Difference between revisions of "Dragon Egg Indo:Bab 208"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Bab 208)
 
(No difference)

Latest revision as of 10:12, 15 February 2020

Chapter 208 - Kisah Seorang Pahlawan 9 (Irushia)[edit]

"Hari ini datang juga, Bapa. Ini disertai kesedihan yang mendalam karena orang-orang tak berdosa akan mati hari ini, tapi memang inilah hukumnya, tak mungkin mengingkarinya. Mari kita berdoa agar setidaknya jiwa mereka mendapatkan ketenangan."


“…………”


Sang pendeta dalam diam menatap marah padaku. Ada apa dengan wajah menakutkan itu?


Yang akan dijatuhi hukuman negara adalah keluarga dari Adofu si penjahat yang melarikan diri. Itu adalah tindakan yang tepat bagi gereja. Setelah aku menyebarkan rumor palsu tentang pergerakan mencurigakan dan mengkhawatirkan dari keluarga Adofu, pendeta pasti telah berencana melakukan sesuatu soal itu. Itu hanyalah sebuah pelengkap.


"Kau tau bahwa kami berada dibawah tekanan karena terlambat melakukan pembebasan budak-budak manusia hewan dari Ardezia! Melakukan sesuatu seperti eksekusi publik pada seseorang dari ras manusia hewan disaat seperti ini, itu tak ada bedanya dengan mencoreng nama gereja! Sebenarnya apa yang kau pikirkan!?"


Tak lama lagi kau tak akan dipercaya.


"Gak masalah. Kita gak perlu mendengarkan apa yang dikatakan rakyat Ardezia. Gimanapun juga, asalkan aku ada disini, mereka gak akan bisa macam-macam terhadap Haranae. Justru membiarkan penjahat semakin menggila di kota kita lah yang akan menjadi masalah. Ayo kita kuatkan pendirian, Bapa."


Manusia hewan.... Gadis manusia kucing itu. Itu merupakan sebuah bonus bahwa dia akan dieksekusi hari ini bersama dengan kerabat Adofu.


Aku melindungi dia saat dia pingsan di gurun ketika aku sedang menundukkan naga jahat itu. Setelah itu, dia memahami bahwa jika dia kembali ke Haranae, dia akan dijatuhi hukuman perbudakan lagi, jadi dia berkonspirasi dengan Adofu. Mereka berdua mengkhianati niat baikku, meracuni dan melemahkanku, dan kemudian berusaha membunuhku.

Aku berada dalam bahaya terbunuh saat bertarung melawan Adofu. Meskipun Adofu terluka parah, dia berhasil melarikan diri. Luka yang kuterima juga sangat parah, jadi aku menyerah dalam menundukkan naga jahat itu. Aku hanya bisa menangkap gadis manusia hewan itu dan membawa dia kembali ke Haranae. Dengan hati luhurku dan tanpa diskriminasi, aku meminta gereja untuk melepaskan gadis manusia hewan itu. Akan tetapi, kejahatan melawan pahlawan merupakan kejahatan yang berat. Permintaanku tidak diterima dan hukuman mati dijatuhkan. Karena aku sudah berjanji pada pendeta untuk menegakkan kedamaian dan ketertiban Haranae, aku terpaksa menerima hasil itu.


Tentu saja, realitas dari semua itu betul-betul berbeda, tapi itulah versi publiknya. Kedengarannya agak konyol, tapi itu cukup bagus. Aku dikenal sebagai pahlawan berhati mulia dan kurang berpengalaman disertai memiliki jiwa keadilan yang kuat.


Aku berhenti di sebuah jendela kecil yang dilewati pendeta dan menatap kota. Kerumunan warga sudah berkumpul ditempat eksekusi diadakan.


"Lihat itu. Sebentar lagi waktunya akan tiba."


Sang pendeta menatapku dengan suasana menjengkelkan saat kerutan muncul di keningnya. Terlihat jelas kalau dia sangat nggak menyukai masalah ini. Kau memang seorang pria tua yang egois dan konservatif. Lebih baik kau tetap menundukkan kepalamu dan mencari cara lain agar kau bisa tetap hidup sedikit lebih lama lagi.bisa dikatakan, aku gak mau repot-repot membantumu soal itu.


Meski dengan itu, aku nggak masalah memperhatikan masalah kecil seperti itu. Kalau berjalan mulus, ada peluang bahwa naga wabah itu akan datang ke Haranae hari ini.


