Difference between revisions of "Kimi no Na wa (Indonesia):Jilid 1 Bab 2"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
m (Bab 2 - Awal Mula)
m (Bab 2 - Awal Mula)
 
Line 1: Line 1:
 
== Bab 2 - Awal Mula ==
 
== Bab 2 - Awal Mula ==
 
<br/>
 
<br/>
''Aku tidak mengenal nada dering ini'', pikirku setengah sadar.
+
''Aku tidak ingat nada dering ini'', pikirku setengah sadar.
   
 
Alarm? Tapi aku masih mengantuk. Aku benar-benar tenggelam dalam menggambar tadi malam dan tidak menyentuh kasur sama sekali, nyaris sampai waktu matahari terbit.
 
Alarm? Tapi aku masih mengantuk. Aku benar-benar tenggelam dalam menggambar tadi malam dan tidak menyentuh kasur sama sekali, nyaris sampai waktu matahari terbit.

Latest revision as of 00:38, 12 October 2019

Bab 2 - Awal Mula[edit]


Aku tidak ingat nada dering ini, pikirku setengah sadar.

Alarm? Tapi aku masih mengantuk. Aku benar-benar tenggelam dalam menggambar tadi malam dan tidak menyentuh kasur sama sekali, nyaris sampai waktu matahari terbit.

“...ki... Taki.”

Kali ini seseorang memanggil namaku. Ini suara seorang gadis...... Seorang gadis?

“Taki, Taki.”

Suaranya terdengar tulus, penuh permohonan, seolah-olah ia mau menangis. Sebuah suara yang terdengar gemetaran oleh rasa kesendirian, seperti cahaya redup milik bintang yang begitu jauh.

“Tidakkah kau mengingatku?” suara itu menanyakanku dengan cemas.

Tidak, aku tidak mengenalmu.

Tiba-tiba, keretanya berhenti, dan pintunya terbuka. Oh, benar juga—aku berada di sebuah kereta. Begitu aku menyadari hal ini, aku berdiri di sebuah gerbong kereta yang penuh. Sepasang mata lebar melayang-layang tepat di hadapanku. Seorang gadis dengan menggunakan seragam menatap lurus ke arahku, tetapi tekanan dari penumpang yang ingin turun mendorongnya menjauh.

“Namaku Mitsuha!”

Gadis itu berteriak, melepas tali yang telah ia gunakan untuk mengikat rambut miliknya dan mengulurkannya kepadaku. Tanpa berpikir, aku mencoba meraihnya. Talinya berwarna oranye cerah, seperti sinar tipis matahari senja di kereta yang redup. Aku bergerak menembus keramaian dan memegang erat warna itu.



***



Tepat saat itu, mataku terbuka.

Suara gadis itu—gema suaranya—masih berbisik di telingaku.

...Namanya Mitsuha?

Aku tidak tahu nama itu, dan aku tidak tahu gadis itu. Ia benar-benar terlihat putus asa entah kenapa. Matanya dipenuhi oleh air mata. Aku belum pernah melihat jenis seragam yang digunakan olehnya. Ekspresi wajahnya serius, bahkan sangat serius, seolah-olah takdir dari seluruh alam semesta ini berada di tangannya.

Tetapi, itu semua hanyalah sebuah mimpi. Tidak memiliki makna tertentu. Begitu aku memikirkan tentang itu, aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya. Gema suaranya di telingaku sudah menghilang, juga.

Meskipun begitu.

Meskipun begitu, jantungku berdetak begitu kencang. Dadaku dengan anehnya terasa berat. Seluruh tubuhku berkeringat. Untuk sejenak ini, aku menarik nafas dalam-dalam.

Haaaah...

“...?”

Apa aku sedang flu? Hidung dan tenggorokanku terasa aneh. Jalur sirkulasi udaraku terasa sedikit lebih sempit dari biasanya. Dadaku... anehnya terasa benar-benar berat. Bagaimana aku menyebutnya ya? Berat secara fisik. Aku menatap ke bawah tubuhku dan melihat ada belahan.

Belahan.

“...?”

Dua bukit lunak yang memantulkan sinar matahari pagi, dan kulit yang pucat, serta halus itu berkilau. Bayangan biru gelap tersembunyi di antara kedua buah dada, seperti sebuah danau.

Sekalian saja kuremas keduanya, pikirku, tanpa menunggu lama.

Tanganku tertarik gravitasi ke arah keduanya seolah-olah seperti apel yang jatuh ke tanah.

................

............

......?

...!

Sensasinya mengejutkan pikiranku. Wow, pikirku. Apa-apaan ini? Aku terus meremasnya dengan bahagia. Ini... Wow... Tubuh gadis memang menakjubkan...

“Kak? Ngapain?”

Aku melirik ke arah suara itu. Ada seorang gadis kecil berdiri di sana. Ia baru saja membuka sebuah pintu geser. Dengan tanganku yang masih menekan dadaku, aku memberitahunya kesan jujurku.

Aku melihat ke arah anak itu lagi. Ia kelihatannya sekitar sepuluh tahun, dengan rambut kuncir ganda dan mata yang tajam, dan ia kelihatannya orang yang sembrono.

“...Kak?” Aku menanyai gadis itu, sambil menunjuk ke arahku.

Jadi itu maksudnya anak ini adalah adik perempuanku? Gadis itu terlihat benar-benar tercengang.

“Kau masih ngelindur atau apa? Ini. Sudah. Waktunya. Sarapan! Cepatlah!”

Ia membanting pintu gesernya hingga tertutup dengan suara duak yang keras. Gadis kecil yang ganas, pikirku, selagi menyeret diriku keluar dari futon. Ngomong-ngomong, aku lapar. Tiba-tiba, cermin seukuran tubuh yang berada di ujung pandanganku membuatku tertarik. Aku berjalan beberapa langkah melewati papan tatami yang menghiasi lantai untuk berdiri di depannya. Membuat pakaian tidurku yang longgar terlepas dari bahuku dan jatuh ke lantai, membuatku telanjang. Aku menatap bayangan seukuran tubuhku di cermin.

Rambut hitam panjang terurai di punggungku, walaupun kusut karena tidur dan mencuat di mana-mana. Wajah yang kecil, bulat memiliki mata yang besar, penasaran dan bibir yang kelihatannya samar-samar terpana di atas leher yang kurus, tulang selangka yang dalam, dan buah dada yang menonjol yang kelihatannya berkata, Iya kenapa, terima kasih, aku cukup sehat! Ke bawah lagi ada bayangan redup dari tulang rusuk, lalu ada pinggul yang melengkung halus.

Aku belum pernah melihatnya secara langsung, tapi ini pastinya tubuh seorang gadis.

... Seorang gadis?

Aku...seorang gadis?

Secara tiba-tiba, rasa kantuk yang menyelimuti diriku hilang. Pikiranku menjadi jernih seketika itu juga, lalu tenggelam dalam kebingungan.

Aku tak bisa menahannya lagi, sehingga aku berteriak.



***



“Kak, kau lama sekali!”

Begitu aku membuka pintu geser dan melangkah masuk ke ruang keluarga, keluhan Yotsuha datang menyapaku.

“Aku akan menyiapkan sarapan besok!” Kataku dengan maksud meminta maaf.

Anak ini bahkan belum kehilangan semua gigi susunya, tapi ia kelihatan yakin ia menjalani hidup lebih mahir daripada kakak perempuannya. Aku tak boleh menunjukkan kelemahanku dengan meminta maaf! Pikirku, sambil membuka rice cooker dan menyendok seporsi nasi putih berkilau ke mangkukku. Ups, apa ini terlalu banyak? Yah, tidak masalah.

“Selamat makan!”

Aku menumpahkan cukup banyak saus di atas telur goreng halus, menyatukannya dengan nasi, dan memasukkannya ke dalam mulutku. Oh, enak. Inikah yang namanya surga... Hmm? Aku merasa ada yang memerhatikanku, menatapku di sekitar pelipisku.

“Jadi kau sudah normal hari ini, ya?”

“Eh?”

Nenek mengawasiku dengan tenang selagi aku mengunyah makananku.

“Ia benar-benar seperti orang lain kemarin!” Yotsuha tersenyum nyengir ke arahku. “Berteriak tiba-tiba seperti itu.”

Berteriak? Nenek mengamatiku dengan curiga, dan Yotsuha tersenyum lebar ke arahku (untuk mengejekku, aku yakin itu).

“Eh? Apaan? Apa maksudmu? Ada apa!?”

Benar-benar deh, ada apa dengan mereka? Menyeramkan.

Ding-dong-ding-dooong.

Tiba-tiba, pengeras suara di luar pintu menyala, begitu keras seolah-olah membuat orang tuli.

“Selamat pagi, semuanya.”

Suara itu milik kakak perempuan Saya, temanku (yang saat ini bekerja di Bagian Informasi Daerah di balai kota). Tempat ini, Itomori, adalah kota kecil yang mungil dengan populasi sebanyak 1.500 orang, jadi kebanyakan orang mengenal satu sama lain atau setidaknya tahu orang itu.

“Berikut adalah pengumuman pagi hari dari Itomori.”

Kata-kata yang mengalir pelan dari pengeras suara itu terpotong-potong menjadi frase. “Berikut adalah...pengumuman pagi hari...dari Itomori.” Terdapat pengeras suara di luar juga, di setiap sudut kota, jadi siarannya bergema di gunung dan menyatu dengan dirinya sendiri seolah-olah seperti sedang dinyanyikan berulang-ulang.

Dua kali sehari, di pagi hari dan di sore hari, siaran radio pencegahan bencana ini diputar di seluruh kota. Setiap rumah memiliki penerima sinyal masing-masing untuk dengan tekun menyampaikan pengumuman harian tentang peristiwa-peristiwa lokal: jadwal pekan olahraga, bagaimana untuk menghubungi orang yang bertugas menyekop salju, kelahiran-kelahiran kemarin, pemakaman hari ini.

“Sehubungan dengan pemilihan walikota Itomori, yang diadakan pada tanggal dua puluh bulan mendatang, komisi pemilihan kota telah—“

Klik.

Pengeras suara di ambang pintu itu menjadi senyap. Nenek tidak mampu meraihnya sendiri, jadi ia menarik stekernya. Ia sudah lewat delapan puluh tahun dan memakai kimono tradisional yang biasa ia gunakan, tetapi meskipun begitu, gerakan itu diam-diam menyampaikan kemarahannya. Bahkan aku terkejutkan oleh sikap dinginnya itu, Aku mengambil remote dan menyalakan TV tanpa berpikir panjang. Melanjutkan kata-kata kakak perempuan Saya yang terputus, pembawa berita wanita NHK yang tersenyum itu mulai berbicara.

“Kita semua hanya satu bulan jauhnya dari sebuah kunjungan dari suatu komet yang muncul hanya sekali setiap 1.200 tahun lamanya. Untuk beberapa hari, kometnya diperkirakan akan bisa dilihat oleh mata telanjang. Dengan pertunjukkan astronomi abad ini yang sebentar lagi, JAXA dan lembaga penelitian di seluruh dunia bergegas mempersiapkan untuk melakukan penelitian terhadapnya.”

Ada satu kalimat teks di layar itu—Komet Tiamat dapat dilihat mata telanjang bulan depan—dan sebuah gambar tidak jelas dari sebuah komet. Percakapan kami telah kehilangan momentumnya., dan satu-satunya bunyi yang ada berasal dari kami bertiga yang sedang makan dan siaran NHK tersebut. Suara kling dan klik kami yang halus terdengar sedikit bersalah, seperti suara orang mengobrol dengan berbisik di kelas.

“...Sudah, berbaikan saja dengan dia, kenapa tidak?

Tiba-tiba saja, Yotsuha mengatakan sesuatu yang canggung.

“Ini adalah masalah orang dewasa,” kataku memarahinya.

Itu benar—Ini adalah masalah orang dewasa. Pemilihan bodoh! Di suatu tempat di atas angin, seekor burung elang hitam mengeluarkan teriakan yang terdengar lucu: Piihyororo.



Setelah mengucapkan salam perpisahan ke Nenek secara bersamaan, aku dan Yotsuha berangkat dari rumah.

Burung pegar musim panas yang berwarna kecoklatan saling bersahutan seperti badai.

Menuruni jalan sempit yang telah diaspal sepanjang lereng bukit dan menuruni beberapa anak tangga yang di kedua sisinya didirikan tembok, kami keluar dari bayang-bayang pegunungan menuju cahaya matahari. Di bawah sana terdapat danau bundar, Danau Itomori. Permukaannya yang tenang memantulkan matahari pagi, berkilauan dan menyilaukan seolah-olah tidak ada yang memerhatikannya. Pegunungan berwarna hijau tua membentuk barisan di bawah awan putih di langit yang biru, dan gadis kecil dengan rambut dikuncir dan tas sekolah merah berjalan melompat-lompat tanpa alasan tertentu. Lalu ada aku di sampingnya, si gadis SMA tanpa kaos kaki panjang yang mempesona. Di dalam kepalaku, aku mencoba menambahkan susunan musik dari petikan senar pada pemandangan yang ada sebagai musik latar belakang. Oh, ini seperti bagian pembuka dari sebuah film Jepang... Dengan kata lain, kami hidup di tempat terpencil—yang sangat kental ‘Jepang’nya dan tertinggal beberapa dekade.

“Miiitsuhaaa!”

Setelah aku dan Yotsuha berpisah di depan sekolah dasar, sebuah suara memanggil namaku dari arah belakang. Itu Tesshi, mengayuh sepedanya dan terlihat jengkel, dengan Saya duduk di manis di kursi belakang sepeda sambil tersenyum.

“Cepatlah turun,” keluh Tesshi.

“Aku nyaman di sini. Jangan pelit, dong!”

“Ayolah, kau berat.”

“Dan kau tidak sopan!”

Hari masih pagi begini dan mereka sudah saling menggoda satu sama lain seperti pasangan suami istri di suatu acara komedi.

"Kalian berdua benar-benar akrab."

"Kami tidak akrab!" bantah mereka.

Mereka membantahnya begitu serius sampai-sampai menjadi konyol, membuatku tertawa kecil. Musik latar belakang pikiranku berubah menjadi suara gitar solo yang riang. Kami bertiga sudah menjadi teman dekat selama sepuluh tahun—Saya yang mungil, dengan kepangan rambut dan poni lurusnya, serta Tesshi, yang tinggi dan kurus dengan rambut cepak dan tidak memiliki gaya penampilan yang umum. Mereka selalu terlihat berkelahi, tetapi melihat bagaimana percakapan mereka selalu nyambung dengan sempurna, aku diam-diam merasa mereka akan menjadi pasangan yang cocok.

"Oh, Mitsuha, kau merapikan rambutmu dengan benar hari ini."

Saya, yang sudah turun dari sepeda, menyentuh bagian ikatan rambutku, tersenyum nyengir. Rambutku dirapikan seperti biasanya: kepang dua yang disimpulkan lalu sama-sama diikat di belakang dengan tali ikat rambut. Ibuku yang mengajariku bagaimana, dulu sekali.

"Eh? Rambutku kenapa memangnya?"

Komentarnya mengingatkanku pada komentar-komentar yang sempat kulupakan saat sarapan tadi. Aku merapikannya "dengan benar" hari ini—bukankah itu artinya kemarin rambutku aneh? Selagi aku mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, Tesshi sedikit membungkuk, kelihatan khawatir. "Hei, kau sudah disucikan dari roh-roh jahat oleh nenekmu, kan?"

"Disucikan?"

"Iya, aku bersumpah kau telah dirasuki oleh seekor rubah."

"...Hah?" Aku mengerutkan alisku mendengar perkataannya.

Saya berkata menggantikanku, kedengaran muak. "Bisakah kau berhenti 'nyalahin' semuanya pada hal gaib begitu?! Mitsuha mungkin hanya sedang stress saja, cuma itu, iya kan?

Stress?

"Eh? tunggu, tunggu sebentar—kalian daritadi bicara tentang apa?"

Kenapa semua orang mencemaskanku? Kemarin... Aku tidak bisa mengingatnya sedikitpun, tapi aku cukup yakin kalau kemarin hanya hari yang biasa.

...Hmm?

Tunggu, apa benar begitu? Kemarin, aku...

"—Dan yang paling penting!"

Suara berat dari sebuah megaphone menghapus pertanyaan-pertanyaanku.

Di sisi lain jalan, dengan barisan rumah kaca vinilnya, sebuah kerumunan kecil yang terdiri dari dua belas orang atau lebih sedang berkumpul di lahan parkir kota yang begitu luas. Orang yang berdiri di tengah-tengah mereka, dengan memegang microphone, adalah ayahku, lebih tinggi dan kelihatan lebih berani daripada yang lainnya. Selempangan yang ia kenakan secara diagonal di jasnya tertulis dengan bangganya, Pemegang Jabatan—Toshiki Miyamizu. Ia sedang berkampanye untuk pemilihan walikota mendatang.

"Yang paling penting, adalah pembaruan ekonomi, untuk meneruskan proyek pemulihan desa! Hanya saat kita telah mewujudkan hal tersebut, kita akan bisa mendirikan sebuah komunitas yang aman dan bebas kekhawatiran. Sebagai pemegang jabatan, saya berniat untuk membarui perencanaan komunitas tersebut yang dimana saya telah dilibatkan dan mengawasinya sampai terwujud! Saya akan memimpin daerah ini dengan antusiasme baru, yaitu membuat suatu masyarakat lokal dimana semua orang—dari anak-anak kita hingga penduduk-penduduk senior—bisa bersantai dan menikmati kehidupan yang makmur dan aktif. Saya telah membarui tekad saya untuk membuat visi ini menjadi tujuan saya..."

Itu adalah pidato yang begitu cerdas sampai-sampai terkesan berlebihan. Memberikanku perasaan dingin—penyampaian kampanye ini terdengar seperti dari sebuah TV, bukan dari sebuah lapangan parkir yang dikelilingi sawah. Bisikan-bisikan yang kudengar dari kerumunan—"Kau tahu, lagipula yang akan terpilih periode ini adalah Miyamizu lagi," "Kedengarannya seperti ia sudah 'menyebarkan' banyak uang di sekitar kita"—membuat suasana hatiku semakin buruk.

"Hai, Miyamizu."

"...Pagi."

Hebat. Sapaan itu datang dari tiga teman sekelasku yang tidak sedikitpun aku akrab dengan mereka. Bahkan di SMA, mereka adalah bagian dari 'kelompok populer' yang selalu mencolok, dan mereka selalu berkomentar sinis kepada kami—para 'pengintai'—terhadap hal sekecil apapun.

"Sang walikota dan si kontraktor," kata salah seorang dari mereka, sambil memberikan sebuah pandangan sekilas yang disengaja kepada ayahku yang sedang berpidato. Saat aku mengikutinya, aku melihat ayahnya Tesshi berdiri di samping ayahku, terlihat berseri-seri. Ia mengenakan sebuah jaket dari perusahaan konstruksi miliknya dan sebuah ban lengan yang bertuliskan Pendukung Toshiki Miyamizu.

Orang itu kembali memandang ke arahku, lalu ke arah Tesshi, dan berkata. "Anak-anak mereka juga benar-benar akrab. Apa keluargamu menyuruhmu untuk bergaul satu sama lain?"

Ini benar-benar konyol. Aku bahkan tidak menjawabnya—Aku mempercepat langkahku, mencoba untuk pergi dari sini. Tesshi terdiam. Hanya Saya yang terlihat terganggu dan sedikit bingung.

"Mitsuha!"

Tiba-tiba, sebuah suara yang keras terdengar. Hii! Napasku tertahan di tenggorokan. Aku tidak percaya ini. Ayahku menurunkan micnya di tengah-tengah pidatonya untuk berteriak ke arahku tanpa bantuan pengeras elektronik. Seluruh orang di kerumunan itu berpaling untuk melihat ke arahku.

"Mitsuha, tegaplah!

Mukaku memerah. Ini begitu memalukan sampai-sampai aku nyaris mau menangis. Aku ingin segera lari, tapi aku berusaha keras menahan keinginan itu dan melangkah pergi sebagai gantinya.

Kerumunan itu berbisik-bisik. "Ia bahkan bersikap keras kepada keluarganya."

"Namanya juga walikota."

Aku mendengar teman-teman sekelasku tertawa kecil. "Oh. Kerasnya."

"Aku sedikit merasa kasihan kepadanya."

Ini parah sekali.

Musik latar belakang yang berputar di kepalaku beberapa menit yang lalu sudah menghilang, dan aku kembali mengingat bahwa kota ini, tanpa musik latar belakang, adalah tempat yang sangat menyesakkan.




Dengan suara tak, tak, tak, yang tajam, sang guru menuliskan sebuah puisi singkat di papan tulis.


Tolong jangan bertanya kepada diriku "Siapa yang pergi ke sana?"
Aku menunggu cintaku di sini, di embun bulan September.



"Tasokare, atau 'siapa yang pergi ke sana?' adalah asal mula dari istilah tasogare, atau senja. Kalian tahu kata senja, kan?

Dengan suaranya yang jelas, guru kami, Ibu Yuki, menulis Tasokare dengan huruf kapital di papan tulis.

"Itu adalah waktu sore hari, bukan termasuk siang ataupun malam. Itu adalah sebuah interval di mana garis-garis dunia tidak terlihat jelas, menyulitkan untuk mengenali orang yang ada. Saat di mana kau mungkin akan bertemu sesuatu yang bukan manusia. Itu adalah sebuah waktu di mana orang bertemu dengan setan atau mereka yang sudah mati, dan waktu itu memiliki nama lain yang menggambarkan hal ini. Tetapi, konon katanya, waktu itu sudah memiliki nama lain, jauh sebelumnya."

Ibu Yuki menuliskan dua istilah di papan, tapi kelihatannya ia hanya menukar-nukar huruf yang ada.

"Maaf, Bu! Pertanyaan! Bagaimana dengan kataware-doki?

Seseorang menanyakannya, dan kupikir, Ya, itu benar. Aku tahu tasogare, tentu saja, tapi kata yang kudengar orang-orang gunakan untuk menggambarkan waktu senja[1] sejak kecil adalah kataware-doki. Ketika Ibu Yuki mendengar hal ini, ia tersenyum lembut. Kau tahu, guru sastra lama kami terlalu cantik untuk mengajar di sebuah SMA pedesaan seperti ini.

"Ibu rasa itu adalah dialek lokal, bukan? Di sana-sini Ibu dengar orang-orang tua di Itomori masih menggunakan kata-kata Jepang kuno."

"Di sini kan tempat terpencil soalnya," kata salah satu laki-laki di kelas, dan orang-orang mulai tertawa kecil. Ia tidak salah. Terkadang Nenek menggunakan kata-kata yang membuatku ingin bertanya ia sedang menggunakan bahasa apa. Beberapa ungkapan yang ia gunakan telah ditinggalkan oleh kebanyakan orang Jepang beberapa abad yang lalu. Sambil iseng-iseng merenungkannya, aku membalik-balik halaman buku catatanku, lalu—pada selembar halaman yang seharusnya kosong—aku melihat sesuatu yang tertulis dengan huruf-huruf yang besar:

Kau siapa?

...Eh?

Apa ini? Suara-suara di sekitarku menghilang secara perlahan dan mulai menjauh, seolah-olah seperti dihisap oleh tulisan yang tidak dikenal ini. Ini bukan tulisanku.

Aku tidak pernah meminjamkan buku catatanku ke siapapun, lagipula. Apaan? "Siapa aku?" Apa maksudnya itu?

"...zu. Giliranmu, Miyamizu-san!"

"Oh! Ya!" Aku berdiri dengan tergesa-gesa.

"Tolong bacakan mulai dari halaman 98, silahkan," Ibu Yuki menyuruhku. Sambil mengamati wajahku dengan teliti, ia menambahkan, suaranya terdengar terhibur, "Senang melihatmu mengingat namamu hari ini, Miyamizu-san."

Mendengar itu, seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Eeh? Serius deh, apa yang sedang terjadi?!


"Kau tidak ingat apa-apa?"

"...Tidak."

"Serius?"

"Iya, serius," jawabku, sambil meneguk jus pisang. Glek. Enak. Saya menatapku seolah-olah seperti aku adalah sejenis makhluk halus.

"...Begini, dengar ya. Kemarin, kau lupa dimana bangku dan lokermu. Rambutmu berantakan dan berdiri di sana-sini, kau juga tidak mengikat rambutmu. Kau tidak mengenakan pita seragammu, dan kau kelihatan kesal sepanjang hari.

Aku mencoba membayangkan kelihatan seperti apa diriku itu... Eh?

"Eh?! Tidak mungkin, serius nih?

"Iya, kau bersikap seperti kau terkena amnesia atau apalah kemarin."

Masih tidak mengerti apa yang terjadi aku mencoba untuk berpikir lagi... Ini benar-benar aneh. Aku tidak bisa mengingat tentang kemarin. Atau, tidak—Aku ingat beberapa hal kecil.

Kemarin ada... kota yang tak kukenal di suatu tempat?

Ada sebuah pantulan di cermin... seorang laki-laki?

Aku mencoba untuk menelusuri kembali ingatanku. Piihyororo. Di kejauhan, seekor burung elang hitam mengejekku. Sekarang waktu makan siang, dan kami sedang berbincang-bincang di sudut lapangan sekolah, memegang kotak-kotak jus di tangan.

"Emm... Rasanya aku menghabiskan seharian penuh di mimpi yang aneh ini. Yah... sebuah mimpi tentang kehidupan orang lain? ...Mm, aku tidak begitu mengingatnya..."

"Aku paham sekarang!"

Tesshi tiba-tiba berteriak, dan aku melompat karenanya. Ia mengambil majalah sihir MU yang setengah terbaca dan mendorongnya ke muka kami berdua, ludahnya sampai bertebaran di mana-mana.

"Ingatan dari kehidupanmu sebelumnya! Itulah dia! Ya, aku tahu kau mau mengatakan itu tidak masuk akal, tapi kalau kau melihatnya dari sisi yang lain dan katakan saja, pikiran bawah sadarmu terhubung dengan suatu dunia yang berbeda, berdasarkan tafsiran Everett mengenai konsep dunia-banyak—"

"Kau diam saja," Saya memarahinya dengan keras.

"Hei! Jangan-jangan kaulah yang mencoret-coret buku catatanku?!" bentakku, nyaris bersamaan dengan Saya.

"Eh? Mencoret-coret?"

Oh, kurasa bukan. Tesshi bukan tipe orang yang menjahili dengan cara begitu, dan ia juga tidak memiliki motif untuk melakukannya.

"Em, tidak ada. Lupakan saja," kataku, menciut.

"Apa katamu? Apa maksudmu, 'mencoret-coret' ? Apa aku dicurigai melakukan sesuatu?"

"Sudah kubilang, lupakan saja."

"Wah, Mitsuha, kau jahat sekali! Apa kau dengar itu, Saya? Aku dituduh tanpa salah! Dijebak! Panggil Jaksa, berikan aku seorang jaksa! Eh tunggu, mungkin yang benar adalah pengacara. Hei, siapa yang sebenarnya dibutuhkan dalam hal seperti ini?"

"Ngomong-ngomong, Mitsuha, kau benar-benar konyol kemarin," kata Saya, mengabaikan keluhan Tesshi begitu saja. "Apa kau sakit?"

"Hmm... Itu aneh sekali. Mungkin aku memang lagi stress..."

Aku memikirkan kembali semua kesaksian yang kudapatkan sejauh ini.

Tesshi sudah kembali serius dengan majalahnya, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Itulah salah satu dari sifat baiknya, membiarkan hal-hal begitu saja.

"Sepertinya begitu! Akhir-akhir ini kau memikirkan banyak hal!"

Saya benar. Bahkan dengan mengesampingkan perkara tentang pemilihan, masih ada tentang ritual nanti malam! Mengapa, oh mengapa, di kota kecil mungil ini, aku memiliki seorang ayah yang merupakan walikota dan seorang nenek yang merupakan kepala pendeta Shinto di kuil? Aku meletakkan wajahku di lututku dan menghela nafas yang sangat-sangat dalam.

"Haaaah... Aku ingin cepat-cepat lulus dan pergi ke Tokyo. Kota ini terlalu sempit dan terlalu padat!"

Saya ikut mengangguk: Aku mengerti, aku benar-benar mengerti perasaanmu itu! "Ibuku dan kakak-kakak perempuanku semuanya bertanggung jawab terhadap penyiaran di kota, satu demi satu. Sejak aku masih kecil, wanita-wanita di sekitar rumahku sudah menjulukiku sebagai 'gadis penyiar cilik,' kau tahu?! Dan sekarang aku masuk ke klub siaran entah mengapa! Bahkan aku sendiri tidak tahu lagi apa yang ingin kulakukan!"

"Saya, begitu kita lulus nanti, ayo keluar dari sini dan pergi ke Tokyo bersama! Bahkan saat kita sudah dewasa, di kota ini, kita masih akan terjebak di dalam hierarki yang ada! Kita tidak akan pernah bisa bebas dari tradisi tua yang sudah jamuran ini! Ayo, Tesshi, kau juga ikut dengan kami, kan?"

"Hmm?" dengan tatapan kosong, Tesshi memalingkan pandangan dari majalahnya.

"...Kau tidak mendengarkan dari tadi?"

"Mm. Aku tidak begitu, ehh... Kupikir aku akan hidup sini saja seumur hidupku."

HAAAAAAAAH. Aku dan Saya kembali menghela nafas. Inilah kenapa ia tidak populer di kalangan perempuan... Bukan berarti aku juga pernah punya pacar sebelumnya.

Angin berbisik dengan lembut. Ketika aku berbalik untuk memerhatikannya, di bawah sana ada Danau Itomori yang hening, tenang, dan sama sekali tidak tertarik dengan semua ini.


Kota ini tidak memiliki toko buku ataupun dokter gigi. Ada satu kereta api setiap dua jam sekali, bus lewat hanya dua kali sehari, kami tidak mendapat laporan ramalan cuaca untuk daerah ini, dan kami masih menjadi sebuah mozaik di foto satelit Google Maps. Toko swalayan tutup jam sembilan, dan toko itu menjual barang-barang seperti bibit sayuran dan peralatan bertanam kualitas tinggi.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku dan Saya masih dalam mode 'membahas habis-habisan Itomori'.

Disini tidak ada restoran cepat saji seperti McDonald's atau MOS Burger, tapi kami memiliki dua snack bar yang tidak begitu bagus. Tidak ada pekerjaan, tidak ada gadis yang datang kemari untuk mencari suami, dan waktu siangnya sebentar. Mengeluh, mengeluh, mengeluh, mengeluh. Sering kali, kami sebenarnya merasa populasi kota yang tersebar ini terasa menyegarkan. Kami nyaris bangga karenanya, tapi hari ini kami benar-benar putus asa karenanya.

Tesshi mendorong sepedanya seiringan dengan kami, asyik dengan dunianya sendiri, dan ia dengan jengkel memotong pembicaraan kami.

"Astaga, kalian ini!"

"Apa?" tanya kami dengan marah, lalu Tesshi memberikan sebuah senyuman yang menyeramkan.

"Lupakan tentang semua itu. Mau mampir ke kafe?"

"Eh...?"

"Apa...?"

"Apa...?"

"Kafe?!" teriak kami bersamaan.


Suara besi berbunyi kachonk! membaur dengan suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan di sore hari. “Nih.” Teshi menyodorkan sekaleng jus dari mesin penjual otomatis. Dengan suara mesinnya, seorang laki-laki tua mengendarai skuter listriknya kembali ke rumah dari sawah melintas di depan kami, dan seekor anjing liar yang kebetulan lewat duduk di depan kami dan menguap seolah-olah berkata, Yah, kenapa tidak? Aku akan menemani kalian.

“Kafe” yang dimaksud sama sekali berbeda dengan apa yang kupikirkan. Kafenya bukan Starbucks atau Tully’s atau tempat fantastis seperti di dongeng apapun yang menyajikan pancake, roti Bagel, dan gelato. Tempatnya hanya berupa bus stop di tengah-tengah tempat antah-berantah ini dengan mesin penjual otomatis dan sebuah bangku dengan papan es krim yang dipasang dari tiga puluh tahun yang lalu. Kami bertiga duduk berdampingan di bangku tersebut, sembari meminum jus kami, sementara anjing itu tidur di kaki kami. Kami bukannya merasa Tesshi menipu kami. Lebih tepatnya, Yah, tentu saja, memangnya dimana lagi selain di sini?

“Oke, aku pulang duluan ya.”

Aku berpisah dengan mereka berdua setelah ikut serta dalam pembicaraan yang tidak ada artinya sama sekali—"Kurasa sekarang satu derajat lebih dingin daripada kemarin." "Tidak, kurasa satu derajat lebih hangat"—percakapan itu berlangsung lama sampai-sampai waktunya cukup untuk menghabiskan sekaleng jus.

"Semoga beruntung nanti malam," kata Saya.

"Kami akan datang dan ikut menontonnya nanti," janji Tesshi.

"Kalian sebenarnya tidak harus datang! Malahan, jangan sampai kalian datang!" ancamku, tapi di dalam hatiku, aku berdoa untuk mereka. Lakukan yang terbaik untuk bisa menjadi sepasang kekasih, kalian berdua! Setelah menapaki pijakan-pijakan batu, aku berbalik ke belakang, melihat ke arah mereka berdua selagi mereka duduk di bangku dengan danau merah merona karena matahari terbenam sebagai latar belakangnya, dan aku dengan lembut meletakkan melodi piano berlirik pada pemandangan itu. Mm-hmm, kalian berdua memang kelihatannya cocok. Malam ini, aku harus melaksanakan tugasku yang tidak mengenakkan, tapi kuharap kalian bisa menikmati masa muda kalian.


"Awww, aku juga ingin mencobanya," gerutu Yotsuha.

"Ini masih terlalu cepat untukmu, Yotsuha," kata Nenek menenangkannya.

Suara klik yang terus-menerus dari pemberat berbentuk bola yang bertumbukan satu sama lain menggema di ruang kerja yang luasnya hanya memuat sekitar delapan karpet tatami. "Dengarkan suara benangnya," Nenek memberitahunya. Bahkan selagi ia berbicara, tangan Nenek tidak berhenti bekerja. "Jika kau terus melingkarkan benang dengan seperti itu, tak lama, perasaan-perasaan akan mengalir diantaramu dan benang itu."

"Eh? tapi benang tidak bisa berbicara."

"Tali kepang kita—," lanjut Nenek, mengabaikan bantahan Yotsuha. Kami bertiga sama-sama mengenakan kimono, dan kami sedang menyelesaikan pembuatan tali yang nantinya akan kami gunakan pada saat upacara malam ini.

Tali kepang dibuat dari benang-benang tipis yang dijalin menjadi satu buah tali. Ini adalah seni rakyat tradisional yang telah diwariskan turun-temurun sedari dulu. Tali yang selesai dibuat jadinya imut dan penuh warna, dengan bermacam-macam desain dikepangkan ke tali-tali tersebut. Begitu-begitu, pengerjaannya membutuhkan keahlian yang terampil, jadi Nenek membuatkan talinya Yotsuha. Yotsuha menghabiskan waktunya melakukan pekerjaan asisten, yaitu melingkarkan benang di bola pemberat.

"Tali kepang kita menyimpan sejarah Itomori selama seribu tahun. Biar kuberitahu, sekolahmu itu seharusnya memprioritaskan mengajarkan sejarah-sejarah kota ini kepada kalian anak muda. Begini, dua ratus tahun yang lalu..."

Lagi-lagi ini, pikirku dengan tersenyum pahit. Itu omongan favorit Nenek, dan aku telah mendengarnya berulang-ulang kali di ruang kerja ini sejak aku masih kecil.

"Sebuah kebakaran bermula dari kamar mandi milik Mayugorou Yamazaki, sang pengrajin sandal jerami, kebakaran tersebut menghanguskan seluruh wilayah ini, termasuk kuil dan semua rekaman-rekaman kuno. Kejadian itulah yang disebut orang-orang sebagai—"

Nenek melirik ke arahku.

"'Kebakaran Besar Mayugorou,'" jawabku dengan lancar.

Mm-hmm. Nenek mengangguk, terlihat puas.

"Apa? mereka menggunakan namanya sebagai nama kebakaran itu?!" teriak Yotsuha, karena terkejut. "Kasihan sekali Pak Mayugorou," gumamnya. "Namanya dikenang lewat hal seperti itu."

"Berkat kebakaran itu, kita jadi tidak tahu apa arti dari tarian-tarian dan pola-pola di tali kita lagi. Apa yang kita miliki hanyalah bentuknya. Namun, meskipun tidak mengetahuinya, kita tidak boleh sampai membiarkan bentuk-bentuk itu menghilang. Arti dari bentuk-bentuk itu pasti akan muncul lagi suatu hari nanti."

Setiap kata-kata Nenek memiliki ritme yang unik, seperti sebuah nyanyian tradisional, dan sembari aku mengepang taliku, aku ikut menyuarakan kata-kata itu bersamaan dengan Nenek, dengan diam-diam menceritakannya dari ingatanku. Arti dari bentuk-bentuk itu pasti akan muncul lagi suatu hari nanti. Di sini, di Kuil Miyamizu—

"Di sini, di Kuil Miyamizu, itu adalah tugas mulia kita. Akan tetapi..."

Setelah mengatakan begitu, Nenek memandang ke bawah dengan mata lembutnya, terlihat sedih.

"Akan tetapi, anakku yang bodoh itu... Seolah-olah meninggalkan jalan menjadi pendeta dan juga pergi dari rumah ini tidak cukup, ia menjadi seorang politikus..."

Nenek menghela napasnya, dan aku menyelipkan juga helaan napasku bersamaan dengan Nenek. Bahkan aku juga tidak begitu yakin apakah aku mencintai kota ini atau membencinya, ataupun ingin pergi ke suatu tempat yang jauh atau menetap dengan keluarga dan teman-temanku untuk selamanya. Ketika aku melepaskan taliku, yang berwarna cerah dan sudah jadi, dari penyangga yang berbentuk bundar, terdengar suara klik kecil yang menggema sendirian.


Kupikir suara seruling Jepang yang mengalun dari kuil di kegelapan mungkin akan membuat takut orang-orang kota. Alunannya menyalakan mood untuk suatu kegitan yang menyeramkan, seperti di dalam novel misteri pembunuhan lama. Untuk beberapa saat ini, aku yang telah menampilkan sebuah tarian upacara gadis kuil, merasa murung sampai-sampai kuharap seorang pembunuh seperti Jason atau Jack the Ripper—siapapun tidak masalah—akan melepaskanku dari semua penderitaan ini.

Setiap tahun di waktu-waktu ini, Kuil Miyamizu mengadakan festival panen, dan Aku dengan Yotsuha mendapat nasib buruk untuk menjadi bintang di pertunjukkannya. Di hari ini, kami mengenakan pakaian gadis kuil yang mencolok, pergi ke depan penonton-penonton yang menyaksikan pertunjukan di Aula Kagura, dan menari tarian yang diajarkan Nenek. Itu adalah salah satu dari tradisi yang maknanya hilang dalam kebakaran hebat saat itu, dan tarian itu dilakukan oleh dua orang, dengan gerakan yang sinkron. Kami berdua memegang bel yang diikatkan dengan tali warna-warni. Kami membunyikannya, berputar-putar, membuat tali-talinya menyala-nyala dan memanjang di belakang kami. Ketika putaran terakhirku, aku menemukan Tesshi dan Saya di ujung pandanganku dan aku menjadi makin depresi. Dasar kalian—Sudah kubilang ke mereka untuk tidak datang, dan ma malah ke sini?! Akan kukutuk mereka dengan kekuatan gadis kuilku! Akan kukirimi mereka beribu-ribu kalimat kutukan lewat Line! Meskipun begitu, bukan bagian tariannya yang kubenci. Memang, ini sedikit memalukan, tapi karena aku sudah melakukannya sejak kecil, aku sepenuhnya sudah terbiasa dengan ini. Tidak, bukan yang ini. Maksudku, salah satu ritualnya. Ritual yang makin memalukan semakin bertambah usiaku. Hal yang harus kulakukan tepat setelah ini. Bagian yang rasanya dengan sengaja dibuat untuk merendahkan wanita dengan kejamnya.

Oh, astaga—

Aku tidak mau!

Diselimuti pikiran-pikiran begitu, aku menggerakkan tubuhku, dan lalu tiba-tiba tariannya sudah selesai. Uhh. Sudah saatnya.

Nyam, nyam, nyam.

Nyam.

Nyam, nyam, nyam, nyam.

Aku mengunyah nasi dengan penuh konsentrasi. Aku menutup mataku dan terus mengunyah, mencoba untuk berpikir macam-macam, mencoba untuk tidak merasakan rasa, suara, dan warna apapun. Di sampingku, Yotsuha juga melakukan hal yang sama. Kami duduk berlutut berdampingan, dan sebuah kotak kayu kecil masing-masing diletakkan di sebuah penyangga kecil di depan kami berdua. Dan tentu saja, di depannya lagi, penonton dari berbagai kalangan usia dan jenis kelamin menonton kami.

Nyam, nyam, nyam.

Nyam, nyam.

Uhh, sial...

Nyam, nyam, nyam.

Aku harus melakukannya sebentar lagi.

Nyam, nyam.

Arrrgh.

Nyam.

Tak tahan lagi, aku mengangkat kotaknya di hadapanku. Membawanya lebih dekat ke bibirku, lalu mencoba untuk menutupi bagian mulutku dengan ujung lengan dari kimonoku.

Dan lalu. Aaagh.

Dengan mengerutkan bibirku, aku memuntahkan nasi yang sudah kukunyah daritadi ke dalam kotak tersebut. Campuran dari berasnya dan air liurku mengalir dari mulutku sebagai sebuah cairan yang kental, serta berwarna putih. Kurasa aku mendengar para penonton terkejut lalu saling berbisik-bisik. Waaaaaaaaah! Tangisku dalam hati. Tolong, siapapun jangan melihat kemari.

Kuchikamizake[2]

Itu adalah jenis sake tertua di Jepang. Kalau kau mengunyah nasi, mencampurnya dengan air liur, lalu biarkan begitu saja, campurannya akan terfermentasikan dan berubah menjadi alkohol. Lalu, alkohol tersebut dipersembahakan kepada para dewa. Dahulu kala, kudengar di berbagai tempat di negara ini biasa membuatnya, tapi aku tidak tahu apakah ada kuil lain yang masih melakukan hal seperti ini sekarang, di abad ke-21 ini... Yang benar saja, melakukannya sambil mengenakan pakaian gadis kuil benar-benar kelewatan! Maksudku, apa artinya?! Dengan tersedu-sedu, aku kembali mengambil nasi secukupnya dan memasukkannya ke mulutku seperti seorang prajurit. Lalu aku mengunyah lagi. Yotsuha melakukan hal yang sama, ekspresi wajahnya dingin dan tenang. Kami harus melakukan hal ini lagi dan lagi sampai kotak kecil tersebut penuh. Fuuuh... Aku memuntahkan air liur dan nasi lagi, aku menangis sejadi-jadinya.

Tiba-tiba, telingaku menangkap suara yang familiar. Sambil merasakan suatu firasat buruk yang seperti riak air yang sama-samar, aku sedikit mengangkat pandanganku untuk melihatnya.

Sialan.

Aku ingin meledakkan diriku saja dan membawa kuil ini jatuh bersamaku. Sudah kuduga: Mereka adalah tiga orang "teman"ku yang mencolok. Mereka memerhatikanku dengan senyum menyeringai di wajah mereka sembari bergosip tentang sesuatu dengan cerianya. Terdapat jarak yang jauh antara aku dan mereka untuk benar-benar bisa mendengar mereka, tapi aku merasa seperti mendengar mereka dengan sangat-sangat jelas. Eeeeee, aku tidak akan, tidak akan pernah melakukan hal itu! lalu Itu sedikit tidak senonoh, dan Wow, bagaimana bisa ia melakukannya terang-terangan begitu? Tidak ada orang yang mau menikahinya sekarang.

Aku membuat suatu keputusan:

Setelah lulus nanti, aku akan meninggalkan kota ini dan pergi ke tempat yang amat jauh.


"Yang semangat dong, Kak. Memangnya kenapa kalo ada orang dari sekolahmu yang melihatnya? Dan lagipula, apa yang membuatmu begitu kaget?"

"Pastinya enak banget jadi anak kecil yang belum pubertas dan tidak memikirkan banyak hal!"

Aku menatap tajam Yotsuha. Kami sudah mengganti pakaian menjadi baju kaos dan baru saja meninggalkan pos pintu masuk kuil.

Setelah festival panen, untuk mengakhiri malam ini, kami berdua menghadiri sebuah perjamuan untuk pria dan wanita lokal yang sudah membantu di festival. Nenek yang menjadi penyelenggaranya, lalu aku dan Yotsuha menuangkan sake dan bercakap-cakap.

"Umurmu sekarang berapa, Nak Mitsuha? Apa?! Tujuh belas?! Pantas... Ada gadis muda dan cantik sepertimu yang menuangkan sake untukku membuatku merasa muda kembali."

"Bagus, pergilah dan putar kembali ke beberapa tahun yang lalu! Ini, silahkan—minumannya masih banyak!"

Kami menghibur mereka dengan susah payah, membuat kami kelelahan, dan mereka akhirnya melepaskan kami, baru saja, sambil mengatakan, "Kalian anak kecil sudah boleh pulang." Nenek dan orang dewasa yang lain masih berada di balai kuil, melanjutkan perjamuannya.

"Yotsuha, tahu tidak berapa umur rata-rata orang yang ada, di balai tadi?"

Di tanah lapang, semua cahaya yang datang dari kuil tidak terlihat, dan suara dingin dari serangga bergema di sekeliling kami.

"Tidak tahu. Enam puluh?"

"Aku menghitungnya saat berada di dapur. Hasilnya 78. 78 tahu!"

"Huh."

"Nah, sekarang kita sudah pergi dari sana, rata-ratanya menjadi 91! Sedikit lagi mereka akan mencapai seratus. Mereka sudah berada di tahap terakhir dalam kehidupan mereka. Dunia sana bisa saja mengirimkan seorang dewa kematian untuk satu tempat itu!"

"Hmm..."

Yang ingin kusampaikan adalah kalau kita harus kabur dari tempat ini secepatnya, tapi respon Yotsuha begitu pendek. Tampaknya ia sedang memikirkan hal lain. Yah, ia masih anak kecil. Ia tidak akan bisa mengerti penderitaan kakak perempuannya ini. Menyerah, aku melihat ke arah langit. Langit yang terhampar luas itu dipenuhi oleh bintang-bintang terang yang memesona, bersinar dengan kuatnya, seolah-olah kehidupan manusia di bumi tidak ada hubungannya dengan mereka.

"...Itu dia!"

Selagi kami menuruni tangga batu kuil yang panjang, berdampingan, Yotsuha tiba-tiba berteriak kecil. Ia memasang wajah kemenangannya, seolah-olah berhasil menemukan sebuah kue yang disembunyikan orang lain darinya.

"Kak, kenapa tidak mengunyah banyak sake tadi dan menggunakannya untuk biaya perjalananmu ke Tokyo?!"

Sejenak, aku terdiam.

"...Hebat juga kau bisa terpikirkan hal begitu."

"Kau bisa mengirimkan foto-foto dan video dokumenter pembuatan sakenya dan menyebutnya 'Sake Gadis Kuil' atau apalah! Aku bertaruh pasti akan laris manis!"

Haruskah aku mencemaskan adikku yang berumur sembilan tahun ini melihat dunia dengan pandangan seperti itu? Tapi, aku menyadari kalau Yotsuha sebenarnya perhatian padaku, dengan caranya sendiri. Aww, ia memang lucu, pikirku, sedikit lebih sayang daripada sebelumnya. Oke kalau begitu, mungkin aku akan memikirkan ide bisnis sake ini dengan lebih serius... Tunggu, memangnya kau bisa menjual sakemu sendiri dengan begitu saja?

"Yah? Bagaimana menurutmu, Kak?"

"Hmm..."

...Itu saja yang bisa kukatakan.

"... Tunggu, tidak bisa! Itu melawan undang-undang minuman keras!"

Tunggu, memangnya itu masalahnya?pikirku bertanya-tanya, dan ketika aku sadar kembali, aku berlari sekencang-kencangnya. Semua kejadian, perasaan, pandangan masa depan, keraguan, dan keputusasaan bercampur aduk di dalam diriku, dan rasanya hatiku mau meledak. Aku berlari menuruni tangga, melangkahi dua anak tangga sekaligus setiap langkahnya, dan menghirup dalam-dalam udara malam yang dingin. Lalu aku mengeluarkan kekacauan di dadaku bersamaan dengannya.

"Aku muak dengan kota ini! Aku muak dengan hidup ini! Jadikan aku seorang laki-laki tampan di Tokyo pada kehidupanku selanjutnya, puhleeeease!"

Eeease. Eeease. Eeease. Eeease...

Permohonanku bergema di sekeliling pegunungan yang gelap, lalu menghilang seolah-olah terhisap oleh Danau Itomori di bawahku. Kata-kata itu keluar begitu saja, dan benar-benar konyol, kepalaku sudah dingin sekarang, begitu juga dengan keringatku.

Oh, tapi meskipun begitu.

Tuhan, kalau kau memang ada di atas sana...

Tolong—


Meskipun jika tuhan benar-benar ada, aku tetap tidak tahu apa keinginanku.

Referensi dan Catatan Penerjemahan[edit]

  1. Yang dimaksud senja di sini adalah waktu di mana matahari tepat terbenam.
  2. Secara harfiah artinya: Sake kunyahan-mulut, adalah sebuah jenis sake Jepang yang dibuat dengan melibatkan air liur manusia sebagai katalis fermentasinya. Merupakan salah satu sake tertua di Jepang. Biasanya dibuat oleh gadis perawan yang cantik.