Kamisu Reina Indo:Jilid 1 Atsushi Kogure

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Atsushi Kogure[edit]

Bagian 1[edit]

Jantungku meledak-ledak dan termuntahkan dari mulutku.


Di mata orang lain dalam kawasan perbelanjaan dekat stasiun ini, tidak ada yang spesial terjadi. Akan tetapi, aku mendapati suatu temuan yang mengerikan.


Dalam kerumunan orang-orang yang tak dikenal berlalu-lalang, aku bertemu dia yang tidak akan pernah aku lupakan.


Meledak karena kejutan yang tak tertahankan, potongan-potongan jantungku menempel disekitarku. Beratus-ratus potongan aku muntahkan membersut kepadanya dari semua sisi. Mengamati tatapanku, dia menemukan tubuh utamaku dan melihatnya. Lalu – tersenyum.


Senyumannya membuatku bak disambar petir yang aku bahkan tidak bisa jatuh – aku hanya membeku. Ini seperti senyumannya menyingkirkan konsep waktu, apalagi perasaanku seluruhnya lenyap pada penglihatannya.


Gadis didepan mataku menjauhkan diri dari dunia. Setidaknya, aku tahu bahwa dia tidak punya nilai-nilai moral yang layak.


Aku terlahap oleh eksistensinya. Setelah dia pergi aku mampu bernapas lagi. Aku memastikan bahwa persepsi emosionalku masih utuh, dan akhirnya merasa hidup kembali.


Ya. Aku – Aku membenci gadis itu. Dia merampas segalanya dariku.


Tidak peduli betapa istimewa dan gaibnya dia, itu tidak membuat dosanya lebih ringan juga. Aku tidak akan memaafkannya. Aku sungguh tidak memaafkannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, si pembunuh berdarah dingin keluargaku.


Aku tidak akan memaafkan Reina Kamisu!

Bagian 2[edit]

“Kamu bertemu Reina Kamisu?” dokterku bertanya keheranan ketika aku memberitahu dia tentang pertemuan dengan monster itu.


“Ya. Aku bertemu dengannya. Pembunuh itu.”


“Reina Kamisu…" Aku mungkin memanggilnya dokter, tapi dokter Mihara tidak sesuai dengan citra lazim dokter. Dia supel, psikiater muda dan sebenarnya masih berusia dua puluhan.


“Apa kamu yakin itu bukan mimpi?”


“Ini nyata! Dia berjalan berpapasan didepan mataku! Dia bahkan melihatku dan tertawa kepadaku!”


“Hm…” dokter Mihara melipat lengannya sepertinya dia memperhatikan kalau aku sangat serius.


Keluargaku telah dibunuh oleh Reina Kamisu.


Sampai hari ini tidak diketahui alasan kenapa dia mendobrak rumah kami dan menikam semua orang kecuali aku; dia tidak mencuri apapun, tidak pula setahuku ada dendam. Dia tidak membuat ancaman sebelumnya, juga, tidak pula dia nampak menikmatinya. kebalikannya, dia nampak cerdas dan tidak pula berkaitan dengan obat-obatan dan semisalnya. Sungguh, aku gagal menemukan noda pada kepribadiannya.


Tapi fakta bahwa dia membunuh keluargaku.


Kehidupan mereka lenyap begitu mudah.


Dulu aku berpikir bahwa kehidupan manusia tidaklah –istimewa seperti ikan yang kita pernah bedah di sekolah. Ide dari kehidupan manusia dan nilainya terkira selalu besar dan tanpa batas di dalam otakku. Padahal, andai kata hanya manusia yang mempunyai akal, aku masih berpikir bahwa kehidupan kita berharga.


Biarpun begitu – ini memungkinkan untuk mengambil nyawa seseorang dengan pisau yang sama kamu gunakan untuk membedah ikan.


Menghadapi fakta absurd itu sebagai seorang bocah 10 tahun, aku hancur.


Aku punya luka di dada – karena Reina Kamisu, memang – agak aneh. Salah satu hal yang membuat orang-orang menyeringai.


Akan tetapi, masalah dengan luka itu bukan karena menakuti semua orang. Masalahnya adalah bahwa itu masih suatu luka yang tidak berbekas. Itu masih suatu luka yang menganga, dan akan tetap begitu. Namun bukannya darah, malahan diriku sendiri yang terus mengucur. “Sesuatu” yang aku butuhkan untuk hidup. Aku makin lama makin menyusut. Terus menerus menyusut.


Aku sedang meretak sedikit demi sedikit.


“Atsushi-kun” dokterku menyapa dengan pandangan serius.


“Iya?”


“Kita akhiri hari ini, tapi bolehkah aku memintamu untuk memberitahuku lebih banyak tentang hal ini pada sesi selanjutnya?”


“Ya, Tentu saja.”


Aku berencana begitu lagipula.


Lagian, satu-satunya cara untuk memperbaikiku ialah melawan Reina Kamisu; mengetahui kebenaran tentangnya; memahaminya.


Bisakah aku menang melawan monster itu? Takdir berkata lain, aku takut. Aku akan kalah. Aku akan terus menyusut.


Seperti lubang hitam, ada kalanya ketika perasaan yang tak diperlukan menghisap dan membuatmu buta. Oleh karena itu, bila aku ingin melawannya, aku harus menyegel emosiku – yang sebagian besar terdiri dari kebencian – tidak keluar.


Memikirkan kembali pada waktu ledakan emosi yang aku alami ketika bertemu dengannya tempo hari, aku bisa membayangkan betapa berat hal itu.


Bagaimanapun, tidak peduli betapa sulit melawan monster itu dihasilkan, tidak ada resiko bagiku. Aku sudah terbenam ke poin terendah. Sementara sulit bagiku lebih melawan, aku tidak boleh jatuh lebih rendah.


Oleh karena itu, aku tidak akan goyah untuk bertarung.


“Aku tidak akan kalah!”


“Melawan siapa…?” dokter Mihara bertanya, tetap serius.


“Melawan diriku, tentu , dan Reina Kamisu.”


Dia memandang termenung dan tampak meraba kata-kata. Akhirnya, dia cuma bergumam, “Aku mengerti…”


Hari selanjutnya, aku berangkat sekolah seperti biasa walaupun keputusanku untuk melawan Reina Kamisu. Terus terang, kayaknya aku lebih suka mengamati dia daripada menghadiri kelasku, tapi memperbesar fakta bahwa aku tak punya petunjuk selain memergoki dia dikota, aku tidak ingin merepotkan bibiku.


Tak seperti pamanku, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Aku menduga fakta bahwa mereka tidak memiliki anak sendiri menguatkan hal ini, tapi bibiku merawatku seperti aku adalah anak kandungnya… mungkin terlebih-lebih karena aku bukan anak kandungnya. Tak ada rasa ketidakpuasan. Tak ada rasa ketidakpuasan…namun ada rasa menekan. Aku merasa kalau aku benar-benar tidak boleh dan jangan membuat sedih bibiku, sebab dia harus merawatku juga.


Aku sampai di sekolah dan memperhatikan kalau kelas kami sangat berisik.


Bingung, aku tangkap Yuuji Kato, yang kebetulan berdiri dekat dan sedang dalam waktu yang tepat dibandingkan denganku. Aku bertanya, “Ada Apa?”


“Masalah bunuh diri, men! Bunuh diri!”


“Apa? tapi itu kan, kayak, minggu lalu, bukan? Apakah kita mendengar sesuatu yang baru tentang bunuh dirinya Saito?” aku bertanya sambil melempar tasku ke meja.


Karena dia seseorang yang akan kami lihat setiap hari di sekolah, kematian Saito cukup mengejutkan bagi kami. Sewaktu dia tidak punya satupun teman – dia bahkan dicurigai telah mencuri dari teman sekelas – masih ada siswa yang berkabung untuknya.


Meski mengejutkan, setelah dia mati beberapa orang menjadi lebih bersahabat dan mengakui dengan mata meneteskan air mata kalau mereka sebenarnya telah menyukainya karena dia mempunyai suatu kepribadian “santun” tidak seperti kebanyakan cewek-cewek sekarang. Saito pasti memiliki perasaan campur aduk disurga sana, sebab kepribadiannya-lah yang menggiring dia untuk bunuh diri.


“Apa kamu masih saja meributkan cerita itu? Kenapa tidak kamu biarkan dia tenang disana? Aku yakin kalau dia…tidak akan suka menjadi pusat perhatian,” Aku menyinggung Yuuji.


“Kamu salah sangka, men.”


“Apa maksudmu?”


“Ini bukan tentang Saito, tahu tidak?”


“Lalu siapa yang melakukan bunuh diri?” Yuuji menatap ke satu meja tertentu dan berkata, “Kimura.”


Sebelum pelajaran dimulai, semua siswa dari sekolah kami dipanggil ke gedung olahraga untuk ceramah darurat, dimana kepala sekolah membuat kami bosan dengan ceramah panjang tentang “Nilai Kehidupan.”


ketika mendengar dengan sedikit atensi apa yang dia katakan, aku mulai membuat pemikiranku sendiri tentang kejadian tersebut.


Tampaknya Saito, Mizuhara, dan orang lain yang terlibat tidak tahu, tapi seseorang yang agak akrab dengan Kimura atau yang punya otak, sepertiku, telah menyadari kalau Kimura adalah pelaku sebenarnya dari insiden pencurian dompet.


Kabar yang terkenal diantara teman-teman kami bahwa Kimura jatuh cinta pada Mizuhara, dan dia ditolak saat menembaknya. Mizuhara memberitahunya kalau dia tidak berencana berpacaran dengan siapapun dalam waktu dekat. Beberapa hari kemudian, Mizuhara dan Ashizawa berpacaran.


Tak perlu dikatakan, dia cuma mengungkapkan itu untuk menolak Kimura secara basa-basi, dan Kimura pasti sadar akan hal itu.


