. tak peduli di mana pun Darius dibunuh, tinggalkan saja mayatnya di sana.

Kemungkinan besar Ariel akan dituduh atas kejahatan ini, tapi….

Bagi kami, yang lebih penting adalah kematian Darius.

Aku cukup senang kami berhasil membunuh musuh kami…. namun, ini adalah kebahagiaan yang membuatku resah.

"Fuu ......"

Pria hina itu akhirnya mati.

Kami membunuhnya.

Namun, itu tidak lantas membuatku lega.

Secara teknis, Ghyslaine lah yang membunuhnya, namun itu tidak penting.

Karena aku juga merasakan dosa membunuh seseorang.

Aku juga bertanggung jawab atas terbunuhnya Auber.

Aku tahu hari di mana aku membunuh seseorang pasti akan datang, entah cepat atau lambat.

Karena memang begitulah cara kerja dunia ini.

Adakah cara menyelesaikan masalah selain membunuh?

Aku tidak tahu.

"Hah ......"

Kurasa, percuma saja memikirkan itu semua sekarang.

Karena ini adalah jalan yang telah kupilih.

Kemudian, kami pergi ke ruangan sebelah untuk menyembuhkan luka-luka kami dengan menggunakan sihir penyembuhan kelas raja yang telah diberikan Orsted dalam bentuk gulungan lingkaran sihir.

Tentu saja, dengan sihir penyembuhan setinggi kelas raja, luka-luka kami tertutup dengan begitu cepat.

Tapi, tubuhku terasa dingin. Mungkin itu karena aku kehilangan sejumlah darah selama pertarungan tadi.

Di sebelahku ada Eris.

Dengan wajah murung, dia melihatku sedang menyembuhkan luka.

Aku pun melepas bajunya untuk memberikan perawatan.

Wow, tak peduli berapa kali pun aku melihatnya, otot-otot Eris memang luar biasa .......

"...... Apa?”

Luka di tubuh Eris telah berubah warna menjadi keunguan.

Racun.

Belati Auber itu pasti telah dilumuri racun.

"......"

Aku coba menggunakan sihir detoksifikasi tingkat menengah.

Namun tidak efektif.

Karena khawatir, keringat dingin mulai membasahi punggungku.

Tiba-tiba, aku teringat kata-kata Orsted.

Auber hanya menggunakan satu jenis racun dan itu tidak mematikan.

Dia juga memiliki obat penawarnya.

Aku segera kembali ke ruangan sebelah. Aku geledah mayat Auber untuk menemukan penawar racunnya.

Ya… ada.

Eris meminumnya, dan kuoleskan beberapa tetes di bagian tubuh yang berubah warna menjadi ungu.

Untuk jaga-jaga, aku juga melakukan hal yang sama pada diriku sendiri.

Sungguh berbahaya.

Andaikan saja dia menggunakan racun yang lebih keras, mungkin nyawa Eris sudah tidak terselamatkan lagi.

Aku benar-benar bersyukur…. sungguh .......

"Kau menghindari "Oboro Cross"-nya dengan baik ......"

Saat memberikan perawatan pada Eris, dia mengatakan itu.

Padahal, menurutku aku tidak menghindarinya, karena kakiku terpotong .......

Yah, mungkin dia mengatakan itu karena lukaku tidak vatal.

"Itu karena aku sudah banyak berlatih bersama Eris. Aku jadi terbiasa menghadapi serangan cepat, sehingga akhirnya aku bisa menghindarinya dengan baik.”

"Tapi, aku sendiri kesulitan menghindarinya ..."

Eris mengatakan itu dengan wajah kecewa.

Bagaimanapun juga, Auber adalah mantan gurunya.

Apakah dia teringat masa lalu?

"Yahh, yang penting kita semua selamat."

Eris menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Eris memang mudah iri pada sesuatu.

Namun… seperti yang barusan kukatakan…..

Yang penting kami selamat.

Ini adalah kemenangan yang berharga.

"Kalau begitu, ayo kembali"

"Baik."

"Ah."

Yahh…. anggap saja kami menang, meskipun aku tidak merasa puas.

Bagian 5[edit]

Ketika kami kembali ke ruangan pesta, kudapati suatu pemandangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

"..... Eh?"

Luke menekankan pedangnya ke leher Ariel.

Philemon sedang berlutut, dan Sylphy memandang Luke dengan penuh kebencian.

Apa-apa’an ini?

Luke melirikku dengan panik, kemudian dia berkata…..

Kata-katanya ditujukan pada Sylphy…. bukan padaku.

"Jika kau ingin menyelamatkan nyawa Ariel-sama, maka bunuhlah Rudeus.”

Pilihan konyol itu dia tawarkan pada Sylphy ――

Bab 11 : Kecerobohan Luke[edit]

Bagian 1[edit]

Ruangan pesta kembali tenang.

Orang-orang yang tinggal di tempat tersebut, kebanyakan adalah para petinggi senior dan bangsawan-bangsawan Kerajaan Asura.

Greyrat, Bluewolf, Purplehorse, Whitespider, dan Silvertoad[10]. Mereka adalah keluarga bangsawan yang telah melayani Kerajaan Asura sejak ribuan tahun yang lalu.

Untuk melihat hasil perebutan tahta ini, mereka memutuskan untuk tinggal di tempat sampai acara benar-benar berakhir, sedangkan yang lainnya sudah lari tunggang-langgang saat melihat Orsted.

Tentu saja, pestanya tidak dilanjutkan.

Mereka tidak pernah mengira pesta itu akan menjadi seperti ini.

Darius jatuh, dan bahkan pahlawan legendaris pun turun ke istana.

Dengan dua kejadian penting ini, Ariel hampir meyakinkan para bangsawan bahwa dia lah raja selanjutnya.

Tentu saja, mereka pun kebingungan mengapa Dewa Naga keluar tiba-tiba.

Namun, Ariel telah menenangkan mereka dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Itulah kenapa mereka masih berada di sini.

"......"

Seperti yang selalu terjadi sebelumnya, para bangsawan itu pun merasakan ketakutan yang sangat saat si bos muncul di ruangan ini.

Pria yang tubuhnya memancarkan aura mengerikan itu tiba-tiba datang untuk menyelamatkan Ariel.

Sebenarnya mereka bersekutu.

Kalau mereka sampai tahu bahwa Ariel dan Orsted bersekutu, maka kepercayaan keluarga bangsawan pada Ariel akan berkurang. Itu karena mereka tidak ingin dipimpin olah seseorang yang berteman dengan makhluk sejahat Orsted.

Setidaknya itulah yang kupikirkan.

Namun, sepertinya situasinya sedikit berbeda.

Pria itu muncul hanya sesaat, membunuh Reida, kemudian pergi begitu saja tanpa menyebutkan namanya.

Rambutnya berwarna perak, matanya keemasan, dan raut wajahnya mirip Perugius.

Rupanya, atas kesamaan itulah, para bangsawan berpikir bahwa Orsted adalah anak buahnya Perugius.

Dia mengingatkan mereka pada Perugius, yang memiliki figur seorang raja.

Perugius memiliki bawahan yang bisa mengalahkan Dewa Air dengan sekali pukul.

Ya… memiliki anak buah sekuat itu bukanlah hal yang mustahil bagi legenda sebesar Perugius. Itulah yang mereka pikirkan.

Meskipun ada beberapa orang yang masih meragukan itu, namun logika sederhana seperti: ’Patuhi saja Ariel, atau monster itu akan kembali untuk menjadikanmu korban selanjutnya.’ membuat mereka tunduk pada Ariel, dan tidak lagi mengungkit-ungkit masalah ini.

Ariel telah kembali ke Asura.

Darius telah melarikan diri, atau mungkin juga sudah mati.

Ariel telah berteman dengan Perugius, yang memiliki anak buah sejahat iblis.

Siapapun yang menentang mereka, akan bernasib sama seperti Dewa Air.

Itulah yang mereka pikirkan ...... tak terkecuali Pangeran Pertama Grabell.

Kutukan Orsted cukup kuat untuk mendikte para bangsawan berpikir demikian.

Ya… semuanya pasti berpikir begitu……

…..kecuali seseorang.

Karena dia tahu Ariel lebih dari siapapun di dunia ini.

Karena dia mengenal Orsted setelah mendengar saran-saran Hitogami.

Karena dia masih belum percaya padaku, meskipun Ariel telah berkali-kali membujuknya.

Dia lah Luke Notus Greyrat.

Luke pun berpikir…..

’Ya ampun… buat apa bersekutu dengan orang sejahat itu… bahkan Rudeus memanggilnya bos.’

Luke merasa khawatir.

Apa yang akan terjadi dengan negeri ini jika orang-orang sejahat itu bersekutu dengan rajanya?

Menurutnya, Darius adalah pilihan yang lebih baik.

Hitogami pernah muncul dalam mimpinya.

Dia tahu segalanya bagaikan Dewa yang mampu mengatur semesta ini.

Dia memberi nasihat Luke, dan menjelaskan semuanya dengan rinci.

Apa yang harus dia lakukan agar Ariel menjadi raja, dan bagaimana Rudeus tergoda oleh nafsunya.

Ariel telah banyak berbicara pada Luke sebelumnya, dan meyakinkannya bahwa makhluk yang mengaku dewa itu hanyalah penipu.

Dia mengatakan bahwa semua nasehatnya hanya akan menggiring Luke ke dalam perangkap, dan dia hanya memanfaatkan semua ini.

Sebenarnya, jika kau berpikir lebih jernih, kau akan mendapati beberapa cacat dalam saran-saran Hitogami.

Namun, bidak-bidak Hitogami tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Kalau pun ada kesalahan, mereka akan menganggapnya sebagai hasil dari kecerobohannya sendiri karena tidak melaksanakan perintah dewa dengan sebaik mungkin.

Luke pun demikian.

Luke mengira bahwa dia telah membuat kesalahan dalam menafsirkan saran-saran Hitogami, sehingga keadaannya menjadi seperti ini.

Luke adalah ksatria Ariel.

Harusnya, dia lebih mempercayai perkataan tuannya daripada dewa antah-berantah itu.

Namun, kalau memang itu yang terjadi, maka keadaannya tidak perlu menjadi serumit ini.

Harusnya, tugas seorang ksatria adalah mempersembahkan seluruh hidup dan matinya hanya untuk sang majikan.

Akan tetapi, saat melihat betapa ngerinya Orsted, Luke menyadari hal lain.

Luke adalah cowok ikemen yang mempunyai selera bagus pada wanita.

Sebaliknya, dia tidak begitu memahami sifat sesama lelaki.

Dia sendiri tahu akan hal itu.

Meskipun begitu, setidaknya dia paham betul bahwa Orsted bukanlah orang baik.

Siapapun lebih memilih tidak berurusan dengan orang sepertinya.

Dia adalah iblis yang akan menuntun umat manusia pada kehancuran.

Ariel telah salah.

Dan Rudeus mungkin sudah terkecoh dengan iblis itu.

Itulah yang dia pikirkan.

Kemudian...

(Lalu, apa yang harus kulakukan?)

(Saat tahu bahwa tuanku memilih jalan yang salah, maka apa yang harus kulakukan?)

Apakah dia harus mendebat semua perkataan sang putri untuk menyadarkannya?

Kalau masalah selesai hanya dengan hal seperti itu, maka mudah sekali hidup ini.

Tapi, tentu saja tidak begitu.

Orsted sudah pergi.

Bahkan dia sudah memberikan bantuannya.

Dalam situasi seperti ini, hampir pasti Ariel berhasil mempecundangi Darius dan Grabell.

Bukankah semuanya sudah terlambat?

Dengan kemampuan berpedang dan ilmu sihir yang payah, apa yang bisa dilakukan seorang Luke?

Apakah dia bisa melakukan sesuatu?

(Aku tidak berdaya.)

Saat Luke hendak menyerah……

…..tiba-tiba seseorang mendekat.

Dia mendekati Ariel dengan cepat, lalu segera berlutut di hadapannya.

"Ariel-sama!"

Dia lah Philemon Notus Greyrat.

Ayah Luke.

Sembari tersenyum jahat, dia hendak mengatakan sesuatu pada Ariel.

Agar para bangsawan di sekitarnya juga mendengarkan.

"Selamat! Philemon sudah lama menunggu datangnya saat-saat ini!”

Seraya bersandiwara, Philemon memandang Ariel dengan gembira.

"Untuk mengikis kekuatan fraksi Pangeran Pertama, aku berpura-pura membelot pada Grabell-sama. Tapi sekarang aku sadar, bahwa sesungguhnya aku tidak perlu melakukan hal sekonyol itu. Ariel-sama!! Anda benar-benar sudah tumbuh semakin dewasa di negeri seberang!”

Meskipun kata-kata itu keluar dari mulut seorang bangsawan yang terhormat, namun itu tidak lebih dari rengekan murahan penuh pengkhianatan.

Dia adalah orang yang telah mendapatkan kepercayaan Grabell untuk mengirim pasukan pembunuh pada Ariel.

Tatapan jijik datang dari para hadirin yang masih bertahan di aula ini, seolah mengatakan, ’Berani sekali dia merengek seperti itu.’

"Philemon-sama ......"

"Tidak, tidak, Ariel-sama, Anda tidak perlu mengatakannya di depan para hadirin. Lagipula, aku tidak memiliki banyak sekutu, jadi tindakanku selama ini mungkin terlihat seperti pengkhianatan. Tapi…. percayalah bahwa aku melakukan semua itu demi kepentingan Ariel-sama. Jadi, aku ingin hubungan kita kembali seperti sedia kala. Aku ingin membela Ariel-sama…..”

Ariel tidak menunggu sampai dia menyelesaikan kalimatnya.

"Philemon Notus Greyrat!"

Bentakannya membungkam Philemon yang sedang menyembah-nyembah.

"Lantas bagaimana dengan keluargamu!!? Bagaimana dengan posisimu sebagai kepala keluarga!!? Akui saja bahwa kau telah berkhianat karena selama ini kau pikir aku lemah!”

Philemon terbelalak memandang Ariel.

Mungkin, inilah pertama kalinya dia melihat Ariel membentaknya dengan begitu berang.

"Jika kau memang berniat mengkhianatiku, maka tanggunglah akibatnya secara jantan! Tidak seperti ini! Lihatlah betapa rendah dirimu! Kau merengek-rengek meminta pengampunan agar kita bisa kembali bersekutu! Dasar tak tahu malu!”

"Ha ...... Hu ......"

Dengan panik, Philemon melihat sekelilingnya, kemudian bicaranya mulai gagap.

"A-a-a-aku t-t-tidak b-b-bermaksud….”

Tatapan semua hadirin mengarah pada Philemon, dan mulai terdengar tawa penuh cemoohan.

Philemon hanya bisa menunduk dengan wajah merah padam.

Namun kemarahan Ariel belum surut.

"Aku sudah tahu kau akan berkhianat, namun aku masih sudi mempertahankan keluarga kalian! Akan kuangkat Luke sebagai kepala keluarga, dan kau boleh pensiun dengan mendiami wilayah kekuasaanmu! Aku tidak bermaksud memperdalam masalah ini! Tapi, lihatlah yang kau lakukan ini! Kau sedikit pun tidak merasa bersalah, malahan kau membuat-buat alasan konyol agar bisa kembali ke fraksiku! Aku bahkan kehabisan kata menanggapi perbuatanmu yang memalukan ini! Padahal aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan melukai siapapun, meskipun mereka tidak berpihak padaku! Namun dengan tingkahmu ini, bagaimana bisa aku tinggal diam!”

Wajah Philemon menjadi pucat.

"Minta maaf lah atau bersiap menghadapi kematian!"

Saat mendengar itu, Luke menyadari bahwa Ariel tidak main-main lagi.

Sejak awal, Ariel telah mengantisipasi terjadinya hal semacam ini.

Mungkin saat ini Ariel hanya tidak mampu mengontrol emosinya, dan dia tidak benar-benar berniat mengeksekusi Philemon.

Kesepakatan dengan Ghyslaine mungkin hanya sekedar ucapan lisan.

Pada akhirnya nanti, mungkin Ariel berencana menyelamatkan Philemon.

Bagi Ariel, Philemon adalah sekutu terkuatnya.

Saat ini, kau boleh bilang Keluarga Notus sudah melemah, namun dulu sebelum mengungsi ke Ranoa, faksi Ariel banyak dibantu oleh Philemon.

Mungkin benar bahwa Philemon bukanlah pengikut yang setia, namun ...

Ariel sudah berhutang budi kepada Philemon.

Orang yang mempersiapkan berbagai hal agar Ariel bisa mengungsi ke utara dengan aman, adalah Philemon.

Singkat kata, berkat Philemon lah Ariel masih bisa bernapas sampai detik ini.

Dia tidak akan mungkin melupakan bantuan sebesar itu.

Namun, jika Ariel mendengarkan rengekan Philemon, lalu memaafkannya, maka ketegasannya sebagai calon pemimpin akan dipertanyakan. Itu akan mempengaruhi karir politik Ariel di masa depan.

“Cukup! Aku sudah muak! Jika kau tidak menarik kembali semua ucapanmu, maka bersiaplah untuk eksekusi mati! Luke! Pinjami aku pedangmu! Setidaknya, aku sendiri yang akan membacakan doa kematian untuknya!”

Saat mendengarkan itu, Philemon menatap putranya dengan ketakutan.

Matanya memelas berharap bantuan.

Dia terus menatap Luke.

Luke tidak tahu harus berkata apa.

Bagian 2[edit]

--- Sudut Pandang Luke ---

Aku tahu bahwa ayahku hanyalah seorang pengkhianat dan pengecut.

Namun, tentu saja aku tidak ingin aib itu terungkap di depan umum.

Ayah sudah menjadi tuan tanah sejak muda, namun dia hanya melakukan pekerjaan rendahan.

Bahkan kakek sempat mengatakan, ’Andaikan saja kau seperti Paul’ di mata kakek, pekerjaannya sebagai tuan tanah sungguh tidak memuaskan.

Saat masih di rumah, aku melihat ini berkali-kali.

Ayah sering kali mengalami depresi karena perkataan kakek.

Sekarang, ayah akan dieksekusi tepat di depan mataku.

Ayah menuai apa yang dia tabur sebelumnya.

Belum lagi, janji kami pada Raja Pedang Ghyslaine.

Adalah suatu kebohongan bila aku tidak mengakui keterlibatan ayah dalam upaya pengeksekusian Sauros Boreas Greyrat.

Hubungan ayah dan Sauros buruk.

Sebaliknya, hubungan kakek dengan Sauros cukup baik.

Hubungan Kepala Keluarga Boreas dan mantan Kepala Keluarga Notus sudah seperti adik-kakak.

Tetapi Sauros tidak menyukai Philemon.

Sebelum menjadi tuan tanah, Sauros tidak pernah sungkan menghina ayah.

Setiap ada kesempatan, Sauros selalu mengeluhkan berbagai hal tentangnya, bahkan berkata kasar.

Jadi, ketika Sauros berada dalam kesulitan ...

….tidak aneh jika ayah “memperlancar” proses eksekusi Sauros.

Ya… tentu saja ayah tidak akan ragu melakukan hal seperti itu.

Aku begitu terkejut saat melihat pengkhianatan ayah.

Saat kulihat wajahnya setelah berpisah selama 8 tahun ...

…..dia tampak jauh lebih tua.

"......"

Tiba-tiba aku teringat masa lalu, dimana aku masih sering curhat pada ayah.

Waktu kecil dulu, aku membicarakan banyak hal padanya.

Saat itu, dia sering membanding-bandingkanku dengan kakak.

Sebagai adiknya, aku hanya bisa mengakui bahwa kakak memang lebih hebat.

Kami memang tidak pernah membicarakan hal yang penting, namun aku tahu bahwa ayah tidak membenciku.

Waktu itu, aku masih tidak tahu apa-apa, tapi ayah mengajariku banyak hal.

Meskipun terkadang dia mengatakan, ’Pikirkan sendiri dengan kepalamu’ namun akhirnya dia tetap mengajariku.

Dia masihlah ayahku.

Ayahku tidak selalu benar.

Dia adalah orang yang ceroboh, dan sering membuat keputusan yang salah.

Tapi ayah selalu bekerja keras untuk kepentingan Ariel.

Setelah serangan di hutan itu, aku menyadari ada yang salah dengan ayah. Namun, aku berusaha sebisa mungkin berpikiran positif bahwa ayah tidak berkhianat.

Mengapa ayah bertindak begitu egois?

Tak peduli seegois apapun dirinya, ayah tetaplah seorang kepala keluarga yang harus melindungi keluarganya.

Setelah Ariel mengungsi ke negara lain, ayah dihadapkan dengan pilihan sulit untuk mempertahankan keluarganya dari pengaruh Grabell.

Saat itu, tentu saja kubu terkuat di istana adalah fraksi pangeran pertama.

Ayah harus mendapatkan kepercayaannya agar Keluarga Notus tidak tertindas.

Dia bahkan mengirimkan pasukannya untuk menyerang kami di hutan, agar mendapatkan kepercayaan dari Grabell.

"Ariel-sama, tolong dengarkan permintaanku."

"Apa itu, Luke?"

"Bersediakah Anda memaafkan ayahku?”

Ariel hanya membalasnya dengan tatapan dingin.

Belakangan ini, dia sering menatapku dengan pandangan sedingin itu.

Terlebih lagi, saat dia menduga bahwa ayah telah berkhianat.

"... Aku tidak bisa melakukan itu."

"Apakah ini karena janji dengan Ghyslaine?"

"Tidak, karena aku tidak bisa mentolelir pengkhianatan.”

Itu betul juga.

Tak peduli seakrab apapun hubungan ayah dan Ariel sebelumnya….

Ayah telah melakukan serangan yang membahayakan nyawa Ariel, dan itu adalah bentuk pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan begitu saja.

Jika Ariel membiarkannya, maka dia akan dianggap tidak tegas oleh para pengikutnya.

Aku pun mengerti akan hal itu.

Tapi, setelah memperjuangkan banyak hal untuk Putri Kedua, seperti inikah nasib Philemon Notus Greyrat?

Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan iblis berambut putih itu pada mereka.

Rudeus dan Ariel mungkin telah tertipu olehnya.

Tapi, ayahku telah mengkhianati Ariel.

Berpihak kembali kepada suatu fraksi setelah terang-terangan mengkhianatinya…. tak ada kata yang lebih pantas bagi orang seperti itu, selain ‘hina’.

Tetapi aku...

Aku tidak terima.

"......"

Kucabut pedangku ...

"...... Luke?"

"Maafkan aku."

"Apa?"

Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang kulakukan.

Tanpa kusadari, kudekap Ariel dari belakang ...

Lalu kudekatkan pedangku pada lehernya.

"... Luke. Apa yang sedang kau lakukan?"

Sylphy segera menyadari ada yang salah denganku.

Aku bisa merasakan nafsu membunuh pada tatapan matanya.

Dia tidak akan pernah menunjukkan wajah sekejam itu pada Rudeus.

Di tangannya, dia memegang tongkat sihir yang biasanya digunakan oleh penyihir junior.

Itu adalah tongkat kecil yang juga pernah kugunakan saat pertama kali berlajar sihir.

Namun, aku tahu. Para penyihir istana juga bisa menggunakan tongkat itu untuk menembakkan sihir yang mematikan.

Tanpa ragu, dia mengacungkan tongkatnya padaku.

"Sylphy, menurutmu apakah tidak ada yang aneh dengan mereka?"

"Satu-satunya yang aneh di sini adalah kau!! Kau pikir siapa yang sedang kau dekap itu!?”

Aku pun sadar bahwa aku sedang melakukan hal yang aneh.

Atau lebih tepatnya, aku tidak paham mengapa aku lakukan ini.

Pandangan semua orang terfokus padaku.

Kaum-kaum ningrat itu seakan tidak paham apa yang sedang terjadi di sini.

... Apa yang sedang kulakukan?

Mengapa aku melakukan ini?

"Sylphy, apakah kau benar-benar mempercayai pria itu?”

"Pria itu? Maksudmu Orsted? Kenapa tiba-tiba membahas dia!? Apa hubungannya dia dengan tindakanmu saat ini!?”

"Jawab aku dengan jujur!"

Setelah kubentak dia, Sylphy membalasnya dengan suara pelan sembari masih mengacungkan tongkat sihirnya padaku.

"Aku tidak percaya padanya."

"Lalu kenapa? Kenapa kau masih mempercayai Rudeus, padahal dia adalah anak buahnya Orsted!?”

"Kubilang aku tidak percaya Orsted! Bukannya Rudi!"

Aku tidak paham.

"Rudeus telah menjadi bidaknya Orsted. Bukankah sikapnya sudah berubah? Bukankah dia sedang dikendalikan oleh Orsted!?”

Sejujurnya, bukan berarti aku ingin Sylphy berpihak padaku.

Namun semenjak Sylphy menikahi Rudeus, seakan-akan dia bersedia disuruh melakukan apapun olehnya.

Dia hanya menuruti perkataan Rudeus tanpa curiga sedikit pun. Seakan-akan, dia tidak pernah menyangkalnya.

Padahal, akulah yang mengajarinya.

’Dengarkan semua perkataan suamimu agar kau mendapatkan cintanya.’ akulah yang mengatakan itu padanya.

... Yahh, setidaknya aku tahu itu, karena ibuku tidak pernah melakukan hal serupa.

Dia tidak lagi mencintai ayah, sehingga dia pergi meninggalkan rumah.

"Pernahkah kau berpikir sekali saja bahwa Rudeus bisa melakukan kesalahan?”

Sylphy terlihat semakin geram.

"Aku tahu itu! Tapi Rudi selalu berusaha melindungi kita! Bagaimana bisa kau tidak menghargai usaha seseorang yang selalu berjuang agar tak satu pun dari kita celaka! Aku hanya melakukan apapun yang perlu kulakukan! Daripada mencela ataupun berprasangka buruk padanya, lebih baik aku diam dan mendukungnya dari belakang!”

Jawab Sylphy dengan tegas.

Hanyalah Rudeus yang dia percaya di dunia ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, kurasa Sylphy sudah banyak berubah.

"Kalau begitu, masihkah Ariel-sama penting bagimu?”

Saat mengatakan itu, aku semakin mendekatkan pedangku pada leher Ariel.

Tapi, yang kudekatkan ke lehernya hanyalah sisi tumpul pedang.

Meskipun setelah ini aku juga akan dieksekusi mati olehnya, setidaknya aku tidak ingin membuat kulitnya lecet.

Wanita harus memiliki kulit yang indah.

"Beraninya kau!"

Ya, itu benar sekali.

Kemudian, di belakang Sylphy, aku melihat Rudeus menampakkan dirinya di pintu masuk.

Matanya mulai melotot saat melihat situasi ini.

"Hei, Sylphy. Masihkah kau mempercayai perkataan Rudeus, meskipun Orsted mempengaruhinya?”

"... Ya, aku akan selalu mempercayainya."

"Kalau begitu…..."

Kualihkan tatapanku pada Rudeus.

Dia menoleh ke kiri-kanan dengan gelisah, sepertinya dia berusaha mencaritahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.

Matanya berhenti sejenak, kemudian dia segera menoleh lagi dengan wajah yang tampak kecewa.

Barusan dia melihat Perugius.

Dalam situasi seperti ini, Perugius masih saja duduk tenang di kursinya.

Seolah-olah, dia sedang menikmati tontonan ini yang dianggapnya seperti acara lawak.

"Jika kamu ingin menyelamatkan nyawa Ariel-sama, maka bunuhlah Rudeus."

Mata Sylphy melotot.

"Yang mana pilihanmu?"

Sylphy belum melihat Rudeus di belakangnya.

Harusnya dia belum memperhatikan kedatangan Rudeus.

"Siapa yang kau pilih di antara mereka?"

Aku pun tahu itu adalah ancaman yang buruk.

Kenapa aku menanyakan itu?

Ini sudah di luar topik pembicaraan semula.

"Aku memilih Rudi."

Sylphy menjawabnya tanpa ragu sedikit pun.

Seolah-olah, dia tidak memerlukan waktu lama untuk menentukan pilihannya.

"Aku tahu itu berarti mengikhlaskan nyawa Ariel-sama. Tapi, jika aku terpaksa harus memilih, maka tentu saja aku lebih memilih kembali pada suami dan anakku.”

Aku jadi iri.

Mungkin Ariel pun merasakan hal yang sama.

Saat kulihat ke belakang, di sana kudapati Rudeus sedang menahan mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia berusaha menahan pujian pada istrinya.

Orang ini, bahkan setelah datang terlambat, tetap saja membuatku jengkel.

"Aku tetap akan memilih Rudi. Aku tidak tahu apakah akibatnya nanti. Mungkin kita akan mendapatkan masalah serius, dan akhirnya terbunuh oleh Orsted... tapi, meskipun itu terjadi, aku tetap ingin mendukung Rudi sampai saat-saat terakhir. Dengan begitu, hubungan suami-istri kami akan tetap abadi.”

Pengakuan itu menusukku layaknya mata panah.

Aku merasa begitu hampa, seolah-olah ada lubang menganga di dadaku.

Tak tahu harus menjawab apa, akhirnya aku hanya mendesah panjang ...

"...... Haa."

Apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Apakah kesalahanku ini tidak termaafkan lagi?

Sebenarnya, aku masih ingin berada di sisi Ariel, seperti halnya Sylphy yang terus berusaha mendukung Rudeus tak peduli apapun yang akan terjadi.

Sebagai ksatria Ariel, aku harus terus menjaganya seumur hidupku, layaknya suaminya.

Orsted memang terlihat mengerikan bagaikan iblis.

Antara Hitogami dan Orsted, tentu saja Hitogami lebih layak dipercaya.

Namun, antara Ariel dan Hitogami, siapakah yang harus lebih kupercayai.

Tak usah dikatakan lagi.

Harusnya aku lebih mempercayai Ariel, mematuhinya, dan melindunginya tanpa peduli apapun yang akan terjadi selanjutnya, meskipun itu bukanlah pilihan yang benar.

Ya, aku ikhlas menerimanya.

Ah, ini seperti menjilat ludah sendiri.

"Jadi, Luke…."

Ariel akhirnya berbicara.

Sebelum mendengar desahanku, dia hanya diam seribu kata.

"Ternyata Sylphy lebih memilih Rudeus daripada aku, lalu…. apakah kau akan membunuhku?”

"Apa?"

"Kalau kau benar-benar sudah siap membunuhku, maka setidaknya ijinkan aku mengajukan permohonan terakhir pada kakakku, agar Sylphy dan yang lainnya bisa meninggalkan kerajaan ini dengan aman. Bolehkah?”

Ariel, mengatakan itu dengan nada rendah.

"Itu artinya, aku pasrahkan keselamatan mereka padamu. Lantas mengapa kupercayakan hal yang begitu penting pada orang yang hendak membunuhku, kau ingin tahu alasannya?"

"Ya."

Aku sedih.

Aku sendiri masih tidak paham apa yang sedang kulakukan ini, tapi jelas saja Ariel menganggapnya sebagai suatu pengkhianatan.

Padahal, selama beberapa tahun terakhir, aku lah orang yang selalu melayaninya dengan sepenuh hati.

Aku lah orang yang selalu siap menjadi perisai pelindungnya kapanpun.

Bahkan sampai sekarang, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya.

Dia mengira aku hanyalah orang yang mengkhianatinya di saat-saat terakhir.

Namun, semuanya sirna setelah Ariel mengatakan….

"Alasannya hanya satu, Luke."

"...?"

"Karena aku adalah putrimu."

Aku hampir menitihkan air mata.

Bagiku, kalimat itu sudah cukup untuk menjawab segalanya.

Dia masih menganggapku sebagai ksatrianya.

Dia masih percaya bahwa aku tidak benar-benar mengkhianatinya.

Meskipun aku sudah menekankan pedangku pada lehernya.

"..."

Kubuang pedangku, lalu kulepaskan Ariel.

Ketegangan lenyap seketika bersamaan dengan bunyi dentangan pedang yang terbanting ke lantai.

Aku berlutut sembari menatap Ariel.

Dengan tatapan dingin, dia melihat ke arahku.

"Luke, siapakah kau?"

"Aku adalah ksatria Anda, Yang Mulia."

Ariel tersenyum lembut.

Lalu, aku menundukkan kepala, dan kutawarkan tengkukku padanya.

"Maka…. silahkan potong leher pengkhianat ini."

Sebenarnya aku tidak ingin mati.

Masih ada banyak hal yang ingin kulakukan.

Tapi, kalaupun harus mati di tangannya, aku ikhlas.

Aku puas.

"......"

Ariel mengambil pedang, lalu mengangkatnya dengan satu tangan.

Dia memukul kepalaku dengan sisi tumpul pedang.

Rasa nyeri menjalar di kepalaku.

