Seirei Tsukai no Blade Dance Bahasa Indonesia Jilid 4

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Novel Illustrations[edit]

Berikut adalah ilustrasi yang terdapat dalam jilid 4:


Prolog[edit]

Jalur-jalur digali di dalam fondasi batu yang solid dan menumpuk di beberapa lapisan.

Seorang anak laki-laki berjalan sendirian di dalam institusi di mana api merah berkobar.

Dia memiliki rambut yang hitam mengkilap. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan bisa disalah kira sebagai kegelapan.

Penampilannya yang terlihat seperti perempuan masih memancarkan sedikit kepolosan namun matanya yang hitam legam sama sekali tidak memperlihatkan emosi, hanya memantulkan cahaya api yang menyala-nyala.

Siapakah yang telah menghancurkan «Sekolah Instruksional», yang memiliki banyak petarung, hanya dalam setengah hari saja— Anak laki-laki ini tidak tahu.

Apakah ini disebabkan oleh Ksatria Roh dari ibukota, atau kecelakaan yang terjadi akibat roh tersegel yang lepas dan mengamuk?

Para pengajar, yang menanamkan teknik bertarung kepada anak laki-laki ini, tidak terlihat sama sekali.

Mungkin mereka kabur, atau mungkin saja mereka telah tewas.

Bila itu yang terjadi, ia akan menjadi manusia yang bebas.

Tapi.

Hal semacam itu tidaklah penting...

Anak laki-laki ini, yang sudah tidak memiliki perasaan, telah menjadi seseorang yang apatis terhadap segalanya.

Kecuali pada gadis itu, satu-satunya pengecualian yang ada.

Sang roh kegelapan, Restia – roh tersegel tingkat tertinggi yang diberikan kepadanya oleh para pengajar di institut tersebut.

Gadis yang memberikan cahaya di dalam hatinya yang tertutup oleh kegelapan.

Gadis inilah satu-satunya yang akan kulindungi dengan sepenuh hati.

Di dalam api yang berkobar, tujuan anak laki-laki ini adalah sebuah kuil yang terletak di bawah institut.

Di dalam kuil, ada banyak artefak dari roh tersegel yang digali secara illegal oleh «Sekolah Instruksional» —yang bahkan cukup kuat untuk dibandingkan dengan kekuatan militer sebuah negara kecil— tersimpan.

Cincin yang menyegel Restia juga seharusnya tersimpan di sana.

Segel roh yang yang merupakan bukti dari kontrak dengan roh masih belum terukir di tangannya.

Para pengajar di institut berhati-hati dengan kenyataan bahwa ia memiliki kekuatan lebih dari yang diperlukan dan tidak memperbolehkannya untuk melakukan pertukaran kontrak dengan roh.

Anak laki-laki ini memiliki kemampuan untuk bertukar perasaan dengan roh meskipun ia merupakan lelaki- sama dengan sang «raja iblis».

Para pengajar takut ia akan memberontak setelah melakukan kontrak dengan roh kegelapan tingkat tertinggi.

“--Onii-sama!”

Terdengar suara seorang gadis dari belakang.

“Muir?”

Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan onii-sama.

Ia berbalik, dan melihat seorang anak gadis di belakangnya.

Ia memiiki rambut yang berwarna abu-abu dan diikat di kedua sisi kepalanya.

Seiring dengan matanya yang berwarna biru cerah, ia memiliki bibir yang manis dan semerah mawar.

Kulitnya yang terlihat dari sela-sela pakaian tempurnya yang berwarna hitam terlihat seputih salju.

“Muir, kamu masih belum melarikan diri?”

“Mou, aku mencari-carimu dari tadi, onii-sama.“

Gadis ini – Muir Alenstarl – menggembungkan pipinya seakan-akan sedang marah.

Sesungguhnya, sang anak laki-laki, seorang yatim piatu, tidak mempunyai saudara perempuan.

‘Onii-sama’ hanya merupakan sesuatu yang digunakan oleh Muir untuk memanggilnya.

“Apa yang terjadi dengan mereka yang mengawasi kita?”

“Aku telah membunuh mereka.”

Ia menjawab tanpa sedikitpun menggerakkan alisnya.

“Karena mereka mencoba untuk menghalangiku mencari onii-sama.”

Ia tidak membanggakan dirinya sendiri ataupun merasa menyesal dengan perbuatannya.

Ia hanya membunuh karena itu perlu untuk dilakukan – dapat dikatakan demikian.

“Oh begitu...”

Namun, tidak ada simpati sedikitpun kepada mereka yang terbunuh.

Karena yang memelihara gadis ini sebagai pembunuh, tidak lain adalah mereka sendiri.

Muir Alenstarl merupakan petarung «sekolah instruksional» peringkat kedua.

Di dalam institut yang secara harafiah merupakan kumpulan monster, gadis ini dijuluki «monster».

Meski anak laki-laki ini memiliki teknik bertempur yang luar biasa, dia belum pernah membunuh seorangpun. Ia adalah orang yang mampu mengetahui batasan yang ada.

“Onii-sama, kamu juga, apa yang kamu lakukan di sini?”

Kali ini, Muirlah yang bertanya.

“Cincin yang menyegel Restia terdapat di kuil bawah tanah ini. Aku akan mengambilnya.”

“Ah, Onii-sama, kamu sudah memiliki Muir, kamu tidak memerlukan sesuatu seperti roh yang dikontrak.”

Muir mengerutkan bibirnya yang manis, terlihat bosan.

“Aku baru sadar, di mana Lily?”

Lily Flame adalah orang ketujuh yang berada dalam grup yang sama dengannya dan Muir.

“Lily? ... Uhmmm, dia mungkin sudah terbunuh oleh raksasa merah.”

“Raksasa merah?”

“Makhluk yang melakukan penyerangan terhadap institut beberapa jam yang lalu. Roh api yang luar biasa kuatnya.”

Pada saat itu.

Permukaan tanah tiba-tiba berguncang.

“- dia datang onii-sama!”

“....!?”

Tiba-tiba, dari ujung lorong, ia merasakan kehadiran sesuatu yang kuat.

Api yang merah, membumbung tinggi, membakar habis langit-langit dengan mudahnya, dan pada saat itu.

Sosok yang muncul dari api yang berkobar - adalah raksasa api yang meraung.

Di tangannya yang terlihat seperti bongkahan lahar, tergenggam sebuah pedang yang terbuat dari api yang menyala merah.

Roh api? Tidak, itu adalah...

Itu bukanlah roh api biasa.

Perasaan merinding meliputi seluruh tubuhnya.

Itu adalah lambang yang sesungguhnya akan kehancuran.

Hanya dengan melihat sosok itu, pikirannya mulai kosong.

Aku yakin – itu adalah roh tingkat iblis!

Itu adalah makhluk yang telah menghancurkan «sekolah instruksional», yang memiliki banyak elementalist, hanya dalam beberapa jam.

Dikatakan bahwa kekuatan dari roh tingkat iblis bahkan menandingi satu divisi ksatria roh.

Ini bukanlah musuh yang dapat aku lawan tanpa roh yang dikontrak...

Roh api itu tampaknya sadar akan kehadiran mereka.

Terbungkus oleh api di sekujur tubuhnya, ia melelehkan bebatuan keras ketika menghampiri mereka perlahan - lahan.

“Onii-sama, serahkan masalah ini pada Muir.”

Muir menjilat cincin yang terdapat di tangannya yang kecil

Ia berniat untuk menggunakan roh militer anti-roh.

“Muir, itu bukanlah sesuatu yang dapat ditangani oleh manusia.”

“Tidak masalah. Muir bukan manusia - Muir adalah «monster».“

Sebuah segel roh yang terdapat di tangan kanan Muir bersinar memancarkan keburukan.

Bukan, itu bukanlah segel roh, itu adalah Segel Senjata Terkutuk yang diberikan oleh Sekolah Instruksional.

«Jester’s Vice» - inilah yang menyebabkan Muir dipanggil dengan sebutan «monster».

“Selamat tinggal,Onii-sama.”

“—Muir!!!”

Ia mengulurkan tangannya ke arah bahu gadis itu dan pada saat itu.


Api merah yang dilepaskan oleh raksasa itu menutupi pandangan anak laki-laki itu.

Peristiwa ini yang disebabkan oleh roh yang mengamuk, membawa kehancuran kepada «Sekolah Instruksional».

Itu adalah peristiwa yang terjadi satu tahun sebelum anak laki-laki itu muncul di muka umum sebagai penari pedang terkuat.

Itu adalah kejadian yang berlangsung di sebuah wilayah terpencil dari sebuah kerajaan yang bahkan tidak terdapat di dalam peta.



Chapter 1: Persiapan Perjalanan[edit]

Part 1[edit]

*Cuit, Cuit ....*

Terdengar kicau burung dari «Hutan Roh» yang mengelilingi akademi.

“Mm...”

Membuka mata dan bangkit dari tempat tidurnya, wajahnya yang masih setengah tidur terpantul di jendela.

Rambut hitamnya acak–acakan setelah tidur. Matanya pun juga terlihat sayu.

Dibandingkan dengan penampilannya yang polos di dalam mimpi, kesannya telah berubah jauh.


Empat tahun yang lalu... ya?

Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali mendapat mimpi tentang periode waktu itu.

Mungkin ini adalah yang pertama kalinya sejak ia datang ke akademi ini.

Sejujurnya, ini adalah kenangan yang tidak ingin diingatnya.

Kamito secara tidak sengaja melihat tangan kirinya, di mana sebuah segel roh terukir.

Segel dari roh kegelapan – tangan kiri yang menggenggam kemenangan di Festival Tarian Pedang tiga tahun lalu.

Sekarang aku mencoba untuk kembali ke arena itu sekali lagi.

Dengan Festival Tarian Pedang yang semakin dekat, ia mungkin merasa gugup tanpa menyadarinya.

Pasti itulah sebabnya ia memimpikan periode waktu itu.

Ketika ia akan turun dari tempat tidurnya—

“.....”

Kamito menyadari sesuatu

Tubuhnya terasa berat sekali.

Sesuatu yang lembut dan nyaman terletak di atas pinggangnya.

“.....?!”

Terkejut , Kamito membuka selimutnya dengan penuh semangat.

Dan kemudian.

“Fuah... Selamat pagi, Kamito.”

“E-Est?!”

Terdengar suara yang merdu, seperti suara lonceng.

Yang menduduki pinggang Kamito—adalah seorang gadis cantik berambut perak.

Ia mempunyai mata yang berwarna violet dan terkesan misterius. Kulitnya berwarna putih seperti susu yang baru diperah.

Sosok ini, yang sedang mengusap matanya yang terlihat ngantuk, terlihat seindah peri salju.

Sang roh pedang Est. Ia adalah roh yang dikontrak oleh Kamito, dan juga dijuluki «Demon Slayer».

Tampaknya, ia menyelinap ke tempat tidur Kamito tanpa diketahuinya.

Terlebih lagi, pakaiannya—

“Ada apa, Kamito?”

Masih menduduki pinggan Kamito, Est memandangnya tanpa ekspresi.

“H-hei, pakaianmu...”

Est telanjang bulat—Tidak, ia tidak.

Dia memakai pakaian.

Namun—

“Kamito?”

Est memiringkan kepalanya. Kamito mengalihkan pandangannya dengan gugup.

Est mengenakan seragam Kamito untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.

Est mungkin tidak mengenakan pakaian dalam. Pakaiannya adalah apa yang disebut dengan kemeja-terbuka (hanya mengenakan kemeja tanpa pakaian lain).

Dari bagian dada yang terbuka, kulitnya yang putih dan sedikit terlihat sungguh menggoda.

Bagian pergelangan tangan dari pakaiannya besar dan terlihat longgar, tapi ini malah memberikan Kamito hasrat dan pikiran yang tidak perlu.

“Apa-- ? Est, mengapa kamu memakai seragamku?”

“Kamito memberitahuku bahwa aku tidak boleh tidur telanjang denganmu.”

Est menjawab dengan tanpa ekspresi.

Kamito langsung terkaget ketika Est menggenggam erat bagian dada dari pakaiannya sendiri.

“Yah, aku memang mengatakannya padamu.”

Berada pada batas kesabarannya, Kamito mengerang.

“Tapi tolong, setidaknya pakailah celana dalam.”

“...celana...dalam?”

“Kenapa kamu membuat wajah kebingungan seperti itu ?!”

Mungkin para roh mempunyai kebiasaan untuk memakai kaus kaki panjang, tapi tidak terbiasa memakai celana dalam.

...tidak, Restia memakai celana dalam dengan benar.

Tepat ketika ia sedang memikirkan hal tersebut—

“Hm?”

Tiba-tiba, Kamito merasa ada yang aneh dengan penampilan Est.

Tidak hanya ia memakai kemeja-terbuka—Tampaknya ada sesuatu yang sangat berbeda pada Est pagi ini.

Kamito memeriksa seluruh tubuh Est dengan seksama.

"Kamito... Um, kalau Kamito melihatku seperti itu, aku akan malu."

Est yang biasanya tanpa ekspresi kini tersipu malu, menggeliat di atas pinggangnya dan mengusap kedua lututnya.

Pada saat itu, akhirnya Kamito nenyadarinya.

Dari ujung bawah kemejanya, paha Est yang putih sedikit terlihat.

Begitu pula pergelangan kakinya yang langsing dan mulus bagaikan pahatan dari marmer.

Apa yang Est pakai—bukanlah kaus kaki sepanjang lutut yang biasanya .

Ia memakai kaus kaki pendek, yang hanya menjangkau pergelangan kakinya.

“Est, ada apa gerangan dengan kaus kaki itu?”

“Yah, aku pikir Kamito akan menyukai kaus kaki seperti ini.”

Dengan wajahnya yang merah, Est menarik ke bawah ujung kemejanya.

Ini adalah pertama kalinya ia melihat Est dengan ekspresi seperti ini.

Tampaknya bagi Est, memperlihatkan kakinya tanpa ditutupi apapun sangatlah memalukan.

“Kamito, apakah kamu terangsang oleh kaus kaki pendekku ini?”

“Gak, aku tidak punya fetish yang gila seperti itu, kau tahu?”

“....aku mengerti. Berarti ini masih belum cukup untuk memuaskanmu.”

Est merendahkan bahunya, tampaknya ia kecewa.

“Tapi, masih cukup mustahil bagiku untuk memperlihatkanmu kakiku yang telanjang.”

“ Aku sudah bilang, aku tidak punya kelainan seperti itu.”

Kamito mengerang dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa memahami rasa malu dari roh ini.

Biarpun demikian--.

Sesungguhnya hatinya berdebar-debar melihat Est yang tersipu dan terlihat malu tidak seperti biasanya.

Si roh pedang ini selalu tenang dan tanpa ekspresi.

Inilah alasan utama mengapa ia ingin melihat lebih banyak lagi ekspresi malu dari Est.

Aku penasaran, apakah yang akan terjadi jika aku menyentuhnya?

Tiba-tiba, pikiran Kamito tergoda untuk melakukannya.

Semua ini karena Est, bukan gadis lainnya, merasa malu sampai sejauh ini.

Apa yang akan terjadi jika ia menyentuh kakinya yang telanjang?—Ia ingin mencoba melihatnya.

“............”

Kamito tanpa suara mengulurkan tangannya—

* kuci *

Ia menggelitik kaki Est yang mungil.

“...Hyan!”

Suara yang imut keluar dari mulutnya.

Tubuh Est membungkuk tiba-tiba.

“...Kamito, apa yang kau lakukan?!”

“Hm? Aku sedang memijatmu.”

* kuci kuci *

“Hya...a-an.”

Menekuk tubuhnya, Est terlihat menderita, tampaknya kegelian.

Reaksi seperti itu terlihat sangat imut yang mengakibatkan Kamito—

* kuci * . * kuci kuci kuci * .

“...A-n, tolong... hentikan...”

“Tidak. Ini adalah hukumanmu.”

“...hukuman?”

“Karena Est adalah gadis nakal yang menyelinap ke kasurku seenaknya.”

* kuci kuci *

“Ann....Kami...to....Ampuni...Aku...”

Air mata keluar dari mata Est yang jernih ketika ia memohon sambil terengah-engah.

... sebagaimana yang diharapkan, sekarang ia terlihat sedikit menyedihkan.

“Apakah kamu sudah menginstropeksi diri atas tindakanmu?”

“Y..ya...”

Kamito berhenti menggelitikinya, dan Est jatuh tertelungkup kelelahan.

Kamito dengan lembut memeluk punggung Est yang menempel kepadanya.

“...Kamito sangat kejam.”

Est mencemberutkan bibirnya tidak seperti biasanya.

“Maafkan kesalahanku. Est terlihat sangat imut....Jadi aku melakukannya tanpa sadar.”

Ia dengan lembut membelai rambut Est yang berwarna perak sambil tersenyum pahit.

Tepat pada saat itu.

Suhu ruangan tersebut melonjak dalam sekejap.

“....?!”

*gogogogogogo.....!*

Dari belakangnya, terpancar nafsu membunuh yang mengerikan....Tidak, hawa panaslah yang terasa.

Ketika ia berbalik ke arah perasaan yang tidak enak ini—

“K-k-k-kalian.....A-a-a-a-Apa yang kalian lakukan?”

Dengan rambut merahnya yang dikuncir dan berdiri pada ujungnya, seorang gadis cantik muncul dengan badan yang gemetaran.

Matanya yang berwarna merah sungguh mencolok. Warna bibirnya seperti bunga sakura yang mekar dengan indahnya. Dadanya sama seperti dengan yang terlihat pada anak-anak, tapi proporsi tubuhnya yang seimbang sangat mempesona.

Claire Rouge.

Jika ditilik dari penampilannya saja, ia sangatlah imut, gadis yang sangat cantik tanpa dilebih-lebihkan.

Namun, pada saat ini, ia lebih menakutkan dari roh buas apapun.

“A-aku telah salah menilaimu. A-aku tidak tahu kamu semesum ini...!”

“K-kamu salah paham Claire. Ini, ya..., begini...”

Kamito berusaha untuk memberikan alasan sesegara mungkin, tapi—

Pada saat ini, ini benar-benar bukan kesalahpahaman. Tidak ada jalan untuk membuat alasan.

“Kamito-kun, kurasa aksi menggelitik-kaki yang kau lakukan memang telihat terlalu maniak.”

Muncul dari belakang Claire, Fianna tanpa suara memandang ke bawah, terlihat sedih.

Tampaknya ia melihat semuanya....Kamito merasa lebih baik mati.

“Kamito, kamu ingin kupanggang sampai sematang apa?”

Claire tersenyum manis sambil memegang Cambuk apiFlame Tongue.

Senyum dari malaikat yang akan membuat seseorang terkagum.

“Setengah matang...atau sejenisnya.”

“Sayang sekali. Aku hanya tahu bagaimana cara memanggang sampai menjadi abu.”

Claire mengangkat cambuk apinya ke atas.

“-- -- jadilah abu!”

Kamito terpental keluar melalui jendela.

Part 2[edit]

Maka dengan itu, Kamito kembali menyambut pagi seperti biasanya, tapi ––

Setelah selesai sarapan, situsasinya sedikit berbeda.

Bunyi bel tanda kelas sudah dimulai telah berbunyi sejak tadi, tapi semua orang masih berada di dalam kamar asrama.

“Yang ini dan yang ini. Yang ini juga perlu tampaknya...Ya ampun, Scarlet. Jangan main-main dengan barang bawaan.”

“Meong?”

Roh api dalam bentuk kucing dari neraka sedang bermain menggelindingkan pakaian Claire sekakan-akan bermain dengan bola benang.

Tidak sengaja melihat sekilas pakaian dalam putih di dalam gumpalan tesebut, Kamito buru-buru mengalihkan pandangan matanya.

Claire dan Fianna duduk di kasur masing-masing dan sedang mengepak barang-barang mereka ke tas masing-masing.

Mereka sedang bersiap-siap menuju Astral Zero, arena Festival Tarian Pedang.

Sudah dua minggu berlalu sejak «Tim Scarlet» mengalahkan si Benteng Keheningan – Velsaria Eva, yang merupakan peringkat satu di akademi, dan memperoleh hak untuk tampil di Festival Tarian Pedang. Bersama dengan dua tim lainnya untuk membentuk tiga tim sesuai yang ditentukan, mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan beberapa hari lagi sebagai perwakilan dari Kerajaan Ordesia.

“Apakah tidurmu nyenyak kemarin, Claire?”

“Tentu saja. Menjaga kondisi tubuh merupakan dasar dari seorang elementalist.”

Claire menganggukkan kepalanya sambil menahan nguap, yang sudah dilakukannya berkali-kali.

Mungkin karena ia merasa bertanggung jawab sebagai ketua tim, Claire belakangan ini membaca banyak buku mengenai taktik dan dokumen yang berhubungan dengan roh, yang dipinjamnya dari perpustakaan, sampai larut malam.

“Jangan memaksakan dirimu terlalu jauh. Kita tidak tahu sistem pertempuranketentuan sebelum seorang peramal untuk Raja Raja Elemental dipilih. “

“Ya, aku tahu. Tetap saja, sudah selayaknya kita melakukan persiapan. Mereka yang berpartisipasi di Festival Tarian Pedang adalah elementalist elit yang mewakilkan negaranya masing-masing -- -- Tidak akan semudah itu meraih kemenangan tanpa persiapan. Lagipula, penari pedang terkuat itu juga ikut ambil bagian di turnamen ini.”

“....Yah, kamu benar.”

Kamito mengangguk dengan wajah masam.

Penari pedang terkuat – Ren Ashbell.

Pemenang Festival Tarian Pedang tiga tahun lalu.

...Bukan aku, tapi Ren Ashbell yang lain.

Siapa sebenarnya dia? Apakah tujuannya..?

Ia harus mendapatkan jawabannya.

Kamito mengepalkan tangan kirinya, yang terbungkus sarung tangan kulit, dengan erat.

Apapun yang menjadi tujuannya, tidak diragukan lagi Restia yang telah berubah beraksi bersamanya.

“Dan kamu, apakah kamu telah selesai mengepak?”

Sambil memegang tengkuk Scarlet, yang berontak dan mengeong—

Kali ini Claire yang bertanya.

Berbanding terbalik dengan travel bag Claire, yang terisi penuh sampai isinya hampir membludak keluar, tas Kamito terlihat kecil.

“Begitulah, aku tidak punya banyak barang untuk dibawa.”

Kamito, yang mengelana tanpa tujuan sampai dua bulan lalu, hampir tidak membawa barang pribadi apapun.

Beberapa pisau untuk dilempar dan, ini bukanlah barang bawaan tapi – ia mempunyai Senjata Elemental, pedang «Terminus Est» , terikat di sabuk pedangnya pada pinggangnya. Est tersinggung dengan apa yang terjadi pagi ini dan tidur dalam wujud pedang. ....Tampaknya ia tidak akan bangun dalam waktu dekat.

Tapi yah, jika seseorang membuat roh tingkat tinggi seperti Est tersinggung, selayaknya ia siap dengan kerusakan yang akan terjadi seperti kota yang hancur.

“.............”

Untuk kedua gadis itu, tampaknya mereka masih butuh waktu untuk mengepak barang-barang.


...Yah, mereka adalah gadis dengan status bangsawan.

Mereka mungkin butuh berbagai macam barang yang laki-laki seperti Kamito tidak akan tahu.

Claire sebentar-sebentar memasukkan kalengan persik, yang membuat Kamito sedikit gelisah.

“Hm?”

Tiba-tiba Kamito mengalihkan pandangannya ke bawah, di mana barang-barang berserakan dimana-mana.

Ada beberapa buku yang terlihat seperti novel tercampur di antara buku taktik dan dokumen yang berhubungan dengan roh.

Sedang tidak ada kerjaan, Kamito dengan santainya mengambil satu buku.

‘Pangeran pengelana dan putri yang terkurung’ -- -- novel romantis yang ditujukan pada anak remaja, dengan banyak gambar di dalamnya.

(Benar-benar sungguh mengejutkan Claire menyukai yang seperti ini).

Ketika ia mencoba untuk membaca sekilas karena penasaran – –

“H-hah ?!”

Wajah Kamito memerah dalam sekejap.

Buku ini menceritakan kisah seorang putri cantik yang diculik oleh pangeran yang kejam dan berbagai hal yang dilakukannya pada putri itu sangat sulit diungkapkan dalam kata-kata -- -- Semacam cerita hardcore .

“K-kamu....Kamu membaca buku seperti ini?!”

“Eh?”

Claire berbalik.

Dan kemudian, ketika ia sadar akan apa yang dipegang oleh Kamito,

“Fuaaa, k-k-kembalikan! Ngapain kamu baca sesuatu tanpa seijinku?!”

BAK. BUK.

Claire memukul Kamito dengan kalengan persik di tangannya.

“Whoa...Apa kamu ingin membunuhku?! “

“Inilah hukumanmu karena telah mengintip rahasia seorang ga-gadis! Kamu layak mati sepuluh ribu kali!”

“Kalau begitu jangan tinggalkan rahasia seorang gadis di lantai!”

“Di-Diaaam! Idiot! Mesum!”

Sambil menangis, Claire memukulinya dengan kejam berulang-ulang.

....Kalau begini caranya, ia bisa mati sebelum Festival Tarian Pedang.

“Hey, kamu sangat mengganggu.“

“Ta-tapi kamito-- -- “

Mengambil kesempatan ketika Claire berbalik ke arah Fianna -- --

Kamito membuka sebuah halaman dari buku itu dan memperlihatkannya pada Claire.

Pada halaman tersebut terdapat gambar di mana sang putri, sebagai karakter utama wanita, diikat tali dan dicambuk.

“...?!“

“Bukankah Claire yang lebih mesum?“

“...eh?“

Claire pun kaget dan tertegun.

“Seorang gadis muda keturunan bangsawan membaca buku yang vulgar seperti itu, tidakkah kamu merasa malu?“

“Eh...,b-begini..“

Sang putri tersipu dan bergumam tidak jelas.

Melihat Claire yang seperti ini--

Kamito merasa ingin mempermainkannya sebentar.

STnBD V04 031.jpg

(...yah, lagi-lagi aku ingin menggodanya.)

Mungkin karena Claire yang tersipu malu terlihat begitu imut.

Sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Claire, ia berbisik.

“Aku penasaran kira-kira apa yang orang-orang akan pikirkan apabila mereka mengetahui sang putri, yang nilai ujiannya juga sangat baik, suka membaca buku yang tidak senonoh seperti ini.“

“Fuaa, a-a-a-apa yang kau bilang?!“

“Jangan-jangan kamu ingin diperlakukan seperti apa yang diperlihatkan buku ini?“

“Te-tentu saja tidak! Bagaimana mungkin aku mau diikat seperti itu?!“

“Begitu ya, tapi di halaman ini terdapat lipatan.“

“...~Fuaaan!“

Asap kecil keluar dari kepalanya, Claire merangkak masuk ke tempat tidurnya.

“...Benar - benar putri yang polos seperti biasanya.“

Berhasil lolos dari situasi kritis, Kamito menghembuskan nafas lega, dan--

Kali ini ia berbalik menghadap ke Fianna.

“Persiapanmu baik-baik saja?“

“...Hmm, tampaknya perlengkapan ritualku yang akan kubawa cukup banyak.“

Ucap Fianna sambil memasukkan sebuah cermin bulat yang besar dan sebatang lilin ke dalam tasnya.

Fianna Ray Ordesia.

Dia adalah putri kedua dari Kerajaan Ordesia, yang juga seorang putri suci peringkat kedua pada <Sekolah Ritual Suci>, sebuah institut pelatihan untuk para ratu yang melayani 5 Raja Elemental.

Seorang putri yang sungguh benar, yang bahkan suatu kali pernah terpilih menjadi calon Ratu untuk Raja Elemental Api.

Namun, dia tidak sombong sama sekali dan mudah diajak berbicara.

Padahal sesungguhnya, dia berada pada kedudukan dimana Kamito dan yang lainnya bahkan tidak diperbolehkan untuk melihat wajahnya.

“Jika kamu tidak keberatan, aku akan membantumu. Bolehkah aku mengepak barang-barang di sini sesuai keiinginanku?“

“Ya, itu akan membantuku.“

Kamito duduk di kasur, dimana barang-barang berserakan, dan mulai memasukkan berbagai perlengkapan yang tampaknya akan digunakan untuk ritual ke dalam sebuah tas.

Rosario, cawan bangsawan, kipas lipat, cambuk, lilin, dan bahkan barang-barang seperti telinga dan ekor hewan --

(Benarkah alat-alat ini digunakan dalam ritual?)

Pertanyaan seperti itu mendadak muncul di pikirannya, namun --

(Yah, bagaimanapun juga aku hanyalah pemula dalam bidang ritual putri suci)

-- Pada saat itulah tangannya, yang terulur,menggenggam sesuatu.

Semacam kain yang lembut dan nyaman.

(...Apa ini?)

Sambil mengernyitkan alisnya,ia mencoba mengangkat kain itu untuk melihatnya lebih jelas, lalu--

“...?!“

Kamito langsung menjadi kaku.

Itu adalah sehelai pakaian yang hitam mengkilap.

Sebuah rajutan tipis bermotif mawar terjahit di situ.

Mungkin terbuat dari sutra. Pada kedua sisi ujung pakaian ini terdapat tali tipis.

“Er...“

Keringat dingin mulai mengalir pada dahi Kamito.

Sebuah pakaian dalam yang terlihat berkualitas bagus.

Dan terlebih lagi--

(Ke-kenapa terdapat lubang di sini?!)

Bukan karena sobek. Karena alasan tertentu, terdapat potongan yang terlihat tidak normal di bagian tengahnya.

(Tampaknya tidak berarti untuk menjadi pakaian dalam--)

“Ka-Kamito-kun?!“

“Ah--“

Tiba-tiba, ia beradu pandang dengan Fianna, yang mengangkat wajahnya.

Kamito masih membuka lipatan pakaian dalam hitam tersebut.

“......“

“......“

“Um....“

Wajah Fianna berubah menjadi merah--

“A-apakah kamu... membenci seorang putri yang mau menggunakan pakaian dalam yang memalukan seperti ini?“

Ia bertanya sambil melihat ke atas ke arah Kamito.

“Ti-tidak, maksudku, maaf..“

Dengan hati yang berdebar-debar, Kamito buru-buru memasukkan pakaian dalam tersebut ke dalam tas.

“Ke-kenapa kamu memiliki pakaian dalam seperti itu?“

“Aku membelinya karena keinginan sesaat...ta-tapi memang ini memalukan.“

Ia bergumam dengan wajahnya yang masih merah.

...Tampaknya ia merasa sangat malu.

Putri ini selalu mengatakan hal-hal mengejutkan dan menggoda Kamito, tapi sesungguhnya ia masih merupakan gadis polos, seperti Claire.

“...Tampaknya...ini sedikit terlalu berani.“

“Y-ya kamu benar.Sedikit...yah.“

Ehem, Kamito berdeham.

Yang berhasil menghapus suasana yang tidak nyaman ini adalah suara yang berasal dari luar kamar.

“Ya ampun, kamu masih bersiap-siap, Claire Rouge?“

Suara yang agak tinggi dan terdengar elegan.

Yang muncul di depan kamar adalah--

Saingan dan teman sekelas Claire di kelas Raven.

Sang elementalis iblis es, Rinslet Laurenfrost.

Ia memiliki rambut yang berwarna pirang platinum yang berkilauan. Warna matanya yang hijau emerald disempurnakan dengan alis yang indah.

Sekilas, ia terlihat seperti tuan putri yang bangga dengan dirinya sendiri, tapi Kamito tahu bahwa sesungguhnya gadis ini sangat baik dan perhatian.

“Nona, aku ngantuk~“

“Ya ampun, Carol seperti seorang tukang tidur saja.“

Carol- sang maid yang ditarik oleh Rinslet.

“Nona, tahukah engkau tidak seperti dirimu, aku memiliki tekanan darah yang rendah...Hwa.“

Tampaknya pagi ini ia dibangunkan oleh Rinslet.

...Seperti biasa, seorang maid yang tidak berguna.

“Benda apakah itu Rinslet?“

Claire, yang sudah bangkit, bertanya.

Rinslet membawa kotak kayu yang cukup besar di tangannya.

“Hmph, ini adalah peralatan minum teh kualitas tertinggi. Seorang lady dari keluarga Laurenfrost harus tetap elegan di setiap saat.“

Rinslet dengan bangga menyisir keatas rambutnya yang berwarna pirang platinum.

“Kamu tahu, kita tidak keluar untuk pergi bermain.“

Claire dengan takjub mengangkat bahunya.

Kemudian, kali ini mereka mendengar suara Ellis dari luar jendela.

“Apa yang kalian semua lakukan?! Sudah satu jam sebelum waktu berkumpul, tahu!“

“Kamulah yang terlalu awal!“

Claire berbalik menghadap ke arah kapten ksatria yang terlalu serius itu sambil berteriak.

(...Menyatukan tim ini tampaknya akan menajadi tugas yang berat dan memakan waktu lama.)

Kamito dengan ironis mengangkat bahunya sambil merapikan barang-barang bawaannya.

Part 3[edit]

Satu jam kemudian.

Anggota dari Tim Scarlet berkumpul di depan 〈Stone Circle〉 yang merupakan tempat berkumpul mereka yang telah ditentukan.

Tempat itu merupakan 〈gate〉 di dalam wilayah Areisia Spirit Academy untuk menuju ke Astral Zero.

Reruntuhan bersejarah ini sendiri sudah ada jauh sebelum akademi ini didirikan, tapi sesungguhnya reruntuhan ini bukan merupakan bagian dari teknologi Kerajaan. Faktanya adalah teknologi yang digunakan untuk melestarikan 〈gates〉 yang terbuka ke dunia ini sudah lenyap tanpa sisa, kecuali reruntuhan seperti ini, yang masih ada di berbagai tempat di seluruh penjuru benua.

Mulai dari saat ini, petarung yang terpilih sebagai perwakilan akan berpindah ke Astral Zero lalu naik ke kapal yang disiapkan 〈Divine Ritual School〉 , yang mengelola Festival Tarian Pedang.

Di depan 〈gate〉, kedua tim lain yang terpilih dari akademi juga telah berkumpul.

〈Tim Wyvern〉, tim peringkat satu akademi, adalah tim yang hanya beranggotakan murid senior.

Setiap anggotanya memberikan pandangan tajam kearah Tim Scarlet, dan secara tiba-tiba membuang muka. Mereka sama sekali tidak punya niat untuk bersikap ramah--Begitulah kira-kira pesan yang disampaikan. Tindakan mereka itu sangatlah normal. Bagaimanapun juga, meskipun kedua tim yang terpilih ini berasal dari akademi yang sama, ketika festival tarian pedang dimulai, mereka akan menjadi saingan.

(Lagipula-)

Sambil berpikir demikian, Kamito menoleh untuk melihat Claire.

Ada alasan lain yang menyebabkan pandangan tajam murid-murid senior tersebut.

Adik perempuan dari sang Ratu Malapetaka, yang telah mengakibatkan bencana besar empat tahun lalu.

Masih banyak murid di akademi yang tidak menyukai kehadiran Claire.

Claire tampaknya tidak peduli dengan mereka, tapi sesungguhnya mungkin ia merasa sakit hati.

"Hm,lagi-lagi kalian..."

Demikian seorang gadis berambut pirang memulai percakapan dengan Kamito.

"Hai, gadis liar. Sudah lama tidak berjumpa."

"Muu, aku bukan gadis liar!"

Gadis kecil yang imut ini dengan marah menggembungkan pipinya.

Gadis ini adalah anggota tim ranking tiga, 〈Team Cernunnos〉, yang pernah bertempur melawan mereka.

Gadis ini merupakan anggota klan Druid, yang tumbuh besar di Hutan Spirit dan menggunakan 〈Spirit Gerombolan Hewan Buas〉.

Sebagai lawan yang mungkin akan mereka hadapi di waktu yang akan datang, dia adalah lawan yang cukup tangguh.

"Aku akan memastikan orang-orang seperti kalian takluk di bawah kakiku dengan 〈Spirit Gerombolan Hewan Buas〉 milikku."

Gadis druid ini mengangkat tongkatnya sambil tertawa.

Lalu, datang dari sebelah sana --

"Hmph, akhirnya ketiga tim berkumpul juga?"

Sang guru, Freya Grandol, yang mengelola 〈gate〉, berbicara sambil datang berjalan dengan cepat.

Sambil memandang ke atas, ke arah menara jam akademi,

"Aku akan memindahkan kalian semua ke Astral Zero setelah 10 menit. Sekarang selesaikan ucapan perpisahanmu dengan teman-temanmu sambil menunggu."

Setelah berkata demikian, ia mulai menggambar formasi sihir di dalam 〈Stone Circle〉.

Claire, Rinslet, dan Fianna dengan resah mengalihkan pandangan mereka.

"Ti-Tidak perlu untuk mengucapkan salam perpisahan dan sejenisnya."

"Y-Ya, benar. Kita hanya meninggalkan akademi untuk beberapa hari saja."

"Y-ya, tidak perlu berlebihan."

Ketiganya menganggukkan kepala mereka bergantian.

(Kalau dipikir-pikir, mereka bertiga tidak punya teman.)

...Kumpulan putri ini tampaknya mengalami banyak kesusahan.

(Yah, meskipun aku juga tidak dalam posisi yang berhak untuk mengatakan itu )

Sementara itu, Ellis dikelilingi dan terdesak oleh rombongan ksatria junior.

Matanya yang merah kecoklatan sangat mengagumkan. Rambutnya yang dikuncir tertiup oleh angin semilir.

Tampaknya Ellis akan mengikuti Festival Tarian Pedang sambil mengenakan armor ksatrianya.

Mungkin itu merupakan perwujudan dari determinasinya sebagai perwakilan dari akademi dan juga Satuan Ksatria sang Raja AnginSylphid di waktu yang sama.

"Kapten, bertempurlah demi kami juga!"

"Kami mendukungmu!"

"Ya, aku pasti akan meraih kemenangan!"

Ellis menganggukkan kepalanya mengiyakan kata - kata dari Rakka dan Reicia, kedua mantan teman setimnya.

Mereka mepercayakan impian mereka untuk memenangkan Festival Tarian Pedang kepada Ellis.

Dan kemudian, satu orang lagi--

Kamito tahu bahwa ada satu orang gadis lagi yang mempercayakan impiannya kepada Ellis.

Kamito berbisik kepada Ellis, yang kembali setelah mengucapkan perpisahan dengan teman-temannya.

"Ellis, pita itu tampak sangat serasi denganmu."

"Ka-Kamu pikir begitu?"

Ellis tersipu dan menggerakkan jari-jarinya sambil malu-malu.

Sebuah pita berwarna putih menguncir rambutnya.

Pita ini diberikan kepadanya oleh kakak-angkat perempuannya sebelum meninggalkan akademi.

"Sekarang setelah aku mengenakan pita ini, aku merasa seakan-akan kakak perempuanku selalu menyertaiku."

Ellis pun tiba-tiba tersenyum.

Melihat wajahnya yang polos seperti itu, Kamito merasa hatinya berdebar-debar.

"Waktunya telah tiba. Semuanya, masuk ke 〈Stone Circle〉 ."

Sang Guru, Freya, menelusuri sebuah tiang batu dengan ujung jari-jarinya , dan sinar biru keluar dari permukaan tanah.

〈Gate〉 yang menghubungkan dunia ini dan Astral Zero muncul.

Kamito dan rekan-rekannya saling menganggukkan kepala dan berjalan masuk ke dalam 〈Stone Circle〉.

Part 4[edit]

Kilatan sinar yang menyilaukan. Dan sensasi aneh yang membuat seorang merasa seakan-akan melayang rasanya seperti langit dan bumi terbalik.

"Hm..."

Ketika mereka membuka mata, apa yang pertama kali terlihat adalah--

Aneka macam pohon di hutan yang lebat, dan danau yang besar di dalamnya.

Danau yang permukaan airnya tampak seperti cermin yand dipoles, hanya dapat ditemukan di Astral Zero. Di pinggir danau yang mana tumbuh berbagai macam tanaman air dengan lebat, bola-bola sinar yang kecil dan berkilau tidak terhitung jumlahnya mengambang-ambang di udara menghasilkan pemandangan yang menakjubkan.

"Aku pernah datang ke danau ini sebelumnya, ketika ada kamping pelatihan akademi."

Claire dengan mantap berjalan di tanah yang berlumpur.

Anggota tim lain juga dikirim datang ke lokasi tersebut satu persatu.

"Ngomong-ngomong, di manakah kapalnya?"

Kamito melihat ke sekeliling danau.

Tidak ada satupun benda yang terlihat mirip kapal.

"Kamu melihat ke arah mana? Lihat, di sebelah sana--"

Claire mengangkat bahunya dan menunjuk ke arah langit yang mengintip di antara celah pepohonan.

"Hm?"

Ketika ia mengangkat kepalanya--

Garis kapal yang melayang di langit menjatuhkan bayangannya yang besar di atas permukaan danau.

"Itu...kapal terbang jenis Bellfahle milik 〈Divine Ritual School〉..."

Kamito membuka matanya dan mengerang.

Kapal terbang canggih yang dinamakan menurut Raja Elemental Angin.

Dia pernah mendengar rumor tentang kapal ini namun ini adalah pertama kalinya ia melihat sosok aslinya.

Bentuknya seperti ikan paus ramping. Sepertinya sumber tenaganya berasal dari mesin spirit yang dibuat di Kerajaan Balstan dan tampilan luarnya dibentuk dari material yang berasal dari kayu pohon keramat yang berumur lebih dari 6000 tahun.

Ini adalah kapal yang akan mengantarkan para elementalist, yang akan mendedikasikan tarian pedang kepada para Raja Elemental, ke arena 〈Festival Tarian Pedang〉.

"Kamito, kita pasti akan memenangkan hadiah utama."

"Yeah."

Kamito mengangguk dan mengepalkan tangan kirinya dengan erat.

(...Kita telah berjuang keras sampai sejauh ini untuk memperoleh ijin menaiki kapal ini.)

Claire, demi mendapatkan kebenaran atas insiden yang terjadi di masa lalu yang disebabkan oleh kakak perempuannya.

Kamito, demi memperoleh kembali spirit yang dikontraknya yang hilang.

Lalu Ellis, Rinslet dan Fianna--

Semua yang hadir di sini untuk mengikuti 〈Festival Tarian Pedang〉 dengan permintaan yang berbeda - beda di dalam benak masing-masing.

Kapal terbang itu menghasilkan cipratan air yang menyolok ketika mendarat di danau tersebut.

Part 5[edit]

"----Tampaknya anak laki-laki itu telah berangkat ke sana."

Di ruang kantor Akademi Spirit Areisia.

Begitulah ucapan Greyworth Ciel Mais sambil menghadap ke tembok ruangan.

Tidak ada respon----Namun, tiba-tiba saja, keluar bayangan manusia dari dalam tembok seakan- akan merembes keluar.

"Betul, Bu. Baru beberapa saat lalu."

Itu adalah Freya Grandol, sang elementalist bayangan.

Dia menghampiri meja kantor Greyworth, lalu berbicara tanpa ragu-ragu.

"Tapi tetap saja saya tidak paham, mengapa anda, sebagai direktur akademi, mau berusaha sejauh itu demi anak laki-laki ini."

"Apa maksudmu?"

"Keahliannya dalam bertempur memang luar biasa, tapi 〈Festival Tarian Pedang〉 tidaklah semudah itu hingga seseorang dapat menang hanya dengan itu saja. Anda seharusnya adalah orang yang mengerti tentang hal itu."

"Yah, seperti yang kamu bilang. Anak laki-laki ini masih tidak bisa mengalahkan penari pedang terkuat dalam keadaannya yang seperti ini. Setidaknya saya ingin dia bangkit sebelum perang dimulai, tapi--"

"Apa maksud anda?"

"Gak, hanya bicara asal saja."

Greyworth menggelengkan kepalanya seakan-akan menghindar dari pertanyaan itu.

"Yang lebih penting, apakah penyelidikan tentang hal itu telah selesai?"

"Ya. Tapi saya ingin anda lebih lunak dan berhenti menggunakan saya untuk memata-matai pihak militer."

"Sebenarnya saya merasa tidak enak untuk menyuruhmu, tahu."

Greyworth mengangkat bahunya, dan Freya dengan kasar melemparkan laporannya ke atas meja.

"Itu semua data mengenai kejadian empat tahun lalu. Setelah runtuhnya institut yang dimaksud--〈Sekolah Instruksional〉, ada 14 anak yatim piatu yang diambil dan dilindungi oleh para ksatria kerajaan. Menurut kabar lima di antaranya dimasukkan ke dalam satuan khusus pasukan ksatria. Sisa sembilan anak lainnya mati beberapa tahun kemudian karena efek samping Segel Senjata Terkutuk yang diberikan oleh institut, kira-kira begitulah kabar yang beredar."

"Tapi tetap saja, jumlahnya tidak sesuai. Tidak sama dengan data yang ditemukan di institut."

"Tampaknya tidak semua anak yatim dipungut oleh Ksatria Kerajaan. Jio Inzagi, yang berhasil menembus akademi kita beberapa waktu lalu, merupakan salah satu anak yatim di mana para ksatria hanya memiliki sedikit info tentangnya. Rasanya tidak aneh jika masih ada anak yatim yang tidak diketahui sepertinya berkeliaran di luar sana."

"Begitu ya..."

Apa yang muncul di benak Greyworth adalah mata anak laki-laki yang bertemu dengannya empat tahun lalu.

Di mata anak laki-laki itu, yang pada hari itu dengan datar menyatakan -- bahwa ia datang untuk membunuh sang Penyihir Senja, tidak ada rasa benci, maupun kemarahan, hanya kehampaan yang luar biasa.

(Anak-anak yang sama dengan bocah ini dulu, ya....)

Anak-anak kecil yang perasaannya dirusak dan dibesarkan sebagai senjata.

Meskipun mereka juga merupakan elementalist, mereka berbeda dengan gadis bangsawan yang tumbuh besar di akademi.

"Direktur?"

"Tidak, tidak ada apa-apa. Kamu telah bekerja dengan baik. Tolong lanjutkan penyelidikanmu."

"Yang benar saja, tugas utamaku bukan sebagai mata-mata tapi guru, tahu?"

Lalu sang guru, Freya, kembali menghilang ke dalam tembok sambil menggerutu.

Greyworth memandang keluar jendela, lalu tiba-tiba menghela nafas dengan berat.

"Spirit militer dan anak yatim piatu dari 〈Sekolah Instruksional〉,---- Apakah perempuan ini ingin memicu perang atau semacamnya?"

Sang Penyihir Senja merasa tidak tenang.

Penari pedang terkuat masih belum bangkit.

Dia (Kamito) memang kuat.

Bahkan di dalam akademi di mana para elementalist kelas satu berkumpul, kekuatannya jauh lebih hebat.

Namun, bagaimanapun juga, hal ini hanya berlaku di dalam wilayah yang kecil yang disebut Akademi ini.

Dalam keadaannya yang sekarang, ia mutlak tidak akan bisa mengalahkan gadis itu.

Begitu pula dengan Ren Ashbell pada masa tiga tahun lalu --

"Tolong, penerus raja iblis-- Karena sisa waktuku sudah tidak banyak lagi."

Greyworth meredam jantungnya yang berdenyut kencang sambil tersenyum sinis.


Chapter 2: Penerbangan Langit[edit]

Part 1[edit]

Kapal terbang itu bergerak maju seakan-akan meluncur di atas awan yang terisi oleh ether.

Tujuannya adalah salah satu tempat suci di Astral Zero - Pulau Angkasa «Ragna Ys» .

Itu adalah arena untuk Festival Tarian pedang kali ini.

Seharusnya, hanya putri suci terpilih yang berasal dari «Institut Ritual Suci» , yang melayani Raja Elemental, yang diijinkan untuk memasuki tempat suci ini. Namun, sekarang tempat ini dibuka untuk umum khusus untuk Festival Tarian Pedang.

"Yang pasti, kapal terbang ini menakjubkan!"

Kamito merasa sedikit pusing melihat lautan awan yang terbentang luas melalui jendela.

Bukan hal yang aneh karena sebenarnya, ini adalah pertama kalinya Kamito naik kapal terbang.

Selayaknya gadis bangsawan, mereka terlihat terbiasa menaiki kapal seperti ini, segera setelah mereka meletakkan barang bawaan, mereka bersantai di sofa yang berada di dalam kamar yang disediakan untuk masing-masing tim.

Tembok ruangan tersebut terbuat dari batu marmer yang halus dan bahkan lantainya dialasi dengan karpet merah yang bersulam indah.

Ruangan itu dilengkapi dengan berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari dan dalam kuliatas terbaik.

"Ngomong-ngomong, kapal ini tidak berguncang sama sekali?"

"Ini adalah kapal terbang keluaran terbaru. Apabila penerbangan ini mulus tanpa gangguan, tampaknya kita akan sampai di tujuan kurang lebih di siang hari."

Yang menjawab adalah Claire yang sedang merebahkan diri di atas sofa. Ini bukanlah hal yang besar, tapi postur tubuhnya membuat roknya terangkat sehingga celana dalamnya hampir terlihat. Kamito buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Oh iya, kudengar katanya akan ada upacara pembukaan di hotel istana malam ini. Apakah kamu membawa pakaian formalmu untuk Pesta Dansa ?"

"Tidak, aku tidak membawanya. Aku lebih suka jika aku tidak perlu ikut pesta dansa."

Bisik Kamito yang terlihat malu setelah mengingat Festival Tarian Pedang tiga tahun lalu.

Jujur saja, pesta dansa tersebut meninggalkan kenangan buruk.

"Begitu ya..."

Karena suatu hal, Claire menggumam sambil terlihat kecewa.

"....? Apakah aku akan menimbulkan masalah padamu karena tidak membawa pakain formal? "

"T, tentu saja tidak!"

Claire tersipu malu dan berbalik ke arah lain lalu mengabaikan Kamito.

"Mengapa akmu marah...?"

"A-Aku tidak marah...dasar bodoh!"

"....Ayolah, kalian berdua. Haruskah kalian bertengkar bahkan ketika di dalam kapal?"

Rinslet mengangkat bahunya dengan sebal.

"Rinslet, apa yang sedang kamu lakukan?"

Di atas meja Rinslet sedang mempersiapkan berbagai peralatan minum teh yang dibawanya.

"Aku akan membuat teh sekarang. Apakah kalian semua mau ikut menikmati siang ini dengan minum teh?"

"Ide yang bagus! Aku pernah dengar kabarnya daun teh dari provinsi Laurenfrost sangatlah nikmat dan menenangkan."

"Betul sekali, meskipun ini hanya semalam sebelum Festival Tarian Pedang dimulai, sedikit relaksasi juga penting."

Lalu Fiana dan Ellis, yang tadinya sedang diluar melihat pemandangan, datang menghampiri dan bergabung.

Tampaknya, dimanpun dan kapanpun menikmati minum teh dengan elegan pada siang hari merupakan kebiasan gadis-gadis bangsawan ini.

Ketika Rinslet menuang teh ke cangkir - cangkir indah yang ada dengan elegan, uap yang dihasilkan segera mengisi ruangan tersebut dengan aroma citrus.

"Oh, terima kasih! Wah... aromanya wangi sekali."

Claire dengan tulus memberikan pujian.

"Teh jeruk ini spesial dari provinsi Laurenfrost."

"Fufu, teh yang dibuat oleh nonaku memang sedap."

Si gadis pelayan , Carol, tersenyum dan tertawa kecil.

"Bukankah ini biasanya merupakan tugas pelayan wanita?"

Demikian Kamito bertanya--

"Apa yang kamu bicarakan!? Jika Carolku yang imut itu harus tersiram air panas karena kecelakaan, apakah kamu mau tanggung jawab?"

"Oh, maafkan aku..."

Karena alasan tertentu, Kamito dimarahi terang-terangan oleh Rinslet.

Sebagai catatan, hanya orang-orang yang di undang yang boleh masuk ke daerah suci ini, tetapi karena Carol milik keluarga Laurenfrost——Dengan kata lain,dia adalah milik pribadi Rinslet yang diberi izin khusus untuk menemani Rinslet.

Namun pada kenyataannya, Rinslet tidak begitu senang mengenai Carol yang diperlakukan sebagai benda mati.

"Kamito-san, berapa sendok gula yang kamu inginkan?"

"Oh, hanya satu saja."

"Claire, dua sendok gula untukmu, benar?"

"Hei, kenapa kau mengingat pilihanku?"

"A-Aku tidak mengingatnya, oke! Aku hanya ingat secara kebetulan!"

Rinslet berteriak marah dengan wajahnya merah padam.

"Nyonya dan Claire-sama biasa bermain bersama di masa lalu."

"Eh...Sungguhkah?"

Kamito bertanya pada Carol yang tersenyum.

"Ya, Claire-sama dulunya sangat sangat melekat pada nyonya——"

"Tunggu dulu. O,omong kosong apa yang kamu bicarakan!?"

"I-Itu benar, Claire dan aku adalah rival!"

Rinslet dengan marah memalingkan wajahnya.

"Aku tidak ingin gula, terima kasih."

"Selayaknya seorang putri, mengetahui metode minum terbaik untuk menghargai teh."

Rinslet mengangguk gembira, tanda setuju.

Pada saat ini, Ellis mendadak terbatuk datar sekali ...

"A,aku ingin teh susu dengan banyak gula, tolong."

Suaranya terdengar agak malu.

"Yah, yah, teh susu, betulkah?"

"L,lalu ..."

"Hmm?"

"Jika memungkinkan, krim segar dan madu dengan marshmallow mengambang di atasnya ..."

"A-ada apa dengan permintaanmu!?"

Wajah Rinslet sedikit mengernyit setelah mendengar Ellis.

"Metode minum tehmu adalah penghujatan untuk minum teh itu sendiri!"

"A,aku selalu minum teh dengan cara ini! Dalam rangka untuk bertahan pelatihan pedang yang keras, diperlukan cukup gula. "

"Astaga, keluarga Fahrengart dengan tradisi militer benar-benar ..."

"Kapten Sylphid Knights ternyata sesungguhnya kekanak-kanakan. Tidak disangka bahwa kamu tidak acuh dengan cara untuk menghargai rasa halus teh. "

"D,diam! Pada dasarnya makanan yang manis rasanya lebih enak! "

Melihat Claire melemparkan tatapan iba ke arahnya, balas Ellis sambil terisak.

Melihat dialog di antara mereka ...

(Kedua gadis ini tampaknya telah melupakan dendam mereka juga ...)

Kamito tersenyum kecut dalam hatinya.

Untuk waktu yang cukup lama, karena menjadi pihak yang bertentangan dengan Ksatria Sylphid, Claire selalu berada pada posisi hubungan yang buruk dengan Ellis yang berdiri sebagai kapten Ksatria tersebut. Ellis baru saja bergabung dengan Tim Scarlet dua minggu lalu. Pada awalnya ketika mereka pertama kali memulai pelatihan kelompok, kedua gadis sering memiliki argumen.

Argumen ini dipicu oleh berbagai macam alasan aneh, tapi dalam sebagian besar kasus, itu karena Claire tanpa alasan yang jelas keberatan setiap kali Ellis ingin bermitra dengan Kamito karena mereka berdua merupakan petarung jarak dekat ...

Ini tidak mengherankan. Kedua gadis memiliki kepribadian yang sangat berbeda.

Meskipun mereka berdua adalah pelajar yang baik, Ellis sangat kaku, tipe pekerja keras sementara Claire adalah tipe jenius yang melakukan apapun dengan cara yang dia sukai. Satu-satunya kesamaan di antara mereka adalah tingginya niat mereka untuk bersaing.

Justru karena itu, suasana sangat tegang antara mereka selama minggu pertama. Namun ...

"Aku tidak percaya ini, kamu benar-benar menuangkan madu ke dalam teh ..."

"I,itu adalah cara yang aku suka! Jika kamu memiliki begitu banyak keberatan, mengapa kamu tidak coba terlebih dahulu!? "

"Hmph, bagaimana mungkin sesuatu yang begitu terlalu manis akan terasa enak ... Eh? "

Claire meneguk kecil dari cangkir teh Ellis dan membelalakkan matanya sedikit.

"Bagaimana?"

"...Ini tidak buruk, tampaknya ada semacam rasa lembut. "

"Benar, kan?"

"Tapi ini merusak rasa teh hitam yang berkualitas tinggi. Paling-paling, hanya anak berandal yang minum teh seperti ini. "

"K,kamu mungkin ada benarnya ..."

Sekarang, hubungan kedua gadis telah berkembang sampai ke titik di mana mereka mampu untuk berdebat santai seperti ini.

"...Ngomong - ngomong, roh kucing neraka mu sangat imut. "

Sambil mengatakan itu, Ellis mengulurkan tangannya untuk mengelus Scarlet yang sedang tiduran melingkar di sofa.

Menggunakan ujung jarinya ia memainkan ekor Scarlet yang lembut dan halus, dia juga menekan bantalan pada kaki kucing.

"Hey hey hey, Scarlet adalah roh terkontrakku. Jangan menyentuh Scarlet sembarangan. "

"H-Hanya sedikit saja tidak apa-apa ..."

Ellis erat memeluk Scarlet dengan sayang sambil mengambek.

Ternyata Kapten Ksatria yang kaku ini memiliki sisi yang lembut untuk hal-hal imut.

(...Kalau dipikir-pikir, ia juga menyimpan benda-benda seperti boneka di kamarnya.)

"Meow meoow!"

Scarlet berteriak gelisah dan mencari bantuan Claire.

"Aku sudah bilang untuk membiarkan Scarlet pergi. Apa kau tidak punya roh kontrakmu sendiri!? "

"Tapi penampilan Simorgh sangat tidak lucu ..."

Ellis bergumam sambil merajuk.

...Jika roh kontrak Ellis mendengar ini, pasti ia akan lari dari rumah dengan kesal.

"Ellis!"

"Hanya sebentar lagi, tolong biarkan aku bermain sebentar lagi dengan Scarlet."

Ellis terus memeluk Scarlet ddengan keras kepala. Pada saat itu...

"Meow meow! Meoooww! "

"Ah!"

Secepat kilat, Scarlet melepaskan diri dari pelukan Ellis dan melarikan diri keluar dari ruangan.

Claire mendesah putus asa.

"Bukankah aku sudah bilang? Selain aku, Scarlet tidak akan membiarkan manusia lain terlalu intim dengan dia. "

"Bagaimana kau bisa mengatakan itu dengan serius? Bisakah kau berhenti menggunakan Fenrir ku sebagai bantal? "

Rinslet melotot dan melirik Claire.

"...K-Karena Fenrir terasa begitu nyaman dan dingin. "

Pada sofa, Claire sedang beristirahat dengan kepalanya bersender pada punggung seekor serigala putih dengan bulu panjang.

STnBD V04 055.jpg

Roh iblis es tingkat-tinggi «Fenrir» merintih lembut, sedikit tidak senang.

(...Aku tahu bagaimana perasaanmu.)

Diperlakukan sebagai budak roh oleh Claire, Kamito tidak bisa tidak bersimpati dengan Fenrir.

"Fufu, Kamito-kun, kamu dapat menggunakan dadaku sebagai bantal setiap kali kamu inginkan. Aku tidak keberatan sama sekali. "

"...Harap jangan bercanda denganku, Yang Mulia Putri. "

Kamito menoel Fianna dengan ringan di dahi.

"...Astaga, aku tidak bercanda sama sekali. "

Fianna menggigit jari telunjuknya dengan lembut dan cemberut sedih.

"Hahhh, aku harus pergi mencari Scarlet nanti. Di kapal sebesar ini, akan menjadi pencarian melelahkan. "

Mengatakan itu, Claire mendesah sengaja secara berlebihan. Melihat itu, Ellis berpaling menatap ke kejauhan.

"Omong-omong, perwakilan negara-negara lain juga di kapal terbang ini, kan?"

"Ya, selain kami, sejumlah tim seharusnya sudah naik ke kapal ini."

Claire mengangguk menjawab pertanyaan Kamito itu.

Kamito lalu meletakkan cangkir tehnya ke meja ...

"Bagaimana dengan Ren Ashbell, si«Penari Pedang Terkuat »?"

"...!?"

Selesai Kamito berbicara, ruangan itu langsung dipenuhi ketegangan.

Karena kata-katanya membawa suatu tekanan yang tak terlukiskan.

"Tidak, dia tidak di kapal ini."

Claire menggeleng dengan tenang dan berkata:

"Karena untuk Festival Tarian Pedang ini, dia berpartisipasi sebagai wakil untuk Teokrasi Alpha. Jadi bahkan jika dia bepergian dengan kapal terbang, mereka akan menggunakan kapal lain. "

"Aku mengerti."

"Tapi ini masih sangat sulit diterima."

"Aku tahu. Sulit untuk percaya bahwa elementalist sekuat dia akan pergi untuk mewakili negara seperti Teokrasi Alpha. "

Rinslet berbicara sambil bertanya-tanya dan Claire setuju.

Teokrasi Alpha adalah sebuah negara kecil yang terjepit di antara dua negara besar: Kekaisaran Ordesia dan Kekaisaran Naga Dracunia pada sisi timur dan barat. Meskipun ekspor utamanya terdiri dari kristal roh yang digali dari tambang, Teokrasi mendapatkan keberuntungan besar melalui penggalian dan perdagangan artefak dari reruntuhan kuno.

Di antara artefak kuno yang digali oleh Teokrasi Alpha, ada banyak yang berisi roh tersegel yang sangat kuat di dalamnya. Dikatakan bahwa selama Perang Ranbal terakhir, Teokrasi membuat keuntungan yang luar biasa besar sebagai satu-satunya negara netral dengan menyediakan berbagai negara dengan roh militer.

Selanjutnya, meskipun itu tidak mungkin untuk membuktikan, dikabarkan bahwa organisasi pasar gelap «Murders» juga bermarkas di Teokrasi, karenanya mengumpulkan kecurigaan dari negara lain.

Untuk negara seperti itu dapat bertahan selama ini tanpa diserang oleh tetangga yang besar, selain dari pengaruh diplomatik yang cerdas dari Hierarki mereka, lokasinya yang strategis di antara dua negara adidaya juga merupakan alasan utama.

"Selain itu, itu sudah lima puluh tahun sejak terakhir kali Teokrasi mengirim perwakilan untuk mengambil bagian dalam Festival Tarian Pedang. Dan mereka tidak pernah menang. Mengapa mereka tiba-tiba ... "

Ren Ashbell sudah menjadi idola bagi semua gadis yang bercita-cita menjadi elementalists.

Kenapa idola semua orang mewakili sebuah negara kecil yang dipandang negatif? Claire dan yang lainnya tidak bisa mengerti sama sekali.

"Berbicara tentang Teokrasi Alpha, ada rumor bahwa mereka membeli roh militer dalam jumlah banyak."

Ellis menyilangkan tangan di depan dadanya sambil berbicara pelan.

"Untuk apa mereka mengumpulkan roh militer pada saat ini ...?"

Dan juga, semuanya tidak sesederhana itu.

Ada alasan lain mengapa Teokrasi Alpha dianggap sebagai elemen yang berbahaya.

(Seingatku negara itu juga merupakan asal dari penyembahan Raja Iblis?)

Penyembahan Raja Iblis diam-diam berakar di berbagai tempat seluruh benua.

Diduga, Teokrasi Alpha adalah pusatnya.

Karena bagaimanapun juga, ibukota negara itu adalah di mana Raja Iblis Salomon lahir.

Penyembah Raja Iblis percaya dengan sepenuh hati bahwa Raja Iblis akan turun atas Teokrasi Alpha lagi.

Raja Iblis ... Kata ini menybebabkan jantung Kamito berdegup tidak jelas.

(Orang-orang yang membesarkanku juga cabang dari penyembah Raja Iblis...)

«Sekolah Instruksional» telah mencoba untuk membuat Raja Iblis sendiri melalui metode manusia.

Oleh karena itu, mereka merestui Kamito, seorang elementalist laki-laki, dan diberikan kepadanya roh kegelapan ranking tertinggi yang diperintah oleh mantan Raja Iblis di masa lalu.

"Ngomong-ngomong, begitu sedikit informasi tentang Ren Ashbell."

Claire mengangkat bahu dan berkata:

"Yang diketahui hanyalah dia tiba-tiba muncul tiga tahun yang lalu, seorang elementalist tanpa latar belakang apapun. Dia berusia enam belas tahun seperti kita dan mengontrak roh kegelapan. Itu saja yang kita tahu tentang dia saat ini."

Dalam rangka untuk memenangkan Blade Dance, terlepas dari kecakapan dalam menggunakan roh, mengumpulkan informasi tentang lawan juga merupakan bagian penting.

Akademi ini telah memberikan informasi tentang beberapa tim lain, seperti atribut roh kontrak, bentuk senjata elemental, tapi hampir tidak ada info tentang Ren Ashbell yang sesungguhnya sangat penting.

Tidak ada yang dapat dikonfirmasi, tidak hanya untuk Ren Ashbell saja, tetapi juga seluruh timnya.

(Elementalist yang identitasnya dan tujuan sebenarnya tidak diketahui ya ...)

Ini akan baik-baik saja jika dia hanya seorang penipu yang menggunakan nama dan gelar elementalist legendaris sebagai tipu muslihat.

Tapi hal-hal tidak mungkin sesederhana itu.

(Greyworth mengatakan, asalkan aku mengalahkannya ...)

Alasan mengapa dia merekrut Kamito ke Akademi adalah untuk mengalahkan dia di Blade Dance.

(Juga...)

Kamito menatap tangan kirinya yang bersarung tangankan kulit.

(Tidak salah lagi. Restia saat ini bekerja sama dengan penipu itu.)

Beberapa minggu lalu, pertempuran telah terjadi di sebuah tambang yang terlantar antara Kamito dan teman-temannya dengan salah satu anak yatim « Sekolah Instruksional » : Jio Inzagi.

...Karena ini adalah ‘’’’keinginan gadis itu’’’’.

Saat itu, itulah yang dikatakan Restia.

Selain itu, dia juga mengatakan: "Suatu hari, kamu pasti akan bertemu satu sama lain."

Perubahan pada roh gadis kegelapan itu.

Jika perubahannya terkait dengan Ren Ashbell yang lain itu...

(Aku benar-benar tidak akan memaafkannya.)

Kamito yang diam-diam mengepalkan tangannya yang gemetar dengan marah di bawah meja.

"Tapi aku tidak pernah menyangka aku akan berdiri di panggung yang sama seperti dirinya, dalam waktu hanya beberapa jam."

Ellis tiba-tiba bergumam dengan emosi yang meluap-luap.

"Tiga tahun lalu, aku masih berada di antara penonton, menyaksikan pertarungan pertamanya."

"Aku juga melihat pertandingan melawan Velsaria. Dia benar-benar sangat cantik. "

"Ren Ashbell penari pedang yang luar biasa, kan?"

Ellis tersipu-sipu sedikit sementara Claire dan Rinslet mengangguk-angguk dan setuju.

Kamito memalingkan wajahnya dengan tampilan malu.

"Ya ampun, tidak perlu terlalu heboh, oke? Bahkan jika dia dikenal sebagai Penari Pedang Terkuat, itu sudah tiga tahun lalu. Kekuatannya mungkin sudah semakin dilebih-lebihkan oleh rumor. Gadis itu sebenarnya tidak seluar biasa itu, kan? "

Tepat pada saat ia mengangkat bahu dan selesai berbicara...

"O-Omong kosong apa yang kau ocehkan!?"

"Apakah kau bodoh?"

"Ya ampun, harus ada batas untuk ketidak acuhan."

"Eh, ampun, aku minta maaf ..."

Menghadapi pandangan marah dari tiga wanita bangsawan, Kamito tidak punya pilihan selain meminta maaf dengan panik.

(...Memang aku tidak dapat memberitahu mereka bahwa yang asli berdiri tepat di depan mata mereka.)

Takut bahwa ia akan kalah dari gadis-gadis yang bersekongkol melawan dia, Kamito tiba-tiba bangkit dan meninggalkan tempatnya di meja.

"Ke mana kamu akan pergi?"

"Tak ada tujuan khusus. Hanya akan mencari Scarlet. "

Kamito membuat alasan dan berjalan menuju pintu keluar.

"Hmph, ia melarikan diri ..."

"Fufu, Kamito-kun malang sekali."

Sebagai satu-satunya yang mengetahui identitas asli Kamito di sini, Fianna tertawa diam-diam.

Part 2[edit]

pada ketinggian empat ribu kilometer di udara ...

Sebuah kapal tempur kecil muncul di bawah kapal terbang yang berisikan peserta Festival Tarian Pedang.

Ia telah bersembunyi lama, menunggu mangsanya tiba.

Pintu metal pada kabun dibuka dan keluarlah berjalan seorang gadis muda.

Rambutnya yang berwarna abu-abu kusam, diikat di sisi kiri dan kanan, bergoyang tertiup angin.

"...Kena kamu, Onii-sama. "

Gadis itu tersenyum dan mulai mengucapkan mantra untuk mengeluarkan spirit.

Seketika, cincin di jari tengahnya menyala merah.

Selanjutnya ...

"Oke, ayo kita mengamuk! Spirit Pemusnah «Pandangan Kematian»! "

Seketika ruang udara terbuka, keluar dari sana sesosok monster hitam raksasa.


Chapter 3: Tuan Putri Naga Draknia[edit]

Part 1[edit]

Setelah naik ke atas dek kapal, mereka melihat awan yang berlalu dengan sangat cepat.

Sebenarnya kapal tersebut terbang dengan sangat cepatnya hingga seharusnya tubuh seseorang akan tertiup jatuh oleh angin, namun berkat sihir spirit pelindung yang menyelimuti kapal suara anginpun tidak terdengar.

Apabila melihat ke bawah dari sisi kapal, hutan yang terkesan seram tampak membentang jauh.

Kamito sedang melihat ke hutan tersebut lalu--

"Perwakilan dari Akademi Spirit Areishia, Kazehaya Kamito, betul?"

Terdengar suara dari belakang Kamito.

".....?"

Ketika ia berbalik, tampak sesosok gadis cantik yang terkesan elit dengan rambut sebahu.

Sebuah topi beret menghiasi kepalanya. Mantel hitam tanpa kerutan sedikitpun.

Tampaknya usianya tidak terpaut jauh dari Kamito. I sedang memelototi Kamito dengan matanya yang terlihat tegas.

"Siapakah kamu? Mengapa kamu tahu namaku?"

"Kamu terkenal. Satu-satunya elementalis laki-laki di benua ini."

Demikian kata gadis itu dengan ekspresinya yang kaku tidak berubah.

Namun berlawanan dengan penampilannya yang menakjubkan, ia terlihat tidak bersahabat.

"Dan juga, seseorang yang mempermainkan perempuan lalu membuang mereka."

"Tunggu sebentar, aku terkenal karena apa!?"

Sahut Kamito.

"Sia - sia saja jika kamu ingin menipuku. Pengumpulan informasi milik Dracunia sangat berharga dan dapat disebut sebagai yang terbaik di benua."

"Yap, agen intelegensi kebanggaanmu tentunya tidak kompeten -- tunggu...Dracunia?"

Kamito bertanya sambil mengernyitkan alisnya.

Kadipaten Naga Dracunia.

Terletak di sebelah barat Kerajaan, itu adalah negara yang menggunakan hewan sihir buas terkuat, yaitu naga, sebagai bagian dari militernya.

"Perwakilan dari Dracuniakah ?"

"Betul, Pemimpin Ksatria dari Kerajaan Naga -- Leonora Lancaster."

Gadis cantik ini tetap memfokuskan pandangannya ke arah Kamito sambil memperkenalkan dirinya sendiri.

".....Leonora."

Kamito berbicara sambil menghela nafas.

Ia pernah mendengar nama ini dari Claire.

STnBD V04 065.jpg

Menurut pendapat umum, ia dianggap sepadan dengan Velsaria.

"Ada keperluan apa dari andalan Dracunia?"

Kamito berjaga-jaga dan mempersiapkan diri.

Festival Tarian Pedang bukanlah semata-mata festival saja.

«Institut Ritual Suci» tidak akan mau mengakuinya, tapi ini juga merupakan pengganti perang bagi ksatria masing-masing negara.

Negara yang mana elementalis atau tim elementalisnya memenangkannya, akan dianugrahkan perlindungan dari Raja-raja Elemental untuk beberapa tahun dan berkat ini akan memakmurkan negara tersebut.

Inilah salah satu alasan mengapa banyak negara melatih elementalis-elementalis.

Dan juga ada banyak negara yang yang tidak punya pilihan selain menggunakan cara tertentu untuk meraih kemenangan.

"Mencoba untuk membunuhku sebelum Festival Tarian Pedang dimulai?"

"Itu adalah prasangka yang bodoh."

Kata Leonora sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan.

"Sebagai individu yang tidak berasal dari negara yang sama dengan «Silent Fortress» , kamu bukanlah musuh dari Ksatria Kerajaan Naga. Kami akan mengalahkanmu dengan sportif di Festival Tarian Pedang."

"Kalau begitu, ada keperluan apa?"

Di hadapan Kamito yang curiga, ia menggeliatkan badannya seakan-akan gelisah dengan wajah yang merona merah.

"Eh, begini, pada intinya, um,.... Aku datang untuk memotong itu."

Sambil mengalihkan pandangannya dari Kamito, ia menghunus sebuah pedang besar dengan halus.

"Ke, kenapa kamu menghunus pedangmu ?"

Kamito bergerak mundur.

Kalau ia berkata jujur, maka ia tidak datang kemari untuk membunuh Kamito.

Lalu kalau begitu, kenapa--

"Atau lebih tepatnya, apa yang ingin kamu potong ?"

"Itu...Kamu punya...uuu, kamu ingin aku mengucapkan kata itu?"

"Hah?"

"O, orang mesum ini!"

Butiran air mata yang besar mulai terbentuk di mata Leonora.

Lalu pedang besar tersebut menancap di dek kapal dengan suara yang keras.

Kemudian, dalam sekejap lantai dek kapal tersebut meledak menjadi pecahan kecil.

"......Apa yang!?"

Kamito berhasil menghindar dengan jarak yang sangat tipis.

"Kalau begini bukankah kamu sangat ingin membunuhku!?"

"Aku tidak akan membunuhmu jika kamu tidak melawan. Tolong jangan bergerak."

"Aku bertanya padamu, apa maksudmu--"

Lalu Kamito pun menyadarinya.

Pandangan Leonora terpaku pada bagian bawah tubuh Kamito.

Pada saat Kamito melihat pipi Leonora yang merona merah karena malu, Leonora mengalihkan padangannya.

"Tunggu sebentar, jangan katakan kalau kamu ...."

Kamito mengucurkan keringat dingin.

"Ya, aku ingin memotong 'itu milikmu' . Kazehaya Kamito."

Leonora mencabut pedangnya dari lantai yang hancur dan mengambil sikap kuda-kuda.

"Akan sangat merepotkan sekali bagiku apabila kamu memanfaatkan keramaian Festival Tarian Pedang untuk 'mendekati' anak buahku pada akhirnya."

"Enak saja!"

"Kamu tidak bisa berbohong di hadapanku, dasar raja iblis barbar yang mesum!"

Leonora memelototinya dengan pandangan yang sangat dingin.

"Raja iblis barbar yang mesum katamu...."

.......Sungguh mengerikan.

Kamito tidak menyangka bahwa kabar yang memalukan seperti itu akan tersebar sampai ke luar Akademi.

"D,Dengan kekuatan iblismu dan kata-kata yang manis, kamu menipu perawan yang polos melakukan ini dan itu kepada mereka kan!"

"Apa maksudmu melakukan ini dan itu..."

"M,Maksudku...!"

Mendengar pertanyaan Kamito, wajahnya menjadi merah karena malu.

Tampaknya sang Putri Naga sama polosnya dengan para putri bangsawan dari Akademi.

"Kamu tahu, yang terjadi justru sebaliknya. Kamu telah salah paham."

Kata Kamito sambil menghela nafas.

"......Sebaliknya?"

"Yah, karena aku selalu diperlakukan seperti roh budak oleh Claire."

"Apaa? Sampai memperlakukan teman setimmu sebagai roh budak dan mempermainkannya!"

"Tolong simak apa yang orang lain katakan!"

.......Atau lebih tepatnya, bagamana mungkin gadis muda ini menggunakan istilah demikian.

"J,Jangan mendekat, dasar mesum!"

"Uoo!"

Pedang Leonora membelah udara ketika ia mengayunkannya ke bawah.

Kamito menghunus Terminus Est dan menangkis serangan tersebut.

Bunyi nyaring dari metal yang berbenturan terdengar di seluruh dek.


......Ini seperti mengulang saat aku bertama kali bertemu dengan Ellis!

Sambil menangkis serangan, Kamito mengerang di dalam hatinya.

"Begitu ya, kamu sungguh kuat...."

Leonora mengucapkan kalimat pujian.

Jadi inilah «Pembasmi Iblis» yang mengalahkan roh militer raksasa.

"Tampaknya info yang kau dapat betul adanya."

"Ini membuatku ingin mengetes manakah yang lebih kuat, itu atau «Pembasmi Naga» milikku!"

"....!?"

Seiring kata-kata Leonora pedangnya memancarkan cahaya yang terang.

Ini adalah......!

Ini bukanlah Elemental Waffe biasa. Kesan yang ditimbulkannya setara dengan Dreadnought milik Velsaria.

Orang ini tidak masuk akal kuatnya......!

Sesuai dugaan, gelarnya sebagai andalan Dracunia bukan semata-mata untuk dilihat.

"B,Baik sekarang lepaskan celanamu perlahan-lahan, i, ini tidak akan sakit."

"Siapa yang mau melakukannya! Sudah jelas itu akan sakit!"

Kamito mendorong balik pedang raksasa itu.

Tingkat kekuatan yang dihadapi Kamito membuatnya tidak bisa percaya bahwa itu berasal dari gadis dengan tangannya yang terlihat halus dan rapuh.

Kemungkinan besar ia menggunakan sihir roh yang memperkuat tubuh. Dalam adu tenaga, Kamito berada di pihak yang kalah.

"Kamito!"

Terdengar suara sesuatu membelah udara.

Pedang Leonora dibelit sesuatu yang membentuk lengkungan yang merah menyala di udara.

"Hei kamu, apa yang kamu lakukan pada roh budakku!"

Itu adalah Claire yang naik ke atas dek dengan cambuk di tangannya.

Dengan satu tangan berkacak pinggang, ia menunjuk ke Leonora.

"Claire, terima kasih atas bantuannya-"

Melihat kesempatan yand diakibatkan perhatian Leonora terpecah karena kemunculan Claire, Kamito melompat mundur.

"Kamu adalah--"

Leonora, yang lalu menghalau Lidah Api, memolototi Claire.

"Roh budak mainan milik Kazehaya Kamito."

"Oapa!?"

Saat itu juga wajah Claire memerah.

Dengan perlahan, ia berbalik ke arah Kamito.....

"K,K,K,Kamu jangan bilang kalau kamu menganggapku seperti itu...!"

"Tunggu sebentar, kamu sadar kan ada yang salah dengan hal ini? Bukankah aku yang merupakan roh budak ?"

.....Tunggu, ini aneh. Tampaknya ia malah menjadi semakin marah.

Kedua gadis ini memelototi Kamito hingga membuatnya ingin melarikan diri--

Namun pada saat itu.

Booooooom!

Dengan bunyi yang sangat keras, kapal mereka terguncang keras.

Part 2[edit]

"Kyaaa!"

Lantai yang berguncang membuat Claire kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.

"--Apa!?"

Kamito membungkuk untuk melihat pemandangan sekitar di sisi kapal.

Ia melihat awan yang melintas di bawah lalu--

"Itu adalah!?"

Sesosok bayangan besar muncul dari balik awan.

Seakan-akan membelah ombak, sosok itu membelah awan untuk memperlihatkan wujud aslinya yaitu monster hitam yang besar.

"......!?"

Total panjang tubuhnya sekitar 10 meter. Wujudnya seperti ikan pari besar yang berenang di lautan.

Perbedaannya dengan ikan pari adalah matanya yang besar dan berwarna merah.

Dan dia terbang di langit, tidak berada di lautan.

"Hewan magis?"

"Bukan...Itu adalah...Jangan bilang kalau itu berasal dari pasukan udara ke dua, Pandangan KematianSpirit Penghancur—"

Leonora Lancaster mengernyitkan alisnya dan bergumam sambil memandang dengan penuh rasa curiga.

"Apa?"

"Spirit utama militer Dracunia. Seharusnya ia sudah disegel seusai Perang Ranbal, kenapa ia berada disini?"

"Spirit Militer...."

Spirit yang kekuatannya dapat disejajarkan dengan beberapa elementalist yang bersatu.

Kamito tidak tahu mengapa makhluk seperti ini mau menyerang kapal mereka namun--

Faktanya bahwa kapal mereka sedang diserang tidak bisa dipungkiri.

Spirit militer penghancur-- «Pandangan Kematian» meraung sambil melayang.

Meskipun kapal mereka memiliki pelindung dari angin, ini bukanlah kapal perang.

Apabila kapal ini terkena serangan dari raksasa seperti itu, kapal ini akan hancur.

Suara alarm kapal terdengar di seluruh dek.

Kapal pun segera berbalik arah dalam usaha untuk menghindari spirit tersebut.

Sepantasnya kapal dengan teknologi mutakhir, kapal ini sangat gesit dan cepat.

Namun sia-sia saja dihadapan spirit seperti ini.

"--siap siap! Dia datang!"

Lalu terdengar suara yang keras.

Tubrukan yang terjadi mengguncang kapal dan membuat Kamito terpental.

Spirit penghancur itu menabrak sisi kapal dengan keras.

"Fuaa!" "Kyaan!"

"Kalian berdua, pegang aku!"

Kamito dengan cepat melindungi kedua gadis yang terjatuh. Hatinya berdegub setelah merasakan lembutnya tubuh mereka, tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu.

"Claire, kamu baik-baik saja?"

"Fuaaa, p, pegang apa kamu!"

Wajah Claire menyala merah.

".....? Apa yang aku pegang?"

Kamito lalu melihat bagian tubuh mana dari mereka yang dipegangnya.

Tangannya tepat memegang dada kedua gadis tersebut.

"......M, maaf!"

Kamito segera menarik tangannya, tapi

"S,s,s,spirit budak mesum ini!! Jadilah arang, arang!!"

"Hey, hentikan, sekarang bukan waktunya untu--"

Puk, puk, puk, puk.

Claire memukul Kamito sambil berlinang air mata.

Di sisi lain, Leonora--

"S, se, s, seorang laki-laki menyentuh d, d, dadaku......!"

Poof. Uap keluar dari wajahnya dan ia jatuh pingsan.

"......H-Hei!

Dia mengguncang gadis yang pingsan itu ,tapi tampaknya tak seperti dia akan bangun.

"Sepertinya dia syok ketika kamu menyentuh payudaranya."

"I-Itu tidak sengaja!"

"Hmmm, Aku heran tentang itu?"

Dia melotot pada Kamito seperti dia sedang tidak puas.

Bagaimana pun juga, Kamito tidak bisa meninggalkan dia di sini.

Dan saat itu. Kapal itu berguncang hebat untuk kedua kalinya.

Spirit yang menabrak kapal itu juga menyerang dengan ekornya.

"Kamito, kapal ini akan jatuh kalau terus begini."

"Ya ......"

Melihat wajah serius dari Claire, Kamito, mengangguk.

Kekacauan bisa terdengar di bawah geladak.

Bahkan jika mereka elementalists terlatih, mereka tetaplah gadis biasa. Merupakan yang wajar apabila serangan mendadak akan menyebabkan kepanikan di dalam kapal.

Sang penyerang jarak jauh, Rinslet, sepertinya juga akan memiliki waktu yang sulit untuk mencapai geladak dengan cepat dalam kekacauan ini.

"Sepertinya kita harus melakukan ini sendirian."

"Sepertinya begitu."

Dengan serangan terakhir, sepertinya mesin telah berhenti. Kapal terhenti seakan - akan terpantek paku yang besar dan mulai jatuh.

"Kita punya sekitar dua atau tiga menit sebelum kita jatuh ......"

Sampai staff dapat menyalakan mesin spirit cadangan, mereka harus melindungi kapal yang tanpa pertahanan apapun ini.

Kamito berdiri goyah dan menjejakkan kedua kakinya di bibir perahu dek.

"Est, pinjamkan aku kekuatanmu!"

Ia menghunus Terminus Est dari pinggangnya dan mengalirkan kekuatan suci ke dalamnya.

Merespon panggilan Kamito, pedang itu memancarkan cahaya.

"Kamito, itu terlalu ceroboh untuk melawan dengan sebilah pedang. Aku akan melawannya."

"Tidak, aku yang akan melawannya. Lidah Api tak akan bekerja padanya."

"Apa?"

Claire menggigit bibirnya. Gaya bertarung Claire yang melemahkan mangsanya itu tidak dibuat untuk pertarungan jangka pendek. Ia sendiri yang paling tahu akan hal itu.

"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak dapat menggunakan sihir untuk terbang seperti Ellis."

"Selama aku berpegangan di badannya dan tidak jatuh, bukankah itu baik-baik saja?"

"Hah?"

Pada kata-kata riang Kamito itu, Claire terkejut.

"B, bodoh sekali kamu!"

"Bagaimana pun juga, kalau terus begini kapal ini akan tenggelam. Ini patut untuk dicoba."

"Ta-Tapi......"

Claire dengan cepat memegang lengan seragam Kamito.

"Apa, kamu mengkhawatirkanku?"

"I-Itu salah, aku tidak khawatir......"

Claire mengalihkan pandangan matanya.

Meskipun biasanya sifatnya arogan, sesungguhnya dia benar-benar lembut di dalam hatinya.

"Tidak apa-apa. Aku akan membereskannya dengan cepat."

Kamito memberikan ketukan ringan ke kepala Claire dan—

Kilatan pedang putih perak menghilang dari sisi kapal.

"...... Ya ampun, aku tak peduli lagi, idiot!"

Dengan penghalang angin yang rusak, suara tiupan angin yang keras bisa didengar.

Pada bagian belakang dari spirit penghancur yang kepalanya bersarang ke sisi kapal—

"Ohhhhhhhhh!"

Kamito menusuknya tanpa ampun.

Menusuk menembus kulit terluar, pedangnya menancap ke dalam daging dibaliknya.

Spirit penghancur tersebut mengeluarkan teriakan yang menakutkan dan mulai menggelinding.

Di ambang tergelincir dari makhluk itu, Kamito menapakkan kakinya pada kulit terluar dan menggenggam pedangnya itu dengan seluruh kekuatannya.

Dalam usahanya untuk memukul serangga di punggungnya, Spirit penghancur melipat tubuhnya dan mencoba untuk memukulnya dengan ekornya, mengakibatkan kapal menjadi oleng.

Karena raksasa yang meronta - ronta, armor kapal jatuh ke dalam hutan.

Kapal tidak akan bisa bertahan kalau terus begini ......

Sambil menggertakkan giginya, Ia bertahan dari kekuatan serangan yang dapat menghancurkan tulang.

Pertama, aku harus mengurus ekor itu!

Kamito menghunus Terminus Est dengan segenap kekuatan. Ditarik oleh gravitasi, ia mulai jatuh. Namun, sebelum ia jatuh, ia melompat sekuat mungkin.

Dia melompat dan mendaki ke atas tubuh Spirit tersebut secara berirama.

Ini hanyalah tubuh raksasa. Jika ia hanya mengamati otot-otot yang berkontraksi dan merencanakan langkah berikutnya,sebelum ia mulai terjatuh, ia dengan selamat dapat mencapai pijakan lain. Meskipun itu adalah teknik yang membutuhkan kemampuan yang tidak biasa dan kecakapan dalam pertarungan.

"Maaf. Aku tidak punya dendam pribadi terhadapmu."

Melompat dengan hanya menggunakan tubuh raksasa-

Pedang pembunuh iblis yang digenggam di kedua tangannya itu, membelah ekor spirit tersebut.

Ekornya mengejang lalu jatuh ke dalam hutan yang berada di bawah.

Namun, tubuh Kamito juga menjadi melayang di udara pada waktu yang sama.

Gravitasi mengambil alih dan mulai menariknya - tepat sebelum itu.

Sesuatu melilit pergelangan kakinya dan menariknya kembali.

Ia terlontar ke atas - pada saat berikutnya, ia terjatuh ke dek kapal.

"...... Aduh ......"

Kamito diserang oleh rasa sakit.

"......Malahan, itu membakarku, sehingga bisakah kamu mengontrol suhu apinya!?"

Pergelangan kaki yang dililit oleh Lidah Api itu hangus sedikit.

"Ini hukuman karena bertindak sembrono. Jika aku melakukan kesalahan, mungkin kamu akan menjadi pancake sekarang."

"Aku percaya bahwa kamu tidak akan melakukan kesalahan, majikanku."

"...... Kau benar-benar idiot, kau tahu itu ......"

Gumam Claire dengan tidak jelas sembari berwajah merah.

"-Dan, itu dia!"

Dengan ekornya yang terpotong, spirit penghancur yang marah itu menyerang ke arah kapal.

Sebuah serangan yang diarahkan ke dek dengan mulut terbuka, spirit penghancur itu memamerkan taringnya yang tak terhitung jumlahnya!?

Sebuah tubrukan yang mengerikan mengguncang kapal. Potongan dek beterbangan dan berserakan.

Kamito mengambil sikap dan melindungi Claire dari serpihan.

"-Selayaknya spirit militer penghancur, kekuatannya benar-benar gila."

Sementara masih di atas dek kapal, spirit penghancur itu mengamuk.

Tampak bahwa kepalanya telah tersangkut dalam kapal.

Ini adalah kesempatan. Kapal ini tidak bisa menerima serangan berikutnya.

Kamito mengambil sikap dengan pedang Pembunuh Iblisnya dan mengisinya dengan kekuatan yang dashyat.

"Claire, aku akan menyelesaikannya di sini!"

"Aku mengerti!"

Spirit penghancur itu menggeliat hebat.

Dengan mengepakkan sayapnya yang seperti sirip dan berusaha untuk naik-

"Aku tidak akan membiarkanmu!"

Beberapa saat sebelum itu terjadi, Claire melilit dengan Lidah Api ke spirit penghancur.

Lidah Api tidak berhasil untuk menembus kulit terluar spirit itu.

Namun Lidah Api telah menghantam spirit itu dan membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuatnya menabrak kembali ke dek kapal.

Di sana—

"Ohhhhhhhhh!"

Kamito berlari ke arak spirit itu dengan pedang yang besar.

Sebuah garis pedang yang bersinar.

Menendang dari tanah, pedang itu memotong ke perut lunak spirit.

Namun——

"Apa!?"

Bahkan dengan perutnya yang terbelah itu, spirit penghancur itu belum dapat dikalahkan.

Spirit itu membuka rahang untuk menampakkan taringnya yang banyak di hadapan Kamito-

Pada saat itu. Dia mendengar suara dari belakang.

"O.. spirit naga bertaring hitam, engkau, yang patuh pada perintahku, musnahkan musuh - musuhku——"

"......!?"

"—Hancurkan, NidhoggSpirit Naga!"

Dengan suara yang bermatabat—

Kasar, kobaran api menggila menelan spirit penghancur yang mengamuk itu.

Kali ini spirit itu dibakar menjadi arang dan jatuh dari kapal.

Pada dek, ada garis api hitam yang hebat.

"......Claire?"

Seekor naga hitam dengan membentangkan sayapnya berdiri di sana.

Itu kecil untuk ukuran naga, tapi naga itu dua kali lebih tinggi dari tinggi Kamito.

"Penyelesaianmu lemah sekali, Kazehaya Kamito."

Leonora Lancaster berdiri di sana di samping naga hitam.

Dia bertanya-tanya ketika ia siuman.

"...... Inilah Kesatria Kaisar Naga terkuat seekor naga« Nidhogg »."

Claire berbisik sambil melihat.

...... begitu, itu benar-benar bukan roh mu sehari-hari.

Kamito heran.

Sepertinya kali ini Blade Dance akan memiliki orang-orang dari tingkatan ini ......

"...... Kau seorang penolong, terima kasih."

Kamito menyampaikan terima kasih dan Leonora menggelengkan kepalanya.

"Itu roh militer dari Dracunia dimulai dengan begitu wajar saja bahwa kita menjadi orang satu satunya yang menyelesaikannya."

"...... Meskipun kamu sepanjang waktu pingsan."

"iit, itu karena seorang pria menyentuh dadaku ......!"

Claire melotot dan Leonora panik.

Kapal berguncang sedikit dan kemudian mulai naik ketinggian.

Tampaknya bahwa back-up roh mesin telah dimulai.

"Setidaknya sekarang kita bisa santai."

"Tapi bagaimana roh militer yang seharusnya disegel menyerang kita-"

roh itu tidak gila.


Itu sudah menyerang kapal secara sengaja.

"Itu mungkin seseorang yang ingin melenyapkan pesaing blade Dance. Mustahil untuk melacak yang menggunakan roh militer."

Leonora menganalisis situasi dengan tenang.

"Sepertinya jenis-jenis serangan yang biasa. Tampaknya bahkan jika kita belum ada di sana, kita harus memperlakukannya seolah-olah Dance pisau sudah dimulai."

Sementara bersandar di sisi kapal, Claire menunjuk ke bayangan kapal.

"Lihat ke sana."

"Ya?"

Kamito mengubah pandangan dan melihat sebuah kapal perang dalam awan sedang mundur.

"Aku tidak tahu yang memiliki kapal itu, tapi tidak ada jalan hal ini tidak berhubungan dengan penyerangan itu. Untuk menggunakan roh militer dari kelas itu, harus ada beberapa elementalists di kapal itu."

"Apakah kita tak pergi mengejar mereka?"

"Tanpa roh angin terbang, mustahil untuk mengejar sebuah kapal perang akan pergi dengan kecepatan penuh. Dan mereka mungkin memiliki roh lebih militer. Ini terlalu berbahaya."


"...... Sealed roh militer, ya."

Sesuatu sedang menarik-narik sisi pikiran Kamito itu.

Dia ingat pertempuran dengan Jio Inzagi dan misinya di tambang.

Restia berusaha untuk membuka segel Jormungandrthe roh militer kelas stretegic.

Seperti yang diharapkan, ia mungkin saja berpikir terlalu banyak di dalamnya-

"Ini mungkin terhubung dengan roh kegelapan gadis dari Roh kasus militer lainnya ......"

Tapi tampaknya bahwa Claire punya ide yang sama.

Dia menatap Kamito dengan wajah yang lemah lembut.

"......"

Kamito terdiam.

"Kamito, kau tidak terluka?"

"Mendadak, kapal berguncang ...... apa yang terjadi di sini?"

"Kamito-kun, kau baik saja?"

Ellis, Rinslet dan Fianna semuanya datang ke geladak.

"Kazehaya Kamito, aku akan mengundurkan diri untuk hari ini, tapi-"

Dan Leonora mengembalikan naga hitamnya ke bentuk pedang dan berbalik.

"Menipu sang putri gadis suci dan membentuk surgawi harem - itu« keinginan »sesuatu yang pedang ini tidak akan mengizinkan."

"Tunggu, aku tidak berharap untuk hal semacam itu!"

"Ka-Kau, apakah kau berpartisipasi dalam Dance Blade untuk hal semacam itu inginkan?"

Gogogogogogogogo ......!

"Claire, jangan percaya!"

"Sebuah surgawi harem ...... apakah itu?"

"Kamito-san, apa artinya!"

"Umm, apa peringkat ku?"

"Kalian ......"

...... Setelah itu, Kamito ditanyai oleh Ojou-Samas selama sekitar satu jam.



part 3[edit]

"Nii-sama, mengapa kamu menjadi begitu lemah?"

Di geladak kapal perang kecil-

Gadis dengan rambut abu-abu abu memiringkan kepalanya dengan cara yang aneh.

Di bawah kaki ada sisa-sisa cincin yang hancur .

Itu cincin roh penghancuran tersegel.

"Muir, kamu harus sudah diberitahu untuk tidak menggunakan« Jester Vise »."

Dari palka kapal muncul gadis lain. Seorang gadis dengan kulit cokelat yang tampak berusia sekitar 15 tahun.

Indah batu giok rambut. Yang murni mata merah dan telinga lancip.

Dia adalah seorang Elfim setengah-manusia dengan segala ciri dari salah satu.

"Ini bukan salahmu Muir. Ini adalah kesalahan dari orang-orang militer karena memiliki roh yang lemah."

"Misi kali ini adalah hanya untuk menguji kekuatannya. Hanya karena kamu ingin, roh yang berharga hilang."

"Jika tak tahan Muir« Jester Vise », itu tidak cocok untuk digunakan."

"Roh Militer bukan mainan kamu. Mereka bukan sesuatu yang kamu hanya di buang."

"Hmph, dan itulah sebabnya Lily lemah."

Muir menggelembungkan pipinya kecewa.

Gadis Ras Elfim - Lily Flame menarik napas berat.

"Yah, baik-baik saja, jadi bagaimana kekuatannya? Kami kehilangan roh militer yang berharga. Kau lebih baik setidaknya memiliki itu atau kamu tidak akan punya alasan untuk Kardinal."

"Nii-sama telah menjadi lemah."

Muir menaruh jari telunjuknya ke bibirnya dan menggeleng kecewa.

"...... Lemah? Meskipun ia mengalahkan roh militer mid-class?"

"Masa lalu nii-sama akan melakukannya sendiri. Tapi kali ini, kelompok dengan nii-sama menariknya ke bawah."

"Rekan-rekan setimnya dari Areishia Academy, ya. Aku benar-benar tidak bisa percaya ...... bahwa dia bergaul dengan kelompok setengah matang."

"Seperti ini, nii-sama hanya akan menjadi lemah."

"...... Itu benar. Akhirnya halangan untuk rencana Kardinal mungkin muncul."

Lily bergumam itu-

"Tidak apa-apa. Muir hanya akan membunuh semua orang."

Muir tersenyum polos dan berbalik ke arahnya.

"Muir, jangan melakukan hal-hal yang disengaja. Kita alat Kardinal?"

"Diam, Lily."

"......!?"

dalam sekejap rasa merinding terasa ke seluruh tubuh Lily Flame.

Nomor dua dari «Instruksional Sekolah» - «Rakasa» Muir Alenstarl.

Dia tak pernah harus menjadi kesal.

Lily telah menemaninya dalam waktu yang lama sehingga ia tahu dengan baik.

"Muir tidak peduli tentang apa pun selain nii-sama. Aku akan membunuhmu juga jika kamu sempat menghalangi ku, Lily."

"Muir ......"

Sebuah detik terengah-engah saja.

Dan kemudian-

"Aha, aku bercanda. Lily, jenis wajah apa yang kau buat?"

Muir membuat senyum tanpa dosa dan berbalik ke arahnya.

"Lily adalah teman berhargaku jadi aku tidak akan membunuhmu semudah itu."

"......"

Muir menatap ke ujung seberang kapal dan mendesah.

"Tunggu aku, nii-sama. Aku akan menghapuskan para onee-chan yang suka ikut campur untukmu."


Chapter 4 : Pulau Terapung[edit]

Bagian 1[edit]

Beberapa jam setelah serangan roh kerusakan itu.

Kapal terbang kelas-Bellfahle itu, diperbaiki oleh tim teknisi, mendarat di tanah suci dari Raja Elemental Angin.-

“Ah, saya dapat melihat pulau tersebut!”

Di atas dek, Rinslet terlihat dalam suasana hati yang bagus dan menunjuk ke pulau tersebut.

Figur tuan putri yang murni dan bersemangat tinggi ini sangat imut.

“Ja-Jangan mengatakannya keras-keras. Ini memalukan.”

Claire membisikkannya dalam suara kecil sambil menyodok siku Rinslet.

“Wah wah, untuk menginginkanku untuk diam, apa kamu cemburu?”

"Kamu memberikan kesan buruk itu yang saya maksud."

Kamito mengawasi mereka dengan tatapan ke samping sembari menuju ke sisi kapal itu.

"Jadi itulah daratan suci ......"

Diantara awan-awan tebal dan dikelilingi oleh sebuah barisan pegunungan terjal terdapat sebuah pulau terapung.

«Ragna Ys» – bahkan didalam Astral Zero, itu adalah salah satu tempat terpenting dari seluruh daratan suci.

"Restia berada disana......"

Kamito mencengkram tangan kirinya yang bersarung tangan kulit.

Kapal terbang itu dengan tenang melaju menuju pelabuhan pulau terapung itu.

Bagian 2[edit]

Lepas siang. Sedikit melewati waktu yang telah ditentukan, kapal terbang itu merapat ke pelabuhan <<Grand Ys>> .

Sesaat setelah melihat kondisi kapal terbang yang babak belur itu, semua montir kapal memegang kepala mereka karena frustrasi.

Mereka pindah ke kereta kuda yang dipersiapkan <<Institut Ritual Suci>> di pelabuhan.

Karena kereta kuda itu dimaksudkan untuk empat orang, keretanya sedikit sempit untuk enam. Est pergi dalam bentuk pedang tapi itu hanya melapangkan satu tempat saja.

Selama naik kereta kuda yang berguncang terus itu, Kamito merasakan buah dada Rinslet. Kamito dengan cepat memisahkan diri dari Rinslet tapi kereta itu benar-benar sempit.

“Ka-Kamito-san….. Kamu genit.”

“M-Maaf, tadi itu tidak dapat dihindari.”

"Benar, saya mengerti itu tapi......"

Rinslet merajuk.

Tapi tidak ada tampak kekesalan di wajah tersebut.

Omong-omong, di seberangnya, Claire–

"......Apapun, bagaimanapun, buah dadaku tidak akan berguncang......"

Untuk alasan tertentu, dia sedang bergugam kepada dirinya sendiri dengan air mata berlinang.

Kereta kuda itu terus melaju ke kastil tempat ritual acara pembukaan itu.

Sambil menunjuk ke berbagai benda diluar jendela, Claire bertindak sebagai seorang pemandu.

“Pulau terapung <<Ragna Ys>> adalah salah satu dari lima daratan suci, daratan suci dari Raja Elemental Angin.Festival Tarian Pedang diadakan disini 74 tahun yang lalu.”

Omong-omong, Tarian pedang tiga tahun yang lalu itu telah diadakan di teritori Raja Elemental Api di kota Gunung Api. Tidak ada peraturan dimana Festival Tarian Pedang akan diselenggarakan karena itu diputuskan dari ramalan yang diterima para ratu.

"Dan kastil di tengah adalah sebuah peninggalan bersejarah dari masa mistik."

"Jadi disana dimana kita menginap, huh?"

"Ya, itu adalah kesempatan tiada banding. Normalnya <<Institut Ritual Suci>> tak pernah membiarkan siapapun kecuali puteri perawan untuk masuk. Yang mengingatkanku, apa kamu pernah kesana sebelumnya, Fianna?"

"Ya, tapi hanya sekali. Saya biasanya tinggal di kuil Raja Elemental Api."

"......Kuil sebenarnya dari Raja Elemental. Saya sedikit gugup."

Ellis membisikkannya dengan ekspresi gugup.

Tidak ada tanda orang diatas jalan beraspal itu.

Mereka yang diundang ke acara pembukaan hanya Lima Raja Elemental Utama dan para ratu yang melayani mereka, para wakil elementalis dan bangsawan tingkat tinggi. Penerimaan yang lain tidak diizinkan dan mungkin dapat memicu awal dari perang sebenarnya.

"Apakah raja dan ratu dari Kerajaan tidak datang?"

"......Sepertinya. Tapi itu tidak menyangkut saya."

Fianna mengangkat bahu dan Kamito–

"......M-Maaf."

Fianna telah dinamakan <<Ratu yang Kalah>> setelah dia kehilangan kemampuan mengontrak rohnya meskipun sebagai seorang kandidat ratu dan karenanya dia dijauhi oleh sang raja dan ratu.

Berbicara tentang sang raja dan ratu dengannya mungkin karena ketidaksensitifannya.

"Saya tidak keberatan. Pada awalnya, hubungan kami tidak begitu baik dan tidak kembali ke <<Institut Ritual Suci>> hampir membuatku tidak diakui. Saya tidak memiliki keinginan untuk memegang title saya sebagai tuan putri kedua dan bahkan jika saya dikeluarkan dari garis kerajaan–"

Dan kemudiaan Fianna berhenti berbicara..

Orangtua Claire telah dipenjara dan dia sedang mengejar kakak pengkhianatnya yang menghilang.

"Saya tidak keberatan."

Claire menjentikkan twintail merahnya keatas dan menghadap Rinslet.

"Apakah ada yang akan datang dari keluarga Rinslet atau Ellis untuk menonton?"

"Ya. Ayahku dan adik perempuanku akan datang."

"Salah satu tujuan Tarian Pedang adalah untuk mengumpulkan bakat unggulan. Keluarga Fahrengart secara tradisi mengadopsi mereka yang kemampuan bela dirinya unggul."

Rinslet dan Ellis menggangguk pada saat yang bersamaan. Jika dipikir-pikir, kakak tiri Ellis, Velsaria Eva, dia diadopsi, pikir Kamito.

"I-Itulah mengapa, itulah, jika kamu menunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya kepada mereka, mereka mungkin rela untuk menerimamu sebagai anak adopsi......"

"......?"

Untuk beberapa alasan, Ellis sedang bergugam yang tidak dapat dimengerti dengan wajah merah.

"Akankah keluarga Kamito datang?"

"Eh?"

Pada kata-kata Claire–

Kamito bertanya tanpa berpikir.

"......Keluargaku?"

Dari alur percakapannya, itu jelas bahwa dia akan ditanyakan itu.

Tapi Kamito tiba-tiba tidak berhasil menjawab.

Keluarga – sebuah kata yang paling jauh dari Kamito.

"Kamu, kamu benar benar tidak pernah bercerita tentang keluargamu. Saya pikir saya dengar keluargamu dari kerajaan ?"

"Y-Ya......"

Dia menggangguk dengan kedwimaknaan. Dalam aplikasi akademi yang Greyworth persiapkan, Kamito adalah anak adopsi dari sebuah keluarga bangsawan kelas rendah. Claire telah mempercayai itu.

Tentu saja, keluarga bangsawan itu tidak ada. Itu hanya sebuah keluarga yang dibuat diatas kertas.

Kamito tidak memiliki nama keluarga. Semua memori samar yang dia miliki tentang keluarganya ketika dia masih muda telah ditimpa dengan pengalaman di <<Sekolah Instruksi>>.

Dia yang berada di sisi Kamito muda adalah roh kegelapan itu hanya Restia..

Kemungkinan–

Saya heran apakah saya dapat memanggil mereka keluarga......

Kamito mengingat gadis lain dalam fasilitas itu.

Dua gadis lain dalam tim taktisnya dalam <<Sekolah Instruksi>>.

Mereka tidak tau nama asli mereka satu sama lain dan itu bukanlah sebuah hubungan antar rekan.

Elementalis ahli pengintaian, Lily Flame.

Dan gadis itu yang dekat dengannya dan memanggilnya nii-sama..

......Elementalis pemakai roh militer, Muir Alenstarl.

Empat tahun yang lalu. Sejak saat fasilitas itu telah dihancurkan oleh serangan roh api itu, Kamito telah kehilangan jejak keberadaanya. Dia mendengar bahwa sebagian besar anak yatim piatu disana diterima dalam perlindungan Kerajaan tapi pasti ada yang lain seperti Jio Inzagi yang menggunakan kekacauan dari kehancuran institut untuk kabur.

Dia bertanya-tanya apakah dia mengingat mereka adalah karena mimpi yang didapatnya–

"......? Ada apa, untuk membuatmu memiliki wajah suram seperti itu?"

"Tak ada apa-apa, hanya berpikir tentang masa lalu."

Kamito memalingkan matanya dari Claire yang menyelidiki dan melihat keluar jendela.

Mereka sedang menuju kastil diatas gunung.

Bagian 3[edit]

Kereta kuda itu berhenti di depan sebuah gerbang besar dari batu.

Kastil diatas gunung yang sedikit condong itu dipersiapkan dengan keindahan dan keagungan yang tak tertandingi.

Kastil itu dikelilingi oleh sebuah hutan ada sebuah danau berjarak pendek dari sini..

Tim lain juga tiba dan menghentikan kereta kuda mereka di depan gerbang itu.

......Nasib baik kita belum bertemu Tuan Putri Naga itu.

Lega, dia turun dari kereta kuda dan,

"Kami telah menunggu kedatangan kalian gadis tuan putri yang datang untuk menghibur sang Raja Elemental."

Di dalam gerbang, sekelompok gadis yang memakai pakaian miko menyambut mereka.

"Mereka adalah para murid dari <<Institut Ritual Suci>>. Para kouhaiku."

Fianna membisikkan itu ke telinga dia(lk).

"Selagi anda sekalian menetap disini, kami akan berada dalam pengawasan anda sekalian untuk instruksi tentang kewanitaan."

Ketika para gadis tuan putri membungkuk, Kamito mencuri pandang ke buah dada polos mereka di dalam pakaian mereka dan jantungnya berdebar-debar..

Melihat lebih jelas, pakaian upacara yang mereka pakai hampir setara dengan setengah telanjang.

Celah diatas buah dada itu besar dan pada keliman rok mereka, sedikit kulit muda mereka terintip.

Walaupun pakaiannya untuk mengilhami kemurnian, pakaian itu anehnya sangat erotis.

Mungkin jika Claire dan yang lain memakai pakaian tersebut......dia tiba-tiba terpikir akan hal itu.

"Hm? Kamito, apa yang kamu lihat?"

Dia ditanyakan itu oleh Claire–

"Ahh, Saya hanya cuma berpikir kalau kalian memakai pakaian tersebut, itu benar-benar cocok dengan kalian–"

"Apa!?"

......Kamito mengutarakan isi pikirannya keluar keras-keras tanpa berpikir.

......Uwa, Saya mengacaukannya!

"Ap-ap-ap-apa yang ka-ka-ka-kamu katakan, kamu roh pelayan mesum!"

Wajah Claire menyala merah dan dia menyambuk cambuknya ke tanah.

"Ka-Kamito-san suka benda-benda jenis itu, itu sepertinya......"

"Kamu pikir pakaian suci itu ap-apa!"

"Aku ingin tau apa saya masih ada pakaian suci saya dari sejak saya masih di <<Institut Ritual Suci>>?”

Ketiga ojou-sama berbisik diantara mereka satu sama lain.

"Jadi, Kamito-sama, figur siapa yang kamu bayangkan??"

"......!?"

Carol yang tersenyum bertanya dan Kamito mengalihkan pandangan matanya.

Bagian 4[edit]

Memasuki kastil itu, mereka sampai ke sebuah aula masuk besar.

Bangunan melengkung indah dengan langit-langit tinggi. Sebuah karpet dibentangkan di tanah sepanjang sebuah koridor bertiang ke sebuah pintu yang menuju lebih dalam.

Penerangan dihasilkan bukan dari lampu atau batu roh tapi oleh roh cahaya kecil yang melayang.

Bahkan jika itu disebut sebuah relik dari zaman mistik, beberapa ribuan tahun pembangunan kembali dan pemodelan kembali yang berulang-ulang telah menghilangkan beberpa jejak dari benda-benda peninggalan zaman dahulu. Satu-satunya jejak yang tersisa adalah pahatan yang tersembunyi oleh tiang-tiang batu.

Sepanjang dinding koridor bertiang itu ada ilustrasi penuh warna. Semua ini paling lama sisa-sisa dari beberapa ratus tahun yang lalu dan motifnya adalah para ratu yang meninggalkan namanya dalam sejarah maupun pemenang <<Tarian Pedang>>.

"Hm?"

Kamito berhenti di depan sebuah kumpulan gambar besar.

Digambarkan disana adalah pemenang Tarian Pedang dari tiga tahun yang lalu..

Penari Pedang terkuat – Ren Ashbell.

Terbalut dengan pakaian aneh dari negara asing, dengan sebuah pedang setan kegelapan beraura gelap di tangan kirinya.

Pedang itu di tangan kirinya adalah si roh kegelapan, Elemental Waffe Restia <<Vorpal Sword Pedang yang Menembus Kebenaran>>

Rambut hitam yang memikat, Pipi seputih buah pir.

Profil gadis itu, digambar dengan sentuhan halus, dilihat sebagai sebuah tujuan, sangat cantik.

"......Ini berlebihan. Hasil kerja seorang pelukis tanpa mata yang tajam."

Kamito mengutarakan itu dan Ellis yang berjalan di sekitar berputar menghadapnya.

"Adalah kamu yang kurang apresiasi. Kecantikkannya tidak seperti itu."

"Itu benar. Walaupun jenis kelamin kami sama, dia membuat jantungku berdebar"

Claire juga menggangguk dalam persetujuan.

"Ah–, Begitu ya......"

Kamito membuat ekspresi masam dan mengerang.

"Fufu, tidakkah kamu senang, Kamito-kun."

"Kamu......"

Fianna tertawa mengejek dan melihat ke Kamito melalui mata yang setengah terbuka.

Mengikuti para gadis tuan putri sepanjang kastil besar itu, mereka akhirnya sampai ke ruangan mereka.

"Perwakilan Kerajaan <<Tim Scarlet>>, ruanganmu disebelah sini. Jika kalian ingin makan, menggunakan sesuatu atau hal lain, tolong jangan ragu untuk melakukannya."

"Tunggu senbentar, apakah saya di ruangan yang sama?"

Kamito dengan cepat bertanya pada gadis tuan putri itu dan,

"I-I-I-Itu tidak mungkin, apa yang kamu pikirkan !"

Claire menyanggahnya dengan ekspresi panik.

"Y-Yah, seperti yang diduga, tinggal di ruangan yang sama dengan seorang pria itu sulit."

Kata Ellis sembari mengosongkan tenggorokannya.

"Itu benar, seperti yang diduga......benar."

"T-tapi, tidak ada yang bisa dilakukan jika tidak ada ruangan kosong, bukan?"

Fianna dan Rinslet juga bertukar pandangan gugup.

"......? Tentu saja, kami telah mempersiapkan sebuah ruangan terpisah bagi si pria."

Kepada kata-kata pencerahan dari si gadis tuan putri,

"I-Itu benar, tentu saja!"

"Y-Ya, itu adalah kebutuhan yang jelas!"

Para ojou-sama mengatakannya dalam suara laras tinggi.

"Fufu, sayang sekali."

"Kek itu akan terjadi saja. Hanya cuma seorang laki-laki satu-satunya, di sebuah ruangan penuh gadis, penyiksaan seperti apa itu?"

Kamito mengatakan itu ke Carol yang tertawa dan tersenyum dengan mata setengah terbuka.

"Baiklah, saya akan langsung pergi tidur. Sampai jumpa nanti."

"Kamito, tunggu senbentar."

Kerahnya ditangkap saat dia berputar untuk menuju ke ruangannya.

"Apa?"

"Kami akan pergi memurnikan diri kami sekarang."

"Memurnikan?"

Pemurnian berarti tindakan membersihkan tubuh seseorang dengan air dalam upacara pemurnian. Para gadis yang tidak murni tidak dapat menggunakan roh. Untuk alasan itu, para elementalis harus terus-menerus mempertahankan pikiran dan tubuh yang murni.

"Itulah mengapa, itulah......k-kamu pergi ganti baju dan datang ke danau juga!"

"Nah, Saya baik-baik saja. Saya akan melakukannya nanti sendirian."

Kamito menggelengkan kepalanya dalam sikap kesusahan.

"Atau sebetulnya, kalian tidak mau saya melihat kalian dalam pakaian renang, bukan?"

"I-Itu......"

Pipi Claire merona dan dia mengalihkan pandangannya,

"Tidak, tidak juga, i-itu bukan saya tidak mau itu…. Itu tidak masalah kalu dia Kamito."

"......?"

"T-Tidak ada apa-apa!"

Sayangnya, suara Claire terlalu kecil dan dia(lk) tidak dapat mendengarnya dengan baik.

......Dia ingin tau apa katanya. Belakangan ini, Claire telah menjadi sedikit tidak jelas.

"B-Bagaimanapun, kita adalah satu tim jadi kita akan melakukan pemurnian itu !"

Ini adalah sebuah perintah kepada roh pelayannya – Claire mengutarakan ini sementara twintail merahnya berdiri tegak.

"I-Itu benar, menghancurkan persatuan tim!"

“Kamito-san tidak memiliki pengakuan diri yang cukup sebagai bagian dari tim!"

“Untuk dapat melakukan upacara pemurnian bersama adalah sebuah tanda kepercayaan!”

Ketiga ojou-sama semua setuju satu sama lainnya.

“Tidak, kalian semua berlebih lebihan......"

......Dia heran mengapa mereka begitu heboh dengan pemurnian ini.

Si pelayan Carol mengosongkan tenggorokannya dengan alis mengerut.

“Jelasnya, para ojou-sama hanya mau menunjukkan Kamito pakaian renang baru mereka-“

""""Carol!""""

Kumpulan suara dari para ojou-sama.

“Apa itu, sebenarnya……”

Kamito merasa bermasalah-

Sebuah tarikan.

Mansetnya sedang ditarik.

"......Est?"

Est, yang telah kembali ke wujud manusia pada saat tertentu, melihat ke Kamito.

"Kamito, Saya ingin bermain dengan Kamito di danau."

"......"

Dilihat oleh pupil misterius Est, Kamito menelan ludah.

Saya melakukan sesuatu yang buruk kepada Est pagi ini jadi......

Kelihatannya Est tidak marah lagi tapi-

Dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk membalasnya.

Kamito meletakkan tangannya diatas kepala Est dan membelainya.

"Mengerti. Ayo bermain di danau bersama sama."

"Ya, Kamito. Saya senang."

Est mengangguk tanpa ekspresi.

Kamito berputar ke arah Claire dan lainnya.

"Dengan itu, saya juga akan melakukan pemurnian – hey, Owaa!"

""""Mengapa kamu sangat lembut kepada Est!""""

Kopor empat orang melayang ke wajahnya.

......Kelihatannya kita tidak ada masalah dengan kerja sama tim.

Bagian 5[edit]

"–Disinilah kamar Kamito-sama.”

Kamito dituntun melalui lorong ke sebuah kamar suram di paling dalam.

Ruangan itu berbau busuk dan ada udara suram didalamnya. Di sudutnya adalah gambar dan pahatan serta sampah lain yang tertutup sarang laba-laba.

“......Apakah cuma saya atau saya satu-satunya yang diperlakukan seburuk ini?”

......Di kamar Claire dan yang lainnya, disana bahkan ada sebuah perapian dan kandil.

Daripada disebut sebuah kamar, ini lebih dekat ke sebuah gudang.

“<<Institut Ritual Suci>> -lah yang memutuskan ini>>

Si gadis tuan putri mengosongkan tenggorokannya.

......Kelihatannya dia sedang terang terangan bersikap dingin terhadap Kamito.

......Yah, tidak ada yang bisa dilakukan, saya rasa.

<<Institut Ritual Suci>> adalah, seperti akademi itu, jauh terpisah dari keberadaan pria.

“Apakah kamar ini tidak mempunyai lampu?”

“Ya. Roh cahaya tidak akan datang mendekati kamar suram seperti ini.”

“Saya akan membuka jendelanya.”

“Terserah anda. Namun, itu mungkin tertutup kuat oleh karatnya.”

"......"

Kamito menghela dalam dan memasuki ruangan seperti kotak itu.

Dia telah meninggalkan Est di kamar para gadis jadi dia harus membersihkan kamar ini sendirian.

......Sekarang saya pikir pikir lagi, ini sudah hampir waktunya makan.

Di samping teh hitam yang diminumnya diatas kapal terbang itu, dia belum memakan apapun sejak tadi pagi.

“Maaf, bisakah saya memesan sesuatu yang ringan untuk dimakan?”

“Kamito-sama menginginkan nyotaimori? [1] Saya mohon maaf tapi itu-“

“Saya tidak mengatakan itu! Hanya sesuatu yang normal seperti sebuah sandwich!”

“Sebuah nyotai-sandwich......menutupi dirimu dengan buah dada......?”

“......Saya mohon, tolong hentikan nyotai nyotai itu.”

Kamito menghela dalam ke tatapan sinis yang diterimanya dari si gadis tuan putri.

Bagian 6[edit]

"Pakaian renang nekat jenis ini......apa ini oke?"

"Buah dada kapten ksatria itu tak kusangka cukup besar ......”

"Ahn – apa yang sedang kamu lakukan!"

Ellis mengeluarkan sebuah teriakan imut saat Rinslet meraba buah dadanya.

Di dalam kamar para gadis, para ojou-sama sedang berganti ke pakaian renang dari seragam mereka.

Lembut, kulit muda. Garis tubuh memikat.

Mereka adalah bishoujo dengan bentuk tubuh yang sama luar biasanya.

Di sudut adalah Claire yang merasa bahwa dia telah kalah.

......A-Apa, itu bukan hanya saya!

......Dada yang sedikit timbul.

Dengan sebuah ujung pink, itu seperti sebuah bunga menguncup.

Walaupun semua yang lain sedang tumbuh sebagaimana semestinya......

Dia menghela saat dia melihat sisa dari tim sedang berganti pakaian.

Satu satunya yang dia rasa dia bisa menang adalah Est, tapi dia adalah seorang roh.

Bahkan Kamito tidak akan suka dada kecil seperti ini......

Sambil mengusap pelan tonjolan kecil itu-

Apa yang muncul di pikiran Claire adalah sebuah peristiwa dari dua bulan yang lalu.

Waktu itu ketika dia pertama kali bertemu Kamito di danau itu dalam <<Hutan Roh>>.

Kata kata yang diucapkannya ketika dia telah melihat dirinya mandi telanjang bulat.

-Saya tidak ada hasrat terhadap sebuah tubuh anak anak, katanya.

"......!"

Mengingat itu, pipinya merona merah.

Ada seorang pria seusianya melihatnya telanjang, itu tentu saja pertama kalinya.

......Tapi dipikir pikir lagi, itu hanya dua bulan yang lalu.

Berdiri dengan satu kaki dan masuk ke pakaian renang barunya, Claire menghela.

Hanya dua bulan.

Tapi sejak saat dia bertemu dengan Kamito, banyak hal telah terjadi.

Pertikaian dengan Ellis di akademi. Bertempur dengan roh militer diluar kontrol itu.

Pertandingan memasak dengan Fianna yang baru ditransfer masuk. Misi itu di tambang.

Dua minggu yang lalu, mereka mengalahkan elementalis terkuat dan mengumpulkan lima rekan tim untuk berpartisipasi dalam Tarian Pedang.

–Hingga dia bertemu Kamito, dia selalu sendirian.

Tapi saya masih belum benar-benar tau apapun tentang Kamito......

Menjatuhkan celana dalamnya ke atas lantai, dia terbenam dalam pikirannya.

Bahkan ketika dia bertanya tentang keluarganya dalam kereta kuda itu, dia menghindari pertanyaanya.

Bukannya saya mau ikut campur tapi–

Sesuatu yang dia masih belum tau tentang Kamito adalah hubungannya dengan gadis roh kegelapan itu.

Dia telah memberi Claire roh hingar-bingar itu dan berada di tambang itu dengan Jio Inzagi untuk tujuan membuka segel Jormungandr si roh militer kelas-strategis.

Dia adalah roh terkontrak Kamito tapi tidak ada lagi yang diketahui..

Kapanpun sebuah diskusi tentang masa lalu muncul, Kamito akan tetap diam.

......Dia tidak suka itu.

Setidaknya beritahu tuanmu, idiot......

Sambil menyembunyikan dada kecilnya dengan tanganya, Claire menekan bibirnya bersama, tidak senang.


Chapter 5 : Olahraga Air[edit]

Bagian 1[edit]

Matahari menyinari dengan lembut ke hutan itu.

Beraneka ragam warna berganti-ganti di udara.

Buah beragam warna menghiasi cabang dari kepadatan pohon-pohon yang tumbuh.

Itu adalah danau disamping kastil tersebut.

Karena roh-roh yang melayang dekat pesisir danau itu, danau ini memberikan kemurnian yang tinggi. Ini adalah sebuah tempat berkualitas tertinggi bagi pemurnian seorang gadis tuan putri.

“Claire dan yang lain belum juga disini......”

Kamito, yang baru saja tiba, memantau area itu.

Belahan atasnya terbuka. Di belahan bawahnya, dia memakai celana pendek. Tentu saja, dia telah melepas sarung tangan kulit di tangan kirinya, tapi dia membungkus segel dibawahnya dengan sebuah kain hitam.

“Menjadi yang pertama sampai membuat saya kelihatan sangat gembira dan itu memalukan.”

Sambil menggaruk kepalanya, dia mengeluh dan–

“Kamito–kun, maaf untuk membuatmu menunggu!”

"Owaa!?"

Squish. Tiba tiba dipeluk dari belakang, Kamito secara tidak sadar menyalak.

"Fianna!?"

Terkejut, dia menoleh kebelakang–

Dan disana berdiri tuan putri imut itu memakai sebuah pakaian renang hitam yang nekat.

“Apa ini cocok denganku?”


"......!?"

Pakaian renang Fianna adalah sebuah bikini dewasa. Terbungkus disekeliling panggulnya yang lentur adalah sebuah celana dalam low-leg. Sebuah pita hitam menghiasi dadanya. Jumbainya membungkus sekeliling pahanya ditambah dengan pengikat kaus kakinya terlihat erotis. Kain segitiganya yang menutupi buah dadanya sangat merangsang dan terlihat akan tumpah.

“Seorang ratu tidak boleh tidak sopan seperti itu!”

"Fufu, Kamito-kun marah ♪"

Fianna menjulurkan lidahnya dengan tingkah yang imut dan melepaskan lengannya.

"K-Kamu......"

Jantung Kamito berdebar oleh kata kata memikat itu.

“Oh iya. Kamito-kun, haruskah saya menunjukkan kepadamu <<Segel Roh>>-ku?”

"Apa–"

Fianna membungkuk dan–

Membiarkannya memandang ke buah dadanya didalam celah dari pekaian renang nekatnya.

Kamito menelan kuat.

“Lihat. Itu disini. Di dalamnya......”

Sambil menggodanya dengan aksi nekatnya, wajahnya sedikit berwarna merah.

Walaupun memakai sebuah pakaian renang dewasa, dia masih seorang ojou-sama yang murni.

Belahan yang lembut itu, sampai sekarang, mendorongnya untuk membenam wajahnya kesana.

Persis saat dia memandang <<Segel Roh>> itu yang terukir didalamnya–

“Fianna-san, a-apa yang kamu lakukan!”

Dari jalan kecil didalam hutan lari Rinslet berpakaian pakaian renang.

Itu adalah sebuah pakaian renang wajar yang cocok dengan seorang ojou-sama, tapi itu menekankan volume buah dadanya. Kaki yang muncul dari bawah pareonya sangat indah sampai Kamito membeku dalam pesonanya.

“Ka-Kamito-san, bagaimana pakaian renangku?”

“......Y-Ya, itu sangat cocok denganmu.”

Kamito mengutarakan pikirannya yang sejujurnya dan Rinslet tersipu.

“K-Kamu benar benar...... berpikir begitu? S-Saya tidak suka disanjung-sanjung.”

“Itu bukan sanjungan. Kamu benar benar, um……..cantik.”

"......Auu......"

Rinslet memerah tepat sampai ke telinganya.

Dan terjatuh begitu saja.

“M-Maaf membuatmu menunggu!”

Dan sekarang datang sebuah suara kaku.

Yang muncul dari jalan yang sama seperti Rinslet adalah si kapten ksatria, Ellis.

Dia memakai sebuah pakaian renang berwarna biru laut yang menyolok dengan sebuah penekanan ke kegunaannya. Itu sangat polos dibanding ke pakaian renang Fianna dan Rinslet, tapi jarak antara dia yang berzirah dengan dia yang sekarang menekankan garis tubuhnya sangat berbahaya.

Dia terpancang ditempat.

“Ka-Kamito, jangan lihat kesini, lihat kesana!”

“M-Maaf......!”

Kamito segera memalingkan pandangannya dan–

Ellis mengosongkan tenggorokannya.

“......T-Tidak, maksud saya tidak apa-apa untuk melihatnya?

“Yang mana yang benar......”

“D-Diam! Lagipula, kamu mungkin saja berpikir itu hanya sebuah pakaian renang menjemukan!”

“Tidak ada yang berkata begitu.”

Kamito menghela dengan capek.

“......Saya seharusnya memakai pakaian renang yang lebih erotis.”


"Hmm?"

Rasanya kapten ksatria itu baru saja mengatakan sesuatu yang menakjubkan tapi–

“Ellis terlihat sangat cantik dalam pakaian renangnya.”


"Eh?"

Seru Ellis yang mata ambernya melebar.

“Saya pikir itu cocok dengan Ellis yang serius.”

"Kamito......"

Ellis mengetatkan lengannya ke dadanya dan tersipu.

“Yang tersisa adalah Claire dan Est–“

Kamito bergugam dan,

"Ka-Kamito......"

"Claire?" Ke suara yang dia sudah terbiasa, dia menoleh kebelakang – Claire berdiri disana.

......Tidak.

Dari belakang sebuah pohon besar, twintail menonjol keluar.

“Kamu, apa yang kamu lakukan?”

"......"

Claire tetap bersembunyi di belakang pohon.

“Apakah jangan-jangan tali pakaian renangmu terpotong?”

“I-Itu salah!”

Twintail itu berdiri tegak.

“Jadi mengapa kamu tidak keluar?”

“K-Karena itu......memalukan.”

“Memalukan, katamu......semuanya juga dalam pakaian renang.”

“Itu benar tapi......o-oke.”

Claire menyerah dan dengan malu malu keluar.

Pada saat itu–

Napas Kamito berhenti.

Claire sedang memakai sebuah bikini merah polos. Sebuah desain yang biasa dan sederhana – sebaliknya, itu malah menekankan kecantikannya. Celana dalam ditahan dengan tali yang membungkus kulit mulus itu dan pahanya memiliki sebuah garis tipis dari bekas cambuk kulitnya.

Itu sangat menyakitkan untuk diakui, tapi dia sangat-sangat imut.

Jujur saja, dia tidak mengerti mengapa dia malu.

“Kamu......”

“J-Jangan berkata apapun, sebab saya cuma......”

Ketika dia melihatnya malu-malu menyembunyikan dadanya dengan kedua tangannya–

Kamito menyadari alasannya.

Claire ternyata prihatin dengan buah dada kecilnya.

"......Geez." Kamito membuat sebuah senyum masam dan meletakkan tangannya ke kepala Claire yang malu.

"Fuaa!"

“Dengar, oke? Ini adalah pemikiranku yang sebenarnya. Saya tidak akan mengatakannya lagi.”

“A-Apa itu......!”

“Kamu imut, Claire.”

"Fuaaa, i-idiot, apa yang kamu katakan!"

Pukul, pukul, pukul.

Claire memukul bahunya dengan wajah semerah buah bit.

Bagian 2[edit]

"Kali ini si kapten ksatria adalah setannya!”

"Saya tidak akan kalah dalam berenang."

"Ellis, kamu tidak boleh memakai zirah anginmu."

Suara merdu menggema di dalam hutan itu. Tetesan air yang berkilau. Buah dada yang bergoyang tango dengan seluruh sisa tubuhnya bertemu matanya.


Bishoujos lengkap pakaian renang bermain dengan gembira di dalam danau itu.


......Bagaimanapun kamu melihatnya, tidak ada perasaan ini adalah sebuah upacara pemurnian.

STnBD V04 006-007.jpg

Yah, bersantai itu penting juga......

Kamito berbaring di pesisir danau itu.

Dia tidak dapat bermain dengan para gadis karena dia akan terus terusan teralih perhatiannya, jadi dia memilih untuk berjemur. Para gadis itu kelihatan tidak puas, tapi mungkin karena mereka telah memaksa dia datang dengan kedominanan yang tidak adil, mereka membiarkannya begitu.

Disampingnya, Est sedang berlutut sambil menjilat sebuah es loli.

Tubuhnya yang bagaikan peri salju ditutupi oleh sebuah pakaian renang biru laut keluaran akademi.

Kulitnya yang halus seperti susu dan rambut lembut berwarna peraknya

Di kedua kakinya adalah kaus kaki sepanjang lutut.

Est mempunyai penampilan yang seorang maniak punya, memakai sebuah pakaian renang serta kaus kaki sepanjang lutut.

Tidak ada banyak kulit yang tampak, tapi untuk beberapa alasan, kelihatannya penampilan itu melewati lebih banyak batas daripada telanjang sepenuhnya.

"Est, kamu tidak pergi bermain dengan semuanya?"

"Itu akan memalukan bagiku untuk telanjang kaki.”

Est membalas tanpa ekspresi.

"Lagipula, saya tidak dapat berenang."

"Ahh, Begitu ya......"

Est adalah seorang roh pedang jadi dia tidak dapat terapung.

Tidak peduli seberapa kuat dia sebagai seorang roh, dia tidak dapat menghilangkan sifat dasar logamnya.

......Kalau dipikir pikir lagi, Itu juga dekat dengan sebuah danau dimana saya membuat kontrak dengan Est.

Sambil menatap wajah samping Est, Kamito memikirkan itu.

Pembasmi Setan – Terminus Est.

Seorang roh suci legendaris. Itu adalah sebuah misteri mengapa sebuah pedang sekalibernya telah memilih Kamito.

–Dia masih tidak tahu.

Lagipula, Est memiliki banyak rahasia lain juga.

"Hey, Est–"

"?"

Est berputar menghadapnya sambil menjilat es lolinya.

"Apakah kamu benar benar pedang suci yang mengalahkan raja setan?"

Legenda dari Pembasmi Setan tertinggal dimana mana di kontinen itu.

Est tidak diragukan lagi adalah sebuah pedang tak tertandingi, tapi tidak mungkin dia adalah yang sebenarnya – itu apa yang dia pikirkan.

Tapi jika dia adalah yang sebenarnya......

Kekuatan yang menghancurkan «Segel Senjata Terkutuk» di jantung Velsaria dua minggu yang lalu.

Itu bukanlah kemampuan dari seorang roh pedang biasa.

Di dalam legenda Pembasmi Setan, pedang suci itu juga dikatakan telah menghancurkan segel roh dari semua tujuh puluh dua kontrak raja setan.

"Maafkan saya, Kamito."

Tapi Est dengan diam menggelengkan kepalanya.

"Memori saya sedang tidak lengkap sekarang. Jika saya mendapatkan tubuh asli saya, memori saya seharusnya akan kembali dengan kekuatan penuh saya."

"Tidak, Saya seharusnya yang harus meminta maaf. Maaf."

Karena Kamito masih berpegang pada kontraknya dengan Restia, kontraknya dengan Est masih tidak sempurna. Est tidak dapat menunjukkan kemampuan sebenarnya.

"Tidak, Kamito."

STnBD V04 121.jpg

Est membawa es lolinya menjauhi mulunya dan menatap kearah Kamito dengan matanya yang misterius.

Dan kemudian–

"Saya senang saya berkontrak denganmu."

"......Est?"

Untuk sesaat, ekspresi sekejap di wajah Est membuat jantungnya berpacu.

"–Kamito-san."

"Owaa!"

Rambut pirang platinum berkilau di bawah sinar matahari.

Pada suatu waktu, Rinslet berpakaian renang berdiri disampingnya.

"Jangan mengejutkanku seperti itu......"

"Tidak, itu, maaf......"

Kamito meminta maaf pada Rinslet yang merajuk.

"Ada apa, Rinslet, kamu tidak pergi berenang dengan yang lain?"

Pada kata katanya, Rinslet menggeliat sedikit dan wajahnya memerah.

"Saya t-tidak bisa, itu......Saya tidak dapat berenang dengan baik."

"Benarkah?"

Itu tak terduga. Bahwa si Rinslet yang sempurna bisa mempunyai kelemahan itu.

"Hmm? Walaupun kamu pergi bermain alep di dalam air barusan?"

"I-Itu......umm, itu adalah sebuah trik kecil."

"Trik?"

Rinslet mengganguk kecil dan menjulurkan jarinya.

Sebuah suasana beku mengumpul dan dari udara tipis muncul seekor serigala putih.


Roh es kejam «Fenrir».

"Saya menaiki punggung anak ini ketika berada di dalam air."

"......Begitu ya."

Saat membayangkan serigala putih itu dengan anggun berlari kesana kemari di bawah permukaan air dengan seluruh kemampuannya, Kamito tersenyum masam.

"K-Kamu barusan tertawa, bukan! Itu jahat!"

"M-Maaf......"

"Dan jadi, umm......"

Dan pipi Rinslet semakin memerah.

"Saya ingin meminta bantuan Kamito-san."

"Bantuan?"

"Umm, itu, saya......"

Dan kemudian Rinslet menjadi tidak jelas.

......Apa?

Ini adalah saat saat seperti ini dimana pembantunya akan menerjemahkannya kepada dia.

Kamito melihat sekeliling dan menemukan figur Carol yang bersembunyi.

......Dia pikir dia tidak melihatnya tadi, tapi ternyata dia bersembunyi selama ini.

Dia sedang menggerakkan mulutnya dan kelihatannya sedang berkata sesuatu –

Kamito menggunakan kemampuan membaca gerakan mulut yang dilatihnya di dalam institut.

Ojou-sama, lakukan yang terbaik – itu saja......apa maksudnya?

Menunggu beberapa saat seperti itu –

"Ka-Kamito-san!"

Rinslet berteriak dan kelihatannya telah membulatkan hatinya.

Menyapu rambut pirang platinumnya keatas dan menunjuk ke arah Kamito–

"S-Saya akan membiarkanmu mengajariku bagaimana berenang!"

......Oh begitu, pikir Kamito dengan senyum masam.

...... Seperti biasa, dia adalah seorang ojou-sama yang tidak dapat jujur.

Tapi jika kamu telah terbiasa dengan itu, hal hal itu tentangnya juga dapat menjadi imut.

"Est, Saya akan pergi berenang dengan Rinslet senbentar."

"Ya, Kamito......"

Est merajuk dengan sedikit sedih.

Bagian 3[edit]

"Ka-Kamito-san, tolong jangan lepaskan......"

"Yeah, ini baik baik saja. Rentangkan tubuhmu lagi."

Splash. Suara air itu bergema dekat pesisir danau.

Sedikit jauh dari tempat dimana yang lain bermain, di balik bayangan sebuah batu, Kamito sedang mengajari Rinslet bagaimana berenang.

Kelihatannya dia tidak mau yang lain tahu.

"P-Pasti, oke......j-jika kamu lepaskan, Saya akan membuatmu menjadi sebuah pahatan dari es!"

Dengan ekspresi gugup, Rinslet mencengkram ke lengan Kamito.

Dengan sensasi kelembutan di tangannya, jantungnya berdebar.

"S-Saya mengerti, jadi tolong jangan tusukkan kukumu ke lenganku."

"M-Maafkan tentang itu......"

Melepaskan tangannya dari lengannya, dia malahan mencengkram tangannya.

Dia mencengkram dengan kuat dengan jarinya yang lentik dan halus.

"Tangan seorang......pria."

Dengan pipi merah, matanya yang menengok ke atas bimbang.

"Yah, Saya selalu memegang sebuah pedang......"

Kamito berkata sambil dengan cepat memalingkan matanya.

S-Sudut pandang ini buruk......!

Dari tengkuk putihnya ke tulang selangkanya dihiasi tetesan air.

Buah dada yang dapat terlihat dibawah permukaan air terlalu mengganggu konsentrasi.

"Kamito-san, apa yang kamu lihat?"

"Ah, tidak......ayo, kendurkan dan renggangkan."

Kamito segera mengganti topiknya.

"U-Untuk seorang pria memerintahku......ini adalah yang pertama kalinya."

Rinslet menutup mulutnya rapat rapat .

Tapi ekspresi itu sepertinya kelihatan senang.

"Maaf, ojou-sama. Saya adalah orang yang kurang ajar."

"Tidak, i-itu tidak apa apa bagimu untuk memberiku lebih banyak perintah lagi. T-Tapi perintah mesum agak sedikit......"

"Hmm?"

"T-Tidak ada apa apa!"

Rinslet berkata di dalam air dan membentuk gelembung air.

Sungguh orang yang aneh – Kamito berpikir begitu dan kemudian.

"......?"

Kamito merasakan seseorang mengawasi mereka.

Dia merasakan tekanan seperti pisau dibelakang lehernya.

Kamito dengan cepat menyurvei area itu.

Dia hanya merasakan keberadaan itu sesaat dan itu telah hilang sekarang.

Saya tidak merasa bahwa itu adalah imajinasiku tapi......

Itu mungkin saja hanya roh roh di sekeliling danau itu.

Yah, itu telah menghilang dengan cepat jadi tidak ada alasan untuk khawatir tentang itu.


"Ada apa?"

"Tidak, tidak ada apa apa......ayo, lebih santai."

"......S-Seperti ini?"

Rinslet menggangguk dengan jujur dan mengendurkan seluruh tubuhnya.


Bokongnya yang imut dibungkus dalam pakaian renang putih muncul dari dalam air.


"S-Saya terapung!"

Senyumnya bagaikan mawar yang mekar, sangat memikat.


"Rinslet benar benar menjadi imut ketika dia jujur."

Dengan sebuah senyum masam, Kamito membisikkan itu dan Rinslet memerah sampai ke telinganya.

"......Kamito-san, kamu menggoda saya, bukan?"

Gigit. Seperti dia sedang memarahinya, dia mengigit ke kedua tangannya.

Gigit. Gigit.

"Rinslet, ini sakit......"

"Fufu, ini adalah hukuman untuk menggoda saya."

Rinslet tersenyum dengan anggun dan akhirnya berhenti mengigitnya.

Tapi seperti yang diharapkan dari seorang gadis berbakat, kecepatan belajarnya sangat cepat.


"Lalu, berikutnya, coba gerakkan kakimu."

"Y-Ya......"

STnBD V04 129.jpg

Rinslet mengganguk dan–

"Kyan!"

Kemudian mengeluarkan sebuah suara menyalak.

"A-Apa yang terjadi?"

"Fua, ya, ahn......a-apa yang kamu sentuh!"

Rinslet terhuyung-huyung di dalam air.

"T-Tidak, di tempat seperti ini......Kamito-san......kamu genit."

"......Tu-Tunggu, Saya tidak melakukan apapun!"

Kamito menyangkal dengan sepenuh hati dan–

Gogogogogogo......!

Permukaan air itu yang tenang dari tadi sekarang berbuih bagai air mendidih.

"Kelihatannya menyenangkan, Kamito."

"Claire!?"

Apa yang muncul dari air adalah Claire yang twintailnya berdiri tegak.

Suaranya tenang tapi......dia sedang marah. Tidak ada kesalahan.

"K-K-Kamu, ap yang kamu lakukan sendirian dengan Rinslet?"

"Tidak, ini hanya latihan berenang–"

Pada jawabannya – Kamito segera menutup mulutnya.

Rinslet menginginkannya untuk tidak mengungkapkan bahwa dia tidak bisa berenang.

Dia tidak bisa mengkhianati kepercayaannya.

Karena Kamito tiba - tiba terdiam, Kelihatannya itu menyulut api kemarahan Claire.

"Apakah mungkin kamu melakukan s-sesuatu yang kamu tidak dapat beritahukan......"

Gogogogogogo......!

"I-Itu salah, Claire, ini–"

Apa yang datang ke Kamito pada saat itu adalah–

"Ini......Ini adalah pelajaran rahasia!"

Kata - kata itu.

"......Pelajaran rahasia!?"

Alis mata Claire meninggi.

......Gawat, sepertinya dia telah salah memilih kata - katanya.

"I-Itu benar, Ini adalah sebuah pelajaran tentang sesuatu yang tidak dapat dikatakan!"

Sambil masih memegang tangan Kamito, Rinslet mengatakan itu.

"S-Sebuah pelajaran tentang sesuatu yang tidak dapat dikatakan......"

"Tunggu, Rinslet, kata – kata itu akan menimbulkan kesalahpahaman–"

Tapi Claire telah memerah dari entah apalah yang dia bayangkan.

"......Kamito, si mesum ini, betapa genitnya!"

Pukul, pukul, pukul.

"Tenang dulu, kamu salah! Ini bukan sebuah pelajaran yang kamu bayangkan tadi!"

"Claire, bisakah kamu tolong tidak mengganggu pelajaran rahasia kami?"

Rinslet mengatakannya dengan sebuah senyum tenang.

"......K-Kamu, pergi dari Kamito!"

"Wah - wah, mengapa saya harus melakukan itu?"

Percikan terbang dari si gadis kucing neraka dan gadis penyihir es ini.

......Perkelahian biasanya telah dimulai.

"Ka-Kamito adalah roh pelayanku dan saya tidak akan memberikannya kepadamu!"

"Tidak, Kamito-san milikku!"

Keduanya masing – masing menarik satu sisi pipinya.

......Sebuah perkelahian antara dua elementalis kelas atas telah dimulai.

Sambil membuat tetesan air terbang, Keduanya bergumul dengan pakaian renang mereka satu sama lain.

Rinslet selalu berdiri dengan normal. Di dasar ada tumpukan pasir, Jadi disini ada tumpuan kaki.

Buah dada dan bokong yang dapat terlihat dari pakaian renang yang terbuka membuat Kamito memerah.

"M-Menyerahlah!"

Rinslet meletakkan tangannya ke buah dada Claire dan menarik pakaian renangnya.

Dan kemudian.

Tali bikini merahnya terlepas–

"......!?"

Waktu berhenti.

Claire dengan cepat menutupi buah dadanya dengan tangannya, tapi sudah terlambat.

Figur bukit tersembunyi yang kecil, imut itu telah tertanam pada pandangan Kamito.

"......A-Apa kamu melihatnya?"

Kamito menggangguk sejujurnya.

"A, uu......"

Claire merona merah sampai ke telinganya–

"......Fuaaaaan!?"

"Claire!"

Dan berlari dengan cepat menuju ke dalam hutan.

"Jeez......"

" A-Apakah saya telah melakukan sesuatu yang buruk......"

Rinslet sedang mengintrospeksi diri.

Hutan yang menyebar mengelilingi danau itu.

Walaupun itu adalah wilayah suci milik Raja Roh, mungkin saja ada roh yang berbahaya di dalam hutan.

Dia tau Claire adalah elementalis kelas atas – tapi seperti yang dia duga, dia masih khawatir.

Kamito menghela dan mengejar Claire yang menghilang ke dalam hutan.

Bagian 4[edit]

Sambil berlari di dalam hutan yang gelap itu–

Ka-Kamito melihat buah dadaku......!

Claire memerah.

Itu memalukan sampai ke titik wajahnya merasa akan terbakar.

Jeez, apa ini, apa ini, idiot!

Dia telah melihatnya telanjang bulat pada pertemuan pertamanya.

Tapi yang lalu dan sekarang jauh berbeda.

Tapi ,dia tidak tau mengapa......

M-Mengapa jantungku......berdetak sekencang ini.

Claire berhenti berlari dan menahan jantungnya yang berdetak kencang.

Itu benar, dia tidak membenci kenyataan bahwa dia telah melihatnya telanjang.

Bagi dia untuk melihat buah dadanya yang belum berkembang adalah sebuah syok untuknya.

B-Buah dada sekecil ini aneh, bukan......

Usap. Usap.

Sambil merasakan dadanya yang lembut, dia mengigit bibirnya.

Claire telah membacanya dalam sebuah buku.

Bahwa laki – laki menyukai perempuan berbuah dada besar.

Itu tentunya tidak mengecualikan Kamito–

Toh, Kamito terlihat bersenang – senang disamping Rinslet berbuah dada besar itu.

A-A-A-Apa apaan pelajaran rahasia yang tidak dapat dikatakan ini, k-kamu idiot!

Mengingatnya lagi, dia merasakan kemarahannya kembali menyala.

Apa coba yang mereka berdua lakukan di balik bayangan batu itu–

"S-S-Saya benar – benar tidak peduli tentang siapa yang dekat dengan dia......"

–Hanya saja dia mengatakan itu dengan sebuah cibiran.

Dia merasakan sebuah sensasi dingin di belakang lehernya.

"......Siapa itu!?"

Berbalik, dia menanyakan dengan sebuah suara tajam.

Dan.

"Hmm, kamu tidak kuduga cukup tajam, onee-chan. Tapi berpisah dengan sisa grupmu tidak bagus."

Muncul dari pepohonan seperti sebuah bayangan–

Seorang gadis berkerudung.

Rambut abu debu yang sedikit tampak. Pupil birunya yang transparan.

Seorang gadis muda yang bahkan lebih kecil posturnya dari Claire.

–Seorang anak – anak di tempat ini?

Claire curiga.

Dia kelihatannya bukan seorang gadis tuan putri dari «Institut Ritual Suci».

Kemungkinan yang tersisa adalah dia berasal dari tim lain.

“Apakah kamu ada urusan dengan saya?"

Claire bertanya sambil berjaga - jaga.

Apa yang dia rasakan barusan hampir mendekati keinginan membunuh.

Walaupun lawannya adalah seorang gadis kecil, dia tidak boleh lengah.

Gadis itu tertawa ringan.

"Saya akan membuatmu menghilang, onee-chan. Demi kepentingan nii-sama's."

"......!?"

Seketika, Claire bereaksi.

Air muncul dari tanah dan banyak tentakel terbentuk lalu menyerangnya.

......Seorang pengguna roh air!?

Tentakel air yang menggeliat itu menyabet ranting – ranting pohon disekeliling.

Claire mendarat diatas tanah dan melakukan pemanggilannya.

Penjaga api merah menyala, pengawas bara api abadi!

–Sekaranglah saatnya untuk mematuhi kontrak darah, datanglah dan lakukan perintahku!

"–Scarlet!"

Seekor kucing neraka terselubung api merah menyala muncul dari udara tipis.

Kucing neraka itu segera berubah menjadi sebuah cambuk ditangannya.

"Kamu, apa kamu tau siapa yang kamu lawan?"

"Tentu saja, Claire Rouge. Adik Ratu Bencana."

"Sepertinya kamu telah melakukan penyelidikanmu!"

Claire mengayunkan cambuk apinya ke bawah.

Menggambar sebuah garis merah di udara, itu dengan mudah menjatuhkan pepohonan di hutan itu.

Tapi tentakel air dari dalam tanah itu dengan mudah menghentikan cambuk api itu.

"Apa–"

"Tidak ada jalan bagi roh api onee-chan untuk dapat mengalahkan «Scylla»."

"......Scylla?"

Claire telah membaca nama itu di akademi.

Itu adalah nama dari sebuah roh militer khusus yang dapat digunakan siapapun. Flexibilitas untuk berganti kontraktor dirasakan terlalu berbahaya dan dia seharusnya telah disegel setelah Perang Ranbal–

Dan kemudian Claire sadar.

Jika dia adalah seorang pembunuh bayaran yang menggunakan roh militer yang disegel–

"Jangan - jangan, kamu yang menyerang kapal itu......kyaa!"

Dlaam sekejap, sebuah tentakel yang muncul dari dalam tanah mencengkram kaki Claire.

Tentakel itu menbungkus sekeliling kakinya dan mengangkatnya ke udara.

"......Benda sialan ini, lepaskan saya......!"

Dia mengayunkan Lidah Apinya dengan segenap kemampuannya tapi itu tidak melakukan apa apa ke roh air itu.

Roh lawannya adalah tandingan terburuk untuk roh apinya.

Bahkan, area ini melemahkan roh api karena jaraknya yang dekat dengan air.

Walaupun itu roh kelas tinggi seperti Scarlet sekalipun, menanggulangi hal itu sangat sulit.

Tentakel itu memasuki celah pakaian renangnya.

Mengelilingi pahanya, itu adalah sebuah perasaan mengerikan.

"......Ah, n, a-apa yang kamu lakukan, tidakkk......!"

"Fufu, sungguh penampilan yang memalukan, onee-chan. Tapi saya akan membuatmu menikmati itu segera."

Gadis itu mendekati Claire yang tidak dapat bergerak.

"......Mengapa kamu menargetkanku?"

"Karena onee-chan telah merusak nii-sama."

"......Nii-sama?"

Claire membuat sebuah realisasi. Orang yang muncul di pikirannya adalah–

"Apakah ini mengenai Kamito?"

"Jangan mengatakan nama nii-sama's seenteng itu."

Tentakel air itu menampar pipi Claire.

"Ku......"

"Jika saya membunuh onee-chan, nii-sama akan pasti terbangun."

"A-Apa yang kamu maksud dengan terbangun! Kamito adalah Kamito!"

"Jangan berkata seperti kamu tahu apa yang kamu katakan."

Sebuah suara yang mengigil sampai ke tulang. Claire bergemetar.

"Onee-chan, apa yang kamu tau tentang nii-sama?"

"Eh?"

Pada kata - katanya–

Claire melebarkan matanya.

......Itu benar. Saya tidak tau apa –apa tentang Kamito.

Contohnya, gadis ini yang memanggil Kamito nii-sama.

Gadis ini mungkin tau.

Masa lalu Kamito yang Claire tidak tau.

Dia merasakan sakit di hatinya. Dia tidak tau mengapa.

“Selamat tinggal, onee-chan."

Gadis ini memberikannya perintah membunuh apa yang ditangkapnya–

"......!?"

Kemudian sebuah garis pedang berkelebat.

"–Claire!"

Bagian 5[edit]

Pisau pendek itu menancap di atas tanah.

Gadis itu melompat dan mendarat setelah berputar di udara.

Segera saat kekuatan Scylla melemah, Scarlet kembali ke bentuk kucing nerakanya dan menghancurkan tentakel air itu. Kamito menangkap Claire yang terlepas dengan kedua tangannya.

"Ka-Kamito......"

"Claire, mundur."

Kamito meletakkan Claire ke atas tanah dan berputar menghadap gadis itu.

Saya tidak berpikir seorang elementalis akan berada disini–

Dia menyesal tidak membawa Est bersamanya.

Dalam pertukaran serangan terakhir, dia mengerti. Lawannya adalah seorang pembunuh bayaran terampil.

Pisau pendek itu menghilang. Itu adalah produk dari satu –satunya sihir roh yang Kamito bisa pakai sebagai elementalis dari seorang roh pedang – Penempa SenjataPenghasil Senjata.

Jadi keberadaan yang saya rasakan di danau itu adalah orang ini......

Kamito melihat gadis itu. Dia tidak dapat melihat wajahnya karena kerudung itu.

Bibir gadis itu bergetar singkat dan terbuka.

"......Nii-sama."

Pada saat yang bersamaan, roh air itu membentuk tentakelnya kembali dan menyerang.

"Kahaa!"

Dia menerima sebuah serangan di perutnya.

Kamito terbang dan terperosok ke dalam tanah berlumpur itu.

"Ouch......"

"Kamito!"

Claire berlari ke samping Kamito yang tumbang.

"Mengapa kamu tidak menghindar! Kamu seharusnya bisa melakukannya."

Claire menutup mulutnya dengat erat......itu benar, dia tidak dapat menghindarinya.

"......Kamu melindungiku?"

"Saya tidak dapat membiarkan sebuah luka menyentuh wajah ojou - sama."

Kamito menyapu darah dari bibirnya dan dengan gemetar berdiri.

Sekali lagi, tentakel – tentakel itu mengayun seperti cambuk.

Kamito mengangkat kedua tangannya dan menahannya. Tapi tidak peduli seberapa kuat dia, seorang manusia tidak dapat menandingi seorang roh.

Sebuah serangan tumpul. Suara tulang dihancurkan terdengar.

"......Aguu!"

"Nii-sama, mengapa kamu mengganggu saya?"

Gadis itu mengutarakan ini pada Kamito yang terjatuh dengan suara sedih.

"......Nii-sama?"

Dia yakin dia telah memanggilnya seperti itu juga pada awalnya.

Gadis yang melanggar batas. Dari bawah kerudung itu, Dia melihat rambut abu debu melambai.

"Kamu, jangan - jangan kamu adala–"

Mata Kamito melebar.

Gadis itu melambai tanganya dan memberi perintah untuk menyerang–

"Taring Beku, tembuslah – «Panah Beku»!"

Dalam sekejap, banyak panah es menusuk roh air itu.

Roh air itu membeku dalam sekejap. Kemudian–

"Sekarang!"

"–Makan ini, Bola Api Berkobar!"

Bola api Claire tepat sasaran.

Kobaran api yang liar.

Roh air yang membeku itu musnah.

"Hmph, itu mudah."

Menggunakan sebuah busur ajaib, Rinslet menyapu rambutnya ke samping.

Walaupun dia melakukan tindakan yang riang, nafasnya tidak teratur dalam mengejar Kamito.

"Rinslet, kamu menyelamatkanku......"

Kamito berdiri sambil mengerang kesakitan.

Rinslet dan Claire mempersiapkan Elemental Waffe masing - masing dan menghadapi gadis pembunuh bayaran itu.

"Aww, dia terbunuh. Ini berakhir begini jika saya tidak menggunakan «Jester's Vise»."

Menjulurkan lidahnya dengan tingkah anak kecil, dia membuka kerudungnya.

STnBD V04 145.jpg

"......!?"

Twin tail abu debu. Sebuah wajah indah, nan muda.

Kamito berdiri terkejut pada wajah yang hampir tidak berubah dari empat tahun lalu.

"Muir......"

"Muir?"

Claire mengerutkan alisnya.

"Muir, mengapa......"

"Nii-sama, kamu telah menjadi sangat lemah."

The girl menghela sedih dan berbalik.

"Tapi jangan khawatir, Muir pasti akan membangunkanmu."

Mengatakan itu, dia menghilang ke dalam hutan–

"Berhenti–" "Disana!"

"Tunggu!"

Kamito menghentikan Rinslet dan Claire yang baru saja akan mengejar.

"Hey, mengapa kamu menghentikan kami!"

"–Kamu tidak dapat mengalahkannya."

Keduanya menelan ludah saat melihat ekspresi serius Kamito.

Dengan itu, si gadis pembunuh bayaran menghilang sepenuhnya.


Chapter 6: Retakan[edit]

Bagian 1[edit]

"—Muir Alenstarl."

Kamito menyebut nama tersebut seraya merebah diatas ranjang dalam kamar redup.

Peringkat kedua dari «Instructional School» yang memperoleh gelar «Monster».

......Kenapa dia disini?

Dia berpikir bahwa mereka tidak akan bertemu lagi setelah hari itu.

Namun mereka akhirnya bertemu dalam cara yang buruk.

Muir Alenstarl merupakan seorang ahli elementalis militer.

Untuk alasan apa gadis itu, seorang anak yatim piatu dari «Instructional School», untuk datang kemari-

Bukan karena dia tidak dapat menebak. Hanya beberapa minggu sebelumnya, Kamito bertarung dengan anak yatim lainnya dari «Instructional School», Jio Inzagi.

Dalang dari insiden waktu itu-

......Apakah gadis itu memiliki hubungan dengan Restia?

Tangan kiri dibawah sarung tangan kulit terasa sakit.

Dalam waktu yang bersamaan. Ketukan datang dari pintu kamarnya.

"......Iya?"

Seraya menekan rusuknya yang sakit, Kamito bangkit dari ranjang.

"Siapa?"

Dia membuka pintu dan-

"......Nyaa ♪"

Seekor kucing manis disana.

Tidak, lebih tepatnya, seseorang mengenakan telinga kucing diatas kepala,Tuan putri kedua kerajaan.

"......"

"......"

"......Um. Fianna, apa yang kamu lakukan?"

Kamito bertanya, terheran-heran.

"A-Aku datang untuk melayani tuanku-nyan ♪"

"......"

Udara membeku.

"Huuh, ke-kenapa kamu membuatku mengatakan itu......"

"Tidak, aku tidak benar-benar paham......"

Fianna membersihkan tenggorokannya dan berkata,

"Ini adalah Ritual penyembuhan."

"Ritual penyembuhan?"

Kamito mengulangi kata-kata itu seperti burung beo.

"Kamito-kun, kamu terluka, bukan?"

"Iya, tapi..... tidak terlalu parah."

"Bohong."

Fianna menyentuh tulang rusuk Kamito.

"Owwwwww!"

"Lihat, kamu tidak bisa menipuku."

Itu merupakan luka yang ia terima ketika terkena serangan spirit air milik Muir.

Dia telah menyembunyikan luka itu, namun sepertinya penguna spirit Holy dapat melihat itu.

"Ayo. Berbaring diatas ranjang."

"Owaa."

Fianna menarik tangan Kamito.

Kamito didorong diatas ranjang disaat bersamaan.

STnBD V04 149.jpg

Perasaan didorong melalui dadanya membuat jantung Kamito berdenyut tanpa ia sadari.

"Aku menghargai untuk penyembuhannya tapi...kenapa telinga kucing?"

"Fufu, ini alat untuk ritual......ah, alat untuk ritual-nyan ♪"

Fianna dengan cepat mengembangkan akhir dari kalimatnya.

"Bohong! Aku pikir ada sesuatu aneh dengan itu! "

Pagi itu ketika gadis ini mengemasi barangnya, dia yakin telinga kucing itu sudah ada disana.

Serta barang lain termasuk tali, lilin dan cambuk…gadis ini menyimpan semuanya dengan alasan sebagai alat ritual, namun kebanyakan masih mencurigakan mengenai benda-benda itu.

"Um, Kamito, kamu tidak suka hal seperti ini?"

Fianna bertanya dengan ekspresi gugup.

" Tidak, aku tidak be-benci hal ini.."

Kamito segera menggelengkan kepalanya.

Fianna dengan telinga kucing pastilah manis. Benar-benar manis.

Cukup banyak hingga membuat dirinya ingin memeliharanya.

"...... Aku senang. Ini sangatlah memalukan."

Fianna membuat ekspresi lega dan relax.

Suara menawan dari pakaian yang berdesir. Nafas yang dekat dari telinga Kamito.

"……Fianna!? Da-Dadamu menekan tubuhku."

" Jangan bergerak. Kita harus bersentuhan atau tidak akan ada efeknya."

" Aku mengerti teorinya tapi……"

Kamito menahan nafasnya.

"......Nn, chuu......ahn."

Bibir dari putri manis dan jemarinya bergerak luwes diatas rusuk memar Kamito. Lidah yang basah bergerak diatas lukanya terasa geli.

" Fufu, Kamito-kun, apakah rasanya enak?"

"......!"

Bahkan jika ditanya dalam situasi seperti itu, tidak mungkin dia dapat menjawab dengan jujur.

….Tapi ini sangat bekerja, ritual sihir Fianna maksudku.

Seperti yang diharapkan dari mantan Putri Elit «Divine Ritual Instititute».

Meskipun ini bukan spesialisnya, kemampuannya ini merupakan top-class.

Tidak hanya luka namun kelelahan diseluruh tubuh dapat dirasakan Kamito.

Kamito berhenti meronta dan membiarkan tubuhnya dirawat oleh Fianna.

"……Tapi aku selalu terkejut akan ini. Kemampuan regenerative dari Kamito-kun, maksudku."

" Iya, ini juga misteri bagiku."

Kamito tidak pernah memperhatikan hal tersebut, namun sepertinya tampak seperti itu.

Ini seperti berkat dari perkembangan divine power dari seorang elementalis mengalir didalam tubuhnya.

Tapi dalam kasus Kamito, ini merupakan tingkat abnormal.

" Apakah dikarenakan kamu memiliki kontrak dengan Est?"

"Awalnya aku berpikir itu......"

Atribut dari spirit terkontrak mempengaruhi sang kontraktor tidaklah langka.

Contohnya, kemampuan Claire untuk membuat rambutnya berdiri pada bagian akhir dikarenakan ini. Dikarenakan atribut metal Est sebagai spirit pedang, tubuh Kamito telah menjadi kuat sebagai hasilnya.

" Tapi ini tidak tampak seperti hanya itu."

Fianna memiringkan kepalanya.

Diantara anak yatim di «Instructional School» yang menerima Cursed Armament Seal, beberapa menguasai kemampuan regenerative yang melampaui batas manusia.

Akan tetapi, tentu saja, tidak ada Cursed Armament Seal pada Kamito.

" Teknik Fianna sangat bagus."

Kamito mengangkat pundaknya seraya mengatakan itu dan menerima balasan,

" Ini sebaliknya."

" Sebaliknya?"

"Sihir spirit atribut holy milikku hanya sedikit bekerja pada tubuh Kamito."

" Apa maksudmu?"

" Aku tak tahu."

Fianna menggelengkan kepalanya.

" Tentu saja, ini tidak berarti benar-benar tidak efektif—ini ditolak. Oleh karena itu aku harus menyentuhmu seperti ini."

Tekan.

"......Fianna!?"

"Lihat, tubuhmu sangat keras. Lebih relaks lagi."

Fianna tersenyum menggoda dan memberi telinga Kamito gigitan bermain.

"Tu-Tunggu, sudah kuduga ini......"

" Seperti kataku, aku tidak dapat melakukan hal ini dengan siapa saja, kau tahu?"

Untuk Fianna yang menekan bibirnya bersamaan dengan tatapan tidak puas,

"Ka-Kamu seharusnya melakukan hal seperti ini pada orang yang kamu su-sukai......"

Fianna meletakkan tangannya pada benang dari seragamnya dibagian pundak—

Dogooooon!

Tiba-tiba pintu kamar meledak menjadi pecahan

"......!?"

Gogogogogogogogo......!

Yang berdiri disana ---

Ialah Claire dengan Lidah api menyala ditangannya.

" Hey, Kamito, ap-ap-ap-apa yang sedang kamu lakukan?"

Kamito dengan serius mempersiapkan dirinya untuk kematian.

Bagian 2[edit]

" Sekarang, pilih! Cara yang kamu sukai untuk dipanggang!"

" Sudah kubilang, itu tadi ritual penyembuhan!!"

Lima menit kemudian. Kamito dibuat untuk melakukan seiza diatas lantai berdebu.

Dihadapannya adalah Claire yang membunyikan cambuknya.

Twintails merah rambutnya berdiri pada bagian akhir…..terlihat dia cukup marah.

Claire menatap rendah ke arah Kamito dengan pandangan dingin—

" Hmph, dengan telinga kucing? Dan menekanmu dengan dada besar dipo-posisi seperti itu?"

"Guu......"

Kamito merintih didalam hatinya.

......Ini buruk. Apapun yang ia katakan, telinga kucing itu mengambil semua kepercayaan.

"...... Nah, itu tak apa."

Ujar Claire, yang mengangkat kedua pundaknya dan mendesah dalam.

" Ka-karena apapun yang kamu lakukan dengan ratu erotis itu tidak ada hubungannya denganku."

" Lalu kenapa kamu marah….."

" Di-Diam!"

Dikarenakan sorotan Claire, Kamito terdiam.

…..Bagaimanapun juga, dia merasa lega.

Mood Claire masih buruk —tapi sepertinya dia akan mengabaikan situasi saat ini.

Namun percakapan tidak berhenti disana.

"Kamito."

Dia mendadak menjadi sangat serius—

" Aku punya sesuatu untuk ditanyakan padamu."

"......"

……Nah, aku rasa ini sudah terduga.

Kamito membuat ketetapan hati untuk ini.

Atau lebih tepatnya, dia telah berpikir tentang ini sejak beberapa saat lalu.

" Gadis yang menyerangku— kamu kenal dia, bukan?"

" Iya."

" Apa yang dia maksudkan dengan nii-sama? Siapa gadis itu?"

"......"

Kecurigaan Claire memang beralasan.

Pembunuh yang telah mengincar hidupnya merupakan mantan teammate dan teman.

Diintrogasi merupakan hal wajar.

" Ada apa? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun?"

Suara Claire sedikit tercampur kejengkelan.

Tapi Kamito mencegah kedua matanya dari Claire dan tetap diam.

Aku......

Dia merasa bahwa dia harus mengungkapkan hubungannya dengan Muir Alenstarl. Kamito tahu itu dalam kepalanya.

Tapi bila itu dilakukan, dia juga akan harus mengungkapkan bahwa dia merupakan pelarian dari «Instructional School».

Masa kanak-kanak Kamito ketika dia memiliki teknik bertarung yang dibutuhkan untuk menjadi pembunuh menempa dirinya.

Sesuatu yang tak dapat dia hapus, masa lalu yang tak menyenangkan.

Jika dia tahu kebenaran mengenaiku, Claire pasti—

Kamito mungkin dicemooh. Atau mungkin —dia dikasihani.

Bagaimanapun, akan berbeda dari sekarang.

Kamito takut akan hal itu.

Diriku yang lemah mungkin dikarenakan ini….

Dia mencemooh dirinya sendiri seraya menghindari pandangan Claire.

Dia tidak akan berpikir akan ini dua bulan lalu.

Dia tidak peduli bagaimana orang lain melihatnya.

Jika dia dapat mendapatkan Restia kembali, dan itu semua yang ia butuhkan — itu apa yang ia pikirkan.

"Claire, maaf......"

"...... Kenapa?"

Suara Claire sedikit bergetar.

" Apakah ini sesuatu yang tak dapat kamu katakan bahkan padaku?"

"......"

" Mungkinkah mantan kekasih—"

" Sepertinya."

Tsukkomi Kamito dengan setengah mata tertutup.

" Lalu kenapa tidak bisa kamu katakan?"

"—Dapatkan kamu tidak mempercayaiku jika aku tidak memberitahumu?"

Suara dingin dengan sedikit kejengkelan bahkan membuat shock Kamito sendiri.

Kamito menghembus napas dan memandang Claire yang kedua matanya terbuka lebar dalam shock.

" Bu-Bukan seperti itu. Tapi—"

" Tapi apa?"

"......"

Pertanyaan Claire sangat jelas.

Kamito juga mengerti bahwa dia khawatir demi dirinya.

Tapi—tidak, itu adalah alasannya, itu kenapa Kamito tidak dapat memberitahu Claire.

" Tapi......"

Claire mengunyah bibirnya.

" Karena Kamito tidak akan cerita sama sekali tentang dirinya sendiri.”

" Itu......"

" Dan bukan hanya ini. Bahkan tentang gadis spirit kegelapan—"

"Tentang Restia tidak ada hubungannya dengan Claire."

Kamito menggeleng kepalanya dengan dingin. Bahwa dia menunjukkan penolakan penuh dari pertanyaan Claire.

"...... Seperti itukah, aku paham."

Claire mengeluarkan nafas secara bergelombang dan—

Memunggungi Kamito, dia meninggalkan kamar tersebut dalam kesunyian.

Bagian 3[edit]

" Aku orang paling buruk......"

Duduk pada ranjang berkeriat-keriut, Kamito bergumam itu.

Dia menyesali melampiaskan kemarahannya pada Claire tanpa alasan.

Perkataan itu, tidak mungkin dia dapat mendiskusikan masa lalunya dengan gadis itu.

Jika dia tahu masa laluku, dia akan......

Disaat itu, Ellis dan lainnya memasuki kamarnya.

" Kamito, apakah terjadi sesuatu dengan Claire?"

Ellis memeriksa ruangan.

" Iya, hanya sedikit sesuatu......"

Merasa tidak nyaman, Kamito menggeser pandangannya.

“Kamu bertengkar lagi?”

Rinslet mendesah. Kamito mengangguk dengan ambigu.

" Gadis itu apa boleh buat. Nah, dia akan kembali sebelum tarian."

"Tarian?"

" Upacara pembukaan tarian. Tentu saja, Kamito juga akan menghadirinya, bukan?"

Fianna bertanya.

" Tidak, aku tidak apa-apa."

"Apa yang kamu bilang!?" "Apa!?" "Kamito-kun!"

Ketika Kamito menggeleng kepalanya, ketiga menangis disaat yang sama.

"Ke-Kenapa?"

"...... Aku tidak suka tarian."

Kamito memiliki sedikit trauma mengenai tarian.

Blade Dance yang ia ikuti tiga tahun yang lalu sebagai Ren Ashbell. Mengingat seluruh undangan tarian yang ia terima selama waktu itu membuatnya merinding bahkan sampai sekarang.

Tentu saja, dia tidak pergi dengan berpakaian wanita saat ini sehingga tidak ada hubungan secara langsung, namun dia masih tidak dapat menghapus perasaan itu.

" Itu dan aku tidak punya pakaian formal."

" Mereka akan meminjamkanmu pakaian formal bila kamu meminta."

" Aku bilang aku tidak akan pergi."

" Hmm, aku berpikir jika itu ide bagus?"

Fianna tertawa ringan.

"...... Apa maksudmu?"

" Partisipan Blade dance akan datang saat tarian, berarti Ren Ashbell itu juga akan hadir."

"......!"

" Fufu, jadi apa yang akan kamu lakukan?"

Untuk Fianna memasang senyum menggoda, Kamito—

"...... Baiklah."

Dengan enggan menyetujui untuk pergi.

...... Tarian, huh.

Claire juga akan memakai gaun— itu yang muncul kepala Kamito.

"...... Aku harus minta maaf."

Kamito beranjak dari ranjang berkeriat-keriut.

" Kamito-san, mau pergi kemana?"

" Untuk menemukan kucing. Dia pasti telah tersesat."


Chapter 7: Gadis Roh Kegelapan[edit]

Bagian 1[edit]

"Apa itu, bodoh, bodoh, bodoh, kamito bodoh!"

Dengan rambut berdiri, Claire berlari melalui lorong asrama.

Dia menyeka air mata yang berada di matanya dengan lengan bajunya.

---Apakah ada hubunganya dengan Claire?

Kata-kata yang di ulang oleh kamito di dalam kepalanya

Aku tidak dipercaya oleh Kamito......

Dia menjadi sangat sedih ketika dia berpikir bahwa .

---Onee-chan, apa yang Anda tahu tentang nii-sama?

Gadis assassin itu telah mengatakan semuanya pada Claire.

Itu benar , aku tak tahu apa-apa tentang Kamito ......

Hatinya terluka.

Bagian dalam tenggorokannya terasa menyakitkan.

Apa perasaan ini, ia bertanya-tanya.

......Kenapa kau tidak memberitahu apa-apa?

Dia berhenti berjalan, menyeka air matanya dan kemudian berakat bersama gadis-gadis.

Gadis-gadis di gaun berbalik menatapnya dengan ekspresi bingung.

...... Itu benar, tarian malam ini.

Yang benar adalah bahwa ia telah mengantisipasi hal itu sejak kemarin.

Seiring dengan baju renang baru, ia juga menyiapkan baju baru.

Ini, tidak seperti aku memakai itu untuk dia atau apa......

Claire menghapus wajah Kamito itu dari pikirannya.

Tapi aku bertanya-tanya apa jenis wajah dia membuat jika dia melihat baju ku......

Sementara zonasi keluar dan berpikir tentang hal semacam itu, wajahnya menjadi merah.

Ap, apa yang aku pikirkan. Aku sudah tidak peduli tentang Ka,Kamito!

Sementara dia menggigit bibirnya.

Tiba-tiba gelombang panas datang dari bawah, sebagai seorang perempuan jahat dibalut api muncul.

"......Apa yang salah, Scarlet?"

Claire bertanya sambil membungkuk.

"Apakah Anda ingin camilan? Saya telah mengambil kalengan tuna di kamar."

Scarlet menggelengkan kepalanya.

Dan kemudian ia melihat rantai perak gemetar di mulut Scarlet.

"Itu......"

Seekor kucing liontin perak.

Kehadiran bahwa Kamito telah membeli untuk ulang tahunnya dua minggu lalu.

Itu tampak seperti barang yang telah dibawa keluar dari kotak perhiasan di mana ia ditempatkan.

"Ap, apa itu, ya ampun......"

Claire mengambil liontin itu ke tangannya.

Hadiah ulang tahun pertama yang pernah dia terima dari anak laki-laki.

Dia telah benar-benar bahagia saat itu.

"......"

Dia memegang liontin ke dadanya seperti harta karun.

"......Itu benar. kembali ke sana juga sebagian salahku."

Dia mendesah sambil menepuk kepala Scarlet.

......Aku hanya bisa menjadi jujur ​​ketika aku tidak di depannya.

Bagian 2[edit]

"...... Kemana sih Claire perginya?"

Kamito sedang melintasi lorong asrama untuk mencari Claire.

...... Sepertinya, dia benar-benar menghilang.

Apapun masalahnya, struktur aslinya adalah desain yang sama sekali aneh dari zaman mitos. Dengan perubahan diulang selama beberapa ratus tahun, lorong terbentang dalam setiap cara lain untuk membentuk sebuah labirin. Semua kamar terlihat sama, sehingga memberi rasa seseorang dari arah itu.

...... Dengan hal semacam ini, tidak tersesat terasa aneh.

Dengan matahari terbenam, upacara mendekat.

Aku harus kembali ke kamarku. Kami mungkin hanya saling merindukan, setelah semua.

Dan Kamito berhenti.

Di tengah lorong itu ada taman lengkap dengan air mancur.

"Ohh, itu luar biasa ......"

Tatapannya tertarik oleh pemandangan yang indah itu.

Tak terhitung bunga yang tumbuh dan roh cahaya kecil berkumpul di sana.

Air mengalir dari air mancur penuh dengan kemurnian.

Ini mungkin di mana putri gadis menyucikan diri.

Sambil memikirkan itu, Kamito mendekat ke kebun.

Roh-roh cahaya mengambang di udara jauh seperti laba-laba yang baru lahir.

Dekat air mancur ada lima patung batu.

Gambar-gambar dari lima Lords Elemental yang mengendalikan Astral zero.

Seorang prajurit menghunus pedang terik --- Lord Fire Elemental <<Volcanicus>>.

Seorang anak dengan mata jenis --- Lord Air Elemental <<Belphal>>.

Besi palu-menghunus raksasa --- Lord Earth Elemental <<Lode gear>>.

Seorang wanita memeluk kendi air ke dadanya --- Lord Water Elemental <<Iseria Seaward>>.

Seorang pria tua dengan skala dan staf uskup --- Lord Holy Elemental <<Alexandros>>.

Mereka yang membawa kemakmuran atau kesulitan untuk semua umat manusia, raja-raja semua roh.

Tentu saja, roh tidak benar- benar terlihat seperti patung mereka.

Gambar-gambar di sini adalah hanya representasi dari apa yang orang bayangkan kualitas mereka menjadi ketika dimasukkan ke dalam bentuk manusia.

"Ini juga peninggalan dari zaman mitos......"

Patung mereka setidaknya produk dari beberapa ratus tahun terakhir. Kamito tidak memiliki banyak pengetahuan tentang reruntuhan bersejarah tapi ia tahu itu banyak.

Batu-batu yang digunakan adalah batu tidak hanya normal juga. Kristal roh yang berharga telah digunakan.

Semakin dekat dan melihat,

"Hm?"

Kamito melihat sesuatu tidak pada tempatnya.

Kelima patung yang disalin serupa dengan Lords Elemental. Di samping mereka adalah ---

Dengan sesuatu yang tersisa di atas lutut, patung lain ada di sana.

Itu adalah sesuatu yang sama sekali asing di kebun.

...... Kenapa ini di sini?

Penampilan tragis patung dengan hanya apa yang ada di bawah lutut yang tersisa. Ini tidak dihilangkan setelah itu, jadi itu jelas merupakan warisan kuno yang penting.

"......!?"

Hanya itu. Sesuatu melayang ke dalam pikiran Kamito.

Ini kuil sejati dari kuil sejati zaman kuno ......

Seiring dengan lima Lords Elemental, ada satu tempat yang tidak wajar kehilangan sesuatu.

Est membisikkan sesuatu saat itu ......

Mereka telah terburu-buru sehingga ia kehilangan itu tapi ......

"Jika aku ingat ......"

"--- Yang hilang di era berikutnya, Lord Darkness Elemental « Ren Ashdoll »."

Tiba-tiba dari belakang terdengar suara ---

Kamito segera berbalik.

Seorang gadis cantik dengan rambut hitam dibalut gaun warna gelap berdiri di samping air mancur.

Dia memiliki senyum menggoda. Lemah lembut pupil senja.

Yang telah ia cari --- sang gadis yang selalu ingin ia temui ada di sana.

"Restia ......"

"Untuk seseorang untuk mencari kucing, kamu tampak seperti telah melihat hantu."

Dia tersenyum dan berjalan ke arahnya dengan langkah ringan.

"......"

Kamito membeku diam. Dia hanya berdiri dengan mata terbuka lebar.

Gadis kegelapan datang sebelum Kamito dan ia berjinjit.

"Kamu benar-benar tumbuh. Meskipun kamu hanya sekitar setinggiku waktu itu."

"Restia, kamu ......"

Kamito kembali dari shock.

"Jangan membuat seperti wajah yang menyeramkan, Kamito."

"......!"

Sebuah suara lembut dan manis yang memikat seseorang ke dalam tidur.

Itu tidak berubah. Tidak satu hal pun, bahkan bukan itu kerasnya sejak tiga tahun lalu telah berubah.

Segel di tangan kirinya memanas seperti terbakar.

...... Kenapa kau membuat semacam wajahnya!

--- Siapa kau?

--- Kenapa kau melemparkan hatiku ke dalam kekacauan menggunakan bentuk Restia ini!

Yang benar adalah dia benar-benar ingin berteriak hal-hal pada gadis di hadapannya.

Tapi ---

Tudingan itu tertahan di tenggorokannya.

...... Aku tahu. Dia adalah Restia yang asli.

Tak peduli apa bentuk yang dia ambil, tak ada cara dia dapat keliru padanya.

Gadis yang pernah menjadi cahaya pertama untuk Kamito yang telah menutup hatinya.

Dia telah tinggal di sisinya dan memberinya kehangatan dan kedamaian.

Tapi sekarang ---

"......"

Kamito keras menggigit bibirnya.

Tiga tahun lalu, ia berpikir itu tak pernah berubah.

Dia tak tahu mengapa ia berubah seperti ini.

Mungkin, sesuatu telah rusak ketika dia membuat «harapan».

Tiga tahun lalu, aku ---

Hanya apa keinginan yang diminta dari Lord Elemental .

Dia memiliki banyak hal yang ingin ditanyakan.

Dan banyak hal yang perlu bertanya.

Kamito membuka mulutnya sambil tetap sedikit lupa.

"Restia ......"

"Hm?"

Roh kegelapan memiringkan kepalanya dengan cara yang indah.

"Roh militer yang menyerang kapal terbang, itu yang kamu yang lakukan?"

"Itu adalah perintah « dia ». Itu bukan aku."

Restia menjawab itu dan duduk di patung rusak.

Dengan kakinya bersama dan mengistirahatkan dagu di tangannya, ia memiliki keindahan seorang dewi jatuh.

"Apakah itu mengacu pada Ren Ashbell palsu?"

"Dia bukan pengganti kamu, Kamito."

Restia tersenyum lembut.

Sama seperti orang akan digunakan saat peringatan anak muda.

"Dia juga seorang Ren Ashbell asli."

"Apa maksudmu?"

"Maafkan aku, tapi aku tak bisa mengungkapkan itu padamu untuk saat ini."

Restia diam-diam menurunkan kepalanya.

"...... Kenapa kamu muncul sebelum aku sekarang?"

"Untuk memperingatkanmu."

"Memperingatkanku?"

"Masa lalu, kamu mencoba untuk menghancurkan apa yang kamu sayangi."

"Masa laluku ......"

Kamito bergumam ---

"---« Instructional School » anak yatim, ya."

"Ya. Muir Alenstarl telah mengabaikan perintah « dia » dan mengamuk sendiri. Nah, sepertinya« dia »akan menutup matanya sekalipun tentang masalah ini."

"Kenapa Muir menargetkan kami?"

"Bukankah itu jelas. Karena onii-chan kesayangannya diambil darinya."

"......"

Ya, Muir Alenstarl belum menunjukkan tanda-tanda bahwa Kamito adalah target-nya.

Kalau dia, tak akan ada cara dia akan diabaikan ketika dia tak bisa menggunakan Elemental Waffe nya.

Claire adalah elementalist unggul. Rinslet dan Ellis juga, dan Fianna juga mengontrak roh ksatria yang kuat.

Tapi meskipun mereka elementalist, mereka masih gadis normal.

Mereka adalah ojou-sama yang lembut, tidak jujur​​, dan menyukai teh hitam dan permen manis.

Tapi anak-anak dari «Instructional School» berbeda ---

Seperti Kamito yang telah menjadi ---

Mereka adalah eksistensi yang hanya dibesarkan dengan pengetahuan tentang cara untuk melampiaskan malapetaka dan pembantaian.

Itu bukan tarian pedang demi kenikmatan --- itu hanya untuk perang.

Di dunia mulia ojou-sama dari akademi tinggal sama sekali berbeda.

Bahkan jika mereka adalah perwakilan Tarian Pedang, tak ada kemungkinan mereka bisa menang dalam pertempuran.

"--- Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Kamito memberikan erangan kecil.

Claire, Ellis, Fianna, Rinslet dan Est ---

"Aku pasti akan melindungi kawanku."

"Aku ingin tahu apakah kamu bisa?"

Restia menaruh jari ke bibirnya ---

"Para anak yatim piatu dari«Instructional School»seperti masa lalumu. Aku tidak berpikir kamu bisa menghentikan mereka ketika kamu punya pertempuran keras terhadap orang seperti Jio Inzagi."

"Itu tidak masalah. Aku akan melindungi mereka dengan mengorbankan hidupku."

"Hmm, aku sedikit cemburu."

"--- Itu sebabnya, aku akan melindungimu juga, Restia."

"......!?"

Mata Restia melebar.

Itu pupil senja akhirnya muncul kegelisahan.

"--- Bagian darimu belum berubah sedikitpun."

Dia mengangkat bahu dan perlahan berdiri.

Dia melangkah di depannya dan ---

"aku senang, Kamito."

Berjingkat dan mencium Kamito.

"......!?"

Kamito membeku selama beberapa detik.

Bagian dalam kepalanya telah mati rasa dan menjadi putih bersih.

"...... Mm."

Restia perlahan memisahkan bibirnya dengan Kamito.

Dan dia sekali lagi berbisik ke telinga Kamito yang tercengang.

"Aku akan menunggu, Kamito. Untuk kebangkitan kamu sebagai penerus Raja Iblis tersebut."

"Res ...... tia ......?"

Kamito mengulurkan tangan tapi meraih hanyalah udara tipis.

Gadis roh kegelapan telah berubah menjadi kabut hitam dan menghilang di depan Kamito.

Bagian 3[edit]

"......"

Claire berdiri di bawah bayangan gedung menuju taman.

Dia telah menemukan Kamito berbicara dengan gadis roh kegelapan.

Itu gadis roh kegelapan itu berbahaya --- ia segera memanggil Scarlet tapi terhenti dari menyerang ketika dia melihat dia berbicara dengan dia.

Mereka seperti dua kekasih yang telah berpisah untuk waktu yang lama.

Seperti itu, Claire telah kehilangan waktu untuk keluar.

Dia tidak bisa mendengar isi pembicaraan mereka dengan baik dari lorong.

Jika dia ingin, dia mungkin bisa mendengarnya, tetapi belajar tentang masa lalu Kamito dengan cara ini merasa seperti dia melakukan sesuatu yang licik.

Berpikir seperti itu, dia akhirnya hanya melihat.

Dia melihat keduanya ciuman.

"Ah ---"

Splash.

Air mata jatuh ke tanah.

Mengapa air mata ......

Dia mengusap matanya dengan lengan seragamnya.

Mengapa, mengapa aku juga .....

Mengapa --- dadanya ini sakit.

......Kamito tidak membencinya. Dia tidak melawan sama sekali.

Air matanya tidak akan berhenti mengalir.

Claire berlari dari tempat itu dan berlari menyusuri lorong.

Bagian 4[edit]

Pulau apung «Ragna Ys» gua bawah tanah di dasar suci.

Sebuah tempat yang tidak ada tapi «Divine Ritual Institute»putri gadis kerajaan diizinkan untuk memasuki --- saat ini, ada dua set jejak gemilang di sana.

Satu milik anak yatim dari «Sekolah Instruksional», Lily Flame.

Dia membaca laporan kepada tuannya di depannya.

"Muir Alenstarl kehilangan Death Gaze dalam pertempuran. Eksekutif militer negara itu akan menjadi marah. "

"Biarkan mereka. Mereka hanya sekelompok geezers yang hanya berpikir tentang bagaimana melindungi diri. "

Partai mendengarkan itu dengan nada tanpa ampun.

Gadis dengan rambut hitam panjang yang jatuh ke pinggangnya.

Mengenakan mantel hitam dengan topeng merah yang tampak seperti dewa sengit menutupi wajahnya.

Lily tidak terkejut sedikit pun oleh respon tuannya. Sekutu mereka seharusnya, yang Teokrasi Alpha, hanya alat lain baginya untuk mencapai tujuannya.

"Tapi Kardinal, pasokan roh militer dari sekarang ---"

"Lily, aku sudah memberitahumu untuk tidak menggunakan nama itu di sini, aku tidak punya?"

"Saya minta maaf. --- Ren Ashbell."

Lily menggigil mendengar suara dingin tuannya.

Langkah kaki bergema di seluruh gua bawah tanah yang diam. Pancaran roh batu yang mereka bawa tercermin dari ukiran aneh di dinding. Itu adalah misteri mengapa bagian ini di gua bawah tanah yang bahkan «Divine Ritual Institute» kedua sang putri kerajaan dilarang tahu ini .

Mungkin petinggi putri kerajaan --- juga orang dekat dengan «spirit maidens» bisa masuk tanpa menjadi aneh.

"Tampaknya Restia telah menghubunginya."

Topeng crimson yang merupakan ciri gadis---Ren Ashbell berkata.

"Ya. Dia mengabaikan perintah anda dan --- "

"Roh kegelapan bukanlah bawahan tapi sama dalam organisasi. Dia tidak memiliki kewajiban untuk mendengarkanku."

"......Ya. "

Lily menggigit bibirnya, tidak puas. Ini frustrasi bahwa potongan berkumpul untuk membantu tuannya bergerak sendiri.

Orang-orang yang telah bersumpah kepada Kardinal --- Ren Ashbell, terdiri dari Lily saja. Sesama yatim piatu dari «Sekolah Instruksional» memikirkan apa-apa selain Kazehaya Kamito dan dia tak tahu apa yang roh gadis kegelapan pikir.

"Aku akan bertemu dengan dia juga malam ini."

"Apakah anda akan menghadiri pesta dansa?"

Lily bertanya dengan suara yang sedikit meragukan.

"Ren Ashbell adalah pemenang Blade Dance sebelumnya. Tidak ada cara dia tak bisa hadir. "

"Tapi persiapan apa yang akan dikenakan ---"

"Aku memiliki setidaknya satu gaun. Meskipun aku meninggalkan mayoritas untuk adikku. "

"Anda punya adik?"

"......"

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu.

Berpikir ia marah tuannya, Lily cepat berubah topik.

"Muir melaporkan bahwa dia tampaknya belum terbangun."

"Kita sudah tidak punya waktu untuk menunggu untuk itu. Jika ia tak bisa menahannya, maka itu layak sebagai pengganti Raja Iblis --- kita hanya harus mengubah rencana. "

"--- Itu tidak akan dilakukan. Itu tugas Muir untuk membangunkan nii-sama."

Kata suara dari dalam kegelapan di belakang mereka.

Orang yang muncul adalah gadis dengan rambut abu-abu abu --- Muir Alenstarl.

"Muir, apa yang kau lakukan!?"

Lily mengangkat suara tajam.

"Aku hanya ingin bermain-main sedikit. Dengan onee-chan yang merusak nii-sama. "

"......Bertindak padamu sendiri! Kau menggunakan roh militer lain tanpa izin. "

"Bukan sesuatu yang penting. Hanya roh militer khusus penggunaan «Scylla». Meskipun itu terlalu lemah dan mati. Aku bertanya-tanya apakah aku bisa menggunakan roh yang lebih baik lain kali. "

"......!"

Untuk Muir yang terengah-engah pipinya, Lily menanggapi dengan memegang kepalanya di tangannya.

Bahkan jika itu «Scylla» yang bukan roh perang kelas murni, itu masih bagian dari kekuatan militer kekaisaran. Mereka eksekutif militer tidak akan senang jika mereka mendengar tentang hal ini.

"Dengar. Kelompok di imperium itu takkan memasok kami dengan roh militer sampai Blade Dance benar-benar dimulai. "

"Hmph, kami sudah bertindak jinak cukup baik."

"Itu karena kau mengabaikan perintah dan kehilangan Death Gaze."

"Aku hanya ingin bermain dengan nii-sama."

Muir cemberut bibirnya.

"Pokoknya, berperilaku diri sendiri sampai Blade Dance sesungguhnya dimulai. Jangan meletakkan tangan padanya sampai kau menerima pesanan --- "

"Pesanan?"

Muir memiringkan kepalanya heran.

Dan cahaya di matanya menghilang.

"Hei, Lily, yang akan memerintahkan Muir?"

"---!?"

Menggigil berlari ke bawah tulang belakang Lily.

Seluruh tubuhnya berlari dingin dengan rasa takut. Rasanya seperti seseorang sedang memegang hatinya di tangan mereka.

"Hei, katakan padaku ---"

Roh segel di tangan kanan Muir mengeluarkan cahaya tak menyenangkan ---

"Muir Alenstarl."

Ren Ashbell memanggilnya.

"Ya?"

"Kamu adalah sama denganku dalam organisasi. Tak seorang pun akan memerintahkanmu. "

Muir tertawa dengan senyum.

"Tak apa-apa jika kamu mengerti. Satu-satunya yang dapat memerintahkan Muir adalah nii-sama. "

Dengan suasana hati Muir dipulihkan, Lily menghela napas lega.

"Tapi ini mengganggu. Aku tidak bisa bermain dengan onee-chan tanpa roh militer. "

"Lalu kenapa tidak mencoba menggunakan ini ---« Monster »."

Ren Ashbell melepas cincinnya dan melemparkannya ke Muir.

"Ini?"

Muir menatap cincin itu ingin tahu.

Itu adalah cincin perak polos. Karakter tipis dari bahasa roh terukir ke tepi luarnya.

"Roh pemusnahan«Tiamat »--- senjata roh yang diciptakan untuk melawan mantan tentara bayangan Elemental Tuhan. Hal itu disesuaikan oleh orang-orang dari« Divine Ritual Institute ». Hal ini dapat menahan« Jester Vise » oke. "

"......Kamu memberikan ini untuk Muir? "

"Gunakan sesuai keinginan mu."

"Aku tak benar-benar mengerti mengapa. Nah, itu bagus, aku akan mengambilnya. "

"Muir, roh militer bukan mainan!"

"Mereka adalah mainan. Setidaknya untuk Muir. "

Dia mengangkat bahunya di Lily ---

Dan menjilat cincin yang kini menghiasi jari tengahnya.

"--- Sebentar lagi, nii-sama. Muir akan menghapus orang-orang usil onee-chan."

Sementara berjalan melalui gua bawah tanah yang gelap, Muir tersenyum sendiri.

Ketika dia telah dibawa ke «Sekolah Instruksional», saat usianya empat tahun.

Lahir di sebuah desa dingin di perbatasan Kekaisaran, dia bukan dari darah bangsawan dan belum memiliki kemampuan untuk roh kontrak.

Penduduk desa bersukacita karena telah ditanggung sebuah elementalist dan membesarkannya mahal.

Dan kemudian mereka membawanya sebelum roh penjaga desa pada hari ulang tahun keempat.

Mereka ingin Muir berkontraksi dengan roh wali sehingga desa akan makmur.

Tapi ketika ia membuat kontrak, roh wali berlari liar.

Api yang telah melindungi desa sekarang membakarnya dan roh juga hancur sendiri.

Daya Muir --- dia memiliki kemampuan luar biasa untuk mendorong roh gila.

Setelah dibuang oleh desanya, dia dijemput oleh sekolah instruksional ---

Di sana, ia menjadi «Moster».

Hatinya hilang, «Persenjataan Segel Terkutuk» terpatri di tubuh mudanya dan dia diajarkan hanyalah teknik pembantaian.

Karena kemampuan dalam kelahiran nya, Muir tak pernah bisa terhubung dengan roh kontrak.

Hari-hari hanya diisi dengan isolasi dan pembantaian perlahan diukir pergi hatinya.

Di tengah hari-hari --- ia bertemu dengan anak itu telah dibawa ke fasilitas tersebut.

"Kau selalu sendirian saja, ya."

"Itu benar. Muir selalu sendirian. Satu-satunya Muir berbicara dengan orang-orang yang dibunuh. "

"Lalu aku akan menjadi temanmu."

"Hmph, betapa bodohnya. Berbicara tentang teman-teman di tempat ini. "

"Lalu saudara. Muir adalah adik. "

"......Apa kau memutuskan ini sendiri, tolol. "

Percakapan pertama dia dengan dia. Ini adalah sesuatu yang pasti ia tak ingat.

"--- Nii-sama Muir saja."

Ketika dia muncul dari gua bawah tanah, matahari sebagian besar terbenam.

Ini adalah tentang waktu upacara Blade Dance yang mulai di istana.

"Itu sebabnya aku tidak akan mengampuni mereka. Aku pasti akan mendapatkan mereka, mereka mendekatkan diri dengan nii-sama."


Chapter 8: Pentas Tarian[edit]

Disaat malam. Upacara Blade dance dilaksanakan dalam kastil yang tersedia sebagai tempat menginap bagi para perwakilan.

Sudah banyak tamu kehormatan berkumpul dan melakukan pembicaraan ramah dalam aula megah dari kastil.

Terdapat musik elegan mengalir dan kandelara disusun secara boros menggunakan spirit crystals sebagai dekorasinya.

Seafood ekstravagan, daging, dan buah terletak diatas meja terbaris pada pusat ruangan.

Mereka yang diundang dalam upacara merupakan elementalis perwakilan dari berbagai negara dan anggota kerajaan berpangkat tinggi dan bangsawan.

“Kali ini, perwakilan negaraku akan memperoleh kemenangan.”

“Apa? Elementalis paling hebat ada White Knights milikku, kamu tahu?”

Walaupun mereka berperilaku sopan di permukaan, mereka tidak menahan kata-kata perang sengit. Berpakaian dalam jas formal, Kamito melirik pada bangsawan tersebut dengan ekspresi muak.

… Ya ampun, ini bukan seperti kalian yang melakukan blade dance…

Disisi lain, para gadis yang berpartisipasi dalam Blade Dance memiliki ekspresi gugup.

Mereka sama-sama kompeten, elementalis top dipilih oleh bangsa-bangsa utama dari benua.

Gadis-gadis itu hampir seumuran dengan Kamito, dan dikarenakan syarat untuk ikut serta dalam Blade Dance ialah putri yang harus berumur 20 tahun dan lebih muda, diikuti oleh peramal oleh Lord Elemental.

Ini tidak terbatas pada Blade Dance. Kebanyakan upacara penting persembahan pada spirit memiliki syarat sama. Spirit menyukai gadis murni sebagai persembahan terbaik.

“…Bagaimanapun, mereka masih belum disini, huh?”

Memegang sepiring sate daging bebek, Kamito melihat ke sekelilingnya dengan kejam.

Dia masih belum melihat teman satu timnya, para Ojou-sama.

Mungkin, mereka menemui kesulitan dalam mengenakan gaun mereka—namun apa yang sedang dipikirannya apakah Claire, yang ia tengkari akan datang.

Bagaimanapun juga, Kamito tidak akan dapat bertemu dengannya didalam kastil nanti.

Melihat ke pintu masuk aula, dia menangkap sosok dari salah satu putri tertangkap ditempat.

“Tolong jangan bawa hewanmu kedalam!”

“Um, ini bukan hewan buas! Serigala ini adalah teman dari hutan!”

“Bahkan jika dia teman, tidak berarti tidak!”

…Ini tampak gadis Druid itu memimpin serigala masuk ke dalam aula.

Meskipun dia berada di tim yang berbeda, sedikit memalukan ketika mereka mewakili akademi yang sama.

Mendesah dalam kepasrahan, Kamito menaruh pandangannya ke arah bawah.

“Est, apa kamu ingin sesuatu?”

Dia bertanya pada gadis spirit pedang yang sedang memegang piring.

“Berikutnya aku ingin ikan, Kamito.”

“Hn, kamu gadis baik yang tidak pilih-pilih makanan. Semua Ojou-sama tidak punya diet yang seimbang.”

*Suri-suri* *Nade-Nade*

Selagi memujinya, Kamito membelai kepala Est dan membuatnya berkedip.

Mengenakan gaun putih murni, Est terlihat menawan, seperti peri salju.

“…Est manis.”

Membelai kepala Est, Kamito tidak sadar mengeluarkan suaranya.

Kedua telinga kecil Est mengejang.

“Kamito?”

“Ah, tidak ada apa-apa…”

Kamito menggaruk kepalanya dalam upaya menghindari pertanyaan Est.

… Itu tadi sedikit memalukan.

“Kamito, tolong katakan itu sekali lagi.”

“Uh?”

“Sekali lagi.”

Est memandang Kamito dengan serius melalui kedua mata misterius miliknya.

“E-Est manis.”

“Kamito, sekali lagi.”

“Kamu manis, Est.”

“Lagi…”

“Kamu manis, Est.”

“Kamito-kun, apa yang sedang kamu lakukan?”

“Owa!”

Berbalik—Fianna, berpakaian gaun putih, memandang ke arah Kamito dengan mata penuh kekesalan.

“Erm, itu tadi, err…”

Dalam upaya untuk menjelaskan dalam kebingungan—

“Sebelum itu, apa kamu tidak punya sesuatu untuk dikatakan?”

“Eh? A-Ahh…”

Bahkan Kamito bukan orang yang tidak ramah untuk tidak menyadari itu. Tidak, sepertinya dia tidak mengetahuinya sampai hal itu disebutkan, dia mungkin memang orang yang tidak ramah.

Kamito menelan air ludahnya.

Ini merupakan gaun putih, dengan bagian terbuka di bagian dadanya. Meskipun desain berani menunjukkan kulitnya, alasan mengapa Kamito dapat merasakan keanggunan dan kecantikannya dikarenakan pemiliknya merupakan putri sesungguhnya.

“…Wa-Warna putih juga cocok untukmu.”

“Apa hanya itu?”

Terlihat kesal, sang putri merengutkan bibirnya.

“…Erm, kamu menggunakan pads.”

“Aku akan marah, kamu tahu?”

“Tu-Tunggu!”

Fianna menggembungkan kedua pipinya. Kamito menggeleng dalam kebingungan.

Dan lalu—

“…Kamu sangat cantik.”

Kamito akhirnya memasukan pikiran jujurnya pada mulutnya.

“Hn, kamu lulus. Kamito, setelan jasmu juga cocok untukmu.”

“…Kamu ini. Membuatku mengatakan hal memalukan dipublik.”

“Fufu, ini hukuman karena tidak memujiku sejak awal.”

Kamito hanya bisa mendesah terhadap Fianna, yang tersenyum curang.

“Hn, itu mengingatkanku, dimana Est?”

Sebelum dia mengetahuinya, Kamito menyadari kalau Est telah menghilang.

Melihat ke arah sekitarnya, Kamito melihat Est berjalan menuju dessert corner seraya memegangi piring miliknya.

Bertemu dengan pandangan Kamito, Est segera membuang mukanya.

“Sepertinya kamu melukai nona peri.”

“Kenapa Est merasa terluka?”

“Fufu, Kamu tidak boleh memuji gadis lain dihadapan seorang gadis.”

Fianna dengan murung menekan dada dengan jarinya.

“Ka-Kamito-san, ternyata kamu ada disini.”

Kali ini, adalah Rinslet, yang datang dalam gaun.

Itu merupakan gaun menarik berwarna biru laut. Rambut pirang keperakan yang bercahaya telah di ikat, dan penampilannya ini seperti sanak dari ratu salju yang memerintah di suatu negeri es.

Kedua pipinya sedikit bergelora dan memerah, serta bibirnya memiliki warna mawar yang mempesona.

Dalam seragam biasanya penampilan Rinslet memang menawan, tapi—

Rinslet yang berdandan sangat cantik hingga membuat Kamito hampir tergagap-gagap.

“Rinslet, kamu cantik.”

“Eh?”

Rinslet membuka kedua matanya dengan lebar.

Wajahnya berubah merah dalam sekejap mata.

“Fua, a-apa yang kamu katakan?!”

Ekspresi ratu salju meleleh dalam seketika.

“Hmm, Kamito-kun, kamu mengatakan hal ini pada siapapun, ya? Seperti yang diharapkan dari raja iblis dimalam hari.”

“Aku hanya melakukan apa yang kamu nasihatkan, Fianna!”

Kamito menatap dengan kesal pada Fianna yang bibirnya merenggut tidak senang.

“Itu mengingatku, apa Claire bersama kalian berdua?”

“Dia baru saja kembali ke kamarnya. Kamito-san, kamu belum bertemu dengannya?”

“…Iya”

Ini tampak seperti ketika Kamito pergi mencarinya, keduanya melewati satu sama lain.

“Ya ampun, gadis itu, dia sangat menyusahkan sejak dulu.”

Rinslet mengembungkan kedua pipinya.

…Ini berarti dia masih marah.

Kamito membuat desahan berat dalam pikirannya. Jika Claire datang ke tarian, Kamito bahkan dapat bertahan dengan masakannya nanti atau sejenisnya — itu yang ia pikirkan.

“…E-Erm, Kamito-san.”

“Uh?”

Rinslet dengan segan memanggil Kamito.

“Erm, karena kita disini, err…”

*Uhuk* *uhuk* Sang Ojou-sama batuk beberapa kali.

Lalu, sepertinya dia memperoleh kebulatan tekadnya—

“Maukah kamu berdansa denganku?”

“…Aku?”

Kamito terkejut.

“…Apa tidak boleh?”

“Tidak, aku senang bahwa kalau mengajakku, tapi apa tidak apa-apa denganku?”

“I-Iya, aku sedikit takut menari dengan pria lain.”

“…Begitukah. Akan tetapi, aku hanya tahu langkah dasar.”

Kamito diajari langkah dansa oleh Greyworth tiga tahun yang lalu.

Sejujurnya, Kamito tidak bisa bilang kalau dia percaya diri, dan mereka diyakini tidak terlalu fashionis saat ini.

“Ka-Kalau begitu, aku akan mengajarimu!”

Akan tetapi, Rinslet mengeluarkan suaranya dengan gembira.

“Hn, seperti itukah?Rinslet, jika kamu tidak keberatan, aku mengandalkanmu.”

Kamito adalah anak laki-laki seumurannya.

Dapat berdansa dengan gadis manis seperti Rinslet,membuat jantungnya berdebar dengan jujurnya.

Dengan lembut Kamito memegang tangan gemulai Rinslet yang tertutupi oleh sarung tangan putih.

“…In-Ini tangan Kamito-san….”

Rinslet memerah mukanya.

“…Li-Liciknya, aku juga.”

Lalu, Fianna menggenggam tangan Kamito yang lain.

“H-Hei, Fianna!?Kita tidak bisa berdansa seperti ini …”

“Itu benar! Cepat lepaskan tangannya!”

Fianna dan Rinslet menarik kedua tangan Kamito.

Dada dari keduanya menyentuh lengan Kamito dan membuatnya kebingungan.

…Sebelum mereka menyadirinya, ketiganya menarik perhatian disekeliling mereka.

“Aku pikir apa yang mereka lakukan?” “Pertengkaran?” “Mereka seperti perwakilan dari Areshia Spirit Academy.” “Apa mereka tidak tahu tata krama di aula dansa?” “Itu Elementalist laki-laki.” “Ah,itu—” “Memaksa kedua gadis yang tidak bersedia…” “Mengoleksi dua dari targetnya.” “Dia pasti mengkoleksi target malamnya juga” “Benar-benar buruk!” “Tapi, dia sedikit keren …”

Banyak bisikan saling bertukar satu demi satu.

Eh, kenapa celaan itu hanya berfokus padaku….

Lalu—

“Ka-Kau disana! Jangan mengganggu moral publik didalam kehadiran lord elemental!”

Suara gagah dan serius terdengar mendekat.

“E-Ellis!?”

Orang yang mendekat adalah Ellis dalam gaunnya.

Ellis menarik lengan Kamito, dan dengan mahirnya dapat melepaskannya dari dua ojou-sama.

“Kyaa, apa yang sedang kamu lakukan?”

“Kapten, apa yang kamu lakukan?!”

“Bukan, apa yang kalian berdua lakukan sekarang, ya ampun …”

Meletakkan tangannya pada pinggul, Ellis dengan tegas memarahi dua orang yang komplain.

“Kita datang kemari mewakili akademi kita. Kalian berdua seharusnya lebih tahu diri.”

Lalu, gadis ini menatap Kamito kali ini.

“Kamito, kamu juga—”

Dia menjadi kaku saat itu.

“Ada apa, Ellis?”

Berpikir dirinya akan dinasihati, Kamito dilepaskan.

Ellis sedikit tersipu dan menyatukan jari-jarinya dengan malu didepan dadanya.

“E-Erm, bahkan ini mengejutkan jas itu cocok denganmu. Aku rasa ini yang mereka katakan dengan “Pakaian membentuk pria”.”

“Seperti itukah? Aku tidak merasa nyaman dengan jas ini, tapi—”

Seraya malu-malu dan menggaruk kepalanya, Kamito memperhatikan penampilan Ellis dalam gaunnya.

Yang ia kenakan adalah gaun putih murni yang brilian. Kontras dengan image gagah Ellis, dan juga sangat girlish dengan banyak hiasan tambahan berupa frill.

“Ellis, gaunmu juga cocok denganmu. Kamu seperti seorang putri dan terlihat manis.”

“Ap…”

Ponytailnya terangkat ke atas.

“Ah, uh… Ti-Tidak mungkin, a-aku manis…!”

Ellis berubah merah dan panik.

“Um, Kamito-kun!”

“Kamito-san?”

Fianna dan Rinslet menatap Kamito.

“A-Ada apa…”

“—Sepertinya kabar yang beredar adalah benar, Kazehaya Kamito.”

“…?”

Ketika Kamito berbalik pada suara dari kata-kata menggigit itu, gadis yang tidak asing baginya menatapnya dengan tajam.

“Ka-Kau!?”

Gadis yang mengenakan gaun azure dimana lencana naga terdapat di area dada. Dia mengenakan topi dengan sebuah bulu yang terikat pada topinya.

Leonora Lancaster.

Sebagai kapten dari Ksatria Naga Kaisar, dia merupakan ace dari Dracunia

“Seperti yang kuduga, seharusnya kuselesaikan waktu itu.”

Saat Leonora menatap Kamito, dia menggigit bibirnya dengan penyesalan.

Udara dingin menjalar didalam punggung Kamito.

“Putri Naga Leonora Lancaster, aku telah mendengar kabar mengenaimu belakang ini.”

Tiba-tiba, Ellis meletakkan tangannya pada dadanya, menghadap wanita itu, dan memberi rasa hormat sebagai ksatria.

“Dan siapa kamu?”

“Perwakilan Areishia Spirit Academy, Ellis Fahrengart.”

“Fahrengarts— dia yang ditahan itu Velsaria Eva?”

Ellis mengangkat kepalanya dan mengangguk.

“Kali ini, Aneue tidak mengikuti dikarenakan beberapa keadaan, namun aku telah mendengar bahwa kamu ksatria yang jujur dan tidak egois. Aku akan senang dapat bertarung dengan ksatria sepertimu.”

Dia menghadap Leonora dan menjulurkan tangan dominannya.

“Sepertinya ksatria hebat bahkan ada di kerajaan ini.”

Leonora tersenyum, dan menangkap tangan Ellis tanpa ragu-ragu.

Dengan dua belah pihak sebagai sesama ksatria, mereka mungkin beberapa hal yang dapat diempatikan satu dengan lain.

…Pastinya,mereka berdua seperti lem.

Kamito membuat senyum masam dalam hatinya.

“Akan tetapi, hanya disayangkan saja. Ksatria hebat seperti dirimu dipegang sebagai kekasih Kazehaya Kamito—”

“Hei, tunggu dulu.”

Kamito berteriak dalam kebingungan.

Di-Dia, apa yang dia—

“Ah, kekasih!?”

Ellis memerah hingga sampai ke kedua telinganya dan berteriak.

“Ti-Tidak tahu malu … A-aku kekasihnya—”

“Itu benar, Ellis, tolong sanggah itu!”

“Aku… bukan kekasihnya …tapi jika Kamito mengharapkannya, bahkan aku akan …”

…Eh? Kenapa dia mengomel?

“…Anak laki-laki yang menakutkan. Bahkan kamu merusak ksatria hebat sepertinya.”

“Aku bilang bukan seperti itu! Ellis, tolong cepat selesaikan salah paham ini!”

“…Di-Diam! Apa kamu tidak puas kalau aku menjadi kekasihmu?!”

“Apa yang kamu katakan!?”

Kamito menjawab dengan ketus, dan saat itu.

Keributan kecil muncul di pintu masuk aula.

“Gadis itu akhirnya tiba.”

Rinslet menggerutu.

Kamito segera melihat ke arah pintu masuk.

Orang di pusat keributan adalah—

“Claire!?”

Claire Rouge, yang mengenakan gaun crimson.

Twintail merah miliknya diikat dengan ribbon. Dia mengenakan high heels merah yang tersemir halus.

Jepitan sisi dari roknya dengan lace tertempel disana, dia memasuki aula.

Dadanya yang kecil namun keseimbangan komposisinya cukup menawan.

Dia gadis cantik, menawan seperti mawar dan bangsawan sebagai kucing hutan.

Penampilan Claire itu membuat Kamito terkagum hingga membuatnya menarik nafasnya.

Aura yang ia miliki menutupi penampilan gadis lain disekelilingnya.

Dia tidak hanya membuat kagum Kamoto. Semua orang di aura melepaskan nafas kekaguman padanya.

“Seperti yang diharapkan dari adik Rubia-sama. Dia dilahirkan dengan paras cantik.”

Ini sangat menjengkelkan tapi dia kalah— Fianna mengangkat kedua pundaknya.

“Ini sudah sangat lama terakhir kalinya aku melihat Claire mengenakan gaun.”

Rinslet sedikit membuka mulutnya.

Keributan di aula meningkat menjadi lebih besar.

“Hei, bukankah gadis berambut merah itu juga perwakilan dari Blade Dance.”

“Um, jadi ini apa yang mereka katakan bahwa spirit menyukai gadis cantik dan murni, tentu—”

“Hei, apakah kamu akan mengajak seseorang untuk berdansa?”

Sepertinya sekelompok bangsawan muda menaruh mata mereka pada Claire.

Seluruh bisikan saling bertukar dan membuat Kamito sedikit kesal.

…Kalian tidak cocok untuk menjadi partner ojou-sama kucing neraka.

Dia mengutuk didalam hatinya seperti membuang kekesalan yang entah asalnya.

Saat itu, Claire menoleh, dan mata keduanya bertemu.

“Claire—”

Saat Kamito akan memanggilnya—

Dia dengan sekejap mengalihkan pandangannya, dan membuat Kamito menelan kata-katanya.

…Sepertinya dia masih marah.

Kehilangan timing memanggilnya, Kamito terpaku.

Claire mengacuhkan bangsawan yang memandangnya, dan berjalan menuju pusat aula.

Kamito mulai mendengar beberapa suara dari keributan disana.

“Rambut merah seperti lautan api itu … Jangan bilang padaku, dia putri dari keluarga Duke Elstein?”

“Adik dari Ratu Bencana yang membawa malapetaka pada kerajaan Ordesia?”

“…Benar-benar pertanda buruk. Dia gadis iblis.”

Tampak ada beberapa orang yang mengetahui silsilah Claire diantara partisipan dari aula.

Bisikan tidak nyaman menyebar seperti api liar—

Bukan berarti dia tidak dapat mendengar itu, namun, Claire tetap tenang.

Setelahnya, bangsawan muda melangkah maju dihadapannya.

“Maukah kamu berdansa satu lagu denganku, ojou-san berambut api?”

Aura darinya terlihat sembrono tapi dia cukup tampan.

Dia sepertinya orang tertentu yang berpangkat tinggi diantara bangsawan, dikarenakan dia memimpin kelompok pengikut disekelilingnya.

“Hei, hei, kamu serius?”

“Tuan muda, aku juga khawatir tentang permainanmu dengan api.”

Pengikutnya membuat senyum kecut. Anak laki-laki seperti anggota kerajaan dari suatu negara.

“Dia itu…”

Kamito merintih dalam tenggorokannya.

Dia tidak dapat melihat ketulusan orang yang mengajak berdansa dari ekspresi anak laki-laki itu. Hanya saja dia tahu tentang Claire yang merupakan adik dari Ratu Bencana, dan memanggilnya karena penasaran.

Claire—

“Maafkan aku, tapi aku harus menolaknya.”

Dengan dingin Claire menolak ajakan anak laki-laki itu.

Sudah sewajarnya. Gadis kucing neraka itu tidak akan terikat pada siapapun secara emosional.

“Apa itu?”

Salah satu pengikut menatap dengan berani.

“Sudah, sudah, tidak apa-apa untuk sesekali menjadi gadis berkeinginan kuat.”

Anak laki-laki itu mengangguk, penuh ketenangan, dan menangkap lengan Claire dengan paksa.

Dan lalu—

“Sekarang, gadis cantik, aku akan memberi tanganmu ciuman—”

“…Huh?”

Claire menjadi kaku.

Apa yang kamu pikirkan, dasar bangsawan bodoh!?

Sebagai putri elementalist, ciuman merupakan upacara paling suci dari kontrak spirit.

Bahkan jika itu ditangan, sangat tidak dimaafkan dan tak masuk akal untuk memintanya.

Dengan sikap kasarnya, suara keributan timbul dari sekitarnya.

“…Jangan sentuh aku!”

Claire berteriak dengan tajamnya.

Biasanya, dia akan bersikap angkuh, namun kenyataannya dia adalah oujo-sama yang tidak terbiasa dengan pria. Suaranya sedikit bergetar.

Tidak dapat melihat itu, Kamito hendak pergi, dan saat itu—

“Apa yang kamu pikirkan melakukan ini saat ini. Aku putra mahkota dari kerajaan Balsutan.”

“Tidak, lepaskan!Kau—”

*Pan*—Suara lemparan tinggi menggema dalam aula.

Claire menampar anak laki-laki itu.

Dia berbalik dan berlari menuju pintu masuk aula.

“Sialan dia, wajahku—”

“Benar-benar tidak beradab…”

“Itu karena dia adik dari Ratu Bencana.”

Sang putra mahkota dari Balsutan dan pengikutnya menaikan kata-kata kritik.

… Kamu seharusnya bersyukur karena tidak dijadikan abu!

Kamito mengutuk dan setelahnya berlari mengejar Claire—

“Tunggu, Claire!”

“Kamito-san!”

Lalu, Rinslet menangkap lengannya.

“Rinslet, kenapa kamu menghentikanku?!”

“Aku yang akan pergi.”

“Tapi—”

“Kamito-san, jika kamu, orang yang sedang dalam perselisihan pergi, itu akan hanya membuat hal lebih menyusahkan. Bagaimanapun, aku adalah temannya sejak kanak-kanak, jadi aku paham gadis itu.”

“…”

Kamito berpikir untuk beberapa detik—

“…Aku paham. Aku percayakan Claire padamu.”

Dia mengangguk menurut.

Rinslet berlari pergi mengejar Claire.

“Kamito-kun”

Saat itu, Fianna berbisik pada telinga Kamito.

“Apa?”

“Dia disini—”

“Dia?”

Kamito terkejut.

Keributan, bahkan lebih besar dari tadi, terjadi di pintu masuk aula.

Orang dengan riwayat tertinggi di Blade Dance telah muncul.

Suara keras sepatu menggema dan dia memasuki aula.

Mengenakan gaun hitam memancar seperti ratu mengontrol malam hari.

Dia adalah gadis berambut hitam dengan wajah tertutupi topeng merah scarlet.

Dia adalah Penari Pedang terkuat—Ren Ashbell.

Chapter 9: Tanda Kegelapan[edit]

Bagian 1[edit]

Itu Ren Ashbell lainnya.

Gadis yang dibalut aura kegelapan yang memberikan tekanan luar biasa.

Jika sembarangan mendekat akan menjadi depresi— ilusi itu terasa.

Begitu keributan itu selesai, keheningan yang menyakitkan turun.

"......."

Semua orang menelan ludah ketika mengawasi gadis itu.

Claire juga, tidak ada yang mendekatinya.

Hawa dingin menjalar di tulang belakang Kamito.

..... Aku, apa aku bisa menang melawannya?

Sebelum dia menyadarinya, aliran musik sudah berhenti.

Blade Dancer terkuat berhenti di tengah-tengah ruangan—

Dan berbalik lalu berjalan ke arah Kamito.

"......!?"

"Kamito-kun." "Kamito."

Secara tidak sadar Fianna meraih tengan Kamito. Bahkan Ellis yang ingin menangkap Ren Ashbell sebagai targetnya, malah gemetan ketakutan.

"....."

Kamito dipindahkan sebelum mereka di dalam sebuah mode pelindung.

Ren Ashbell berhenti tepat di depan Kamito.

"— Jadi, kau Kazehaya Kamito, ya."

Suaranya seperti Baja padat.

"Ya."

Kamito mengangguk.

"Senang bertemu dengan mu— Aku ingin tahu, apakah ini cocok? Ren Ashbell."

Menjilati bibirnya dengan sinis, Kamito menatap tajam topeng merah.

Namun, dia tidak bisa membaca emosi apapun dari mata merah di dalamnya.

"....?"

Untuk Kamito yang kebingungan —

"Kazehaya Kamito, maukah kau menari denganku untuk satu lagu?"

— Gadis itu menyarankan hal yang tak terduga.

...... Tidak, ini bukan saran. Ini perintah

Nada suaranya damai, tapi itu sebuah penolakan — Nadanya mempunyai kekuatan yang tidak akan membiarkan hal itu.

Kamito berbalik ke arah Ellis dan Fianna—

"Maaf, bisakah kau membiarkanku pergi sebentar?"

"Ta-Tapi, Kamito— "

".....Okay. Ellis, ayo kita pergi."

Kemudian, Fianna meraih tangan Ellis. Dia tahu identitas Kamito sebagai Ren Ashbell asli. Putri bijaksana sudah memahami situasi ini.

"Apakah kau punya pengalaman dalam menari?"

"Jika itu klasik, ya."

Kamito menjawab tajam dan memegang tangan Ren Ashbell itu.

Pertunjukan musik yang terhenti pun dimulai kembali.



Bagian 2[edit]

Di dalam hutam gelap yang mengelilingi benteng, Claire berlari.

Berbagai ranting pohon tersangkut di gaun merah, yang tercabik-cabik.

Lumpur menempel di sepatu hak tinggi merahnya. Luka yang tak terhitung jumlahnya, muncul di kulit halus Claire.

Kenapa........

Tidak peduli sudah berapa lama berlalu, tapi adegan itu tidak bisa pergi dari pikirannya.

Ketika gadis roh kegelapan itu mencium Kamito, saat itu juga.

...... I-Ini bukan berarti aku memikirkan semua tentangnya!

Claire menggeleng, seolah menyingkirkan perasaan jengkelnya.

Itu hanyalah mengabaikan tuannya dan melakukan hal semacam itu dengan gadis lain, tidak bisa dimaafkan.

...... Itu benar, cuma karena itu.

Tapi—

Lalu kenapa, apakah hatinya terluka separah ini?

Tepat sebelum, memegang tangan pria itu, Claire membenci hal itu.

Kalau itu Kamito, dia tidak akan melakukan apapun dengan kekerasan.

Dia sering menggoda Claire, selalu memperlakukannya seperti anak kecil, kadang mengatakan hal yang berarti, tapi tetap saja.

—Tetap saja, dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.

Sebelum dia menyadarinya, dia sudah sampai di dana dari pemurnian sore hari.

Didalam hutan yang sunyi. Banyak sekali roh yang melayang di atas danau.

Claire memeluk lututnya dan duduk di tepi danau.

Gaun yang sudah dia siapkan sudah kotor dan lagi dia tidak bisa kembali ke pesta dansa.

Rambutnya yang kusut dengan gaunnya yang hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi. "Ada apa dengannya, idiot itu...."

Claire mendesah, dengan suasana hati yang sangat menderita.

Dengan sebuah gelembung cahaya, air mata mulai jatuh ke tanah.

"...... Itu salah. Yang bodoh adalah aku."

Sekali lagi dia tidak bisa jujur.

Jika dia punya, dia bisa menari dengan Kamito sekarang juga—

Pada saat itu. Dari dalam hutan, terdengar langkah kaki.

".... Kamito?"

Dia buru-buru menyeka air matanya.

Tapi yang muncul dari dalam hutan bukanlah Kamito.

"Astaga, seberapa jauh lagi kau akan berlari!"

"Rinslet..."

Claire membuka matanya.

Sambil mengatur nafas, Rinslet beristirahat di samping Claire.

"Wah, pemandangan yang lumayan enak dipandang."

"Kau juga."

"I-Itu karena kau berlari sangat jauh."

Gaun Rinslet terkoyak dan daun dan ranting-ranting tersangkut di rambutnya.

"Meskipun aku baru saja memakai baju baru....."

Dia melemaskan bahunya.

Claire mengalihkan pandangannya.

".... Kenapa kau datang kesini?"

"Aku datang untuk mentertawai dada malangmu. Gaunmu terlalu mencolok."

"...... A-Apa kau bilang!"

Twintails nya berdiri tegak seperti api.

Rinslet menyibak rambutnya dan—

"Akhirnya kau kembali normal."

Tersenyum cerah.

"......"

"Apakah kau bertengkar lagi dengan Kamito?"

"Gu...."

Claire menggigit bibirnya.

".... Itu, itu salahnya. Dia tidak akan mengatakan apa-apa padaku."

"Apa maksudmu?'

"Maksudku, itu..... Bukankah kau tertarik dengan masa lalu Kamito?"

"Masa lalu Kamito?"

Rinslet sedikit memiringkan kepalanya—

"Yah, bohong kalau aku bilang tidak."

"Aku ingin tahu, apa dia tidak mempercayaiku?"

Twintails Claire melemas.

"Kenapa mengatakan hal itu?"

"Karena, dia tidak akan mengatakan apa-apa...."

"Dia tidak bisa mengatakannya kepadamu karena kau berharga baginya— Hal itu mungkin saja."

"Itu....."

Claire cemberut dan merenung.

"......... Aku, Aku tidak yakin kalau itu benar."

Sebenarnya, hanya itu yang bisa menjelaskan semuanya.

Tapi—

"Kau hanya seorang anak kecil, kan."

"Di-Diam..."

Erang Claire.

"Di-Diam..." Erang Claire

"Bahkan aku mengerti banyak hal...."

Tapi dia merasa tidak nyaman, jadi hal itu tidak bisa menolong.

Jika itu tentang seseorang yang dia tidak perdulikan, dia tidak akan memiliki perasaan seperti ini.

Karena itu Kamito— tidak membicarakan tentang masa lalunya.

Menyadari hal itu, jantung Claire berdebar.

Ha-Hal bodoh apa yang sedang ku pikirkan!

Pipinya memerah.

"Claire, ada apa?"

"Ti-Tidak."

Claire menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dan kemudian.

"—Hmmm, jadi kalian berdua ada di sini."

Dari dalam hutan, suara seorang gadis muda.

"Suara itu......!"

Claire dan Rinslet langsung berjaga.

Suara pohon jatuh satu per satu, dan kemudian—

"Sempurna, aku akan bermain dengan kalian sampai akhir."

Didepan mereka, muncul seekor monster hitam raksasa.

yang menungganginya adalah gadis dengan rambut abu-abu — Muir Alenstarl tertawa ringan.

"Dengan roh pemusnah ini— Tiamat."

Bagian 3[edit]

Dengan elegan memainkan waltz.

Keduanya menari di tengah aula dan menarik perhatian sekitarnya.

Dengan Ren Ashbell yang memimpin, tarian itu serius seperti api yang membara.

Sama seperti ketika seorang putri yang sedang melakukan sebuah ritual persembahan, tarian upacara yang sesungguhnya.

Dengan gerakan yang gemulai itu, Kamito hampir tidak bisa menjaga kecepatannya.

"Gerakan yang cukup bagus. Seperti yang diharapkan dari master Blade Dance."

"Apa itu sebuah ejekan? Ren Ashbell, Blade Dancer terkuat."

Jawab Kamito untuk bisikan dari topeng merah itu.

Dengan cepat Ren Ashbell menggeser kakinya. Kamito mengikutinya dan menarik Ren Ashbell kearahnya. Mereka berubah seperti kerlipan cahaya. Keduanya membiarkan tubuh mereka mengalir seiring alunan musik.

Tarian mereka sudah menyatu tanpa keindahan.

Itu adalah Blade Dance yang keras.

"Aku punya berbagai pertanyaan yang ingin kutanyakan."

"Kau tidak sabar, kan? Meskipun begitu, aku ingin menikmati tarian ini bersamamu lebih lama lagi."

"Maaf. Aku akan membuatmu membiarkan ku memimpin dari sini."

Kamito menarik tangan Ren Ashbell dan membawanya ke teras berdua saja.

Udara malam yang dingin mendinginkan kulit mereka yang terbakar.

Karena ukurannya yang besar, teras itu serasa sebuah pulau terapung dengan pandangan yang jelas dari seluruh hutan.

"Lupakan soal semua strategi yang merepotkan. Aku akan langsung ke poinnya."

Kamito berhenti dan menjauhi Ren Ashbell.

Dia menatap tajam si topeng merah — dan bertanya.

"Apa yang kau lakukan untuk Restia?"

"Apa yang kau lakukan, maksudnya?"

"Jangan main-main. Aku tahu kalau kau memerintah Restia."

"Aku tidak memerintahnya. Dia adalah temanku."

"Maksudmu, Restia membantumu karena keinginannya?"

"Itu benar. Aku menggunakan dia, dan dia menggunakanku."

"...."

Kamito menggigit bibirnya yang tertutup.

Aku tidak bisa menerimanya, tapi—

Tentu di dalamnya pasti ada kepercayaan.

Tampaknya benar kalau Restia bergerak tanpa diperintah. Memperingati Kamito tentang Muir mungkin dilakukan karena keinginanya juga.

"Apa tujuanmu untuk mengumpulkan roh militer dan anak yatim dari Sekolah Instruksional?"

"Untuk perang."

Dan dia langsung menjawab.

"............ Perang?"

Kamito terdiam.

Tapi memikirkan hal itu, itu bukan jawaban yang mengejutkan.

Roh militer dan anak-anak yatim Sekolah Instruksional— Tidak ada yang lebih berguna daripada perang.

"Itu benar. Kekuatan sangat diperlukan untuk melawan mereka."

"Mereka?"

"Raja-raja dunia ini."

"Ap—"

Bertempur dengan raja-raja dunia............ dia mengatakannya?

Kamito tidak biasa mengerti tujuan itu. Apakah maksudnya untuk memulai kembali Perang Ranbal yang telah melibatkan seluruh negara—

"Apa alasannya? Untuk menghancurkan dunia?"

"Bukan. Ini adalah perang untuk menyelamatkan dunia ini."

"Apa yang kau katakan—"

"Tapi untuk memulai perang, peion awal sangat diperlukan."

Ren Ashbell meraih kerah Kamito dan menariknya mendekat.

"............!?"

"Aku akan memaksamu mengijinkanku untuk mencobanya, Ren Ashbell Si Penerus Maou itu. Apa kau punya kemampuan untuk membunuh mereka?"

Seketika, tangan kanan Ren Ashbell menusuk dada Kamito.



Bagian 4[edit]

Itu - ditutupi dengan sisik yang tak terhitung jumlahnya pisau - seperti, banyak kepala roh jahat naga .

Raksasa hitam jauh melampaui semangat Nidhoggdragon Leonora Lancaster .

Menyebar sayapnya menyembunyikan bulan dan cakarnya mencungkil bumi .

Lima kepala menyebar dari pusat batang tubuh dan masing-masing bertindak sendiri .

" ...... TiamatAnnihilation semangat ? "

Dalam menghadapi kekuatan menindas meningkat , Claire mengambil napas .

Tidak salah lagi . Apa yang sebelumnya mereka adalah jiwa militer kelas .

Eksistensi tidak seperti semangat Dreadnoughtfortress Velsaria , mereka telah berjuang dua minggu sebelumnya.

Gadis naik di punggungnya tertawa ringan dan tersenyum dan

" Bunuh mereka - , « Tiamat » . "

Dengan suara yang bersalah , agar diberikan .

" ...... ! ? "

Salah satu kepala menyemburkan api .

Goooooooo !

Kobaran api yang tersebar di seluruh tanah dan dalam sekejap sekitar hutan telah terbakar habis .

Claire dan Rinslet bereaksi seketika , melompat langsung ke danau .

Langit malam dicelup merah dengan warna api .

Muir Alenstarl bertepuk tangan .

" Ohh , tidak buruk . Anda tidak penari pisau untuk apa-apa . "

" Kau ...... ! "

Claire memecahkan permukaan air dan menatap Muir .

Gaun merah basah kuyup dan menempel di kulitnya .

" ...... Claire , membantu ...... batuk , batuk ...... "

" Kau , apa yang kau lakukan? "

" Aku-aku tidak bisa berenang ! "

" Hah ? "

Rinslet berkibar dan tersedak . Claire cepat membantu dia keluar .

" Bagaimana Anda tenggelam di tempat di mana Anda bisa berdiri ? "

" Sh - Diam! "

Rinslet dihindari wajahnya .

" ...... Mengapa kau menyerang kami? "

" Karena kau Onee - sans telah membuat nii -sama lemah. "

Muir menjawab dengan suara dingin.

Salah satu « Tiamat » ' s kepala dengan leher bengkok bangkit dan membiarkan pisau longgar angin .

" ...... Scarlet ! "

Claire berteriak dan memanggil kucing liar dibalut api merah .

Tapi, itu tidak mungkin untuk menembak jatuh setiap pisau .

" ...... Ow ! "

Gaun merah robek dan darah terbang dari bahunya seperti kabut .

Banyak luka terbuka di kulit putih murni nya .

" Fufu , gaun siap Anda telah menjadi tidak berharga . "

Seperti kucing bermain dengan mangsanya , Muir menjilat bibirnya .

" Hmph , itu hanya memperlambat saya turun . "

Claire tersenyum tak kenal takut dan merobek ujung gaunnya .

Dari air mata , orang bisa melihat cambuk kulit diikat ke pahanya .

" Seperti saya pikir , daripada tarian , tarian pisau jauh lebih cocok untuk saya . "

Dari dalam api menari , cambuk Claire mengeluarkan suara .

" Apa kebetulan . Aku juga. "

Rinslet muncul dari air , merobek ujung gaunnya dan memanggil es semangat Fenrirdemon nya .

Es serigala berubah bentuk ke « Ice Longbow » dan pindah ke tangan Rinslet itu .

Berisik , dinding api meletus ke langit malam .

Dengan Waffes Elemental masing-masing di tangan , kedua dihadapkan raksasa semangat naga .

" Bodoh onee - chans Anda pikir . Anda dapat mengalahkan Muir ? "

« Tiamat » mengeluarkan suara gemuruh yang tampaknya mengiris atmosfer .

Tidak , itu bukan suara gemuruh. Ini adalah -

Tidak mungkin , semangat sihir nyanyian ! ?

Sebagian kecil dari roh - kecerdasan yang tinggi dapat melakukan semangat sihir sendiri . Naga ras roh secara khusus dikenal karena kemampuan tersebut pada semangat sihir.

Tanah bergetar sangat.

Pohon-pohon tumbang dan perpecahan tanah , mengirimkan banyak batu terbang -

" Bumi sihir roh « Gunung kiamat SwordTribulations ' Pedang » ! ? "

"Apa kekuatan destruktif gila ! "

" Anda tidak dapat menjalankan , onee - chan . "

" ...... ! ? "

Kepala naga merah dimuntahkan bola api .

Batu-batu yang dirilis oleh ledakan bola api di tanah mengubah pohon menjadi hancur berantakan .

" Kyaaa ! "

Mereka dilemparkan ke tanah oleh gempa susulan .

Itu adalah keajaiban yang sama , tetapi kekuatan destruktif yang tak tertandingi untuk Claire .

" Ku ...... ! "

" Aha , apa yang terjadi pada semua sikap dari sebelumnya , onee - chan ? "

" Pembekuan fang , menembus - Pembekuan ArrowDemon Ice Panah ! "

Seketika , Rinslet merilis panah es .

Taring terbang terhitung es . Ini tidak akan menjadi pukulan membunuh , tapi dengan efek tambahan Ice NeinAbsolute Nol , setidaknya harus membosankan gerakannya.

Tapi sebelum mereka memukul - « Tiamat » meraung .

Sebuah dinding tanah bangkit dan diblokir panah es .

" A-Apa ! Untuk dapat menggunakan api dan bumi roh sihir pada saat yang sama - "

" ...... Itu mengingatkan saya bahwa lama lalu, saya mendengar ini dari ane -sama . "

Claire mendesah sambil menyeka keringat dari keningnya .

" Selama Perang Ranbal , antara ksatria ada semangat yang bisa mengendalikan semua unsur utama sekaligus. "

" Dan itu adalah semangat pemusnahan Tiamatthe ? "

" Mungkin . Tapi aku mendengar bahwa tak seorang pun bisa menggunakannya, jadi itu ditinggalkan . "

" ...... Jika itu benar , ini buruk . "

" Ya . "

Semangat yang bisa mengendalikan semua dari lima elemen utama -

Kalau hanya Rinslet itu setan es semangat dan semangat api Claire , ada weakpoints .

" Tetapi untuk menggunakan semangat seperti itu dengan hanya satu orang - "

Claire disiapkan nya Tongueflame cambuk Flame dan memelototi Muir .

Dibandingkan dengan roh yang dikontrak dengan seseorang , roh militer tidak memerlukan kontrak yang akan digunakan .

Yang kuat - titik adalah bahwa itu adalah penggunaan umum - kemampuan roh tidak ada hubungannya dengan kemampuan kontraktor , sehingga selama disposisi itu benar , mereka bisa menggunakan kekuatan roh . Ini adalah alasan Muir Alenstarl bisa menggunakan beberapa roh .

Namun di sisi lain , salah satu tidak bisa menarik keluar setiap daya lebih dari hadir .

Misalnya, roh Elemental Waffe tidak bisa digunakan , dan banyak dari kemampuan sebenarnya disegel .

Tapi gadis yang menarik keluar semua kekuatan semangat militer .

Muir Alenstarl adalah seorang ahli yang mengkhususkan diri dalam menggunakan roh .

Tapi di mana dia mempelajari keterampilan -

" Sudah waktunya untuk mengakhiri main-main. Onee - chan . "

Dan Muir abu rambut abu-abu meniup angin.

" ...... Anda sedang bermain sampai sekarang ? "

" Itu benar , onee - chan . "

Menggulung lengan hitam mengungkapkan desain menyenangkan bersinar diukir tangan kanannya .

" Apakah itu Persenjataan Seal Terkutuklah ! ? "

" Itu yang menarik keluar kekuatan semangat untuk batas - . « Wakil Jester ini » Ini adalah kekuatan Muir . "

Dalam sekejap , « Tiamat » keras meraung .

Its lima kepala mengamuk dan tubuhnya tumbuh lebih besar dengan cara yang tak sedap dipandang .

Itu seolah-olah catok terlihat adalah penutupan di atasnya.

" Hanya apa itu ! "

Salah satu kepala , putih kusam, membuka rahang .

Dalam tenggorokannya , massa cahaya membangun -

" ...... Kami- "

Itu nama yang hampir lolos mulutnya - Claire menelan kembali .

Pada jenis waktu , hanya meminta untuk diselamatkan adalah ......

Dia membuat ketetapan hatinya untuk mati saat ini .

Kemudian di depan matanya muncul seorang ksatria dengan helm dan perisai .

Logam putih bersinar , ksatria menyiapkan perisai dan memblokir cahaya !

" Claire , kau baik-baik saja ! ? "

" Fianna ! "

Fianna keluar dari hutan .

Salah satu yang dilindungi Claire adalah semangat pertahanan Georgiosthe .

Dan satu orang lain .

" Growl , Ray Hawkwind Winged Elang Aku memerintahkanmu - O angin, meniup liar ! "

Berbalut angin hiruk pikuk , Ellis melemparkan Elemental Waffe tombaknya .

Banyaknya pisau angin dipotong menjadi jahat tubuh naga .

« Tiamat » mengamuk seperti darah yang disemprotkan ke udara .

" Fianna , Ellis - kau hidup hemat . "

" Ini masih terlalu dini untuk terima kasih. "

Ellis mendesah dengan tatapan tajam.

" Fufu , Anda hanya membeli waktu yang singkat . "

Membiarkan Terkutuklah Seal Persenjataan bersinar menakutkan -

Muir Alenstarl menjilat bibirnya .

" Onee - chans , aku akan membunuhmu semua bersama-sama . "

Bagian 5[edit]

"Khaaa.....!"

Kamito menekan dadanya dan berlutut.

Jantungnya terasa panas seperti terbakar. Seluruh darahnya mendidih.

Di saat yang sama, rasa sakit yang luar biasa menyerang bagian dalam tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan pada ku........?"

"Aku hanya melepaskannya sedikit. Kemampuan Maou yang tertidur di tubuhmu, itu saja."

"............ Kemampuan Maou?"

Kamito melotot ke arah topeng merah sembari berlutut di tanah.

Bernafas sangatlah sakit. Jantungnya berdetak kencang seperti menggila.

"Ah.... Guaaaaaaaaahhh..... Gaaaa, aaaaaaahhhh!"

Sebuah jeritan terbentuk di tenggorokannya.

"Seperti dugaan, tubuhmu menolaknya."

Dengan tenang Ren Ashbell melihat Kamito menggeliat kesakitan.

"Yah, baiklah. Jika kau tidak bisa berdiri, berarti kemampuanmu sangat rendah—"

"Ka-Kau...."

"Berdiri! Kazehaya Kamito!"

Ren Ashbell menendang perut Kamito tanpa belas kasihan.

"Gaaaaaah......!"

"Kau boleh berbaring di sana sesukamu, tapi hal yang penting bagimu akan terluka."

"Apa- maksudnya...........?"

Sambil bernafas melalui tenggorokan yang rasanya seperti terbakar, entah bagaimana Kamito bisa mengangkat tubuh bagian atasnya.

"Lihat itu—"

Gadis itu menunjuk ke arah hutan yang telihat dari teras.

Dari arah danau yang tampak sore hari, Api hitam dan Api ganas bermunculan.

"Teman-temanmu dan Muir Alenstarl sedang saling bertempur."

"Apa- Apa, apa yang kau katakan......!?"

ketika dia mengatakannya, rasa sakit yang paling parah menyerangnya. Kamito pun tergeletak di tanah.

"Teman-temanmu tidak bisa mengalahkan Muir Alenstarl. Kau tau dia, tau fakta terbaiknya."

"............"

Kamito tidak bisa membantahnya.

Muir Alenstarl dulunya adalah monster dari Sekolah Instriksional".

Diantara para Ojou-sama di akademi dengan Muir yang sudah terlatih menjadi sebuah senjata, ada perbedaan yang sangat besar.

"Aku tidak akan membiarkannya......... Aku tidak akan pernah, kehilangan yang lainnya........!"

Kamito menekan dadanya yang berdetak kencang, berdiri dengan terhuyung-huyung.

Di dalam topeng merah itu- mata merah membara menusuk Kamito.

Dan Ren Ashbell menggenggam lengan Kamito.

"Itu rohnya. Jangan segan-segan denganku, Blade Dancer terkuat!"

Kamito terlempar dati teras.



Bagian 6[edit]

"—Meniup seruling pengakhiran, Panglima Naga Sang Raja!"

Suara datar Muir Alenstarl menggema di langit malan.

Api, tanah, air, angin, aura suci- berada di bawah kendali kemampuan Muir, Jester's Vice, masing-masing kepala Tiamat melepaskan nafasnya.

"- Engkau, menjadi pelindung orang-orangku, ksatria dari janji kuno!"

Atmosfer berguncang dan pohon bertumbangan dalam pola melingkar.

Perisai ksatria hancur dan baju besinya jatuh berceceran—

Waktu yang dibutuhkan hanyalah beberapa detik saja.

Ksatria yang harusnya memiliki pertahanan yang luar biasa pun menjadi potongan-potongan dan menghilang menuju ketiadaan.

".............. Georgios!"

"Aha, itu bukanlah mainan, onee-chan."

Muir menyeringai ke arah Fianna yang sudah tidak berdaya lagi.

"Ellis, Rinslet — kita bergerak bersamaan!"

"Paham!" "Mengerti!"

Claire mengangkat Flame Tounge si cambuk api, sambil berteriak.

Penebasan merah menghentikan gerakannya sejenak.

"Taring beku, menembus — Freezing Arrow, Demon Ice Arrow!"

"— Angin O, berhembus kencanglah!"

Rinslet melepaskan Freesing Arrow Demon Ice Arrow ke arah kepala api, dan pisau angin Ellis ke arah kepala tanah.

Artinya, mereka mengarahkan serangannya kepada kepala yang lemah terhadap elemen mereka.

Namun —

"Itu tidak berhasil."

Naga tanah dan angin mengucapkan mantra roh yang berbeda.

Pada saat yang sama, panah es di tahan oleh dinding tanah, dan pisau angin berbenturan dengan pisau angin lawan.

Dan sementara ketiganya dalam posisi bertahan, si kepala putih menembakkan Holy Ray Judgment Flash.

Tanah meledak dan sebuah pilar tanah serta pasir muncul dari dalam tanah.

Claire dan lainnya terpental ke udara dan jatuh ke tanah dengan keras.

Kawah memancarkan sesuatu. Fragmen yang bercampur dengan langit yang merah.

"...... Untuk bisa mengendalikan roh militer seperti tangan dan kakinya....."

Claire mengerang sambil meremas tanah.

Pertempuran ini punya perbedaan signifikan di dalam kekuatan tempur. Roh kelas atas di akademi hanyalah seperti bayi jika dibandingkan.

Tapi......

Tiba-tiba, sisiknya retak dan kerangka Tiamat mulai tumbuh.

Jester's Vise milik Muir memiliki beban yang berat.

"Apa itu baik-baik saja? Pada saat ini, roh militer itu akan hancur!"

Rinslet yang terluka berat, berteriak seperti itu.

Muir mengangkat bahunya —

"Tidak apa-apa. Roh hanyalah mainan sekali pakai."

"Apa katamu........!"

Dengan kaget Claire membuka matanya. Dia mengangkat kepalanya yang berdarah tanpa berpikir.

"Dan kau masih menyebut dirimu elementalis!?"

"Muir adalah sebuah senjata. Sama seperti Tiamat dan nii-san, sebuah senjata pembantai."

".......!?"

Ekspresi Claire membeku pada kalimat itu.

"Apa...... Apa katamu..... !?"

"Apa?"

"Sama seperti nii-san. Apa yang kau maksud?"

"Aha, apa mungkin kau tidak tahu?"

Bibir Muir melengkung dengan jahatnya.

"Nii-san sama seperti Muir — seorang assasin yang tumbuh di Sekolah Instruksional."



Bagian 7[edit]

"Sialan........!"

Kamito yang terlempar ke teras mengerang putus asa.

Satu atau dua tulangnya mungkin patah.

Kamito adalah orang yang sudah menerima pelatihan taijutsu yang paling berat di Sekolah Istruksional. Meskipun dia jatuh dari lantai tiga suatu gedung, dia tidak akan cidera. Tapi sekarang, tubuh Kamito terbakar dan sangat kesakitan, bahkan dia tidak bisa mengangkat jarinya.

......... Apa yang sudah terjadi kepadaku?

Di dalam pikirannya yang samar-samar, kalimat Ren Ashbell masuk kedalam pikirannya.

"Melepaskan kemampuan Maou" - itu yang dia katakan.

............ Apa maksudnya?"

Tidak, dibandingkan hal itu, sekarang-

Kamito menekan ujung jarinya yang gemetaran ke dalam tanah.

Api yang membakar hutan bertambah sedikit demi sedikit.

Katika hal itu terjadi, Claire dan lainnya -

Menjengkelkan kalau tidak bisa bergerak. Diperburuk lagi dengan udara yang semakin terbakar.

Bahkan sekarang, musik elegan bisa terdengar dari dalam kastil.

Meskipun pertempuran sedang berlangsung di tanah penyucian, tampaknya orang-orang yang ada di dalam kastil tidak menyadarinya.

Tidak, bahkan Kamito yang berada di teras pun tidak bisa mendengar pertempuran itu. Mungkin saja sebuah penghalang sudah tepasang di sekitar sana.

Tapi, untuk membuat penghalang sebesar itu........

Satu-satunya yang mampu melakukan hal itu hanyalah putri-putri yang berpangkat Ratu.

"Guuuuuuuuuaaaaaaaahhhhhh.......!"

Sebuah serangan jantung.

Pada saat yang sama, rasa sakit yang teramat sangat menyebar.

" - Kamito!"

"...........!?"

Suara langkah kaki dan seseorang yang muncul adalah Est yang memakai gaun putih.

"Maafkan aku, karena penghalang milik seseorang yang berada di sekitar sini, aku tidak segera menyadarinya."

"Est,... gah...!"

"Kamito..... Jangan bilang, kekuatan itu - "

Est membuka mata ungunya.

Sambil membungkuk di samping Kamito, Est menarik tubuh pria itu.

Rambut putih keperakan dengan ringan menyentuh pipinya. Aroma seperti susu menggelitik hidungnya.

"........Est?"

"Kamito, tolong teteap seperti itu."

Kemudian, Est menyentuh dada Kamito yang nampak demam.

Rambut indahnya bersinar di dalam kegelapan malam.

Anehnya, rasa sakit tampaknya menghilang dengan kelembutan dari tangan Est.

"Apakah ini kekuatan dari Terminus Est?"

"Ya. Aku yakin hal ini akan baik-baik saja untuk sekarang... Tapi-"

Itu yang telah menghancurkan Segel Persenjataan Terkutuk milik Velsaria, kekuatan dari pedang suci.

Hal ini bukan berarti rasa sakitnya tiba-tiba menghilang, tapi entah bagaimana sekarang dia bisa bergerak lagi.

"Kamito, kau baik-baik saja?"

"Ya, Terima kasih, Est........"

Kamito mengangkat tubuh bagian atasnya dan menyangga tubuh dengan lututnya.

"Kamito, kau belum boleh bergerak."

"Aku harus pergi menyelamatkan Claire dan yang lain!"

"Jangan, Kamito!"

Est mengeluarkan suara panik. Untuk pertama kalinya, Est yang selalu tanpa ekspresi, mengeluarkan begitu banyak ekspresi.

"Est......."

"Kutukan itu hanya ditahan sementara, jadi jika kau menggunakan suci sekarang, kau tidak akan bisa mengontrol kekuatanku saat ini."

"........Ya, aku tahu."

Tapi, kemudian-

Sekejap. Dari sisi lain hutan, terdengar suara raungan yang menakutkan.

Seolah ingin membakar langit malam, api raksasa membesar.

"Est, Aku mohon. Satu-satunya yang bisa melawan Muir adalah aku."

"Kamito, tapi........"

"Pinjamkan aku kekuatanmu."

"............"

Bahkan jika dia tidak bisa mendapat persetujuan dari Est, ia tetap berencana untuk pergi ke sana.

"......... Kamito, kau curang."

Est -

Mendesah dan memegang tangan Kamito.

"- Aku adalah pedang Kamito, selama yang kau inginkan."

"Terima kasih, Est."

"Kamito mengangguk dan meneriakan kalimat pemanggilan."

"- Ratu Baja tanpa perasaan, pedang suci yang memusnahkan kejahatan!"

"-Sekarang, berubah menjadi pedang baja dan jadilah kekuatan di tanganku!"

Tubuh Est diselimuti cahaya dan menghilang menuju ketiadaan.

Dan kemudian, pedang yang memancarkan sinar perak dicengkram oleh Kamito.

"Ayo, Est!"

Mengencangkan cengkramannya pada Terminus Est, Kamito berlari menuju kegelapan malam.

Untuk menutup masa lalunya.


Chapter 10 : Pertarungan Penghabisan dengan Masa Lalu[edit]

Bagian 1[edit]

Di dalam hutan yang gemersik karena api-

"........ Kamito adalah seorang assassin yang dilatih di Sekolah Istruksional?"

Tercengang, Claire menggerutu.

Ellis, Fianna, dan Rinslet saling bertukar pandang ketika tergeletak di tanah.

Sekolah Istruksional - jika bertanya kepada orang kerajaan, tidak akan ada yang tidak pernah mendengar nama itu.

Empat tahun lalu. Pada saat ketika pemberontakan Ratu Bencana, sisi gelap kerajaan terungkap.

Di berbagai daerah antar benua, anak yatim yang muncul dan memiliki sifat khusus dikumpulkan dan dilatih sebagai assassin dengan suatu perkumpulan para fanatik.

"Hal semacam itu........"

Hal itu bukanlah sesuatu yang bisa langsung dipercayai.

Tapi, jika itu benar -

Kekuatan Kamito yang tidak biasa.

Itu bisa menjelaskan kenapa Kamito susah payah menyembunyikan masa lalunya.

....... Jadi, itu yang terjadi. Itulah mengapa Kamito -

Claira berdiam diri dan menutup mulutnya rapat-rapat.

"Aha, mengejutkan, bukan? Onee-chan."

Muir mengatakannya sambil mengejek.

"Nii-sama adalah seorang monster seperti aku. Dia bukan manusia."

Tiba-tiba, naga tanah Tiamat mulai meneriakkan sihir roh.

Tanaman yang mengerikan dengan sulur-sulur tumbuh dari dalam tanah dan menyerang Claire dan lainnya.

Mereka berempat yang sudah kehabisan tenaga diangkat ke udara.

"Tidaaaaaaak!" "Apa-apaan nih!" "Si-Sialan kau, makhluk mesum!"

tumbuhan berlendir itu mencabik gaun para gadis dan menyentuh kulit mereka seperti tentakel.

Mereka berusaha keras melawan perasaan yang tidak mengenakkan, tapi mereka tidak bisa menahannya.

"Fufufufu, penampilan yang bagus. Onee-chan."

"Nnnn, fuaaa....... ini.....!"

Claire mengayunkan Flame Tounge nya berusaha untuk membakar tumbuhan itu, tapi-

Apinya menghilang seperti asap dan benar-benar padam.

...... Aku kehilangan kekuatan suci!

Roh yang tidak bisa digunakan siapapun kecuali putri yang suci. Meskipun kau punya ikatan dekat dengan roh terkontrak, hal itu tidak bisa diubah.

Upacara pensucian itu bertujuan agar roh tidak bisa menjalin kontrak dengan si putri, sebelum ritual suci atau Blade Dance mencapai kondisi seperti ini.

Perlakuan yang senonoh ini bukannya tanpa maksud. Muir merusak tubuh mereka sehingga mereka tidak bisa menggunakan roh terkontrak mereka.

Tapi, tidak ada waktu untuk merasa malu karena menunjukkan perilaku memalukan bagi perempuan terhormat ketika tanaman itu meraba-aba tubuh mereka.

Bernafas menjadi sulit seiring suara gretakan dari tulang mereka.

".........A, guuuu......"

"Kau menangis dengan suara yang bagus. Aku ingin Nii-san mendenganya juga."

Kata gadis itu tertawa polosnya.

Kami....... to.....

Di dalam lubuk hatinya yang semakin melemah -

Claire memanggil nama itu.

- Selamatkan aku, Kamito!

Saat itu juga, kilatan pedang.

......... Eh?

Mendadak terasa mengapung.

Kemudian, Claire jatuh ke dalam lumpur.

Ellis, Fianna, dan Rinslet juga bebas dari tanaman itu.

".........."

Claire bekedip.

Di sana-

"Maaf, aku membuatmu menunggu."

Kamito berdiri di sana sambil memegang pedang keperakan yang mengkilap.



Bagian 2[edit]

Nafas Kamito berat dan dia berdiri tidak jauh dari Tiamat.

Wajahnya pucat seperti kekurangan darah dan tubuhnya basah dengan keringat dingin. Berkat Est yang menjaga kondisinya, Kamito bisa terus berdiri.

"Kamito...."

Claire mengeluarkan suara terkejut.

"...... Jadi, kau sudah dengar tentang diriku?"

"........"

Claire terdiam.

Kamito pun paham.

Mereka sudah tahu tentang masa lalu Kamito.

"Kamito, apakah itu benar? kalau kau....."

"Ya, itu benar."

Kamito berpaling dari Claire dan mengangguk.

"Aku sama seperti Muir, seorang yatim-piatu dari Sekolah Instruksional."

Kamito mendengar nafas yang tersentak.

Bukan hanya Claire. Ellis, Fianna, dan Rinslet juga begitu.

Mereka melbarkan matanya karena kenyataan pahit tentang profil Kamito.

Seorang anak menyedihkan dari kegelapan. Bisa juga disebut seekor Raksasa yang menjijikkan.

Kamito tidak tahu mana yang lebih bagus.

Apapun yang terjadi, hubungan mereka akan berubah dari sekarang.

..... yah, cepat atau lambat pasti akan terungkap.

Kamito menghela nafas dengan lemas-

Dan tetap berdiri di depan Muir Alenstarl dan Tiamat.

"Claire, maaf karena sudah menyembunyikan hal itu sampai sekarang. Tapi -"

Kamito menggenggam Terminus Est dengan kedua tangannya.

"Aku pasti akan melindungi kalian semua! Hal itu tidak akan berubah!"

"Ka-Kamito... Ka-Kau...."

Lalu.

Suara gemetaran Claire-

"Kau bodoh!"

"Hah!?"

Kamito pun mengatakan suara yang menolak pernyataan Claire.

Di sana - suara cambuk terdengar.

Seperti biasanya, cambuk kulit menghantam punggungnya.

"Sakit tahu! Maksudmu apa!?"

Sambil teriak, Kamito berbalik-

Gogogogogogoogogogogogogo..........!!!!!

Bahu calire gemetaran.

Twintails nya berdiri seperti api.

"........ O-Oi, Claire!?"

Keringat dingin mengalir di pipi Kamito.

........ Gadis itu marah. Ojou-sama cerewet itu marah besar!

"Ka-Ka-Kau....... Apa maksudmu, hah!?"

Dengan cepat Claire menuju Kamito.

Mata rubinya melotot ke arah Kamito.


"Ada apaan?"

"Kenapa kau tidak mau bercerita tentang masa lalumu!"

Perlahan air mata keluar dari sudut mata Claire.

"Jika aku tahu tentang masa lalumu, kau berfikir kalau aku akan memandangmu sebelah mata?"

"Bu-Bukan, itu karena aku berasal dari Sekolah Istruksional...."

Kamito kewalahan dan mundur.

"Jadi!?"

"Eh!?"

"Yah, pastinya aku sedikit terkejut, kau tahu? Aku terkejut, tapi -"

Claire menunjuk dada Kamito.

"Kamito tetaplah Kamito. Bukankah kekhawatiranmu itu sangat bodoh?

"......."

Kamito tercengang dan-

"Kamito-san..... Masalah itu sangat konyol."

"Ya, itu benar. Bodohnya parah, sangat bodoh."

"ah, Kamito-kun, bodoh sekali ♪"

Ketiga Ojou sama lainnya juga mengatakan hal yang sama dengan ekspresi terheran.

"Ka-Kalian....."

"Dengar baik-baik, Kamito."

Claire melototi Kamito dengan mata mengadah.

".....!?"

Wajah Claire sangat dekat. Bahkan bibir mereka akan berciuman kalau lebih dekat lagi.

Atau lebih tepatnya, jika Kamito benar-benar menyadarinya, Claire sudah telanjang dan hanya terisa celana dalamnya.

Bahkan dalam keadaan seperti ini, jantungnya berdegup kencang.

Claire menatap Kamito dengan ekspresi serius.

"Yang terpenting, kau adalah teman kami dan kau adalah-"

"..............Claire?"

Wajah Claire memerah karena malu. Kamito menelan ludahnya.

Lalu-

"Karena kau budak roh ku!"

Teriak Claire.

"...... Ya, itu benar."

Kamito tersenyum kecut.

..... Aku melakukan hal yang sangat bodoh.

Kamito merasa dia harus percaya lagi dengan teman-temannya.

Walaupun hanya 2 bulan sejak Kamito bertemu dengan Claire dan Ojou-sama lainnya.

Tapi mereka sudah menjalaninya bersama-sama.

Meskipun mereka mengetahui masa lalunya, waktu bukanlah sesuatu yang bisa diubah begitu saja.

Terlepas dari kenyataan kalau Kamito tahu hal itu-

".......Claire, maaf."

"Hmph, budak roh yang merepotkan."

Claire mengalihkan pandangannya dengan malu-malu.

"Nii-sama........"

Gumam Muir Alenstarl.

"Apa yang kau katakan? Nii-sama sama seperti Muir, seorang monster!"

"Muir..."

Kamito menatap gadis yang menunggangi Tiamat.

"..... Aku sudah berbeda dengan yang dulu."

"Itu bohong, Nii-sama tidak mungkin....."

Muir melebarkan matanya dan -

Melotot, bukan ke arah Kamito, melainkan ke arah Claie dan lainnya.

"....... Aku mengerti, Nii-sama. Kau sudah dipermainkan oleh mereka."

"-Muir!"

Segel Persenjataan Terkutuk yang berada di tangan kanan Muir mulai bersinar.

Tiamat meraung dengan marahnya dan tubuhnya mulai membesar.

Sisik yang menutupinya lepas dan beterbangan tanpa arah.

"Nii-sama milik Muir~ tidak bisa dimaafkan. Aku akan menghancurkan semuanya!"

".................."

Muir Alenstarl - Seorang gadis, yang untuk beberapa alasan memanggilnya Nii-sama, adalah sesuatu yang Kamito sayang.

Dia masih memiliki wajah lucu kekanak-kanakan, sama sekali tidak berubah.

Rasa sakit sedikit melukai hatinya.

Namun-

"Maaf, Muir. Sekarang, aku harus melindungi mereka semua."

Kamito mengangkat pembantai iblis - Terminus Est di kedua tangannya.

"Kau tidak bisa meninggalkan masa lalumu, Nii-sama."

"Ya, aku tidak berniat meninggalkannya. Pedang ini-"

Pedang di tangannya bersinar -

"Untuk melindungi mereka yang berharga bagiku dan menunjukkan jalan ke masa depan!"

Kamito melompat.

Pada saat yang sama, Naga Api Tiamat melepaskan nafas api!

Kamito tidak bisa menghindarinya - Dengan mengeluarkan kekuatan sucinya, dia menghempaskan api itu.

........ Muir Alenstarl, seorang kontraktor roh militer yang ahli.

Dengan kekuatan yang bisa memaksa kekuatan roh hingga batasnya- pengguna Jester Vise.

Seorang yang tidak ada tandingannya dalam hal penghancuran besar-besaran, nomor dua di Sekolah Instruksional.

Dan roh itu sudah dia kendalikan, si roh pemusnah, Tiamat, roh tingkat atas.

melawan Kamito yang luka parah.

Kamito bukanlah Ren Ashbell si Blade Dancer terkuat, tapi apakah dia bisa menang dengan kemampuannya?

- Masa bodo!

Kamito menghempaskan dan mempercepat dirinya.

Untuk beberapa alasan, di tidak merasa kalu dia akan kalah. Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan pingsan di tanah.

Semuanya sudah mempercayaiku- hal itu membuat tubuhku serasa sangat ringan.

"Woooooooogh!"

Naga Angin mulai mengucapkan sihir roh kepada Kamito.

Pisau angin yang sangat banya dilepaskan. Jika benda itu mengenai Kamito, salah satu bagian tubuhnya akan hilang.

"- Angin O, kepada prajurit pemberani, berikanlah perlindungan sucimu!"

Dari belakang, dia bisa mendengar mantra dari sang Kapten Ksatria.

Sebuah angin puyuh berkumpul dan melindunginya. Ellis handal di roh tipe terbang. Kamio melompat dan mempercepat lagi- dia menghindari semua pisau angin dengan melompatinya.

Pedang putih berkilau di kegelapan malam. Lalu, kepala Naga Angin terbang ke udara.

Satu-

Muir tercengang.

Dengan amarah yang menggila, Tiamat lepas kendali dan menyerang Kamito dengan ganasnya.

Naga Tanah membuka mulut kerasnya yang berisi gigi-gigi tumpul. Dia mengarahkan kepalanya ke Kamito dan seketika, Kamito-

- sebuah kilatan pedang yang melengkung, lalu kepala Naga Tanah jatuh seperti palu besi.

Dua-

"Kenapa!? Nii-sama, nii-sama bahkan belum bangkit-"

"Muir, ketika kita di Sekolah Instruksional, apakan kau pernah menang melawanku?"

"........!?"

Vise Jester Muir yang dipasang ke roh Tiamatannihilation merupakan senjata yang tak tertandingi.

Tapi, hanya dalam hal penghancuran massal.

Melawan Kamito, yang ahli dalam pertarungan satu lawan satu, pertandingan ini tidak menguntungkan bagi Tiamat.

Jika kelima kepala dipotong satu per satu - Tiamat bukan lagi musuh yang tak terkalahkan.

Naga Air dan Naga Api bersamaan menyerang dari kedua arah. Kamito merundukkan badannya- dan terbang menggunakan kekuatan armor angin. Dan seketika mengitari kedua kepala itu, dia memenggal keduanya sekaligus.

Dengan itu, sudah empat-

Teknik pedang itu untuk latihan assassin di Sekolah Instruksional. Teknik pedang Kamito yang sesungguhnya. Gerakan yang dilarang di pertempuran akademi.

Kamito langsung membetulkan kuda-kudanya - kemudian.

Leher Naga Air bergerak-gerak sambil melepaskan nafas air.

Memenggal kepala naga tidak cukup untuk membunuhnya. Karena nafas air utu, tubuh Kamito terhempas ke tanah.

Kuu.........!"

Kamito berusaha secepatnya berdiri, tapi-

Di dalam mulut Naga Suci, cahaya berkumpul untuk Holy RayJudgment Flash.

Itu adalah serangan yang akan memusnahkan manusia dalam sekejap.

"-Kamito!"

Flame Tongue yang membara menarik garis merah di langit.

Cambuk itu mengenai leher Naga Suci dan seketika naga itu menghentikan pergerakannya.

Lalu-

"Taring beku, tembuslah- Freezing Arrow, Demon Ice Arrow!"

Panah es Rinslet mengenai mulut naga yang masih terbuka itu dan membekukannya.

Bukan. Benda itu bukan sekedar panah pembeku-

"- Tanpa menunggu untuk musin dingin dan semi, Ice Break, Ice Break Flower!"

Dengan kata-kata Rinslet, es itu pun hancur.

Pisau es mengiris seluruh tubuh Tiamat.

"Woooooooooooghhhh!"

Tubuh naga itu berhenti bergerak, dan dalam sepersekian detik-

Pedang pembunuh iblis milik Kamito menghancurkan kapala Naga Suci.


Epilog[edit]

" Tidak mungkin , kenapa ...... "

Muir Alenstarl yang telah kehilangan Tiamatpembasmi roh-

Yang masih berdiri di dalam lumpur, shock .

Penampilan yang mirip dengan seorang gadis yang baru saja menjatuhkan mainan favoritnya di sungai .

Sang «Monster» yang telah mencoba membunuh Claire dan yang lainnya sampai sekarang adalah tempat yang terlihat.

" Nii -sama seharusnya tetap lemah selama-lamanya ...... "

" Muir , aku mungkin telah benar-benar menjadi lemah. "

Kamito mendorong pedangnya ke tanah dan mengulurkan tangan ke Muir yang ketakutan .

Muir memiringkan kepalanya ke sisi.

"Tapi sekarang aku punya orang-orang di sekitarku yang mengubah kelemahan menjadi kekuatan . "

" ...... "

Muir mengedipkan mata-nya

" Ap - apa dengan itu ...... "

Cemberut , dia mengalihkan matanya .

" Aku benci nii -sama . Aku benci kau. "

" Muir ...... "

Dan kemudian .

Hatinya menggeliat .

" ...... Aguu , ahhhhhh ! "

Seketika . Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dan rasa sakit berlari diseluruh tubuhnya.

Dengan menangis sedih , Kamito jatuh ke tanah .

" - Kamito ! ? "

Claire menarik Kamito yang runtuh kembali .

" ...... Tunggu , apa yang terjadi sebenarnya ! ? "

" ...... Tidak apa-apa ...... "

" Idiot , tidak ada cara yang benar! "

" Kamito - san ! "

" Kamito , apa yang salah ! "

Rinslet dan Ellis , bersama dengan Fianna , semua buru-buru bergegas ke sisinya .

"—Tunjukkan . "

Fianna membuka kancing kemejanya dengan ekspresi serius .

Dan kemudian—

" ...... Apa ini ! ? "

Setelah melihat dada Kamito Terungkap—ia menjadi terdiam .

Kira-kira sekitar di lokasi hatinya , pola hitam yang buruk itu terukir .

" Tidak mungkin , suatu Persenjataan Segel Terkutuk...... ! "

" Apa katamu !? "

Kecemasan melintas di keempat wajah mereka .

Dan .

" Wanita itu , melakukan hal-hal seperti itu tanpa memintaku—"

Muir berdiri sambil menggigit bibirnya .

" ...... Wanita itu ? Kau, apakah kau tahu sesuatu? "

Claire tajam bertanya dan Muir tersentak sebelum gemetar bahunya .

Tanpa roh militer , dia sekarang hanya seorang gadis tak berdaya, normal.

" ...... Gu , ahh , ahhhhhhhh ! "

Kamito muntah dan mengoyak dadanya sendiri .

" Ini berbahaya pada tingkat ini . Kita perlu melaporkan ini ke « Divine Ritual Institute » cepat ! "

"Mengerti! "


Ellis berdiri dan memanggil roh angin terbang nya—

Dan .

" Minggir - . "

Sebuah suara terdengar tenang .

" ...... ? "

Lokasi suara datang dari — semua orang memandang ke arah tempat itu.

Berdiri disana ada Est yang telah kembali ke bentuk manusia .

Dingin bersinar rambut putih keperakan .

Pupil violet misterius .

Profil Est diterangi bulan memberikan perasaan senang.

Dalam menghadapi bahwa keindahan—

" Est ...... "

Kamito lupa tentang rasa sakit yang terbakar sejenak .

" Kamito . "

Est berbisik .

Dengan kecil , ujung jari dingin, Est menyentuh rahang Kamito dan ,

"Aku pedangmu . Oleh karena itu— "

Pada bibir Kamito itu .

Dia menanam miliknya .

" Es ...... t ...... ! ? "

Pusing . Pikirannya diserang oleh perasaan mabuk manis.

Dia hanya bisa melebarkan matanya kaget .

Kehangatan bibir menyentuh .

Kelembutan bibir menyentuh .

Rambut putih keperakan membelai pipinya .

Ujung jari kecil yang melilit punggungnya .

Mereka anggota badan halus yang tampak seperti mereka bisa istirahat setiap saat .

Panas dari mereka ujung jari . Atau mungkin kesejukan .

Ia dibungkus oleh sensasi yang aneh dan lembut .

Dia merasa seluruh tubuhnya rileks.

Bibir mereka berpisah ringan.

Tapi rambut pada pipinya bukanlah bagian .

" ...... Est ? "

Dan kemudian —

STnBD V04 256-257.jpg

" Selamat tinggal , Kamito . "

Tubuh Est hancur menjadi pecahan banyak cahaya dan menghilang ke udara tipis .

" - Est ! "



Penutup[edit]

Penulis[edit]

-Nii-sama cuma milik Muir.

Jadi, sudah tiga bulan sejak terakhir kali. Ini adalah Shimizu Yuu.

Kita telah mencapai volume keempat dari sekolah harem x pertempuran komedi "Seirei Tsukai no Blade Dance "!

Akhirnya, setelah dua bulan kehidupan sekolah , ini adalah <Blade Dance>. Menyerang Kamito dan orang lain yang telah membuat terpisan satu sama lain adalah pengguna roh militer yg tidak diketahui. Pembunuh rahasia <Instructional School> dan terungkapnya masa lalu Kamito. Dan juga tujuan Ren Ashbell lainnya adalah-

Pertempuran cinta Ojou-Samas juga dipercepat dengan pakaian renang berani dan gaun megah, sementara plot kemajuan ke klimaks, jadi silakan terus mendukung ini!

Sekarang terimaksih kepada:

Pertama, Sakura Hanpen-sensei yang sekali lagi membuat ilustrasi indah , terima kasih banyak. Rinslet di sampul sangat manis.

Berkat inkubator karismatik MFJ, "Seirei Tsukai" telah berhasil mencapai volume empat.

Kepala Editor Misaka, tim proofreading, tim format, tim pemasaran dan toko buku, terima kasih untuk semuanya. Anibro Gamers store Shinjuku juga telah merilis sejumlah besar volume 3. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih.

Juga, Yoshihira Zenzai-sensei yang menggambar versi manga berkualitas tinggi di Comic Alive Magazine . Memiliki karakter yang digambar dengan gaya manis yang membuat saya sangat bahagia. Saya hanya akan menyebutkan hal ini di sini, tapi manga ini sedikit lebih erotis daripada LN-nya ...... itu sangat erotis! (Membuka mata tingkat shock).

Terakhir, untuk semua orang yang membaca buku ini, saya memberikan terima kasih terbesar saya!

Untuk setiap orang yang mengajukan kesan mereka dalam kuesioner, terima kasih banyak untuk Anda juga. Saya telah membaca semuanya. Berbicara tentang kuesioner, dalam volume kedua, Est memimpin dengan besar marjin , namun dalam volume ketiga, dia hanya meroket ke atas. Fianna dan Claire menempati tempat ketiga dan keempat dalam pertempuran yg sangat ketat. Karakter utama, Kamito, adalah di posisi kelima. Ini adalah rasa menyesal bahwa Rinslet yg manis berada di urutan keenam ...... sekarang adalah waktu untuk satu juta (kebohongan) Rinslet penggemar di seluruh negeri untuk bersatu!

Nah, volume berikutnya adalah Volume kelima. Mari kita bertemu lagi di "The Demon Slaying Sword (tentatif)"!

Juli 2011, Shimizu Yuu

Illustrator[edit]

Senang bertemu Anda atau lama tak bertemu! Ini Sakura Hanpen!

Saya menerima dua halaman penutup jadi saya menarik Rinslet tercinta dengan sepenuh hati!

Rinslet-san ...! Rinslet-san, Rinslet-san siapa yang lebih manis darinya ...!

Ini adalah keinginan pero-pero saya. Stoking pada halaman sampul berada di tingkat yang terlalu tinggi. I-Ini tidak seperti itu tidak memuaskan? Tapi itu bisa lebih manis.

Dengan ending yang mengejutkan, tidak dapat membantu jika saya ingin membaca volume berikutnya.

Oh tidak, apa yang akan terjadi pada Est ...!? Para pembaca benar-benar tertarik ... Shimizu-sensei ...

Apa pun yang terjadi, saya tidak akan minta maaf tentang pero-pero saya, jadi tolong minta maaf, Shimizu-sensei. Ehh.

Juga, ini adalah pengumuman dai orang yang meninggalkan saya bertanggung jawab atas ilustrasi, HOOKSOFT-san "SuGirly Wish" yang keluar berikutnya (`· ω · '). Silakan melihatnya juga ...!

Kalau begitu, Saya sudahi sampai di sini! Ini adlh Sakura Hanpen orang yg tidak bisa menunggu volume berikutnya!


Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. nyotaimori = "sushi tubuh", adalah aksi menyajikan sashimi atau sushi dari tubuh seorang perempuan
Mundur ke Jilid 3 Kembali ke Halaman Utama Lanjut ke Jilid 5