High School DxD (Indonesia):Jilid 23 Life.4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Life.4 VS [Brave Saint] Dimulai![edit]

Bagian 1[edit]

Dan kemudian, itu adalah hari pertandingan—.

Tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth] telah tiba di tempat setengah hari sebelum pertandingan dimulai. Kami bisa datang lebih awal karena hari ini hari istirahat sekolah. Tempat untuk pertandingan ini adalah [Ajuka Stadium] di wilayah Astaroth. Itu adalah stadion yang telah dibangun untuk memperingati Ajuka Beelzebub-sama, jadi sangat modern, dan bahkan menggunakan beberapa teknologi tak dikenal. Koridor dilengkapi dengan robot penjernih otomatis, dan semua jenis fasilitas ada. Ruang tunggu juga sangat luas; Jelas tidak ada masalah dengan makhluk mirip manusia yang masuk, dan tidak ada masalah dengan raksasa yang memasuki ruangan dengan tubuh aslinya. Itulah sebabnya Bova kembali ke bentuk naga aslinya. Kebetulan, anggota baru kami Nakiri dan Elmenhilde sama-sama mengenakan seragam tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth]. Mereka dipersiapkan secara khusus untuk hari ini. Tapi sebenarnya sangat luas sehingga aku tak tahu harus berbuat apa....Luasnya ruangan ini membuat sulit untuk menenangkan diri.

"Lakukan yang terbaik, Ise!"

Kunou berlari ke sisiku. ...Ophis dan Lilith yang biasanya bersamanya tetap tinggal di rumah hari ini. Bagaimanapun, tidak baik membiarkan mereka keluar. Orang yang datang setelah Kunou adalah—

"Yo, Ise. Asia-chan dan semuanya juga."

Tou-san! Meskipun aku memberi mereka tiket, aku tidak berpikir bahwa mereka benar-benar akan datang!

"Tou-san! Apa Tou-san datang untuk menonton?"

"Ya, aku datang untuk melihat pertandingan meriah yang akan diikuti anak-anakku. Meski masih terasa aneh saat aku datang ke dunia para Iblis."

Tou-san dibawa ke sini melalui lingkaran sihir yang didirikan di ruang bawah tanah kediaman Hyodou, itu adalah sesuatu yang sudah biasa kupakai. Tou-san berbicara denganku dengan sedikit pertimbangan

"Sebenarnya, aku cukup ragu untuk bertemu denganmu sebelum pertandingan karena aku khawatir hal itu akan membawa emosi atau ketegangan aneh yang mungkin mempengaruhi kemampuanmu untuk berpartisipasi dalam game."

"...bagaimana dengan kaa-san? Jadi akhirnya dia ikut ya."

Aku telah memberi mereka sepasang tiket, tapi aku tidak bisa melihat Kaa-san. Tou-san menghela napas.

"Nah, kamu tidak perlu merasa khawatir dengan kaa-san, Ise. Kamu adalah satu-satunya anak kesayangannya, jadi biarpun hanya game, dia tetap tidak mau menyerah. Kaa-san terlalu khawatir, dia tidak tahan menanggungnya, jadi tentu saja tidak ikut. Asia-chan juga seperti putri penting bagi kami, dan dia juga akan berpartisipasi dalam kompetisi ini. Kurasa hati ibumu belum siap untuk ini, terutama jika dia harus menontonnya secara langsung."

"...Hmm, dia memang bertanya beberapa kali tentang keamanan game di rumah. Meski Kaa-san tidak keberatan... aku bisa mengerti dari reaksinya bahwa dia tidak merasa senang karena hal itu."

Rias juga pernah memberitahuku

—Kaa-san hanyalah wanita biasa.

...Dia tidak memiliki mentalitas yang sama seperti orang-orang seperti kami yang telah terus-menerus melatih dunia supranatural. Dia seperti 'ibu' biasa yang bisa dilihat di mana-mana.... Jadi, itulah sebabnya dia tidak ingin melihat anak-anaknya sendiri terluka. ...Meski begitu, aku masih berharap agar orangtuaku bisa melihatku bertarung dalam game.... Tou-san menghibur kekecewaanku.

"Kaa-san akan menonton siarannya dengan saksama. Jadi tak lama lagi, dia akan menuju ke sini. Baiklah, aku akan menghiburmu atas nama Kaa-san juga hari ini, jadi pastikan kamu menunjukkan sisi kerenmu!"

"Tentu saja, serahkan saja padaku! Meski lawan kami kuat, aku pasti akan membiarkan Tou-san melihatku, Asia, dan semua orang bersikap keren! Benar, Asia!?"

Aku bertanya pada Asia, dan Asia juga mengangkat tangannya dengan antusias.

"Benar! Aku pasti akan membiarkan otou-san melihat pertunjukan yang bagus!"

Waktu berlalu saat kami bertukar percakapan seperti ini sebagai anggota keluarga—dan akhirnya saatnya pemain masuk. Kami menyelesaikan persiapan kami—Asia, Xenovia, Irina, Ravel, Rossweisse-san, Bina-shi, Bova dan aku, serta anggota baru kami Nakiri dan Elmenhilde. Elemenhilde tampak sedikit gugup.

