High School DxD (Bahasa Indonesia):Jilid 20 Pemalsu

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Pemalsu[edit]

Italia, di suatu tempat.

Pemuda itu mengunjungi kebun anggur dari pertanian tertentu di daerah terpencil Italia. Sambil berjalan ke depan, si pemuda — pemilik Tombak Suci, Cao Cao, memasuki pandangan si pria tua yang bekerja di pertanian. Pakaian pertanian dan topi jerami si pria tua sangat cocok sekali, dan dia juga memiliki tubuh mengesankan. Sekilas dari jauh, seseorang akan berpikir bahwa pria tua sebelumnya telah bertugas di militer atau suka berlatih atletik. Namun, pria tua ini bukan orang kebanyakan. Meskipun si pria tua ini telah mendeteksi keberadaan Cao Cao sesaat yang lalu, ia membuka mulutnya untuk berbicara tanpa melihat ke arahnya.

“Peninggalan suci, ini adalah pertama kali aku menemui aura seperti itu”

Si pria tua itu mengenakan senyum lembut di wajahnya yang berkerut.

“Buongiorno[1], pemilik Tombak Suci, selamat datang di pertanian ini.”

Si pria tua yang memakai topi menyambutnya — tidak, dia Imam Kardinal Vatikan, Vasco Strada. Di tempo hari, dia adalah orang utama dari Gereja yang memimpin banyak prajurit Gereja yang memberontak. Kalah dalam pertempuran melawan kelompok anti-teroris [DxD], ia menerima penghakiman Surga tanpa perlawanan. Melaporkan segala sesuatu tanpa kebohongan ke Surga, Kardinal tua ini kini bekerja di peternakan ini. Bahkan ada penghalang yang kuat yang telah didirikan di sekitar radius beberapa kilometer dari pertanian. Ini tidak akan menjadi tugas yang mudah atau sederhana untuk melarikan diri; ini disebut penghalang penjara. Untuk Tuhan, ia mengabdikan sebagian besar hidupnya sebagai imam; dalam usahanya untuk mewujudkan perasaan para prajurit Gereja, mantan pemilik Durandal ini dicopot dari posisinya, dan terbatas dalam apa yang bisa disebut penjara yang agak tenang. Memang bersalah, kalau dilihat dari skala insiden yang ia bawa, tidak hanya ia telah dicopot dari posisinya, itu juga mungkin bahwa ia akan harus menggunakan hidupnya sebagai hukuman atas kejahatannya. —Namun, Mengingat prestasinya di masa lalu, keyakinan, dan permintaan dari banyak prajurit Gereja, ia akhirnya dikirim ke peternakan ini.

“Ini adalah tanah tempat yang awalnya aku dibesarkan. Kadang-kadang, aku datang ke sini untuk menanam pohon… sepertinya aku harus sungguh-sungguh bekerja keras di sini pada masa yang akan datang.”

Strada sambil mengelus kulit pohon.

“Ini adalah pertama kalinya kami bertemu, Yang Mulia. Aku pelopor Indra.”

Pemilik dari Tombak Suci memperkenalkan diri dan Strada kemudian berbicara sementara ia menggunakan handuk untuk menyeka keringat dari wajahnya.

“Aku mengerti, seorang Dewa Berhala[2] ingin mengajak pria tua ini sesuatu, bukankah itu benar?”

Kardinal tua ini berpikir bahwa kunjungan Cao Cao karena Indra memiliki pesan untuknya. Tapi, Cao Cao menggelengkan kepala.

“Tidak, Anda tampaknya tidak berpikir bahwa aku juga bisa datang berkunjung semata-mata atas dasar pribadi.”

Mendengar kata-kata Cao Cao, Strada tertawa dengan daya tarik.

“… Hoho, ini benar-benar cukup tak terduga. —Kalau begitu, setelah datang jauh-jauh ke tempat yang jauh, apa yang ingin kau tanyakan padaku?”

Cao Cao mendengar pertanyaan Strada, membuka mulutnya untuk menjawab tetapi diam sejenak, sebelum akhirnya bertanya

“…… Menjadi pahlawan, apa yang bisa Anda pikirkan, Yang Mulia?”

Mungkin karena itu melebihi harapan awalnya dari sebuah pertanyaan, Strada awalnya terkejut, tapi kemudian mengusap dagunya sambil berpikir.

“… Hmm, ini benar-benar pertanyaan aneh, nak.”

Cao Cao melihat ke bawah dan berbicara lagi

“…aku lahir sebagai pewaris darah pahlawan tertentu. Di atas semua itu, aku dipilih oleh Tombak Suci. Aku percaya bahwa… yang disebut [Pahlawan] berada di puncak kemanusiaan, mampu mengalahkan eksistensi dunia lain yang kuat, aku jadi berharap, jadi berpikir, dan jadi bersemangat.”

Dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke langit, dan kemudian berkata

“… Tapi, aku kalah oleh Iblis muda reinkarnasi tertentu. Jalan hidupku benar-benar tercuri dariku tepat di depan mataku olehnya. …Mungkin dia tidak pernah menganggapnya, tapi kekalahan itu menjadi kesempatanku untuk meninjau dan mengubah jalan hidupku. … Yang Mulia yang dikagumi oleh orang-orang sebagai pahlawan, aku benar-benar ingin Anda ceritakan apa pahlawan itu.”

Untuk orang yang tidak hanya mewarisi darah pahlawan, namun secara kebetulan juga Tombak Suci, dilahirkan sebagai jenius, ini adalah pertama kalinya bahwa ia telah mengalami ‘dinding’. Dia secara alami mewarisi garis keturunan leluhurnya ketika ia dilahirkan, dan oleh takdir, ia memegang tombak terkuat yang bahkan bisa mengalahkan Tuhan. Awalnya, dia adalah eksistensi yang tidak kompatibel dengan manusia — berburu ilmu gaib[3], mengalahkan ilmu gaib, menghukum ilmu gaib, sebagai jalan hidup, dan mengejar kekuatan sebagai alasan untuk ada. —Tetapi di depan Red Dragon dan White Dragon, bahkan tombak yang dipegangnya di tangannya membantah dirinya.

Kau lemah, kau hanyalah seorang bocah yang memperoleh kekuatan tombak terkuat, itulah yang dikatakan.

Mendengar pertanyaan Cao Cao, Strada tersenyum.

“… Hehehe”

Terhadap Cao Cao yang terkejut, si pria tua suci mengatakan

“Ini sangat tidak sopan. —Tapi, kau terlalu muda. Kau hanya terlalu muda. Meski kau terlihat tua sekitar dua puluh tahun, dibandingkan denganku, kau tidak berbeda dari bayi kecil. Sejak kau menyebut dirimu pahlawan, kau sudah keliru. ”

Strada menegaskan.

“—Mereka yang menentukan pahlawan adalah orang-orang tanpa kekuatan. Karena mereka tidak memiliki kekuatan, mereka akan merindukan kekuatan, dan sehingga mereka akan mencari pahlawan, dan memutuskan siapa pahlawan itu. Pemilik dari Tombak Suci, apa kau memainkan peran Pahlawan orang-orang?”

“…… Umm”

Cao Cao terdiam … Dia tidak dipilih oleh siapapun. Hanya karena ia adalah keturunan dari seseorang, ia berpikir bahwa harus begitu. Haruslah begitu, karena itulah ia menganggap remeh darah yang mengalir melalui pembuluh darahnya, dan tombak yang ia miliki. Strada membungkuk dan duduk di sebuah kotak kayu yang ditempatkan di peternakan kemudian bicara lagi

“Tidak dikejar oleh orang-orang, yang mengaku sebagai pahlawan atau sesuatu, tapi yang ada permainan tipuan anak-anak. Justru karena ini, kau bukanlah tandingan untuk bocah Sekiryuutei yang berani berjalan di jalannya sendiri.”

Kata-kata pria tua itu benar-benar membantah adanya Faksi Pahlawan itu sendiri. Sama seperti katanya, dan Cao Cao tidak dapat membantahnya.

… Itu benar, sama seperti yang Strada katakan, dia, orang itu, berani menghadapiku langsung, dan berani mengalahkanku. Apakah itu sebagai Sekiryuutei, atau sebagai Iblis, untuk tujuannya sendiri, untuk orang-orang yang dia lindungi, dia berani berjuang dengan segala sesuatu yang ia miliki. Keberadaanku telah ditolak, dan aku bahkan dikalahkan olehnya—. … Melihat diriku sendiri sekarang, apa yang akan orang-orang yang pernah mengikuti dan mengagumiku pikirkan?

Strada terdiam beberapa saat, kemudian menghadapi Cao Cao dan berkata

“Kau hanyalah manusia biasa. Dan hanya seorang pemuda pada saat itu. Nenek moyangmu mungkin seorang pahlawan —akan tetapi, nenek moyangmu itu manusia biasa. Dengan demikian kau masih seorang manusia. Bukankah disebut pahlawan yang memuji orang-orang yang maju ke depan dengan berani?”

…Si Sekiryuutei juga, warga Dunia Bawah mulai menghormatinya karena dia selalu berpikirlangsung ke arah depan. Apakah dia pernah berpikir untuk menjadi pahlawan sejak awal? Tentu saja, jawabannya adalah — tidak.

Kardinal tua tersenyum sambil berkata

“Meskipun aku dipanggil pahlawan, bahkan pada usia ini aku tidak menganggap diriku sebagai pahlawan. —Tapi selama ada orang yang melihat padaku, aku akan terus disebut pahlawan. Aku hanyalah manusia. Aku hidup seperti manusia lainnya, dan aku akan mati seperti manusia lainnya. Itu sudah cukup. Jika orang menghormatiku sebagai pahlawan, maka itu juga bagus.”

Untuk sesaat, sosok pria tua itu dan Sekiryuutei tampak tumpang tindih.

…Aku takut bahwa ia akan mengatakan itu.

Pria tua itu tertawa

“Hehehe”

Sambil mengenakan topi dan berdiri.

“Ah, kini aku sudah tua, jadi aku berbicara panjang lebar…. Awalnya, kau sudah memiliki gagasan samar-samar dari jawaban ini.”

“… Itu mungkin saja. Sejak aku kalah olehnya, aku—”

Tanpa berpikir tentang konsep ‘disebut pahlawan’ ini, ia menjadi penantang biasa.

“Yang Mulia, aku bisa mengalahkan orang itu?”

Pemuda yang berpura-pura menjadi pahlawan kemudian bertanya. Pria tua itu tersenyum sambil berkata fasih

“—Pergi dan cintailah sesuatu. Apakah itu dirimu sendiri. Atau bahkan sesuatu yang tidak berwujud. Cinta, jika kau tidak memiliki hati yang mencintai sesuatu, maka kau tidak akan dapat mencapai seseorang yang memiliki cinta. Maksud yang kau cintai akan muncul di depanmu, dan pada saat itu, kau akan — memiliki ‘kekuatan’ di dalam tubuhmu.”

Setelah Strada mengatakan itu, ia kembali ke pekerjaan pertaniannya.

“Pertama, kau harus terus mengejar si bocah Sekiryuutei itu. Karena dia ada di kekuasaan cinta, dia tinggal dengan cinta. Dibandingkan dengan tulang tua[4] ini, kau diusia yang sama dengannya namun kehadirannya lebih dari sepuluh ribu kali lipat darimu.”

Sekiryuutei, Hyoudou Issei yang hidup karena cinta— Karena kata-kata itu, Cao Cao mengingat waktu sebelumnya saat ia bertemu Hyoudou Issei dalam pikirannya.

…Itu benar, tidak hanya pria itu dicintai oleh orang lain, dia mencintai orang lain, karena itulah dia bertarung berhadapan melawanku. Itu adalah dasar dari Sekiryuutei, Hyoudou Issei—.

Cao Cao tersenyum sambil menatap tombaknya.

“Akankah kalian yang diingat oleh tombak ini juga mengejar ‘cinta’ itu?”

Catatan Penerjemah[edit]

  1. Buongiorno: Sebuah ucapan dalam bahasa Italia yang berarti ‘selamat pagi’.
  2. Dewa Berhala: Dewa dari agama selain Kristen
  3. Istilah yang digunakan di sini adalah 異形, yang berarti sesuatu yang tidak teratur atau makhluk asing(alien). Dalam konteks ini, ilmu gaib/supranatural tampaknya cocok.
  4. Strada menyebut diri sebagai ryokotsu (老 骨 = tulang tua) yang merupakan cara lain untuk menyebut dirinya seorang pria tua.