Bagaimanapun juga, perasaan Kimura telah tersakiti. Sepenuhnya. Dia pasti merasa kalau dia rendahan untuk Ashizawa – benar-benar jatuh – di mata Mizuhara. Mulai dari situ, apa saja yang dia ucapkan dan apa saja yang dia sudah lakukan diiringi dengan suatu nada rendah diri.


Aku bisa memahami kenapa dia hendak menghancurkan hadiah yang Ashizawa berikan ke Mizuhara. Sebenarnya. Aku rasa sedikit membalas seperti itu sangat bisa ditolerir. Walaupun, dia tahu kalau dia akan nampak jelas menjadi si pelaku bila dia menjalankan rencana kecemburuannya itu.


Makanya, dia butuh orang yang dicurigai selain dirinya. Dan dia menemukan Saito, yang kebetulan dipermalukan oleh Mizuhara.


Sekilas, Kimura telah melakukannya dengan baik; paling tidak, dia mengelabui sasaran utamanya – Mizuhara dan grupnya – menjadi percaya akan kebohongannya.


Akan tetapi, kenyataannya dia gagal total.


Dia tidak mempertimbangkan seberapa besar tindakannya akan menyakiti perasaan Saito karena terlalu fokus mengambinghitamkannya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah tidak mempertimbangkan seberapa menyakitkan untuk perasaannya sendiri dengan menyakiti perasaannya Saito.


Pembalasan dendamnya mengakibatkan sebuah luka mematikan pada Saito. Mungkin itu tidak sepenuhnya akurat, mungkin dia hanya menyentuh titik lemah dari Saito yang sudah mematikan lagipula. Namun, Kimura menganggap dirinya bertanggung jawab atas kematiannya.


Kimura melukai Saito, dan fakta itu melukai dirinya sendiri. Kedua luka itu mematikan, dan kedua luka itu berakhir dengan kematian. Seperti...seperti lukaku sendiri.


Akhirnya, kepala sekolah mengakhiri ceramahnya setelah lebih dari satu jam penuh. Aku memahami kekhawatirannya, tapi itu tidak bermanfaat lagi untuk hal ini.


Serius...dia tidak mengerti kalau sebuah ceramah tidak akan mencapai apapun. Kita semua sangat tahu dengan baik bahwa dilarang melakukan bunuh diri. namun ada kalanya dunia yang kita tempati menjadi begitu keras pada kita kalau kita bermain-main dengan pemikiran. jadi, percuma memohon beretika; dia seharusnya berucap dengan lebih praktis dan dengan pendekatan konkret. Seandainya aku berhenti bunuh diri, aku akan berucap begini: “Mati berarti jatuh kedalam suatu keadaan kehampaan yang kekal, suatu kekosongan sempurna yang tidak bisa dibayangkan oleh semua yang bernyawa. Pikirkan saja hal ini : otakmu enyah. Kamu tidak punya pemikiran apapun lagi. Pastilah, kamu pernah mendengar ungkapan ‘Aku berpikir, maka aku ada,'[1] iya kan? Pikirkan dengan cermat. Tidak ada. Apa kamu mengerti? Sama sekali tidak ada. Berapa lama kamu bisa menahan keadaan di dunia tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa perasaan apapun? Suatu dunia dimana kamu bahkan tidak lapar. Dimana kamu tidak punya hasrat sama sekali. Bisakah kamu mengikutiku? Tapi kematian adalah suatu kekosongan yang sempurna, sehingga itu bahkan melebihi suatu dunia tanpa-perasaan tersebut. Tidak ada masa depan. Surga hanyalah bentukan orang-orang yang takut mati mengarang bebas. Kamu harus tahu alasan kenapa akan selalu ada orang-orang yang percaya akhirat meski kemunculan ilmu pengetahuan; itu karena mereka ketakutan. Takut dari apa yang menanti dibalik kematian. Jadi, jangan berpikir mengakhiri hidupmu sendiri akan menyelamatkanmu! Itu semata-mata berakhir. B-E-R-A-K-H-I-R. Bunuh diri adalah tindakan membunuh dirimu sendiri, dan mati tanpa memahami arti dari kematian seperti apa melainkan lari dari kenyataan. Walaupun hasilnya sama dalam kedua kasus. Ok, ayo. Coba bunuh dirimu kalau kamu bisa; coba bunuh dirimu sendiri sekarang saat kamu sudah tahu kebenarannya.”


Setidaknya, aku tidak mampu membunuh diriku sendiri.


Lagipula, satu-satunya alasan kenapa aku berada disini sekarang karena aku paling takut kematian dibanding kebanyakan yang lain.


Oh, iya, ada sesuatu yang sedikit menarik membelit cerita ini: “Sebenarnya, aku dengar Kimura meninggalkan sebuah catatan bunuh diri,” Yuuji memberitahuku.


“Sebuah catatan bunuh diri? Apakah dia minta maaf ke Saito atau hal lain?”


“tepat sekali.”


“Nah, itu seharusnya menghibur Saito sedikit, menurutku?”


“Tidak, aku pikir ini malah cukup berefek sebaliknya.”


“Hm…? Iya sih, aku tidak akan mau siapapun bunuh diri karena aku lagian.”


“Bukan itu masalahnya,” dia menyanggah.


“Apa maksudmu?”


“Kimura salah menyebut namanya.”

Oh.


Setelah sekolah berakhir (pelajaran tetap dilaksanakan, tapi semua orang agak melamun) aku menuju kawasan perbelanjaan dimana aku bertemu Reina Kamisu.


Tidak ada yang menjamin kalau aku akan bertemu dia lagi hanya karena aku melihatnya sekali, tapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Awalnya aku berpikir akan mampu memperoleh beberapa informasi karena aku korban dari kejadian tersebut, tapi ini tidak sesederhana itu. Terutama untuk kejahatan remaja.


Kalau Reina Kamisu berpapasan denganku, aku tidak akan melewatkannya. Itu bukan hanya karena aku mengukir tampangnya dalam ingatanku berkali-kali: Dia istimewa di mata semua orang. Dia benar-benar begitu cantik.


“…”


Akan tetapi, sejam monoton terlewati. Setelah berdiri terus-terusan karena tidak ada tempat untuk duduk, kakiku sedikit kelelahan. Aku memutuskan dengan sikap toleran pindah sedikit dari tempat ini dan mendatangi McDonalds sebelah, membeli sendiri dua burger (semuanya sangat mahal untuk dompet siswa SMA) dan duduk didekat jendela.


Ketika mengunyah burgerku, aku mulai berpikir tentang Reina Kamisu.


Reina Kamisu. Mundur saat peristiwa terjadi, dia sudah berumur 16 tahun (yang berarti dia hanya 1 tahun lebih tua dariku sekarang), maka umur dia sekarang seharusnya 21 tahun.


Apa dia bekerja? Mungkin dia mendaftar di sebuah universitas. Dia mungkin tidak bisa lulus dari sekolah menengah karena semua yang sudah dia perbuat, tapi dia seharusnya cukup pintar untuk lulus ujian masuk universitas. Meskipun dia membunuh seluruh anggota keluargaku, dia hampir tidak dihukum sama sekali karena motifnya yang benar-benar tidak dapat diterima sebab dia didiagnosis “gangguan mental”. Aku bertaruh dia dipuja seperti seorang idol di tempat kerja atau dikampusnya. Sang idola yang membunuh. Hahaha, julukan yang menarik!


“Cih..!”


Luka didadaku mulai berasa sakit. Menurut Dr. Mihara, luka ini hanya ciptaan dari otakku sebab luka tersebut sudah sembuh.


Sialan! Kamu pikir ini cuma mental? Sebuah ilusi? Jangan membuatku kesal, Dok! Rasa sakit ini tidak palsu; tidak mungkin palsu!


Luka tersebut sedang berdarah. Aku mungkin satu-satunya yang mampu melihat darahnya, tapi ini pasti darah – dan aku cairannya (atau sesuatu yang mirip cairan).


Ah, sialan, aku tahu! Aku tidak jelas. Aku malah bikin masalah untuk diriku sendiri.


Namun sebenarnya – lukanya belum sembuh. Dan ini masih menyakitkan.

Bagian 3[edit]

Kecakapan perseptif dari seorang manusia memiliki kapasitas tertentu; otak kita seperti komputer dan hanya bisa memproses jumlah data tertentu. saat ada kelebihan informasi, mereka berhenti bekerja dengan benar dan mulai memunculkan pesan kesalahan.


Penglihatan didepan mataku menghalangiku dari dorongan emosional apapun.


Di situ ada mayat; mayat ibuku. Ada mayat; mayat ayahku. Di situ ada mayat; mayat adikku. Lantainya tertutupi oleh genangan darah. Woow, bagaimana aku harus berjalan dilantai yang begitu becek? Tidak, bukan itu masalah disini, 'kan? Woow-woow, mereka mati, bukan? Kamu pasti bercanda. Ini bukan serial TV. Kematian brutal seperti itu tidak terjadi disekitarku. Tapi, ini terlihat cukup nyata. Haha, hei, ini tidak terkendali. Aku tidak bisa percaya ini. Dan sedang apa gadis disana itu? Siapa gadis yang luar biasa cantiknya itu? Ada apa dengan pisau-bersimbah-darah-yang dia bawa itu? Woow-woow-wooow-wooow! Ini ulah KAMU? Meskipun kamu berwajah cantik? Tunggu sebentar! Jangan membuatku marah! Siapa yang mengijinkanmu membunuh keluargaku? Kamu siapa, lagian? Kamu siapa?! Kamu siapa sialan?!


“Seperti yang kukira…”

Apaan yang seperti kamu kira?! Aneh kamu! Gila Kamu!


“Manusia mati ketika kamu menikam mereka.” Iya-lah. Semua anak kecil tahu itu. Semua orang tahu itu, walaupun tidak ada seorang pun yang benar-benar membuktikan kebenarannya.


Benar. Keluargaku mati.


Mati?


Ya, mereka mati…kan?


Mereka mati. Ya, mereka mati. M-A-T-I.


“A…ah…” aku akhirnya mulai mengerang.


Mereka terbaring dilantai. Ibuku, ayahku, adikku, mereka semua terbaring dilantai, tak bernyawa. aku sedang menonton TV sampai beberapa saat lalu. Aku naik keatas sebab mereka marah denganku karena aku menendang adik perempuanku. Apakah itu menjadi adegan yang tidak akan terjadi lagi? Apakah gadis itu telah mencurinya dariku? Apakah itu mungkin? Mampukah dia melakukan itu?


“Apakah kamu mau mati, juga?” Dia mampu. Gadis itu mampu melakukannya.


Tolong aku tolong aku tolong aku! TOLONG AKU, bu! Ah dia sudah mati! Seseorang! Seseorang tolong aku!


Aku terjungkal dan merangkak mundur, membasahi celanaku. Tentu aku tidak bisa kabur kalau seperti ini, tapi aku tidak bisa berdiri juga.


Dia mendekat.


“H-Hentikan…” Namun, kata-kataku diabaikan. Mengarahkan pisaunya padaku, dia semakin mendekat.


Lalu dia mengayunkannya.


“Hentikan itu! BERHENTIIIII!”


Kemudian aku terbangun sebagaimana biasanya.


Aku mengeluh sembari meneguk sup misoku.


“Oh, Atsuhi, kenapa kamu mengeluh ketika hari baru saja dimulai?” bibiku sedikit menegurku dengan sebuah senyuman dan menaruh sepiring telur goreng dihadapanku.


“Aku bermimpi itu lagi…” aku jawab selagi aku menuang saus kecap diatas telurnya.


“Aku mengerti. Semakin sering akhir-akhir ini.”


“Ya.”


“Ya ampun…kenapa gadis itu punya dendam kepadamu?”


Suatu dendam. Jika motifnya sangat sederhana dan masuk akal, aku tidak akan serusak sekarang.


“Mungkin kamu sedikit gelisah karena ujian penerimaan sudah dekat?” dia berkata dengan nada khawatir. Dia khawatir; dengan kata lain, aku membuatnya khawatir.


Ini buruk. Aku tidak boleh membuatnya khawatir terlebih saat dia sudah khawatir tentang keberadaanku dalam perawatan mental.


“Ahaha, tapi aku bahkan belum mulai belajar?” aku tertawa sambil aku memegang dadaku.


“Kamu belum? Aku pikir itu cukup menimbulkan masalah, juga!”


Ketika bibiku berkata begitu, aku bisa membaca kata-kata “melegakan ketakutanku tidak beralasan” dari wajahnya.


Ketakutan yang tidak beralasan. Ya, ketakutannya seharusnya sudah tidak beralasan.


Namun, itu suatu fakta kalau mimpinya terasa lebih mengganggu dari biasanya.


Aku mulai bermimpi buruk setelah kejadian itu terjadi. Selama bulan pertama, aku tersiksa karena mimpi itu setiap malam, dan setiap kali aku, sangat terganggu dengan itu aku tidak bisa makan apapun.


Tapi kamu akan terbiasa bermimpi buruk apapun seiring waktu; belakangan ini, aku hanya akan memikirkan itu sebagai suatu “Mimpi yang jelek.”


Biarpun begitu, hari ini berbeda. Dia tidak hanya melukaiku didalam mimpiku, dia juga melukaiku dalam kenyataan pula.


Aku memegang dadaku.


Mimpi burukku telah bocor kedalam kenyataan dan sedang menyerangku dari situ. itu semua karena aku telah bertemu Reina Kamisu tempo hari. Mimpi buruk itu bukan sekedar mimpi buruk; itu adalah masa laluku yang tidak berhenti menyiksaku.


Karena bertemu Reina Kamisu, mimpi burukku telah menjadi kenyataan. Dia menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menyerangku.


Bertubi-tubi, dia akan menyerangku.


Sekarang, berapa lama hatiku mampu menahannya?




Aku memasuki kelas, baru saja terkejut seperti kemarin.


Ashizawa memotong habis rambutnya, menanggalkan rambut coklat dan panjangnya.


Aku meragukan kalau salah satu guru BK memaksanya melakukan hal itu; mereka tidak akan berbuat sejauh itu. Itu pasti keinginan dia sendiri.


Ashizawa patah semangat belakangan ini, yang, tak perlu dikatakan, karena dia menyalahkan dirinya sendiri untuk kematian Saito. Ketika dompet yang dia beri ke Mizuhara robek, dia marah kepada Saito yang membuatnya memojokkan dan mengintimidasi Saito.


Aku hadir ketika itu terjadi dan mengamati mereka, berencana turun tangan seandainya dia menjadi kasar…tidak, aku tidak tahu apakah aku benar-benar berniat untuk campur tangan. Mungkin, aku hanya berdalih untuk mengkhawatirkan Saito. bagaimanapun, aku mengamati mereka tanpa melakukan apapun.


Setelah melihat Ashizawa memotong rambut, hati nuraniku mulai diliputi rasa bersalah.


Aku tidak tahu seberapa besar kejadian itu berperan dalam kematian Saito, tapi aku yakin kalau kejadian itu memang memiliki efek. Itu adalah aspek lain yang menggiring Saito melakukan bunuh diri.


Namun Bagaimana jika disana ada seseorang yang berusaha menolong Saito ketika dia dikepung oleh Ashizawa dan teman-temannya? Bagaimana jika dia punya rekan yang tidak peduli akan tekanan yang diterapkan Ashizawa? Akankah hasilnya berbeda? Bukankah kita, orang yang bimbang untuk membela Saito, pendosa yang sebenarnya?


“Rekan” itu bisa saja aku.


Ashizawa telah mengenakan suatu hukuman nyata pada dirinya sendiri seperti seorang pendosa sesungguhnya. Mungkin merasa lalai dan tak beralasan dengan hukuman itu, dia membuat bukti penyesalannya.


Lalu bagaimana dengan kita? Kita menyangkal tanggung jawab apapun dan mengurangi masalah dengan sedikit perasaan iba. Bukan Ashizawa atau Kimura atau Mizuhara yang memojokkan Saito, tapi kita yang berusaha menjauhinya sampai akhir.


Tiba-tiba, sebuah pertanyaan melintasi benakku.


Kalau dipikir-pikir – Bukankah Saito memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongan?


Pada jam makan siang diisi dengan topik Saito dan Kimura karena kepala botak Ashizawa sangat menarik perhatian. Karena rasa amat kasihan kepada Saito menyebar (mereka semua kelihatan merasa bersalah), Takatsuki dan teman-temannya dalam posisi canggung, menjadi orang-orang yang menyalahkan Saito.


Aku sudah selesai memakan bekalku dan sedang mengamati kelasku, sikuku bertumpu di meja.


Ashizawa terlihat seperti seorang biksu, dan grup Takatsuki tampak seperti kucing-kucing didalam rumah yang tidak dikenal.Ingin tahu apa yang sedang Mizuhara lakukan pada dirinya, aku memandanginya.


Wajahnya yang cukup cantik bahkan terlihat lebih lelah dari sebelumnya. Dia pasti sadar peran inti yang dia mainkan dalam kedua bunuh diri Saito dan Kimura.


Selagi aku memandanginya, dia menoleh kepadaku dan kedua mata kami bertemu.


Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku untuk pura-pura tak tahu, tapi pandangannya tetap kearahku. “Tak usah pikirkan aku!” aku teriak dalam pikiranku sembari memastikan kalau aku masih diawasi.


Namun, teriakan bisuku tetap tidak terdengar; dia berdiri dan berjalan ke kursiku.


“Kogure-kun.” Sekarang dia memanggil namaku. Dia memandangku nampaknya bukan suatu kebetulan atau karena dia memperhatikan pandanganku.


“Jadi…Ada apa, Mizuhara?” aku bertanya saat menaikkan kepalaku, tampak terganggu.


“Kamu pintar, bukan? Maksudku, kamu selalu peringkat satu di kelas ini dan kamu terbaik diantara kita pada tahun pelajaran kita, kan?


“Kamu berbicara tentang nilaiku, tapi ada perbedaan antara pintar dan punya nilai bagus.”


Mizuhara terdiam bingung untuk sesaat, tapi akhirnya berbicara lagi, “…Tapi kamu satu-satunya yang aku pikir dapat membicarakan hal ini. Bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar, kumohon?”


“Aku pikir ada orang lain yang bisa memberimu saran yang lebih baik.”


“Mmm…aku tidak terlalu meminta saran. Kita jangan membicarakan ini disini – ayo kesana.”


Mizuhara menarik lengan bajuku. Kelihatannya dia bersikeras ingin bercakap-cakap denganku.


“Wow, berhenti, sekarang. Ashizawa akan marah saat melihat kita bersama.”


“Dia tidak akan.”


“Oh, benarkah? Maka dia pasti cukup pemaaf.”


“Tidak, kita sudah...putus.” Terkejut, aku membeku seketika.


“Ah…aku mengerti,” aku berucap dengan suara tenang tak memihak tapi ekspresiku baru saja menyerah. Sekarang kalau dipikir, tidak ada hal yang begitu mengejutkan. Ketika pengalaman cinta di masa SMA mungkin buta dan penuh ambisi, itu juga tidak bertahan lama. Ikatan mereka tidak cukup kuat untuk menahan aral yang menimpa mereka – begitulah semua.


Dan ikatan itu membinasakan Kimura

Sayang sekali.


Mizuhara membawaku ke bordes tangga sebelum pintu menuju atap. Tangga ini hampir tidak digunakan, jadi mungkin tidak akan ada tamu tak diundang. Dia pasti sudah menggunakan tempat ini untuk diam-diam bertemu dengan Ashizawa.


“Kami ke sini kadang-kadang. Toshiki dan aku.”

Nah benar kan.


“Kamu…kamu tahu tentang surat cinta palsu yang aku gunakan untuk mengusik Saito-san, kan?” dia bertanya.


“Ya.”


“Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal itu?”


“Tidak, sama sekali tidak? aku menduga kamu hanya gemas dengan Saito, dan aku pikir tidak ada alasan lain lagi untuk diketahui.”


“Mungkin…itu benar…tapi aku, aku juga ingin membantu-“


“Aku tidak peduli. Simpan saja ceritamu itu.” Itu hanya alasan yang dia karang.


“Tidak, dengarkan aku dulu sampai selesai! Aku akui…kami pernah melihat dia ketika kami bertemu disini.”


“Benarkah…? Urusan apa yang Saito lakukan disini?”


“Itu masalahnya…dia bergumam sesuatu ke dirinya sendiri.”


“Ke dirinya sendiri?”


“Iya, ke dirinya sendiri, tapi seolah-olah mengobrol dengan seseorang. Aku mencoba mengikuti lirikannya beberapa kali, tapi tidak ada orang disitu.”


Itu bukan hal yang penting; Saito tidak punya teman yang bisa diajak bicara, maka itu masuk akal kalau dia melepas hasrat ingin berbicaranya saat dia sendirian.


“Jadi kamu tahu itu menyeramkan, makanya kamu mengusik dia?” aku menyimpulkan.


“Aku pikir itu menyeramkan, memang benar…”


Aku mengerti. aku mengerti kalau Mizuhara ingin campur tangan setelah melihat adegan seperti itu.


“Terus? Itu bukan alasan kenapa kamu membawaku kesini, kan?”


“Iya, bukan…” dia ragu-ragu sebentar.” Kogure-kun…apakah kamu percaya hantu?”


Percakapan berubah tiba-tiba.


“Hantu? Tidak. Yah, aku pikir mereka mungkin ada, karena banyak orang mengklaim hal tersebut…”


“Bagaimana dengan roh gentayangan?”


“Omong kosong.”


Tunggu, tunggu, kenapa Mizuhara bertanya hal seperti itu? Apa maksud dibalik pertanyaan absurd itu? –Woow-woow, apakah dia menyiratkan kalau Saito mengobrol dengan hantu? Waktunya untuk sadar, bukan? Aku hampir tidak berhasil menahan nalarku.


…Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan. Mizuhara berkata dia sedih karena penglihatan terhadap Saito yang mengobrol ke dirinya sendiri. Dia tidak akan merasa kesal bila cerita-hantu itu adalah kesan pertamanya, tapi sesuatu seperti ketakutan atau bahkan mungkin kecemburuan, benar kan?


Apakah itu berarti ada suatu hal yang membuat dia menyimpulkan kalau Saito telah mengobrol dengan hantu?


“Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau Saito mengobrol dengan hantu?”

Mizuhara mengangguk.


“Apa penyebab kamu sampai pada pemikiran seperti itu?”


Mizuhara terdiam. Tampaknya dia merasa takut untuk menuangkan pemikirannya ke dalam kata-kata, dia akan membuat itu menjadi suatu hal yang pasti.


Namun, dia akhirnya membuka mulutnya.


“Karena…,” dia bergumam sesuatu, “…mati…”


“Karena Saito mati? Bagaimana hal itu bisa menjelaskan segalanya?


“Bukan!” Mizuhara menyanggah.


“Apa? dia mengobrol dengan hantu dan itu alasan kenapa dia mati? Itu tidak – “


“Bukan begitu! Bukan karena Saito-san yang mati!”


“Terus siapa – “


Aku berpikir. Tidak, tidak perlu berpikir. Hanya ada satu orang lain lagi yang dipertanyakan.


“Bukan Saito-san, tapi karena Kimura-kun mati.”


Aku harus mengakui kalau aku sedikit bingung.


Ini tidak masuk akal. Bukan hanya dia berpendapat keberadaan sesuatu yang tak ilmiah seperti hantu, dia juga terus menerus bicara hal yang membingungkan.


Aku dengan teliti memilah semuanya di dalam kepalaku, berpikir setiap poin secara logis, dan sampai pada kesimpulan dengan sangat cepat.


“Jadi…kamu melihat dia, benar?”


Dia mengangguk secara perlahan.


“Kamu melihat Saito mengobrol sendirian dengan sesuatu itu, yang sederhananya karena sesuatu itu membuat dia seperti orang aneh. Tapi kamu juga melihat Kimura melakukan hal yang sama.


Mizuhara mengangguk.


Aku berjeda sebentar dan melihat sekeliling. Kalau hantu benar-benar ada, maka aku tidak akan kaget bertemu dengannya disini. Pemikiran itu membuat bulu kudukku merinding, tapi tentu saja itu hanyalah khayalanku yang sedang mempengaruhiku.


Namun, sebenarnya, seseorang mati disisi lain pintu ini.


“Apa kamu…apa kamu pikir kebetulan seperti itu mungkin terjadi?” Mizuhara bertanya ragu-ragu.


“Apa yang kamu sebut ‘kebetulan’…?”


“Seperti yang kubilang…Saito-san dan Kimura-kun, mereka berdua mengobrol dengan sesosok hantu, mereka berdua melihat sesosok hantu, dan mereka berdua bunuh diri. Apakah menurutmu kebetulan seperti itu mungkin terjadi?”


Suatu kebetulan.


Dia benar; ini akan menjadi kebetulan yang aneh.


Bagaimanapun, bukan hanya mereka mempunyai alasan yang layak untuk bunuh diri, mereka juga tidak ragu mengakhiri hidup mereka dari kehendak bebas (free will) [2] mereka sendiri.


Semula, itu adalah hubungan sebab akibat diantara kematian mereka: Kimura tidak akan mati jika bukan untuk kematian Saito. Kematian mereka tidak disebabkan oleh suatu kebetulan.


Tunggu dulu…


Tidak ada tempat untuk suatu kebetulan disitu. Dengan kata lain, Ketidakhadiran suatu kebetulan ini yang membuat mencurigai makhluk apapun itu.


“Kamu meragukannya juga, bukan, Kogure-kun?” Mizuhara menegaskan. Aku dengan cepat menyembunyikan ekspresiku.


“Tahu tidak apa yang aku pikirkan?” dia bertanya, “Aku pikir sebenarnya tidak satupun dari mereka yang melakukan bunuh diri.”


Mukanya pucat pasi. Akhirnya, aku menyadari kalau bukan perasaan bersalah yang telah sebegitu membuat lelah dia.


Mizuhara ketakutan.


Ketakutan dari apapun yang menggiring dua orang lain kedalam kematian yang membuat lelah dia.


“Mereka telah dibunuh,” dia berkata dengan keyakinan takut,


“Sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati."



Seperti kemarin, aku mulai mengawasi Reina Kamisu ketika meminum milkshake diskon di McDonalds.


Namun, ketika mataku mengarah ke jendela, hampir semua sel sarafku terpakai untuk berpikir. Aku telah mengingat kembali diskusi dengan Mizuhara beberapa kali, berusaha menarik kesimpulanku sendiri.


Aku tidak bisa mengetahui seperti apa apapun yang dia panggil “hantu”, tapi mentolerir kalau “fenomena” itu adalah kemampuan berkomunikasi, itu bisa mencampuri hubungan dengan orang lain dan karena itu mempengaruhi kehidupan mereka ke tingkatan tertentu.


Pengaruh itu sudah membunuh dua orang?


Dikutuk sampai mati.


Yah, mungkin kamu bisa bilang itu sebuah “kutukan”.


Tapi apakah begitu mudah untuk menuntun seseorang mati? Tidak mungkin. Tidak peduli betapa enteng kamu menafsirkan hidup dan mati, semua orang tahu bahwa kematian adalah penghabisan dan tak dapat dipulihkan. Kata-kata orang tidak membunuhmu; itu suaramu sendiri yang menuntunmu ke sana. Atau suatu dorongan hati yang tiba-tiba. Bagaimanapun, manusia tidak mati sebegitu mudah.


Atau apakah makhluk, apapun itu, mempunyai kuasa untuk memanipulasi mekanisme ini dengan mudah?


Disisi lain…mereka berdua memiliki alasan kuat untuk bunuh diri. Saat kata-kata tak berguna melawan orang yang setara denganmu, mungkin bagus untuk memberi seseorang dengan dorongan terakhir naluri bunuh diri.


Namun, aku menggelengkan kepalaku.


Aku mulai berpikir tidak realistis; aku harus memikirkannya lebih rasional.


Pemikiran rasional. R-A-S-I-O-N-A-L. Mengerti?


…Ya.


Benar…pertama-tama, aku harus menganggap kemungkinan bahwa segala sesuatu yang Mizuhara katakan padaku hanyalah bentukan dari imajinasinya. Pendapatku, dia seorang gadis keras kepala.


Dia tahu kalau dia membagi rasa bersalah untuk kematian Saito dan Kimura. Mungkin dia tak mampu mengakui rasa tercelanya dan oleh karena itu lari dengan membuat alasan Kimura berbicara dengan dirinya sendiri, yang terus menerus dia buat entah dari awal atau karena menyalahpahami suatu percakapan normal untuk kenyamanan dirinya sendiri.


Dengan kata lain, sejak awal makhluk itu tidak ada.


Kalau itu? Apakah membuat lebih masuk akal?


…Cih. Sungguh usaha yang menyedihkan memaksakan alasan ke dalam masalah ini.


Tidak yakin dengan nalarku sendiri. Aku mencoba fokus ke luar jendela dan akhirnya menakuti beberapa pejalan kaki dengan suatu tatapan tajam.


“Apa yang sedang kamu cari dengan sefokus itu?” seseorang bertanya dari belakangku.


Aku akan dengan senang hati menjelaskan kalau aku sedang mencari seseorang –


–Tapi perkataanku tertahan didalam tenggorokanku dan memaksa kembali ke bawah hingga menghilang seluruhnya.


Kulitku merinding.


Sesuatu menetes dari ujung jariku selagi mulutku berubah terdiam dan bola mataku membelalak.


“-Ah”


Aku tahu…


Aku tahu suara itu.


Meskipun aku hanya mendengarnya beberapa kali, suaranya terukir dalam di otakku dan semenjak itu tidak akan menghilang dariku.


“Ada apa? Kamu tidak mau memberitahuku apa yang sedang kamu cari?”


Ini sakit.


Luka di dadaku menyakitkan.


Terbuka lagi seluruhnya, juga meluap dengan suatu cairan menyerupai darah – seakan-akan bereaksi kepada penggoresnya.


Aku tidak boleh, kalah.


Aku pegang dadaku dan menengok ke orang yang memanggilku dengan keinginan kuat.


Sesuatu menembus melalui mataku selagi aku mengenali wajahnya, membuatku melawan dorongan untuk menutup mataku, untuk memalingkan mataku.


Bagaimanapun, aku sudah menunggu kesempatan ini.


Aku harus bertahan sekarang.


“Aku sedang mencari kamu, Reina Kamisu, mencarimu!” Aku cemberut kepada Reina Kamisu. Semakin aku mempertajam tatapanku, semakin melemah rasa sakit yang aku derita di dadaku.


“Oh benarkah?” dia tersenyum kepadaku dengan sebuah senyuman nan begitu sangat cantik yang nampak palsu.”Dan apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Balas dendam?”


Balas dendam, berucap Reina Kamisu dengan masa bodoh.


“Ya, aku ingin melakukan itu,” aku menjawab setenang sebisaku, ketika menekan nafsu amarah yang mendidih.


“Jadi ada maksud lain jika kamu bicara seperti itu?”


“Ya”


“Aku menyimak?”


“Mungkin kamu merasa insiden itu sekedar masa lalu dan tak ada yang berubah. Tapi tidak untukku. Aku masih menderita efeknya setiap hari. Kamu masih mengacaukan hidupku!”


“Yah, aku mengira tak seorangpun yang menjadi korban insiden seperti itu bisa menerima hal itu dengan mudah” Reina Kamisu berkata dalam nada masa bodoh, memberiku dorongan untuk menyerang dan mencekiknya sampai mati. Tapi aku harus menahan melakukan itu; tanpanya aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang aku cari.


“Lalu? Apa yang kamu inginkan dariku?”


Reina Kamisu tidak menunjukkan rasa bersalah. Apakah dia benar-benar blak-blakan atau dia sengaja berakting seperti itu? Aku sepertinya tidak bisa memutuskan antara dua kemungkinan itu.


Sebelum kelewat batas, aku menghapus nafsu amarahku, yang mana hampir meledak;ya, aku tidak menahannya, aku menghapusnya. Jika tidak aku tak akan bertahan lebih lama. Aku mencoba menolak semua kesan yang aku punya terhadap Reina Kamisu.


“-Aku ingin mengetahui kebenarannya,” aku mendesak


“Kebenaran?”


“Ya, alasan kenapa kamu membunuh keluargaku.” Memperoleh alasan itu adalah prioritas nomor satu bagiku.


Aku ingin bangkit dari pandangan dasarku saat ini. tapi untuk melawan rasa sedih, takut, putus asa, dan marah yang kekal itu, aku harus mendobrak suatu dinding.


Dinding pertanyaan.


Setelah tersulut, kebencian tidak akan lenyap; harus menerima gangguan dan menghapusnya. Dalam proses melakukannya, entah bagaimana, pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab membentuk suatu halangan yang besar. Aku mungkin mampu mentolerir masalah ini yang entah bagaimana memberi alasan atau sesuatu untuk memuaskan diriku, tapi sebenarnya, aku bahkan tidak punya cukup informasi untuk melengkapi diriku. Pertanyaanku hingga kini masih tak terjawab.


Karena itu, aku tidak punya cara mencerna beragam perasaan kelam didalam diriku.


Namun, tak mampu memahami keadaanku, Reina Kamisu memiringkan kepalanya :


“Apakah penting mengetahui hal itu?”


“Penting. Makanya aku bertanya.”


“Begitukah…? Aku tidak lihat dimana pentingnya.”


“Aku tidak meminta pendapat sialanmu! Aku sedang bertanya kepadamu sekarang! Apakah kamu bahkan punya sebersit ide berapa banyak ‘diriku’ telah kamu ambil dari tubuhku?! Kamu berhutang beberapa penjelasan kepadaku!” aku tak sengaja berteriak. Sial, aku gagal untuk meredam kemarahanku. Meski lubang terkecil dalam penjagaanku pun tidak akan diperhatikan oleh kemarahanku.


Tahan, tahan, tahan.


“Sikapmu berubah,” dia memperhatikan dengan tetap masa bodoh. “Dengar, aku tidak mencoba untuk mengusikmu. Aku akan senang hati memberimu sebuah jawaban, sungguh. Tapi sebesar apapun keinginanku untuk menjawabnya, aku tidak bisa.”


“-Kenapa?!”


“Karena tidak ada jawaban yang bisa memuaskanmu.”


“Yah…mungkin itu benar. Keluargaku tidak akan kembali, dan aku tidak akan bahagia meski apapun yang kamu katakan. Tapi…bukan itu yang aku tanyakan. Aku sangat sadar akan hal itu!”


“Bukan, bukan itu yang aku maksud.”


“Lalu apa yang kamu maksud…?1”


“Kamu ingin aku memberitahumu alasan kenapa aku melakukan apa yang sudah aku lakukan, benar kan?”


“Ya.”


“Hm…”


“Percaya atau tidak, aku memahami kalau kamu mempunyai jalan pikiran yang sepenuhnya berbeda dariku. Itu tak bisa dihindari bila alasanmu tak masuk akal olehku. Aku tidak peduli. Tahu sedikit lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.”


Untuk pertama kali, Reina kamisu dengan seksama mendengarkan perkataanku.


Dia menatapku, berusaha memahami keadaanku, berusaha memahami maksud dibalik perkataanku.


Aku bernapas lega. Reina Kamisu tidak bodoh, tidak pula dia memendam dendam kepadaku. Oleh karena itu, tidak mengejutkan kalau aku mengharapkannya memberiku jawaban yang telah aku nanti.


Namun –


“Tapi masih…” dia mengeluh untuk suatu alasan.


“…Apa?”


“Aku masih tidak punya jawaban yang kamu inginkan.” Mataku melebar.


“Sudah cukup! Jangan bilang kalau kamu tidak punya alasan untuk membunuh! Pasti ada semacam motif, tak peduli betapa sintingnya dirimu!”


“Alasan? Ya, mungkin ada bila dilihat lebih teliti.”


“…Penglihatan yang lebih teliti?”


“Tapi aku benar-benar tidak pernah mengerti.”


Dia…tidak mengerti?


“Kamu tidak akan memperoleh penjelasan yang tepat untuk segala yang ada di dunia, begitu pula untuk pembunuhan yang aku lakukan; atau apakah itu sudah cukup membuatmu puas?”


“T-Tentu saja tidak!”


“Aku seharusnya tahu.”


“Kamu tidak tahu alasannya? Aku tidak percaya! Atau apakah maksudmu kalau kamu membunuh orang hanya seperti…seperti meminum air?!”


“Tentu saja tidak. dan asal kamu tahu: bukannya aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasakan…suatu dorongan hati. Aku harus membunuh seseorang. Aku harus memastikan jika manusia benar-benar bisa mati di tanganku. Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu. Aku tidak mengetahui, bagaimanapun juga, darimana dorongan hati itu muncul. Aku pikir akan ada suatu alasan bila dilihat lebih teliti, tapi pada akhirnya aku tidak menemukannya. Kenapa kita meminum air? Karena kita haus; karena jika tidak minum kita akan mati. Tapi…kenapa kita dirancang untuk mati jika dari awal kita tidak meminum air? Aku tidak tahu. Kenapa aku mendapat keinginan untuk membunuh? Aku tidak tahu.”


Dengan kata lain…usahaku untuk memahami Reina Kamisu dan alasannya membunuh keluargaku mungkin tidak bisa berhasil – karena dia pun tidak memahami dirinya sendiri.


Aku tidak akan mengetahui jawaban yang sedang aku cari dimanapun di dunia.


“Menyakitkan hati untuk mengatakan ini, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya…”


Tidak penting mengetahui kebenarannya.

Lukaku terbuka.


Tidak, segores luka yang dari awal belum sembuh tidak “terbuka.”


“Satu hal lagi,” dia berucap.


Ini menyakitkan.


“Kamu bilang kalau kamu tidak menganggap insiden itu sekedar masa lalu, iya kan?”


Sialan, ini menyakitkan.


“Aku rasa aku tahu kenapa begitu.”


Ini menyakitkan, sial, ini menyakitkan!


“Kamu tampaknya berpikir kalau aku hanya membunuh keluargamu, tapi itu salah.”


Ah, aku mengerti.


Itulah kenapa lukaku belum sembuh; karena dia sudah menghancurkan kemampuanku untuk beregenerasi.


“Aku juga sudah membunuhmu!”


Benar – aku sudah mati.


Bagian 4[edit]

Aku tidak boleh membuat khawatir bibiku. Akan tetapi…aku sudah membolos sekolah untuk beberapa hari, tak mampu menggerakkan otot-ototku.


Aku mati.


Tak perlu dikatakan, itu adalah suatu perumpamaan; dari sudut pandang biologis, aku sangat hidup dan mampu berpikir.


Namun – ada segores luka di dadaku yang terhubung ke masa lalu. Selama aku mempunyai luka ini, aku akan terus menerus mengingat kembali ke hari itu dan terluka oleh Reina Kamisu.


Reina Kamisu akan tetap menghancurkan segala yang aku punya – kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, impianku – menginjak-injak, meniadakannya.


Hal yang tersisa untukku adalah perasaan dari insiden itu. Perasaan yang tidak akan memberiku ketenangan kemanapun aku pergi dan betapapun aku lama menunggu.


Oleh karena itu, aku terbelenggu di satu tempat, tak boleh untuk melangkah ke masa depan.


Dan karena itu, kehidupanku menuju pemberhentian.


Maka, kamu bisa bilang kalau aku “mati”.


…Bedebah.


Aku sepenuhnya menderita karena Reina Kamisu.


Bagaimana aku harus menjalani kehidupanku sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melanjutkan hidup tahun demi tahun bersama dengan luka di dadaku? Bagaimana bisa aku menjawab itu?


Tidak…tidak tepat.


Bagaimana bisa aku memutuskan mengenai hal itu?


Aku sedang berada dalam pusaran pemikiran tak berguna yang, meskipun tak berguna, berusaha memperdayaku.


Namun, tiba-tiba : “Atsushi? Aku pulang!” sebuah suara terdengar dan menarikku kembali kedalam kenyataan.


“Oke…”


Setelah mendengar jawabanku, bibiku masuk ke kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur diatasnya.


Rasa bersalahku menguat. Aku berpura-pura sakit dan menyembunyikan alasan sebenarnya ketidakhadiranku; aku tidak ingin membuat khawatir bibiku dengan memberitahunya kalau ini benar-benar persoalan mental.


“Apakah kepalamu masih sakit?” dia bertanya setelah menaruh nampannya diatas mejaku.


“Ya…”


Bisikan hatiku menusukku; aku berbohong kepadanya. …aku tak punya pilihan lain. Aku minta maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain.


“Apa kamu sungguh merasa baik-baik saja? Ini sudah 3 hari lebih. Apa kamu ingin aku menemanimu ke rumah sakit?”


“Aku baik-baik saja.”


Dia diam-diam memandang ke wajahku untuk beberapa saat, dan akhirnya mengangguk dengan sebuah senyuman lembut.


Senyumannya melahirkan dugaan samar-samar dalam diriku : Mungkin dari awal dia sudah melihat kebohonganku, dan apakah dia berpura-pura tidak melihat karena dia tak berdaya?


“Atsushi? Ini hari rabu, kamu ingat?”


“Mm…ah.”


“Apakah kamu ingin membatalkan sesi konsultasi mingguan dengan doktermu? Aku bisa menghubunginya jika kamu mau.”


Biasanya, saat jam-jam seperti ini aku harus menghadiri konseling mental, tapi karena aku sedang berpura-pura sakit, aku tidak boleh ketahuan.


“Ya, tolong. Bolehkah aku memintamu menghubunginya, ibu?”


Sebelum aku selesai berbicara, matanya melebar. Terkejut oleh reaksinya, aku mengingat kembali perkataanku.


Ah… aku baru saja memanggil bibiku “ibu.”


Tidak yakin bagaimana mengatasi situasi canggung ini, aku tanpa kata memandangnya. Muka terkejutnya perlahan berubah kembali menjadi senyuman lembut yang familier.


“Kamu akhirnya mengatakannya,” dia tersenyum dengan suatu isyarat kegembiraan.


“Itu…itu hanya kekeliruan.”


“Aku tak keberatan, Atsushi. Dalam hal ini, aku hanya akan menganggapnya kalau kamu begitu menyukaiku yang membuatmu seketika keliru antara aku dengan ibumu.”


Apakah begitu…?


Tentu saja, aku berterima kasih kepadanya – sungguh – tapi bukankah itu membuktikan kalau kita bukan keluarga asli? seandainya aku anak kandungnya, aku mungkin tidak akan berterima kasih. Aku akan menganggap cinta yang dia berikan kepadaku hal yang sangat natural. Aku hanya akan menerima cintanya dan tak melakukan apa-apa sebagai gantinya.


Namun, jika aku memberitahu bibiku itu sekarang, aku hanya akan membuatnya sedih.


Tak ingin dia mendengar pendapatku, malahan aku bertanya sesuatu lagi.


“Lalu bolehkah aku memanggilmu ibu mulai sekarang?”


“Tentu saja kamu boleh! Kamu adalah anak kami, Atsushi! Suamiku mungkin nampak dingin kepadamu, tapi perasaannya benar-benar melekat padamu, juga.”


“Ya, aku tahu.”


Aku seorang anak-anak. Pada dasarnya, aku menghabiskan banyak uang. Bahkan, aku akan lebih banyak menghabiskan setelah aku menyelesaikan pendidikan wajibku dan masuk SMA. Meskipun begitu, pamanku tidak pernah membuat satupun keluhan.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami bahkan ditetapkan sebagai orang tuamu oleh hukum.”


“Ya…”


“Bisakah kamu…bisakah kamu memanggilku lagi?”


“Hah?”


“Cepat!”


Menahan rasa canggung, aku berucap, “Ibu.”


Bibiku mengangguk dengan rasa bahagia.


Ibu.


Tentu saja, aku merasa tidak suka memanggilnya seperti itu.


karena aku terbiasa memanggilnya bibi? Benar, tapi ada lebih rasa sungkan yang aku rasakan. Kenapa begitu? Kenapa?


Padahal, aku sudah lama tahu kalau dia menginginkanku memanggilnya ibu, yang juga dia tidak menyukai kata bibi karena itu menempatkan suatu jarak antara kita.


Aku selalu berterima kasih kepadanya, dan ingin membuatnya bahagia jika memungkinkan. Jika aku bisa membuatnya bahagia dengan sesuatu yang sederhana seperti merubah caraku menyapanya, aku akan melakukan itu kapanpun tanpa pikir dua kali.


Lalu kenapa aku terus memanggilnya bibi sampai hari ini?


“Aku punya satu pertanyaan, ibu.”


“Ya?”


“Apakah kamu – “ aku berhenti ditengah kalimat. Tidak ada jalan kembali setelah aku mengucapkan lanjutan perkataan ini.


Tidak…aku sudah menyadarinya, maka aku bagaimanapun tidak boleh kembali.


“ – Apakah kamu pernah mendengar Reina Kamisu?”


Aku sedang duduk di sofa didalam ruangan Dr. Mihara. Sebagaimana tingginya keinginan untuk merahasiakan alasan sebenarnya aku membolos dalam daftar prioritasku, aku tak peduli lagi. Aku perlu berkonseling. Lebih tepatnya, aku harus mengobrol dengan Dr.Mihara.


“Hai Atsushi-kun,” dia berbicara kepadaku selagi memasuki ruangan.


“Hai,” aku menjawab. Dia duduk dikursi seberang dariku.


“Jadi,” dia mengutip kata-kata yang sering dipakai, “Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”


“Banyak hal yang telah terjadi.”


“Oh? Maukah kamu memberitahuku?”


“Tentu, itulah alasan kenapa aku disini.”


“Benar,” dia mengangguk. Karena dia seorang psikiater, sangat sulit membaca pemikiran aslinya dari ekspresinya, tapi aku bisa tahu kalau dia memperhatikan sesuatu pada diriku telah berubah.


“Pertama-tama, aku mempunyai suatu mimpi.”


“Oh? Mimpi seperti apa?”


Dia sering memintaku untuk memberitahunya tentang mimpiku. Aku menduga dia berusaha menganalisa mimpu itu dan mencari kedalaman kesadaranku.


“Suatu mimpi dimana aku terbunuh oleh Reina Kamisu.”


Dr. Mihara mengamati dengan teliti wajahku selagi aku berbicara, ketika aku mengamatinya, berusaha memperhatikan setiap perubahan.


“Yang berarti kalau didalam mimpi itu seorang gadis membunuhmu, benar? Dengan sebilah pisau dapur?”


“Ya. Terus, dokter, namanya adalah Reina Kamisu.


Memandangku dengan teliti, dia menjawab, “Aku mengerti.”


“Dokter.”


“Ya?”


“Aku telah memimpikan itu sementara waktu saat ini, iya kan?”


Setelah berpikir sebentar, dia mengangguk, “Itu benar.”


“Itu tak sulit untuk memahami kenapa aku akan bermimpi seperti itu: karena aku belum bisa menerima dengan kejadian itu. Benar?”


Nampaknya kalau aku sudah agak mengejutkan langkahnya.


Selama sepanjang tahun berkunjung kesini. Aku menyadari kalau dia tidak pernah memberiku jawaban. Dia hanya mendengarkanku. Dia berusaha menolongku menemukan jawaban diriku sendiri dengan mendengarkan.


Semua itu yang sesungguhnya dia lakukan. Sudah beberapa kali aku terganggu oleh itu, tapi aku menduga itu cuma aturan bagaimana psikoterapi bekerja.


Pasti merepotkan dari sudut pandangnya mendesak untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri.


“…Aku pikir begitu,” dia berucap, akan tetapi, setelah muncul kesimpulan kalau tidak ada ruginya mengucapkan itu.


“Apakah itu semua?” aku bertanya.


“…Semua?”


“Apakah itu semua pandanganmu terhadap mimpi itu?”


Dia secara mendalam menggerutu dan mengalihkan pandangannya dariku. Setelah terdiam seperti itu untuk beberapa saat, dia menatapku lagi dan membuka mulutnya.


“Atsushi-kun, memang benar kalau aku membayangkan terhadap mimpimu dan membentuk opiniku sendiri. Artinya, bagaimanapun itu adalah pandangan pribadiku dan tentu saja tidak sempurna. Apakah kamu mengerti?”


“Ya.”


“Masalahnya adalah, Atsushi-kun, kalau dengan mengungkapkan opiniku, aku mungkin mempengaruhi opinimu sendiri. Kamu mungkin tanpa sadar mengelirukan jawabanku sebagai opinimu. Apakah kamu mengerti masalah yang coba aku tunjukkan?


“Ya. Itu berarti kalau tidak masalah jika aku mengutarakan opiniku sendiri, benar kan?”


“…Aku pikir begitu.”


“Baiklah. Aku berpikir kalau mimpiku adalah hasil dari hasratku untuk ‘melarikan diri’.”


“…” dia terdiam.


“Izinkan aku mengganti topik sedikit. Aku ingin memberitahumu semua hal yang telah terjadi minggu ini.”


“Silahkan.”


“Aku bertemu Reina Kamisu lagi.”


“…Aku mengerti. Hanya memastikan: kita disini tidak sedang membicarakan tentang mimpi lagi, benar?


“Ya, tentu saja bukan. Kali ini kita tidak hanya berpapasan, kita juga mengobrol.”


“…”


“Bukankah kamu ingin tahu apa yang kita obrolkan?”


“…Ya, katakan.”


“Aku merasa perlu tahu alasan dia membunuh keluargaku. Dan itulah apa yang aku tanyakan kepadanya.”


“Apa…apa dia menjawab?”


“Dia memberitahuku kalau dia tidak tahu.”


“Hm…”


“Aku cukup yakin kalau dia tidak berbohong kepadaku. Reina kamisu mempunyai dorongan hati bersifat pembunuhan dan membunuh keluargaku. Namun, tidak ada alasan lebih dalam disamping dorongan hati itu. Pada akhirnya, itulah apa yang dia pikirkan.”


Dr. Mihara terus terdiam, tidak yakin bagaimana bereaksi.


“Aku ingin mengakhiri kejadian itu dengan mengetahui alasannya. Aku ingin memperoleh sesuatu yang bisa membantuku menerima kejadian itu. Tapi, harapanku terkhianati. Malahan, Aku saat ini akan selamanya terbelenggu oleh masa lalu. –Namun, ada sesuatu yang aku sadari sebelumnya. Meskipun, umpamanya, dia mempunyai alasan yang layak untuk pembunuhan yang dia lakukan, aku tidak akan menerima alasan itu walau bagaimanapun. Aku tidak berpeluang melawan Reina Kamisu dari awal. Karena jelas tidak mungkin menenangkan perasaan dari seseorang yang keluarganya telah dibunuh.”


Dia tetap menatapku. Akhirnya, perlahan mulai berbicara. “Katakan, Atsushi-kun, dimana kamu berjumpa dengannya?”


“Di McDonalds dekat stasiun. Tentu saja, dalam dunia nyata.”


Dengan lengan dilipat, dia berubah terdiam lagi.


Sudah mengatakan semua yang aku ingin katakan, aku juga tetap terdiam.


Keheningan. Sementara waktu, hanya suara tanpa arti yang terdengar oleh telingaku, seperti suara lalu lintas dan suara jam berdetak.


Aku menunggu perkataannya – apapun jawabannya.


Akhirnya, dia membuka lipatan lengannya dan menatap dalam-dalam kedalam mataku.


“Atsushi-kun…bolehkah aku bertanya padamu sebuah pertanyaan?” Dr.Mihara bertanya.


“Tentu saja.”


“Sebelumnya, kamu bilang kalau kamu melihat hasrat untuk melarikan diri didalam mimpi itu, benar?”


“Benar.”


“Lebih jauh lagi, kamu terus senantiasa menekankan kalau kamu bertemu dengannya di kehidupan nyata, benar?”


“Benar.”


“Kamu sudah tahu jawaban sebenarnya, bukan, Atsushi-kun? Meskipun begitu, kamu bertanya padaku tentang itu, apakah itu benar?”


“…”


“Oke, Atsushi-kun. Izinkan aku memastikan hal ini sekali lagi.”


“…Memastikan apa?”


“Pembunuh berdarah dingin yang membunuh keluargamu. Siapa namanya? Rehna Kamizu?”


“Benar. Reina Kamisu. Reina Kamisu membantai keluargaku!” aku berkata dengan resah, sedikit membingungkan dokter. Akan tetapi dia tetap tenang, dan memberi jawaban kepadaku,


“Namun – “


“Orang itu tak pernah ada.”


Meskipun aku mengharapkan jawaban itu, tapi tetap sangat mengejutkan. Hipotesisku terbukti benar. Dan sebagaimana yang aku ketahui sebelumnya, pada dasarnya itu akan memperburuk lukaku.


“Itu tak benar!” aku menyangkal. Aku harus.


“Kenapa kamu tetap berkata seperti itu?! Kamu sedang melarikan diri! Kamu tahu itu salah!”


“Tidak…itu tak benar! Aku tahu itu, aku sangat yakin kalau dia ada!”


Itu tidak bohong. Paling tidak, aku tidak berpikir itu bohong.


“Atsushi-kun…”


“Reina Kamisu ada! Dia disini bersama kita!” aku berteriak.

Aku harus memastikan hal ini.


Meninggalkan Dr. Mihara kebingungan dibelakang, aku berbalik dan buru-buru keluar dari kantornya. Selagi aku meninggalkan ruangannya, aku menabrak seorang gadis yang sedang menunggu gilirannya, dan terjatuh. Biarpun begitu aku berdiri dengan cepat dan tanpa meminta maaf, aku menuju ke tempat dimana aku bisa memastikan keberadaan Reina Kamisu.


Meskipun sebenarnya aku tidak pernah kesana, aku tahu alamatnya. Selagi aku tetap berlari menuju alamat itu, aku berusaha untuk tenang kembali. Aku akan memerlukannya untuk memastikan kebenaran yang aku cari, dan aku harus mampu, karena aku telah membuktikan diriku sendiri dengan menekan kemarahanku ketika berbicara dengan Reina Kamisu.


Tenang. Pertama-tama, pelan sedikit. Berlari dengan kuat tidak akan merubah segalanya; nasibmu tetap sama.


Akhirnya, secara kebetulan aku mampu untuk mendapat ketenanganku kembali – ketika aku baru saja sampai di tempat tujuanku.


Aku membunyikan bel.


“Siapa?” seseorang berkata setelah menunggu beberapa saat.


“Umm…namaku Atsushi Kogure. Ah, ya…aku teman sekelas Kyouhei-kun.” Selagi aku menjelaskan siapa diriku, aku melihat papan nama disamping bel.


Papan yang bertuliskan Kimura.


Dengan ekspresi paling alim yang bisa aku perankan, aku berdoa di altar Kimura, karena aku telah mengatakan kepada ibunya tujuanku datang kesini adalah untuk hal itu. Aku harus membuatnya percaya kalau kita berteman baik. Dia tidak akan bercerita kecuali bila sebelumnya Kimura menceritakan secara lengkap tentangku.


“Ini….sangat mengejutkan…,” aku menjelaskan kepadanya dengan muka sedih.


Aku kemudian berlama-lama mengobrol tentang berapa besar kira-kira aku berduka cita dengan kematian Kimura. Ini tidak sulit: akutmelebih-lebihkan perasaanku sendiri, karena memang benar kalau aku, sebagai seorang teman sekelas, terkejut dengan kematiannya yang mendadak. Ibunya mengangguk pada perkataanku, tetesan air mata berada dimatanya. Perasaan cemas yang aku terima dengan segera hancur karena tujuanku.


“Sebenarnya, Ibu Kimura, aku kesini hari ini dengan satu permintaaan,” aku berucap, akhirnya ke inti pembicaraan.


“…Ya?”


“Aku ingin tahu apa yang Kimura-kun pikirkan saat-saat terakhirnya, apa yang dia khawatirkan dan aku ingin mendengar, perkataan sebenarnya dari dia. Oleh karena itu, bolehkah aku – “


Beruntung untukku. Untuk satu hal, ada orang lain yang sudah melihatnya, jika tidak maka tidak akan ada rumor apapun, dan dia nampaknya tidak menyadari kalau aku menipunya. Aku tidak melihat alasan dia akan menolak.

“-Bolehkah aku membaca catatan bunuh diri Kimura?”


Bagian 5[edit]

Aku mulai berjalan-jalan tanpa tujuan setelah aku meninggalkan rumah Kimura.


Semuanya adalah kebohongan, kebenaran, dan kenyataan yang kejam.


Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan hadir semua disini sekaligus, dan pada akhirnya kesemuanya berubah menyiksaku.


Lukaku bahkan lebih memburuk.


Itu menyakitkan.


Tapi tidak ada darah yang tumpah lagi – tidak ada satu tetes pun yang tersisa.


Aku menyusut. Sepenuhnya.


Aku mengering seperti debu, dan apa yang tersisa sedikit dariku dapat dengan mudah tersapu. Selagi aku menaikan pandangan ke langit yang menyilaukan, penuh warna, aku mengenang catatan bunuh diri Kimura.


Ibu, Ayah, dan semua orang yang mengenalku : mohon maafkan aku karena pergi begitu cepat.


sejak aku memegang penaku, aku tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Meskipun aku memikirkan cukup lama tentang hal itu sebelumnya.


Sebagai pembuka, izinkan aku menulis alasan kenapa aku bunuh diri.


Aku telah mengusik seorang gadis dan menggiringnya untuk bunuh diri sebelum aku dengan kesadaran memutuskan untuk membunuh diriku sendiri.


Aku tidak akan menulis secara rinci apa yang telah kuperbuat padanya. Setiap kali aku mengingat kembali kenangan tersebut, hatiku seperti sebuah lap yang diperas.


Meskipun kejadian itu adalah beban masalah terakhir, akan tetapi, aku sudah berpikir bunuh diri sebelumnya.


Tidak ada artinya dalam hidupku.


Tak seorang pun membutuhkanku dan tak akan pernah, meskipun aku yakin kamu akan menyangkal hal ini.


Tapi pada akhirnya, aku tetap berpikir kalau itu semua pada dasarnya kembali pada fakta bahwa aku tak berguna. Ini mungkin perumpamaan yang buruk, tapi aku berpikir aku agak seperti pensil kesayanganmu: sedikit menyakitkan jika hilang, tapi kamu bisa dengan mudah membeli satu yang baru di supermarket terdekat.


Itulah kenapa aku berpikir bahwa cara satu-satunya menebus dosa yang membuat seseorang bunuh diri adalah untuk mengakhiri ketidakbergunaan hidupku sendiri juga.


Kamu baik hati. Kita mengobrol, meskipun kamu sudah mati. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi kamu memaafkanku.


Dan itulah alasan yang tepat kenapa aku harus menghancurkan hidupku. Aku harus menebus dosa untuk dosa menyiksa seseorang yang baik hati dan pemaaf seperti dirimu. Izinkan aku meminta maaf sekali lagi untuk apa yang telah kuperbuat. Aku sungguh-sungguh minta maaf, -


Aku membaca kembali kata-kata itu lagi dan lagi, tapi itu tidak berubah walau berapa kali pun dan dari sudut mana pun aku membacanya.


Aku sungguh-sungguh minta maaf, Reina Kamisu-san.”


Aku mengingat kembali apa yang telah Mizuhara katakan padaku.


sesosok hantu mengutuk mereka sampai mati.”


Dan kemudian pada akhirnya aku mengingat kembali nama siapa yang Saito panggil untuk meminta pertolongan.


Akhirnya, aku berada di tempat dimana aku pertama kali melihatnya – kawasan perbelanjaan dekat stasiun. Sembari bersandar di tembok, aku memutuskan untuk menunggunya.


Tidak ada jaminan kalau dia akan muncul, tapi aku memiliki firasat kalau dia akan muncul bila aku tetap menunggu.


Aku menggeledah kantongku dan mengeluarkan amplop yang aku taruh dikantong sebelum aku buru-buru keluar dari rumahku.


Kenapa aku tidak memanggil bibiku ibu?


Sebenarnya, dengan hal itu sendiri tidak ada masalah. Masalahnya adalah bahwa aku alhasil harus memanggil pamanku ayah juga, karena aku tidak bisa merubah satu sisi dan meninggalkan sisi yang lain begitu saja. Tak perlu dikatakan, alasan kenapa aku tidak memanggil dia seperti itu bukan karena aku tidak menyukainya sebanyak aku menyukai bibiku.


Aku melihat amplopnya.


Ini tertuju kepada “Atsushi Kogure,” sementara pengirimnya tertulis dari “Takashi Kogure” di bagian belakang.


Ya, itu nama ayahku.


Dan tanggal cap posnya adalah tanggal 10 bulan terakhir.


“Apa kamu sedang mencariku lagi?”


Aku menaikkan kepalaku dan tidak bisa menahan sebuah senyuman. Aku melihat ke sebuah senyuman nan sangat begitu cantik yang pernah ada.


“Tepat sekali!” aku menjawab.


“Apa yang kamu inginkan?”


“Aku ingin memastikan sesuatu. Dan aku mempunyai sebuah permintaan.”


“Oke, tanyakan dan pastikan hal apapun itu.”


Aku menaruh kembali amplop ke dalam kantongku dan bertanya, “Kamu yang membunuh keluargaku, kan?”


“Itu benar.”


“Kamu juga yang membunuh ayahku, iya kan?”


“Benar sekali.”


“Yang berarti itu tidak mungkin ayahku yang membunuh keluargaku, benar kan?”


Mata Reina Kamisu melebar karena terkejut. Dan dengan kepastian, dia menjawab:


“Tentu saja bukan dia.”


Aku menatapnya dengan teliti. Tentu saja, tidak ada tanda kebohongan di wajahnya.


“Maukah kamu…mendengarkan pemikiran tololku sebentar?” aku memintanya.


“Lanjutkan.”


“Mari berpura-pura sebentar kalau bukan kamu tapi ayahku yang membunuh keluargaku,” aku memulai.


“Itu pemikiran yang aneh sekali.”


“Motif dia untuk menyerang kami tidak akan sesuatu yang tak masuk akal seperti punyamu, aku yakin, tapi sesuatu yang jelas. Sesuatu yang klise, contohnya, kesulitan finansial yang membuat dia mencoba membunuh keluarga sendiri.”


“Sayang sekali kalau itu bukan dia.”


“Hah?”


“Maksudku, kamu menginginkan sebuah alasan, bukan? Kamu punya alasan jika itu terjadi, bukan?”


Memang, aku menginginkan alasan, namun –


“Aku tidak peduli.”


Aku tidak peduli. Aku tidak merasa aku ingin memahami alasan tersebut bila murahan seperti itu. Aku tidak akan ingin mengetahui kalau keluarga kami dihancurkan oleh suatu hal yang konyol seperti itu.


Jika kesimpulan itu benar, aku tentu saja akan berharap – kalau alasan itu pada awalnya tidak pernah ada.


Niscaya aku akan berusaha menolak kebenaran didepan mataku, dan mencari perlindungan didalam mimpiku. Aku akan membuat-buat mimpi dimana orang lain yang membunuh keluargaku. Seseorang yang menjadi monster dan tidak mempunyai alasan yang layak untuk membunuh.


Seseorang seperti – si gadis cantik disini.


Namun, meski betapa palsu pelakunya –


“- Aku tidak peduli. Fakta kalau keluargaku telah dibunuh tidak akan berubah, meski siapa pun pelakunya. Lagipula, tidak mungkin untuk menenangkan perasaan seseorang yang keluarganya sudah dibunuh, dan lukaku tidak akan pernah sembuh, benar?”


Reina Kamisu memandangku secara seksama.


“Mungkin,” dia akhirnya menjawab.


“Nah, itu benar. Maka apa yang akan aku cari? Aku beri tahu: tempat peristirahatan, dimana aku tidak akan terluka, dimana aku tidak akan lebih menderita lagi. Aku pasti akan mencari suatu tempat peristirahatan seperti itu,” aku berucap dan menatap matanya.


“-Jadi?”


“Hm?”


“Kamu sudah selesai memastikan, bukan? Lalu apa hal lain yang kamu inginkan; apa permintaanmu?” Dia bertanya dan aku menjawab dengan sebuah senyuman yang wajar.


Ah, dia bertindak tepat seperti yang aku inginkan.


Yang aku butuhkan adalah seorang pelaku yang tanpa motif membunuh. Tapi bukan cuma itu. Itu tidak cukup untuk memberiku kedamaian pikiran.


Yang sesungguhnya aku butuhkan adalah – seorang pembunuh berdarah dingin.


Seorang pembunuh seperti Reina Kamisu.


Oleh karena itu, aku meminta darinya:


“- Tolong, bunuhlah aku.”


Pada saat itu, lukaku berubah menjadi sebuah bekas luka.


Rasa sakit menghilang dan darah berhenti. Yang tersisa adalah bekas luka sederhana yang terlihat sedikit menjijikkan hingga kamu terbiasa dengan luka itu.


Tapi itu hanya sebuah ilusi; aku tidak bisa hidup tanpa luka itu. Aku harus membawa masa laluku dan hidup dengan masa lalu dan luka tersebut. Ketika aku berhenti berkhayal tentang dibunuh oleh Reina Kamisu, bekas lukanya akan kembali berubah menjadi luka yang baru.


“Kenapa kamu memintaku? Kamu tinggal bunuh dirimu saja.”


“Itu tidak boleh. Aku tidak bisa melakukan bunuh diri. Ketakutanku akan kematian masih cukup kuat untuk menjagaku dari melakukan hal itu.”


“Hmmm…? Masih cukup kuat, hm?” dia menekankan bagian yang aku katakan.


Benar, aku tidak bisa mengakhiri hidupku sendiri karena aku mampu memahami betapa mengerikannya kematian.


Tapi andaikata – andaikata seseorang yang membunuhku?


Jika aku secara paksa dibunuh, aku tidak akan memiliki waktu untuk memikirkan tentang kematian. Paling-paling, aku akan menyadari fakta kalau aku akan menghilang dari dunia ini. atau mungkin, rasa sakit tidak akan mengizinkanku sedikitpun berpikir apapun. Perasaan menonjol yang aku punya pada saat itu akan – timbul.


Aku selalu berharap dari hatiku yang paling dalam agar seseorang menghapusku.


“Cuma penasaran,” aku berkata kepadanya.


“Hm?”


“Kamu tidak mempunyai keraguan untuk merenggut nyawaku, kan?”


Dengan sebuah senyuman yang sangat begitu cantik, Reina Kamisu menjawab:


“- Tentu saja tidak, kenapa juga aku harus mempunyai keraguan?”


“Beritahu aku,” dia melanjutkan, mengejutkanku, “Kenapa kamu tersenyum begitu bahagia?”


Sekarang aku menyadari kalau sebuah senyuman sudah melekat diwajahku. Tanpa pikir panjang, aku tutup mulutku, tapi selagi aku melakukan itu, aku melirik ke matanya dan membalas kebaikannya.


“Kamu juga,” aku menunjuk, menyebabkan dia menutup mulutnya juga. Terhibur oleh fakta kalau kita menunjukkan reaksi yang sama persis, kita berdua mulai tertawa.


Fakta bahwa tidak ada satu pun momen damai ini yang nyata membubuhi.


“Oke-“ dia bergumam sambil dia mengulurkan tangannya padaku. Jari-jari panjang, rampingnya melingkari leherku. Aku tidak bisa berhenti merasa kalau situasi ini mesum dan bahkan sedikit seksual.


Jari-jarinya mencekik aku.


Tangannya sedingin mayat. Ini terasa seperti kedinginan itu menghisap segalanya dariku.


Ah – aku sedang menghilang selamanya.


Sedikit demi sedikit, perasaan terbelah terus menguat. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan tubuhku. sisa-sisa belahan tubuhku berkumpul menjadi satu bagian lagi dan meninggalkan tubuhku. tak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan luar biasa dari penderitaan dan kenikmatan.


Dan seperti yang sudah aku prediksi, aku merasa lega.


Pada saat-saat terakhirku, aku memandangnya sementara dia sedang mencekik aku.


Tiba-tiba, aku bertanya-tanya: Siapa sih dia?


Aku dengan cepat mengabaikan pemikiran itu. sebagian karena kemampuan berpikirku telah menyusut, tapi sebagian besarnya karena ini nampak seperti pemikiran yang tak berguna setelah aku melihat senyumannya yang benar-benar sangat begitu cantik.


Malahan, aku berkata kepadanya dalam benakku:


Terima kasih.


Kemudian – Atsushi Kogure mati.