Difference between revisions of "Hai to Gensou no Grimgar (Indonesia): Jilid 14+ Bab 2"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Created page with "==Bab 2 : Kumohon, Sedikit Lebih Lama Lagi.== <i>”Awaken....................”</i> Aku membuka mata saat kudengar seperti ada...")
(No difference)

Revision as of 01:43, 15 February 2020

Bab 2 : Kumohon, Sedikit Lebih Lama Lagi.

”Awaken....................”













Aku membuka mata saat kudengar seperti ada suara seseorang.

Aku berada di tempat yang gelap. Dimana ini? Tapi tidak gelap gulita. Di sana ada cahaya. Lalu aku berdiri, dan melihat ke atas. Ada lilin yang ditempel di dinding. Lilin-lilin itu berjajar sampai ke kejauhan.

Dinding dan lantainya keras. Keduanya terbuat dari batu. Maka, apakah ini gua?

Jika ada lilin, maka pastilah gua ini pernah dihuni oleh manusia.

Mungkin ini gua bekas tambang?

Selain aku, ada beberapa orang di sini. Jumlah mereka lebih dari dua ataupun tiga orang. Mungkin kami ada sekitar sepuluh orang. Kami sedang duduk bersandar pada dinding batu.

"Ada orang di sana?" tanya salah satu di antara mereka.

Aku secara refleks menjawab, "Uh, yeah."

"Aku di sini…"

"Ya."

"Kurasa, aku juga di sini."

"Berapa jumlah kita?"

"Haruskah kita menghitung?"

"Tapi, di mana ini?"

"Tidak tahu ..."

"Apa? Jadi tak seorang pun tahu tempat apa ini?"

"Apa yang telah terjadi dengan kita?"

"Ada apa ini?"

Saat mendengar suara mereka saling bersahutan satu per satu, aku pun berpikir..... ini aneh....

Aku tidak tahu mengapa ada di sini. Kenapa aku di sini. Dan, siapakah orang-orang yang bersamaku ini.

"Tidak ada gunanya kita berdiam diri di sini," kata seorang pria, lalu dia berdiri.

"Kau mau ke mana ...?" tanya suara seorang wanita.

"Aku akan menelusuri dinding ini," pria itu menjawab dengan nada tenang. "....untuk menuju ke cahaya yang lebih terang."

Pria itu, rambutnya putih — atau mungkin, perak?

Aku sempat melirik pria berambut perak itu. Kebetulan, dia juga melihatku. Tapi, entah kenapa dia melihatku dengan remeh.

Aku tidak suka itu.

Aku pun memutuskan untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh si rambut perak itu, yaitu berjalan menyusuri dinding batu. Tapi, dia lebih cepat dari yang kukira. Yahh, tak masalah lah.... toh kita tidak sedang berlomba. Tapi.... hmmm, perasaan apa ini..... sepertinya aku merasakan firasat aneh.

"Aku juga ikut," kata seorang wanita.

"Sepertinya.... aku juga mau ikut," kata seseorang lainnya.

“T-Tunggu, teman-teman! Kalau begitu aku juga ikut!” tanggap pria lain.

Ada juga seorang pria yang berjalan ke arah tanpa lilin, tapi tak seorang pun mau mengikutinya. Ya.... jelas saja.

Semuanya mengikuti si pria berambut perak. Maka, aku pun tidak punya pilihan lain.

Benar saja.... setelah beberapa saat menuju ke tempat yang lebih terang, kami pun keluar gua.

Di luar ada pintu besi, dan si pria berambut perak segera membukanya. Di sana ada jalan setapak, dan tangga menuju atas.

Sebenarnya aku tidak begitu terkejut sih..... pikirku. Tapi, tempat ini memang aneh. Aku juga tidak tahu apa yang ada di atas sana. Setidaknya, satu hal yang kuyakini adalah, tempat ini tidak normal. Situasi ini juga tidak normal.

Ada pintu besi lagi di puncak tangga.

Pria berambut perak itu menggedor pintu, sambil berteriak keras, “Ada orang di sini?! Buka pintunya!” beberapa orang lainnya juga berteriak demikian. Sampai akhirnya, datanglah seseorang yang membukakan pintu besi yang terkunci itu.

Siapa orang itu?

Aku tidak tahu..... tapi sepertinya, kami disuruh keluar dari sini.

Kali ini, saat melewati pintu, aku sedikit terkejut. Aku tidak begitu memikirkan gua gelap yang berisi lilin-lilin itu, tapi pria yang membukakan pintu besi berdandan dengan pakaian yang cukup menggelikan. Dia mengenakan armor, dan helm. Bahkan, dia membawa benda yang terlihat mirip pedang di pinggangnya.

Lelucon macam apa ini? Namun, pemandangan di luar gua membuatku lebih terkejut.

Aku tak yakin apakah pemandangan seperti ini adalah suatu hal yang wajar, tapi jika diminta menjelaskannya..... kurasa aku tidak bisa. Ada begitu banyak kalimat yang melayang-layang di benakku, tapi saat kupikirkan lagi kalimat-kalimat itu.... semuanya lenyap, bagaikan gelembung udara yang pecah.

Yahh, kira-kira begitulah rasanya. Itu sungguh tidak menyenangkan, dan sangat aneh. Sebenarnya, apanya yang aneh..... dunia ini?...... atau diriku sendiri?

Pria yang mengenakan armor itu melakukan sesuatu, lalu sebagian dinding masuk ke dalam tanah, dan memunculkan semacam pintu keluar di sana.

"Keluarlah kalian......"

Setelah keluar, kami melihat langit gelap dengan sedikit cahaya remang-remang yang terus membentang seolah tanpa ujung. Ternyata, kami sedang berada di puncak bukit. Atau lebih tepatnya, kami barusan saja keluar dari sebuah menara yang terletak di puncak bukit.

Aku coba menghitung jumlah kami sekali lagi. Ada delapan pria, termasuk aku, dan empat wanita. Total, jumlah kami ada 12 orang. Di antara mereka, tak seorang pun kukenal.

Saat aku melihat ke bawah bukit, di sana ada kota yang berisi bangunan-bangunan saling berdempetan, dan dikelilingi oleh semacam dinding yang kokoh.

"Itu kota, kan?" salah seorang dari kami berkomentar.

"Kalau menurutku sih…." seorang pria kurus mengenakan kacamata berbingkai hitam menanggapi, ".....ini lebih mirip benteng, daripada kota.”

"Benteng ya ..." bisik seorang pria bermata mengantuk pada dirinya sendiri.

“Um…” seorang gadis yang tampak malu-malu kucing bertanya kepada lelaki yang bermata mengantuk tadi, “....menurutmu....kita di mana?"

"Percuma bertanya padaku..... aku gak tahu."

“... B-begitu ya.... ummmm, mungkin di antara kalian ada yang tahu?"

Ada seorang pria berambut acak-acakkan yang menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata, "Ya ampun....."

"Aku mengerti!" kata seorang pria yang tampak seperti playboy, sembari menepukkan kedua telapak tangannya. "Kenapa kita tidak bertanya pada pria itu saja?! Itu lho.... pria yang mengenakan semacam armor itu....”

Ketika kami semua berbalik menghadap menara, pintu masuk mulai menutup.

"Whoa, whoa, tungg—u....."

Si playboy berlari menghampirinya. Tapi, dia sudah terlambat. Pintu masuk sudah tertutup, seolah menyatu dengan begitu rapat dan tanpa celah pada dinding di sekitarnya.

Si playboy mencoba menyentuh dan mengetuk-ngetuk dinding, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Dia pun merosotkan dirinya pada dinding itu dengan wajah kecewa.

"Wah, gawat nih," kata seorang gadis yang rambutnya dimodel kepang dua. Dia mengatakan ‘gawat’ dengan logat yang lucu. [1]

Apakah dia berasal dari *****[2]? aku bertanya-tanya dalam hati. ........******? Wah, gawat, aku tidak paham logat sana.

Sedangkan pria berambut acak-acakan berjongkok, tampak begitu putus asa. “Gawat.... gawat.... gawat.... yang benar saja.....”

“Baiklah.... ini adalah saat yang sempurnaaaaaaaaaaaaaaa!” suara wanita bernada tinggi terdengar. “Aku sudah datang, lho.... aku di sini, lho.... Di mana, di mana? Diiiiii.... siniiiiiiiiiiii!!”

"Hah?!" seru si playboy, lalu dia berdiri sambil berteriak.

“Jangan paaaaaaaaaaaanik! Jangan taaaaaaaaaakut! Dan jangan pula bingung! Tenang saja!”

Dari balik bayangan menara, seorang wanita berambut twintail menjulurkan kepalanya, lalu dia menyanyikan lagu-lagu aneh. “Charararararahn, charararararahnrarahn. Heeeey. Apakah semuanya baik-baik sajaaaaaaa!? Selamat datang di Grimgar. Aku adalah pemandu kalian, Hiyomuuuu. Senang bertemu denganmuuuu. Ayo bertemaaaaaaaaaannn? Kyapii!"

"Sungguh gaya bicara yang menyebalkan," seorang pria berambut cepat menggumamkan itu sembari menggertakkan gigi-giginya.

"Eek!" Hiyomu kembali menarik kepalanya ke balik menara, tapi tak lama berselang dia julurkan lagi. "Kau sungguh menakutkan. Sungguh berbahaya. Jangan maraaaaaaaaaaahh, oke? Oke? Oke? Oke? Oke?”

Si rambut cepak mendecakkan lidahnya dengan jijik. "Kalau begitu jangan membuatku kesal."

"Oke ooooooooommmm!" Hiyomu melompat ke samping menara, lalu memberikan hormat dengan mengangkat tangan ke dahinya. “Mulai sekarang, aku akan berhati-hati bicara, om! Gimana kalai gini? Oke, kan? Oke, kan? Teheeee.”

"Kau sengaja, kan?"

“Ah, kau tahu ya? Ah ah! Jangan marah! Jangan pukul aku, jangan tendang aku! Aku tidak suka disakiti! Aku tidak cari musuh! E...ehem! Nah.... sekarang bisakah kita mulai? Bisakah aku menjalankan tugasku?”

"Cepatlah," kata si rambut perak dengan suara rendah, tapi penuh ancaman.

"Baiklah, kalau begitu," Hiyomu memulai dengan senyum tanpa takut. "Aku akan melakukan tugasku sekarang, oke? Mohon ikuti akuuuuuuuuuuu! Jangan sampai ketinggalan!”

Hiyomu menyusuri jalan setapak yang menuju ke kaki bukit. Jalan setapak ini tidak dilapisi apapun, hanya tanah, dan ada rerumputan di kedua sisinya. Tapi.... tidak hanya rerumputan di sana, ada juga puluhan, atau bahkan ratusan batu besar yang berjajar.

"Hei, apakah itu ..." tanya si rambut berantakan, sambil menunjuk pada batu-batu putih tersebut. "....apakah itu ... kuburan?"

"Hee hee heeee," Hiyomu terkikik tanpa menoleh padanya. "Mungkin sajaaaaaaaaaa. Yahh, jangan khawatir....jangan khawatir. Kalian tidak akan mati sekarang, kok. Kuharap kalian bisa hidup lebih lamaaaaaaaa lagi, ehehehhe.....”

Si rambut cepak mendecakkan lidahnya dengan jijik sekali lagi, sambil menghentak tanah. Sepertinya emosinya siap meledak-ledak kapanpun, tapi dia masih mau mengikuti Hiyomu.

Si rambut perak masih berjalan dengan tenang. Di sisi lain, ada juga seorang wanita berkacama dengan pakaian mencolok, bersama gadis kecil yang mengikutinya.

Si playboy berteriak, “Wah! Jangan tinggal aku....!” dia mulai berlari, sampai tersandung-sandung.

Tapi.... aku tidak mengikuti Hiyomu. Aku berbalik ke arah menara. Sebenarnya.... apa yang terjadi di sini......

"Ah ..." pria bermata mengantuk itu mengerang. "... Warnanya merah."

Gadis yang tampak malu-malu menelan ludah dengan gugup.

"Ahh," kata gadis berambut kepang. "Bulan berwarna merah itu cantik banget."

Bulan merah? Itu tidak masuk akal.

Tapi, memang itulah yang kulihat di langit saat ini.

Bentuknya cembung..... mungkin di antara bulan sabit dan bulan separuh.

Jujur saja, bulan merah itu tampak khayal bagiku.

Lalu, si rambut acak-acakan berkata, "Whoa ..."

Sedangkan, di sudut sana ada seorang pria besar yang mengerang.

Tempat ini..... pikirku. ..... tidak biasa....

Bulan, merah.

Aku yakin tempat ini tidak biasa....

Tapi..............

Bukankah memang ini yang kuinginkan?

Aku tidak tahu bulan seperti apa yang normal, dan bulan seperti apa yang tidak.

Namun..... entah kenapa aku begitu yakin bahwa tempat ini tidak normal.

Grimgar Vol 14+ (6).jpg

1. Meskipun Aku Tidak Mengerti

Pria bermata mengantuk itu namanya Haruhiro.

Yang rambutnya acak-acakan itu Ranta.

Si pria besar itu Mogzo.

Gadis pemalu itu Shihoru.

Sedangkan, pria yang kusebut playboy ternyata bernama Kikkawa.

Aku...... perkenalkan, namaku Manato.

Aku mengetahui semua itu saat berbincang dengan mereka, sembari terus berjalan.

Namun..... yahh, hanya sebatas itu yang kutahu.

Selebihnya, aku tidak tahu apa-apa. Tak seorang pun di antara kami tahu tempat aneh yang memiliki bulan merah ini. Tidak hanya itu, selain nama, bahkan kami tidak tahu apapun mengenai diri kami sendiri. Tapi setidaknya, kami tahu informasi umum seperti berapa tinggi badan dan berat kami. Jika ditanyai hal yang lebih spesifik.... misalnya, di mana kami lahir, bagaimana keluarga kami, dan apakah kami punya teman.... tak seorang pun bisa menjawabnya.

Bukannya tidak ada jawabannya. Harusnya kami tahu jawaban dari pertanyaan sederhana seperti itu, namun entah kenapa kami tidak bisa mengingatnya. Ini seperti, kau merasa bisa menyentuh suatu benda, namun saat ujung jarimu menggapainya, benda itu tergelincir jatuh. Singkatnya, kami tidak bisa mengakses suatu ingatan yang tersimpan begitu dalam di kepala kami.

Hiyomu membawa kami ke kantor Pasukan Cadangan Perbatasan Altana, atau yang biasa disebut pasukan relawan. Nama korps ini adalah Crimson Moon.

Kantor itu berbentuk seperti bar, di sana ada seorang pria..... eh? Dia beneran pria, kan?..... yang berambut hijau, berdagu lancip, bermata biru sayu, memakai make-up tebal dan lipstick di bibirnya. Dia sedang menunggu kami di meja kasir, sembari menyandarkan dagu di tangannya.

"Hm ..." dia mengangguk-angguk beberapa kali saat mengamati kami. "Bagus sekali. Kemarilah, anak-anakku yang manis. Selamat datang. Aku Brittany. Aku adalah kepala, sekaligus pelayan di kantor Crimson Moon ini. Kau boleh menyebutku ketua, tapi Bri-chan juga oke. Tapi, jika kau memanggilku Bri-chan, pastikan mengatakannya dengan penuh kasih sayang ya,,,,?”

"Ketua.” Si pria berambut perak mendekati meja kasir, lalu memiringkan kepalanya kebingungan. "Jawab pertanyaanku. Aku tahu kota ini bernama Altana. Tapi, apa yang dimaksud Pasukan Cadangan Perbatasan Altana, atau pasukan relawan? Kenapa aku di sini? Apakah kau tahu?"

"Kau berani juga ya. Aku punya sesuatu untuk pria pemberani sepertimu. Siapa namamu?"

"Renji. Dan aku benci bencong sepertimu.”

"Oh, barusan kau bilang apa ..." entah sejak kapan, Brittany sudah menyodorkan pisaunya ke tenggorokan Renji. Matanya pun menyipit dan terlihat mengancam. “Renji, asal tahu saja, orang yang berani menyebutku bencong tidak pernah hidup lama. Sepertinya kau cukup pintar untuk memahami maksudku. Jadi.... kau ingin mencobanya lagi?”

"Yahh...." kata Renji, lalu dia mengambil pisau itu dengan tangan kosong. "Aku tidak pernah minta umur panjang. Dan kau tidak perlu mengancamku seperti ini. Jika kau ingin membunuhku, ya lakukan saja, om bencong.”

"Dengan senang hati," jawab Brittany, lalu dia menjilat bibirnya dan membelai pipi Renji. "Akan kuberi kau pelajaran sepuas hatiku. Setelah itu, kau tidak akan pernah melupakannya.”

Ranta, Haruhiro, dan gadis berambut kepang itu saling membisikkan sesuatu.

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari Renji. Pria ini sungguh pemberani. Mengapa dia begitu percaya diri? Mungkin dia yakin bisa menangani Bri.

"Yahh.....!!" Kikkawa segera menyela di antara Renji dan Brittany. "Ini pertama kalinya kita bertemu! Jadi, wajar saja kalau terjadi kesalahpahaman! Ayo selesaikan ini dengan damai! Kalian bisa baikan, ya...? Ya....? Ayo bertemaaaaaann! Aku juga mau berteman dengan kalian, lho... Lihatlah aku! Siapa yang tidak mau berteman dengan pria keren sepertiku!?”

"Kau.... keren?" Renji mengeluarkan dengusan bernada mengejek sembari melepaskan pisau Bri.

"Sepertinya beberapa di antara kalian cukup nekad," kata Brittany, sambil menarik pisaunya. "Delapan pria, empat wanita. Jumlah wanitanya kurang, tapi aku lebih suka seperti itu. Lagipula, cowok lebih berguna dalam pertempuran, jadi kurasa itu tidak masalah.”

Aku mengerutkan alisku. "Dalam pertempuran?"

"Benar," kata Brittany sambil tersenyum. Jujur saja, pertempuran adalah kata yang mengerikan. “Berguna dalam pertempuran."

"Ini adalah kantor pasukan relawan," kataku sambil menunduk. “Jadi... kami akan menjadi pasukan secara suka rela?”

"Oh, astaga!" Brittany menepuk tangannya dengan lebay. “Tentu saja itu benar. Kalian akan kami rekrut menjadi pasukan relawan. Tapi.... bukan berarti kami memaksa. Kalian masih bebas menentukan nasib kalian sendiri.”

"Gimana bung...." kata Haruhiro, sambil menampar punggung Ranta. "....kau mau bergabung, tidak?"

"O-Oh ?! A-a-a-aku....?? A-a-a-aku.....?? K-k-k-k-kalau aku.....”

Kalau ditelaah dari apa yang Brittany katakan kepada kami, daerah ini adalah perbatasan antara wilayah yang dikuasai manusia dengan ras-ras lain yang saling bermusuhan. Tugas pasukan penjaga perbatasan adalah menjaga wilayah manusia dari ancaman-ancaman ras lain tersebut.

Sayangnya, pasukan perbatasan ini jumlahnya terbatas, sehingga mereka perlu merekrut banyak personel untuk memperkuat barisannya. Sedangkan, pasukan relawan yang ditawarkan Bri adalah bagian dari pasukan perbatasan tersebut.

"Kita adalah pasukan relawan," kata Brittany kepada kami, "Tugas kita adalah muncul secara tiba-tiba dan tanpa diduga, lalu menyusup ke wilayah musuh, memantau musuh, mengamati musuh, kalau perlu menyebabkan kerusuhan di sana, terus pergi begitu saja tanpa jejak. Pokoknya, kita harus menemukan cara apapun untuk melemahkan kekuatan lawan. Meskipun kita masih berhubungan dengan pasukan utama, tapi kita jarang sekali bekerja bersama mereka secara terstruktur. Kebanyakan pasukan relawan bekerja sendiri, dalam kelompok kecil beranggotakan 3 – 6 orang, yang biasa disebut Party. Yang jelas, kita harus menggunakan kemampuan dan penilaian pribadi untuk menyusahkan musuh. Ya.... kurang – lebih seperti itulah cara kerja Pasukan Relawan Perbatasan Altana, Crimson Moon.”

Dia juga menjelaskan bahwa kami akan diberi lencana yang menunjukkan bahwa kami masih magang. Kami akan dibekali 10 koin perak, atau sebut saja uang. Jika kami menolak, maka Bri tidak akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada kami.

Secara teknis, kami memiliki kebebasan untuk memilih. Meskipun begitu, kurasa tak seorang pun di antara kami cukup tolol menolak tawaran itu. Karena itu sama saja dengan ditelantarkan di tempat antah-berantah tanpa sedikit pun modal. Tak peduli dilihat dari manapun, kami tidak punya pilihan selain mengambil tawaran Bri.

"Cukup adil."orang pertama yang mengambil lencana dan sekantong penuh 10 koin perak adalah Renji. “Aku tidak tahu apa-apa tentang urusan pasukan relawan ini, tapi kurasa aku bisa menjalaninya. Kita bicara lagi nanti.”

Aku sungguh tidak habis pikir dengan pria berambut perak itu. Dia benar-benar pemberani.

Setelah Renji, pria berambut cepak dan wanita berpenampilan mencolok itu melakukan hal yang sama. Aku keempat, diikuti oleh pria berkacamata.

Kikkawa berkata, "Baiklah kalau begitu, mari kita lakukan ini!", lalu dia ambil dua kantong sekaligus. “Hey!” Bri segera menampar tangannya.

Sekarang tinggal Haruhiro, Ranta, Mogzo, Shihoru, gadis berambut kepang, dan gadis bertubuh mungil. Apakah kalian punya pilihan lain? Kurasa tidak.

Mungkin mereka hanya bingung.

"Bagaimana dengan kalian?" Brittany mulai menekan mereka.

Ranta lah yang pertama mendekati meja kasir. "Aku tidak tahu ... aku punya firasat buruk tentang ini semua, jadi lebih baik ... "

"Hmm." gadis berambut kepang mendekati Ranta. "...kata orang, dimana ada celah, di situ ada kesempatan ... "

"Tidak," Haruhiro menggelengkan kepalanya. "Kurasa bukan begitu peribahasanya ... "

"Oh? Bukan ya? Yume taunya itu."

"Yang benar.... di mana ada jalan, maka di situlah ada kesempatan. Kau bilang tadi celah.”

"Oh. Tapi kayaknya lebih pas celah. Yume lebih suka itu."

"Yahh, masih masuk sih...."

Sepertinya, gadis berambut kepang itu bernama Yume.

Gadis mungil, Haruhiro, dan Mogzo juga mengambil lencana. Maka, kami semua resmi menerima pekerjaan ini.

"Selamat," kata Brittany, sambil tersenyum dan bertepuk tangan. “Sekarang, kalian semua sudah resmi sebagai prajurit relawan. Kalian harus belajar dan bekerja keras sendiri. Jangan mengandalkan siapapun, selain rekanmu. Kalau kalian sudah.....”

Aku tidak begitu tertarik dengan yang dia bicarakan setelah itu.

Kata Brittany, umunya Party terdiri dari 3 – 6 orang. Sepertinya, pekerjaan ini sulit kita lakukan sendirian. Maka dari itu, pertama-tama aku harus mencari orang yang bisa bertarung. Siapa ya....

"Bangun," kata Renji.

"Brengsek!" si rambut cepak mengumpat sembari mencoba bangkit, tapi Renji segera menendangnya, sampai terkapar di lantai.

"Cuma segitu? Bangunlah....."

"Apa-apa’an kau ini, brengsek?"

“Sejak pertama kali melihatmu, aku penasaran siapa yang lebih kuat di antara kita berdua. Maka, sekaranglah saat yang tepat membuktikannya. Bangunlah.”

"Sialan ...!"

Si rambut cepak marah, namun Renji terus memukulnya tanpa ampun. Perkelahian ini tidak imbang. Akhirnya, Renji menang setelah menjatuhkan lawannya dengan tandukan kepala. Si cepak itu pun terkapar sekali lagi di lantai.

Tidak....tidak.... dia masih bisa menyangga tubuhnya dengan satu lutut. Tapi dia jelas terlihat kesakitan.

Renji menyeka darah dari dahinya dengan satu jari. "Kepalamu keras juga. Siapa namamu."

“...Ron. Sialan, kau kuat sekali. ”

“Kau juga kuat. Bergabunglah denganku, Ron.”

"Ya. Kurasa itu tawaran yang menarik."

"Baik. Sekarang, siapa lagi ... " Renji melihat sekeliling kantor, lalu tatapannya berhenti padaku.

Jadi, aku korban selanjutnya ya....

’Sialan kau....’ mungkin Renji mengira aku sedang berkata begitu di dalam hati. Tapi itu tidak benar.

Tapi, akhirnya dia memalingkan wajah dariku, lalu melihat ke arah si pria berkacamata. "Sepertinya kau cukup berguna. Ikutlah denganku."

Si kacamata bersedekap, berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Namaku Adachi. Terimakasih telah memilihku, Renji.”

Aku menghela nafas pendek. Wah,wah, si Renji ini memang merepotkan.

Kenapa? Kenapa Renji lebih unggul dariku?

Mungkin saja karena Renji tidak banyak berpikir. Sedangkan aku, cenderung lebih suka mempertimbangkan segala sesuatu terlebih dahulu sebelum bertindak.

"Hey kau.... cebol."

"Ya…?"

Hm? Ternyata Renji juga merekrut gadis mungil itu. Aku terkejut.

"Kau juga ikutlah denganku."

Saat Renji mengatakan itu, si mungil segera menghampirinya. Karena tubuhnya pendek, si mungil melihat jauh ke atas saat menatap wajah Renji.

Renji membalas tatapan itu dengan menepuk kepalanya. “Sepertinya kau juga akan berguna.”

"…Iya."

Wajah si gadis mungil berubah menjadi merah padam. Mengapa....mengapa Renji memilihnya? Sebenarnya, kriteria apa yang diinginkan Renji? Berdasarkan apa Renji memilih seseorang? Apakah dia yakin si mungil itu akan berguna dalam pertarungan? Apakah dia tahu gadis mungil itu menyimpan kekuatan fisik yang besar? Ataukah karena otaknya? Tidak.... tidak.... kurasa bukan itu alasannya. Lantas apa.....?

"Ayo...." Renji membawa Ron, Adachi, dan gadis mungil itu bersamanya. Mereka pun pergi meninggalkan kantor.

Hm? Mereka hanya berempat? Apakah itu cukup?

"Tunggu!" wanita berpenampilan mencolok itu memanggil Renji. "Aku juga ikut denganmu!"

"Aku tidak butuh orang yang tidak berguna."

"Aku akan melakukan apa saja!" kata si cewek sembari menempelkan tubuhnya pada Renji. "Namaku Sassa. Kumohon. Aku sungguh akan melakukan apapun untukmu."

"Apapun?" kata Renji, sambil mendorong Sassa menjauh dengan kasar.

Saat itulah aku melihat senyum Renji..... walaupun sangat tipis.

"Kau sendiri ya yang bilang....."

Ah, aku mengerti.... ini masuk akal.

Inilah kesetiaan. Tidak masalah apakah mereka berguna dalam suatu pertarungan, atau tidak. Bagi Renji, yang terpenting adalah kesetiaan. Renji lebih suka mengumpulkan orang yang mau melakukan apapun untuknya.

Tapi, apakah mereka benar-benar akan tunduk padanya? Renji juga ingin tahu. Tapi setidaknya, Renji tahu dia ingin membangun sebuah tim, di mana dia lah yang menjadi pusat segalanya.

Ketika Renji meninggalkan kantor bersama timnya, Kikkawa mengatakan sesuatu, lalu dia keluar juga.

"Yah, aku juga pergi," kataku.

Aku tidak ingin tinggal diam. Rasanya aku seperti ditinggalkan, dan aku tidak suka itu. Maka, aku ingin keluar secepat mungkin. Tapi, entah kenapa ada yang membuatku tersenyum.

"Kita tidak akan tahu apapun jika tetap di sini, jadi aku juga akan keluar untuk mencari informasi."

Aku mengatakan itu sembari tersenyum pada lima pecundang yang tersisa di ruangan ini. Kemudian, dengan remeh aku menambahkan, “Sampai jumpa nanti ya....."

"Ya, sampai jumpa nanti." Haruhiro melambai.

Dia pasti ingin ikut denganku, pikirku. Yahh.... harusnya begitu. Bukankah dia tidak punya pilihan lain? Atau mungkin punya? Ah, aku tidak tahu.

Aku pun meninggalkan kantor. Sebenarnya aku frustasi, tapi aku tahu wajahku masih bisa tersenyum.

Ah..... sebenarnya orang macam apa sih aku ini....?

2. Coba Merasakannya.

Saat berjalan di sekitar Altana, aku memahami beberapa hal tentang diriku sendiri.

Aku adalah orang yang cakap. Itu bahkan membuatku sendiri terkejut. Aku bisa memulai percakapan dengan siapapun. Aku juga selalu bisa tersenyum, meskipun hatiku tidak menginginkannya. Pokoknya, orang-orang selalu memiliki kesan positif terhadapku.

Aku tidak tahu apapun di kota ini, semuanya baru bagiku. Tapi, aku tidak takut, malahan aku mulai menyukai semuanya.

Masih banyak hal yang tidak kutahu, tapi kurasa aku baik-baik saja, yahh.... memang beginilah adanya... pikirku.

Di alun-alun, aku melihat seseorang dari kejauhan. Dia tampak bingung.

"Haruhiro!" panggilku.

"Hah?" Haruhiro langsung berlari ke arahku. "Manato ...! Manato! Aku coba kembali ke kantor, tapi aku tersesat! Syukurlah aku bertemu denganmu! Rasanya lega sekali, seperti mentas dari neraka!”

"Ah, kau hanya melebih-lebihkan," kataku, tentu saja sambil tersenyum. "Haruhiro, apakah kau sendirian? Yang lain mana?"

"Ya. Ranta, Shihoru dan Yume ada di depan kantor ... yahh, seharusnya sih mereka masih di sana. Tapi, Shihoru mulai menangis. Tadinya, kami sepakat akulah yang akan pergi mencari informasi di kota, sedangkan mereka menunggu di sana.”

“Oh, begitu. Jadi, kau sudah mendapatkan banyak infromasi, lalu ingin kembali?”

"Yah ... aku memang dapat beberapa informasi, tapi aku tidak yakin apakah itu penting. Salah satunya tentang Bank Yorozu, mungkin ...?"

"Bank Yorozu? Aku belum tahu tentang itu."

"Beneran kau belum tahu? Itu adalah tempat di mana kita bisa menyimpan uang, menukar uang, dll. Sepertinya tempat itu cukup penting. Oh iya, aku juga menemukan kedai daging yang enak di pasar...... ah, yang itu mungkin tidak terlalu penting.”

“Aku juga sempat ke pasar. Jadi di sana ada kedai daging? Kalau makanannya enak seperti yang kau katakan, aku juga ingin coba.”

"Aku akan menunjukkan tempatnya padamu. Aku tahu persis di mana kedainya. … tapi aku lupa jalan kembali ke kantor.”

"Baiklah kalau begitu, mau kembali ke kantor bersamaku?" aku sendiri terkejut bisa mengatakan ini, tapi nyatanya, ucapan itu mengalir dengan begitu mudahnya dari mulutku. Ampun deh.... sebenarnya orang macam apa sih aku ini.... “Aku juga ingin kembali ke kantor, kok.”

"Hah ...?" Haruhiro tampak tertegun, namun dia tidak sanggup mengatakan apapun.

Ya, itu wajar saja sih. Karena dia begitu memerlukan bantuan.

Tadi aku sudah pamit meninggalkan kantor, mungkin dia pikir aku tidak akan kembali. Tapi, bisa saja itu hanya basa-basi, kan?

Lagipula, aku memang orangnya suka basa-basi.

"Hm? Kenapa? Ada yang salah?” tanyaku.

“T-t-tidak! Ayo! Kita kembali ke kantor! Aku tidak perduli Ranta, tapi aku yakin Shihoru dan Yume memerlukan kita!”

Dengan begitu, akhirnya aku membentuk Party dengan sisa-sisa rombongan kami, yaitu: Haruhiro, Ranta, Shihoru, Yume, dan Mogzo.

Haruhiro tidak bisa diandalkan, Ranta berisik, Shihoru sangat pemalu, Yume orangnya bebal, dan Mogzo sangat lambat. Mereka berlima lebih banyak cacatnya daripada lebihnya.

Tapi aku tidak kehilangan harapan. Aku memang tidak berniat membentuk tim yang kuat. Aku hanya menikmati hidup ini saja.

Jujur, aku sendiri masih bingung mengapa kulakukan ini. Lihatlah.... aku akan menjadi pemimpinnya, aku akan memberikan arahan dan perintah pada mereka semua, tapi Ranta bahkan tidak akan mendengarkanku. Sebetulnya ini percuma saja, kan?

Tapi inilah yang terjadi.

Hal pertama yang perlu dilakukan prajurit relawan adalah bergabung dengan Guild, lalu mendapatkan pelatihan. Kalau dilihat dari bakat mereka, aku memutuskan untuk meminta Haruhiro menjadi Thief, Shihoru menjadi Mage, Yume menjadi Hunter, dan Ranta menjadi Warrior.

Tapi Ranta malah menjadi Dark Knight.

Kalau saja Mogzo, yang memang sudah menjadi Warrior, tidak bergabung dengan Party kami, maka apa jadinya?

Selama suatu Party memiliki 2 pilar penting, yaitu Warrior dan Priest, maka yang lainnya tinggal ngikut saja. Harusnya hal sesederhana itu bisa dipahami dengan mudah, namun tidak dengan Party-ku. Mereka bahkan tidak memikirkan hal sesimpel itu.

Lucu, bukan?

Aku ragu Renji akan betah bersama tim seperti ini.

Renji sudah mendapatkan tim yang bisa diajak bekerjasama. Dia lah yang akan menentukan segalanya, dan menggunakan yang lainnya sebagai bidak. Ya.... mungkin seperti itulah rencana Renji. Itu memang efisien. Kurasa, memang begitulah cara yang benar.

Tapi sepertinya aku berbeda. Jika aku biarkan timku begitu saja, maka mereka akan gagal. Oleh karena itulah aku harus mengarahkan mereka untuk beraksi. Meskipun begitu, aku tetap tidak nyaman berada di posisi pemimpin.

Mungkin pemimpin bukanlah posisi yang cocok untukku.

Bahkan aku ragu-ragu memilih peran sebagai Warrior atau Priest, namun akhirnya aku memilih Priest. Tugas seorang Priest adalah menyembuhkan anggota tim yang terluka. Sedangkan, Warrior harus berdiri di garda terdepan untuk melindungi tim, menyibukkan musuh, dan membasminya. Aku ingin Ranta melakukan pekerjaan itu.

Tentu aja aku punya alasan mempertimbangkan itu. Ranta memang pendek, tapi dia punya stamina. Kepribadiannya cacat, tetapi ia memiliki semangat yang gigih, dan aku tahu dia suka mendapatkan perhatian dari orang lain. Orang seperti dia tidak akan mengabaikan teman-temannya dengan mudah.

Sebetulnya aku mau saja menjadi Warrior, tapi sepertinya Ranta lebih cocok.

Tapi akhirnya, aku gagal membaca ego Ranta. Itu memang salahku, tapi tim ini tetap saja membutuhkan Warrior dan Priest. Shihoru terlalu sensitif, dan Yume bukanlah pilihan. Tak seorang pun di antara kedua gadis itu cocok untuk peran ini. Bahkan Haruhiro pun tidak cocok. Sifat maupun fisiknya tidak cocok menjadi Warrior.Tapi, bagaimana kalau Ranta saja yang jadi Priest? Ah tidak...... itu konyol.

Kalau Haruhiro yang menjadi Priest, bukankah opsi itu tidak begitu buruk? Kalau begitu aku yang menjadi Warrior? Ah tidak, kami tidak memiliki banyak pilihan.

Kalau Renji sih, dia pasti menjadi Warrior. Sedangkan si gadis mungil menjadi Preist-nya. Aku tahu karena aku pernah melihatnya di Guild.

Sayangnya aku sudah berencana menjadi Priest sejak awal, jadi kuserahkan peran Warrior pada orang lain.

Apakah karena aku tidak suka berada di barisan terdepan? Apakah karena aku takut? Tidak.... kurasa bukan itu alasannya....

Tiba-tiba Ranta melompat.

"A-a-a-a-apa....!? Whoa!?”

Saat aku melihat ke arahnya, ada seekor hewan seukuran kucing, dan tubuhnya tertutupi rambut setajam duri. Hewan itu mencoba menempel pada kaki Ranta, dan mencakarnya.

"Itu tikus lobang," kata Yume, sambil melihat sekeliling. "Biasanya tikus lobang menyerang dalam kelompok, jadi sepertinya masih banyak yang lain...."

"Mereka di sini ...!" tak butuh waktu lama, aku segera melihat tikus-tikus lainnya. Aku pun menghalaunya dengan mengayunkan tongkatku, tapi mereka berhasil menghindar. “Ukh! Mereka terlalu cepat!”

"Hei! B-Bantu aku di sini, teman-teman! Akulah yang harus kalian prioritaskan. Tolooooong! Seseorang.... tolong akuuuuuu!”

"Bertarunglah, Dark Knight!" Haruhiro menarik belati, lalu mengayunkannya pada tikus-tikus itu. Namun serangannya juga meleset, "Mereka cepat juag ...!"

"Hunghh!" pedang raksasa Mogzo malah hampir menebas Ranta.

"Eeek! M-Mogzo, sial! Kau coba membunuhku!!? Sial!! Sial, sial! Mana ada teman yang membantai temannya sendiri!!?”

Mogzo tampak sangat menyesal, tetapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa.

Haruhiro coba menendang tikus lubang, tapi lagi-lagi mereka berhasil mengelak. “Bersyukurlah! Mogzo berusaha membantumu!” teriaknya.

“Dia sama sekali tidak membantu! Rahhhh, HATRED! Apa-apa’an nih!? Skill Dark Knight-ku luput!?”

“Jangan gunakan skill sembarangan! Ugh, ya ampun ...! ”

Oh wow. Kami berantakan. Ada berapa tikus? Lima? Enam? Itu saja cukup membuat kami kewalahan menghadapinya. aku menghela napas. Pertama-tama, aku harus tenang. Yah.... ini memang mengerikan. Tapi setidaknya, aku belum frustasi.

"Marc em Parc." Shihoru menggambar simbol elemental dengan tongkatnya. Lalu dia merapalkan mantra sihir Magic Missile.

Hah.... dia menembakkan sihir dengan mata tertutup? Gawat dong.... pikirku, kemudian sebutir tembakan cahaya meluncur dari ujung tongkat Shihoru, mengenai tepat pada bagian belakang kepala Ranta.

"Gwah ?!"

"Hah?! Maafkan aku! Maafkan aku…"

"Dasar lonte! Aku akan membunuhmu! Tidak... tidak, maksudku ... akan kuremas dadamu sampai kempes!”

Ranta menggosok bagian belakang kepalanya, lalu bersiap-siap menyerang Shihoru.

Oh.... ayolah.... aku harus melakukan sesuatu....

Aku menebas kaki Ranta dengan tongkat pendekku. Dia tersandung sempoyongan, sambil sedikit menggerutu. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran.

"Apa-apa’an kau ini?!" bentakku pada Ranta, aku ingin dia sedikit mengerti kekesalanku, tapi seekor tikus lubang datang ke sini. Aku mencoba untuk memukulnya, tapi gagal.

Makhluk-makhluk kecil ini sungguh cepat. Ini semakin menarik saja!

"K-kalau saja kita mengenainya sedikit saja!" Yume mengayunkan parangnya dengan liar. “Master pernah bilang, kebanyakan hewan liar akan lari jika tersakiti. Semuanya, berusahalah sebisa mungkin melukai mereka!”

Itu masuk akal. Tikus-tikus itu harus berburu setiap hari untuk mendapatkan makanan. Maka, mereka tidak boleh terluka sedikit pun, karena itu akan mempengaruhi kemampuan berburu mereka.

Aku terus mengawasi pergerakan tikus-tikus lubang itu dengan mataku, sementara di sudut sana, Mogzo sedang mengayunkan pedang raksasanya sampai menebas pohon, itu membuatnya dihujani oleh dedaunan bercampur serangga. "Hunghh! Whuh?!” dia berteriak kaget.

Itu terlalu lucu. Tidak.... ini bukan waktunya menonton hiburan.

"Ini semua percuma saja!" Haruhiro tiba-tiba jatuh berlutut dengan salah satu kakinya. Apakah dia sudah menyerah?

Hmm.... tidak.... dia tidak menyerah. Dia justru berusaha memancing tikus-tikus itu. Seolah-olah, dia mempersilahkan tikus-tikus itu menggigit dirinya.

Dia menggunakan lengannya sebagai umpan agar tikus-tikus itu mendekat. Tapi, seekor tikus berhasil merobek kulit pada lengan kanannya.

"Yowwwch ... ?!" Haruhiro berteriak, mencoba melepaskannya, tapi tikus yang tadi terus menggigit lengan kanannya. "Aduh!"

"Haruhiro ...!" panggilku. Bagus Haruhiro! Setidaknya rencanamu berhasil. Aku pun mulai mentarget dua ekor tikus lubang yang menggigitnya. “Jangan bergerak....!”

Dengan sekali hantam tongkatku, tikus-tikus itu menjerit kesakitan. Tapi sayangnya mereka memiliki rambut tajam yang menutupi tubuhnya. Rambut itu membuat pukulanku tidak begitu sakit, dengan kata lain seranganku tidak begitu efektif. Dua ekor tikus lubang segera bangkit kembali, lalu melarikan diri. Apakah mereka sudah menyerah? Tikus-tikus lainnya juga menghilang.

Lalu, aku menyembuhkan Haruhiro dengan sihir cahaya. Dia begitu tertegun, mungkin inilah pertama kalinya dia melihat sihir cahaya.

"Luar biasa ... Terima kasih, Manato. Kau lah yang akhirnya bisa mengusir tikus-tikus itu.”

"Ini juga berkat kerja kerasmu, Haruhiro. Jika kau tidak memancing mereka, aku tidak akan bisa berbuat apapun.”

"Yahh, tadinya aku memang berniat menggunakan lenganku sebagai umpan, lalu menangani mereka sendirian, tapi ..."

"Yahh... apapun itu, yang penting semuanya sudah berakhir sekarang.”

Jujur saja, ini tidak buruk.

Sepertinya aku meremehkan Haruhiro, pikirku. Terus terang saja, satu-satunya orang yang membuat keputusan tegas adalah Haruhiro. Dia berani menggunakan lengannya sendiri sebagai umpan. Aku bisa saja memikirkan ide gila seperti itu, tapi mungkin aku tidak akan melakukannya. Itu artinya, Haruhiro adalah orang yang mau berkorban demi tim. Dia memiliki kapabilitas untuk membuat keputusan.

Masalahnya adalah, dia tidak terlihat seperti orang yang tegas. Andaikan saja dia lebih tegas, mungkin aku pun mau menjadi anak buahnya. Lagipula, dia memiliki kecenderungan kuat bergantung pada orang lain. Dia jelas-jelas sangat tergantung padaku.

Tapi, pokoknya kami berhasil mengusir tikus-tikus itu. Dari peristiwa ini, aku belajar bahwa kita tidak boleh terburu-buru, itu hanya akan membuat kita celaka.<i>

Hari berikutnya, kami menjelajahi hutan lagi, lalu menemukan sebuah mata air kecil.

Ada Goblin lumpur di sana.

Dengan sedikit dorongan, aku meminta Haruhiro menjadi pengintai. Lalu, dia pun mengawasi mata air itu dari dekat.

Ketika Haruhiro mengangguk, aku mengangguk balik. Ketika aku akan memberikan sinyal untuk kembali — Haruhiro mengangkat tangan kanannya, lalu mengayunkannya ke bawah.

<i>Ayolah, tidak perlu terburu-buru. Oh, sudah terlambat.

Ranta maju menyerang sembari berteriak lantang. Tentu saja Goblin itu menyadarinya, lalu dia berusaha melarikan diri.

"Sekarang!" Yume berteriak dan segera melepaskan panahnya. Namun serangannya meleset, dan panahnya hanya menancap di tanah.

Tapi berkat itu, si Goblin berhenti.

Goblin lumpur itu tidak bersenjata. Bukannya berarti dia tidak berbahaya, tapi aku memutuskan untuk melihat dan mengamatinya terlebih dahulu.

Haruhiro menggunakan Slap dengan belatinya. Serangan itu hanya menggores targetnya. Goblin itu terhempas ke mata air sejenak, lalu segera melakukan serangan balik.

Haruhiro sedikit mengelak.

Ranta datang dengan teknik Hatred-nya, tapi serangannya terlalu mudah ditebak.

Goblin lumpur melompat, lalu menendang Ranta sampai jatuh terjerembab. Serangan itu tampaknya cukup berbahaya.

Dia berniat menjepit Ranta yang sudah jatuh di tanah, tapi aku segera menusuk pundak Goblin itu dengan tongkatku.

Shihoru berusaha mengucapkan mantra dengan mata tertutup lagi, tetapi Ranta menghentikannya. Ya, aku setuju, gadis itu harus merubah kebiasaan buruknya itu.

"Mogzo, serang Goblin lumpur itu dari depan!" perintahku. "Yang lain, kepung dia!! Jangan biarkan kabur!”

"Ya!" Mogzo segera melaksanakan perintahku. Dia langsung menempatkan diri di depan Goblin, lalu menusukkan pedang besarnya pada targetnya.

"B-baiklah, k-kurasa aku harus mencobanya?!" Ranta bergerak ke sisi kanan Goblin, sedangkan aku di sebelah kiri. Yume melepas busurnya, lalu mencabut parangnya, dia bersama Haruhiro menjaga dari belakang. Sekarang si Goblin benar-benar terkepung.

Ini formasi yang bagus, pikirku. "Mogzo! Terus serang! Berikan tekanan padanya!”

"Hunnngh!"

"Hei!"

Serangan Ranta dan Mogzo cukup baik, pikirku — tetapi kemudian, Goblin lumpur menjerit dan melemparkan ranting kering ke Ranta.

Itu hanya ranting, tapi cukup membuat Ranta terkejut, lalu bergerak mundur cukup jauh.

"Whoa ?!"

Dasar bego.... pikirku dengan jengkel. Mundur sejauh itu akan merusak formasi kita. Aku tidak akan membiarkannya....

Aku segera melangkah, lalu menghantam pundak Goblin sekali lagi dengan tongkatku.

Apakah serangan itu membuatnya marah. Dia menghadap padaku, lalu menjerit begitu keras.

Apakah dia akan menyerangku?<i> aku pun mempersiapkan diri. Tapi dia tidak kunjung datang. <i>Apakah dia hanya menakuti-nakutiku? Ya, itu memang menakutkan, sih. Tapi, untungnya jumlah kami lebih banyak.

“T-teman-teman!” Ranta menjilat bibirnya berulang kali. “Kalian jangan takut! Membunuh atau dibunuh! Aku akan menghabisi makhluk ini, agar Vice-ku semakin banyak!”

Mungkin kau sendiri yang takut, Ranta.

"Tetap waspada ...!" kataku sembari memberikan serangan lainnya pada si Goblin, kali ini kuhantam kepalanya dengan tongkatku. Aku berhasil membuatnya berdarah, lalu Goblin itu menatapku dengan kejam, sembari mendesis, dan mengayun-ayunkan kedua tangannya.

Jelas sudah.... Goblin ini terpojok. Dia begitu putus asa.

"Gobsy ini benar-benar tangguh, ya ..." kata Yume dengan gemetaran.

Mogzo kembali memberikan tekanan. "Umph! Umph!” dia terus mengayunkan pedangnya, sampai membuat Goblin itu mundur beberapa langkah.

Saat itu juga, Yume dan Haruhiro sudah bersiap di belakang.

"Sekarang giliran kita, Haru-kun!"

"Y-Yeahhh ...!"

"Ahhhhhhhhhhh!"

"Urkh ..." Haruhiro sepertinya terintimidasi oleh ratapan Goblin itu, tapi dia masih mampu mengayun-ayunkan belatinya dengan liar.

Akhirnya, salah satu tebasannya melukai lengan Goblin cukup dalam.

Harusnya Haruhiro bisa menusuknya lebih dalam, tapi dia tampak terkejut, lalu segera menarik belatinya. Apa yang kau lakukan.....

"Ugyahgyah!" darah Goblin lumpur berhamburan di mana-mana, dan dia berguling-guling di tempat. Dia meronta-ronta dengan sia-sia. “Gyah! Ugyahgyah!"

Dia sudah terluka parah, namun kami tidak boleh lengah sekarang. Kita tetap harus menyerangnya dengan tenang.

Namun, tak seorang pun di antara kami berani menyentuh Goblin yang sedang meronta-ronta itu. Napas kami ngos-ngosan. Aku juga sedikit kehabisan napas. Kenapa? Apakah karena tensi pertarungan ini terlalu tinggi?

"Ada apa ini ...?" Haruhiro bergumam pada dirinya sendiri dengan lemah. Wajahnya menunjukkan betapa kasihan Haruhiro pada Goblin itu.

"Haruhiro, hidup kita dipertaruhkan di sini ...!" seruku. Jika aku tidak bisa memotivasinya, maka kami dalam masalah. “Mungkin kau merasa iba pada Goblin itu! Tapi dia siap membunuh kita kapan saja!! Aku tahu ini tidaklah mudah!! Tapi, tak satu pun di antara kita mau mati!!”

"Marc em Parc ...!" yang pertama bertindak adalah Shihoru. Ini cukup mengejutkan.

Butir cahaya tertembak dari ujung tongkatnya, lalu menghantam wajah Goblin lumpur. Dia kesakitan dan kebingungan.

"Sekarang!" aku memerintahkan sekali lagi untuk menyerang si Goblin.

Ranta menusukkan pedang panjangnya sampai tertancam dalam di pundak kanan Goblin itu. “—uhh, keras sekali.... apakah aku mengenai tulangnya!?”

"Hungh ...!" Mogzo mencoba mengayunkan pedangnya lebar-lebar.

Pedang Ranta masih tertancap di bahu si Goblin, jadi dia tidak bisa kemana-mana.

Pedang raksasa Mogzo melakukan tugasnya dengan baik. Tempurung kepala Goblin lumpur pecah seketika.

Akhirnya lawan kami tumbang, bersamaan dengan itu Ranta mengangkat tinjunya ke atas, sembari berseru, “Yeahh!!”

Kurasa dia sudah mati. Tidak mungkin dia bisa bangkit lagi dengan luka separah itu.

Tapi...... kenyataan berkata lain.

"... ini bohong kan....." Yume menatap dengan tak percaya.

Tidak... ini tidak bohong.

"Apa ... ?!" aku berteriak kaget, lalu kucoba menjegal Goblin itu dengan tongkatku.

Tapi gagal, Goblin itu berhasil melarikan diri, bahkan dia bisa melompati sabetan tongkatku dengan mudah. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa.

"Cukup sudah!" jika Haruhiro gagal menjegal kaki Goblin itu, mungkin dia sudah lari jauh.

Tapi..... mungkin juga tidak. Faktanya, Goblin lumpur sudah terluka parah. Meskipun masih bisa kabur, kurasa dia tidak akan pergi jauh.

Mogzo meraung sekali lagi, sembari bersiap-siap menebas lawannya dengan pedang raksasa. Tapi Ranta menyela.

“Minggir, Mogzo! Biar aku yang menuntaskannya ...!"

Ranta menghabisi Goblin itu dengan brutal. Dia membacok lawannya berkali-kali.

"Wahahahahahahahaha!" Ranta tertawa seperti orang tidak waras. “Dewa Skullhell! Kau lihat itu?! Untuk mengumpulkan Vice, seorang Dark Knight mencabut nyawa lawannya, lalu mempersembahkan sebagian tubuhnya pada altar Guild! Hmmm, telinganya cukup besar.... mungkin lebih baik kuambil kukunya..... tunggu dulu.... whoa.... whoaaa....?!”

Ahh iya.... masih belum selesai juga ya....

Dia masih bernafas. Goblin lumpur itu belum mati.

Ia mencoba merangkak menjauh. Meskipun tidak ada harapan lagi baginya.

Shihoru terisak-isak, hampir menangis.

"Dia tidak ingin mati, ya ..." Yume menyatukan tangannya seolah hendak berdoa. "Beristirahatlah dengan damai… kumohon....."

"Tidak ..." Haruhiro mengoreksi gadis itu dengan suara pelan. "Dia jelas-jelas masih hidup ..."

Aku tidak tahu apa-apa tentang Goblin atau makhluk sejenisnya, tapi.... inikah yang dinamakan asa mempertahankan hidup...? Ya, kurasa inilah.....

"Kita harus menghabisinya," aku mengangkat tongkatku lalu kuayunkan. "Kalau tidak ... kita kita hanya akan memperpanjang penderitaannya saja."

Sekali lagi, aku menghantamkan ujung tongkatku pada kepala si Goblin. Itu membuatnya berhenti bergerak. DIa tidak bernafas lagi.

Aku melakukan apa yang kupelajari di Guild Priest, yaitu menutup mata di depan jasad seseorang, lalu membuat simbol heksagram.

Mencabut nyawa makhluk lain akan membebani pikiranmu. Tapi, kurasa ini tidak buruk juga.....

Kurasa, aku masih bisa melakukannya, pikirku. Kurasa, aku baik-baik saja. Bahkan, keragu-raguanku sudah hilang sekarang. Tadinya, kurasa ini akan sulit, namun ternyata tidak juga.

Kalau saja dia manusia, pasti akan lebih sulit bagi kami melakukannya. Tapi nyatanya dia adalah Goblin, mungkin itulah yang membuatku tidak begitu menyesalinya. Biarlah...... toh, tak lama lagi aku pasti akan semakin terbiasa.

Aku bisa terus melakukan ini.

Ya..... aku sih bisa.

Tapi, bagaimana dengan yang lainnya.....

3. Terus Berjalan

Setelah mengalahkan Goblin lumpur, kami tidak mendapatkan penghasilan selama tiga hari setelahnya. Itu membuat mood Party ini semakin memburuk.

Yahh, begitulah faktanya, tapi kami tidak bisa terus-terusan begini. Kami semua tahu itu, tapi tak seorang pun mencoba mengubah keadaan. Jadi, akulah yang harus melakukannya.

Pada malam hari, pada kamar kami di suatu penginapan, aku duduk termangu.

"... Manato?" seseorang memanggilku.

Itu Haruhiro. Dia masih belum tidur?

"Ya," kataku.

"Kamu masih bangun? Sudah malam, lho. Ah tidak juga, lebih tepatnya, malam barusan dimulai. Apakah kau mau ke kamar kecil, atau semacamnya?”

"Tidak." aku bangkit dari tempat tidur. “Aku mau keluar sebentar. Mungkin aku tidak perlu katakan ini..... tapi, jangan khawatir.... aku pasti akan kembali."

"Hah. Kau akan keluar ... di tengah malam seperti ini?"

"Kan kau bilang malam baru saja dimulai," kataku dengan senyumku yang biasa. "Aku keluar dulu ya. Kamu pasti lelah, jadi jangan menungguku kembali. Tidur saja duluan."

"Oh baiklah."

Jika aku tidak mengajaknya, Haruhiro tidak akan ikut. Itu agak menyebalkan, tapi sudah kukira. Memang lebih baik dia tidur, dia sudah berusaha keras mengawasi tim dari mara-bahaya seharian.

Aku meninggalkan rumah penginapan, menuju Jalan Taman Bunga. Di sana, ada kedai bernama Sherry, yang merupakan tempat nongkrong para prajurit relawan.

Dalam perjalanan ke sana, aku diganggu oleh gadis-gadis yang menawarkan tempat lain. Tapi aku menolaknya, lalu terus menuju ke tempat yang kuinginkan.

Entah kenapa, ramainya malam ini mengingatkanku pada masa lalu. Apakah dulu aku pernah tinggal di tempat seperti ini? Sayang sekali kami tidak mengingat masa lalu kami sama sekali.

Seraya berjalan dengan langkah santai, aku melihat-lihat ke kedai minuman, sampai akhirnya melihat seseorang yang kukenal.

Ada seorang pria berambut perak yang duduk di meja kasir sendirian. Itu Renji.

Aku pun mendekat, lalu duduk di sebelahnya, sembari kusapa dia. “Hei...”

Renji menatapku sekilas, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Aku bertanya pada pelayan tentang minuman apa yang ada di daftar menu, dan berapa harganya.

Ketika aku hendak memesan, Renji menyodorkan gelasnya.

"Tambah lagi." katanya, sambil mengelungkan sekeping koin perak pada pelayan wanita yang tampak bingung. "Dua gelas."

Wanita itu pasti ketakutan, karena dia buru-buru mengemas koin Renji dengan tangan gemetaran.

Seperti biasanya, aku hanya menanggapinya dengan senyuman. "Maaf merepotkanmu."

"Apanya yang merepotkan?" kata Renji sambil sedikit tersenyum.

Aku menggelengkan kepala. "Nggak kok...." lalu melanjutkan, "Kau banyak uang ya....."

"Ya..... tidak seperti orang miskin tidak berguna sepertimu."

"Wah, kau orangnya blak-blak’an ya...."

"Memang....."

"Apakah kau sengaja mentraktirku untuk mengejekku?"

"Aku hanya merasa kasihan padamu." Renji menghabiskan gelasnya. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Kau bahkan membentuk Party dengan sisa-sisa sampah itu. Sebenarnya apa yang kau harapkan dari mereka?"

"Sampah, ya?" itu cukup membuatku marah, tapi tidak sampai membentaknya. Malahan, aku bingung, mengapa Renji memancingku seperti ini?

Renji, jika kau tahu kondisi kami, bahkan sampai mentraktirku minum, harusnya kau merasa sedikit iba. Lihatlah perbedaan kita, seakan-akan kau membuat semua usahaku sia-sia saja. Aku berada di posisi jauh di bawahmu. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak merasa pesimis, malahan..... mengapa kau terlihat kesal? Mungkin, ada sesuatu yang terjadi di luar rencananya.

"Pasti sulit, menjadi perfeksionis," kataku.

"Jangan sok tahu."

"Aku tidak mengenalmu, Renji. Sama sekali tidak."

"Memang."

"Sebaliknya, kau juga tidak tahu apa-apa tentangku."

"Oh, aku tahu," kata Renji tanpa menatapku. "Senyummu itu palsu. Kau adalah tipe orang yang tidak pernah memanusiakan orang lain. Kau tidak pernah mempercayai siapapun. Kau tidak pernah berharap pada siapapun. Itulah kenapa kau menutupi semuanya dengan senyum manis di wajahmu.”

"Hmmm, sepertinya itu benar juga."

“Aku yakin kau adalah pria sebusuk itu.”

"Jadi, menurutmu aku ini busuk?" tanyaku.

"Ya itu benar."

“Meski begitu, kau menyedihkan sekali Renji, sampai melampiaskan kekesalanmu pada orang lain.”

Renji hendak mendecakkan lidahnya, tapi tidak jadi. Setelah itu, minuman kami datang, dan dia menenggaknya. Sampai selesai minum pun, dia tidak berbincang lagi denganku.

"Yahh, semoga kau beruntung, ketua sampah," kata Renji, lalu dia berdiri dari kursinya, dan pergi meninggalkanku.

Itu sangat lucu, aku tertawa.

Meski tertawa, tapi celaan Renji terasa seperti tamparan di wajahku.

Aku tidak percaya orang lain? Aku tidak pernah berharap pada orang lain? Benarkah sifatku seperti itu? Apakah aku memang perlu mempercayai orang lain? Apa salahnya tidak menaruh harapan pada orang lain? Terus, dia bilang senyumku palsu? Memangnya kenapa.....

Meskipun penampilannya seperti itu, ternyata Renji jauh lebih menarik daripada dugaanku sebelumnya. Itulah kenapa aku tertawa.

Sekarng, aku hanya bisa terkekeh-kekeh pada diriku sendiri. Mungkin benar aku orang jahat. Dan mungkin aku tidak cocok dengan Renji. Andaikan saja Renji sedikit lebih bebal, mungkin dia bisa menjadi sahabatku.

Terus terang, aku bisa saja menipu dan memanfaatkan Renji. Tapi itu tidak baik. Renji bisa membaca diriku. Kalau kami terpaksa bekerjasama, mungkin akan banyak perselisihan.

Jika Renji masuk kelompokku, maka tim kami akan semakin kuat, namun semuanya akan kacau. Kurasa aku dan Renji sama-sama tidak bisa menjaga ego jika harus bekerjasama dalam satu tim.

Aku tahu Renji memahami itu. Dan begitu pun denganku. Itulah yang terjadi saat ini.

"Tapi aku masih belum mengerti, Renji," bisikku sebelum menenggak sisa minuman di gelas.

Sayangnya, aku sendiri belum begitu paham orang seperti apakah aku ini. Kenapa bisa begitu? Aku tidak tahu, tapi yang jelas menggali diri sendiri sungguh menyenangkan.

Lalu, teman-temanku kau sebut sampah, ya? Itu berarti aku ketua sampah? Hei, ada yang salah dengan itu? Memang seperti itulah tim yang kupunya saat ini? Mau apa lagi? Tunggu saja sampai kami berkembang, bahkan melebihi timmu.

Yahh, kalau kami benar-benar bisa melebihi Tim Renji, itu akan sangat menyenangkan sekali sih..... aku tidak sabar bagaimana melihat wajah Renji saat itu.

Kemudian, kau sebut aku pria busuk? Seperti yang kusebut tadi, aku belum paham sepenuhnya mengenai diriku sendiri. Jadi, kalau kau bilang begitu..... mungkin saja kau benar. Tapi, setidaknya aku sudah mulai menyadarinya.

Untuk saat ini, aku hanya perlu menghasilkan uang. Aku mulai dari nol, atau bahkan minus jika kau lihat materi tim yang kupunya saat ini. Tapi kami tidak tinggal diam. Setidaknya, aku sekarang sudah tahu orang seperti apakah Haruhiro dan yang lainnya.

Sekarang waktunya serius. Saatnya kita kembali ke urusan semula.

Aku mengumpulkan informasi di Kedai Sherry. Sangat mudah berbaur dengan prajurit relawan senior, dan aku pun mendapat banyak informasi dari mereka. Ternyata, tidaklah efektif berburu Goblin lumpur di hutan. Jadi, ada tempat lain yang lebih bagus?

Ya, tentu saja ada.... yaitu di Kota Tua Damrow. Sekarang tinggal menyampaikannya pada tim, aku yakin tak ada seorang pun yang akan keberatan berburu di sana.

Singkat cerita, kami pun mulai berburu di Kota Tua Damrow secara rutin. Target kami adalah para Goblin yang hidup di sana.

Tapi, jika kita membicarakan ras yang menjadi musuh manusia, Gobin tidaklah sendiri..... ada juga Orc, Undead, Elf abu-abu, Kobold, dan sebagainya, dan sebagainya.

Umumnya tubuh Goblin lebih kecil daripada manusia, dan juga kurang pintar. Bahkan, mereka dipandang rendah oleh ras musuh lainnya. Biasanya, mereka hanya digunakan sebagai umpan oleh ras lain.

Itulah kenapa ras Goblin diusir ke tempat yang begitu dekat dengan ras manusia, yaitu Kota Damrow.

Pusat wilayah kekuasaan Goblin hanyalah Kota Baru Damrow. Sedangkan Kota Tua yang berada di sebelah timurnya, sudah tidak lagi terawat.

Goblin-goblin yang mendiami Kota Tua Damrow adalah mereka yang tersisihkan dari Kota Baru.

Sebenarnya miris juga sih, tidak adakah mangsa lain yang bisa kami buru selain Goblin rendahan di Kota Tua Damrow? Yahh, untuk saat ini kurasa tidak ada.

Yang penting dapat uang. Ya, itulah tujuan utama kami.

Ah, tidak..... tidak.... sebenarnya ada tujuan lain yang tidak kalah pentingnya.

Yaitu, pengalaman berhasil mengalahkan musuh.

Jika kami tidak pernah merasakan suatu kesuksesan pun, maka kami tidak akan bisa berkembang. Kami perlu bertarung, dan menang. Kami perlu mengembangkan kemampuan kami untuk meraih kemenangan.

Itulah kenapa kita harus memburu musuh yang lebih lemah terlebih dahulu. Tapi jangan terlalu lemah juga, karena melawan musuh seperti itu tidak ada gunanya. Kami perlu melawan musuh yang lemah, tapi tetap memberikan perlawanan yang cukup.

Menurut informasi yang kudengar, Goblin-goblin buangan di Kota Tua Damrow adalah lawan yang tepat bagi pemula lemah seperti kami.

Aku pun mempercayakan pengintaian pada Haruhiro. Dia adalah orang yang cukup berhati-hati, dan emosinya stabil. Dia adalah tipe orang yang bisa mengerjakan hal-hal kecil dalam jumlah besar, dengan telaten. Dia juga sangat tergantung padaku, tapi itu hanya ketika dia terjebak dalam suatu situasi yang tidak menentu. Namun sejatinya, dia adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan benar secara independen.

Dengan matanya yang terlihat mengantuk itu, mungkin dia tampak sulit diajak kerjasama, tapi itu tidak benar. Kurasa dia bisa mengemban tugas dengan baik.

Kedua, tentang Mogzo. Aku selalu memintanya menangani hal-hal yang berhubungan dengan fisik, karena tubuhnya yang besar. Contohnya, menyerang pada barisan terdepan. Toh, memang itulah tugas seorang Warrior. Namun, aku sudah mendapati kelemahan Mogzo. Ketika dia bingung, tindakannya mulai tidak stabil. Bahkan dia pernah kesulitan mengendalikan pedang besarnya ketika panik. Harusnya dia mengayunkan pedang itu, ini malah dia yang diayun-ayunkan oleh pedang tersebut.

Aku tahu dia cukup kuat mengendalikan pedang sebesar itu. Yang perlu dia lakukan hanyalah tenang, mengatur postur tubuhnya, lalu mengayunkan senjatanya dengan kekuatan penuh.

Saat kuberikan masukan padanya, gerakannya pun semakin baik.

Sekilas mata, Mogzo tampak seperti orang tolol, tapi itu sama sekali tidak benar. Andaikan saja emosinya sedikit lebih stabil, dia pasti bisa melakukan pekerjaannya dengan benar. Dia masih akan berkembang lagi seiring berjalannya waktu.

Ketiga, Yume. Yume sendiri mengakui bahwa dia tidak mahir membidikkan panahnya. Mungkin itu bukan karena skill-nya yang kurang, melainkan kemampuan berkosentrasinya yang buruk. Kalau aku harus berpikiran positif, akan kusebut Yume orang yang terlalu tenang. Tapi kalau aku boleh berburuk sangka, akan kusebut dia orang yang tidak pernah serius.

Maka, tugasku adalah agar membuatnya selalu serius.

Keempat, Shihoru. Masalah gadis itu adalah kepribadiannya sendiri. Dia harus mengatasi sifat pemalu, dan inferiornya. Untungnya, dia adalah orang yang selalu waspada pada apapun di sekitarnya. Dia juga selalu memperhatikan bagaimana perasaan orang lain terhadapnya.

Untuk mengatasi semua masalah kepribadian itu, dia harus banyak memperhatikan orang lain. Itu pun cocok dengan tugasnya sebagai Mage, karena peran Mage adalah mengamati dari kejauhan, dan memberikan serangan jarak jauh jika perlu. Dia harus melatih pengamatannya untuk mendapatkan visi yang luas. Aku pun harus membantunya melakukan itu.

Kelima, Ranta. Sifatnya yang susah diatur adalah pedang bermata dua. Tapi, satu-satunya pilihanku adalah membiarkan dia melakukan apapun sesuka hatinya. Itu pun cukup beresiko, karena dia bisa saja merugikan orang lain jika dibiarkan bebas bertindak. Tapi, jika aku terlalu mengekangnya, kemampuan orang ini justru akan terbatas.

Setelah mengamatinya beberapa saat, akhirnya aku paham bagaimana dia bekerja. Pokoknya, aku memerlukan rencana yang begitu matang, agar orang yang susah diatur seperti Ranta bisa berguna untuk tim.



Hari pertama berburu di Kota Tua Damrow, kami membunuh empat Goblin, yang menghasilkan total 10 perak dan 45 tembaga.

Hari kedua, hanya 1 perak.

Pada hari ketiga, kami memutuskan untuk memetakan lokasi perburuan. Itu mempermudah kami, dan akhirnya kami mendapatkan 4 perak dan 32 tembaga.

Setelah menabung sedikit, kami pergi ke pasar pada hari itu. Yang lainnya sepertinya sedang asyik membelanjakan uanganya, dan kami pun kembali ke penginapan dengan senang.

Saat malam tiba, kami beristirahat, dan Ranta pun tidur dengan begitu pulas.

Mogzo bahkan mendengkur. Lalu, bagaimana dengan Haruhiro?

Aku juga cukup mengantuk.

Kami baru saja mencapai garis start yang bagus. Semuanya baru saja dimulai dari sini. Aku mulai menikmati pekerjaan ini. Bagaimana selanjutnya? Apakah akan semakin menyenangkan? Bagaimana dengan Renji? Apakah dia semakin sukses? Apakah Renji menikmati pekerjaannya? Hmmm, kurasa tidak.

Aku agak iri saat melihat Ranta dengan gembira merampas barang-barang Goblin yang sudah mati. Aku tidak bisa segembira itu. Bukannya aku tidak punya emosi, tapi...... kurasa aku bukanlah tipe orang yang bisa tertawa, menangis, dan berekspresi dengan begitu lepas. Kurasa, Renji juga orang seperti itu.

Seolah-olah, aku merasakan suatu dinding yang memisahkanku dan realita.

Realita ya....

Apa itu realita...?

"Manato," seru seseorang.

Itu suara Haruhiro. Jadi dia belum tidur.

"Ya?" tanggapku.

"Terima kasih."

"Kenapa tiba-tiba berterimakasih?" aku tertawa sendiri. "Justru aku yang harus berterimakasih padamu."

"Hah? Kenapa?"

"Ah tidak.... mungkin lebih tepatnya, aku harus berterimakasih pada kalian semua karena telah menjadi rekanku.”

Apa-apa’an ini? Apa yang sedang kukatakan? Apakah itu benar-benar yang kupikirkan? Apakah itu hanya omong kosong? Kalau begitu, aku sedang berbohong, kan....

"Aku selalu bersyukur punya tim seperti ini," lanjutku. “Mungkin omonganku ini terdengar seperti bualan saja. Tapi.... memang inilah yang kurasakan."

"Tidak...tidak... aku tahu kau berkata jujur, tapi ..." Haruhiro berhenti sejenak. “Aduh.... gimana ya bilangnya? Kami selalu mengandalkanmu. Jika tanpamu, kami akan mendapati masalah serius. Mungkin tanpamu, kami tidak akan bisa hidup sampai detik ini.”

“Aku pun begitu. Jika tanpa kalian, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Situasi yang sedang kita hadapi saat ini mengharuskan kita bekerjasama dengan orang lain, kan....”

Tidak, aku tidak berbohong. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.

Jika aku tidak ada, mungkin Haruhiro dan yang lainnya akan mendapati masalah besar.

Ya, itu mungkin benar.

Tidak ada yang bisa hidup sendiri di dunia ini. Tapi..... mungkin aku masih bisa menemukan tempat lain di mana aku bisa bertahan hidup.

Sedangkan, Haruhiro dan yang lainnya tidak bisa melakukan itu. Renji hanya menganggap mereka sampah, bahkan dia tidak sudi melirik mereka.

Bagi Renji, mereka yang tidak punya kemampuan tidaklah layak dimanfaatkan. Ada orang yang masih lemah, dan berusaha menjadi kuat, tapi Renji juga menganggap orang seperti itu sampah.

Lantas bagaimana denganku? Sebenarnya, bagaimana perasaanku pada Haruhiro dan yang lainnya?

"Jangan salah sangka ya..... tapi ... aduhh, gimana ya bilangnya....." kali ini, Haruhiro berbicara dengan tegang dan penuh keraguan. "Kurasa, orang sepertimu masih bisa bertahan hidup meskipun tidak bersama kami. Kau masih bisa menemukan orang lain yang layak diajak bekerjasama. Jika kau meminta seseorang bergabung dengan Party-mu, maka siapapun akan ikut dengan senang hati.”

"Kuajak bergabung dengan Party pasukan relawan?" tanyaku.

Jujur saja, apa yang dia omongkan tidak salah. Lantas, kenapa aku tidak merekrut orang lain menjadi Party-ku?

Suatu pikiran muncul di benakku.

Saat aku masuk Guild Priest, aku bukanlah yang terbaik. Tapi, aku juga bukan yang terburuk.

Bagiku, jika aku bisa melakukan sesuatu sejak pertama kali mencobanya, maka mengulang-ulanginya adalah suatu hal yang menyiksa. Kebiasaanku ini disadari oleh Master Guild.

Setiap kali dia memarahiku karena terlalu santai, aku selalu saja bisa menemukan cara lain untuk bersantai lagi.

Masterku bernama Honen. Setiap kali dia menegurku untuk memperbaiki prestasi, aku hanya menanggapinya dengan senyuman manis di wajah, tanpa sedikit pun berniat merubah sikap.

Aku sangat keras kepala, bahkan beberapa kali aku harus bertanya-tanya pada diri sendiri, sebetulnya apa yang salah denganku.

Kau harus lebih rendah hati, begitulah Master Honen menceramahiku. Jika kau lebih rendah hati, maka kau bisa memanfaatkan bakatmu yang luar biasa.

Dia terus berusaha mengajariku dengan nasehat-nasehatnya yang tegas.

Tapi.... tak peduli berapa kalipun dia memarahiku, menceramahiku, memotivasiku.... aku tetap saja tidak berubah. Aku hanya mendengar apa yang ingin kudengar, lalu selebihnya..... hanya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan.

Aku tidak bisa menjadi murid teladan Master Honen, karena aku selalu saja membantahnya.

Aku tidak pernah menentangnya secara terang-terangan, tapi itu justru semakin memperburuk keadaan.

"Jujur saja, aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu," kataku. "Kau tahu.... aku bukanlah tipe orang yang bisa membungkukkan kepala di depan orang lain untuk memohon sesuatu. Intinya, aku bukan orang yang begitu formal. Kita tidak ingat apa yang terjadi sebelum tiba di dunia ini, jadi.... aku pun tidak yakin.”

"Ah ... kurasa aku juga begitu," aku Haruhiro.

"Entah kenapa ...," gumamku.

Aku merasa senang datang ke Grimgar. Apa yang terjadi denganku sebelum datang ke sini?

Sebelumnya.... orang macam apa aku ini?

"Sepertinya, aku bukanlah orang yang pantas menjadi teman siapapun,” kataku.

"Itu tidak benar ..." Haruhiro bergumam pelan, lalu melanjutkan perkataannya. "Seperti apapun Manato dulu, itu tidak penting. Aku tidak perduli. Yang jelas, Manato yang sekarang adalah teman kami. Kau lah pemimpin kami. Kami pasti berada dalam masalah besar jika kau tidak di sini.”

"Aku pun butuh kalian," kataku.

Apakah memang itu yang kurasakan? Ataukah aku hanya berkata manis?

Aku tersenyum kecut. Ini benar-benar menyebalkan. Lama-lama aku sebal memikirkan orang seperti apakah diriku ini.

"Tapi tetap saja, ini sangat aneh," kataku. "Sebenarnya apa yang sedang kita lakukan di sini? Di dunia ini ada pedang, ada sihir, ada monster..... kita seperti sedang berada dalam game saja.”

“Game, ya? Benar juga— ” Haruhiro mulai berkata, lalu berhenti.

"Hm ...? Game? Apa itu game?"

"Hah?" aku pun bingung menjawabnya. “... Aku juga tidak tahu. Tapi, itulah yang ingin kuucapkan. ”Ini seperti game”. Perkataan itu muncul begitu saja di kepalaku.”

“Yahh, saat kau mengatakan itu, sepertinya benar. Tapi..... apa itu game?”

Segera setelah itu, Haruhiro tertidur.

Aku masih terjaga, dan tidak bisa memejamkan mata. Aku pun keluar kamar karena tidak betah berdiam diri.

Lalu, aku pergi ke Kedai Sherry, di sana aku melihat Renji sedang minum di meja kasir. Malam ini cukup ramai, tapi tak ada seorang pun yang duduk di kedua kursi sebelah Renji.

Maka, aku pun duduk lagi di sebelahnya.

"Bagaimana?" Renji bertanya padaku.

"Tidak buruk."

"Kemana kamu pergi?"

"Damrow."

"Cari Goblin, ya?" kata Renji. "Pekerjaan itu memang cocok untuk kalian."

"Rupanya suasana hatimu sedang bagus malam ini."

"Kalau aku memburu Orc."

"Oh ya?"

“Jika aku memburu lalat kecil macam Goblin, aku hanya akan menjadi bulan-bulanan orang lain. Itu sungguh menyebalkan.”

"Jadi, kau lebih memilih lawan yang kuat?” tanyaku.

Tapi Renji tidak menjawabnya.

Ketika aku memesan minuman dari salah satu pelayan, Renji juga memesan, tapi kali ini untuk dirinya sendiri.

Wajah Renji tidak memerah karena alkohol, dan ekspresinya tidak berbeda dari biasanya, tetapi suasana hatinya jelas sedang baik.

"Manato," katanya, "Aku bisa saja merekrutmu."

"Kau ingin aku bergabung dengan Party-mu?"

"Ya. Tapi masalahnya, tidak boleh ada dua pemimpin dalam satu tim.”

"Itu betul. Aku setuju denganmu."

"Jika kamu mau melakukan apa yang aku katakan, sekarang pun aku siap memasukkanmu dalam timku."

"Ah, pasti kau hanya bercanda."

"Tidak. Aku tidak bercanda. Berhentilah membuang-buang waktumu dengan semua sampah itu.”

“Jadi, kau ingin aku bergabung sekarang juga?” kataku.

“Aku tidak sedang terburu-buru, aku hanya ingin mendengar pendapatmu.”

Ohh begitu.

Aku salah. Mood Renji sungguh tidak baik hari ini. Justru sebaliknya, Renji sedang kesal. Dia jengkel sekali.

Aku cukup yakin tahu alasannya.

Konon katanya, Orc dan Undead adalah musuh terkuat ras manusia. Bahkan, orang bilang prajurit relawan belum diakui kekuatannya jika belum bisa membunuh Orc. Party Renji sudah memburu Orc, dan mereka menang. Tapi itu belum membuat Renji puas. Saat itulah, dia menyadari perbedaan kekuatan antara dia dengan timnya. Itu membuatnya hilang harapan.

Jika aku boleh menebak, mungkin seperti inilah pikiran Renji, ’Aku bisa melakukan ini dengan begitu mudah, tapi bagaimana dengan rekan-rekanku?’

"Hei, Renji. Kalau menurutku sih…..” aku meletakkan tanganku di bahu Renji. "Tidak perduli seberapa cepat seseorang, dia tidak akan bisa berlari pada kecepatan penuh setiap saat. Ada juga orang yang lamban, tapi dia bisa berlatih lari cepat tanpa banyak istirahat. Dari sudut pandang kami sekarang, kau berada jauuuuh di depan, tapi......... kurasa itu tidak akan berlangsung selamanya. Selalu ada saat di mana kami menyusulmu.”

"Kalau kau mau berlari cepat, buanglah bebanmu." Renji memelototiku. “..... dan mereka adalah bebanmu."

"Aku tidak ingin lari cepat. Aku hanya ingin menikmati semua ini." aku tersenyum, sembari sedikit mengelus bahu Renji, lalu kulepaskan. "Sayangnya, kurasa aku tidak akan pernah bisa berlari sejajar denganmu, Renji. Karena.... yaahhh, karena kakimu terlalu panjang, kan....”

Renji melirik kakiku, lalu sedikit merengut. "Kau memang pelawak."

4. Sampai Aku Menutup Mata

Bukannya terburu-buru, aku malah menikmati pemandangan, apakah ini yang benar-benar kuinginkan? Aku sendiri tidak tahu.

"...!"

Mogzo dan aku menangani tiga Goblin, yang mana salah satunya terjebak di antara kami.

Apakah kami dalam masalah? Tidak.

Haruhiro, yang sedang mengamati Goblin dari jauh, segera berseru, “Seekor sedang menuju ke arahmu, Ranta!”

Ranta langsung menjawab, "Ya!" kemudian dia mengejar Goblin yang ternyata hendak mengincar Yume dan Shihoru di lini belakang. "Aku sudah tahu itu!"

Kami menghabiskan hari demi hari berburu Goblin di Kota Tua Damrow. Semuanya mulai terbiasa melakukan pekerjaan ini berhari-hari. Tapi, Ranta masih saja sama seperti biasanya.

"Ha! HATRED!” Ranta mulai menyerang dengan pedang panjangnya.

Tapi jaraknya terlalu jauh. Dia pasti luput.

"Apa?! Kamu bukan Goblin biasa, ya… ?!”

"Itu jelas-jelas Goblin biasa, bung!" Haruhiro menyerukan itu sembari bertukar pandang denganku.

Aku memberinya sedikit anggukan sambil menangkis serangan Goblin lainnya dengan tongkatku. Kemudian, Haruhiro segera membantu Ranta.

Yume berada di sebelah Shihoru. Jika Ranta, Haruhiro, dan Yume bekerja bersama-sama, aku yakin mereka bias menumbangkan seekor Goblin.

"Fuh! Hah ...!” Mogzo tidak akan membiarkan gerakan gesit Goblin menipunya. Dia sungguh tangguh dalam bertahan.

Aku bisa dengan mudah mengatasi seekor Goblin sendirian. Tapi kalau dua atau tiga ekor, kurasa aku masih mampu... asalkan hanya menyibukkan mereka ya.... Tapi, kalau aku harus menyibukkan musuh sembari mengawasi rekan-rekanku yang lain, kurasa itu sulit.

Tapi aku adalah Priest, jadi aku harus menyembuhkan luka seseorang sesegera mungkin dengan sihir cahayaku. Terlebih lagi, aku adalah pemimpin Party ini, jadi aku harus memberikan perintah yang benar pada mereka. Aku tidak boleh hanya fokus pada musuh-musuh di depanku.

Aku berpikir, haruskah aku meminta Mogzo mengayunkan pedang besarnya lebih lebar lagi?

Tapi kalau dilihat dari pengalaman sebelumnya, mengayunkan pedang lebar-lebar tidaklah efektif. Musuh belum tentu terkena, sedangkan Mogzo akan cepat kelelahan. Kurasa Mogzo harus menggunakan pedangnya dengan lebih akurat. Mogzo adalah pria besar yang kuat, dia pun juga seorang Warrior. Maka, dia bisa mengintimidasi lawan-lawannya dengan tebasan pedang yang keras.

Aku akan memberitahunya nanti, tapi bagaimana caranya.... aku harus menggunakan bahasa yang baik karena meskipun Mogzo berbadan besar, hatinya lembut sekali. Pria seperti itu tidak terbiasa mengintimidasi orang lain.

“Ya ampun! Apa yang kalian lakukan?!” jerit Yume.

Yume pasti frustrasi melihat Ranta dan Haruhiro yang masih kesusahan melawan Goblin. Dia menarik parangnya, lalu ikutan menyerang.

“Diagonal Cross!"

Goblin menjerit, lalu melangkah mundur, berusaha menghindari serangan Yume, tetapi dia terkena tebasan ringan di bahunya.

Segera setelah itu, Haruhiro menghabisinya dengan Backstab. Waktunya begitu tepat, seolah-olah mereka telah saling memberi isyarat sebelumnya.

Haruhiro mencabut belatinya sembari melompat mundur, dan Goblin pun muntah darah, lalu tumbang.

Apa itu tadi? Apakah Haruhiro berhasil mengenai titik fatal lawannya? Ataukah serangan itu hanya kebetulan saja? Jangan-jangan dia melakukan itu dengan sengaja?

"Hah ...?" kalau dilihat dari ekspresi Haruhiro yang terkejut, sepertinya serangan itu kebetulan saja. "Apakah aku mengenainya? Aku mengenai titik vitalnya, kan? Aku berhasil, kan?”

"Whoa?! Biar aku yang menghabisinya!” Ranta segera melompat mendekati Goblin itu, lalu dia memenggalnya dengan pedang panjangnya. "Bagus! Aku dapat Vice!"

"Yume baru sadar.... ternyata Dark Knight sadis sekali ya....”

“Jangan bilang sadis! Gunakan istilah yang lebih keren, misalnya ‘brutal’! Kami Dark Knight adalah pelayan Dewa Skullhell. Kami memang brutal, tidak berperikemanusiaan, kejam, dan haus darah!”

Ranta dan Yume sangat santai. Mereka bahkan masih bisa ngobrol seperti itu di tengah-tengah pertempuran. Tentu saja, aku harus menegur mereka nanti. Tapi kinerja mereka cukup baik. Setidaknya, cara kerja mereka berbeda dengan Mogzo yang jauh lebih serius. Aku harus berhati-hati memilih perkataanku saat menegur mereka nanti.

Jika aku salah menegur mereka, takutnya malah tidak berkembang. Aku tahu mereka punya cara sendiri untuk meningkatkan kemampuan.

Sebenarnya itu tidak buruk, tapi aku harus bisa mengendalikan tim ini. Salah sedikit saja, aku bisa mengekang mereka.

Malahan, mungkin sebaiknya aku tidak memaksa mereka. Biarkan saja mereka bekerja dengan karakternya masing-masing. Aku hanya perlu membimbing mereka ke arah yang lebih positif. Ya.... kurasa itulah pilihan terbaik.


Dan..... kalau berbicara tentang orang yang sulit ditangani.......

"Ohm, rel, ect ..." Shihoru menggambar segel elemental di udara dengan tongkatnya, kemudian dia merapalkan mantra lainnya. "Vel, darsh ...!"

Itu adalah sihir Shadow Beat. Munculah elemental bayangan yang tampak seperti sebongkah rumput laut. Benda itu terbang dengan cara yang aneh, sembari mendesing, WHUUUSSHHH!!

Benda itu terbang kemari, tapi tentu saja aku bukan targetnya.

Elemental itu menghantam tepat di belakang kepala Goblin yang sedang kuhadapi. Si Goblin berteriak aneh, "Gagah!" lalu seluruh tubuhnya mengejang.

Shihoru telah memberiku kesempatan yang sempurna untuk masuk menyerang. Aku memukul Goblin tepat di sisi wajahnya, sampai dia tumbang. Aku bisa saja menghabisi lawanku ini, tapi kuserahkan pekerjaan itu pada Ranta.

"Rasakan ini! HATRED…! Sialan! Kau ini hanya Goblin bodoh! Rasakan ini! Dan ini.... dan ini.... dan ini....!!”

Aku hanya tersenyum pada Shihoru.

Dia kebingungan, menunduk dengan panik, lalu menutupi sebagian wajahnya dengan topi. Kemudian, Shihoru menggelengkan kepalanya seolah berkata, tidak, itu tadi kebetulan saja, kok….aku tidak sengaja melakukannya....

Ah..... sial....

Apakah Shihoru memiliki potensi sebagai Mage? Aku tidak tahu apa-apa soal Mage, jadi aku tidak bisa menilainya. Tapi, kurasa dia cukup punya potensi. Saat ini, dia memainkan peran yang tak tergantikan dalam tim, dan terus mengembangkan kemampuannya.

Bahkan.... kurasa ada cara untuk meningkatkan kemampuan Shihoru dengan cepat.

Aku bisa saja melakukannya, tapi............. hmmm...........

Jujur saja, sepertinya Shihoru punya rasa terhadapku. Yahh... itu belum pasti sih, tapi kurasa kemungkinannya cukup besar. Maksudku.... lihatlah sikapnya.... cukup jelas, bukan?

Andaikan dia bukan anggota Party ini, itu tidak masalah. Aku bisa berpacaran dengannya, atau bahkan menolaknya. Semua terserah padaku.

Aku tidak ingat masa laluku, tapi sepertinya aku bukanlah orang yang mau direpotkan permasalahan cinta. Percintaan hanyalah permainan. Mungkin aku bisa berpacaran sebagai hiburan, tapi buat apa diseriusi?

Aku bisa saja menerima perasaan Shihoru, agar dia lebih giat berlatih dan bekerja. Bahkan, jika aku berpura-pura menjadi pacarnya, mungkin aku bisa memintanya melakukan apapun untukku.

Tapi Shihoru adalah temanku. Aku tidak ingin menipu atau menyakitinya. Aku juga tidak bisa melakukan hal yang bisa merusak hubungan persaudaraan Party ini.

Sayangnya, jika aku menolaknya, bahkan secara halus, Shihoru bisa saja depresi. Itu juga merepotkan, sih.

"MAKASIH ...!" sementara aku merenungkan berbagai hal, Mogzo mengakhiri pertarungan dengan Rage Blow. Karena dia berteriak, “MAKASIH!” setiap kali menggunakan teknik itu, maka kami pun menyebutnya ‘Tebasan Terimakasih’. Pedang besar Mogzo menghujam bahu Goblin, lalu menembus sampai setengah dadanya.

Kekuatan yang luar biasa!

Dengan gerutuan, dia mengayunkan pedangnya, lalu si Goblin terbang entah ke mana.

"Yahoo!" Ranta bergegas menuju Goblin yang hampir mati, lalu dia mencacahnya dengan pedang panjangnya. “Gwahaha! Sudah tiga Vice berturut-turut! Berarti totalnya sudah 11 Vice! Iblisku akan semakin kuat! Kalau dia ingin, dia akan membisiki telinga musuh dan mengganggunya! Itu keren sekali!”

"Kalau dia ingin??" Haruhiro berkata sambil menghela nafas. "Jadi, iblismu hanya menuruti kemauannya sendiri? Dasar tidak berguna.”

"Hei! Jangan mengejek Zodiac-kun, Haruhiro! Atau aku akan mengutukmu!”

"Kau membelanya seakan dia tuanmu. Jadi.... siapa bawahannya dong?"

Haruhiro terlalu sering meladeni Ranta. Harusnya, orang seperti Ranta diabaikan saja. Lama-kelamaan dia akan merasa sendiri, frustasi, dan akhirnya menyerah. Jadi, jangan pernah memberikan perhatian padanya.

Haruhiro mungkin melakukannya karena dia pria yang baik, tidak sepertiku. Kalau aku sih.... tidak akan memusingkan orang seperti Ranta.

Tadi pagi kami meninggalkan Altana pukul tujuh, dan tiba di Kota Tua Damrow pukul delapan. Harusnya sekarang sudah tengah hari. Kami pun memutuskan untuk mencari tempat istirahat dan makan siang.

"Oh, Yume harus berdoa." Yume mengiris sepotong tipis daging dengan pisaunya, kemudian dia meletakkannya sejenak. Setelah itu, Yume mengatupkan kedua tangannya, memejamkan mata, dan mulai berdoa. “Dewa Serigala Putih Eldritch-chan, terimakasih atas segalanya. Yume akan membagikan sedikit daging untukmu. Jadi, tolong jaga Yume terus ya....”

"Apa yang sedang kau lakukan....?" kata Haruhiro, sambil merobek sepotong roti. “Oh aku tahu.... itu semacam ritual yang diajarkan di Guild Hunter, kan? Jadi, kau harus mempersembahkan sedikit makanan untuk dewamu, kan?”

“Tentu saja. Dewa Serigala Putih Eldritch-chan begitu besar, lhooo... tapi, ada juga Dewa Serigala Hitam Rigel. Hubungan Eldritch dan Rigel sangat tidak akur. Karena Eldritch-chan selalu menjaga semua Hunter, sehingga kami bisa melewati hari tanpa terluka sedikit pun.”

“Oke, jadi pada dasarnya, kau sedang menyembah dewamu, kan. Tapi, kau memanggil dewamu Eldritch-chan..... apakah itu tidak masalah?”

"Ya tidak apa-apa, dong," Yume memasang wajah lucu. "Eldritch-chan pasti tidak akan marah. Dia pasti memaafkan Yume. Kau tahu.... Eldricth-chan sangat menyayangi Yume.”

"... Perasaanmu...." kata Shihoru, sambil dengan hati-hati memegang makanannya yang tampak seperti donat. ".....kurasa dewamu bisa memahami perasaanmu. Yahh, aku juga tidak yakin sih....”

Aku menempelkan bibirku ke kantong air, lalu meminumnya.

Shihoru adalah gadis yang baik. Tapi kalau dia berpacaran dengan pria seburuk diriku, maka itu percuma saja.

"Ya," jawabku. “Perkataan seseorang adalah hal yang penting, tapi perasaan yang mendasarinya jauh lebih penting. Untuk Priest sepertiku sih, sihir cahaya tidak akan berfungsi jika mantra yang diucapkan salah, tapi kurasa doa pada dewamu tidaklah begitu.”

"Yume selalu berdoa seeeeepenuh hati." Yume mengatakan itu dengan lebay, sembari merentangkan kedua tangannya. “Waktu Yume tidur di malam hari, Yume sering bertemu dengan Eldritch-chan dalam mimpi. Lalu, Yume bertanya, apakah Yume boleh menunggangimu, Eldritch-chan? Lalu dia mengatakan, ‘hmmm... boleh... boleh...’, Yume pun menungganginya, dan kami berlari begitu kencang, whooos....whooooss.... Wahh, itu sungguh menakjubkan.”

“Cerita ini.....” Ranta mulai berkomentar sembari mengunyah daging dengan keras, dan memasang muka masam. “..... cerita ini sungguh tidak masuk akal. Aku sudah mendengarkan dengan sabar sejak tadi.... tapi ternyata hanya begitu akhirnya.... ini sungguh mengecewakan!!”

"Tidak masuk akal?" Yume berkedip. "Cerita ini memang tidak masuk akal, kok....”

"Aduh!" Ranta berteriak dengan wajah berang. "Kau ini bego ya!? Jangan menceritakan cerita tidak masuk akal sepanjang itu! Bagaimana kalau aku mati saat mendengar cerita sepanjang itu!? Itu sia-sia saja, kan??”

“Ya mati saja kau....” balas Shihoru dengan nada pelan dan dingin. “Kuharap kau mati secepat mungkin.”

"Ah!" Ranta segera menunjuk Shihoru. "Ah! Ahhhh! Aku mendengarnya! Aku mendengarmu, Shihoru! Barusan saja.... kau menyuruhku mati, kan?”

"... aku kan bilang ‘kuharap’.... aku tidak benar-benar menyuruhmu mati.”

“Kau menyuruh orang lain mati, kau sungguh mengerikan!! Itu adalah hal terendah yang dilakukan seorang manusia! Kau sungguh busuk! Kau lah orang terbusuk sepanjang sejarah!”

Mulai lagi. Seperti biasanya, mereka mulai saling ejek.

Jujur saja, aku tidak begitu suka situasi ini. Aku merasa ingin sekali melarikan diri dari situasi seperti ini. Ini sungguh tidak cocok denganku.

Namun, entah kenapa aku masih bisa menerimanya. Maksudku, aku tidak pasang wajah cemberut, atau memandang mereka dengan tatapan dingin. Aku pun coba melibatkan diriku dalam candaan mereka, namun itu sulit sekali. Apakah karena suasananya terlalu canggung? Ataukah aku memaksakan diri bergaul dengan mereka? Yahh.... mungkin itu benar. Aku terlalu memaksakan diri berteman dengan mereka. Itulah kenapa aku merasa begitu tidak nyaman bersama mereka.

Tapi, apakah benar jika aku terus menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya terhadap mereka? Apakah aku harus menyatakan yang sebenarnya pada mereka. Apakah salah jika aku terus bersandiwara?

Jika Ranta tidak dihitung...... mungkin Haruhiro, Yume, Shihoru, dan Mogzo memiliki kepribadian yang jauh lebih baik daripada orang-orang lain yang kukenal. Tapi, meskipun Ranta begitu menyebalkan, aku tahu dia bukan orang jahat.

Jujur saja, rekan-rekanku ini terlalu naif. Aku tidak yakin kami bisa terus bertahan seperti ini. Kami harus segera merubahnya. Tak peduli suka atau tidak, kami harus berubah.

Tapi ini bagus, bukan?

Di saat-saat seperti ini, kita bisa bercanda, bersantai, dan saling berbagi. Aku tahu suasana seperti ini tidak buruk juga. Malahan, kita perlu mempertahankannya.

Mungkin saja..... waktu yang kita habiskan saat ini bergitu berharga.

Yahh, mungkin inilah kenapa aku tidak bisa bekerjasama dengan pria macam Renji. Mungkin masih ada persamaan di antara kami berdua, tapi apa yang dia inginkan, dan apa yang menjadi tujuanku.... tidak pernah sama.

Aku pun yakin.... bahwa aku belum membuat kesalahan sampai detik ini.

"Kita telah menjadi Party yang baik," tanpa sadar, aku membisikkannya pelan pada diri sendiri.

Haruhiro menatapku sambil berkedip beberapa kali. "Hah?"

"Hari ini kita bisa memburu tiga Goblin sekaligus," kataku sambil tersenyum. Jujur saja, ini bukanlah senyumku yang biasa, tapi kurasa mereka tidak bisa membedakannya. “Tidak ada yang terluka, jadi kurasa kita sudah mahir memburu Goblin. Yume semakin baik memainkan parang, daripada busur panah. Dia begitu kuat. Jika kita terus begini, mungkin besok kita bisa memburu empat Goblin.”

"Oh, kalau itu sih ..." Haruhiro menunjukkan ekspresi serius.

Ya. Haruhiro memang tipe orang yang memiliki kapasitas berpikir serius, dan mengambil keputusan tepat.

"Ya, kurasa besok kita bisa mencoba memburu empat," dia menyetujuinya.

"Tenang saja, kan ada Mogzo," kataku. “Tubuhnya besar, jadi dia bisa mengintimidasi musuh dengan mudah. Lagipula, kemampuan pedangnya juga hebat. Dia bisa membantai musuh dengan teknik-tekniknya.”

"Ah, kalau itu aku juga sudah tahu," kata Haruhiro. "Mogzo memang hebat."

“... B-Benarkah? Apakah itu benar?” Mogzo menunduk dengan malu-malu. "A-aku tidak tahu. A-aku hanya melakukan pekerjaanku sebaik mungkin.”

"Ya! Kau memang berbakat menjadi Warrior, bung!" Ranta berteriak dengan marah.

"Y-Ya, t-terimakasih ..."

"Kau tidak perlu malu, Mogzo," kata Haruhiro, sambil memelototi Ranta. "Kau juga tidak ceroboh seperti...... seperti siapa ya........”

"Oh? Apa? Kenapa kau melihatku sambil mengatakan itu? Padahal kerjaku jauh lebih cepat darinya!?”

"Haru-kun sama sekali tidak menyebut namamu, Ranta." tatap Yume dengan mata dingin.

Kalau semuanya sepakat membully Ranta, dia pasti akan kesusahan. Maka, yang harus kulakukan adalah......

"Ranta juga hebat, kok." aku memilih kata-kata dengan hati-hati, agar tidak terdengar seperti pujian kosong. "Terutama caranya menyerang lawan. Dia tidak pernah takut gagal. Bahkan, kurasa perkembangan kemampuan Ranta jauh lebih cepat daripada kita semua. Kita semua, termasuk aku, selalu saja terlalu berhati-hati. Tanpa adanya orang seberani Ranta, kurasa kita tidak akan berkembang sejauh ini.”

"Ya, kurasa aku setuju?" Ranta jelas senang. Terlihat dari hidungnya yang mengembang-kempis. “Yahh, kau boleh memberiku julukan, Si Badai Pembunuh.”

"Julukan macam apa itu?" Haruhiro kembali memancing emosinya.

"Kalau Shihoru ..." untuk sesaat, aku ragu-ragu hendak mengatakan apa. Bagaimana aku harus memujinya? Aku tidak tahu......

Baiklah..... aku tidak perlu terburu-buru. Aku tidak perlu menjadi yang terbaik seperti Renji, kan?

"... Shihoru selalu peka terhadap keadaan di sekitarnya. Kalau tidak salah, Sihir Darsh memiliki banyak mantra yang bisa membingungkan, atau bahkan menyegel targetnya. Itu sangat membantu kita. Kalau ada di antara kami yang ingin sedikit mempelajari Sihir Darsh, kau bisa membantu kan, Shihoru?”

Selama beberapa saat, Shihoru hanya menatap kosong padaku dengan mulut menganga, tapi akhirnya dia mengangguk tanpa kata. Lalu, dia menundukkan kepalanya sembari menutupi sebagian wajah dengan topi.

Dia memang imut. Tapi sayangnya, perasaanku padanya, dan perasaannya padaku, bukanlah hal yang sama.

Tapi, aku tidak tahu bagaimana hubungan kami ke depannya, karena tak seorang pun bisa meramalkan masa depan.

Kemudian, aku melihat ke arah Yume. “Sedangkan, kurasa Yume adalah yang paling pemberani di antara kita semua. Seolah-olah, dia tidak takut akan apapun. Sebagai seorang Priest, kuharap dia lebih berhati-hati, tapi aku senang Yume selalu ada untuk menolong kapanpun kita membutuhkan.”

"Begitukah?" wajah Yume meleleh. Sepertinya, Yume jarang menunjukkan ekspresi seperti itu. "Kau yakin Yume seberani itu? Yume sungguh tidak menyadari itu. Sepertinya kau benar. Tidak banyak hal yang Yume takuti di dunia ini. Tapi, mohon maafkan Yume yang tidak pandai menggunakan panah.”

“Setiap orang pasti punya kelemahan masing-masing, Yume,” kataku. "Jika kau bertarung sendirian, mungkin kelemahan itu akan berakibat fatal bagimu. Tapi kalau dalam kelompok, kita bisa saling mengisi kelemahan dan kelebihan rekan-rekan kita.”

"Oh, ya... benar juga." Yume berseri-seri. "Yume mungkin sudah banyak merepotkan kalian, tapi.... Yume akan berusaha yang terbaik.”

Ranta mendengus mengejek. "Terbaik? Apanya yang terbaik? Urusi saja dadamu itu!”

"Dada ..." Yume menyentuh dadanya dengan kedua tangan. "Yume bingung.... ada apa dengan dada Yume?”

"... m-mungkin....” Haruhiro tidak berani melanjutkannya.

Yume melihat padanya dengan wajah serius. "Kenapa Haru-kun? Apakah ada yang salah dengan ukurannya?”

“A-aku tidak tahu...."

"Yume jadi penasaran..... apa hubungannya berusaha yang terbaik dengan dada Yume....”

"D-da—" Mogzo mulai berkata, sehingga perhatian semua orang tertuju padanya. Tapi dia langsung berkeringat deras, lalu mengibas-ngibaskan tangan sambil menggelengkan kepalanya, “T-t-t-t-t-tidak.... aku hanya salah ngomong....”

"... Aku jadi penasaran." Shihoru menatapnya, dan Mogzo segera melempar pandangannya ke bawah.

Dengan rengekan mirip orang yang mau nangis, dia pun berkata, "M-M-M-Maaf," sehingga kami tidak lagi menuntutnya.

Beberapa saat kemudian, aku baru sadar kalau aku belum menyanjung Haruhiro. Yahh.... tidak harus sekarang, kan. Nanti biar aku bicara empat mata dengannya. Dengan begitu, kami bisa bicara lebih dalam.

Sebagai seorang Thief, Haruhiro memainkan perannya di antara lini depan dan belakang. Dia harus memperhatikan situasi secara keseluruhan, kemudian mengambil berbagai macam keputusan yang tepat. Dia juga satu-satunya pengintai kami, jadi dia lah orang dengan peran paling fleksibel kedua dalam Party ini, setelah aku tentunya. Dengan kata lain, dia adalah wakilku, dan Haruhiro memainkan peran itu dengan sangat baik.

Aku takut pujianku malah membebaninya. Jadi.... simpan saja untuk nanti.

Saat ini, kami masih memperkuat pondasi tim. Jika pondasinya sudah kuat, maka kami bisa membangun gadung tinggi di atas pondasi itu. Aku tidak akan membiarkan bayang-bayang Renji mengganggu dan membuatku bingung.



Pada sora harinya, Haruhiro kembali dari pengintaiannya. Anehnya, kali ini dia tampak begitu bersemangat.

"Ini gila," katanya. "Hanya ada dua Goblin, tapi salah satunya begitu besar. Kalau yang satunya lagi, mungkin sama besarnya denganku."

"Jadi kau melihat Hobgoblin....?" mataku sedikit melebar saat mendengar itu. "Pada dasarnya, makhluk itu adalah Goblin, tapi posturnya memang lebih besar. Untungnya, Hobgoblin tidak begitu cerdas, bahkan Goblin lain menggunakannya sebagai budak.”

Haruhiro mengelus dagunya. "... tapi dia mengenakan chainmail[3], dan yang satunya lagi memakai armor plat besi. Dia juga memakai helm yang pastinya terlalu besar untuk kita, ras manusia.”

"Ooh ...," gerutu Mogzo.

"Ada dua ekor, ya." aku berpikir sembari menundukkan kepala.

Ada seekor Goblin yang mengenakan armor plat besi, dan juga seekor Hobgoblin yang mengenakan chainmail. Aku tidak bisa menyimpulkan apapun sebelum melihatnya dengan mata-kepalaku sendiri, tapi...... kurasa kita bisa mengatasi mereka.

"Hmm." Yume melihat ke atas secara diagonal. "Menurut Yume, kita bisa mengatasi mereka.”

"Kalau aku sih ..." Shihoru menggenggam erat tongkatnya. "... aku akan menembakkan sihir pada salah satunya, lalu kita bisa melawan mereka dengan mudah setelahnya.”

"Yume juga akan coba menembaknya dengan panah. Meskipun tidak jaminan kena, setidaknya itu bisa membuat mereka ketakutan dan panik. Selanjutnya, kuserahkan pada kalian.”

Aku melihat wajah setiap rekanku, tampaknya mereka semua sudah siap bertarung.... kecuali Haruhiro.

Tadinya Haruhiro terlihat bersemangat setelah kembali dari pengintaian, tapi entah kenapa sekarang dia tampak agak ragu.

Namun, justru sikapnya yang penuh pertimbangan inilah yang sangat kuhargai. Suatu saat nanti, aku ingin berbicara empat mata lebih dalam bersamanya.

Jika Haruhiro menyatakan persetujuannya, maka saat itulah aku yakin kita akan berangkat.

“Baiklah, ayo lakukan ini.” seolah membaca pikiranku, dia pun mengatakan itu.

Aku mengangguk. "Oke, ayo kita lakukan."

Begitu kami sudah membuat rencana, kami membentuk lingkaran, dan semuanya saling menumpuk tangan di tengah.

Kami tidak bisa berteriak keras di wilayah musuh seperti ini, tapi saat aku mengatakan "Fighto,"[4] dengan suara pelan, semuanya membalas dengan mengatakan “Ippatsu!” [5]

Setelah ritual sederhana ini selesai, Haruhiro malah memiringkan kepalanya kebingungan.

"... Aku ingin tahu apa itu ”fighto” dan ”ippatsu”?"

"... Iya ya... sebenarnya aku juga tidak tahu." Shihoru juga memiringkan kepalanya ke samping dengan kebingungan. "Tapi saat melakukannya, entah kenapa aku sedikit teringat pada masa lalu.”

“Yume juga merasakan itu. Tapi Yume tidak tahu apa-apa. Aneh ya...."

Semenjak kami berburu di Damrow, kami memiliki ritual baru, yaitu berkumpul membentuk lingkaran, lalu saat hendak beraksi aku mengatakan Fighto, dan yang lainnya membalas Ippatsu. Kami selalu melakukannya saat hendak melawan musuh.

Aku sendiri merasa ritual itu bukanlah hal baru. Entah di mana dan kapan, yang jelas aku pernah melakukannya sebelumnya. Semuanya serba tidak jelas, hanya ingatan samar yang bisa kurasakan.

Yahh, memang begitulah adanya. Toh, itu tidak hanya terjadi denganku saja. Semuanya juga begitu. Apakah kita tidak akan pernah mengingat masa lalu lagi?

Kemudian, kami pun mulai bergerak. Haruhiro membawa Yume dan Shihoru mendekati bangunan dua lantai tempat Goblin dan Hobgoblin itu berada.

Mogzo, Ranta, dan aku juga mengikuti dari belakang, dengan rentang jarak sejauh 6 – 7 meter.

Pertama-tama, kami harus mendekat sebisa mungkin tanpa ketahuan.

Haruhiro dan yang lainnya bersembunyi di balik tembok yang berjarak sekitar 15 m dari bangunan dua lantai. Sedangkan kami, berjarak sekitar 3 m dari mereka.

Itu dia. Di lantai dua, pada balkon yang tampak begitu rapuh, ada sesosok Goblin yang mengenakan armor plat besi.

Sedangkan si Hobgoblin tengah duduk di lantai pertama.

Mereka hanya berdua.

Shihoru meletakkan tangan di dada, lalu mengambil napas dalam-dalam. Sedangkan Yume mulai menyiapkan sebuah anak panah.

Kedua Goblin itu belum melihat kami.

Shihoru dan Yume hanya menjulurkan sedikit tubuh bagian atas mereka keluar dari balik dinding.

Shihoru mulai mengucapkan mantra. "Ohm, rel, dll, vel, darsh ...!"

WHUUUSSHH. Itu adalah sihir Shadow Beat.

Pada saat yang hampir bersamaan, elemental bayangan meluncur keluar dari ujung tongkat Shihoru. Dan pada saat itu juga, Yume melepaskan panahnya. Lagi-lagi, panah itu tidak mengenai targetnya, namun elemental bayangan dari Shihoru tepat mengenai lengan Hobgoblin.

Hobgoblin tersentak dan tubuhnya gemetaran, saat itulah si Goblin berarmor melihat ke arah kami.

Haruhiro berteriak, "Kita sudah ketahuan!"

"Kalau begitu, serang!!" aku memberi perintah, sembari melompat keluar dari tempat persembunyian.

Hobgoblin itu segera memakai helmnya, dan dia mengangkat senjatanya yang berbentuk pentung dengan gerigi tajam di ujungnya, tapi langkahnya masih sempoyongan. Yang lebih kecil juga segera mengambil sesuatu..... itu...... senapan panah? Sebelumnya kami tidak pernah bertemu Goblin dengan senjata seperti itu.

Aku coba memperingatkan rekan-rekanku, tapi semuanya sudah terlambat. Si Goblin berarmor mengangkat senjatanya, membidik, dan siap menarik pelatuknya.

Sebuah panah melesat begitu kencang, karena daya senapan lebih besar daripada busur biasa.

"Augh ...!" Haruhiro terkena panah itu, sampai dibuat berjongkok kesakitan.

Shihoru menjerit kecil, sementara Yume membelai punggung Haruhiro.

"Haru-kun ... ?!" Yume juga menjerit.

Haruhiro terengah-engah. Dia tampak sangat kesakitan. Ini gawat.

"Haruhiro!" Aku bergegas menghampirinya, lalu kucabut panah itu dengan sekali tarikan. Dia berdarah parah.

Cepat, cepat, cepat. Tapi jangan panik, kataku dalam hati.

Aku membuat tanda heksagram, membayangkan seberkas cahaya di dalam pikiranku, lalu memfokuskan cahaya itu pada suatu titik, sembari melantunkan mantra.

"O cahaya.... semoga perlindungan Dewa Luminous menyertaimu ... CURE."

Cahaya yang dilepaskan dari telapak tanganku menutupi lukanya.

Lebih cepat. Lebih cepat. Lebih cepat...... Tidak, tenanglah...... meskipun aku terburu-buru, lukanya tidak akan sembuh lebih cepat.... hampir selesai.... sedikit lagi....

"M-Manato ...!" Ranta berteriak. "Cepatlah! Kalau begini terus, kita akan ...! ”

"Kamu baik-baik saja sekarang, kan?!" aku berlari menjauhi Haruhiro sebelum dia bisa menjawabnya.

Mogzo saling bertukar serangan dengan Hobgoblin, sedangkan Ranta dan Yume melakukan hal yang sama dengan Goblin berarmor.

Dibandingkan dengan Mogzo, Ranta tampaknya lebih kewalahan. Aku harus menyuruh Mogzo menyibukkan Hobgoblin itu, sedangkan Shihoru dan Haruhiro memberikan bantuan. Tapi sepertinya, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan meskipun tanpa perintahku.

Maka, sekarang aku harus membantu Ranta, dan — aku coba melakukannya, tapi ... Goblin berarmor itu pasti menyadarinya. Gerakannya mulai gesit, dengan meliuk-liuk ke kiri dan kanan, dia menghindari serangan-serangan Ranta.

Ranta dipaksa bertahan. Itu membuatku kesulitan membantunya.

Adapun Yume, dia hanya berlarian kebingungan.

“O-Oh, sial! Sial! Sial! Persetan kau ...!” Ranta tertekan, dan terus mundur. Akhirnya, Ranta terpaksa melompat mundur, lalu melarikan diri dari lawannya.

Tapi, ternyata Goblin itu masih mengejarnya, aku sungguh tidak menduga itu akan terjadi.

Lalu, dengan suatu gerakan yang gesit, Goblin itu menyayat leher Ranta dari belakang.

Darah segar berceceran.

Sepertinya pembuluh darah Vena-nya kena.

"Yume! Lakukan sesuatu ...!” aku menjerit, lalu dengan segenap tenaga aku coba menyerang Goblin itu. Begitu dia sedikit mundur, Yume langsung menggantikan posisiku untuk meladeninya.

Ranta terkapar lemah di tanah.

Aku harus segera menyembuhkannya. Tidak..... mungkin aku tidak bisa lagi.....

"Tuan! Fwah ...!” hanya beberapa saat berselang, Yume sudah kewalahan.

Sembari memeriksa luka Ranta, aku berteriak, “Haruhiro, kemarilah! Ranta tumbang ...!"

"Apa?! Le-lehernya ... ?!” Haruhiro pasti sangat terkejut dengan kejadian yang begitu mendadak ini. Tapi dia langsung merespon dengan positif. “Hey Goblin!! Kemarilah!!”

"S.....sakit....sekali ..." Ranta mengerang. "M-Manato, a-a-a-a-aku ..."

“Kau akan baik-baik saja, Ranta! Aku akan menyembuhkanmu secepat mungkin!" aku mengambil napas, lalu membuat simbol heksagram. "O Cahaya, semoga perlindungan Dewa Luminous menyertaimu ... CURE!"

"Nngh ... Fuhhh, ahhh, kuh ... Ngah, sial! Ah…! Ahhh…!"

"Brush Clearer ...!" Yume sedang menyerang si Goblin berarmor. Tapi, suara itu..... tidak, dia menangkis serangannya.

"Tak akan kubiarkan ...!" sepertinya Haruhiro sudah membantu Yume, tapi..... "Yowch ...!" sepertinya dia tidak akan bertahan lama.

"Ranta!" aku menampar punggung Ranta.

"Ya!" Ranta menenangkan dirinya, lalu dia langsung menyerbu kembali si Goblin berarmor pelat baja itu. "ANGER…! THRUST!!"

Namun si Goblin hanya berjongkok untuk menghindari teknik itu. Lalu, dia segera melancarkan serangan balik.

Lagi-lagi Ranta dipaksa bertahan, hanya saja sekarang gerakannya jauh lebih lamban. Meskipun lukanya sudah tertutup oleh sihir cahaya, namun kehilangan darah tidak bisa dikembalikan, itulah yang membuat gerakannya lamban.

"Sialan! Makhluk jelek ini ...! Dasar setan!!” Ranta terus memaki.

Kuharap dia bisa bertahan sedikit lebih lama lagi.

"Haruhiro!" tiba-tiba aku menyadari bahwa Haruhiro sedang terluka. Ada tebasan dalam di lengan kanannya. Itu berarti, dia tidak bisa lagi menggunakan tangan dominannya. Jika aku tidak menyembuhkannya, dia tidak bisa bertarung.

"O cahaya, semoga perlindungan Dewa Luminous menyertaimu ... Cure."

Sial..... rasa lelah apa ini? Seolah-olah tenagaku terkuras oleh sesuatu. Tapi, aku harus terus fokus.

Fokus. Aku harus fokus. Semuanya ada di kepala aku. Aku tidak kelelahan sama sekali.

"... Oke," aku menyentuh lengan kanan Haruhiro. Lukanya pun segera sembuh dengan sempurna.

Di sisi lain, Mogzo masih menyibukkan si Hobgoblin, tapi dia jelas terlihat kelelahan. Ranta juga masih berjuang meladeni lawannya. Shihoru juga tampak tidak sehat, pasti dia terlalu sering menggunakan sihirnya.

Tapi..... kurasa aku masih bisa bertarung.

Kami pasti bisa melakukan ini. Aku bisa membayangkan kami meraih kemenangan.

Tunggu dulu..... ada lagi yang terluka.... itu Yume. Lengan kanannya tersayat.

"Yume, kemarilah! Aku akan menyembuhkanmu!” aku pun segera memanggilnya.

"Yume baik-baik saja! Yume masih bisa bertarung!”

“Sudahlah, cepat ke sini! Haruhiro! Bertukarlah posisi dengan Yume!”

"... Siap!" Haruhiro pergi, dan Yume datang untuk menggantikannya.

Kamu terlihat cemas, Yume. Tidak masalah. Kita semua akan baik-baik saja.

Aku tersenyum pada Yume, dan mulai menyembuhkannya.

"O Cahaya, semoga perlindungan Dewa Luminous menyertaimu ... Cure ...!"

Apakah aku sudah terlalu banyak menggunakan sihir cahaya? pikiran itu sejenak terlintas di benakku. Tidak, itu tidak benar. Aku akan menyembuhkannya. Aku harus fokus, dan menyembuhkan luka-lukanya. Tidak apa-apa. Lihatlah, aku bisa menyelesaikannya dengan baik.

—Aku merasa pusing.

Aku mulai melihatnya.

Aku menggelengkan kepalaku, lalu berbicara dengan Yume. "Ayo pergi!"

Aku melihatnya. Aku melihatnya. Mogzo. Dia mengalami kesulitan sendirian. Aku bertaruh dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ranta dan Haruhiro juga. Mereka kewalahan melawan Goblin berarmor.

"Haruhiro, pergi bantu Mogzo!" seruku.

Haruhiro mengangguk.

Ya. Baguslah. Sekarang, aku berhadapan dengan si Goblin berarmor, dan kusuruh Ranta dan Yume menyerangnya.

Sepertinya aku bisa menyerangnya. Dengan tongkat pendekku ini?

Sial. Kenapa hanya ini senjataku. Andaikan saja aku punya pedang.

Tapi sayangnya, Priest tidak diijinkan menggunakan senjata tajam dalam pertarungan. Itu peraturan yang konyol. Tapi..... pokoknya aku harus menyerangnya.

"Ngahhhhhh!" raung Hobgoblin.

"Oof!" seru Mogzo.

“Ngah! Ngah! Ngah!"

Apa? Apa yang terjadi? Itu si Hobgoblin. Dia terus menekan Mogzo.

“Ngah! Ngah! Ngah! Ngah! Ngahhhh ... !!”

"Ungh ...!" Mogzo akhirnya dipaksa jatuh berlutut. Dia berdarah bercucuran dari kepalanya.

Saat itulah Haruhiro menempel di punggung Hobgoblin. Dia coba melempar Haruhiro, tapi gagal.

"Wah! Ohh! Whoaaaaaaa ... ?!”

"Kau baik-baik saja, Haruhiro! Tetaplah bertahan di sana ...!” seruku.

Aku menuju Mogzo.

Ya. Aku harus menyembuhkannya. Dengan sihir cahaya. Mogzo. Dia berdarah parah. Dia pasti terpukul pentung berduri itu.

Mogzo pun hanya bisa meminta maaf, "Aku minta maaf,"

Kenapa minta maaf? Ini memang sudah menjadi tugasku sebagai Priest.

"O cahaya, semoga perlindungan Dewa Luminous menyertaimu ... Cure."

Kenapa.....penyembuhannya....melambat? Cahayanya pun redup. Fokus. Aku harus fokus. Aku harus lebih fokus, dan—

Lalu.... aku melihat lagi sekeliling. Di sana..... itu Haruhiro....

Hobgoblin itu berhasil menyikunya tepat di perut sampai terpental.

"Ah…!"

Tidak hanya itu saja. Hobgoblin menendang Haruhiro, sampai terbang, lalu jatuh berguling-guling.

Aku mendengarnya. Haruhiro menangis minta tolong. Tapi, sebelum itu terjadi, aku sudah bergerak menghampirinya.

Mogzo..... maafkan aku..... aku tahu lukamu belum tertutup sepenuhnya..... tapi, aku harus pergi.....

"SMASH ...!" aku berteriak.

Seperti Ranta, aku meneriakkan teknikku dengan begitu lantang. Lalu kuayunkan ujung tongkat sampai menghantam bagian belakang kepala Hobgoblin.

Hobgoblin itu memakai helm. Tapi, tampaknya seranganku tidak percuma.

Memanfaatkan kekuatan sentrifugal, aku memukulnya dengan bagian tongkat yang paling dekat dengan tangan. Mungkin itu sakit baginya, tapi jelas belum cukup merobohkannya.

"Ngh! Hah! Yah!” aku tidak berhenti mengayunkan tongkatku ke segala arah. Aku terus memukul seperti orang gila.

"Haruhiro, bangun!" panggilku.

Akhirnya, aku tahu apa yang harus kami lakukan. Kenapa baru terpikirkan sekarang? Apakah karena darah sudah memenuhi kepalaku? Atau karena aku terlalu tertekan, sehingga tidak bisa berpikir jernih? Ah.... pikirkan saja alasannya nanti..... Sekarang, aku hanya perlu melakukan ini.....

"Lari!" seruku. "Semuanya, lari ...!"

Haruhiro melompat, mulai berlari, dan tiba-tiba berhenti. "M-Manato, bagaimana denganmu ...?!”

“Tentu saja aku ikut! Cepat, kalian larilah duluan!”

Meskipun itu yang kukatakan, faktanya aku masih saja melawan Hobgoblin itu, sembari melangkah mundur sedikit demi sedikit.

Aku hanya butuh sedikit kesempatan untuk melarikan diri. Aku harus sabar..... tunggu sampai ada peluang.

"MAKASIHHH!" Mogzo melepaskan Rage Blow pada Goblin berarmor. Meskipun tidak kena, tapi itu sudah cukup membuatnya mundur beberapa langkah.

Bagus. Bagus sekali, Mogzo.

Memanfaatkan momen yang dibuat Mogzo, Ranta, Yume dan Shihoru segera menjauh dari tempat ini.

Si Goblin berarmor belum menyerah, dia segera melepaskan serangan balik dengan tebasan senjata tepat di punggung Mogzo. Untungnya, itu belum cukup untuk menembus armor Mogzo.

Haruhiro berlari dengan wajah masih terpaku ke belakang. “Manato, cukup sudah! Kami semua sudah lari!”

"Aku tahu!"

Ya.... aku tahu..... tapi ini tidaklah mudah.

Aku melompat mundur, untuk memberikan sedikit ruang pada Hobgoblin. Dia pun segera memakan umpanku. Dia pun bergerak mendekat, dan saat itu juga aku memberikan tusukan 2 kali.

Hobgoblin itu mengerang, dan kepalanya terbanting ke belakang.

Sekarang.

Aku berbalik. Si Goblin berarmor sudah siap menyambutku dengan serangannya, tapi aku sudah mengantisipasinya, dan aku pun bisa menghindarinya dengan mudah.

Sekarang!! Lari.... lari.... lari!! Lari sekencang mungkin! Jangan lihat belakang

"Urgh!"

Sesuatu menghantam punggungku.

Aku hampir tersandung oleh langkah kakiku sendiri, tapi akhirnya aku masih bisa berlari.

Haruhiro menjerit dari kejauhan. "Manato ... ?!"

"Aku baik-baik saja!"

Apapun yang terjadi, prioritasnya saat ini adalah kabur dari tempat ini. Betul kan? Jadi.... ayo.... lari bersamaku..... lari sekencang-kencangnya!! Hanya itu kesempatan kita!!

Tapi.... aku harus melihat ke belakang untuk memeriksa keadaan musuh. Tidak.... aku harus terus lari tanpa melihat ke belakang sedikit pun.... tapi.... ah..... aku bingung.....

Apakah Goblin berarmor itu sedang mengejar kami? Sampai kapan kami harus berlari? Apakah sudah aman sekarang? Apakah sudah boleh berhenti sekarang?

Seraya memikirkan berbagai hal, aku tidak menghentikan langkah kakiku.

Mana yang lainnya? Lari mereka cepat sekali.....

Di mana ini? Sudah sampai sejauh mana kita berlari?

Aku tidak tahu. Rasanya aneh..... aneh..... aneh sekali..... apa yang telah terjadi denganku? Ahhh.....

Tahan...... tahan...... sedikit lagi....

Akhirnya aku terlempar ke depan, lalu terjatuh di tanah.

Aku harus bangun. Ini gawat. Ya. Aku akan bangun. Tapi, tubuhku lemas. Seolah semua kekuatanku sudah tersedot keluar dari tubuhku. Kenapa..... kenapa jadi begini...?

"... O-Ow ..."

Sakit sekali..... apanya yang sakit? Oh.....punggungku..... ada sesuatu di punggungku....

Aku bersusah payah berguling ke samping.

Apa yang telah terjadi? Sepertinya aku terluka..... seberapa parah lukanya? Aku tidak tahu.....

"... Sepertinya..... s-s-sekarang sudah aman.....”

"Manato ...!" Haruhiro ada di sini. Tepat di sampingku. Dia berlutut sembari terus menyebut namaku. “Manato, kau terluka! Ah.... sihir! Ya, gunakan sihir, Manato! Sihir cahaya! Gunakan sihir cahaya untuk menyembuhkannya!”

"... Oh, ya." aku mencoba membuat tanda heksagram. Hah? Tanganku. Gawat. Kekuatanku. Fokus.....aku harus fokus.... hah? Kenapa ini..... kenapa tidak bisa fokus?

"... A-aku-tidak bisa ... melakukannya ... A-aku tidak bisa ... menggunakan sihir ...!"

"J-Jangan bicara!" aku mendengar suara Ranta. “J-jangan bicara! Istirahat saja yang nyaman ... a-a-a-apa yang seharusnya kita lakukan...??”

Shihoru mendekat. Shihoru meraih punggungku. Dia menyentuh ...sesuatu. Rasanya sakit, atau lebih tepatnya, rasanya — berat. Sangat berat.

Tapi beratnya tidak berhenti di situ; seolah-olah terus merambat di sekujur tubuhku. Firasatku mulai buruk.

Berulang kali aku mengedipkan mata.

Mogzo di sini. Dia sangat besar. Mogzo. Ya tentu saja besar. Dia memang pria yang bertubuh besar, kan....Mana mungkin tiba-tiba dia mengkerut.....

"A-A-A ..." Yume begitu terguncang, aku merasa kasihan padanya. “Ap-Ap-Apa ... " Yume mengacak-acak rambutnya.

"Apa ...?" Haruhiro berjongkok, lalu mendekatkan wajahnya padaku. "A-a-a-apa yang harus kita lakukan? K-k-k-kau akan baik-baik saja, kan.... Manato? Semuanya akan baik-baik saja, kan..... kau tunggu saja di ini..... kau istirahat saja di sini, Manato.... oke?”
  1. Logatnya tidak bisa Ciu terjemahkan.
  2. Sudah disensor dari sononya.
  3. Chainmail adalah sejenis armor yang terbuat dari untaian logam-logam kecil mirip rantai.
  4. Fighto adalah kata serapan “Fight” dari bahasa Inggris, yang kurang – lebih artinya : berjuanglah.
  5. Sedangkan “Ippatsu” berarti “Menang”!