"Oh, Luke…dasar playboy. Bagaimana bisa kau tiba-tiba memeluk tuanmu sendiri seperti itu. Kau sudah gak tahan atau apa?”

".....?"

"Harusnya perbuatan seperti itu tidak termaafkan, tapi karena aku juga terangsang, maka kurasa tidak apa-apa.”

Aku melihat padanya.

Sambil tersenyum nakal, dia mengedip padaku.

Mushoku17 08.jpg

Sudah lama aku tidak melihat senyum itu di bibirnya.

Belakangan ini, dia hanya tersenyum palsu tiap harinya.

Sedangkan, itu adalah senyuman ikhlas yang pernah kulihat dulu.

"Haah ..."

Aku diampuni.

Meskipun tindakanku tergolong pengkhianatan, namun dia mengampuniku.

"Baiklah kalau begitu….."

Saat aku menarik napas, Ariel berbalik menghadap ayahku yang wajahnya semakin memucat.

Ayah terus menunduk saat Ariel menatapnya.

"Apa yang sebaiknya aku lakukan?"

Saatnya ayah diadili.

Setelah Ariel memaafkanku, suasana ruangan ini sedikit berubah.

Para hadirin sudah tidak setegang sebelumnya.

Namun, kejahatan ayahku lebih berat.

Dia benar-benar coba membunuh Ariel dengan mengirimkan sepeleton prajurit.

Tak peduli sebanyak apapun ayah beralasan, dia tidak akan diampuni semudah kasusku.

Saat itu juga, Rudeus mendekati kami, lantas dia bicara….

"Darius sudah menyatakan bahwa eksekusi Sauros-sama adalah rencananya. Philemon-sama tidak ikut ambil bagian dalam rencana itu."

"... Apa yang terjadi pada Darius?"

"Dia sudah mati ... kami membunuhnya."

"... kalau begitu, maka Darius lah yang harus disalahkan."

Sembari menggatakan itu, Ariel kembali menatapku.

Tanpa kusadari, Eris dan Ghyslaine sudah berada di belakangku.

Andaikan saja masih kusandera Ariel, mungkin kedua Raja Pedang ini sudah menggunakan teknik cepatnya untuk menghabisiku.

"Ghyslaine, bagaimana denganmu?"

"Aku..."

Ghyslaine tampak tidak puas.

Begitu inginkah dia memenggal kepala ayahku?

Kemudian, Eris meremas ekor Ghyslaine dengan erat.

Ghyslaine tampak terkejut dan gemetar setelah dia melakukan itu. Lalu, dia beralih menatap Eris.

Eris melepaskan tangannya, kemudian dia sedikit mengangkat dagunya sembari bersedekap.

"Ghyslaine. Biarkan dia dulu, meskipun sudah jelas dia adalah musuh kakekku!"

"... Jika Eris-ojousama berkata demikian….."

Setelah mendengar kata-kata itu, Ariel sekali lagi menoleh pada ayah, namun kali ini wajahnya tampak puas.

"Jadi begitulah, Philemon-sama…. kau akan terima hukumannya nanti."

"Ha ...!"

Ayah bersujud serendah-rendahnya di lantai setelah menerima kemurahan hati Ariel.

Tentu saja kau akan dihukum nanti, tapi setidaknya sekarang kau masih dibiarkan hidup.

"Luke ... aku minta maaf ..."

Rudeus mengatakan itu dengan pelan, namun aku bisa merasakan keikhlasannya.

Aku melihat sekeliling.

Sambil mengatakan sesuatu, Sylphy menempel Rudeus sambil menepuk kepalanya.

Dengan tertunduk malu, wajah Sylphy sudah tidak lagi terlihat menyeramkan seperti tadi.

Eris membicarakan sesuatu dengan Ghyslaine.

Aku bisa mendengarkan pembicaraan mereka, karena Eris berkata dengan begitu keras. Dengan bangga, dia mengatakan, “Rudeus pernah mengajariku ini sebelumnya. Inilah yang disebut ‘membaca suasana’ atau semacamnya.”

Ekspresi Perugius tidak berubah.

Dia masih saja menonton kami dengan wajah geli.

Aku pun penasaran, apakah Sang Raja Naga Armor menganggap ini sebagai sesuatu yang menggelikan.

Wajah ayah masih pucat.

Namun setidaknya, dia tampak lebih tenang.

Sedangkan, wanita bernama Isolte itu masih menangis di dekat mayat Dewa Air.

Sepertinya dia mengabaikan kami.

Darius tampaknya sudah mati.

Sembari masih duduk di kursinya, Grabell terlihat kelelahan. Kini, pendukung terbesar fraksinya telah tiada.

Beberapa bangsawan ramai-ramai mendekatinya, namun sepertinya tidak sebanyak sebelumnya…..

Para bangsawan pendukung Ariel menoleh ke kiri-kanan dengan wajah bingung.

Di antara mereka, kulihat Triss berdiri bersama orang tuanya.

Sepertinya mereka sudah saling memaafkan.

Dengan demikian, selesailah kisah pertarungan di Kerjaan Asura.

Bab 12 : Kebenaran Tentang Orsted dan Sepuluh Hari Berada di Ibukota[edit]

Bagian 1[edit]

10 hari telah berlalu sejak matinya Dairus.

Kalahnya Dewa Air Reida, Kaisar Utara Auber, Menteri Senior Darius, dan hadirnya Raja Naga Armor Perugius…. itu semua sudah cukup untuk menekan fraksi Grabell.

Philemon kehilangan posisinya, dan sekarang dia menjadi tahanan rumah di wilayahnya.

Luke menggantikannya sebagai Kepala Keluarga Notus, dan kakak laki-laki Luke menjadi wakilnya.

Kakak Luke adalah orang yang pandai bersosial, sehingga dia sangat cocok untuk meredakan ketegangan pasca persaingan politik.

Praktis, dia lebih sering membuat keputusan daripada Luke.

Awalnya, Ghyslaine masih belum puas dengan hukuman yang diberikan pada Philemon.

Tapi kakak Luke melakukan berbagai cara untuk meredam amarahnya, bahkan dia sampai melamar Ghyslaine. Akhirnya, Ghyslaine pun melunak.

Dia terlihat senang, bagaikan anjing yang dipuji-puji oleh majikannya.

Ngomong-ngomong, Ghyslaine masih bekerja sebagai pengawal Ariel.

Yahh, kau bisa bilang dia sudah menjadi pegawai tetap sekarang.

Aku tidak tahu apa yang dirasakan Ghyslaine sekarang, tapi sepertinya semuanya baik-baik saja.

Bagian 2[edit]

Sekarang, biarkan aku bercerita tentang apa saja yang terjadi selama 10 hari terakhir ini.

Hari pertama. Urusan dengan Orsted.

Setelah mengalahkan Darius, hampir pasti posisi Raja Asura berhasil kami amankan.

Ariel mengadakan pesta kemenangan, namun aku terlalu lelah, sehingga kembali ke kamarku.

Meskipun begitu, aku masih memikirkan pernyataan Sylphy bahwa dia lebih memilihku daripada Ariel.

Padahal, buku harian si kakek menyatakan sebaliknya. Dia meninggalkanku untuk menjalankan tugasnya sebagai pengawal putri.

Aku tidak pernah mengira dia berani menyatakan itu secara terang-terangan di depan umum ...

Dia bahkan layak mendapatkan pria yang lebih baik dariku.

Namun, Sylphy tampaknya juga kelelahan, akhirnya dia tertidur lebih cepat.

Aku mandi dengan air dingin untuk menenangkan diri.

Saat hendak kembali ke kamar, aku bertemu dengan Eris. Dengan begitu semangat, sampai ngos-ngosan, dia menceritakan banyak hal padaku tentang pertempuran itu. Yahh, intinya dia sedang memujiku.

Eris masih harus banyak belajar untuk mengendalikan emosinya.

Keesokan harinya, semangatku masih belum kembali. Rasanya, aku ingin menghabiskan hari ini dengan bermalas-malasan di kamar.

Kemudian, seorang pelayan datang untuk memberikan sepucuk surat padaku.

Surat itu disegel dengan lambang naga.

Tidak diragukan lagi, ini adalah panggilan dinas.

Amplop itu berisi catatan singkat yang menyatakan keprihatinan si bos atas luka yang kudapatkan kemarin, sekaligus di manakah tempat pertemuan berikutnya.

Bos memintaku datang ke dekat kuburan yang terletak di ujung area kediaman bangsawan.

Kuburan itu tidak hanya tua dan terbengkalai, namun juga luas dan sepi, bagaikan sebuah pulau tak berpenghuni di tengah ibukota.

Aku diminta datang ke ruangan bawah tanah pada salah satu makam. [11]

Tempat mengerikan seperti ini, mungkin akan dipenuhi mayat hidup di malam hari.

Tapi, di sana duduklah seseorang yang bahkan lebih menakutkan daripada mayat hidup sekalipun.

"Kau sudah datang rupanya, Rudeus Greyrat?"

"Ya, aku di sini!"

Sembari duduk di atas peti mati, Orsted sedang menunggu sembari menyangga dagunya dengan tangan.

Perbuatan itu tidaklah sopan terhadap orang yang telah mati.

Aku tidak bisa meniru perbuatannya. Kuciptakan kursi dan meja dengan sihir bumi, lalu kunyalakan lilin yang telah kubawa sebelumnya.

"Silahkan."

"Oh, permisi."

Aku pun duduk di depannya.

Yahh, kita mulai rapatnya.

"Pertama-tama, ijinkan aku mengucapkan selamat atas jeri payahmu selama ini, Rudeus. Sekarang, peluang Ariel menjadi raja terbuka lebar.”

"Bukankah kita baru tahu hasilnya setelah paduka raja meninggal? Ataukah memang sudah pasti?”

Aku mendengar bahwa raja yang masih berkuasa sampai saat ini sudah terlalu tua, dan dia menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan…...

Tapi, bukan berarti dia sudah mati.

Sebelum ayahnya menghembuskan nafas terakhir, Grabell akan terus berjuang mendapatkan kembali para pengikutnya dan memperkuat fraksinya.

Kita belum bisa merayakan apapun.

Perjuangan kita membela Ariel masih belum berakhir.

Semuanya masih belum pasti.

Ancaman bisa saja datang dari Raja Air Isolte yang memendam dendam atas kematian gurunya yang dia saksikan tepat di hadapannya ...

Bahkan, Keluarga Boreas yang memihak Darius juga menyimpan potensi ancaman yang tidak terduga...

Aku harus sangat berhati-hati terhadap keduanya.

Meskipun sudah tersudut, Fraksi Pangeran Pertama bisa melakukan segala hal untuk kembali bersaing dengan kami.

Aku terus memikirkan itu ... tapi…..

"Oh tenang saja, posisi Ariel sebagai raja sudah terjamin setelah mereka tahu Perugius mendukungnya. Jatuhnya Darius hanya masalah waktu.”

Orsted mengatakannya dengan penuh percaya diri.

Kalau aku sih tidak seyakin itu, tapi begitulah pernyataan Orsted yang punya kemampuan membaca takdir seseorang.

"Sepertinya ada yang kau bingungkan, Rudeus Greyrat."

Ups, sepertinya dia bisa membaca ekspresi wajahku.

"Aku ~~ ee, jadi begini Orsted-san… ada beberapa hal yang membuatku ragu.”

"..."

Orsted menatapku.

Apakah dia tersinggung karena aku masih meragukan pernyataannya?

Sebenarnya, aku hanya ingin bilang bahwa perjuangan belum selesai.

"Iya ~, ee… jadi begini…. apakah Orsted-san yakin tidak melewatkan sesuatu? Mungkin semuanya terlihat sudah tuntas, tapi apakah kau yakin Hitogami tidak punya rencana cadangan? Maksudku, kita perlu mempertimbangkan berbagai hal sebelum merayakan kemenangan, kan?”

"..."

Hanya itu yang ingin kukatakan, selanjutnya…. aku hanya bisa terdiam.

Orsted masih menyembunyikan sesuatu dariku.

Tentunya, dia tidak akan membongkar semua rahasianya pada orang sepertiku.

"Bagaimanapun juga, aku adalah mantan bidaknya Hitogami, jadi ..."

Aku mengatakannya dengan terus terang.

Meskipun sebenarnya, aku tidak ingin menyatakannya.

Itu keluar begitu saja.

Setelah mendengar itu, Orsted bangkit dari peti mati tersebut.

Dia melihatku dengan tatapan iblisnya.

"A-aduuh, aku minta maaf, aku tidak bermaksud meragukanmu ... Bukannya aku penasaran dengan hal-hal yang tidak ingin kau bicarakan padaku.”

"Kau benar, Rudeus Greyrat. Aku tidak sepenuhnya mempercayaimu.”

Untuk jaga-jaga, kuaktifkan mata iblisku, sembari mencari rute keluar terdekat.

Tapi percuma, mata iblisku hanya melihat bayangan Orsted dimana-mana.

Itu artinya, jika aku melarikan diri, dia akan segera menangkapku.

Yahh, apa boleh buat, satu-satunya cara adalah menunjukkan perutku seperti seekor anjing.[12]

"Kali ini, aku akan terus memantaumu. Maaf, tapi aku mulai memperhitungkan kemungkinan kau mengkhianatiku.”

Memantau.

Yah, percaya sajalah.

Orsted atau bahkan Auber, sepertinya mereka terus mengawasiku saat bekerja.

“Tapi, setidaknya kau telah membuktikan bahwa kau tidak hanya pandai bicara. Itulah yang membuatku mempercayaimu.”

"...."

"Baiklah… baiklah…. mungkin sudah saatnya aku meminta maaf padamu, Rudeus Greyrat. Karena selama ini aku telah berbohong padamu.”

Setelah mengatakan itu, Orsted kembali duduk.

"Berbohong?"

Saat kulayangkan pertanyaan itu, dia kembali menatapku dengan wajah iblisnya.

Duh, tapi memang begitulah wajah Orsted.

Kurasa orang ini harus mulai berlatih tersenyum.

Tersenyum adalah langkah pertama mencapai kesuksesan berkomunikasi.

Tapi sayangnya, aku juga tidak pandai berkomunikasi.

"Sebelumnya, aku pernah mengatakan padamu bahwa aku menguasai suatu teknik rahasia yang diciptakan oleh Dewa Naga generasi pertama untuk menandingi kemampuan Hitogami. Dengan teknik itu, aku bisa melihat takdir seseorang, namun itu membuatku menyalahi aturan dunia ini.”

"Ya."

Kurang-lebih, begitulah cara dia memprediksi masa depan.

"Setengahnya hanyalah kebohongan. Sebenarnya, aku tidak memiliki kemampuan untuk memprediksi apapun."

Hmm ...

"Jadi, tentang ‘menyalahi aturan dunia’ itu benar?”

"Ya. Tapi, Rudeus Greyrat…. menurutmu, apakah maksudnya ‘menyalahi aturan dunia’ itu?”

Sepertinya, ada semacam petunjuk yang kulewatkan.

Apakah yang dia maksud adalah kutukan?

Orsted menderita kutukan yang membuatnya dibenci siapapun.

Namun, bukan itu masalahnya.

"Apakah yang kau maksud adalah pemulihan Mana yang lambat?"

"Ya, pemulihan Mana-ku melambat, namun sebagai gantinya Hitogami tidak bisa mengusikku. Tapi, bukankah itu aneh? Pernahkah kau mempertanyakan, mengapa Dewa Naga menciptakan teknik rahasia yang begitu merugikan seperti itu?”

Kenapa ya...

Menurutku, efek samping teknik itu relatif ringan, jika dibandingkan dengan keuntungannya yang membuat Hitogami tidak bisa mengusikmu.

Tapi… saat memakai gelang perlindungan pemberian Orsted, aku tidak mendapati kerugian seperti itu, kok.

"Sebetulnya, bukan hanya itu alasan Dewa Naga pertama menciptakan teknik tersebut.”

"...."

"Dengan mengorbankan kecepatan pemulihan Mana, ada suatu kemampuan lebih penting yang kudapat. Yaitu… tak peduli di mana atau kapanpun aku mati, aku bisa mengulangi segalanya dari awal dengan ingatan yang utuh.”

Mengulangi.

Dengan kata lain, Orsted...

"Yang kumaksud ‘dari awal’ adalah, Tahun Naga Berarmor 330. Posisinya adalah di bagian utara Benua Tengah, pada suatu hutan tak bernama. Mulai dari titik itu, aku punya jatah waktu selama 200 tahun untuk membunuh Hitogami. Jika aku gagal, atau bahkan terbunuh, maka aku bisa mengulangi semuanya dari waktu dan tempat tersebut.”

Pengulangan.

Itu mungkin saja terjadi, tapi ...

Aku masih ragu.

"Karena kau pernah bertemu seseorang yang menggunakan sihir teleportasi waktu, maka seharusnya kau tahu apa yang kumaksud.”

"Ya, itu benar..."

Si kakek melakukan hal serupa melalui reruntuhan ras naga kuno.

Ras naga bisa menggunakan teknik yang membuat dirinya bereinkarnasi dari masa depan ke masa lalu.

Dengan kata lain, tidaklah mengherankan jika Dewa Naga bisa menggunakan teknik yang sama seperti si kakek.

Ya, kurang-lebih seperti itulah kesimpulannya.

"Um, kalau begitu, berapa kali Orsted-san sudah mengulang?"

"Aku berhenti menghitung setelah 100 kali."

Orsted mengatakan itu dengan begitu jengkel.

100 kali mengulang, dengan jatah hanya 200 tahun, selama 20000 tahun?

Jadi, dia terus mengulang selama 20000 tahun?

Kok jadi pusing ya ...

"Selama ratusan kali mengulang, aku telah berkali-kali melihat pertarungan Grabell dan Ariel. Hasilnya pun berbeda-beda. Ada saatnya Ariel menang, ada saatnya Grabell menang. Namun, ketika Grabell kalah, dia tidak bisa membalas Ariel. Itulah kenapa aku cukup yakin bahwa Ariel akan menjadi raja kali ini.”

"Meskipun Hitogami terlibat?"

"Ya. Karena Hitogami kembali ke masa lalu tanpa mempertahankan ingatannya, jadi dia tidak tahu bahwa aku bisa mengulangi takdir. Tapi, aku akan selalu mengingat keberadaannya. Sejak pertama kali melawannya, aku sudah berkali-kali terlibat dalam pertarungan seperti ini. Dan dia selalu mundur saat rencananya gagal.”

"Lalu, itu juga terjadi pada kesempatan kali ini?"

"Betul."

Aku mengerti.

Penjelasan Orsted cukup meyakinkan, dia sudah ratusan kali melihat pertarungan seperti ini, dan dia memiliki pengalaman selama ribuan tahun.

Lalu, mungkinkah ada pengecualian?

Kurasa, ketika mengalami situasi yang sama, seseorang akan cenderung melakukan hal yang sama pula ...

Tapi, tak peduli diulang berapa kali pun, situasi tidak akan sama persis, itulah kenapa selalu ada pengecualian pada setiap prosesnya ...

"Jadi, kita sudah boleh tenang. Setelah berusaha sampai sejauh ini, Ariel hampir dipastikan menjadi raja."

"Aku mengerti"

Ya syukurlah kalau begitu.

Kalau aku terlalu cemas, bisa-bisa Ortsed kehilangan kepercayaannya padaku.

"Orsted-san. Apakah kau benar-benar bisa menang melawan Hitogami?"

"Ya, aku akan menang. Aku sudah mempersiapkan beberapa hal penting untuk mengalahkannya. Terlebih lagi, aku mendapatkan bantuan darimu, jadi posisiku lebih menguntungkan.”

Yahh, aku percaya kata-kata itu.

Meskipun Orsted tidak bisa sepenuhnya memprediksi masa depan, namun dia bisa mengulangi takdir berkali-kali, jadi kukira itu tidak masalah….

Toh aku tidak punya pilihan selain menuruti perintahnya.

Ayo lakukan yang terbaik.

Demi keluargaku juga.

Bagian 3[edit]

Hari ke-3.

Isolte datang mengunjungi kediaman kami.

Oh iya, Ariel memberiku rumah baru.

Rumah ini adalah salah satu rumah pribadi miliknya. Meskipun lebih kecil daripada rumah keduanya yang pernah kami singgahi tempo hari, namun tetap saja ukurannya dua kali lebih besar daripada rumahku yang di Kota Sharia.

Bahkan, kami membutuhkan sejumlah pelayan untuk merawat rumah ini.

Sebagai vila di Kerajaan Asura, rumah ini cukup bagus dan boleh digunakan kapanpun.

Tapi….. Isolte….

Apakah dia datang untuk menemui Eris?

Ataukah dia ke sini untuk balas dendam?

Sembari mewaspadai kemungkinan itu, aku menyambutnya dengan ramah.

Setelah dijamu oleh para pelayan, Eris membawanya ke ruang tamu.

Eris pun meminta para pelayan untuk menyediakan teh. Dia sangat akrab dengan Isolte.

Aku adalah seorang tuan yang baik.

Meskipun punya banyak pelayan, aku tidak akan semena-mena menyuruh mereka.

Sepertinya, Isolte ingin tahu banyak tentangku.

Dengan waspada, dia membungkuk dan memperkenalkan dirinya sekali lagi.

"Senang bertemu denganmu, namaku Isolte Cruel. Aku dan Eris berkenalan di Dataran Suci Pedang. Mohon bantuannya."

"Ya, aku pun senang bertemu denganmu, namaku Rudeus Greyrat. Suaminya Eris."

Setelah aku memperkenalkan diri, dia segera mengerutkan keningnya.

"Oh… jadi kau ya yang namanya Rudeus."

Ya, memang aku.

Sepertinya dia cukup membenciku, aku tahu itu dari percakapannya dengan Eris tempo hari.

"... Ya, aku Rudeus"

"Kau lah orang yang mencampakkan Eris, kemudian menikahi wanita lain, iya kan?”

"...... Ya."

Dia sama seperti Cliff.

Seorang penganut setia ajaran Milis!

"Kemaren aku salah orang. Yang berbicara padaku itu adalah seorang ksatria playboy bernama Luke.”

"Yah, aku tidak bermaksud menyembunyikan identitasku, lho? Aku hanya tidak punya kesempatan bicara."

"Tidak apa-apa, toh memang aku yang salah paham."

Isolte tersenyum dan terlihat senang.

"Namun ... sebenarnya kau sangat mencintai Eris, kan?"

"Apakah kelihatannya begitu?"

Tiba-tiba, dia menanyakan itu.

Aku sendiri tidak tahu sebesar apakah cintaku pada Eris, tapi yang jelas dia begitu berharga bagiku.

Tapi, sepertinya aku tidak pernah mengumbar kemesraanku dengan Eris di depan Isolte. Jadi, darimana dia tahu bahwa aku menyayangi Eris?

"Raja Air Isolte datang menemui kami. Dia adalah murid kesayangan Dewa Air Reida yang terbunuh di pesta. Mungkin, dia menyimpan dendam pada Ariel-sama. Mungkin, dia datang untuk mencelakai kami. Mungkin, Eris akan mencabut pedang untuk menghadapinya. Aku harus melindunginya. Tidak akan kubiarkan dia terluka ... Sejak tadi kau memikirkan hal seperti itu, kan? Semuanya terlihat jelas di wajahmu."

Mu…. Benarkah kalimat sepanjang itu tertulis di wajahku?

Akhir-akhir ini, banyak orang bisa membaca wajahku.

Haruskah aku melatih senyumku lagi?

Yah, itu tidak masalah.

“Jadi, semua yang kamu katakan tadi menjelaskan kecintaanku pada Eris?”

“Yahh, kalau kau tidak lagi mencintainya, tinggalkan saja dia. Bagaimanapun juga, dia hanyalah istri ketigamu.”

Aku tidak suka Eris disebut istri ketigaku, karena aku tidak mempedulikan urutan pernikahan kami.

“Jujur, aku kira Eris sedikit diabaikan. Karena, tiap hari kerjaannya hanyalah melatih tangan, otot, dan pedangnya. Dia pun tidak pandai berbicara. Jadi, posisinya seperti...”

Ya, mungkin aku terkesan seperti suami yang dominan.

Memang Eris tidak terlalu banyak bicara.

Namun, kalau sedang bermalam bersamaku, dia selalu bisa mengalahkanku dengan telak…

Bukankah itu berarti dia istri yang dominan?

Ah tidak… sebenarnya dia hanya tidak pandai bicara. Namun, Eris adalah tipe pekerja keras.

“Kalau Eris bahagia, aku sedikit merasa lega.”

“Yahh, aku pun merasa senang.”

Saat aku mengatakan itu, Isolte tertawa.

Senyum yang cerah.

Senyumnya terlihat anggun dan ceria, dan aku bisa merasakan daya tarik dari senyumnya.

Suatu hari nanti dia akan menjadi seorang gadis yang populer di mata pria, namun sekarang dia masih dalam proses pertumbuhan.

Setelah dia menikah, dia akan jadi istri yang baik.

Itulah pesona wanita yang sudah menikah.

E….Eris-chan.

Kenapa tiba-tiba kau injak kakiku? Sakit tau…

“Jadi apa perlumu datang kemari? Rudeus adalah milikku, dan aku tidak akan memberikannya padamu.”

Seperti biasa, Eris selalu saja mengekspresikan perasaannya tanpa sungkan.

“Aku tidak butuh dia.”

“Lalu apa, mau duel melawanku?”

Sungguh menyakitkan ketika seorang wanita secantik Isolte mengatakan itu padaku.

Isolte terlihat gelisah.

“Sebenarnya, Shisho mati sebelum memenuhi tugasnya. Tapi, Ariel-sama juga tidak lagi mempermasalahkan serangan Dewa Air tempo hari, jadi aku tidak punya alasan melawan beliau.”

Seperti yang dia inginkan, setelah menyelesaikan programnya sebagai ksatria junior, Isolte membidik posisi yang lebih tinggi dalam karirnya sebagai ksatria istana.

Dia akan menggantikan Shisho-nya menjadi guru pedang.

Mungkin juga, dia ingin memperoleh gelar yang sama seperti gurunya.

“Banyak orang berbelasungkawa atas kematian Shisho. Namun, Tuan Putri Ariel juga tidak menganggapnya sebagai musuh.”

“Yah, itu bagus.”

Yah, bisa aku bayangkan, di dunia ini pendekar pedang adalah monster.

Tapi, mereka masih tahu aturan dengan tunduk pada orang-orang yang posisinya jauh lebih tinggi daripada mereka.

Bersekutu dengan seorang pendekar pedang adalah suatu hal yang menguntungkan bagimu.

“Dengan begitu, Dojo kami tidak akan dibubarkan oleh Ariel-sama. Jadi, kurasa semuanya baik-baik saja.”

Reida adalah satu-satunya pelaku.

Orang hebat yang mengincar kepala Ariel.

Sulit dipercaya dia berani mengacaukan pesta yang dihadiri Perugius untuk membunuh targetnya.

Padahal, dia tahu benar bahwa tindakan itu bisa membuatnya menjadi buronan Asura.

Meski kita bersaksi untuknya, tuduhan pasti tetap ada.

Kalau memungkinkan, sebenarnya aku mau bersaksi untuknya agar hukumannya diringankan.

Namun, bahkan setelah insiden seperti itu, Ariel tidak menyimpan dendam apapun pada para pendekar beraliran Dewa Air.

Kalau aku sih, lebih memilih tidak berurusan dengan mereka.

Ariel telah mengikhlaskan insiden itu, dan Isolte pun bisa tetap mempertahankan nama baik Teknik Dewa Air. Dengan begini, kurasa mereka sama-sama diuntungkan.

“Kematian Shisho adalah aib, tapi setidaknya dia bisa mati dengan damai sebagai seorang pendekar. Itulah yang dia inginkan. Tapi aku cukup syok, karena dia tidak pernah membicarakan hal ini padaku sebelumnya.”

Kelihatannya Isolte tidak terlalu bersedih atas kematian Reida.

Sikapnya ini mirip seperti seorang petualang.

“Kalau saja... aku ingin balas dendam, itu berarti aku harus menghadapi Ghyslaine, Eris, bahkan Rudeus. Itu sia-sia saja, aku tidak akan menang.”

Sepertinya Isolte sedikit menyesal.

Aku bertanya-tanya, apakah dia juga menyesal karena tidak mengejar Orsted saat itu?

“Aku tidak keberatan melawanmu sendirian.”

“Tolong jangan bercanda seperti itu, Eris. Sekarang aku bertanggung jawab melindungi Dojo. Kalau aku bertarung dengan pendekar pedang gila sepertimu, mungkin aku akan mengalami cacat permanen.”

Gila.

Itu kata yang cocok untuk Eris.

“Dojo hanyalah hal bodoh.”

“Kau masih bisa mengatakan itu setelah meninggalkan statusmu sebagai Keluarga Boreas?”

“......”

Eris terdiam dengan wajah gelisah.

Isolte mengatakan itu dengan tatapan mengancam.

“Yah, belum setahun setelah perpisahan kita, mari nikmati momen bersama dan menguatkan ikatan kita.”

“Yeah, yeah!”

Pipi Eris memerah, tampaknya mood-nya berubah dengan cepat. Sekarang dia terlihat begitu gembira.

Sedangkan ekspresi Isolte terlihat sebaliknya.

Hah… tampaknya gadis ini tahu benar cara menghadapi Eris. Mungkin itu karena mereka sudah lama berteman.

“Sebenarnya, alasan utama aku datang ke sini hari ini hanyalah untuk mengajak Eris berkeliling ibukota.”

“Yeah! Bagaimanapun juga, kau tahu lebih banyak tentang tempat ini daripada aku! Jadi, ayo pergi!”

“Rudeus-san, tolong ikut bersama kami.”

Dia mungkin akan bertengkar dengan Eris di suatu tempat.

Dan tidak menutup kemungkinan ajakannya ini hanyalah jebakan. Bisa jadi Eris dibawa ke perangkap di mana murid beraliran Dewa Air menunggu, dan mereka akan mengeroyoknya. Bukannya aku berburuk sangka, namun kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi. Bagaimanapun juga, aku tidak boleh lengah.

“....Baiklah kalau begitu, aku ikut.”

Setelah itu, kami mengelilingi kota ditemani Isolte.

Terlepas dari kekhawatiranku, Isolte memandu kita mengelilingi kota dan tampak bersenang-senang menghabiskan waktunya bersama Eris.

Padahal gurunya baru saja mati, tapi mengapa dia bisa seriang itu....

Yah, mungkin memang begitu sifatnya.

Bagian 4[edit]

Hari kelima

Undangan makam malam datang dari Keluarga Boreas.

Undangannya hanya untuk aku dan Sylphy.

Tanpa Eris.

Apakah kami akan diracun?

Tentu saja, kami harus tetap mewaspadai kemungkinan terburuk seperti itu.

Tapi…. katanya sih, mereka hanya ingin menjalin hubungan lebih dekat pada Ariel melalui kami.

Mereka tidak ingin melibatkan Eris karena mereka khawatir.

Kelihatannya mereka sedikit tidak suka dengan Eris, tapi mereka tidak terlalu menunjukkan kebenciannya itu.

Eris dan Keluarga Boreas sudah saling bermusuhan.

Jikalau Eris mencoba kembali ke Keluarga Boreas, mungkin mereka akan menolaknya mentah-mentah.

Aku sih tidak peduli dengan itu, yang penting Eris sekarang sudah menjadi milikku.

Saat makan malam berlangsung, mereka membahas beberapa hal terkait kemungkinan bekerjasama dengan fraksi Putri Kedua. Namun, aku hanya memberikan jawaban yang tak pasti.

Bagian 5[edit]

Hari 8.

Beri aku waktu untuk menceritakan situasi saat ini.

Triss sudah mendapatkan kembali statusnya sebagai bangsawan.

Kedudukannya sama dengan Elmore dan Kleene, sebagai pengawal Ariel.

Kelihatannya Ariel berencana menyediakan pintu belakang untuk kelompok perampok, dan menjadikan Triss sebagai perantara dengan mereka di belakang layar.

Luke dan Ariel terlihat bersemangat merencanakan berbagai hal untuk masa depan kerajaan, sepertinya mereka tidak punya waktu luang.

Kematian Darius membuat sedikit kekacauan di Istana Kerajaan.

Meskipun itu tidak akan berpengaruh setelah Ariel naik tahta.

Perugius kembali ke Kastil Langit, meninggalkan satu Tsukkaima di Istana Kerajaan.

Dengan tulus, aku berbelasungkawa atas kematian dua Tsukkaima-nya di tangan Dewa Air, namun kata Perugius, mereka bisa dibangkitkan kembali sesampainya di Kastil Langit.

Tsukkaima sungguh efektif. Mereka bisa dibangkitkan kembali kapanpun, asalkan syaratnya terpenuhi.

