Madan no Ou to Vanadis (Bahasa Indonesia) :Volume 9 Chapter 1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 1 – Masa Lalu dan Takdir[edit]

Kerajaan Zchted memiliki tujuh kekuasaan dalam batas wilayah mereka.

Salah satu diantaranya, Olmutz yang berada di bagian selatan Zchted.

Bahkan di Zchted dijuluki “negeri salju dan hutan” dan dengan musim dingin yang lebih lama dibanding negara yang lain. Selatan mempunyai banyak wilayah yang hangat, tetapi pengecualian bagi Olmutz yang wilayahnya terdapat banyak bukit dan gunung. Dinginnya angin yang berhembus dari gunung yang diselimuti salju bahkan sampai membuat hewan buas di sana mendekam dalam bulu tebal mereka.

Penguasa Olmutz adalah Ludmira Lurie. Saat ini umurnya 17 tahun dan dia salah satu Vanadis kebanggan Zchted. Dengan sebutan MicheliaPutri Salju Gelombang Beku dan Peak TossMata Tombak, ia dipanggil Mira oleh orang-orang terdekatnya.

Suatu hari di musim dingin ketika keadaan dingin yang sangat parah berlanjut sampai ia menerima pesan dari LeitMeritz.

“Sulit untuk datang kemari saat sekarang ini, ya ‘kan?”

Kepada kurir yang sepertinya setengah dari umurnya, Mira berterimakasih dan menyuruhnya duduk.

Ada sebuah perapian besar di dalam ruangan di mana sang kurir diarahkan, dan api yang menyala didalamnya menghangatkan udara didalam ruangan. Di lantai, sebuah karpet tenun dengan kualitas wol terbaik diletakkan. Dekorasi yang ada di dinding-dinding adalah permadani yang menggambarkan situasi saat panen pada musim gugur.

Dengan rambut biru yang dihias mengitari pundaknya, Mira menyelimuti tubuh kecilnya dalam pakaian sutra berwarna biru. Sementara itu keelokannya, dalam sikapnya, ada martabat sebagai seorang yang berdiri di atas yang lain. Gelombang Beku Lavias, senjata miliknya, ditempatkan dalam jangkauannya.

Sang kurir membungkuk, lalu dia duduk di kursi setelah menaruh tas yang dibawanya ke lantai dengan hati-hati.

Ruangannya tidak terlalu terang. Itu karena tidak ada cahaya lain selain cahaya lilin yang diletakkan di meja dan cahaya api perapian. Jendela ditutup dengan tirai tebal untuk menjaga kehangatan di dalam. Begitulah, karena hari sudah mulai gelap di luar, jadi tidak masalah jika tidak bisa melihat keluar jendela.

Mengambil ceret besi berisi air panas yang ada di meja, Mira menyeduh Chaiteh hitam untuk dua orang. Satunya untuk kurir.

Yang seperti ini seharusnya merupakan tugas seorang pelayan. Akan tetapi, ia memutuskan untuk menyeduh teh sendiri untuk orang yang ia anggap perlu.

Cangkir porselen putih yang beraroma bunga mawar diletakkan didepan sang kurir. Selai stroberi dihdangkan di piring kecil disebelah cangkir.

“Aku sangat senang menerimanya.”

Sembari mengusap keringat yang muncul diwajahnya karena kehangatan ruangan, kurir itu berterimakasih dan mengambil cangkirnya. Setelah menyicipinya, dia menaruh sedikit selai kedalamnya dan mengaduknya.

“Aku berterimakasih karena telah meluangkan waktu disela kesibukanmu. Ngomong-ngomong, ketika aku kemari, aku mendengar bahwa pasukan Muozinel yang berada di perbatasan selatan telah mundur ...”

“Itu benar. Bawahanku telah memastikannya.”

Sembari mengusap dagunya dari uap tehnya, Mira menjawab dengan suara kecewa.

“Mereka hanya menempati perbatasan selama satu bulan. Bahkan pertempuran kecil pun tidak terjadi. Tidak hanya denganku, juga dengan bangsawan yang lain. Tolong beritahu Tuanmu yang demikian.”

Tuanmu. Yang dimaksud di sini adalah Vanadis Eleanora Viltaria dari LeitMeritz. Kurir itu menaruh cangkir porselen putih di meja dan menunjukkan rasa terima kasihnya.

Sambil perlahan menyisip tehnya, Mira menunggu sang kurir berbicara. Dia tak mungkin datang jauh kemari melewati dinginnya angin hanya untuk menanyakan tentang pasukan Muozinel. Mira penasaran akan tas yang dibawanya. Isinya pasti sudah dicek oleh pelayan, jadi itu bukan sesuatu yang berbahaya.

Sang kurir menatap Mira dengan wajah serius dan akhirnya ia berkata.

“Karena aku ingin berbicara tentang Earl Tigrevurmud Vorn yang pernah singgah di LeitMeritz, sehingga aku meminta untuk berbicara dengan Vanadis-sama hari ini.”

“Tigre…vurmud?”

Mata biru Mira diwarnai keterkejutan. Ketika ia mulai mengucapkan nama “Tigre”, dia dengan cepat menambahkan “vurmud”. Dia mempunyai maksud baik terhadap Tigre sebagai Vanadis juga sebagai perempuan.

Jika pemuda itu sedang mengalami kesulitan, Mira sudah pasti akan membantunya sesuai kemampuannya. Meskipun ia tidak bisa mengucapkannya, karena posisinya sebagai Vanadis.

“Ada masalah apa dengannnya?”

Mira bertanya dengan sikap yang tenang. Tapi, bahkan sikap itu semakin lama semakin berubah ketika ia mendengar cerita sang kurir. Meski mengetahui perubahan sikap Mira, sang kurir tidak berhenti bercerita.

Sekitar akhir musim panas, Tigre menerima tugas dari Raja Zchted Victor dan mulai menuju Kerajaan Asvarre di bagian timur, menyebrangi laut.

Ketika itu di Asvarre, dua pangeran dan satu putri sedang bertempur memperebutkan tahta, dan Zchted memutuskan untuk berkooperasi dengan salah satu dari mereka, pangeran Germaine. Tigre pergi untuk menemui Pangeran Germaine sebagai seorang kurir.

Tidak lama setelah itu, Germaine kehilangan nyawanya dalam berbagai kekacauan yang terjadi; Tigre bekerja sama dengan Jendral muda bernama Tallard Graham, dan yang memenangkan perang adalah putri Guinevere. Guinevere menginginkan aliansi dengan Zchted, dan sebagai gantinya Tigre sukses menjalankan tugasnya.

Baru setelah itu masalahnya terjadi.

Dalam perjalanan kembali ke Zchted, kapal yang ditumpangi Tigre diserang oleh sesuatu.

“Menurut cerita dari Vanadis Sophia Obertas-sama yang ikut diatas kapal, spertinya yang menyerang mereka seekor BadvaBadvaNaga Laut sebesar kapal.”

BadvaNaga Laut menghancurkan kapal, dan sebagian besar penumpangnya terlempar ke laut saat malam hari.

Katanya Tigre adalah salah satu dari mereka.

“Sophia-sama berkata bahwa mereka berusaha keras mencari Earl Vorn, tapi mereka tidak menemukannya.”

“—Jadi begitu.”

Mira hanya mengucapkan kata-kata itu, dan mearuh cangkir porselen putih. Tangannya gemetar dan membuat suara yang gaduh.

Mengalihkan matanya dari Vanadis bermata biru, sang kurir dengan hati-hati mengambil tas yang ada di kakinya. Dari dalam ia mengambil sesuatu yang dibungkus dengan kain sutra dan diletakkannya di meja.

Seiiring dibukanya pembungkusnya, botol porselen putih terlihat. Ada empat buah. Bentuknya silinder dan masing-masing memiliki warna penutup yang berbeda. Menatap botol tersebut, sang kurir berkata dalam nada praktis.

“Sepertinya Earl Vorn membelinya Asvarre. Sebuah hadiah untuk Vanadis-sama.”

“Untukku …?”

Mira mengambil salah satu botol itu dan membuka tutupnya. Sebuah aroma unik yang membuat hati seseorang damai dan menggelitik hidung. Seketika itu dia mengerti bahwa itu adalah teh hitam.

“Aku sangat senang menerimanya.”

Mira menunjukkan sebuah senyuman, tapi sang kurir tidak mengangkat pandangannya dari meja. Vanadis bermata biru tidak menyalahkannya dan mengganti topik pembicaraan.

“Ngomong-ngomong, apa kautahu apa yang dikatakan Yang Mulia Raja Lord Tigrevurmud?”

“Tidak. Aku tidak tahu.”

—Aku penasaran apa yang akan ia lakukan.

Mira bingung, insiden seperti itu tidak mungkin bisa ditutupi selamanya. Meski bertambah lemah akibat perang waktu itu, Brune tidak akan tinggal diam.

—Harus ada seseorang yang bertanggung jawab. Toh, aku tidak berpikir kesalahan ini akan dilimpahkan pada Eleonora.

Setelah itu, Mira menanyakan beberapa hal situasi di Zchted, sang kurir menjawabnya, Mira memanggil pengurus istana. Ia menyuruhnya mengarahkan sang kurir menuju ruangan tamu. Ketika sang kurir berdiri dan mengucapkan terima kasih, ia meninggalkan ruangan.

Sekarang ia sendirian, Mira memandangi botol yang berjejer di meja. Dia mengambil satu dan memeluknya erat dengan tangannya.

“Aku tidak berpikir kalau kau sudah meninggal. ––Tapi ...”

Gerutu yang diiringi kemarahan dan kesedihan keluar dari bibirnya yang gemetar. Jika dia keluar dari ruangan, dia harus bersikap sebagai Ludmira Lurie yang memerintah Olmutz. Dalam waktu yang singkat ini, dia meluapkan seluruh perasaannya.

“Jika itu hadiah, antarkanlah sendiri. Dasar bodoh ….”

Setelah itu, Mira memikirkan tentang Vanadis yang berada jauh di LeitMeritz.

Eleanora Viltaria. Kesedihannya pasti jauh lebih parah dariku.

Hanya suara retakan kayu perapian yang menggema di ruangan itu.


Dari langit yang berawan, butiran salju berjatuhan tanpa suara.

Mereka dengan cepat meleleh dan menghilang ketika menyentuh tanah; dan para prajurit berkeluh-kesah dengan suasana yang murung. Salju membuat angin semakin dingin dan membekukan nafas mereka. Terlebih lagi, mereka harus menginap diluar.

Bertukar cerita antar para prajurit sembari menggosok-gosokkan kedua tangan mereka, dan yang dapat mereka lakukan hanya berdoa kepada tuhan agar salju tidak bertambah parah.

Dataran Radom berada di selatan, agak jauh dari bagian tengah Kerajaan Zchted. Di tanah yang katanya tidak terlalu luas, sekitar 2000 prajurit telah berkumpul.

Sekitar 1000 prajurit dipimpin langsung oleh Vanadis Eleonora Viltaria dari LeitMeritz, dan 1000 lainnya dipimpin oleh Vanadis Elizavetta Fomina dari Lebus. Sembari mengibarkan bendera masing-masing disamping ZirnitraBendera Naga Hitam , para prajurit disibukkan dengan pembangunan perkemahan mereka.

Madan no Ou to Vanadis V9 p2111.png

Beberapa hari yang lalu, Bydgauche Duke Ilda seorang bangsawan besar, memindahkan pasukannya untuk menyerang Pardu Earl Eugene untuk suatu alasan.

Menerima perintah untuk menghentikan Ilda, kedua Vanadis meninggalkan wilayah mereka diiringi oleh prajurit mereka.

Tapi saat ini, kedua Vanadis saling memandang satu sama lain dengan pandangan berperang. Keduanya saling mengeluarkan Senjata Naga, membuat suasana menjadi tegang. Salju berkedip dengan anggun bagaikan tak menghiraukan suasananya sama sekali.

Eleanora dipanggil Ellen oleh orang-orang terdekatnya. Tidak hanya kecantikan gadis 17 tahun yang rambut peraknya menjuntai sampai pinggang, tapi dia juga komandan perang dengan julukan SilvfrauPutri Angin Kilasan Perak adan MeltisPenari Pedang.

Membungkus tubuhnya dengan pakaian perang biru, bola mata merah Ellen yang berkilau dengan cahaya kemarahan terlihat menghancurkan setiap yang ditemuinya. Elizavetta yang pernah berhadapan dengan Ellen juga merupakan pemilik kecantikan yang memesona.

Meski begitu, kesan yang diberikan kepada yang melihat dirinya bukanlah melihat warna rambut merahnya atau gaun ungu yang menyelimutinya melainkan warna bola matanya yang berbeda––LazirisMata Pelangi.

Mata kanan berwarna emas yang memberi semangat jiwa yang tinggi dan mata kiri berwarna biru yang menyembunyikan tekanan yang hebat keduanya mengingatkan pada Tourmaline[1]Kristal Kilat diwarnai dengan kilat sederhana ketika menahan panas.

Cambuk hitam berada di genggaman Elizavetta. Sama seperti pedang penjang Ellen, cambuk ini adalah Senjata Naga miliknya. Namanya Gemuruh Angin.

Ada semacam takdir yang mengikat kedua gadis ini sehingga bisa dikatakan bahwa hubungan mereka sangat berbahaya, tapi itu jika mereka saling bertarung satu sama lai. Namun, ada alasan dibalik permusuhan mereka. Itu karena keberadaan pemuda yang duduk diatas kuda bersandingan disebelah Elizavetta.

Dengan tubuh yang medium, dia mempunyai figur yang sederhana dalam keberaniannya. Dia mengenakan kaos yang berisi bulu, ditemani dengan busur di punggungnya dan tempat anak panah di pinggangnya.

Pemuda itu dipanggil Urz. Itu bukan namanya yang sebenarnya karena dia hilang ingatan.

Satu bulan yang lalu, Urz terdampar di bibir pantai di bagian barat Zchted. Dia diselamatkan oleh penduduk sekitar yang kebetulan lewat, tapi ketika dia sadar, dia tidak dapat mengingat apa pun tentang dirinya.

Nama Urz adalah kata-kata yang muncul secara spontan dari mulutnya setelah para penduduk terus menerus menanyainya apakah ada yang diingatnya.

Setelah itu, banyak untung dan malangnya, dan Elizavetta tertarik padanya dan menjadikan dia sebagai pelayannya. Sejak ia jadi pelayan dan terus berada di sisinya, itu adalah sesuatu yang pantas.

Urz juga tidak membenci Elizavetta.

—Ada beberapa masalah, tapi sepertinya dia tidak terlalu jahat.

Urz memberikan kesan seperti itu, juga fakta bahwa dia berutang budi karena telah merawatnya, yang merupakan pemuda tanpa tujuan. Dia berniat untuk menjadi pelayannya sampai ingatannya kembali.

Ellen memanggil Urz dengan nama yang berbeda.

“Tigrevurmud Vorn. Itu adalah nama aslimu.” Ucapnya.

Bahkan kesatria botak yang mengikutinya memanggilnya dengan suara yang memendam rasa kehilangan tuannya. “Lord Tigrevurmud”.

Urz terkejut akan hal ini, Elizavetta tidak dapat menahan sikapnya lagi. Dia berteriak dan mengaku bahwa Urz adalah bawahannya, dan dia tidak mengenal orang yang bernama Tigrevurmud Vorn.

Dan, hal itulah yang menyebabkan situasi menjadi seperti sekarang ini. Ellen dan Elizavetta, keduanya, tanpa mengambil sikap bertarung, saling menatap satu sama lain. Pedang panjang yang dimilik Ellen mengendalika angin sedangkan cambuk hitam Elizavetta sedikit diwarnai dengan petir.

Terlihat bahwa pertempuran tidak dapat dihindari. Kedua Vanadis mengontrol nafas mereka, mengukur jarak dan mencari kelemahan satu sama lain untuk melancarkan serangan telak kepada musuh dihadapan mereka.

Tapi, ada seseorang yang bergerak sebelum kedua orang itu. Itu adalah Urz. Dengan gerakan yang alami, pemuda itu berdiri diantara keduanya.

“Tigre…”

Vanadis berambut perak membiarkan wajahnya yang tegang, sedikit santai. Dipihak yang lain, Vanadis berambut merah, mencoba untuk berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya dan dia memegang cambuk hitam dengan erat menggunakan kedua tangannya.

Ketika Urz memberi salam pada Ellen, dia berbicara dengan lembut, nada dingin. “Maafkan aku, tapi aku tidak dapat mengingatmu.”

Salju yang berguguran seperti menari terlihat seperti membeku dalam waktu. Ellen terbelalak dan kehabisan kata-kata. Bahkan dia tidak bisa menggerakkan jarinya. Bahkan si kesatria botak terkaget dan tak dapat mengucapkan apa-apa. Kepada keduanya, sang pemuda sangat santun.

“Tolong jangan ganggu tuanku.”

Lalu, Urz membalikkan kudanya dan kembali pada Elizavetta.

Kesunyian terjadi. Semua orang kecuali Urz, wajahnya menjadi pucat karena terkejut. Termasuk Elizavetta tuan dari sang pemuda.

Vanadis berambut perak yang memecahkan kesunyian yang berlanjut selama sepuluh detik, dengan nada yang lembut.

“—Maaf. Elizavetta.”

Menyarungkan pedangnya, Ellen turun dari kudanya dan pergi menuju Vanadis berambut merah. Dia memberi salam dengan membungkuk seperti yang dilakukan Urz tadi.

“Sepertinya aku telah mengambil kesimpulan yang salah. Aku meminta maaf atas sikapku ini.”

Tangan Ellen sangat kaku dan suaranya gemetar. Emosi yang luas bisa saja meledak kapanpun di hatinya. Elizavetta melihat ke bawah pada kepalanya yang diselimuti rambut perak dengan diam. Dia tidak mempunyai maksud apa-apa, itu semua karena aksi Urz dan kata-kata Ellen tak adapat diperkirakan olehnya.

“…Aku senang kau mengerti Eleanora.”

Mengendurkan kuatnya genggamannya pada cambuk hitam, ia mulai mengeluarkan kata-kata dengan nafas panjang. Meski keadaannya dingin sampai bersalju, keringat tetap mengucur dari wajahnya.

Ia pun juga mengembalikan cambuk hitamnya seperti semula dan meletakkannya di pinggangnya agar menunjukkan bahwa dia tidak punya niat untuk bertarung.

“Aku juga tidak berniat bertarung yang tidak ada gunanya. Jika kau berkata seperti itu, kita akan mengakhiri semua ini.”

“Terima kasih Elizavetta.”

Ellen menegakkan wajahnya. Tak ada rasa marah dan kesal pada wajahnya, dan sepertinya ia telah dapat mengendalikan perasaannya, meski ia kehilangan semangat dalam ucapannya.

“Ngomong-ngomong, akan lebih baik jika mengadakan rapat perang setengah koku lagi.”

“Tidak masalah. Aku tidak keberatan.”

Elizavetta mengangguk. Masih ada suasana tegang yang menyelimuti keduanya. Mereka berdua membutuhkan waktu, meski sebentar, untuk menyembuhkan perasaan mereka.

Madan no Ou to Vanadis V9 p2125.png

“Kalau begitu kita akan mempersiapkan perkemahan di sini. Lagi pula, hari juga akan gelap setelah setengah koku.”

“Apakah pihakku perlu membawa lilin dan meja?”

“Kita bagi; akan jadi masalah jika sesuatunya kurang. Pihak kami yang akan menyiapkan segala yang. ––Sampai jumpa, setengah koku lagi.”

Ellen menunggangi kudanya, dan kedua gadis itu memberi salam. Kesatria botak juga berbalik untuk melihat Urz, seperti akan mengatakan sesuatu, tapi ketika Vanadis berambut perak pergi, ia pun mengikutinya.

Di tempat di mana figur Penguasa LeitMeritz terlihat kecil, Elizavetta bernafas lega. Setelah itu, dia kembali melihat Urz dengan wajah seperti anak kecil yang habis menangis.

“Aku tidak diganggu.”

Itu adalah ucapan pertamanya kepada pelayannya dengan nada kesal. Setelah berkedip beberapa kali, Urz mencoba menghindar dengan memberikan jawaban “Yah ...”. Reaksi yang ditunjukkannya seharusnya sangat tidak hormat, tapi Elizavetta membalikkan arah kudanya tanpa memedulikannya. Urz segera mengikutinya.

Sembari menuju ke perkemahan pasukannya, Elizavetta memanggil nama Urz.

“Aku senang karena kau telah mengkhawatirkanku. ––Terima kasih.”

Karena dia memalingkan badannya, jadi Urz tidak bisa melihat wajahnya. Namun, suara Vanadis yang ikut berhembus dalam angin musim dingin memberinya kebahagiaan dan membuatnya malu.

Ketika keduanya sampai di perkemahan, salju telah berhenti.

Di tempat perkemahan pasukan LeitMeritz, kesatria botak memasuki tenda panglima tertinggi karena sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.

“Vanadis-sama. Kenapa Anda melakukan hal yang seperti itu? Pemuda itu sudah dapat dipastikan adalah Lord Tigrevurmud.”

“Tenanglah, Rurick.”

Ellen menjawab dengan suara pelan. Sedangkan kesatria yang dipanggil Rurick menunjukkan ekspresi tidak mengerti, dia mempersiapkan kursi untuk Tuannya. Kursi sederhana yang dapat dilipat; dia menaruh bantal di sana.

“Kerja bagus.”

Setelah memberi kalimat apresiasi, Ellen duduk di kursi.

Ketika melihat tangan kanannya sendiri, terlihat sedikit noda darah. Itu merupakan bekas kuku yang menusuknya. Jika ia tidak mengepalkan tangannya sedemikian keras, ia tidak akan sanggup menahan perasaanya.

“Jangan ganggu dia ... yah. Sudah kuduga, aku berhasil menahannya. Jadi di matanya, terlihat bahwa aku mengganggu Elizavetta.”

“Kata-katanya itu mungkin untuk menenangkan suasana.”

Menaruh lilin yang menyalakan api di dekat Ellen, Rurick berniat untuk menghiburnya. Meski toh, ia bukan orang yang pandai berbicara. Hanya itulah yang bisa dilakukannya. Walaupun Ellen mengangguk bukan berarti ia setuju; itu lebih terlihat seperti perhatian terhadap bawahannya.

Suasana tegang melanda.

Saat itulah angin berhembus di dalam tenda yang tertutup.

Angin sepoi-sepoi yang lembut melewati pipi Ellen dan mengkedipkan nyala lilin. Itu adalah angin buatan pedang panjang yang ada di pinggangnya. Senjata Naga yang disebut Kilatan Perak mempunyai kekuatan untuk mengendalikan angin.

“Arifal …”

Ellen memanggil pedangnya dengan mata terbuka lebar dan tertawa kecil. Matanya yang berawarna merah telah mendapatkan kembali cahaya dan kekuatannya. Dia menepuk sarung pedangnya, pedangnyalah yang telah menghiburnya.

—Benar. Ini bukan saatnya untuk depresi.

Ellen yang melipat kedua tangannya kemudian melihat Rurick.

“Rurick. Aku setuju denganmu. Pemuda itu benar adalah Tigre.”

“Lalu kenapa ...?”

“Sederhana. Tidak ada buktinya.”

Ellen menjawab dengan cekatan.

“Kita tidak mempunyai bukti apa pun kalau pemuda bernama Urz itu adalah Tigre. Yang lebih parah lagi adalah ingatannya yang hilang.”

“Tapi Lord Tigrevurmud menunjukkan reaksi pada ucapan kita. Jika kita berbicara tentang banyak hal, tentunya ...!”

“Bahkan jika kita meminta bertanya padanya, Elizavetta akan menolak. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia sangat dekat dengan Tigre. Jika kita menghampirinya dengan paksa, pertempuran pasti akan terjadi.”

“Kalau begitu, bagaimana jika melaporkan hal ini pada kerajaan?”

Wajah Rurick bertambah cerah dengan usulannya ini. Kepala botaknya yang licin memantulkan sinar lilin.

“Lord Tigrevurmud adalah tamu kehormatan yang dititipkan pada kita oleh Kerajaan Brune. Karena insiden ini, bahkan kerajaan akan menjadi gempar karenanya. Bukankah lebih baik jika kita tidak melaporkannya?”

“Bukannya saya tidak memikirkannya, tapi––”

Ellen membicarakan harapan yang sangat tidak enak dengan wajah serius. “Seandainya ingatannya kembali, misalkan ... misalkan jika, dugaan kita salah bahwa orang itu adalah orang yang berbeda, maka apa yang akan kita lakukan?”

Rurick tidak dapat berkata lagi. Bahkan meski ia berniat menjawabnya, kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya karena kegelisahannya.

Ellen melanjutkan, sembari memberi wajah simpatik pada kesatria botak.

“Aku tidak tahu siapa yang mengatakannya, tapi katanya, di dunia ini ada dua atau tiga orang yang memiliki wajah yang sama. Mungkin itu hanya kebetulan saja. Bahkan jika dia bereaksi pada ucapan kita, mungkin itu tidak sengaja. Kita mungkin memiliki ekspektasi yang aneh bahwa dia kehilangan ingatannya.”

Itu adalah alasan yang sangat susah dikatakan mustahil. Lagi pula, Tigre tercebur ke laut pada malam hari saat musim dingin, dan ia tidak dapat ditemukan meski sudah dicari. Tidak masuk akal jika ia masih hidup.

“Jika pemuda itu adalah orang lain, Elizavetta sudah pasti takkan memaafkanku. Hubungan antara LeitMeritz dan Lebus akan luluh lantah. Sampai-sampai kita akan mempertimbangkan kemungkinan perang. Satu kesalahan juga akan menyebar ke Legnica.”

Diantara LeitMeritz yang berada di bagian tenggara Zchted dan Lebus di bagian timur laut, ada Legnica. Itu adalah tanah yang dikuasai oleh Vanadis Alexandra Alshavin.

Dia, yang dijuluki FalpramPutri Tersembunyi Cahaya Api, kehilangan nyawanya karena penyakit dan Vanadis penggantinya masih belum ditemukan. Jika mereka ikut terseret dalam konflik ini, mereka akan mengalami kerugian yang sangat besar.

“Bahkan kerajaan harus berpikir panjang bagaimana cara berhubungan dengan Brune saat ini. Karena tamu kehormatan, yang dititipkan pada mereka, meninggal karena menjalankan tugas dari Raja.”

Dengan sekejap suara Ellen diliputi kemarahan. Meski dia menahan luapan perasaannya dengan diam sebentar, dia menunjukkan senyum tajam.

“Mencoba merebut paksa pemuda itu dan terbukti bahwa dia orang yang berbeda. Jika itu merupakan salah paham, maka kita tidak akan bisa berkelit. Dan Brune mungkin akan mengira bahwa kita berusaha menipu mereka.”

Rurick merintih pelan. Jika itu masalahnya, perang akan terjadi antara Zchted dan Brune.

Seiring Ellen mengubah senyumnya menjadi lembut, dia berbicara dengan nada yang tenang.

“Tak ada banyak waktu lagi sebelum diadakannya rapat perang. Mari kita lupakan masalah Tigre untuk sementara dan fokus pada masalah Duke Bydgauche. Bahkan jika aku, yang bersilat lidah dengan Elizavetta sebelummu, katakanlah, tidak ada kekuatan persuasifnya.”

“Yang seperti itu …”

“Tak ada yang seperti itu.”, Rurick mencoba mengatakannya, tapi dia mengubah pemikirannya dan menguatkan ekspresinya.

“Dimengerti. Saya akan menunggu di luar sambil mendinginkan kepala saya.”

“Aku hanya akan memperbolehkan segelas anggur jika kau ingin minum. Saat ini dingin. Bahkan Elizavetta tidak akan protes.”

Karena Ellen berkata begitu, Rurick kemudian pergi meninggalkan tenda.

Sekarang Ellen sendirian.

Dengan tangannya yang masih dilipat dan ekspresi seriusnya, SilvfrauPutri Angin Kilatan Perak diam memandangi ruang hampa.



Catatan Penerjemah[edit]


Kembali ke Ilustrasi Menuju ke Halaman Utama Lanjut ke Chapter 2 - Sebelum Fajar