Difference between revisions of "Dragon Egg Indo:Bab 214"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Bab 214)
 
(No difference)

Latest revision as of 10:42, 15 February 2020

Chapter 214 - Pedang Vampir Terkutuk[edit]

Aku memeriksa dinding dimana pahlawan itu jatuh menggunakan [Inspect Status].
Cuma ada satu orang didalaminya. Dia kabur sambil berguling-gulung pada bangunan itu.


Kayaknya dia kabur melalui bangunan itu ke sisi lain dari koridor.
Melompati bangunan itu dan mengejar dia sekarang ini hanya akan memperlambat waktu.
Aku berbalik dan menghancurkan bangunan itu dengan menabraknya menggunakan punggungku.


Seraya merasakan dampak kejatuhan puing-puing pada punggungku, aku merangkak kedalam bangunan itu.
Saat aku sampai di sisi lain, bagunan itu runtuh total.
.....Aku jadi gak enak sama pemiliknya, tapi mau gimana lagi.


Aku merasakan pergerakan di sisi kiriku.
Saat aku berputar, aku melihat si pahlawan.
Dia duduk bersandar pada dinding, mengalami pendarahan.
Dengan kehilangan darah sebanyak itu, kurasa dia gak akan bisa banyak bergerak.

Irushia
Ras Earth Hyuma
Status Pendarahan (parah)
Level 78/100
HP 32/602
MP 6/552

Melihat statusnya, dia kelihatan seperti dia akan mati gak lama lagi.


Ada sejumlah orang di tempat agak jauh di belakang si pahlawan.
Semua orang menatap tertegun pada pahlawan itu.
Tapi, saat mereka menatapku, mereka berhamburan melarikan diri layaknya bayi laba-laba.


Si pahlawan menatap penuh kebencian pada kerumunan orang yang melarikan diri dan dia berdiri dengan kakinya yang gemetaran.


"J-Jawab aku, Laplace! Apa... apa yang akan terjadi padaku?! Apa yang harus kulakukan sekarang?! Laplace! Jawab aku!"


Saat aku mendengar nama itu, secara gak sadar aku berhenti bergerak.
Laplace.... salah satu skill dari God's Voice yang mensimulasikan kemungkinan dari situasi masa depan.
Aku ingat bahwa pahlawan itu punya skill itu.
Aku terkejut saat dia tiba-tiba meneriakkan nama itu, tapi meski dia mengandalkannya disaat terakhir, kemungkinan gak akan ada hal buruk yang akan terjadi.
Alasan kenapa aku gak berani mendekati dia adalah karena kupikir sesuatu akan terjadi pada saat itu. Tapi, sekarang....


Aku melompat pada si pahlawan sambil mengangkat cakarku.
Dan, kemudian.... salah satu gadis dari kerumunan itu keluar dan berlari ke antara aku dan si pahlawan.


"P-, Pahlawan-sama!"


Pahlawan itu selalu dipuja-puja sebagai seorang pahlawan sejati di Haranae.
Banyak orang mungkin gak memahami situasi dari seluruh sandiwara ini.
Terlebih lagi jika itu adalah seorang anak kecil.


Ini mungkin buruk bagi anak itu, tapi aku tetap akan membunuh orang itu.


Saat aku menurunkan cakarku karena gadis itu muncul, si pahlawan bergerak sangat cepat, lebih cepat daripada yang sebelumnya.
Dia melompat, memutar tubuhnya, dan mendekat pada gadis itu.
Itu bukanlah pergerakan karena naluri, tapi sebuah pergerakan karena kemauan.
Dan begitulah, pahlawan itu jatuh ke tanah dengan gadis itu berada di tangannya.


"Ki ~ya~a!"


Lalu, dia segera mengangkat tubuhnya sambil mengarahkan pedang merahnya pada leher gadis itu.


"Menjauh! Kalau kau mendekat, aku akan membunuh dia! Paham?! Kalau kau paham, maka mundurlah!"


"K-Kenapa.... ini..... tidak mungkin......"


"Diam! Asal kau tau, aku benci anak-anak! Mereka sangat menjengkelkan, aku sungguh ingin membunuh mereka! Sekarang, diam ditempat! Kubilang diam ditempat!"


Apa dia serius?
Gak kusangka dia serendah ini.


Aku bisa mendengar jeritan dan kebingungan diantara kerumunan.


"K-Kenapa pahlawan melakukan sesuatu seperti itu.....?"

"Kupikir itu hanyalah kesalahpahaman, tapi... kenapa ini...."


Gak mungkin dia gak mendengar mereka.


"He he, uwa ha ha ha ha ha~a! Aku gak menyangka kau benar-benar berhenti! Dasar bodoh! Sebagai seekor monster, kau membuatku muak!"


Pahlawan itu menjauhkan pedangnya dari leher gadis itu.
Aku bertanya-tanya kenapa dia menurunkan pedangnya... lalu dia mengiris perut gadis itu.


"A~, a, aa......"


Gadis itu mulai memuntahkan darah dari mulutnya.


"Gru~o~o~oo!"


Aku melompat lagi, membuka cakarku, dan mengincar kepala pahlawan itu.
Dia menendang gadis itu kerarahku.


Tanpa berpikir, aku memperlambat kecepatanku saat tubuh gadis itu mengarah padaku, dan dengan hati-hati aku menangkapnya tanpa melukai dia dengan kukuku.
Si pahlawan melihat adanya kesempatan dan menebas tanganku yang memegang gadis itu.


"Gru~o!"


"A ha ha ha ha ha~a! Bodoh, bego, tolol! Lagi dan lagi, kau terus menyerangku dengan cara yang sama!"


Dia mengangkat pedang miliknya dan mulai berlari kearah kerumunan.
Dia harusnya gak bisa bergerak lincah dengan statusnya saat ini.
Tidak, tunggu... pendarahannya melambat. Apa lukanya sudah pulih?


Sarung pedang merah miliknya tampak seperti berdenyut.
Jangan bilang.... pedang itu bukan cuma bisa menghisap darah saja, tapi juga bisa menyembuhkan HP penggunanya?
Apa dia akan menebas orang-orang itu supaya dia bisa memulihkan HP miliknya?


.....Aku mengandalkanmu..... Sobat.


"Gru~a~a!"


Saat Sobat meraung, cahaya menyelimuti gadis yang berlumuran darah itu.
Lalu, dengan lembut aku menurunkan dia ke tanah.


"K-Kenapa kau....."


Aku berpaling membelakangi gadis itu dan mencari si pahlawan.

Level Skill Gelar [Little Hero] meningkat dari level 9 menjadi MAX

"Oh, ayolah! Kau harusnya bahagia bahwa kau menyembuhkan aku sebelum aku mati. wa ha, ha ha ha ha~a!"


Dia barusaja menyerang orang kedua, lalu menendang tubuhnya ke ujung jalan.
Aku terbang dan memblokir jalan si pahlawan.


"...... Eh?"


Aku mengangkat cakarku tinggi-tinggi dan mengayunkannya pada dia.


"A ga ~a!"


Kayaknya dia pulih, tapi itu bukan masalah besar.
Pergerakannya gak sempurna.
Saat ini, dia cuma bergerak secara liar saja.
Aku gak tau berapa presentasi kemenangan yang dikatakan Laplace padamu, tapi kurasa itu memberi dia peluang yang lebih baik, atau malah lebih buruk.


"Ga~a!"


Saat Sobat meraung, cahaya menyelimuti pria yang terkapar di belakang.
Dia masih hidup.
Aku yakin pahlawan itu gak berani membunuh dia untuk menggangguku.

Level Skill Gelar [Relieved Mind] meningkat dari level 9 menjadi MAX

[Little Hero] dan [Relieved Mind].... Kedua skill bersifat bagus itu sudah maksimal.


"Laplace! Ini bukanlah apa yang kau katakan padaku! Selamatkan aku, selamatkam aku Laplace! Apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan sekarang?! Katakan padaku, katakan padaku sekarang! Jangan main-main denganku!"


Si pahlawan mulai berteriak saat tubuhnya gemetar.
Aku menekan dia dengan tanganku dan mengerahkan kekuatan pada ototku untuk menahan dia.
Tanahnya hancur saat dia kutekan dengan kekuatan penuh.


"O bu~! A, aa......"


Dia melepaskan pedang merah yang dia pegang.
Pedang itu terlempar ke tanah dan menghasilkan suara dentuman.

Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya