Difference between revisions of "Kimi no Na wa (Indonesia):Jilid 1 Bab 3"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
m (Part 1)
m (Bab 3 - Hari-hari)
 
Line 2: Line 2:
 
<br/>
 
<br/>
 
===== Part 1 =====
 
===== Part 1 =====
''Aku tidak mengenal nada dering ini'', pikirku setengah sadar.
+
''Aku tidak ingat nada dering ini'', pikirku setengah sadar.
   
 
Alarm? Tapi aku masih mengantuk. Dan kau tahu, aku akan tidur lagi. Dengan mata masih terpejam, aku meraba-raba mencari smartphone yang kuingat kuletakkan di samping futon.
 
Alarm? Tapi aku masih mengantuk. Dan kau tahu, aku akan tidur lagi. Dengan mata masih terpejam, aku meraba-raba mencari smartphone yang kuingat kuletakkan di samping futon.
Line 363: Line 363:
 
"Uh, tidak, sebenarnya bukan 'buruk', sih, hanya saja..."
 
"Uh, tidak, sebenarnya bukan 'buruk', sih, hanya saja..."
   
"
+
"Lelaki tadi hanya bicara omong kosong. Aku menanganinya sesuai dengan standar operasi, menggratiskan pesananannya, tapi..."
  +
  +
Ia tidak begitu kelihatan marah. Ia membalik kain lap dan lanjut mengelap meja lain. Begitu aku mau mencoba untuk menyambung percakapannya...
  +
  +
"Eeh! Okudera-senpai!"
  +
  +
Jerit pelayan lain.
  +
  +
"Rokmu!"
  +
  +
"Hmmm?"
  +
  +
Okudera-san memutar tubuhnya untuk mengecek bagian sampingnya, lalu dengan cepat mukanya memerah. Kalau kuperhatikan, aku bisa melihat sayatan horizontal kasar tepat di atas pahanya. Dengan sedikit jeritan shock, ia menarik celemek untuk menutupi sayatan tersebut.
  +
  +
"Apa kau terluka?"
  +
  +
"Astaga! Parah. Gara-gara lelaki tadi?"
  +
  +
"Apa ada yang mengganggumu?"
  +
  +
"Apa kau mengingat wajah lelaki tadi?"
  +
  +
Beberapa staff berkumpul mengelilingi Onodera-senpai, menanyai dengan cemas. Matanya tertuju ke bawah, terdiam. Aku hanya berdiri di sana, seperti orang bodoh, menelan kata-kata yang kusiapkan tadi. Bahunya sedikit gemetar. Kurasa aku melihat air matanya mulai mengalir dari pojok-pojok matanya.
  +
  +
Kali ini, aku harus menyelamatkannya.
  +
  +
Itu yang kupikirkan, dan sebelum aku sadar apa yang kulakukan, aku sudah menarik tangan Okudera-senpai dan mulai berjalan. Aku mendengar suara dari belakangku ("Hei! Taki, dasar kau..."), tapi aku mengabaikan mereka.

Latest revision as of 01:00, 12 October 2019

Bab 3 - Hari-hari[edit]


Part 1[edit]

Aku tidak ingat nada dering ini, pikirku setengah sadar.

Alarm? Tapi aku masih mengantuk. Dan kau tahu, aku akan tidur lagi. Dengan mata masih terpejam, aku meraba-raba mencari smartphone yang kuingat kuletakkan di samping futon.

Eh?

Aku meraba lebih jauh. Grr, alarmnya ribut banget. Dimana aku menaruhnya?

"—Ow!"

Punggungku menyentuh lantai dengan suara bug yang keras. Tampaknya, aku berhasil jatuh dari tempat tidurku. Ow, ow, ow, ow... Sebentar, apa tadi? Tempat tidur?

Aku akhirnya membuka mataku dan mengangkat tubuhku.

Eh?

Ruangan ini benar-benar tak kukenal.

Dan aku sedang di sini sekarang.

Apa aku tidur di tempat lain semalam?

"... Ini dimana?"

Begitu aku membisikkan kata-kata itu, aku menyadari tenggorokanku yang anehnya terasa berat. Secara refleks, aku memegang leherku. Leherku yang disentuh jari-jemariku terasa kaku dan kasar. "Hmm?" Suaraku keluar lagi, dan benar-benar terdengar berat. Aku melihat ke arah tubuhku.

...Hilang.

Sebuah baju kaos yang tidak pernah kulihat menutupi dadaku yang rata sampai ke bagian perutku, dan ada yang hilang.

Buah dadaku tidak ada di tempatnya.

Lalu tepat di tengah-tengah bagian bawah tubuhku yang anehnya terlihat, ada...sesuatu. Sesuatu yang menunjukkan kehadirannya, begitu kuat sampai menghilangkan perasaan aneh yang ditimbulkan oleh buah dadaku yang hilang.

Apa...ini?

Perlahan, aku memanjangkan tanganku, meraih wilayah itu. Semua darah di tubuhku dan semua kulit yang membungkusnya tertarik ke satu titik itu.

...Jangan-jangan ini, um...? K-Kalau dilihat dari tempatnya sih, ini...

...............

............

......

Aku memegangnya.


Dan aku nyaris pingsan karenanya.



Siapa laki-laki ini?

Aku menatap wajah aneh yang terpantul di cermin di kamar mandi yang aneh ini.

Gaya rambutnya yang mencolok sedikit mengenai alis matanya, sepertinya menginginkan perbandingan panjang sekitar 6:4 yang biasa ataupun sudah sengaja diukur segitu. Alis matanya membuatnya terlihat keras kepala, tapi matanya berbentuk lebar dan membuatnya terlihat seperti orang yang mudah dimanipulasi. Bibirnya yang kasar benar-benar terlihat sama sekali tidak mengenal yang namanya pelembab bibir, dan lehernya terlihat kaku. Pipinya terlihat kurus, dengan garis-garis yang terlihat jelas, dan entah mengapa, terpasang plester di salah satu pipinya. Ketika aku menyentuhnya dengan perlahan, samar-samar terasa berdenyut.

—Tapi. Meskipun terasa sakit, aku tidak bangun. Tenggorokanku terasa kering kerontang. Aku memutar keran yang ada, mengumpulkan air keran dengan tanganku, lalu meminumnya. Airnya tidak begitu hangat dan baunya seperti bahan-bahan kimia, seperti air kolam.

"Taki, kau sudah bangun?"

Tiba-tiba, terdengar suara laki-laki yang memanggil dari kejauhan, dan aku menjerit pelan karena terkejut. Taki?


"Hari ini giliranmu memasak untuk sarapan, nak. Ingat tidak? Kau bangun kesiangan."

Dengan gugup, aku mengintip ke ruangan yang terlihat seperti ruang keluarga. Sembari ia berbicara, seorang lelaki paruh baya berseragam melirik ke arahku, lalu seketika mengembalikan perhatiannya ke tumpukan piring.

"M-Maaf!"

Secara refleks, aku meminta maaf.

"Aku akan berangkat. Sudah ada sup miso—dihabiskan saja."

"Um, baik, Pak."

"Lalu pergilah sekolah, walaupun kau terlambat."

Setelah mengatakan itu, lelaki itu dengan cepat menumpuk piring-piringnya, menaruhnya di dapur kecil, melewatiku yang sedang berdiri terdiam di lorong pintu, pergi ke pintu depan, mengenakan sepatunya, membuka pintu, melangkah keluar, dan menutup pintunya. Semua itu terjadi begitu cepat sampai-sampai tidak ada waktu untuk memanggilnya sekalipun.

"... Benar-benar mimpi yang aneh," kataku.

Aku melihat kembali seisi ruangan ini. Terdapat banyak foto dan sketsa desain jembatan, gedung, dan bangunan yang terpajang di dinding. Lantainya dipenuhi oleh majalah-majalah, kantung-kantung plastik, dan kardus-kardus yang berantakan. Dibandingkan dengan rumah seorang Miyamizu, yang rapi seperti sebuah penginapan kuno bergaya Jepang yang antik (semuanya karena Nenek tentunya), tempat ini terasa liar dan tanpa hukum. Ruangannya sangat kecil—mungkin sebuah kondo. Kalau ini memang mimpiku, aku tidak mengerti darimana datangnya, tapi aku terkesan betapa terasa nyatanya mimpi ini. Kurasa aku memiliki daya imajinasi yang bagus. Mungkin aku bisa menjadi pelukis atau semacamnya ketika aku besar nanti.

Cling!

Sebuah notifikasi pesan bergema dari dalam ruangan dengan timing yang begitu tepat seola-olah seperti sebuah serangan balasan. Eep! kejutku, dengan cekatan berlari kembali ke kamar tempat tidurku tadi. Smartphonenya terjatuh di lantai di samping selimut, dan terlihat sebuah pesan singkat di layarnya.


Kau masih di rumah? Cepat kemari, lari! Tsukasa


Eeh? Apa? Apa maksudnya ini? Tsukasa ini siapa?!

Kalau sudah begini, kurasa aku harus masuk sekolah. Aku melihat ke sekeliling kamar ini. Mataku terhenti pada sebuah seragam laki-laki yang digantung di samping jendela, dan begitu aku mengambilnya, tiba-tiba aku menyadari satu hal yang lebih genting lagi.

Oh, astaga...!

Aku harus pipis.



Haaaaaah. Aku menghela napas yang sangat panjang, nyaris cukup panjang untuk mengempiskan seluruh tubuhku.

Ada apa sih dengan tubuh laki-laki ini?!

Entah bagaimana aku bisa menyelesaikan "urusanku" tadi, tetapi aku masih gemetar penuh amarah. Semakin aku mencoba untuk pipis, dan semakin aku mencoba untuk mengarahkannya dengan jari-jemariku, "benda" itu berubah bentuk dan semakin mengeras. Apa-apaan itu?! Mereka bodoh ya?! Apa mereka idiot?! Atau orang ini yang aneh?! Arrrgh! Aku tidak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya! Dan maaf ya, tapi aku secara teknis adalah seorang gadis kuil!

Setelah aku mengenakan seragam tersebut, sembari menundukkan kepalaku karena semua rasa malu tadi dan menahan air mataku (sebenarnya aku tidak bisa menahan semuanya, dan beberapa menetes keluar), aku membuka pintu kondoku. Yah, untuk saat ini, aku lebih baik pergi saja, pikirku, dan mengangkat kepalaku.

—Lalu.



Mataku terpaku.

Pemandangan yang terbentang di hadapanku membuatku tertegun.

Aku berdiri di koridor luar dari sebuah kondo bertingkat tinggi yang mungkin didirikan di sebuah bukit.

Di bawah sana terhampar pemandangan hijau yang luas, seperti sebuah taman raksasa. Langit birunya terlihat jelas, tanpa awan. Di perbatasan antara biru dan hijau itu, berbaris rapi bangunan-bangunan dengan beragam ukurannya, seperti sebuah origami yang sangat rumit. Setiap bangunannya dihiasi jendela yang mungil nan indah, seperti lubang-lubang di sebuah jala. Beberapa jendelanya memantulkan warna biru, beberapa yang lainnya berwarna hijau, dan beberapanya lagi berkilauan oleh mentari pagi. Aku bisa melihat sebuah menara merah, yang terlihat mungil karena jauh, serta sebuah bangunan berwarna perak yang kerangkanya berbentuk melingkar samar-samar mengingatkanku pada seekor paus, dan sebuah bangunan hitam mengkilat yang tampak seperti dipotong dari kumpulan batu obsidian. Aku yakin bangunan-bangunan ini dan beberapa bangunan lainnya terkenal—bahkan aku mengetahui beberapa di antaranya. Jauh di sana, mobil-mobil mainan mungil mengalir dengan barisan yang rapi dan tersusun.

Itu adalah pemandangan dari kota terbesar di Jepang, dan dibandingkan dengan apa yang kubayangkan, Ini— Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak pernah benar-benar mencoba untuk membayangkan seperti apa sebelumnya, tapi kota ini jauh, jauh, jauh lebih indah daripada yang terlihat di film ataupun TV. Itulah yang benar-benar kurasakan, jauh di dalam hatiku.

"Tokyo," gumamku.

Dunia ini memang begitu menyilaukan. Aku menarik napas dalam-dalam dan memicingkan mata, melihat ke arah mentari.



"Hei, ini kau beli di mana?" "Di Nishi-Azabu, sewaktu pulang sekolah." "Coba tebak, siapa yang akan menjadi pembuka pada konser besar selanjutnya?" "Yo, mau bolos kegiatan klub dan pergi menonton?" "Seorang karyawan perusahaan akan datang ke kencan buta malam ini."

A-Ada apa dengan semua percakapan ini? Apa orang-orang ini siswa SMA Jepang sungguhan? Mungkin mereka hanya membaca postingan Facebook seorang artis?

Aku mengamati kelas dari tempatku berdiri, setengah bersembunyi di balik pintu, menunggu momen yang pas untuk masuk. Aku menggunakan GPS smartphoneku untuk sampai ke sini, dan meskipun menggunakannya, aku tetap tersesat. Begitu aku menemukan sekolah ini, bel istirahat sudah berbunyi.

Dilihat-lihat lagi, sekolah ini— Jendela kaca yang memenuhi dinding-dinding, beton-beton polos, pintu-pintu besi warna-warni dengan jendelanya yang bundar... Ini semua kemewahan yang tidak normal, aku bertanya-tanya jangan-jangan ini adalah tempat diadakannya Pameran Dunia atau semacamnya. Lelaki bernama Taki Tachibana ini, seseorang yang seumuran denganku, hidup di dunia yang seperti ini? Aku memikirkan namanya orang ini, yang kutemukan di buku catatannya, serta ekspresi sombongnya di foto IDnya. Itu semua membuatku sedikit kesal.

"Taaaki!"

"—!"

Seseorang tiba-tiba melingkarkan lengannya melintasi pundakku dari belakang, yang membuatku terkejut. Ketika aku melihatnya, seseorang berkacamata yang terlihat seperti seorang CEO (yang penampilannya rapi dan terlihat cerdas) tersenyum ke arahku, begitu dekat sampai-sampai poni kami nyaris bersentuhan. Eeeeeek! Permisi, tuan—ini pertama kalinya aku begitu dekat dengan laki-laki seumur hidupku!

"Lihat dirimu, baru muncul di siang hari. Ayo kita pergi makan."

Lalu, anak berkacamata itu mulai berjalan ke aula, sambil melingkarkan tangannya di pundakku. Tidak, benar-benar deh, kau terlalu dekat!

"Tidak membalas pesanku, hebat ya?" tuduhnya, tapi ia tidak terdengar marah. Lalu aku memastikannya.

"...Maaf... Tunggu, Tsukasa?"

"Ha-ha, 'maaf'? Apa aku merasakan ada sedikit rasa penyesalan?"

Aku tidak tahu bagaimana membalasnya, jadi untuk saat ini, aku dengan perlahan memisahkan diriku dari lengannya.



"...Kau tersesat?"

Takagi—lelaki yang baik hati, bertubuh besar—berteriak, benar-benar keheranan.

"Bagaimana bisa kau tersesat ketika pergi ke sekolah?"

"Em..." kataku putus-putus. Kami bertiga sedang duduk di pojok atap sekolah yang luas. Sebenarnya sekarang adalah waktu makan siang, tapi tidak ada banyak orang di sekitar sini. Mungkin mereka menghindari matahari musim panas.

"Oh, em, ampun deh—"

"'Ampun deh'?"

Takagi dan Tsukasa saling melempar pandangan keraguan. Ups, aku lupa: Aku adalah Taki Tachibana sekarang.

"Uh, maksudku, em... Oh. Aku mohon maaf...?"

"Hunh?"

"Maaf......"

"Kau bilang apa tadi?"

"......Lupakan saja?"

Uh-huh, mereka mengangguk, dengan masih terlihat terkejut. Begitu, jadi Taki adalah tipe yang "masa bodoh". Aku mengerti!

"Aku hanya sedikit bersenang-senang. Di Tokyo rasanya seperti sedang ada festival. Benar-benar ramai."

"...Apa apa dengan logatmu itu?" tanya Takagi.

"Eh?!" Aku memiliki logat bicara? Mukaku memerah.

"Taki, makan siangmu mana?" selidik Tsukasa.

"Eh?!!" Aku tidak membawanya!

Selagi aku menggeledah tasku, dengan panik, mereka tertawa.

"Apa kau sedang demam atau semacamnya?"

"Tsukasa, kau punya sesuatu untuk dimakan?"

"Sandwich telur. Tambahkan saja dengan kroket punyamu itu."

Nih. Mereka berdua menyodorkanku sandwich kroket telur buatan mereka. Kebaikan mereka menyentuh hatiku.

"Terima kasih..."

Mereka berdua hanya tersenyum lebar. Bisa-bisanya laki-laki itu bisa menjadi keren dan baik begini...! Tidak, Mitsuha, jangan! Jangan jatuh cinta kepada mereka berdua sekaligus!—Sebenarnya, bukan, aku tidak jatuh cinta kepada siapapun, hanya saja Tokyo ini memang benar-benar fantastis!

"Jadi, sepulang sekolah nanti, mau pergi ke café itu lagi tidak?" Tanya Takagi, dan dengan pikiran kosong, aku menatap ke arahnya sembari ia mengigit nasi kepalnya.

"Ya, ide bagus," jawab Tsukasa. Setelah meneguk air mineral dari botol plastik, suaranya terdengar jelas. Eh? Apa? Kemana katanya tadi?

"Bagaimana denganmu, Taki? Kau juga ikut, kan?"

"Eh?!"

"Ke café."

"C-c-caféeeeee?!"

Mereka mengernyitkan dahi, tapi aku mengabaikannya. Moodku jadi bagus, dan aku tidak bisa menahan kegembiraanku. Ini dia! Siapa yang tertawa sekarang hah, café halte bus?!



Dua anjing kecil yang mengenakan setelan pop idol sedang duduk di sebuah kursi rotan, menatapku dengan mata mereka yang seperti permen dan menggoyang-goyangkan ekor mereka dengan begitu bersemangatnya sampai-sampai terlihat akan copot. Ada begitu ruang di antara meja-mejanya, dan setengah dari pelanggan di sini adalah orang asing. Sepertiganya menggunakan kacamata hitam, 3/5nya menggunakan fedora, dan beberapa menggunakan pakaian formal. Entah apa pekerjaan mereka.

Apa-apaan tempat ini? Orang-orang dewasa pergi ke café dengan peliharaan mereka di hari kerja, di siang bolong begini?!

"Aku menyukai kayu yang mereka gunakan sebagai plafonnya."

"Iya. Mereka pasti sangat serius mendesainnya."

Tsukasa dan Takagi tidak terlihat sedikitpun terintimidasi oleh tempat yang isinya orang-orang trendi ini. Mereka tersenyum dan berdiskusi tentang pendapat mereka terhadap desain interiornya. Sepertinya, mereka ini pergi ke café-café berbeda karena mereka tertarik pada arsitektur. Hobi apa-apaan itu?! Bukannya cowok-cowok SMA tertarik pada majalah-majalah seperti MU?!

"Taki, kau pesan apa?"

Ditanya Tsukasa, aku menghentikan pandangan bedah café-ku dan mengarahkan pandanganku pada menu yang penutupnya terbuat dari kulit dan berat itu.

"...! A—Aku bisa hidup sebulan dengan uang seharga pancake-pancake ini!"

"Kau hidup di era apa, sih?" kata Takagi, tertawa.

"Umm..."

Aku memikirkannya sebentar lalu teringat: Oh. Benar juga. Ini hanyalah mimpi. Yah, kalau begitu, kenapa tidak? Lagipula ini uangnya Taki Tachibana. Aku akan makan apapun yang kumau.



Ahhhh, mimpi yang indah sekali...

Pancake yang disajikan bukan pancake sembarangan, layaknya sebuah benteng yang dikelilingi oleh buah-buahan seperti mangga dan blueberry. Setelah menghabiskannya, aku meminum kopi kayu manis yang kupesan, amat sangat puas.

Tring.

Smartphone di sakuku berbunyi...Eh. Sederetan emotikon orang marah memenuhi isi pesan yang masuk.

"...Akh! Bagaimana ini? Katanyaaku telat masuk kerja! Seseorang, mungkin bossku, marah!"

"Sebentar, jadwal kerjamu hari ini?" tanya Takagi.

"Kalau begitu, kau sebaiknya cepat-cepat pergi," kata Tsukasa.

"Baiklah!" Aku beranjak dari kursiku. Oh, tapi...

"Ada apa?"

"Emm... Tempat kerjaku di mana ya?"

"......Haaaa?"

Kedua temanku itu kesalnya bukan main. Mereka kelihatannya sudah mencapai batasnya. Jangan begitu, dong. Aku 'kan sama sekali tidak tahu tentang lelaki bernama Taki ini!



"Permisi—Apa pesanan kami sudah siap?"

"Taki! segera ambil pesanan untuk meja dua belas!"

"Ini bukan yang kupesan."

"Taki! sudah kubilang, kita kehabisan jamur truffle!"

"Apa nota pesanan kami sudah ada?"

"Taki, kau menghalangi jalan! Minggir!"

"Taki, dasar bodoh! Lakukan tugasmu!"

"Taki!"

Tempatnya di sebuah restoran Italia yang sangat mewah.

Bangunan dua lantai yang terbuka seluruhnya, seperti beranda. Di langit-langitnya terpasang lampu gantung yang berkilauan, dan juga ada baling-baling besar di atas sana, yang berputar dengan perlahan. Aku pernah melihat yang seperti itu di film. Taki Tachibana adalah seorang pelayan berdasi kupu-kupu, dan di jam-jam makan malam ini, restorannya benar-benar penuh pelanggan.

Aku terseret kesana kemari oleh arus deras kebingungan, salah menulis pesanan, salah menyajikannya, dicihkan oleh pelanggan, dan diteriaki oleh para koki. Santai sedikit, dong, kalian ini, aku 'kan tidak pernah kerja di sini! Malahan, aku sama sekali tidak pernah kerja paruh waktu sebelumnya, serius! Ini mimpi yang sangat buruk! Waaaah, yang benar saja, kapan semua ini berakhir?! Ini semua salahmu, Taki Tachibana, dasar bodoh!

"—'Misi. Kau. Lelaki yang disana."

"Eh? Uh, iya?!"

Aku sudah berjalan menjauhi pelanggan yang memanggilku tadi, lalu berbalik dengan segera. Mana kutahu kalau yang dimaksudnya "lelaki" tadi itu aku, eh?

Wow. Lelaki yang memanggilku jelas kelihatan seorang berandalan, lengkap dengan singlet, kalung emas, dan cincin-cincin berat di jari-jemarinya. Memang, kalau kau pergi ke kota sebelah dari kotaku, ada banyak orang sepertinya mondar-mandir di depan stastiun. Aku lebih familier dengan tipe-tipe orang seperti ini dibandingkan pelanggan-pelanggan mirip selebriti yang ada di restoran ini. Ketika lelaki itu mulai berbicara, suaranya terdengar sedikit memelas:

"Dengar. Ada tusuk gigi di pizzaku."

"Hah?"

Lelaki berandalan itu mengangkat potongan pizza kemangi yang terakhir dengan ujung-ujung jarinya. Terlihat ada tusuk gigi yang mencuat dari pinggiran tempat pizza itu dipotong, kasarnya seolah-olah mengatakan ada seseorang yang memasukkannya setelah pizza itu dipotong. Mungkin orang ini hanya mengusiliku. Aku terkejut, tidak tahu harus bagaimana, lalu lelaki berandalan itu melanjutkan sambil tersenyum.

"Pastinya akan berbahaya jika aku memakannya, 'kan? Kita cukup beruntung karena aku menyadarinya. Lalu bagaimana ini?"

"Hah...?"

Aku berfirasat sebaiknya aku tidak mengatakan, Kau jelas-jelas memasukkan tusuk gigi itu sendiri, 'kan, tuan? Aku akhirnya hanya tersenyum palsu...Sebaliknya, senyum lelaki tersebut memudar.

"Aku tanya sekarang bagaimana ini, hah?!"

Prang! Tiba-tiba, ia menendang mejanya dengan lututnya dan mulai berteriak. Dengan sekejap, semua orang berhenti bercakap-cakap, tentu saja, aku juga jadi tegang.

"—Tuan! Ada masalah apa?"

Seorang wanita muncul dan mendorongku menjauh. Ia melirik ke arahku lalu berbisik, "Biar kutangani!"

Seseorang lagi menarik lenganku dari belakang dan menyeretku menjauh—seorang pelayan yang mungkin telah kerja di sini lebih lama dariku. "Tingkahmu aneh hari ini," katanya, terlihat khawatir.

"Aku benar-benar minta maaf, tuan!" Dari pojok pandanganku, aku melihat wanita tersebut membungkuk dalam-dalam kepada berandalan tersebut.

Suara orang bercakap-cakap kembali terdengar, seolah-olah seseorang memutar naik kembali volumenya.



Aku mendorong pembersih debu industri, yang seukuran mesin pemotong rumput, di atas lantai. Restorannya akhirnya tutup. Lampu-lampu yang terpasang di lampu gantung sudah meredup, dan semua taplak yang terpasang di meja telah dirapikan. Ada karyawan yang memoles gelas, ada yang memeriksa stok di kulkas, dan ada yang melakukan sesuatu dengan komputer yang ada di meja kasir. Wanita yang menyelamatkanku sedang mengelap meja satu demi satu. Sedari tadi, aku telah mencoba—dan gagal—untuk mencari kesempatan untuk berbicara dengannya. Rambutnya yang panjang itu sedikit bergelombang. Dari samping, rambutnya menutupi matanya, membuatku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Namun, bibirnya yang berkilau dan mengkilap itu membentuk senyum manis. Ia memiliki lengan dan kaki yang kurus, dan pinggulnya sangat kecil—Meskipun begitu, ia memiliki dada yang besar. Entah mengapa ia terlihat sangat keren. Sembari berjalan melewatinya, aku melihat sekilas namanya yang tertulis di dada besarnya itu. Tulisannya Okudera. Baiklah!

"Okudera-san?"

Begitu aku mengambil kesempatan untuk berbicara dengannya, seseorang menyikut kepalaku dari belakang.

"Dia itu senpaimu!" Lelaki yang menyikutku itu kedengarannya hanya bercanda. Ia lalu kembali ke dapur, dengan tumpukan menu di tangannya. Begitu ya, jadi wanita ini seniorku. Oke!

"Em, Okudera-senpai! Yang tadi itu..."

"Taki. Kau baru saja mengalami hari yang buruk, ya?"

Begitu ia membuka mulutnya, ia berbalik dan menatap mataku. Bulu matanya yang panjang melengkung ke atas, Mata coklatnya yang berbentuk sempurna melambangkan kecantikan dalam arti sebenarnya, dan suara seksinya membuatku geli. Aku jadi ingin mengatakan aku jatuh cinta padamu! Pipiku sedikit memerah, membuatku dengan cepat menunduk untuk menyembunyikannya.

"Uh, tidak, sebenarnya bukan 'buruk', sih, hanya saja..."

"Lelaki tadi hanya bicara omong kosong. Aku menanganinya sesuai dengan standar operasi, menggratiskan pesananannya, tapi..."

Ia tidak begitu kelihatan marah. Ia membalik kain lap dan lanjut mengelap meja lain. Begitu aku mau mencoba untuk menyambung percakapannya...

"Eeh! Okudera-senpai!"

Jerit pelayan lain.

"Rokmu!"

"Hmmm?"

Okudera-san memutar tubuhnya untuk mengecek bagian sampingnya, lalu dengan cepat mukanya memerah. Kalau kuperhatikan, aku bisa melihat sayatan horizontal kasar tepat di atas pahanya. Dengan sedikit jeritan shock, ia menarik celemek untuk menutupi sayatan tersebut.

"Apa kau terluka?"

"Astaga! Parah. Gara-gara lelaki tadi?"

"Apa ada yang mengganggumu?"

"Apa kau mengingat wajah lelaki tadi?"

Beberapa staff berkumpul mengelilingi Onodera-senpai, menanyai dengan cemas. Matanya tertuju ke bawah, terdiam. Aku hanya berdiri di sana, seperti orang bodoh, menelan kata-kata yang kusiapkan tadi. Bahunya sedikit gemetar. Kurasa aku melihat air matanya mulai mengalir dari pojok-pojok matanya.

Kali ini, aku harus menyelamatkannya.

Itu yang kupikirkan, dan sebelum aku sadar apa yang kulakukan, aku sudah menarik tangan Okudera-senpai dan mulai berjalan. Aku mendengar suara dari belakangku ("Hei! Taki, dasar kau..."), tapi aku mengabaikan mereka.