Seperti yang Orsted bilang, semuanya berjalan lancar.

Kelihatannya sudah tidak ada lagi yang bisa kukerjakan.

Pekerjaanku sudah selesai.

Jadi ayo segera pulang.

Aku mengirim pesan pada Ariel bahwa kami ingin pamit pulang ke Sharia, kemudian dia segera menjadwalkan pertemuan dengan kami esok hari.

Bagian 6[edit]

Malam harinya.

Bertempat pada ruang kerja Ariel di Istana Kerajaan.

Aku memutuskan menemui Ariel di ruangan pribadinya. Untuk menghindari isu perselingkuhan, aku pun mengajak Sylphy bersamaku.

Toh, aku juga tidak diminta datang sendiri.

Ruangan kerja Ariel sangatlah mewah.

Ruangan itu sebenarnya adalah bagian dari Istana Kerajaan, tapi ukurannya sebesar rumah.

Sofanya sungguh empuk, seolah-olah menelanku ketika aku mendudukinya.

Perabotan lainnya terlihat begitu mengkilap meskipun tidak terbuat dari logam. Mungkin itu karena kualitas terbaik di dunia.

Biasanya ruangan seperti ini akan dipenuhi pelayan.

Tapi kelihatannya Ariel meminta mereka pergi saat kami datang.

Di ruangan yang dingin dan kosong ini berderet furnitur mewah. Ariel pun menuangkan anggur untukku.

“Silahkan.”

“Terima kasih.”

Cairan ungu tertuang di dalam gelas emas.

Ini adalah anggur.

Aku pun penasaran, apakah anggur ini juga kualitas terbaik?

“Jadi Sylphy datang juga.”

“Ya, kalau Rudi sendirian ditemani oleh wanita cantik saat tengah malam, rumor aneh mungkin akan menyebar.”

“Yah. Memang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau datang ke sini sendirian.”

Ariel tertawa geli, tapi Sylphy tidak.

Apakah dia menganggapnya sebagai lelucon yang menggelikan?

“Kalau Rudi sih, hal-hal buruk seperti itu bisa saja terjadi.”

Dia sama sekali tidak percaya pada om gajah peliharaanku.

Yah, santai saja… semuanya aman terkendali, kok.

Tapi, aku selalu mempercayai Sylphy.

Dia bahkan pernah bilang siap merebutku kembali dari Ariel jika kami berselingkuh….

Heuheuheu, itu membuat hatiku sakit.

Tapi dari sudut pandang Sylphy, Ariel bagaikan hewan buas yang siap melahapku kapan saja.

“Nah, kalau begitu…..”

Setelah menuangkan anggur, Ariel duduk di kursinya.

“Rudeus-sama. Sekali lagi aku mengucapkan rasa terima kasihku. Terima kasih, atas apa yang telah kau lakukan sampai saat ini.”

“Tidak, itu semua hasil kerja keras Ariel-sama.”

Koneksi Ariel di Kerajaan Ranoa terbukti berguna.

Saat ini, dia bekerja menggantikan posisi yang telah ditinggalkan Darius.

Dia juga mengangkat orang bertalenta untuk mengisi posisi penting pada faksi Grabell.

Jika dia terus mempertahankan kondisi ini, Ariel akan memiliki kendali penuh atas Kerajaan Asura.

“Rudeus-sama telah memberikan saran untuk membujuk Perugius-sama, saran untuk menghubungi komplotan perampok, dan masih banyak saran-saran lainnya... kalau saat itu aku tidak mendengarnya, mungkin saat ini aku sudah putus asa meraih tahta kerajaan.”

“Aku jadi malu.”

“Ya ampun, masih banyak cerita yang ingin kubagi. Sepertinya kau harus menginap, deh. Untung saja Sylphy menemanimu.”

Saat mengatakan itu, Ariel melirik manja padaku.

Tanpa sadar, mata keranjangku langsung melirik ke bagian-bagian tubuh Ariel tertentu, seperti tengkuknya yang seputih susu. Namun, Sylphy segera menodongku dengan tatapan tajamnya, aku pun langsung menundukkan wajahku.

Ariel kembali tersenyum seperti biasa.

“Yah, aku hanya bercanda, tapi aku sungguh-sungguh berterimakasih padamu.”

“Terima kasihmu itu agak… ah, sudahlah...”

Aku pun dihadiahi rumah oleh Ariel.

Di masa depan, mungkin rumah itu bisa kugunakan sebagai villa saat liburan...

“Apakah ada hal lain yang kau inginkah? Aku sudah meyakinkan Luke bahwa kau tidak akan minta jabatan, posisi, status, atau semacamnya…. tapi jika ada hal tidak wajar yang kau inginkan, maka bolehlah aku mendengarnya.”

Aku berpikir sejenak.

Apa yang bisa kudapatkan dari Ariel...

Apa ya…..

Kerajaan Asura hampir memiliki segalanya.

Mungkin buku sihir?

Oh, tidak.

Ada satu hal.

Satu hal yang kuinginkan.

“Ariel-sama, ada suatu hal yang kuinginkan. Mungkin ini akan memakan waktu lama, tapi aku sudah merencanakannya jauh hari sebelumnya. Yang kuinginkan adalah…. aku mohon dukungan Kerajaan Asura untuk memasarkan patung dan buku yang akan kami produksi. Keduanya berhubungan dengan kisah Ras Supard di masa lalu. Aku yakin, dukungan Kerajaan Asura akan banyak mempermudah jalannya bisnisku itu.”

“Oh, patung yang pernah kau bicarakan bersama Perugius-sama itu, kan?”

“Ya… apakah pemintaanku ini terlalu sulit bagimu?”

Di Kerajaan Asura, agama Milis sudah merakyat.

Bahkan dengan ijin keluarga kerajaan, belum tentu rakyat bisa menerima produk-produk yang berkaitan dengan ras iblis…..

Mungkin itu akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

“Itu tidak sulit. Yang terpenting adalah, kita harus menyiapkan fasilitas untuk memproduksinya secara masal.”

“Bagaimana dengan keberadaan para pengikut Milis, apa mereka akan tinggal diam dengan ini?”

“Itu tidak masalah. Hal-hal seperti itu bisa diselesaikan dengan uang.”

O~h, kekuatan uang!

Itu bagus.

Menjadi Raja Kerajaan Asura sama artinya menjadi orang terkaya di dunia.

“Baiklah kalau begitu, nanti akan kukabari perkembangannya saat sudah kembali ke Ranoa…”

“Ya, aku akan menunggu kabar darimu.”

Aku akan mendapat fasilitas produksi dan sponsor.

Setelah ini, perkembangan rencana ini akan tergantung sepenuhnya pada kemampuan Julie.

Buku harian si kakek pun pernah menyatakan bahwa Norn sukses dengan tulisannya.

...Oh iya, aku juga harus mencari seorang pelukis.

Untuk menarik minat pembeli, aku harus membuat suatu buku bergambar yang bagus.

Banyak orang buta huruf, jadi dengan bantuan buku bergambar mereka bisa memahami ceritanya.

Selagi aku memikirkan uang, Ariel melemaskan otot-ototnya, kemudian dia menoleh pada Sylphy.

“Sylphy, terima kasih untuk semuanya.”

“... Yeah. Ariel-sama juga, tetaplah bersemangat.”

Kemarin, Sylphy secara resmi mengakhiri tugasnya sebagai pengawal Ariel.

Sepertinya prosedur pengambilalihan sudah dilakukan kemarin, jadi dia punya banyak waktu luang sekarang.

“ Setelah peristiwa kemarin, sepertinya aku sudah tidak diperlukan lagi di sini?”

“ Ya, sekarang sudah relatif aman. Terima kasih sudah menjagaku selama ini.”

Ariel membungkuk serendah-rendahnya pada Sylphy.

Ini adalah pemandangan yang tidak biasa.

“Ariel-sama, mohon angkat kepala Anda.”

“Aku ingin membalas kebaikanmu, tapi aku tidak bisa memikirkan hadiah lain yang pantas untuk Sylphy. Hanya ucapan terimakasih ini yang bisa kusampaikan padamu. Aku ingin mengucapkan terimakasih baik secara lisan maupun perasaan. Bantuanmu padaku terlalu besar.”

“Tidak apa, kita adalah teman. Tentu saja teman harus saling menolong.”

Selagi mengatakan itu, Sylphy terus memegang tangan Ariel.

Mushoku17 09.jpg

Ini adalah persahabatan yang terus terjalin selama 10 tahun penuh.

Hubungan seperti ini sungguh luar biasa.

“Tapi Sylphi, kapan-kapan aku akan datang berkunjung ke rumahmu.”

“Ya, baiklah, jika Anda punya urusan di Ranoa... ah, tapi aku ragu Anda pantas mengunjungi tempat seperti itu.”

“Yahh, kalau aku ada kesempatan membuat acara besar di Istana Ranoa, maka aku pasti akan mengundangmu.”

“Haha, aku bakal menjadi tamu kehormatan, dong.”

Setelah itu, Ariel dan Sylphy mengahabiskan waktu berbincang dan bercanda bersama.

Selagi mendengarkan mereka, aku teringat saat pertama kali bertemu Sylphy.

Aku membayangkan Sylphy yang berjalan sendirian.

Sylphy yang dilempari lumpur oleh anak-anak nakal lainnya, tanpa memberikan perlawanan sedikit pun.

Sylphy yang lemah itu….. sekarang sedang tertawa bahagia bersama seorang putri kerajaan yang terhormat.

Hatiku terenyuh saat melihat adegan ini.

Bab 13 : Perpisahan dan Berubahnya Sylphy[edit]

Bagian 1[edit]

Hari kepulangan pun tiba.

Pagi-pagi sekali.

Sebelum matahari terbit, seseorang datang.

Itu Ghyslaine.

Sembari membawa tiga pedang kayu, dia memasuki rumah baru kami.

Apa yang kau inginkan? Apa yang kau rencanakan?

Bahkan tanpa penjelasan sedikit pun, aku tahu mengapa dia datang ke sini pagi-pagi buta.

Tanpa mengatakan apapun, Eris dan aku menerima pedang kayu yang dia bawa, kemudian pergi ke taman setelah berganti baju.

Tamannya cukup luas, tapi terlihat sedikit sempit karena banyak bunga yang ditanam.

Meski begitu, kurasa tempat ini cukup luas untuk mendukung apa yang akan kami lakukan.

Berdiri di taman, di depan Ghyslaine, Eris dan aku mengangkat pedang.

Dengan wajah ngantuk, Sylphy duduk di kursi tidak jauh dari kami.

Pelayan yang bekerja sejak pagi buta datang melihat karena penasaran.

“Mulai latihannya.”

Mendengar perintah Ghyslaine, setelah menarik pedang di pinggang, Eris dan aku memberi hormat.

“Terima kasih.”

Ghyslaine mengangguk kecil dan menarik pedangnya.

Latihan kami dimulai.

“ Ayo mulai seperti biasa: 1, 2!”

Sembari mengikuti suara dan gerakan Ghyslaine, Eris dan aku mengayun pedang kayu.

Suara ayunan pedang kayu terdengar di taman yang sunyi.

Dibandingkan gerakan Ghyslaine dan Eris, gerakan pedangku terlihat kaku.

Tapi, Ghyslaine tidak pernah menegurku.

Saat aku belajar teknik pedang darinya dulu, dia akan selalu menegurku saat membuat kesalahan.

Hari ini, dia tidak mengatakan apapun.

“Rudeus! Jangan melamun!” seru Eris.

“Ya!”

Tapi, aku tidak melamun!

Apa ada yang salah dengan kuda-kudaku.

Seharusnya tidak ada.

Aku tahu itu.

“197! 198! 199! 200! Berhenti mengayun!”

200. Ghyslaine menghentikan ayunannya.

Eris dan Ghyslaine berkeringat sampai membasahi pakaian mereka.

Hanya dengan 200 ayunan.

Ini karena 200 ayunan tersebut dilakukan dengan segenap kemampuan mereka.

Itu bukan hanya sebuah angka.

Namun, nafas mereka masih stabil.

Yahh, aku juga sih.

Gerakan seperti ini hanyalah pemanasan.

“Lakukan jurus Gale Kata!”

“Ya.”

Sembari membawa pedang kayu masing-masing, aku dan Eris berdiri dengan kuda-kuda biasa. Lalu, kami mengayunkan pedang dengan gerakan yang diperintahkan olehnya.

Tubuh tidak boleh banyak bergerak.

Kami sudah biasa melatih teknik ini.

Ini adalah teknik dasar aliran Dewa Pedang yang juga pernah kuajarkan pada Norn.

Setelah menikahi Eris, kami biasa melatih ini tiap pagi.

“Baiklah, berhenti!”

Setelah serangkaian latihan pembuka selesai dilakukan, Ghyslaine menyuruh kami berhenti.

“Latih tanding!”

Dengan perintahnya, Eris dan aku saling berhadapan.

Kami diminta saling beradu pedang.

Ini sudah seperti tradisi.

Kalau dalam Kendo, si senior akan menerima serangan juniornya.

Tapi, saat ini Eris lah yang menyerang.

Dulu kami sudah sering latih tanding seperti ini, bahkan setelah menikah kami masih melakukannya.

“Mulai!”

“Raaaaaaaaa!”

Setelah mendengar aba-aba Ghyslaine, Eris mulai menyerangku.

Karena ini hanyalah latih tanding, maka gerakannya tidak begitu cepat.

Namun, tetap saja aku tidak bisa mengimbangi kecepatannya, dan pertandingan pun berakhir tanpa aku bisa bergerak sedikit pun.

Dulu, saat kami latih tanding seperti ini, Eris cenderung tidak bisa menahan emosinya. Namun sekarang dia bisa.

“Gantian!”

Sekarang giliranku menyerang, tapi pedangku tidak pernah bisa mengenainya.

Aku tidak perlu sungkan menyerang Eris.

Tapi perbedaan kemampuan pedang kami terlalu jauh.

Aku masih bisa bersaing dengannya jika menggunakan mata iblis, namun lebih baik tidak kupakai kali ini.

Karena aku tidak punya teknik seperti itu saat kami masih sering latihan bersama di Fedoa dulu.

“Baiklah, berhenti!”

Merespon perintah Ghyslaine, Eris dan aku pun berhenti mengayunkan pedang.

Biasanya, kita akan melanjutkannya dengan latihan dasar.

Sebenarnya kami tidak membutuhkan latihan dasar, karena siapapun pasti sudah tahu perbedaan kemampuan di antara kami.

Sembari aku masih memikirkan itu, Ghyslaine menatapku dan menunjuk ke sisi taman.

“Rudeus! Mundurlah!”

Aku mundur, kemudian Ghyslaine menggantikan posisiku.

Aku mundur lima langkah dan duduk di rerumputan.

Ghyslaine berhadapan dengan Eris, dia mengangkat pedangnya.

“Eris ini yang terakhir.”

“.... Ya.”

Eris mengangguk, lalu memasang kuda-kuda siap.

Dia tidak serius saat melawanku.

Ghyslaine memegang gagang pedang di pinggulnya sementara Eris mengarahkan pedangnya ke atas.

Kedua kuda-kuda itu terlihat kontras.

Punggungku mulai meneteskan keringat dingin.

Udara terasa berat, dan waktu seakan berhenti.

Aku bisa melihat keseriusan di mata mereka masing-masing.

Semuanya seakan berhenti.

Gemerisik angin mulai terdengar perlahan.

.... Tidak ada aba-aba.

“....”

Bersamaan dengan suara “Ko~o~o~on”, pedang mereka saling beradu.

Mataku tidak dapat mengikuti pergerakan mereka.

Aku hanya bisa melihat hasilnya.

Kedua pedang bergerak bagaikan kilatan cahaya.

Pedang Ghyslaine terlihat sedikit tertangkis.

Sedangkan pedang Eris, kalau digerakkan sedikit lagi, bisa saja menebas Ghyslaine.

“.....”

“.....”

Mereka berdua tidak bergerak dari posisi mereka masing-masing.

Setelah beberapa saat, mereka perlahan-lahan menarik pedang mereka sekali lagi.

Eris tampak cemberut.

Sadangkan, Ghyslaine tampak pasrah.

Setelah mengangguk sejenak, Ghyslaine mulai bicara.

“Dengan ini, aku sudahi latihannya.”

“Terima kasih banyak!”

Aku pun membungkuk sembari masih duduk di rumput.

Saat aku mengangkat kepalaku, kulihat Eris sedang menggigit bibir bawahnya, sembari masih menundukkan kepala.

Melihat itu, Ghyslaine sedikit mengerutkan dahinya, kemudian dia mendekati Eris dan menepuk pipinya.

“Saatnya kita berpisah. Eris-ojousama...”

“G-Ghyslaine juga…. kau m-masih hebat seperti dulu!”

Eris mengangkat kepala dengan mata berkaca-kaca, lalu dia kembali menunduk.

Ghyslaine tidak mengatakan apa pun setelah itu.

Dia hanya menatapku sejenak, kemudian pergi menjauh dari rumah kami.

Dari sorot matanya, dia masih berharap bahwa tuan putrinya itu lebih jujur dengan perasaannya sendiri.

Dia masih menganggap Eris sebagai tuan putrinya yang dulu.

Aku berdiri, kemudian membungkuk lagi dalam-dalam.

Wanita ras hewan itulah yang pernah mengajariku teknik pedang, dan selalu melindungi Eris saat masih kecil.

Ungkapan terimakasih sebesar apapun tidak akan cukup membalas jasa-jasanya pada kami.

“Huuu! Huuu! Waaaa!”

Saat Ghyslaine sudah tidak terlihat...

Eris menangis sekencang-kencangnya.

Dia terus melampiaskan kesedihannya sembari menangis dengan suara yang seakan menggema tanpa akhir.

Bagian 2[edit]

Sebelum kepulangan kami.

Banyak orang datang untuk mengantar kepergian Sylphy.

Kebanyakan dari mereka berasal dari kaum bangsawan yang membela fraksi Ariel.

Uniknya, sebagian besar dari mereka pun tidak tahu bahwa Sylphy itu wanita.

Mereka terkejut saat mendengar bahwa dia telah menikah denganku.

Namun, hal itu tidak membuat sikap mereka pada Sylphy berubah.

Mereka pergi setelah mengucapkan terima kasih singkat.

Shylphy membalas dengan senyuman pada mereka,

Itu mungkin bukan cara yang sopan.

“Aku lelah dengan hal semacam ini”, aku menggerutu.

Lalu datang dua orang wanita.

Elmore Bluewolf.

Kleene Elrond.

Aku tidak begitu mengenal keduanya, tapi mereka adalah teman dekat Sylphy.

Sesekali aku melirik mereka yang sedang mengucapkan perpisahan sambil menangis.

Menjelang akhir, Luke pun datang.

Dia hanya bisa meluangkan waktu sekitar 15 menit saja.

Sekarang dia super sibuk karena mengemban dua tugas sekaligus, yaitu sebagai pengawal pribadi Ariel dan Kepala Keluarga Notus.

Dia bisa datang ke sini di sela-sela waktu senggang dalam tugasnya.

“Sylphhy... err, jaga dirimu.”

“ Ya.”

Luke tampak sedikit bersalah pada Sylphy. Sepertinya dia takut menatap matanya.

“Maaf soal kemaren.”

“Tidak apa-apa, aku tahu saat itu Luke begitu kebingungan…. jadi, yahh apa mau dikata. Tapi, itu juga menunjukkan betapa besar perhatianmu pada Ariel-sama. Aku belum tentu bisa melakukan hal seperti itu.”

“Begitukah...? Terima kasih.”

“ Sama-sama, aku juga... telah mengatakan hal yang aneh padamu.”

“ Memang.”

Kemudian, mereka berdua hanya tertawa kecut.

Setelah itu, Luke tampak kebingungan memilih kata yang hendak diucapkan berikutnya. Dia hanya mengatakan, “Uhh….uhh…” sambil tersenyum masam.

Dia pun akhirnya mengatakan sesuatu yang kontroversial.

“ Sylphy, jika kamu sudah tidak nyaman di rumah Rudeus... Datanglah ke tempatku.”

Begitu aku mendengarnya, tubuhku menjadi kaku.

Maksudku, itu sama saja dengan merampas Sylphy dariku, kan?

Hey bung, lebih baik kau tidak mengucapkan itu di dekat suaminya si wanita.....

“Aku tidak akan bercerai dengan Rudi... kalau pun akhirnya kami berpisah, aku tidak ingin menikahi pria sepertimu, Luke. Oke?”

“ Bukan… bukan berarti aku melamarmu. Maksudku adalah, jika kau tidak punya tempat tinggal, maka datanglah ke rumahku kapan saja.”

Perkatan Luke terdengar sangat jantan.

Terlepas dari gombalan si ikemen, apakah itu berarti dia selalu ada saat Sylphy membutuhkan?

Jangan mengatakan hal yang membingungkan seperti itu.

Tapi, keringat dingin terlihat bermunculan di dahi Luke.

Aku bertanya-tanya, apakah Luke benar-benar punya perasaan spesial pada Sylphy.

Padahal kau pernah bilang tidak tertarik pada wanita berdada rata...

Ah… mungkin itu hanyalah peringatan untukku agar menjaga Sylphy sebaik mungkin.

Ya, aku harus berusaha lebih baik.

“Mungkin ini agak sulit, tapi aku akan menyempatkan bermain ke tempatmu setidaknya sekali setahun.”

“Siap…. Jaga dirimu baik-baik ya.”

“Ya, Luke juga.”

Setelah mengatakan itu, Luke pun pergi.

Dibandingkan dengan perpisahan Ghyslaine dan Eris, ini cukup singkat.

Yahh, karena hidup ini penuh dengan pertemuan dan perpisahan.

Jalan di depan masih jauh membentang.

Selama kita masih hidup, pasti ada kesempatan untuk bertemu lagi.

“ Rudeus.”

Selagi berpikir, Luke datang padaku.

Mau apa dia, pikirku?

Mau berantem lagi?

“Aku minta maaf telah mencurigaimu selama ini.”

Dia meminta maaf.

“Tidak apa, aku memang patut dicurigai karena sering membuat keputusan yang kontroversial.”

Luke masih dikendalikan oleh Hitogami saat itu.

Bahkan aku sempat mencurigai Ariel sebagai bidaknya Hitogami. Namun, kemungkinan Luke memang lebih tinggi.

Tapi untungnya, masih ada orang lain yang lebih parah dikendalikan oleh Hitogami, misalnya Darius. Jadi, kau boleh bilang, dosa Luke tidak begitu besar.

“Aku pun pernah mencurigai Luke-senpai, jadi kita impas.”

“... aku terselamatkan oleh kata-katamu.”

Luke tersenyum.

“Rudeus, kalau Sylphy sudah tidak bisa memuaskanmu, maka datanglah ke tempatku. Banyak wanita behenol di Kediaman Keluarga Notus.”

“Luke.”

Sylphy menyebut namanya dengan aura suram. Luke pun gemetar ketakutan, kemudian segera menghentikan candaannya.

“Aku hanya bercanda, kok.”

Lalu, Luke kembali menaiki kudanya.

Dia terlihat keren saat menunggangi kuda putihnya.

Dia seperti pangeran dari negeri dongeng.

“Rudeus, tolong jaga Sylphy, sampai jumpa lagi.”

Setelah mengatakan itu, dia pun pergi.

Saat pertama kali bertemu, hubungan kami tidaklah baik, namun perlahan-lahan kami menjadi teman dekat.

Andaikan saja saat itu Paul tidak meninggalkan rumah, maka aku akan hidup seatap dengan Luke.

Jika itu yang terjadi, aku mungkin bisa lebih akrab dengannya.

Selagi memikirkan itu, Sylphy dan aku melihat kepergiannya.

Yah, setidaknya kami sudah mengucapkan selamat tinggal.

Waktunya pulang ke rumah.

Bagian 3[edit]

Tidak perlu repot-repot berjalan jauh untuk kembali ke Ranoa. Kan ada Perugius.

Selama 10 hari ini, Perugius kelihatannya telah mengumpulkan tim sihir transisi di istana kerajaan. Tentu saja, dia juga sudah memperbaiki lingkaran sihir teleportasi yang rusak.

Kami hanya perlu berteleport ke Kastil Langit, kemudian melakukannya sekali lagi ke dekat Kota Sihir Sharia.

Dari sana, kami hanya perlu melakukan perjalanan selama setengah hari untuk sampai ke rumah.

Sebagai seorang petualang, tentu saja berteleportasi tidak seru.

Dari apa yang Eris bayangkan, sepertinya dia berharap menghabiskan waktu satu bulan atau lebih dalam perjalanan pulang.

Aku menggodanya karena dia menangis seperti bocah saat berpisah dengan Ghyslaine. Tapi dia malah marah.

“Apa? Aku tidak menangis seperti bocah, kok!”

Aku pun dihajarnya.

Yahh, perpisahan adalah suatu hal yang penting.

Tapi aku merusak momen itu.

Eris yang menangis terlihat imut.

Tapi, aku tidak bisa memahami apa yang Eris dan Ghyslaine rasakan saat itu.

Sifat guru seharusnya menurun pada muridnya.

Perugius tidak meminta apapun dari kami. Mudah saja bagi Perugius menteleport siapapun yang dia kehendaki.

.....bagaimanapun juga, ini adalah rute darurat.

Orsted juga mahir dalam membuat lingkaran sihir teleportasi,

Mungkin kita juga bisa membuatnya untuk menghubungkan antar kerajaan-kerajaan lainnya. Jadi, tidak hanya di Asura.

Kalau hanya kita yang mengetahui lingkaran-lingkaran sihir teleportasi itu, bahkan Hitogami sekalipun tidak akan dapat menghancurkannya.

Lain kali aku akan mengusulkannya.

Bagian 4[edit]

Karena penggunaan lingkaran sihir teleportasi dilarang, kami meninggalkan kota diam-diam untuk menuju ke Kastil Langit Perugius.

Pada saat kami tiba di sana, matahari sudah terbenam.

Oleh karena itu kami diizinkan menghabiskan malam di kastil langit.

Saat ini aku sedang berada di salah satu kamar Kastil langit.

Aku sedang bersama Sylphy dan Eris.

Sebelumnya, kami datang berjumlah delapan orang.

Sekarang, hanya tiga orang yang kembali.

Sudah kuduga, rasanya sedikit kesepian.

Selagi memikirkan itu, aku melihat api di tempat perapian.

Pada tempat tidur di belakangku, Sylphy dan Eris sedang tertidur bersebelahan.

Padahal mereka bisa mendapatkan kamar pribadi kalau mau...

Tapi, entah kenapa mereka lebih memilih tidur sekamar denganku.

Jangan-jangan… mereka lagi pengen….

Aku sih oke aja…. asalkan mau bertiga.

Tapi, kalau Eris menolak, maka aku gak mau.

Akhirnya kami bertiga tidur seranjang. Tapi aku tidak kunjung terlelap.

Selagi melihat api menari di perapian, aku melamun.

Sunyi.

Hanya suara derik kayu terbakar yang bisa didengar.

Selagi melihat itu, aku mengingat kembali apa yang telah kami capai sampai hari ini.

Aku menang.

Aku menang melawan Hitogami.

Tidak berlebihan jika kusebut itu kemenangan besar.

Tak seorang pun dari kami menjadi korban, semua bidak Hitogami telah kami kalahkan, bahkan Ariel hampir pasti menjadi raja.

Yahh, masih ada selang beberapa waktu sampai hari penobatan, sih.....

Meski begitu, masih banyak hal yang kukhawatirkan, sehingga kemenangan ini terasa hambar.

Pada akhirnya, yang paling berperan adalah rencana Orsted.

Ini kemenangan yang penting, tapi masihlah rode pertama.

Lain waktu, dia akan melanjutkan pertempuran ini.

Baik Orsted maupun Hitogami sama-sama makhluk berumur panjang. Jadi, mungkin saja mereka akan bertarung di masa depan saat aku sudah tidak lagi ada. Saat itu benar-benar tiba, aku pun merasa galau memikirkan siapakah yang akan keluar sebagai pemenang.

Semua yang kulakukan selama ini sudah benar, kan?

Apakah aku sudah berusaha semaksimal mungkin?

Aku membantu Ariel, hampir mati, menjadi anak buah Orsted, dan menikahi Eris.

Apakah ini... sudah cukup?

“Rudi...”

Selagi aku memikirkan itu, Sylphy tiba-tiba bangun.

“Apa kamu belum tidur?”

“Ya.”

“Bukannya sekarang sudah larut?”

Dia melihat ke luar jendela.

Di luar gelap.

Sepertinya waktu telah banyak belalu, namun dua orang ini masih terjaga.

“Whew......”

Sylphy memutuskan untuk tidak kembali tidur, lalu dia duduk di sampingku.

Dia menempelkan tubuh dan menyandarkan kepalanya padaku.

“......”

Sejenak, aku terdiam.

Tubuh Sylphy terasa hangat.

Wajahnya memerah seperti orang yang sedang demam.

Aku menyadari dia sedang menatap tepat padaku.

Tapi, matanya sedikit tidak fokus.

Aku ingin menciumnya.

Saat kutarik dia mendekat padaku, tiba-tiba Sylphy berkata….

“Setelah berhenti menjadi pengawal Ariel-sama, seakan-akan ada yang hilang pada diriku.”

Kutahan hasratku menciumnya, lalu kudengarkan ceritanya.

“Semuanya, telah berakhir...”

Aku melihat wajah Sylphy yang sudah terlihat sedikit lebih segar.

Delapan tahun, dia telah bekerja sebagai pengawal Ariel.

Delapan tahun.

Dari umur 10 sampai 18 tahun.

Dia menghabiskan masa mudanya bersama Luke dan Ariel.

Mungkin, dia merasa kehilangan mereka.

Aku pun penasaran…. apakah keberadaanku bisa menggantikan kedua orang itu.

Aku sudah bukan lagi teman Sylphy.

Suami-istri tidak bisa disebut teman.

“Rudi, aku pun berpikir…..”

Selagi aku terdiam, Sylphy berkata dengan jelas.

“Selama ini, aku tidak bisa sepenuhnya merawat Lucy karena membagi perhatianku pada Ariel-sama. Sekarang aku sudah dibebastugaskan. Kurasa, itu berarti aku bisa bersama Lucy sepanjang waktu…”

Sorot mata penuh keyakinan terlihat pada wajahnya.

“Lucy tumbuh semakin besar, dan dia semakin tergantung pada ibunya.”

Sylphy menyandarkan kepalanya pada pundakku.

Aku mengelus kepalanya.

Kepala Sylphy terasa lebih hangat dari biasanya.

“Aku akan menjadi ibu yang baik dengan mendedikasikan seluruh hidupku pada anaknya.”

Hey, selama ini kau sudah menjadi ibu yang baik, lho.

Tapi, jika aku melihatnya berdasarkan pola pikir dunia ini….

Bisa jadi…. Sylphy bukanlah ibu yang baik.

Menyerahkan urusan merawat anak pada seorang pelayan adalah hal yang biasa dilakukan oleh para bangsawan.

Dan kami bukanlah bangsawan.

Sejak awal pun, aku tidak berasal dari dunia ini.

Aku berasal dari suatu negeri yang tidaklah lazim bila kedua orang tua sama-sama bekerja, tanpa memberikan perhatian lebih pada anaknya.

“Terlepas dari itu semua, apakah ada hal lain yang ingin kau lakukan?”

Sylphy berusia 18 tahun.

Umur 18 tahun di dunia ini sudah dianggap sebagai orang dewasa, namun tidaklah begitu di duniaku sebelumnya.

Seharusnya dia masih memiliki mimpi dan aspirasi.

Bisa dimaklumi kalau dia masih ingin menikmati masa mudanya, daripada hanya digunakan untuk membesarkan anak.

Tapi, aku senang dia tidak memandang rendah tugasnya merawat anak.

Yahh, kurasa sih begitu. Namun, mungkin juga aku berpikiran demikian karena kurangnya kepekaanku sebagai seorang ayah.

“Hmmm... sesuatu yang ingin kulakukan, uh...”

Sembari memiringkan kepalanya, Sylphy menatapku.

“Aku rasa, aku ingin jadi seperti Eris.”

“Eris?”

Aku berpikir sejenak dan mataku mulai melirik dadanya.

Aku memang menginginkan dada Sylphy bertambah besar, tapi aku juga akan kesusahan kalau terlalu besar.

Baiklah, kalau kau ingin dadamu membesar…. maka, akan kuremas tiap hari.

Ah… apa sih yang sedang kupikirkan!? Tentu saja ini bukan masalah Oppai.

“Ya…. aku ingin berdiri sejajar dengan Rudi, agar kita bisa bertarung bersama. Aku ingin kita saling melindungi satu sama lain untuk mengalahkan lawan-lawan yang membahayakan keluarga kita. Kurasa…hubungan seperti itulah yang kuharapkan ke depannya.”

“......”

“Tapi…aku pun sadar… kemampuanku jauh lebih rendah daripada kalian berdua. Dan aku tidak yakin bisa menyamai kemampuan kalian, tak peduli sebanyak apapun aku mencoba.”

Kurasa tidak begitu.

Sylphy bisa dibilang kuat.

Memang tidak sekuat Eris, sih.

Tapi, memang begitu adanya, karena selama ini Eris hidup untuk melatih kemampuannya.

Sebaliknya, Sylphy memiliki banyak hal yang Eris tidak punyai.

“Jadi, akhirnya aku mengurungkan niatku itu. Aku tetap ingin membantu Rudi, tapi dengan cara lain.”

Oh, jadi….

Dia ingin melindungiku dengan cara yang berbeda dari Eris. Mungkinkah, yang dia maksud adalah….

“Apakah itu berarti kau ingin menjadi ibu rumah tangga saja?”

“Ya… Roxy pun tampaknya tidak berencana berhenti menjadi guru dalam waktu dekat ini. Oleh karena itu, aku akan berusaha keras mengurus anak di rumah. Saat kau tidak di rumah, aku akan membesarkan anak kita dengan baik, tidak segan memberi hukuman demi kedisiplinan, dan mengajari mereka berbagai hal.”

Itu adalah awal dari sebuah cerita baru.

Tapi, aku pun menyesal karena tidak bisa selalu berada di sisi mereka.

Aku yakin, dalam waktu dekat aku akan jarang bertemu keluargaku.

Sebagai bawahan Orsted, aku akan memiliki lebih banyak pekerjaan dalam perang melawan Hitogami.

Seperti saat ini, aku pasti akan terpaksa pergi jauh dari rumah selama pertempuran.

“Oleh karena itu Rudi…. Mulai saat ini, percayakan semuanya padaku, oke?”

Bagaimanapun juga.

Sylphy sudah menetapkan tujuan barunya.

Dia menemukan tempat untuk dirinya sendiri.

Dengan selesainya peran sebagai pengawal Ariel, dia mengambil langkah baru untuk tugas berikutnya.

“Yah, aku tidak sabar mendengarkan cerita-cerita barumu sebagai ibu rumah tangga.”

Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa semakin cinta pada istri pertamaku ini.

Sylphy selalu imut, tapi hari ini dia terlihat lebih imut dari biasanya.

Duhh, gak kuat nih….

Kudekatkan wajahku, lalu kukecup bibirnya.

Sylphy menerimanya tanpa perlawanan.

Selanjutnya, aku memindahkan tanganku dari pundaknya ke pantatnya.

Kurangkul dia, namun tiba-tiba dia pasang wajah cemberut.

“...!”

... Aku terdiam, seperti prajurit yang membatu oleh tatapan mata Medusa.

Tunggu dulu… aku merasakan tatapan orang lain.

Itu berasal dari... tempat tidur.

Eris yang seharusnya sudah tertidur, sekarang sedang menatap tajam ke arah kami.

Aku bisa merasakan amarahnya.

Tatapan matanya sebuas hewan liar.

Bergerak sedikit saja, dia akan memangsaku.

Sangat mengerikan.

“Aduh, kayaknya sudah ngantuk nih… tidur ahhh.”

“Apa? Ha... Yeah, aku juga ngantuk.”

Aku dan Sylphy merangkak ke tempat tidur dimana Eris menunggu.

Yahh, nanti kalau sudah di rumah, kita bisa puas-puasin. Jangan di sini ya, ini rumah orang.

Lagipula, Perugius bisa mengetahui apapun yang terjadi di kastil ini.

“Sudahlah Eris, kembalilah tidur...”

“M-maafkan aku… aku tidak bermaksud mengganggu…. t-tapi Sylphy sungguh curang….”

“Aku tidak curang... tapi kalau kau mau, kita bisa melakukannya bertiga bersama Rudi.”

“Muuu, itu mustahil, melakukannya bertiga sangatlah memalukan.....”

Karena suara Eris terdengar sedih, aku jadi sedikit malu, tapi... aku mengharapkannya, sih.

Kedua istriku melanjutkan pembicaraannya selama beberapa saat, dan aku pun merasa tenang saat mendengarnya.

Setidaknya… kini aku tahu ada perubahan besar pada tekad Sylphy.

Dia telah berubah.

Lalu, apakah aku juga perlu berubah?

Menyerahkan urusan rumah padanya…. itu bukanlah hal yang buruk.

Selagi memikirkan itu semua, akhirnya aku tertidur.

Bab 14 : Kepulangan dan Tekad[edit]

Bagian 1[edit]

Kota Sihir Sharia, tampaknya tidak ada perubahan signifikan pada kota ini selama dua bulan terakhir.

Kota ini sedang dalam tahap perkembangan, dan hampir selesai.

Ya.

Timbul banyak perasaan di dadaku.

Orsted menjanjikan keamanan keluargaku.

Saat kembali, aku bersyukur tidak mendapati Kota Sihir Sharia yang sudah berubah menjadi tumpukan abu.

Aku bersyukur sampai detik ini, tak ada satu pun tulisan si kakek yang menjadi kenyataan.

Setelah melewati alun-alun, akhirnya kami tiba di rumah.

Tidak ada perubahan apapun pada rumahku.

Tidak terbakar, membeku, atau diselimuti duri.

Beet sedang berjemur di kebun, sembari menggoyangkan dahannya.

Jirou tertidur di depan kandangnya.

Damai. Semuanya damai.

“Aku pulang.”

“Selamat datang!”

Saat membuka pintu depan, Aisha langsung melompat memelukku.

Dengan penuh semangat, dia melompat ke dadaku.

Aku baik-baik saja.

Dan yang terpenting, semuanya tidak berubah.

“ Oleh-olehnya? Sudah beli oleh-oleh, kan?”

“ Ya, ini untukmu.”

Eris segera mengeluarkan sebuah kotak.

Aisha langsung melepaskan pelukannya, dan menerima kotak itu.

“Wow, Eris-nee, terima kasih.”

Aisha cepat-cepat membuka kotak dan mengambil apa yang ada di dalamnya.

Itu adalah sebuah benda yang tampak seperti centong nasi.

Ada ukiran yang indah di pegangannya.

Saat melihat itu, mata Aisha bercahaya.

“Ini cermin! Aku pernah melihat benda yang sama sewaktu masih tinggal di Shirone.”

“Ya.”

Mungkin karena perdagangan dengan Benua Begaritto, Kerajaan Asura menjual banyak produk pecah belah.

Karena kali ini hanya perjalanan singkat, aku lebih banyak membeli produk dari kaca dan cermin.

“Wo~~w...... cantik~~nya! Ini sungguh cantik!”

“Fufun, keliahtannya kamu menyukainya!”

Melihat Aisha yang kegirangan, Eris dengan bangga mengatakan bahwa dia memilih benda itu bersama Sylphy.

Selera Eris tidaklah buruk, namun pilihannya sangat sederhana.

“Wah, aku terlihat sangat imut di cermin ini...!”

Aisha memuji dirinya sendiri sembari berputar-putar.

Beberapa saat kemudian Lilia muncul, kemudian dia pukul kepala putrinya.

Aku merasa lega saat melihat Aisha masih semangat seperti dulu.

Mereka baik-baik saja.

“... Lilia-san, semua baik-baik saja, kan?”

Aku bertanya.

Seperti biasa, Lilia hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi.

“Ya, semuanya baik-baik saja.”

“Aku mengerti.”

Bagus.

Ini sangatlah bagus.

Aisha kembali menempel di dadaku dengan wajah suram.

“Oh! Tapi Onii-chan... Roxy-nee...”

Roxy!?

Apa yang terjadi pada Roxy!?

... gawat, apakah dia keguguran!?

Tidak mungkin, kalau itu yang terjadi, Lilia pasti sudah memberitahuku.

Ataukah dia sedang dirawat karena kondisinya memburuk?

“Roxy-nee~...”

Tiba-tiba Aisha terdiam.

Pandanganku mengarah pada pintu ruang keluarga.

Di sana, Roxy sedang mengintip.

Mushoku17 10.jpg

Kelihatannya suasana hatinya sedang buruk.

“Roxy, aku pulang.”

Setidaknya, dia terlihat sehat.

Sebagian tubuhnya masih tersembunyi di balik pintu, namun sepertinya dia tidak mengalami luka apapun.

“Rudi, selamat datang kembali.”

Dia masih bersembunyi dan membalas salamku tanpa datang mendekat.

“Aku mengira kamu akan pulang sedikit lebih lama, tapi tampaknya semua berjalan baik. Syukurlah kau pulang tepat waktu.”

“Ya. Ariel-sama memenangkan persaingan politik tersebut.”

Walaupun belum resmi menjadi raja, sih.

“Sungguh? Senang mendengarnya.”

Roxy masih menyembunyikan sebagian dirinya di balik pintu.

Dia hanya menunjukkan wajahnya.

Mungkinkah itu karena tubuhnya mulai membengkak?

Maksudku... Roxy menjadi lebih gemuk!?

Roxy pernah bilang, ada mitos kalau tubuhnya akan terus membengkak bahkan setelah melahirkan!

Bukannya kamu tidak peduli tentang berat badan?

Bahkan, sebelum mengandung, berat badan Eris mungkin dua kalinya Roxy.

“Oh, ada sesuatu yang ingin kukatakan, Onii-chan. Belakangan ini Roxy-nee sering galau, jadi Onii-chan harus menegurnya.”

Itulah kata Aisha.

Galau.

Berat badannya bertambah selama masa kehamilan, demikian pula dengan rasa cemasnya.

Dan sekarang dia sedang gelisah, maka sudah menjadi tugasku untuk menghiburnya.

“Aku tidak galau, kok.”

“Yahh, kalau begitu…kenapa kau masih saja bersembunyi di balik pintu?”

Setelah Sylphy mengatakan itu, Roxy mulai menunjukkan tubuhnya dengan enggan.

Aku meninggalkan rumah selama sekitar 2 bulan.

Selama itu, perut Roxy sudah menjadi cukup besar.

Sebenarnya, berat badan yang bertambah selama masa kehamilan adalah hal yang sudah biasa.

Karena dia berbadan dua.

Meski begitu, dadanya terlihat menjadi lebih besar.

Mungkin itu karena dia sudah bisa mengeluarkan ASI.

Yeah, ayo kita mencicipinya nanti….

Meski begitu, dia adalah ras iblis dari klan Migurdia... sepertinya rasa ASI-nya tidak jauh berbeda dengan ras manusia.

“Akhir-akhir ini, seolah-olah aku merasa bahwa tubuhku ini bukan lagi milikku. Perutku membesar, ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Semuanya bilang itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan, tapi...”

“Oh, aku paham. Aku juga mengalaminya. Tapi, saat kau mengandung, Rudi tidak ada di rumah.”

Mendengar Sylphy yang mengatakannya seakan itu adalah hal yang biasa baginya, dadaku terasa sedikit sakit...

Memang, aku tidak berada di sisinya saat itu, aku sungguh minta maaf.

“Ugh, Sylphy...Roxy... aku minta maaf.”

“Apa? Oh, Rudi, aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak akan menyalahkanmu untuk tidak menemani kami saat hamil.”

Dengan panik, Roxy meminta maaf sembari mengalihkan pandangannya ke kiri-kanan.

“Yah, Eris-san. Bolehkan aku menghabiskan waktu sendirian bersama Rudi hari ini?”

“Oh? Heh, i-itu t-tidak masalah, sih.”

Eris melihat perut Roxy dan perutnya sendiri secara bergantian.

Aku penasaran, apakah dia membayangkan bagaimana rasanya mengandung nanti?

“Jadi Rudi, kamu harus menghabiskan waktu dengan Roxy saat ini, kalau masalah bawaan, serahkan saja padaku... oh iya, Lucy di mana, ya?”

“Zenith-sama sedang bermain dengan Lucy di lantai dua.”

“Jadi dia di sana, terima kasih Lilia-san... ho~ra Eris ayo.”

“Ok.”

Tanpa menunggu balasanku, mereka berdua pergi ke lantai dua sambil membawa barang bawaan.

Bagian 2[edit]

Setelah itu, Roxy dan aku pindah ke ruang keluarga.

Di ruang keluaga, Leo sedang meringkuk di depan perapian.

Jirou ada di ujung ruangan.

Saat Leo melihatku, dia mulai menggonggong dengan gembira dan mendekatiku sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

Saat aku mengelus kepalanya, dia mulai menjilati tanganku.

Oh, dia menyukainya.

“......”

Aku duduk di sofa berdampingan dengan Roxy.

Entah mengapa, seakan dia tidak ingin memperlihatkan lekukan tubuhnya padaku, oleh sebab itulah dia mengenakan daster yang longgar.

Mungkin, dia tidak percaya diri dengan tubuh sebesar itu.

Tapi, imajinasiku masih tetap liar kok.

“Roxy?”

“Erm, bagaimana pekerjaanmu? Apakah semuanya berjalan dengan baik, sehingga kau tidak terlambat pulang?”

“Bukannya aku sudah mengatakan itu sebelumnya?”

Tidak seperti biasanya Roxy sepanik ini.

Apa yang telah terjadi padanya? Meskipun panik, dia tetaplah imut seperti biasa.

Jangan menggodaku dengan reaksi imut seperti itu.

Yahh, untungnya semuanya baik-baik saja selama perjalanan.

Lelah setelah menyelesaikan pekerjaan berat membuat nafsu libidoku meningkat.

Dan wanita mungil di sebelahku ini sungguh menggoda.

Sebagai seorang pria-yang-mudah-dibaca, aku harus pintar-pintar menyembunyikan hasrat seksualku.

Mari kita ucapkan kata-kata manis padanya.

Baiklah.

“Err... perutmu sudah membesar ya, bolehkan aku mengelusnya?”

“J-jangan!”

Dia menjawabnya seketika.

Jangan, ya?

Y-yah, dia sedang dalam masa kehamilannya, mungkin itu membuatnya lebih sensitif.

“Kau juga tidak boleh meremas dadaku!!”

Aku langsung ditolak sebelum mengatakan apapun.

Sepertinya dia sudah mengira aku ingin meremas dadanya seperti biasanya.

Yah, aku tidak bisa membantahnya.

“Akhir-akhir ini, cairan kuning keluar.”

“Begitu ya.”

Sylphy juga mengalaminya, itu adalah pertanda keluarnya ASI.

Itu bisa diobati dengan meremasnya, tapi aku tidak boleh melakukannya sekarang.

“Yah, kalau mengelus kepala gak papa, kan?”

Saat aku mengatakannya, Roxy merebahkan kepalanya padaku.

Aku pun mengelus kepalanya.

Rambutnya lembut terasa nyaman di jari-jariku.

Perut dan dada TIDAK BOLEH.

Tapi kepala boleh.

Aku harus tahu yang mana batas boleh dan tidak.

Lalu, aku menanyakan bagian lainnya.

“Kalau pantat?”

“... yah, itu boleh.”

Tersipu-sipu, Roxy memberiku OK.

Kelihatannya bagus.

Tanpa perlawanan, aku mengelusnya.

Bulat.

Ah, kurang mantab nih…. Ah, tidak juga.

Apakah lebih baik aku membicarakan anak kami?

“Errrrrr... Roxy, aku bisa membantumu sebanyak mungkin, lho.”

“S-Sungguh? Tapi, kau tidak perlu memaksakan diri. Aisha juga bisa membantuku, dan bukannya Rudi juga punya banyak urusan yang harus dikerjakan?”

“Memang ada banyak hal yang harus kukerjakan, tapi… aku juga bisa memahami kalau wanita hamil lebih diprioritaskan daripada urusan kerja. Aku akan melakukan apapun, mulai dari membantumu menuruni tangga sampai membantumu mandi.”

“Eh, mandi!?”

Roxy bereaksi berlebihan pada kata ‘mandi’.

Apa.

Perut dan dada TIDAK BOLEH, bokong dan kepala BOLEH, tapi ternyata mandi juga TIDAK BOLEH.

Argh.

“Begitu ya... Rudi, jadi kamu ingin membantu membasuhku di kamar mandi...”

Oh, aku akan melakukannya dengan senang hati.

Boleh menggunakan kain atau tangan ya….. sama-sama oke tuh.

Tapi, sebisa mungkin aku harus menahan nafsuku saat memandikan Roxy.

“Rudi... cepat atau lambat kau akan mengetahuinya, jadi lebih baik aku memberitahumu lebih awal.”

“Ya.”

Roxy mulai menatapku dengan serius.

Apakah itu?

Apakah ini hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya?

Jangan-jangan bayi di perutnya terinfeksi penyakit mengerikan.

Atau jangan-jangan, dari dalam perutnya, si jabang bayi sering meneriakkan, ’Puja diriku Kaisar Iblis Agung!!’

Ah bukan, kalau memang itu yang terjadi, Lilia pasti sudah memberitahuku sebelumnya.

Tapi, kurasa ini adalah suatu hal yang tidak normal.

Apa ya…..

Ha ha, jangan bilang kalau anak di dalam perut Roxy bilang, ’Aku bukanlah anak Rudi.’

Lalu, anak itu sudah memiliki ekor dan tanduk sejak lahir.

Oh ayolah, kumohon jangan terjadi hal mengerikan seperti itu...

“......”

Roxy, dengan wajah serius, mulai membuka kancing bajunya.

Lalu dia menyingsingkan bajunya dan menunjukkan perutnya padaku.

Perut putih yang buncit, dan pusarnya sedikit menonjol.

Sungguh imut.

Yeah, imut sekali.

Tapi…. hanya itu yang dia lakukan.

Tidak ada yang aneh kok dengan perut itu.

“Ada apa ini?”

“Jadi kau belum paham?”

Apa sih... aku pun semakin penasaran.

“Ah... pusarmu sedikit menonjol?”

Hmm.

Apakah itu yang dia maksud?

Kurasa…. lebih baik aku tidak membahas hal itu dengan ibu hamil.

“...Yeah... Uuu, apakah menurutmu pusar ini tidak aneh?”

Oh, jadi ini yang membuatnya galau belakangan ini….

Yah, dia memang naif.

Dilihat dari manapun, ini bukanlah suatu hal yang serius.

Tapi, Roxy menganggap ini sebagai hal yang penting.

“... Tidak aneh kok, malahan kelihatan imut.”

“Kali ini aku tidak akan tertipu. Kau mengatakan itu hanya untuk menghiburku, kan? Lihat, kau diam sejenak sebelum mengatakan itu.”

“Aku tidak bohong. Aku tidak mempermasalahkan ini. Lagian, memang pusarmu terlihat imut.”

“Bohong. Dulu Rudi pernah bilang, ’Perut Roxy adalah yang terbaik di dunia.’ kemudian kau jilati pusarku.”

Betapa bodohnya aku.

Aku tidak bermaksud apa-apa saat mengatakan itu, namun sepertinya Roxy menganggapnya serius.

Tapi, bukankah normal seorang suami mengatakan rayuan seperti itu ketika sedang berhubungan badan?

“Sejak hari itu, aku selalu membersihkan pusarku dengan serius. Lihat sekarang, pusar kesukaan Rudi jadi seperti ini, bukankah seharusnya kau kecewa?”

“Aku tidak kecewa.”

Kali ini aku langsung menjawabnya.

Aku tidak punya fetish pusar.

Kalau Roxy sih, meskipun dia bisa menembakkan misil dari pusarnya [13], aku masih akan memujanya.

Oh, aku ingat sekarang.

Kalau tidak salah, aku pernah menjilati pusarnya saat kami bergulat tengah malam, saat itu Roxy sangat malu.

Kalau begitu, aku hanya perlu memujinya dengan tulus.

“Rudi, aku tidak akan tertipu lagi oleh omongan manismu. Kau hanya memujiku agar aku senang.”

Namun, Roxy tidak percaya padaku.

Muu~.

Bagaimanapun juga, aku adalah penganut agama Dewi Roxy yang taat.

Aku tidak akan pernah malu memuja keagungan Dewi Roxy, meskipun aku harus melakukannya di hadapan 10 juta orang sekalipun.

Namun, saat ini aku harus berhati-hati memujinya.

Tiba-tiba, seolah lepas kendali, Roxy mendekatkan pusarnya padaku.

“Jilati lah.”

“Gak papa nih?”

Tanpa sadar, aku menanyakan itu meskipun Roxy sudah jelas-jelas menawarkannya.

Dia menyuruhku melakukan hal mesum seperti itu.

Apakah ini semacam hadiah?

Beneran gak papa nih?

Ah, aku tidak perlu memikirkannya terlalu serius.

Bagaimanapun juga, ini adalah kehendak Sang Dewi.

Baiklah.

Tepukkan kedua tanganmu, lalu ucapkan

I, TA, DA, KI, MA, SU! [14]

“....”

Aku menjilatinya.

Sambil mendorong jauh hidung Leo yang mendekat, aku menjilati pusar Roxy.

Saat itu, sesuatu di dalam perutnya bergerak.

Bergerak cukup kuat dengan suara ‘Bikun’ dan ’Pokon’….

Karena lidahku sedang menjilatnya, maka aku bisa merasakan gerakan itu.

Roxy juga merasakannya.

Aku mendongak menatap matanya dan tubuhnya yang mengejang.

“Dia bergerak,”

“...mungkin dia mencoba bilang selamat datang kembali pada ayahnya.”

Aku memeluk dirinya.

Aku mengelus perut Roxy.

Terlepas dari apapun yang dia katakan tadi, dia tidak menolaknya.

Perut yang hangat.

Si bayi tidak akan merasa kedinginan.

“......”

Roxy tidak lagi merasa malu.

Dengan wajahnya yang ceria, dia menyandarkan kepalanya padaku.

“Terima kasih Rudi. Seperti yang Sylphy bilang, bukan? Entah mengapa, aku merasa lega.”

Mendengar perkataan Roxy, entah mengapa aku juga merasa lega.

“Sekali lagi, selamat datang kembali, Rudi.”

“Aku pulang.”

Aku pulang ke rumahku.

Bagian 3[edit]

Keesokan harinya, aku memberi tahu kepulanganku pada setiap temanku.

Zanoba, Cliff, Elinalise.

Nanahoshi juga, saat aku mampir ke Kastil langit.

Oh iya, dengan begini, rekan-rekanku di Kota Sihir Sharia berkurang sedikit demi sedikit.

Suatu hari nanti, Zanoba dan Cliff juga akan pergi.

Selagi memikirkan itu, aku melanjutkan perjalananku.

Hari sudah malam.

Di bawah langit senja, aku mengunjungi sebuah kuburan.

Deretan batu nisan berbaris di tempat yang sunyi ini.

Tidak disarankan datang pada waktu seperti ini karena iblis[15] mungkin muncul, tapi aku tidak punya pilihan lain.

Karena ini adalah waktunya untuk membalas rasa hormatku.

Aku menyapa penjaga makam, lalu aku berjalan menuju suatu batu nisan tertentu.

Paul Greyrat.

Nama itulah yang terukir di batu nisan tersebut.

Aku menggenggam tanganku di depan batu nisan yang masih terlihat baru.

“Ayah, misi kali ini berhasil kuselesaikan tanpa kehilangan siapapun.”

Setelah menaruh minuman keras yang kubeli di Ibukota Kerajaan Ars dan bunga yang kubeli di Kota Sharia, aku menceritakan perjalananku.

Tentang Orsted, tentang Hitogami.

Dan, pertarungan di Kerajaan Asura.

“Di sana, aku juga bertemu dengan saudaramu, yaitu paman. Dia mirip dengan ayah, tapi pikirannya agak labil.”

Aku mengingat wajah Philemon.

Mukanya sedikit mengingatkanku pada Paul.

Bentuk tubuhnya juga, tapi watak mereka berbeda. Itu mungkin dikarenakan dia lebih muda.

“Orang itu juga selamat. Keponakanmu mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi ayahnya. Jujur, aku sedikit iri dengannya.”

Luke berhasil menyelamatkan ayahnya dari eksekusi.

Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang Luke perdebatkan dengan Ariel dan Sylphy saat itu, namun aku melihatnya dengan mata-kepalaku sendiri bahwa berkat usaha Luke lah, Philemon berhasil menyelamatkan lehernya.

Philemon bukanlah orang terpuji.

Pada awalnya, aku juga berniat membunuhnya, tapi...

Melihat sosok Luke yang melindunginya, entah mengapa aku tidak bisa melakukannya.

“Dan, akhirnya aku membunuh seseorang. Meskipun bukan aku sih yang mencabut nyawanya secara langsung... Dia berusaha membunuhku dan aku pun melawan balik. Sekarang dia sudah mati. Aku tidak menyesali apa yang telah terjadi, tapi tetap saja aku merasa berdosa.”

Sebenarnya, itu bukanlah pertama kalinya aku membunuh seseorang.

Kalau diingat-ingat lagi, aku pernah mengalami kejadian yang sama sebelumnya.

Bukannya ada yang spesial kali ini.

Tapi entah mengapa, peristiwa kali ini meninggalkan luka dalam di pikiranku.

Pasti, itu karena aku mendengar cerita Dewa Air Reida.

“......”

Aku merenungkan peristiwa itu.

Kali ini, semuanya berakhir baik.

Tidak ada yang mati adalah prioritas pertamaku, dan aku telah mencapai tujuan itu.

Tapi, pada saat-saat terakhir…..

Pada saat-saat terakhir…..

…..kalau saja rencana kami melenceng sedikit saja…. maka bukannya mustahil salah seorang dari kami akan mati.

Meskipun tujuanku telah terpenuhi, masih ada sesuatu yang mengganggu di hatiku.

Kali ini, aku memang berhasil.

Ini merupakan sebuah kepuasan, dan kemenangan yang besar.

Tapi, tampaknya masih banyak hal yang perlu direnungkan.

Misalnya, saat tahap persiapan, kalau saja aku membicarakannya dengan Ariel terlebih dahulu…..

…..mungkin Luke tidak akan menjadi bidaknya Hitogami, dan dia tidak akan mengganggu perjalan kita.

Yahh, tapi berkat itu jugalah Ariel mau bersekutu dengan Orsted. Jadi, masih ada sisi positifnya.

Kalau saja Auber bisa mengalahkanku saat kami bertarung di Rahang Bawah Naga Merah.

Kalau saja Orsted tidak datang setelah Dewa Air mengaktifkan Deprivation Sword Kingdom.

Kalau saja Auber tidak membawa penawar.

Maka…..

Ahh, tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang.

Namun, hanya satu hal yang bisa kukatakan.

Hitogami belum mati.

Meski pekerjaan selesai, pertempuran masih jauh dari kata selesai.

Ini masih berlasung.

Di masa depan...pertempuran ini, akan menjadi semakin kacau hingga saat-saat terakhir.

Kali ini, aku hanya beruntung.

...kurasa, hanya keberuntungan lah yang menyelamatkanku selama ini.

Aku pun penasaran, mengapa aku jarang kalah, padahal aku masih sangat lemah.

Mungkin, itu karena aku selalu berpikiran positif.

Saat Paul mati.

Kurasa, itu adalah saat-saat terburuk dalam hidupku, dan aku tidak bisa melakukan apapun saat itu.

Padahal, aku sudah berusaha sebaik mungkin.

Ada saat di mana aku mengambil keputusan dan penilaian yang salah.

Tapi saat itu, setidaknya aku sudah melakukan semua yang kubisa.

Alhasil, akhir yang tidak kuinginkan terjadi.

Hasil seperti itu seharusnya bisa terhindari.

Aku sedang sial.

Itu adalah hasil yang tak terelakkan.

Tapi, apa memang seperti itu?

Dengan kata lain… kalau aku sedang beruntung…. maka Paul akan selamat?

Yah, mungkin saja begitu.

Paul mati terkena serangan terakhir Hydra.

Jika kami beruntung, mungkin dia masih bersama kami saat ini.

Tapi… kalau Paul masih hidup…. aku pun penasaran, apa ya yang berubah dalam hidupku?

Ada yang bilang…. keberuntungan dan kesialan selalu berjalan seimbang.

Jadi, mungkin saja aku akan mengalami kesialan di kejadian lainnya.

Mungkin, misiku ke Asura akan berantakan. Banyak dari kami yang terluka, dan terpaksa menyerah.

Bagaimanapun juga, keberuntungan adalah suatu hal yang rapuh dan tidak bisa diandalkan.

Mulai saat ini.

Bisakah aku mengandalkan keberuntungan untuk melindungi keluargaku?

Kali ini, beberapa dari kami hampir saja mati.

Terutama, Eris yang mengalami luka berat di pundaknya, karena tertusuk Kunai beracun.

Satu-satunya yang menyelamatkan Eris saat itu hanyalah keberuntungan.

Andaikan Auber lupa membawa penawar racunnya saat itu, maka aku tidak akan bisa pulang bersama Eris.

Bisakah aku terus bergantung pada keberuntungan?

Tidak, keberuntungan harus diperkuat dengan usaha.

Namun, kau masihlah memerlukan keberuntungan.

Karena kemampuan manusia ada batasnya, dan terkadang ada saat di mana hasilnya tidak bisa diubah sekeras apapun kamu berusaha.

Dalam misi kali ini, aku harus bersyukur karena bisa mengatasi segala rintangan dengan baik.

Namun, apa jadinya jika sedikit saja aku melakukan kesalahan?

Apa jadinya jika sedikit saja aku lengah?

Jika itu yang terjadi, pastinya rencana kami akan berantakan, dan sesuatu yang mengerikan akan terjadi.

Lalu, apa yang perlu kulakukan untuk menghindari itu semua?

Tentu saja aku harus lebih kuat.

Aku harus berlatih lebih keras.

Aku harus mengurangi ketergantunganku pada orang lain.

Sekarang, perjuanganku melawan Hitogami sebagai bawahannya Orsted akan terus berlanjut.

Tidak ada jaminan aku bisa mengalahkannya, meskipun sudah mendapatkan dukungan dari salah satu makhluk terkuat di dunia ini.

Aku harus menjadi seseorang yang cukup kuat untuk menjamin keselamatan keluarganya.

Jadi, ayo kita bulatkan tekad sekali lagi.

“Ayah, aku akan berusaha lebih keras ke depannya. Jadi, tolong jaga kami.”

Setelah mengucapkan itu, akhirnya aku pun meninggalkan kuburan.
  1. Mungkin, Strahan yang dimaksudnya adalah Michael Anthony Strahan, yaitu seorang mantan pemain bertahan tangguh dari New York Giants, yaitu suatu klub Rugby terkenal di Amerika.
  2. Kalau yang ini, jelas Sylvester Stallone, yaitu aktor kawakan Hollywood yang bias memerankan tokoh badass.
  3. Parodi Anime Mecha lawas yang bisa menembakkan lengannya.
  4. Jurus penukar jasad yang biasa kalian lihat di Naruto.
  5. Parodi Doraemon.
  6. Ini adalah parodi Boku Wa Tomodachi Ga Sukunai. Salah satu karakternya bernama Yozora Mikazuki sering berbicara sendiri dengan teman khayalannya yang bernama Tomo-chan.
  7. Acara tersebut adalah Thomas and Friends.
  8. Eris pertama kali disebut Mad Dog saat masih berpetualang bersama Rudi dan Ruijerd. Kalau kalian lupa, mereka biasa disebut Dead End.
  9. Diterjemahkan: Penghancuran Kerajaan Pedang. Tapi, semua nama jurus sengaja tidak Ciu terjemahkan.
  10. Kalau diartikan dari kiri ke kanan adalah: Tikus Abu-abu, Serigala Biru, Kuda Ungu, Laba-laba Putih, dan Kodok Perak, seperti yang pernah dibahas sebelumnya, keluarga bangsawan Asura sering memakai kombinasi nama binatang dan warna.
  11. Ya, ini adalah hal yang umum di Eropa. Kuburan orang yang begitu kaya biasanya dibuat sangat megah, bahkan ada ruangan bawah tanah untuk menyimpan peti jenazah. Jadi, mayatnya tidak dikubur begitu saja, melainkan ditempatkan pada suatu ruangan bawah tanah.
  12. Itu berarti menunjukkan keramahan pada seseorang. Ketika seekor anjing menunjukkan perutnya, maka artinya dia mempersilahkan seseorang mengelusnya.
  13. Ini juga parodi anime robot lawas, seperti halnya lengan Zariff.
  14. Artinya: Selamat makan….! Di genre ecchi, kalimat tersebut juga diucapkan ketika hendak melakukan hal yang mesum, terutama berhubungan dengan mulut.
  15. Kalau masih ada yang bingung dengan istilah “iblis” di sini, sebenarnya yang dimaksud adalah monster bertipe iblis, seperti yang pernah Rudi hadapi si Lapan.