Seirei Tsukai no Blade Dance:Extra 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Extra 4 - Berburu Roh Payudara Raksasa Legendaris[edit]

Bagian 1[edit]

Diwaktu senja saat gerbang akademi ditutup dan matahari telah terbenam.

Didalam ruangan di asrama Kelas Gagak, aroma sup menyebar diudara.

"Fufu, aku cukup percaya diri dengan sup yang kubuat malam ini."

"Saya sudah tidak sabar, nyonya♪"

Ini adalah kamar Rinslet di lantai dua asrama. Mengenakan apron, Rinslet menyenandungkan melodi sambil menyiapkan sup untuk malam ini. Sementara itu, Carol menyiapkan mejanya.

Sup daging sapi sepanci penuh ini jelas-jelas nggak akan bisa mereka berdua habiskan sendirian. Biar mereka adalah untuk berbagi dengan penghuni kamar Claire di asrama yang sama.

"Namun, kurasa Kamito-san lebih suka rasa yang lebih ringan kan?"

Mencicipi sup itu, Rinslet bergumam.

"Selama itu adalah buatan anda, nyonya, rasanya pasti lezat♪"

"Beneran deh, Carol, pendapatmu nggak berguna sebagai sebuah referensi."

Saat Rinslet mendesah, lalu—

"N-N-Nyonya!"

Carol tiba-tiba menjerit.

"Ada apa!?"

Risnlet langsung berbalik menghadap ruangan itu—

Sebuah bayangan hitam besar ada diluar jendela, mengintip kedalam kamar tersebut.

"...Cih, seorang bajingan mencurigakan!"

Mengatakan itu, Rinslet merapal sihir roh dan menembakkan pedang es dari tangannya.

Pedang itu memecahkan kaca jendela dan hendak menghantam langsung bayangan yang ada diluar jendela—

"Menghilang!?"

"N-Nyonya— Kyah!"

"Carol!"

Sosok itu entah gimana merayap kebelakang Carol setelah menghilang secara tiba-tiba.

"....Cih, Fenrir!"

Bersamaan dengan panggilan Rinslet, seekor serigala putih muncul, berbalut badai es yang menderu.

Tanpa perlu perintah, Fenrir menerkam sosok itu.

Seketika, bayangan itu melepaskan Carol dan merunduk, menghindari cakar Fenrir, lalu mengubah targetnya dan menyerbu pada Rinslet.

(—Waduh serangan Fenrir dihindari!?)

Dia bereaksi dengan dorongan telapak tangannya, melepaskan sihir roh — tapi itu sudah terlambat.

Bayangan itu dalam diam bergerak di lantai dan menjerat ujung kaki Rinslet.

"Guh.... A-Apa yang kau lakukan...? Huahhhhhhh!!"

"Nyonya!"

Bergerak mengikuti kaki Rinslet, bayangan mengerikan itu menjerat tubuhnya.

Terasa seperti seluruh tubuhnya diraba-raba, Rinslet menjadi panik.

Lalu, pintu kamar tersebut dibuka dengan kasar.

"Apa yang terjadi!?"

"Ada apa, Rinslet!?"

Mendengar keributan tersebut, Kamito dan Claire masuk kedalam kamar secara bersamaan.

"....Kalian berdua... Ini, berbahaya disini...!"

Dijerat oleh bayangan itu, Rinslet terengah-engah.

Akan tetapi, bayangan itu meninggalkan Rinslet—

Dan memasuki sikap seolah-olah menatap dua orang yang baru datang.

"Apaan itu!?"

"Tunggu, itu tampak sangat berbahaya!"

Saat Kamito mencabut Demon Slayer, Claire memberi peringatan.

Bayangan itu berhenti sejenak lalu lenyap seolah melebur ke udara.

".....A-Apaan Itu?"

Claire bertanya sambil memiringkan kepalanya kebingungan.

"Apa kau baik-baik aja, Rinslet?"

Kamito bergegas kearah Rinslet yang jatuh dilantai.

"Y-Ya... Kurasa aku baik-baik saja..."

Rinslet berdiri sambil gemetaran.

Dia tampak nggak terluka—

"....N-Nyonya!"

Namun, Carol berteriak seraya wajahnya pucat pasi.

Rinslet terlihat bingung secara tiba-tiba, Claire menunjuk langsung pada Rinslet.

"Rinslet,a-a-a-anu mu..."

"Anu ku apa? Ada apa?"

"D-Dadamu..."

"....Dada?"

Sambil dengan alis yang masih terangkat kebingungan, Ribslet menatap dadanya sendiri.

....Lalu dia menyadarinya.

"A-A-A-Apa.... Apa maksudnya ini....!?"

Dia menyadari fakta bahwa payudaranya telah menjadi serata papan.


Bagian 2[edit]

"Aku mengerti, jadi kalian juga—"

"Kami juga?"

Dihadapkan dengan perilaku Ellis yang misterius, trio Kamito, Claire dan Rinslet menanggapi dengan penampilan bertanya.

—Setelah insiden yang sebelumnya, Kamito dan Claire membawa Rinslet yang syok ke kamar Ellis yang ada di asrama Musang. Gimanapun juga, para siswa biasa wajib melaporkan semua kejadian pada para Sylphid Knight jika sesuatu terjadi di Akademi.

Ellis mendesah dan mengeluarkan sebuah berkas dari rak buku di kamarnya. Dia membuka sampulnya, mengungkapkan nama-nama beberapa siswa yang tercatat disana.

"....ini?"

"Daftar siswa korban yang telah mengalami nasib yang sama beberapa minggu ini."

"Mengalami nasib yang sama.... Mungkinkah itu roh?"

Menanggapi keterkejutan Claire, Ellis mengangguk.

"Memang. Scattory Rin dari Kelas Burung Hantu, Alca Siena dari Kelas Beruang, diikuti Resta Maia dari Kelas Musang. Mereka semua mendapati payudara mereka dicuri oleh roh itu."

"...!"

Kamito, Claire dan Rinslet saling bertukar tatap.

"Seekor roh yang mencuri payudara, apa kau bilang bahwa hal semacam itu ada...."

Rinslet bergumam pelan sambil menatap dadanya dengan ekspresi sedih. Payudaranya yang sebelumnya montok, sekarang telah rata setara talenan yang sering dia gunakan di dapur.

"Tunggu, kenapa kita diam saja saat sesuatu seperti ini terjadi!?"

"Oh, para Ksatria memutuskan untuk tidak mempublikasikan insiden ini—"

"Kenapa!?"

"Karena para korbannya yang memintanya. Nggak seorangpun mau orang lain tau bahwa mereka telah kehilangan payudara mereka. Saat ini, mereka menggunakan bantalan untuk menjalani kehidupan keseharian mereka di Akademi."

"....Aku hanya bisa bersimpati."

"Disisi lain, aku sangat nggak puas...."

Menatap dadanya yang sangat menyedihkan bahkan tanpa kelakuan roh pencuri itu, Claire menggigit bibirnya.

"Terus, apa ada petunjuk mengenai identitas pelakunya?"

"Ya, itu mungkin...."

Ellis berbisik dengan penampilan misterius.

"—Roh payudara raksasa legendaris."

"Roh—" "Payudara raksasa—" "Legendaris—"

Mereka bertiga menelan ludah.

"Kukira itu hanyalah sebuah legenda, siapa juga yang akan menduga—"

"Claire, kau pernah mendengar hal itu?"

Kamito langsung berpaling pada dia dan bertanya. Claire mengangguk.

"Ya. Rumor tentang itu pernah menyebar di Akademi sebelumnya. Roh yang menyerap payudara dari banyak cewek, mentransfernya pada kontaktornya. Aku telah mencarinya selama bertahun-tahun di hutan sebelumnya."

"Nggak bisa kupercaya kau benar-benar melakukan sesuatu yang memalukan seperti itu...."

"D-Diam... Tapi ujung-ujungnya, aku nggak pernah melihat roh payudara raksasa legendaris. Menganggapnya sebagai sebuah legenda, aku segera lupa mengenai hal itu..."

"—Tapi roh payudara raksasa memang ada."

Ellis berkata dengan serius.

"Karena ada roh yang mencuri payudara orang lain, nggak ada pilihan lain selain mempertimbangkan ulang eksistensi dari roh payudara raksasa."

"...Aku nggak pernah mendengar roh nggak masuk akal semacam itu."

Kamito menyindir pelan.

"Jadi, apa para Ksatria akan mengabaikan hal ini begitu saja?"

"Baru-baru ini, ada rencana untuk mengumpulkan pasukan untuk menangkap roh payudara raksasa itu, tapi yah—"

Dihadapkan dengan pertanyaan Claire, Ellis menjawab malu-malu.

"Sylphid Knight kehilangan banyak pasukan selama insiden beberapa hari yang lalu. Dan juga, bahkan jika para cewek ini diserang, payudara mereka hanya menyusut, jadi itu nggak seperti ini adalah masalah yang serius—"

"Masalahnya bukan itu!"

Rinslet memukul meja keras-keras.

"Be-Begitukah? sesuatu seperti payudara yang berat, aku selalu mendapati itu cukup membebani—"

"~A-Apa, itu adalah suatu beban dari kemegahan!!"

Claire memprotes sambil berkaca-kaca.

"Baiklah, aku akan pergi sendirian untuk memusnahkan roh yang disebut roh payudara raksasa itu."

Rinslet berdiri dan berjalan ke pintu.

"Tunggu, itu terlalu berbahaya untuk memasuki kedalaman Hutan Roh sendirian!"

"Apa yang telah dicuri harus dikembalikan. Ini adalah aturan dari keluarga Laurenfrost."

"Tunggu, Rinslet, aku menyuruhmu menunggu!"

Claire mencoba memanggil Rinslet yang telah berjalan ke koridor.

"Percuma saja menghentikan aku, Claire Rouge."

"Aku nggak menghentikanmu. Aku hanya mau pergi bersamamu."

"Ini adalah masalah pribadi."

"I-Ini bukan seperti aku khawatir padamu, tapi aku hanya penasaran mengenai roh payudara raksasa legendaris ini."

Claire memalingkan tatapannya malu-malu.

"....Hmph. Pastikan kau nggak menggangguku."

"Aku akan membantu juga."

Kamito berjalan kearah mereka berdua.

"Bahkan Kamito-san juga...."

"Aku adalah seorang cowok jadi nggak ada kekhawatiran diserang oleh roh payudara raksasa itu. Hal yang sama berlaku untuk Claire juga, nggak ada yang bisa dicuri, jadi kami adalah rekan yang sangat diperlukan dalam menghadapi roh payudara raksasa itu."

"Benar juga... Tunggu, apa kau bilang!? Apa kau mencari kalimat kematian!?"

"...Kesalahan! Itu adalah kesalahan! Cambuknya! Turunkan cambuknya terlebih dahulu!"

Bagian 3[edit]

—Setengah jam kemudian, mereka bertiga menyelesaikan persiapan mereka untuk menjelahahi hutan dan memasuki Hutan Roh.

Kedalaman Hutan Roh merupakan sebuah tempat yang gelap dan mengerikan. Setiap tahun, ada rumor para siswa tersesat dan hilang disini.

Memegang obor, Claire berjalan didepan.

"Kalau dipikir-pikir, ada saat ketika aku memasuki Hutan Abyssal bersama Claire dan bahkan tersesat."

"....S-Sesuatu seperti itu terjadi?"

"Claire memelukku erat-erat dan menangis."

"....D-Diam! Itu udah lama sekali!"

Claire tersipu merah dan berteriak.

"Ngomong-ngomong, apa ini benar-benar arah yang benar?"

Sambil tetap waspada, Kamito bertanya.

"Pengamatan dari roh payudara raksasa pada dasarnya terkonsentrasi pada sisi utara hutan. Dan juga, roh yang mencuri payudara Rinslet juga berlari ke arah ini—"

"Pengamatan nggak bisa begitu diandalkan, kan? Itu nggak seperti kita bisa mengesampingkan kemungkinan hal yang mereka bayangkan."

"Ini nggak seperti kita punya pilihan lain. Inilah yang bisa kita lakukan. Terus—"

Claire berbalik dan menatap dadanya Rinslet yang bergoyang-goyang.

"Ini ada jebakan..."

"Akankah sesuatu seperti itu benar-benar bisa memancing roh?"

Rinslet menatap dengan ragu. Dadanya bahkan lebih besar daripada yang sebelum diserap. Sudah sewajarnya, ini bukanlah payudara aslinya.

Didapatkan oleh Claire, ini adalah payudara palsu yang disembunyikan oleh Fianna dimejanya.

"Jangan khawatir, bantalan ini sepenuhnya berada di level yang berbeda dibandingkan dengan yang dijual di toko-toko biasa."

Payudara palsu milik sang putri adalah sebuah tipe artifak yang diperkuat, sebuah mahakarya dari teknik roh. Dengan kekuatan roh air yang tersegel didalamnya, bantalan ini adalah pilihan terbaik untuk merangsang payudara yang asli. Bahkan ketika diperiksa lebih dekat, itu tampak nggak ada bedanya dengan payudara asli. Menggunakan payudara palsu ini sebagai umpan, roh payudara raksasa pasti akan muncul. Itulah rencana yang disarankan Claire.

"Tentunya ini adalah barang bagus...."

Meremas payudara palsu itu, Rinslet bergumam pelan sambil gelisah.

...Saat mereka menyadari kalau mereka tersesat, sudah beberapa jam berlalu.

Bagian 4[edit]

Kamito, Claire dan Rinslet terus berputar-putar di dalam hutan.

Berjalan-jalan di Hutan Roh di malam hari sangat berbahaya bahkan bagi para elementalist berpengalaman. Sekali tersesat, sangat sulit untuk menemukan jalan kembali.

"...Ini bukanlah waktunya untuk mencari roh payudara raksasa itu."

"Ya, mari kita tunggu sampai fajar, keluar dan kembali sambil berpersiapan."

Berjalan dalam kegelapan seperti ini hanya akan membuang-buang tenaga. Mereka bertiga beristirahat disamping danau besar di kedalaman hutan dengan niat menunggu pagi.

Karena penerangan api bisa menarik roh-roh terdekat, yang bisa mereka makan hanya persik kalengan.

"Kenapa hanya persik kalengan...." "aku menggigil kedinginan."

"D-Diam! Kalian nggak akan makan apapun kalau kalian berdua mengeluh lagi!"

Seraya mulutnya dipenuhi dengan persik, Claire membentak.

Setelah makan, Claire perlahan-lahan berdiri dan berjalan kearah danau.

"...Mau kemana kau?"

"Ritual pemurnian. Kalau kita ketemu roh payudara raksasa, aku harus menghadapi dia dengan keadaan persiapan penuh."

"Aku ikut."

"Baiklah. Aku akan berjaga disini."

Kamito mengambil Demon Slayer dengan kedua tangannya dan duduk dibalik pohon.

"Kau paham kan Kamito? Aku akan mengubahmu menjadi arang kalau kau mengintip~"

"...Aku paham, oke?"

"Dia berjaga untuk menghindari mengintip, kan?"

"Apaan itu?"

"Nggak ada..."

Bagian 5[edit]

...Splash. Suara air terdengar dihutan yang sunyi ini.

Dengan seragam mereka tergantung di cabang pohon, kedua cewek itu hanya mengenakan pakaian dalam mereka.

"Ujung-ujungnya, mereka pasti membuat kesalahan tentang roh payudara raksasa berada disekitar sini..."

Setelah melepaskan payudara palsunya, Rinslet menatap dada datarnya yang menyedihkan dan mendesah.

Akan tetapi, Claire menggeleng.

"Enggak, roh payudara raksasa pasti ada disekitar sini. Kita harus menangkap dia!"

Claire mengepalkan kedua tangannya dan menyatakan dengan tegas, menatap langit.

Rinslet memiringkan kepalanya kebingungan.

"...Kenapa kamu begitu bersemangat melakukan sesuatu demi aku?"

"Huh?"

"Karena itu nggak seperti payudaramu yang dicuri—"

Dia menatap dada Claire.

"Kalau orang disekitarmu jadi rata, bukankah itu membuat payudaramu jadi relatif lebih besar?"

"Bahkan jika aku jadi relatif besar, hal itu nggak terlalu berarti."

Claire mengangkat bahu lalu sedikit menunduk—

"Kalau kita menangkap roh payudara raksasa itu, bahkan aku mungkin jadi sedikit lebih besar... Dan juga, bisa dibilang itu membalas budimu."

"Budiku?"

"Itu sudah lama, meski kau mungkin sudah lupa—"

Dengan kakinya yang ada didalam air danau, Claire berpikir tentang hari itu, tiga tahun yang lalu.

Bagian 6[edit]

—Tiga tahun yang lalu, di Sekolah Persiapan Eluore.

"Haha! Api ini akan padam kalau kita menyiramnya dengan air, kan?"

Beberapa cewek senior berjongkok di tanah, menggunakan sebuah tongkat untuk menusuk seekor roh salamander.

Roh ini sangat lemah dan apinya terasa seperti akan padam setiap saat.

"Hentikan itu! Jangan mempermainkan tuan roh!"

Claire mendorong cewek yang memegang tongkat.

"Ah—"

Roh salamander itu memanfaatkan kesempatan ini untuk melompat ke semak-semak dan melarikan diri.

"Apa-apaan ini, adiknya Ratu Bencana. Apa kau punya masalah dengan itu? Huh?"

Para siswa senior itu mengelilingi Claire, merendahkan dia dan bahkan mulai bertindak secara fisik.

"Aduh, hentikan itu....!"

"Lihat dia, sungguh sombongnya dia—"

Satu cewek meraih pita milik Claire dan menariknya secara kasar.

Lalu—

Deru angin bercampur es mulai berhembus disekitar para siswa senior yang mengerjai Claire.

"A-Apa?"

"Hmph, tidakkah kalian tau bahwa menindas yang lemah akan sepenuhnya menodai kehormatan seorang elementalist?"

Secara elegan mengibaskan rambut pirangnya yang indah, Rinslet muncul. Segel roh Fenrir di tangan kanannya bersinar.

"Tsk, ini buruk. Cewek itu..." "Tunggu, dari keluarga Laurenfrost?"

Para siswa senior segera melarikan diri setelah melihat wajah Rinslet. Reputasi yang besar milik keluarga Laurenfrost dan kekuatan milik Rinslet sendiri sudah dikenal luas disekolah. Sudah sewajarnya, nggak seorangpun yang cukup bodoh untuk menjadikan nona muda ini sebagai musuh.

Rinslet mengangkat bahu dan menatap Claire.

"Kamu juga, beneran deh. Kamu terlihat seperti seorang putri Elstein gimanapun juga."

"Nama Elstein sudah nggak ada lagi."

Claire memalingkan wajahnya.

"Benarkah?"

"Huh?"

"Tapi aku tau ini."

Menatap lurus pada mata Claire sambil dia mendongak, Rinslet tersenyum tanpa kenal takut.

"Didalam hatimu bersemayam api Elstein—"

Bagian 7[edit]

"Itu menjadi lebih besar, meski cuma sedikit...."

Suara Rinslet mengganggu flashback Claire.

"....B-Bukan seperti itu!"

Claire melipat tangannya dan menyembunyikan dadanya.

"Apa kamu menggunakan teknik pembesar payudara yang kuajarkan padamu—"

"Aku mencobanya tapi nggak ada gunanya!!"

Claire cemberut dan melotot pada Rinslet.

"Apa kau akan menggunakan teknik curang yang kau ajarkan padaku?"

Rinslet mengangkat bahu dan menatap dadanya sendiri.

"Pada tingkat ini, kalau kita masih gagal menangkap roh payudara raksasa, aku mungkin akan bergantung pada teknik pembesar payudara ini..."

Sambil berbisik sedih, Rinslet memijat dadanya sendiri.

"Salah, kau harus melakukannya seperti ini... Mmm♪"

Seolah memperagakan sebagai contoh, Claire mencoba memijat dadanya sendiri.

"S-Seperti ini... Kyah♪"

"...Mm, hyah♪"

Bagian 8[edit]

(...A-Aku nggak dengar apapun dari sini, ya ampun.)

Duduk di bayangan pohon, Kamito bergumam dalam hatinya.

Lalu, dia merasakan suatu kehadiran di udara.

"....Huh, apa itu? Mungkinkah itu roh payudara raksasa?"

Memegang Demon Slayer, Kamito meluncur ke kedalaman kegelapan.

"Claire! Rinslet!"

Menerobos semak-semak, dia mendengar suara-suara jeritan—

"K-Kamito-san!?" "Hwahhhh, a-apa yang kau lihat, Kamito!?"

Memerah padam, kedua cewek itu menjerit.

"....M-Maaf...!"

Saat Kamito memalingkan wajahnya, dia disambut dengan cipratan air pada dirinya.

"D-Dasar bejat!" "Kamito-san sungguh bejat!"

Claire memeluk Scarlet untuk menutupi dadanya.

Sedangkan Rinslet memasang payudara palsunya untuk menyembunyikan dada aslinya.

"....K-Kalian salah! Aku merasakan sesuatu—"

Tepat saat kedua cewek itu mengangkat alis mereka—

"Rinslet, dibelakangmu!"

Kamito berteriak. Bayangan tiba-tiba muncul dibelakang Rinslet.

"....R-Roh payudara raksasa!?"

Bayangan itu dengan cekatan menjerat Rinslet dari belakang dan meraba payudaranya.

"....Huk... Ah, kyah♪"

"Bajingan, lepaskan Rinslet!"

Claire mengeluarkan Flametongue, melilitkannya pada leher bayangan itu.

Banyangan itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan melarikan diri ke kedalaman hutan.

"Kejar dia, Kamito!"

"Oke!"

Bagian 9[edit]

Bayangan mengerikan itu berayun melalui pepohonan.

Kecepatan kaburnya cukup cepat. Kemungkinan besar, dia telah mengingat gwografis hutan ini dengan baikm

"Fenrir, tangkap roh itu!"

Fenrir meraung dan menebas dengan cakarnya, menghamburkan pepohonan di jalurnya.

Akan tetapi bayangan itu menyelinap melalui celah dalam serangan tersebut seolah melakukan akrobat, kabur melalui semak-semak.

"Nggak buruk untuk ukuran seekor roh payudara raksasa. Namun—"

Claire mengayunkan Flametongue, menebas semak-semak secara horisontal.

Semak-semak itu langsung terbakar, menunjukkan sosok dari roh payudara raksasa yang bersembunyi.

"Disana!"

Claire mengayunkan cambuknya. Menghasilkan jejak berwarna merah, kobaran api melahap bayangan yang melompat itu.

"Kena kau!"

"Bagus—" "Kerja bagus, Claire!"

Kamito dan Rinslet segera menangkap dan mengepung roh payudara raksasa itu.

Bahkan ketika terjerat oleh cambuk itu, bayangan itu terus meronta.

"Dengar, roh payudara raksasa, waktunya menyerah—"

Tiba-tiba, benda besar muncul diatas kepala mereka bertiga.

"...!?"

Mereka bertiga mendongak, yang ada disana....

"A-Apa!?" "Apa-apaan itu!?"

Payudara yang sangat besar telah muncul.

Sebuah payudara. Payudara raksasa yang bergetar, bergoyang-goyang dan tembus cahaya melayang di langit malam.

....bukannya aneh, pemandangan ini sepenuhnya nggak masuk akal.

"....A-Apa-apaan ini?"

"B-Biarpun kau tanya padaku, aku nggak tau... Mungkin seekor monster payudara?"

Menatap kosong ke langit, Claire nggak berusaha menyembunyikan kebingungannya. Payudara raksasa terbang itu disertai oleh bayangan-bayangan yang berputar-putar seperti bayangan yang telah menyerang Rinslet.

"Sungguh mengejutkan. Apa itu tubuh utama dari roh payudara raksasa?"

Saat Kamito berbicara, disaat itu juga....

Payudara raksasa yang terbang diudara, seluruh tubuhnya bergoyang boing♪

"Datang!"

Claire memperingatkan kelompoknya. Disaat yang sama, bayangan-bayangan yang mengelilingi payudara raksasa itu menyerang mereka.

"Jadilah arang!"

Cambuk yang menyala menebas udara, membelah bayangan-bayangan itu. Akan tetapi, dari potongan bayangan itu muncuk tentakel-tentakel ramping untuk menjerat Claire.

"...Hyah!"

"Claire! Bangsat kau—!"

Kamito segera menebas bayangan itu dengan pedangnya. Terpotong oleh Demon Slayer, bayangan itu lenyap seperti kepulan asap di air.

"Kamito, ma-makasih...."

"Jangan turunkan kewaspadaanmu. Meskipun terlihat seperti itu, itu mungkin seekor roh berperingkat cukup tinggi—"

"Claire, payudaramu— apa payudaramu baik-baik saja!?"

"Ya, aku baik-baik aja...."

Claire menatap dadanya sendiri dan tersenyum tak kenal takut.

"Seperti yang diduga, dadaku sudah terlalu kecil untuk diserap...."

"Itu kedengaran menyedihkan..."

"Diam.... Ayo lakukan, bola pembakaran yang menyala!"

Seolah melampiaskan kemarahannya, Claire menembakkan sebuah Fireball pada tubuh utama roh payudara raksasa.

Meledak. Payudara raksasa yang tembus cahaya yang melayang diudara tertelan oleh kobaran api.

"Aku berhasil!"

"—Enggak, masih belum berakhir!"

Rinslet berteriak.

Disaat yang sama, wujud payudara raksasa yang bergoyang tanpa terluka muncul dari badai ledakan tersebut.

"Nggak mungkin! Itu adalah serangan langsung dari Fireball!"

"Dia pasti punta kekuatan untuk menetralisir serangan seseorang berdada rata!"

"Apa-apaan dia itu.... Dan juga apa yang kau bicarakan?"

Saat Claire mengeluh, roh payudara raksasa itu menjadi semakin besar dan menghantam dari bawah.

"Kyahhhh!"

Tepat dibawahnya, Claire menerima pukulan telak.

"Claire!" "Awas, Rinslet!"

Kamito menangkap tangan Rinslet dan menarik dia dari bawah sana.

Roh payudara raksasa itu terpantul dan kembali ke langit lagi.

"Beraninya kau melakukan itu pada Claire... Taring es membeku, maju dan tembuslah—Freezing Arrow!"

Rinslet dengan cepat menembakkan panah es.

Akan tetapi, panah itu dipantulkan oleh roh payudara raksasa.

"Bahkan es juga nggak berpengaruh!?"

"Rinslet, dibawahmu!"

Mendengar peringatan Kamito, Rinslet melihat kebawah. Tanpa mereka sadari, salah satu bayangan roh itu bersembunyi dibawah kaki, mencoba naik ke dada Rinslet.

"...Kyahhhh!"

"—Tenang, buang payudara itu!"

"....!"

Mendengar Kamito, Rinslet meraih payudara palsu itu dan melemparkannya.

Dibuat menggunakan kekuatan roh air, bantalan itu memantul secara elastis di tanah.

Mungkin karena sifat dari roh payudara raksasa itu, bayangan yang menjerat Rinslet segera melepaskan dia dan pergi mengejar bantalan itu.

"Hoo, sungguh kehidupan yang penuh dengan dosa—"

Rinslet menembakkan panah es lagi ke langit.

Tentunya, dia tau itu nggak akan efektif terhadap roh payudara raksasa itu. Dia menargetkan ke tempat lain.

"Kamito-san, sekarang!"

"Ya—!"

Jejak dari panah yang tak terhitung jumlahnya membentuk jaring di udara seperti jaring laba-laba yang terjalin diantara pepohonan. Diatas jaring itu, Kamito berlari.

"Ohhhhhhhhhhhhhh!"

Kamito mengayunkan Demon Slayer.

Bagian 10[edit]

"Sekarang kau tertangkap, roh payudara raksasa!"

"Menyerahlah, dasar musuh para cewek!"

Berdiri sambil bertolak pinggang, Rinslet dan Claire menatap roh payudara raksasa yang ada di kaki mereka.

Kamito tidak menebas roh payudara raksasa secara langsung. Nggak ada jaminan bahwa membunuhnya akan mengembalikan payudara yang dicuri. Itu sangat mungkin bahwa payudara para cewek nggak akan kembali kalau mereka menyerang tanpa berpikir.

Terikat erat oleh cambuk Claire, roh payudara raksasa itu bergoyang dan meronta, terlihat seperti bongkahan daging tanpa tulang. Itu cukup aneh.

"Sepertinya dia meminta ampun..."

"Hmm, kalau kau nggak mau jadi arang, cepat kembalikan payudara semua orang—"

—Lalu....

‘O nona muda...’

"...Huh?"

Mendengar suara yang menggema di hutan, Claire segera memasuki pose waspada.

‘O nona muda, bukankah engkau... Bukankah engkau mendambakan payudara?’

"...A..pa, benda ini, benda ini baru saja bicara!"

Claire terbelalak terkejut. Sumber suaranya kemungkinan besar adalah gumpalan daging tanpa tulang itu—bukan, roh payudara raksasa—di kakinya.

"Tapi benda ini terus bergoyang!"

"Sungguh menjijikkan...."

Kedua cewek itu secara reflek melompat menjauh dari roh payudara raksasa dan bersembunyi di belakang Kamito.

‘Jawab aku—Bukankah engkau mendambakan payudara yang montok?’

"Payudara montok... A-Apa? Apa maksudnya ini?"

‘Aku adalah roh yang berkuasa atas payudara. Jika engkau melepaskan aku, aku akan menganugerahi engkau payudara—’

Saat roh payudara raksasa itu berbicara—

Claire secara reflek menelan ludah.

"A-Apa maksudmu, k-kau akan memberiku payudara besar?"

‘Tepat. Terlepas dari bentuk dan ukuran, menganugerahkan pada engkau payudara yang engkau dambakan adalah otoritasku. Apa engkau menginginkannya? Payudara yang ideal—’

"Bentuk dan ukuran idamanku—"

Claire langsung tersipu merah cerah.

"Apapun yang aku mau, kan....!"

"Tunggu, Claire, apa kamu baik-baik saja!?" "Itu adalah jebakan..."

Rinslet berbicara agak panik, sedangkan Kamito menukas dengan tenang sembari menyipitkan matanya.

"A-Aku tau.... Sejak awal, aku sudah tau itu hanya kebohongan ini adalah untuk meminta ampun..."


‘Sepertinya engkau tidak percaya. Baiklah, aku akan membuktikan dan membuat engkau melihat sedikit otoritasku—’

Roh payudara raksasa itu tiba-tiba bergetar, seluruh tubuhnya bersinar.

"A-Apa!?"

Lalu....

"Hyah!"

Payudara Claire membesar.

"Huahhhhh.... Apa ini!?"

STnBD EF 134.jpg

Dadanya membesar sampai kancing seragamnya terlepas, membuat pakaian dalamnya yang berwarna putih bisa terlihat.

Payudara besar sebesar semangka, tampak seperti payudara itu hendak keluar dari dalam pakaian dalamnya.

"N-Nggak mungkin... Ini adalah payudaraku?"

Montok seketika, Claire menatap payudaranya dengan rasa tak percaya.

"Menakjubkan, payudaraku sungguh besar, dan, sungguh berat..."

Wajah Claire langsung menyala.


‘Setelah menyerap banyak payudara, tugas setingkat ini sangatlah mudah bagiku—’

"...H-Hei, Claire?"

Kamito memanggil namanya penuh kekhawatiran.

"Tapi—"

Claire berbisik.

"Payudara ini dicuri dari Rinslet dan para cewek dari Akademi—"


‘Terus kenapa?’

Claire dalam diam menggelengkan kepalanya.

"Payudara ini milik banyak orang. Aku nggak bisa menerimanya—"

Sekali lagi, dia memasukkan kekuatan kedalam cambuk yang mengikat roh payudara raksasa itu.

"Claire...!"

Ekspresi Rinslet langsung gembira.

"Aku nggak mau payudara besar seperti ini. Kau lebih baik mengembalikan semua payudara yang telah kau curi."

‘...Tsk, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk mendapatkan payudara besar. Apa engkau yakin benar-benar akan membuang kesempatan ini?’

"Ya, aku melakukan ini atas nama kehormatan putri Elstein—"

‘.......’

"........"

Claire dan roh payudara raksasa itu saling menatap satu sama lain selama beberapa saat.

‘....Sepertinya ini adalah kekalahanku.’

Dengan demikian roh payudara raksasa itu berhenti meronta dan menghilang.

"....P-Payudaraku, payudaraku telah kembali!"

"Syukurlah."

Melihat dada Rinslet kembali normal, Claire tersenyum.

Bagian 11[edit]

Beberapa hari kemudian....

Rinslet mengunjungi kamar Claire yang terletak di asrama yang sama.

"Claire, bukalah pintunya."

"Ada apa, Rinslet?"

Claire membuka pintu sambil terlihat terkejut. Rinslet memegang sebuah kotak kecil di tangannya sambil memutar-mutar ujung rambutnya.

"U-Umm, sebuah hadiah sebagai rasa terimakasih untuk yang sebelumnya, kurasa..."

Dia tergagap.

"Itu bukanlah sesuatu yang besar yang memerlukan sebuah hadiah, disisi lain, kurasa aku telah membalas budimu..."

"....? Seperti yang kubilang sebelumnya, ada apa dengan masalah budi ini?"

Rinslet mengangkat alisnya.

"Ini tidaklah mudah untuk mendapatkannya, tapi aku membelinya dari pemasok item sihir."

Mengatakan itu, dia membuka kotak yang dia bawa dan menyerahkannya pada Claire.

"A-Apa ini?"

Claire nggak bisa berkata apa-apa mengenai ini kotak tersebut.

—Itu adalah pakaian dalam untuk dada. Sebuah bra.

Terbuat dari sutra berkualitas tinggi, dihiasi bordiran renda yang manis. Sekilas tampak seperti pakaian dalam biasa, satu-satunya hal yang aneh adalah permata kecil yang menghiasi bagian ujung depannya.

Bukannya permata biasa untuk hiasan, itu adalah sebuah kristal roh berkelas tertinggi.

"Kudengar bahwa hanya dengan memakai ini akan meningkatkan ukuran payudaramu."

"Huh?"

"Tepatnya, payudaramu akan tumbuh besar dengan memakai ini saat kamu tidur....."

"N-Nggak mungkin... Hal semavam ini sangat curang!"

"Memang, meskipun keefektifannya saat ini nggak diketahui. Akan tetapi, ada baiknya mencobanya kan?"

"T-Tapi bahkan tanpa menggunakan ini, aku masih bisa...."

Claire batuk sebagai pengalihan.

"Akan tetapi... Kurasa aku akan menerimanya. Makasih."

Claire menerima bra yang dilengkapi kristal roh tersebut.

"Tunggu, jangan lupa untuk mengaktifkan kristal rohnya agar bisa bekerja."

"Ya, aku hanya akan mencobanya. Gimanapun juga, mana mungkin sesuatu seperti ini efektif—"

Bagian 12[edit]

Malam itu, didalam asrama Kelas Gagak, suara-suara aneh dan jeritan bisa terdengar sepanjang malam.

"...A-Apa ini, nggak bisa berhenti.... Nnnn, hyah, hyahhhhhhhh♪"


Kembali Ke Halaman Utama