"Meskipun ini pertandingan pertamamu, aku ingin partisipasimu, dan aku akan memastikan untuk mendukungmu."

Begitu dia mendengarku mengatakan itu, dia mengangguk dan bergumam dengan suara yang agak goyah

"Y-Yeah."

...Aku tidak berharap bahwa gadis ini akan merasa sangat tertekan karena antusiasme di arena dan suasana turnamen. Ravel berkata

"Ayo, sudah waktunya. Ayo pergi."

Kami meninggalkan ruang tunggu dan berjalan menuju arena. Sorak-sorai ceria para penonton di stadion sudah sampai pada kami. Itu memiliki efek yang tak terlukiskan sehingga membuat kita merasa lebih tegang. Kita sudah pernah mengalami suasana seperti ini beberapa kali sekarang... tidak lagi membuat kami tersentak, dan itu membuat kami merasa tenang dan optimis dengan emosi kami sendiri. Saat kami berjalan melewati koridor dalam perjalanan menuju arena, kami menemui tim [Trump Card of Heaven]. Kami menjaga jarak saat kami berjalan bersama melalui koridor yang mengarah ke arena. Di pintu masuk, kami menunggu penyiar memanggil nama kami, dan saat ini, Dulio berkata kepadaku

"Ise-kun, pasti ada banyak penggemar [Oppai Dragon] di stadion."

Dulio menatap ke seberang stadion dari pintu masuk. ...Penonton berdiri penuh dengan barang dagangan dan penggemar yang mendukungku dengan spanduk. Sepertinya antusiasme penggemarku hanya akan mengintensifkan semakin banyak yang kami menangkan di turnamen. Dulio menunjuk ke sudut penonton. Ada bendera yang menunjukkan dukungan untuk tim [Trump Card of Heaven] di sana. Ada juga sekelompok anak duduk berurutan saat mereka mengangkat spanduk horizontal.

"Tapi, penggemar kami juga datang. Mereka berada di sudut stadion, meski jumlahnya sedikit."

Memang, jika dibandingkan dengan penggemarku, mereka seperti tetesan di lautan... tapi Dulio masih sangat puas.

"Tapi, itu sudah cukup. ...Para Malaikatku bilang bahwa suara anak-anak itu mungkin dibayangi sorak-sorai oleh penggemar Ise-kun—tapi aku yakin itu mustahil. Kalau begitu, lalu apa yang akan kamu pikirkan, Ise-kun?"

"—Tentu saja, meski hanya ada sedikit orang, atau bahkan hanya satu orang, dukungan mereka akan sampai ke telingaku!"

Jawabku tanpa ragu sedikit pun. Dulio mengungkapkan senyum senang dan kemudian bertanya

"...Ise-kun, bolehkah aku menanyakan sesuatu sebelum pertandingan?"

"Tentu, apa itu?"

Dulio menatap Asia yang agak jauh dari kami dan berkata

"Jika Asia-chan bisa menjalani hidup sebagai orang biasa, apakah dia akan lebih bahagia dari sekarang? —Apakah kamu pernah memikirkan itu?"

"Tentu saja. Aku sudah sering memikirkannya. Aku juga telah membenci Tuhan Alkitab, Surga dan Gereja sebelumnya."

Aku terus memikirkannya selama setahun terakhir ini. Tapi, waktunya tidak bisa diputar ulang. Asia bekerja keras dalam kehidupannya saat ini, sementara teman-temanku dan aku mendukungnya sehingga dia tidak merasa terganggu. Dulio terus bertanya kepadaku

"Di sisi lain, kehidupan saat ini Asia-chan—pernahkah kamu berpikir bahwa kehidupannya saat ini sebagai Iblis lebih sulit daripada saat dia adalah seorang manusia?"

"—Aku sering berpikir bahwa itu seharusnya lebih baik, jadi aku melakukan semua yang kubisa untuk menjaga agar Asia tetap bahagia."

Ini semua karena aku sangat menghargai Asia. Aku ingin melindunginya! Dulio memandang ke arah penonton yang berdiri saat dia berkata kepadaku

"Karena ketidaksempurnaan Sacred Gear, kehidupan orang-orang beriman telah dilukai—. Tapi, justru karena ketidaksempurnaan ini, itu telah membuat kehidupannya saat ini menjadi mungkin... sebagai gadis biasa yang tinggal di Jepang dan menikmati kehidupan sekolah. Apakah ini jawaban yang benar untuk Asia-chan karena ketidaksempurnaan sistem Sacred Gear? Sulit untuk mengatakan apakah perasaan Asia-chan saat ini adalah jawaban yang benar untuk kekurangan sistem. Ini juga berlaku untuk Yuuto, Tosca-chan, Gya-kun, Valerie-san dan budak-budak Sitri. Mereka mengalami kemalangan karena ketidaklengkapannya, tapi perjalanan kemalangan tersebut telah membawa kehidupan mereka saat ini.... Tapi ada banyak anak yang tidak dapat mencapai langit yang jauh, mereka tidak dapat memperoleh kehidupan baru untuk diri mereka sendiri."

