Difference between revisions of "Dragon Egg Indo:Bab 211"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Bab 211)
 
(No difference)

Latest revision as of 10:37, 15 February 2020

Chapter 211 - Para Ksatria[edit]

"[High Rest]! [Physical Barrier]!"


Pahlawan itu mengangkat tangannya dan merapal.
Tubuhnya bersinar redup. Pendarahan pada bahunya mereda.


Itu merepotkan karena dia punya banyak skill buff.


Saat ini, statusnya adalah....

Irushia
Ras Earth Hyuma
Status Quick; Physical Resistance Enhancement
Level 78/100
HP 578/602
MP 441/552


....Yang jadi masalah adalah MP miliknya masih banyak.
Tapi jumlahnya masih tinggi punyaku, dan karena dia gak punya skill pemulihan otomatis, dengan jumlahnya saja, aku bisa bertahan lebih lama daripada dia.


Aku menghentak tanah, merentangkan sayapku, dan melesat kearah si pahlawan sambil terbang rendah.


"Aku minta maaf pada kalian, tapi... bisakah kalian bergerak ke depanku?"


Si pahlawan mundur sambil berkata begitu, menyerahkan barisan depan pada para ksatria.


"T-Tuan Irushia?!"


Para ksatria ragu-ragu sejenak, lalu mereka menghadap padaku.
.....Kalau aku lebih unggul dari mereka, akan mudah membunuh mereka, tapi kalau itu adalah lawan yang setara, itu akan cukup merepotkan.
Ini akan jadi pertarungan yang sengit. Semoga saja aku bisa menangani mereka tanpa harus membunuh mereka.


"[Mirage]!"


Pedang milik si pahlawan menjadi dua. Sihir ilusi?


"[Slash]!"


Pahlawan itu mengayunkan pedangnya.
Pedang yang terlihat terdistorsi itu melepaskan tiga serangan tebasan.


Ketiga tebasan itu melesat diantara para ksatria yang berbaris didepan dan mengarah padaku sambil menghancurkan tanah.


Tenanglah diriku. Karena aku punya [Illusion Resistance], aku pasti bisa mengetahui yang mana serangan yang asli.
Memfokuskan mataku, tiga tebasan itu menjadi satu.
Serangan yang asli adalah yang sebelah kiri. Aku bergerak kekanan, menghindari serangan itu.
Dan begitulah, aku mendekat.


"Uwa~a~a!"


Seorang ksatria bertameng melompat.
Aku mendorong perisai itu dengan cakar depanku. Perisai itu penyok dan si ksatria jatuh ke belakang.
Aku menyeret ksatria kedua yang berusaha mengayunkan pedangnya padaku menggunakan cakar kiriku dan melemparkan dia jauh-jauh, seraya aku mencoba menggigit si pahlawan.


"Grua~a~a~a!"


Disaat yang sama, sobat memutar tubuhnya. Dan karena itu, keseimbanganku rusak, dan ancang-ancangku kacau.
Aku berhenti mencoba menyerang menggunakan taringku, tapi aku beralih mencoba menghantam dia dengan pipiku.
Serangan itu berujung menjadi serangan ringan tanpa banyak mengandalkan berat badanku


Aku mengatur ulang posturku.


Sialan!
Aku harus memperbaiki komunikasiku dengan Sobat.
Dia mengamuk sesukanya setiap kali aku mendapatkan peluang bagus....


Saat aku merenung, aku menyadari bahwa si pahlawan yang terkena seranganku menjadi buram. Bentuknya berubah dari si pahlawan menjadi seorang ksatria, dan berguling di tanah.


"si-si-sialan...."


Itu adalah [Mirage]! Karena skill itu, aku salah melihat antara pahlawan dan para ksatria!
[Slash] tadi digunakan untuk memancingku ke sini.


Apa Sobat sudah menyadari ini? Itu sebabnya dia meronta?
Nyaris sekali. Bagus juga punya dua kepala. Maaf sudah meragukanmu, sobat.


Itu artinya tubuh asli pahlawan itu akan memanfaatkan peluang ini.
Bagian yang akan dia incar adalah... leherku!


Aku menarik mundur kakiku dan memutar tubuhku. Pedang itu menebas wajahku dari bawah.


"Gru~a~a~a~a~aa!"


Kuh, mata kiriku kena!
Tapi, itu lebih baik daripada terpenggal, meski aku masih menerima damage yang besar.
Mataku... Bisakah [Self-Regeneration] memperbaikinya?


"Cih! Naga ini punya insting yang bagus!"


Pahlawan itu mendarat pada pundak seorang ksatria, menendang kepalanya dengan kaki yang satunya dan menjauh dariku.


"Ga~a?!"


Si ksatria yang ditendang jatuh berlutut tanpa memahami apa yang terjadi.


Untuk saat ini, setidaknya aku bisa menjauhkan si pahlawan dari para ksatria.
Beberapa orang gak bisa bergerak.... tapi, ini tetaplah sebuah kota manusia.
Sekarang ini hanya ada para ksatria aktif yang standby, tapi kemungkinan besar bala bantuan akan segera datang.
Kuharap aku bisa berbuat sesuatu sebelum mereka datang.


"S-Seseorang... panggil tim medis..."


Ksatria yang gak sengaja terkena seranganku karena kupikir dia adalah si pahlawan berkata kesakitan.
Saat dia jatuh, nampaknya kepalanya terbentur keras.
Keningnya berlumuran darah.


Ksatria itu berusaha menyerangku untuk membela diri, tapi karena kupikir dia adalah si pahlawan karena [Mirage], aku menyerang dia dengan kekuatan yang cukup besar.
Kekuatan seranganku berkurang setengah karena Sobat menarik tubuh disaat yang pas, tapi itu tetaplah fatal bagi manusia.


"Sia...papun...."


Para ksatria lain menatap kuatir rekan mereka yang tumbang, tapi mereka gak berani bergerak karena adanya aku diantara mereka.
Mereka tampak waspada padaku. Mereka mungkin berpikir bahwa jika mereka memalingkan perhatian mereka pada rekan mereka yang tumbang, mereka akan jadi korban serangan yang berikutnya.
Begitu pula dengan si pahlawan, gak menunjukkan tanda-tanda mau bergerak.


Aku menatap Sobat.


"Grua~a!"


Sobat meraung.
Cahaya hangat menyelimuti ksatria yang tumbang.


"Aa~ah... T-Terima...... kasih?"


Si ksatria berdiri sambil memegang kepalanya.
Matanya menatap Sobat dan dia tertegun.
Para ksatria yang lain juga kebingungan.


Skill gelar [Little Hero] telah naik dari level 6 menjadi level 7


Skill gelarku.... tidak, sekarang bukan waktunya untuk peduli soal itu.


Salah satu ksatria menurunkan pedangnya.
Setelah itu, meskipun semua orang masih kebingungan, mereka semua menurunkan pedang mereka.


"K-Kalian kenapa?! Cepat serang naga jahat itu! Incar matanya yang sudah kutebas!"


Para ksatria bertarung melawanku demi melindungi rumah mereka, bukan untuk membantu si pahlawan.
Apa mereka memyadari kalau aku hanya mengincar si pahlawan....? Apa mereka memutuskan untuk menurunkan senjata mereka karena mereka melihat aku menggunakan sihir penyembuh pada rekan mereka saat pertarungan?
Atau, apakah karena mereka berpikir bahwa mereka gak punya kesempatan menang melawanku, terutama karena pahlawan itu bersembunyi dibelakang mereka?
Ataukah, karena hasilnya sudah terlihat?


"A-Angkat pedang kalian! Kita adalah ksatria yang bersumpah untuk melindungi negeri ini!"


Satu orang angkat suara untuk memberi inspirasi.
Akan tetapi, pedang miliknya juga bergetar penuh keraguan.


"Itu benar, cepat! Untuk apa semua latihan kalian?! Kenapa kalian diberi gaya hidup yang lebih baik daripada warga sipil jika kalian gak melakukan hal baik?! Itu karena kalian diharapkan untuk mempertaruhkan nyawa kalian suatu hari nanti! Jika kalian nggak melalukannya sekarang, maka apa gunanya kalian?! Lihat aku! Disaat kalian semua cuma berdiri berjaga dan mengerjakan patroli harian, aku bertarung melawan monster-monster yang membahayakan nyawa sepanjang hidupku! Cepat serang!"


Si pahlawan berteriak sampai wajahnya menjadi biru.
Tapi, gak seorangpun yang bergerak. Bahkan si ksatria yang memberi semangat rekannya tadi sudah menurunkan pedangnya.


Yah, sudah sewajarnya.
Meskipun kau adalah back-up terakhir, kau gak bisa meyakinkan siapapun lagi.
Mungkin saja dia gak serius saat dia mengatakan semua itu.


"Dasar sampah! Aku paling benci pada orang-orang seperti kalian! Baiklah kalau begitu, aku akan menggunakan cara lain untuk menyingkirkan naga itu. Kuharap kalian gemetar ketakutan saat semua ini berakhir!"


Aku mengulurkan cakar depanku dan menembakkan pisau angin pada si pahlawan menggunakan skill [Wind Slash] milikku.
Pisau angin itu melesat kearah si pahlawan.


"[Slash]!"


Tebasan dari pedang si pahlawan memotong pisau angin milikku.
Lalu, tebasan itu melesat kearahku dari belakang para ksatria.
Untuk menghindari tebasan itu, secara paksa aku menggerakkan tubuhku menjauh dari lintasan tebasan itu.


"[Summon]!"


Saat si pahlawan mengucapkan kata itu, seekor kuda putih bersayap muncul.
Seekor Pegasus? Kayaknya dia sudah pernah menungganginya sebelumnya.


Saat si pahlawan menungganginya, Pegasus itu menghentak tanah. Kuda itu menghadap ke langit dan terbang lurus.


"Ikuti aku! Aku targetmu, kan?"


Kata-kata si pahlawan sangat keras.


Aku gak betul-betul pengen terbang karena adanya [Dragon Scale Powder], tapi butuh beberapa saat sampai gejalanya timbul seperti yang terjadi pada Nina.
Bahkan Adofu sempat bersamaku, dan gejalanya belum muncul pada dia. Kalau hanya pertarungan pendek, kurasa gak masalah.


Aku merentangkan sayapku, lepas landas, dan mengikuti si pahlawan.

Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya