Volume 21 - Periode Pria Muda - Bab Cliff

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Contents

Ilustrasi Novel[edit]

Bab 1: Rencana Kedepannya Dan Masalah Cliff[edit]

Musim dingin berangsur-angsur berakhir, lalu musim semi pun tiba.

Bagian 1[edit]

Teman-teman berkumpul.

Setelah berdiskusi dengan Orsted, kami menghasilkan 3 kesimpulan.

Pertama adalah membentuk organisasi yang berperan sebagai intelijen, serta mencari anggota-anggotanya.

Untuk itu, kami memanfaatkan bantuan dari PT. Prajurit Bayaran Rudo, Aisha, dan yang lainnya.

Mereka harus berkomunikasi dengan Orsted dari balik layar, kemudian mengembangkan organisasinya secara global.

Hubungkan dan kumpulkan semua informasi yang didapat dari setiap negara ke kantor pusat.

Informasi detail juga bisa didapatkan di kantor cabang, jadi kau tidak harus pergi ke kantor pusat.

Organisasi ini lebih ditekankan untuk membantu aksi-aksiku secara langsung, sedangkan Orsted hanya mengawasi dari balik layar.

Kedua adalah tentang orang-orang berkekuatan politik.

Atau mungkin, orang-orang yang kelak akan memiliki kekuatan politik besar. Kami harus merekrut mereka sebagai sekutu.

Orsted mengatakan bahwa Laplace akan memulai perang setelah dia dihidupkan kembali.

Jika terjadi peperangan, berarti kami akan berurusan dengan negara-negara lain.

Oleh karena itu, kami harus memperingatkan mereka bahwa bencana besar akan kembali terjadi, seperti layaknya perang manusia – iblis beberapa ratus tahun silam.

Kami akan memberitahu masalah ini pada orang-orang penting dari masing-masing negara, agar mereka lebih waspada. Kami juga harus memberikan dukungan, dan mengatur segalanya secara perlahan-lahan dalam kurun waktu 80 tahun berikutnya.

Saat berperang melawan Laplace, perlawanan PT. Prajurit Bayaran Rudo akan sangat dipengaruhi oleh dukungan dari berbagai negara.

Ketiga adalah tentang kelompok prajurit yang akan fokus pada pertempuran.

Pada dasarnya, para prajurit itu kami bentuk untuk membantu Orsted bertarung melawan Laplace.

Bahkan kalau bisa, Orsted tidak perlu bertarung, biarkan mereka saja yang melakukannya.

Sepertinya itu sulit, karena lawan mereka adalah Dewa Iblis Laplace yang legendaris. Bahkan aku sendiri belum tentu bisa menghadapinya. Jika mereka bisa bekerjasama dengan Orsted untuk mengepung Laplace, itu akan lebih baik. Namun sayangnya, kutukan Orsted mencegahnya memiliki rekan. Jikalau kami berhasil melepas kutukan itu, maka rencana ketiga ini akan berjalan semakin lancar.

Siapakah petarung-petarung hebat yang pantas mengemban tugas ini? Kita akan diskusikan lebih lanjut bersama si bos.

"Orang-orang yang sudah ditakdirkan melawan Laplace tidak akan begitu mudahnya dikuasai Hitogami.”

Itulah penjelasan kunci dari si bos.

Dia pun memberi contoh seperti, Dewa Ogre [1] dan Dewa Dwarf. Mereka tidak pernah berurusan dengan Dewa Iblis Laplace, namun ditakdirkan akan melawannya kelak.

Begitupun dengan murid-murid Dewa Air dan Dewa Pedang. Mereka tidak berhubungan dengan Laplace di masa ini, namun kelak akan memeranginya.

Dan juga, kami berencana menghubungi Dewa Utara Kalman III dan Dewa Kematian Randolph yang berumur panjang.

Begitupun dengan orang-orang yang memiliki dendam pribadi pada Laplace, contohnya Ruijerd.

Orsted juga menyebutkan orang-orang penting yang belum pernah kami kenal sebelumnya. Sehingga, kami harus mencari mereka, bahkan kalau perlu, aku akan datang sendiri menemuinya, lalu bersujud di sana untuk memohon meminta bantuan.

Tapi, ada juga cara selain memohon. Bisa saja aku membantu mereka menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi, lalu memaksanya balas budi.

Untuk saat ini, rencananya adalah merekrut setiap orang yang tampaknya kuat, baik secara fisik maupun politis.

Yahh, tapi saat kami mengumpulkan mereka, ada saja hambatannya.

Yaitu gangguan dari Hitogami.

Biasanya, dia akan mengirimkan anak-anak buahnya untuk mengganggu.

Sebenarnya, tidak mudah mengenali bawahan-bawahan Hitogami.

Menurut Orsted, ada beberapa orang yang pantas atau tidak dicurigai.

Namun dalam perulangan kali ini, ada beberapa orang yang berpihak pada Hitogami, meskipun sebelumnya tidak. Jika pada setiap perulangan orang yang memihak Hitogami tidak berubah, maka mudah mengidentifikasinya. Sayangnya tidak demikian.

Bahkan ada beberapa bidak Hitogami yang tidak disangka-sangka oleh Orsted.

Jujur saja, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi mereka.

Aku pun tidak punya ide.

Sejak awal, kita tidak pernah tahu strategi macam apa yang Hitogami gunakan untuk memanipulasi bidak-bidaknya.

Orsted berkata, "Biasanya, dia cenderung memilih orang yang bertakdir kuat."

Namun, belakangan ini, orang-orang yang bertakdir lemah pun tak luput menjadi bidaknya.

Sayangnya, aku juga tidak bisa membedakan kuat-lemahnya tadir seseorang.

Hal seperti itu hanya Orsted dan Hitogami yang tahu.

Meskipun sudah membicarakannya dengan Orsted, aku tidak mendapatkan apapun selain kekhawatiran yang semakin besar. Sepertinya ini percuma saja.

Meskipun sudah beberapa kali melawan bidaknya Hitogami, aku masihlah tidak tahu apa-apa.

Untuk saat ini, aku hanya bisa menasehati teman-teman di dekatku, ”Jangan pernah percaya pada wahyu yang disampaikan lewat mimpi.”

Namun, bidak-bidak itu masih saja bermunculan.

Jika ada orang yang tampak mencurigakan, tanya saja apakah dia pernah ditemui oleh sesosok dewa aneh lewat mimpi? Jika iya, maka bunuhlah dia bila perlu.

Ini bukanlah tugas yang mudah, tapi aku akan berusaha semampuku.

Setidaknya, aku masih bisa berkosentrasi pada tugas lainnya, yaitu meningkatkan jumlah sekutu kami.

Toh, Hitogami hanya bisa mengendalikan 3 bidak.

Semakin banyaknya jumlah sekutu, maka semakin mudah pekerjaan kami.

Sebaliknya, semakin sedikit jumlah sekutu, maka semakin sulit pekerjaan kami. Misalnya, jika kami hanya punya 5 orang teman, yang mana 3 di antara kemungkinan akan berkhianat karena pengaruh Hitogami, maka pasukan kami akan berkurang lebih dari setengahnya. Jadi, masalah bidak Hitogami tampaknya bisa diselesaikan dengan memperbanyak jumlah sekutu.

Namun, bukan berarti jumlah musuh tidak meningkat. Menurut Orsted, Laplace akan menghimpun sejumlah pasukan yang begitu mengerikan. Entah darimana dia akan mendapatkannya.

Lalu berapa orang yang harus kurekrut sebagai sekutu? Seratus? Seribu?

Dengan jumlah sebesar itu, harusnya tidak masalah jika 1 – 2 orang berkhianat.

Jika aku punya 1000 pasukan, maka harus kupastikan tak seorang pun berkhianat. Ya…. aku tahu itu tidak mudah. Sayangnya, semakin banyak jumlah sekutu, semakin repot juga dikendalikan.

Belum lagi, bagaimanakah nasib organisasi ini setelah aku wafat nanti? Harusnya sih tidak masalah, karena aku yakin ada banyak orang yang lebih pantas menjadi pemimpin ketimbang diriku.

Pasti akan muncul seseorang yang bisa kuwarisi tanggung jawab ini.

Bahkan saat ini, aku punya Roxy yang begitu berwibawa, dan juga teman-teman lainnya.

Selain mengumpulkan sekutu, ada beberapa hal lain yang harus kuusahakan.

Pertama, bagaimana cara menghubungi Orsted dengan aman.

Komunikasi adalah hal yang begitu penting. Bahkan kematian Pax hanya disebabkan oleh salah sangka.

Tentu saja, masih banyak faktor penentu selain komunikasi.

Bagaimanapun juga, aku harus menemukan cara agar sekutu kami bisa berkomunikasi dengan Orsted tanpa bertatap muka. Jika tidak, maka koneksi dengan para sekutu akan hancur seketika saat mereka tahu bahwa, bos tertinggi di organisasi ini adalah orang yang paling dibenci di dunia.

Kurasa aku tidak bisa sepenuhnya mengandalkan Orsted.

Untuk saat ini, mungkin aku tidak perlu terlalu sering bertemu dengannya.

Aku sih tidak masalah bertemu Orsted, tapi bagi orang lain, cara bertemu dengannya sangatlah penting.

Namun jika ada hal yang penting, lebih baik aku berkonsultasi terlebih dahulu, daripada bertindak sendirian.

Jika semuanya sudah jelas, barulah kita ambil tindakan secepat mungkin.

Dengan demikian, kurasa kami harus punya suatu teknologi seperti telpon seluler.

Aku tahu di dunia ini tidak ada telpon, jadi setidaknya harus ada suatu metode untuk mengirimkan pesan secara privat.

Aku coba berbicara pada Orsted terkait hal ini.

Aku menjelaskan padanya bahwa ada alat di suatu tempat yang bernama telepon genggam. Lalu aku bertanya, apakah alat sejenis bisa diciptakan di sini.

"Jadi pada dasarnya, alat itu adalah benda sihir yang bisa mengirimkan suara dan tulisan, begitu kan?"

"Tidak harus ada suaranya, setidaknya tulisan saja sudah cukup. Alat seperti itu berguna saat kita saling mengirimkan informasi pada jarak yang terpisah jauh, atau berdiskusi secara langsung saat terjadi masalah yang harus segera dipecahkan. Bisakah kita membuatnya?”

Kurasa tidak mungkin.

Belum tentu masyarakat mau menerimanya.

"Sebenarnya ada benda sihir serupa yang pernah digunakan ras naga. Jika kita bisa membuatnya kembali, maka kita akan memilikinya.”

Tanpa kusangka, ternyata Orsted cukup optimis pada rencana ini.

"Ooh, jadi benar-benar ada, ya…..."

"Ya, harusnya kau juga pernah melihatnya."

Benarkah?

Di mana aku pernah melihatnya?

Harusnya saat melihatnya kuminta alat itu.

"Contohnya adalah monumen patung Tujuh Kekuatan Dunia, dan kartu dari Guild Petualang.”

"Ooh!"

Aku paham.

Ahh, benar juga.

Kartu Guild Petualang memiliki input suara, dan monumen Tujuh Kekuatan Dunia memiliki tulisan yang sama, namun tersebar di seluruh penjuru dunia.

Haah.

Aku mengerti.

Jadi, kartu Guild Petualang dibuat berdasarkan teknologi ras naga.

Kalau dipikir-pikir, memang kartu itu terkesan modern, sih ...

"Kita perlu sedikit memperbaikinya, biar aku yang melakukannya."

"Eh? Orsted-san akan memperbaikinya?"

"Sejak kemunculanmu, banyak jadwalku yang melenceng dari rencana semula. Sekarang aku punya waktu senggang, jadi biar aku yang melakukannya…. jika berhasil, aku bisa menggunakan alat itu di perulangan selanjutnya.”

Dengan demikian, kami sepakat bahwa si bos akan memperbaiki dan memperbanyak kartu itu.

Aku tidak menduga ini, tapi…. yahh, oke lah.

Dengan begini, mungkin Orsted juga akan berteman dengan Rudeus Greyrat pada perulangan selanjutnya. Aku telah membuktikan bahwa ide-ideku berguna. Ah, senangnya.

"Tapi jangan terlalu berharap. Mungkin saja aku gagal, karena baru kali ini aku membuat alat seperti ini.”

"Siap, bos!"

Dengan demikian, bisnis alat telekomunikasi yang kuajukan disetujui.

Satu hal lagi.

Berdasarkan pengalaman pada misi terakhir, ada suatu hal yang perlu kuperbaiki.

Yaitu, cara untuk mengangkut Magic Armor.

Waktu melaksanakan misi di Kerajaan Shirone, kami kesulitan mengangkut Magic Armor Versi I, sehingga harus digunakan sebagai alat transportasi.

Perlu waktu yang lama untuk membawanya ke istana.

Pada akhirnya, kami tidak bisa menggunakannya saat melawan Dewa Kematian Randolph.

Mulai sekarang, aku akan menghindari bertarung melawan orang-orang bergelar Dewa.

Sayangnya, masih banyak musuh yang tidak bisa kukalahkan hanya dengan menggunakan Magic Armor Versi II.

Aku harus melakukan sesuatu untuk menang.

Salah satu caranya adalah mengembangkan lagi kemampuan Magic Armor Versi II. Disainnya yang ringan tidak perlu diubah, kita hanya perlu meningkatkan performanya.

Tapi, kami masih membutuhkan waktu lama sampai terciptanya Magic Armor Versi III.

Zanoba sudah berusaha keras membantuku mengembangkan Magic Armor, namun tetap saja hasil itu tidak bisa kita capai dalam 1 – 2 tahun mendatang.

Aku pun punya ide lain.

Aku ingin menggunakan teknik pemanggilan Magic Armor Versi I layaknya IS. [2]

Menurut pelajaran yang kudapatkan dari Sylvaril sebelumnya, tampaknya aku tidak bisa memanggil benda mati, tapi……

Yahh, kalau aku mengotak-atik tekniknya, mungkin aku bisa menemukan metode baru untuk memanggil benda mati. Toh, Nanahoshi juga bisa memanggil botol plastik dari bumi.

Sejujurnya, aku ingin menguji teknik ini.

Kalau gagal, ya gak papa.

Bagian 2[edit]

Dengan demikian, maka rencana merekrut sekutu telah ditetapkan.

Untuk saat ini, kami akan mengembangkan PT. Prajurit Bayaran Rudo, sembari membangun koneksi dengan orang-orang berpengaruh di tiap-tiap negara, lalu menjadikannya rekan.

Untuk membangun koneksi dengan orang-orang penting, tidak ada salahnya kita mulai dari teman-teman terdekat.

Misalnya, Cliff dan Ariel.

Cliff adalah keluarga Uskup Agung dari Ordo Gereja Milis, sedangkan Ariel adalah Raja Kerajaan Asura.

Keduanya sudah dimasukkan ke dalam fraksi Orsted.

Yakk, sekarang… kita mulai dari siapa dulu?

Tentu saja Cliff, karena dia lah yang tinggalnya paling dekat dengan kami.

Kami bisa menjalin kerjasama dengan Ordo Gereja Milis melalui koneksi dari Cliff.

Kerajaan Suci Milis adalah negara yang kuat.

Saat melawan Laplace kelak, mereka bisa menyumbangkan kekuatan militer yang besar.

Bagaimanapun juga, peperangan adalah masalah jumlah dan dana.

Semakin kuat sekutu kami, maka semakin kuat pula bantuan peperangan.

Aku tahu banyak hal tentang Cliff, yahh…. karena dia adalah salah satu teman terdekatku.

Dia sudah lama bekerja pada Orsted dengan meneliti kutukannya. Jadi, sebenarnya dia sudah resmi menjadi sekutu kami. Tapi, tidak ada salahnya jika aku mengonfirmasinya sekali lagi secara verbal.

Jika kuminta Cliff bergabung dengan fraksi Orsted, pastinya dia akan menyetujuinya.

Dengan optimisme tinggi, aku menuju ke apartemen Cliff, tapi sepertinya dia sedang bersenang-senang dengan istrinya.

Saat kudengar suara desahan Elinalise dari luar, maka aku pun tahu ini bukan saat yang tepat untuk bertamu.

Dinding kamarnya tidak begitu tebal, sehingga aku bisa mendengarkan apapun yang mereka katakan dari dalam.

Termasuk percakapan seperti, "Tidak boleh, Cliff! Clive melihat kita!"

Kalau begitu, ya lakukan saja saat bayi kalian sedang tidur, dasar ...

Saat ini aku hanya bisa meninggalkan catatan yang bertuliskan, “Nanti malam aku mampir.”

Lalu aku pergi ke tempat Zanoba.

Bagian 3[edit]

Zanoba bukan lagi seorang pangeran.

Dia menjual semua hartanya sebagai modal, dan untuk membeli tempat tinggal di dekat rumahku.

Dia membeli rumah dua lantai yang nyaman.

Dia mendesain rumahnya sebagai laboratorium penelitian patung, sehingga lantai pertama dibiarkan terbuka seperti garasi.

Ruang tamu dan ruang-ruang lainnya ditempatkan di lantai kedua.

Sepertinya dia tinggal di sana bersama Ginger dan Julie.

Rumah itu cukup besar untuk ditempati hanya 3 orang.

Tapi, aku tidak banyak tahu apa yang terjadi pada ketiga orang ini belakangan ini...

Mungkinkah Zanoba telah menikahi Ginger?

Zanoba memiliki banyak uang dari hasil menjual hartanya, jadi kurasa hidupnya cukup terjamin.

Tapi, tak peduli seberapa banyak uangnya saat ini, tentu saja akan terus berkurang bila dia tidak memiliki pendapatan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk membayarnya sebagai upah bekerja di proyek pembuatan Magic Armor.

Jadi, pekerjaannya saat ini adalah meneliti dan mengembangkan Magic Armor.

Zanoba mengambil pekerjaan itu, namun saat itu wajahnya tidak terlihat begitu senang.

"Kita membuatnya bersama-sama, tapi mengapa hanya aku yang dibayar…" begitu katanya.

Dia mengatakan itu dengan wajah cemberut.

Aku mengerti apa yang Zanoba maksudkan.

Magic Armor adalah hasil karyaku, Zanoba, dan Cliff bersama-sama.

Zanoba merasa tidak nyaman karena hanya dia yang mendapatkan uang dari pekerjaannya mengembangkan Magic Armor.

Dia merasa tidak adil.

Tapi sebenarnya, akulah yang paling tidak adil.

Akulah yang menggunakan armor itu untuk bekerja pada Orsted. Dan si bos membayarku dengan uang yang tidak sedikit. Dengan kata lain, akulah yang mengomersialkan armor itu.

Padahal armor itu milik kita bersama.

Uang adalah masalah yang sensitif di antara manusia.

Aku mendapatkan uang dari Magic Armor. Zanoba juga dapat uang dari Magic Armor. Maka, Cliff tidak boleh ditinggalkan.

Namun, Cliff tidak kekurangan uang. Dia hidup berkecukupan, sehingga aku ragu apakah dia mau menerimanya.

Yahh…. hentikan membahas uang. Ini cukup rumit.

Pokoknya, jika mereka butuh uang, aku punya banyak. Dan aku siap membayar siapapun.

Untungnya, tidak satu pun dari mereka cukup serakah untuk memperebutkan royaliti dari armor tersebut.

Kalau aku sih tidak terlalu mempermasalahkan royaliti.

Jika hidup seseorang sudah makmur, maka dia harus membahagiakan orang lain dengan hartanya.

Pokoknya, armor itu penting, dan produksi massal patung buatan Zanoba juga penting.

Masalah uang, kita selesaikan belakangan.

Itu wajar.

Untungnya, sampai hari ini pun Zanoba hidup dengan layak, tanpa kekurangan apapun.

Akhirnya aku sampai di tempat Zanoba, lalu kuketok pintunya.

Meskipun kami teman dekat, norma kesopanan tetap harus dijaga.

"Zanoba, ini aku! Buka dong!"

Aku membunyikan bel beberapa kali sambil memanggil Zanoba.

"Ooh, Shishou. Silahkan, masuklah."

Balasannya sangat cepat.

Tapi aku tidak boleh nyelonong begitu saja.

"Benarkah? Gak papa nih masuk? Kubuka pintunya ya? Jika kamu ingin menghentikanku, maka sekaranglah saatnya! Saat aku mulai bergerak, semuanya sudah terlambat!"

Terakhir kali aku nyelonong begitu saja ke ruangannya Zanoba, aku melihat adegan yang tidak pantas disaksikan.

"Aku tidak mengerti mengapa kau memintaku menghentikanmu, Shishou. Jadi, masuklah saja."

"Benarkah? Tidak ada wanita yang sedang bersalin pakaian atau semacamnya, kan?"

"Kubilang, masuklah."

Aku percaya padanya.

Aku percaya pada Zanoba.

Meskipun dunia sudah terbalik, aku akan tetap mempercayai Zanoba.

"Baiklah, maaf telah mengganggu….."

Ketika aku membuka pintu dan melangkah masuk, aku berada di dalam bengkel rumah Zanoba.

Ruangan ini cukup luas, ada dua meja lebar yang digunakan untuk proses produksi, ada beberapa kotak kayu, dan patung-patung berserakan di sana-sini.

Zanoba duduk di salah satu meja.

Julie bersamanya.

Kalau hanya itu, kurasa semuanya baik-baik saja…. tapi, ada sesuatu yang berbeda di suasana tempat ini.

Ada yang aneh dengan tempat duduk Julie.

Biasanya, Julie duduk di meja yang agak jauh dari Zanoba, sembari membuat figure.

Tapi, hari ini dia tidak duduk di kursinya yang biasa.

"......"

Julie duduk di pangkuan Zanoba, sambil mewarnai sebuah figure dengan ekspresi wajah begitu serius.

Sedangkan Zanoba, dengan hati-hati dia sedang mengikir salah satu bagian dari Magic Armor di atas Julie.

Hoi…hoi… potongan Magic Armor itu bisa jatuh menimpa kepala Julie, lho. Tapi seakan Zanoba tidak memperdulikannya.

"Zanoba ...... tanpa kusadari, kau sekarang semakin dekat dengan Julie, ya?"

"Fumu, tidak masalah, kan?"

Dengan perbedaan tinggi yang begitu kontras, mereka berdua tampak seperti kakak-beradik.

Yahh, kalau aku harus berpikiran positif, mereka hanya sedang membuat patung bersama-sama, kan ...

Harusnya semuanya baik-baik saja. Tidak ada pelecehan seksual di sini.

Apakah dia sedang menggesek-gesekkan anu-nya pada anu-nya Julie? Tidak mungkin, kan?

Tapi toh, di dunia ini tidak ada hukum pembatasan umur, jadi semua loli dianggap legal di dunia ini.

Tapi… yahh, agaknya menjurus ke situ.

Aku berusaha berbaik sangka pada mereka berdua, tapi…. sebaiknya kau lepaskan Julie, Zanoba.

"Tentu saja tidak."

Sembari mengatakan itu, aku menyeret sebuah kursi dari sudut bengkel, lalu duduk padanya.

"Jadi, Shishou, apakah yang membawamu ke sini?"

"Umu."

Tentu saja, aku tidak mengunjungi Zanoba hanya untuk mengobrol dengannya.

Aku sudah mempercayakan pekerjaan produksi Magic Armor padanya, namun ada pekerjaan lain yang ingin kuberikan.

"Sebenarnya, Zanoba, hari ini aku ingin memberikan tugas lain padamu.”

"Haah ... Tugas lain?"

"Ya."

Sambil mengatakan itu, aku mengambil selembar kertas dari saku dadaku.

Aku mengulurkannya ke Zanoba dengan kedua tangan, secara sopan.

"Ups, permisi."

Zanoba buru-buru menyisihkan Julie, membersihkan debu-debu sisa kikiran dari dadanya, kemudian menerimanya juga dengan sopan.

Meskipun dia bukan lagi seorang pangeran, namun sopan-santunnya masih membekas di kehidupan sehari-harinya.

"Fumu ... di sini tertulis: 'Zanoba Shirone telah ditunjuk sebagai pengawas pemasaran untuk proyek patung Ruijerd’.”

"Umu, terimalah pekerjaan itu."

"Aku sih mau saja menerima pekerjaan ini, tapi ...... bukankah proyek itu ditunda?"

Sebenarnya, surat pernyataan ini menerangkan dimulainya kembali proyek patung Ruijerd, yang telah direncanakan sebelumnya.

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa tiba-tiba proyeknya dimulai kembali?

Kurasa jawabannya sudah jelas.

Karena, mulai saat ini kami akan membangun koneksi dengan orang-orang penting dari negara lain, sekaligus mengumpulkan sekutu untuk melawan Laplace.

Jadi, inilah saat yang tepat untuk membersihkan nama Ras Supardia. Caranya adalah dengan melanjutkan kembali proyek patung itu, beserta buku cerita bergambar.

Akan tetapi, kami bahkan tidak tahu dimanakah Ruijerd berada.

Harusnya, Ruijerd tetap berada di Benua Iblis, namun di perulangan ini dia bertemu denganku, sehingga membawanya bertualang ke Benua Tengah.

Belakangan ini tak ada sedikit pun kabar dimanakah keberadaanya, bahkan surat juga tidak ada. Jadi, aku tidak tahu dimana posisi Ruijerd saat ini.

Ruijerd bukanlah orang yang lemah, maka kuyakin dia baik-baik saja. Tapi, karena keberadaannya tidak diketahui, maka kami tidak bisa memintanya bergabung dengan Fraksi Orsted, sebagai persiapan melawan Laplace kelak.

Yah, kuyakin dia juga tidak sedang bersembunyi.

Jadi, kita masih bisa mencarinya.

Tapi jujur saja, Ruijerd lah orang pertama yang ingin kuminta bergabung dengan Fraksi Orsted.

Aku ingin segera menemukannya, dan memintanya secara langsung.

Aku ingin memberinya kesempatan untuk membalas dendam pada Laplace ...

Aku juga sudah kangen dengannya, setelah begitu lama berpisah.

Sangatlah menyenangkan bisa bekerjasama lagi dengan teman lama, untuk mencapai tujuan yang sama.

Yahh, mungkin ini keputusan yang egois, namun aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kembali proyek patung itu.

Mengalahkan Laplace, dan membersihkan nama baik Ras Supard, itulah dua tujuan yang ingin kami capai bersama.

Selain itu, proyek patung Ruijerd juga berhubungan dengan proyek Magic Armor secara tidak langsung.

Sebenarnya, aku, Zanoba, dan Cliff sering kali menemukan jalan buntu dalam proyek pengembangan Magic Armor, sehingga Versi III tidak akan bisa dibuat dalam waktu dekat ini.

Nah, jika proyek patung Ruijerd berhasil di pasaran, maka kami juga akan mendapatkan tambahan dana.

Dana inilah yang akan kami gunakan untuk menyewa dan melatih para pengrajin lainnya. Semakin banyak orang yang bekerja pada proyek pengembangan Magic Armor, maka akan semakin cepat juga dibuatnya versi-versi selanjutnya.

Para pengrajin yang memahami teknik-teknik yang dikembangkan oleh Zanoba dan Cliff akan semakin banyak. Meskipun kami masih menggunakan metode trial-and-error, namun jika dikerjakan berulang-ulang oleh banyak orang, maka kemungkinan terjadinya inovasi akan semakin besar.

Bahkan di negara ini pun, sangat diperlukan para insinyur teknik.

"... Jadi begitulah."

Aku menjelaskan itu semua secara detail pada Zanoba.

"Mungkin ini terlalu mendadak, tapi aku ingin proyek patung Ruijerd dan Magic Armor sama-sama berkembang. Sehingga, aku ingin mempercayakan pemasarannya padamu, yang tahu lebih banyak hal daripada kami.”

"Fumu ..."

"Untuk membantumu, aku akan mengirimkan beberapa orang dari PT. Prajurit Bayaran Rudo yang terpilih. Tentu saja, Aisha juga akan membantumu dalam pemasaran ...... Jadi, bagaimana menurutmu?"

"Ya, serahkan padaku."

Zanoba mengangguk dengan mantab, lalu berlutut.

Julie yang melihatnya dari samping, juga ikut-ikutan berlutut.

"Master! Kalau aku, apa yang harus kulakukan?"

"Julie, tetaplah bersama Zanoba, dan ikuti semua arahannya."

"Ya!"

Aku juga meminta Julie bekerja dengan sungguh-sungguh.

Mulai sekarang, dia akan terlibat langsung dalam proses produksi massal patung Ruijerd tahap pertama.

Itu berarti, dia juga membantu Zanoba menghasilkan uang.

Mungkin dia akan semakin termotivasi jika mendengarnya.

"Kita akan bicarakan rinciannya besok. Untuk hari ini, sekian dulu."

"Dimengerti."

Dengan demikian, tahapan awal proyek ini kembali terlaksana.

Bagian 4[edit]

Malamnya, aku kembali ke rumah Cliff.

Sepertinya mereka sudah puas bersenang-senangnya, karena suasana rumahnya cukup tenang.

Kalau kalian melakukannya tiap hari, mungkin tetanggamu tidak ada yang betah...

Ah tidak juga, biasanya mereka melakukannya di laboratorium sekolah, jadi kurasa tidak masalah.

"Hei, Rudeus ......"

Ketika aku datang, Cliff menyambutku dengan lesu.

Dia selalu bersemangat sejak Elinalise hamil sampai melahirkan, namun entah kenapa belakangan ini terlihat lesu.

Apakah dia menderita penyakit atau semacamnya?

"Ara, Rudeus. Lama tak jumpa."

Sebaliknya, Elinalise terlihat begitu bersemangat.

Dengan wajah puas, dia menyodorkan Oppai-nya pada si bayi.

Dia telanjang dada, dan hanya mengenakan sempak.

Mungkin mereka hanya istirahat sejenak untuk memberikan kesempatan Elinalise menyusui si bayi, nanti lanjut lagi pertandingannya.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Pemandangan ini sungguh indah, neneknya istriku yang masih bohay & cantik sedang menyusui anaknya dengan bertelanjang dada.

Dia adalah Ras Elf, sehingga tubuhnya tampak begitu sempurna.

Namun sayangnya, wanita cantik ini adalah seorang tante girang yang hobi ngeseks.

Itu adalah suatu perbedaan yang begitu besar.

Namun, saat kulihat istriku, Sylphy dan Roxy, perbedaan sikap di antara keduanya juga begitu besar.

Demikian juga dengan Eris.

Saat Eris menyusui anaknya, dia hanya terdiam sembari membiarkan si bayi menghisap ASI sepuasnya. Terkadang aku ikutan menghisap, tapi dia langsung menghajarku.

Tapi yang pasti…. mereka semua memiliki suatu kesamaan, yaitu sama-sama menunjukkan aura keibuan yang kuat saat menyusui anaknya.

"Rudeus, kenapa kau terus menatap istriku?"

"Eh? Ah, maafkan aku."

Cliff segera menegurku saat aku melamun sembari memandang Elinalise.

Maaf, maaf.

Aku tidak berpikiran mesum, lho.

"Lize, juga… sudah tahu ada tamu, kenapa tidak berpakaian rapih?”

"Ara, Cliff ...... apakah kau cemburu?"

"Ya, aku cemburu. Meskipun Rudeus mungkin seperti keluarga bagimu, tapi ......"

"Aku mengerti."

Elinalise mengangkat bahu, lalu masuk ke dalam rumah bersama bayinya.

"Rudeus, kau juga. Sudah punya 3 istri, masih saja melototi istri orang lain dengan penuh nafsu.”

"Penuh nafsu? Tidak, aku hanya ......"

….tidak berpikiran kotor, kok.

Itulah yang ingin kukatakan, namun aku tidak bisa mengelak bahwa aku memelototinya.

Aku pun begitu… mana ada suami yang suka istrinya dipelototi oleh pria lain.

Aku akan minta maaf

"Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya."

"Ya......"

Cliff menghela napas panjang, lalu merebahkan dirinya ke sofa.

Dia terlihat lelah, dan juga suasana hatinya sedang buruk.

Apakah ada masalah dengan hubungan intim bersama istrinya?

"Jadi, apa tujuanmu datang ke sini?"

"Yahh, ada sesuatu yang ingin kubahas deganmu, lebih tepatnya ini adalah suatu undangan ......"

Cliff menatapku dengan mata sayu.

Dia terlihat begitu letih.

Mungkin aku harus datang lagi besok.

Tidak, sebelum pamitan, setidaknya aku ingin tahu mengapa dia terlihat begitu lelah.

"...... Apakah sesuatu terjadi padamu?"

"Tidak juga sih ......"

Cliff coba mengatakan sesuatu, namun kemudian dia gelengkan kepalanya.

"Hmmm, sepertinya aku harus membicarakan ini denganmu. Ini kesempatan yang bagus......"

Gawat, aku mulai merasakan sesuatu yang buruk. Aku jadi teringat pada masalah yang menimpa Zanoba tempo hari.

"Sebenarnya, aku mendapat surat dari kakekku di Kerajaan Suci Milis."

Surat lagi….surat lagi.

Bisa jadi, ini juga jebakan untuk memancing Cliff.

Mungkin akan terjadi perang lagi.

Mungkin ini juga ulah Hitogami.

Padahal aku sudah memilih Cliff sebagai perantara kami dengan Kerajaan Suci Milis.

Cliff pun sepertinya tidak akan menolak tawaran itu.

Tapi, mari kita dengarkan dulu ceritanya. Aku tidak akan serta-merta mengatakan, ’Abaikan saja surat itu.’, atau semacamnya.

Tentu saja, aku tentu ingin dia tinggal di Sharia, tetapi kita lihat dulu situasinya.

Cliff berdiri, lalu mengambil sepucuk surat dari lacinya.

Aku seakan merasakan De Ja Vu.

Aku sudah tahu apa isi surat itu.

Menurut dugaanku, surat itu membahas tentang berapa banyaknya uang yang telah kakeknya habiskan untuk membesarkan Cliff.

Dan mengapa dia menghabiskan uang sebanyak itu.

Semuanya, demi membantu fraksi keluarganya.

Lalu, kakeknya menginginkan balas budi, dengan menanyakan, ’Bukankah sekarang giliranmu membantu kami?’

Itu dia!

Aku tahu kemana arah pembicaraan ini.

Aku harus membacanya dengan hati-hati.

"Oh, ini bukan masalah yang serius, kok."

Cliff menggaruk pipinya sambil mengatakan itu.

Dia terlihat gelisah.

"Kami juga sudah membicarakan kepulanganku setelah lulus. Dia pun membicarakan berapa biaya untuk perjalanan pulang.”

Lalu, dia memberikan surat itu padaku untuk dibaca.

Pertama-tama, surat itu diawali dengan keprihatinan kakeknya pada kesehatan Cliff.

Kemudian, dia membahas tentang apa yang harus dilakukan jika biaya perjalan pulang terlalu mahal.

Barulah, si kakek menjelaskan bahwa konflik yang dialami keluarganya semakin parah. Jika Cliff mampu pulang, ya pulanglah. Namun jika tidak, lebih baik Cliff tinggal di sini.

Namun di bagian akhir surat, kakeknya menyatakan bahwa dia ingin melihat Cliff lagi, dan mengharapkan kepulangannya.

Secara keseluruhan, itu adalah surat yang berisikan kalimat-kalimat mengharukan, dan penuh perhatian pada Cliff. Motifnya mirip seperti surat Pax pada Zanoba tempo hari, yaitu: keluarga mengalami masalah serius, sehingga kau harus pulang.

Aku belum pernah bertemu dengan kakeknya Cliff, tetapi dia sepertinya orang baik.

Yahh, isi suratnya cukup berbeda dengan dugaanku sebelumnya, tapi intinya sama…. yaitu Cliff diminta pulang.

"Sejujurnya, aku ragu."

Saat dia mengatakan ragu, kurasa yang dia maksud adalah menuruti permintaan kakeknya untuk pulang.

"Sebetulnya aku sudah berniat untuk pulang ke Milis setelah kelulusanku dari sekolahan ini. Aku pun sering berlatih agar aku berguna saat kembali ke Milis. Aku cukup percaya diri bisa meredam kekacauan politis di Kerajaan Suci Milis, bahkan memenangkannya.”

"Kupikir juga begitu."

Cliff selalu membicarakan niatnya itu.

Dia sering mengatakan bahwa setelah lulus, dia akan kembali ke Kerajaan Suci Milis, dan meneruskan perjuangan kakeknya sebagai Uskup Agung ...

Tapi belakangan ini, dia menyadari betapa sulitnya menjadi pengganti Uskup Agung, oleh karena itu dia selalu melatih kemampuannya sebagai seorang Pendeta.

"Tapi......"

Cliff duduk di sofa, sembari menyangga kepala dengan kedua tangannya.

"Aku sudah menikah, dan punya anak sekarang."

Aku juga memahami kekhawatirannya.

Aku pun begitu, keluarga selalu menjadi inti keresahanku.

"Ordo Gereja Milis selalu mengincar yang lemah ... sebagai musuh."

"......"

"Aku sih tidak khawatir dengan Lize, dia kuat dan bisa melindungi dirinya sendiri. Tetapi Clive masih kecil. Aku ....... tidak yakin bisa melindunginya.”

Aku mengerti perasaannya.

Kau ingin orang tersayangmu berada di tempat yang aman.

"Namun, aku belum memberitahu kakek bahwa aku telah menikah. Jika mereka tahu cucu seorang Uskup Agung menikahi bangsa Elf, maka akan terjadi skandal-skandal yang tidak diharapkan. Bahkan, mungkin saja kakek akan kehilangan posisinya.”

Agama Milis memiliki sentimen kuat pada ras selain manusia.

Elf adalah ras yang berasal dari Hutan Agung, wujudnya pun menyerupai manusia, jadi mereka tidak begitu membencinya.

Namun, selalu ada penganut Agama Milis yang terlalu fanatik. Mereka tidak akan menerima siapapun yang tidak berasal dari ras manusia.

Sayangnya, Elinalise juga punya reputasi buruk, bahkan di kalangan sesama ras Elf sekalipun.

"Semakin aku memikirkannya, semakin ragu aku pulang ke Milis. Lize terus menghiburku…. namun, aku tahu itu tidak menyelesaikan masalah. Akhirnya aku paham, mengapa saat itu Zanoba begitu keras kepala.”

Cliff pribadi mungkin ingin kembali, karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya.

Tapi, itu sama saja dengan membahayakan nasib keluarganya.

Kakeknya pun bisa menjadi korban jika orang-orang tahu bahwa cucunya menikahi ras Elf.

Kalau sudah begini, apa yang harus dia lakukan?

Dia tidak tahu.

Aku juga tidak tahu.

Tetapi hari ini, aku datang ke sini juga untuk membicarakan tentang Kerajaan Suci Milis.

Mungkin aku harus membantunya.

"Cliff-senpai."

"............Apa?"

"Sebenarnya…. aku datang ke sini untuk memintamu bergabung dengan Fraksi Orsted."

Cliff menatapku dengan wajah bingung.

Mungkin ini bukanlah saat yang tepat mengatakan itu.

Tapi, aku harus mengutarakan niatku sejelas mungkin.

"Apa maksudmu mengatakan itu?"

"Jika kau menerima tawaranku, maka aku bisa membantumu sekuat tenaga. Mungkin, aku bisa menolongmu melindungi Elinalise-san dan Chive, bahkan memenangkan persaingan politik di Kerajaan Suci Milis.”

Cliff mengerutkan alisnya.

"Lalu, apa yang harus kulakukan?"

"Kau harus membantu kami mempersiapkan berbagai hal sebelum bangkitnya Dewa Iblis Laplace."

Kemudian, aku bicarakan semua rencana kami secara rinci.

Delapan puluh tahun lagi, Dewa Iblis Laplace akan kembali bangkit untuk mengancam perdamian dunia. Di saat itulah, kita harus melawannya dengan membantu Orsted sebagai pemeran utamanya.

Aku sudah berbicara dengan Cliff tentang Hitogami, tapi kali ini aku mengungkapkan semuanya dari awal.

"......"

Setelah selesai membicarakan semuanya, Cliff justru tampak bingung.

"Apa yang kau pikirkan?"

Waktu kutanyakan itu, Cliff terdiam beberapa saat.

Dia bersedekap, memejamkan matanya, dan mengerang kesusahan.

"Hmmm......"

Harusnya tawaranku ini bukanlah hal yang buruk.

Cliff juga sudah tahu bahwa rasa takut yang dipancarkan oleh Orsted hanyalah efek dari kutukan.

Namun, bukan berarti dia tahu semua rahasia Orsted….

Tapi yang jelas, aku tetap akan membantu Cliff. Dia adalah suami neneknya istriku, yang berarti kami masihlah kerabat dekat. Sudah selayaknya aku memberikan bantuan saat Cliff kesulitan, toh dia pernah menolongku beberapa kali sebelumnya. Bahkan tanpa Cliff, Magic Armor tidak akan bisa dikembangkan sampai sejauh ini.

Meskipun begitu, tampaknya dia masih meragukan tawaranku.

"Bolehkah aku ...... meminta waktu lebih lama lagi?"

Setelah merenung beberapa saat, itulah yang Cliff katakan.

"Aku akan memutuskannya setelah upacara kelulusan."

Sepertinya Cliff perlu berpikir lebih jauh, maka aku tidak punya pilihan selain menyetujuinya.

Aku penasaran, mengapa dia tidak langsung saja menyetujuinya. Apakah ini pilihan yang sulit?

Tapi, mungkin Cliff sendiri tidak tahu apa yang dia ragukan.

"Jika kau kebingungan, berdiskusilah dengan Elinalise-san. Kau tidak perlu menanggung semuanya sendirian.”

"Eh? Ya, kau benar juga. Terima kasih."

Kali ini, Cliff mengangguk dengan kalem, sembari tersenyum lemah.

Elinalise mendengar percakapan kami sejak tadi.

Aku menyadarinya setelah melihat helaian rambut pirang yang sedikit melambai dari celah pintu.

Aku yakin dia bisa memberikan saran yang membangun pada Cliff.

Tadinya, aku menduga dia akan segera menerima tawaranku tanpa pikir panjang, namun ternyata tidak semudah itu ......

Yahh, kurasa tidak masalah.

"Kalau begitu, aku pamit dulu."

"Ya. Maaf tidak segera memberimu jawaban pasti."

"Tidak masalah, jika berada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama."

Setelah mengatakan itu, aku meninggalkan rumah Cliff.

Dan aku tidak lupa mengedipkan mata pada Elinalise.

Mari kita tunggu jawabannya setelah upacara kelulusan.

Ada jeda waktu sekitar 2 bulan sebelum wisuda digelar.

Sembari menunggu, mungkin aku harus membantu Zanoba mengembangkan proyek patung Ruijerd?

Bab 2: Kelulusan Zanoba Dan Cliff[edit]

Bagian 1[edit]

Selama dua bulan ke depan, Zanoba dan aku akan bekerja menata toko pertama kami.

Untuk mewujudkannya, kami mendapatkan bantuan dari seorang yang sudah profesional di bidang ini.

Dia adalah salah seorang pekerja di PT. Rudo.

Dulunya dia adalah seorang pedagang, sehingga dia pernah memiliki sebuah toko selama beberapa waktu.

Namun, ia bangkrut, dan kehilangan semuanya ...

Sebenarnya, aku tidak berharap banyak dari saran orang yang gagal.

Jika kau tidak memahami apa penyebab kegagalanmu, maka kau akan mengalami kesalahan serupa.

Aku mempelajari kalimat itu dari diriku sendiri, karena aku sering kali mengulangi kesalahan yang sama. Bagaimanapun juga, pengalaman adalah guru terbaik.

Namun, kegagalan adalah bagian penting dari suatu proses.

Orang itu masih bisa berguna jika dia menceritakan semua kegagalannya pada kami.

Kemampuan seseorang tidak akan berkembang, jika dia berhenti setelah mengalami kegagalan.

Tak seorang pun bisa mencapai 100% keberhasilan.

Mungkin tingkat keberhasilanmu hanya 60%, namun kau sudah dianggap lulus untuk menempuh tahap selanjutnya.

Sisa 40%-nya adalah kegagalan, dan itulah yang harus kau pelajari untuk meningkatkan keberhasilanmu, agar menjadi lebih dari 60%.

Orang ini pasti akan meraih kesuksesan di kemudian hari, jika dia belajar dari kegagalan.

Lantas, aku pun mendirikan toko pertama kami, atas saran orang ini.

Kami menyewa gudang kecil di pinggiran Distrik Pengrajin.

Setelah memodifikasinya, gudang itu berubah menjadi toko yang siap menjajakan produk-produk kami.

Jika dananya sudah mencukupi, kami bisa memperluas gudang ini nanti.

Sebagai permulaan, toko sekecil ini sudah bagus. Target awal pemasaran juga tidak perlu terlalu tinggi, asalkan dapat tercapai.

Tidak masalah jika kami menimbun produk-produk kami, yang penting beberapa di antaranya laku terjual. Tidak seperti makanan, patung tidak akan membusuk.

Kami akan memutuskan bagaimana langkah selanjutnya, setelah mengevaluasi progres penjualan ini.

Bagian 2[edit]

Akhirnya, tiba saatnya upacara kelulusan Akademi Sihir Ranoa.

Upacara wisuda ini diadakan di auditorium utama.

Cliff berbaris bersama para lulusan lainnya.

Bahkan, Zanoba juga ikut berjejer di belakang.

Meskipun sudah di-drop out, dia telah diijinkan mengikuti wisuda dengan surat khusus.

Mereka adalah siswa khusus, jadi sebagian besar masa study-nya dihabiskan dengan belajar sendiri. Mungkin atas dasar itulah Zanoba masih dianggap sebagai pelajar di Akademi Sihir Ranoa, karena sampai saat ini pun dia masih meneliti Magic Armor.

Namun, sebagiannya juga karena kemurahan hati Wakil Kepala Sekolah Jinas, sehingga Zanoba diperbolehkan menghadiri wisuda.

Sayangnya, nampaknya Zanoba tidak begitu tertarik dengan upacara ini.

Padahal, upacara kelulusan seperti ini memiliki arti yang begitu dalam bagi sebagian orang.

Upacara ini begitu besar, sampai-sampai terasa seperti karnaval.

Jumlah pelajar yang lulus sekitar 500 orang, semuanya dikumpulkan pada tempat ini, bersama 200 – 300 staff akademi.

Roxy tampak sedikit gugup menghadiri acara ini, tapi dia terlihat cocok berbaris bersama para guru lainnya.

Apakah dia sudah terbiasa dengan pekerjaan ini?

Meskipun Roxy terlihat lebih kecil dari kebanyakan guru yang hadir, namun itu tidak masalah.

Semuanya baik-baik saja.

Hanya anggota Dewan Siswa yang diperbolehkan hadir sebagai perwakilan dari pelajar-pelajar lain yang masih aktif bersekolah.

Dipimpin oleh Norn dengan Kiritsu yang berotot, sekelompok pelajar yang terdiri dari Ras Hewan dan Ras Iblis berbaris di sana.

Saat Ariel masih menjabat sebagai ketua, kelompok itu sebagian besar hanya beranggotakan ras manusia.

Beda pemimpin, beda pula kebijakannya. Sepertinya Norn memberi lebih banyak kesempatan pada ras-ras selain manusia untuk menjadi anggota Dewan Siswa.

Kalau tidak salah, sewaktu upacara masuk tahun lalu, banyak Ras Iblis dan Hewan yang tertarik dengan Norn.

Aku juga jarang mendengarkan rumor-rumor buruk tentang Norn dari pelajar lainnya.

Mungkin dia tidak sepopuler Ariel, namun dia cukup diakui sebagai Ketua Dewa Siswa yang baik.

Sebagai kakaknya, aku pun turut bangga.

Oh iya, aku bukanlah anggota Dewan Siswa, tapi aku diperbolehkan menghadiri upacara ini oleh Jinas. Aku duduk di bangku terendah di bawah tribun anggota Dewan Siswa.

Tak peduli berapa kali pun aku melihatnya, upacara kelulusan tetaplah mengesankan.

"Perwakilan dari para lulusan, Brooklyn Von Eruzais, harap maju ke depan! Dengan ini, aku memberikan sertifikat Guild Penyihir tingkat D padamu!”

Perwakilan lulusan kali ini bukanlah Cliff.

Sebelumnya, aku tidak pernah bertemu dengan si Brooklyn ini, namun sepertinya aku pernah mendengar nama itu, entah dimana.

Sepertinya itu nama bangsawan dari daerah Neris, yang merupakan salah satu dari Tiga Serangkai Sihir.

Nama sekolahan ini memanglah Akademi Sihir Ranoa, namun Ranoa hanyalah salah satu dari Tiga Serangkai Sihir sebagai pendirinya.

Maka, wajar saja salah seorang bangsawan dari Neris ditunjuk sebagai perwakilan lulusan. Tampaknya, ada semacam peraturan tidak tertulis yang menyebutkan bahwa perwakilan lulusan sebaiknya ditunjuk dari putra-putri bangsawan Tiga Serangkai Sihir.

"Aku, Brooklyn Von Eruzais, dengan bangga menerimanya!"

"Semoga ilmu sihirmu berguna kelak."

Cliff hanya menonton dengan wajah lesu.

Cliff yang dulu pasti sudah mengamuk, sembari berteriak, "Kenapa bukan aku yang berdiri di sana!?"

Sebenarnya, jika dilihat dari hasilnya, tak seorang pun di sini melebihi prestasi Cliff.

Dia sudah menguasai keempat sihir serangan sampai tingkat lanjut, begitupun dengan sihir penyembuhan, detoksifikasi, dan penyucian. Sedangkan untuk sihir penghalang, dia hanya menguasai sampai tingkat menengah.

Ditambah lagi, penelitian tentang kutukan yang menjadi thesis-nya.

Dia memang belum menguasai tingkat Saint pada satu jenis sihir pun, namun tak ada pelajar lain yang melebihi pencapaiannya.

Meskipun kau mencari di daftar sejarah lulusan akademi, jarang sekali ada orang yang bisa menandingi prestasi Cliff.

Sejauh yang aku tahu, orang seperti itu sudah selevel dengan Roxy.

Aku tidak termasuk, karena aku baru saja mempelajari sihir detoksifikasi dan penyembuhan di sekolahan ini.

Selain itu, Cliff juga memenuhi semua syarat sebagai Uskup Agung Milis.

Dia bisa mencapai prestasi setinggi ini, meskipun tiap malam harus melayani Elinalise. Tampaknya, kehidupan seksnya sama sekali tidak berpengaruh pada prestasi Cliff.

Semuanya dia capai di sekolahan ini. Fisik dan mentalnya juga semakin dewasa. Dia sudah bukan lagi Cliff egois dan sombong yang kukenal dulu.

Dia menikahi seorang wanita cantik, dan sudah dikaruniai anak.

Dia sudah menjadi Riajuu [3] yang sempurna.

Namun, mungkin dia kecewa karena tidak ditunjuk sebagai perwakilan lulusan.

Wajahnya tampak lesu dan murung.

Dia masih belum memberikan jawaban atas tawaranku tempo hari.

Mungkin juga, dia belum memutuskan pilihannya, sehingga pikirannya semakin terganggu.

Mungkin 2 bulan tidaklah cukup untuk memutuskan hal seperti itu.

Bagian 3[edit]

Setelah upacara kelulusan berakhir, aku langsung bergabung dengan Zanoba dan yang lainnya.

Ginger dan Julie berdandan dengan gaun yang bersematkan karangan bunga di belakangnya.

Tidak ada orang lain yang berdandan seperti itu.

Aku penasaran, apakah itu tradisi Kerajaan Shirone?

"Zanoba, selamat atas kelulusannya."

"Ah! Shishou! Terima kasih banyak!"

Zanoba mengenakan seragam resmi Akademi Sihir Ranoa.

Meskipun dirancang untuk kaum muda, bukannya untuk kebangsawanan Shirone, pakaian itu tetaplah cocok untuknya.

"Aku tidak lagi berharap mengikuti upacara kelulusan seperti ini.... jadi, aku benar-benar terkejut saat akademi mengirimkan surat itu padaku.”

"Sangat menyenangkan bukan, menghadiri upacara yang membanggakan seperti ini? Inilah pertanda bahwa kau akan memulai hidup baru setelah kelulusan.”

Memang harusnya begitu, seseorang harusnya bangga bisa merayakan kelulusannya secara resmi. Ini merupakan momen-momen penting dalam kehidupan.

Sayangnya, Sylphy tidak bisa bergabung dengan mereka. Itu membuatku sedih.

Sebaliknya, Zanoba hanya menganggap acara ini sebagai gangguan saja.

"Kau tidak menyukai acara ini, Zanoba?"

"Yahh, awalnya sih begitu, tapi saat datang ke ruangan ini, kurasa aku salah.”

Sementara kami mengobrol, Zanoba melihat sekelilingnya.

Para lulusan berkeliling untuk bersalaman dengan guru-gurunya.

Adegan ini sungguh mengharukan.

Tunggu…tunggu…sepertinya aku salah. Mereka tidak berkeliling mengitari para guru.

Mereka berkeliling pada Norn!

Ada seorang pria Ras Hewan yang sedang menjabat tangannya dengan wajah merona.

Norn tampak kebingungan, sedangkan para anggota Dewan Siswa dari Ras Hewan lainnya hanya bisa menyeringai kesal. Apa-apa’an ini? Apakah ini acara pengakuan cinta?

Mereka mengerumuni Norn hanya untuk bersalaman dengannya.

Dengan kata lain, upacara kelulusan ini berubah menjadi acara jabat tangan Norn dengan para fansnya.

Semisal aku menjual patung Ruijerd pada mereka, dengan bonus tiket bersalaman dengan Norn, apakah mereka mau membelinya?

Tidak, uang bukanlah tujuan utamaku menjual patung Ruijerd.

Tidak jauh dari sana, Roxy malah dikerumuni oleh para gadis.

Ada sekitar 5 cewek yang menunduk padanya dengan berlinang air mata.

Roxy hanya tersenyum sedikit, namun aku tahu dia sedang menahan tangis. Akhirnya ada seorang gadis yang tidak sanggup menahan emosinya, kemudian dia menangis tersedu-sedu di pelulan Roxy.

Dengan bingung, Roxy coba menenangkan gadis itu sambil menepuk-nepuk kepalanya.

Tangis itu menular pada cewek-cewek di sebelahnya.

Acara ini berlanjut dengan para lulusan yang berkerumun di beberapa tempat. Sepertinya mereka mulai membuat acaranya sendiri.

Suasana upacara kelulusan yang khidmat, perlahan berubah menjadi meriah.

Namun, tak ada seorang pun yang mendekatiku dan Zanoba.

Aku memang sudah tidak bersekolah lagi, dan beberapa kenalanku juga sudah lulus, tapi rasanya sepi juga ya.

Yahh, gak papa lah.

Setelah ini kami akan minum-minum di kedai.

Rinia, Pursena, dan keluargaku juga akan datang.

Nanahoshi juga diundang. Kami akan pesta minum untuk merayakan kelulusan Zanoba dan Cliff. Ini pasti akan menjadi pesta yang menyenangkan.

Orsted tidak bisa datang, tapi dia sudah mengirimkan ucapan selamat.

Aku memang kesepian di upacara kelulusan ini, namun bukan berarti aku tidak punya teman.

Yahh, kalau begitu, kami akan segera pamit dari acara ini.

"Rudeus-sama."

Saat aku hendak beranjak, tiba-tiba seorang pria mendekatiku.

Pria berambut ikal dan pirang ini mungkin berusia 20 tahunan.

Saat melihatnya, aku jadi teringat pada seseorang.

Dimana ya......

"Senang bertemu denganmu, namaku Brooklyn Von Eruziaz."

Oh iya.... dia kan pria bangsawan yang menjadi perwakilan lulusan tadi.

Bagaimana bisa aku melupakan orang yang barusan kulihat beberapa saat yang lalu.

"Ah, kau kan perwakilan lulusan yang tadi maju ke atas panggung... Selamat ya..."

"Terimakasih banyak."

Saat aku menundukkan kepalaku, dia segera melakukan hal yang sama dengan sopan.

"Aku mendapatkan kehormatan itu hanya karena nama besar keluargaku. Tapi dari segi nilai akademis, aku selalu berada di bawah Cliff-sama."

"Wah, begitu ya ...."

Keringat dinginku hampir mengucur.

Aku hanya ngomong tanpa pikir panjang.

Aku bahkan tidak tahu sesengit apa persaingan orang ini dengan Cliff dalam menjadi yang terbaik di sekolah ini.

"Namun, berkat kedudukan keluargaku, aku bisa memenangkan persaingan melawan Cliff-sama pada saat-saat terakhir. Dia pun kalah dariku .... "

Dia telah memenangkan persaingan itu dengan menjadi perwakilan lulusan.

Yahh, sebut saja kemenangan, meskipun sebenarnya prestasi keduanya begitu jauh berbeda.

"... Rudeus-sama….."

Brooklyn menatap langsung padaku.

Sorot matanya dipenuhi dengan ketulusan.

Jangan-jangan kau….jangan-jangan kau…. ingin mengutarakan cintamu padaku?

Kau ini gay atau apa….??

Hentikan, aku sudah punya 3 istri dan 3 anak.

"Aku ingin berduel melawanmu."

Oh, ternyata tidak.

Hm?

Duel ....?

Belakangan ini, sudah banyak orang yang tahu bahwa aku telah menjadi bawahannya Orsted, sehingga banyak bermunculan orang seperti dia ...

Aku tahu kau sudah menang bersaing dengan Cliff, tapi kenapa selanjutnya aku yang kau tantang?

"Mengapa?"

"Aku ingin tahu sudah seberapa jauh berkembangnya kekuatanku. Dan aku tahu kemampuanmu melebihi rata-rata penyihir di sekolahan ini.”

Yahh, aku tidak menyangkalnya, sih ...

Tapi ayolah, ini bukan main-main.

Mungkin aku harus memberikan 1 – 2 pukulan pada kepalanya, lalu kabur.

"Rudeus-sama, apakah kau menerima tantanganku?"

"...sepertinya begitu?"

"Aku sangat ingin melawanmu, semenjak kau berhasil mengalahkan Raja Iblis Badigadi dalam sekali serangan.”

Brooklyn mengatakan itu sambil mengepalkan tangannya erat-erat.

"Aku berasal dari keluarga prajurit. Saat kembali ke negaraku nanti, aku akan memimpin sejumlah pasukan. Saat itulah, aku tidak lagi bisa menemukan orang hebat yang bisa kuajak bertanding. Sehingga, aku tidak bisa lagi menguji kemampuanku.”

"Saat sudah memimpin sejumlah pasukan nanti, kau memang tidak boleh mencari-cari musuh untuk ditantang, lho.”

"Tepat sekali. Jadi, inilah saat yang tepat untuk mengujinya. Kumohon, terimalah tantanganku!”

Brooklyn segera membungkuk.

Aku mengerti niatnya.

Setiap pemuda selalu ingin menguji sampai seberapa jauh kemampuannya.

Dia tahu bahwa kemampuanku berada di atas rata-rata.

Sehingga, dia pun menemukan orang lebih kuat darinya, yang pantas diajak berduel.

Mungkin dia tahu tidak akan menang melawanku, namun dia masihlah ingin menantang dirinya sendiri.

Namun, hanya ada satu hal yang tidak kumengerti.

"Apakah tantangan ini ada hubungannya dengan Cliff?"

"Eh?"

Saat kutanyakan itu padanya, wajah Brook tampak kebingungan.

"Aku pernah dengar jika seseorang ingin menantang Rudeus-sama, maka dia harus mengalahkan Enam Iblis terlebih dahulu. Mereka adalah, Rinia-sama, Pursena-sama, Fitts-sama, Badigadi-sama, Zanoba-sama, dan Cliff-sama. Empat di antaranya tidak lagi bersekolah di sini. Aku telah mengalahkan Cliff-sama, maka aku sudah boleh menantang Rudeus-sama sekarang.”

"...."

Enam Iblis ...

Yahh, kalau tidak salah, memang ada rumor seperti itu.

Aku tidak tahu siapa yang pertama kali menyebarkan rumornya.

Jika kau tidak bisa mengalahkan keenamnya, maka kau tidak boleh menantangku.

Rupanya dia percaya sekali dengan rumor itu ...

"Bukannya kau juga harus mengalahkan Zanoba terlebih dahulu?"

"Aku pernah menang darinya lebih dari sekali saat latih tanding di kelas.”

"Aku paham."

Ketika aku melirik Zanoba, dia mengalihkan pandangannya.

... Yah, kalau ditantang duel sihir, Zanoba tidak banyak punya peluang.

Bagaimana dengan Cliff? Kurasa jika bertarung secara adil, dia tidak akan bisa mengalahkan Cliff. Namun, bagaimanapun juga ini adalah kesempatan terakhirnya berduel. Dan dia memilih aku, sebagai salah satu orang terkuat di sekolahan ini, sebagai lawannya.

Aku paham.

Ini juga bagian perayaan kelulusan baginya.

"Yahh, apa boleh buat, tampaknya aku harus mengalahkanmu, meskipun kau baru saja merayakan kelulusan ..."

Aku tidak boleh mengecewakannya.

Karena ini adalah kesempatan terakhirnya.

Ini mirip seperti seorang cowok yang menyatakan cintanya pada si cewek, tanpa takut ditolak.

"Justru itu yang kuinginkan, Rudeus-sama."

Tak peduli bagaimanapun caranya, kau pasti ingin membuat suatu hal yang berkesan di hari wisudamu.

“Maaf Zanoba, sepertinya kau harus menjadi wasit kali ini.”

“Aku mengerti, Shishou.”

" .... ! Terima kasih banyak!"

Brooklyn membungkuk dengan cepat.

Aku melepaskan mantelku pada Zanoba.

Aku sempat berpikir untuk menggunakan Magic Armor, tapi itu tidak perlu…. aku akan baik-baik saja.

Untuk memulai duel, kami harus berpindah ke halaman sekolah. Aku memprediksi bahwa duel ini akan berlangsung sekitar 3 jam.

Bagian 4[edit]

Hasilnya: akulah pemenangnya.

Aku telah berlatih dengan Dewa Naga Orsted dan Raja Pedang Eris setiap hari.

Pria ini bukan levelku. Mengalahkannya sangatlah mudah, bagaikan mengambil permen dari mulut anak kecil.

Dulu aku sering mengalah pada lawan-lawanku, namun sekarang tidak lagi.

Brooklyn tampaknya juga sudah tahu bahwa dia tidak akan bisa mengalahkanku.

Namun, dia masih mengucapkan terima kasih dengan wajah cerah.

Aku menghargainya.

Setelah melihat duel kami, para lulusan lainnya berdatangan untuk menguji kemampuannya denganku.

Mereka memiliki berbagai alasan yang tidak aku mengerti. Jika ingin melawanku, harusnya mereka sudah mengalahkan Cliff dan Zanoba, tapi sepertinya peraturan itu sudah tidak lagi berlaku.

Sejumlah besar penonton juga mulai berkumpul, sepertinya aku semakin terkenal.

Aku tidak lagi punya alasan untuk menolak tantangan mereka, dan aku pun meladeninya satu per satu.

Mereka ingin mendapatkan pengalaman berharga setelah wisuda, dan rumor tentang Enam Iblis itu juga bukan dariku.

Jika aku meladeni mereka, setidaknya orang-orang yang mengganggu Norn akan berkurang.

Tapi, Norn pun tambah sibuk, karena dia harus membubarkan para penonton yang semakin berkumpul.

Aku tidak bermaksud membuat keributan, tapi aku juga tidak bisa mengecewakan mereka dengan menolak tantangannya.

Maafkan aku, Nona Ketua Dewan Siswa.

"Fiuh"

Setelah itu, aku berduel melawan sekitar 20 orang.

Aku tidak kelelahan, mungkin itu karena staminaku yang semakin baik setelah berlatih rutin tiap hari.

Semuanya pun senang.

Semuanya pergi dengan wajah puas.

Kurasa duel ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagi mereka, bahkan setelah kembali ke negara asal masing-masing.

Setelah semuanya pergi, suasananya pun mejadi sepi. Namun, Norn belum boleh pulang karena harus membersihkan tempat wisuda.

Yang tersisa hanyalah Zanoba bersama Ginger dan Julie.

"Shishou memang hebat, kau sangat populer."

Zanoba tampak lelah setelah begitu lama menjadi wasit.

Entah kenapa, Otaku ini mudah lelah, padahal fisiknya kuat.

"Aku lelah ... Bagaimana denganmu, Shishou? Apakah kau juga lelah?"

"Tidak, aku baik-baik saja. Setelah ini, kita akan pesta minum-minum di kedai, jadi lebih baik kita bergantu baju yang sudah kotor ini.”

"Hmmm ... aku mengerti."

Setelah mengatakan itu, Zanoba melihat pakaiannya sendiri.

Ada lumpur yang terciprat pada bajunya akibat sihir bumi, namun sudah mengering, dan meninggalkan noda.

Yahh, itulah konsekuensinya, karena dia berada di dekat kami yang sedang berduel.

"Kalau begitu, ayo cepat pulang. Bagaimana dengan adikmu?"

"Norn bilang dia harus membantu membersihkan tempat wisuda. Dia tahu letak kedainya, jadi dia akan menyusul nanti.”

"Begitu ya..."

Kemudian, Zanoba tiba-tiba memandang ke arah lain.

Dia melihat sesuatu di belakangku, dan sedikit ke atas.

Aku segera menoleh ke arah yang sama.

Itu dia.

Ada seseorang berambut coklat gelap yang mengintip dari balkon.

Di sampingnya, ada seseorang berambut ikal keemasan yang tertiup angin.

"Julie, Ginger."

"Ya."

"Pulanglah kalian, kemudian siapkan baju ganti untukku."

"Baik."

Keduanya mengangguk, lalu pergi.

Katanya, hubungan mereka sudah bukan lagi tuan dan hamba, namun sepertinya tidak ada perubahan bagiku.

Hubungan mereka tidak bisa berubah secepat itu.

"Shishou, ayo kita datangi mereka."

"Ya."

Setelah mengangguk pada Zanoba, aku pun memasuki gedung bersamanya.

Bagian 5[edit]

"Aku telah melihat semuanya. Rudeus memang kuat."

Setelah sampai di balkon, kami mendapati Cliff yang wajahnya tampak lelah.

Di sampingnya ada Elinalize.

Elinalise datang ke acara kelulusan untuk mendampingi Cliff, sedangkan Clive sudah dititipkan pada keluargaku.

Dia mengenakan seragam sekolah, padahal sudah keluar.

Apakah memang peraturannya begitu?

Yang jelas, hari ini adalah hari bersejarah bagi sang suami, jadi wajar saja dia datang mendampinginya.

Tidak masalah dia mengenakan baju apapun, asalkan sopan.

"Bukankah sudah seharusnya begitu? Dia kan Tangan Kanan Dewa Naga."

"Jangan meledekku. Toh, sebelum berlatih dengan Orsted pun aku bisa mengalahkan mereka.”

"Ya, itu benar."

Sembari mengatakan itu, Cliff bersandar pada pagar balkon.

"Cliff-senpai, kenapa kau di sini?"

"Iseng saja, terkadang aku ingin naik ke tempat yang tinggi.”

Cliff berkata begitu sambil menatap langit.

Naik ke tempat yang tinggi.

Yah, terkadang beberapa orang juga ingin melakukannya.

Kalau aku sih tidak suka dengan tempat yang tinggi, jadi biasanya aku pergi ke makam Paul.

"Oh iya, selamat atas kelulusanmu, Cliff-senpai."

"Terima kasih."

Aku menghampiri Cliff di sebelahnya, kemudian menyandarkan tubuhku pada pagar balkon.

Saat berada di balkon seperti ini, aku jadi teringat adegan mengerikan tempo hari saat Pax tiba-tiba melompat untuk bunuh diri. Tapi Cliff tidak akan melakukan hal seperti itu.

Zanoba mendekat ke sisi Cliff.

Elinalize berdiri di samping, hanya melihat kami bertiga.

Cliff masihlah sangat muda, dia berusia 20-an tahun sekarang.

Namun, begitu banyak hal yang membebani hidupnya, mulai urusan kerja sampai keluarga.

Dia tampak begitu tertekan.

Tapi, kuyakin kata bunuh diri tidak akan pernah terlintas di pikirannya.

Dia pria yang kuat dan bertanggung jawab. Tidak mungkin dia mengakhiri hidupnya sendiri saat anaknya baru lahir, dan karirnya mulai berkembang.

"Cliff-senpai, apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

Apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakan itu?

Silahkan saja jika kau ingin pulang bersama Elinalise, kemudian bergulat semalaman dengannya. Atau, ikut kami minum-minum di kedai sampai puas.

Sebenarnya itulah yang ingin kutanyakan.

"...."

Cliff hanya menanggapi pertanyaanku dengan diam.

Sesulit itukah jawabannya?

Ataukah, kau mau bergulat sama Elinalise di sini? Kau suka wanita yang mengenakan seragam sekolah, ya?

"... Aku sudah membicarakan ini dengan Lize, dan mempertimbangkannya."

Cliff berhenti selama beberapa detik, kemudian berbicara lagi.

"Aku minta waktu setahun lagi."

Untuk beberapa saat, aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Mengapa kau butuh waktu selama itu untuk memutuskan ingin minum-minum bersama kami, atau bermalam dengan istrimu?

Kami sudah memesan tempat di kedai itu untuk malam ini.

Tidak mungkin kami menundanya sampai tahun depan.

"Apakah karena anakmu?”

Aku mulai mengerti apa maksud Cliff saat Zanoba menanyakan itu.

Dua bulan lalu aku memberinya deadline untuk menerima tawaranku.

’Apa yang akan kau lakukan setelah ini?’ itulah yang kutanyakan. Sebenarnya, aku tidak berniat menagih jawaban itu, namun ternyata dia salah sangka. Cliff pikir, aku ingin menanyakan rencananya ke depan, termasuk keputusan apakah menerima tawaranku atau tidak.

"Ya, Clive masih terlalu kecil saat ini. Aku ingin terus bersamanya, setidaknya sampai dia cukup besar.”

Dengan wajah serius, Cliff melihat pemandangan Kota Sihir Sharia jauh di sana.

Dari atas sini, pemandangan seluruh kota bisa terlihat dengan jelas.

Rumahku terlihat sedikit beda karena beratap hijau ...

"Kau membutuhkan waktu 2 tahun untuk menempuh perjalanan dari kota ini menuju Kerajaan Suci Milis. Tapi Rudeus, waktunya bisa semakin dipersingkat bila menggunakan lingkaran sihir teleportasi. Aku berharap, situasinya akan jauh berbeda bila aku tiba lebih cepat.”

Sepertinya Cliff benar-benar berharap bisa pulang setelah kelulusannya.

Karena memang itulah misinya selama bersekolah di sini.

"Bolehkah aku menggunakan sihir teleportasi?"

"Tentu saja kau boleh menggunakannya."

"Terima kasih."

Sihir teleportasi masihlah dianggap tabu di dunia ini.

Itu bukanlah sihir yang boleh digunakan oleh sembarangan orang, meskipun dalam keadaan darurat. Sehingga, itulah yang membuat Cliff ragu menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

"Kemudian, tentang masalah bergabung dengan fraksimu….”

Cliff sepertinya kesulitan mengatakannya.

Apakah dia akan mengatakan ya, atau tidak?

Setidaknya, dengarkan dulu alasannya, agar bisa kubujuk dia…

"Aku juga ingin menunda dulu tawarannya."

"Menunda?"

"Ah, bukannya aku meragukan bantuan kalian. Dengan dukungan Dewa Naga Orsted, aku pasti bisa meraih posisi penting di Kerajaan Suci Milis.”

Ya, itu juga terjadi pada Ariel.

Orsted pun pasti sudah terbiasa bekerja dengan Kerajaan Suci Milis di perulangan-perulangan sebelumnya. Itu karena kerajaan sebesar Milis pasti berpengaruh pada upayanya mengalahkan Hitogami.

Sehingga, dia tahu siapakah orang-orang yang akan mendapatkan posisi penting di kerajaan itu.

"Namun…. sepertinya aku tidak menginginkannya."

"...."

"Karena, aku lebih suka menggunakan kekuatanku sendiri. Aku ingin tahu, seberapa tinggi posisi yang bisa kuraih di Kerajaan Suci Milis dengan usahaku sendiri. Aku tidak ingin duduk di singgahsana yang dibuat oleh orang lain.”

Cliff mengepalkan tangannya saat mengatakan itu.

Aku bisa memahami tekadnya.

Ini sama seperti orang-orang yang menantangku berduel tadi.

Memang seperti inilah seorang pria seharusnya. Mereka ingin menguji kemampuannya sendiri.

Cliff juga seorang pria.

"Jika aku sudah berhasil mendapatkan posisi penting di Kerajaan Suci Milis, maka aku akan menjadi sekutumu.”

Hmmmm.

Cliff ingin meraih posisi puncak dengan jeri payahnya sendiri, sedangkan aku tidak diperbolehkan membantunya.

Tapi itu bukanlah pekerjaan mudah.

Persaingan politis selalu mempertaruhkan nyawa.

Menurut catatan si kakek, Cliff akan mati mengenaskan di tangan orang-orang Milis.

Aku tidak ingin itu terjadi.

Aku tidak boleh membiarkan satu pun takdir si kakek terjadi pada kehidupanku.

Tapi, ini masalah harga diri. Cliff tidak ingin dibantu karena tekadnya yang begitu kuat. Apakah aku harus membiarkannya saja?

"Jadi, bagaimana keputusanmu, Cliff? Apakah kau tetap akan kembali ke Milis?”

Justru Zanoba yang menanyakan itu, bukannya aku.

Bagaimana dengan Elinalize and Clive? Apakah mereka berdua akan ditinggalkan di Sharia?

Wajah Cliff terlihat tegang.

Meskipun tegang, tidak ada keraguan sama sekali di wajahnya. Rupanya dia sudah memantabkan keputusannya.

"Aku akan meninggalkan mereka."

"... Untuk berapa lama?"

"Sampai aku meraih suatu pencapaian di Milis."

Pencapaian.

Jadi pada dasarnya…. kau sendiri tidak tahu kapan akan pulang.

Saat kulihat Elinalise, dia hanya bersedekap sembari memejamkan matanya.

Apakah dia sudah tahu semua ini?

Harusnya sih sudah.

Lalu, apakah Elinalise akan ikut menemaninya ke Kerajaan Suci Milis? Bukankah lebih baik jika mereka terus bersama?

Memang benar Cliff sudah menciptakan sempak ajaib yang bisa menekan kutukan istrinya, namun alat itu masih jauh dari kata sempurna.

Tidak…tidak… ini bukan hanya soal seks. Jika suami-istri bersama, mereka akan saling mendukung baik secara jasmani maupun rohani.

Cliff sudah mendiskusikan hal ini dengan Elinalize, dan inilah keputusannya.

Mungkin ini akan menjadi titik balik yang penting bagi hidup Cliff.

"Aku mengerti."

Jika Cliff benar-benar mengambil keputusan ini, maka ada resikonya.

Cliff akan mati selama berjuang meraih kedudukan di Milis, sehingga aku pun kehilangan orang penting yang bisa menghubungkan kami dengan Kerajaan Suci Milis.

Penelitian tentang kutukan pun akan terhenti.

Tapi, jika aku harus berpikir positif, mungkin Cliff bisa meraih tujuannya. Dengan berjuang sendirian, dia akan semakin kuat.

Dan ketika dia benar-benar menjadi orang penting di Milis, maka kami tidak perlu meragukan bantuan dari kerajaan tersebut.

Aku tidak tahu seberapa buruk resiko itu, namun sisi positifnya pasti juga ada.

Harusnya tidak masalah.

Cliff telah menentukan pilihannya, dan Elinalise pun mendukung.

Kurasa, aku harus menghormati keputusan mereka.

"Baiklah, kalau begitu kita lihat saja tahun depan."

"Ya."

Sembari mengatakan itu, Cliff mengulurkan tangannya.

Lalu kujabat tangannya, sambil mengangguk dalam-dalam.

Kurasa, waktunya akan lebih dari setahun. Yahh, anggap saja 3 tahun dari sekarang. “Pencapaian” yang dimaksud Cliff masih terlalu ambigu. Seberapa tinggi pencapaian yang ingin dia raih? Hanya dia sendiri yang tahu.

Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Aku bisa melakukan hal lainnya sembari menunggu kabar dari Cliff.

Mungkin…. aku bisa menghubungi pihak Ariel terlebih dahulu.

Ada juga pekerjaan lainnya, seperti proyek figure Ruijred, dan juga memperkuat pasukan PT. Rudo.

Aku bisa memanfaatkan koneksiku ke Kerajaan Asura untuk mendapatkan semua yang kubutuhkan.

Selama setahun ke depan, aku akan melebarkan sayap ke Kerajaan Asura, sembari merencanakan apa yang harus dilakukan setelahnya.

Aku akan sibuk sekali.

... Tapi sebelum itu.

Bagaimana kalau kita rayakan kelulusan ini?

"Baiklah, Cliff-senpai, mari kita akhiri saja pembicaraan yang menegangkan ini. Ayo kita rayakan kelulusan ini dengan pesta minum-minum bersama!”

"... Ya!"

Dengan demikian, upacara kelulusan Zanoba dan Cliff berakhir.

Cerita Selingan: Orang Udik Pergi Ke Kota[edit]

Bagian 1[edit]

"Ada surat untuk Nina."

Musim panas itu, datanglah sepucuk surat untuk Raja Pedang Nina Farion.

Dataran Suci Pedang adalah tempat yang tertutup salju abadi, jadi tempat itu selalu dingin. Tapi hari ini cukup hangat, seperti saat musim semi.

Kepala Dojo, Dewa Pedang Gull Farion berkata, "Kau boleh melakukan apapun yang kau mau hari ini. Kenapa harus menghabiskan hari seindah ini dengan berlatih?” kemudian dia tidur siang.

"Surat?"

Karena Nina adalah murid yang rajin, dia tetap berlatih dengan giat hari ini. Namun dia segera berhenti saat surat itu datang.

"... Is ... sol ... te ... Ah!"

Sembari bermandikan keringat, Nina menerima surat itu dari pak pos dengan senyum lebar di wajahnya.

Di bagian belakang surat itu ada lambang Teknik Dewa Air, beserta nama orang yang sangat dia kenal.

Isolte Cruel.

Beberapa tahun yang lalu gadis itu pernah menjadi partner latihannya, namun sekarang sudah menjadi ketua Teknik Dewa Air.

Saat ini Isolte bekerja sebagai pelatih pedang di Kerajaan Asura, sekaligus manager Dojo Teknik Dewa Air di sana.

Mereka berdua adalah teman baik, namun sudah tidak lagi saling bertemu semenjak Isolte meninggalkan Daratan Suci Pedang beberapa tahun silam.

Tumben sekali dia mengirimkan surat.

"... Mari kita lihat."

Nina merobek amplop itu dengan gembira, lalu mengeluarkan kertas dari dalamnya.

Namun, saat melihat tulisan yang berjubel di sana, dia mulai kebingungan.

"Aku penasaran apa yang dia tulis….."

Nina tidak bisa membaca huruf.

Dia bisa membaca nama kenalan-kenalannya, namun kalau sudah melihat kalimat yang panjang, dia mulai pusing.

Di Dataran Suci Pedang, buta huruf bukanlah hal yang aneh.

Pasti ada orang lain yang bisa membacakannya untukku. begitulah pikirnya.

Nina lahir dan dibesarkan di Dataran Suci Pedang.

Namun di antara beberapa murid Dojo, ada orang yang berpendidikan lebih baik darinya.

Pasti ada orang yang bisa dia tanyai.

Nina pergi ke halaman belakang.

Ada beberapa murid di sana yang sedang ngobrol sembari menikmati hari yang hangat.

Biasanya, Nina akan memarahi mereka karena malas-malasan.

Oleh karena itu, mereka berdiri dengan panik, sembari membuat alasan.

Tapi, hari ini adalah hari langka yang dinyatakan libur oleh pemimpin Dojo.

Nina tidak memarahi mereka, tetapi bertanya apakah ada yang bisa membaca suratnya.

Para murid itu saling pandang, sebelum akhirnya salah satu di antara mereka mengangkat tangannya.

Nina memberikan surat itu padanya, sambil mengatakan, "Jika kau bisa bahasa manusia, maka bacakan surat ini untukku.”

Sebenarnya isi surat itu cukup singkat.

Di sana tertulis beberapa peristiwa yang terjadi sampai saat ini.

Reida telah meninggal, sehingga Isolte lah yang meneruskan Dojo-nya.

Sebagai seorang pelatih pedang, dia sering bertengkar dengan Ghyslaine.

Itu membuatnya teringat saat-saat bersama Nina.

Nina bisa membayangkan wajah kesal Isolte yang hanya ditanggapi Ghyslaine dengan eskpresi polosnya.

Kemudian, kalimat-kalimat di pengunjung surat membuat wajah Nina semakin serius.

"Tak lama lagi, penobatan Yang Mulia Ariel sebagai raja baru akan segera selesai. Sebulan sebelum sampai dengan sesudah penobatan akan diadakan festival untuk memeriahkan kerajaan. Oleh karena itu, datanglah ke sini untuk berkunjung.”

Segera setelah mendengarnya, Nina memutuskan untuk pergi ke Kerajaan Asura.

Dia tidak pikir panjang dan tidak ragu sedikit pun.

Kecepatan memang salah satu ciri khas para pendekar pedang beraliran Dewa Pedang.

Bagian 2[edit]

Ibukota Kerajaan Asura, Ars, sedang dipenuhi oleh warga.

Semuanya berdesak-desakan. Jika tidak hati-hati, kau akan tertelan kerumunan itu.

Keramaian ini seperti festival olahraga Obon [4].

Ini adalah malam penobatan raja baru Kerajaan Asura, sehingga banyak orang datang dari berbagai tempat di seluruh penjuru dunia.

Mereka datang ke sini dengan harapan bertemu pemimpin baru dari kerajaan terbesar di dunia.

Para bangsawan dari negara lain juga dikirim sebagai duta untuk mengucapkan selamat.

Para pendekar pedang yang menganggur juga berkumpul. Mereka berharap mendapatkan pekerjaan jika Kerajaan Asura membutuhkan tenaga mereka.

Dengan alasan yang hampir sama, para petualang juga berkumpul di sini.

Bahkan ada juga para buronan yang memanfaatkan kerumunan ini untuk bersembunyi.

Tidak ketinggalan, para pedagang menggunakan momen ini untuk menjual barang-barang khasnya.

Itulah yang terjadi sejauh mata memandang ...

Hari ini, setiap ras yang tinggal di Benua Tengah datang untuk meramaikan acara ini.

Selain itu, para Ksatria Putih Asura juga mempertunjukkan parade.

Warga berjajar di pinggiran jalan untuk melihat aksi-aksi para Ksatria Putih yang terkenal itu.

"Whoa ..."

Sementara itu, dengan gelisah Nina terus berjalan menuju pusat kota.

Baru kali ini seumur hidup, dia melihat orang sebanyak ini.

Nina pikir sudah melihat banyak orang saat tiba di kota sebelumnya, namun itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pemandangan ini. Dia hanya bisa bingung di antara kerumunan orang seramai ini.

"Cih, hati-hati dong!"

"Hey, apa-apa’an kau….?"

Dia tidak sengaja menabrak atau ditabarak seseorang, namun orang itu segera menghilang di balik kerumunan.

Ini adalah pengalaman pertama baginya.

Dia sudah mendapatkan gelar sebagai Raja Pedang. Dengan indranya yang tajam, dia bisa mendengarkan umpatan orang itu, meskipun terhalangi oleh ramainya orang-orang di sekitarnya.

Orang itu terus berjalan menjauh sambil ngomel-ngomel.

Mungkin, dia bahkan tidak melihat wajah Nina.

Apakah memang seperti itu cara menyapa di kota ini….

Di Dataran Suci Pedang, orang yang berani memakinya seperti itu pasti akan segera menghubungi seorang penyihir penyembuh.

Tapi kau tidak boleh berkelahi di kota asing ini, meskipun kau dikasari oleh seseorang.

"Hei, hei, onee-san manis, ke sinilah sebentar…."

"A-a-a….aku manis?"

Dia bengong sebentar, lalu tiba-tiba dia dihentikan oleh orang yang sepertinya pedagang.

Nampaknya dia sedang menjual sesuatu pada toko kecil di dekatnya.

"Ya, ya. Ini pertama kalinya aku melihat wanita secantik dirimu ... Oh iya, ngomong-ngomong, sepertinya kau belum terbiasa dengan ibukota ini, kau baru pertama kali berkunjung ke sini ya?”

"Ya, tapi bagaimana kamu tahu?"

"Sekali lihat saja aku sudah tahu. Cara kamu berdesakan di kerumunan adalah bukti bahwa kau berasal dari negara lain."

Nina pun hanya bisa tersipu saat identitasnya diketahui oleh orang itu.

Sebenarnya dia pernah berkunjung ke kota lain.

Tapi kota-kota yang dia kunjungi sebelumnya tidak pernah sebesar ini.

"Begitu banyak orang berkumpul di sini. Apakah mereka semua ingin melihat penobatan raja baru?”

"Ya, tapi mereka juga ingin melihat parade Ksatria Putih.”

"Begitu ya..."

"Di mana-mana terdapat papan yang mengarahkan orang-orang ke pinggiran jalan utama, jika ingin melihat parade itu. Sedangkan orang-orang yang tidak ingin melihatnya, terpaksa harus lewat jalan pinggir ... "

"Oh, maafkan aku ...aku tidak membaca papan petunjuk itu."

"Tidak masalah…. tidak masalah…. jika kau tidak ingin melihat parade itu, kau bisa lewat sini untuk menuju Jalan Sarruten.”

"Gak papa nih?"

"Tentu saja. Atau mungkin kau ingin mampir ke tokoku untuk melihat barang-barang daganganku? Aku punya patung kecil dan buku cerita bergambar. Jika kau tidak bisa membacanya, di bagian belakang buku itu ada daftar kata yang bisa membantumu. Produk ini laku terjual, lho.”

"Buku kan mahal ..."

"Tidak…tidak…. buku ini beda, harganya lebih murah daripada buku-buku lainnya. Harganya cuma 2 keping koin tembaga Asura ... Tidak, spesial untukkmu, harganya hanya sekeping koin tembaga Asura dan 8 keping koin tembaga biasa. Bagaimana?”

Tanpa sadar, Nina sudah membelanjakan uangnya. Sekarang dia berjalan di jalanan Kota Ars sembari memegang sebuah buku dan patung kecil.

Isi dompetnya telah berkurang 1,8 koin tembaga Asura.

Padagang itu cukup lihai menawarkan barang dagangannya.

Rayuan pedagang itu tak kalah cepatnya dengan tebasan ayahnya, yaitu Dewa Pedang Gull Farion.

Yahh… apa boleh buat, 1,8 koin tembaga Asura sudah terlanjur lolos dari dompetnya.

Mungkin itu harga yang murah untuk seukuran buku, namun masihlah mahal bagi Nina.

Akan tetapi, sebagai seorang Raja Pedang, Nina merasa bersalah jika tidak membayar kebaikan orang itu yang telah menunjukkan jalan yang benar.

Kurasa tidak masalah….

Sembari berpikir begitu, Nina terus berjalan.

Jalan Sarruten berukuran sekitar 2 meter lebih sempit daripada jalan utama.

Jalan itu cukup lembab dan jarang ada orang yang lewat, sehingga mirip seperti jalanan pedesaan. Tapi, seperti yang sudah dibilang pedagang itu, jalannya memang sempit, namun sepi.

Yahh, setidaknya dia bisa melewatinya tanpa berdesak-desakan ...

Dengan menghindari keramaian, Nina bisa berjalan-jalan dengan tenang melintasi kota ini.

"Kalau begini, aku bisa sampai ke Dojo-nya Isolte tepat waktu malam ini."

1,8 koin tembaga Asura adalah harga yang pantas untuk informasi yang cukup berharga.

Sembari memikirkan itu, Nina menatap buku bergambar dan patung yang barusan dibelinya dari si pedagang.

Patung itu berbentuk ras iblis yang membawa tombak, persis seperti yang tergambar di sampul buku.

Mungkin, dia adalah seorang pahlawan ras iblis, atau semacamnya.

Tapi anehnya, ini adalah Ras Supard.

Nina tidak begitu tahu sejarah Ras Supard, namun kalau memungkinkan, dia ingin mencoba kemampuannya dengan bertarung melawan Ras Supard yang katanya cukuip kuat.

Menurut kisah temannya, Eris, ras Supard sangat kuat.

Eris pernah dijuluki Mad Dog. Bahkan monster pun akan berpaling darinya saat merasakan aura membunuh yang pekat.

Eris selalu menceritakan dengan bangga tentang kehebatan-kehebatan Ras Supard.

Itu membuat Nina cukup tertarik ingin melawannya.

Pedagang itu bilang aku bisa belajar membaca kata dari keterangan di bagian belakang bukunya. Tapi sepertinya belajar di sela-sela latihan bukanlah ide yang bagus.

Sembari dia berjalan dan melamun, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dari arah kerumunan orang di jalanan utama.

Rupanya, parade sudah dimulai.

Setelah mendengar semua keributan itu, Nina jadi sedikit tertarik.

Awalnya dia ingin langsung menuju ke tempatnya Isolte, namun sekarang dia tertarik mengintip parade itu.

"Eh?"

Sekilas, tampaknya Nina melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

Dia melihat seorang wanita berambut merah mencolok, dan Nina kenal betul siapakah wanita itu.

"Eris?"

Kenapa dia ada di sini?

Tidak salah lagi, itu pasti Eris. Nina pun segera mencarinya.

Akhirnya dia bisa melihat sosoknya dengan jelas, sekitar 2 meter di dekat jalanan utama.

Nina hanya melihatnya dari belakang, tapi berdasarkan postur tubuhnya, dia tidak salah orang.

Sudah pasti itu Eris.

"Eri-s."

Dia tidak tahu mengapa wanita berambut merah itu ada di sini, namun yang pasti dia cukup kangen pada teman lamanya itu.

"Lucy, apakah kau bisa melihatnya dengan jelas?"

"Aku melihatnya! Mereka gemerlapan!"

Tiba-tiba dia berhenti. Itu karena Eris sedang mengangkat anak kecil, lalu dia gendong di punggungnya.

"Eris, biar aku menggendong Lucy di pundakku."

"Tidak boleh…. jangan-jangan kau mau menjilati pahanya Lucy? Kemaren kau juga melakukan itu padaku.”

"Gak mungkin lah! Aku tidak akan melakukan hal seperti itu pada putriku sendiri!”

"Yakin!!??"

"Kalau kau sih, akan kujilat sampai bersih ..."

Di sana juga ada seorang pria yang sedang berbicara dengan Eris.

Nina kenal pria itu.

Karena dia mengingatkan Nina pada kejadian mengerikan di masa lalu, yaitu kerusuhan dengan Raja Iblis Badigadi.

Dia lah yang telah mengalahkan Badigadi dengan hanya sekali serang.

Belakangan ini orang-orang menjulukinya Tangan Kanan Dewa Naga, dan dia sering terlihat di beberapa tempat yang berbeda.

Dia lah Rudeus Greyrat.

"...."

Nina cukup terkejut.

Dia tahu bahwa Eris pergi untuk mencari Rudeus.

Dia pun tahu bahwa Eris pergi untuk membantu Rudeus mengalahkan Dewa Naga Orsted.

Karena Eris tidak lagi mengirim surat setelahnya, Nina mengira dia sudah mati. Namun, Nina juga pernah mendengar kabar bahwa Eris muncul di Kerajaan Asura bersama Rudeus.

Rudeus sudah menjadi Tangan Kanan Dewa Naga, maka Nina beranggapan bahwa Eris mungkin dipaksa bekerjasama dengan Orsted.

Nina menduga bahwa Eris sudah jauh lebih kuat daripada yang dulu.

Namun, Eris yang sekarang sungguh berbeda dari bayangan Nina.

Dia tidak lagi segalak Mad Dog yang Nina kenal sebelumnya, malahan dia berdebat sembari bercanda-tawa dengan pria itu.

Ada gadis kecil yang sedang digendong Eris di punggungnya, Nina menduga bahwa dia adalah putrinya Eris.

Eris menikah, lalu mengasuh anak. Itu adalah hal yang tak akan pernah Nina bayangkan sebelumnya.

Bagaimana bisa si hewan buas menjadi sejinak ini?

Kemudian, mereka pergi bertamasya ke Kerajaan Asura untuk melihat parade, sembari bercanda mesra dengan suami… itu sungguh mengerikan.

"... Lebih baik aku segera pergi ke tempatnya Isolte."

Sembari berpikir begitu, Nina memalingkan wajahnya dari Eris.

Dengan menjadi Raja Pedang, Nina pikir telah menyamai level Eris. Namun, kalau begini jadinya, dia tidak akan bisa menyainginya lagi.

Oh iya… mungkin Nina tidak melihat atau mengenal beberapa orang lainnya yang berdiri di dekat Eris dan Rudeus, namun di sana ada Roxy, Sylphy, Zanoba, dan juga Julie.

Bagian 3[edit]

Setelah itu, Nina pergi ke dojo Isolte.

Dojo itu begitu disiplin dan rapih. Nina pun nyaman dengan ruangan yang dipenuhi oleh aroma keringat para pendekar pedang yang berlatih.

Setelah menyapa Isolte, dia diperkenalkan kepada murid-muridnya.

Kebanyakan muridnya perempuan.

Tapi… mereka tidak terlihat feminim…. begitulah kesan Nina.

Setelah berjalan-jalan di sekitar Dojo, Isolte membawa Nina ke rumahnya.

Nina tinggal di rumah Isolte selama berada di Ars.

Ada ruang kosong di rumah Isolte yang bisa digunakan untuk kamar tamu kapanpun.

Dulunya, itu adalah kamar gurunya, yaitu Dewa Air Reida. Dan masih sangat rapih.

Nina bersyukur karena tidak merasakan aura lelaki pada rumah Isolte. Itu berarti mereka masih sama-sama jomblo. Tidak seperti Eris yang levelnya sudah jauh lebih tinggi.

Isolte sudah bergelar Kaisar Air, dan dia juga berprofesi sebagai pelatih pedang. Harusnya dia sangat populer.

Eris yang dekil dan kasar saja sudah menikah, maka sangatlah aneh jika wanita sehebat Isolte belum punya pacar.

Nina tidak akan terkejut bila tiba-tiba Isolte memperkenalkan suami dan anak-anaknya, ketika dia datang berkunjung di rumahnya. Namun itu tidak terjadi.

Itulah yang membuatnya lega.

"Nina-san. Ngomong-ngomong, di akhir parade akan ada sedikit jamuan. Aku tahu kau lelah setelah menempuh perjalanan panjang ke sini, tapi maukah kau menghadiri jamuan itu bersamaku? Aku ingin memperkenalkan Raja Pedang baru ini pada banyak orang.”

Nina meletakkan kopernya, kemudian dia menarik napas sejenak sembari mempertimbangkan tawaran Isolte.

"Ya, boleh juga tuh….."

Nina menjawab dengan ringan.

Dia tidak begitu mengerti seperti apakah jamuan itu, namun malam ini dia tidak punya acara lain.

Sebenarnya Nina ingin berkeliling Ars, tapi dia bisa melakukannya besok.

Dia pikir semuanya akan baik-baik saja.

Akan tetapi….. kurang dari sejam kemudian…. dia benar-benar menyesali keputusannya.

Dia tidak mengira akan jadi seperti ini.

Awalnya dia mengira acara itu ‘menyenangkan’.

Dia dibawa oleh Isolte pada sebuah kediaman besar di dekat istana kerajaan.

Ternyata jamuan itu sungguh mewah.

"Curang kau, Isolte." pikirnya.

Kemudian, dia dibawa ke suatu ruangan mewah untuk memilih gaun mahal. Lebih dari satu pelayan membantunya mengenakan pakaian mahal itu.

Acara ini lebih mirip seperti pesta kaum bangsawan, daripada jamuan biasa.

Dia pun berpikir, "Harusnya aku menolaknya."

Mengapa dia menyetujuinya dengan mudah?

Mengapa dia tidak berpikir dua kali?

Mengapa dia tidak menolak saat dipaksa berganti pakaian?

Biasanya, Nina akan menolak ini semua, lalu kabur begitu saja.

Namun, ini bukanlah acara biasa.

Dia pun tidak bisa menggunakan pedang untuk menyelesaikan masalah.

Dia dipaksa memakai pakaian yang bahkan tidak dikenalnya, mengenakan sepatu aneh, dan pedangnya diambil.

Pinggangnya sesak, dan jalannya mulai sempoyongan.

Dalam keadaan seperti itu, Nina dibawa oleh Isolte, untuk dikenalkan pada orang-orang di pesta.

Setidaknya, Nina masih bisa bernapas lega.

Karena pesta itu tidak hanya dihadiri oleh kaum bangsawan.

Cukup banyak sih bangsawan yang datang, namun ada juga para ksatria, dan orang-orang biasa yang berprestasi, seperti anggota Guild Penyihir dari negara lain.

Setidaknya Nina masih nyambung jika ngobrol dengan orang-orang seperti itu.

Bahkan Nina tidak sendiri, beberapa dari mereka juga terlihat bingung saat menghadiri jamuan ini, karena tidak menyangka acaranya bakal sebesar ini.

Itu membuatnya sedikit tenang.

Dia mulai merasa sombong, karena banyak orang yang lebih udik [5] darinya di acara ini.

Akan tetapi, dia mulai menyadari sesuatu.

Perutnya keroncongan. “Ugh….aku lapar.”

Nafsu makannya kembali.

Dia memang belum makan sejak siang.

Para pendekar pedang beraliran Dewa Pedang rata-rata suka makan.

Bahkan saat mengasingkan diri di hutan untuk berlatih, mereka tetap makan banyak.

Tentu saja, tersaji begitu banyak macam makanan di jamuan ini.

Dia pun mulai makan dan minum sepuasnya…. sampai akhirnya perutnya menuntutnya untuk pergi ke toilet.

Dia berhasil menemukan toilet atas arahan para pelayan. Namun saat sudah di dalam, dia kesulitan melepaskan pakaian anehnya, karena tidak ada lagi pelayan di sini. Sialnya, kediaman ini begitu besar dan membingungkan layaknya labirin, sehingga dia bisa tersesat kapanpun.

Duh…. rasanya pengen ngamuk saja….

Sambil berjalan menyusuri lorong yang remang-remang, Nina menghela napas panjang.

Semenjak datang di Ars, Nina seakan-akan tiba di dunia lain yang begitu asing baginya. Dan dia belum terbiasa dengan ini semua.

Awalnya, dia pikir levelnya akan naik setelah dia mendapatkan gelar Raja Pedang. Namun itu semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kota ini.

"Seperti dulu, aku selalu saja bertindak tanpa pikir panjang ..."

Sepertinya dia harus merubah sifat buruknya, yaitu bertindak secara spontan.

Dulu, Nina selalu menganggap semua perbuatannya benar. Namun sekarang dia sudah banyak instropeksi diri. Mungkin sifatnya sedikit berubah karena pengaruh Eris.

Dia memang sudah menjadi Raja Pedang, namun untuk menjadi pendekar pedang sejati, nampaknya jalannya masih jauh…...

"Oh iya… aku lupa memberitahu Isolte bahwa Eris juga berada di kota ini."

Kalau kedua sahabatnya itu berkumpul, mungkin mereka bertiga bisa bernostalgia dengan latihan tanding bersama.

Sudah lama dia tidak berlatih bersama Eris dan Isolte, apakah hasilnya masih sama? Setelah mengingat-ingat masa lalunya, Nina menggelengkan kepalanya, dan terus melangkah maju.

Tidak…. Eris yang sekarang bukan lagi Eris yang pernah kukenal dulu….

Nina ingin cepat-cepat mengakhiri jamuan ini.

Besok paginya, dia ingin berkeliling Ars sampai puas bersama Isolte.

Dia tidak begitu cocok dengan kota ini, namun terdapat begitu banyak tempat menarik di Ars yang ingin dia lihat.

Setelah itu, dia akan mengunjungi Dojo Teknik Dewa Pedang di kota ini.

Namun, sebelum itu semua terjadi, dia harus menemukan kembali ruangan pesta yang tadi, kemudian segera pamit.

Baiklah….. hah, apa itu?

Dia mendapati sebuah pintu.

Pintunya cukup kecil, jadi dia yakin pintu itu tidak menuju ke ruangan pesta.

Tapi, siapa tahu di sana ada pelayan yang bisa menunjukkan arah kembali ke ruangan pesta.

Setidaknya ada orang yang bisa ditanyai.

Dengan cukup optimis, Nina terus mendekati pintu itu …

"--Yang Mulia Ariel, aku tidak ingin itu terungkap."

Dia terhenti saat mendengarkan percakapan beberapa orang di dalam.

Yang Mulia .... Ariel?

Di negara ini hanya ada satu orang yang disebut dengan nama itu, bahkan orang udik seperti Nina tahu akan hal ini.

Ariel Anemoi Asura.

Meskipun telah diasingkan selama hampir 10 tahun di kerajaan Ranoa, dia datang kembali bagaikan komet yang meluluh-lantahkan pesaing-pesaingnya, lalu memenangkan persaingan politik dan menjadi raja.

Tidak berlebih-lebihan jika menyebut semua keramaian di ibukota saat ini, hanya untuk memuja kemenangannya.

"... Itu? Apa yang kau maksud dengan ‘itu’?"

"Jadi, Anda tidak ingat?"

Nina memelankan langkah kakinya, lalu bergerak semakin mendekati pintu.

Dari celah pintu, dia mengintip ke dalam ruangan.

....!

Di dalam ada seorang pria dan wanita.

Mushoku 20 (4).jpg

Ada seorang wanita pirang yang sedang duduk di kursi, dan di sampingnya ada seorang lelaki berambut coklat terang.

Dia kenal lelaki itu.

"Aku punya beberapa ide ..."

"Dia kan….."

Dia lah Rudeus Greyrat.

Di wajahnya, dia memasang senyum yang sangat berbeda dengan saat bersama Eris waktu itu. Kali ini, dia menunjukkan senyum yang begitu mesum pada Ariel.

Nina dengan cepat menarik kesimpulan.

Dia mau memperkosa Ariel-sama!!

Pria bernama Rudeus Greyrat ini, bahkan sudah memiliki 2 istri selain Eris.

Nina juga pernah mendengar rumor bahwa pria itu sangat cabul.

Namun, dia juga pernah mendengar rumor yang mengatakan bahwa peran Rudeus Greyrat sangat besar dalam membantu Ariel naik tahta.

Karena dia bekerja di bawah Dewa Naga Orsted, yang merupakan salah satu makhluk terkuat di dunia ini, mungkin dia hanya melihat Ariel sebagai hewan peliharaannya saja.

Dan mungkin saja… dia ingin meminta imbalan pada Ariel dengan mengajaknya berhubungan badan.

Akan kutebas kau…!!

Nina tahu apa yang harus dia lakukan.

Sebenarnya dia tidak mengerti duduk permasalahannya.

Dia bahkan tidak tahu seberapa kuatkah Rudeus saat ini.

Pedangnya juga sudah diambil oleh para pelayan.

Namun, dengan mengabaikan semua itu, Nina sudah membulatkan tekadnya untuk menghabisi si muka mesum itu.

Jangan ragu….

Isolte adalah bawahan Ariel.

Saat melihat bos temannya itu diperas, dia tidak mungkin tinggal diam.

’Mungkin aku harus menunggu beberapa saat lagi….’ harusnya itu yang dia pikirkan, namun karena stress yang sudah memuncak, dia tidak bisa berpikir jernih.

Namun, pada saat itu juga, Nina merasakan aura membunuh yang begitu pekat dari belakangnya.

"Ttsu!"

Dia segera menoleh ke belakang.

Di sana, ada seorang wanita tampak seperti iblis yang mengenakan gaun semerah darah.

"Eris!?"

Kenapa dia baru sadar Eris ada di sini?

Bukankah Eris selalu bersama Rudeus….

Dan Rudeus ada di dalam….

Maka wajar saja Eris ada di dini.

"Nina ...?"

Sesaat wajah Eris terlihat bingung, tapi kemudian menegang.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Mengapa kau mengendap-endap mendekati pintu itu?”

Gawat.

Jika sudah mengaktifkan mode iblisnya, tak seorang pun bisa menghentikan Eris.

Jika Rudeus yang berada di dalam menyadari kehadiran Nina, maka lawannya akan semakin banyak.

Eris juga tidak memiliki pedang saat ini, namun Rudeus adalah seorang penyihir. Dua orang itu sudah cukup untuk menghabisi Nina.

"Oh? Eris, lama tidak berjumpa…."

Pada saat itu, semuanya sudah terlambat.

Pintu di belakangnya terbuka, lalu Rudeus keluar dari sana.

Nina langsung menyadari bahwa dia tidak lagi punya peluang menang.

Dia harus menghadapi si hewan buas berambut merah ini, bersama suaminya yang mesum.

Namun, Nina masih mencoba mengambil ancang-ancang.

"Rudeus-sama, hentikan saja. Kita tidak boleh membiarkan tamu undangan menunggu lama."

Saat melihat wajah Ariel yang sedang berbicara pada Rudeus, Nina mulai sadar ada sesuatu yang salah di sini.

Putri itu sama sekali tidak tertekan, terancam, ketakutan, atau semacamnya.

Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?

".... Anda….tidak sedang diancamnya?"

"....?"

Dengan wajah bingung, Ariel melihat Nina yang berjongkok di bawah.

Ariel tidak mengenal Nina.

Namun, kepekaan Ariel membuatnya paham apa yang sedang terjadi di sini.

"Ah tidak, aku hanya meminta bantuan pada Rudeus, tapi dia menolaknya. Aku menggunakan berbagai cara untuk membujuknya, termasuk menyerang kelemahannya, namun dia tetap saja menolakku dengan tegas. Apakah kau berpikir dia sedang memerasku, sehingga membuatmu ingin menolongku?”

Nina mengangguk, wajahnya tampak bingung.

Ariel meraih tangannya dengan perlahan, lalu membantunya berdiri.

"Terima kasih banyak. Ini pertama kalinya kita bertemu. Aku adalah raja Kerajaan Asura berikutnya, namaku Ariel Anemoi Asura."

"Oh, ah, eh?"

Wanita yang sebentar lagi akan menjadi orang no. 1 di Asura itu begitu dekat dengannya. Bahkan, dia sendiri yang memperkenalkan dirinya.

Nina masih tidak paham apa yang sedang terjadi di sini, dia pun hanya bisa menatap Eris dengan kebingungan.

Eris tampak kesal, namun akhirnya dia menghela napas panjang, dan membiarkan temannya itu.

"Namanya Nina."

"Eris-sama, apakah dia kenalanmu?"

"Ya, dia adalah Saint Pedang Nina Farion. Dia adalah partnerku berlatih selama tinggal di Daratan Suci Pedang.”

Eris tidak paham mengapa Nina ada di sini, namun dia terus memperkenalkan temannya itu.

"Hey, aku sekarang sudah menjadi Raja Pedang! Sama sepertimu!"

"... Oh ya? Selamat kalau begitu…."

Setelah Nina mengoreksi Eris, dia kembali terdiam.

Tampaknya Nina terlalu membanggakan gelar Raja Pedangnya itu.

"Baiklah, Nina-sama. Pesta malam ini diadakan oleh Rudeus-sama dan aku. Mungkin nanti kita punya kesempatan untuk saling berbagi cerita, namun saat ini nikmati saja pestanya.”

"Ah, b-b-baiklah ..."

Setelah mengatakan itu, Ariel tersenyum lembut, kemudian berjalan menyusuri lorong bersama Rudeus.

Nina melihat mereka pergi sambil menghela nafas lega.

Bagi Nina Farion, hari ini sungguh gila.

"Hei, kenapa kau ada di sini?" tanya si rambut merah.

Kemudian, dia berbalik pada Eris di belakangnya.

Eris mengenakan gaun merah menyala dengan rambut terikat.

Dia juga memakai berbagai perhiasan seperti kalung dan anting-anting. Dia benar-benar terlihat seperti anak bangsawan.

".... Eris ... gaun itu, terlihat cocok untukmu."

"Tentu saja! Karena Rudeus yang memilihkannya untukku."

Eris mengatakan itu sembari mendorong dadanya yang montok, dia sama sekali tidak terlihat seperti si Mad Dog yang pernah Nina kenal sebelumnya.

Eris, penampilanmu terlihat begitu berbeda, namun sifatmu tidak berubah.

Mungkin ini kesempatan yang tepat.

"Oh iya, ... Eris ... tentang Isolte ..."

Sembari menghela napas, Nina mulai mengeluh pada Eris.

Bagian 4[edit]

Bahkan sampai pengunjung acara, Nina masih tidak paham apa maksud pesta ini.

Setelah itu, Rudeus mengumumkan sesuatu di depan umum.

"Dewa Naga Orsted berada di pihak kita! Bergabunglah bersama kami! Akan kuberikan formulir ini jika kalian ingin bergabung dengan kami! Semuanya gratis! Tidak dipungut biaya! Kalian harus tahu bahwa 80 atau 100 tahun lagi akan muncul seseorang yang membahayakan umat manusia! Oleh karena itu, bergabunglah dengan Fraksi Orsted agar kalian aman, dan kita akan bersama-sama menghentikan ancaman itu!”

Pria itu mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dipahami Nina, dan dia hanya bisa menanggapinya dengan mengangguk kebingungan.

Tapi sepertinya, Rudeus sedang mengumpulkan sekutu.

Nina hanya salah paham padanya. Jika Eris mendukung pria itu, maka dia juga bersedia membantunya.

Akan tetapi, Nina masih bingung bagaimana cara dia membantunya.

Dia bilang 80 tahun lagi akan ada ancaman besar bagi umat manusia. Lantas bagaimana cara Nina membantunya? Apakah dia akan memaksa nenek-nenek bertarung?

Bukan hanya Nina, namun para hadirin lain juga kebingungan.

Mereka hanya mengangguk dengan tatapan kosong pada Rudeus.

Namun, Ariel jelas-jelas mendukung pria itu, sehingga mereka tidak bisa berkata tidak.

Setelah pesta……..

Eris meminta Nina tidak meninggalkan ruangan pesta.

Isolte juga bersamanya.

Sepertinya, kediaman mewah ini adalah rumah yang diberikan Ariel pada Rudeus. ”Anggap saja rumah sendiri…” dengan sombongnya, Eris mengatakan itu pada kedua teman lamanya.

Malam itu, mereka bertiga saling ngobrol setelah sekian lama berpisah.

Eris terus menyombongkan suamianya, Rudeus. Itu membuat Isolte menggerutu, dan dia berjanji akan segera menemukan pria yang tak kalah hebatnya untuk dijadikan pacar, atau bahkan pendamping hidup.

Melihat persaingan kedua perempuan itu, membuat Nina teringat kembali masa lalu.

Mungkin pembicaraan mereka sudah tidak sama seperti yang dulu, namun tetap menyenangkan.

Sepertinya bukanlah ide buruk, jika mereka bertiga berjalan-jalan mengelilingi Ars besok pagi.

Setelah ketiganya puas ngobrol, mereka pun tidur. Esok harinya, Nina kembali merasa segar, dan semua stressnya semalam telah lenyap.

Bagian 5[edit]

Sebelum hari terakhir penobatan Ariel sebagai raja baru Asura, Nina punya banyak waktu yang bisa dihabiskan untuk berkeliling Ibukota Ars.

Dia melihat berbagai tempat yang selalu ingin dia kunjungi sebelumnya, mulai dari parade, atraksi, Dojo, dan lain sebagainya.

Dia tidak sendirian.

Isolte sedang sibuk bekerja, jarang sekali dia punya waktu luang yang bisa dihabiskan bersama teman-temannya. Sehingga, hari ini dia ditemani Eris.

Nina tidak habis pikir…. mengapa setiap Eris membuka mulutnya, dia selalu saja membahas Rudeus.

Dia terus membicarakan suaminya itu, tak peduli kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Tapi Nina sudah paham sifat Eris setelah sekian lama bersamanya.

Sejak dulu, Eris memang suka pamer, terutama soal Rudeus.

Meskipun begitu, Eris adalah orang yang jujur dan apa adanya. Dia suka membangga-banggakan Rudeus bukan karena ingin menyakiti hati temannya. Itu hanyalah bukti betapa besar kecintaan Eris pada pria yang selalu dipujanya itu.

Namun, Nina masihlah tidak paham maksud pidato Rudeus semalam.

Bagian 6[edit]

Setelah penobatan berakhir, Nina kembali ke Dataran Suci Pedang.

Dia memikirkan berbagai hal sepanjang perjalanan pulang.

80 atau 100 tahun lagi akan muncul ancaman yang membahayakan umat manusia, dan untuk mengatasinya, mereka harus berpihak pada Dewa Naga Orsted.

Eris semakin bahagia, ceria, dan enerjik.

Itu karena dia sudah bersama Rudeus.

Sambil memikirkan mereka, dia terus memacu kudanya ke depan.

Tapi sayangnya, Nina tidak bisa menyimpulkan suatu hal pun.

Saat tiba di Dataran Suci Pedang, ada seseorang yang menyambut kedatangannya.

Dia adalah sepupunya, Jino Britts.

Dia adalah seorang pendekar pedang yang masih tertinggal di belakangnya, namun tak lama lagi pria itu akan menyamai Nina dengan mendaparkan gelar Raja Pedang.

Begitu melihat pria itu, Nina segera memikirkan sesuatu.

Dia tidak ragu lagi.

Karena ciri khas para pendekar beraliran Dewa Pedang adalah berpikir cepat.

"Hei, Jino. Tidakkah sebaiknya kita menikah?"

Beberapa bulan kemudian, terdengarlah kabar pernikahan sepasang Raja Pedang, namun kita bahas cerita itu lain kali saja……

Cerita Selingan: Upacara Kedewasaan[edit]

Bagian 1[edit]

Mari kita bicarakan tentang adik perempuanku.

Norn telah bekerja keras sebagai Ketua Dewan Siswa.

Belakangan ini, namanya semakin populer di kalangan para pelajar Akademi Sihir.

Bahkan kepopulerannya mulai menyamai mantan Ketua Dewa Siswa sebelumnya, Ariel Anemoi Asura.

Bahkan mulai banyak pelajar yang memanggilnya Norn-chan, dengan akrab.

Norn tampak malu, namun itu hanyalah nama panggilan.

Ariel adalah ketua yang bisa diandalkan dan berkarisma, namun Norn terkesan lebih dekat dengan rekan-rekannya.

Meskipun Norn Fan Club sudah dibentuk, namun dia tidak menanggapinya serius.

Bahkan, nampaknya dia juga menjadi maskot sekolah ini.

Tentu saja dia tidak hanya bekerja keras di Dewan Siswa, namun juga di kelas.

Tempo hari, dia berhasil menguasai peringkat menengah dalam Teknik Dewa Pedang.

Jika dibandingkan dengan teman-temannya, perkembangannya memang lebih lambat, namun itu normal-normal saja.

Dia juga masih belajar keras untuk menguasai sihir, sembari mengambil kelas-kelas ekstra lainnya.

Aku pun mendengar rumor tentang Norn yang begitu aktif di sekolah, seperti : ’Tak pernah sehari pun aku tidak melihat Ketua Dewan Siswa Norn di sekolah’.

Dia tidak menguasai satu bidang pun, namun juga tidak buruk pada bidang tertentu.

Sedangkan Aisha, belakangan ini selalu menemani Ars-kun.

Salah satu alasannya mungkin karena Eris tidak mahir mengasuh anak, aku sih tidak masalah, toh putraku itu imut sekali.

Mungkin itulah yang membuat Aisha semakin menempel padanya.

Belakangan ini sepertinya aku terlalu sering mengucapkan, ’Ahh, Ars-kun imut banget!’, dan itu tidak baik bagi dua anakku yang lain. Kesannya jadi pilih kasih.

Harusnya sih tidak apa-apa, namun sebagai ayah aku merasa khawatir.

Atau ...mungkin aku saja yang terlalu khawatir.

Setiap kali Ars-kun lapar, dia selalu saja membusungkan dada dengan sombongnya, lalu menangis tanpa henti.

Yahh, bukannya tanpa henti sih ... toh dia jeda beberapa detik untuk mengambil napas.

Setiap kali dipeluk oleh wanita ber-oppai montok, dia tertawa kegirangan, sampai-sampai membuat Aisha pasrah.

Aku jadi khawatir.

Setiap kali melihat Oppai orang, aku jadi teringat putraku. Dengarkan nasehat ayahmu ini, kau jangan terlalu terobsesi dengan Oppai, nak…. itu tidak baik.

Mengenai PT. Prajurit Bayaran Rudo…. semuanya berjalan dengan baik.

Untungnya, tidak ada seorang pun yang menentang PT. Rudo, meskipun aku sudah mengumumkan bahwa perusahaan itu adalah cabang dari PT. Orsted, dan kami akan mengembangkannya secara global. Sebenarnya aku tidak punya SDM, kantor, ataupun ijin mendirikan perusahaan di negara lain, namun semuanya baik-baik saja.

Itu karena Rinia dan Pursena telah memegang kendali dengan baik.

Ini semua juga berkat Aisha dan ide-ide briliannya.

Mereka semua bekerja dengan keras.

Ngomong-ngomong, tak lama lagi Norn dan Aisha akan berusia 15 tahun.

Mungkin kalian sudah tahu, tapi biar kujelaskan lagi bahwa di dunia ini ulang tahun seseorang diperingati setiap umur 5, 10, dan 15 tahun.

Jadi, ulang tahun ke-15 sangatlah penting karena dianggap sebagai awal mula kedewasaanmu.

Para bangsawan sering kali merayakan usia anaknya yang ke-15 tahun dengan pesta besar-besaran.

Beberapa orang juga menyebutnya, upacara kedewasaan.

Bagi orang-orang di dunia ini, itu adalah salah satu hari terpenting dalam hidup mereka.

Tentu saja… aku juga harus mengadakan perayaan serupa.

Karena kami akan memperingati ulang tahun 2 gadis sekaligus, maka pesta ini akan 2x lebih besar daripada biasanya.

Si bos sudah memberiku banyak uang, jadi aku mampu menyewa tempat perayaan yang besar.

Aku juga sudah mengenal banyak orang penting dari negara lain, sehingga mereka akan berdatangan sembari membawa banyak hadiah. Pokoknya, hari itu aku akan memperlakukan Norn dan Aisha layaknya putri kerajaan.

Dengan antusias, aku memberitahu Roxy akan rencana ini, kemudian dia berkata….

"Mungkin Aisha akan menyukai perayaan yang mewah, namun kurasa Norn sebaliknya… bukankah itu berarti kita perlu membatasi skala pestanya?”

Kurasa dia benar, tapi tetap saja kami perlu persiapan.

Kami bukanlah keluarga bangsawan kelas atas, jadi rumah ini saja cukup menjadi tempat perayaannya.

Kemudian, Roxy menepuk kepalaku seraya berkata, “Aku melewatkan perayaan ulang tahunmu yang ke-15, jadi aku antusias sekali mengikuti acara ini.”

Padahal aku sendiri tidak begitu peduli dengan ulang tahunku yang ke-15.

Yahh tak apalah, setidaknya aku bisa memanjakan diri dengan belaian tangan Roxy.

Seperti kucing saja.

Meskipun pestanya tidak begitu besar, aku tetap ingin membuat perayaan yang berkesan.

Terimakasih, Roxy. Kau telah memberiku ide.

"Baiklah… sekarang, mari kita rencanakan pesta paling berkesan untuk dua anggota keluarga kita yang tercinta ini.”

Kami memutuskan untuk mendiskusikannya bersama anggota keluarga lain, tentu saja tanpa Norn dan Aisha.

Bagian 2[edit]

Larut malam, kami mengadakan pertemuan di ruang bawah tanah.

Seluruh keluarga, kecuali Norn dan Aisha, duduk mengelilingi sebatang lilin yang redup.

"Selamat datang, dalam kegelapan--"

"Maaf, Rudy, aku perlu cahaya yang lebih terang untuk menulis hasil rapat ini ..."

Roxy, yang bertindak sebagai notulen rapat, memotong sambutanku dengan komplainnya.

"Tidak, jika cahayanya terlalu terang, bisa ketahuan Aisha.”

"Lagian, ngapain kita harus sembunyi-sembunyi….?”

"Kenapa ya ..."

Lantas…. apakah kita harus pindah ke ruangan lain?

Tidak….tidak…tidak… kejutan adalah faktor yang penting dalam sebuah perayaan, jadi kita harus merencanakan semuanya dengan sembunyi-sembunyi.

Tapi…. apakah mereka sudah tahu bahwa kami sedang menyiapkan pesta yang meriah? Mereka bukanlah gadis yang bodoh, dan semua orang di dunia ini juga sudah tahu bahwa ulang tahun ke-15 harus dirayakan besar-besaran. Bukankah ini sama saja dengan mengharapkan kembali coklat yang diberikan pada Hari Valentin? [6]

"Kurasa kita akan kesulitan jika mempersiapkan pesta dengan sembunyi-sembunyi seperti ini. Toh, yang penting adalah hari H-nya. Selama mereka semua bahagia, kurasa tidak masalah.”

Ucap Lilia.

Menurutnya, menyiapkan pesta secara terbuka akan jauh lebih mudah.

Itu benar juga. Daripada susah-susah menyembunyikan pesta, lebih baik kita ungkapkan saja sejak awal, yang penting pesta itu bisa berjalan dengan lancar.

"Hmm ..."

Bagaimana ya…..

Dulu, ulang tahunku yang ke-5 dan 10 dirayakan dengan pesta kejutan.

Itulah sebabnya, kupikir pesta kejutan adalah hal biasa di dunia ini.

Seperti yang kubilang tadi, Aisha dan Norn pasti sudah menduga bahwa kami akan merayakan ulang tahunnya yang ke-15.

Kalau begitu, kami tidak perlu menyembunyikannya dari mereka.

Pokoknya harus meriah. Itu saja sih keinginanku.

"Jadi, kita harus melibatkan mereka dalam rapat persiapan ini…"

Sehingga, kami tidak perlu menerka-nerka hadiah apa yang diinginkan mereka.

Tanyakan saja langsung pada orangnya.

Aisha juga kenal baik dengan banyak pedagang di Distrik Niaga.

Jika aku mengendap-endap ke pasar saat hendak membeli hadiah, dia pasti akan mengetahuinya. Bahkan, mungkin saja dia akan berpikir, ’Wahh…. Onii-chan pasti mau beli sempak lagi!!’ kemudian dia pun membuntutiku.

Tentu saja aku tidak ingin beli CD.

Itu hanya perumpamaan, kok.

Tapi, tempo hari aku pernah membelikan Sylphy celana dalam baru, dan Aisha mengetahuinya. Dia pun tersenyum licik saat memergokinya. Jadi…. itu bukan sepenuhnya perumpamaan.

"Tapi, tidak seru jika mereka sudah tahu apa isi kadonya!”

Itu juga benar. Yang disebut kado haruslah mengandung misteri.

Kalau sudah tahu isinya, ya kenapa harus dibungkus kado?

Saat mendengar pendapat Eris, semuanya mengangguk setuju.

"Betul juga, isi kado harus mengejutkan, agar mereka semakin bahagia. Jadi, rapat rahasia ini masih diperlukan, setidaknya untuk mendiskusikan hadiah apa yang harus kita beli untuk mereka.”

Sylphy mengatakan itu setelah Eris.

Masuk akal.

Pada hari itu, mereka berdua akan menerima begitu banyak kado.

Norn sangat populer di sekolahan, sedangkan Aisha begitu dihormati di PT. Rudo, bahkan Guild Pedagang dan Distrik Niaga.

Jika ada hadiah yang sama, yahh… apa boleh buat.

Tapi setidaknya, hadiah dari keluarga harus berbeda satu sama lain.

"Jadi, bagaimana menurut kalian? Ayo kita putuskan sekarang…”

Maka, rapat tetap dilakukan secara rahasia, namun pembahasannya beralih pada hadiah ulang tahun.

Tapi, sepertinya mereka sudah punya bayangan hadiah apa yang akan diberikan nanti.

Lilia berencana memberi Norn sapu tangan, dan Aisha celemek.

Sylphy berencana memberi Norn buku, dan Aisha pena bulu.

Roxy berencana memberi Norn armor yang dibuat khusus, dan Aisha sekop sihir untuk berkebun.

Eris berencana memberi Norn sabuk pedang, dan Aisha sabuk biasa.

Mereka sudah memutuskan hadiahnya.

Sepertinya, mereka sudah banyak mempertimbangkannya.

Tentu saja aku juga sudah memikirkannya.

Aku memutuskan untuk memberi Norn patung Paul, yang sudah mulai kuproduksi beberapa hari yang lalu.

Paul mencintai Norn, hanya gadis itu yang paling ingin dia lihat tumbuh dewasa.

Dengan begitu, Paul selalu bisa menyaksikan Norn tumbuh menjadi seorang gadis yang hebat…. meskipun hanya dalam wujud patung.

Tapi kalau hadiah untuk Aisha….. jujur saja, aku masih bingung.

Aku tidak tahu apa yang dia inginkan.

Aisha tampaknya menyukai benda-benda yang imut.

Kau tidak akan menduga si jenius Aisha suka pada benda-benda imut, layaknya gadis pada umumnya. Misalnya, pakaian berenda manis, dan aksesoris yang berkilauan.

Hmmm…. sepertinya itu bukan hadiah yang buruk.

Tapi, belakangan ini dia mendapatkan bayaran dari PT. Rudo, harusnya dia bisa membeli benda-benda itu dengan uangnya sendiri.

Aku ingin memberinya hadiah spesial yang tidak bisa dia dapatkan dengan mudah.

"Oh iya…. bolehkah aku mendengarkan cerita kalian, tentang hadiah apa yang pernah kalian dapatkan sewaktu pesta ulang tahun ke-15?”

Akhirnya aku meminta saran dari mereka.

Aku harus mensurveinya.

"Itu sudah lama sekali, tapi kurasa dulu aku mendapatkan hiasan rambut dari orang tuaku. Warnanya putih, dan begitu imut.”

Kata Lilia.

Aku tidak tahu seperti apa Lilia ketika berusia 15 tahun, tapi tampaknya dia bukanlah orang yang suka memakai perhiasan.

Kalau tidak salah, dia menghabiskan hampir seluruh masa mudanya dengan berlatih di Dojo.

"Karena insiden metastasis, aku tidak merayakan upacara kedewasaan ... Ah, tapi aku mendapatkan banyak hadiah dari Ariel-sama, seperti pakaian dan sepatu….”

Sylphy mendapatkan pakaian.

Saat masih menyamar menjadi Fitts, dia selalu mengenakan pakaian lelaki, yahh… setidaknya di depan umum. Sepertinya pakaian itu juga pemberian Ariel.

"Aku tidak menerima hadiah spesial apapun. Ras Migurdia tidak memiliki kebiasaan seperti itu.”

Begitukah, Roxy?

Tapi sepertinya kau menyukai topi yang kami berikan sebagai hadiah pernikahan.

"Aku! Aku! Hadiah ulang tahunku adalah pengakuan dari Ruijerd bahwa aku sudah menjadi seorang prajurit!! Dan aku juga mendapatkan ‘itu’ dari Rudeus!”

Eris, maksudmu…..

Ini cukup memalukan, sebenarnya aku tidak memberikan apa-apa di hari ulang tahunnya… aku malah merampas keperawanannya.

Itu tidak pantas disebut hadiah.

Tapi kalau “itu” dihitung hadiah, maka apakah aku bisa memberikannya juga pada Aisha?

Jangan bercanda. Tubuh ini tidak bisa berkompromi dengan keluarga sendiri.

Tapi, apakah hadiah selalu berupa barang?

Mungkin aku bisa menjamunya ke suatu restoran mewah di pesisir pantai, lalu kami saling bersulang. Setelah itu, akan kuantar dia masuk ke kamar, lalu menemaninya sampai tidur. Sudah…. itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Intinya, aku akan memperlakukan Aisha layaknya Cinderella selama seharian penuh ...

Ah tidak…. aku ingin hadiah yang selalu membuatnya berkesan. Dengan kata lain, memang harus berbentuk barang.

"Umm, aku belum tahu apa yang akan kuberikan pada Aisha."

"Aisha-chan akan menerima apapun pemberian Rudi!"

Sylphy mengatakan itu sambil tertawa.

Di situlah sulitnya.

Itulah kenapa, aku kesulitan menentukan hadiah yang benar-benar bagus. Meskipun dia menyukai apapun pemberianku, bukan berarti aku boleh asal-asalan memberikan hadiah padanya.

... Apakah aku harus memberikan benda mahal yang tidak mampu dia beli?

Seperti berlian 100.000 karat?

Mungkin Orsted tahu tempatnya benda seperti itu.

Dan aku tidak akan ragu pergi ke perut monster sekalipun untuk mendapatkannya.

"Hadiah yang pernah kuterima dari Rudi adalah yang terbaik seumur hidupku.”

Kata Roxy.

Ah, aku jadi dapat ide!

"Baiklah ... aku akan mencobanya ..."

Aku mengangguk mantab setelah mendapatkan jawabannya.

Aku sudah memutuskannya.

Bagian 3[edit]

Kemudian, setelah beberapa kali rapat, kami mulai melakukan persiapan berkala.

Kami sudah menentukan hari H-nya, lalu meminta Norn dan Aisha meluangkan waktu pada hari itu.

Mereka terlihat bahagia saat tahu kami sedang mempersiapkan pestanya.

Awalnya, kukira Norn akan mengatakan, ’Ini terlalu mewah!’

Namun, ternyata dia hanya mengucapkan terimakasih sembari menunduk sopan.

Jarang sekali Norn menunjukkan sikap seperti itu…. biasanya kami tidak sedekat ini, yahh mungkin itu hanya berlaku di sekolahan.

Memang begitulah seharusnya, karena posisi Norn di sekolah cukup terpandang.

Sedangkan Aisha berseru, ’Wow, ini luar biasa!’ dengan antusias.

Tidak….

Setidaknya, itulah yang kuharapkan, namun ternyata dia hanya menanggapi dengan wajah terkejut sembari mengatakan, ’Ohh… ternyata aku sudah dewasa toh….’ seolah-olah ini bukanlah hal yang istimewa.

Mungkin karena dia terlalu jenius.

Sebenarnya, aku selalu menganggap Aisha sudah dewasa ... terutama sejak Oppai-nya….

Hentikan itu.

Aku bukanlah orang yang menilai kedewasaan hanya dari ukuran Oppai.

Itu sungguh memalukan.

Yang jelas, kita sekarang hanya perlu menunggu hari-H, karena semuanya sudah tahu.

Bagian 4[edit]

Hari-H.

Norn pergi ke sekolah seperti biasa.

"Aku akan pulang secepat mungkin."

Norn tampaknya cukup antusias.

Aisha juga berangkat ke kantor PT. Rudo lebih pagi hari ini.

... Lalu, dia sudah kembali saat tengah hari.

Sepertinya dia sudah menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya.

Kupikir, dia akan kembali dengan membawa banyak bingkisan dari karyawan, namun ternyata tidak.

"Apakah mereka memberimu sesuatu?"

"Mereka hanya mengucapkan selamat ulang tahun. Namun, kebanyakan ras hewan tidak punya kebiasaan memberikan kado saat rekannya ulang tahun.”

Tapi tetap saja, dia sudah mendapatkan banyak ucapan selamat dari orang lain, kurasa mood Aisha sedang bagus-bagusnya.

Lalu, bagaimana dengan kenalan-kenalannya di Distrik Niaga? Apakah mereka juga tidak memberikan apa-apa?

Yah, bagaimanapun juga Aisha hanyalah pelanggan ...

Umumnya, para pedagang tidak mengadakan perayaan apapun saat pelanggannya ulang tahun, kecuali diminta & dibayar.

Tapi kuyakin, setidaknya mereka mengucapkan selamat.

Itu saja sudah lebih dari cukup.

"Hei, Onii-chan. Bolehkah aku melihat persiapan pestanya?"

"Oh tentu."

Aku membantu persiapan pesta di ruang makan, sementara Aisha menontonnya.

Lilia dan Sylphy sibuk mondar-mandir antara dapur dan ruang makan.

Eris dan Roxy membantu membawakan tumpukan bahan makanan.

Aku memasang dekorasi ruangan pesta.

Aisha terus saja memperhatikan kami bekerja tanpa mengucap sepatah kata pun.

Ini adalah hari besar baginya, jadi Aisha tidak perlu bekerja. Aku tidak yakin ini semua akan selesai tepat waktu, tapi yang jelas deadline-nya adalah petang ini.

Aisha hanya diam di sana tanpa ekspresi, seolah ingin menahan dirinya ikut campur tangan menyiapkan pesta.

Kemudian, tiba-tiba Zenith menghampirinya, duduk di sebelahnya, kemudian menepuk-nepuk kepalanya.

Leo juga mendekat, lalu menyandarkan kepalanya pada kaki Aisha.

Sesekali, beberapa orang menghampiri Ars yang menangis, untuk menenangkannya.

Lucy datang, kemudian bertanya, “Aisha-nee, ingin main denganku?”, Aisha pun menjawab sembari tersenyum, “Maaf, sebenarnya aku ada pekerjaan, nih.”

Dengan penuh kesabaran, dia terus memperhatikan kami tanpa bergerak sedikit pun.

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Mungkin dia memikirkan apa makna kedewasaan, yang sebentar lagi akan dia dapatkan.

Atau mungkin dia berpikir, ’Kacau sekali kalian mempersiapkan pestanya!’

Aku tidak tahu.

Sore pun berlalu, dan hari semakin gelap.

Akhirnya, persiapan pesta selesai dengan baik, tanpa campur tangan Aisha sedikit pun.

Ruang makan sudah didekorasi.

Di sudut ruangan, hadiah untuk keduanya telah ditumpuk, bagaikan gunung.

Di atas meja, makanan dibiarkan berjajar agar sedikit dingin.

Pestanya akan segera dimulai saat Norn kembali.

Kami pun menunggu kepulangan Norn bersama-sama.

Apakah dia terlambat?

Kalau terlambat, maka kami harus menjemputnya.

Padahal, tadi Norn sudah berjanji akan pulang lebih cepat.

"Aku datang!"

Ternyata Norn pulang dengan membawa begitu banyak bingkisan di pelukannya, sampai hampir jatuh.

Ada juga karangan bunga besar di tangan kirinya.

Sedangkan di tangan kanannya ada: kotak kayu, hiasan rambut, benda-benda berbentuk aneh, dan tas yang sudah rusak

"Maaf aku terlambat. Aku harus membawa semua ini ... Sebenarnya aku ingin meninggalkannya di asrama, tapi lemariku tidak muat. Jadi, aku terpaksa membawanya pulang, sampai-sampai tasku rusak ... "

Sepertinya, dia mendapatkan begitu banyak ucapan selamat dan bingkisan di sekolah.

Wajar saja, karena sang primadona sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-15.

Ketua Dewan Siswa sungguh populer.

Mudah-mudahan dia tidak mendapatkan benda-benda aneh.

Seperti kue isi rambut ...

Setelah aku menyambut kedatangan Norn, kami pun memulai pestanya.

Bagian 5[edit]

Sama seperti pesta ulang tahun ganda yang pernah kami rayakan sebelumnya….

Aku memulai acara dengan pidato sambutan.

Aku membahas hal yang sudah diketahui semua orang, bahwa ulang tahun ke-15 adalah pertanda seseorang telah mencapai kedewasaan.

Sebenarnya, aku sendiri tidak ingin memberikan pidato seperti ini, namun itulah yang terjadi.

Tanpa sadar, aku malah menggurui mereka.

Sebagian besar pidatoku membahas tentang “bagaimana orang dewasa bersikap”.

Kalau sudah dewasa, kau tidak perlu meminta ijin pada orang lain jika ingin melakukan sesuatu, namun tetaplah harus bertanggung jawab. Seperti yang selalu dicontohkan Sylphy.

Kau juga tidak boleh lupa untuk terus belajar. Seperti yang selalu dicontohkan Roxy.

Dan kau juga harus memiliki tujuan yang jelas dalam hidupmu. Seperti yang selalu dicontohkan Eris.

Kemudian, Lilia berbicara tentang masa muda Paul dan Zenith, dan saat-saat ketika Norn dan Aisha dilahirkan. Di tengah-tengah cerita, tiba-tiba Zenith menepuk-nepuk kelapa Norn, dan itu hampir membuatnya berlinang air mata.

Setelah pembukanya selesai, kami mulai acaranya dengan membagikan kado.

Saat membuka bingkisannya, Norn tersenyum bagaikan bunga yang mekar.

Kelihatannya dia sangat menyukai armor yang Roxy buatkan khusus untuknya.

Roxy sengaja membuat armor itu dengan model mirip seperti milik Paul, yang dipajang di kamar Zenith.

Ukurannya sudah disesuaikan agar pas dengan tubuh Norn, terutama bagian dadanya.

Dilengkapi dengan sabuk pedang pemberian Eris, dan pedang peninggalan Paul, Norn terlihat seperti pendekar sungguhan.

Pasti Roxy dan Eris ingat bahwa dulu Norn pernah bilang ingin menjadi seorang petualang.

Figure Paul akan kuberikan terkahir.

Itu adalah salah satu maha karyaku, tingginya sekitar 30cm, dan ekspresi wajahnya terlihat begitu detail.

Proses pembuatannya sungguh sulit, karena aku hanya bisa mengandalkan ingatanku untuk menggambarkan wajah Paul. Tidak ada foto di dunia ini, paling-paling hanya lukisan.

Akhirnya, aku memberikan hadiah itu padanya. Saat melihat patung itu, sudah pasti kau akan teringat pada Paul. Norn pun tidak kuasa menahan tangisnya.

Kemudian Norn berkata, "Terimakasih untuk hadiah ini. Mulai sekarang, aku sudah dewasa. Aku akan terus bekerja keras. Untuk kedepannya, kumohon selalu berikan bantuan kalian.”

Saat mendengar itu, dada kami penuh sesak dengan emosi, namun bahagia rasanya.

Lilia juga menangis.

Norn, kau telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa ...

Norn terlihat bahagia… lalu bagaimana dengan Aisha?

Aisha pun sama.

Tapi saat melihatnya, aku merasakan sesuatu yang aneh.

Wajahnya sih tidak tampak cemberut.

Namun, kali ini dia tidak bereaksi berlebihan seperti, ’Wow!! Keren sekali!! Imut sekali!! Terimakasih, Onii-chan!!’

Bukan berarti Aisha tidak menikmati pesta ini.

Namun, aku masih penasaran…. pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Tidak biasanya dia sedingin ini.

Jangan-jangan, wajah bahagianya itu hanyalah topeng.

Apakah dia kecewa dengan pesta ini? Seburuk itukah persiapan pesta ini di matanya ...?

Oh iya, hadiahku untuk Aisha adalah sebuah liontin.

Liontin dari ras Migurdia.

... sebenarnya benda ini hanyalah imitasi, sedangkan yang asli dimiliki Ruijerd.

Harganya tidak mahal kok, karena aku sendiri yang membuatnya.

"Aisha, aku tumbuh bersama liontin ini. Mungkin liontin ini tidak berarti apapun bagimu, namun kuberikan benda ini sebagai bukti bahwa kau sudah dewasa.”

Aku merasa senang saat menerima kalung itu dulu.

Jadi, aku ingin memberikannya kepada Aisha. Tapi, kenapa harus Aisha ...bukannya Norn.

Aku sendiri tidak tahu alasannya.

Tapi yang jelas, ini adalah benda yang penting bagiku.

"... Terima kasih."

Wajahnya tidak begitu bahagia.

Malah, terkesan datar.

Dia pun menatap liontin itu, seolah sedang berpikir dalam.

Bagian 6[edit]

Setelah acara membuka kado, kami lanjutkan pestanya dengan makan-makan.

Terjadi kejutan lainnya.

Sebelum malam berakhir, kami kedatangan tamu, yaitu para pelajar Akademi Sihir yang membawa hadiah lebih banyak.

Sepertinya mereka barusan saja tahu bahwa Norn hari ini berulang tahun yang ke-15, sehingga mereka membeli kado dengan buru-buru, lalu segera menuju ke rumah kami.

Semakin banyak orang datang.

Saat melihatku, beberapa dari mereka wajahnya membiru, namun aku menyapanya dengan senyuman yang berseri-seri.

Senyum adalah salam penyambutan terbaik untuk para tamu.

... Yahh, sebenarnya terjadi sedikit masalah, sih.

Ada beberapa pelajar yang berusaha melarikan diri saat melihatku.

Sylphy menangkap mereka, lalu menyuruhnya memberikan hadiah pada Norn.

Tidak ada masalah serius, kok.

Tapi… tingkah kalian sungguh tidak sopan, kawan.

Karena mendapatkan hadiah begitu banyak, lama-lama bingkisan milik Norn menggunung.

Sedangkan Aisha hanya mendapatkan kado dari kami.

Aisha hanya tersenyum saat melihatnya.

Aku tahu itu senyum palsu.

Tapi sepertinya, hanya aku yang menyadari senyum penuh paksaan itu.

Atau…. mungkin hanya aku saja yang berprasangka buruk padanya. Mungkin Aisha tidak begitu mempedulikan kado-kado itu.

Apakah aku harus membicarakan ini dengan Sylphy ...?

Sementara aku berpikir…..

Tiba-tiba, aku mendengar sesuatu dari pintu depan.

Ada keributan besar di sana, sehingga membuat Leo menyalak.

"Ada apa sih..."

Dengan kesal, Eris mulai mengambil pedangnya di sudut ruangan.

Apakah si bos datang?

Tidak, ada banyak orang di sana.

Orsted tidak mungkin membawa begitu banyak orang.

Sambil memikirkan itu, aku pergi ke pintu depan.

Di luar, aku mendapati banyak orang berwajah sangar.

Sejumlah besar ras hewan berambut tebal dan bergigi tajam berdiri di dekat gerbang depan rumahku.

Mereka semua mengenakan jubah yang kukenal.

Dengan penampilan seperti itu, mereka bisa mengintimidasi siapapun di dekatnya.

Singkatnya, mereka tampak seperti preman.

Namun, beberapa dari mereka terluka, dan bajunya compang-camping.

Dua preman tersadis berdiri di barisan paling depan.

Rambut keduanya acak-acakan, seperti habis berkelahi.

Aku kenal keduanya. Sebenarnya, mereka berasal dari keluarga terhormat.

"Ini semua salah Rinia, nano! Dia membuat kesalahan pada pekerjaan kemaren, sehingga kami datang terlambat, nano!”

"Ah, itu hanya alasan Pursena, nya!”

"Memang Rinia yang salah, nano!"

"Aku sudah mencium bau mangsa kita, tapi dia malah menyerang tenda kami, nya! Karena itu, kami membuang-buang banyak waktu, nya!!”

"Orang bodoh mana yang membangun tenda di tempat berbahaya seperti itu, nano!"

Rinia dan Pursena.

Seperti biasa, mereka selalu saja bertengkar.

Yah, tapi tidak serius, kok.

Mereka sudah terbiasa melakukannya.

"Oh, itu bos, nano ~."

"Kalian semua, ucapkan salam pada bos, nya!"

Atas perintah Rinia, ras-ras hewan berwajah sangar itu pun menundukkan kepalanya padaku.

Karena mereka menunduk, aku bisa melihat sesuatu di belakangnya.

Ada tiga tumpukan benda mirip daging di sana.

"Bos! Kami membawa hadiah, nya!"

"Sejak kemaren kami berburu di hutan, bahkan yang lainnya juga ikutan membantu, nano!”

Itu adalah monster besar mirip babi hutan.

Monster itu biasa ditemukan di hutan dekat Kota Sharia.

"... Kalian…..kenapa kalian semua meninggalkan kantor?"

"Tidak apa-apa, nya. Masih ada yang jaga, kok….”

"Benar. Kami sengaja mengurangi pekerjaan hari ini, nano.”

Jadi, karena itulah Aisha bisa pulang lebih cepat hari ini. Mereka sengaja mengurangi pekerjaan.

Pagi ini Aisha berangkat bekerja dengan semangat, namun di kantor hanya ada sedikit pegawai, sehingga pekerjaan pun bisa selesai lebih cepat.

Sepertinya, dia mengira akan banyak orang berdatangan saat hari semakin siang, namun ternyata kantornya masih saja sepi.

Ahh, rupanya… karena itu juga mood Aisha hari ini agak buruk, namun dia masih bisa menyembunyikannya dengan senyuman palsu.

"Ah, itu Nona Penasehat, nya!”

"Semuanya, itu Nona Penasehat, nano!”

Aku berbalik, dan mendapati Aisha sudah berdiri di belakangku.

Dia melihat preman-preman itu dengan bingung.

"Apa-apa’an ini..."

"Nona Penasihat! Selamat ulang tahun!"

Bersamaan dengan seruan Pursena, mereka semua membungkuk serempak.

Ucapan selamat saling bersautan dan menggema. Wah… jam berapa ini… bisa-bisa kalian mengganggu tetangga, lho.

Aku pernah melihat adegan seperti ini di film Yakuza.

Kemudian, Aisha menunduk.

".... Aha."

Mushoku 20 (10).jpg

Aisha tertawa.

Sepertinya dia tidak kuasa menahan kegembiraannya.

"Banyak sekali yang kalian bawa, aku tidak bisa memakan semuanya sendirian ... Wow, ahahaha!"

Sembari mengatakan itu, dia tertawa.

Mereka pun terlihat gembira.

Dengan wajah lega, mereka tersenyum cerah.

Aku tidak meragukan kepopuleran Norn, namun hari ini…. aku sadar bahwa Aisha tidaklah sendiri.

"Hei Onii-chan, bolehkah aku menjamu mereka semua ke halaman rumah kita?”

Aisha meminta ijin untuk mempersilahkan mereka masuk. Saat kulihat kerumunan ras hewan itu, ada beberapa pria yang sedang mengibas-ngibaskan ekornya.

Aku tidak begitu mengerti tradisi ras hewan saat merayakan ulang tahun seseorang, tapi setahuku mereka akan membawakan hewan burun, lalu makan bersama.

Aku bisa melihat air liur yang membasahi mulut mereka, dan mendengar perut yang keroncongan. Yahh…. mereka pasti lapar.

"Oh tentu saja!"

Setelah mendapatkan ijinku, Aisha tersenyum selebar-lebarnya.

Bagian 7[edit]

Kemudian pesta dimulai di kebun, Norn mengajak para pelajar yang datang terlambat untuk bergabung pada pesta kebun kami.

Babi hutan buruan mereka kami panggang pada bara api.

Ada juga seorang pedagang miras kenalan Aisha yang menyumbangkan minumannya.

Norn menghela nafas pasrah. Sepertinya dia menginginkan pesta ulang tahun yang lebih damai dan tentram, agar tidak mengganggu tetangga. Namun, beginilah kenyataannya.

Tapi dia berusaha menyembunyikan kekesalannya, agar tidak merusak suasana pesta yang meriah.

Aisha tampaknya sangat menikmati pesta ini.

Pesta ini berlanjut dengan acara makan bersama para prajurit dari PT. Rudo.

Akhirnya, orang-orang pamit satu per satu saat malam semakin larut, sampai akhirnya hanya menyisakan Aisha sendirian.

"Apa makna kedewasaan ... aku tidak tahu, tapi sepertinya bukanlah hal yang buruk."

Jika dibandingkan dengan Norn, mungkin perkataan Aisha itu terkesan lebih kekanak-kanakan. Tapi….. yahh, itulah pendapatnya yang jujur.

Aisha adalah Aisha….. Norn adalah Norn.

Orang dewasa adalah orang dewasa….. anak kecil adalah anak kecil.

Aku hanya bisa berharap kedua gadis ini bisa mewujudkan cita-citanya masing-masing.

"Yahh, aku sendiri juga tidak tahu apakah makna kedewasaan."

Balasku.

Kurasa, Aisha tidak perlu memaksa dirinya untuk bertingkah seperti orang dewasa.

Dengan demikian….. maka kedua adikku sudah resmi berusia 15 tahun.

Bab 3: Pencapaian dan Tujuan[edit]

Bagian 1[edit]

Tahun berikutnya berlalu bagaikan sekejap mata.

Hari ini, adalah giliranku diwisuda.

Ya, hari ini adalah Upacara Kelulusan Akademi Sihir Ranoa.

Aku selalu duduk bersebrangan dengan jajaran Dewan Siswa.

Namun, kali ini aku bersama para lulusan lainnya.

Sembari dikelilingi oleh para lulusan yang tidak dikenal, aku mendengarkan pidato Kepala Sekolah.

Sudah beberapa kali aku mendengar pidato ini. Selalu saja sama.

Mungkin dia membaca teks yang sama setiap tahunnya.

Tapi itu tidak masalah, karena pelajar yang mendengarkannya pun tidaklah sama setiap tahunnya.

Bagiku, pidato itu tidak terlalu berkesan.

Beberapa tahun terakhir, kehidupan sekolahku juga tidak terlalu menarik.

Aku mengambil beberapa kelas, sih…. namun berhenti mengikuti kelas homeroom.

Rasanya seperti mendaftarkan nama saja.

Aku mendapatkan sertifikat kelas C Guild Sihir karena makalahku tentang cara mengajar sihir tanpa mantra.

Makalah itu cukup membuatku lulus, sehingga tugas akhir tidaklah begitu berkesan bagiku.

Namun, banyak kenangan indah kulalui selama belajar di sekolahan ini.

Aku bertemu kembali dengan Sylphy dan Zanoba, mengenal Cliff, mengerjai Rinia & Pursena setiap saat, menemukan sesama orang Jepang, Nanahoshi, dan juga minum-minum bersama Badigadi yang selalu saja terbahak-bahak…..

Tiba saatnya…. aku harus mengucapkan selamat tinggal pada tempat ini.

Kurasa….aku hampir menangis.

Sedalam itukah ikatan emosionalku dengan sekolahan ini?

Ya….. tentu saja….

Bagian 2[edit]

Yahh…

Aku telah menyelesaikan beberapa rencanaku tahun ini.

Terutama, membangun jaringan di Kerajaan Asura.

Selama beberapa bulan tinggal di Kerajaan Asura, kami telah mendirikan anak perusahaan PT. Rudo, cabang toko patung Ruijerd, sekalian pabriknya.

Semua itu kami dapatkan atas bantuan Ariel.

Berkat bantuan Ariel juga, kami mendapatkan beberapa rekan.

Saat aku menanyakan, apakah mereka bersedia memberikan bantuan pada Orsted di masa depan, mereka pun menjawab dengan mantab, "Sejak awal, memang itu keinginan kami."

Ariel mengumpulkan beberapa orang dari fraksinya, kemudian menggelar pesta. Sebenarnya, pesta itu diadakan untuk mengumumkan rencana kami di masa depan.

Aku meyakinkan bahwa mereka bisa menjalin koneksi dengan salah satu dari Tujuh Kekuatan Dunia, yaitu Dewa Naga Orsted, melalui diriku sebagai perantara.

Padahal, sebenarnya mereka menerima tawaran itu karena pengaruh dari Ariel.

Dua puluh atau tiga puluh tahun lagi, orang-orang Ariel ini akan menduduki jabatan penting pada Kerajaan Asura.

Mereka begitu loyal pada Ariel.

Namun, tidak semuanya begitu.

Misalnya, Kaisar Air Isolte.

Aku tidak tahu pasti apa yang membawanya ke pesta itu, tapi yang jelas Raja Pedang Nina Farion juga hadir.

Aku sih senang saja, bila Raja Pedang dan Kaisar Air bersedia memihak Orsted.

Awalnya aku meminta Eris membujuk Nina agar berpihak pada kami, namun aku tidak tahu apa hasilnya.

Aku sempat melihat mereka bertiga ngobrol bersama, tapi apakah membahas tentang Orsted? Kurasa tidak.

Aku tidak berharap banyak, namun mudah-mudahan kami bisa berhubungan baik dengan pendekar berbakat seperti Nina melalui Eris.

Jujur saja, kurasa orang-orang itu tidak begitu mengerti tentang kebangkitan Laplace 80 tahun mendatang.

Mungkin saja aku tidak menyampaikannya dengan baik.

Tapi yang jelas, Ariel lah yang mengendalikan mereka sepenuhnya.

Kalau begitu, harusnya tidak masalah.

Ariel adalah andalan kami untuk membangun koneksi di Asura.

Oh iya, waktu aku mengabari Ariel, bahwa Eris telah melahirkan anak ketigaku, dia terlihat senang.

Lalu dia berkata dengan wajah nakal, "Oh iya… kenapa kita tidak menjodohkan salah seorang anak kalian dengan bangsawan Asura? Jika kita melakukannya, maka hubungan kekerabatan ini akan semakin erat.”

Kupikir dia mengatakannya dengan serius.

Aku sih tidak setuju. Tapi, aku punya 3 istri sekarang, dan anakku semakin banyak saja. Kurasa tidak masalah jika salah satu dari mereka menikahi seorang bangsawan yang terpandang.

Apakah aku melakukan semua ini karena Orsted? Sampai menjodohkan anakku segala? Apakah aku sudah berlebihan ya….

Kurasa, keluargaku tidak akan menolak ide ini. Toh, kerabat Ariel sangatlah berpengaruh di Kerajaan Asura.

Bagaimanapun juga, ikatan saudara begitu kuat.

Namun, aku bukanlah ayah yang memanfaatkan anaknya untuk kepentingan tertentu.

Setidaknya, aku harus berbicara empat mata dengan anakku, apakah dia bersedia menikah dengan keluarga bangsawan kelas atas.

Sampai saat ini, aku sudah mendirikan pondasi yang kokoh di Kerajaan Asura. Tidak berlebihan jika kubilang koneksi dengan Kerajaan Asura sudah berada di dalam genggamanku.

Fraksi Ariel dan Dojo Dewa Air sudah menyatakan dukungannya pada kami, selanjutnya jika kami beruntung…. para pendekar pedang di Daratan Suci Pedang akan memihak Fraksi Orsted.

Fasilitas produksi figure Ruijerd juga sudah didirikan.

Kerajaan Asura adalah tempat terbaik untuk berbisnis di dunia ini. Jika kami bisa memproduksi figure Ruijerd di pusat perdagangan ini, maka para pedagang bisa mendistribusikannya ke berbagai tempat, di seluruh penjuru Benua Tengah.

Sempurna.

Mungkin dengan cara ini, aku segera bisa bertemu kembali dengan Ruijerd. Aku akan senang sekali.

Proyek selanjutnya adalah mengembangkan sayap ke Kerajaan Raja Naga. Kami harus menemui Dewa Kematian Randolph untuk membangun koneksi.

Tidak ada orang yang begitu berpengaruh seperti Ariel, jadi akan lebih sulit.

Setidaknya kami memerlukan 2 atau 3 tahun lebih lama.

Kerajaan Asura hanyalah permulaan.

Setelah ini, perjuangan akan jauh lebih sulit.

Lalu, tentang hasil penelitian.

Pertama-tama, penelitian Zanoba.

Setahun terakhir, dia disibukkan dengan penjualan figure Ruijerd. Jadi, proyek penelitian Magic Armor terbengkalai.

Apa boleh buat.

Tapi, dua toko sudah berhasil dia dirikan, yaitu di Sharia dan Ars.

Dia pasti sibuk.

Bisnis itu berjalan dengan lancar. Ini semua karena Ginger dan teman kami dari Guild Pedagang yang bertindak sebagai manager, tidak ketinggalan sokongan dana dari Ariel.

Penjualan patung Ruijerd dan buku bergambar itu tidaklah meningkat pesat, namun cukup stabil.

Aku sudah menambahkan halaman yang berisi latihan-latihan menulis dan membaca di bagian akhir buku itu. Sepertinya, bagian itu juga dicari oleh konsumen.

Aku tidak paham, mengapa materi bonus di akhir buku malah menarik perhatian pembeli, namun kurasa itu bagus.

Tanpa bantuan finansial dari Ariel dan Orsted, tidak mungkin bisnis ini berkembang sampai sebesar ini. Kuras, kami tidak perlu terburu-buru saat ini.

Selanjutnya, mari kita bicara tentang Cliff.

Dia menghabiskan setahun terakhir bersama keluarganya, dan memperdalam penelitian tentang kutukan.

Tujuannya, adalah melenyapkan kutukan Elinalise dan Orsted.

Namun, sayangnya masih belum ada terobosan besar dalam penelitiannya.

Sepertinya itu tidak mudah. Jika orang sejenius Cliff belum juga menghasilkan sesuatu yang besar, maka pasti ada rintangan yang tidak mudah dilewati.

Dia berhasil meningkatkan efektifitas alat sihir itu, tapi tetap saja tidak sempurna.

Berkat alatnya, frekuensi sex Elinalise semakin berkurang selama setahun terakhir ini.

Namun, bukan berarti hasrat sexnya padam.

Yang terakhir, tentang diriku sendiri.

Aku berhasil mencapai beberapa hal.

Selama perjalanan dari Sharia menuju Ars, aku memikirkan cara untuk memanggil Magic Armor.

Perugius mengatakan bahwa kau tidak mungkin menteleport benda mati, namun aku minta pendapat Nanahoshi.

Kemudian, aku menemukan suatu cara.

Cara ini terkait dengan lingkaran sihir teleportasi dua arah.

Karena lingkaran sihir itu bisa memindahkan sesuatu bolak-balik, maka seharusnya aku bisa “menukar” sesuatu.

Jadi, kita perlu membuat dua lingkaran sihir teleportasi, katakanlah A dan B. Kedua lingkaran ini akan diaktifkan pada saat yang sama.

Proses teleportasi terjadi saat sesuatu ditempatkan di atas lingkaran sihir, jika cara ini terjadi pada 2 lingkaran sihir yang berbeda, maka kita akan kesulitan mengamatinya. Namun, kurasa ini bukan mustahil.

Patut dicoba, kan?

Jika percobaan ini berhasil, maka kami akan menemukan terobosan baru dalam sihir teleportasi.

Oleh karena itu, penelitian selanjutnya adalah menempatkan Magic Armor pada lingkaran sihir teleportasi dua arah.

Magic Armor diletakkan pada lingkaran sihir A, lalu lingkaran sihir B kubawa dalam bentuk gulungan. Jika aku ingin memanggilnya, maka aku hanya perlu membuka gulungan itu, lalu kuaktifkan lingkaran sihirnya.

Namun, aku juga perlu meletakkan sesuatu pada lingkaran sihir B, sehingga benda itu bisa tertukar dengan Magic Armor yang sudah ditaruh pada lingkaran sihir A.

Setelah kualirkan sedikit Mana…. maka, boom…. proses pertukaran kedua benda itu pun terjadi.

Sukses besar.

Sehingga, aku bisa memanggil Magic Armor Versi I kapanpun aku membutuhkannya.

Jangankan Magic Armor, Gund*m sekalipun bisa kupanggil dengan cara seperti ini.

Namun, kami memerlukan gulungan yang begitu lebar untuk memuat titik B. Sedangkan, ketika Magic Armor Versi I berhasil tertukar, gulungan itu robek karena tertimpa baju zirah yang begitu berat. Jadi, gulungan lingkaran sihir teleportasi B hanya bisa dipakai sekali.

Sedangkan aku tidak bisa membawa begitu banyak gulungan.

Ada batasnya.

Untungnya, metode ini juga bisa digunakan untuk melarikan diri jika situasinya sedang kritis. Aku senang penemuan ini bisa digunakan untuk beberapa tujuan.

Lalu, tentang Orsted.

Dia terus mengeksekusi setiap rencananya.

Namun sayangnya, dia gagal meniru teknologi ras naga kuno untuk menciptakan “handphone”. Sebagai gantinya, dia bisa membuat alat komunikasi tulis.

Rupanya, dia menyalin teknologi Patung Tujuh Kekuatan Dunia, yang pernah diciptakan oleh Dewa Teknik.

Dia membuat suatu alat komunikasi induk, yang bisa mengirimkan pesan tulis pada alat-alat komunikasi lainnya.

Jadi, alat ini cukup mirip seperti fitur SMS.

Sayangnya, alat ini cukup berat, sehingga sulit dibawa kemana-mana.

Selain itu, diperlukan Mana dalam jumlah besar untuk mengaktifkannya.

Jadi, cara terbaik adalah menambatkan alat itu di suatu tempat.

Dengan kata lain, “handphone” ini tidak bisa dibawa dengan bebas.

Untuk saat ini, kami telah membuat sepasang, yang pertama ditempatkan di kantor pusat PT. Orsted, yang kedua ditempatkan di kamar pribadi Ariel, sehingga kami bisa mengirimkan informasi apapun ke Kerajaan Asura secepat mungkin.

Setiap malam Ariel duduk berlutut di depan alat itu, sembari membaca berbagai informasi dari kami, seperti: ’Bagaimana perkembangan sekutu-sekutu kita?’

Kemudian, tentang anak-anakku.

Pertama adalah Lucy.

Putri tertuaku itu sudah berusia lima tahun sekarang.

Pesta ulang tahunnya baru saja kami rayakan tahun lalu. Dia menerima hadiah dari seluruh keluarga, dan kelihatannya senang sekali.

Dia tumbuh menjadi gadis yang enerjik.

Rasanya seperti baru kemarin dia merangkak dan berbicara terbata-bata. Sekarang dia sudah bisa berjalan dengan mantab, bahkan berlari. Dia hanya menguasai beberapa kata, namun bicaranya sudah jelas.

Kata-kata favoritnya adalah 'tidak' dan 'hentikan'.

Dia pun mendapatkan kelas sihir khusus dari Sylphy dan Roxy.

Setiap hari dia habiskan dengan belajar sihir di pagi hari, lalu malamnya berlatih mengayunkan tongkat bersama Eris.

Kehidupannya begitu mirip seperti kehidupan Rudeus kecil di Desa Buina.

Meskipun terlihat begitu enerjik, sebenarnya Lucy hanyalah gadis biasa.

Aku tidak boleh terlalu memanjakannya.

Saat melihatku, dia langsung melompat padaku sembari berseru, “Papa!”

Sungguh imut.

Setelah merayakan ulang tahunnya yang kelima, Lucy pun menyadari statusnya sebagai kakak tertua.

Belakangan ini, dia mulai ikutan merawat Lara dan Ars.

Dia tahu bahwa Leo selalu saja bersama Lara, sehingga dia juga menganggapnya sebagai saudara.

Beberapa hari yang lalu, dia mengambil sikat untuk menyisir bulu lembut Leo.

Dengan tubuh semungil itu, aku tersentuh melihat kedewasaannya ...

Namun tak lama kemudian, aku menyadari bahwa itu sikat kesayangan Sylphy. Lucy mengambilnya tanpa ijin.

Begitu tahu sikatnya dipenuhi rambut Leo, Sylphy pun memarahinya habis-habisan.

"Tapi…. rambut mama dan Leo, sama-sama putih….”

Itulah alasan Lucy.

Yahh, mau bagaimana lagi, namanya juga anak kecil. Aku hanya menanggapinya dengan cekikikan. Tapi, itu malah membuat istri pertamaku semakin marah, dia pun tidak berbicara padaku seharian.

Tapi, Lucy sudah belajar dari kesalahannya.

"Mulai sekarang aku akan menggunakan sikat Papa, jadi maafkan aku, Papa."

Oke…oke….

Dengan begitu, aku kehilangan sikat. Tentu saja tidak masalah.

Kemudian, tentang Lara.

Sang Penyelamat Masa Depan kini sudah berusia 2 tahun. Namun dia masih saja berwajah cemberut, dan tidak pernah sekalipun menangis semenjak insiden Kerajaan Shirone.

Namun, diam bukan berarti tenang.

Dia sudah bisa berjalan, sehingga dia menghabiskan waktunya seharian dengan mengelilingi rumah.

Berbeda dengan Lucy yang selalu saja menempel pada Sylphy, Lara lebih suka berjalan sendirian. Dia menyusuri tempat-tempat manapun yang membuatnya penasaran.

Sifat mandirinya itu dia dapatkan dari ibunya.

Berbahaya meninggalkan anak ini tanpa pengawasan. Dia bisa berada di tempat-tempat yang tidak kau duga sebelumnya. Tapi untunglah ada Leo, sang Hewan Suci akan selalu mengikuti kemanapun dia melangkah. Jadi, kurasa tidak masalah.

Jika Lara tertidur, maka Leo akan meringkuk di dekatnya seolah-olah ingin melindunginya.

Lara sendiri tampaknya melihat Leo sebagai pelayannya yang paling setia.

Belakangan ini, dia menemukan cara baru untuk mengelilingi rumah kami, yaitu dengan menunggang di punggung Leo.

Suatu hari saat Eris hendak mengajak Leo jalan-jalan, dia mendapati benda mirip ransel di punggung si anjing. Itu adalah Lara yang meringkuk. Aku jadi merasa sedikit khawatir.

Mungkin Leo bisa diandalkan, namun sebagai ayah, aku cukup cemas.

Selain Leo, ada anggota keluarga kami lainnya yang begitu Lara sukai, yaitu Zenith. Entah kenapa, tampaknya Lara begitu tertarik pada ibuku.

Biasanya dia duduk di pangkuan Zenith, sembari menatapnya dengan tenang.

Aku terharu melihat hubungan cucu dan nenek yang begitu dekat. Yahh, andaikan saja mereka sama-sama bisa bicara.

Akhirnya…. tentang anak terakhirku, Ars.

Putra tertua kami telah genap berusia setahun. Seperti ayahnya, kegemaran Ars adalah Oppai.

Dia tidak membeda-bedakan ukuran Oppai… pokoknya ada Oppai, dia pun kegirangan. Tentu saja favoritnya adalah Oppai ibunya sendiri, Eris. Namun dia juga suka Oppai yang lebih tepos seperti punya Sylphy ataupun Roxy. Kalau Oppai-nya Rinia dan Pursena…. tentu dia juga menyukainya.

Dia terlihat begitu girang dan bahagia saat menempel pada dada wanita.

Sepertinya dia tahu bahwa ukuran bukanlah kasta.

Saking girangnya, sampai dia sedikit terkencing-kencing. Duh…. aku jadi khawatir masa depan anak ini.

Saat aku menggendongnya, dia malah menangis. Rupanya kau tahu laki-laki tidak ber-Oppai.

Meskipun sedang tertidur pulas, dia langsung menangis keras saat kuangkat. Kemudian dia terbangun, seolah berkata, ’Apa-apa’an ini!!’

Sebenci itukah kau pada dada pria?

Tapi, aku juga tidak suka sih ...

Yahh, aku jadi merasa kesepian. Tapi, mungkin juga itu dikarenakan aku tidak bersama Ars saat dia dilahirkan.

Aku juga khawatir pada sifatnya yang begitu nurut pada setiap wanita.

Kalau dia sudah besar nanti, akan kuajarkan bahwa seorang pria tidak boleh takhluk begitu mudah pada wanita.

Aku khawatir nanti dia akan tumbuh menjadi seorang pria yang diperbudak wanita.

Secara keseluruhan, banyak pencapaian yang kuraih tahun ini.

Aku pun ingin mengatakan, “Ayo berusaha lebih baik lagi tahun depan.”

Bagian 3[edit]

Sembari mengingat kembali kejadian-kejadian selama setahun terakhir, tak terasa upacara kelulusan selesai.

Tentu saja, aku tidak diminta naik ke podium sebagai perwakilan para lulusan.

Aku bukanlah siswa berprestasi di sekolahan ini. Begitu banyak kelas yang kulewatkan, bahkan aku tidak mengambil ujian akhir. Jadi, tidak mungkin aku ditunjuk sebagai perwakilan para lulusan, toh aku juga tidak mau.

Sebisa mungkin aku menghindari para pelajar yang menantangku berduel seusai upacara wisuda.

Entah kenapa, itu terkesan seperti seorang gadis yang menyatakan cintanya pada pria hebat, hanya untuk mendapatkan status sosial yang lebih tinggi.

Aku berjumpa dengan Wakil Kepala Sekolah Jinas di gerbang depan, kemudian dia berkata, "Aku senang pernah merekomendasikanmu bersekolah di sini.”

Ya…. itu benar, tanpa ijin darinya, aku tidak akan pernah bisa bersekolah di sini.

Berkat Jinas pula Norn bisa bersekolah di sini, bahkan…. mungkin Lucy juga akan bersekolah di sini beberapa tahun kemudian.

Aku pun membalasnya dengan ucapan terimakasih setulus jiwa. Itu membuat Jinas hampir menangis.

Sorenya….

Kami semua berkumpul di kedai langganan kami.

Tidak hanya merayakan kelulusanku, kami juga mengadakan pesta perpisahan untuk Cliff.

Aku lulus dengan prestasi biasa-biasa saja, bahkan aku tidak pernah mengambil tugas akhir.

Tapi aku tetap bahagia.

Sebulan kemudian, Cliff akan memulai misinya ke Kerajaan Suci Milis.

Dia akan berjuang di sana.

Berjuang sendirian.

Apa yang akan terjadi selanjutnya…. tak seorang pun tahu.

Mungkin aku masih bisa memprediksi jalan kehidupannya, namun masa depan bukanlah hal yang pasti.

Mulai saat ini, Cliff akan menjalani ujian yang sulit, tanpa bantuan siapapun.

Dengan dukungan terakhir dari Elinalise, dia pun siap berangkat.

"Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan posis eksekutif di Ordo Gereja Milis. Saat berhasil meraihnya, aku akan segera kembali ke Sharia untuk menemui istri dan anakku.”

Elinalise hanya mendengarkan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dia wanita yang tabah.

Andaikan Roxy mengatakan, ”Aku akan kembali ke Benua Iblis untuk menjadi Raja Iblis!” tentu saja aku tidak akan tinggal diam.

Yang perlu kami lakukan sekarang hanyalah menunggu sembari berharap Cliff berhasil meraih tujuannya.

Ngomong sih mudah…. namun, tak semua orang bisa melakukannya. Menunggu setiap hari tanpa adanya kabar yang jelas, lalu tiba-tiba datanglah berita kematian…. itu sungguh mengerikan, aku bahkan tidak berani membayangkannya.

Tapi Elinalise tampaknya sangat mempercayai Cliff.

Itu bukanlah kepercayaan yang tidak berdasar, melainkan kepercayaan yang didapat setelah mempertimbangkan semuanya dengan matang.

Pastinya Elinalise merasa cemas, tapi dia tidak ingin menunjukkannya di hadapan Cliff.

Seorang Elf yang sudah hidup ratusan tahun, pastilah sangat berpengalaman saat menghadapi situasi seperti ini.

Aku percaya itu.

"Rudeus, bisa minta waktumu sebentar?"

Namun, setelah pestanya selesai, ada sesuatu yang merubah pikiranku.

Setelah selesai minum-minum, Elinalise segera mengajakku keluar kedai.

Padahal sedang asyik-ayiknya. Sylphy tertidur di paha kananku, Roxy yang sudah mabuk rebahan di paha kiriku, Eris yang tidak mau ketinggalan menyandarkan kepalanya pada pundak kananku.

Saat tanganku bergerak sedikit saja, aku merasakan benda-benda empuk di sekelilingku. Bahkan aku sempat berpikir, ’Wah, malam ini bisa three-some, nih….’

"... Ya, tentu."

Tapi, setelah melihat wajah Elinalise, aku sedikit tersadar dari mabukku.

Ekspresi wajah seperti itu tidak pantas dia tunjukkan pada pesta kelulusan.

Aku sudah bisa membayangkan apa yang hendak dia bicarakan.

Aku tahu kami akan bicara serius, padahal aku sedang mabuk.

Maka, aku segera menggunakan sihir detoksifikasi untuk menghilangkan gejala mabuk, lalu aku melepaskan diri dari tiga istriku yang masih teler.

"Hah?? Rudi??...hiks….mau kemana kau…hiks….Rudi….hiks…. Rudi selingkuh sama wanita lain…..hiks….Rudi hanya boleh selingkuh denganku….hiks….”

Dalam keadaan masih mabuk, Roxy menyadari aku hendak pergi, lalu aku segera membungkamnya dengan ciuman di bibir.

"Mmmm…..paha Rudi….hik…..sejak kapan paha Rudi….hik… seempuk ini…”

Lalu, aku meletakkan kepala Sylphy pada pangkuan Roxy.

"Rudeus ... yakinlah…. aku akan segera…. melahirkan putra….keduamu….”

Sedangkan Eris kusandarkan pada bahu Roxy.

"Baiklah, ayo pergi."

Aku keluar dari kedai bersama Elinalize.

"Hei Rudeus, aku ingin kau melakukan sesuatu untuk Cliff.”

Tanpa basa-basi, Elinalise segera membicarakan inti permasalahan.

Tentu saja aku sudah menduga bahwa kami akan membicarakan tentang Cliff.

Aku pun merasakan kegelisahan Elinalise sepanjang hari ini.

Tidaklah mengherankan bila dia khawatir.

"Aku tahu Cliff tidak mau dibantu, tapi…. aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.”

Elinalize mengatakan ini sambil menghembuskan nafas putih.

Di mata Elinalise, Cliff masihlah anak kecil. Dia memang mencintainya sebagai suami, namun juga menyayanginya seperti adik sendiri, atau bahkan anak sendiri.

Elinalise cukup profesional menyembunyikan kecemasannya, namun sepertinya dia tidak bisa memendamnya lebih lama lagi.

"Jadi, kau ingin aku menemaninya pergi ke Milis?"

"Kau tidak keberatan?"

Seperti yang kuduga, Elinalise masih memberatkan keputusan Cliff yang ingin pergi sendirian ke Kerajaan Suci Milis.

Harusnya mereka sudah merencanakan ini matang-matang, namun ternyata tidak demikian.

"Awalnya, kurasa tidak masalah jika kita biarkan dia berjuang sendirian, toh Cliff bukanlah pria yang lemah ... tapi setidaknya, bukankah kita harus mengawasinya, untuk mengetahui apakah semuanya berjalan lancar atau tidak? Aku tidak meragukan kemampuan Cliff sebagai seorang penyihir, namun kita tidak tahu sekuat apa lawan yang harus Cliff kalahkan di Milis.”

Aku memahaminya.

Ego Cliff cukup besar, sehingga dia ingin mencapai prestasi dengan tangannya sendiri. Agaknya itu sedikit kekanak-kenakan.

Ego itu juga yang membuat Cliff jarang sekali punya teman. Bahkan sampai lulus pun, aku tidak pernah melihat Cliff punya teman dekat selain kami.

Persaingan politis selalu mempertaruhkan nyawa, sehingga jarang sekali ada orang yang berjuang sendiri untuk mendapatkan posisi yang tinggi. Biasanya mereka akan berkolusi dengan sekelompok orang yang sepemikiran dengannya.

Oh gawat, tampaknya si tante girang mulai menitihkan air mata.

"... tapi, aku sudah berjanji untuk tidak membantunya."

Aku juga ingin Cliff berhasil.

Aku ingin dia mendapatkan posisi terbaik di Ordo Gereja Milis.

Tidak perlu mencapai posisi tertinggi, aku hanya ingin Cliff melangkah sejauh yang dia bisa dengan usahanya sendiri.

Terlepas dari kepentingan Fraksi Orsted, hati kecilku menuntunku untuk membantunya, setidaknya sebagai teman.

Namun, Cliff sendiri tidak menginginkannya.

Sudah sejak tahun lalu dia menyatakan tidak ingin dibantu, dan aku menyetujuinya.

"Tidak bisakah kau melakukan sesuatu?"

"...."

"Harusnya aku tidak boleh melakukan apapun. Tapi, jika dia berada dalam bahaya, dan aku mengetahuinya….. mana mungkin aku diam saja.”

"Hmmmmm ..."

Janji para lelaki tidak bisa disalahi begitu saja.

Tentu saja aku mengkhawatirkan keselamatan Cliff, namun janji tetaplah janji.

Dia kuat, namun kita tidak tahu seberapa kuat musuh yang akan dihadapinya.

Mungkin bagian tersulit adalah rintangan pertama.

Jika tidak bisa menangani rintangan pertama, jangan harap Cliff bisa mewujudkan tujuannya.

Oleh karena itu, mungkin lebih baik aku membantunya di awal. Kemudian, jika semuanya sudah stabil, biarlah Cliff berusaha sendiri.

Mungkin dia tidak mengharapkan bantuan itu, namun kekuatan temanmu sejatinya adalah kekuatanmu sendiri, Cliff.

Setelah sekian lama berteman dengan kami, harusnya Cliff sadar bahwa teman tidak akan membiarkanmu sendirian di saat susah.

Intinya, aku tidak bisa hanya berpangku tangan saat melihat Cliff dalam kesulitan.

Tentu saja, aku hanya boleh menolongnya sampai pada batas-batas tertentu.

"...."

Baiklah.

Aku sudah memutuskannya.

Tapi bagaimana dengan urusan Fraksi Orsted? Aku masih punya setumpuk pekerjaan untuk menggaet sekutu-sekutu dari negara lain.

Sebenarnya, aku berniat melebarkan sayap kami ke Kerajaan Raja Naga sembari Cliff berjuang di Kerajaan Suci Milis.

Tapi, mungkin aku bisa mempercayakan urusan itu pada Aisha.

Aku penasaran, apa konsekuensinya jika aku merubah rencanaku ke Milis.

Jika aku benar-benar pergi ke Milis, di sana kami tidak bisa mendirikan toko figure Ruijerd, karena orang Milis terlalu fanatik pada agamanya, dan memandang rendah ras lain. Konyol sekali jika aku berharap orang seperti mereka mau membeli patung bermodelkan seorang prajurit ras iblis.

Tapi setidaknya, aku masih bisa membuka cabang PT. Rudo di sana.

Aku pun bisa mensosialisasikan Fraksi Orsted untuk menambah sekutu.

Tapi, jika Cliff berhasil menduduki posisi yang tinggi di Gereja Milis, maka tidaklah mustahil bila kita membuka toko figure Ruijerd di sana.

"Baiklah, aku mengerti….. aku akan ikut ke Milis.”

"....! Terima kasih, Rudeus!"

Bahkan, aku juga ingin membawa Elinalise.

Kalo soal Clive, titipkan saja pada keluargaku.

Tapi, Elinalise pun sudah berjanji pada Cliff untuk membesarkan Clive dengan tangannya sendiri.

"Yah, untuk sementara ini, aku akan menggunakan instingku untuk menolong Cliff. Tapi sebenarnya, aku tidak tahu kapan harus menolongnya, atau tidak.”

"Tentu saja aku mengerti. Oleh karena itu, kuserahkan semuanya padamu!"

Dia pun mendesah lega.

Sebenarnya, maksud Elinalise baik ...... dia hanya mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Setiap istri di dunia ini pasti akan melakukan hal yang sama, jika suaminya berada dalam kesulitan.

Bisa-bisa, Cliff salah paham pada Elinalise. Mungkin dia akan mengira istrinya itu melanggar kesepakatan yang sudah diputuskan sebelumnya. Aku harus menengahi mereka.

Cliff punya istri yang baik. Elinalise pun punya suami yang baik. Keduanya tidak salah.

Bagian 4[edit]

Dengan demikian, pesta perpisahannya usai.

Aku membawa pulang ketiga istriku yang masih saja mabuk, lalu kerebahkan di kamarnya masing-masing.

Anak-anak sudah berada di tempat tidur.

Meskipun sudah punya tiga anak, kami bisa dengan bebas pulang malam sembari mabuk-mabukan. Ini semua berkat kerja keras Lilia dan Aisha.

Aku kembali ke ruang keluarga untuk berterimakasih pada mereka.

Setelah menyanggupi permintaan Elinalise untuk mengikuti Cliff ke Milis, aku berbicara pada Aisha membahas pendirian cabang baru PT. Rudo di kerajaan tersebut.

Begitu aku memasuki ruang keluarga aku dihadapkan dengan suasana yang berat.

Norn meninggalkan pesta sebelum usai, lantas pulang.

Lilia dan Aisha tetap di rumah.

Sekarang, ketiga orang itu sedang duduk di ruang keluarga dengan wajah serius.

"Ada apa ini?"

"Ah, Onii-chan .... kami sedang membicarakan…..."

Di hadapan ketiganya, ada sepucuk surat yang tergeletak di meja.

Aku mengambilnya.

Nama pengirimnya adalah "Keluarga Latreia".

Kalau tidak salah, itu adalah nama keluarga Zenith.

Baru kali ini keluarga kami menerima surat dari tempat yang begitu jauh, yaitu Kerajaan Suci Milis.

Surat itu tidak ditujukan padaku, namun amplopnya sudah terbuka. Yahh, kurasa tidak apa-apa.

Isi surat itu seperti ini:

Aku telah menerima laporanmu.

Putriku Zenith mengalami cacat mental.

Secepat mungkin, aku ingin kau mengembalikan Zenith ke Keluarga Latreia.

Jika Norn Greyrat dan Aisha Greyrat bersamamu, maka bawa juga mereka kemari.

~ Nyonya Besar Keluarga Latreia, Claire Latreia

Itu adalah surat yang begitu singkat.

Atau mungkin, lebih cocok menyebutnya, “padat”.

Sepertinya surat ini bukan jebakan, atau semacamnya.

Ini hanyalah suatu perintah tertulis.

"Aku tidak habis pikir, mengapa mereka harus mengirimkan surat seperti ini sekarang ..."

Aku coba menanyakan sesuatu, namun langsung kuhentikan.

Kalau tidak salah, aku pernah mengirimkan surat ke Milis 5 tahun yang lalu.

Jarak antara Ranoa dan Milis begitu jauh, kalau ditempuh dengan berkuda, mungkin akan menghabiskan waktu 2 tahun lamanya.

Ditambah lagi, sistem pos di dunia ini tidak begitu berkembang.

Tidaklah aneh bila surat yang kau kirimkan pada seseorang nyasar, atau ditelantarkan pada suatu tempat.

Belum lagi ancaman dari monster. Bila si pak pos diserang oleh monster, kemudian mati, maka suratmu pasti hilang.

Jadi, wajar saja bila balasan suratmu baru datang 5 tahun kemudian.

"Hei? Apakah hanya ini isi suratnya?"

"Ya, itu saja."

Lilia menjawabku dengan singkat.

Tidak ada surat tambahan tersembunyi atau semacamnya.

"Begitu ya..."

Mungkin Keluarga Latreia sudah tahu bahwa sangat kecil kemungkinannya surat ini terkirim kembali pada kami. Oleh karena itu, mereka menulis suratnya sesingkat mungkin.

Selama kami sudah membaca intinya, maka itu cukup. Tidak perlu basa-basi terlalu panjang. Langsung saja ke inti permasalahannya.

Pokoknya, surat ini berisikan perintah bahwa kami harus kembali ke Kerajaan Suci Milis.

"Hah ..."

".... nenek….dia masih sama seperti yang dulu."

.... tapi, reaksi kedua adikku cukup berbeda.

Dengan jelas, Norn menghela nafas panjang, sedangkan Aisha hanya melihat surat itu dengan tatapan dingin di matanya.

Tapi ekspresi wajah keduanya jelas-jelas mengatakan bahwa mereka tidak ingin lagi melihat nama neneknya.

Dari tanggapan mereka saja, aku sudah bisa menyimpulkan bahwa orang bernama Claire yang menulis surat ini sungguh menjengkelkan.

"...."

Bahkan Lilia yang biasanya tenang, kali ini tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.

Seburuk itukah nenek yang bernama Claire ini….?

Aku tidak tahu karena aku belum pernah bertemu dengannya.

"Rudeus-sama, apakah kau berniat menemuinya?"

Saat kupandang Lilia, tiba-tiba dia mengangkat wajahnya, lalu menanyakan itu padaku.

Aku pun sudah menentukan jawabannya.

Tentu saja aku menolak perintah nenek itu.

Akan tetapi….. momennya terlalu pas.

Baru saja aku menyanggupi permintaan Elinalise untuk pergi menemani Cliff ke Kerajaan Milis.

Jadi, saat ini aku tidak punya alasan menolaknya.

"Yahh, sebenarnya….. kita tidak punya pilihan selain menyerahkan ibu kembali ke keluarganya.”

"...."

"...."

Dengan bingung, kedua adik dan ibu tiriku saling bertukar pandang.

Sepertinya aku mengatakan sesuatu yang tidak mereka harapkan.

Tapi, andaikan aku berada di posisi nenek ini, tentu saja aku ingin dipertemukan dengan anakku yang katanya sedang menderita cacat mental.

Sejahat apapun Claire itu, dia tetaplah ibunya Zenith.

Mungkin…. Zenith pun ingin bertemu kembali dengan ibunya. Siapa tahu, sebagian ingatannya akan kembali bila dia bertemu dengan keluarga besarnya.

Menurut Almarhum Paul, Zenith kabur dari rumah, namun Keluarga Latreia telah mendanai pencarian korban bencana metastasis.

Itu artinya, kami berhutang pada mereka.

Terlebih lagi, sepertinya Keluarga Latreia cukup berpengaruh di Kerajaan Milis. Kalau aku berhasil mempengaruhi mereka, Fraksi Orsted akan semakin kuat.

Sambil menyelam, minum air….. itulah yang kuinginkan.

"Yahh, sebenarnya…. aku juga berencana pergi ke Kerajaan Suci Milis, jadi sekalian saja mampir ke rumah nenek.”

"Tunggu dulu, Onii-chan…..bukankah kau bilang kita akan pergi ke Kerajaan Raja Naga bulan depan?”

Aisha mengatakan itu dengan panik.

Ya, awalnya itulah niatku.

Aku ingin mendirikan cabang PT. Rudo di Kerajaan Raja Naga, kemudian mendapatkan dukungan dari Dewa Kematian Randolph dan Ratu Benedict, sekalian mencari sponsor untuk toko figure Ruijerd di sana.

Aisha setuju untuk membantuku.

Aku pun mengandalkan Aisha saat membentuk cabang PT. Rudo di Kerajaan Asura.

Dengan bakatnya mempengaruhi orang, Aisha bisa dengan mudah mengumpulkan prajurit-prajurit baru.

Dalam waktu beberapa bulan saja, Aisha berhasil menghimpun sejumlah pasukan di cabang PT. Rudo.

Dua bulan kemudian, pasukan itu sudah bisa bergerak dengan sendirinya.

Orang jenius memang beda.

"Surat itu sudah terlanjur datang, jadi kita harus segera menanggapinya. Sekarang prioritas kita adalah pergi ke Milis….. dan juga, berjumpa nenek.”

"Ehhhh ~ ...."

Dari wajahnya, terlihat jelas Aisha menentangku.

Beberapa bulan yang lalu kami baru saja merayakan upacara kedewasaannya, namun sikapnya itu belum berubah.

"... Nii-san, aku tidak mau pergi."

Norn berkata begitu.

Sepertinya jawabannya itu tidak bisa ditawar lagi.

Aku sih tidak masalah, jika dia tidak mau pergi, ya biarlah.

Wajahnya juga terlihat kecewa seperti Aisha, lalu dia melanjutkan omongannya dengan serius.

"Bagiku, hal terpenting sekarang adalah sekolah dan Dewan Siswa. Aku tidak bisa meninggalkannya selama berbulan-bulan hanya karena menuruti perintah nenek."

".... Yah, kurasa begitu."

Aku sudah lulus, sedangkan Norn sekarang adalah senior.

Masa study-nya di Akademi Sihir Ranoa hanya tinggal setahun lagi. Dia harus mengambil kelas-kelas yang tersisa dan juga ujian terakhir, barulah dia bisa lulus.

Berbeda denganku, yang merupakan siswa khusus, Norn harus menempuh semua pelajaran sebagai pelajar reguler.

Aku pun tidak ingin perjuangan Norn selama 6 tahun ini berakhir dengan sia-sia.

"Yah, Onii-chan. Aku juga, ummmm ... Ya, padi! Aku tidak bisa ikut denganmu karena harus menanam padi!! Onii-chan suka nasi, kan!?”

Itulah alasan yang Aisha buat.

Aku sudah tahu.

Selain bekerja sebagai penasehat, Aisha juga menanam padi di dekat kantor PT. Rudo. Kami sedang berusaha menanam padi secara massal.

Namun, dia sudah mempercayakan urusan cocok tanam pada orang lain, jadi dia tidak perlu turun langsung ke sawah.

Aku juga sudah tahu itu.

Aku bisa saja menolak alasannya dengan mudah jika kukatakan itu.

Namun, mood Aisha sepertinya sedang buruk.

Jika aku mengatakan itu, mungkin dia akan ngambek.

Tanpa bantuan Aisha, mustahil aku bisa membuka cabang baru PT. Rudo di negara lain.

Bantuan Aisha mutlak diperlukan.

Ahhhh….. tidak adakah pilihan selain pergi ke Milis?

"Aku mengerti Aisha, aku tahu kau tidak begitu menyukai nenek. Tapi setidaknya pergilah bersamaku ke Milis. Kau tidak harus berkunjung ke rumah nenek, kok. Biar aku, ibu, dan Lilia yang bertemu dengan nenek. Setidaknya, kau bisa membantuku membuka cabang baru PT. Rudo di Milis, kan?”

"... Hore! Terima kasih Onii-chan!"

Aisha tiba-tiba tersenyum.

Cepat sekali berubahnya.

Tapi, Lilia pun tidak menegur anaknya itu.

Biasanya dia sudah memarahi Aisha jika menentang perkataanku.

"Aku mengerti Rudeus-sama, aku akan pergi bersamamu.”

Lilia masih tampak tenang, namun aku tahu dia juga membenci Claire. Terlebih lagi, karena statusnya sebagai istri kedua. Zenith adalah penganut Agama Milis yang taat. Claire pun demikian. Aku tidak tahu bagaimana ajaran Milis dalam memperlakukan selir. Harusnya, tidak begitu baik.

"Maafkan, aku telah merepotkanmu, Lilia."

"Tidak, ini sudah biasa."

Kalau tanpanya, aku tidak akan bisa merawat Zenith sendirian.

Aku selalu membutuhkan bantuan Lilia dan Aisha.

Akan merepotkan bila keduanya tidak ikut.

"Baiklah, Aisha… tujuan kita selanjutnya bukanlah Kerajaan Raja Naga, melainkan Kerajaan Suci Milis. Kita akan mendirikan cabang baru PT. Rudo di sana.”

"Siap! Kapan kita berangkat?"

"Hmmm .... pengennya sih secepatnya."

Lebih baik, kita pergi bersama Cliff.

Meskipun menggunakan lingkaran sihir teleportasi, kami masihlah harus menempuh perjalanan dari reruntuhan teleportasi menuju pusat Kerajaan Suci Milis.

Daripada pergi secara terpisah, lebih baik kita bersama.

"Hmm, mungkin bulan depan kita akan berangkat."

"Siap."

Tapi….. wanita bernama Claire itu…..

Aku penasaran…. orang seperti apakah dia.

Setelah melihat reaksi Norn dan Aisha saat mendengar namanya, aku jadi sedikit takut.

Besok, aku akan memberitahu rencana ini pada ketiga istriku yang masih mabuk.

Bagian 5[edit]

Kami tidak jadi pergi ke Kerajaan Raja Naga.

Cabang baru PT. Rudo selanjutnya akan ditempatkan di Kerajaan Suci Milis.

Sembari mengeluh, Aisha memintaku melakukan persiapan.

Sebenarnya Aisha sudah menyiapkan setumpuk dokumen yang hendak dibawa ke Kerajaan Raja Naga, namun sekarang dia harus menulis kertas-kertas lainnya untuk dibawa ke Kerajaan Suci Milis.

Mungkin itu dokumen tentang kepegawaian di setiap negara.

Karena kami tidak mendapatkan dukungan dari negara berikutnya, maka perlu waktu lebih lama untuk mengumpulkan orang-orang yang berbakat di bidangnya masing-masing.

Mungkin kami akan menghabiskan sekitar 6 bulan di Milis.

Banyak tugas yang menanti di sana, mulai dari membantu Cliff, mengunjungi Claire, sampai mendirikan cabang perusahaan baru. Yahh…. kurasa kami bisa menyelesaikan itu semua dalam 6 bulan.

Aku pun memberitahu Cliff tentang rencana ini.

Aku menggunakan surat itu sebagai alasan keikutsertaanku ke Milis.

Cliff tersenyum masam saat mendengarnya, tapi tampaknya dia tidak keberatan.

"Entah kenapa… aku sudah menduga bahwa kau akan ikut denganku.”

Begitukah?

Dia mengatakannya dengan lega, padahal dia sendiri yang bilang tidak ingin dibantu.

Seakan-akan, Cliff masih ragu dengan keputusan yang dibuatnya sendiri.

Dengan kata lain, sebenarnya kau masih mengharapkan bantuan dariku, iya kan?

Hanya saja, kau enggan mengakuinya.

Dasar, Cliff-senpai.

Dengan demikian, kami berlima akan berangkat ke Milis.

Yaitu, aku, Lilia, Zenith, Aisha, dan Cliff.

Sylphy tidak ikut karena pekerjaan rumah semakin menumpuk dengan perginya Lilia dan Aisha.

Roxy juga tinggal di rumah karena orang-orang Milis terkenal tidak ramah pada ras iblis.

Eris sudah bersiap pergi tapi Lilia menentangnya keras.

Lilia melarangnya karena dia sudah tahu watak Keluarga Latreia. Sepertinya banyak orang menyebalkan di sana, sehingga Lilia ragu Eris bisa menahan emosinya. Daripada terjadi baku hantam di sana, maka lebih baik dia tidak ikut saja.

Dengan demikian, Eris terpaksa jaga rumah bersama Sylphy dan Roxy. Itu artinya, kali ini aku pergi sendirian tanpa ditemani satu pun istriku.

Namun…….

Saat hendak pergi…..

Ternyata kami mendapati fakta bahwa Sylphy hamil lagi.

Bab 4: Dan, Kembali Lagi Ke Milishion...[edit]

Bagian 1[edit]

Sylphy hamil.

Itu berarti, dia akan melahirkan anak kedua kami.

Kami mengetahuinya tepat saat hendak berangkat.

Dulu, aku pasti akan galau, dan kebingungan. Bahkan, mungkin aku akan membatalkan perjalanannya.

Namun sekarang tidak lagi, karena ini adalah keempat kalinya aku mempunyai anak.

Aku tetap saja khawatir, namun setidaknya kekhawatiranku tidaklah sebesar dulu.

Lalu….

Siapakah nama anak kedua kami?

Laki-laki atau perempuan ya?

Lucy, kau mau adik perempuan apa laki-laki?

Kau akan menjadi kakak, lho….

Saat mendengar kabar itu, aku berlarian keliling halaman dengan girang, tapi….

"Nyonya Sylphy s-s-sedang... A-a-a-apa yang harus kulakukan...!?"

Malah Lilia yang panik.

Biasanya dia kalem, tapi entah kenapa kali ini wajahnya membiru, dan dia seakan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Tugasku adalah merawat Nyonya Zenith... tapi jika aku pergi, Nyonya Sylphy yang sedang hamil pasti kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah... nanti kalau terjadi hal yang tidak diinginkan bagaimana..."

Awalnya, kami berencana mengajaknya pergi ke Milis bersama Zenith.

Sedangkan Sylphy tetap tinggal untuk mengurusi pekerjaan rumah.

Namun, semuanya berubah saat kami tahu Sylphy sedang mengandung.

Yahh, sebenarnya Roxy bisa menangani pekerjaan rumah untuk menggantikannya, atau kami bisa menyewa pelayan lain.

Namun demikian, masih ada sedikit kekhawatiran di hatiku jika meninggalkan istri yang sedang hamil.

Lilia tidak tahu harus berbuat apa.

Dia bingung apakah harus menemani Zenith pulang ke Milis, atau membantu Sylphy yang sedang hamil.

Aku jadi ikutan bingung saat melihat Lilia yang panik.

Sebenarnya aku ingin merayakan kehamilan Sylphy yang kedua, namun tampaknya ini bukanlah saat yang tepat.

Tapi, saat memutuskan menjadi bawahan Orsted, aku sudah siap akan hal seperti ini.

Sepertinya, kehamilan istriku kali ini tidak akan mudah.

Tiga kehamilan sebelumnya bisa berjalan lancar karena Aisha dan Lilia tinggal di rumah bersama istriku.

"Ummm….aku akan baik-baik saja. Toh, ini bukan pertama kalinya aku hamil. Di rumah juga ada Roxy dan Eris. Nenek juga berada di dekatku.”

Sylphy mengatakan itu untuk menenangkan Lilia.

Memang, ini bukanlah pengalaman pertama bagi Sylphy.

Dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan.

Ada juga banyak orang yang siap membantunya.

Roxy sering keluar rumah, jadi lebih baik aku meminta Elinalise mengunjunginya secara rutin.

Bahkan Eris bisa membantunya jika ingin berdiri.

Yahh…. kurasa tidak apa-apa.

Waktu kehamilan pertama Sylphy, Aisha dan Norn banyak membantu.

Aisha sudah berpengalaman merawat ibu hamil, namun saat itu masih belajar.

Jadi, kurasa situasinya saat ini masih lebih baik daripada kala itu.

Bahkan, kali ini aku akan pulang sebelum setahun lamanya.

Semuanya akan baik-baik saja.

"Baiklah, aku akan melindunginya!! Kau tenang saja, Rudeus!”

"Aku jarang berada di rumah mulai pagi sampai siang, tapi kuyakin ada banyak orang yang bisa menemani Sylphy, jadi kurasa semuanya akan baik-baik saja.”

Eris menyatakan kesanggupannya, dan Roxy juga tidak khawatir.

Namun, masih banyak hal lain yang harus dipertimbangkan.

Lilia melihat sesosok mungil di bawah. Itu adalah Lara, dia berdiri di dekat kaki ibunya, sembari menggenggam mantelnya.

"Namun, jangan lupa bahwa ada tiga anak kecil di rumah ini. Mengurusi mereka semua bukanlah hal yang mudah….”

Tentu saja, karena kau tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan anak kecil.

Lucy dan Lara sama-sama aktif.

Mereka berdua sering kali merepotkan Sylphy.

Bagaimana jika Lucy menembakkan sihirnya tanpa sengaja pada Sylphy saat mereka latihan?

Atau mungkin, Lara yang menunggangi Leo tak sengaja menabrak Sylphy di tangga?

... dan masih banyak kecerobohan-kecerobohan lainnya yang mungkin terjadi.

Bukan berarti anak kecil tidak bisa menyebabkan kecelakaan serius.

Lagi-lagi, aku mulai cemas.

Sebenarnya aku tidak menduga kehamilan Sylphy yang kedua ini, karena dia pernah berkata, ’Ras Elf biasanya tidak bisa melahirkan banyak anak.’ aku pun membalasnya, ’Yahh… kenapa tidak kita coba saja….’

Ternyata kami benar-benar berhasil membuat anak yang kedua.

Sudah 5 tahun berlalu semenjak kelahiran Lucy, jadi kupikir Sylphy benar. Kami pun berhubungan badan tanpa pikir panjang….. eh, ternyata dia beneran hamil.

Apa boleh buat…. lagipula, anak adalah sesuatu yang harus kami syukuri.

Aku akan bertanggung jawab.

Tapi, seakan De Ja Vu, lagi-lagi aku harus meninggalkan istriku saat hamil.

Ini sudah yang ketiga kalinya.

Kenapa sih… kenapa aku selalu saja mendapatkan tugas keluar kota saat istriku hamil.

Apakah ini ulah Hitogami?

Mungkinkah aku harus menunda perjalanan ke Milis?

Kami bisa saja menunda perjalanannya setahun, sembari menunggu Sylphy melahirkan.

Tapi…. bagaimana kalau Roxy dan Eris ikutan hamil? Kalau begitu, kapan berangkatnya?

Kurasa, Keluarga Latreia tidak akan menduga kami tiba di Milis hanya dalam hitungan bulan. Tanpa menggunakan sihir teleportasi, harusnya kami tiba di Milis dalam waktu 2 atau 3 tahun lagi.

Hal yang sama berlaku pada Cliff.

Masalahnya adalah, Elinalise sudah memohon padaku untuk menemani Cliff.

Bersama atau tanpa kami, Cliff tetap akan pergi ke Kerajaan Suci Milis. Dia tidak akan menunggu sampai Sylphy melahirkan.

Aku percaya pada kemampuan Cliff, tapi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apa yang akan kukatakan pada Elinalise?

Sylphy pun begitu. Aku percaya dia akan baik-baik saja, tapi jika terjadi hal-hal di luar dugaan, siapa yang mau bertanggung jawab?

Keduanya sama-sama penting bagiku.

Aku harus memilih salah satu.

Cliff atau Sylphy?

Kerjaan atau keluarga?

Untuk jangka panjang, harusnya aku memilih Cliff. Aku perlu secepat mungkin membuka cabang perusahaan baru di negara lain, dan membantu Cliff mendapatkan posisi penting ke Gereja Milis. Semua itu untuk mempermudah Orsted puluhan tahun kemudian.

Itulah hasil terbaik yang ingin kucapai.

Tapi, benarkah begitu?

Jika akhirnya keluargaku dikorbankan, maka apa gunanya semua itu?

Aku tidak boleh lupa, satu-satunya alasanku bekerja untuk Orsted adalah keluarga.

"......"

Sementara aku memikirkannya ...

Tiba-tiba, Zenith bergerak.

"Hm? Nyonya Zenith?"

Tanpa sebab yang jelas, dia bergerak bagaikan orang yang mengigau dari tidurnya, kemudian dia meraih tangan Lilia.

Lalu, dia bawa Lilia mendekati Sylphy.

"Err ... Zenith-san?"

Sylphy tampak bingung.

Dengan lembut, Zenith meletakkan tangan Lilia pada bahu Sylphy.

Seolah, dia coba meminta Lilia untuk merawat Sylphy.

Seolah, dia coba mengatakan bahwa Lilia tidak perlu pergi bersamanya. Karena semuanya akan baik-baik saja tanpanya.

"Nyonya ...!"

Mata Lilia mulai berair.

Terkadang, Zenith menunjukkan pemahaman luar biasa pada masalah yang sedang kami hadapi. Padahal secara teknis, dia masih cacat mental.

Kami menyaksikan hubungan yang begitu dalam antara menantu, pelayan, dan istriku.

Dengan begini, maka jelaslah bahwa Zenith menginginkan Lilia tinggal untuk merawat Sylphy dan anak keduanya.

Kami semua memahaminya.

"Aku mengerti."

Lilia menghapus air matanya, lalu mengangguk pada Zenith.

Dari wajahnya, terlihat jelas bahwa dia sudah yakin untuk tinggal di rumah.

"Aisha!"

"Y-Ya!"

Aisha begitu terkejut saat tiba-tiba ibunya menyerukan namanya dengan begitu keras.

"Gantikan aku untuk merawat Nyonya Zenith, dan antarkan dia pulang ke Keluarga Latreia dengan aman! Aku tidak akan memaafkan kesalahan sedikit pun!”

"...... S-Siap!"

Aisha kebingungan sejenak.

Mungkin karena dia tidak ingin pergi ke Keluarga Latreia.

Namun, si jenius tahu bahwa dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa mengatakan ‘tidak’.

"Rudeus-sama, terima kasih sebelumnya."

"... Ya, tidak masalah."

Jika Lilia tetap berada di rumah, maka Sylphy pasti akan baik-baik saja.

Aku sangat mempercayai dan mengandalkannya.

Aku bisa melakukan pekerjaanku di Kerajaan Suci Milis dengan tenang.

"Sylphy…."

"... Apa, Rudy?"

Ada suatu kata yang ingin kusampaikan padanya.

Sesuatu yang sangat penting.

"Aku mencintaimu."

"Ya. Aku juga mencintaimu."

Sylphy berdiri, lalu dengan lembut merangkul punggungku.

Kubenamkan wajahku pada rambutnya, lalu kurangkul dia dengan pelan.

"Siapa ya nama anak kedua kita…..."

"Kita namai nanti saja saat kau sudah kembali."

Sylphy tertawa malu-malu.

Di saat-saat seperti ini, biasanya aku sudah merasa galau.

Namun, Lilia bersama Sylphy.

Ibu tiriku itu sangat bisa diandalkan.

Setelah memberi pelukan yang sama pada Roxy dan Eris, aku pun pergi.

Bagian 2[edit]

Kami mulai berangkat.

Aku, Aisha, Zenith, dan Cliff.

Hanya kami berempat.

Meskipun sudah memilih barang bawaan dengan teliti, akhirnya tetap saja kami membawa banyak.

Tak lupa aku membawa alat komunikasi buatan Orsted, dan gulungan pemanggil Magic Armor Versi I.

Seperti biasa, aku pun memakai Magic Armor Versi II di balik jubahku. Itu tidak masalah karena versi 2 cukup ringan.

Meskipun kekuatan fisikku bertambah dengan mengenakan armor itu, namun aku hanya mempunyai dua tangan. Namun setidaknya, aku masih bisa menggunakan punggungku.

Aku menggendong barang begitu banyak di punggungku, sampai-sampai aku kesulitan berjalan. Ini seperti membawa lemari saja.

Sembari menggendong barang begitu banyak, aku bertemu dengan Cliff di pinggiran kota.

Cliff terkejut saat tahu salah seorang di antara kami batal mengikuti perjalanan ini.

Tapi, saat tahu kehamilan kedua Sylphy, dia memberi selamat padaku sembari tersenyum cerah.

"Sebetulnya, menurut ajaran Milis, kau adalah seorang pendosa…. namun, Milis juga mengatakan bahwa anak adalah karunia tidak ternilai, yang harus kita syukuri.”

"Terimakasih, Cliff-senpai. Kuanggap itu pujian."

"Aku berdoa pada Milis agar anak-anak kita menjadi teman baik."

Meskipun ajaran Milis mengutuk pria yang menikah lebih dari sekali, namun tampaknya dosa itu tidak ditanggung oleh anak-anakku. Mereka tetaplah suci dari dosa apapun yang telah dilakukan orang tuanya.

Ah, tapi ...sepertinya Ars-kun akan memiliki banyak pasangan… karena dia begitu mirip denganku.

Mungkin Cliff sudah menyiapkan khotbah khusus untuk putraku itu di masa depan.

Ah tidak… harusnya aku sendiri yang menasehatinya.

"Oh ya, Cliff-senpai, apakah kau tahu sesuatu tentang Keluarga Latreia?"

"Keluarga Latreia ..."

Beberapa hari terakhir, aku hanya mendengarkan hal-hal negatif tentang Keluarga Latreia dan nenek bernama Claire dari keluargaku.

Singkatnya, dia sangat keras kepala dan disiplin.

Norn berkata sembari memalingkan wajahnya, ’Satu-satunya hal yang kuingat dari nenek adalah, dia selalu memarahiku saat aku kurang sempurna dalam mengerjakan sesuatu.’, sedangkan Aisha berkata sambil menghela napas, ’Dia malah memarahiku karena lebih baik dari Norn-ane.’

Lilia hanya mengatakan, ’Dia adalah orang yang terlalu fanatik pada ajaran Milis dan terlalu bangga pada keluarganya.’

Yang jelas, ketiga keluargaku ini pernah tinggal selama beberapa waktu pada kediaman Keluarga Latreia, di Kota Milishion. Sepertinya mereka terus mendapatkan tekanan tentang status sosial dan ajaran agama.

Kalau aku sih, tidak begitu takut pada Claire, karena aku pernah menemui orang yang kuyakin lebih mengerikan daripada nenek itu.

Namun, dia sudah meninggal…..

Dia lah Sauros Boreas Greyrat.

Kakek Eris.

Mungkin pak tua itu sedikit lebih baik daripada Claire, namun dia sungguh mengerikan.

Pokoknya, aku harus bertingkah sopan, agar tidak memancing amarahnya.

Segalak apapun Claire, dia tetaplah orang yang tahu sopan-santun.

Sebenarnya aku tidak perlu mengkhawatirkan statusku, karena aku adalah keturunan dua keluarga yang cukup terpandang, yaitu Greyrat dan Latreia.

Kalau soal ajaran Milis….. yahh, itu akan jadi masalah. Aku harus menyembunyikan identitasku sebagai suami yang berpoligami.

Aku bisa melakukan ini, karena sebelumnya aku berhasil membaur dengan keluarga Eris yang terkenal kolot.

Kalau Claire hanyalah Sauros versi perempuan, maka aku yakin bisa menanganinya.

Kata adikku, dia adalah perempuan tua yang begitu menyebalkan dan keras kepala. Aku sudah bertemu banyak orang menyebalkan sebelumnya, jadi ini bukan pertama kalinya bagiku. Bahkan, bukanlah mustahil aku bisa sedikit menjinakkannya.

Awalnya, Ruijerd juga keras kepala.

Yang pasti, aku tidak boleh menghalangi seorang ibu yang ingin bertemu kembali dengan putrinya.

Tapi, aku akan bertanya lebih lanjut tentang maksud sebenarnya dari surat itu.

"Setahuku, Keluarga Latreia adalah anggota penting dalam Fraksi Anti-Ras Iblis. Banyak juga anggota Keluarga Latreia yang berprofesi sebagai ksatria kuil.”

"Hmmm."

Ksatria kuil.

Kalau tidak salah, bibiku yang bernama Therese juga anggota Ordo Ksatria Kuil.

Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya, apakah dia baik-baik saja?

"Aku masih kecil saat berkunjung ke Milis, jadi aku tidak banyak tahu tentang keluarga ibuku. Tapi, Norn menggambarkan nenek sebagai wanita yang sangat keras dan disiplin.”

Sepertinya Norn cukup mempercayai Cliff, dia pun sering membicarakan berbagai masalah dengannya di sekolah.

Termasuk masalahnya dengan Keluarga Latreia, yaitu Norn sering mereka sebut “anak tidak berguna”.

Dia selalu dibanding-bandingkan dengan Aisha. Dia bahkan dicaci karena kalah dari anaknya selir.

Tampaknya, Cliff sudah memberikan berbagai nasehat pada Norn, seperti ’Jangan sakit hati jika kau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Kau hanya perlu membuktikan pada mereka bahwa kau juga bisa meraih prestasi.’

Alhasil, Norn menjadi Ketua Dewan Siswa.

Sepertinya Norn sangat menghormati sosok Cliff, meskipun dia tidak pernah menceritakannya padaku.

Setidaknya aku tahu bahwa kekaguman itu tidak sampai ranah “cinta”.

Mushoku 20 (7).jpg

Tapi…. andaikan saja tidak ada Elinalise, bukannya mustahil mereka menjalin hubungan yang lebih serius.

Cliff berasal dari Keluarga Grimoire yang pro pada Ras Iblis.

Sedangkan Norn berasal dari Keluarga Latreia yang anti pada Ras Iblis.

Bagaimana jadinya jikalau mereka berdua menikah? Akankah kedua keluarga yang idealismenya bertolak belakang itu bersatu?

Oh, tidak, tidak.

Norn berbeda.

Dia adalah putri keluarga Greyrat.

Dia tidak ada hubungannya dengan perselisihan antar kelompok agama Milis.

"Saat pulang ke rumah nenekmu, aku harap kau tidak menjadi sekutu mereka, kemudian memusuhi keluargaku.”

"Tidak mungkin aku menjadi musuhmu, Cliff-senpai."

"Tentu saja aku percaya padamu. Tapi terkadang ada hal-hal yang sulit terhindarkan….”

Cliff mengatakan itu sembari tersenyum masam.

Tentu saja itu akan menimbulkan masalah.

Keluarga Latreia adalah bagian dari fraksi pembenci ras iblis, yang beroposisi dengan keluarga Cliff. Padahal, kami hendak mencari sekutu di Kerjaaan Suci Milis melalui pengaruh keluarga Grimoire. Kurasa, itu tidak akan terjadi.

Aku memang masih berhubungan dengan Keluarga Latreia, meskipun hanya hubungan darah. Tentu saja, bukan berarti aku setuju dengan idealisme mereka.

Aku lebih suka dengan identitasku sekarang.

Rudeus Greyrat dari Kota Sihir Sharia.

Orang yang dijuluki Tangan Kanan Dewa Naga.

Orang yang sedang berusaha menjalin kerjasama dengan berbagai negara.

"Aku tidak akan membantumu secara aktif, Cliff-senpai. Tentu saja, aku pun tidak akan memusuhimu. Percayalah padaku. Sebagai jaminannya, aku berani menjodohkan salah satu putriku dengan Clive.”

"Ohh… itu bukan jaminan yang buruk. Putrimu menikah dengan putraku saat sudah besar nanti…. itu pasti hebat.”

"Tidak…tidak….tunggu sebenar…. menjodoh-jodohkan anak sejak kecil sepertinya….”

"Aku tahu….aku tahu….kau hanya bercanda, kan. Toh, aku juga tidak serius.”

Cliff mulai berjalan sambil tersenyum.

Itu hanya candaan, kan?

Tapi, aku yakin Lucy dan Lara akan tumbuh menjadi gadis yang manis….

Karena ibu mereka juga manis.

Bukannya mustahil bila Clive dewasa nanti akan menyukai salah seorang putriku. Mungkin Lucy akan menjadi cinta pertamanya?

Lalu, bagaimana dengan Elinalise? Elf berusia ratusan tahun itu sama sekali tidak terlihat menua. Jangan-jangan, Clive nanti menyukainya saat mulai tumbuh dewasa?

Waduh…. kalau begitu lebih baik dia berpacaran sama putriku.

Kalau Clive memohon dengan sangat padaku sembari menundukkan kepalanya, ’Kumohon, jadilah mertuaku!!’ mungkin aku akan mempertimbangkannya.

Clive adalah anaknya Cliff, kurasa sifat mereka tidak jauh berbeda. Mungkin keegoisan Cliff akan menurun pada Clive, tapi sifat buruk itu masih bisa dirubah. Terlepas dari keegoisannya, Cliff adalah pria yang baik, begitupun dengan Clive kelak. Jadi, sebenarnya perjodohan itu bukanlah ide yang begitu buruk, tapi…….

"Onii-chan, ayo berangkat."

Aku kembali tersadar saat Aisha mengatakan itu sembari menarik tangan Zenith.

"Oh, maaf, maaf."

Aku pun mengikutinya.

Bagian 3[edit]

Aku mampir ke kantor sebentar untuk menemui Orsted.

Kemudian, menuju ke ruang bawah tanah, tempat lingkaran sihir teleportasi berada.

Kami sudah membuat lingkaran sihir teleportasi tujuan di Milis.

Atau lebih tepatnya, di hutan dekat Ibukota Milishion.

Lingkaran sihir tujuan ada di ruang bawah tanah pada sebuah rumah besar yang tidak berpenghuni.

Jika kau bertanya, mengapa ada rumah besar di dalam hutan?

Itu karena hutan ini hidup.

Beberapa hutan di dunia ini hidup karena memiliki sumber Mana.

Kemudian, desa-desa di dekatnya terlahap oleh hutan tersebut.

Rumahnya sudah berlumut, dan ruangan bawah tanahnya banyak ditumbuhi tanaman merambat.

Di tempat seperti ini, kami membuat lingkaran sihir teleportasi yang bersinar redup.

Rumahnya sudah reyot, namun tidak roboh. Mungkin itu karena akar-akar pepohonan yang menopangnya.

Sesekali, ada para petualang yang mampir ke rumah ini dari kota terdekat. Untuk menyembunyikan ruangan berisi lingkaran sihir teleportasi, aku membuat suatu lorong rahasia. Dan untuk mengalihkan perhatian, aku membuat tipuan berupa peti harta karun yang kuletakkan pada lorong tersebut.

Di dalam peti harta karun itu, aku meletakkan beberapa alat sihir yang tidak begitu berguna. Beberapa petualang sudah puas dengan menemukan peti itu, sehingga mereka tidak memasuki lorong rahasia. Sebagian dari mereka hanya berusaha mencari peti harta karun, tanpa menginginkan isinya. Mereka berpikir bahwa petualangan menemukan peti itu jauh lebih berharga daripada isinya.

Mulai dari sana, kami akan menuju ke ibukota dengan berjalan kaki.

Kami tidak bisa bergegas karena kondisi fisik Zenith.

Untungnya, jarang ada monster kuat di daerah Milis, namun kami tidak boleh lengah.

Oh ya, berbicara tentang monster.

Saat memasang lingkaran sihir teleportasi di hutan ini bersama Orsted, aku mendapati beberapa monster yang khas.

Mereka adalah Goblin.

Kulitnya hijau, dan ukurannya hanya setengah manusia dewasa.

Mereka adalah monster terlemah di dunia ini, namun cukup bernafsu saat bertarung.

Mereka hidup berkelompok. Sialnya, mereka punya kebiasaan menangkap ras lain, lalu menghamilinya.

Mereka melihat manusia sebagai musuh, dan tidak bisa berkomunikasi dengan kita. Mereka akan langsung menyerang saat melihat lawan.

Tapi, ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Goblin bukanlah monster, melainkan keturunan ras iblis.

Mereka hidup primitif di dalam gua-gua hutan.

Mereka bertahan hidup dengan berburu secara berkelompok.

Mereka tidak begitu terampil, tapi setidaknya bisa membuat alat-alat berburu seperti pentung atau pisau dari batu yang tajam.

Meskipun dikenal sebagai monster yang penuh nafsu, sebenarnya mereka masih punya cinta kasih. Setidaknya itu ditunjukkan oleh ibu Goblin pada anak-anaknya.

Menurutku, mereka tidak berbeda dengan manusia primitif pada umumnya. Mereka disebut monster hanya karena tingkat kecerdasannya yang rendah.

Mungkin nasib mereka sedikit lebih baik bila bisa menggunakan bahasa manusia.

Tapi, kau harus tahu inilah Benua Milis.

Makhluk serendah itu sudah pasti tidak diakui oleh orang-orang Milis yang fanatik.

Mungkin, Goblin langsung menyerang manusia karena selalu diperlakukan tidak adil sejak dahulu.

Tentunya, ras Goblin punya sejarah panjang dengan Kerajaan Suci Milis.

Kalau dipikir-pikir lagi, Goblin adalah makhluk tertindas yang menyedihkan.

Mungkin nasib mereka akan berbeda jika tinggal di Benua Tengah.

Mungkin orang-orang dari Benua Tengah masih mau mengakui mereka sebagai ras iblis tingkat rendah…. bukannya monster.

Sambil memikirkan itu, aku dengan mudah menyingkirkan beberapa Goblin yang menyerang kami di sepanjang perjalanan ke Milishion.

Tapi….. aku ke sini bukan untuk mengasihani Goblin.

Selama mengganggu perjalanan kami, aku tidak akan segan melibas mereka.

Akhirnya kami keluar dari area hutan, tapi masih sekitar 7 hari perjalanan menuju Milishion.

Kami singgah di desa terdekat untuk membeli kereta kuda.

Meskipun si pedagang menyebutnya “kereta”, sebenarnya itu hanyalah gerobak yang ditarik oleh kuda. Yahh…. tapi mengendarainya jauh lebih baik daripada berjalan kaki.

Lagipula, alat komunikasi ini berat.

Dengan mengendarai gerobak itu, kami menyusuri jalan utama.

Daerah Milis lebih banyak terdapat padang rumput daripada sekitar Kerajaan Asura. Sehingga, warga sekitar lebih memilih bergembala daripada bercocok tanam.

Jika dibandingkan dengan duniaku sebelumnya, Kerajaan Asura lebih mirip seperti Amerika, dimana terdapat begitu banyak ladang gandum. Sedangkan Milis mirip seperti Pegunungan Alpen, dimana banyak terlihat hewan gembala.

Jika dilihat dari ketinggian, topografi Asura berwarna hijau dan kuning.

Sedangkan, Milis berwarna hijau dan biru.

Tapi setidaknya, masih banyak lahan hijau di kedua negara ini.

Tanaman yang melimpah adalah bukti kemakmuran kedua negara ini.

Kami masih mendapati beberapa gangguan monster di Benua Milis, tapi itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Benua Iblis.

---

Dan kami pun tiba.

Ibukota Kerajaan Suci Milis, Milishion.

Ini adalah ibukota yang indah, dikelilingi oleh alam yang kaya dan dilindungi oleh tujuh menara.

Di sinilah aku pernah bertemu kembali dengan Paul.

Bab 5: Cliff Pulang Ke Rumah[edit]

Bagian 1[edit]

Kami sudah tiba di ibukota Kerajaan Suci Milis.

Akhirnya aku kembali ke kota ini setelah sekian lama.

Secara teknis, aku sudah pergi ke daerah Milis saat memasang lingkaran sihir teleportasi, tapi aku tidak mengunjungi ibukotanya.

Jadi, ini adalah kedua kalinya seumur hidupku.

Sampai sekarang pun, aku masih mengingat saat-saat itu, ketika memasuki kota ini bersama Eris dan Ruijerd dari utara.

Di kota ini ada sungai yang mengalir dari Pegunungan Naga Biru, menuju ke danau. Di tengah-tengah danau itu ada istana putih yang seakan mengambang di permukaan air. Ada juga katerdal emas yang berdiri di sisi sungai, dan Guild Petualang yang bangunannya berwarna perak.

Tujuh menara mengelilingi kota, dikelilingi oleh padang rumput yang luas.

... Ah.

"Martabat dan harmoni, itulah dua elemen penting yang coba ditunjukkan oleh kota ini, sehingga membuatnya menjadi kota terindah di dunia.”

Benar.

Meskipun sudah lama tidak membacanya, aku masih mengingat itu.

Itulah kalimat yang tertulis pada buku karangan Petualang Bloody Count, tentang petualangan mengelilingi dunia.

Orang itu sungguh luar biasa. Aku jadi penasaran sama si penulis buku itu.

Namun sayangnya, selama masih menjadi petualang, aku belum pernah mengenal seorang pun dengan nama seperti itu.

Mungkin si Bloody Count ini sudah lama meninggal.

Tapi, mengapa Paul punya buku seperti itu di rak bukunya?

Yahh… oke, lah.

Milishion juga indah dari selatan.

Kau bisa melihat apapun di kota ini, dari menara tinggi itu.

Ada juga istana berwarna putih bersih, yang berkilauan keperakan.

Keindahan istana itu begitu menonjol, namun dikelilingi oleh dinding yang menyembunyikan bagian dalamnya.

Disainnya sederhana, namun elegan.

"Ya, ini adalah kota terindah di dunia."

Cliff mengatakan itu sambil menghela nafas.

Mungkin dia sudah terlalu banyak mendengarkan pujian itu.

"Dari luarnya sih terindah, namun dari dalam…. ini adalah kota terkotor di dunia."

Cliff menatap lurus pada istana putih itu.

Istana indah itu mengintimidasi siapapun yang memandangnya.

Kota ini adalah medan perang bagi kami. Yahh, tentu saja begitu, karena kami punya misi yang harus diselesaikan.

Tapi sebenarnya, menurutku Ars lebih kotor daripada kota ini.

Ariel, dan para bangsawan lainnya…. mereka sangat busuk.

Persaingan mereka tidak sehat, bahkan bangsawan Asura terkenal suka melacur.

Bukannya aku membela Kerajaan Suci Milis.

Dalam aspek-aspek tertentu, Milis juga kotor.

"... Cliff-senpai."

"Aku bukan lagi senpai-mu, kan?"

"Cliff ... jika kau membutuhkan bantuan, segera hubungi kami."

Aku tidak menuntutnya.

Aku ingin menolong Cliff, tapi aku juga harus membiarkannya berjuang sendiri.

"Ya, tentu saja ... ayo kita naik kereta ke tempat keluargaku."

"Siap…. wahai tuan Uskup Agung selanjutnya.”

Hari ini, Cliff pun kembali ke Milishion.

Setelah sekitar 10 tahun merantau.

Bagian 2[edit]

Ada empat gerbang masuk ke Milishion.

Waktu itu, kami masuk dari Distrik Petualang.

Gerbang masuk lainnya dipenuhi sesak oleh manusia, sehingga sangat merepotkan jika kami masuk melalui jalur yang sama.

Saat itu pun begitu, gerbang masuk selalu saja ramai.

Namun, karena kami bersama Cliff, maka tidak perlu mengantri saat memasuki gerbang kota.

Pintu masuk ke Distrik Petualang di sisi selatan adalah yang paling dekat.

Lebih baik kami menghindari keramaian di pusat kota, dengan menyusuri jalan-jalan pinggiran. Kami tidak perlu terburu-buru.

Namun, Cliff mengatakan…

"Aku ingin melihat kota lagi setelah sekian lama merantau."

Ahh

Yahh… tentu saja dia kangen dengan kota kelahirannya. Toh, sudah 10 tahun dia tidak melihat kota ini.

Sebenarnya Cliff bisa melakukan itu nanti saja, toh dia akan tinggal di sini selama beberapa tahun ke depan. Tapi, hari ini memang hari yang spesial, jadi kita harus merayakannya dengan bernostalgia bersama.

Kau akan mengingat segala sesuatu tentang masa lalu di saat-saat seperti ini.

"Baiklah."

Kemudian, Cliff meminta kami naik di depan kereta.

"Sudah lama aku tidak berjalan-jalan seperti ini ..."

Cliff mengatakan itu pada dirinya sendiri, saat kami melewati gerbang masuk.

Cliff lahir di Distrik Agama, kalau tidak salah dia jarang mengunjungi Distrik Petualang.

Namun, dia senyum-senyum saat melewati Distrik Petualang ini. Hmm…. sepertinya ada suatu kenangan yang tidak bisa dia lewatkan di tempat ini.

Saat terakhir kali mengunjungi tempat ini, aku hanya tinggal selama seminggu.

Satu-satunya kenangan yang kumiliki di sini adalah tentang Paul.

Kalau terlalu dalam mengingatnya, aku tak kuasa menahan air mata.

Tanpa mengurangi rasa hormatku pasa Paul, lebih baik kulupakan dulu kenangan-kenangan pilu itu.

Pikirkan tentang masa depan saja.

Mulai hari ini, kami akan bekerja untuk membuka kantor cabang PT. Rudo.

Di sekitar kami, terlihat para petualang yang seliweran.

Bahkan, lebih banyak ras hewan dan Elf di sini ketimbang di Kerajaan Asura.

Peringkat para petualang itu bermacam-macam, kau bisa menebaknya dari pakaian yang mereka kenakan.

Ada laki-laki dan perempuan yang berusia sekitar 15-16 tahun, mereka mengenakan peralatan bekas. Itu pasti para pemula.

Ada yang mengenakan peralatan baru, mereka juga pemula, namun sedikit lebih tua, mungkin umurnya sekitar 18 tahun.

Ada juga petualang berumur 20-an yang mengenakan campuran peralatan bekas dan baru, mereka peringkatnya menengah.

Sedangkan untuk para petualang veteran, sekilas mereka hanya menggunakan peralatan yang sudah usang, namun jika dilihat lebih seksama, mereka membawa berbagai jenis alat sihir bermutu tinggi.

Ada banyak profesi di kota ini. Sedangkan untuk penyihir, beberapa dari mereka adalah penyihir penyembuh, dan hanya sedikit sekali yang bisa merapalkan mantra serangan.

Sedangkan di Sharia, kau akan banyak menemukan pendekar pedang dan prajurit veteran. Tidak ketinggalan, para penyihir dengan berbagai keahlian.

Saat bersekolah di Akademi Sihir, para penyihir bercita-cita menjadi petualang setelah lulus nanti. Kemudian, datanglah para veteran yang bersedia membimbing mereka.

Banyak juga ras hewan yang ingin menjadi petualang.

Tapi, biasanya mereka hanya mengikuti perintah Rinia dan Pursena, dan akhirnya tinggal di Sharia.

Sedangkan di ibukota Asura, Ars, kebanyakan petualang di sana adalah pemula.

Sebaliknya, jumlah profesionalnya cukup sedikit, dan hampir semuanya ras manusia.

Ras lainnya dan para petualang veteran tidak tinggal lama di Ars.

Meskipun dikenal sebagai komunitas yang begitu membanggakan ras manusia, tidak jarang kau temukan ras-ras lain di Milishion. Mungkin karena negara ini berdekatan dengan Hutan Agung.

Ras hewan, Elf, Hobbit, berasal dari Hutan Agung, sedangkan Dwarf dari selatan.

Setelah memperbanyak pengalaman di Milis, para petualang menuju ke utara untuk bertarung melawan monster yang lebih kuat di Hutan Agung.

Tapi, karena tidak ada Guild Petualang di Hutan Agung, maka mereka menggunakan Milishion sebagai basisnya.

Para petualang yang sudah mengenal negara ini, biasa bepergian dari Milishion ke Saint Port.

Itulah sebabnya banyak petualang di kota ini.

Kalau begitu, apakah tempat ini cocok untuk kudirikan cabang baru PT. Rudo?

Di Kerajaan Asura, aku kenal baik Ariel, jadi semuanya bisa diatur.

Pendekar pedang, pedagang, dan bangsawan di Asura mendukung dibentuknya PT. Rudo.

PT. Rudo membuka lapangan pekerjaan baru, termasuk bagi para pendekar pedang yang dibesarkan di Dojo. Sebagian dari mereka tidak ingin menjadi petualang, bahkan tidak punya koneksi untuk menjadi instruktor pedang. Dengan didirikannya PT. Rudo, mereka pun mendapatkan pekerjaan baru.

PT. Rudo juga memberikan solusi bagi anak-anak pedagang yang lebih muda. Biasanya, anak-anak pedagang akan meneruskan bisnis orang tuanya, namun jika anak tertua mengambil alih, maka adik-adiknya terpaksa harus membuat bisnis baru. Mereka bisa merintis bisnis dengan berjualan persenjataan yang sangat diperlukan PT. Rudo.

Hal yang sama terjadi pada anak-anak termuda dari kaum bangsawan. Mereka terdidik, namun terkadang tidak mendapatkan apapun dari orang tuanya, karena diambil alih oleh kakak-kakak mereka. Dengan adanya PT. Rudo, mereka bisa belajar menjadi ksatria unggulan.

Singkat kata, bisnis yang berkaitan dengan peperangan sangatlah potensial di dunia ini.

Kami merekrut orang-orang berbakat, para ahli, maupun yang masih pemula. Kami memberikan pengaruh pada setiap distrik di ibukota, mulai dari Distrik Petualang sampai dengan Distrik Niaga. Dan kami memberikan berbagai hal yang tidak dimiliki kesatuan militer suatu negara.

Ariel pun merekomendasikan anak kelima dari keluarga bangsawan senior untuk menjadi pemimpin cabang di Asura.

Tapi, bukan berarti kami menyetujuinya begitu saja. Kami sudah banyak mewawancarai pria itu sebelumnya, sehingga akhirnya aku sepakat mengangkatnya sebagai pemimpin cabang PT. Rudo.

Sambil mengenakan kacamata hitam, Aisha menanyakan hal-hal seperti, ’Apa yang kau lakukan setelah memutuskan meninggalkan keluargamu?’

Pria itu menjawab, ‘Aku menyembunyikan identitasku sebagai bangsawan, kemudian berinteraksi dengan rakyat jelata. Dengan begitu, aku bisa mempelajari berbagai adat yang berbeda. Kurasa, itu adalah faktor terpenting untuk bersosial dengan masyarakat.’

Dia menjawabnya dengan tegas dan bijaksana, maka aku pun yakin dia cocok menjadi pemimpin cabang.

Interaksi adalah hal yang penting sebagai pemimpin. Dengan kemampuan seperti itu, dia bisa merekrut lebih banyak pasukan.

Dia sudah memahami perbedaan kasta sosial dalam masyarakat, sehingga jika terjadi suatu perselisihan, dia bisa menyelesaikannya dengan damai.

Karismanya sih tidak sehebat Ariel, tapi dia tidak dibenci oleh lingkungannya.

Yahh, satu urusan sudah selesai.

Bahkan, dia lebih cocok memimpin daripada aku.

Nah sekarang, aku ingin mengulangi kesuksesan yang sama dengan mendirikan cabang perusahaan di negara ini.

Aku membutuhkan karyawan dan pemimpin cabang.

Kami juga harus mengarahkan para pasukan yang barusan bergabung.

Sepertinya Aisha sudah menulis beberapa rencana di catatannya, namun semuanya baru bisa dieksekusi saat melihat kondisi di lapangan.

Aisha terlihat cemas, sama sepertiku. Itu karena kami tahu pembentukan cabang perusahaan di Milis tidaklah semudah di Asura.

Tapi, masih terlalu dini untuk memutuskan semuanya sekarang.

Ada banyak petualang di Distrik Agama, Distrik Niaga, Distrik Perumahan, dan tentu saja…. Distrik Petualang.

Tidak hanya petualang, kita juga harus mencoba merekrut penduduk setempat.

Setelah melihat kondisi Distrik Agama dan Distrik Perumahan, harusnya kami bisa menyusun rencana lebih matang.

"Saat terakhir kali ke sini aku tidak menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak ras di kota ini.”

"Itu karena ibukota ini berdekatan dengan Hutan Agung."

Sembari ngobrol, aku terus melihat sekeliling.

Sungguh, ada begitu banyak ras yang bercampur di kota ini.

Di negaraku dulu, kota seperti ini disebut Kosmopolitan.

Aku melihat sekelompok Dwarf yang mungkin berumur 10 tahunan, dan sekelompok Elf yang tubuhnya begitu kurus seakan-akan seperti pohon kering.

Ada juga banyak ras hewan yang berbeda-beda, seperti: anjing, kucing, kelinci, rusa, tikus, harimau, serigala, domba, beruang ...

Lalu, aku melihat hewan ternak seperti babi dan lembu, apakah ras-ras hewan itu tidak merasa sedih saat melihat rekannya dijadikan bahan makanan seperti itu? Bagaimana ras hewan memandang hewan ternak? Apakah mereka menganggapnya saudara?

Harusnya sih tidak…. toh, saat aku melihat monyet di kebun binatang, aku sama sekali tidak merasakan persaudaraan. Padahal, katanya sih kita bersaudara.

Mereka adalah makhluk yang berbeda.

"Oh, oh ...!"

"Ah, berbahaya kalau Nyonya berdiri ...!"

Saat melihat ke belakang, aku mendapati Zenith sedang berdiri di kereta kuda.

Dengan panik Aisha coba membuat Zenith kembali duduk, namun dia sedang menunjuk sesuatu di kejauhan. Rupanya, Zenith tiba-tiba berdiri karena ingin menunjukkan sesuatu.

Itu adalah seekor monyet.

Oh bukan…

Itu adalah seorang pria yang berwajah mirip monyet.

Tapi, setahuku tidak ada ras hewan yang mirip monyet.

Kalau pun ada, apakah mereka begitu langka?

Zenith dengan girang terus menunjuk orang mirip monyet itu.

Tunggu dulu…. aku pernah melihat si monyet itu.

Dia memang bukan ras hewan ...

"... Oh."

"Ooh!? Hei Zenith-senpai! Apa yang sedang kau lakukan di sini!"

Dia adalah ras iblis. Dia lah Gisu.

Bagian 3[edit]

"Ya ampun, aku tidak pernah menduga bakal bertemu kalian di tempat seperti ini.”

Saat Gisu melihat kami, dia langsung melompat ke kereta kuda.

Yak, tidak diragukan lagi, dia lah Gisu yang kami kenal.

"Kebetulan sekali kita bertemu di sini! Mungkin ini adalah hari keberuntunganku!”

Gisu sepertinya sangat senang bertemu kami.

Senyum lebar merekah di wajahnya,

Melihat itu, mood-ku pun membaik.

"Yahh, sekalian jalan-jalan lah….”

"Ya…ya…. oh, iya… ngomong-ngomong…."

Sembari mengabaikanku, Gisu mulai menceritakan berbagai hal selepas dia meninggalkan Sharia.

Gisu, Talhand, Vera, dan Shera sampai di Kerajaan Asura dengan selamat.

Di sana, mereka menjual batu sihir dengan harga mahal.

Setelah mendapatkan uang dalam jumlah besar, Shera dan Vera pensiun menjadi petualang.

Mereka kembali ke kota asal mereka.

Gisu yang sudah berkantong tebal, mulai berpikir untuk menginvestasikan uangnya agar semakin kaya.

Namun sayangnya, investasi yang dia maksud adalah berjudi. Gisu pun kecanduan judi.

Sebenarnya aku tidak begitu mengetahuinya, tapi orang-orang bilang Ars adalah kota judi.

Biasanya Gisu bisa menahan diri dari berjudi, namun karena uangnya lagi banyak, maka dia lepas kendali.

Hanya berselang beberapa bulan, mantan rekan Paul ini pun kehilangan segalanya.

"Yah, semuanya berantakan, yang tersisa hanyalah bajuku. Jadi, lupakan saja hidup bergelimang harta yang lalu.”

Tak peduli sekaya apapun kau, kau akan jatuh miskin selama hidupmu seperti itu.

Talhand coba membantunya.

Saat hendak melakukan petualangan selanjutnya, dia berhenti sejenak untuk menemui Gisu.

Meskipun Talhand kesal padanya, dia masih sudi membantu Gisu dengan menjual sarung tangannya, lalu memberikan uangnya pada si wajah monyet.

Sarung tangan itu cukup berharga karena dilengkapi dengan batu penyerap sihir. Rupanya, Talhand menghabiskan seluruh uangnya untuk memperbarui peralatan dan persenjataannya.

Dengan kata lain, dua orang ini kehilangan harta berlimpahnya.

Mereka berdua tidak bisa hidup di Kerajaan Asura yang serba mahal, sehingga mereka pergi bertualang ke selatan.

Andaikan aku menjadi Talhand, aku tetap akan membantu Gisu, namun tidak dengan harta terakhirku. Mungkin karena mereka sudah lama saling kenal, sehingga susah dan senang ditanggung bersama.

Tapi, setidaknya mereka selalu saling bantu.

Ya, itulah hubungan pertemanan yang dalam.

Berdua, mereka mengembara melalui Kerajaan Shirone yang sedang dilanda perang saudara, melewati Kerajaan Raja Naga yang katanya terlibat dalam konflik itu, sampai akhirnya kembali ke Milis.

Mereka pun kembali ke rumah lama mereka.

Setelah itu, Talhand kembali ke kampung halamannya, sehingga Gisu sendirian.

"Si kampret itu malah pulang… apa-apa’an dia?”

Gisu terus mengeluh, tapi entah kenapa aku cukup memahaminya.

Setelah mengarungi perjalanan panjang bersama, wajar saja dia merasa kehilangan saat berpisah dengan rekannya.

Talhand rindu rumah.

Persis seperti Nanahoshi.

"Gisu, kau tidak ingin pulang?"

"Aku? Tentu saja tidak. Rumahku jauh dan terbelakang, mengapa aku tinggal di tempat seperti itu?”

Begitukah?

Kalau aku sih, selalu merindukan rumahku.

Meremas Oppai Sylphy yang tepos bisa memulihkan kekuatanku, atau dada Roxy juga boleh. Kalau lagi pengen yang mantab-mantab, tinggal beralih ke Oppai-nya Eris. Semuanya bisa kau dapatkan pada satu atap.

"Yahh, meskipun banyak kenangan buruk bersamanya, aku tetap memerlukan si kampret itu.”

"Mungkin dia ingin menjauh sejenak darimu untuk melupakan kenangan-kenangan buruk itu. Semua orang bisa jenuh, kan?”

Tidak peduli apapun yang terjadi, semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu.

Jika kau sering membuat marah temanmu saat kecil, mungkin saat berusia 20-an dia akan memakluminya, dan saat berusia 50-an, dia hanya akan mengenangnya sebagai cerita yang konyol.

Talhand pun demikian, mungkin dia hanya ingin mencari suasana baru.

"Yahh, meskipun tanpa Talhand, aku tetap akan melanjutkan karirku sebagai petualang dari kota ini.”

Rupanya Gisu masih ingin bertualang bahkan tanpa si Dwarf.

Tapi, sepertinya dia tidak mendapatkan misi apapun.

Yahh, bagaimanapun juga, dia adalah ras iblis yang tidak mahir bertarung.

"Nah, lalu apa yang sedang Senpai lakukan di sini?”

"Ibu masih dalam keadaan seperti itu, namun nenek memberikan surat yang meminta kami pulang ke Milis. Kemudian, aku memanfaatkan momen itu untuk pergi bersama rekanku.”

"Hah ... nenek? ... Maksudmu orang tuanya Zenith?"

Gisu mengatakan itu sembari melihat kondisi Zenith yang memprihatinkan.

Wajah Zenith masih tanpa ekspresi, namun sepertinya mood-nya sedang baik.

Mungkinkah karena dia bertemu dengan Gisu?

"Yahh, beberapa kali aku pernah mendengar tentang orang tuanya Zenith?”

"...Apa mereka bilang?"

"Aku tidak tahu detailnya, namun sepertinya orang tuanya cukup keras kepala.”

Gisu mengangkat bahu.

Kalau cuma itu, aku juga sudah dengar.

Tapi, kami tidak punya pilihan selain pergi ke Milis.

"Kita hampir melewati perbatasan distrik. Sayang sekali aku harus turun di sini, padahal kita baru saja bertemu. Jika ras iblis kedapatan memasuki Distrik Agama, maka bisa kacau urusannya.”

Aku pun langsung menghentikan kereta kuda.

Gisu segera melompat turun.

"Yahh, reuni kita memang sangat singkat, tapi kita pasti akan bertemu lagi lain wakti. Hati-hati di jalan, Senpai!”

Gisu melambaikan tangannya, lalu berjalan menuju gang-gang pinggiran jalan...

Saat dia semakin jauh, tiba-tiba Gisu menoleh.

"Senpai! Bolehkah aku mengajukan suatu permintaan!?”

"Apa itu?"

"Apakah kau masih ingat perkataan Paul saat di Dungeon?”

Yang dikatakan Paul di Dungeon, sebelum saat-saat terakhirnya.

Meskipun banyak hal terlah terjadi, namun aku masih ingat perkataan itu.

Yahh… yang itu, kan….

"Ya."

Mendengar itu, Gisu mengangguk puas, lalu berjalan menjauh lagi.

Pertemuan yang mendadak, dan perpisahan yang mendadak pula.

Reuni ini benar-benar kebetulan.

Meskipun hanya kebetulan, senang rasanya bisa berjumpa kawan lama di tengah-tengah ketegangan ini.

Sambil memikirkan itu, kami memasuki Distrik Agama.

Bagian 4[edit]

Pada saat kami sampai di rumah Cliff, matahari sudah terbenam.

Rumah Cliff tidaklah semewah yang kuduga sebelumnya.

Itu bukanlah rumah keluarga besar, melainkan rumah sederhana yang hanya muat dihuni 3 – 4 orang saja.

Rumah itu terlihat seperti rumah tangga pada umumnya.

Tapi…. gimana ya bilangnya…. di Distrik Agama, rumah-rumah memang terlihat identik.

Padahal kakek Cliff adalah seorang Uskup Agung. Mungkin pengaruh Uskup Agung di negara fanatik ini sudah mirip seperti Ariel di Asura, namun sesederhana inilah rumahnya.

"Aku tidak mengira rumahmu sekecil ini, Cliff-senpai."

"Para uskup difasilitasi rumah oleh Distrik Agama, namun karena kakek sudah punya kantor, maka rumahnya tidak perlu begitu mewah.”

Cliff menjelaskannya tanpa emosi atau dongkol sedikit pun.

Sederhananya, mereka diberi semacam rumah dinas.

"Karena hari sudah petang…. maka tinggalah di sini."

Setelah Cliff menyarankan itu, tiba-tiba aku berpikir.

Keluarga Zenith berada di Distrik Perumahan.

Tempatnya tidak jauh dari sini...

Harusnya sih bertamu di saat hari sudah petang tidaklah begitu sopan, namun kurasa mereka sudah tahu bahwa kami datang dari jauh. Apa reaksi mereka saat melihat kami? Apakah mereka akan memarahi kami karena bertamu di saat yang tidak tepat? Ataukah mereka memakluminya, kemudian menyediakan tempat menginap yang nyaman?

Kami bisa saja mendapatkan tempat menginap yang lebih baik, tapi ada juga resiko kami malah diusir. Dengan kondisi Zenith seperti ini, pastinya akan sulit. Jadi, lebih baik aku menerima tawaran yang sudah pasti, yaitu bermalam di rumahnya Cliff.

"Baiklah terima kasih."

Aku pun mulai menurunkan barang-barang bawaan, menambatkan kuda, memarkir kereta, dan membawa yang lainnya ke dalam.

Tapi, saat aku memarkir kereta di garasi, ternyata tempatnya tidak begitu bersih. Debu putih mengepul di mana-mana, sehingga penglihatanku terganggu.

"Gah!"

Debunya berbau tajam, sampai-sampai membuat Aisha bersin-bersin.

“Duh!! ... dasaar…. kakek sepertinya lupa bersih-bersih garasi….”

Cliff menutupi hidungnya dengan kain sembari mengumpat.

Mungkin kakeknya tidak mengira Cliff akan pulang secepat ini, sehingga dia belum merapihkan rumah ini.

Ya….. rumah ini benar-benar tidak terawat.

"Ah….. tidak apa-apa. Terimakasih telah menyediakan tempat bermalam untuk kami. Biarkan kami membantumu bersih-bersih… Aisha….”

"Maaf ya…. jadi merepotkan.”

"Eh, aku!!?"

Aisha menjerit kaget, sedangkan Zenith menatapku dengan kesal.

Ah tidak…. Zenith masih tanpa ekspresi.

Tapi, entah kenapa aku bisa merasakan kekesalan dari sorot matanya.

Aisha sepertinya juga jengkel.

Hey…. bukankah bersih-bersih adalah sebagain dari tugas rutinmu setiap hari?

Bukankah kau selalu melakukannya dengan gembira, sembari mengatakan, ’Yakk!! Serahkan saja padaku!!’

Bagaimanapun juga, kita harus menunjukkan rasa terimakasih karena telah dibiarkan menginap...

"Tentu saja aku juga akan membantumu.” kata Cliff.

"Ah, terimakasih."

Maka, kami menghabiskan sebagian malam ini dengan bersih-bersih.

Tidak hanya garasi, kami pun membersihkan seisi rumah. Jendela dibuka lebar-lebar, lalu kami hembuskan sihir angin untuk menyapu debu-debunya. Sayangnya, itu tidak banyak membantu, sehingga kami tetap saja harus menyapu.

Kami membersihkan segalanya.

Kasur dan selimut di kamar tampaknya sudah lama tidak dipakai, sehingga banyak kutunya. Aku menggunakan angin panas untuk mengusir kutu-kutu itu.

Dapurnya juga sangat kotor, tapi akhirnya Aisha berhasil membersihkannya.

Sementara itu, Cliff dan aku membereskan ruang keluarga, namun tidak menyeluruh.

Kami pun selesai bersih-bersih 3 kali lebih cepat daripada biasanya.

Lalu, kami makan malam bersama dengan sisa-sisa bekal dari perjalanan.

"Cliff-senpai, untunglah kita selamat sampai tujuan."

"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan kita selamat, pertama-tama aku harus bertemu kakek terlebih dahulu."

Sembari bersulang dengan secangkir air, kami makan daging kering dan sup sisa dari bekal perjalanan.

Karena sudah lama disimpan, makanan itu jadi terasa hambar, namun itu tidak masalah.

Sepertinya aku meninggalkan banyak bumbu masakan dan rempah-rempah di rumah, jadi makanan ini kurang mengundang nafsu makanku.

"Rudeus, apa rencanamu untuk besok?"

"Aku akan mengunjungi kediaman Keluarga Latreia."

"Begitu ya…. apakah kau berencana tinggal di sana selama beberapa waktu?"

"Mungkin saja."

Bagaimanapun juga mereka adalah keluarganya Zenith, meskipun keluargaku tidak begitu menyukainya.

Kalau tinggal sebentar di sana, harusnya tidak masalah.

Mungkin aku tidak bisa beraktifitas dengan bebas di sana, padahal aku harus membantu Cliff, dan mulai mendirikan cabang PT. Rudo untuk kawasan Milis dan sekitarnya.

Tapi, lebih baik aku mencobanya.

Atau, aku bisa menyewa tempat tinggal lainnya, setelah menemui Cliare.

"Sepertinya, aku harus menyewa orang untuk mengurusi rumah ini ..."

"Kalau kau mau, aku bisa mengirimkan Aisha setiap hari ke sini, lho?"

"Tidak perlu…. aku tahu kalian juga sibuk, jadi jangan terlalu dipikirkan.”

Cliff mengatakan itu sembari mengangkat bahunya.

Bagian 5[edit]

Kami tidur di kamar.

Kami bertiga tidur seranjang. Zenith dan Aisha bersandar pada pundakku.

... ternyata, tubuh Aisha sudah sedewasa ini.

Ranjangnya cukup sempit, jadi tidak muat untuk tidur 3 orang dewasa.

Sehingga, kami meninggalkan Zenith sendirian di kasur, lalu aku dan Aisha tidur di bawah.

Kami membuat Futon dengan selimut dan bantal yang dipinjam dari Cliff.

Tidak terlalu dingin sih, karena lantainya dilapisi karpet.

Sudah waktunya tidur.

Kemudian, aku menyadari bahwa Aisha sedang menatapku.

"Ehehe, Onii-chan, kalau kita tidur bersama seperti ini, Sylphy-ane akan cemburu tidak, ya ..."

"Tentu saja tidak, asalkan kita tidur bersama selama perjalanan ini saja."

"Ya, tapi entah kenapa, rasanya seperti…… ehehe ......."

Aisha tertawa sambil meringkuk di sampingku.

Senyumnya manis.

Andaikan dia Sylphy, mungkin sudah kuobrak-abrik tubuhnya.

Sylphy juga ......

Tapi, aku merasa bahwa Aisha hanya menggodaku, tidak lebih.

Aku pun menyukai Aisha, tapi hanya sebatas keluarga.

Kalau kami saling berkontak fisik…. tidak apa-apa, kan?

Rasanya aneh.

Dia imut, sih...

"Aisha, aku punya suatu pertanyaan konyol…. menurutmu, bagaimana perintah Lilia padamu?”

"Perintah yang mana? Ibu memberiku begitu banyak perintah selama ini."

"Perintah untuk mengabdikan dirimu padaku, atau semacamnya…..”

Ketika aku menanyakan itu, Aisha langsung bengong.

Kemudian, dia meletakkan tangan di dagunya, sepertinya sedang berpikir keras.

"Hmm, bukannya tidak menyenangkan, sih ... tapi, mungkin saat melayani Onii-chan aku tidak merasakan kegembiraan seperti yang dirasakan Sylphy-ane, Roxy-ane, ataupun Eris-ane…. Aku sendiri tidak memahaminya.”

"Aku mengerti, Aisha. Itu adalah hal yang wajar."

Percakapan ini seakan tidak jelas, namun sebenarnya kami sudah saling mengerti.

Nyaman sekali ngobrol dengan Aisha seperti ini.

"Nfufu, pokoknya… aku suka Onii-chan.”

Sambil mengatakan itu, Aisha meringkuk dan menekankan tubuhnya padaku.

Hangat dan lembut.

Oppai-nya juga mantab.

"... Kau boleh saja menyayangiku, namun suatu hari nanti kau harus menemukan pria yang kau cintai, lalu memulai keluarga bersamanya.”

Saat aku mengatakan itu sambil menikmati Oppai-nya, tiba-tiba Aisha bangkit, lalu duduk di sebelahku.

Sepertinya, dia akan menanggapi perkataanku dengan serius.

"Atau jangan-jangan…. kau sudah menemukan pria itu?”

"Tidak, Onii-chan ... makanya, aku penasaran pria seperti apakah yang akan menjadi pasanganku kelak."

Pasangan Aisha.

Sulit membayangkan pria seperti itu.

Apakah dia pria yang menakjubkan, atau pria yang kikuk?

Aisha boleh memilih siapapun yang dia sukai, aku tidak ingin mengatur kehidupannya.

Aisha sudah biasa bergaul dengan orang lain.

Mulai dari prajurit bayaran…. sampai ras hewan.

Apakah ada di antara mereka yang memendam cinta pada Aisha?

Hey, jangan main-main dengan adik perempuanku!

Kalau aku bertanya pada Orsted, mungkin dia tahu tipe pria macam apa yang disukai Aisha.

Ahhh… lupakan dulu itu semua.

Tapi yang jelas, aku tidak ingin Aisha menjadi bujangan seumur hidupnya.

Oh iya….

Aku ingin meyakinkan sesuatu sebelum tidur.

"Aisha, besok aku berencana membawa ibu ke rumah nenek…. apa yang akan kau lakukan?”

"......"

Aisha menjauh sejenak dari lenganku.

Lalu, segera mendekat kembali.

"Aku akan ikut denganmu, Onii-chan, karena ibu sangat membutuhkanku.”

"Baiklah kalau begitu..."

"Ya."

Setelah mendengar jawaban Aisha yang meyakinkan, aku pun merasa lega.

Besok kita akan berkunjung ke rumah Zenith.

Itulah rencananya, tapi…. apa yang akan terjadi besok?..... aku tidak tahu…..

Hendak bertamu ke kediaman keluarga terhormat…. aku jadi sedikit gelisah.

Setelah itu, barulah kita bekerja mendirikan cabang PT. Rudo.

Jika aku bisa membangun hubungan baik dengan Keluarga Latreia, maka urusan kami akan semakin mudah.

Tapi, kami perlu beradaptasi terlebih dahulu dengan keluarga itu.

"Yahh… kalau begitu, mohon bantuannya besok ya….”

"Aku mengerti. Serahkan saja padaku."

"Aku sungguh berterimakasih padamu, Aisha…. termasuk pekerjaan bersih-bersih hari ini, dan…. selamat malam….”

"Kau tidak perlu berterimakasih, Onii-chan ... selamat malam ..."

Sembari mendengarkan suara dengkuran Aisha yang lembut, aku pun terlelap.

Bab 6: Kediaman Keluarga Latreia[edit]

Bagian 1[edit]

Rumah orangtua Zenith sangatlah besar.

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya.

Ada gerbang besar yang dilengkapi dua patung singa berdiri di kedua sisinya, jalan berpaving semen yang membentang dari pintu gerbang ke teras rumah, air mancur di tengah-tengah jalan tersebut, dan semak-semak hijau yang dipotong dengan pola aneh.

Kemudian, rumah utamanya dicat putih dan tampak begitu elegan.

Benar-benar terkesan seperti rumah bangsawan kelas atas.

Kediaman Latreia bertempat di Distrik Perumahan, atau lebih tepatnya perumahan bangsawan.

Tidak hanya rumah ini, kediaman-kediaman lain di sekitarnya juga tidak kalah bagus.

Suasana di sini mirip seperti Distrik Bangsawan di Kerajaan Asura.

Meskipun kediaman semewah ini bukanlah hal yang janggal di Distrik Bangsawan, tetap saja rumah ini begitu luar biasa.

Aku cukup kecewa saat melihat rumah Cliff, namun tidak untuk rumah Zenith.

Tapi, aku juga punya rumah seperti ini di Kerajaan Asura, hasil pemberian Ariel.

Karena rumah mewah itu hanyalah pemberian, maka aku tidak perlu menyombongkannya.

Yahh…. setidaknya aku punya lah rumah seperti ini.

Rumah ini memang pantas untuk keluarga bangsawan kelas atas, namun juga terlalu boros.

Pokoknya, aku tidak perlu takut….. maju saja.

Aku bahkan tidak gugup.

"Haa ......"

Di sebelahku, Aisha menghela nafas panjang.

Dia melihat pada rumah mewah itu dengan wajah cemberut.

Sekarang, kami sedang berdiri di depan rumah sembari menunggu.

Aku mengenakan pakaian bangsawan, sedangkan Aisha mengenakan pakaian pelayannya yang biasa.

Zenith juga mengenakan pakaian bangsawan sepertiku.

Kami tertahan oleh para penjaga di gerbang depan rumah.

Aku coba menunjukkan surat itu, namun saat melihat wajah Zenith, mereka buru-buru masuk ke dalam rumah.

Mereka belum kembali sampai saat ini.

"Dengar, Onii-chan, kuperingatkan sekali lagi, nenek BENAR-BENAR orang yang menyebalkan.”

Mushoku 20 (5).jpg

"............ berapa kali kau harus katakan itu?"

Aku khawatir dengan peringatan itu.

Tapi, kurasa diriku adalah orang yang sudah kebal terhadap lawan yang menjengkelkan.

Mungkin karena aku dulu adalah seorang NEET.

Itu berarti aku lebih menyebalkan daripada orang lain.

Saat berkaca pada kesalahanmu sendiri, kau bisa mengampuni keburukan orang lain.

Terlebih lagi, aku sudah terbiasa bersabar menghadapi Zenith yang masih cacat mental.

Jadi, kau boleh menguji kesabaranku terhadap nenek yang menyebalkan itu.

"Ah."

Selagi aku berpikir, ada pria dan wanita yang mendekati kami dari arah rumah. Rupanya, penjaga gerbang itu membawa beberapa pelayan.

Tidak hanya pelayan wanita, tapi juga pelayan pria.

Totalnya, sekitar 12 orang berjalan mendekati kami dengan tergesa-gesa.

Kemudian, para pelayan wanita berbaris di sisi kiri dan kanan jalan menuju rumah.

Sedangkan para pelayan pria berjajar satu baris sembari menghadap kami.

Mereka seakan hendak mengucapkan selamat datang pada seorang Bocchan[7] seperti yang sering kulihat di Manga.

Hal seperti itu juga sering dilakukan di Asura.

Ketika para penjaga membuka gerbang, pelayan pria menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Para pelayan wanita juga melakukan hal yang sama seirama.

"Zenith-sama, selamat datang kembali. Setiap hari kami selalu menantikan kepulangan Anda.”

Mereka menundukkan kepalanya pada Zenith.

Tapi, seperti biasanya, Zenith hanya pasang wajah bengong, seolah-olah tidak memandang mereka.

"Baiklah, Rudeus-sama, Nyonya Besar sudah menunggu kedatangan kalian. Silahkan lewat sini.”

"Oh, baiklah. Kami mohon arahannya."

Si pelayan pria juga menundukkan kepalanya padaku, lalu dia segera berbalik untuk menunjukkan kami jalannya.

Namun, tak sepatah kata pun mereka ucapkan pada Aisha.

Apakah mereka hanya menganggapnya sebagai pelayan yang tidak penting? Padahal mereka sendiri pelayan.

Hmmm, harusnya tadi kuminta Aisha mengenakan pakaian yang sedikit lebih mewah.

Gaun mungkin?

Gaun yang berjumbai?

Bagian 2[edit]

Sembari memikirkan berbagai hal, aku melewati jalan berpaving untuk menuju ke teras rumah.

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, bagian dalam rumah ini dipenuhi dengan furnitur elegan dan perabot mewah lainnya.

Namun, tentu saja kau tidak bisa membandingkannya dengan furnitur milik Perugius, atau Istana Kerajaan Asura, tapi masihlah mengagumkan.

"Baiklah, mohon tunggu di sini."

Kami dibawa ke tempat yang mereka sebut ‘ruangan gambar’.

Di sana ada dipan yang menghadap ke muka, dan vas bunga yang diletakkan di sudut ruangan. Ada juga seorang pelayan yang berdiri di pojok ruangan……….

Kami menunggu di sana cukup lama, namun sang Nyonya Besar ini belum juga keluar.

Sejujurnya, aku ingin segera mengakhiri perjalanan ini, lalu pulang secepat mungkin. Namun, sebelum itu aku harus bersiap-siap menghadapi keluarganya Zenith.

Lebih baik, aku bantu Zenith duduk, karena sepertinya kami harus menunggu lebih lama.

Lalu, kuminta Aisha duduk mendampingi di sebelahnya.

Namun, Aisha malah berdiri di samping kursi Zenith.

"Aisha, duduklah…..."

"Eh? Bukannya lebih sopan kalau aku berdiri ......?"

"Kau adalah adik perempuanku, dan tempat ini digunakan sebagai ruang tunggu tamu. Jadi, tidak masalah jika kau duduk….”

"......Ya."

Setelah aku mengatakan itu, Aisha duduk di sebelah Zenith.

"........."

Sekarang, kami menunggu tanpa saling cakap sedikit pun.

Saat-saat seperti ini mengingatkanku ketika hendak diwawancarai oleh Philip.

Kemudian, Sauros tiba-tiba datang sembari berteriak lantang.

Ahh…kangen juga sama saat-saat itu.

Saat itu, aku bisa melewatinya dengan baik, jadi sekarang aku hanya perlu mengulangi hal yang sama, tapi .....

Sepertinya tidak semudah itu.

Seingatku, waktu itu aku menyapa mereka dengan begitu sopan.

Tak peduli di dunia manapun kau berada, kesopanan mutlak diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Sekarang, aku akan mencoba hal yang sama.

"Nyonya Besar, silakan lewat sini."

Sementara aku memikirkan berbagai hal, pintu pun terbuka.

Keluarlah seorang wanita tua yang tampak gugup, rambutnya pirang namun sudah bercampur dengan uban.

Ada juga seorang pria paruh baya gemuk, dengan wajah berjenggot dan mengenakan jas lab.

Dengan penampilan seperti itu, aku bahkan tidak perlu bertanya siapakah di antara mereka yang disebut Nyonya Besar.

Aku langsung berdiri, meletakkan tanganku di depan dada, kemudian membungkuk pelan.

"Senang bertemu denganmu nenekku yang terhormat, aku Rudeus Greyrat, hari ini ---"

"......"

Wanita tua itu bahkan tidak melirikku.

Dia melewatiku begitu saja yang sedang mengucapkan salam, kemudian menghampiri Zenith.

Langkahnya berhenti, lalu dia mengamati wajah Zenith dari dekat.

Sungguh reuni keluarga yang mengharukan.

...... yahh, setidaknya begitulah menurutku, namun kemudian Claire menghela napas kasar, lalu berkata dengan nada dingin.

"Dia memang benar putriku….. Andel, tolong ya….."

Saat si nenek mengatakan itu, pria berjenggot itu pun langsung bergerak.

Dia melewatiku begitu saja, lalu memegang tangan Zenith.

Lalu, dia raba-raba wajah kosong Zenith dengan tangannya .........

"Tunggu sebentar…. apa-apa’an ini?"

Dengan bingung, aku menyela.

"Ah, aku lupa memperkenalkan diri, aku adalah dokter pribadinya Claire-sama, namaku Andel Berkeley."

"Terimakasih atas perkenalannya. Aku Rudeus Greyrat. Apakah kau benar-benar dokter?"

"Ya, sebenarnya hari ini aku bertugas memeriksa Claire-sama, tapi karena putrinya tiba-tiba datang, maka beliau memintaku untuk memeriksanya terlebih dahulu…..”

Begitu ya….

Aku mengerti.

Claire panik saat mendapati kedatangan Zenith, lalu dia segera memerintahkan dokter pribadinya untuk mengobati putrinya yang katanya sedang sakit aneh.

Aku mengerti, aku mengerti.

"Jadi begini, ibu……"

"Apakah sopan bila kau duduk di situ!!??"

Saat aku hendak menjelaskan kondisi Zenith, tiba-tiba nenek itu membentak.

Aku menoleh, dan melihat Aisha yang gemetaran cepat-cepat berdiri dari sofa.

"Kau hanyalah pelayan!! Lihatlah aku!! Aku sedang berdiri!! Maka, sopankah bila kau tetap duduk seperti itu!!?? Siapa yang mengajarimu etika??”

"Mohon maafkanlah hamba."

Dengan mata berkaca-kaca, Aisha tertunduk takut.

Tidak, tidak, tunggu, tunggu.

Bagaimana bisa? Tunggu sebentar.

Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kenapa kalian mengabaikanku? Aku juga mau nangis, nih!

"Aku yang menyuruhnya duduk di samping ibu."

Saat aku menyatakan itu dengan lantang, Claire perlahan melihat ke arahku.

Duh, sepertinya aku salah bicara ....

Gah, persetan….

"Meskipun dia memakai pakaian pelayan, dia tetaplah adikku. Dia mengenakan pakaian itu hanya untuk mempermudah tugasnya melayani ibuku, dan dia pun sudah nyaman memakainya. Tapi, bukan berarti dia harus diperlakukan serendah pelayan.”

"Manusia dilihat berdasarkan pakaiannya. Di keluarga kami, pelayan memakai pakaian pelayan, dan bangsawan memakai pakaian bangsawan.”

Itu seperti norma yang tidak tertulis.

"Lalu, bagaimana denganku? Perlakuan macam apa yang kudapat dengan pakaian seperti ini?”

"Tentu saja, kau akan diperlakukan dengan layak."

"Lantas kenapa aku diabaikan saat mengucapkan salam? Seperti itukah perlakuan layak di keluarga ini?”

Sambil merentangkan tangan, aku memandangi pakaianku. Kurasa… pakaian ini tidak aneh, kan?

Aku lupa, dimana ya aku membeli pakaian ini? Di Sharia mungkin?

Apakah aku harus memakai pakaian yang kubeli di Asura agar diperlakukan layak?

Tapi, pakaian itu untuk berpesta .........

"Tidak, alasanku mengabaikanmu adalah karena ........ orang yang tidak kukenal tiba-tiba memanggilku nenek. Beberapa tahun terakhir, semakin banyak penipu yang masuk ke rumah ini. Sampai aku meyakinkan bahwa kau adalah cucuku, aku tidak akan menghiraukanmu.”

".......Aku mengerti."

Yahh, itu masuk akal. Bagaimanapun juga, Zenith adalah satu-satunya putri Keluarga Latreia yang kawin lari dengan pria gak jelas. Mungkin saja, banyak orang yang sebelumnya datang dengan mengaku sebagai anaknya Zenith. Mereka ingin memanfaatkan kesempatan itu.

Meskipun aku diperbolehkan masuk ke rumah ini, bukan berarti mereka percaya begitu saja pada identitasku sebagai anaknya Zenith.

Bahkan aku sama sekali tidak memakai emblem Keluarga Greyrat pada pakaian ini.

Namun, siapapun bisa menduplikasi emblem itu.

"Tapi setidaknya aku tahu bahwa wanita ini adalah putriku. Aku pun mengingat gadis pelayan bersama Aisha itu. Maka, apakah kau punya bukti bahwa kau benar-benar cucuku?”

Bukti sebagai cucunya…..

Aku jelas-jelas datang bersama Zenith dan Aisha, dan aku punya surat itu.

Apakah itu cukup? Apakah kau perlu bukti lainnya?

"Jadi belum jelas, ya?"

"Apa maksudmu belum jelas?"

"Maksudku, aku lah yang datang mengantar ...... ibu dan Aisha, aku juga membawa surat yang pernah nenek kirimkan padaku. Apakah aku perlu bukti lain lagi?”

Saat aku mengatakan itu, Claire mengerutkan kedua alisnya.

"Kalau begitu, aku tidak bisa mengakuimu sebagai anggota Keluarga Latreia."

"Baiklah, aku tidak keberatan, toh aku adalah Keluarga Greyrat .... saat ini, akulah kepala Keluarga Greyrat. Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Kediaman Latreia, dan aku juga tidak berharap menjadi bagian dari Keluarga Latreia.”

Sebenarnya aku masih memerlukan bantuan mereka, karena keluarga ini cukup berpengaruh di Milis.

Setidaknya, untuk melancarkan pendirian cabang PT. Rudo.

Namun, kalau seperti ini keadaannya, aku harus lebih bersabar.

Untuk saat ini, prioritas utama adalah kepulangan Zenith.

Aku tidak tahu dia marah atau malah ingin tertawa, tapi yang jelas alisnya berkedut dan tubuhnya sedikit gemetaran. Kemudian, dia menatap sembari mendekatiku.

"Untuk seukuran kepala Keluarga Greyrat, kau tidak terlihat meyakinkan. Keluarga Latreia memanglah bangsawan terpandang di Kerajaan Suci Milis…. namun, Keluarga Greyrat juga punya kedudukan tinggi dengan menguasai sebagian besar dari empat Tuan Tanah Kerajaan Asura. Dengan status setinggi itu, pantaskah kau menundukkan kepalamu saat bertemu dengan seorang wanita tua sepertiku?”

"Memang benar Keluarga Greyrat menguasai sebagian besar dari empat Tuan Tanah Kerajaan Asura, namun aku bukanlah keturunan langsung dari empat penguasa itu, bahkan ayahku bukanlah bangsawan kelas atas. Meskipun aku adalah kepala keluarga, sebenarnya aku tidak lebih dari seorang ayah yang tiap hari bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, di tengah-tengah kehidupan warga biasa. Andaikan aku mendapatkan kedudukan yang tinggi di Kerajaan Asura, aku tetap akan menundukkan kepalaku saat bertemu dengan nenekku sendiri, karena menurutku itu bukanlah hal yang hina.”

"...... Ho."

Sepertinya jawabanku itu tidak cukup untuk mengambil hatinya, dia malah memandang rendah padaku.

Ah tidak, mungkin itu hanya imajinasiku saja ......

Sepertinya, harga diri nenek ini sungguh tinggi.

Itu merepotkan ....

Saat ini, aku tidak boleh salah bicara.

"Selain statusku sebagai bangsawan, aku juga memiliki koneksi kuat dengan Yang Mulia Ariel, yang baru saja naik tahta tahun lalu. Baru-baru ini, aku juga dijuluki Tangan Kanan Dewa Naga, karena kedekatanku dengan Orsted, yaitu peringkat kedua dari Tujuh Kekuatan Dunia. Jadi, meskipun tidak terlihat meyakinkan sebagai kepala keluarga, setidaknya aku masih punya sederet prestasi yang bisa dibanggakan.”

Tidak masalah jika kau meremehkanku, tapi jangan melakukan itu pada adikku.

Tenang saja Aisha, wanita tua ini harus tahu siapa kita.

Saat mendengarkan itu, Claire menutup mulutnya rapat-rapat, kemudian mengangkat dagunya.

Dia pun mengamatiku dengan begitu seksama, layaknya seorang peneliti.

"Inilah buktinya aku adalah bawahan Dewa Naga."

Aku menunjukkan padanya gelang yang terdapat lambang Dewa Naga.

Setelah Calire melihatnya selama beberapa detik, pelayan pria di dekatnya berbisik dengan nada pelan.

Sembari mengangguk pria itu berkata. "Ya…. tidak salah lagi, ini adalah lambang Dewa Naga".

Kurasa lambang itu tidak begitu terkenal, namun sepertinya pelayan ini tahu banyak.

Untungnya dia tidak mengatakan, ’Nyonya Besar, lambang seperti ini bisa dibuat di manapun.’

"Aku mengerti ....... aku mengerti."

Sambil mengatakan itu, Claire dengan cepat menarik dagunya, kemudian meletakkan kedua tangannya di pinggang.

Lalu dia menundukkan kepalanya perlahan.

"Namaku Claire Latreia. Istri dari Count Carlyle Latreia, yang merupakan pemimpin batalion Ksatria Kuil. Saat ini, aku menerima mandat sebagai Nyonya Besar di kediaman ini. Mohon maaf atas ketidaksopananku sebelumnya.”

Wahh…. dia minta maaf, apakah aku berhasil membuatnya tertarik?

Apakah sikapku sudah benar di matanya?

Aku tidak mengerti, tapi yang jelas Claire menundukkan kepalanya untuk minta maaf.

Jadi, dia adalah istri komandan batalion Ksatria Kuil.

Adik perempuan Zenith, Therese, juga anggota Ksatria Kuil.

Jadi, kabar itu benar. Keluarga ini memang memiliki hubungan kuat dengan Ordo Ksatria Kuil.

"Baiklah, ijinkan aku sekali lagi memperkenalkan diri. Aku Rudeus Greyrat. Putra Paul Greyrat dan Zenith Greyrat. Saat ini aku bekerja di bawah perintah Dewa Naga, Orsted-sama. Aku juga minta maaf atas kelalaianku sebelumnya. Wajar saja bila nenek mengabaikanku.”

Bagian 3[edit]

Setelah kami berdua saling meminta maaf dengan menundukkan kepala, masalah pun usai.

Fiuh.

Sekarang, aku bisa bernapas lega sesaat.

Salah salam saja bisa menimbulkan masalah serumit ini, tapi akhirnya selesai juga.

"Baiklah, kalau begitu silahkan duduk."

"Ya, permisi."

Kami berdua duduk di sofa.

"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah jauh-jauh datang ke sini. Kukira, kau akan datang beberapa tahun lagi, tapi ternyata kau tiba lebih cepat. Itu sungguh luar biasa.”

Claire menepukkan tangannya beberapa kali, lalu terbukalah pintu.

Dari pintu, masuklah seorang pelayan wanita sembari mendorong rak.

Pada rak itu, ada satu set teh, beserta pelengkapnya.

Upacara minum teh, ya.

Baiklah, akan kutunjukkan kemampuan minum tehku yang telah kupelajari dari Kastil Langit.

Oh, sebelum itu, aku meminta Aisha kembali duduk.

Dia bukan pelayan, melainkan adik perempuanku.

Aku tidak terima dia diperlakukan seperti pelayan. Dia juga tamu sama sepertiku.

Kalau Claire masih bersikeras dia harus berdiri, maka kami akan meninggalkan tempat ini.

"Aisha, duduklah."

"Eh? Tapi ......"

"Hari ini kau bukan pelayan, melainkan adik perempuanku, jadi duduklah.”

Setelah melirik Claire sejenak, dia langsung menjatuhkan dirinya ke sofa.

Claire tidak mengatakan apa-apa, hanya alisnya yang sedikit berkedut.

Karena tidak melarangnya, maka kuanggap dia sudah memperbolehkan Aisha duduk.

Aku melirik sejenak pada Zenith.

Dia masih diperiksa oleh dokter.

Lidah dan matanya sedang diamati oleh pria berjanggut itu.

Yahh, aku hanya bisa membiarkan Zenith diperiksa ......siapa tahu berhasil.

Aku bisa mengerti kekhawatiran Claire. Saat tahu putrinya menderita penyakit aneh, dia langsung meminta dokter pribadinya memeriksa Zenith, padahal hari ini dia lah yang harus diperiksa oleh si dokter.

"Ibu ...... kami sudah berusaha sekuat tenaga mengobatinya, namun masih belum ada hasilnya.”

"....... kalian tinggal di tempat terpencil, maka pantas saja tidak bisa menyembuhkannya.”

Wahh, tempat terpencil katanya.

Bagaimana bisa Kota Sihir Sharia disebut tempat terpencil!!??

...... tapi, aku sudah tahu dia akan mengatakan itu. Aku pun sudah mengantisipasinya.

"Memang benar sihir penyembuhan di Kerajaan Suci Milis lebih berkembang daripada Sharia….. tapi aku sudah meminta bantuan pada Dewa Naga Orsted yang menguasai setiap teknik di dunia ini, dan Raja Naga Perugius yang ahli dalam sihir pemanggilan.”

"Perugius? Salah satu dari tiga pahlawan penyelamat umat manusia? ...... Omonganmu itu terdengar seperti dongengan bagiku.”

Tapi itu benar.

Maklum saja bila dia tidak mempercayainya.

Aku tidak jauh-jauh datang ke sini untuk membual.

Bahkan, aku akan tinggal di Milishion selama beberapa bulan.

Mungkin, nanti Claire akan tahu sendiri bahwa menyembuhkan Zenith adalah suatu hal yang mustahil.

Cara apa yang akan dia gunakan untuk mendiagnosis penyakit Zenith? Aku tidak terima bisa Zenith mereka gunakan sebagai obyek penelitian...........

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Norn?"

Sementara aku berpikir untuk melanjutkan topik pembicaraan ini, tiba-tiba dia membahas hal lain.

Norn?

"Dia bersekolah di Akademi Sihir Sharia. Kegiatan sekolahnya akan terganggu bila aku mengajaknya ke Milis, jadi aku tidak membawanya.”

"Begitukah? Kalaupun sekolah, kurasa prestasinya biasa-biasa saja, atau…. mungkinkah dia lebih rajin sekarang?”

"Ya, Norn sudah banyak berubah. Bahkan dia sudah menjadi Ketua Dewan Siswa yang berprestasi unggul.”

Claire tampak terkejut saat mendengar ceritaku, tapi sebenarnya aku sedikit melebih-lebihkan.

Dia pasti berpikir bawa prestasi Norn masih biasa-biasa saja seperti dulu.

Yahh, kalau bandingannya Aisha sih… tentu saja prestasi Norn tidak ada apa-apanya.

"Kalau begitu, kapan dia lulus?"

"Aku belum tahu."

"Apakah dia sudah punya pasangan?"

"Aku pun tidak tahu soal itu."

Kemudian, Claire mengerutkan keningnya.

Apakah jawabanku tadi membuatnya kesal?

"Bawa dia kemari setelah lulus nanti.”

Dia mengatakannya dengan tegas, namun aku tidak bisa memberikan jawaban iya ataupun tidak.

Apakah wanita tua ini tidak mempertimbangkan jarak antara Sharia dan Milishion?

Untuk pulang-pergi, setidaknya seseorang butuh 4 tahun .......

Yahh, tapi kalau menggunakan lingkaran sihir teleportasi, kami hanya membutuhkan waktu seminggu.

"Tidak masalah, tapi ....."

"Di negara seudik Ranoa, dia tidak akan bisa mendapatkan pasangan yang baik. Biar aku saja yang menjodohkannya saat dia sudah kembali ke Milishion.”

Eh?

Apa-apa’an si tua ini?

Seenak saja dia menentukan nasib orang lain.

"Dengan kata lain, Norn harus menikah dengan pria pilihan nenek?"

"Benar, aku akan menjodohkannya dengan salah satu kepala keluarga bangsawan. Aku sendiri yang akan menentukan siapakah orangnya.”

"Tidak, tidak, kumohon tunggu sebentar, bukankah harusnya Norn sendiri yang memilih siapakah pasangan hidupnya ...?"

"Apa yang kamu bicarakan? Gadis Keluarga Latreia hanya boleh menikahi kepala keluarga bangsawan.”

..... eh?

Serius?

Saat itu juga, aku melihat Aisha.

Dia hanya mengangkat bahunya, seakan mengatakan, ’Kan sudah kubilang dia menyebalkan….’

Mungkin tradisi seperti itu sudah biasa di Kerajaan Suci Milis.

Ya….ternyata begitu.

Namun, di duniaku sebelumnya juga masih ada tradisi seperti itu.

Semua orang menganggapnya wajar, hanya aku saja yang tidak.

Tapi, aku tidak pernah menetapkan peraturan seperti itu di keluarga kami.

Norn, jika kau ingin menikahi seseorang, Nii-san akan siap menerima pria itu. Tapi, bawa dulu pria pilihanmu pada Nii-san, aku akan menilainya apakah dia cocok untukmu atau tidak. Meskipun aku membebaskanmu memilih pria manapun, namun aku tetap akan menyeleksinya.

"........ lebih baik aku saja yang menentukan pria yang akan menjadi pendamping Norn. Bagaimanapun juga, akulah kepala keluarganya.”

Lebih baik aku mengatakan itu untuk alasan.

"Yahh, aku mengerti….. itulah tugasmu sebagai kepala keluarga. Tapi kau harus bisa membedakan mana pria yang pantas baginya, dan mana yang tidak pantas.”

Aku mendapatkan teguran.

Selalu saja seperti ini.

Rasanya seperti diremehkan.

Tapi, sabar saja dulu.

Aku pun sudah menduga ini.

Nenek ini memang benar-benar menyebalkan.

Cara berpikir kami sudah berbeda sejak awal, maka jika aku memaksakan kehendak, hasilnya hanyalah perselisihan.

Hari ini adalah pertama kalinya kami bertemu.

Pertama-tama, kami perlu saling mengenal lebih dekat.

Kalau sudah saling kenal, barulah aku bisa meminta beberapa hal darinya.

"---- sepertinya dia sudah selesai memeriksanya."

Saat aku menghela napas panjang, tiba-tiba Andel-sensei kembali bersama Zenith.

Aisha segera berdiri, lalu membantunya duduk di sofa.

"Bagaimana?"

"Tubuhnya sih sehat, bahkan kondisi fisiknya lebih muda daripada umurnya."

Begitulah kesimpulan si dokter.

Selamat, Zenith.

Meskipun mentalmu cacat, namun kondisi fisikmu prima.

..... apakah ini kabar bagus?

Atau jangan-jangan, ini malah kabar buruk?

Apakah itu pengaruh kutukan .... atau sejenisnya.

"Bolehkah aku bertanya tentang keluarga?"

"Tentu saja, silahkan."

"Baiklah kalau begitu----."

Si dokter ingin menanyakan tentang keluarga padaku, namun dia malah membahas berbagai hal di luar itu.

Dia mengajukan pertanyaan seperti: apakah Zenith biasa berdiet, seberapa banyak makanannya, apakah dia sering berolahraga, apakah dia masih menstruasi atau tidak.

Dia lebih membahas tentang kondisi kesehatan Zenith.

Adapun pertanyaan tentang kondisi mental, antara lain: apakah dia menikmati kehidupannya sehari-hari, bagaimanakah perilakunya tiap hari, dan apakah dia pernah stress.

Dengan lancar, aku menjawab semua pertanyaan si dokter.

Kalau ada sesuatu yang tidak kumengerti, Aisha lah yang menjawabnya.

Sebetulnya, Lilia lah yang paling mengerti tentang Zenith, karena setiap hari dia merawat dan menemaninya. Tapi dia tidak bersama kami.

"Aku mengerti, aku mengerti."

Setelah menuliskan semua jawaban kami pada secarik kertas, dia pun menundukkan kepalanya.

Lalu, dia mendekati Claire, dan membicarakan sesuatu dengan gumaman.

"Bagaimana?"

"Jadi begini…sepertinya tidak ada masalah serius. Ada seorang pelayan yang selalu merawatnya setiap hari. Aku tidak menemukan penyakit atau cidera apapun pada tubuhnya. Bahkan, kondisi mentalnya tampaknya stabil.”

"Kalau soal keturunan?"

"Dia masih menstruasi, maka bisa melahirkan anak ......... jika ada orang yang merawatnya dengan teratur, bukannya mustahil dia mengandung lagi dengan sehat.”

"Baikkag."

Apa yang dia maksud dengan ‘baiklah’?

Sepertinya masih ada yang kau sembunyikan dariku ........

"Maafkan aku, tapi….. mengapa kalian membicarakan kehamilan ibu? Apakah dia akan dinikahkan lagi, atau semacamnya?"

Sebenarnya aku hanya bercanda saat menanyakan itu.

Namun, Claire membalas pertanyaanku dengan tatapan sedingin es.

Wajahnya mulai menyeramkan.

Tanpa mengatakan apapun, aku sudah bisa menebak bahwa dia akan memaksa kami lagi untuk mengikuti pendapatnya.

"....... di Kerajaan Suci Milis, nilai seorang wanita ditentukan oleh kemampuannya memberikan keturunan. Jika seorang wanita masih mampu melahirkan anak, maka dia akan dipandang terhormat oleh orang-orang.”

T-t-tunggu dulu….

Jadi, seorang wanita harus melahirkan anak jika ingin dihormati oleh orang lain?

Tunggu dulu…. ahh, tenanglah diriku…

Aku masih belum paham ke manakah arah pembicaraan ini.

Si tua ini hanya membahas norma dasar di negara ini, kan?

Aku tidak percaya ada norma seperti itu di Milis, ataukah nenek ini hanya memutuskan berdasar kemauannya sendiri?

"Oh iya, kau harus memutuskan hubungan dengan Fraksi Uskup Agung.”

"Eh?"

"Aku tahu kau berteman dengan salah seorang keluarga Uskup Agung.”

Lagi-lagi dia merubah topik pembicaraan tiba-tiba, aku semakin bingung saja.

Aku tidak bisa mengontrol ke manakah arah pembicaraan ini, seolah-olah Claire mengendalikan semuanya.

Apakah aku telah gagal berdiskusi dengannya?

Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.

"Aku memang berteman akrab dengan Cliff, apakah aku harus memusuhinya?”

"Saat ini, Keluarga Latreia sudah mulai bergerak sebagai Fraksi Kardinal. Jadi, siapapun yang berhubungan dengan Fraksi Uskup Agung tidak boleh berurusan dengan kami.”

Fraksi Kardinal, mungkin itu fraksi yang menolak keberadaan ras iblis.

Apakah saat ini Fraksi Kardinal lebih unggul daripada Fraksi Uskup Agung? Yahh….kurasa begitu.

"Meskipun aku berteman dengan Cliff, aku tidak berniat membela Fraksi Uskup Agung. Bukankah itu cukup adil?”

"Tidak, kami tidak bisa mengijinkannya, jika kau ingin diterima di rumah ini, maka patuhilah semua aturannya.”

Hmm.

Hmm.

Dia benar juga. Hampir pasti Cliff akan dinobatkan sebagai Uskup Agung selanjutnya, maka besar kemungkinannya aku membela fraksi oposisi.

Aku paham apa yang diinginkan Claire sebagai Nyonya Besar rumah ini. Dia tidak ingin satu pun anggota keluarganya berhubungan dengan pihak lawan.

Itu wajar .........

