Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid16 Bab 10

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 10 – Benteng Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

Angin kencang yang menderu. Naga terbang membawa Kamito dan yang lainnya terbang melintasi padang pasir. Yang memimpin didepan adalah Simorgh milik Ellis, dia menciptakan arus udara untuk mengarahkan rekan-rekannya.


"–Berpeganganlah yang erat pada kendalimu, kita akan segera mendekatinya!"


Ellis berteriak dengan keras.


Sebuah bayangan raksasa muncul di ujung cakrawala yang terhalang badai pasir.


Itu adalah tembok kota ibukota Theocracy, Zohar, benda itu mendekat sedikit demi sedikit dengan gemuruh yang bising.


"...! Apa sih, itu–"


Fenomena aneh dan sangat khayal itu membuat Kamito dan yang lainnya terkejut sampai-sampai kehabisan kata-kata.


Yang menjulur dari celah tembok kota batu itu adalah tentakel menyerupai ular yang tak terhitung jumlahnya, mereka menggeliat dan meronta-ronta seakan-akan menderita rasa sakit yang luar biasa, perlahan-lahan melaju di atas padang pasir. Ah, rasanya tidak tepat jika kita menyebutnya ‘perlahan-lahan’, dengan massa sebesar itu, kecepatannya sudah terbilang cukup tinggi.


"...Sungguh menakutkan... Apakah itu benar-benar roh...?"


Sembari terbang di barisan terdepan, Ellis gemetaran.


"S-Sungguh menjijikkan!"


"Aku benar-benar ingin membakarnya sampai jadi arang..."


Sambil menaiki naga yang sama, Rinslet dan Claire mengungkapkan kejijikkan mereka.


...Tak seorang pun bisa menyalahkan mereka. Bagaimanapun juga, tampilan "roh" ini begitu mengerikan.


Sementara perlahan-lahan merayap melintasi padang gurun, dan mencemarinya, kota itu tampak seperti cetakan lendir besar.


Pemandangan ini benar-benar menodai makna ‘roh’ yang seharusnya suci. Di mata seorang elementalist, ini sungguh pemandangan yang menjijikkan.


'Kamito, itu bukan lagi Roh'


Suara Est terdengar dalam pikiran Kamito.


Suaranya tenang tanpa sedikitpun emosi yang tak menentu. Namun, setelah menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya, Kamito bisa mendengar perasaan dalam suaranya.


–Est sedang marah. Kemarahannya ditujukan pada semua manusia yang tak bertanggung jawab yang telah mengubah Leviathan, yaitu roh kelas tinggi, menjadi makhluk seburuk ini…


'Aku setuju. Raja Laut Agung Leviathan sudah tiada. Meskipun kita pernah melawannya ketika Perang Roh berlangsung, aku tidak bisa mentolerir penistaan seperti ini.'


Raja Laut Agung Leviathan adalah komandan terbesar yang melayani Elemental Lord Air. Selama perang roh berlangsung, Leviathan telah terlibat dalam banyak pertempuran sengit melawan Restia dan Raja Naga Bahamut.


Melihat saingan abadi berubah menjadi roh militer, dan kehilangan semua martabatnya, seperti apakah perasaan Est saat ini?


'Setidaknya, ayo kita akhiri kegilaan ini. Demi saingan masa lalu dalam peperangan'


"Ya, aku mengerti–"


Untuk menenangkan kemarahan Est dan juga menjaga perasaan Restia–


Kamito mencengkeram gagang kedua pedangnya erat-erat.


"Jarak menuju target: 60, 50, 40, 30, 20–"


Sebagai barisan terdepan, Ellis memperkeras suaranya.


Untuk menembus pertahanan anti-udara Theocracy, mereka harus menyerangnya secara langung–


(...!?)


–Kemudian, setelah selamat dari ribuan situasi berbahaya sejak kecil, Kamito secara naluriah merasakan eksistensi yang mengerikan.


"Ini buruk! Ellis, menjauhlah!"


"Apa?"


ROOOOOOOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAAAAR!


Leviathan meraung .


"Kyah!" "Apa-apa’an ini!?"


Raungan gelombang suara menghantam Kamito dan yang lainnya di langit, di atas Zohar.


Saling menjerit dengan nada tinggi, roh-roh naga terbang mulai lepas kendali.


(...! Kita akan berbenturan!?)


Bagian 2[edit]

Sementara itu, di dalam Demon Fist dikota benteng Mordis, persiapan untuk menahan laju Leviathan sedang dikerjakan secepat mungkin.


"Oh cahaya suci yang menerangi dunia, bentuklah perisai kokoh untuk melindungi kami–"


Di atas tembok pertahanan kota, sekte Princess Maiden sedang membangun penghalang di bawah arahan Fianna.


Itu adalah penghalang berskala besar yang melindungi Mordis dan sekitarnya. Penyambungan Leyline menghasilkan resonansi antara beberapa penghalang, sehingga menghasilkan kekuatan pertahanan hingga puluhan kali lebih besar dari biasanya. Dengan adanya Leyline utama yang menjalar melalui tambang, ini merupakan keuntungan geografis sekaligus alasan mengapa Mordis bisa menjadi benteng yang tak tertembus.


Perisai Alexandros adalah penghalang strategis yang digunakan oleh pasukan militer selama Perang Ranbal terakhir.


"Fiuh, untuk saat ini, semuanya selesai."


Setelah selesai membuat penghalang akhir, Fianna menyeka keringat di dahinya.


Dia dengan cepat kelelahan karena mendirikan beberapa penghalang dalam waktu singkat.


Karena Theocracy tidak memiliki lembaga pendidikan nasional seperti Akademi Roh Areishia, hanya terdapat sedikit Princess Maiden yang terlatih, sehingga ini membuat beban Fianna semakin berat.


Meskipun Rubia, sang mantan Ratu, telah menangani lingkaran sihir dan persiapan lainnya, setelah dia ditanamkan segel persenjataan terkutuk dan kehilangan roh kontraknya, dia tidak bisa lagi menggunakan kekuatan Princess Maiden-nya dengan bebas.


"Kau semakin hebat. Tempo hari, membangun penghalang bukanlah pekerjaanmu."


Sambil mengenakan topeng merah, Rubia berdiri di atas tembok kota, dan berbicara dengan pelan.


"Aku masih jauh darimu, Rubia-sama, bahkan dirimu 4 tahun yang lalu tidak akan bisa kusamai, begitupun dengan Reicha."


Fianna perlahan-lahan menggeleng.


"Namun, aku memang merasa sudah berkembang. Setelah bertemu Kamito-kun serta adikmu–"


"Aku paham."


Rubia berhenti berbicara dan terdiam.


Tatapannya terfokuskan pada Leviathan, yang terus mendekat disertai badai gurun.


Saat ini, mereka cukup dekat sehingga orang-orang bisa melihat bentuk menakutkan Leviathan dengan mata telanjang, tanpa bergantung sihir Far Vision.


(Aku mendengar jeritan roh...)


Fianna menutup matanya sambil menampakkan ekspresi sedih, dan menggenggam tangannya dengan erat.


Banyak roh di Zohar telah dimakan oleh Leviathan untuk mencuri semua kekuatan suci mereka.


Roh yang kehilangan kekuatan sucinya bahkan tidak bisa kembali ke Astral Zero, sehingga terhapus dari dunia ini.


Sembari membaca doa, Fianna berdiri pada dinding pertahanan, dan memberi perintah kepada para Princess Maiden Theocracy yang telah dikumpulkan.


"Selanjutnya, kita akan mengaktifkan penghalang strategis. Bersiaplah, kalian semua–"


Seakan menanggapi suara khidmat Fianna–


Dengan berbaris rapi pada dinding pertahanan, para Princess Maiden membuat tanda dengan tangannya secara serempak–


Saat itu juga, banyak lingkaran sihir terbentuk di sekitar benteng kota, dan mulai bersinar dengan reaksi berantai.


Titik-titik cahaya langsung saling hubung, sehingga penghalang raksasa yang mencakup seluruh Mordis sudah selesai dibuat.


Gempa yang disebabkan oleh Leviathan sudah terasa sampai disini.


Para Princess Maiden dari berbagai sekte saling memandang sahabat mereka di dekatnya dengan khawatir.


Untuk memberikan keberanian pada mereka, Fianna berdiri pada dinding pertahanan dan melotot tepat ke arah Leviathan yang mendekat.


Meskipun tidak ada yang tau berapa lama penghalang strategis ini bisa bertahan–


(...Kamito-kun, kami percaya bahwa kau pasti akan melindungi tempat ini.)


Didorong oleh teladannya, para Princess Maiden berhenti menunjukkan rasa ketakutan dan saling mengangguk dengan penuh ketabahan.


"–Mirip sekali dengan gadis suci."


"Tidak, aku hanyalah selir Raja Iblis, Rubia-sama–"


Fianna tersenyum tanpa rasa takut.


Bagian 3[edit]

Sambil melahap gurun, Leviathan meraung, dan menggetarkan udara di sekelilingnya.


Terhantam langsung oleh gelombang kejut, roh naga terbang yang ditunggangi Kamito berputar tak terkendali, kemudian jatuh.


"T-Tunggu, jangan jatuh, Rinslet!"


"Aku tahu! Tapi naga terbang ini tidak mau mendengarkan perintahku!"


Naga terbang yang membawa Claire dan Rinslet juga meraung, dan berputar-putar pada lintasan yang tak terkendali. Rinslet berupaya keras untuk mendapatkan kembali kendalinya, dia pun mengalirkan kekuatan suci pada naga terbang itu, namun dia masih tidak sanggup menghentikan naga yang mengamuk itu.


'Kamito, naga terbang ini sudah tidak berguna. Fungsinya sebagai roh militer sudah benar-benar rusak–'


Dia mendengar suara Restia dalam pikirannya.


(Raungan itu dapat menghancurkan kewarasan roh militer, huh?)


Itu adalah sistem pertahanan anti-udara Leviathan. Jika mereka bergegas kesini menggunakan Revenant, kemungkinan besar mekanisme roh sebagai sumber daya akan lepas kendali, dan itu akan mengakibatkan tragedi.


'–Aku pusing.'


"Ya aku juga–"


Bisakah roh pedang menderita pusing? Sementara pertanyaan itu terlintas dalam pikirannya, Kamito memutar otak.


Kalau begini terus, mereka akan jatuh dengan cepat ke tanah.


"–Kamito!"


Saat itu, dia mendengar sebuah suara dari atas.


Dia mendongak ke atas, di sana terlihat Ellis yang mati-matian mengulurkan tangan padanya sembari berpegang pada leher roh angin miliknya. Rupanya, sebagai roh tingkat tinggi, Simorgh tidak terpengaruh oleh raungan itu.


Kesempatan hanya ada sesaat. Kamito mengulurkan tangan, menangkap tangannya dan melompat.


Ketika seluruh tubuhnya melayang di udara, tiba-tiba dia merasa lebih ringan. Angin dari roh sihir yang Ellis rapalkan telah menyelimutinya.


Saat berikutnya, Ellis menarik tubuh Kamito padanya dengan sekuat tenaga.


"Kau menyelamatkan aku, Ellis–"


"Y-Ya..."


Ellis melepaskan tangannya dengan muka memerah, sangat merah.


"Huaah, tenang, tenang!"


"Claire, aku tidak bisa berbuat apa-apa jika kau menempel begitu erat padaku!"


Naga terbang Rinslet dan Claire terlihat bisa jatuh setiap saat.


Ellis membungkuk ke depan dan berteriak pada dua cewek itu.


"Kalian berdua, carilah saat yang tepat untuk melompat! Kamito dan aku akan menangkap kalian dari bawah!"


"Ehhh!?" "Tidak, itu gila!"


"Percayalah pada kami–"


Ellis mengarahkan Simorgh untuk menikung tajam.


"B-Baik..."


"Satu-satunya pilihan adalah bertaruh..."


Seperti yang sudah diduga sebelumnya, mereka berani mengambil resiko ini karena mereka pernah terlibat berkali-kali dalam pertempuran sengit.


Sambil mempersiapkan diri, mereka mengangguk dan menunduk dengan tenang.


"Lompat-Sekarang!"


Ellis berteriak.


Kemudian, Claire dan Rinslet melompat dari punggung naga terbang yang mengamuk.


Boom–Dengan gemuruh, angin yang dihasilkan dari sihir roh menyebabkan dua cewek itu mengapung dengan enteng di udara. Dengan momen yang sempurna, Simorgh memposisikan dirinya di bawah mereka, sehingga memungkinkan Ellis untuk menangkap Claire, sementara Kamito menangkap Rinslet, kemudian menarik mereka dengan aman ke atas.


"... Ah, K-Kamito-san!?"


Rinslet langsung tersipu malu ketika wajahnya bertabrakan dengan dada Kamito. Ketika mengendus wangi cewek yang khas, jantung Kamito pun berpacu.


–Lalu, Simorgh kehilangan keseimbangan saat terbang.


"Membawa empat orang tampaknya terlalu membebaninya. Kita akan mendarat di alun-alun itu."


"Ya, aku mengerti–"


Menanggapi perintah Ellis, Simorgh mengepakkan sayap raksasanya dan mendarat di sebuah alun-alun terbuka yang lebar.


"–Kau sudah bekerja sangat keras, Simorgh."


Ellis membelai punggung Simorgh untuk menghiburnya.


Roh angin mengaok beberapa kali, kemudian lenyap menjadi partikel cahaya di udara. Di saat yang sama, elemental waffe Ray Hawk muncul di tangan Ellis.


"...Kita masih jauh dari Scorpia."


Claire membalikkan tatapannya ke istana yang menjulang tinggi, disana tampak beberapa bangunan yang jauh.


"Ya, tapi tidak terlalu jauh. Kita bisa menuju ke arah sana secara langsung–"


"–Tapi, kelihatannya tidak mudah!"


Kamito berteriak sambil menebas tentakel yang menyerang.


Ditutupi oleh tentakel yang tak terhitung jumlahnya, Zohar telah berubah bentuk menjadi sebuah kota iblis.


"...Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia sama sekali. Apa yang terjadi dengan semua penduduk kota?"


Ellis berbicara dengan ekspresi serius.


"Lihat itu–"


Claire menunjuk ke atas sebuah bangunan yang menyerupai tempat suci.


Banyak benda menyerupai kepompong berbagai ukuran yang menggantung dari atap, dan berdenyut secara menyeramkan.


"Jangan bilang–"


"Ya, kemungkinan besar Leviathan menggunakan kepompong-kepompong itu untuk mengisi kekuatan sucinya dari warga...."


"Semua kepompong itu adalah–"


"Sungguh kejam sekali–"


Ellis berseru dengan marah.


"Bisakah kita menyelamatkan mereka?"


"Sayangnya, menyelamatkan mereka satu per satu akan menghabiskan banyak waktu..."


Terlihat pancaran emosi di mata Claire. Dia mempersiapkan cambuknya yang menyala.


"Jadi, menghancurkan inti Leviathan adalah satu-satunya pilihan huh..."


Karena bereaksi terhadap kekuatan suci tim Kamito, tentakel mulai menggeliat dan bergerak secara aktif.


"Saatnya untuk menyerang–"


"Ya!"


Bagian 4[edit]

Ketika tim Kamito telah berhasil menyerang Zohar...


Di dalam Demon Sirkuit yang berperan untuk mengendalikan Leviathan, jauh di bawah tanah Scorpia, sedang terjadi sesuatu yang mengerikan.


"...Ah, gagagaga ... Sjora ... -sa, ma ... Ahhhhhh!"


Seorang Princess Maiden muda sedang melantunkan doa sembari muntah darah, kemudian dia roboh pada lingkaran sihir di lantai. Ketika kekuatan sucinya terperas habis, si gadis itu muda mati dengan cara seperti itu.


...Sudah yang keenam. Jika dihitung mulai korban pertama, Valmira, maka dia adalah yang ketujuh.


"Fufu, sudah habis ya? Aku harus cepat-cepat mempersiapkan pengorbanan berikutnya..."


Hierarch Sjora Kahn–bukan, lebih tepatnya monster yang dahulu bernama Sjora Kahn– dia sedang menatap mayat para Princess Maiden yang berbaring di kuil, dan dia pun tersenyum dengan gembira.


Jantung raksasa yang melayang di udara berdetak dengan keras.


Jantung ini adalah inti roh militer kelas strategis, Leviathan.


Sjora Kahn sekarang bergabung dengan inti itu.


Setengah dari tubuh cantiknya yang berupa daging terkubur di dalam jantung itu.


Untuk mengendalikan senjata yang seharusnya dioperasikan oleh puluhan Elementalist, bahkan Sjora Kahn tidak punya pilihan selain melakukan metode seperti ini.


Namun, ada efek samping ketika dia bergabung dengan inti Leviathan.


Karena indera mereka bekerja bersamaan, maka dia sekarang menyadari segala sesuatu yang terjadi pada Zohar, seolah-olah dia merasakan sesuatu yang merambat di permukaan kulitnya.


Memang, misalnya, ada gangguan dari Ren Ashbell, sang penerus Raja Iblis.


"K-Kuku, sungguh konyol... skor kita dari Ragna Ys dapat diselesaikan sini–"


Bibir Sjora Kahn melengkung, sementara dia mulai merapalkan mantra.


Itu adalah mantra terlarang High Ancient yang diturunkan oleh sekte Raja Iblis, sangat mirip dengan pelantunan Soul Recall yang Rubia telah bacakan di bawah tanah Ragna Ys, ketika Blade Dance berlangsung.


"Bangunlah di sini dan sekarang. Yang tergelap dan tidur di Zohar–"


Bagian 5[edit]

"–Kalian semua, berubahlah menjadi arang!"


Claire mengayunkan cambuk menyala, dan menyapu tentakel berdaging yang menggeliat. Namun tidak seperti yang dia katakan, apinya begitu kuat sampai-sampai tentakel-tentakel itu terbakar habis tanpa menyisakan sekeping arang pun, kekuatannya sudah jauh bertambah kuat.


"A-Apa sih yang kau lakukan selama latihan!?"


"Ini belum apa-apa. Aku masih bisa melakukan lebih baik dari ini!"


Sambil menjawab Kamito yang berjalan di sampingnya, Claire mengayunkan cambuknya lagi dengan keras. Sabetan api ke segala penjuru menghancurkan tentakel yang tak terhitung jumlahnya dalam sekejap mata.


"Kami juga–" "Kami tidak akan ketinggalan!"


Ellis dan Rinslet juga menyiapkan Elemental Waffe milik mereka masing-masing


"Turunlah, proyektil pembeku iblis es– Freezing Meteor!"


Proyektil es yang tak terhitung jumlahnya meluncur secara otomatis dan menghujani tentakel-tentakel itu–sesaat setelahnya, semua proyektil meledak, dan menghasilkan bunga es yang mekar dengan indah.


"Menakjubkan–"


Kamito hanya bisa berteriak kagum.


"Fufu, ini adalah hasil latihanku di Dracunia!"


Rinslet mengibaskan rambutnya dengan bangga.


"Aku juga tidak boleh ketinggalan–"


Sambil mengatakan itu, Kamito baru saja menuangkan kekuatan suci pada dua pedangnya.


"Kamito, kau adalah kartu asnya. Jadi, hematlah kekuatan sucimu sebanyak mungkin."


Namun, Claire mengingatkannya.


"Y-Ya, aku mengerti–"


Bahkan, pada saat ini, Kamito mungkin bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengayunkan pedangnya.


Scorpia terlihat di ujung jalan utama, dan tertutupi oleh kepompong yang tak terhitung jumlahnya.


Itu adalah sebuah bangunan dengan gaya arsitektur aneh, dilengkapi kubah besar di bagian atas.


"Di sana huh!?"


Kamito memusatkan kekuatan suci di kakinya, menendang tanah, dan melesat. Claire, Ellis dan Rinslet juga mengikutinya dari dekat.


"Tidak ada tentara yang menjaga istana…."


"Mungkin seperti orang-orang kota, mereka ditelan oleh Leviathan."


Ketika Kamito menjawabnya–


CRAAAAASH!


"...!?"


Tiba-tiba, sebuah bangunan di dekat jalan runtuh, sehingga menghasilkan hujan puing-puing material di atas kepala mereka–


"Oh angin pelindung dunia, lindungi kami – Wind Shield!"


Ketika mereka hampir terkubur di dalam reruntuhan, sihir roh diaktifkan oleh Ellis. Berpusat di sekitar tombak yang Ellis angkat, auman badai menyapu puing-puing bangunan itu, dan menjauhkannya.


"A-Apa !?" "Apa yang sedang terjadi!?"


Berikutnya, dari balik gedung runtuh, lengan raksasa perlahan-lahan muncul.


"Itu...!"


ROOOOOAAAAR!


Gemuruh mengguncang atmosfir di sekitarnya.


Boom – Tanah berguncang ketika roh humanoid raksasa berjalan mendekat.


Itu adalah Glasya Labolas, roh militer kelas taktis yang pernah Kamito lawan ketika pertama kali tiba di Academy. Dibandingkan dengan roh militer lainnya, roh ini relatif mudah untuk dikontrol, dan memiliki kekuatan yang mencengangkan, itulah mengapa Glasya Labolas banyak digunakan oleh beberapa negara selain Ordesia.


"...Cih, ini merepotkan."


Sambil menatap raksasa yang menjulang di atas awan debu, Kamito menggerutu.


Sesosok roh militer kelas taktis tidak akan memberikan banyak ancaman. Meskipun roh seperti ini merupakan lawan yang sulit bagi pelajar Academy yang belum pernah mengalami pertarungan sesungguhnya, setidaknya dia bukanlah lawan Kamito, atau para cewek yang kemampuannya telah banyak meningkat setelah banyak berlatih. Namun–


"...K-Kelompok lainnya mendekat!"


Claire berteriak.


Suatu pasukan yang kurang-lebih terdiri dari sepuluh roh aneh, sekarang sedang mendekat sembari menghentak tanah.


Kamito menuangkan kekuatan suci pada kedua pedang di tangannya. Dengan begitu banyaknya roh militer, bahkan Claire atau yang lain pasti akan mengalami kesulitan–


(...CIh, tidak ada waktu untuk meladeni mereka semua–)


Namun, tangan Kamito yang mencengkram pedang dengan keras, dihentikan oleh sentuhan lembut Ellis.


"Ellis?"


"Serahkan padaku. Kalian berdua pergilan."


"Tapi..."


"Jangan khawatir. Tak peduli apakah diriku ataukah Simorgh, kemampuan kami telah meningkat pesat setelah menjalani latihan."


Ellis tersenyum, kemudian menghentakkan tombak elemental waffe di tanah.


"Meskipun menghabiskan banyak kekuatan suci, selama pertempuran bisa diselesaikan dengan cepat, maka tidaklah masalah bagiku."


Ellis menutup matanya. Tak lama berselang, seluruh tubuhnya bersinar dengan kekuatan suci.


"...I-Ini adalah!?"


"Oh roh iblis angin, tunjukkan kekuatan sejatimu! Elemental Waffe, bentuk kedua – Ray Hawk Ragna!"


Ellis meneriakkan mantra pelepasan.


Pada saat itu, tombak elemental waffe melepaskan cahaya menyilaukan, dan langsung berubah bentuk–


Tombak itu terukir dengan pola spiral yang menyerupai angin puyuh. Hiasan menyerupai kepala burung suci muncul pada ujung mata pisaunya. Ujung tajam tombak terpecah menjadi tiga mata pisau yang melebar bagaikan sayap, dan memancarkan cahaya suci.


"Bentuk kedua elemental waffe!?"


"Ya, ini adalah kekuatan baru yang Simorgh dan aku telah kuasai setelah berlatih!"


Ellis mengeluarkan tombak dan memutarnya sekali di atas kepalanya. Gerakan sederhana ini mampu memanggil pusaran angin puyuh yang menyapu semua puing-puing di sekitarnya.


"... S-Sungguh menakjubkan"


"Dibandingkan dengan elemental waffe sebelumnya, levelnya sekarang benar-benar berbeda..."


Rinslet dan Claire terkagum-kagum, sedangkan Kamito juga terkesan di dalam batinnya.


Memang, Ellis telah membuat kemajuan signifikan dalam kualitas dan kuantitas kekuatan suci dibandingkan dengan sebelumnya.


Dia akhirnya cukup kuat untuk mengeluarkan kekuatan sejati iblis angin.


Dengan rambut ekor kudanya yang melambai-lambai ketika ditiup angin, Ellis berdiri di depan roh militer kelas taktis itu.


Mungkin makhluk-makhluk itu bereaksi terhadap kekuatan suci intens yang dilepaskan oleh Ellis–


ROOOOOOOAAAAAAR!


Mata raksasa itu bersinar merah sembari mereka menghujamkan lengan besarnya pada Ellis.


"Ellis!"


Kamito bergegas berlari menuju Ellis, dan berniat untuk melindunginya. Namun–


Ellis melompat tinggi dan mengayunkan tombak elemental waffe.


Sesaat berikutnya–


"Tembus musuh-musuhku, tombak suci penghukum – Ray Hawk Ragna!"


Tombak yang dilemparnya melesat lurus di udara, lantas menusuk dada roh raksasa!


Dada roh raksasa robek terbuka, meninggalkan lubang besar. Namun, seperti yang telah diduga sebelumnya, daya tahan roh militer kelas taktis jauh melampaui roh biasa. Oleh karena itu, mereka belum hancur.


Namun–


"-Oh iblis angin, mengamuklah!"


Ellis berteriak.


Tombak yang tertanam di dada roh raksasa menghasilkan badai angin pada ujungnya, dan mulai berputar dengan kecepatan super tinggi.


Angin yang meraung-raung langsung membabat habis armor roh raksasa, lantas menusuk perut dengan momentum yang keras.


Tumbang!


Roh raksasa roboh ke tanah, dan menghasilkan kepulan awan debu.


"Tidak mungkin, dia menembus armor roh militer hanya dengan sekali serang!?"


Kamito terkejut dan kehabisan kata-kata.


Kekuatan serangan yang barusan itu cukup untuk menyaingi skill pedang naga milik Leonora.


Setelah menghancurkan roh raksasa, Ray Hawk Ragna berputar-putar di udara sebelum akhirnya kembali ke tangan Ellis.


"Sudah lihat jurus baruku? Rinslet dan aku akan menangani musuh-musuh di sini."


Ellis mengatakan itu sembari memutar-mutar tombaknya di tangan dengan cekatan.


"Kami akan menangani ini."


Sambil mengatakan itu, Rinslet menyiapkan busur sihir es miliknya, dan mengibaskan rambutnya.


Memang, meskipun masih berstatus pelajar Academy, kekuatan Ellis telah jauh melampaui ksatria roh.


Dengan bekerja sama dengan Rinslet, yang kemampuannya juga telah berkembang, mereka harusnya mampu menangani situasi di sini.


Bruk, bruk – Raksasa lainnya mendekat.


"...Baiklah. Kami serahkan urusan disini pada kalian berdua."


"Ya, tenang saja." "Aku akan mengalahkan mereka semua."


Kedua cewek mengangguk dengan ekspresi penuh percaya diri.


"Ayo kita pergi, Kamito–"


"Ya!"


Di bawah hujan panah es, Kamito dan Claire mulai berlari.


STnBD V16 228.jpg


Sebelumnya Bab 9 Kembali Ke Halaman Utama Selanjutnya Bab 11