Difference between revisions of "Mushoku Tensei (Indonesia):Jilid extra Bab 12"

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search
(Created page with "==Bab 12 : Hari Di Kala Patung Itu Bergerak – Bagian Terakhir== ===Bagian 1=== Pada saat itu, Sylphy sedang di rumah mengurusi putri keempatnya, Christina. "Bagus Chris, s...")
 
m (Bab 12 : Hari Di Kala Patung Itu Bergerak – Bagian Terakhir)
 
Line 327: Line 327:
   
 
“Jadi, bersihkan dulu baru lanjutkan bekerja, ya. Baiklah, simpan di memori.”
 
“Jadi, bersihkan dulu baru lanjutkan bekerja, ya. Baiklah, simpan di memori.”
  +
  +
Sylphy menyeka tangan patung itu sampai bersih.
  +
  +
Ternyata, benda yang baunya minta ampun ini adalah kotorannya Chris.
  +
  +
Chris sedang tidur di meja, ketika popoknya dilepas, dia mulai menangis.
  +
  +
"Papa! Itu papa!”
  +
  +
Tapi begitu melihat Rudeus, tangisannya langsung berubah menjadi senyuman secerah mentari.
  +
  +
"... Hmm?"
  +
  +
Tadinya Rudeus khawatir Sylphy dalam masalah.
  +
  +
Atau mungkin, keluarga lainnya terluka.
  +
  +
Tapi, yang tersaji di hadapannya hanyalah automaton yang sedang bekerja membantu Sylphy mengganti popok anaknya. Ini sungguh tidak terduga.
  +
  +
"Aah, selamat datang kembali Rudi.”
  +
  +
"Sylphy, sepertinya ... kamu baik-baik saja ..."
  +
  +
"Tentu saja. Bukankah itu bagus.”
  +
  +
Sylphy mengangguk, dan patung di belakangnya menoleh pada Rudeus dengan wajah datar.
  +
  +
Wajah datar itu sungguh mengerikan, seolah-olah dia seperti pembunuh berdarah dingin yang siap menusuk Sylphy kapanpun.
  +
  +
Tapi, begitu melihat tatapan Rudeus, patung itu melangkah mundur di belakang Sylphy.
  +
  +
Seolah-olah dia hendak menggunakan Sylphy sebagai perisainya.
  +
  +
Tapi bukan begitu yang terjadi.
  +
  +
Sepertinya, patung itu takut dilihat Rudeus.
  +
  +
"Sylphy, bisakah kau sedikit menjauh dari patung itu?”
  +
  +
"…kenapa?"
  +
  +
Sylphy seolah hendak melindungi patung itu.
  +
  +
“Patung itu adalah buatanku bersama Zanoba. Dia kabur dari laboratorium. Sepertinya ada fungsi yang tidak benar pada patung itu. Dia bisa saja melukaimu.”
  +
  +
Di tengah-tengah penjelasannya, Rudeus menyadari ada yang salah.
  +
  +
"Mungkin kau hanya salah sangka, Rudi."
  +
  +
Sejak patung itu kabur dari laboratorium, Rudeus mengira ada yang salah dengan programnya, tapi belum tentu demikian. Nyatanya, dia sama sekali tidak paham apa yang dipikirkan patung itu.
  +
  +
Sembari tetap menjaga kewaspadaannya, Rudeus menatap automaton itu.
  +
  +
"Yang kudengar tidak seperti itu.”
  +
  +
"Apa yang kau dengar?”
  +
  +
Sylphy hanya tersenyum sembari melihat suaminya.
  +
  +
"Ceritanya panjang, jadi duduklah dulu.”
  +
  +
"Ya…"
  +
  +
Rudeus pun segera duduk bersila.
  +
  +
Sylphy mengeluarkan "Hmm?" dan memiringkan kepalanya ke samping.
  +
  +
"Rudy. Bukankah cara dudukmu salah?”
  +
  +
"Eh!? Aah, ya."
  +
  +
Begitu ditegur, dia merubah posisi duduknya.
  +
  +
Sylphy terlihat santai, tapi dari nada bicaranya, Rudeus tahu bahwa dia sedang jengkel.
  +
  +
Artinya, Rudeus harus duduk dalam posisi Seiza.
  +
  +
"Baiklah, sekarang ceritakan lagi nona.....”
  +
  +
Setelah memastikan Rudeus siap, Sylphy berbalik, lalu menuju patung itu.
  +
  +
Dia mendorong patung tanpa ekspresi itu agar lebih mendekat pada Rudeus.
  +
  +
"Rudeus-sama, apakah kau akan menon-aktifkan aku?”
  +
  +
"Ya, itu benar. Sepertinya ada yang salah dengan sistemmu. Itu artinya, kami harus membuat versi yang lebih baik lagi.”
  +
  +
Mendengar jawaban langsung dari Rudeus, patung itu tidak bergerak sedikit pun.
  +
  +
Tapi Rudeus tahu.
  +
  +
Sebenarnya, patung ini cukup berbahaya. Karena tulangnya terbuat dari material yang sama dengan Magic Armor, dan dia memiliki kemampuan yang setara dengan pendekar pedang level Saint.
  +
  +
Jika benda berbahaya seperti itu tidak mendengar perintah tuannya, maka tidak ada pilihan selain menon-aktifkannya.
  +
  +
Saat ini Rudeus sedang mengenakan Magic Armor Versi II dan mengaktifkan mata iblisnya. Dia tidak akan kalah dengan patung ciptaannya ini, tapi tetap saja dia tidak boleh lengah.
  +
  +
"...... aku tidak ingin dinon-aktifkan."
  +
  +
Tiba-tiba Rudeus menyadari sesuatu.
  +
  +
"..."
  +
  +
Patung itu ketakutan.
  +
  +
Dia hanya berdiri di sana dengan wajah tanpa ekspresi.
  +
  +
Badannya bahkan tidak menggigil sedikit pun.
  +
  +
Tapi Rudeus tahu dia ketakutan.
  +
  +
Lalu, patung itu mengalihkan pandangannya pada Sylphy.
  +
  +
Entah kenapa, mata kosong itu seolah meminta belas kasihan pada Sylphy.
  +
  +
"Sepertinya Rudi masih tidak paham. Jadi, kau harus menjelaskannya dari awal.”
  +
  +
Sylphy mengatakan itu lagi pada si patung, sembari melihat Rudeus dan Zanoba yang entah sejak kapan sudah memasuki rumah.
  +
  +
Automaton itu pun mulai berkata....
  +
  +
"Rudeus-sama dan Zanoba-sama mengatakan, istri-istri Rudeus-sama akan marah jika aku bersama mereka. Sedangkan, Elinalise-sama menjelaskan bahwa istri-istri Rudeus-sama adalah, Sylphy-sama, Roxy-sama, dan Eris-sama. Elinalise-sama memanggilku dengan nama Nanahoshi. Lalu, Eris-sama mengatakan bahwa Sylphy-sama tidak begitu suka pada wanita bernama Nanahoshi. Kupikir, karena aku mirip Nanahoshi, maka aku akan disingkirkan. Tapi, aku bukan Nanahoshi. Jadi, pasti ada cara agar aku diterima di sini.”
  +
  +
Suaranya monoton, tapi Rudeus bisa merasakan keputusasaan darinya.
  +
  +
Rupanya, patung itu sedang mencari cara agar dirinya tidak disingkirkan.
  +
  +
“Aku tidak ingin dinon-aktifkan. Rudeus-sama dan Zanoba-sama sungguh gembira saat aku terbangun. Aku ingin berguna bagi kalian semua, jadi kumohon jangan buang aku.”
  +
  +
Pernah ada suatu kisah tentang penyihir yang memanggil hewan magis yang terlalu kuat. Pada akhirnya, penyihir itu terbunuh oleh makhluk panggilannya sendiri.
  +
  +
Tapi, sebenarnya tidak begitu. Makhluk panggilan ada untuk melayani tuannya. Tuannya pun ada untuk memelihara makhluk tersebut. Jika terjadi komunikasi yang baik, maka hubungan keduanya akan sama-sama menguntungkan.
  +
  +
Begitupun dengan automaton.
  +
  +
Perugius yang ahli sihir pemanggilan juga menggunakan prinsip ini.
  +
  +
Konon katanya, Tsukkaima milik Perugius memiliki kesadarannya masing-masing.
  +
  +
Setelah mereka dipanggil, Perugius sama sekali tidak mengendalikannya.
  +
  +
Tapi, tidak pernah terjadi pengkhianatan oleh mereka. Para Tsukkaima Perugius malah bangga melayani tuannya.
  +
  +
“Dari semua informasi yang kuperoleh, aku menyimpulkan bahwa istri Rudeus-sama yang bernama Sylphy-sama tidak menginginkan keberadaanku. Maka, aku sendiri harus menemuinya untuk mempertanyakan itu.”
  +
  +
Mungkin automaton ini tidak malfungsi.
  +
  +
Dia hanya ingin diakui keberadaannya.
  +
  +
"Maka, aku pun bertanya pada Sylphy-sama, apa yang harus kulakukan agar aku diterima oleh semuanya.”
  +
  +
Patung itu tiba-tiba muncul dan menerobos masuk ke dalam rumah.
  +
  +
Itu sempat membuat Sylphy was-was.
  +
  +
Tapi sebenarnya dia tidak pernah bermaksud jahat.
  +
  +
Sylphy coba melindungi keluarganya, tapi secara tidak sengaja dia hampir bertabrakan dengan Chris. Saat itulah automaton ini menyelamatkan keduanya.
  +
  +
Kemudian, dia menyadari ada yang salah dengan popok Chris, sehingga akhirnya dia menawarkan bantuan untuk menggantinya.
  +
  +
Saat itulah dia menjelaskan semuanya.
  +
  +
"Aku tidak ingin dinon-aktifkan. Aku akan memperbaiki apapun kesalahanku. Jadi, kumohon jangan buang aku.”
  +
  +
Kata-kata itu menyentuh hati Sylphy.
  +
  +
“Rudy, aku tidak akan marah. Aku tahu kau membuat benda seperti ini. Walaupun kubilang benda, sebenarnya dia sangat manusiawi. Lagipula, dia gadis yang baik. Mungkin bagimu dia tidak sempurna, tapi aku masih mau menggunakan tenaganya.”
  +
  +
Sylphy menutup penjelasan patung itu.
  +
  +
Sekarang mereka hanya bisa menunggu keputusan Rudeus.
  +
  +
Mulut Rudeus berbentuk へ, lengannya bersedekap dan kepalanya tertunduk.
  +
  +
Bahunya gemetar.
  +
  +
"Uuu."
  +
  +
Zanoba yang berdiri di belakangnya juga mulai gemetaran.
  +
  +
Saat Sylphy hendak bertanya apa yang sedang terjadi,
  +
  +
"Waaaaaah!"
  +
  +
Zanoba menjerit dan berlari ke arah patung itu.
  +
  +
“Tak kusangka kau berpikir begitu! Ternyata kau memikirkan kami semua! Aku minta maaf karena telah membuatmu kesulitan! Ini semua salahku!”
  +
  +
Zanoba menangis tersedu-sedu sembari memeluk patung itu.
  +
  +
Melihat mereka berdua, Rudeus pun mulai terisak-isak.
  +
  +
Matanya juga berair.
  +
  +
Rudeus mengambil saputangan dari saku, lalu meniup ingusnya. Dia berdiri, lalu meraih tangan patung itu.
  +
  +
“Seperti yang dikatakan Zanoba. Tentu saja kau lari saat mendengar hendak dibuang. Sebenarnya, kau hanya mencari jalan keluar. Aku mengerti. Sylphy tidak mempermasalahkanmu. Jadi, aku dan Zanoba akan segera menyempurnakanmu, agar kau bisa berfungsi lebih baik.”
  +
  +
"Dan aku tidak lagi takut pada kemarahan Julie!”
  +
  +
Keduanya memeluk patung itu sambil menangis.
  +
  +
Entah kenapa, Sylphy melihat patung itu bahagia, padahal wajahnya datar-datar saja.
  +
  +
Sebetulnya masalahnya belum usai, hanya saja dia sudah memaafkan mereka.
  +
  +
Slyphy yang lega mengelus-elus kepala Chris, yang sepertinya mulai bosan diabaikan.
  +
  +
Tapi, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
  +
  +
“Rudi, aku punya satu pertanyaan. Mengapa kau pikir aku akan marah saat melihat patung ini?”
  +
  +
Rudeus mulai merinding saat mendengar itu.
  +
  +
Dia berbalik pada istrinya, lalu berlutut sekali lagi.
  +
  +
“.......ahem.......”
  +
  +
Dia memulai penjelasannya.
  +
  +
"Sebenarnya, patung ini cukup....... errrr, cukup...... cukup realistis! Ya, cukup realistis!”
  +
  +
“Apanya yang realistis?”
  +
  +
“Emmm...... anunya......”
  +
  +
Sylphy pun marah besar saat mendengarnya.
  +
  +
Yahh, itulah akhir kisah ini.
  +
  +
Apakah malam ini Rudeus akan tidur sendirian? Siapa tahu..........
  +
  +
===Bagian 3===
  +
  +
Akibat insiden ini, si patung tidak jadi dinon-aktifkan.
  +
  +
Alih-alih, mereka berencana mengembangkan patung itu sebaik mungkin.
  +
  +
Dan patung Nanahoshi itu diberi label sah sebagai Automaton No.01.
  +
  +
Setelah itu, Rudeus melanjutkan eksperimennya baik di laboratorium Fedoa, maupun Sharia. Dia pun mengembangkan banyak rencana ke depannya.
  +
  +
Tapi, kita bahas itu lain kali saja.
  +
  +
Akhirnya, Nanahoshi tahu kalau dirinya dijadikan model automaton.
  +
  +
Dia jelas tidak senang ketika tahu patung itu begitu realistis, sampai ke ranah seksual.
  +
  +
Tapi setelah Rudeus bersujud, memohon, dan berjanji pada Sylphy untuk tidak menggunakannya sebagai obyek seks, Nanahoshi pun memaafkannya.
  +
  +
"Baiklah, tidak masalah. Jadi... siapa namanya?”
  +
  +
"Kami belum tahu.”
  +
  +
"Oh ya? Bagaimana kalau aku yang memberi nama?”
  +
  +
Maka, Nanahoshi pun menamai patung itu.
  +
  +
Namanya adalah Anne.
  +
  +
Jika teman Nanahoshi dari dunia sebelumnya muncul, maka tugas automaton itu adalah menyambutnya. Maka, dia juga harus punya nama Jepang, yaitu Nanahoshi Hajime.
  +
  +
Si patung akan memperkenalkan dirinya pada pria itu jika bertemu.
  +
  +
Mereka pun membuat nama panjangnya, yaitu Automaton SS 01 Anne. SS adalah singkatan Silent Star, yang merupakan julukan Nanahoshi.
  +
  +
Nanti akan ada unit 02 yang bernama Deux atau unit 03 yang bernama Trois.
  +
  +
Dengan begitu, produk Series SS Anne telah selesai.
  +
  +
Adik-adiknya akan dibuat beberapa tahun kemudian.
  +
  +
Tapi, hanya SS Ane yang punya puting.

Latest revision as of 05:39, 23 May 2020

Bab 12 : Hari Di Kala Patung Itu Bergerak – Bagian Terakhir[edit]

Bagian 1[edit]

Pada saat itu, Sylphy sedang di rumah mengurusi putri keempatnya, Christina.

"Bagus Chris, sekarang lepaskan tanganmu, dan mendekatlah pada mama.”

"Hmh ~! Mama yang ke sini ...!"

Tidak seperti Lilly yang cepat belajar, Christina masih harus memegang sesuatu untuk berjalan.

Belakangan ini Sylphy sibuk mengajarinya berjalan.

Tapi sepertinya Chis tidak menyukainya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kesal, bahkan hampir menangis.

"Jangan, Chris yang ke ini, ayolah coba.”

"Hm! Uuh ... Mama ~ ... Ayo ..."

"Tidak. Ayo, aku di sini."

Chris menggerutu dan mulai menangis.

Itu artinya, dia masih tidak bisa melakukannya.

Dia hanya ingin dimanja.

“Hiks.....hiks.....waaaaaaaaaa.....”

Dia pun menutup matanya, kemudian berjalan sedikit dan melompat pada Sylphy.

"Nah... bisa, kan... hebat, hebat... anak hebat.”

"Nn ~ ..."

Seperti biasa, Sylphy menghiburnya dengan memeluk dan membelai kepalanya.

Chris, yang masih terisak, merangkul ibunya.

Dibandingkan dengan Lilly yang energik dan skeptis, Chris lebih pemalu dan pendiam.

Dia lebih suka menghabiskan waktunya di dalam rumah daripada keluar.

Eris ingin sekali mengajaknya jalan-jalan, tapi dia selalu berlindung di balik ibunya, bahkan hampir menangis. Saat Eris datang pun dia tampak ketakutan.

Jarang sekali dia melihat dunia luar.

"Chris, kamu terlalu pemalu. Kau nurun siapa sih.....”

Meskipun Sylphy berkata begitu, sebenarnya dia sudah tahu bahwa putrinya ini menurun Rudeus.

"Mama ... papa, belum pulang?"

"Belum tuh."

Chris sangat manja pada ayahnya.

Sejak kecil dia cengeng, namun saat bersama Rudeus seketika tangisannya berhenti.

Dia benar-benar kebalikan dari Ars.

Belakangan ini, pangkuan Rudeus menjadi kursi keduanya.

"Aah!"

"... Hmm?"

Dia mendengar sesuatu dari pintu masuk.

Seseorang mungkin telah pulang.

"Papa?"

"Hmmm.... kurasa bukan."

Rudeus belum pulang sejak kemarin.

Dia pun tidak memberitahu kapan akan pulang. Mungkin dia akan pergi 2 atau 3 hari.

Jadi, harusnya dia belum pulang.

"Onee-chan?"

"Terlalu pagi kalau Onee-chan pulang sekarang."

Lucy dan Roxy pulang dari sekolah agak siang, begitu pun dengan Aisha yang sibuk di kantor PT. Rudo.

Mungkin Eris yang pulang.

Ah tidak juga, dia tidak hanya jalan-jalan hari ini, tapi juga pergi bermain bersama Sieg, Lara, dan Lilly.

Atau mungkin, itu Lilia dan Ars yang pulang dari berbelanja.

Ah tidak juga, mereka barusan pergi kok, harusnya tidak pulang secepat ini.

Atau ... mereka kembali karena melupakan sesuatu?

Bagaimana dengan Zenith?

Tidak, dia sedang tidur di kamarnya.

Tapi dia biasa menyelinap ke kebun tanpa seorang pun sadari.

Sylphy terus memikirkan berbagai kemungkinan sembari meletakkan Chris di dipan.

"Chris, tunggu di sini."

Sylphy yang penuh tanya menuju ke pintu masuk.

Dia meninggalkan ruang tamu, kemudian menuju koridor. Saat itulah terdengar suara berderit.

Pintunya setengah terbuka.

Tapi yang dilihat Sylphy bukanlah pintunya.

"..."

Ada seseorang yang sudah masuk ke dalam rumah.

Orang itu berdiri di sana, disinari cahaya matahari pagi.

Gadis berambut hitam.

Melihatnya sekilas saja, Sylphy tahu kalau itu Nanahoshi.

Andaikan saja dia tidak nyelonong masuk ke dalam rumah, Sylphy pasti akan menyapanya dengan sopan.

Tapi karena dia sudah ada di hadapannya, Sylphy hanya bisa mengerutkan kening dengan curiga.

"... Kau Nanahoshi, kan?"

Mendengar itu, si gadis tersenyum.

Dengan disinari cahaya matahari, aura gadis ini terasa tidak menyenangkan.

"Ya. Benar. Bagaimana kau tahu?"

"Nanahoshi sering berkunjung ke rumah kami. Tapi dia masih punya sopan santun. Dia selalu mengetok pintu dua kali, jika tidak ada balasan, dia akan membukanya sedikit, lalu mengatakan, ‘apakah ada orang di rumah....’ dengan pelan.”

Sembari mengatakan itu, Sylphy mulai mengumpulkan Mana di tangannya.

Dari itu saja, dia bisa menyimpulkan bahwa Nanahoshi yang sedang dihadapinya bukanlah teman mereka.

Bagi Sylphy, siapapun yang mengancam rumah ini adalah musuh.

Tapi, entah kenapa dia tidak merasakan aura jahat dari gadis ini.

Suara gadis ini tidak memendam emosi, bahkan sangat tenang.

Tapi Sylphy bukanlah orang polos yang menganggapnya teman hanya karena berbicara tenang.

"Siapa kamu? Jika kau salah satu bidaknya Hitogami, maka aku akan melenyapkanmu.”

Sylphy mulai bersiap melawan.

Dia akan membutakan gadis ini sementara dengan sihirnya, lalu akan langsung membawa Chis dan Zenith ke luar rumah.

Keluarga ini sudah bersiap jikalau ada ancaman tiba-tiba, tapi..... apakah dia bisa melakukanya sendiri.

Tidak ada suara keributan, tapi Beet yang melingkar di gerbang mungkin sudah dikalahkan.

Sylphy sudah mengirimkan sinyal pada Eris dan Roxy melalui cincinnya yang merupakan alat sihir. Tapi, apakah mereka menyadarinya.....

Apakah Orsted dan Aleksander di kantor juga tahu....

Pilihan terbaik saat ini hanyalah lari.

Atau setidaknya mengulur waktu.

Sembari memikirkan berbagai pilihan, dia melihat tajam pada lawannya.

"Saat ini aku tidak punya nama."

"...?"

"Tapi, bolehkah aku tahu namamu?"

"Sylphyette Greyrat."

Tiba-tiba ditanya, Sylphy merespons secara refleks.

"Jadi, kau adalah Sylphy-sama, atau istri Rudeus-sama?"

"Betul sekali."

Dia mengonfirmasi namanya.

Sylphy menjawabnya begitu saja, padahal kalau dipikir-pikir lebih baik dia tidak mengaku.

Sylphy terus waspada.

Sepertinya orang ini tidak membawa senjata.

Pertahanannya pun tampak lemah.

Tapi dia tidak boleh lengah. Ada banyak orang sakti yang bisa mengalahkan lawannya hanya dengan tangan kosong.

"Apakah aku membuatmu merasa jengkel pada Rudeus-sama?”

"...?"

"Sylphy-sama, mengapa kau tidak menyukaiku?”

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Aku terpancing. Harusnya aku tidak mendengarkannya. Mungkin ini semacam ilusi.

Seketika, Sylphy ingin segera kabur.

"Berbahaya!"

Selang beberapa detik, gadis itu berteriak, lalu mengulurkan tangannya.

Kecepatannya melebihi Sylphy.

Tapi Sylphy sudah menduganya.

Dia tidak bisa mengikuti gerakan lawan, tapi setidaknya dia masih bisa bereaksi.

Dengan kuda-kuda yang kokoh, dia menghindar ke samping, lalu memberikan serangan balik dengan sihirnya.

Namun................

"Aah!"

Dia baru sadar bahwa Chris ada di dekatnya.

Sejak kapan bocah itu di sana?

Bukankah itu berarti, Chris berjalan sendiri ke sini.....?

Ternyata dia bisa berjalan sejauh ini?

Dia tidak mendengarkan ketika Sylphy menyuruhnya "tunggu di sini".

Kebetulan, bocah itu berada di tempat yang hendak Sylphy pijak.

Sayangnya semua sudah terlambat.

Dia harus melakukan apapun agar tidak menginjak bocah itu.

Meskipun itu akan merusak keseimbangan tubuhnya.

Dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin dia bisa menghindar tanpa mengorbankan keseimbangan tubuhnya.

Di sisi lain, Sylphy merasakan tangan gadis itu yang melesat padanya dengan kecepatan luar biasa.

Bagian 2[edit]

Saat Rudeus tiba di rumah, suasananya sepi dan mengerikan.

Gerbang tempat Beet biasa melingkar.

Taman yang biasa digarap Aisha.

Dan rumah anjing tempat Leo biasa tidur.

Semuanya kosong.

Pintu rumah sudah terbuka, dan dia bisa melihat lorong dan ruang tamu yang kosong melompong.

Sepi sekali.

Tapi, bukannya tanpa suara.

Tiba-tiba terdengar tangisan yang menggema dari dalam rumah.

Dia sangat mengenal suara itu.

Itu suara Chris.

Itu adalah tangisan pasrah.

Itu terdengar seperti tangisan penuh kesedihan ketika kehilangan orang yang disayangi.

Rudeus sudah sering mendengar Chris menangis, tapi biasanya segera berhenti ketika dia datang.

Tapi entah kenapa, Rudeus masih bisa tenang saat mendengar tangisan itu.

"... prajurit bayaran, tetaplah siaga!"

Rudeus tidak sendirian, dia membawa orang-orang PT. Rudo. Setelah memerintahkan mereka berjaga di depan, dia pun masuk ke dalam rumah.

Setelah terdengar tangisan itu, suasana kembali sepi.

Lorong masuk sepi.

Dia melihat cermin saat memasuki rumah. Pada cermin itu terpantul wajahnya sendiri yang begitu pucat.

Bau apa ini?

Ini bau yang sungguh tidak menyenangkan.

Jika kau terkunci di dalam ruangan dengan bau seperti ini, pasti kau akan muntah.

Lalat pun suka bau ini.

Seolah diarahkan oleh bau itu, Rudeus berjalan menyusuri lorong.

Tujuannya adalah ruang tamu.

Dari sanalah suara itu berasal, dan dia yakin bau ini juga berasal dari sana.

Dia melihat pintu ruang tamu yang tertutup rapat.

Rudeus memberanikan diri untuk membukanya.

Kemudian......

Sukar dipercaya...........

Yang pertama kali dia lihat adalah Chris sedang berbaring dan menangis di atas meja.

Yang membungkuk di atas Chris adalah patung berambut hitam.

Tangan patung itu kotor oleh noda kecoklatan yang mengering.

Dari noda itulah bau aneh ini berasal.

Noda itu........ jangan-jangan............

"Oh, ayolah, di tanganmu ada kotorannya Chris tuh.....”

"Tidak masalah. Kotoran ini tidak banyak. Aku masih bisa bekerja.”

"Tidak, kau harus membersihkannya terlebih dulu. Lalu, kau lipat popoknya seperti ini, taruh di keranjang, kemudian cuci.”

“Jadi, bersihkan dulu baru lanjutkan bekerja, ya. Baiklah, simpan di memori.”

Sylphy menyeka tangan patung itu sampai bersih.

Ternyata, benda yang baunya minta ampun ini adalah kotorannya Chris.

Chris sedang tidur di meja, ketika popoknya dilepas, dia mulai menangis.

"Papa! Itu papa!”

Tapi begitu melihat Rudeus, tangisannya langsung berubah menjadi senyuman secerah mentari.

"... Hmm?"

Tadinya Rudeus khawatir Sylphy dalam masalah.

Atau mungkin, keluarga lainnya terluka.

Tapi, yang tersaji di hadapannya hanyalah automaton yang sedang bekerja membantu Sylphy mengganti popok anaknya. Ini sungguh tidak terduga.

"Aah, selamat datang kembali Rudi.”

"Sylphy, sepertinya ... kamu baik-baik saja ..."

"Tentu saja. Bukankah itu bagus.”

Sylphy mengangguk, dan patung di belakangnya menoleh pada Rudeus dengan wajah datar.

Wajah datar itu sungguh mengerikan, seolah-olah dia seperti pembunuh berdarah dingin yang siap menusuk Sylphy kapanpun.

Tapi, begitu melihat tatapan Rudeus, patung itu melangkah mundur di belakang Sylphy.

Seolah-olah dia hendak menggunakan Sylphy sebagai perisainya.

Tapi bukan begitu yang terjadi.

Sepertinya, patung itu takut dilihat Rudeus.

"Sylphy, bisakah kau sedikit menjauh dari patung itu?”

"…kenapa?"

Sylphy seolah hendak melindungi patung itu.

“Patung itu adalah buatanku bersama Zanoba. Dia kabur dari laboratorium. Sepertinya ada fungsi yang tidak benar pada patung itu. Dia bisa saja melukaimu.”

Di tengah-tengah penjelasannya, Rudeus menyadari ada yang salah.

"Mungkin kau hanya salah sangka, Rudi."

Sejak patung itu kabur dari laboratorium, Rudeus mengira ada yang salah dengan programnya, tapi belum tentu demikian. Nyatanya, dia sama sekali tidak paham apa yang dipikirkan patung itu.

Sembari tetap menjaga kewaspadaannya, Rudeus menatap automaton itu.

"Yang kudengar tidak seperti itu.”

"Apa yang kau dengar?”

Sylphy hanya tersenyum sembari melihat suaminya.

"Ceritanya panjang, jadi duduklah dulu.”

"Ya…"

Rudeus pun segera duduk bersila.

Sylphy mengeluarkan "Hmm?" dan memiringkan kepalanya ke samping.

"Rudy. Bukankah cara dudukmu salah?”

"Eh!? Aah, ya."

Begitu ditegur, dia merubah posisi duduknya.

Sylphy terlihat santai, tapi dari nada bicaranya, Rudeus tahu bahwa dia sedang jengkel.

Artinya, Rudeus harus duduk dalam posisi Seiza.

"Baiklah, sekarang ceritakan lagi nona.....”

Setelah memastikan Rudeus siap, Sylphy berbalik, lalu menuju patung itu.

Dia mendorong patung tanpa ekspresi itu agar lebih mendekat pada Rudeus.

"Rudeus-sama, apakah kau akan menon-aktifkan aku?”

"Ya, itu benar. Sepertinya ada yang salah dengan sistemmu. Itu artinya, kami harus membuat versi yang lebih baik lagi.”

Mendengar jawaban langsung dari Rudeus, patung itu tidak bergerak sedikit pun.

Tapi Rudeus tahu.

Sebenarnya, patung ini cukup berbahaya. Karena tulangnya terbuat dari material yang sama dengan Magic Armor, dan dia memiliki kemampuan yang setara dengan pendekar pedang level Saint.

Jika benda berbahaya seperti itu tidak mendengar perintah tuannya, maka tidak ada pilihan selain menon-aktifkannya.

Saat ini Rudeus sedang mengenakan Magic Armor Versi II dan mengaktifkan mata iblisnya. Dia tidak akan kalah dengan patung ciptaannya ini, tapi tetap saja dia tidak boleh lengah.

"...... aku tidak ingin dinon-aktifkan."

Tiba-tiba Rudeus menyadari sesuatu.

"..."

Patung itu ketakutan.

Dia hanya berdiri di sana dengan wajah tanpa ekspresi.

Badannya bahkan tidak menggigil sedikit pun.

Tapi Rudeus tahu dia ketakutan.

Lalu, patung itu mengalihkan pandangannya pada Sylphy.

Entah kenapa, mata kosong itu seolah meminta belas kasihan pada Sylphy.

"Sepertinya Rudi masih tidak paham. Jadi, kau harus menjelaskannya dari awal.”

Sylphy mengatakan itu lagi pada si patung, sembari melihat Rudeus dan Zanoba yang entah sejak kapan sudah memasuki rumah.

Automaton itu pun mulai berkata....

"Rudeus-sama dan Zanoba-sama mengatakan, istri-istri Rudeus-sama akan marah jika aku bersama mereka. Sedangkan, Elinalise-sama menjelaskan bahwa istri-istri Rudeus-sama adalah, Sylphy-sama, Roxy-sama, dan Eris-sama. Elinalise-sama memanggilku dengan nama Nanahoshi. Lalu, Eris-sama mengatakan bahwa Sylphy-sama tidak begitu suka pada wanita bernama Nanahoshi. Kupikir, karena aku mirip Nanahoshi, maka aku akan disingkirkan. Tapi, aku bukan Nanahoshi. Jadi, pasti ada cara agar aku diterima di sini.”

Suaranya monoton, tapi Rudeus bisa merasakan keputusasaan darinya.

Rupanya, patung itu sedang mencari cara agar dirinya tidak disingkirkan.

“Aku tidak ingin dinon-aktifkan. Rudeus-sama dan Zanoba-sama sungguh gembira saat aku terbangun. Aku ingin berguna bagi kalian semua, jadi kumohon jangan buang aku.”

Pernah ada suatu kisah tentang penyihir yang memanggil hewan magis yang terlalu kuat. Pada akhirnya, penyihir itu terbunuh oleh makhluk panggilannya sendiri.

Tapi, sebenarnya tidak begitu. Makhluk panggilan ada untuk melayani tuannya. Tuannya pun ada untuk memelihara makhluk tersebut. Jika terjadi komunikasi yang baik, maka hubungan keduanya akan sama-sama menguntungkan.

Begitupun dengan automaton.

Perugius yang ahli sihir pemanggilan juga menggunakan prinsip ini.

Konon katanya, Tsukkaima milik Perugius memiliki kesadarannya masing-masing.

Setelah mereka dipanggil, Perugius sama sekali tidak mengendalikannya.

Tapi, tidak pernah terjadi pengkhianatan oleh mereka. Para Tsukkaima Perugius malah bangga melayani tuannya.

“Dari semua informasi yang kuperoleh, aku menyimpulkan bahwa istri Rudeus-sama yang bernama Sylphy-sama tidak menginginkan keberadaanku. Maka, aku sendiri harus menemuinya untuk mempertanyakan itu.”

Mungkin automaton ini tidak malfungsi.

Dia hanya ingin diakui keberadaannya.

"Maka, aku pun bertanya pada Sylphy-sama, apa yang harus kulakukan agar aku diterima oleh semuanya.”

Patung itu tiba-tiba muncul dan menerobos masuk ke dalam rumah.

Itu sempat membuat Sylphy was-was.

Tapi sebenarnya dia tidak pernah bermaksud jahat.

Sylphy coba melindungi keluarganya, tapi secara tidak sengaja dia hampir bertabrakan dengan Chris. Saat itulah automaton ini menyelamatkan keduanya.

Kemudian, dia menyadari ada yang salah dengan popok Chris, sehingga akhirnya dia menawarkan bantuan untuk menggantinya.

Saat itulah dia menjelaskan semuanya.

"Aku tidak ingin dinon-aktifkan. Aku akan memperbaiki apapun kesalahanku. Jadi, kumohon jangan buang aku.”

Kata-kata itu menyentuh hati Sylphy.

“Rudy, aku tidak akan marah. Aku tahu kau membuat benda seperti ini. Walaupun kubilang benda, sebenarnya dia sangat manusiawi. Lagipula, dia gadis yang baik. Mungkin bagimu dia tidak sempurna, tapi aku masih mau menggunakan tenaganya.”

Sylphy menutup penjelasan patung itu.

Sekarang mereka hanya bisa menunggu keputusan Rudeus.

Mulut Rudeus berbentuk へ, lengannya bersedekap dan kepalanya tertunduk.

Bahunya gemetar.

"Uuu."

Zanoba yang berdiri di belakangnya juga mulai gemetaran.

Saat Sylphy hendak bertanya apa yang sedang terjadi,

"Waaaaaah!"

Zanoba menjerit dan berlari ke arah patung itu.

“Tak kusangka kau berpikir begitu! Ternyata kau memikirkan kami semua! Aku minta maaf karena telah membuatmu kesulitan! Ini semua salahku!”

Zanoba menangis tersedu-sedu sembari memeluk patung itu.

Melihat mereka berdua, Rudeus pun mulai terisak-isak.

Matanya juga berair.

Rudeus mengambil saputangan dari saku, lalu meniup ingusnya. Dia berdiri, lalu meraih tangan patung itu.

“Seperti yang dikatakan Zanoba. Tentu saja kau lari saat mendengar hendak dibuang. Sebenarnya, kau hanya mencari jalan keluar. Aku mengerti. Sylphy tidak mempermasalahkanmu. Jadi, aku dan Zanoba akan segera menyempurnakanmu, agar kau bisa berfungsi lebih baik.”

"Dan aku tidak lagi takut pada kemarahan Julie!”

Keduanya memeluk patung itu sambil menangis.

Entah kenapa, Sylphy melihat patung itu bahagia, padahal wajahnya datar-datar saja.

Sebetulnya masalahnya belum usai, hanya saja dia sudah memaafkan mereka.

Slyphy yang lega mengelus-elus kepala Chris, yang sepertinya mulai bosan diabaikan.

Tapi, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.

“Rudi, aku punya satu pertanyaan. Mengapa kau pikir aku akan marah saat melihat patung ini?”

Rudeus mulai merinding saat mendengar itu.

Dia berbalik pada istrinya, lalu berlutut sekali lagi.

“.......ahem.......”

Dia memulai penjelasannya.

"Sebenarnya, patung ini cukup....... errrr, cukup...... cukup realistis! Ya, cukup realistis!”

“Apanya yang realistis?”

“Emmm...... anunya......”

Sylphy pun marah besar saat mendengarnya.

Yahh, itulah akhir kisah ini.

Apakah malam ini Rudeus akan tidur sendirian? Siapa tahu..........

Bagian 3[edit]

Akibat insiden ini, si patung tidak jadi dinon-aktifkan.

Alih-alih, mereka berencana mengembangkan patung itu sebaik mungkin.

Dan patung Nanahoshi itu diberi label sah sebagai Automaton No.01.

Setelah itu, Rudeus melanjutkan eksperimennya baik di laboratorium Fedoa, maupun Sharia. Dia pun mengembangkan banyak rencana ke depannya.

Tapi, kita bahas itu lain kali saja.

Akhirnya, Nanahoshi tahu kalau dirinya dijadikan model automaton.

Dia jelas tidak senang ketika tahu patung itu begitu realistis, sampai ke ranah seksual.

Tapi setelah Rudeus bersujud, memohon, dan berjanji pada Sylphy untuk tidak menggunakannya sebagai obyek seks, Nanahoshi pun memaafkannya.

"Baiklah, tidak masalah. Jadi... siapa namanya?”

"Kami belum tahu.”

"Oh ya? Bagaimana kalau aku yang memberi nama?”

Maka, Nanahoshi pun menamai patung itu.

Namanya adalah Anne.

Jika teman Nanahoshi dari dunia sebelumnya muncul, maka tugas automaton itu adalah menyambutnya. Maka, dia juga harus punya nama Jepang, yaitu Nanahoshi Hajime.

Si patung akan memperkenalkan dirinya pada pria itu jika bertemu.

Mereka pun membuat nama panjangnya, yaitu Automaton SS 01 Anne. SS adalah singkatan Silent Star, yang merupakan julukan Nanahoshi.

Nanti akan ada unit 02 yang bernama Deux atau unit 03 yang bernama Trois.

Dengan begitu, produk Series SS Anne telah selesai.

Adik-adiknya akan dibuat beberapa tahun kemudian.

Tapi, hanya SS Ane yang punya puting.