Boku Wa Tomodachi Ga Sukunai:Jilid1 Prolog

From Baka-Tsuki
Revision as of 01:48, 17 April 2016 by 103.28.112.226 (talk)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

Aku akan jujur pada kalian, yang berikut ini adalah halusinasi.

Kami Kami semua tiba di pulau tropis selatan.tiba di pulau tropis selatan.

Meskipun ada berbagai macam jenis pulau tropis selatan, pemandangan semacam ini selalu muncul di benak orang-orang: pakaian minim, laut yang indah, kelapa, tarian hula, dan lain-lain. Itu semua adalah hal yang seharusnya ditawarkan oleh surga musim panas pada umumnya. Kami, anggota ‘Klub Tetangga’, sedang menikmati waktu kami di surga ini.

Ketika aku sedang berbaring di kursi pantai menikmati sinar matahari, perhatianku teralih ke arah pantai yang berpasir.

Dua cewek sedang membangun istana pasir dengan riang.

Salah satu cewek yang kelihatannya berumur 10 tahun; dengan mata berwarna biru, rambut perak, dan baju renang sekolah; adalah Maria Takayama.

Seperti yang bisa kalian lihat, dia benar-benar loli. Dia adalah biarawan Sekolah Santo Chronica dan penasehat Klub Tetangga.

Cewek yang sedikit lebih tua yang bersama dengannya, dengan rambut pirang dan mata heterochromatic berwarna merah dan biru, adalah Kobato Hasegawa.

Daripada gaun goth-loli yang biasa dipakainya, hari ini dia memakai pakaian normal.

As if. She's wearing a barely-there bikini.

Kobato adalah adik perempuanku — Kodaka Hasegawa.

“Aniki, Anda mau segelas jus?”

Aku melihat ke samping ke arah orang yang bicara denganku. Orang ini memakai baju renang two-piece bergaya pareo yang imut. Di tangan orang ini ada segelas jus bernuansa tropis dengan hiasan buah. Cowok imut ini punya senyum yang sangat lembut di wajahnya.

“Ah, makasih.”

Aku menerima jus darinya dan mulai meminumnya.

Bersandar di kursi tak jauh dariku adalah seorang cewek yang memakai kacamata. Satu tangannya memegang minuman, yang lain memegang buku yang dia baca.

Cewek ini, dengan rambut ekor kuda dan baju renang one-piece, ditambah jas lab, adalah Rika Shiguma.

Buku di tangannya adalah doujin BL yang menampilkan UC Gundam dan EVA #0.

“Ahaha, rasakan nih~~~♥!”

“Kyaa, ~~~♥!”

Di pinggir laut, dua cewek dengan riang saling mencipratkan air satu sama lain.

Cewek dengan bikini bermotif cantik, mata yang terang, rambut pirang, dan tubuh yang indah adalah Sena Kashiwazaki.

Boku wa tomodachi ga sukunaiVol1 Prologue.jpg
Yang menemaninya bermain, dengan mata yang tajam dan rambut hitam, adalah Yozora Mikadzuki.

Baju renang Yozora, bagaimana aku harus menjelaskannya... Sama sekali nggak ada hubungannya dengan kata seksi, indah, atau bahkan moe. Seluruh tubuhnya, dari leher sampai ujung kaki, dibalut baju renang bermotif strip hitam putih.

Pemandangan dua cewek imut bermain dan tertawa bersama – Bagaikan sebuah lukisan di atas kanvas! Hanya melihatnya sudah cukup untuk membuat jantungmu berdebar kencang.

...Meski beberapa hal tampak keliru, kami terlihat seperti riajuu (orang-orang yang menikmati hidup sepenuhnya.)

Benar-benar kehidupan yang indah.[1]

Benar-benar kehidupan yang fantastis.

“Ahaha... Benar-benar kehidupan yang fantastis.… Aku bahagia sekali, ahaha... Semua anggota Klub Tetangga saling membaur satu sama lain... Ahahahaha...”


