High School DxD (Indonesia):Jilid 24 New Life.

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

New Life.[edit]

Bagian 1[edit]

Beberapa hari telah berlalu sejak pertempuran antara tim Rias dan tim Vali, serta pertarungan melawan kelompok Thanatos—. Semua anggota tim [Sekiryuutei of the Blazing Truth] berkumpul di kamar VIP di kediaman Hyoudou sebelum pertandingan kami melawan tim [Leisure of the Kings]. Itu karena kami menerima tamu penting. —Itu adalah gubernur Grigori saat ini, Shemhazai-san. Azazel-sensei telah menyerahkan barang-barang tertentu kepada Shemhazai-san sebelum dia pergi ke Isolation Barrier Field, dan Shemhazai-san telah membawa barang-barang itu kepada kami hari ini! Shemhazai-san menciptakan lingkaran sihir transportasi Malaikat Jatuh di atas meja, lalu mengeluarkan beberapa koper.

“Butuh banyak waktu untuk mengumpulkan barang-barang ini, dan ini adalah hasil Sirzechs Lucifer-sama, Michael-sama dan Azazel bepergian di antara berbagai Golongan.”

Shemhazai-san membuka koper pertama. —Sebilah pedang panjang disimpan di dalamnya. Itu adalah pedang suci yang melepaskan aura suci dengan tenang. Namun, itu tidak terasa menggigil seperti pedang suci biasa yang hanya dirasakan oleh Iblis. Sebaliknya, aura itu... rasanya sangat familier bagiku! Saat aku memindahkan mataku ke tangan kiriku, Shemhazai-san tersenyum.

“Ya, pedang ini adalah pedang suci terbaru yang telah dibuat melalui berbagai teknik oleh Tiga Golongan setelah perdamaian tercapai—Ascalon II.”

—Ascalon II!? Generasi kedua Ascalon! Siapa sangka bahwa sesuatu seperti ini telah dipersiapkan…. Pedang suci yang dimiliki oleh Yang Mulia Strada adalah Durandal II, dan aku tidak bisa menahan perasaan bahwa para alkemis Gereja telah meningkatkan keterampilan mereka setelah mempelajari berbagai teknik dari Golongan lain! Itu pasti memicu revolusi teknologi…. Shemhazai-san memberi penjelasan padaku saat dia mengeluarkan Ascalon II

“Ini bukan tidak mirip pedang suci, melainkan lebih seperti pedang yang sangat cocok dengan aura naga...ini bisa digambarkan sebagai pedang yang dirancang hanya untukmu, Hyoudou Issei-kun. Pedang ini bahkan lebih cocok dengan auramu daripada Ascalon asli.”

Aku menerima Ascalon II…. Hmm, entah bagaimana rasanya sangat familier di tanganku! Rasanya bahkan lebih alami daripada Ascalon generasi pertama yang telah bersatu dengan tangan kiriku. Itu hampir seketika disinkronkan dengan auraku. Ddraig berkata

[Partner, mari simpan di lengan kananmu yang kosong.]

Toh, lengan kiriku sudah ada. Tapi meski begitu, memberiku pedang bahkan ketika aku sama sekali tidak punya bakat dengan pedang... Kurasa yang terbaik adalah aku menyimpannya di gauntletku seperti yang generasi pertama, dan menggunakannya dalam pertarungan jarak dekat ketika waktunya tepat. Gauntlet armor dari Boosted Gear Scale Mail muncul di tangan kananku, dan aku menahan Ascalon II dengannya. Dengan bantuan Ddraig, aku fokus—dan cahaya kilat merah dipancarkan. Setelah cahayanya memudar, Ascalon II menghilang dari tanganku. Aku mengepalkan tinjuku—dan persis seperti Ascalon generasi pertama, pedang suci itu memanjang keluar dari gauntletku. Saat berlatih aksi beberapa kali, aku berkata pada Shemhazai-san

“Rasanya aku tidak bisa mahir dalam pengguna pedang ganda seperti Kiba, Xenovia, dan yang lainnya.”

Meskipun sekarang aku memiliki pedang suci di kedua gauntlet tangan kiri dan kananku, serta bisa menggunakan keduanya pada saat yang sama, rasanya aku takkan dapat menggunakan dua pedang suci dengan cekatan. Shemhazai-san menjawab

“Tapi, kalau kamu memiliki pedang suci yang disimpan di setiap lengan, kamu mungkin bisa merespon dengan baik terhadap situasi yang tidak terduga. Misalnya, jika tangan kirimu terbatas.”

Itu masuk akal. Seperti kata pepatah, kau tak pernah bisa terlalu siap. Shemhazai-san lalu membuka koper berikutnya. Ada tongkat yang terlihat tua di dalamnya. Hanya karena penampilan, itu terlihat agak kuat…. Setelah melihat tongkatnya, Rossweisse-san mengeluarkan napas tak percaya. Dia menuju koper dan menatap tongkat itu. Shemhazai-san mengambil tongkat sihir itu dan menyerahkannya pada Rossweisse-san.

“Ini tongkat Mistilteinn.”

“I-Itu beneran! Aku telah melihatnya di kampung halamanku!”

Melihat kebingunganku, Ravel menjelaskan

“Tongkat Mistilteinn adalah senjata ajaib yang memiliki sihir kuat di Asgard.”

Senjata ajaib Asgard! Itu juga memiliki sihir yang sangat besar, jadi itu bisa digambarkan sebagai senjata yang telah dibuat khusus untuk Rossweisse-san. Shemhazai-san berkata

“Selama Perang Evil Dragon, dikatakan bahwa tongkat Mistilteinn baru akan dibuat untuk [DxD], dan akhirnya selesai setelah perang. Meskipun itu tak bisa dilakukan tepat waktu untuk pertempuran itu... itu akan dapat membantu output sihir Rossweisse-san.”

Adapun orang yang dimaksud, Rossweisse-san memegang tongkat Mistilteinn dengan agak malu-malu.

“...Kalau itu hanya masalah bantuan, bukankah ini lebih dari cukup? ...Bukankah ini senjata yang hanya dimiliki oleh makhluk sekelas Dewa...?”

I-Ini benar-benar senjata yang luar biasa!? Senjata makhluk sekelas Dewa... Memang benar bahwa banyak hal luar biasa yang terjadi dalam suksesi selama Perang Evil Dragon, sehingga mitologi Norse menghasilkan senjata semacam itu untuk menghadapi situasi. Shemhazai-san lalu membuka koper ketiga...sarung tergeletak di dalamnya. ...Aku bisa merasakan aura suci yang memancar darinya. Mungkinkah ini sarung pedang suci? Meskipun ini pertama kalinya aku melihatnya, entah bagaimana terasa familier, dan cara itu dihiasi…. Tunggu, aura ini, aku sudah merasakan ini sebelumnya! Semuanya melihat dengan hati-hati pada sarungnya, dan di sampingku—

“...Eh? Beneran?”

“...Tidak mungkin, itu tidak mungkin...”

“...Tapi, dilihat dari auranya, itu mungkin saja...”

Irina, Xenovia dan Rossweisse-san menunjukkan ekspresi terkejut, dan mereka sepertinya meragukan mata mereka sendiri. Shemhazai-san tertawa tenang setelah melihat reaksi semuanya.

“Fufufu, kami terus mengawasinya. Benar, ini adalah barang untuk Xenovia Quarta-san. —Sarung Excalibur.”

[Itu beneran! Menakjubkan!]

Semuanya selain diriku berseru kaget usai mendengar apa yang dikatakan Shemhazai-san.

“...Apa sarung Excalibur memang menakjubkan?”

Usai mendengar pertanyaanku yang tidak berbahaya, Ravel mendekatkan wajahnya saat dia menjawabku dengan nada kegembiraan

“I-Ise-sama! Saat membicarakan sarung Excalibur, ini adalah sarung Excalibur yang mereka maksud!”

Bahkan suara Irina dan seluruh tubuh gemetar saat dia berkata

“Ise-kun! Sarung ini adalah barang yang luar biasa! Sungguh menakjubkan! Aku tidak pernah membayangkan bahwa itu akan ditemukan pada saat seperti ini…!”

“Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ini adalah komponen utama Excalibur.”

“Sarung legendaris telah hilang untuk waktu yang lama... tapi sekarang sudah ditemukan...!”

Shemhazai-san menjawab kata-kata Ravel

“Untuk memperoleh sarungnya, kami mencari di banyak tempat, dan akhirnya kami menemukan bahwa sarungnya telah disegel dalam kehancuran bawah tanah di mana agama-agama yang berbeda pernah berperang. Jika kami tidak berada di era sekarang di mana para Dewa dari masing-masing mitologi telah berdamai, maka tidak mungkin bagi kami untuk mengirim tim investigasi ke tempat itu.”

...Sepertinya proses untuk mengambil sarungnya agak rumit. Jika berbagai Golongan tidak mencapai perdamaian, sarung ini mungkin tidak akan pernah melihat cahaya hari lagi…. Melalui kulminasi banyak faktor, itu adalah harta yang akhirnya dibawa kepada kami. Xenovia menarik napas dalam-dalam saat dia mengambil sarungnya.

“...Dengan sarung ini, aku pasti mampu melawan makhluk-makhluk sekelas Dewa.”

Usai mendengar Xenovia mengatakan ini, Irina terkikik.

“Ini bukan jenis hal yang seharusnya dikatakan seorang penganut beriman.”

Xenovia mengangkat bahu.

“Para Dewa yang akan kita lawan dan Tuhan yang kita percayai tidaklah sama.”

Penjelasannya sama dengan mengatakan bahwa ada perut lain hanya untuk pencuci mulut! Y-Yah, tidak apa-apa, kurasa. Xenovia dan Irina selalu seperti itu. Mereka aneh dengan cara itu. Memang benar bahwa para Dewa yang berpartisipasi dalam Turnamen berbeda dari Tuhan yang mereka yakini, jadi aku akan membiarkannya. Karena begitu banyak peralatan disiapkan untuk kami, aku bertanya

“Apa tidak masalah bagi Anda menyiapkan semua barang ini untuk kami? Jelas masih ada banyak tim lain yang berpartisipasi dalam Turnamen.”

Sudah agak terlambat bagi kami untuk mengatakan ini setelah ada Longinus dan pedang suci legendaris, tapi rasanya agak tidak adil untuk memiliki semua barang legendaris ini yang diberikan kepada kami. Shemhazai-san menjawab sambil tersenyum

“Mereka semua memiliki organisasi dan mitologi sendiri untuk mendukung mereka, dan kami sudah mencapai perdamaian. Namun, pihak kami juga memiliki tim [DxD] untuk tindakan anti-terorisme, dan kami telah berfokus untuk memperkuat pasukan tempur kami sejak sebelum Turnamen. Alat-alat ini untuk kalian gunakan, tapi juga bagian dari kekuatan tempur tim anti-teroris. Akibatnya, itu juga telah melayani tujuan mencegah terorisme terjadi ketika dunia luar melihatnya. Meskipun beberapa Golongan mungkin mengkritik tentang ini... ada Dewa di mana-mana yang tidak menginginkan perang berskala besar seperti Perang Evil Dragon lagi.”

Jadi itu juga memiliki signifikansi huh.... Yah, Cao Cao juga menerima perlindungan dari Śakra, sementara Dulio dan yang lainnya mendapat dukungan dari Surga. Jika semuanya terlalu memikirkan hal-hal ini, maka akan sulit untuk benar-benar berpartisipasi. Ravel mengucapkan terima kasih kepada Shemhazai-san

“Gubernur Shemhazai, terima kasih banyak karena telah membawakan kami semua barang-barang ini. Kami akan memanfaatkannya dengan baik, tidak peduli apakah itu [DxD], atau untuk tim kami di Turnamen.”

[Terima kasih.]

Kami semua mengucapkan terima kasih kepada Shemhazai-san sekali lagi. Shemhazai-san menjawab kami

“Sama-sama.”

Pada saat itu, seseorang mengetuk pintu.

“Permisi.”

Orang yang datang adalah—Kiba. Dia memiliki ekspresi serius. Ketika Kiba bertanya pada kami

“Apa kalian sudah selesai?”

Aku menjawab dengan

“Hampir.”

Kiba kemudian berkata dengan blak-blakan

“Semua tidak berjalan dengan baik. —Salah satu kandidat teratas, tim Mahabali sekelas Dewa mengalami kerugian.”

Usai mendengarkan berita ini, kami semua saling memandang.


Tempat yang kami datangi melalui lingkaran sihir transportasi adalah [Azazel Stadium] di wilayah Malaikat Jatuh—pangeran para dewa Asura, tim Mahabali-san saat ini tengah bersaing. Aku sebelumnya bertempur di sini melawan Barakiel-san. Semua yang tinggal di kediaman Hyoudou datang ke sini, dan kami berjalan menuju area penonton. Kami melihat Vali di koridor pintu masuk. Vali berdiri di dekat pintu masuk, dan dia menyaksikan proyeksi udara dari siaran langsung yang ada di tengah stadion. Kami juga melihatnya. Situasi di lapangan saat ini sedang ditampilkan. Lapangan itu tampaknya adalah situs reruntuhan...dan di tengah sisa-sisa yang hancur, Pangeran para Asura, Mahabali-san tengah berlutut di tanah. Tubuhnya dipenuhi luka, dan dia terengah-engah.

<<Ini sulit dipercaya! Saat salah satu kandidat diduga menang, Mahabali-senshu malah tengah berlutut di tanah! Orang-orang yang memaksanya begitu—adalah pemain misterius yang tiba-tiba bergabung dengan tim biasa!>>

Penyiar juga tampaknya telah menjadi bersemangat dengan pemandangan di depan matanya saat dia mengatakan itu. Mahabali-san sedang melihat—dua orang. Salah satunya adalah seorang wanita. Lebih tepatnya, dia tampak seperti seorang gadis yang seusia dengan kami dilihat dari penampilannya. Dia memiliki rambut panjang berwarna giok, dan dia sepertinya memiliki atmosfer ceria tentang dirinya. Yang lainnya adalah seorang pria. Dia memiliki rambut merah tembaga yang disapu sepanjang jalan kembali. Tidak hanya memiliki tubuh yang tinggi, dia juga memiliki fisik yang kuat. Tidak ada jejak emosi di wajahnya, dan dia tampak agak dingin. Berdasarkan penampilannya, mungkin dia seumuran dengan kita, atau mungkin sedikit lebih tua. Tidak seperti Mahabali-san yang terluka, mereka tidak terluka sedikit pun! Tim Mahabali-san memiliki banyak Dewa Asura. Bahkan di antara makhluk-makhluk sekelas Dewa yang berpartisipasi, mereka dianggap sebagai jajaran kelas atas. Ketika aku melihat papan skor di tempat tersebut, aku dapat melihat bahwa semua anggota tim Mahabali-san telah kalah! Pemuda berambut tembaga itu mengambil bendera yang berada di samping Mahabali-san.

[Bendera diambil.]

Itu adalah gaya permainan tangkap bendera. Sebelum kami datang ke sini, aku telah menegaskan bahwa jenis permainan kali ini bernama Scramble Flag. Begitu pemuda berambut tembaga itu mengambil bendera, pengumuman kemenangan disiarkan.

<<Pemenangnya—adalah tim [Black Satan of Darkness Dragon King].>>

Kemenangan gadis misterius dan pemuda misterius telah dinyatakan—. Ini adalah kekalahan pertama yang dialami Mahabali-san di Turnamen hingga saat ini.


Setelah melihat hasil yang tidak terduga ini, dan setelah pertandingan berakhir, kami tidak meninggalkan tempat tersebut. Untuk memahami detail situasi, kami berjalan menuju area resmi pertandingan. Rias berkata padaku

“Aku tidak berencana menonton pertandingan ini sejak awal. Menurutku itu pasti akan menjadi kemenangan Mahabali. Toh, lawannya adalah tim yang telah mengalami kekalahan beruntun sampai sekarang. Tapi sepuluh menit permainan, Yuuto mengatakan padaku untuk menonton permainan.”

Rias segera mengerti bahwa ada anomali yang terjadi di dalam permainan, dan dia memanggil kita juga. Mungkin ada orang yang mengenal Rias di ruang penonton VIP, dan mulai berjalan ke sana. Itu hanya ketika kami menemukan seorang anggota staf dan hendak bertanya tentang VIP mana yang datang ke stadion ini. —Hmm! Gelombang tekanan tiba-tiba yang tak bisa dijelaskan menghantam kami! Aku merasakan tekanan berat di dalam dadaku sejenak! Ada aura menakutkan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kami semua berbalik untuk melihat ke seberang. —Muncul ada wanita muda dengan rambut berwarna giok dan pria muda dengan rambut tembaga yang muncul seperti di dalam permainan. Dari dua orang itu...aku bisa merasakan aura yang kelihatannya abnormal dan tanpa dasar. Butir-butir keringat dingin mulai terbentuk di kulit teman-temanku yang berpengalaman saat mereka menelan tekanan langsung di sampingku. Mereka mendekati kami. Gadis dengan rambut berwarna giok melangkah ringan saat dia bergerak ke arah kami, dan dia mengungkapkan senyum polos.

“Senang bertemu denganmu, [Welsh Dragon]-san, [Vanishing Dragon]-san, dan orang-orang kuat lainnya. —Namaku adalah Verrine.”

Gadis yang mengidentifikasi dirinya sebagai Verrine menunjuk pria muda di belakangnya.

“Yang di sana—namanya adalah Balberith.”

...Si pemuda mengarahkan tatapannya ke arah kami, dan rasa takut yang menyerang baik pikiran dan tubuh kami...! Apa yang terjadi dengan aura pria itu...! B-Bagaimana mungkin memiliki aura yang begitu dalam, kuat, dan tak dapat dijelaskan...!? Kupikir hanya aku yang merasa seperti ini, jadi aku melirik Vali yang berdiri di sampingku—Butir-butir keringat bisa terlihat di dahinya juga! Bahwa Vali sebenarnya merasakan tekanan dari pria bernama Balberith ini! Maniak bertarung yang biasanya menunjukkan senyum tak kenal takut dan bertarung dengan sukacita tidak peduli seberapa kuat lawannya, sebenarnya...! Setelah melihat kami seperti ini, Verrine tampaknya menganggapnya lucu, dan dia tidak bisa menahan tawa sambil dia berkata secara alami

“Ufufu ♪ Balberith dan aku—. Kami tampaknya menjadi apa yang kalian sebut [Iblis Super].”

[—!?!?]

Semuanya terkejut! Ini adalah respons alami! Mereka tiba-tiba menyebut diri mereka Iblis Super! Namun, menggabungkan hasil dari permainan saat itu dan tekanan yang bisa kita rasakan di depan diri kita, semua itu menekankan keaslian kata-katanya! Aku telah melihat Rizevim dan Sirzechs-sama ketika dia menjadi serius di masa lalu. Teman-temanku juga telah menyaksikan Rizevim, dan selama Kerusuhan Demonic Beast, mereka juga telah melihat Ajuka Beelzebub-sama dalam pertempuran. Tidak ada yang meragukan pernyataannya. Verrine berkata

“Apa kalian merasa nama tim kami itu aneh? Itu adalah nama yang muncul setelah kami berkumpul, meskipun namanya tidak lain hanyalah hiasan.”

Dia tertawa polos. Aura yang dipancarkan oleh gadis muda yang rileks dan ceria ini juga terasa seakan tidak ada dasarnya. Pemuda yang bernama Balberith berkata dengan tanpa emosi

“Aku bertarung melawan Dewa...itu bukan apa-apa.”

Setelah melewati setengah kalimatnya, tatapannya yang tajam bergeser ke arahku dan Vali!

“—Apa Two Heavenly Dragon yang dianggap sebagai yang terkuat dalam sejarah layak dilawan?”

Rasanya seolah-olah aku mulai membeku dari dalam. Walau aku merasakan ketakutan seperti itu, di sisi lain, seorang yang kuat mencari aku, dan sebagai seorang lelaki, aku tidak bisa menahan perasaan senang dan terhormat...! Sebagai tanggapan, Vali akhirnya mengungkapkan senyum tak kenal takutnya itu. Balberith berjalan melewati kami berdua.

“Aku berharap bertemu denganmu dalam pertandingan.”

Verrine mengejar pemuda itu cepat-cepat, dan dia melambaikan tangan kepada kami ketika dia pergi.

“Sampai jumpa ♪”

Setelah menunggu sampai mereka berdua pergi, kami akhirnya menghembuskan napas dan mengambil napas dalam-dalam! Rias mengambil napas dalam-dalam, lalu dia berkata

“...Mereka benar-benar monster. Sudah lama sejak aku merasa seakan aku tak bisa bernapas...!”

Aku bertanya kepada Vali

“Vali, bagaimana menurutmu?”

Meskipun mereka berdua sudah pergi, Vali masih terus menatap ke arah dari mana mereka berdua pergi.

“...Tidak salah lagi bahwa mereka adalah Iblis. Tapi...sangat menakutkan betapa kuatnya mereka...!”

Albion dan Ddraig juga mengungkapkan pikiran mereka sendiri.

[Mereka berdua.... Apa sebenarnya yang sudah terjadi...?]

[Jadi, hal-hal seperti itu tetap tersembunyi sampai saat ini huh...]

Ini adalah debut dari orang-orang yang tangguh yang telah menyebabkan Two Heavenly Dragon yang tak kenal takut pun mengatakan hal-hal seperti itu. Astaga, sepertinya tidak akan semudah itu untuk maju di Turnamen. Dalam waktu dekat, kita juga harus bersaing dengan Vidar-san dan yang lainnya! Dihadapkan dengan eksistensi luar biasa yang berbeda dengan makhluk-makhluk sekelas Dewa, sekali lagi aku bisa merasakan kesulitan asli dari Turnamen ini—.

Bagian 2[edit]

Setelah bertemu musuh baru selama kunjungan kami ke [Azazel Stadium], kami mulai mengumpulkan informasi tentang tim Balberith dan Verrine. Rias dan Ravel menerima beberapa informasi dari pejabat Turnamen dan kontestan lainnya. Tiba-tiba, Rossweisse-san menerima pesan melalui lingkaran sihir komunikasi. Setelah membaca isinya, Rossweisse-san segera memekik, dan dia langsung duduk di lantai saat kekuatan di kakinya menghilang.

“......Eeeeeeeeeehhh...”

Suaranya dipenuhi kebingungan.

“A-Ada apa, Rossweisse-san?”

Aku mendekatinya, dan setelah dia tersentak kaget, dia mengalihkan pandangannya dariku.

“......U-Umm... i-itu agak sulit dikatakan...”

Usai mengambil napas dalam-dalam, Rossweisse-san berbicara dengan ekspresi pasti.

“...Kampung halamanku mengirim permintaan kepadaku, mengatakan bahwa wawancara pernikahan telah diatur. Nenekku membujuk...atau lebih tepatnya, memaksaku untuk pergi ke wawancara pernikahan...”

Wawancara pernikahan!? Rossweisse-san!? Atas permintaan mitologi Norse!? Aku merasa tercengang. Irina terus bertanya menggantikanku

“W-Wawancara pernikahan yang kamu bicarakan ini, siapa pihak lain...?”

Pada saat inilah Akeno-san berbicara

“Ah, Rias. Kami juga telah dihubungi oleh mitologi Norse. Kamu bisa melihatnya.”

Akeno-san menunjukkan lingkaran sihir komunikasi ke arah Rias, dan dia juga mengerti setelah melihatnya.

“...S-Sepertinya situasinya menjadi merepotkan!”

Ekspresi Rias sepertinya menunjukkan bahwa dia tidak yakin apa yang harus dilakukan juga. Akhirnya, Rossweisse-san berkata kepadaku

“...P-Pihak lainnya adalah Vidar-sama...!”

Setelah jeda yang lambat, kami semua berteriak keras!

[Dengan Dewa Utama!? W-wawancara pernikahan!?]

Dari hal-hal yang tampak, sepertinya episode terakhir dari trimester pertama kelas tiga kami adalah peristiwa yang luar biasa lainnya!