Entah bagaimana, aku melihat Dulio melihat tim Malaikat Reinkarnasi-nya, dan aku dapat membayangkan seperti apa hadiah yang mereka inginkan. Ini adalah sesuatu yang selalu diperhatikan Dulio.

"Dulio, aku—"

Aku ingin memberi tanggapan terhadap apa yang baru saja diucapkan Dulio, tapi dia mengulurkan tangan dan menggelengkan kepalanya. ...Pada akhirnya, aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin kukatakan.

"...Ise-kun, tidak apa-apa asalkan kamu menjadi jawaban terbaik Asia-chan. Karena inilah jawaban yang aku, tidak, yang kami cari."

Dulio mengulurkan tinjunya ke arahku.

"Aku akan mengalahkanmu, Ise-kun. Tidak, Sekiryuutei. Kami akan mengalahkanmu."

...Begitu, jadi itulah tujuan Dulio. Dia berharap agar kami tidak menahan diri karena keprihatinan kami, dia ingin menyampaikannya agar setiap orang bisa melakukan yang terbaik untuk aspirasi mereka sendiri. Aku menanggapi Dulio dengan menyodorkan tinjuku juga.

"Tidak, aku akan menjadi orang yang menang. Bagaimanapun, tidak peduli mimpi apa yang kumiliki, dan tidak peduli mimpi apa yang kamu miliki, sopan santun kami untuk membuang semua hal yang kami hadapi di medan perang, Dulio. ...Ini adalah sesuatu yang telah diajarkan rekan seperjuanganku."

"Sepertinya ini pertandingan yang luar biasa."

Kami saling tersenyum. Dari sini, kami akan bertarung di stadion, tapi ini satu hal yang harus kamu ingat, Dulio. —Kalau kamu datang untuk mencari pertolongan, aku selalu bersedia membantu, tahu? Karena kami berdua teman dan rekan. Setelah aku memastikan hal ini dalam benakku, pertarungan kami melawan tim [Trump Card of Heaven] akhirnya dimulai.

Bagian 2[edit]

<<Sekarang, tolong sambut para pemain!>>

Setelah instruksi penyiar, kami memasuki arena satu per satu.

"Oppai Dragon—!"

"Zoom zoom iyan—!"

Teriakan penggemarku bisa didengar dari kalangan penonton. Ah, aku sangat berterima kasih untuk kalian semua. Karena sorak-sorai kalian, aku merasa semakin termotivasi. Kedua tim kami berbaris dalam dua baris di tengah arena. ...Supervisor tim lawan Rudiger-san tidak ada di sini. Itu karena supervisor sebenarnya tidak diperbolehkan memasuki arena. Itulah mengapa dia mengatakan kepada para pemain tentang rencana dan strategi pertempuran sebelum dimulainya pertandingan, dan saat ini dia menunggu di tempat lain. Tugas penyiar untuk memberi pengantar dan penjelasan sebelum pertandingan berlangsung.

<<Komentator untuk kita hari ini adalah—salah satu penyelenggara turnamen ini dan juga salah satu Great Maou, Ajuka Beelzebub-sama. Kami menyambut kehadiran Anda Beelzebub-sama, terima kasih atas waktu Anda hari ini.>>

Ah, serius!? Beelzebub-sama sebenarnya duduk di kotak komentar! Aku mengerti, kampung halamannya berada di wilayah Astaroth, dan stadion juga dinamai menurut namanya, jadi kemungkinan undangannya tinggi!

<<Ya, saya juga menantikan pertandingan hari ini.>>

Beelzebub-sama dengan singkat menjawabnya. Meskipun saat ini dia adalah satu-satunya Maou-sama, dan dia memiliki banyak pekerjaan, dia masih menerima undangan untuk datang. Penyiar terus mengenalkan tamu berikutnya.

<<Sebenarnya, kami juga mengundang tamu lain kali ini! Salah satu dari Five Great Dragon King yang juga familiar dengan Asia Argento-senshu dari tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth], Gigantis Dragon-kun!>>

—Apa! Pantsu Dragon King!? Seperti yang dikatakan oleh sang penyiar, seekor naga emas besar sedang duduk di dalam kotak komentar.

<<...Aku hanya akan bersorak untuk Asia-tan.>>

Dan itu sebenarnya bagaimana dia menjawab.... aku tidak tahu bagaimana menggambarkan situasi ini. Kenapa kamu di tempat seperti itu setelah kamu baru sembuh!? Beelzebub-sama dan Pantsu Dragon King, kombinasi macam apa ini!? Penyiar itu mengangguk pada komentar Fafnir.

<<Saya mengerti! Jadi bisa ditafsirkan bahwa Anda juga menantikannya! Ah, tolong jangan ambil pantsu apapun! Itu tidak baik! T-Tolong jangan seperti ini, tidak baik untuk tiba-tiba mengambil celana dalam selama World Tournament, Fafnir-san!>>

Si idiot Fafnir, dia mencoba mengeluarkan pantsu Asia pada saat seperti itu! Aaaaaah, Asia-chan sangat malu sehingga dia menutupi wajahnya dan menggigil! Bagaimana aku harus mengatakan ini, apakah ini sebuah taktik untuk membuat salah satu pemainku merasa gugup sebelum pertandingan!? Si penyiar menghela napas, lalu melanjutkan penjelasannya.