Tapi seperti yang kubilang sebelumnya, ini hanya halusinasi.


“-npai. Bangun, Senpai... nih”.

“BZZBZZBZZ”

“~~~~~~~~~!?”

Sebuah hentakan listrik mengalir ke tubuhku, dan kesadaranku yang kabur dikejutkan kembali ke dunia nyata.

Ngomong-ngomong, ‘sebuah hentakan listrik’ bukanlah metafora; Aku benar-benar disengat taser.

Dan pelaku yang membangunkanku dengan sengatan listrik sedang duduk di sebelahku.

“Fufufu... kamu mau kabur sendirian. Itu licik sekali Kodaka-senpai.”

Kata Rika Shiguma, dihiasi dengan sedikit senyum kemarahan. Dia adalah cewek berkacamata dengan jas lab yang menutupi seragam sekolahnya.

“Aku mendapat penglihatan yang bahagia...”

Jawabku dengan tatapan jauh.

“Penglihatan seperti apa?”

“Yozora dan Sena lagi main bareng dengan gembira.”

“Benar-benar pemandangan yang tidak ilmiah.”

“Ga se-tidak-ilmiah itu kok...”

Tapi kalian tahu, aku bisa mengerti kenapa Rika bilang begitu.

Nggak mungkin dua orang itu bisa bermain bersama dengan akrab.

Sebagai contoh, sekarang-

“Bukankah sekarang keadaannya jadi lebih sulit? Kamu mungkin mau menyerah sekarang; ini buat kebaikanmu sendiri, Daging...”

Kata cewek berambut hitam – Yozora Mikadzuki, dengan mata yang merah.

“Fufufu... Mestinya kamu yang menyerah, ya kan? Kamu udah tersedak-sedak tuh.”

Cewek berambut pirang – Sena Kashiwazaki – terlihat sama gembiranya dengan Yozora. Senyum sinting muncul di kedua wajah mereka.

Tiba-tiba, mereka berdua menusukkan sumpit mereka ke dalam nabe yang bergelembung, secara serentak menyambar “benda” hitam keluar dari pot. Dengan segera mereka memasukkan “benda” itu ke dalam mulut mereka.

“Ugh...”

“Guh...”

Kelihatannya mereka berdua sukses menghindarinya; mereka berteriak dengan suara seperti mereka berada di ambang kematian,

“Ga, gah, agah, pedas banget , gahhhh!”

Yozora mencengkeram tenggorokannya dengan ekspresi kesakitan.

“Uuh... Uuuuuuh... Manis... Eh, bukan... Mulutku terasa berlendir banget... Tenggorokanku, rasanya seperti membusuk... Menjijikannnn...”

Mata Sena berubah menjadi putih, dan air mata mulai turun ke wajahnya bagaikan air terjun.

...Di dunia nyata, kami seperti berada di neraka.


Sebelum peristiwa ini terjadi, kami sedang berada di ruangan kecil bernuansa barat yang dipenuhi dengan perabotan yang cantik.

Kami bertujuh sedang duduk-duduk mengelilingi meja bulat kecil di tengah ruangan.

Di tengah meja terdapat sebuah panci. Sebuah panci yang isinya berwarna hitam dan bergelembung, meskipun nggak ada api di bawahnya.

Di sebelah kananku ada Rika, dan di sebelah kiriku ada loli berambut perak dan gothic loli berambut pirang. Dua cewek ini sudah jatuh pingsan di lantai.

Yang berambut perak adalah Maria Takayama, dan yang berambut pirang adalah Kobato Hasegawa.

“Onii-chan... Onii-chan... Setan, setan ada di sini...”

“An-chan, kembali, kamu gak bisa membunuhnya...” [2]

Ada ekspresi kesakitan yang aneh di kedua wajah mereka dan mereka menggumam pada diri sendiri, seakan-akan mereka sedang mengalami mimpi buruk.

Yang duduk di sebelah Rika adalah Yozora.

Yang duduk di antara Kobato dan Maria-sensei adalah Sena.

Dan kemudian, terjepit diantara Yozora dan Sena, adalah cowok imut yang mengenakan seragam pelayan perempuan, Yukimura Kusunoki.

Yukimura menggerakkan sumpitnya maju mundur dari panci ke mulutnya secara sistematis dan tanpa bersuara.

Meski gerakannya masih belum berhenti, sumpitnya sudah tidak lagi menggenggam makanan dari panci.

Mata Yukimura sudah kehilangan kemampuan fokusnya―dia sudah mati.

“Yukimara... Kamu juga sudah meninggal...”

</gallery> </gallery>

“Nih Kodaka, kamu juga harus makan...”

“Fufufu... Buruan makan. Ini adalah waktunya untuk pertarungan penentuan...”

Kata Yozora dan Sena padaku, dengan kegilaan di mata mereka.

“Uhh...”

Jadi aku, dengan tampang kekalahan, menaruh ujung sumpitku ke dalam panci yang bergelembung.

Isi dari dalam panci mengeluarkan aroma manis, atau bau, atau bahkan asam. Aromanya cukup kuat untuk membuat kulitku mengejang, mataku berair, dan hidungku gatal. Secara keseluruhan, panci itu mengeluarkan bau yang sangat kuat hingga membuatku merasa tersiksa.

“...Hei, kamu yakin kalau gak ada racun yang ditambahkan ke sini...?”

“Secara teori ya, Kodaka-senpai... Tes racun milik Rika mampu mendeteksi semua racun karena tes-nya sempurna, jadi...”

Rika menjawab dengan tidak yakin.

Jadi, apa yang sebenarnya kami lakukan? Kami sedang mencoba mengadakan pesta yaminabe [TL comment: black hotpot ; hotpot hitam/gelap]


Ide ini muncul beberapa hari yang lalu.

Sena bilang kalau dia ingin mengadakan pesta nabe dengan teman-teman galgame-nya. Kebetulan Yozora melihat layar game itu dan berkomentar, “makan nabe bersama-sama memang terdengar seperti hal yang dilakukan oleh sekumpulan teman.“

Sena dan aku setuju.

Jadi Yozora mengusulkan,

“Supaya kita tidak mengacaukan pesta nabe ketika kita sudah punya teman nanti, kita harus berlatih mengadakan pesta nabe disini.”

‘Menikmati hidangan nabe seusai sekolah.’ Itu merupakan usul yang sangat sederhana hingga membuat kami semua tertarik dengannya, jadi kami semua setuju untuk melakukannya.

Meskipun peraturan sekolah melarang menyalakan api selain di ruang memasak, Rika menciptakan panci yang bisa memasak tanpa api, jadi masalah itu selesai.

Waktu kami sedang mendiskusikan nabe macam apa yang akan kami buat, Sena berkata, “yaminabe aja.”

Tampaknya dia memilih itu karena di salah satu galgame terdapat adegan dimana semuanya berkumpul dalam pesta yaminabe. Mereka terlihat gembira sekali memakan nabe-nya bersama-sama.

Ketika mendengarnya, entah kenapa kami semua berpikir, ‘itu ide yang bagus...’

Setelah menentukan jenisnya, kami juga memutuskan kalau akulah, sebagai satu-satunya orang yang tahu caranya memasak, yang akan menyiapkan supnya.

Jadi, akhir pekan lalu, aku mulai menyiapkan sup hitam untuk yaminabe-nya.

Aku baru tahu kemudian kalau kami tampaknya salah mengartikan apa itu yaminabe―kata hitam/gelap mengacu pada cahaya lampu yang diredupkan ketika kita hendak memasukkan makanan ke dalam panci, bukan warna dari supnya.

Tapi, aku menggunakan cumi dan wijen hitam sebagai bahan utama sup. Kemudian aku menambahkan seafood lainnya untuk membuat supnya agak pedas. Bagaimanapun juga, hasil akhirnya adalah sup hitam yang lezat untuk yaminabe yang lezat.

Jadi, hari Senin esoknya di awal pesta nabe, aku menuangkan supku ke dalam panci Rika, meredupkan cahaya di dalam ruangan dan membiarkan yang lain memasukkan bahan-bahan mereka. Akhirnya, pesta nabe dimulai.

...Dan disinilah kita sekarang.

Sup yang kusiapkan dengan susah payah dan hati-hati sekarang mengeluarkan bau yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Meskipun warnanya masih tetap hitam-pekat, aku merasa sup itu sudah menjadi sesuatu yang atributnya mirip dengan lumpur.

Aku sudah bilang ke mereka supaya hanya memasukkan bahan-bahan yang bisa dimakan, dan gak perlu dibilang lagi kalau semua jenis racun dilarang. Tapi bagaimana ini bisa terjadi? Ini terasa sangat nyata sampai membuatku berhalusinasi.

Sampai pada saat dimana mereka memasukkan makanan mereka, semuanya terlihat senang. Namun ketika sup seafood yang tadinya beraroma lezat berubah menjadi menjijikan, senyum di wajah kami semua menghilang.

Setiap kali kami mencoba mengambil makanan dari dalam panci, suasana di dalam ruangan menjadi agak muram.

Maria-sensei dan Kobato pingsan dalam sepuluh menit pertama.

Yang sangat terpengaruh adalah Yozora dan Sena-

“Ini semua gara-gara kamu, makan nabe benar-benar ide yang tolol!”

“Ini salahmu, kamu yang mengusulkan pesta nabe!”

“Bahan yang paling buruk itu ikan herring dalam kaleng punyamu!”

“Itu semacam sarden, jadi rasanya gak mungkin gak enak! Mangga dan stroberimu jauh lebih buruk!”

...Seperti itulah, mereka mencoba menyalahkan satu sama lain.

Di tengah-tengah argumen, sebuah peraturan gak masuk akal ‘yang masih bertahan sampai akhir adalah pemenangnya’ pun ditetapkan.

Karena peraturan itulah, Yukimura mati.

Untungnya bagiku, semua makanan yang kuambil adalah makanan normal seperti bakso dan taro[3] (kubeli sendiri), jadi aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. Tapi itu gak mengubah fakta kalau bau busuk telah mengubah ruangan ini menjadi neraka.

Rika, yang kemampuan indera perasanya menjadi sedikit menurun, bisa dibilang beruntung dan bisa juga dibilang sial. Dari matanya saja sudah jelas kalau dia sudah gak sanggup melanjutkan lagi.

Rika dan aku mengulurkan sumpit kami dan masing-masing mengambil sesuatu dari dalam materi gelap itu. Kami menahan napas dan menelannya.

...Meskipun supnya terasa seperti kotoran, makanannya masih bisa dimakan...Tapi...Tapi...Tapi apa yang barusan kumakan tadi... Kalau dinilai dari teksturnya... Apa tadi itu brokoli?

Di sisi lain, tampaknya Rika mendapat jackpot.

“...Berdasarkan ingatanku, benda yang rasanya mendekati apa yang kumakan ini adalah... Methylethanolamine.”

Tepat setelah suaranya berhenti, Rika pun berhenti bergerak.

“...Bahkan kamu pun...”

Sialan, akhirnya sekarang aku mengerti―pesta yaminabe hanya terasa menyenangkan kalau dilakukan dengan teman betulan.

Ini bukan untuk orang-orang yang masih jauh dari tahap memanggil satu sama lain ‘teman’.

Dan untuk memperburuk keadaan, semua anggota idiot kami membawa seporsi bahan-bahan seperti permen lunak dan buah-buahan―benda-benda yang akan membuatmu menyesal nantinya.

Kenapa saat itu aku berpikir kalau ini akan jadi menarik?

Aku benar-benar menyesalinya.

“Berikutnya...”

“Aku tahu...”

Sena dan Yozora yang basah kuyup karena keringat saling menatap tajam satu sama lain dengan senyum yang menyedihkan.

Aku juga mengulurkan sumpitku dalam kekalahan, dan secara serempak kami bertiga mengambil sesuatu keluar dari dalam pot.

Bersama-sama, kami menjejalkan makanan tadi ke dalam mulut kami dan mengunyahnya dengan paksa-

“…………Oh…… Oh…… Oehhhhhhhhhhh.”


“Uwaa?!”

Sena terjatuh ke belakang!

Di momen singkat itu, senyum egois kemenangan muncul di wajah Yozora... Kemudian wajahnya tiba-tiba menjadi pucat-

“…Uh……… Ogehh……”

-Dan dia mulai muntah.

Mata Sena dan mata Yozora kehilangan kemampuan fokusnya dan mereka jatuh pingsan.

“Uwah, hei, kalian gapapa?”

Sebagai catatan, peristiwa ini kembali menguatkan keyakinanku bahwa ada sesuatu yang salah dengan otak mereka.

...Ugh... Bahkan muntahan mereka berwarna hitam... Menjijikan banget...

Rasanya aku juga mau muntah, jadi aku cepat-cepat membuka semua jendela untuk menukar udara. Aku menghirup udara luar dalam-dalam.

Dan kemudian, untuk membersihkan muntahannya, aku pergi keluar untuk mengambil kain pel.

Apa jadinya kalau... Jujur aku lebih khawatir dengan muntahan di karpet ketimbang orang-orang ini.

Ini adalah salah satu ruangan di kapel Sekolah Santo Chronica―”Ruang Pertemuan #4.”

Untuk sekarang ruangan ini berubah menjadi neraka yang dipenuhi dengan mayat. Ini adalah ruang kegiatan Klub Tetangga.

Klub Tetangga―meskipun di atas kertas klub kami mempunyai banyak kegiatan yang beragam dan menarik, kenyataannya sebagian besar kegiatan tersebut hanyalah kegiatan simpel dan dilakukan tanpa pedoman. Setiap anggota klub hanya menghabiskan waktu mereka dengan ngobrol, bermain game, membuat game, menulis novel, menggambar manga, berlatih instrumen musik, berakting, melakukan stand up komedi, melakukan Shinken Zemi[4] menyiapkan ‘topik ngobrol yang tidak diketahui’, dan akhirnya makan yaminabe.

...Bahkan setelah mendengarkan daftar kegiatan klub, kemungkinan besar kalian nggak bisa memahami apa tujuan dari klub ini.

Tujuan dari klub ini, terus terang saja, adalah untuk ‘mencari teman’.


Ini adalah kegiatan klub yang menyedihkan yang dilakukan oleh sekumpulan orang-orang yang menyedihkan―dan dengan dua heroine yang saling muntah dalam 10 halaman pertama buku ini, sebuah cerita kehidupan sehari-hari yang sangat menyedihkan pun dimulai...


Referensi[edit]

  1. Di sini translator Inggris menggunakan kata ‘realfillment’ yang kemungkinan diambil dari kata realfill/riajuu dan kemudian diubah menjadi kata benda. Berhubung saya tidak bisa bahasa Jepang, saya berusaha mengubah kalimatnya dengan tetap menyampaikan maksud aslinya.
  2. ["お兄ちゃんどいて!そいつ殺せない!" Tampaknya ini adalah neta yang didasari dari sebuah cerita terkenal di server RO Jepang. http://www.new-akiba.com/news/0603/17/02/index.html ]
  3. Sejenis sayuran (tadinya saya kira snack taro?) http://en.wikipedia.org/wiki/Taro
  4. [Saya rasa ini adalah bimbingan les spesial yang ‘menggabungkan materi dari buku dengan kegiatan belajar online via internet’ http://educationinjapan.wordpress.com/2008/11/30/shinkenzemi-jhs-coursei-new-home-based-learning-online-course-from-benesse/ ]


Mundur ke Color Illustrations 3 Kembali ke Halaman Utama Maju ke Kodaka Hasegawa