Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid1 Bab1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 1: Kamu Adalah Roh Terkontrakku![edit]

Bagian 1[edit]

Di hutan yang tenang dimana matahari bersinar menembus celah dedaunan.

*Byur—*

Tiba-tiba, suara gemericik air terdengar jelas di udara.

Kamito, ia- membuka mulutnya lebar-lebar sambil tetap berdiri di tempatnya.


Seorang gadis... di depan matanya terdapat gadis yang telanjang bulat.

Dia sangat cantik, bahkan luar biasa cantik. Matanya besar dan merah seperti permata, bibirnya yang bersemu merah seperti cherry yang basah dan lembut, kulitnya yang putih mulus bagaikan susu, dan di permukaan air, kakinya begitu langsing dan mulus. Juga, sesuatu yang lebih menangkap matanya adalah—

Rambut yang tergerai sepanjang tubuhnya. Berwarna merah layaknya bara api.

Tentu saja, dia telanjang. Betul-betul telanjang.

“.............”

Kamito merasakan keringat dingin di punggungnya.

Ini gawat.

Ini gawat kalau dia sampai terlihat dalam kondisi telanjang.

........Aku harusnya segera kabur. Bahkan meski ia memberikan saran rasional pada dirinya sendiri, tubuhnya tak mau digerakkan. Sebetulnya ia masih terpesona. Pemandangan itu nampak begitu nyata hingga seolah Kamito tenggelam dalam dunia fantasinya sendiri.

Dan di saat itulah, gadis itu—

STnBD V01 013.jpg

Matanya yang lembut dan indah itu berkedip, mendapati penyusup yang tak terduga. Menatap dengan kosong, tampaknya ia belum betul-betul memahami situasinya. Ia bahkan tak mencoba menutupi payudaranya yang masih belum berkembang.

*Tes.*

Air jatuh dari alis gadis itu. Kesadaran Kamito kembali seiring dengan suara air.


“Ah— ini.......”

Kamito batuk sekali, dan membuang tatapannya dari gadis yang masih berdiri tak bergerak itu.

“Gimana bilangnya ya..... ini hanya kecelakaan, kan? Toh aku kan nggak sengaja....”

Di saat itulah, Kamito membuat dua kesalahan fatal. Pertama, tentu saja, karena dia mencoba membuat penjelasan yang sia-sia. Pilihan terbaik adalah memanfaatkan waktu ketika gadis itu masih kebingungan dan secepatnya melarikan diri dari masalah di tempat itu.

Dan kesalahan fatal keduanya adalah.....

“Walaupun ini hanya kecelakaan, aku sudah melihatmu dalam situasi seperti ini. Maaf, aku minta maaf.”

Sampai disini masih tak apa apa, namun bagian terakhirnya........

“Tapi jangan kuatir. Aku masih pria normal, jadi aku nggak terlalu tertarik dengan hal yang seperti itu. Aku......”

Melihat payudara gadis yang masih dalam perkembangan itu—

“Aku nggak tertarik dengan tubuh anak kecil.” Tampaknya dia baru saja menginjak ranjau besar.


"......"

Ketenangan yang bagaikan kebekuan muncul.

Dengan tenang, si gadis mengangkat tangannya dengan rambut merahnya masih tersebar. Bahunya agak bergetar. Namun alasannya bukan karena kedinginan, tapi Kamito belum menyadari itu.

“Enam belas——”

“Eh?”

Bibir lembut gadis itu menggumamkan sesuatu, dan Kamito hanya bisa mengangkat alisnya.

“A-A-AKU SUDAH BERUMUR ENAM BELAS TAHUN!!!”

Tak lama usai meneriakkan itu, rambut merahnya berdiri tegak sampai ujungnya.

“Haah!?”

Kamito membuka matanya lebar-lebar karena kaget.

“Enam belas? Yang benar? Terus kenapa dadamu tampak begitu menyedihkan—“

Ia dengan cepat menutup mulutnya, namun tampaknya sudah terlambat.

“.....Tak bisa dimaafkan.”

Gadis itu mengucapkannya dengan nada rendah dan sangat dingin.

“Be-Benar-benar tak bisa dimaafkan...... Kau-kau-kau-kau setan pengintip... mesum... dan hewan menjijikkan!”

“Kamu tahu juga, kata-kata seperti hewan buas.”

Kamito mengucapkan itu dengan nada sempit dan rendah.

“Hm?”

.....Disaat itulah ia menyadari kalau pepohonan hutan membuat suara kebisingan yang aneh.

Apa itu angin? Bukan, itu pasti—


"——Penjaga api merah, pelindung dari bara api abadi!"
"——Sekaranglah saat untuk memenuhi kontrak darah, datang dan lakukanlah perintahku!"


Dari bibir mungil gadis itu meluncur lafal mantra dari bahasa spirit. Disaat itulah, disertai oleh suara ledakan udara, sebuah cambuk api merah yang membara muncul dari tangan si gadis itu.

........Kontraktor Roh!

Kamito berteriak dalam kepalanya.

Kontraktor Roh— lapisan lain dari dunia ini, «Astral Zero».

Penyihir yang telah menjalin kontrak dengan spirit buas dari tempat itu disebut sebagai «Kontraktor Roh».

Kontraktor Roh dapat memakai tipe roh yang berbeda, menggunakan kekuatannya sesuai dengan keinginannya.

Gadis itu adalah Kontraktor Roh. Bukan sesuatu yang mengejutkan.

Apalagi, ini adalah tempat para Kontraktor Roh yang handal dari seluruh negeri berkumpul.

.....Namun, nggak kuduga dia bisa menggunakan kekuatan elemental

Sifat Roh yang dipanggil ke dunia ini dari Astral Zero secara kasar bisa dibagi kedalam dua jenis.

Tipe pertama adalah tanpa massa, Roh tak berbentuk yang muncul dalam wujud aslinya sebagai “Inti Dewa”. Ini murni hanya memanggil kekuatan Roh, dan digunakan sebagai penyangga kekuatan sihir untuk sihir Roh.

Ada juga tipe lain, kondisi murni memanggil sebagian eksistensi Roh. Karena kekuatan besar yang diperlukan dan kesulitan mengendalikannya, dikatakan hanya sebagian kecil dari Kontraktor Roh saja yang benar benar bisa melakukannya.

Biarpun begitu, gadis di depannya tak hanya menggunakan kekuatan Roh itu, namun mampu mengendalikannya dalam bentuk Senjata Elemental[1].


....Apa itu berarti, eh? – Berarti sekarang aku berada dalam situasi hidup dan mati?

Usai berpikir seperti itu, Kamito hanya bisa dibuat diam membisu.

Di tempat dimana cambuk api itu menyentuh permukaan air, gelombang uap putih menyembul.

“Kau, kau berani-beraninya......”

Gadis itu komat-kamit dengan bibir gemetaran. Wajahnya terlihat merah. Entah itu karena kemarahan atau rasa malu.

“Te-Ternyata, kau punya nyali juga, untuk me-mengintip, ketika aku, Claire Rouge, sedang mandi.........”

“Tu-Tunggu! Ini semua salah paham! Biar aku menjelaskannya lebih dulu!”

Kamito menggelengkan kepalanya dalam kepanikan.

“Aku nggak akan mendengarkan alasanmu. Jadilah abu sekarang, dasar MESUM!”

Cambuk api menyala dengan garang di tangannya dan bergerak-gerak seolah menjilat air.

“Ooohhh...!?”

Kamito melempar tubuhnya dan lekas melompat menuju rerumpunan semak yang tebal.

Hampir di saat yang sama, cambuk api nyaris saja menyapu bagian atas kepalanya.

Residu berwarna merah yang tersisa pada semak, terpotong rapi seperti digergaji. Permukaan potongannya tampak begitu bersih, tanpa jejak gosong. Serangan itu begitu cepatnya hingga api bahkan tak sempat membakar rimbunan semak.

Rambut di jidat Kamito jatuh di wajahnya, dimana keringat dingin mengucur dari keningnya.

...Um, barusan itu bercanda, kan? Aku nggak akan mati seperti itu, kan?

*Zing* *Biyutsu* – seolah ada tarian tanpa akhir dari tebasan merah vertikal dan horizontal di hutan. Semak-semak lenyap dalam sekejap mata dan kehilangan tempatnya bersembunyi, Kamito dengan cepat berlari keluar dari hutan.

“Jangan lari, mesum! Diamlah supaya aku bisa mengenaimu!”

“Omong kosong! Lagipula, aku bukan orang mesum!”

Kamito berteriak dan di saat yang sama, cambuk mengayun tepat di depan kakinya, menimbulkan kelap-kelip api. Bangkit dari tanah, cambuk itu berayun dengan cepat ke arah pepohonan hutan, yang terpotong tanpa ampun.

Namun berkah di tengah kemalangan, akurasi gadis yang bernama Claire itu masih kurang tepat. Itu karena salah satu tangannya sedang menutup payudara mungilnya supaya tak kelihatan, dan untuk menyembunyikan bagian penting lainnya, ia harus jongkok di tempat itu sejak tadi. Namun, melihat caranya memainkan cambuk meski dalam situasi menyulitkan seperti itu, bisa ditebak kalau dia memang berbakat.

“Meskipun mesum, kamu lincah juga. Heh, diamlah dan akan kujadikan arang!”

“Sudah kubilang aku bukan orang mesum! Ngomong-ngomong...”

Kamito kemudian berhenti dan berbalik.

Ia mengacungkan jarinya ke arah yang sejak tadi membuatnya terus menerus kepikiran.

“Hei, apa kamu yakin sudah menyembunyikannya dengan benar? Di sela-sela jarimu aku masih bisa melihatnya, tahu.”


“...eh?”

Dalam sekejap, ekspresi Claire membeku. Dan—

“Kyaaahhhhhh!!!!”

Dengan wajah memerah dan teriakan membara, yang anehnya dengan sangat manis – ia lekas-lekas menyembunyikan payudaranya dengan kedua tangannya.

“Ah, bodoh!”

Kamito tanpa sadar berteriak.

Claire melepaskan dan kehilangan kendali dari cambuk apinya, dan menebas pepohonan di belakangnya. Pelan-pelan, pohon-pohon besar itu bergerak jatuh tepat diposisinya.

Namun, Claire tak menyadarinya karena kedua matanya tertutup karena malu sambil tetap memeluk payudaranya dengan kedua tangannya.

Dasar bodoh! Kenapa diam saja!?

Di saat inilah, Kamito menendang tanah.

Berlari dengan seluruh kekuatannya ke arah kolam, ia lalu melompat sambil menangkap bahu Claire.

“Haa—!?”

Pupil mata Claire melebar seketika. Kamito mengabaikannya dan dengan paksa mendorongnya ke dalam air. Saat tangan Claire menyentuh air, uap putih muncul, dan cambuk apinya lenyap. Tak lama kemudian, pohon-pohon besar itu jatuh tidak jauh dari mereka, dan beberapa ranting jatuh tepat pada mereka.

*Duunnnnnn!*

Suara gemuruh yang hampir merobek gendang telinga, dan memunculkan riak air raksasa.

Menyerap panas dari cambuk yang terbakar, air kolam menyembul membentuk awan putih.


.......Beberapa detik kemudian.

“Uh..........”

Dengan suara imut nan menggoda, Claire perlahan membuka matanya.

Ekspresinya shock dan matanya berkedip karena kebingungan.

Kamito terbaring di atas Claire dan menemukan dirinya tengah menatap tubuh Claire.

Wajah mereka begitu dekat hingga kalau seseorang mendorong tubuhnya, bibir mereka akan saling bertemu.

Rambut merahnya tergerai di wajah Kamito. Bibirnya tampak lembut kemerahan.

Wajahnya yang imut nan lembut bagaikan sebuah boneka terpampang di depan mata Kamito.

Untuk sesaat Kamito terlihat seperti ia tak sengaja jatuh cinta kepadanya. Kamito lekas menggelengkan kepalanya.

“Um.....kamu baik-baik saja?”

Claire mengangguk, sepertinya dia belum memahami situasinya.

Kamito berdesah kecil dan mencoba berdiri dari tempatnya.

*Funyuuu*

Tangannya di bawah air terasa menyentuh sesuatu yang lembut.

“Hwaaahhh!?”

Apa ini? Lumpur?

*Funyu* *Munyu*

“Hnn... yah... hwaaa....!”

Dari bibir mungilnya terdengar suara rintihan yang menggoda. Claire hanya bisa menggoyangkan tubuhnya secara perlahan seolah tak berdaya.

“Um... jangan-jangan ini...”

Sudah berbuat sejauh ini, Kamito akhirnya bisa membuat sebuah kesimpulan. Kesimpulan yang pastinya akan sangat buruk.

Tidak, tunggu, tenang dulu. Mungkin saja aku salah...

Tak mungkin, tadi nggak ada objek semacam ini. Sambil terus meneteskan keringat dingin, ia berusaha keras menolak kemungkinan seperti itu.

“Waktu kulihat tadi, sepertinya nggak ada apa-apanya...”

“A-A-Apa yang kau... lakukan...”

Bibir Claire bergetar hebat. Wajahnya memerah dengan air bening di pelupuk matanya.

Sudah pasti... tangan Kamito tidak sedang memegang lumpur.

“Dasar, MESUM!!”

“Gwah!”

Karena perutnya ditendang dengan keras oleh lutut Claire, Kamito jatuh ke dalam kolam.

*Gugugugugugugu......!*

Dengan aura membara di belakangnya, Claire perlahan berdiri. Sebelum Kamito menyadarinya, cambuk api kembali terwujud di tangannya. Air di kolam mendadak tampak mendidih, gelembung air mulai muncul disana-sini.

“Tunggu tunggu! Ini hanya salah paham! Kau serius mau membunuhku!?”

"Di-Diam, mesum! Kau akan mati disini!!"

Bersamaan dengan suara keras yang memekakkan telinga, tubuh Kamito terlempar tinggi ke udara.

Bagian 2[edit]

“........Un,”

Beberapa menit kemudian, Kamito berusaha mengumpulkan kesadarannya. Di hadapan matanya, nampak beberapa pohon yang tumbang.

Ia mencoba untuk bangkit-----

Lalu Mendadak, ia menyadari ada sabuk hitam yang membelit lehernya.

Sabuk kulit hitam yang umumnya dipakaikan pada kucing piaraan,(benda macam apa ini....) Kamito mencoba untuk melepaskannya.

“Akhirnya bangun juga, heh, pria mesum pengintip......”

Sabuk di lehernya ternyata tak bisa dilepas.

“Gweh? Benda apaan nih...?”

Kamito tersedak lalu melihat ke hadapannya.

Gadis berambut merah – Berdiri dengan kedua tangan di pinggangnya. Dengan kedua alis terangkat, tatapan tajamnya jatuh ke arah Kamito yang masih bengong.

Kali ini dia tidak telanjang lagi. Gadis itu sudah mengenakan seragam yang elegan. Dengan pola garis hitam dan garis putih bersilangan, seragam akademi spirit Areishia.

Dasi pita dekorasi berada di kerah lehernya. Bukannya kancing, talisman dijahit di bajunya. Diantara jarak kaos kaki stoking selutut dan rok mininya, kakinya yang panjang dan langsing tampak begitu anggun. Pita mungil mengikat rambut merahnya di kedua sisi. Inikah yang disebut gaya twintail? Kalau dilihat dari rambutnya yang masih basah, sepertinya Kamito belum lama kehilangan kesadarannya.

Memegang tali sabuk leher Kamito dengan erat, Claire membusungkan dada mungilnya.

“Bersyukurlah! Aku masih mengampunimu dan batal membunuhmu!”

“Itu bohong besar. Dari tadi kamu berniat membunuhku kan?”

“Apa kamu bilang? Kalau aku serius, kamu sudah jadi batubara sekarang!”

.....Dia baru saja mengatakan hal mengerikan dengan nada yang sangat kalem.

Ngomong ngomong, bukannya batubara itu memberi kesan lebih buruk daripada arang?

“Oke oke, kalau kamu nggak jadi membunuhku. Toh, tadi aku sudah menolongmu kan?”

“Iya, aku ini baik hati, kuberi keringanan buat yang tadi. Kamu ini hanya pria biasa dan mesum, jadi biar aku panggil kamu super mesum.”

“Pada akhirnya kata mesum nggak dihilangkan! Ngomong ngomong, bukannya super mesum itu kata kata penuh penghinaan!?”

“A...Apa? pura pura menolong, padahal kamu sebetulnya mau.....mau menyentuh dadaku kan?”

Mengingat yang terjadi tadi, wajah Claire yang malu malu nampak semakin merah.

Hmm?

Melihat reaksinya, sebuah ide aneh terbersit di benak Kamito.

......Gadis ini, mungkinkah dia adalah tipe yang itu?

“Jadi kesimpulannya, kamu adalah nona muda yang hobi mencambuk laki-laki?”

Kamito mencoba menggodanya tanpa ampun-

“Ap-Ap-Apa? Nggak! Aku nggak punya hobi semacam itu!”

Responnya begitu gugup seperti yang diduga. Claire menggelengkan kepalanya sambil menahan air mata yang terkumpul di pelupuk matanya.

“Berarti kamu lebih suka dicambuk?”

“...m! Ap-ap-apa yang kamu katakan!!??”

Mata Claire nampak panik, dengan uap mengepul dari kepalanya. Sepertinya dia betul-betul malu.

Oh, sudah kuduga.....

Kamito tersenyum pahit dalam hatinya.

Gadis ini ternyata masih sangat sangat polos

Mungkin, gadis ini tak terlalu istimewa. Bagaimanapun juga disini adalah akademi Areishia, dimana para gadis penyihir yang telah membuat kontrak dengan Roh berkumpul.

Hanya gadis perawan saja yang mampu berkomunikasi dengan Roh dari Astral Zero. Diantara mereka, yang memiliki kekuatan sihir besar sehingga dapat berkomunikasi dengan Roh kontrak, adalah gadis bangsawan dari keluarga raja atau kaisar kuno dan keturunan ningrat, dimana darah kontraktor Rohnya dipertahankan sepanjang generasi melalui tali pernikahan.

Untuk menjaga kemurnian hati dan tubuh mereka, gadis gadis ini dibesarkan dalam lingkungan yang betul betul terpisah dari kaum laki-laki sejak masa kecilnya; yang disebut pendidikan elit bagi Kontraktor Roh. Sehingga, semua gadis di akademi ini adalah tuan putri sejati yang tak mengetahui apa apa tentang laki-laki.

Menemukan titik lemahnya yang tak terduga, Kamito ingin sedikit bermain main dengannya.

Masih pada posisi berlutut,Kamito melihat wajah memerah Claire.

“Ah, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan sejak tadi.”

“A-Apa itu, cowok mesum!?”

“Celana dalammu bisa kelihatan dari sini.”

“Fuwah!”

Air mata mengucur di pipinya, Claire lalu mati matian menekan ujung bawah roknya menggunakan kedua tangannya.

“Kamu........kamu melihatnya?”

“Cuma sedikit, warnanya juga bagus kok, sama dengan warna rambutmu.”

“Kamu...kamu bohong! Warnanya nggak merah, tapi putih!”

“Oh, rupanya putih ya?”

“.....ha?”

Sadar kalau dia baru saja ditipu, Claire mengigit bibirnya----

“U-Uuuuuuuhhh........”

Entah mengapa, ia justru mulai menangis.

Karena reaksi tak terduga ini, Kamito tampak panik. ”Cewek ini betul betul lugu sampai memberi tahu warna celana dalamnya.” Ia bermaksud lebih menggodanya dengan kata kata yang telah ia siapkan sebelumnya, namun melihat situasi sekarang, ia justru merasa kasihan padanya.

Mengambil kesempatan saat Claire masih berlinang air mata, Kamito melepaskan cambuk yang terpaut di lehernya.

“Oke, oke, leluconku berlebihan. Sorry ya....”

Kamito berdiri dan menempatkan tangannya di kepala Claire. Claire berhenti menangis dan tampak kebingungan.

“Nggak sengaja kalau aku melihat badanmu waktu lagi mandi, dan aku sudah......menyentuh dadamu juga. Tapi itu semua nggak sengaja. Jadi percayalah padaku....”

“A....Apa?”

Melihat kejujuran di mata Kamito, Claire hanya menampakkan tatapan tajamnya.

“....Apa, apa ini? Kalau kamu bukan orang mesum, terus kenapa kamu ada disini?

Pertanyaan yang wajar. Hutan ini adalah properti akademi Areishia, dikenal sebagai “Hutan Roh”. Tak ada alasan bagi laki laki untuk berada di akademi dimana hanya gadis gadis saja yang ada.

Biarpun dia bukan orang mesum, tetap saja kehadirannya akan mengundang kecurigaan.

“Oh, aku dipanggil kesini oleh Greyworth.”

“Greyworth.....maksudmu direktur akademi?”

Claire bertanya dengan curiga. Sudah jelas kalau dia merasa ragu.

“Nggak bohong. Nih lihat, surat undangannya.”

Kamito mengguncang kantong bajunya dan mengambil surat yang setengah gosong dari jasnya. Surat itu tertera tanda tangan direktur. Juga, terdapat stempel emblem kerajaan yang menyimbolkan Lima Raja Terkuat Dunia.

“Apa itu.....segel pusaka kekaisaran peringkat pertama?”

Claire mengeluarkan kekecewaan dari mulutnya. Emblem peringkat pertama hanya diperuntukkan bagi mereka yang bisa menyegel Roh kelas satu dengan kemampuan khusus. Levelnya tertinggi diantara emblem yang biasa dikeluarkan oleh kekaisaran, dan dikatakan hampir mustahil untuk bisa mendapatkannya. Tentu saja, itu adalah sesuatu yang jarang terlihat, namun sebagai Kontraktor Roh, Claire bisa memastikan keasliannya.

“.....Ini memang asli. Terus, kenapa direktur akademi mesti memanggil laki laki ke tempat ini?”

“Tanya saja sendiri pada Greyworth. Tua bangka itu memang sering membuatku kerepotan.”

“Tu....Tua bangka!?”

Dalam sekejap wajah Claire menjadi kaku.

Sang Penyihir senja, Greyworth sangat dihormati oleh penyihir yang ingin menjadi Ksatria Roh. Dikatakan kalau popularitasnya di kerajaan Orudesia sebanding dengan Penari Pedang Terkuat Ren Ashbell. Meski sudah satu dekade sejak ia pensiun dari pasukan 12 General,kekuatan paling elit dalam kerajaan yang dikenal sebagai <Number>, nama legendarisnya masih sangat ditakuti dan dihormati oleh siapapun yang mendengarnya.

Bagiku, dia bukanlah apa apa selain biang masalah.......

Menaruh surat kembali ke sakunya,Kamito mengangkat bahunya.

“Greyworth itu kenalan lamaku. Aku datang jauh jauh kesini, tapi karena wilayah akademi begitu luasnya, aku kesasar di tengah jalan.”

Tanah akademi Areishia sangatlah luas. Apalagi, selain kota akademi di kaki bukit, juga termasuk hutan Roh yang mengelilinginya.

“Jangan jangan, kamu dibuat kesasar oleh Roh yang berkeliaran di hutan? Kasihan banget.”

“Yah, anggap saja seperti itu.”

Claire tampak kaget, meski Kamito hanya menghembuskan nafas panjang.

Tersebar di beberapa wilayah sepanjang benua, Hutan Roh terhubung langsung dengan Astral Zero melalui GATE, dan dihuni oleh kumpulan Roh yang terdampar di dunia ini. Kebanyakan Roh tak suka membuat kontak dengan manusia sehingga mereka tak berbahaya. Tapi ada juga Roh yang nakal, dan suka membingungkan orang hingga kesasar dalam hutan. Karena ia dipandu oleh bisikan Roh dan berjalan semakin dalam dan semakin dalam kedalam hutan, ia kehilangan arah menuju ke akademi Areishia.

“Pokoknya, aku bersyukur ketemu orang lain di tengah jalan. Jadi korban hutan sama sekali nggak lucu. Dari arah sini, jalan mana yang mesti kulalui supaya sampai di akademi?”

“Arah mana.....buat informasimu, kukatakan saja, perlu sekitar dua jam untuk sampai ke akademi dengan berjalan kaki.”

“Apa? Jauh amat!”

Kalau ia harus berjalan sejauh itu lagi, besar kemungkinan ia akan diganggu oleh Roh lagi. Karena ada salah satu siswa akademi disini, harusnya lokasi akademi sudah tidak jauh lagi.

....hmm? terus kenapa cewek ini harus mandi di tempat seperti ini?

Pertanyaan tak perlu mendadak terbersit. Hari ini memang agak panas, karena matahari begitu garang di langit. Ketimbang harus jauh jauh mandi di tengah hutan, bukannya di akademi ada tempat mandinya? Tapi karena hanya ada wanita di sekolah ini, tak ada yang perlu dibuat malu.

Ditanya, Claire merapikan rambut basahnya dengan kedua tangannya seraya berujar,

“Aku kesini untuk ritual pemurnian Kontrak Roh. Karena letaknya di sebelah kuil, kualitas air disini adalah yang terbaik. Apa kamu paham kalau Roh menyukai wanita yang memiliki hati dan tubuh yang bersih?”

“Kontrak Roh?”

Usai mendengar pernyataan itu, rasa sakit muncul dari punggung tangan kirinya yang tertutup sarung tangan kulit. Kamito meringis karena sedikit rasa sakit yang muncul darinya.

“Sedikit lebih jauh dari sini, ada pedang suci kuno di kuil bersejarah. Ada rumor kalau “Roh tersegel” kuat bersemayam di dalamnya. Sejak pendirian akademi, belum seorangpun yang bisa menjinakkannya. Aku merasa kalau Roh itu pasti sangatlah kuat.”

Roh tersegel – bukanlah Roh yang berasal dari Astral Zero.

Diantara Roh, ada juga yang disegel kedalam senjata atau artifak oleh Kontraktor Roh zaman dulu. Kebanyakan disegel karena membawa bencana bagi manusia, dan merupakan eksistensi kejam yang disebut sebagai jin atau ifrit dalam kebudayaan kuno.

Tentu saja, mereka tidak mudah bekerjasama dengan manusia. Karena hal itulah, Kontraktor Roh kuno menyegel mereka kedalam senjata atau artifak sehingga tak dapat dipanggil kembali.

“Kamu, jangan bilang kalau kamu mau mencoba menjinakkan Roh tersegel itu.”

“Tepat sekali! Lantas apa masalahnya?”

“Jangan, itu berbahaya tahu!”

“Hmm, ternyata kamu nggak bego juga, biarpun kamu bukan Kontraktor Roh. Aku sadar betul akan bahayanya, tapi aku perlu Roh yang kuat bagaimanapun juga.”

Claire bergumam sambil mengigit bibir bawahnya.

Melihat ekspresinya yang sangat serius, Kamito memilih kembali berargumentasi.”

“Tapi, bukankah kamu sudah membuat kontrak dengan Roh api yang kuat seperti tadi? Bukankah akan lebih baik kalau kamu melatihnya baik baik supaya menjadi lebih kuat lagi?”

Pada dasarnya, Roh dengan elemen api tidaklah langka. Tapi hanya sedikit Kontraktor Roh yang bisa mengendalikannya dan mewujudkannya sebagai ‘senjata elemen’ di sepanjang kerajaan. Selain itu, Kontraktor Roh yang menjalin kontrak dengan banyak Roh sangatlah langka sampai nyaris tidak ada. Perselisihan diantara Roh yang dikontrak akan menimbulkan ketidakseimbangan pada diri seseorang. Tanpa cukup bakat, kontrak semacam itu nyaris mustahil.

“Scarlett memang partner yang penting, tapi---“

Aku harus punya yang lebih kuat --- Claire menggelengkan pelan kepalanya.

“Aku punya tujuan. Untuk mencapainya, aku memerlukan Roh yang tangguh!”

Bagian 3[edit]

Mengejar punggungnya dimana rambut merah kuncir duanya berayun,Kamito mengikutinya masuk ke hutan. Meski sepatu kulit Claire nampak sulit untuk berjalan, Claire tetaplah Kontraktor Roh berpengalaman, dan langkahnya nampak tegap dan anggun.

“Disini!”

Lalu, tiba tiba kaki mungilnya berhenti melangkah.

Dengan tangannya di pinggang, Claire mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Kamito.

“Kenapa kamu mengikutiku. Dasar mesum pengintip!”

“Tanpa kamu, aku nggak tahu jalan ke arah akademi. Sudah kubilang tadi beberapa kali, aku bukan mesum pengintip, namaku Kamito! Kamito Kazehaya!”

“Fufu, nama yang aneh. Asalmu dari Kuina ya?”

Kuina adalah kerajaan kecil di sebelah timur benua. Dikatakan kalau bahasa, budaya, dan hubungan penduduknya dengan Roh sangat berbeda dengan Orudeshia.

“Bukan, bukan dari Kuina. Aku lahir di kepulauan jauh di timur, di desa terpencil!”

Kamito sengaja mengaburkan pernyataannya. Memang, dia lahir di negara kepulauan di timur, tapi sebagian besar masa kecilnya tak dihabiskan di tempat itu.”

“Namamu justru yang terdengar tidak biasa, Claire Rogue.”

“Jangan seenaknya memanggil namaku! Dan itu bukan nama yang aneh, tahu!”

“Apa iya, bukannya itu nama yang bagus?”

“Ap-Apa yang kamu katakan!? Bo-bodoh!”

Wajah Claire memerah dan ia kembali melanjutkan langkah kakinya, entah kenapa jalannya lebih cepat dari sebelumnya.

Claire Rogue – jelas jelas hanya nama samaran.

Kebanyakan siswa yang bersekolah di akademi Areishia memang nona muda dari keluarga ningrat yang sudah terlatih sebagai Kontraktor Roh sejak belia. Namun Kamito belum pernah mendengar nama keluarga Rouge. Menyembunyikan nama aslinya, pasti ia punya alasan dibalik itu, tapi Kamito tak punya niat untuk mengungkit ungkitnya.

.....Toh semua orang pasti punya rahasia yang harus disembunyikan

Kamito menatap tangan kirinya yang terbungkus oleh sarung tangan kulit.

Bahkan aku sendiri juga punya----

Claire terus berjalan tanpa henti, dan Kamito berusaha keras mengejarnya dimana rambut kuncir duanya berayun. Sekarang, kehilangan Claire akan membuatnya semakin kesusahan didalam hutan. Kamito paham betul bahayanya bermalam di dalam hutan Roh.

“Apa pakaian itu seragam akademi.”

“Iya.”

Claire mengangguk dengan dingin sambil terus berjalan.

Seragam akademi Roh Areishia sangat elegan dan juga bertindak sebagai baju pelindung, yang telah menjalani berkah dari Spirit, dan memiliki efek meningkatkan atribut suci. Juga berfungsi sebagai baju upacara khusus ketika menjalin kontrak dengan Roh.

“Apa, kamu mau bilang kalau baju ini nggak cocok denganku?”

“Nggak, kelihatan bagus kok. Jujur saja, baju itu membuatmu tampak manis.”

Kamito mengangkat bahunya dan menjawab dengan jujur. Bulu yang bagus membuat burung nampak bagus, Kamito berniat menggodanya lagi dengan kata kata manis, namun baju itu sangat cocok dengannya hingga ia hanya bisa memujinya.

“Ap-Apa yang kamu katakan!? Apa kamu ini idiot!?”

(Kaatsu) Wajah Claire semakin memerah, sambil (Pyun-Pyun) mengayunkan cambuknya.

“Uwaahh, tenang dulu!”

“Bukankah itu karena kamu terus mengatakan hal yang aneh aneh?”

“Aku mengatakan hal aneh? Aku hanya berkata jujur - *dasar merepotkan* aku paham aku paham, tolong hentikan mengayunkan cambukmu untuk setiap hal hal kecil!”

...fyuh, aku butuh dia sebagai pemandu, tapi dasar tuan putri merepotkan

Menghindari cambuk yang diayunkan dengan jarak setipis kertas, Kamito mengeluh dalam hatinya.

Kuil tempat pedang suci bersemayam berdiri dengan tenang di tengah hutan yang cerah.

Claire dengan enteng melepas tanda peringatan, lalu melangkah masuk,dan menatap Kamito.

“Dari sini selanjutnya sangat berbahaya. Jadi,orang biasa sepertimu sebaiknya pergi menjauh.”

“Kalau kamu tahu itu berbahaya, kenapa masih dilanjutkan?”

“Kan tadi sudah kukatakan. Aku butuh Roh yang sangat kuat!”

Claire menggeleng pelan kepalanya dan terus masuk kedalam kuil.

Mengabaikan peringatannya, Kamito mengikutinya masuk. Sudah datang sejauh ini, dia memang perlu pemandu, tapi dia lebih khawatir pada keselamatan gadis keras kepala ini.

Bagaimanapun, ”Roh tersegel” sangat kuat dan biasanya sifatnya liar. Mereka lebih suka mengacau dan menghancurkan, belum lagi mereka bisa membunuh Kontraktor Roh yang mempekerjakan mereka.

Mereka bukan sesuatu yang bisa ditangani oleh manusia ---- Karena itulah mereka disegel.

Usia masih enam belas tahun, dengan bakat alami mengendalikan Roh, Claire mungkin bisa disebut jenius. Namun,jika secara kebetulan ia melepaskan Roh tersegel itu dan gagal mengendalikannya, apa yang akan terjadi?

Meski ia hanya gadis yang kebetulan ia temui, Kamito tetap tak bisa mengabaikannya begitu saja.

“Kenapa masih mengikutiku? Aku nggak bisa menjamin apa yang akan terjadi padamu!”

“Bukankah kamu cukup percaya diri untuk menjinakkannya?”

“Te-Tentu saja.”

“Kalau begitu tak masalah aku ikut denganmu.”

Kamito mengangkat bahunya dan Claire melengos darinya.

“.....Suka suka kamu deh,”

Didalam kuil terasa atmosfer yang gelap dan menyeramkan. Claire sedikit mengernyit karena aroma lumut yang tercium di udara.

“......Api, berilah aku cahaya.”

Bola api kecil mendadak muncul dari ujung jari Claire, penggunaan dasar mantra Roh dalam bentuk api kecil. Cahaya kelip kelip dari bola api sedikit menyinari bagian dalam kuil yang terlihat seperti gua penuh stalaktit.

Pedang itu terletak di bagian terdalam dari kuil.

“Itu......pedang tempat Roh tersegel bersemayam?”

Kamito berujar, dimana Claire mengangguk pelan.

Pedang telanjang ditusukkan berdiri di sebuah batu. Meski tanpa ragu usianya sudah ratusan tahun, tak ada secuilpun karat di ujung atau gagangnya. Tulisan kuno nampak tertera di sisi pedangnya, memancarkan cahaya biru kelam.

“Sudah ada disini sebelum akademi ini berdiri, <Pedang Suci Severian>”

“Pedang Suci Severian? Yang digunakan menebas Raja Iblis Solomon itu?”

Raja Iblis Solomon --- memimpin tujuh puluh Roh tangguh, membawa kekacauan dan kehancuran sepanjang benua, dan merupakan satu-satunya Kontraktor Roh laki-laki sepanjang sejarah.

Dikatakan kalau yang menebas sampai mati raja itu adalah Pedang Suci Severian.

“Bego, nggak mungkin itu pedang yang asli!”

Ujar Claire seolah ia kebingungan.

“Pedang Suci Severian yang ditusukkan di batu bisa ditemukan di banyak tempat sepanjang benua ini. Beberapa desa terpencil bahkan memilikinya sebagai jimat perlindungan. Pokoknya,biarpun ini bukan yang asli,karena ini adalah pedang suci, pasti ada Roh kuat yang tersegel di dalamnya.

“....Memang, yang asli nggak mungkin ada di tempat semacam ini......”

Claire berjalan ke arah pedang dengan penuh keyakinan.

“Hey.....”

“Kamu mundur saja.”

Membentak Kamito yang berjalan mendekatinya, Claire memegang ujung gagang pedang.

“Jangan bebani dirimu.”

“.....Aku paham!”

Kamito memutuskan mengawasi Claire dari sudut dimana cahaya pedang hanya sedikit bersinar. Roh yang tersegel mungkin terpicu oleh kehadiran orang lain. Ketenangan yang berat mengisi ruang di sekelilingnya.

“.........Mari lakukan ini, Claire Rogue.”

Bernafas dalam dalam, Claire berkomat kamit. Suaranya terdengar gemetaran, tampaknya ia memang merasa sangat gugup.

Oh Roh Suci yang tersegel dalam Pedang Kuno Suci
Engkau akan menerimaku sebagai Majikanmu, dan aku akan menjadi penjagamu!

Dari bibir mungilnya meluncur mantra dengan fasih untuk ritual kontrak dalam bahasa Roh. Rambut merahnya berdiri hingga ujungnya. Angin kencang mulai berhembus dalam kuil.

Menahan nafasnya, Kamito mengawasinya dengan seksama. Jika kontrak telah terkabul dan Roh mengakui Claire sebagai majikannya, Segel Roh akan tertempa di bagian tertentu tubuhnya. Sumpah Kontrak hampir selesai. Di saat inilah, gelombang angin liar mulai menggebu gebu dalam kuil.

“.......eh?”

Namun Claire masih tak bergeming. Ia dengan tenang melafalkan sumpah kontraknya.

---Dan, cahaya menyilaukan terpancar dari Pedang Suci Severian di tangannya.

Tak bisa kupercaya.......Dia berhasil membuat kontrak dengan Roh Tersegel!?

Agar tak disapu oleh angin, Kamito yang terkejut menaikkan volume suaranya.

Dari Pedang Suci yang tertusuk pada batu muncul energi supernatural yang sangat kuat. Kalau hanya Kontraktor Roh biasa, dia pasti sudah pingsan sejak tadi.

Tiga kali Aku memerintahkan Engkau, bertukar sumpahlah denganku!

Dan, sumpah Claire menggema dalam kuil --- dalam sekejap itulah.

Clink!

“Tercabut! Tercabut! Aku berhasil mencabutnya keluar!”

“......Apa? masa sih!?”

Pedang yang berkilau cemerlang itu tercabut dari batu, Claire nampak bersorak sorak kegirangan. Pada detik selanjutnya----

Tulisan kuno yang tertempa di sisi pedang itu tiba tiba bersinar dengan gila gilaan.

“......ha?”

Claire tanpa sengaja melepaskan pedang itu dari tangannya----

Pedang suci itu menusuk ke ke tanah. Dalam sekejap ia lenyap berkeping keping.

“Kyaaahhh!!!”

Bayangan kecil terbang, dan Claire jatuh ke tanah.

“Hey, kamu nggak apa apa?”

Kamito dengan cepat berlari ke arah Claire.

“Ap-Apa? Apa yang sebenarnya ter.....”

Claire memegang dahinya dan berdiri, lalu menatap sekitarnya dengan gusar.

“Roh tersegelku....mana?”

“Tidak, aku.......merasakan sesuatu yang lebih mengerikan.”

Keringat mengalir deras di leher Kamito. Dengan ekspresi wajah seram, ia melihat ke atap kuil. Di tempat itu, berayun sambil mengambang di udara adalah pedang itu.

Bukan pedang suci yang terpecah tadi, namun pedang baja utuh yang terlihat sangat tajam.

“Apa itu......Roh yang tersegel dalam pedang suci?”

“Jadi itu kelas <Roh Pedang>. Kelihatannya dia sedang marah.”

“Kenapa kamu bisa tahu? Kamu bahkan bukan Kontraktor Roh!”

“Gampang ditebak. Dilihat bagaimanapun juga, tadi nggak kelihatan seperti seseorang yang membuat sumpah dengan bersungguh sungguh.”

“......ummm, memang begitu.....”

Claire anehnya justru mengangguk.

Pedang yang mengambang mengarahkan ujungnya ke bawah, tiba-tiba menjadi tak bergerak.

Lalu----

“Menunduk!”

Kamito dalam sekejap, menekan Claire ke tanah. Suara berdengung seperti serangga menyapu pendengaran, dalam sekejap dia sudah menghilang.

“Tu-Tu-Tunggu! Kamu pegang pegang apa!? Kuubah kamu jadi batubara nanti!”

Dengan wajah merah membara, Claire memukul mukul dada Kamito dengan keras.

“Bego! Berhenti meronta!”

Kamito lekas memindahkan tubuhnya, dan melihat ke arah Spirit pedang itu bergerak di udara.

Pecahan batu berjatuhan dengan suara bising. Langit langit kuil terpotong dengan sangat bersih.

“Tak mudah untuk mengendalikan Roh selevel itu----“

Kamito mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Claire.

“.....Tapi Roh itu benar benar sudah lepas kendali.”

“Di-Diam! Pro-proses penjinakkan baru akan dimulai!”

“KAU INI......”

Kamito merasa jengkel, namun ini bukan waktu untuk bertengkar dengannya.

Roh Pedang mengeluarkan suara gemuruh seraya bergerak mendekati mereka. Didalam kuil, mereka tak bisa bergerak dengan bebas, bahkan jarak pandang mereka sangat terbatas.

Kamito memegang tangan Claire dan berdiri. Menyentuh kulitnya yang lembut (Doki), ekspresi Kamito masih tak berubah, meski detak jantung Claire jadi tak menentu.

“Hwahhh!”

“Berhentilah membuat suara imut karena hal sepele! Ayo kita kabur!”

“Ap..Ap..Apa? imut? Aku? Apa yang kamu, Kyaaaaa!”

“Ayo kabur keluar!”

Menarik tangan Claire, sambil berlari ke arah pintu keluar kuil yang ditimpa cahaya matahari.

Roh Pedang tak segera mengejar mereka. Mungkin saat ini masih belum betul betul bangkit. Dalam kesempatan ini mungkin mereka masih bisa melarikan diri.

Saat mereka sampai diluar kuil, kilatan pedang menyapu pandangan Kamito. Sikut Kamito jatuh selagi menari di udara. Roh Pedang mengeluarkan auman mengerikan, tanpa ampun menyapu hutan yang tenang menjadi sangat ribut.

“Edan! Spirit itu betul betul liar, mengingatkanku pada seorang nona muda!”

“Se-Selalu saja, kamu ini berisik!”

Merasa sedikit kacau, Claire batuk batuk kemudian berdiri.

Sepasang matanya yang merah nampak membara penuh akan keyakinan,entah kenapa ia mengucap beberapa kata provokatif. Menggulung ujung roknya, ia lalu mengambil cambuk kulit yang terselip di pahanya, mengayunkannya keras keras ke tanah. Kamito sedikit terpesona usai menyaksikan kalau celana dalamnya memang berwarna putih, namun ia lekas berujar,

“Kamu sinting apa!? Lawanmu adalah Roh tersegel level tinggi!”

“Ini sih gampang. Amatiran sepertimu sebaiknya mundur saja!”

“Darimana datangnya rasa percaya diri itu!? Saat ini lebih baik kabur saja!”

Claire melepaskan tangan Kamito yang memegang bahunya.

“Nggak, kamu saja yang kabur! Pokoknya akan kujadikan Roh ini milikku!”

“Kamu, untuk alasan apa---apa kamu begitu menginginkan Roh tersegel itu!?”

“....Kamu nggak akan mengerti.”

Di saat yang sama Claire mengalihkan tatapannya.

“Aku perlu....kekuatan. Aku perlu Roh tangguh yang tak akan kalah oleh Roh manapun juga!”

Penjaga dari Api Merah Membara, Pelindung dari Tungku Api Abadi!
Inilah waktunya untuk menciptakan kontrak darah, dengarkanlah segala perintahku!

Claire melafalkan mantra pemanggilan dari “Roh Api”nya. Api merah membara muncul dan tubuhnya dikelilingi oleh hawa panas kuat.

“Mulai perburuan, Scarlett!”

Bersama dengan kobaran api---Kucing merah membara muncul. Bukannya bulu, namun api merah membara yang menyelimuti tubuh hewan spiritual itu.

Itukah bentuk asli dari Roh Apinya?

Memang, dia bukan hanya besar mulut. Mewujudkannya dalam bentuk hewan adalah bukti kalau ia adalah Roh level tinggi. ”Scarlett” mungkin hanya nama kesayangannya ,mungkin bukan nama asli dari Roh itu. Tanpa ragu ia adalah Roh level atas yang memiliki nama sejati.

Claire memegang cambuknya, dan kucing neraka itu mengeong dengan suara auman keras, lalu menyerbu ke arah Roh pedang. percikan percikan api menyebar. Atmosfer bergetar oleh auman hewan buas itu. Roh Pedang yang mengambang menyerbu mereka, memotong setiap pohon sepanjang jalannya.

“Scarlett, serang dia!”

Menanggapi teriakan Claire, kucing neraka itu melompat. Tinggi di atas Roh Pedang itu melaju, dan cakar tajam membara menyerbu ke arah pedang. Dengan suara gesekan memekakkan, kilau-kilau api berjatuhan, dan Roh Pedang jatuh ke tanah.

Claire berlari di waktu yang sama. Itu bukan serangan fatal. Roh Pedang bangkit dan terbang tak sampai sedetik kemudian, berputar sambil membentuk busur panah di udara.

Roh Api mengejarnya, mencoba tak melepaskannya dari tangannya. Mengaum dengan keras, ia membuat sabetan yang kuat lagi.

percikan percikan api bermunculan kembali. Claire menyerang keras ke tanah dengan cambuk kulitnya. Perlahan menekan gerakan Roh Pedang. Kelihatannya cambuk kulit itu bukan untuk bertarung, namun lebih untuk mengendalikan Roh Api.

Karena serangan bertubi tubi Scarlett, gerakan Roh Pedang terhenti --- di saat inilah.

“Rasakan ini, Bola Api pemusnah!”

Claire melepaskan bola api besar dari telapak tangannya.

Bola Api adalah sihir Roh level tinggi yang menggunakan api ultra panas dan bisa membakar dengan ganas apapun targetnya, tanpa menyisakan bekas. Kekuatan sihir Roh ditentukan oleh kekuatan spiritual Kontraktor Roh itu sendiri dan kekuatan Roh terkontrak secara keseluruhan.

Bola api yang ditembakkan membentuk busur panah di udara, lalu meledak dalam hembusan besar yang bahkan Scarlett ikut terkena. Gelombang kejut ledakan itu menggetarkan pepohonan di sekitarnya dan semak semak mulai terbakar dari pusat ledakan.

Kekuatan yang dahsyat.......

Melindungi dirinya dari batu yang beterbangan ke arahnya, Kamito mengigit lidahnya dan kaget.

Kekuatan semacam itu sangat tak wajar jika dimiliki oleh seorang gadis yang baru berusia 16 tahun.

Didalam putaran kobaran api sosok si kucing neraka muncul. Secara alami,kucing neraka tak bisa dilukai oleh serangan api karena sifat alaminya yang memang api.

Roh Pedang mengapung tanpa bergerak di udara. Sepertinya ia tak terpengaruh oleh serangan juga. Secara alami, Claire tak berpikir kalau ia akan menjatuhkan Roh level tinggi dengan sihir Roh. Tapi ia setidaknya berhasil merebut perhatiannya.

“Scarlett!”

Teriak Claire. Cakar Roh Api menyerang Roh Pedang lagi. Cakar api membaranya bisa melelehkan besi baja sekalipun. Kalau lawannya hanya Roh biasa, akan langsung hancur lebur. Namun Roh Pedang dengan cepat berbalik, dan serangan terhenti oleh sisi tajam pedang.

Dalam sekejap, suara aneh logam yang saling bergesekan menggema sepanjang atmosfer.

“Ap....Apa?”

Kamito menekan kedua telinganya dengan kedua tangannya.

Menerima dampak suara bertubi tubi, wajah Claire menekuk karena kesakitan dan ia berlutut di tempatnya.

Roh Pedang mengeluarkan suara aneh – dan lalu, berubah. Bentuknya berubah dari pedang panjang biasa menjadi pedang bastard raksasa.

Dalam sekejap.

“Apa?”

Roh Api Claire menerima serangan tak terduga dan gagal menghindari tebasannya. Tubuhnya tertebas menjadi dua, dan lenyap ke udara bersama dengan kobaran api yang menyelimutinya.

Dengan hanya satu tebasan, ia kehilangan kekuatan untuk mempertahankan wujudnya di dunia ini.

....Sial! bukannya jelas kalau lawannya itu terlalu kuat!? Sepertinya Roh itu benar benar sudah bangkit!

Kamito mengomel dalam hati, lalu mengarahkan tatapannya pada Claire.

Claire telah jatuh ke tanah, dan matanya yang terpana hanya terpaku pada ruang kosong dimana Roh Apinya barusan lenyap.

Menghabisi Roh Api dalam satu serangan, Roh Pedang mengarahkan serangannya pada Claire.

Pedang Bastard raksasa itu melaju kencang ke arah Claire.

“Claire!”

Kamito berteriak lalu mulai berlari. Entah kenapa tubuhnya bergerak sendiri sebelum ia sadar.

“Aahhhhhhhh!!!”

Menyerbu di depan Claire, ia menusukkan telapak tangannya ke arah Pedang Bastard. Bukan tangan kirinya yang terbungkus sarung tangan kulit – namun tangan kanannya.

.......Nggak ada pilihan selain melakukan ini

Oh Roh Terhormat yang Tersegel Dalam Pedang Suci Kuno!
Engkau akan menerimaku sebagai Majikanmu, dan Aku akan menjadi pelindung bagi Engkau!

Keringat bercucuran dari dahinya, ia mulai melafalkan mantra kontrak Roh yang ia bersumpah tak akan melafalkannya lagi. Ujung pedang menembus kulit tangannya. Darah merah mengucur deras.

.....Gwah! Ugh!

Energi spiritual berskala besar serasa meremukkannya, tanah dan batu di sekitarnya bergetar karena tekanan udara. Ia hampir kehilangan kesadarannya karena rasa sakit tak terperikan. Tapi kalau ia pingsan disini, Claire yang ia lindungi di belakangnya akan terpotong menjadi dua.

Tiga Kali aku memerintahkan Engkau!

“......Tak mungkin, Kontrak Roh!?”

Suara kekagetan muncul dari tenggorokan Claire.

Kamito berlutut di atas tanah.Dan,suara tulangnya yang remuk muncul dari balik jasnya.

Bertukar Sumpahlah denganku!

Menahan rasa sakit luar biasa, Kamito menyelesaikan kata kata terakhir ritual kontraknya.

Dalam sekejap, tubuh Roh Pedang mengeluarkan cahaya biru pucat.

Apa!?

Kilatan sekejap dan suara gemuruh seolah mengisi semua ruang kesadarannya.


Bagian 4[edit]

Ia membuka matanya, dan wajah Claire Rogue ada di depannya. Menggantung di wajahnya adalah rambut kuncir duanya yang serasa menggelitik wajahnya.

Sepertinya ia baru mengucapkan sesuatu, namun Kamito tak bisa mendengarnya dengan jelas. Mungkin ledakan suara tadi telah mengacaukan pendengarannya.

......Sepertinya aku masih hidup

Terbaring lemah di tanah, Kamito tampak sangat lega. Kesempatan sukses melawan Roh selevel itu sangatlah rendah, tapi sepertinya judi yang ia lakukan terbayar sudah.

Mengangkat alisnya perlahan, ia mencoba menahan rasa sakit di sepanjang tubuhnya dan mengangkat tangannya secara perlahan.

Di tangan kanannya yang tadi tertembus pedang---

Bukannya luka, namun emblem dua pedang yang saling bersilangan tertempa padanya.

Adalah bukti dari Kontrak Roh – Segel Roh.

Aaah.....aku melakukannya lagi

Menatap segel di tangan kanannya, Kamito komat kamit.

Sedikit rasa bersalah menggelitik perasaan terdalamnya.

Ia telah melanggar janjinya dengan orang itu---

Namun untuk menyelamatkan Claire dalam situasi itu, hanya metode ini saja yang ampuh.

Claire sadar kalau Kamito telah bangun, dengan tangannya di pipi Kamito dan wajahnya semakin mendekatinya. Begitu dekatnya hingga Kamito bisa merasakan embusan nafasnya. Dengan mata merah jernihnya, ia menatap Kamito. Bibir mungilnya gemetaran.

“.......Kenapa?”

“Kenapa, kamu laki-laki, namun bisa menjalin kontrak dengan Roh?”

“......”

Kamito tak menjawab dan perlahan bangun. Merasa diabaikan, Claire mengangkat alisnya dengan penuh kejengkelan.

“I-Itu Roh Pedangku!”

“Sayang sekali ya, beberapa saat lalu aku yang membuat kontrak dengannya.”

Kamito menghembuskan nafasnya sambil menunjukkan punggung telapak tangannya dimana segel Roh itu tertempa.

"Ap-Ap-APaaaaaa!!??"

Ekspresi Claire nampak sangat terkejut dengan mulutnya terbuka lebar.

Yah, itu reaksi yang sangat alami

Dengan mendesah - Kamito merasakan sedikit sakit di dadanya. Tentu saja, ia bisa dengan jelas memahami respon itu. Pada dasarnya, kemampuan yang tak bisa dimiliki oleh siapapun selain gadis perawan - Kontrak Roh.

Eksistensi laki laki yang dapat mengontrak Roh,sepanjang sejarah, hanya ada satu orang.Dan seseorang yang membawa kekacauan dan kehancuran di dunia, yang disebut Kontraktor Roh Raja Iblis.

Sangat alami untuk takut padanya, yang memiliki kekuatan Kontrak Roh seperti si Raja Iblis.

Kamito berdiri dan dengan tenang pergi menjauh.

Ia tak menyesal. Untuk menyelamatkan gadis ini, hanya inilah yang bisa dia lakukan.

"Tunggu, aku bilang tunggu!"

Kamito hampir pergi, namun sebuah suara memanggilnya dari belakang.

Menoleh, ia melihat Claire dengan tangannya di pinggangnya tengah menatap tajam ke arahnya.

"Kamu mencuri....Rohku.....kamu harus bertanggung jawab!"

"Hah?"

Kamito mengernyit.....hal itu tak masuk akal baginya.

Karena reaksi Kamito itu, Claire tanpa sabar menyibakkan rambut kuncir duanya.

"Harusnya akulah yang mendapatkan Roh itu, sudah kubilang, kamu harus bertanggung jawab!"

"Tang....Tanggung jawab?"

Karena kata kata tak terduga itu, Kamito jadi lebih bingung.

.....Gadis itu bicara apa.

"Karena itulah....."

Claire mengayunkan cambuknya, lalu mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kamito.

"Kamu harus menjadi Roh Kontrakanku!"

terus kita ngentot bareng
Back to Ilustrasi Novel Return to Halaman Utama Forward to Bab 2