<<...O-Omong-omong, Fafnir-san adalah familiar Asia Argento-senshu, jadi bila perlu, dia akan menanggapi pemanggilan dan dipindahkan dari stan komentar untuk tampil di field. Tolong pahami ini sebelumnya, anggota audiens!>>

—Apakah kamu harus menjelaskannya kepada kami juga? Kenapa itu Pantsu Dragon King di sana!? T-Tapi, kalau Asia dalam bahaya, maka dia akan terburu-buru.... omong-omong, Rating Game World Tournament memiliki keterbatasan penggunaan familiar dengan cara yang sama seperti Rating Game. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, jika tidak ada batasan penggunaan familiar, maka akan menjadi kompetisi di mana kedua belah pihak hanya mengandalkan familiar mereka. Itulah sebabnya ada kebutuhan untuk mempertimbangkan penggunaannya.

<<Nah, sementara anggota tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth] dan tim [Trump Card of Heaven] menyelesaikan persiapan pemanasan mereka, kami akan mulai memutuskan acara game!>>

Layar besar di stadion akan menunjukkan apa yang akan terjadi pada pertandingan ini. Berbagai jenis judul acara terus berputar seperti roda rolet. —Dan kemudian, akhirnya diputuskan. Yang muncul di layar adalah—karakter Iblis untuk [Rampage Ball].

<<T-Telah diputuskan—! Acara kompetisi untuk tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth] dan tim [Trump Card of Heaven] akan menjadi [Rampage Ball]!>>

Saat penyiar berteriak, seluruh tempat mulai tumbuh semakin bergairah. ...Acara ini akan sulit. Ini akan membuat pertandingan semakin tak terduga. Di sampingku, ekspresi Ravel juga tampak suram.

"...Dari semua hal, itu pasti yang ini...!"

Xenovia sepertinya ingat sesuatu tentang hal itu dan dia bertanya kepada Ravel

"Acara ini, kalau aku ingat dengan benar, ini seperti permainan bola, kan?"

"Ya, benar, Xenovia-sama. Ini adalah game di mana kita memperebutkan bola untuk mencetak poin."

Penyiar mulai menjelaskan aturan acara.

<<Aturannya sangat sederhana! Kompetisi ini adalah satu di mana kedua tim menemukan gawang yang muncul di seluruh game field, dan kemudian melempar bola masuk!>>

Tanda mirip papan catur bisa dilihat di field luas, mirip dengan apa yang ada di [Object Break]. Misalnya, jika gawang tersebut muncul di kotak C4, kedua tim harus bersaing memperebutkan bola saat mereka menuju lokasi tersebut untuk mencapai tujuan. Penyiar melanjutkan

<<Poin yang diperoleh didasarkan pada nilai bidak dari pencetak gol. Misalnya, jika [Knight] berhasil mencetak skor, maka [3] poin akan diberikan kepada tim tersebut! Jika itu [Rook], mereka menerima [5] poin! Memilih orang yang memiliki nilai akan menjadi kunci permainan!>>

Poin tertinggi mungkin berasal dari [King] dengan sepuluh poin, dan [Queen] dengan sembilan poin, jadi jika kita mencoba mencetak gol, itu akan terbaik dilakukan olehku atau Bina-shi, karena ini akan membuat kita mendapat paling banyak poin. ...Tapi, segalanya tidak sesederhana itu. Lagi pula, lawan kami juga menyadari hal ini, jadi sementara mereka menghalangi kami, mereka juga akan mencari kesempatan untuk membiarkan Dulio mencetak gol. Penyiar kemudian berkata

<<Setelah poin dari skor yang berhasil dikonfirmasi, gawang akan hilang. Kemudian akan muncul di titik acak lain di lapangan, sehingga kedua tim akan saling bersaing untuk bola dan kemudian mengarahkannya ke gawang!>>

Irina bertanya pada Ravel

"Mungkinkah untuk mencari tahu di mana tujuannya muncul dengan sangat cepat?"

"Ya, dengan menggunakan alat khusus untuk game, kita bisa langsung tahu dimana gawangnya telah muncul. Kita harus bersaing memperebutkan bola saat kita berlomba menuju area gawang. Masalahnya adalah...manajemen stamina."

Memang, seperti kata Ravel, ini adalah tipe game yang memberi penekanan pada energi. Bagaimanapun, dalam batas waktu, kita harus terus-menerus berpacu menuju gawang, dan setelah mencetak gol, kami harus berpacu menuju gawang berikutnya, dan seterusnya. Sederhananya, itu adalah kompetisi yang melibatkan terus-menerus berjalan bolak-balik. Hal itu membuatku mengingat bahwa Ravel dan Rias sebelumnya telah memberitahuku bahwa kesabaran adalah faktor terpenting dalam jenis game ini.

<<Dalam pertandingan ini, selama pertempuran, meskipun pemain dari satu sisi dikalahkan, mereka akan dapat kembali ke pertandingan setelah jangka waktu yang ditentukan! Dengan kata lain, pemain tidak akan dipaksa untuk menyerah meski mereka mengalami cidera fatal!>>

Dalam pertandingan ini, cedera tidak akan menghasilkan masa menyerah. Meskpun seseorang dikalahkan, mereka bisa segera kembali ke field. Stamina—sampai daya tahan seseorang turun, pemain bisa terus kembali ke game tanpa batas waktu. Dengan kata lain, meskipun lawan dikalahkan, itu bukan syarat mutlak untuk meraih kemenangan. Itu karena tidak ada poin yang didapat dari mengalahkan lawan. Xenovia menghela napas

"...Karena kita tidak bisa mengandalkan cidera untuk menyerah, kita harus mengandalkan stamina sebagai faktor penentu ya."

Ravel mengangguk.

"Dalam game normal, cedera akan memungkinkan untuk menyerah, atau bahkan ketidakmampuan. Tapi di pertandingan bola ini, meski lawan sudah dikalahkan, mereka tetap bisa kembali setelah beberapa saat. Selama stamina mereka belum habis selama durasi pertandingan, maka sama sekali tidak ada yang namanya menyerah."

Nakiri tersenyum masam.

"...Berjuang untuk bola sambil berlari mengelilingi filed dalam batas waktu ya. Jadi inilah yang kudapatkan meskipun ini adalah pertempuran pertamaku."

Bina-shi berkata

"Inilah sebabnya mengapa yang terpenting adalah manajemen stamina. Dibandingkan dengan kategori yang hanya melibatkan mengalahkan lawan, ini adalah kategori yang lebih sulit. Bahkan bagi pemain yang memiliki kekuatan luar biasa, jika mereka tidak memiliki stamina yang baik dan merencanakan penggunaan energinya, lawan bisa bangkit dari ketinggalan untuk menang jika mereka kehabisan tenaga; ini sering terjadi di Rating Game profesional."

...Jika teknik akhir digunakan pada setiap kesempatan dalam upaya untuk menentukan pemenang, dan meskpun itu adalah serangan langsung, akan sangat sulit untuk itu menjadi serangan akhir yang menentukan. Karena ini adalah kompetisi yang dinilai berdasarkan skor permainan bola—. Setelah menjelaskan aturan mainnya, sang penyiar berkata

<<Sekarang, kedua tim, silakan teleport ke medan perang! Kami dengan tulus menantikan pertempuran antara perwakilan Iblis dan Malaikat dari [DxD]!>>

Tempat itu bergemuruh saat timku dan tim Dulio terbungkus cahaya transportasi—.


Tempat yang kami ditransportasi adalah — ruang kosong yang sama sekali tidak ada apa-apa di dalamnya. ...Ini sangat mirip dengan ruang bawah tanah yang kami gunakan untuk latihan. Kami berdiri agak jauh dari satu sama lain saat kami memulai persiapan kami. Aku sudah melengkapi armor merahku. Untuk konfirmasi, Ravel berkata

"Kali ini, beberapa anggota kami telah mengganti nilai bidak mereka. Bova-san yang semula [Pawn] sekarang telah mengisi posisi [Rook] yang kosong, dan anggota baru kami yang bernama Nakiri-san dan Elmenhilde-sama telah mengambil posisi [Pawn].

Salah satu posisi [Rook] pada awalnya kosong, jadi sekarang dialokasikan kepada Bova, sementara [5] dari delapan [Pawn] dialokasikan kepada Nakiri, dan [2] dialokasikan kepada Elmenhilde. Kami telah mendiskusikannya cukup lama dan sebagai hasil dari diskusi tersebut dan dalam situasi saat ini, ini adalah pengaturan terbaik untuk memanfaatkan sepenuhnya potensi semua anggota kami. Pada saat ini, suara wasit bergema di seluruh field. Meskipun kami tidak dapat melihat mereka, wasit melihat kami dari suatu tempat.

<<Sebelum pertandingan dimulai, kami akan menyediakan kedua tim dengan dua perangkat yang mampu memproyeksikan tampilan field secara penuh.>>

Setelah mengatakan itu, sebuah cahaya bersinar terang di dekat kita, dan para operator mengirimkan dua perangkat mirip jam tangan yang sama. Ravel dan aku memakainya di pergelangan tangan kami. Setelah mengutak-atik—proyeksi penuh field ditampilkan. Seluruh lapangan dibagi menjadi delapan oleh delapan wilayah. Tujuannya akan muncul secara acak di bidang-bidang ini. Jika mereka muncul di ujung yang jauh... maka kita harus mengeluarkan sejumlah besar energi untuk mencapainya. Ini adalah jenis permainan yang agak mengerikan dan tidak dapat diprediksi. Di ruang yang sama sekali tidak ada, apa pun bisa terjadi dalam luasnya ini. Sebaliknya, tidak mungkin menyembunyikan sesuatu karena tidak ada hambatan. Ada kelebihan dan kekurangan untuk ini. Wasit melanjutkan

<<Baiklah, pertandingan antara tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth] dan tim [Trump Card of Heaven] sekarang akan dimulai! Batas waktunya dua jam! Akan ada stasiun pengisian air di berbagai titik karena hidrasi juga merupakan bagian penting dari ini! Sekarang, mulai!>>

Bel berbunyi di seberang field untuk menandai awal. Ravel dan aku menggunakan perangkat proyeksi untuk mengkonfirmasi—gawang pertama muncul di E4! Tepat di tengah lapangan. Lokasi kami saat ini adalah D1. Tim Dulio saat ini berada di E8. Mereka persis di seberangnya. Gawang pertama kami tepat di tengah, jadi itu adalah gawang yang akan diambil oleh orang pertama yang berlomba ke sana!

"Semuanya, yang pertama ada di E4! Ayo!"

[Ya!]

Begitu aku memberi perintah, semua anggota bergegas menuju E4! Bola juga akan muncul di samping gawang, sehingga tim pertama yang sampai mendapat keuntungan. Entah itu terbang di udara atau berlari dengan kecepatan tinggi di tanah, semua orang menggunakan metode gerakan mereka sendiri untuk mendekati area gawang. Sedangkan untuk Asia yang tidak begitu baik dalam hal pergerakan tanah berkecepatan tinggi, dia memanggil Evil Dragon tercepat dari keempat Evil Dragon bersaudara, dan dia menunggangi punggungnya. Elmenhilde telah berubah menjadi kelelawar dan dia terbang melayang-layang di udara. Sepanjang jalan, Rossweisse-san berkata

"Aku akan mengucapkan sihir untuk meningkatkan kemampuan fisik semuanya!"

—Dia kemudian melemparkan sihir ke arah kita, menyebabkan kecepatan terbang dan berlari kita meningkat lebih jauh. Oleh karena itu, hanya sekitar satu menit atau lebih saat terbang sampai aku melihat lingkaran emas yang berkilauan di depan. Itulah gawangnya! Kita akan bisa mencetak gol selama kita bisa memasukkan bola ke dalam cincin itu! Dan bola yang kami kejar—tidak jauh dari sasaran. Bola emas melayang di udara. Jadi itu bolanya! Kira-kira seukuran bola basket!

"Siapapun saja lakukan! Dapatkan bola dan lalu lemparkan ke dalam!"

[Mengerti!]

Semua orang menanggapiku dengan antusias! Tak perlu dikatakan lagi, aku meningkatkan kecepatanku untuk mendekati bola begitu aku melihatnya. Tepat saat kami akan mencapainya—. Di field yang semula tidak dapat mengalami perubahan kondisi cuaca, awan hujan pun tampak! Aku langsung mengerti! Itu adalah Sacred Gear Dulio! Manipulasi cuaca Dia menggunakan Sacred Gear-nya untuk membuat awan hujan ini! Dia berencana mengendalikan cuaca untuk menghalangi kami! Seperti yang diharapkan, awan hujan berubah menjadi awan dahsyat, menyebabkan hujan deras jatuh ke lapangan disertai sambaran petir! Tetesan air yang sangat dingin menghujani tubuh kita, segera meningkatkan usaha yang harus kita lakukan, dan jika hujan terus menimpa kita, stamina kita akan cepat habis! Bahkan menghindari sambaran petir akan menguras energi kita! Tapi, kita juga akan mengalami luka jika kami tertabrak! Teman-temanku mengelak dari sambaran petir sambil bergerak di bawah hujan, melakukan yang terbaik untuk bergegas menuju bola — tapi muncul di tempat itu adalah Malaikat yang terbungkus gelembung! —Sial! Itu kemampuan Dulio! Dia telah menciptakan gelembung untuk setiap anggota tim sehingga mereka tidak terpengaruh oleh pengaruh cuaca! Dia memastikan bahwa setiap orang di timnya dapat mematahkan efek kemampuannya sendiri! Orang pertama yang menyentuh bola adalah—Xenovia! Seperti yang diharapkan dari [Knight]-ku! Dia memegang Durandal dengan satu tangan, dan memegang bola di tangannya yang lain. Saat itu, seorang Malaikat menyerangnya!

"Captainnnnnnn Angel! Aku datang, Xenovia!"

Itu adalah Ace Uriel yang berpakaian seperti superhero Amerika—Nero!

"Nero ya, aku tidak akan menyerahkan bolanya!"

"Omong kosong, aku akan mengambilnya!"

Xenovia dan Nero terlibat dalam pertempuran sengit demi bola. Setelah Nero menyambar bola dari pelukan Xenovia, Xenovia menyenggolnya kembali! Xenovia mengayunkan Durandal dan Nero menghindar. Nero melepaskan tendangan sengit saat Xenovia berbalik dan menghindar. Pertarungan ofensif dan defensif demi bola ini memanas lebih dari yang kuduga. Malaikat-malaikat lainnya mengikuti dengan cermat dan berusaha menjerat kami. Orang yang menandaiku adalah—Dulio. Sementara tubuh Dulio berada di dalam gelembung yang membuat cuaca tidak efektif, dia menertawakanku.

"Sudah dimulai, Ise-kun."

"Yeah, aku tidak akan kalah darimu."

Serangan tidak mutlak dalam game ini, yang terpenting adalah yang memegang bola.

"Xenovia, lemparkan!"

Mengikuti instruksiku, Xenovia — melemparkan bola ke arah Bova yang paling dekat! Setelah Bova menangkapnya, Nero langsung mengubah target dan bergegas menuju Bova!

"Kuh!"

Bova secara refleks menggunakan cakar raksasa untuk mencakar Nero.... Tapi Ravel berteriak

"—! Bova-san, kamu tidak bisa hanya menyerang Nero-san seperti itu."

Sama seperti Ravel selesai, tubuh Nero memancarkan cahaya putih hijau setelah didorong oleh Bova! Aura yang membungkus tubuhnya juga sedikit menguat.

"...Serangan yang lumayan, naga! Tapi, terima kasih untuk itu!"

Nero tampak bersyukur atas serangan Bova. Alasannya adalah Sacred Gear Nero.

"...Sacred Gear Nero adalah [Sturdy Saint] . Semakin dia diserang, semakin besar pertahanannya akan naik. Selama pengguna tidak dikalahkan, efeknya akan terus bekerja. Dengan kata lain—"

Semakin Nero diserang, semakin kuat pertahanannya! Meskipun itu adalah kemampuan yang agak sederhana, ancaman itu tidak dapat diukur jika digunakan dengan benar terhadap seseorang dengan kemampuan fisik yang lebih tinggi!

"Ini belum semua! Yang Mulia Strada memberiku—"

Aura suci berkumpul di kepalan tangan Nero, dan kemudian dia langsung mendorongnya ke arah Bova!

"Holy Fist!"

Bova mendapat pukulan langsung dari aura tinju suci, dan bola terlepas dari cengkeraman cakarnya. Setelah melempar pukulan ke arah Bova, Nero tertawa terbahak-bahak

"Hahaha! Captain Angel ini adalah pemilik sebuah badan baja dan tinju suci yang telah menjadi senjata paling ampuh!"

Sementara Nero tertawa, Nakiri dengan cepat menemukan bola dari samping, dan kemudian bergegas menuju gawang—.

"—Ayo!"

Itu masuk. Angka muncul di udara di atas field, dan apa yang semula [0 - 0] telah menjadi [5 - 0]! —Kami telah mencetak gol pertama game!

<<Gooooool! Yang pertama mencetak adalah anggota baru tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth], Nakiri-senshu! Nakiri-senshu memiliki nilai lima, jadi dia telah mencetak lima poin!>>

Bola yang telah digunakan untuk mencetak gol akan dikembalikan ke tim yang mencetak gol; Jadi setelah Nakiri menemukan bola, bel untuk menunjukkan dimulainya kembali game terdengar dan sebuah pertarungan untuk bola dimulai lagi. Gawang selanjutnya yang muncul ditunjukkan oleh perangkat proyeksi, jadi kami harus segera ke area itu sementara kami melakukan semua yang kami bisa untuk menjaga bola. Seperti ini, pertempuran ketahanan seperti neraka dimulai—.


Setelah kami mencetak gol pertama, kedua belah pihak bergegas merebut bola, memberikan bola, mencetak gol dan kami terus mengulanginya berkali-kali. Skor saat ini di [88 - 85], jadi kami memimpin dengan selisih kecil.... Napas setiap orang menjadi sangat sulit. Meski kurang dari setengah batas waktu telah berlalu, berlari melintasi field yang luas saat kami berjuang karena bola pasti menguras stamina kami. Dulio juga akan menyebabkan perubahan cuaca sesekali memperburuk tenaga fisik di pihak kita. Bahkan ketika sampai hidrasi, Dulio mengizinkan anggota timnya untuk minum air hujan, jadi tidak perlu mereka pergi ke area spesifik untuk mengisi ulang. Kemampuan Dulio sangat enak! Di depan gawang baru, Irina dan Shinra Kiyotora-san bersaing memperebutkan bola. Irina memegang pedang sucinya sementara Kiyotora-san memegang sebuah katana, keduanya berkeringat saat mereka bentrok dengan pedang mereka mencoba merebut bola. Kami sampai pada posisi sehingga kami bisa menerima bola setiap saat sementara kami terus memperpendek jarak antara kami.... Namun, gerakan Malaikat terasa aneh. Diethelm-san, Mirana-san, Nero dan Dulio berada dalam formasi tertentu.... Ravel memperhatikan, dan dia mengingatkan kita akan hal itu. Pada saat itu, Irina berhasil meraih bola dan terbang menuju gawang—. Diethelm-san, Mirana-san, Nero dan Dulio berteriak pada saat bersamaan!

""""Five Card!""""

Dalam sekejap, kilatan cahaya menyilaukan dipancarkan dari Diethelm-san, Mirana-san, Nero, Dulio dan Irina! Ini adalah teknik khusus yang bisa digunakan Malaikat Reinkarnasi! Penyiar berteriak

<<Luar biasa! Tubuh tim Malaikat memancarkan cahaya! Mungkinkah ini adalah serangan kombinasi yang dirumorkan dari Malaikat Reinkarnasi!? Juga! Meskipun dia jelas-jelas berada di pihak lawan, tim Malaikat dan—tim Sekiryuutei Shidou Irina-senshu juga beresonansi!?>>

Memang, ini adalah tim lawan yang memulai serangan—tapi mereka juga memasukkan Irina ke dalamnya juga. Irina benar-benar terkejut dengan ini. Tapi sepertinya Dulio tahu ini akan terjadi, jadi dia menggunakan ciri khas Malaikat Reinkarnasi untuk meningkatkan kemampuan fisiknya sendiri. Dia menyambar bola dari Irina dengan kecepatan yang luar biasa, dan kemudian menggunakan momentum itu untuk melemparkannya ke gawang!

<<Dan itu goooooool!!!!!! Mereka telah memanfaatkan efek kombinasi kartu dari Malaikat Reinkarnasi untuk mencetak gol! Hasil yang mengesankan!>>

Penyiar berteriak. ...Kami juga tercengang. Irina... dia sebenarnya digunakan oleh tim lain karena sifatnya! Formasi aneh mereka semua sehingga mereka berhasil menggunakan kemampuan ini! Irina tampak cukup kaget dengan hal itu sendiri. Dia sebenarnya telah membantu tim lain. ...[Five Card] adalah kombinasi yang menggunakan seperangkat empat nilai kartu yang identik, dengan kartu kelima menjadi Joker. Itu adalah combo yang kuat. ...Masih sulit membayangkan bahwa mereka bisa mencetak angka begitu mudah.... Kami semua terkejut. Saat itu, penyiar bertanya kepada Beelzebub-sama di sampingnya

<<Tapi, Beelzebub-sama. Mereka tidak hanya menggunakan pemain tim Malaikat, mereka juga menggunakan nilai kartu Shidou Irina-senshu dari tim Sekiryuutei untuk mengaktifkan efek itu, benarkah...?>>

<<Hmm. Saya ingin mengatakan bahwa secara kebetulan mereka dapat mencapai kondisi yang diperlukan untuk mengaktifkan kombinasi kartu dengan menggabungkan anggota kedua tim. Meskipun mereka termasuk ke dalam tim yang berbeda, mereka masih Malaikat Reinkarnasi.>>

Dan kemudian Dulio mengungkapkan senyuman sombong.

"Baiklah, meski kita berada di tim yang berbeda, asalkan pikiran yang melibatkan keinginan seperti 'Aku ingin menyerang' atau 'Aku ingin melindungi' bisa beresonansi, itu akan memuaskan kondisi untuk mengaktifkan kombinasi kartu."

...Jadi sesuatu seperti itu bisa dilakukan! Pada topik itu, apakah itu sesuatu yang mereka sadari? Irina sepertinya tidak menyadarinya.... Apa bedanya? Siapa yang memberitahu mereka tentang karakteristik itu? Tiba-tiba aku sadar. —Ini adalah Rudiger Rosenkreutz. ...Apakah ini juga salah satu taktiknya...? Dia bahkan tahu kondisi aktivasi? ...Sialan, kami tidak meramalkan ini! Si penyiar bertanya lagi kepada Beelzebub-sama

<<Apakah ini dianggap sebagai kesalahan?>>

<<Tidak, para pemain kedua tim sepenuhnya fokus pada penyerangan dan pertahanan. Bagaimanapun, tidak peduli sisi mana mereka berada, semua orang berjuang di lapangan untuk tim mereka sendiri. Ini bukan maksud jahat dalam game ini.Jika ada, apa yang baru saja terjadi tidak akan mungkin terjadi. ...Itu terjadi justru karena tidak ada pihak yang ingin mundur.>>

Itu adalah penilaian Beelzebub-sama.

"...Dengan menggunakan kombinasi kartu, kami memprediksi bahwa sesuatu seperti ini akan terjadi, tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa kemampuan Malaikat Reinkarnasi akan diaktifkan sedemikian rupa..."

Ravel juga tampak agak kecewa.

"...Kalau begitu, gerakan Irina akan dibatasi...!"

Kata-kataku menyebabkan keraguan muncul di wajah Ravel.

"Ya, dia mungkin menjadi benih yang akan dimanfaatkan oleh kemampuan Malaikat Reinkarnasi. ...Itu karena efeknya luar biasa. Mentalitas Irina-sama juga telah terkena dampaknya."

Aku menatap Irina. Dia tampak sangat terpengaruh oleh apa yang telah terjadi. Bahkan wajahnya pun jadi pucat. ...Irina benar-benar terguncang. Aku mendekati Irina dan memeluk bahunya untuk mendorongnya.

"Ise-kun, maafkan aku. A-Aku..."

"Jangan cemaskah hal itu... tak usah dikatakan bahwa pertandingan belum usai. Jangan berkecil hati. Jangan takut, semua orang masih bersamamu! Tentu saja, aku juga ada di pihakmu!"

Aku tersenyum pada Irina, membiarkannya tenang. Bukan kesalahan Irina. Jika kita bisa membantu Irina lebih banyak, maka itu bisa dicegah. ...Apalagi, akan baik-baik saja asalkan kita semua bisa mengatasinya bersama.

"Ayo menang, Irina."

"Ya!"

Respon Irina tampaknya diisi dengan energi lagi. Aku juga merasakan gelombang gairah dalam diriku. ...Napasku baru mulai tumbuh lebih berat. Skornya [88 - 95], dan akhirnya kami disusul. Skornya sudah terbalik, tapi masih tersisa separuh waktu dalam game ini—.