Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid19 Bab 7

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 7 - Api Bersaudara[edit]

Bagian 1[edit]

Menurut Fianna, pergi ke Astral Zero membutuhkan waktu untuk persiapan. Sebelum berangkat, situs bersejerah di kuil harus diaktifkan dengan koordinat yang tepat di aula penyembahan utama Divine Ritual Institute.


Selama masa persiapan, Claire kembali ke kamarnya untuk memeriksa barang bawaan yang akan dia bawa.


"...Aku gak pernah menyangka aku akan kembali ke Astral Zero lagi."


Dia memasukkan perlengkapan ritual dan kristal-kristal roh dengan segala macam efek kedalam ranselnya.


Sebagai ketua Tim Scarlet, itu adalah tugasnya untuk bersiap atas berbagai kemungkinan.


Terakhir, dia memasukkan sebuah buku catatan yang compang-camping ke saku dada seragamnya.


Buku itu berisikan catatan tentang taktik formasi yang disusun untuk Blade Dance.


(....Kami terus menang lagi dan lagi disepanjang turnamen Blade Dance itu.)


Bertarung melawan banyak tim kuat dan lawan yang tangguh, kenangan itu masih tersimpan dalam ingatannya.


Jika Holy Lord mendapatkan kekuatan dari para malaikat, maka kemenangan yang dimenangkan oleh Kamito dan Tim Scarlet tak akan ada lagi.


(...Itu merupakan sesuatu yang sudah pasti gak akan aku terima!)


Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan berdiri.


Lalu, Scarlet, yang berbaring di kasur, menatap pintu dan mengeong.


"Ada apa, Scarlet?"


Apa Rinslet kesini?


Saat Claire bertanya-tanya.....


"–Claire, ini aku."


"N-N-Nee-sama!?"


Claire bergegas berdiri dan membuka pintu.


Rubia berdiri didepan pintu.


Ini adalah pertama kalinya kakaknya Claire datang sendiri untuk menemui dia.


"N-Nee-sama, uh?"


"Aku perlu bicara denganmu."


"U-Uh, tunggu sebentar, a-aku akan menyiapkan teh...."


Sambil tergagap, Claire mengambil teh.


"Biar aku duduk dulu."


Berkata begitu, Rubia duduk di sisi tempat tidur.


"O-Oke, silahkan...."


Claire mengangguk kaku.


Dia menempatkan teko tanah diatas Scarlet yang meringkuk.


Whooosh–Uap langsung menyembur. Air panasnya menguap dalam sekejap mata.


"Apa kau masih nggak terbiasa mengendalikan api?"


"....! T-Tidak, itu karena kamu datang secara tiba-tiba, jadi aku gugup....."


Claire tampak salah tingkah.


"..."


Rubia tiba-tiba menatap buku-buku yang menumpuk di kasur.


"Kau selalu suka membaca sejak kecil."


"Kamu lah yang mengajariku membaca, Nee-sama."


".....Begitu kah?"


"Ya, kamu selalu membacakan buku untukku sebelum tidur."


Claire menjaga sedikit jarak dan duduk di tempat tidur.


"U-Uh, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


"–Soal Kazehaya Kamito."


"...Kamito?"


Rubia mengangguk tenang.


"Elemental Lord Kegelapan perlahan-lahan mengambil alih jiwanya. Pada tingkat ini, pada akhirnya–"


"....Aku tau itu."


Claire menggigit kuku ibu jarinya.


Tentu saja dia telah menyadari sesuatu yang aneh tentang Kamito.


Selama menaiki kapal ke ibukota kekaisaran, Kamito tampak sangat kuatir.


"Dengan kebangkitan Sacred Maiden Areishia, aku kuatir bahwa kekuatan Raja Iblis telah mulai bangkit lagi. Meskipun roh kegelapan menekannya untuk saat ini, tak lama lagi dia akan mencapai batasnya."


"Apa yang akan terjadi pada Kamito saat kekuatan Elemental Lord Kegelapan melahap dia?"


"Kemunculan Raja Iblis Solomon. Tidak, mempertimbangkan kekuatan Kazehaya Kamito belakangan ini, mungkin akan terjadi bencana yang lebih besar dari itu."


Claire mengepalkan tangannya yang ada di roknya erat-erat.


(Kalau Kamito berubah menjadi seperti itu....)


Dia mungkin akan lupa kenangan bersama Claire dan yang lainnya–


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Meski gak sempurna, ada metode untuk menekan kebangkitan Elemental Lord Kegelapan."


Rubia mengulurkan tangannya dan memanggil sebuah gulungan kuno.


"....Apa ini?"


"Sebuah gulungan yang berasal dari seribu tahun yang lalu yang kutemukan di perpustakaan rahasia milik Sjora Kahn."


"Apa yang tertulis didalamnya?"


"Tulisan tentang sihir ritual yang digunakan oleh Raja Iblis Solomon untuk mengendalikan kekuatan kegelapan–"


"...!?"


Dengan jentikan jari Rubia, gulungan tersebut terbuka.


"Aku nggak bisa membaca High Ancient."


"Aku tau. Sekarang aku akan meyampaikan gambarannya secara langsung kedalam pikiranmu."


"Huh?"


Menatap mata Claire, Rubia menempatkan tangannya di kening Claire.


STnBD V19 BW06.jpg


Jari jemari rampingnya bersinar dengan cahaya divine power.


Seketika, informasi masuk kedalam pikiran Claire secara bersamaan.


"N-Nee-sama, apa... ini... Hwah!"


"Pejamkan matamu dan konsentrasilah."


"T-Tapi ini.... hampir seperti tarian pedang malam hari..."


Mengetahui seperti apa ritual sihir tersebut, wajah Claire menjadi merah cerah.


"Jangan sampai kehilangan ketenanganmu pada sesuatu setingkat ini. Apa kau nggak mau menyelamatkan Kazehaya Kamito?"


"B-Baik, Nee-sama.... Ehhhh, nggak mungkin, a-aku harus melakukan itu!?"


"Jangan berlebihan. Ini, a-akupun juga...."


Dihadapkan dengan gambaran dari sihir ritual kuno yang muncul dalam kepala mereka–


kakak beradik yang polos dan lugu yang ada ditempat tidur itu mulai memanas suhu tubuh mereka.

Bagian 2[edit]

"Makan siang kemasan bisa dimakan setiap saat. Ide bagus."


"Ya. Gimanapun juga, roti lapis saja akan membosankan."


Sementara itu, Ellis dan Rinslet sedang meminjam dapur istana untuk membuat bekal makanan.


Meskipun mereka gak tau apa yang terjadi di Astral Zero, pada akhirnya rasa lapar tetap harus ditangani.


"....Hmm, ternyata ini bagus juga."


Ellis mengemas omelet gulung kedalam kotak makan siang satu persatu setelah dia selesai menggorengnya.


Makan siang Sylphid Knight awalnya utamanya terdiri dari roti lapis, tapi sejak Kamito bergabung, para cewek mulai membuat bekal makan siang sendiri yang menarik.


Melihat itu, Ellis mengubah pandangannya yang menganggap makan siang hanyalah makanan untuk mengisi perut, dan mulai membuat bekal makan siang untuk Kamito dengan dalih bahwa membuat porsi tambahan sama sekali gak merepotkan.


Sambil membuat bekal makan siangnya sesuai standar, Ellis juga sangat memperhatikan keseimbangan nutrisinya.


Menunya termasuk mini salad dengan daging panggang, omelet gulung, pasta, keju parut, ketela rebus, dsb, serta banyak sayuran.


"Aku juga sudah selesai membuat bekal makan siang buatanku!"


"Oh, aku gak sabar mencicipinya.... Tunggu, apa-apaan bekal makan siang itu!?"


Memperhatikan lebih cermat bekal makanan buatan Rinslet, ekspresi Ellis membeku.


Ada sebuah pola yang aneh dan gak bisa dipahami tergambar di dalam bekal makanan Rinslet.


....Itu hampir seperti seni abstrak oleh seorang seniman inovatif.


"Ini adalah bekal makan elemental untuk semua orang, diciptakan dengan motif berdasarkan pada roh terkontraknya masing-masing orang."


Rinslet membusungkan dadanya penuh kebanggaan dan menjelaskan.


"Apa kau bilang.... roh? Jadi yang merah ini adalah Scarlet, sungguh?"


Ellis bertanya penuh keraguan.


"Tentu."


Dia mengangguk bangga.


"J-Jadi begitu...."


Ellis menghindari kontak mata, berpura-pura gak melihat apa-apa.


"Ternyata gak ada orang yang sempurna dalam segala hal."


"Apa-apaan itu?"


Mendengar itu, Rinslet mengernyit.


"....B-Bukan apa-apa. Btw, untuk apa bahan-bahan itu?"


Ellis buru-buru mengganti topik, mengarahkan perhatian ke tepung yang ada di dapur.


"Ya, tepung ini untuk membuat panekuk untuk dipersembahkan pada Lady Iseria."


"Oh aku mengerti."


Rinslet telah membuat janji dengan Elemental Lord Air Iseria Seaward yang berada di Astral Zero, untuk memberi persembahan panekuk pada dia.


"Setelah itu, Lady Iseria nggak memberi kabar apapun."


Berkata demikian, Rinslet menatap segel roh berbentuk mawar biru, bergumam penuh kekhawatiran. Saat mereka merebut Akademi, dia masih bisa mendengar suara Iseria, tapi sekarang gak ada tanggapan gak peduli berapa kali dia memanggil.


"Hmm, mungkin ada sesuatu yang terjadi."


"Kuharap beliau sehat-sehat saja....."

Bagian 3[edit]

Sementara itu, Kamito sedang ada di kamarnya memoles Est.


Dia menekankan sebuah kristal roh baja pada bilah pedang suci dan menuangkan divine power, memoles dengan cermat. Setiap kali kristal roh bergesekan dengan bilah pedangnya, secercah partikel cahaya keluar.


(Seperti biasa, melakukan pekerjaan memang bisa membantu menenangkan hati dan pikiran...)


Menggunakan kain kering, dengan hati-hati dia menggosok bilah yang dia poles.


Bagi yang mengamati, mungkin berpikiran kalau Kamito tampak percaya diri.


Tapi Kamito memoles pedangnya bukan karena dia percaya diri, justru sebaliknya.


Sejak dia berada di Sekolah Instruksional, dia akan memoles senjatanya seperti ini sebelum mengerjakan misi. Bagi Kamito, merawat senjata mirip dengan sebuah ritual untuk menenangkan pikirannya.


"...Hua, rasanya enak sekali, Kamito."


Bilah putih-perak itu bersinar. Sebenarnya, gak perlu memoles atau menajamkan Demon Slayer, yang merupakan sebuah elemental waffe, tapi Est sepertinya menikmati perasaan bilahnya di poles.


(Mungkin itu seperti membersihkan telinga bagi manusia seperti kami...)


Berpikir demikian, Kamito tersenyum masam.


Sebagai catatan sampingan, Restia sepertinya gak suka bilahnya dipoles.


Menurut dia, itu agak memalukan.


Teringat tentang penolakan Est untuk menunjukkan kaki telanjangnya, Kamito betul-betul gak paham apa yang memicu rasa malu dari roh.


"Kamito, kupercayakan punggung bilahnya padamu juga."


"Ya, aku mengerti."


Menanggapi permintaan Est, Kamito mulai memoles punggung pedangnya.


Menatap kilauan pendar dari divine power, Kamito tenggelam dalam pemikiran yang dalam.


Baru beberapa bulan yang lalu dia melindungi Claire di gua tersegel dan melakukan upacara kontrak roh.


Setelah itu, Est menjadi pedang Kamito sampai saat ini.


Pernah ada waktu Est kehabisan kekuatannya untuk menyelamatkan Kamito dan berakhir hilang.


Dan juga karena Kamito pernah kehilangan ingatannya, hal itu mengganggu kontrak rohnya sementara waktu.


Tapi apapun yang terjadi, Est selalu menjadi pedang Kamito.


Meskipun dia harus menentang Sacred Maiden Areishia, mantan kontraktornya, dia bersumpah dia akan tetap menjadi pedangnya Kamito selamanya.


"Kamito, ada apa?"


Mungkin karena tangannya berhenti sesaat, Est bertanya.


"...Hmm? Oh, uh, aku cuma sedang berpikir bahwa kamu sangat menakjubkan, Est."


".....!"


Saat dia mengungkapkan perasaan sejatinya tanpa berpikir, bilah Est langsung berkilauan.


"Panas sekali!"


"....! Maaf, Kamito."


"Nggak apa-apa, aku cuma sedikit terkejut."


Kamito mencelupkan tangannya di ember air untuk mendinginkan jarinya yang terbakar.


Lalu.....


Pedang suci itu berubah menjadi partikel cahaya dan lenyap. Seorang cewek berambut perak mengenakan seragam muncul didepan dia.


Rambut putih-peraknya berkilauan samar. Kulitnya seputih salju. Nampak ada rona samar diwajah cantiknya yang tanpa ekspresi seperti boneka.


"–Aku juga kaget, Kamito."


Mata ungunya yang jernih menatap Kamito.


"Kau betul-betul Raja Iblis Malam Hari, Kamito."


"A-Apa....!?"


"Kamito, apa kau mengatakan perasaan sejatimu barusan?"


Dihadapkan dengan Est yang bertanya tanpa ekspresi....


"–Ya, tentu saja."


Meski merasa sedikit malu, Kamito tetap mengangguk.


"Est, kau adalah partnerku yang menakjubkan sepanjang waktu ini. Selama aku bersamamu, aku nggak akan pernah kalah meski melawan para malaikat dari dunia lain, Holy Lord, ataupun Sacred Maiden Areishia."


"...Kamito."


Est bergumam lalu berdiri diam terpaku ditempat.


Lalu–


"Kamito, aku sudah memutuskan."


Est duduk di tempat tidur.


"E-Est, i-itu kelihatan lho!?"


"Ya, tolong lihatlah. Kamito–"


"Eh?"


Saat Est selesai bicara tanpa ekspresi–


Dia mengarahkan jarinya pada ujung kaos kakinya.


"Aku ingin kau melihatnya, Kamito. Melihatku seutuhnya sebagai roh pedang terkuat–"


"Apa!?"


Mau tak mau tatapan Kamito terpaku pada kaki Est.


Paha yang sehalus porselen. Kaki kecilnya yang ramping, terbungkus kaos kaki selutut berwarna biru gelap.


Mempertahankan posturnya dimana tangannya berada di ujung kaos kakinya, Est menatap Kamito.


Dan Kamito tertegun seraya duduk di tempat tidur.


....Est selalu menolak keras menunjukkan kaki telanjangnya.


Bahkan Kamito gak pernah punya kesempatan melihat apa yang tersembunyi didalam kaos kaki itu.


Gak disangka Est bersedia menunjukkan kaki telanjangnya secara tiba-tiba–


"....K-Kenapa?"


"Ini untuk mencegah bilahku goyah saat bersilangan pedang dengan Areishia."


Est menyatakan dengan teguh.


"Aku ingin kau melihatku seutuhnya, Kamito, untuk mengukir didalam hatiku fakta bahwa kau adalah tuan sejatiku."


"Est..."


Saat ini, Est merupakan eksistensi yang terpisah dari tubuh aslinya. Tapi meski demikian, selalu ada kemungkinan dia akan goyah saat menghadapi mantan tuannya.


Goyah meski sesaat saja bisa menentukan hasil dari pertarungan.


"Kamito, tolong jawablah tekadku sekarang–"


Est mulai menarik turun tangannya yang memegang kaos kakinya.


"...!"


Melihat itu, Kamito secara tak sadar menahan nafasnya.


Kaos kaki selutut berwarna biru gelap mengeluarkan suara pelan saat meluncur dibawah lutut–


Lalu, tiba-tiba terhenti.


"...?"


"...Sudah kuduga, ini tetaplah memalukan."


Est menggeleng pelan.


Mungkin karena malu, ada rona merah yang samar di kulitnya yang seputih salju.


Ini adalah pertama kalinya Kamito melihat ekspresi ini.


"Est..."


Kamito—


"Bertahanlah, berjuanglah."


Kamito berbicara dengan nada suara serius.


"...!?"


....Memang, ini adalah ketetapan hati Est.


Sebagai kontraktornya, Kamito berkewajiban untuk menyaksikannya sampai akhir.


"....Gawat. untuk lebih jauh lagi, meski buat Kamito...."


Est berbicara pelan sekali hingga suaranya seolah akan lenyap setiap saat.


Untuk menyemangati Est, Kamito berbicara di telinganya untuk membujuk dia.


"Tetap saja, aku ingin melihatmu seutuhnya, Est."


"Kamito... Aku mengerti..."


Est mengangguk pelan.


Krusek. krusek.


Kaos kakinya bergerak turun.


Saat kaos kakinya semakin turun, betis seputih salju bisa terlihat


"Hwa, memalukan sekali, Kamito...."


"Est, sedikit lagi... Bertahanlah, tinggal sedikit lagi...."


"....Tidak, ini adalah batasku, gak bisa melanjutkan lagi."


"Bertahanlah sedikit lagi, Est–"


Suara Kamito secara alami menjadi semakin dan semakin bergairah.


".....! K-Kamito, bejat sekali."


Saat Est berbisik begitu....


"–Fufu, sedang bersenang-senang ya?"


Pandangan Kamito menjadi gelap gulita.


"...Owah!"


Kamito terjatuh kebelakang di tempat tidur.


Dia menghadap keatas–


Dan melihat sang roh kegelapan berada didepan dia, sayap hitam legamnya terbuka lebar.


"Kamito, apa yang kamu lakukan pada Nona Roh Pedang?"


"R-Restia..."


....Meskipun wajah Restia tersenyum, gak ada senyum dimatanya.

Bagian 4[edit]

Di kuil utama Elemental Lord, berlokasi di pusat Ragna Ys....


Ini adalah tempat yang didatangi Greyworth 24 tahun lalu, dimana Kamito dan Tim Scarlet juga masuk setelah memenangkan tarian pedang melawan banyak lawan yang tangguh.


Mereka yang diperbolehkan masuk tempat ini hanya terbatas pada para Ratu yang melayani para Elemental Lord dan para pemenang turnamen Blade Dance. Tanpa pengecualian.


Seorang cewek perlahan-lahan menapaki tangga menuju altar.


Sang Sacred Queen mengenakan jubah putih polos–bukan, itu cuma penampilannya saja.


"–Terimakasih atas kesabaran kalian, teman-teman serta sekutuku."


Holy Lord Alexandros menyapa penuh keramahan pada para penguasa yang ada di singgasana.


Siluet-siluet dari lima singgasana dibalik tirai bisa terlihat.


Mereka adalah para penguasa hampa yang menguasai dunia ini.


Singgasana para Elemental Lord telah dicemari oleh kegelapan sejatiTrue Darkness


Jiwa dari Elemental Lord Air dan Elemental Lord Api telah dibebaskan, tapi apa yang bisa dianggap sebagai tubuh sejati mereka masih terpenjara di altar ini.


Holy Lord manaiki tangga dan sampai didepan singgasana.


Menggunakan para Elemental Lord yang gila sebagai korban, untuk membuka lagi gerbang menuju Dunia Lain–


"Dengan ini harapanku dan harapan dia 7.000 tahun yang lalu akan terwujud."


Holy Lord menggapai kegelapan yang berputar-putar di singgasana Elemental Lord Api.


"–Dan sekarang, mari kita buka gerbang menuju surga."


Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya