Boku Wa Tomodachi Ga Sukunai:Jilid1 Masa Lalu

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

MASA LALU[edit]

Sudah lama sejak terakhir kali aku berenang, jadi aku tidak bisa melepaskan kelelahan setelah aku pergi berenang dengan Sena.

Apa karena kurang olahraga ... sejak aku dipindahkan, tampaknya aku tidak pernah melakukan banyak olahraga di Kelas Penjaskes (karena tidak ada yang akan mengoper bola padaku selama pelajaran sepak bola).

Hari berikutnya adalah hari Senin, dan rasanya aku ingin tidur sepanjang hari, tetapi jika aku tertidur di kelas, aku akan diperlakukan sebagai anak nakal lagi, jadi aku terus berusaha terjaga dan mendengarkan pelajaran.

Tapi kelihatannya para guru tampak takut padaku selama beberapa kali mata kami bertemu ...

Toh, aku berhasil bertahan sampai akhir pelajaran. Aku datang ke ruang klub, duduk di sofa, dan rasa mengantuk yang kuat menekanku.

Mungkin karena aku sedang tidur di tempat yang tidak biasanya, aku tidak benar-benar tertidur, tetapi bermimpi.

Mungkin karena perkelahian kemarin di kolam renang—aku jadi bermimpi sesuatu yang sudah lama.





Mungkin ini karena kesan pertama yang buruk atau karena aku dipaksa tetap pindah-pindah sekolah; walaupun ada beberapa orang yang aku bisa ajak makan dan bersenang-senang, ini bukan berarti aku mendapat teman baik yang aku sungguh percayai.

Bagaimana pun juga, aku mendapat seorang teman yang aku pikir bisa dibilang teman baik.

Sekarang, aku tidak bisa mengingat bagaimana rupa anak itu, atau pun namanya, tapi aku ingat kalau itu sekitar 10 tahun yang lalu ketika aku bertemu dia pertama kali—sewaktu aku masih tinggal disini.

Sore itu, aku dikerjain di taman sebelah sekolah SD tempat aku belajar.

5 murid yang seangkatan denganku mengelilingi aku, memukulku dan juga melempariku dengan batu. Salah satu bocah SD itu sama sekali tidak ragu-ragu menyerangku, tanpa berpikir panjang dan tanpa kasihan sama sekali. Mereka melakukan ini hanya untuk menyenangkan dan menikmati perlawanan ini, dan aku dihajar oleh mereka.

Pada mulanya, aku mencoba sekuatku untuk melawan mereka balik.

Murid yang umurnya sama tidak punya banyak perbedaan dalam hal kekuatan. Sebab itu, jika kekuatan kami semua setara, pihak yang punya lebih banyak orang lah yang akan menang. Di situasi 1 lawan 5 ini, aku tidak akan mungkin menang, dan akhirnya aku dihajar habis oleh mereka.

Aku sudah agak dikucilkan dari murid-murid di kelasku karena rambut pirangku dan mata yang terlihat ganas. Suatu hari, seorang guru yang tidak tahu bahwa aku punya darah campuran, berkata 'mencat rambutmu pada umur segini, apakah kau ini anak nakal,' dan itulah yang memicu semuanya.

Anak nakal itu jahat. Orang-orang boleh mengganggu orang yang jahat sesuka hati mereka.

Anak-anak yang memperoleh logika ini dari pikiran mereka yang kenakak-kanakan tidak merasa terserang hati nurani sama sekali. Mereka meneriakkan nama-nama jurus kamen rider atau pejuang anime sambil memukuli aku tanpa kasihan.

Aku ingin berpura-pura mati untuk mencegah mereka menggangguku. Namun aku yang keras kepala dengan keyakinan kalau aku tidak ingin kalah dari mereka membuat aku membelalak balik pada mereka dan berdiri, tidak peduli berapa kali aku dipukuli.

Aku mungkin akan mati jika ini berlanjut—aku melihat berita di TV di mana orang 'tidak tahan diganggu dan memilih bunuh diri', 'bullying besar-besaran menyebabkan siswa meninggal', dan hal seperti itu. Sebagai anak kecil, aku benar-benar berpikir kalau aku akan mati.

Tapi saat itu juga, seorang laki-laki tiba-tiba menerobos.

Anak kecil yang sedang mengganguku memarahi dia, memberitahunya untuk tidak menggangu.

Tapi laki-laki itu berdiri tepat didepan mereka dan meneriaki mereka,

“Jangan ganggu yang lemah!”

Anak-anak kecil itu sudah dimabukkan dalam fantasi kalau mereka adalah utusan keadilan, dan kalimat itu pada dasarnya merusak fantasi mereka. Sehingga, 5 anak yang melakukan tindak kekerasan padaku memperlakukan laki-laki itu sebagai ‘musuh’.

Mereka bergegas ke arahnya, dan tepat saat kepalan tangan mereka hendak memukul laki-laki itu—

Aku memukul anak itu di wajah dengan semua kekuatanku.

“!”

Karena tindakan tak terdugaku, anak laki-laki dan 5 anak-anak lain tampak tertegun.

"Ap, apa yang kau lakukan!? Aku sedang membantumu... "

Dengan mata berkaca-kaca, aku memelototi anak yang datang untuk membantuku, dan berteriak,

"AKU, AKU TIDAK 'LEMAH!'!"

Bagiku, dibandingkan dengan kekerasan yang mereka lakukan kepadaku, kata-kata biasa anak itu adalah serangan yang paling menyakiti aku.

Laki-laki itu tiba-tiba tertegun dan kemudian tertawa dengan kasar,

“Ahaha! Sangat bagus! Dasar kau!”

Saat dia berteriak, dia memukul aku di wajah tanpa kasihan.

Pukulan para penggangu itu tidak ada bandingannya dengan dia. Pukulan itu keras, dan sangat sakit.

Aku balas, dan laki-laki itu terus memukulku.

Laki-laki itu dan aku meninggalkan para pengganggu saat kami mulai berkelahi.

“JA, JANGAN TINGGALKAN KAMI!”

Salah satu dari anak-anak itu yang sudah pulih dengan tiba-tiba lari kearah kami.

“”JANGAN GANGGU KAMI!””

Laki-laki itu dan aku bereaksi bersamaan dan menendang dia. Pengganggu A itu menangis saat dia jatuh.

Anak-anak lain menjerit saat mereka buru-buru kearah kami.

Kami berdua menghentikan perkelahian kami dan mulai berkelahi melawan 5 anak itu.

2 lawan 5. Pihakku masih merasa cukup diasingkan.

Namun, kenyataan bahwa laki-laki itu berkelahi berdampingan denganku menyebabkan tenagaku naik secara luar biasa.

Untuk beberapa alasan, meskipun aku berjuang untuk berdiri, tubuhku yang kelelahan dan babak belur terasa sangat ringan.

Dan sewaktu pertandingan ini selesai, kami menang.

Para pengganggu itu menangis saat mereka lari.

Tapi bagiku, aku tidak peduli apa yang terjadi pada mereka.

Laki-laki itu terlihat merasakan hal yang sama juga.

Setelah mereka berlima lari, kami mulai berkelahi lagi.

Dan perkelahian ini berakhir tanpa apa pemenang.

Kami kelelahan dan terkapar di atas tanah.

Badan kami dipenuhi tanah, goresan dan memar. Kami kelihatan sungguh menyedihkan.

Walaupun tubuhku kesakitan, untuk beberapa alasan, aku tersenyum pada laki-laki itu.

“Kau cukup kuat.”

Wajah laki-laki yang sembrono itu memberikan senyuman tak berdosa saat dia berkata padaku, “Kau tak buruk juga.”

Kami sungguh melakukan sesuatu yang hanya akan terjadi pada manga shounen yang penuh dengan emosi itu. Sejak hari itu, kami selalu bertemu satu sama lain di taman dan bermain bersama.

Karena kami belajar di sekolah dasar yang berbeda waktu itu, kami hanya bisa bertemu setelah sekolah. Namun untukku, tak dapat dibantah kalau anak itu orang yang paling dekat denganku di dunia ini.

Aku tidak tahu kapan dia mengatakan ini padaku,

"Taka, ibuku menyebutkan bahwa tidak masalah bahkan jika kau tidak bisa mendapatkan 100 teman ketika kau naik kelas tahun depan, tetapi kau harus menemukan sahabat sejati yang dapat kamu hargai seperti halnya kalau kamu punya 100 orang teman. Setelah kau mendapatkan teman sejati yang dapat kau lihat lebih penting dari pada orang lain, masa depanmu akan cerah ketika kau punya teman seperti itu."

Memiliki sahabat sejati yang dapat kuhargai seperti halnya punya 100 orang teman dibandingkan dengan memiliki 100 teman ... itu kata-kata yang hebat, aku rasa.

Jadi aku berkata, "Kalau begitu, OO[1] akan jadi temanku yang sama berharganya dengan 100 orang teman. Bahkan jika ada 100 orang ... tidak, tidak peduli ada jutaan atau triliunan orang, bahkan jika seluruh dunia memandangmu sebagai musuh, aku akan tetap menjadi temanmu."

Saat aku katakan itu, dia mulai malu.

“Ja, jangan katakan hal memalukan seperti itu!”

“Ap, apa? Bukankah kau duluan yang mengatakan itu?”

Aku juga merasa malu mengatakannya dan wajahku menjadi memerah.

Dan kemudian, kami mulai tertawa.

Kami pastinya teman sejati.

Itulah apa yang aku pikirkan…





Saat aku membuka mata, aku melihat sengatan sinar matahari terbenam masuk lewat jendela.

Yozora sedang duduk di seberang sofa, membaca novel ringan dengan wajah yang terlihat tak bahagia seperti biasanya.

Tidak ada orang lain di ruang klub selain Yozora dan aku.

Tidak masalah bahkan jika kau tidak bisa mendapatkan 100 teman ketika kau naik kelas tahun depan, tetapi kau harus menemukan seorang sahabat sejati yang dapat kamu hargai seperti halnya kalau kamu punya 100 orang teman… benarkah begitu?

Pikiranku masih kabur, dan aku tanpa sadar menggumamkan apa yang temanku katakan dalam mimpi.

Pada saat itu—

Pak! Buku yang Yozora pegang tiba-tiba jatuh dari tangannya.

“Ko, Kodoka, jadi kau ingat…”

Yozora menatap aku dengan tatapan terkejut, dan suaranya gemetar tampak menggumamkan sesuatu.

Ini pertama kalinya aku pernah melihat Yozora begitu gelisah sejak hari dimana aku pertama kali berbicara dengannya, hari ketika aku menyaksikan dia berbicara dengan teman udaranya.

“…Ada apa?”

Aku terkejut dan bertanya, dan Yozora dengan panik mengambil buku yang jatuh ke lantai.

"Tidak, tidak ada ... Saya terkejut kau tiba-tiba berbicara."

Yozora tergagap dan selesai sebelum membenamkan dirinya ke dalam dunia buku.

Untuk beberapa alasan, aku melihat wajahnya benar-benar merah. Alasannya tidak mungkin hanya karena cahaya matahari terbenam, bukan? "

"Maaf mengejutkanmu... Dimana Sena dan Yukimura?"

"Mereka sudah kembali. Tiada yang khusus dilakukan hari ini. "

Yozora menjawab dengan sebuah ekpresi tidak senang.

“Muu...”

Aku melihat jam, dan ternyata sudah lewat jam 6.

Sepertinya aku tertidur cukup lama.

“Aku balik juga.”

“Oh.”

Aku mengambil tasku dan berdiri, dan rasanya leherku sedikit sakit.

Berjalan keluar dari ruang klub, aku mengingat mimpiku barusan dengan jelas.

Sahabat aku yang terpisah dari 10 tahun yang lalu ...

Apa yang dia lakukan sekarang?

Apakah dia masih tinggal dijalan ini?

Bagaimana rupanya sekarang?

Siapa namanya?

Dia memanggil aku 'Taka' sebagai nama panggilan, dan aku sepertinya terus memanggilnya dia dengan julukannya, bukan nama sebenarnya

-- Kalau begitu, OO akan jadi temanku yang sama berharganya dengan 100 orang teman. Bahkan jika ada 100 orang ... tidak, tidak peduli ada jutaan atau triliunan orang, bahkan jika seluruh dunia memandangmu sebagai musuh, aku akan tetap menjadi temanmu

-- Kalau begitu, OO akan jadi temanku yang sama berharganya dengan 100 orang teman.

Bagaimana aku memanggil dia dulu?

“…Ah, lupa.”

Toh itu sudah lama sekali.

Dia pasti tidak akan ingat apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, kan?

Aku yang dulu tidak akan pernah percaya bahwa aku akan berpikir tentang dia sekarang.

Tidak peduli apakah itu kenangan yang penting atau perpisahan yang sedih, akan ada waktu ketika segala sesuatu berubah. Bisakah aku mendapatkan seorang teman yang benar-benar akan bisa kuhargai aku seumur hidupku?

Sebuah semburat kesepian melanda aku. Aku berjalan keluar dari gereja dan pulang.

Referensi[edit]

  1. Namanya disensor karena di bagian ini Kodaka masih belum mengingatnya.


Mundur ke Kolam Renang Kembali ke Halaman Utama Selanjutnya ke Kata Penutup