Seirei Tsukai no Blade Dance (Indonesia):Jilid 4 Bab 5

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Chapter 5 : Olahraga Air[edit]

Bagian 1[edit]

Matahari menyinari dengan lembut ke hutan itu.

Beraneka ragam warna berganti-ganti di udara.

Buah beragam warna menghiasi cabang dari kepadatan pohon-pohon yang tumbuh.

Itu adalah danau disamping kastil tersebut.

Karena roh-roh yang melayang dekat pesisir danau itu, danau ini memberikan kemurnian yang tinggi. Ini adalah sebuah tempat berkualitas tertinggi bagi pemurnian seorang gadis tuan putri.

“Claire dan yang lain belum juga disini......”

Kamito, yang baru saja tiba, memantau area itu.

Belahan atasnya terbuka. Di belahan bawahnya, dia memakai celana pendek. Tentu saja, dia telah melepas sarung tangan kulit di tangan kirinya, tapi dia membungkus segel dibawahnya dengan sebuah kain hitam.

“Menjadi yang pertama sampai membuat saya kelihatan sangat gembira dan itu memalukan.”

Sambil menggaruk kepalanya, dia mengeluh dan–

“Kamito–kun, maaf untuk membuatmu menunggu!”

"Owaa!?"

Squish. Tiba tiba dipeluk dari belakang, Kamito secara tidak sadar menyalak.

"Fianna!?"

Terkejut, dia menoleh kebelakang–

Dan disana berdiri tuan putri imut itu memakai sebuah pakaian renang hitam yang nekat.

“Apa ini cocok denganku?”


"......!?"

Pakaian renang Fianna adalah sebuah bikini dewasa. Terbungkus disekeliling panggulnya yang lentur adalah sebuah celana dalam low-leg. Sebuah pita hitam menghiasi dadanya. Jumbainya membungkus sekeliling pahanya ditambah dengan pengikat kaus kakinya terlihat erotis. Kain segitiganya yang menutupi buah dadanya sangat merangsang dan terlihat akan tumpah.

“Seorang ratu tidak boleh tidak sopan seperti itu!”

"Fufu, Kamito-kun marah ♪"

Fianna menjulurkan lidahnya dengan tingkah yang imut dan melepaskan lengannya.

"K-Kamu......"

Jantung Kamito berdebar oleh kata kata memikat itu.

“Oh iya. Kamito-kun, haruskah saya menunjukkan kepadamu <<Segel Roh>>-ku?”

"Apa–"

Fianna membungkuk dan–

Membiarkannya memandang ke buah dadanya didalam celah dari pekaian renang nekatnya.

Kamito menelan kuat.

“Lihat. Itu disini. Di dalamnya......”

Sambil menggodanya dengan aksi nekatnya, wajahnya sedikit berwarna merah.

Walaupun memakai sebuah pakaian renang dewasa, dia masih seorang ojou-sama yang murni.

Belahan yang lembut itu, sampai sekarang, mendorongnya untuk membenam wajahnya kesana.

Persis saat dia memandang <<Segel Roh>> itu yang terukir didalamnya–

“Fianna-san, a-apa yang kamu lakukan!”

Dari jalan kecil didalam hutan lari Rinslet berpakaian pakaian renang.

Itu adalah sebuah pakaian renang wajar yang cocok dengan seorang ojou-sama, tapi itu menekankan volume buah dadanya. Kaki yang muncul dari bawah pareonya sangat indah sampai Kamito membeku dalam pesonanya.

“Ka-Kamito-san, bagaimana pakaian renangku?”

“......Y-Ya, itu sangat cocok denganmu.”

Kamito mengutarakan pikirannya yang sejujurnya dan Rinslet tersipu.

“K-Kamu benar benar...... berpikir begitu? S-Saya tidak suka disanjung-sanjung.”

“Itu bukan sanjungan. Kamu benar benar, um……..cantik.”

"......Auu......"

Rinslet memerah tepat sampai ke telinganya.

Dan terjatuh begitu saja.

“M-Maaf membuatmu menunggu!”

Dan sekarang datang sebuah suara kaku.

Yang muncul dari jalan yang sama seperti Rinslet adalah si kapten ksatria, Ellis.

Dia memakai sebuah pakaian renang berwarna biru laut yang menyolok dengan sebuah penekanan ke kegunaannya. Itu sangat polos dibanding ke pakaian renang Fianna dan Rinslet, tapi jarak antara dia yang berzirah dengan dia yang sekarang menekankan garis tubuhnya sangat berbahaya.

Dia terpancang ditempat.

“Ka-Kamito, jangan lihat kesini, lihat kesana!”

“M-Maaf......!”

Kamito segera memalingkan pandangannya dan–

Ellis mengosongkan tenggorokannya.

“......T-Tidak, maksud saya tidak apa-apa untuk melihatnya?

“Yang mana yang benar......”

“D-Diam! Lagipula, kamu mungkin saja berpikir itu hanya sebuah pakaian renang menjemukan!”

“Tidak ada yang berkata begitu.”

Kamito menghela dengan capek.

“......Saya seharusnya memakai pakaian renang yang lebih erotis.”


"Hmm?"

Rasanya kapten ksatria itu baru saja mengatakan sesuatu yang menakjubkan tapi–

“Ellis terlihat sangat cantik dalam pakaian renangnya.”


"Eh?"

Seru Ellis yang mata ambernya melebar.

“Saya pikir itu cocok dengan Ellis yang serius.”

"Kamito......"

Ellis mengetatkan lengannya ke dadanya dan tersipu.

“Yang tersisa adalah Claire dan Est–“

Kamito bergugam dan,

"Ka-Kamito......"

"Claire?" Ke suara yang dia sudah terbiasa, dia menoleh kebelakang – Claire berdiri disana.

......Tidak.

Dari belakang sebuah pohon besar, twintail menonjol keluar.

“Kamu, apa yang kamu lakukan?”

"......"

Claire tetap bersembunyi di belakang pohon.

“Apakah jangan-jangan tali pakaian renangmu terpotong?”

“I-Itu salah!”

Twintail itu berdiri tegak.

“Jadi mengapa kamu tidak keluar?”

“K-Karena itu......memalukan.”

“Memalukan, katamu......semuanya juga dalam pakaian renang.”

“Itu benar tapi......o-oke.”

Claire menyerah dan dengan malu malu keluar.

Pada saat itu–

Napas Kamito berhenti.

Claire sedang memakai sebuah bikini merah polos. Sebuah desain yang biasa dan sederhana – sebaliknya, itu malah menekankan kecantikannya. Celana dalam ditahan dengan tali yang membungkus kulit mulus itu dan pahanya memiliki sebuah garis tipis dari bekas cambuk kulitnya.

Itu sangat menyakitkan untuk diakui, tapi dia sangat-sangat imut.

Jujur saja, dia tidak mengerti mengapa dia malu.

“Kamu......”

“J-Jangan berkata apapun, sebab saya cuma......”

Ketika dia melihatnya malu-malu menyembunyikan dadanya dengan kedua tangannya–

Kamito menyadari alasannya.

Claire ternyata prihatin dengan buah dada kecilnya.

"......Geez." Kamito membuat sebuah senyum masam dan meletakkan tangannya ke kepala Claire yang malu.

"Fuaa!"

“Dengar, oke? Ini adalah pemikiranku yang sebenarnya. Saya tidak akan mengatakannya lagi.”

“A-Apa itu......!”

“Kamu imut, Claire.”

"Fuaaa, i-idiot, apa yang kamu katakan!"

Pukul, pukul, pukul.

Claire memukul bahunya dengan wajah semerah buah bit.

Bagian 2[edit]

"Kali ini si kapten ksatria adalah setannya!”

"Saya tidak akan kalah dalam berenang."

"Ellis, kamu tidak boleh memakai zirah anginmu."

Suara merdu menggema di dalam hutan itu. Tetesan air yang berkilau. Buah dada yang bergoyang tango dengan seluruh sisa tubuhnya bertemu matanya.


Bishoujos lengkap pakaian renang bermain dengan gembira di dalam danau itu.


......Bagaimanapun kamu melihatnya, tidak ada perasaan ini adalah sebuah upacara pemurnian.

STnBD V04 006-007.jpg

Yah, bersantai itu penting juga......

Kamito berbaring di pesisir danau itu.

Dia tidak dapat bermain dengan para gadis karena dia akan terus terusan teralih perhatiannya, jadi dia memilih untuk berjemur. Para gadis itu kelihatan tidak puas, tapi mungkin karena mereka telah memaksa dia datang dengan kedominanan yang tidak adil, mereka membiarkannya begitu.

Disampingnya, Est sedang berlutut sambil menjilat sebuah es loli.

Tubuhnya yang bagaikan peri salju ditutupi oleh sebuah pakaian renang biru laut keluaran akademi.

Kulitnya yang halus seperti susu dan rambut lembut berwarna peraknya

Di kedua kakinya adalah kaus kaki sepanjang lutut.

Est mempunyai penampilan yang seorang maniak punya, memakai sebuah pakaian renang serta kaus kaki sepanjang lutut.

Tidak ada banyak kulit yang tampak, tapi untuk beberapa alasan, kelihatannya penampilan itu melewati lebih banyak batas daripada telanjang sepenuhnya.

"Est, kamu tidak pergi bermain dengan semuanya?"

"Itu akan memalukan bagiku untuk telanjang kaki.”

Est membalas tanpa ekspresi.

"Lagipula, saya tidak dapat berenang."

"Ahh, Begitu ya......"

Est adalah seorang roh pedang jadi dia tidak dapat terapung.

Tidak peduli seberapa kuat dia sebagai seorang roh, dia tidak dapat menghilangkan sifat dasar logamnya.

......Kalau dipikir pikir lagi, Itu juga dekat dengan sebuah danau dimana saya membuat kontrak dengan Est.

Sambil menatap wajah samping Est, Kamito memikirkan itu.

Pembasmi Setan – Terminus Est.

Seorang roh suci legendaris. Itu adalah sebuah misteri mengapa sebuah pedang sekalibernya telah memilih Kamito.

–Dia masih tidak tahu.

Lagipula, Est memiliki banyak rahasia lain juga.

"Hey, Est–"

"?"

Est berputar menghadapnya sambil menjilat es lolinya.

"Apakah kamu benar benar pedang suci yang mengalahkan raja setan?"

Legenda dari Pembasmi Setan tertinggal dimana mana di kontinen itu.

Est tidak diragukan lagi adalah sebuah pedang tak tertandingi, tapi tidak mungkin dia adalah yang sebenarnya – itu apa yang dia pikirkan.

Tapi jika dia adalah yang sebenarnya......

Kekuatan yang menghancurkan «Segel Senjata Terkutuk» di jantung Velsaria dua minggu yang lalu.

Itu bukanlah kemampuan dari seorang roh pedang biasa.

Di dalam legenda Pembasmi Setan, pedang suci itu juga dikatakan telah menghancurkan segel roh dari semua tujuh puluh dua kontrak raja setan.

"Maafkan saya, Kamito."

Tapi Est dengan diam menggelengkan kepalanya.

"Memori saya sedang tidak lengkap sekarang. Jika saya mendapatkan tubuh asli saya, memori saya seharusnya akan kembali dengan kekuatan penuh saya."

"Tidak, Saya seharusnya yang harus meminta maaf. Maaf."

Karena Kamito masih berpegang pada kontraknya dengan Restia, kontraknya dengan Est masih tidak sempurna. Est tidak dapat menunjukkan kemampuan sebenarnya.

"Tidak, Kamito."

STnBD V04 121.jpg

Est membawa es lolinya menjauhi mulunya dan menatap kearah Kamito dengan matanya yang misterius.

Dan kemudian–

"Saya senang saya berkontrak denganmu."

"......Est?"

Untuk sesaat, ekspresi sekejap di wajah Est membuat jantungnya berpacu.

"–Kamito-san."

"Owaa!"

Rambut pirang platinum berkilau di bawah sinar matahari.

Pada suatu waktu, Rinslet berpakaian renang berdiri disampingnya.

"Jangan mengejutkanku seperti itu......"

"Tidak, itu, maaf......"

Kamito meminta maaf pada Rinslet yang merajuk.

"Ada apa, Rinslet, kamu tidak pergi berenang dengan yang lain?"

Pada kata katanya, Rinslet menggeliat sedikit dan wajahnya memerah.

"Saya t-tidak bisa, itu......Saya tidak dapat berenang dengan baik."

"Benarkah?"

Itu tak terduga. Bahwa si Rinslet yang sempurna bisa mempunyai kelemahan itu.

"Hmm? Walaupun kamu pergi bermain alep di dalam air barusan?"

"I-Itu......umm, itu adalah sebuah trik kecil."

"Trik?"

Rinslet mengganguk kecil dan menjulurkan jarinya.

Sebuah suasana beku mengumpul dan dari udara tipis muncul seekor serigala putih.


Roh es kejam «Fenrir».

"Saya menaiki punggung anak ini ketika berada di dalam air."

"......Begitu ya."

Saat membayangkan serigala putih itu dengan anggun berlari kesana kemari di bawah permukaan air dengan seluruh kemampuannya, Kamito tersenyum masam.

"K-Kamu barusan tertawa, bukan! Itu jahat!"

"M-Maaf......"

"Dan jadi, umm......"

Dan pipi Rinslet semakin memerah.

"Saya ingin meminta bantuan Kamito-san."

"Bantuan?"

"Umm, itu, saya......"

Dan kemudian Rinslet menjadi tidak jelas.

......Apa?

Ini adalah saat saat seperti ini dimana pembantunya akan menerjemahkannya kepada dia.

Kamito melihat sekeliling dan menemukan figur Carol yang bersembunyi.

......Dia pikir dia tidak melihatnya tadi, tapi ternyata dia bersembunyi selama ini.

Dia sedang menggerakkan mulutnya dan kelihatannya sedang berkata sesuatu –

Kamito menggunakan kemampuan membaca gerakan mulut yang dilatihnya di dalam institut.

Ojou-sama, lakukan yang terbaik – itu saja......apa maksudnya?

Menunggu beberapa saat seperti itu –

"Ka-Kamito-san!"

Rinslet berteriak dan kelihatannya telah membulatkan hatinya.

Menyapu rambut pirang platinumnya keatas dan menunjuk ke arah Kamito–

"S-Saya akan membiarkanmu mengajariku bagaimana berenang!"

......Oh begitu, pikir Kamito dengan senyum masam.

...... Seperti biasa, dia adalah seorang ojou-sama yang tidak dapat jujur.

Tapi jika kamu telah terbiasa dengan itu, hal hal itu tentangnya juga dapat menjadi imut.

"Est, Saya akan pergi berenang dengan Rinslet senbentar."

"Ya, Kamito......"

Est merajuk dengan sedikit sedih.

Bagian 3[edit]

"Ka-Kamito-san, tolong jangan lepaskan......"

"Yeah, ini baik baik saja. Rentangkan tubuhmu lagi."

Splash. Suara air itu bergema dekat pesisir danau.

Sedikit jauh dari tempat dimana yang lain bermain, di balik bayangan sebuah batu, Kamito sedang mengajari Rinslet bagaimana berenang.

Kelihatannya dia tidak mau yang lain tahu.

"P-Pasti, oke......j-jika kamu lepaskan, Saya akan membuatmu menjadi sebuah pahatan dari es!"

Dengan ekspresi gugup, Rinslet mencengkram ke lengan Kamito.

Dengan sensasi kelembutan di tangannya, jantungnya berdebar.

"S-Saya mengerti, jadi tolong jangan tusukkan kukumu ke lenganku."

"M-Maafkan tentang itu......"

Melepaskan tangannya dari lengannya, dia malahan mencengkram tangannya.

Dia mencengkram dengan kuat dengan jarinya yang lentik dan halus.

"Tangan seorang......pria."

Dengan pipi merah, matanya yang menengok ke atas bimbang.

"Yah, Saya selalu memegang sebuah pedang......"

Kamito berkata sambil dengan cepat memalingkan matanya.

S-Sudut pandang ini buruk......!

Dari tengkuk putihnya ke tulang selangkanya dihiasi tetesan air.

Buah dada yang dapat terlihat dibawah permukaan air terlalu mengganggu konsentrasi.

"Kamito-san, apa yang kamu lihat?"

"Ah, tidak......ayo, kendurkan dan renggangkan."

Kamito segera mengganti topiknya.

"U-Untuk seorang pria memerintahku......ini adalah yang pertama kalinya."

Rinslet menutup mulutnya rapat rapat .

Tapi ekspresi itu sepertinya kelihatan senang.

"Maaf, ojou-sama. Saya adalah orang yang kurang ajar."

"Tidak, i-itu tidak apa apa bagimu untuk memberiku lebih banyak perintah lagi. T-Tapi perintah mesum agak sedikit......"

"Hmm?"

"T-Tidak ada apa apa!"

Rinslet berkata di dalam air dan membentuk gelembung air.

Sungguh orang yang aneh – Kamito berpikir begitu dan kemudian.

"......?"

Kamito merasakan seseorang mengawasi mereka.

Dia merasakan tekanan seperti pisau dibelakang lehernya.

Kamito dengan cepat menyurvei area itu.

Dia hanya merasakan keberadaan itu sesaat dan itu telah hilang sekarang.

Saya tidak merasa bahwa itu adalah imajinasiku tapi......

Itu mungkin saja hanya roh roh di sekeliling danau itu.

Yah, itu telah menghilang dengan cepat jadi tidak ada alasan untuk khawatir tentang itu.


"Ada apa?"

"Tidak, tidak ada apa apa......ayo, lebih santai."

"......S-Seperti ini?"

Rinslet menggangguk dengan jujur dan mengendurkan seluruh tubuhnya.


Bokongnya yang imut dibungkus dalam pakaian renang putih muncul dari dalam air.


"S-Saya terapung!"

Senyumnya bagaikan mawar yang mekar, sangat memikat.


"Rinslet benar benar menjadi imut ketika dia jujur."

Dengan sebuah senyum masam, Kamito membisikkan itu dan Rinslet memerah sampai ke telinganya.

"......Kamito-san, kamu menggoda saya, bukan?"

Gigit. Seperti dia sedang memarahinya, dia mengigit ke kedua tangannya.

Gigit. Gigit.

"Rinslet, ini sakit......"

"Fufu, ini adalah hukuman untuk menggoda saya."

Rinslet tersenyum dengan anggun dan akhirnya berhenti mengigitnya.

Tapi seperti yang diharapkan dari seorang gadis berbakat, kecepatan belajarnya sangat cepat.


"Lalu, berikutnya, coba gerakkan kakimu."

"Y-Ya......"

STnBD V04 129.jpg

Rinslet mengganguk dan–

"Kyan!"

Kemudian mengeluarkan sebuah suara menyalak.

"A-Apa yang terjadi?"

"Fua, ya, ahn......a-apa yang kamu sentuh!"

Rinslet terhuyung-huyung di dalam air.

"T-Tidak, di tempat seperti ini......Kamito-san......kamu genit."

"......Tu-Tunggu, Saya tidak melakukan apapun!"

Kamito menyangkal dengan sepenuh hati dan–

Gogogogogogo......!

Permukaan air itu yang tenang dari tadi sekarang berbuih bagai air mendidih.

"Kelihatannya menyenangkan, Kamito."

"Claire!?"

Apa yang muncul dari air adalah Claire yang twintailnya berdiri tegak.

Suaranya tenang tapi......dia sedang marah. Tidak ada kesalahan.

"K-K-Kamu, ap yang kamu lakukan sendirian dengan Rinslet?"

"Tidak, ini hanya latihan berenang–"

Pada jawabannya – Kamito segera menutup mulutnya.

Rinslet menginginkannya untuk tidak mengungkapkan bahwa dia tidak bisa berenang.

Dia tidak bisa mengkhianati kepercayaannya.

Karena Kamito tiba - tiba terdiam, Kelihatannya itu menyulut api kemarahan Claire.

"Apakah mungkin kamu melakukan s-sesuatu yang kamu tidak dapat beritahukan......"

Gogogogogogo......!

"I-Itu salah, Claire, ini–"

Apa yang datang ke Kamito pada saat itu adalah–

"Ini......Ini adalah pelajaran rahasia!"

Kata - kata itu.

"......Pelajaran rahasia!?"

Alis mata Claire meninggi.

......Gawat, sepertinya dia telah salah memilih kata - katanya.

"I-Itu benar, Ini adalah sebuah pelajaran tentang sesuatu yang tidak dapat dikatakan!"

Sambil masih memegang tangan Kamito, Rinslet mengatakan itu.

"S-Sebuah pelajaran tentang sesuatu yang tidak dapat dikatakan......"

"Tunggu, Rinslet, kata – kata itu akan menimbulkan kesalahpahaman–"

Tapi Claire telah memerah dari entah apalah yang dia bayangkan.

"......Kamito, si mesum ini, betapa genitnya!"

Pukul, pukul, pukul.

"Tenang dulu, kamu salah! Ini bukan sebuah pelajaran yang kamu bayangkan tadi!"

"Claire, bisakah kamu tolong tidak mengganggu pelajaran rahasia kami?"

Rinslet mengatakannya dengan sebuah senyum tenang.

"......K-Kamu, pergi dari Kamito!"

"Wah - wah, mengapa saya harus melakukan itu?"

Percikan terbang dari si gadis kucing neraka dan gadis penyihir es ini.

......Perkelahian biasanya telah dimulai.

"Ka-Kamito adalah roh pelayanku dan saya tidak akan memberikannya kepadamu!"

"Tidak, Kamito-san milikku!"

Keduanya masing – masing menarik satu sisi pipinya.

......Sebuah perkelahian antara dua elementalis kelas atas telah dimulai.

Sambil membuat tetesan air terbang, Keduanya bergumul dengan pakaian renang mereka satu sama lain.

Rinslet selalu berdiri dengan normal. Di dasar ada tumpukan pasir, Jadi disini ada tumpuan kaki.

Buah dada dan bokong yang dapat terlihat dari pakaian renang yang terbuka membuat Kamito memerah.

"M-Menyerahlah!"

Rinslet meletakkan tangannya ke buah dada Claire dan menarik pakaian renangnya.

Dan kemudian.

Tali bikini merahnya terlepas–

"......!?"

Waktu berhenti.

Claire dengan cepat menutupi buah dadanya dengan tangannya, tapi sudah terlambat.

Figur bukit tersembunyi yang kecil, imut itu telah tertanam pada pandangan Kamito.

"......A-Apa kamu melihatnya?"

Kamito menggangguk sejujurnya.

"A, uu......"

Claire merona merah sampai ke telinganya–

"......Fuaaaaan!?"

"Claire!"

Dan berlari dengan cepat menuju ke dalam hutan.

"Jeez......"

" A-Apakah saya telah melakukan sesuatu yang buruk......"

Rinslet sedang mengintrospeksi diri.

Hutan yang menyebar mengelilingi danau itu.

Walaupun itu adalah wilayah suci milik Raja Roh, mungkin saja ada roh yang berbahaya di dalam hutan.

Dia tau Claire adalah elementalis kelas atas – tapi seperti yang dia duga, dia masih khawatir.

Kamito menghela dan mengejar Claire yang menghilang ke dalam hutan.

Bagian 4[edit]

Sambil berlari di dalam hutan yang gelap itu–

Ka-Kamito melihat buah dadaku......!

Claire memerah.

Itu memalukan sampai ke titik wajahnya merasa akan terbakar.

Jeez, apa ini, apa ini, idiot!

Dia telah melihatnya telanjang bulat pada pertemuan pertamanya.

Tapi yang lalu dan sekarang jauh berbeda.

Tapi ,dia tidak tau mengapa......

M-Mengapa jantungku......berdetak sekencang ini.

Claire berhenti berlari dan menahan jantungnya yang berdetak kencang.

Itu benar, dia tidak membenci kenyataan bahwa dia telah melihatnya telanjang.

Bagi dia untuk melihat buah dadanya yang belum berkembang adalah sebuah syok untuknya.

B-Buah dada sekecil ini aneh, bukan......

Usap. Usap.

Sambil merasakan dadanya yang lembut, dia mengigit bibirnya.

Claire telah membacanya dalam sebuah buku.

Bahwa laki – laki menyukai perempuan berbuah dada besar.

Itu tentunya tidak mengecualikan Kamito–

Toh, Kamito terlihat bersenang – senang disamping Rinslet berbuah dada besar itu.

A-A-A-Apa apaan pelajaran rahasia yang tidak dapat dikatakan ini, k-kamu idiot!

Mengingatnya lagi, dia merasakan kemarahannya kembali menyala.

Apa coba yang mereka berdua lakukan di balik bayangan batu itu–

"S-S-Saya benar – benar tidak peduli tentang siapa yang dekat dengan dia......"

–Hanya saja dia mengatakan itu dengan sebuah cibiran.

Dia merasakan sebuah sensasi dingin di belakang lehernya.

"......Siapa itu!?"

Berbalik, dia menanyakan dengan sebuah suara tajam.

Dan.

"Hmm, kamu tidak kuduga cukup tajam, onee-chan. Tapi berpisah dengan sisa grupmu tidak bagus."

Muncul dari pepohonan seperti sebuah bayangan–

Seorang gadis berkerudung.

Rambut abu debu yang sedikit tampak. Pupil birunya yang transparan.

Seorang gadis muda yang bahkan lebih kecil posturnya dari Claire.

–Seorang anak – anak di tempat ini?

Claire curiga.

Dia kelihatannya bukan seorang gadis tuan putri dari «Institut Ritual Suci».

Kemungkinan yang tersisa adalah dia berasal dari tim lain.

“Apakah kamu ada urusan dengan saya?"

Claire bertanya sambil berjaga - jaga.

Apa yang dia rasakan barusan hampir mendekati keinginan membunuh.

Walaupun lawannya adalah seorang gadis kecil, dia tidak boleh lengah.

Gadis itu tertawa ringan.

"Saya akan membuatmu menghilang, onee-chan. Demi kepentingan nii-sama's."

"......!?"

Seketika, Claire bereaksi.

Air muncul dari tanah dan banyak tentakel terbentuk lalu menyerangnya.

......Seorang pengguna roh air!?

Tentakel air yang menggeliat itu menyabet ranting – ranting pohon disekeliling.

Claire mendarat diatas tanah dan melakukan pemanggilannya.

Penjaga api merah menyala, pengawas bara api abadi!

–Sekaranglah saatnya untuk mematuhi kontrak darah, datanglah dan lakukan perintahku!

"–Scarlet!"

Seekor kucing neraka terselubung api merah menyala muncul dari udara tipis.

Kucing neraka itu segera berubah menjadi sebuah cambuk ditangannya.

"Kamu, apa kamu tau siapa yang kamu lawan?"

"Tentu saja, Claire Rouge. Adik Ratu Bencana."

"Sepertinya kamu telah melakukan penyelidikanmu!"

Claire mengayunkan cambuk apinya ke bawah.

Menggambar sebuah garis merah di udara, itu dengan mudah menjatuhkan pepohonan di hutan itu.

Tapi tentakel air dari dalam tanah itu dengan mudah menghentikan cambuk api itu.

"Apa–"

"Tidak ada jalan bagi roh api onee-chan untuk dapat mengalahkan «Scylla»."

"......Scylla?"

Claire telah membaca nama itu di akademi.

Itu adalah nama dari sebuah roh militer khusus yang dapat digunakan siapapun. Flexibilitas untuk berganti kontraktor dirasakan terlalu berbahaya dan dia seharusnya telah disegel setelah Perang Ranbal–

Dan kemudian Claire sadar.

Jika dia adalah seorang pembunuh bayaran yang menggunakan roh militer yang disegel–

"Jangan - jangan, kamu yang menyerang kapal itu......kyaa!"

Dlaam sekejap, sebuah tentakel yang muncul dari dalam tanah mencengkram kaki Claire.

Tentakel itu menbungkus sekeliling kakinya dan mengangkatnya ke udara.

"......Benda sialan ini, lepaskan saya......!"

Dia mengayunkan Lidah Apinya dengan segenap kemampuannya tapi itu tidak melakukan apa apa ke roh air itu.

Roh lawannya adalah tandingan terburuk untuk roh apinya.

Bahkan, area ini melemahkan roh api karena jaraknya yang dekat dengan air.

Walaupun itu roh kelas tinggi seperti Scarlet sekalipun, menanggulangi hal itu sangat sulit.

Tentakel itu memasuki celah pakaian renangnya.

Mengelilingi pahanya, itu adalah sebuah perasaan mengerikan.

"......Ah, n, a-apa yang kamu lakukan, tidakkk......!"

"Fufu, sungguh penampilan yang memalukan, onee-chan. Tapi saya akan membuatmu menikmati itu segera."

Gadis itu mendekati Claire yang tidak dapat bergerak.

"......Mengapa kamu menargetkanku?"

"Karena onee-chan telah merusak nii-sama."

"......Nii-sama?"

Claire membuat sebuah realisasi. Orang yang muncul di pikirannya adalah–

"Apakah ini mengenai Kamito?"

"Jangan mengatakan nama nii-sama's seenteng itu."

Tentakel air itu menampar pipi Claire.

"Ku......"

"Jika saya membunuh onee-chan, nii-sama akan pasti terbangun."

"A-Apa yang kamu maksud dengan terbangun! Kamito adalah Kamito!"

"Jangan berkata seperti kamu tahu apa yang kamu katakan."

Sebuah suara yang mengigil sampai ke tulang. Claire bergemetar.

"Onee-chan, apa yang kamu tau tentang nii-sama?"

"Eh?"

Pada kata - katanya–

Claire melebarkan matanya.

......Itu benar. Saya tidak tau apa –apa tentang Kamito.

Contohnya, gadis ini yang memanggil Kamito nii-sama.

Gadis ini mungkin tau.

Masa lalu Kamito yang Claire tidak tau.

Dia merasakan sakit di hatinya. Dia tidak tau mengapa.

“Selamat tinggal, onee-chan."

Gadis ini memberikannya perintah membunuh apa yang ditangkapnya–

"......!?"

Kemudian sebuah garis pedang berkelebat.

"–Claire!"

Bagian 5[edit]

Pisau pendek itu menancap di atas tanah.

Gadis itu melompat dan mendarat setelah berputar di udara.

Segera saat kekuatan Scylla melemah, Scarlet kembali ke bentuk kucing nerakanya dan menghancurkan tentakel air itu. Kamito menangkap Claire yang terlepas dengan kedua tangannya.

"Ka-Kamito......"

"Claire, mundur."

Kamito meletakkan Claire ke atas tanah dan berputar menghadap gadis itu.

Saya tidak berpikir seorang elementalis akan berada disini–

Dia menyesal tidak membawa Est bersamanya.

Dalam pertukaran serangan terakhir, dia mengerti. Lawannya adalah seorang pembunuh bayaran terampil.

Pisau pendek itu menghilang. Itu adalah produk dari satu –satunya sihir roh yang Kamito bisa pakai sebagai elementalis dari seorang roh pedang – Penempa SenjataPenghasil Senjata.

Jadi keberadaan yang saya rasakan di danau itu adalah orang ini......

Kamito melihat gadis itu. Dia tidak dapat melihat wajahnya karena kerudung itu.

Bibir gadis itu bergetar singkat dan terbuka.

"......Nii-sama."

Pada saat yang bersamaan, roh air itu membentuk tentakelnya kembali dan menyerang.

"Kahaa!"

Dia menerima sebuah serangan di perutnya.

Kamito terbang dan terperosok ke dalam tanah berlumpur itu.

"Ouch......"

"Kamito!"

Claire berlari ke samping Kamito yang tumbang.

"Mengapa kamu tidak menghindar! Kamu seharusnya bisa melakukannya."

Claire menutup mulutnya dengat erat......itu benar, dia tidak dapat menghindarinya.

"......Kamu melindungiku?"

"Saya tidak dapat membiarkan sebuah luka menyentuh wajah ojou - sama."

Kamito menyapu darah dari bibirnya dan dengan gemetar berdiri.

Sekali lagi, tentakel – tentakel itu mengayun seperti cambuk.

Kamito mengangkat kedua tangannya dan menahannya. Tapi tidak peduli seberapa kuat dia, seorang manusia tidak dapat menandingi seorang roh.

Sebuah serangan tumpul. Suara tulang dihancurkan terdengar.

"......Aguu!"

"Nii-sama, mengapa kamu mengganggu saya?"

Gadis itu mengutarakan ini pada Kamito yang terjatuh dengan suara sedih.

"......Nii-sama?"

Dia yakin dia telah memanggilnya seperti itu juga pada awalnya.

Gadis yang melanggar batas. Dari bawah kerudung itu, Dia melihat rambut abu debu melambai.

"Kamu, jangan - jangan kamu adala–"

Mata Kamito melebar.

Gadis itu melambai tanganya dan memberi perintah untuk menyerang–

"Taring Beku, tembuslah – «Panah Beku»!"

Dalam sekejap, banyak panah es menusuk roh air itu.

Roh air itu membeku dalam sekejap. Kemudian–

"Sekarang!"

"–Makan ini, Bola Api Berkobar!"

Bola api Claire tepat sasaran.

Kobaran api yang liar.

Roh air yang membeku itu musnah.

"Hmph, itu mudah."

Menggunakan sebuah busur ajaib, Rinslet menyapu rambutnya ke samping.

Walaupun dia melakukan tindakan yang riang, nafasnya tidak teratur dalam mengejar Kamito.

"Rinslet, kamu menyelamatkanku......"

Kamito berdiri sambil mengerang kesakitan.

Rinslet dan Claire mempersiapkan Elemental Waffe masing - masing dan menghadapi gadis pembunuh bayaran itu.

"Aww, dia terbunuh. Ini berakhir begini jika saya tidak menggunakan «Jester's Vise»."

Menjulurkan lidahnya dengan tingkah anak kecil, dia membuka kerudungnya.

STnBD V04 145.jpg

"......!?"

Twin tail abu debu. Sebuah wajah indah, nan muda.

Kamito berdiri terkejut pada wajah yang hampir tidak berubah dari empat tahun lalu.

"Muir......"

"Muir?"

Claire mengerutkan alisnya.

"Muir, mengapa......"

"Nii-sama, kamu telah menjadi sangat lemah."

The girl menghela sedih dan berbalik.

"Tapi jangan khawatir, Muir pasti akan membangunkanmu."

Mengatakan itu, dia menghilang ke dalam hutan–

"Berhenti–" "Disana!"

"Tunggu!"

Kamito menghentikan Rinslet dan Claire yang baru saja akan mengejar.

"Hey, mengapa kamu menghentikan kami!"

"–Kamu tidak dapat mengalahkannya."

Keduanya menelan ludah saat melihat ekspresi serius Kamito.

Dengan itu, si gadis pembunuh bayaran menghilang sepenuhnya.


Mundur ke Bab 4 - Pulau Terapung Kembali ke Halaman Utama Lanjut ke Bab 6 – Retakan