Seirei Tsukai no Blade Dance (Indonesia):Jilid 4 Bab 3

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 3: Tuan Putri Naga Draknia[edit]

Part 1[edit]

Setelah naik ke atas dek kapal, mereka melihat awan yang berlalu dengan sangat cepat.

Sebenarnya kapal tersebut terbang dengan sangat cepatnya hingga seharusnya tubuh seseorang akan tertiup jatuh oleh angin, namun berkat sihir spirit pelindung yang menyelimuti kapal suara anginpun tidak terdengar.

Apabila melihat ke bawah dari sisi kapal, hutan yang terkesan seram tampak membentang jauh.

Kamito sedang melihat ke hutan tersebut lalu--

"Perwakilan dari Akademi Spirit Areishia, Kazehaya Kamito, betul?"

Terdengar suara dari belakang Kamito.

".....?"

Ketika ia berbalik, tampak sesosok gadis cantik yang terkesan elit dengan rambut sebahu.

Sebuah topi beret menghiasi kepalanya. Mantel hitam tanpa kerutan sedikitpun.

Tampaknya usianya tidak terpaut jauh dari Kamito. I sedang memelototi Kamito dengan matanya yang terlihat tegas.

"Siapakah kamu? Mengapa kamu tahu namaku?"

"Kamu terkenal. Satu-satunya elementalis laki-laki di benua ini."

Demikian kata gadis itu dengan ekspresinya yang kaku tidak berubah.

Namun berlawanan dengan penampilannya yang menakjubkan, ia terlihat tidak bersahabat.

"Dan juga, seseorang yang mempermainkan perempuan lalu membuang mereka."

"Tunggu sebentar, aku terkenal karena apa!?"

Sahut Kamito.

"Sia - sia saja jika kamu ingin menipuku. Pengumpulan informasi milik Dracunia sangat berharga dan dapat disebut sebagai yang terbaik di benua."

"Yap, agen intelegensi kebanggaanmu tentunya tidak kompeten -- tunggu...Dracunia?"

Kamito bertanya sambil mengernyitkan alisnya.

Kadipaten Naga Dracunia.

Terletak di sebelah barat Kerajaan, itu adalah negara yang menggunakan hewan sihir buas terkuat, yaitu naga, sebagai bagian dari militernya.

"Perwakilan dari Dracuniakah ?"

"Betul, Pemimpin Ksatria dari Kerajaan Naga -- Leonora Lancaster."

Gadis cantik ini tetap memfokuskan pandangannya ke arah Kamito sambil memperkenalkan dirinya sendiri.

".....Leonora."

Kamito berbicara sambil menghela nafas.

Ia pernah mendengar nama ini dari Claire.

STnBD V04 065.jpg

Menurut pendapat umum, ia dianggap sepadan dengan Velsaria.

"Ada keperluan apa dari andalan Dracunia?"

Kamito berjaga-jaga dan mempersiapkan diri.

Festival Tarian Pedang bukanlah semata-mata festival saja.

«Institut Ritual Suci» tidak akan mau mengakuinya, tapi ini juga merupakan pengganti perang bagi ksatria masing-masing negara.

Negara yang mana elementalis atau tim elementalisnya memenangkannya, akan dianugrahkan perlindungan dari Raja-raja Elemental untuk beberapa tahun dan berkat ini akan memakmurkan negara tersebut.

Inilah salah satu alasan mengapa banyak negara melatih elementalis-elementalis.

Dan juga ada banyak negara yang yang tidak punya pilihan selain menggunakan cara tertentu untuk meraih kemenangan.

"Mencoba untuk membunuhku sebelum Festival Tarian Pedang dimulai?"

"Itu adalah prasangka yang bodoh."

Kata Leonora sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan.

"Sebagai individu yang tidak berasal dari negara yang sama dengan «Silent Fortress» , kamu bukanlah musuh dari Ksatria Kerajaan Naga. Kami akan mengalahkanmu dengan sportif di Festival Tarian Pedang."

"Kalau begitu, ada keperluan apa?"

Di hadapan Kamito yang curiga, ia menggeliatkan badannya seakan-akan gelisah dengan wajah yang merona merah.

"Eh, begini, pada intinya, um,.... Aku datang untuk memotong itu."

Sambil mengalihkan pandangannya dari Kamito, ia menghunus sebuah pedang besar dengan halus.

"Ke, kenapa kamu menghunus pedangmu ?"

Kamito bergerak mundur.

Kalau ia berkata jujur, maka ia tidak datang kemari untuk membunuh Kamito.

Lalu kalau begitu, kenapa--

"Atau lebih tepatnya, apa yang ingin kamu potong ?"

"Itu...Kamu punya...uuu, kamu ingin aku mengucapkan kata itu?"

"Hah?"

"O, orang mesum ini!"

Butiran air mata yang besar mulai terbentuk di mata Leonora.

Lalu pedang besar tersebut menancap di dek kapal dengan suara yang keras.

Kemudian, dalam sekejap lantai dek kapal tersebut meledak menjadi pecahan kecil.

"......Apa yang!?"

Kamito berhasil menghindar dengan jarak yang sangat tipis.

"Kalau begini bukankah kamu sangat ingin membunuhku!?"

"Aku tidak akan membunuhmu jika kamu tidak melawan. Tolong jangan bergerak."

"Aku bertanya padamu, apa maksudmu--"

Lalu Kamito pun menyadarinya.

Pandangan Leonora terpaku pada bagian bawah tubuh Kamito.

Pada saat Kamito melihat pipi Leonora yang merona merah karena malu, Leonora mengalihkan padangannya.

"Tunggu sebentar, jangan katakan kalau kamu ...."

Kamito mengucurkan keringat dingin.

"Ya, aku ingin memotong 'itu milikmu' . Kazehaya Kamito."

Leonora mencabut pedangnya dari lantai yang hancur dan mengambil sikap kuda-kuda.

"Akan sangat merepotkan sekali bagiku apabila kamu memanfaatkan keramaian Festival Tarian Pedang untuk 'mendekati' anak buahku pada akhirnya."

"Enak saja!"

"Kamu tidak bisa berbohong di hadapanku, dasar raja iblis barbar yang mesum!"

Leonora memelototinya dengan pandangan yang sangat dingin.

"Raja iblis barbar yang mesum katamu...."

.......Sungguh mengerikan.

Kamito tidak menyangka bahwa kabar yang memalukan seperti itu akan tersebar sampai ke luar Akademi.

"D,Dengan kekuatan iblismu dan kata-kata yang manis, kamu menipu perawan yang polos melakukan ini dan itu kepada mereka kan!"

"Apa maksudmu melakukan ini dan itu..."

"M,Maksudku...!"

Mendengar pertanyaan Kamito, wajahnya menjadi merah karena malu.

Tampaknya sang Putri Naga sama polosnya dengan para putri bangsawan dari Akademi.

"Kamu tahu, yang terjadi justru sebaliknya. Kamu telah salah paham."

Kata Kamito sambil menghela nafas.

"......Sebaliknya?"

"Yah, karena aku selalu diperlakukan seperti roh budak oleh Claire."

"Apaa? Sampai memperlakukan teman setimmu sebagai roh budak dan mempermainkannya!"

"Tolong simak apa yang orang lain katakan!"

.......Atau lebih tepatnya, bagamana mungkin gadis muda ini menggunakan istilah demikian.

"J,Jangan mendekat, dasar mesum!"

"Uoo!"

Pedang Leonora membelah udara ketika ia mengayunkannya ke bawah.

Kamito menghunus Terminus Est dan menangkis serangan tersebut.

Bunyi nyaring dari metal yang berbenturan terdengar di seluruh dek.


......Ini seperti mengulang saat aku bertama kali bertemu dengan Ellis!

Sambil menangkis serangan, Kamito mengerang di dalam hatinya.

"Begitu ya, kamu sungguh kuat...."

Leonora mengucapkan kalimat pujian.

Jadi inilah «Pembasmi Iblis» yang mengalahkan roh militer raksasa.

"Tampaknya info yang kau dapat betul adanya."

"Ini membuatku ingin mengetes manakah yang lebih kuat, itu atau «Pembasmi Naga» milikku!"

"....!?"

Seiring kata-kata Leonora pedangnya memancarkan cahaya yang terang.

Ini adalah......!

Ini bukanlah Elemental Waffe biasa. Kesan yang ditimbulkannya setara dengan Dreadnought milik Velsaria.

Orang ini tidak masuk akal kuatnya......!

Sesuai dugaan, gelarnya sebagai andalan Dracunia bukan semata-mata untuk dilihat.

"B,Baik sekarang lepaskan celanamu perlahan-lahan, i, ini tidak akan sakit."

"Siapa yang mau melakukannya! Sudah jelas itu akan sakit!"

Kamito mendorong balik pedang raksasa itu.

Tingkat kekuatan yang dihadapi Kamito membuatnya tidak bisa percaya bahwa itu berasal dari gadis dengan tangannya yang terlihat halus dan rapuh.

Kemungkinan besar ia menggunakan sihir roh yang memperkuat tubuh. Dalam adu tenaga, Kamito berada di pihak yang kalah.

"Kamito!"

Terdengar suara sesuatu membelah udara.

Pedang Leonora dibelit sesuatu yang membentuk lengkungan yang merah menyala di udara.

"Hei kamu, apa yang kamu lakukan pada roh budakku!"

Itu adalah Claire yang naik ke atas dek dengan cambuk di tangannya.

Dengan satu tangan berkacak pinggang, ia menunjuk ke Leonora.

"Claire, terima kasih atas bantuannya-"

Melihat kesempatan yand diakibatkan perhatian Leonora terpecah karena kemunculan Claire, Kamito melompat mundur.

"Kamu adalah--"

Leonora, yang lalu menghalau Lidah Api, memolototi Claire.

"Roh budak mainan milik Kazehaya Kamito."

"Oapa!?"

Saat itu juga wajah Claire memerah.

Dengan perlahan, ia berbalik ke arah Kamito.....

"K,K,K,Kamu jangan bilang kalau kamu menganggapku seperti itu...!"

"Tunggu sebentar, kamu sadar kan ada yang salah dengan hal ini? Bukankah aku yang merupakan roh budak ?"

.....Tunggu, ini aneh. Tampaknya ia malah menjadi semakin marah.

Kedua gadis ini memelototi Kamito hingga membuatnya ingin melarikan diri--

Namun pada saat itu.

Booooooom!

Dengan bunyi yang sangat keras, kapal mereka terguncang keras.

Part 2[edit]

"Kyaaa!"

Lantai yang berguncang membuat Claire kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.

"--Apa!?"

Kamito membungkuk untuk melihat pemandangan sekitar di sisi kapal.

Ia melihat awan yang melintas di bawah lalu--

"Itu adalah!?"

Sesosok bayangan besar muncul dari balik awan.

Seakan-akan membelah ombak, sosok itu membelah awan untuk memperlihatkan wujud aslinya yaitu monster hitam yang besar.

"......!?"

Total panjang tubuhnya sekitar 10 meter. Wujudnya seperti ikan pari besar yang berenang di lautan.

Perbedaannya dengan ikan pari adalah matanya yang besar dan berwarna merah.

Dan dia terbang di langit, tidak berada di lautan.

"Hewan magis?"

"Bukan...Itu adalah...Jangan bilang kalau itu berasal dari pasukan udara ke dua, Pandangan KematianSpirit Penghancur—"

Leonora Lancaster mengernyitkan alisnya dan bergumam sambil memandang dengan penuh rasa curiga.

"Apa?"

"Spirit utama militer Dracunia. Seharusnya ia sudah disegel seusai Perang Ranbal, kenapa ia berada disini?"

"Spirit Militer...."

Spirit yang kekuatannya dapat disejajarkan dengan beberapa elementalist yang bersatu.

Kamito tidak tahu mengapa makhluk seperti ini mau menyerang kapal mereka namun--

Faktanya bahwa kapal mereka sedang diserang tidak bisa dipungkiri.

Spirit militer penghancur-- «Pandangan Kematian» meraung sambil melayang.

Meskipun kapal mereka memiliki pelindung dari angin, ini bukanlah kapal perang.

Apabila kapal ini terkena serangan dari raksasa seperti itu, kapal ini akan hancur.

Suara alarm kapal terdengar di seluruh dek.

Kapal pun segera berbalik arah dalam usaha untuk menghindari spirit tersebut.

Sepantasnya kapal dengan teknologi mutakhir, kapal ini sangat gesit dan cepat.

Namun sia-sia saja dihadapan spirit seperti ini.

"--siap siap! Dia datang!"

Lalu terdengar suara yang keras.

Tubrukan yang terjadi mengguncang kapal dan membuat Kamito terpental.

Spirit penghancur itu menabrak sisi kapal dengan keras.

"Fuaa!" "Kyaan!"

"Kalian berdua, pegang aku!"

Kamito dengan cepat melindungi kedua gadis yang terjatuh. Hatinya berdegub setelah merasakan lembutnya tubuh mereka, tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu.

"Claire, kamu baik-baik saja?"

"Fuaaa, p, pegang apa kamu!"

Wajah Claire menyala merah.

".....? Apa yang aku pegang?"

Kamito lalu melihat bagian tubuh mana dari mereka yang dipegangnya.

Tangannya tepat memegang dada kedua gadis tersebut.

"......M, maaf!"

Kamito segera menarik tangannya, tapi

"S,s,s,spirit budak mesum ini!! Jadilah arang, arang!!"

"Hey, hentikan, sekarang bukan waktunya untu--"

Puk, puk, puk, puk.

Claire memukul Kamito sambil berlinang air mata.

Di sisi lain, Leonora--

"S, se, s, seorang laki-laki menyentuh d, d, dadaku......!"

Poof. Uap keluar dari wajahnya dan ia jatuh pingsan.

"......H-Hei!

Dia mengguncang gadis yang pingsan itu ,tapi tampaknya tak seperti dia akan bangun.

"Sepertinya dia syok ketika kamu menyentuh payudaranya."

"I-Itu tidak sengaja!"

"Hmmm, Aku heran tentang itu?"

Dia melotot pada Kamito seperti dia sedang tidak puas.

Bagaimana pun juga, Kamito tidak bisa meninggalkan dia di sini.

Dan saat itu. Kapal itu berguncang hebat untuk kedua kalinya.

Spirit yang menabrak kapal itu juga menyerang dengan ekornya.

"Kamito, kapal ini akan jatuh kalau terus begini."

"Ya ......"

Melihat wajah serius dari Claire, Kamito, mengangguk.

Kekacauan bisa terdengar di bawah geladak.

Bahkan jika mereka elementalists terlatih, mereka tetaplah gadis biasa. Merupakan yang wajar apabila serangan mendadak akan menyebabkan kepanikan di dalam kapal.

Sang penyerang jarak jauh, Rinslet, sepertinya juga akan memiliki waktu yang sulit untuk mencapai geladak dengan cepat dalam kekacauan ini.

"Sepertinya kita harus melakukan ini sendirian."

"Sepertinya begitu."

Dengan serangan terakhir, sepertinya mesin telah berhenti. Kapal terhenti seakan - akan terpantek paku yang besar dan mulai jatuh.

"Kita punya sekitar dua atau tiga menit sebelum kita jatuh ......"

Sampai staff dapat menyalakan mesin spirit cadangan, mereka harus melindungi kapal yang tanpa pertahanan apapun ini.

Kamito berdiri goyah dan menjejakkan kedua kakinya di bibir perahu dek.

"Est, pinjamkan aku kekuatanmu!"

Ia menghunus Terminus Est dari pinggangnya dan mengalirkan kekuatan suci ke dalamnya.

Merespon panggilan Kamito, pedang itu memancarkan cahaya.

"Kamito, itu terlalu ceroboh untuk melawan dengan sebilah pedang. Aku akan melawannya."

"Tidak, aku yang akan melawannya. Lidah Api tak akan bekerja padanya."

"Apa?"

Claire menggigit bibirnya. Gaya bertarung Claire yang melemahkan mangsanya itu tidak dibuat untuk pertarungan jangka pendek. Ia sendiri yang paling tahu akan hal itu.

"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak dapat menggunakan sihir untuk terbang seperti Ellis."

"Selama aku berpegangan di badannya dan tidak jatuh, bukankah itu baik-baik saja?"

"Hah?"

Pada kata-kata riang Kamito itu, Claire terkejut.

"B, bodoh sekali kamu!"

"Bagaimana pun juga, kalau terus begini kapal ini akan tenggelam. Ini patut untuk dicoba."

"Ta-Tapi......"

Claire dengan cepat memegang lengan seragam Kamito.

"Apa, kamu mengkhawatirkanku?"

"I-Itu salah, aku tidak khawatir......"

Claire mengalihkan pandangan matanya.

Meskipun biasanya sifatnya arogan, sesungguhnya dia benar-benar lembut di dalam hatinya.

"Tidak apa-apa. Aku akan membereskannya dengan cepat."

Kamito memberikan ketukan ringan ke kepala Claire dan—

Kilatan pedang putih perak menghilang dari sisi kapal.

"...... Ya ampun, aku tak peduli lagi, idiot!"

Dengan penghalang angin yang rusak, suara tiupan angin yang keras bisa didengar.

Pada bagian belakang dari spirit penghancur yang kepalanya bersarang ke sisi kapal—

"Ohhhhhhhhh!"

Kamito menusuknya tanpa ampun.

Menusuk menembus kulit terluar, pedangnya menancap ke dalam daging dibaliknya.

Spirit penghancur tersebut mengeluarkan teriakan yang menakutkan dan mulai menggelinding.

Di ambang tergelincir dari makhluk itu, Kamito menapakkan kakinya pada kulit terluar dan menggenggam pedangnya itu dengan seluruh kekuatannya.

Dalam usahanya untuk memukul serangga di punggungnya, Spirit penghancur melipat tubuhnya dan mencoba untuk memukulnya dengan ekornya, mengakibatkan kapal menjadi oleng.

Karena raksasa yang meronta - ronta, armor kapal jatuh ke dalam hutan.

Kapal tidak akan bisa bertahan kalau terus begini ......

Sambil menggertakkan giginya, Ia bertahan dari kekuatan serangan yang dapat menghancurkan tulang.

Pertama, aku harus mengurus ekor itu!

Kamito menghunus Terminus Est dengan segenap kekuatan. Ditarik oleh gravitasi, ia mulai jatuh. Namun, sebelum ia jatuh, ia melompat sekuat mungkin.

Dia melompat dan mendaki ke atas tubuh Spirit tersebut secara berirama.

Ini hanyalah tubuh raksasa. Jika ia hanya mengamati otot-otot yang berkontraksi dan merencanakan langkah berikutnya,sebelum ia mulai terjatuh, ia dengan selamat dapat mencapai pijakan lain. Meskipun itu adalah teknik yang membutuhkan kemampuan yang tidak biasa dan kecakapan dalam pertarungan.

"Maaf. Aku tidak punya dendam pribadi terhadapmu."

Melompat dengan hanya menggunakan tubuh raksasa-

Pedang pembunuh iblis yang digenggam di kedua tangannya itu, membelah ekor spirit tersebut.

Ekornya mengejang lalu jatuh ke dalam hutan yang berada di bawah.

Namun, tubuh Kamito juga menjadi melayang di udara pada waktu yang sama.

Gravitasi mengambil alih dan mulai menariknya - tepat sebelum itu.

Sesuatu melilit pergelangan kakinya dan menariknya kembali.

Ia terlontar ke atas - pada saat berikutnya, ia terjatuh ke dek kapal.

"...... Aduh ......"

Kamito diserang oleh rasa sakit.

"......Malahan, itu membakarku, sehingga bisakah kamu mengontrol suhu apinya!?"

Pergelangan kaki yang dililit oleh Lidah Api itu hangus sedikit.

"Ini hukuman karena bertindak sembrono. Jika aku melakukan kesalahan, mungkin kamu akan menjadi pancake sekarang."

"Aku percaya bahwa kamu tidak akan melakukan kesalahan, majikanku."

"...... Kau benar-benar idiot, kau tahu itu ......"

Gumam Claire dengan tidak jelas sembari berwajah merah.

"-Dan, itu dia!"

Dengan ekornya yang terpotong, spirit penghancur yang marah itu menyerang ke arah kapal.

Sebuah serangan yang diarahkan ke dek dengan mulut terbuka, spirit penghancur itu memamerkan taringnya yang tak terhitung jumlahnya!?

Sebuah tubrukan yang mengerikan mengguncang kapal. Potongan dek beterbangan dan berserakan.

Kamito mengambil sikap dan melindungi Claire dari serpihan.

"-Selayaknya spirit militer penghancur, kekuatannya benar-benar gila."

Sementara masih di atas dek kapal, spirit penghancur itu mengamuk.

Tampak bahwa kepalanya telah tersangkut dalam kapal.

Ini adalah kesempatan. Kapal ini tidak bisa menerima serangan berikutnya.

Kamito mengambil sikap dengan pedang Pembunuh Iblisnya dan mengisinya dengan kekuatan yang dashyat.

"Claire, aku akan menyelesaikannya di sini!"

"Aku mengerti!"

Spirit penghancur itu menggeliat hebat.

Dengan mengepakkan sayapnya yang seperti sirip dan berusaha untuk naik-

"Aku tidak akan membiarkanmu!"

Beberapa saat sebelum itu terjadi, Claire melilit dengan Lidah Api ke spirit penghancur.

Lidah Api tidak berhasil untuk menembus kulit terluar spirit itu.

Namun Lidah Api telah menghantam spirit itu dan membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuatnya menabrak kembali ke dek kapal.

Di sana—

"Ohhhhhhhhh!"

Kamito berlari ke arak spirit itu dengan pedang yang besar.

Sebuah garis pedang yang bersinar.

Menendang dari tanah, pedang itu memotong ke perut lunak spirit.

Namun——

"Apa!?"

Bahkan dengan perutnya yang terbelah itu, spirit penghancur itu belum dapat dikalahkan.

Spirit itu membuka rahang untuk menampakkan taringnya yang banyak di hadapan Kamito-

Pada saat itu. Dia mendengar suara dari belakang.

"O.. spirit naga bertaring hitam, engkau, yang patuh pada perintahku, musnahkan musuh - musuhku——"

"......!?"

"—Hancurkan, NidhoggSpirit Naga!"

Dengan suara yang bermatabat—

Kasar, kobaran api menggila menelan spirit penghancur yang mengamuk itu.

Kali ini spirit itu dibakar menjadi arang dan jatuh dari kapal.

Pada dek, ada garis api hitam yang hebat.

"......Claire?"

Seekor naga hitam dengan membentangkan sayapnya berdiri di sana.

Itu kecil untuk ukuran naga, tapi naga itu dua kali lebih tinggi dari tinggi Kamito.

"Penyelesaianmu lemah sekali, Kazehaya Kamito."

Leonora Lancaster berdiri di sana di samping naga hitam.

Dia bertanya-tanya ketika ia siuman.

"...... Inilah Kesatria Kaisar Naga terkuat seekor naga« Nidhogg »."

Claire berbisik sambil melihat.

...... begitu, itu benar-benar bukan roh mu sehari-hari.

Kamito heran.

Sepertinya kali ini Blade Dance akan memiliki orang-orang dari tingkatan ini ......

"...... Kau seorang penolong, terima kasih."

Kamito menyampaikan terima kasih dan Leonora menggelengkan kepalanya.

"Itu roh militer dari Dracunia dimulai dengan begitu wajar saja bahwa kita menjadi orang satu satunya yang menyelesaikannya."

"...... Meskipun kamu sepanjang waktu pingsan."

"iit, itu karena seorang pria menyentuh dadaku ......!"

Claire melotot dan Leonora panik.

Kapal berguncang sedikit dan kemudian mulai naik ketinggian.

Tampaknya bahwa back-up roh mesin telah dimulai.

"Setidaknya sekarang kita bisa santai."

"Tapi bagaimana roh militer yang seharusnya disegel menyerang kita-"

roh itu tidak gila.


Itu sudah menyerang kapal secara sengaja.

"Itu mungkin seseorang yang ingin melenyapkan pesaing blade Dance. Mustahil untuk melacak yang menggunakan roh militer."

Leonora menganalisis situasi dengan tenang.

"Sepertinya jenis-jenis serangan yang biasa. Tampaknya bahkan jika kita belum ada di sana, kita harus memperlakukannya seolah-olah Dance pisau sudah dimulai."

Sementara bersandar di sisi kapal, Claire menunjuk ke bayangan kapal.

"Lihat ke sana."

"Ya?"

Kamito mengubah pandangan dan melihat sebuah kapal perang dalam awan sedang mundur.

"Aku tidak tahu yang memiliki kapal itu, tapi tidak ada jalan hal ini tidak berhubungan dengan penyerangan itu. Untuk menggunakan roh militer dari kelas itu, harus ada beberapa elementalists di kapal itu."

"Apakah kita tak pergi mengejar mereka?"

"Tanpa roh angin terbang, mustahil untuk mengejar sebuah kapal perang akan pergi dengan kecepatan penuh. Dan mereka mungkin memiliki roh lebih militer. Ini terlalu berbahaya."


"...... Sealed roh militer, ya."

Sesuatu sedang menarik-narik sisi pikiran Kamito itu.

Dia ingat pertempuran dengan Jio Inzagi dan misinya di tambang.

Restia berusaha untuk membuka segel Jormungandrthe roh militer kelas stretegic.

Seperti yang diharapkan, ia mungkin saja berpikir terlalu banyak di dalamnya-

"Ini mungkin terhubung dengan roh kegelapan gadis dari Roh kasus militer lainnya ......"

Tapi tampaknya bahwa Claire punya ide yang sama.

Dia menatap Kamito dengan wajah yang lemah lembut.

"......"

Kamito terdiam.

"Kamito, kau tidak terluka?"

"Mendadak, kapal berguncang ...... apa yang terjadi di sini?"

"Kamito-kun, kau baik saja?"

Ellis, Rinslet dan Fianna semuanya datang ke geladak.

"Kazehaya Kamito, aku akan mengundurkan diri untuk hari ini, tapi-"

Dan Leonora mengembalikan naga hitamnya ke bentuk pedang dan berbalik.

"Menipu sang putri gadis suci dan membentuk surgawi harem - itu« keinginan »sesuatu yang pedang ini tidak akan mengizinkan."

"Tunggu, aku tidak berharap untuk hal semacam itu!"

"Ka-Kau, apakah kau berpartisipasi dalam Dance Blade untuk hal semacam itu inginkan?"

Gogogogogogogogo ......!

"Claire, jangan percaya!"

"Sebuah surgawi harem ...... apakah itu?"

"Kamito-san, apa artinya!"

"Umm, apa peringkat ku?"

"Kalian ......"

...... Setelah itu, Kamito ditanyai oleh Ojou-Samas selama sekitar satu jam.



part 3[edit]

"Nii-sama, mengapa kamu menjadi begitu lemah?"

Di geladak kapal perang kecil-

Gadis dengan rambut abu-abu abu memiringkan kepalanya dengan cara yang aneh.

Di bawah kaki ada sisa-sisa cincin yang hancur .

Itu cincin roh penghancuran tersegel.

"Muir, kamu harus sudah diberitahu untuk tidak menggunakan« Jester Vise »."

Dari palka kapal muncul gadis lain. Seorang gadis dengan kulit cokelat yang tampak berusia sekitar 15 tahun.

Indah batu giok rambut. Yang murni mata merah dan telinga lancip.

Dia adalah seorang Elfim setengah-manusia dengan segala ciri dari salah satu.

"Ini bukan salahmu Muir. Ini adalah kesalahan dari orang-orang militer karena memiliki roh yang lemah."

"Misi kali ini adalah hanya untuk menguji kekuatannya. Hanya karena kamu ingin, roh yang berharga hilang."

"Jika tak tahan Muir« Jester Vise », itu tidak cocok untuk digunakan."

"Roh Militer bukan mainan kamu. Mereka bukan sesuatu yang kamu hanya di buang."

"Hmph, dan itulah sebabnya Lily lemah."

Muir menggelembungkan pipinya kecewa.

Gadis Ras Elfim - Lily Flame menarik napas berat.

"Yah, baik-baik saja, jadi bagaimana kekuatannya? Kami kehilangan roh militer yang berharga. Kau lebih baik setidaknya memiliki itu atau kamu tidak akan punya alasan untuk Kardinal."

"Nii-sama telah menjadi lemah."

Muir menaruh jari telunjuknya ke bibirnya dan menggeleng kecewa.

"...... Lemah? Meskipun ia mengalahkan roh militer mid-class?"

"Masa lalu nii-sama akan melakukannya sendiri. Tapi kali ini, kelompok dengan nii-sama menariknya ke bawah."

"Rekan-rekan setimnya dari Areishia Academy, ya. Aku benar-benar tidak bisa percaya ...... bahwa dia bergaul dengan kelompok setengah matang."

"Seperti ini, nii-sama hanya akan menjadi lemah."

"...... Itu benar. Akhirnya halangan untuk rencana Kardinal mungkin muncul."

Lily bergumam itu-

"Tidak apa-apa. Muir hanya akan membunuh semua orang."

Muir tersenyum polos dan berbalik ke arahnya.

"Muir, jangan melakukan hal-hal yang disengaja. Kita alat Kardinal?"

"Diam, Lily."

"......!?"

dalam sekejap rasa merinding terasa ke seluruh tubuh Lily Flame.

Nomor dua dari «Instruksional Sekolah» - «Rakasa» Muir Alenstarl.

Dia tak pernah harus menjadi kesal.

Lily telah menemaninya dalam waktu yang lama sehingga ia tahu dengan baik.

"Muir tidak peduli tentang apa pun selain nii-sama. Aku akan membunuhmu juga jika kamu sempat menghalangi ku, Lily."

"Muir ......"

Sebuah detik terengah-engah saja.

Dan kemudian-

"Aha, aku bercanda. Lily, jenis wajah apa yang kau buat?"

Muir membuat senyum tanpa dosa dan berbalik ke arahnya.

"Lily adalah teman berhargaku jadi aku tidak akan membunuhmu semudah itu."

"......"

Muir menatap ke ujung seberang kapal dan mendesah.

"Tunggu aku, nii-sama. Aku akan menghapuskan para onee-chan yang suka ikut campur untukmu."


Mundur ke Bab 2 Kembali ke Halaman Utama Lanjut ke Bab 4