Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

"Res...tia...?"

Cahaya fajar menyinari teras kastil Winter Gulf—

Kamito hanya bisa berdiri diam dalam syok, menatap sambil tercengang.

Tatapannya tertuju dengan tegas pada gadis yang berdiri dibelakang Claire.

Rambut panjang dan indah yang tampak menyatu dengan kegelapan malam. Mata berwarna senja yang memantulkan sinar matahari untuk menghasilkan sebuah warna yang misterius. Terbalut dalam pakaian Elfim, tubuhnya yang halus menampilkan keindahan seperti yang dimiliki peralatan yang terbuat dari kaca yang halus. Kulit bersihnya seputih salju.

Meskipun dia tidak mengenakan gaunnya yang biasanya yang berwarna hitam, tak diragukan lagi ini adalah penampilan Restia.

Roh Kegelapan Restia — nama aslinya adalah Restia Ashdoll.

Dia adalah roh terkontrak yang seharusnya telah dibunuh Kamito di kuil Elemental Lord.

"...Apa kau benar-benar... Restia...?"

Bernafas tak teratur, Kamito mendekati dia dengan langkah sempoyongan.

Meskipun dihadapkan pada kemunculannya tepat dihadapannya, Kamito masih tak bisa mempercayainya.

Memang, dia seharusnya sudah menghilang tepat didepan mata Kamito.

Sebelum Kamito menyentuh dia dengan tangannya, dia tak bisa mempercayai hal ini.

Ujung jarinya membuat kontak dengan bahu Restia yang ramping.

Pada saat itu, gadis dengan penampilan Restia tersentak dalam ketakutan.

"U-Umm....."

"...Restia?"

Reaksi tak terduga tersebut membuat Kamito berhenti.

Matanya yang berwarna senja tampaknya—

"—Kamito."

Sebuah suara datang dari belakangnya.

Kamito melihat kebelakang untuk melihat Claire menatap dirinya dengan perasaan campur aduk.

"Claire, apa sebenarnya yang terjadi pada dia...?"

"Dengar, Kamito—"

Pada saat itu, Claire berbicara pada Kamito dengan ragu-ragu namun terhenti.

Segera setelahnya, dia melanjutkan seolah membulatkan tekadnya.

"Gadis itu tampaknya telah lupa segala sesuatu tentang kita."

— Itulah percakapan yang sedang terjadi.


Bab 1 - Pagi Hari di Winter Gulf[edit]

Bagian 1[edit]

Ada sebuah ruangan di lantai tertinggi dari Kastil Winter Gulf, awalnya digunakan sebagai kantor Margrave Laurenfrost.

Saat ini, ruangan kastil tersebut dibuka untuk sejumlah prajurit yang terluka, oleh karena itu, kantor ini adalah satu-satunya tempat yang tersisa dimana Kamito dan rekan-rekannya bisa duduk untuk melakukan percakapan dengan tenang tanpa rasa takut dari roh-roh yang menguping.

Sebuah ruangan dengan hanya perabotan minimum, meja dan kursi—

"Dengan kata lain, kau kehilangan ingatanmu juga..."

"....Iya."

Sedikit mengalihkan tatapannya, gadis itu mengangguk ringan.

Kamito dan si gadis sendirian disini. Memutuskan bahwa itu mungkin lebih mudah bagi mereka berdua untuk berbicara sendirian, Rinslet dan yang lainnya secara bijaksana meninggalkan mereka berdua.

(...Ini Restia, kan?)

Kamito merenung. Dia sudah mengkonfirmasinya berkali-kali dengan matanya sendiri.

Bagaimanapun juga, dia tak mungkin salah pada penampilan ini.

Dia adalag roh terkontrak yang selalu ada disampingnya sepanjang waktu selama masa anak-anaknya.

Meski begitu, ketidakpercayaannya terbendung dari seberapa berbedanya si gadis saat ini, dibandingkan dengan Restia yang dia kenal dengan baik.

(...Restia yang aku kenal tak akan pernah menunjukkan tatapan semacam itu)

Sedikit rasa takut bisa terlihat dari matanya yang berwarna senja.

Tatapan itu, seolah melihat pada orang yang benar-benar asing, menghasilkan rasa sakit pada dada Kamito.

Beberapa hari telah berlalu sejak dia bangun di Forest of Ice Blossom.

Sembari dia berkeliaran di hutan, melarikan diri dari para Ksatria Kerajaan Suci yang mengincar dirinya, anak-anak Elf menemukan dia dan menyembunyikan dia di desa mereka.

Dia telah lupa semua ingatan sebelum kejadian itu, hanya mengingat nama "Restia". Jangankan ingatan tentang Kamito, dia bahkan tak ingat fakta bahwa dia adalah seorang roh.

(Itu sangat mirip dengan kejadian yang menimpaku ketika aku pertama kali bangun...)

Kamito teringat ketika dia terbangunn di akademi baru-baru ini.

Pada saat itu, Kamito berada dalam keadaan amnesia karena syok mental karena kehilangan Restia.

Karena kondisi ini, dia kehilangan semua ingatan yang berkaitan dengan Restia.

Tentu saja, tak peduli seberapa mirip gejala mereka, mengingat Kamito adalah seorang manusia dan Restia adalah seorang roh, mereka tak bisa dinilai menggunakan standart yang sama...

(...Lebih tepatnya, aku akan mengatakan ini lebih mirip dengan situasi Iseria.)

Iseria Seaward adalah perwujudan Elemental Lord Air yang memandu Kamito ke daratan ini. Pada satu titik, dia juga disegel dibawah tanah di Kota Terabaikan, kehilangan semua ingatannya selain namanya sendiri.

Meskipun kasus Iseria tampak lebih seperti seseorang telah secara sengaja memasang sebuah segel, mungkin itu memungkinkan bahwa kehendak seseorang akan campur tangan pada Restia juga—?

"Jadi, apa kau tau kenapa kau diteleport ke hutan ini?"

Restia sedikit menggelengkan kepalanya segera setelah Kamito menanyakan pertanyaannya.

"Tidak, aku benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa sebelum bangun di hutan itu."

"...aku mengerti. Jika saja ada suatu petunjuk untuk mendapatkan ingatanmu kembali."

Melihat Kamito mendesah, Restia tiba-tiba memikirkan sesuatu, mendongak dan berkata:

"Ngomong-ngomong, princess maiden dari Penghuni Hutan bilang bahwa Queen of Ice Blossom memanggil aku—"

"...Judia?"

Queen of Ice Blossom adalah gelar yang diberikan kepada princess maiden manusia, Judia Laurenfrost, oleh ras Elfim yang tinggal di Forest of Ice Blossom.

Kegelapan Dari Dunia Lain telah merasukinya 3 tahun yang lalu selama ritual yang gagal. Menggunakan dia sebagai perantara agar terwujud didunia manusia, dia memanggil Zirnitra sang roh penjaga ke negeri ini. Muncul dengan dengan Kegelapan Dunia Lain, Zirnitra menghancurkan Forest od Ice Blossom hanya dalam waktu satu malam.

Dibebaskan dari kegelapan tersebut oleh kekuatan Demon Slayer, Judia masih tertidur di sebuah ruangan di kastil ini.

(Judia telah memanggil Restia ke negeri ini. Jika iti benar—)

Selama sesaat ketika Restia lenyap, Kegelapan Dunia Lain keluar dari kuil Elemental Lord, atau semacamnya, bisa saja mengganggu Restia—

Kamito mendongak dan berpaling kearah Restia lagi.

"Apa ada sesuatu yang lain yang kau ingat? Apapun itu, seperti istilah individual yang terlintas dalam benakmu... Seperti 'Sekolah Instruksional' atau 'Penyihir Senja'—"

Namun, Restia hanya menggelengkan kepalanya dengan lembut.

"....Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa."

Dia berbisik penuh permintaan maaf.

"Aku masih tidak mengerti sepenuhnya... bahwa aku adalah seorang roh dan terkontrak padamu, hal-hal semacam—"

Suaranya sedikit bergetar.

"...Aku benar-benar minta maaf... Kurasa kau masih sangat bingung."

Kamito dengan panik meminta maaf dan meletakkan tangannya di kepala Restia.

"Tak apa-apa jika kau tak bisa mengingat aku. Yang lebih penting dari apapun juga, kau masih hidup dan kita berkumpul lagi, itu sudah cukup bagus—"

"......"

Kamito menatap mata Restia secara ragu-ragu.

(...Dia dulu membelai kepalaku dimalam hari setiap kali aku tidak bisa tidur.)

Mengingat kenangan masa lalu, Kamito tersenyum kecut.

Ini adalah pertama kalinya dia membelai kepala Restia. Pengalaman yang benar-benar baru.

"U-Umm, itu benar-benar geli..."

Bisikan gelisah datang dari Restia.

"Oh maaf, aku tidak sengaja..."

Pada saat ini, ada ketukan pada pintu dari ruangan yang tenang ini.

"Onii-sama, sarapannya sudah siap."

Kamito mendengar suara Mireille, adik Rinslet.

"Oh, ini sudah jamnya sarapan—"

Bangkit dari kursinya, Kamito membuka pintu.

Berdiri didepan pintu adalah Mireille bersama Milla si maid disampingnya.

"Selamat pagi, Onii-sama."

Sedikit mengangkat roknya dengan hormat, Mireille menyapa secara menggemaskan.

"Oh, selamat pagi. Apa tadi malam menakutkan?"

"Tidak masalah. Onee-sama dan Milla ada disampingku."

Mireille mengangguk dengan tegas.

Tadi malam, Kastil Winter Gulf ini hampir runtuh karena penyerangan oleh kawanan naga es yang dikendalikan oleh Zirnitra. Bahkan sebagai seorang putri kebanggaan dari bangsawan, Mireille hanyalah berusia 9 tahun. Itu seharusnya merupakan pengalaman yang menakutkan.

"Aku mengerti. Kau adalah anak yang pemberani, Mireille."

Kamito menepuk kepala Mireille.

"Ya ampun, aku benci ketika kau memperlakukan aku seperti anak kecil, Onii-sama."

Mireille cemberut.

"Kamito, ambil ini—"

"Apa yang harus aku lakukan dengan itu?"

Milla menyerahkan seragam maid yang memiliki desain yang sama seperti yang dia kenakan.

Menatap Restia yang ada dibelakang Kamito, Milla berkata dengan tenang:

"Memakai pakaian Elfim didalam kastil sangatlah mencurigakan. Akan lebih baik untuk memakai ini."

"....Dimengerti...."

Restia berbisik dan menerima seragam maid itu.

"Jadi, Onii-sama, tolong tinggalkan ruangan ini."

"—kenapa?"

"Ya ampun! Apa kau berniat mengintip seorang gadis berganti pakaian?"

"Oh benar..."

Disinggung langsung oleh Mireille, Kamito keluar ruangan dengan panik.

— Beberapa menit kemudian, Restia berjalan keluar ruangan, sudah berganti pada seragam maid yang manis.

STnBD V14 019.jpg

Rambut hitam panjang sampai pinggangnya, sangat sesuai dengan hiasan kepala maid berwarna putih miliknya.

Ketika memakai gaun kegelapan miliknya, Restia memancarkan sebuah aura dari pesona misterius, tetapi sekarang, penampilannya adalah seorang gadis biasa.

"Itu sangat cocok denganmu, Nona Roh."

"I-Iya kah?"

Sedikit malu, Restia tersipu.

"Yah, Onii-sama, tidakkah kau punya komentar?"

"O-Oh... Itu sangat manis."

Kamito menggaruk pipinya sambil berpaling.

"T-Terimakasih...."

Tersipu-sipu, Restia menunduk karena malu.

Bagian 2[edit]

"....Hoo, ini benar-benar dingin."

Udara dingin dari wilayah Laurenfrost membuat Kamito sedikit menggigil.

Membawa Restia yang memakai seragam maidnya, Kamito mengikuti dinding pembatas kearah plaza kastil.

Est tetap berada di kamar. Kamito ingin membatalkan wujud pedangnya, tetapi dia tampaknya cukup kelelahan setelah pertempuran dihari sebelumnya, tak memberi tanggapan apapun pada sentuhan Kamito.

(....Mau bagaimana lagi.)

Aula kastil itu dipenuhi dengan para prajurit yang terluka. Makanan harus dimakan diluar.

Biasanya, putri dari bangsawan tidak akan makan bersama dengan rakyat jelata, tetapi Rinslet memerintahkan untuk membuka plaza bagi siapapun didalam kastil untuk berbagi makanan bersama diluar.

Ini mungkin salah satu alasan kenapa keluarga Magrave Laurenfrost sangat dicintai dan dihormati oleh mayoritas warga mereka.

"...Meski begitu, aku kagum bahwa kastil itu masih berdiri setelah serangan semacam itu."

Dari tepi dinding yang rusak, Kamito melihat ke plaza yang ada dibawah.

Kira-kira beberapa jam yang lalu, kastil ini masih dibawah serangan dari para naga es.

Tumpukan puing-puing dan mayat-mayat besar dari para naga es. Para roh besar sedang bersih-bersih. Barisan panjang dari prajurit sedang menunggu untuk makan didekat tenda.

Melihat para prajurit terbungkus perban yang berlumuran darah, Restia bereaksi dengan penampilan kesakitan.

"Apa tak ada cukup orang untuk membantu perawatan?"

"Tidak, para penyembuh Wolf Ritter telah pergi bersama delegasi Ayah untuk menghadiri Konferensi Semua Negara. Kastil-kastil dari para bangsawan dengan para elementalis cukup jauh dari sini dsn akan membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mereka sampai."

Mireille menggelengkan kepalanya dan menjelaskan.

"Jika saja aku bisa menggunakan sihir penyembuh juga."

Restia menggigit bibirnya dan menunjukkan ekspresi menderita.

Melihat penampilan itu di wajah Restia, Milla menanyai Kamito dengan ekspresi yang rumit:

"Kamito, apa gadis ini benar-benar roh kegelapan itu?"

".....?"

Kamito mengerutkan kening sesaat, tetapi segera menyadarinya.

(Benar juga, tim Milla ada di Blade Dance—)

Milla adalah anggota dari Rupture Division, sebuah tim yang dihancurkan oleh kerja sama dari Nepenthes Lore dan Restia.

Setelah merasakan teror semacam itu, Milla mungkin sulit mempercayai bahwa Restia yang saat ini adalah orang yang sama yang dia temui dimasa lalu.

"...Sejujurnya, aku juga tidak yakin."

Kamito menggeleng dan menjawab.

"Dalam hal penampilan, sudah pasti itu Restia, tak ada yang salah tentang hal itu..."

Memang, melihat Restia saat ini, seseorang akan menyimpulkan bahwa ingatan dan kepribadian dari Restia yang dulu sudah lenyap sepenuhnya.

Apa kasusnya seperti kasus Kamito sebelumnya dimana ingatannya hanya tersegel? Atau mungkin—

"....Apa ada yang salah?"

Melihat Kamito berhenti berjalan, Reatia memiringkan kepalanya dan menatap dia.

— Perilaku ini jelas-jelas adalah sebuah kebiasaan dari roh terkontrak yang selalu bersama dia dimasa lalu.

Bagian 3[edit]

Kamito dan kelompoknya turun ke plaza melalui tangga di dinding pembatas.

Ditengah-tengah banyak tenda yang didirikan, erangan-erangan dari orang-orang yang terluka bisa terdengar.

— Diantara mereka, satu kelompok diisolasi.

"Ada apa yang disebelah sana?"

"Anak-anak Elfim dari Forest of Ice Blossom. Para Wolf Ritter melindungi mereka."

".....!"

Mendengar Milla mengatakan itu, Restia segera bergegas ke tenda itu.

"....Restia?"

Kamito mengejar Restia yang panik.

Didalam tenda terisolasi tersebut, dia melihat seorang gadis yang tampak akrab.

(Gadis ini pasti...)

Berbaring diatas tempat tidur sederhana adalah princess maiden Elfim yang pingsan di hutan.

Restia berlari ke samping tempat tidur dan memanggil nama gadis itu.

"...Rana!"

"...Res...tia...?"

Gadis itu membuka matanya yang berwarna merah.

"...Syukurlah. Aku senang sekali kau baik-baik saja."

Restia menghela lega dan memegang tangan si gadis.

Gadis bernama Rana itu berkedip-kedip—

"Restia, kau tidak marah?"

"Kenapa aku harus marah?"

"Karena kami melakukan hal itu padamu..."

Gadis itu menunduk dan tergagap karena malu.

Restia menggelengkan kepalanya dan menegang tangan gadis itu erat-erat.

"Jika orang-orangmu tidak menyembunyikan aku saat itu, para ksatria manusia itu akan menangkapku sekarang. Dan pada saat itu, pikiranmu dikendalikan oleh Queen of Ice Blossom."

"Restia..."

"Kalian saling kenal?"

Restia mengangguk ringan untuk menjawab pertanyaan Kamito.

"Ya. Gadis ini yang merawat aku saat aku di desa Elfim."

"Oh, gadis ini...."

"Kau...."

Rana memalingkan pandangannya kearah Kamito.

"Ngomong-ngomong, aku masih belum memperkenalkan diriku sejak bertemu denganmu di hutan. Aku Kazehaya Kamito."

"...Oh, itu kau yang membantu kami mengirim Zirnitra ke dalam peristirahatan."

Rana memegang tangan Kamito dan berterimakasih sangat pelan.

"Aku sungguh senang bahwa semua orang tampaknya baik-baik saja."

Restia melihat anak-anak yang ada didalam tenda.

Terikat oleh kutukan yang dikeluarkan oleh Queen of Ice Blossom, Para Penghuni Hutan melemah dan berada diambang kematian ketika mereka diselamatkan.

Namun, komentar ini menyebabkan Rana tampak muram.

"Tidak, meskipun hidup kami terselamatkan, Forest of Ice Blossom telah hancur. Kami tak lagi memiliki tempat pulang sekarang."

"Tak bisakah kalian tinggal disuatu tempat selain hutan? Bahkan tinggal di wilayah manusia juga—"

"Kami adalah ras yang hidup dan mati bersama hutan. Meminta kami membuang kebaggaan kami dengan cara ini adalah hal yang mustahil."

Rana menggelengkan kepalanya, tampak energinya terkuras.

Apa boleh buat, hutan itu adalah segalanya bagi mereka.

Disana—

"— Hutan itu tidak hancur, kau tau?"

Mireille menyela masuk.

"...Apa kau dari keluarga Margrave Laurenfrost?"

Rana melebarkan matanya karena terkejut untuk mengetahui bahwa putri penguasa feodal telah datang.

"House of Laurenfrost akan mengerahkan dukungan penuh mereka untuk membantu orang-orangmu dalam pemulihan Forest of Ice Blossom. Jika kita semua bekerja bersama, hutan itu pasti akan kembali sebagaimana asalnya."

Mireille mengepalkan tangannya erat-erat dan menyatakan dengan emosi yang dalam.

Rana menatap si putri penguasa itu tercengang.

Tunggal di Forest of Ice Blossom, ras Elfim bertentangan terhadap manusia di negeri ini.

Meskipun ada hubungan permusuhan ini, gadis muda ini—

Tanpa dalih apapun, dia mengulurkan bantuan pada mereka.

"Mari berteman mulai dari sekarang, oke?"

"....."

Rana menatap tangan kecil yang Mireille ulurkan—

Kemudian dia melihat anak-anak yang ada didalam tenda.

Menatap Rana, anak-anak itu semuanya menggangguk pada dia.

Rana menjabat tangan kecil yang diulurkan Mireille...

Kemudian seolah mengikuti sebuah etika bawahan, dia menundukkan kepalanya.

"Kami para Penghuni Hutan setuju untuk mengikrarkan kesetiaan kami sebagai bawahan pada House of Laurenfrost, untuk masuk dan tinggal didalam kastil dibawah kepengurusan Laurenfrost."

"Bukan sebagai bawahan. Apa yang kami, Laurenfrost inginkan adalah aliansi dalam kedudukan yang setara."

Mireille berbicara dengan riang.

Melihat bagaimana Mireille bertindak, Kamito berkata pelan pada Milla.

"Sepertinya, Mireille akan tumbuh menjadi seorang penguasa yang mengagumkan."

"...Tentu saja. Mireille-sama memang memiliki potensi seperti itu."

Milla tersenyum, menunjukkan ekspresi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagian 4[edit]

"Kamito! Kau telat!"

"Memang, perutku dari tadi sudah protes!"

Berdiri mengenakan apron, Claire dan Ellis cemberut, tampak sangat tidak senang.

Kerudung yang mereka pakai dikepala mereka tampak manis, sama seperti telinga kucing.

"....Maaf. Jadi kalian berdua membatu memasak untuk menyajikan makanan pada pengungsi?"

"Ya, tenaga kerjanya tampaknya kurang—"

"Aku memasukkan beberapa bahan dari kastil dan mencoba membuat sup."

Didalam tenda, ada panci besar dengan uap mengepul. Aroma harum memenuhi udara.

Roh kucing neraka berada dibawah panci itu sedang mengeluarkan api yang besar.

"Wow, bahkan Scarlet juga membantu. Kerja bagus."

Kamito menepuk kepala Scarlet sambil memuji. Scarlet mengeong dalam kegembiraan.

"Sayuran dengan ditambahkan cabai akan membantu menghangatkan tubuh. Juga ada kacang-kacangan, roti dan kentang rebus. Andai saja ada bahan-bahan lebih banyak lagi."

"....Ini semua karena badai salju di Pegunungan Kyria. Pengantaran persediaan makanan sangat terpengaruh."

Milla berbicara dengan nada meminta maaf.

"Tidak, itu sudah cukup bagus. Sup ini sangat lezat—"

Merasa ingin tau tentang sesuatu pada saat ini, Kamito menanyai Ellis.

"Ngomong-ngomong, Ellis, apa cideramu sudah baikan?"

Ini terjadi sebelum mereka beragkat dari Akademi. Ellis terluka parah karena Lurie Lizaldia dan seharusnya perlu dirawat lebih lama lagi. Karena dia telah memaksakan dirinya untuk mengunjungi Laurenfrost, Kamito sangat khawatir tentang cideranya.

"...~Uh, umm, itu karena...."

Mengatakan itu, wajah Ellis menjadi merah cerah karena suatu alasan.

"A-Aku sudah pulih. Bahkan aku sendiri merasa takut dengan tingkat pemulihan yang mencengangkan ini."

".....Benarkah?"

"Uh, iya, itulah intinya..."

Ellis memalingkan wajahnya, tampak sangat malu.

"Kurasa... itu mungkin... berkat kamu...."

"...Aku?"

"...~K-Karena, umm... denganmu... c-ciuman itu..."

Ellis tergagap sembari wajahnya berwarna merah. Lalu—

"Hei! Apa makanannya belum siap juga?"

"Kami semua kelaparan. Cepatlah!"

Suara-suara kasar dari para prajurit bisa didengar dari belakang. Bahkan didalam mimpi terliar mereka, para prajurit ini tak pernah membayangkan bahwa putri-putri bangsawan dari keluarga Fahrengart dan mantan keluarga Elstein memasak untuk mereka.

"Serahlan ini padaku. Kalian berdua pergilah sarapan duluan."

Milla meminta pergantian pekerjaan.

"...Ya, maaf tentang itu. Terimakasih karena melakukan ini."

"Itu sangat membantu. Scarlet, kau bisa istirahat juga."

"Meow—"

Scarlet merangkak keluar dari dalam kobaran api. Api dibawah panci melemah.

Bagian 5[edit]

"Sarapan lewat sini—"

Claire memimpin mereka kearah yang berlawanan dengan plaza kastil, ke tempat dimana ada beberapa bangku sederhana dan sebuah meja yang terbuat dari kayu.

"Simorgh dan aku menggunakan pohon tumbang dihutan untuk membuat meja ini."

"Seperti yang diharapkan dari Ellis, sungguh terampil dan penuh pertimbangan."

Ngomong-ngomong, ketika Kamito pertama kali mendaftar dk Akademi, Ellis membuat sebuah rumah kecil untuk dia yang meyerupai kandang kuda.

...Tapi rumah itu dimusnahkan dalam sekejap selama pertengkaran antara Claire dan Rinslet.

(...Kejadian itu sudah berlalu beberapa bulan yang lalu. Hal itu pastinya membawa kembali kenangan.)

Menempatkan piring-piring di meja untuk makan roti dan sup, mereka duduk dibangku itu.

Restia mengambil tempat duduk terpisah disamping Kamito.

"Benar juga, dimana Rinslet?"

"Onee-sama saat ini berjaga di kastil, aku menduga dia akan ada disini sebentar lagi."

"...Kalau begitu mau bagaimana lagi. Ayo mulai duluan."

Claire membuka penutup panci diiringi menyebarnya aroma sup.

"Wow, itu tampak nikmat..."

Saat Kamito mencium aroma itu, dia merasakan nafsu makan yang meluap-luap. Setelah menghabiskan kekuatan suci dalam jumlah yang banyak tadi malam dalam pertempuran melawan Zirnitra, dia sekarang merasa sangat lapar.

Ellis mengisi mangkok sup untuk Kamito. Mengambil sendok, Kamito mulai meminum sup itu dengan lahap.

"....Hmm, meskipun sedikit pedas... ini sangat enak!"

Kamito meminum sup harum itu dan memuji dengan mengangkat jempol.

"B-Begitukah....? Syukurlah...."

"...Tunggu, Kamito! C-Cobalah rotiku juga!"

"...Huh? Jangan bilang kau yang menbuat ini, Claire?"

Menatap tumpukan roti di keranjang, Kamito terkejut.

Roti gandum hitam mengelurkan aroma dari roti yang dipanggang secara sempurna.

Sekilas, tak ada satupun roti yang gosong menjadi arang.

"J-Jangan bilang ini adalah roti kalengan?"

"Kamito, aku akan marah lo."

"...M-Maaf! ...tapi bagaimana caranya kau melakukannya?"

Sebagai hasilnya, Claire membusungkan dadanya yang datar.

"Aku sekarang bisa mengendalikan api yang aku keluarkan."

"B-Benarkah? Tapi kenapa begitu—"

"...Aku sendiri tidak yakin. Sejak Nee-sama memaksaku untuk menjadi Ratu Kegelapan, aku bisa mengendalikan Api Elstein dengan sempurna."

Claire bergumam.

"Sebelum itu, aku selalu harus menekan apiku sebanyak mungkin, tetapi semuanya berbeda sekarang. Itu terasa seperti aku bisa mengeluarkan api kapanpun aku mau sekarang."

"Aku mengerti. Jadi alasan kenapa kau hanya bisa menghasilkan makanan yang seperti arang sebelumnya adalah karena kau tak bisa mengendalikan apimu dengan baik."

"Ya, aku merasa seperti aku bisa memasak apapun sekarang. Aku tidak akan kalah dari Ellis dan Rinslet lagi."

Claire tersenyum percaya diri dan membuat tanda kemenangan dengan tangannya.

"Hoo, dunia memasak sangatlah keras."

"Oh Onee-sama!"

Kamito memandang kearah plaza untuk melihat Rinslet didampingi oleh Fenrir.

"Hmm, akhirnya kau datang, Rinslet...."

"Segalanya akhirnya hampir selesai."

Rinslet tiba dimeja itu dan mengambil sepotong roti dari keranjang.

"Apa benar-benar Claire yang memanggang roti ini?"

"Itu benar!"

"Ya, aku tidak membantu dia sama sekali."

"Eh...."

Rinslet dengan anggun merobek sedikit dengan jarinya dan memasukkannya kedalam mulutnya.

"....."

"...B-Bagaimana?"

Rinslet menelan roti itu.

"...T-Tidak buruk... kurasa!"

"A-Apa!? Jika itu enak, maka jujur saja."

"Kau terlalu naif. Jalur dari pemanggangan roti sangatlah mendalam... Yah, jika kau memohon padaku secara tulus, itu tidak seperti aku tak bisa mengajarimu rahasia dari membuat roti, oke?"

"...J-Jangan harap... Oh yah, jika kau memohon padaku 'tolong ijinkan aku mengajarimu' maka itu tak seperti aku tak bisa mempertimbangkannya, oke?"

"Hmph, mustahil!"

"Aku juga sama!"

Dihadapkan dengan argumen penuh rasa nostalgia seperti itu, Kamito merasa terlalu lelah untuk berkomentar.

Melihat mereka berdua—

Restia terkikih dan mulai tertawa.

Semua orang memfokuskan tatapan mereka pada Restia.

"...Uh, m-maaf!"

Restia tersipu dan meminta maaf.

Claire dan Rinslet bertukar tatap dan duduk.

"Hei Roh Kegelapan, jangan malu-malu. Makanlah sebanyak yang kau mau."

Claire mengulurkan sepotong roti pada Restia.

"...Ya, terimakasih. Aku makan."

Restia menundukkan kepalanya dan mulai makan roti tersebut dengan cara yang sangat anggun.

"....Mm, benar-benar enak!"

"B-Benarkah? Ini adalah roti yang ditambahkan buah kenari."

"Buah kenari? Enak sekali...."

Melihat Restia bertindak seperto ini, Claire bergumam.

"Itu terasa tak biasa untuk melihat dia seperti ini. Tak terpikir dia adalah si roh kegelapan..."

"....Oh biarlah."

Mengangguk ringan—

Kamito teringat apa yang dikatakan Milla tadi.

— Apa gadis ini benar-benar roh kegelapan?

(...Dia benar-benar tampak seperti seorang gadis manusia. Tapi—)

Seorang roh terlahir kembali sebagai seorang manusia— bisakah sesuatu seperti itu benar-benar terjadi?

"...Ngomong-ngomong, bagaimana situasi di kastil?"

"Orang-orang yang terluka lebih banyak daripada yang diduga. Rekonstruksi kemungkinan akan membutuhkan waktu lebih lama."

Rinslet menggelengkan kepalanya dan menjawab Ellis.

"Aku sudah mengirim surat pada ayahku di ibukota kekaisaran. Namun, mereka saat ini sedang mengadakan Konferensi Semua Negara. Bahkan jika mereka bergegas kembali, itu akan membutuhkan beberapa hari."

"Yah, aku aku meminta dukungan pada kakek. Anggap saja itu sebagai bantuan kecil pada keluarga Laurenfrost."

"Terimakasih banyak. Itu akan menjadi sebuah bantuan yang besar, Kapten."

"Onee-sama, pemulihan hutan Elfim akan membutuhkan bantuan juga."

"Ya, aku tau. Tetapi sebelum itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengubur sisa-sisa Zirnitra yang mencemari lingkungan hutan...."

Muncul bersama naga es yang tak terhitung jumlahnya, Zirnitra tidak diteleportasi secara otomatis kembali ke Astral Zero. Sisa-sisa tubuh yang besar masih ada di hutan.

Dibiarkan tanpa pengawasan seperti ini, pohon-pohon yang saat ini masih hidup akan menyerap aura kematian dari sisa-sisa tersebut dan akan segera musnah secara pasti.

"Meskipun masih ada segunung masalah yang menunggu untuk diselesaikan, aku percaya kamu harus beristirahat dulu sebentar."

Karena berdiri pada posisi penguasa dari keluarga Laurenfrost, Rinslet harus memastikan segalanya berjalan baik tetapi kelelahannya sudah mencapai batas. Tanda-tanda kelelahan yang jelas terlihat dalam sikapnya.

"Ya~ aku akan beristirahat setelah segalanya terselesaikan sampai pada poin dimana aku tidak perlu khawatir... Oh—"

Rinslet menatap Kamito seolah-olah dia tiba-tiba menyadari sesuatu.

"....Hmm? Ada apa?"

"U-Umm..."

Karena suatu alasan, wajahnya menjadi merah dan dia mulai menggosok-gosokkan lututnya secara canggung.

"S-Sebenarnya, ada sebuah metode yang sangat bagus yang bisa menghilangkan rasa lelahku..."

"Metode yang sangat bagus? Menggunakan kekuatan suci untuk pemijatan atau semacamnya?"

"B-Bahkan lebih efektif daripada itu...."

".....?"

"Metode apa itu? Rinslet, cepat katakan—"

"P-Pada dasarnya, umm... sebuah c-c-c-ciuman dengan Kamito-san—"

"—Putri!"

Rinslet terganggu oleh kepala maid, Natalia, yang datang tergesa-gesa.

"Natalia? Apa sesuatu terjadi?"

"Harap segera kembali! Judia-sama telah bangun!"

Bagian 6[edit]

Istana Nafescal di ibukota kekaisaran, Ostdakia—

"....hhaah, inilah kenapa aku membenci istana."

Saat fajar, Fianna menyeret tubuhnya yang kelelahan ke ranjangnya dan jatuh, mendesah dalam-dalam.

Suatu insiden tertentu sedang terjadi di Teokrasi Alpha baru-baru ini. Perwakilan dari negara-negara sekitar telah diundang untuk menghadiri Konferensi Semua Negara untuk mendiskusikan tindakan pencegahan.

Insiden ini kudeta secara mendadak dalam Teokrasi. Si dalang, Sjora Khan telah mengambil alih istana Scorpia hanya dalam waktu setengah hari dan memenggal sang Pemimpin.

Saat ini, Teokrasi terbagi antara faksi Sjora dan faksi mantan Pemimpin, menghasilkan perang saudara yang ganas. Api perselisihan internal berkobar dengan meningkatnya intensitas dan mulai mempengaruhi negara-negara tetangga.

Karena hubungan perdagangan jangka panjang dari Teokrasi, Kekaisaran Ordesia tak bisa diam saja dan menonton hal ini terjadi tanpa ikut campur. Oleh karena itu, Konferensi Semua Negara diadakan.

Dengan sejumlah istirahat, konferensi itu berlangsung hingga larut malam.

Alasan terbesar kenapa konferensi itu berkembang lambat adalah Kerajaan Suci Lugia, yang menggunakan kegigihan dalam garis keras terhadap Teokrasi, sekarang mengubah pendapat mereka dan menyatakan dukungan untuk dalang kudeta, Sjora Khan.

Sikap tak terduga dari kerajaan besar itu memberi penundaan pada delegasi-delegasi lain dari negara-negara lain, menenggelamkan konferensi kedalam kekacauan.

Dracunia mengusulkan menggunakan kekuatan. Dengan sebagian besar perdagangan berlangsung dengan Teokrasi, Kerajaan Balstan menyarankan mendukung Putri Kedua Saladia Khan. Kekaisaran Quina yang cerdas berpura-pura sebagai pihak pengamat, mengharapakan lebih banyak kekacauan diantara berbagai negara benua.

Setelah mendengarkan begitu banyak pendapat, Kaisar Ordesia tampaknya mendapatkan kesulitan mengklarifikasi posisi resmi. Bahkan diantara dewan kekaisaran, pendapat-pendapat terbagi antara faksi intervensi dan faksi non-intervensi.

Mereka yang memegang otoritas tertinggi setelah sang kaisar, yaitu, Lord Conrad sang menteri utama, keluarga Duke Finegas yang berdiri sebagai faksi terbesar dalam dewan kekaisaran, dan yang lainnya rupanya pendukung dari intervensi militer.

(Namun, para bangsawan dalam faksi Arneus tampaknya mendukung usulan Kerajaan Suci—)

Apa yang paling membuat Fianna khawatir adalah niat dari kakak tertuanya, Arneus.

Faktanya, orang yang meminpin Konferensi Semua Negara ini adalah Arneus bukannya sang kaisar.

Juga ada rumor-rumor bahwa sang kaisar akan segera turun tahta, mewariskan mahkota pada dia.

Namun, meskipun hal itu berkaitan dengan ini, dewan kekaisaran memiliki pendapat yang berbeda.

Ini adalah pertanyaan tentang kesanggupan Arneus.

Sejauh adiknya, Fianna, memandang masalah ini, Arneus akan menjadi seorang raja yang menyedihkan mengingat karakternya yang kasar dan tak kenal ampun. Dengan seseorang yang bodoh seperti dia sebagai kaisar, Kekaisaran Ordesia akan menjadi makanan bagi kekuatan-kekuatan besar negara tetangga dalam sekejap mata.

Disisi lain, ada para bangsawan yang berharap seorang pemimpin yang bodoh dan mudah dimanipulasi muncul.

(Bisa dikatakan, hal ini sama sekali tak ada hubungannya denganku...)

Fianna menggelengkan kepalanya. Meskipun ada juga orang-orang diantara para bangsawan yang mendukung Fianna, setelah memulihkan kekuatannya dari roh terkontrak, untuk menjadi kaisar wanita, Fianna sama sekali tak memiliki niat semacam itu.

"Tak peduli apa, tampaknya konferensi ini akan berlarut-larut."

Dia mendesah dalam-dalam lagi.

...Kecemasannya berakar dari ketidakpastian tentang akan jadi seperti apa masalah ini pada akhirnya.

(...Aku benar-benar ingin kembali ke Akademi untuk bertemi dengan Kamito-kun dan yang lainnya.)

Tepat saat dia hendak melepaskan gaun formalnya untuk berganti pakaian tidur, pada saat itu—

Dia mendengar ketukan ringan pada pintu.

".....!?"

Dia menghentikan apa yang sedang dia lakukan dan melihat kearah pintu. Petugas perempuan istana tidak diijinkan untuk memasuki ruangan ini. Fianna tak pernah menduga seseorang mengunjungi Putri Kedua pada jam ini.

(...Dan juga, seharusnya ada penjaga di koridor.)

Fianna meningkatkan kewaspadaannya dan menyembunyikan sebuah kristal roh dibalik gaunnya.

Berjalan kearah pintu, dia bertanya pelan.

"...Siapa?"

"—Ini saya, Putri, Yang Mulia."

Dia mendengar suara seseorang yang tak terduga.

"...Mungkinkah kau, Lord Conrad?"

Tak pernah menduga hal ini, Fianna terkesiap.

Duke Conrad Batimas adalah menteri utama Kekaisaran Ordesia, orang yang memegang hak untuk bicara atas nama sang kaisar pada dewan kekaisaran.

"Putri, saya ingin berbicara dengan anda mengenai beberapa masalah yang dirahasiakan. Apa anda luang saat ini?"

"....I-Iya."

Meski agak ragu-ragu, Fianna memutuskan dia tak boleh membuat menteri utama Kekaisaran menunggu terlalu lama di koridor.

Fianna membuka pintu dengan kuncinya dan diam-diam melihat keluar.

"Saya benar-benar minta maaf karena mengganggu di jam segini, Yang Mulia—"

Seorang pria yang lebih tua dengan rambut putih membungkukkan kepalanya dengan sopan.

Dia tampaknya sendirian tanpa satupun pelayan.

"Lord Conrad, silahkan masuk dulu."

"Baik, maafkan kelancangan saya."

Lord Conrad masuk kedalam kamar, berjalan menggunakan tongkat.

Lord Conrad sering memperhatikan Fianna selama masa anak-anaknya sebelum mendaftar di Divine Ritual Institute. Setelah Fianna kehilangan kekuatan dari roh terkontraknya, Lord Conrad terus memperlakukan Fianna sama seperti sebelumnya. Ini adalah kebaikan yang mulia yang dia miliki.

Justru karena itu, kesan Fianna pada dia cukup baik. Namun—

(....Kata-kata yang dirahasiakan untukku dari menteri utama Kekaisaran?)

...Entah kenapa, dia mendapatkan perasaan buruk tentang hal ini.

"Siapa prajurit yang ada di koridor?"

"Prajurit-prajurit disini semuanya adalah bawahan saya yang setia karena mereka yang asal-usul tidak jelas tidak boleh mendekati anda, Putri."

Lord Conrad mengarahkan tatapannya keseluruh dinding kamar.

"Tampaknya tidak ada roh dikamar ini?"

"...Ya, aku menggunakan penghalang."

"Baiklah. Kalau begitu saya langsung ke pokok masalahnya."

Lord Conrad mengangguk ringan, menatap mata Fianna.

"Yang Mulia, saya ingin mendukung anda sebagai kaisar yang selanjutnya?"

"....Eh?"

Kata-katanya sangat tidak terduga. Tepatnya, Fianna tau bahwa tak mungkin ada alasan lain bagi menteri utama Kekaisaran untuk mengunjungi dia diwaktu seperti ini.

Namun, meski begitu, dia masih tak bisa menekan keraguan dalam hatinya.

"Lord Conrad, aku—"

"Yang Mulia, silahkan lihat ini."

Lord Conrad menyela penolakan refleksif Fianna dan mengeluarkan sebuah gulungan dari dadanya, membukanya didepan mata Fianna.

"....Ini—"

Tertulis pada gulungan itu adalah nama-nama dari banyak orang dengan jejak-jejak darah padanya.

Fianna kebanyakan memiliki suatu kesan pada setiap nama itu. Mereka adalah aristokrat yang memegang kekuasaan dan pengaruh di Kekaisaran Ordesia.

"Memang, ini adalah petisi bertanda darah dari banyak bangsawan yang mendukung anda untuk menjadi kaisar."

"...Eh, tak mungkin..."

Termasuk menteri utama, total ada 24 nama yang tercatat pada gulungan tersebut. Ini mewakili kira-kira seperempat dari dewan kekaisaran. Ada sebanyak ini bangsawan yang ingin Fianna untuk naik tahta kekaisaran.

"Memang, Arneus adalah kakakku yang bodoh. Namun, untuk memintaku menjadi kaisar, ini—"

"Jika Pangeran Arneus menjadi kaisar, Kekaisaran Ordesia akan runtuh cepat atau lambat. Dia bisa dianggap tak lebih dari dieksploitasi oleh para bangsawan yang ada dalam faksi Arneus. Tak ada yang lebih buruk dari hal ini—"

Lord Conrad merendahkan suaranya dan berbisik pada Fianna.

"Karena Kerajaan Suci secara rahasia mendukung Pangeran Arneus."

"....Kerajaan Suci?"

Fianna bertanya tanpa sadar.

Jika Kerajaan Suci Lugia memasukkan bayangnya pada kaisar Ordesia, memang, itu wajar saja bagi Lord Conrad untuk khawatir sebagai menteri utama.

(...Pendapat Arneus dalam Konferensi Semua Negara secara tak wajar sepaham dengan Kerajaan Suci kali ini.)

...Itu adalah sebuah saran yang masuk akal. Sejak berakhirnya Perang Ranbal, Kerajaan Suci mulai memandang Ordesia dengan serakah.

"Apa Yang Mulia Kaisar tau tentang ini?"

"Sangat disayangkan, Pangeran Arneus telah mendapatkan kepercayaan yang mendalam dari Yang Mulia. Lebih tepatnya, itu akan lebih baik untuk mengatakan bahwa Yang Mulia sendiri kemungkinan telah jatuh dibawah perlindungan Kerajaan Suci—"

"Tak masuk akal....."

"Saya yakin bahwa Yang Mulia Kaisar tidak mengambil garis keras terhadap Teokrasi pada kejadian ini mungkin sebagian karena pertimbangan terhadap keinginan Kerajaan Suci."

Mata Lord Conrad menatap tajam pada Fianna.

"Antara anda, yang sudah lulus dari Divine Ritual Institute, Putri Pertama Linnea dan keturunan langsung dari garis keturunan kerajaan yang berada dalam garis pewaris, Putri Fianna, anda adalah satu-satunya orang yang dipilih oleh roh keluarga kerajaan."

"...Tapi sebagai penerus yang paling sesuai? Apa kau yakin kau tidak salah?"

"Silahkan maki saya jika kata-kata saya menyinggung anda, tetapi demi kebaikan masa depan negri kita, saya bersedia untuk menanggung kebencian anda, Yang Mulia."

"Seorang kaisar wanita akan menghadapi penentangan dari negara-negara sekitar. Divine Ritual Institute telah menetapkan bahwa para princess maiden yang melayani roh dilarang terlibat dalam politik."

"Ada contoh masa lalu dari kaisar wanita dalam sejarah. Dalam kasus Dracunia, sebuah spirit naik tahta. Cara alternatifnya, jika Yang Mulia memilih seorang suami dari diantara bangsawan Kekaisaran—"

"...Tidak, sudah pasti tidak...!"

Fianna berteriak secara reflek.

(...Karena aku punya seseorang yang aku cintai!)

"...Putri?"

"T-Tidak, itu..."

Wajah Fianna menjadi merah. Dia batuk secara sengaja untuk memicu pemahaman.

Lord Conrad menurunkan bahunya dan berbicara layaknya menceramahi.

"...Memang, itu sangat wajar bagi Yang Mulia untuk merasa ragu-ragu. Hal ini membutuhkan waktu bagi anda untuk memikirkannya."

"Aku tidak akan menjadi seorang kaisar."

"Waktunya masih belum datang. Ini tak apa-apa sekarang. Lalu—"

Lord Conrad menyela dia dan mengeluarkan sesuatu dari dadanya.

Itu adalah kristal roh bersinar dengan cahaya menyeramkan, semerah darah.

Fuanna telah melihat kristal roh ini sebelumnya.

"—Jangan bilang ini adalah Bloodstone!?"

Tipe kristal roh yang sangat langka, berada pada tingkat harta nasional, Bloodstone hanya bisa ditambang dari tempat suci Astral Zero.

Ini adalah tipe kristal roh yang sama yang Fianna curi ketika dia melarikan diri dari istana kekaisaran. Namun, roh yang tersegel di Bloodstone miliknya hilang selama pertempuran melawan Jio Inzagi.

Menteri utama meletakkan kristal roh yang bersinar secara menyeramkan itu ditelapak tangan Fianna dan menutup tangannya.

"Ini adalah sesuatu yang bisa melindungi anda. Harap terus simpan ini sepanjang waktu."

"Melindungi aku?"

"Para bangsawan di faksi Arneus ingin membunuh anda, Putri. Kata-kata Dame Greyworth tak lagi memiliki kuasa atas dewan kekaisaran. Anda harus melindungi diri anda sendiri dengan hati-hati sekarang."

"...Sungguh ironis. Dulu semua orang memanggilku Lost Queen, tak seorangpun berpikir untuk merenggut nyawaku, karena aku tak layak dibunuh—"

Fianna menggigit bibirnya dan berbica dengan cara mengejek diri sendiri.

"Entah itu kawan maupun lawan, tak ada lagi yang meremehkan anda di istana ini, Yang Mulia."

Menteri utama menggelengkan kepalanya dan berjalan ke pintu.

"—Sampai jumpa lagi di dewan kekaisaran."

Pintunya tertutup dengan suara kering.

Fianna menggenggam Bloodstone erat-erat.


Bab 2 - Bangkitnya Sang Gadis[edit]

Bagian 1[edit]

"Silahkan lewat sini."

Dipimpin oleh kepala maid. Natalia, Kamito dan yang lainnya sampai di depan kamar Judia.

Untuk menghindari dia ketakutan karena terlalu banyak orang yang muncul sekaligus, hanya Rinslet, Mireille dan Kamito yang masuk kamar itu.

Awalnya, Kamito ingin menolak, berpikir bahwa itu akan lebih baik jika kedua Laurenfrost bersaudara saja yang masuk, tetapi keinginan Judia rupanya ingin Kamito masuk juga.

(...Oh yah, aku ingin menanyai dia beberapa hal juga.)

"—Judia, kami masuk."

Rinslet berkata dengan gugup kemudian mendorong pintu dengan ringan.

Cahaya matahari dengan lembut masuk kedalam ruangan melalui jendela.

Disana, berbaring di tempat tidur adalah seorang gadis muda yang menawan.

Mata emerald dan rambut pirang platinum miliknya adalah karakteristik umum yang dimiliki oleh Laurenfrost bersaudara. Namun, dia memancarkan getaran yang berbeda dibandingkan kedua saudaranya.

Dia tampak seperti seorang gadis yang ada dalam fantasi, begitu rentan sehingga dia mungkin hancur jika disentuh.

(Jadi gadis ini adalah Judia Laurenfrost...)

Kamito memeriksa gadis itu dengan cermat.

Pemenjaraan Judia didalam kutukan es oleh Elemental Lord Air telah terjadi sebelum pemberontakan Ratu Bencana, pada hari Festival Elemental Air yang diadakan di Laurenfrost empat tahun yang lalu.

3 tahun lebih muda dari Rinslet, dia seharusnya berusia 13 tahun sekarang, namun penampilanya jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya. Saat ini, dia tampak kira-kira seusia Mireille.

Ketika dia berbaring di tempat tidur saat ini, tatapan Judia yang kosong tiba-tiba berkeliaran.

"....Rinslet nee-sama?"

Kamito mendengar suaranya yang serak. Itu seperti memanggil seseorang yang berada jauh.

"Judia... Syukurlah... Ini benar-benar keajaiban..."

"Nee-sama... Nee-sama... Aku..."

Judia membenamkan wajahnya di dada Rinslet, menangis.

"Tak seharipun aku tidak memikirkan kamu."

Rinslet terdengar seperti dia hendak menangis. Itu benar-benar langka untuk melihat dia bertindak seperti ini didepan orang lain, mengingat harga dirinya yang sangat tinggi.

"Judia-oneesama..."

"...Suara ini, Mireille?"

Bereaksi pada suara Mireille, tatapan kosong Judia mulai berkeliaran lagi.

Itu adalah pergerakan tatapan yang tak alami membuat Kamito merasakan sesuasu telah salah.

(Tak mungkin...)

"Judia, Onee-sama?"

Mireille tampak menyadari sesuatu yang salah dan memiringkan kepalanya.

"Aku disebelah sini lho."

Dipanggil oleh adiknya, tatapan Judia mengarah ke ruang diatas kepaka Judia.

"Judia...?"

Rinslet mendongak secara tiba-tiba.

Seketika, ekspresinya membeku.

....Jadi dia menyadarinya juga.

"...Matamu, jangan bilang..."

Mata emerald Judia telah kehilangan kecemerlangannya.

Karena terpenjara didalam kutukan es selama beberapa tahun dan terpengaruh oleh Kegelapan Dunia Lain, tubuh dan pikiran gadis itu telah terkorosi—

"Tak usah khawatir, Nee-sama—"

Judia menggeleng ringan.

"Aku berdosa karena menyerahkan pikiranku kepada kegelapan itu dan menghancurkan Forest of Ice Blossoms—"

"Kamu tidak salah, Judia!"

"M-Memang. One-sama, kamu di rasuki oleh sesuatu yang buruk!"

"Tidak, bahkan jika pikiranku dikendalikan, faktanya tetap tidak berubah bahwa aku membuat Zirnitra bangkit dan menghancurkan kampung halaman Penghuni Hutan."

"Judia...."

Rinslet berbicara dengan suara yang menderita sembari dia dengan lembut melingkarkan lengannya pada bahu adiknya, memeluk dia ke dadanya.

"Aku akan mengerahkan para pemyembuh terbaik. Tentunya para penyembuh dari ibukota kekaisaran akan bisa melakukan sesuatu untuk matamu—"

"Terimakasih, Nee-sama, tetapi aku yakin bahwa sihir roh mungkin tak bisa menyembuhkan mata ini."

Judia menggelengkan kepalanya secara tak berdaya.

—Tiba-tiba, dia mendongak seolah menyadari sesuatu.

"Boleh aku bertanya siapa orang yang ada disebelah sana?"

"Aku Kazehaya Kamito, teman sekelas Rinslet."

Kamito mendekati tempat tidur dan berlutut didepan gadis itu.

"Kamu..."

Seketika, wajah gadis itu menjadi cerah.

"Itu adalah kamu yang membebaskan aku dan Zirnitra."

"Rinslet lah orang yang menyelamatkan kamu, bukan aku."

Kamito menggeleng.

"Jika dia tidak bergegas kesana saat itu, aku akan terjebak dalam kutukan es juga."

"Ya, aku masih ingat. Nee-sama dan kamu menyelamatkan aku bersama-sama."

"...Huh?"

Kamito berseru terkejut dan bertukar tatap dengan Rinslet.

"Kamu tetap sadar didalam kutukan es?"

"Aku terus berada dalam keadaan tidak sadar, di sebuah tempat yang pada dasarnya gelap gulita. Tetapi dari waktu ke waktu, aku mendapatkan kembali kesadaran seperti mimpi. Oleh karena itu, aku ingat bahwa Rinslet-neesama datang mengunjungiku di kuil berkali-kali."

"Be-Benarkah?"

Rinslet bertanya dengan suara bergetar dan Judia mengangguk.

Oleh karena itu, suara Rinslet, berpikir bahwa adiknya, telah—

Sudah pasti mencapai kedalam hati adiknya, terpenjara didalam Kegelapan Dunia Lain.

(Namun, jika demikian...)

Kamito merasa senang.

"Judia, aku punya sesuatu untuk ditanyakan padamu."

"...Kamu ingin menanyai aku tentang sesuatu?"

"Ya. Umm, meskipun itu mungkin menjadi sebuah ingatan yang tidak ingin kamu ingat lagi—"

Kamito berbicara sedikit ragu, tetapi segera membulatkan tekadnya.

"Apa kamu ingat apa yang terjadi ketika kegelapan itu melahapmu?"

Seketika, ekspresi Judia membeku.

Jari-jarinya, memegang lututnya, mulai gemetar tak terkendali karena rasa takut.

"Onii-sama?" "Kamito-san, itu terlalu—"

"...Apa kamu melihat sesuatu?"

Memegang tangan gadis itu yang gemetar, Kamito bertanya lagi.

Tak lama kemudian, getaran tangan itu mereda—

Judia mengangguk ringan dan mulai berbicara dengan lembut.

"Ya, aku masih ingat. Apa yang aku lihat pada hari itu, aku ingat dengan jelas."

"....."

"Pada hari itu, aku melihat didalam kegelapan, didalam kegelapan yang sangat pekat, malaikat yang tak terhitung jumlahnya—"

Mendengar kata-kata itu dari bibir si gadis—

Kamito secara spontan terkesiap.

(Malaikat... huh.)

Sesuatu jauh didalam benaknya tampaknya terluka.

(Ya, aku sudah jelas melihatnya juga—)

Pada hari itu ketika dia muncul sebagai pemenang dari turnamen Blade Dance, mendapatkan hak istimewa untuk bertemu dengan para Elemental Lord...

Tepat sebelum dia bisa mencapai singgasana Elemental Lord Api, seluruh tubuh Kamito dilahap oleh Kegelapan Dunia Lain.

—Aku telah melihatnya.

Menggeliat didalam kegelapan yang tidak ada didunia ini, mereka bukan roh maupun manusia.

—Ribuan atau mungkin puluhan ribu pasukan malaikat yang kuat dalam jumlah yang tak terhitung.

(Yakin sudah, aku tidak salah lihat.)

Keringat dingin keluar dari tangan yang dia pegang.

Raksasa humanoid bersayap bersinar dengan cahaya putih-perak.

Menurut legenda di benua, para malaikat adalah mahluk purba yang melahirkan para roh.

Namun, eksistensi dari mahluk-mahluk semacam itu tak pernah terbukti, tidak sekali pun.

—Aku tak berpikir adanya kesalahan dari apa yang kami lihat.

Kamito tidak tau apakah yang telah dia lihat benar-benar yang disebut malaikat. Tetapi pada akhirnya, mengingat penampilannya, itu tak terhindarkan lagi. Dia akan menganggap mereka sebagai mahluk-mahluk yang dia ingat dari cerita pengantar tidur.

(Tetapi tampaknya Judia berpikir dengan cara yang sama seperti aku...)

Mata Judia yang hampa berkeliaran sembari dia melanjutkan.

"Aku hanya tertegun pada pemandangan itu. Terlalu takut, aku tak bisa bergerak sama sekali. Pada saat itu, salah satu dari malaikat-malaikat itu sampai didepanku mengeluarkan aku dari kegelapan. Cahaya putih-perak menelanku—"

(Sebuah mahluk dari kedalaman Kegelapan Dunia Lain— seorang malaikat? Dan itu memilih Judia?)

Sejauh ini, Kamito telah menganggap Kegelapan Dunia Lain sebagai bencana yang merusak pikiran para Elemental Lord, sebuah eksistensi tanpa pikiran maupun kehendak bebas.

Namun, menurut apa yang diingat Judia, malaikat tersebut yang membuat kontak dengan dia jelas-jelas adalah mahluk.

"Umm, apa yang kamu rasakan ketika kamu ditelan oleh kegelapan tersebut?"

Kamito bertanya lagi.

Namun, Judia menggeleng.

"...Aku minta maaf tapi hanya sampai situ yang bisa aku ingat dari hari itu. Setelah itu, didalam kegelapan, yang aku punya adalah pecahan-pecahan bentuk ingatan beberapa kali ketika aku mendapatkan kesadaran kembali—"

Kemudian dia menggosok-gosok pelipisnya penuh kesakitan.

"Judia, apa kamu baik-baik saja?"

Rinslet bertanya khawatir.

"...Jangan khawatir. Aku hanya, sedikit sakit kepala..."

"Kalau begitu kamu lebih baik istirahat saja. Selain itu, kamu baru saja bangun dari koma-mu."

"...Memang. Ya, aku sedikit, lelah."

Gadis diatas tempat tidur itu tersenyum.

"...Maaf karena membuatmu mengingat hal-hal yang tak menyenangkan."

"Sama sekali tidak. Aku sangat senang karena bisa sedikit membantu."

Melihat gadis itu mengguncang kepalanya untuk mengumpulkan optimisme, Kamito berdiri dari sisi ranjang.

"Kalau begitu aku akan pergi duluan. Maaf karena mengganggu reuni kalian sebagai saudara."

"Kamu tak perlu khawatir tentang hal itu, Onii-sama. Bagaimanapun juga, kami berdua akan berakhir sebagai adikmu dimasa depan, Onii-sama."

"...Onii...-sama?"

Mendengar Mireille, Judia memiringkan kepalanya kebingungan.

"...Uh... M-Mireille, apa-apaan sih yang kamu bicarakan?"

Rinslet segera menjadi merah cerah dan mulai memukul-mukulkan tangannya pada bahu Mireille.

Tersenyum kecut, Kamito keluar dari kamar itu.

Bagian 2[edit]

(...Malaikat huh?)

Kamito bergumam sembari berjalan disepanjang koridor.

Dia awalnya berpikir bahwa dengan menanyai Judia tentang Kegelapan Dunia Lain, dia bisa mendapatkan petunjuk untuk memulihkan ingatan Restia yang hilang setelah kegelapan itu melahap dia.

(...Tapi sepertinya sesuatu yang sedikit tak terduga telah terjadi.)

Mengembara dikedalaman Kegelapan Dunia Lain, pasukan yang terdiri dari malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Hanya satu saja dari mereka yang merasuki princess maiden manusia untuk terwujud di dunia manusia sudah cukup untuk memporak-porandakan Forest of Ice Blossom.

(...Jika pasukan malaikat ini muncul didunia sekaligus...)

Hanya membayangkannya saja membuat dia merasakan teror yang menakutkan.

"...Oh, Kamito."

Dia bertemu Claire manaiki tangga.

"...Claire. Dimana yang lain?"

"Ellis tidur dikamar. Yah itu wajar saja karena dia telah menggunakan roh miliknya sepanjang malam sejak kemarin. Roh kegelapan ada di tenda, membantu merawat para prajurit yang terluka."

"Aku mengerti..."

Dimasa lalu, Kamito telah menerima perawatan Restia sebelumnya.

Tentu saja, sebagai seorang roh kegelapan, dia tak bisa menggunakan sihir roh tipe penyembuh. Yang bisa dia lakukan adalah hal-hal sederhana seperti menerapkan pengobatan dan perban.

(...Dia sangat kikuk dengan hal itu.)

"Kamito, ada apa?"

"Tidak, bukan apa-apa."

Kamito mengangkat bahu dan berjalan berdampingan dengan Claire.

(...Lebih baik aku tidak menyebutkan topik "malaikat" itu pada Claire dan yang lainnya untuk sekarang ini.)

Terlalu sedikit informasinya dan bahkan Kamito sendiri belum mengatur informasi yang sedikit itu didalam pikirannya.

Dan juga, tak seperti kamar Judia, seseorang mungkin menguping jika dia menyinggung topik itu disini. Mata-mata yang dikirim dari Ordesia mungkin sudah menyusup kedalam kastil ini.

"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Claire?"

"Karena semua orang merasa kedinginan, aku menggunakan sihir untuk menyalakan perapian di kastil."

"Itu benar-benar menakjubkan, Claire. Kamu luar biasa!"

"Ehehe... Hei, apa-apaan itu!? Tatapanmu tampak seperti kau memuji seorang anak kecil!"

Claire bertindak malu-malu sebentar kemudian cemberut marah.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Judia."

"Oh, dia saat ini beristirahat karena dia terlalu lelah, tetapi itu tidak tampak seperti dia memiliki masalah dengan ingatan. Namun—"

"Namun?"

"Matanya tak bisa melihat lagi—"

"...Huh?"

Claire terkesiap.

"Kupikir itu mungkin sesuatu seperti akibat karena terkunci dalam kutukan es selama jangka waktu yang lama. Dia mungkin pulih secara alami atau dengan penyembuhan dari roh sihir—"

"Benarkah..."

Claire bergumam dengan ekspresi rumit diwajahnya.

"Bahkan jika sihir roh digunakan, mencoba menyembuhkan mata yang telah menjadi buta tetaplah sangat sulit, terutama karena dia menghabiskan bertahun-tahun terpenjara didalam kutukan es dari Elemental Lord."

"Bahkan penyembuh terbaik dari ibukota kekaisaran tak bisa apa-apa?"

"Tak peduli seberapa tinggi kekuatan penyembuh milik mereka, mencoba untuk memulihkan daging yang hilang adalah suatu masalah yang sepenuhnya berbeda dalam tingkatan. Ini benar-benar sesuatu yang hanya bisa mengandalkan pada keajaiban dari Elemental Lord."

"Sebuah keajaiban...."

Pada saat ini, kata ini menyentak ingatan Kamito.

"Berbicara tentang keajaiban...."

"Hmm?"

"...Yah, aku bertanya-tanya jika itu adalah dia, dia mungkin bisa menyembuhkan Judia."

"Dia?"

"Number kedelapan dari ksatria kekaisaran— Lurie Lizaldia sang Keajaiban."

Kamito mengatakan nama yang muncul didalam benaknya.

"...A-Apa kau serius?"

"...Aku tau. Tapi ini hanyalah permisalan."

Dihadapkan dengan keterkejutan Claire, Kamito menggeleng.

Sejauh yang Kamito tau, Luria adalah penyembuh berperingkat teratas bahkan diseluru benua. Jika itu adalah dia, dia mungkin memiliki kesempatan untuk menyembuhkan Judia.

Tetapi tangan-tangan keajaiban penyembuhan itu saat ini menghilang.

Kenapa Lurie bersekongkol untuk menggunakan roh-roh militer untuk menyerang akademi? Motif dan tujuannya masih tidak diketahui. Dan juga, kenapa para petinggi dalam pasukan kekaisaran membatalkan misi yanng diberikan pada agen ksatria operasi khusus Virrey Branford, untuk berhenti melacak Lurie?

(...Oh yah, terserahlah, ini ya ini, itu ya itu.)

Kamito mencoba berpikir tentang hal itu. Alasan kenapa Lurie bisa mengintai selama bertahun-tahun diantara para Number adalah karena ada seorang penghianat diantara jajaran eselon atas dari Kekaisaran.

Kekaisaran Ordesia adalah sebuah negara besar dengan sejarah yang panjang. Justru karena hal itu, pengrusakan bagian dalamnya telah mencapai keadaan yang tak bisa diapa-apakan lagi.

Dulu ketika Kamito tinggal dirumah Greyworth, pengrusakan dilakukan oleh para bangsawan Kekaisaran sudah menjadi pemandangan yang umum. Dewan kekaisaran adalah tempat dimana para iblis berjalan dibumi, sebuah sarang iblis dari perjuangan politik dan kekuasaan.

Itu adalah sebuah dunia dimana kemampuan pedang milik Penari Pedang Terkuat tidak bekerja.

Pada poin ini dalam pemikirannya, Kamito mulai khawatir tentang Fianna yang ada di ibukota kekaisaran.

(...Fianna berada didalam sarang iblis itu sekarang.)

Meskipun Greyworth ada bersamanya, Kamito masih merasa sedikit khawatir.

—Dengan demikian Kamito dan Claire kembali ke kamar tidur mereka.

"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"

"Tujuan awalku sudah tercapai. Sekarang kita akan membawa Restia kembali ke Akademi."

Kamito menjawab pertanyaan dengan mengangkat bahunya.

"...Kita mungkin akan menjadi gangguan bagi Rinslet jika kita tinggal disini terlalu lama."

Bagian 3[edit]

—Dengan demikian, Kamito dan teman-temannya segera mulai berkemas dan siap untuk pergi.

"...K-Kamu bisa tinggal beberapa hari lagi sebelum pergi, kamu tau?"

Di aula Kastil Winter Gulf, Rinslet bergumam, tampak sangat kecewa.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Kamito dan yang lainnya, Milla dan Mireille telah pergi duluan bersama Claire, Ellis dan Restia, sepertinya untuk menyiapkan kuda.

Oleh karena itu, saat ini hanya ada Kamito dan Rinslet saja.

"Yah, itu karena kita menyelinap keluar dari Akademi karena keegoisanku. Dan juga, kami mungkin menjadi gangguan bagi orang-orang yang ada di kastil jika kami terus berada disini."

"...Tentu saja tidak."

Rinslet memegang keliman pakaian Kamito erat-erat.

Sampai Margrave Laurenfrost kembali dari menghandiri Konferensi Semua Negara di ibukota kekaisaran, Rinslet harus mengatur kastil sebagai kepala dari keluarha Laurenfrost.

Biasanya, dia bisa meninggalkan pekerjaan pada Mireille dan para Wolf Ritter yang ada dikastil, tetapi itu bukanlah sebuah pilihan mengingat situasi saat ini.

"Aku sangat berterimakasih padamu, Rinslet. Berkat kamu, aku bisa mendapatkan kembali Restia. Jika aku sendirian, aku pasti akan menemui ajalku di Pegunungan Kyria dalam badai es."

"Sama sekali tidak. Aku tak melakukan bantuan sebanyak itu~"

Rinslet menggeleng.

"Kamito-san, akulah yang seharusnya berterimakasih padamu. Kamu membantu aku menyelamatkan Judia dan Laurenfrost itu sendiri. Sebagai kepala keluarga Laurenfrost, aku dengan tulus memberikan rasa terimakasihku padamu."

Dihadapkan dengan Rinslet membungkukkan kepalanya dengan sungguh-sungguh, Kamito tersenyum kecut.

"Baiklah, sampai jumpa di Akademi. Kamu bisa mengandalkan Claire dan aku untuk menyalin pelajaran untukmu."

"Oh, t-tolong tunggu sebentar—"

Tepat saat Kamito hendak pergi, Rinslet menarik pakaiannya.

"...Rinslet?"

"Oh, u-umm..."

Menarik lengan Kamito, dia menjadi gelisah karena suatu alasan yang tak diketahui, wajahnya menjadi merah cerah.

"...Ada apa?"

"U-Uh... Itu, umm..."

Smoooch♪

Sebuah ciuman kejutan.

"...Huh!?"

Bibir indah Rinslet ditekankan pada bibir Kamito—

Kemudian dengan enggan, Rinslet dengan ringan memisahkan bibirnya dari bibir Kamito.

"K-K-Kamu... Apa yang kamu lakukan...?"

Kamito berkata tak karuan karena tindakan Rinslet yang tiba-tiba.

"...~U-Umm... Aku, itu, huaaah...."

Dibandingkan dengan Kamito, Rinslet bahkan jauh lebih bingung. Seluruh wajahnya merah, bahkan telinganya.

"Tenang, Rinslet, aku yang seharusnya lebih bingung daripada kamu."

Komentar Kamito akhrinya menenangkan dia. Dia berdehem dan menatap Kamito dengan mata emerald-nya yang jernih.

(M-Manis sekali...)

Kamito terpesona oleh mata berair itu. Jantung berpacu keras.

Rinslet menarik nafas dalam-dalam dan bibirnya bergetar untuk berbicara.

"S-Selama perjalanan kita, Kamito-san, ada sesuatu yang sangat mengganggu aku."

"Sesuatu yang sangat mengganggu kamu?"

Rinslet mengangguk.

"Ah, ya, umm, ketika berada di pegunungan bersalju bersamamu... selama c-c-c-ciuman itu, aku merasa sebuah kekuatan misterius mengalir didalam diriku."

"T-Tunggu, apa yang kamu bicarakan?"

Kamito berteriak dengan panik.

"A-Aku tidak bohong. Itu sama seperti ketika naga es menyerang kastil. I-Itu berkat ciumanmu, Kamito-san, bahwa aku bisa mencapai kemenangan!"

"Apa-apaan yang sedang terjadi disini? K-Kenapa sebuah c-ciuman dengan aku menyebabkan...."

Tersipu, Kamito tergagap. Waktu itu di pegunungan yang dilanda badai es, serangkaian tindakan yang dia lakukan untuk menyembuhkan luka-lukanya mencul dengan jelas dalam pikirannya.

"...~Uh, aku sendiri tidak terlalu yakin kenapa fenomena ini muncul."

Rinslet memalingkan pandangannya karena rasa malu yang ekstrim.

"Tapi a-aku sudah pasti menerima kekuatan dari ciumanku dengan kamu, Kamito-san."

"T-Tidak mungkin...."

Sebelum dia bisa mengatakan "ini bisa terjadi", Kamito tiba-tiba menyadari sesuatu.

(Kalau dipikir-pikir....)

Dia teringat apa yang Ellis katakan padanya pagi ini.

...Sebelum berangkat ke Laurenfrost, apa yang telah terjadi sebelum meninggalkan akademi.

Ketika Kamito pergi mengunjungi Ellis yang dirawat dirumah sakit, Ellis mencium dia untuk memberi Perlindungan Angin, sebuah berkah untuk menjaga para pengelana tetap aman.

(Memang, aku mendengar bahwa Ellis memulihkan kekuatan fisiknya lebih cepat setelah itu—)

"...Kamito-san?"

Tampak sangat terkejut, Rinslet mengerutkan kening.

"Apa kamu menemukan suatu macam petunjuk dalam ingatanmu?"

"...T-Tidak, aku tidak berpikir itu seperti itu..."

Ketika Kamito dengan panik berusaha untuk menberi penjelasan atas semuanya untuk keluar dari situasi memalukan ini, Rinslet berpura-pura terbatuk.

"T-Tolong jangan salah paham. A-Aku hanya... ingin menerima kekuatan misterius itu, tidak lebih!"

Memutar-mutar ramburnya di jarinya, dia tampak sangat malu.

"....O-Oh oke, aku paham."

Ketika Kamito mengangguk berulang kali...

"Ya ampun! Kamito-san, kamu sama sekali tidak mengerti—"

Smoooch♪

Mencuri-curi ciuman kejutan lagi, Rinslet tersipu dan melarikan diri.

Bagian 4[edit]

"Kamito, apa-apaan sih yang kau lakukan?!"

"Matahari sudak akan terbenam jika kita tidak bergegas berangkat."

Di gerbang utama kastik, Claire dan yang lainnya sudah menyiapkan kuda, menunggu Kamito.

"...M-Maaf. Aku terlibat percakapan dengan Rinslet."

"Dengan Rinslet? ...Hmm, entah kenapa itu terdengar sedikit mencurigakan."

"Apa yang kamu bicarakan?"

Tatapan— Claire dan Ellis menatap Kamito dengan mata yang melebar.

"Meow—?"

Scarlet juga tampak memiliki kecurigaan tentang Kamito dan mengeong-ngeong sebelum mondar-mandir di kaki Kamito.

"I-Itu hanyalah percakapan perpisahan. Ayo cepat berangkat—"

Mengambil tali kendali kudanya di tangannya, Kamito menghindari kontak mata para gadis dan berbicara

"Ngomong-ngomong, dimana Restia?"

"Roh kegelapan itu ada disana—"

Kamito mengikuti arah yang ditunjuk jari Claire.

"...T-Tidak, bukan kesini...!"

Restia saat ini sedang berjuang dengan seekor kuda.

"Restia, kamu tidak tau bagaimana caranya menunggangi kuda?"

Kamito mendekati Restia dan bertanya. Restia merajuk.

"Aku tak tau apa-apa tentang kemampuan yang dibutuhkan untuk menunggangi kuda."

"...Yah, mau bagaimana lagi."

Restia mungkin tak pernah menunggangi seekor kuda sebelum kehilangan ingatannya, karena dia memiliki sepasang sayap hitam legam. Itu adalah sayap yang sangat cantik. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa ada roh yang akan menunggangi kuda ketika mereka memiliki sepasang sayap?

"Kalau begitu kamu menunggang saja bersamaku."

"...J-Jangan khawatir. Lihat saja dan aku akan menguasai kemampuan yang diperlukan untuk menunggangi seekor kuda!"

"Matahari akan tenggelam saat itu. Upsy-daisy."

Kamito tiba-tiba melingkarkan lengannya pada pinggang Restia dan mendudukkan dia di kudanya.

"...~!"

"Lihat, sekarang kamu menunggangi kuda, kan?"

"S-Serius, kamu menakuti aku...."

Restia cemberut dan merajuk.

"Hmm, Kamito....." "...Kamu terlalu memanjakan roh kegelapan!"

Ellis dan Claire cemberut marah.

"....Wow— rasanya lebih tinggi daripada yang aku duga."

"Kamu akan segera terbiasa. Pegang tali kendalinya erat-erat, oke?"

Restia menggeser dirinya maju sedikit dan Kamito memegang tali kendalinya juga.

"—Kalau begitu ayo berangkat. O burung kehancuran yang menguasai angin iblis, aku memohon kepada engkau untuk menggunakan sayap engkau untuk memandu kami kearah jalan yang benar!"

Diatas kuda, Ellis mengangkat tangannya dan mengisyaratkan, memanggil roh iblis angin untuk memandu jalan.

"Kehhhhhhhh!"

Muncul ditengah-tengah udara, Simorgh menanggapi panggilan tuannya, melayang di udara.

"Sungguh burung yang menggemaskan~"

"—Huh?"

Semua orang menatap Restia pada saat yang sama tanpa berpikir.

"....Apa kamu mengatakan manis?"

"Ya, bulu-bulu itu begitu halus, burung itu sangat manis."

Tetapi setelah mendengar pujian Restia—

Tiba-tiba, Simorgh menangis emosional sambil melayang di udara.

"Kehhhhh, kehhhhhhh!"

"Wow, Simorgh begitu senang hingga dia menangis...."

"...M-Menangis? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Sudah kuduga, roh milikmu sedikit menakutkan...."

Simorgh mengepakkan sayapnya dengan ganas, menciptakan hembusan angin yang besar. Roh-roh iblis angin adalah roh-roh yang memberi perlindungan angin kepada para pengembara.

"—Kalau begitu, mari kita bergegas kembali ke Akademi."

Dengan Ellis yang memimpin, Kamito dan rekan-rekannya melaju menunggangi kuda.

Pada saat ini, Kamito melihat kebelakang—

Berdiri di balkon Kastil Winter Gulf, Rinslet melambaikan tangan kepada mereka.

Melambai ringan pada dia sebagai balasan, Kamito berangkat dari wilayah Laurenfrost.


Bab 3 - Rancangan Konspirasi Jahat[edit]

Bagian 1[edit]

Dipagi hari, langit ibukota kekaisaran dikelilingi oleh awan gelap.

Setelah menyelesaikan sarapan yang terdiri dari persembahan sederhana seperti roti dan sup, Fianna berganti memakai gaun formal dan menuju ke aula pertemuan dimana para bangswan telah dipanggil untuk sesi dewan kekaisaran. Tujuan utama dari pengumpulan ini adalah untuk menyatukan sudut pandang didalam Kekaisaran sebelum Konferensi Semua Negara yang akan dilanjutkan nanti siang.

(...Dengan semua intrik ini akan berjalan sesuai pertanyaan penerus, itu akan konyol untuk mengharapkan semua sudut pandang menjadi kompak.)

Fianna mendesah dengan perasaan yang suram.

Dia telah menyembunyikan petisi bertanda tangan darah dengan hati-hati didalam sebuah kotak dikedalaman mejanya. Fianna juga mempertimbangkan untuk menyimpan petisi tersebut didalam Georgios demi menjamin kerahasiaannya. Namun, ada peluang dari barang-barang akan menghilang didalam lingkungan Astral Zero yang tidak stabil. Karena alasan inilah, dia tidak akan menyimban barang-barang penting disana.

(Aku tak pernah berniat terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan para bangsawan, tapi—)

Kata-kata Lord Conrad terus bergema didalam pikirannya.

(—Arneus meminta kerajaan Suci secara rahasia mendukungnya.)

Jika hal ini benar, kemusnahan Kekaisaran bisa dengan mudah diprediksi dari naiknya boneka negara lain ke tahta Kekaisaran Ordesia.

(...Jika itu benar-benar terjadi, rakyat akan menderita.)

Dengan pemikiran-pemikiran ini melintas dalam benaknya, dia sampai di depan bangunan pertemuan sebelum dia menyadarinya.

Sebuah bangunan megah dibangun dengan marmer, gedung pertemuan berlokasi agak jauh dari Istana Nefescal. Setelah identitasnya diverifikasi oleh roh penjaga pintu, Fianna memasuki gedung pertemuan.

Semakin dekat dia mendekati aula pertemuan, rasanya semakin berat langkah kaki Fianna.

Tempat ini adalah sarang iblis dimana seseorang akan terjebak dalam perjuangan politik. Mungkin bereaksi pada kegelisahan Fianna, Bloodstone tampaknya bergetar samar, tersembunyi didalam dadanya.

Tersegel didalam Bloodstone tersebut adalah seorang penjaga yang seharusnya bisa melindungi dia. Meskipun Georgios adalah roh kelas atas, dia tidak sesuai untuk melindungi dirinya dari pembunuh.

(Ada banyak orang disini yang ingin menargetkan hidupku—)

Cerobioh sesaat saja maka belati milik seorang pembunuh mungkin akan menusuk tenggorokannya. Fianna tanpa sadar mengarahkan Bloodstone didepan dadanya dan memegangnya erat-erat.

"Ada apa, Yang Mulia? Kau tampaknya cukup sibuk dalam pikiranmu."

"...hyah!?"

Tiba-tiba mendengar suara menggoda, Fianna berteriak kaget.

"T-Tolong jangan mengagetkan aku—"

Orang yang tiba-tiba berbicara padanya adalah sang Penyihir Senja berpakaian dalam gaun hitam.

"Aku tak menghapus hawa kehadieanku. Ngomong-ngomong, apa sesuatu membuatmu gelisah?"

"Tidak..."

"Hmm, itu akan lebih baik—"

Greyworth dan Fianna berjalan berdampingan.

(...Kurasa aku seharusnya mengatakan segalanya kepada kepala sekolah.)

Fianna menekan desakannya untuk melakukan hal itu. Tak peduli apa, ini bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan pembicaraan semacam itu. Didalam gedung pertemuan, tak ada jaminan tak ada orang yang menguping.

"Ngomong-ngomong, bencana roh berskala besar sepertinya terjadi di wilayah perbatasan."

Greyworth mengeluarkan subjek tersebut seolah itu adalah pembicaraan santai sambil berjalan.

"Di Laurenfrost?"

Laurenfrost terletak di perbatasan antara Kekaisaran Ordesia dan Kerajaan Suci. Ada rumor baru-baru ini tentang badai salju ganas di Pegunungan Kyria, tetapi adapun untuk sebuah bencana roh—

"Seberapa luas area yang tercakup dalam bencana roh tersebut? Apa orang-orang yang tinggal disana selamat?"

"Kalau itu aku tidak tau rinciannya. Namun, menurut rumor—"

Greyworth tiba-tiba merendahkan suaranya dan berkata:

"Sepertinya, ada saksi mata yang melaporkan tentang para Sacred Spirit Knight dari Kerajaan Suci terlihat dihutan dimana bencana roh tersebut terjadi."

"...pasukan ksatria Kerajaan Suci?"

Fianna mengerutkan kening dalam menanggapi penyebutan yang tiba-tiba dari Kerajaan Suci.

"Apa yang dilakukan para ksatria Kerajaan Suci di Laurenfrost?"

"Tujuan mereka tetap tak diketahui, tetapi mereka sepertinya terjebak dalam bencana roh berskala besar tersebut dan berakhir dipaksa untuk mundur."

Greyworth mengangkat bahu dan menggeleng.

Pada saat ini, Fianna tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Ini jelas-jelas sebuah pelanggaran perbatasan negara! Jika ini disampaikan selama Konferensi Semua Negara siang nanti, hal itu akan memungkinkan untuk negosiasi yang efektif dengan Kerajaan Suci—"

"Memang. Tetapi untuk suatu alasan, badan inteligen Kekaisaran, Umbra, telah menutupi berita ini."

"Apa maksudnya itu?"

"Dengan kata lain, inti dari Umbra dikendalikan oleh seseorang yang ingin menghancurkan Kekaisaran Ordesia. Hmm, penyusupan dengan mengambil keuntungan dari ketika aku tidak ada disana untuk mengawasi semuanya."

"......"

Kata-kata menteri utama dipagi ini muncul dalam pikiran Fianna.

(—Arneus meminta Kerajaan Suci secara rahasia mendukung dirinya.)

"Umm, karena Umbra menutupi berita ini, lalu bagaimana caramu mengetahuinya, kepala sekolah?"

"Sungguh pertanyaan yang bodoh. Kau pikir siapa aku ini?"

(Memang, itu adalah pertanyaan yang bodoh...)

Kemasyuran Greyworth dimasa lalu termasuk posisi seperti sang pahlawan dari era Perang Ranbal, ksatria peringkat pertama diantara para Number, dan ketua Umbra. Dia seharusnya tau sisi gelap Kekaisaran lebih baik daripada siapapun juga. Meskipun dia telah kehilangan kekuatan dari roh terkontrak miliknya, pengaruhnya terhadap Kekaisaran tak akan menyusut.

"Aku memiliki pion yang cukup luar biasa dipihakku, memberiku akses pada hampir semua informasi."

Tersenyum sugestif, Greyworth melangkah kedalam aula pertemuan.

Ditempat duduk yang diatur seperti tangga, banyak bangsawan telah duduk di kursi mereka. Mereka melakukan diskusi panas tentang masalah yang diangkat selama Konferensi Semua Negara malam sebelumnya.

Kaisar Ordesia tidak ada di kursi keluarga kerajaan, tetapi banyak bangsawan penjilat bisa terlihat disana, berada disekitar Arneus.

(...Dikelilingi oleh para bangsawan yang ambisinya sudah sangat jelas, mau jadi raja boneka seperti apa dia.)

Pikir Fianna.

Pada saat ini, mata mereka bertemu. Tak senang, Arneus kemudian menghindari kontak mata dengan Fianna dan memulau percakapan secara rahasia dengan rombongan bangsawan penjilatnya.

Tak senang karena tatapan menjengkelkan ini, Fianna meninggalkan area tempat duduk keluarga kerajaan dan duduk disamping Greyworth.

—Pada saat ini, Fianna tiba-tiba merasakan perasaan disonansi.

"Ada apa?"

Melihat Fianna mengerutkan kening, Greyworth bertanya.

"Yah, kupikir aku tidak melihat menteri utama...."

"Kudengar bahwa Lord Conrad tidak hadir karena merasa tidak sehat. Memaksakan dirinya untuk menangani beban kerja yang berat berkaitan dengan Konferensi Semua Negara, dia akhirnya jatuh sakit—"

"...Tidak hadir?"

Fianna tidak melihat ada yang tidak beres dengan dia ketika dia berkunjung pagi tadi.

(Entah kenapa, aku memiliki perasaan yang sangat buruk tentang hal ini....)

Intuisi tajam dari seorang princess maiden memenuhi kegelisahannya yang besar.

Bagian 2[edit]

Dengan sang kaisar telah duduk, dewan kekaisaran memulai sesinya tanpa kehadiran menteri utama.

Tujuan utama pertemuan adalah menentikan kebijakan Kekaisaran terhadap Teokrasi Alpha.

Untuk mengamati tanpa campur tangan atau untuk menyelesaikan melalui kekuatan militer, ada perpecahan yang besar dalam pendapat, menenggelamkan majelis tersebut kedalam kekacauan.

"Kita tidak diwajibkan untuk setuju dengan Kerajaan Suci."

"Tetapi jika kita tidak menggunakan kekuatan, Kekaisaran Ordesia akan kehilangan pengaruhnya dan terintimidasi Teokrasi Alpha."

"Dragon King dari Dracunia telah mengumumkan secara sepihat menggunakan campur tangan militer."

"Satu langkah yang salah dan ini akan mengulangi Perang Ranbal."

Perdebatan tak berguna berlanjut terus-menerus tanpa adanya tanda-tanda keputusan. Sangat jelas, jika rapat berlanjut pada tingkat ini, tak ada keputusan akhir yang akan dicapai.

—Kebuntuan dari rapat tersebut berubah setengah jam kemudian.

"Maaf karena lancang, Yang Mulia!"

—Salah satu bangsawan perlahan-lahan berdiri.

Itu adalah Earl Darss, salah satu bangsawan yang berada disekitar Arneus sebelumnya.

"Sampai poin ini, majelis tak lagi bisa mencapai sebuah keputusan yang bersatu. Alasannya sudah jelas bagi kita semua. Dibalik masalah-masalah Teokrasi yang kita bahas, masalah dari penerus kekaisaran melanda kita."

Kata-kata si earl menghasilkan keributan dalam diskusi tersebut, karena hampiir semua orang yang hadir, diam-diam memikirkan pertanyaan yang sama.

"Pangeran Arneus telah mengusulkan mengambil pendekatan yang sama dengan Kerajaan Suci Lugia. Hasilnya, mereka yang menentang naiknya Pangeran Arneus bersikeras pada campur tangan militer."

Mengatakan itu, Earl Darss menatap kearah Fianna.

"Kenapa kita tidak memutuskan masalah penerus kekaisaran disini sekarang? Jika tidak, rapat ini hanya akan berlarut-larut membuang-buang waktu—"

"M-Memang..."
"Earl Darss ada benarnya."
"Eksistensi dari faksi-faksi pendukung dan penentang Pangeran Arneus mengarah pada rapat ini tak bisa mencapai sebuah keputusan."

Suara-suara di aula pertemuan secara bertahap semakin keras.

(...A-Aku tak pernah menduga pertikaian akan berlangsung disaat seperti ini.)

Fianna menggigit bibirnya ringan.

Darss telah menunggu kesempatan ini saat dewan terjebak di jalan buntu. Meskipun dia telah menimbulkan argumen tak masuk akal, itu menghasilkan hasil yang sangat bagus dalam memecahkan kebuntuan.

(...Dan sekarang, andalan dari faksi anti-Arneus, perdana menteri, tidak ada.)

Bahkan jika itu adalah kebetulan, timing semacam ini sangat tidak mungkin.

(Mungkin perdana menteri telah diracuni oleh faksi Arneus?)

—Namun, Bangsawan lain berbicara pada saat ini.

"Lord Darss, sesi pertemuan ini hanya untuk tujuan membahas kebijakan kita terhadap Teokrasi Alpha."

Orang yang berbicara adalah kakek Ellis, Duke Cygnus Fahrengart. Lahir dari keluarga militer yang bergengsi, dia adalah seorang bangsawan yang mempertahankan netralitas, tak memihak faksi manapun.

"Sebaliknya, Lord Duke. Diskusi ini mengenai kebijakan kita terhadap Teokrasi hanyalah fenomena dangkal. Inti masalah yang sebenarnya adalah pertanyaan tentang penerus kekaisaran."

Earl Darss menjawab dengan beberapa tindakan ketidaksenangan.

"Tapi Lord Darss—"

Kali ini, bangsawan lagi berdiri untuk menentang Earl Darss.

Fianna mengalihkan pandangannya ke arah tempat duduk keluarga kekaisaran pada saat ini. Mulai dari beberapa waktu lalu, sang kaisar telah diam sepanjang waktu, seolah-olah mendengarkan mereka mendiskusikan hal-hal yang tidak relevan baginya. Tatapannya berkeliaran tanpa tujuan ke arah ruang kosong. Duduk di sampingnya, Arneus bercucuran keringat dingin di dahinya, melihat pergantian gelombang pendapat dengan wajah pucat.

"Astaga, kemampuan sebagai seorang penguasa akan menjadi masalah terbesar. Tanpa tingkat minimum intimidasi dalam keadaan semacam ini..."

Greyworth tampaknya bergumam terkejut disebelah Fianna.

Pada saat ini...

"—Lord Darss, apa anda menganggap bahwa pemikiran-pemikiran ini juga terjadi pada pikiran setiap orang tanpa terkecuali?"

Duduk ditengah diantara berbagai kursi, seorang bangsawan berdiri dan berbicara.

(Orang itu adalah—)

Setelah melihat wajahnya, Fianna terkesiap.

Itu adalah Duke Finegas Bodo, salah satu dari para bangsawan berpengaruh yang ada petisi yang Fianna terima.

"Oh? Dan apa khususnya yang anda maksud dengan 'pemikiran-pemikiran ini'?"

"Maafkan pemilihan kata-kataku yang kurang ajar, tapi Pangeran Arneus, yang anda dukung, tidak memiliki kemampuan sebagai seorang kaisar."

Seketika, aula pertemuan berubah berisik lagi.

Ini adalah kata-kata yang biasanya akan dijaga sebagai bisikan-bisikan dibelakang punggung orang. Untuk menyuarakannya secara terbuka di sebuah konteks umum didepan orang tersebut akan benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.

Malu dan marah, Arneus melotot kejam di Finegas.

"...Hmmm, maka dalam hal ini, siapa yang anda anggap memenuhi syarat untuk tahta Ordesia, Lord Finegas?"

Mempertahankan ketenangan yang dangkal, Darss menanyai Finegas.

—Lalu si duke menghembuskan nafas.

"Aku percaya bahwa penerus sah kaliber Putri Kedua Fianna ini akan memenuhi syarat!"

Dia menyatakan secara terbuka dengan suara nyaring, terdengar bagi semua orang yang hadir di aula.

(...K-Konyol!)

Fianna mau tak mau berdiri dari tempat duduknya.

Semua mata tertuju pada dirinya. Orang-orang di aula memulai obrolan diantara mereka sendiri lagi.

"Yang Mulia Putri Kedua?"
"Aku tak pernah berpikir dia akan merekomendasikan Lost Queen itu."
"Apakah kau sudah tidak waras? Wanita dikecualikan jika kau mempertimbangkan pesaing untuk tahta!"
"Tapi dibandingkan dengan Pangeran Arneus—"
"Roh ksatria keluarga kerajaan memilih dia—"

Tentu, tak ada orang yang lebih terganggu dari Fianna sendiri, dibawah tatapan semua orang yang hadir.

(...A-Apa sebenarnya yang mereka rencanakan?)

Dia melirik Finegas yang berdiri di posisinya, dengan ekspresi siap diwajahnya.

(Aku tidak akan menjadi kaisar wanita, benar-benar tidak...)

Namun, jika dia mengungkapkan pendapatnya sekarang, mayoritas bangsawan mungkin akan beralih mendukung Arneus. Dengan demikian, seorang kaisar bodoh akan dipilih, mengubah Kekaisaran Ordesia menjadi sebuah boneka yang dimanipulasi oleh bangsawan korup dan Kerajaan Suci.

"Berikutnya, saya mempersilahkan Yang Mulia(Fianna) untuk mengungkapkan maksud beliau!"

Suara nyaring Finegas bergema di seluruh aula.

"...T-Tunggu, tunggu sebentar, bagiku, maksud semacam ini—"

Sembari semua orang sedang melihat Fianna dengan saksama, menunggu dia untuk berbicara, pada saat ini—

Sebuah bencana terjadi.

(...Huh?)

Bloodstone yang tersembunyi didadanya tiba-tiba bersinar dengan cahaya menyilaukan.

"A-Apa!?"

Fianna panik mengeluarkan Bloodstone dari dadanya.

—Lalu dia segera menyadari. Ditengah dari kristal roh berwarna darah, sebuah massa gelap gulita berputar-putar sembari racun menjijikkan keluar dari dalam.

"...A-Apa, apakah ini... Kyah!?"

Sebuah retakan kecil muncul di permukaan Bloodstone ditangannya. Lalu—

Kristal roh berwarna merah itu hancur di tangan Fianna dan jatuh ke tanah.

Racun hitam keluar dari pecahan-pecahan yang tersebar. Pecahan-pecahan dari ledakan tersebut meninggalkan luka pada kulit Fianna.

"...!!"

Racun tersebut berputar dalam pusaran menggelegar, mengamuk layaknya sebuah badai ditengah-tengah aula pertemuan.

"A-Apa ini!?"
"Sebuah roh, roh mengamuk!"
"Uwahhhhhhhhhh!"

Panik, para bangsawan menjerit.

(...A-Apa-apaan sih yang terjadi...?)

Fianna menatap terkejut pada pecahan-pecahan dari Bloodstone tersebut yang berserakan dilantai.

Roh tersegel didalam kristal roh tidak lepas secara kebetulan. Tentunya, dia sendiri tidak pernah mengeluarkan mantra pelepasan. Membebaskan sebuah roh mengharuskan seseorang untuk melepaskan divine power terlebih dulu.

—Tidak, ada kemungkinan lain.

(Jika sebuah mantra pelepasan ditulis didalam kristal roh sebelumnya—)

"Putri, a-apa sebenarnya yang terjadi—"

Menarik tangan Fianna, Greyworth mendorongnya ke lantai.

"U-Untuk melepaskan sebuah kristal roh begitu sembarangan—"

"Ini bukan kristal roh biasa. Tanda-tanda ini mengindikasi—"

Angin kencang menghancurkan jendela, menghamburkan pecahan-pecahan ke seluruh lantai. Racun yang mengamuk tengah berkumpul didekat langit-langit aula itu, segera berubah menjadi awan hitam raksasa.

Fianna merasa rasa dingin menjalar dipunggungnya.

Ini adalah sebuah kehadiran yang mengerikan dan mematikan, membuat dia merasa seperti hatinya sedang diremas-remas dengan keras.

(Sebuah roh kelas archdemon...)

Fianna tersentak dan bergumam dalam hatinya, rasa merinding menjalar diseluruh tubuhnya.

Ini adalah roh kelas terkuat di Astral Zero seperti yang disertifikasikan oleh Asosiasi Investigasi Roh.

"...M-Mustahil. Kenapa itu disini?"

Berbaring di lantai diatas Fianna, Greyworth bergumam. Tak bisa dipercaya, tak terpikir bahwa Penyihir Senja bisa terdengar begitu terguncang—

"Kepala Sekolah, apakah anda mengenali roh itu!?"

"...Tentu saja iya."

Greyworth menyeka keringat dari dahinya.

"—Itu adalah roh terkontrakku!"

"...Eh?"

"Meskipun sulit dipercaya, aku tak mungkin keliru. Ini adalah roh terkontrakku yang hilang— Dis Pater."

"...Dis Pater."

Fianna pernah mendengar nama roh itu sebelumnya. Selama Perang Ranbal, roh itu telah membawa teror dan keputusasaan pada para ksatria dari Kerajaan Suci Lugia sebagai malaikat maut di medan perang.

—Roh iblis terkuat.

(...Kenapa itu ada didalam kristal roh?)

Roh tersegel didalam Bloodstone yang diberikan pada Fianna oleh perdana menteri seharusnya menjadi penjaga yang bisa melindungi Fianna dari pembunuh.

Namun, roh iblis yang terselimuti racun hitam itu benar-benar bukanlah roh penjaga.

Roh ini hanya membawa kehancuran dan pembantaian, didorong oleh keinginan sendiri.

"Putri, darimana kau mendapatkan Bloodstone ini?"

"I-Itu—"

Fianna hendak menjawab ketika—

Sejumlah besar racun mulai meluas dan meledak.

"...!!"

Sebagai hasil dari kehadiran mematikan terkonsentrasi, Fianna terhempas sepenuhnya. Seluruh tubuhnya gemetar. Untuk sesaat, dia mengalami ilusi seolah-olah hatinya telah dicengkeram. Atau mungkin, hanya dia dengan perwatakan sebagai seorang princess maiden yang mengagumkan yang bisa merasakan suatu aura yang kuat dari kematian.

"...A-Ah... Ahh, ah..."

Keluar dari awan hitam berputar-putar tersebut, apa yang muncul dari sana adalah—

Malaikat maut, berpakaian hitam, memegang sabit hitam pekat.

Malaikat maut itu perlahan mengangkat sabit di tangannya—

"—Tiarap sekarang, dia akan mencuri jiwa!"

Greyworth berteriak dengan suara yang sangat keras, menyebabkan setiap orang yang hadir secara reflek tiarap dilantai.

Bilah sabit itu menyapu ruang kosong, menghasilkan angin ganas yang diresapi dengan kehadiran kematian.

"Uwahhhhhhhhh!"
"L-Lari, cepat—"

Para bangsawan semuanya berlari menuju pintu masuk aula. Meskipun tindakan tanpa berpikir dari para bangsawan sedikit impulsif, itu mungkin menjadi keputusan yang tepat juga. Apa yang disukai roh iblis berperingkat tertinggi adalah jiwa-jiwa murni orang yang benar daripada jiwa manusia-manusia bodoh.

Namun, diantara para bangsawan yang kalang-kabut, ada juga orang-orang yang diam ditempat, tak berani bergerak sama sekali.

Sang kaisar Ordesia adalah salah satu dari mereka. Untuk suatu alasan, tatapannya kosong dan menerawang. Meski demikian situasi yang tidak normal terjadi didepan matanya, dia menatap seolah-olah sama sekali tidak ada yang terjadi.

Melihat kearah sang kaisar, roh iblis itu menyeringai agak gembira.

(...Kau harus tepat waktu, Georgios...!)

Merangkak di lantai, Fianna memanggil roh ksatria.

—Namun, Dia tidak berhasil tepat waktu.

Sabit hitam legam itu perlahan berayun kebawah—

Pada saat itu, kepala si malaikat maut itu terlempar.

(...Huh?)

Fianna berkedip-kedip.

Senjata yang memenggal kepala roh iblis dan membuatnya terlempar adalah sebuah kapak tempur raksasa.

"—Apa anda baik-baik saja, Yang Mulia!?"

Seorang ksatria roh berambut perak mengenakan armor putih-perak telah menerobos dinding aula dan muncul.

Number keempat— Dunei Lampert.

"Ohhhhhhhhhhhhh!"

Ksatria putih-perak itu melompat dan melancarkan serangan ganas terhadap si roh iblis yang terpenggal.

Kapak tempur dua tangan, sebuah elemental waffe dengan divine power menyelimuti bilah-bilahnya —Namun, roh iblis itu langsung berubah menjadi racun yang mengapung dan dengan mudah menghindari serangan tersebut.

"...Sialan kau! Apa yang dilakukan roh kelas archdemon disini?"

Dunei berteriak. Dis Pater mengambil bentuk malaikat maut lagi dan mengayunkan sabit raksasa pada si ksatria Number.

Angin iblis berwarna hitam menderu. Dunei terhempas oleh angin kehancuran yang kuat, menghantamkan dia ke dinding dengan keras.

Jika itu adalah ksatria roh yang lain, dia pasti akan tewas karena serangan ini. Namun, Dunei membanggakan diri sebagai anggota terkuat dari Kekaisaran, Number, dan juga menjalin kontrak dengan roh tanah, terkenal memiliki pertahanan terkuat. Dia tersandung dan berdiri, melotot marah pada roh iblis yang melayang di udara.

"Gah..."

Meskipun kehilangan kepalanya, Dis Pater masih bisa mengeluarkan tawa sombong yang bisa terdengar. Dia mengangkat sabit hitam legamnya lagi tanpa ragu-ragu, menebas pada ksatria Number yang terluka berat yang gerakan telah melambat.

—Dalam sekejap...

"Aku mohon kepadamu untuk menangkap dan menghancurkan, O sangkar gravitasi!"

Tubuh roh iblis itu menjadi lemas. Sebuah bola yang menyerupai bayangan yang berputar-putar muncul sekitar Dis Pater, mendistorsi ruang sekitarnya.

Berputar dengan kecepatan tinggi, bola yang seperti bayangan menekan tubuh roh iblis, menghancurkannya bersama-sama dengan udara.

(...Bukankah itu roh gravitasi milik Dame Leschkir, Typhon!?)

Fianna melihat kearah suara itu.

Di depan pintu masuk aula pertemuan yang sudah setengah rusak, ksatria lain telah muncul.

Berkebalikan dengan Dunei, dia adalah seorang yang cantik berambut hitam dengan suasana pesona yang menggoda.

Leschkir Hirschkilt, peringkat ketiga dari Number dan diuluki Gravity Queen.

"Dunei, aku telah menangkap roh itu sekarang. lenyapkan dia dengan cepat—"

"...Dimengerti!"

Memegang elemental waffe kapak tempur miliknya, Dunei menyerbu kearah roh iblis yang tak bisa bergerak yang terpenjarakan oleh sangkar gravitasi.

Menuangkan seluruh divine power kedalam kapak tempur miliknya, dia mengayunkannya dengan keras.

"Ohhhhhhhhhhhhhh!"

Racun hitam legam itu menyembur keluar seperti darah, muncrat dan menetes ke armor milik Dunei.

Benar-benar dicincang menjadi dua, Dis Pater tertawa mengerikan sebelum menghilang dari dunia ini.

Tentunya, roh kelas archdemon tidak mungkin dihancurkan oleh serangan setingkat ini. Dilepaskan dari kontrak Bloodstone, roh itu mungkin kembali ke Astral Zero.

"Yang Mulia, anda baik-baik saja—?"

Dunei bergegas ke sisi kaisar yang pingsan.

Dalam hal waktu, tidak lebih dari satu atau dua menit yang berlalu. Namun, aula pertemuan sudah rusak tak bisa dikenali dengan lantai bernoda merah dari darah orang-orang yang terluka.

(...Kenapa... Kenapa ini terjadi...)

Dihadapkan dengan adegan mengerikan di depan matanya, Fianna itu tenggelam kedalam kebingungan.

—Pada saat itu...

"K-Kau, apa yang kau lakukan!? Dame Leschkir!"

Dalam proses melarikan diri aula, Arneus berteriak keras.

"Cepat dan menangkap gadis itu! Dia akan membunuh sang kaisar jika kau terlambat!"

"...Huh!?"

Fianna memandang sekelilingnya dengan terkejut.

"Sungguh menakutkan..."
"Aku tak percaya dia mencoba untuk membunuh semua orang dalam dewan kekaisaran..."
"Jangan bilang dia adalah kaki tangan dari Teokrasi ini Sjora Kahn—"

"...T-Tidak, salah, aku—"

Fianna baru mau menyangkal tuduhan tersebut ketika Dame Leschkir berdiri di depannya dan menghalangi dia.

"Putri Kedua, anda akan memiliki banyak waktu untuk menjelaskannya sendiri nanti."


Bab 4 - Kembali ke Akademi[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah berpisah dengan Rinslet dan pergi dari wilayah Laurenfrost, kelompok Kamito menghabiskan malam di Frost Town di Pegunungan Kyria kemudian sampai di Akademi Roh Areishia keesokan harinya.

Berkat perlindungan Simorgh, perjalanan kembalinya cukup nyaman, dengan hembusan udara pagi yang menyegarkan sembari lapisan angin yang tipis menyelimuti mereka dimalam hari, mencegah mereka dari kedinginan.

"...Itu hanya beberapa hari saja, tetapi entah kenapa rasanya begitu nostalgia saat kembali."

Melihat gerbang Kota Akademi, dijaga oleh roh-roh penjaga, Kamito bergumam.

Itu terasa seperti waktu yang sangat lama telah berlalu sejak mendengar tentang tanda-tanda Restia dari Elemental Lord Air dan melintasi Pegunungan Kyria bersama Rinslet melewati badai salju yang ganas.

(Yah, banyak hal juga terjadi setelah itu.)

Kamito memalingkan kepalanya untuk menatap Restia yang berjalan disampingnya. Dengan mata melebar, dia melihat-lihat berbagai pemandangan Kota Akademi.

...Sebagai catatan sampingan, dia masih mengenakan seragam maid yang diberi Milla.

"Sungguh kota yang megah. Benar-benar berbeda dari yang aku bayangkan."

"Ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan ibukota kekaisaran. Ini hanya sebuah Kota Akademi."

Claire mengangkat jempol dan menjawab.

"Kota sebesar ini, semua ini milik Akademi...."

Mungkin tak ada kota yang lebih besar dari kota ini dalam ingatan Restia saat ini.

Teringat kenangan dari kunjungannya ke ibukota kekaisaran bersama Restia di masa lalu, Kamito merasakan sebersit rasa sakit dalam hatinya.

"Itu karena bagian kota ini tidak terlibat dalam serangan roh-roh militer dan juga para ksatria bergegas merekonstruksi kota. Sisi Akademi tetaplah sebuah reruntuhan puing yang sangat luas."

Ellis berbisik dengan ekspresi serius.

Kelompok Kamito melewati gerbang utama dan melangkahkan kaki kedalam Kota Akademi.

Setelah beberapa saat, mereka mulai melihat bangunan-bangunan runtuh sama seperti yang Ellis katakan. Ini adalah tanda-tanda yang ditinggalkan karena serangan yang dilakukan oleh Lurie, mantan anggota Number.

Kamito melihat kearah plaza dan menemukan sebuah roh batu sedang bekerja, memindahkan puing-puing.

"Dan itu—?"

"Ya, itu adalah Cabracan milik Rakka."

Ellis mengangguk.

"Aku akan pergi memberitahu mereka bahwa kita sudah kembali. Sampai jumpa lagi, Kamito."

"Ya, dimengerti. Kalau begitu kami akan kembali ke Akademi dulu."

Kamito melihat Ellis pergi sembari dia berjalan kearah teman-temannya.

"Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat dan mencari makanan atau sesuatu?"

Kemudia dia menanyai Claire.

"U-Umm...."

Untuk suatu alasan, Claire tersipu dan tergagap.

"A-Ada sesuatu yang harus aku lakukan di kota."

"Sesuatu untuk dilakukan?"

"Iya. Umm, aku akan membuat makan malam untukmu malam ini."

"...Huh?"

Mau bagaimana lagi, Kamito bertanya lagi.

"Makan malam? Kamu akan membuatnya, Claire?"

"Ya, aku akan memasak untukmu, Kamito!"

Menjadi merah cerah, Claire berteriak keras-keras.

Selama sesaat, Kamito khawatir.

....Kemudian dia berpikir lagi secara hati-hati.

(Aku mengerti, jadi dia ingin menunjukkan pada seseorang bahwa kemampuan memasaknya sudah meningkat.)

Kamito memiliki pengalaman yang serupa dimasa lalu.

3 tahun yang lalu, ketika tinggal di rumah Greyworth, Kamito dipaksa untuk memasak makanan yang tak pernah dia masak sebelumnya untuk memuaskan tuntutan si penyihir.

Standart Greyworth sangatlah tinggi. Dibawah tekanan yang besar setiap hari, Kamito mengembangkan sebuah hobi rahasia, yaitu untuk membuat orang yang dia sayangi, Restia, mencicipi kuliner buatannya yang terbaru.

(Saat itu, aku merasa begitu bahagia setiap kali Restia memujiku, yang mana juga membantuku untuk mengingat teknik-teknik memasak.)

Oleh karena itu, Kamito teringat gelombang kenangan nostalgia.

"Apa? Apa kau sekhawatir itu dengan masakanku?"

Claire cemberut.

"Aku tidak akan membuat arang lagi, oke..."

"Tidak, bukan itu yang aku pikirkan. Aku menantikan masakanmu, Claire, dengan cara yang normal."

Kamito dengan panik menggeleng.

"Be-Benarkah?"

"Ya."

Kamito mengangguk.

Claire merendahkan kepalanya sedikit.

Sebenarnya, kemampuan memasaknya memang telah meningkat. Ini bukan hanya karena fakta bahwa dia telah bisa mengendalikan api miliknya. Tinggal di Akademi bersama dia, Kamito mengetahuinya lebih baik dari siapapun juga bahwa Claire adalah seseorang yang bisa mengerahkan upaya ratusan kali lebih banyak daripada rata-rata orang.

"Kalau begitu, apa yang ingin kau buat?"

"U-Umm... aku ingin membuat makaroni gratin."

"Gratin huh? Untuk seorang pemula dalam memasak, bukankah itu cukup sulit?"

"Jangan khawatir, aku sudah menguasai pengendalian api, dan juga..."

Claire melihat kebawah dan memainkan kedua jari telunjuknya satu sama lain didepan dadanya.

"Hmm?"

"K-Kamito, kau menyebutkan sebelumnya bahwa gratin adalah makanan kesukaanmu."

"Eh... Oh... Aku mengerti. Aku terkejut kau masih ingat sesuatu semacam itu..."

Kamito memiliki ingatan yang samar bahwa dia mungkin telah menyebutkan hal itu selama perkenalan diri ketuka dia pertama kali masuk ke Akademi.

"T-Tentu saja aku ingat..."

"Mengesankan seperti biasa, siswi terhormat."

"B-Bukan seperti itu... Cukup sudah tentang hal itu. Pokoknya, aku akan membuat gratin kesukaanmu untuk makan malam malam ini, oke?"

"Ya, aku benar-benar menantikannya."

Kamito menepuk kepala Claire dan dia mendengkur seperti seekor kucing.

"K-Kalau begitu aku akan belanja sekarang... Hmm, saus krim, keju, makaroni... Persik kalengan, kepiting kalengan, mayonaise kalengan♪"

Claire dengan senang bersenandung sembari menuju ke distrik perbelanjaan.

(...Hmm, entah kenapa aku masih merasa sedikit khawatir.)

Mengerang diam-diam dalam hatinya, Kamito memalingkan kepalanya kearah Restia.

"Jadi, haruskah kita langsung kembali ke Akademi atau kamu mau berkeliling Kota Akademi sebentar?"

"...Huh?"

Restia sedikit memiringkan kepalanya.

"Yah, kamu melihat jalanan dengan penuh rasa ingin tau sejak awal. Apa ada suatu tempat yang membuatmu tertarik?"

"Ya, ada begitu banyak toko-toko yang berbeda. Hanya dengan melihatnya saja sudah sangat menarik."

Restia mengangguk dengan jujur.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar?"

"...Bolehkah?"

"Tentu. Itu akan menjadi cara yang sempurna untuk menghabiskan waktu sebelum makan malam."

Bagian 2[edit]

Dengan demikian, Kamito membawa Restia berkeliling kota.

Semakin dekat mereka dengan pusat kota, semakin ramai kerumunan orang. Meskipun matahari sudah terbenam dan langit sudah gelap, rekonstruksinya masih berlangsung.

Berjalan diantara keramaian itu di jalanan utama, para ksatria berseragam militer adalah yang paling mencolok. Bukannya para prajurit diasramakan di Kota Akademi, mereka adalah para ksatria baru yang dikirim dari ibukota kekaisaran. Setelah mengalami serangan dari roh-roh militer, para ksatria yang ditempatkan disini telah mengalami kelumpuhan fungsionalitas sejak hari itu.

"...Begitu banyak orang... Kyah..."

Kamito menggenggam tangan Restia tepat saat dia hendak tersapu kerumunan orang.

Kemudian dia menarik Restia ke sampingnya.

"U-Umm...."

"Kita harus berpegangan tangan dengan benar karena disini sangat ramai."

"...U-Uh..."

Tiba-tiba, kenangan nostalgia tertentu muncul dalam benak Kamito.

"Ini berlawanan dengan apa yang terjadi sebelumnya."

"...Sebelumnya?"

"Ya, enam tahun yang lalu, ketika kamu dan aku mengunjungi ibukota kekaisaran."

— Dihari Festival Roh Agung enam tahun yang lalu, saat itu Kamito berusia 9 tahun, Sekolah Instruksional mengirim dia pada sebuah misi untuk mencuru roh militer yang digunakan dalam upacara tersebut.

Masih seorang anak laki-laki kecil pada saat itu dan terkejut karena jumlah orang yang banyak dan melihat ibukota kekaisaran yang sangatlah besar untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kamito berjalan-jalan di jalanan, memegang tangan Restia.

"...Aku mengerti, jadi kita sudah saling mengenal satu sama lain selama itu."

"Awalnya, yang kita lakukan adalah bertarung sepanjang waktu."

Kamito berkata dengan senyum masam. Tetapi sebenarnya, daripada bertarung, sebenarnya itu lebih seperti Kamito dihajar secara sepihak oleh Restia.

"Lihat lihat, sebelah sana—"
"Raja Iblis Malam Hari punya pacar baru."
"Dipaksa berpakaian sebagai seorang maid."
"Apa dia sudah bosan dengan siswi-siswi didalam kelompoknya?"
"Benar-benar Raja Iblis..."

Dengan demikian, mereka mendengar para siswi berbisik diantara mereka dimana-mana di jalanan.

"...Raja Iblis?"

"Lupakan saja tentang komentar-komentar itu."

Kamito mengerang dan menjawab Restia yang memiringkan kepalanya kebingungan.

"Tapi Raja Iblis yang disebutkan oleh nona-nona muda itu mengacu pada..."

"N-Ngomong-ngomong, ayo pergi dari sini dulu!"

Menggenggam tangan Restia, Kamito mulai berjalan lebih cepat.

Bagian 3[edit]

Meninggalkan plaza pusat, mereka sampai di distrik perbelanjaan. Aroma lezat bertebaran diudara.

Ada banyak penjual disisi jalan mendirikan kios di tempat bekas bangunan yang telah dihancurkan oleh roh-roh militer.

Bisnis-bisnis tampaknya berjalan dengan baik bagi para penjual. Orang-orang yang bekerja pada rekonstruksi kota selama siang hari akan berkumpul disini dimalam hari.

"Ada aroma nikmat di udara."

Restia menatap para penjual dengan ketertarikan yang besar.

"Apa mungkin kamu lapar?"

"...!?"

Mendengar pertanyaan Kamito, Restia langsung tersipu.

"T-Tentu saja tidak...!"

"Oh yah, makan siang sudah berlalu cukup lama. Masakan Claire tampaknya akan membutuhkan waktu lama, jadi ayo kita cari makanan ringan untuk saat ini—"

"T-Tak apa-apa! Aku tidak bermaksud seperti itu—"

Restia membantah dengan panik.

Namun, dia tak bisa menipu Kamito yang telah tinggal bersamanya selama bertahun-tahun.

"Aku paham, aku paham..."

"...J-Jelas-jelas kamu salah paham..."

Kamito tersenyum masam dan mendekati penjual yang menjual crepe terdekat.

Tiba-tiba, Kamito merasakan tarikan kuat di tangan kanannya, menghentikan dia.

"Yah, tak perlu malu-malu... Huh?"

Tunggu, seharusnya tangan kirinya yang memegang tangan Restia.

...Tug. Tug.

Tangan kanannya ditaring dua kali lagi.

"....?"

Kamito memutar kepalanya.

"Kamito, aku sangat lapar juga."

"E-Est!"

Memegang tangan Kamito adalah seorang gadis muda yang cantik dengan rambut putih perak berkilauan.

Dengan mata ungu misterius, dia menatap Kamito tanpa ekspresi.

"Kamu sudah pulih?"

"Ya, aku sudah tidur nyenyak, Kamito."

Si roh pedang mengangguk ringan dan menjawab.

Karena menggunakan terlalu banyak energi, dia telah berada dalam wujud pedang sepanjang waktu setelah pertempura melawan Zirnitra. Akhirnya, dia pulih sekarang.

"...Gadis ini adalah Nona Roh Pedang?"

Restia menyela percakapan mereka, dengan demikian, Est akhirnya menyadari kehadirannya. Menatap Restia yang mengenakan seragam maid dengan seksama.

"...Roh kegelapan."

"Senang bertemu denganmu, Nona Roh Pedang."

Restia mengangguk ringan dan membungkuk.

"Jangan bersikap ramah padaku. Itu salah, roh kegelapan."

Rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble....!

Seketika, Est memancarkan aura mengerikan dari seluruh tubuhnya.

Ini adalah tekanan pedang yang berasal dari pedang suci legendaris yang membunuh Raja Iblis sebelumnya. Orang-orang biasa disekeliling berpaling untuk menatap mereka.

"...Permisi, N-Nona Roh Pedang?"

Ketakutan, Restia secara tidak sadar memeluk lengan Kamito.

Rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble rumble....!

Dihadapkan dengan pemandangan ini, Est mulai memancarkan aura yang bahkan lebih kuat.

(Oh benar, mereka berdua memang tidak pernah akur sejak awal.)

"—Kamito, menyingkir dari sana sekarang. Jika tidak, aku tidak bisa melenyapkan roh kegelapan itu."

"T-Tunggu, Est, ini adalah cerita yang panjang—"

".....?"

Est memiringkan kepalanya.

"Umm, saat ini, Restia telah kehilangan semua ingatan dari masa lalunya."

Mendengar itu dari Kamito—

Aura kemarahan Est sedikit mereda.

"Kehilangan ingatannya...?"

"Ya. Bukan hanya lupa tentang kamu dan aku, tetapi bahkan fakta bahwa dia adalah seorang roh. Jadi dia sepenuhnya lupa tentang semua interaksinya denganmu—"

"....."

Est perlahan-lahan berpaling kearah Restia.

"Roh kegelapan, apa kau benar-benar lupa semua ingatanmu mulai dari hari-harimu sebagai seorang roh?"

"I-Iya..."

Restia mengangguk dengan penampilan gelisah.

"Apa kau juga lupa tentang menyerang Kamito berkali-kali dan bahkan secara paksa melepas kaus kakiku?"

"A-Apa aku melakukan sesuatu semacam itu!?"

(Oh. Melepas kaus kaki itu terjadi di Ragna Ys...)

"...."

Lalu, Est menatap mata Restia—

"...Aku mengerti. Kau benar-benar telah kehilangan ingatanmu."

Dia bergumam pelan.

"Dalam hal ini, roh kegelapan, kau dan aku adalah eksistensi yang sama."

"Est..."

—Kau dan aku sama. Kamito dengan cepat mengerti apa yang dia maksudkan.

Memang, Est terpisah dari eksistensi utamanya, menghasilkan sebuah keadaan yang hampir amnesia secara total.

"Roh kegelapan—"

Est tiba-tiba menunjuk Restia.

"Kau boleh berada di sisi Kamito ketika kau kehilangan ingatanmu, tapi—"

Dia berbicara tanpa ekspresi.

"Ingatlah ini dengan hati-hati. Aku sebenarnya adalah kakakmu."

"....kakak?"

Ketika Restia terkejut, Est berjalan kearah si penjual.

"...."

"—Oh yah, tampaknya masalahnya sudah selesai."

Menepuk kepala Restia, Kamito tersenyum masam dan berkomentar.

"Kamito, aku mau makan crepe juga."

"...Baik, baik."

Kamito dengan panik mengejar Est.

Di sekitar penjual crepe, Kamito mendengar suara yang akrab.

"Crepe lezat, cocok untuk seorang raja, maukah kau crepe yang masih baru matang?"

"....Umm, kenapa kau disini?"

"....Hwah, K-Kamito-sama!?"

Bekerja di kios crepe itu adalah Carol si maid.

Bagian 4[edit]

"Mungkinkah espedisi anda sudah selesai....?"

"....Uh, apa yang kau lakukan disini, Carol?"

Kamito bertanya dengan jengkel. Carol tersenyum ringan.

"Ya, itu terlalu membosankan karena nyonya tidak ada, jadi aku mau mencoba pekerjaan paruh waktu."

"Apa? Pekerjaan paruh waktu? Pernahkah kau berpikir dengan cermat tentang apa pekerjaanmu yang sebenarnya?"

Kamito berbicara sambil menyipitkan mata.

"Jadi nyonya tetap di Laurenfrost."

"Ya. Mereka memiliki segala macam masalah yang harus diselesaikan disana."

"....fufu. Nyonya sudah cukup luar biasa karena bertindak sebagai kepala keluarga Laurenfrost."

"Ayolah Carol, kau juga harus sedikit belajar dari Rinslet dan bekerjalah dengan serius."

"Ya, aku akan bekerja keras untuk membuat kios krepe ini makmur!"

Carol mengepalkan tangannya.

"Tidak, aku tidak berbicara tentang hal itu...."

"Bisakah anda merahasiakan bahwa aku bekerja paruh waktu dari nyonya?"

Carol mendekatkan jari telunjuknya pada bibirnya dan tersenyum.

"...Tentu, tak masalah. Kalau begitu! Bagaimana kalau kau memberiku diskon untuk krepenya?"

"...ini ya ini, itu ya itu!"

"...Kau menunjukkan nyali yang tak terduga disini."

Kemudian, Est menarik kemeja Kamito lagi.

"Kamito, apa krepenya belum siap?"

"...ya, maaf. Jadi kalian berdua, rasa apa yang kalian mau?"

"Aku mau krepe tahu."

"Umm, kurasa kau tak bisa memilih tahu."

"Meskipun tahu tidak tersedia, kau bisa memilih memilih marshmallow."

"Kalau begitu beri aku yang itu. Restia, kau mau rasa apa?"

"A-Aku ingin.... umm...."

Melihat menu pada papan, Restia kebingungan karena memiliki sangat banyak pilihan.

"Aku merekomendasikan krepe coklat pisang♪."

"Baiklah, kalau begitu aku mau yang itu."

"Dua krepe, satu marshmallow dan satu coklat pisang, kan?"

Carol mulai menyalakan kristal roh api dan mulai memasak krepe dengan terampil di wajan penggorengan.

"Carol, kau bisa menggunakan kristal roh?"

"Ya, meskipun aku tidak dilatih secara resmi, aku masih bisa menggunakan mereka jika itu hanya sekedar sihir roh sederhana."

"Potensi sebagai seorang elementalist huh... Ngomong-ngomong, aku cukup terkejut kau tau bagaimana membuat manisan."

"Ya, aku memakan manisan yang disiapkan oleh nyonya sepanjang waktu."

...Sembari mereka mengobrol seperti ini, krepenya dengan cepat selesai.

Bagian pancake dari krepe tersebut sedikit kecoklatan. Kemudian buah seperti pisang atau strawberi ditambahkan bersama krim segar. Topping coklat itu tampak benar-benar lezat.

"Silahkan nikmati. Jangan sungkan-sungkan."

"Hati-hati, jangan dijatuhkan ke tanah."

"Kamito, aku begitu senang♪"

"T-Terimakasih...."

Est mengunyah tanpa ekspresi sambil menikmati krepe miliknya. Disisi lain, Restia tampak gelisah, dihadapkan dengan makanan yang dia makan untuk pertama kalinya.

STnBD V14 103.jpg

"...Umph."

Restia menggigit dengan tegas. Krim keluar dari dalam krepe tersebut, menempel pada pipinya.

"Lihat, diwajahmu—"

Kamito mengusap pipi Restia dengan ujung jarinya.

Seketika, wajah Restia menjadi merah cerah.

".....~?"

"Ada apa?"

"B-Bukan apa-apa...."

Restia menundukkan kepalanya malu-malu dan mulai mengunyah, menirukan Est.

"....Lezat sekali."

Ekspresi Restia secara spontan berubah penuh kegembiraan.

Melihat dia seperti itu, Est berkata:

"Roh kegelapan, aku mau mencoba milikmu juga."

"Silahkan, Nona Roh Pedang."

"Ya."

Mengangguk ringan, Restia menyuguhkan krepe miliknya pada Est.

"Kalay begitu kau coba krepe marshmallow ini juga, roh kegelapan."

Kedua roh terkontrak bertukar krepe dan mengunyahnya.

...Mereka terlihat hampir seperti sepasang saudari yang sangat akrab satu sama lain.

"Fufu, mereka begitu dekat."

Carol melihat mereka dengan senang.

Lalu, Kamito berpaling kearah dia.

"Oh ya, apa sesuatu terjadi disini ketika kami pergi?"

Dia tiba-tiba bertanya tentang sesuatu yang telah mengganggu dia.

Kira-kira lima hari yang lalu ketika Kamito berangkat ke Laurenfrost, jadi seharusnya tak ada yang telah terjadi, tetapi bagaimanapun juga, sejak insiden itu, tak akan aneh untuk keributan seperti konflik diantara siswi untuk memanas, disebabkan oleh kegelisahan.

"Tak ada hal penting yang terjadi sejak hari itu."

Carol menggeleng.

"Namun, para ksatria dikirim dari ibukota kekaisaran telah meningkat seiring berlalunya waktu."

"...Ya, aku berpikir begitu juga."

Serangan teroris beberapa hari yang lalu menyebabkan Akademi kehilangan banyak ksatria roh dan roh-roh militer. Untuk menutupi kekosongan itu, ibukota kekaisaran telah mengirim para ksatria dari tentara mereka.

"Sylphid Knight juga bekerja keras untuk menegakkan peraturan dan ketertiban kota."

"...Aku mengerti. Yah, kurasa itu bagus bahwa tak ada yang tejadi—"

Tepat saat Kamito menghembuskan nafas lega.....

"O-Oh tidak!"

"Ada pemberontakan di Akademi!"

Orang-orang bisa didengar sedang berteriak dijalanan, menyebabkan keributan besar.

"...Pemberontakan?"

Mendengar kata-kata tak menyenangkan seperti itu, Kamito mengernyit.

"A-Apa sesuatu terjadi?"

"...Tebakanmu sama seperti tebakanku. Kalian berdua, ayo bergegas kembali ke Akademi terlebih dulu."

"Kamito, krepeku belum habis—"

Bagian 5[edit]

Membawa Est dan Restia, Kamito buru-buru kembali ke Akademi, dan menemukan keributan digerbang.

Para siswi Akademi telah memasang barikade didepan pintu masuk utama dan sepertinya mereka tengah berargumen ganas dengan para ksatria Kekaisaran.

Mengenakan armor, bahkan para Sylphid Knight telah memanggil roh mereka untuk suatu alasan, menahan para Imperial Knight yang hendak menerobos barikade tersebut.

Itu seperti sebuah tong serbuk yang menunggu dinyalakan setiap saat.

(...Apa yang terjadi?)

Kamito bertanya-tanya.

"Oh, itu kau, Kamito."

Membawa tas belanja yang tampak berat, Claire berlari kearah dia.

"Claire, apa-apaan yang terjadi disini?"

"Tampaknya kubu siswi memprotes terhadap penangkapan kepala sekolah."

".....Huh?"

Kamito meragukan telinganya.

"Greyworth dipenjara?"

"Baca ini—"

Claire mengeluarkan kertas dari saku depannya.

Itu adalah surat kabar ekstra yang dikeluarkan olej ibukota kekaisaran. Membacanya, mata Kamito melebar.

".....apa!?"

Fianna Ray Ordesia, Putri Kedua Kekaisaran, dan Dame Greyworth Ciel Mais, mantan peringkat pertama dari Number, telah ditangkap karena upaya pembunuhan kaisar yang gagal.

—Berikut adalah rinciannya.

Selama sidang dewan kekaisaran, Putri Kedua Kaisar, Fianna Ray Ordesia telah melepaskan roh iblis, berusaha membunuh Yang Mulia Kaisar. Sebuah petisi yang ditanda tangani oleh para anggota faksi anti-Arneus juga ditemukan di kamar Putri Kedua.

Berdasarkan pada hal ini, insiden tersebut diperkirakan merupakan sebuah konflik yang lahir dari masalah penerus kekaisaran.

Selain itu, roh iblis yang dilepaskan oleh Putri Kedua adalah roh terkontrak milik Dame Greyworth. Dengan demikian, dia juga dipejara sebagai seorang konspirator.

"Apa-apaan sih yang sedang terjadi?"

Kamito meremas kertas itu menjadi bulat dan berteriak.

"Jadi kau juga gak tau apa-apa tentang itu."

Claire menggeleng.

"Tetapi pasti ada suatu kesalahan disuatu tempat. Fianna jelas-jelas sudah meninggalkan posisinya dalam keluarga kerajaan...."

"Ya, yang kutakutkan adalah dia kemungkinan besar dijebak."

"...huahhhhhh!"

Mendengar suara yang tiba-tiba, Claire melompat ketakutan.

Keluar dari bayangan Claire, seorang wanita mengenakan setelan muncul secara diam-diam.

"Freya-sensei!"

Dia adalah Miss Freya, elementalist bayangan dan guru wali kelas dari kelas Gagak.

"Sensei, apa sebenarnya yang terjadi? Siapa yang menjebak—"

"Aku juga dalam proses mengumpulkan informasi. Claire Rogue, tenanglah."

"Bagaimana bisa aku tenang? Karena Fianna sekarang—"

Lalu, sebuah ledakan kecil terdengar dari luar barikade.

Seseorang dari kubu Akademi telah melepaskan sihir roh.

"Hentikan itu, idiot, jangan gunakan sihir roh!"

Dikelilingi oleh kekacauan, Ellis berteriak untuk menghentikan para siswi dari kerusuhan.

"T-Tapi Kapten—"

"Memenjarakan kepala sekolah adalah hal yang tak bisa dimaafkan! Bahkan tanpa vonis resmi—"

"Para Imperial Knight terlalu kejam!"

(....Ini adalah situasi yang buruk.)

Kamito menarik Restia yang ketakutan dan menyembunyikan dia dibelakangnya.

Meskipun Kamito benci mengakuinya, rasa hormat dan kekaguman yang diberikan para siswi pada si Penyihir Senja dan pahlawan dari Perang Ranbal menyaingi popularitas dari Ren Ashbell, si Penari Pedang Terkuat.

Tak akan mengejutkan jika kemarahan para siswi meledak sebagai hasil dari penahanan Greyworth.

Namun, kerusuhan pada kubu siswi akan memberi para Imperial Knight sebuah alasan untuk menekan mereka.

"Claudia-sama, tolong ijinkan kami menggunakan sihir roh."

"Ini adalah pertahanan yang sah. Mari kita segera tangkap para perusuh ini."

Si wanita bernama Claudia, berpakaian dalam armor ksatria berperingkat tinggi, mengeluarkan perintah dengan suara yang dingin.

Para ksatria roh dibawah komandonya mengeluarkan elemental waffe mereka pada saat yang bersamaan.

Pada gadis didalam barikade mulai merasa ketakutan. Hampir tak ada siswi yang mampu melawan para ksatria roh profesional. Pada akhirnya, hanya ada beberapa siswi terhormat yang bisa memanggil roh terkontrak dan mengeluarkan elemental waffe dengan pasti.

"A-Apa yang kau lakukann? Apa kau berniat melanggar hak otonomi Akademi—"

Ellis berteriak sekeras yang dia bisa, tetapi para Imperial Knight tanpa ampun menghancurkan barikade tersebut.

"Dame Claudia, tolong minta bawahanmu untuk mundur—"

Ellis berbicara pada si pemimpin dari kubu ksatria lawa.

Terukir pada armor dari ksatria bernama Claudia adalah sebuah simbol dari seekor elang dengan sayap yang direntangkan.

Itu adalah lambang keluarga Fahrengart. Dengan kata lain, para ksatria ini semuanya lebih rendah dalam posisi dibandingkan Ellis, putri dari kepala keluarga saat ini.

Namun, para ksatria bawahan mengabaikan Ellis dan dengan paksa menangkap para siswi yang melawan. Jeritan-jeritan datang dari para gadis yang tangan mereka ditangkap.

".....Kau—"

Mencapai ujung dari kesabarannya, Ellis memanggil Ray Hawk. Tepat pada saat itu....

Kobaran api panas muncul dari udara tipis, memblokir para Imperial Knight.

"Cukup sudah—"

Menggunakan kobaran api yang ganas milik Scarlet, Claire mengancam para ksatria sekeliling.

Melihat roh yang kuat, jauh melampaui level dari para siswi, para ksatria mundur.

"Claire.....?"

"Kau adalah adik Ratu Bencana."

Namun, Claudia berdiri diam ditempat dan menatap dingin pada Claire.

"Kalau begitu, orang yang disebelah sana pasti Kazehaya Kamito."

Kemudian dia memalingkan tatapannya kearah Kamito yang menyembunyikan Restia dibelakang punggungnya.

"...Ya, lalu apa?"

"Sempurna. Perintah dari para petinggi termasuk menangkapmu."

"....Apa?"

"Apa maksudmu dengan penangkapan?"

Claire menghunus pedangnya dan mengayunkan pedang itu pada Kamito.

"Karena teman-teman dari Putri Kedua tak bisa diijinkan berkeliaran bebas setelah upaya pembunuhannya pada kaisar!"

"...Fianna tak mungkin melakukan upaya pembunuhan!"

"Itu tak penting. Aku hanyalah pion yang mengikuti peritah militer."

Claudia mengacungkan pedangnya sementara para ksatria bawahannya dengan cepat mengepung Kamito dan teman-temannya.

(...Ada tujuh ksatria roh. Dari mereka semua, tiga orang sangat terampil.)

Kamito dengan tenang menilai kekuatan musuh sambil memegang tangan Est.

"Est, aku mengandalkanmu—"

"Ya, Kamito. Aku adalah pedangmu, keinginanmu adalah perintah untukku—"

Setelah Kamito melantunkan mantra pelepasan, sosok Est berubah menjadi partikel cahaya yang menghilang dalam udara tipis, berubah menjadi Demon Slayer, bersinar dengan kecemerlangan putih-perak.

"Apa yang bisa dilakukan oleh satu orang? Serang!"

Saat Claudia berteriak, para ksatria roh disekitar menyerbu.

Kamito menuangkan divine power kedalam Demon Slayer dan menendang tanah dengan keras.

"Absolute Blade Arts — Bentuk Ketiga, Shadowmoon Waltz!"

Sebuah kilatan dari banyak tebasan.

Didetik berikutnya, semua ksatria yang menyerang telah runtuh di tanah.

"Tak mungkin.... Dalam sekejap... tiga orang elit diantara para ksatria roh....?"

"Maaf, aku tak akan menahan diri jika prajuri adalah lawanku."

Kamito menyesuaikan kuda-kudanya dengan Demon Slayer dan menatap pada para ksatria yang tersisa.

"Jangan lupakan aku!"

Memegang Flametongue, Claire terus menekan para ksatria.

"Seperti yang diduga dari pemenang turnamen Blade Dance. Sepertinya cara biasa tidak akan cukup."

Claudia mengangkat bahu dan menikamkan pedangnya pada tanag. Selanjutnya—

"Yang mana kenapa suatu metode semacam itu—"

Dia menjentikkan jarinya.

"Ah!"

Dibelakang Kamito, Restia menjerit.

"Restia!"

Kamito menoleh kebelakang untuk melihat roh ular transparan melilit kepala Restia, mencekik tenggorokannya. Ini adalah roh militer kecil yang digunakan oleh para Imperial Knight untuk pengintaian.

"....Ack.... Urgh..."

"Gadis ini tampaknya penting bagimu, meskipun identitasnya tidak diketahui."

"....Dasar jalang!"

Kamito berteriak dan menatap marah pada pada Claire yang ada didepan dia.

"Jatuhkan elemental waffe milikmu, Kazehaya Kamito."

"Sial....!"

Kamito menggertakkan giginya dengan keras.

Dia menyalahkan dirinya karena gagal memperhatikan Restia dengan benar, tetapi apa semua ksatria dari pasukan Kerajaan serendah itu hingga mengambil sandra?

"Dame Claudia!"

Ellis berteriak penuh cercaan.

"Sebagai seorang anggota dari Fahrengart Knight, bagaimana bisa kau—"

"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang ksatria, Nona Ellis."

"...Apa yang kau bicarakan....?"

"...kk... Urghhhhh....!"

Tercekik pada leher, Restia mendesah kesakitan. Disaat hari-harinya sebagai roh kegelapan, dia bisa dengan mudah melumat roh militer berperingkat rendah, tetapi sekarang ini—

"....Aku paham. Hentikan....!"

Kamito menusukkan Demon Slayer pada tanah dan mengangkat tangannya untuk menyerah.

Claudia segera memerintahkan bawahannya:

"Tangkap Kazehaya Kamito dan adik Ratu Bencana."

"T-Tunggu, apa yang kau lakukan.... Kyah!"

Kamito dan Claire segera tertangkap oleh mantra pengikat milik tentara itu.

Bagian 6[edit]

"......Ooh.... Hmm...."

Didalam ruangan yang redup, Fianna terbangun.

Dia bisa merasakan dari ruangan ini sebuah tekanan yang tak biasa yang tidak berasal dari kesempitannya.

Tanpa jendela, tak ada cahaya matahari yang masuk. Satu-satunya sumber cahaya adalah kristal roh yang bersinar di sebuah tempat lilin.

Ini adalah Temple of World Isolation berlokasi dibawah tanah, dibawah Kuil Besar Areishia di pusat Ostdakia, ibukota kekaisaran. Dimasa lalu, ini digunakan sebagai tempat dimana princess maisen berdarah kerajaan berlatih.

Karena segel pada lantai bati, semua hubungan ke Astral Zero telah sepenuhnya terputus. Jangankan memanggil roh terkontrak, menggunakan sihir roh saja sudah mustahil.

Seorang princess maiden secara tak sengaja tewas selama pelatihan di ruangan ini selama pemerintahan kaisar yang sebelumnya. Sebagai hasilnya, ruangan ini tidak dibuka selama waktu yang lama sampai sekarang.

(Ternyata ini cukup ampuh sebagai sebuah tempat untuk memenjarakan princess maiden.)

Orang-orang yang mencoba merenggut nyawa kaisar biasanya akan dipenjara di tingkat paling bawah dari Penjara Balsas, tetapi penjara itu telah setengah hancur karena serangan beberapa hari yang lalu dan sedang dalam perbaikan.

"....Guh... Ah.."

Tangannya terasa sangat nyeri ketika dia memutar tubuhnya.

Terikat oleh rantai dengan mantra yang tertulis pada rantai itu, tubuh Fianna menggantung dari langit-langit. Gaun putih polos yang dikenakan pada pertemuan itu telah compang-camping dalam keadaan yang menyedihkan, kemungkinan besar tersobek ketika dia secara paksa dibawa kesini.

STnBD V14 115.jpg

Kesadarannya masih kabur.

Apakah itu sihir manipulasi pikiran? Atau mungkin mereka telah menggunakan suatu macam obat.

— Setelah insiden itu, Fianna segera ditahan dan dipenjara di ruangan ini.

Menurut para ksatria, petisi bertanda tangan faksi anti-Arneus ditemukan didalam kamar Fianna. Semua bangsawan besar yang tanda tangannya ada disana ditangkap.

Lord Conrad telah melakukan bunuh diri dengan racun di kamarnya sendiri. Menurut penafsiran dari para Imperial Knight, menteri utama melakukan bunuh diri sebagai konspirator utama setelah mengetahui rancananya telah gagal.

Normalnya, mustahil bagi Fianna untuk mempercayai penjelasan semacam itu. Penentangan dari menteri utama adalah untuk mencegah Arneus, bonekanya Kerajaan Suci, dari mewarisi tahta dengan segala cara.

(Menteri utama bukanlah orang bodoh. Bagaimana bisa dia menggunakan suatu metode sembarangan seperti membunuh kaisar?)

Tetapi dalam hal itu, kenapa menteri utama menyerahkan Bloodstone pada Fianna?

(....Apakah dia tidak tau bahwa roh iblis tersegel didalamnya?)

Mengasumsikan bahwa itulah yang terjadi, dia pasti telah jatuh kedalam kelicikan seseorang. Amukan roh iblis adalah suatu rekayasa dan dilakukan oleh faksi Arneus dengan tujuan menjatuhkan semua bangsawan faksi Fianna dalam sekali sambar, tetapi—

Masih ada satu lagi fakta yang mengganggu dia.

(Roh iblis yang mengamuk adalahh roh terkontrak milik kepala sekolah....)

Eksistensi dari Penyihir Senja, saat ini memegang pengaruh politik yang sangat besar, yang mana mungkin merupakan hambatan bagi faksi Arneus. Oleh karena itu, mereka menggunakan roh iblis yang dulunya digunakan oleh si penyihir agar berhasil menjebak dia. Namun, metode macam apa yang mereka gunakan untuk menyegel roh kelas archdemon, dan roh terkontrak milik Penyihir Senja...?

Dalam kesadarannya yang kabur, banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.

Lalu, sebuah suara berat dari pintu terbuka terdengar didalam Temple of World Isolation.

".....!?"

Sebuah sinar cahaya dari dunia luar masuk kedalam ruang redup itu, memaksa Fianna untuk menyipitkan mata.

"Kukuku.... Sungguh pemandangan yang indah, adikku—"

Mendengar suara itu membuat Fianna mengernyit jijik.

Masuk dengan lengannya di rentangkan penuh kesombongan adalah Arneus.

Fianna mengarahkan tatapan kemarahan yang penuh permusuhan pada wajah kakaknya.

"Untuk kakak yang terhormat—bukan, mungkin akan lebih baik untuk memanggilmu Yang Mulia Kaisar Arneus?"

"Aku bukan kaisar, masih belum—"

Tersenyum seperti itu, Arneus mendekatkan wajahnya, cukup dekat hingga Fianna bisa merasakan nafasnya.

"Namun, ayahku saat ini tertahan di tempat tidur, terinfeksi oleh racun dari roh iblis yang kau panggil. Menyebutku sebagai penerusnya hanyalah masalah waktu saja—"

"Pasti tidak mudah bagimu untuk merancang rencana semacam itu. Apakah Kerajaan Suci mendukungmu?"

".....!"

Wajah Arneus langsung berubah waspada.

"...Hmph, lagian kau akan dieksekusi dalam beberapa hari, Lost Queen."

Mengeluarkan kata-kata itu, dia meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya dengan kasar.

Bagian 7[edit]

"Yang Mulia, Pangeran Arneus."

Dia mendengar suara itu segera setelah dia melangkah keluar dari Temple of World Isolation.

Arneus memalingkan tatapannya kearah sumber suara itu. Dibayang-bayang dari pilar batu ada seorang wanita dalam seragam ksatria.

Rambut hitamnya sangat indah sampai pada titik menggoda. Mata biru gelap miliknya tampak dipenuhi dengan api gelap.

Dame Leschkir Hirschkilt, seorang anggota Number."

"Ah, Dame Leschkir—"

"Pidatomu sebelumnya sangat bagus, Yang Mulia."

Dengan senyum menggoda dibibirnya, dia mengatakan pujian.

Apa yang telah terjadi beberapa jam sebelumnya adalah pidato yang disampaikan untuk mengumpulkan perwakilan negara dari seluruh benua. Menangis penuh kesedihan untuk ayahnya yang terbaring sakit, sang Kaisar Ordesia, dia sangat mengecam dalang dibalik upaya pembunuhan yang gagal, sang Putri Kedua.

"Aku tak percaya kau mampu melakukannya, Dame Leschkir. Aku sangat ketakutan ketika roh iblis itu mengamuk....."

"Pada akhirnya, itu hanyalah bayangan dari kekuatan yang tersegel didalam kristal roh— hanya sebuah 'manifestasi'. Karena seseorang akan menyangka roh milik Penyihir Senja, bahkan seorang ksatria Number tak akan bisa keluar tanpa terluka dalam pertempuran melawannya."

"....Aku paham. Yah, bisa dikatakan, skill aktingmu adalah yang terbaik."

Arneus tersenyum keji.

"Namun, apa kau yakin kau ingin membunuh Yang Mulia Kaisar seperti itu?"

"....Tidak, membunuh dia bukanlah metode terbaik."

Arneus menggeleng dan berkata:

"Ayahku masih harus menyelesaikan tugas penting untuk menyebutku sebagai penerusnya. Dan juga, dia tak lagi bisa bangkit dari tempat tidur setelah mendekati roh iblis itu dan membuat kontak dengan racun kematian."

"Memang, dia sudah tak ada bedanya dengan orang mati."

Sebuah senyum menggoda muncul di wajah Leschkir.

Dipenuhi dengan potensi maksud jahat, senyum itu membuat Arneus merasakan perasaan dingin dipunggungnya.

Namun, itu hanya sebentar dan Leschkir segera meninggalkan dia.

"Kalau begitu aku akan pergi. Tak akan bagus jika seseorang menyaksikan pemandangan ini."

Setelah menunduk dengan anggun, dia menghilang kedalam bayangan dibalik pilar.

(Sungguh wanita yang mengerikan meskipun aku tau dia jelas-jelas ada dipihakku.)

Arneus menyeka keringat dari keningnya dan berbisik dalam pikirannya.

Meskipun dia membantu faksi Arneus, Leschkir bukanlah sekutu bagi dia secara pribadi.

Dame Leschkir adalah salah satu bawahan Lurie Lizardia. Dengan kata lain, dia berada dalam kesatuan dengan Kerajaan Suci.

(....Apa yang harus aku lakukan dengan Kerajaan Suci yang saat ini mendukungku?)

Arneus sama sekali tak punya ketertarikan pada tujuan Kerajaan Suci. Yang dia miliki adalah ambisi untuk menjadi kaisar seperti orang lain.

Menggunakan Kerajaan Suci sebagai jalan ke tujuan itu, itulah yang dia maksudkan sejak awal.

"Segalanya berjalan cukup mulus, Pangeran Arneus."

"...!?"

Arneus melompat ketakutan pada suara yang tiba-tiba dia dengar dari belakangnya.

Dia berbalik dan menemukan seorang pria dalam menterinya, berdiri disana tanpa dia ketahui, memegang sebuah tongkat ditangannya.

Arneus merasa menggigil di tulang punggungnya. Pria itu adalah Lord Conrad sang menteri utama yang seharusnya sudah mati, diracuni oleh bawahan Arneus.

"....Sungguh hambar, Lord Prime Minister. Jika seseorang melihatmu dalam kecerobohanmu...."

"Jangan khawatir, tak ada siapapun disini."

Meskipun dalam penampilan Lord Conrad, suara menggemaskan itu adalah milik seorang gadis.

Segera, penampilan menteri utama itu terdistorsi, berubah dalam sekejap.

Dihadapan matanya adalah seorang gadis manis berpakaian jubah sakral.

Penampilannya sekitar 12 atau 13 tahun, rambut pirang berkilauan cemerlang. Mata kanannya berwarna ungu misterius, tetapi mata kirinya tertutupi penutup mata.

Dia adalah salah satu dari kardinal Kerajaan Suci, Millennia Sanctus.

Memfasilitasi pemberontakan Sjora Khan di Teokrasi Alpha dan dalang dari serangan pada Akademi bersama Lurie Lizardia, dia adalah gadis dengan Kegelapan Dunia Lain yang bersemayam didalam dirinya.

Yang ada ditangannya adalah sebuah topeng putih murni yang mengganggu.

"Fufu, didapatkan dari Sjora, ini cukup nyaman dalam kemampuannya untuk menstimulasi ingatan dan kepribadian dari seseorang yang bayangannya dicuri selain pada penampilan mereka."

Tanpa sepengetahuan Arneus, topeng ditangannya adalah elemental waffe, Proteus Mask, dari roh iblis Baldanders. Selama turnamen Blade Dance, Sjora Khan telah menggunakan elemental waffe ini untukk membuat Tim Scarlet kesulitan serta membuat tim Four Gods dari Kekaisaran Quina jatuh kedalam perangkapnya.

Tebakan Fianna bahwa menteri utama telah dieksploitasi oleh faksi Arneus sebenarnya tidak jauh dari kebenarannya. Tadi malam, itu adalah Millennia Sanctus yang mengunjungi kamar Fianna dengan menyamar sebagai Lord Conrad. Menteri utama yang asli telah dibunuh dihari sebelumnya.

"Dengan semua bangsawan dalam faksi Putri Kedua telah dipenjara, tak ada lagi yang bisa menghentikanmu."

"Hmm, ya, aku sangat bersyukur untuk dukungan dari Kerajaan Suci Lugia."

Arneus menundukkan kepalanya secara tak wajar. Sejujurnya, akan sangat sulit bagi dia untuk mengambil tahta Ordesia tanpa dukungan Kerajaan Suci.

Namun, dia merasa entah kenapa terintimidasi oleh seorang gadis muda seperti itu.

"Jadi, akankah kau menyerahkan penyihir itu pada kami seperti persetujuan?"

Gadis itu memandang Arneus dan bertanya.

"Ya, seperti yang kau inginkan. Aku akan memindahkan wanita itu ke menara Guas Gibai dengan segera."

"Baiklah, aku akan menunggu di menara itu."

"Tetapi apakah ada nilai yang tersisa dari wanita itu untuk dieksploitasi? Setelah kehilangan kekuatan untuk mengontrak roh, penyihir itu tak lagi memiliki ancaman terhadap kita."

Arneus bertanya dalam bingung. Apa yang gadis ini inginkan adalah tubuh penyihir itu, apa yang terjadi sebenarnya?

"Itu bukan urusanmu, Yang Mulia."

Sebuah senyum menggemaskan muncul di wajah Millennia dengan tawa kecil.

Seketika, Arneus merasakan kehadiran yang sangat mengerikan.

"A-Aku paham. Memang, itu bukan urusanku..."

Layaknya boneka yang patah, dia terus mengangguk.

Bagian 8[edit]

Beberapa jam berlalu setelah Kamito dan temannya ditangkap oleh para Imperial Knight.

Sebuah kapal terbang tiba dilangit dekat Kota Akademi.

Itu adalah sebuah kapal yang aneh, kapal terbang yang bukan milik militer Ordesia.

Bentuk kapal itu menyerupai kapal perang yang biasanya digunakan selama era Perang Ranbal. Sebuah kapal tak terdaftar, lambungnya memiliki tanda-tanda modifikasi skala besar. Bukannya sebuah patung dari Elemental Lord sebagaimana umumnya, apa yang menghiasi haluan kapal itu adalah kepala singa, terselimuti kobaran api.

Menembus awan saat naik, kapal itu meluncur layaknya bayangan.

Ada dua sosok diatas dek kapal itu.

Seorang gadis mengenakan topeng merah dan seorang gadis berpakaian dalam armor ksatria.

"—Bagaimana situasinya?"

"Laporan dari bawahan yang menyusup kedalam Kota Akademi. Mereka semua telah ditangkap oleh tentara Ordesia."

Gadis dengan topeng merah itu memasukkan kristal roh yang dia pegang kedalam saku depannya. Itu adalah sebuah kristal roh yang digunakan secara resmi oleh militer Ordesia untuk komunikasi jarak jauh.

"Kita terlambat datang, kan? ...Apakah Ren Ashbell berada di fasilitas militer?"

"Kemungkinan besar—"

"Jika demikian, aku akan berangkat."

"Apa kau yakin? Lawanmu adalah Imperial Knight."

"Tak masalah, aku sudak meninggalkan kehidupanku sebagai seorang ksatria. Selain itu—"

Mengatakan itu, si gadis yang mengenakan armor itu menyentuh lokasi jantung pada dadanya denga ujung jarinya.

"Sebuah peluang sempurna untuk melakukan pengujian."

Suara bisikannya sedingin baja.


Chapter 5 - Benteng Sunyi[edit]

Bagian 1[edit]

"Tetaplah disini dan jangan melakukan sesuatu yang aneh, Raja Iblis Malam Hari—"


Dikekang oleh sihir roh, Kamito ditangkap oleh para ksatria dan dengan kasar dilemparkan ke sel penjara didalam sebuah fasilitas militer dibelakang sebuah pintu logam.


Est disita dan tangannya diborgol dibelakang punggungnya. Dibawah kondisi semacam itu, bahkan Kamito pun tak bisa melawan. Selain itu, meskipun dia bisa melawan, dia kahabisan pilihan karena Restia dijadikan sandera.


Ketika pintu logam itu tertutup, sebuah lingkaran sihir yang terukir di permukaan pintu bersinar.


(....Sebuah penghalang isolasi huh. Sungguh menyakitkan....)


Sambil berbaring di lantai batu yang dingin, Kamito mengutuk didalam pikirannya.

Dengan itu, bahkan mencoba untuk menemukan lokasi Est melalui resonansi segel roh tidak akan bisa dilakukan.


Merangkak diatas lantai, dia bergerak mendekati pintu.


Dia mendeteksi satu kehadirab di sisi lain dari pintu tersebut, sepertinya hanya penjaga bisa, bukan seorang ksatria roh.


"Apa yang terjadi pada Claire dan yang lainnya? Mereka tidak mendapatkan perlakuan yang kasar kan?"


Dia bertanya pada orang yang ada dibalik pintu.


"Kau tak perlu tau "


Suara dingin dari si penjaga menjawab.


"Apa ini benar-benar upaya pembunuhan pada kasiar? Apa sebenarnya yang terjadi di ibukota kekaisaran?"


"Diam, lama-lama kau menjengkelkan."


Kali ini pintunya ditendang dengan kasar.


(Sepertinya itu bukan seseorang yang gampang membocorkan sesuatu.)

Kamito mendesah, duduk dan bersandar pada dinding.


Mengamuk disini tak ada gunanya. Akan lebih bijaksana untuk menghemat energinya dan meluangkan waktunya.


(....Tetapi semuanya telah menjadi merepotkan.)


Situasinya sangat mengerikan.


Fianna pasti tertangkap dalam suatu kekuatan dan ditahan.


Pada tingkat ini, dia mungkin berakhir dieksekusi sebelum pengadilan yang tepat di lakukan.


(...Dan itu membutuhkan setidaknya empat hari untuk pergi ke ibukota kekaisaran dari sini.)


Dan juga, meskipun dia bergegas ke ibukota kekaisaran, dia masih harus mencari untuk menghindari pasukan penjaga untuk menyelamatkan Fianna.


....Sebelum itu, keluar dari sini saja audah menjadi masalah tersendiri.


(Fianna...)


Sosok dari sang putri, yang kadang-kadang menggoda dia dan sering menyemangati dia, muncul dalam benaknya, seketika membuat dia dipenuhi ketidaksabaran.


—Pada saat ini.


"...to... Kazehaya Kamito—"

Dia tiba-tiba mendengar suara dibelakang dia.


Bukannya berasal dari sisi yang berlawanan dengan pintu, itu lebih terasa seperti bisikan disebelah telinganya.


Kamito melihat pintu yang ada dibelakangnya. Tak ada tanda-tanda dari orang lain.


Yang dia lihat hanyalah bayangannya sendiri.


Namun, Kamito merasakan perasaan disonansi dari bayangan tersebut.


Sumber cahaya sel itu adalah secercah cahaya redup yang masuk dari jendela kecil dekat langit-langit.


Namun, bayangan tersebut terproyeksi dengan tingkat kejelasan yang tak wajar pada pintu, tampak hampir seperti sosok manusia yang secara ganjil memotong ruang.


"...Katakanlah, mungkinkah ini—"


"Diam, bodoh."


Bayangan itu mengangkat satu jari dan membuat postur menyuruh diam.


Segera menyadari identitas sejati dari bayangan tersebut, Kamito merendahkan suaranya seperti yang diinstuksikan.


"—Freya-sensei."


Dia mengatakan nama dari guru wali kelasnya.


Memang, Kamito telah melihat ini berkali-kali selama ujian pertempuran di akademi.


Identitas sejati dari bayangan tidak jelas ini adalah roh bayangan milik Miss Freya—Shadow Servant.


kemudian bayangan itu mengangguk....


"Aku minta maaf karena datang terlambat. Ini sedikit sulit untuk menggunakan roh didalam penghalang isolasi."


"Jangan bilang kau menyelinap kedalam fasilitas militer ini?"


"Tidak, aku tidak berada di dalam fasilitas. Aku mengendalikan roh ini dari jarak jauh dari suatu tempat di Kota Akademi. Saat kau ditangkap, aku menyelipkan roh ini secara sembunyi-sembunyi kedalam bayanganmu."


Setelah dengan tangkas merenggangkan borgol Kamito, bentuk bayangan itu terdistorsi dan menyelinap melewati retakan dibawah pintu untuk pergi keluar. Tak lama kemudian, suara pembukaan kunci yang tenang terdengar.


"Cepatlah. Pergilah sebelum para ksatria roh menyadarinya."


"....Maaf, aku berhutang padamu."


Kamito segera berdiri.


"Tapi apakah kau yakin ini tidak apa-apa?"


"Apa maksudmu?"


"Pastinya, kau membahayakan posisimu dengan melakukan hal ini—"


"Bagaimanapun juga, kesetiaanku hanya untuk kepala sekolah saja, bukan pada kekaisaran."


Bayangan yang ada dilantai mengangkat bahu dan menjawab.


Bagian 2[edit]

Didalam kantor kepala sekolah di lantai tiga di akademi....


"—Claudia, aku tidak menyetujui penguasaanmu atas akademi!"


"Ijinmu tidak diperlukan, Nona Ellis."


".....Apa!?"


Ellis tak bisa berkata apa-apa, berhadapan dengan Claudia yang tenang yang bahkan ekspresinya tidak berubah.


Ini adalah setelah Kamito dkk ditangkap.


Akademi Roh Areishia telah diambil alih oleh para Imperial Knight.


Semua siswa yang demo di pintu masuk utama diamankan. Siswa-siswa yang lain berada dalam rumah tahanan di asrama mereka.


Disaat yang sama, para Sylphid Knight, yang bertanggung jawab menegakkan aturan dan kedisiplinan di akademi, dilarang mengambil tindakan. Itu setara dengan mencopot Ellis dari posisinya sebagai kapten Sylphid Knight.


"Aku hanya mengerjakan tugasku sebagai seorang Imperial Knight."


Claudia menyatakan dengan dingin.


"Tugad? Apa tugasmu juga termasuk menangkap para siswa tak berdaya yang bahkan tak bisa melawan?"


"Apa boleh buat. Mereja adalah orang-orang yang menggunakan sihir roh duluan."


"....Hmph. Selain itu, kenapa kepala sekolah ditangkap dan dipenjara!?"


"Dilaporkan, dia berkonspirasi dengan Putri Kedua dan mencoba membunuh Yang Mulia."


"Itu pasti sebuah jebakan. Mereka bukanlah tipe orang yang akan melakukan hal itu."


"Yang Mulia Putri Kedua adalah teman sekolahmu kan Nona Ellis? Apakah ada lagi yang ingin kau tambahkan?"


Ellis mengangkat tangannya secara reflek.


Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia meletakkan tangannya di meja pelan-pelan.


Kemudian dalam suata yang tenang dan bergetar, dia berkata:


".....Masukkan aku kesana."


".....?"


"Aku ingin dimasukkan kedalam penjara sama seperti Kamito dan yang lainnya!"


"Tak terpikir aku mengharapkan sesuatu yang lain—"


Claudia menggeleng jengkel.


Namun, Ellis melanjutkan:


"Aku menetang para Imperial Knight disaat yang sama juga. Itu akan tidak adil kalau hanya aku satu-satunya orang yang tidak ditahan. Atau kau mau mengatakan bahwa seorang putri dari keluarga Fahrengart terikat pada perlakuan khusus?"


"....Sungguh keras kepala."


Mencapai akhir dari kesabarannya, Claudia membentak dan menjentikkan jari-jarinya dengan keras.


Segera, pintu kantor kepala sekolah terbuka dan dua ksatria roh masuk.


"Bawa dia ke fasilitas militer untuk mendinginkan kepalanya sedikit."


Bagian 3[edit]

"....Ini tak bisa diterima!"


Claire berteriak marah pada pintu sel yang tertutup rapat.


Seperti tempat dimana Kamito ditahan, ini adalah sebuah penjara di fasilitas militer.


Meskipun dia tidak diborgol seperti Kamito, penghalang isolasi tersebut telah merusak hubungan pada roh terkontraknya, bukan hanya mencegah dia dari memanggil Scarlet, tetapi juga mencegah menggunakan sihir roh.


(...Tetapi aku mungkin bisa keluar kalau aku menggunakan api itu.)


Claire menatap tangannya. Kekuatan khusus yang sifatnya berbeda dari sihir roh, diturunkan keluarga Elstein—api kehampaan, bahkan bisa membakar api lain.


Namun, bahkan jika dia bisa lolos dari sel ini, dia masih tak berdaya menghadapi para ksatria roh diluar.


"....Biarkan aku keluar atau kau mungkin berakhir terbakar menjadi arang!"


Meskipun memukul-mukul pintu dan bahkan menendangnya dua kali, dia sama sekali tak bisa mendapatkan tanggapan dari luar.


Akhirnya merasa lelah, Claire mendesak tak berdaya dan duduk ditempat.


"....Aku sungguh minta maaf, itu semua karena aku tertangkap—"


Pada saat ini, Restia meminta maaf dari posisinya yang meringkuk di sudut sel.


"Itu bukanlah kesalahanmu. Segerombolan ksatria kasar itulah yang harus disalahkan."


Claire memalingkan kepalanya untuk menatap Restia.


"Tetapi jika aku bisa memulihkan kekuatanmu, melarikan diri dari penjara semacam ini harusnya sangatlah mudah."


Dia mengangkat bahu.


"Aku memiliki kekuatan semacam itu?"


"Ya, bagaimanapun juga kau adalah seorang roh berperingkat tinggi dari elemen kegelapan. Kalau kau menggunakan kekuatan aslimu, para ksatria roh biasa bukanlah lawanmu. Menggunaksn petir hitam itu, kau bisa memanggang mereka dalam sekejap—"


"....Itu terdengar begitu menakutkan."


Restia mengerang dan berbicara takut-takut dengan suara pelan.


"Yah, kau tak perlu memaksa dirimu untuk mengingatnya. Maaf tentang hal itu."


Melihat bagaimana dia bereaksi, Claire meminta maaf, merasa kasihan.


(...I-Itu terasa cukup tak bisa dipercaya, menghabiskan waktu sendirian bersama si roh kegelapan.)


Claire merasa cukup bertentangan didalam hatinya. Claire awalnya adalah seorang cewek pemalu. Bahkan mengabaikan fakta bahwa mereka berdua jelas-jelas adalah musuh sebelumnya, Claire benar-benar gak tau bagaimana caranya berinteraksi dengan Restia setelah dia kehilangan ingatannya.


(....Menurutku, dia adalah cewek yang dicintai Kamito.)


Tiba-tiba teringat fakta ini, Claire seketika merasa sesak didadanya.


(Jauh jauh hari dimasa lalu, jauh lebih lama dari aku, dia sudah bersama dengan Kamito—)


...Growl.


Mendengar suara manis yang pelan, Claire segera tertarik kembali ke realitas.


"Apa kau lapar?"


"Ah, u-uhh...."


Restia tersipu, tanpak cukup bingung.... Ngomong-ngomong, mereka masih belum makan malam. Claire tiba-tiba teringat.


"Uh, kau mau ini?"


Dari sakunya, Claire mengeluatu biskuit yang dibungkus kertas minyak. Biskuit itu dibuat oleh Rinslet dan Claire menbawanya ketika meninggalkan kastil di Laurenfrost.


"Bolehkah?"


"Aku juga akan memakannya. Mari kita berbagi setengah-setengah."


"T-Terimakasih...."


Sambil makan biskuit tersebut, Claire berbicara.


"Jangan khawatir. Ellis pasti akan menemukan suatu cara."


Segala hal dipertimbangkan, Ellis adalah putri dari keluarga Fahrengart, yang mana memegang pengaruh yang luas atas para Imperial Knight. Kalau dia bernegosiasi dengan para petinggi, pastinya mereka akan segera dibebaskan.


Tepat saat Claire berpikir begitu optimis....


Pintu sel, yang mana gak menunjukkan reaksi tak peduli bagaimana dia berteriak atau menendang, terbuka dengan suara berderit.


"...Ellis!"


Claire berdiri dan berteriak.


Muncul diluar pintu adalah Ellis sama seperti yang baru saja dia sebutkan.


"Kau terlambat, Ellis. Aku sudah menunggu begitu lama."


Claire berbicara pada dia.


Namun, Claire segera menyadari ada sesuatu yang janggal tentang dia.


"Tidak, uh, maaf—"


"...Huh?"

Ellis masuk dan duduk di pojokan sel tersebut, menarik lututnya ke dadanya.


Kemudian pintunya tertutup dari luar dan terkunci dengan suara "klak".


"T-Tunggu, apa yang terjadi? Kenapa kau dimasukkan penjara juga?"


"A-Aku hanya bersikeras pada prinsip-prinsipku...."


Mengatakan itu, Ellis memalingkan wajahnya karena malu.


"K-Kau..... Jangan bilang...."


Menebak pokok permasalahannya berdasarkan kepribadiannya, Claire menutupi kepalanya sendiri dengan tangannya.


"I-Idiot! Siapa yang akan menyelamatkan kita jika kau dipenjara disini juga!?"


"U-Umm, kau ada benarnya.... Maafkan aku."


Tampaknya dia bercermin pada tindakkannya pada akhirnya, Ellis meminta maaf pelan-pelan.


"Tetapi aku tidak menyesali keputusanku—"


"....Haaaa. Ya ampun, kau hanya tak bisa berpikir secara luas."


Claire mencengkeram kepalanya sendiri dan mendesah kebingungan.


"Yah, itu memang sangat sesuai dengan gayamu...."


Bagian 4[edit]

"—Gak ada reaksi?"


"Ya, tampaknya dia gak ada didekat sini."


Berlari disepanjang lorong, dipimpin oleh roh bayangan, Kamito memfokuskan kewaspadaannya pada segel di tangan kanannya.


Hubungannya dengan Est masih belum pulih.


Setidaknya, Est gak ada disekitar sini.


(....Atau mungkin, Est di kunci dibelakang sebuah penghalang juga.)


Jika demikan, maka dis tak akan bisa merasakan lokasi Est sampai mefekat benar-benar dekat.


Kamito menghapus hawa keberadaannya untuk menghindari terdeteksi oleh para penjaga, menggunakan titik-titik buta di lorong tersebut untuk bergerak.


Meskipun pelariannya masih belum diketahui, itu hanyalah masalah waktu saja.


"Bagaimana kalau disini?"


Menemukan apa yang tanpak seperti sebuah ruang penyimpanan, Kamito berhenti.


Roh bayangan itu menyelinap kedalam lubang kunci dan dengan cepat membukanya.


"Seperti yang diharapkan dari seorang mantan ksatria operatif khusus bagian dari Umbra. Hal semacam ini sangatlah mudah bagimu."


"Oh? Kau mengetahuinya?"


Roh bayangan milik Freya terdengar terkejut mendengar komentar Kamito.


"Aku bisa mengetahuinya dari pergerakanmu. Aku sudah melawan orang-orang itu berkali-kali."


"Para ksatria operatif khusus milik Kekaisaran? Kehidupan macam apa sebenarnya yang kau jalani?"


"....Itu adalah cerita yang panjang."


Mengangkat bahu, Kamito memasuki ruangan penyimpanan itu.


Mengambil dan mengaktifkan kristal roh yang menggantung di dinding yang dimaksudkan untuk penerangan, dia menyalakannya didalam, yang terlihat hanyalah banyak botol dilantai. Tampaknya seperti mereka menggunakan botol-botol itu untuk pemeliharaan pengawetan daging atau semacamnya.


Tak ada tanda-tanda Est. Rupanya bukan ditempat ini.


"Sialan, kalau kita tidak bergegas—"


Kamito hendak keluar dari ruang penyimpanan tersebut, ketika—


Mendengar langkah kaki keras dan teriakan diluar, dia berhenti.


"Si elementalis laki-laki telah melarikan diri!"
"Tangkap dia, hidup atau mati!"


".....cih, mereka sudah mengetahuinya."


Itu lebih cepat dari yang diharapkan. Dibandingkan dengan penjaga yang dilumpuhkan sebelumnya, musuh merupakan para ksatria roh terlatih. Itu akan sulit, bahkan bagi seseorang seperti Kamito, untuk melawan mereka tanpa dipersejatai elemental waffe.


(....Tetapi situasinya sebenarnya tidak benar-benar seburuk itu.)


Dengan terfokusnya perhatian para Imperial Knight pada Kamito saja, seharusnya dia bisa menciptakan celah, kemudian Claire dan yang lainnya mungkin memiliki peluang untuk melarikan diri dari pengurungan mereka.


"Freya-sensei, Claire dan yang lainnya harusnya ada disuatu tempat didalam fasilitas ini juga. Bisakah kau pergi menyelamatkan mereka terlebih dahulu?"


"Tentu, tetapi apa rencanamu?"


"Aku akan mencari Est sendiri. Setelah aku mendapatkan Est kembali, aku akan selalu menemukan cara."


"Percaya diri sekali. Aku gak berharap kau berniat melawan semua ksatria roh yang ditempatkan di fasilitas ini?"


"Yang benar saja—"


Kamito meringis.


"Aku akan menarik perhatian para ksatria sementara waktu. Setelah kau membantu Claire dan yang lainnya melarikan diri, beritahu mereka untuk pergi ke pemandian itu di Hutan Roh dan kita akan bertemu disana—"


"Pemandian?"


"Claire pasti paham."


"....Baiklah. Jangan terlalu memaksakan diri."


Meninggalkan pesan ini, roh bayangan itu meninggalkan bayangan Kamito dan menghilang kedalam kegelapan lorong tersebut.


Setelah melihat roh itu pergi, Kamito bergerak:


"—Oh yah, penyusupan dan menyebabkan gangguan adalah pekerjaan asliku."


Kamito bergumam pelan dan mulai bergerak.


Suara-suara dan langkah kaki dari para ksatria yang mencari Kamito semakin dan semakin keras.


Namun, suara-suara ini berakhir memberitahu Kamito tentang posisi para ksatria.


(—Sepertinya mereka berpencar untuk menemukan aku.)


Kamito menyimpulkan hal ini dark suara langkah kaki mereka.


Para ksatria roh dalam pasukan biasanya akan selalu bertindak dalam unit-unit yang terdiri dari dua atau tiga orang. Hal ini memungkinkan mereka untuk menyeimbangkan kelemahan elemental pada roh terkontrak milik ksatria yang lain, dengan demikian memungkinkan mereka untuk bertarung pada kekuatan maksimum.


Contohnya, seorang elementalis api, yang lemah terhadap air, akan dipasangkan dengan seorang elementalis tanah, yang memilki keuntungan terhadap air.


Namun, mengetahui bahwa Kamito saat ini tak bisa menggunakan roh terkontraknya, para ksatria memilih untuk memprioritaskan efesiensi pencarian. Memang, itu adalah keputusan yang sangat masuk akal.


(—Sayang sekali untuk kalian, lawan kalian dilatih di Sekolah Intruksional.)


Kamito merapal mantra Penciptaan Senjata, menciptakan sebuah belati di masing-masing tangan.


Pembagian dan penaklukan adalah taktik dasar yang digunakan oleh para petarung Sekolah Intruksional. Bahkan tanpa menggunakan sebuah elemental waffe, itu sudah cukup dengan tujuan menyebabkan keributan.


Tak lama kemudian seorang ksatria muncul diarah yang berlawanan dengan dia di lorong.


"—Ketemu kau, elementalis laki-laki!"


Melihat Kamito memegang senjata dikedua tangannya, ksatria itu melepaskan sihir roh Fireball tanpa ragu-ragu. Seketika, kobaran api yang ganas meledak.


—Namun, kamito tak lagi ada disana. Menendang dinding, dia melompat dan menghindari api dengan waktu yang tipis dan mengambil keuntungan dari ledakan api tersebut untuk melemparkan belati sihir miliknya.


(—Bagus, coba kita lihat seberapa banyan keributan yang bisa aku buat.)


Bagian 5[edit]

Suara dari ledakan d kejauhan membuat Claire mendongak secara tiba-tiba.


"....Apa yang terjadi?"


Dia buru-buru mendekati pintu.


Tiba-tiba, sebuah bayangan tidak jelas masuk melalui celah dibawah pintu.


"H-Huahh!"


"Ada apa Claire!?"


Mendengar jeritan Claire, Ellis berteriak tajam.


"S-Sesuatu yang aneh datang dari luar—"


"Menyebut orang lain aneh dari awal, kan? Claire Rogue."


"....Huh?"


Claire tertegun. Suara tidak senang itu terdengar begitu akrab.


"Jangan bilang kau adalah Freya-sensei?"


"Tepat. Pelajaran tambahanmu harus dibebaskan."


Bayangan itu yang menyelinap dari bawah pintu perlahan-lahan mengambil wujud manusia.


"Sensei, tolong selamatkan kami!"


"Tentu. Cepat dan pergilah secepat mungkin ketika keributannya masih berlangsung."


"B-Baik!"
"Dimengerti!"


Claire dan Ellis mengangguk dan segera membuka pintu yang telah dan terkunci.


Roh bayangan itu bergerak di lantai, memimpin Claire dan teman-temannya melewati lorong tersebut.


"Baiklah, roh kegelapan, cepat lari—"


"B-Baik...."


Claire menggenggam tangan Restia dan mengikuti bayangan itu yang bergerak di lorong.


Sambil berlari, dia menanyai si bayangan yang merayap dilantai.


"Sensei, bagaimana dengan Kamito? Dan juga, ledakan sebelumnya itu—"


"Dia sudah kabur duluan. Aku menduga dia saat ini menyebabkan gangguan untuk menarik perhatian para ksatria. Dia berniat untuk bertemu denganmu diluar setelah dia mendapatkan kembali roh pedang."


"Tak mungkin....!"


Kekuatan Kamito memang tak bisa dibantah.


Namun, untuk melawan pasukan ksatria sendirian—


"Akankah dia baik-baik saja sendirian? Atau haruskah kita pergi untuk bertarung juga—"


Meskipun Ellis menyarankan itu....


"Jangan menghawatirkan sesuatu yang tidak perlu. Jangan sia-siakan upaya Kamito."


Roh bayangan tersebut menggeleng dan menjawab. ....Memang, satu saja salah langkah, maka semuanya akan hilang jika mereka menyia-nyiakan kesempatan mereka untuk melarikan diri.


"....Aku mengerti. Jadi dimana titik pertemuannya?"


"Dia bilang itu adalah di pemandian di Hutan Roh."


".....Pemandian?"


Claire segera mengernyit dan memikirkannya.


"...Oh aku paham, yang dia maksudkan pemandian itu."


Dia segera mengetahuinya. Kamito mangacu pada pemandian pemurnian dimana dia pertama kali bertemu Claire.


Teringat bagaimana Kamito melihat dia telanjang pada saat itu, Claire merasa wajahnya memanas.


—Namun pada saat ini, suara langkah kaki bisa terdengar datang dari ujung lorong yang berlawanan arah.


"Sialan, bagaimana bisa mereka membuka pintu penjara—"


Muncul dari sekitar sudut adalah seorang ksatria bersenjatakan elemental waffe.


"...Kita ketahuan. Tetapi itu hanya satu orang saja—"


"Ya, ayo kita terobos secara paksa!"


Sambil berteriak, Ellis memanggil Ray Hawk di tangannya.


"Roh kegelapan, bersembunyilah dibelakang kami—"


Claire memanggil Flametongue dan segera mengayunkannya.


Tebasan berwarna merah merobek udara, menyerang si ksatria yang ada dihadapan mereka.


"Aku memohon pada egkau untuk berhembus, O angin dari pasir yang panas—Desert Storm!"


Si ksatria merapal sihir roh. Seketika, suatu badai pasir ganas terjadi di lorong itu, memblokir pandangan Claire.


Karena sosok ksatria itu dikaburkan oleh pasir, cambuk api itu gagal menyerang targetnya.


"Sangat bagus huh—"


"Claire, roh bayangan milik guru—"


Ellis berteriak keras.


Badai pasir yang menderu tersebut tanpa kenal ampun melahap bayangan yang merayap di lantai.


"Freya-sensei—"


"....Jadi ini adalah batasnya huh....? Aku serahkan sisanya, pada kalian, murid-murid—"


Suaranya, bercampur dengan keributan, terpotong.


Sejak awal roh bayangan memang bukan dimaksudkan untuk pertempuran. Selain itu, roh itu dikendalikan dari jarak yang jauh. Setelah bayangan itu tak bisa mempertahankan dirinya sendiri, bayangan itu akan menghilang dengan cepat.


"Sialan—"


Claire menggigit bibirnya dan menatap dengan cermat badai pasir itu.


"Ini buruk. Kemampuan elemental Scarlet buruk terhadap roh pasir itu!"


"Ya, hati-hati, dia datang—"


Ellis menyiapkan Ray Hawk dan berteriak. Seketika, sebuah lengan raksasa dari pasir batu menjulur keluar dari dari penghalang pasir yang menghalangi pandangan mereka.


"...Tsk, sialan kau—"


Tombak milik Ellis menebas lengan pasir itu dalam garis melengkung.


Namun, itu sia-sia. Parahnya, lengan itu segera beregenerasi dengan mengumpulkan pasir terdekat dan menyerang Claire.


Terlempar karena sebuah pukulan, Claire menghantam dinding.


"...Gah—!"


"Claire!"


"....A-Aku baik-baik saja.... Rasakan ini—"


Claire merapal sihir roh sambil dalam postur berlutut.


"Datanglah dari neraka—Hellhounds!"


Kobaran api muncul dari udara tipis dan berubah menjadi dua anjing pemburu, masuk kedalam badai pasir yang menderu. Ini adalah binatang api yang secara otomatis disiagakan yang bisa mengejar target sampai akhir.


Sebagai tanggapan, lengan pasir yang menjulur keluar dari lantai segera mengubah arah dan memblokir jalur didepan kedua anjing neraka itu. Terblokir oleh pasir batu, kobaran api panas itu padam dengan mudah.


—Namun, itu tepat seperti yang direncanakan Claire.


Itu akan mustahil untuk mengendalikan lengan pasir itu secara langsung dengan ketepatan dalam situasi visibilitas nol. Sifatnya pasti menyertakan beberapa level otonomi dalam menyerang target dan melindungi tuannya.


Dengan kata lain, lengan pasir itu secara otomatis bertahan ketika penggunanya diserang, yang mana juga berarti bahwa—


Tidaklah sulit untuk menebak lokasi penggunanya meskipun badai pasir menghalangi dia agar tidak terlihat.


"Ellis, lakukan sekarang—"


"—Disebelah sana huh? Tombak gaya Fahrengart, Flying Strike!"


Ellis melemparkan tombaknya, terselimuti dalam topan, kearah lengan pasir yang menempel pada lantai.


Diresapi dengan semua divine power miliknya, Ray Hawk yang dilemparkan menembus lengan pasir itu, melepaskan badai angin pembelah didalam badai pasir.


"Ahhhhhhhhhhhh!"


Badai pasir yang menderu tersebut lenyap seketika, disertai dengan sebuah jeritan. Penglihatan dipulihkan sekaligus.


Seorang ksatria bisa terlihat terbaring telentang di lantai lorong, armor miliknya hancur berantakan.


"Tunggu sebentar, Ellis, bukankah kau berlebihan melakukannya?"


"Aku mengendalikan kekuatanku. Dia hanya pingsan saja."


Mengatakan itu, Ellis mencabut Ray Hawk yang menancap di lantai.


"Roh kegelapan, kau bisa keluar sekarang—"


Claire memanggil kebelakang dia. Segera, Restia muncul dari tempat persembunyiannya, sebuah lubang di dinding.


"....Kalian berdua begitu kuat."


"Kamito bahkan lebih luar biasa lagi."


Claire mengangkat bahu dan menatap ke kedalaman lorong.


"Ayo cepat sebelum bala bantuan ksatria tiba—"


Bagian 6[edit]

Pada saat ini, bahkan Kamito perlahan-lahan semakin terpojok oleh para ksatria yang mengepung dia.


"T-Tutup lorongnya!"


"Raja Iblis Malam Hari itu pasti ada disekitar sini!"


(....Est, dimana kau? Jawab aku!)


Sambil menggunakan dinding untuk menyembunyikan dirinya sendiri, Kamito memanggil Est secara mental.


Namun, segel roh di tangan kanannya tidak bereaksi sama sekali. Est mungkin terpenjara dalam bentuk pedang di suatu penghalang isolasi. Mencoba untuk menemukan satu pedang di fasilitas yang luas ini layaknya mencari jarum ditumpukan jerami.


(....Pada tingkat ini, mereka akan mengepungku.)


Kamito menempatkan ksatria yang runtuh di kakinya di tengah-tengah lorong semencolok mungkin. Ini adalah seorang ksatria yang dia sergap sambil menghapus hawa keberadaannya. Cewek itu sepenuhnya tak sadarkan diri.


(....Ini sudah yang kelima. Aku sudah membuat keributan sebesar itu, jadi harusnya itu sudah hampir waktunya—)


Kamito menarik perhatian sebanyak mungkin untuk suatu tujuan. Wajarnya, pertama, dia ingin memudahkan Claire dan yang lainnya melarikan diri. Yang kedua—


Inilah saatnya. Telinga sensitif milik Kamito menangkap suara banyak langkah kaki.


Kira-kira empat atau lima orang. Tidak kurang dari tiga orang.


(Waduh, akhirnya mereka mengambil tindakan huh....)


Kamito bergumam dalam hatinya dan menyembunyikan dirinya lagi, memfokuskan pikirannya pada suara langkah kaki.


Sebelumnya, para ksatria bertindak sendiri-sendiri, mungkin meremehkan kekuatan Kamito dalam keputusan untuk memprioritaskan efesiensi pencarian.


Sekarang, mereka membentuk tim kecil untuk mengalahkan Kamito—


Tidak, tak peduli seberapa takutnya mereka pada kekuatan Kamito, mengerahkan lima ksatria untuk menangani seorang lawan yang gak memiliki elemental waffe itu keterlaluan. Untuk mencari Kamito dalam fasilitas sebesar ini, tindakan itu sangat tidak efesien.


Tujuan dari tim ini mungkin untuk menjaga sesuatu bukannya memburu Kamito. Dibawah situasi seperti itu, hanya ada satu objek hingga para Imperial Knight mengirim lima ksatria untuk berjaga.


Tepatnya adalah sesuatu yang tidak boleh jatuh ke tangan Kamito—Demon Slayer.


Memang, ini adalah tujuan lain dari Kamito. Untuk membuat para ksatria merasa krisis dalam menghadapi Kamito dan mengirim orang untuk menjaga Est—


Kamito memfokuskan perhatiannya pada langkah kaki di kejauhan dan mulai mengikuti mereka.


(....Tetapi lima ksatria roh huh. Menghadapi mereka secara langsung akan sedikit terlalu ribet.)


Sejujurnya, ini adalah pertaruhan.


Skenario terbaiknya adalah menemukan lokasi Est sembari para Imperial Knight masih meremehkan dia. Membuat mereka waspada tinggi hingga mereka memperketat keamanan sudah pasti bukanlah rencana terbaik. Bahkan setelah mengambil kembali Est, itu akan sia-sia kalau dia tak bisa keluar dari pengepungan itu.


Namun—


(....Selama aku punya Est ditanganku, akan selalu ada jalan.)


Kamito yakin dia bisa melarikan diri setelah dia mendapatkan kembali Demon Slayer, meskipun dia harus menghadapi semua ksatria roh didalam fasilitas itu.


Menghapus hawa keberadaannya, dia mengikuti para ksatria dengan hati-hati. Para knight tidak terlalu waspada, kemungkinan menurunkan kewaspaan mereka setelah membentuk tim. Mereka tidak tampak menyadari Kamito mendekati mereka.


Segera, tim ksatria itu berhenti didepan sebuah pintu tertentu. Sebuah pintu logam besar terukir dengan lingkaran sihir. Sebuah penghalang isolasi mungkin telah dipasang didalamnya.


Denyut—Kamito merasakan rasa nyeri pada segel roh di tangan kanannya.


(...Est?)


Bersembunyi didalam bayangan, Kamito segera memfokuskan pikirannya pada tangan kanannya.


....Tak ada jawaban. Tetapi dia sudah pasti bisa merasakan keberadaan Est.


(...Sudah kuduga, dia disini huh—)


Est ada disini—Tepat seperti yang Kamito percayai dengan pasti....


"—Ada seseorang disana!?"


Seorang ksatria yang menjaga pintu berteriak tajam.


"...!"


Kamito secara reflek meninggalkan tempatnya di bayangan itu.


Dalam detik berikutnya, sebuah panah cahaya ditembakkan ke tempat persembunyiannya, meledak dalam cahaya yang menyilaukan.


—Sepertinya karena membentuk membentuk ulang hubungannya dengan Est, para ksatria bisa merasakan kehadiran samar dari divine power.


"K-Kau adalah—"


Melihat Kamito muncul, si ksatria yang menembakkan panah cahaya tersebut berseru terkejut.


"O baja, berilah aku kekuatan engkau—Weapon Works!"


Kamito menciptakan sebuah belati dimasing-masing tangannya menggunakan sihir roh dan menendang tanah untuk berakselerasi.


Jaraknya hanya sembilan langkah. Namun, itu merupakan jarak yang sangat jauh ketika menghadapi para ksatria yang terlatih dengan baik.


(Delapan langkah, tujuh langkah—)


Berkonsentrasi sampai pada batasnya, Kamito merasakan saat-saat yang sulit ketika sekelilingnya melambat.


Menilai dari pergerakan, dia bisa bilang bahwa mereke berlima kemungkinan adalah sebuah tim elit yang dipilih secara hati-hati dari para ksatria.


Mereka berada pada standart yang jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang dia kalahkan sebelumnya, meskipun mereka semua adalah para ksatria.


Sebuah panah cahaya ditembakkan lagi pada Kamito ketika dia mendekat. Dia segera melemparkan belatinya, sedikit membelokkan lintasan panah tersebut. Melewati wajahnya, panah itu kemudian meledak dibelakang dia.


(Enam langkah, lima langkah, empat langkah—)


Para ksatria yang memiliki pedang dan tombak bersiap ketika elemtal waffe mereka tepat berada didepan dia. Dalam pertarungan langsung, belati yang dibuat menggunakan sihir roh sudah pasti akan hancur berkeping-keping ketika bertabrakan.


Satu ksatria mengayunkan pedangnya.


Tepat sebelum pedang dan belati itu membuat kontak, Kamito berhenti bergerak maju.


Tak mampu menghentikan momentumnya tepat waktu, pedang milik ksatria itu menghantam lantai. Ujung pedang itu melewati ujung hidung Kamito, memotong beberapa helai rambut dari dari poninya.


(Kalau sedekat ini—)


Kamito mengulurkan tangannya kearah pintu.


Dia menuangkan divine power dalam jumlah yang besar kedalam segel roh sambil merapalkan kata-kata pelepasan roh terkontraknya.


"—Ratu Baja yang tidak memihak, pedang suci yang menghancurkan kejahatan!

—Sekarang jadilah pedang baja dan jadilah kekuatan ditanganku!"


Segel roh itu mengeluarkan petir yang menyilaukan, membuat penglihatannya menjadi putih.


Perasaan tersambung pada Est memang tidak salah lagi.


"—A-Apa!?"


Si ksatria yang ada didepan dia mengerang dengan tampilan terkejut dimatanya.


Demon Slayer—Terminus Est—adalah roh pedang terkuat.


Namun, kontraknya dengan Kamito tidaklah sempurna, dengan demikian menghasilkan pembatasan jarak fisik dalam hubungan mereka. Tanpa suplai divine power dari Kamito, Demon Slayer tak lebih dari pedang yang relatif lebih tajam.


Namun, setelah mereka terhubung—


(Menghancurkan sebuah penghalang isolasi setingkat ini akan sangat mudah—)


Pintu baja itu yang diperkuat dengan sihir perlindungan dihancurkan seketika dari dalam.


Apa yang menghancurkan pintu itu adalah petir hitam legam ganas yang memancar dari pusat ruangan.


"M-Mustahil—!"
"Apa, petir hitam menakutkan ini adalah—"


Para ksatria didekat pintu terhantam oleh petir hitam yang mengamuk, jatuh satu per satu.


Para ksatria mungkin menganggap dari turnamen Blade Dance bahwa roh pedang milik Kamito adalah sebuah senjata jarak dekat saja. Mereka berpikir bahwa itu tak bisa menunjukkan kekuatannya kecuali pedang itu ada di tangan Kamito.


(—Inilah alasan kekalahan kalian.)


Saat ini, Eat bukan sekedar Demon Slayer—


Lebih tepatnya, dia adalah Terminus Est Zwei, Pedang Raja Iblis yang telah mewarisi kekuatan Restia.


Kamito meluncur ketengah-tengah petir hitam yang mengamuk dan memegang gagang Est yang berada didalam ruangan itu.


"Terimakasih sudah menunggu, Est—"


‘Ya, Kamito.’


Dengan hubungannya dipulihkan sepenuhnya, suara Est bergema dalam pikirannya.


Dengan itu, Kamito mencabut Demon King's Sword yang bilahnya telah menjadi hitam.


mungkin menyadari suara yang keras itu, suara langkah kaki dalam jumlah yang banyak mendekat dari segala arah.


"Maaf, aku harus memasukkan kamu kedalam pertunjukkan segera setelah kami bangun, Est—"


STnBD V14 150.jpg


‘Ya, Kamito. Aku adalah pedangmu, keinginanmu adalah perintah bagiku.’


Bagian 7[edit]

"Cepat, bala bantuan ksatria datang—"


"Baik, sebelah sini!"


Ketika Kamito tengah bermain petak umpet dengan para ksatria, Claire dan teman-temannya berlari disepanjang lorong yang mengarah ke jalan keluar di permukaan tanah.


Disepanjang jalan, mereka bertemu sejumlah ksatria roh, tetapi dengan koordinasi mengagumlam dari pemahaman tanpa suara, Claire dan Ellis berhasil mengalahkan mereka. Mereka sudah setara dengan para ksatria dari Ordesia. Setelah selamat dari pertempuran melawan para elit dari negara-negara lain dan memperoleh kemenangan di Blade Dance, kedua cewek itu telah meningkatkan kemampuan mereka secara dratis.


"—Ngomong-ngomong, keamanan disebelah sini tampaknya cukup lemah."


"Ya, kemungkinan besar Kamito menarik sebagian besar dari pasukan mereka."


Ellis mengangguk dan menjawab sambil berlari didepan.


Karena roh bayangan milik Miss Freya sudah menghilang, Ellis harus memanggil roh angin untuk memimpin jalan ke jalan keluar. Roh itu tidak mempetakan seluruh tataruang fasilitas itu, tetapi hanya mengikuti aliran angin, mereka harusnya bisa mencapai jalan keluar di permukaan tanah. Namun, fasilitas ini rupanya memiliki sejumlah jalan keluar, oleh karena itu, dimana mereka akan berakhir itu hanyalah masalah keberuntungan saja—


"Roh kegelapan, apa kau baik-baik saja?"


"Huff, huff.... Aku baik-baik saja, ya...."


Restia berusaha sebaik mungkin untuk menjawab, tetapi berlarian terus tampaknya sulit bagi dia.


....Tetap saja, mereka tak bisa berhenti untuk beristirahat. Segera setelah bala bantuan ksatria tiba, tak akan ada harapan yang tersisa.


"Kita akan segera sampai. Bertahanlah."


"B-Baiklah...."


Melewati lorong untuk kargo transportasi, mereka menaiki tangga yang mengarah ke permukaan tanah.


—Didepam lorong setelah mencapai puncak tangga itu, mereka bisa melihat sebuah pintu besar yang tampak seperti pintu keluar.


Ada dia ksatria roh didepan pintu itu.


"Itu pasti jalan keluarnya—"


"Ya, itu tampak seperti jalan keluar yang sepenuhnya tersegel."


Menyelimuti dirinya sendiri dengan angin, Ellis melesat maju.


"—Angin ganas, mengamuklah!"


Dia mengayunkan Ray Hawk secara horisontal, seketika menghasilkan tarian pedang angin yang mengerikan.


"...! Lindungi aku—Rock spirit!"


Seorang ksatria segera bereaksi dan memanggil roh terkontraknya.


Sebuah batu besar muncul dan memblokir pedang angin dengan tubuhnya yang besar.


"Naif sekali—"


Claire memanggil Flametongue dan mengayunkannya berulang kali tanpa henti. Tarian menggila dari tebasan berwarna merah berhamburan di lorong. Dalam detik berikutnya, tubuh raksasa batu itu hancur dan menghilang.


Roh api harusnya buruk terhadap roh batu, tetapi menggunakan manuver-manuver terampil dari cambuk itu, Claire merusak sendi-sendi roh batu itu dalam sekejap. Selanjutnya—


"O angin, aku memohon pada engkau untuk menyapu musuhku—Wind Bombs!"


Ellis melepaskan sebuah ledakan pedang angin.


Ini adalah serangan sihir yang dimaksudkan untuk melepaskan badai di area yang luas. Didalam lorong yang sempit, serangan itu membentuk angin kencang yang terkompresi, menghempaskan kedua ksatria didepan mereka ke pintu.


"Hah—!"


Mengabaikan kedua ksatria yang runtuh itu, Ellis melepaskan pedang angin pada pintu.


Namun, permukaan pintu itu tetap tak tergores. Itu bukanlah pintu biasa, mungkin terbuat dari mithril, material yang sama yang digunakan untuk armor kapal-kapal militer.


"....Tsk, sepertinya ini akan membutuhkan waktu untuk menghancurkannya."


"Tunggu, biar aku saja—"


Claire melangkah maju dan menekankan telapak tangannya pada pusat pintu.


"....Apa yang ingin kau lakukan?"


Ellis tampak terkejut.


Claire memejamkan matanya dan berfokus. Kemudian dia merapal mantra.


"O api sejati yang terukir pada garis keturunan kuno, muncullah di tanganku untuk melahap api—"

—Seketika, api crimson ganas muncul di telapak tangan Claire.


"Ini adalah api yang melenyapkan semua ciptaan menjadi kehampaan—End of Vermilion!"


Api crimson itu meledak, menjadikan pintu mithril itu berwarna merah tua.


Selanjutnya, pintu yang terbakar merah panas itu meleleh dengan mudah.


"Claire, a-apa itu sebenarnya...."


"Kurasa kau bisa menyebutnya teknik rahasia.... Guh...."


Setelah menjawab Ellis yang terkejut, Claire segera jatuh berlutut.


"A-Apa kau baik-baik saja?"


"...huff, huff.... Teknik ini sangat menguras tenaga...."


"Sekarang yang perlu kita lakukan adalah meninggalkan tempat ini. Bertahanlah sedikit lagi."


Ellis memapah Claire dan berjalan keluar dari fasilitas itu.


Tak ada bulan diluar. Malam yang benar-benar gelap. Cuaca yang sempurna untuk melarikan diri.


"Sungguh keberuntungan yang bagus, kita akan sampai di Hutan Roh—"


"Lelucon ini sudah berjalan cukup panjang, Nona Ellis—"


"...!?"


Sebuah kilatan cahaya menerangi Claire dan teman-temannya ketika mereka berjalan di kegelapan.


Cahaya yang membutakan itu memaksa Claire menyipitkan mata. Setelah beberapa saat, dia menyadari itu adalah granat cahaya militer yang diciptakan menggunakan kristal roh.


Cahaya menyilaukan itu mereda. Claire membuka matanya lebar-lebar lagi dan kemudian terperangah.


Puluhan penjaga dan para ksatria roh sudah mengepung mereka.


"....Mereka menebak kita akan pergi lewat pintu masuk kargo huh."


"Nona Ellis, harap kembali ke penjara dengan tenang. Jika tidak—"


Kapten dari para ksatria, Claudia, menghunus sebilah pedang panjang, elemental waffe miliknya.


"Kau akan menderita meskipun kau adalah cucu Duke Fahrengart."


"Guh..."


Menatap Claudia didepan dia, Ellis menggigit bibirnya.


"....Tampaknya pertarungan tak bisa dihindari lagi."


Memegang Flametongue, Claire menghutung jumlah yang mengepung mereka.


"Delapan ksatria dan duapuluh sampai tigapuluh penjaga huh."


"Claire, situasinya tidak berpihak pada kita—"


"...aku tau. Tapi setidaknya, kita bisa mengulur waktunya."


Sambil berdiri baku sandar punggung dengan Ellis, Claire berbicara pelan.


"Benar, asalkan Kamito bisa sampai disini tepat waktu, mungkin...."


"Bodoh—"


STnBD V14 156.jpg


Claudia menggeleng dan berbicara dengan nada meremehkan.


Mengangkat pedang panjangnya, dia memberi perintah pada para ksatria bawahannya.


"Tangkap mereka, bahkan jika itu berarti melukai Nona Ellis! Aku mengijinkannya."


Para ksatria mengeluarkan elemental waffe mereka secara bersamaan.


"Baiklah, coba kita lihat berapa lama kita bisa bertahan...."


Ellis mengusap keringat dari alisnya.


"Roh kegelapan, tetap disana dan tunggulah—"


Claire melihat kebelakang, namun menyadari sesuatu yang janggal.


"....Roh kegelapan?"


Claire mengerutkan kening dalam keterkejutan.


Meskipun dalam situasi yang menegangkan seperti itu, dia malah melihat ke langit.


Matanya yang berwarna senja terbuka lebar, wajahnya membeku dalam ekspresk tertegun.


(....Apaan sih yang dia lihat?)


Claire mau tak mau mengikuti tatapannya. Selanjutnya—


"....Apa!?"


Melihat objek yang saat ini terbang dilangit, Claire tak bisa berkata apa-apa.


Bagian 8[edit]

"A-Apa? Itu adalah!?"


"....Kenapa sesuatu seperti itu muncul!?"


Seperti Claire, para penjaga yang melihat ke langit juga mulai membuat keributan.


Melayang tepat diatas fasilitas itu adalah kapal raksasa dengan bentuk yang aerodinamis.


"Sebuah kapal terbang militer!?"


Claudia berseru terkejut.


Ini menyiratkan bahwa itu bukanlah kapal milik Imperial Knight.


"Kota Akademi tidak memperbolehkan penerbangan apapun. Terdaftar dimana kapal ini!?"


"Tidak terdaftar di Ordesia, kapal itu—"


Sekarang, bagian bawah dari kapal terbang itu, yang diam tanpa bergerak diatas kepala, perlahan-lahan terbuka.


"....! Sesuatu keluar!"


Claire berteriak keras.


Berikutnya, sesuatu yang sangat besar terpisah dari bagian bawah kapal tersebut dan meluncur kearah fasilitas itu.


"Tiarap!"


Claudia berteriak tajam. Detik berikutnya....


BOOOOOOOOOM!


Suara menakutkan terdengar ketika tanah berguncang keras.


"Guh—A-Apa?"
"Apa-apaan itu!?"


Claire dan yang lainnya menutupi wajah mereka dari pasir dan debu yang berhamburan karena ledakan itu.


Awan debu beterbangan disekitar mereka. Didalam bayangan, suatu cahaya menyilaukan bersinar.


Claire menatap bayangan itu dan melihatnya


Disana ada—


(...Apa-apaan itu!?)


—Sebuah "benteng" turun ke tanah.


Armor defensif berlapis-lapis berwarna hitam. Sebuah reaktor bersinar terang.


Ada banyak moncong senjata berbagai laliber yang menonjol dari seluruh tubuh. Apa yang tampak seperti meriam utamanya diarahkan pada Claudia, kapten dari para ksatria, dan para bawahannya.


Bruak—Terlindungi oleh armor berat, kaki raksasanya masuk kedalam atap fasilitas militer.


Dihadapkan dengan kehaditan yang kuat dan menekan, semua orang yang ada disana menghentikan apa yang mereka lakukan.


"Madam Claudia, a-apa itu...."


Salah satu ksatria bertanya dengan gugup.


"Sebuah 'elemental berlapis baja'—Juggernaut. Dikerahkan dalam pertempuran yang sebenarnya untuk yang pertama kalinya, responsifnya memuaskan."


Berbanding terbalik dengan penanpilan yang mengintimidasi dari benteng itu, suara menyenangkan dan jelas terdengar di udara.


Pelindung yang menutupi matanya terbuka. Rambut pirang platinum yang berkilauan berkibar tertiup angin.


Wajah yang terungkap dari balik pelindung itu adalah—


Semua ksatria tertegun.


"M-Mustahil.... Kenapa dia ada disini—!?"


—Tak seorangpun yang tidak mengenali dia. Setidaknya, mereka pernah mendengar tentang pemanfaatannya.


Sebelumnya mendominasi Akademi Roh Areishia dengan kekuatannya yang luar biasa, memerintah Sylphid Knight dengan teror mengerikan.


Mereka yang takut atau benci pada dia akan menyebut dia "Benteng Sunyi."


Elementalis terkuat dari Akademi Roh Areishia.


"—Velsaria Eva!"


Claudia berseru terkejut.


"....Kakak!?"


Mata coklat gelap milik Ellis melebar disertai ketidakpercayaan pada wajahnya.


"K-Kenapa kau disini—"


Suara Claudia bergetar.


Menyala dengan cahaya menakutkan, mata biru es itu menatap Claudia dengan dingin


"—Untuk kembali ke medan perang. Untuk menegakkan keyakinan dari pasukanku."


"....Apa?"


Claudia menggertakkan giginya dan berteriak pada bawahannya.


"Dia adalah seorang penghianat. Tangkap dia!"


"T-Tapi...."


"Tak ada perlunya takut pada benda itu. Itu hanyalah gertakan!"


"—Dimengerti!"


Dibawah perintah Claudia, para ksatria segera merespon. Mereka bersiap untuk bertarung meskipun ada benteng raksasa dan mengintimidasi itu.


"Kakak!"


Memegang Ray Hawk, Ellis hendak berlari mendekat, tetapi Claire buru-buru menarik dia.


"A-Apa yang kau lakukan!?"


"Idiot, kau akan terkena bombardir kalau kau pergi kesana!"


Para ksatria mengelilingi Velsaria dan menyerang.


Pada saat yang sama, reaktor benteng itu melepaskan kilatan cahaya membutakan sembari setiap moncong senjata pada badannya diaktifkan.


"—! Tiarap!"


Claire berteriak.


Dalam detik berikutnya, semua meriam dalam jumlah yang tak terhitung ditembakkan.


Ledakan yang memekakkan telinga. Tanah diledakkan. Bangunan fasilitas itu retak dalam sekejap. Angin dari ledakan itu menghantam para ksatria dan pepohonan sekeliling. Langit makan berubah menjadi putih seketika.


"Kyah!"


Restia menjerit. Claire melindungi dia dari puing-puing yang beterbangan.


—Bombardir berhenti.


Claire perlahan-lahan membuka matanya.


Serangan artileri, ditembakkan ke segala arah, telah meratakan fasilitas itu dengan tanah hanya dalam hitungan detik.


"Apa....."


Menyaksikan kekuatan penghancur yang mencengangkan itu, bahkan Claudia tak bisa berkata apa-apa.


Namun, akurasi darj bombardir itu bahkan lebih menakutkan daripada kekuatan penghancurnya. Meskipun itu adalah serangan area luas, secara tak bisa dipercaya, tak satupun dari penjaga menerima serangan langsung.


"Apa, kekuatan itu adalah..."


Claudia runtuh diatas lututnya karena syok.


"Kau seharusnya telah kehilangan kekuatan dari roh terkontrak karena menggunakan segel persenjataan terkutuk."


"Ya, aku memang kehilangan kekuatan dari roh terkontrak karena kebodohanku sendiri."


Velsaria mendarat di tanah.


"Mungkin ini bisa dianggap sebagai kekuatan tabu juga—"


"Kekuatan tabu.... Datang lagi?"


"Claudia, perintahkan bawahanmu untuk mundur. Aku tidak menginginkan korban yang sia-sia."


Velsaria berbicara dengan tenang.


"....! A-Apa yang kalian lakukan? Kepunh penghianat itu!"


Mendengar itu, Claudia merasakan desakan kemarahan dan berteriak.


Namun, tak seorangpun bergerak. Setengah dari para ksatria telah terhantam bombardir yang sebelumnya. Mereka yang beruntung bisa menahan serangan itu tidak berani melawan lagi setelah menyaksikan kekuatan tembakan yang luar biasa itu.


"Sialan....!"


Lalu.....


"—Apa kalian baik-baik saja!?"


Sebuah suara berasal dari kegelapan malam.


Kamito. Memegang Demon Slayer, bersinar putih-perak ditangannya, dia bergegas mendekat.


"Kamito, kau baik-baik saja."


"Maaf membuatmu menunggu. Tunggu sebentar, apa yang terjadi disini?"


Melihat tanah yang hangus dan semua ksatria yang runtuh, Kamito bertanya bingung.


Velsaria melemparkan tatapannya pada Kamito dan berkata:


"Oh? Aku berniat menyerang fasilitas ini, tetapi kalau kau sudah lolos, itu membuatku tak perlu repot-repot lagi."


Dia bergumam dan menutup matanya.


—Seketika, benteng itu lenyap menjadi partikel cahaya.


Mendarat di tanah adalah seorang ksatria cewek yang cantik, memakai seragam akademi.


"...Velsaria! Kenapa kau ada disini—"


Kamito menampilkan ekspresi terkejut.


Dia menatap Claire dan Ellis, tetapi mereka berdua menggeleng.


"Tak ada waktu untuk berbicara disini. Kita harus segera naik—"


"...Huh?"


Mengikuti tatapan Velsaria, Kamito mendongak.


Kapal terbang diatas perlahan-lahan mendarat.


Kota Akademi riuh dengan suara sirine sedangkan fasilitas itu juga terbakar. Segera, bala bantuan Imperial Knight akan segera tiba.


"....Sepertinya hanya ada satu pilihan."


STnBD V14 166.jpg


Chapter 6 - Kembali dari Kematian[edit]

Bagian 1[edit]

Setelah tangga diturunkan dari sisi kapak, Kamito dan rekan-rekannya menaiki kapal terbang itu.

Segera setelah mereka naik, kapal itu mulai berguncang keras.

Dorongan dilakukan oleh mesin roh, memungkinkan kapal itu memgapung naik lagi.

"......Sungguh luar biasa.... Sebuah kapal bisa terbang."

Menatap kebawah dari pagar pembatas, Restia berseru takjub.

Dari sudut pandangnya saat ini, itu pasti terasa seperti pertana kalinya melihat kapal terbang atau bepergian menggunakannya.

"Ini adalah sebuah kapal militer, kan? Penampilannya benar-benar berbeda dari kapal kerajaan."

Kami pernah naik kapal kerajaan sebelumnya, Claire?"

"Pernah dulu, sekali. Saat kami masih memiliki wilayah Elstein."

"Kapalnya sangat mirip dengan pesawat tempur kelas Gigas berukuran sedang."

Ellis bergumam sembari menahan dagunya.

Seperti yang diharapkan dari seorang dan satu-satunya keluarga bangsawan yang diberi wewenang untuk memiliki kapal terbang, dia sangat berpengetahuan.

"Kelas Gigas?"

"Ya, itu adalah sebuah relik dari Perang Ranbal. Pasukan Ordesia biasanya dilengkapi dengan hal itu, tetapi kudengar bahwa kemudian, kapal-kapal tersebut berakhir hancur atau dijual pada Teokrasi."

"Lihat, sebuah roh militer terbang keluar dari Kota Akademi!"

Claire melihat ke bawah dan berteriak.

Kamito menengok dan melihat seekor monster batu berkepala dua dengan sayap raksasa—roh militer model Gargoyle tengah meluncur naik dari permukaan tanah.

"Sepertinya Claudia yang mengirimkannya."

"Tunggu, kalau kita terbang pelan-pelan, roh itu akan segera menyusul kita!"

"Santai saja. Mengingat kemampuan kapal ini, kapal ini tidak akan hancur karena seekor Gargoyle, tak peduli apapun yang terjadi."

"Hal itu sama sekali gak bisa membuatku tenang—Kyah!?"

Tiba-tiba, kapal itu berguncang keras, mengeluarkan kekuatan yang besar. Kamito bisa menahannya, tetapi ketiga gadis yang lain kehilangan keseimbangan mereka dan jatuh secara bersamaan.

"...Owah!"

Dengan demikian, dia tertabrak dan jatuh bersama mereka.

"Huahhhh, Kamito, dimana kau menyentuh!?"

"I-Ini tidak senonoh, Kamito—"

"Uh, ma-maaf.."

Memeluk tiga gadis dalam pelukannya, wajah dan lengan Kamito membuat kontak intim dengan berbagai bagian lembut dari tubuh-tubuh feminim mereka. Kamito buru-buru berdiri dan memegang pagar terdekat.

"....S-Sheesh, Su-Sungguh menjengkelkan...."

Sambil merapikan roknya, Claire menggerutu dengan wajahnya merah semua.

"Mau gimana lagi..... Tapi ada apa dengan akselerasi yang barusan—"

Angin menderu lewat saat awan-awan tertinggal dibelakang satu demi satu. Entah Gargoyle yang mengejar kapal terbang mereka atau pemandangan malam dari Kota Akademi, semuanya menghilang dalam sekejap mata, perlahan-lahan menghilang dari pandangan.

"Tak mungkin... Ini adalah sebuah kapal kuno dari peninggalan Perang Ranbal. Bagaimana bisa kapal ini terbang secepat ini?"

Ellis bergumam. Pada saat itu....

"—Terimakasih atas kesabaran kalian semua."

".....Huh?"

Suara yang tiba-tiba itu menyebabkan kelompok Kamito saling bertukar tatap.

Kamito melihat ke belakang, dan melihat seorang gadis berdiri di tangga yang menuju ke bagian dalam kapal, menatap kearah mereka.

Dia tampak berusia 14 atau 15 tahun. Rambut hitamnya dipotong sebahu. Dia mengenakan jaket bergaya militer dan celana pendek. Pakaiannya menekankan kepraktisan dan tanpa dekorasi yang tak berguna.

".....Siapa itu?"

Penuh kewaspadaan, Ellis bertanya dengan suara yang kuat.

Namun, gadis itu tetap tak terpengaruh dan menundukkan kepalanya.

"—Aku datang untuk menunjukkan jalan atas perintah master. Silahkan lewat sini."

Dengan suara dingin, tak memiliki emosi, dia menjawab.

Bagian 2[edit]

Kamito dan rekan-rekannya mengikuti gadis itu melewati sebuah lorong sempit didalam kapal tersebut. Mungkin karena telah mengenyahkan roh militer dari mengikuti mereka dan memasuki jalur yang stabil, kapal itu tidak terasa berguncang seperti yang sebelumnya. Namun, suara dari mekanisme roh yang beroperasi menjadi semakin keras saat mereka masuk lebih dalam.

Setelah beberapa saat—

".....Katakanlah, bisakah aku mengajukan pertanyaan?"

Kamito menanyai gadis yang berjalan didepan.

"Silahkan, selama pertanyaannya bisa dijawab."

"Uh, siapa master yang kau bicarakan? Kenapa kami dibawa ke kapal ini?"

"Silahkan tanyakan pada master secara."

Gadis itu menjawab dengan dingin tanpa melihat ke belakang.

"....Baik. Pertanyaan yang berbeda.... Siapa kau?"

"Aku adalah bawahan master. Hanya sebuah alat, polos dan sederhana, tak kurang dan tak lebih."

(....Sebuah alat huh.)

Mendengar jawaban itu, Kamito menjadi yakin tentang asal-usul gadis itu.

Ekspresi dingin, kurangnya emosi. Gaya berjalan tanpa adanya suara kaki. Pergerakan uanh menyerupai binatang buas yang bisa dia lihat secara samar-samar dimana-mana.

Selain itu, gadis itu sepenuhnya menghapus hawa keberadaannya ketika dia muncul barusan.

(....Kemungkinan besar, dia berasal dari fasilitas itu.)

—Berbicara tentang hal itu, maka ada suatu petunjuk pada identitas sejati dari masternya.

"Darimana kapal militer ini berasal?"

Kamito terus bertanya. Dia ingin mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum bertemu sang master.

"Kapal ini, Revenant, dibeli oleh master dari pembunuh eselon atas."

"Jadi namanya adalah Revenant(kembali dari kematian) huh."

"Tetapi tampaknya telah menjalani banyak modifikasi—"

Kali ini, Claire masuk kedalam percakapan tersebut.

"Master menyewa seorang teknisi Elfim untuk merombak kapal. Meskipun bagian luarnya tetap desain lama, mekanisme rohnya menyediakan dorongan berdasarkan pada penerapan dari mesin roh paling mutakhir."

"Mesin roh.... Jangan bilang bahwa 'benteng' milik Velsaria juga sama?"

Ellis tiba-tiba teringat komentar Claire.

"O-Oh iya, kemana perginya kakak angkatku? Aku belum melihat tanda-tanda dari dia—"

"....Kakak angkat?"

"Orang yang dibawa kedalam sebuah petikemas dibawah kapal sebelumnya—"

Lalu mengangguk paham dan menjawab:

"Lady Velsaria harus melakukan pemeliharaan di teluk medis. Kau tak akan bisa bertemu dia untuk sementara waktu."

"Pemeliharaan? ....Tentang apa itu?"

"Pengoperasian suatu elemental berlapis baja yang akan menyebabkan peregangan yang besar pada tubuh pengguna. Lamanya kegiatan hanya terbatas satu menit saja—Serangan mendadak yanh barusan telah melampaui batas waktu."

"A-Apa!? Apa sebenarnya yang dilakukan kakak angkatku disini!?"

Mendengar itu, Ellis menanyai gadis itu.

Namun, gadis itu mengabaikan pertanyaan Ellis dan berhenti didepan ruangan tertentu di lorong tersebut.

"Silahkan tunggu disini sebentar. Aku harus melapor pada master."

Setelah membuka pintu dan mengajak Kamito dan rekan-rekannya masik, dia kembali ke lorong.

Kamito dan yang lainnya memeriksa bagian dalam ruangan tersebut.

Itu adalah sebuah aula yang cukup besar dalam aebuah kapal militer. Didalamnya terdapat sebuah meja bundar dan enam kursi kulit. Tak ada yang lain lagi selain furnitur ini.

Itu tampak seperti sebuah ruang pertemuan militer, sepenuhnya sesuai dengan kepraktisan.

"....Rasanya seperti mustahil untuk bersantai di ruangan ini."

Kamito menyandarkan Demon Slayer pada dinding dan menemukan sebuah kursi untuk fisik tanpa perlu mempermasalahkan kesopanan.

"Kamito, aku tak boleh bertindak sembarangan. Mungkin aku ada suatu jebakan disini."

"Mereka tidak akan membawa kita jauh-jauh kesini jika berniat untuk menjebak."

".....Kurasa kau ada benarnya."

Tatapan Kamito kali ini mengarah pada meja.

Terbuka diatasnya adalah sebuah peta dari benua dengan Kekaisaran Ordesia ditengahnya. Bagian yang kosong dari peta tersebut penuh dengan tulisan yang menyerupai catatan, tetapi Kamito tidak mengerti semua kode militer.

....Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya.

Satu titik pada peta itu ditandai dengan tanda merah.

Tempat yang tandai tersebut adalah kota suci Alexandria, ibukota Kerajaan Suci Lugia, tetangga Ordesia.

Apa maksudnya itu? Saat Kamito berpikir tentang hal itu...

"Tapi, siapa sih sebenarnya master ini?"

Ellis bergumam sendiri.

"...Sepertinya aku tau."

"Ya, aku juga—"

Mendengar komentar Kamito, Claire mengangguk dengan wajah yang menunjukkan perasaan yang campur aduk.

"Apa?"

"Orang yang melakukan ini—"

Pada saat itu, pegangan pintu terdengar diputar dan pintunya terbuka.

Clack— Suara keras dari sepatu militer terhentak di lantai—

Orang itu muncul.

"—Sudah kuduga. Kau huh?"

Kamito bergumam dan menatap dia, berdiri dipintu.

Mata merah, diselimuti tekad yang kuat. Rambut crimson panjang yang menyerupai kobaran api. Mengenakan sebuah jubah putih diatas seragam militernya, dia tampak seperti seorang jenderal dari suatu pasukan.

(....Seperti yang diduga dari dirinya. Meskipun kehilangan roh terkontraknya, dia tetap ambisius dan mengintimidasi.)

Kamito secara diam-diam menahan nafas.

"K-Kau adalah...."

Matanya Ellis terbelalak.

"Nee-sama..."

Claire menggigit bibirnya.

Claire mungkin sudah menebak sampai sejauh ini. Namun, dia tetap tak bisa berkata apa-apa, membeku dalam keterkejutan ketika orang ini muncul dihadapannya.

"—Semuanya, selamat datang di kapalku."

Akhirnya dia bicara.

Itu adalah Ratu Bencana yang telah menghilang selama babak final Blade Dance—Rubia Elstein.

Bagian 3[edit]

Kamito dan rekan-rekannya duduk bersebelahan didepan Rubia.

Gadis yang memimpin jalan sebelumnya menyiapkan roti dan teh pada meja.

Meskipun Kamito dan rekan-rekannya lapar, mereka tak punya niat untuk menyentuh sajiannya. Hanya Restia yang mengambil beberapa roti dan mulai memakannya.

Dari sudut matanya, Kamito mengamati para gadis yang duduk disebelahnya.

Berhadapan dengan sang Ratu Bencana, Ellis tampaknya sangat gugup.

....Berbicara tentang hal itu, ini mungkin adalah pertama kalinya bagi Ellis bertemu dengannya secara langsung.

Adapun untuk Claire, dia terus menunduk sepanjang waktu dan tidak berhadapan dengan kakaknya. Menurut Rinslet, Sebenarnya Claire adalah seorang gadis yang pemalu dan penakut. Selama turnamen Blade Dance, dia bisa mempertahankan sikapnya yang tegas karena tekanan dari lingkungan sekeliling, tetapi setelah dia bertemu kakaknya yang duduk dalam suasana yang tenang seperti ini, tampaknya dia kembali menjadi dirinya yang dulu.

Dibawah suasana yang tegang yang menyelimuti ruangan ini, Rubia meminum teh dengan santai. Suasana megah miliknya membuat Kamito berpikir bahwa dia benar-benar sesuai dengan namanya sebagai mantan putri duke.

Gadis itu menunduk setelah membawa teh, kemudian meninggalkan ruangan.

"Apakah cewek yang barusan adalah seorang yatim dari Sekolah Instruksional sepertiku?"

Akhirnya, Kamito memulai percakapan dengan pertanyaan ini.

Rubia perlahan-lahan menaruh cangkir tehnya kembali ke meja.

"—Memang. Dia adalah salah satu dari anak yatim yang kubawa untuk bergabung dengan pasukanku."

".....Jadi itu tepat seperti yang kupikirkan."

Gadis itu memancarkan getaran seperti orang-orang yang dibesarkan di Sekolah Instruksional. Perilaku ini membuang semua emosi yang tak diperlukan, menganggap seseotan sebagai suatu alat, sangat mirip pada Kamito sebelum bertemu Restia.

"Apakah dia satu-satunya yang ada di kapal ini?"

Ya. Aku awalnya memiliki sebanyak 30 orang sebagai bawahanku, tetapi sebagian besar diambil oleh Sjora Kahn. Mereka saat ini menjadi anjingnya Theokrasi."

Ketika dia berbisik, gejolak emosi yang halus yang bisa terlihat dalam matanya.

"Bagaimana dengan Muir dan Lily? Apakah mereka tidak disini juga?"

"Aku telah mengirim mereka ke lokasi tertentu untuk mengerjakan suatu misi penting."

"Suatu lokasi tertentu?"

"Kami sangat kekurangan dalam kekuatan tempur, baik jumlah dari roh militer dan elementalist untuk digunakan. Orang-orang itu tepat seperti untuk apa mereka dilatih."

Pada saat ini, Rubia berhenti sejenak.

"—Demi perang yang akan segera terjadi."

"Perang?"

Kamito bertanya balik.

"Apa yang kau rencanakan? Kau bahkan memperoleh kapal semacam ini!"

Nada suaranya meningkat saat dia menanyai Rubia yang ada di depannya.

Sebelumnya, Rubia telah membangkitkan kekuatan dari Elemental Lord Kegelapan yang ada didalam diri Kamito, berniat untuk menggunakan dia untuk menghancurkan para Elemental Lord.

Dia mengumpulkan roh-roh militer dimasa lalu untuk persiapan kekacauan di alam manusia setelah pembunuhan para Elemental Lord.

Namun, rencana untuk pembunuhan para Elemental Lord gagal.

Apakah pertempurannya masih belum berakhir?

"....Nee-sama, jangan bilang kau masih berencana membunuh para Elemental Lord?"

Berdiam diri sampai sekarang, akhirnya Claire mengumpulkan keberanian untuk berbicara untuk yang pertama kalinya.

Rubia menatap dia dan menggeleng pelan.

"Aku tak mampu memusnahkan para Elemental Lord. Itu adalah hal yang mustahil tak peduli seberapa kuat pasukan yang kau latih. Satu-satunya yang mampu membunuh mereka adalah sang Raja Iblis yang memegang kekuatan dari Elemental Lord Kegelapan—"

Mengatakan itu, dia menatap Kamito. Menahan tatapannya, Kamito menatap balik pada dia tanpa rasa takut.

"Perang.... Jadi apa yang kau cari dalam perang itu, Nee-sama?"

Claire melanjutkan tanpa tergagap.

Mendengar itu, Rubia mengangkat jarinua dan menunjuk pada suatu lokasi pada peta.

Yang dia tunjuk tepat di tempat titik merah.

"...Eh?"

"Saat ini, musuhku adalah Kerajaan Suci Lugia—"

".....Kerajaan Suci?"

Kamito mengernyit pada jawaban yang tak terduga tersebut.

Kerajaan Suci Lugia adalah sebuah negara yang menyembah salah satu dari lima Elemental Lord, Alexandros sabg Holy Lord. Meskipun namanya adalah kerajaan, kekuasaan administratif tak dipegang oleh raja maupun parlemen, melainkan Des Esseintes yang mana para anggotanya adalah para kardinal.

Meskipun itu adalah sebuah negara besar yang menyaingi Ordesia dan Quina, hanya sedikit yang diketahui mengenai Kerajaan Suci itu, sama seperti Teokrasi Alpa.

(....Itu memang sebuah negara yang cukup mencurigakan.)

Apa yang muncul dalam benak Kamito adala penampilan dari Ksatria Roh Suci yang ada di hutan Laurenfrost. Kapten dari para ksatria iyu, Luminaris, entah bagaimana telah mengetahui tentang kelahiran kembali Restia dan berniat untuk menangkap dia.

Namun, kenapa Rubia tiba-tiba menyebutkan nama Kerajaan Suci?

"—Kurasa aku harus memulainya secara berurutan."

"Pertama-tama, menurutmu lenyap kemana Elemental Lord yang telah kau bebaskan?"

"...Huh?"

Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Kamito bingung.

Tidak, makna literalnya tak mudah dimengerti.

Pada hari itu, setelah mendapatkan hak istimewa untuk bertemu dengan para Elemental Lord melalui kemenangan mereka dalam Blade Dance, Kamito dan rekan-rekannya telah membebaskan Elemental Lord Api dari Kegelapan Dunia Lain—Mungkin inilah yang dimaksudkan oleh Rubia.

"Elemental Lord Api seharusnya telah menghilang dari singgasana. Berpindah tempat ke suatu tempat di Astral Zero atau alam manusia seperti Elemental Lord Air yang telah kau bebaskan dimasa lalu—"

Memang, Elemental Lord Air Iseria Seaward telah dipindahkan dalam keadaan amnesia ke kota yang ditinggalkan, Megidoa yang berlokasi di Astral Zero. Dalam hal itu, Elemental Lord Api pasti telah dipindahkan ke suatu tempat pada saat itu, tetapi—

"Siapa yang tau. Yang aku lakukan hanyalah memurnkan Kegelapan Dunia Lain itu. Adapun untuk masalah kemana perginya Elemental Lord Api yang telah dibebaskan, aku gak tau."

Kamito menggeleng.

"Coba tebak? Lokasi Elemental Lord Api itu...."

Mengatakan itu, bibir Rubia membentuk senyum mengejek diri.

"....Memang, ini pasti yang disebut karma. Hubungan sebagai seorang Ratu."

Dia menunjukkan lambang dari mahkota api, terukir pada tangan kanannya. Bukannya segel Laevanteimm, segel ini milik Elemental Lord Api yang dia layani dulu.

"Bagaimana bisa!? Segel Elemental Lord Api seharusnya telah diwariskan pada Reicha—"

"Memang, segel roh Elemental Lord Api seharusnya telah diwariskan pada Reicha Alminas yang mewarisi aku sebagai Ratu. Namun, segel roh yang diberikan pada tidak menghilang meskipun banyak kejadian telah terjadi, entah ini sebuah kutukan atau berkah. Ini mungkin adalah suayu situasi yang tidak normal yang berasal dari Kedelapan Dunia Lain yang melahap Elemental Lord itu."

Menanggapi keterkejutan Claire, Rubia melanjutkan.

"Sejak menjadi Ratu Bencana, aku telah berusaha berkali-kali untuk menghapus segel ini. Namun, entah itu memotong dengan pisau ataupun membakarnya dengan api, semuanya tak ada yang berhasil. Setiap kali, segel ini akan muncul kembali layaknya sebuah kutukan, menyiksaku. Ironisnya, segel ini, yang sangat aku benci di masa lalu, sekatang memberitahuku lokasi dari Elemental Lord Api yang terlahir kembali—"

Tatapan Rubia mengarah pada peta itu lagi.

"Dimana Elemental Lord Api terlahir kembali, mungkinkah—"

"Tak mungkin—!"

"Memang, ibukota Kerajaan Suci Lugia—Alexandria."

Kamito terdiam.

Elemental Lord Api telah terlahir kembali di alam manusia, dan tepatnya di ibukota Kerajaan Suci—

Apa maksudnya kejadian ini? Hanya membayangkannya saja sudah membuat seseorang tak bisa berkata apa-apa.

Bayangkan saja, Elemental Lord Air dipindahkan dalam keadaan amnesia sama seperti Iseria dan seseorang, mengetahui fakta ini, berupaya mengklaim kekuatan itu untuk kepentingan mereka sendiri—

(...Itu akan setara dengan memperoleh suatu senjata ultimate yang jauh melampaui kekuatan dari roh-roh militer kelas strategi.)'

Membayangkan skenario terburuk, Kamito meneteskan keringat dingin pada keningnya. Ya, seandainya seseorang yang jahat memanfaatkan kekuatan dari Elemental Lord Api, itu akan memungkinkan bagi menghasilkan bencana penghancuran yang bahkan lebih besar daripada jatuhnya wilayah Elstein empat tahun yang lalu.

"Jadi kau melacak Elemental Lord Api—?"

"Tentu saja. Muir Alenstarl dan aku menyusup ke Kerajaan Suci bersama-sama. Namun, beberapa hari setelah kami masuk Alexandria, respon dari segel roh tiba-tiba terputus."

".....Apa yang terjadi?"

"Itu menyiratkan bahwa seseorang telah mengamankan Elemental Lord Api—"

Claire berbicara pelan dengan suara yang gugup.

"Setelah terkunci di suatu penghalang isolasi, hubungan roh terkontrak akan terputus."

"Memang. Dan pemasangan dari suatu penghalang isolasi adalah bukti bahwa seseorang menyembunyikan sang Elemental Lord Api secara sengaja. Tak perlu dikatakan lagi, penghalang itu sangat kuat yang mana bahkan itu bisa menyegel Elemental Lord Api yang dalam keadaan tidak lengkao. Tak diragukan lagi bahwa agensi tingkat negara terlibat—"

"Dengan kata lain, Des Esseintes telah mendapatkan Elemental Lord Api?"

"Itulah yang kutakutkan. Terlepas dari itu, aku telah kehilangan jejak. Kekuatanku saat ini masih tak memadai untuk menentang eselon atas dari Kerajaan Suci."

"Tetapi mengasumsikan itu yang terjadi, bagaimana Kerajaan Suci tau mengenai lokasi Elemental Lord Api?"

Kesampingkan Rubia yang merupakan mantan Ratu, orang lain seharusnya tak bisa mengetahuinya, kan?

Tunggu dulu, sebelum berbicara tentang lokasi, bagaimana bisa mereka tau tentang pembebasan sang Elemental Lord?

Eksistensi dari Kegelapan Dunia Lain mencemari para Elemental Lord seharusnya hanya diketahui oleh Rubia dan kelompoknya Kamito.

"Aku juga gak yakin mengenai hal itu. Apakah mereka mengetahuinya secara kebetulan, atau kah perpindahan dari Elemental Lord Api ke Kerajaan Suci adalah sesuatu yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang—?"

"Ngomong-ngomong, mereka tampaknya juga tau tentang Restia..."

Kamito tiba-tiba menatap Restia, yang menanggapi dengan menatap balik pada Kamito dengan ekspresi bingung.

"Tetapi apa yang direncanakan untuk dilakukan oleh Kerajaan Suci setelah mereka mendapatkan Elemental Lord Api?"

"Memonopoli kekuatan api di benua? Yah, itu hanya dugaan semata."

Mendengar dugaan Claire, Ellis menggeleng. Memang, jika ada suatu negara yang bisa mengendalikan Elemental Lord Api untuk kepentingan pembangunan mereka, mereka pasti akan memegang pengaruh yang besar atas negara-negara sekitar. Tak perlu dikatakan lagi, itu bahkan akan lebih besar lagi bagu Kerajaan Suci Lugia, sebuah negara yang besar.

"—Jika cuma sejauh itu saja yang akan mereka lakukan, maka itu akan melegakan."

"Apa maksudmu?"

Kamito bertanya.

"Kamu pasti telah melihat bahwa Kegelapan Dunia Lain merusak para Elemental Lord, kan?"

Dia tiba-tiba bertanya.

"Yeah..."

Kamito mengangguk. Dengan penampilan yang rumit pada wajah mereka, mungkin teringat apa yang mereka saksikan pada kuil Elemental Lord pada hari itu, Claire dan Ellis mengangguk.

Kegelapan sejati yang bahkan melahap kegelapan alam manusia, dan juga—

(Pasukan itu yang terdiri dari para malaikat yang tak terhitung, menggeliat dikedalaman kegelapan....)

Namun, Elemental Lord Api seharusnya telah terbebas dari kegelapan itu.

Akan tetapi, apa yang dikatakan Rubia berikutnya lebih tak bisa dipercaya.

"—Kerajaan Suci telah mendapatkan Kegelapan Dunia Lain itu."

"...!?"

Kamito dan rekan-rekannya tak bisa berkata apa-apa.

"Apa kau bilang? ....Apa-apan yang sedang terjadi?"

"Kau tau tentang kudeta di Teokrasi beberapa hari yang lalu, kan?"

"Y-Ya..."

Kamito mengangguk samar.

Kabarnya, penyihir Teokrasi, Sjora Kahn, telah mengambil alih istana Scorpia hanya menggunakan dua ratus pasukan, memenggal Hierarch Rajihal Kahn untuk institut perubahan rezim. Berita itu telah mengguncang semua negara sekitar, dengan demikian mengarah pada Konferensi Semua Negara yang diselenggarakan di ibukota kekaisaran.

"Pusat dari Teokrasi, Scorpia, seharusnya dijaga oleh roh dala jumlah yang banyak. Apa kau tidak merasa aneh kenapa bisa tempat itu diambil alih secepat itu?"

"..."

Memang, Sjora Kahn adalah seorang elementalis yang menakutkan, tetapi sulit untuk membayangkan dia mengalahkan para elit yang ada di istana seorang diri. Bahkan jika semua bawahannya merupakan para elementalis, itu bukanlah tugas yang mudah.

Melihat Kamito diam, Rubia melanjutkan.

"Menurut mata-mataku yang ada di Scorpia, semua roh yang ada di istana menjadi gila ketika dirasuki oleh kegelapan yang mengerikan."

"...! Tak mungkin—"

Kelompok Kamito teringat sesuatu dan segera saling bertukar tatap.

"—Memang. Eksistensi yang sama tampaknya menyebabkan roh-roh di Akademi Roh Areishia mengamuk juga."

Roh-roh militer yang menyerang Akademi pasti telah terrasuki oleh Kegelapan Dunia Lain.

"Des Esseintes mengendalikan kudeta Teokrasi dari bayangan. Apa kau ingat nama Millenia Sanctus?"

"Millennia Sanctus..."

Claire ingat.

"Gadis yang mengenakan penutup mata... Menunggangi roh militer yang mengamuk..."

Itu adalah gadis yang memiliki Kegelapan Dunia Lain yang bersemayam di mata kirinya.

Itu adalah nama dari gadis misterius yang bekerja sama dengan Lurie Lizaldia untuk menyerang Akademi.

"Dia adalah seorang kardinal dari Des Esseintes, kan?"

"Tepat, dia adalah seorang anggota dari Des Esseintes yang memimpin diplomasi dibalik layar tanpa pernah bekerja dipermukaan. Dia telah memperoleh Kegelapan Dunia Lain itu—"

Mata ruby milik Rubia berkobar dengan api crimson.

Bagi dia, Kegelapan Dunia Lain itu adalah musuh manusia yang harus dilenyapkan.

"Semisal Elemental Lord Api jatuh ke tangannya—"

"—Memang, itu akan menjadi neraka dunia."

Suara Rubia dipenuhi dengan tekad yang teguh.

Gambaran yang ada didalam benaknya mungkin adalah kampung halamannya, dihancurkan oleh Elemental Lord gila di masa lalu.

(—Jadi apa ini yang dia maksudkan dengan persiapan perang?)

Dia tampaknya merencanakan secara serius untuk perang melawan Kerajaan Suci.

"....Dengan kata lain, kau menyelamatkam kami untuk merekrut kami sebagai bagian dari pasukanmu?"

"Tepat. Bekerjalah dibawahku, Kazehaya Kamito."

"Bagaimana kalau aku menolak?"

"Pilihan untuk menolak tidak tersedia untukmu."

Mengatakan itu, Rubia menempatkan sebuah tanda pada peta.

Lokasi yang ditandai adalah Ostdakia, ibukota Kekaisaran Ordesia.

"Apa maksudmu?"

"Kerajaan Suci mendalangi upaya pembunuhan kaisar pada kesempatan ini."

"...Apa!?"

Kamito, Claire dan Ellis berteriak terkejut.

"Dalang utama dalam insiden pembunuhan itu kemungkinan besar adalah kakaknya Fianna, Arneus Ray Ordesia. Seorang pria lemah yang dikuasai oleh ambisi. Namun, tak diragukan lagi bahwa Kerajaan Suci mendukung dia. Mereka kemungkinan berniat untuk membuat Arneus sebagai boneka mereka."

"....Sudah kuduga. Fianna dijebak."

"Memang, dia dieksploitasi untuk melenyapkan faksi anti-Arneus."

Rubia mengangguk, kemudia menatap Kamito secara langsung.

"Kau buru-buru pergi ke ibukota kekaisaran dan menyelamatkan Fianna Ray Ordesia, kan?"

Mendengar Rubia—

"Dengan kata lain, kami ingin menyelamatkan Fianna dan kau ingin menghancurkan Kerajaan Suci, jadi tujuan kita sama?"

"Tepat. Tujuan kita sejajar."

Kamito bergumam dalam pikirannya—

(....Saran ini sebenarnya tidaklah buruk.)

Meskipun enggan dikendalikan oleh Rubia, tak ada alasan untuk menolak. Terus terang, mereka hanya lolos dari basis militer untuk sekarang ini. Dia benar-benar tidak tau bagaimana caranya untuk menyelamatkan Fianna.

Dia menatap Claire dan Ellis, yang mana keduanya mengangguk.

—Lalu, itu diputuskan.

"Dimengerti. Kalau gitu kurasa kami akan bekerja dibawahmu untuk sementara waktu, Rubia Elstein."

"—Kontrak terbentuk."

Rubia menyatakan dengan singkat, berdiri dan meninggalkan ruangan.

"Masih ada waktu sebelum kita mencapai ibukota kekaisaran. Beristirahatlah dulu."

—Kamito, Claire dan Ellis mengembuskan nafas lega setelah Rubia keluar ruangan.

".....Itu terasa sungguh melelahkan."

"Ya, bagaimanapun juga, kehadirannya sungguh kuat."

Kamito setuju dengan keluhan Ellis.

"Tetapi Kegelapan Dunia Lain...."

"Kerajaan Suci telah mendapatkan Kegelapan Dunia Lain itu, sedangkan Elemental Lord Api telah menghilang di Alexandria—"

"Sejujurnya, ini benar-benar aneh..."

—Lalu, gadis yang sebelumnya kembali ke ruangan itu.

"Kamar untuk tidur telah dipersiapkan. Silahkan beristirahat."

"Tentu, makasih."

"Tapi aku ingin bertemu dengan kakak angkatku—"

"Kalau begitu, silahkan ikut denganku."

Gadis itu mengangguk setelah mendengarkan Ellis.

"Claire, apa kamu tidak mau mengobrol dengan Rubia?"

"...Huh? H-Hmm..."

Pertanyaan Kamito menghasilkan ekspresi rumit pada wajah Claire saat dia menanggapi secara ambigu.

"....K-Kurasa... Tapi... apa yang harus kami bicarakan, aku nggak tau."

(...Yah, kurasa dia benar.)

Memahami perasaan Claire secara samar, Kamito memilih untuk tetap diam.

Setelah merasakan perpisahan selama itu, jurang besar yang ada diantara mereka tak bisa dijembatani dengan mudah.

Bagian 4[edit]

—Siapa yang tau berapa lama waktu yang telah berlalu sejak saat itu?

Dia telah telah sepenuhnya tidak bisa menghitung waktu yang berlalu. Di ruangan yang terisolasi dari cahaya dan suara ini, hanya rasa lelah dan rasa sakit yang berasal dari seluruh tubuhnya memberikan perasaan yang kuat bahwa dia masih hidup.

Dihari pertama, dia diikat pada langit-langit sepanjang waktu. Namun, setelah seorang penjaga menyadari bahwa Fianna telah menjadi sangat lemah, dia diturunkan ke lantai.

Ini bukan karena penjaga itu mengasihani Fianna. Itu hanya karena Arneus telah memberi perintah agar dia tidak mati dulu.

Dengan tangan dan kakinya masih terikat erat oleh rantau, tak ada yang bisa dia lakukan.

—Pada saat ini, dia mendengar langkah kaki samar diluar pintu.

Cahaya samar berasal dari pintu yang terbuka sedikit membuat Fianna membuka matanya.

Yang masuk kedalam adalah seorang princess maiden muda dalam pelatihan.

Membawa sebuah nampan yang berisikan air dan roti, dia dengan lembut meletakkannya di lantai dalam jangkauan Fianna.

Sebelumnya, dia benar-benar mengabaikan Fianna tak peduli apapun yang dikatakan padanya. Lebih seperti, dia telah diperintahkan untuk bertindak seperti ini.

—Tetapi kali ini berbeda. Gadis muda itu berbicara untuk yang pertama kalinya.

"Putri Kedua, hari eksekusimu telah diputuskan—"

Gadis itu melaporkan dengan takut-takut.

"Tiga hari dari sekarang, upacara untuk kenaikan Arneus ke tahta kekaisaran akan diadakan. Eksekusi Putri Kedua akan dilakukan setelah upacara tersebut."

"...Begitukah? Terimakasih."

Fianna menjawab lemah dan gadis itu menunduk, meninggalkan ruangan itu dengan buru-buru.

"....Aku... akan dieksekusi ya?"

Dia bergumam pada dirinya sendiri saat merenungkan sesuatu yang terasa sepenuhnya tidak nyata.

Kehendaknya untuk berontak yang sebelumnya kini telah sepenuhnya hilang.

Kesadarannya semakin buram. Bahkan untuk berpikir saja sangatlah sulit.

(...Kamito-kun, aku ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya. Claire dan yang lainnya juga—)

Dalam keadaan linglung, menarik rantai pada lengannya, dia mencuil roti. Roti inu keras dan hitam tak seperti yang disajikan di istana. Mustahil untuk menelannya sampai dicelupkan di air sampai lunak.

Saat dia mencelupkan roti tersebut, mengarahkan pada mulutnya dan hendak menggigitnya...

Giginya menyentuh sesuatu yang keras.

Mengernyit, Fianna meludahkannya.

Benda itu jatuh dilantai dengan suara generincing. Sebuah batu seukuran kacang.

Tidak, setelah diperiksa lebih cermat, dia mengetahui bahwa itu bukanlah batu biasa. Batu itu transparan dan mengeluarkan cahaya samar.

(....Mungkinkah ini adalah sebuah kristal roh?)

Kristal roh merupakan mineral yang sangat mahal dan tak mungkin tercampur kedalam roti secara tak sengaja.

(Kenapa ini ada disini...?)

Memfokuskan kesadarannya yang kabur, dia tiba-tina menyadarinya.

—Tak diragukan lagi, seseorang telah mencampurkannya secara sengaja

Saat dia menyadari hal itu, kesadaran Fianna pulih sepenuhnya.

Dia mengambil roh kristal itu dari lantai dan menuangkan kekuatan suci kedalamnya melalui jari-jarinya.

Meskipun hubungan ke Astral Zero terganggu, seorang princess maiden tingkat tinggi seperti Fianna masih bisa untuk memeras sejumlah kecil kekuatan suci dari tubuhnya sendiri.

Segera, cahaya kristal roh itu menjadi lebih kuat—

"....Putri.... Yang Mulia.... Bisakah kamu mendengarku...?"

Suara yang sangat samar, disertai oleh perubahan, mencapai telinga Fianna.

Suara yang tak dikenali sebelumnya. Kualitas suaranya juga jelek, ditambah lagi fakta bahwa kristal roh itu berukuran kecil, itu mustahil untuk mengenali suata itu kecuali itu adalah suara yang familiar.

"....Siapa?"

Fianna bertanya pelan. Tentu saja, ini bisa saja sebuah perangkap yang dipasang oleh Arneus, tetapi dia tak punya apa-apa dibawah situasi saat ini.

"....Seseorang memintaku untuk menyelamatkanmu... Aku sekutumu."

(....Seseorang?)

Fianna mengulangi didalam benaknya.

Itu masih tidak jelas suara siapa itu. Tetapi jika benar-benarada seseorang seperti itu—

Beberapa wajah muncul dalam benak Fianna.

Yang pertama dia pikirkan adalah teman-temannya, Kamito, Claire dan para gadis, tetapi Akademi sangatlah jauh dari sini. Bahkan mungkin saja mereka tidak tau tentang keadaannya yang dipenjara saat ini.

Para bangsawan dalam faksi anti-Arneus seharusnya semuanya sudah ditahan. Keluarga Duke Fahrengart menjaga netralitas politik meskipun bukan bagian dari faksi Arneus, sehingga mereka mungkin tidak akan melakukan pergerakan.

Ayah Fianna, sang kaisar, tak memiliki kasih sayang keluarga terhadap dirinya. Selain itu, dia saat ini menderita karena racun roh iblis, terdiam di ranjang.

Permaisuri kaisar juga tidak ada. Mengikuti dengan patuh aturan Divine Ritual Institute, dia membuat dirinya sendiri tak terlibat dalam politik. Dan Putri Pertama Linnea tidak hanya mementingkan dunia fana ini, tetapi juga mengabaikan Fianna yang dulu pernah kehilangan kekuatan dari roh terkontrak.

Orang-orang itu kemungkinan besar tidak akan mengulurkan bantuan pada Fianna.

Jika demikian, yang tersisa adalah—

(Kepala sekolah...?)

Dia adalah satu-satunya orang yang bisa Fianna pikirkan.

Greyworth memiliki bawahan-bawahan didalam Umbra. Disaat insiden itu terjadi, dia bahkan berkata dka memperoleh seorang pion yang menakjubkan. Meskipun Greyworth sendiri di penjara juga sebagai hasil dari insiden itu, tidaklah mustahil bagi penyihir itu untuk mengerahkan pengaruhnya sembari berada dalam penjara.

Menganggap orang ini bagian dari Umbra, wajar saja bisa menyembunyikan identitasnya.

".....Menyelamatkan aku, bagaimana caranya?"

Kuil itu dijaga ketat. Bahkan suatu ksatria operatif khusus dari Umbra akan menghadapi tantangan yang cukup sulit untuk misi penyelamatan.

"....Tunggu saja. Ketika saatnya tiba, kamu akan diselamatkan."

"Waktu? Tapi aku akan dieksekusi tiga hari lagi."

"Ya, sebelum itu, rekan-rekan Yang Mulia akan tiba untuk menyelamatkan kamu."

"...Huh?"

Fianna terkejut.

"Apa maksudmu?"

"Itu terjadi kemarin. Kazehaya Kamito dan teman-temannya ditangkap di Kota Akademi."

"Kamito-kun dan yang lainnya!?"

Fianna melebarkan matanya.

"Mereka dianggap berkonspirasi dengan Putri Kedua—kemungkinan ikut serta secata tidak langsung dalam upaya pembunuhan kaisar. Bagaimanapun juga, mereka adalah rekan timmu."

"Tidak mungkin—"

"Santai saja. Mereka sepertinya telah berhasil kabur dari penjara. Setelah itu, mereka terbang naik suatu kapal tak dikenal. Tak diragukan lagi, mereka akan menyelamatkan kamu dalam waktu tiga hari kedepan."

"....Mustahil. Mereka akan ditangkap oleh Ksatria Kekaisaran setelah mereka datang kesini!"

Fianna mau tak mau mengeraskan suaranya.

Menyusup ke ibukota kekaisaran untuk menyelamatkan Fianna akan sangat berbahaya.

Dan juga, ada para Number disini.

"Selain itu, bagaimana caranya mereka menyusup ke ibukota kekaisaran?"

"Itu sebabnya aku akan bertindak. Untuk menerima.... mereka..."

"...?"

Statis muncul dalam suara itu.

Cahaya kristal roh perlahan-lahan melemah. Akhirnya, suara itu tak lagi bisa terdengar.

Bagaimanapun juga itu adalah sebuah kristal roh kecil. Kekuatan roh itu mungkin habis.

Untuk menghindari adanya barang bukti, Fianna menghancurkan kristal roh itu dan menelannya.

"Kamito-kun..."

Kamito-kun datang untuk menyelamatkan aku—Kemungkinan ini memberi dia secercah harapan terakhir.

—Jika begitu, aku tidak boleh membuang waktu disini.

(...Benar, aku tak mau menjadi putri yang tragis.)

Tiba-tiba teringat sesuatu, Fianna menggigit bibrnya.

Lalu dia membenamkan jarinya pada pendarahan yang dia derita.


Chapter 7 - Princess Maiden Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Berpisah dengan Kamito dan Claire di kamar tidur, Ellis pergi ke bagian perawatan dimana Velsaria berada.

"Sebelah sini—"

Saat gadis itu membuka pintunya, Ellis disambut dengan pemandangan yang mengejutkan.

"...! K-Kakak!"

Ellis terpaku di tempat karena terkejut.

Sebuah perangkat besar yang seperti peti mati berada ditengah ruangan perawatan tersebut, memancarkan suara yang aneh dan mengganggu. Bersinar samar, peti mati itu tersambung dengan sejumlah kabel.

—Dan didalamnya adalah Velsaria.

Tentu saja, dia tidak mengenakan elemental waffe yang menyerupai sebuah "benteng". Yang menutupi tubuh telanjangnya yang indah layaknya sebuah patung adalah sebuah gaun.

Diterangi samar-samar oleh kristal roh, dia sedang tertidur lelap.

"Apa-apaan ini...."

Ellis bergumam syok.

"Ini adalah peralatan pemulihan yang dibuat khusus untuk dia menggunakan kristal roh penyembuhan. Karena operasi diluar batas durasi kegiatan, harga yang sesuai harus dibayar."

Gadis itu yang aslinya berasal dari Sekolah Instruksional menjawab tanpa ekspresi.

"....Harga?"

Sambil mengatakan itu, Ellis mendekati mesin penyembuh itu dimana Velsaria tertidur didalamnya.

"Apa-apaan sih dengan elemental waffe itu!? Selain itu, kakakku seharusnya telah kehilangan kekuatan roh terkontraknya karena efek samping dari segel persenjataan terkutuk miliknya yang mengamuk—"

"—Itu bukanlah elemental waffe, itu adalah sebuah 'elemental lapis baja' percobaan.

"...!"

Mendengar suara yang familiar, Ellis tiba-tiba meningkatkan kewaspadaannya.

Dia menengok ke belakang dan melihat seorang wanita tinggi berdiri di samping pintu, menghembuskan asap dari pipa rokok.

Mata merah yang sangat mempesona, didampingi rambut emeral yang cantik.

Telinganya yang panjang dan runcing merupakan ciri khas dari ras Elfim, Penghuni Hutan.

"...! Vivian Melosa!"

Tubuh Ellis bergerak secara reflek.

Dia meluncur maju dan mendekat dalam sekejap, meraih kerah jubah lab miliknya.

"Apa yang dilakukan seorang perantara Murder disini—!?"

Wanita itu adalah pelaku kejahatan yang teman menanamkan segel persenjataan terkutuk pada jantung Velsaria.

Dia adalah seorang musuh yang tak bisa dimaafkan dari sudut pandang Ellis.

"Kau seharusnya telah dilempar ke Penjara Balsas—"

"Memang, bersama dengan kakakmu."

"...T-Terkutuk kau—"

Ellis mengerahkan lebih banyak kekuatan.

"Senang bertemu dengannmu juga. Aku adalah orang yang melakukan perawatan untuk dia."

"....Apa kau bilang?"

"Bagaimanapun juga, elemental berlapis baja ini adalah sesuatu yang aku renovasi. Aku bertanggung jawab atas perawatan kakakmu dan satu-satunya orang yang sangat mengetahui tentang kondisinya."

"Lelucon macam apa ini—"

".....Ellis, dia mengatakan.... kebenarannya...."

—Pada saat ini, Ellis mendengar suara penuh rasa sakit dari belakang.

"Kakak....!"

Kaca penutup mesin penyembuhan itu perlahan-lahan terbuka dan Velsaria keluar

Berdiri gemetaran, dia menatap tajam pada Vivian.

Tinggalkan aku, penyihir—"

"....Baiklah. Akan tetapi, aku harus menganalisa data pertempuran nanti."

Vivian mengangkat bahu. Setelah melirik Ellis yang masih melototi dia, dia meninggalkan ruangan itu.

Gadis dari Sekolah Instrusional yang memimpin jalan, juga menunduk sebagai tanda undur diri dan menghilang dalam keheningan.

Velsaria berpaling untuk menghadap Ellis.

".....Lama tak jumpa, Ellis."

Dia mulai berbicara sambil terbatuk.

"Kenapa...? Kenapa kau ada di kapal ini—"

Ellis dengan panik berlari kedepan untuk memapah kakak angkatnya yang tubuhnya terhuyung-huyung tampak seperti akan jatuh setiap saat.

"Dan juga, perangkat apa ini? Kenapa seorang perantara Murder ada disini?"

"Aku dijemput oleh Rubia Elstein untuk bergabung dengan League of Inferno miliknya. Hal yang sama juga terjadi pada si penyihir Murder itu. Ideologi dan keyakinan tidak berlaku disini. Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan yang direkrut untuk bergabung dibawah benderanya, itu saja—"

"...League of Inferno."

Ellis mengulangi nama itu.

"Kalau begitu, kau tau bahwa kegelapan itu—"

"Ya, aku telah mendengar segalanya dari si Ratu Bencana itu. Berasal dari tanah semacam itu, aku memutuskan untuk kembali ke medan perang, mempersembahkan diriku sendiri pada pertempuran untuk melenyapkan Kegelapan Dunia Lain yang menyerang alam manusia."

"......."

Ellis merasa terintimidasi oleh tatapan kuat dari Velsaria. Mata itu yanlak sama seperti ketika Velsaria memimpin Ksatria Sylphid, menghancurkan semuanya dengan kekuatan yang besar.

"T-Tapi kau seharusnya sudah kehilangan kekuatan dari roh terkontrak—"

"....Memang benar. Seperti yang dikatakan penyihir itu, gampangnya, apa yang kau lihat bukanlah sebuah elemental waffe."

"Yang kuingat itu disebut sebagai sebuah 'elemental panzer'—"

"Tepat, sebuah model percobaan yang diperoleh oleh Ratu Bencana dari Teokrasi, lalu dibentuk ulang oleh wanita itu. Mungkin akan lebih tepat untuk menggambarkannya sebagai pengubahan suatu roh militer menjadi elemental waffe? Perlengkapan yang diperkuat terbaru, menggunakan Bloodstone untuk reaktor didalam suatu kekuatan roh benteng yang tersegel didalamnya—Itu dioperasikan dengan menyerap kekuatan suci tanpa batas, prinsip yang sama dengan Jester's Vise milik gadis dari Sekolah Instruksional—"

"...!"

Memang, Velsaria telah kehilangan kekuatan untuk membuat kontrak dengan roh. Akan tetapi, kekuatan suci miliknya yang besar tetap ada. Menggunakan kekuatan dari teknik roh, sebuah elemental waffe buatan bisa diciptakan, memungkinkan dia untuk mendapatkan kembali kekuatan seorang elementalis.

"....T-Tapi dengan menggunakan perlengkapan semacam itu, tubuhmu akan....!"

"Ini adalah sebuah tubuh yang pernah terbaring di pintu kematian. Sudah rusak karena segel persenjataan terkutuk, misalkan tubuh ini bisa menghilangkan Kegelapan yang menyerang kekaisaran.... Uhuk....!"

"Kakak—"

"....Tak usah khawatir.... Aku, uhuk, seorang ksatria dari keluarga Fahrengart."

"......."

Mendengar kata-kata itu, Ellis tak bisa berkata apa-apa.

Tekad Velsaria tak bisa dihentikan oleh siapapun.

Sebagai adiknya, Ellis lebih tau mengenai hal ini daripada siapapun.

Dia adalah seorang ksatria Ordesia, lebih mulia dan berpikiran lebih tinggi daripada siapapun.

Saat Ellis terdiam—

"....Ellis, kudengar kau menjadi pemenang di Blade Dance."

Velsaria mengubah topik dan berbicara dengan tenang.

"Ya. Berkat Kamito dan teman-teman yang bertarung bersamaku, aku telah menjadi lebih kuat."

".....Teman-teman huh?"

Dia berbicara mengejek diri.

"Aku juga, kalau saja aku menyadarinya lebih awal...."

Segera, tatapan Velsaria melaui menerawang jauh—

"Ngomong-ngomong, aku punya pertanyaan untukmu—"

Dia berbicara seolah-olah itu muncul secara tiba-tiba padanya.

"Apa itu?"

"Kau dan Ren—bukan, Kazehaya Kamito—sudahkah kau melakukannya?"

".....K-Kakak!?"

Ellis berteriak sembari wajahnya merah merona.

Itu hampir mustahil untuk membayangkan kata-kata semacam itu keluar dari mulut Velsaria.

"A-Apa maksudmu dengan.... 'melakukannya'!?"

"U-Umm, yah...."

Mendengar itu, wajah Velsaria menjadi merah dan dia tergagap.

"Uh, b-berpegangan tangan?"

Suaranya begitu pelan hingga itu terdengar seperti dia bergumam pada dirinya sendiri.

".....Tangan?"

Ellis tampak bingung.

"B-Benar.... Ya, kami berpegangan tangan—"

"....Sungguh? Berpegangan tangan.... S-Sungguh perkembangan yang cepat...."

"......."

Mendengar bisikan kakaknya, Ellia mengucurkan keringat dingin.

Secara tak sadar, dia menyentuh ringan bibirnya sendiri dengan jarinya.

Dalam hal kedisiplinan, Velsaria bahkan jauh lebih ketat daripada Ellis.

....Lupakan tentang pegangan tangan, lebih dari itu telah terjadi. Namun, tak mungkin Ellis bisa mengatakannya dengan keras.

Bagian 2[edit]

Sebelum fajar, diranjang di kamar tidur, Kamito bangun.

Kecepatan yang digunakan untuk kabur dari kejaran Gargoyle The speed used to shake off the Gargoyle's pursuit was unsustainable after all. Hence, it looked like they were not going to reach the imperial capital until the following afternoon.

Claire dan Restia tidur di ranjang yang lebih rendah. Mungkin merasa lebih tenang dengan memeluk Est, Restia menggulungkan selimut beberapa kali pada pedang itu.

...Kamito tak bisa menahan senyum di wajahnya.

Lalu Claire berguling.

".....Huaaahhh.... Jangan, Kamito.... Bagaimana bisa kau... "...Huaahh... Don't, Kamito... How could you... A collar so suddenly... Hyah!"


".....M-Mimpi macam apa itu?"

Kamito keluar sambil bergumam.

Melewati lorong sempit, dia berjalan menaiki tangga ke sisi kapal dan sampai di dek.

Dia merasa seperti membeku.

(....Aku penasaran mimpi seperti apa yang miliki Fianna saat ini?)

Dia mungkin tidur di lantai dingin dari sel penjara saat ini.

Angin yang berhembus mengacakkan rambutnya. Kapal militer seharusnya mampu mengerahkan penghalang angin, tetapi saat ini, penghalang itu tampaknya tidak diaktifkan, kemungkinan untuk mengurangi konsumsi yang tak diperlukan.

Setelah mencapai dek—

"...Meow."

....Dia tiba-tiba mendengar seekor kucing.

Dia melihat sekeliling dan menemukan Scarlet mengeong dengan nyaman.

Rubia Elstein sedang berjongkok di lantai, membelai tenggorokan Scarlet.

Menyadari Kamito, dia segera berdiri.

"Apa, kau bermain dengan Scarlet?"

".....Apa yang kau lakukan disini, Ren Ashbell?"

Dia perlahan-lahan menoleh pada Kamito.

Mata ruby yang sama seperti Claire menatap tajam pada Kamito.

Rambut crimson yang panjang dan mempesona miliknya berkibar tertiup angin.

Kamito menyadari seberapa cantiknya dia.

"Aku hanya keluar untuk mencari udara segar."

Kamito menyandarkan punggungnya pada pagar dek.

Di kakinya, Scarlet mulai menggosokkan dirinya penuh kasih sayang pada kakinya.

"Uh, apakah kau sudah sehat sekarang?"

"Itu bukan urusanmu."

"Memang bukan, tapi itu sangat penting bagi adikmu, Claire."

Mata ruby milik Rubia bergetar lembut.

"Claire menghabiskan seluruh waktunya untuk mencarimu. Impiannya adalah untuk kembali ke Elstein dan tinggal bersama keluarganya lagi."

"Kembali ke masa lalu adalah hal yang mustahil."

"....Ya, tapi, apa yang hilang bisa dipulihkan."

"......."

Rubia berpaling.

"Aku gak punya niat mati begitu saja. Aku terikat oleh tugas yang harus diselesaikan."

Dengan ekspresi sedih, dia mungkin teringat gambaran dari kota-kota yang hancur akibat kemarahan Elemental Lord Api.

"Untuk mengakhiri ini, Ren Ashbell, aku membutuhkan kekuatanmu dari Elemental Lord Kegelapan."

"Maaf, aku tak bisa melakukan yang kau inginkan."

"Itu tak ada hubungannya dengan harapanku. Cepat atau lambat, kekuatan kegelapan itu akan menjadi tak bisa dikendalikan."

".....Apa maksudmu? Kekuayan kegelapan itu seharusnya telah lenyap—"

Kamito mau tak mau harus bertanya tetapi Rubia menggeleng.

"Memang benar bahwa kau telah menekan kekuatan Elemental Lord Kegelapan. Akan tetapi, itu hanyalah untuk sementara waktu saja. Suatu hari, kekuatan itu akan keluar dan menghancurkanmu. Kau pasti telah merasakannya juga."

"...!?"

Kamito tiba-tiba menyadarinya.

—Sudah pasti dia mengetahui sesuatu tentang apa yang dibicarakan Rubia.

(kekuatan kegelapan yang tak bisa dikendalikan.... Mungkinkah itu adalah—)

Dia berpikir tentang masalah ciuman yang disebutkan Rinslet ketika mereka meninggalkan Laurenfrost.... Dan juga, Ellis telah memberitahu dia sesuatu yang menghawatirkan.

"Kau pasti mengetahui sesuatu."

"....Ya, kurasa lebih baik aku memberitahumu."

Bagaimanapun juga, dia adalah pelaku yang telah memaksa Elemental Lord Kegelapan bangkit didalam diri Kamito.

Kamito meringkas secara singkat apa yang terjadi dengan Ellis dan Rinslet.

....Setelah mendengarkan dia, Rubia berpikir secara mendalam selama beberapa saat.

"Pernahkan kau mendengar Princess Maiden Raja Iblis legendaris?"

Akhirnya dia berbicara.

"Ya, hanya legenda."

Kamito mengangguk. "Princess Maiden Raja Iblis" adalah salah satu dari legenda Raja Iblis.

Seribu tahun yang lalu, Raja Iblis Solomln secara paksa telah menikahi para gadis dari negara-nagara yang ditaklukkan, mengambil mereka sebagai miliknya sendiri.

Selain itu, dia telah memilih gadis-gadis dengan bakat yang luar biasa untuk menjadi elementalis diantara para gadis tersebut dan memberikan kekuatannya pada mereka.

Para gadis yang menerima kekuatan Raja Iblis dikenal sebagai "Princess Maiden Raja Iblis." Bersama dengan 72 roh, mereka menebar teror pada pasukan Sacred Maiden dari dunia penyelamatan.

"Sepertimu, Raja Iblis Solomon adalah reingkarnasi dari Elemental Lord Kegelapan. Kemungkinan, dengan cara yang sama sepertimu, dia membagikan kekuatannya pada para princess maiden miliknya melalui ciuman—"

"....Maksudmu itu adalah kemampuan yang sama seperti milikku?"

"Kemungkinan besar. Kekuatan Elemental Lord Kegelapan memungkinkan suatu peningkatan yang besar pada kekuatan suci. Namun, kemungkinan ada syarat dipihak princess maiden'nya. Meskipun Raja Iblis memiliki ratusan selir, hanya ada sembilan orang yang bisa memperoleh kekuatannya—"

"Apakah itu adalah bakat sebagai seorang elementalis?"

"Benar, tapi mungkin saja ada syarat-syarat tambahan—"

Rubia bergumam sambil merenung.

Kamito menatap tangannya.

(...Jadi aku berbagi kekuatan Elemental Lord Kegelapan dengan mereka?)

Meskipun itu tidaklah sengaja, dia masih merasa bertanggung jawab.

"Uh, akankah mereka berakhir dilahap oleh kegelapan sepertiku?"

"Catatan dari para princess maiden Raja Iblis sangat samar. Beberapa mengatakan bahwa mereka dikalahkan oleh Sacred Maiden Areishia, sedangkan yang lain mengatakan bahwa kekuatan kegelapan itu dimurnikan oleh Demon Slayer. Mungkin diantara mereka, ada yang berakhir dilahap oleh kekuatan kegelapan—"

"...Dengan kata lain, kau tidak tau."

"Memang. Uji saja denganku."

".....Apa!?"

Mendengar saran Rubia yang terdengar serius, Kamito merasa panik secara spontan.

Namun, dia segera menyadari bahwa Rubia bercanda.

STnBD V14 206.jpg

"Jangan menggunakan kekuatan suci secara sembarangan kecuali kau ingin dilahap oleh kekuatan kegelapan itu, Ren Ashbell."

"....Ya, aku tau."

Kamito menghindari kontak mata dan mengangguk.

(...Kurasa akan lebih baik untuk menghindari menggunakan kekuatan suci untuk menyelesaikan masalah.)

Bagian 3[edit]

—Setelah beristihat. Didalam ruang pertemuan kapal terbang itu, sebuah rapat diadakan untuk menyusun rencana operasi penyelamatan Fianna.

Duduk disekitar meja bundar itu adalah Claire disamping Kamito, dan Ellis disampingnya. Restia dan Est mungkin masih tidur di kamar tidur.

Rubia merentangkan sebuah peta ibukota kekaisaran diatas meja.

"Fianna dipenjara di Great Shrine of Areishia di pusat distrik bangsawan.."

Dia menunjuk suatu lokasi pada peta.

"Great Shire of Areishia? Bukan Penjara Balsas?"

"Itu tidak akan mungkin, karena Muir memporakporandakan penjara itu ketika kami membebaskan Velsaria."

".....Ceroboh seperti biasanya."

Kamito mengerang.

"Kuil Pengasingan dari Dunia di Great Shrine of Areishia memiliki kemampuan untuk memurnikan kekuatan seorang princess maiden. Itu adalah tempat yang paling cocok untuk memenjarakan Fianna."

Mengatakan itu, Rubia mengeluarkan peta lain dan membukanya di meja. Kamito tidak tau koneksi macam apa yang dia gunakan untuk mendapatkannya, tetapi peta itu memiliki tata letak lantai yang rinci dari Great Shrine of Areishia.

"Kalian bertiga yang akan melaksanakan operasi penyelamatan itu. Sementara itu, kami akan menyerang basis militer disekitarnya sebagai pengalihan."

"Bagaimana dengan kakakku?"

"Dia tidak sesuai untuk operasi semacam itu. Dia akan tetap di Revenant sebagai bagian dari pengalihan."

".....Itu benar."

Memang, "benteng" milik Velsaria tidak cocok untuk suatu operasi penyelamatan.

"Bagaimana dengan rute penyusupan kedalam Great Shrine of Areishia?"

Claire mengajukan sebuah pertanyaan.

Ketika Konferensi Semua Negara diadakan, dengan insiden pembunuhan baru-baru ini, keamanan di ibukota kekaisaran pasti telah ditingkatkan pada tingkat tertinggi. Itu mungkin mustahil untuk mendekat secara terang-terangan.

"Pertama, sebuah kereta yang ditarik kuda akan dipersiapkan di pinggiran kota untuk kalian untuk menyusup ke kota. Untuk masuk, kalian akan menyamar sebagai seorang bangsawan beserta para selir. Dengan menunjukkan sebuah kartu pengenal masuk, kalian seharusnya bisa melewati interogasi penjaga gerbang."

Mengatakan itu, dia meletakkan sebuah kartu tanda masuk kekaisaran palsu di meja. Terukir ditengah kartu itu adalah sebuah segel sihir untuk mengacaukan roh penjaga.

"Tak disangka kau bahkan memilki benda semacam ini..."

"Sebuah penerapan dari segel persenjataan terkutuk. Vivian Melosa adalah seorang pembajak handal."

"Pemalsuan?"

Ellis yang ketat mengernyit.

"Apa kau akan menentang cara kotor ketika kau memberontak kekaisaran?"

"Y-Yah...."

"Kalaupun ada yang tidak menyenangkan, aku lebih khawatir dengan bagian 'selir' nya."

Meskipun Kamito membahasnya, semua orang mengabaikan dia.

"Bahkan setelah penyusupan ibukota kekaisaran, masih ada para ksatria roh yang disiagakan di distrik bangsawan sekitar Great Shrine of Areishia. Kurasa kita tak bisa masuk secara terang-terangan."

"Ada seorang perantara Murder didaerah kumuh yang sangat akrab dengan rute-rute ke distrik bangsawan. Carilah pria itu."

"...Murders? Bisakah kau mempercayai mereka?"

"Murders dan Kerajaan Suci telah berselisih bertahun-tahun. Mereka adalah suatu organisasi yang bertindak dengan menitik beratkan resiko dan keuntungan diatas ideologi. Jika Arneus bersekongkol dengan Kerajaan Suci, Murders akan membantu kita."

"....Aku mengert."

Murders telah mendirikan sebuah jaringan yang kokoh diseluruh benua dengan banyak cabang di banyak negara. Mamun, ada satu pengecualian.

—Yaitu, Kerajaan Suci Lugia.

Menyembah salah satu dari Lima Elemental Lord, Holy Lord Alexandros, sembari meyakini "keharmonisan seluruh benua" sebagai wahyunya, Kerajaan Suci telah melarang Murders sepenuhnya dan tidak mengijinkan organisasi itu masuk ke pintunya.

Dari sudut pandang Murders, mereka tidak menginginkan seorang kaisar Ordesia yang memiliki hubungan dekat dengan Kerajaan Suci.

"Setelah kalian menyelinap ke distrik bangsawan, pergilah ke Great Shrine of Areishia dan menyelamatkan Fianna. Hindari pertempuran sebanyak mungkin, terutama melawan Number."

".....Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana dengan rute kaburnya?"

"Fianna seharusnya mengetahui rute kabur khusus untuk keluarga kerajaan. Gunakan rute itu. Setelah kau berhasil kabur ke kota, aku akan mengirim roh militer dan Velsaria. Seharusnya itu sangat tepat untuk mengulur waktu."

".....Sungguh rencana yang sembrono."

Kamito mendesah tak berdaya. Dikatakan, hari yang diumumkan untuk eksekusi Fianna adalah tiga hari lagi. Itu tak akan realistis kecuali mereka mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi resiko dan mengambil langkah paksa.

"Lalu bagaimana dengan kepala sekolah?"

Kali ini Ellis yang bertanya, agak khawatir.

Hal yang sama juga mengganggu Kamito.

"Keberadaan si Penyihir Senja tidak diketahui."

"Kita harus mencari cara untuk menyelamatkan—"

"Tidak."

Rubia langsung menolaknya.

"K-Kenapa!?"

"Akan kukatakan kebenarannya, aku juga ingin menyelamatkan si Penyihir Senja. Namun, kita saat ini tak memiliki sumber daya yang banyak untuk digunakan untuk hal itu."

"T-Tapi...."

Ellis langsung terdiam. Tentu saja, itu tidak seperti Ellis tak bisa mengerti. Jika mereka membagi kekuatan sekarang, hal itu hanya akan membuatnya lebih sulit untuk menyelamatkan Fianna.

"Santai saja. Arneus tak akan berani mengeksekusi sang pahlawan Kekaisaran begitu saja."

"Kurasa begitu—"

Gumam Kamito. Bagaimanapun juga, sudah ada kekacauan di Akademi Roh Areishia dimana banyak putri bangsawan belajar. Kekaisaran akan sangat berhati-hati untuk berurusan dengan dia.

"Rubia benar. Menyerah saja dalam menyelamatkan Greyworth kali ini."

".....Dimengerti."

Ellis menggigit bibirnya penuh penyesalan dan mengangguk.

"Hanya kali ini saja, ya? Cepat atau lambat akan ada peluang. Mari kita tunggu saja dengan sabar."

"Baik...."

"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah menyelamatkan Fianna?"

Kali ini, Kamito menanyai Rubia.

"Setelah mengitari Pegunungan Kelbreth, kita akan kabur ke Kadipaten Naga Dracunia."

Rubia menggerakkan tanda pada peta itu lagi.

"Dracunia?"

"Tepat, negara itu memiliki hubungan yang sangat buruk dengan Kerajaan Suci."

"Benar. Persiapan sudah dibuat sejak awal untuk kabur kesana."

"....Lumayan."

Kamito menampar mulutnya sendiri. Meskipun kehilangan sebagian besar bawahannya, jaringan tersembunyi milik Rubia tampaknya masih ada.

"Bagaimana dengan setelah kita kabur ke Dracunia?"

Setelah mendengar pertanyaan Claire, Rubia perlahan-lahan mendongak dari peta itu.

"Aku berniat untuk mendukung Fianna untuk menjadi kaisar wanita."

Dia menyatakan dalam suara yang serius.

"Mendukung Fianna untuk menjadi kaisar?"

"Ya. Lalu pada timing yang tepat, 'Ordesia yang Sah' akan diumumkan."

"Ordesia yang Sah.....?"

"Benar. Mengangkat bendera untuk melawan Kerajaan Suci, Kekaisaran Ordesia yang sebenarnya."

"Pemerintah tersembunyi huh? ....Jadi kau sepenuhnya mengabaikan keinginan Fianna sendiri."

"League of Inferno membutuhkan pembenaran untuk mendeklarasikan perang pada Kerajaan Suci."

"T-Tapi ini—"

Claire mengumpulkan keberanian dan angkat bicara.

"Fianna jelas-jelas tidak ingin seperti ini. Dia sudah meninggalkan semua itu..."

"Mungkin memang begitu, pada akhirnya dia tetaplah seorang anggota keluarga kerajaan. Dia akan memahami misinya dan menerima takdir ini."

"Uh..."

"—Itulah kesimpulan dari rencana pertempuran kita."

Rubia menyatakan dengan dingin dan berdiri.

Tepat saat dia mengenakan jubahnya dan hendak meninggalkan ruangan pertemuan—

"Nee-sama..."

Untuk sesaat, Rubia berhenti di pintu.

"....Kuserahkam Fianna padamu."

Rubia berbisik dengan sangat pelan.

Kamito dan Claire langsung bertukar tatap.

Kata-kata Rubia membuat mereka sadar.

Pemusnahan Kegelapan Dunia Lain yang bertanggung jawab atas kegilaan dari para Elemental Lord—Itu adalah motivasi dari tindakannya.

Tapi selain itu.

Pastinya, dia—

Berharap untuk menyelamatkan Fianna sebagai sahabatnya dimasa lalu.

"—Ya, serahkan saja pada kami."

Saat Rubia melewati pintu itu, Kamito mengangguk.

Bagian 4[edit]

Setelah rapat strategi, Kamito pergi ke dek sendirian.

Dia ragu-ragu apakah harus memberitahu Claire dan Ellis mengenai yang Rubia katakan pada dia tentang Elemental Lord Kegelapan.

(...Tapi hal itu akan menyebabkan mereka khawatir kalau aku memberitahu mereka.)

Tatapan Kamito mengarah pada tangan kirinya yang tertutupi sarung tangan kulit.

Jangan menggunakan kekuatan suci secara sembarangan kecuali kau ingin terlahap oleh kekuatan kegelapan—Itulah yang diperingatkan Rubia pada dia.

(...Sebaliknya, kekuatan kegelapan tidak akan bangkit kalau aku tidak menggunakan kekuatan suci?)

Kalau itulah masalahnya, maka yang perlu dia lakukan adalah menghindari pertarungan sebanyak mungkin.

Tentunya, itu tak bisa dijamin.

—Merasakan suatu keberadaan dibelakangnya pada saat ini, Kamito berbalik.

"...Restia?"

Dia melihat Restia menaiki tangga sambil menggunakan pagar untuk pegangan.

Terterpa angin di dek, dia tampak seperti dia mengalami kesulitan mempertahankan keseimbangan.

"Kyah!"

"Hei, itu berbahaya—"

Kamito bergegas mendekat dan menangkap lengannya.

"Te-Terimakasih...."

Gadis roh kegelapan itu merendahkan kepalanya, pipinya sedikit tersipu merah

"Ada apa? Apa kamu susah tidur?"

"Ya."

Restia mengangguk dan menatap Kamito.

".....Kamu mau pergi?"

"Ah, kurasa kamu mendengarnya dari Claire dan yang lainnya."

Namun, Restia menggeleng.

"Tidak, aku entah kenapa merasakannya."

".....Benarkah?"

Mata berwarna senja itu, yang mana biasanya tersenyum tak kenal takut, menyampaikan suatu ekspresi gelisah.

....Itu tak terhindarkan lagi bahwa dia akan merasa khawatir.

Bagaimanapun juga, dia telah kehilangan ingatannya dan kelompok Kamito adalah satu-satunya orang yang bisa dia andalkan.

Namun, membawa dia ke ibukota kekaisaran akan sangat berbahaya.

Kamito telah mendengar bahwa orang-orang dari Kerajaan Suci mengintai di Ordesia. Selain itu, Kerajaan Suci jelas-jelas menargetkan Restia.

Saat ini, tempat paling aman diseluruh benua mungkin adalah kapal ini.

"Kami akan kembali segera setelah kami menyelamatkan teman kami."

Kamito dengan lembut meletakkan tangannya pada kepala Restia.

"Aku tau. Kamu saat ini berada dalam suatu takdir yang sangat besar. Oleh karena itu—"

Mengatakan itu, Restia menggenggam erat tangan Kamito.

"Kamu harus kembali—"

"Ya, tentu saja. Bagaimanapun juga, disampingmu lah tempatku berada."

Sebagai tanggapan, Kamito memeluk tubuh mungil Restia.

"Aneh sekali...."

Berada dalam pelukan Kamito, dia tersenyum.

"....Kenapa air mata ini jatuh?"

Bab 8 - Penyusupan ke Ibukota Kekaisaran[edit]

Bagian 1[edit]

—Ibukota kekaisaran, Ostdakia.

Ini adalah kota yang dijadikan benteng oleh Sacred Maiden selama Perang Raja Iblis seribu tahun yang lalu untuk melawan pasukan Raja Iblis.

Setelah Perang Raja Iblis berakhir, lokasi kota ini, sama dengan pusat Kekaisaran saat ini, menjadikannya pusat perdagangan yang menghubungkan segala bagian benua. Perlahan-lahan tumbuh semakin makmur, dan akhirnya berkembang menjadi kota metropolis tertinggi di benua.

Dan lokasi di pusat ibukota kekaisaran adalah aula pertemuan yang besar dimana pertemuan kekaisaran diadakan, serta Istana Nefescal yang bertindak sebagai kediaman kekuatan kerajaan dan kuil yang paling penting di Ordesia.

(....Ironis sekali. Tak disangka penerus Raja Iblis akan kembali ke kota yang telah bertindak sebagai benteng pertahanan untuk melawan sang Raja Iblis.)

Mengendarai kereta kuda sambil memegang erat-erat tali kemudinya dari kursi kusir, Kamito bergumam pada dirinya sendiri.

Faktanya, ini bukanlah pertama kalinya menyusup ke ibukota kekaisaran. Saat dia masih kecik, dia menyelinap ke ibukota kekaisaran bersama Muir, Lily dan Restia sebagai bagian dari misi Sekolah Instruksional.

"Sejujurnya, akankah metode ini benar-benar berhasil?"

Suara cemas Claire terdengar dari dalam kereta.

".....Siapa yang tau. Jujur saja, aku juga nggak yakin."

Berpakaian sebagai dayang, Kamito mendesah dari kursi kusir.

Dia adalah model sempurna dari dayang yang bekerja di istana kerajaan, nggak peduli bagaimana kau melihatnya.

"Kau benar-benar manis, Kamito."

Claire tertawa riang.

"....Y-Yang benar saja."

Kamito meringis dan menatap balik Claire.

Duduk didalan kereta, Claire mengenakan gaun putih. Rambut crimsonnya telah dicat pirang.

Cerita samarannya adalah bahwa Claire merupakan seorang putri dari keluarga bangsawan dan Kamito adalah dayangnya. Adapun untuk Ellis, dia bersembunyi didalam tumpukan peti kemas.

Peran bangsawan jatuh pada Claire karena wajahnya tidak terkenal Ellis yang sering kali datang ke ibukota kekaisaran sebagai seorang putri dari keluarga Fahrengart dan dengan demikian dikenal secara luas. Kunjungan terakhir Claire ke ibukota kekaisaran sudah lebih dari empat tahun yang lalu.

"Kita akan segera sampai di gerbang utama. Jangan mengeluarkan kepala kalian dari kereta dan pastikan untuk bertindak seperti seorang bangsawan."

Kereta yang membawa ketiga orang itu perlahan,lahab mendekati gerbang kota yang besar dari ibukota kekaisaran.

Sebuah obor besar dinyalakan didepan gerbang ketika para pedagang membentuk antrian panjang dengan barang dagangan mereka di kereta.

"Ohohohoho, aku seorang aristokrat dari keluarga kelas atas—!"

Claire tiba-tiba mengeluarkan suara aneh, menyebabkan Kamito melihat kebelakang karena kaget.

"K-Kau mencoba jadi siapa sih!?"

"Apa maksudmu, siapa...? Aku hanya meniru Rinslet. Bukankah itu sangat kelihatan bangsawan?"

"....Y-Yang benar saja. Dia pasti akan marah kalau dia melihat ini."

"Hmph, aku gak habis pikir kau memihak Rinslet...."

Claire cemberut tak senang.

"Bersikap saja seperti diriku yang biasanya dan itu sangat mencerminkan kebangsawanan."

"B-Begitukah?"

Mendengar itu, Claire tampaknya cukup senang, tersipu.

Diatas pintu masuk yang besar tersebut, sepasang patung singa yang menakutkan menatap kelompok Kamito.

Tunggu dulu, mereka bukan patung—Mereka adalah roh penjaga yang menjaga gerbang utama ibukota kekaisaran.

Kamito mengeluarkan tanda masuk kekaisaran yang ditempa oleh Vivian dari dadanya.

"Kita bisa masuk menggunakan ini?"

"Ya, kurasa....."

Dari dalam kereta, Claire mengangguk sedikit gugup dan membalas.

"Aku benar-benar ingin melancarkan serangan udara secara langsung menggunakan Simorgh."

"Itu hanya akan membuat kita ditembak jatuh oleh pertahanan anti-udara ibukota kekaisaran."

Kamito berhenti berbicara dan mengangkat tanda masuk didepan gerbang itu.

Terukir pada tanda tersebut, rune sihir bersinar sesaat dan segara menghilang. Bahkan ketika kereta itu mendekat, para roh penjaga di gerbang tidak bereaksi sama sekali, hanya duduk diam disana.

(....Tampaknya kita berhasil masuk.)

Kamito mendesah lega secara mental.

Berikutnya, penjaga bersenjata memblokir kereta tersebut.

"Harap ijinkan aku untuk memeriksa barang bawaanmu. Apa kau bersedia membuka penutup petinya?"

"Aku benci menunggu. Kuberitahu kau, aku sedang buru-buru."

Claire berbicara dari dalam kereta.

"Ya, aku sungguh minta maaf. Perintah dari atas mengharuskan kami untuk memeriksa..."

Si penjaga membuka penutup peti tersebutm ada dia kotak kayu didalamnya.

Membuka kotak yang atas, penjaga itu menemukan tempat lilin dan perlengkapan ritual lainnya serta sebuah kristal roh langka.

"Apa ini?"

"Aku membelinya saat aku pergi ke Kerajaan Balstan. Lihat, bukankah itu indah?"

Claire mengangkat kristal roh itu untuk menunjukkan pada si penjaga.

"Meskipun itu tidak terlalu berharga, maukah kau menerima ini sebagai hadiah, tuan penjaga?"

Claire menyerahkan sebuah kristal roh dengan roh air tersegel didalamnya kepada si penjaga. Orang biasa tak bisa menggunakan kristal roh, tetapi mereka nida mendapatkan uang yang cukup banyak dengan menjualnya pada toko-toko khusus.

".....Eh, a-apakah tidak apa-apa?"

"Tentu, tetapi sebagai gantinya, aku ingin kembali ke kediamanku secepat mungkin karena aku sudah capek. Boleh aku lewat?"

Dia menyampaikan niatnya untuk menggunakan penyuapan sebagai cara untuk melewati pemeriksaan, tetapi—

"Tidak, perintah dari atas mengharuskan melakukan pemeriksaan—"

Si penjaga menggeleng, berniat untuk memegang teguh prinsipnya.

"...Eh?"

Melihat itu, ekspresi Claire membeku.

(....H-Hei, apalagi yang akan kau lakukan sekarang?)

Kamito memberi isyarat pada Claire dengan tatapan.

Mereka tidak menduga situasi ini. Mereka awalnya berpikir bahwa pemeriksaan atas barang bawaan dari bangsawan hanyalah formalitas belaka setelah mereka melewati titik pemeriksaan.

Faktanya, pemeriksaan barang bawaan milik bangsawan di ibukota kekaisaran adalah suatu kejadian yang tidak biasa. Dulu, penyuapan penjaga bisa dijamin berhasil dimasa lalu.

(....Apakah ibukota kekaisaran berada dalam kewaspadaan pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkan?)

"Kalau begitu, ijinkan aku untuk memeriksa."

Meskipun goyah, si penjaga masih berniat untuk membuka kotak kayu yang bawah.

Dikotak inilah tepatnya Ellis bersembunyi.

"Tu-Tunggu—"

"Aku benar-benar minta maaf, ini adalah peraturannya—"

Penjaga itu mengabaikan Claire yang memprotes dan menyentuh kotak kayu yang bawah.

(....Oh tidak!)

Lalu......

Sesuatu keluar dari kotak kayu tersebut dan terbang keluar dengan ganas..

"Kehhhhhhhhhhh!"

"U-Uwahhhhhhh!"

Penjaga itu teriak karena terkejut, langsung terjatuh.

"Kehhh, kehhhhhhhhhhh!"

Menjulurkan kepalanya dari kotak kayu tersebut adalah seekor burung iblis, mengekuatkanu suara menakutkan.

"N-Nyonya, a-apa itu...."

"....U-Uh, itu adalah burung peliharaanku yang aku beli dari pasar saat aku bepergian. Manis kan?"

"M-Manis....?"

Menatap burung iblis itu, wajah penjaga itu dipenuhi dengan teror.

"Itu salahmu sendiri karena sembarangan menyentuh kotak kayu itu. Bagaimana caramu untuk bertangung jawab?"

"A-A-A-A-Aku sungguh minta maaf, nyonya....!"

Penjaga itu terus menundukkan kepalanya untuk meminta maaf.

"T-Tolong maafkan aku. Kau boleh lewat!"

"Hmph, terserahlah. Ayo cepat—"

Pada desakan Claire, Kamito mengendarai kereta itu melewati gerbang.

Sesaat setelah memasuki kota—

"....Phew, akhirnya kita bisa lewat."

Kamito menghembuskan nafas lega yang panjang.

"Wajah menakutkan Simorgh ternyata berguna."

"Kururu..."

Mendengar itu, roh angin iblis mendengkur dengan bangga dari kotak kayu itu.

"Jad, penyusupan berhasil huh?"

"Tidak, pertunjukan utamanya baru dimulai sekarang."

Bagian 2[edit]

Tata ruang ibukota kekaisaran pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua bagian.

Ada distrik kediaman bangsawan dengan Istana Nefescal dipusatnya, dan area perkotaan disekitarnya.

Kedua area itu dipisahkan oleh dinding. Yang menjaga gerbang raksasa itu bukanlah para prajurit biasa, melainkan para ksatria roh dari pasukan. Biasanya, tingkat kewaspadaan lebih tinggi secara drastis dan mereka tak bisa menggunakan cara curang menggunakan kartu pengenal buatan seperti sebelumnya.

Kamito memparkirkan kereta itu ditempat parkir. Meninggalkan kereta tersebut disana, mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan jalan kaki ke kota.

"......Phew, aku hampir mati lemas."

Keluar dari kotak kayu, Ellis merenggangkan badan.

"Barusan, itu semua berkat pemikiran Ellis yang cepat."

"Ya, tapi aku nggak pernah membayangkan aku akan menyelinap kedalam ibukota kekaisaran seperti ini...."

Sebagai seorang ksatria Fahrengart, dia pasti merasa cukup gak nyaman tentabg menyelinap secara diam-diam ke ibukota kekaisaran.

"Pertama-tama, ayo hubungi perantara Murders itu."

Claire mengeluarkan sesuatu dari kotak kayu tersebut saat dia berbicara. Perlengkapan penguatab dan kristal roh didalam kotak kayu tersebut bukan hanya untuk mendapatkan kepercayaan dari penjaga gerbang, tetapi juga untuk menyuap si perantara Murders.

"Toko peralatan sihir di Distrik 5."

Mengenakan jubah abu-abu, trio itu berjalan cepat di gang-gang.

"Tempat ini jauh lebih ramai daripada saat terakhir kali aku berkunjung...."

Dibawah tudungnya, Kamito berbisik.

"Sepertinya suasana gelisah menyelimuti warga kekaisaran karena insiden itu."

Setelah melewati beberapa gerbang perbatasan diantara distrik-distrik, mereka memasuki sebuah distrik kumuh.

Bahkan kota paling sejahtera di benua memiliki sisi gelapnya.

Toko peralatan sihir adalah satu-satunya toko didalam distrik tersebut.

Tanpa memeriksa dengan cermat ketika mereka berjalan, itu akan sangat mudah untuk menemukan toko itu.

Sangat mencolok, itu adalah sebuah toko biasa pada penampilannya. Dari sudut pandang warga biasa yang tidak berpengalaman dalam peralatan penguatan dan kristal roh, yang bisa dikatakan oleh seseorang adalah itu merupakan sebuah toko yang agak berantakan.

Claire mengetuk empat kali dengan interval yang telah ditentukan.

Itu adalah sinyal rahasia. Segera setelahnya, pintu iti terbuka dengan suara yang tenang.

Wajah tersenyum dari seorang pria pendek muncul dicelah pintu.

"....Aku sudah menunggu kalian, nona-nona."

"Apakah kau pemandunya?"

Mendengar pertanyaan Claire, pria itu tertawa pelan dan memberi isyarat dengab matanya pada mereka untuk masuk.

Memasuki toko tersebut, Kamito dan rekan-rekannya berganti pakaian menjadi seragam sekolah biasa lagi.

Lalu mereka memakai jubah hitam diatas seragam mereka. Ditenun dengan sihir perlindungan, seragam akademi memiliki daya tahan yang menakjubkan, sebanding dalam kemampuannya dengan seragam militer dari para Imperial Knight. Meskipun itu sedikit mencurigakan, seragam sekolah tersebut masih layak dikenakan.

"—Kau sudah menerima perintah dari utusan Cardinal, kan?"

"Benar, sebuah permintaan untuk meminta bantuanku.... Sungguh sopan. Bagaimanapun juga Cardinal adalah salah satu pelanggan setiaku."

Si perantara Murders menyeringai.

Claire menyerahkan sesuatu dari kantong ditangannya pada si penjaga toko.

"Ini adalah hadiah dari Cardinal untukmu—"

".....Wow, baik hati sekali. Semuanya adalah harta berharga."

Mengambil sebuah kristal roh kecil untuk dimainkan ditangannya, si pedagang tersenyum puas.

"Cardinal juga tekah membebaskan Vivian Melosa dari Penjara Balsas. Ini adalah suatu hadiah yang cukup untuk Murders, kan?"

"Ya, tentu, tentu. Dari sudut pandang kami, itu tak seperti kami bisa mengabaikan kenaikan tahta dari Pangeran Arneus, yang bersekutu dengan Kerajaan Suci—"

Si pedagang menggosok-gosokkan tangannya sembari berbicara.

"Baru-baru ini, bisnis menjadi sulit. Meskipun kami mendapatkan keuntungan dari berbagai negara diseluruh benua selama Perang Ranbal, dijaman sekarang, satu-satunya sumber penghasilan kami terbatas pada roh militer tua dan segel persenjataan terkutuk yang murah—"

"...B-Bangsat, sungguh kurang ajar! Hanya karena orang-orang sepertimu hingga kakak angkatku—"

"Ellis, hentikan—"

Melihat Ellis hendak mencabut pedangnya secara impulsif, Claire buru-buru menghentikan dia.

"...T-Tapi bisakah pria ini dipercaya?"

"Tak ada pilihan lain. Bantuannya sangatlah penting."

"Jangan khawatir. Semua perantara Murders memiliki timbangan didalam hati mereka untuk menimbang resiko dan keuntungan. Selama timbangan tersebut tidak berat sebelah, penghianatan sudah pasti tidak akan terjadi."

Si pedagang tersenyum dan membuka sebuah pintu dibagian dalam toko.

"Lewat sini—"

Bagian 3[edit]

Sebuah tangga rahasia mengarah ke bawah tanah berada dibalik barisan rak dibelakang toko.

Memegang sebuah obor untuk penerangan, si pedagang terus turun kedalam kegelapan.

"Ini adalah sebuah tempat yang digunakan Murders untuk menyelundupkan barang-barang."

"....Sebuah saluran air? Tetapi jika demikian, harusnya ada suara air..."

Sambil menggunakan sebuah kristal roh untuk menerangi dinding, Kamito berkomentar.

"Reruntuhan bawah tanah. Sebuah peninggalan yang berasal dari Perang Raja Iblis ketika Sacred Maiden Areishia mengubah kota ini menjadi benteng pertahanan miliknya. Reruntuhan bawah tanah seperti ini sangat banyak di ibukota kekaisaran, lebih banyak daripada yang bisa kau hitung."

"Sheeesh, nggak bisakah kau mengingat pelajaran dari Freya-sensei?"

"Oh benarkah?"

"Aku ingat pernah mendengar tentang hal itu juga, tetapi ini adalah pertama kalinya aku memasuki salah satunya—"

Ellis memeriksa dinding disekitar dia sambil bergumam pelan.

"Kekaisaran mengabaikan tempat-tempat seperti ini begitu saja?"

"Mengubur semua reruntuhan bawah tanah yang luas ini adalah hal yang mustahil. Selain itu, militer Ordesia menemukan nilai-nilai dalam lorong-lorong bawah tanah seperti ini."

Lalu, seekor tikus besar berlari melewati kaki Claire.

".....Huahh, t-tikus!"

"Hati-hati, ada tikus-tikus yang bahkan lebih buruk di bagian ini."

"....Tikus huh. Aku ingat bahwa itu adalah eufemisme untuk ksatria operasi khusus dari Umbra."

"Ya, itu sebabnya lebih baik tetap diam dari sini karena bisa saja kita bergerak kearah mereka."

....Bergerak maju dalam diam selama sekitar setengah jam.

Lalu Kamito, mempertahankan fokus tingkat tinggi, mendengar suara kecil.

Gemerincing dari sepatu. Suara nafas dari banyak orang didalam kegelapan.

(...Ya ampun.)

Kamito mendesah dan berhenti berjalan.

"Kamito?"

Berjalan didepan, Claire dan Ellis terkejut.

"Katakan, tuan pedagang...."

"Ada yang bisa aku bantu?"

Pedagang itu tersenyum ramah dan memutar kepalanya kebelakang.

"Kau menyebutkannya sebelumnya, kan? Sesuatu tentang timbangan di setiap hati perantara Murder—"

"....Tentu, ada apa?"

"Apa sisi lain dari timbanganmu?"

Kamito bertanya dengan tenang.

Mendengar itu, si pedagang menopang dagunya dengan tangannya dan membuat penampilan berpikir.

"Hmm, ya. Contohnya, kalau aku menyerahkan kalian pada Imperial Knight, aku mungkin bisa mendapatkan keuntungan yang besar. Bagaimanapun juga, kalian adalah kriminal borunan, para pelangganku yang terhormat."

"Tapi kau adalah seorang pedagang ilegal. Kau tak biaa membuat kontak dengan para ksatria, kan?"

"Tepat. Timbangannya condong kearah kalian, para pelanggan. Tenang saja."

"Oh benarkah? Kalau begitu—"

Lalu, Kamito mencabut sebuah belati dari pinggangnya—

Dan menepis kilauan perak yang melintas dalam kegelapan.

"Apa maksudnya ini?"

"...! Kamito, kita dikepung!?"

"Ya—"

Kamito memfokuskan pikirannya dan mendeteksi kehadiran dalam kegelapan.

(....Ada cukup banyak. Tujuh atau delapam didepan dan tiga atau empat dibelakang?)

Dalam kegelapan semacam ini, itu bukanlah tugas yang gampang untuk memastikan jumlah musuh. Mungkin saja bagi beberapa orang untuk mengelabuhi dalam penyergapan.

(Jangan bilang bahwa mereka semua adalah para elementalis?)

Senyum samar pada wajah si pedagang yang sebelumnya telah menghilang.

"....Aku tak bisa percaya kau menepis semua pisau dari para pembunuh—"

"Kalau mereka adalah para pembunuh, mereka lebih baik berlatih lebih keras bagaimana caranya menuembunyi niat membunuh mereka, oke? Meskipun aku nggak bisa melihat mereka, arah keberadaan mereka sangat jelas bagiku—"

"Penghianat!"


Mengatakan itu, Claire melepaskan elemental waffe miliknya, Flametongue.

Kobaran api merah menerangi kegelapan didalam lorong bawah tanah itu.

Suatu kelompok bertopeng terdiri dari usia dan penampilan yang berbeda terlihat.

Bukannya Imperial Knight dari Ordesia, mereka kemungkinan besar adalah—

(....Elementalis jahat disewa sebagai tentara bayaran huh.)

Meskipun jarang, bakat sebagai seorang elementalis terkadang akan tumbuh pada orang-orang tanpa garis keturunan bangsawan. Orang-orang itu akan dipaksa dikirim ke institut pendidikan untuk para elementalis, tapi bergantung pada keadaan, beberapa dari mereka akan berakhir dibawa oleh Murders dan organisasi kriminal lainnya untuk menjadi tentara bayaran ilegal.

Meskipun mereka jauh lebih lemah daripada para elementalis yang dilatih di Akademi—kebanyakan dari mereka mampu mengeluarkan elemental waffe—para elementalis ini telah melalui pelatihan tempur yang sebenarnya, sehingga mereka masih bisa mengungguli lawan yang tangguh melalui jumlah.

"Sudah kuduga. Seorang perantara Murders bajingab memang tak bisa dipercaya sejak awal."

Ellis menyiapkan Ray Hawk dan melotot marah pada si pedagang dihadapannya.

"Hoho.... Kukatakan kebenarannya, aku telah mendapatkan keuntungan yang cukup banyak dengan menjual roh-roh militer pada Cardinal. Akan tetapi, itu tidak cukup untuk mencondongkan timbanganku pada dia, itu saja."

"Lalu, berat pada siapa timbangan itu?"

Mendengar pertanyaan Kamito, si pedagang mengangkat bahu.

"Gampangnya, otorisasi untuk berdagang di Alexandria di Kerajaan Suci Lugia. Bisakah kalian menawarkan sesuatu yang lebih baik dari hal itu, pelangganku?"

".....Nggak mungkin! Kerajaan Suci nggak mungkin membuat kesepakatan dengan Murders!"

Claire membelalakkan matanya.

"Situasi global berubah setiap detiknya, nona kecil."

"Apakah Arneus adalah pelanggan terbarumu?"

"Ups, kurasa aku sudah bicara terlalu banyak."

Si pedagang tertawa dan melangkah mundur kedalam kegelapan.

"Aku gak mau terlibat dalam hal ini, jadi aku akan kabur sekarang."

Membuang obornya ke tanah, dia berlari kedalam lorong bawah tanah.

".....! Tunggu, berhenti disana!"


Claire mengayunkan cambuk api miliknya—

Tetapi sebelum itu, sebuah dinding batu terbentuk. Itu adalah sebuah roh yang digunakan oleh seorang elementalis jahat.

"....Kamito, kita harus mengejar dia. Kalau dia kabur, kita tidak akan bisa keluar—"

"Ya—"

Kamito menghunus Demon Slayer dan menyerang dinding batu tersebut. Akan tetapi, pedagang itu sudah tak terlihat lagi. Menggantikan dia, sejumlah elementalis jahat memblokir jalan dengan senjata-senjata yang siap menyerang.

Biasanya, lawan dengan jumlah ini bukanlah tandingan kelompoknya Kamito. Namun, didalam lorong bawah tanah yang sempit ini dengan jarak pandang yang terbatas, mengalahkan mereka semua tampaknya membutuhkan waktu yang agak lama.

(Menerobos secara paksa tampaknya adalah satu-satunya pilihan huh—)

Kamito memasuki sikap untuk pertarungan kelompok. Meskipun dia ingin menghindari membuang-buang terlalu banyak kekuatan suci, keadaannya tidak mendukung—

Lalu, disaat yang bersamaan.....

"...Gahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

Suara jeritan terdengar dari kedalaman lorong bawah tanah.

"....!?"

Itu adalah suara si pedagang. Kamito dan teman-temannya saling bertukar tatap. Para elementalis yang disewa oleh si pedagang juga berhenti.

"K-Kenapa!? Kenapa kau ada disini....!?"

"Sangat disayangkan buatmu, ini adalah taman belakangku, tikus kecil."

Sebuah suara manis terdengar, disertai dengan langkah kaki yang ringan, berdiri dengan kejam berkebalikan dengan jeritan pedagang itu.

Cahaya kristal roh mendekat, menerangi lorong bawah tanah.

Tangan si pedagang diputar dibelakang punggungnya. Ditekankan pada sisi kepalanya adalah sebuah senjata dengan penyebaran yang sangat teebatas diseluruh benua—Sebuah pistol.

Kamito mengingat pistol ini yang ditanami kristal roh.

"Kau—!?"

Bagian 4[edit]

"...Guh, uh... Huff, huff, huff..."

Didalam dunia yang didominasi oleh keheningan dan kegelapan....

Fianna saat ini memfokuskan pikirannya.

Entah itu stamina fisik maupun kehendaknya, dia sudah hampir mencapai batasnya. Meski demikian, mata berwarna senja miliknya masih tidak kehilangan cahayanya. Karena dia memiliki alasan yang memungkinkan dia untuk berjuang membebaskan diri dari keputusasaan.

(...Kamito-kun... akan datang...)

—Beberapa jam yang lalu. Ksatria operasi khusus yang menyatakan bekerja dibawah Greyworth akhirnya mengontak dia untuk yang kedua kalinya. Umbra tak pernah menggunakan metode komunikasi yang sama untuk kedua kalinya, oleh karena itu kali ini adalah selembar kertas bukannya sebuah kristal roh.

Setelah menerima kertas itu, Fianna membaca pesan singkat berbunyi "Dia sudah ada disin" yang tertulis di kertas tersebut.

Itu sudah cukup.

Dengan ini saja, dia bisa menahan segala macam penderitaan.

Dia menggigit bibirnya keras-keras.

Menempatkan darah pada jarinya, dia menggambar ditanah dengan hati-hati.

(—Binding Spell No.14, dikombinasikan dengan segel lapis ganda, kurasa?)

Dia menutup matanya dan menganalisa komposisi dari lingkaran sihir yang terukir pada lantai batu. Lalu menggunakan darah pada jarinya, dia dengan hati-hati menulis ulang unsur-unsur utama lingkaran sihir tersebut.

Tugas yang rumit dan jelimet ini yang bisa membuat otak seseorang meledak, dia mengulanginya lagi dan lagi.

Menggambar lapisan lain dengan pola yang rinci diatas darah yang sudah kering, dia mengulangi hal ini secara terus-menerus. Sebuah lingkaran sihir yang amat sangat rumit perlahan-lahan terbentuk ketika dia menenggelamkan dirinya sendiri kedalam pekerjaannya.

Tentunya, menggunakan darah untuk menulis ulang suatu lingkaran sihir bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh princess maiden biasa. Ini adalah prestasi tingkat tinggi yang hanya bisa dicapai oleh Fianna yang memiliki bakat menakjubkan ditambah pengetahuan yang luas mengenai penghalang.

Dia sudah kehilangan banyak darah, sampai pada titij dimana mempertahankan kesadaranbya terasa sangat sulit.

Namun, upaya dari kerja keras yang berat ini akhirnya membuahkan hasil.

(...Kamito-kun... datang... Itu sebabnya, aku juga—)

Beberapa jam telah berlalu sejak dia mulai menggambar lingkaran sihir. Sudah hampir waktunya para penjaga berpatroli. Dan kalau ditemukan, semua upayanya sejauh ini akan berakhir sia-sia.

Kecemasan memenuhi pikirannya. Akan tetapi, semuanya akan sia-sia jika dia kehilangan kewaspadaan sekarang.

"—Aku... memerintahkan engkau.... untuk yang ketiga kalinya.... Patuhi, perjanjian darah—"

Dengan bibirnya yang berdarah, dia merapal kata-kata terakhir dari mantra tersebut.

".....Bebaskan aku.... dari jerat-jerat ini—!"

Akhirnya, Fianna menyelesaikan lingkaran sihir terakhir.

Tergambar di lantai, lingkaran sihir dari darah menyala biru-putih.

—Berhasil. Sebuah lingkaran eksorsisme telah selesai, mampu memecahkan lingkaran sihir tingkat tinggi ini yang membatasi Kuil Isolasi Dunia dari hubungan ke Astral Zero.

(....Dengan ini... Hubungan dengan Astral Zero telah dipulihkan.)

Fianna menghela nafas lega dan jatuh terduduk di lantai, bersandar pada dinding.

Dia memenjamkan matanya dan berkonsentrasi sejenak. Segera, dia bisa merasakan tubuhnya terhubung pada Astral Zero dengan kekuatan suci mengalir diseluruh tubuhnya.

(....Pertama, aku harus.... menemukan Kamito dan yang lainnya...)

—Berapa banyak waktu yang telah berlalu sejak menerima laporan terakhir dari ksatria operasi khusus itu?

Mungkin mereka sudah berada didalam ibukota kekaisaran.

(....Kuharap mereka tidak tertangkap oleh para Imperial Knight—)

Mengatur jarinya dalam sikap spiritual, dia mengingat-ingat sosok Kamito dalam pikirannya.

Ini adalah kemampuan peramalan yang dibanggakan milik Fianna, memungkinkan seseorang untuk mencari orang tertentu dengan hubungan mental yang dalam dengan meningkatkan kemampuan penginderaan seorang princess maiden sampai ke batas mutlak. Meskipun itu jauh lebih lemah dalam akurasi dibandingkan dengan Clairvoyance milik Putri Linfa, dia masih bisa mendapatkan perkiraan lokasi asalkan targetnya tidak terlalu jauh.

Dengan kelima indera miliknya berada pada fokus tingkat tinggi, dia terhantam oleh perasaan pusibg saat semua uratnya disatukan menjadi benang reonasi tunggal. Kesadarannya meluas dari tubuhnya, keluar dari penjara ini, ke kuil di luar penjara, ke dunia diluar kuil—

(Tunggu aku, Kamito-kun—)

Epilog[edit]

Dibawah hujan yang tak kunjung berhenti...

Kamito menusukkan Demon Slayer pada tumpukan puing-puing.

Leschkir Hirschkilt telah sepenuhnya kehilangan kesadaran, terkapar secara menyedihkan di tanah.

Namun, tampaknya dia masih bernafas. Meskipun pergerakan ini mustahil untuk ditahan, dia telah menghindari terkena serangan pada area vital. Bagaimanapun juga sebagai seorang anggota Numbers, dia tak akan mati semudah itu.

Kamito menatap tangannya sendiri.

Tidaklah sulit bagi dia untuk menyadari bahwa kekuatan yang bergejolak yang memancar dari dalam tubuhnya sekarang perlahan-lahan memudar layaknya sebuah gelombang.

(....Apa yang terjadi barusan?)

Sembrono sesaat saja maka dia akan terlahap oleh suatu dorongan untuk menghancurkan segalanya dan menundukkan semua mahluk.

(....Kekuatan Elemental Lord Kegelapan huh?)

Tepat seperti yang dikatakan Rubia, kekuatan itu telah terlepas—

"...!"

Tiba-tiba merasa kehabisan tenaga, Kamito jatuh.

"...Kamito-kun!"

Fianna dengan panik menangkap lengan Kamito.

"Aku akan menerapkan sihir penyembuhan sekarang."

"Ya, makasih..."

Kekuatan kegelapan yang mengamuk telah mereda. Asalkan mereka terus menjaga kontak fisik yang dekat, kekuatan sihir milik Fianna mungkin tidak akan dipantulkan.

Jari-jari Fianna membelai lengan Kamito dengan lembut ketika cahaya penyembuhan mendorong pemulihannya dari kelelahan. Sudah pasti, kekuatannya juga telah diperkuat.

Lalu, Fianna merangkulkan lengannya pada Kamito dari belakang.

"...Fianna?"

"Maaf, biarkan aku tetap seperti ini selama beberapa saat."

"..."

Mendengar suaranya yang bergetar, Kamito merilekskan dirinya.

".....Uh, maaf untuk yang sebelumnya... Memaksamu—"

"Nggak perlu meminta maaf, idiot."

"....M-Maaf."

Kamito tersipu. Melihat itu, Fianna tersenyum.

Namun, rasa bersalah Kamito tidak menghilang. Meskipun adanya paksaan keadaan, dia pada akhirnya berbagi kekuatan Elemental Lord Kegelapan dengan Fianna.

"Fianna, uh, tentang yang barusan—"

"Y-Ya, itu adalah rahasia kita."

"B-Bukan itu yang aku maksud—"

Kamito menggaruk pipinya karena malu.

(....Menilai dari yang terlihat saat ini, Fianna tidak tampak dihadapkan pada efek buruk apapun.)

Fianna membenamkan wajahnya pada punggung Kamito.

"Aku percaya kamu pasti akan datang."

"....Ya, maaf aku terlambat."

Fianna menyeka air matanya dengan gaunnya.

Lalu dengan penampilan penuh tekad....

"Smooch♪"

Dia mendaratkan sebuah ciuman pada pipi Kamito seperti patukan ringan dari seekor burung.

"...Fianna!?"

Matanya yang berwarna senja bergetar.

Tak ada sedikitpun tanda-tanda kejahilan seperti dirinya yang biasanya.

Matanya menatap lurus pada Kamito dengan sungguh-sungguh.

Sebagai tanggapan—

Kamito hendak berbicara, lalu pada saat itu....

Dia merasakan rasa dingin yang tajam di punggungnya.

"...!?"

Seketika, dia mendorong Fianna menjauh.

Lalu, sebuah tikaman menyerang, secepat kilat—

"...Ah, urgh...!"

Serangan itu menikam perut Kamito.

Darah yang terhambur mewarnai tanah, yang basah karena hujan, menjadi merah.

"Kamito-kun!?"

Dia mendengar suara Fianna.

Apa-apaan yang terjadi? Kamito masih belum sepenuhnya memahami situasinya.

Namun, suatu relitas yang tak terelakkan muncul.

(....Gerakan yang barusan, mungkinkah—)

Dia tak melihat apa-apa.

Jangankan tebasan sebuah pedang, dia bahkan tak mendeteksi pergerakan apapun.

(—Absolute Blade Arts... Purple Lightning...?)

Dan juga, itu pada tingkat yang lebih cepat daripada yang bisa dilakukan Kamito, tidak, beberapa tingkat lebih cepat lagi.

(...Mustahil, seharusnya aku adalah satu-satunya orang yang mewarisi Absolute Blade Arts...)

"Oh? Meskipun aku tidak mengerahkan semuanya, aku tak pernah menyangka bahwa serangan barusan meleset dari targetnya—"

"...!?"

Mendengar suara itu, Kamito mendongak secara paksa.

(....Tidak mungkin.... Mustahil, kan?)

Yang berdiri disana adalah—

STnBD V14 288.jpg



Kembali Ke Halaman Utama