"Cliff telah banyak membantuku sewaktu kami masih sekolah. Dia juga banyak memberi saran yang membangun pada Norn ........ bukankah tidak masalah berteman dengan orang sebaik dia?"

"Tidak bisa…. selama kau masih berinteraksi dengan anggota Fraksi Uskup Agung, maka kau tidak diperbolehkan tinggal di rumah ini….”

Tidak ada harapan.

Baiklah, aku mengerti.

Ya sudah lah.

Tidak apa-apa. Aku tidak marah. Aku sama sekali tidak marah.

Aku masih bisa memakluminya. Rudeus Greyrat adalah orang yang sabar dan tenang.

Tidak perlu panik. Aku sudah tahu bahwa Claire adalah wanita keras kepala seperti ini.

Aku sudah siap mental menghadapinya.

Tapi, sebenarnya aku tidak menyangka dia tahu pertemananku dengan Cliff…. siapa yang memberitahunya? Apakah anak buahnya?

Sayangnya, aku tidak bisa meninggalkan Cliff sendirian, jadi lebih baik aku berpisah dengan Zenith untuk sementara waktu. Toh, Zenith aman di sini.

Aku harus meninggalkan rumah ini tanpa adu mulut dengan si tua ini ----.

"---- Tinggalkan Zenith di sini, dan cepatlah pergi."

Aku terdiam beberapa saat.

“Jadi, nenek berusaha memisahkanku dengan ibu?”

“Kalau kau tidak sanggup mematuhi peraturan keluarga, maka jangan harap bertemu kembali dengan ibumu……”

Dia berhenti sejenak. Lalu, dengan tatapan sedingin es, dia mengatakan….

"….kalau sudah begini, maka lebih baik aku menikahkan wanita ini dengan lelaki pilihanku. Dia masih bisa beranak, kan.”

Mushoku 20 (6).jpg

Begitu mendengarnya, mulutku terasa kering.

Mataku gelap.

Seolah-olah, kabut petang menghalangi penglihatanku.

"............"

Ada seseorang yang berteriak.

Siapakah itu?

Bukankah itu aku sendiri…..

Sepertinya aku sedang berteriak kencang… tapi kenapa aku tidak menyadarinya.

Apa yang kuteriakkan? Kenapa aku tidak bisa memahaminya? Padahal mulutku sendiri membentak begitu lantang.

Oh…. ternyata teriakan itu hanya terjadi di dalam jiwaku.

Aku masih bisa menutup mulutku, namun jiwaku berteriak begitu kencang.

Untuk sesaat, aku tidak bisa membedakannya.

"Wanita ini akan menikah dengan bangsawan dari Fraksi Kardinal. Tidak peduli sudah berapa kali pun dia bercerai, itu tidak masalah.”

Kenapa si tua bangka ini begitu senang mengatur hidup orang lain? Apa masalahmu?

Bahkan sekarang kau memanggil putrimu sendiri dengan sebutan ‘wanita ini’.

Dimana wibawamu sebagai ibu?

"Untungnya, kita masih bisa memanfaatkan tubuhnya yang sehat.”

Saat mendengar itu, seolah-olah darahku mendidih, dan aku bisa merasakan uap panasnya.

Kau anggap apa anakmu ini? Pelacur?

Aku merasakan nafsu membunuh yang sama seperti saat Eris tersinggung.

Setelah menahan emosi sebesar ini, mungkin aku akan pingsan, dan tidak mengingat apapun setelahnya.

Baru kali ini aku merasakan amarah sebesar ini.

Bagian 4[edit]

Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya, tiba-tiba sekarang aku sedang berjalan bersama Zenith di tengah malam.

Aku juga tidak ingat apa yang kukatakan setelah itu.

Tapi yang jelas…. aku tidak bisa lagi memendam teriakan di dalam jiwaku, sehingga kulepaskan begitu saja.

Apa yang kuteriakkan? Aku tidak ingat?

Baru kali ini aku lepas kendali seperti itu.

Claire membelalakkan matanya saat kubentak dia.

Para pelayan melihat kami dengan kebingungan.

Aku menyatakan keluar dari rumah itu, lalu kuraih tangan Zenith. Claire mengatakan tanpa ragu, “Dia sudah tidak waras lagi.”

Kata-kata itu semakin membakar amarahku, bahkan aku tidak sengaja mengeluarkan sihir saat mengepalkan tanganku.

Aisha berseru, “Hajar saja, Onii-chan!!” atau semacamnya.

Setelah itu Claire memanggil para penjaga, namun kuhajar mereka seperti menepuk lalat. Aku pun segera meninggalkan rumah setelah memutuskan hubungan persaudaraan dengan Keluarga Latreia.

"Fuu ~~ ......"

Tak terasa, tiba-tiba kami sudah berjalan di perbatasan Distrik Agama.

Karena amarahku masih membara, kepalaku pening, dan pandanganku kabur.

Aku semakin jengkel saat mengingat kembali perkataan si tua bangka itu.

Tak pernah kuduga kata-kata menjijikkan seperti itu keluar dari mulut orang yang katanya terhormat.

Ah, sial.

"Untungnya, kita masih bisa memanfaatkan tubuhnya yang sehat.”

Ejekan itu masih terngiang di telingaku. Andaikan aku tidak pernah berkunjung ke rumah itu, maka aku tidak akan mendengarnya.

Apa-apa’an dia…. nenek itu sudah keterlaluan.

Tidak masalah jika dia mengabaikanku saat mengucapkan salam.

Wajar saja jika kau mengabaikan orang asing yang tiba-tiba memanggilmu nenek.

Aku pun memaklumi keinginanmu mencarikan jodoh untuk Norn. Toh, siapa tahu pria itu baik.

Bahkan di kehidupanku sebelumnya, keluarga terhormat masih memiliki tradisi seperti itu.

Aku masih bisa mentolelir semua itu.

Tapi jangan harap aku bisa menerima ejekanmu pada Zenith!!!!

Dia cacat mental dan tidak bisa hidup sendiri.

Atas alasan apa kau mau menikahkan wanita menderita seperti itu???

Apakah hanya karena tubuhnya masih sehat????

Apakah hanya karena dia masih menstruasi???

Apakah hanya karena dia masih bisa beranak???

Memanfaatkan katamu?? Kau anggap Zenith apa??

Aku tahu kau bisa menyuruh orang untuk merawat Zenith di siang hari. Tapi, apakah kau merawatnya hanya untuk memuaskan pria brengsek di malam hari?

Aku tak tahu apa namanya.

Selir mungkin?

Dan bagaimana jika dia benar-benar hamil? Apakah kau akan bertanggung jawab? Apakah kau yang akan menanggung semua resikonya?

Meskipun Zenith masih bisa melahirkan, apakah dia menginginkannya?

Bagaimana dengan perasaanku sebagai anaknya? Atau…. bagaimana dengan perasaan Norn?

Apakah kau benar-benar tahu perasaan seorang ibu?

Apakah kau benar-benar tahu perasaan putri kandungmu?

Untuk apa kau melakukan semua itu?

Untuk menyembuhkannya?

Kau pikir Zenith itu apa?

Ayam peternak?

Yang benar saja!!!

Dia susah payah datang ke sini setelah sekian lama, hanya untuk memenuhi panggilanmu!!

Lihatlah apa yang dia dapat!!

Begitukah caramu menyambut anak yang sudah lama berpisah denganmu??

"Fuu ......."

Hembusan napas itu sedikit menenangkanku.

Perutku mulai keroncongan.

Rupanya aku lapar.

Sejak siang aku tidak makan apapun.

Aku ingin makan selain sup.

"O-onii-chan ....."

Aku menoleh pada Aisha yang memanggilku.

Aisha tampak gelisah.

Dengan bingung, sepertinya dia berusaha memilih kata yang tepat sebelum berbicara padaku.

"Aisha."

Aku segera mengulurkan tanganku, lalu memeluknya.

Dia pun tidak bergerak saat membenamkan tubuhnya pada pelukanku.

Sekarang, aku tahu betul apa yang dimaksud oleh Aisha dan Norn dengan ‘nenek yang menyebalkan’.

Sungguh reuni keluarga yang menyakitkan.

Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang telah si tua bangka itu lakukan pada Aisha dan Norn saat masih kecil dulu.

Yang jelas, itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan.

"Maaf, kau jadi terlibat dalam masalah ini.”

"Tidak. Tidak apa-apa. Tapi, kita gagal bekerjasama dengan Keluarga Latreia.”

Ya, itu benar.

Tadinya aku ingin memanfaatkan hubungan dengan Keluarga Latreia untuk mengembangkan PT. Rudo.

"Yahh, tidak apa-apa. Lagian, siapa yang mau bekerjasama dengan keluarga jahat seperti itu.”

Aku akan menjalin kerjasama dengan pihak lain.

Aku akan meminta Cliff mengenalkan kami dengan kakeknya, siapa tahu bisa diajak kerjasama…..

Sebenarnya tidak baik meminta bantuan dalam keadaan seperti ini. Keluarga Cliff juga sedang berjuang memenangkan persaingan politik….. tapi, kurasa tidak apa-apa.

Kalau pun itu gagal, sepertinya kita terpaksa harus mengembangkan PT. Rudo tanpa bantuan pihak manapun.

Pikirkan itu nanti saja, kami sudah terlalu lelah hari ini.

Ayo kembali dan istirahat ...

Tetapi, mau kembali ke mana? Kami tidak punya tempat untuk bermalam.

Apakah kami harus cari penginapan di Distrik Petualang? Malam akan semakin larut sesampainya kami di sana. Zenith pasti akan semakin lelah.

Baiklah, kalau begitu kami akan menginap di rumah Cliff sekali lagi.

Sambil memikirkan itu, aku menuju ke rumah Cliff.

Bab 7: Pusat Organisasi Keagamaan Milis[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah bertemu Claire, aku pulang ke rumah Cliff dengan sakit hati.

Namun, sesampainya di sana aku disambut oleh suatu pemandangan yang mengherankan.

Wow, Cliff sedang memeluk seorang wanita yang tidak kukenal.

Seorang wanita yang tampak polos.

Rambutnya pendek berwarna cokelat muda, ada bintik-bintik di wajah, dan tubuhnya pendek.

Meskipun perawakan wanita itu kurus secara keseluruhan, namun sepertinya dia pernah gemuk.

Yang jelas dia bukan Elinalise.

Elinalise penuh nafsu, sedangkan wanita ini tidak.

Keduanya sama sekali tidak mirip.

Apa-apa’an ini…..

Cliff-senpai…..

Padahal dia selalu mengeritikku karena punya banyak istri .......

Apakah ini alasanmu tidak membawa Elinalise? Hanya untuk berselingkuh?

Jadi, selama ini kau menduakan Elinalise?

Meskipun Elinalise adalah tante girang, namun dia telah melahirkan anakmu…. dimana perasaanmu?

Cliff-senpai….. ini bohong, kan.

Pertama, Claire…. lalu, Cliff-senpai…. jika memang seperti ini kelakuan sebenarnya para penganut Agama Milis, maka aku akan berhenti mempercayai mereka.

Ah.

Sial, apakah ini yang disebut cinta?

Sylphy, Roxy, Eris.

Siapapun…. tolong peluk aku erat-erat, aku butuh seseorang yang bisa menenangkan jiwaku.

Supaya aku kuat menjalani semua ini.

"Ah, Rudeus, pas banget kau datang. Bisakah kau mengambilkan kotak di atas rak itu. Aku pendek, jadi aku tidak bisa mengambilnya meskipun menggunakan alat.”

"Ah, ya."

Saat aku kembali tersadar dari hayalanku, Cliff sudah melepaskan pelukannya pada wanita itu.

Sepertinya mereka tidak malu sama sekali, padahal aku jelas-jelas melihat mereka berpelukan.

Seakan-akan itu adalah hal yang sudah biasa mereka lakukan.

"Wendy, apakah pergelangan kakimu cidera?"

"Tidak kok, terimakasih sudah mengkhawatirkanku."

Aku mengambil kotak yang diminta Cliff dari rak, sembari mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

Setelah mendapatkan kotaknya, kubersihkan debu yang menempel padanya, lalu kuserahkan pada Cliff.

"Maaf ...... dengan ini, mungkin ...... ah, pokoknya aku senang kau datang kemari hari ini, besok aku akan berusaha lebih baik…..”

Cliff mengeluarkan semacam emblem dari dalam kotak tersebut.

Itu adalah lambang Gereja Milis.

Kenapa dia memberinya pada wanita itu? Apakah ini soal pekerjaan?

"Rudeus, kenapa kau kembali? Bukankah seharusnya kau sudah tinggal di Kediaman Keluarga Latreia?”

Aku ingin bercerita banyak pada Cliff tentang apa yang kami alami hari ini.

"Yahh, jadi begini ceritanya…..”

Bagian 2[edit]

Dengan emosional, aku menjelaskan semua yang terjadi di kediaman Latreia.

Kuceritakan semuanya, mulai dari salam perkenalan yang buruk, mulut busuk Claire, aku membuat sedikit keributan sebelum pergi, sampai akhirnya aku berhasil menenangkan diri, meskipun amarahku kembali saat kuingat semua itu.

"......yahh….."

Cliff hanya mengerutkan keningnya sembari mendengarkan ceritaku.

Orang beriman seperti Cliff pasti paham bagaimana perasaanku saat ini.

"..... Itu benar. Di Kerajaan Suci Milis, masih ada adat seperti itu, dimana orang tua berhak menentukan jodoh anak-anaknya. Anggapan tentang wanita itu juga benar. Di Milis, wanita baru dianggap berguna setelah melahirkan anak…… tapi, menikahkan seorang wanita cacat mental itu kurasa keputusannya sendiri.”

"Kau tidak menyetujuinya, kan?"

Dia jahat. Dia kejam. Dia tidak punya hati.

Bahkan aku yang biasanya tenang, tidak tahan mendengar omongan nenek itu.

Aku tidak percaya Zenith punya ibu seperti itu.

"Tapi, Nyonya Claire mungkin sedikit bingung. Putrinya tiba-tiba datang dengan kondiri mengenaskan seperti itu. Andaikan kau berada di posisinya…. bisakah kau memahami perasaannya?”

Cliff mengatakan itu sembari menghiburku.

Sepertinya dia juga jengkel dengan kelakukan si tua itu.

Namun, Cliff hanya mendengar semuanya dari ceritaku.

Mungkin dia juga ingin menganalisis masalah ini dari sudut pandang Claire.

Yahh… coba saja bayangkan.

Anakku sendiri .......

Misalnya Lucy ...... ahh, sebenarnya aku tidak mau membayangkan Lucy menderita cacat mental seperti itu.

Kalau begitu, Norn saja.

Saat Norn tumbuh dewasa, dia melakukan perjalanan jauh untuk menemuiku, lalu saat kami bertemu, aku mendapatinya dalam keadaan cacat.

Dia datang bersama seorang pelayan dan pria yang mengaku sebagai sanak keluargaku.

Tentu saja aku akan kebingungan.

Mungkin sulit membayangkannya, tapi .......

"Kalau semisal anakku datang dalam kondisi cacat, maka apakah menikah solusinya?”

"........ kurasa tidak, tapi….. bukankah pilihan itu tidak buruk? Jika anakmu yang cacat mendapatkan suami, maka akan ada orang yang selalu menjaganya.”

Aku tidak berpikir ke arah itu.

Ini seperti menggunakan kembali barang yang sudah terpakai.

Memang itu menguntungkan tapi bagaimana bisa kau menyamakan anakmu sendiri dengan barang?

Apakah kau memikirkan bagaimana perasaan anakmu?

Sialan.

Saat melihat wajah Claire yang menyebalkan itu, aku membuat kerusuhan di rumahnya.

Aku menggunakan Rock Cannon untuk melibas semua penjaga rumah, sedangkan Claire hanya melihat kerusuhan itu dengan tatapan dingin.

Seolah-olah dia berkata, ’Mengapa si badung ini membuat keonaran, padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun.’

Aku tahu dia takut melihat tindakan berutalku, namun itu belum cukup merubah keputusannya.

Mulut kotornya tidak berubah.

"Apapun itu, aku paham dengan keadaanmu. Jadi, silahkan saja menginap di rumahku.”

"Terima kasih banyak."

"Tanah ini berada di bawah kepemilikan Uskup Agung, meskipun Keluarga Latreia berusaha melakukan sesuatu padamu, mereka tidak bisa berbuat seenak jidat di sini.”

Setelah mendengar itu, aku baru sadar bahwa Keluarga Latreia bisa melakukan hal kotor untuk merebut Zenith dari kami.

Aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumah Claire.

Aku tidak ingin lagi bertemu dengan si tua bangka itu.

Begitupun dengan Claire, harusnya dia sudah muak denganku.

Tapi, kami masih memiliki orang yang mereka inginkan, yaitu Zenith. Jadi, mungkin saja mereka melakukan berbagai hal untuk merebut Zenith dari kami.

Lebih baik kita kembalikan Zenith ke Sharia.

"Ibumu baru saja kembali ke kampung halamannya, jadi jika kau langsung memulangkannya ke Sharia, itu sungguh menyedihkan.”

"Benar juga….."

Mills adalah kota kelahiran Zenith.

Andaikan Zenith sudah sadar, mungkin dia ingin lebih lama tinggal di sini, untuk mengunjungi beberapa tempat yang sudah lama tidak dia datangi.

Aku pun berniat membawanya jalan-jalan mengelilingi Milishion jika ada waktu senggang.

"Tapi...."

"Kalau kau pergi keluar, jangan sungkan untuk meminta bantuan Wendy. Dia sedikit kikuk, namun masih bisa diandalkan.”

Sembari menganjurkan itu, Cliff melihat wanita yang tadi kukira selingkuhannya.

"...... Cliff-senpai, siapa dia?"

"Ah, maafkan aku. Aku terlambat memperkenalkannya. Dia Wendy. Dia adalah….. hmmm, gimana ya bilangnya…. pokoknya, hubunganku dengannya seperti kau dan Sylphy.”

"Aku mengerti….aku mengerti…. Cukup, itu saja yang perlu kau akui, aku sudah memahami detailnya.”

Seperti hubunganku dan Sylphy…..

Aku mengerti… aku mengerti…. Jadi, memang benar ya….

Semuanya sudah terjawab.

"Jangan khawatir, aku akan merahasiakannya dari Elinalise-san.”

"Tidak, tunggu, tunggu sebentar, sepertinya kau salah sangka….”

Cliff tampaknya menyadari ada yang tidak beres dengan pemahamanku, lalu dia mulai menjelaskan semuanya dengan panik.

Sepertinya, hari ini ada acara yang digelar di Pusat Gereja Milis. Sehingga, kami memerlukan persiapan untuk berbenah.

Agar semuanya lancar, akhirnya Cliff memutuskan untuk menyewa seorang pelayan.

Tapi, bukan sembarang pelayan.

Cliff mengunjungi panti asuhan tempat dia dibesarkan dulu.

Di panti asuhan tersebut, anak-anak diajarkan keterampilan mengurus rumah, seperti bersih-bersih dan memasak.

Tak jarang, anak-anak dari panti asuhan ini disewa sebagai pelayan dengan harga murah.

"Wendy adalah anak yatim paling senior di panti asuhan itu. Tak lama lagi, dia akan diminta meninggalkan panti asuhan karena umurnya sudah cukup dewasa. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menyewanya agar pengalamannya semakin banyak. Tentu saja, dia juga akan membantu kita membersihkan rumah ini.”

Intinya, gadis itu disewa sebagai pelayan senior.

Pengalamannya juga akan bertambah saat dia bekerja di rumah orang penting, seperti cucu Uskup Agung.

Itu adalah tawaran yang sama-sama menguntungkan.

"Namaku Wendy. Aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti para pelayan pada umumnya. Mohon kerjasamanya.”

Sama seperti Sylphy……..

Maksudnya teman masa kecil? Ohh, kukira istrimu…….

Bilang dong.

Namun, aku tidak bisa menebak berapakah umur Wendy. Kuharap tidak terjadi kesalahpahaman saat kami tinggal serumah mulai besok.

Ah, kurasa Cliff tidak akan salah sangka.

Bahkan, aku bisa mengurusi rumah ini tanpa bantuan Wendy.

".........."

Bagian 3[edit]

Mungkin, keputusanku meninggalkan rumah Keluarga Latreia adalah kesalahan besar.

Kalau sudah begini, langkah paling aman adalah mengembalikan Zenith ke Sharia.

Tapi, aku yakin Zenith masih ingin tinggal beberapa lama di kota ini, yang merupakan tempat kelahirannya.

Duh…. lagi-lagi aku bertindak sembrono.

Harusnya, aku membatu Cliff diam-diam, sampai dia mendapatkan posisi yang cukup kuat untuk menekan Keluarga Latreia.

Namun dengan begini, rencana itu akan semakin sulit terlaksana.

"Aisha, bagaimana menurutmu?"

"..... Eh?"

Aku kebingungan, sehingga perlu mendengar pendapat orang lain.

Aisha, berikan opinimu.

"Apakah sebaiknya kukembalikan ibu ke Sharia? Ataukah biarkan dia tinggal untuk sementara waktu bersama kita, sembari kita ajak jalan-jelan keliling kota di saat senggang? Menurutku, ibu masih belum melepas rindu dengan kota kelahirannya ini.”

Setelah mendengarkan itu, Aisha mulai berpikir serius sembari bersedekap.

Namun, dia segera mengangkat wajahnya, lalu melihat ke arah Cliff.

"Apakah rumah ini benar-benar aman?"

"Ya. Ukurannya memang kecil, namun Keluarga Latreia tidak bisa berbuat sesuka hati di lingkungan ini. Jika mereka melakukannya, akan terjadi masalah besar.”

"Tapi, kalau Keluarga Latreia memang berniat cari masalah, maka bukankah tidak mustahil mereka menyerang tempat ini?”

"Kurasa kecil kemungkinannya, karena mereka sangat menjaga nama baik keluarganya.”

Nama baik ya…..

Mungkin Cliff benar, karena harga diri wanita tua itu sangatlah tinggi. Dia tidak mungkin begitu saja merusak nama baik keluarga yang dibangga-banggakannya.

Dia memang orang yang keras kepala dan super menyebalkan, namun pikirannya masih waras.

"Baiklah, kurasa tidak apa-apa."

Aisha mengatakan itu masih dengan bersedekap.

"Menurutku, wanita bernama Claire itu tidak akan mencoreng nama baik keluarganya, hanya karena ingin merebut paksa ibu kalian.”

Betul.

Zenith masih berharga bagi mereka, tapi tidak seberharga nama baik keluarga.

Cliff pun tidak habis pikir dengan ide itu, bagaimana bisa mereka memaksa seorang wanita yang bahkan tidak bisa bicara untuk menikah sekali lagi, lalu melahirkan anak? Sudah serusak itukah akhlak para penganut ajaran Milis?

Meskipun terlalu fanatik, sebenarnya para penganut ajaran Milis terkenal berbudi luhur. Buktinya, mereka mau membiayai Paul untuk meneruskan upaya pencarian korban-korban bencana metastasis di Fedoa. Apakah mereka melakukannya dengan ikhlas? Ataukah ada motif tersembunyi di baliknya?

Jangan-jangan, mereka melanjutkan proyek itu hanya untuk mencari budak-budak baru.

Sejauh itukah nafsu telah mengendalikan mereka? Apakah cinta dan kasih sayang tidak dipentingkan lagi dalam ajaran Milis? Padahal, kalian menjunjung tinggi asas kesetiaan, dan memprotes konsep poligami.

Kalau semua pengikut ajaran Milis seperti itu, mungkin hanya Cliff dan Norn yang kupercayai sebagai orang beriman.

"Mungkin mereka sudah menyadari betapa menyeramkannya Onii-chan, sehingga mereka tidak mengejar kita…. Jadi kurasa Nyonya Zenith akan baik-baik saja.”

Ya, kuharap itu benar.

Buktinya, setelah angkat kaki dari Kediaman Keluarga Latreia, tak seorang pun mengikuti kami selama dalam perjalanan.

Tadinya kupikir ada beberapa penjaga yang ditugaskan untuk membuntuti kami.

Aku tidak tahu, apakah mereka takut padaku, atau sudah menyerah merebut Zenith dari kami.

Tapi, mereka tahu hubungan pertemananku dengan Cliff.

Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi itu, tapi ...... semuanya sudah terungkap. Bahkan saat ini, aku jelas-jelas tinggal di rumahnya Cliff. Aku tidak lagi bisa mengelak.

"Kupikir, lebih baik kita tinggal di tempat oposisi, daripada tinggal di tempat netral yang belum tentu keamanannya.”

"Aku mengerti."

Aku tidak ingin mengambil resiko.

Anggap saja mereka tidak berusaha merebut kembali Zenith.

Aisha memang hebat, dia bisa menganalisisnya dengan jitu.

"Baiklah kalau begitu…..."

Sela Cliff.

"Besok, aku akan bertemu kakekku, apakah kau mau ikut denganku, Rudeus? Persaingan kami dengan kubu Latreia semakin meruncing, kami pun tidak bisa bergerak sebebas biasanya. Sedangkan….. kau butuh koneksi, kan?”

"Gak papa, nih?"

"Tentu saja, kau boleh membantu kakekku semampumu. Aku akan memperkenalkanmu dan Aisha pada kakek, lalu semua terserah padamu.”

"Aku paham."

Cliff memperbolehkanku membantu kakeknya, namun tidak untuknya. Dia masih ingin berusaha sendiri.

Aku juga tidak berniat membantu Cliff, kecuali keadaan begitu genting.

Namun, aku belum tahu bagaimana aku harus membantu kakeknya.

Mungkin kita bisa memikirkannya nanti, yang jelas sekarang kita harus kenal pada Uskup Agung terlebih dahulu.

Tidak hanya Zenith, aku juga punya tugas membentuk cabang PT. Rudo di kota ini.

Aku bisa melakukannya sembari melindungi Uskup Agung.

Dengan membentuk koneksi yang solid, musuh pun akan kesulitan memberikan perlawanan pada kami.

"... mohon bantuannya."

Sembari memikirkan berbagai hal, aku membungkuk pada Cliff.

Masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Jadi, lupakan hari yang menyebalkan ini, dan teruslah maju.

Bagian 4[edit]

Keesokan harinya.

Setelah sarapan, kami mulai bergerak menuju Pusat Gereja Milis.

Aisha tetap tinggal di rumah untuk merawat Zenith.

Pusat Gereja Milis adalah bangunan megah berlapis emas, dengan atap yang berbentuk seperti bawang.

Warna dasar bangunan itu adalah putih dan perak, yang melambangkan moto utama Kerajaan Suci Milis, yaitu kedamaian dan kesucian.

Dari kejauhan, disain keemasan bangunan itu begitu mencolok.

Tapi, bentuk atap mirip bawang itu begitu konyol, seakan tidak pantas dengan kemegahan bangunan itu.

Tapi, saat kau melihatnya dari jauh, tidak masalah sih.

Dengan perpaduan warna emas, perak, dan putih, bangunan itu semakin indah.

Saat kau melihatnya dari dekat…. sekali lagi kukatakan, disain atap mirip bawang itu sungguh mengganggu.

Yahh, kuharap di bangunan semegah ini aku tidak bertemu dengan orang tua yang menyebalkan seperti kemarin.

Bagaimanapun juga, bangunan ini juga berfungsi sebagai Pusat Organisasi Keagamaan Milis.

Gereja pusat ini dihuni oleh ratusan, atau bahkan ribuan orang beriman kelas atas macam Cliff.

Mungkin disain bangunannya sedikit konyol, tapi orang-orang suci tinggal di sini.

Tentu saja, aku tidak bisa memahami sedikit pun ajaran agama mereka.

Bangunan ini dihiasi oleh emas, namun ironisnya….. di duniaku sebelumnya orang suci dan para pemimpin sering kali terbuai oleh kilauan emas.

Apakah itu juga berlaku untuk orang suci di dunia ini?

Sebetulnya itu semua karena politik. Jika kau memang menginginkan kekuasaan politik, maka janganlah kau berdandan layaknya orang suci, toh ucapanmu kebanyakan hanyalah omong kosong.

Yahh, tapi tidak ada salahnya aku bergaul dengan orang seperti itu, toh aku hanya ingin memanfaatkan mereka untuk melancarkan rencanaku.

Aku juga perlu menjadi orang terkenal seperti mereka.

Dengan memamerkan koneksiku dengan Ariel dan Orsted, harusnya itu cukup membuatku terpandang di dunia ini.

Bahkan, si nenek itu tidak meremehkanku lagi saat kutunjukkan emblem bersimbol Dewa Naga.

Tua bangka itu terlalu sering meremehkan orang.

Aku bukan pria biasa, lho…. aku adalah orang sukses di dunia ini.

Maka, hari ini aku mengenakan jubah yang elegan.

Inilah seragam resmiku.

Akulah Rudeus Greyrat, si Tangan Kanan Dewa Naga.

Aku cukup bangga dengan sebutan itu.

"Mohon maaf sebelumnya, tapi orang yang tidak memiliki surat ijin tidak boleh masuk.”

Aku berhenti di pintu masuk gereja.

"Begitukah? Apakah harus bawa surat ijin? Tidak bisakah aku masuk bersama para pendeta? Aku adalah temannya cucu Uskup Agung, lho.”

"Sejak dulu, satu surat ijin hanya berlaku untuk satu orang.”

"Oww. Yah ... jadi aturannya seketat itu ya….”

Oh iya, kalau tidak salah kemaren Cliff tampak bingung saat memandangi emblem yang kuambilkan dari atas rak.

Mungkin dia memikirkan soal surat ijin yang tidak kumiliki.

Hari ini Cliff mengenakan pakaian resmi Pendeta Milis.

Sepertinya tadi malam dia menjahitkan emblem itu pada pakaiannya.

"Jika Bapa Cliff punya surat ijin, maka dia bisa meminta surat ijin sementara di dalam. Tapi, prosesnya agak lama.”

".... Ah, benar juga. Maafkan aku Rudeus. Aku akan segera kembali dengan membawakan surat ijin sementara untukmu.”

Cliff mengatakan itu, sambil meminta maaf padaku.

"Aku mengerti. Tidak perlu tergesa-gesa, kalem saja.”

Cliff pun segera masuk ke dalam gereja.

Dan aku pun tertahan di luar selama beberapa saat.

Ngapain ya enaknya? Bagaimana kalau jalan-jalan dulu?

Bagian 5[edit]

Bangunannya besar, dalamnya juga luas.

Mungkin ukurannya 4 kali lipat Kediaman Latreia.

Bangunan ini memiliki 4 lantai, jika kau melihat dari atas, tiap tingkatnya membentuk pola seperti □ yang berada di dalam ◇.

Seolah-olah ada persegi yang bertumpuk di dalam persegi lainnya.

Di sisi terluar □ terdapat kantor pusat.

Terlihat banyak orang yang bekerja di sana, mulai dari para pegawai gereja, sampai pendeta yang sibuk dengan prosedur keagamaan.

Mereka mengurus berbagai hal, seperti orang-orang yang hendak memeluk Agama Milis, sampai pemakaman.

Sepertinya, mereka juga mengurus pemasaran simbol-simbol keagamaan.

Seperti halnya kantor pusat organisasi keagamaan, segala kegiatan yang terjadi di bawah naungan Gereja Milis.

Di dalam ◇ terdapat kantor untuk para pemuka-pemuka agama yang sudah kondang.

Hanya orang-orang penting yang diperbolehkan memasuki tempat khusus itu.

Tampaknya, para pegawai kantor pun tidak begitu tahu kegiatan apa yang terjadi di dalam.

Jadi bisa dikatakan, itu adalah departemen pusat Gereja Milis.

Sudah pasti, kau memerlukan surat ijin yang lebih tinggi untuk memasukinya.

Sementara aku melihat ke sana-sini, tak terasa sudah tengah hari.

Perutku mulai minta diisi.

Namun sepertinya, aku tidak bisa mengajak Cliff makan siang, karena dia belum menyelesaikan laporannya.

Dia sudah membuat janji untuk bertemu Uskup Agung kemaren, mungkin itu bukanlah hal yang sulit karena Uskup Agung adalah kakeknya sendiri.

Namun, aku orang luar.

Sepertinya aku belum bisa menemui Uskup Agung. Bagaimanapun juga, mereka ingin melepas rindu setelah sekian lama berpisah.

Yahh…….. seharusnya begitulah hubungan antara kakek dan cucu, tidak seperti yang kualami kemaren. Reuni keluarga yang seharusnya mengharukan, malah berubah menjadi perkelahian.

Tapi aku tidak melupakan permintaan Elinalise.

Aku akan tetap menolong Cliff, namun kami juga harus jaga jarak.

"Mungkin aku juga harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu Uskup Agung ... "

Sembari memikirkan berbagai hal, akhirnya aku sampai di halaman.

Ada empat halaman di kantor pusat.

Keempatnya berada di sudut bangunan yang bentuknya seperti ◇ bila dilihat dari atas.

Ada banyak pohon dan tanaman di halaman itu. Tampaknya tanaman-tanaman itu tumbuh pada empat musim yang berbeda.

Sekarang adalah musim semi, dan aku tanpa sengaja menuju ke taman musim semi.

Di taman musim semi, bunga-bunga beraneka warna bermekaran dengan indahnya.

Terutama, sangat banyak bunga-bunga yang berwarna pink, kuning sampai putih. Semuanya tampak cerah.

Sembari menikmati pemandangan ini, aku berjalan menyusuri taman dengan nyaman.

Dulu aku sering mengamati bunga-bunga seperti ini, dan mencocokkannya dengan kamus tanaman di tanganku, namun aku tetap tidak bisa mengenali bunga-bunga yang aneh ini.

Tidak… tunggu dulu, aku mengenali pohon berbunga pink ini.

Bunga ini sungguh mirip seperti bunga kebanggaan negaraku, bahkan namanya pun mirip.

Apa sih namanya….. yang pasti mirip seperti Sakura, tapi aku tidak begitu mengingatnya. Seseorang pernah memberitahuku dulu.

"Lihat, Saraku-nya sudah mekar!!”

Tiba-tiba seseorang meneriakkan itu…. oh iya, namanya adalah Saraku.

Pohon yang sama juga tumbuh pada pegunungan di sebelah utara Kerajaan Asura.

Pada awal musim semi, pohon ini memekarkan bunganya yang berwarna pink, orang-orang Asura sering menyebutnya “Pohon Pemanggil Musim Semi”.

Kalangan bangsawan juga menyukai pohon ini karena batangnya mengeluarkan wewangian yang unik.

Harganya mahal, karena habitat asli pohon ini berada di pegunungan yang jauh.

Namun, sekarang keluarga bangsawan Asura sudah berhasil membudidayakan Saraku di hutan, lalu mengeksportnya ke berbagai negara.

Ariel lah yang memberitahukan semua itu padaku, saat kami berkunjung di Kerajaan Asura tempo hari.

"Ya, indah sekali!"

"Saraku benar-benar cocok untuk Miko-sama!"

"Tau kah kau, Saraku ini didatangkan langsung dari Kerajaan Asura saat penobatan Uskup Agung, lho….”

"Oh, hah. Miko-sama tahu segalanya, ya!”

Entah kenapa, aku mulai merasakan hal buruk saat mendengar percakapan itu.

Lalu, aku pun menoleh ke arah mereka.

"Lihat!! Lihatlah aku!! Seakan-akan aku sedang dihujani daun Saraku!”

"Miko-sama yang berdiri di tengah-tengah daun Saraku yang berguguran .... terlihat begitu menawan."

"Indahnyaaaa!"

Mushoku 20 (9).jpg

Di sana, ada orang yang tampak seperti putri, entah dari kerajaan mana.

Putri itu mengenakan gaun yang berenda-renda, dia sedang menari-nari di bawah daun Saraku yang berguguran, sembari menengadahkan tangannya.

Mungkin dia masih muda…. umurnya sekitar 20-an, kurasa.

Penampilannya cantik, tapi dia agak gemuk.

Wendy juga terlihat sedikit montok tetapi lengan dan kakinya ramping. Namun putri ini, lengan dan kakinya tampak berlemak.

Menurutku, baik Wendy maupun putri ini sama-sama tidak sehat. Si Wendy kurang makan, sedangkan putri ini kurang olahraga.

Ada beberapa pria yang berkerumun di sekitar putri itu.

Totalnya, ada 7 pria.

Wahh, biasanya angka ganjil adalah pertanda buruk.

Pria-pria itu terus mengucapkan pujian ketika si putri mengatakan apapun.

Lama-lama itu membuatku kesal.

Padahal, tidak ada yang istimewa dari putri itu. Mengapa kalian terus memujinya?

Kalian hanyalah seperti sekumpulan Otaku yang tidak pernah melihat cewek cantik.

Bahkan di antara pria-pria itu, ada yang wajahnya terlihat begitu nafsu.

Tapi, mereka terlihat cukup macho dengan mengenakan armor di dadanya, sehingga tidak mirip seperti Otaku yang terkesan culun.

"..... Aare?"

Mereka terlihat senang berada di dekat si putri, namun terkesan dibuat-buat.

Bahkan, ada pria yang tampaknya tidak kuat terus-terusan bersandiwara.

Apa-apa’an mereka…..

Tapi, sebenarnya itu wajar saja.

Seorang putri memang layak dipuji, tak peduli kau ikhas menyanjungnya atau tidak.

Yahh…. selama kau menjadi bawahannya, itu adalah bagian dari tugasmu.

Kalau dilihat dari otot mereka, aku tahu pria-pria itu bukanlah prajurit sembarangan.

Mungkin teknik pedang mereka sudah mencapai tingkat lanjut, dan hanya sedikit di bawah kelas Saint.

Aduh…. sepertinya mereka sadar bahwa aku telah mengamati sang putri sejak tadi.

Untuk berjaga-jaga, hari ini aku mengenakan Magic Armor Versi II di bawah jubahku.

Karena aku tidak membawa Aqua Heartia atau alat sihir lain, maka setidaknya aku harus mengenakan Magic Armor Versi II. Ini semua untuk menjamin keamananku sendiri.

Mereka cukup waspada.

Tapi…. perasaan apa ini…..

Aku merasakan kegelisahan yang cukup mengganggu.

Aku tidak bisa menjelaskannya dengan benar.

Yang jelas…. aku tidak merasa nyaman.

...... mungkinkah, salah satu dari mereka adalah bidaknya Hitogami?

Apakah aku harus menyelidikinya?

Tidak…. tunggu dulu…. berpikirlah sejenak.

Jika aku menyebut nama ‘Hitogami’, akankah terjadi masalah?

Dulu aku hampir terbunuh oleh si bos saat menyebutkan nama itu sembarangan.

Lebih baik jangan menyebut nama itu…. pancing saja dengan pertanyaan lain.

"Ara? Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Kau baru saja memeluk Agama Milis ya?”

Saat aku masih bingung apa yang harus kukatakan, putri itu mengajukan pertanyaan padaku.

"Ah....."

Dengan wajah polos, dia memandangku.

Dia melirikku, sembari mendorong badannya maju, dan mengaitkan kedua tangan di belakang punggungnya.

Kalau Sylphy melakukan pose itu, aku tidak akan bisa menahan nafsuku.

Tapi, Roxy tidak pernah melakukannya.

Kalau Eris….. hmmm, aku bahkan tidak akan bisa bergerak seperti katak yang dimangsa ular.

"Bagaimana…..?"

Ahh, kenapa malah memikirkan istri-istriku pada keadaan seperti ini.

Um, um.

Aku ke sini tidak untuk memeluk agama, sih…..

Pertanyaan pancingan macam apa yang bisa membongkar identitasnya sebagai bidak Hitogami?

"Apakah kamu percaya pada Tuhan?" [8]

Tanpa sengaja, pertanyaan itu terlepas begitu saja dari mulutku.

Dalam sekejap, tiga pria Otaku langsung menghunuskan pedangnya padaku.

Sedangkan empat pria lainnya segera melindungi si putri di balik tubuhnya.

Wah….wah…wah, kalian garang sekali. Kalau begitu, kalian sama sekali tidak mirip seperti Otaku.

Suasana menjadi mencekam.

Mereka semua menatapku dengan tajam.

Sungguh mengerikan.

Berbahaya, mereka sungguh berbahaya.

Harusnya aku tidak mengatakan pertanyaan bodoh itu.

Bagaimana bisa aku mempertanyakan Tuhan di Pusat Gereja Milis?

Apakah pertanyaan itu mirip seperti hinaan bagi mereka?

"Tentu saja kami percaya pada Tuhan."

"Tuhan kami adalah Milis-sama."

"Kenapa kau mempertanyakan hal sejelas itu?"

"Jangan-jangan kau tidak percaya pada Milis-sama?"

"Jadi, kau tidak percaya pada Tuhan?”

"Apakah kau orang kafir....?"

"Dasar sesat!"

Pria-pria itu terus melontarkan tuduhan demi tuduhan dari mulutnya. Mereka seakan jijik melihatku.

Gawat, kalau begini terus, bisa-bisa aku dibakar hidup-hidup seperti para penyihir di zaman Eropa kuno.

"M-Maaf ... sebenarnya aku tadi sedang melamun, lalu tidak sengaja menanyakan itu ... jadi, mohon maafkan aku."

Untuk sekarang, lebih baik kita minta maaf.

Baiklah.

Bagaimanapun juga tempat ini adalah Pusat Gereja Milis.

Semua orang di sini beriman.

Mungkin, baru kali ini ada orang yang meragukan keberadaan Tuhan di tempat seperti ini.

Tentu saja itu membuatku begitu mencurigakan.

Jadi, mohon maafkan aku.

"Grave, apa yang harus kita lakukan?"

"Terserah padamu, Dust."

"Kalau begitu, ayo kita bunuh dia. Mungkin dia akan menyebarkan ajaran sesat. Anehnya dia tampak begitu tenang ... tapi dia berpotensi membahayakan Miko-sama, jadi kita harus melenyapkannya.”

"Baiklah, baiklah, ayo kita bunuh dia."

Keputusan yang sangat cepat.

Semudah itukah mereka memutuskan membunuh orang? Itukah yang disebut bijak?

Kalau aku berada pada posisi kalian, aku akan berpikir berkali-kali dengan ragu.

"Tidak, tidak, kumohon tenanglah dulu… tolong dengarkan ceritaku ..."

Kalau aku berkelahi melawan mereka, Cliff akan kerepotan, padahal pekerjaannya belum selesai.

Pohon-pohon Saraku yang indah ini juga bisa rusak, kan?

Tidak baik berkelahi di tempat seperti ini, lebih baik kita bicara baik-baik.

Tapi sayangnya…. instingku berkata lain.

Mata iblisku terbuka, lalu kulihat salah satu pedang mereka menembus tubuhku.

Seketika, aku bersiap-siap dengan mengalirkan Mana pada Magic Armor.

Sebisa mungkin aku ingin menghindari keributan dengan mereka, tapi apa boleh buat….. sepertinya aku harus berkelahi, karena tampaknya mereka tidak akan memaafkanku tak peduli apapun alasanku.

Mood-ku lagi jelek sejak kemaren.

"... Apakah kau serius ingin menusukku?"

Saat aku menanyakan itu, tiba-tiba mereka menatapku dengan mata penuh nafsu membunuh.

Mereka mulai ambil ancang-ancang, untuk menggunakan teknik pedangnya padaku.

Mereka datang.

"Tunggu!"

Bergemalah suara yang terdengar begitu berwibawa.

Rasanya, aku pernah mendengar suara ini. Tapi entah dimana…..

Begitu mendengar seruan itu, seketika pra pria menghentikan serangannya.

"Apa yang kalian lakukan!"

Seorang ksatria wanita mendekati kami.

Usianya mungkin di pertengahan 30-an.

Dia mengenakan pakaian yang sama seperti para pria itu, dilengkapi dengan armor dada berwarna biru.

Kalau dilihat dari wajahnya, wanita ini cukup tegas, namun juga kalem.

Tapi…. aku kenal wajah itu.

"Kapten, orang kafir ini ini membahayakan Miko-sama."

Salah seorang Otaku melaporkan itu dengan tak acuh.

Jangan berbohong.

"Itu tidak benar, aku hanya melihat-lihat pohon Saraku yang bermekaran ..."

"Diam kau!!"

Sambil menyodorkan pedang padaku, salah seorang dari mereka memperingatkanku dengan suara rendah.

Kenapa aku harus diam? Tidak bolehkah aku membela diri?

"Orang kafir ...?"

Dan akhirnya, ksatria wanita itu melihat ke arahku.

"Ah!"

Ya…. aku ingat sekarang.

Senyum lebar mulai merekah di wajah wanita cantik itu.

"Rudeus! Bukankah kau Rudeus? Wow, sudah lama sekali kita tidak jumpa!"

Sembari melihat salah seorang Otaku yang masih mengacungkan pedangnya padaku, wanita itu menjerit kegirangan.

"Turunkan pedangmu, dia adalah keponakanku!"

Dengan kaget, mereka menuruti kata ksatria wanita itu, dan aku pun menutup kembali mata iblisku.

Bagian 6[edit]

Latreia Therese.

Adik perempuan Zenith…. atau sebut saja, bibiku.

Orang ini telah banyak membantuku selama perjalanan dari Benua Milis ke Benua Tengah.

Tampaknya Therese adalah pemimpin para Otaku itu.

Atas perintahnya, para Otaku itu segera menarik kembali pedangnya tanpa banyak protes.

Mereka pun meminta maaf padaku, meskipun sedikit kurang ikhlas.

Aku juga meminta maaf karena telah menanyakan sesuatu yang tidak sopan pada mereka. Namun, sepertinya mereka masih membenciku, karena aku masih bisa merasakan keinginan mereka untuk membunuhku.

Kemudian, mereka kembali menjaga putrinya di kejauhan.

"Kau masih mengingatku? Padahal kita hanya bertemu sekali….."

"Tentu saja aku ingat. Bibi benar-benar membantuku dalam perjalanan ke Benua Tengah.”

Sembari mengabaikan para Otaku itu, aku terus mengobrol tentang berbagai hal dengan Therese.

Lama tidak berjumpa dengannya.

"Aku sudah dengar kabar bahwa kau sempat mengunjungi rumah kemaren, namun aku tidak menduga kau juga akan mengunjungi Pusat Gereja Milis. Jangan-jangan kau sengaja datang ke sini untuk menemuiku?”

"Tidak, aku datang ke sini untuk diperkenalkan pada Uskup Agung oleh salah seorang temanku...... Therese-san, aku tidak menduga bakal bertemu denganmu di sini."

Terakhir kali kami bertemu, kalau tidak salah Therese hendak dipindahkan ke West Port.

Tapi itu sudah 10 tahun yang lalu.

Tidak aneh bila dia kembali ke Milis.

"Yahh, berbagai hal telah terjadi."

Therese mengatakannya sembari mengangkat bahu dan tersenyum masam.

Mungkin dia enggan membicarakannya.

Toh, aku juga tidak mau mencampuri urusan pribadinya.

Tapi, ada hal lain yang ingin kudengar darinya.

"Apakah semua orang sudah tahu bahwa kemaren aku datang mengunjungi Kediaman Keluarga Latreia? Apakah kabar itu disebarluaskan?”

"Ya, banyak orang sudah mengetahuinya, tapi bukan berita pertengkaranmu dengan ibu.”

"Pertengkaran ... yahh, aku sih tidak mengelak."

"Aku tahu perkataan ibu telah membuatmu tersinggung. Yahh, memang seperti itulah dia. Aku yakin dia menuntut banyak hal darimu.”

"Ya, itu benar! Kumohon dengarkan ceritaku! Aku sama sekali tidak bermaksud buruk!"

Aku berjumpa dengan bibi yang sudah lama tidak kutemui.

Sebenarnya aku tidak yakin, apakah wanita ini lawan atau kawan, tapi…. bibirku tidak bisa berhenti menceritakan berbagai hal yang terjadi tempo hari.

Tanpa bisa kukendalikan, aku terus curhat padanya.

Rupanya, kejadian kemaren masih membuatku kesal, sehingga aku perlu berbagi cerita bersama orang lain, agar bebanku terasa lebih ringan.

Atau mungkin, aku butuh perhatian dan senyuman ibu, agar sakit hatiku sedikit terobati. Karena Zenith hanya menunjukkan wajah polos tiap hari, maka aku pun begitu senang saat mendapatkan perhatian dari wanita yang berwajah mirip dengannya, yaitu bibiku.

"Waduh, kalau berita ini tersebar semakin luas…. apa kata orang?"

"Tidak, itu tidak mungkin ... meskipun ibu orangnya keras, tapi…. kurasa dia tidak akan melakukannya. Tapi, Rudeus-kun…. apakah kau mengatakan sesuatu yang membuat ibu marah? Orang itu akan langsung naik pitam jika mendapati sesuatu yang membuatnya tersinggung.”

"... Aku tidak yakin…. tapi, aku telah berusaha sebisa mungkin menjaga lidahku agar tidak mengatakan apapun yang membuatnya marah.”

"Hmm."

Therese bersedekap sembari bergumam panjang dan berpikir.

"Yah, kalau kau berkunjung ke rumah sekali lagi, maka dengarkanlah perkataan ibu dengan sangat hati-hati. Ibu memang keras kepala, tapi dia bukan orang yang jahat. Mungkin, ini hanyalah kesalahpahaman sepele.”

"......"

Tanpa basa-basi, Therese memberikan pendapatnya.

Meskipun itu hanya kesalahpahaman, namun sudah sepantasnya aku marah.

Aku bahkan tidak berencana kembali ke rumah itu, atau meminta seseorang menjadi penengah perselisihan kami.

Biasanya, aku tidak akan sungkan minta maaf terlebih dahulu bila merasa berbuat salah. Tapi baru kali ini aku sama sekali tidak merasa salah.

Yahh, kalau memang benar ini hanyalah suatu kesalahpahaman, maka dia harus meminta maaf padaku dengan ikhlas terlebih dahulu, barulah aku mau mengakui kesalahanku, yang telah menghajar para penjaga rumah secara brutal.

"Tapi…. Rudeus-kun sudah tumbah besar ya! Ah tidak… mungkin lebih tepat menyebutmu tumbuh dewasa. Berapa umurmu sekarang? 20-an?”

Dengan riang, Therese sengaja merubah topik pembicaraan.

Yahh, aku juga tidak ingin terus-terusan membahas Claire.

"Ya, umurku sudah 22 tahun."

"Begitu, ya! Yahh, kita memang sudah berpisah 10 tahun lamanya ... oh iya! Bagaimana dengan Eris-sama! Apakah dia baik-baik saja? Dia pasti tumbuh menjadi wanita yang luar biasa!”

Therese begitu bersemangat seperti anak kecil.

Sebagai pemimpin ksatria, penampilannya sungguh gagah, namun seakan itu bertolak belakang dengan sifatnya yang begitu riang.

Wajahnya yang serius tampak seperti Claire, namun senyumannya sangat mirip Zenith.

Itu sungguh indah…..

Ah, tidak…tidak…tidak boleh….

Dia adalah bibiku.

"Eris sehat-sehat saja. Tahun lalu, dia melahirkan putra kami."

"Putra kalian ...? Ah, jadi kalian berdua benar-benar menikah!!? Selamat ya!”

"Terima kasih banyak."

"Apakah dia ikut denganmu?"

"Tidak, aku memintanya tinggal di rumah kami, di Sharia. Dia harus mengurus anaknya.”

"Aku mengerti….aku mengerti…. meskipun kalian terpisah begitu jauh, jagalah hubungan pernikahan kalian. Kau harus tetap setia padanya.”

Setia? Aku beristri tiga lho…. oh iya, dia kan juga penganut ajaran Milis, jadi dia pikir aku hanya menikah sekali saja.

Lebih baik aku tidak membahas statusku sebagai suami yang berpoligami.

Bahas saja yang lainnya. Mungkin dia akan marah saat mengetahui itu.

Aku tidak ingin merusak momen reuni kami yang berharga ini.

"Jadi begitu ya…. Rudeus dan Eris kecil itu sekarang sudah menikah, ya…. haaaa….”

Anehnya, sepertinya Therese tampak pasrah.

Dia menghela napas panjang saat mendengar kata ‘pernikahan’.

Kalau dilihat dari reaksinya…. mungkinkah dia belum menikah?

Atau mungkin malah sudah bercerai?

Um, berapa ya umur wanita ini?

Zenith berusia sekitar 38 tahun, karena dia lebih muda ... mungkin dia sekitar 35?

Di dunia ini, seseorang dianggap dewasa setelah menginjak usia 15 tahun, dan umumnya kami menikah pada usia 20 tahun…. jadi, kalau dia belum menikah, maka itu sudah sangat terlambat.

Ummm…..

"Bagaimana pekerjaanmu?"

Sepertinya, aku harus merubah topik pembicaraan, maka aku pun membahas tentang pekerjaan.

"Uh? Ah! Banyak hal telah terjadi, sih. Tapi aku kembali ke Milishion untuk menjadi pengawal Miko-sama. Sekarang, aku membawahi pria-pria yang tadi menyerangmu.”

Therese mengatakan itu sembari melirik sekelompok pria Otaku itu.

Di antara ketujuh pria itu, dua orang masih waspada, sedangkan sisanya kembali bercengkrama dengan si putri.

Kalau dilihat seperti ini, sebenarnya mereka orang yang damai.

"Mereka cukup menakutkan."

"Ah ... belakangan ini semakin sering terjadi upaya pembunuhan, jadi kami mengumpulkan orang-orang yang unggul dalam bertarung. Ordo Ksatria Kuil meminta mereka menjadi para pengawal orang-orang penting. Jadi…. jangan heran bila mereka selalu waspada.”

Therese bekerja di Ordo Ksatria Kuil, dan mereka sedang memperkuat pasukannya.

Pria-pria ini memang dipekerjakan untuk menghabisi orang yang mencurigakan. Pantas saja mereka begitu waspada.

Saat mereka menyadari adanya sedikit gangguan saja, mereka sudah siap untuk melenyapkannya.

Aku jadi teringat Orsted. Meskipun dia orang baik, tapi tidak akan segan membunuh siapapun.

"Yahh, meskipun pria-pria itu sangat fanatik, sebenarnya mereka tidak jahat…. buktinya, mereka sangat menyukai Miko-sama.”

Bagiku, mereka tetaplah menakutkan.

Aku tahu kalian sangat mempercayai Tuhan dan mengamalkan ajaran Milis, tapi bukan berarti kalian harus membantai orang yang kalian anggap sesat, tanpa pikir panjang.

Bukankah Milis mengajarkan cinta kasih?

"Therese? Bolehkah aku ikutan ngobrol bersama kalian?”

Tiba-tiba, seseorang mengatakan itu dari belakang kami.

Dia adalah si putri gendut.

Tentu saja para Otaku itu mengikuti si putri dari belakang, mereka bahkan siap menghunuskan pedangnya kapan pun.

"Tadi aku tidak sengaja mendengar nama Eris, apakah kalian mengenal Eris-sama, sang pendekar pedang berambut merah itu?”

Jadi, mereka menyebutnya ‘Miko-sama’….apakah itu berarti dia seorang Miko seperti Zanoba?

Kalau begitu, siapa nama asli putri ini?

Mari kita coba tanya…. Ah tidak, aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Claire mengabaikanku meskipun sudah memperkenalkan diri. Tapi, aku yakin putri ini lebih menghargaiku. Bagaimanapun juga, etikanya adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu di hadapan seorang putri.

"Maaf, aku terlambat memperkenalkan diri. Namaku Rudeus Greyrat. Aku adalah orang kepercayaan Dewa Naga Orsted, yang merupakan salah satu dari Tujuh Kekuatan Dunia. Sedangkan, Eris Greyrat Sang Raja Pedang adalah istriku.”

Dewa Naga dan Raja Pedang.

Harusnya, siapapun akan gentar saat mendengar dua gelar menakutkan itu.

Jika bidaknya Hitogami ada di antara ketujuh pria itu, maka dia harusnya bereaksi saat mendengar nama Orsted. Namun, sepertinya tidak.

"Wow! Begitukah!? Eris-sama pernah menyelamatkan nyawaku 10 tahun yang lalu!”

Sepuluh tahun yang lalu? Bukankah itu saat aku berkunjung ke Milishion?

Kalau tidak salah, Eris pernah menceritakannya padaku.

Dia pergi ke hutan untuk berburu Goblin, namun akhirnya dia bertemu dengan orang-orang mencurigakan yang hendak berbuat jahat pada gadis kecil. Eris pun membantai mereka, dan menyelamatkan si gadis. Jadi, dia lah gadis itu?

"Bisakah aku bertemu Eris-sama sekarang?”

"Sayangnya tidak bisa, karena Eris kuminta tinggal di rumah untuk mengurus anaknya.”

"Yahh, sayang sekali."

Saat si putri tampak sedih, ketujuh pria itu pun menundukkan kepalanya dengan lesu.

Wah, kalian kompak sekali. Rupanya, kalian benar-benar menyukai putri ini ya.

Tapi, putri ini tidak juga memberitahu namanya.

Apakah aku harus memanggilnya Miko-sama juga?

"Berarti, aku juga harus berterimakasih pada Dewa Naga Orsted-sama…. dia juga menyelamatkanku.”

"Apa?"

Tunggu dulu……

Jadi, waktu itu Orsted juga menyelamatkanmu? Apa maksudmu?

Padahal, saat itu aku, Eris, dan Ruijerd belum bertemu Orsted.

Kalau sekarang, aku sudah menjadi bawahannya Orsted, dan Eris pun menerimanya.

Mungkin kau bisa bilang, Eris juga bawahannya Orsted sekarang.

Aku sungguh tidak paham apa maksudmu….. apa hubungannya Orsted dengan kejadian hari itu?

"Kenapa Anda berterimakasih pada Orsted? Pada saat itu, aku dan Eris bahkan belum mengenal Orsted. Jika Miko-sama berniat berterimakasih padanya, aku yakin Orsted akan menerimanya dengan senang hati. Namun, aku masih belum paham apa yang membuat Anda berterimakasih padanya.”

"...? Apakah kau yakin dia mau menerima ucapan terimakasihku?”

"Aku tidak tahu….. tapi, kurasa Anda tidak bisa menemuinya dengan mudah, karena dia juga punya kutukan."

Saat aku mengatakan itu, si putri mendekatiku, lalu mengamati wajahku dengan seksama.

Matanya bundar dan indah, pipinya tembem dan imut.

Kedua matanya tidak berbeda warna.

Jadi, dia tidak memiliki mata iblis sepertiku, atau Cliff.

Namun………. aku tahu dia sedang melakukan sesuatu, entah apa.

Aku tidak bisa memahaminya.

Seolah-olah tatapannya menjerat tubuhku, namun aku masih bisa bergerak dengan bebas.

"... hmmm, sepertinya kau tidak berbohong."

Dia mengangguk sembari menatapku dengan serius.

"Bagaimana Anda bisa tahu bahwa aku tidak berbohong?"

"Yahhh, aku tahu saja."

Dengan tenang, dia melirik Therese dan ketujuh pria itu.

Inikah kemampuannya sebagai Miko?

Seperti halnya Zanoba, setiap Miko mempunyai kekuatan khusus yang tidak dimiliki orang lain. Zanoba mempunyai fisik yang kuat, sedangkan putri ini pasti memiliki kemampuan khusus lainnya.

Apakah dia bisa melihat sesuatu hanya dengan kontak mata? Melihat kebohongan mungkin? Atau membaca pikiran orang lain mungkin…?

Apapun itu, yang jelas bukan kemampuan biasa.

"... Apakah Anda barusan menggunakan kekuatan Miko?"

"Ya, benar."

Aku ingin mendengarkan kekuatan gadis ini dengan detail, tapi sepertinya para Otaku itu tidak mengijinkan.

Apa yang harus kulakukan?

Orsted bahkan tidak mengatakan apapun tentang gadis ini.

"Hee ..."

Gawat.

Aku mulai merasakan firasat buruk. Sepertinya, akan terjadi suatu masalah tak lama lagi.

Para Otaku itu terus menatapku dengan tajam, seolah-olah mereka akan menyerangku kapanpun.

Tapi, aku harus mengetahui kekuatan Miko-nya.

Mungkin aku tidak bertemu dengannya lagi.

Aku harus bertanya dan mendengarnya.

"Suu ... fuu ..."

Pertama-tama, ambil napas dalam-dalam.

Sebelum berbicara lebih jauh, ada baiknya kutanyakan suatu hal yang paling penting, yaitu…..

"Miko-sama. Maafkan ketidaksopananku, bolehkah aku menanyakan sesuatu pada Anda?”

Aku meminta ijin terlebih dahulu sebelum bertanya.

Ini merupakan langkah yang penting.

Lagipula, aku tidak menginvestigasinya, aku hanyalah menanyakan satu pertanyaan.

"Ya, tentu saja."

"Belakangan ini, adakah seseorang yang muncul di dalam mimpimu, dan mengaku sebagai dewa? Biasanya, dia akan menceritakan tentang masa depan atau semacamnya.”

"Tidak, aku tidak pernah menemui orang seperti itu di dalam mimpiku. Bahkan, baru kali ini aku mendengarnya. Aku tidak akan pernah memimpikan orang aneh seperti itu.”

Sang putri berbicara dengan datar.

Dia hanya memandangku sembari mengatakan itu.

Dia bilang tidak pernah menemui orang seperti itu di dalam mimpinya, dan tidak akan pernah.

Aku percaya begitu saja.

Mungkin, gadis ini punya kekuatan melihat masa depan atau semacamnya, sehingga dia cukup yakin bahwa dia tidak akan memimpikan hal seperti itu.

Atau mungkin, dia juga punya kekuatan seperti Orsted, yang menyebabkan Hitogami tidak bisa mengendalikannya.

Apakah dia sudah tahu tentang Hitogami? Kalau dia benar-benar bisa membaca pikiran seseorang, maka harusnya dia sudah mengetahuinya dari pikiranku.

Hitogami pun akan kesulitan berhadapan dengan orang seperti ini, karena dia bisa membaca semua maksud yang tersembunyi di dalam pikiran seseorang.

"Terima kasih banyak."

Aku merasa lega.

Syukurlah dia bukan musuhku.

Aku tidak tahu apakah Miko-sama berbohong atau tidak…. tapi, lebih baik kita percayai saja dia untuk sementara.

"Sekarang, giliranku!"

"...! Ya, silahkan bertanya apapun padaku.”

Apa yang ingin kau dengar dariku, Tuan Putri?

Kalau kau bisa membaca pikiran, maka mengapa kau repot-repot bertanya?

Sepertinya, dia tidak selalu bisa menggunakan kemampuan itu.

Apakah syaratnya dia harus melakukan kontak mata dengan orang yang hendak dibaca pikirannya?

Jadi…. jika tidak ingin pikiranku terbaca, maka aku harus mengalihkan pandangan darinya?

"Tolong ceritakan lebih banyak tentang Eris-sama!"

"...Siap."

Ah, jadi itu yang ingin kau ketahui.

Baiklah.

Dia bukan musuhku, dia juga bukan bidaknya Hitogami. Jadi….. tidak masalah kan jika aku bercerita tentang Eris padanya?

Dia adalah orang yang berpengaruh, jadi aku bisa memanfaatkannya untuk melancarkan rencanaku.

Setelah bercerita tentang Eris, aku bisa membahas Orsted.

Lalu, kita membicarakan pembukaan baru cabang PT. Rudo, yang bisa menjamin keselamatanmu dan keturunanmu 80 tahun kemudian dari kekacauan yang kembali akan dibuat oleh reinkarnasi Dewa Iblis Laplace.

Kita bisa bekerjasam untuk merekrut prajurit yang unggul...

Tapi…. gak papa nih jadi sekutunya Miko-sama? Bukankah Cliff akan mengenalkanku dengan Uskup Agung? Apakah Miko-sama dan Uskup Agung berhubungan baik?

"Rudeus! Rudeus, dimana kau!?”

Saat aku mempertimbangkan berbagai hal sebelum berbicara dengannya, tiba-tiba namaku dipanggil oleh seseorang yang kukenal.

Itu suara Cliff.

Sepertinya, dia sudah mendapatkan surat ijin sementaranya.

"Ah ... Maafkan aku, Miko-sama. Sepertinya aku harus pergi."

"Eeh! Harus sekarang ...?"

Si putri tampak kecewa, dan ketujuh Otaku itu menundukkan kepalanya, seolah merasakan hal yang sama dengan si putri.

Kalian memang konyol.

Sebenarnya aku ingin ngobrol lebih lama denganmu, tapi Cliff sudah memanggil.

Semoga kita jumpa lagi.

"Aku tinggal di kota ini selama beberapa bulan, jadi kalau kita bertemu lagi, aku akan banyak bercerita tentang Eris..."

"Janji ya!"

Aku membungkuk pada si putri, lalu pamit pada Therese.

"Therese-san, jika kau bertemu nenek, bilang saja aku akan terus menjaga ibu, jadi jangan coba merebutnya dariku….. dan juga, tolong aktifkan kembali Kelompok Pencarian Fedoa, jika mereka butuh uang, aku siap menanggungnya.”

"... aku mengerti, aku akan menyampaikannya jika ada kesempatan.”

"Terimakasih sebelumnya."

Setelah membungkuk pada Therese, aku melirik sekilas pada ketujuh Otaku itu, lalu pergi meninggalkan mereka.

Miko ya……..

Ini kedua kalinya aku bertemu dengan Miko, setelah Zanoba.

Dia pasti bisa membantu rencanaku.

Kurasa dia bukan musuh.

Tapi… meskipun tidak pernah bertemu dengan Hitogami, kurasa dia mengetahuinya.

Aku tidak boleh lengah.

Ah, aku lupa bertanya nama lengkapnya ...

Baiklah, tidak apa-apa, lain kali saja.

Sembari memikirkan berbagai hal, aku menerima surat ijin sementara yang diberikan Cliff.

Aku pun siap memasuki Pusat Gereja Milis.

Bab 8: Bertemu Dengan Uskup Agung Dan...[edit]

Bagian 1[edit]

"Biar kusimpan barang bawaanmu."

Sebelum masuk, kami digeledah.

Sepertinya mereka coba mencari senjata untuk kemudian disita.

Aku harus meninggalkan persenjataanku seperti pisau, dan gulungan lingkaran sihir.

Untungnya, Magic Armor Versi II tidak dianggap senjata, sehingga aku tidak perlu melepas pakaian.

Cliff tidak mengatakan apa-apa, mungkin karena dia sudah mempercayaiku.

Aku juga menyerahkan sarung tangan kiriku yang dilengkapi batu penyerap sihir, dan sarung tangan kanan yang dilengkapi senapan sihir.

Setelah semuanya beres, aku pun masuk ke dalam.

Pusat bangunan ini tampak seperti labirin.

Hampir tidak ada jalan lurus di dalamnya, semuanya berliku.

Semua sisi bangunan dicat dengan warna putih, sehingga sulit membedakan apa yang ada di depan kita.

Inilah jantung komunitas Agama Milis.

Aku yakin bangunan ini juga dilengkapi dengan mekanisme pertahanan dari serangan musuh.

Dengan cepat, Cliff membawaku ke ruangan Uskup Agung.

Ruangan itu dijaga oleh dua ksatria, dan dilengkapi dengan mantra penghalang.

"Asal tahu saja, kau tidak bisa lagi menggunakan sihir setelah memasuki penghalang ini.”

"Baik."

Penghalang ini setidaknya dibuat dengan sihir kelas Saint atau Raja.

Mungkin, para ksatria penjaga ini juga sudah menguasai teknik pedang tingkat Saint, atau bahkan Raja.

Aku tidak yakin…. sepertinya, menjaga Uskup Agung hanyalah pekerjaan sampingan mereka. Dengan kemampuan setinggi itu, mereka bahkan bisa terjun dalam suatu peperangan.

"Yang Mulia, salam."

Kakek Cliff, Harry Grimoire, berada di balik penghalang yang transparan.

Dia tampak seperti seorang kakek yang baik hati. Aku sudah menduganya sejak membaca surat itu.

Dia memiliki janggut putih panjang, dan mengenakan jubah resmi uskup yang bersulam emas.

"Ya, terima kasih."

Suaranya kuat seperti Sauros, tetapi tidak setajam Reyda.

Kalau dirasakan dari auranya, dia bukanlah orang biasa.

Tapi, tampaknya orang ini cukup bijak.

Jadi ini ya Sang Uskup Agung itu…..

"Izinkan aku memperkenalkan Rudeus Greyrat. Kami belajar bersama di Akademi Sihir Ranoa, dia adalah juniorku. Sihirnya lebih hebat daripada sihirku. Dia sungguh terampil menggunakan sihir. Aku sudah lama mengenalnya, jadi hari ini ingin kubawa dia pada Anda, Yang Mulia.”

Saat Cliff memperkenalkanku, Uskup Agung perlahan mengangguk dengan lembut.

Mungkin, aku harus memperkenalkan diri lebih rinci.

Cliff hanya memperkenalkanku sebagai teman, selanjutnya giliranku.

Kami pun sudah membicarakan ini tadi malam.

"Baiklah…. Rudeus-dono, ada perlu apa denganku? Kudengar-dengar, kau ingin meminta ijin mendirikan cabang perusahan pasukan bayaran. Atau menjual patung Ras Supard? Atau mengumpulkan sekutu untuk Dewa Naga Orsted?”

Waduh…..

Tahu darimana dia?

Cliff, apakah kau yang memberitahunya?

Yahh…. terserah lah.

Cepat-lambat, tujuanku pasti terungkap.

Sekarang, lebih baik aku menjelaskannya dengan detail.

...Hah?

Kenapa Cliff memandangi kami dengan wajah heran?

"Pantas saja kau dijuluki Tangan Kanan Dewa Naga….. Cliff, jadi seperti inikah temanmu?”

Gawat…. kenapa pembicaraannya jadi begini…..

Sepertinya dia salah sangka. Mungkin dia mengira rencanaku itu buruk.

"Maaf, tapi aku…..”

Dia mulai membaca suatu dokumen sambil tersenyum.

"Rudeus Greyrat. Kau berasal dari Keluarga Notus Greyrat yang terkenal. Putra Paul Greyrat, murid Raja Pedang Ghyslaine Dedorudia. Setelah terkena bencana metastasis, kau kembali ke Fedoa tiga tahun kemudian. Kau bersekolah di Akademi Sihir Ranoa, kemudian berkenalan dengan Tuan Putri Ariel. Beberapa tahun kemudian, kau bertarung melawan Dewa Naga Orsted, namun kalah. Setelah itu, kau memutuskan untuk menjadi sekutunya. Kau lah yang membantu Ariel Anemoi Asura naik tahta dengan mengalahkan para pesaingnya, bersama Kaisar Utara Auber dan Dewa Air Reyda. Saat ini, kau sedang berusaha mendirikan cabang perusahaan prajurit bayaran di berbagai negara besar, serta mempengaruhi orang-orang penting di negara tersebut untuk membela Dewa Naga Orsted….. ada yang kurang?”

Cukup detail.

Tapi, informasi-informasi itu sudah seperti rahasia umum.

Kau bisa mendapatkan semuanya dengan bertanya pada siapapun.

Dia sudah melucuti identitasku, jadi tidak ada gunanya aku berbohong.

Namun, aku tidak begitu terkejut.

Ada beberapa cerita yang tidak dia sebutkan.

"Ada beberapa hal yang Anda lewatkan. Aku kembali ke Fedoa dari Benua Iblis tidak sendirian. Aku diantar oleh prajurit dari Ras Supard bernama Ruijerd. Aku pun tidak membunuh Kaisar Utara Auber sendirian, aku dibantu oleh Raja Pedang Ghyslaine dan Eris. Sedangkan Dewa Air Reyda dibunuh oleh Orsted, aku bahkan tidak bisa melakukan apapun di hadapannya. Ada satu lagi fakta penting yang tidak Anda sebutkan, yaitu aku adalah murid Penyihir Air Kelas Raja, Roxy Migurdia.”

"Hou, kau cukup jujur rupanya."

Uskup Agung mengangguk dengan berkata, ‘Fumufumu’, lalu dia menuliskan sesuatu pada kertas di mejanya.

Aku tidak tahu apa yang kau tulis, tapi jangan lupa menambahkan catatan bahwa aku adalah muridnya Roxy.

"Jadi, alasanmu menjual patung Ras Supard adalah untuk membalas budi pada prajurit bernama Ruijerd itu? Kau tidak berencana memojokkan orang-orang yang membenci ras iblis?”

"Memojokkan adalah kata yang kurang tepat. Sebenarnya aku hanya ingin mereka menghargai ras iblis. Pada dasarnya, kita semua sama.”

"Hooo…."

Aku tahu ada sekelompok orang yang membenci ras iblis di Kerajaan Suci Milis, mungkin patung Ruijerd dianggap sebagai benda berbahaya bagi mereka. Jika aku menjual patung Ruijerd, mereka akan menganggapku sebagai orang sesat atau pemberontak yang membahayakan idealisme mereka.

"Lalu, mengapa kau ingin mempengaruhi orang-orang penting untuk membela Osretd?”

"Sekitar 80 tahun ke depan, Dewa Iblis Laplace akan bangkit kembali. Dan saat itu, dia akan kembali mengobarkan perang yang begitu besar. Salah satu orang yang bisa menghentikan itu adalah makhluk terkuat di dunia ini, yaitu Dewa Naga Orsted. Jadi, kita harus memihaknya.”

Uskup Agung mendengarkan penjelasanku tanpa mengubah ekspresi wajahnya sama sekali.

Dia hanya mengangguk setuju.

"Begitu ya. Jadi, dengan memanfaatkan Cliff, kau ingin membangun koneksi denganku. Sehingga, aku bisa berpihak pada Fraksi Dewa Naga Orsted, bukankah begitu….?”

"Tidak, itu tidak tepat.”

Entah kenapa, aku merasa sedang bernegosiasi dengan kakek ini.

Yah, tidak masalah sih.

Negosiasi memang penting.

Ayo kita mulai…...

"Aku memang membutuhkan bantuan Cliff, tapi sekali lagi…. ‘memanfaatkan’ bukanlah kata yang tepat. Justru, aku datang ke sini untuk menolong Cliff agar mendapatkan posisi penting di Gereja Milis.”

"Hooo… kau ingin mendukung Cliff dari belakang ya?”

"Awalnya begitu…. namun, ternyata Cliff tidak mengharapkan bantuanku. Cliff orang yang hebat, jadi dia ingin meraih prestasi dengan usahanya sendiri. Aku tidak boleh mencampuri urusannya. Jadi, aku hanya akan membantu bila sangat-sangat diperlukan.”

Bibir Uskup Agung melengkung tersenyum ketika aku mengatakan itu.

Wajahnya seperti seorang kakek saat melihat cucunya mendapatkan nilai 100 pada rapornya.

"Begitukah? Jadi, Cliff mengatakan itu padamu…?”

"Ya. Jadi, Rudeus datang ke sini sebagai bawahannya Dewa Naga.”

Dia mengatakannya dengan jujur.

Kakek itu pasti sudah mencari informasi tentangku.

Mungkin dia hanya ingin menguji reaksiku. Jika aku salah menanggapinya, dia tidak akan memberikan dukungannya pada kami. Namun sepertinya aku berhasil membuatnya terkesan.

Yahh, mungkin juga tidak…. toh, aku tidak tahu apa-apa.

Yang jelas, aku tidak berbohong.

Di jaman seperti ini jarang ada orang jujur, namun masih banyak orang yang menyukai kejujuran.

"Seperti yang Anda sebutkan sebelumnya, aku datang ke sini dengan 2 tujuan. Pertama, mendirikan cabang perusahaan prajurit bayaran. Kedua, mendirikan bisnis patung Ras Supard. Kumohon bantuannya untuk mewujudkan kedua tujuanku itu.”

Mengenai masalah Keluarga Latreia, kesampingkan saja itu untuk sementara waktu.

Itu adalah masalah pribadi, jangan dibahas di sini.

"Hmm."

Uskup Agung memandangku dengan senyuman lembut di wajahnya.

Mungkin itulah wajah aslinya.

Namun, senyuman itu sangat samar, seolah-olah ekspresi wajahnya tidak berubah.

"Kurasa hubungan seseorang tidak akan semudah itu rusak.”

Uskup Agung mengatakan itu dengan ringan.

Mungkin itu adalah nasehat bagi kami.

Aku tidak pernah berniat meninggalkan Cliff.

Kurasa, Cliff juga tidak akan meninggalkanku.

"Jadi, untuk mempererat ikatanmu dengan Cliff ... aku akan mendukung rencanamu membuat cabang perusahaan di sini.”

Dia mengatakan itu dengan entengnya.

Tadinya kupikir kami masih harus tawar-menawar, namun ternyata tidak.

Mungkin dia ingin menjaga ikatanku dengan Cliff.

Bagaimanapun juga, aku masih bisa memberikan manfaat pada Fraksi Uskup Agung.

"Namun, izin untuk memasarkan patung Ras Supard agaknya cukup sulit.”

"Mengapa?"

"Aku berada di pihak fraksi yang tidak membenci ras iblis, namun belakangan ini fraksi anti-ras iblis semakin berkembang besar. Saat ini, kekuasaanku belum cukup untuk memberikan ijin menjual patung ras iblis pada masyarakat. Dan aku tidak bisa sewenang-wenang melakukannya. Bahkan, kemungkinan besar Uskup Agung selanjutnya akan dipilih dari fraksi anti-ras iblis…….”


Uskup Agung menyatakan itu sembari memandangiku.

Aku penasaran… apakah itu berarti dia secara tidak langsung memintaku untuk mengalahkan fraksi anti-ras iblis?

Aku berharap demikian.

Jika mendapatkan dukungan dari Uskup Agung, aku bisa bergerak bebas untuk mengalahkan mereka.

Aku pun sudah memutuskan hubungan dengan Keluarga Latreia, jadi aku tidak punya beban jika harus melawan mereka.

Tapi sayangnya, masih ada Therese di sana. Aku tidak ingin melawan bibiku yang selalu baik padaku itu. Aku berhutang banyak padanya.

Ini cukup membingungkan.

Jika Cliff berhasil merebut posisi Uskup Agung, maka permusuhanku dengan Keluarga Latreia semakin jelas. Sehingga, aku tidak punya pilihan selain menghancurkan mereka.

Semuanya tergantung keputusan Cliff.

Hmm ...

"... baiklah, terimakasih telah memberikan ijin untuk mendirikan cabang perusahaan prajurit bayaran, Yang Mulia.”

"Ya."

"Aku sangat terbantu.”

Untuk masalah fraksi anti-ras iblis, aku belum menemukan titik terangnya.

Tentu saja, itu berarti aku tidak bisa membuka bisnis pemasaran patung Ruijerd dalam waktu dekat.

Yahh…. sabar saja dulu. Setidaknya, aku sudah bisa memulai pengembangan PT. Rudo.

Jangan serakah.

“Lalu, apakah kau bersedia membantu Cliff melawan fraksi anti-ras iblis?” kakek itu mulai meminta kejelasan.

“Maaf, kalau soal itu…. aku belum bisa memutuskannya.”

"Hohoho… sayang sekali.”

Uskup Agung mengatakan itu sembari tersenyum lebar.

Bagian 2[edit]

Cliff masih harus mengerjakan sesuatu, jadi dia meninggalkanku sendirian dia Pusat Gereja Milis ini.

"Fiuh ..."

Aku menghela napas panjang saat keluar dari gereja.

Sungguh melelahkan ...

Putri tembem dan Uskup Agung…. hari ini aku bertemu dengan dua orang yang menarik.

Keduanya cukup berkesan bagiku.

Namun, mereka berasal dari fraksi yang berbeda.

Oh ya…. setelah mencari tahu, ternyata putri berpipi tembem itu adalah Gadis Kuil, dan dia bukanlah gadis biasa.

Uskup Agung memimpin fraksi pro-ras iblis.

Sedangkan putri itu memimpin fraksi anti-ras iblis.

Ordo Ksatria Kuil juga membela fraksi anti-ras iblis.

Keluarga Latreia tidak terkecuali.

Aku tidak percaya orang sebaik Therese begitu diskriminatif pada ras iblis.

Aku harap suatu hari nanti dia membuka matanya.

Lalu siapakah yang kudukung? Tentu saja fraksi pro-ras iblis, yang dikepalai oleh Uskup Agung.

Tapi, aku tidak bisa melupakan begitu saja jasa Therese yang telah dua kali menolongku.

Meskipun aku masih kesal pada Keluarga Latreia, bukan berarti aku tidak mau balas budi pada Therese.

Sepertinya Gadis Kuil itu tidak sekonyol para pengikutnya.

Setelah kupikir-pikir lagi…. mungkin lebih baik aku berada di pihak netral. Karena kedua fraksi ini sama-sama punya sisi negatif dan positif.

Ya… kurasa itulah pilihan terbaik sekarang.

Oh iya, aku harus bertemu lagi dengan Gadis Kuil, karena aku sudah berjanji menceritakan tentang Eris padanya.

Aku pun masih penasaran dengan kemampuannya.

Mungkin kecil kemungkinannya dia adalah bidaknya Hitogami…. namun tidak sampai 0%.

Aku tidak pernah bisa membedakan mana yang bidaknya Hitogami, mana yang bukan.

Setidaknya, aku tidak mendapatkan gangguan dari bidak-bidak Hitogami saat mendirikan cabang PT. Rudo di Asura.

Apakah rencanaku ini berbahaya bagi Hitogami atau tidak….

Aku tidak tahu…. tidak ada gunanya pula dipikirkan.

Aku harus bersyukur tidak mendapatkan hambatan besar sampai sejauh ini.

Tapi…. jika hambatan itu benar-benar datang, maka pastilah bidak-bidaknya Hitogami sudah turun tangan. Jadi aku harus mencari mereka, dan melenyapkannya.

Aku harus tetap waspada pada siapapun yang mencurigakan.

Gadis Kuil, Claire, atau siapapun itu….. bisa saja menjadi bidak Hitogami.

Tapi aku tidak boleh terlalu fokus pada mereka, karena itu akan membuatku melakukan kesalahan.

Sebelum aku mendirikan cabang PT. Rudo, ada baiknya aku menghubungi Orsted dengan alat komunikasi itu.

Ya.

Untungnya aku sudah mendapatkan dukungan dari Uskup Agung.

Jadi, aku harus mulai secepatnya.

Pertama-tama, beli gedung yang cocok sebagai kantor cabang.

Pasang alat komunikasi dan lingkaran sihir di sana.

Sehingga aku bisa melapor pada bos.

"Oke. Langkah pertama adalah memilih gadung untuk kantor cabang."

Lebih baik aku menyerahkan urusan itu pada Aisha.

Apakah kami harus membuka kantor cabang di Distrik Niaga atau Distrik Petualang? Sepertinya Aisha lebih tahu akan hal itu.

Aisha pasti sudah mengenal daerah ini dengan baik. Kemampuan adaptasi gadis itu sungguh luar biasa, bahkan dia pernah dibesarkan di kota ini.

Lokasi kantor yang tepat akan mempermudah meluasnya koneksi.

Kemudian, tentang Zenith……..

Kalau Aisha sibuk menyiapkan kantor baru, maka tidak ada orang yang merawatnya.

Mungkin kami bisa mengajarkan Wendy bagaimana cara merawat Zenith…..

Yahh…. sepertinya hanya itu solusinya.

Nanti akan kita bahas lebih jauh setelah kembali ke rumah Cliff.

Bagian 3[edit]

Dengan naik kereta kuda, aku pun kembali ke rumah Cliff di Distrik Agama.

Hari sudah petang.

Perutku kosong, aku tidak sabar makan malam bersama keluargaku.

Aku harap ada yang menjual telur di sekitar sini.

Telur rebus, telur goreng, telur dadar ...

Roti…. steak babi goreng juga boleh……

Dengan sebutir telur saja, nafsu makanmu bisa meningkat.

Aisha memang pintar memasak.

Sesampainya di rumah….

"Aku pulaaaang, wah… perutku keroncongan nih…"

Namun, aku mendengar teriakan Aisha dari dalam.

“Kenapa pulangnya telat sekali!!?”

Aku bergegas masuk ke dalam rumah.

Aku mendapati Aisha sedang berdiri bersama Wendy.

"Kenapa lama sekali!!?”

"E-eehh… tidak apa-apa, kan? Lagian, aku punya banyak urusan.”

"Tidak apa-apa gundulmu! Kemarin Onii-chan sudah dengar, kan? Tolong jelaskan padaku! Seenak saja Onii-chan keluar tanpa memberitahuku! Kami sudah lelah menunggumu! Onii-chan harusnya kembali lebih cepat! Kita harus bicara, Onii-chan!”

"Kemaren? Duh, aku tidak begitu ingat sih. T-tapi kan….”

"Bukannya aku sudah bilang!!?? Harusnya Onii-chan pergi bersama kami!!”

Aisha sungguh geram, bahkan dia coba memukulku, namun Wendy menahannya…..

Jarang sekali aku melihat Aisha semarah ini.

Aku coba mengingat-ingat kembali apa kesalahanku, tapi akhirnya Wendy tidak bisa menahannya, dan aku pun kena pukul.

"Aisha, tenanglah sedikit."

"Baik!"

Akhirnya dia melepaskanku.

Aisha sadar bahwa tindakannya terlalu berlebihan.

"Ah, Onii-chan ... maafkan aku ..."

Dia menahan tangannya sembari menunduk.

"Ada apa sih? Maaf, aku tidak begitu ingat apa yang kau katakan kemaren."

Lebih baik aku menanyakan apa yang terjadi.

Kalau aku memarahinya, aku juga salah.

Namun, Aisha hanya menunduk dengan wajah biru, dan tidak membalas pertanyaanku.

Biasanya dia segera menjawab ketika ditanyai.

"Yahhh..."

Seolah gregetan melihat kami berdua, akhirnya Wendy yang bicara.

"Siang tadi, Gisu datang ..."

"Gisu ...?"

"Dia datang menemui Zenith-san. Dia menyayangkan Zenith-san yang terkurung di rumah, padahal sudah lama dia tidak pulang ke Milis.”

Kali ini Aisha yang menjawab.

"…..terkurung di rumah…..”

Aku mulai merasakan firasat buruk.

Wah…. ada yang tidak beres nih.

"Aisha, kumohon jelaskan dengan detail mulai awal…. Kau bisa melakukannya, kan?”

"Ya..."

Aisha mulai bercerita.

Pada siang hari, sepertinya Gisu datang berkunjung.

Karena dia adalah mantan rekan setim Zenith, maka Aisha dan Wendy mengijinkan mereka bertemu.

Sebenarnya Aisha tidak begitu memperhatikan wajah orang itu, namun kalau dilihat dari pakaiannya, bicaranya, dan tingkahnya…. dia mirip sekali seperti Gisu.

Setelah mempersilahkan Gisu masuk, Aisha ada urusan keluar rumah.

"Kenapa kau keluar rumah, Aisha ...?"

"Aku ingin membeli kebutuhan sehari-hari ... sepertinya Wendy bisa jaga rumah, jadi aku pergi begitu saja…. maafkan aku.”

"Tidak apa-apa….”

Sepertinya, itulah kesalahan Aisha.

Jarang sekali dia teledor seperti itu.

Nah….kemudian….

Gisu ngobrol bersama Wendy dan Zenith selama beberapa saat, entah apa yang mereka bicarakan. Tentu saja Zenith membutuhkan bantuan Wendy untuk berkomunikasi, karena dia belum bisa bicara.

Tapi, kemudian, Gisu menyarankan sesuatu….

’Sayang sekali Zenith harus berdiam diri di rumah. Bukankah sebaiknya kita ajak dia jalan-jalan? Pasti dia ingin mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama tidak dilihatnya.’

Kurang-lebih seperti itulah sarannya.

Wendy pun menyetujuinya.

Meskipun begitu, sebenarnya Wendy sedikit khawatir.

Tapi ini bukan sepenuhnya salah Wendy.

Kami belum menceritakan padanya tentang percekcokan di Kediaman Latreia.

Kami tidak bisa menyalahkan Wendy, karena Gisu memang jagonya merayu.

Dia sangat mahir membujuk orang lain.

Lagipula, aku juga telah berencana membawa Zenith jalan-jalan keliling kota.

Gisu pun membawa Zenith keluar rumah.

Sayangnya Wendy tidak ikut bersama mereka….. nah, di sinilah masalahnya.

"Saat pulang ke rumah, aku tidak melihat mereka ... aku sudah coba mencari mereka di kota, namun tidak bisa menemukannya."

Rupanya Aisha segera mencari Gisu dan Zenith ke kota, namun hasilnya nihil.

Waktu terus berlalu, namun Aisha tidak kunjung menemukan mereka sampai senja.

Mungkin mereka akan pulang terlambat, namun kenapa tidak juga kembali?

Aisha mulai khawatir, namun dia tidak bisa menyalahkan Wendy, dan akhirnya…. aku pun pulang.

"Apa yang harus kulakukan Onii-chan, tadinya kupikir semuanya baik-baik saja ... apakah ini salahku ...? Apa yang harus kulakukan…. Apa yang harus kulakukan?”

Aisha kesal pada dirinya sendiri, sampai-sampai hampir menangis.

Tenanglah dulu, nak.

"Tenang dulu…. mungkin ini hanyalah kecerobohan Gisu. Mungkin mereka keasyikan jalan-jalan sampai lupa waktu.”

"Tapi, Nyonya Zenith hilang!!”

"Tenanglah, Aisha."

Aku juga mulai merasa khawatir.

Tapi…. Gisu lah yang membawanya keluar… dia adalah kolega kami. Dia bukan orang jahat, kan?

Dia memang tidak bisa bertarung, tapi bukan berarti tidak mampu membela diri. Dia punya segudang kemampuan yang bisa membuatnya bertahan hidup bahkan sampai hari ini. Pengalamannya bertualang jauh lebih banyak dariku.

Kurasa, Zenith aman bersamanya.

Yahh, kalau Gisu sih ...

Mungkin dia mengajak Zenith makan malam, atau semacamnya…..

Dia memang teledor. Mungkin, mereka akan kembali tengah malam, lalu Gisu meminta maaf sembari menggaruk kepalanya dan berkata, ’Ahh…. maaf….maaf….kalian khawatir ya… kebetulan kami tadi bertemu kenalan lama, jadi kami ngorbol lama sekali, ahahahah….’

Ya, seperti itulah dia.

"Untuk saat ini, lebih baik kita menunggu saja.”

Itulah yang kuputuskan.

Bagian 4[edit]

Matahari telah sepenuhnya terbenam.

Cliff kembali dengan ekspresi lelah di wajahnya.

Namun, Zenith dan Gisu belum kembali.

Untungnya, aku dan Aisha sudah tenang.

"Aku minta maaf ... tapi, tolong jangan salahkan Wendy, ini salahku ..."

Setelah mendengar cerita kami, Cliff sempat memarahi Wendy, namun Aisha membelanya.

Dia tidak menduga akan jadi seperti ini.

Dia hanyalah seorang pelayan.

Terlebih lagi, dia adalah pelayan dadakan, jadi dia belum siap menghadapi semua ini.

Kau tidak boleh menyalahkan seseorang, hanya karena dia belum siap.

Hanya orang gagal yang suka menyalahkan orang lain.

"Aku akan pergi mencari ibu. Cliff-senpai, kau di rumah saja."

"Ah, baiklah ..."

Aku keluar mencari mereka, meskipun sekarang saatnya makan malam.

Sepertinya terlalu terlambat jika aku mencari sekarang.

Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Harus ada seseorang yang mencari Zenith.

Gisu lah yang membawanya keluar. ‘ Jadi, harusnya mereka berdua sedang bersama.

Monyet brengsek itu memang tidak bisa bertarung, tapi aku yakin dia bisa melakukan sesuatu jika ada bahaya.

Dia jago mengumpulkan informasi, memetakan lahan, belanja, memasak, merawat peralatan, dan yang paling penting…. menjaga keseimbangan kelompok.

Satu-satunya kelemahannya hanyalah, dia gak bisa gelud.

Meskipun demikian, aku percaya Zenith akan baik-baik saja bersama Gisu.

Tapi, jika muncul musuh yang begitu kuat, maka celakalah mereka.

Dalam keadaan kritis, dia tidak akan bisa melindungi Zenith, bahkan melindungi diri sendiri saja belum tentu mampu.

Aku tahu Gisu punya seribu cara untuk menghindari kondisi gawat seperti itu.

Namun, dia tetaplah tidak sempurna.

Bisa saja terjadi hal-hal konyol seperti, Zenith tidak sengaja menginjak kaki om-om sangar, dan membuatnya marah. Itu juga berbahaya.

Zenith bersama Gisu yang merupakan ras iblis. Jika ada Keluarga Latreia melihatnya, itu juga bisa menimbulkan masalah. Karena mereka begitu membenci ras iblis.

Mereka pasti akan segera membawanya pulang.

Tapi……..

Tunggu sebentar…….

Jangan-jangan ini hanyalah sebuah tipu muslihat.

Jangan-jangan Gisu itu palsu.

Jangan-jangan Gisu itu adalah salah seorang Keluarga Latreia yang menyamar.

Postur tubuh, wajah, cara bicara, dan perilakunya mirip Gisu. Namun dia hanyalah orang lain yang menyamar untuk menipu Wendy dan Aisha. Mungkinkah begitu?

Terlebih lagi, jarang ada pria yang ciri-cirinya mirip Gisu. Jadi, jika ada orang mirip dengannya, maka Aisha tidak mencurigainya.

Adapun kemungkinan buruk lainnya adalah…..

Dia bukan Gisu palsu, tapi…….

Dia adalah bidaknya Hitogami.

Aku tidak ingin memikirkannya, tapi kemungkinan itu selalu ada.

Gisu adalah ras iblis, dan tak satu pun ras iblis mau memasuki Distrik Agama karena pengikut Milis terkenal membenci mereka. Lantas, apa yang dia lakukan di rumah Cliff? Benarkah dia hanya ingin mengajak Zenith jalan-jalan?

Bisa jadi, dia mau repot-repot datang ke rumah Cliff atas saran Hitogami ...

Sekarang bukan saatnya ragu.

Keraguan dan kekhawatiran tidak akan membuahkan apapun.

Sekarang juga bukan saatnya menyesali keadaan.

Kami sudah kehilangan banyak waktu.

Aku harus bergerak sekarang juga.

Aku mengenakan Magic Armor Versi II, lalu segera meniggalkan rumah Cliff.

"Kemana aku harus mencari terlebih dahulu? Apakah kami harus berpencar?"

Aisha bersamaku.

Zenith belum ditemukan ... kami berdua tidak bisa tenang.

Kalau Aisha panik, aku harus menenangkannya.

"Aisha, lebih baik kita mencari bersama, masalah akan tambah runyam bila kau hilang.”

"Y-ya… aku mengerti."

Aisha punya kenangan buruk saat dia hendak diculik.

Sepertinya dia mulai khawatir jika Zenith diculik orang jahat.

Di dunia ini, penculikan adalah kejahatan mainstream…..

Tapi, tidak semudah itu.

Mereka harus menghadapi Gisu terlebih dahulu, sang petualang kelas S, jika ingin menculik Zenith.

Andaikan aku berada di posisi si penculik, maka aku akan mencari target yang lebih mudah.

"..."

Setelah berlari beberapa langkah, tiba-tiba aku berhenti.

Ke arah mana kita harus mencari terlebih dahulu?

Gawat, aku mulai panik. Aku harus menenangkan diri dulu.

Tenang, semuanya akan baik-baik saja, berpikirlah dengan tenang.

Tarik napas dalam-dalam.

"Suu ... Haa ..."

Aku bersama Aisha yang jauh lebih cerdas dariku.

Aku harus berdiskusi dengannya.

"Aisha ... menurutmu ke manakah Gisu pergi?"

"Err ... Distrik Petualang?"

"Kenapa ke sana?"

"Gisu-san pasti tidak nyaman berlama-lama di Distrik Agama, jadi dia ingin pergi ke distrik yang lebih bersahabat dengannya, yaitu Distrik Petualang. Sebenarnya, bisa juga mereka pergi ke Distrik Niaga, tapi karena Gisu-san adalah seorang petualang, maka kurasa dia lebih memilih pergi ke Distrik Petualang karena banyak teman di sana.”

"Oke, kalau begitu ayo kita menuju ke Distrik Petualang."

Aisha memang hebat, dia masih bisa menganalisis dengan begitu jeli di saat-saat seperti ini.

Kita harus lekas ke sana sebelum mereka pergi lebih jauh.

"Ayo cepat."

"Oh iya… haruskah kita menggunakan kuda, atau kereta mungkin?”

"Hmm?"

Kuda ...

Aku masih belum bisa menunggangi kuda.

Tapi, bukan berarti aku tidak bisa naik kuda.

Aku sudah berlatih, jadi aku bisa mengemudikan kereta kuda.

Namun, dengan kendaraan seperti itu, kami tidak bisa bergerak bebas.

Baiklah.

Aku bisa berlari lebih cepat dengan menggunakan sihir.

"Kita tidak butuh kuda."

"Eh?"

Aku menggendong Aisha bagaikan putri.

Kemudian, kuaktifkan Magic Armor Versi II dengan Mana-ku.

Lalu, kutekuk kakiku.

Aku sudah berlatih meringankan dentumannya.

"Aisha, pegang erat-erat ya….."

"Eh ...? Ah!"

Aisha memegang dan mencengkeram jubahku dengan kuat.

Aku pun menggendong Aisha dengan erat.

"... Ah, ah! Jangan…. jangan… hentikaaaaaaan….”

Sepertinya Aisha menjerit, namun aku tidak begitu mendengarnya.

Kami pun melompat tinggi ke langit malam.

Bab 9: Sok Bego[edit]

Bagian 1[edit]

Hanya 10 menit kemudian, kami tiba di Distrik Petualang.

Tubuh Aisha gemetaran, lalu aku meletakkannya ke tanah.

Kakinya tidak berhenti gemetar.

Mungkin Aisha takut ketinggian.

Maaf…maaf…

"Onii-chan, jangan lagi melompat setinggi itu ..."

Sepertinya, banyak keluargaku yang takut pada ketinggian.

Sylphy juga takut ketinggian, dan aku cukup benci ketinggian.

Hanya Eris yang sepertinya menyukai tempat-tempat tinggi.

"Aku bisa saja berlari kencang di permukaan tanah, tapi itu bisa mencelakakan orang lain jika tertabrak. Sekarang, ayo temukan ibu.”

"Uu ... aku tidak bisa berjalan."

"Jangan khawatir, sini…. kugendong lagi."

"Tapi tidak melompat lagi, kan?"

"Tidak."

Sembari kugendong Aisha di punggung, kami pun memulai pencarian.

Distrik Petualang cukup besar.

Dari mana kita harus mulai mencari……?

"Onii-chan, kita harus memeriksa kedai minuman. Karena sekarang jam makan malam, mungkin kita bisa menemukan mereka lebih cepat.”

"Ah, benar juga."

Seperti saran Aisha, kami segera menuju bar terdekat.

Kami memeriksa kedai-kedai di jalanan, untuk mencari Zenith atau Gisu.

Karena ini jam makan malam, kedai-kedai pun penuh.

Namun, kami tak perlu memeriksa setiap orang, karena wajah Gisu begitu khas.

Kami juga bisa bertanya pada pegawai kedai, untuk lebih menghemat waktu.

’Apakah kau melihat seorang pria bertampang mirip monyet dan wanita berwajah kosong?’ kira-kira seperti itulah pertanyaannya.

Penampilan mereka mencolok.

Bahkan selarut ini, Distrik Petualang masih ramai.

Banyak petualang yang pulang kerja sembari membawa barang rampasan mereka.

Ada juga para pedagang yang sibuk menawar harga untuk membeli barang-barang itu.

Setelah bekerja, para petualang berbondong-bondong makan.

Para pegawai kedai juga sibuk merayu mereka ke kedainya.

Sesekali, terdengar suara pertengkaran antara petualang dan prajurit bayaran.

Aku hanya melihat beberapa kereta di jalanan, mungkin karena sudah malam.

Dengan jumlah kereta yang semakin berkurang saat malam, kecil kemungkinannya dia tertabrak kereta.

Aku pun merasa sedikit lega.

"Wajah mirip monyet? Ah, maksudmu Gisu? Bukankah dia biasanya menginap di Malam Musim Semi?”

Itu adalah nama penginapan, dan kami sudah memeriksa tiga penginapan sampai sejauh ini.

Rupanya, Gisu sudah lama berada di kota ini.

Jadi, hampir setiap orang pernah melihatnya.

"Apakah kau melihatnya bersama seorang wanita?”

"Seorang wanita ...? Hmm ...?”

Pegawai bar itu memiringkan kepalanya.

Sepertinya dia kebingungan.

Aku akan segera mengetahuinya setelah memeriksa penginapan bernama Malam Musim Semi itu. Lalu aku meminta alamatnya.

Setelah memberinya koin tembaga, kami bergegas ke Malam Musim Semi.

Aku punya firasat buruk.

Bagian 2[edit]

Penginapan Malam Musim Semi berada di daerah lokalisasi.

Banyak rumah bordir yang berjajar di sepanjang jalan, dan pria berwajah mesum yang mondar-mandir di sekitarnya.

Ini adalah distrik pelacuran.

Padahal Milishion adalah kotanya kaum beragama…. harusnya tempat seperti ini tidak ada di kota ini.

Banyak orang melihat kami dengan penasaran.

Suasananya jadi hening…. aku penasaran, apa ada yang salah dengan kami.

"Haha! A-apa yang mereka lihat?"

"Onii-chan, ini memalukan! Cepat turunkan aku!"

Ternyata…..

Mereka menatapku yang sedang menggendong Aisha.

Apa yang kalian pikirkan!? Dia adikku! Adikku! Kami tidak berhubungan incest ya! Ingat itu baik-baik!

Begitu aku menurunkan Aisha, mereka berhenti menatap kami.

Malam Musim Semi.

Dari depan sih penginapannya terlihat normal, tapi setelah kuamati lagi, ternyata banyak pria sangar yang keluar-masuk tempat ini.

Yahh, aku juga pria sangar lho, meskipun ototku tidak sebesar kalian.

Aku bisa memasuki tempat semacam ini tanpa takut.

Jujur saja, para pegawaiku lebih sangar daripada kalian.

Apakah Zenith berada di tempat seperti ini? Aku jadi cemas.

Gisu, apa yang telah kau perbuat pada Zenith ...

Jika dia menjual Zenith ke tempat pelacuran, tidak akan pernah kumaafkan dia.

Akan kuhajar dia.

"Ra ~ ssha ~!"

Ketika melewati pintu masuk, kami mendengar berbagai macam kegaduhan, mulai dari bartender yang menyiapkan minuman dengan semangat, sampai teriakan para pelanggan yang menggebu-gebu.

Suasananya cukup meriah.

Dari luar tampak mengerikan, tapi dari dalam begitu ramai.

Pelanggannya tidak hanya pria-pria sangar, namun ada juga para petualang biasa.

Setelah mengamati penginapan ini sekilas, mataku segera tertuju pada seseorang di meja itu…..

"Tapi aku ini pintar…. aku bilang pada mereka, ’Ketiga lingkaran sihir itu mungkin jebakan, bagaimana jika ada jalan lainnya?’

Itu dia.

Agak masuk ke dalam, ada pria berwajah monyet yang sedang membual pada sekelompok petualang junior.

Aku sudah sering melihat adegan ini.

Di sana ada bocah laki-laki berambut jabrik.

Ada bocah laki-laki lainnya yang hidungnya bertindik.

Dan seorang gadis yang tampak polos.

Semuanya tiga orang.

Zenith tidak bersama mereka.

Bahkan aku sama sekali tidak melihat Zenith di ruangan ini.

"Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, saat kami mencari ke lantai bawah, ternyata ada jalan tersembunyi yang menuju ke bos monster…..”

Gisu melihatku ketika mendekatinya.

Dia pun terkejut.

"Gisu."

"Y-Yo senpai. Aku baru saja membicarakanmu. Teman-teman, dia lah Quagmire.”

Ketiga orang itu langsung tampak ketakutan.

Mereka meringkuk di kursinya masing-masing seperti anak kecil.

Reaksi macam apa itu?

Ah…. lupakan mereka.

Ada hal lebih penting yang harus dibahas.

Yang pertama adalah ...

Baiklah, pertama-tama aku harus bertanya pada Gisu tentang makhluk aneh yang sering muncul di mimpinya.

"Gisu ... asal tahu saja ya….. kebanyakan lawan-lawanku bernasib sial.”

"Haa? A-apa yang kau bicarakan, Senpai?"

"Belakangan ini ada makhluk aneh yang tiba-tiba muncul di dalam mimpimu, kan? Dia memberimu saran yang begitu ajaib, seolah-olah dia tahu segalanya.”

"Whoa, mimpi? Mimpi apa?"

Aku mulai mengarahkan jariku pada si muka monyet, lalu kuhimpun Mana.

Stone Cannon, dengan kecepatan tinggi.

Terbentuklah sebongkah batu yang melayang-layang di ujung jariku. Batu itu terus berputar dengan suara mendesing kencang, bagaikan bor.

Para junior itu terkejut, dan mulai beranjak dari kursinya masing-masing.

"Jangan bergerak."

Mereka langsung membeku.

Kutatap mata Gisu, lalu kitanya sekali lagi.

"Jika kau menceritakan semuanya padaku sejak awal, mungkin akan kuampuni kau.”

"O-o-ohhh, kumohon hentikan… j-j-jangan begitu lah…. kita kan teman. S-s-sebenarnya aku tidak tahu apa-apa….. j-j-jangan dekatkan itu padaku!!”

Kugerakkan ujung jariku mendekati jidat Gisu.

Kemudian, Gisu langsung melompat dari tempat duduknya, lalu bersujud padaku.

Tanpa malu sedikit pun, dia meminta maaf padaku.

"A-a-a-aku tidak melakukan hal yang salah! Tapi aku tetap akan meminta maaf padamu! Sepertinya aku telah membuat Senpai marah! Padahal aku sama sekali tidak tahu apa yang membuatmu marah! Jadi, beritahu aku! Jika memang seburuk itu kesalahanku, aku mohon maaf sebesar-besarnya!”

Apa-apa’an ini?

Ini tidak sesuai dugaanku.

Aku heran.

Apakah itu berarti dia bukan bidak Hitogami ...?

Aku tidak tahu.

Tapi, setelah melihat Gisu merengek seperti itu….. tampaknya aku yang harus minta maaf.

"... Apa yang terjadi pada ibu?"

"Ah?"

Gisu mengangkat wajahnya yang tampak bingung.

Dengan wajahnya yang merah karena efek alkohol, dia berkedip-kedip kebingungan padaku.

Jika ini semua hanyalah sandiwara, maka kau pantas mendapatkan penghargaan!

"Ibuku, Zenith…. dia menghilang dari rumah."

"He…? Aku tadi memang mengajaknya jalan-jalan, tapi bukankah dia sudah kuantar pulang?”

"Dia belum pulang sampai sekarang, itulah kenapa aku mencarimu.”

Aku bersedekap, dan salah satu bocah itu tertawa.

Aku menoleh pada Aisha, dan dia hanya mengangguk.

Ini bukan waktunya bercanda.

Lalu aku beri tatapan tajam pada bocah itu. Dia pun mengejang sembari menjerit pelan, “Hiiiii…”

"Eh ... tapi ... aku tadi benar-benar telah mengantarnya pulang.”

"Kapan?"

"Sebenarnya, bukan aku sih yang mengantarnya sampai ke rumah. Jadi, kami tadi jalan-jalan ke pinggiran Distrik Petualang. Saat hari semakin senja, aku berniat mengantar Zenith pulang, namun tiba-tiba kami bertemu dengan pria dari rumahmu itu. Maka aku titipkan saja Zenith padanya.”

.... Apa?

Menitipkan Zenith pada seseorang?

Pria dari rumahku?

Maksudmu Cliff?

Jangan bercanda! Cliff dan aku sedang berada di Pusat Gereja Milis tadi.

Aisha sedang berbelanja, Wendy di rumah ...

Tidak…. tidak…

Yang kau maksud bukan rumahku…

Secara teknis, itu adalah rumahnya Cliff…..

Tunggu dulu….

Rumahku…..?

Maksudmu Kediaman Keluarga Latreia???

"Maksudmu, orang dari Kediaman Keluarga Latreia ...?"

"Ya… ya… itu dia. Aku sudah memeriksa lambang di baju mereka. Aku yakin itu lambang Keluarga Latreia.”

Jantungku mulai berdegup kencang.

Ternyata Zenith diambil oleh orang dari Keluarga Latreia.

Tenang, fokus.

Pertama, Gisu mengajak Zenith jalan-jalan.

Tapi kenapa?

"Oh iya, kenapa tiba-tiba kau mengajak ibu jalan-jalan?"

"Kenapa ya….. Yahh, aku kan sudah lama tidak bertemu Senpai dan Zenith, jadi wajar jika kita sedikit bersenang-senang.”

Dengan kata lain, dia cuma iseng.

Hmm, sepertinya tidak ada yang salah dengan Gisu ...

Tidak…. tunggu dulu…. itu aneh.

"Lho…. darimana kau tahu alamat rumah Cliff?”

“Sebenarnya, aku pergi ke Kediaman Latreia terlebih dahulu. Awalnya sih aku malas ke sana, karena Keluarga Latreia kan membenci ras iblis sepertiku. Namun karena ada Senpai, kurasa tidak masalah. Sesampainya di sana, mereka memberitahuku bahwa Zenith dan Senpai tinggal di tempat lain. Dari situlah aku mendapatkan alamat rumah kalian.”

"Bukannya kau benci memasuki Distrik Agama?"

"Itu benar, tapi bukan berarti aku tidak pernah memasukinya.”

Alasan Gisu agak mengambang.

Mungkin dia tidak menjawabnya dengan jujur.

Apakah karena dia mabuk, sehingga keterangannya membingungkan?

"...."

Baiklah…..baiklah…. setidaknya aku mengerti apa yang sudah terjadi.

Kira-kira seperti ini urutan kejadiannya:

Kemarin, aku meninggalkan Kediaman Latreia dengan marah.

Tapi, kami kembali ke rumah Cliff dengan berjalan kaki, jadi mereka bisa membuntuti kami.

Aku ceroboh, harusnya aku menyadari keberadaan para penguntit itu. Jika aku lenyapkan mereka, mungkin rumah Cliff tidak akan mereka ketahui.

Keluarga Latreia dan Grimoire membela fraksi yang berlawanan.

Sehingga, Keluarga Latreia ingin ‘menyelamatkan’ Zenith dari fraksi yang mereka anggap sesat.

Tapi, mereka kesulitan menyerang kawasan Keluarga Grimoire.

Fraksi mereka mungkin lebih unggul, namun kejahatan seperti itu akan mencoreng nama baik keluarga mereka.

Maka, Keluarga Latreia menggunakan jasa Gisu.

Kebetulan, si wajah monyet ini mengunjungi Kediaman Latreia, dan mengaku sebagai temanku.

Biasanya, mereka akan mengusir seseorang seperti itu.

Meskipun mereka membenci ras iblis…. jika ras iblis itu masih berguna, maka mengapa tidak dimanfaatkan saja?

Mereka meminta Gisu membawa Zenith keluar dari daerah Keluarga Grimoire. Pastinya dengan imbalan tertentu.

Gisu tidak segera membawa Zenith keluar, dia masih harus menganalisis berbagai hal. Apakah ada penjaga yang akan menghalangi rencananya, atau tidak.

Untungnya, tidak ada seorang penjaga pun yang mengawasi rumah Cliff, selain dua bocah pelayan yang tampaknya lemah dan mudah dikibulin.

Aku keluar rumah sejak pagi, dan Aisha juga pergi meninggalkan rumah untuk belanja.

Pas sekali waktunya, sehingga rencana mereka bisa dikerjakan dengan mulus.

Jika Gisu benar-benar disewa oleh Keluarga Latreia untuk merebut Zenith, maka artinya si tampang monyet ini cuma sok bego di hadapanku.

Benar kan, Gisu?

Kau sudah bersekongkol dengan mereka, kan?

Tapi, jika kutanyakan permasalahan ini ke Keluarga Latreia, mereka pasti menyangkalnya dengan berkata, ’Mana mungkin kami bekerjasama dengan ras iblis najis seperti dia.’

Kemungkinan besar Zenith berhasil mereka rebut dari kami, lalu ditahan pada suatu tempat.

Pasti ada orang yang bisa membawaku ke tempat Zenith berada.

"O-oi, Senpai, ada apa ...?"

".... Tidak apa-apa. Saat kau ke rumah Keluarga Latreia, apa yang mereka katakan?”

"Eh? Kalau tidak salah, mereka mengatakan bahwa Zenith sudah lama tidak mengunjungi kota kelahirannya, jadi dia pasti ingin pergi ke berbagai tempat….. atau semacamya.”

Mungkin juga Gisu tidak bersalah.

Mungkin juga Gisu tidak tahu apa-apa.

Saat pertama bertemu Gisu di kota ini, aku memang mengatakan bahwa kami akan pergi ke Kediaman Keluarga Latreia.

Gisu pikir aku tinggal di sana, sehingga dia coba berkunjung ke rumah Claire.

Kemudian, dia bertemu dengan mereka, dan dimanfaatkan.

Ya…. mungkin juga Gisu tidak sadar bahwa dia sedang dimanfaatkan.

Aku lah yang ceroboh.

Harusnya aku pulang lebih awal untuk menjaga Zenith.

Karena satu kesalahan saja, semuanya jadi begini.

Tapi, tidak ada gunanya menyesal.

Sekarang, prioritasnya adalah menyelamatkan Zenith.

"Gisu ... Sebenarnya--"

Setelah mendengar cerita Gisu, aku memutuskan untuk meminta bantuannya.

Dalam situasi seperti ini, semakin banyak bantuan, maka semakin baik.

Bagaimanapun juga, Gisu bertanggung jawab atas hilangnya Zenith.

Sepertinya dia bukan bidaknya Hitogami, jadi tidak masalah bekerjasama dengannya.

"... Serius?"

Setelah aku menceritakan semuanya, Gisu tampak menyesal.

"Jadi begitu ya….. rupanya, Senpai sedang berselisih dengan Keluarga Latreia…… kupikir hubungan kalian baik-baik saja…. kupikir, Zenith aman-aman saja…..”

Ini hanyalah kesalahpahaman.

Lawan sudah mengetahui kelemahan kami, lalu mereka memanfaatkannya.

Tapi siapapun bisa berbuat kesalahan.

Kami harus menyelamatkan Zenith.

"Aku mengerti. Akan kubantu kalian."

"Ya."

Bersama Gisu, kami memutuskan untuk kembali ke Kediaman Keluarga Latreia.

Tapi……. mungkin ini sia-sia saja.

Bagian 3[edit]

Pada saat kami tiba di Kediaman Latreia, malam sudah larut.

Jam makan malam sudah lewat, dan orang-orang mungkin akan segera tidur.

Aku bisa saja sampai lebih cepat, tapi Gisu dan Aisha bersamaku.

Aku terpaksa memperlambat langkah agar mereka tidak ketinggalan.

Aisha juga tidak ingin lagi melompat tinggi ke langit bersamaku.

"Ini dia."

Sekarang, lampu-lampu di Kediaman Latreia masih menyala.

Tapi tidak ada orang di gerbang.

Bel pintu juga tidak ada.

Aku perlu memanggil seseorang untuk mengantar kami masuk.

Haruskah aku berteriak?

... jika aku adalah tamu biasa, apa yang sebaiknya aku lakukan?

Tidak…. jarang ada orang yang mau berkunjung ke rumah ini.

Lalu, apa yang harus kulakukan.

"Aku Rudeus! Ijinkan aku masuk!"

Aku berteriak sambil menggedor pintu gerbang.

Aku tidak peduli jika tindakanku ini mengganggu tetangga.

Mungkin mereka tidak sudi membukakan pintu untukku, namun aku harus masuk.

Mereka menculik Zenith, artinya mereka lah yang salah.

Namun, jika orang terakhir yang bersama Zenith bukanlah anggota keluarga Latreia, maka itu artinya Zenith diculik oleh pihak ketiga yang masih misterius.

Sebenarnya aku tidak ingin menginjakkan kaki lagi di rumah ini, tapi hilangnya Zenith juga masalah bagi mereka.

"...."

Tidak ada jawaban.

Aku terus menggedor gerbang dan berteriak.

Gerbang logam mulai melengkung setelah terus-terusan kuhantam dengan Magic Armor Versi II.

"Di mana ibuku!!?"

Masih belum ada jawaban.

Mungkin lebih baik kudobrak saja gerbang ini.

"Akan kuhancurkan gerbang ini jika tak seorang pun menanggapiku!!”

Masih belum ada jawaban, maka aku mulai mengumpulkan Mana pada genggaman tanganku.

Kalian pikir bisa menghentikan Magic Armor Versi II dengan gerbang rapuh ini.

"O-oi, Senpai…. tunggu dulu! Itu tidak baik!"

Gisu menghentikanku.

Aku semakin tidak sabaran.

Aku tidak ingin menunggu lebih lama.

Claire berniat menikahkan Zenith untuk melahirkan anak lagi.

Mencari pasangan, mengadakan pernikahan, kemudian membentuk keluarga baru ...

Proses itu memakan waktu.

Jika aku terus mengamati rumah ini, pastilah suatu hari nanti aku bisa mengendus jejak Zenith. Untuk menikahkan putrinya, Claire harus mengadakan pesta atau semacamnya. Itu pasti mengundang perhatian.

Tapi…….

Kalau Claire hanya ingin Zenith melahirkan anak.

Maka itu tidak perlu waktu lama.

Kau hanya perlu menyiapkan kasur yang empuk, cari pria pilihanmu, lalu kurung mereka berdua di kamar semalaman.

Selesai.

Itu sungguh menjijikkan, dan tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beriman seperti mereka.

Saat kami menemukan Zenith, mungkin semuanya sudah terlambat.

Sebenarnya aku ragu si tua bangka itu melakukan hal sekeji itu pada anaknya sendiri.

Setidaknya, itulah yang kuharapkan, tapi tak seorang pun tahu apa yang dipikirkan Claire.

Jadi, kita harus secepatnya mengamankan Zenith.

Mungkin terlalu sembrono jika kudobrak gerbang ini.

Bahkan sekali tembakan Stone Cannon saja sudah cukup membangunkan tetangga.

Aku tidak tahu bagaimana norma di negara ini, tapi yang jelas menghancurkan gerbang rumah orang bukanlah perbuatan terpuji.

Jika orang-orang di sekitar lingkungan ini terbangun, lalu memerintahkan para penjaga untuk mengepung kami…. maka itu juga akan menyebabkan masalah pada Cliff dan Uskup Agung.

Aku perlu memikirkannya secara menyeluruh, jadi aku tidak boleh sembrono.

"Baiklah. Kita akan menyelinap masuk. Aku akan membuka gembok gerbang ini dengan sihir tanah.”

"Menyelinap? Yang benar saja……”

Tiba-tiba terdengar suara dari balik gerbang.

Entah sejak kapan mereka di sana. Ada lima orang yang terdiri dari pria dan wanita berdiri di balik gerbang.

Tiga di antara mereka adalah prajurit, dan ada juga seorang pelayan wanita.

Yang terakhir adalah seorang wanita tua mengenakan pakaian elegan.

"Malam-malam begini, ada perlu apa kau dengan keluarga kami?"

"...."

Claire Latreia.

Sepertinya dia mendengar teriakanku.

Atau jangan-jangan…. dia sudah bersiap menyambut kedatanganku?

"Claire-san ... kau curang juga ya….?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Kamu memanfaatkan Gisu untuk menculik ibuku."

Saat aku mengatakan itu, Claire menatap Gisu sambil merendahkan alisnya.

"Menculik? Aku tidak melakukan apa-apa."

"Pura-pura pikun, ya? Aku sudah menduganya ..."

Aku mengedipkan mata pada Gisu.

Dia membalasnya dengan anggukan, lalu memberi isyarat pada salah satu penjaga.

"Pria itu. Dia lah yang menjemput Zenith."

"...."

Dia menunjuk pada seorang penjaga.

Pria itu langsung pasang wajah bingung sambil mengangkat bahunya.

Dia juga pura-pura tidak tahu.

"Di rumah ini, aku sangat dilarang berhubungan dengan ras iblis. Jadi, tidak mungkin aku berurusan dengan ras iblis najis sepertinya.”

Claire menatap Gisu dengan dingin, lalu mengatakan sesuatu dengan nada datar.

"Jika Zenith telah diculik, maka kami akan mengirimkan tim pencari. Tentu saja, ras iblis ini mungkin berbohong, jadi biarkan aku mendengarkan ceritanya lebih rinci ... "

"Ugh ..."

Gisu mengerang dan meringkuk.

Kemudian dia terdiam.

Mungkin Gisu berpikir dia tidak akan selamat malam ini.

Kalau Zenith benar-benar hilang, maka kemana lagi aku harus mencarinya.

"Jadi, kau masih tidak mau memberitahu dimana ibuku?”

"Kalau pun kami tahu, tidak mungkin kami bagi informasi itu dengan kalian. Bukankah kau sudah memutuskan hubungan keluarga dengan kami?”

Dasar tua bangka, dalam keadaan seperti ini masih saja memancing emosiku ...

Apakah dia sudah merencanakannya?

Apakah dia sengaja memprovokasiku?

Mungkin nenek ini adalah bidak Hitogami.

Tapi, aku masih tidak bisa membaca niatnya ...

Apakah dia benar-benar tidak tahu?

Maka, artinya Gisu yang berbohong dong?

Mengapa Gisu berbohong?

Kalau dia memang berbohong, bukankah dia malah mencelakakan Zenith?

"Claire-san ..."

"Ada apa, Rudeus-san? Jika kau masih menganggap aku berbohong, maka kupersilahkan kau mencari ibumu di setiap sudut rumahku.”

Claire mendengus dan menatapku dengan dingin.

Anehnya, dia mengatakan itu dengan penuh percaya diri.

Mungkin dia sudah memindahkan Zenith ke tempat lain.

"Tapi, jika kau tidak menemukan apapun, silahkan angkat kaki dari rumahku. Karena kau bukan lagi kolega kami, bukankah begitu?”

"...."

Mungkin wajahku terlihat masam saat ini.

Aku mencurigai Claire lah yang melakukan semua ini, tapi aku masih tidak punya bukti yang kuat.

Aku harus terus bicara untuk menyudutkannya, namun tak ada sepatah pun yang keluar dari mulutku.

Aku terus mengkhawatirkan Zenith.

Tapi, kalau dilihat dari sorot mata nenek ini, tampaknya dia juga tidak tahu dimana Zenith berada.

Apakah aku harus menculik Claire? Sehingga aku bisa memaksa mereka membebaskan Zenith?

Tidak, itu bukan pilihan yang baik.

Bagaimanapun juga, aku belum tahu apakah mereka benar-benar menahan Zenith.

Petunjukku saat ini hanyalah keterangan dari Gisu, yang belum tentu kebenarannya.

Tunggu…. tunggu…. tunggu dulu…. tenang lah.

Pertama-tama, aku harus fokus pada pembicaraan ini.

Aku sudah menduga bahwa Claire akan pura-pura tidak tahu apa-apa.

"Hubungan macam apa yang ibu miliki dengan Keluarga Latreia ...?"

"Dia adalah putriku. Sebagai ibunya, aku punya tugas untuk meluruskan kembali anakku yang telah salah jalan.”

"Dengan menikahkannya pada lelaki yang bukan pilihannya?”

"...."

"Aku putra Zenith. Ayahku menyuruhku untuk melindungi ibuku, meski nyawa taruhannya. Itulah tugasku. Tugas itulah yang kutanggung sampai mati. Jadi, kumohon kembalikan ibuku.”

"......"

Claire tidak menjawab.

Tapi dia mengalihkan pandangannya seolah-olah dia tidak kuasa memandangku.

Mengapa wajahmu seperti itu?

Apa yang dia pikirkan?

Dia mulai kehilangan ketenangannya.

Menurut Therese, sebenarnya nenek ini tidak jahat.

Dia hanya keras kepala.

Ya.

Aku harus tenang... sabarlah…. terus ajak dia bicara….. dan ungkaplah niatnya…..

"Para pengawal istana telah tiba."

Dia kembali menatapku.

Tidak… bukan menatapku…. dia melihat sesuatu di belakangku.

Tiba-tiba, dari arah jalan, datanglah sekelompok prajurit yang membawa lentera, bergegas mendekati kami.

"Cukup sudah tuduhanmu padaku. Apakah aku harus melaporkanmu pada mereka?”

Aku memelototi Claire.

Aku menatap tajam para nenek tua keras kepala ini, yang tidak mau mendengarkan perkataan siapapun.

Aku memikirkan rencana menawan nenek ini, untuk ditukar dengan Zenith.

Gerbang ini bisa kutembus kapanpun.

Aku bisa saja mendobrak gerbang, lalu meraih leher nenek itu sembari berteriak, ”BEBASKAN ZENITH SEKARANG JUGA!!” pada mereka.

Bahkan aku tidak perlu 2 detik untuk melakukan itu semua.

Mungkin hanya 1 detik.

Tapi… apakah aku bisa mendapatkan kembali Zenith dengan melakukan itu?

Saat kulihat wajah wanita tua berhati dingin ini……..

Emosiku terus bergejolak.

Tempo hari, kalau tidak salah aku menghempaskan 6 atau 7 prajurit.

Sekarang, sekitar 14 pengawal sedang mengepung kami, dan jumlahnya bisa terus bertambah.

Satu-satunya yang memisahkan kami adalah pintu gerbang ini.

"... akan kusandera kau agar mereka membebaskan ibuku.”

"Coba saja kalau menurutmu itu bisa mengembalikan Zenith.”

Dia sesumbar.

Kenapa dia begitu percaya diri saat mengatakan itu?

Darimana datangnya keberanian itu?

Harusnya dia sudah tahu bahwa aku tidak akan segan berbuat kasar.

Apakah kau tidak takut mati?

Mengapa kau begitu menantangku?

Sial, aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkan nenek ini.

Kau ingin aku mengamuk ...?

Di depan para pengawal istana?

"Claire-san, jangan-jangan…. belakangan ini sering muncul orang yang memberikan semacam petunjuk di dalam mimpimu?”

"... Ha? Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?”

Untuk sesaat, Claire tidak lagi menunjukkan wajah dinginnya.

Wajahnya kosong, seolah tidak tahu apa-apa.

Tadi wajah Gisu juga tampak seperti itu.

Jadi, dia juga bukan bidak Hitogami.

Namun, ekspresi itu hanya bertahan sesaat.

"... Hmph."

Dia mengalihkan pandangannya pada para pengawal istana yang mendekat.

"Kami dari Ordo Ksatria Kuil! Kami mendengar ada keributan di sini, apa yang terjadi!?”

“Mereka lah yang membuat keributan…..”

"—Baiklah…. kami akan pergi.”

Aku tidak ingin membuat kekacauan.

Bagian 4[edit]

Waktunya kembali.

Dengan merasa tertekan, aku berjalan menyusuri jalan Distrik Perumahan di tengah malam.

Banyak hal berputar-putar di kepalaku.

Aku tidak bisa tenang.

Amarah dan frustrasi mengacaukan pikiranku tanpa bisa kukendalikan.

"...."

Aku tidak tahu di mana Zenith berada.

Tapi, setelah pembicaraan itu…..

Dengan tanggapan seperti itu…..

Aku yakin……

Bahkan Claire telah memanfaatkan Gisu untuk merebut Zenith dari kami.

Aku sudah tidak ragu lagi.

Mereka mencuri Zenith saat aku tidak bersamanya…. berpura-pura tidak terjadi apa-apa saat kuinterogasi…. bahkan mereka berhasil mengusirku….

Sial….. aku kalah telak kali ini.

"Gawat ... aku bahkan tidak bisa melakukan apapun."

"Tidak, Gisu. Kau tidak salah. Kau telah banyak memikirkan ibu. Bahkan kau mau repot-repot pergi ke Distrik Agama hanya untuk menemui ibu.”

"A-Ah ..."

Gisu bukan orang jahat.

Dia hanya dimanfaatkan.

Tapi ini semua terlalu tepat.

"Gisu ... bisakah kau menemukan posisi ibu?"

"Mungkin saja…. tapi aku tidak jamin.”

"Yahh, memang sulit ya..."

Gisu adalah ras iblis.

Berjalan melewati Distrik Perumahan saja akan menarik perhatian orang lain, dan para prajurit.

Apalagi melewati Distrik Agama……

Tapi aku harus mencari Zenith.

"...."

Aku masih bisa memanfaatkan kemampuan Gisu, meskipun secara tidak langsung.

Tak peduli bagaimanapun caranya, asalkan kami bisa menemukan Zenith.

Aku juga punya ide.

Mulai hari ini, Rudeus Greyrat adalah musuh fraksi anti-ras iblis.

Claire lah yang menyebabkan semua ini.

Aku tidak segan lagi...

"Aisha, Gisu ... Ini mungkin sedikit berbahaya, tapi tolong bantulah aku."

"Tentu saja ... Onii-chan ... apa yang harus kita lakukan?"

Aisha bertanya dengan nada gelisah.

Dengan tenang aku menatap Aisha, lalu berkata ...

"Kita culik Gadis Kuil."

Gisu tersentak.

"Hah!? Kenapa tiba-tiba kau mengusulkan ide gila seperti itu?”

Kemudian dia segera mendekatiku dan meraih bahuku.

"Apa-apa’an kau!"

"Keluarga Latreia memiliki ikatan yang dalam dengan Ordo Ksatria Kuil. Sedangkan mereka adalah bagian dari Fraksi Kardinal. Fraksi itu dipimpin oleh Gadis Kuil. Jadi, bukankah seharusnya gadis itu sangat berpengaruh di kota ini? Dengan kata lain, dia lah sandera paling efektif untuk mendapatkan ibu kembali.”

Aku hanya ingin menahannya sebagai sandera. Bukan berarti aku ingin berbuat jahat padanya. Jika mereka berniat menukarnya dengan Zenith, maka kami akan mengembalikan Gadis Kuil dengan senang hati.

"Ya, mungkin itu memang sangat efektif, tetapi pikirkan konsekuensinya! Meskipun Zenith dikembalikan dengan selamat, seluruh warga Milis bisa memusuhimu!”

Tidak masalah.

Kalau sampai terjadi hal seperti itu, aku akan menggunakan kekuatan Orsted dan Ariel.

Tapi, konsekuensi lainnya adalah, aku harus melupakan rencana mendirikan cabang PT. Rudo di negara ini.

Tidak masalah, Zenith tetap lebih penting.

Rencana melawan Hitogami di masa depan juga penting, namun tentu saja aku lebih memprioritaskan keluargaku.

"Mungkin Senpai bisa menangani mereka, tapi lihatlah aku….. aku ras iblis!! Aku bisa saja mereka bunuh hanya karena mengenalmu!”

Gisu tampak pasrah.

Saat mendengar perkataan itu, emosiku sedikit reda. Ya… aku harus lebih tenang.

Keluarga Latreia, dan Ordo Ksatria Kuil, pasti akan menjadi musuhku, tetapi masalahnya adalah…. kolega-kolegaku mungkin akan terkena imbasnya.

Ordo Ksatria Kuil adalah orang-orang militan, sedikit saja aku menyinggung ideologinya, mereka tak akan segan membunuhku. Kejadian siang tadi contohnya, kalau tidak ada Therese, mungkin kami akan saling bunuh.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Mungkin Uskup Agung tidak akan terkena dampaknya, namun lain ceritanya dengan Cliff.

Oh iya…. di buku harian si kakek tertulis, Zanoba, Cliff, dan Aisha terbunuh karena konflikku dengan Kerajaan Suci Milis.

Menurut buku harian itu, Ordo Ksatria Kuil akan terus mencari kami, bahkan sampai ke Sharia sekalipun. Dengan kata lain, kami tidak akan aman meskipun sudah kembali ke Ranoa.

Masalahnya akan berangsur-angsur.

Pengikut Agama Milis tersebar bahkan sampai ke Benua Tengah.

Itu juga akan berdampak pada perkembangan PT. Rudo di masa depan. Jika orang-orang Milis melabeli PT. Rudo sebagai perusahaan sesat, maka habislah kami.

Ingat, aku datang ke sini untuk bersekutu dengan para petinggi Kerajaan Suci Milis.

Jika mereka terus memusuhi kami, bahkan sampai saat Laplace bereinkarnasi ...

Maka itu pasti akan menguntungkan Hitogami ...

Tapi, seharusnya Hitogami tidak bisa memprediksi bahwa aku akan menculik Gadis Kuil. Karena dia tidak lagi bisa mengendalikanku.

Mungkin aku terlalu khawatir.

Tapi….. bagaimanapun juga, menculik Gadis Kuil bukanlah pilihan yang baik.

Tidak .... tunggu dulu……...

Menculik Gadis Kuil…..

Bukankah Uskup Agung telah menyiratkan rencana seperti itu?

Jika Uskup Agung mendukung rencana ini, mungkin aku bisa mendapatkan Zenith kembali, sekaligus menghancurkan Fraksi Kardinal.

Uskup Agung juga punya pengikut yang banyak, jadi aku tidak perlu takut. Dia bisa dengan mudah membersihkan nama baikku.

Lagi pula, jika aku ingin menjual figure Ruijerd, maka aku harus berpihak padanya.

Cliff pasti juga mengerti.

Sayang sekali Therese-san, kali ini kita akan benar-benar berhadapan.

Therese adalah kapten ksatria pengawal Gadis Kuil.

Sangat disesalkan, aku harus membayar kebaikan wanita yang sudah 2 kali menolongku dengan permusuhan.

... Sial.

"Aisha, bagaimana menurutmu?"

Aku harus meminta pendapat Aisha.

Dia melihat ke bawah dengan wajah serius dan kebingungan.

Setelah beberapa saat, dia mendongak padaku.

"Kurasa menculik Gadis Kuil bukanlah rencana yang baik."

"Aku mengerti."

"Maafkan aku Onii-chan, tapi kali ini kau tidak setenang biasanya.”

Dia pun merasakannya.

Tentu saja aku tidak bisa tenang.

Kegelisahan ini akan membuatku sering melakukan kesalahan.

Ya...

Baiklah, tenanglah ... aku harus mendinginkan kepala, dan berpikir dengan jernih.

Pertama-tama, jangan menyangkut-pautkan semua ini dengan Hitogami. Mungkin saja dia terlibat dalam masalah ini, tapi pikiranku akan kacau jika terlalu fokus padanya.

Ini adalah masalah pribadiku dengan Keluarga Latreia.

Setidaknya….. itulah yang bisa kusimpulkan sampai saat ini.

Claire tidak bereaksi berlebihan setelah mendengar tuduhan-tuduhanku…. tapi, mungkin dia berusaha memancingku untuk berkonflik dengan Fraksi Kardinal.

Dia tahu betul bahwa aku memihak Fraksi Uskup Agung.

Dia akan diuntungkan jika pengikutnya Fraksi Uskup Agung berselisih dengan Fraksi Kardinal.

Jika aku terlalu fokus pada Hitogami, maka satu-satunya pilihanku adalah mencari bidak-bidaknya Hitogami, lalu menghabisinya.

Tapi aku tidak bisa seenaknya membunuh orang.

Insiden Kerajaan Shirone tempo hari adalah pelajaran berharga bagiku. Aku telah mencurigai begitu banyak orang sebagai bidaknya Hitogami, mulai dari Dewa Kematian sampai Pax. Namun ternyata, semua itu salah. Karena terlalu fokus mencari bidaknya Hitogami, kami malah kehilangan Pax. Aku terlalu paranoid dan ceroboh.

Tapi itu sudah berlalu, tidak ada gunanya mempermasalahkannya sekarang.

Maka, untuk saat ini, mari kita lupakan Hitogami sejenak.

"Baiklah. Mungkin terlalu berlebihan jika kita menculik Gadis Kuil. Ya…. aku tidak akan melakukannya.”

Tidak perlu mengambil langkah ekstrim.

Aku sudah mendapat dukungan Uskup Agung.

Bahkan Therese masih ramah padaku.

Jika aku berbicara dengan mereka berdua, mungkin aku bisa menemukan solusinya.

Ada hal lain yang harus dicoba.

Jika tujuan Claire hanyalah menghamili Zenith, maka dia cuma memerlukan pria hidung belang dan sebuah kasur yang empuk. Kalau itu sampai terjadi, maka aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Waktu kita terbatas, itulah yang membuat masalah ini semakin rumit.

Kalau Zenith sampai ternodai, maka aku tidak akan ragu membantai semua Keluarga Latreia….. tidak, tidak, tidak…. tenang dulu. Lagi-lagi pikiranku dikuasai oleh amarah. Kekerasan adalah cara terakhir.

"Kita harus bertukar pikiran dengan orang lain. Pertama-tama, kita perlu menemukan orang yang mengetahui rencana Keluarga Latreia.”

Saat aku mengatakan itu, Gisu dan Aisha terlihat lega.

Sepertinya mereka sudah tenang.

"Tapi, untuk jaga-jaga…. Gisu, kuminta kau melacak keberadaan ibu. Mungkin itu bukan pekerjaan yang mudah karena kau adalah ras iblis. Tapi, aku siap membayarmu berapapun.”

"Ah. Oke."

"Bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan?"

Aisha mengepalkan tangannya erat-erat, lalu menanyakan itu saat aku masih bicara dengan Gisu.

Mungkin dia juga merasa bertanggung jawab atas hilangnya Zenith.

"... Yah, Aisha, tolong cari tempat yang bagus untuk mendirikan kantor cabang PT. Rudo.”

"EH!? Bagaimana dengan Nyonya Zenith!!??”

"Pasanglah alat komunikasi sihir dan lingkaran sihir teleportasi di tempat yang strategis. Aku perlu berkonsultasi dengan Orsted-san tentang pergerakan Hitogami.”

"Oh, begitu ... baiklah. Lalu?"

"Tolong bantu Gisu menemukan ibu."

"Baik!"

Aisha mengangguk dengan penuh semangat.

Sebagai ras iblis, mungkin Gisu akan kesulitan mencari informasi di Milishion, tapi jangan remehkan kemampuan Aisha si jenius. Mereka bisa membentuk tim yang solid jika bekerjasama.

Aku percaya pada mereka.

"... jika ibu berada dalam bahaya, maka aku akan mengambil langkah tegas, jadi kalian berdua bersiaplah meninggalkan kota ini.”

"Ah."

"Dimengerti."

Mereka berdua mengangguk dengan mantab.

Besok aku akan mengunjungi Pusat Gereja Milis sekali lagi.

Bab 10: Percaturan[edit]

Bagian 1[edit]

Keesokan harinya.

Aku pergi ke ruangan yang dilindungi oleh mantra penghalang sekali lagi, untuk bertemu Uskup Agung.

Cliff berdiri di sampingku.

"Yang Mulia, aku senang Anda sehat-sehat saja hari ini.”

Cliff juga mengetahui kejadian semalam.

Aku telah menjelaskan padanya alasan mengapa aku tidak kembali bersama Zenith.

Dia juga marah pada tindakan Keluarga Latreia yang semena-mena. Lalu, aku memintanya untuk menemaniku menghadap kakeknya sekali lagi.

Untungnya, aku diperbolehkan bertemu dengan Uskup Agung 2 hari berturut-turut.

Karena Uskup Agung sangat sibuk, kami diminta menunggu selama beberapa saat sebelum memasuki ruangannya.

"Wajahmu tampak berantakan, Rudeus-sama."

"Anda melihatnya?"

Aku menyentuh pipiku.

Aku barusan bercukur, tapi tampaknya masih ada sedikit kumis yang tersisa.

Setiap kali mengingat wajah Claire, emosiku memuncak. Itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak semalam.

Ditambah dengan sedikit kumis yang tersisa….. wajar saja wajahku terlihat berantakan.

"Apakah hari ini kita akan membicarakan masalah itu?”

Uskup Agung seakan tahu apa yang hendak kubahas hari ini.

Mungkin dia sudah mendengar kasus hilangnya Zenith.

"Sebenarnya, ibuku diculik tadi malam."

"Aku tahu. Lantas, siapa pelakunya?"

Uskup Agung menatapku dengan sedikit senyum di wajahnya.

Kalau dinilai dari ekspresi wajahnya, tampaknya dia sudah tahu kasus ini.

Mungkin Uskup Agung ingin mendengar kasus itu langsung dari mulutku.

"Kurasa…. Keluarga Latreia yang melakukannya."

Setelah aku menceritakan rincian peristiwa kemarin, Uskup Agung sedikit menyipitkan matanya.

"Jadi, kau meminta bantuanku untuk menemukan ibumu?”

"Benar….."

Uskup Agung membelai janggutnya seolah sedang merenung.

Janggutnya panjang seperti Santa Clause.

Lalu, dia menatapku.

Mulutnya tersenyum samar, tapi tatapan matanya masih polos.

"Kalau begitu, apa untungnya bagiku ...?"

"Yang Mulia?"

Cliff menyela kebingungan saat mendengarkan jawaban kakeknya.

"Dia adalah temanku. Ini bukan tentang fraksi, ini tentang keluarganya. Kurasa, tidaklah bijak jika Anda tawar-menawar dengan Rudeus….”

"Harus ada timbal-balik, Cliff."

Uskup Agung menegur Cliff dengan nada suara lembut.

"Seperti katamu tadi…. ini adalah masalah pribadi Rudeus-sama dengan Keluarga Latreia, harusnya kita tidak ikut campur. Jika Keluarga Grimoire mencampuri urusan mereka, maka Keluarga Latreia tidak akan terima. Tetapi, jika Uskup Agung dilibatkan sebagai perantara, maka mungkin mereka akan bersedia mendengarkan omonganku. Ini adalah masalah antara ibu, putri, dan cucunya. Jika kita memaksakan diri mencampuri urusan mereka, maka Keluarga Latreia akan merasa dirugikan, sehingga Keluarga Grimoire akan berhutang banyak pada mereka.”

Claire jelas-jelas ingin menggunakanku sebagai umpan untuk memancing Keluarga Grimoire terlibat dalam masalah ini. Uskup Agung tahu benar akan hal itu, sehingga dia tidak akan begitu saja memakan umpannya.

"Adakah sesuatu yang Anda inginkan dariku, Yang Mulia?"

"Mari kita lihat…. tentu saja ada banyak hal yang kuinginkan dari seorang yang dijuluki Tangan Kanan Dewa Naga. Julukan itu bukan main-main. Jika aku bisa meminta apapun pada anak buah salah satu makhluk terkuat di dunia ini, maka itu sungguh luar biasa. Malahan, aku merasa kasihan pada Keluarga Latreia yang memusuhi orang sekuat dirimu. Apa mereka mau cari mati?”

"... Aku tidak tahu. Mungkin mereka tidak menyadarinya…."

Tapi Claire selalu saja meremehkanku, padahal dia sudah tahu bahwa aku adalah anak buahnya Orsted.

Dia mengenal Aisha, tapi dia sepenuhnya mengabaikan salam perkenalanku.

"Tuan Latreia adalah orang yang lihai dalam mengumpulkan informasi. Aku yakin dia sudah tahu kedatangan orang sekuat dirimu, dan dia tidak akan meremehkan bawahannya Dewa Naga.”

Tuan Latreia? Maksdunya bukan Claire.

Mungkin dia sedang membicarakan Carlyle, suaminya Claire.

"... Aku belum pernah bertemu dengan kepala Keluarga Latreia. Mungkin saja nenek bertindak atas kemauannya sendiri.”

Mungkin suaminya sudah memperingatkan Claire, tapi dia bebas melakukan segala sesuatu atas kemauannya sendiri.

Aku bukanlah bangsawan kelas atas, dan aku tidak memegang jabatan penting di negara manapun.

Meskipun Claire tahu aku adalah anak buah seorang Dewa Naga, itu tidak akan banyak berpengaruh padanya.

Meskipun Claire tahu aku memiliki koneksi dengan Ariel, dia tidak tahu seberapa dekat hubungan itu.

Mungkin dia berpikir bahwa aku hanyalah orang tidak berguna yang memanfaatkan nama besar orang lain.

Claire melihatku sebagai orang yang tidak pantas disandingkan dengan nama-nama besar itu.

"Claire-dono terkadang terlalu menekankan masalah silsilah ... sehingga, mungkin saja ... "

Uskup Agung berpikir sambil membelai janggutnya, lalu mengangguk.

"Yah, kurasa tidak apa-apa. Ada pepatah yang berbunyi, ’tidak ada resiko….tidak ada hasil’. Jadi, Rudeus-dono ... apa yang bisa kau lakukan untukku?”

Apa yang bisa kulakukan, ya?

Mungkin, pertanyaan ini sama seperti, ’Sejauh mana usahamu?’

Atau, seberapa kuat tekadku….

"…...."

Tiba-tiba aku mengingat apa yang telah kupikirkan kemaren.

Yaitu, rencana gila yang sangat beresiko bagi keselamatan keluarga dan teman-temanku.

Sekarang, coba kita nyatakan rencana gila itu.

"Aku bisa saja menculik Miko-sama."

Begitu mendengar kata-kata itu, Cliff berteriak.

"Menculik!? Apa yang kau maksudkan, Rudeus!?"

"Pada dasarnya, kita akan menawan pemimpin tertinggi fraksi anti-ras iblis.”

"Jangan ngawur!! Jika kau lakukan itu, mungkin kau akan menghancurkan Keluarga Latreia sepenuhnya! Kau ingin menghancurkan keluarga ibumu sendiri??”

Perlahan, aku menoleh pada Cliff.

"Aku sudah bukan lagi bagian dari keluarga itu.”

Cliff terdiam tanpa kata, lalu aku memalingkan wajahku darinya.

Uskup Agung tersenyum melihat kami.

"Tapi…. tentu saja aku membutuhkan ijin Anda untuk melakukan itu, Yang Mulia. Kalau Anda berkenan, aku bahkan bisa membumi hanguskan kota ini, dan membakar habis hutan-hutannya.”

Aku sesumbar.

Namun, Uskup Agung hanya menanggapiku dengan membelai jenggot panjangnya, tanpa berkata sedikit pun.

Mungkin itu terlalu berlebihan baginya.

Mungkin dia berpikir ada yang salah denganku.

Aku tidak keberatan jika kau berhati-hati padaku.

Tapi yang jelas, aku tidak punya motif tersembunyi.

Yang kupikirkan saat ini hanyalah menyelamatkan Zenith.

"Aku menentangnya!!"

Cliff tiba-tiba berteriak.

"Penculikan adalah kejahatan. Tidak peduli seburuk apapun perbuatan mereka padamu, kau tidak boleh membalasnya dengan kejahatan!! Kakek, kami mohon bantuanmu, agar masalah ini dapat diselesaikan dengan lebih damai!!”

"..."

"Rudeus…. kamu juga salah! Kenapa kali ini caramu begitu kotor!?? Seolah-olah kau bukanlah Rudeus yang selama ini kukenal!! Aku bahkan bisa merasakan amarah yang berkobar di dalam jiwamu!!”

Amarah yang berkobar?

Memang itu penyebabnya.

Aku benar-benar muak dengan perlakuan Claire pada kami.

Aku dendam pada Claire Latreia.

Untung saja aku tidak membantai mereka.

Kalau dia tidak merebut Zenith dariku, aku tidak akan semarah ini.

Baru kali ini aku merasakan amarah yang begitu besar. Bahkan saat Eris terluka oleh serangan Kaisar Utara, dan Roxy tersayat pedang Dewa Kematian, aku masih bisa mengendalikan emosiku.

Itu karena Eris dan Roxy bukanlah orang yang lemah. Mereka masih bisa berjuang meskipun lawannya begitu kuat. Andaikan mereka mati di tangan musuh, tentu saja aku akan sedih, namun setidaknya aku masih bisa menghargai semangat juang mereka yang tak kenal takut.

Tapi lain ceritanya dengan Zenith. Dia lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana bisa wanita selemah itu dizolimi dengan begitu kejinya?

Dia bahkan tidak menyatakan apapun saat kuajak ke Milis untuk memenuhi perintah dari surat itu.

Dia disuruh menikahi pria yang tidak dia kenal, lalu melahirkan anak-anaknya.

Andaikan saja Zenith tidak cacat mental, lalu dia datang ke Milis atas kemauannya sendiri, mungkin hatiku tidak akan sesakit ini.

Andaikan dia menentang keras permintaan ibunya, namun gagal, dan harus menikahi pria yang telah dipilih Claire, maka setidaknya aku masih bisa menghargai perjuangannya.

Namun dia cacat mental.

Dia bahkan tidak bisa menolak apapun yang terjadi padanya.

Itulah yang membuatku sangat murka.

Tidak…. ini lebih parah daripada kemurkaan.

Aku juga merasakan kesengsaraan, dan keputusasaan.

Aku pun merasakan emosi yang jauh lebih pahit daripada hanya sekedar kemarahan.

Ya….

Aku ingin Claire juga merasakan emosi itu.

Jika aku benar-benar menculik Miko-sama, maka itu semua salahmu, Claire!!

Aku ingin melihat si tua bangka itu sengsara dan menderita.

Itulah dendam yang begitu ingin kubalas.

…... perbuatanku ini sungguh tercela, ya……

"Rudeus, semuanya belum terlambat. Kau masih bisa bernegosiasi dengan mereka. Kalau perlu, aku ikut denganmu.”

"Cliff-senpai ..."

"Keluarga Latreia menawarkan bantuan untuk mencari ibumu, kan? Tidakkah kau berpikir bahwa masalah ini hanyalah kesalahpahaman belaka? Jika kalian bertukar pikiran dengan kepala dingin, bukankah masalah bisa teratasi dengan damai?”

Saat mendengar perkataan Cliff itu, aku sedikit tersadar.

Namun, emosi kembali menguasai pikiranku.

Bahkan jika kami harus berdiskusi, nenek tua itu tidak akan mau mendengar perkataanku.

Sepertinya aku tidak akan bisa berdamai dengan si tua bangka itu.

Cara berpikir kami terlalu berbeda.

Seolah-olah, kami tidak berbicara bahasa yang sama.

"... Kamu mungkin benar."

Namun, mungkin Cliff benar.

Permasalahannya hanyalah perbedaan cara pandangku dan Claire.

Seperti kata Cliff, jika ada pihak ketiga yang mau menengahi masalah kami, mungkin solusi yang sama menguntungkan bisa didapatkan.

Pihak ketiga itu bukanlah Uskup Agung, karena kedudukannya yang tinggi sebagai pemimpin fraksi pro-ras sihir.

Jika dia kami pilih sebagai penengah, maka pihak Keluarga Latreia pasti akan menuntut banyak hal.

Cliff juga tidak cocok.

Dia memang cucunya Uskup Agung, namun Cliff tidak memiliki jabatan penting di negeri ini. Toh, dia barusan lulus sekolah.

Claire sepertinya tidak akan menghiraukan perkataan Cliff.

Masih ada seseorang yang bisa kami jadikan mediator.

Mungkin Claire mau mendengar perkataan orang ini, dan dia juga tidak banyak menuntut syarat para fraksi pro-ras iblis.

Lebih baik aku berkonsultasi dengan orang itu, daripada Uskup Agung.

"Baiklah…. aku akan coba berkonsultasi dengan Therese-san, Yang Mulia. Aku mohon maaf sebesar-besarnya karena telah merencanakan penculikan yang begitu tercela.”

"Mungkin itulah pilihan terbaik."

Uskup Agung mengatakan itu, sambil tersenyum lembut.

"Di antara para ksatria Ordo Kuil, dia lah yang paling bijak. Aku yakin dia bisa memberikan solusi yang kalian cari.”

Setelah mendengarkan perkataan Uskup Agung, aku menundukkan kepalaku, dan Cliff menghela napas lega.

Bagian 2[edit]

Besok aku akan mulai berbicara dengan Therese.

Namun, ada sedikit masalah.

Dia adalah pemimpin ksatria pengawal Miko.

Dia adalah kapten Ordo Perisai Ksatria Kuil.

Biasanya dia bersama Miko, agar bisa terus menjaganya.

Ordo Ksatria Kuil selalu mendampingi kemanapun si putri tembem itu pergi.

Seperti halnya Uskup Agung, Miko selalu disibukkan dengan berbagai urusan keagamaan.

Sepertinya dia sering keluar Pusat Gereja Milis dulu, namun tidak lagi belakangan ini karena kerap terjadi upaya pembunuhan. Jadi, dia jarang keluar gereja, kecuali jika ada urusan penting.

Beberapa orang yang tinggal di Pusat Gereja Milis bersama Miko adalah para Ksatria Kuil, pengguna sihir penyucian dan penghalang, serta sekitar 10 pengawal pribadi.

Dia dijaga ketat.

Aku sulit menemui Therese karena dia selalu bersama Miko.

Surat tidak akan sampai padanya, dan dia tidak akan keluar gereja meskipun kami memanggilnya.

Mungkin aku harus menggunakan kewenangan Uskup Agung untuk menemui Therese.

Tapi, tentu saja ada cara lain.

Menurut informasi dari Uskup Agung, dia tidak terus mendampingi Miko sepanjang tahun.

Setiap beberapa hari sekali, dia diijinkan keluar sebentar sampai taman Pusat Gereja Milis.

Itulah yang terjadi tempo hari. Dengan kata lain, dia menemani Miko menikmati waktu luangnya di taman.

Di saat senggang, biasanya Miko pergi ke taman bersama orang-orang kepercayaannya, untuk melihat-lihat pepohonan dan bunga. Biasanya juga mereka saling mengobrol dan menyapa orang-orang di sekitarnya.

Bagi Miko yang hidupnya terus dibatasi, itu adalah saat-saat yang selalu dia tunggu.

Saat itulah aku akan menuju ke taman untuk menemui Therese.

Jika aku menunggu mereka keluar, gerak-gerikku malah akan dicurigai.

Lagipula, Miko adalah orang penting.

Tapi, tentu saja Ksatria Ordo Kuil akan terus mengamatiku.

Agar tidak mengundang kecurigaan, aku berjalan-jalan mengelilingi taman setiap hari.

Seolah-olah, aku bertugas sebagai pengawal Cliff yang mengantarnya pergi ke kantor setiap hari, dan menghabiskan waktu senggang di taman.

Bahkan, aku membawa kanvas, dan mulai menggambar pemandangan sebagai pelukis dadakan.

Dengan alasan tidak bisa menyelesaikan lukisan setiap hari, aku diperbolehkan mengunjungi taman itu lagi dan lagi.

Pada saat yang sama, Aisha dan Gisu juga bergerak.

Dengan begitu cepat, Aisha terus mencari Zenith di setiap distrik.

Sedangkan Gisu menyewa orang untuk mengamati Kediaman Keluarga Latreia.

Tentu saja, belum ada hasilnya.

Akhirnya, suatu hari aku bertemu dengan Miko saat dia sedang menghabiskan waktu luangnya.

"Ah, Rudeus-sama! Akhirnya ketemu juga!"

Ketika Miko melihatku, dia langsung berlari ke arahku.

"Kau telah berjanji padaku! Tolong ceritakan tentang Eris.”

Seperti keinginannya, aku menceritakan kisah Eris padanya.

Banyak hal menarik yang dialami Eris saat kami bertualang. Aku menceritakan itu semua, dan Miko pun mendengarnya dengan senang.

Para pengawalnya masih mewaspadaiku.

Itulah pekerjaan mereka, yaitu menjauhkan Miko dari orang-orang yang tampak mencurigakan.

Tentu saja, sebenarnya aku bukanlah orang yang mencurigakan.

Mereka sudah mengenalku sebagai temannya Cliff, bahkan Therese mengakuiku sebagai keponakannya.

Setelah bercerita pada Miko, akhirnya aku punya kesempatan berkonsultasi dengan Therese.

Sepertinya dia juga sudah tahu insiden diculiknya Zenith.

Kemudian, dia memberikan banyak saran padaku.

"Aku tidak percaya ibu melakukan hal seperti itu ... oh iya, tak lama lagi aku akan mendapatkan hari lubur. Nanti aku akan berbicara pada ibu. Jangan khawatir, Zenith tidak akan menikahi pria yang tidak dikenalnya.”

Therese mengatakan itu sambil menepuk dadanya, yang ukurannya sebesar Zenith.

Dia memang bisa diandalkan.

"Namun, dulu ibu sangat menentangku bergabung dengan Ordo Ksatria Kuil, jadi aku tidak yakin dia mau mendengarkan perkataanku.”

"... lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Yahh…aku akan berbicara pada ayah atau kakak, masih banyak orang yang bisa membantu kita, jadi jangan khawatir.”

Terimakasih banyak.

Bagian 3[edit]

Beberapa hari berlalu.

Zenith masih belum ditemukan.

Menurut Gisu, tak seorang pun pelayan tampak mencurigakan di Kediaman Keluarga Latreia.

Mereka juga tidak berhubungan dengan orang luar.

Tentu saja tidak ada tanda-tanda keberadaan Zenith di sekitar rumah itu.

Oleh karena itu, Gisu mulai menduga bahwa Zenith dikurung di dalam rumah, dan tidak diperbolehkan keluar sedikit pun.

Kantor untuk cabang baru PT. Rudo telah dipilih.

Kami membeli bekar kedai di Distrik Niaga.

Saat ini Aisha sedang sibuk menyiapkan makanan dan pakaian untuk para prajurit baru.

Aku sudah menyiapkan alat komunikasi sihir dan lingkaran sihir teleportasi di ruangan bawah tanah kantor itu.

Lingkaran sihir yang kami pakai adalah tipe yang menggunakan kristal sihir. Karena aku membawanya dalam bentuk gulungan, maka hanya bisa diapakai sekali.

Yah, mungkin aku tidak akan menggunakannya.

Dengan menggunakan alat komunikasi sihir, aku berkonsultasi dengan Orsted dari jarak jauh.

Aku memberitahu Orsted tentang keadaan di sini, serta beberapa dugaanku akan campur tangan bidak-bidaknya Hitogami.

Aku juga melapor tentang seorang Miko yang memiliki kemampun bisa membaca pikiran orang lain.

Aku belum mengetahui namanya, dan orang-orang hanya memanggilnya dengan sebutan Miko-sama.

Setelah kucaritahu, ternyata dia memang tidak punya nama.

Ketika Miko itu diadopsi oleh gereja, nama aslinya dibuang.

Sejak saat itu, dia dianggap sebagai orang penting, dan sering dimanfaatkan untuk kepentingan gereja.

Miko itu bisa membaca pikiran orang lain.

Dengan menatap mata seseorang, dia bisa membaca pikirannya.

Tugas utamanya adalah menginterogasi seseorang.

Saat terjadi kasus di pengadilan, dia selalu dipanggil untuk mengungkap kebenaran dari sang pelaku kriminal.

Dia bisa mengungkap kejahatan siapapun, bahkan para Uskup dan bangsawan terhormat.

Dia adalah pendeteksi kebohongan terbaik di negeri ini, dan raja pun mengakui kehebatannya.

Namun dia membela Fraksi Kardinal, yang beroposisi dengan Uskup Agung.

Hmmm…. bisa membaca pikiran ya…..

Jika gadis itu bisa memanipulasi pikiran seseorang……

Mungkinkah dia bisa menyembuhkan Zenith yang menderita cacat mental?

Menurut Orsted, kekuatan gadis itu hanya sebatas melihat pikiran seseorang, bukannya mengaturnya, sehingga itu mustahil…. tapi….

Jika aku mendapat kesempatan, aku akan memintanya menganalisis pikiran Zenith.

Bagaimanapun juga, aku belum berkomunikasi dengannya semenjak kematian Paul. Tidak… lebih lama lagi… terakhir kali kami berbicara adalah sebelum Paul menitipkanku pada Keluarga Boreas.

Namun, sepertinya kekuatan Miko hanya bisa digunakan oleh orang gereja.

Atau lebih tepatnya, Fraksi Kardinal lah yang memiliki kekuatan itu sepenuhnya. Jadi, aku membutuhkan ijin untuk menggunakannya.

Tanpa ijin Fraksi Kardinal, tak seorang pun bisa menggunakan kekuatan Miko, bahkan tidak untuk Uskup Agung maupun keluarga kerajaan Milis.

Aku memang cukup dekat dengan gadis tembem itu, namun bukan berarti aku bisa membawanya ke Kediaman Keluarga Latreia, untuk membongkar semua kebusukan Claire.

Oh iya, tampaknya Miko dengan kekuatan menarik ini…. tampaknya tidak ditakdirkan memiliki umur panjang.

Orsted sudah berkali-kali melihat gadis itu di perulangan kehidupan sebelumnya. Tak peduli berapa kali pun diulang, gadis itu akan meninggal pada umur 10-an tahun, dan paling tua 30 tahun.

Dengan umur sesingkat itu, menurut Orsted hampir mustahil Miko menjadi bidaknya Hitogami.

Sekarang, mengenai Keluarga Latreia.

Saat ini, terhitung sudah 4 orang mencapai umur dewasa [9] di Keluarga Latreia, tidak termasuk Zenith.

Mereka adalah…..

Kepala keluarga saat ini, Count Carlyle Latreia.

Istrinya, Claire Latreia.

Putra tertua, Ksatria Kuil Edgar Latreia.

Putri ketiga, Ksatria Kuil Therese Latreia.

Yang terakhir adalah, putri pertama Anise Latreia, yang sudah menikah dengan Marquis Birnkrant.

Keluarga Marquis Birnkrant bermukim di sebelah barat Milishion, jaraknya mungkin sehari perjalanan dari ibukota.

Jadi, dia tidak tinggal di rumah itu.

Hal yang sama berlaku untuk putra tertua, Edgar.

Sebagai pemimpin pleton Ordo Ksatria Kuil, sepertinya dia telah pindah ke kota yang sama dengan Anise tinggal.

Kepala keluarga, Carlyle, adalah seorang komandan batalion Ordo Ksatria Kuil.

Itu adalah jabatan yang cukup menyita waktu, jadi dia tinggal di mess sembari bekerja, dan hanya kembali ke Kediaman Latreia 10 hari sekali.

Begitupun dengan Therese. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Therese selalu mendampingi Miko di Pusat Gereja Milis.

Dia bahkan tidak pulang ke rumah saat liburan.

Itu artinya, hanya Claire yang tinggal di Kediaman Latreia, dan dia lah yang mengatur semuanya.

Aku juga bertanya kepada Orsted tentang Claire.

Seperti inilah penjelasannya…..

Claire Latreia:

Putri tertua dari keluarga Latreia.

Sejak lahir dia memang sudah keras kepala.

Pendidikan etiket yang ketat membuatnya menjadi orang yang disiplin, baik pada orang lain maupun dirinya sendiri.

Begitu memutuskan sesuatu, dia tidak akan pernah merubahnya, bahkan sampai akhir hayat.

Suaminya, Carlyle, menikahi putri tertua Keluarga Latreia ini.

Dia melahirkan seorang putra dan tiga orang putri.

Sejauh yang Orsted ketahui, dia hanyalah wanita biasa yang bisa kau temui di mana pun.

Dia tidak pernah meraih prestasi yang bisa membuat namanya tertulis di dalam buku sejarah.

Dia menyukai orang-orang yang adil dan benar, dan membenci kejahatan.

Orsted pun menduga bahwa dia bukanlah orang yang tega menculik putrinya sendiri.

Selanjutnya, Orsted memberitahuku rincian perebutan kekuasaan di Gereja Milis.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Gereja Milis terbagi menjadi dua fraksi besar, yaitu Fraksi Uskup Agung dan Fraksi Kardinal.

Gereja Milis terpisah sekitar 300 tahun yang lalu.

Sebelumnya, seluruh pemuka agama di Gereja Milis sepakat untuk menganut suatu ayat di dalam kitab suci mereka, yang berbunyi ’Semua iblis harus dimusnahkan.’, sehingga mereka pun menentang keberadaan ras iblis.

Sampai akhirnya, seorang pendeta menafsirkan ayat lainnya yang berbunyi, ’Rahmat Milis berlaku adil pada setiap ras di dunia ini’, sehingga menyebabkan perbedaan pendapat di kalangan para pemuka agama.

Sejak saat itu, munculah dua fraksi yang membela dan membenci ras iblis. Mereka pun terus berselisih sampai saat ini.

Seperti inilah profil kedua fraksi tersebut saat ini:

Faksi Uskup Agung, yaitu mereka yang mengakui keberadaan ras iblis. Inilah fraksi terbesar saat ini. Fraksi ini dipimpin langsung oleh kakek Cliff, yang tidak lain adalah Uskup Agung. Sebagian besar masyarakat umum di Kerajaan Suci Milis dan Ordo Penasehat adalah bagian dari fraksi ini.

Faksi Kardinal, yaitu mereka yang menentang keberadaan ras iblis. Inilah fraksi yang dipimpin oleh Gadis Kuil, yang tidak lain adalah Miko-sama. Keluarga Latreia, Ordo Bangsawan, dan Ordo Kuil adalah bagian dari mereka.

Sedangkan, Ordo Kerajaan dan sebagian pendeta berada di pihak netral.

Fraksi anti-ras iblis berhasil mendominasi sampai 50 tahun yang lalu, sehingga menyebabkan ras-ras non-manusia di Milishion berada dalam tekanan sosial, dan terjadi banyak keributan di Hutan Agung.

Namun, setelah ras menusia berhasil mengakhiri konflik dengan ras hewan, maka mencuatlah fraksi pro-ras iblis.

Selama 30 tahun berikutnya, faksi pro-ras iblis gantian mendominasi. Sampai akhirnya, lahirlah Miko yang memberikan dukungannya pada fraksi oposisi. Ini menyebabkan Pendeta Agung yang merupakan pengikut fraksi anti-ras iblis naik jabatan menjadi Kardinal [10], dan fraksi tersebut kembali memperkuat pengaruhnya.

Kurang-lebih, begitulah yang terjadi selama ini.

Yang terakhir….. tentang keterlibatan Hitogami.

Menurut Orsted, saat ini tidak ada orang penting di Milis yang berhubungan langsung dengan Hitogami.

Tak peduli sekuat apapun Kerajaan Suci Milis, mereka tidak akan berpihak pada Laplace di kemudian hari.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Milis bukanlah penghalang bagi rencana kami.

Hitogami dan Orsted tidak peduli fraksi manapun yang memenangkan persaingan politik ini.

Tapi tentu saja, aku menginginkan Cliff memperoleh kedudukan sebagai Uskup Agung.

Mungkin saja ada campur tangan Hitogami untuk mencegahnya.

Namun, perkembangan terakhir ini agak aneh.

Andaikan Claire benar-benar tidak mencuri Zenith, maka pastinya ada pihak ketiga yang menginginkan Zenith, dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan persaingan kedua fraksi.

Bahkan, Hitogami mungkin tidak terlibat dalam insiden ini.

"Jika ada orang yang kau curigai sebagai bidaknya Hitogami, maka bunuh saja dia.”

Itulah yang dianjurkan Orsted.

Aku pun mulai berpikir bahwa aku harus melakukannya.

Hanya itu informasi yang kudapat dari si bos.

Harusnya aku mendengar informasi ini lebih awal.

Yahh… toh, aku tidak menyangka akan terjadi masalah serumit ini. Awalnya, kupikir kami hanya perlu berkunjung sesaat ke rumah Claire, saling menyapa dan melepas kangen, lalu pulang.

Untuk proyek di Kerajaan Raja Naga selanjutnya, aku akan lebih berhati-hati untuk menyiapkan persiapan yang matang.

Bagian 4[edit]

Beberapa hari lagi telah berlalu.

Therese datang membawa kabar baik.

"Ibu mengaku telah mengurung Zenith."

"Ooooh!"

Therese memutuskan untuk menemui Claire pada hari liburnya yang berharga.

Melalui percakapan yang panjang, akhirnya Claire mengaku secara tidak langsung, bahwa dia telah menyuruh anak buahnya mengambil Zenith dari Gisu.

Jadi, dia pasti sedang mengurung Zenith di suatu tempat.

"Namun, seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pengakuan ibu sedikit aneh ... sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kupikir, dia tidak serius ingin menikahkan Zenith, tapi….”

"Begitu ya ... jadi, di mana dia mengurung ibuku?"

"Maaf, aku gagal memaksanya menyebutkan tempatnya."

Ekspresi Therese menjadi suram.

Dia sudah berusaha mengungkap dimanakah mereka menyekap Zenith, namun gagal.

Setelah itu, dia mencoba membujuk Claire untuk mengembalikan Zenith kepadaku.

Diskusi mereka terus berlanjut, lalu Claire mengatakan hal seperti, ’Kurasa, tidak mudah menemukan pria yang mau menikahi seorang janda yang cacat mental.’

Kemudian Therese sedikit memujiku dengan mengatakan, ’Mungin ibu tidak berhubungan baik dengan Rudeus, tapi dia bisa meminta Uskup Agung melakukan sesuatu jika dia mau, jadi lebih baik ibu jangan terlalu meremahkan pria itu. Aku yakin pria seperti Rudeus bisa menjaga Zenith sampai akhir hayat nanti.’

Namun, Claire memberikan jawaban yang tidak berarti dan menghindari topik pembicaraan itu.

"Akhirnya, dia mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyakan kapan aku menikah….. Maaf, ketika membahas tentang pernikahanku, ujung-ujungnya kami selalu bertengkar….”

"..."

Gisu mengatakan bahwa setelah penculikan itu, tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari pihak Keluarga Latreia.

Seolah-olah Claire sedang menyembunyikan suatu rahasia besar.

Orsted pun bilang bahwa nenek itu bukanlah tipe orang yang mau berbuat kotor dengan menculik anaknya sendiri.

Mungkin ada sesuatu yang terjadi.

... Tapi…. apapun masalah yang sedang dia hadapi, aku tidak punya hak untuk ikut campur. Aku sudah memutuskan hubungan dengannya, dan yang kuinginkan sekarang hanyalah kembalinya Zenith.

Lagipula, dia juga tidak memperdulikanku.

Dia selalu memandang rendah diriku.

"Yahh, setidaknya… sampai sekarang pun kita tahu bahwa ibu tidak bisa menemukan calon suami yang cocok untukku. Jadi, belum tentu dia bisa menemukan pria yang tepat untuk Zenith.”

"Hah? Ah, itu benar juga. Sepertinya itu masalahnya."

Aku tidak paham lelaki macam apa yang diinginkan Claire, tapi pendapat Therese logis juga.

"Sudah kubilang, ibu bukanlah orang jahat, dia hanya keras kepala. Selanjutnya, aku akan minta pendapat ayah. Aku juga akan meminta saudara laki-laki dan perempuanku pulang dari luar kota. Meskipun keras kepala, ibu sering mendengar pendapat laki-laki. Jika ayah dan saudara laki-lakiku berbicara padanya, mungkin ibu akan mendengarkannya.”

"Terimakasih atas semua informasi dan kerja kerasmu, Therese-san."

"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Lagipula, ibu yang salah."

Therese menangani semuanya dengan baik.

Sampai-sampai, aku penasaran mengapa dia begitu baik padaku.

Padahal, kami jarang bertemu ...

"Therese! Apakah kalian sudah selesai ngobrolnya?”

Ketika pembicaraan terhenti, Miko itu datang.

"Ya, Miko-sama! Aku mohon maaf sedalam-dalamnya karena telah menggunakan waktu tugasku untuk kepentingan pribadi!”

"Tidak apa-apa. Bagaimanapun juga, dia adalah suaminya Eris-sama. Budi baik harus dibalas. Begitulah ajaran Milis-sama.”

Aku mengerti, Therese mau membantuku, sebagiannya karena pengaruh Eris.

Sepertinya, baru kali ini aku melihat orang yang benar-benar berterimakasih pada Eris.

Baiklah, kalau anak kami sudah cukup besar nanti, aku akan kembali lagi ke sini untuk berkunjung.

"Miko-sama, waktunya sudah habis."

"Mari kembali ke ruangan Anda."

"Rudeus-dono, terimakasih."

Belakangan ini, para pengikut Miko semakin sopan padaku.

Awalnya, mereka membenciku mungkin karena aku berteman dengan cucunya Uskup Agung. Namun belakangan ini aku tidak lagi melihat kebencian itu.

Mereka tetap mewaspadaiku, namun tidak lagi mengancamku seperti yang mereka lakukan tempo hari. Itu mungkin karena mereka tahu bahwa aku tidak berhubungan langsung dalam persaingan politik, bahkan aku cenderung berada di pihak netral.

Atau….. mungkin juga karena aku ramah pada Miko.

Aku tidak pernah melukai Miko, selalu bersikap sopan padanya, dan sering menghiburnya dengan cerita-cerita konyolku bersama Eris.

Setiap kali bersamaku, Miko selalu terlihat ceria.

Saat Miko kembali ke ruangannya, tampaknya dia sangat menantikan bertemu lagi denganku esok hari.

Itu semua hasil dari kerja kerasku mendekati Miko.

Lagipula, Therese yang merupakan komandan mereka, selalu bersikap baik padaku. Hubungan kami sebagai keluarga sangat terlihat.

Kalau komandannya saja ramah padaku, maka mereka tidak punya alasan untuk membenciku.

Jujur, sebenarnya aku ingin mereka lebih waspada.

Karena dengan begini….. keamanan Miko bisa terancam. Jika aku benar-benar ingin menculik Miko, maka itu akan semudah mengambil lolipop dari mulut anak kecil.

Namun, aku takut usaha Therese berakhir dengan sia-sia…. Buktinya, sampai sekarang pun kami belum bisa menemukan Zenith.

Kalau sudah tidak ada pilihan lain, maka aku terpaksa menggunakan cara kasar.

Aku akan melakukan apapun untuk merebut kembali Zenith, entah itu menculik Miko, atau menyerbu Kediaman Latreia.

Prioritas utamaku adalah Zenith.

Jika aku tidak sanggup menyelamatkannya, maka aku akan kehilangan wajah di depan makam Paul, dan Lilia yang sedang merawat Sylphy.

Oleh karena itu, aku menghindari kontak mata secara langsung dengan Miko.

Gawat kalau dia sampai tahu rencanaku yang tersembunyi ini.

Namun, kalaupun Miko menatap mataku, kurasa dia tidak akan bisa menyimpulkannya. Karena niat burukku ini masih 50 : 50.

Tapi, aku tidak boleh mengambil resiko.

Aku harus tetap menghindari kontak mata langsung dengannya.

Kurasa, para pengawal itu tidak menyadari bahwa aku sengaja menghindari kontak mata dengan putrinya.

Toh aku tidak sendirian, di Pusat Gereja ini pasti banyak orang lain yang juga menghindari kontak mata secara langsung dengan sang Miko.

Tak seorang pun ingin pikirannya dibaca, sehingga rahasianya terungkap.

Wajar saja bila ada orang yang mengalihkan tatapannya dari mata Miko.

Oleh karena itu, menculiknya bukanlah hal yang mustahil.

Yang perlu kulakukan hanyalah menempatkan gulungan lingkaran sihir teleportasi di bawah kursinya. Lalu, aktifkan lingkaran sihirnya dengan Mana, maka dia pun akan berpindah ke tempat yang kami inginkan.

Saat Miko lenyap, aku akan pura-pura panik bersama para pengawal lainnya, sehingga mereka tidak mencurigaiku. Toh, sihir teleportasi adalah hal tabu di dunia ini, jadi mereka tidak akan tahu trik yang kugunakan itu.

Tinta pada gulungan sihir itu akan hilang, dan menyisakan selembar kertas biasa.

Jika semuanya berjalan dengan lancar, maka tak akan ada seorang pun yang tahu bahwa akulah pelakunya.

Lingkaran sihir itu akan langsung terhubung dengan titik relay di bawah kantor cabang PT. Rudo yang baru.

Di sana cukup banyak tersedia makanan dan pakaian untuk memfasilitasi Miko.

Kami akan bernegosiasi, dan Aisha mengawasinya.

Namun…. sebisa mungkin aku ingin menghindari rencana ini.

Karena, jika aku melakukan itu, mungkin Therese tidak akan memaafkanku. Dia lah yang bertanggung jawab menjaga Miko, jadi dia akan berada dalam masalah jika Miko hilang.

Padahal dia selalu membantuku.

Dia juga tidak setuju dengan tindakan ibunya sendiri, Claire.

Dia bahkan meminta ayah dan saudaranya datang dari luar kota, untuk ikut membujuk Claire.

Tapi, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Count Carlyle terhadap permasalahan ini.

Yang jelas, Therese berada di pihak kami.

Aku tidak ingin membalas budi baiknya dengan melakukan kejahatan pada Miko.

"Therese-san. Jika ada kesempatan, mohon kenalkan aku pada Count Carlyle, bibi, dan paman. Aku ingin memperkenalkan diriku pada mereka, dan meminta bantuan secara langsung.”

"Tentu."

Namun, meskipun sudah meminta bantuan mereka…. aku tetap akan bergerak sendiri.

Meskipun harus berbuat kotor, aku akan tetap menjaga janjiku pada Paul dan Lilia, untuk terus melindungi Zenith.

Tapi, jika aku harus melawan Therese, aku akan berbicara terlebih dahulu padanya. Aku akan menyatakan bahwa hubungan keluarga kami berakhir.

Jika aku terpaksa harus menculik Miko, aku tidak akan menggunakan cara licik seperti tadi. Aku akan menerobos masuk ruangannya, mengalahkan para pengawalnya, lalu menculik sang putri.

Itu sungguh beresiko, tapi itulah cara jantan untuk melawan Therese.

"Padahal Zenith sudah melahirkan putra yang hebat sepertimu, kenapa ibu masih saja ingin punya cucu lagi…. bukankah sebaiknya dia mencarikan jodoh untukku?..... huffff….”

Sembari menggerutukan itu, Therese pergi meninggalkanku, dan aku pun membungkuk padanya.

Aku tidak sehebat itu, Therese-san.

Bagian 5[edit]

Beberapa hari lagi telah berlalu.

Mungkin sudah 14 atau 15 hari berlalu semenjak aku tiba di kota ini.

Ada informasi baru dari Aisha dan Gisu yang terus mencari keberadaan Zenith.

Kemarin, terlihat seseorang dari toko pakaian yang bolak-balik ke Kediaman Keluarga Latreia.

Setelah Aisha cari tahu, ternyata orang itu diminta mengukur pakaian pengantin untuk wanita dari Keluarga Latreia.

Saat si penjahit diminta menggambarkannya, dia bilang wanita itu sudah cukup berumur dan tatapannya kosong. Itu pasti Zenith.

Ditambah lagi, Keluarga Latreia meminta pengawalnya untuk menghubungi pihak gereja secara rahasia.

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa mereka akan segera mengadakan pernikahan.

Jadi, kami hampir kehabisan waktu.

Namun, jangan terlalu gegabah menyimpulkan keadaan.

Saat ini, putra tertua dan putri tertua Keluarga Latreia sedang menuju Milishion untuk memenuhi panggilan Therese.

Mereka sempat mengirimkan surat pada Therese, yang berbunyi, ’Tidak peduli apapun yang terjadi, ibu tidak sepatutnya menikahkan seorang wanita yang bahkan tidak bisa berbicara. Itu adalah hal yang konyol’

Tampaknya mereka berada di pihak kami.

Namun aku masih belum mendengar kabar Count Carlyle.

Sebagai komandan batalion, aku yakin dia sangat sibuk.

Tapi menurut Therse, “Ayah tidak akan menyetujui keputusan ibu.” Jadi, anggap saja dia berada di pihak kami.

Aku tidak tahu apakah dia akan menentang tindakan Claire, tapi aku ingin sekali bertemu dengannya.

Jika seluruh keluarga sudah berpihak pada kami, maka Claire tidak bisa berbuat apa-apa.

Meskipun dia lah yang sekarang berkuasa di rumah itu, tapi dia bukanlah kepala keluarga.

Hanya tinggal tunggu waktu sampai Claire menyesali perbuatannya.

Kau bisa menyebutnya, “skakmat”.

Kalau bukan karena jasa Therese, keadaan tidak akan berubah. Entah bagaimana lagi aku harus berterimakasih padanya.

Kalaupun Claire tetap menentang keputusan keluarga, yahh…. setidaknya, aku sudah tahu dimana posisi Zenith sekarang. Kalau mau main kasar….. ayo aja!

Saat inipun, kami bisa menyusup ke dalam rumah itu, lalu mencari di ruang manakah Zenith ditahan.

Tapi, lebih baik kita mengikuti alur. Kita tunggu sampai seluruh Keluarga Latreia berkumpul, kemudian mereka akan bersama-sama menentang keputusan Claire.

Sebisa mungkin, jangan gunakan cara kasar, karena itu akan semakin memperburuk hubunganku dengan Keluarga Latreia.

Baiklah…...

Ini adalah masalah pribadiku dengan Claire.

Kita bisa menyelesaikan ini tanpa campur tangan Cliff ataupun Uskup Agung.

Memang tidak mudah, tapi setidaknya aku sudah boleh berpikir optimis.

Ya.

Untung aku tidak mengamuk di sana.

Jika kita berpikir dengan tenang, kita bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik.

Tidak perlu menculik Miko.

Saat itu, pikiranku sedang kacau.

Jika kau ingin mendapatkan hasil yang instan, mungkin kau akan melakukan kesalahan.

Kita harus menyelesaikan semuanya satu per satu.

Dengan begitu, kau bisa menyudutkan musuhmu sampai tidak bisa berbuat apa-apa.

Meskipun dendamku padanya tidak terbalaskan, namun setidaknya rencana Claire gagal.

"..."

Sambil memikirkan hal-hal seperti itu, aku menuju ke halaman Pusat Gereja.

Setelah sekitar 2 minggu berlalu, seluruh bunga pohon Saraku telah berguguran.

Namun, aku masih bisa membayangkan indahnya bunga Saraku yang bermekaran.

Kemaren, aku sering duduk di sini sembari melukis pohon Saraku. Namun, sebenarnya lukisan itu sungguh payah.

Begitupun dengan para Otaku itu, mereka juga payah. Awalnya mereka selalu mengolok-olok diriku.

Namun, ketika aku menyarankan Miko mengenakan gaun putih one-piece, mereka pun memujinya.

Semudah itukah aku merubah perasaan mereka?

Miko juga mengatakan bahwa dia ingin melihat lukisanku saat sudah selesai nanti.

Kalau kau memang menginginkan lukisan itu, aku bisa membuatnya sebanyak yang kau mau.

Jangan hanya lukisan….. sebenarnya aku juga ingin menunjukkan sebuah figure padamu.

Tapi, figure itu adalah ras iblis.

Agaknya sulit menunjukkan figure Ruijerd pada pemimpin fraksi anti-ras iblis. Namun, jika aku berhasil membujuknya, lalu dia mengijinkanku untuk memasarkan figure itu, pasti akan laku keras.

Atau mungkin….. awalnya aku tidak perlu menunjukkan patung ras iblis.

Pamerkan saja patung lainnya. Jika dia menyukainya, dan memberikan ijin pemasaran, maka aku akan menyelipkan figure Ruijerd di antara patung-patung itu.

Tidak, itu juga mustahil.

Sepertinya Miko tidak punya kewenangan sebesar itu.

"...Hah?"

Tiba-tiba, aku merasakan ada yang aneh di dekat pintu masuk.

Aku bisa merasakan kehadiran seseorang di sana.

"... Apakah mereka sudah tiba?"

Biasanya, setelah aku memasuki taman, beberapa orang penjaga akan berpatroli, kemudian Miko pun datang.

Harusnya aku dulu yang tiba di sini….. apakah hari ini mereka berpatroli lebih awal?

Atau mungkin dia bukan para penjaga?

Aku terus melangkahkan kakiku menuju taman.

Bunga-bunga di pohon Saraku telah sepenuhnya gugur.

Aku pun meletakkan kanvas dan peyangganya.

Aku masih bisa melihat wujud orang itu, tapi aku merasakan kehadirannya.

Ataukah itu hanya imajinasiku saja?

Indraku tidaklah setajam Ruijerd, jadi mungkin saja aku salah.

"Hm?"

Saat melihat ke bawah, kudapati ada jejak kaki.

Sepasang jejak kaki.

Jadi….. memang ada orang di sini.

Jejak kaki itu mengarah ke balik pohon Saraku.

Tampaknya ada orang yang bersembunyi di balik pohon ini.

"... Therese-san?"

Kutebak itu Therese-san.

Untuk jaga-jaga, kuaktifkan mata iblisku.

Tak ada jawaban.

Ada yang salah.

"Siapa itu!?"

Sembari berteriak lebih lantang, aku mengalirkan Mana pada Magic Armor Versi II.

Aku siap bertarung.

Dengan kewaspadaan penuh, aku mendekati pohon itu.

Kalau kau tidak mau menunjukkan dirimu…. maka biar aku yang mengungkapnya.

Sambil menjaga jarak, aku akan menyerang dengan sihir begitu mendekatinya.

Agar pohon Saraku kesukaan Miko ini tidak rusak, maka aku harus menggunakan sihir angin.

Yang lebih dahulu menyerang, dia lah yang menang.

"Hah?"

Mana yang kualirkan ke tangan tiba-tiba menyebar.

Ada yang tidak beres.

Begitu aku memperhatikannya….. semuanya sudah terlambat.

Aku segera melangkah mundur sejauh mungkin, namun punggungku membentur semacam dinding.

Saat kulihat ke belakang, tidak ada dinding apapun di sana.

Tidak….. sebenarnya ada dinding….. namun tidak terlihat.

Inilah dinding transparan yang dibentuk oleh sihir penghalang.

"...!"

Aku segera melihat ke bawah kakiku.

Awalnya aku tidak menyadarinya karena hari ini matahari bersinar cukup terang, tapi ternyata ada lingkaran sihir di sana yang bersinar redup.

"... Sihir penghalang rupanya."

Aku pernah melihat sihir penghalang ini sebelumnya.

Cara kerjanya adalah membatasi pergerakan korbannya dengan dinding yang tidak terlihat.

Kau akan terjebak di dalam suatu area yang terbungkus oleh dinding transparan itu, dan kau tidak bisa menggunakan sihir di dalam area tersebut. Kau tidak bisa mengumpulkan Mana di dalamnya.

"Itu penghalang level Raja, Rudeus-kun."

Sebuah suara terdengar dari balik pohon.

Perlahan-lahan, munculah ksatria wanita berarmor biru dari balik bayang-bayang pohon.

Dia mengenakan helm yang kokoh, namun aku bisa melihat wajahnya yang mirip Zenith.

Bukan hanya dia.

Dari balik pohon-pohon lain dan semak-semak, muncul juga beberapa prajurit berarmor lengkap.

Mereka adalah para Otaku yang selalu mengawal si putri.

Mereka adalah anggota Ordo Ksatria Kuil.

Setidaknya, itulah yang kuyakini…. namun wajah mereka tertutup oleh helm berbentuk aneh, jadi aku tidak bisa memastikannya.

"Maaf, tapi ... kami mendengar kabar bahwa kau berusaha menculik Miko-sama.”

Aku pun kaget.

Para ksatria mengitari penghalang yang sudah menjebakku.

Satu-satunya yang berbicara padaku adalah Therese-san dari depan.

"Oleh karena itu, kami harus mengamankanmu."

Para ksatria yang memakai helm menancapkan pedang dan sarung mereka ke dalam tanah.

Suara aneh bergema di sekelilingku.

Bab 11: Skak Mat[edit]

Bagian 1[edit]

Halo semuanya.

Rudeus Greyrat di sini.

Saat ini, aku telah terkepung oleh delapan orang yang mengenakan armor berwarna biru.

Mereka semua sedang mendekat padaku.

Mungkin, aku punya sedikit waktu untuk mengenalkan mereka pada kalian.

Ksatria no. 1, Therese….. dia tepat berada di depanku.

Latreia Therese.

Ya, kalian pasti sudah mengenalnya.

Dia adalah bibiku, dan merupakan salah satu keluarga Latreia.

Dari semua Ksatria Kuil di fraksi anti-ras iblis, dia lah yang paling ramah padaku.

Dia masih bersimpati padaku meskipun tahu aku berteman dekat dengan ras iblis ...

Ras iblis dan manusia memang tidak jauh berbeda, kan?

Biasanya dia ramah padaku, namun…. apa yang terjadi kali ini?

Wajahnya tertutupi helm, jadi aku tidak bisa melihatnya.

Nah, mari kita lanjut ke kanan, searah perputaran jarum jam.

Dan, di sebelah kanan Therese adalah ...

Seorang pria yang mengenakan helm berbentuk mirip tengkorak.

Armor penutup dadanya terlihat retak.

Aku sering melihat kerusakan armor seperti itu.

Aku tidak tahu namanya, tapi sebut saja si Ksatria Tengkorak.

Di sebelahnya...

Ada pria yang mengenakan helm berbentuk mirip ember. Orang seperti itu banyak terlihat di sudut-sudut Kota Milishion.

Dari 7 orang di sini, hanya dia yang mengenakan jubah merah.

Miko sangat menyukai jubah itu, dan sering mengusap-ngusapkan tangannya untuk membersihkannya.

Namai saja dia, si Ksatria Ember.

Dan di sebelah kanannya lagi ...

Ada seorang pria yang mengenakan helm mirip batu nisan, yang bertuliskan RIP.

Tingginya mungkin lebih dari dua meter.

Aku pernah melihat Miko naik ke pundak pria ini untuk memetik buah-buahan di pohon.

Namai saja dia Ksatria Nisan.

Yang keempat...

Dia memakai helm yang dilengkapi aseksoris mirip sapu bambu.

Sedangkan armornya polos.

Yahh...

Sapu kan buat bersih-bersih….. mengapa kau pasang di kepala, om?

Jadi, namai saja dia Ksatria Sapu.

Kurang tiga lagi….

Jujur saja, mereka tidak terlalu berbeda, jadi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Namun, saat Miko memanggilnya, mereka selalu berbangga diri dengan membusungkan dadanya.

Tunggu dulu, sepertinya aku mengingat kode nama mereka…..

Pokoknya berhubungan dengan benda-benda di kuburan.

Om ini namanya Peti Mati Hitam, yang itu namanya Kain Kavan, dan yang itu……Pemakaman, kurasa?

Ah… lupa aku, pokoknya seperti itu.

Sedangkan nama tim mereka adalah…… duh, apa ya…..

"Saatnya menginterogasi!! Aku, Therese Latreia, komandan Pasukan Penjaga Makam Suci, siap memulai!!”

"Hah!"

Tujuh ksatria di sekitarku menikamkan pedang mereka ke tanah.

Ya…. aku ingat sekarang, nama pasukan ini adalah Penjaga Makam Suci.

Kalau tidak salah Therese pernah mengatakannya padaku.

"Kita akan mulai menanyai si tersangka!! Apakah ada yang keberatan!!?”

"Tidak!"

"Tidak!"

"Keberatan! Eksekusi saja segera!"

"Tidak!"

"Tidak!"

"Tidak!"

"Tidak!"

"Keberatan ditolak!"

Duh… si om ember terlihat tertekan.

Oh iya…. mereka kan suka mendakwa tanpa alasan yang jelas.

... Ah, kalau begitu biar aku.

"Aku!! Rudeus Greyrat keberatan!"

Um ... tunggu sebentar.

Aku tidak paham apa yang sedang terjadi di sini.

Seseorang…. tolong beri aku petunjuk.

Mereka pun mulai menjelaskan.

Beginilah ceritanya……….

Untuk menyelamatkan Zenith, aku hendak berkonsultasi dengan Therese, yang merupakan komandan pasukan penjaga Miko. Biasanya kami bertemu di taman Pusat Gereja, namun hari ini mereka malah menangkapku.

Menurut mereka, aku dicurigai sebagai orang sesat yang berniat mencelakakan Miko.

Itu dia.

Ya… aku tidak menyangkalnya.

Aku memang pernah berniat menculik Miko, setidaknya sekali atau dua kali.

Namun aku urung melakukannya. Sekarang, aku hendak bernegosiasi dengan Therese mengenai upaya pembebasan Zenith.

Dengan kata lain, ini hanyalah salah paham.

Apakah ada orang yang memfitnahku?

Tapi, aku belum memberitahu rencana penculikan itu pada siapapun.

Kecuali…….. Aisha, Gisu, Cliff ... dan Uskup Agung?

Mungkin Uskup Agung lah orang yang menyebarkan kabar itu.

Atau mungkin, Gisu tertangkap, lalu dia mengungkap segalanya karena takut dihukum.

... Atau mungkin Aisha? Apakah dia aman?

"Sekarang saatnya kami menginterogasimu! Rudeus Greyrat sang tersangka utama, kau harus menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur!”

"... baiklah….."

Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Untuk saat ini aku harus tenang dan mendengarkan pertanyaan mereka.

Jika aku bertindak gegabah, maka semua usahaku selama ini akan sia-sia saja.

"Terdakwa Rudeus Greyrat. Apakah kau pernah membagikan buku yang menceritakan bahwa ras iblis bukanlah makhluk yang jahat? Apakah kau ingin mengajak orang lain berteman dengan ras iblis?”

Mereka sepertinya telah menyelidiki aku.

Yah, Uskup Agung juga tahu tentang hal itu.

Apakah mereka punya semacam database?

"Tidak."

"Tolong jawab dengan jujur. Jadi informasi yang kami dapat salah?”

"Aku memang menjual buku tentang ras iblis, namun aku belum mendapatkan ijin menjual buku tersebut di Kerajaan Suci Milis. Kalau di Kerajaan Asura sih…. aku sudah menjual buku itu dengan bebas, dan mendapatkan sejumlah laba darinya.”

"Tidak mungkin kau dapat untung, karena harganya murah sekali."

Yah, memang murah, apalagi di dunia ini buku dianggap sebagai benda berharga.

Tapi aku lebih fokus pada jumlah, daripada keuntungan.

"Kalau begitu, harusnya kalian juga tahu bahwa……….."

"Terdakwa tidak diijinkan membicarakan hal yang tidak ditanyakan.”

Aku hanya ingin kau mendengarkanku sebentar.

Aku menjual buku itu hanya untuk membersihkan nama baik Ruijerd.

Harusnya kau tahu itu, Therese.

Kita sudah membicarakannya dulu.

"Terdakwa Rudeus Greyrat. Apakah kau menyembah ras iblis, layaknya Tuhan?”

"..."

Pertanyaan ini semakin tidak jelas. Tidak ada gunanya aku menjawabnya.

"Tidak, aku bahkan tidak percaya Tuhan.”

"Luar biasa!"

"Terdakwa telah berbohong!"

"Itu bohong!"

"Pembohong!"

"Dia pasti berbohong!"

"Menurutku, terdakwa berbohong!"

"Itu bohong!"

"Menurut suara terbanyak, disimpulkan bahwa dia berbohong!”

Mengerikan…. inikah yang mereka sebut demokratis?

Percuma saja…. interogasi ini hanyalah sandiwara belaka.

Sejak awal aku tidak bisa membela diri.

"Ini pertanyaan terakhir. Terdakwa Rudeus Greyrat. Apakah kau berencana menculik Miko-sama, sang Gadis Kuil?”

"Tidak. Aku memang sudah mengatakan itu pada beberapa orang, tapi aku tidak pernah benar-benar melakukannya.”

Tentu saja aku serius saat mengatakannya, namun kau tidak berhak disalahkan jika belum mengerjakan rencana jahatmu.

"Bohong!"

"Terdakwa telah berbohong!"

"Dia bohong!"

"Dia berbohong!"

"Itu bohong!"

"Menurut penilaianku, terdakwa berbohong!"

"Dia dusta!"

Nah, kan….

Interogasi ini hanyalah lelucon.

Tuduhan mereka benar-benar mutlak, tanpa bisa kusanggah sedikit pun.

Sayangnya, itu tadi adalah pertanyaan terakhir ...

"Suara mayoritas telah menetapkan bahwa terdakwa berbohong."

Therese sudah menyimpulkan, kemudian ketujuh ksatria mulai menyiapkan pedangnya.

Mereka mengerikan.

Kenapa aku tidak menyadari ini selama beberapa hari terakhir? Pasti ada yang kulewatkan.

"Kami memutuskan bahwa Rudeus Greyrat adalah orang sesat yang pantas dihukum. Apakah ada yang keberatan dengan keputusan ini?”

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Aku keberatan! Harusnya kita tidak perlu menginterogasi orang sesat ini! Eksekusi saja langsung!”

"... Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

"Tidak keberatan!"

Si om ember seakan membelaku, namun itu hanyalah lelucon.

"Dengan dosa sebesar itu, maka kami memutuskan terdakwa Rudeus Greyrat harus dihukum seumur hidup!”

"Apa?? Hukuman seumur hidup? Apakah aku akan dipenjara sampai mati?”

Sebenarnya tidak ada gunanya bertanya, tapi aku pun melakukannya.

"Tidak ... bukan seperti itu. Kau tetap dibiarkan hidup, namun tanganmu akan dipotong dan disegel dengan sihir penghalang dan sihir bumi, sehingga kau tidak lagi bisa menggunakan sihir seumur hidupmu.”

Seperti itulah jawabannya.

Wah, tampaknya mereka tidak main-main ....... lantas apa yang harus kulakukan?

Mereka ingin menyegelku.

Tanganku akan dipotong, lalu disegel dengan sihir penghalang dan sihir bumi.

Itu semacam borgol yang akan mengunci segala macam sihirku.

Dengan begitu aku tidak akan bisa lagi menggunakan sihir, ataupun ilmu pedang.

Aku sih tidak masalah…. tapi sayangnya, aku juga tidak bisa meremas Oppai-nya istri-istriku jika tanganku buntung.

Aku harus menggunakan lengan buatan lagi deh…..

Lengan Zariff tidak sama seperti lengan asli. Sensasinya berbeda, dan terasa kurang mantab ketika meremas Oppai.

Harusnya, tangan manusia hangat, lembut, dan nyaman…. tidak seperti lengan buatan yang keras, dingin, dan tidak nyaman.

"Therese-san, apakah kau hobi menyegel orang?”

"... bukankah itu lebih baik daripada membunuh orang?"

Jadi itu ya sifat aslimu….

Apakah dia benar-benar rela melakukan ini?

Tanganku ini adalah tangan pembela kebaikan, lho…. errr, maksudku, aku lebih sering menggunakannya untuk meremas Oppai daripada membunuh orang…. itu bagus, kan?

"Errr, tapi kalau aku memeluk istriku tanpa menggunakan tangan…. kan tidak nyaman…..”

"Ha? Apa ...?"

"Enak lho punya istri…..kalian bisa memeluknya setiap saat.”

"Cuih!"

Therese mendecakkan lidahnya padaku. Kau tidak paham, kan? Makanya, cepetan nikah….

Kau tidak akan menghukumku karena berbuat mesum pada istriku, kan?

"Ah terserah lah…. yang jelas kalian tidak akan membiarkanku lepas, kan?”

"Ya."

“Tentu saja.”

"Investigasi kalian hanya pembenaran.”

"Betul."

"Akan tetapi….. jika kalian bisa mendatangkan Miko-sama ke sini, maka aku bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah.”

"... Tidak perlu. Tujuh ksatria sudah lebih dari cukup untuk mendakwa seorang kafir sepertimu.”

"Jadi, kalian tidak bisa mendatangkan Miko-sama ke sini?”

"Ya."

Aku tidak bisa melihat ekspresi wajah Therese karena tertutup helm.

Tapi sepertinya, aku mendengar suaranya agak sedikit gemetaran.

"Selama ini Therese-san selalu baik padaku. Apakah kau melakukan itu hanya untuk menjebakku?”

"... Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Bahkan Miko-sama juga mempercayaimu. Tapi, kau sendirilah yang merusak hubungan baik kita dengan rencana jahatmu, Rudeus-kun.”

"Percayalah padaku, Therese-san…. aku tidak pernah berniat merusak hubungan baik kita. Aku bisa berteman akrab dengan Miko-sama, yaitu orang yang begitu penting bagi kalian.”

"...."

Dia tidak membalasnya.

Mungkin dia sedang berpikir.

Ha...

Sayang sekali.

Padahal aku berniat menjalin hubungan baik dengan kedua fraksi.

Sebisa mungkin aku berusaha menahan amarahku. Aku ingin menyelesaikan kasus Zenith dengan negosiasi yang damai.

"Therese-san, lalu bagaimana dengan nasib ibuku?"

"... Aku tetap akan membujuk ibu untuk melepaskan Zenith. Namun, itu tidak ada hubungannya dengan kejahatanmu ini.”

Hmmmm.

Kalau dilihat dari jawabannya, sepertinya bukan Therese yang merencanakan ini semua.

"Mungkin aku bukan penganut ajaran Milis yang taat, tapi aku kenal baik dengan Uskup Agung ... kau juga sangat mengenalku kan, Therese-san…. lalu mengapa harus kau lakukan ini….?”

"Apakah kami memberimu kesempatan bertanya?"

Pertanyaanku terputus oleh pertanyaan lainnya yang dingin.

Aku tidak perlu menanyakan itu.

Sejak awal pun, mereka tidak berniat menjawab pertanyaanku.

"Sebelum kalian menghukumku, ijinkan aku mengajukan pertanyaan terakhir. Darimana kalian tahu bahwa aku berniat menculik Miko-sama? Apakah ada dewa yang mewahyukannya lewat mimpi?”

"Tidak, kami mendapatkan informasi itu dari orang yang terpercaya. Kami tidak akan mau mendengar kabar burung yang belum tentu kebenarannya.”

"Atau mungkin…. dewa itu menyebut dirinya Milis?”

Saat aku mengatakan itu, para Otaku di sekitarku mulai bereaksi keras.

"Jangan sembarangan menyebut nama Milis!!!"

"Milis adalah junjungan kami!!!"

"Milis tidak akan menurunkan wahyu pada ksatria rendahan seperti kami!!!”

"Hanya Miko-sama yang layak menerima wahyu seperti itu!!!"

"Tapi, sampai sekarang pun orang seagung Miko-sama tidak pernah menerima wahyu dari Milis!!”

"Milis adalah Tuhan Tertinggi kami!"

"Mereka yang sembarangan menyebut nama Milis adalah iblis!!!”

Kemudian, bersamaan dengan hujatan-hujatan itu, Therese dengan bangga berkata ...

"Ya, mereka benar…… Rudeus-kun, jangan pernah kau meragukan keimanan kami.”

"... aku lega mendengarnya."

Mungkin kefanatikan mereka terlalu berlebihan, tapi setidaknya tidak ada bidak Hitogami di antara mereka.

Sepertinya, mereka semua adalah pengikut ajaran Milis yang taat.

Mendengar perkataan mereka saja, aku sudah tahu.

"...."

Aku mengeluarkan tanganku dari jubah, lalu mengangkatnya ke atas.

Mulai terdengar suara berdengung.

Aku sudah menyiapkan benda khusus di tangan kiriku untuk mengatasi masalah seperti ini.

"Serap…….."

Jika kau tersegel oleh sihir yang bisa menghambat sihir lainnya, maka cara mengatasinya mudah. Serap saja sihir penghalang itu dengan batu sihir.

Seketika, lingkaran sihir di kakiku pun lenyap.

Mata para Ksatria Kuil itu terbelalak saat melihatnya.

"Baiklah, kalau kalian mau berkelahi…. ayo aja…."

Bagian 2[edit]

"Semuanya! Mundur!!"

Atas perintah Therese, mereka pun melompat mundur seketika.

Saat itu juga, aku menembaki mereka dengan peluru batu dari tanganku.

Kecepatan dan kekerasan normal saja.

Mereka tidak akan mati jika terkena serangan normal seperti itu, kecuali jika terkena organ vitalnya.

Tembak.

Kau duluan, Ksatria Ember!

"Tahan!"

"Bantu dia!"

Dua buah peluru batu yang kutembakkan ke arahnya segera dibelokkan oleh rekan-rekannya.

Di tangan mereka ada semacam perisai transparan.

Itu adalah sihir penghalang tingkat dasar, Magic Shield.

... apakah sihir itu benar-benar tingkat dasar? Peluru batu normalku dibelokkan oleh sihir tingkat dasar?

"Debu, Makam, Tengkorak pindah ke sisi kanan! Sampah, Peti Mati, Kain Kavan jaga sisi kiri! Pemakaman dan aku akan bergerak bebas!"

Ternyata…. kode nama si Ksatria Ember adalah “Debu”

Kode nama si Ksatria Nisan adalah “Makam”.

Kode nama si Ksatria Sapu adalah “Sampah”.

Dan si Ksatria Tengkorak…. ya, tengkorak.

Sedangkan tiga sisanya sudah benar.

Kode nama yang aneh…. tapi memang begitulah adanya, karena julukan mereka adalah Pasukan Penjaga Makam Suci, jadi kode namanya berhubungan sama kuburan.

Tiga orang di setiap sisi menembakkan sihir bersamaan.

Itu adalah sihir api, air, dan bumi.

Tiga elemen yang berbeda mereka tembakkan sekligus. Tapi seratus elemen pun tidak masalah bagiku.

"Serap………"

Sembari menyerap sihir mereka, aku menembakkan peluru batu lainnya, tapi lagi-lagi mereka menangkisnya.

Pria yang menggunakan perisai sihir penghalang itu sepertinya ditugaskan khusus untuk bertahan.

"—Dengan rahmatmu, kobaran api redup berubah menjadi pijaran yang menyala terang!! Flamethrower!!"

“….. berikan pedang es agung-Mu, dan tebas musuh-musuh-Mu! Icicle Break!"

Pada saat yang sama, sihir ditembakkan dari sisi lain.

Api dan air.

Ah tidak, orang ketiga baru saja melepaskan sihir lainnya.

Itu adalah sihir bumi, Earth Lance!

"Serap semua!"

Aku menyerap sihir api dan air itu bersamaan.

Lalu aku menggagalkan Earth Lance dengan Quagmire.

Ups, aku terlalu lambat.

Aku tidak melepaskan serangan balasan.

Tapi kakiku masih bisa bergerak bebas.

Aku langsung mundur untuk menghindari sihir yang beterbangan dari sisi lainnya.

Hanya seseorang yang merapalkan mantra. Tampaknya itu adalah sihir api normal, Fire Ball.

Kenapa hanya seorang, kenapa tidak langsung tiga saja?

Aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu.

Aku mengarahkan kedua tanganku ke sisi kiri dan kanan mereka.

"Stone Cannon!"

Setelah aku melangkah mundur lebih jauh, akhirnya aku bisa melihat formasi mereka dengan jelas.

Ada 3 orang di sisi kiri dan kanan.

Di antara mereka, dua orang memegang perisai transparan. Kedua orang inilah yang selalu mementahkan peluru batuku. Sedangkan yang lainnya terus menyerang dengan tembakan sihir dari berbagai elemen.

Perlawanan yang bagus.

Aku sudah meningkatkan dan memperkeras peluru batuku, bahkan aku sudah menggunakan Stone Cannon, tapi mereka masih saja bisa menangkisnya.

Hmmm, sepertinya aku kenal dengan teknik tangkisan itu.

Itu adalah Teknik Dewa Air.

Jadi begitu ya, mereka mengombinasikan Teknik Dewa Air dan perisai sihir penghalang. Pantas saja pertahanan mereka begitu kuat. Luar biasa.

"Wahai roh-roh bumi! Jawab panggilanku, lalu naiklah sampai menembus angkasa! Earth Lance!!"

"Wahai roh-roh air yang agung, aku memohon pada Kaisar Guntur! Turunkan pedang es-Mu yang agung itu, dan tebas mereka!! Icicle Break!!”

Pada saat itu, dua ksatria yang tidak membawa perisai menembakkan sihir.

Dengan mudah aku membuyarkan sihir mereka dengan batu penyerap sihir….. lalu, apa yang harus kulakukan?

Formasi mereka tidak berubah, tiga orang di kiri dan tiga orang di kanan.

Ada seorang di setiap sisi yang membawa perisai transparan, dan siap menangkis seranganku.

Karena aku hanya menembakkan dua peluru sekaligus, maka dua orang itu sudah cukup untuk menghentikan seranganku.

Orang ketiga membalas dengan menembakkan mantra serangan.

Kemudian, orang yang tidak menyerang, meletakkan perisai mereka sesaat.

Saat aku jeda sesaat, mereka terus menembakkan tiga elemen sihir.

Sejauh ini, mereka hanya bisa melepaskan sihir berelemen api, air, dan bumi.

Mungkin mereka belum tahu bahwa aku memiliki batu sihir yang bisa menyerap Mana.

Awalnya mereka hanya bisa menyerangku dari satu sisi, mungkin itu karena jaraknya masih jauh.

Kalau waktunya tepat, mungkin aku bisa menembus inti formasi mereka.

Mungkin aku bisa menyerang saat mereka membaca mantra ...

Harusnya pertahanan mereka bisa ditembus saat para pemegang perisai itu jeda sesaat ...

Kalau aku tidak merusak formasi mereka, aku tidak akan bisa mengalahkannya.

... itu mungkin bukan ide yang bagus.

Tapi…. coba saja….

"Fireball!"

Dengan teriakan keras yang disengaja, aku mulai mengemas Mana untuk mengaktifkan sihir.

Mana-nya cukup besar untuk menghasilkan sihir bola api berdiameter sekitar 2m.

Bola api sebesar itu termasuk sihir kelas lanjut.

Tapi, kecepatannya lebih lambat daripada Stone Cannon.

Dengan lembut, aku melemparkan bola api itu.

Aku bermaksud menghantamkannya pada sisi kiri dan kanan formasi mereka.

"Tahan!"

Seperti biasa, dia ksatria pemegang perisai mulai menyiapkan pertahanan.

Tapi, sihir penghalang juga punya kelemahan.

"Ran Ma!!"

"!?"

Aku mengacaukan sihir penghalang mereka dengan sihir pengganggu, Ran Ma.

Seperti kebanyakan sihir lainnya, sihir penghalang juga mengonsumsi banyak Mana selama masih diaktifkan.

Prinsip itu juga berlaku meskipun kau menggunakan sihir penghalang level dasar.

Selama masih mengumpulkan Mana, aku bisa meniadakannya dengan Ran Ma, meskipun mereka tidak merapalkan mantranya.

Aku melihat ksatria di sisi kiri sedang menurunkan perisainya, sedangkan di sisi kanan masih siaga.

Tapi, jika salah satu sisi saja tidak terlindungi, maka rusaklah formasi mereka.

"...!"

Pada saat aku masih berpikir, tiba-tiba sesuatu terbang dari belakang.

Aku pun menoleh ke belakang, sembari menyiapkan lenganku untuk bertahan.

Setelah terdengar suara, *kraaaak*, benda itu pecah berkeping-keping.

Itu adalah batu kecil berwarna coklat.

Setelah menahan batu itu, sikuku terasa sedikit sakit.

Itu adalah sihir peluru batu seperti yang selalu kugunakan.

Baru kali ini aku menghadapi lawan yang sama-sama bisa menggunakan peluru batu.

"Ternyata Rudeus bisa menggunakan sihir dengan kedua tangannya! Dua orang harus bertahan, jika salah satunya jeda, maka yang lain harus melindunginya! Jangan melakukan kesalahan sedikit pun!”

Therese dan dua ksatria lainnya langsung menyusup di belakangku.

Sekarang, aku juga harus bertahan dari serangan belakang.

"...."

Entah sejak kapan, tiba-tiba aku terkepung.

Sepertinya aku barusan membuat kesalahan besar.

Aku belum tahu bagaimana kemampuan serangan jarak dekat mereka.

Ksatria yang barusan terkena bola apiku tampaknya masih sehat, hanya armor-nya saja yang mengepulkan asap putih.

"Rudeus-kun. Kami adalah pasukan Ksatria Kuil terbaik. Kau tidak akan menang melawan kami.”

"Sungguh?"

"Dalam sepuluh hari terakhir kami sudah mempelajari cara bertarungmu. Karena kau cukup terkenal, maka kami bisa mendapatkan informasi tentangmu dengan mudah, jadi kami sudah menyiapkan strategi untuk menghadapimu.”

Fumu.

Lalu, mengapa kau tidak juga menghunuskan pedangmu?

Aku kan hanya bisa menggunakan sihir.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin mereka tidak bisa menghindari sihirku dari jarak dekat.

Tapi, bukan berarti aku sudah kehabisan trik.

Mungkin mereka masih ragu, atau bahkan kelelahan.

Sekarang aku sama sekali tidak bisa kabur, sepertinya strategi mereka cukup efektif.

Sejauh ini tak satu pun serangan mereka bisa mengenaiku, jadi aku masih berada di atas angin.

Aku jadi penasaran….. strategi macam apa yang telah mereka siapkan untuk melawanku. Kalau trik kalian hanya sihir penghalang itu, maka percuma saja.

"Rudeus-kun, menyerah lah! Kau boleh saja menghancurkan sihir penghalang kelas Raja kami, tapi kau tidak akan bisa menghindar dari kekalahanmu!”

"Hooo…. Benarkah?”

"Kami juga sudah memasang penghalang pada pintu taman! Tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu sekarang! Kalau mau selamat, maka menyerahlah!”

Apakah kau yakin…?

Kalau memang begitu, berarti kalian benar-benar merencanakan penangkapan ini dengan sangat matang.

Aku tidak akan bisa menang kalau tidak serius.

Aku harus mencoba berbagai cara untuk merusak strategi mereka.

Tapi….. jika aku kalah… maka habislah semuanya.

"...Quagmire."

Sekarang bukan lagi saatnya main-main.

Bagian 3[edit]

--- Sudut Pandang Therese ---

Saat Rudeus menggumamkan sesuatu, tiba-tiba muncul rawa berlumpur di bawah kakiku.

Kami juga sudah mendengar tentang sihir ini.

Inilah sihir yang juga menjadi julukan Rudeus, Quagmire.

Biasanya, sihir ini dia gunakan untuk membuat genangan lumpur licin yang membuat lawannya terpeleset.

Tapi, kali ini skalanya berbeda.

Seluruh permukaan tanah di taman ini menjadi genangan lumpur.

Pohon Saraku kesukaan Miko-sama dan pohon Balta mulai tersedot ke dalam lumpur.

Tapi, jangan kira kau bisa menghentikan kami dengan sihir seperti ini.

Sampah mulai merapalkan sihir untuk melawan Quagmire. Namun, Rudeus sudah mengaktifkan sihir lainnya.

"...Dense Fog."

Sesaat berikutnya, kabut tebal mulai menelan tempat ini.

Gawat! Ini berbahaya.

"Tetap waspada! Kita harus menyingkirkan rawanya terlabih dahulu, dan jangan menyerang rekanmu tanpa sengaja!”

Saat berikutnya, kilat ungu melonjak ke arah kami.

Serangan itu terlalu cepat, kemudian aku mendengarkan suara ledakan yang nyaring.

"Jangan panik! Armor kita tahan terhadap sihir Electric! Pastikan dia tidak melarikan diri! Jaga dia!"

“Siap!” aku mendengarkan balasan itu dari balik kabut.

Baiklah.

Menurut informasi yang kami dapatkan, salah satu kelemahan Rudeus adalah serangan jarak dekat.

Semua anggota Pasukan Penjaga Makam Suci adalah pendekar pedang level lanjut ke atas. Kami juga mampu menggunakan sihir penghalang level lanjut.

Bertarung satu lawan satu kami sanggup, apalagi beregu.

Meskipun aku hanya menguasai Teknik Dewa Air level menengah, tapi si Pemakaman sudah hampir menguasai level Saint.

Walaupun kekuatan Rudeus sudah setara dengan penyihir kelas Kaisar, belum tentu dia bisa menembus formasi pertahanan kami.

Kami tidak akan membuat kesalahan pada formasi kami.

"—Kami akan menangkal sihir Quagmire!”

"Shifting Sand!"

Ketika Pemakaman menyelesaikan mantranya, suara Sampah mulai terdengar.

Lumpur di kaki kami dengan cepat berubah menjadi pasir, sehingga pijakan kami lebih keras.

Maafkan aku, Rudeus-kun.

Quagmire dapat dilawan dengan sihir level lanjut, Shifting Sand.

Namun sihir seperti ini tidak diajarkan di akademi.

Penelitian untuk menangkal sihir kombinasi juga masih berkembang ...

Jadi, kemungkinan besar kau tidak tahu sihir penangkal seperti Shifting Sand.

Aku jadi penasaran… apakah ini pertama kalinya sihir Quagmire digagalkan?

Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, tapi kurasa…. ini sudah skakmat.

Tentu saja, sebenarnya aku tidak percaya bahwa kau berencana menculik Miko-sama.

Miko-sama benar-benar senang berteman denganmu.

Kau pun sangat mengkhawatirkan Zenith, sehingga kau meminta bantuan dariku ...

Aku mengerti hanya itulah yang kau inginkan.

Tapi, mau bagaimana lagi……

Karena ini adalah instruksi langsung dari Kardinal.

Tak peduli informasi ini benar atau salah, kami harus menjalankan perintah.

Hanya Sampah yang benar-benar marah padamu, karena dia begitu mencintai Miko-sama ...

Setidaknya, kami akan membiarkanmu hidup.

Asal tahu saja, hukuman potong tangan dari Kardinal adalah hukuman yang paling ringan.

Bahkan, kami tidak menggunakan pedang beracun untuk melawanmu.

Tidak masalah, Rudeus-kun.

Tidak masalah jika kau kehilangan kedua tanganmu di usia semuda itu, bukankah kau punya istri setia yang selalu melayanimu?

Eris akan selalu melindungimu karena kau tidak bisa lagi menggunakan tangan untuk bertarung.

Terlebih lagi, kau adalah orang kepercayaan Dewa Naga.

Saat kecil, aku sering mendengar cerita bahwa ras naga mempunyai kekuatan yang misterius.

Bahkan, mungkin Dewa Naga bisa merusak segel yang kami buat.

Kau bisa menjalani sisa hidupmu di tempat yang jauh dari jangkauan kami.

Mengenai Zenith…. kami pasti bisa menyelamatkannya, entah bagaimana caranya.

Tapi, meskipun begitu ...

"…..hapus Dense Fog."

Suara Pemakaman membuatku kembali tersadar.

Pada saat yang sama, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman.

... Ada yang aneh.

Apa itu?

Masih belum terjadi apa-apa.

Oh iya…. setelah melepaskan kabut tebal ini, sepertinya Rudeus belum bergerak sedikit pun?

Benarkah dia coba melarikan diri? Atau terus bertarung melawan kami?

Namun, meskipun jarak pandangku hanya 1 meter, aku masih bisa mendengarkan suaranya.

Dia sempat melepaskan Electric tadi, tapi setelah itu tidak melakukan apa-apa.

Jangan-jangan dia sudah melarikan diri? Tapi sejak kapan?

Pertama Quagmire, lalu Dense Fog, dan Electric setelahnya. Ketiga sihir itu sudah cukup menghentikan pergerakan kami.

Dia bisa menggunakan sihir yang bergitu bervariasi, tapi sayangnya sudah terlam………

"………Wind Blast!"

Sihir angin membersihkan kabut dalam sekejap.

"..."

"...."

"...... Eh?"

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Setelah kabut tersibak, Rudeus pun lenyap.

Yang tersisa hanyalah gulungan yang robek dan kusut.

Dan batu besar ...?

Apakah itu patung?

Atau Armor?

"... s-s-sihir pemanggilan???"

Tanpa sadar aku mengucapkan itu…. dia bahkan bisa menggunakan sihir pemanggilan!!??

Sesaat kemudian, Armor besar itu mulai bergerak.

Aku belum pernah melihat Armor semasif itu, dan gerakannya pun luar biasa cepat.

Bagian 4[edit]

--- Sudut Pandang Rudeus ---

Mungkin posisiku tidak diuntungkan, namun ini bukan saatnya main-main.

Kabut dengan cepat menghilang.

Mereka hanya bisa tercengang, seakan tidak pernah melihat armor sebesar ini.

Sembari membuka mata iblis, aku mentarget kedua ksatria yang menggunakan perisai penghalang, lalu kutembakkan Stone Cannon sekali….. dua kali….. dan tiga kali.

Dengan mudah kutembus pertahanan mereka.

Lalu kuhantam mereka dengan perisai Magic Armor Versi I.

Tentu saja aku tidak serius menghantamnya.

Aku hanya menjatuhkan mereka.

Jangan sampai membunuh mereka, karena urusannya akan semakin runyam.

Pada saat yang sama, aku menjatuhkan tiga pria lagi dengan Gatling Gun-ku.

Kuayunkan lengan kiriku lebar-lebar.

Terdengar desingan nyaring saat Gatling Gun-ku memuntahkan peluru-pelurunya.

Tiga pria meringkuk kesakitan saat seranganku meremukkan tulang kering mereka.

Sebisa mungkin, aku menjaga kekuatanku agar kaki mereka tidak meledak.

Harusnya mereka tidak mati, karena aku sengaja tidak mengenai titik vitalnya.

Kukontrol seranganku dan kuatur seakurat mungkin untuk mengenai kepala mereka, agar mereka segera pingsan.

Tinggal dua ksatria tersisa.

Aku mundur selangkah sebelum berbalik, seperti yang diajarkan Orsted kepadaku.

Jika musuh menyerang dari belakang, kau harus menggunakan gerakan kaki yang cepat untuk menghindari mereka.

Aku tidak merasakan serangan datang dari belakang, tapi aku tetap berbalik untuk memastikannya.

Kemudian, aku mendapati Therese di belakangku.

Matanya terbelalak, dan mulutnya terbuka lebar.

Ksatria di sebelahnya segera menghunuskan pedang untuk melindungi komandannya.

Tapi sudah terlambat.

Kau terlalu lambat.

Untung saja kau tidak menghadapi Eris, karena dia bisa memotongmu sepuluh kali sebelum kau sempat menghunuskan pedangmu.

Dengan Magic Armor Versi I, aku bisa dengan mudah mengatasi kecepatannya.

Mereka bukan lagi lawanku.

Sebelum dia sempat mencabut pedangnya, aku langsung menghantamnya dengan tinjuku.

Dia terbang jauh, sampai akhirnya berhenti karena menghantam dinding Pusat Gereja.

Therese masih berdiri di sana dengan wajah keheranan. Tubuhnya kaku, tanpa bisa bergerak sedikit pun.

Seolah-olah, dia tidak mempercayai apa yang sedang dilihat matanya sendiri.

"A-a-a-apa ..."

Akhirnya, aku pun melumpuhkan Therese dengan serangan peluru batu sepelan mungkin. Aku bahkan tidak menggunakan tinjuan Magic Armor Versi I.

Selesai sudah.

Mereka bukan tandingan Magic Armor Versi I yang bahkan pernah membuat Orsted kesulitan menghadapinya.

Aku bisa menghabisi lawan-lawanku sebelum mereka sempat menyerang. Pertahanan tangguh mereka hanya seperti lelucon di hadapan Magic Armor Versi I.

Apakah ini keputusan yang benar?

Therese dan Ksatria Kuil lainnya bergelimpangan di sekitarku.

Mereka semua masih hidup.

Sebisa mungkin aku berusaha tidak membunuh lawan-lawanku, kecuali dia bidaknya Hitogami.

Itulah prinsipku.

Kali ini, aku masih bisa menjaga prinsip itu.

"Haah ~ ... lega…..."

Belakangan ini pikiranku kacau karena frustasi, namun pertarungan ini kembali membuatku bersemangat. Rasanya puas sekali.

Sesekali, kau perlu melampiaskan kekesalanmu seperti ini. Tapi jangan keterlaluan ya….

Untungnya Eris tidak ikut bersamaku.

Kalau ada dia di sini, entah apa yang akan terjadi dengan kalian.

Lalu….apa yang harus kulakukan sekarang?

Setelah kekalahan ini, Ksatria Kuil lainnya pasti akan memusuhiku.

Oh iya….. sebenarnya, siapa sih yang telah mengkhianatiku?

Hanya ada beberapa orang yang pernah mendengar rencana jahatku menculik Miko, yaitu Aisha, Gisu, Cliff, dan…….kakeknya?

Bagaimana dengan Wendy? Apakah dia juga pernah mendengarnya?

Yang jelas, Aisha tidak mungkin membocorkan informasi itu.

Jika Aisha ingin mencelakaiku, maka dia tidak perlu repot-repot melakukan itu.

Dia hanya perlu meminta, ”Onii-chan…..gendong aku dong….”

Lalu, saat aku menikmati Oppai-nya yang mulai kencang, dia akan menggigit leherku.

Atau, dia juga bisa membubuhkan racun ke dalam minumanku, kapanpun dia mau.

Cliff dan Gisu juga tidak mungkin.

Karena posisi mereka sama.

Mereka sama-sama tidak perlu mengkhianatiku untuk menjatuhkanku.

Lalu, apakah Uskup Agung pelakunya?

Akankah Uskup Agung mencoba membunuhku dengan penangkapan ini?

Apa yang dia dapatkan dengan menyingkirkanku?

Tidak…. mungkin justru sebaliknya.

Mungkin dia ingin membunuh beberapa Ksatria Kuil dengan mengadunya melawanku.

Uskup Agung tahu bahwa aku berada di pihaknya, tapi sampai sejauh ini belum ada tindakan nyata dariku yang benar-benar menguntungkannya.

Mungkin dia berencana memanfaatkanku.

Lalu, sementara Pasukan Penjaga Makam Suci sibuk melawanku, dia punya kesempatan menculik Miko.

Tunggu…. tunggu.

Therese mengatakan bahwa informasi tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

Dari sudut pandang Fraksi Kardinal, apakah informasi dari fraksi oposisi bisa dipercaya?

Uskup Agung adalah lawan politik mereka.

Bukankah itu berarti perkataan Uskup Agung tidak selayaknya mereka percayai?

Pertama, ada juga kemungkinan bahwa tuduhan penculikan Miko hanyalah kebetulan saja.

Meskipun itu benar, mungkin saja informasi itu hanya berasal dari orang yang mengada-ngada.

Tunggu.

Daripada menganggap ini kebetulan, bukankah sebaiknya aku menduga keterlibatan Hitogami?

Mungkin saja bidak Hitogami yang mendalangi insiden ini.

Mungkin tidak ada yang mengkhianatiku, jadi semua ini adalah ulah bidaknya Hitogami.

Apa maksud Hitogami?

Aku tidak bisa melihat masa depan, jadi aku tidak tahu.

Tapi yang pasti, apapun yang dia lakukan akan berujung pada kemalangan.

"...."

Aku tidak bisa menebak siapakah bidaknya Hitogami.

Memikirkan itu tidak ada gunanya.

Aku memiliki masalah yang lebih mendesak.

Yaitu, menentukan siapa lawanku.

Saat ini, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Miko.

Celakanya, Pasukan Penjaga Makam Suci yang seharusnya melindunginya ...... sudah kubuat babak belur seperti ini.

Dengan begini, Fraksi Kardinal akan mulai bergerak melawanku.

Kejahatan yang dituduhkan padaku tidak akan berubah. Mereka tetap menganggap bahwa aku berniat menculik Miko.

Mereka bahkan akan menyerang Cliff, Gisu, Aisha, dan tentu saja Uskup Agung.

Apa yang harus kulakukan...

Apa yang dapat kulakukan...

Apakah aku harus mengumpulkan semua teman-temanku, lalu melarikan diri dari ibukota?

Tidak, bagaimana dengan Zenith?

Aku tidak boleh pergi tanpa Zenith.

Aku harus pergi ke Kediaman Keluarga Latreia dan menyelamatkan Zenith ...

Tetapi, bagaimana jika dia sudah dipindahkan?

Jika mereka tahu kami akan segera menemukan Zenith, bukankah mereka akan memindahkannya ke tempat lain?

Sampai kapan aku harus melawan ksatria-ksatria Milis ini?

Tampaknya….. memang inilah yang diinginkan Hitogami.

Ah.

Aku pasti bisa melakukan sesuatu…..

Sekarang, lebih baik aku mengamankan Aisha, Gisu, dan Cliff.

Lalu aku akan pergi ke Kediaman Keluarga Latreia untuk menyelamatkan Zenith.

Jika itu tidak berhasil, mungkin aku bisa pergi ke Istana Kerajaan Milis, lalu menangkap keluarga bangsawan sebagai sandera.

Mungkin itu lebih baik daripada menculik Miko.

Ahh….. aku lelah berpikir.

"... Ah."

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara.

Seseorang sedang melihat kami dari pinggiran taman yang sudah berubah menjadi rawa.

Di depan pintu Pusat Gereja yang hanya bisa dibuka dengan kunci khusus, berdirilah seorang gadis.

Dia di sana sembari memegang kunci.

Sendirian.

"...."

Sepertinya dia sedang menatap mataku.

Aku mencoba memalingkan wajah, tetapi sudah terlambat.

Tidak hanya menatap mataku, namun dia juga membaca semua pikiranku.

Lalu….. dia tersenyum, dan merentangkan tangannya padaku.

Apa maksudnya itu?

Oh…. aku tahu….

Jadi begitu ya…..

Tiba-tiba…. aku memutuskan sesuatu….

Baiklah………..

Akan kuculik Miko.

Bab 12: Negosiasi Yang Meyakinkan[edit]

Bagian 1[edit]

”Jangan sisakan sebutir nasi pun di piringmu, nanti nasinya menangis.”

Itulah yang biasa ibu ucapkan saat kita masih kecil.

Tapi….. tentu saja itu hanya peribahasa.

Tidak mungkin nasinya menangis.

Nasi bukanlah makhluk hidup, jadi dia tidak bisa menangis.

Itu hanyalah sebuah kebohongan yang membuat kita merasa iba.

Bahkan…. andaikan saja nasi benar-benar bisa menangis, maka bukankah kita tidak boleh memakannya? Karena dengan memakannya berarti kita membunuhnya?

Artinya…. jangan pernah menyisakan makananmu, karena tidak semua orang bisa menikmatinya.

Atau dengan kata lain….. jangan pernah berusaha setengah-setengah.

Kerjakan saja semuanya sampai tuntas.

Cukup sudah pelajaran bahasanya…..

Sekarang…..

Aku sedang duduk di sofa yang sudah Aisha siapkan untuk kantor cabang PT. Rudo yang baru.

Kami sekarang sedang berada di Distrik Niaga, pada ruang bawah tanah kedai yang sudah bangkrut. Tempat inilah yang kami beli untuk dijadikan kantor baru.

Di sini ada banyak tong berserakan yang isinya makanan diawetkan, dan juga beberapa potong jubah hitam yang belum selesai dijahit.

Aku menggunakan gulungan teleportasi untuk berpindah ke tempat ini.

Gulungan itu berisikan lingkaran sihir teleportasi dua arah.

Kami sengaja memasang titik relay-nya di sini.

Ada seorang gadis di hadapanku.

Gadis ini biasanya bertingkah manis dan kekanak-kanakan.

Tapi sebenarnya usianya sudah lebih dari 20 tahun.

"Kantor ini tua sekali."

Gadis yang sering disebut Miko-sama itu duduk di depanku.

Aku tidak mengikatnya, memborgolnya, memasungnya, atau apalah itu.

Dia duduk manis di lantai batu yang berdebu.

Itulah yang terjadi selanjutnya…..

Aku menculik Miko.

"Sebenarnya apa yang kau mau?"

"Hah?"

"Kenapa tiba-tiba kau keluar gereja saat aku sedang bertarung melawan ksatria-ksatriamu? Bahkan kau tidak coba melarikan diri saat kutangkap…..”

Kalau dipikir-pikir lagi, Miko keluar pada saat yang terlalu tepat.

Momennya begitu pas, seolah-olah dia sudah menunggu saat itu.

Kemudian dia kutangkap tanpa perlawanan.

"... Itu hanya kebetulan. Awalnya aku tidak tahu kalian sedang bertarung….. saat kulihat ke luar, aku terkejut karena kabutnya begitu tebal.”

Kau terlalu sembrono.

"Apakah kamu berbohong?"

"Ya, itu bohong. Sebenarnya, aku membaca ingatan salah seorang pengawalku, dan saat itulah aku tahu bahwa Therese akan melakukan sesuatu padamu. Maka, aku pun keluar.”

"Ho ~ o ... jadi kamu datang untuk membantuku?"

"Ya. Kemudian, saat menatap matamu, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi si sini.”

Saat itulah dia membaca pikiranku.

Kemampuannya bahkan bisa menembus helm Magic Armor Versi I yang begitu tebal dan dipenuhi Mana.

Kemampuan seorang Miko sungguh misterius.

Aku bahkan tidak memahami prinsip di balik kekuatan super milik Zanoba.

"Kita kan teman….jadi, aku ingin membantumu."

"...."

Nasi yang menangis sudah menjadi bubur.

Aku sudah terlanjut menculiknya.

Tidak mungkin aku mengembalikan Miko, lalu meminta maaf baik-baik.

Tidak ada rencana cadangan.

Aku harus terus maju.

Aku punya dua kartu as sekarang, yaitu Miko….. dan diriku sendiri.

Kemungkinan terburuknya adalah….

Uskup Agung, Kardinal, Therese, dan Claire menjadi musuhku.

Cliff, Aisha, dan Gisu sudah berada di genggaman Hitogami.

Sejam telah berlalu sejak pertarungan kami di taman Pusat Gereja. Mereka pasti sudah mengerahkan pasukan yang lebih besar untuk mencari Miko.

Sepertinya tak seorang ksatria pun melihatku berteleport tadi. Tapi, lebih baik aku berasumsi bahwa Ordo Ksatria Kuil akan segera menemukan tempat ini.

Aku tidak punya waktu lagi untuk mengatur pemanggilan Magic Armor Versi I, sehingga kusembunyikan saja di dalam tanah dengan bantuan sihir Quagmire.

Sayangnya, itu akan membuatku kesulitan memanggilnya kembali.

Aku tidak punya pilihan lain…. karena gulungan sihir itu hanya bisa digunakan sekali.

Sekarang, yang kumiliki hanyalah sihirku sendiri…. dan juga Miko sebagai sandera.

Dengan dua kartu as tersebut, aku akan mengatasi masalah ini.

"Miko, tolong jawab pertanyaanku, sehingga kau bisa mempercayaimu.”

"Silahkan saja."

Ada yang ingin kutanyakan langsung padanya.

Dia bilang ingin membantuku.

Tapi, sebelum aku mempercayai tawaran itu, ada informasi yang ingin kudapatkan darinya.

"Tolong jelaskan lagi tentang kemampuan khususmu sebagai seorang Miko."

"Kau masih belum tahu?"

"Aku ingin mendengarnya langsung darimu."

Mungkin kemampuannya berbeda dari apa yang dijelaskan Orsted.

"Aku bisa membaca sebagian pikiran seseorang.”

"Sebagian?"

"Ya, aku bisa melihat sedikit pikiran seseorang, beserta ingatan-ingatan lainnya yang terkait.”

"Jadi, kau bisa membaca isi kepala seseorang?”

"Kurang tepat…. sebenarnya aku hanya bisa melihat masa lalu seseorang lewat pikirannya. Semakin lama kutatap mata seseorang, maka semakin jauh aku mengetahui masa lalunya.”

Ternyata begitu ...

Tapi, dia hanya bisa melihat memori masa lalu.

Hammmm…..

"Apakah hanya melihat?"

"Ya, aku hanya bisa melihatnya."

"Bisakah kau mengembalikan ingatan masa lalu seseorang yang cacat mental?”

"Tidak bisa. Tapi, jika aku mengombinasikan kemampuanku dengan sihir penyembuhan, mungkin aku bisa melakukannya…..”

Jadi, belum tentu dia bisa menyembuhkan Zenith.

"... kau hanya bisa membaca memori masa lalu? Bagaimana dengan pikiran seseorang saat ini? Tidakkah kau bisa membacanya?"

"Yahh… sepertinya aku bisa menebaknya."

Jadi begitu ya…. dengan membaca bekas-bekas pemikiran seseorang, dia bisa menduga apa yang sedang dipikirkan orang tersebut.

Masuk akal.

Karena kau pasti akan berpikir terlebih dahulu, sebelum melakukan tindakan.

Tak peduli se-spontan apapun tindakanmu, kau pasti memikirkannya terlebih dahulu.

Misal, kau ingin tahu apakah temanmu sudah makan pagi ini. Lalu, kau bertanya padanya, ”Apakah kau sudah sarapan pagi ini?”. Nah… sebelum orang itu bertanya, Miko sudah mengetahuinya karena dia bisa melihat apa yang telah dipikirkan targetnya.

"Jadi, orang yang masa lalunya kelam tidak akan berani menatap matamu, Begitu, kan?”

Pada dasarnya, gadis ini adalah pendeteksi kebohongan.

Dia bisa mengungkap rahasia siapapun yang dikehendakinya.

Yang perlu dia lakukan hanyalah melakukan kontak mata dengan targetnya.

Sebaliknya, jika dia berbohong, tidak akan ada orang yang tahu ... karena perkataan Miko tidak pernah diragukan kebenarannya.

Itulah kemampuan Miko ini.

Sangat berbeda dengan kekuatan super milik Zanoba, tapi pada dasarnya mereka sama-sama mempunyai kemampuan khusus.

Orang-orang terpilih seperti mereka selalu digunakan untuk kepentingan politik negaranya.

"Tapi Rudeus-sama tidak pernah menghindari tatapan mataku.”

"Ya…. karena aku tidak pernah berbuat jahat sebelumnya. Jadi, apa yang perlu kutakutkan?”

Sebenarnya aku pernah menghindari tatapan matanya, saat aku berniat menculiknya.

Tapi aku urung melakukan itu.

Kalau dia sudah tahu apa yang hendak kukatakan, maka aku tidak perlu menjelaskan panjang-lebar.

"Jika aku membaca semua masa lalumu, apakah kau tidak keberatan…?”

"...."

"Hah? Jadi, Dewa Naga Orsted punya kutukan seperti itu? Hmmm, jadi itu ya Hitogami. Dia pernah menyarankan padamu untuk….. ara ara ara ara….”

Wajah Miko tiba-tiba memerah.

Ada apa?

Apakah kau melihat sesuatu yang erotis?

Yahh, mau bagaimana lagi…. masa laluku memang dipenuhi dengan hal mesum.

Maaf ya… orang suci sepertimu terpaksa melihat adegan-adegan tidak seronok di masa laluku.

"Ah…. kau pernah menikah dua kali? Ah…. bahkan tiga kali? Waahh… apa itu? Altar penyembahan? Apa yang kau sembah itu….? Waah….waaahh… artefak dewi??”

Akhirnya Miko tidak tahan, lalu dia memalingkan wajahnya dariku.

Dia berkeringat dingin.

Napasnya ngos-ngosan.

Sepertinya dia menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.

"Apa yang kau lihat?"

"Ingatan yang kotor ... dan buku yang tidak sesuai ajaran Gereja Milis….serta ritual aneh….”

"Rupanya kau menyelam cukup dalam pada masa laluku.”

"Y-ya."

Miko mundur sedikit, lalu membenarkan rok yang menutupi kakinya.

Aku memang tidak punya agama, tapi ajaran Dewi Roxy sudah cukup memberikan ketenangan jiwa padaku.

Jadi, aku tidak memerlukan agama apapun.

"Mari kita kembali berdiskusi."

"Ya..."

Aku berdeham.

Harusnya aku merasa malu setelah masa laluku yang penuh erotisme terungkap.

Tapi ini bukan saatnya malu.

Ada hal lebih penting yang perlu kami bahas.

Jadi…. nanti saja bernostalgianya.

"Pertama-tama, aku ingin bertanya padamu, Miko-sama. Apakah kau tahu orang yang mendalangi penangkapan itu?”

"Mungkin yang coba menjebakmu adalah Kardinal, atau bahkan Uskup Agung. Kurasa ini semua tidak ada hubungannya dengan Hitogami.”

Dengan kata lain, fraksi anti maupun pro ras iblis sama-sama bisa menjadi musuh.

Apakah Keluarga Latreia tidak terlibat ...?

Kalau tidak, mungkin aku bisa melancarkan serangan mendadak ...

"Bagaimana dengan Keluarga Latreia?"

"Mungkin saja mereka juga terlibat, tapi kurasa bukanlah dalang utamanya."

Jadi, ini tidak ada hubungannya dengan kasus Zenith.

Baguslah.

Ini masalah persaingan klasik antara Uskup Agung dan Kardinal.

Bagiku, keduanya sama-sama mencurigakan.

"Kenapa menurutmu Hitogami tidak terlibat dalam insiden ini?"

"Hitogami pasti akan mempengaruhi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi, seperti halnya Uskup Agung atau Kardinal. Tapi, seburuk-buruknya mereka, kedua orang itu tidak akan mempercayai Tuhan selain Milis.”

"Apa kau punya bukti?"

"Aku kan bisa mengetahui semuanya setelah menatap mata seseorang."

Ya… betul juga. Kenapa aku menanyakan hal seperti itu.

Tapi, bisakah aku percaya padanya ...

Seperti yang kubilang tadi, jika gadis Miko ini berbohong, maka tak seorang pun bisa mengungkap kebenarannya. Karena selama ini dia selalu dipercaya sebagai narasumber terbaik di negeri ini.

"Jika kau masih tidak mempercayaiku, maka gunakan aku sebagai sandera untuk mendapatkan apa yang kau inginkan.”

"Tidak…. Ksatria Kuil pasti sudah menyiapkan segala cara untuk mendapatkanmu kembali. Jadi, aku tidak bisa begitu saja melakukan barter….”

"Akulah harapan Ksatria Kuil.”

Miko menyela dengan mengatakan itu.

Kemudian dia tersenyum lebar.

"Ordo Ksatria Kuil ... ah tidak…. seluruh fraksi anti-ras iblis akan kehilangan peluang menang jika aku mati.”

"Dengan kata lain, mereka pasti akan menuruti permintaanku jika aku berjanji akan melepaskanmu?”

"Ya… sepenting itulah keberadaanku bagi mereka.”

Ya ampun…….

Aku tidak ingin melihat hal-hal mengerikan lagi. Bisa saja mereka membalas penculikan ini dengan menangkap Aisha, lalu mereka menebasnya di depan mataku.

"Tidak… aku tahu Ksatria Kuil bukanlah orang-orang bodoh. Mungkin, saat ini mereka sudah merencanakan pembalasan dengan menculik kolegaku, seperti Aisha, Gisu, atau bahkan Cliff. Atau mungkin, mereka sudah tahu lokasi kita saat ini. Mereka pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu kembali.”

"Kalau begitu, aku akan membantumu bernegosiasi dengan mereka.”

"Itu ide yang bagus, tapi mereka bisa mengepung kita dengan sejumlah besar prajurit bantuan.”

"Bukankah Rudeus-sama cukup kuat untuk menyingkirkan mereka semua? Kau bahkan bisa bertahan saat melawan orang sekuat Dewa Naga Orsted ataupun Kaisar Utara Auber.”

Ohh…kau juga melihat pertarungan itu?

Yah, mungkin saja aku bisa mengalahkan mereka.

Tapi aku tidak mau sesumbar. Meskipun mereka hanyalah prajurit biasa, aku harus mempertimbangkan kemungkinan terburuk.

Jika aku bertarung dengan kekuatan penuh, aku bahkan bisa membantai ksatria-ksatria Otaku itu, yang katanya merupakan pasukan terbaik di Ordo Ksatria Kuil.

"Jika ada yang menyerang kita, kurasa itu ulah Fraksi Uskup Agung…. bukannya Ksatria Kuil.”

"Kenapa begitu?"

"Mungkin aku akan terbunuh dalam penyerangan itu, sehingga Ordo Ksatria Kuil tidak akan mengambil resiko sebesar itu. Namun, lain halnya dengan Fraksi Uskup Agung.”

Faksi Uskup Agung seolah-olah akan bergerak untuk melindungi Miko.

Tapi, meskipun Miko terbunuh selama pertarungan, mereka tetap akan diuntungkan.

"Ksatria Kuil hanya bisa menggunakan sihir penghalang atau semacamnya untuk mendapatkanmu kembali.”

"Dan kau sudah mengalahkan Pasukan Penjaga Makam Suci, yaitu kelompok Ksatria Kuil terkuat. Jika kau memperhatikan dengan lebih seksama, maka kau pasti menyadari bahwa Ksatria Kuil lebih unggul dalam bertahan daripada menyerang. Bahkan, teknik pedang yang mereka kuasai adalah Teknik Dewa Air, yang sifatnya bertahan. Mereka pasti akan berpikir dua kali menantang orang yang sudah mengalahkan Therese dan kelompoknya.”

... itu masuk akal.

Ya, tak heran mereka disebut yang terkuat, karena pertahanannya memang cukup tangguh.

Mereka memiliki koordinasi yang baik sebagai tim, tapi ...

Mereka lemah dalam pertarungan individual.

Tidak….aku tidak bisa menyebutnya lemah.

Mereka bahkan bisa menangkis Stone Cannon-ku, kemudian melancarkan serangan balik dengan cepat.

Saat melawan Magic Armor Versi I pun, mereka terus bertarung tanpa rasa takut.

Mungkin teknik Dewa Pedang dan Dewa Air mereka mencapai level lanjut, dan mereka juga menguasai sihir penghalang level dasar dan menengah. Aku juga yakin di antara mereka ada yang bisa menggunakan sihir penyembuhan. Dengan kemampuan selengkap itu, mereka tidak bisa disebut lemah.

Secara individu mungkin mereka tidak begitu hebat, namun lain ceritanya saat mereka bertarung bersama-sama.

Therese juga tidak begitu hebat saat bertarung sendirian, tapi dia memiliki kelebihan dalam mengoordinasi bawahannya.

Mungkin aku masih bisa menang meskipun tidak menggunakan Magic Armor Versi I.

Tapi pasti aku akan kesulitan menghadapi mereka.

Aku sudah mengalahkan kelompok Ksatria Kuil terkuat, adakah lawan yang lebih hebat daripada mereka?

"Bagaimana dengan Ksatria Ordo Penasehat, dan kalau tidak salah….. Ordo Gereja juga mempunyai ksatria, kan?”

"Ordo Gereja memang mempunyai ksatria, tapi mereka hanya ditugaskan di dalam gereja saja. Mereka tidak mencampuri urusan seperti ini. Sedangkan Ksatria Ordo Penasehat tidak berada di negara ini.”

Ah…. untung saja.

Saat mendengarnya, aku jadi semakin percaya diri.

Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah bernegosiasi bersama mereka, dengan Miko sebagai sandera.

Aku tidak takut jika mereka datang menyerang. Bagaimanapun juga, bosku adalah Orsted! Mau apa kalian!

Aku akan mengembalikan Miko-sama kesayangan kalian tanpa cacat sedikit pun, tapi turuti permintaanku!

Jika kalian berlutut padaku sembari memohon Miko dilepaskan, mungkin akan kumaafkan kalian!

Tapi, untuk sementara ini, aku ingin meminjam jasa Miko untuk mencari bidak Hitogami.

Jika negosiasi ini berjalan lancar, maka kami bisa meninggalkan negara ini dengan aman.

Mungkin aku harus mengurungkan niatku membuka cabang PT. Rudo di Milis.

Jika dalam beberapa tahun ke depan Cliff berhasil menduduki posisi penting, maka aku bisa menawarkan kembali rencana itu.

Tapi tergantung situasinya nanti, jika pemimpin yang berkuasa dipengaruhi oleh Hitogami, maka Cliff harus menyerah menjadi orang penting di negara ini.

Kita tidak punya pilihan lain.

Maaf Cliff, inilah yang terbaik.

"Jika kau mengkhawatirkan serangan ordo ksatria, maka lebih baik kita cepat pergi dari tempat ini. Rudeus-sama juga harus mempertimbangkan keselamatan rekan-rekanmu, karena jika mereka tertangkap, maka kita berada dalam kesulitan.”

"Betul..."

Hanya sejam berlalu setelah insiden di taman itu.

Terlalu cepat bagi mereka menangkap Aisha, Gisu, atau bahkan Cliff.

Namun, jika aku terus bersembunyi, Fraksi Kardinal tidak akan tinggal diam.

Mereka akan semakin frustasi, sehingga cenderung melakukan tindakan-tindakan berbahaya.

Baiklah.

Saatnya bertaruh.

Tidak lucu bila salah satu temanku celaka karena Miko kusandera.

Aku harus siap.

Aku perlu kartu as lainnya.

"... Miko-sama, ada hal lain yang ingin kutanyakan."

"Apa itu?"

"Kenapa kau berpihak padaku? Bahkan kau tidak memberi perlawanan saat kutangkap ..."

Miko menatapku dengan bingung.

Lalu tersenyum lembut.

Itulah senyum seorang penganut setia ajaran Milis yang penuh kasih sayang.

"Ya, karena…. aku bisa hidup sampai sekarang karena jasa istrimu, dan prajurit Ras Supard itu.”

Apakah dia mengetahuinya setelah membaca ingatanku?

Apakah dia sudah membaca semua ingatan tentang Eris di masa lalu?

Atau jangan-jangan, dia pernah membaca ingatan Eris saat bertemu dengannya dulu?

Aku tidak tahu…….

"Terlebih lagi, aku kesal pada ksatria-ksatriaku, karena mereka coba menangkap teman baruku ini. Sudah lama lho aku tidak punya teman sepertimu.”

"...."

"Kau menceritakan hal-hal tentang Eris-sama yang menyenangkan, dan melukis Pohon Saraku kesukaanku. Milis-sama pernah berdakwa, ’Tidaklah sopan bila kau melupakan kebaikan seseorang.’

"......"

“Bahkan, aku bisa membantu menyembuhkan ibumu. Aku bisa diam-diam meminjamkan kekuatanku, tapi kau tidak pernah memintanya….”

Miko menunjukkan wajah cemberut, sepertinya dia sedang merajuk. Tapi aku hanya diam.

"Aku tahu, Rudeus-sama…. awalnya, orang sepertimu akan menganggapku musuh, sehingga kau berniat menculikku…. tapi itu tidak benar.

"Ya..."

Aku sudah mengurungkan niatku untuk menculikmu, tapi aku punya kesempatan.

Jadi, sekarang kumohon ceritakan semua hal yang belum kupahami.

Baiklah.

Yang sudah terjadi… biarlah terjadi.

Nasi sudah menjadi bubur.

Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi.

Selanjutnya, aku harus memanfaatkan situasi ini untuk meraih tujuanku.

Yaitu...

Pertama, selamatkan Zenith.

Kedua, pastikan keselamatan Aisha, Gisu, dan Cliff.

Ketiga, jangan menyusahkan Cliff dan fraksinya.

Keempat, kalau masih memungkinkan…. teruskan proyek PT. Rudo di Milis.

Kelima, kalau ada kesempatan…. dapatkan ijin memasarkan figure Ruijerd.

Keenam, jika poin keempat dan kelima terlaksana, maka kita siap menjalin koneksi antara para petinggi Milis dan Fraksi Orsted.

Untuk sekarang, lebih baik aku fokus pada tujuan pertama terlebih dahulu.

Saatnya mengambil langkah selanjutnya.

Kartu asku sekarang adalah Miko.

Dan juga diriku sendiri.

Harusnya itu saja sudah cukup.

Tapi jika memungkinkan, aku ingin menambah kartu as lainnya.

Yaitu seseorang yang tidak terlibat dalam masalah ini, dan bisa membuat persiapan.

Sehingga aku bisa melancarkan serangan mendadak.

"Untung saja aku tidak membawa Eris, kalau dia di sini, masalah ini akan semakin runyam.”

"Yahh, padahal aku ingin sekali bertemu dengan Eris-sama lagi."

Bagian 2[edit]

Aku kembali ke Pusat Gereja Milis.

Sudah 2 atau 3 jam berlalu sejak insiden di taman itu.

Aku tidak melihat seorang Ksatria Kuil pun di kota.

Mungkin Gisu dan Cliff belum memberitahuku.

Tadi kami meloloskan diri dengan menggunakan sihir teleportasi.

Di dunia ini tidak banyak orang yang mengetahui sihir tersebut.

Maka, wajar saja para Ksatria Kuil memblokade pintu masuk Pusat Gereja, karena mereka berpikir bahwa aku masih di dalam.

Tapi sejam kemudian, sepertinya seseorang di antara mereka mulai berpikir bahwa aku sudah meninggalkan tempat itu.

Sehingga, mereka mulai mengumpulkan pasukan yang lebih banyak lagi, untuk melakukan pencarian di kota. Setidaknya, mereka butuh sejam lagi untuk mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar.

Dengan mempertimbangkan kesalahan-kesalahan kecil, mungkin waktu mereka tertunda sejam lagi.

Meskipun gerbang kota sudah ditutup rapat, seharusnya mereka belum bergerak dengan kekuatan penuh.

Tidak mudah mengerahkan pasukan sebesar itu.

Di kota ini hanya beberapa orang tertentu yang tahu tentang sihir teleportasi, termasuk Aisha, Gisu, dan Cliff.

Aku bersama Gisu saat memasang lingkaran sihir teleportasi di ruangan bawah tanah itu, untuk jaga-jaga agar kami bisa keluar dari kota ini bersamaan.

Cliff bahkan membantuku menggambar lingkaran sihir teleportasi itu, yang mengarah langsung ke Sharia.

Jika salah satu dari mereka mengkhianatiku, maka Ordo Ksatria Kuil bisa menemukan lingkaran sihir itu dengan mudah.

Tapi, buktinya sampai saat ini tidak ada seorang ksatria pun yang menggeledah kantor kami, sehingga aku tidak lagi mencurigai keduanya.

Lalu, bagaimana dengan Kardinal dan Uskup Agung? Tidak lucu jika mereka mengetahui tempat itu.

Sayangnya, tidak mustahil bila mereka mendapatkan informasi itu.

Bahkan mereka bisa mendapatkan informasi itu dari Hitogami. Tapi, menurut Miko itu mustahil, karena mereka berdua tidak mengakui Tuhan selain Milis.

... tunggu sebentar… aku merasakan sesuatu yang aneh.

Sudah dua jam berlalu, sepertinya lawanku masih tertinggal ...

Mungkinkah Therese bergerak atas kemauannya sendiri?

Sembari memikirkan itu, kami mendekati Pusat Gereja.

Kemudian, orang-orang ber-armor biru mulai melihat kedatangan kami.

"Miko-sama telah kembali ...!!"

"Rudeus muncul bersama Miko-sama!!"

"Panggil bala bantuan!!"

Sekelompok ksatria segera berdatangan.

Bukan hanya dari dalam Pusat Gereja, mereka juga berdatangan dari area sekitarnya.

Seketika, mereka segera mengepung kami.

Apakah aku berada dalam masalah?

"Rudeus-sama, jangan jauh-jauh dariku."

"...."

Aku pun meraih tangan Miko seerat mungkin.

Aku tidak menyodorkan pisau ke leher Miko atau semacamnya, tapi para ksatria itu sudah mengacungkan senjatanya padaku.

Namun mereka tidak juga menyerang.

Miko benar. Aku akan aman selama bersamanya.

"Beraninya kau melakukan perbuatan keji itu pada Miko-sama ...!"

"….aku bahkan belum pernah menyentuh tangan Miko-sama seperti itu!!"

"Dengan menculik Miko-sama, berarti kau mempermalukan seluruh penganut ajaran Milis! Dosamu tidak termaafkan!!”

Salah satu di antara mereka marah karena tidak pernah menyentuh tangan Miko-sama ... aneh sekali kau…. jadi kau iri padaku?

Kami belum menjelaskan apapun, tapi mereka tanpa henti terus meludahkan tuduhannya padaku.

Ya, aku sudah tahu itu

Aku sudah melumpuhkan pengawal setia Miko, bahkan menculiknya, Tentu saja mereka marah besar padaku.

Itu wajar saja.

Bahkan dalang di balik insiden ini pasti berpikiran sama dengan mereka.

"Kapten, ayo serang dia bersama ...! Beberapa jam yang lalu dia baru saja melawan Pasukan Penjaga Makam Suci! Pasti Mana-nya sudah terkuras banyak!”

"Tunggu dulu… meskipun kekuatannya sudah banyak berkurang, bukan berarti dia tidak bisa melukai Miko-sama!”

"Tidak masalah, kapten! Jika kita menyerang bersama, dia pasti lebih memilih melindungi dirinya sendiri daripada melukai Miko-sama!”

Mereka malah berdebat sendiri.

Kau harus menuruti perkataan kaptenmu, lho…. atau jangan-jangan, kau adalah bidaknya Hitogami?

"Miko-sama, apakah ada di antara mereka yang dipengaruhi Hitogami?”

"Tidak, tapi pria itu adalah bawahannya Uskup Agung. Dia sama sekali tidak berhubungan dengan Hitogami. Dia bahkan tidak tahu rincian masalahnya.”

Aku bertanya dengan berbisik, dan seperti itulah jawaban Miko.

Baiklah…..

Ayo kita mulai.

"Aku ingin berbicara dengan Uskup Agung! Tolong beri jalan!”

Aku berteriak sekeras yang aku bisa.

Para ksatria kembali mencelaku setelah mendengar teriakan sombong itu.

"Apa katamu!"

"Dasar bajingan! Memangnya kau siapa? Berani-beraninya kau menemui Uskup Agung!?”

"Lepaskan Miko-sama sekarang juga, dan terimalah hukumanmu!”

Beberapa orang sudah menyiapkan pedangnya, dan siap menebasku kapanpun.

Tapi, saat melihat tubuh Miko yang gemetaran, mereka jadi ragu, lalu kembali menyarungkan pedangnya.

Wowww….jadi kalian benar-benar takut Miko-sama lecet ya…..

Setelah bertarung dengan Pasukan Penjaga Makam Suci, aku pun mengerti……

Gadis ini bahkan lebih diidolakan daripada seorang putri.

Kalau begitu ... ayo kita mulai bacotnya.

"Namaku Rudeus Greyrat! Bawahan Dewa Naga Orsted! Demi nama besar tuanku, aku tidak bermaksud melukai Miko-sama, yang merupakan simbol dari keyakinan Milis!”

Aku mengangkat tangan kananku.

Gelang yang kudapatkan dari Orsted bersinar mengkilap di pergelangan tanganku.

Mungkin mereka tidak mengenal gelang ini, tapi setidaknya aku bisa menggertak mereka.

"Jika kalian tidak memenuhi tuntutanku, maka bersiaplah merasakan kemarahan Dewa Naga Orsted dan para pengikutnya! Tidak hanya kalian…. seluruh pengikut Milis juga akan terkena imbasnya.”

Aku mulai mengancam mereka.

Aku sudah menyiapkan ancaman itu.

Aku menggunakan nama Orsted tanpa izin, tetapi itu tidak masalah.

Sebetulnya dia tidak punya bawahan selain aku, jadi….. agaknya kurang tepat bila kusebut ‘para pengikutnya’.

"...!"

Para Ksatria Kuil meringis, lalu mundur selangkah.

Sepertinya mereka termakan gertakanku, jadi mereka tampak ragu.

Itu sudah cukup bagiku.

"Aku ingin berbicara langsung dengan Uskup Agung! Ini adalah permintaan langsung dari Tangan Kanan Dewa Naga! Aku juga ingin tahu dimanakah ibuku berada! Nasib Miko-sama ada di tanganku, jadi pertimbangkan baik-baik jawaban kalian!”

Sebenarnya aku hanya ingin berbicara pada Uskup Agung….. sudah, itu saja.

Tapi, dengan keadaan seperti ini, aku bisa menuntut lebih. Bahkan, masalah Zenith bisa jadi masalah negara!

"...."

"Apa...?"

"Jadi, kau menyandera Miko-sama atas alasan seperti itu ..."

Namun mereka tidak juga memberiku jalan,

Lambat.

Bisakah kalian menyingkir? Aku tidak punya banyak waktu.

Ataukah kalian akan memanggil komandan kalian?

"Buka jalan!"

"Minggir!”

Saat aku masih berpikir, tiba-tiba dari belakangku muncul empat orang yang terdiri dari pria dan wanita.

Aku mengenal tiga diantaranya.

Mereka adalah anggota grup Otaku itu.

Armor mereka pun sudah penyok.

Dan Therese juga bersama mereka.

Ketika Therese melihatku, dia menunduk meminta maaf.

Di sana juga ada kakek tua berjanggut putih yang umurnya mungkin 50 tahunan.

Wajahnya keriput, namun tatapan matanya masih tajam, seolah tidak termakan umur.

Aku tidak mengenalinya.

Dia mengenakan armor biru mirip Therese, jadi dia pasti anggota Ordo Ksatria Kuil.

Tapi, disain armornya sedikit lebih kompleks.

Seolah-olah, armor itu setingkat lebih baik daripada armor Ksatria Kuil pada umumnya.

Ksatria Kuil lainnya masih mengepung kami.

Ah, itu mereka…..

Agak jauh di sana, aku melihat anggota Pasukan Penjaga Makam Suci lainnya.

Kelompok ksatria terkuat sudah keluar bersama komandannya, jadi kakek tua ini pasti….. bosnya Ksatria Kuil.

"Aku adalah Komandan Batalyon Ordo Pedang Ksatria Kuil, namauku Carlyle Latreia."

... Ah.

Jadi, dia yang namanya Carlyle.

Atau…. kau boleh sebut, kakekku…..

"Pertama-tama, kita kesampingkan dulu apapun yang terjadi saat ini… mari kita berkenalan, wahai Rudeus Greyrat…. putra dari Zenith Greyrat.”

Dia segera melanjutkan kalimatnya, tanpa memberiku kesempatan berbicara. Matanya tertuju lurus padaku.

Tatapan matanya lebih tajam daripada Claire.

Jadi, pasangan suami-istri ini sama-sama bermata tajam ya….

Sepertinya aku akan kerepotan ...

"Kau Rudeus Greyrat, kan?"

".... bukan."

Hampir saja kupanggil dia kakek, namun saat kuingat kembali hubunganku dengan Claire saat ini, maka kubuang jauh-jauh panggilan itu.

Aku di sini sebagai anak buahnya Orsted.

Memang benar aku adalah putranya Zenith…. tapi bukan itu peranku di sini.

Jadi, jangan anggap aku cucumu, pak tua…..

"Memang benar namaku adalah Rudeus Greyrat, tapi aku di sini sebagai perpanjangan tangan Dewa Naga Orsted, dan aku ke sini untuk berbicara langsung dengan Yang Mulia.”

"Hm."

Aku menyatakan itu sembari bersedekap, membusungkan dada, dan mengangkat daguku tinggi-tinggi….. Eris juga sering melakukan pose ini.

Sesaat, aku bisa melihat senyum tipis di wajah Carlyle.

Namun ekspresinya langsung menegang.

"Baiklah, aku akan membawamu ke tempat Yang Mulia berada."

Sembari tetap memasang wajah tegang, Carlyle mulai bergerak memasuki Pusat Gereja.

Sembari mengikuti ayahnya, Therese pasang wajah cemas.

"... bagaimana menurutmu, Miko-sama?"

".... Therese hanya mengikuti perintah Kardinal. Sayangnya aku tidak bisa melihat mata Carlyle, jadi aku tidak tahu niatnya.”

Aku meminta pendapat Miko dengan bisikan.

Kemampuan gadis ini benar-benar mempermudah pekerjaanku.

Tapi sayangnya kami tidak bisa membaca pikiran Carlyle.

Harusnya dia bukan musuh kami, tapi aku merasakan ada yang aneh darinya. Aku akan terus mengawasinya.

Dengan mengabaikan Ksatria Kuil lainnya, kami pun mengikuti pak tua itu.

Bagian 3[edit]

Kami dipandu langsung ke ruangan pusat.

Di sebelah kiri, kanan, depan, dan belakangku, anggota Pasukan Penjaga Makam Suci terus menjagaku.

Mereka tidak lagi memakai helm.

Langkah kaki mereka mantab, jadi kurasa mereka sudah menerima sihir penyembuhan.

Meskipun aku tetap waspada, sepertinya mereka tidak berniat melakukan apapun padaku.

Dalam pertarungan tadi, aku menembus sihir penghalang kelas Raja yang mereka bangga-banggakan.

Lalu, kuhempaskan mereka satu per satu seperti lalat.

Tapi, tak seorang pun mati.

Jika mereka cerdas, harusnya mereka sudah tahu bahwa aku tidak 100% menggunakan kekuatanku saat itu.

Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh.

Apalagi aku punya Miko sebagai sandera.

Mereka tidak cukup bodoh melawan orang yang barusan mengalahkan mereka beberapa jam yang lalu, dan aku yakin mereka pun tidak ingin Miko terluka.

Mereka pasti sangat malu.

Apalagi om Sampah itu.

Saat ini, dia sengaja memalingkan wajah dariku.

Tapi sepertinya dia tidak dendam padaku.

Bahkan tampaknya dia tidak berusaha menjagaku.

Malahan, seolah-olah dia coba melindungiku.

"...."

Kami terus berjalan menyusuri Pusat Gereja selama beberapa menit.

Tanpa kusadari, aku kehilangan arah.

Lorong yang kami lewati terasa melingkar, namun sebenarnya berbelok sejauh 70° mungkin.

Sejak awal memasuki bangunan ini, aku sudah tahu bahwa detailnya begitu rumit. Lorong-lorong ini seakan membentuk labirin.

"Ini seperti labirin."

"Ya. Bangunan ini memang dirancang untuk memudahkan para petinggi gereja, seperti Uskup Agung atau aku, melarikan diri saat terjadi bahaya yang mengancam nyawa kami.”

Jawab Miko.

Dindingnya juga sepertinya tertutup semacam mantra penghalang.

Suasananya sangat sunyi, sampai-sampai aku hampir mengantuk.

"Ya!"

"Miko-sama tahu semua lorong ini."

"Kami biasa main petak-umpet di sini.”

Kemudian, para Otaku itu mulai berkomentar.

Jadi, bangunan ini sengaja didisain untuk memudahkan orang penting melarikan diri saat terjadi bahaya.

Tapi, aku jadi bingung.

Bagaimana orang-orang penting itu bisa menemukan jalan keluar di tempat yang membingungkan seperti ini ...

Kalau aku harus melarikan diri dari gedung ini, mungkin aku akan menembus langit-langit, kemudian keluar dari atas.

Kalau membobol dinding…. sepertinya itu mustahil, karena dilengkapi dengan mantra penghalang.

Ya.

Tidak perlu cemas…..aku akan baik-baik saja.

"Masih belum sampai nih? Kenapa jauh sekali….”

"Sedikit lagi."

Carlyle menanggapiku tanpa meliihat ke belakang.

Sungguh?

Aku tidak sedang dijebak, kan?

Aku harus tetap waspada, terutama pada orang-orang di belakangku.

Lalu, tiba-tiba mereka mulai berteriak.

"Carlyle! Kau tidak sopan! Paling tidak lihatlah lawan bicaramu!”

"Ingatlah! Rudeus memegang tangan Miko-sama!”

"Bagaimana jika dia marah, lalu melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa Miko-sama!!??”

"Lihatlah armor kami yang sudah penyok ini! Hanya manusia super yang bisa membengkokkan armor suci ini! Kau harus tahu betapa berbahayanya monster ini!”

"Kalau Rudeus kesal sedikit saja, kulit halus Miko-sama bisa memar!!”

"Semuanya diam!"

Bentakan Therese membungkam mulut mereka.

Saat itu juga, Carlyle berhenti lalu menoleh padaku.

"……sedikit lagi…..”

"….ya, aku tahu…..”

Aku mengangguk sekali lagi, lalu kembali berjalan mengikutinya.

Tidak lebih dari 10 langkah kemudian……….

Carlyle berhenti di depan suatu pintu, lalu mengetuknya.

"Kami telah membawa Rudeus Greyrat."

Ternyata memang sedikit lagi.

Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terburu-buru.

Kukira tadi kami tersesat, namun ternyata tidak…. bahkan, kami hanya berbelok dua kali saja.

Mungkin aku bisa menemukan jalan kembali sendirian.

"Silahkan masuk."

Aku mendengar suara Uskup Agung dari dalam ruangan.

Carlyle membaca mantra singkat pada pintu itu, lalu membukanya.

Sambil memegang pintu yang sudah terbuka, dia memberi isyarat untuk mempersilahkanku masuk.

"Masuklah……."

"Ya, permisi."

Aku memasuki ruangan sambil memegang lengan Miko.

Apakah aku harus melepaskan tangannya sekarang ...?

Tidak, jangan sekarang….

Aku tidak boleh lengah sedikit pun.

"...."

Aku memasuki semacam ruangan konferensi.

Ada suatu meja panjang yang dikelilingi lebih dari 10 kursi, jadi kami bisa duduk saling berhadapan.

Uskup Agung ada di sana, dan juga…….. Cliff.

Ada orang lain yang tampak mirip seperti Uskup Agung, dia mengenakan jubah yang mewah. Apakah dia sang Kardinal?

Ada juga pria selain Carlyle yang memakai armor yang terlihat mahal.

Armornya berwarna putih. [11]

Di belakang mereka berdiri tujuh ksatria, dengan tangan bersedekap.

Aku pernah melihat dua di antara mereka.

Mereka adalah pengawal Uskup Agung.

Semuanya menghadap padaku.

Sepertinya aku telah menyela rapat yang sedang seru-serunya.

Sambil menahan napas, mereka terus memperhatikanku tanpa mengucap sepatah kata pun.

Dan….. agak jauh di sudut meja sana….

Ada dua orang yang duduk sendirian.

Salah satunya adalah wanita tua yang membungkam mulutnya rapat-rapat.

Dia memelototiku.

Itu si tua bangka, Claire Latreia.

Dan di sebelahnya.

Ah…. itu dia…. akhirnya kutemukan dia…..

Seorang wanita yang sedang melamun sembari menatap langit-langit.

Umurnya masih di bawah 40 tahun.

Dia lah wanita yang paling dicintai Paul di dunia ini, melebihi siapapun juga.

Ibuku.

Zenith sedang duduk di sana.

Ara?

Tunggu.

... Kenapa keduanya ada di sini?

Ada apa ini?

Aku masih belum paham.

Aku belum menuntut mereka untuk mengembalikan Zenith.

Braaaaakkk!!!

Suara itu memecah keheningan.

Pintu di belakangku terbanting sampai tertutup.

Para Ksatria Kuil langsung membentuk formasi untuk memblokade pintu itu.

Mereka berdiri di hadapan para ksatria lain di belakang ruangan.

Hanya Therese yang duduk.

"Semua aktor dan aktris sudah naik panggung….. maka, saatnya memulai pertunjukan ini…..”

Uskup Agung mengatakan itu.

Sepertinya, aku sudah ditunggu.

Tadinya, kupikir rencanaku sudah matang…… tapi ternyata, aku malah terjebak oleh rencana lawan-lawanku.

"Rudeus-sama, Miko-sama, silahkan duduk…."

Apakah aku benar-benar sudah terjebak?

Tapi kurasa….. situasi ini tidak buruk.

Aku masih bisa memberikan perlawanan.

Bab 13: Kenapa Aku Begitu Gelisah[edit]

Bagian 1[edit]

Aku mulai berkeringat dingin saat melihat Claire dan Zenith, tapi aku tidak bisa menunjukkan kegugupanku.

Sejujurnya, aku tidak yakin bisa memenangkan negosiasi ini.

Aku tidak yakin semuanya akan berjalan lancar.

Namun, aku percaya bahwa setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk kembali mendapatkan Zenith.

Aku bahkan sempat membayangkan merebut Zenith begitu saja, lalu melarikan diri dari tempat ini dengan menembus langit-langit atau semacamnya.

Aku tidak bisa menggunakan lingkaran sihir teleportasi di tempat seramai ini.

Namun, aku sudah mengetahui sampai sejauh mana kemampuan Ksatria Kuil yang menjaga ruangan ini.

Aku tidak tahu seberapa kuat Ksatria Kuil yang mendampingi Uskup Agung itu, tapi menurut Miko…. Pasukan Penjaga Makam Suci adalah yang terkuat, dan aku sudah mengalahkan mereka.

Harusnya tidak ada yang perlu kukhawatirkan, dan aku bisa merebut kembali Zenith dari tangan mereka. Tapi…… kegelisahan ini masih saja mencengkram hatiku.

Dengan situasi seperti ini, pada dasarnya tujuanku sudah terwujud.

Zenith sudah kutemukan.

Dan Cliff aman-aman saja.

Yahh…. aku belum tahu di mana Aisha dan Gisu, tapi kurasa semua akan baik-baik saja.

Sekarang, tugas terakhirku adalah…. melarikan diri dari tempat ini bersama Zenith, atau bahkan Cliff.

Setelah itu, kita akan menjemput Aisha dan Gisu. Aku akan menanyakan tentang mereka pada negosiasi ini.

Sembari memikirkan berbagai hal, aku pun duduk di kursi yang telah disediakan.

Masih memegang tangan Miko, aku juga mempersilahkannya duduk.

Lalu, aku berbisik padanya…..

"Terimakasih banyak…. kau benar-benar membantuku.”

Aku berterimakasih begitu saja pada Miko.

Sudah lama aku tidak merasa berhutang budi begitu banyak pada seseorang.

"Karena ada banyak orang yang belum pernah kutemui di ruangan ini, maka ijinkan aku memperkenalkan diri sekali lagi…. aku Rudeus Greyrat, orang-orang menyebutku Tangan Kanan Dewa Naga. Awalnya aku datang ke sini untuk menjalin kerjasama dengan Kerajaan Suci Milis, namun tampaknya aku gagal mewujudkannya.”

Saat aku menyebut nama Dewa Naga, mereka sedikit terkejut sesaat.

Tapi tak seorang pun di sini pernah bertemu Orsted.

Tentu saja, mereka juga tidak tahu apa tujuan Orsted dan siapa yang dilawannya.

Bahkan, mungkin saja di antara mereka ada yang tidak tahu tentang Tujuh Kekuatan Dunia.

Namun, sepertinya mereka sudah pernah mendengar nama Dewa Naga.

Gelar itu tidak kalah terkenal dengan Dewa Iblis yang begitu mereka benci selama beberapa ratus tahun terakhir.

"Jujur saja, aku menculik Miko-sama karena beberapa alasan.”

Aku menunjuk Miko dengan jari telunjuk tangan kananku, lalu kukumpulkan Mana di ujungnya.

Mereka mulai tegang saat melihat munculnya bunga api kecil akibat Mana yang terpusat di ujung jariku.

"Sebenarnya aku tidak ingin menyandera siapapun, karena itu akan merusak nama besar Orsted yang maha-hebat, tapi sayangnya keadaan memaksaku untuk melakukannya. Aku memerlukan Miko untuk melindungiku dan kolega-kolegaku. Aku juga memerlukannya untuk memperlancar negosiasi kita, jadi….. kuharap kalian semua mengerti.”

"Maha-hebat ...?"

"Ahem…. maaf…."

Maaf, aku terlalu memuji bosku.

Aku tidak bermaksud bercanda.

"Jadi, alasanku menyandera Miko-sama dan mengotori nama baik tuanku adalah…..”

Aku mengatakan itu sembari melihat sekelilingku ...

Tiba-tiba, tatapan mataku berhenti pada Claire.

Dia mengerutkan alisnya.

"….pertama-tama, aku ingin tahu siapakah yang telah membocorkan informasi bahwa aku berencana menculik Miko. Lebih baik kalian mengaku…. jika tidak, Dewa Naga Orsted dan para pengikutnya akan benar-benar memusuhi Gereja Milis.”

Sebenarnya itu bukan ancaman. Karena faktanya, Orsted tidak punya anak buah selain aku.

Aku juga harus mengonformasi bahwa tidak ada seorang petinggi Gereja Milis pun yang dipengaruhi Hitogami.

"..."

Mereka terdiam setelah mendengar tuntutan pertamaku.

Tak seorang pun berani menjawabku.

Apakah mereka takut padaku? Karena aku telah mengalahkan pasukan Ordo Ksatria Kuil yang terkuat?

Atau mungkin, ada yang salah dengan perkataanku?

Aku sedikit menunjukkan kekesalanku, dan sepertinya itu sudah cukup mengintimidasi mereka.

"Aku bisa memahami kemarahanmu, Rudeus-sama."

Akhirnya, orang yang berdiri di belakangku menjawabnya.

Dia duduk paling juah dari pintu.

Dia lah orang penting di Pusat Gereja ini, sekaligus kerabat terdekatnya Cliff.

Dia lah Uskup Agung, Harry Grimoire.

"Tapi…. sebelum membicarakan itu, ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu. Bukankah ada banyak orang di sini yang belum Rudeus-sama kenal?”

"..."

"Santai saja…. tidak akan lama, kok."

Aku berpikir…. mau apa sebenarnya kakek ini?

Apakah dia ingin mengulur-ulur waktu?

Apakah mereka sengaja menahanku di sini agar kaki-tangannya bisa menangkap Aisha dan Gisu?

Ah, tidak….. jumlah mereka tidak banyak, jadi tidak akan lama.

Aku juga harus mengenal masing-masing dari mereka.

Lagipula, kami akan bernegosiasi, jadi lebih baik saling kenal terlebih dahulu.

Itu lebih sopan.

Aku tidak bisa mengajukan tuntutanku begitu saja tanpa mengenal mereka lebih dekat.

"Baiklah…. aku tidak keberatan, maafkan ketidaksabaranku."

"Terima kasih ... Cliff, silahkan…..."

"Ya. Semuanya, aku Cliff Grimoire, cucu Uskup Agung Harry Grimoire."

Cliff berdiri, memperkenalkan diri, lalu mundur selangkah.

Tampaknya dia bertugas menjadi moderator di ruangan ini.

"Silahkan dimulai dari Kardinal Leblanc terlebih dahulu….”

Setelah Cliff mengatakan itu, salah seorang di antara mereka berdiri.

Pria itu mengenakan jubah yang tampak sama mahalnya dengan milik Uskup Agung.

Kalau aku diminta mendeskripsikan wajahnya, kata “gemuk” lah yang pertama kali kuucapkan.

Wajahnya bundar seperti Anpanman.

Namun, pria ini merupakan salah satu petinggi fraksi anti-ras iblis.

"Aku Kardinal Leblanc Mc Farlane. Saat ini aku bertanggung jawab atas Ordo Ksatria Kuil, dan membantu pekerjaan Yang Mulia Uskup Agung.”

Jadi, dia adalah orang nomor dua di Gereja Milis ini,

Jika Uskup Agung adalah raja, maka dia lah perdana menterinya.

Uskup Agung dan Kardinal di dunia ini sedikit berbeda dengan mereka yang pernah ada di duniaku dulu.

Meskipun begitu, kedua orang ini tentu saja saling bersaing untuk memperebutkan posisi tertinggi di Gereja Milis.

Harry Grimoire berniat mempertahankan jabatannya, sedangkan Leblanc Mc Farlane ingin merebutnya.

Aku tidak tahu seberapa lama masa jabatan seorang Uskup Agung. Apakah mereka akan mengadakan pemilihan umum setelah beberapa tahun sekali?

Sembari aku memikirkan berbagai hal, Kardinal selesai memperkenalkan dirinya, lalu duduk kembali.

Mereka hanya memperkenalkan nama dan jabatannya saja.

"... Tuan Belmond."

Setelah Cliff mengatakan itu, pria berjubah putih yang duduk di sebelah Leblanc pun berdiri.

Wajah pria itu cukup menyeramkan. Matanya tertutup satu, dan ada luka lebar di mukanya.

Mungkin umurnya sekitar 40 tahun.

Karena dia mengenakan armor putih, mungkin dia berasal dari Ordo Ksatria Gereja.

Ekspresi wajahnya tampak muram.

Kalau tidak salah, Ordo Ksatria Gereja adalah satuan tertinggi yang melindungi negara ini.

Mungkin dia marah padaku karena menyebabkan kekacauan di Pusat Gereja.

"Aku adalah Komandan Letnan dari Pasukan Panah Ordo Ksatria Gereja, namaku Belmond Nash Venick."

Setelah mengatakannya, dia segera duduk.

Sepertinya aku pernah mendengar nama orang ini.

Tatapan matanya tertuju padaku.

Namun, dia menutup mulutnya rapat-rapat.

Saat melihat orang ini aku jadi teringat Orsted dan Ruijerd ...

Ah, aku mengingatnya sekarang…..

Ya… Ruijerd pernah menyebutkan nama seorang ksatria, yaitu Galgard Nash Venick. Dia juga dikenal dengan nama Gouache Brush. [12]

"Apakah kau mengenal Galgard-san?"

"... Aku putranya."

"Aku berhutang budi pada ayahmu."

Aku mengingatnya.

Ayahnya adalah anggota Ordo Perintah, namun anaknya bekerja untuk Ordo Gereja.

Meskipun ayahnya berpangkat tinggi, bukan berarti dia anak yang manja. Posisinya sebagai Komandan Letnan adalah buktinya.

"... Tuan Reilbard."

Setelah itu, berdirilah seorang pria yang juga mengenakan armor putih.

Aku tidak pernah mengenal nama itu. Dia memperkenalkan diri sebagai Komandan Batalyon grup pemanah.

Pada dasarnya, Komandan Batalyon adalah posisi penting setelah Komandan Letnan, dan Komandan Resimen.

"... Tuan Carlyle."

"Maafkan ketidaksopananku tadi…. aku tidak berniat mengabaikanmu.”

Carlyle Latreia memulai perkenalannya dengan meminta maaf.

Jika aku perhatikan lagi…. ternyata Uskup Agung dan Cliff tidak memperkenalkan dirinya, apakah karena mereka sudah mengenalku?

Maka artinya, Claire juga tidak akan mengenalkan dirinya.

Lalu, perkenalan terus berlanjut.

Beberapa orang lainnya memperkenalkan diri mereka, seperti uskup senior dan pimpinan komandan resimen.

Aku juga akan mengingat nama mereka.

Mungkin itu tidak ada gunanya, tapi lebih baik kulakukan.

Jika memungkinkan, sebenarnya aku ingin bertukar kartu nama dengan mereka...

"... Claire-dono."

Nama Claire dipanggil.

Apakah dia termasuk salah satu petinggi Gereja Milis?

Atau mungkin dia dipanggil sebagai tersangka?

Mungkin dia yang telah menyebarkan rumor tentang penculikan Miko olehku.

Kenapa dia membawa Zenith ke sini?

Banyak hal yang ingin kuketahui, namun aku harus sabar… karena mereka akan segera menjelaskan semuanya.

"Aku adalah Nyonya Besar Keluarga Latreia…. namaku Claire Latreia. Ini adalah putriku Zenith. Aku mohon maaf jika dia tidak begitu sopan…. itu karena dia mengalami cacat mental.”

Claire mengatakan itu dengan tenang, lalu duduk kembali.

Dengan begini, maka selesailah sesi perkenalan diri ini.

Para ksatria yang menjaga pintu tidak memperkenalkan dirinya, mungkin karena mereka tidak terlibat langsung dalam diskusi ini.

"Baiklah, mari kita mulai. Kita akan jelaskan apa yang telah terjadi. Kau juga akan mendapatkan kesempatan bicara, Rudeus-sama.”

Ditandai dengan perkataan Uskup Agung tersebut, negosiasi pun dimulai.

Bagian 2[edit]

"Baiklah, Rudeus-sama, pertama-tama ijinkan aku menjelaskan semuanya sekali lagi. Apa kau tidak keberatan?”

"Aku tidak keberatan. Aku juga ingin tahu dengan lebih rinci."

Mungkin ada beberapa orang yang tidak begitu paham dengan kondisi ini.

Wajar saja, karena semuanya terjadi dengan begitu mendadak. Bahkan, barusan beberapa jam yang lalu aku membuat onar di taman Pusat Gereja.

Dengan keadaan sekacau itu, mereka harus mengumpulkan semua orang penting ini…. maka tentu saja ada beberapa informasi yang terlewatkan.

Meskipun banyak orang penting yang menghadiri negosiasi ini, tapi beberapa pemimpin Ordo tidak hadir.

Mungkin ada beberapa orang yang sulit dihubungi setelah insiden itu terjadi.

Namun, aneh rasanya bila pemimpin Ordo Kuil tidak datang di ruangan ini.

"Baiklah… hmmmm, darimana kita harus memulai ya…. semuanya terjadi begitu cepat, bahkan aku barusan saja mendengar insiden ini. Aku tidak bisa mengurutkan informasinya dengan benar.”

Setelah Uskup Agung mengatakan itu sambil menggaruk alisnya, seorang pria mengangkat tangannya.

Itu Belmond.

Atau sebut saja Besh-san. [13]

"Mungkin pihak kami lah yang paling sedikit menerima informasi. Kami datang ke sini hanya karena memenuhi panggilan Kardinal. Kami kira, tugas kami adalah mengremasi jasad si pengacau yang telah mencelakai Miko-sama dan menyebabkan kerusakan negara.”

Merusak negara.

Ya… Miko memang sangat berharga bagi negara ini. Mencelakai Miko sama saja dengan merusak negara. Kasusnya hampir sama dengan Zanoba.

Sebenarnya kekuatan Miko lebih sering digunakan untuk membantu gereja, namun jika dia hilang, Kerajaan Suci Milis juga akan dirugikan.

Insiden yang terkait dengan Miko sangatlah penting, sampai-sampai Besh-san harus segera memenuhi panggilan bosnya.

"Namun, saat kami datang, ternyata para pengawal telah dikalahkan, bahkan Miko-sama telah terculik. Hebatnya, tidak sampai sehari si pelaku kembali lagi ke tempat kejadian, dan tidak mengakui kesalahannya sama sekali.”

Besh merengut sembari mengatakan itu pada Kardinal.

"Singkatnya, kami ke sini seharusnya untuk menangkap si pembuat onar itu, bukannya malah bernegosiasi dengannya. Tapi…. yahh, inilah yang terjadi, sehingga kami lebih memilih bersikap netral.”

Setelah Besh mengatakan itu, dia pun kembali duduk.

Sambil tersenyum, Uskup Agung memandang ke arah Kardinal.

"Kardinal-dono, tolong jelaskan alasanmu mengirim surat panggilan seperti itu. Jangan jelaskan padaku, melainkan pada Rudeus-sama.”

Dengan wajah tanpa ekspresi, sekarang giliran Kardinal berdiri.

Kalau aku boleh menduga, sepertinya Kardinal lah dalang di balik serangan itu.

"Aku menerima informasi dari seorang anggota Keluarga Latreia, bahwa ada orang berbahaya yang telah mengklaim akan membunuh Miko-sama.”

Seorang anggota Keluarga Latreia….

Sepertinya ada yang memata-mataiku saat pergi ke Kediaman Latreia untuk yang kedua kalinya.

Aku sama sekali tidak memperhatikannya, tapi waktu itu aku memang membuat keributan.

Mereka mungkin telah mengirim seseorang untuk memastikan aku tidak melakukan apa-apa.

Tapi, saat itu aku tidak menyatakan hendak membunuh Miko.

Apakah aku tidak sengaja mengatakannya saat berjalan di jalanan? Kemudian si penguntit itu mendengarnya?

Ya…. mungkin saja begitu.

Lalu, si penguntit itu melaporkannya pada Keluarga Latreia.

"Kemudian, kami melakukan penyelidikan hingga akhirnya mengetahui bahwa orang yang merencanakan kejahatan itu adalah Rudeus-dono. Lalu, dia memanfaatkan Therese untuk mendekati Miko-sama, sampai akhirnya memiliki kesempatan untuk membunuhnya.”

Berarti, Kardinal mendengar informasi itu hanya dari rumor. Kenapa kau menanggapinya dengan begitu serius? Bagaimana kalau itu hanya kabar burung? Apakah kau perlu mengerahkan Ordo Ksatria Kuil untuk menanggapi rumor seperti itu?

Yahh…. mungkin dia menganggap serius rumor itu setelah tahu akulah orangnya. Sepertinya, reputasiku sangatlah buruk di mata Kardinal. Itu karena aku berteman dekat dengan cucunya Uskup Agung, dan aku juga dekat dengan ras iblis.

Belum lagi, persetruanku dengan Keluarga Latreia semakin membuatnya benci padaku.

Sayangnya, kabar lain mengatakan bahwa orang bernama Rudeus ini cukup kuat untuk menantang Pasukan Penjaga Makam Suci, yang merupakan pengawal pribadi Miko. Dia bahkan dikenal sebagai Tangan Kanan Dewa Naga.

Yahh…. dengan mempertimbangkan itu semua, maka wajar saja mereka begitu panik.

"Lalu… kami pun berusaha mencegah orang itu. Tapi sepertinya sudah terlambat. Dia sekarang sudah menyandera Miko-sama.”

"Aku mengerti ... namun, itu semua berbeda dari kesaksian Ordo Gereja. Kau harus tahu bahwa ada perbedaan besar antara mencuri dan membunuh.”

"Sepertinya, ada orang yang sengaja melebih-lebihkan kabar itu.”

Kardinal berbicara dengan tak acuh.

Namun, sepertinya aku sudah membaca niatnya.

Dia ingin menjebakku dengan tuduhan perencanaan pembunuhan terhadap Miko, lalu dia akan menyudutkan Fraksi Uskup Agung karena aku membela mereka.

Tapi sayang sekali bung…. Ksatria Kuil yang kau banggakan itu belum cukup untuk menghentikanku.

Bahkan para Otaku itu tahu bahwa aku sengaja tidak membunuh mereka.

"Sekarang giliran Keluarga Latreia angkat bicara ... tapi sebelum kita mendengar pernyataan Tuan Carlyle ... mari kita dengarkan terlebih dahulu pengakuan dari Rudeus-sama. Adakah yang keberatan?”

"..."

Aku sempat berniat menolaknya.

Tapi setelah kupikir lagi, aku tidak perlu takut bicara, dan aku tidak perlu berbohong.

Karena aku tidak salah.

"Jujur saja, kuakui bahwa aku sempat berniat menculik Miko, itu karena aku tidak bisa berpikir dengan kepala dingin. Namun, aku sudah mengurungkan niatan itu.”

"Lalu, apa yang sedang kau lakukan sekarang?”

"Ya… akhirnya aku menculiknya. Itu karena aku punya kesempatan. Sebenarnya aku hanya ingin berkonsultasi dengan Therese mengenai rencana pembebasan ibuku. Tapi, itulah yang memberiku kesempatan mendekati Miko…. dan akhirnya insiden itu terjadi.”

"Katamu, kau sudah mengurungkan niat mencuri Miko-sama. Tidak peduli ada kesempatan atau tidak, harusnya kau tidak akan menculiknya. Lantas… mengapa akhirnya kau lakukan itu?”

Negosiasi ini lebih mirip seperti interogasi, namun Uskup Agung menanyakan itu tanpa emosi sedikit pun.

Seolah-olah, dia memintaku untuk menjawab dengan sejujur-jujurnya.

"Alasannya sudah kusebutkan tadi. Aku ingin mendapat kartu as yang bisa menjamin keselamatanku dan para kolegaku. Malahan, Miko-sama sama sekali tidak menolak saat kuculik.”

"Benarkah itu?"

"Ya. Saat menatap matanya, aku tahu bahwa Rudeus-sama sama sekali tidak berniat jahat padaku.”


Miko mengatakan itu sembari melirik sekelilingnya, lalu Uskup Agung dan Kardinal langsung mengalihkan pandangannya dengan santai.

Terimakasih Miko, pernyataanmu itu tidak akan diragukan oleh mereka. Harusnya, posisiku sekarang sudah aman.

"Tapi, mengapa kau membantai Pasukan Penjaga Makam Suci? Tidak bisakah kau membujuk mereka dengan perkataan yang sopan?”

"Tiba-tiba mereka menjebakku dalam mantra penghalang tingkat tinggi. Lalu mereka menginterogasiku secara sepihak, tanpa memberikan sedikit pun kesempatan untuk membela diri. Mereka pun memutuskan untuk memotong tanganku dan menyegelnya. Jadi…. apakah aku tidak boleh membela diri saat diperlakukan tidak adil seperti itu?”

Kenapa kau bilang ‘membantai’? Aku hanya melumpuhkan mereka, lho. Bahkan tidak ada seorang pun yang mengalami luka fatal.

Aku bahkan tidak serius menyerang Therese, karena wanita itu selalu baik padaku.

Namun… yahh, memang…. kuakui aku khilaf saat melihat Miko muncul tanpa seorang pun pengawal.

Harusnya aku berbicara dulu dengan Therese sebelum menculiknya. Saat itu, harusnya aku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak berniat mencelakai Miko dengan menculiknya.

Ah tidak…. itu mustahil.

Aku sama sekali tidak tahu bahwa saat itu Miko akan muncul, dan Therese tidak akan mendengarkanku meskipun kujelaskan semuanya.

Saat itu, Therese tidak punya pilihan selain menangkapku, jadi percuma saja berbicara dengannya.

"Begitu ya….”

Uskup Agung berbicara perlahan, seolah memaklumi keputusanku.

"Nah…. sebenarnya masalah apa yang kau miliki dengan Keluarga Latreia?”

Saat dia mengatakan itu, tubuh Claire langsung mengejang sesaat.

Saat itu pun, rasa benci kembali menelan hatiku.

Aku kembali mengingat perkataan kotor Claire saat itu.

Semua kejahatan yang pernah dia lakukan padaku…. kembali muncul di dalam memoriku.

Cemoohannya pada Aisha.

Ejekannya pada Zenith.

Dan kesombongannya pada Gisu.

"Nyonya itu menculik ibuku, yang berdiri di sampingnya itu. Lalu dia menahannya di tempat yang tidak kuketahui.”

Saat aku mengatakan itu, amarah semakin meningkat di benakku.

"Ibuku tidak bisa bicara karena mentalnya cacat, tapi…. seolah tidak memperdulikan itu sama sekali, nenek itu memaksanya menikahi pria yang tidak dia kenal, bahkan menginginkan anak darinya.”

Suaraku semakin lantang.

"Tentu saja aku menentangnya, tapi kemudian dia menggunakan cara kotor untuk memisahkanku dengan ibuku. Saat kutanyai dimana ibuku, awalnya dia pura-pura tidak tahu, tapi akhirnya dia mengaku telah menculik ibuku!!”

Orang-orang di sekitarku mulai gemetar ketakutan.

Wajah Therese dan Ksatria Kuil lainnya tampak murung, namun mereka sudah menyiapkan genggaman pada pedangnya masing-masing.

Miko sedikit meringis kesakitan.

Oh maaf… tampaknya cengkramanku terlalu erat. Aku tidak sengaja.

"... Oh…begitu ya…."

Tiba-tiba, seseorang dengan berani memotong pengakuanku.

Orang-orang di sini tampaknya memahami kemarahanku.

Mereka langsung mengalihkan pandangannya pada Keluarga Latreia.

Mereka memelototi Carlyle dan Claire, dan juga melihat Zenith dengan iba. Zenith hanya melihat langit-lamgit dengan tatapan kosong.

"Nah….. Tuan Carlyle, Nyonya Claire. Tampaknya Rudeus-sama menuduh kalian telah berbuat kejahatan, jadi mari kami dengarkan tanggapan kalian…”

Carlyle dan Claire bertukar pandang sejenak.

Aku penasaran, apa yang mereka rencanakan.

Paling tidak, sepertinya Kardinal tidak berusaha membantu mereka.

"Istriku melakukan itu atas keputusannya sendiri, jadi aku tidak mengetahuinya.”

Carlyle mengatakan itu dengan ekspresi tenang di wajahnya.

Dia bahkan tidak membela perbuatan istrinya sendiri.

Tapi, jika Claire sering bertindak sepihak seperti ini, bukankah Carlyle akan dirugikan? Mungkin dia sudah jenuh dengan kebiasaan istrinya itu, jadi wajar saja bila dia tidak membela Claire.

Andaikan aku berada di posisi Carlyle, aku tetap akan bertanggung jawab atas apapun kesalahan yang dilakukan istriku, misalnya…. Eris yang suka berbuat onar. Tidak mungkin aku mencampakkan Eris begitu saja, hanya karena dia berbuat salah.

Umur pernikahan mereka begitu panjang, namun itu belum menjamin hubungan suami-istri yang harmonis.

Yang pasti…. aku tidak akan pernah melakukan itu pada istri-istriku.

Aku jadi sedikit tersinggung.

Aku ingat Cliff pernah menceritakan ini padaku…..

Di Milis, ketika seorang wanita menikah, keluarganya akan memberikan hadiah pada suaminya, namun sebagai gantinya… sang suami harus siap membantu kapanpun istrinya membutuhkan pertolongan.

Idealnya seperti itu…. namun, apakah Carlyle dan Claire menunjukkan contoh yang salah pada kami?

"Tentu saja aku berniat bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, tapi… Anda sekalian harus tahu bahwa tindakan Claire belum disetujui oleh semua anggota Keluarga Latreia.”

Apakah dia juga merasa bersalah?

"Aku mengerti….. Nyonya Claire, bagaimana tanggapanmu?"

"..."

Claire tidak menjawab.

Dia hanya menutup mulutnya rapat-rapat dengan wajah cemberut.

"Kuanggap diammu itu sebagai pengakuan.”

Uskup Agung mengatakan itu, lalu kembali melihat kami.

Sebelum ada tanggapan dari siapapun, Uskup Agung kembali berkata.

"Kalau begitu, Nyonya Claire dinyatakan bersalah. Tuan Carlyle juga akan bertanggung jawab. Maka, kita akan akhiri diskusi ini dengan memberikan hukuman pada Nyonya Claire, dan pertanggung jawaban pada Tuan Carlyle. Apakah ada yang keberatan?”

Ada sesuatu yang aneh.

Seseorang telah mengaturnya.

Aku merasa bahwa kesepakatan itu sudah disetujui sejak awal.

Jalannya diskusi ini terlalu lancar.

"Tidak ada!"

Kardinal merespons lebih cepat daripada siapa pun.

"... Tidak ada sanggahan!"

"Tidak ada keberatan!"

Satu demi satu, orang-orang lainnya menyatakan persetujuan dengan Kardinal.

Wajah Claire membiru, namun dia tidak kehilangan ketenangannya.

Sampai kapan dia bungkam seperti itu?

Pasti ada alasan tertentu.

Yahh, tapi tidak apalah…. kalau dia mengajukan keberatan, mungkin emosiku tidak lagi bisa kukendalikan.

Selama Zenith dapat dikembalikan pada kami…. itu sudah cukup bagiku.

Kami tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Keluarga Latreia… begitu pun dengan Zenith, Norn, Lilia, dan Aisha.

Berakhir juga….

"Apakah kau punya tuntutan lain, Rudeus-sama? Jujur saja, insiden ini juga merugikan bagi kami. Kami sama sekali tidak berniat memusuhi Rudeus-sama, ataupun Dewa Naga Orsted. Malahan, kami ingin menjaga hubungan baik dengan kalian.”

Aku melihat Uskup Agung.

Dia tersenyum ramah, seperti biasanya.

Lalu, aku mengalihkan pandanganku pada Kardinal.

Saat kami saling pandang, dia sedikit mendesah, dan keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya.

"T-tentu saja Fraksi Kardinal juga tidak ingin membuat masalah dengan Dewa Naga Orsted. Bahkan, kami sangat mendukung Dewa Naga Orsted yang akan mengalahkan reinkarnasi Dewa Iblis Laplace di masa depan. Tapi, kami akan menunda ijin penjualan patung ras iblis sampai sidang selanjutnya……”

Setelah Kardinal menyatakan itu, sepertinya aku mulai memahami sesuatu.

Uskup Agung adalah dalang di balik insiden ini.

Kemungkinan besar, orang yang membocorkan soal penculikan Miko adalah bawahan Uskup Agung.

Dengan berpura-pura sebagai bawahan Keluarga Latreia, orang itu menyebarkan isu upaya pembunuhan Miko olehku.

Atau mungkin, ada anak buah Uskup Agung yang menyusup pada Keluarga Latreia. Dia tahu bahwa aku sedang berseteru dengan Keluarga Latreia, lalu menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan rumor pembunuhan Miko.

Apapun itu….. tidak masalah bagiku.

Sebenarnya, si mata-mata ini tidak yakin apakah Kardinal akan termakan isu itu.

Namun, dari sudut pandang Kardinal, tentu saja rumor pembunuhan Miko tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi yang berusaha membunuhnya adalah seorang Rudeus Greyrat.

Aku berteman dekat dengan Cliff, bahkan menjadi tangan kanannya Orsted.

Mungkin, Kardinal menganggapku sebagai pembunuh bayaran yang sengaja disewa Uskup Agung untuk melenyapkan Miko dan memusuhi Keluarga Latreia.

Tidak heran dia ingin menyingkirkanku.

Kardinal bisa saja mengerahkan seluruh pasukan Ordo Ksatria Kuil untuk menangkapku, namun dia tidak melakukannya. Mungkin karena awalnya dia meremehkanku, atau tidak menduga bahwa aku bisa melumpuhkan Pasukan Penjaga Makam Suci.

Di sisi lain….. Uskup Agung tahu bahwa aku tidak akan membunuh Miko.

Dari pembicaraan kami sebelumnya, dia tahu aku bukan orang jahat.

Maka, Uskup Agung tidak ragu menjalankan rencana ini.

Rencana ini benar-benar menguntungkan fraksinya. Meskipun aku kalah melawan Ksatria Kuil atau bahkan terbunuh oleh mereka, Fraksi Uskup Agung tidak akan dirugikan.

Aku memang dekat dengan Cliff, dan mendukungnya menjadi orang penting di Gereja Milis, tapi aku tidak benar-benar membela fraksi kakeknya. Uskup Agung tahu bahwa aku punya tujuan lain di sini.

Jadi, tidak masalah jika ’pendukung dadakan’ ini dikorbankan.

Uskup Agung tidak perlu mengotori tangannya, sehingga dia melaksanakan rencana itu.

Jika rencananya ini terbongkar, atau terungkap oleh kemampuan Miko, dia bahkan siap menggunakan Cliff sebagai kambing hitam.

Jika keadaannya semakin kacau, bahkan sampai membawa Orsted kemari, dia hanya perlu menyalahkan Fraksi Kardinal yang telah mencelakaiku.

Karena sama-sama melawan Fraksi Kardinal, mungkin dia juga berencana untuk bersekutu dengan Orsted.

Namun…. aku menang melawan mereka, dan situasinya menjadi seperti ini.

Kalau begitu, saatnya rencana B.

Apa itu rencana B?

Sederhana…. penuhi saja tuntutan Rudeus Greyrat.

Hukum Keluarga Latreia, maka semuanya senang.

Aku yakin, baik Uskup Agung maupun Kardinal sama-sama tidak peduli siapapun yang dikorbankan…. asalkan posisinya aman.

Korbannya kali ini adalah Claire, yang begitu aku benci.

Tuntutanku akan terpenuhi bila Claire dihukum, dan masalah pun selesai.

Lagi-lagi…. Uskup Agung tetap diuntungkan, karena Keluarga Latreia berada di pihak lawan.

Pada akhirnya, hanya Fraksi Kardinal yang merugi.

Sial….

Semuanya sudah diatur oleh kakek itu.

Seolah-olah, aku menari-nari di telapak tangannya.

Yahh…. aku sih tidak masalah.

Selama Zenith kembali pada kami…. aku tidak masalah.

Toh, aku juga bisa membalas dendam pada Claire.

Bahkan, rencanaku membuka cabang PT. Rudo bisa kembali berjalan.

"Aku tidak keberatan."

"Kalau tidak ada yang keberatan, saatnya kubacakan hukumannya. Nyonya Claire Latreia akan dihukum penjara selama 10 tahun.”

"Fue !?"

Tiba-tiba aku menjerit aneh.

"Ada apa, Rudeus-sama?"

"... 10 tahun?"

"Ya…. kejahatannya cukup besar. Dia menculik kerabat Rudeus-sama, sehingga bisa merusak hubungan kami dengan Dewa Naga. Terlebih lagi, dia lah yang menuduh Rudeus-sama berencana membunuh Miko-sama, padahal itu semua tidak benar.”


"T-tapi..."

"Rudeus-sama bisa saja membunuh Miko-sama dengan mudah, jika kau punya niat jahat. Namun itu tidak terjadi, kan? Berarti dia telah memfitnahmu. Fitnah adalah kejahatan yang cukup kejam, maka….. 10 tahun agaknya terlalu ringan untuknya.”

Benarkah?

Tapi…..

Kenapa hanya Claire yang disalahkan?

Bukankah ada orang lain yang terlibat dalam insiden ini?

Bahkan…. bisa dibilang….

Claire hanyalah korban persaingan politik kedua fraksi.

10 tahun...

Itu bukanlah waktu yang singkat.

Padahal, wanita itu sudah tua.

Bisa-bisa dia mati di penjara.

Kenapa tidak ada seorang pun yang keberatan?

Therese-san…? Ibumu mau dihukum lho…. bahkan, mungkin kau tidak akan bertemu lagi dengannya. Kenapa kau hanya diam saja?

Ini forum, kan? Semua boleh berpendapat, kan?

Maka, setidaknya bicaralah…..

Memang Claire bersalah.

Jika dia tidak menculik Zenith, ini semua tidak akan terjadi.

"..."

"Forum ini sudah cukup resmi dengan kehadiran setidaknya tiga uskup dan tiga komandan batalyon, jadi kami sudah boleh menentukan hukumannya. Nyonya Claire Latreia akan dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun, dan pertanggung jawaban akan dijatuhkan pada Tuan Carlyle Latreia pada sidang berikutnya yang lebih formal.”

"Setuju."

"Sepakat."

Kardinal, para uskup senior, dan ksatria mengatakan itu dengan mantap.

"Kalau begitu, Belmond-dono, tolong tangkap pasangan Latreia ini dengan bantuan Ordo Ksatria Gereja yang berada di pihak netral. Adapun pihak-pihak lain yang terlibat dalam kasus ini akan ditentukan nasibnya nanti.”

Uskup Agung bertukar pandang dengan Ordo Gereja, lalu mengangkat tangannya sebagai aba-aba.

Besh dan dua orang lainnya langsung berdiri, kemudian mereka segera menghampiri Claire dan Carlyle.

Saat melewati Therese, dia mengerutkan alisnya sesaat.

Ksatria Gereja mengeluarkan benda mirip borgol dari saku bajunya, lalu membelenggu Claire.

Carlyle mengikuti proses penangkapan dengan patuh, lalu mereka keluar ruangan bersama Ordo Ksatria Gereja.

Namun, Claire masih belum beranjak dari tempat duduknya.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dia berdiri dengan tubuh gemetaran.

Ekspresi wajahnya tidak berubah, tapi badannya jelas terlihat gemetaran dari ujung kepala sampai kaki.

"Ayo…. Nyonya Claire."

"A-a-aku ..."

Ordo Gereja perlahan mengantarkan Claire keluar ruangan.

Claire akan ditangkap, dan dipenjara.

Aku jadi merasa sedikit berdosa, tapi…. dengan begini masalah usai.

"..."

Tiba-tiba, aku dan Cliff saling menatap.

Dia terlihat bingung.

Kenapa kau bingung, Cliff?

Sejujurnya, aku sendiri juga bingung.

Bagaimana bisa seorang nenek didakwa 10 tahun penjara melalui suatu penghakiman yang sama sekali tidak adil.

Ini konyol.

Tapi, bukankah ini aturan yang berlaku di sini, Cliff?

Aku juga menerima perlakuan serupa dari Ordo Ksatria Kuil.

Jadi…. tidak ada yang salah, kan?

"Ayo….. Nyonya Claire."

Belmond perlahan mengulurkan tangannya pada wanita tua itu.

Dengan ketakutan Claire menatap tangan itu, seolah ingin melarikan diri ...

"Hn!"

Detik berikutnya, Belmond terpental.

Lalu, dia jatuh berguling-guling dengan suara dentangan yang keras dari armor-nya.

Belmond segera kembali berdiri, dan menyiapkan pedangnya.

Bukan Claire yang mendorongnya. Tentu saja bukan….. bagaimana bisa seorang wanita tua merobohkan pria sekekar itu.

Yang mendorongnya adalah seorang wanita dengan tatapan kosong di matanya.

Sejak tadi dia hanya duduk diam di samping Claire, namun saat Claire hendak ditahan, dia langsung bereaksi keras.

Zenith lah yang melakukan itu.

Lalu, dia merentangkan tangannya lebar-lebar, seolah tak mengijinkan seorang pun mendekati ibunya.

Dia menatap Belmond dengan mata kosong, tapi aku bisa merasakan aura kemarahan terpancar dari Zenith.

Dia melindungi Claire.

"...!"

Belmond terlihat kebingungan. Tapi aku lebih bingung lagi.

Kenapa Zenith melindungi Claire?

Apakah itu gerakan refleks?

Aku pernah melihat Zenith bergerak dengan normal layaknya orang sehat, namun hanya pada saat-saat tertentu.

Seperti saat dia memukulku ketika memutuskan menikahi Roxy, atau ketika dia menggendong Lucy yang masih kecil.

Mungkin, dia melakukan itu saat merasa keluarganya terancam.

Jadi, dia tahu jalannya persidangan ini? Dia tahu kalau Claire akan dihukum? Sehingga dia pasang badan untuk melindungi ibunya?

Bukankah itu berarti…… pikirannya sudah kembali normal?

"..."

Sepertinya ada sesuatu yang kulewatkan.

Ada sesuatu yang salah.

Aku selalu saja ceroboh di saat-saat genting seperti ini.

Jika aku menganalisisnya dengan tenang, mungkin aku bisa menemukannya. Tapi, sekarang aku tidak punya waktu.

Tak lama lagi Belmond akan menyingkirkan Zenith, kemudian membawa Claire dengan paksa.

Haruskah kuhentikan dia?

Apa konsekuensinya jika kuhentikan Belmond?

Aku harus bertanya pada siapa?

Tapi…….. Claire….. Zenith ..... Ahhh!!! Sial!!

"Tunggu sebentar!"

Seseorang berteriak untuk menghentikan Belmond, sembari melihat padaku yang masih kebingungan.

Seseorang bertubuh kecil langsung menyela di depan Zenith.

Dia adalah orang yang terus melihatku dengan ragu sejak tadi.

Dialah Cliff.

"Ini tidak benar!"

Dia berdiri di antara Belmond dan Zenith.

"Memaksa wanita tua mendapatkan hukuman seberat itu bertentangan dengan ajaran Milis-sama!”

"Seorang pendeta biasa berani membantah keputusan gereja? Hei bocah, jangan mengajariku soal agama!”

Kardinal segera menegur Cliff dengan suara lantang.

"Kalau Anda sudah kenyang dengan ajaran Milis-sama, maka beritahu aku, Kardinal …. apakah tindakan seperti ini dibenarkan oleh Milis-sama? Lihatlah mereka! Suaminya sama sekali tidak membela istrinya, bahkan hanya putrinya saja yang berani melindungi sang ibu. Dan kalian malah menyuruh seorang pria kekar untuk menyeret wanita tua yang tidak berdaya ini ke penjara!!??”

"Putrinya itu tidak waras!!”

"Ini tidak ada hubungannya dengan kewarasan!!”

Kardinal menampakkan wajah marahnya pada Cliff, namun Cliff terus menentangnya.

Kardinal segera menoleh pada bawahannya, yaitu para Ksatria Kuil.

Sudah jelas dia akan memerintahkan bawahannya untuk membungkam Cliff.

Dia juga melihat Therese.

Cliff pun memandang Therese.

"Komandan Kelompok Perisai Ordo Ksatria Kuil, Therese Latreia-dono! Dia juga ibumu, kan!!? Kenapa kau sama sekali tidak keberatan!? Milis-sama pernah bersabda, ’Seorang ksatria tidak boleh melupakan kesetiaannya. Namun, ada kalanya kau harus mendahulukan kepentingan orang yang kau cintai.’ Bukankah kau harus mencintai ibumu!? Dia yang telah susah-payah melahirkanmu!! Dia juga yang membesarkanmu sampai sekuat ini!! Kenapa kau sama sekali tidak merasa berhutang budi pada wanita tua ini!!?”

Dengan wajah sedih, Therese hanya memalingkan pandangannya.

Masih dengan wajah berangnya, Cliff mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Dia gantian menatapku.

"Kamu juga, Rudeus!"

Seperti biasa, dia langsung protes padaku dengan idealismenya yang tak tergoyahkan.

"Apakah kau puas dengan hukuman itu? Belakangan ini sikapmu aneh, kau tidak seperti Rudeus yang biasa kukenal! Menculik Miko-sama, memusuhi nenekmu sendiri, bahkan membiarkannya saat dia akan dihukum…. apakah kau puas dengan semua itu!!??”

"..."

Saat mendengar itu, aku hanya bisa terdiam.

Bukan begitu, Cliff…..

Aku tidak berniat menyandera Miko.

Bahkan orang yang hendak memenjarakan Claire bukan aku.

Memang ini semua salah Claire.

Bukankah wajar jika dia dihukum?

Kau tidak bisa membatalkan hasil diskusi hanya dengan marah-marah seperti itu.

"Aku tahu kau sedang berselisih dengan nenekmu, tapi bukankah kau selalu punya solusi yang lebih baik dari ini?? Norn-kun selalu bercerita padaku bahwa kakaknya sangat mementingkan keluarga. Meskipun dia telah melakukan kesalahan padamu, bukankah sebaiknya kau memaafkannya? Bukankah masalah sudah usai jika ibumu dikembalikan? Dia tidak perlu dipenjara selama 10 tahun penuh, kan? Bukankah kau juga ingin menyelesaikan masalah ini dengan damai?? Buktinya, kau tidak mengobrak-abrik Kediaman Keluarga Latreia, padahal kau sangat bisa melakukannya. Kau justru berdiskusi dengan Therese-dono, kakekku, dan orang-orang lain yang bisa memecahkan masalah ini dengan damai!”

Sepertinya dia salah paham tentang sesuatu.

Aku memang menginginkan solusi yang damai, tapi itu semata-mata untuk kepentingan PT. Rudo dan posisimu sebagai cucunya Uskup Agung.

Kalau aku hanya mementingkan keselamatan keluargaku, mungkin sudah kudobrak pintu rumah Keluarga Latreia, lalu menyelamatkan Zenith, dan segera pulang ke Sharia.

Tapi sepertinya Cliff tidak mau mendengar alasan seperti itu.

"..."

"Jawab aku! Rudeus Greyrat! Apakah kau menyetujui keputusan ini atau tidak!? Jika kau jawab tidak, mungkin aku akan mencemoohmu seumur hidup!”

Entah kenapa pertanyaan Cliff itu menembus begitu dalam pada hatiku.

Mengapa?

Apakah hati kecilku setuju padanya?

Apakah aku berharap Claire dibebaskan?

Tapi Claire sungguh jahat, dia bahkan tidak menerimaku sebagai keluarganya.

Aku juga tidak sudi menganggapnya sebagai nenekku.

"..."

Namun, masih ada sesuatu yang menggangguku.

Aku tidak tahu apa itu.

Aku tidak tahu apa jawabannya.

"Cliff-senpai ... Sebelum aku menjawab itu, bisakah aku mengajukan pertanyaan pada Claire-san?"

"...?"

Tanpa menunggu tanggapan Cliff, aku berbalik menghadap Claire.

Dengan ekspresi bercampur rasa takut dan teguh, Claire menatapku.

"Kenapa, kamu menculik ibuku ...?"

Claire tidak mengubah ekspresinya.

Dia hanya menjawab dengan tak acuh.

"Demi kebaikan putriku dan keluargaku.”

"Demi kebaikan putrimu? Apakah memaksa ibu menikah dengan lelaki yang tidak dia kenali adalah hal yang baik baginya?”

"Tergantung situasi dan kondisi."

Secara refleks, aku mengepalkan tanganku.

Aku menggertakkan gigi dan mengumpulkan Mana pada tanganku.

Ada apa dengan nenek ini?

Kenapa dia begitu teguh dengan pendiriannya? Andaikan dia mengaku salah, mungkin situasinya akan berubah, tapi dia masih saja menganggap keputusannya benar.

"..."

Yang lainnya memandangku, seolah menunggu keputusanku.

Apakah aku berhak menentukan nasib nenek ini?

Oh iya…. tentu saja… karena aku masih menyandera Miko.

Mereka pasti akan mendengarkan perkataanku.

"Mana yang lebih penting bagimu…. putrimu atau keluargamu?"

"Keduanya sama pentingnya."

Amarahku semakin memuncak setelah mendengar jawaban tanggung itu.

Kenapa dia tidak memohon padaku untuk dimaafkan?

Harusnya dia tahu bahwa akulah yang berkuasa di sini, karena masih menyandera Miko.

Kalau kau memohon ampunanku, mungkin aku akan berubah pikiran.

Ah tidak…. mungkin aku tidak akan mengampuninya sepenuhnya, tapi… siapa tahu hukumannya bisa diringankan.

Mungkin hukumannya bisa diringankan 3 atau 4 tahun saja. Asalkan dia dihukum, aku sudah puas…. tidak perlu sampai mati.

Maka…

Lebih baik kau cepat minta maaf padaku…

Dan semuanya akan baik-baik saja.

Aku masih ragu, namun Claire hanya mendengus kasar.

"Tidak perlu repot-repot, toh aku tidak butuh bantuanmu….. kalau memang tindakanku ini pantas dihukum, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada.”

"...!!!

K…k…kau… Ahhh!!! Sial!! Aku tidak peduli lagi!!!

Zenith melindungimu….

Cliff melindungimu….

Tapi…. malah seperti itu sikapmu…..

Aku tidak bisa memaafkanmu lagi.

"Baiklah, kau sendiri yang minta…. Aku tidak akan…. Hm?”

Tiba-tiba kalimatku terpotong….

Aku merasakan sesuatu menyentuh pundakku….

Saat aku menoleh, ternyata Miko sedang meletakkan tangannya pada pundakku.

"Rudeus-sama."

"Ya?"

Kali ini Miko tidak tersenyum seperti biasa, wajahnya polos tanpa ekspresi.

Namun, wajah polos itu justru memancarkan keagungan gadis ini.

"Tolong bantu dia."

"Kenapa?"

Aku tidak akan terjebak dalam situasi ini.

Aku sudah tidak lagi memiliki niat untuk memaafkan Claire.

Bahkan dia tidak berniat meminta maaf padaku.

Dia hanya seorang ibu jahat yang coba mempermainkan putrinya sendiri.

Dia tidak pernah menginginkan cucu sepertiku.

Kalau rencananya tidak berjalan dengan baik, dia lebih memilih menerima kegagalan itu, asalkan gengsinya tetap terjaga.

"Claire-sama benar-benar hanya memikirkan putri dan keluarganya."

"Semua ibu juga begitu."

Setiap ibu di dunia ini pasti mementingkan anak dan keluarganya…. namun tidak begini caranya.

Meskipun kau punya niat baik, kau tidak boleh memaksakan kehendak pada orang lain.

Keinginan Claire bahkan akan membuat Zenith menderita.

Anak mana yang mau dipaksa orang tuanya?

"Rudeus-sama, kau masih termasuk dalam keluarga yang dilindunginya.”

"Apa maksdumu?"

"Dalam keadaan seperti ini pun, Claire-sama tidak berhenti memikirkanmu.”

Aku?

Dia memikirkanku?

Lantas, mengapa dia berbuat jahat padaku?

Kenapa bisa seperti ini?

Aku tidak mengerti.

Aku sama sekali tidak mengerti.

Jelaskan itu padaku!

"Tolong percayalah. Hanya dengan menatap matanya, aku mengetahui segalanya.”

Ah iya….

Kemampuan khusus Miko….

Dia bisa mengungkap pikiran orang hanya dengan menatap matanya.

Dengan kata lain, Claire punya alasan melakukan ini.

Tapi aku tidak tahu apa alasannya.

"Claire-san, apakah perkataan Miko-sama benar? Bisakah kau menjelaskannya padaku? Aku sama sekali tidak paham.”

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku bahkan tidak tahu apa yang Miko-sama bicarakan. Aku yakin dia sedang berbohong. Aku tidak pernah memikirkanmu sedetik pun.”

Angkuh sekali.

Cliff, Miko-sama.

Tak peduli sebanyak apapun kalian membela nenek ini, aku sama sekali tidak bisa melihat niat baiknya.

Tentu saja ada beberapa hal yang terasa janggal…..

Tapi, kalau dia sendiri tidak mengungkapkannya, maka aku tidak akan bisa paham.

Mari kita akhiri ini.

"Aku tidak pernah berniat berdamai dengan orang yang tidak memerlukan bantuanku.”

Saat aku mengatakan itu sambil menghela napas, Claire hanya mengangguk pelan.

Cliff menatapku dengan kecewa, sedangkan Miko tampak sedih.

Therese menatap Claire, Belmond mulai bergerak, dan Zenith ---

--- entah sejak kapan, tiba-tiba Zenith berdiri di depanku.

"..."

Lalu….

Dia menampar pipiku.

Tidak keras.

Tamparan itu begitu lembut, bahkan tidak meninggalkan luka.

"Hah?"

Namun….

Entah kenapa…. rasanya sakit sekali.

Bekas tamparan Zenith terasa panas sekali.

"...!"

Air mataku tiba-tiba mengalir.

Saat aku masih kebingungan, Zenih meninggalkanku begitu saja.

Kemudian aku menolah pada Carlyle yang sedang diborgol sembari melihat semua adegan ini. Beberapa saat kemudian, akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan ini.

Karena dia pergi membelakangiku, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.

Namun, aku yakin wajahnya dipenuhi ekspresi resah, khawatir, dan bingung.

Dia juga tidak tahu harus berbuat apa.

Dengan sempoyongan, Zenith terus berjalan menjauhiku.

Tidak ada yang menghentikannya.

Bahkan Ksatria Gereja dan Ksatria Kuil.

Saat Zenith terus berjalan, seolah waktu berhenti.

Akhirnya, dia sampai di depan Claire.

Dia membuka telapak tangannya lebar-lebar dan mengangkatnya, seolah ingin menampar ibunya sendiri….

Tapi…. itu bukan tamparan….

Dia dekatkan kedua telapak tangannya pada pipi Claire, lalu menyentuhnya dengan lembut.

Lalu dia tatap wajah Claire dari dekat.

Zenith juga membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya.

Namun, ekspresi Claire langsung berubah saat melihat wajah Zenith dari dekat.

Dia membuka matanya lebar-lebar.

Lalu, bibirnya gemetaran.

Pipinya, bahunya, tubuhnya…. semuanya gemetaran.

Bahkan sampai ujung jarinya juga gemetaran…. dalam keadaan seperti itu, dia berusaha mengangkat tangannya, lalu memeluk Zenith erat-erat.

"O ... A ... Aa ... Aaaaah ..."

Claire mengerang… namun tidak jelas apakah itu ratapan atau tangisan.

Kemudian, nenek itu mengangkat tangan pada pipi Zenith, memegangnya, dan mendekatkan ke wajahnya seolah ingin menciumnya.

Setetes demi setetes…. air matanya mulai mengalir.

Seolah tak tahan lagi dengan kesedihan ini, akhirnya Claire jatuh berlutut.

"Ah"

Saat itu juga, aku mendengar suara dari belakangku, dan tiba-tiba seseorang berlari melewatiku.

Itu Carlyle.

Dengan tangan masih terborgol, dia berlari mendekati istrinya.

Kemudian, sembari duduk di sampingnya, dia berbicara.

"Claire, hentikan sikap keras kepalamu itu….."

"A ... Aaah, sayangku ... Zenith... Zenith ..."

Dengan wajah berantakan, Claire memeluk Carlyle sembari menagis tersedu-sedu.

Carlyle seakan berusaha memeluk istrinya, tapi karena tangannya masih terborgol, dia tidak bisa melakukannya. Dia hanya bisa menempelkan tangannya pada Claire yang masih memeluk putrinya sembari menangis putus asa.

"Tidak apa-apa…. jangan terlalu memaksakan diri….”

Setelah Carlyle mengatakan itu, dia berdiri.

Sembari mendengarkan tangisan Claire yang menggema di setiap sudut ruangan, Carlyle melihat sekelilingnya, lalu mengatakan sesuatu.

"Maafkan aku. Biarkan kami menjelaskan semuanya. Bolehkah aku memohon hukumannya ditunda sampai kami selesai berbicara?”

Setelah mendengar permohonan Carlyle, seluruh hadirin yang semula diam, akhirnya mulai bergerak satu per satu.

Namun, Uskup Agung, Kardinal, Cliff, Belmond, Therese, dan Pasukan Penjaga Makam Suci…. semuanya melihat padaku.

Miko juga menarik-narik lengan bajuku dengan kedua tangannya.

Saat itu, aku baru sadar bahwa aku telah melepaskan tangan Miko.

"... Aku mengerti."

Aku kembali tersadar, seakan bangun dari mimpi.

Namun, bekas tamparan Zenith masih terasa panas.

Bab 14: Untuk Keluargaku Dan Putriku[edit]

Bagian 1[edit]

Sejak lahir, Claire Latreia memang memiliki watak yang keras.

Dia adalah seorang anak yang tidak mengakui kesalahannya sendiri, dan menolak minta maaf.

Ibunya, Melody Latreia, yang merupakan nenek buyut Rudeus Greyrat, mengatakan ini:

"Jadilah orang yang sempurna.”

Sepertinya, perkataan itu salah mendidik Claire.

Claire tumbuh menjadi wanita yang tidak pernah bisa mengoreksi kesalahannya sendiri, dan keras kepala.

Sebenarnya tidak masalah jika dia keras kepala, asalkan benar.

Namun, manusia tidak pernah luput dari kesalahan.

Sepertinya pendidikan itu sukses.

Claire pun menjadi orang yang berwatak keras.

Berwatak keras, dan salah.

Dia bertindak keras pada dirinya sendiri dan orang lain.

Dia tumbuh menjadi orang yang tidak mentolelir kesalahan.

Baik kesalahan sendiri, maupun kesalahan orang lain.

Nah… inilah masalahnya.

Dia selalu menyamakan dirinya sendiri dengan orang lain.

Dengan kata lain, dia tidak pernah mentolelir kesalahan orang lain.

Seperti itulah wanita bernama Claire Latreia.

Tak pernah ada orang yang bisa menyembuhkan keras kepalanya.

Setiap kali Claire menghadapi kesulitan, dia akan mengatasinya dengan serius.

Namun, Claire tidak akan pernah membiarkan orang lain mengetahui kelemahannya.

Claire tidak akan pernah mengubah sikapnya meskipun ada kesempatan untuk melakukan itu.

Itulah yang membuatnya sungguh menyebalkan.

Karena sikap disiplinnya, Claire mendapatkan banyak prestasi, dan orang lain pun melihatnya sebagai wanita yang berbakat. Namun, mereka benci saat Claire membanding-bandingkan prestasnya dengan orang lain. Itulah yang sering membuat orang benci padanya.

Dia benci kegagalan.

Jika orang lain mengungkap kegagalannya, Claire tidak akan pernah memaafkan dia.

Dia adalah wanita dingin yang tidak pernah memahami perasaan orang lain, bahkan mencobanya pun tidak.

Tentu saja, ada beberapa orang yang bisa melihat sifat aslinya.

Mereka tahu betapa keras Claire berusaha untuk mendapatkan prestasi itu.

Namun…. tidak semua orang bisa melihat sifat positif Claire.

Bahkan, ada beberapa orang yang tidak membicarakan sifat baik Claire, meskipun mereka mengetahuinya. Itu karena mereka terlalu benci pada Claire.

Orang-orang yang masih bersimpati padanya berkata, ”Aku tahu betapa keras kau berusaha, tapi orang lain tidak akan mengetahui itu, kecuali kau mengungkapkannya.”

Dia tidak akan mendengarkan saran seperti itu.

"Ibuku berkata… ‘jangan pernah berubah jika kau tidak menganggapnya salah’….” seperti itulah wataknya. Padahal dia tidak pernah merasa salah, oleh karena itu dia tidak pernah berubah.

Saat lulus dari Sekolah Kerajaan Suci Milis, dia mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan pidato perpisahan…. namun banyak orang tidak respek padanya.

Bahkan setelah dewasa, dia belum juga memutuskan untuk menikah.

Namun, dia menerima banyak lamaran karena statusnya sebagai putri tertua Keluarga Latreia. Sayanynya, pria-pria bangsawan yang mengetahui sifatnya yang keras, akhirnya mengundurkan diri satu per satu.

"Kalau aku tidak juga mendapatkan suami, maka aku bisa menjadi biarawati.” setelah umurnya mencapai 18 tahun, itulah yang dia katakan untuk membenarkan tindakannya.

Ya…. itu ada benarnya. Daripada dijuluki perawan tua sehingga mempermalukan keluarganya, lebih baik dia menjadi biarawati saja.

Umumnya, seperti itulah cara berpikir wanita di Kerajaan Suci Milis kala itu.

Bagian 2[edit]

Namun, ada seorang pria muda bernama Carlyle Granz.

Carlyle adalah Ksatria Kuil junior yang masih menjadi bawahan ayah Claire, yang merupakan anggota Kelompok Pedang Ordo Ksatria Kuil, bernama Ralkan Latreia.

Suatu malam, ayah Claire pulang dalam keadaan mabuk.

Dia juga orang yang keras seperti Claire.

Keras pada dirinya sendiri, ibu Claire, dan juga Claire.

Jadi…. jarang sekali orang sedisiplin itu pulang dalam keadaan mabuk.

Tapi, ini bukan pertama kalinya.

Biasanya, jika suaminya pulang dalam keadaan seperti itu, ibu Claire akan memapahnya.

Kemudian melepas armornya, memberinya minum, lalu mengantarnya tidur.

Ibu Claire tidak akan menegur suaminya.

Karena dia tahu bahwa pekerjaannya sebagai Ksatria Kuil tidaklah mudah dan menyebabkan stress.

Sayangnya, malam itu ibu Claire ada urusan di rumah orang tuanya.

Claire pun melihat kelemahan ayahnya untuk yang pertama kalinya.

Lalu, Claire menegur ayahnya.

"Sebagai kepala Keluarga Latreia, apakah ayah tidak malu? Apakah pelajaran ayah selama ini hanya omongan saja?” kurang-lebih seperti itulah yang dia tuntut.

Ayahnya tidak bisa menjawab.

Namun, ternyata ayahnya tidak pulang sendirian, dia ditemani juniornya bernama Carlyle. Si junior itu coba menjawab pertanyaan dari putri atasannya.

"Ada sebabnya kenapa kapten pulang mabuk-mabukan hari ini. Salah seorang rekan kami gugur dalam pertarungan. Itu bukan salah siapa pun. Lalu, kami mengakhiri hari ini dengan minum untuk menghormati jasa-jasanya. Kapten minum banyak, karena dia sangat menyesali kepergian rekan kami itu. Jadi, sebagai putrinya, tolong pahamilah perasaan kapten.”

Saat mendengar penjelasan itu, Claire terdiam.

Dia tidak tahu harus berkata apa.

Namun, dia tidak marah.

Tanpa mengucap apapun, dia membantu ayahnya.

Dia memberi air pada ayahnya, lalu memapahnya. Karena terlalu berat, Carlyle membantu membawa sang ayah ke kamarnya, mengganti bajunya, lalu menidurkannya di ranjang.

Claire masih tidak mengatakan sepatah katapun.

Claire tahu perkataannya tadi salah, namun dia tidak mau meminta maaf pada ayahnya, ataupun Carlyle. Wataknya yang keras tidak mengijinkannya minta maaf.

Namun, Carlyle tahu akan hal itu.

Meskipun wajah Claire hanya cemberut, Carlyle bisa membaca penyesalan yang tersembunyi di baliknya.

"Kau baik juga."

Carlyle mengatakan itu ketika dia pergi.

Awalnya, Claire tidak mengerti maksud pria itu.

Namun, akhirnya dia tahu bahwa pria yang lebih muda setahun atau dua tahun darinya ini telah membaca perasaannya.

Setelah itu, Carlyle sering diundang untuk berkunjung ke Kediaman Keluarga Latreia, dan akhirnya dinikahkan dengan Claire.

Bagian 3[edit]

Pasangan itu dianugerahi 5 anak, yang terdiri dari seorang putra, dan 4 putri.

Claire membesarkan mereka dengan disiplin.

Dia mendidik mereka dengan keras, seperti apa yang telah dia pelajari selama ini.

Putra tertua menjadi Ksatria Kuil.

Anak perempuan tertua menikah dengan keluarga Marquis.

Claire bangga dengan keduanya.

Mereka tumbuh menjadi orang sukses yang tidak akan merusak nama baik keluarga di mana pun mereka hidup.

Namun, Claire punya harapan lebih besar pada putri keduanya, yang dinilai lebih berbakat daripada putri pertama.

Dia cantik, cerdas, dan juga berprestasi.

Dia lah Zenith Latreia.

Akan tetapi….. kenyataan berkata lain.

Zenith kabur dari rumah.

Dia mengecewakan harapan ibunya dengan kabur dari rumah untuk menjadi seorang petualang.

Mulai hari itu, Claire selalu menyebutnya ‘anak bodoh’.

"Keputusan yang dia buat bodoh sekali, jadi pastikan kalian tidak mengikuti perbuatannya.” sembari marah-marah Claire memperingatkan itu pada anak-anak lainnya.

Baru kali itu dia begitu emosi.

Putri yang paling dia banggakan, ternyata menjadi anak yang paling dia kecewakan.

Itu adalah kejutan besar dalam hidupnya yang selalu direncanakan dengan idealis.

Putri ketiga bernama Saura juga sama mengecewakannya.

Dia menikah dengan seorang Baron [14].

Namun, Baron itu kalah dalam perebutan kekuasaan. Saura terjebak dalam perebutan kekuasaan itu, kemudian mati terbunuh.

Milis terkenal dengan sihir penyembuhnya, maka jika ada orang yang mati karena terluka, maka bisa disimpulkan dia tidak belajar sihir penyembuhan dengan baik. Dan itu menjadi aib bagi Keluarga Latreia.

Saura tidak pernah kembali.

Claire berduka.

Dia berkabung sama seperti yang lainnya.

Seolah tidak memikirkan kesedihan ibunya, putri keempat bernama Therese juga mengikuti jejak kakaknya dengan kabur dari rumah.

Dia bergabung dengan Ordo Ksatria Kuil, yang sebenarnya bukanlah pekerjaan pantas bagi seorang wanita yang anggun.

Tentu saja Claire mencemoohnya habis-habisan.

"Tidak mungkin gadis sepertimu bertahan di Ordo Ksatria Kuil. Lebih baik kau jadi gadis rumahan, kemudian menikah dengan pria hebat.” seperti itulah keluhnya.

Therese dengan sinis membalas, "Kak Saura juga jadi istri orang, tapi lihatlah nasibnya. Dia mati dalam perebutan kekuasaan yang melibatkan suaminya. Malang sekali dia.” mereka pun bertengkar hebat.

Claire mengancamnya, "Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" lalu mengusirnya.

Seperti biasa, tidak pernah sedetik pun Claire merasa salah.

Itulah yang menyebabkan Zenith dan Therese tidak betah di rumah.

Tapi Claire yakin bahwa kedua anak itu akhirnya akan pulang ke rumah, sembari menangis memohon maaf.

Bagian 4[edit]

Sepuluh tahun berlalu sejak saat itu.

Zenith masih belum kembali.

Tanpa sepengetahuan Claire, Therese menjadi seorang ksatria yang sukses, dia bahkan diangkat sebagai kapten Pasukan Penjaga Makam Suci, yang merupakan pengawal pribadi Miko-sama.

"Miko-sama hanyalah seorang wanita, jadi dia perlu pelindung yang kuat.”

Itulah yang dipikirkan Claire, dan dia tidak salah.

Therese memiliki kemampuan mengkoordinir yang baik, namun sebagai ksatria, kekuatannya tidaklah istimewa.

Claire mulai mendengar kabar tentang kesuksesan Therese. Saat dia menghadiri pesta Ordo Ksatria Kuil bersama suaminya, dia sering mendengar pujian-pujian seperti, “Keluarga Latreia memang hebat, bahkan Therese-dono berhasil menjadi komandan pasukan elit pengawal Miko-sama.”

Mekipun tidak pernah meminta maaf, sebenarnya Claire adalah orang yang profesional. Jika dia tahu dirinya salah, biasanya dia akan merubah pendapatnya.

Terlebih lagi, jika orang yang dia anggap gagal, berhasil memperoleh prestasi yang membanggakan.

Claire pun berdamai dengan Therese.

Namun, setiap kali bertemu putrinya itu, yang dia ucapkan bukanlah permohonan maaf, melainkan kata-kata pedas seperti, “Lumayan juga kerjamu.”

Kalau saja Therese tidak terbiasa bekerja dengan orang yang menyebalkan di Ordo Ksatria Kuil, atau tidak tidak terbiasa dengan kelakukan ibunya yang menjengkelkan…. mungkin dia sudah menghajar Claire.

Tapi, pada saat itu Claire belum berdamai dengan Zenith.

"Jika saja Zenith pulang, mungkin kita bisa berbicara sekali lagi.” pikir Claire.

Bagian 5[edit]

Beberapa tahun kemudian, Paul datang ke Kediaman Keluarga Latreia untuk meminta bantuan.

Terjadi bencana sihir di Kerjaaan Asura, yang sering dikenal dengan nama metastasis.

Insiden metastasis itu menyapu bersih seluruh wilayah Fedoa.

Paul datang sebagai kapten regu pencarian orang hilang. Dia meminta dukungan Keluarga Latreia untuk membantu menemukan korban-korban bencana tersebut.

Claire langsung menyetujuinya saat tahu bahwa Zenith termasuk salah satu korban bencana metastasis.

Setelah berdebat dengan Carlyle, akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang dan personel.

Dia ingin segera menemukan Zenith, kemudian memakinya dengan, “Lihatlah!! Ini semua karena kau durhaka padaku!!”

Tapi, Zenith tidak kunjung ditemukan.

Setahun-dua tahun berlalu…. namun keberadaannya masih misterius.

Hari demi hari, Paul semakin tenggelam dalam keputus asaan, dan terus membuang uang.

Tanpa berusaha menyembunyikan kesedihannya, dia terus minum-minum di kedai, bahkan bersama putri kecilnya.

Claire mulai berpikir, dia harus melakukan sesuatu pada cucunya, sebelum bertemu dengan Zenith.

Dia berusaha memisahkan Norn dari ayahnya yang suka mabuk, kemudian mengurungnya di rumah.

Kemudian, Norn akan dididik dengan disiplin agar menjadi wanita yang unggul.

Claire percaya itulah yang terbaik.

Namun, Carlyle menentang, dia tidak ingin memisahkan ayah dengan anaknya.

Yang bisa Claire lakukan setiap hari hanyalah memantau perkembangan Norn.

Sampai akhirnya, Paul bangkit dari keterpurukan.

Menurut cerita Therese, Paul disadarkan oleh putranya sendiri yang sudah lama hilang akibat bencana metastasis.

Itulah yang membuat Claire tertarik pada anak bernama Rudeus ini.

Tapi sayangnya, Rudeus tidak mengunjungi Kediaman Keluarga Latreia. Dia menganggap itu tidak sopan, sehingga dia berpikir, “Hah… sudah kuduga…. anak Paul tidak banyak berbeda dengan ayahnya.”

Dia pernah mendengar kabar bahwa Paul berpoligami.

Akhirnya dia meyakini kebenaran kabar itu saat selir Paul yang bernama Lilia datang ke Milis bersama anaknya, Aisha.

Claire adalah penganut setia ajaran Milis.

Poligami adalah dosa besar dalam ajaran Milis.

Namun, Claire tahu bahwa kita tidak boleh memaksakan ajaran agama pada orang lain, sedangkan Paul bukanlah pemeluk Agama Milis. Jadi dia masih bisa memakluminya.

Beberapa kali dalam sebulan, dia menyuruh anak-anak Paul berkunjung ke Kediaman Keluarga Latreia untuk diberi pelajaran khusus.

Mereka diajari etiket dan tata krama.

Bagi Claire, pelajaran itu wajib diberikan pada anak kecil.

Tapi sayangnya, dia menyadari fakta lain bahwa Aisha jauh lebih superior ketimbang Norn. Aisha terus mengungguli Norn, dan Norn hanya bisa merajuk.

Claire tidak suka itu.

Sebenarnya Norn tidak mudah menyerah, namun dia selalu saja kalah dari Aisha karena anak selir itu memang lebih berbakat ketimbang Norn.

Saat mengetahui itu, Claire menghibur Norn untuk tidak berkecil hati jika tidak bisa mengungguli Aisha.

Tapi, dia juga mengancam Aisha untuk tidak melebihi Norn, karena Norn adalah keturunan asli Keluarga Latreia yang derajadnya jauh melebihinya.

Seperti itulah cara Claire memotivasi Norn.

Namun, prestasi Norn tidak juga membaik.

Claire terus berusaha memotivasi Norn, namun tidak pernah berhasil.

Aisha adalah anak yang jenius dan spontan. Beberapa kali dia kedapatan mengejek Norn karena mendapatkan nilai jelek. Itu membuat Claire marah besar.

Claire pun menganiaya Lilia dan Aisha.

Akhirnya, Paul memutuskan untuk memindahkan Norn dan Aisha ke rumah kakaknya, Rudeus. Sampai saat itu pun, Claire tidak pernah bisa mendidik Norn menjadi wanita yang dia inginkan.

Bagian 6[edit]

Beberapa tahun lagi berlalu.

Belum ada kabar gembira tentang ditemukannya Zenith, dan Claire mulai kangen dengan cucu-cucunya.

Cucunya dari putri dan putra tertua akan segera dewasa tak lama lagi.

Mereka dibesarkan menjadi bangsawan unggul yang tidak akan merusak nama keluarganya, tak peduli dimanapun mereka tinggal.

Tak ada lagi anak kecil di rumahnya, dan semuanya sudah tumbuh mandiri.

Begitu pun dengan Norn dan Aisha. Keduanya akan segera dewasa.

"Aku penasaran bagaimana kabar mereka sekarang. Kalau dipikir-pikir lagi, hanya dua anak itu yang tumbuh tidak sesuai dengan harapanku. Yahh, ibunya pun tidak patuh padaku. Aku ingin tahu pelajaran macam apa yang Zenith berikan pada mereka…….”

Setelah mengingat nama Zenith, dia terhenti sejenak.

Zenith tidak pernah punya kesempatan mendidik anak-anaknya.

Tak lama setelah mereka dilahirkan, mungkin umurnya hanya mencapai 2 tahunan, bencana metastasis pun terjadi.

Zenith tidak pernah diberi kesempatan untuk memberikan pendidikan kepada putrinya, saat mereka beranjak dewasa dan mengenali lingkungan sekitar.

Norn hanya dibesarkan oleh ayahnya.

Begitupun dengan Aisha. Karena insiden teleportasi sihir, dia tidak pernah diajari cara menghormati Norn, yang merupakan keturunan asli Keluarga Latreia.

Norn sangat berbeda dengan ibunya.

Saat kecil dulu, Zenith begitu cerdas dan mengagumkan. Orang-orang menyebut Zenith sebagai harapan masa depan wanita Milis.

"Andaikan bencana metastasis tidak pernah terjadi…. apakah sebagai petualang Zenith bisa mendidik anak-anaknya?”

Ya…. Claire juga sangat merindukan Zenith.

Dia ingin sekali bertemu dengannya.

Claire tahu, mulutnya hanya akan mengucapkan makian saat bertemu kembali dengan Zenith, dan putrinya itu pasti akan kesal….. tapi, dia sangat kangen padanya.

Akhirnya…. suatu hari datanglah kabar yang mungkin bisa mempertemukannya dengan Zenith.

Seseorang bernama Rudeus Greyrat mengklaim telah menyelamatkan Zenith.

Kabar tersebut menyebutkan bahwa Zenith mengalami cacat mental dan tidak bisa beraktivitas seperti orang normal…… tapi dia hidup.

Surat yang berisikan informasi itu sangatlah singkat. Di sana hanya tertera dimana Zenith ditemukan, dan apa yang terjadi kemudian.

Salah satu poinnya juga menyebutkan kematian Paul.

Pria bernama Rudeus ini juga menyatakan niatnya untuk mencari obat yang bisa menyembuhkan Zenith, namun tidak berencana membawanya kembali ke Milis.

Claire segera membalas surat itu.

Tak peduli apapun yang terjadi…. pokoknya dia ingin bertemu kembali dengan Zenith.

Bagian 7[edit]

Beberapa tahun berlalu.

Selama itu, Claire mencari cara untuk menyembuhkan Zenith.

Dia berbicara dengan dokter dan penyihir penyembuh di seluruh Kerajaan Suci Milis, serta mengunjungi perpustakaan Gereja Milis berkali-kali.

Dia bahkan meneliti buku-buku yang pernah ditulis ras iblis.

Harusnya, membaca buku karangan ras iblis adalah dosa besar. Namun dia tidak lagi memperdulikan agama. Dia yakin….dengan meneliti berbagai macam ilmu dan sejarah, pasti akan ditemukan kasus serupa di masa lalu.

Akhirnya, dia pun menemukannya.

Catatan itu cukup mencurigakan, bahkan dia meragukan kebenarannya.

Dia menemukan cara yang benar-benar konyol dan menjijikkan.

Tapi, mungkin cara ini pernah berhasil di masa lalu.

Ternyata, pengobatannya bukan berasal dari ras iblis.

Melainkan Elf…….

Konon katanya, dulu pernah ada gadis Elf yang terjebak di dalam kristal sihir.

Setelah gadis itu keluar, dia menjadi ling-lung seperti Zenith. Namun, setelah dia berhubungan seks dengan banyak pria, akhirnya dia sembuh.

Itu konyol sekali….. penyembuhan macam apa itu…..

Tidak mungkin dia mencoba cara seperti itu.

Namun, setelah meneliti lebih jauh, akhirnya dia menemukan fakta baru.

Gadis Elf itu benar-benar ada.

Sejak saat itu, Elf tersebut gemar sekali berhubungan badan dengan sembarang pria.

Claire bingung.

“Apakah aku boleh mencobanya? Zenith tidak akan setuju.

Tapi…..

Kalau tidak ada cara lain……..”

Akhirnya dia membulatkan tekadnya untuk mencoba cara itu, dan datanglah Rudeus bersama Zenith.

Mereka juga membawa si anak selir, Aisha.

Hanya mereka bertiga.

Mereka datang berkunjung hanya 3 tahun setelah surat itu dikirim.

Claire tidak terbiasa mengirim surat jarak jauh, tapi setidaknya dia tahu bahwa Rudeus segera menanggapi suratnya, dan buru-buru berangkat ke Milis.

"Pertama-tama, aku akan menyambut mereka dengan ucapan terimakasih. Kemudian, aku akan menanyakan sudah sejauh mana perkembangan Zenith. Lalu, aku akan membicarakan rencanaku selanjutnya. Kalau ada waktu, aku juga akan membicarakan Norn dan Aisha.”

Akhirnya hari kedatangan pria bernama Rudeus Greyrat itu tiba. Dan benar saja, dia membawa ibunya.

Begitu Claire melihat Zenith, dia kehabisan kata-kata.

Dia ingin meyakinkan apakah wanita itu benar-benar Zenith putrinya. Saat memeriksanya dari dekat, hatinya dipenuhi emosi sampai serasa mau meledak. Namun Claire tidak mengekspresikan itu semua, lalu dia menyerahkan Zenith begitu saja pada dokter bernama Andel.

Andel adalah dokter pribadi Keluarga Latreia yang ditugasi memeriksa kesehatan Claire yang mulai memburuk. Claire telah membicarakan cerita tentang gadis Elf itu pada dokternya.

Pada pertemuan itu, Claire begitu terpana melihat Zenith sampai-sampai dia mengabaikan Rudeus. Dia pun menyesali itu.

Tiba-tiba, dia melihat gadis muda dengan pakaian pelayan yang meringkuk di ujung sofa.

Seorang gadis muda berambut merah gelap.

Dia mengingatnya.

Namun, Claire langsung tertarik pada penampilannya.

Pakaian pelayan.

Dia tahu bahwa gadis bernama Aisha itu datang sebagai pelayan.

Menurut tata krama yang begitu dia ugemi, tidak boleh ada seorang pelayan pun yang duduk sejajar dengan nyonya besar, yaitu Zenith.

Claire langsung menegurnya.

Namun, Rudeus segera menyela dengan emosi.

Ya….. wajar saja dia melakukan itu.

Karena Claire menegurnya dengan perkataan yang pedas. Dia telah mengacaukan segalanya.

Claire langsung teringat wajah Paul saat pertama kali bertemu Rudeus yang telah dewasa, ayah dan anak itu begitu mirip.

Mau atau tidak, dia jadi teringat pada pria pemabuk itu.

Paul bukanlah tipe pria ideal di mata Claire…. sama sekali bukan.

Paul….. andaikan saja Zenith tidak menikah dengannya…. mungkin ini semua tidak akan terjadi.

Emosi mulai memuncak di dalam benak Claire.

Kemudian dia berdebat dengan Rudeus, dan dia mengeluarkan semua perkataan kotornya.

Dalam sekejap saja, Rudeus tahu bahwa neneknya adalah orang yang sombong, angkuh, dan keras kepala.

Tapi tampaknya Rudeus masih bisa menjaga emosinya.

Dengan jawaban yang masuk akal, dia terus membantah perkataan pedas dari Claire.

Itu membuat Claire kembali tertarik pada pria ini.

Claire suka dengan cara bicara Rudeus yang logis dan sistematis.

Dia menjelaskan semuanya, mulai dari perkembangan mental Zenith, sampai keadaan Norn sekarang.

Sedangkan Aisha tetap terdiam, tampaknya dia takut dengan teguran Claire tadi.

Jujur saja, cara pikir Rudeus berbeda dengan pemikiran penganut ajaran Milis. Namun, dia adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab, dan siap memberikan segalanya pada Norn.

Claire merubah pendapatnya tentang pria ini.

Dia masih muda, namun sangat bisa diandalkan sebagai kepala keluarga.

Itulah yang dipikirkan Claire saat itu.

Claire tidak tahu kenapa pria ini bisa menjadi orang kepercayaan Dewa Naga Orsted yang agung itu.

Claire tidak banyak tahu tentang urusan seperti itu.

Tapi, dia bilang mengenal akrab raja baru Kerajaan Asura yang bernama Ariel, maka artinya pria ini punya keistimewaan yang tidak dimiliki orang-orang lainnya.

Prestasinya luar biasa, dan keturunannya pasti akan menjadi orang besar.

Claire bisa merasakan bahwa anak Paul ini jauh lebih baik daripada ayahnya.

Jadi…. Zenith berhasil melahirkan anak sehebat ini.

Perasaan Claire bercampur antara jengkel dan bangga.

Namun, akhirnya masalah datang saat Claire membicarakan cara pengobatan yang mungkin bisa menyembuhkan cacat mental Zenith.

Ya… tentu saja dia marah. Anak mana yang tidak marah jika ibunya diperlakukan seperti itu.

Tak seorang anak pun di dunia ini rela ibunya ditiduri banyak pria.

Rudeus benar-benar tidak menerimanya, dia pun marah besar.

Dia menyayangi ibunya, bahkan saat ibunya mengalami cacat mental, rasa sayang itu sama sekali tidak berkurang.

Claire pun tidak yakin dengan metode itu, karena belum pernah mencobanya.

Haruskah dia mengungkap cerita Elf itu pada Rudeus?

Mungkin kalau dia menceritakan kisah itu dengan rinci, Rudeus akan mengerti.

"Namun ..." Claire mulai berubah pikiran.

Dia mendengar kabar bahwa pria ini berteman dekat dengan cucunya Uskup Agung.

Dia juga mendengar kabar bahwa cucunya Uskup Agung sudah kembali ke Milishion, dan siap membantu kakeknya memenangkan persaingan politik.

Mereka berdua datang bersama-sama. Perjalanan dari Ranoa ke Milis begitu panjang, jadi wajar saja bila kedua sahabat ini berangkat bersama-sama.

Jujur, Claire tidak peduli tentang perebutan kekuasaan itu.

Namun, jika Rudeus berniat membela Fraksi Uskup Agung, maka dia tidak boleh membawa nama Keluarga Latreia. Setidaknya, dia bisa menggunakan nama keluarganya sendiri, yaitu Greyrat.

Dengan kata lain, dia tidak bisa diterima di Kediaman Keluarga Latreia.

Rudeus akan memihak Uskup Agung sebagai bawahannya Dewa Naga Orsted.

Bantuan sebesar itu pasti akan sangat berarti bagi fraksi pro-ras iblis.

Dalam sekejap, Rudeus akan menjadi orang terkenal di kota ini.

Tapi…. bagaimana jika orang-orang tahu bahwa Rudeus memiliki ibu cacat mental yang hanya bisa disembuhkan dengan menjadi pelacur?

Semua orang pasti akan segera membencinya, dan namanya jatuh.

"Haruskah aku menceritakan semuanya? Haruskah aku meminta bantuannya?”

Tidak….. lebih baik dia merahasiakan itu semua.

Itulah kesimpulan Claire.

Lebih baik Rudeus tidak tahu apa-apa.

Lebih baik Claire melakukan semuanya sendirian.

Ini semua tidak ada hubungannya dengan Rudeus, bahkan Keluarga Latreia.

Mungkin inilah yang terbaik.

Dia harus mencoba pengobatan itu.

Bagaimanapun juga, Claire telah menunggu saat ini selama 20 tahun.

Dua puluh tahun sudah…. dia menunggu kedatangan putri kesayangannya, dan ingin berbicara padanya.

Maka, Claire mulai menjalankan rencana itu.

Dia sudah siap menanggung semua akibatnya seorang diri.

Claire sengaja membuat Rudeus marah, sehingga dia bisa mengusirnya dari rumah Keluarga Latreia.

Dengan bantuan para pelayannya, dia pun menculik Zenith.

Namun, aksinya berhenti di situ.

Dia menyadari bahwa putrinya masih sangat cantik dan menawan.

Apakah dia akan membiarkan pria tak dikenal tidur dengan putri kesayangannya?

Tentu saja tidak.

Mana ada ibu yang membiarkan hal seperti itu.

Namun, dia yakin Zenith pun tidak ingin terus-terusan menderita penyakit itu, karena itu akan membebani putranya.

Andaikan Zenith bisa berbicara, mungkin dia akan minta disembuhkan.

Claire yakin akan hal itu.

Meskipun dia sendiri jijik dengan rencana itu.

Dia ingin seseorang menghentikannya.

Baru kali ini dia begitu membenci keputusan yang telah dibuatnya.

Tapi dia tidak punya pilihan lain.

Dia khawatir.

Dia menderita.

Dia menghabiskan sepanjang hari di kamar bersama Zenith sembari menimbang-nimbang kembali keputusannya.

Zenith hanya terduduk diam dengan tatapan mata kosong, namun sesekali dia bisa merespon Claire seperti orang normal. Itu semakin membuat hatinya sakit.

Akhirnya suatu hari datanglah orang yang memprotes keputusan Claire, yaitu suaminya sendiri, Carlyle.

Carlyle mendengar semua ini dari Therese, dan sebagian dari Dokter Andel.

Dia telah mengetahui semuanya…… mulai dari metode pengobatan yang tidak masuk akal, sampai Claire yang menderita karena tidak punya pilihan selain mencoba cara itu.

Istrinya memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak termaafkan.

Lalu, dengan lembut dia mengatakan ini pada istrinya…..

"... Sebelum mencoba cara itu, biarkan Miko-sama melihatnya."

Jika dapat melihat ingatan Zenith, mungkin mereka bisa melakukan sesuatu.

Mungkin ada petunjuk yang berharga.

Atau, mungkin mereka bisa menemukan cara selain pengobatan konyol itu.

Carlyle mengajukan permohonan agar Miko memeriksa putrinya.

Dengan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi Ordo Ksatria Kuil, Carlyle meminta Miko melihat masa lalu Zenith, dan dia juga memohon untuk tidak memberitahu ini pada Rudeus.

Biasanya Miko tidak akan menyetujui permintaan seperti ini, tapi akhirnya dia bersedia.

Setelah semuanya siap, maka mereka membawa Zenith ke Pusat Gereja untuk diperiksa oleh Miko.

Namun……….

Penculikan itu pun terjadi.

Bagian 8[edit]

--- Sudut Pandang Rudeus ---

"Akhirnya…. inilah yang terjadi."

Kisah ini sudah berakhir.

Claire menangis tersedu-sedu dengan mata merah membengkak, sedangkan Carlyle tampak serius.

Seluruh hadirin menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda di wajahnya.

Ada beberapa yang meringis, ada juga yang bersedekap sembari berpikir serius.

Therese membungkam mulutnya dengan syok.

Sang Miko tersenyum, seolah mengatakan bahwa dia sudah menduga ini sejak awal.

Cliff ... tanpa ekspresi.

Mungkin dia sudah mendengar semua ini sebelumnya.

Namun, akhirnya aku mengerti.

Claire coba melakukan hal yang tak termaafkan.

Meskipun maksudnya baik, namun cara seperti itu sungguh mengerikan.

Aku tidak akan menyetujuinya, dan begitu pun dengan orang lain.

Jika dilihat dari sudut pandang ajaran Milis, itu adalah dosa besar.

Aku tidak tahu apakah pelacuran paksa seperti itu diijinkan di negara ini, tapi kalau dilihat dari ekspresi wajah pada hadirin, sepertinya tak seorang pun akan respek pada Keluarga Latreia.

Tentu saja, karirku di kota ini akan segera hancur jika orang-orang tahu ibuku dijadikan pelacur.

Itu sebabnya Claire tidak mau melibatkanku.

Dia mencoba melakukan semuanya sendirian.

Dan dia akan menanggung akibatnya sendirian.

Itu perbuatan yang mulia……. tapi caranya salah.

"Cara pengobatan itu…….. pernah terjadi 200 tahun yang lalu, kan?”

Ketika aku mengatakan itu, Claire mengangkat wajahnya dengan terkejut.

"B-benar! B-bagaimana kau bisa tahu!? Padahal aku tidak pernah membicarakannya denganmu. Dua ratus tahun yang lalu, pernah ada seorang gadis Elf yang menderita kelainan mirip dengan Zenith setelah terjebak dalam suatu kristal sihir.”

"Lalu….. gadis itu diusir dari desanya karena melakukan itu.”

"... J-j-jangan-jangan…. kau sudah mencoba cara itu pada ibumu??”

"Tentu saja tidak."

Gadis Elf itu….

Mungkin adalah Elinalise.

Tentu saja cerita itu tidak sepenuhnya benar.

Butuh waktu puluhan tahun bagi Zenith untuk mengembalikan kewarasannya.

Konyol kalau dia terus-terusan menjadi pelacur selama itu.

Namun, aku pun meragukan cara penyembuhan itu. Hal yang terjadi pada Elinalise belum tentu terjadi juga pada Zenith.

"Aku belum mencobanya, tapi aku pernah mendengar ceritanya langsung dari Elf itu.”

Aku tidak menulis tentang Elinalise pada surat itu.

Ada banyak hal yang kurahasiakan sampai saat ini.

"Begitukah?"

Claire jatuh lunglai, seolah-olah tenaganya terkuras habis.

Namun, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lega.

"Jadi…. semua yang kulakukan ini ... percuma saja……."

"Sepertinya begitu."

"... begitu ya..."

Kalau saja dia menjelaskan ini lebih awal, mungkin saat itu aku tidak akan mengamuk.

”Cerita itu tidak benar, nenek…. belum tentu cara yang sama bekerja pada ibu. Aku sudah pernah bertemu dengan Elf itu ….”

Bukannya mengamuk…. mungkin saat itu aku akan mengatakan itu, sembari tertawa akrab bersama Claire.

Ya…. mungkin saja…..

"Harusnya kau memberitahuku lebih awal."

"….. andaikan kau tidak tahu apa-apa tentang cerita itu….. apakah kau tetap akan mencobanya?”

"..."

Aku tidak bisa menjawabnya.

Aku tidak bisa bilang tidak.

Andaikan Elinalise berkata, "Hey, aku sembuh karena sering nge-seks, lho…” apakah aku akan mencobanya pada Zenith?

Tidak……. aku akan mencari cara lain.

Namun, sampai saat ini pun aku tidak juga menemukan cara itu.

Jika memang itu satu-satunya cara untuk menyembuhkan Zenith…. maka apa yang akan kulakukan?

Aku ingin tahu….. keputusan apa yang akan kuambil.

"…..yahhh…. betapa bodohnya aku…..”

Claire mengatakan itu, lalu kembali menangis.

Mungkin dia sangat malu karena berusaha melakukan hal menjijikkan seperti itu pada putrinya.

Dia tertekan.

Dia frustasi.

Tapi setidaknya…. aku merasa cukup lega.

Akhirnya aku bisa memahami maksud di balik perbuatannya itu.

Ini semua…….

Demi putrinya……

Dan demi keluarganya…….

Aku pernah bertanya mengapa dia melakukan ini semua. Dan itulah jawabannya.

Dia sama sekali tidak berbohong padaku.

Dia ingin menanggung semuanya sendirian, agar nama Keluarga Latreia tetap bersih.

Agar Therese tetap bisa menjabat sebagai komandan pasukan pengawal Miko.

Agar suaminya tetap bisa memimpin Ordo Ksatria Kuil.

Agar paman dan bibi yang belum kutemui tetap harum namanya.

Dia pun tidak menyangkal bahwa perbuatannya ini salah.

Seharusnya ada cara lain yang lebih baik.

Seharusnya ada cara lain untuk mengatasi masalah Zenith.

Tapi…..

Demi melindungi orang-orang yang dia sayangi….

Dia rela menyalahi semuanya.

"Haaa ..."

Aku menghela nafas.

Lalu, aku menoleh pada Cliff.

Cliff tiba-tiba melindungi Claire.

"Cliff-senpai…… apakah kau sudah dengar cerita ini?”

"Pagi ini. Aku kebetulan bertemu mereka di Pusat Gereja."

"... Kenapa kau tidak menghentikan mereka saat itu? Kau tahu gadis Elf yang mereka maksud adalah Elinalise-san, kan?”

"Tidak… aku tidak tahu cerita detailnya. Mereka hanya bilang, cara penyembuhan itu sungguh menjijikkan dan tidak layak dilakukan.”

Hmmm, begitu ya….

Jadi Claire dan Carlyle juga tidak menceritakan semuanya pada Cliff….. mungkin mereka ragu….

"Sebenarnya aku sudah berencana menceritakannya padamu…. tapi….. inilah yang terjadi.”

Ya…. situasinya semakin kacau karena aku menculik Miko.

Waktu Cliff mendengar cerita itu….. aku yakin dia mengutuk perbuatan Claire dan Carlyle.

Awalnya, mungkin Cliff menasehati mereka, kemudian Carlyle menceritakan semuanya.

Setelah mengetahui itu, mungkin Cliff jadi bimbang. Dia tidak bisa memutuskan mana yang benar, sehingga dia diam saja.

Itu sebabnya dia tidak berbicara apapun padaku sejak awal negosiasi ini berlangsung.

Tapi, ketika situasinya semakin kacau, dia tidak bisa tinggal diam dan akhirnya menegurku.

Dia pikir, kita masih bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai, tanpa ada seorang korban pun.

Keputusanmu tidak bisa kubenarkan, Cliff….

Tapi yang jelas, dia tahu bahwa Claire dan Carlyle tidak sepenuhnya salah.

Aku senang kau membela mereka berdua, Cliff.

Terimakasih.

Kalau kau tidak memprotes hukuman itu, mungkin cerita ini tidak akan pernah kudengar.

"Nah, ijinkan aku bertanya sekali lagi."

Kemudian, Cliff mulai menyimpulkan.

"Sebenarnya, kasus ini tentang seorang ibu yang rela mengorbankan apapun demi anaknya. Sekarang katakan…….. apakah menghukum orang seperti itu dibenarkan dalam ajaran Agama Milis??”

Uskup Agung tersenyum.

Kardinal hanya pasang wajah cemberut.

Ordo Gereja dan Ordo Ksatria Kuil tampak lega.

Lalu, mereka semua memandang Cliff.

"Kasus ini hanyalah kesalah pahaman. Syukurlah, tidak ada satu pun korban jiwa akibat masalah ini. Penyebabnya adalah seorang ibu yang mau berkorban untuk anak dan keluarganya. Yang membuat permasalahan semakin rumit hanyalah ucapan yang kurang toleran, sehingga orang lain tersinggung. Jadi, bagaimana kalau kita mengampuni ibu ini? Kalau pun harus dihukum, bukankah kita perlu memperingan hukumannya?”

Cliff mengatakan itu, lalu menatapku.

"Rudeus, kamu memiliki hak untuk memutuskan. Karena kau lah yang paling dirugikan dalam kasus ini.”

Aku melepaskan tangan Miko terlebih dulu.

Miko yang duduk di sampingku hanya tersenyum.

Seolah mengatakan, dia tahu ini semua akan selesai dengan baik.

Mungkin dia telah memprediksi semuanya.

Gadis ini…. memang bukan orang sembarangan.

"Yahh…. silahkan saja…."

Aku mengatakan itu dengan tenang.

Tapi, masih ada beberapa hal yang mengganjal di hatiku.

Aku perlu berbicara lebih jauh dengan Claire nanti.

Jika kami lebih banyak berbicara…. mungkin sakit hatiku akan lenyap dengan sendirinya.

"Namun, izinkan aku mengajukan tiga syarat.”

Aku berpikir sejenak untuk menentukan tiga syarat itu.

Jika tiga syarat ini terpenuhi, maka aku akan melepaskan Miko. Yahh…. mungkin tiga syarat terlalu banyak ya…. tapi biarlah, toh posisiku diuntungkan.

"Pertama, aku ingin Miko-sama memeriksa ibuku, untuk mengetahui apakah ingatannya bisa dikembalikan.”

"Tentu saja…. toh awalnya kami juga merencanakan itu.”

Sebenarnya aku sedang berbicara pada Kardinal, tapi justru Miko yang menjawabku.

Seakan-akan, dia sudah menduga syarat itu.

Darimana dia tahu? Apakah dia melihat mataku lagi?

Kalau memang sudah tahu, maka kurasa….. itulah sebabnya dia sama sekali tidak memberikan perlawanan saat kuculik tadi. Dia memang sudah berencana menggiringku ke sidang ini, untuk menyelesaikan semuanya.

Ya…. mungkin saja begitu.

"Namun, aku tidak yakin bisa menyembuhkannya, karena aku tidak bisa memanipulasi ingatan seseorang..."

"Tapi aku tetap ingin Anda mencobanya. Yang Mulia Kardinal, apakah Anda keberatan?”

"Sama sekali tidak."

Mood Kardinal tampaknya sudah membaik.

Mungkin karena Keluarga Latreia, yang merupakan anggota fraksinya, tidak jadi dihukum berat.

"Kedua, aku ingin kalian semua mendukung apapun rencana Dewa Naga Orsted.”

"Kami juga tidak keberatan.”

"............ Kami pun begitu."

Uskup Agung menyatakan persetujuannya, diikuti oleh Kardinal.

Mungkin, mereka juga akan menyetujui rencana pemasaran figure Ruijerd.

Atau…. aku harus membuat syarat yang menyulitkan Fraksi Kardinal? Ingat, salah satu tujuanku adalah membantu Cliff mengalahkan para pesaingnya.

Tidak…. di saat seperti ini, akan lebih baik bila aku berada di pihak netral.

"Lalu….. apa yang terakhir?”

Aku beralih memandang Claire dan Carlyle.

Keduanya menatapku dengan canggung.

"Biarkan aku berdamai dengan Keluarga Latreia.”

Therese langsung menarik napas panjang. Dia terlihat sangat lega.

Carlyle menunduk meminta maaf.

Claire menangis.

Suara isakan tangisnya terdengar jelas.

Sebetulnya dia tidak mengatakan apapun….. tapi, aku bisa mendengar ucapan maaf dan terimakasih dari isakan tangis itu.

Zenith membelai wajah Claire dengan lembut.

Dengan begini, maka berakhirlah masalahku di Milis.

Bab 15: Hasil Perundingan[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah itu, kami membuat kontrak tertulis.

Mari luangkan waktu sejenak untuk meringkasnya.

Intinya….

Miko terselamatkan.

Organisasi Agama Milis bertanggung jawab atas insiden itu.

Pihak Gereja telah menyanggupi bekerjasama dengan Fraksi Orsted, dan mendukung apapun rencana kami.

Aku masih belum mengantongi ijin untuk memasarkan figure ras iblis, jadi kita bahas hal itu lain kali saja.

Sudah…..itu saja…..

Uskup Agung dan Kardinal sama-sama menandatangani kontrak itu.

Tapi…. keringat dingin mengucur di dahi Kardinal saat menandatanganinya, dan itu sangat menggelikan.

Miko kutukar dengan ketiga syarat itu.

Persidangan lanjutan akan digelar untuk membahas insiden ini lebih jauh, dan menindak siapapun yang terlibat.

Kalau ternyata Kardinal atau Uskup Agung yang salah, maka mereka juga patut menerima hukuman.

Apakah mereka akan lari? Atau menerima hukumannya secara jantan?

Aku tidak tahu.

Nah, aku juga mendapat tugas untuk melacak pihak-pihak yang terkait dalam insiden ini.

Tapi, sebenarnya aku hanya ingin mencari bidak-bidaknya Hitogami. Selama ada pelaku yang bukan bidaknya Hitogami, maka dia hanyalah keroco.

Meskipun Kardinal atau Uskup Agung dihukum, fraksinya akan tetap berjalan.

Setidaknya, untuk saat ini aku bisa bernapas lega.

Satu masalah telah diselesaikan.

Bagian 2[edit]

Setelah itu, Zenith, Cliff, dan aku kembali ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, Cliff menghela nafas panjang, lalu meminta maaf.

"Maafkan aku."

Aku balas menatapnya dengan bingung.

"Kenapa tiba-tiba minta maaf?"

"Kalau kupikir-pikir lagi, insiden penculikan itu bermula dari kecerobohanku. Aku tahu niat mereka baik, namun tidak kusampaikan padamu. Untungnya, itu tidak menjadi kesalahan fatal.”

"Yahh… sepertinya begitu."

Tapi, kau juga telah berbuat banyak, Cliff.

Kau memprotes keputusan Uskup Agung, berdebat dengan Kardinal, dan membongkar semuanya di depan hadirin.

Memang seperti itulah Cliff yang kukenal selama ini.

Kau adalah orang yang tidak bisa tinggal diam saat terjadi ketidakadilan.

"Aku tidak masalah. Toh, kita bisa mengambil hikmahnya, agar lain kali tidak terulang kesalahan serupa.”

"Ah iya."

Cliff mengatakan itu sembari mengangkat bahunya…. Cliff sudah banyak berubah, dia tidak lagi egois seperti dulu.

Sesampainya di rumah, Wendi sudah menunggu kami.

Hanya Wendy.

"Ah, selamat datang kembali."

Lalu di mana Aisha dan Gisu? Apakah mereka aman?

Saat membicarakan kontrak, aku sempat menanyakan mereka pada Kardinal dan Ordo Ksatria Kuil, tapi mereka tidak tahu apa-apa.

Apakah mereka sibuk menyiapkan rencana cadangan, atau semacamnya ...

"Aisha-san, Gisu-san…. mereka aman!"

Sepertinya aku terlalu khawatir.

Tak lama berselang, keduanya keluar dari lantai bawah.

"Fiuh, selamat datang kembali, Onii-chan ... dan Nyonya Zenith."

Mereka berdua menghela nafas lega.

Lalu, aku mendengar cerita Aisha dan Gisu. Rupanya, mereka sudah tahu bahwa Carlyle dan Claire berangkat pagi-pagi menuju Pusat Gereja. Mereka ingin segera menginformasikan itu padaku. Namun, semuanya sudah terlambat….

Saat mereka tiba di Pusat Gereja, aku sudah bertarung melawan Pasukan Penjaga Makam Suci. Sedangkan Claire sudah masuk ke dalam Pusat Gereja.

Mereka pun sadar akan terjadi kekacauan hari ini.

Mereka segera mengingat perintahku untuk berlindung di rumah Cliff saat situasinya semakin berbahaya.

Mereka berencana untuk menunggu sampai malam, lalu melarikan diri keluar kota esok pagi.

"Beberapa kali para Ksatria Kuil ingin memeriksa tempat ini, tapi aku mengusirnya.”

Kali ini Wendy melakukan pekerjaannya dengan baik.

Kalau ada Ksatria Kuil yang mencari di tempat ini, maka berarti Kardinal memang berusaha menangkap Aisha dan Gisu.

Berbahaya.

"Onii-chan, karena Nyonya sudah pulang, maka itu berarti ...?"

"Ah, semuanya sudah beres."

Kemudian aku menceritakan detailnya pada mereka berdua.

Setelah aku selesai menjelaskan, mata Aisha berbinar, lalu dia berkata dengan kagum.

"Onii-chan memang hebat! Onii-chan memang pahlawan! Kau menyelesaikan semuanya hanya dalam waktu sehari!”

Ah, tidak ... jangan terlalu memujiku.

Aku bukanlah pahlawan sehebat itu.

Bagian 3[edit]

Keesokan harinya.

Aku membawa Zenith ke Pusat Gereja untuk diperiksa oleh Miko.

Pasangan suami-istri Carlyle dan Claire menjemput kami di rumah Cliff dengan kereta kudanya.

Saat kami naik kereta, aku mengobrol dengan Carlyle.

Dia tampaknya sangat menyesali apa yang telah terjadi, dan meminta maaf sebesar-besarnya.

Aku tidak bermaksud terus menyalahkannya untuk insiden itu.

Tapi memang dia bertanggung jawab ...

Mereka lah yang menyebabkan insiden itu.

Yang penting adalah menyesali, belajar dari kesalahan, dan berjanji tidak mengulanginya.

Tapi…. sebenarnya aku bukanlah orang sebaik itu. Aku tidak berhak menasehati orang lain, karena aku juga sering berbuat kesalahan, bahkan mengulanginya berkali-kali.

Itulah mengapa, jangan terlalu merendahkan dirimu di hadapanku.

Carlyle terus berbicara, sebaliknya Claire hanya diam.

Dari lima orang yang naik kereta, hanya dia yang diam.

Aku penasaran, apa sih yang sedang dipikirkan nenek ini.

Haruskah aku bertanya padanya?

Akhirnya kami tiba di Pusat Gereja.

Seperti biasa, aku memerlukan ijin khusus untuk memasuki tempat ini. Setelah semuanya kuurus, maka kami pun masuk.

Kami dibawa ke suatu ruangan, yang sepertinya adalah tempat Miko biasa bekerja.

Seperti halnya ruangan Uskup Agung, ruangan Miko juga dilindungi oleh mantra penghalang transparan, ada juga dua kursi dan sebuah jendela di sini.

Ruangannya agak redup, dan dijaga oleh enam pengawal.

Therese tidak ada di antara mereka.

Apakah dia sudah digantikan ...?

Sepertinya, para pengawalnya sudah siap memeriksa kami sebelum menghadap Miko.

Yahh, aku tidak perlu berhati-hati pada mereka. Toh, kami tidak punya niatan jahat.

Entah kenapa, sepertinya mereka malu padaku. Mereka pun mengalihkan pandangannya dariku.

Kalian merasa bersalah atas kejadian kemaren ya? Kalian mau meminta maaf padaku ya?

Tidak perlu.

Kalian hanya melakukan pekerjaan kalian. Tidak ada yang salah dengan itu.

Dan aku pun hanya melakukan pekerjaanku, jadi posisi kita sama.

Yang penting, kita sudah berdamai.

Tapi, kalau kalian masih menyimpan dendam, ayo kita selesaikan sekarang juga.

Aku siap saja melawan kalian lagi.

Akhirnya, pemeriksaan pun selesai.

"Kalau begitu, ayo kita mulai."

Miko dan Zenith duduk berhadap-hadapan pada kursinya masing-masing.

Sampah memegang kepala Zenith, lalu mengarahkan matanya pada mata Miko.

Miko mendekatkan wajahnya, dan mulai menatap dalam pada mata Zenith.

Saat Miko melakukan itu, aku jadi teringat dokter mata.

"... Oh."

Dengan tatapan kosong, Zenith melihat mata Miko.

Hari ini, matanya tampak sedikit lebih cerah.

Ketika mereka saling menatap, muncul garis-garis cahaya samar yang menghubungkan kedua mata mereka.

Baru kali ini aku melihat cahaya seperti itu.

"Miko-sama memang luar biasa ..."

"Seperti inilah kekuatan orang suci ..."

Para Otaku itu mulai berdecak kagum.

Aku penasaran, kenapa baru sekarang aku melihat garis-garis cahaya itu.

Mungkin cahaya itu muncul saat dia mulai serius menggunakan kekuatannya.

Sihir pun juga begitu…. Misalnya sihir api, jika kau mengumpulkan Mana semakin besar, maka pijaran apinya juga semakin terang.

Garis-garis cahaya itu semakin terlihat jelas ...

"...."

Saat melihat anaknya diperiksa, Claire menggenggam erat tangannya di depan dada dengan begitu khawatir.

Posenya seperti orang sedang berdoa.

Saat ini, Miko sedang melihat ingatan-ingatan masa lalu Zenith.

Semakin tajam dia menatap mata seseorang, maka semakin jauh pula dia melihat masa lalu orang tersebut.

Dia pasti melihat adegan saat Zenith berteleport ke dalam Dungeon.

Lalu, terjebak di dalam kristal sihir….

Jika dia tahu apa yang menyebabkan ingatan Zenith lenyap, maka mungkin kita bisa menemukan cara untuk menyembuhkannya.

Kumohon….

Temukan petunjuk lain…..

Aku punya banyak kenalan, jika kita bisa mendapatkan petunjuk lebih banyak…. mungkin kenalan-kenalanku itu bisa membantu kita menyembuhkan Zenith.

Mungkin Orsted atau Kishirika bisa….

"... Ah."

Miko menjerit pelan, lalu tubuhnya gemetaran.

Sampah segera melepaskan Zenith, lalu meletakkan tangannya di bahu Miko untuk menenangkannya.

Download sudah selesai? Eh…. tidak…. maksudku, pemeriksaannya sudah selesai?

"...."

Miko berdiri, dengan mata terbelalak.

Dia memandang langsung ke arahku.

"Rudeus Greyrat."

"Ya."

Aku langsung menegakkan badan saat namaku dipanggil.

"Aku telah melihat masa lalu Zenith Greyrat."

"Lalu?"

"Sebelum insiden metastasis, dia tinggal di Desa Buena, wilayah Fedoa. Dia mengasuh Norn dan Aisha sembari bekerja di klinik desa.”

Kau melihatnya sampai sana?

Yah begitulah. Lebih baik kita mulai dari kejadian sebelum insiden metastasis terjadi.

"Setelah berpisah denganmu, Zenith memikirkanmu setiap hari, seperti : apakah Rudy makan dengan benar, apakah Rudi sering mencuci pakaiannya, apakah banyak gadis yang menyukainya…..”

Oi.

Jangan membahas hal tidak penting seperti itu.

Tapi, itu adalah salah satu kenangan terindah sepanjang hidupku.

Karena aku belum terkena penyakit kelamin.

Setelah dicampakkan Eris, hidupku merana. Bahkan aku hampir tidak ingat apa yang terjadi setelahnya.

Untunglah Sylphy menyelamatkanku.

"Dia selalu memikirkanku setiap hari, namun…. kemudian semuanya berubah menjadi kosong tanpa bekas….”

Ya… saat itulah terjadi insiden metastasis.

Aku melihatnya dengan mata-kepalaku sendiri.

Sayangnya tidak banyak orang yang selamat, sehingga mereka tidak paham apa yang sebenarnya telah terjadi.

Saat itu Paul masih segar, dan Lilia pun masih muda.

"Selama beberapa saat, aku tidak bisa melihat apapun pada ingatannya.”

"... selama beberapa saat?”

"Ya…. seolah-olah dia sedang tertidur dalam waktu yang lama.”

Jadi, selama dia terjebak di dalam kristal sihir, dia tidak memikirkan apapun.

Apakah saat itu dia pingsan? Atau tertidur? Atau mati suri?

Kalau kita bicara sihir teleportasi, selama ada 2 lingkaran sihir yang saling berhubungan, maka kita bisa menentukan di manakah kita akan berpindah.

Namun, lain halnya dengan insiden metastasis. Pada dasarnya, insiden metastasis adalah aktifnya sihir teleportasi berskala besar, sehingga memindahkan siapapun dalam suatu area tertentu ke tempat yang sungguh tidak terduga. Kau bahkan bisa terbenam di dalam tanah, laut, atau bahkan kristal sihir setelah diteleport.

Kalau tidak salah, insiden itu juga yang menyebabkan Nanahoshi diteleport ke dunia ini.

Yahh…. itu masa lalu.

Setelah mengalami langsung bencana itu, kurasa orang-orang tidak perlu menganggap tabu sihir teleportasi. Kurasa, siapapun boleh mempelajarinya, selama diatur dengan benar.

Jika kita mengembangkan sihir teleportasi dengan benar, bukannya tidak mungkin kita bisa menemukan cara pencegahan bencana metastasis, yang mungkin akan terjadi selanjutnya.

Ya…. itulah salah satu manfaatnya. Sehingga, tidak ada korban jiwa massal lagi.

Aku akan membahasnya dengan Ariel lain waktu.

Jika aku memberikan laporanku mengenai penelitian sihir teleportasi, mungkin dia bisa memikirkan sesuatu untuk memanfaatkannya.

... tunggu sebentar……..

Dulu….

Yang pertama kali memberitahu kelompok kami bahwa Zenith mungkin terjebak di dalam Dungeon….. adalah Gisu.

Dia memang pandai mengumpulkan informasi, tapi….. bagaimana dia bisa tahu?

"Lalu, dia bermimpi."

Aku kembali fokus saat Miko mengatakan itu.

Nanti akan kutanyakan sekali lagi pada Gisu mengenai hal itu.

"Mimpi?"

"Ya. Mimpi. Dia merasa dipermainkan seperti boneka.”

"... boneka….?”

"Hmm, sebenarnya itu mimpi indah."

Kemudian, Miko menutup matanya.

Seolah-olah dia berusaha membayangkan sesuatu terlebih dahulu…. lalu dia kembali berbicara dengan lancar.

"Di dalam mimpinya, dia hidup dengan nyaman pada suatu rumah yang aneh. Dia menghabiskan waktu bersama Lilia, berjemur di bawah sinar matahari, merawat taman ... "

Kemudian, nada bicara Miko berubah.

Dia mulai berbicara dari perspektif Zenith.

"Lalu….. Paul meninggal, Rudy menikahi Sylphy-chan dan memiliki seorang putri. Tapi, seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Rudy pulang membawa wanita-wanita lainnya. Pertama, Roxy-chan, lalu Eris-chan ... namun, akhirnya semua keluarga menyetujui keberadaan mereka, termasuk Sylphy-chan.

Awalnya Norn keberatan, namun akhirnya dia bisa menerima keadaan itu. Norn tumbuh menjadi gadis yang bersemangat, saat mau berangkat ke sekolah, dia selalu berpamitan padaku, ’Ibu, aku pergi dulu ya….’ itulah yang selalu dia ucapkan.

Di rumah, aku hidup rukun bersama Aisha dan Lilia. Sepertinya Aisha sangat menyukai bunga-bunga di taman. Kami banyak mengobrol tentang tanaman, seperti, ’Nyonya Zenith juga suka apel dan bunga bakung, ya?’ Sebenarnya aku tidak keberatan jika dia memanggilku ibu, tapi Lilia selalu saja melarangnya. Aisha hanya bisa menuruti kata ibunya.

Roxy-chan sudah mulai mengajar di sekolah dekat rumah. Menurut Norn, dia adalah guru yang sangat terkenal. Penampilannya seperti gadis kecil, namun sebenarnya Roxy-chan adalah ras iblis yang tidak mengalami penuaan meskipun umurnya sudah mencapai puluhan tahun ... Rudy sangat mencintai Roxy-chan, jadi…. tidak masalah jika usia mereka terpaut begitu jauh.

Lalu aku bertemu dengan Eris-chan untuk pertama kalinya, dia juga sangat mencintai Rudy. Saat tidak ada yang melihat, dia mendatangiku dengan wajah merah cerah, lalu berkata, ’Aku masih belum berpengalaman menjadi istri…. jadi, mohon bimbingannya!’ Aku tidak bisa menahan senyum. Aku mengerti mengapa dia tidak sanggup mengatakan itu di depan Rudy. Dia pemalu dan wataknya keras, tapi hatinya baik. Wajah Eris memerah padam saat kupegang tangannya. Dia memang manis, pantas saja Rudy sayang padanya.”

Itu adalah ingatan kehidupan kami selama beberapa tahun terakhir.

Tapi, sepertinya ada beberapa hal yang berbeda ...

Norn jarang berpamitan pada Zenith saat hendak berangkat sekolah. Bahkan, tidak setiap hari Norn pulang ke rumah.

Bahkan saat Aisha coba mengobrol padanya di kebun, Zenith tidak pernah menanggapi.

Tapi, mungkin saja…. dari perspektif Zenith ...

Dia mengira sedang berkomunikasi dengan semuanya.

"Kemudian, Rudy punya beberapa anak. Yang pertama adalah Lucy, dia cepat sekali tumbuh besar. Suatu saat nanti dia akan menjadi kakak yang dapat diandalkan. Sylphy-chan selalu bekerja keras mengajarkan berbagai hal padanya, termasuk sihir.

Aku pun demikian, dulu aku susah payah membesarkan anak-anakku.

Istri-istri Rudy adalah ibu yang baik. Aku jadi iri pada mereka.

Sekarang anak-anakku sudah tumbuh dewasa, jadi mereka tidak memerlukan bantuanku. Yahh, mungkin aku bisa mengerjakan hal lainnya.

Aku senang sekali melihat mereka berusaha keras setiap harinya.

Kemudian, anak kedua Rudy yang bernama Lara. Entah kenapa, dia sangat menyukaiku. Sejak lahir, Lara sudah bisa bicara. Dia kerap kali memanggilku….’nenek….nenek….’ Dia selalu bersama anjing peliharaan kami yang bernama Leo. Beberapa kali dia membuat Leo panik karena ngompol di celana. Belakangan ini, dia sering menghabiskan waktunya di pangkuanku, bersama Leo yang meringkuk di dekat kami. Aku menceritakan berbagai hal padanya, seperti Desa Buena di mana ayahnya pernah dibesarkan, kenakalan-kenakalan ayahnya waktu kecil, dan juga prestasinya.

Yang terakhir, Ars, anak Rudi dan Eris-chan. Dia sangat mirip seperti Rudi saat masih kecil. Ketika aku menggendongnya, dia senang sekali menempel di dadaku. Jadi, kau suka dada nenek, ya…. ahahah. Sepertinya sifat Paul dan Rudy menurun langsung pada dirimu. Aku khawatir kau akan mengikuti jalan hidup ayahmu dengan menikahi begitu banyak wanita. Jangan pernah membuat mereka bersedih ya nak….. Aku percaya padamu….”

Tanpa kusadari, mataku berkaca-kaca saat Miko menceritakan itu semua.

Dan akhirnya, aku tak kuasa menahan tangis.

Lucy tidak terlalu dekat dengan Zenith, dan Lara bahkan belum bisa bicara.

Mungkin itu hanyalah imajinasi Zenith.

Jadi selama ini….. itulah yang dilihat Zenith dengan mata kosongnya…..

Setidaknya…. dunia yang dilihatnya setiap hari penuh dengan kasih sayang……

Kenapa……

Kenapa aku tidak pernah menyadarinya…..

Ah tidak….

Mungkin lebih tepat bila kukatakan…. kenapa aku tidak bisa menyadarinya…..

"Oh iya… ngomong-ngomong, Rudy menjadi bawahan orang besar, yaitu Dewa Naga Orsted. Konon katanya, dia adalah murid dari Raja Naga Urpen, yang merupakan salah satu dari tiga ksatria legendaris yang mengalahkan Dewa Iblis Laplace.

Sepertinya dia sangat kuat, dan semua orang takut padanya. Tapi aku tidak begitu takut padanya.

Kurasa, dia ingin berteman dengan banyak orang, terutama Rudy.

Dia sering datang mengunjungi rumah kami.

Sesekali aku mencoba berbicara dengannya, tetapi aku tidak pandai ngobrol dengan orang yang tidak kukenal. Aku benar-benar bingung.

Tapi aku tahu dia orang yang baik. Setiap kali Lucy kesulitan belajar sihir, dia mengajari beberapa trik yang menarik ... tapi Lucy tetap saja tidak paham, karena trik itu cukup sulit.

Pernah kuminta dia memegang Lara. Meskipun dia tampak gugup, akhirnya dia memegangnya dengan lembut.

Tapi Leo dan Ars tidak begitu akur dengannya.

Suatu hari Ars menangis keras saat Orsted datang, itu membuat Eris-chan segera datang menghampirinya, dan Orsted langsung pergi.

Dia orang yang kuat, namun berhati lembut. Sebenarnya aku tidak paham sehebat apa Dewa Naga Orsted itu, tapi bagi Rudy, itu suatu prestasi yang membanggakan.

Andaikan Paul masih bersama kami…….. kuyakin dia sependapat denganku.”

Apakah itu benar ...?

Aku yakin betul Orsted tidak pernah masuk ke dalam rumah kami ...

Ataukah dia menyelinap masuk tanpa sepengetahuanku?

"Rudy tumbuh menjadi pria yang hebat. Norn dan Aisha sudah dewasa karena telah merayakan ulang tahunnya yang ke-15. Sylphy-chan akan segera melahirkan anaknya yang kedua.

Lilia kebingungan apakah harus tinggal di rumah, atau ikut bersamaku ke Milis. Heheh… dasar bodoh, mengapa kau mengkhawatirkan hal seperti itu, Lilia. Aku bisa menjaga diri, kok…

Lebih baik kau membantu Sylphy-chan melahirkan anaknya.

Aku pun meminta dia tetap di rumah. Biar aku bersama Rudy dan Aisha yang pergi ke rumah nenek.

Jangan khawatir…. bukankah aku dulu sudah terbiasa berpetualang?

Oh iya, Rudy juga mengajak temannya yang bernama Cliff-ku ... dia pria yang baik.

Ufufu…. aku akan bepergian bersama Rudy! Pasti akan sangat menyenangkan!”

Sepertinya itu adalah ingatan Zenith sebelum kami pergi ke Milis.

"Ibu sudah terlihat seperti nenek-nenek sekarang. Dia sungguh berbeda dengan ibuku yang dulu. Awalnya kupikir dia akan memarahiku karena sudah lama kabur dari rumah, tapi ternyata dia malah termehek-mehek sembari menyebut namaku, ’Zenith….Zenith’ begitulah rengeknya.

Dia khawatir aku terluka atau sakit, jadi dia memanggil seorang dokter untuk memeriksaku.

Hey… aku baik-baik saja, lho…. bukankah aku terlihat sangat sehat?

Ibu terlalu mengkhawatirkanku, sampai-sampai dia menyuruh dokter itu memeriksaku setiap hari.

Dulu ibu terkenal disiplin dan keras…. tapi sekarang justru sebaliknya. Dia sama sekali tidak menegurku, malahan sering menangis padaku.

Setiap hari dia menghampiriku dengan wajah khawatir.

Ah iya…. ayah juga di sini.

Janggut ayah semakin panjang saja.

Padahal dulu dia tidak pernah memelihara janggutnya. Mungkin karena karirnya semakin berkembang, sehingga dia perlu memelihara janggut agar tampak berwibawa.

Tapi anehnya, dia mengatakan bahwa kondisiku tidak begitu baik, sembari tersenyum masam.”

Setelah mendengar itu, Claire hanya bisa membenamkan wajahnya di dada Carlyle.

Sembari membelai janggut suaminya, dia menangis sedu.

"Aduh, gawat…. sepertinya ibu dan Rudy tidak begitu akur. Rudy terlihat marah, lalu dia adu mulut dengan ibu. Hey kalian….. jangan begitu…. cepatlah berdamai.

Sepertinya Rudy berhasil menyudutkan ibu. Sampai-sampai ibu kehabisan kata-kata.

Dulu, Paul juga begitu…. kalau sudah marah, tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Rudy bahkan tidak mau mengalah pada ibu.

Baiklah…. kalau begitu, biar aku yang melerai mereka!”

Kemudian, Miko membuka matanya.

Sudah selesai kah?

"Fyyuuuhhhh ..."

Miko menggosok matanya, dan menghela napas panjang.

Lalu, dia kembali duduk pada kursinya.

Para Otaku itu segera menghampirinya.

Mereka memberinya secangkir air dan handuk hangat, mereka pasti sudah menyiapkan itu sebelumnya.

Beberapa orang bahkan memijat bahu dan lengannya.

Mereka sungguh memperlakukan gadis itu seperti idola.

"Maaf, hanya itu yang bisa kulihat. Apakah kau bisa menemukan suatu petunjuk?"

Miko tampak sangat lelah.

Pasti staminanya terkuras setelah menggunakan kemampuannya dengan serius.

Bahkan melihatnya saja, aku juga kelelahan.

Dia membaca semua ingatan masa lalu Zenith, lalu menyimpannya di otak.

Itu bagaikan menonton drama TV yang menceritakan kehidupan Zenith.

Dia mengumpulkan dan menceritakan begitu banyak memori dalam sekejap….. tentu saja itu melelahkan.

Kalau perlu, aku juga bisa memijatmu.

"Tidak…… tapi terima kasih banyak."

Aku tidak menemukan suatu petunjuk pun yang terkait dengan penyembuhan Zenith.

Tapi setidaknya….. aku bisa mengerti perasaan Zenith.

Itu cukup berharga bagiku.

"Setidaknya aku tahu dia bahagia. Dia pun tahu bahwa suaminya sudah meninggal. Aku mengerti apa yang dia pikirkan sekarang."

Zenith tahu apa yang terjadi selama ini.

Mentalnya cacat…. namun pikirannya sehat.

Meskipun begitu, ada beberapa ingatan yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

Contohnya….. Lara.

Lara memang dekat dengan Zenith, tapi dia jelas-jelas belum bisa berbicara.

Mungkin Zenith bisa mengerti apa yang Lara inginkan saat bersamanya…..

"Oh iya…. ada suatu hal yang bisa kusimpulkan.” tiba-tiba Miko mengatakan itu.

"...?"

"Aku tidak tahu mengapa bisa seperti ini, tapi……. kurasa ibumu bisa membaca pikiran orang lain, sama sepertiku.”

“…..!!??”

Apa? Membaca pikiran orang lain?

"Karena mentalnya cacat, maka mungkin saja aku tidak membaca memorinya dengan benar. Tapi….. kau harus tahu bahwa……..”

Miko mengatakannya dengan suara lirih.

Kemudian, dia memberi isyarat agar aku mendekatkan telingaku padanya.

Para Otaku itu segera menutupi telinganya masing-masing. Sepertinya mereka tahu bahwa Miko akan membicarakan hal yang tidak boleh mereka dengar.

Aku pun mendekatkan telingaku pada Miko.

Kemudian, dia berbicara dengan bisikan yang sangat pelan.

"……….ibumu juga Miko………”

Saat mendengar kata-kata itu, aku mengangguk pelan.

Aku sudah menduganya.

Sangat mungkin dia memiliki kutukan seperti itu.

"Jika orang-orang mengetahuinya, akan terjadi kehebohan besar, jadi kusarankan kau merahasiakannya.”

"Tentu saja. Aku bersumpah, sebagai bawahan Orsted, akan selalu melindunginya."

"Baiklah…. kuserahkan sisanya padamu."

Mungkin aku munafik, karena keluputanku membuatnya terculik kemaren.

Tapi setidaknya aku sudah bertekad.

Ada dua hal yang kuketahui setelah pemeriksaan ini.

Pertama, kemampuan Zenith.

Dia memiliki kemampuan mirip Miko-sama, yaitu membaca pikiran orang lain.

Belum jelas bagaimana detailnya, tapi setidaknya itu bukan kemampuan yang membahayakan jiwanya.

Aku pun lega.

Kedua… tentang Gisu.

Aku mulai mencurigai Gisu setelah semua insiden ini terjadi. Gerak-geriknya sungguh mencurigakan.

Dia tahu keluarga Zenith adalah bagian dari fraksi anti-ras iblis, tapi dia masih saja berani mengajaknya jalan-jalan.

Nanti akan kuinterogasi dia lebih detail.

"Miko-sama, aku sangat bersyukur bertemu orang sepertimu. Pasti ada suatu hal yang bisa kulakukan sebagai imbalan.”

Tapi, aku masih tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan Zenith.

Yahh…. setidaknya aku tahu hidupnya selama ini tidak sengsara.

Batinnya masih sehat.

Selama ini dia hidup seperti bermimpi indah.

Maka…. bukannya mustahil…. suatu saat dia bangun dari mimpinya.

"Sebenarnya ada 2 hal yang kuinginkan darimu…. tidak masalah bagimu?”

"Apa itu?"

"Bolehkah aku memiliki gelang itu?"

"Gelang?"

Aku menatap lenganku.

Ah…. ini gelang pemberian Orsted.

"Ya."

"... tapi aku tidak bisa melepaskan gelang itu darimu…. lagipula, bukankah gelang itu masih kau gunakan?”

"Ah tidak…. gelang ini hanya penanda bahwa aku adalah bawahannya Orsted. Dan semua orang sudah mengetahui itu.”

Julukanku sebagai Tangan Kanan Dewa Naga sudah tersebar di mana-mana.

Jadi......

"Miko-sama, apakah Anda juga berminat bergabung dengan Fraksi Orsted?”

"Ya. Sayang sekali kan… bila aku mati sebelum berumur 30 tahun.”

"Aku mengerti."

Oh iya, takdir gadis ini tidak begitu kuat.

Dia sudah ditakdirkan mati muda.

Mungkin saja dia mati karena penyakit, tapi tampaknya dia sehat-sehat saja, sih. Berarti, mungkin dia akan dibunuh suatu saat nanti.

Dia bisa menghindari itu dengan perlindungan dari Orsted.

Sekarang posisi Kardinal telah melemah…..

Sedangkan aku adalah pendukung Fraksi Uskup Agung…. jadi aku tidak bisa melindunginya.

Hmm ...

Yahh…. okelah… lebih baik Orsted yang melindunginya.

"Baiklah, kalau begitu… aku akan memberi Anda simbol Dewa Naga nanti.”

"Terima kasih! Dengan begini, mungkin umurku bisa mencapai 50 tahun, atau bahkan lebih!"

Kurasa itu imbalan yang pantas atas bantuannya selama ini.

Dengan bantuan Orsted, mungkin aku bisa memberinya hewan magis pelindung seperti Leo.

"Lalu, apa permintaan Anda yang lainnya?”

"Kumohon bantulah Therese. Dia dihukum atas kelalaiannya. Pangkatnya diturunkan, dan dia akan dimutasi ke tempat lain.”

"Tapi…. apa yang bisa kulakukan?"

Secara teknis, dia memang gagal melindungi Miko.

"Eh…. hmmm…. Kardinal benar-benar terpukul karena salah satu komandan terbaiknya, Therese, berhasil kau kalahkan. Oleh karena itu, pangkatnya diturunkan, dan dia dimutasi ke tempat yang jauh. Aku khawatir dia akan terbunuh, atau semacamnya. Padahal, dia adalah wanita yang berhati mulia.”

Dari insiden kemaren aku belajar sesuatu. Persaingan politik ini cukup kotor. Bukannya tidak mungkin Kardinal sengaja mengasingkan Therese, lalu membunuhnya.

Meskipun dia menyerangku, itu tidak mengubah fakta bahwa aku masih berhutang budi pada Therese.

Lagipula, dia hanya menuruti perintah atasannya. Jika dia disingkirkan karena kalah dariku, maka aku juga akan merasa berdosa.

"Baiklah."

"Terima kasih. Kalau begitu tolong tanda tangani petisi kami."

Salah satu Otaku itu segera mengeluarkan dokumen yang tampaknya resmi.

Jadi kalian sudah menyiapkannya ya….

Apakah kalian punya maksud lain?

"Baiklah, Rudeus-sama…. untuk kedepannya, kumohon bantuannya ya…."

Dengan demikian, maka resmilah Miko menjadi bawahannya Orsted, sama sepertiku.

Bagian 4[edit]

"Rudeus."

Setelah itu, saat kami menunggu di kereta…. akhirnya Claire berbicara padaku.

Ekspresi wajahnya tidak lagi dingin seperti biasanya.

Mungkin dia gugup.

"Sebenarnya ini bukanlah tempat yang tepat untuk berbicara, tapi aku ragu punya kesempatan bertemu denganmu lagi. Jadi, mari kita mulai sekarang saja. Apakah kau keberatan?”

Aku mengangguk tanpa kata.

Mau apa dia? Mau memarahiku setelah tahu aku beristri tiga?

Beristri dua saja sudah dibenci…. apalagi tiga….

Dia pasti akan menceramahiku dengan ajaran-ajaran Milis-nya.

"Aku ingin membicarakan tentang insiden kemaren."

"Baiklah."

Oh, ternyata bukan tentang poligami.

Sepertinya dia telah menyadari sesuatu.

Ya.

Dia tidak berusaha mencela, atau menyalahkanku.

Mungkin ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.

Tanpa mengubah ekspresinya, dia mulai berbicara……

"Perbuatanku sungguh tidak pantas dilakukan oleh seorang pemeluk Agama Milis.”

"Ya...aku tahu itu…."

Meskipun maksudmu baik, tapi caramu salah.

Aku memang ingin membicarakan ini dengan santai bersamanya.

"Jadi, tolong beri aku penebusan dosa."

"Penebusan dosa...?"

"Ya, penebusan dosa. Aku telah menculik ibumu, dan coba melakukan sesuatu yang mengerikan padanya. Kejahatan seperti itu harus diganjar dengan hukuman yang setimpal.”

"Kurasa permintaan maaf saja sudah cukup?"

"Tidak bisa. Hukumannya harus sesuai dengan kejahatan yang telah kulakukan."

Aku bisa mengerti itu.

Tapi…. jika semua kasus kriminal di dunia ini bisa diselesaikan dengan meminta maaf, maka tidak perlu ada polisi.

Harusnya, ada konsekuensi tambahan yang perlu dibayar si pelaku.

Namun, aku tidak ingin menyalahkan Claire lagi.

Walaupun Claire tidak puas dengan maaf yang kuberikan.

"... lalu, hukuman macam apa yang selayaknya nenek terima?"

"Hukum cambuk, atau potong kedua lengan ... bahkan mati pun aku rela."

Wahh….

Itu berlebihan, nenek.

"Aku malu sekali setelah mendengar cerita Zenith dari Miko-sama. Bagaimana bisa aku melakukan hal sekeji itu pada putriku sendiri? Aku memang pantas dibakar di neraka. Surga pun tidak akan sudi menerima rohku.”

Genggaman tangannya gemetaran.

Sekejam itukah hukuman di Agama Milis?

Zenith… tolong maafkan dia.

Aku yakin Zenith juga bisa merasakan kesedihan ibunya.

Jadi, pastilah dia sudah memaafkan ibunya.

Kalau Zenith sudah rela, maka tidak ada alasan bagiku membenci Claire.

Semuanya sudah terbukti di persidangan kemaren. Zenith jelas-jelas melindungi ibunya dari ksatria itu. Dia bahkan menamparku, tapi tidak dengan ibunya.

Tapi…. sekarang Claire datang padaku, dan bersikeras meminta hukuman.

Bukannya pengampunan, malah hukuman yang dia inginkan.

Jika tidak menerima hukuman dariku, dia tidak akan beranjak dari tempat ini.

Hmm.

Bagaimana ya caranya mengatasi orang keras kepala seperti ini.

Yahh…

"Aku mengerti ... kalau begitu ..."

"...."

Claire tampak tegang.

Maafkan aku…. aku bukanlah orang seidealis dirimu.

"Beralihlah dari keyakinanmu…..."

"Maksudmu… aku harus keluar dari Agama Milis, kemudian memeluk agamamu?”

Tidak…. tidak perlu sampai begitu…..

Mana mungkin aku menyuruhmu memeluk agama Dewi Roxy.

Apakah aku salah bicara?

Bagaimana caranya memahamkanmu?

"Kau tidak perlu berganti agama. Yang kumaksud dengan keyakinan adalah…. tinggalkan fraksi anti-ras iblis, kemudian bergabunglah dengan fraksi pro-ras iblis.”

"Seluruh Keluarga Latreia juga harus melakukannya?"

"Tidak perlu mengajak yang lainnya. Claire-san harus tahu bahwa salah satu istriku berasal dari ras iblis, jadi jangan menghinanya ya. Dan aku ingin nenek menghargai perbedaan kepercayaan dan pendidikan kita.”

"...."

"Oh iya… kalau selanjutnya terjadi lagi masalah, silahkan hubungi aku, kurasa aku bisa membantu…”

Claire memandangku dengan takjub.

Lalu dia mengangguk.

"T-tentu saja…."

Sepertinya Claire sudah tidak ragu lagi.

Tapi…. apakah dia memahami hukumannya?

Aku tidak tahu.

Dia terlihat berpikir sejenak, lalu mengangguk sekali lagi.

"Baiklah, dengan ini, Claire Latreia menyatakan dukungannya pada fraksi pembela ras iblis, dan akan setia padanya. Mulai sekarang, aku akan mempercayai Rudeus Greyrat, dan tidak akan mengusik keyakinannya.”

"Terima kasih ... tapi, jangan berlebihan. Memaksakan diri adalah tindakan buruk.”

"... ya."

Sepertinya Claire sudah melunak, jadi untuk sementara ini dia tidak akan membahayakan keluargaku lagi.

Tapi, mungkin dia tidak ikhlas melakukannya. Bagaimanapun juga, Claire adalah orang yang tidak mudah merubah idealismenya.

Lain kali….. kalau kami bertengkar lagi, kuharap masalah bisa diselesaikan cukup dengan minta maaf.

"Baiklah… kurasa itu cukup."

"... Terimakasih atas kemurahan hatimu."

Claire terdiam sejenak, lalu mengangguk lagi dengan wajah serius.

Cara meminta maafmu canggung sekali.

Bagian 5[edit]

Setelah itu, aku kembali ke rumah Cliff.

Aku berencana mengunjungi Kediaman Keluarga Latreia lagi, tapi itu nanti saja. Sekarang, prioritas utamaku adalah menemui Gisu.

Ada banyak hal yang ingin kudengar darinya.

Timing orang itu terlalu sempurna, dan itu malah membuatku curiga.

Waktunya mendengarkan semua ceritanya dengan rinci.

"Aku pergi dulu untuk mencari Gisu.”

Aku meninggalkan Aisha dan Zenith di rumah.

Kemudian, aku akan menyusuri kota untuk mencari si tampang monyet itu.

"Onii-chan, tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Aisha menghentikanku.

Dia langsung mengulurkan sesuatu padaku.

"Ini!"

Ada sepucuk surat di tangannya.

Dan ada segel lilin yang menutup surat tersebut.

Di bagian depan tertulis, ’Untuk Rudeus’.

"Begitu Onii-chan pergi, Gisu-san datang, lalu menitipkan surat ini pada Wendy!”

Aku pun menerimanya tanpa berkata-kata.

Kenapa dia menitipkan surat di saat seperti itu…….

Firasatku mulai memburuk.

Aku merobek segel, dan segera membaca isinya.

"Untuk Rudeus.

Yo… senpai.

Saat membaca surat ini, aku yakin kau sudah mendengarkan keterangan Miko, jadi…. mungkin kau sudah menyadari sesuatu.

Tau kah kau maksudku?

Sudah tahu, kan?

Jika kau belum tahu….. yahh, mungkin lebih baik aku tidak menulis surat ini…..

Baiklah…. aku tahu Senpai pasti mulai bingung.

Bahkan, mungkin selama ini Senpai menanyakan hal-hal seperti ini :

Bagaimana bisa aku menemukan lokasi Zenith di Dungeon itu….

Bagaimana bisa aku bertemu dengan Senpai di hutan itu……

Bagaimana bisa kita sama-sama ditahan oleh Suku Dorudia…..

Kenapa momennya begitu pas? Aneh, kan?

Yahh… anggap saja sebagiannya karena kehebatanku sebagai seorang petualang Kelas S.

Tapi… biarkan aku jelaskan dengan lebih mendetail.

Semua informasi yang kudapat selama ini….. adalah dari Hitogami-sama.

Hitogami-sama lah yang memberitahu semua itu…. aku tinggal mengikutinya saja.

Jadi…. kau boleh menyebutku “bidaknya Hitogami”.

Dengan kata lain…. selama ini aku menipumu, Senpai.

Apakah kau terkejut?

Bagaimana menurutmu?

Apakah kau marah?

Ya…. mungkin kau marah besar.

Haaahh…. itu wajar saja, sih.

Sudah lama aku berhubungan dengan Hitogami-sama, bahkan sejak kecil. Kalau tanpa bantuannya, mana mungkin aku bertahan hidup sampai detik ini.

Setiap kali aku terjebak dalam kesulitan, bahkan saat nyawaku terancam, aku hanya perlu mendengarkan nasehatnya…. maka selesailah semua urusan.

Lihatlah aku…. aku sama sekali tidak bisa bertarung. Jadi, nasehat Hitogami adalah berkah terbaik bagiku.

Dulu Senpai juga pernah merasakan kehebatan nasehatnya, kan?

Kau bisa kembali dari Benua Iblis juga karena bantuan Hitogami-sama.

Kau bisa bertemu dengan Ruijerd-danna [15], mendapatkan mata iblis dari Kishirika-sama, lolos dari penjara Suku Dorudia, dan menyelamatkan Aisha dari ancaman Pax….. semua itu karena saran Hitogami-sama.

Dia bahkan membantumu menemukan Zenith.

Setelah mendapatkan semua kemudahan itu…. kau malah mengkhianatinya?

Kenapa kau melakukan itu, Senpai?

Hitogami-sama adalah Dewa terbaik yang selalu membimbing kita.

Dia memberi nasehat untuk kebaikan kita sendiri.

Tindakan Senpai itu akan membuat Dewa marah.

Senpai telah mengkhianati Dewa kita.

Aku tahu Hitogami-sama sedang memanfaatkan kita, namun…. dia lah yang menjamin keselamatan dan kehidupan kita. Jadi, aku tidak keberatan diperalat olehnya.

Yahh…. aku memang tidak pandai menulis surat.

Taukah kau Senpai…….

Kampung halamanku telah dihancurkan.

Dan akulah yang menghancurkannya dengan tanganku sendiri.

Kenapa?

Mudah saja jawabannya…..

Karena Hitogami-sama memerintahku untuk melakukan itu.

Saat semuanya sudah musnah, dia tertawa terbahak-bahak seakan melihat pertunjukan komedi yang lucu.

Apakah aku marah?

Tentu saja marah!!

Aku ditipu, dimanfaatkan, dan dibodohi.

Namun, saat itu Hitogami-sama mengatakan padaku…..

“Selama ini aku sudah membantumu, jadi…. tidak masalah kan bila kulakukan ini.”

Mungkin dia hanya mencoba membangkitkan semangatku.

Tapi bagiku, perkataan itu seperti minyak yang disiram pada kobaran api.

Dadaku terasa panas….

Emosiku meledak-ledak….

Aku bingung… kenapa dia begitu senang menipu orang lain?

Tapi…. kupikir itu adalah imbalan yang setimpal.

Ya.

Sederhana saja….

Selama ini dia membantuku….

Maka aku harus menghiburnya.

Jujur saja, sampai sekarang pun aku masih dendam padannya.

Tapi itu tidak masalah.

Kurasa Senpai tidak sependapat denganku.

Saat membaca surat ini, mungkin Senpai berpikir : “Oh, Kohai-ku…. apakah kau sudah gila?”

Senpai boleh saja tidak setuju, toh aku tidak memaksamu untuk sependapat denganku.

Tapi maaf saja…. menurutku, Senpai tidak tahu berterimakasih.

Bagaimana bisa kau berusaha membunuh Dewa yang selama ini telah menolongmu.

Senpai boleh membenciku sebenci-bencinya….. tapi, inilah pilihanku.

Kali ini, aku hanya perlu menunggu dan melihat apa yang terjadi selanjutnya.

Untuk mengukur kemampuan Senpai, aku memasang perangkap dengan memanfaatkan Ksatria Kuil.

Tapi kau bisa mengatasi semuanya dengan mudah ...

Senpai memang hebat.

Tapi sayangnya, kau sudah menunjukkan kartu as-mu [16], dan itu adalah suatu kesalahan besar.

Lain kali aku akan membuat persiapan yang lebih matang, lalu menghadapimu dari muka dengan jantan. Bahkan kalau perlu…. aku akan mengobarkan perang.

Aku akan menang, dan kubunuh kau dengan tanganku sendiri.

Aku sungguh membencimu, Senpai.

Kita pernah bersenang-senang bersama saat dipenjara, dan bertualang melalui Jalan Suci Pedang.

Aku juga sangat bersemangat saat mengeksplorasi Dungeon bersamamu.

Namun, tentu saja itu semua hanya sandiwaraku.

Ada dendam yang tersembunyi di balik pertemanan kita.

Meskipun aku membenci Hitogami-sama, aku masih berhutang padanya.

Aku masih tahu balas budi.

Inilah jalan hidup yang telah kupilih.

Dari: Gisu Nukadia

Aku langsung bergegas keluar rumah.

"GISUUUUUUU!!!”

Jadi selama ini….. Gisu adalah musuhku.

Dia bahkan sudah melihatku bertarung menggunakan Magic Armor Versi I.

Dia bilang akan mengobarkan perang.

Si brengsek itu!! Apa maksudnya berkata begitu!!??

Dia juga bilang akan menghadapiku dengan jantan.

Aku tidak percaya semua ini…..

Aku harus segera menghentikannya.

Tidak…. tidak hanya dihentikan…. bunuh saja dia!!

Pertama-tama, aku harus pergi ke Distrik Niaga.

Aku segera menuju ke kantor cabang PT. Rudo.

Aku segera mengirim pesan singkat pada Orsted yang menyebutkan bahwa Gisu adalah bidak Hitogami.

Tanpa menunggu balasan, aku langsung pergi mencari Gisu.

Tapi aku tidak tahu harus mulai mencari dari mana.

Tidak efektif bila aku mencarinya sendirian di kota seluas Milishion.

Setelah berpikir singkat, aku langsung menuju Distrik Agama, kemudian membuat selebaran bergambar wajah Gisu yang bertuliskan : DICARI

Aku pun meminta bantuan Ksatria Kuil untuk mencari monyet itu di seluruh sudut kota.

Ternyata si brengsek itu adalah bidaknya Hitogami.

Itu berarti….. Gisu tahu apa yang akan terjadi di masa depan, karena Hitogami sudah membocorkan semuanya.

Dia adalah seorang petualang yang berhasil mendapatkan kelas S, tanpa kemampuan bertarung sedikit pun.

Pasti sulit menangkap orang seperti itu.

Bab 16: Si Pengkhianat Kabur[edit]

Bagian 1[edit]

Gisu Nukadia.

Dia adalah Suku Nuka terakhir yang berhasil selamat.

Dia tidak memiliki kemampuan bertarung.

Tapi dia punya segudang bakat di bidang lain.

Meskipun tidak bisa menggunakan sihir atau pedang, dia masih saja nekad menjadi petualang. Tapi…. tanpa kemampuan bertarung seperti itu, dia berhasil memperoleh kelas S.

Hanya itulah informasi yang Orsted tahu tentang Gisu.

{Pada perulangan-perulangan sebelumnya, Gisu tidak pernah melakukan hal yang mencurigakan. Jadi, kupikir dia bukan bidaknya Hitogami….} [17]

Itulah yang Orsted katakan lewat alat komunikasi sihir.

Orsted menggunakan pengalamannya dari perulangan-perulangan sebelumnya untuk menduga siapa saja yang mungkin menjadi bidaknya Hitogami.

Namun…. selama ini, Gisu tidak pernah menunjukkan hal yang mencurigakan pada perulangan-perulangan sebelumnya.

Dia hidup sebagai seorang petualang dan mati sebagai seorang petualang.

Tidak peduli apapun yang terjadi, kehidupan Gisu biasa-biasa saja.

Orsted sudah sering mencari bidak-bidaknya Hitogami, jadi dia punya kepekaan khusus untuk menemukan musuh-musuhnya.

Keberadaan Gisu begitu sepele, bahkan Orsted sekalipun tidak pernah memperhatikannya. Namun…. ternyata si brengsek ini tahu semuanya, termasuk persetruan abadi antara Dewa Naga dan Dewa Manusia.

Dia bergerak secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui siapapun. Bahkan dia menolong bidak-bidak Hitogami lainnya jika memerlukan bantuan.

Itulah yang membedakan Gisu dengan bidak Hitogami yang selama ini kulawan.

Sampai sejauh ini, hanya Gisu yang bisa menipu prediksi Orsted.

Baru kali ini Orsted menemui bidak Hitogami seperti Gisu, padahal dia sudah berkali-kali mengulangi kehidupan ini.

{Itu berarti, Gisu sudah lama sekali menjadi bidaknya Hitogami, sehingga dia tahu berbagai hal tentang kita. Namun, tak pernah sekali pun dia menunjukkannya pada kita.}

Ini adalah hal baru bagi Orsted. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di perulangan-perulangan sebelumnya.

Dalam suratnya, Gisu bilang pernah mengalami saat-saat kritis, bahkan hampir terbunuh. Namun dia tetap menyimpan rahasia ini, sampai saat-saat terakhirnya. Dan dengan bantuan Hitogami, dia selalu selamat dari kesulitan seperti itu.

{Kemungkinan lainnya adalah…. pada perulangan-perulangan sebelumnya, atau bahkan sejak awal, Gisu selalu menjadi bidaknya Hitogami. Tapi…. karena keahliannya menyembunyikan aksinya, aku selalu luput dari sepak terjangnya. Dengan kata lain, selama ribuan perulangan sebelumnya, Gisu selalu menipuku. Dia lah bidak Hitogami yang tidak pernah bisa kutemukan selama ini. Mungkin, Gisu lah yang menyebabkan aku tidak pernah menang melawan Hitogami.}

Dari kalimat itu, aku bisa merasakan penyesalan Orsted yang begitu dalam.

Jika Orsted saja tidak menyadarinya, bagaimana denganku….

Mungkin saat ini Hitogami sedang tertawa terbahak-bahak.

Kami tidak pernah menduga orang selemah Gisu bisa menjadi bidak Hitogami.

{Yahh…. apapun itu…. terimakasih sudah memberiku informasi ini. Kerjamu bagus kali ini.}

Sayangnya, kami juga tidak tahu ada berapa bidak seperti Gisu, yang begitu mahir menyembunyikan aksinya.

Setidaknya, Orsted masih bisa mengulangi kehidupan ini, sedangkan Hitogami tidak.

Jadi, Orsted sudah tahu keberadaan bidak seperti Gisu.

{Orang itu adalah kartu as-nya Hitogami. Lain kali, aku tidak akan tertipu lagi.}

Kupikir juga begitu…. Gisu adalah bidaknya Hitogami yang terbaik. Hitogami sangat mengandalkannya selama ini, dan Gisu juga begitu setia padanya.

Tanpa Gisu, rencana Hitogami tidak akan berjalan lancar.

Orsted pikir semuanya berjalan dengan baik. Namun, selama ada orang seperti Gisu, jangan harap rencana kita berjalan mulus.

Jika pada perulangan kali ini Orsted kalah, maka dia hanya perlu melakukannya sekali lagi, dan membunuh Gisu di kehidupan selanjutnya.

Tapi aku tidak terima…… dia telah mengkhianatiku selama ini, dan inilah satu-satunya hidup yang kujalani.

Gisu selalu saja bertingkah sopan di hadapanku. Gisu bahkan memanggilku Senpai, padahal dia adalah rekannya Paul, yang jauh lebih senior dariku.

{Kita akan mengalahkan Hitogami di perulangan ini.}

Meskipun hatiku dipenuhi kecemasan, aku menuliskan itu lalu mengirimkannya pada Orsted.

{Setidaknya kita sudah tahu semua rahasia Gisu.}

Aku sedikit tersenyum saat membaca kalimat yang terkesan pasrah itu.

Bagian 2[edit]

Sebulan telah berlalu semenjak kami tahu rahasia terbesar Gisu.

Aku terus mencari Gisu sejak saat itu.

Para ksatria bahkan mencari sampai pelosok Benua Milis untuk menemukan Gisu.

Pihak Gereja Milis dan Keluarga Latreia sama-sama dikerahkan.

Bahkan, aku tidak hanya meminta bantuan Milis.

Aku pergi ke Hutan Agung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kerajaan Suci Milis, lalu meminta suku Dorudia untuk mencari orang yang sama.

Lebih jauh lagi, aku meminta Ariel menggunakaan kekuasaannya di Asura untuk memburu buronan ini.

Tidak ketinggalan, aku menghubungi Roxy untuk melakukan pencarian serupa di Ranoa.

Namun hasilnya masih nihil. Tak seorang pun tahu monyet itu pergi ke mana.

Lagipula, kami tidak bisa melakukan pencarian di tempat-tempat tertentu seperti, bagian selatan dan timur laut Benua Tengah, Benua Begaritto, Benua Iblis, dan Benua Langit.

Dunia ini terlalu luas.

Tapi, dengan dikerahkannya begitu banyak tim pencari, dia tetap saja bisa meloloskan diri. Gisu memang bukan petualang biasa. Ranking S-nya bukanlah isapan jempol belaka. Kemana si monyet itu pergi? Trik macam apa yang dia gunakan sehingga bisa mengelabui kami semua?

Apakah dia pergi ke utara? Atau ke barat?

Andaikan saja aku mengenal para petinggi di Kerajaan Raja Naga, maka jangkauan pencarian kami bisa lebih luas. Kerajaan Raja Naga baru saja kehilangan pemimpinnya, mungkin negaranya belum stabil.

Tapi, sepertinya Gisu kabur ke Benua Iblis.

Karena orang bertampang monyet seperti Gisu tidak akan terlihat mencolok di Benua Iblis.

Namun, jika Gisu juga bisa menggunakan lingkaran sihir teleportasi sepertiku, maka pergerakannya semakin tidak terduga.

Selama Gisu belum tertangkap, aku tidak bisa tenang.

Aku harus mengamankannya secepat mungkin.

Kalau dia masih berkeliaran, keluargaku bisa terancam kapanpun.

Tapi…. di suratnya dia bilang akan menyerangku secara jantan, bahkan akan mengobarkan perang.

Aku tidak tahu itu benar atau tidak, karena si monyet itu sudah biasa berbohong.

Setidaknya, itulah pendapatku, tapi…..

Kalau dipikir-pikir lagi, harusnya Gisu bisa dengan mudah membunuhku selama ini.

Aku selalu percaya padanya, dan sama sekali tidak mencurigainya.

Tapi pria itu tidak main-main.

Di saat terakhir, dia terang-terangan membongkar rahasianya padaku.

Bahkan, dia bisa menculik Aisha sewaktu aku kerepotan menghadapi Therese dan pasukannya.

Karena Gisu tidak bisa bertarung, maka sangat dimungkinkan dia melakukan hal kotor seperti itu.

Tapi itu tidak pernah terjadi………..

Jadi, kurasa isi surat itu bukanlah bualan semata.

Kurasa Hitogami melarangnya membongkar rahasia itu, namun Gisu melakukannya demi martabat dan harga diri.

Saat lawanmu sudah benar-benar tertipu, maka tidak masalah jika kau ungkap semua trikmu, toh lawanmu tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.

Sudah separah itulah situasinya sekarang.

Aku termakan oleh tipu muslihatnya.

Tapi kenapa dia tidak pernah berusaha mencelakaiku? Dia bisa saja membunuhku saat tinggal di rumah Cliff. Tidak….. lebih jauh lagi…. dia bisa menghabisiku saat kami dipenjara oleh suku Dorudia. Dia bisa menusukku dari belakang saat kami mengeksplorasi Dungeon di Lapan.

Mungkin dia ingin mempererat hubungan pertemanan terlebih dahulu, sehingga aku sangat mempercayainya.

Dia sengaja membuatku bingung dengan semua sandiwaranya.

Setidaknya kami aman untuk saat ini.

Kalau pun ingin berperang, tidak mungkin Gisu mengumpulkan pasukan sebanyak itu dalam waktu dekat.

Tapi, aku yakin saat ini dia sedang mempersiapkan sesuatu untuk mengalahkanku.

Maka, aku tidak boleh lengah.

Bagian 3[edit]

Sembari aku terus mencari Gisu, Aisha mengembangkan PT. Rudo.

Dia menyeleksi orang-orang yang layak menjadi kepala cabang, merekrut para karyawan, dan menyusun anggaran kerja perusahaan.

Aku tidak bisa melakukan itu semua tanpa berkonsultasi dengan orang lain, tapi Aisha menangani semuanya seorang diri.

Keluarga Latreia kuijinkan merawat Zenith. Hubungan kami kembali membaik.

Dalam situasi seperti ini, Aisha sangat bisa diandalkan.

Sekitar sebulan telah berlalu sejak kaburnya Gisu.

Eris datang mengunjungi kami dengan menggunakan lingkaran sihir teleportasi.

Dia membawa senjatanya lengkap.

Dia pun menggunakan pakaian Raja Pedang kebanggaannya.

Sekali lihat saja, orang-orang pasti tahu bahwa wanita ini adalah pendekar pedang yang berbahaya. Tapi itu sama sekali tidak mengurangi keanggunannya.

"Tenanglah!! Aku sudah datang!! Akan kutebas siapapun yang mengganggu kalian!!”

Dengan semangat, Eris mengatakan itu pada kami.

"Jadi, musuh kita sekarang adalah si Gisu bodoh itu ya!! Apa-apa’an dia!! Selama ini selalu saja menjilat Rudeus-ku!! Dia selalu mengatakan, ’ahh… Senpai bukanlah tandinganku’… Cuih!!”

Saat melihat semangat Eris yang berapi-api, rasa cemasku mulai memudar.

Kalau pun serangan datang, asalkan ada Eris di sini…. kurasa kami akan baik-baik saja.

Setidaknya…. begitulah menurutku.

"Eris ...."

Aku pun memeluknya dengan lega.

Lalu kuremas-remas Oppai-nya, dan tentu saja…. aku kena jotos.

Apakah ini juga termasuk salah satu strategi Gisu?

Bagian 4[edit]

Saatnya serius.

Mari kita evaluasi sekali lagi.

Salah satu kalimat yang paling mengkhawatirkan pada surat itu adalah…. Gisu menyatakan akan menyerangku secara terbuka, bahkan akan mengobarkan peperangan.

Jadi, yang harus kulakukan saat ini adalah:

1. Melanjutkan pencarian Gisu.

2. Perkuat Magic Armor.

3. Mengawasi potensi terjadinya perang.

Sebenarnya, selama ini aku sudah bersiap-siap menghadapi perang besar. Tapi, bukan Gisu pelakunya, melainkan Dewa Iblis Laplace yang akan bereinkarnasi 80 – 100 tahun mendatang.

Aku tahu Gisu bukan orang biasa.

Meskipun di surat itu dia bilang “secara jantan”, namun belum jelas apa yang akan terjadi nanti.

Apakah dia akan melatih suatu teknik tertentu, membawa banyak pasukan untuk mengepungku, atau menyiapkan perangkap.

Menurut Orsted, orang lemah seperti Gisu harus menyiapkan strategi khusus untuk mengalahkanku.

Aku juga bisa mengatasi kepungan ksatria kelas atas di Milis.

Aku bahkan sudah pernah melawan Dewa Naga dan Dewa Kematian. Meskipun aku kalah, setidaknya aku sudah punya pengalaman melawan Tujuh Kekuatan Dunia.

Harusnya Gisu bukanlah lawanku. Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh.

Mungkin dia akan mengumpulkan orang-orang kuat untuk mengeroyokku.

Tapi dia butuh waktu untuk mendapatkan sekutu yang kuat.

Jumlahnya pun tidak banyak.

Berapa lama dia perlukan untuk mempersiapkan segala sesuatu? Setahun? Dua tahun?

Dia punya waktu…. aku pun punya waktu.

Ah… jangan pernah meremehkan siapapun lawanmu.

Bukannya tidak mungkin si monyet itu mengalahkanku.

Bagaimana jika dia menyiapkan perangkap yang sempurna selama bertahun-tahun? Ingat, dia bisa menggunakan segala cara untuk mengalahkanku. Justru itulah kelebihan Gisu.

Para Ksatria Kuil pernah menjebakku, dan aku hampir kalah andaikan saja tidak menggunakan Magic Armor Versi I.

Sekarang Gisu sudah mendapatkan semua informasi tentangku, jika ditambah lagi dengan nasehat-nasehat Hitogami, maka Gisu bisa mengalahkan siapapun yang dia mau.

Itulah kenapa lebih baik kutangkap dia lebih cepat.

Dan untuk mengatasi pecahnya perang, aku harus memeriksa setiap negara di dunia ini, jikalau ada penghimpunan pasukan dalam jumlah besar.

Perang membutuhkan pasukan dalam jumlah besar, sehingga kita bisa mencegahnya jika mengetahui ada pihak yang sedang mengumpulkan banyak prajurit.

Singkatnya, aku harus tetap waspada pada siapapun, karena musuhku akan semakin banyak.

Untuk saat ini, aku menduga Gisu berada di 2 tempat, yaitu Kerajaan Raja Naga dan Benua Iblis.

Kemungkinan tempat kedua agaknya lebih tinggi.

Jika dia bertemu Atofe, dan bilang ingin mengalahkanku, maka si wanita idiot itu akan membantunya dengan senang hati.

Mungkin lebih baik pergi terlebih dahulu ke Kerajaan Raja Naga, namun aku akan secepatnya mencari di Benua Iblis.

Aku akan menghubungi Dewa Kematian, dan segera menjalin kerjasama dengannya.

Jika Dewa Kematian sudah menjadi rekanku, maka kekuatan kami akan bertambah besar.

Dengan dukungan 2 Dewa, lawan akan berpikir dua kali sebelum melawan kami.

Ya…. seperti itulah rencananya.

Perkembangan PT. Rudo di Milis tampaknya akan berjalan lancar, karena aku sudah berdamai dengan Keluarga Latreia dan Gereja Milis.

Sembari mencari Gisu, misi utama harus terus berjalan.

Sekarang, mari kita kembali ke Sharia.

Setelah bertemu dengan Orsted, kita akan membicarakan gerakan selanjutnya.

Tapi sebelum itu…. ada beberapa urusan pribadi yang harus kulakukan di Milis.

Bagian 5[edit]

Aku mampir ke Kediaman Keluarga Latreia untuk memperkenalkan Eris, dan berpamitan.

"Begitu ya………."

Itulah tanggapan Claire setelah kuceritakan semuanya.

Dia menjamu kami dengan begitu sopan, bahkan tidak sedikit pun mengerutkan kening saat melihat Eris yang tomboy.

Dia sudah berubah.

Tapi aku bisa merasakan aura sedih di wajahnya.

"Apakah kau akan membawa Zenith pulang bersamamu?”

"Ya…. tugasku adalah melindungi dan merawatnya.”

"Aku mengerti."

Selama sebulan terakhir, aku menitipkan Zenith pada Keluarga Latreia.

Itu karena aku dan Aisha terlalu sibuk mengurusi hal lainnya.

Sepertinya Zenith kangen pada rumah masa kecilnya.

Dia sering berjalan-jalan mengelilingi Kediaman Latreia, dan bermain-main di taman.

Ada pelayan yang mendampinginya, tapi dia selalu berusaha kabur dan berlarian sendiri.

Seperti biasa, tatapan matanya selalu kosong, tapi aku sekarang tahu…. bahwa Zenith hidup bahagia di dalam pikirannya….. dia tidak cacat mental….. dia sehat…. Jadi, dia pasti bisa menikmati suasana kampung halamannya yang indah ini.

Saat melihat Zenith, para pelayan pria dan wanita tampak sedih.

Putra sulung bernama Edgar, dan putri tertua bernama Anise sudah datang ........ karena kesibukanku mencari Gisu, aku jadi lupa menemui mereka.

Lain waktu, aku pasti akan menemui mereka.

"Sayang sekali aku tidak bisa melihat Norn yang sudah tumbuh dewasa.”

"Saat kami berkunjung lagi, aku akan membawa Norn dan anak-anakku.”

Akhirnya aku mengerti bahwa Claire bukanlah orang jahat.

Dia memang menyebalkan, tapi tidak jahat.

Kurasa tidak masalah jika kubawa istri-istri dan anak-anakku lain waktu.

"Ah tidak…. aku sudah tua….. jadi, mungkin kita tidak akan bertemu lagi.”

Dia tahu jarak yang memisahkan Ranoa dan Milis terlalu jauh, maka dibutuhkan waktu lama untuk kembali ke sini.

Dia pikir, umurnya sudah habis ketika kami kembali lagi ke sini suatu saat nanti.

Ya…. itu masuk akal, karena umurnya sudah mencapai 60 tahun lebih.

Aku tidak tahu berapa usia rata-rata manusia di dunia ini, tapi dia jelas sudah tua dan kondisi tubuhnya tidak lagi prima.

Normalnya, perjalanan ke Sharia memerlukan waktu 4 tahun.

Jadi, setidaknya aku kembali lagi ke sini 10 tahun kemudian.

Saat itu, umur Claire sudah menginjak 70.

Jika di usia 60 saja dia sudah sakit-sakitan, maka dia ragu masih hidup di usia 70.

Tapi…. aku punya lingkaran sihir teleportasi, lho.

Sayangnya, Keluarga Latreia bisa kena masalah jika orang-orang tahu salah satu keluarganya bisa menggunakan sihir teleportasi.

Karena sihir teleportasi masih tabu di dunia ini.

Faktanya, titik-titik relay lingkaran sihir teleportasi sudah dipasang di Kerajaan Asura, Kerajaan Raja Naga, bahkan Kerajaan Suci Milis.

Namun ketiga kerajaan besar ini tetap saja menyembunyikannya.

"Rudeus, terimakasih banyak telah membawa Zenith ke rumah kami. Aku sungguh bersyukur bisa bertemu lagi dengannya.”

Claire mengatakan itu sembari menundukkan kepalanya.

Sepertinya baru kemaren aku bertengkar dengan nenek ini, dan terjadilah berbagai masalah yang pelik. Namun, sekarang kami harus berpisah.

Claire sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaannya. Tapi menurut para pelayan, beberapa hari terakhir dia sangat bergembira.

"Aku akan datang lagi dalam waktu dekat, nenek.”

Tanpa sadar, aku mengucapkan itu.

"Tapi......"

"Sudahlah…. aku pasti kembali."

Aku mengatakannya dengan mantab, sembari menegakkan badanku.

Claire sedikit mendesah lega.

"Zenith telah melahirkan pria yang hebat."

Claire mengatakan itu sebelum kami berpisah.

Bagian 6[edit]

Aku juga pergi ke tempat Miko untuk berpamitan dengannya.

Aku punya dua suvenir.

Yaitu gelang yang mirip dengan milikku dan gulungan sihir pemanggil hewan magis pemberian Orsted.

Gelang itu dibuat oleh seorang pengrajin yang Aisha kenal di Milishion. Dia memerlukan waktu sebulan penuh untuk membuat gelang itu.

Biasanya, ada permata yang terpasang pada gelang itu, namun aku lebih memilih batu sihir.

Aku membuat batu itu dengan sihir bumi, warnanya hitam kemilau, dan ada lambang Dewa Naga yang terpahat padanya.

Siapapun yang melihatnya akan tahu bahwa orang yang menggunakan gelang itu adalah rekan Dewa Naga.

Sembari membawa dua benda itu, aku hendak memasuki ruangan Miko, namun para Otaku itu keluar duluan.

Setelah diperiksa, mereka mengijinkanku masuk.

Di dalam ada juga Therese.

Aku sudah menandatangani petisi untuk mengembalikan Therese pada posisinya. Dan sepertinya berhasil.

Tapi sayangnya, Therese tidak lagi menjabat komandan pasukan penjaga Miko.

Posisinya digantikan ksatria baru, dan dia hanya mendapatkan posisi wakil kapten.

Ngomong-ngomong, kapten baru itu cukup disiplin.

Dia menanyaiku berbagai hal seperti: gelang Dewa Naga, dan juga sihir pemanggilan. Tampaknya dia tidak mengijinkan seorang pun menggunakan sihir tabu seperti itu di Pusat Gereja.

Tapi, kali ini para Otaku itu membelaku.

"Gelang ini adalah pemberian Dewa Naga Orsted pada Miko-sama melalui Rudeus! Bahkan kapten pun tidak punya kewenangan menolaknya!”

Wahh, kapten-san…. tampaknya anak-anak buahmu tidak menyukaimu.

Miko langsung menggunakan gulungan sihir itu di depanku. Dia berhasil memanggil seekor hewan magis berbentuk burung hantu berwarna perak, pupil matanya berwarna keemasan, dan panjangnya sekitar 1 meter.

Tentu saja dia lebih kecil jika dibandingkan Leo, tapi wujudnya begitu anggun.

Untungnya, kali ini tidak ada Tsukkaima milik Perugius yang terpanggil.

Gawat kalau sampai mereka datang.

Mungkin Miko tidak sanggup memanggilnya.

Yang penting, binatang magis penjaga ini tampak bisa diandalkan.

Untung saja yang keluar binatang imut seperti burung hantu. Kalau yang keluar laba-laba menakutkan, mungkin kapten-san itu tidak akan menyetujuinya.

"Aku akan merawatnya!"

Mata Miko berbinar sembari memandangi burung hantu imut itu.

Miko mengulurkan tangan untuk membelainya. Tampaknya si burung hantu menikmati belaiannya, sembari menyipitkan mata.

Binatang itu langsung jinak setelah dipanggil, dan sepertinya Miko sangat menyukai si burung hantu.

"Baiklah…. tolong rawat dia dengan baik."

Tapi dia bukan hewan peliharaan, lho….

Dia adalah pelindungmu dari ancaman makhluk mengerikan, Hitogami.

"Kalau begitu, aku pamit dulu."

"Baiklah Rudeus-sama! Hati-hati di jalan ya!"

Aku juga membungkuk pada Therese-san dan Pasukan Penjaga Makam Suci.

Nanti kita ketemu lagi ya….

Bagian 7[edit]

Akhirnya…. saatnya menemui Cliff.

Sejak awal, urusan Cliff lancar-lancar saja.

Insiden tempo hari membuat Cliff terkenal baik di Fraksi Uskup Agung, maupun Kardinal.

"Cliff Grimoire berhasil menenangkan Rudeus Sang Tangan Kanan Dewa Naga, lalu menyelamatkan Miko-sama.”

"Dia bahkan berani berdebat dengan Uskup Agung dan Kardinal atas nama kebenaran dan keadilan!”

"Sungguh luar biasa dia! Memang seperti itulah seharusnya seorang pengikut Milis!”

Seperti itulah rumor yang beredar di masyarakat.

Rumor itu tidak sepenuhnya salah.

Dari apa yang kudengar, sepertinya rumor itu disebar-luaskan oleh komandan tertinggi Ordo Ksatria Kuil dan wakil kapten Ordo Ksatria Gereja.

Karena rumor itu berasal dari dua orang berpangkat tinggi, maka para ksatria dan pendeta mempercayainya. Mereka pun tahu bahwa Uskup Agung memiliki cucu yang begitu hebat.

Namun Cliff menanggapinya dengan santai.

Cliff terus melakukan tugasnya dengan tenang.

Meskipun terlibat dalam suatu persaingan politik, tugas seorang pendeta tidaklah berubah.

Dengan begini, tidak ada orang yang memandang rendah Cliff.

Tapi, tentu saja ada orang yang dengki, dan merasa terancam dengan prestasi Cliff.

Yahh…. itu sih tidak bisa dihindari.

Cliff harus menangani orang seperti itu. Inilah yang menjadi tantangannya selanjutnya.

Aku sudah tidak mengkhawatirkannya.

Sekarang Cliff sudah jauh lebih dewasa dan kuat. Dia pasti bisa menangani masalah seperti itu.

"Cliff-senpai…. aku pulang dulu.”

"Ah .... jaga Lize-ku."

"Baiklah…. akan kupastikan dia tidak main mata dengan lelaki lain.”

Sepertinya Cliff belum menceritakan apapun tentang pernikahannya dengan seorang Elf.

Padahal, biasanya Cliff berkata jujur pada siapapun. Yahh…. mungkin dia punya pertimbangan lain.

Aku mengerti, kok….di Milis, tidak mudah mengakui pernikahan dengan ras selain manusia. Apalagi dia adalah seorang pendeta.

Itu diperparah dengan para petualang di sekitar sini yang sudah mengenal Elinalise sebagai si pelacur kondang.

Banyak petualang senior maupun junior yang mengetahui rumor itu.

Jadi, ini bukanlah saat yang tepat untuk membicarakan pernikahannya.

Tapi….. bukannya tidak mungkin akan beredar rumor tentang seorang pendeta Milis yang menikahi Elf pelacur. Jika rumor itu sudah semakin berkembang, dia harus membuat klarifikasi.

Aku yakin…. Cliff sudah memikirkan cara untuk mengatasinya.

Itu karena dia mencintai Elinalise, dan tidak malu menikahinya.

Jika orang-orang belum mengetahui pernikahannya, mungkin akan beredar rumor lainnya yang tak kalah seru.

Cliff masih muda, cukup tampan, dan berprestasi.

Jadi, akan banyak wanita yang menyukainya.

Orang-orang akan mulai meributkan siapakah yang Cliff pilih sebagai istrinya.

Bisa jadi…. Wendy pun kena imbasnya. Sebenarnya Wendy tidak menginap di rumah Cliff, tapi mereka tetaplah hidup bersama seatap.

Yahh…. itu urusanmu, Cliff. Aku tidak berhak mencampurinya.

Setidaknya, aku percaya Cliff tidak akan selingkuh dengan wanita lain.

…..jaga dirimu, sobat. Aku akan selalu mendukungmu.

Selalu berikan yang terbaik…..

"Cliff-senpai, jangan menggoda cewek lain ya, ingat Milis-sama selalu mengawasimu.”

"Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku bahkan tidak punya waktu luang untuk hal-hal seperti itu."

Cliff sangat sibuk akhir-akhir ini.

Urusan gereja semakin banyak, dan orang-orang sudah mulai mengenalnya sebagai tangan kanan Uskup Agung yang bisa diandalkan.

Banyak orang mulai mendekatinya, dari kalangan agama maupun bangsawan.

"Benarkah? Kudengar, belakangan ini kau semakin populer. Lantas….. bagaimana dengan Wendy-chan?”

"Wendy sudah kuanggap adik sendiri. Harusnya aku yang memperingatkanmu untuk menjauhi Wendy.”

Hey…. aku juga tidak tertarik dengan adik sendiri.

Tidak sopan.

Saat aku menunjukkan ekspresi kesal di wajahku, Cliff mengalihkan pandangannya, lalu mendesah lelah.

"Ah sudahlah….. cepatlah pulang. Toh, aku ingin berjuang dengan usahaku sendiri.”

Aku pun tertawa.

"Cliff-senpai sudah menunjukkan kemampuannya saat menyelesaikan insiden kemaren. Aku percaya padamu.”

"Ha ha. Jangan berkata begitu…."

Sebenarnya aku berniat mengatakan itu dengan serius, tapi entah kenapa aku malah tertawa.

Dia pun ikut tertawa.

Tapi itu benar…. kalau bukan karena usaha Cliff, masalah tempo hari tidak akan selesai dengan damai.

Itulah yang membuat namanya semakin terkenal.

Dia bukan lagi Cliff egois yang kukenal dulu.

"...... Pokoknya, terimakasih banyak sudah menemaniku datang ke Milis.”

"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kalau bukan karena Cliff-senpai, mungkin aku sudah menjadi orang yang dibenci di Milis, dan proyek PT. Rudo tidak akan berkembang.”

Oh iya, masih ada satu hal lagi….. bagaimana dengan proyek figure Ruijerd?

Ah…. nanti saja kita bahas lagi. Sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membicarakan itu.

Kalau pun kami pasarkan sekarang, sepertinya tidak banyak orang yang mau membelinya.

Toh, urusan PT. Rudo juga belum selesai sepenuhnya….. cabang perusahaannya belum stabil.

Kita akan membicarakan proyek figure Ruijerd setelah Cliff naik pangkat.

"Mulai hari ini, aku akan berusaha sendiri."

"Ya…. berusahalah sebaik mungkin."

Rencananya sedikit berubah, tapi aku sudah memenuhi janjiku pada Elinalise.

Cliff sudah aman.

Aku tidak tahu masalah apa lagi yang akan datang nanti.

Namun, setidaknya kami sudah memulai dengan baik.

Mulai saat ini, semuanya tergantung usaha Cliff sendiri.

Babak baru persaingan antara Fraksi Uskup Agung dan Fraksi Kardinal akan segera dimulai.

Cliff akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil terbaik.

Yahh, kalau dia gagal di Milis, mungkin kami bisa merekrutnya menjadi bagian dari proyek kami, seperti halnya Zanoba.

Jangan sampai kalah, Cliff.

"Maafkan aku, dalam sebulan terakhir aku jarang membantumu....."

"Tidak perlu berkata begitu."

Kami sama-sama punya masalah yang harus diselesaikan.

"Jika ada bidak Hitogami yang membuat masalah, segera kabari aku lewat alat komunikasi sihir itu. Aku akan segera datang membantumu.”

"Siap."

Cliff mengangguk dengan mantab.

Aku bisa membantunya, tapi dia tidak bisa membantuku. Itu tidak masalah…. dia tetaplah temanku.

Tapi, Cliff sekarang bukanlah penyihir yang lemah. Dia pasti bisa bertahan, setidaknya sampai bantuan datang.

"Baiklah Cliff-senpai…. sampai jumpa. Jaga kesehatanmu.”

"Kau juga….."

"Mungkin kita bisa bertemu lagi setahun kemudian.”

"Saat itu, kuharap bisa memperkenalkan Lize dengan bangga pada mereka.”

Kutukan Elinalise belum ditemukan obatnya.

Tapi…. kita tidak akan berpisah lama, kok.

".... Oh ya…. kau boleh berhenti memanggilku senpai."

"Ah… itu sudah menjadi kebiasaan. Kurasa aku tidak bisa menghentikannya.”

Saat kukatakan itu, Cliff mengangkat bahu, lalu tersenyum pahit.

---

Dengan demikian, pertempuran di Milis telah berakhir.

Begitu pun dengan konflik Keluarga Latreia dan Gereja Milis.

Namun….. sayangnya misi ini meninggalkan masalah yang jauh lebih besar…….

Yaitu pengkhianatan Gisu.

Banyak hal telah terjadi….. termakasih pada semua orang yang telah membantuku. Sekarang, tujuanku menjadi jelas.

Musuhku selanjutnya adalah…………

Gisu.


Cerita Selingan: Mad Dog Dan Anak Tuhan[edit]

Saat Rudeus berpamitan dengan Cliff, dua orang sedang bereuni.

Lokasinya bertempat di taman Pusat Gereja.

Taman ini dipenuhi dengan bunga-bunga beraneka warna yang mekar di musim semi.

Ada beberapa pohon yang hampir tumbang karena ulah sihir Quagmire milik Rudeus, tapi pohon-pohon itu belum mati.

Buktinya, bunga-bunga di Pohon Balta bermekaran seolah bergiliran dengan Pohon Saraku.

Di depan pohon-pohon itu, dua wanita saling berhadapan.

Seorang berambut pirang, dan satunya lagi berambut merah.

Mereka adalah Therese dan Eris.

Kemudian….. di belakang Therese…….

Berdirilah Miko, seakan bersembunyi di balik badan Therese yang gagah.

Sembari mengatupkan kedua lututnya dengan malu-malu, dia meringkuk di belakang Therese.

Di belakangnya lagi, berdirilah para pria ber-armor besi.

"Ayolah, Miko-sama. Ini Eris-sama. Rudeus sudah meluangkan waktu agar Eris-sama dapat bertemu dengan Anda.”

Therese memanggil Miko di belakang punggungnya dengan suara lembut.

Namun, Miko masih saja meringkuk malu-malu.

"T-T-TTapi ... itu Eris-sama."

Baginya, Eris adalah orang yang sangat dikagumi.

Saat kecil, Miko selalu kesulitan sewaktu keluar rumah, karena dia sering melihat ingatan-ingatan kotor orang-orang dewasa.

Kekuatannya justru membuatnya merana.

Sampai akhirnya dia jatuh dalam perangkap orang-orang yang berniat membunuhnya.

Saat dia pikir tidak punya lagi harapan untuk hidup….. munculah Eris yang menyelamatkannya.

Waktu itu, dia sungguh mengagumkan.

Gerakannya begitu lincah, sampai-sampai tidak ada seorang pun pembunuh yang bisa menangkapnya. Dia tidak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya, tapi…. dia tidak bisa melupakan sosok gadis berambut merah menyala yang membantai habis orang-orang yang menginginkan nyawanya.

Itu sungguh mengejutkan.

”Untunglah anak itu selamat.”

Kurang-lebih, itulah yang diucapkan Eris saat itu.

Sesampainya di Pusat Gereja, Miko baru sadar siapa yang disebut ‘anak itu’ oleh si gadis berambut merah.

Saat itulah dia menyadari bahwa dia telah diselamatkan.

Kemudian, Miko ingat.

Dia sudah melihat mata gadis berambut merah itu, sehingga dia bisa mengungkap nama penyelamatnya.

Eris.

Jadi namanya Eris.

Sembari terus memikirkan Eris, lama-lama kekaguman Miko pada gadis itu bertambah besar.

Miko juga sudah mengerahui sifat Eris dari memori masa lalunya.

Sejak saat itu, dia selalu meniru sifat Eris yang keras dan lugas.

Setiap kali dia melihat sesuatu, Miko akan mengungkapkan kesannya dengan jelas.

Setiap kali memutuskan sesuatu, dia akan mengatakannya keras-keras.

Setiap hari, dia selalu ceria dan bersemangat seperti Eris.

Miko pun penasaran, sudah berapa lama dia meniru tingkah laku Eris?

Dia mulai pesimis bisa bertemu Eris lagi.

Dia ingin sekali bertemu dengan Eris, tapi tidak pernah mengungkapkannya pada orang lain.

Dia mengerti tidak punya hak untuk membawa Eris ke Milis.

Namun, suatu hari Eris benar-benar datang ke Milishion.

Ketika Miko mendengar kabar itu, dia tidak tahan lagi.

Dia memohon sekuat tenaga pada Uskup Agung dan Kardinal untuk diijinkan bertemu Eris Sang Raja Pedang.

Orang-orang mengenal Eris dengan sebutan Mad Dog, dan dia sangat berbahaya.

Sebenarnya dia hanya ingin mengucapkan terimakasih padanya.

Permintaannya dikabulkan saat Rudeus menjamin, “Jika terjadi apa-apa, akulah yang akan bertanggung jawab.” Maka dipertemukanlah Miko yang suci dengan Raja Pedang yang haus darah.

Namun, saat benar-benar berada di depan Eris, Miko kehabisan kata.

Dia tahu membaca ingatan seseorang bukanlah hal yang sopan, jadi dia mengalihkan pandangan matanya dari Eris.

"..."

Eris berdiri di depan Miko dengan tangan bersedekap.

Dia juga sudah selesai memperkenalkan diri.

Dia menyebut dirinya sebagai Raja Pedang, dan salah satu istri Rudeus Greyrat.

Therese juga sudah selesai berbasa-basi dan mengucapkan terimakasih atas kehadiran Eris di taman ini.

Lima menit telah berlalu.

"Ayolah, waktu kita tidak banyak."

Eris berdiri dengan sopan.

Jarang sekali itu dilakukan oleh gadis setempramental Eris, tapi kali ini Rudeus sudah memintanya untuk bersikap profesional.

”Orang yang akan kau temui ini adalah penyelamatku. Kumohon jangan bertingkah kasar…. Yahh, mungkin aku tidak bisa menghentikan tempramenmu, tapi setidaknya jangan pukul dia.”

Seperti itulah perintah Rudeus.

Tapi Eris tetaplah Eris…. dia pun mulai tidak sabar.

Dia benci menunggu.

"Bisa tidak dipercepat sedikit!?"

"Y-Y-Ya…!”

Mendengar tuntutan Eris, Miko sedikit melonjak kaget.

Miko begitu malu, tapi dia takut menyinggung perasaan Eris.

"Um, namaku Miko! Terimakasih karena telah menyelamatkan nyawaku dulu!”

"Dulu ...? Aku tidak ingat!"

"Eh?"

Eris membalasnya dengan suara keras, lalu Miko coba menatap matanya.

"... ah."

Akhirnya dia menyadari bahwa tidak ada seberkas pun ingatan Miko di dalam kepala Eris. Wajah Miko mulai tampak sedih.

Yahh… mau bagaimana lagi.

Sebenarnya Miko sudah menduganya.

Tidak mungkin Eris mengingat suatu insiden yang sudah terjadi begitu lama.

Namun, dia masih ingin mencobanya.

Mungkin saja Eris masih ingat gadis yang pernah diselamatkannya di hutan Milis, namun dia tahu peluangnya tidak begitu besar.

Dia berharap Eris mengatakan, ’Ahh…. kau gadis yang waktu itu? Wah, sudah besar ya sekarang…’

Itulah yang Miko percayai, karena dia begitu merindukan Eris.

Tapi, setelah menatap mata Eris, Miko tahu bahwa dia sudah benar-benar melupakan dirinya.

Mungkin, kalau Miko menatap mata Eris lebih lama lagi, dia akan menemukan ingatan itu.

Sekilas, Miko hanya menemukan sedikit memori Eris saat dia berkunjung ke Milis, yaitu sewaktu Therese memeluk Rudeus yang duduk di pangkuannya, sembari mengusap-usap kepalanya. Saat itu, Eris sangat cemburu.

Kemudian, Miko dikejutkan oleh seruan Eris berikutnya.

"Tapi… kau telah menyelamatkan Rudeus!! Terimakasih ya!!”

Sembari bersedekap, Eris mengucapkan itu dengan begitu bersemangat.

Setelah mendengarkan itu, Miko menggeleng-gelengkan kepala, seolah ingin melupakan kekecewaannya.

"Tidak perlu berterimakasih…. wajar saja aku membantu suaminya Eris-sama."

Meskipun si wanita berambut merah tidak lagi mengingatnya, namun itu tidak merubah kekaguman Miko padanya.

Lalu, Eris melanjutkan omongannya dengan menggebu-gebu.

"Kalau begitu, beritahu aku namamu! Karena kau telah banyak membantu Rudeus, aku akan mengingat namamu sampai kapanpun!”

"Eh?"

Nama?

Bukankah dia sudah menyebutkannya tadi?

Oh iya…. Miko bukanlah suatu nama.

Miko hanyalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki kemampuan khusus.

Dia tidak punya nama.

Sampai saat ini, Miko tidak pernah memikirkan itu.

Tapi, sekarang Eris bilang akan mengingat Miko, jika dia memberitahu namanya.

Dia tidak punya hal penting itu.

Akhirnya dia menyadari betapa sedihnya tidak punya nama.

"Ummm ... anu ..."

"Miko itu… yang seperti Zanoba itu, kan? Itu bukan nama!! Jadi, siapa namamu??”

Saat mendengar kata 'Zanoba,' Miko sekali lagi menatap mata Eris.

Rupanya itu adalah nama seorang Miko dari negara lain.

Di dalam ingatan Eris, dia tidak bisa melihat apapun tentang orang itu selain namanya. Itu karena Eris tidak pernah tertarik pada Zanoba.

Namun, itu luar biasa….. ternyata Miko dari negara lain punya nama pribadi.

"Hey!! Apa-apa’an kau!!”

"Miko-sama ya Miko-sama!"

"Apa kau sedang mengejeknya!?"

"Dia tidak perlu nama!"

"Apa agamamu!?"

Saat mendengar para pengikutnya mulai ribut, Miko merasa sedikit tenang.

Sampai sekarang dia tidak pernah mengkhawatirkan itu. Tidak masalah jika dia tidak punya nama.

"Mohon maaf, Eris-sama….. tapi, aku tidak punya nama pribadi.”

"Hnnn ... Begitukah?"

Sepertinya itu tidak masalah bagi Eris.

Miko pun merasa lega.

Baru kali ini dia ragu menatap mata seseorang.

"Aku terkejut dengan kedatanganmu, Eris-sama. Tadinya kukira kau tidak ikut dengan Rudeus-sama.”

"Ya, karena Rudeus ketakutan, maka aku segera datang…. Eh tidak!! Sudah lama aku ingin berkunjung ke Milis!!”

Lingkaran sihir teleportasi harus dirahasiakan.

Eris tahu itu.

Tentu saja dia tidak bisa berbohong dari Miko, sehingga gadis itu hanya tertawa saat Eris mengatakan itu.

"Begitukah? Wahh… Eris-sama memang hebat… bisa tiba di Milis begitu cepat, ya…”

"Fufun, tentu saja!!"

Mood Eris membaik, dan para pengawalnya pun berhenti mencela.

Miko mulai menyadari sesuatu.

Sepertinya, idolanya ini begitu suka dipuji. Jadi, dia akan banyak-banyak memujinya.

Biasanya Miko tidak akan melakukan hal seperti itu.

"Umm, tau kah Eris-sama…. aku selalu mengagumimu!”

"B-benarkah itu?”

"Ya! Bagaimana caranya agar bisa menjadi seperti Eris-sama!?”

Saat mendengar pertanyaan itu, Eris memandangi tubuh Miko.

Pipinya tembem.

Tangan dan kakinya montok.

Tubuhnya gemuk, dan kelihatannya tidak begitu sehat.

"Yakin kau ingin jadi sepertiku?”

"Ya! Aku ingin menjadi sekeren Eris-sama!! Jadi…. tidak hanya cara bicaranya yang mirip!! Eh…?”

Tiba-tiba, wanita berambut merah itu menghunuskan pedangnya.

Hanya dua orang ksatria yang bisa bereaksi.

Dua orang ini adalah yang ilmu pedangnya paling tinggi di antara anggota Pasukan Penjaga Makam Suci.

Namun sudah terlambat. Bahkan dua ksatria terhebat pun tidak bisa mengimbangi kecepatan hunusan pedang Eris.

Mereka sama sekali tidak bisa melihat gerakan pedang Eris. Tapi, mereka bisa merasakan Eris telah menebas sesuatu.

Apa yang tertebas?

Sepertinya sudah jelas…..

"Kau!"

"Beraninya kau--!"

Pergelangan tangan Miko lepas….. oh… bukan…. itu bukan pergelangan tangan.

Itu hanyalah batang pohon Balta yang berada di dekat lengan Miko.

"..."

"......"

Saat menyadarinya, kedua orang itu segera kembali ke barisannya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Lalu, Eris mengambil batang pohon itu, dan menebasnya lagi berkali-kali di udara.

Miko sempat melihat wujud pedang Eris. Itu adalah pedang yang sungguh mengagumkan, bahkan tak seorang Ksatria Kuil pun memilikinya.

Tak lama kemudian, batang pohon itu berubah menjadi sebuah ranting kecil berukuran 100 cm.

"Nih…ambil."

Lalu, Eris menyerahkannya kepada Miko.

"...?"

Miko pun memegangnya dengan kebingunan. Kemudian, Eris berbalik ke samping.

Dia menggunakan kedua tangannya untuk mencengkram pedang indah itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya ke bawah.

Terdengar suara tebasan pedang yang memecah keheningan.

"Cobalah."

"... Eh? Ah, ya."

Miko meniru Eris, tapi dengan menggunakan kayu.

Sembari sedikit berteriak, dia mengayunkan kayu itu ke bawah.

Itu hanyalah kayu sepanjang 100 cm.

Bantuk kayu itu tidak teratur. Bahkan, tongkat jemuran pakaian lebih bagus daripada kayu itu.

Setelah Miko coba mengayunkannya, dia terhuyung 1 – 2 langkah ke depan.

Saat melihat putrinya hampir jatuh, para ksatria menjerit histeris dari belakang. Namun, Miko mengabaikan mereka.

"Ummm ... yang kumaksud mirip seperti Eris-sama, sebenarnya ..."

"Rendahkan lagi pinggulmu, lemaskan sikumu, dan hati-hati menggerakkan punggungmu. Coba lagi!”

"Y-ya!”

Miko tidak paham apa yang sedang dia kerjakan, namun dia terus saja mengayunkan kayu itu.

Setiap kali Miko selesai mengayunkan tongkat, Eris memberi saran.

"..."

"Berteriaklah setiap kali kau mengayunkannya! Seperti ini… satu, dua, satu dua!"

"Satu, dua, satu, dua!"

Tak satu pun Ksatria Kuil menghentikannya.

Sebenarnya mereka juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini, namun sepertinya Eris tidak membahayakan Miko, jadi mereka diam saja sembari mengamati.

Lagipula, Miko yang sedang mengayunkan kayu seperti itu terlihat semakin keren.

Sebenarnya si kapten baru coba bereaksi, namun anak-anak buahnya menghentikannya. Mereka ribut sendiri.

"Haah ... Haah ... Eris-sama ..."

Setelah dia mengulangi latihan itu sekitar 30 kali, napas Miko hampir habis.

"Lenganku sudah ...... mati rasa….."

"Begitu ya…. baiklah, kau boleh berhenti sekarang.”

Saat Eris mengatakan itu, Miko langsung menurunkan kayunya.

Dia mati rasa mulai punggung sampai pergelangan tangan, itu karena kelalahan.

Kalau kau mendekatkan telingamu ke otot-ototnya, mungkin kau bisa mendengarkan denyutannya.

"U-Ummm ..."

Miko menatap Eris dengan gelisah.

Dia tidak tahu mengapa Eris menyuruhnya mengayunkan kayu itu berkali-kali.

Mungkin Eris sedang mencoba sesuatu.

Dan Miko gagal.

Eris pasti kecewa.

Mungkin dia akan memarahi Miko dengan berkata, ’Kau pikir bisa meniruku dengan usaha seperti ini?’

Miko mulai sedih.

"Mulai besok, lakukan itu setiap hari. Kau juga harus latihan berlari…. Hmmm, lakukan di taman ini saja.”

"Eh?"

"Kalau kau kebingungan, bertanyalah pada pria-pria di belakangmu itu.”

Eris menatap lurus pada Miko.

Seolah tidak bisa mengelak dari tatapan matanya, Miko pun membaca ingatan Eris.

Di sana, dia bisa melihat latihan keras Eris yang setiap hari dijalaninya di Dataran Suci Pedang.

Setiap hari dia mengasah kemampuannya dengan berlari dan berteriak tanpa makanan dan minuman.

"Jika kau lakukan itu semua…. kau bisa menjadi sepertiku."

Eris menyatakan itu dengan yakin.

Jika Rudeus di sini, dia pasti akan berkata, ’Ah tidak…. itu mustahil…’ dengan senyum masam.

Namun, dia tidak di sini sekarang.

Sang Miko berbalik, lalu menatap mata Therese.

Dia juga melihat latihan keras pada ingatan Therese.

Hal yang sama dia dapati saat melihat mata Ksatria-ksatria Kuil lainnya, meskipun latihan mereka tidaklah seberat Eris.

Kau bisa menjadi sepertinya.

Mungkin tidak mudah menjadi seperti Eris, namun setiap pendekar pedang mengalami latihan yang berat.

"Aku….. tidak yakin apakah bisa melakukannya……"

"Meskipun Miko-sama tidak bisa menggunakan sihir atau pedang, itu tidak masalah. Selama Miko-sama mau melatih tubuh Anda…. maka kami siap mengajari Anda.”

Yang menjawabnya adalah Therese.

Dia sedikit mengalihkan wajahnya saat mengatakan itu, lalu kembali menatap Miko.

Dia mengatakannya dengan jujur….. Miko tahu itu.

"Namun, berjanjilah untuk tidak melawan para pembunuh, meskipun kami semua sudah dikalahkan. Miko-sama hanya perlu lari jika bahaya seperti itu datang.”

Therese mengingat beberapa bangsawan yang mati karena melawan para pembunuh yang dikirim lawan-lawannya.

Therese memohon agar tuannya tidak melakukan hal yang sama seperti mereka.

"Ya. Aku bersumpah demi Milis-sama."

Miko mengangguk senang.

Suasananya menjadi tenang.

Mungkin karena suasana yang nyaman ini, si burung hantu perak datang, lalu beterbangan di sekitar taman.

Kemudian, dia bertengger, melihat Miko sembari memiringkan kepalanya, dan memekik, "Hoo."

"Oh…. ada apa?"

Miko membungkuk dan mengulurkan tangannya, lalu si burung hantu mengusap-usapkan kepalanya pada tangan Miko.

Miko mengelus-elus kepalanya yang halus, dan burung hantu itu tampak menikmatinya sembari menyipitkan matanya.

Eris mulai tergoda ingin memegang hewan itu.

Eris memang menyukai binatang, dan juga ras hewan.

Pokoknya yang berbulu halus, dia sangat menyukainya.

Dia sudah sering mengelus-elus kucing dan anjing, tapi burung hampir tidak pernah.

Dia bisa saja menangkap burung yang terbang, namun jarang sekali dia mendapati burung sejinak dan sebesar ini. Sekarang, burung itu tepat berada di hadapannya.

"... Hei, bolehkah aku menyentuhnya juga?"

"Ya, tentu saja!"

Setelah mendapatkan izin, Eris berjongkok mendekati burung itu. Dia sangat antusias, sampai-sampai napasnya ngos-ngosan.

Saat menyadari Eris mendekat, burung hantu itu mengernyit, lalu bergerak mundur beberapa langkah.

Eris menghentikan gerakannya.

"..."

Dia tidak boleh gegabah. Insting hewan memaksanya menjauh saat menyadari ada ancaman dari makhluk yang lebih kuat.

Mereka akan patuh jika kau sudah menguasainya, namun jika kau ingin menjinakkan hewan tersebut, maka jangan membuatnya takut.

Itulah yang dia dengar dari Rinia, yang sering dia siksa di tempat tidur.

Eris perlahan-lahan dan berhati-hati mengulurkan tangannya, lalu menyentuh burung hantu berwarna perak itu.

Ternyata bulu hewan itu sangat lembut, sehingga Eris semakin bernafsu mengelusnya.

Dia bahkan ingin memeluknya erat-erat, dan membenamkan wajah pada bulunya yang lembut…. tapi sepertinya dia tidak bisa melakukan itu.

Jika dia melakukannya, hewan itu akan lari, seperti yang terjadi pada Leo, Rinia, dan Pursena.

Jadi… jangan kasar padanya.

Sembari memikirkan itu, Eris mulai meraba-raba badan burung hantu perak itu.

Burung hantu perak ketakutan bagaikan impala yang disiksa oleh harimau, tapi Miko dan yang lainnya membiarkannya.

"Apakah kau menyukainya?"

"Tentu saja, burung ini sangat imut."

Setelah menikamti kelembutan bulunya beberapa lama, akhirnya Eris berdiri lagi dengan wajah merona.

Eris puas sekali.

Tiba-tiba, Eris menyadari ada sesuatu yang kurang.

"Oh iya……. siapa namanya?”

"Eh? Nama?"

Miko memiringkan kepalanya saat mendengar pertanyaan itu.

Ya…. nama………..

"Jika kau memelihara hewan, maka sebaiknya kau memberinya nama.”

"Begitukah?"

"Ya…. Rudeus juga pernah mengatakan itu padaku.”

Miko tiba-tiba merasa cemas.

Jangankan memberikan nama…. memiliki nama saja tidak pernah.

Dia tidak pernah diijinkan untuk menamai dirinya sendiri…. hmmm, pasti menyenangkan bila punya nama,

"Nama ya..."

Melihat Miko yang kebingungan, para pengawalnya mulai gusar.

’Aku ingin sekali menamai burung ini… ah, tidak boleh, aku kan bukan pemiliknya…. harusnya Miko-sama lah yang menamainya.’ pikir Eris.

"Eris, waktunya pamit."

Tiba-tiba Rudeus datang ke taman sembari mengatakan itu.

Dia sudah mengucapkan salam perpisahan pada Cliff, dan wajahnya terlihat galau.

Namun, ini bukan saatnya galau….. pertarungan besar sudah menantinya.

Kemudian, Rudeus kembali memasang wajah serius.

Namun, saat melihat Miko di taman, dia memiringkan kepalanya kebingungan.

"Ummm ... ada apa ini?"

"Kami sedang menentukan nama untuk burung hantu ini……”

"Nama...?"

Rudeus melihat sekeliling taman.

Miko dan para pengikutnya masih tampak kebingungan.

Si kapten baru tampak geregetan.

Therese hanya tersenyum masam.

Rudeus segera memahami situasinya.

Memang sulit ya…

Namun, dia yakin Eris tidak punya niat buruk dengan menanyakan itu.

"Ah, bagaimana kalau Rudeus-sama yang memutuskan namanya?”

Lalu, Miko pun mengusulkan itu.

Eris pikir, suaminya pasti bisa menemukan nama yang bagus.

"Eh? Tidak apa-apa nih aku yang memberi nama?”

"Ya, tentu saja."

Rudeus tampak berpikir sejenak.

Dia melihat bolak-balik antara Eris dan Miko.

Rudeus ingin memberikan nama yang bagus, namun karena ini begitu mendadak, dia jadi kesulitan menentukannya.

"Baiklah, bagaimana kalau…… Nurse?” [18]

"Nurse, ya? Itu nama yang bagus! Mulai hari ini dan seterusnya, namamu adalah Nurse!"

Miko membungkuk dan membelai burung hantu perak yang meringkuk di kakinya.

Tiba-tiba, Rudeus menjerit lirih, “Ah!”

"Ada apa?"

"Tidak…. tidak ada apa-apa."

Rudeus mengalihkan pandangannya dari Miko.

Seolah-olah Rudeus barusan melihat sesuatu yang salah.

Miko memiringkan kepalanya kebingungan, namun yang penting…. dia puas dengan nama itu.

Hari ini Miko sangat senang. Akhirnya dia bisa bertemu dengan idolanya, mendapatkan nama untuk burung hantunya, dan dia telah memutuskan untuk berlatih rutin mulai besok.

"Eris-sama. Terima kasih banyak!"

"Kapan-kapan aku akan datang lagi. Kita pasti akan bertemu lagi."

"Baiklah!"

Eris juga senang.

Karena bisa menyentuh burung hantu yang jarang sekali ditemuinya.

Para pengawal Miko juga senang.

Mereka sedikit takut saat sang Raja Pedang menghunuskan senjatanya di hadapan Miko. Namun, ternyata dia hanya meminta Miko latihan mengayunkan pedang.

Mulai besok, mereka semua berharap akan mengajari Miko latihan untuk menjaga kondisi fisik.

Hanya Rudeus yang masih saja mengalihkan wajahnya sembari mengumpat, “Oh, sial!”

Therese terus memperhatikan wajah keponakannya itu.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Therese tahu apa yang sedang diresahkan Rudeus.

Rupanya, ada nama lain yang ingin Rudeus berikan, namun dia tidak mengatakannya.

Therese akan merahasiakannya. Dia pun hanya tersenyum kecut.

Si burung hantu perak memandang Miko sembari memiringkan kepalanya ke samping.

Dengan begini, maka Eris mendapat murid baru.

Mulai hari itu, Miko terus berlatih sampai tubuhnya ramping. Itu membuat para Ksatria Kuil semakin memujanya layaknya diva….. tapi, kita simpan cerita itu untuk lain waktu.
  1. Kalau kalian ingat, Dewa Ogre sebelumnya dijuluki “Dewa Ganas”.
  2. Parodi Infinite Stratos, dimana seseorang bisa memanggil armor-nya dalam sekejap mata. Bahkan, armor-nya disederhanakan menjadi seukuran aksesoris saja. Mudah-mudahan kalian sudah nonton anime-nya, kalau tidak, ya sulit membayangkan.
  3. Anak gaul.
  4. Obon (お盆) atau disebut pula dengan Bon (盆) adalah serangkaian upacara dan tradisi di Jepang untuk merayakan kedatangan arwah leluhur yang dilakukan seputar tanggal 15 Juli menurut kalender Tempō (kalender lunisolar). Pada umumnya, Obon dikenal sebagai upacara yang berkaitan dengan agama Buddha Jepang, tetapi banyak sekali tradisi dalam perayaan Obon yang tidak bisa dijelaskan dengan dogma agama Buddha. Obon dalam bentuk seperti sekarang ini merupakan sinkretisme dari tradisi turun temurun masyarakat Jepang dengan upacara agama Buddha yang disebut Urabon. Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.
  5. Lebih ndeso.
  6. Ya, di Jepang (atau mungkin di belahan dunia lainnya) memang seperti itu. Saat Hari Valentin, cewek memberikan coklat pada cowok, sedangkan pada White Day, giliran cowok memberikan hadiah pada cewek.
  7. Bocchan adalah sebutan untuk tuan muda dari keluarga kaya atau terpandang.
  8. Agak sulit menerjemahkan kalimat ini, karena di Bahasa Indonesia, kita membedakan antara Tuhan dan Dewa. Tapi di Bahasa Jepang, Tuhan dan Dewa sama-sama disebut “Kami”. Aku yakin Rudeus menanyakan, ’apakah kau percaya pada Kami’ yang merujuk pada Hitogami, atau si Dewa Manusia, bukannya ‘Tuhan’ seperti yang kalian pahami. Namun, dalam konsep Agama Milis, yang mereka sembah adalah Tuhan, bukannya Dewa. Kenapa begitu? Karena sebenarnya Agama Milis sangat mirip seperti Protestan ataupun Kristiani di dunia nyata, terutama jika dilihat dari segi pemuka agamanya, yaitu Uskup Agung. Kalian tidak pernah mendengar para pemeluk agama tersebut menyembah Dewa, kan? Dewa biasanya digunakan oleh saudara-saudari kita yang beragama Budha, Hindu, ataupun Kong Hu Cu. Sehingga, Ciu lebih memilih kosakata Tuhan di sini.
  9. Ingat, dewasa di dunia ini adalah orang yang umurnya sudah melewati 15 tahun, jadi belum tentu dia masih muda.
  10. Bagi kalian yang masih asing dengan istilah ini, Kardinal adalah para pendeta yang memiliki posisi lebih tinggi dalam suatu organisasi keagamaan. Mereka lah yang berhak dipilih sebagai Uskup Agung. Kalau dianalogikan dengan pemilu, mereka seperti Capres.
  11. Asal tahu saja, armor Ordo Ksatria Kuil berwarna biru, Ksatria Gereja berwarna putih, sedangkan Ordo Perintah berwarna perak.
  12. Karakter ini pernah muncul di Jilid 5.
  13. Besh adalah singkatan dari Belmond naSH.
  14. Baron adalah nama kasta bangsawan
  15. Danna ini artinya semacam “bos”.
  16. Yaitu teknik pemanggilan Magic Armor Versi I.
  17. Kalimat yang diberi tanda kurung kurawal {……} adalah percakapan melalui alat komunikasi sihir.
  18. Rudeus menggunakan Katakana seperti ini ナース , bacanya : Naa-su. Itu merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris : Nurse, yang berarti perawat, atau suster yang biasa kalian temui di gereja.