Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid20 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 3 - Kagura Kegelapan Raja Iblis[edit]

Bagian 1[edit]

"–Kuil Elemental Air sudah siap. Berkumpullah."


Dari atas lingkaran sihir yang bercahaya, Iseria Seaward berbicara.


Sepertinya dia menciptakan sebuah dimensi kecil di celah diantara alam manusia dan Astral Zero. Safian juga melakukan sesuatu yang sama di Kota Raja Iblis sebelumnya.


Setelah berdiri di atas lingkaran sihir sesuai dengan instruksi Iseria, pandangan Tim Scarlet terganggu oleh kilatan cahaya putih.


"Hwah!"


"A-Apa yang terjadi!?"


Sesaat setelah itu, Kamito dan para cewek terlempar ke udara, lalu mereka jatuh diatas benda lembut.


"Hyah!"


"R-Ruangan apaan ini?"


Kamito melihat sekeliling dan bergumam.


Mereka jatuh diatas kasur yang lembut dan empuk. Ranjang itu tak memiliki kanopi. Dengan segala macam seni mozaik roh, itu seperti fantasi.


Lantainya terlapisi ubin berpola artistik dengan lapisan air jernih diatasnya. Yang mengapung diatas air adalah kelopak-kelopak bunga mawar berbagai warna, merah, putih, pink, dan biru.


Yang menghiasi dindingnya adalah kristal-kristal roh yang menyediakan pencahayaan redup pada ruangan. Dipantulkan oleh cermin bulat yang besar yang ada di langit-langit, cahaya itu menyebabkan permukaan air berkilauan cerah.


Aroma menyegarkan mengapung di udara.


"Ruangan ini cukup bagus, kan? Aku menciptakannya berdasarkan pada harem kuno."


Suara Iseria menggema di ruangan.


"H-Harem!?"


"Bagaimana kalian menggunakan ruangan ini, itu terserah kalian. Baiklah kalau begitu, aku akan memutuskan hubungan agar tidak mengganggu."


Dengan suara terkikih yang menggema seraya memudar, suara Elemental Lord Air menghilang.


"...Apa yang terjadi?"


Kamito mengangkat bahu lalu berpaling ke belakang–


Claire dan para cewek tersipu merah merona, bergerak-gerak gelisah dengan canggung, saling bertukar tatap.


"K-Kita harus melakukannya di tempat semacam ini?"


"Ini adalah dimensi yang diciptakan oleh seorang Elemental Lord Agung. Pada dasarnya ini sempurna untuk melakukan sebuah ritual."


Sebagai tanggapan pada gumaman gelisah Ellis, Fianna mengangkat jari telunjuk dan menjelaskan.


"B-Bisa dikatakan begitu...."


"Jadi, bagaimana melakukan ritualnya?"


"H-Hmm... Pertama, mandi untuk pemurnian."


Dengan penampilan gugup, Claire membaca gulungan yang diberikan oleh Restia.


Setelah itu, dia memalingkan pandangannya dari gulungan itu dan menatap Kamito seolah ada sesuatu yang mau dikatakan, tapi dia ragu mengatakannya.


"Uh, haruskah aku pergi dulu?"


"S-Sudah pastilah.... Tapi, meski begitu–"


Claire melihat sekeliling Kuil Elemental Air tersebut.


Didalam ruangan oktagonal itu, nggak ada pintu.


"....Ngomong-ngomong, gimana caranya kita keluar dari sini?"


"Setelah ritualnya selesai, ruangan ini mungkin akan runtuh secara otomatis."


Fianna menjawab pertanyaan dasar Kamito.


"....Terus apa yang harus kulakukan?"


–Jangan bilang aku harus nonton mereka mandi?


"Nggak usah kuatir. Aku bawa ini justru karena aku menebak sesuatu seperti ini mungkin akan terjadi."


Fianna mengeluarkan kain hitam dari dada seragamnya.


"Kain apa ini, Yang Mulia?"


"Penutup mata yang dipersiapkan untuk Kamito-kun."


"Wha—"


Kamito cuma bisa menatap terbelalak.


"Yang Mulia, anda menyimpan ini sepanjang waktu!?"


"Fufu, ini cuma sebuah hobi."


Berkedip-kedip, putri itu tersenyum nakal.


"Oh yah, nggak ada cara lain. Kita hanya perlu melakukannya dengan apa yang kita punya."


Claire berdeham ringan dan mengangguk.


"T-Tunggu bentar, apa betul-betul nggak apa-apa?"


"Ayolah, Kamito-kun, tahan saja♪"


"Ya, maaf, Kamito."


"Ini semua demi ritualnya."


"...!?"


Ditahan oleh tiga cewek, Kamito lalu ditutup matanya.

Bagian 2[edit]

...Splish splash.


Suara dari para cewek mandi terus terdengar olehnya.


Dengan pandangannya sepenuhnya tertutup, Kamito berdiam diri di ranjang layaknya sebuah patung.


(...A-Apa-apaan situasi ini!?)


Dia meratap dalam benaknya.


Suara air saat ini terdengar sangat menggoda. Bisikan para cewek menggema didalam kuil tersebut.


"....~! Aku nggak bisa percaya aku memurnikan diriku didepan Kamito-san. Sungguh memalukan."


"N-Nggak apa-apa. Matanya ditutupi."


"Tapi dia masih bisa mendengar, kan?"


"Kau terlalu kuatir, Ellis. Ngomong-ngomong, itu kelihatan begitu lembut♪"


"Hwah, Yang Mulia, apa yang anda sentuh!?"


Splash, suara airnya keras dan jernih.


"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan saat pemurnian?"


"Kamito nggak akan ngintip, kan?"


"....M-Mana mungkin!"


Kamito cuma bisa membantah keras-keras. Yah, kalau dia mau, yang perlu dia lakukan adalah memfokuskan divine power pada matanya dan dia akan bisa melihat, tapi tentu saja, dia nggak akan melakukan itu.


(Jadi pemurnian dari para princess maiden itu kayak gini, aku paham...)


Berpikir demikian, dia menunggu untuk beberapa saat–


"Kami siap..."


Claire berkata malu-malu pada dia.


"Uh, apa yang harus kulakukan?"


"Kamito-kun, santai saja."


"O-Oke..."


Mendengar suara Fianna yang sangat ceria, Kamito mengangguk.


Kasurnya berderak karena bobotnya. Nafas para cewek mendekati dia.


"Aku akan membuka penutupnya, oke–"


"T-Tentu..."


Claire menempatkan tangannya pada wajah Kamito dan melepas penutupnya.


Dibawah pencahayaan redup dari kristal-kristal roh, apa yang memasuki pandangannya adalah–


"...!?"


Para cewek hanya memakai daleman, dengan ekspresi malu pada wajah mereka.


"Hwah, K-Kamito!?"


Didepan dia, Claire dengan panik menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


Dia memakai daleman sutra putih dihiasi bordiran.


Payudaranya mungil dan manis.


Tersipu, kulitnya yang lembut sepenuhnya terekspos pada mata Kamito.


Rambut merahnya yang biasanya dikuncir dua dibiarkan terurai, tergerai di kasur layaknya kelopak bunga.


Berbaring disamping Kamito adalah Fianna yang mengenakan daleman hitam dewasa. Bagian kain dari dalemannya sangat tipis, menawarkan tampilan tembus pandang dari kulitnya. Celana dalamnya terdiri dari kain yang sangat kecil, terlihat seolah daleman itu akan gagal menjalankan fungsinya kalau dia bergerak.


"Fianna, bukankah dalemanmu itu keterlaluan!?"


"Fufu, ini daleman yang dipersiapkan khusus untuk keluarga kerajaan♪"


"Gimana bisa keluarga kerajaan segitunya gak tau malu!?"


Kamito cuma bisa mengkritik saja, langsung mengalihkan tatapannya.


Tatapannya mengarah pada–


"Kamito.... Oooh, ini sungguh memalukan....,"


Mengenakan daleman, Ellis begitu malu hingga dia salah tingkah.


Payudaranya, yang biasanya dipenjara oleh armor Sylphid Knight miliknya, telah dibebaskan, menampilkan lembah payudara yang dalam. Memainkan jari pada ujung rambutnya yang dikuncir, dia tampak sangat manis.


Melihat kapten ksatria yang berkepribadian serius seperti ini, Kamito cuma bisa menatap terpesona–


Tiba-tiba mata coklat cantik itu menatap Kamito.


"U-Uh, kumohon, berhentilah menatap...."


Dia memohon.


"....M-Maaf!"


Kamito buru-buru memalingkankan tatapannya ke samping–


Kali ini, dia membuat kontak mata dengan Rinslet yang memakai daleman berwarna biru air.


Daleman milik Rinslet sepertinya bernama babydoll, mirip dengan pakaian one-piece yang longgar.


Seketika, Rinslet bersembunyi dibelakang Claire.


"Tunggu, Rinslet!"


"K-Kamito, a-aku sangat malu...."


Di kasur, dia terus menggambar lingkaran dengan jari telunjuknya.


Pipinya merah cerah.


"Uh, a-apa ini...?"


Dihadapkan dengan para cewek cantik yang memakai daleman dengan wajah tersipu, Kamito tak bisa berkata apa-apa.


"W-Waktunya mepet. Ayo segera mulai Kagura Kegelapan!"


Lalu, Claire tampak telah membulatkan tekad.


"T-tunggu, kau melakukannya dengan berpakaian seperti itu?"


Mendengar itu, Kamito bertanya dengan panik.


–Kagura Kegelapan adalah sebuah ritual untuk membagi divine power Elemental Lord Kegelapan dengan para princess maiden.


Kamito sudah mempersiapkan diri secara mental untuk kontak tubuh pada tingkat tertentu, tapi–


(Nggak ada yang memberitahuku itu dilakukan sambil memakai daleman, Restia!)


....Jadi itu sebabnya para cewek memasang wajah aneh saat Restia memberitahu mereka soal rincian dari ritualnya.


"R-Roh kegelapan bilang itu harus dilakukan dengan kontak kulit."


"K-Kami baik-baik saja! Kami sudah pasrah membulatkan tekad!"


"Y-Ya...."


"Fufu, serahkan pada kami♪ Kamito-kun, diam saja dan nikmatilah."


Keempat cewek cantik itu menempel pada Kamito.


"Kamito, kami s-sudah siap secara mental untuk ini–"


Claire memegang lengan seragam Kamito erat-erat.


Dia terdengar sangat serius.


"......"


Kamito menyadari kalau para cewek itu telah mengumpulkan keberanian penuh mereka demi menjadi lebih kuat.


Ragu-ragi sekarang hanya akan menghianati perasaan mereka.


–Kamito membulatkan tekad juga.

===Bagian 3==!

"...Ah... Mmm...♪"


Bibir Claire ditekankan pada leher Kamito.


Lidahnya yang seperti lidah kucing menjilati kulit Kamito.


"Mm... Keringat Kamito, rasanya asin..."


Suaranya yang manis berbisik di telinganya.


"C-Claire!?"


Kamito cuma bisa menahan nafasnya.


Mata Claire terlihat merasakan ekstasi.


Dengan pergerakan lembut, dia perlahan membuka kancing seragam Kamito.


Sikapnya, sepenuhnya berbeda dari biasanya, membuat jantung Kamito menggila.


"..! Claire, uh, kau nggak perlu memaksakan diri karena ritualnya."


"A-Aku nggak memaksakan diri...."


Claire cemberut, tampak agak tersinggung.


"B-Berikan divine power kegelapan punyamu pada kami..."


Berkata begitu, dia menggigit lembut leher Kamito.


Rasa sakit menyenangkan ini membuat Kamito tenang, merasa seperti seluruh tubuhnya sedang dikuasai kenikmatan.


(....Divine power milikku bercampur dengan divine power milik Claire?)


...Apa nggak apa-apa buat dia menyerap divine power kegelapan?


"...Mm... Ahmm... Mm♪"


Ujung rambut Claire yang lembab menyentuh kulit telanjang Kamito.


"Ah... Claire.... Tunggu, tempat itu–!?"


Menstimulasi layaknya aliran listrik, kenikmatan itu membuat dia berteriak.


Apa dia menemukan titik lemah Kamito? Claire mulai mencari kasih sayang Kamito seperti seekor kucing.


"fufu, Kamito, gimana dengan ini?"


"...!"


Mata merah itu menatap Kamito.


....Manis sekali. Gak disangka Claire yang dia kenal bisa membuat ekspresi seperti ini.


(Apa dia berperilaku agak aneh setelah menyerap divine power kegelapan?)


Tepat saat Kamito mulai kuatir....


"Kamito-kun, aku mau juga♪"


Kali ini giliran Fianna yang mencium bahu telanjangnya.


Ciumannya penuh dengan kasih, seperti menghisap nektar dari sekuntum bunga.


Fianna... P-Putri, kau jangan...."


Memegang tangan Kamito, dia membelai lembut Kamito dengan jari jemarinya.


"Ada apa, Kamito-kun? Atau kau nggak suka putri yang nakal?"


Dengan senyum nakal, Fianna meniup pergelangan tangan Kamito.


Meskipun dia cuma memegang tangannya, Kamito merasa nggak bisa bergerak seolah dia berada dibawah pengaruh mantra pengendali.


Terbalut BH hitam, payudara dari sang putri terpampang didepan dia layaknya sebuah longsoran tebing.


"...F-Fianna, k-k-kalau ini berlanjut.... Kewarasanku..."


"Aku nggak akan berhenti. Ini adalah ritual Kagura Kegelapan yang akan membantu kami menjadi lebih kuat♪"


Tertawa nakal, Fianna menempatkan tangan Kamito pada belahan payudaranya.


Boing. Boing.


"...!"


"Kamito-san, a-aku juga...!"


Rinslet dengan malu-malu menekankan dirinya pada Kamito.


"Rinslet, sebelah sini."


Claire berganti posisi dengan dia.


"Uh, umm, aku... aku nggak berpengalaman dalam masalah seperti ini..."


Mengenakan gaun tidur longgar, Rinslet bermain-main dengan rambutnya.


Dia mengernyit kebingungan, melirik sana sini, dengan ekspresi yang cukup mengemaskan pada wajahnya.


....jeduk, jantung Kamito semakin menggila.


"Apitkan saja pahamu pada leher Kamito-kun dan rasakan divine power miliknya."


"Ehhhh!?"


Mendengar saran Fianna, Rinslet membelalakan matanya.


"K-Kamito-san, apa dia serius? Itu akan bekerja hanya dengan menempelkan pahaku?"


Wajahnya merah terang karena malu, Rinslet bertanya.


"N-Nggak mungkin, gimana mungkin–"


Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya, Kamito ditarik, membuat dia terbaring di ranjang.


"Claire!?"


"Oke, Rinslet, akan lebih mudah kalau seperti ini, kan?"


"D-Dimengerti...."


Rinslet mengangguk dan tampak membulatkan tekadnya.


"A-Apa seperti.... ini?"


Lembut. Kelenturan yang sempurna, pahanya dengan lembut mengapit leher Kamito.


(....Uwah, ini sangat nyaman.)


Kulitnya lembut dan halus seperti susu. Rambut platinumnya menyapu pipi Kamito.


Aroma dari sabun bunga memasuki hidungnya, membuat dia nge-fly.


"K-Kamito-san.... Uh, t-tolong jangan banyak bergerak... Ahh♪"


"M-Maaf...!"


Kamito hanya mau menyesuaikan posisinya, tapi dia langsung nggak berani bergerak.


"Ya ampun, nona kecil Laurenfrost ternyata sangat berani♪"


"...~! Hauu, Y-Yang Mulia, aku sangat malu."


Dengan leher Kamito diantara pahanya, Rinslet begitu malu, dia mulai menggosokkan lututnya.


Boing. Boing.


Dengan kepalanya diguncang kesana kemari, Kamito betul-betul merasa linglung.


"Ampun deh, Kamito memang bejat..."


Melihat itu, Claire ngambek dan menggigit tulang selangka Kamito.


"...Ah, ooh..."


Disaat yang sama, ada seorang cewek di sisi kasur, menutupi wajahnya yang merah terang dengan kedua tangannya.


"Ellis, ada apa?"


Menyadari dia, Fianna bertanya.


".....~! A-Aku, uh... Perilaku gak senonoh semacam itu...."


Sambil ngintip ritual itu dari celah jari-jarinya, Ellis bergumam seraya bergerak-gerak gelisah.


"G-Gimana bisa ini gak senonoh? Ini adalah sebuah ritual untuk menjadi kuat....!"


Claire menanggapi.


"T-Tapi Kamito adalah Ren Ashbell-sama idolaku, uh...."


Ellis menatap Kamito dan malu-malu menghindari kontak mata lagi.


...Aku paham. Jadi dia masih belum sepenuhnya menerima fakta bahwa identitas sejati dari Ren Ashbell adalah Kamito.


"Gak apa-apa, Ellis. Sini sama aku♪"


"Y-Yang Mulia... Hwah!?"


Menarik tangan Ellis yang takut-takut, Fianna menarik dia ke depan Kamito.


"E-Ellis..."


Payudara besar milik Ellis yang terbungkus BH pink, memantul tepat didepan mata Kamito.


Biasanya begitu gagah dan bermartabat, Ellis sekarang menatap dia dengan mata lembab penuh ketidakpastian.


Kamito langsung merasa jantungnya semakin menggila.


Lalu, divine power kegelapan keluar, melewati Claire dan para cewek seperti aliran listrik.


"Ah♪"
"Mm♪"
"Hyah♪"


Ketiga cewek itu mendesah dan terbaring.


"Ellis, cepat.... Ambil divine power milik Kamito-kun–"


"A-Aku tau!"


Ellis menarik nafas.


"I-Ini bukan tindakan gak senonoh...."


Dia mencium Kamito dengan lembut.


"...!?"


Dua pasang bibir saling melekat. Kamito bahkan bisa merasakan sensasi lembab dari ujung lidah Ellis. Menempel pada dia, tubuh Ellis gemetar karena malu, mengirim gelombang sensasi lembut dari payudaranya melalui BHnya.


"...Hauu... Bersentuhan, dadaku... Sakit..."


Sambil bernafas, Ellis cuma bisa mengerang.


Throb—


"K-Kamito, a-aku juga mau..."


Dengan mata dipenuhi kemanjaan, Claire meminta ciuman dari Kamito.


"Claire..."


Throb, throb, throb—


Saat jantungnya mulai berdetak semakin dan semakin cepat, divine power kegelapan milik Kamito perlahan menyelimuti seluruh tubuhnya.


....Kesadarannya mulai kabur.

STnBD V20 BW02.jpg

"...S-Sial... Kurasa aku mulai bertindak aneh..."


"Kamito-kun, aku mau ciuman juga."


"A-Aku juga...."


Dengan penampilan menginginkan pada wajah mereka, keempat cewek itu bergantian meminta ciuman dengan Kamito.


Throb, throb, throb, throb, throb—


(....I-Ini buruk–)


Pikiran Kamito nampaknya ada yang rusak–


Ingatannya berakhir disana.

Bagian 4[edit]

(....Hangat sekali.)


Itu hampir terasa seperti kehangatan penuh nostalgia didalam kastil Elstein.


Dalam kesadarannya yang kabur, itulah yang dia pikirkan.


Suhu api yang telah dia lupakan sejak lama.


Sejak empat tahun lalu ketika dia dilahirkan kembali sebagai seorang pendendam dari neraka, satu-satunya api yang dia rasakan adalah kemarahan dan kebencian dikedalaman hatinya.


(....Apa aku... mati...?)


Itu adalah kemungkinan pertama yang muncul dalam benaknya.


...Jika demikian, apa tempat ini neraka?


Jiwa-jiwa orang mati akan kembali ke Astral Zero, kembali menjadi divine power untuk membesarkan para roh, dan akhirnya bereinkarnasi sebagai roh. Dimasa lalu, itulah yang diajarkan Divine Ritual Institute pada dia, tapi–


(–Aku nggak layak, mungkin.)


Mengejek dirinya sendiri dalam benaknya, dia membuka matanya yang seperti rubi.


Sebuah api berkedip-kedip memasuki pandangannya.


Tidak, itu bukan api. Rambut panjang semerah api.


Warna merah itu bahkan lebih kuat daripada warna rambut adiknya, seperti kobaran api.


Yang menatap dia tampak seperti mau menangis adalah seorang cewek muda bertanduk melengkung.


"Penguasa... Api... Volcanicus...."


Rubia membuka mulutnya dan membisikkan nama itu.


Sang Penguasa Api membelalakkan matanya, menghela lega.


Rubia perlahan duduk, lalu merasakan rasa sakit yang tajam disetiap sendi di tubuhnya. Ini adalah hasil dari menggunakan terlalu banyak kekuatan dalam pertarungannya melawan roh Millennia Sanctus, penggunaan yang berlebihan dari segel persenjataan terkutuk.


"–K-Kau jangan bangun dulu!"


Sang Penguasa Api segera menghentikan dia. Mengabaikan nasihat tersebut, Rubia bertanya:


"Dimana ini?"


Dia mengamati sekeliling.


Itu kelihatan seperti hutan yang lebat, serta langit dan matahari.


"Ini adalah Hutan Roh. Apa kau masih ingat saat Ragna Ys terbelah?"


"....Ya, aku... ingat."


Didalam lautan api, Rubia telah membebaskan cewek yang ada didepannya–sang Elemental Lord Api.


Pada saat itu, kilatan cahaya putih menghancurkan tanah Ragna Ys.


Sudah terluka parah, dia dipeluk Penguasa Api, dan kemudian mereka jatuh kebawah bersama-sama.


"Aku minta maaf. Hanya sebatas ini yang bisa kulakukan karena aku tak memiliki kekuatan penyembuhan."


Penghalang kobaran api mengelilingi mereka.


Gelombang panas dari dinding itu nampaknya memiliki efek memulihkan divine power secara perlahan.


Volcanicus dalam diam berdiri dengan punggung menghadap Rubia.


Seperti kobaran api, rambutnya sedikit bergoyang.


"–Kau mau kemana?"


Tanya Rubia pada punggung mungil itu.


"–Aku harus menghentikannya."


Tatapannya diarahkan pada pilar-pilar cahaya yang menembus langit di kejauhan.


"Apa kau akan pergi sendirian?"


"Ya."


"Bukankah kau tertahan oleh perjanjian Holy Lord?"


"...!"


Volcanicus berhenti berjalan.


Rubia nggak sepenuhnya tau.


Namun, dia mendapati itu aneh bahwa avatar Elemental Lord Api yang agung bisa digunakan oleh Millennia Sanctus sebagai sebuah elemental waffe.


"–memang, aku tak bisa mengalahkan Holy Lord, karena aku tertahan oleh perjanjian kuno. Meski demikian, harusnya aku bisa membakar Gerbang itu."


"Pendekatan yang bodoh. Kau hanya akan bermain di tangan Holy Lord jika kau pergi sendirian."


"...!"


Pundak Volcanicus bergetar.


Sebagai tanggapan, Rubia dalam diam memegang tangannya.


"...?"


"Buatlah kontrak denganku lagi, Volcanicus."


"Apa kau bilang?"


Dengan penampilan terkejut, Volcanicus melihat kebelakang.


"Ketahuilah bahwa aku adalah Ratumu."


Segel roh yang ada dipunggung tangannya agak memanas.


–Gak peduli berapa kali dia ingin menghapusnya, ikatan kontraknya tetap mustahil dihilangkan.


"A...Aku menghancurkan kampung halamanmu."


"......"


"Rubia, kau masih membenciku, kan?"


"....Mungkin, itu mungkin benar."


Rubia berbicara dengan menempatkan tangannya pada dadanya sendiri.


"Dirasuki oleh Kegelapan itu, kau telah ternoda. Itulah kebenarannya."

STnBD V20 BW03.jpg

"..."


"Oleh karena itu, tebuslah dosamu. Kau dan aku, bersama, dengan tangan kita–"


Rubia mempererat pegangannya dan berkata.


"–Pinjami aku kekuatanmu, Volcanicus!"

Sebelumnya Halaman Utama Selanjutnya