Aku akan bisa membuat imej untuk diriku sendiri yang gak bisa kulakukan dulu karena keadaan sekeliling gereja. Kalau naga wabah itu mengamuk di kota, maka gereja akan dibebani tanggung jawab atas kekacauan karena menunda misi penundukkan meskipun sang pahlawan secara sengaja meninggalkannya. Aku jadi nggak sabar untuk melihat wajah macam apa yang ditampilkan oleh gadis mahluk rendahan itu sebagai seorang budak kesepian. Para ksatria rendahan yang biasanya ada disekitarku dengan wajah yang tenang dan santai serta pendeta bodoh itu.... Wajah mereka pasti akan pucat pasi.


Meskipun beberapa orang akan mati, itu gak masalah asalkan aku segera membersihkannya. Memang benar bahwa aku jarang kerepotan melawan para monster peringkat B, gak masalah kalau itu berubah menjadi sebuah perjuangan yang agak merepotkan. Setidaknya aku bisa sedikit berpura-pura. Akan lebih baik kalau itu tampak seperti aku bertarung seraya mempertaruhkan nyawaku.


Kuharap kau datang, naga wabah. Itu mengkhawatirkan bahwa dia punya [God's Voice] dan [Inspect Status]. Kalau dia melihat statusku, maka kemungkinannya cukup tinggi bahwa dia berpikir kalau dia nggak punya harapan menang dan ketakutan lalu melarikan diri. Saat itu, dia tampak mengabaikan nyawanya demi melindungi budak itu, dan hal itu terulang lagi. Tapi, nyatanya dia tidaklah bodoh dan punya waktu untuk berpikir, maka dia nggak akan melakukan sesuatu sebodoh itu.


Yah, kalau dia nggak datang, mau gimana lagi. Aku akan memprovokasi dia dengan menaruh mayat di tempat yang bisa dengan mudah dilihat dari jauh.


Kalau naga itu berevolusi dan berhasil mencapai peringkat A, maka itu akan sedikit merepotkan. Akan tetapi, ada kesenjangan yang cukup jauh diantara levelnya saat ini dan level maksimalnya. Sangat nggak mungkin dia mencapai evolusi selanjutnya hanya dalan jangka waktu satu minggu saja. Dia nggak akan berhasil meningkatkan levelnya secara sembrono dan melakukan hal itu berulang kali secara terus-menerus.


Aku juga pernah melakukan hal gegabah itu, sampai-sampai beberapa rekanku tewas sia-sia. Bukan, itu adalah kesalahan. Aku juga gak berpengalaman dikala itu.


"Jika kau bertindak berlebihan sesuka hatimu, maka aku punya beberapa pertimbangan. Jangan berpikir bahwa gereja akan melindungi selamanya."


Kau sudah mengatakan itu padaku berkali-kali. Tanpa pahlawan, Gereja Haranae gak akan ada gunanya. Karena itulah, kau gak akan pernah bisa membuangku.


"Itu merupakan suatu perkataan yang jahat, kau tau. Ngomong-ngomong, soal masalah ini, apakah Adofu nggak diberi segel tahanan? Daripada aku, bukankah gereja lah yang perlu lepas tangan? Bahkan Adofu gak akan menyebabkan kekacauan semacam itu kalau dia diberi segel, kan? Aku betul-betul bersimpati padamu soal itu..."


"Tak ada alasan bagiku untuk mempercayai hal itu! Aku sudah memastikanya sendiri!"


"Apa kau yakin kau harus mengatakan hal itu segitu kerasnya? Kalau masalah ini bocor ke luar dinding ini, maka kau, Bapa, juga akan dijatuhi tanggung jawab karena menyebabkan masalah."


Gereja telah menandai punggung Adofu dengan segel tahanan. Segel tahanan memiliki kekuatan untuk membatasi tindakan dari orang yang bersangkutan. Aku bersikeras bahwa tak ada segel tahanan pada punggung Adofu dan menuduh gereja memiliki suatu alasan untuk tidak menandai dia dengan segel itu. Kalau aku nggak melakukannya, maka cerita tentang Adofu menikam punggungku gak akan konsisten secara logis.


"Apa kau belum menentukan siapa yang bertanggung jawab soal ini? Melalui ini, apa kau juga sudah mengetahui tersangka yang berusaha menggunakan Adofu untuk membunuhku? Pada dasarnya aku sudah berada di ambang pintu kematian karena hal itu."


Si pendeta memasang wajah yang semakin jengkel.


Beberapa orang memiliki wewenang untuk menangani segel tahanan. Atas kecerobohan masalah ini, dia gak bisa mengabaikannya begitu saja. Aku menantikan untuk melihat siapa yang akan dihukum oleh pendeta itu...

Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya