Difference between revisions of "Dragon Egg Indo:Bab 213"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Bab 213)
 
(No difference)

Latest revision as of 10:40, 15 February 2020

Chapter 213 - Pemegang Kontrak Raja Serangga[edit]

Aku berlari mengejar pahlawan itu.


Kayaknya semua orang dikota sudah dievakuasi, soalnya hampir gak ada manusia yang terlihat. Meskipun masih ada beberapa ksatria yang berjaga memperhatikan kami di kejauhan.


Nina dan kerabat Adofu juga sudah gak ada.
Cuma tali saja yang tersisa ditempat mereka berada sebelumnya.
Aku penasaran kemana perginya mereka.
Mereka seharusnya masih belum bisa bergerak dengan baik...


"Gra~a!"


Sobat meraung.
Aku menatap ke tempat yang ditatap sobat.


Dibawah bayang-bayang bangunan, aku melihat Adofu dan Ball Rabbit bersembunyi bersama Nina.
Kerabat Adofu dan beberapa ksatria juga ada disana.


Sepertinya mereka baik-baik saja.
Apa para ksatria itu mantan bawahannya Adofu?
Gak akan mudah bagi mereka untuk kembali mempercayai gereja ataupun si pahlawan setelah mereka menyaksikan tindakan mereka yang mencurigakan.


Aku menghela nafas lega.


"Gra~a!"


......Itu betul, sekarang bukan saatnya untuk menurunkan kewaspadaanku.


Setelah mendengar geraman Sobat, aku kembali fokus.
Aku bisa bersantai setelah aku berbuat sesuatu soal si pahlawan yang melarikan diri itu.
Aku tau kalau dia bukanlah tipe orang yang akan bertobat jika aku melepaskan dia disini.


Aku menatap ke depan, dan mengejar si pahlawan.
Orang itu pasti sudah kehabisan akal sekarang.
Salah satu pedang miliknya direnggut darinya, dan yang satunya dimakan oleh Sobat.
Pegasus miliknya juga sudah gugur dalam pertempuran.
Dan, MP miliknya yang tersisa....


Irushia
Ras Earth Hyuma
Status Physical Resistance (Besar)
Level 78/100
HP 471/602
MP 144/552


....Sisa 144, huh.
Meskipun dia menggunakan banyak sihir pendukung. Dia masih punya sebanyak itu?
Dia gak menggunakan [Quick] meski dia berusaha melarikan diri, apa dia menghemat MP?
MP miliknya yang tersisa lebih dari seperempat, kalau musuhmu mengetahui ini, itu adalah situasi yang terburuk.
Sampai beberapa saat yang lalu, dia bergerak sesuka hatinya, dia pasti bisa mengubah pergerakannya.


Kalau soal kecepatan, aku lebih baik.
Saat pengejaran, aku bisa menyusul dengan mudah.
Akan sulit untuk bertarung kalau kau kabur ke area yang banyak orangnya.
Aku harus melakukan sesuatu sebelum itu terjadi.....


"[Summon]! [Summon]! [Summon]!"


Tiga pilar cahaya muncul diantara aku dan si pahlawan.
Dia bisa memanggil mahluk lain selain Pegasus?


Cahaya itu menghamburkan pasir. Dan dari bawah tanah, sesuatu berwarna merah dan hitam muncul dari lubang.
Mahluk itu licin dan seukuran manusia, tapi tingginya hampir tiga meter.


"Ku~washa~a~aa!"


Mulutnya memenuhi seluruh wajahnya.
Salah satu dari mereka merayap ke bangunan dan menghancurkan dinding.
Sudah pasti itu bukanlah sesuatu yang seharusnya dipanggil oleh seorang pahlawan.


Ras Grand Worm
Status Normal
Level 21/55
HP 244/244
MP 52/52
Ras Grand Worm
Status Normal
Level 24/55
HP 255/255
MP 54/54
Ras Grand Worm
Status Normal
Level 21/55
HP 244/244
MP 52/52


....Menjijikkan sekali. Itu hanyalah cacing yang kelewat besar saja.
Status mereka sedikit lebih rendah dari para Red Ant.
Jelas-jelas mereka hanya untuk mengulur waktu saja.
Kalau cacing itu bisa dipanggil asalkan ada MP, sudah pasti enak sekali.


Saat aku menghentak tanah, Sobat memundurkan lehernya.
Kayaknya dia paham apa yang akan kulakukan.


Aku meringkukkan tubuhku ketika berada di udara dan menggunakan [Roll] untuk menyerang para Grand Worm.
Aku menangkap ekor mereka bertiga dan menyeret mereka.


"Guwasha~a?!"


Yang dua terlempar dan yang satunya tubuhnya terpotong.
Darah dan daging menempel di badanku.

Exp sebesar 456 poin didapatkan.

Skill gelar [Walking Egg] diaktifkan, exp tambahan sebesar 456 poin didapatkan.

Level Ouroboros Dragon naik dari 57 menjadi 58

Maaf, tapi sesuatu seperti ini gak akan cukup untuk mengulur waktu.
Sungguh menyedihkan bahwa dia menggunakan MP miliknya yang tinggal sedikit untuk memanggil cacing-cacing ini.


"Apa?!"


Si pahlawan menatap kami.
Aku terus menggunakan [Roll] untuk memperpendek jarak dan menghantam punggungnya.
Dia berbalik menghadapku, sambil menghunus pedang ketiga miliknya.


Memancarkan cahaya yang terang, bilah merah itu menjadi padat.
Itu pedang aneh yang sama yang melukai Adofu saat di gurun. Pedang itu adalah pedang terakhir miliknya.


"K-Kau mulai membuatku jengkel!"


Apa aku harus membatalkan [Roll] dan menghindarinya? Atau, haruskah aku mempertahankan [Roll] dan menyerbu lurus?
Sudah pasti akan sangat sakit kalau aku terus melesat dan menerima serangan itu meski sambil menggunakan [Roll]. Tapi, kalau pertarungannya berlangsung lebih lama, kerusakan pada Haranae akan semakin besar.


Kupilih maju terus sambil menambah kecepatan.
Memilih keputusan setengah matang hanya akan mengancam nyawa. Kalau aku mau menyerang langsung, aku harus menyerang dengan kekuatan penuh!


"Kubunuh kau! Aku akan membunuhmu!"


Pedang itu menembus sisikku.
Aku merasa seperti terkena serangan kuat. Tapi, cuma itu saja.


"Guwo ~o!"


Aku bisa mendengar teriakan si pahlawan.


Ada reaksi.
Aku melihat si pahlawan terlempar ke udara beserta darah yang terciprat kemana-mana.
Dia jatuh beberapa meter dariku, dan menghasilkan suara keras saat tubuhnya menghantam tanah.

Skill resistensi [Confusion Resistance: Lv1] didapatkan

Saat kupikir aku akhirnya menang, pikiranku mulai kacau.
Karena aku mendapatkan sebuah skill resistensi, kalau kutengok pada kejadian yang sudah-sudah, itu artinya aku terkena status abnormal. Apa itu efek dari pedang itu?
[Roll] terganggu dan aku menghantam sebuah dinding.
Puing-puing jatuh menimpaku.


Aku merangkak keluar dari tumpukan puing-puing, menggoyangkan kepalaku, dan membersihkan pasir dikepalaku.
....Aku keracunan dan kena status bingung... dan bahkan juga agak lumpuh.
Tapi gak satupun dari status itu yang parah. Bahkan status pusingnya bisa diabaikan karena aku sendiri yang menabrak.
Meski status lumpuhnya masih membuatku merasakan mati rasa sih.


Pahlawan itu ada dibawah dinding puing-puing bangunan.
Tidak, ada retakan pada bangunan dibelakangnya. Lebih tepat dikatakan bahwa [Roll] punyaku di tepis, dia terlempar ke samping, dan menghantam dinding.


Dikepala dan pinggangnya terdapat darah yang banyak.
Satu matanya tertutupi darah yang mengalir.
Bernafas terengah-engah, tangan kirinya memegang pedangnya erat-erat.
Sangat jelas bahwa dia memegangnya erat-erat, meski dari kejauhan.


Kayaknya kami berada di area permukiman.
Warga yang dievakuasi dan para ksatria yang memandu mereka, kini bisa terlihat.


Si pahlawan berusaha berdiri.... tapi, dia segera jatuh lagi.
Kalau aku berada pada situasimu, aku pasti bisa mendengar patahnya tulang-tulang di pinggangku.
Aku sangat yakin bahwa meski aku menggunakan [High Rest], aku tetap gak akan bisa berjalan dengan baik.


"Heh, he he, hehehe...... Kau betul-betul sudah membuatku sangat marah kali ini. Baiklah kalau begitu. Aku akan membunuh semua orang yang ada di negeri ini dengan kutukan. Gak seorangpun yang akan selamat selain aku yang telah ditunjuk sebagai Holy. Kau, Adofu, pendeta bodoh itu, dan manusia hewan itu juga... kalian semua harus mati! Terutama kau, yang terus mengejar-kejar aku. Sesali kebodohanmu di alam baka."


Dia melampiaskan semua rasa frustrasinya padaku dan mengarahkan pedangnya padaku.
Aku langsung menembakkan dua [Wind Slash] pada dia.


"[Summon]!"


Cahaya ungu menjulang dari tanah diantara aku dan dia.
Cahaya itu meluas lalu langsung menyusut, menjadi bentuk manusia dan kehilangan kecerahannya.
A-Apaan itu?


Masa ungu itu terkena [Wind Slash].
Lalu cairan hijau mengalir dari tubuhnya. Itu bahkan gak bereaksi.
Apa benda itu hidup?

Karena perbedaan peringkat yang sangat jauh, exp poin tak bisa didapatkan.

Pesan dari [God's Voice] menggema di dalam kepalaku.
J-Jadi itu sudah mati sekarang?
Tidak, itu nggak kelihatan kayak gitu. Bahkan sekarang, bagian yang seperti tangan mulai bergerak.


Matanya yang seperti lubang kosong menatapku.
Itu seperti benda itu tertarik pada darah. Aku mulai merasa jijik terhadapnya.
Tenanglah diriku.
Kalau itu adalah seekor monster, aku bisa mencari tau informasinya menggunakan [God's Voice].

[Musukasu Demiryachia]

Monster peringkat F

Seekor lalat kecil yang telah mendapatkan kekuatan sihir dalam jumlah yang sangat besar melalui kutukan. Itu merupakan kumpulan kutukan yang bergabung menjadi satu.
Seorang penyihir yang berusaha mendapatkan kehidupan abadi ingin mempertahankan jiwanya dengan menjadikan tubuhnya sendiri menjadi katalis dari lalat-lalat terkutuk. Ini merupakan hasilnya.
Kesadaran penyihir itu sudah tak ada yang tersisa, itu hanyalah sekumpulan lalat terkutuk.
Saat jumlah lalat itu berkurang, mereka akan terbang dan melahirkan lebih banyak anak, dan setelah jumlah mereka mencukupi, mereka akan kembali ke wujud manusia lagi.

.....Itu hanya sekumpulan lalat kecil.
U-ge~e, aku jijik.
Tidak, aku gak boleh memikirkan hal semacam itu. Kalau lalat kecil itu menyebar, itu akan menjadi bencana.
Aku harus memikirkan cara untuk menanganinya.


Sampai akhir, kau punya bom tersembunyi ini, huh, pahlawan.


Aku berhenti berhenti bergerak, dan memperhatikan pergerakan lalat itu dengan cermat.
Aku gak tau apa yang membuat mereka berkumpul dan bergerak serempak seperti itu.


Dimana kelemahannya, kelemahannya.... Ini gak pasti, tapi haruskah aku membakar mereka semua dengan [Scorching Breath]?
Tidak. Jika pahlawan itu mengganggu, maka akan ada banyak lalat yang akan lolos.


Pahlawan itu berjalan kearah Musukasu Demiryachia dengan menggunakan pedangnya sebagai tongkat pegangan.


"He, he he, hehehe......"


Oh tidak, dia akan menghamburkan lalat-lalat itu dengan pedangnya. Aku belum punya rencana, tapi untuk sekarang ini aku melompat kearah Musukasu Demiryachia.


Masing-masing lalat itu adalah seekor monster peringkat F.
Harusnya aku bisa melakukan sesuatu terhadap mereka.
Oh, betul juga!


"Gru~o!"


Aku meraung pada Sobat.


"Gru, gru~a?"


Sobat menatapku kebingungan.


"Gru~o~o!"


Gunakan [Death]! Gunakan [Death]! Gunakan [Death] pada lalat itu.
Kau pasti bisa menghabisi seekor monster lemah seperti itu dengan mudah.
Gunakan semua MP kita yang tersisa pada lalat itu.


Kalau kau gak segera memahami apa yang kukatakan, kita akan kehabisan waktu dan semuanya akan terlambat.
Kuserahkan padamu, Sobat.


Kalau kau berpikir soal itu, ada banyak waktu saat Sobat memahami niatku.
Bahkan Ball Rabbit punya indera untuk merasakan bahaya, dan pada akhirnya dia mendapatkan [Telepathy].
Mungkin ada sesuatu pada diri Sobat yang mana sudah menjadi sebuah skill.


Sobat sangat liar saat pertama kali aku melihat dia setelah evolusi, tapi mungkin itu karena dia merasa gugup memiliki dua kepala.
Nyatanya.... saat aku akhirnya menerima bahwa dia adalah bagian dari tubuhku, dan bagian dari diriku, dia menjadi cukup jinak dan semakin menurut sekarang.
Kalau saja ada peluang meski sedikit kau bisa memahami apa yang aku pikirkan, maka kita akan bisa mengatasi ini.

Spesial Skill [Communication: Lv1] didapatkan

Sobat mengangguk padaku.


"Gra~a!"


Sobat meraung pada Musukasu Demiryachia.
Sebuah cahaya hitam menyelimuti lalat-lalat itu.
Pada dasarnya itu mengkonsumsi semua sisa MP milikku.
Ketidakberdayaan dan kepasrahan pada Ratu Semut Merah musuh yang sebelumnya berbeda dengan para lalat ini.


Itu seperti sesuatu terputus karena suara gak menyenangkan yang sukar dipahami.

Karena perbedaan peringkat yang sangat jauh, exp poin tak bisa didapatkan.
Normal skill [Death] naik level dari level 1 menjadi 4.

Tubuh Musukasu Demiryachia mulai terdistorsi, dan dia mengangkat bagian yang seperti tangannya ke atas.


"O~, o~, o~, o~......"


Mulut Musukasu Demiryachia bergerak dan menghasilkan suara seperti sebuah ucapan.


Segera setelahnya, sebuah pedang merah menebas bagian atas tubuh Musukasu Demiryachia.
Mayat-mayat jatuh ke tanah.


"He, he heh, dan dengan ini............ a, ah~?"


Pahlawan itu menatap mayat serangga itu dan gak bisa berkata apa-apa.

Skill Gelar [Little Hero] naik level dari level 7 menjadi 9.

Ini artinya Musukasu Demiryachia sudah benar-benar mati.
Tetap saja, levelnya naik sampai 2 level begitu saja. Kurasa lalat itu betul-betul buruk.


"Ini... Ini mustahil.... I-Ini gak mungkin............"


Si pahlawan mengayunkan pedangnya pada tumpukan mayat itu dua kali, tiga kali, dan kemudian jatuh berlutut karena kelelahan.
Saat dia menatap mayat lalat-lalat itu, wajahnya menjadi pucat.
Dia menempatkan tangannya pada pinggangnya dan menatap tangannya. Melihat ada darah di tangannya, ekspresinya langsung berubah.


"Ha-[High Rest]! [High Rest]! [High Rest]!"


Pahlawan itu berteriak mati-matian, tapi gak ada cahaya yang keluar.
MP miliknya sudah habis.
Dia sudah gak bisa berbuat apa-apa lagi.


Aku melompat pada pahlawan itu dan menyerang dia dengan cakarku sekuat tenaga.


"Ga ha~a!"


Dia terlempar dan menghantam sebuah bangunan.
Dia mengambil dan berpegangan pada pedang yang dia jatuhkan.


"Eek! Menjauh! Menjauh dariku, dasar monster!"


Dia menggoyang-goyangkan pedangnya sambil berteriak, dan menabrak dinding.
Dindingnya memang sudah hancur, dan ada sebuah lubang. Dan, begitulah, pahlawan itu jatuh dan tubuhnya tergelincir masuk kedalam lubang itu.


Nih orang memang gak tau kapan harus menyerah.

Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya