Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid14 Bab 10

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 10 - Bangkitnya Kegelapan[edit]

Bagian 1[edit]

"....Tsk, keamanannya didalam istana benar-benar ketat!"

Segera setelah Kamito melangkah masuk kedalam istana, roh-roh dalam wujud anjing segera menyerang.

Ini adalah para roh penjaga yang secara otomatis melenyapkan para penyusup. Mampu merasakan kekuatan suci milik Kamito, mereka akan mengejar tanpa kenal lelah sampai akhir. Diharapkan dengan segerombolan roh anjing yang terlatih, Kamito tak yakin dia bisa kabur dari mereka.

Namun, dia harus mengatasi ujian ini jika dia ingin sampai ke sisi Fianna secepat mungkin.

"Kurasa aku harus bertarung—"

Kamito menuangkan kekuatan suci kedalam Demon Slayer saat dia berlari. Sesaat setelahnya, dia menghabisi seekor anjing yang melompat dengan sebuah tebasan sembari memutar tubuhnya.

"Aku tidak akan berbelas kasihan. Jangan salahkan aku—"

Anjing-anjing itu mengepung dia dan menunjukkan taring mereka.

(—Est, Mode Shift!)

‘Baik, Kamito—’

Mematuhi keinginan Kamito, Demon Slayer ditangannya segera berubah bentuk.

Apa yang muncul di tangan kanan dan kirinya adalah sepasang belati, yang satu berwarna hitam dan yang satunya lagi berwarna putih. Dalam situasi dimana harus melawan banyak musuh, dengan anjing-anjing yang terlatih dalam bela diri, itu jauh lebih mudah untuk menangani mereka dengan cara ini.

"Assassination technique—Round Dance of the Twin Snakes!"

Memegang salah satu belati dengan pegangan terbalik, Kamito melompat ke gerombolan anjing tersebut.

Secepat kilat. Dengan setiap tebasan berwarna hitam dan putih, seekor anjing akan kembali menjadi bentuk roh, menghilang sebagai partikel cahaya.

Sosoknya layaknya sebuah tornado. Puluhan anjing mulai menyusut jumlahnya dalam sekejap mata.

Membantai tiga anjing dengan satu serangan, Kamito kemudian berlari maju.

(....Tunggu aku, Fianna!)

Kamito mendecakkan lidah.

Para Imperial Knight yang menjaga istana tampaknya telah menyadari Kamito.

"Est, aku mengandalkan kamu—"

‘Ya, Kamito—’

Kamito menendang lantai dan melompat, menyatukan belati kembar tersebut. Segera, belati itu menghilang dan Demon Slayer muncul lagi ditangannya.

Para ksatria berarmor mendekat dari udara. Mungkin seorang elementalis udara, salah satu dari mereka mengulurkan telapak tangannya di udara dan melepaskan sihir roh angin.

"Mana mungkin serangan seperti itu berhasil—"

Kamito mengayunkan Demon Slayer secara horisontal, menepis pedang angin tersebut.

Lalu dia meluncur dalam satu tarikan nafas.

"Sialan— Rasakan ini!"

Pedang-pedang angin itu terus menyerang, tetapi Kamito menghindari semuanya dengan jarak yang tipis.

"—Berhentilah menghalangiku!"

Kamito menuangkan seluruh kekuatan suci dalam tubuhnya pada Demon Slayer. Bilah berwarna putih-perak tersebut segera menjadi hitam. Petir hitam legam yang menyala-nyala kemudian menyapu para ksatria yang terbang.

Ini adalah Vorpal Blast, teknik kebanggaan Ren Ashbell, Blade Dancer terkuat dimasa lalu.

Tanpa melihat para ksatria yang terkapar, Kamito terus meluncur maju.

—Jeduk duk.

Jantungnya berdetak keras.

Dihaluskan dalam tubuhnya, kekuatan suci dilepaskan secara eksplosif.

"Bangsat, berani-beraninya kau—"

Tiga ksatria muncul didepan pintu. Mereka semua memegang elemental waffe tipe jarak dekat. Mereka akan sulit untuk ditangani jika mereka bertarung sebagai sebuah kombinasi. Kekuatan sejati dari para ksatria militer terletak pada taktik kelompok mereka.

(...Aku harus mengalahkan mereka dengan cepat sebelum mereka mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama!)

Kamito menendang lantai dengan keras dan berakselerasi lagi.

"Absolute Blade Arts, First Form—Purple Lightning!"

Kamito mengeliatkan sebuah tusukan eksplosif dengan kecepatan yang mematikan.

Dari sudut pandang para ksatria, Kamito pasti telah menghilang dalam sekejap. Sebuah serangan secepat kilat, menghancurkan elemental waffe milik para ksatria secara akurat, seketika melucuti mereka dari kemampuan tempur mereka.

—Jeduk, jeduk.

Sembari menjatuhkan para ksatria istana didepannya, satu per satu—Kamito menyadari bahwa jantungnya berdetak cepat secara tidak normal.

(....Apa yang terjadi?)

Sudah jelas dia mengayunkan Demon Slayer dan bahkan menggunakan Absolute Blade Arts—Namun dia tak merasakan pengurangan kekuatan suci.

Itu hampir seperti ada suatu persediaan kekuatan suci yang tiada habisnya, mengalir keluar tanpa henti dari kedalaman tubuhnya.

(Mungkinkah ini....)

Kamito teringat apa yang dikatakan Rubia Elstein.

—Jangan menggunakan kekuatan suci secara sembatangan, kecuali kau ingin dilahap oleh kekuatan kegelapan.

".....!?"

Seketika, Kamito merasakan niat membunuh yang tajam dan melompat.

Sebuah panah api terbang melewati bahunya.

Kamito melihat ke tempat dimana panah itu berasal.

Enam ksatria berada di sebuah dinding istana dengan elemental waffe berbentuk busur telah disiapkan.

"Hentikan penyusup itu, hidup atau mati!"

Detik berikutnya, hujan anak panah api terjadi.

Bagian 2[edit]

"...Ah, guh, ooh... Oooooh...!"

Ketika Fianna menahan tekanan berat yang tampaknya bisa menghancurkan semua tulang-tulangnya, jeritan dipaksa keluar dari tenggorokannya.

Suatu kekuatan tak terlihat menekan Fianna ke lantai ketika dua bola aneh berputar-putar diatas kepalanya.

"Dame Leschkir Hirschkilt...!"

"Oh, kau masih bisa berbicara, Yang Mulia."

Leschkir tertawa dan menjentikkan jarinya.

Seketika, bola gravitasi tersebut berputar semakin cepat, meningkatkan tekanan semakin besar lagi.

"...Gah, hah...!"

Fianna memuntahkan darah. Dengan sistem pernafasannya berada dibawah tekanan, dia kesulitan untuk mengatur nafas.

Melihat Fianna terengah-engah, mencari udara, Dame Leschkir menginjak kepalanya dari atas.

"...Ugh..."

"Sungguh seorang putri yang buruk. Tidak hanya berupaya membunuh Yang Mulia, tetapi kau bahkan menjebol penjara."

"....Tidak, itu salah.... Aku tidak tau, apapun mengenai... rencana... pembunuhan itu...."

Fianna memeras semua kekuatannya untuk mengeluarkan penjelasan.

Dame Leschkir adalah seorang ksatria elit dari Numbers, bertugas menjaga Kekaisaran. Mungkin dia akan mengerti jika Fianna mengungkapkan konspirasi Kerajaan Suci. Masih ada setitik harapan.

"Tolong, percayalah—"

Dame Leschkir tersenyum dan mengangguk ringan.

"....Huh?"

Sangat terkejut, Fianna berseru dalam syok....

Dia terhantam oleh rasa disonansi yang keras.

Rasa dingin menjalar pada tulang punggungnya—

"Bagaimanapun juga, akulah orang yang menempatkan roh iblis milik Penyihir Senja itu."

"....!?"

Fianna melebarkan matanya yang berwarna senja.

"....Apa... artinya ini...?"

"Semuanya demi seseorang tertentu yang dimuliakan. Untuk membuat dunia ini dimulai dari awal lagi."

"....A-Apa yang kau bicarakan—"

Membutuhkan beberapa detik bagi Fianna untuk memahami maksud dari kata-katanya.

—Lalu dia akhirnya menyadarinya.

Wanita yang ada di hadapan matanya adalah—

"Dame Leschkir... Jangan bilang, kau adalah mata-mata Kerajaan Suci—"

"Hmph, sungguh seorang putri kecil yang cerdas. Kau jauh lebih layak mendapatkan singgasana daripada kakakmu yang tolol itu."

Wanita anggota Numbers itu menjilat bibirnya dan tersenyum menggoda.

"Itu sebabnya aku harus memintamu untuk menghilang, Yang Mulia."

"...Ah... A-Ahhhhhhhhh...!"

Tekanannya meningkat lagi, medan gravitasi tersebut mengekiato kekuatan yang berat pada tubuh Fianna bersamaan dengan udara. Suara retak dari tulang-tulangnya terdengar. Penderitaan yang luar biasa membuat kesadarannya hampir menghilang—

"Suara yang manis, Putri. Namun, berapa lama lagi kau bisa menahannya?"

Sifat sadis muncul pada mata Leschkir Hirschkilt.

Dia menikmati kesenangan yang melenceng dari mempermalukan Fianna, seorang anggota keluarga kerajaan.

"Meskipun Pangeran Arneus ingin kau tetap hidup untuk sekarang ini—"

Dia menjilat bibirnya.

"Kecelakaan tak selalu bisa dihindari."

Bagian 3[edit]

"—Ohhhhhhhhhhhhh!"

Memegang Demon King's Sword, berkilauan dengan cahaya hitam, Kamito menerjang hujan panah api.

Menepis panah-panah yang berdatangan, dia menyerbu.

"Hentikan dia! Bagaimana bisa dia dibiarkan menyerang istana kerajaan!?"

Kapten dari penjaga kerajaan berteriak tajam.

Panah-panah api terus ditembakkan. Melihat jubahnya tertembak oleh sebuah panah dan teebakar, Kamito melepaskannya dengan satu tangan.

Lalu, para ksatria yang ada dimenara itu semuanya berteriak terkejut.

"Dia adalah....!"

"Tak mungkin, tim pemenang dari Blade Dance—"

"Aku tak bisa percaya itu adalah seorang elementalis laki-laki!?"

Sepak terjang Kamito selama turnamen Blade Dance sudah mencapai semua elementalis di seluruh benua. Termasuk mengalahkan Leonora dari Dracunia selama babak final serta Blade Dancer Terkuat, Ren Ashbell...

"....K-Kepung dia dan serang secara serempak!"

Sang kapten memberi perintah dan para ksatria menyerang secara serempak dengan elemental waffe mereka.

(...Tepat seperti yang aku inginkan!)

Memegang Demon Slayer secara terbalik, Kamito menyerbu.

"Absolute Blade Arts, Third Form—Shadowmoon Waltz!"

Ditengah-tengah debu dan pasir yang beterbangan, ada suatu tarian dengan tebasan yang tak terhitung jumlahnya.

Disesuaikan dengan gaya pedang ortodoks, para ksatria sepenuhnya tak berdaya ketika berhadapan dengan perubahan besar-besaran serta bentuk yang mengalir dari Absolute Blade Arts.

"Mustahil, roh bajaku bahkan tak mampu menerima satu serangan!"

"A-Apa, elemental waffe itu adalah....!"

Para ksatria langsung jatuh kedalam keadaan panik dan area sekeliling jatuh kedalam kekacauan.

Memanfaatkan peluang ini, Kamito menyerbu para ksatria.

—Jeduk. Jeduk. Jeduk.

Dengan masing-masing ayunan pedang, kekuatan akan berdenyut kuat, keluar dari kedalaman tubuhnya. Meskipun menggunakan Demon King's Sword, sisi buruk dari konsumsi yang tinggi, kekuatan sucinya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda berkurang.

(...Gah, sialan—!)

‘—Kamito, hati-hati. Pada tingkat ini, tubuhmu tak akan bisa bertahan.’

Peringatan Est bergema didalam pikirannya, tetapi Kamito—

(—Jangan khawatir. Lanjutkan saja.)

Sembari menjatuhkan para ksatria yang ada didepannya, Kamito menggelengkan kepalanya secara mental.

‘Tidak, Kamito, kau bukan Kamito yang biasanya—’

(....Ya, aku tau... Tapi—)

Kalau dia berhenti disini sekarang, dia tak akan pernah bisa sampai ke sisi Fianna tepat waktu.

"Ohhhhhhhhhhhh!"

‘Kamito—’

Sekali lagi dia memfokuskan seluruh perhatiannya pada pertarungan, bahkan suara Est tak lagi bisa terdengar.

—Jeduk. Jeduk. Jeduk. Jeduk.

(....Apakah ini kekuatan milik Elemental Lord Kegelapan?)

Dihadapkan dengan dorongan kebrutalan, dia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya tengah dilahap—

(...Kalau begitu, aku yang akan menyerapnya!)

Pengepungan para ksatria telah hancur sepenuhnya. Kamito bisa melihat pintu masuk yang mengarah ke koridor utara.

Fianna seharusnya ada diarah itu.

Panah-panah api terus ditembakkan pada Kamito tanpa henti ketika dia melepaskan kekuatan suci untuk berakselerasi.

Namun, panah-panah yang ditembakkan semuanya terpantul dan menghilang sebelum bisa mengenai Kamito.

"Kenapa.... Kenapa, kenapa kita tak bisa menghentikan dia!?"

Sang kapten dari ksatria itu berteriak putus asa.

"Raja Iblis..."

"Itu adalah Raja Iblis....!"

Rasa panik menyebar pada semua ksatria istana.

Jika seseorang dengan bakat yang luar biasa sebagai seorang princess maiden ada disini, mereka mungkin bisa melihatnya.

Mereka akan melihat racun hitam yang menyelimuti seluruh tubuh Kamito seolah-olah menggerogoti dia—

"Semuanya fokuskan tembakan untuk menghentikan dia!"

Menyadari kearah mana Kamito menyerbu, sang kapten berteriak.

Para ksatria berbaris didepan pintu masuk, memasuki formasi defensif.

Ini adalah formasi "dinding besi" yang terkenal milik Imperial Knight.

"Meskipun wanita tua itu memerintahkan aku agar tidak menggunakan formasi ini saat melawan musuh tingkat tiga—"

Kamito menuangkan kekuatan suci pada Demon King's Sword, memaksakan Mode Shift menjadi pedang kembar.

"—Maaf, aku tak akan menahan diri!"

Absolute Blade Arts, Bentuk Penghancur—Bursting Blossom Spiral Blade Dance - Enam Belas Serangan Beruntun・Lightning Flare!

Ketika tebasan berwarna putih-perak mengarah ke segala arah, petir hitam legam meledak disaat yang bersamaan.

Bagian 4[edit]

"Fufu, aku akan menghancurkan wajahmu yang cantik itu, Putri—"

"...Ah... Guh, ooh...!"

Bola gravitasi yang berputar-putar diatas kepala, turun perlahan-lahan. Dengan sentuhan sedikit saja, tubuh Fianna pasti akan hancur dengan mudah.

(...Kamito... -kun...)

Dengan tubuhnya berada dalam penderitaan yang berat, Fianna menggertakkan giginya.

.....Sungguh menyedihkan.

Empat tahun yang lalu, Fianna gagal menghentikan teman dekatnya, Rubia, dan kehilangan kekuatan dari roh terkontrak.

—Hari-hari setelah itu, dia kehilangan semua harapan.

Tetapi pada Blade Dance tiga tahun lalu, dia menemukan cahaya.

Tertarik pada tarian pedang Ren Ashbell, kekaguman tumbuh didalam hatinya.

Oleh karena itu, dia bersumpah untuk menjadi sekuat Ren Ashbell.

Lalu, tiga tahun berlalu. Fianna bertemu dengan "dia" lagi dan memperoleh kemenangan Blade Dance bersama dengan rekan-rekan timnya.

Kejayaan yang tak tergantikan ini diperoleh dengan kekuatannya sendiri.

Namun, jika semuanya berakhir ditempat seperti ini—

—Bahkan ketika dia ingin menyampaikan pada Kamito kata-kata yang ingin dia katakan.

(Kamito-kun... Aku—)

"Selamat tinggal, Yang Mulia—"

Leschkir mengepalkan telapak tangannya seolah menghancurkan buah.

"...Ah, guh... Ahhhhhhhhhh!"

Seketika, tenggorokan Fianna mengeluarkan jeritan kesedihan.

"Ahahaha, ya ya, menjeritlah lebih baik lagi, Lost Queen."

Ketika kesadarannya perlahan-lahan memudar, dia mendengar tawa ejekan Leschkir.

"Kamito... -kun..."

Dalam suara yang nyaris tak tersengar, Fianna menyebut nama itu. Lalu....

Sebuah kilatan cahaya melintas dengan cepat.

(...Huh?)

Bola diatas kepalanya meledak. Penghalang gravitasi tersebut menghilang.

".....! Apa!?"

Leschkir membelakkan matanya karena terkejut. Jangankan Fianna, bahkan dia sendiri yang merupakan anggota Number peringkat ketiga gagal bereaksi.

Serangan tebasan tersebut melintas layaknya petir ungu.

Sebuah belati hitam legam muncul didepan mata Fianna.

Fianna melihat kebelakang dari posturnya yang jatuh ditanah.

—Dan melihat bahwa dia ada disana.

Sembari berjalan kearahnya, dia berbicara pelan.

"—Kamu telah menunggu cukup lama, Fianna."

Bagian 5[edit]

"Kamu telah menunggu cukup lama, Fianna—"

"...Kamito... -kun..."

Fianna memeras suara yang lemah, membisikkan nama itu.

—Namanya yang telah dia tunggu-tunggu sepanjang waktu.

"...Kazehaya Kamito!?"

Leschkir melebarkan matanya dan berseru.

"K-Kenapa kau disini!?"

Namun, Kamito mengabaikan dia dan berlutut disebelah Fianna.

Kamito menyentuh bahu Fianna dengan ringan. kakinya tampaknya terkilir dan dia tak bisa berdiri sendiri.

"Kamu, datang.... Kamito, -kun...."

"Jangan bicara. Kamu telah melakukannya dengan baik, Fianna."

Kamito dengan lembut membelai kepalanya saat dia berbicara terputus-putus.

"...Ah, ooh..."

Gaun putihnya compang-camping, mengungkapkan kulitnya yang lembut.

Kamito melepaskan jaket seragamnya dan menyampirkannya pada punggung Fianna. Dengan mantra penyembuhan disulam pada seragam tersebut, jaket itu akan memberikan penyembuhan sampai tingkat tertentu.

"Aku mendengar suaramu, Fianna. Itu sebabnya aku bergegas kesini—"

".....Aku selalu percaya kamu akan datang."

Masih tersungkur di lantai, dia tersenyum.

"....Dengar, percakapannya sudah selesai, oke?"

Leschkir berbicara dengan dingin.

Mendengar itu, Kamito perlahan-lahan mendongak dan menatap dia.

Seketika, seluruh tubuh Leschkir gemetar.

Aura kemarahan Kamito, bersisikan kekuatan suci yang mengerikan, mengguncang udara.

"....Jadi kau yang membuat Fianna dalam bahaya huh?"

Kamito berbisik, lalu mencabut Vorpal Blade, salah satu dari Belati Kegelapan Kembar, yang tertancap ditanah.

"....tsk, apa yang dilakukan para ksatria?"

Sebagai tanggapan, Leschkir melihat sekelilingnya dalam keadaan gugup.

Namun—

"Aku sudah mengalahkan semua Imperial Knight bawahanmu di istana saat aku berjalan kesini."

"Apa—"

Leschkir tercengang.

"S-Sungguh lelucon yang lucu. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi—"

"Kau pikir itu lucu? Lalu kenapa tak satupun yang datang kesini?"

Kamito menyatukan kedua belati ditangannya dan menuangkan kekuatan suci. Bilah berwarna putih dan hitam langsung bersinar, berubah menjadi Demon King's Sword—Terminus Est Zwei.

Mempertahankan posturnya seolah menghunus sebuah pedang secara alami, Kamito mengambil langkah kearah Leschkir.

"...!"

Dihadapkan dengan pergerakan Kamito, Leschkir melangkah mundur.

Itu adalah tindakan secara spontan yang diakibatkan oleh rasa takut.

Kamito melangkah satu langkah lebih dekat. Dia melangkah mundur.

Langkah maju lagi. Langkah mundur lagi.

"Ada apa? Kau menodai nama Numbers, yang merupakan yang terkuat yang ada di Kekaisaran."

"Gah..."

Langkah maju lagi—Kali ini, Leschkir tidak melangkah mundur. Tetapi bukannya karena harga dirinya sebagai seorang ksatria Numbers, hal itu dikarenakan dia sudah mendapati punggungnya menabrak tumpukan puing-puing.

Langkah maju lagi....

"....T-Terkutuk kau—"

Leschkir mengulurkan satu tangan dan melepaskan sebuah bola gravitasi.

Sihir ofensif ini yang seharusnya mampu mengubah sebuah bangunan batu menjadi gunung puing-puing dalam sekejap.

Namun—

"Sia-sia saja—"

Kamito menepisnya dengan mudah menggunakan satu tangan.

"....Bagaimana bisa... Mustahil!?"

Leschkir mengerang terkejut. Fenomena dari menepis sebuah serangan sihir roh tanpa menggunakan sebuah elemental waffe sepenuhnya melampaui akal sehat.

"....Apa ini!? Sebenarnya kau ini apa!?"

Leschkir terus menembakkan serangan-serangan sihir.

Namun, Kamito menepis semua serangan itu dengan tangan kosong, bahkan tanpa menghindar.

"...Kamito-kun!?"

Fianna melebarkan mata senjanya. Meskipun Leschkir tak bisa melihatnya, Fianna melihatnya dengan jelas. Racun kegelapan menyelimuti seluruh tubuh Kamito sepenuhnya menghapus sihir milik Leschkir.

"...Aku tak akan memaafkanmu karena melukai Fianna seperti itu."

"Kenapa.... Kenapa...!?"

Satu langkah demi satu langkah—Saat Kamito perlahan-lahan mendekat, dia melepaskan bola-bola gravitasi layaknya hujan badai.

"Seperti yang kubilang, itu sia-sia—"

Kamito berbicara dengan kebosanan sambil melangkah diatas puing-puing.

".....Sialan....!"

Kemungkinan karena sikap Kamito yang tenang telah melukai harga dirinya, Leschkir tiba-tiba mengubah ekspresinya.

"B-Baiklah, kalau begitu, aku akan mencabik-cabikmu bersama dengan seluruh tempat ini—!"

Elemental waffe milik Leschkir mulai berputar dengan kecepatan tinggi di udara.

Lalu, suatu medan gravitasi yang kuat dihasilkan, mendistorsi ruang sekitar.

Kaki Kamito tenggelam kedalam tanah, menciptakan lubang dimana dia berpijak.

(....tsk, ini agak menyakitkan.)

Kamito mendecakkan lidahnya.

Meskipun dia memiliki racun kegelapan untuk melindungi tubuhnya, jika hal ini berlanjut, dia tak akan bisa bergerak, dan menerima serangan sepihak.

"F-Fufu.... Sekarang kau bahkan tak bisa melangkah lagi!"

"...Kamito... -kun...!"

Terjebak dalam medan gravitasi, Fianna terengah-engah kesakitan.

"Ahaha, hancurlah bersama dengan sang putri seperti ini!"

Leschkir tertawa.

Kamito mengulurkan tangan pada Fianna dan memeluk dia untuk melindungi.

Racun kegelapan itu segera menyelimuti seluruh tubuh Fianna, melindungi dia dari medan gravitasi.

"Kamito-kun... Aku baik-baik saja sekarang.... Jadi... larilah—"

"—Idiot, aku sudah berjanji. Untuk membawamu kembali."

"Janji?"

BOOM!

Medan gravitasi tersebut menjadi semakin kuat, menekan mereka berdua dengan kuat ke tanah.

"...Gah, ugh, ugh...!"

"....Jadi tidak semudah itu untuk lolos."

Terus memeluk Fianna, Kamito berbisik pada telinganya.

"Fianna, bisakah elemental waffe milikmu menghancurkan medan gravitasi ini?"

"—Huh?"

Setelah merenung sebentar—

"....Ya, kurasa bisa."

Fianna mengangguk.

Save the Queen milik Fianna asalar sebuah elemental waffe yan membentuk sebuah penghalang di area sekitar penggunanya. Seharusnya itu bisa menghapus medan gravitasi ini menggunakan elemental waffe itu.

"Tapi, dalam keadaanku yang sekarang ini, aku..."

Kekuatan suci milik Fianna sudah habis. Jangankan untuk mengeluarkan sebuah elemental waffe, bahkan memanggil roh ksatria akan sulit.

—Namun, Kamito punya ide.

Meskipun itu adalah pertaruhan yang beresiko, keadaan saat ini tak mengijinkan adanya keragu-raguan.

"Fianna, bisakah kamu mempercayai aku?"

"Huh?"

Fianna menunjukkan kebingungan dalam menanggapi pertanyaan Kamito.

"Aku tanya lagi, bisakah kamu percaya padaku?"

Kamito menatap lurus mata Fianna.

"Apa kamu perlu menanyakan hal itu?"

"Kalau begitu, pejamkan matamu—"

"Huh?"

Dikuasai oleh desakan ganas dari kedalam dirinya—

Kamito memeluk Fianna dan mencium bibirnya.

STnBD V14 279.jpg

"...!?"

Fianna melebarkan matanya yang berwarna senja.

Namun, dia segera memejamkan matanya lagi. Merilekskan dirinya, dia bersandar pada Kamito.

"...Mmm, smooch..."

Dengan ini, lidah mereka secara alami saling terjalin seolah saling menjilat.

"...Mmm, huff, mmmm..."

Perasaan dari bibir yang saling bersentuhan. Fianna menginginkan Kamito melakukan hal ini sembari Kamito memeluk pundaknya erat-erat.

"...Mmm... Yah... Mmm..."

Kekuatan suci dalam jumlah yang besar mengalir kedalam tubuh Fianna.

Kekuatan suci yang liar dan ganas tampaknya memasuki seluruh tubuhnya.

Melalui intuisinya sebagai seorang princess maiden, Fianna mengerti. Ini adalah kekuatan tabu.

Suatu kekuatan gelap yang mana para elementalis, yang merupakan para gadis suci, sangat dilarang untuk menyentuhnya.

Namun, dia tidak menolaknya. Seperti suatu badan yang ganas, kekuatan suci tersebut berputar-putar didalam tubuhnya—

"Mmm... Smooch, huff..."

—Akhirnya, bibir mereka berpisah.

Lemas, Fianna menatap Kamito penuh kedamaian.

"Apa kamu baik-baik saja?"

"Y-Ya...."

Fianna mengangguk.

Memegang tangan Kamito, dia mengunakan racun kegelapan untuk menolak penghalang gravitasi dan perlahan-lahan berdiri tegap.

Lalu dia mengangkat tangan kananu secara vertikal dan mulai merapalkan kata-kata pemanggilan.

—Engkau, hamba raja anak manusia, ksatria dan master pedang!

—Dengan kontrak darah lama, jadilah pedang yang melindungi aku, datang dan kerjakan perintahku!

Suaranya yang manis bergema didalam ruang yang terdistorsi.

Kekuatan suci yang bergejolak didalam dirinya segera mengalir keluar dan dilepaskan dalam satu tarikan nafas. Perasaan itu seperti ketika dia memanggil Georgios di kota tambang terabaikan beberapa bulan yang lalu.

—Gelarnya bertuliskan demikian, Save the Queen.

Muncul ditangan Fianna adalah sebuah rapier dengan ukuran yang rumit.

Lalu dia menusukkan ujingnyat pada tanah, menghasilkan suatu pancaran cahaya murni, menetralisir penghalang gravitasi.

"A-Apa!?"

Leschkir berteriak terkejut.

"Aku tak bisa percaya kau membalikkan sangkar gravitasiku—?"

Fianna mengarahkan rapier tersebut kearahnya dan menyatakan:

"Dame Leschkir Hirschkilt, dalam cahaya dari dugaan penghianatanmu dalam berkonspirasi dengan Kerajaan Suci, aku, Fianna Ray Ordesia, Putri Kedua dari Kekaisaran, dengan ini menghukummu!"

"...Sialan kau, Lost Queeeeeeeen!"

Dalam keadaan panik, Leschkir menembakkan bola gravitasi elemental waffe miliknya.

Tapi itu sudah terlambat. Kamito sudah bertindak.

"Terima hukumanmu, Leschkir Hirschkilt—"

Dia menuangkan kekuatan elemental waffe yang diperkuat kedalam Demon King's Sword.

"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning!"

Tebasan berwarna hitam legam menembus tubuh Leschkir dan bola gravitasi secara bersamaan.


Sebelumnya Bab 9 Kembali Ke Halaman Utama Selanjutnya Epilog