Difference between revisions of "Dragon Egg Indo:Bab 209"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Bab 209)
 
(No difference)

Latest revision as of 10:35, 15 February 2020

Chapter 209 - Kisah Seorang Pahlawan 10 (Irushia)[edit]

Sepuluh salib yang ganjil berbaris di pusat tempat eksekusi. Yang diikat disana adalah kerabat Adofu dan gadis manusia hewan seraya mulut mereka dibungkam menggunakan kain.


Mereka memasang ekspresi sedih serta tak berdaya. Aku berdiri bersama para ksatria diantara salib-salib itu dan warga kota sehingga aku bisa melihat wajah mereka dengan jelas.


Ini merupakan pemandangan yang sungguh bagus. Hasil dari menjalankan keamanan. Ini merupakan sebuah hak istimewa dari para pejabat gereja untuk melihat dari dekat.


Akan menarik kalau ada seseorang disini yang menunjukkan kemarahan yang lebih besar pada Adofu, tapi kayaknya fase itu sudah berlalu beberapa hari lalu. Saat ini, semua orang hanya gemetar dan pucat.


Sangat disayangkan aku gak bisa mendengar mereka memohon ampun karena mulut mereka disumpal, tapi aku gak bisa membiarkan mereka memberiku masalah karena banyak bicara. Pada tingkat ini, gak seorangpun yang akan menerobos kesini untuk membebaskan mereka. Meski, itu juga melelahkan berpura-pura terluka sepanjang waktu.


Setiap kali mereka melaksanakan eksekusi di negara lain, mereka menutupi kepala mereka dengan kantong. Adapun untukku? Aku gak suka itu karena aku gak bisa melihat penyesalan saat-saat terakhir di wajah mereka.


Dan adapun untuk metode eksekusinya, seorang jagal dipilih dari para ksatria secara bergilir dan memenggal orang yang ada di salib menggunakan sebilah pedang. Selain itu, kurasa itu juga efektif sebagai sebuah teguran dengan cara memberi contoh pada orang-orang ini dengan membunuh mereka setelah menyiksanya. Mungkin lain kali aku akan mencoba mengusulkan sesuatu pada mereka karena mereka sudah gak punya apa-apa lagi? Meskipun itu gak akan mudah untuk membuat mereka mengikutinya karena mereka terjebak dalam tahyul mereka yang membosankan, seperti bagaimana merenggut nyawa seseorang dengan pedang akan mensucikan jiwa mereka yang ternoda atau semacamnya.


Aku menengadah menatap langit. Mentari sekarang ini sudah diatas kepala. Naga wabah jahat itu gak datang.


Kepercayaanku waktu itu ternyata salah soal naga wabah jahat itu. Gak mungkin seekor naga datang jauh-jauh kesini mempertaruhkan nyawa demi seorang gadis. Dia mungkin sedikit gembira setelah membunuh Adofu. Itu merupakan kesan yang disayangkan yang kudapatkan karena seberapa mulusnya hal ini berjalan. Apa boleh buat, tapi ada kesempatan lain buatku untuk memasukkan seekor monster ke Haranae. Meskipun, kalau aku memanggilnya, mereka akan mengendusnya. Apa yang harus kulakukan soal itu? Itu merupakan masalah besar.


Tukang jagal berjalan menuju salib-salib itu. Dia berbalik dan menghadap warga kota, mengangkat pedangnya.


"Orang-orang ini adalah para pendosa yang telah menyebabkan marabahaya pada Haranae! Semoga jiwa mereka yang rusak menjadi lebih murni melalui kematian!"


Aku menutupi mataku dan menyembunyikan wajahku saat aku hampir menguap. Sama sekali gak menghibur. Aku hampir pergi dari sana.


Tiba-tiba, aku mendengar suara hentakan kaki yang keras dari seseorang. Gumaman liar mulai keluar dari warga kota.


Aku menurunkan tanganku dan melihat ke depan. Aku nggak melihat siapapun yang kuduga membuat suara itu.


Dari samping, aku mendengar suara pedang berbenturan. Aku berpaling. Ada seorang pria dengan wajahnya tersembunyi dibalik mantel, dia memakai sebuah jubah. Itu sebuah serangan. Seorang ksatria, dikalahkan, sudah menurunkan tangannya dan berlutut.


Dia bukan sekedar lalat penganggu, dia secara sengaja menungguku lengah.


"Kenapa kau bisa punya pedang ksatria!? Hei, kau! Siapa kau!?"


Salah satu ksatria berteriak, mengarahkan ujung pedangnya pada si penyerang. Si penyerang memiliki sebuah pedang besar dengan tanda ksatria terukir pada pedang itu, pedang yang sama dengan pedang yang dibawa Adofu. Apa mereka merampas pedang itu dari mayatnya di gurun?


Pria itu melemparkan jubahnya padaku. Aku menghunus pedangku dan memotong jubah itu dengan tebasan menyamping. Jubah itu berkibar di udara, terbelah menjadi dua.


Pria itu nggak membuang-buang waktu untuk mendekatiku. Dia menciptakan titik buta untuk tubuhnya dengan memanfaatkan jubah itu agar dia bisa melompat kearahku disaat pandanganku terhalang. Tindakan yang bagus, tapi lambat. Kau lebih lemah dariku.


Aku segera memasang kuda-kuda. Dengan kuda-kuda ini dan perbedaan diantara kecepatan kami, aku bisa memposisikan diriku dengan cepat dan masih memiliki ruang gerak. Haruskah aku menikam bahunya dan menyuruh seorang ksatria menghabisinya?


Potongan jubahnya jatuh ke tanah, mengungkapkan wajah si penyerang. Tubuhku langsung membeku.


"Adofu!? Bagaimana!? Bagaimana bisa kau masih hidup...!?"


Gak mungkin, dia bisa pulih dari kondisi itu!? Melihat aku berhenti bergerak, Adofu mengubah lintasan pedangnya. Ujung dari pedangnya mengarah pada wajahku. Itu cuma akan menghasilkan luka kecil, tapi aku gak mau ada goresan diwajahku.


Pedangku gak akan sempat dan dia juga terlalu dekat. Akan tetapi, kalau dia memang betul-betul Adofu maka dia akan dihentikan oleh segel tahanan. Aku menghentak tanah dan melompat ke belakang sambil berteriak.


“(Grovel!)”


Momentum lenyap dari Adofu dan pedang besar itu terlepas dari tangannya. Tubuh Adofu jatuh ke tanah mendarat dengan bahu duluan. Sedikit lebih lambat, pedang besar itu juga jatuh ke tanah.


Para ksatria bergegas mendekatiku.


"Tuan Irushia! Apakah anda baik-baik saja!?"


"Phew.... Ya, aku baik-baik saja. Yang lebih penting lagi, tangkap... dia..."


"Kenapa orang itu jatuh? Apa yang barusan itu...."


Para pembantu pendeta mendekat dari samping salib. Aku baru menyadarinya saat aku melihat para pembantu pendeta itu.


Harusnya aku nggak menggunakan segel tahanan itu. Tidak disini, ditempat ini.


Diantara para pembantu pendeta, salah satu dari mereka yang mengukir segel itu pada Adofu. Meskipun aku memainkan peran ini dengan sempurna, kenapa sesuatu seperti ini terjadi saat aku seharusnya sudah membereskannya? Mungkin sebuah peluang bagus muncul untuk Adofu si tahanan yang kabur untuk membuktikan ketidakbersalahannya dengan kembali lagi? Mungkin itu yang dia pikirkan.


"....Seperti yang kuduga. Jadi kau yang menyuruh gereja melakukan sesuatu tentang segel ini. Aku sudah menduga kau akan melakukan sesuatu seperti itu."


Adofu melontarkan kata-kata itu saat dia ditangkap oleh para ksatria. Jadi sejak awal tujuan dia adalah membuatku menggunakan segel tahanan?


Kekuatan secara terus menerus memenuhi pedang ditanganku. Tenang, Irushia. Meskipun kau membunuh dia disini, itu gak akan mengubah apapun. Gimanapun juga, Adofu pasti akan di eksekusi nanti.


Para pembantu pendeta menatapku penuh kecurigaan. Aku, yang seharusnya menunjukkan segel cacat mereka, bukannya mengandalkan segel itu sebagai langkah pertama saat aku diserang oleh Adofu. Bukankah itu wajar untuk curiga juga?


Salah satu pembantu pendeta mendekatiku.


"Tuan Irushia, maaf atas kelancanganku, tapi aku ingin menanyakan sesuatu pada anda jika itu...."


"Nanti saja. Masukkan dia kedalam penjara. Mari lanjutkan hukuman matinya untuk para pendosa itu."


"T-t-tapi, tentang itu... jika Adofu sudah kembali, maka kupikir masuk akal kita melakukan penyelidikan lagi dan kemudian mempertimbangkan ulang hukuman untuk kerabatnya. Sejak awal, hukuman ini digunakan sebagai pencegah untuk kasus-kasus dimana orang yang bersangkutan tak bisa dihukum secara langsung, terutama untuk kasus ini yang mana juga memiliki banyak hal mengkhawatirkan didalamnya. Jadi, jika orang yang bersangkutan telah kembali dan ada ruang untuk menyelidiki mereka, maka...."


"Gak ada tapi-tapian! Pemikiran semacam itu gak diperlukan! Kembali ke tempatmu semula!"


Saat ini, aku harus mengulur waktu. Jika waktu berlalu meski sebentar saja, maka rinciannya akan menjadi semakin kabur dan itu akan memberiku waktu tenang untuk memikirkannya secara perlahan. Jika itu terjadi, aku bahkan bisa memalsukan tentang rincian segel itu sesuka hatiku....


Aku berpaling menatap si pendeta.


“*Ahem* jangan emosi! Pemberontakan sudah diamankan dan kita akan melanjutkan tugas kita! Bawa penyerang itu ke penjara."


Mengikuti pendeta, para pembantu kembali ke posisi semula mereka.


Warga kota dan para pembantu menatapku penuh kecurigaan dimata mereka. Sial, sialan kau Adofu. Aku gak pernah menyangka bahwa aku akan gagal membunuh dia. Aku gak berpikir itu akan jadi kecerobohanku bahwa aku nggak memastikan apakah Adofu selamat atau tidak karena kurangnya pengalaman akuisisi dari serangan penghabisan pedang terkutuk. Dia memang keras kepala, selalu mengusikku sampai akhir.


Yah, itu gak masalah. Cuma itu saja satu-satunya hal yang bisa dilakukan. Mereka gak akan mendapatkan bukti kuat. Nanti, aku akan menyuruh pendeta itu melenyapkan mayat Adofu, dan itu akan mengakhiri ceritanya.


"Tuan Irushia? Ada sesuatu yang juga ingin kutanyakan padamu."


Menerobos warga kota, seorang pria muncul di barisan paling depan. Keributan langsung menyeruak.


"Ap- Hagen!? B-Bagaimana kau...."


"Kudengar kau mengurusku saat aku pingsan. Aku nggak akan membahas ini. Aku ingin kau memberitahuku segala sesuatu tentang kemana perginya para anak buahku yang seharusnya telah melarikan diri sebelumnya."


Aku harus lebih waspada pada segala kemungkinan. Gimanapun juga itu adalah seekor naga yang tampak akrab dengan manusia hewan.


Hagen gak dibunuh oleh naga itu. Sejak awal, apa yang kudengar merupakan laporan yang salah.


"Apa maksudnya ini, Tuan Irushia!? Aku juga minta penjelasan darimu!"


Salah satu ksatria menyudutkan aku. Para pembantu, yang telah kembali ke posisi mereka, mendekati aku, memanfaatkan kesempatan ini.


"Daripada menundanya, kurasa akan lebih baik untuk membicarakannya disini untuk membersihkan semua kesalahpahaman. Terutama sekarang dengan disaksikan semua warga kota...."


