Seirei Tsukai no Blade Dance:Jilid4 Bab1

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 1: Persiapan Perjalanan[edit]

Part 1[edit]

*Cuit, Cuit ....*

Terdengar kicau burung dari «Hutan Roh» yang mengelilingi akademi.

“Mm...”

Membuka mata dan bangkit dari tempat tidurnya, wajahnya yang masih setengah tidur terpantul di jendela.

Rambut hitamnya acak–acakan setelah tidur. Matanya pun juga terlihat sayu.

Dibandingkan dengan penampilannya yang polos di dalam mimpi, kesannya telah berubah jauh.


Empat tahun yang lalu... ya?

Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali mendapat mimpi tentang periode waktu itu.

Mungkin ini adalah yang pertama kalinya sejak ia datang ke akademi ini.

Sejujurnya, ini adalah kenangan yang tidak ingin diingatnya.

Kamito secara tidak sengaja melihat tangan kirinya, di mana sebuah segel roh terukir.

Segel dari roh kegelapan – tangan kiri yang menggenggam kemenangan di Festival Tarian Pedang tiga tahun lalu.

Sekarang aku mencoba untuk kembali ke arena itu sekali lagi.

Dengan Festival Tarian Pedang yang semakin dekat, ia mungkin merasa gugup tanpa menyadarinya.

Pasti itulah sebabnya ia memimpikan periode waktu itu.

Ketika ia akan turun dari tempat tidurnya—

“.....”

Kamito menyadari sesuatu

Tubuhnya terasa berat sekali.

Sesuatu yang lembut dan nyaman terletak di atas pinggangnya.

“.....?!”

Terkejut , Kamito membuka selimutnya dengan penuh semangat.

Dan kemudian.

“Fuah... Selamat pagi, Kamito.”

“E-Est?!”

Terdengar suara yang merdu, seperti suara lonceng.

Yang menduduki pinggang Kamito—adalah seorang gadis cantik berambut perak.

Ia mempunyai mata yang berwarna violet dan terkesan misterius. Kulitnya berwarna putih seperti susu yang baru diperah.

Sosok ini, yang sedang mengusap matanya yang terlihat ngantuk, terlihat seindah peri salju.

Sang roh pedang Est. Ia adalah roh yang dikontrak oleh Kamito, dan juga dijuluki «Demon Slayer».

Tampaknya, ia menyelinap ke tempat tidur Kamito tanpa diketahuinya.

Terlebih lagi, pakaiannya—

“Ada apa, Kamito?”

Masih menduduki pinggan Kamito, Est memandangnya tanpa ekspresi.

“H-hei, pakaianmu...”

Est telanjang bulat—Tidak, ia tidak.

Dia memakai pakaian.

Namun—

“Kamito?”

Est memiringkan kepalanya. Kamito mengalihkan pandangannya dengan gugup.

Est mengenakan seragam Kamito untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.

Est mungkin tidak mengenakan pakaian dalam. Pakaiannya adalah apa yang disebut dengan kemeja-terbuka (hanya mengenakan kemeja tanpa pakaian lain).

Dari bagian dada yang terbuka, kulitnya yang putih dan sedikit terlihat sungguh menggoda.

Bagian pergelangan tangan dari pakaiannya besar dan terlihat longgar, tapi ini malah memberikan Kamito hasrat dan pikiran yang tidak perlu.

“Apa-- ? Est, mengapa kamu memakai seragamku?”

“Kamito memberitahuku bahwa aku tidak boleh tidur telanjang denganmu.”

Est menjawab dengan tanpa ekspresi.

Kamito langsung terkaget ketika Est menggenggam erat bagian dada dari pakaiannya sendiri.

“Yah, aku memang mengatakannya padamu.”

Berada pada batas kesabarannya, Kamito mengerang.

“Tapi tolong, setidaknya pakailah celana dalam.”

“...celana...dalam?”

“Kenapa kamu membuat wajah kebingungan seperti itu ?!”

Mungkin para roh mempunyai kebiasaan untuk memakai kaus kaki panjang, tapi tidak terbiasa memakai celana dalam.

...tidak, Restia memakai celana dalam dengan benar.

Tepat ketika ia sedang memikirkan hal tersebut—

“Hm?”

Tiba-tiba, Kamito merasa ada yang aneh dengan penampilan Est.

Tidak hanya ia memakai kemeja-terbuka—Tampaknya ada sesuatu yang sangat berbeda pada Est pagi ini.

Kamito memeriksa seluruh tubuh Est dengan seksama.

"Kamito... Um, kalau Kamito melihatku seperti itu, aku akan malu."

Est yang biasanya tanpa ekspresi kini tersipu malu, menggeliat di atas pinggangnya dan mengusap kedua lututnya.

Pada saat itu, akhirnya Kamito nenyadarinya.

Dari ujung bawah kemejanya, paha Est yang putih sedikit terlihat.

Begitu pula pergelangan kakinya yang langsing dan mulus bagaikan pahatan dari marmer.

Apa yang Est pakai—bukanlah kaus kaki sepanjang lutut yang biasanya .

Ia memakai kaus kaki pendek, yang hanya menjangkau pergelangan kakinya.

“Est, ada apa gerangan dengan kaus kaki itu?”

“Yah, aku pikir Kamito akan menyukai kaus kaki seperti ini.”

Dengan wajahnya yang merah, Est menarik ke bawah ujung kemejanya.

Ini adalah pertama kalinya ia melihat Est dengan ekspresi seperti ini.

Tampaknya bagi Est, memperlihatkan kakinya tanpa ditutupi apapun sangatlah memalukan.

“Kamito, apakah kamu terangsang oleh kaus kaki pendekku ini?”

“Gak, aku tidak punya fetish yang gila seperti itu, kau tahu?”

“....aku mengerti. Berarti ini masih belum cukup untuk memuaskanmu.”

Est merendahkan bahunya, tampaknya ia kecewa.

“Tapi, masih cukup mustahil bagiku untuk memperlihatkanmu kakiku yang telanjang.”

“ Aku sudah bilang, aku tidak punya kelainan seperti itu.”

Kamito mengerang dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa memahami rasa malu dari roh ini.

Biarpun demikian--.

Sesungguhnya hatinya berdebar-debar melihat Est yang tersipu dan terlihat malu tidak seperti biasanya.

Si roh pedang ini selalu tenang dan tanpa ekspresi.

Inilah alasan utama mengapa ia ingin melihat lebih banyak lagi ekspresi malu dari Est.

Aku penasaran, apakah yang akan terjadi jika aku menyentuhnya?

Tiba-tiba, pikiran Kamito tergoda untuk melakukannya.

Semua ini karena Est, bukan gadis lainnya, merasa malu sampai sejauh ini.

Apa yang akan terjadi jika ia menyentuh kakinya yang telanjang?—Ia ingin mencoba melihatnya.

“............”

Kamito tanpa suara mengulurkan tangannya—

* kuci *

Ia menggelitik kaki Est yang mungil.

“...Hyan!”

Suara yang imut keluar dari mulutnya.

Tubuh Est membungkuk tiba-tiba.

“...Kamito, apa yang kau lakukan?!”

“Hm? Aku sedang memijatmu.”

* kuci kuci *

“Hya...a-an.”

Menekuk tubuhnya, Est terlihat menderita, tampaknya kegelian.

Reaksi seperti itu terlihat sangat imut yang mengakibatkan Kamito—

* kuci * . * kuci kuci kuci * .

“...A-n, tolong... hentikan...”

“Tidak. Ini adalah hukumanmu.”

“...hukuman?”

“Karena Est adalah gadis nakal yang menyelinap ke kasurku seenaknya.”

* kuci kuci *

“Ann....Kami...to....Ampuni...Aku...”

Air mata keluar dari mata Est yang jernih ketika ia memohon sambil terengah-engah.

... sebagaimana yang diharapkan, sekarang ia terlihat sedikit menyedihkan.

“Apakah kamu sudah menginstropeksi diri atas tindakanmu?”

“Y..ya...”

Kamito berhenti menggelitikinya, dan Est jatuh tertelungkup kelelahan.

Kamito dengan lembut memeluk punggung Est yang menempel kepadanya.

“...Kamito sangat kejam.”

Est mencemberutkan bibirnya tidak seperti biasanya.

“Maafkan kesalahanku. Est terlihat sangat imut....Jadi aku melakukannya tanpa sadar.”

Ia dengan lembut membelai rambut Est yang berwarna perak sambil tersenyum pahit.

Tepat pada saat itu.

Suhu ruangan tersebut melonjak dalam sekejap.

“....?!”

*gogogogogogo.....!*

Dari belakangnya, terpancar nafsu membunuh yang mengerikan....Tidak, hawa panaslah yang terasa.

Ketika ia berbalik ke arah perasaan yang tidak enak ini—

“K-k-k-kalian.....A-a-a-a-Apa yang kalian lakukan?”

Dengan rambut merahnya yang dikuncir dan berdiri pada ujungnya, seorang gadis cantik muncul dengan badan yang gemetaran.

Matanya yang berwarna merah sungguh mencolok. Warna bibirnya seperti bunga sakura yang mekar dengan indahnya. Dadanya sama seperti dengan yang terlihat pada anak-anak, tapi proporsi tubuhnya yang seimbang sangat mempesona.

Claire Rouge.

Jika ditilik dari penampilannya saja, ia sangatlah imut, gadis yang sangat cantik tanpa dilebih-lebihkan.

Namun, pada saat ini, ia lebih menakutkan dari roh buas apapun.

“A-aku telah salah menilaimu. A-aku tidak tahu kamu semesum ini...!”

“K-kamu salah paham Claire. Ini, ya..., begini...”

Kamito berusaha untuk memberikan alasan sesegara mungkin, tapi—

Pada saat ini, ini benar-benar bukan kesalahpahaman. Tidak ada jalan untuk membuat alasan.

“Kamito-kun, kurasa aksi menggelitik-kaki yang kau lakukan memang telihat terlalu maniak.”

Muncul dari belakang Claire, Fianna tanpa suara memandang ke bawah, terlihat sedih.

Tampaknya ia melihat semuanya....Kamito merasa lebih baik mati.

“Kamito, kamu ingin kupanggang sampai sematang apa?”

Claire tersenyum manis sambil memegang Cambuk apiFlame Tongue.

Senyum dari malaikat yang akan membuat seseorang terkagum.

“Setengah matang...atau sejenisnya.”

“Sayang sekali. Aku hanya tahu bagaimana cara memanggang sampai menjadi abu.”

Claire mengangkat cambuk apinya ke atas.

“-- -- jadilah abu!”

Kamito terpental keluar melalui jendela.

Part 2[edit]

Maka dengan itu, Kamito kembali menyambut pagi seperti biasanya, tapi ––

Setelah selesai sarapan, situsasinya sedikit berbeda.

Bunyi bel tanda kelas sudah dimulai telah berbunyi sejak tadi, tapi semua orang masih berada di dalam kamar asrama.

“Yang ini dan yang ini. Yang ini juga perlu tampaknya...Ya ampun, Scarlet. Jangan main-main dengan barang bawaan.”

“Meong?”

Roh api dalam bentuk kucing dari neraka sedang bermain menggelindingkan pakaian Claire sekakan-akan bermain dengan bola benang.

Tidak sengaja melihat sekilas pakaian dalam putih di dalam gumpalan tesebut, Kamito buru-buru mengalihkan pandangan matanya.

Claire dan Fianna duduk di kasur masing-masing dan sedang mengepak barang-barang mereka ke tas masing-masing.

Mereka sedang bersiap-siap menuju Astral Zero, arena Festival Tarian Pedang.

Sudah dua minggu berlalu sejak «Tim Scarlet» mengalahkan si Benteng Keheningan – Velsaria Eva, yang merupakan peringkat satu di akademi, dan memperoleh hak untuk tampil di Festival Tarian Pedang. Bersama dengan dua tim lainnya untuk membentuk tiga tim sesuai yang ditentukan, mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan beberapa hari lagi sebagai perwakilan dari Kerajaan Ordesia.

“Apakah tidurmu nyenyak kemarin, Claire?”

“Tentu saja. Menjaga kondisi tubuh merupakan dasar dari seorang elementalist.”

Claire menganggukkan kepalanya sambil menahan nguap, yang sudah dilakukannya berkali-kali.

Mungkin karena ia merasa bertanggung jawab sebagai ketua tim, Claire belakangan ini membaca banyak buku mengenai taktik dan dokumen yang berhubungan dengan roh, yang dipinjamnya dari perpustakaan, sampai larut malam.

“Jangan memaksakan dirimu terlalu jauh. Kita tidak tahu sistem pertempuranketentuan sebelum seorang peramal untuk Raja Raja Elemental dipilih. “

“Ya, aku tahu. Tetap saja, sudah selayaknya kita melakukan persiapan. Mereka yang berpartisipasi di Festival Tarian Pedang adalah elementalist elit yang mewakilkan negaranya masing-masing -- -- Tidak akan semudah itu meraih kemenangan tanpa persiapan. Lagipula, penari pedang terkuat itu juga ikut ambil bagian di turnamen ini.”

“....Yah, kamu benar.”

Kamito mengangguk dengan wajah masam.

Penari pedang terkuat – Ren Ashbell.

Pemenang Festival Tarian Pedang tiga tahun lalu.

...Bukan aku, tapi Ren Ashbell yang lain.

Siapa sebenarnya dia? Apakah tujuannya..?

Ia harus mendapatkan jawabannya.

Kamito mengepalkan tangan kirinya, yang terbungkus sarung tangan kulit, dengan erat.

Apapun yang menjadi tujuannya, tidak diragukan lagi Restia yang telah berubah beraksi bersamanya.

“Dan kamu, apakah kamu telah selesai mengepak?”

Sambil memegang tengkuk Scarlet, yang berontak dan mengeong—

Kali ini Claire yang bertanya.

Berbanding terbalik dengan travel bag Claire, yang terisi penuh sampai isinya hampir membludak keluar, tas Kamito terlihat kecil.

“Begitulah, aku tidak punya banyak barang untuk dibawa.”

Kamito, yang mengelana tanpa tujuan sampai dua bulan lalu, hampir tidak membawa barang pribadi apapun.

Beberapa pisau untuk dilempar dan, ini bukanlah barang bawaan tapi – ia mempunyai Senjata Elemental, pedang «Terminus Est» , terikat di sabuk pedangnya pada pinggangnya. Est tersinggung dengan apa yang terjadi pagi ini dan tidur dalam wujud pedang. ....Tampaknya ia tidak akan bangun dalam waktu dekat.

Tapi yah, jika seseorang membuat roh tingkat tinggi seperti Est tersinggung, selayaknya ia siap dengan kerusakan yang akan terjadi seperti kota yang hancur.

“.............”

Untuk kedua gadis itu, tampaknya mereka masih butuh waktu untuk mengepak barang-barang.


...Yah, mereka adalah gadis dengan status bangsawan.

Mereka mungkin butuh berbagai macam barang yang laki-laki seperti Kamito tidak akan tahu.

Claire sebentar-sebentar memasukkan kalengan persik, yang membuat Kamito sedikit gelisah.

“Hm?”

Tiba-tiba Kamito mengalihkan pandangannya ke bawah, di mana barang-barang berserakan dimana-mana.

Ada beberapa buku yang terlihat seperti novel tercampur di antara buku taktik dan dokumen yang berhubungan dengan roh.

Sedang tidak ada kerjaan, Kamito dengan santainya mengambil satu buku.

‘Pangeran pengelana dan putri yang terkurung’ -- -- novel romantis yang ditujukan pada anak remaja, dengan banyak gambar di dalamnya.

(Benar-benar sungguh mengejutkan Claire menyukai yang seperti ini).

Ketika ia mencoba untuk membaca sekilas karena penasaran – –

“H-hah ?!”

Wajah Kamito memerah dalam sekejap.

Buku ini menceritakan kisah seorang putri cantik yang diculik oleh pangeran yang kejam dan berbagai hal yang dilakukannya pada putri itu sangat sulit diungkapkan dalam kata-kata -- -- Semacam cerita hardcore .

“K-kamu....Kamu membaca buku seperti ini?!”

“Eh?”

Claire berbalik.

Dan kemudian, ketika ia sadar akan apa yang dipegang oleh Kamito,

“Fuaaa, k-k-kembalikan! Ngapain kamu baca sesuatu tanpa seijinku?!”

BAK. BUK.

Claire memukul Kamito dengan kalengan persik di tangannya.

“Whoa...Apa kamu ingin membunuhku?! “

“Inilah hukumanmu karena telah mengintip rahasia seorang ga-gadis! Kamu layak mati sepuluh ribu kali!”

“Kalau begitu jangan tinggalkan rahasia seorang gadis di lantai!”

“Di-Diaaam! Idiot! Mesum!”

Sambil menangis, Claire memukulinya dengan kejam berulang-ulang.

....Kalau begini caranya, ia bisa mati sebelum Festival Tarian Pedang.

“Hey, kamu sangat mengganggu.“

“Ta-tapi kamito-- -- “

Mengambil kesempatan ketika Claire berbalik ke arah Fianna -- --

Kamito membuka sebuah halaman dari buku itu dan memperlihatkannya pada Claire.

Pada halaman tersebut terdapat gambar di mana sang putri, sebagai karakter utama wanita, diikat tali dan dicambuk.

“...?!“

“Bukankah Claire yang lebih mesum?“

“...eh?“

Claire pun kaget dan tertegun.

“Seorang gadis muda keturunan bangsawan membaca buku yang vulgar seperti itu, tidakkah kamu merasa malu?“

“Eh...,b-begini..“

Sang putri tersipu dan bergumam tidak jelas.

Melihat Claire yang seperti ini--

Kamito merasa ingin mempermainkannya sebentar.

STnBD V04 031.jpg

(...yah, lagi-lagi aku ingin menggodanya.)

Mungkin karena Claire yang tersipu malu terlihat begitu imut.

Sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Claire, ia berbisik.

“Aku penasaran kira-kira apa yang orang-orang akan pikirkan apabila mereka mengetahui sang putri, yang nilai ujiannya juga sangat baik, suka membaca buku yang tidak senonoh seperti ini.“

“Fuaa, a-a-a-apa yang kau bilang?!“

“Jangan-jangan kamu ingin diperlakukan seperti apa yang diperlihatkan buku ini?“

“Te-tentu saja tidak! Bagaimana mungkin aku mau diikat seperti itu?!“

“Begitu ya, tapi di halaman ini terdapat lipatan.“

“...~Fuaaan!“

Asap kecil keluar dari kepalanya, Claire merangkak masuk ke tempat tidurnya.

“...Benar - benar putri yang polos seperti biasanya.“

Berhasil lolos dari situasi kritis, Kamito menghembuskan nafas lega, dan--

Kali ini ia berbalik menghadap ke Fianna.

“Persiapanmu baik-baik saja?“

“...Hmm, tampaknya perlengkapan ritualku yang akan kubawa cukup banyak.“

Ucap Fianna sambil memasukkan sebuah cermin bulat yang besar dan sebatang lilin ke dalam tasnya.

Fianna Ray Ordesia.

Dia adalah putri kedua dari Kerajaan Ordesia, yang juga seorang putri suci peringkat kedua pada <Sekolah Ritual Suci>, sebuah institut pelatihan untuk para ratu yang melayani 5 Raja Elemental.

Seorang putri yang sungguh benar, yang bahkan suatu kali pernah terpilih menjadi calon Ratu untuk Raja Elemental Api.

Namun, dia tidak sombong sama sekali dan mudah diajak berbicara.

Padahal sesungguhnya, dia berada pada kedudukan dimana Kamito dan yang lainnya bahkan tidak diperbolehkan untuk melihat wajahnya.

“Jika kamu tidak keberatan, aku akan membantumu. Bolehkah aku mengepak barang-barang di sini sesuai keiinginanku?“

“Ya, itu akan membantuku.“

Kamito duduk di kasur, dimana barang-barang berserakan, dan mulai memasukkan berbagai perlengkapan yang tampaknya akan digunakan untuk ritual ke dalam sebuah tas.

Rosario, cawan bangsawan, kipas lipat, cambuk, lilin, dan bahkan barang-barang seperti telinga dan ekor hewan --

(Benarkah alat-alat ini digunakan dalam ritual?)

Pertanyaan seperti itu mendadak muncul di pikirannya, namun --

(Yah, bagaimanapun juga aku hanyalah pemula dalam bidang ritual putri suci)

-- Pada saat itulah tangannya, yang terulur,menggenggam sesuatu.

Semacam kain yang lembut dan nyaman.

(...Apa ini?)

Sambil mengernyitkan alisnya,ia mencoba mengangkat kain itu untuk melihatnya lebih jelas, lalu--

“...?!“

Kamito langsung menjadi kaku.

Itu adalah sehelai pakaian yang hitam mengkilap.

Sebuah rajutan tipis bermotif mawar terjahit di situ.

Mungkin terbuat dari sutra. Pada kedua sisi ujung pakaian ini terdapat tali tipis.

“Er...“

Keringat dingin mulai mengalir pada dahi Kamito.

Sebuah pakaian dalam yang terlihat berkualitas bagus.

Dan terlebih lagi--

(Ke-kenapa terdapat lubang di sini?!)

Bukan karena sobek. Karena alasan tertentu, terdapat potongan yang terlihat tidak normal di bagian tengahnya.

(Tampaknya tidak berarti untuk menjadi pakaian dalam--)

“Ka-Kamito-kun?!“

“Ah--“

Tiba-tiba, ia beradu pandang dengan Fianna, yang mengangkat wajahnya.

Kamito masih membuka lipatan pakaian dalam hitam tersebut.

“......“

“......“

“Um....“

Wajah Fianna berubah menjadi merah--

“A-apakah kamu... membenci seorang putri yang mau menggunakan pakaian dalam yang memalukan seperti ini?“

Ia bertanya sambil melihat ke atas ke arah Kamito.

“Ti-tidak, maksudku, maaf..“

Dengan hati yang berdebar-debar, Kamito buru-buru memasukkan pakaian dalam tersebut ke dalam tas.

“Ke-kenapa kamu memiliki pakaian dalam seperti itu?“

“Aku membelinya karena keinginan sesaat...ta-tapi memang ini memalukan.“

Ia bergumam dengan wajahnya yang masih merah.

...Tampaknya ia merasa sangat malu.

Putri ini selalu mengatakan hal-hal mengejutkan dan menggoda Kamito, tapi sesungguhnya ia masih merupakan gadis polos, seperti Claire.

“...Tampaknya...ini sedikit terlalu berani.“

“Y-ya kamu benar.Sedikit...yah.“

Ehem, Kamito berdeham.

Yang berhasil menghapus suasana yang tidak nyaman ini adalah suara yang berasal dari luar kamar.

“Ya ampun, kamu masih bersiap-siap, Claire Rouge?“

Suara yang agak tinggi dan terdengar elegan.

Yang muncul di depan kamar adalah--

Saingan dan teman sekelas Claire di kelas Raven.

Sang elementalis iblis es, Rinslet Laurenfrost.

Ia memiliki rambut yang berwarna pirang platinum yang berkilauan. Warna matanya yang hijau emerald disempurnakan dengan alis yang indah.

Sekilas, ia terlihat seperti tuan putri yang bangga dengan dirinya sendiri, tapi Kamito tahu bahwa sesungguhnya gadis ini sangat baik dan perhatian.

“Nona, aku ngantuk~“

“Ya ampun, Carol seperti seorang tukang tidur saja.“

Carol- sang maid yang ditarik oleh Rinslet.

“Nona, tahukah engkau tidak seperti dirimu, aku memiliki tekanan darah yang rendah...Hwa.“

Tampaknya pagi ini ia dibangunkan oleh Rinslet.

...Seperti biasa, seorang maid yang tidak berguna.

“Benda apakah itu Rinslet?“

Claire, yang sudah bangkit, bertanya.

Rinslet membawa kotak kayu yang cukup besar di tangannya.

“Hmph, ini adalah peralatan minum teh kualitas tertinggi. Seorang lady dari keluarga Laurenfrost harus tetap elegan di setiap saat.“

Rinslet dengan bangga menyisir keatas rambutnya yang berwarna pirang platinum.

“Kamu tahu, kita tidak keluar untuk pergi bermain.“

Claire dengan takjub mengangkat bahunya.

Kemudian, kali ini mereka mendengar suara Ellis dari luar jendela.

“Apa yang kalian semua lakukan?! Sudah satu jam sebelum waktu berkumpul, tahu!“

“Kamulah yang terlalu awal!“

Claire berbalik menghadap ke arah kapten ksatria yang terlalu serius itu sambil berteriak.

(...Menyatukan tim ini tampaknya akan menajadi tugas yang berat dan memakan waktu lama.)

Kamito dengan ironis mengangkat bahunya sambil merapikan barang-barang bawaannya.

Part 3[edit]

Satu jam kemudian.

Anggota dari Tim Scarlet berkumpul di depan 〈Stone Circle〉 yang merupakan tempat berkumpul mereka yang telah ditentukan.

Tempat itu merupakan 〈gate〉 di dalam wilayah Areisia Spirit Academy untuk menuju ke Astral Zero.

Reruntuhan bersejarah ini sendiri sudah ada jauh sebelum akademi ini didirikan, tapi sesungguhnya reruntuhan ini bukan merupakan bagian dari teknologi Kerajaan. Faktanya adalah teknologi yang digunakan untuk melestarikan 〈gates〉 yang terbuka ke dunia ini sudah lenyap tanpa sisa, kecuali reruntuhan seperti ini, yang masih ada di berbagai tempat di seluruh penjuru benua.

Mulai dari saat ini, petarung yang terpilih sebagai perwakilan akan berpindah ke Astral Zero lalu naik ke kapal yang disiapkan 〈Divine Ritual School〉 , yang mengelola Festival Tarian Pedang.

Di depan 〈gate〉, kedua tim lain yang terpilih dari akademi juga telah berkumpul.

〈Tim Wyvern〉, tim peringkat satu akademi, adalah tim yang hanya beranggotakan murid senior.

Setiap anggotanya memberikan pandangan tajam kearah Tim Scarlet, dan secara tiba-tiba membuang muka. Mereka sama sekali tidak punya niat untuk bersikap ramah--Begitulah kira-kira pesan yang disampaikan. Tindakan mereka itu sangatlah normal. Bagaimanapun juga, meskipun kedua tim yang terpilih ini berasal dari akademi yang sama, ketika festival tarian pedang dimulai, mereka akan menjadi saingan.

(Lagipula-)

Sambil berpikir demikian, Kamito menoleh untuk melihat Claire.

Ada alasan lain yang menyebabkan pandangan tajam murid-murid senior tersebut.

Adik perempuan dari sang Ratu Malapetaka, yang telah mengakibatkan bencana besar empat tahun lalu.

Masih banyak murid di akademi yang tidak menyukai kehadiran Claire.

Claire tampaknya tidak peduli dengan mereka, tapi sesungguhnya mungkin ia merasa sakit hati.

"Hm,lagi-lagi kalian..."

Demikian seorang gadis berambut pirang memulai percakapan dengan Kamito.

"Hai, gadis liar. Sudah lama tidak berjumpa."

"Muu, aku bukan gadis liar!"

Gadis kecil yang imut ini dengan marah menggembungkan pipinya.

Gadis ini adalah anggota tim ranking tiga, 〈Team Cernunnos〉, yang pernah bertempur melawan mereka.

Gadis ini merupakan anggota klan Druid, yang tumbuh besar di Hutan Spirit dan menggunakan 〈Spirit Gerombolan Hewan Buas〉.

Sebagai lawan yang mungkin akan mereka hadapi di waktu yang akan datang, dia adalah lawan yang cukup tangguh.

"Aku akan memastikan orang-orang seperti kalian takluk di bawah kakiku dengan 〈Spirit Gerombolan Hewan Buas〉 milikku."

Gadis druid ini mengangkat tongkatnya sambil tertawa.

Lalu, datang dari sebelah sana --

"Hmph, akhirnya ketiga tim berkumpul juga?"

Sang guru, Freya Grandol, yang mengelola 〈gate〉, berbicara sambil datang berjalan dengan cepat.

Sambil memandang ke atas, ke arah menara jam akademi,

"Aku akan memindahkan kalian semua ke Astral Zero setelah 10 menit. Sekarang selesaikan ucapan perpisahanmu dengan teman-temanmu sambil menunggu."

Setelah berkata demikian, ia mulai menggambar formasi sihir di dalam 〈Stone Circle〉.

Claire, Rinslet, dan Fianna dengan resah mengalihkan pandangan mereka.

"Ti-Tidak perlu untuk mengucapkan salam perpisahan dan sejenisnya."

"Y-Ya, benar. Kita hanya meninggalkan akademi untuk beberapa hari saja."

"Y-ya, tidak perlu berlebihan."

Ketiganya menganggukkan kepala mereka bergantian.

(Kalau dipikir-pikir, mereka bertiga tidak punya teman.)

...Kumpulan putri ini tampaknya mengalami banyak kesusahan.

(Yah, meskipun aku juga tidak dalam posisi yang berhak untuk mengatakan itu )

Sementara itu, Ellis dikelilingi dan terdesak oleh rombongan ksatria junior.

Matanya yang merah kecoklatan sangat mengagumkan. Rambutnya yang dikuncir tertiup oleh angin semilir.

Tampaknya Ellis akan mengikuti Festival Tarian Pedang sambil mengenakan armor ksatrianya.

Mungkin itu merupakan perwujudan dari determinasinya sebagai perwakilan dari akademi dan juga Satuan Ksatria sang Raja AnginSylphid di waktu yang sama.

"Kapten, bertempurlah demi kami juga!"

"Kami mendukungmu!"

"Ya, aku pasti akan meraih kemenangan!"

Ellis menganggukkan kepalanya mengiyakan kata - kata dari Rakka dan Reicia, kedua mantan teman setimnya.

Mereka mepercayakan impian mereka untuk memenangkan Festival Tarian Pedang kepada Ellis.

Dan kemudian, satu orang lagi--

Kamito tahu bahwa ada satu orang gadis lagi yang mempercayakan impiannya kepada Ellis.

Kamito berbisik kepada Ellis, yang kembali setelah mengucapkan perpisahan dengan teman-temannya.

"Ellis, pita itu tampak sangat serasi denganmu."

"Ka-Kamu pikir begitu?"

Ellis tersipu dan menggerakkan jari-jarinya sambil malu-malu.

Sebuah pita berwarna putih menguncir rambutnya.

Pita ini diberikan kepadanya oleh kakak-angkat perempuannya sebelum meninggalkan akademi.

"Sekarang setelah aku mengenakan pita ini, aku merasa seakan-akan kakak perempuanku selalu menyertaiku."

Ellis pun tiba-tiba tersenyum.

Melihat wajahnya yang polos seperti itu, Kamito merasa hatinya berdebar-debar.

"Waktunya telah tiba. Semuanya, masuk ke 〈Stone Circle〉 ."

Sang Guru, Freya, menelusuri sebuah tiang batu dengan ujung jari-jarinya , dan sinar biru keluar dari permukaan tanah.

〈Gate〉 yang menghubungkan dunia ini dan Astral Zero muncul.

Kamito dan rekan-rekannya saling menganggukkan kepala dan berjalan masuk ke dalam 〈Stone Circle〉.

Part 4[edit]

Kilatan sinar yang menyilaukan. Dan sensasi aneh yang membuat seorang merasa seakan-akan melayang rasanya seperti langit dan bumi terbalik.

"Hm..."

Ketika mereka membuka mata, apa yang pertama kali terlihat adalah--

Aneka macam pohon di hutan yang lebat, dan danau yang besar di dalamnya.

Danau yang permukaan airnya tampak seperti cermin yand dipoles, hanya dapat ditemukan di Astral Zero. Di pinggir danau yang mana tumbuh berbagai macam tanaman air dengan lebat, bola-bola sinar yang kecil dan berkilau tidak terhitung jumlahnya mengambang-ambang di udara menghasilkan pemandangan yang menakjubkan.

"Aku pernah datang ke danau ini sebelumnya, ketika ada kamping pelatihan akademi."

Claire dengan mantap berjalan di tanah yang berlumpur.

Anggota tim lain juga dikirim datang ke lokasi tersebut satu persatu.

"Ngomong-ngomong, di manakah kapalnya?"

Kamito melihat ke sekeliling danau.

Tidak ada satupun benda yang terlihat mirip kapal.

"Kamu melihat ke arah mana? Lihat, di sebelah sana--"

Claire mengangkat bahunya dan menunjuk ke arah langit yang mengintip di antara celah pepohonan.

"Hm?"

Ketika ia mengangkat kepalanya--

Garis kapal yang melayang di langit menjatuhkan bayangannya yang besar di atas permukaan danau.

"Itu...kapal terbang jenis Bellfahle milik 〈Divine Ritual School〉..."

Kamito membuka matanya dan mengerang.

Kapal terbang canggih yang dinamakan menurut Raja Elemental Angin.

Dia pernah mendengar rumor tentang kapal ini namun ini adalah pertama kalinya ia melihat sosok aslinya.

Bentuknya seperti ikan paus ramping. Sepertinya sumber tenaganya berasal dari mesin spirit yang dibuat di Kerajaan Balstan dan tampilan luarnya dibentuk dari material yang berasal dari kayu pohon keramat yang berumur lebih dari 6000 tahun.

Ini adalah kapal yang akan mengantarkan para elementalist, yang akan mendedikasikan tarian pedang kepada para Raja Elemental, ke arena 〈Festival Tarian Pedang〉.

"Kamito, kita pasti akan memenangkan hadiah utama."

"Yeah."

Kamito mengangguk dan mengepalkan tangan kirinya dengan erat.

(...Kita telah berjuang keras sampai sejauh ini untuk memperoleh ijin menaiki kapal ini.)

Claire, demi mendapatkan kebenaran atas insiden yang terjadi di masa lalu yang disebabkan oleh kakak perempuannya.

Kamito, demi memperoleh kembali spirit yang dikontraknya yang hilang.

Lalu Ellis, Rinslet dan Fianna--

Semua yang hadir di sini untuk mengikuti 〈Festival Tarian Pedang〉 dengan permintaan yang berbeda - beda di dalam benak masing-masing.

Kapal terbang itu menghasilkan cipratan air yang menyolok ketika mendarat di danau tersebut.

Part 5[edit]

"----Tampaknya anak laki-laki itu telah berangkat ke sana."

Di ruang kantor Akademi Spirit Areisia.

Begitulah ucapan Greyworth Ciel Mais sambil menghadap ke tembok ruangan.

Tidak ada respon----Namun, tiba-tiba saja, keluar bayangan manusia dari dalam tembok seakan- akan merembes keluar.

"Betul, Bu. Baru beberapa saat lalu."

Itu adalah Freya Grandol, sang elementalist bayangan.

Dia menghampiri meja kantor Greyworth, lalu berbicara tanpa ragu-ragu.

"Tapi tetap saja saya tidak paham, mengapa anda, sebagai direktur akademi, mau berusaha sejauh itu demi anak laki-laki ini."

"Apa maksudmu?"

"Keahliannya dalam bertempur memang luar biasa, tapi 〈Festival Tarian Pedang〉 tidaklah semudah itu hingga seseorang dapat menang hanya dengan itu saja. Anda seharusnya adalah orang yang mengerti tentang hal itu."

"Yah, seperti yang kamu bilang. Anak laki-laki ini masih tidak bisa mengalahkan penari pedang terkuat dalam keadaannya yang seperti ini. Setidaknya saya ingin dia bangkit sebelum perang dimulai, tapi--"

"Apa maksud anda?"

"Gak, hanya bicara asal saja."

Greyworth menggelengkan kepalanya seakan-akan menghindar dari pertanyaan itu.

"Yang lebih penting, apakah penyelidikan tentang hal itu telah selesai?"

"Ya. Tapi saya ingin anda lebih lunak dan berhenti menggunakan saya untuk memata-matai pihak militer."

"Sebenarnya saya merasa tidak enak untuk menyuruhmu, tahu."

Greyworth mengangkat bahunya, dan Freya dengan kasar melemparkan laporannya ke atas meja.

"Itu semua data mengenai kejadian empat tahun lalu. Setelah runtuhnya institut yang dimaksud--〈Sekolah Instruksional〉, ada 14 anak yatim piatu yang diambil dan dilindungi oleh para ksatria kerajaan. Menurut kabar lima di antaranya dimasukkan ke dalam satuan khusus pasukan ksatria. Sisa sembilan anak lainnya mati beberapa tahun kemudian karena efek samping Segel Senjata Terkutuk yang diberikan oleh institut, kira-kira begitulah kabar yang beredar."

"Tapi tetap saja, jumlahnya tidak sesuai. Tidak sama dengan data yang ditemukan di institut."

"Tampaknya tidak semua anak yatim dipungut oleh Ksatria Kerajaan. Jio Inzagi, yang berhasil menembus akademi kita beberapa waktu lalu, merupakan salah satu anak yatim di mana para ksatria hanya memiliki sedikit info tentangnya. Rasanya tidak aneh jika masih ada anak yatim yang tidak diketahui sepertinya berkeliaran di luar sana."

"Begitu ya..."

Apa yang muncul di benak Greyworth adalah mata anak laki-laki yang bertemu dengannya empat tahun lalu.

Di mata anak laki-laki itu, yang pada hari itu dengan datar menyatakan -- bahwa ia datang untuk membunuh sang Penyihir Senja, tidak ada rasa benci, maupun kemarahan, hanya kehampaan yang luar biasa.

(Anak-anak yang sama dengan bocah ini dulu, ya....)

Anak-anak kecil yang perasaannya dirusak dan dibesarkan sebagai senjata.

Meskipun mereka juga merupakan elementalist, mereka berbeda dengan gadis bangsawan yang tumbuh besar di akademi.

"Direktur?"

"Tidak, tidak ada apa-apa. Kamu telah bekerja dengan baik. Tolong lanjutkan penyelidikanmu."

"Yang benar saja, tugas utamaku bukan sebagai mata-mata tapi guru, tahu?"

Lalu sang guru, Freya, kembali menghilang ke dalam tembok sambil menggerutu.

Greyworth memandang keluar jendela, lalu tiba-tiba menghela nafas dengan berat.

"Spirit militer dan anak yatim piatu dari 〈Sekolah Instruksional〉,---- Apakah perempuan ini ingin memicu perang atau semacamnya?"

Sang Penyihir Senja merasa tidak tenang.

Penari pedang terkuat masih belum bangkit.

Dia (Kamito) memang kuat.

Bahkan di dalam akademi di mana para elementalist kelas satu berkumpul, kekuatannya jauh lebih hebat.

Namun, bagaimanapun juga, hal ini hanya berlaku di dalam wilayah yang kecil yang disebut Akademi ini.

Dalam keadaannya yang sekarang, ia mutlak tidak akan bisa mengalahkan gadis itu.

Begitu pula dengan Ren Ashbell pada masa tiga tahun lalu --

"Tolong, penerus raja iblis-- Karena sisa waktuku sudah tidak banyak lagi."

Greyworth meredam jantungnya yang berdenyut kencang sambil tersenyum sinis.


Mundur ke Prolog Kembali ke Halaman Utama Lanjut ke Bab 2 - Penerbangan Langit