Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid1 Bab8

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab Terakhir: Penari Pedang Terkuat[edit]

Bagian 1[edit]

Kota Akademi adalah kota kecil yang terletak didalam wilayah Akademi Roh Areishia.

Panorama kota, yang tersusun atas bangunan dari batu, terisi penuh sesak oleh kerumunan warga.

Sambil terus bertabrakan dan menyerempet kerumunan manusia, Kamito berlari kencang menuju arena kompetisi.

--Kalau Kamito memikirkan sesuatu secara berlebihan, itu masih normal. Namun, ia merasakan ada ketidakberesan.

......Edan! Tarian Pedang tanpa Roh Terkontrak itu sama saja dengan--

Meski nafasnya hampir habis, ia terus berlari kencang, sambil terus menarik tangan Est.

Ia sendiri tak paham kenapa harus super cemas demi gadis yang suka menyiksanya itu.

Claire Rogue adalah seorang—Tirani, yang penuh harga diri, nekat, dan sangat cepat menyabetkan cambuknya pada orang lain.

Namun, Kamito entah kenapa tak bisa membiarkannya sendiri.

Apalagi, dirinya yang sebenarnya itu--

Kamito berhenti di lokasi tujuannya.

“—Ada disini kan?”

Di hadapan arena yang didirikan di tengah tengah kota, banyak sekali penonton yang telah hadir.

Tarian Pedang pada dasarnya adalah ritual suci yang bertujuan menghibur para Roh—Misalnya Tarian Kagura.

Namun, tak bisa dipungkiri kalau Tarian Pedang juga menjadi hiburan favorit umat manusia.

Juga, sama seperti festival kebanyakan, Roh sangat menyukai orang orang antusias dalam jumlah besar.

Ia menunjukkan surat pengenal Akademinya pada petugas dan segera masuk kedalam, kemudian menerobos kerumunan penonton di barisan terdepan.

Sorak sorai terdengar riuh disana sini. Suara tembakan kembang api. Kompetisi Tarian Pedang sudah dimulai di tengah arena.

Terdapat sekitar 20 orang peserta. Bermacam jenis Roh dikumpulkan bersama dan saling bertarung.

Menggunakan sistem pertarungan penghabisan dimana kontestan yang bertahan paling akhir akan mendapatkan hak menjalin Kontrak dengan Roh Militer yang kuat.

Kamito mencari keberadaan Claire—

“......!?”

Karena pemandangan tak terduga, ia sempat meragukan matanya sendiri.

Bahwa Claire Rogue sedang—

Seluruh tubuhnya terluka dan sedang merangkak di arena.

Melawan Roh Terkontrak yang memiliki kekuatan ekstrim, Claire bertarung hanya dengan cambuk dan Sihir Rohnya.

Meski tubuhnya terkena serangan dan terbanting ke dinding, ia berdiri untuk bertarung lagi dan lagi.

“Claire—!”

Kamito tak mungkin turun untuk menolongnya. Kalau ia melakukannya, Claire pasti akan terkena diskualifikasi.

Kalau ia melakukan itu, sudah jelas Claire takkan mengampuninya seumur hidupnya.

Kamito mengigit bibirnya dan di hadapannya, Claire kembali terlempar ke dinding.


Bagian 2[edit]

--Lemah. Kenapa aku begini lemah?

Sambil tersungkur ke tanah, Claire mengigit bibirnya kuat-kuat. Aroma darah menyebar di mulutnya. Sepertinya ada bagian tertentu di mulutnya yang terluka. Ia bermaksud untuk berdiri namun kakinya tak mau digerakkan. Sepertinya ada yang salah dengan tubuhnya. Bahkan beberapa tulang mungil di tubuhnya sudah merasakan dampak yang sama.

“...Guu....”

Biarpun begitu, ia masih tetap berdiri dan tak sudi untuk menyerah.

Ia perlahan berdiri diatas kakinya yang bergetar hebat.

Ia melihat ke atas dengan susah payah. Di pusat altar terdapat Pilar Batu Pemujaan. Didalamnya, terdapat Roh Militer level-A bernama ‘Glasya Labolas’ yang tersegel, dibawa kemari dari ibukota Kerajaan.

Telah menjatuhkan banyak Ksatria Roh Kerajaan dalam peperangan sebelumnya, itu adalah Roh raksasa yang terkenal.

.......Kalau dia menjadi milikku, aku pasti menjadi sangat kuat

--Lalu aku bisa menyelamatkan kakakku.

“Api—Menarilah di tanganku, Menarilah!”

Ia menyalakan kekuatan spiritual dalam tubuhnya dalam bentuk api, dan menghasilkan bola api kecil di telapak tangannya.

Dalam situasi dimana tak ada sumber energi spiritual dari Scarlet (Roh Terkontrak), bahkan bagi Claire, yang lebih berpengalaman, menghasilkan bola api kecil saja sudah menguras banyak tenaganya. Namun, kemampuan itu takkan cukup untuk melawan Roh.

Namun, kalau ia mengincar Kontraktor Rohnya, mungkin saja—ada sedikit peluang untuk menang.

“Hah? Kamu masih mau melanjutkan juga? Kamu tak pernah belajar rupanya.”

--Ia mendengar suara ejekan dari arah depan.

“......!”

Ia mengigit giginya dan mengangkat kepalanya. Dua Kontraktor Roh tengah berdiri dengan ekspresi seolah melecehkan.

Mereka adalah seniornya di Akademi. Masing-masing dari mereka menggunakan “Roh Adamantium” dan “Roh Cermin Sihir”.

“Hey, apa otakmu sudah rusak? Kamu bahkan nggak punya Roh Terkontrak lagi.”

“Sikapmu yang seperti itu sangat menyebalkan,tahu!”

“.....Kalian!”

Mengincar dua senior yang telah melecehkannya, Claire menembakkan bola apinya.

“Ahahahaha! Apa itu, Sihir Roh? Serang dia, Roh Adamantium!”

Gadis di sisi lain dengan kejam mengerucutkan bibirnya dan memberi perintah pada Roh Terkontraknya.

Roh Adamantium memancarkan cahaya biru dan menyerbu dan memukul perut Claire.

“Agg....!”

Teriakan kesakitan lepas dari mulut Claire.

Ia tak begitu saja mengincar organ vitalnya. Ia pelan pelan menyiksa Claire dan tampak sangat menikmatinya.

Ini bukanlah Tarian Pedang elegan untuk menghibur Roh. Ini semua tak lebih dari tindakan kekerasan yang berlebihan.

“......Congkak betul kamu. Padahal cuma adiknya si Ratu Bencana itu.”

Wajah seniornya nampak tertekuk dalam kebencian. Sambil terus dihajar di sepanjang tubuhnya—akhirnya Claire mengingat sesuatu. Mereka berdua adalah rekan tim, yang pernah dihajar habis-habisan oleh Claire dalam turnamen antar kelas di Akademi bulan lalu. Tampaknya mereka berdua hanya menyimpan dendam padanya.

“Tatapan macam apa itu? Kalau tak segera menyerah, kami akan menghabisimu!”

“Nggak masalah kalau kamu mau berlutut dan menjilat sepatuku. Ya ampun, kebodohanmu itu sama saja dengan kakakmu.”

“.....Di....diam!....Aku belum selesai.....”

Claire dengan erat meremas pasir di tanah tempatnya terjatuh.

“Hn, apa kamu bilang sesuatu?”

“Kubilang............diam!”

Sudah tak bisa lagi. Ia tak bisa menahan emosinya lagi.

Terus menerus menghina kakakku. Bagaimanapun juga, kesabaranku ada batasnya

Ia menuangkan kekuatan spiritualnya di tangan kirinya, yang sedang meremas pasir. Simbol Roh hitam mulai menampakkan sosoknya dan aura kegelapan muncul.

Dan tak lama setelah jalur terhubung, sensasi tak mengenakkan menyebar ke seluruh tubuhnya.

Ia tak sudi kalah dengan cara seperti ini. Tak ada harganya kalau dia terus menjadi lemah.

Aku harus menggunakan kekuatan sejati di tangan kiriku!

“Apa.......Roh Terkontrak!?”

Mata para seniornya terbuka karena terkejut.

“Kalau kalian menginginkannya, akan kutunjukkan........kekuatan sejati Roh Terkontrakku!”

Guooooo.......!

Api hitam, yang meluncur dari tangan kiri Claire, memangsa Roh Adamantium dalam sekejap.

Muncul dari api hitam mengerikan itu adalah—

Hewan Sihir dengan tubuh diselimuti aura kegelapan.

Bukan api merah membara seperti Scarlet. Namun api hitam gelap yang menunjukkan tanda kegilaan.

Auman Hewan Kegelapan itu mengguncang suasana seluruh arena.


Bagian 3[edit]

“.........Apa-apaan itu?......”

Kamito bangkit dari kursi penonton dan berteriak.

Hewan Roh Hitam, yang dikeluarkan oleh Scarlet, memangsa Roh Adamantium di depannya dalam sekejap mata.

--Itu bukan Scarlet.

Penampilan luarnya memang mirip Kucing Neraka itu, namun aura spiritual yang dikeluarkannya terasa sangat gelap.

Roh Api hitam itu menggigit dan meremukkan Roh Cermin Sihir di sisi lain kemudian memangsa Roh Roh yang lain seperti hewan buas yang kelaparan. Bukan hanya itu. Roh Roh disekitar Hewan Kegelapan itu tiba-tiba lepas kendali seolah menjadi gila dan mulai saling memangsa Roh lain.

“Kegilaan sedang menyebar.......”

Kamito mengingat keberadaan Roh Sihir yang muncul di Astral Zero tadi malam.

Dan tentang Roh Air di kamar asrama yang lepas kendali.

Roh, dalam kegilaan, akan kehilangan akal sehatnya dan tak mampu mengendalikan kekuatannya sendiri. Sampai keberadaan mereka lenyap, mereka akan terus mengamuk dan melakukan kehancuran.

Namun, Hewan Sihir Kegelapan itu—

Dia dengan paksa mengambil seluruh energi spiritual Claire?

Claire hanya bisa berdiri terpaku di tengah arena dengan ekspresi sangat kelelahan.

Dari Simbol Kegelapan yang terpahat di tangan kirinya, darah terus menetes.

Wajahnya nampak pucat dan tubuhnya mengigil hebat. Kelihatannya dia sudah tak kuat berdiri.

Kalau situasi dibiarkan seperti ini terus, dia akan kehilangan nyawanya.

Para penonton, yang menyadari kalau ada keanehan dengan kondisi pertarungan di arena, mulai menimbulkan keributan dan kepanikan.

Gadis-gadis Kontraktor Roh di arena, juga ikut panik karena Roh-Roh Terkontrak mereka tiba-tiba tak lagi mau mendengar perintah mereka.

Kamito melempar pandangannya ke penjuru arena. Meski sudah jelas ada situasi yang aneh ,para Ksatria Roh yang harusnya sudah dipersiapkan untuk situasi tak terduga masih belum muncul juga. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Apa yang para Ksatria lakukan di saat seperti ini?”

STnBD V01 004.jpg

Namun, Ksatria Roh yang dibariskan sepanjang gerbang arena hanya berdiri tak bergerak, hanya menatap pada ruang kosong. Mata mereka nampak kosong. Seolah mereka tengah dihipnotis—

“.....Apa!? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!”

“Itu adalah Roh Sinting, Kamito.”

Est, yang masih duduk di sampingnya, bergumam tanpa ekspresi.

“Roh Sinting?”

“Itu adalah Roh tipe-perasuk yang memicu kegilaan pada Roh-Roh yang dipengaruhinya. Memang bukan Roh level tinggi, tapi Roh yang dirasuki akan kehilangan akal sehatnya dan, sampai keberadaannya lenyap, dia akan terus bertarung.”

“Merasuki—jangan-jangan, Hewan Kegelapan itu memang Scarlet?”

“Tepat sekali. Kucing Neraka adalah Roh yang sangat kuat, tak mungkin lenyap begitu saja karena dihancurkan oleh Roh Sihir. Sepertinya dia kehilangan kekuatannya untuk mewujudkan diri secara sementara, namun—“

“Begitukah?”

Api yang berada pada Roh Api itu masih ada. Namun, Claire terus menerus berpikir kalau Scarlet telah lenyap, sehingga ia tak mampu menghubungkan jalurnya.

“.....Namun, dalam kondisi gila, hanya masalah waktu sampai Roh itu betul betul lenyap......”

“Ah, aku paham!”

Kamito mengangguk.

‘Scarlet—‘, Roh Api dengan wujud Kucing Neraka yang memiliki kobaran api merah.

Yang merupakan api identitas Claire Rogue.

Api itu berubah menjadi Hewan Sihir menjijikkan dan terus memangsa Roh-Roh lain disekitarnya.

Hal semacam itu mustahil menjadi api yang diinginkan oleh Claire.

“—Est. Tolong pinjamkan aku kekuatanmu!”

“Aku adalah Pedang Kamito. Aku akan mentaati segala perintahmu.”

Est dengan tenang meraih tangan Kamito. Perasaan dari tangannya, dingin namun sangat lembut.

“Ratu Baja berkepala dingin, Pedang suci yang menghancurkan kejahatan—disini dan sekarang, jadilah pedang di tanganku!”

Kamito memutar pelepasan Senjata Elemental; dan di waktu yang bersamaan, tubuh Est berubah menjadi partikel cahaya dan lenyap.

Tak lama kemudian, Pedang bermata satu yang bersinar keperakan muncul di tangan Kamito.

Literatur berbahasa Roh yang terpahat pada sudut pedangnya bertuliskan ‘Est Pemusnah’.

Hanya dengan memegangnya, ia paham kalau Pedang itu memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Maaf. Jalur menuju wujud sejatiku sedang tertutup, jadi batasku hanya sampai disini saja.”

Est, yang sudah berubah menjadi Pedang, mengucapkannya dengan nada meminta maaf.

“Nggak—ini saja sudah cukup—ayo,Est!”

Kamito mempersiapkan Est Pemusnah dan melompat ke arena tempat Hewan Kegelapan berada.

Ketika ia mendarat ke tanah, Hewan Sihir Kegelapan mengeluarkan taringnya dan bersiap-siap untuk menyerangnya.

Kamito memainkan Pedangnya dengan gaya berputar.Ia melempar jauh api hitam dan maju menyerbu ke arah Claire.

“Claire!”

“........Kamito...”

Claire membuka mata merah delimanya.

Lututnya berada di atas tanah dan ia bernafas dengan berat. Tubuh mungilnya bisa jatuh kapan saja.

Darah, yang masih menetes dari simbol Roh di tangan kirinya, membasahi pasir yang berada di bawahnya menjadi kemerahan.

Di saat itulah, Hewan Roh Api Hitam mencabik cabik tanah, seolah sedang bersenang-senang, dengan cakarnya.

Aroma sesuatu yang terbakar tercium di udara. Angin panas yang bercampur debu dengan lembut menyapu pipi Kamito.

“......!?”

Dengan kecepatan mengagumkan, Kamito mengelak dari terjangan Hewan Kegelapan. Ia berbalik untuk meluncurkan tebasan pada punggung Hewan itu yang masih terus melaju.

Kilatan Pedang Perak tampak berkilau—Senjata Elemental Pedang Rohnya mampu memotong apapun, bahkan api yang tak bisa terpotong.

Hewan Kegelapan mengaum sekeras kerasnya dan jatuh di tengah udara. Bukan berarti dia lenyap. Api yang terpecah pecah lenyap pada posisinya masing-masing dan membentuk dinding yang mengelilingi Kamito di dalamnya. Kamito menggigit bibirnya dan berhenti pada titik itu.

“Claire, bertahanlah! Kembalilah pada akal sehatmu!”

“Ap.....apa......kenapa kamu bisa ada disini?”

Ekspresi kebingungan muncul di wajah Claire.

“.....!?”

Kemudian, seolah dia baru saja menyadarinya, ia membuka matanya dalam ketakutan yang amat sangat.

Pemandangan yang ditangkap matanya adalah adegan penghancuran yang kejam.

Terdapat Api Hitam yang terlihat sangat menjijikkan.

Sekelompok Roh menjadi gila dan memangsa satu sama lain.

Para siswa dari Akademi satu persatu kehilangan kesadarannya karena kekuatan spiritual mereka dimakan dan berjatuhan ke tanah—

“Claire, inikah kekuatan yang kamu inginkan? Hal seperti ini? Seperti inikah apimu?”

Kamito berteriak seolah memecah kerongkongannya.

Selagi ia menyingkirkan Api Hitam yang menyerangnya dengan Pedang, ia mengulurkan tangannya pada Claire.

“Aku-.....aku.....”

Claire menggerakkan bibirnya dengan ekspresi pucat—

Ia kemudian menggeleng cepat kepalanya seolah sudah mengubah pikirannya.

“Di.....diam! Aku butuh kekuatan! Kekuatan yang besar!”

Rambut merah kuncir duanya nampak menyala.

Api hitam semakin merajalela seolah menanggapi kemarahan Claire.

“.....Kamu nggak akan paham. Perasaanku yang selalu sendirian—“

Claire menundukkan kepalanya dan mengucapkannya dengan nada sendu.

Hari itu, empat tahun lalu, hari dimana wajah riang kekanak-kanakan Claire Elstein berakhir.

Gadis itu, yang dikhianati oleh kakak tercintanya, juga orangtuanya yang ditahan oleh pihak Kerajaan, telah kehilangan segalanya, juga—

Hidup dengan menanggung dosa yang diperbuat oleh Sang Ratu Bencana.

Kalau ia tak menjadi kuat sendiri, dia tak akan mampu melanjutkan hidupnya.

“.....Kamu nggak sendirian, bego!”

“Eh?”

Usai mendengarkan pernyataan Kamito—

Claire mengangkat kepalanya dengan ekspresi penasaran.

“Aku masih disini. Aku masih berada di sisimu. Selain itu, aku adalah—“

Kamito bergerak selangkah mendekati Claire.

Dinding api di sekeliling mereka terbakar dengan penuh intimidasi.

“Ja....jangan mendekatiku....”

“Claire.......”

“Jangan datang kesini!”

Pashin!—Dia menutup matanya dan menyabetkan cambuknya kuat-kuat ke pipi Kamito.

Darah merah mengucur dari pipinya. Kamito bahkan tak mengelapnya dan terus berjalan maju—

“...!? Kenapa kamu nggak menghindarinya?”

Bibir merah cherry Claire semakin menggigil.

“Aku nggak bermaksud memukulmu........tapi kenapa......”

Kamito berdiri di depan Claire dan perlahan mengangkat tangannya diatas kepalanya.

“......!”

Claire mengira Kamito akan memukul balik, dan secara refleks menutup matanya rapat-rapat.

Kemudian—

.....Poff.

“Eh?”

Claire membuka mata merah delimanya lebar-lebar.

Ia menatap Kamito dengan ekspresi kosong.

“—Claire, apimu sangat indah.”

Kamito meletakkan tangannya diatas kepala Claire dan mengacak acak rambut Claire.

“....Ap....ap.....in......ind.....eh?”

Pipi Claire bersemu kemerahan.

“Membakar dengan indah, mempesona, dan elegan. Aku menyukai apimu.”

“Ah, di....di....”

--Karena itulah kamito ingin melindungi api itu.

“Kalau kamu menginginkan kekuatan—“

Kamito menatap lurus mata Claire dan berkata—


“Aku akan jadi Roh terkontrakmu.”


“Kamito......”

Di mata merah Claire, tetes-tetes air bermunculan—

Kebingungan, ia menyekanya dengan lengan seragamnya.

“Ap....apa yang kamu katakan? Kamu pada dasarnya memang Roh Terkontrakku!”

“Ah, benar juga ya.......”

Kamito tersenyum pahit dan perlahan menjauhkan tangannya dari kepala Claire.

Pada saat itulah, ia menebas dan menjauhkan Hewan Roh Kegelapan yang mengaum dan menyerangnya dengan kecepatan tinggi.

Dengan punggungnya menghadap Claire, Kamito memblokir serangan Hewan Kegelapan seperti Ksatria yang melindungi Sang Tuan Putri.

“—Hei, Scarlet! Apa kamu sudah lupa pada majikanmu yang berharga ini?”

Dengan ucapan Kamito yang diarahkan padanya, Api Hitam yang menyelimuti Hewan Kegelapan nampak sedikit bergetar.

Scarlet – sepertinya Hewan itu merespon nama itu.

“........Scarlet?”

Claire bertanya.

“Ah, Roh Terkontrakmu sebenarnya belum lenyap. Hanya kehilangan kekuatannya untuk sementara waktu. Tapi, sekarang sedang dirasuki Roh Sinting dan penampilannya jadi seperti itu.”

“......Scarlet masih hidup!?”

Claire terkejut bukan main dan mengangkat kepalanya. Kamito mengangguk.

“Ah, Pedang ini—Est yang memberitahukannya.”

“.....Itu, mungkinkah Pedang Tersegel yang waktu itu?”

“Betul. Tapi sekarang nggak sampai sepersepuluh kekuatannya yang bisa kugunakan.”

Memasang kuda-kuda dengan Est Pemusnah di kedua tangannya, Kamito menoleh ke arah Hewan Kegelapan yang diselimuti api hitam.

“........”

Claire menatap ke arah api hitam yang mengerikan itu.

Ia melihat sesuatu didalam api dan dengan cepat mengangkat kepalanya—

“........Memang Scarlet!”

Ia menyeka air matanya untuk membuang keraguannya.

“Kalau memang begitu—“

“Claire, mundurlah dulu. Roh yang Sinting bahkan bisa menyerang Kontraktornya sendiri.”

Kamito menghentikan Claire, yang berniat untuk maju, dengan tangannya—

“Scarlet menjadi gila gara-gara aku. Karena itu, hanya aku yang bisa mengembalikannya.”

--Api, menarilah di tanganku! Menarilah!

Meluncur dari bibir merah delimanya adalah Bahasa Roh Aria.

Kemudian, bola api kecil tercipta di telapak tangannya.

“Roh Sihir? Apa yang bola api kecil itu bisa—“

“Seperti ini.....!”

Tanpa ragu-ragu, Claire melesakkan bola api kecil itu ke telapak tangan kirinya.

Ada suara daging yang terbakar.

“He...hei! apa yang kamu—“

“A......gu......ugh.........”

Sambil menggeretakkan giginya, Claire merintih kesakitan.

Di wajah pucatnya, air mata mengalir sepanjang pipinya.

“Kamu........”

Kamito akhirnya paham.

Simbol Roh Kegelapan, yang terpahat di tangan kirinya—adalah simbol kontraknya dengan Roh Sinting itu.

Simbol Roh adalah ‘gerbang’ eksklusif untuk menghubungkan jalur antara Astral Zero dengan dunia manusia.

Kalau simbol itu dihancurkan, secara alami, kontrak dengan Roh akan lenyap.

Claire secara fisik membakar simbol Roh dan menghentikan kontraknya dengan Roh Gila.

Guorooouuuuu.......

Hewan Sihir, yang terselimuti oleh api hitam, mengaum seperti angin badai.

Dengan simbolnya yang dihancurkan, tampaknya ia mengalami rasa sakit yang sama dengan Claire, Kontraktornya.

“Maaf, Scarlet.......aku juga, akan menahannya.........”

Claire sedang berjuang melawan rasa sakit dan pada saat lutut Claire menghantam tanah.

Hewan Sihir Gila itu mengaum keras dan menyerbu ke arah Claire.

“--!”

Kamito dengan cepat merespon dan menahan serangan Hewan Kegelapan dengan Pedangnya.

Cakarnya, yang terbungkus api hitam, membakar ujung rambutnya dan pada saat itu juga—ia menyabetkan pedangnya dengan cepat selagi keduanya berbenturan fisik di tengah udara.

Terlihat ayunan Pedang yang berkilau. Di waktu yang sama, Api hitam panas yang dapat melelehkan besi baja menyerang seluruh tubuh Kamito.

“Kamito!”

Teriakan Claire menggema.

Namun, tubuh Kamito sudah lenyap.

Ketika Pedang dan cakar saling berbenturan, ia menghindar seperti bayangan dan berhasil menyerang punggung si Hewan Kegelapan.

--Roh yang menggila memang lebih kuat ketimbang kondisi normal

Hewan Kegelapan itu menoleh ke arah belakang—namun sudah terlambat.

Namun, gerakannya sudah melambat. Sudah jelas, kemenangan akan jadi milikku!

Kamito menendang tanah dan berputar dengan tajam, dan menyabetkan Pedang Est Pemusnah yang berkilau keperakan.

Dengan satu tebasan pedang itu, api hitam, yang merasuki si Hewan Kegelapan, hancur dan lenyap.

“—Claire, kamu baik-baik saja?”

Kamito mendatangi Claire yang sedang terbaring di tanah dengan ekspresi kelelahan.

Dari pergelangan tangan yang menempel di dahinya, tetes-tetes kemenangan berjatuhan.

“A....guu....”

Rintihan yang berasal dari suara terdalamnya terus terdengar. Tangan kirinya menderita luka bakar yang cukup serius.

Hanya dengan melihat kondisi kulitnya yang terkena luka bakar, luka itu tampak menyakitkan bagi gadis sekecil dirinya.

Namun, simbol Roh Hitam yang terpahat padanya lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Dengan ini, jalur menuju Roh Kegelapan sudah tak ada lagi.

“Tindakanmu nekat betul. Sini, kemarikan lukamu. Biar aku yang merawatnya.”

“A.....aku nggak apa-apa. Kalau hanya segini sih.........”

Wajah Claire merona merah dan dengan cepat membuang tatapannya.

Pada saat itulah, rasa sakit menusuk seluruh tubuhnya, ia dengan lembut meneriakkan ‘Hyauuu’ dan matanya berkaca-kaca.

“Apa, kamu nggak jujur ya?”

“Be-berisik! Kuubah kamu jadi batubara nanti!”

Kamito tersenyum pahit pada sikap Claire yang biasanya.

--Namun, seperti inilah Claire yang normal.

Wajah yang penuh penderitaan sama sekali tidak cocok baginya.

“Ngomong-ngomong, dimana—“

Kamito tiba-tiba memasang wajah serius dan bertanya.

“Apa.......”

“Dimana kamu membuat Kontrak dengan Roh Sinting seperti itu?”

“Itu---“

Claire tersedak mendengar pertanyaannya dan pada saat itulah—

“Ah, apa hadiahku membuat kamu senang?”

Dari belakang, mereka berdua mendengar suara tak diundang.

Suara yang lembut, seperti rambut halus yang menggelitik bagian dalam telinga.

“......?”

Suaranya terdengar tak asing—bahkan tak perlu dipertanyakan lagi.

Selama tiga tahun, Kamito selalu—selalu menantikan suara itu, suara milik dia.

Kamito perlahan menoleh.

Dan disana—

Gadis cantik berambut hitam dengan dandanan serba hitam tengah tersenyum.


Bagian 4[edit]

Kamito hanya berdiri mematung dengan ekspresi beku.

“Jangan-jangan, itu......”

Yang berada disana adalah—

Seorang gadis, yang sangat dikenal oleh Kamito.

Ia memberikan laki-laki itu, yang sudah menutup hatinya kedalam sangkar dingin, cahaya yang hangat—

“.....Res........tia.......?”

Kamito menggumam dalam suara samar-samar.

“—Lama nggak ketemu, Kamito.”

Gadis itu, yang berpakaian serba hitam, tersenyum simpul.

.......Sukar dipercaya.

Namun, penampilannya sama sekali tidak berubah, semenjak tiga tahun lampau.

Wajah cantik itu, tanpa ragu, adalah milik seorang gadis, yang sangat Kamito kenal.

Roh Kegelapan, Restia.

Roh Terkontrak milik Penari Pedang Terkuat—Ren Ashbell.

“Restia, aku—“

Kamito mengulurkan tangannya dan bermaksud meraih gadis itu.

Namun kakinya seolah dijahit di tempatnya berdiri, sehingga tak kuasa untuk bergerak.

Bahkan meski gadis, yang telah ia cari dengan susah payah selama tiga tahun, berada di depannya—

--Ada yang tidak beres. Intuisinya sebagai Kontraktor Roh mengatakan itu.

Ia tersenyum seperti itu.

Lebih jauh lagi, di tangan gadis itu, apa itu gumpalan hitam yang berputar putar?

“Aku ingin bertemu kamu Kamito, namun—“

Si Gadis menatap gumpalan hitam ke altar di pusat arena dan melemparkannya kesana.

“.......?”

“Berpelukannya di kesempatan berikutnya saja. Lihat, anak itu hampir bangun.”

Saat gumpalan hitam berubah menjadi kabut di tengah udara, dengan cepat mengelilingi batu pemujaan di altar.

Pilar Batu yang dibawa dari ibukota Kerajaan dan menyegel Roh Militer kuat.

“Restia......apa yang kamu--.....”

Kamito bertanya dan pada saat itu—

Tiba-tiba, tanah berguncang dengan keras.

“Apa......!?”

“Ah, sepertinya dia sudah bangun.”

“Restia.....!”

“Kamito, berhati-hatilah! Dialah orang yang memberiku Roh Sinting itu.”

Claire berteriak pada Kamito, yang mendadak menjadi sangat pucat.

“Ap....a....?”

Pada saat itulah, auman yang menggetarkan tanah bersuara keras.

*Pishii*—pilar batu yang dikelilingi oleh kabut hitam mulai retak.

Zu....zuzuzuzuzu............zuzuzuzuzu.............!!

Dari retakan batu pilar, tangan manusia raksasa muncul.

Itu kan—

Glasya-labolas menjadi gila!?

Merasa shock, ia menoleh. Restia sedang tertawa terkikik-kikik.

Menunjukkan senyuman setan yang tak pernah Kamito lihat sebelumnya.

“—Sampai jumpa, Kamito. Kita akan bertemu lagi.”

“Restia....apa yang terjadi!? Kenapa kamu......”

“Karena itu adalah <Permohonan>mu.”

“......!?.......”

Wajah Kamito membeku.

“Tunggu—tunggu dulu, Restia!”

“Aku selalu menunggumu, selama tiga tahun ini.”

“Rest.......”

Restia tersenyum sekali lagi dan menghilang kedalam ruang kosong yang menjadi kabut hitam.

Kamito menjatuhkan kedua tangannya dalam keputus asaan dan berdiri bengong dengan mata tak bernyawa.

--Ia tak paham kenapa semua ini harus terjadi.

Restia yang memberi Claire Roh gila itu......?

Ia tak bisa mempercayainya. Bukan, ia tak ingin mempercayainya.

Namun, penampilan gadis itu jelas jelas milik Roh kegelapan yang selama tiga tahun ini ia cari.

Mantan Roh Terkontraknya.

Gadis yang memberi Kamito, yang kehilangan perasaan manusiawinya, cahaya hangat pertamanya.

Kalau gadis itu sampai berubah—

Ini salahku.........aku yang sudah menjadikannya seperti itu

Tarian Pedang tiga tahun silam.

Kamito, yang menjadi juara dibawah nama Ren Ashbell—

Mencoba meminta <Permohonan> yang tak seorangpun manusia ingin dikabulkan.

Karena alasan itulah, Kamito memutuskan untuk kehilangan dirinya.

Ia percaya kalau Restia masih hidup entah dimana.

Rasa sakit oleh Simbol Roh di tangan kirinya berbisik padanya.

--Bahwa Restia masih hidup, dan Kamito masih bisa menebus kebodohannya waktu itu.

Meski menyakitkan, mereka harus bertemu dalam kondisi seperti itu—adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

“Restia........inikah hukuman bagiku?”

Kalau itu benar—baginya terlalu kejam.

Seolah kekuatan di seluruh tubuhnya lenyap dan bisa jatuh kapan saja, lututnya menghantam tanah.

Ia tenggelam kedalam kegelapan yang ia buat sendiri.

“Kamito! Hei, apa kamu dengar, Kamito!”

Bahkan suara keras Claire yang memanggilnya hanya samar-samar terdengar.

Sekali lagi, tanah bergemuruh dengan keras.

Melewati ‘Gerbang’ yang terbuka sepanjang retakan batu, Glasya Labolas hampir berhasil keluar.

Dinding arena tempat mereka berada runtuh karena guncangan, dan banyak pecahan material berjatuhan ke atas kepala Kamito.

Tepat sebelum tubuhnya hancur—pada saat itulah—

*Pashii*—kepala Kamito ditarik paksa oleh sebuah cambuk.

“......Guooo!”

Kamito ditarik dengan kasar sepanjang tanah dan dia membuat suara kesakitan.

Tak lama kemudian, puing-puing raksasa berjatuhan ke tempat Kamito berdiri tadi.

Suara bergemuruh terdengar membahana. Kabut asap putih mengepul ke udara.

.....kalau ia sampai tertimpa. Tanpa ragu ia akan mati.

“Bodoh! Apa........yang kamu lakukan!?”

Diatas kepalanya, Claire membuat posisi menguliahi dan berteriak keras-keras.

“Hei, apa kamu mati? Atau mau kuubah jadi batubara?”

“Nggak dua-duanya.......Guooooo........!”

“Hmm, masih bisa berbicara balik, berarti kamu nggak apa-apa.”

Kamito menarik kepala Kamito dengan cambuknya dan dengan seringai, mendekatkan wajahnya.

“......”

Wajah mereka berada dekat sekali sampai ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.

Pupil mata merah delimanya, yang berisi kemauan kuat, tepat berada di depan wajah Kamito.

Pada situasi semacam itu, Kamito dengan gugup memalingkan wajahnya.

“.....Ayolah, ada apa denganmu?”

Sepertinya menyadari kalau wajahnya terlalu dekat, pipi Claire merona kemerahan dan dia sedikit mengendurkan cambuknya.

“Bu...bukannya aku tertarik, tapi..........pokoknya dengarkan!”

“Ap.....apa?”

“Gadis yang barusan, ap....apa hubungan kamu dengan dia?”

“Dia—“

Kamito mengalihkan tatapannya ke ruang kosong.

“Adalah Roh Terkontrakku.”

“Roh?”

Kamito mengangguk dan dengan tenang meremas tinjunya.

“.......Semuanya salahku. Gara-gara aku, dia jadi........”

Pemikiran Kamito, kembali tenggelam kedalam jurang yang gelap—

“Lantas kenapa?”

Suara Claire, yang terdengar dingin, menariknya kembali ke dunia nyata.

“Eh?”

“Aku tanya lantas kenapa?”

Claire sedang berdiri tegak, dengan kedua tangan di pinggangnya dan rambut kuncir duanya di bahunya.

Sampai beberapa saat yang lalu, kondisinya masih terlihat depresi.

Yang masih tersisa padanya hanyalah bola api merah yang kecil.

“Nggak, itu karena...........aku.........”

Kamito berhenti dan diam membisu.

“Bukankah tadi kamu sudah janji. ’Aku akan menjadi Roh Terkontrakmu!’ Tolong bertanggung jawablah dengan kata-katamu!”

*Pishipashi-!* Claire menyabetkan cambuknya mengenai punggung Kamito.

“Owh...! Apa-apaan kamu! Mengarahkan cambuk pada orang mati!”

Tanpa berpikir, Kamito berdiri dan berteriak.

Claire tiba-tiba tersenyum.

“Orang mati? Bagaimana kalau mencoba mati sekali? Lihat, lihat ke arah sana!”

“Hmm?”

Kamito menolehkan wajahnya—

Dari ‘gerbang’ di retakan batu, cahaya putih kebiruan muncul dan Glasya-Labolas merangkak keluar.

Roh Militer untuk pertarungan, yang segelnya telah rusak—panjang keseluruhannya mungkin lebih dari sepuluh meter.

Glasya-Labolas berteriak keras. Hanya dengan itu, separuh kursi penonton hancur berkeping keping.

Sepertinya seluruh penonton sudah meloloskan diri namun pastinya masih banyak penduduk yang berada di luar arena.

Dari lubang kosong raksasa di dinding, kondisi plaza bisa terlihat jelas.

Semua orang berteriak dan panik, sambil terus berlari. Menanggapi kemunculan Glasya-Labolas, plaza dan jalanan sepanjang arena diselimuti oleh kekacauan luar biasa.

Menempatkan tangannya di dinding arena yang remuk, Glasya-Labolas perlahan berjalan keluar.

Dengan hanya itu, tanah bergetar seperti sedang terjadi gempa bumi.

Bagaimana kondisi selanjutnya—kalau Roh semacam itu sampai lepas ke kota—tak perlu ditebak lagi.

“Menunggu bantuan dari Akademi akan sangat terlambat. Hanya kita berdua yang harus melakukan ini.”

“.....Ah, benar, benar.......”

Namun—Kamito masih belum pulih dari shock.

Bahkan Est Pemusnah yang sedang ia pegang, sudah kehilangan cahaya keperakannya sejak tadi.

Senjata Elemental akan menunjukkan kekuatan sejatinya tergantung kondisi kekuatan spiritual Kontraktornya.

Dengan kondisi Kamito saat ini, ia tak mampu mempertahankan kekuatan Pedang.

Misalnya, kalaupun ia memaksakan diri bertarung, Pedangnya mungkin bisa patah.

“.......”

Claire menatap Kamito dalam kondisi semacam itu dengan ekspresi jengkel.

“Sepertinya kamu masih setengah terbangun. Kalau begitu, biar aku membangunkanmu.”

Setelah itu, entah kenapa wajah Claire memerah dan dengan cepat membuang tatapannya.

Dan, pada saat berikutnya.

“....!?”

Mendadak bibir Kamito terkunci.
STnBD V01 250.jpg

Terasa panas. Sensasi menyenangkan yang lembut dan agak basah.

Ujung hidungnya tergelitik oleh sensasi rambut gadis ini.

“Hn.......”

Beberapa detik kemudian, bibir mereka perlahan berpisah.

“Sudah bangun?”

“........A.....ah........”

Kamito mengangguk seperti anak penurut.

“I.....ini.....kulakukan kali ini saja!”

Menggigit bibirnya, wajah Claire terus memerah dan ia memalingkan wajahnya.

Sensasi ciuman yang membius serasa menyingkirkan semua keraguan dalam diri Kamito.

“....Terapi kejut? Tapi sepertinya ini terlalu efektif.”

“Hm,,, hm..., jangan dikatakan lagi! Ayo kita pergi, Kamito!”

Meski wajahnya masih merona, Claire segera melafalkan mantra berbahasa Roh.

Pelindung Api Merah membara, Penjaga dari Tungku api abadi!
Sekaranglah saatnya, dengan kontrak darah, lekaslah datang ke sisiku!

Tak lama kemudian, cambuk api membara tercipta di tangan Claire.

Bukanlah api hitam yang dirasuki oleh Roh Sinting.

Namun api kebanggaan milik Claire Rogue—Senjata Elemental Scarlet.

“Terima kasih, Scarlet! Pinjamkan aku kekuatanmu sedikit lebih lama lagi!”

Merespon perasaan Claire, cambuk api bergetar dengan tegas.

“Aku nggak akan membuat Scarlet, yang masih lemah, melakukan hal ceroboh lagi. Aku akan menjadi pendukungmu, jadi kamu seranglah Roh raksasa itu.”

“Ah, aku paham.”

Kamito mengangguk patuh dan mempererat genggaman Est Pemusnahnya.

--Tak apa. Sebaiknya aku tak memikirkan Restia saat ini.

Sekarang, ia hanya perlu—

Melindungi Tuan Putri galak ini, karena itulah janjiku!

Mengambil kuda kuda dengan pedangnya, Kamito menendang tanah dan melompat.

“Akan kutunjukkan padamu, Claire Rogue!”

Penari Pedang Terkuat—Tarian Pedang Ren Ashbell!

Glasya-Labolas menghancurkan dinding batu dan melangkahkan kakinya menuju plaza diluar arena.

Kamito mengambil ancang-ancang menyerang dan dengan lompatan satu langkah, ia menebas lutut Roh raksasa dengan Pedangnya.

Vuooooonnnnnnn!

Glasya-Labolas membuat auman penghancur—dimana kejutan sepertinya sudah menerbangkan tubuh Kamito, ia berpengangan pada Pedang yang menusuk raksasa itu.

......Kekuatan yang luar biasa! Memang Roh Militer

Mata dari raksasa, yang terbakar dengan amarah, menangkap sosok Kamito di kakinya.

Dia berteriak keras dan mengayunkan tinjunya yang seperti pemukul beton.

Kamito mencabut pedangnya dan melompat mundur dan menggunakan lengan raksasa sebagai pijakan, ia melompat lagi.

Agar bisa menyerang Kamito, yang muncul di puncak kepalanya, Glasya-Labolas mengulurkan tangannya.

Di saat ia sepertinya sudah menangkap kaki Kamito.

“Kamito!”

Claire mengayunkan cambuk apinya dan mengekang tangan si raksasa. Karena Scarlet masih belum pulih, menebas tangannya tak bisa dilakukan. Ia hanya bisa membatasi pergerakan si raksasa.

Suara angin berhembus dengan kencang serasa membuat telinga sakit. Glasya-Labolas melampiaskan amarahnya pada Kamito di kepalanya. Dalam kondisi terlewat, Kamito menusukkan pedangnya. Ia menghancurkan sesuatu menyerupai kristal hitam di kepala si raksasa

Pada saat itulah, dari kristal hitam yang tertusuk, sesuatu seperti kabut hitam terdesak keluar.

Itulah Roh Sintingnya.......

Kabut hitam itu mencoba mengelilingi pedangnya. Pada saat itulah, ujung pedangnya nampak sedikit menjadi kehitaman.

Kamito terpukul mundur—Roh Sinting adalah Roh yang menyebabkan kegilaan pada Roh lainnya.

Est sedang dirasuki--

Kamito memutar tubuhnya dan mengayunkan pedangnya untuk mengusir kabut gelap.

Ia mematahkan kuda-kudanya di udara dan hampir menyerang tanah tempatnya berada.

Kemudian, tinju Glasya-Labolas menyerbu ke arah bawah.

Kamito mengambil ancang-ancang mundur dengan pedang di depannya—namun ia tak sempat melakukannya.

“.....!”

Tinju Glasya-Labolas—secara tepat berhenti di atas kepala Kamito.

Lengannya, yang seolah bisa mengayun kembali kapan saja, tertahan oleh cambuk api membara.

“Kamito! Sekarang kesempatanmu, cepat selesaikan dia!”

“Ah--!”

Kamito tertawa tanpa takut dan berdiri, lalu memusatkan konsentrasinya pada pedangnya.

Senjata Elemental dari Roh Pedang, Est, semakin bersinar kemilauan seolah sedang merespon perasaan Kamito.

Ia menedang tanah dan melompat. Pedang Kamito sekali lagi menari dengan fantastis di udara.

Dan kemudian—

“Ooooooo..........!”

Tebasan pedang yang bersinar keperakan itu membelah tubuh Glasya-Labolas menjadi dua.


Bagian 5[edit]

Dengan pedang bersinar keperakan di tangannya, Kazehaya Kamito menampilkan Tarian Pedang yang luar biasa memukau.

Terima kasih,Scarlet

Tarian yang hampir seperti—

Seperti Tarian Pedang Ren Ashbell, yang ia lihat dalam turnamen Tarian Pedang tiga tahun lalu.

....Jangan-jangan, Kamito adalah--

Momen ketika tubuh Glasya-Labolas berubah menjadi partikel cahaya, cambuk apinya kembali ke bentuk Kucing Neraka kecil. Claire dengan penuh kasih sayang memeluk kucing api itu, yang menjadi kecil seperti anak kucing.

“—Terima kasih, Scarlet—“


Back to Bab 7 Return to Halaman Utama Forward to Epilog