Awan gelap menyelimuti kepalaku. Disini, di waktu yang sangat tidak mendukung. Segalanya sudah mencapai titik terburuK. Aku gak pernah menyangka bahwa Adofu dan Hagen masih hidup.


Abaikan Adofu yang tangannya terluka dan telah kehilangan kredibilitasnya, Hagen betul-betul berita buruk. Dia pasti sudah membuat kontak dengan Adofu dan kemudian mereka berdua datang kesini. Jika memang begitu, dia pasti mengetahui masalah antara aku dan Adofu.


Pada tingkat ini, aku harus menjauhkan Hagen dari warga kota dan membawa dia ke tempat dimana gak ada orang yang menyaksikan dan entah bagaimana membuat alasan yang pas. Kenapa hal semacam ini terus bermunculan sih?


"Sekarang! Lanjutkan eksekusinya! Apa kalian gak dengar apa yang dikatakan Bapa!? Akulah yang ingin diberitahu soal Hagen! Kita harus memastikan apapun mengenai dia setelah ini. Bahkan aku gak menduga dia akan melarikan diri. Masih ada kemungkinan bahwa dia adalah seekor monster yang menyamar dengan berubah wujud. Untuk sekarang ini, masukkan dia kedalam penjara!"


Aku akan ketahuan kalau dia terus mengatakan apapun yang dia mau lebih dari apa yang sudah dia katakan. Aku hanya perlu menahan dia supaya dia nggak keliaran dan kemudian memberi alasan yang bagus pada pendeta itu untuk membuang dia.


Jika semuanya berjalan lancar, maka aku hanya perlu mengakui kebohongan kecil. Yang jadi masalah adalah membuat alasan kenapa aku berbohong, tapi cuma itu saja. Selebihnya aku punya banyak waktu untuk memperbaikinya. Reputasiku akan jatuh, tapi itulah harga yang harus kubayar.


"Cepat laksanakan!"


Meski mendengar ucapanku, para ksatria nggak bergerak. Mereka saling bertatapan, kebingungan.


"Apa yang kalian lakukan!? Kubilang segera laksanakan! Laksanakan tugas kalian! Berhentilah membuang-buang waktu dan tangkap Hagen! Apa kalian dengar!?"


Semuanya akan baik-baik saja, sialan. Aku pasti baik-baik saja, jadi kenapa mereka gak bergerak?


Aku menatap si pendeta, mengirim isyarat visual pada dia. Si pendeta pucat pasi dan menatapku.


"Kau pikir aku mau terlibat? .....Dasar bodoh."


Si pendeta mengatakan itu dengan suara yang nyaris gak terdengar. Saat aku mendengar dia berkata begitu, darah naik ke kepalaku.


Para ksatria gak bergerak, para pembantu mencurigai aku, dan para pemimpin gereja yang lainnya berdiam diri, mengikuti pendeta kepala.


“Guh- guh- g…”


Aku melirik ke belakang. Semua mata tertuju padaku. Gak peduli kemana aku melihat, semuanya sama.


Kepalaku mendidih. Pikiranmu kalut.


Apa mereka sudah tau? Aku akan segera mundur sebelum mereka semakin yakin dengan kecurigaan mereka dan segera pergi dari Haranae. Apa aku akan kembali kesini lagi?


"M-Minggir!"


Aku mengibaskan pundak seorang pembantu dan berjalan dengan cepat.


"Kubilang minggir! Suasana hatiku kacau sekarang! Jangan menatapku kayak gitu!"


Aku mengibaskan seorang ksatria yang menghadang jalan dan terus maju.


"B-Buka jalan! Minggir! Enyahlah!!"


Hagen mengejarku dan meraih pundakku.


"Woi! Kalau kau kabur, maka selesai sudah! Meski..."


"Singkirkan tangan kotormu dariku!"


Aku menghunus pedangku dan dengan panik mengayunkannya.


Hagen terjatuh. Aku mengarahkan pedangku pada punggung Hagen yang berusaha merangkak di tanah. Ujung pedangku bergetar penuh amarah. Kalau bukan karena dia, semuanya gak akan runyam. Karena si bodoh inilah aku berada dalam situasi yang tak mengenakan seperti ini.


Mustahil memperbaiki hal ini selama Hagen masih hidup... Aku gak tau apa yang harus kukatakan.


Membunuh Hagen disini, ditempat ini, hanya akan memperburuk masalahku. Tapi disisi lain, selama Hagen masih hidup, mustahil memperbaikinya. Jika demikian, maka setidaknya yang bisa kulakukan adalah menjernihkan pikiranku.


Sudah cukup, Irushia. Jernihkan pikiran. Tenangkan emosi. Selain itu, gak seorangpun bisa menghentikan aku kalau aku mengamuk dengan serius. Bunuh Adofu, bunuh Hagen, dan tinggalkan Haranae. Itu akan cukup. Lagian aku gak punya keterikatan pada tempat ini. Aku hanya perlu memenggal kepala pendeta itu yang telah menyebutku orang bodoh.


Saat aku mengayunkan pedangku penuh amarah, seseorang menerobos kerumunan dan melompat keluar. Kupikir itu adalah orang lain yang seharusnya sudah kubunuh, tapi aku sama sekali gak mengenali dia. Seorang pria berambut putih dan kulit pucat... Bukan... orang ini bukan manusia.


“GwooooooOO!”


Tubuhnya membengkak dengan cepat dan berubah ke wujud seekor naga.


Naga wabah itu ternyata nggak melarikan diri. Dia berubah wujud menjadi manusia dan menyembunyikan diri.


Aku selamat! Aku masih punya harapan. Masih ada secercah cahaya di ujung lorong ini. Kalau naga wabah itu mengamuk disini, semua orang akan mengalihkan perhatian mereka pada naga itu. Disaat semua orang dalam keadaan kebingungan, maka aku akan bisa membunuh Hagen dan Adofu. Kalau kulakukan itu, maka setelah itu semuanya akan berada dibawah kendaliku. Seekor naga mengamuk hanyalah masalah sepele dibandingkan dengan perubahan situasi yang tadi.


Kepala naga yang besar muncul dan mengarahkan taringnya padaku.


Akan sangat merepotkan buatku kalau naga itu langsung mati. Akan lebih bagus buatku untuk membuatnya semakin mengamuk. Haruskah aku memprovokasi dia menggunakan pedang dari prajurit Haranae bukannya pedang suci?


Aku mengarahkan pedangku pada mulut naga itu dan menebasnya. Mulut naga itu menutup, menangkap dan menghentikan pedangku menggunakan taringnya.


Dia lebih kuat dari yang kuduga. Aku gak bisa menarik pedangku. Saat memperkuat tanganku dan mempererat genggamanku untuk mencabut pedangku, aku menyadari wajah naga itu berwarna biru. Ini.... bukan naga wabah itu?


“GaaaaAA!”


Seekor naga lain muncul, disertai dengan raungan, siap menubrukku. Aku melepaskan pedangku, tapi aku gak akan sempat.


Dragon Egg 209.png


Haruskah aku menendang kepalanya keras-keras dan melompat ke belakang, menjaga jarak?


“Buhfu-!?”


Disaat aku mengangkat kepalaku, pandanganku berputar dan berkunang-kunang saat aku hampir pingsan. Aku merasakan dampak yang kuat pada punggungku. Aku terlambat mengetahui bahwa aku dibanting ke tanah dan terpelanting karena kekuatan yang besar dari lawanku. Teriakan orang-orang bisa terdengar di sekeliling.


“[High Rest].”


Cahaya menyelimuti tubuhku, menghilangkan rasa sakitnya. Saat aku menengadah, yang kulihat bukan dua naga, tapi seekor naga berkepala dua.


"Apa-apaan ini? Apa kau..."


Seolah menanggapi pertanyaanku, kedua kepala itu meraung bersamaan.

Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya