Difference between revisions of "Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia): Jilid 14+ Bab 1"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Created page with "==Bab 1 : Selamat Tinggal Gobligar Tersayang.== <i>”Awaken...”</i> Aku membuka mataku.... sepertinya aku mendengar suara seseorang. "Hei. kenapa kau t...")
 
(No difference)

Latest revision as of 01:43, 15 February 2020

Bab 1 : Selamat Tinggal Gobligar Tersayang.[edit]

”Awaken...”







Aku membuka mataku.... sepertinya aku mendengar suara seseorang.

"Hei. kenapa kau tidur, tolol? Kau ini bego atau apa? Ya kan.... kau bego, kan.... Kau benar-benar bego. Tidak hanya bego, kau juga sampah! Ya.... itu benar, kau juga sampah! Kau bego, sampah, dan tidak berguna! Aku tahu itu.”

Entah kenapa, tiba-tiba seseorang memarahiku.

Tunggu dulu....

Kenapa dia memarahiku?

Memangnya aku salah apa?

Aku sedang berbaring di mana ini? Di atas, aku bisa melihat langit.

Sepertinya tadi aku tertidur, lalu tiba-tiba bangun. Hanya itu yang bisa kusimpulkan.

Tapi.....

Apa ini.....

Pria yang barusan membentak-bentakku seperti orang gila sedang berjongkok, sembari memandangiku.

"…astaga......"

"Hah?" kataku, tercengang.

Kulitnya berwarna kuning-kehijauan, hidungnya pesek, dan ada semacam siung yang menjuntai dari mulutnya yang lebar. Telinganya begitu lebar. Terus terang saja..... dia begitu mengerikan.

Di atas kepalanya tumbuh rambut tipis dan keriting, yang juga membuatku jengkel melihatnya.

Tapi, abaikan rambut menjengkelkan itu sejenak... ada suatu pertanyaan yang harus kupastikan.

"Apakah kau seorang Goblin?" tanyaku.

"Hah?" Wajah Goblin berambut keriting itu mendadak berubah marah, kemudian dia pun memiringkan kepalanya ke samping. “Tentu saja aku Goblin. Kau sendiri juga Goblin, bung....”

"Hah?" Aku mengangkat tangan, lalu mendekatkannya ke wajahku. Aku tidak percaya apa yang kulihat. "Ada apa dengan...... tanganku...??"

Tangan ini.

Tanganku.....

Warnanya begitu hijau.....

Grimgar Vol 14+ (4).jpg

Lenganku juga tampak aneh.... begitu kurus.

Ini salah....

"Kenapa? Ada yang salah? Kenapa kau begitu terkejut? Kau ini memang bodoh ya...” si Goblin berambut keriting memintal rambutnya sendiri, lalu melihat ke belakangnya. “Hey, Gobuhiro, bangun!”

"... Gobuhiro?"

Tidak, tunggu, itu bukan namaku, kan....?

Hah?

Kalau begitu.... siapa namaku?

Tenang. Namaku.... namaku..... Siapa ya.... tidak mungkin aku melupakan namaku sendiri. Aku harus tahu....

Aku menarik napas dalam-dalam sembari menekankan tanganku ke dada.

Sekarang..... aku hanya perlu memikirkan namaku, lalu menyebutkannya dengan tenang.

"Gobu ... hiro."

Yang benar saja....

Sementara aku masih syok, beberapa Goblin lain bergegas mendekat. Apakah mereka teman-temanku? Sejak kapan aku berteman dengan Goblin?

Mereka jelas-jelas sekawanan Goblin.

Ada satu ... dua ... tiga ... empat Goblin..... tidak..... jika si keriting dihitung, maka......

Tidak....tidak.... aku seharusnya juga dihitung, karena aku juga Goblin. Berarti..... ada enam?

Tunggu dulu.... tunggu dulu....

Salah satu dari mereka sangat besar untuk seukuran Goblin. Seharusnya tidak ada Goblin yang sebesar itu.

Apakah dia.... Hobgoblin, ya?

Dia juga memakai zirah yang tampak berat. Apakah itu biasa dilakukan Hobgoblin? Aku tidak tahu.....

"Gobuhiro ...?" seorang Goblin pria yang wajahnya bersih dan rambutnya sehalus sutra (yahh, setidaknya untuk seukuran Goblin) menjulurkan wajahnya begitu dekat padaku, lalu mengatakan. “Kau baik-baik saja?”

"Hah? Uhh ... Ya. Tentu…"

Aku berharap dia tidak akan memanggilku Gobuhiro dengan akrab seperti ini, tapi tampaknya Goblin-goblin ini sudah terbiasa menyebutku dengan nama itu. Sembari memikirkan berbagai hal, aku pun duduk.

"Kurasa.... aku baik-baik saja ...," kataku. "Ya. Bukankah begitu...... Gobuto?”

"Yahh....sepertinya begitu.”

Meskipun dia seorang Goblin, senyum Gobuto sangat damai.

Tunggu dulu..... Barusan aku memanggilnya Gobuto?

Gobuto pun menepuk pundakku dengan pelan.

"Aku tahu, terkadang kau suka menanggung beban seorang diri, Gobuhiro. Jika ada masalah, ceritakan saja padaku.”

"Ha ha ... aku baik-baik saja kok ..."

Apakah itu benar? Jadi, aku suka menanggung beban seorang diri?

Dia bilang, sebaiknya membicarakan semuanya padanya. Kalau aku ada masalah, aku ingin sekali melakukannya. Tapi..... apakah aku benar-benar punya masalah?

Mungkin.... satu-satunya masalah yang kuhadapi saat ini adalah..... mengapa aku terbangun di tengah-tengah sekawanan Goblin seperti ini?

Sejak kapan aku berteman dengan para Goblin.

Dan sejak kapan aku menjadi...... Goblin?

"Nyahh? Sebenarnya kamu kenapa sih, Gobu-kun?”

"Aku baik-baik saja, Yumelin ..."

Yumelin?

Jadi, Goblin cewek berambut panjang yang membawa busur panah ini..... bernama Yumelin? Ya, itu pasti dia.... saat aku mengingat kembali siapa Goblin wanita ini, hanya nama Yumelin yang tersisa di kepalaku.

Yumelin. Ya.... Goblin perempuan ini adalah Yumelin..... tidak salah lagi.

Tapi.... entah kenapa aku masih saja merasa aneh. Apanya yang aneh? Aku tidak tahu.....

"Yakin kau baik-baik saja?" tanya Goblin perempuan di belakang Yumelin.

Dia memakai topi kerucut. Aku juga mengenalnya. Tongkat yang dia pegang...... dan sikapnya yang malu-malu kucing..... aku sungguh mengenalnya.

"Kan sudah kubilang, aku baik-baik saja....” tegasku.

Jikalau ada yang salah.... mungkin adalah eksistensi kami.... mengapa kami menjadi Goblin?

Aku pun mengucapkan nama Goblin wanita itu dengan lancar. " Shiholin. ”

"B-baguslah kalau begitu ..."

"... Heheh." lalu aku tertawa.

Tanpa diragukan lagi..... Goblin wanita ini bernama Shiholin.

Aku sungguh mengenalnya.

Sedangkan, si Hobgoblin besar ini adalah..........

"E-Erm ... G-Selamat pagi, Gobuhiro-kun."

"Ya ... Selamat pagi ... Hobuzo. ”

Ya, aku juga mengenalnya.

Aku cukup dekat dengan Hobuzo.

Tidak mungkin aku melupakannya.

Memang begitulah namanya.

Namaku Gobuhiro, lalu mereka adalah Gobuto, Yumelin, Shiholin, Hobuzo, dan Gobuta.

Lima orang Goblin, dan seorang Hobgoblin. Jadi kami ada enam.

"Sepertinya barusan aku mimpi aneh?" aku bergumam pada diriku sendiri.

"Hoeh?" Yumelin memiringkan kepalanya ke samping. “Jadi Gobu-kun baru saja bermimpi aneh...?”

"Yumelin, begini ya.... jika kau memanggilku Gobu-kun, maka nama kami semua sama, kecuali Hobuzo. Iya, kan? Duh, sepertinya aku pernah mengatakan ini sebelumnya....”

“Benarkah? Kau sudah mengatakan itu pada Yumelin sebelumnya?”

"Sepertinya pernah deh..... atau tidak? Hmmm....”

“Sepertinya sih pernah, Gobu-kun.... ah, maaf.... Yumelin memanggilmu Gobu-kun lagi.”

“Kamu ini juga bego, Yumelin! Gak bisa mikir kau ya!” teriak Gobuta.

“Diamlah, Gobuta! Yumelin tidak ingin mendengar itu darimu! Memangnya kau ini siapa, Gobuta!”

“Aku apa? Ya aku ini Goblin!? Tidakkah sudah jelas bagimu? Aku sungguh tidak paham omonganmu!”

Aku pun sudah sering melihat adegan ini, dimana Yumelin dan Gabuta saling bertengkar.

Aku tidak tahu mengapa ini semua begitu familiar bagiku, tapi entah kenapa..... memang beginilah seharusnya. Aku masih saja merasakan ada yang aneh. Namun, aku tidak juga menemukannya.

Sambil menggelengkan kepala, aku melihat sekeliling.

Ada dinding yang runtuh. Lantai yang sudah pecah-pecah, sehingga menunjukkan lantai berumput di bawahnya. Di atas, hanya sekitar seperlima plafon yang tersisa, sehingga aku bisa melihat langit dari sini.

Tempat ini, sepertinya adalah reruntuhan.

"Hmph ..." Gobuta bersandar di dinding, sembari bersedekap. "Tempat ini memang benar-benar berantakan, ya.... tak kukira keadaannya seburuk ini ... "

Gobuta mengatakan itu dengan nada kesal, saat itu juga Shiholin meringkuk malu entah kenapa, sedangkan Hobuzo duduk dengan pasrah di tanah.

"Sepertinya tempat ini sudah lama tidak terawat," kata Gobuto dengan mengangkat bahu. “Tentu saja dulu tidak seperti ini. Atau mungkin, semua ini tergantung bagaimana kita melihatnya?”

"Bagaimana kita melihatnya?" Gobuta mengulangi kalimat itu dengan dengusan. “Memangnya bagaimana kita harus melihatnya?"

"Maksudku, bukankah ini tempat yang bagus untuk memulai hal baru?"

"Memulai? Bagaimana caranya?”

"M-m-memulai dari nol!" Shiholin tiba-tiba berseru. "Y-Ya.... kita bisa memulai semuanya dari nol lagi.... t-t-tapi, sepertinya kita memang tidak punya apa-apa ... ”

"Nol, ya." Yumelin mengunyah jari telunjuknya, sembari menggembungkan salah satu sisi pipinya. "Tapi.... menurut Yumelin, kita bukannya tidak punya apa-apa, kok.... Sayangnya, Yumelin juga tidak tahu apa yang kita miliki sekarang.”

"Y-Ya ..." Hobuzo menggambar di tanah dengan jari-jarinya yang gemuk. "Anak-anak yatim macam kita ... selalu ditelantarkan. Kita sama sekali tidak punya tempat ... "

Aku mendongak ke atas. Tentu saja, langit di Kota Baru tidak berbeda dengan Kota Tua.

Harusnya sih memang tidak berbeda.

Tapi entah kenapa...... aku merasa..... sedikit berbeda.

Bisa dibilang, warna langit di sini sedikit pudar.

Warna langit pudar seperti ini, benar-benar membuatku merasa..... lemah....

Bagi kaum Goblin seperti kami, hal yang terpenting adalah faktor keturunan dan keluarga. Begitu pun dengan bangsa Hobgoblin yang hidup bersama kami. Saat kami diberi nama, maka yang pertama kali dilihat adalah nama keluarga. Apakah kami mewarisi nama ayah.... atau tidak. Semuanya sudah ditentukan, dan akan mempengaruhi nasibmu ke depannya.

Jika seorang Goblin atau Hobgoblin pria memiliki 5 atau 10 istri, dan masing-masing istri melahirkan anak. Sayangnya, tidak setiap anak mewarisi nama ayahnya.

Anak-anak yang mewarisi nama ayahnya akan memiliki hidup lebih baik. Tidak hanya itu, faktor keluarga juga mempengaruhi. Jika sebuah keluarga memiliki 5 anak, mungkin 1 atau 2 anak akan mewarisi nama ayahnya. Anak-anak tersebut dipilih berdasarkan ramalan, penampilan, atau seberapa baik ibu kandungnya. Hanya anak-anak yang mewarisi nama ayahnya yang dianggap sebagai bagian dari keluarga inti.

Lainnya dianggap yatim.

Sayangnya, Goblin yang kaya dan memiliki hidup lebih baik jarang sekali mengadopsi anak-anak yatim itu. Dan anak yatim tidak berhak tinggal di rumah ayahnya.

Itulah yang terjadi padaku, sehingga aku tidak pernah tahu siapakah orang tuaku. Hal yang sama juga terjadi pada Gobuta, sedangkan Shiholin dan Hobuzo hanya tahu ibu mereka.

Yumelin adalah anak yatim yang lahir dari orang tua yatim. Kalau Gobuto, dia tidak pernah membicarakan keluarganya.... pasti ada masalah di antara mereka.

Maka dari itulah, kami adalah sekelompok anak Goblin yatim.

"Yahh....," kata Gobuta, sembari meletakkan tangannya di dinding yang berlubang. "Kalau kita tetap tinggal di tempat sebelumnya, kita hanya akan dipaksa bekerja sampai mati. Tapi di sini juga tidak ada apapun. Kita bisa mati jika tidak makan apa-apa. Yahh.... setidaknya kita bisa memilih dimana kita mati. Wow.... bukankah itu keren? Aku baru saja mengucapkan kalimat yang keren, kan?? Iya, kan??”

"Nggak juga ..." gumamku.

“Diam kau, Gobupirooo! Orang payah macam kau tidak berhak menilaiku?! Dasar tolol!!"

"Ha ... ha ha ..." tawa Hobuzo sambil menggosok perutnya. "T-tenanglah kalian ... K-kita harus mencari sesuatu untuk dimakan, nih....”

Terdengar suara keroncongan dari perut Yumelin. "Ohhh! Keras sekali suaranya!"

"Makanan ..." Shiholin, tak peduli bagaimanapun kau melihatnya, dia tampak seperti mau mati kelaparan.

"Makanan, ya ..." tiba-tiba aku menoleh pada Gobuto.

"Jangan khawatir...." Gobuto menunjukkan senyum Goblin-nya yang bersih. “Entah bagaimana caranya, kita pasti akan mendapatkan makanan. Kita hanya perlu berusaha bersama-sama.”

1. Sebuah Kisah Yang Harus Diceritakan.[edit]

"Uh, nyuh, nyuh, nyuh, nyuh ..." Yumelin menarik tali busur panahnya sepanjang mungin, lalu melepaskannya. "Nyaaww!"

Whoosh, anak panahnya melesat.

Jauh di sana, ada seekor burung gagak yang terbang sendirian. Lalu.... panah Yumelin melesat dengan kecepatan penuh menuju burung malang itu.

Whuuushhh........

Sayangnya meleset.

Panah itu terus terbang entah kemana, tanpa mengenai apapun.

"... Tiiidhhhakkk....." bahu Yumelin lemas.

Aku ingin coba menghiburnya, tapi aku tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya, aku malah merasa kesal pada Yumelin, karena tembakannya jauh dari sasaran.

Aku bahkan sudah tahu Yumelin tidak akan mengenai gagak itu, bahkan sebelum dia menembakkan panahnya.

Aku pun merasa sangat lapar.

Ini buruk.

Buruk sekali.

"Heh, heh, heh, heh ..." Gobuta duduk terlentang di tanah. "Kau memang payah ... Heh, heh, heh, heh, heh ... "

"Jangan bilang Yumelin payah!" kata Yumelin, hampir menangis. "Yumelin sudah berusaha sebaik mungkin, tahu? Lagian, Yumelin memang tidak pandai memanah, kok! Jadi, kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Yumelin! Kalau kau bilang Yumelin payah, maka kau coba lakukan sendiri, Gobuta!”

"... Persetan denganmu. Aku malas gerak ... lebih baik kau berhenti berteriak. Ingat, perutmu kosong.”

“Fuh, gyuh. Gyuh, gyuh, gyuh!” akhirnya, kemarahan Yumelin meledak — namun, perutnya yang lapar segera menghentikannya. “... Ooh-hyooh. Lapar sekaliiii…"

Aku mengerti, pikirku.

Aku sungguh memahaminya.

Aku bahkan tidak bisa menyalahkan Gobuta karena telah berkomentar seperti itu. Ironisnya, aku mengikuti Gobuta rebahan di tanah, dan tidak melakukan apa-apa. Kenapa aku jadi semalas ini?

"Seekor gagak tidak akan cukup," gumamku.

Tapi, ternyata aku tidak sendirian, Hobuzo juga duduk, dan hanya menatap tinggi ke langit.

Shiholin sedang berjongkok kelelahan, bahkan Gobuto—

Gobuto masih berdiri, wah... dia memang hebat ya. Dia mengepalkan tinjunya, lalu dia angkat tinggi-tinggi ke langit dengan semangat. “Meskipun bisa memanahnya, seekor gagak tidak akan membuat perut kita semua kenyang! Kita harus menangkap mangsa yang lebih besar!”

"Tidak, tapi ..." tiba-tiba aku mulai protes. Aku sendiri terkejut dengan apa yang kulakukan. "Apa yang harus kita lakukan? Maksudku, di Kota Tua ada anak-anak yatim seperti kita..... bahkan burung gagak juga..... atau mungkin tikus.....”

“Atau.... mungkinkah lebih baik kita melakukannya?" terdengar suara gemuruh aneh dari tenggorokan Gobuta.. "Maksudku.... apakah sudah waktunya bagi kita untuk saling memangsa satu sama lain ...? Mereka juga pernah melakukannya, kan ...? Ya, aku tahu orang-orang di Kota Tua pernah melakukannya. Bukannya aku tidak setuju dengan itu, sih....”

"Gooobliiin ..." Hobuzo membisikkan itu pada dirinya sendiri. Itu cukup mengerikan, seolah-olah pikirannya sudah dikuasai oleh rasa lapar.

Saat aku melihat wajah Hobuzo, matanya sudah dipenuhi oleh hawa nafsu. Dia pun melihat kami dengan air liur bercucuran di mulutnya. Ini bukan lelucon, kami benar-benar berada dalam bahaya.

"B-b-bagaimanapun juga ..." Shiholin berkata dengan bahu gemetaran. "....k-k-kita tidak boleh melakukan hal mengerikan seperti itu....kan....?”

"Ohhhh ...." Yumelin menatap tajam ke arah Shiholin. "Yumelin baru sadar..... sebenarnya, Shiholin tampak lezat, ya.....”

"Eek!" Shiholin melompat mundur.

"Tidak, tidak!" kata Gobuto dengan nada riang, tapi sepertinya dia membuat-buatnya. “Kita jelas-jelas tidak boleh melakukan kanibalisme. Itu hanyalah pilihan terakhir bagi kita..... eh, uh.... tidak! Maksudku, kita sama sekali tidak boleh melakukannya! Lagian, kita tidak perlu tinggal di Kota Tua ini, kan!?”

"A-apaaa ...?" Gobuta memandang Gobuto dengan mata kosong. "Jadi.... maksudmu kita harus kembali ke Kota Baru? Bukankah kita sudah jauh-jauh meninggalkannya?”

"Aku tidak mengatakan kita harus kembali ke Kota Baru."

"Hah? Jika tidak kembali, maka apa yang harus kita lakukan ... ?"

"Tidak kembali ya ..." ulangku sembari mengedipkan mata.

"Kalau tidak kembali, lantas kita harus ke mana ...?" tanya Shiholin, sambil berkedip. "Tunggu dulu..... jangan-jangan, yang kau maksud adalah.....?"

"Nuhoh ...?" Yumelin juga terkejut, tapi sepertinya dia hanya meniru Shiholin.

"Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ..." Hobuzo mengerang.

Kemudian, Gobuto mengangguk dengan mantap. "Kita akan keluar Damrow. Ada dunia yang luas di luar Damrow, aku yakin kalian semua sudah mengetahuinya.”

"Tapi, kan ..." Aku menundukkan kepalaku dengan pesimis. "Bukankah itu berbahaya? Aku dengar di luar sana ada ras-ras lain seperti manusia, Orc, dan semacamnya....”

"Gobuhiro. Mungkin kita belum pernah bertemu langsung dengan mereka. Tapi, ras manusia juga pernah mengunjungi Kuta Tua ini, kan....”

"Yahh..... aku pernah mendengar kabar itu.”

"Tapi, sepertinya tidak ada Orc di dekat Damrow. Mereka tinggal di tempat yang cukup jauh dari sini, yaitu daerah yang disebut Nananka atau Ishmal. Tidak hanya para Orc, kaum Undead juga tinggal di sana.”

"Gobuto, kau ..." Gobuta tampak sedikit malu. "..... wawasanmu luas juga ya!? Darimana kau dengar semua itu??”

"Yahh, ada deh....." kata Gobuta sembari memamerkan senyum manisnya (untuk seukuran Goblin).

Aku menyipitkan mata, sembari berpikir, Pria ini memang penuh misteri.....


Kami semua yatim, tapi kurasa ada sesuatu yang berbeda pada Gobuto. Orang ini berwawasan begitu luas, dan sangat tenang. Sejak pertama kali bertemu, memang seperti itulah dia.

Mungkin Gobuto bukan anak yatim? Jangan-jangan dia berasal dari keluarga Goblin terhormat?

Tapi itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin bersama kami jika bukan anak yatim. Jika keluarganya terhormat, maka dia akan tinggal di Kota Baru, dan hidupnya enak.

"Keluar ... kota ...??" Shiholin mengulangi ide itu dengan ragu. “Memangnya..... ada apa di sana? Tempat macam apa..... yang akan kita temui?"

"Ya, seperti yang kubilang tadi. Di sana ada manusia, Orc, bahkan Undead ...... tapi, hanya itu yang kudengar." kata Gobuto sembari menghentak tanah. "Yang jelas, dunia di luar sana begitu luas, seolah tanpa batas....."

"Fukyoh ..." Yumelin menepuk pipinya. "Seolah tanpa batas ...?"

"Betul. Bahkan, daratan masih terbentang luas setelah Kerajaan Nananka dan Ishmal. Ada apa di sana...? Aku juga tidak tahu. Tetapi, karena itulah aku ingin mencari tahu.”

Tiba-tiba aku memegang dadaku. Ada apa ini? Perasaan apa ini? Dadaku berdegup kencang. Ini aneh. Ada perasaan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Lagipula...." lanjut Gobuto, "....kita para Goblin tidak berasal dari Damrow. Sepertinya, para pendahulu kita berasal dari wilayah utara Ishmal dan Nananka, atau mungkin dari barat. Tapi, setelah Deathless King membuat aliansi, para Goblin pun memiliki raja. Sebelumnya, tidak pernah ada Raja Goblin. Itulah kenapa kaum Orc bisa dengan leluasa menindas kita. Sayangnya, setelah bergabung dengan aliansi pun, posisi kita masih saja di bawah. Kaum Goblin selalu saja dianggap sebagai pasukan rendahan. Banyak dari kita mati sebagai pasukan rendahan. Tapi, kita terus saja bertarung tanpa mengeluh sedikit pun, karena ingin diakui oleh ras lain. Berkat kerja keras itu, akhirnya wilayah Damrow diberikan pada kita sebagai tempat tinggal. Ini adalah wilayah yang diwarisi dari para leluhur kita sebagai hasil kerja keras mereka. Kita selalu menganggap Damrow sebagai tanah suci. Oleh karena itu, kaum Goblin terus menempati daerah ini bahkan sampai sekarang, tanpa pernah berpindah lagi. Kota Baru Damrow masih terlihat seperti saat dihuni oleh manusia dulu. Inilah kebanggan kita, inilah hasil pencapaian yang dibayar dengan darah para pendahulu kita. Kita tidak akan pernah mengabaikannya. Kita akan melindunginya dengan segenap jiwa.....”

"H-Hei, Gobuto." Gobuta berkedip. “Ceritamu semakin ruwet saja, aku sama sekali tidak paham. Kau berbicara tentang Raja.... Raja apa tadi? Kemudian ada aliansi..... aliansi apa tadi? Aku gagal paham. Bisakah kau menceritakannya dengan lebih simpel dan pendek? Langsung saja sampaikan intinya. Ah..... tidak.... tidak!! Bukan begitu maksudku!! Aku sangat memahaminya!! Aku ini jenius!! Tapi.... sepertinya orang-orang bego di sekitar kita ini kesulitan memahami ceritamu. Jadi.... kurasa kau harus menceritakannya dengan lebih simpel, agar mereka mengerti.”

"Maaf, maaf." Gobuto menggaruk kepalanya. “Um, pada dasarnya, dunia ini luas sekali. Sedangkan, kita para Goblin hanya berkutat di Kota Baru. Kita tidak pernah mencoba keluar Damrow. Rumornya, kita pernah memiliki suatu perjanjian dengan ras manusia. Ah tidak..... bukan masalah itu. Yang jelas.... jika dunia ini begitu luas, mengapa kita tidak mencoba menjelajahinya? Mengapa kita hanya hidup di kota ini? Kita punya dua kaki yang siap berjalan ke manapun. Bukankah kita bisa memakainya untuk berjalan ke tempat yang kita inginkan?”

"Nghboaghhhhhh ...!" Hobuzo tiba-tiba melompat berdiri. "Aku ikut! Ayo pergi! Makanan, makanan, makanan! Ayo cari makanan! Makaaaaaaaaaan! Makaaaaaaaaaaaannn!!"

"Ugahhh!" Yumelin mengangkat tangannya. "Makanaaaaaaaaaaaaannnnn ...!"

Shiholin memandang Gobuto dengan mata berbinar.

"T-t-t-tapi......" Gobuta punya pendapat lain ".....m-m-m-meskipun pergi ke luar Damrow, belum tentu kita bisa mendapatkan makanan, kan? Apakah kalian kira resikonya setara dengan apa yang akan kita dapatikan?”

Sebelum Gobuto menanggapinya, aku pun menyela. "Kau takut?"

"Hah?! S-s-siapa bilang aku takut?! Aku tidak takut, kok!”

"Lalu, kenapa kakimu gemetaran begitu?"

"T-t-t-tidak!! Aku hanya....."

"Hanya apa? Kau bilang itu beresiko, tapi lihatlah apa yang kita dapatkan di sini.... kita tinggal di tempat yang mungkin sudah tidak tersedia makanan lagi. Yang bisa kita lakukan di sini hanyalah duduk menunggu mangsa yang mungkin tidak akan datang. Bukankah itu lebih beresiko?”

“D-d-diam, Gobupiro! Kau tidak berhak mengatakan itu padaku, aku hanya ….... berusaha mempertanyakan ide ini!! Jangan asal setuju saja!! Seseorang harus melakukan itu!! Kalian hanya sekumpulan orang idiot!! Kalian tidak pernah tahu pentingnya mempertanyakan suatu keputusan!! Dasar idiot!!” lalu, Gobuta bangkit dan mendekati mereka. “Ayolah!! Kalian berpikirlah!! Aku tahu di luar sana ada dunia yang terbentang luas. Kita bisa pergi kemanapun kita mau, tapi bukankah sebaiknya kita pikirkan dulu semuanya dengan matang?”

Gobuto dan aku bertukar pandang. Dia hanya tersenyum kecut menanggapi protes dari Gobuta.

Akhirnya, kita menyelesaikannya dengan pemungutan suara.

Hobuzo setuju dengan Gobuta untuk tidak keluar dari Damrow. Tapi Gobuto memegang lengan Shiholin, lalu menariknya mendekat. Sedangkan Yumelin juga mendekat pada Shiholin. Kalau aku......

Aku ikut Gobuto.

Dengan begini jelas sudah.

Maka, kami pun meninggalkan Kota Tua Damrow.

Dengan dorongan dari cerita-cerita Gobuto, rasa takut kami pun dikalahkan oleh harapan yang lebih besar — tapi semakin jauh kami meninggalkan Kota Tua Damrow, semakin kempis semangat kami.

Bagaimanapun juga, kami sedang kelaparan.

Bahkan aku mulai mengenang masa-masa indah menggali lubang sebagai buruh di Kota Bawah Tanah.

Menggali lubang adalah satu-satunya pekerjaan yang pantas bagi anak yatim seperti kami. Kami masih diberi upah berupa makanan, namun tidak layak dan tidak pernah cukup.

Satu-satunya alat menggali yang diberikan pada kami adalah pedang tua, yang sepertinya bisa retak kapanpun. Bersama anak-anak yatim lainnya, kami menggali dan memecahkan batu keras sedikit demi sedikit. Lalu, kami membawa batu galian ke tempat yang sudah ditentukan. Dari pagi sampai malam, kami terus melakukan pekerjaan tidak layak itu. Kami diberi makan sekali saja, berupa dua potong kue kecil dan semangkuk sup. Jelas itu tidak akan mengenyangkan perut kami, tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Saking buruknya makanan itu, beberapa kali aku berpikir lebih baik tidak makan sekalian. Jika punya pilihan, tentu saja aku tidak mau bekerja menggali lubang. Tapi bukan berarti kami bisa melarikan diri dengan mudah dari pekerjaan itu.

Belum lagi cara kami makan. Mereka menyediakan tempat makan besar, lalu melemparkan makanannya begitu saja ke sana. Sayangnya, anak-anak yatim lain yang lebih besar dan kuat bisa mendapatkan makanan terlebih dahulu, sedangkan kami hanya sisanya saja. Sesekali raja akan memberikan bahan bantuan, namun segera habis setelah terjadi perkelahian sesama kami.

Menggali lubang adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa kami lakukan. Jika tidak, maka kami tidak akan bisa bertahan hidup.

Oh iya, ngomong-ngomong soal kuenya, rasanya seperti lumpur. Sedangkan supnya, begitu encer dan rasanya tidak enak. Aku tidak bisa merasakan kenikmatan memakan itu semua, meskipun perutku keroncongan. Itu sungguh menjijikkan.

Tapi sekarang, anehnya aku kangen makanan itu.

Kami memutuskan meninggalkan Kota Baru dengan harapan mendapatkan makanan yang jauh lebih layak daripada kue dan sup itu. Tapi, apa yang terjadi? Tanpa kue dan sup menjijikkan itu pun mustahil kami bisa bertahan hidup. Ahh, rasanya ingin memakannya lagi. Aku tidak pernah mengira bakal merindukan makanan itu.

Jika aku menundukkan kepalaku, rasanya ingin pingsan. Jadi, aku menegakkan kepalaku sembari terus berjalan.

Sinar matahari terus menyengat, kalau begini terus, lama-lama aku bisa kering.

Gedebuk! terdengar suara keras.

Saat kulihat ke arah suara itu, Gobuta telah terkapat di tanah dalam posisi telungkup.

"K-Kamu baik-baik saja, Gobuta?" tanyaku.

"Nngh ..." terdengar suara aneh. Tidak, tunggu, itu suara Gobuta.

"Hoi........ apakah kau....... salah makan?" tanyaku.

"Washagushagushagoshawashagoshagushagusho."

"Ahhh!" Yumelin bergegas mendekat, lalu menunjuk ke arah Gobuta. “Gobutaaa! Dia makan rumput!"

"Rumput ..." kata Gobuto sambil berlutu di tanag. "Rumput, ya? Rumput....?”

"Hah? Wah ... Gobuto? Ini rumput biasa, kan ...?”

"Makasiiiiiiiiiiiihhhhh!" Hobuzo jatuh dengan posisi mirip berlutut, kemudian dia segera menjejalkan rerumputan itu ke dalam mulutnya. “Uoghuohguohguogoh! Hobuhobuhobuboh!"

"Tidak?! Hobuzo jangan?!” pandanganku mulai terganggu oleh air mata. "Rumput apa ini?! Rumput! Kau tidak boleh makan rumput, kan?! M-maksudku.... t-tunggu dulu, ada rumput semacam ini pada sup yang biasa kita makan setelah menggali lubang ... rasanya sangat pahit dan tidak enak ... "

"Gubwahhhhh ?!" Gobuta memuntahkan sejumlah besar rumput dari mulutnya. "Pahiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttt?! ”

"Uohhhaegh?!" Hobuzo menutup mulutnya dengan kedua tangan, sambil meringis kepahitan.

“Yyyyyyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkkkkkkkkkkkkkk?!”

Inilah yang kemudian dikenal sebagai Insiden Rumput.

Sambil melihat Gobuta menggeliat kesakitan, aku mengusap punggung Hobuzo. "Aku tahu itu ... rumput itu ... "

"Y-Ya ... Aku tahu, tapi ... aku tidak kuat lagi ... Aku lapar, saangat lapar ... aku kehilangan kendali ... "

"J-Jangan menangis, Mogzo. Tidak, maksudku Hobuzo. Hah…?"

Nama siapa yang barusan kusebut tadi? Mogzo? Siapa itu? Bukankah namanya yang benar Hobuzo?

Shiholin menelan ludahnya.

"Ada apa?" tanya Gobuto. Nada bicaranya berubah, tidak seperti yang biasa.

"I-Ini ..." Shiholin menarik sesuatu dari rumput itu.

"Nyoh?" Yumelin mengambilnya dari Shiholin, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas.

Mataku melebar saat melihat benda itu. "I-Itu ..."

"Whoa." Gobuta menunjuk ke arahku, dengan wajah masih tertutup rumput. "Gobuhiro, matamu selalu terlihat mengantuk, jadi saat kau membuka matamu lebar-lebar seperti itu, kau tampak menakutkan sekali!! Aku serius!”

"Gobuta, tutup mulutmu itu," kataku. “Sekarang yang penting adalah— "

"Jamur, ya ..." kata Gobuto sembari menelan ludah.

Ya.

Shiholin menemukannya di sela-sela rumput, dan Yumelin sedang mengangkatnya tinggi-tinggi. Itu adalah sebuah jamur kekuningan dan berlendir, lengkap dengan batang dan tudungnya.

Tak peduli dilihat dari manapun, benda itu adalah jamur. Namun, bentuknya cukup bagus.

"T-t-t-t-t-t-t-t-tunggu dulu...!" aku membentangkan tangan lebar-lebar, berusaha meminta teman-temanku berhenti. “Kita semua tahu itu jamur, tapi sepertinya cukup berbahaya! Aku pernah mendengar jamus jenis ini berbahaya, oke? Kalian juga tahu, kan?! Meskipun terlihat enak, tapi jamur itu beracun! Bahkan, aku pernah mendengar orang di kota mati karena memakan jamur itu!”

"Kamu benar," Gobuta mengangguk. "Aku juga mendengarnya. Tapi, aku tidak pernah memperhatikan kabar itu....."

"Yumelin." Gobuto? Kenapa ... kenapa kau malah tersenyum manis begitu?

Ah, dia memang suka tersenyum. Tapi..... bukankah senyumnya kali ini lebih baik daripada biasanya?

"Berikan jamur itu padaku."

"J-Jangan terburu-buru, Gobuto!" kataku sambil menggelengkan kepala. "Jika terjadi sesuatu denganmu, maka bagaimana dengan kami? Kalau kau ingin menguji apakah jamur ini mengandung racun, maka sebaiknya kita suruh saja Gobuta memakannya Ya! Lebih baik begitu!”

"Hei, Parupiro! Tidak, Gobupiro! Apa maksudnya itu!? Jadi kalian tidak keberatan jika aku mati? Ya ampuuun, kalian anggap aku ini apa? Lihatlah, aku bahkan hampir nangis!!”

"Racun tidak akan membunuhmu, kan?" balasku. "Katanya, orang yang suka pilih-pilih makanan sepertimu susah matinya!”

"Oh?! Jadi menurutmu aku susah mati ya? Meskipun aku setangguh itu, bukan berarti kau boleh memberiku racun sesuka hatimu!!”

"Ha ha." Gobuto tertawa dengan damai. "Tidak apa-apa, Gobuhiro. Jamur ini tidak beracun, kok. Entah kenapa aku meyakini itu.”

"Gobuto-kun ..." Shiholin bersedekap sembari menatap tajam pada Gobuto. "Apakah benar kau seyakin itu?”

“Aku yakin, kok. Pasti yakin! Sungguh yakin! 100% yakin! Tapi.... tapi.... tapi bagaimana kalau jamur ini benar-benar beracun.... ah tidak...tidak.... itu tidak mungkin. Sudah pasti jamur ini tidak beracun! Tapi.... tapi.... ahhh!! Menakutkan sekali!! A-a-apa yang harus kulakukan!!??”

"Gobuto!" aku buru-buru meraih bahu Gobuto, lalu mengguncangnya. "Hei, Gobuto, kau bertingkah aneh! Sadarlah Gobuto, kuatkan dirimu! Jika kau tidak tenang, maka bagaimana dengan kami?”

"Baiklah..... Yumelin!" Gobuta berteriak.

"Onyoh?!"

“Berikan jamur itu padaku! Aku akan makan semuanya! Akan kulahap sampai habis!”

"Tidak, Yumelin! Biar aku saja! Berikan jamurnya padaku! Aku akan memakannya! Aku harus memakannya! Inilah takdirku!” seru Gobuto.

"Tidak, Gobuto, aku sudah bilang, kau tidak boleh melakukannya!" aku memohon padanya. "Jangan, Gobuto ...! Kumohon..."

"... Aku." seketika, ada yang berbicara, namun aku tidak mengenali suaranya.

Oh.... itu Hobuzo..... biasanya suaranya kalem, namun kali ini begitu sangar dan mengerikan. Kami sampai ketakutan dibuatnya.

“Aku akan memakannya! Berikan jamurnya padaku! Aku akan makan semuanya! Aku, aku, aku, aku, aku, aku, aku, aku, aku, aku, akuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu ...! ”

"Nyueek ?!"

Hobuzo menyambar jamur dari Yumelin yang terlihat jelas ketakutan.

Gobuto, Gobuta, Shiholin dan aku menunjukkan ekspresi syok yang berbeda-beda.

Hobuzo mengambil jamurnya, dan ......

......... dia pun memakannya.

Dia bahkan tidak mengunyahnya.

Dia menelan jamur itu utuh-utuh.

"... setidaknya kunyahlah beberapa kali," kata Gobuta.

"Jamur!" Hobuzo berteriak. “Tidak cukup!! Tidak cukup! Aku mau lagi!!”

Gawat.... ini gawat ... kan?

Aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak punya nyali untuk mengatasi raksasa ini.

"Masih lapaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrr!"

Hobuzo mencari jamur lagi sembari merangkak. Mungkin di sekitar sini banyak terdapat jamur serupa? Benar saja, setelah menemukan jamur-jamur lainnya, Hobuzo langsung menjejalkan semuanya ke mulut.

"Jamur! Jamur! Jamur?! Jamur! Jamur! Jamur, jamur, jamur, jamur, jamuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrr!!!”

"A-Apa dia baik-baik saja?" Gobuta tertawa terbahak-bahak. "Dia benar-benar memakan semuanya! Hoi, apakah kau baik-baik saja? Lihatlah, dia belum mati, kok. Berarti kita juga boleh memakannya, kan? Jamur-jamur itu bisa dimakan! A-aku juga mauuu!!”

"Lihatlah! Aku benar, kan!?" Gobuto lagi-lagi memasang senyum sempurnanya. "Kan sudah kubilang! Tidak apa-apa, kan!? Aku tahu itu! Jamur-jamur itu tidak beracun! Kita selamat sekarang! Kita tidak lagi kelaparan!”

"Y-Yumelin, juga mau! Yumelin juga mau! Yumelin tidak tahan lagi!! Beri Yumelin satu!!”

"A-Aku juga!" jerit Shiholin. “Jika Gobuto-kun memakannya, aku juga akan melakukan hal yang sama! Apapun akibatnya ... Aku tidak peduli! Aku tidak akan menyesal!”

"M-Manato ... Yume ... Bahkan Shihoru juga mau?? ... Hah?"

Siapa itu?

Nama-nama siapa yang barusan kusebutkan itu?

Sejenak, aku pun terdiam.

Apakah aku kenal nama-nama itu? Apa yang kupikirkan?

"Siapapun itu..... yang terpenting sekarang adalah......”

Ya.... tak peduli siapapun itu..... ada masalah jauh lebih besar yang harus kuselesaikan sekarang. Yaitu rasa lapar ini.

Aku berjalan dengan sempoyongan.

Lalu, aku melihat ke bawah.

Di antara kedua kakiku...... pada rerumputan.... ada jamur.

Aku berjongkok.... mengambil beberapa jamur.... yang terasa berlendir saat kusentuh.

Oh.... jadi ini ya jamurnya.... sangat indah. Aku jadi merasa bersalah telah mencabutnya dari tanah. Tapi..... aku harus memakannya.....

"Ohh ... Jamur!" aku mulai menangis.

Apakah rasanya enak? Atau tidak? Aku tidak tahu. Apa pun itu..... yang kutahu adalah.... rasanya seperti jamur.... ya, tentu saja.... karena ini memang jamur. Aku sungguh bahagia bisa memakan jamur ini. Terimakasih jamur.... aku sungguh berterimakasih. Jika aku bereinkarnasi di kehidupan setelahnya, aku ingin menjadi jamur.

Hmm? Apakah itu mungkin? Jika aku makan jamur ini, maka di kehidupan setelahnya aku akan menjadi jamur? Jika aku makan banyak jamur, maka aku juga akan menjadi jamur? Konyol sekali..... tapi, jika itu memungkinkan..... maka aku tidak keberatan.....

Setelah makan beberapa saat, aku mulai memikirkan sesuatu. Jamur-jamur ini sungguh indah, ya.... mulutku terpenuhi oleh jamur..... bahkan seisi perutku terpenuhi oleh jamur..... aku menjadi satu dengan jamur..... semuanya menari-nari di dalam diriku.

Jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamur, jamuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrr.......

Whoaaa.... aduh.... kenapa mataku mulai berkunang-kunang?

Dan perutku..... kenapa mulai mulas?

Tenggorokanku juga terasa panas?

Kenapa ini?

Keringatku....... mulai bercucuran?

"Aduh! Aduh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh, duh...!”

Aku berguling-guling di tanah.

Perutku sakit..... tapi tidak itu saja.... hatiku juga..... sakit.

Sementara disiksa oleh rasa sakit yang tidak pernah kualami sebelumnya, aku melihat sekitar, dan ternyata bukan hanya aku yang mengalaminya. Semua rekanku juga mendapati hal yang sama.

"A-Apa kita akan mati?" aku meratap. "Uaghaghhh, ow, ow, ow, ow, ow, ow, ow ow!"

Langit masih biru.

Dan inilah, yang kemudian kami sebut sebagai insiden jamur.

2. Buah Merah.[edit]

“Yahh, tentu saja itu bukan kejadian yang menyenangkan.... tapi, kalian semangatlah.... Yumelin juga akan berusaha yang terbaik.”

Jujur, aku tidak begitu tahu apa yang telah terjadi.

Tapi.....

Yahh, setidaknya tidak seorang pun dari kami mati. Meskipun mengalami sakit yang mengerikan, tapi kami masih hidup.

Saat Hobuzo kesakitan tadi, dia terus berlari menuju daerah penuh dengan pepohonan, dan kami pun mengikutinya. Jujur saja, baru pertama kali ini aku melihat pohon sebanyak itu.


Sembari bersandar di pohon, sedikit demi sedikit kami pulih. Sudah pasti jamur itu beracun, tapi untungnya tidak mematikan.

Yang penting, kami selamat.

“Tentu saja ini bukan kejadian menyenangkan, Yumelin. Kau tidak perlu membahas itu.”

"Nyaaww…? Apakah ada yang salah dengan perkataan Yumelin?”

"Ah.... lupakan," kataku. ".... pokoknya kita selamat.”

"Kau memang tolol, Yumelin!" bentak Gobuta sambil menyemburkan ludahnya. Entah kenapa dia masih saja berpegangan pada pohon itu. "Kau tidak perlu mengatakan itu!! Jelas-jelas kita baru saja mengalami hal yang menyedihkan, maka kau tidak perlu mengatakannya lagi!”

"Sudahlah.... jangan dibahas lagi."

"Diam kau, Gobuhiro bodoh! Kau tidak tahu perasaanku sekarang ... "

"Memangnya aku harus tahu perasaanmu?"

"Gwehhhh," erang Gobuta. ".....aku masih lapaaaaaaaarrr ..."

"Bung, kau belum menjawab pertanyaanku...."

"Diam! Aku terlalu lapar untuk itu ..."

"Apakah ini yang namanya hutan?" Shiholin melihat pohon-pohon di sekelilingnya dengan takjub. "Aku pernah mendengar cerita tentang tempat yang terdapat banyak pohon. Mereka menyebutnya hutan.”

"Oh, ya?" Gobuto berdiri dengan kaki gemetar, lalu meletakkan tangan pada pohon untuk menyangga tubuhnya. "Hutan. Aku pernah mendengarnya juga. Tidak hanya pohon, hutan juga dihuni oleh berbagai macam makhluk lain. Di sini, kita akan lebih mudah mendapatkan makanan daripada di Kota Tua.”

"Apakah ..." Hobuzo memandang pohon dengan mata kosong. "....apakah kita bisa memakan tanaman ini…?"

"Tidak ..." Gobuto menggelengkan kepalanya. "Pohon bukan untuk dimakan ..."

Ya...... siapapun yang melihat Hobuzo tahu bahwa dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya. Tapi, dia masih bisa bertahan mungkin karena tubuhnya yang besar. Hobgoblin memang lebih besar dan lebih tangguh daripada Goblin biasa.

Aku melihat ke arah Hobuzo, Gobuto, Yumelin, Shiholin, dan terakhir Gobuta. Aku tidak begitu memperdulikan Gobuta, tapi aku menganggap mereka semua temanku. Aku merasa bahwa kami semua memiliki tujuan yang sama. Atau, mungkin hubungan kami seperti keluarga.

"Aku akan pergi memeriksa sekeliling," kataku. "Meskipun aku tidak bisa pergi jauh-jauh, setidaknya aku akan mencari makanan di sekitar sini.”

"Aku ikut." bahkan dalam situasi seperti ini, Gobuto masih bisa tersenyum manis.

"Apa yang harus dilakukan Yumelin? Yumelin juga ingin pergi, tapi sepertinya tidak kuat ... "

"Jangan memaksakan diri, Yumelin ..." kata Shiholin sembari menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya sendiri. "…biar aku yang pergi.... kau di sini saja…"

"Ya... aku di sini saja." Gobuta masih berpegangan pada pohon. “Kalian pergilah. Kalau kembali nanti, jangan lupa bawakan makanan yang banyak untukku. Cepatlah. Jika tidak, aku akan mati.”

"Mati saja kau ..." gumamku.

“Teganya kau mengatakan itu, Gobupirolin?! Dasar tolol!”

"Wah, jadi kau masih punya energi untuk marah-marah, ya?"

"Tidak! Lihatlah, aku sudah mulai kehabisan napas! Jadi pergilah sekarang! Cepat! Cepatlah! Pergi sana! Pergi pergi pergi! Dan cepat kembali! Jangan lama-lama!”

Aku tidak ingin membuang tenaga berdebat dengan kampret ini.

Maka, Gobuto, Shiholin, dan aku menuju ke hutan.

Tidak lama setelah itu, Shiholin tersandung jatuh, Gobuto segera menangkapnya dengan sigap, kemudian dia meminta Shiholin memegang lengannya. Awalnya gadis itu tampak ragu-ragu, tapi setelah memegang lengan Gobuto, seolah dia tidak ingin melepaskannya lagi.

Aku ikut senang melihat ada orang yang bisa diandalkan Shiholin. Dia lah yang staminanya paling buruk di antara kami semua. Jujur, aku bingung kenapa dia ingin pergi bersama kami menelusuri hutan. Bukankah lebih baik dia menunggu bersama Yumelin?

"Gobuhiro," Gobuto mulai mengatakan sesuatu.

"Hm ...? Apa, Gobuto?"

"…Tidak apa-apa."

"Hei, dengarkan," kataku.

"Hah?"

“Aku tidak menyesal, oke? Meninggalkan Damrow adalah idemu ... tapi aku menyetujuinya. Sebenarnya, aku tidak yakin apa yang akan terjadi jika kita meninggalkan Damrow, tapi....... kurasa ini bukanlah ide buruk.”

"Yahh......"

"Ini bukan salah siapa pun ... dan tidak ada yang patut disalahkan, oke? Tentu saja kau juga tidak salah, Gobuto. Kau selalu ... memimpin kami dengan baik. Bahkan, bisa dibilang..... jika tanpa idemu, kami tidak akan pernah meninggalkan Damrow.”

“Kurasa tidak begitu......"

“Tidak.... itu tidak benar. Jika tidak meninggalkan Damrow, kita hanya akan menghabiskan hidup sebagai anak yatim yang tidak punya apa-apa. Bukankah begitu, Shiholin?”

“Ya. Jujur saja ... menurutku Gobuhiro-kun benar. Aku…"

Aku terkejut.

Shiholin mulai menangis.

"…Aku bersyukur. Sangat bersyukur ... aku ingin bilang, Gobuto-kun.... bahwa suatu hari nanti kau akan..... ah, lupakan....”

"Harusnya aku yang berterimakasih pada kalian," kata Gobuto dengan lembut.

Gobuto memang luar biasa. Kalau aku berada pada posisinya, melihat Shiholin mulai menangis seperti itu, pasti aku akan panik. Dan aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi, Gabuto berbeda. Dia membelai punggung Shiholin dengan lembut, lalu tersenyum padanya.

"Sekali lagi terimakasih ya.... telah mengijinkan orang sepertiku bergabung dengan kalian."

Anehnya, kalimat itu lebih mengejutkanku daripada Shiholin yang menangis.

’orang sepertiku’?

Apa maksudnya......

Kalau Gobuta mengatakan itu sih, aku paham maksudnya. Tapi kalau Gobuto......

Sayangnya, orang sebusuk Gobuta pun tidak akan mengatakan itu.

’Orang sepertiku’..... bukankah itu berarti dia meremehkan dirinya sendiri? Tapi, apa yang membuatnya berpikir begitu? Orang sebaik Gobuto tidak perlu merendahkan diri.

Bahkan, justru aku yang harus berterimakasih karena telah diijinkan bergabung dengan kelompok ini. Seperti itulah yang kupikirkan.

Sedangkan.... ada apa sebenarnya dengan Shiholin? Mengapa dia malah menangis?

Mungkin ada yang menyentuh hatinya.

Apa yang menyentuh hatinya?

Aku tidak tahu.....

Gobuto adalah pria yang memiliki wawasan luas. Dia memahami banyak hal yang seharusnya tidak diketahui anak yatim seperti kami. Nasibnya sama seperti kami, tapi dia jelas-jelas orang yang berbeda. Ada perbedaan yang besar antara kami dan Gobuto. Dia terlalu unggul untuk seukuran anak yang tidak punya ayah.

Mungkin..... sebenarnya Gobuto bukan anak yatim.

Lagi-lagi dugaan itu terlintas di kepalaku, tapi itu mustahil. Jika dia bukan anak yatim, maka dia akan hidup dengan layak di rumah yang bagus dan mendapati apapun keinginannya.

Ahh... apa gunanya memikirkan ini? pikirku.

Sekarang, yang jelas Gobuto adalah salah satu dari kami, tak peduli bagaimaapun masa lalunya. Jika dia punya rahasia, atau hal yang harus dia tutupi, maka kami tidak berhak mengetahuinya. Jika dia ingin mengungkapkannya, ya pasti akan dia katakan suatu hari nanti. Jika tidak..... ya tidak masalah. Toh, itu haknya.

Kami hanya perlu menunggu, lalu mendengarnya suatu hari nanti.

Kita tidak sedang buru-buru.

Gobuto tidak akan ke mana-mana.

Dia akan tetap di sini.... sebagai kawan kita.

Kami akan selalu bersama.

Yahh.... asalkan kami tidak mati kelaparan.

Tiba-tiba.....

Aku pun merasa pusing.....

Lalu jatuh ke semak-semak.....

"Gobuhiro ... ?!"

"Gobuhiro-kun!"

Gobuto dan Shiholin bergegas menghampiri dan mencoba mengeluarkanku dari semak-semak. Tapi aku menolak bantuan itu.

"…tidak perlu..... aku baik-baik saja..... hah.... apa ini....."

Pada semak-semak penuh ranting yang barusan kumasuki, ada beberapa buah mirip berry merah.

Tidak.... bukannya mirip.... tapi, ini benar-benar berry merah.

Aku langsung mengambilnya. Kami barusan keracunan jamur, seharusnya aku lebih berhati-hati. Tapi tanpa keraguan sedikit pun, aku masukkan buah-buahan itu ke mulutku.

"Rasanya asam ... tapi manis ...?"

"Hah? Gobuhiro? Apa yang kamu makan?" tanya Gobuto.

"Apa ... manis ...?" Shiholin penasaran.

"Berry! Buah berry merah bundar ini..... enak sekali! Sebenarnya aku tidak pernah makan buah ini sebelumnya, jadi sedikit terasa aneh di mulutku. Tapi..... hmmm! Rasanya enak sekali!”

Saat aku terus menjejali mulutku dengan buah-buahan itu, Gobuto dan Shiholin pun ikut mengambilnya. Tapi, aku segera menghentikan mereka.

“Wah, wah! Jangan! Bisa saja buah ini beracun! Aku memang sudah memakannya, jadi biarkan aku duluan yang menanggung resiko. Jika aku masih baik-baik saja setelah beberapa saat, maka kalian ikutlah makan....”

"O-Oh, benar juga." Gobuto menyeka mulutnya. "Uh oh. Kau benar-benar memakannya dengan lahap. Pasti rasanya enak.”

Dengan wajah menyedihkan, Shiholin menjatuhkan dirinya ke tanah. "Aduhhh.... aku tidak tahan lagi…"

Aku mengerti perasaanmu, tapi kita harus mengambil resiko terkecil.

Kami terus menunggu selama beberapa saat.

Setelah cukup lama, akhirnya kami menyimpulkan........

"Aman ..." Gobuto menelan ludahnya dengan tegang. ".... kau tidak apa-apa, kan?"

Shiholin mengangguk dengan penuh semangat. "Yaayy! Dia tidak apa-apa!"

"Yah ..." aku menggosok tenggorokan dan perutku. Ya, sejauh ini aku masih baik-baik saja. “.... sepertinya aku tidak apa-apa.”

"Baiklah kalau begitu ..." Gobuto memetik buah berry merah dari cabang. ".....saatnya kucoba."

Tidak ketinggalan, aku juga memakannya lagi.

Begitu pula dengan Shiholin.

Satu petik.... dua petik.... tiga petik.... kami terus memakan buah-buah itu tanpa henti.

Tunggu dulu, kenapa kami terus memakannya? Ini tidak benar. Tapi.... tapi.... tapi.... perutku lapar sekali.... dan buah ini sungguh enak.... ahhh!! Aku tidak bisa berhenti!! Tidak apa-apa kan kalau kita terus memakannya!? Tidak apa-apa, kan!? Ya.... harusnya tidak masalah..... makan saja terus.... makan saja teruuuuussssss!!”

"…Ah!"

Saat aku tersadar, wajahku sudah dipenuhi jus merah ... tidak.... tidak hanya wajah, tapi sekujur tubuhku.

Shiholin dan Gobuto juga sama.

"Ha!" aku tidak bisa menahan tawaku. "Wahaha! Waha! Gobuto, Shiholin! Kalian merah semua! Sungguh merah! Aha! Ha ha ha!"

"Bwah ha!" Gobuto tertawa. "Kamu juga, Gobuhiro! Merah! Merah di mana-mana! Shiholin juga!"

"Hee hee. Hee. J-Jangan lihat ... Hee hee. Gobuto-kun, Gobuhiro-kun, Kalian juga merah ... Pfft ...! Mweeheeheehee ... "

Kami saling tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perut. Kami terus tertawa sampai-sampai aku lupa apa yang perlu ditertawakan. Lagipula, ini bukan waktunya untuk bersenda-gurau, kan?

"K-kalau begitu, ayo kembali, heheheheh ... kita harus memberitahu Yumelin, Hobuzo, dan.... Gobuta juga ya? ... Heheheheh ... mereka harus makan buah berry lezaat ini!"

"K-Kau benar, Heheheh ... Sakit ... Heheheh ... Kita harus cepat, karena mereka menunggu kita dengan kelaparan ... Hahahaha ... "

"Aku tidak tahan lagi ... p-perutku, sakit ... aku tertawa terlalu keras ... Heh, heh, heh ... "

Akhirnya kami berhasil menahan tawa kami, lalu kembali ke tempat teman-teman lainnya menunggu.

Saat bertemu kembali dengan Hobuzo, Yumelin, dan Gobuta, seketika mereka terkejut saat melihat penampilan kami.

"Uwahhhh ?!"

"Eeeeeeeeeek ?!"

“Gwahhhhh, kenapa kalian berlumuran darah?! A-apakah kalian saling memakan satu sama lain?”

Kami lupa bahwa tubuh kami masih berlumuran jus berry.

Selanjutnya, peristiwa ini kami sebut dengan Insiden Berry Merah.

Yahh, setidaknya kami berhasil mendapatkan sumber makanan. Buah berry tidak mengenyangkan, tapi jumlahnya begitu berlimpah. Jika memakannya dalam jumlah besar, rasa lapar pun hilang. Kami semua baik-baik saja setelah memakannya, tidak ada sakit perut, mual-mual, pusing, atau semacamnya. Noda-noda merah akibat jus berry bukanlah hal yang aneh.

Mungkin kami belum puas, tapi yang jelas perut kami sudah terisi penuh dengan berry.

Kami pun berbaring di tanah setelahnya.

"Aku senang," akhirnya aku berhasil. ".... gimana ya bilangnya ..." aku coba mengatakan sesuatu, tapi tidak menemukan kata yang pas untuk mengungkapkannya. "Pokonya, senang sekali bisa menemukan makanan dengan usaha kita sendiri.”

"Yah, ya," tanggap Yumelin dengan cekikikan. "Tapi Yumelin benar-benar terkejut saat melihat Gobu-kun, Gobuto, dan Shiholin datang. Nyuhuhuhuh ... "

"Tidak perlu terkejut, toh sekarang tubuhmu juga dipenuhi noda merah.... iya kan?" kata Shiholin, dengan nada mengejek. Jarang sekali dia mengatakan hal seperti itu.

"Oh ya? Wahh! Kamu benar. Eeheehee. Sepertinya kita harus mandi."

"Mandi, ya ..." Gobuta tertawa mesum. "Kayaknya asyik tuh. Mungkin kita bisa menemukan kolam di suatu tempat. Ayo mandi bareng, pasti menyegarkan. Uwehehehehe.....”

"Asal tahu saja, Yumelin gak mau mandi bersamamu, Gobuta."

"Kenapa tidak?! Bukankah kau tadi yang ingin mandi?”

“Karena kalau mandi bersama Gobuta, kau pasti akan melihat tempat-tempat yang tidak semestinya. Ya... kau pasti akan melakukan hal seperti itu!”

"Keh," gumam Gobuta. "Jadi, kau takut aku mengintipmu? Memangnya apa menariknya tubuhmu? Aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Nah, kalau Shiholin sih beda cerita.....”

"Aku juga menolak. Mana mungkin aku mau mandi bersamamu.”

"Jangan pelit!" seru Gobuta. “Apakah kau akan merugi jika kulihat seluruh tubuhmu!? Anggap saja itu bonus untuk kami, oke?? B-O-N-U-S! Kau paham tidak!?”

“Kenapa aku harus memberikan bonus padamu!? Mendingan aku mati saja.”

"Yumelin juga tidak mau! Tidak selama-lamanya!”

"Air ..." Gobuto duduk, sambil membelai dagunya. "Betul. Selain makanan, kita juga butuh sumber air. Buah berry itu akan habis jika kita terus memakannya selama beberapa hari ke depan. Jadi, kita perlu sumber makanan dan air baru.”

Gobuto memang keren, dia sudah memikirkan langkah selanjutnya. Kalau aku? Terbayang saja tidak, apalagi memikirkan. Aku tidak punya ide apa-apa.

"Untungnya kita bisa bertahan hidup ya," kata Hobuzo dengan suara yang sedikit bergetar. "Ini sungguh luar biasa. Aku sangat senang kita bisa bertahan hidup.”

Shiholin terisak. Sepertinya dia akan menangis lagi.

"Ya. Itu benar.” Yumelin menepuk kepala Shiholin. “Yumelin juga sangat senang. Ini pertama kalinya Yumelin merasakan hidup sebahagia ini.”

"Ya ..." Gobuto berbaring. "Kamu benar. Aku juga senang kita bisa hidup seperti ini. Kita akan baik-baik saja. Mungkin, kita bisa bertahan hidup seperti ini selamanya. Bukankah begitu, Gobuhiro?”

"Yah ..." mungkin dia benar. "…mungkin saja…"

"Ha!" Gobuta mendengus. "Bodoh kau, mengapa hidup seperti ini saja kau sudah senang? Tujuan hidupmu kurang tinggi! Kau harus memiliki ambisi untuk meraih tujuan yang lebih baik!”

"Jadi kau punya tujuan hidup, Gobuta?" tanyaku.

"Sialan kau, Gobupirosuke. Apa maksud pertanyaanmu itu?? Coba dengarkan ini.... aku....”

"Shh!" Gobuto mengangkat jari ke bibirnya.

Kami terdiam. Kali ini, sikap Gobuto menunjukkan keseriusan yang membuat kami tegang.

Gobuto dengan cepat berdiri. Kami pun juga bangkit, sembari sebisa mungkin tidak membuat suara.

Kami berjalan diam-diam melewati hutan bersama Gobuto yang memimpin di depan. Beberapa saat yang lalu kami mendengar suara di dekat sini. Lalu, kami menyandarkan diri di pohon terdekat, dan sedikit merunduk.

Aku berbisik kepada Gobuto, yang ada di sampingku, "Suara apa itu?"

"Yang pasti bukan suara Goblin.”

"Kalau bukan Goblin, lalu apa…..?"

Aku ketakutan. Sangat ketakuran. Sampai-sampai aku tidak bisa menyembunyikannya.

’Kenapa aku penakut sekali?’ tanyaku pada diri sendiri. Tapi itu bukannya tanpa alasan.

"... itu......... bukankah itu...... manusia?" bisikku.

"Sepertinya begitu," jawab Gobuto, sembari menggunakan tangannya untuk memberikan isyarat pada kami. Dari gerakan tangannya, sepertinya Gobuto meminta kami untuk tinggal di tempat, lantas.... apa yang coba dia lakukan?

........ sepertinya dia mau memeriksanya sendirian.

Sebelum keraguan semakin kuat, tubuhku bergerak dengan sendirinya.

Aku mengejar Gobuto. Tapi, dia segera menyadarinya, kemudian menggelengkan kepala. Aku membalasnya dengan gerakan yang sama.

Aku takut setengah mati, tapi mana mungkin kubiarkan kau pergi sendirian? pikirku.

Gobuto mengangkat bahu seolah berkata, tidak apa-apa.... ini sudah menjadi tugasku....

Mungkin hanya imajinasiku saja, tetapi pada saat itu, Gobuto tampak begitu lega.

Entah kenapa, dia juga tampak lemah. Aku punya firasat, jika Gobuto dibiarkan pergi sendirian, hal yang buruk akan terjadi. Seketika, aku langsung mengejarnya. Meskipun begitu, aku tidak yakin bisa membantunya jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Yahh, setidaknya.... jika benar-benar terjadi bahaya, aku bisa berkorban agar Gobuto tetap hidup. Karena tanpa Gobuto, kami semua akan mendapat masalah. Saat memikirkan resiko itu, keberanianku sedikit bangkit.

Lama-kelamaan suara manusia itu semakin dekat. Aku masih tidak bisa melihat mereka, tapi aku sudah merasakan bahayanya. Aku dan Gobuto saling berdekatan, bersembunyi di dalam semak-semak.

Tentu saja aku gemetaran, tapi tidak terkecuali Gabuto.

Gobuto juga takut?

Tiba-tiba, hari mulai gelap.

Para manusia itu sedang membicaraan sesuatu.

"…apa yang kita lakukan sekarang?"

"Tidak banyak yang bisa kita lakukan ... Kita harus kembali. Ke Altana."

"Kalau cowok-cowok kesulitan, maka semuanya ikut repot ya....”

"Siapa yang kau maksud?"

"T-t-tapi.... ah! Terserahlah!”

"…Aku lapar."

"Begitu kembali, kita masih sempat makan malam. Aku tahu tempat murah di mana kita bisa bermalam. Yaitu penginapan prajurit relawan di barat kota........”

"Cih. Mungkin kita harus berkemah. Karena hari ini kita tidak dapat sekeping pun koin tembaga."

“Tidak, berkemah adalah pilihan terakhir. Di penginapan itu mungkin kita harus tidur bersama-sama, tapi setidaknya.......”

Ketakutan semakin memuncak, sampai-sampai aku ingin mati saja. Tapi aku menyadari suatu hal yang aneh.

Mengapa......

Mengapa aku paham bahasa manusia?

Aku benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan......

Ini aneh........ kan? Maksudku, aku adalah Goblin. Manusia jelas-jelas berbicara dengan bahasa yang harusnya tidak dipahami Goblin. Namun, aku memahami semuanya, seolah aku bagian dari mereka. Itu aneh sekali, kan?

Akhirnya, manusia-manusia itu pergi. Gobuto dan aku menjulurkan kepala keluar dari semak-semak, sembari mengawasi mereka pergi.

Satu ... Dua ... Tiga ... Empat ... Lima ... Enam ... mereka berenam.

Hm? Kenapa jumlah mereka sama seperti kami? Kami juga berenam. Sungguh kebetulan yang tidak terduga.

Setelah beberapa saat, para manusia itu tidak lagi terlihat, dan aku tidak lagi bisa mendengarkan suara maupun derap langkah kaki mereka.

"Mereka adalah manusia," kata Gobuto dengan ekspresi takut, sembari masih melihat mereka di kejauhan.

"Gobuto ...?"

"Hah? Apa?"

"Yahh, aku tidak tahu harus berkata apa ..."

Sebenarnya aku mau bilang, aku mengerti bahasa manusia, tapi aku urung mengatakannya.

Entah kenapa, sepertinya Gobuto juga merasakan sesuatu terhadap manusia-manusia itu, tapi aku tidak bisa menuntutnya untuk menceritakannya padaku.

"Haruskah kita kembali sekarang?" tanyaku. “Teman-teman pasti cemas."

"Oh ..." Gobuto tersenyum.

Kali ini, senyum Gobuto tampak dipaksakan, palsu, aneh, dan tidak seperti biasanya.

"Benar juga.... ayo kembali ke tempat teman-teman."

3. Ilusi Di Mana Aku Ada.[edit]

Hari demi hari kami habiskan dengan menyusuri hutan.

Berry merah tumbuh di sana-sini, sehingga kita tidak perlu khawatir kelaparan untuk sementara waktu.

Akhirnya kami menemukan kolam yang tidak terlalu keruh. Ukurannya terlalu kecil, sehingga kami tidak bisa mandi di sana, tapi setidaknya bisa digunakan untuk sumber air minum. Rasanya seperti air bercampur lumpur, tapi ini lebih baik daripada minum air kotor di Kota Baru. Jadi, bisa dibilang hidup kami sedikit membaik.

Suatu hari, kami menemukan sisa-sisa jasad binatang buas. Binatang itu barusan mati, dan jasadnya masih belum membusuk sama sekali, jadi kami pun memakannya.

Kemudian, Gobuta menemukan sisa-sisa mayat manusia. Kali ini, jasadnya sudah lama mati, dan sudah terkoyak oleh binatang buas. Gobuta melucuti pakaian dan pisau dari mayat itu, lalu memakainya.

Menurutku, persenjataan peninggalan manusia itu sungguh mengerikan, tapi lebih baik kita memakainya untuk membela diri. Yumelin juga menemukan busur panah, tapi tidak terlalu lurus. Tentu saja, kita tidak bisa berharap banyak dari senjata yang sudah rusak seperti itu.

Sekarang, kami hanya memiliki pedang patah, kapak batu, dan tongkat kayu. Jika benar-benar sampai terlibat pertarungan, maka celakalah kami.

"Gobuhiro! Ada yang menuju ke arahmu!” seru Gobuto.

Aku langsung mengeratkan cengkraman pada pedang patahku.

Ada hewan mirip tikus besar yang sedang berlari menuju kami berenam. Bukan hanya seekor. Mereka ada banyak.

Salah satunya langsung menuju ke arahku.

"Gwah ...!" aku mengayunkan pedang patahku.

Gawat.... aku luput.

Pada saat itu juga, ada rasa sakit yang merambat di tulang keringku.

"Arrrgh !!"

Hewan itu menggigitku!?

Tunggu dulu...... dia benar-benar menggigitku!?

Aku mengguncang keras kakiku, berusaha melepaskan diri darinya, tapi seekor tikus besar lainnya segera melompat ke arahku, lalu menancapkan giginya ke lengan kiriku.

"Aduh ...!"

"Gobu-kun!" Yumelin menarik panahnya. Dia membidikku.

Hah!? Apa yang kau lakukan!? Kau membidikku!?

"J-j-j-jangan lakukan itu, Yumelin!" aku berteriak padanya.

Aku tahu kau berusaha memanah tikus ini, tapi aku pun tahu tembakanmu tidak akan mengenainya. Kau tidak bisa melakukannya. Jika tidak, maka aku yang akan......

"Nyyaaaawrrr!" Yumelin melepaskan panahnya.

Untungnya, ketakutanku sia-sia saja.

Panah Yumelin benar-benar melenceng, dan melesat ke arah lain.

Namun, situasinya belum berubah. Kalau begini terus, dua hewan pengerat ini bisa memakanku hidup-hidup.

“Fwaghh! Waghh!” di sisi lain, Hobuzo sedang mengayunkan sebatang kayu besar. Tapi.... sebenarnya aku tidak yakin.... apakah Hobuzo mengayunkan kayu itu..... ataukah malah sebaliknya.

"Tidaaaaaak!" Shiholin berlarian.

"Sialan ..." sedangkan Gobuta — ternyata dia sudah memanjat pohon duluan, dan dari atas dia melihat kami. “...... kekacauan ini di luar dugaanku ..."

"Itu!" Gobuto kembali berseru. Hanya dia yang bisa mengalahkan tikus itu dengan tongkat kayunya. "Hah! Grahh! Gobuhiro! Apakah kamu baik-baik saja?!"

Sepertinya Gobuto mengalahkan lawannya dengan susah payah. Aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku, maka kujawab, “Aku baik-baik saja....!” padahal kaki kanan dan lengan kiriku sakit semua. Aku menahan rasa sakit sebisa mungkin, agar tidak menangis ataupun meratap.

"Uwagh ...!"

Namun, akhirnya aku tersandung sesuatu, lalu jatuh.

Tikus-tikus ini tampaknya tidak akan melepaskan taring tajamnya yang menancap di tubuhku.

Aku bahkan tidak bisa bangun.

"Urgggggghh!" aku pun meratap.

Apakah aku akan mati ...?

Aku akan terbunuh oleh tikus-tikus ini ...?

"Gobuhiro!"

Gobuto lari ke arahku sembari mengayun-ayunkan tongkat kayunya. Itu membuat tikus-tikus ini melepaskan taringnya dari lengan dan kakiku.

"Bisakah kamu berdiri?!" serunya.

"Y-Ya!"

“Gobuhiro, jaga belakangku! Yumelin, Shiholin! Berlindunglah di belakang Hobuzo!" atas perintah itu, aku pun berdiri di belakang Gobuto dengan posisi punggung saling berhadapan.

"Nyyaaaww!"

"B-baik!"

"Gobuta, turunlah! Kami butuh bantuanmu!”

"O-oke, baiklah... aku datang! Jika kau memaksa.... aku akan membantumu!"

“Semuanya, tetap tenang! Bulu tikus-tikus ini cukup keras, jadi senjata kita tidak akan bisa menembusnya! Jangan menebas ataupun menusuk mereka, hantam saja dengan apapun yang kau punya! Hobuzo, kau tidak perlu kayu itu! Tubuhmu yang besar sudah cukup menjadi senjata!”

"Ngh! Ngh! Nghhhhhhh!"

Dalam sekejar, keadaan langsung berubah.... atau mungkin tidak.

Staminaku sudah hamopir habis, dan dalam keadaan seperti ini ysng bisa kulakukan hanyalah menjadi umpan. Meskipun begitu, yang kuharapkan adalah, Jangan ada tikus yang datang kemari, jangan ada tikus yang datang kemari..... jangan kemari, jangan kemari.... kumohon....

Setelah berjuang susah payah mengusir hewan-hewan pengerat itu, akhirnya mereka pergi juga.

Lalu, kami pun duduk kelelahan.

"Tikus-tikus itu sungguh menakutkan ..." erang Gobuta, lalu dia menggelengkankan kepalanya. "Tidak! Bukannya aku takut, oke!? M-maksudku, kalianlah yang harusnya takut, karena kalian semua lemah!”

"A-aku takut ..." Hobuzo berkeringat dingin. "....tapi…"

"Lelah sekali ..." kata Yumelin sambil berbaring. “Tikus-tikus itu sangat besar. Tapi mereka juga terlihat imut… ”

"I-imut ...?" Shiholin tampak sedikit jijik. "A-apakah menurutmu.... m-mereka benar-benar imut?"

"Gobuhiro....." Gobuto meraih lengan kiriku dan melihat lukanya. "Lukanya tidak dalam, tapi akan semakin buruk jika kita tidak mengobatinya. Begitu pun dengan luka di kakimu."

"Dengan sedikit ludah, lukanya akan baikan." kataku sembari menunduk. “...yahh, mungkin saja begitu....."

Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku pun tidak punya pilihan lain. Kalau terluka, biasanya kami akan mencucinya dengan lumpur.

Namun, Gobuto dan teman-temanku merobek pakaian mereka, lalu membungkus bagian yang bersih pada lukanya. Mereka juga menyuruhku meminum obat yang terbuat dari rerumputan yang dihaluskan. Lalu, mereka merapihkan tempat tidur agar aku bisa beristirahat dengan nyaman.

Tapi aku terkena demam.

Demam yang luar biasa, seolah-olah seluruh tubuhku terbakar.

Aku yakin lukaku sudah terinfeksi. Saat melawan tikus-tikus itu aku begitu ketakutan, namun sekarang tidak lagi. Sayangnya, luka yang terinfeksi juga bisa berakibat fatal. Aku merasa bersalah pada teman-temanku, lalu aku pun meminta maaf pada mereka.

Aku tidak bisa bergerak. Salah satu temanku duduk di samping, sembari merawatku. Sedangkan yang lainnya keluar untuk mencari makanan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Yang berada di sampingku adalah Yumelin. Dia begitu dekat dengaku, sampai-sampai memelukku. Lalu dia berkata, “Gobu-kun, jika kau tidak suka Yumelin peluk, ya bilang saja....”

"Tidak ... Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok, tapi ... mengapa kau lakukan ini?"

"Hmm, yahh, kalau Yumelin sedang galau, akan sangat menyenangkan bila seseorang mau memeluk Yumelin. Itulah kenapa Yumelin melakukannya untuk Gobu-kun.”

"Aku mengerti ... cukup masuk akal ... aku merasa.... sedikit lebih baik.”

“Beristirahatlah yang laaaaaaaaaama. Dan kalau kau mengantuk, tidurlah. Jika kau tidur dengan pulas, pasti saat bangun nanti badan terasa lebih segar.”

Yumelin mengatakan itu sembari menepuk-nepuk kepalaku, dan rupanya itu membuatku mengantuk.

Aku pun tertidur, terbangun, tertidur, dan terbangun — berulang kali, sampai-sampai aku tidak bisa membedakan apakah aku sedang tertidur atau terbangun.

Tiba-tiba, Shiholin mendekat lalu berbicara padaku. "Sepertinya kau lebih baik sekarang?"

"Oh ... benarkah? Kalau memang begitu ... aku pun senang."

"Kondisimu akan membaik sedikit demi sedikit," katanya. "Semuanya juga sedang berusaha sebaik mungkin ... aku pun tahu kau sedang berjuang keras, Gobuhiro-kun.”

"Tapi, yang kulakukan hanya tidur,"

"Gobuhiro-kun."

"…Ya? Apa?"

"Kamu tidak boleh mati. Kumohon, jangan tinggalkan kami."

"Ah, kau hanya terlalu khawatir..... aku tidak apa-apa kok..."

Aku tertawa. Tapi…. ya ampun.... apakah aku benar-benar masih hidup? Atau jangan-jangan, aku sudah mati?

"Hei! Bangunlah, Gobuhiro!” teriak Gobuta.

Aku merasakan sakit di sisi tubuhku.

"Aduh! ... Jangan tendang aku, Gobuta. Astaga, aku masih terluka lho...”

“Aku tidak peduli, tolol! Yang penting, bangunlah! Kalau kau terus-terusan terbaring di sana, itu sungguh menyedihkan! Cepatlah pulih, demi aku! Ini perintah!”

"Jangan memaksa ... lagipula, percuma saja kau menyuruhku cepat sembuh ... kalau bisa segera sembuh, aku sudah melakukannya sejak tadi....."

Tapi, aku merasa tubuhku begitu lamban, atau jangan-jangan—

Tidak.... ini tidak jelas.... aku tidak yakin apakah tubuhku terasa ringan atau berat.....semuanya terasa begitu aneh. Seolah-olah, aku berada di tempat yang jauh. Ini sungguh aneh.... apa-apa’an ini....?



"Haruhiro-kun ... Haruhiro-kun? Haruhiro-kun ... "

"Ah ... Mogzo?"

"Apakah kamu tidur? Matamu terbuka, jadi kupikir kau sedang terbangun…"

"Aku ... tidak tahu ... Eh ... kurasa..... aku sudah bangun?"

"Aku membuat sup. Aku juga sudah menyalakan apinya. Bisakah kamu makan? Kamu harus makan sesuatu, meskipun harus dipaksa ... ”

"Ya ... aku harus makan ... aku akan makan ... jadi kau, sudah susah-payah membuatkan makanan.... untukku? Maaf, aku selalu saja merepotkanmu.”

“Ayo, akan kubantu kau duduk. Oke?"

"Ngh ... aku baik-baik saja kok ..."

"Ayo, makan. Sudah sedikit dingin, jadi kau tidak perlu meniupnya.”

"Ngh ... Haww ... Ngh ... Ini enak sekali, Mogzo ... Kamu koki yang hebat ..."

"Tidak, aku bukan koki hebat. Aku hanya suka makan, jadi— ”

Tapi.... apakah masakan Mogzo selalu seperti ini?

Tunggu, apa sih yang sedang kumakan ini...?

Aku tidak tahu.

"Hei, Manato."

"Hah?" Manato menoleh padaku.

Tidak. Bukan Manato.

"Gobuhiro," kata Gobuto. "Barusan kau panggil apa aku?"

"Aku memanggilmu ... hmmm ..." aku berkedip. "Apa ya....? Namamu kan Gobuto. Hah…? Tapi, entah kenapa aku tadi memanggilmu ... "

"Bukankah kamu memanggilku Manato?"

"Manato—" aku menyeka sudut mulutku. "Betul. Aku memanggilmu Manato. Ya. Apakah aku sedang bermimpi? Aku bahkan memanggil Hiobuzo dengan nama Mogzo. Sedangkan Hobuzo memanggilku ... Haruhiro."

"Itu sama saja."

"Hah? Apa maksudmu, sama saja?"

“Aku pun begitu, Haruhiro. —eh, maaf, maksudku Gobuhiro. Terkadang aku bermimpi bahwa kita tidak hidup sebagai Goblin..... kita semua manusia di dalam mimpi itu. Dan, namamu adalah Haruhiro. Gobuta adalah Ranta. Hobuzo adalah Mogzo. Yumelin adalah Yume.Sedangkan Shiholin adalah Shihoru. Kalau aku..... kalian memanggilku dengan nama Manato.”

Saat terbangun, aku coba mengingat-ingatnya, tapi gagal. Apa maksudnya semua ini? Manato dan aku.... ah tidak, maksudku Gobuto dan aku..... memimpikan hal yang sama? Dan dalam mimpi itu kami bukanlah Goblin, melainkan manusia.....

Tunggu dulu..... apakah aku sudah.... bangun?

"Ah! Aku mengerti...." seruku.

"Ah!" mata Gobuto melebar. "K-Kau ... baik-baik saja, kan? Maksudku, kau bisa berdiri, kan ... "

“Y-Ya. Yah ... langkahku masih terasa tidak stabil, sih. Tapi.... aku merasa jauh lebih baik sekarang...."

"Syukurlah." saat Gobuto menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Seluruh tubuhnya gemetaran.

Kemudian..... hah? Jangan-jangan..... jangan-jangan Gobuto menangis...?

"Syukurlah ... maksudku ... aku selalu berdoa kau kembali pulih..... tapi, kita tidak pernah tahu kemungkinan terburuk, kan... ... aku tidak ingin memikirkannya…... t-tapi.... t-tapi..... ah, sudahlah, yang penting kau baik-baik saja....”

Aku coba mengulurkan tangan, tapi kutahan, kemudian aku malah menggaruk-garuk kepalaku kebingungan. Akhirnya Gobuto menarik napas panjang, lalu menjauhkan tangan dari wajahnya. Kemudian, dia pun memandangku dengan wajah tersenyum. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiri terdiam di sana.

"Aku akan memanggil yang lain," katanya. "Gobuhiro, kau jangan ke mana-mana. Ingat, kondisimu belum prima."

"Ya. Mengerti. Um ... ” aku membalas senyum itu. Aku tersipu malu dan tidak tahu harus melakukan apa, maka aku hanya bisa tersenyum. “Terimakasih atas segala bantuannya.”

Gobuto menepuk pundakku dengan lembut, lalu pergi menuju ke tempat teman-teman kami. Dia benar, aku belum pulih sepenuhnya. Aku masih merasa lemas, maka aku kembali rebahan. Tapi..... yahh, aku yakin baik-baik saja. Seperti yang dikatakan Gobuto, aku masih butuh banyak istirahat. Semuanya akan baik-baik saja.... aku yakin itu.....

Aku butuh sekitar 3 hari sampai bisa berjalan normal kembali.

Selama aku istirahat, teman-teman sering membawakan makanan untukku, seperti kacang yang keras contohnya. Yahh, sebenarnya hanya kulitnya sih yang keras. Jika kau mengupas kulitnya, kacang itu cukup empuk. Mereka juga membawakan makanan lainnya seperti : jamur tidak beracun, serangga yang rasanya cukup enak, dan air jernih dari mata air. Mereka juga sempat kembali ke Kota Tua untuk melihat-lihat keadaan.

Hidup kami mengalami sedikit perubahan menjadi lebih baik. Tapi, kami harus tetap waspada pada tikus-tikus besar berambut keras itu. Jika mereka menyerang dalam kelompok, maka pilihan terbaik adalah lari.

Kami kadang-kadang melihat binatang lain juga. Salah satunya memiliki kaki ramping, leher panjang, dan mata hitam yang besar. Kami menangkap, lalu memakannya, dan itu benar-benar enak.

Beberapa kali kami juga menemukan beberapa peralatan yang tergeletak di sepanjang jalan, sepertinya itu adalah milik para manusia. Meskipun sebagiannya sudah rusat atau berkarat, kami tetap memungutnya dan menggunakannya.

Kami masih mengunjungi Kota Tua. Saat bertemu Goblin lain, rasanya canggung sekali, beberapa dari mereka coba mengintimidasi kami, tetapi Gobuta selalu marah ketika itu terjadi.

Kalau suasana semakin tegang, bahkan perkelahian akan terjadi, kami segera menyeret pergi Gobuta.

Banyak Goblin di Kota Tua, tapi tidak semuanya memiliki senjata yang layak, bahkan hanya beberapa yang mengenakan armor. Beberapa Goblin juga membentuk kelompok yang beranggotakan sekitar 10 ekor. Tampaknya mereka berhasil mendapatkan makanan entah dari mana.

Kami sempat mempertimbangkan untuk bergabung dengan grup itu. Kami harus meminta dengan begitu halus, atau bahkan merendahkan diri, agar mereka mau menerima kami. Aku sih tidak masalah, selama hidup kami menjadi semakin baik jika bergabung dengan mereka. Tapi, nyatanya tidak hanya Gobuta yang menolak bergabung dengan mereka, Gobuto suga sependapat.

“Kurasa, salah satu alasan kita keluar dari Kota Baru adalah tidak ingin diatur oleh orang lain....” seperti itulah pendpat Gobuto.

"Kau mendengarnya, Gobupiroh," gerutu Gobuta. “Atau jangan-jangan, kau tidak paham, ya? Dasar bodoh. Kalau otakmu payah, ya celakalah kau. Dasar sampah! Tidak berguna!”

"Aku tidak masalah disebut sampah, asal tidak dari mulutmu.”

"Hah? Apaaaaaaaaaaa? Apa yang kau katakan? Maaf, aku tidak paham bahasa sampah, jadi aku tidak mengerti apa yang kau katakan!?”

“Lenyaplah jadi debu," gumam Shiholin.

"Oh ho.... apakah kau pantas mengatakan itu pada temanmu, Shiholin? Kau tidak sopan, ya? Yahh, tapi kalau kau mengijinkan aku meremas dadamu, aku sih tidak masalah menjadi debu....”

"Dada... ...ku.....?! M-mana mungkin kuijinkan itu??”

“Ya ampun! Gobutaaa! Kenapa kau menyebalkan sekali, sih?!” bentak Yumelin.

"Oooh, kau menghinaku lagi! Sudahlah, aku tidak peduli apapun yang dikatakan idiot seperti kalian!”

"Ha ha," Hobuzo tertawa. "Kau..... sungguh luar biasa, Gobuta. Kau orang yang penuh percaya diri ... "

“Hobuzo! Sedangkan kau kurang percaya diri, padahal tubuhmu sebesar itu!”

Lupakan Gobuta, jika Gobuto keberatan kami bergabung dengan kelompok itu, maka itulah keputusannya. Yahh, bukannya aku mau diperalat oleh orang lain, tapi kalau keadaannya memaksa, ya.... apa boleh buat. Tapi, aku berusaha sebisa mungkin agar itu tidak terjadi.

Toh, selama masih bisa memenuhi kebutuhan sendiri, mengapa kita harus bergantung pada orang lain?

Tapi..... sampai kapan kami bisa berusaha sendiri seperti ini?

Selama ini, hanya Gobuto yang memikirkan segala hal, dan aku hanya mengikutinya.

Terkadang, aku juga memikirkan ini-itu, tapi.... aku tak yakin ideku bagus. Aku lebih nyaman menyerahkan segalanya pada Gobuto, kemudian mengikuti apapun katanya.

Hari ini, kami menemukan banyak jamur yang bisa dimakan.

Hari ini, kami membunuh seekor binatang buas, dan kami memakannya bersama. Rasanya sangat lezat, dan kami pun kenyang.

Hari ini, kami mendapatkan pedang yang bagus. Ukurannya cukup besar, jadi kami memberikannya pada Hobuzo.

Hari ini hujan turun.

Hari ini, beberapa Goblin di Kota Tua berkelahi dengan kami. Itu mengerikan sekali.

Hari ini, semuanya berjalan dengan biasa. Tidak ada yang baik, tidak ada yang buruk.

Hari ini, aku tidur nyenyak.

Hari ini, lagi-lagi aku memimpikannya. Lalu, aku membicarakannya dengan Gobuto.

Hari ini, kami pergi menjelajahi hutan. Hutan ini sangat lebar.

Hari ini, kami mencoba mendekati kota manusia.

Hari ini, Yumelin memukul Gobuta dengan begitu keras. Pasti dia melakukan hal yang buruk padanya.

Hari ini, kami sedang sial, semuanya kacau.

Hari ini, kami cukup beruntung.

Hari ini…...........

Kehidupan kami sudah banyak berubah semenjak terakhir kali meninggalkan Kota Baru. Hampir setiap hari kami menemukan makanan untuk disantap. Karena sering menelusuri berbagai tempat, maka stamina kami pun semakin baik. Mungkin, kondisi fisik kami sudah lebih kuat daripada sebelumnya. Kami sudah melihat, mendengar, dan mencoba banyak hal. Kami sudah belajar banyak hal yang terjadi, dan juga merencanakan apa yang akan dilakukan setelahnya. Bisa dibilang, kami menjadi lebih bijak semenjak menjelajahi dunia luar.

Kehidupan kami terus membaik secara konsisten.

Iya, kan? Hidup seperti ini tidak buruk, kan........?

Kami tidak banyak berpikir..... lakukan saja apa yang bisa dilakukan. Itu juga tidak buruk, kan?

"Yahhh.... kurasa begitu," gumamku.

Aku sedang tidur siang.

Mengapa? Karena tadi malam hujan lebat sekali, sehingga tidak nyaman untuk tidur. Aku terus terjaga sampai matahari terbit. Setelah fajar menyingsing, tanah mengering dengan cepat. Dan saat tengah hari, tanah sudah mulai hangat. Aku pun tidak melewatkan kesempatan itu untuk tidur siang di tengah tanah lapang.

Apakah tempat ini aman untuk tidur? Aku tidak tahu..... tapi karena ini tanah lapang, harusnya aku bisa menyadari jika ada bahaya datang. Awalnya Gobuto meragukan tempat ini, tapi dia tidak melarang kami tinggal sementara di sini.

Jadi..... tidak masalah, kan?

Apakah yang lainnya sudah tertidur?

Aku bisa mendengar dengkuran. Hobuzo….. atau mungkin itu Gobuta?

"Pfft ..." Shiholin tiba-tiba tertawa.

Apakah dia sudah bangun? Ternyata tidak. Saat kulihat wajahnya, matanya terpejam. Jadi dia tertawa sambil tidur. Dia tidak tertawa lepas, hanya sedikit menahannya.

"Heheheh ..."

Mungkin dia memimpikan sesuatu yang aneh. Mungkin Yumelin sudah biasa melakukan itu, tapi kalau Shiholin........... kayaknya jarang.......

Yumelin sedang berbaring telungkup, tangannya tersilang pada perut, dan napasnya pelan.

Bagaimana dengan Gobuto? Matanya tertutup, tapi apakah dia tertidur.... atau terjaga....

Aku menghela nafas.

Jujur saja........... ini sungguh nyaman.

Mataku masih terbuka, tapi aku sudah sangat mengantuk. Dengan kondisi seperti ini, aku bisa tertidur kapanpun. Aku juga ingin tidur..... tapi mengapa.... masih terjaga.....

Mungkin karena pikiranku masih kacau. Ya..... aku memikirkan banyak hal belakangan ini.

Tapi.... sebenarnya apa sih yang sedang kupikirkan? Aku membayangkan banyak hal, namun berlalu begitu saja. Saat kucoba mengingat-ingat lagi, tak seberkas pun memori tersisa di kepalaku.

Untungnya aku masih memiliki mereka. Jika sendirian, pasti akan sangat galau.

Ah sudahlah.... semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya perlu tidur bersama teman-temanku seperti ini.

Tidur siang yang sangat nyaman,.

Aku sungguh bersyukur memiliki kawan.

Hidup pun terasa lebih menyenangkan.

Luar biasa ...

Hari ini sangat cerah, bahkan aku masih bisa merasakannya saat mataku tertutup. Angin bertiup sepoi-sepoi, dan rerumputan menggelitikku dengan lembut. Aku semakin tenang dengan keberadaan teman-temanku di sini.

Sekarang aku berada di tengah-tengah mereka. Tidak.... tidak hanya di tengah.... namun aku juga membaur dengan mereka.

Dalam keadaan seperti ini, seolah-olah aku juga bisa melihat mimpi mereka.

Terimakasih.....

Manato.

Mogzo.

Ranta.

Yume.

Shihoru.

Kita pasti akan selalu bersama.

"Bangun!"

Manato? Bukan.... maksudku Gobuto.

Sepertinya dia panik. Maka, aku pun segera melompat untuk berdiri.

Shiholin sudah bangun. Sedangkan Gobuta dan Yumelin hanya duduk sembari mengusap-usap matanya.

"Sial, kita harus lari!" Gobuto berusaha menarik Hobuzo untuk berdiri.

"Tidak, kita tidak akan sempat lari — kita harus siap bertarung!"

"Bertarung?!" Gobuta mencengkeram pedang yang didapatnya beberapa saat yang lalu sembari melompat berdiri. "S-s-s-s-s-siapa yang bilang tempat ini aman?!"

"Kau sendiri juga bilang begitu, bung!" aku segera mengingatkan si kamopret bahwa dia setuju kita tinggal di sini sementara.

Tapi.... tiba-tiba pandanganku kabur.

Ada apa ini....? Apa yang terjadi.... aku tidak paham sama sekali. Yang jelas, ada sesuatu yang sedang menuju ke arah kami. Mereka manusia. Mereka sedang menyerang kami. Mereka hampir sampai. Mereka begitu dekat dengan kami. Sangat dekat. Dengan jarak sedekat ini, kami tidak akan bisa melarikan diri. Jadi..... kami tidak punya pilihan selain melawannya. Ya.... hanya itu yang bisa kami lakukan. Benarkah begitu? J-jadi kami harus melawan manusia-manusia itu?

"Rasakan ini! HATRED!"

Ranta.

Ranta menyerang langsung padaku.

Aku mengelak. Aku melompat ke samping, dan berusaha sebisa mungkin menghindari serangan pedang panjangnya.

"Whoa!" jeritku.

"Cih ...! Luput, ya? Tapi kau tidak akan kemana-mana!!”

"MAKASIIIIIIIIHHH ...!"

Berikutnya adalah Mogzo. Mogzo berusaha menebas Gobuto dengan pedang besarnya.

"Ah!" Gobuto berhasil menangkis pedang itu hanya dengan tongkat kayunya.

"Marc em Parc!"

Shihoru mulai baca mantra. Saat dia menggambar simbol elemental dengan ujung tongkatnya, seberkas cahaya seukuran kepalan tangan melayang — menuju Shiholin.

"Augh!" butiran cahaya itu menghantam Shiholin di dada, sehingga dia pun terjatuh.

"Nyaaa! Shiholin!” Yumelin mencoba melepaskan panah pada Shihoru.

Panah pun terbang.

Tidak.... itu panah lain....

Itu panah milik Yume. Dia lah yang menembaknya. Panah itu menuju lurus pada Yumelin. Untungnya tembakannya juga luput. Tapi, hampir saja nyawa Yumelin terancam.

Yumelin sampai menjatuhkan busurnya karena terkejut. "Fwah ... ?!"

"Hmph, hampir saja kena!" pekok Yume sambil menjatuhkan busurnya, lalu dia mencabut parang. Dia datang. Kami ini dia mencoba serangan jarak dekat.

Tiba-tiba, aku merasa merinding, lalu segera menjatuhkan diri ke tanah. Kemudian, aku menyadari kehadiran seorang manusia, yang..... entah kenapa aku begitu mengenalnya. Dia..... dia Haruhiro.... ya, dia adalah diriku sendiri. Diriku berusaha membunuhku. Dia berusaha menusukkan belatinya ke punggungku dari arah yang tidak kuduga.

Aku berhasil menghindari tikaman belati itu tepat waktu. Tapi.... ya ampun.... sebenarnya apa sih yang sedang terjadi? Kenapa aku tahu bahwa Haruhiro itu adalah diriku? Tidak hanya dia, teman-temanku pun demikian. Ini tidak masuk akal.

"Rahhhh!" Lagi-lagi Haruhiro menyerangku. Dengan segala upaya, aku berhasil menangkis belati dengan pedangku. Aku menangkisnya dan menghindae, tetapi Haruhiro tidak berhenti menyerang.

Sorot matanya penuh dengan kemurkaan. Dia serius. Haruhiro tidak main-main. Dia benar-benar berusaha membunuhku.

Mengerikan. Ini sungguh mengerikan.

Aku kebingungan, sampai akhirnya jatuh terjerembab. Haruhiro segera melompat ke arahku. Dia menyematkanku di tanah.

Aku bahkan tidak lagi memegang pedang. Entah sejak kapan aku melepaskannya.

Haruhiro mencoba menusukkan belati ke arahku. Tapi aku berhasil meraih tangannya untuk menghentikannya.

"Lepaskan! Lepaskan! Sial, kau cukup kuat ya!”

Haruhiro terus berusaha membunuhku.

Aku berteriak. "Hentikan! Ini aku! Aku adalah kau! Kau adalah aku! Kau akan membunuh dirimu sendiri!”

Tapi mungkin Haruhiro tidak bisa mendengarnya? Karena aku adalah seorang Goblin? Tapi aku bisa memahami apa yang dia katakan. Ya, karena.... aku adalah Haruhiro.... bukan Gobuto, kan? Tidak.... tunggu dulu... mana yang benar? Aku ini siapa? Haruhiro atau Gobuto? Ini gila.

"Matilah!" teriaknya. "Kumohon.... matilah! Atau menyerahlah sekarang juga!”

Tidak mungkin aku menyerah pada saat-saat seperti ini. Gawat.....

Sial.... belatinya semakin mendekat.

Sekarang ujungnya tepat di mataku. Bahkan hampir menyentuhnya.

Jika aku berkedip, mungkin mata pisaunya akan menyayat kelopak mataku.

Hentikan. Kau menyerang orang yang salah.

Tolong aku.....

Manato…!!!!

Grimgar Vol 14+ (5).jpg

"Hm ...?" Gumamku.

Manato.

Itu Manato.

"Ada apa, Haruhiro?" tanya Manato. "Hah? Apakah kamu tertidur?"

"... Hah ..." aku hanya menggelengkan kepala, lalu mengedip-ngedipkan mata. Apa yang sudah terjadi denganku? Harusnya ada sebilah belati yang sedang diacungkan tepat di depan mataku, tapi…...

Tunggu dulu..... belati apa’an?

"Ada apa?" Ranta menatapku dengan tatapan penuh ejekan. “Parupiro, aku penasaran mengapa kau begitu diam, eh ternyata kau tertidur saat kita sedang bekerja? Kau keterlaluan. Tidur siang di Damrow?! Luar biasa. Kau kan tahu ini wilayah musuh, bung! Dasar sampah!”

"... Damrow.” aku belum sepenuhnya bangun, jadi aku tidak paham apa yang si kampret ini katakan. "Aku.... tertidur? Hah? Tapi…"

"Nyohoh?" Yume berjongkok di sampingku, sambil menatap wajahku. "Haru-kun, kau tertidur? Kau masih mengantuk, ya?"

"Oh ... hmmm, kurasa begitu ... "

"Oh iya ..." Mogzo sedang duduk di tanah, sembari berlatih mengayunkan pedang besarnya. "Haruhiro-kun, belakangan ini kau hampir tidak pernah tidur sebelum kami, kan?"

"Ya.... kurasa begitu?" gumamku. ".... mungkin kau benar."

"Ah! Kalau Yume sih selalu tidur duluan. Kalau diingat-ingat, sepertinya Yume belum pernah melihat wajah Shihoru saat tertidur.”

"Um ... aku tidak bisa tertidur begitu pulas. Biasanya, aku juga bangun terlebih dahulu.”

“Yume jadi iri! Lain waktu, Yume akan terjaga sampai kau tidur duluan! Saat itulah, Yume akan melihat wajah Shihoru tertidur sampai puas!!”

"Kau tidak perlu melakukannya, Yume. Aku jadi malu....”

"Hooii.... aku juga ingin melihat wajah Shihoru tertidur, lhooo... ah, tidak.... aku ingin melihat seluruh tubuhmu saat tertidur! Geheheheheh!”

"Ranta, dasar cabul!" bentak Yume.

"Kau memang mengerikan," Shihoru mendukungnya.

“Terserah kalian mau bilang apa! Aku tidak perduli! Geheheheheh!"

"Ha ha ... Ranta-kun, kau benar-benar tangguh ..." kata Mogzo.

"Mogzo! Belajarlah dariku! Kau adalah seorang Warrior yang kuat, kan!? Oleh karena itu, sebagai perisai grup ini, mental dan fisikmu harus sama-sama tangguh!”

“K-Kau benar juga. Ya. Aku akan melakukan yang terbaik."

"Tidak, jangan!" teriak Yume. "Jika kau mengikuti Ranta, Yume akan membencimu!”

"B-Benarkah ...?"

"Tentu saja aku juga akan membencimu....” lagi-lagi Shihoru sepakat dengannya.

Manato hanya menanggapinya dengan terkekeh, sembari melihat mereka semua.

Damrow.

Ya...... tidak salah lagi..... ini adalah Kota Tua Damrow. Seperti biasa, kami selalu mendatangi kota ini untuk berburu Goblin. Lalu, kami numpang istirahat sejenak di bekas reruntuhan bangunan.

Mungkinkah..... saat itu aku tertidur?

"Kelelahanmu menumpuk, ya?" Manato bertanya padaku.

"Oh ..." aku memiringkan kepalaku ke samping. "Ya, sepertinya begitu. Aku tidak tahu pasti. Tapi..... jika aku tertidur semudah itu.... hmmmm...”

"Apa kau bermimpi aneh?"

"Mimpi ...," gumamku.

Ya....

Sepertinya aku tadi.... bermimpi.....

Mimpi yang..... cukup aneh.... maksudku, cukup panjang.

"Manato," kataku pelan, "....berapa lama aku tertidur?"

“Hanya sebentar, kurasa. Kenapa?"

"Tidak…"

Tapi.... kurasa aku sudah bermimpi cukup lama. Seolah-olah mimpi itu nyata.

Sayangnya, aku tidak ingat apa yang kumimpikan.

Aku sungguh tidak mengingatnya.

"Mungkin aku hanya kelelahan."

"Begitukah? Baiklah, hari ini kita pulang lebih cepat.”

"Hah? Aku nggak papa kok. Aku jadi merasa bersalah jika membuat kalian pulang lebih awal hari ini.”

"Ini bukan salahmu, Haruhiro. Kita juga harus memperhatikan kondisimu. Lagipula, itu untuk kepentingan bersama.”

Saat Manato mengatakan itu dengan lembut, aku pun kesulitan menolaknya. Aku selalu kesulitan menghadapi pria ini.

"Tidak masalah kan, jika sekali-kali kita pulang lebih awal?” tanya Manato pada kami semua.

Ranta menggerutu sedikit, tetapi hampir semuanya setuju. Bahkan, sepertinya Ranta juga sedikit gembira atas keputusan itu. Yahh, begitulah Ranta.... dia selalu saja menentangku. Tapi Manato meresponnya dengan baik. Aku ingin sekali bisa berkomunikasi sebaik Manato, tapi aku tidak pernah bisa menirunya. Andaikan pemimpin kami bukan Manato, mungkin dia sudah kewalahan menghadapi orang macam Ranta.

Lalu, kami pun meninggalkan Damrow.

Aku masih saja merasa bersalah karena membuat yang lainnya pulang lebih cepat, tapi..... yahh, kurasa sekali-dua kali seperti ini tidak apa-apa.

"Apakah kalian mau makan masakanku?" kata Mogzo dalam perjalanan pulang. "Hari ini kita pulang lebih cepat, jadi masih banyak waktu tersisa. Lagipula, memasak sendiri bisa menghemat uang.”

"Aku makan di warung saja," kata Ranta.

"Kenapa kau selalu saja memiliki perapat berbeda?!"

"Yume.” aku tidak tahan melihat Yume salah bicara. “Yang benar pendapat.... bukan perapat.”

“Mewww. Begitukah?”

"Tentu saja," ejek Ranta. "Kau ini bodoh, ya?"

"Murgh. Kenapa kalau Ranta yang mengatakannya, Yume semakin kesal saja.”

"Kalau tidak suka dikritik, ya bicaralah dengan benar!”

"T-Tapi ..." Shihoru berkata dengan ragu-ragu, "... kurasa Ranta tidak perlu terlalu menyalahkan Yume ... "

"Kau benar, Shihoru," kata Manato. “Kita semua satu tim. Jadi, janganlah terlalu menghujat temanmu yang melakukan kesalahan."

"B-benar, kan ... "

"Shihoruuuu!" Yume menangis.

“Fwah, a-apa?! Yume, k-kenapa tiba-tiba menangis ... ”

"Kamu baik sekali!"

"Tu — Tunggu, j-jangan memelukku terlalu kencang... a-aku bisa jatuh....”

"Tahan........," Manato mengangkat tangannya, untuk memberi isyarat agar kami semua berhenti. "Ada sesuatu di depan kita...."

Kami pun segera menunduk. Dia benar. Ada sesuatu yang bergerak di tanah lapang itu. Itu cukup membuatku terkejut. Makhluk-makhluk itu terlihat seperti Goblin. Kami sudah keluar dari Damrow, tapi ada sekelompok Goblin di sini.

"Satu ... Dua ... Tiga ... Empat ... Lima ... Enam..... mereka berenam, ya?" kataku pelan. "....cukup banyak."

“Tapi, sepertinya mereka bodoh, ya?” kata Ranta sambil menjilat bibirnya, dan tangannya sudah meraih gagang pedang. "Kenapa kita tidak bunuh saja mereka? Harusnya kita bisa mudah mengalahkan mereka dengan serangan mendadak."

"Ya, tentu saja..... asalkan serangan mendadak kita berhasil." balas Mogzo dengan penuh nafsu. Jarang sekali aku melihat Mogzo seperti itu. "Sepertinya ini kesempatan bagus."

"Muh ..." Yume menyiapkan busurnya. “Mereka sepertinya tidak memperhatikan Yume dan teman-teman, lho..."

"Jika kita benar-benar akan menyerang mereka," Shihoru mencengkeram tongkatnya, "....maka kita harus lakukan secepat mungkin."

"Kau benar." apakah Manato sedikit ragu-ragu?

Bisa jadi. Bagaimanapun juga, keputusan sepenuhnya ada di tangan Manato. Tapi, tidak ada jaminan serangan terbaik pun akan berhasil dengan baik. Itulah yang membebani Manato, sedangkan kami...... yahh, kami tinggal terima perintah saja....

Manato menatapku. Apakah dia akan meminta pendapatku? Tidak..... sepertinya dia hanya memeriksa apakah aku baik-baik saja.

Tapi..... jika aku menganggukkan kepalaku..... apakah itu akan membuat Manato semakin yakin atas pilihannya? Begitulah menurutku. Ya.... setidaknya aku harus membantu Manato menetapkan pilihannya. Aku sudah berhutang banyak pada pria ini.

Saat aku hampir mengangguk..... tiba-tiba muncul sesuatu di hati kecilku. Entah di mana dan kapan.... tapi sepertinya aku pernah melihat adegan ini. Sontak, keragu-raguan mulai membengkak di dadaku. Rasanya begitu sesak, bahkan sampai membuatku susah bernapas.

Apapun itu..... ada suatu hal yang kutahu..... yaitu, kami akan gagal.

"Bagaimana kalau kita batalkan saja?" tanyaku. “Jumlah mereka banyak. Ada juga yang tubuhnya besar. Kurasa..... kita bisa cari Goblin lain.....”


"Hah?!" Ranta mendatangiku. “Hanya kau yang tidak siap, Haruhiro! Kalau aku sih sudah siap tempur! Sekarang, dengarkan....."

"Wah!" Yume menunjuk ke arah para Goblin. "Mereka melarikan diri!"

"Wah, benar....." entah kenapa Mogzo tampak sedikit lega.

Shihoru juga tampak lega. "Aku tidak yakin kita bisa mengejar mereka sekarang…"

"Ya... benar juga....." Manato tertawa kecil. "Yahh, mau bagaimana lagi.... toh, mereka sudah kabnur....”

"Cih!" Ranta mendecakkan lidahnya sambil menghentak tanah. “Goblin-goblin itu beruntung."

Sembari melihat sekelompok Goblin itu melarikan diri, aku coba mengingat kembali mimpi panjangku.

Ah...... tapi itu hanya mimpi........ mimpi panjang yang terasa singkat.

Tapi........ benarkah itu hanya mimpi? Atau..... jangan-jangan aku masih tertidur?