Seirei Tsukai no Blade Dance Jilid15

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Prolog[edit]

Di hutan dibawah malam yang cerah—

"Tampaknya kau masih memiliki kebiasaan buruk suka mencuri, bocah."

Penyihir itu berbicara, menatap anak laki-laki yang merangkak di tanah m

"Apa kau berniat mempersei tarian pedang yang buruk seperti itu pada para Elemental Lord?"

"....D-Diam... penyihir...."

Terbatuk darah, pria muda itu berjongkok. Dia—Kamito—memegang sebuah pedang dengan bilah berwarna kegelapan.

Dia bertekad tak akan pernah melepaskan pedangnya tak peduli berapa kali dia terkapar.

"Oh? Sepertinya kau masih punya kekuatan yang cukup untuk berbicara."

Menekuk ujung bibirnya menjadi seringai, dia tanpa ampun menendang Kamito yang telah jatuh pada perutnya.

"...Gah... Huff—"

"—Berdirilah. Satu kali lagi."

Kamito berdiri tidak tegap, menatap wanita itu.

Greyworth Ciel Mais—mantan ksatria utama Numbers dari Kekaisaran Ordesia.

Dikenal dengan julukannya sebagaj Penyihir Senja, dia adalah elementalis terkuat di benua.

(Monster...)

Sambil menyeka darah dari mulutnya, Kamito berkata pada dirinya sendiri.

Ada seorang elementalis berjuluk "Monster" dulu di Sekolah Instruksional, tetapi wanita yang berdiri dengan ekspresi dingin dihadapannya adalah monster sejati.

Kamito mulai serius, tak berani menganggap enteng semuanya, bahkan tak membiarkan satu lenguhan pun terlepas.

"Tunggu, gimanapun juga, ini sudah berlebihan!"

Sebuah suara yang manis terdengar.

Sumber suara ini adalah pedang hitam legam di tangan Kamito.

....Seolah menyatakan kemarahannya, petir hitam meledak secara intens disekitar bilahnya.

"Aku tidak akan membiarkan dia mati. Jangan terlalu memanjakan bocah itu, roh kegelapan."

Mengabaikan suara protes itu, si penyihir berjalan mendekat dan mencabut sebuah pedang iblis yang tertancap di hutan.

"Jangan khawatir, Restia, aku masih bisa melanjutkan."

Kamito dlbergumam pelan dan menuangkan kekuatan suci kedalam pedang hitam legam miliknya.

"Kau terlalu mengandalkan kekuatan roh kegelapan. Kalau kau seperti ini, kau tak akan bisa mengalahkan yang diunggulkan menjadi pemenang Blade Dance, Luminaris dari Kerajaan Suci."

"Gak masalah. Meskipun aku harus menghadapi roh suci, tak ada yang bisa menang melawan aku dan Restia."

Menatap Greyworth yang ada dihadapannya, Kamito menjawab.

Ini adalah suatu ekspresi kepercayaan mutlak pada rekannya, sang roh kegelapan.

Menanggapi pemikiran anak itu, petir hitam meledak di hutan itu.

"Sekarang, itu ada kah kepercayaan diri yang cukup besar."

Greyworth menyeringai tak kenal ampun dan mempersiapkan pedang iblis miliknya.

"Pertama-tama, biarkan aku menghancurkan kepercayaan diri yang tak berdasar itu."

Meskipun dia memasang kuda-kuda asal-asalan, Kamito tak bisa menemukan celah sama sekali. Setara dengan para praktisi dari teknik pembunuhan di Sekolah Instruksional yang selalu dia hadapi, atau para ksatria roh dari Kekaisaran, dia benar-benar berada di tingkat yang sepenuhnya berbeda.

"Ada apa? Serang saja kapanpun kau mau."

"...!"

Kamito melangkah maju.

Bukannya jatuh pada pancingan si penyihir, Kamito memahami bahwa mencari celah adalah tindakan yang sia-sia saja.

"Teknik pembunuh—Shadow Crossing!"

Dia mendekat dalam sekejap untuk mengeluarkan sebuah tebasan dengan kecepatan dewa.

Tak ada trik tambahan, oleh karena itu, ini adalah kemampuan murni dalam eksekusi sempurna. Namun—

"Aku mengerti, kecepatan dan akurasi teknik ini memang sempurna."

Penyihir itu mencemooh. Pedang yang mematikan, membawa seluruh pengalaman Kamito selama 13 tahun, tak bisa mencapai tenggorokan si penyihir. Dia menghindarinya dengan jarak yang sangat tipis.

"Masih belum selesai! Haphazard Dance of the Flying Snake!"

Melangkah maju lebih jauh, Kamito melepaskan tebasan yang tak terhitung jumlahnya secara beruntun sembari tatapannya mengikuti si penyihir dengan cermat.

"Oh? Jadk serangan pasti mati tadi hanyalah pengalihan dan kau menggunakan suatu teknik yang jauh lebih lemah untuk menargetkan nyawaku?"

Greyworth berputar-putar dan menghindari tebasan pedang yang tak terhitung jumlahnya di udara.

Namun, itu tepat seperti tujuan Kamito.

Mengingat waktunya, menggunakan sihir pertahanan adalah hal yang mustahil.

Kamito mengkonsentrasikan kekuatan suci pada bilah dari pedang iblis miliknya.

"Maju dan tembuslah, petir hukman iblis pemusnah—Vorpal Blast!"

Memancar dari bilah pedang iblis tersebut, petir hitam legam meledak, meretakkan tanah sebagai dampaknya.

(—Berhasil!)

Dengan itu, setelah melepaskan serangan pamungkas, dia melompat ke dalam awan debu dan asap yang terbentuk, tetapi pada saat itu...m

Seketika, dia merasa menggigil.

(....Apa-apaan itu!?)

Kaki Kamito berhenti seketika. Tidak, lebih tepatnya kesadaran Kamito, syaraf-syarafnya secara paksa menyuruh tubuhnya untuk berhenti bergerak diakibatkan oleh rasa takut secara naluri yang tak diketahui.

"Bagus, nak—"

Dari debu itu, dia mendengat suara.

Ada sesuatu yang berbeda tentang suara penyihir itu dari yang biasa dia dengar.

"Dari dulu, hanya ada segelintir orang yang mampu mengotori aku dengan debu. Syukurlah, kau benar-benar membuatku senang..."

Awan debu tersebut berhamburan. Dibawah cahaya rembulan yang terang, penampilan itu memasuki pandangan.

"Ini adalah kedua kalinya bagimu menyaksikan penampilan ini—"

Bab 1 - Senja Hari di Ibukota Kekaisaran[edit]

Bagian 1[edit]

Hujan yang turun seperti kabut di ibukota kekaisaran. Dilokasi ini, terkuhur dibawah puing-puing dari kehancuran yang disebabkan roh gravitasi milik Leschkir Hirschkilt dari Numbers—

Dia berdiri disana seperti bayangan.

"...mito-kun... Kamito-kun!"

Suara Fianna terdengar seperti berasal dari kejauhan.

Ouch, apa yang terjadi? Untuk sesaat, pikiran Kamito tak bisa memahaminya.

Tidak, akan lebih baik untuk mengatakan bahwa dia sudah memahaminya, namun otaknya menolak untuk mengakui kebenaran yang ada dihadapan matanya.

Sembari tangannya ditekankan pada luka robek di perutnya, darah merembes keluar diantara jari-jarinya dan menetes. Kekuatan Ren Ashdoll yang sebelumnya memenuhi seluruh tubuhnya telah sepenuhnya menghilang. Suhu tubuhnya juga menurun.

(Aku benar-benar gagal melihatnya....)

Jangankan tebasan pedang itu, dia bahkan tak bisa melihat gerakannya sama sekali.

Namun, Kamito mengetahui teknik pedang itu, sebuah serangan pedang secepat kilat.

Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning.

....Tak terbayangkan.

Selain Kamito, seharusnya tak ada lagi yang mewarisi teknik pedang miliknya.

Namun, kecepatan itu, akurasi itu, semuanya lebih unggul dari Kamito.

Sembari merenungkan pertanyaan mengenai identitasnya, dia sudah menyadari fakta ini.

Justru karena dia mengetahuinya, dia menolak untuk mengakuinya.

Tapi—

"Yah, yah, meskipun aku menahannya, menghindari teknik ini masih diluar kemampuanmu—"

"...!"

Ditengah-tengah hujan yang seperti kabut, suara tenang menarik akal sehat Kamito kembali ke realitas.

Gadis muda mengibaskan pedangnya untuk membersihkan darah yang menempel dan tanpa kenal ampun menatap Kamito yang berlutut di tanah.

"Greyworth..."

Kamito mengerang dan memaksakan nama itu keluar dari mulutnya.

Greyworth Ciel Mais—Sang Penyihir Senja..

"Kenapa... Kenapa kau ada disini!?"

Kamito berteriak dengan serak.

Menurut penyelidik dari ksatria operasi khusus, Virrey, yang berperan sebagai pemandu untuk Kamito dan yang lainnya, Greyworth dipenjara di menara penyiksaan Guas Gibai setelah jatuh ke tangan Arneus.

Jika itu memang benar, dia tak mungkin ada disini.

Tidak, sebelum mempertimbangkan hal itu, penampilannya yang ini adalah—

"Kenapa... Gah...!"

"Kamito-kun!"

Fianna dengan panik menangkap tubuh Kamito yang goyah.

"Apa yang terjadi? Tentang gadis itu yang mirip kepala sekolah Akademi..."

Fianna pasti telah teringat bisikan yang dia dengar sebelumnya.

Pertanyaannya tidak tak logis, karena gadis itu saat ini berdiri didepan mata mereka—

Penampilannya adalah seorang gadis manis, seusia dengan Fianna.

Julukan dari Penyihir Senja dikenal luas di seluruh benua. Tak peduli apa, saat ketika dia aktif di medan perang sudah beberapa dekade lalu.

Fianna tak mungkin tau seperti apa penampilannya saat itu.

Disisi lain, Kamito sudah menyaksikan sebelumnya penampilan masa keemasan penyihir itu dua kali.

Yang pertama adalah dipermulaan ketika dia membawa Kamito ke rumahnya. Yang kedua adalah saat di hutan perbatasan ibukota kekaisaran ketika mempelajari Purple Lightning, gerakan pertama dari Absolute Blade Arts.

Greyworth telah menyebutkan sebelumnya bahwa kekuatan suci akan meningkat sampai ketinggian yang ekstrim ketika kekuatan Elemental Lord mempengaruhi alam manusia.

Selama kesempatan seperti itu, tubuhnya akan mendapatkan kembali masa mudanua, memungkinkan dia untuk memulihkan kekuatan terbesarnya selama durasi yang pendek—

Tubuh indah gadis manis itu basah kuyup karena hujan gerimis.

Wajah muda itu bisa dengan mudah disalahpahami dengan wajah gadis kecil.

Namun, yang dipegang ditangannya adalah sebuah pedang iblis bernodakan darah. Seseorang bisa merasakan kecantikan yang menimbulkan rasa merinding dari sosoknya, berdiri disana dalam diam.

"—Itu benar, dia adalah Greyworth."

Kamito memberitahu Fianna.

Tentu saja, itu mungkin saja untuk mengubah penampilan seseorang menggunakan kekuatan roh peniru. Namun, mengingat tebasan pedangnya dengan kecepatan dewa yang sebelumnya, tak diragukan lagi itu adalah Absolute Blade Arts. Dibandingkan dengan seorang peniru seperti Sjora Kahn, itu berada ditingkat yang benar-benar berbeda.

"Greyworth..."

Merasa putus asa, Kamito menyebut nama itu lagi.

Darah mengalir keluar dari lukanya melumuri jari-jarinya.

Sesuatu pasti telah terjadi di menara Guas Gibai dimana dia dipenjara, Kamito memperkirakan. Kendali pikiran melalui sihir, pencucian otak dengan menggunakan obat, atau mungkin sesuatu yang lebih mengerikan— Apa yang harus dia lakukan? Itu tidak tampak seperti dia bisa membuat Greyworth kembali normal hanya dengan memanggil namanya.

Namun, meskipun begitu—

Mengingat dia adalah penyihir itu, Kamito berteriak, berpegang pada setitik harapan.

"Apa kau lupa tentang aku, muridmu? Jangan bilang bahwa seorang wanita setingkat dirimu, Penyihir Senja yang menakutkan, telah dicuci otak?"

Kamito berteriak. Namun, mata gadis muda itu hanya menatap dia tanpa emosi.

"Ku..."

Kamito menancapkan Demon Slayer pada tanah dan berdiri perlahan-lahan. Darah mengucur dari lukanya membentuk genangan di kakinya.

"Kamito-kun, lukamu masih—!"

"Jangan khawatir... tentang hal itu."

Jika kata-kata tidak bisa mencapai dia, maka hanya ada satu bahasa untuk berkomunikasi.

Menyiapkan Demon Slayer, Kamito menatap tajam pada penyihir yang ada dihadapannya.

"Oh? Kau berdiri seperti itu—"

Si penyihir yang tampak seorang gadis muda berbisik seolah terkesan, lalu mengangkat pedang iblisnya yang berwarna crimson.

Dibandingkan dengan pedang iblis hitam legam yang merupakan senjata pribadinya, pedang itu berbeda dalam hal bentuk dan warna. Namun, perasaan aneh dan mengerikan tak diragukan bahwa itu milik suatu roh iblis.

—Dibandingkan dengan saat itu....

"Fufu, kau terluka berat, Onii-chan."

Suara seorang gadis muda, semanis suara lonceng, bergema di langit redup ibukota kekaisaran.

"...!?"

Kamito mendongak.

Ditengah-tengah hujan—

Seorang gadis melayang diudara, tersenyum polos.

Penampilannya seperti seorang gadis muda berusia 12 atau 13.

Dibawah rambut pirangnya yang berkibar adalah mata ungu yang misterius. Mengenakan pakaian sakral berwarna putih polos, dia memegang sebuah tongkat uskup perak yang bertindak sebagai bukti dari seorang kardinal berperingkat tinggi dari Kerajaan Suci.

Dan juga, mata kirinya ditutupi oleh menutup mata.

"Kau....!"

Millennia Sanctus—gadis yang memiliki Kegelapan Dunia Lain yang bersemayam dimata kirinya.

Dia adalah dalang yang menyebabkan roh-roh mengamuk dan membuat Akademi Roh Areishia ke ambang kehancuran.

Gadis muda itu tertawa dan turun dalam diam ke puing-puing.

".....Tsk, aku mengerti sekarang. Kau pasti orang yang bersekongkol dengan Arneus."

Fianna menatap gadis itu dan berkata.

"Astaga, jangan membuatnya kedengaran begitu buruk. Akan lebih baik untuk mengatakan itu adalah yang diinginkan kakakmu. Kami hanya menyediakan sedikit bantuan."

Gadis itu mengangkat bahu dengan cara yang manis.

"Mungkin memang begitu, sejak awal dia adalah seorang pria tak kompeten, bahkan tak bisa mengurung seekor burung yang ditangkap kedalam sebuah sangkar. Jika demikian, mungkin akan lebih melegakan dengan memilikimu sebagai boneka, mengingat seberapa mumpuninya dirimu. Hei, Fianna-chan, ini masih belum terlambat. Kenapa kamu tidak menjadi teman kami saja?"

"Maaf. Aku menolak. Apakah ada bagusnya dalam menjadi teman?"

"Aku mengerti, sungguh disayangkan—"

Millennia memalingkan kepalanya untuk menatap Kamito yang berdiri di kolam darah. . "Fufu, penari pedang terkuat—Ren Ashbell—Bahkan bagi seseorang sepertimu, dihadapan sang penyihir, kau tak ada bedanya dengan seorang bayi."

"Apa kau yang mencuci otak Greyworth?"

Kamito menggeram dengan niat membunuh yang besar.

Namun, Millennia mendengus tak takut sama sekali.

"Kami tidak melakukan sesuatu yang tak berguna seperti pencucian otak. Kami hanya membebaskan Penyihir yang memang sudah ada dalam dirinya sejak awal. Ah, namun, aku paham.... Onii-chan, kau mungkin tidak tau hal ini. 24 tahun yang lalu, harapan seperti apa yang dia minta dari para Elemental Lord—"

"Apa?"

—Harapan yang diinginkan Greyworth.

Kamito tidak tau apa persisnya yang dia maksudkan.

Apakah dia hanya mencoba membingungkan mereka? Atau mungkin—

(....Tidak. Apa yang hatus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya keluar dari sini.)

Kamito melirik Fianna yang ada disebelahnya.

Efek dari Save the Queen telah lenyap dan Fianna tampak sangat kelelahan.

Ini wajar saja— Dikurung di lingkungan yang seperti penjara, kondisi fisiknya pastinya sangat lemah. Lebih tepatnya, itu sudah bisa dikatan sebuah keajaiban bahwa dia bisa melarikan sampai sini dengan kakinya sendiri.

(...Sudah pasti tidak mungkin untuk bertarung sambil melindungi Fianna.)

Kamito dengan tenang merenungkan strategi untuk keluar dari keadaan yang sulit ini. Dia saat ini menghadapi tantangan yang besar yang mana dia tidak tau apakah dia bisa mengatasinya meskipun dengan mengerahkan kekuatan penuhnya—

"Fianna, apa kamu tau rute lari dari ibukota kekaisaran?"

Kamito berbicara.

Fianna harusnya tau tentang rute pelarian yang ekslusif untuk keluarga kerajaan— Rubia bilang begitu sebagai orang yang menyusun operasi penyelamatan ini.

Tanpa bantuan Virrey, tak mungkin melarikan diri melalui reruntuhan bawah tanah yang merupakan tempat yang biasa mereka kunjungi. Menerobos secara paksa lebih mustahil lagi karena ada Imperial Knight sebagai musuh.

"Ya, aku memang tau tentang lorong ekslusif untuk keluarga kerajaan."

Karena dia telah mempertimbangkan rute itu selama tahap kabur dari penjata, dia bisa menjawab dengan cepat.

"Apa ada peluang bahwa itu sudah disegel?"

Kamito bertanya. Karena Arneus juga seorang anggota keluarga kerajaan seperti Fianna, wajar saja sia tau keberadaan rute melarikan diri. Jadi, bukanlah hal yang aneh bagi dia jika sudah mengirim orang kesana.

Namun, Fianna menggeleng ringan.

"Tidak, aku yakin tak ada masalah disana. Lorong itu benar-benar tidak tersedia untuk dia. Oleh karena itu, keberadaannya kemungkinan besar tidak diketahui oleh dia."

"....bukan untuk dia?"

Kamito merasa bingung, tapi tak ada waktu untuk bertanya.

"Fianna, kembalilah ke tempat yang sebelumnya untuk bertemu dengan Claire dan Ellis."

"Bagaimana denganmu, Kamito-kun?"

"Aku akan menahan mereka disini."

"Apa—"

"Cepat, untuk kebaikan kita. Aku tak bisa melindungimu ketika aku bertarung."

Kamito secara paksa mendorong dia menjauh.

"....."

Mendengar kata-katanya, Fianna—

Menggigit bibirnya dan berdiri terhuyung-huyung.

Ragu-ragu disini akan membuat dirinya menjadi beban Kamito, Fianna mengambil kesimpulan.

"Kalau begitu aku akan pergi duluan. Aku akan menunggumu."

"Ya, makasih."

Fianna mendekat ke telinga Kamito dan berbisik.

"Dibawah menara lonceng terbesar di distrik bangsawan, kuil kecil Michaela."

"Dimengerti. Aku akan segera kesana."

Kamito mengangguk. Fianna pergi kearah jalanan sambil menyeret satu kaki.

"Fufu, apa sudah selesai bicaranya?"

Millennia berbicara.

"Maaf, apa aku membuatmu menunggu?"

"Ya. Kau adalah satu-satunya lawannya yang mempelajari teknik pedang yang sama seperti wanita ini. Subjek tes yang sempurna. Dengan menghilangnya beban itu, kau akan bisa bertarung dengan sungguh-sungguh kan?"

"....Kalau begitu, bagaimana kalau menunggu sampai lukaku sembuh?"

Kamito berbicara sambil menekan luka yang ada di perutnya.

"Percobaan yang bagus, tapi bukannya luka itu sudah sembuh?"

"....Jadi kau memperhatikannya."

Kamito memaksakan sebuah senyum. Bocor, racun kegelapan telah mempercepat penyembuhan dari luka itu. Tidak, daripada mempercepat penyembuhan, itu lebih seperti regenerasi.

(....Sepertinya tubuhku sudah menjadi monster sejati....)

Dia memgejek dirinya sendiri.

Namun, sekarang adalah waktunya dia harus mengandalkan kekuatan mengerikan ini.

Kamito melihat kebelakangnya sekilas dan bergerak.

Fianna sudah menghilang dari pandangan menuju ke sisi lain jalan tersebut.

Sekarang ini, dia harus mengulur waktu agar Fianna bisa melarikan diri, bahkan jika hanya sebentar saja—

Ketika Kamito berpikir tentang hal itu, Millennia tertawa.

"Ya ampun, siapa yang bilang burung kecil itu diijinkan melarikan diri?"

".....Apa!?"

"Jika dia kabur, raja bodoh itu akan membuat keributan yang besar."

Mellennia menatap reruntuhan yang ada dibawah kakinya. Menemukan Leschkir Hirschkilt yang telah dikalahkan oleh Kamito, dia menyeringai.

"Ah ya, biar aku kirim sampah tak berguna ini."

"Apa—"

"Bangkitlah, bonekaku."

Mengatakan itu, Millennia menginjak kepala dari ksatria Number yang terkapar—

Perlahan-lahan, dia melepas penutup mata kirinya.

Mata kiri ini disemayami Kegelapan Dunia Lain yang bahkan mampu merusak para Elemental Lord.

(.....apa?)

Dari mata kirinya, kegelapan yang pekat meleleh dan menetes lalu menutupi wajah si ksatria Numbers.

Tiba-tiba, tubuh Leschkir Hirschkilt kejang-kejang sembari erangan aneh keluar dari mulutnya.

"...Ah... Gaga... Ga-ah, gagagaga..."

Bermandikan Kegelapan Dunia Lain, Leschkir perlahan-lahan bangkit layaknya hantu dan bergerak kaku seperti sebuah boneka yang patah.

(....Apa-apaan itu?)

Menyaksikan fenomena mengerikan tersebut di hadapan matanya, Kamito menahan nafasnya secara reflek.

"Kejar Putri Kedua, boneka. Gak masalah meskipun kau membunuh dia."

Millennia menunjuk ke arah yang dilewati Fianna.

Lalu...

"...Ah... Fiannaaaaaaaaa.... Sang Putri..... Kedua!"

Dua bola hitam muncul diatas kepala Leschkir.

Roh gravitasi yang dibelah oleh Kamito sebelumnya masih belum sepenuhnya hancur.

(Sial—!)

Dengan pedang ditangannya, Kamito bergegas mendekat, tapi sudah terlambat. Membalikkan medan gravitasi disekitarnya, roh gravitasi itu membuat Leschkir mengambang di udara sambil tertawa gila. Lalu tubuhnya terbang disepanjang rute diarah Fianna melarikan diri.

Meskipun Kamito ingin mengejar dia—

"Lawanmu adalah aku—"

Berdiri didepannya sambil memegang pedang iblis crimson ditangannya adalah Greyworth.

Bagian 2[edit]

"Huff, huff, huff, huff—"

Fianna berlari mati-matian sembari diguyur hujan deras di jalan.

Suara benturan pedang yang sengit terdengar dibelakangnya. Fianna tak bisa menghilangkan rasa khawatirnya pada Kamito, tetapi dia masih melakuan segala yang dia bialsa untuk mempercayai Kamito dan menekan pemikiran ini. Bertujuan ke kuil dimana lorong pelarian berada, dia berlari sembari tersandung-sandung.

Namun, dia sudah hampir mencapai batasnya.

Rasa sakit yang tajam berputar-putar pada pergelangan kakinya seolah-olah terbakar.

Tak mampu mempertahankan keseimbangan, Fianna jatuh di genangan air. Gaun putihnya yang robek dan compang-camping belepotan dengan warna lumpur.

"...Guh..."

Dia mencoba sebisa mungkin untuk menekan suara erangannya. Kalau dia membiarkan jeritan keluar disini, para Imperial Knight akan segera menemukan dia.

Beruntungnya, tak ada warga dari distrik bangsawan yang terlihat, berkat perintah evakuasi.

(Sungguh mengerikan—)

Pergelangannya memerah dan membengkak.

Dia pasti telah terkilir ketika roh gravitasi menyerang. Menahan rasa sakitnya, dia berlari kesini, tetapi dia tak bisa berdiri sekarang.

"O cahaya suci penyembuhan, sembuhkan luka ini—"

Fianna menekan pergelangan kakinya secara ringan dengan jarinya dan merapalkan sihir roh penyembuhan.

Namun, cahaya redup yang dihasilkan di ujung jarinya dengan cepat menghilang.

Karena kesuciannya yang telah habis, mustahil untuk mengunakan secara penuh meskipun itu hanyalah sihir setingkat ini.

(....Kalau begitu, pemanggilan Georgios sudah pasti tak bisa dilakukan.)

Dia mendesah ringan. Kekuatan suci yang telah bergejolak didalan dirinya seperti badai yang sebelumnya telah sepenuhnya menghilang.

(Sebenarnya kekuatan suci apa yang aku terima dari Kamito-kun...?)

Sembari mengingat pelukan erat Kamito yang disertai ciuman itu, dia menyentuh bibirnya dengan lembut dengan ujung jarinya.

Rasa panas dari ciuman itu terasa seolah-olah masih tertinggal samar-samar disana....

Ciuman pertamanya dengan seseorang yang dia cintai. Namun, ciuman itu sepenuhnya dipaksa oleh keadaan. Pastinya Kamito sendiri tak memikirkan apa-apa tentang hal itu...

(A-Apa yang kupikirkan disaat seperti itu?)

Fianna tersipu dan menggelengkan kepalanya.

Kalau dia mendengarkan dengan cermat, suara benturan pedang yang intens masih bisa terdengar dari kejauhan.

(Kamito-kun...)

Perasaan khawatirnya hampir merobek dadanya.

Tentunya dia tau kekuatan besar milik Kamito.

Namun, lawannya adalah si Penyihir Senja.

Selain itu, entah bagaimana caranya, Greyworth telah mengembalikan kekuatan puncaknya—

(Itu mungkin juga Kamito tak bisa menang....)

Saat ini, masih memungkinkan untuk kembali ke sisinya, meskipun yang bisa dia lakukan hanyalah sedikit membantu—Godaan ini berulang kali muncul di pikirannya.

Namun, jika dia kembali sekarang, itu akan menghianati kepercayaan Kamito.

Dia memahami prinsip ini.

(...Oleh karena itu, sekarang ini, yang bisa aku lakukan adalah membuka jalan berdarah bagi kami untuk melarikan diri.)

Mendukung dirinya sendiri pada dinding, Fianna perlahan-lahan berdiri.

Karena menerima sihir penyembuhan yang tak sempurna, setidaknya rasa sakitnya tak bisa dirasakan untuk beberapa saat.

Menyeret satu kaki, dia mulai bergerak maju lagi. Lalu...

Dia tiba-tiba merasakan rasa dingin pada tulang punggungnya.

Itu ada naluri seorang princess maiden.

Dia menggunakan kakinya yang baik-baik saja untuk menendang tanah dengan keras, melompat kedepan.

Tepat dibelajangnya, vmmmmm—Ruang dibelakangnya terdistorsi disertai suara yang keras.

Suatu penekanan muncul pada jalan itu, disebabkan oleh suatu kekuatan yang tak terlihat.

"...!?"

Setelah lolos dari kematian dengan jarak yang tipis, Fianna tiba-tiba mendongak.

Disana—

"Ah, hahahaha... Ketemu kau.... Ketemu kau...."

Dengan ekspresi menghina, itu adalah wajah mencemooh dari Leschkir Hirschkilt anggota Numbers.

"Dame Leschkir!? Bukankah dia seharusnya sudah dikalahkan oleh Kamito-kun?"

Jatuh ke tanah, Fianna mengerang. Dia ingin segera bangun, tetapi—

Sesaat setelahnya, seluruh tubuhnya terasa sangat berat, tertekan pada tanah.

"...Aguh... Urgh...!"

Fianna merasakan rasa sakit yang tajam diseluruh tubuhnya seolah semua tulangnya remuk. Melayang diatas kepala Leschkir adalah bola roh gravitasi, menghasilkan mesan gravitasi yang kuat disekitanya.

"Ahah, ahahahahaha...!"

Menatap Fianna yang kesakitan, Leschkir tertawa tak menyenangkan. Meskipun kehilangan pikiran rasionalnya, kendalinya atas roh terkontraknya tidaklah menurun.

—Matanya ternoda oleh warna dari kehampaan kegelapan.

(Itulah yang merasuki para Elemental Lord....)

Kegelapan Dunia Lain. Mungkinkan dia telah memasukkannya kedalam tubuhnya—?

"Mati, mati, mati, matilaaaaaaaaaaah!"

Roh gravitasi yang mengamuk menghancurkan ruang disekitar, termasiku Fianna.

(...Kamito... -kun...!)

Dibawah medan gravitasi yang kuat, dia mengeluarkan jeritan buruk. Lalu kemudian—

Tiba-tiba, medan gravitasi tersebut lenyap.

(...?)

Dia mendongak. Kenapa sosok Leschkir menghilang dari sana—?

"Yang Mulia, apa kamu baik-baik saja!?"

"Ellis!?"

Memegang Ray Hawk, Ellis mendarat didepan Fianna.

"Syukurlah aku menemukanmi... Sungguh luka yang mengerikan."

Ellis berlutut dan mengangkat Fianna di lengannya.

"Bagaimana dengan Kamito? Apa kamu datang kesini sendirian?"

"Untuk membuatku bisa melarikan diri, Kamito-kun saat ini sedang bertarung...."

"Aku mengerti...."

Ekspresi menyakitkan muncul di wajah Ellis. Dia mungkin ingin membantu Kamito juga, tetapi memahami bahwa keputusan tersebut adalah keputusan yang tepat. Fakta bawar dia telah memaksa Fianna melarikan diri sendirian menyiratkan seberapa sulitnya lawan yang dia hadapi.

"Yang Mulia, apa kamu tau bagaimana caranya melarikan diri dari ibukota kekaisaran?"

Ellis bertanya.

"Ya, di kuil Michaela didepan. Ada sebuah lorong pelarian."

"Kuil Michaela? Tempat seperti itu.... Oh yah, dimengerti. Mari bergegas kesana."

Ellis mengangguk, memindahkan posisi Fianna menjadi gendong belakang dan merapalkan sihir roh angin.

Dia mengambang.

Untuk menghindari ditemukan oleh para Imperial Knight, dia tidak terbang terlalu tinggi, tetapi kecepatan pergerakannya akan jauh lebih cepat daripada berlari ditanah.

Kemudian, puing-puing dibelakang mereka meledak.

Ellis dan Fianna melihat kebelakang secara tiba-tiba.

"Agaga, gi... Agigigigigi..."

Dihempaskan oleh Ellis, Leschkir melambaikan tangannya secara aneh sambil tertawa dengan suara yang dipenuhi dengan kegilaan.

".....Mustahil. Bom Angin itu seharusnya telah menimbulkan pukulan langsung."

Segera setelah Ellis berseru terkejut...

Leschkir Hirschkilt melepaskam bola-bola gravitasi yang tak terhitung jumlahnya dari tangannya.

Bagian 3[edit]

Banyak tebasan pedang menghasilkan percikan api sembari suara dari pedang yang bertabrakan terus bergema—

Suatu tarian yang kacau-balau antara pedanv iblis berwarna crimson dengan Demon Slayer, saling menebas dalam derasnya hujan.

Suatu tarian pedang yang indah, seperti menyaksikan para princess maiden menari.

Namun, ini bukanlah tarian yang dipersembahkan pada para roh.

Murni—Suatu pertarungan sampai mati.

"...Tsk, sadarlah, Greyworth!"

Sembari kedua pedang itu saling berhantaman dengan intens, Kamito menatap mata abu-abu itu, memanggil dia mati-matian.

Namun, gadis muda itu sama sekali tidak menjawab. Seolah disarankan bahwa mengangkat pedang sama halnya dengan berbicara, Greyworth melepaskan tebasan tajam pada Kamito. Tekanan yang mencengangkan dari pedang tersebut tak sesuai dengan sosoknya yang mungil.

(....Cih, dan ini hanya pada output 30%—)

Kamito menggertakkan giginya keras-keras.

Seorang pengamat mungkin melihat ini sebagai pertarungan yang seimbang.

Namun, Kamito mengetahuinya lebih baik. Tingkatan sebenarnya dari penyihir itu jauh diatas ini.

Apakah dia menekan kekuatannya secara sengaja, atau mungkin dia masih belum bisa mengendalikan secara penuh tubuh ini? Jika memang dia belum bisa mengendalikan tubuhnya, maka Kamito masih memiliki harapan.

(....Kalahkan dia sebekim dia bangkit sepenuhnya!)

Tetapi, setelah si Penyihir Senja sepenuhnya bangkit, dia bahkan tak memiliki sepersepuluhribu dari peluang kemenangan.

"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning."

Kamito melangkah maju, menutup jarak dalam selejap untuk melepaskan gerakan mematikan dari Absolute Blade Arts.

Dengan Greyworth sebagai lawannya, menahan diri sama artinya dengan cari mati.

Namun, Greyworth membaca serangannya yang berkekuatan penuh.

Tebasan berkecepatan dewa dihindari dengan jarak setipis kertas—

"Absolute Blade Arts, Bentuk Alternatif—Ice Storm Rakshasa!"

Seolah mencoba untuk menggali lantai batu, Greyworth mengayunkan bilah pedang iblis kebawah.

Seketika, tanah dipenuhi dengan tangkai es yang memiliki duri tajam yang tak terhitung jumlahnya untuk menembus Kamito.

Teknik pedang ini tidak diketahui oleh Kamito.

Itu mustahil bagi Kamito untuk mewarisi seluruh Absolute Blade Arts. Absolute Blade Arts adalah serangkaian teknik yang menggabungkan ilmu pedang dengan kekuatan suci. Diantaranya termasuk pemakaian sihir roh yang tidak diwarisi Kamito karena kurangnya bakat miliknya dalam bidang itu.

Lalu, Kamito menusukkan bilah Demon Slayer ke tanah.

(....Aku mengandalkan kamu, Est, bertahanlah.)

Dia menuangkan seluruh kekuatan sihir yang ada ditubuhnya pada pedang tersebut.

Tangkai-tangkai es tersebut langsung lenyap ketika membuat kontak dengan cahaya terang yang dilepaskan oleh Demon Slayer.

Bertindak berdasarkan naluri bahwa dia bisa mengandalkan kekuatan resistensi sihir milik Est yang tak tertandingi untuk menetralisir sihir roh dari Absolute Blade Arts, Kamito bertaruh.

Sekali lagi, Greyworth menutup jarak dalam sekejap.

Sebuah tebasan kebawah dari posisi atas, Kamito memblokirnya menggunakan pegangan dua tangan dari Demon Slayer.

Begitu berat.

Selanjutnya, Greyworh melepaskan kekuatan suci yang dikonsentrasikan pada kakinya sekaligus ketika dia menendang tanah. Ini adalah keterampilan paling dasar yang Kamito pelajari pertama kalinya. Namun, potensi penggunaan keterampilan itu dari Kamito masih kauh lebih lemah dibandingkan penggunaan dari si Penyihir Senja yang berkelanjutan, didukung oleh kekuatan sucinya dalam jumlah yang besar.

Hanya sekedar langkah maju.

Namun itu meningkat pada kecepatan dewa, Purple Lightning mungkin mustahil untuk dilihat dengan jelas.

Hanya dengan sepersekian detik yang tersisa, untuk berhasil menghindari Purple Lightning ini—

(Tak bisa dipercaya bahwa ini benar-benar sekedar sapaan...!?)

Tanpa bergerak mundur, Kamito menyerang balik pedang yang memdekat.

Sudah pasti bahwa mundur bukanlah pilihan. Tanpa melihat jalur tusukan dari kecepatan dewa, akan sangat berbahaya jika musuh berhasil memanfaatkan celah. Dia tak punya pilihan selain terlibat dalam pertarungan jarak dekat.

Untungnya, ini juga merupakan apa yang diinginkan pihak lain. Kegembiraan muncul dimata gadis itu.

(...Cih, sifat sadistiknya tidak berubah sama sekali!)

Ketika Kamito membuat komentar sinis secara mental....

Dia mendengar ledakan samar dari kejauhan.

Itu berasal dari arah Fianna berada.

Meskipun dia tidak memalinhkam kepalanya unyukr melihat, sekilas, konsentrasinya terpecah.

"Jangan gelisah selama pertempuran—"

Gadis depannya berbicara dingin, lalu—

"Kaha—!"

Dia menendang Kamito dengan ganas pada perut.

Kamito jatuh ke tanah dan berhenti bernafas selama sesaat.

"Apa cuma ini yang bisa kau lakukan, Raja Iblis—?"

Gadis itu bertanya dengan dingin.

Bilah pedang iblis miliknya bersinar didepan matanya—

(....Cih, apakah tak ada yang berubah dibandingkan dengan tiga tahun yang lalu?)

Saat Kamito mempersiapkan dirinya untuk kematian, lalu pada saat itu...

Sebuah kilatan berwarna crimson terbang mendekat.

(Apa!?)

Greyworth mengayunkan pedang iblisnya secara horisontal didepannya, menepis kilatan tersebut.

CLAAAAAAAAAAAAANG!

Kilatan tersebut terpantul ke arah lain, menyebabkan sebuah ledakan besar saat menghantam sebuah bangunan.

Puing-puing berjatuhan, menghasilkan awan debu dan tanah.

Greyworth melompat menjauh. Kilatan cahaya crimson itu jatuh seperti hujan badai ke posisinya yang sebelumnya.

(...Ap...a?)

Kamito memalingkan tatapannya ketempat kilatan cahaya itu berasal.

Lalu—

"—Haruskah aku menawarkan bantuan, Kazehaya Kamito?"

Sebuah suara tegas sekeras kaca bergema diudara.

Di langit ibukota kekaisaran yang gerimis, ada seorang gadis berpakaian seragam militer—

"Leonora?"

Kamito melebarkan matanya.

Memang, orang yang menyelamatkan Kamito adalah Leonora Lancaster.

Dia adalah ksatria putri dari Dragon Duchy of Dracunia yang pernah Kamito lawan dalam pertandingan mematikan di festival Blade Dance.

"Sungguh memalukan, Kazehaya Kamito. Tak terpikir bahwa orang yang mengalahkan aku akan jatuh begitu rendah."

Mengatakan itu, Leonora melompat dengan gagah dari punggung naganya untuk mendarat disamping Kamito.

".....Leonora, apa yang kau lakukan disini?"

Melupakan situasinya, Kamito yang tercengang bertanya.

Leonora tiba-tiba tersenyum nakal.

"Tak peduli bagaimana aku terlihat, aku adalah seorang putri dari Dragon Duchy of Dracunia, lho? Sebagai perwakilan Negara Naga, aku berpartisipasi dalam Konferensi Semua Negara di Ordesia."

"...Aku mengerti. Memang benar, kau adalah seorang putri seperti itu."

Seperti tidak mengenakan pakaian dalam pada suatu waktu, otaknya secara tak sengaja melupakan rincian ini, tapi—

Leonora Lancaster memang seorang putri dari Dragon Duchy of Dracunia.

"Hmm, apa yang kau maksud dengan 'sepertu itu'? Lancang sekali."

"M-Maaf...! Ngomong-ngomong, terimakasih banyak, Leonora."

Menyadari dia telah cukup kasar barusan, Kamito meminta maaf dengan panik.

"Tapi situasi yang cukup menarik tampaknya telah terjadi."

Leonora menatap Millennia yang melayang diudara.

"Cardinal dari Kerajaan Suci, apa yang kau rencanakan secara sembunyi-sembunyi? Kalau kau terlibay dalam upaya gagal yang sebelumnya dalam pembunuhan kaisar, maka sesuai prinsip, Negara Naga tak bisa mengabaikan masalah ini."

Millennia tertawa mengejek dan berkata:

"Ya ampun, Nona Naga, Kerajaan Suci menanggapi permintaan Yang Mulia Arneus untuk menangkap sang Putri Kedua, dalang dari upaya pembunuhan kaisar. Mengetahui bahwa jika kau menyebabkan masalah, Kerajaan Suci secara alami akan menganggap ini sebagai konflik internasional diantara Ordesia dan Dracunia."

Sebagai tanggapan, Leonora tersenyum tanpa kenal takut.

"Itu bukan masalah buatku. Aku sudah mendapatkan ijin dari negaraku sendiri."

"....Apa maksudmu?"

"Delegasi Negara Naga akan pulang hari ini dengan niat mewaspadai keterlibatan secara sepihak dalam perang sipil Theocracy. Tak ada lagi alasan untuk menggabungkan kekuatan dengan Ordwsiat yang telah menjadi boneka Kerajaan Suci."

"Jika demikian, Raja Naga dari Dracunia berniat untuk bermusuhan dengan seseorang tertentu yang memiliki wewenang...."

Mata ungu Millennia menyala dengan cahaya yang tajam.

"Pihakmu pasti akan menyesali pilihan ini, Nona Naga—"

Greyworth menyiapkan pedang iblisnya dan mulai menghadapi Kamito dan Leonora.

"Ijinkan aku membantumu. Ini bukanlah seorang lawan yang bisa kau kalahkan sendirian, kan?"

Mengatakan , Leonora berdiri disamping Kamito.

"Leonora.... Tidak, itu—"

Kamito menggeleng.

Meskipun dia sangat bersyukur atas tawarannya, mengingat lawannya, dia sudah pasti tidak boleh membuat Leonora terlibat.

"Tidak, aku melakukan ini secara suka rela. Jangan menolak."

Leonora mengangkat tangannya dan melantunkan suatu bahasa roh untuk pemanggilan.

Pada saat yang sama, naga sihir berwarna hitam legam berubah menjadi sebuah pedang raksasa ditangan Leonora.

Pedang suci pembunuh naga, Balmung—sebuah elemental waffe yang menyembunyikan kekuatan penghancur yang mencengangkan.

"Itu akan merepotkan jika kau mati disini—"

Mengayunkan pedang raksasa itu dengan satu tangan, dia menusukkan bilahnya ke tanah.

"..."

Kamito menderita batin selama sesaat, lalu dia membalas.

"—Terimakasih."

Satu kata sederhana.

Leonora Lancaster—elementalis terkuat dari Knights of the Dragon Emperor.

Bagi Kamito sekarang ini, dia adalah sekutu terkuat.

Menganggap Greyworth masih belum memasuki keadaan bangkit sepenuhnya—

Masih ada peluanh menang jika mereka berdua bekerja sama.

"Leonora, lakukan sekuat tenaga dari awal. Kita akan terbunuh kecuali kita menyelesaikan pertarungan ini dalam satu serangan."

"Ya, aku sudah tau bahwa ini bukanlah lawan yang biasa—"

Seperti yang diduga dari Greyworth, Kamito bisa merasakan kekuatan milik Greyworth melalui kulitnya meskipun Greyworth masih belum kembali ke keadaan normal.

"—Menakjubkan. Aku merasa bahwa satu lawan akan sedikit mengecewakan."

Si Penyihir Senja menjilat bilah pedang iblisnya dan berkata sambil tersenyum.

Bagian 4[edit]

"Ahaha, ahahahahahaha!"

Tawa Leschkir Hirschkilt bergema disekitar area itu.

Terbang secara acak, bola-bola gravitasi tersebut menghancurkan bangunan-bangunan disekitar tanpa pandang bulu.

"....Cih, kacau sekali....!"

Menggendong Fianna dipunggungnya, Ellis dengan terampil mengendalikan angin yang menyelimuti kakinya untuk menghindari bola-bola gravitasi.

Tembakan-tembakan itu sangat acak, yang mana membuatnya sulit untuk memperkirakan lintasannya.

Selain itu, hantaman langsung dari tembakan sekuat itu sudah pasti akan berakhir buruk.

"Ellis, sebelah sana—"

Fianna berbisik pelan di telinga Ellis.

Diujung jalan di kejauhan, kuil tujuan bisa teelihat.

Dibandingkan dengan Istana Nefescal atau Great Shrine of Areishia, itu adalah sebuah kuil yang kecil yang cukup mencolok. Tanpa upacara dan perayaan dalam skala besar seperti Festival Roh Agung yabg diadakan disana, pada dasarnya itu adalah suatu lokasi yang terabaikan di ibukota kekaisaran.

Apakah memang benar-benar ada suatu jalur pelarian keluarga kerajaan di tempat seperti ini?

Tiba-tiba, sebuah bola gravitasi yabg dilepaskan oleh Leschkir menghantam menara lonceng diatas.

Ruang terdistorsi dan terbelah. Puing-puing berjatuhan secara bersamaan—

"Ini buruk—!"

Ellis menjadi pucat. Mengesampingkan situasinya sendiri, sembari saat ini menggendong Fianna, akan sangat sulit untuk menghindari puing-puing itu.

"Bakar semuanya, bola api pembakar yang menyala—!"

Bola api mendekat dan meledak di udara.

Dengan suara yang memekakkan telinga, ledakan tersebut menghancurkan puing-puing besar yang berada diatas Ellis, mengubahnya menjadi abu.

"Sebelah sini, Ellis!"

"Itu sangat membantu, Claire—"

Yang mendarat pelan didepan Ellis adalah Claire dengan Flametongue ditangannya.

Meskipun mereka berpencar saat mencari, setelah mendengar suara ledakan diarea ini, dia bergegas datang.

"Fianna, apa kau baik-baik saja?"

Melihat Fianna, Claire mendesah lega.

"Ya ampun, aku benar-benar minta maaf... karena membuat kalian berdua khawatir."

"Sudah gak usah dipikirkan. Sebelum menjadi Putri Kedua, kau adalah anggota penting dari Tim Scarler. Sudah wajar kan kalau kami membantumu."

"Hmm, tepat—Tapi saat ini tak punya waktu untuk ngobrol santai!"

Ellis mengayunkan Ray Hawk untuk menepis bola gravitasi yang mendekat.

"Ah, ahahahaha, jangan kabuuuuuuuuuuuuuurrrr."

"Uwah... A-Apa-apaan itu...."

Melihat Leschkir mengejar mereka sambil tertawa gila, wajah Claire berkedut.

"Leschkir Hirschkilt dari Numbers. Sekarang ini, dia telah menjadi gila karena Kegelapan Dunia Lain."

"Kegelapan Dunia Lain? Kenapa hal semacam itu—"

"Nanti aja penjelasannya. Kalau kita tidak kabur dulu..."

"B-Benar...."

Claire mengangguk.

Pada tingkat ini, kaributan akan membuat Imperial Knight datang ke TKP.

"Aku akan menghentikan dia disini. Ellis, bawa Fianna dan larilah sekarang—"

"Ya, dimengerti—"

Ellis menendang tanah. Angin yang dikonsentrasikan pada kakinya meledak, membuat dia berakselerasi seketika.

Melihat mereka pergi, Claire menyiapkan cambunya yang berkobar untuk menghadapi Leschkir si pengejar.

Meskipun dalam keadaaan gila, lawan adalah salah satu dari Numbers, yang dikenal sebagai ksatria terkuat dari Kekaisaran. Level kekuatannya jauh diatas level Claire.

(Lumayan, tapi tidaklah mustahil!)

Dia dengan terampil mengendalikan cambuknya untuk menepis sebuah bola gravitasi yang mendekat dengan liar, menghempaskan bola itu jauh-jauh—

"Huh...?"

—Lalu sesuatu yang aneh terjadi.

Tubuh Leschkir yang melayang tiba-tiba jatuh ke tanah.

Itu tampak seolah dia jatuh karena kendali gravitasinya terganggu bukannya secara sengaja.

Dengan demikian, dia tiba-tiba kehilangan kesadaran, tak bergerak sama sekali.

".....A-Apa?"

Claire berseru terkejut.

Sesaat setelahnya....

Roh gravitasi yang melayang diatas kepala Leschkir mulai membesar seolah akan meledak.

"...!?"

Bagian 5[edit]

"Ayo maju!" "Ya—"

Kamito dan Leonora mulai berlari secara bersamaan.

Didepan, Leonora mengangkat Balmung tinggi-tinggi dan melompat.

Lantai batu tersebut berhamburan karena dampaknya.

"Dracunia Style Blade Arts—Drag Slash!"

Menuangkan kekuatan suci dalam jumlah yang besar, dia mengayunkan pedang besar itu kebawah.

Mustahil untuk diblokir. Meskipun seseorang menghentikan pedang tersebut, dia masih akan hancur akibat gelombang kejutnya yang besar. Dibandingkan dengan keterampilan yang indah dari Absolute Blade Arts, ini adalah skill kasar dari keganasan yang ekstrim.

—Akibatnya, pengguna pedang normal tak mampu menanganinya.

Greyworth melompat kesamping.

Menargetkan kesana, Leonora mengayunkan pedang besar itu sekuat tenaga.

Boom—Itu seperti suara ledakan meriam. Dampaknya menghancurkan tanah, menghasilkan sebuah retakan besar.

seperi biasa, kekuatan penghancur yang mencengangkan.

Nanun, Greyworth menusukkan pedangnya ke tanah untuk bertahan terhadap dampaknya. Memutar tubuh mungilnya, dia segera mencabut pedang tersebut dan langsung meluncurkan sebuah tusukan dengan kecepatan kilat pada Leonora.

(....Cih, tak akan kubiarkan!)

Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning.

Melepaskan kekuatan suci yang dikonsentrasikan pada kakinya dengan tendangan pada tanah, Kamito berakselerasi.

Demon Slayer dan pedang iblis crimson bersilangan, menimbulkan percikan api yang berhamburan.

"Ohhhhhhhhhhh!"

Dalam hal kekuatan dari Elemental Waffe, Est lebih unggul. Jika dia terus menekan seperti ini—

—Bibir Greyworth terbuka ringan seolah membisikkan sesuatu.

(....Sihir roh!?)

Pedang iblis itu yang berwarna semerah darah, sedikit berdengung.

Diperingatkan oleh naluri, Kamito langsung mundur untuk membuat jarak.

"O budak peminum darah yang serakah— Blood Thorn."

Tanamam rambat berwarna darah keluar, menargetkan untuk menusuk Kamito yang mundur dengan duri-duri tajam.

"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga—Shadowmoon Waltz!"

Kamito terus menebas tanaman yang ditembakkan tanpa henti.

Sihir penghapus bukanlah keahlian Greyworth. Kemungkinan besar itu adalah atribut dari roh pedang iblis crimson.

Tanpa memperlambat kecepatan serangannya, Greyworth segera menyerang lagi.

Begitu cepat. Kamito menuangkan kekuatan suci kedalam pedangnya dan mengubahb Est menjadi bentuk Demon King's Sword satu tangan.

"Maju dan tembuslah, petir iblis penghukum pemusnah segalanya—Vorpal Blast!"

Petir hitam yang terpancar ditembakkan pada Greyworth. Namun, setiap serangan dihindari oleh Greyworth menggunakan pergerakan yang melampaui akal sehat manusia.

Namun, ini hanyalah pengalihan—

Dari belakang, dia bisa merasakan kekuatan suci dalam jumlah yang besar.

"Biarkan amarahki berubah menjadi raungan untuk menembus bumi— Drag Blast!"

Leonora melepaskan sihir roh dalam skala yang mengerikan, menyerang sambil meninggalkan retakan pada tanah.

Pada saat yang sama, Kamito mulai berlari juga.

(Ini adalah saatnya untuk menyelesaikan pertempuran—!)

Menggunakan pedang iblis yang diresapi kekuatan suci, Greyworth menepis tembakan naga yang besar.

Namun, bagaimanapun juga, kekuatan tembakan dari sihir itu sangatlah kuat. Dia kehilangan keseimbangan.

Kamito menyerang sekuat tenaga dan mengayunkan Demon King's Sword.

Dua serangan, tiga serangan—Dia terus mengeluarkan serangan combo untuk mencegah Greyworth mendapatkan peluang menyerang balik.

Lalu, Leonora mengayunkan pedangnya yang besar. Dibandingkan dengan Kamito yang nenggunakan serangan beruntun untuk mendesak musuh, serangan Leonora memprioritaskan satu serangan mematikan. Dihadapkan dengan dua gaya pedang yang sepenuhnya berbeda, bahkan seseorang seperti Greyworth tak punya pilihan selain bertahan terus-menerus.

"Dracunia Style Blade Arts—Drag Slash!"

Leonora mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap untuk melakukan gerakan mematikan. Tentunya, musuh tidak melewatkan celah ini. Greyworth segera melakukan serangan balik, tetapi itulah tepatnya yang ditunggu-tunggu Kamito.

Kamito membuat Est melakukan Mode Shift lagi—menciptakan dia pedang kembar untuk mode dual.

Lalu—

"Absolute Blade Arts, Bentuk Penghancur—Bursting Blossom Spiral Blade Dance - Enam Belas Serangan Beruntun!"

Dia mengeluarkan gerakan rahasia dari Absolute Blade Arts.

Bagian 6[edit]

Setelah sampai di bagian dalam kuil, Ellis dengan lembut menurunkan Fianna.

Karena penghalang isolasi yang dipasang disekitar mereka, tak ada suara yang bisa didengar dari luar.

Di bagian terdalam dari kuil tersebut, terdapat sebuah meja batu kecil yang digunakan untuk menyembah para roh.

"Yang Mulia, jadi ini rute pelariannya—"

"Ya, tunggu sebentar—"

Fianna memegang sebuah pisau kecil ditangannya, pisau yang digunakan untuk altar upacara—

dia menggunakan bilahnya untuk menyayat ibu jarinya sendiri.

Tetesan darah mengalir ke meja batu tersebut.

"Apa sebenarnya ini—"

Dengan ekspresi ningung, Ellis mengernyit.

Bagaimanapun juga, situasi saat ini sangatlah mendesak—

Lalu segera setelahnya, Ellis melebarkan matanya.

Tulisan dalam bahasa roh yang terukur pada meja batu tersebut tiba-tiba-tiba bersinar biru.

"Ini adalah....!"

"Sebuah Gerbang—hanya orang yang memiliki darah keluarga kerajaan yang bisa mengaktifkannya."

Mengatakan itu, Fianna mulai merapal mantra bahasa roh.

Lalu—

"....E-Ellis, oh tidak!"

Claire berlari mendekat, terengah-engah.

"Apa yang terjadi, Claire? Dame Leschkir—"

Dipertengahan kalimat, Ellis terdiam.

Diluar pintu masuk, sebuah bola raksasa terus berkembang, membesar tanpa henti!

Mungkinkah itu roh yang lepas kendali, dilahap oleh Kegelapan Dunia Lain?"

"Leschkir tak lagi bisa mengendalikan roh gravitasi itu. Pada tingkat ini, reaksi lepas kendali akan runtuh cepat atau lambat."

"Jika benda itu jatuh—"

"Ya, seluruh area ini akan meledak!"

Bagian 7[edit]

Gerakan rahasia Absolute Blade Arts, "Bursting Blossom Spiral Blade Dance" menghantam si Penyihir Senja—

Greyworth terlempar ke udara sebelum jatuh ke tanah dengan lintasan berputar-putar.

(....Apakah... berhasil....?)

Kamito terengah-engah sambil menusukkan Demon Slayer tegak lurus ke tanah.

Dia tak lagi memiliki tenaga yang tersisa. Kekuatan suci diseluruh tubuhnya telah dituangkan kedalam enam belas serangan beruntun yang barusan.

Jika serangan itu masih tak bisa mengalahkan musuh, mereka akan kehabisan pilihan.

(Tolong, jangan berdiri...)

Sembari menatap Greyworth yang terkapar, Kamito berdoa dalam hatinya.

Namun—

"Kau benar-benar-benar menunjukkan gerakan yang sangat bagus..."

"......!?"

Memegang pedang iblis, Greyworth perlahan-lahan bangkit.

(Jadi serangan itu gagal...!)

Dengan penampilan putus asa, Kamito mengeluarkan erangan.

Bursting Blossom Spiral Blade Dance adalah sebuah teknik pedang yang mampu melenyapkan suatu roh kelas archdemon dalam sekali serang.

Dia tidak menahan diri barusan.

Kamito telah mengeluarkan semua kekuatan suci yang dia simpan pada saat itu.

Namun, diantara enam belas serangan yang dia luncurkan, hanya ada dua serangan yang bisa dianggap serangan akurat—Tak lebih dari itu. Sisanya bisa dibaca dan dihindari.

(—Aku tak menyangka bahwa dia benar-benar bisa menghindari Bursting Blossom Spiral Blade Dance meskipun baru pertama kalinya dia melihatnya.)

Tidak, lebih tepatnya, ini tidak terhitung sebagai yang pertama dia melihatnya. Meskipun kehilangan ingatan masa kalinya, tubuhnya yang sangat akrab dengan Absolute Blade Arts, masih akan mempertahankan ingatan itu—

(Sialan.....)

Darah mengalir di pipi Greyworth.

Dia menjulurkan lidahnya dan menjilat tetesan darah tersebut.

"Ahh, ini—Jadi ini darahku?"

"...?"

Kemudian....

Kamito merasakan rasa dingin yang bergejolak.

Sesuatu yang tak menyenangkan—

Kebangkitan dari sesuatu yang benar-benar tidak boleh bangkit—

Firasat seperti itulah.

(....Apa-apaan itu?)

Kamito menahan nafasnya.

Gadis yang ada dihadapannga tiba-tiba terasa seperti orang yang berbeda—

—Lalu.

"—Tidak, masih belum saatnya."

Di udara, Millennia Sanctus perlahan-lahan mulai berbicara.

Kontras dengan ekspresinya yang tenang, ada sedikit ketidaksabaran dalam suaranya.

Lalu dia dengan cepat meraoakjanu suatu bahasa asing—bukan bahasa roh maupun High Ancient—membentuk segel dengan satu tangan.

Sesaat setelahnya, kegelapan tiba-tiba muncul di bawah kaki Greyworth—

Dalam sekejap mata, tubuh mungilnya terlahap.

"Ap...?"

....Kamito menyaksikan semua ini sambil terkejut—

Melihat reaksinya, Mellennia mengangkat bahu.

"Tampaknya itu terlalu awal untuk membiarkan dia bertemu denganmu. Itu hampir saja menghancurkan sebuah rencana yang penting...."

"Rencana....?"

Millennia tersenyum samar lalu menggeleng meminta maaf.

"Sudah cukup untuk hari ini. Mari kita bermain lagi lain kali ketika saatnya tiba, Onii-chan."

Membuat isyarat tangan yang sama seperti sebelumnya, Millennia juga dilahap oleh kegelapan, menghilang tanpa jejak.

Yang tertinggal hanyalah lantai batu yang berhamburan dan tanda bekas dari pertempuran ganas.

"Dia kabur? ....Tetapi itu sangat tidak sesuai."

"Ya."

Kamito mengangguk setuju.

Greyworth telah memojokkan mereka sepanjang waktu.

Pihak Kamito sudah menggunakan semua kartu as yang mereka miliki, namun Greyworth masih memiliki kekuatan yang belum dikeluarkan.

Kamito dan Leonora akan kalah jika pertarungan berlanjut.

Kenapa mereka kabur? Sepenuhnya tak bisa dipahami.

Leonora menurunkan pedangnya pelan-pelan dan berkata:

"Orang macam apa dia itu?"

"....."

Setelah menderita batin selama sesaat tentang bagaimana menjawabnya, Kamito berkata:

"—Mentorku."

Sebuah jawaban sederhana dan singkat padat.

"....Benarkah? Wajar saja kalau begitu."

Leonora mengangkat bahu menerima terang-terangan.

"Terimakasih, Leonora. Tampaknya aku berhutang budi padamu lagi..."

Kamito menggaruk kepalanya dan berkata.

"Yah, kuharap aku bisa menerima imbalan yang setimpal"

Leonora menggoda sambil bercanda.

"Ya, apapun yang kau mau, asalkan aku bisa."

"Apapun yang aku mau...?"

Setelah merenung dalam-dalam selama beberapa saat, Leonora tersipu.

"Ka-Kalau begitu, katika kita bertemu lagi suatu hari, kurasa aku akan memikirkannya baik-baik..."

Berdeham untuk membersihkan tenggorokannya, dia melemparkan pedangnya yang besar ke udara.

Balmung milik Leonora berubah menjadi roh naga iblis hitam legam, Nidhogg.

Setelah Leonora manaiki punggungnya, Nidhogg mengepakkan sayapnya keras-keras.

Pada saat itu, Kamito tiba-tiba teringat sesuatu.

(Kalau dipikir-pikir, aku ingat Rubia berbicara tentang mencari tempat perlindungan di Dracunia...)

"Oh, Leonora, tunggu—"

Tepat saat Kamito memanggil...

Namun, naga hitam yang membawa Leonora sudah mengepakkan sayapnya yang megah, terbang ke langit.

"—Tanpaknya aku akan bisa membalas budi pada dia dengan segera."

Tersenyum masam, Kamito bergumam.

"Baiklah—"

Kamito berbalik.

Dia ingat bahwa Fianna pergi ke arah menara lonceng terbesar, tetapi—

"....Apa itu?"

Melihat bola raksasa yang hampir menyelimuti seluruh jalanan, Kamito mengernyit.

Bagian 8[edit]

"Fianna, apa masih belum siap juga!?"

"Benda itu sudah hampir meledak—"

Sembari merapal sihir defensif dibelakang Fianna, Claire dan Ellis berteriak mati-matian.

Penghalang isolasi kuil itu sudah hancur. Ubin batu didekat pintu masuk terhempas satu persatu.

Melahap bangunan sekitar, meluas cukup luas hingga bisa mencakup sekitarnya, roh gravitasi itu tampak akan runtuh setiap saat.

Namun, Fianna berfokus berdoa didepan meja batu tersebut.

"Bisakah Kamito berhasil tepat waktu?"

Claire menggigit bibirnya dan bergumam penuh kekhawatiran.

Itu tak seperti mereka bisa meninggalkan Kamito seorang diri. Tetapi jika mereka terus menunggu, mereka mungkin akan terjebak dalam runtuhnya roh gravitasi dan berubah menjadi debu bersama dengan seluruh kuil.

—Pada saat itu.

Sebilah pedang melintas diatas mereka dan bongkahan batu berbentuk segitiga jatuh dari langit-langit.

"....Hwahhhh, a-apa-apaan itu!?"

Ditengah-tengah awan debu yang mengepul, orang yang turun adalah—

"Maaf membuat kalian menunggu...!"

Kamito disertai Demon Slayer ditangannya.

"Kamito!"

"Gak bisa dipercaya kau menghancurkan atap kuil. Karma akan menimpamu."

"Maaf, aku nggak bisa lewat pintu masuk... Btw, apa yang terjadi disana?"

"Roh gravitasi milik Leschkir lepas kendali—"

Roh gravitasi itu semakin membesar.

Hampir mencapai titik kritis—

"Cepetan dikit napa, Fianna!"

Melihat itu, Claire berteriak.

"Kita akan kembali, segel dari perjanjian kuno. Dimana itu diukir—
Penerus darah kerajaan—Sekarang juga ditempat ini, bukalah Gerbangnya—"

Gerbangnya, sebuah pusaran cahaya, muncul.

"....Apakah ini rute pelarian keluarga kerajaan?"

"Ya, cepetan masuk!"

Ketika Fianna berteriak, roh gravitasi itu tiba-tiba berkontraksi dengan cepat—

"Roh itu mau meledak...!"

Dalam detik selanjutnya, bola gravitasi itu meledak.


Bab 2 - Perjamuan di Winter Gulf[edit]

Bagian 1[edit]

Sementara itu, semua orang di kastil Winter Gulf di Laurenfrost mengadakan perjamuan perayaan.

Karena tetap tinggal seusai kemauannya sendiri untuk memimpin upaya pembangunan ulang di wilayah Laurenfrost setelah kehancuran yang disebabkan oleh Zirnitra, sudah sewajarnya bahwa Rinslet tidak mengetahui tentang kelompok Kamito yang ditahan setelah kembalinya mereka ke Akademi atau upaya pembunuhan dari kaisar di ibukota kekaisaran. Bagaimanapun juga, jalur pegunungan melewati Pegunungan Kyria, yang bertindak sebagai penghubung antara Laurenfrost dan ibukota kekaisaran telah hancur oleh amukan Zirnitra yang sebelumnya dan belum dipulihkan menjadi jalur dalam kondisi yang sesuai.

Ketika kastil itu sibuk dalam persiapan perayaan, Rinslet berada diruangan tertentu, berganti pakaian menjadi seragam Akademi.

".....sigh, aku benar-benar ingin bertemu dengan Kamito-san secepatnya."

Saat dia mendesah.....

"Nona Rinslet, Mireille-sama telah menyelesaikan persiapannya."

Dari luar pintu, terdengar suara Natalia, kepala maid dan kapten dari Wolf Ritters.

"A-Aku akan segera kesana!"

Rinslet buru-buru menyelesaikan ganti baju dan keluar ke koridor.

Di ujung koridor, sosok Natalia yang berdiri tegap bisa terlihat.

"Natalia, uh, aku berbicara sendiri barusan..."

"Tidak, saya tidak mendengar suara apapun..."

"Be-Begitukah...?"

Rinslet mendesah lega.

"Namun, saya bersimpati dengan perasaan anda yang ingin bertemu dengan orang yang anda cintai sesegera mungkin."

"Natalia~!"

Buk buk buk.

Dengan wajah memerah cerah, Rinslet terus memukulkan tangannya pada punggung si kepala maid. Lalu—

"Tunggu, Onee-sama, kenapa kau bermain-main disini? Hari ini adalah hari pentingku lho?"

Mengenakan pakaian princess maiden dari Divine Ritual Institute, putri ketiga, Mireille, berjalan kearah mereka disepanjang koridor. Mengikuti dia seperti bayangan adalah maid pribadinya, Milla Bassett. Yang di belakang adalah putri kedua, Judia, duduk di kursi roda.

Rinslet berhenti memukul si kepala maid dan batuk ringan.

"Mireille, pakaian itu cocok sekali denganmu."

Mendengar komentar Rinslet, Milla mengangguk dalam diam.

"Sungguh? Tapi jadi lebih susah untuk bergerak dengan pakaian ini dibandingkan dengan gaun formal kastil..."

Mireille cemberut, mengangkat keliman dari pakaian ritualnya dan berputar ditempat.

"Hentikan. Perilaku yang tak pantas akan menimbulkan ketidaksenangan para roh."

Melihat Mireille berputar-putar, Rinslet menghentikan dia.

"....I-Itu akan jadi masalah."

Mireille segera berhenti.

Memang, Mireille hendak menuju ke kuil untuk melakukan upacara pengontrakan roh.

Sebelumnya, provinsi Laurenfrost yang ada perbatasan telah memperoleh perdamaian dengan Penghuni Hutan yang menyendiri yang tinggal di hutan sepanjang tahun, dengan demikian mencapai persetujuan untuk membangun ulang hutan yang telah dihancurkan oleh Zirnitra. Sebagai hadiah imbalan, para Penghuni Hutan memutuskan untuk menghadiahkan pada Mireille salah satu roh yang diabadikan milik mereka.

Kuil untuk upacara pengontrakan roh berada di gua dimana putri kedua Laurenfrost, Judia, dipenjara didalam es terkutuk. Karena masa lalu yang rumit ini, seseorang telah menyarankan untuk mengubah ke tempat yang berbeda. Tetapi sekarang itu dketahui bahwa lokasi tersebut tak lagi berbahaya, ditambah fakta bahwa itu adalah kuil yang paling sakral di wilayah Laurenfrost, oleh karena itu pada akhirnya, persiapan tetap dibuat untuk melaksanakan ritual disana.

"Aku benar-benar ingin Kamito-oniisama bisa melihatku mengenakan pakaian formal."

Mireille bergumam penuh harap.

"Jika demikian, bagaimana kalau mengundang dia pada Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin?"

Dengan mata tertutup, Judia berbicara. Setelah dibebaskan dari es terkutuk, meskipun kesehatannya perlahan-lahan pulih, penglihatannya masih hilang.

"Ah, benar juga. Kalau begitu, Onee-sama bisa menunjukkan pakaian formalnya pada Kamito-oniisama juga."

"M-Mireille, jangan mempermainkan kakakmu!"

Memerah sampai di telinganya, Rinslet menjadi tergagap.

Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin di Laurenfrost adalah sebuah festival yang sudah terkenal bukan hanya didalam perbatasan Kekaisaran, tetapi juga mencapai negara-negara lain. Selama festival itu, patung salju dari segala macam roh bisa ditemukan di semua kota, menarik wisatawan dalam jumlah yang besar... Sebagai catatan tambahan, beberapa tahun belakangan ini, patung-patung salju dari Ren Ashbell adalah yang paling dominan dalam hal jumlah.

Seperti yang ditentukan oleh tradisi, Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin dipimpin oleh princess maiden dari keluarga Laurenfrost. Oleh karena itu, jika Kamito diundang kesini, dia secara alami akan melihat putri-putri Laurenfrost mengenakan pakaian formal mereka.

"Mireille-sama, sudah waktunya—"

Lalu, Milla si maid mengingatkan.

"Kalau begitu, ayo pergi—"

Meninggalkan Judia yang duduk di kursi roda dan kepala maid Natalia, Mireille dan yang lainnya berangkat menuju kuil.

Bagian 2[edit]

"...Ugh... Owww..."

Sesaat setelah Claire dan kelompoknya melompat kedalam pusaran cahaya tersebut secara bersamaan—

Kamito terjatuh ditengah-tengah kegelapan total.

(Tempat apa ini...?)

—Tepat saat dia hendak berdiri, dia tiba-tiba menyadari sesuatu yang penting.

(....A-Aku gak bisa bernafas!?)

Hidung Kamito berada dibawah sesuatu yang elastis, mencegah dia bernafas. Jangan bilang aku terkubur dibawah gunung puing-puing karena bola gravitasi raksasa itu—

(....Gak lucu kalau aku terkubur hidup-hidup!)

Kamito mencoba segala cara untuk membebaskan dirinya dan memegang benda yang menekan pada hidungnya.

Boing.

Dia merasakan tekstur yang lembut dan lentur. Jari-jarinya merasakan sedikit kehangatan.

(....A-Apa ini?)

Dihadapkan dengan perasaan perasaan sentuhan yang luar biasa ini, Kamito memiringkan kepalanya karena kebingungan.

Boing. Boing boing.

"Hyah!"

"...!?"

Tiba-tiba, Kamito mendengar jeritan diatas kepala.

"O-O, O,O api, terangilah!"

Sesaat setelahnya, sebuah bola api kecil muncul dalam kegelapan.

Yang memasuki pandangannya adalah—

(...C-Claire!?)

Kamito berteriak didalam hatinya.

Dengan sebuah bola api ditangannya, Claire menatap Kamito dengan ekspresi terkejut.

(....Dengan kata lain, apa yang menghalangi wajahku barusan, jangan bilang itu adalah....)

Memang... Benda elastis dan lembut itu adalah pantat Claire.

"K-Kau, k-kau, a-apa, a-apa yang kau lakukan~....!?"

Rumble rumble rumble rumble rumble...!

Wajah Claire menjadi merah cerah sementara rambut crimsonnya baik seperti seekor kucing.

"T-Tunggu, aku hanya mencoba untuk memahami lingkungan sekitarku..."

Kamito menjadi panik dan menjelaskan dengan panik.

"Karena itu terasa lembut, jadi mau bagaimana lagi... Ah—"

"...~Tsk, k-kau, d-dasar binatang bejat~!"

Sembari menangis, Claire kehilangan ketenangannya dan memanggil Flametongue ditangannya.

"A-Aku bahkan belum m-mandi... Bangsat!"

"S-Saat aku sadar, kau sudah ada diatasku, beneran....!"

Dihadapkan dengan Claire yang marah karena alasan yang aneh, Kamito dengan panik menggelengkan kepalanya.

"...N-Ngomong-ngomong, dimana ini?"

Kamito berdiri dan melihat sekeliling.

"M-Mencoba mengubah topik huh..."

Meskipun tidak senang, Claire mesih menggunakan bola api penerangan tersebut di telapak tangannya untuk menerangi sekeliling.

Banyak stalaktit es yang di langit-langit sembari es keras menutupi lantai... Yang pasti, ini bukanlah kuil yang sama seperti dimana Kamito dan rekan-rekannya berada sebelumnya.

(....Ngomong-ngomong, tempat ini tampak sedikit familiar.)

Dimana dia melihatnya? Seharusnya masih belum lama...

"Kurasa... Aku pernah kesini sebelumnya."

"Apa yang terjadi?"

Mengernyit, Claire meningkatkan kecerahan bola api.

—Lalu, mereka menemukan Ellis dan Fianna yang pingsan didekat situ.

"Apa mereka baik-baik saja?"

Kamito berjongkok dan dengan pelan mengguncang bahu mereka.

"...Ooh, mmm... Kamito?"

"...Kamito-kun?"

Ellis dan Fianna membuka mata mereka.

"Fianna, apa yang terjadi? Sebenarnya apa pusaran cahaya yang barusan—"

Pertanyaan Claire langsung ke intinya.

"....Sepertinya teleportasinya berhasil."

Fianna menekan pelipisnya sambil menjawab pelan.

"Teleportasi?"

Ya, kuil itu adalah perangkat teleportasi yang disediakan untuk keluarga kerajaan untuk melarikan diri dari ibukota kekaisaran."

"....Aku mengerti sekarang. Oh, jadi itu yang kau maksudkan dengan tidak tersedia untuk Arneus."

Seseorang yang tak memiliki kekuatan elementalis tak akan bisa mengaktifkan perangkat sihir tersebut, meskipun bagian dari keturunan kerajaan. Meskipun Arneus mengetahui keberadaan lokasi tersebut, dia masih tak bisa mengirim mengejar.

"Jadi, kita di teleport kemana?"

"Hmm, kalau tidak ada kesalahan dalam menentukan koordinatnya, mungkin...."

Kemudian, hawa kehadiran seorang manusia mendekat dari sisi lain kegelapan itu.

"...!"

Mereka berempat langsung meningkatkan kewaspadaan.

Selain Kamito dan rekan-rekannya, apakah ada orang lain yang melewati pusaran cahaya untuk mengejar...?

Dengan ekspresi guguo, kelompok itu menatap tajam ke kedalaman kegelapan itu.

Yang muncul dari sana—

"....Siapa disana!?"

"Rinslet!?"

Itu adalah Rinslet, memegang panah es ditangannya, didampingi oleh Mireille.

Bagian 3[edit]

"Ya ampun, sungguh mengejutkan..."

Didalam wilayah Margrave Laurenu, di Kastil Winter Gulf....

Dibawa ke aula besar di kastil itu, Kamito dan rekan-rekannya duduk dimeja, meminum teh hitam seduhan Milla Bassett yang di tambah madu untuk menghangatkan badan dari rasa dingin.

"Nggak heran aku merasa tempat itu familiar...."

Menaruh cangkir tehnya di meja, Kamito bergumam pelan.

Memang, gua yang diselimuti es dingin adalah tempat dimana adiknya Rinslet, Judia, dipenjara didalam es terkutuk oleh Elemental Lord Air.

Rinslet sepertinya ada disana bersama Mireille untuk melakukan upacara pengontrakan roh.

Upacara itu berjalan sukses setelah Kamito dan rekan-rekannya meninggalkan gua. Saat ini, roh milik Mireille yang baru dikontrak sedang duduk dipundaknya, seekor musang salju kecil. Meskipun tak memiliki penampilan mengintimidasi seperti Fenrir, roh itu tampak seperti roh yang sangat cerdas dan bijaksana, cukup mirip dengan Mireille dalam hal itu. Roh itu sudah sangat akrab dengan Mireille dan menggosokkan bulunya yang hangat penuh kasih sayang pada pipinya.

"Nona Mireille, uh, bolehkah aku menyentuh ekornya?"

Ellis, yang menyukai hewan-hewan lucu, bertanya agak bersemangat.

"Tentu, silahkan."

Mireille memegang pundak Ellis dan dengan segera, roh musang salju itu berpindah ke pundak Ellis dan melingkarkan dirinya sendiri dilehernya seperti sebuah syal.

"Wow... Dia manis sekali."

Merilekskan ekspresinya yang serius, Ellis terus berseri-seri.

(...Tidak, Ellis, kau lah yang manis.)

—Kepikiran suatu komentar seperti itu, kemungkinan besar akan membuat dia marah, jadi Kamito tidak menyuarakannya.

"Tetapi syukurlah bahwa teleportasinya berhasil tanpa ada kecelakaan. Akan merepotkan kalau kita dikirim ke Kelzanos atau Fahrengart bukannya Laurenfrost."

Fianna berbisik pelan.

Perangkat teleportasi kuil itu memiliki Gerbang yang terhubung pada wilayah dari Empat Keluarga Besar—Elstein, Fahrengart, Laurenfrost dan Kelzanos.

Diantara gerbang-gerbang itu, Gerbang yang mengarah pada wilayah Elstein yang telah disita tak lagi ada, sementara Keluarga Kelzanos adalah pemimpin dari faksi bangsawan pro-Arneus. Meskipun Keluarga Fahrengart dalam posisi netral, jika Arneus menjadi penerus yang ditunjuk secara resmi, mereka mungkin tidak akan melindungi Fianna. Meskipun Ellis bersama mereka, itu saja tak akan membantu. Mengingat situasi saat ini, satu-satunya tempat didalam Kekaisaran Ordesia yang aman adalah lokasi Rinslet, wilayah Margrave Laurenfrost.

"....Bagaimanapun juga, syukurlah kau aman dan selamat, Yang Mulia."

Setelah Rinslet mengatakan itu—

Fianna menggigit bibir keras-keras dan menatap Kamito dan yang lainnya secara berurutan.

"....Ya, sungguh, aku... sungguh berterimakasih. Jika kalian tidak datang, aku pasti telah..."

Dia berbicara dengan suara bergetar.

Meskipun dia mempertahankan ketabahan mentalnya sepanjang waktu, pikiran Fianna yang tegang mungkin menjadi tenang setelah pada akhirnya datang ke tempat yang aman. Ada isakan dalam suaranya.

"Sudah sewajarnya. Kau adalah anggota dari Tim Scralet."

Mendengar komentar Claire yang terdengar seperti dia menyembunyikan rasa malu, Kamito mengangguk setuju.

Setelah menyeka air matanya dengan jari-jarinya, Fianna memulihkan ekspresinya yang biasanya dan berkata:

"Namun, Kamito-kun, bagaimana caranya kalian menyusup ke ibukota kekaisaran!? Terutama di distrik bangsawan, yang mana itu mungkin mustahil untuk masuk menggunakan metode biasa."

"Oh, panjang ceritanya..."

Kamito berhenti sejenak lalu melanjutkan.

"Sebenarnya, Rubia lah yang merencanakan operasi penyelamatanmu, Fianna."

"Rubia-sama?"

Fianna melebarkam matanya yang berwarna senja.

Kamito memberitahu segalanya pada dia tentang diskusi dengan Rubia di kapal terbang itu.

Konspirasi Kerajaan Suci untuk merusak Kekaisaran Ordesia. Elemental Lord Api yang telah terlahir kembali disuatu tempat di alam manusia. Dan juga, niat Rubia untuk menyampaikan pernyataan sebagai Legalisir Ordesia dalam oposisi pada keluarga kekaisaran Ordesia saat ini—

"Legalisir Ordesia?"

"Ya, Nee-sama berencana untuk mengangkat bendera atas namamu untuk menentang Kekaisaran yang telah menjadi negara bonela Kerajaan Suci."

"Jika pernyataan dari Legalisir Ordesia disampaikan, Yang Mulia, itu akan setara dengan pemberontakan secara terang-terangan terhadap keluarga kekaisaran Ordesia."

"Jadi begitu...? Kau memang benar."

Fianna menunduk dan berpikir secara mendalam dengan ekspresi serius.

"Kurasa tak perlu bagimu untuk memberikan jawaban yang segera."

Kamito berkomentar. Pilihan itu artinya menghianati kampung halaman yang telah membesarkan dirinya dan bahkan keluarganya sendiri, menjadikan musuh mereka.

Jawaban ini tak akan mudah untuk diputuskan. Meskipun Fianna memutuskan untuk menolak rencana Eubiar, Kamito masih akan menghormati keinginannya. Claire, Ellis dan Rinslet kemungkinan merasakan hal yang sama.

Akan tetapi, Fianna segera mengangkat kepalanya dan menatap Kamito dan yang lainnya secara bergantian—

"Tidak. Aku akan menjadi kaisar dari Ordesia yang Sah."

Dia menyatakan dengan penuh tekad.

"Fianna, apa kau yakin?"

"Ya, aku akan menjadi kaisar, untuk melawan Kerajaan Suci—"

Dihadapkan dengan pertanyaan Kamito, Fianna mengangguk penuh tekad.

Melihat ekspresi wajah Fianna yang penuh tekad, Kamito dan rekan-rekannya saling menatap satu sama lain.

Lalu—

Yang pertama mengulurkan tangannya adalah Claire.

"....Bagus... Aku akan mendukung keputusanmu, Fianna."

"Ya, demi kampung halamanku, aku bersedia bertarung disampingmu, Yang Mulia."

Ellis meletakkan tangannya diatas tangan Claire. Kamito dalam diam meletakkan tangannya diatasnya.

"....Dimengerti. Aku juga akan bergabung denganmu."

Akhirnya, Rinslet juga menunjukkan ekspresi penuh tekad dan meletakkan tangannya diatasnya.

"Rinslet, bukanlah kau harus mengelola Laurenfrost?"

"Kastil ini akan dikelola oleh Mireille seiring berjalannya waktu."

Dihadapkan dengan Claire yang mengerutkan dahi, Rinslet menegaskan dengan penuh keyakinan.

"Membiarkan Mireille menanganinya... Apa nggak apa-apa?"

"Dia sudah mencapai usia dimana sanggup mempekerjakan roh terkontrak. Selain itu, Wolf Ritters ada di Kastil Winter Gulf."

"Ya, nggak apa-apa. Ketika Onee-sama pergi, aku akan menyelesaikan pekerjaan pemerintahan dengan baik. Selain itu, aku juga punya Milla."

Setelah Mireille mengangguk, Milla Bassett, yang berdiri dibelakang, juga mengangguk.

"Tentunya, Arneus mggak akan mau menjadikan Wolf Ritters dari Laurenfrost sebagai musuh sampai dia mendapatkan kendali dari semua bangsawan..."

Claire menganalisa dengan tenang. Selama mereka mematuhi Kekaisaran dipermukaan, dia mungkin tak akan secara sembarangan melakukan pergerakan pada provinsi perbatasan yang ditugaskan sebagai inti pertahanan nasional dari Kekaisaran.

Sembari tangan mereka berempat saling bertumpukan, meteka memfokuskan tatapan mereka pada Fianna.

Sebagai tanggapan, Fianna—

"...Terimakasih, semuanya."

Dengan air mata muncul di sudut matanya lagi, dka mengangguk dan menempatkan tangannya diatas tangan mereka berempat.

"Lalu, bagaiman caranya kita bergerak?"

Rinslet bertanya.

"Pertama, kita harus mendatangi kapal terbang milik Rubia.... Velsaria dan yang lainr seharusnya bertindak sebagai pengalih perhatian dari pasukan ibukota kekaisaran."

"Gunakan Simorgh. Itu akan menjadi cara komunikasi tercepat dan paling bisa diandalkan."

Ellis merapalkan kata-kata pemanggilan dan roh iblis angin segera muncul diudara sambil merentangkan sayapnya. Setelah Ellis mengatakan beberapa instruksi pada telinganya, Simorgh mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit—

"Sebelum burung milik Kapten kembali, kalian harus beristirahat dulu di Kastil Winter Gulf. Yang terjadi biarlah terjadi, perjamuan Mireille akan segera dimulai."

"Maaf, Rinslet, sudah sangat merepotkan kamu."

"Santai saja. Kamito-san, kamu adalah orang yang berjasa yang telah menyelamatkan Laurenfrost. Kami sangat berhutang budi padamu."

"Perjamuan itu bagus, tapi aku ingin mandi dan membersihkan diri dulu."

Claire menatap seragamnya dan berkata.

"Ya.... Aku belum melakukan pemurnian selama tiga hari."

Setelah melirik Kamito, Fianna tersipu malu.

Dia telah dipenjara sejak upaya gagal dari pembunuhan kaisar. Meskipun para princess maiden yang ditugaskan untuk mengawasi selalu membasuh tubuhnya secara teratur, kesuciannya masih menurun secara drastis. Alasan kenapa dia bisa memanggil Georgios ketika berada dalam kondisi seperti itu kemungkinan berkat ikatannya yang sangat kuat dengan roh terkontraknya.

"Persiapkan pemandian secepatnya."

Rinslet mengangguk dan segera memberi perintah pada para maid di kastil.

Bagian 4[edit]

Kondisi fisik Fianna telah melemah karena terpenjara. Setelah dirawat oleh para penyembuh di kastil, dia dibawa ke pemandian terbuka di luar kastil.

Claire dan Ellis, yang tidak memerlukan penyembuhan, sudah selesai mandi dan pergi untuk bergabung dengan Rinslet untuk membantu persiapan di halaman untuk perjamuan perayaan.

Area diluar ruangan terasa begitu dingin hingga seperti membeku.

Gemetar sambil melepas pakaiannya yang compang-camping dan melepas pakaian dalamnya, Fianna mencubit daging dilengannya sambil telanjang dan mendesah ringan.

"....Berat badanku turun dikit dan kulitku juga rusak."

Selama beberapa hari kehidupan terpenjara yang panjang, tak hanya dia dilarang mandi, tetapi dia juga tak menerima nutrisi yang cukup selain air. Pada saat yang sama, sembari terisolasi dari informasi didunia luar, tubuh dan pikirannya tersiksa oleh rasa takut akan eksekusi yang mendekat yang mana hari dan waktunya tak diketahui.

Fianna perlahan-lahan duduk di sebuah batu yang basah.

Mencelupkan kakinya ke pemandian air panas terbuka, dia segera merasakan rangsangan yang nyaman pada kulitnya.

"Haaaaah..."

Perlahan-lahan, memasukkan dirinya kedalam air sampai bahunya, dia menghela nafas.

Meskipun itu bukanlah sumber air panas alami, airnya sangat hangat setelah dipanaskan oleh kristal roh api, menenangkan tubuhnya yang melemah. Dia bisa merasakan perputaran kekuatan suci yang dia terima didalam dirinya saat kesuciannya yang hilang perlahan-lahan pulih.

Fianna memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam dan pelan-pelan.

Dengan ini, dia akhirnya benar-benar bisa merasakan kedamaian.

(Tempat ini bukan lagi penjara itu...)

Menatap langit yang mendung, dia bergumam.

Namun, tentunya ini adalah saat-saat dia bisa bersantai seperti ini...

Ordesia Yang Sah seperti yang direncanakan oleh Rubia—Jika Fianna menjadi penguasanya, itu artinya mengangkat bendera pemberontakan teehasaoy Kekaisaran Ordesia yang kuat.

Itu bisa saja berkembang menjadi perang sipil berskala besar, membagi Kekaisaran menjadi dua.

(Aku nggak bisa membiarkan Ordesia menjadi negara boneka milik Kerajaan Suci.... Tapi—)

Dia masih khawatir. Meskipun dia telah membulatkan tekadnya, hatinya masih sedikit goyah.

(Nggak perlu khawatir, aku bukan lagi Lost Queen yang sama seperti saat itu...)

Fianna merangkulkan lengannya erat-erat pada tubuhnya yang basah. Lalu teringat sensasi dari pelukan Kamiyo, bibirnya secara tak sadar terbuka.

(Saat itu, meskipun Kamito-kun berperilaku agak aneh...)

Muncul pada adegan dihadapan mata Fianna dan mengalahkan Leschkir Hirschkilt pada saat itu, Kamito berbeda dari dirinya yang biasan. Dia memancarkan kesan yang sedikit menakutkan.

(Tetap saja, membuat Kamito-kun bertindak seperti itu sesekali nggak buruk juga...)

Teringat kenangan dari saat itu, pelukan yang kuat, merebut bibirnya, dia langsung merasa pipinya memanas.

Saat itu, suatu kekuatan ganas bergejolak didalam tubuh Fianna, memungkinkan dia untuk mengeluarkan elemental waffe miliknya bahkan keyika kekuatan sucinya hampir sepenuhnya habis. Kekuatan itu, seperti badai yang menderu, masih tetap ada didalam dirinya, terus berasap tanpa henti seperti kayu bakar.

"Haaa... Mm..."

Merasa didalam tubuhnya perlahan-lahan memanas, Fianna mengerang pelan.

(...Tsk, ini buruk. Aku harus tenang...)

Ujung jari Fianna secara alami meraih ujung dari payudaranya.

"...Ah, mmm...!"

Erangan kesakitan yang manis merupakan perasaan yang tak diketahui yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Fianna secara paksa menusukkan kukunya kedalam kulitnya dalam upaya untuk mengatasi suhu tubuhnya yang meningkat menggunakan rasa sakit, tetapi itu tampak lebih seperti menambahkan kayu bakar kering kedalam api yang berkobar-kobar.

"...Mm, ah... Hoo... Ah, ummmmmm...!"

Suara manis keluar dari bibir cerinya yang indah.

"...G-Gawat.... Kenapa... ini...?"

...Tidak, dia sebenarnya mengetahui dengan baik alasannya. Itu pasti karena dia berpikir tentang Kamito.

Kesadarannya perlahan-lahan semakin kabur.

(P-Pada tingkat ini, aku akan bertindak aneh...)

Fianna menyingkirkan pemikiran tentang Kamito dari pikirannya, menutup matanya dan menarik nafas secara teratur.

Dia telah sepenuhnya menguasai metode untuk mempertahankan ketenangan pikiran terlepas dari situasi apapun, selama pelatihannya di Divine Ritual Institute. Pelatihan keras termasuk menghabiskan beberapa hari sambil merendam tubuhnya didalam air. Akan tetapi, tak peduli metode apa yang dia coba, tubuhnya tidak mendingin sama sekali. Sebaliknya, semakin dia berusaha untuk tidak memikirkan Kamito, semakin mudah wajahnya muncul didalam pikirannya...

STnBD V15 053.jpg

(...Ooh~, s-sungguh pemikiran yang nggak tau malu ketika sudah jelas berpikir tentang pemikiran hal semacam itu seharusnya dilarang...!)

Sebagai seorang princess maiden yang murni, semua pikiran Fianna hampir saja hilang diterjang banjir dari delusi bejat yang mengerikan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya...

Didalam pemikiran-pemikiran tersebut merupakan delusi-delusi termasuk hal-hal yang sudah pasti tidak akan dilakukan Kamito dalam realitas. Menyadari hasratnya untuk diperlakukan dengan kasar seperti mainan, untuk diperkosa sampai lemes... Fianna langsung merasa malu atas hasrat tersembunyi ini.

(S-Sungguh m-memalukannya diriku. Aku nggak bisa percaya aku menginginkan Kamito-kun melakukan hal-hal semacam itu....)

Dia pasti akan membenci dirinya kalau Kamito mengetahui apa yang dia pikirkan...

Seolah menghukum dirinya sendiri, Fianna menusukkan kukunya kedalam kulitnya.

Bercak-bercak merah muncul dikulitnya yang pucat, tapi meski demikian, rasa sakit tubuhnya tidak mereda.

"...Ah, mm, yah...!"

Ditengah kesadarannya yang kabur, jari-jari Fianna perlahan-lahan menyelinap turun dari dadanya ke bagian bawah perutnya....

Bagian 5[edit]

"...Hmm?"

Duduk di sebuah batu, Kamito tiba-tiba mendongak.

Dia secara diam-diam bertindak sebagai bodyguard Fianna yang berjaga agak jauh dari pemandian tersebut.

Meskipun tempat ini dibawah yurisdiksi Kastil Winter Gulf, yang mana merupakan tempat yang aman, dengan perjamuan perayaan yang hendak dimulai, para warga terdekat akan datang ke kastil. Sangat mungkin terdapat mata-mata dari Kerajaan Suci atau faksi pro-Arneus yang membaur diantara mereka.

Dia mempersiapkan dirinya sendiri untuk mengambil tindakan langsung jika seseorang yang mencurigakan mendekati area ini.

(....Barusan, kurasa aku mendengar suara Fianna.)

Kalau Fianna menjerit, dia akan segera meluncur dari jarak ini. Namun, suaranya yang barusan terlalu pelan untuk dianggap sebagai jeritan. Suara tersebut akan mustahil terdengar jika pendengaran Kamito tidak dilatih di Sekolah Instruksional.

Memegang pegangan Demon Slayer, dia berdiri diam-diam.

Selanjutnya, dia berjalan ke area berbatu dimana Fianna mandi dan mendengarkan dengan cermat.

...Ah, mmmm... Kami... to-kun, tolong... aku...

"...!"

Seketika, Kamito berlari secara reflek.

Menendang sebuah batu, dia segera melompat dan menggunakan kekuatan suci untuk memperkuat kekuatan kakinya untuk melompati dinding batu.

"Fianna, apa kau baik-baik saja?"

Mendarat disebuah batu di pemandian tersebut, dia mengayunkan pedangnya untuk menciptakan angin untuk menghamburkan uap.

—Dia melihat sosok Fianna, meringkuk di air panas.

"—Ah, mm, huff, huff, huff..."

"Fianna!"

Kamito bergegas mendekat, mengangkat Fianna dalam gendongannya dan mengeluarkan dia dari pemandian air panas.

Meskipun itu adalah pertama kalinya dia menyaksikan tubuh telanjang Fianna dan dia tersipu merah karenanya, sekarang bukan saatnya untuk mengkhawatirkan tentang hal semacam itu—

"Huff, huff... Kamito... -kun...?"

Fianna mengedipkan matanya, pikirannya kabur.

"Ada apa? Apa kamu pusing karena terlalu lama berendam?"

Kamito melepas jaketnya dan menutupi tubuhnya.

Fianna perlahan-lahan meraih dan memegang lengan Kamito.

Matanya yang berwarna senja yang menggoda menatap Kamito dengan sungguh-sungguh....

"Ma..af... Tiba-tiba, tubuhku menjadi panas... Ah, mm...♪ "

Seketika, tubuhnya berguncang keras seolah-olah mengalami gangguan hebat.

Saat itulah, Kamito melihatnya.

Di leher Fianna, suatu tanda lahir yang menyerupai sebuah segel muncul—

(....Ini adalah!?)

Itu adalah sebuah pola yang sangat mirip dengan segel roh milik Restia. Akan tetapi, yang ini jauh lebih rumit dan aneh—

"Mungkinkah itu adalah segel dari Ren Ashdoll, sang Elemental Lord Kegelapan....!?"

Kamito gasped forcefully. He recalled the conversation he had had with Rubia on the flying ship's deck prior to sneaking into the imperial capital.

—Sang princess maiden dari Raja Iblis. Kabarnya seribu tahun yang lalu, Raja Iblis Solomon mengambil para princess maiden dari negara-negara yang ditaklukkan dan menjadikan mereka selirnya, berbagi kekuatan Elemental Lord Kegelapan dengan mereka. Kekuatan yang Kamito berikan pada Fianna melalui ciuman kemungkinan menggerogoti tubuh Fianna, menyiksa dia sekarang ini....

"...Mm, ah, ooh... Huff, huff..."

Dalam pelukan Kamito, Fianna terengah-engah kesakitan.

Ellis dan Rinslet mungkin tidak mengalami reaksi sekuat itu dalam tubuh mereka... Tetapi bagaimanapun juga, ketika dia mencium Fianna, Kamito sudah hampir dilahap oleh kekuatan kegelapan yang ada dalam dirinya. Kemungkinan besar, hal itu menyebabkan efek langsung yang lebih banyak pada Fianna.

(...Hmm, apa yang harus aku lakukan?)

Kamito menggigit bibirnya. Membawa Fianna kembali ke para penyembuh di kastil kemungkinan tak ada gunanya. Apakah duduk disini, menunggu kekuatan kegelapan itu mereda sendiri adalah satu-satunya pilihan?

Fianna memegang lengan Kamito erat-erat, membuka mulutnya dan menggigit Kamito. Dengan itu, nafasnya yang tak teratur tampak sedikit menjadi tenang.

"...Mm, Kamito-kun, maaf... Ini... Ahhh!"

"....Nggak apa-apa. Sampai kamu tenang, tetaplah seperti ini."

Dengan jaketnya diantara mereka, Kamito memeluk Fianna.

Setelah tetap seperti ini beberapa saat... Nafas Fianna perlahan-lahan menjadi stabil.

Tanda merah karena gigitan ada di lengan dan bahu Kamito.

"Apa sudah tenang?"

"Y-Ya..."

Berada dalam pelukan Kamito, Fianna menundukkan kepalanya malu-malu.

"....Maaf, itu adalah kesalahanku."

"...Huh?"

"Uh, aku menciummu di ibukota kekaisaran, kan? Saat itu, kurasa sebagian dari kekuatan Elemental Lord Kegelapan yang berada didalam diriku disalurkan padamu, Fianna."

"Jadi... kekuatan itu adalah milik Elemental Lord Kegelapan...."

Tampaknya Fianna sudah menebak hal ini sampai titik tertentu. Fianna mengangguk pelan.

"S-Saat itu, kurasa aku sedikit kehilangan pikiranku... Uh, maaf."

"Aku mengerti, Kamito-kun. Kamu jelas-jelas bertindak aneh pada saat itu."

Dihadapkan dengan Kamito yang menundukkan kepalanya meminta maaf, Fianna tersenyum.

Lalu dia memerah sampai ke telinganya.

"Uh.... Rahasiakan apa yang terjadi ya..."

"Y-Ya, tentu saja..."

Setelah mendengar bisikan Fianna yang pelan, Kamito mengangguk berkali-kali.

—Lalu, Kamito tiba-tiba teringat suatu masalah tertentu.

"Bicara soal rahasia, tentang Greyworth—"

".....Ya."

"Kupikir akan lebih baik untuk nggak ngasih tau Claire dan yang lainnya untuk sekarang ini. Dari sudut pandang mereka, si Penyihir Senja adalah seseorang yang mereka idolakan. Memberitahu mereka sekarang akan memjadi syok yang besar."

"Aku setuju, itu akan lebih tepat. Gimanapun juga, ini adalah sebuah hari perayaan yang langka."

"Ya, kita tunggu saja sampai kita bertemu dengan Rubia sebelum memutuskan waktu yang pas untuk memberitahu mereka."

Bagian 6[edit]

Malam hari.

Perjamuan perayaan untuk merayakan roh terkontrak milik Mireille secara resmi diadakan di halaman kastil yang luas.

Api unggun dinyalakan dihalaman sembari meja-meja penuh dengan hidangan yang berlimpah.

Ada merpati madu- bakar, sup lobak dan kacang, dan ikan sungai lokal, ciri khusus Laurenfrost, dikukus sambil ditaburi rempah-rempah. Dan juga, steak rusa panggang, telur puyuh diasapi, roti gandum yang baru keluar dari oven dan ditaburi keju... Pada saat yang sama, gudang wine dibuka untuk membagikan wine berkualitas pada penduduk lokal yang berkumpul disini. Adapun untuk anak-anak dan orang-orang yang tak bisa minum, soda dan jus buah telah dipersiapkan untuk mereka.

"Kelihatan sangat mewah."

Duduk di sebuah meja di sudut halaman, Kamito berkomentar sambil makan roti.

Ini adalah roti yang dipanggang kering dengan lapisan yang tebal setelah dipenuhi dengan daging dan sayuran rebus. Sebagai ciri khusus dari Laurenfrost yang terkenal, itu begitu populer hingga roti itu dengan cepat habis segera setelah disajikan.

"Ya, aku yakin bahwa dengan melakukan hal ini, kita bisa meningkatkan moral dalam upaya pembangunan ulang sampai beberapa tingkat."

Sambil mencivipiy wine panas, Rinslet menjawab. Sebagai catatan tambahan, orang yang memberi arahan tentang masakannya di dapur adalah Rinslet sendiri. Meskipun dia tak bisa memasaknya sendiri karena diperlukan jumlah yang banyak, setiap hidangan tanpa terkecuali merupakan mahakarya yang luar biasa dalam hal rasa berkat dibawah arahan dia.

Diatas altar ditengah halaman, mengenakan pakaian ritual, Mireille melakukan sebuah tarian bersama roh terkontraknya, musang salju.

Meskipun baru berusia 9 tahun, pertunjukkan tariannya cukup spektakuler.

"Rinslet-sama, Tuan dari Ornore ingin menyapa anda."

"Dimengerti, aku akan segera kesana."

Dipanggil oleh Natalia si kepala maid, Rinslet berdiri. Sejak beberapa saat yang lalu, dia sangat sibuk, mondar-mandir kesana-kemari untuk menyapa para tuan dari berbagai wilayah.

Claire, Ellis dan Fianna berbaris secara berurutan di barisan panjang untuk mendapatkan berbagai hidangan yang populer.

Pada saat itu, Kamito merasa seseorang memegang lengan bajunya dan menariknya pelan.

Dia menoleh dan melihat bahwa Est telah kembali ke wujud manusia. Est menatap dia dengan sungguh-sungguh.

"Est, apa ada yang kau mau? Akan aku ambilkan untukmu."

"Ya, aku lapar."

Est mengangguk.

"Kamu bekerja begitu keras juga, Est—"

Bagaimanapun juga, dia telah saling beradu dengan pedang milik Greyworth berkali-kali. Roh biasa mungkin sudah hancur berkeping-keping dalam serangan awal.

Memegang sebuah piring untuk membawa makanan, Kamito hendak berdiri ketika—

"Mungkinkah nona kecil ini adalah seorang roh?"

Seorang wanita tua bertanya.

"Ya, itu benar..."

"Wow, seperti dugaanku huh? Ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang roh humanoid seumur hidupku... Terimakasih, terimakasih...."

Wanita tua itu menepukkan kedua telapak tangannya dan mulai memberi hormat pada Est. Melihat itu, warga lokal disekitar juga berkumpul untuk memuja Est. Meskipun sudah ketahui secara luas bahwa roh-roh berperingkat tinggi bisa berubah ke wujud manusia, peluang untuk bertemu roh-roh humanoid sangatlah langka, bahkan bagi siswa yang terdaftar di Akademi Roh Areishia.

Para warga satu persatu memberi piring-piring yang penuh dengan makanan pada Est.

"Dipuja oleh manusia tampaknya seperti kenangan lalu yang sudah lama sekali... Ahm, ahm..."

Disajikan dengan keramahan yang antusias, Est terus makan tanpa henti.

....Entah bagaimana, menyaksikan pemandangan ini terasa sangat menenangkan jiwa seseorang.

"Kamito, suapi aku juga."

"Yup, aku ngerti."

Kamito mengambil sebuah donat hangat dan menyuapkannya pada mulut Est.

"Ahm.... Sangat lezat, Kamito."

"Ouch... Est, jangan memakannya juga..."

Melihat Est mencoba memakan jarinya juga, Kamito tersenyum masam.

"Meow meow!"

Kali ini, itu adalah giliran si kucing neraka yang mengeong di kaki Kamito.

STnBD V15 060.jpg

"Oh, Scarlet, kau mau juga?"

"Meow..."

Kamito mengambil daging rusa yang dibungkus sayuran dan memberikannya pada Scarlet.

"Tunggu, jangan memberi makan Scarlet tanpa ijin."

Pada saat itu, Claire dan para gadis kembali dengan piring-piring yang penuh dengan makanan.

"Oh, umm... Aku membawa bagianmu juga, Kamito-kun."

"O-Oke...."

Setelah membuat kontak mata, Kamito dan Fianna tersipu samar-samar seolah teringat apa yang terjadi sebelumnya, berpaling malu.

"Jadi kamu membawa seragammu."

"Ya, aku menyimpan pakaianku didalan Georgios."

Setelah Fianna duduk di meja, Kamito bertanya pelan:

"Uh... Apa kamu baik-baik saja sekarang?"

"Y-Ya... Berkat kamu, Kamito-kun, sudah tenang sekarang."

Fianna mengangguk.

"....Apa yang mereka bicarakan?"

Melihat mereka berdua, Claire mengernyit kebingungan.

Bagian 7[edit]

Perjamuan itu berlangsung hingga larut malam. Warga lokal sangat menikmati karena diundang dalam perayaan tersebut. Akan tetapi, karena bintang acara tersebut, Mireille, masih anak-anak, dia rupanya tidur lebih awal.

Sambil mendengarkan musik orkestra, Kamito juga kembali ke kamar tidur yang telah dipersiapkan untuk dia.

Meskipun Kamito secara gak bisa dipahami menemukan Milla si maid berada dikamarnya, berguling-guling diranjangnya, Milla langsung merapikan seprei segera setelah dia melihat Kamito.

"Kalau begitu, Kamito-sama, selamat malam."

Setelah membungkuk secara hormat, dia pamit undur diri.

"....Apa itu barusan?"

Kebingungan, Kamito berganti piyama dan berbaring di tempat tidur.

Tempat tidur itu sangat lembut dan nyaman.

Dengan lengannya direntangkan, Kamito menatap langit-langit.

Luka di perutnya, yang seharusnya sudah tertutup, terasa sakit dengan rasa sakit yang tajam.

(....Greyworth, aku nggak pernah nyangka kau akan jadi musuhku.)

Ada perasaan yang jelas dari mati rasa yang masih tersisa pada kedua tangannya yang dia gunakan untuk bertarung melawan Penyihir itu. Sensasi yang familiar ini adalah sensasi yang telah dia alami berulang kali tiga tahun yang lalu.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia menghadapi perlawanan yang sesengit itu. Selain itu, jumlah elementalis yang mampu menandingi Kamito dalam serangan demi serangan sejak awal memang sedikit jumlahnya, bisa dihitung dengan satu tangan.

Lawannya pada pertandingan final Blade Dance tiga tahun yang lalu, Luminaris sang Paladin, Rubia Elstein dengan kekuatan holy maiden, Lurie Lizaldia dari Numbers, Shao Fu dari Four Gods yang mewakili Kekaisaran Quina, dan Leonora sang ksatria naga dari Dracunia....

(....Berbicara tentang Leonora, dia membantuku lagi.)

Saat itu, Leonora tak punya alasan untuk membantu Kamito dalam pertempuran.

Sama halnya pada saat Blade Dance juga. Setelah menantang Kamito bertanding dan mengalami kekalahan, dia menepati jansinya untuk membantu Ellis dan Rinslet.

Sebagai sesama elementalis, dia benar-benar lawan tangguh yang layak dihormati.

Dalam rencana Rubia, pendeklarasian Ordesia yang Sah mengharuskan mencari perlindungan dari Dragon Duchy of Dracunia. Dia kemungkinan besar akan bertemu lagi dengan Leonora disana—

Tenggelam dalam pikirannya, dengan mata terpejam, Kamito segera tertidur.

Bagian 8[edit]

—Kamito, dengar aku, Kamito, dimana kau...?

Didalam kegelapan yang tak berujung yang terbentang tanpa batas... Suaranya terdengar.

(Restia... Apa itu kamu?)

Dipandu oleh suara itu, Kamito berjalan maju didalam kegelapan...

Dipusat dari kegelapan yang mengitai tersebut, dia melihat suatu pemusatan dari kegelapan yang lebih besar berdiri disana.

Itu adalah gadis roh kegelapan, duduk berjongkok disana dengan sayapnya yang berwarna hitam legam yang indah dilipat.

(Restia, aku disini!)

Kearah sosoknya, kamito mati-matian menggapainya—

"...!"

Kamito terbangun.

(....Mimpi huh?)

Menyeka keringat dari alisnya, dia duduk pelan-pelan.

Langit di luar masih gelap, jadi tampaknya masih belum pagi. Biasanya, dia akan terbangun oleh kehadiran entah itu Scarlet atau Est di tempat tidurnya. Sangat jarang selalu dia terbangun pada jam segini.

(....Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali bermimpi tentang Restia.)

Selama tiga tahun berkelana untuk mencari Restia, hampir tiada malam tanpa memimpikan dia. Diantara mimpi-mimpi itu ada mimpi indah dari masa kanak-kanaknya dan ada juga mimpi buruk yang mengerikan.

Tetapi baru-baru ini, mimpi semacam itu menjadi semakin dan semakin jarang dialami—

"...!?"

Tiba-tiba, suatu rasa sakit yang halus melintas ditangan kirinya. Mau tak mau Kamito menatap punggung tangan kirinya, tetapi segel roh milik Restia yang telah menghilang belum kembali.

Ini adalah suatu ilusi yang jarang terjadi. Mungkin melawan Greyworth telah membangkitkan kenangan masa lalunya bersama Restia—Mencapai kesimpulan ini, Kamito bangun dari tempat tidurnya.

Entah bagaimana dia merasa seperti dia tak lagi dalam mood untuk tidur.

Setelah mengenakan sarung tangan kulit pada tangan kirinya, dia keluar dari kamar.

Dia telah mengabaikan sarung tangan tersebut setelah kehilangan segel roh terwevutt, tetapi setelah Restia kembali meskipun kehilangan ingatannya, Kamito mulai memakai sarung tangan itu lagi.

Kamito berjalan melewati koridor untuk mencapai balkon di Kastil tersebut.

Bulan masih terang. Melihat ke halaman yang ada dibawah, dia bisa melihat tempat itu penuh dengan botol wine yang berserakan serta para prajurit dan warga yang mabuk.

Setelah bersandar pada pagar dan menikmati hembusan angin malam selama beberapa saat—

"Kamito, apa yang kau lakukan....?"

Tiba-tiba dia mendengar suara.

Dia menengok kebelakang dan melihat Claire yang mengenakan piyama berjalan mendekat.

"Ada apa Claire?"

"Hmm.... Aku nggak bisa tidur karena suatu alasan."

"Oh begitu..."

Claire mendekat ke Kamito dan menyandarkan kepalanya pada dia.

"Claire, apa kau.. mabuk?"

"Ya, sedikit... Aku mungkin telah kebanyakan minum."

Pipinya bersemu merah. Yang biasanya sedikit kekanak-kanakan, penampilan Claire tiba-tiba terlihat menawan sembari twintailnya tergerai tidak diikat dan ekspresi agak mabuk. Akan tetapi, membiarkan komentar semacam itu keluar kemungkinan besar hanya akan memancing keluarnya cambuk api yang berkobar-kobar, jadi Kamito tetap diam.

Claire menatap langit berbintang yang bahkan jauh lebih luas daripada Hutan Ice Blossoms dan berkata:

"Banyak hal telah dicapai dalam banyak cara."

"Ya, kau benar."

Kamito mengangguk.

"....Aku merasa seperti aku telah mengalami banyak hal sejak bertemu denganmu."

"Aku juga."

Saat itu ketika dia pertama kali sampai di Akademi, pikiran Kamito sepenuhnya dikuasai dengan pemikiran mencari Restia.

Tetapi sekarang, mereka hendak terseret kedalam suatu perang untuk menentukan nasib dunia—

"Saat itu, aku berusaha mati-matian untuk bertemu kakakku. Aku melakukan banyak hal yang ceroboh, d-dan menyebabkan banyak masalah untukmu juga."

"Yah... Gimanapun juga, aku hampir dibakar menjadi arang segera setelah kita bertemu."

"I-Itu salahmu karena melihat aku telanjang, Kamito... D-Dan kau bahkan mengatakan sesuatu tentang nggak memiliki ketertarikan pada tubuh telanjang seorang anak kecil, kan!?"

"....Kalau diingat-ingat, kurasa kau benar."

Kalau dipikir-pikir lagi, dia rupanya telah mengatakan sesuatu yang cukup keji pada saat itu....

"I-Itu adalah pertama kalinya aku dilihat oleh laki-laki dalam keadaan telanjang, itu adalah syok yang besar..."

"Itu salahku... Maaf."

Kamito meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

"Tapi meskipun cara kita bertemu sangatlah mengerikan—"

Caire berhenti sejenak lalu melanjutkan.

"Kamito, kupikir itu sangat indah bahwa aku bertemu denganmu."

Claire menundukkan kepalanya. Dibawah gelapnya malam, sulit untuk melihat ekspresinya dengan jelas. Alasan kenapa dia bisa menyuarakan perasaan sejatinya secara jujur adalah karena dia mabuk, kan?

"Aku juga. Aku sangat bersyukur atas kebetulan yang membuat aku bertemu denganmu di Hutan Roh pada saat itu."

Mengatakan itu, Kamito menepuk Kepala Claire.

—Ya, itu adalah suatu kebetulan. Itu adalah serangkaian kejadian kebetulan bahwa Kamito, perwujudan dari Raja Iblis, menyelamatkan Claire dan bahkan membuat kontrak dengan Est.

Sudah pasti itu bukan takdir yang ditentukan oleh seseorang—

Kejadian kebetulan itu jauh lebih berharga daripada yang dikenal dengan takdir. Itulah yang Kamito pikirkan.

"Kamito..."

Claire mendongak dan menatap Kamito.

Lalu menarik nafas dalam seolah mengumpulkan tekad—

"Uh, umm, Kamito... A-Aku..."

—lalu.

Tiba-tiba, Kamito menyadari sesuatu yang bersinar di langit malam.

"Itu adalah...?"

Sumber cahaya tersebut mendekati Kastil Winter Gulf.

Itu adalah lampu sorot dari sebuah kapal militer.

"Mungkinkah itu adalah Imperial Knight?"

"Bukan, itu adalah.... kapal militer milik Nee-sama!"

Pada saat yang sama Claire berseru—

Penampilan luar dari kapal militer itu, Revenant, muncul dari sisi lain dari Pegunungan Kyria.


Bab 3 - Jarak Diantara Saudara[edit]

Bagian 1[edit]

Fajar—

Dibawah sinar matahari terbit, kapal militer modifikasi tersebut, Revenant, mendarat di Hutan Ice Blossoms didekat Kastil Winter Gulf.

Pelindung kapal itu terkelupas parah dengan tanda-tanda kerusakan disemua bagiannya.

Kapal itu pasti telah mengalami pertempuran sengit melawan Pasukan Udara Ordesia di perbatasan ibukota kekaisaran.

Kamito dan timnya bergegas melakukan persiapan dan bertemu didepan kapal terbang itu.

"Natalia, aku serahkan sisanya padamu."

"Dimengerti, kami dari Wolf Ritters akan melakukan segala yang kami bisa untuk melindungi Mireille-sama."

Kapten dsri para ksatria, Natalia, memberi hormat dengan postur yang tegap. Dibelakang dia, semua orang juga memberi hormat pada saat yang bersamaan. Bukan hanya Wolf Ritters, tetapi juga semua prajurit di kastil datang untuk mengantar kepergian mereka. Ini menunjukkan seberapa besarnya Rinslet dicintai oleh warga kastil.

"Mireille, kamu harus mendengarkan Natalia dan Milla dengan benar."

"Jangan khawatir, Onee-sama. Sampai kau kembali, aku pasti akan menyelesaikan pemulihan Laurenfrost."

Mireille mengangguk penuh semangat.

"Mireille-sama, anda bisa mengandalkan saya."

Milla Basset berbisik pelan.

"Sebagai seorang putri Laurenfrost, aku juga akan melakukan apapun yang aku bisa."

"Judia..."

Rinslet memeluk adiknya yanh lain erat-erat yang duduk di kursi roda.

"Entah bagaimana, rasanya seperti negeri Laurenfrost akan baik-baik saja."

"Ya, dengan para pengikut yang menakjubkan seperti itu, aku merasa nggak ada perlunya untuk khawatir."

Claire mengangguk setuju.

lalu, pintu kapal militer tersebut terbuka dan tangga logam turun.

Yang muncul adalah Rubia Elstein berpakaian dalam seragam militer.

Menatap kelompok Kamito yang ada dibawah, dia berkata:

"Penyelamatan Fianna Ray Ordesia tampaknya sudah berhasil."

"Ya, akan tetapi perantara Murders yang kau siapkan telah menghianati kami."

Kamito menjawab dia dengan kasar.

Saat itu, kalau Virrey si ksatria operasi khusus tidak membantu mereka, Kamito dan rekan-rekannya mungkin masih berkeliaran di bawah tanah ibukota kekaisaran saat ini.

"Jadi Tikus Botak itu menghianati kita.... Uang yang dibayarkan pada dia pastinya lebih dari cukup."

"Dia sudah memihak Kerajaan Suci. Jangan terlalu percaya pada orang yang bisa dibeli."

"—Akan aku ingat."

Mengatakan itu, dia berpaling pada Fianna.

"Apa kau sudah membuat keputusan? Putri Kedua Kekaisaran, Fianna Ray Ordesia."

"Ya, aku akan bertindak sebagai pionmu, Rubia-sama—bukan, Rubia Elstein."

Fianna menatap lurus pada mata Rubia dan menjawab tanpa takut.

Ratu Bencana dan Ratu Yang Hilang— yang sebelumnya merupakan sahabat baik di Divine Ritual Institute dimasa lalu, tatapan mereka saling bertemu—

"Bagus. Rapat akan diadakan setengah jam lagi. Beristirahatlah dulu di kapal."

Dengan kibasan dari jubahnya, Rubia kembali kedalam kapal militer tersebut.

"Oh, Nee-sama..."

Saat Claire memanggil dia... Claire segera menutup mulutnya lagi.

"Ada apa?"

"Aku masih belum mendapatkan kesempatan untuk berbicara denganmu secara tepat, Nee-sama..."

Claire berkata murung.

Memang, meskipun akhirnya bertemu lagi, mereka berdua belum berbincang-bincang sebagai kakak adik.

Meskipun Rubia memancarkan kesan dingin seolah satu sentuhan saja bisa menimbulkan kemarahannya, Kamito bertanya-tanya apakah itu karena dia tidak tau seperti apa Rubia dimasa lalu. Mungkin saat ketika Claire masih kecil, dia sangat berbeda dari yang sekarang.

Mungkin perubahan yang signifikan terjadi pada masa lalunya sendiri yang akrab pada Claire.

...Dihari ketika Elemental Lord Api yang gila menghancurkan sebuah kota.

"Yah, nggak perlu cemas. Sebelum kita sampai di Dracunia, ada banyak kesempatan untuk berbicara."

Kamito menepukkan tangannya pada pundak Claire.

"Hmm, aku juga nggak punya percakapan yang tepat baru-baru ini dengan kakakku."

"....K-Kau benar. Akan kucoba."

Claire mengangguk dan menggigit bibirnya keras-keras.

Bagian 2[edit]

Kamito dan rekan-rekannya mempersiapkan barang bawaan mereka dan naik ke kapal. Claire berbagi kamar dengan Runslett dan Fianna, sedangkan Ellis bersama Velsaria.

Kamito, Est dan Restia mendapatkan satu kamar sendiri untuk mereka.

"Uh, tempat ini, kan....?"

Dipandu oleh seorang gadis yang bekerja dibawah Rubia, dia membuka pintu kamar yang disiapkan untuk dia.

"Oh, Kamito..."

Didalam kamar itu adalah Restia, mengenakan pakaian maid. Dia bereaksi dengan tampilan terkejut pada wajahnya.

Dengan sebuah sapu kecil ditangannya, sepertinya dia saat ini sedang merapikan dan membersihkan kamar ini.

"Jadi kamu sudah kembali. Aku bahkan nggak menyadarinya..."

"Karena ruangan ini nggak punya jendela..."

Kamito menyandarkan Est di dinding sebelah pintu dan duduk ditepi tempat tidur.

Tak seperti yang sebelumnya, ruangan ini berbeda, sangat bersih.

"Sebelumnya disini sangat kotor, tapi sekarang betul-betul berbeda."

"Karena aku nggak bisa bantu-bantu dikapal ini, setidaknya aku mau mengerjakan pembersihan dan rapi-rapi... Aku sangat menikmatinya."

Restia menaruh sapunya dan duduk disebelah Kamito. Ngomong-ngomong, koridornya juga bersih berkilauan, kemungkinan berkat usaha bersih-bersih yang dilakukan Restia.

"Apa itu menakutkan bagimu?"

Kamito bertanya. Untuk mempermudah kelompok Kamito untuk menyusup ke ibukota kekaisaran, Revenant pergi ke pinggiran Ostdakia untuk menarik perhatian Imperial Knight. Menilai dari pelindung yang compang-camping, kapal ini pasti telah melakukan pertempuran yang sengit.

"Ya, diluar sangat berisik, begitu menakutkan. Syukurlah orang berambut merah itu mendampingi aku."

"Rubia?"

Sulit untuk membayangkam dia melakukan hal itu berdasarkan pada sikapnya yang dingin. Tetapi setelah melihat bahwa dia menarik masuk gadis-gadis yatim tak berdaya dari Sekolah Instruksional, Kamito penasaran apakah Rubia mungkin sebenarnya sangat perhatian terhadap orang lain.

(....Gimanapun juga, dia bahkan menjinakkan Muir.)

Jika demikian, sikapnya pada adiknya, Claire, menjadi semakin sulit untuk dipahami—

"....Akan tetapi, aku mendapatkan mimpi yang sangat mengerikan tadi."

Restia berkata pelan.

"Mimpi? ....Mimpi seperti apa itu?"

"Didalam kegelapan yang pekat. Didalam kegelapan yang sedingin es dimana nggak ada apa-apa dan nggak ada siapapun. Meskipun aku tau dengan jelas kalau itu adalah mimpi, aku nggak bisa bangun... Terus seperti itu."

Kamito terkejut. Dia teringat kalau dia telah melihat mimpi yang sama tadi malam.

"Restia.... Apa kamu memanggil seseorang?"

"....um, kupikir aku memanggil namamu...."

"Serius...???"

Kamito tenggelam dalam pemikiran yang dalam dan tatapannya tertuju pada tangan kirinya yang tertutup sarung tangan kulit.

Setelah terbangun dari mimpi semalam, tangan kirinya terasa sakit. Mungkinkan itu karena hubungan antara kontraknya dengan Restia, mencoba menghubungkan kembali dengan sendirinya?

Misalnya ini adalah suatu tanda bahwa Restia akan memulihkan ingatannya, maka, tak ada lagi yang diinginkan Kamito. Akan tetapi, jika ingatannya sebagai Restia Ashdoll, terminal dari Ren Ashdoll sang Elemental Lord Kegelapan, bangkit, apa yang akan terjadi pada Restia?

Mungkin, mempertimbangkan kebahagiaan Restia pribadi, mungkin masih bisa membuat dia menjalani kehidupan damai dengan membiarkan dia seperti ini tanpa memulihkan ingatannya...

".....Ada apa?"

Melihat Kamito secara tiba-tiba terdiam, Restia menunjukkan tatapan terkejut.

"Oh, bukan apa-apa.... Nggak usah khawatir."

Kamito buru-buru menggeleng— lalu, dia menyadari sesuatu.

"Eh, kemana perginya Est?"

Est entah bagaimana menghilang dari tempat Kamito menyandarkan dia di dinding.

Bagian 3[edit]

Setelah menaruh barang bawaannya dikamarnya dengan benar, Rinslet meninggalkan Claire dan Fianna untuk pergi ke dapur sendirian. Dia ingin menyiapkan sarapan seserjanay untuk semua orang sebelum rapat dimulai.

(Kerja otak akan lambat kalau belum sarapan...)

Berjalan disepanjang koridor sempit kapal ini, dia sampai didepan dapur yang lokasinya diberitahukan padanya oleh Claire—

"...Huh?"

Tiba-tiba, dia mencium sesuatu terbakar.

Asap hitam keluar dari pintu dapur yang terbuka sedikit.

"A-Apa yang kalian lakukan!?"

Rinslet bergegas dan membuka pintu tersebut.

Tungku batu didalam dapur tersebut terbakar.

Disamping tungku tersebut, dua gadis yang sama persis mengenakan pakaian tempur berdiri tanpa ekspresi.

"Kebakaran." "Ya, terbakar."

Mereka bergumam pelan.

Meskipun ada dua gadis aneh, Rinslet tak punya waktu untuk memperhatikan mereka sekarang.

"K-Kapal ini akan terbakar... Datanglah, Fenrir!"

Rinslet buru-buru memanggil Fenrir.

Serigala putih itu muncul lalu membuka rahangnya yang besar, menghasilkan badai salju yang ganas.

Kobaran api langsung menghilang, meninggalkan kristal es yang berkilauan diudara.

"Wow." "Menakjubkan."

Si kembar itu bertepuk tangan. Gerakan mereka sangat kompak.

"A-Apa yang kalian berdua lakukan!?"

Sambil bertolak pinggang, Rinslet berteriak.

"...?" "...?"

Si kembar itu memiringkan kepala mereka.

Mereka kira-kira seusia Judia, sekitar 12 atau 13 tahun. Menilai dari pakaian mereka, mereka kemungkinan adalah anak yatim dari Sekolah Instruksional yang diambil Rubia sebagai bawahan.

"Membuat sarapan." "Lebih banyak orang, mencoba menaikkan pengaturan panas lebih tinggi."

"....Apakah kalian berdua yang biasanya bertugas untuk memasak?"

Mendengar pertanyaan Rinslet, si kembar menggelengkan kepala secara serempak.

"Biasanya, Cardinal yang mengerjakannya." "Tapi tampaknya dia sibuk hari ini, jadi kami mencoba membantu."

"Aku mengerti.. Tentunya itu mengagumkan, tapi aku nggak pernah nyangka Revenant hampir hancur dan terbakar akibat kenakatan sebelum menyampaikan pernyataan Ordesia Yang Sah..."

Setelah berhasil mencegah skenario terburuk, Rinslet menghela nafas lega.

"Gimana kalau biar aku saja yang mengerjakannya?"

Ketika Rinslet bertanya demikian...

"Jangan ikut campur." "Bantuan orang luar tidak diterima."

Cewek kembar itu menatap Rinslet bersamaan.

Meskipun mereka adalah anak-anak, bagaimanapun juga mereka adalah para pembunuh yang dibesarkan oleh Sekolah Instruksional. Tatapan mereka begitu tajam hingga Rinslet merasa merinding.

Akan tetapi, dia punya alasan sendiri untuk tidak mundur. Rinslet tak bisa mentoleransi bencana api lagi di kapal ini.

"Kalo gitu, ijinkan aku mengajari kalian memasak. Gak masalah kan?"

"..." "..."

Dihadapkan dengan saran Rinslet, si kembar saling menatap satu sama lain lalu mengangguk secara bersamaan.

"Kalo gitu." "Nggak masalah."

"Kalo gitu, mari kita mulai dengan sarapan dasar, roti gula."

Rinslet menjentikkan jarinya dan Fenrir mengeluarkan bahan dari mulutnya.

"Boleh aku tau nama kalian?"

"Velka." "Delia."

"Nama yang bagus. Velka dan Delia, pertama-tama aku akan mengajari kalian memecah telur."

"Paham." "Dimengerti."

Beberapa menit kemudian.....

Aroma roti gula memenuhi seluruh dapur.

"Baunya begitu enak...." "kelihatan sangat lezat."

Menatap wajan penggorengan, mata si kembar berkilauan.

"Trik rahasianya adalah membiarkan rasa dari kayu manisnya keluar... Ya ampun?"

Pada saat itu, Rinslet melihat sosok Est sendirian, berdiri di pintu.

"Nona Roh Pedang, ada apa?"

Sangat langka sekali menemukan Est jalan-jalan sendirian tanpa Kamito disampingnya.

"Aku adalah kakak tertua, jadi aku harus toleran."

"...Kakak tertua?"

Tak bisa memahami apa yang dimaksudkan Est, sebuah tanda tanya mengambang diatas kepala Rinslet.

"Ngomong-ngomong, aku mencium aroma. Apa yang kau lakukan, cewek cemilan?"

"Uh, namaku bukan cewek cemilan, tolonglah..."

Rinslet mengangkat bahu dengan penampilan cemberut.

Est bukanlah satu-satunya. Semua roh yang tinggal di Akademi Roh Areishia mengenal Rinslet sebagai "cewek cemilan" yang suka berbagi makanan ribuan dengan mereka, secara diam-diam memuja dia.

Est berdiri berjinjit untuk mengintip wajan penggorengan.

"Sekarang ini aku sedang membuat sarapan untuk semua orang."

"Tahu?"

"Meski bukan tahu, puding daging kering juga lezat, lho..."

"Kalau begitu biar aku bantu—"

Est menghilang. Lalu, apa yang muncul ditangan Rinslet adalah—

"Ini adalah sebuah... pisau dapur?"

Rinslet melebarkan matanya.

Pisau dapur putih-perak itu seringan bulu dan sangat nyaman dipegang.

....Ini adalah transformasi terbaru milik Est, Demon Slayer Kitchen Knife.

"Ka-Kalau begitu, dengan senang hati aku terima tawarannya..."

Rinslet baru mulai mengiris dengan lembut daging itu, ketika—

"Luar biasa, tekanan lembut saja sudah cukup untuk memotong."

Daging tebal iuu dipotong menjadi irisan-irisan tipis dengan singkat. Selanjutnya adalah bawang merah, diselesaikan dengan cepat dengan gerakan mengalir seperti air yang mengalir. Bagian potongannya sangat lembut, terlihat seolah seseorang bisa menyatukan irisan-irisan tesebut menjadi sebutir bawang merah utuh lagi.

"Ketajaman yang menakjubkan, aku nggak meneteskan air mata bahkan ketika aku memotong bawang merah!"

Mau tak mau Rinslet berseru. Dibelakangnya, si kembar bertepuk tangan.

"Guru, luar biasa." "Roh itu juga luar biasa."

"—Aku adalah roh pedang. Ini sangatlah mudah."

Dalam bentuk pisau dapur, Est menjawab secara acuh tak acuh.

STnBD V15 075.jpg

....Tanpa sepengetahuan Rinslet sendiri pada saat ini, dia telah menjadi pemegang ketiga dari Demon Slayer dalam sejarah setelah Sacred Maiden Areishia dan Kamito.

Bagian 4[edit]

"Ya ampun, kemana perginya Scarlet?"

Claire mencari-cari didalam kapal. Scarlet menghilang tanpa sepengetahuannya ketika dia sedang mengatur barang-barangnya didalam kamarnya.

"Padahal aku pengen memberi dia makanan..."

Meskipun dia bisa memanggil Scarlet dengan pemanggilan, itu terlalu berlebihan untuk menyia-nyiakan kekuatan suci yang berharga untuk sesuatu seperti itu.

Tampaknya Scarlet tidak ada didalam kapal, jadi pasti ada diluar. Claire menaiki tangga ke dek kapal.

Yang ada disana—

"Oh..."

Segera setelah dia membuka pintu dek, Claire terkesiap.

Dibagian depan kapal, dia bisa melihat rambut crimson yang melambai-lambai terterpa angin seperti api.

Ini adalah sosok dari punggungnya, yang Claire kejar sejak masa kanak-kanaknya.

"Ada apa?"

Tatapan dari mata ruby yang membara itu membuat Claire merasa seperti ingin lari.

(...k-kenapa harus lari?Aku harus bicara.)

Claire berusaha keras untuk berdiri tegap lalu menatap penuh tekad pada mata kakaknya.

"Oh, umm, uh..."

Gugup, dia tak bisa mencari kata-kata selama sesaat. Meskipun dia ingin berbincang-bincang, dihadapkan dengan kakaknya yang telah berubah drastis, apa tepatnya yang harus dia katakan...?

"Apa kau punya urusan denganku, Claire Rouge?"

Kali ini Rubia yang berbicara, tak seperti kakak yang lembut dimasa lalu, suaranya sangat dingin.

Ditatap dengan tatapan yang tajam, mau tak mau Claire berpaling.

Dengan tatapannya tertuju ke tempat lain, dia bisa melihat Scarlet ada di kaki Rubia, memperhatikan dua bersaudara itu penuh kekhawatiran.

....ngomong-ngomong, sejak awal Scarlet sangat dekat dengan kakaknya. Dulu saat Scarlet memilih Claire bukannya Rubia sebagai kontraktornya, semua pengikut di keluarga Elstein mendapati hal itu tak bisa dipercaya.

Dibawah keheningan yang canggung, Scarlet menyelinap dan kembali ke kaki Claire. Claire dengan lembut mengangkat kucing neraka itu dan menarik nafas dalam.

"N-Nee-sama... Aku bertemu dengan ayah dan ibu di Elstein."

"Begitukah—"

Rubia menjawab tanpa ada perubahan pada ekspresinya.

"....Mereka berdua khawatir padamu, Nee-sama."

Orang tuanya tak pernah memendam dendam pada kakaknya.

Meskipun mereka tidak tau alasan kenapa dia menghianati Elemental Lord Api dan menjadi Ratu Bencana, sampai hari ini, mereka masih percaya pada dia—Tetapi Claire tak mampu menyampaikan hal ini.

".....Apa ada artinya memberitahuku hal ini?"

"...Nee-sama..."

Claire tak bisa berkata apa-apa.

Namun, dia mengumpulkan keberaniannya dan menatap lurus lagi.

"Aku mengharapkan hari dimana aku bisa kembali ke Elstein, bersama dengan Ibu, Ayah... dan kamu, Ne-sama, untuk tinggal bersama. Sehingga—"

"Rubia Elstein adalah eksistensi yang telah tak diakui di dunia ini. Aku nggak punya niat untuk terlibat dengan keluarga bangsawan Elstein lagi."

Rubia menyela Claire.

"Sekarang ini, aku adalah Cardinal yang bangkit dari Neraka. Dan juga, kau bukan adikku."

"...!"

Mendengar kata-kata kejam seperi itu, Claire membeku terkejut.

Orang yang ada dihadapan matanya, benar-benar bukan lagi kakak yang Claire kenal dulu.

Air mata muncuk di mata yang seperti ruby.

"Jadi jiwamu masih terjebak oleh kemarahan yang diarahkan pada para Elemental Lord—"

"....Memang. Bahkan sekarang, jiwaku masih tertinggal dan terbakar di Neraka."

Setelah mengatakan itu dengan pelan, Rubia berjalan kearah Claire datang. Claire mendapati dirinya tak mampu bergerak bahkan untuk mengangkat jari sekalipun. Tepat saat dia melewati bahu Claire, dia melirik Scarlet yang ada di pelukan Claire dan berkata:

"Kau masih belum mengeluarkan sepenuhnya dari kekuatan sejati roh terkontrakmu—"

"Huh?"

"Untuk menyampaikan pemikiranmu, kau harus mengambil kendali atas kekuatan yang setara. Jika tidak, tak ada yang perlu dikatakan."

"Nee-sa—"

Claire ingin membuat dia tinggal, tetapi suaranya tak mampu mencapai Rubia.

Dengan rambut panjangnya yang berwarna crimson yang indah berkibar dibelakangnya, Rubia menghilang ke tangga yang mengarah kedalam kapal.

Memeluk Scarlet, Claire berdiri tak bergerak.

(A-Aku masih belum mengeluarkan kekuatan sejati dari Scarlet...?)

Dipeluk didadanya, Scarlet menatap Claire dengan ekspresi bingung.

Bagian 5[edit]

Berkumpul kembali dengan Restia, Kamito mengobrol dengan Restia beberapa saat lalu berjalan ke ruang pertemuan dikapal tersebut ketika sudah saatnya rapat. Meskipun dia penasaran dengan menghilangnya Est, dia menganggapnya sebagai sesuatu yang sering terjadi. Dia mungkin berjalan-jalan didalam kapal.

"Hmm, aroma apa ini...."

Dia membuka pintu ruang pertemuan—

"Ya ampun, Kamito-san, kamu yang tiba paling awal."

Memegang sebuah teko teh hitam, Rinslet berbalik.

Diatas meja ruang pertemuan yang didekorasi khidmat, hidangan sarapan yang sangat lezat disajikan.

Salad mini yang dibuat dari berbagai macam sayuran, roti bakar yang lebih, puding daging dan bayam, susu segar, dan yogurt buah untuk pencuci mulut.

"Kamu membuat sarapan untuk kami? Aku kagum kamu melakukannya dalam waktu yang sesingkat itu...."

Kamito memberi pujian.

Berkat ajaran Greyworth, Kamito bisa dianggap seorang koki, tetapi itu akan mustahil jika dia diminta untuk menyiapkan sarapan untuk orang banyak dalam waktu sesingkat itu.

"Aku nggak ngerjain sendirian. Semuanya berkat bantuan Velka dan Delia.

"...Velka and Delia?"

Sebagai tanggapan, Kamito bertanya. Lalu...

"Guru, ini cangkir tehnya." "Guru, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

Dua cewek yang identik menjulurkan kepalanya dari celah pintu.

"Sudah cukup sekarang. Kalian berdua telah berkerja sangat keras."

Rinslet menepuk kepala mereka berdua.

"Dimengerti—" "Guru memuji kita—"

Si kembar itu membuat keributan dikoridor setelah mengatakan hal itu tanpa ekspresi.

Velka dan Delia, dia rupanya menyukai si kembar itu. Menilai dari pakaian tempur mereka yang berada dibalik apron, mereka mungkin anak yatim dari Sekolah Instruksional yang diambil oleh Rubia.

"Itu menakjubkan. Aku nggak bisa percaya kamu benar-benar menjinakkan para pembunuh dari Sekolah Instruksional..."

Kamito bergumam saat dia duduk. Lalu....

"Kamito, aku juga membantu."

"Est?"

Dibawah meja, Est mengeluarkan kepalanya.

"Apa? Jadi kamu pergi ke dapur, huh?"

"Nona Roh Pedang membantu memotong bahan-bahannya."

Rinslet menjelaskan.

"Nggak mengiris jari, kan?"

"Enggak, aku hanya memotong bahan-bahan, Kamito."

Est mengangguk.

....Kamito tak pernah menyangka Est akan mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah pisau dapur.

Seolah bersaing dengan Restia, yang duduk disebelah kiri Kamito, Est duduk disebelah kanannya.

"Met pagi, Nona Roh Pedang."

"...Pagi juga, roh kegelapan."

Namun, ketika Restia menyapa dia dengan senyuman, Est juga membalas menyapa dengan sopan.

....Entah bagaimana, itu terasa seperti hubungan Est dengan Restia yang hilang ingatan sangatlah bagus.

"Oh, ini adalah aroma dari teh hitam."

Segera setelahnya, Fianna dan Ellis memasuki ruangan.

"Jenis teh hitam yang mana yang kalian inginkan?"

"Aku ingin daun teh Laurenfrost."

"Aku juga."

"Aku mau ditambahkan madu dan susu—"

Setelah semua orang mengatakan kesukaan mereka, para cewek duduk berlawanan dengan Kamito.

"Ellis, bagaimana Velsaria?"

Kamito menanyakan pertanyaan tersebut, karena mereka berdua berbagi kamar yang sama—

"Kakak memulihkan diri di kamar. Tampaknya dia terlalu memaksakan diri selama pertarungan melawan Imperial Knight."

Dengan penampilan yang sedikit depresi, Ellis menjawab.

Dia telah menampilkan kekuatan destruktif yang mencengangkan dari Elemental Panzer ketika kelompok Kamito dipenjara di kota Akademi. Karena batasannya pada kesehatannya, waktu operasinya sepertinya terbatas hanya satu menit saja, tetapi kabarnya, Velsaria bertarung dengan kekuatan yang melampaui batas untuk mengulur waktu untuk kelompok Kamito untuk menyusup ke ibukota.

"....Aku paham. Aku akan mengunjungi dia nanti."

"Hmm, kalau kamu datang, kupikir kakakku akan senang."

Lalu, Claire masuk.

"...?"

Melihat penampilannya, Kamito merasa aneh.

....Dia tidak tampak energikm sedikit gelisah.

"Claire, apa yang terjadi? Kamu nggak terlihat baik-baik saja."

Menyadari perubahan dari teman masa kecilnya, Rinslet bertanya khawatir.

"B-Benarkah? Perasaanmu aja kali. Hanya perasaanmu."

Claire buru-buru menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan suara ceria seperti biasanya.

"Kelihatannya sarapannya sangat lezat. Oh, itu makanan favoritku, roti bakar."

(Tindakanmu agak aneh...)

...Apa sesuatu terjadi antara dia dan Rubia?

Sesaat setelah semua orang duduk, Rubia adalah yang terakhir muncu.

"—Kulihat semuanya sudah hadir. Kalau begitu, ijinkan aku menjelaskan rencananya dari poin ini dan seterusnya."

Kamito tidak melewatkannya. Pada saat itu, Claire secara canggung menghindari kontak mata.

Bagian 6[edit]

"—Dengan ini, kita akan melintasi perbatasan untuk mencari tempat perlindungan di Dragon Duchy of Dracunia."

Rubia berbicara setelah dia duduk.

Semua orang mengangguk dalam diam. Karena mereka sudah mendengar tentang ini sebelum penyusupan ke ibukota kekaisaran, tak ada pertanyaan lagi.

"Akankah itu benar-benar nggak apa-apa? Aku nggak mau ditembak jatuh segera setelah kita melintasi perbatasan."

"Hal semacam itu nggak akan terjadi. Kami sudah mencapai persetujuan dengan pihak lain."

"Tepatnya, kenapa harus Dracunia?"

Fianna bertanya.

"Ada dua alasan. Yang pertama, ketertarikan Dracunia bersekutu dengan kita— setelah Kekaisaran Ordesia menjadi negara boneka Kerajaan Suci, keseimbangan kekuatan antara berbagai negara di benua akan hancur. Negata Naga sangat khawatir mengenai hal itu. Yang kedua, Negara Naga memiliki pasukan militer yang kuat untuk mencegah Kekaisaran melakukan pergerakan. Jika tidak, tak akan ada gunanya meminta mereka mendukung kita."

Jadi begitu situasinya. Dracunia bukanlah satu-satunya negara yang menentang Kerajaan Suci. Ada negara-negara lain seperti Principality of Rossvale, tetapi tanpa kekuatan militer yang diperlukan untuk mendukung mereka, negara-negara itu tak akan mampu melindungi Ordesia Yang Sah yang hanya ada namanya saja.

Pada tingkat itu, kondisi militer Dracunia sudah pasti merupakan pilihan yang bisa diandalkan. Meskipun keseluruhan sumber daya negara berada dibawah Ordesia, kekuatan dari militernya sudah cukup untuk mengintimidasi negara-negara tetangga. Dengan perselisihan internal yang belum terselesaikan, bahkan Ordesia tak akan berani menyerang Negara Naga secara sembarangan.

"Ngomong-ngomong, aku nggak bisa percaya kau bahkan memiliki kontak di Dracunia...."

Kamito berkomentar.

"Bukankah kau didukung oleh Theocracy dan Demon King Cult?"

"Theocracy sejak awal berniat untuk mengeksploitasi semua yang bisa mereka ekstrak sebelum membuangku. Oleh karena itu, aku menganggap mereka sekedar asuransiku yang berharga. Gimanapun juga, aku tau bahwa Dragon King dari Dracunia tertarik pada rencana pembunuhan para Elemental Lord."

"Apa maksudmu?"

Mendengar itu, Kamito mengernyit.

Rencana pembunuhan para Elemental Lord—Ini adalah rencana Rubia yang berniat untuk memicu kebangkitan Kamito sebagai reinkarnasi dari kekuatan Elemental Lord Kegelapan sehingga dia bisa membunuh para Elemental Lord ketika menghadap mereka sebagai pemenang Blade Dance.

Raja Naga Dracunia telah menunjukkan ketertarikan pada rencana itu, dengan kata lain—

"....Sang Raja Naga menentang Kelima Elemental Lord?"

"Raja Naga Bahamut terbiasa mengkomando pasukan disamping Elemental Lord Kegelapan saat Perang Roh antara Kelima Elemental Lord dan Elemental Lord Kegelapan. Oleh karena itu, raja itu terus menganggap para Elemental Lord sebagai musuh."

"Raja Naga itu adalah roh yang memihak Elemental Lord Kegelapan..."

Melihat segel Elemental Lord Air di tangan kirinya yang diberi Iseria, Rinslet berbisik pelan.

"Aku paham sekarang. Itu pasti untuk alasan yang sama bahwa Dracunia menentang Kerajaan Suci yang mana sekarang ini menahan Elemental Lord Api, kan?"

"Mungkin iya... Akan tetapi, Raja Naga tampaknya memiliki rencana lain—"

"Rencana lain?"

"Aku nggak yakin akan kebenaran tentang hal itu."

Kata Rubia.

"Akan tetapi, nggak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai masalah itu. Terlepas dari semua itu, tujuan kita adalah bersekutu. Selama kita menganggap Kerajaan Suci sebagai musuh bersama, kita akan bisa terus menggunakan negara Dracunia ini."

Untuk mengeksploitasi segala sesuatu yang tersedia untuk mencapai tujuan. Para anak yatim dari Sekolah Instruksional, roh-roh militer, Murders, Alpha Theocracy, kekuatan Elemental Lord Kegelapan, Restia, Velsaria, dan sekarang Dracunia—Itu semua mungkin merupakan tekadnya sebagai seorang pendendam.

"Selanjutnya, aku harus menyampaikan pernyataan tentang Ordesia Yang Sah dibawah perlindungan Dracunia, begitu kan?"

Ketika Fianna bertanya, Rubia mengangguk pelan.

"Tepat. Pada saat yang sama, ungkap dan kutuk hubungan antara Arneus di penguasa bodoh dan Kerajaan Suci. Meskipun negara-negara tetangga kemungkinan besar memilih untuk mengamati seiring berjalannya waktu, didalam Kekaisaran itu sendiri, faksi anti-Arneus dan beberapa bangsawan netral mungkin akan menanggapi kita. Ordesia akan terpecah menjadi dua. Kita akan memanfaatkan kekacauan tersebut dan menggunakan kekuatan militer pendukung dari Dracunia untuk mengambil alih ibukota kekaisaran dari kendali Arneus."

"Ini akan berkembang menjadi perang sipil berskala besar...."

"Ya, tetapi kau sudah harus mempersiapkan dirimu sendiri."

"Ya, aku sudah paham...."

Fianna mengangguk penuh tekad.

"Akan tetapi, dengan itu, itu akan sangat disesalkan bahwa kita tak bisa menyelamatkan Kepala Sekolah Greyworth di ibukota kekaisaran..."

Ellos bergumam pelan.

Mendengar itu, Kamito dan Fianna saling bertukar tatap.

"Ya, kalau saja kita bisa membuat Akademi Roh Areishia dipihak kita."

"Oh, mengenai hal itu...."

Kamito angkat bicara. Bagaimanapun juga, masalah ini tak bisa dirahasiakan selamanya.

"Ada apa Kamito?"

Ellis bertanya dengan penampilan terkejut.

"Greyworth telah jatuh ke tangan Kerajaan Suci. Kurasa dia memusuhi kita sekarang..."

"Apa kau bilang!?" "Apa yang terjadi!?"

Ellis dan Claire melebarkan mata mereka. Bahkan Rubia sekalipun mengerutkan kening.

"Kamito, apa yang terjadi?"

"Aku juga nggak benar-benat tau apa yang terjadi. Sepertinya orang-orang dari Kerajaan Suci telah melalukan sesuatu pada Greyworth."

Kamito mengingat kembali segala yang dia lihat dan dia dengar pada saat itu. Saat ini, Greyworth seperti seorang cewek muda yang telah memulihkan kekuata dari masa kejayaannya. Orang yang mengendalikan dia adalah kardinal dari Kerajaan Suci, Millennia Sanctus, yang ada bersama dia.

"Nggak mungkin... Kepala sekolah, aku nggak bisa percaya beliau jadi musuh kita..."

Claire meratap dalam keterkejutan.

Ellis dan Rinslet sama terkejutnya, tak mampu berbicara.

"Apakah ada cara untuk mengembalikan pencucian otaknya kepala sekolah?"

".....Saat ini nggak ada, tapi aku pasti akan menemukan caranya."

"Akan tetapi, semisal kau tak menenukan caranya—"

Kali ini Rubia yang bicara.

"Apa kau mampu membunuh Penyihir Senja itu?"

"Yah—"

Kamito tidak bisa berkata apa-apa. Lalu...

Suara sirine keras mulai berbunyi dikapal.

Bagian 7[edit]

Segera setelah Kamito dan kelompoknya tiba di dek, mereka melihat armada musuh dalam formasi ada didepan.

Tiga kapal pendamping kelas Wyvern dan satu kapak perang kelas Gigantes. Pasukan ini sudah cukup untuk menembak jatuh Revenant, kapal militer berukuran sedang, meskipun sudah dimodifikasi.

"Ksatria Angkatan Udara dari Kekaisaran, huh? Mereka bergerak lebih cepat daripada yang diduga."

Sambil mengamati dengan teleskop bulat, Rubia berkomentar.

"Jadi mereka berniat menembak jatuh kita sebelum melintasi perbatasan huh..."

"Apakah ada cara untuk membuat mereka tak bisa mengejar kita?"

Rinslet bertanya.

"Kita memiliki keuntungan dalam hal kecepatan, tetapi armada itu telah memblokir rute maju kita. Jika kita mengambil jalan memutar, aku takut kita mungkin akan terjebak dalam serangan penjepit dari bala bantuan lain."

"Jadi menerobos adalah satu-satunya cara huh..."

Kamito menyilangkan lengannya dan bergumam.

"Bukankah Revenant memiliki senjata anti-kapal?"

"Dibandingkan dengan kapal perang musuh, pada dasarnya tak berguna. Modifikasinya terbatas pada mobilitas."

"Dengan kata laib, kita akan hancur berkeping-keping dalam pertempuran langsung."

"Haruskah aku pergi untuk membujuk mereka?"

Fianna memberi saran.

Memang, ada orang-orang didalam militer kekaisaran yang tidak puas dengan kaisar saat ini, Arneus. Jika mereka beruntung, mungkin seluruh aramada itu bisa menjadi sekutu.

"Sayangnya, itu mungkin nggak akan berhasil..."

Ellis menyela.

"Kenapa begitu?"

"Bendera kapal itu milik Dane Arakeek dari Numbers. Dia memiliki kepribadian yang lurus dan oleh karena itu sangat setia pada penguasa Ordesia. Sulit dibayangkan dia akan goyah."

"Arakeel... Si otak kabel, kepala batu. Memang, dia nggak akan mendengarkan orang lain."

Fianna mendesah dan mengangkat bahu.

Lalu...

"Aku akan melakukan serangan—"

Sebuah suara datang dari belakang kelompok Kamito.

Berjalan pincang dengan satu kaki, Velsaria muncul dari dalam kapal.

"Velsaria, apa nggak apa-apa kau berjalan?"

"....Hmph, ini bukan apa-apa.... Uhuk, huff..."

"Kakak—"

Velsaria mengerang kesakitan, jatuh berlutut. Ellis bergegas mendekat untuk memapah dia.

"Velsaria Eva, kau tidak dalam kondisi untuk bergetar. Kalau kau menggunakan Elemental Panzer sekarang, ketahuilah bahwa kau akan hancur berkeping-keping."

Rubia menyatakan dengan dingin.

"Bodo amat, aku udah pernah mati sekali."

Mengatakan itu, Velsaria memegang Blood Stone yang menggantung di lehernya.

"Hentikan, bego!"

Kamito dengan cepat menangkap tangannya.

"Ah, ooh... D-Dasar bajingan kurang ajar, t-t-t-tanganku...!"

Seketika, Velsaria tersipu merah.

"Aku yang akan mencari solusi. Serahkan saja padaku—"

"Apa maksudmu.... Kamito, apa rencanamu?"

Mendengar itu, Claire bertanya.

"Aku akan menyerang kapal itu dan membunuh komandannya. Menggunakan kesempatan itu, kalian carilah cara untuk menerobos."

"Tampaknya itu adalah satu-satunya pilihan kita—"

Rubia mengangguk setuju.

"Kamito, kau nggak bisa terbang, kan? Aku akan mengantarmu ke armada itu."

"Ya, kuserahkan padamu—"

Dihadapkan dengan saran Ellis, Kamito mengangguk. Saat di Sylphid Knight, dia telah berkelompok dengan Ellis berkali-kali. Dengan dia, Kamito memiliki koordinasi dan pemahaman yang kuat tanpa memerlukan latihan khusus.

"Est, tolong berubahlah menjadi pedang kembar kali ini."

"Ya, aku adalah pedang milik Kamito, keinginanmu adalah perintah bagiku."

Kamito memegang tangan Est dan menuangkan kekuatan suci. Seketika, sepasang pedang muncul ditangannya, satu hitam dan satu putih. Bentuk pedang ganda memiliki konsumsi kekuatan suci yang lebih rendah dan sangat cocok untuk pertempuran yang kacau diatas kapal.

(...Aku harus berhati-hati agar tidak tertelan oleh kekuatan Ren Ashdoll lagi.)

"A-Aku akan pergi juga!"

Memegang Flametongue, Claire berbicara.

"Claire..."

"Tidak. Kau yang sekarang ini hanya akan menjadi beban."

"Nee-sama..."

Mendengar kata-kata dingin dari Rubia, Claire menggigit bibirnya.

"Maaf, kalau aku harus membawa dua orang secara bersamaan, aku akan kehilangan mobilitas."

"...A-Aku mengerti, baiklah."

Ketika ditolak oleh Ellis juga, Claire menyerah.

Akan tetapi, Kamito sangat menghargai niat baiknya. Dia menepuk kepala Claire.

"H-Hwah... A-Apa yang kau lakukan, ya ampun..."

"Tunggu aku. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat dan kembali."

Berdiri di depan dek, Ellis memanggil roh iblis angin miliknya.

"—Waktunya berangkat, Kamito!"

"Ya!"

Kamito memegang tangan Ellis dan mereka terbang ke langit biru.

Bagian 8[edit]

"Kamito, jangan lepaskan tanganku apapun keadaannya—"

"Ya, aku tau—"

Kamito mengangguk. Akan berakhir kalau dia melepasnya, dia akan jatuh ke tanah.

"T-Tentu saja, maksudku bukan selamanya atau semacamnya!"

"C-Coba katakan lagi?"

Meliuk-liuk melewati tembakan artileri yang diarahkan pada mereka, Ellis mengendalikan sihir angin untuk terbang secara akrobatik. Dengan kecepatannya yang luar biasa, dia mendekati formasi dari kapal yang ada didepan Revenant.

Kamito bisa melihat kondisi diatas dek musuh. Mungkin tak mengduga seorang elementalis tunggal menyerang secara langsung, para Ksatria Angkatan Udara jatuh dalam keadaan bingung. Hampir semua ksatria dikapal-kapal itu merupakan para elementalis yang mengendalikan roh-roh terbang, tetapi dalam hal kecepatan, Kamito akan mencapai dek lebih cepat daripada serangan yang bisa mereka keluarkan.

"T-Tembak mereka!"

Berdiri dalam formasi diatas dek, para ksatria menembakkan panah sihir roh yang tak terhitung jumlahnya.

"—Serangan datang, Kamito, berhati-hatilah agar tidak tertembak!"

"Itu susah... Whoa!"

Ellis melepaskan angin untuk berakselerasi lebih cepat. Dia bergerak zigzag di udara untuk menghindari serangan proyektil sihir roh. Dengan bidang pandangnya yang berputar-putar, tak mampu membedakan mana atas mana bawah, Kamito berusaha sebaik mungkin untuk berpegangan pada tangan Ellis.

Meskipun sebuah anak panah melintasi pipinya, menakuti dia selama sesaat—

Namun, Ellis menghindarinya dengan sangat sempurna.

"Bagus Ellis, langit adalah kekuasaanmu!"

"Tapi mustahil untuk mendekati kapal kalau seperti ini—!"

Sambil menghindari tembakan sihir gelombang kedua, Ellis berteriak. Memang, jika mereka tertahan disini, para Ksatria Angkatan Udara akan mengeluarkan elemental waffe mereka untuk menghadang mereka secara langsung.

Bahkan bagi Kamito, para Ksatria Angkatan Udara tidaklah mudah untuk ditangani.

Pada saat itu, anak panah sihir dalam jumlah yang besar terbang kearah mereka berdua...

....Dijatuhkan oleh hujan panah yang datang dari belakang, meledak diudara.

Kamito melihat kebelakang, dan melihat—

Rinslet berdiri di haluan Revenant, memegang busur panah es miliknya.

Secara luar biasa, dia mampu menembak dari jarak sejauh itu untuk menjatuhkan setiap anak panah musuh.

Dia melambaikan rambut pirang platinumnya yang panjang dan mengangkat jenpol dengan bangga. Setelah turnamen Blade Dance, kemampuan memanah milik Rinslet meningkat secara drastis.

Kristal-kristal kecil dari es yang hancur menyebar diudara, menutupi pandangan Kamito dan Ellis.

Dengan terhadangnya hujan anak panah, tak ada alasan untuk tidak mengambil keuntungan dari hal itu—

"Sekaranglah saatnya untuk menyerang, Kamito!"

"Ya, aku mengandalkanmu!"

Ellis mengayunkan Ray Hawk sebagai tanggapan pada suara Kamito.

"Kamito, pegangan pada gagang tombak—"

"Huh?"

"Cepat—"

Kamito melakukan seperti yang dikatakan dan memegang Ray Hawk.

"Kalau begitu, waktunya kau pergi—"

Sebuah badai ganas mulai berkumpul diujung tombak itu.

Mengetahui apa yang akan dilakukan Ellis, Kamito mau tak mau berteriak.

"Tunggu, apa kau serius!?"

"Tentu saja. Menembus angin—gaya tombak Fahrengart, Flying Strike!"

Ellis menggunakan semua kekuatan suci didalam tubuhnya untuk meluncurkan Ray Hawk bersama Kamito yang berpegangan pasa tombak itu.

"O-Ohhhhhhhhhh!"

Kekuatan angin yang terkonsentrasi pada tombak itu dilepaskan sekaligus, mengubahnya menjadi sebuah proyektil berkecepatan dewa.

Strike. Ujung tombak itu menembus permukaan dek—Lalu, suatu ledakan terjadi.

BOOOOOOOOOOOOOOOOM!

Dengan suara ledakan tersebut, kapal raksasa itu berguncang. Lantai kayu terangkat dalam pola radial, terhempas dari dek disertai puing-puing yang berhamburan.

Sebelum terjadi tabrakan, Kamito sudah melepaskan pegangannya dan mendarat dengan posisi berjongkok.

Setelah menghindari gelombang kejut, dia segera berdiri.

(...Metode yang cukup gila, tapi yah, itu cukup efesien—)

Sambil tersenyum masam, dia segera memeriksa sekelilingnya. Di dekat pusat ledakan, para Ksatria Angkatan Udara telah tumbang setelah menerima ledakan. Mereka mungkin tak memiliki waktu yang cukup untuk merapal sihir defensif.

Berdiri tegak dikapal, Ray Hawk berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang.

Tugas Ellis telah selesai. Selanjutnya—

Kamito menghunus kedua Demon King's Sword, masing-masing tangan memegang satu pedang.

"K-Kepung dia!" "Musuh hanyalah satu pria!"

Satu demi satu, para ksatria yang tak terkena gelombang kejut mulai mengepung Kamito dengan elemental waffe ditangan mereka.

Akan tetapi, itu adalah keputusan yang buruk.

"Absolute Blade Arts, Bentuk Ketiga—Shadowmoon Waltz!"

Tebasan-tebasan berwarna hitam dan putih memebentuk garis melengkung untuk menyerang para ksatria disekitar. Dengan mudah menerobos pengepungan, Kamito berlari kearah bagian belakang dari kapal militer tersebut.

(Dimana komandannya?)

Sambil menjatuhkan para ksatria yang ada dijalannya, Kamito mencari komandannya. Berbicara secara logis, para ksatria Ordesia akan bersiri secara pribadi didek untuk memberi arahan.

Lalu pada saat itu—

(—Ketemu.)

Seorang ksatria berambut pirang berdiri secara terbuka di anjungan kapal.

Meskipun dikepung kekacauan, dia tetap diam dan tak terguncang.

Kemungkinan besar, dia adalah Dame Arakeel dari Numbers.

Menghempaskan proyektil-proyektil yang berkilauan dari sihir roh yang datang dari segala arah, Kamito menendang lantai untuk berakselerasi.

"Oh? Datang seorang diri, bodoh sekali—"

Si ksatria Numbers—Dame Arakeel—tertawa ringan dan melompat dari anjungan kapal.

"Jadilah kekuatan ditanganku—roh pandai besi Vulcanus!"

Ketika dia berteriak, gauntlet dan perisai bergabung dan muncul ditangannya.

Armor berat itu menyebabkan lantai kapal itu penyok.

Menilai dari bentuk elemental waffenya, tampaknya dia adalah seorang elementalis tipe kekuatan.

(Aku nggak bisa membuang terlalu banyak waktu—)

Kamito menutup jarak dalam sekejap dan menyerang badannya.

Menargetkan celah diantara armor tersebut, dia mengayunkan kedua Demon King's Sword.

Akan tetapi, Arakeel segera menyiapkan perisai miliknya dan dengan mudah memblokir serangan Kamito.

(Sudah kuduga, serangan-serangan dengan kekuatan yang relatif lebih rendah nggak akan berhasil huh—)

Kamito mendecak lidah. Lalu—

Arakeel mengayunkan tinju yang berbalut gauntlet.

"...!"

Kamito melompat kesamping untuk menghindari serangan tersebut.

Akan tetapi, gelombang serangan yang selanjutnya menghantam dia. Kamito terlempar.

(...A-Apa-apaan kekuatan gila ini!?)

Kamito segera memperbaiki kuda-kudanya dan menyiapkan pedang kembar itu.

Arakeel menyerang dengan momentum yang tepat, melepaskan pukulan ganas.

Kamito menuangkan kekuatan suci kedalam pedang kembar miliknya, memperkuatnya untuk memblokir pukulan tersebut.

Percikan api lansung berhamburan.

(...Lumayan, itu begitu berat—)

Menyaksikan kekuatan dari pasukan terkuat di Kekaisaran, Numbers, Kamito mendecakkan lidahnya.

Ini bukanlah sebuah pukulan yang menggunakan kekuatan saja. Sebaliknya, itu adalah puncak seni bela diri yang menggabungkan serangan dan pertahanan menjadi satu.

"Bagus sekali, bocah. Kalau kau bukan musuh, aku ingin menikmati ini secara menyeluruh."

Ksatria tangguh dengan wajah yang tegas itu menunjukkan seringai kejam. Tampaknya Ellis memang tepat menyebut dia seorang ksatria berotak kabel. Kesan yang dia dapatkan sangat berbeda dari Leschkir.

Creak creak creak creak... Sembari memblokir pukulan yang tekanannya terus meningkat, Kamito berbicara.

"....Katakanlah, bisakah kau sebentar saja menutup mata pada kapal itu?"

"Apa lagi sekarang? Apa kau memohon ampun?"

"Arneus adalah boneka Kerajaan Suci. Kalau kau memiliki kepentingan Kekaisaran dalam benakmu—"

"Hmph, kau benar-benar dibutakan oleh upaya pembujukan. Setiap generasi dari keluargaku terdiri dari para ksatria yang melayani keluarga kerajaan. Aku hanya akan menerima perintah dari kaisar saja!"

"Seperti yang kubikang, kaisar itu adalah—"

"Diam!"

Tinju Arakeel mengeluarkan cahaya yang terang. Itu adalah cahaya dari kekuatan suci yang besar.

"...!?"

Kamito menendang gauntlet musuh untuk melompat mundur. Sesaat setelahnya, tinju itu menghancurkan lantai kapal dengan dampak yang cukup kuat untuk mengguncang seluruh kapal terbang tersebut.

(...Aku mengerti sekarang. Dia benar-benar keras kepala. Tampaknya mustahil untuk meyakinkan dia.)

Kamito melompat ke tepi kapal. Segera setelahnya, hujan proyektil sihir roh yang berkilauan jatuh kearah dia. Ini bukanlah Arakeel yang menyerang, tetapi tembakan perlindungan dari para ksatria roh.

(Waktunya menyelesaikan pertandingan ini, jika tidak, aku akan terkepung...)

Sembari menggunakan pedang kembarnya untuk menepis panah sihir, Kamito mendekat lagi.

Pertahanan milik Arakeel sangat kuat—Kuncinya adalah menembusnya.

Akan tetapi, itu tak seperti dia bisa menggunakan Absolute Blade Arts berulang kali. Absolute Blade Arts mengkonsumsi kekuatan suci dalam jumlah yang besar untuk memperkuat tubuh. Setelah dia kehabisan kekuatan suci, kekuatan dari Ren Ashdoll mungkin akan mulai melahap dia lagi.

(—Aku nggak mau menjadi Raja Iblis lagi.)

Oleh karena itu, dia harus menciptakan celah yang cukup untuk mengalahkan musuh. Dan dia sudah memiliki sebuah ide.

"Assassination technique—Twin Snakes!"

Mendekat pada musuh dari depan, Kamito melepaskan serangan kombinasi yang tajam.

"Tipe serangan seperti ini nggak berguna terhadap Vulcanus milikku!"

"Ya, itu mungkin benar—"

Arakeel melebarkan matanya.

Memang, tebasan kacau balau dari pedang kembar tersebut adalah bagian dari gerakan Kamito untuk membuat lawan meremehkam dia.

Memblokir serangan tersebut dengan mudah, Arakeel hendak menyerang balik, lalu—

(—Est, Mode Shift.)

"Baik, Kamito."

Bentuk pedang ganda dari Demon King's Sword lenyap. Yang muncul ditangan Kamito adalah Demon Slayer.

Ini adalah bentuk sejati dari roh pedang terkuat, Terminus Est.

Mata biru milik Arakeel terbuka lebar.

Perubahan bentuk yang tiba-tiba dari senjata itu membuat reaksinya melambat.

Orang yang mampu menggunakan elemental waffe dengan banyak bentuk sangatlah langka, tetapi orang yang menguasai gaya pedang ganda dan pedang dua tangan secara bersamaan nyaris tidak ada.

"Ohhhhhhhhhhhh!"

"Guh...!"

Serangan berkekuatan penuh dari Kamito diblokir oleh Arakeel secara buru-buru menggunakan gauntletnya. Akan tetapi, dia gagal meredam dampaknya. Sebuah celah muncul dalam kuda-kudanya, lalu—

"Absolute Blade Arts, Bentuk Keenam—Crushing Fang!"

Teknik Absolute Blade Arts untuk menghancurkan senjata, yang mana mengalahkan Hakua dari Four Gods selama Blade Dance, meledak.

Gauntlet yang memblokir pedang itu hancur berkeping-keping.

"Gah—"

Dihadapkan dengan Arakeel yang telah kehilangan pertahanannya, Kamito dengan cepat mengarahkan pedangnya pada leher Arakeel.

Lalu—

"Semua kapal, hentikan tembakan kalian! Jika tidak, nyawanya akan melayang!"

Dengan suara yang cukup keras hingga mencapai seluruh dek, Kamito berteriak.

"Nggak mungkin, Dame Arakeel telah....!?" "T-Terkutuk kau, elementalis laki-laki!"

Semua ksatria roh yang mengelilingi Kamito ekspresi mereka berubah.

"Lupakan aku! Bunuh pria ini—"

Arakeel berteriak keras, tetapi para ksatria bawahannya tidak bergerak.

—Tepat seperti yang Kamito perkirakan.

Berbicara tentang Numbers dari Ordesia, mereka adalah pahlawan diantara pahlawan, diidolakan oleh masyarakat. Terlebih lagi, ksatria bernama Arakeel ini tampaknya dia sangat dipercaya oleh para bawahannya.

Selain itu, misi ini bukanlah misi yang mereka kerjakan secara sukarela. Para Imperial Knight bersumpah setia pada Kekaisaran Ordesia, bukan pada keluarga kerajaan— Mereka tidak akan bertindak sampai begitu jauh dalam mengikuti perintah Arneus sampai-sampai mengorbankan nyawa Arakeel.

Artileri kapal perang itu menghentikan penembakan. Segera setelahnya, kapal-kapal pengiring juga menghentikan tembakan meriam mereka.

Menggunakan kesempatan ini, Revenant maju dengan tenang.

Sembari mengancam Arakeel dengan pedangnya, Kamito berjalan ke tepi kapal.

"Kamito, sebelah sini!"

Claire melambaikan tangan dari dek Revenant.

Kamito menjauhkan pedangnya dari leher Arakeel dan berkata:

"Maaf tentang hal itu, mari kita bertarung yang jujur dan adil lain kali—"

Mengatakan itu, dia melompat ke dek Revenant yang lewat tepat dibawah kapal perang itu.

Dalam situasi yang ideal, sudah sewajarnya untuk mengambil Arakeel sebagai sandra, tetapi menawan seorang ksatria Numbers terus-menerus akan cukup bahaya. Ada kemungkinan bahwa dia mungkin mengamuk di kapal.

Dibelakang Revenant, yang mana telah melewati mereka, kapal-kapal Kekaisaran segera mulai berputar. Namun, mustahil bagi mereka untuk mengejar kecepatan penuh dari Revenant yang sudah dimodifikasi.

"Bagus, Kamito—"

Setelah kembali ke kapal terlebih dahulu, Ellis mengangkat tangannya untuk melakukan tos dengan Kamito.

"Ya."

"Beneran deh, kau menyelesaikan masalah sendirian..."

Claire bergumam pelan.

Membawa Kamito dan rekan-rekannya, Revenant terbang dengan cepat diantara awan-awan.

"Sebentar lagi, kita akan melintasi peebatasan ke Dragon Duchy of Dracunia...."

Fianna menunjuk ke Pegunungan Kelberth yang terlihat didepan.


Chapter 4 - Raja Naga dari Dracunia[edit]

Bagian 1[edit]

Pucak sakral dari Pegunungan Kelbreth—pegunungan tertinggi di benua—yang mana juga merupakan tempat yang dijadikan habitat oleh lebih dari setengah spesies naga.

Selain naga merah dan naga hitam, juga ada tipe-tipe naga terbang seperti para wyvern, naga darat seperti geodragon, dan subspesies seperti drake. Dan dipuncaknya adalah Raja Naga Iblis dan Raja Naga Petir, dikenal sebagai spesies naga terkuat yang masih ada.

Terbang diantara puncak-puncak terjak itu, Revenant melanjutkan penerbangannya.

Seseorang bisa melihat para naga yang tak terhitung jumlahnya melayang diantara awan-awan—

(...Pada akhirnya, kami masih bergantung pada Kamito.)

Bersandar pada pagar didek sendirian, Claire mendesah.

Melihat Kamito bertarung dengan menakjubkan seperti biasanya, Claire benar-benar tercengang. Bagaimanapun, dia menghadapi salah satu dari Numbers, yang dikenal sebagai para ksatria terkuat di Kekaisaran, dan mampu mengalahkan ksatria itu dalam waktu yang singkat.

Kata-kata kakaknya muncul kembali dalam pikirannya.

—Kau masih belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatan sejati dari roh terkontrakmu.

(....Kurasa dia benar. Pada tingkat ini, aku hanya akan berakhir menjadi beban.)

Claire memiliki kebanggaan sebagai rekannya Kamito. Akan tetapi, itu pada akhirnya terbatas pada Blade Dance, sebuah kompetisi yang membutuhkan kerja tim.

Pada tingkat ini, dia tak akan pernah bisa mengimbangi kekuatan Kamito—itulah Ren Ashbell, Penari Pedang Terkuat.

(....Aku ingin bisa bertarung bersama Kamito.)

Lalu setelah dia mendapatkan kekuatan yang besar yang mana Kamito bisa mempercayakan punggungnya pada dia—

Mungkin dia bisa menemukan keberanian untuk menyampaikan kata-kata dan perasaan yang gagal dia sampaikan kemarin malam.

(....Sekarang bukan saatnya untuk depresi. Aku harus menjadi lebih kuat.)

Mengangguk, Claire mengepalkan tangannya.

Bagian 2[edit]

Revenant mendarat di sebuah pangkalan militer di Grand Dracunia, ibukota dari Dragon Duchy of Dracunia, berlokasi di pertengahan Pegunungan Kelbreth.

Meninggalkan Velsaria yang sedang dalam pemulihan, Vivian Melosa dan para cewek Sekolah Instruksional, Kamito dan rekan-rekannya keluar dari kapal.

Dibandingkan dengan ibukota Kekaisaran Ordesia, Ostdakia, iklim disini jauh lebih dingin. Berjalan digang mengenakan pakaian maidnya, Restia langsung menggigil.

"Apa kamu baik-baik saja, Restia?"

"Te-Terimakasih..."

Kamito melepaskan jaket seragamnya dan menyampirkannya pada pundaknya, membuat Restia berterimakasih pada dia.

Lalu, bayangan raksasa muncul diatas kepala.

Dia mendongak dan melihat para ksatria Dracunia menunggangi naga-naga terbang.

"Itu—"

Kamito teringat penampilan mereka.

Mereka adalah anggota dari Knights of Dragon Emperor yang dia lawan selama Blade Dance. Dan yang menunggangi naga hitam raksasa itu adalah—

"Aku nggak nyangka kita bertemu lagi secepat ini, Kamito."

"Leonora!?"

Kamito berseru.

Memang, inilah orang yang membantu Kamito di ibukota kekaisaran, Leonora Lancaster.

Leonora melompat turun dengan gagah dari punggung naga hitam itu—

"Para tamu dari Ordesia Yang Sah, selamat datang di Dragon Duchy of Dracunia."

Dia menundukkan kepalanya dengan khidmat pada kelompok Kamito.

"Aku, Leonora Lancaster, kapten dari Knights of the Dragon Emperor, aku ditugaskan untuk memandu Yang Mulia Putri Fianna dan kalian semua ke istana sesuai dengan perintah sang Raja Naga."

"Sungguh sopan. Terimakasih atas perhatianmu...."

Fianna mengangkat ujung roknya dan membungkuk dengan etika istana sebagai balasan.

"....Ngomong-ngomong, aku tak pernah menyangka mau keluar menyambut kami. Oh yah, tapi aku sudah menyangka bertemu denganmu disini di Dracunia."

Kamito menggaruk bagian belakang kepalanya saat dia berbicara.

"Aku secara sukarela bertindak sebagai pemandu. Ngomong-ngomong, kau keterlaluan sekali. Karena kau berencana kabur ke Negara Naga, kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal...?"

Leonora menggerutu sambil cemberut.

Melihat mereka berdua berinteraksi seperti itu—

"Hmmm, apa-apaan itu, mereka tampak begitu dekat." "Ada suasana keintiman!" "Kamito, kapan kau dan Leonora-dono...." "Kamito-kun adalah seorang Raja Iblis Malam Hari Internasional, aku paham sekarang..."

Para gadis muda dibelakangnya mulai berbisik diantara mereka sendiri.

Apa-apaan itu, Raja Iblis Malam Hari Internasional....

"Kami telah mempersiapkan kereta naga untuk mengantar kalian ke istana."

"Kereta naga?"

"Yah, iuu seperti kereta yang ditarik oleh kuda, bedanya cuma yang ini ditarik oleh naga."

Bagian 3[edit]

Kereta naga yang ada didepan kelompok Kamito adalah sebuah bentuk dari transportasi yang jauh lebih besar daripada kereta kuda, cukup untuk dinaiki semua orang. Kereta itu ditarik oleh seekor sebspesies naga tanpa sayap—jenis naga darat raksasa.

Setelah Kamito dan rekan-rekannya naik ke kereta, kereta itu perlahan-lahan bergerak maju.

Tampaknya seekor naga yang memiliki tubuh dan kekuatan yang besar secara berkebalikan memiliki kecepatan yang rendah.

Kereta naga itu meninggalkan pangkalan militer dan bergerak maju di sepanjang jalan utama menuju Ibukota naga, Grand Dracunia. Selain para naga yang berputar-putar di langit, pemandangannya tak beda jauh dari ibukota kekaisaran. Akan tetapi, dibandingkan dengan Ostdakia, desain arsitekturnya tampak lebih kokoh.

Mungkin penasaran tentang seperti apa jalanannya, Restia yang duduk disebelah Kamito terus melihat keluar jendela, bertanya ini itu pada Kamito. Kamito tiba-tiba teringat bagaimana segalanya terjadi diantara dia dan Restia ketika berjalan-jakan di jalanan, bedanya adalah sekarang peran mereka dibalik.

"Setelah sampai di istana, pertama kita harus memberi hormat pada Raja Naga."

Duduk berseberangan dengan Kamito, Leonora berkata.

"Itu membuatku merasa gugup..."

"Harap jaga perilaku didepan Yang Mulia. Kalau tidak, aku nggak bisa menjamin keselamatan nyawa kalian."

Mendengar peringatan dari Leonora, Kamito dan rekan-rekannya bertukar tatap.

....Kalai dipikir lebih jauh lagi, Kamito menyadari dia pada dasarnya tidak tau apa-apa tentang sang Raja Naga.

"Uh, berapa lama sang Raja Naga mulai tinggal disini?"

"Beberapa ratus tahun yang lalu."

"Bisa dibilang itu relatif baru. Apa yang dia lakukan seratus tahun lalu, saat Perang Raja Iblis?"

Merasa tertarik, Claire mulai menanyakan pertanyaan demi pertanyaan.

"Saat Perang Raja Iblis, karena Yang Mulia belum berkuasa secara langsung, oleh karena itu dia tidak ikut campur dalam konflik manusia. Ngomong-ngomong, apa diantara kalian ada yang tau kenapa negara ini disebut kadipaten'duchy'?"

"....? Oh, benar juga—"

Terpicu oleh pertanyaan Leonora, Kamito menyadari bahwa iti sedikit tidak biasa untuk sebuah negara yang diperintah oleh Raja Naga untuk disebut sebuah duchy. Biasanya seseorang akan menyebutnya sebuah kerajaan.

"Dahulu kala, dulunya ini wilayah kadipaten. Nama saat ini merupakan peninggalan dari saat itu."

Dimasa lalu, penguasa dari Pegunungan Kelbreth ini adalah Duke Marfelion, Dragon Duke, dan penerusnya. Meskipun sang Raja Naga sudah ada di negeri ini, Yang Mulia tidak secara aktif membuat kontak dengan manusia. Sama seperti roh-roh berperingkat tinggi yang lainnya, Raja Naga diabadikan didalam sebuah kuil sebagai objek untuk disembah.

Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintahan Dragon Dukedom memasuki kondisi menurun secara perlahan-lahan. Para penguasa bodoh yang mengancam rakyat layaknya properti sekali pakai muncul satu demi satu. Dengan demikian, rakyat perlahan-lahan memberi petisi pada Raja Naga untuk turun tangan. Akhirnya, sesuai dengan keinginan rakyat, Bahamut mulai memerintah negeri ini.

Ini terjadi 475 tahun yang lalu—Leonora menyimpulkan.

"Dikatakan bahwa pada awalnya, pemikiran tentang suatu roh memerintah alam manusia menerima penentangan keras. Tetapi sekarang kemakmuran Dracunia bisa dilihat sepanjang hari, kurasa nggak akan ada orang yang keberatan lagi."

Ketika mereka mengobrol, kereta naga itu melewati kota dan memasuki jalur pegunungan yang sempit dan berbahaya.

Sebuah tempat dengan tebing-tebing yang curam. Khawatir bahwa kereta naga itu mungkin tergelincir, Kamito terus gelisah sepanjang waktu.

"Sungguh nggak biasa untuk istana utama berada diluar kota."

Rinslet berkomentar. Memang, Istana Nefescal berada di pusat kota dari ibukota kekaisaran. Kebanyakan istana-istana di negara-negara lain juga sama.

"Karena awalnya itu bukanlah sebuah istana, melainkan sebuah kuil untuk menyembah Yang Mulia Raja Naga. Kalau kau menganggapnya sebagai sebuah istana seperti di Ordesia, mungkin ada suatu rasa disonansi."

Mengatakan itu, Leonora menunjuk puncak dari pegunungan tersebut yang bisa terlihat diluar jendela.

"Disebelah sana adalah Dragon's Peak."

"Dragon's Peak?"

Kamito bertanya dan melihat keluar jendela. Puncaknya diselimuti kabut tebal, menganggu pandangan. Akan tetapi, dia biadar melihat banyak naga berputar-putar disana.

"Kudengar itu adalah rumah hanya untuk Demin King Dragon di benua."

"Dulunya itu adalah sarang yang dihuni oleh naga hitam yang agung, Vritra. Menurut legenda, Vritra terlibat dalam penghancuran dan penjarahan dalam skala besar setelah turun ke alam manusia, tetapi seratus tahun yang lalu, dia dikalahkan oleh Sacred Maiden Areishia yang datang kesini, dan dengan demikian dia disegel di sebuah kuil di puncak itu."

"Eh... Hei Est, apa kamu masih ingat tentang saat itu?"

Kamito bertanya pada pedang yang ada disebelahnya.

"Tidak, nggak ada didalam ingatanku."

Est menjawab acuh tak acuh.

Setelah bergerak di sepanjang jalur pegunungan yang berliku-liku, kereta naga itu mencapai sebuah ngarai yang besar.

Sebuah jembatan batu telah dibangun melintang di jurang tersebut, yang mana kedalaman jurang tersebut sangatlah dalam sampai diluar jarak pandang. Sebuah bangunan besar bisa terlihat di seberang, menonjol dari sebuah bukit.

"Disanalah istana utama Dracunia, Dragon Rock Fortress—umumnya dikenal sebagai benteng pertahanan."

Bagian 4[edit]

"—Salam, para tamu terhormat dari Ordesia. Selamat datang di Dragon Rock Fortress."

Setelah mereka turun dari kereta naga ditaman didepan istana, para pelayan perempuan yang melayani istana segera datang menyambut mereka.

Melewati gerbang besi besar, Kamito dan rekan-rekannya mengikuti Leonora untuk memasuki istana.

"Memang, tata ruangnya benar-benar berbeda dengan Istana Nefescal..."

Fianna mengamati dinding dan langit-langitnya dan berkomentar.

Bukannya dibangun menggunakan batu, tampaknya itu dibuat menggunakan gua raksasa alami. Langit-langitnya menyerupai stalaktit, disertai banyak kristal roh yang ditanam disana untuk memancarkan cahaya seperti bintang-bintang yang berkilauan. Banyak relief naga diukir di dinding.

"Claire, jangan sentuh apapun tanpa ijin."

"N-Nggak usah dikasi tau aku juga udah tau..."

Berniat menyentuh sebuah ukiran naga, Claire diperingatkan oleh Ellis.

(Entah kenapa ada perasaan nostalgia...)

Teringat Gua Kastil di Sekolah Instruksional, Kamito terpikir demikian. Bisa dikatakan, itu bukanlah suatu ingatan yang ingin dia ingat.

"Besarnyaaaaa~~~"

Claire bergumam kagum.

"Orang-orang yang tidak terbiasa dengan tempat ini bisa tersesat. Harap berhati-hati."

"Sungguh tempat yang berbahaya... Restia, hati-hati jangan sampai terpisah."

"Y-Ya..."

Kamito memegang tangannya, menyebabkan Restia segera menundukkan kepalanya dengan ekspresi malu.

Tiba-tiba, Leonora berhenti berjalan dengan penampilan terkejut.

"Kamito, jangan bilang kau berniat membawa maidmu juga untuk menghadap Yang Mulia?"

"....Huh? Oh, benar juga—"

Memang, dari sudut pandang Leonora, Restia saat ini hanyalah seorang maid biasa. Membawa dia ke pertemuan resmi sangatlah tidak sopan.

"Uh, Restia bukanlah seorang maid, dia adalah—"

"Tunggu—"

—lalu, Rubia yang tetap diam sepanjang waktu, menarik Kamito mendekat dan berbisik dengan suara yang sangat pelan hingga Leonora tak bisa mendengar.

"Lebih baik jangan membawa roh kegelapan itu."

"Kenapa?"

"Raja Naga adalah seorang bawahan terpecaya dibawah komando Elemental Lord Kegelapan. Jika identitasnya terbongkar, itu mungkin akan menyurutkan ketertarikan pihak lain."

"....Oh benar."

Dia tepat sekali. Mungkin lebih baik menyembunyikan kehadiran Restia dari Raja Naga. Jika tidak, misalkan Raja Naga meminta Restia tetap berada disampingnya seperti yang terjadi dimasa lalu saat bersama Elemental Lord Kegelapan, maka Kamito akan dipaksa bertarung melawan Raja Naga.

"Maaf, Restia.... Bisakah kamu menungguku sebentar?"

"Baiklah, aku mengerti."

Kamito menepuk kepalanya dan Restia menyetujuinya dengan patuh.

"Ruangannya sudah dipersiapkan. Silahkan ikuti aku."

Segera setelah Leonora memberi isyarat, seorang pelayan perempuan segera bergegas mendekat untuk membawa Restia.

Mereka terus bergerak maju didalam gua tersebut. Lalu, kelompok itu mencapai ruang terbuka yang luas dengan langit-langit yang melengkung menyerupai kubah.

Para princess maiden yang mengenakan pakaian formal yang melayani sang Raja Naga berbaris didinding untuk menyambut Kamito dan rekan-rekannya.

"Apakah ini ruang tahta?"

"Bukan, ruang tahta ada didepan."

Leonora menggeleng.

"Semuanya, harap buat persiapan disini untuk menghadap Yang Mulia."

"Persiapan?"

Mengatakan itu, para princess maiden berjalan mendekat sambil membawa keranjang ditangan mereka.

"Persiapan apa?"

"Karena kalian akan menghadap Yang Mulia Raja Naga, kalian nggak boleh tetap berpakaian seperti ini."

"Apa kamu harus berganti pakaian ritual?"

Claire mengeluarkan ekspresi terkejut.

Seragam Akademi Roh Areishia merupakan pakaian ritual formal yang disahkan untuk upacara-upacara tingkat tinggi termasuk festival Blade Dance. Secara logis, menghadap seperti ini saja seharusnya bukanlah masalah—

"Tidak, nggak masalah mengenakan seragam ini. Akan tetapi—"

"Namun?"

"Kalian harus melepas daleman kalian."

"....EHHHHHHHHHHHHHH!"

Mendengar instruksi Leonora, Claire dan para cewek berteriak terkejut.

Bagian 5[edit]

"M-Melepas daleman kami, a-apa maksudnya ini!?"

"Para princess maiden yang melayani para naga nggak pakai daleman yang kotor."

Leonora menjawab dengan serius.

(....Oh benar, kurasa aku ingat sesuatu yang kayak gitu.)

Memang, selama Blade Dance, Leonora tidak mengenakan daleman juga.

Karena berjalan-jalan di jalanan tanpa daleman sangat berbahaya dalam segala macam arti, Kamito menyuruh dia untuk memakainya.

....Tampaknya Claire dan yang lainnya tidak tau mengenai hal ini.

"B-Bohong..... Bohong, mustahil....!"

"B-Bagaimana bisa pakaian gak tau malu kayak gitu diperbolehkan!??"

"Hmm, sebagai kapten Sylphid Knights yang bertanggung jawab atas moral publik, a-aku benar-benar gak bisa setuju dengan hal ini."

Claire dan para cewek memprotes sambil muka mereka merah semua.

"Kalian harus mematuhi aturan ini kalau kalian mau menghadap Raja Naga. Kalau fakta bahwa kalian memakain daleman diketahui, amarah Yang Mulia akan terpancing."

"N-Nggak mungkin...."

Claire dan para cewek saling menatap satu sama lain dengan penampilan gelisah.

....Seperti yang diduga, para cewek polos seperti mereka akan merasa gelisah pada persyaratan yang seperti itu.

—Lalu.

"Patuhi saja instruksi dari para princess maiden. Itu adalah pakaian formal dinegeri ini."

Rubia berbicara dengan tenang.

Claire melebarkan matanya dan bertanya:

"N-Nee-sama akan... melepas dalemanmu juga?"

"Aku sudah melepasnya di kapal."

Rubia menyatakan secara terang-terangan. ....Sialan.

"...~Oooh... Sigh, baiklah...."

Claire mendesah menyerah.

"Hmm, karena ini adalah etika negara ini, apa boleh buat, kan?"

"K-Kurasa begitu..."

Ellis dan Rinslet juga setuju meskipun penuh keengganan.

"Kadang aku pergi tanpa memakai daleman, jadi itu nggak menggangguku."

....Pada akhirnya cewek itu seperti menggumamkan sesuatu yang aneh. Kamito betul-betul berharap dia salah dengar.

Lalu, dia tiba-tiba ingat dan menanyai Leonora.

"Anu, apa aku harus melepas dalemanku juga?"

"Apa... Kau mau apa habis melepas dalemanmu, bajingan cabul!?"

"Apa-apaan itu!?"

"K-Kau, sejak awal bukanlah seorang cewek! K-Kau berniat untuk... mengungkapkan binatang suci-mu m-m-maaf, aku nggak bisa nemuin kata yang pas buat yang satu ini, jadi tolong jangan bully aku didepan sang Raja Naga, dasar laknat!"

Leonora berteriak dengan wajah yang memerah terang.
...Apa itu binatang suci?

(Yah, itu sebenarnya melegakan buatku...)

"Kamito, berbalik. Kalau kau berani menoleh ke belakang, aku akan memanggangmu sampai jadi arang."

"Iya, aku ngerti...."

Dipelototi oleh para cewek, Kamito berbalik untuk menghadap dinding.

Setelah beberapa saat—

Krusek krusek krusek.

Dengan mata tertutup, Kamito bisa mendengar suara gesekan kain dibelakangnya.

Kenapa mereka harus melepasnya disini sih?

....Bahkan hanya suara itu saja sudah cukup untuk membuat jantungnya mulai berdetak kencang layaknya genderang yang mau perang.

".....Ooh, s-sungguh memalukan..."

"Hmmm, a-ada perasaan aneh..."

"Wow, sebuah bordiran kucing. Itu benar-benar manis. Dimana kau membelinya?"

"K-kurasa kai bisa mendapatkannya dimana saja...."

"Kurasa itu pasti toko daleman di kota Akademi. Daleman mereka terkenal menggemaskan."

"Hwahh, Rinslet, k-kenapa kau mengatakannya!?"

"Hmm, aku mau melihatnya juga"

"...D-Dan kau, apa-apaan daleman itu? B-Bukankah itu terlalu tipis?"

"Fufu, aku membelinya ketika aku kembali ke ibukota."

"Uh, bukankah itu semacam kain tembus pandang? Gak tau malu."

"Masa sih? Tapi Ellis, bukankah kau memakai celana dalam yang menggemaskan juga?"

"Ah, a-apa yang kau lakukan!?"

"Ya ampun, bukankah ini...?"

"Y-Ya, ini adalah gaya yang sama yang dipakai Ren Ashbell-sama."

"—Apa?"

Kamito berbalik secara tak sadar.

(....Sial!)

Dalam sekejap, para cewek itu membeku.

"Hyah!" "K-Kamito-san!?" "K-Kamito!" "Waduh♪"

"M-Maaf!"

Kamito buru-buru berbalik lagi.

Akan tetapi, pemandangan itu sudah terekam dengan jelas pada retina Kamito.

Claire mengenakan celana dalam putih dengan bordiran kucing.

Rinslet mengenakan celana dalam biru muda.

Milik Fianna berwarna hitam dengan selera dewasa.

Dan Ellis mengenakan... daleman dengan hiasan lucu.

....Tentu saja, Kamito tak punya ingatan pernah mengenakan dalaman semacam itu.

Kemungkinan, itu adalah salah satu dari Presumably, it was one of those knock-offs taking advantage of Ren Ashbell's popularity. Although there were many products in the market that used Ren Ashbell's name without permission, he never expected them to go so far as to sell underwear.


"....Y-Ya ampun, dasar bajingan, kuubah kau jadi arang, arang!"

"Kamito-san brengsek!"

"Nggak tau malu!"

Tatapan menusuk dari para cewek menikam punggung Kamito.

STnBD V15 106.jpg

Bagian 6[edit]

"Ooooh.... Sudah kuduga, aku sama sekali gak bisa tenang..."

"Hmmm, ada perasaan sejuk dikakiku...."

Meninggalkan ruang besar itu, Claire dan para cewek bergumam sambil berjalan disepanjang koridor yang menuju ke aula pertemuan.

"Setelah kau terbiasa, kau akan mendapati bahwa dalaman memang tidak nyaman."

"Aku nggak mau terbiasa dengan hal ini..."

Claire mengerang menderita.

Setelah berjalan sebentar, mereka sampai di pintu besi raksasa di ujung koridor.

Kalau untuk kepentingan manusia, pintu itu keterlaluan besarnya.

"....Ini adalah ruang tahta Raja Naga."

Leonora menyentuh bagian tengah pintu tersebut dengan tangannya dan merapal suatu mantra dalam bahasa roh.

Lalu, pintu raksasa itu terbuka kearah dalam secara perlahan-lahan—

Ruang tahta itu merupakan sebuah aula gelap tanpa pencahayaan apapun.

Tampaknya ada suatu set tangga besar didalam. Dalam hal strukturnya, itu cukup mirip dengan aula pertemuan Elemental Lord yang mereka lihat saat Blade Dance.

Clak— pintu dibelakang mereka tertutup dengan suata yang berat.

Sesaat setelahnya—

"—Selamat datang, manusia."

Suara serak terdengar seolah berasal dari kedalam bawah tanah.

"...!"

Kamito dan rekan-rekannya menahan nafas mereka.

Suatu cahaya yang membutakan mata muncul dipuncak tanggal. Lalu, apa yang muncul adala siluet "entitas" raksasa duduk di singgasana dibelakang tirai besar yang tersampir dari langit-langit.

Siluet itu seperti seekor "monster".

Dua tanduk besar yang melengkung. Enam lengan ujungnya cakar melengkung. Sayap besar dengan bentuk yang menakutkan.

Siluet dari seekor monster seperti archdemon kuat sedang duduk di singgasana.

(...Itu adalah Raja Naga Dracunia—Bahamut!)

Hanya duduk disana saja, dia sudah memancar aura yang sangat kuat.

Ini adalah roh kelas archdemon—bukan, tekanan ini bahkan melampaui roh-roh kelas mythical yang hanya beraemayam di Astral Zero.

"K-Kamito, apa yang kau lakukan? Cepat berlutut—"

Setelah Claire menarik lengan bajunya, Kamito buru-buru berlutut.

Didepan penampilan yang menakutkan dari sang Raja Naga, tampaknya hampir semua orang berlutut secara spontan.

Terjadi keheningan.

Setelah keheningan yang terasa mencekam berlalu—

'—Apakah engkau sang putri dari Kekaisaran Ordesia?'

Bayangan dibalik tirai itu menatap Fianna, yang menunduk di barisan depan, dan berbicara padanya.

"Ya, aku adalah Putri Kedua— Fianna Ray Ordesia."

Fianna menatap bayangan Raja Naga dan menjawab.

'—Aku mengerti. Sungguh semangat yang mengagumkan dimata engkau. Engkau memang berdarah kerajaan.'

Raja Naga itu tampaknya memahami kemampuan Fianna hanya dengan sekali tatap.

'—Masalah politik belakangan ini pasti cukup berat bagi engkau.'

"Terimakasih atas kekhawatiran anda. Mengenai bantuan yang diulurkan oleh Dragon Duchy of Dracunia dan Yang Mulia, aku menyatakan rasa syukur terdalam sebagai penguasa Ordesia Yang Sah—"

Fianna membungkuk lagi. Perilakunya yang elegan dan bermartabat memancarkan suasana agung yang tak akan disangka siapapun dari perilakunya yanh ceria dan blak-blakan yang biasanya.

'Nggak usah dipikirkan. Mendukung Ordesia Yang Sah juga masih dalam cakupan ketertarikan Dracunia. Itu saja—'

Suara raungan Raja Naga menyebabkan udara di aula besar itu berguncang.

'Jika Kekaisaran Ordesia yang saat ini jatuh ketangan Kerajaan Suci, Negara Nagaku akan menjadi target yang selanjutnya. Engkau harus terus berhati-hati terhadap Kerajaan Suci.'

—Jadi memang benar bahwa Raja Naga menganggap Kerajaan Suci sebagai musuh.

Jika Raja Naga berniat menggunakan Ordesia Yang Sah sebagai kartu untuk bermain dengan Kerajaan Suci, itu akan cukup bisa dipercaya.

'Meski demikian, ada satu syarat sebelum Negara Naga membantu engkau.'

"Sebuah syarat..."

Fianna mendongak secara paksa.

Kamito melirik Rubia, tetapi tidak melihat adanya perubahan ekspresi. Dia pasti sudah menduga Raja Naga akan mengajukan syarat dan ketentuan.

'Tunjukkan kekuatanmu sebagai tes untuk melihat apakah engkau layak mendapat dukungan kami.'

"....Dimengerti. Bolehkan saya bertanya apa syaratnya—"

Fianna bertanya.

'Teokrasi Alpha jatuh kedalam kekacauan ketika putri mereka, Sjora Kahn, membunuh sang Penguasanya. Apakah engkau mengetahui hal ini—'

"Ya."

Perang sipil di Teokrasi Alpha adalah suatu masalah yang dikhawatirkan semua negara di benua. Kamito telah mendengar bahwa Dracunia telah mengirim delegasi yang terdiri dari Leonora dan yang lainnya sebagai perwakilan di Konferensi Semua Negara di ibukota kekaisaran dan mengusulkan langkah ikut campur militer. Akan tetapi, karena insiden upaya pembunuhan kaisar, kemajuan konferensi itu terhenti—

'Inilah syarat yang aku usulkan pada engkau—Selamatkan Saladia Khan yang dipenjara selama kudeta itu.'

Suara Raja Naga itu menggelegar seperti petir.

"Saladia Kahn adalah putri kedua dari Teokrasi, kan?"

'Tepat, dia adalah kartu as untuk melawan Sjora Khan si penghianat. Dia bisa bertindak sebagai pembawa bendera untuk pasukan bantuan yang saat ini sedang bertarung sampai titik darah penghabisan. Dengan dia berada digenggaman kita, keikutsertaan Dracunia pada Teokrasi akan terbuka pada arah yang positif.'

"Kami harus menyelesaikan misi itu—"

'Tepat. Membantu meredakan pertikaian internal Teokrasi akan memberi tambahan prestasi yang sebenarnya pada kekosongan khasanah dari Ordesia Yang Sah. Setelah Saladia Kahn mengambil kembali singgasana, engkau pasti akan menerima dukungan Teokrasi selain dukungan dari Dracunia. Ini bukanlah syarat yang merugikan bagi engkau.'

"....Itu memang benar."

Fianna bergumam pelan.

Kata-kata Raja Naga sangatlah logis. Tidak, lebih akuratnya, itu sangat tepat dari sudut pandang yang mengutamakan analisa keuntungan.

Meskipun mundur dari Konferensi Semua Negara, Dracunia mungkin tidak mau melakukan keikutcampuran militer pada Teokrasi secara langsung. Oleh karena itu, mereka berniat untuk membuat Ordesia Yang Sah, yang mana bukan bagian dari faksi manapun, untuk bertindak sebagai barisan depan mereka.

Kontras dengan penampilannya yang menakutkan, metode Raja Naga sangat bijaksana dan berpengalaman. Kamito mendecakkan lidahnya.

"...Sekarang saya memahami situasinya. Bolehkah saya meminta waktu sebentar untuk mempertimbangkan?"

Mengatakan itu, Fianna secara diam-diam melirik pada Kamito dan yang lainnya, tetapi—

'—Ditolak. Fianna Ray Ordesia, ketahuilah bahwa engkaulah yang harus memutuskan sebagai sang penguasa.'

Suara sang Raja Naga sangat memekakan telinga.

Dihadapkan dengan tatapan Fianna yang goyah, Kamito mengangguk ringan sebagai balasan.

Aku mengandalkanmu—

Fianna memejamkan matanya lalu berkata:

"—Kami akan mengerjakan seperti permintaan anda, Yang Mulia."

Bagian 7[edit]

Setelah meninggalkan ruang pertemuan, Claire menghela nafas dalam-dalam.

"Haaaaa.... Sungguh tekanan yang menakutkan, Raja Naga itu...."

"Ya, membutuhkan segala yang aku punya untuk mempertahankan suara yang tenang."

Fianna juga menaruh tangannya pada dadanya dan mendesah. Meskipun dia bersikap penuh martabat, dia pasti merasa sangat ketakutan didalam dirinya.

"Itulah yang aku sebut Raja Naga."

"Memang. Meskipun kita hanya melihat siluet dibalik tirai, aku mungkin akan pingsan karena ketakutan kalau aku melihat penampilan sejatinya."

"Dalam sejarah Dracunia, nyaris tidak ada yang melihat wujud sejati Yang Mulia. Sejujurnya, aku bahkan belum pernah memberi hormat kepada penampilan sejatinya yang ada dibalik tirai tersebut."

"Yang bener?"

Mendengar pengakuan Leonora, Kamito terkejut.

"Iya, dikatakan bahwa orang-orang yang cukup lancang yang berani mengintip wujud sejati Yang Mulia tak akan pernah melangkahkan kakinya lagi diluar aula pertemuan selamanya.... Akan tetapi, itu hanyalah rumor."

"....h-hanya rumor, kan?"

Kelompok Kamito bergidik kencang.

"Ngomong-ngomong, syarat sungguh sulit. Aku nggak bisa percaya bahwa kita harus melibatkan diri dalam perang sipil Teokrasi..."

Menopang dagunya. Fianna berkata dengan pelan.

"Tidak perlu melibatkan diri kan? Bukankah kita hanya harus menyelamatkan Putri Kedua saja kan?"

"Memang benar, tapi sulit dibayangkan bahwa segalanya akan semudah itu."

"....Kau benar juga."

Mendengar itu, Kamito setuju.

Meskipun Raja Naga sudah memperjelas niatnya untuk mendukung Ordesia Yang Sah, pada saat ini, mereka masih tak bisa mempercayai dia begitu saja. Bagaimanapun juga, ada kemungkinan bahwa mereka mungkin akan diperintah kesana-kemari dan digunakan sebagai tim gerilya yang tak memiliki hubungan dengan negara manapun, diekspoitasi atas kegunaan mereka lalu dibungkam dan dibuang.

Hanya saja Kamito tidak bisa mengatakan hal ini didepan Leonora, sang putri Dracunia—

"Ngomong-ngomong, kenapa Sjora tidak mengeksekusi Saladia Kahn?"

Sebagai hasilnya, Kamito menghindari mengeluarkan pemikirannya dan mengangkat topik lain.

"Memang benar, itu cukup nggak bisa dipercaya. Tak ada hal semacam belas kasihan untuk sesama selama perebutan kekuasaan diantara keluarga kerajaan."

Fianna berkomentar dengan sinis.

Faktanya, kakaknya, Arneus, telah mempersiapkan untuk mengeksekusi dia pada hari Festival Roh Agung. Tak disangka bahwa si kejam Sjora Kahn membiarkan Saladia hidup meskipun dia bisa bertindak sebagai pemegang kunci untuk pasukan penentang, apakah ada alasan dibalik hal itu...?

"Yah, apapun itu, kita nggak punya pilihan lain."

Claire mengangkat bahu dan mengatakan pemikirannya.

"Ya, tapi kalau kita nggak bisa memenuhi syarat ini yang telah diberikan oleh Raja Naga pada kita, memulihkan Ordesia hanya akan menjadi angan-angan belaka."

"Sebaliknya, ini adalah peluang yang sangat bagus untuk menggalakkan eksistensi kita pada negara-negara lain."

Ellis mengepalkan tinju dan mengangguk tegas.

Mendengarkan rekan-rekannya, para cewek muda, Kamito bergumam dalam pikirannya.

(...Teokrasi Alpha, itu adalah sebuah negara yang punya ikatan kuat denganku.)

Itu adalah negara yang didirikan oleh Raja Iblis Solomon. Pada saat yang sama, itu juga merupakan sarang Pemuja Raja Iblis yang membentuk fasilitas gila yang dikenal sebagai Sekolah Instruksional. Restia, ketika berada dibawah sebuah segel, memiliki kesamaan yang terungkap dari reruntuhan di Teokrasi.

Kamito merasa seolah takdir telah membimbing dia kesana.

Sesuatu yang ada disana sedang menunggu Kamito—

.....Entah kenapa, dia merasa bahwa ini adalah suatu firasat.

Bagian 8[edit]

Kembali ke plaza, para princess maiden dengan hormat mengembalikan pakaian dalam milik para cewek. Sembari Kamito menghadap ke dinding, para cewek dengan cepat memakai pakaian dalam mereka lagi.

Ketika semua orang sudah siap, Leonora berkata:

"Aku sudah mempersiapkan ruangan untuk kalian di istana. Silahkan gunakan ruangan-ruangan itu sesuka kalian selama kalian menginap."

"Aku menolak. Aku akan kembali ke kapal."

Rubia menggeleng.

"Kau tidak menginap di istana?"

Ketika Kamito bertanya, Dia menjawab pelan.

"Aku akan menjemput Muir Alenstarl dan Lily menggunakan Revenant. Mereka berdua diperlukan untuk operasi di Teokrasi."

"Benar... Ngomong-ngomong, apa yang mereka lakukan sekarang?"

Dia ingat bahwa terakhir kali dia bertanya, Rubia berkata kalau dia menugaskan mereka pada suatu misi yang penting—

"Mengintai Kerajaan Suci secara sembunyi-sembunyi, mencari keberadaan Elemental Lord Api yang hilang."

"Mereka mengerjakan misi yang berbahaya seperti itu?"

"Aku meminta mereka justru karena misi itu berbahaya. Mereka berdua adalah bawahan terbaik yang aku punya."

"Memang benar...."

Muir dan Lily secara berurutan berperingkat kedua dan keenam di Sekolah Instruksional. Dimasa lalu, mereka sering berkelompok dengan Kamito untuk mengerjakan misi. Lily adalah ahli penyusupan, akan tetapi Muir yang sekilas tampak tak sesuai untuk misi pengintaian, memiliki kemampuan pendeteksi bahaya yang tajam.

Selain itu, ketika penyamaran mereka terbongkar dan mereka dikejar, mereka juga memiliki kekuatan untuk menerobos secara paksa menggunakan roh-roh militer yang mereka miliki.

Bagaimanapun juga, sudah pasti kembalinya Muir dan Lily layak diandalkan. Terutama Muir, yang mampu melawan sekelompok ksatria roh sendirian.

"Hati-hati—"

"Kau lebih baik mempersiapkan dirimu juga. Jangan menahan diri terhadap si Penyihir Senja."

"......"

Dengan itu, Rubia berbalik dan pergi—

"N-Nee-sama..."

Kali ini Claire yang memanggil.

"Ada apa?"

"Aku akan menjadi lebih kuat. Pasti, aku akan mengeluarkan kekuatan Scarlet."

Setelah mendengar kata-kata ketetapan hati Claire—

Rubia masih tidak mengubah ekspresinya, akan tetapi,

"Begitukah? Kau yang sekarang ini, kau tak layak untuk bertindak sebagai pionku."

"Nee-sama..."

Pundak Claire sedikit bergetar saat dia menggigit bibirnya dalam kesedihan.

"Hei, ngomong-ngomong—"

Kamito mau tak mau menyela, tetapi kemudian—

"—Pergilah berlatih di Dragon's Peak. Yang kau perlukan ada disana."

"...Huh?"

Claire bereaksi terkejut.

Namun, Rubia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

"Dragon's Peak—Pergi kesana akan membuatku lebih kuat?"

"Lingkungan keras dari Dragon's Peak telah membuatnya menjadi sebuah tempat untuk berlatih bagi para princess maiden dari generasi ke generasi. Akan tetapi, belakangan ini hanya sedikit orang yang pergi kesana untuk berlatih—"

Leonora menjelaskan.

"Saat aku masih berusia 13 tahun, aku juga meminta para naga di gunung itu untuk berlatih denganku. Setelah mengasingkan diriku di pegunungan selama beberapa bulan, pada akhirnya aku membuat kontrak dengan roh naga Nidhogg."

...Mengasingkan diri di pegunungan diusia 13 tahun huh. Meskipun Kamito ingin mengeluarkan komentar gurauan, dia segera teringat bahwa dia telah jatuh pada rencana keji Greyworth saat dia masih berusia 13 tahun juga, dan berakhir dipaksa menghabiskan tiga bulan dikedalam Hutan Roh untuk pengalaman bertahan hidup diluar.

".....Aku mengerti sekarang. Sampai Nee-sama kembali, aku akan berlatih di Dragon's Peak!"

Claire mengepalkan tangannya dan membuat pernyataan.

"Itu adalah lingkungan yang sangat kejam. Satu salah langkah saja bisa berujung pada liang lahat."

Leonora memperingatkan dengan dengan ekspresi serius.

"Sempurna. Kalau aku nggak melakukan sampai sejauh itu, aku nggak akan bisa bertarung bersama Kami—m-menjadi lebih kuat!"

Tekad Claire tampaknya sangat kuat.

Lalu—

"Ya ampun, betapa nggak adilnya kamu, berniat menjadi kuat sendirian."

Sambil menyibakkan rambutnya yang panjang, Rinslet berkomentar.

"Hmm, aku merasa kalau aku telah mencapai jalan buntu dalam gaya berlatihku sendiri. Aku nggak bisa terus menyerahkan tugas barisan depan pada Kamito dan kakakku—"

"Aku juga akan pergi. Aku sudah bosan jadi putri yang terkurung."

Ellis dan Fianna juga setuju.

"Kalo gitu, aku juga ikut. Itu nggak kayak aku bisa ninggalin cewek kucing neraka sendirian."

Mendengar Kamito mengatakan hal itu....

"N-Nggak ada perlunya bagimu untuk menjadi lebih kuat, kan?"

"Itu salah.... Gimanapun juga, lawannya lain daripada yang lain."

Tarian pedangnya di ibukota kekaisaran telah mengalami kekalahan telak.

Kalau dia hendak menghadapi Greyworth, dia akan membutuhkan kekuatan yang melampaui masa kejayaan Ren Ashbell.

Akan tetapi—

"Sungguh disayangkan, Kamito, kau nggak bisa pergi kesana."

Leonora menggeleng.

"Kenapa?"

"Pria dilarang memasuki Dragon's Peak. Kalau kau berani masuk, yang aku takutkan kau akan menimbulkan amarah dari penguasa pegunungan itu, entah itu Raja Naga Iblis atau Raja Naga Petir."

"A-Aku mengerti...."

"Namun, kalau kau ber-crossdress, mungkin itu akan berhasil...."

"—Baiklah, aku nggak jadi ikut."

Kamito langsung menjawabnya.

Bahkan jika mereka adalah Raja Naga Iblis dan Raja Naga Petir, yang konon katanya merupakan para naga terkuat, sejujurnya Kamito tidak menganggap mereka adalah tandingannya. Akan tetapi, membuat mereka mengamuk munhoon akan mengganggu latihan para cewek.

....Selain itu, entah kenapa dia merasakan perasaan persahabatan demhan yang namanya "Raja Naga Iblis."

"Lalu apa yang harus aku lakukan...?"

Rubia sedang menuju ke Kerajaan Suci, Claire dan para cewek yang lain pergi untuk berlatih di Dragon's Peak, lalu hanya tinggal dia dan Est di istana bersama Restia, mereka bertiga—

"Uh, k-kalau kau nggak keberatan, aku secara pribadi bisa memandumu berkeliling ibukota naga, Grand Dracunia, lho..."

"Huh?"

Kamito merespon. Claire dan para cewek membeku sembari mulut mereka terbuka.

"Mengingat ini adalah kesempatan yang langka, uh, gimana kalau berjalan-jalan menikmati pemadangan kota?"

"Yah, aku nggak mau memaksa, karena gimanapun juga kau adalah seorang putri..."

Saat Kamito mau menolak...

"A-Aku diwajibkan untuk mengawasi kamu. Kalo kau dibiarkan sendirian, siapa yang tau, kau bisa saja mengarahkan cakar jahatmu pada para pelayan perempuan di istana—"

"Yang benar saja, siapa juga yang mau mengarahkan cakar jahat!"

"Yang betul? Ini adalah penyelidikan akurat yang dikumpulkan oleh bagaian penyelidik militer kami, Dragon Eye."

"Dragon Eye itu betul-betul buta!"

Kamito mau tak mau berteriak marah, tetapi....

"Kamito, kau betul-betul nggak peka."

"Hmm, tapi dari sudut pandang orang lain, kau betul-betul Raja Iblis Malam Hari!"

"Lupa diri yang menakutkan..."

Untuk suatu alasan, para cewek muda dalam kelompoknya menatap Kamito dan mulai berbisik pelan diantara mereka sendiri.

"A-Apa-apaan kalian..."

Kamito menyipitkam matanya dalam penderitaan.

"B-Baiklah, btw, makasih sudah mau jadi pemanduku. Aku kebetulan cukup tertarik dengan kotanya."

"B-Begitukah, kalo gitu—"

"Uh, kalo kau nggak keberatan, bisakah Restia—si maid—ikut kita?"

"Hmm... Y-Yah... Tentu, aku nggak keberatan..."

Mendengar pertanyaan Kamito, Leonora tergagap agak dilema.

"......?"

Lalu....

"Kamito-sama, maid anda sudah tidur dikamarnya."

Si pelayan perempuan yang baru saja mengantar Restia ke kamarnya, mendekati dia pelan-pelan dan memberitahu dia.

"....Hmm? Benarkah? Kalo gitu aku nggak mau bangunin dia."

"A-Aku setuju, bangunin seseorang dari tidurnya tidaklah sopan! Pepatah kuno dari Dracunia mengatakan, jangan pernah ganggu naga yang sedang tidur!"

Leonora terus mengangguk berulang kali. Lalu, Kamito menyadari si pelayan perempuan itu memberi tanda jempol pada Leonora.

....Apa mereka saling bertukar isyarat rahasia?

"K-Kalo gitu, mari kita berangkat. Sebelum maid itu bangun, cepat!"

"L-Leonora, kau menarik terlalu kencang..."

Dipegang lengannya, Kamito diseret keluar.

"Hmm, Leonora-dono adalah tipe karnivora huh..."

"Tipe ini belum pernah muncul sebelumnya."

"Kamito-san akan dimangsa!"

"Y-Ya ampun, Kamito bangsat..."

Dibelakang Kamito, Claire dan para cewek menatap dia penuh kebencian.

Bagian 9[edit]

Dilangit diatas Kekaisaran Ordesia—

Kapal perang kelas Crusader milik Kerajaan Suci Lugia terbang dengan tenang diudara.

Meskipun itu adalah sebuah kapal perang, penampilan luar kapal ini berbeda dengan kapal militer biasa. Desain uniknya menyerupai kuil yang menyembah roh-roh, dengan demikian, kapal itu mendapatkan julukan "Cathedral".

Cardinal Millennia Sanctus duduk di kursi di kabin komandan, berbicara pada seseorang dibelakangnya.

"Ya ampun, kaisar tolol itu tampaknya gagal lagi—"

"—Begitukah?"

Bayangan yang berdiri dibelakangnya menjawab dengan acuh tak acuh.

"Kau benar-benar bukan seorang cewek yang banyak bicara. Lurie-oneechan jauh lebih baik untuk teman ngobrol."

Millennia cemberut tak senang.

Perilaku manis itu membuat dia nyaris tampak seperti seorang anak biasa.

"Apa nggak apa-apa meninggalkan ibukota kekaisaran?"

"Nggak usah khawatir, aku meninggalkan diriku yang lain disana."

"......?"

Greyworth mengernyit terkejut, tapi tidak bertanya lebih jauh lagi.

Millennia tertawa dan melanjutkan.

"Hmm, boneka kecil yang manis, bagaimana pertarungan dengan anak laki-laki itu?"

"Apa maksudmu dengan bagaimana?"

"Sebagai lawanmu, apa dia menyenangkan?"

"Sejujurnya, masih kurang, akan tetapi—"

Mengatakan itu, si penyihir menyipitkan mata abu-abunya.

"Aku merasakan sesuatu yang nggak diketahui."

"Hmm, kau sedikit menyukai dia."

"......"

Millennia bangun dari kursinya dan menekankan jari telunjuknya pada bibir Greyworth.

"Apa kau masih mau melawan anak laki-laki itu?"

Mendengar itu, sudut bibir Greyworth sedikit melengkung.

"Darahku mendidih—"

Dia menjawab pelan.

"Fufu, aku suka anak yang jujur. Sungguh maniak pertempuran."

Millennia berbalik dan melihat ke belakang.

"—Silahkan saja. Ayunkan pedangmu sesuka hatimu."

"Dimengerti—"

"Fufu, tampaknya bakalan ada pesta yang menyenangkan."


Bab 5 - Kuil Naga Hitam[edit]

Bagian 1[edit]

Menunggani naga terbang yang dikembalikan oleh Leonora, Kamito pergi ke pelabuhan perdagangan di ibukota naga Grand Dracunia. Perjalanan panjang diatas kereta kuda bisa ditempuh dalam sekejap mata dengan menunggangi seekor naga terbang.

Setelah mengikat naga terbang itu di alun-alun yang dikhususkan untuk para naga, Leonora berjalan kearah pasar yang ramai.

"Sungguh tempat yang ramai..."

"Karena Pegunungan Kelbreth adalah sebuah sumber besar dari kristal roh. Bahkan tanpa kapal, sangatlah umum disini untuk menggunakan naga-naga terbang untuk melakukan perdagangan."

Sama seperti yang dikatakan Leonora, ketika Kamito berjalan-jalan di pasar, naga-naga terbang membawa peti-peti kemas kayu terus beterbangan diatas kepala kearah saling melintang.

"Apa mereka nggak saling bertabrakan?"

"Para penunggang naga terbang yang berpengalaman nggak akan ngalami kecelakaan semacam itu. Para pemula terkadang menjatuhkan barang, tapi para penduduk lokal sudah terbiasa dengan hal itu."

"Ini bukanlah masalah tentang terbiasa dengannya atau tidak, kan?"

Alasan kenapa bangunan disini tampak lebih kokoh daripada bangunan yang ada di ibukota kekaisaran atau kota Akademi mudah-mudahan bukan sebagai perlindungan terhadap barang-barang yang jatuh dari ketinggian yang tinggi.

"Pengangkutan udara dalam jumlah ini sudah relatif rendah. Disatu sisi, perang sipil di Teokrasi telah menganggu perdagangan. Disisi lain, perdagangan dengan Ordesia mungkin akan diberhentikan nggak lama lagi."

"Kau nyebut ini relatif rendah..."

Melihat para naga yang hilir-mudik diatas kepala yang gak ada habisnya, Kamito menatap takjub sembari mulutnya terbuka.

Melihat itu, Leonora tertawa bangga.

"Kau lebay banget kalau kau terkejut sama sesuatu setingkat ini. Saat Festival Tarian Naga Terbang tahunan, seluruh langit akan dipenuhi dengan para naga. Itu baru yang aku sebut spektakuler."

"Eh, aku benar-benar ingin melihat itu...."

....Pemandangan seperti apa itu jadinya? Untuk suatu alasan, Kamito membayangkan segerombolan besar belalang.

"Bagus, biarkan aku yang jadi pemandumu pada kesempatan itu."

"Tentu, makasih."

"Fufu, itu adalah sebuah janji."

—Dengan demikian mereka berjalan selama beberapa saat, kadang-kadang memandangi para naga yang ada diatas kepala, sisanya memeriksa barang-barang di pasar. Mereka berdua sampai di sebuah jalan yanh lebar dibawah kanopi raksasa.

Sebelah kiri dan kanan jalan tersebut adalah toko-toko dengan tanda yang mewah. Jalan itu dipenuhi orang.

"Ini adalab Dragon's Street—distrik hiburan terbesar di ibukota naga. Kau bisa membeli apapun yang kau mau dari barang-barang umum, produk kerajinan sampai telur naga. Sepertinya, juga ada alat-alat kesenangan malam hari yang dijual."

"Apa itu alat-alat untuk kesenangan malam hari?"

"Siapa yang tau? Aku juga nggak tau betul..."

Mengatakan itu, mereka berdua berjalan-jalan dengan santai di Dragon's Street. Di toko terbuka disisi jalan, Kamito melihat banyak barang langka yang dijual yang tak bisa ditemukan di kota Akademi.

"Anu, apa itu?"

Kamito menunjuk pada sebuah telur berwarna biru, ukurannya cukup besar hingga bisa dipeluk oleh seseorang.

"Sebuah telur drake—tipe dari naga kecil."

"Bisakah kau memakannya?"

"Tentu saja tidak. Para bangsawan menggunakan telur itu sebagai dekorasi interior. Namun, masih bisa menetaskannya dengan menggunakan tungku pemanasan. Drake yang baru menetas sangatlah lucu."

"Naga kecil huh? Sekarang aku jadi pengen memelihara satu."

Kamito membayangkan seekor naga penyembur api seukuran telapak tangan.

"Ya, drake remaja kira-kira seukuran kuda dan sangat mudah diurus."

"Itu sudah cukup besar."

"Masa sih? Aku punya tujuh ekor dirumah."

.....Seperti yang diduga dari seorang putri dari Negara Naga. Standarnya benar-benar berbeda.

"Kalau nggak lagi bisa memelihara mereka, apa yang terjadi ketika mereka dilepaskan?"

"Mayoritas drake yang dilepaskan kembali ke Pegunungan Kelbreth. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka berubah menjadi mangsa untuk para naga yang lebih besar."

"Sungguh dunia yang kejam...."

Saat mereka berdua mengobrol didepan toko itu....

"Oh, apa kau mencari telur drake? Selera yang bagus, tuan."

Tersenyum ramah, si penjaga toko keluar.

"Tidak, aku hanya melihat-lihat, aku nggak berencana...."

"Sungguh orang yang suka bercanda dirimu, tuan, luar biasa. Aku nggak bisa percaya kau mengincar setinggi itu."

Memeriksa Kamito dan Leonora, si penjaga toko tersenyum sugestif.

"Apa maksudmu?"

"Telur drake adalah pesona keberuntungan. Rumor mengatakan bahwa satu sentuhan saja bisa memastikan kehamilan yang cepat."

"Apa....!?"

Kamito buru-buru mundur. Dia melihat sekeliling, orang-orang disekelilingnya tersenyum pada mereka berdua seolah mereka adalah pengantin baru.

"Kau nggak tau?"

"T-Tentu saja aku nggak tau. A-Ayo pergi...."

"Oh...!"

Kamito meraih tangan Leonora dan buru-buru meninggalkan tempat itu.

Setelah meninggalkan Dragon's Street, Kamito akhirnya berhenti berjalan. Leonora menatap Kamito dengan wajah yang merah cerah.

"K-Kau, apa kau selalu berjalan-jalan sambil memegang tangan cewek sesantai ini!?"

"M-Maaf..."

Kamito menjadi panik.

"Oh tidak, itu bukan seperti aku keberatan terus seperti ini..."

Leonora langsung tergagap.

"Uh, setelah berjalan kesana kemari, aku jadi ngerasa agak lapar..."

"Hmm? Oh, bener juga... Bagaimana kalau cari tempat untuk makan siang?"

"A-Apa kau mau kesana?"

Leonora menunjuk sebuah toko yang memiliki tanda seekor naga raksasa.

"Steak naga... Jangan bilang mereka menjual daging naga?"

"Tentu aja enggak. Mereka menggunakan sapi yang dipelihara di bukit-bukit pegunungan."

"Aku ngerti..."

Kamito mendesah lega.

"Hanya saja sapi-sapi itu tumbuh sampai seukuran para naga."

Bagian 2[edit]

—Ketika Kamito dan Leonora dengan santai menikmati pemandangan di ibukota naga...

Claire dan rekan-rekannya berjalan menyusuri jalur pegunungan yang mengarah ke Dragon's Peak.

Meskipun para naga terbang dari para ksatria Kaisar Naga memberi mereka tumpangan sampai pertengahan pegunungan, sisa jalan menuju ke puncak harus ditempuh dengan berjalan kaki karena kabut yang tebal serta sejumlah besar naga ganas tinggal disana.

....Setelah berjalan beberapa saat di jalur pegunungan yang terjal ini, kabut disekitar mulai menebal secara perlahan.

Sudah sejak sekarang ini siang bolong, namun jarak pandangnya sangat rendah. Bahkan sangat sulit untuk melihat beberapa langkah kedepan.

"....Berikutnya, jalan mana yang harus kita ambil?"

Claire melihat sekeliling.

"Meskipun Nee-sama mengatakan apa yang kita butuhkan ada disini—"

Lalu, Scarlet tiba-tiba mengeong lalu berlari ke arah tertentu.

"Tunggu, Scarlet! Pergi sendirian sangatlah berbahaya!"

Claire mengejar ekor Scarlet yang melambai-lambai dalam kabut.

Kemudian, dia menemukan tangga batu yang panjang didepannya.

"Ada tangga ditempat seperti ini?"

Claire memiringkan kepalanya dan mendongak.

"Apa yang terjadi, tiba-tiba berlari.... Hmm?"

Lalu, Ellis dan yang lainnya menyusul dan memyadari tangga itu juga.

"Mengarah kemana tangga ini?"

"Aku benar-benar ingin tau...."

"Ayo kita baik untuk mencari tau."

Mengejar Scarlet, Claire dan rekan-rekannya mulai menaiki tangga itu.

Setelah naik kira-kira 300 anak tangga—

"...t-tempat apa ini?"

Kelompok itu sampai di sebuah kuil batu yang tertutup lumut.

Gaya arsitekturnya berbeda dari apa biasanya ditemui diseluruh benua. Kuil itu tampak sangat kuno.

Di pintu masuk kuil itu, Scarlet duduk diam disana.

"Suasananya sangat suram...."

Fianna mengernyit. Dengan indera yang sangat tajam sebagai seorang princess maiden, dia sangat sensitif pada udara yang tak murni.

"Leonora-dono tidak menyebutkan tempat ini—"

"Scarlet, bagaimana kau tau tentang tempat ini?"

Claire bertanya pasa Scarlet yang ada dikakinya.

Perilaku Scarlet barusan hampir seperti dia memimpin jalan untuk kelompok Claire.

Akan tetapi, berbicara secara logis, seharusnya ini adalah kunjungan pertama Scarlet ke tempat ini.

"—Ayo periksa dalamnya."

Claire melangkah kedalam kuil tersebut penuh kegelisahan.

—Lalu....

"Bodoh sekali karena sudah mengganggu tidurku yang nyenyak—"

".....!"

Tiba-tiba, bayangan sesuatu muncul didepan matanya—

Ketakutan, Claire melompat pada Rinslet yang ada disebelahnya.

"A-Apa, a-a-a-apa!?"

"—O cahaya!"

Fianna segera merapalkan sihir roh untuk menerangi sekeliling.

Apa yang mereka lihat didepan mereka adalah—

".....Huh?"

Claire membeku karena terkejut.

Mahluk itu melayang disekitaran mata Claire.

Itu asalah mahkluk hitam bulat seukuran telapak tangan.

Pada tubuh yang seperti bola itu terdapat bagian tubuh yang bulat dan wajah seekor kadal bertanduk.

...Dibelakangnya adalah sesuatu yang mungkin bisa dianggap sebagai ekor.

Mahluk misterius itu menyilangkan tangannya dan membusungkan dadanya di udara.

"....m-mahluk aneh apa ini!?"

Claire berteriak sembari twintailnya berdiri. Karena suara berat dengan keseriusan yang besar telah bergema didalam kegelapan, dia menduga sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

"Kalian adalah orang-orang bodoh yang mengganggu tidurku yang damai—Hei, apa yang kau lakukan? Hentikan!"

"Apa-apaan kau ini? Beraninya kau menakuti aku!"

Claire memegang ekornya keras-keras, menyebabkan mahluk aneh ini mengeluarkan suara keras.

"Claire, lepaskan. Itu pasti roh penjaga tempat ini atau semacam itulah."

"Menyiksa roh akan membawa karma buruk."

Setelah Fianna dan Ellis mengatakan hal itu...

"Ehhh, lelucon macam apa itu!? Aku bukan roh penjaga!"

Mahluk aneh itu berjuang melepaskan diri tangan Claire dan berteriak marah.

"Aku adalah sang naga hitam Vritra yang menguasai Gunung Kelbreth ini!"

"...Hmph."

Claire dan rekan-rekannya menunjukkan mata mencemooh pada saat yang bersamaan.

"....T-Tunggu, tidakkah kalian terkejut? Ini adalah naga hitam legendaris lho!?"

Mungkin gagal mendapatkan reaksi yang diharapkan, mahluk aneh itu mulai panik.

"Anu, bisakah lebih realistis kalau kaul mau bohong? Siapa yang akan percaya pada suatu klaim yang tak bisa dipercaya bahwa seekor mahluk aneh sepertimu benar-benar naga hitam legendaris!? Kalau kau nggak mau menjelaskan dengan jujur, aku akan memanggangmu menjadi arang."

Sambil menyalakan api dari sihir roh ditelapak tangannya, Claire melotot pada makhluk misterius itu.

(Yah, ada benarnya, mahluk itu memang tampak sedikit mirip dengan seekor naga...)

Mahluk ini mungkin saja tampak seperti seekor naga hitam kalau kau menyusutkannya menjadi ukuran kecil lalu meremasnya seperti tanah liat.

"A-Aku nggak bohong! Ini hanyalah sekedar penampilan palsu yang aku gunakan untuk menipu persepsi. Kalau aku memulihkan kekuatanku yang dulu, aku bisa menelan kalian bulat-bulat dalam satu kali lahap!"

Mahluk misterius itu meraung marah.

".....haaaah, terserahlah."

Claire mengangkat bahu dan menjawab. Sama seperti yang dikatakan Fianna, mahluk ini mungkin sesuatu seperti seekor roh naga yang tinggal didalam kuil. Nggak ada waktu buat main-main dengannya.

(Aku harus menemukan cara untuk menjadi lebih kuat secepat mungkin...)

Mengabaikan mahluk misterius itu yang terus menyebabkan keributan, dia hendak pergi ketika—

"....Terkutuk kau, mahluk rendahan yang bodoh. Ratu Api yang datang kesini sebelum kau mengetahui sopan santun yang jauh lebih baik."

"....!?"

Tiba-tiba mendengar hal itu, Claire dan para cewek menghentikan langkah mereka.

"Kau.... Apa yang baruskan kau katakan?"

"Mahluk rendahan yang bodoh—"

"Setelah itu. Kau mengatakan sesuatu tentang seorang Ratu Api datang kesini?"

Claire mengejar masalahnya.

"....Berapa lama kejadian itu?"

"U-Umm, kira-kira tiga tahun yang lalu. Tidak, itu mungkin sudah empat tahun yang lalu..."

"Tiga atau empat tahun yang lalu...."

Claire menopang dagunya dalam perenungan. Waktunya sangat pas dengan waktu ketika Rubia menghianati Elemental Lord Api dan bekerja diam-diam dibalik layar sebagai Cardinal.

"Nee-sama datang kesini....?"

Gumaman Claire keluar.

"Apa kau mengatakan 'Nee-sama'?"

Mendengar itu, mahluk misterius itu mengeluarkan suara "hmm" dan memeriksa wajah Claire.

"Ya, kau adalah adik cewek itu! Aku mengerti sekarang, sudah pasti ada kemiripan. Aku ingat dia mengatakan bahwa kau akan datang berkunjung suatu hari, cepat atau lambat—"

Melayang kesana kemari sambil mengelilingi Claire secara nggak beraturan, bergumam sendiri.

Claire menatap Scarlet yang ada dikakinya.

...Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan kakaknya dengan Scarlet di dek Revenant pada saat itu?

(...Mungkinkah sia memberitahu Scarlet tentang tempat ini?)

Oleh karena itu, Scarlet memimpin Claire dan rekan-rekannya kesini?

....Memang sih. Bahkan Leonora, yang berlatih di Dragon's Peak, tidak mengetahui lokasi ini. Lalu pastinya, ini bukanlah suatu tempat yang bisa dicapai secara sembarangan.

Jika demikian—

"Uh.... Apa kau beneran naga hitam Vritra dari legenda?"

"Aku sudah mengatakannya tadi!"

"Tapi—"

Claire teringat Leonora telah mengatakan bahwa naga hitam Vritra yang menguasai Pegunungan Kelbreth dimusnahkan oleh Sacred Maiden Areishia seribu tahun yang lalu.

(...Tunggu, apa aku salah mengingat?)

Faktanya, iya. Apa yang dikatakan Leonora adalah:

—Vritra dikalahkan oleh Sacred Maiden Areishia dan disegel di sebuah kuil di puncak.

".....Kalo gitu mungkinkah kuil ini—"

"Memang, inilah tepatnya kuil dimana musuh abadiku, Areishia, menyegelku."

Naga hitam Vritra menyilangkan tangannya dengan bangga dan menjawab.

Bagian 3[edit]

"Ya, itu terjadi seribu tahun yang lalu—"

Mahluk yang menyebut dirinya sendiri sebagai naga hitam legendaris itu menatap ke kejauahan dan mulai menceritakan kembali.

"Kenapa dia bercerita meski nggak ada yang minta...?"

"Shust, dengarkan saja dan jangan mengganggu."

Rinslet menyuruh Claire diam.

"Sebagai seorang naga roh yang kuat, aku memimpin para naga dan roh dari Gunung Kelbreth untuk membawa kehancuran pada alam yang lebih rendah. Saat itu, Raja Iblis Solomon telah menjadikan hampir semua negeri dibawah kekuasaannya, tetapi tak satupun pasukan dari Raja Iblis yang bisa mengalahkan aku—"

"Ehhhhhh, itu menakjubkan—"

Sambil makan cemilan yang Rinslet persiapkan terlebih dahulu, Claire setuju.

—Namun, apa yang muncul pada saat itu tepatnya adalah Pasukan Pembebasan yang dipimpin oleh Sacred Maiden Areishia. Pasukan Pembebasan itu mengalahkan pasukan naga dan naik ke puncak Gunung Kelbreth, benteng pertahanan milik Vritra. Orang-orang dari alam yang lebih rendah semuanya berduka cita melihat naga hitam yang kejam akan menemui ajalnya.

Akan tetapi, kekuatan Areishia tidaklah sekuat itu pada saat itu, oleh karena itu, Vritra yang kuat mengalahkan pasukan milik Areishia dan berhasil menangkap dia.

"Apa kau benar-benar mengatakan kebenarannya? Divine Ritual Institute nggak pernah mengajarkan ini."

Fianna bertanya penuh kecurigaan.

"Tentu. Salama masa keemasanku, bahkan Raja Naga berhati-hati agar tidak menyinggungku."

Vritra menjawab dengan sikap yang berlebihan.

"Namun, aku membuat kesalahan yang fatal pada saat itu."

"....Kesalahan?"

"Ya, menemui kekalahan ditanganku, sacred maiden itu kehabisan kekuatan suci miliknya dan pedangnya kembali ke bentuk aslinya sebagai seorang roh. Berniat untuk mengambil roh pedang yang kuat itu menjadi milikku, aku menyentuh kakinya."

"Oh......"

Mendengar itu, Claire dan para cewek saling menatap satu sama lain.

"Karena suatu alasan, hal itu tampaknya menimbulkan kemarahan roh pedang itu. Lalu dalam sekejap, lengan dan sayapku dipotong menjadi dua—"

Naga hitam Vritra mulai gemetar.

"Aku nggak ingat dengan jelas apa yang terjadi selanjutnya, kecuali bahwa aku dihajar habis-habisan, melarikan diri kembali ke kuil ini yang jadi tempat tinggalku, nyaris terbunuh. Akan tetapi, itu adalah keputusan yang salah. Sebuah penghalang isolasi telah dipasang disekitar kuil ini. Dalam kondisiku yang melemah, aku disegel oleh sacred maiden itu."

"Jadi begitu ceritanya hingga kau jadi seperti ini."

Rinslet berkata sambil mengasihani.

Penampilannya aslinya seharusnya lebih mengerikan dan menakutkan. Namun, setelah disegel dalam keadaan kehabisan kekuatan, Vritra berubah menjadi bentuk dragonoid yang aneh ini.

"....Yah, sekarang aku mengerti ceritanya.sungguh ujian yang berat."

Mengatakan itu, Ellis menepuk kepala Vritra.

....Tampaknya ini adalah kuil dimana naga hitam itu disegel, nggak salah lagi.

Namun, nggak ada gunanya meributkan rincian tentang apa yang terjadi pada naga hitam itu—

"Lalu kenapa Nee-sama datang kesini?"

Claire bertanya.

"Hmm, Ratu Api itu datang kesini pada suatu malam berbadai. Karena penghalang kabut yang dipasang oleh sacred maiden itu, orang biasa biasanya nggak bisa menemukan tempat ini. Akan tetapi, melalui intuisinya yang nggak biasa, dia menemukan lokasi kuil ini."

"Rubia-sama dikenal sebagai Ratu terbaik sepanjang jaman—"

Fianna bergumam pelan.

"Ratu Api itu mengalami cidera parah dan sepertinya sedang dikejar."

"Saat itu, baik itu Divine Ritual Institute dan para ksatria Ordesia sedang mencari Nee-sama. Jadi karena dia bersembunyi di tempat ini yang dilindungi penghalang milik sacred maiden, mereka kehilangan jejaknya...."

"Cewek itu berada disini selama beberapa bulan untuk menjalani latihan princess maiden. Adapun kenapa bisa begitu, itu juga karena aku nggak punya teman ngobrol. Hari-hari itu sangatlah menyenangkan..."

—naga hitam itu terus memgangguk seolah mengingat saat-saat itu. Meskipun roh tidak memiliki konsep waktu, setelah disegel di tempat seperti ini selama seribu tahun, mungkin sangat sulit untuk tidak merasa kesepian.

"Aku mengerti..."

Claire bergumam dengan ekspresi rumit.

Rubia yang dulu ada dikenangan Claire samgatlah lembut, pengertian dan ramah. Dulu saat dia berada di kuil ini, mungkin saja dia belum menjadi Cardinal yang sekarang ini, yang tertelan oleh misinya untuk pembantaian.

"Jadi Nee-sama berlatih disini...."

Mengatakan itu, dia melihat-lihat interior kuil yang redup itu.

Akan tetapi, kuil reyot ini tidak tampak sesuai untuk pelatihan seorang princess maiden nggak peduli gimana melihatnya.

Tepatnya apa yang dilakukan kakaknya untuk memperoleh kekuatan sebesar itu....?

"Bagaimana Nee-sama berlatih? Kami ingin menjadi lebih kuat."

Claire mendekati Vritra dan berkata dengan ekspresi memohon.

"....Hmm, menjadi lebih kuat huh"

Vritra merenung.

"Memang, aku nggak bisa merasakan kekuatan dari kalian pada tingkat cewek itu. Kucing neraka itu tampaknya adalah seekor roh yang kuat, tetapi sama sekali belum melepaskan kekuatan sejatinya."

"......"

Mendengar hal yang sama seperti yang dikatakan kakaknya, Claire langsung jatuh kedalam keputusasaan.

Melihat seperti itu, Vritra memejamkan matanya sebentar sebelum—

"Kalian, ikuti aku—"

Dia berbalik dan bergerak lebih dalam ke dalam kuil.

".......?"

Claire dan rekan-rekannya saling menatap.

Bagian 4[edit]

"Anu, kita pergi kemana...?"

Mengikuti Vritra yang melayang didepan, mereka berjalan di sepanjang lorong yang mengarah ke kedalaman kuil—

Lalu mereka menemui sebuah ruangan persegi dengan High Ancient yang terukir diseluruh lantai didepan mereka.

".....tempat ini?"

"Sebuah situs sejarah kuno. Aku telah membaca tentang hal yang serupa di perpustakaan Divine Ritual Institute..."

Fianna bergumam penuh ketertarikan.

"Tepat. Ini adalah situs bersejarah dari jaman dahulu sebagai perangkat untuk princess maiden Elfim untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan para roh."

Vritra mengangguk bangga.

"Lalu Nee-sama berlatih disini?"

"Ya. Tujuannya mungkin memang situs bersejarah ini sejak awal."

"Latihan macam apa tepatnya yang dilakukan oleh Rubia-sama?"

Ellis bertanya. Seorang maniak latihan, dia tampak seperti dia tak bisa menekan kegembiraannya.

"Aku nggak tau rinciannya. Namun, cewek itu bilang itu bukanlah latihan biasa. Ini adalah sebuah tempat bagi orang-orang untuk menghadapi arti dari eksistensi mereka sendiri—"

"Arti dari eksistensimu sendiri...."

Claire bergumam dengan penampilan penasaran.

"Uh, tuan Naga Hitam, bolehkah kami menggunakan tempat ini?"

Rinslet bertanya.

Lalu, Vritra membuang muka seolah malu.

"Hmph, dalam pengakuan dari Ratu Api yang merupakan satu-satunya orang di era ini yang membuat ikatan persahabatan denganku, aku akan meminjamkan tempat ini pada kalian. Bagaimanapun juga, itu adalah bagian dari kontrak dengan cewek itu—"

".....Kontrak?"

"Bukan urusanmu. Baiklah, bagaimana? Gunakan saja kalau itu memang mau kalian, jika tidak, segera tinggalkan kuil ini!"

Vritra membentak marah.

"Kalau begitu kamu akan menggunakannya dengan senang hati. Kau ternyata sangat baik."

"....Apa? A-Aku adalah naga hitam yang kejam!"

Claire menepuk kepalanya, menyebabkan Vritra membuka mulutnya dan menyemburkan api kecil.

"Baiklah, cepat masuki ruangan itu!"

Pada desakan Vritra, Clairen dan yang lainnya melangkah masuk kedalam ruangan berbentuk persegi tersebut.

Seketika, beraksi pada kekuatan suci dari para princess maiden, High Ancient yang menyelimuti lantai mulai bercahaya.

".....A-Apa in!?"

Lalu—

Claire dan semuanya berubah menjadi partikel cahaya dan lenyap.

Bagian 5[edit]

Mimpi itu, dialami lagi.

Didalam kegelapan, aku sendirian dengan sayap hitam legam yang tertutup, menunggu seseorang tertentu sepanjang waktu.

Aku—

Bukan, dia—

Selama ratusan, ribuan tahun lamanya, layaknya keabadian—

Apa aki menunggu dalam kegelapan ini sepanjang waktu?

Segel yang terukir di tangan kiri.

Bersinar samar dalam kegelapan, itu adalah harapan terakhirnya yang tersisa.

(...Siapa sebenarnya yang kau tunggu?)

Didalam mimpi, aku menanyai dia—

Seperti yang diduga, aku nggak mendapatkan jawaban.

".....Mm, mm...."

Lalu, Restia bangun.

(Mimpi itu lagi...)

...Baru-baru ini, dia sering mendapatkan mimpi ini tentang menunggu seseorang tertentu didalam kegelapan sepanjang waktu, mimpinya.

Itu adalah mimpi yang jelas tetapi terpelihara dengan sangat jelas didalam ingatannya...

—Tiba-tiba, Restia menyadari perubahan yang mencengangkan.

(....Dimana ini?)

Dia jelas-jelas sudah membuka matanya, tetapi sekelilingnya diselimuti kegelapan, sama seperti mimpi itu.

Dia ingat sia dibawa ke sebuah kamar di istana, untuk berbaring di tempat tidur dan tidur.

Tempat ini tidak memiliki jendela ataupun bola-bola bercahaya yang melayang-layang di langit-langit untuk penerangan. Bukannya matras tidur yang lembut, punggungnya bersandar pada tanaman merambat yang saling bertautan.

(....Kenapa aku berada ditempat seperti ini!?)

Restia dengan panik berusaha bangun, tetapi—

"....Ah, ow....!"

Tangann dan kalinya tak bisa bergerak. Tanaman merambat itu mengikat tubuhnya.

Semakin keras dia meronta, semakin kencang ikatannya.

"....Kami... to...."

Restia memanggil namanya dengan suara serak.


Bab 6 - Leonora Yang Menggoda[edit]

Bagian 1[edit]

"Rasa yang sungguh luar biasa."

Leonora dengan cepat makan tujuh steak dan menjilat bibirnya dengan puas.

"Wow, makanmu cukup banyak ..."

"Naga dari Pegunungan Kelbreth yang mampu menelan seluruh lembu dengan mudah."

"Tapi kau bukan naga..."

Kamito hanya bisa menjawabnya dengan pedas.

Leonora menjadi malu.

"Umm... Apakah kau tidak suka cewek yang makannya banyak?"

"Tidak, bukan gitu maksudku..."

Kamito menemukan pemandangan yang menenangkan ketika melihat cewek-cewek itu menikmati makanan yang lezat.

"Ampun deh...? Syukurlah."

Leonora lega.

"Kalau begitu, ayo kita pergi untuk menyantap pencuci mulut berikutnya."

"Kau masih mau makan lagi!?"

"Tidakkah kau tahu bahwa makanan penutup selalu mendapatkan tempat tersendiri di dalam perut, Kamito?"

Leonora memiringkan kepalanya sedikit.

... Elementalists yang kelebihan berat badan adalah suatu hal yang tidak umum. Agaknya, pengontrolan roh naganya memerlukan banyak kalori.

Setelah itu, mereka berkeliling di sekitar secara acak melalui para penjaja di sepanjang Dragon's Street. Setelah mencoba salah satu hidangan Dracunia yang terkenal, es serut yang terbuat dari air lelehan, menikmati roti naga yang jusnya meledak-ledak dalam sekali gigitan, mereka pergi untuk menonton pertarungan antara naga tanah di alun-alun.

"Ini benar-benar menegangkan ..."

Karena baru kali ini menonton pertarungan naga, Kamito hanya bisa berdecak kagum.

"Naga tanah milikku di rumah telah berhasil menang dalam tiga turnamen pertempuran naga."

Leonora mengatakannya dengan bangga.

"Kau terus mengurung naga tanahmu di rumah ya ..."

Menyiapkan semua makanan pastilah cukup merepotkan ... Kamito merenung dalam batinnya.

Di sekitar alun-alun ini banyak toko-toko kerajinan yang dibuka untuk menarik wisatawan yang sedang bertamasya. Kamito pergi ke salah satu dari toko-toko tersebut, dia berniat untuk mendapatkan oleh-oleh untuk Restia yang sedang menunggu di istana, serta Claire dan yang lainnya.

"Ornamen ini terbuat dari tanduk naga yang sangat populer, lho?"

"Bukankah naga akan marah jika tanduknya dipotong?"

"Hampir semua tanduk diambil dari naga setelah mereka mati dalam perang. Meskipun begitu, banyak juga yang palsu."

Leonora dengan serius mengamati jimat dan aksesoris yang dipajang di toko.

"Semua barang yang dipajang di sini seharusnya asli."

"Aku paham. Kalau begitu, aku akan membelikan jepit rambut ini untukmu, Leonora."

Kamito mengambil sebuah jepit rambut berbentuk naga.

"Sebuah hadiah ... untukku!?"

"Ya, sebagai tanda terima kasih karena telah menunjukkan kepadaku sekitar kota. Tapi, ini bukanlah barang mahal ..."

"Nggak masalah, terima kasih banyak."

Leonora menerimanya secara hati-hati dan menjawab dengan wajah merona.

"Ini sebenarnya pertama kalinya aku menerima hadiah dari seorang laki-laki ..."

Untuk Restia dan juga Est, yang saat ini tengah berada dalam bentuk pedang, Kamito membelikan kantong mini yang terbuat dari kulit naga air. Untuk gadis-gadis yang sedang berlatih di Dragon's Peak, dia membelikan jimat yang terbuat dari sisik naga, dan memilihkan warnanya berdasar selera masing-masing.

Berikutnya, dia memutuskan akan selalu membawa Claire dan Ellis untuk cari tau tentang selera Rubia dan Velsaria, sehingga dia urung membelikan barang untuk mereka sekarang. Selain Velsaria, dia benar-benar tidak tau apa yang Rubia inginkan.

Akhirnya, Kamito membeli sepasang anting-anting yang terbuat dari gigi naga. Berwarna hijau tua dan mengkilat adalah warna favoritnya.

(... Kalau dipikir-pikir, aku nggak pernah memberinya hadiah yang layak sebelumnya.)

Ketika dia masih kecil, Kamito selalu memberontak. Saat itu, dia tidak pernah berpikir tentang membeli hadia untuk siapapun di sekelilingnya.

Fasilitas yang telah membesarkan Kamito tidak pernah mengajarinya tentang hal sepenting ini.

Orang yang telah mengajarkan Kamito tentang emosi manusia adalah Restia dan—

(Apa yang telah dia ajarkan padaku adalah sesuatu yang lebih penting daripada keterampilan berpedang ...)

Kamito menatap tangannya.

—Apakah kau bisa membunuh Penyihir Senja?

Kata-kata yang pernah diucapkan Rubia ketika berada di kapal terbang, melintas di pikirannya.


Bagian 2[edit]

Sementara mereka berkeliling di alun-alun, matahari pun semakin tenggelam ...

"Ini saatnya kita kembali ke istana. Restia akan mengkhawatirkan kita ketika dia bangun."

"Kurasa kau benar ..."

Leonora mengatakan itu dengan sedikit kekecewaan.

"... Kemudian sebagai penutup, ayo kita naik itu."

"Itu?"

Leonora menarik lengan Kamito dan menunjuk ke arah langit senja.

Kamito mendongak untuk melihat sekelompok naga terbang di udara, mereka mengangkut kotak raksasa yang berjendela. Kotak-kotak itu dihiasi dengan mewah. Pada pandangan pertama, itu tampak seperti gerbong mewah tanpa roda.

"Apa itu?"

"Dragondola, itu adalah bentuk transportasi yang digunakan untuk wisata udara. Penumpang bisa melihat pemandangan Dracunia dari langit. Aku sarankan kau mencobanya sekali. "

"Tampak cukup menyenangkan, kalau begitu ayo kita pergi."

"Baiklah, aku akan membawamu ke peron keberangkatan."

Leonora meraih lengan Kamito dan berjalan ke peron Dragondola.

Sembari Kamito menunggu di pintu masuk, Leonora mulai bernegosiasi dengan petugas wahana tersebut. Pada waktu itu, Kamito menatap Dragondola dengan begitu tertarik.

Beberapa meniru bentuk naga, beberapa tampak seperti kuil untuk menyembah roh, yang lainnya memiliki lantai yang terbuat dari kaca. Bentuk Dragondola benar-benar bermacam-macam.

Leonora kembali setelah bernegosiasi.

"Bolehkan kita naik?"

"Ya, yang akan kita naiki adalah Dragondola itu—"

Leonora menunjuk langit. Pada saat itu, sebuah Dragondola menyerupai kastil kecil perlahan-lahan turun.

"Itu cukup mewah ..."

"Desainnya berdasarkan sebuah kastil kuno di Ordesia."

Leonora membuka pintu Dragondola yang sudah turun.

Kemudian—

"Ini adalah..."

Ketika melihat interiornya, Kamito hanya bisa menelan ludahnya.

Yang pertama dia lihat adalah tempat tidur berkanopi besar yang ditempatkan di tengah ruangan. Dan dihiasi dengan ukiran indah, itu seperti tempat tidur yang digunakan oleh bangsawan dan aristokrat.

Dindingnya berwarna merah muda dengan kristal roh yang tertanam padanya untuk penerangan. Bahkan pada langit-langit juga tertanam cermin bulat raksasa.

"Ini seperti sebuah istana ..."

Komentar Kamito.

"Ya, aku memilih kamar bangsawan paling mewah."

"Apakah kau yakin ini baik-baik saja? Kelihatannya sangat mahal ..."

"Bagaimanapun juga, aku adalah seorang putri negeri ini. Ini masih belum apa-apa. L-Lagipula, i-ini adalah pertama kalinya aku....., itu lho? Sesuatu yang kurang dapat diterima."

"Pertama kalinya bagimu? Itu cukup mengejutkan ..."

Kamito mengerutkan kening.

"Apakah itu sangat mengejutkan bagimu? Aku menyesal telah memberitahukannya padamu."

Leonora memerah dan cemberut.

"Maaf..."

Hmm, kalau dipikir lebih jauh, karena dia bisa naik roh naga, tentu saja dia tidak perlu menggunakan Dragondola. Pantas saja.

"Apakah kau sudah berpengalaman?"

"Oh tidak, ini juga pertama kalinya bagiku ..."

"Aku paham ... Syukurlah."

Entah kenapa, Leonora menarik napas lega.

"Tapi, aku tidak melihat tempat duduk di sini."

"Mengapa tidak duduk saja di sini?"

Sembari mengatakan itu, Leonora menepuk tempat tidur.

"... Yah, betul juga."

Melihat Leonora duduk gelisah di tempat tidur, Kamito pun memilih untuk hanya duduk di tepi.

(Urgh, perasaanku jadi gelisah dengan duduk berdampingan di tempat tidur seperti ini ...)

Setelah mereka duduk sesaat ... Ruangan mulai bergetar dengan intens.

Dua naga terbang menarik gondola, dan mereka mulai merentangkan sayap mereka untuk terbang.

"Getarannya cukup kuat ..."

Kamito melihat keluar pada jendela dengan sedikit gugup.

"Memang bergetar sedikit, tapi akan segera stabil."

Dragondola membawa mereka terbang lebih tinggi dan semakin tinggi.

"A-Apakah pernah ada kecelakaan Dragondola?"

"Jangan khawatir, Dragondola jauh lebih aman daripada kereta kuda."

Ketika Leonora bilang begitu—

Getaran berkurang secara bertahap, sehingga berubah menjadi goyangan yang nyaman.

Dengan melihat keluar jendela dari tempat tidur, Kamito bisa mendapatkan pemandangan penuh jalan-jalan Dracunia yang diwarnai oleh cahaya matahari terbenam.

"Aku paham, ini memang cukup spektakuler."

Kamito memuji dengan kagum.

"Ya, bagaimanapun juga, pemandangan dari Dragondola terlihat lebih cantik."

"Bukankah kau bilang tadi, bahwa ini adalah pengalaman pertamamu naik Dragondola?"

"...? Tidak, aku telah menaikinya beberapa kali......"

(... Lalu, apa yang dia maksud dengan 'pengalaman pertama'?)

Kamito mengerutkan kening.

"Ngomong-ngomong, pertama kali aku bertemu denganmu juga di langit."

"Ya, waktu itu ... Itu adalah ketika kau mencoba untuk memenggal anu-ku."

Kamito mengangguk sambil tersenyum kecut. Hal itu terjadi sewaktu perjalanan mereka ke Ragna Ys, yaitu tempat kompetisi Blade Dance. Leonora naik kapal terbangnya, dan menghunuskan pedang untuk melawan Kamito, dan mencoba untuk mengebiri pria itu.

"Kumohon lupakan memori itu ..."

Leonora memalingkan muka karena malu.

(... Blade Dance. Sudah lama sekali ya.....)

Pertemuan dengan Claire dan yang lainnya di Akademi, perpindahan Fianna, pertempuran melawan Velsaria—Kamito hanya bisa mengenang kembali hari-harinya berjuang bersama rekan-rekannya di Tim Scarlet.

Tak lama berselang, Dragondola mencapai lapisan awan dan mulai turun perlahan. Setelah sedikit guncangan, mereka merasakan saat-saat yang damai dan relaks.

"Terima kasih banyak untuk hari ini, Leonora. Aku sungguh senang."

Kamito mengucapkan terima kasih kepada Leonora dengan tulus.

"Sungguh? Aku sangat senang mendengar itu ..."

Leonora tersenyum.

"Kalau begitu, sekarang saatnya mulai......."

"...?"

Kamito bingung.

(...Mulai?)

Apa-apa'an itu— tepat ketika Kamito hendak bertanya.....

Leonora dengan paksa meraih bahu Kamito dan mendorongnya ke tempat tidur.

"Leonora!?"

Kamito dengan panik mencoba untuk kembali berdiri—

(... A-Aku nggak bisa bergerak?)

Lengannya ditekan dengan erat.

... Sungguh kekuatan lengan yang kuat.

"...A-Apa yang coba kau lakukan!?"

Melalui seragam militer itu, dada lembutnya menekan Kamito yang masih kebingungan.

"Fufu, meskipun kau mampu melampauiku dalam berpedang, aku masih tak terkalahkan dalam pertarungan yang hanya mengandalkan kekuatan murni. Bagaimanapun juga, putri-putri dari keluarga Lancaster memiliki Dragon Blood. "

Ketika dia menggunakan atribut naga untuk meningkatkan kemampuan tubuhnya, bahkan Kamito pun tak akan berdaya pada situasi seperti itu. Pada saat yang sama, pencahayaan di langit-langit berubah warna menjadi merah muda, kemudian tempat tidurnya pun mulai berputar.

"A-Apa yang terjadi!?"

Kamito semakin kebingungan. Dia tidak tau kenapa Leonora tiba-tiba menyerangnya, dan dia juga tak mengerti kenapa tempat tidur ini berputar ...

—Pada Saat itu, Kamito tiba-tiba menyadari sesuatu.

Dari cermin di langit-langit, dia bisa melihat tubuh bagian bawah Leonora yang dibalut stoking.

Rok seragam militer miliknya sudah melorot sampai paha, kemudian tampaklah pemandangan yang seharusnya tertutupi.

Kamito memerah dan berusaha memalingkan pandangannya.

"Sangat memalukan..."

Sementara Leonora terus menahan Kamito agar tidak bergerak, napas manis terhembus dari bibirnya.

"Apa sih yang kau inginkan ..."

"Kamito, kau sudah berjanji padaku di ibukota kekaisaran, 'kan? Apapun yang kuinginkan....."

"Ya ... aku sungguh mengatakan itu."

—Memang, dia sungguh-sungguh mengatakan bahwa. Apapun yang kau inginkan, selama itu bisa kukabulkan.

Leonora mulai melucuti pakaiannya dengan malu-malu. Dia benar-benar tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Dada besarnya pun kelihatan.

"...!?"

Berikutnya—

"Kalau begitu ... Biarkanlah aku mengandung bayimu."

Leonora berbisik di telinga Kamito.

"Apa sih yang sedang kamu bicarakan!?"

"Bayi yang dikandung di langit dikenal sebagai Dragon's Treasure, itu adalah peristiwa yang sangat menguntungkan."

Suara manis bergema di telinganya.

"Atau ... Apakah kamu tidak suka melakukannya denganku?"

Leonora menampakkan ekspresi sedih di wajahnya.

Mungkinkah Darah Naga di tubuhnya sudah mulai tidak terkendali seperti ketika Blade Dance? Tidak, tidak tampak seperti itu.

Matanya terlihat hitam seperti biasa.

"B-Bagaimana bisa jadi begini!? Aku benar-benar khilaf!"

"... A-Aku juga tidak tahu!"

Leonora berteriak, dengan wajah merona.

(Apakah rasa malunya berubah menjadi kemarahan!?)

Meskipun berpikir begitu, Kamito tidak mengatakannya dengan lantang.

"S-Setiap kali aku melihatmu, hatiku berdebar tanpa henti dan aku merasa sangat aneh. Sejak pertama kali kita bertarung, aku selalu merasakan ini—"

"Leonora ..."

Melihat gadis itu hampir menangis, Kamito hanya bisa menutup mulutnya.

"Selama ini, aku selalu berpikir mengapa hal ini terjadi. Setiap hari, aku hampir tidak bisa tidur, dan selalu berpikir tentangmu ... Sekarang, aku akhirnya menemukan jawabannya."

Leonora menatap Kamito.

"Ini adalah instingku, yang berasal dari darah naga yang kuwarisi, aku ingin mendapatkan benihmu yang kuat!"

"Tunggu sebentar, ada apa logikamu nggak masuk akal itu!?"

Kamito hanya bisa membalasnya.

Ketika di ibukota kekaisaran, ketika dia mengatakan bahwa akan merepotkan jika Kamito mati, apakah inilah maksud dari semuanya?

Meskipun Kamito ingin melarikan diri, tangan Leonora tidak bergerak sedikit pun... Atau lebih tepatnya, jika dia bergerak sembarangan, wajahnya akan terkubur pada dada empuk itu, itu terlalu berbahaya, maka dia tidak berani bergerak sama sekali.

"Menyerahlah, Kamito. Naga Dracunia akan melakukan segala upayanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."

"T-Tenanglah! Kau terlalu banyak berpikir seperti seekor naga!"

Ketika Kamito berteriak seperti itu—

"...!?"

Tiba-tiba, ia merasakan rasa sakit membakar di tangan kiri yang terbungkus sarung tangan kulit, seolah-olah dibakar oleh api.

"…...Ah, Gah ..."

"... Kamito?"

Setelah melihat perubahan itu, Leonora pun meringankan cengkeramannya.

"... Urgh, ah ... Guh ... Urghh ..."

"... A-Apa yang terjadi?"

Melihat Kamito kesakitan, Leonora bertanya-tanya dengan khawatir.

Namun, Kamito bahkan tidak bisa berbicara dengan benar.

Rasa sakit yang membakar terasa seolah-olah tubuhnya dicap oleh besi panas.

Dan rasa sakit yang intens ini.......

Kamito langsung menyadari suatu kemungkinan tertentu.

(... Apakah Restia sedang memanggilku!?)


Bagian 3[edit]

"...Dimana ini?"

Dikelilingi oleh cahaya yang menyilaukan, seakan-akan dia kehilangan kesadaran—

Claire perlahan membuka matanya.

Ini bukan altar di Dragon's Peak, dimana Claire dan teman-temannya berada sekarang—

"Tidak mungkin... Tempat ini adalah..."

Claire hanya bisa melebarkan matanya yang bagaikan batu ruby.

Hutan yang terhampar di depannya. Sebuah kastil batu yang megah dibangun di atas bukit.

Saat ini, Claire sedang berdiri di depan pintu gerbang Benteng Elstein, yang begitu familiar baginya.

Dengan memandang dataran di kaki bukit, dia bisa melihat kadipaten yang makmur. Gandum di ladang sungguh melimpah, sementara ternak sapi dan kuda berkeliaran di dataran. Ketika melihat ke arah sungai, dia melihat sebuah pondok dengan roda air yang menggiling gandum.

Di masa kecilnya, Claire senang melihat pemandangan seperti ini dari jendela kastil.

(...Kenapa aku disini?)

Ketika dia melihat di sekitarnya. Ellis, Fianna dan Rinslet, yang tadinya bersama dirinya, kini tak lagi disana.

Apakah mereka diteleport ke tempat lain?

Sebuah tempat bagi manusia untuk menghargai nilai eksistensinya sendiri... Itulah apa yang Naga Kegelapan Vritra telah katakan.

(... Tapi mengapa aku melihat semua ini?)

Claire berjalan melalui gerbang benteng dan melangkah ke taman.

Di dalam benteng, warga terdekat sedang mempersiapkan sebuah festival besar. Di tengah taman terdapat sejumlah besar barel anggur. Panggangan yang siap untuk memanggang daging juga sudah menyala.

Dengan melihat pemandangan ini—

(... Ini adalah hari itu.)

Claire ingat.

Pada hari itu, Claire muda sedang bermain dengan Scarlet sambil menikmati pesta yang dimulai pada malam hari.

Pada hari itu, semua orang sangat yakin bahwa itu akan menjadi hari yang damai seperti biasanya.

Mereka mengira bahwa mereka akan terus menjalani kehidupan yang stabil—

"... Oh tidak ... Semuanya, cepat lari!"

Claire berteriak.

Namun, tidak ada yang bisa mendengar suara Claire. Tak satu pun dari orang-orang yang hadir melihat keberadaan Claire.

"... Mengapa? ... Mengapa aku harus melihat ini lagi!?"

Pada saat itu, langit berubah secara drastis.

Bukannya warna matahari terbenam, merahnya api lah yang membakar segala sesuatu sampai tak tersisa.

Selanjutnya, hujan badai api mulai turun.

Pemandangan di depan matanya langsung terbungkus oleh api dan dihanguskan sampai tak tersisa.

"Hentikan! Hentikan, mengapa ini harus terjadi !?"

Pada saat itu—

"—Ini adalah konsekuensi dari tanggung jawabku."

"...!?"

Ketika mendengar suara yang familiar, Claire sontak melihat ke belakang.

Disana adalah kakak perempuannya, yang berdiri bagaikan hantu dengan rambut merah panjang yang berkibar.

Rubia Elstein— bukan, itu adalah Kardinal bertopeng.

"... Tidak, ini bukan kesalahanmu, Nee-sama—"

"Waktu itu, aku tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan tragedi ini. Jikalau aku memiliki kekuatan yang lebih besar pada saat itu, aku bisa saja melenyapkan para Elemental Lord untuk mencegah bencana ini."

Pada saat itu, pedang diselimuti api merah muncul di tangan Rubia.

Api pembunuh dewa— elemental waffe dari roh api yang terkuat, Laevateinn.

"Nee-sama, jangan—!"

Claire berteriak dengan putus asa dan menghalangi langkah Rubia.

Itu adalah api balas dendam. Itu adalah api kehancuran yang akan membakar dirinya sampai dilupakan.

"Minggir, Claire Rouge—"

Rubia mengacungkan Laevateinn pada Claire.

"Tidak akan. Aku akan menghentikan balas dendammu di sini, Nee-sama—!"

Claire melantunkan sebuah mantra pemanggil, dan kucing neraka menyala muncul di kakinya.


Bab 7 – Wujud Raja Naga Sebenarnya[edit]

Bagian 1[edit]

Di bawah matahari terbenam, Gugusan Pegunungan Kelbreth Mountain diselimuti oleh cahaya senja.


Setelah melihat reaksi yang mengkhawatirkan di tangan kirinya, Kamito segera menghentikan tur udara Dragondola, lantas dia menunggangi roh naga Leonora untuk kembali ke Istana.

Lalu—


"Restia telah menghilang?"


Ketika kembali ke kastil, dia mendengar laporan dari para pelayan wanita di istana, lantas Kamito pun tercengang.


"K-Kami sangat menyesal! Kami tidak pernah berpikir ini akan terjadi—"


Para pelayan wanita istana menundukkan kepalanya sambil gemetaran. Kabarnya, salah satu dari mereka telah menemukan ruang dalam keadaan kosong ketika hendak memeriksa Restia.


Saat ini, mereka telah mengerahkan semua orang untuk mencari di seluruh sudut istana, tapi belum ada tanda-tanda keberadaannya.


(Restia...)


Kamito menatap tangan kiri yang terbungkus sarung tangan kulit. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, nyeri terbakar adalah tanda-tanda bahwa sesuatu pasti telah terjadi padanya.


Rasa sakit ini sudah lenyap, tapi tidak ada jaminan bahwa Restia aman dan selamat. Sebaliknya, mungkin dia dalam bahaya sekarang.


(...Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan Restia?)


"Ada kemungkinan dia tersesat di istana. Bagaimanapun juga, istana ini sangat besar."


Leonora berkata dengan suara gugup. Berbeda dengan ketika mereka berdua saja, wajahnya kembali serius seperti seorang prajurit.


"Knight of Dragon Emperor dan aku akan mencari di luar benteng dari udara."


"Ya terima kasih—"


Setelah Kamito mengangguk, Leonora menunjuk beberapa bawahan untuk keluar bersamanya.


"K-Kami akan terus mencari di dalam istana!!"


Para pelayan wanita istana membungkuk lagi, lantas meninggalkan ruangan.


"..."


Kamito sekali lagi memeriksa di dalam ruangan.


Ruangan itu tidak terlalu berantakan.


Tentu, akan lebih baik jika dia hanya tersesat di dalam kastil, tapi—


(...Apakah seseorang telah menculiknya?)


Kemudian, kekhawatiran muncul di dalam pikirannya.


Sacred Spirit Knights dari Kerajaan Suci diam-diam mencoba untuk menangkap Restia di Ragna Ys dan di Hutan Laurenfrost.


Meskipun tempat tersebut berada di bawah kendali Raja Naga yang bermusuhan terhadap Kerajaan Suci, dengan mempertimbangkan contoh di Ordesia, tidaklah mengejutkan meskipun satu atau dua mata-mata telah menyusup. Dan juga, Restia saat ini hanyalah seorang gadis biasa yang bahkan tidak dapat melindungi dirinya sendiri, dan bukanlah roh kegelapan yang kuat.


(Akan tetapi, ada sesuatu yang aneh...)


Karena merasakan kejanggalan saat ini, Kamito pun memiringkan kepalanya untuk berpikir.


Menurut para pelayan wanita istana, tidak ada seorangpun di istana yang melihat tanda-tanda keberadaan Restia.


Tak peduli apakah dia keluar karena kemauannya sendiri, ataukah diculik oleh seseorang, menghilang dari dalam istana dimana ada begitu banyak saksi mata—apakah itu hal yang mungkin?


Para pelayan wanita istana mengatakan mereka telah mengerahkan semua orang untuk mencarinya.


Kemungkinan besar, setiap kamar di istana ini telah diperiksa.


(Jika ini tidak cukup untuk menemukannya, maka berarti—)


Pada saat itu, Kamito tiba-tiba menyadari sesuatu.


Ada satu tempat di dalam istana yang tidak akan diselidiki oleh para pelayan wanita istana itu.


Itu adalah tempat suci dan tidak bisa diganggu gugat. Sehingga, tidak ada seorang pun diizinkan untuk melangkahkan kaki ke sana—


(Tidak mungkin...!)


Kenapa dia tidak langsung menyadarinya?


Harusnya dia menyadari ini sejak awal.


"Sial—!"


Sembari memegang Demon Slayer, Kamito bergegas keluar dari kamar Restia.


Bagian 2[edit]

Di depan koridor menuju ruang tahta, Kamito dihentikan oleh penjaga istana.


"Mohon biarkan aku lewat—"


"Tidak, bahkan tamu tidak boleh lewat tanpa ijin."


Penjaga bersenjata melotot Kamito dengan penuh tanda tanya.


Ya, ada penjaga di ruangan ini. Harusnya, Restia tidak akan bisa memasukinya sendirian.


Namun—


"Bolehkah aku bertanya, apakah kalian pernah melihat seorang gadis mengenakan pakaian pelayan datang ke sini? Dia bersama denganku—"


"Tidak, kami tidak pernah melihat orang seperti itu."


"Sungguh..."


Dia bisa melihat bahwa tidak ada yang mencurigakan pada sikap si penjaga.


...Dia benar-benar tidak melihat apa-apa.


(...Benar, Bagaimanapun juga, ini hanyalah spekulasiku. Aku pun mungkin salah.)


Jikalau dia salah menebak, ini mungkin akan menyebabkan Dracunia menarik bantuan mereka.


Namun, sewaktu di Sekolah Instruksional, Kamito pernah menyaksikan Restia melakukan hal yang sama berkali-kali pada orang-orang biasa. Dan jika mempertimbangkan tentang roh kelas mistis yang jauh lebih kuat daripada Restia, yang memiliki kekuatan legendaris hanya kedua setelah para Elemental Lord—


Harusnya tidak mungkin memanggil Restia dari jarak jauh dalam tidurnya, kemudian memanipulasi memori para saksi mata—


Dia harus membicarakan hal ini dengan Claire dan cewek-cewek lainnya terlebih dahulu, tapi waktu adalah hal yang paling utama dalam situasi macam ini. Bagaimanapun juga, dia tidak tau apa yang akan dilakukan untuk Restia.


"Maaf, silahkan tidur siang sementara—"


"Apa?"


Penjaga di depannya mengerutkan kening dengan heran.


Pada saat itu, Kamito menghantam armor penjaga dengan kepalan tangan yang diselimuti kekuatan suci. Karena tidak bersiap, penjaga pun pingsan di tempat.


Ini adalah skill pembunuhan dari Sekolah Instruksional. Itu cukup efektif kecuali lawannya adalah Elementalist.


"A-Apa yang kau lakukan—Uwah!"


Sebelum para pengawal lainnya bisa menyelesaikan omongan, Kamito bergerak dengan cepat, lantas dia membuat yang lainnya pingsan.


Dengan begitu, dia berlari menyusuri koridor menuju ruang tahta.


Berikutnya, dia tiba di pintu raksasa pada ujung koridor—


Kamito menghunuskan Demon Slayer, dan berniat untuk mendobrak pintu.


Namun, ketika dia hendak mengayunkan pedangnya ...


"...Apa!?"


Gruuk... Dengan suara seperti gempa bumi, pintu terbuka ke dalam.


Seolah-olah mengundang Kamito untuk masuk ke dalam—


(...Gerakanku sedang diawasi.)


Kamito bergumam dalam benaknya, kemudian melangkah ke dalam, sembari memegang Demon Slayer.


Begitu memasuki ruang tahta, pintu di belakangnya perlahan tertutup.


(Oke, biarkan aku melihat apakah apa yang akan keluar, apakah iblis, ataukan naga—)


Dengan menggunakan cahaya pedang suci itu, Kamito langsung masuk ke dalam kegelapan.


Pada saat itu, dia melihat suatu jenis wujud raksasa bergerak dengan gelisah di depannya.


Kamito mengangkat pedang suci untuk menerangi apa yang ada di hadapannya.


Hanya untuk melihat—


"—Restia!"


Kamito hanya bisa berteriak ketika melihat sosok itu.


Apa yang telah dilihat oleh mata-kepalanya adalah—


Dia terjerat oleh tanaman merambat dari pohon yang aneh, dan Restia pun tak sadarkan diri.


Terlihat ekspresi damai di wajahnya seolah-olah dia tertidur dengan begitu nyenyak.


"...Raja Naga, apa yang telah kau lakukan pada Restia!?"


Kamito berteriak. Pada saat itu...


Cahaya bersinar turun dari langit-langit, sehingga memproyeksikan bayangan raksasa Raja Naga pada tirai.


'Waktu yang tepat, Oh manusia yang telah mewarisi kekuatan Ren Ashdoll'


Dengan geraman bagaikan gemuruh, bayangan Raja Naga mulai bergerak—


Tirai yang menyembunyikan wujud yang sebenarnya perlahan-lahan terbuka.


"...Apa!?"


Kamito langsung kehabisan berkata-kata, dan hanya tertegun di tempat.


Bagian 3[edit]

Sementara itu...


"Meskipun dia meninggalkan istana, dia seharusnya tidak pergi terlalu jauh—"


Sembari menunggangi roh naga berwarna hitam pekat, Leonora bergumam sambil melihat ke bawah.


Istana itu dikelilingi oleh tebing yang landai. Seseorang yang meninggalkan tempat ini harus melintasi jembatan bebatuan yang menghubungkan ngarai dalam.


Para penjaga yang ditempatkan di jembatan tak mungkin luput melihat seorang gadis yang hendak melewatinya.


(...Ngomong-ngomong, siapakah dia sebenarnya?)


Dia tidak tampak seperti gadis pada umumnya—Leonora penasaran.


—faktanya, Knights of the Dragon Emperor yang dipimpin oleh Leonora telah diserang ketika Blade Dance oleh Nepenthes Lore yang didampingi Restia, tetapi karena saat itu Restia menyembunyikan keberadaannya, maka Leonora tidak pernah melihatnya.


(...P-Pastinya, dia adalah salah satu selir kesayangan Kamito, kan...?)


Tiba-tiba, Leonora mengingat apa yang telah terjadi di Dragondola sebelumnya, kemudian wajahnya pun merona tanpa sadar.


(...M-Mungkin aku tadi terlalu memaksanya.)


Dia menghela napas.


Meskipun dia menanggung malu karena menaiki Dragondola yang tidak senonoh itu—


Ketika dia mengumpulkan keberanian untuk menyerang, Kamito tampak benar-benar ketakutan.


Benar saja, meminta mengandung bayi secara tiba-tiba adalah suatu tindakan yang tidak pantas. Tidak, tunggu dulu, sebelum itu.... sepertinya seorang gadis yang memakan 7 steak di hadapan Kamito adalah tindakan yang lebih tidak layak. Awalnya dia ingin menunjukkan betapa sedikit porsi makannya—


...Mungkin Kamito sudah membencinya. Tidak, harusnya dia bukanlah tipe pria macam itu, mungkin dia hanya menjaga sedikit jarak—


Pikirannya dipenuhi dengan penyesalan.


"... Mengapa aku begitu gelisah ketika memikirkannya?"


Semakin dia berpikir tentang Kamito, maka semakin sulit baginya untuk berpikir jernih.


Dia awalnya berpikir bahwa itu adalah keinginan naluriah Darah Naga untuk mendapatkan benih yang kuat, sehingga dia pun termakan oleh nafsu—


(Tapi sebenarnya, sedikit berbeda dari itu, kan?)


...Benar-benar bingung, pikirannya terganggu oleh perasaan tidak nyaman.


(...S-Sekarang, aku harus berkonsentrasi untuk menemukan pelayan Kamito!)


Sembari menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran yang tidak perlu, Leonora kembali menatap tanah.


—Pada Saat itu.


Naga hitam pekat yang dia tunggangi mengerang untuk memberikan peringatan.


"...? Nidhogg, ada apa?"


Leonora menyipitkan mata karena terkejut.


Dia melihat sosok mungil di sebelah jembatan batu yang menghubungkan tebing.


"—bukankah itu—!?"


Bagian 4[edit]

(... A-Apa yang terjadi?)


Ketika melihat penampilan yang begitu berbeda dari dugaannya—


Kamito berdiri disana membeku dengan mulut menganga.


Yang terungkapkan dibalik tirai Raja Naga itu adalah—


Seorang gadis cantik, terjerat oleh cabang-cabang pohon yang menggeliat.


Mata berwarna merah tua dengan pesona yang menggoda. Rambut panjang bersinar redup dan berwarnakan lapis lazuli. Kulit yang bahkan lebih putih daripada mutiara. Lengan ramping dan kaki sehalus boneka.


Seorang gadis dengan kecantikan bagaikan berasal dari dunia lain—Kamito sebisa mungkin ingin mendeskripsikan kecantikan makhluk itu, tapi sudah jelas bahwa dia bukanlah manusia.


Di sisi kepalanya ada dua tanduk yang indah.


Dikelilingi oleh cabang yang menggeliat, gadis telanjang bulat itu menunduk dengan santai pada Kamito.


Saat melihat tubuh telanjang yang indah yang tersajikan di depannya, Kamito sontak mengalihkan pandangannya—


Namun, dia bahkan lupa untuk bernapas, dia benar-benar terpesona oleh pemandangan itu.


Seakan-akan kecantikan wanita itu tidaklah berujung.


"Ada apa? Kenapa bengong seperti itu—"


Suara manis terdengar dari bibir gadis itu.


"...S-Siapa kau—"


Kamito akhirnya berbicara.


"Aku adalah raja Dracunia. Roh Naga— Bahamut."


Gadis itu perlahan-lahan memperkenalkan dirinya.


"Apa—"


Kamito langsung kehilangan kata-kata.


Ditakuti oleh semua bangsa di benua itu, dia lah roh naga terkuat— Roh Naga Bagamut.


Dia tak pernah berpikir bahwa penampilan sesungguhnya Bahamut adalah gadis yang begitu cantik, begitu lembut, dan begitu lemah—


Untuk sesaat, Kamito bahkan melupakan kemarahannya atas penculikan Restia, dia pun masih kesusahan mengatakan sesuatu.


"Fufu, jika kau terus menatap begitu, aku akan malu."


"... Oh, eh, maaf...!"


Menyadari dia menatap seorang gadis telanjang bulat, Kamito pun memalingkan tatapannya dan wajahnya memerah padam.


"Merasalah terhormat. Areishia adalah satu-satunya manusia yang pernah melihat penampilanku ini. Dan kau adalah manusia kedua sepanjang sejarah."


Sembari mengatakan itu, gadis itu menggunakan tanaman merambat untuk menutupi auratnya sambil tersenyum nakal.


"A-Apakah... kau benar-benar Raja Naga...?"


STnBD V15 151.jpg


Kamito yang kebingungan pun bertanya.


Memang, adalah suatu hal yang umum jika roh tingkat tinggi mengenakan wujud manusia—


Est, Restia dan Iseria, Elemental Lord Air, semuanya tampak seperti gadis muda.


Dalam hal ini, apakah sosok bayangan raksasa misterius yang Kamito dan kawan-kawan lihat, sesungguhnya adalah seorang gadis muda telanjang yang terjerat ranting-ranting pohon?


(...Tunggu, kenapa aku memikirkan hal seperti ini sekarang?)


Sesaat kemudian, kesadaran Kamito kembali.


"Apa yang kau rencanakan pada Restia!?"


Dia bersiap menggenggam Demon Slayer dengan kedua tangan.


Apapun jawabannya, dia siap untuk melawan, bahkan jika dia harus berhadapan dengan sang Raja Naga.


Namun, gadis yang duduk di atas tahta itu tidak menunjukkan emosi apapun


"Aku hanya berniat untuk mengembalikan ingatannya sebagai Restia Ashdoll."


Itulah jawabannya.


"Mengembalikan ingatan Restia?"


"Ya. Betapa tidak masuk akal jika kau memilih menghunuskan pedangmu, bukannya menunjukkan rasa terimakasih."


"Kenapa kau melakukan ini? Apa tujuanmu dengan memulihkan ingatannya?"


Kamito terus mengajukan pertanyaan. dia juga berharap bahwa ingatan Restia bisa dipulihkan, namun tampaknya wanita ini mempunyai semacam tujuan tersembunyi.


"Aku tidak punya niatan tertentu. Hanya saja aku berkewajiban untuk menjaganya. Ini adalah tugasku sebagai bawahan yang terpercaya dari Tuan tertentu."


"...Tuan tertentu?"


Kamito sedikit memiringkan kepalanya—


Dia ingat apa yang dikatakan Rubia di kapal.


"Maksudmu Ren Ashdoll... 'kan?"


"Tepat, pencipta roh kegelapan Restia Ashdoll—"


Raja Naga, yang tampak seperti seorang gadis, mengarahkan tatapan penuh kebajikan pada Restia yang sedang tertidur di antara pepohonan.


Roh Naga Bahamut yang kuat telah bertarung sebagai bawahan terpercaya Ren Ashdoll untuk melawan tentara Lima Elemental Lord Agung. Meskipun menderita kekalahan dalam perang dan Ren Ashdoll pun mati, apakah dia masih berniat untuk mengungkapkan kesetiaannya kepada Restia yang masih tertinggal?


Kamito tidak tau apakah dia berbicara dengan jujur dari lubuk hatinya, tapi—


"Kau tidak akan membahayakan Restia, kan?"


Kamito bertanya untuk berjaga-jaga.


"Itu sudah pasti. Dan juga, harusnya sudah sejak lama aku berniat melakukannya."


"...Itu benar."


Gumam Kamito.


"Sekarang, kau sudah paham, aku harap kau bisa menyingkirkan pedangmu itu. Meskipun dia telah kehilangan kekuatan aslinya, bagi roh yang mengalami era Perang Roh, dia mengalami trauma pada faksi manapun tanpa terkecuali."


"... Oh, tentu, aku paham."


Kamito dengan perlahan menurunkan Demon Slayer.


Terminus Est, roh pedang terkuat, rupanya ditakuti bahkan oleh Raja Naga itu sendiri.


"Namun, roh sepertimu harusnya dapat menghancurkanku dalam sekejap mata, kan?"


Kamito berbicara dengan ragu-ragu bercampur takut.


Bagaimanapun juga, yang berdiri di hadapannya adalah Raja Naga yang merupakan makhluk terkuat kedua setelah para Elemental Lord. Melenyapkan Kamito dalam hitungan detik bukanlah hal sulit baginya.


Namun—


"Sayangnya, itu tidak benar."


Raja Naga menggeleng pelan.


"...Hah?"


"Aku bisa tidak meninggalkan kastil ini, dan aku juga tidak mampu mengerahkan kekuatan penuhku ketika berada di luar kastil. Aku benar-benar tak berdaya—"


"Kau tidak bisa meninggalkan kastil?"


Kamito bertanya dengan heran. Memang, sudah terkenal bahwa Raja Naga Dracunia tidak pernah muncul di konferensi dan upacara tingkat kenegaraan manapun...


Mendengar itu, Raja Naga tersenyum dengan lesu—


"Ya, itu semua karena kutukan hina ini, yang diberikan oleh Elemental Lord Tanah."


Dia sedikit menggerakkan tubuhnya dalam tanaman yang merambat.


Seketika, tanaman merambat menggeliat untuk menahan lengan dan kaki gadis itu.


"...!?"


"Ini adalah kutukan Elemental Lord Tanah. Aku tidak diijinkan keluar batas negara Dracunia, sehingga aku tidak bisa meninggalkan tempat ini ataupun kembali ke Astral Zero—"


"Tidak mungkin..."


Karena tidak dapat memikirkan kata-kata, Kamito pun langsung terdiam.


Seandainya kutukan ini diberikan pada saat Perang Roh, maka—


Gadis ini telah menghabiskan beberapa ribu tahun sendirian di tempat semacam ini.


Itu adalah kesepian yang tak terbayangkan oleh Kamito, tidak peduli apapun alasannya, dan hidupnya pun terbatas pada tempat ini—


Pada saat itu, sebuah ide tiba-tiba terpikirkan oleh Kamito.


"Oh benar juga, mungkin aku bisa menggunakan kekuatan Est untuk melepas kutukan itu—"


"Gadis suci yang datang ke sini seribu tahun yang lalu juga telah melakukan hal yang sama."


Raja Naga menggeleng.


"Sacred Maiden Areishia?"


"Ya... Namun, dia gagal. Kutukan itu terlalu kuat dan merusak kesehatan tubuhnya yang merupakan kontraktor roh pedang—"


"I-Itukah yang terjadi...?"


Kamito hanya bisa menundukkan kepalanya dan mengertakkan gigi. Sacred Maiden Areishia telah melepas kutukan yang terakumulasi pada Est, sehingga menyebabkan dia berubah menjadi batu setelah mengalahkan Raja Iblis.


"Fufu, nggak perlu memasang wajah seperti itu. Waktu selama ribuan tahun bukanlah hal yang berarti bagi roh. Lagipula, kehidupan mengawasi manusia agaknya cukup menarik bagiku."


Raja Naga mengangkat bahu, lantas menatap Restia.


"Hari ini benar-benar hari yang sangat baik. aku akhirnya bisa bertemu dengan salah satu Tuanku yang tersisa—"


Sembari dibuai oleh tanaman dan cabang-cabang yang merambat, Restia tertidur dengan ekspresi damai di wajahnya.


"Restia masih Restia yang dulu, kan?"


"Apa maksudmu?"


"... Uh, apakah saat ini dia masihlah roh?"


Tanya Kamito.


Kamito menilai dari sudut pandangnya, bukan dari wujudnya yang bertransformasi menjadi sosok manusia—


Seakan-akan, Restia telah dilahirkan kembali sepenuhnya sebagai gadis manusia.


"...Yahh..."


Setelah mendengar itu, Raja Naga pun sedikit mendesah—


"Memang, dari penampilannya sekarang, mungkin dia bisa dianggap sebagai manusia seperti kalian semua."


"..."


"Namun, bagaimanapun juga itu hanyalah tubuh pinjaman. Dia telah kehilangan sifat-sifat sebagai roh karena dia sudah dipisahkan dari tubuh yang sebenarnya di Astral Zero. Setelah dia memulihkan ingatannya dan membangun kembali hubungan dengan Astral Zero, harusnya dia bisa mengembalikan kekuatan rohnya."


"Sungguh...?"


Kamito menatap tangan kiri yang terbungkus sarung tangan kulit. Dengan begitu, meskipun segel roh telah lenyap, apakah kontrak roh yang dibuat oleh Kamito masih terjalin?


"Bisakah ingatannya dikembalikan?"


"Aku akan mencoba semua hal yang kubisa. Ini adalah hal terakhir yang mampu aku lakukan karena kesetiaan kepada tuanku."


Raja Naga mengangguk pelan.


Kamito memegang tangan Restia dengan lembut.


...Saat ini, hanya ini yang bisa dilakukan oleh Kamito.


Sembari mengawasi tindakan Kamito, Raja Naga terkekeh dan tersenyum dengan lembut.


"—Kau benar-benar mencintai roh terkontrakmu, ya?"


"... Apa!? Uhuk, uhuk..."


Kamito tersedak sehingga dia terbatuk.


"Astaga, aku hanya bercanda. Betapa lucu melihatmu memerah seperti itu—


Raja Naga tertawa gembira.


"A-Ayolah—, kau..."


Namun, Kamito tidak bisa memaksa dirinya untuk marah pada gadis berwajah menggemaskan itu, dia hanya tersenyum polos...


Apakah makhluk yang dihadapannya itu benar-benar Raja Naga menakutkan dengan suara yang menggelegar?


"Lalu bagaimana dengan Leonora?"


"...K-Kenapa kau membahas tentang gadis itu!?"


Karena terkejut lagi oleh pertanyaan yang tak terduga, Kamito pun terguncang.


Bagaimanapun juga, dia baru saja melakukan 'hal' seperti itu dengan gadis tersebut. Kamito hanya bisa mengingat sensasi dada besarnya yang menempel pada tubuhnya, sehingga wajah pria itu langsung memanas.


"Serius, dia sudah berusaha dengan sangat keras, sedangkan dirimu juga merupakan Casanova."


"...Jangan bilang, kau melihat apa yang terjadi tadi!?"


Kamito hanya bisa berteriak padanya dengan putus asa.


"Ya, aku meminjam mata naga terbang yang membawa Dragondola."


"Gah..."


Itu kemungkinan besar merupakan sihir pengindraan jauh dengan berbagi penglihatan pada seekor naga. Meskipun dia tidak bisa melangkahkan kaki keluar kastil, roh naga kelas mistis masihlah tidak bisa dianggap enteng.


"Dia cukup canggung, sehingga dia bahkan tidak bisa membedakan perasaan sendiri dengan jelas."


Raja Naga berbicara dengan senyum kecut.


"Mengapa kau tidak memilih Leonora? Dia berasal dari keluarga baik-baik, kepribadiannya juga baik, jadi dia adalah gadis yang pantas untukmu. Dan dadanya juga besar... Ah, atau mungkin kau lebih suka yang kecil?"


Seuntai ranting pohon anggur telah terjulurkan kepadanya tanpa diketahui, kemudian mencolek Kamito dari samping.


...Meskipun tumbuhan itu adalah bentuk kutukan, sepertinya dia bisa mengendalikannya sampai batas tertentu.


"L-Leonora adalah gadis yang sangat menarik, tentu saja, tapi... Tunggu, aku sama sekali tidak punya niat seperti itu."


Kamito menjawab dengan wajah agak muram.


"Kalau begitu, yang manakah dari keempat gadis itu yang ingin kau nikahi?"


"M-Menikah...?"


Raja Naga tersenyum nakal.


"Sebagai raja Dracunia, aku ingin merekomendasikan Leonora, tapi jika aku harus memilih di antara mereka, putri Ordesia juga tidak buruk. Dia terlihat cukup terampil. Jika perlu, kau dapat menjadi kaisar Sah Ordesia yang baru—"


"H-hentikan omong kosong ini!"


"Gadis dengan rambut kuncir kuda itu juga memiliki dada yang cukup besar. Aku memprediksi bahwa dia bisa menjadi tipe cewek yang lebih loyal dan setia daripada gadis manapun setelah dia jatuh cinta pada seorang pria. Sedangkan gadis yang tampak jahat itu sedikit tidak jujur pada perasaannya sendiri, tapi dia benar-benar memiliki sisi yang manis. Oh, dan gadis pirang itu tidaklah baik. Meskipun dia memiliki keanggunan, dia bersekongkol dengan musuh bebuyutanku, Elemental Lord Air—"


(D-Dasar roh naga sialan...!)


Kamito mencengkeram kepalanya dalam batin.


Gawat, kalau begini terus, dia akan terjebak dalam permainannya ...


"Ahhh, sangatlah menarik, wahai kau manusia—"


Setelah mengatakan banyak hal, dia tersenyum dengan puas.


Lalu dia memasang ekspresi serius lagi—


"Hei, kau pikir kenapa roh sepertiku bisa memerintah negeri ini sebagai raja?"


"...?"


Memang, tidak ada contoh kasus lain tentang roh yang bisa memerintah negara di dunia manusia. Roh biasa tidak akan berminat untuk mencampuri urusan alam manusia.


"Aku berharap bisa memahami lebih dalam tentang ras yang dikenal sebagai manusia. Ini semua kulakukan untuk mengetahui mengapa tuanku, Ren Ashdoll, begitu tertarik pada bangsamu, dan juga untuk memahami perasaannya."


"Ren Ashdoll menaruh minat pada manusia?"


Tanya Kamito. Ini adalah pertama kali baginya mendengar tentang hal ini.


Gadis roh naga mengangguk sebagai jawaban.


"Ren Ashdoll merasakan semacam potensi pada umat manusia. Oleh karena itu, di ambang kematiannya, dia mempercayakan seporsi kekuatannya untuk mereka. Bukannya ras yang kuat seperti naga dan raksasa, dia malah mempercayakan kekuatannya kepada kalian, wahai umat manusia"


"..."


Kamito menatap dadanya sendiri.


Mengapa dia(perempuan)—Elemental Lord Kegelapan—menyebabkan kekuatan Raja Iblis untuk menjelma pada manusia? Sekarang dia baru sadar, namun dia masih tidak bisa mempercayainya.


"Awalnya, aku hanya mulai mengamati manusia untuk memahami perasaan Ren Ashdoll. Tapi selama proses itu berlangsung, aku semakin mencintai ras rapuh yang disebut sebagai manusia, dan jatuh cinta dengan negara Dracunia ini. Mereka hampir seperti anak-anakku sendiri."


Raja Naga tersenyum dengan tatapan mata lembut. Namun, Kamito merasakan semacam aura kesepian yang terpancar dari ekspresi di wajahnya.


Tidak peduli berapa banyaknya cinta yang dia curahkan, bagaimanapun juga rentang umur manusia sangatlah terbatas. Sudah berapakah banyaknya anak-anak raja naga meninggal jika dilihat dari sudut pandangnya di kastil?


Dan karena dia harus mempertahankan harga dirinya sebagai Raja Naga, dia hanya bisa menunjukkan wujudnya aslinya pada sacred maiden seribu tahun yang lalu dan Kamito yang merupakan reinkarnasi Elemental Lord Kegelapan.


"..."


Kamito menatap Raja Naga dan berkata:


"Biarkan aku tinggal di sini untuk sementara sampai Restia bangun. Aku bisa minum teh bersamamu dan ngobrol."


"Fufu, sayangnya tidak ada teh disin... Ah, tapi ada getah pohon jika kau ingin meminumnya."


"Ah, lupakan..."


—Ketika Kamito mengangkat bahu...


"...!?"


Ekspresi tenang Raja Naga tiba-tiba berubah menjadi serius.


Mata merah menggoda dan menawan dari gadis itu pun menyempit, dia menatap pada kejauhan.


"Sepertinya, sesuatu yang tak menyenangkan telah datang—"


Dia berkata dengan suara dingin.


"...Sesuatu yang tak menyenangkan?"


"Ya... Aku merasakan kehadiran kegelapan yang kotor."


Raja Naga menutup matanya, seakan-akan kesadaraannya berpindah ke suatu tempat entah dimana.


Kemudian dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan—


"—Gadis itu... Mungkinkah dia adalah si Penyihir Senja?"


"...Apa!?"


Kamito melebarkan matanya.


Bagian 5[edit]

Warna senja menutupi langit Gugusan Pegunungan Kelbreth.


Pada satu-satunya jembatan di seberang ngarai antara Istana dan ibukota naga.....


Seorang gadis berambut abu-abu berdiri di sana, sembari memegang pedang iblis berwarna merah darah.


Yang menghadapi gadis muda itu adalah Leonora dengan Dragon Slayer raksasa di tangannya.


Seluruh tubuhnya memancarkan niat membunuh yang merusak.


"Sebutkan urusanmu. Aku tidak ingat pernah mengundangmu ke kastil."


Leonora berkata dengan pelan.


"Kau adalah pengendara naga di ibukota kekaisaran, huh—"


Si Penyihir Senja bergumam tanpa ekspresi dan mengambil langkah maju.


"Tujuanku adalah memenggal kepala Raja Naga."


"Begitu kah? Aku baru tau ada pembunuh yang begitu blak-blakan sepertimu."


Aura membunuh yang dilepaskan Leonora semakin pekat.


"Tidak peduli berapa banyak orang yang datang, mereka tidak akan lolos dari sini."


"Untuk permulaan, aku berniat lewat dengan paksa—"


Penyihir itu pun tersenyum.


Bab 8 - Gunungan Mayat, Sungai Darah[edit]

Bagian 1[edit]

Derap langkah tentara bergema di ngarai Istana.


Setelah bergegas keluar dari ruang tahta, Kamito pergi melalui koridor bersama Demon Slayer di tangannya.


(Aku tidak percaya dia menyerbu masuk melalui pintu depan dengan paksa...)


Keringat kecemasan muncul di dahi Kamito. Jika penyerang ini benar-benar dia, maka tidak peduli seberapa banyak tentara yang dimiliki oleh tempat ini, mereka mungkin akan dibantai habis tanpa sisa.


—Penyihir Senja.


Bahkan ada legenda di masa lalu tentang perang besar, dimana dia menghancurkan sebuah negara kecil sendirian.


Dia benar-benar berharap itu hanya legenda semata—


(Aku harus ke sana tepat waktu—)


Kamito merenungi apa yang dikatakan Raja Naga kepadanya sebelum meninggalkan ruang tahta.


Selamatkan Leonora—Itulah permintaannya kepada Kamito.


Tapi Kamito tak perlu diminta oleh siapapun untuk menyelamatkan rekan-rekannya


Gerbang kastil sudah terbuka. Sembari memegang elemental waffe, gelombang ksatria naga dikerahkan berturut-turut untuk mencegat si penyerang.


Mereka adalah ksatria militer kerajaan Dracunia. Setiap personelnya merupakan ksatria tingkat atas.


Namun, suara dentangan senjata tidak menunjukkan tanda-tanda meredanya pertempuran. Ksatria Negara Naga, terkenal sebagai yang terkuat, namun mereka tak mampu menghentikan seorang tunggal ini—


‘—Kamito, aku merasakan pedang iblis itu.’


Suara Est terdengar dalam pikirannya.


"Aku paham..."


Kamito berbisik.


—Aku cukup yakin, itu adalah dia.


‘—Berhati-hatilah. Pedang iblis itu telah tumbuh lebih kuat daripada sebelumnya.’


(Bahkan lebih kuat daripada waktu itu—)


Sambil mengerang dalam hatinya, Kamito bergegas keluar dari kastil.


Matahari telah terbenam sepenuhnya. Langit pun terlingkupi oleh warna malam.


Yang melintang diatas ngarai adalah sebuah jembatan besar.


Yang berdiri di tengahnya adalah sesosok gadis.


Gadis berambut abu-abu mengayunkan pedangnya bagaikan dewa perang yang ganas, dan menyebarkan bunga darah dimana-mana.


Di kakinya, mayat naga yang telah dipenggal menumpuk tinggi.


Dengan warna merah darah segar berceceran di seluruh tubuhnya, gadis itu terus menebas para naga yang menyerang satu per satu.


Setiap kali kilatan pedangnya merobek langit malam, kepala naga beterbangan, kemudian terjun ke dalam ngarai yang gelap—


Ketika melihat adegan pembantaian kejam ini, Kamito bahkan lupa untuk bernapas sejenak.


Tak satupun dari para ksatria naga Dracunia yang terbang dilangit bisa mendekati dia. Mereka hanya terpaku di tempat sembari tetap memegang senjata mereka masing-masing.


"Masih belum cukup. Sudah kuduga, gadis yang tadi adalah yang paling lezat—"


Dia tanpa ampun menghancurkan kepala naga yang bergelimpangan di bawah kakinya—


Gadis itu menjilat pedang iblisnya yang berlumuran darah.


Pada saat itu, Kamito merasakan firasat menakutkan.


'Gadis yang tadi'—barusan dia mengatakan kata-kata itu.


Tak mungkin, apakah maksudnya adalah—


Detik berikutnya, apa yang terlihat oleh mata Kamito adalah skenario terburuk.


Di samping tumpukan mayat naga adalah Leonora yang roboh dalam genangan darah.


"Leonora!"


Sambil berteriak, Kamito bergegas mendekat secara reflek. Sembari berdiri di atas tumpukan mayat, Greyworth melihat Kamito dan hanya bergumam "oh?", tanpa bergerak sedikitpun.


Kamito mengabaikan Greyworth dan bergegas ke sisi Leonora.


"Leonora!! Betahanlah, Leonora!!!"


"...Kami...to?"


Bibirnya yang berdarah itu bergerak samar-samar.


(...Dia masih hidup!)


Kamito merangkul tubuh lemas gadis itu dalam pelukannya, dan menuangkan kekuatan suci ke dalam dirinya. Meskipun efeknya hanyalah mempercepat penyembuhan alami, setidaknya itu akan lebih baik daripada tanpa pertolongan sama sekali.


Dari bahu kanan sampai pinggang kirinya terdapat suatu celah tebasan yang dalam.


Itu adalah luka serius yang semakin melemahkan kondisi tubuhnya. Alasan kenapa dia masih sadar pasti karena efek perlindungan dari roh-roh naga, yang diperkuat oleh tubuh kontraktor mereka.


"...Sungguh tak sedap dipandang... bukan...? Sebagai, seorang ksatria naga dari... Dracunia..."


"Cukup, jangan bicara lagi—"


Kamito memeluk kepalanya dengan lembut.


Namun, Leonora sekuat tenaga menggerakkan bibirnya, untuk berbicara terpatah-patah.


"...Kamito... di ibukota kekaisaran, kau berjanji, 'kan... kau akan melakukan apapun."


"Ya."


"...Kalau begitu, aku mohon... Lindungi Raja Naga, lindungi Dracunia—"


Setelah mendengarkan kata-kata yang membuat Leonora mengerahkan segenap tenaganya—


"—Aku mengerti. Inilah janjiku."


Kamito menjawab dengan jelas dan ringkas.


Leonora tersenyum berseri-seri sebelum menutup matanya dalam ketenangan.


Setelah membawa Leonora dalam pelukannya, Kamito menurunkan dia pada tanah dibelakangnya.


"Gadis itu masih belum mati? Sungguh ketahanan tubuh yang menakjubkan—"



Sambil berdiri di tumpukan mayat naga, Greyworth menatap Kamito dan berkata.


Mencengkeram Demon Slayer dengan erat, Kamito melotot marah pada sosok di depannya, yang bisa dilihatnya hanyalah pandangan merah akibat luberan darah.


"Apakah kau datang untuk membunuh Raja Naga?"


"—Betul."


Dia mengangguk tanpa sedikitpun menyembunyikan tujuannya.


Setelah mendapatkan Penyihir Senja sebagai pion, Kerajaan Suci tampak seperti mereka tak lagi menggunakan konspirasi dan strategi. Mereka sekarang bisa secara terbuka mengirim pembunuh terkuat.


"Aku tidak akan membiarkan kau membunuh Raja Naga. Dracunia adalah sekutuku, Ordesia Yang Sah."


Di depan para ksatria naga, Kamito menyatakan itu.


Namun, alasannya untuk mengatakan itu bukanlah hanya sok-sok'an.


Raja Naga Bahamut mencintai warga Dracunia dan dengan tulus mencintai umat manusia. Selama ribuan tahun terbenam dalam kesendirian, dia terus mengawasi negara ini.


Meskipun Kamito hanya mengobrol dengannya dalam waktu singkat—


Perasaannya yang menghargai kesejahteraan rakyat, pasti telah mencapai hati Kamito.


Dia harus melindunginya. Hati Kamito dipenuhi dengan emosi yang murni.


Tapi, yang lebih penting adalah—


(Leonora telah memintaku untuk melakukannya. Alasan itu sudah cukup bagiku—)


Sembari memegang Demon Slayer dengan kedua tangan, Kamito menuangkan kekuatan suci dari seluruh tubuhnya.


Mata pedang baja itu bersinar dengan cahaya putih-perak, menerangi kegelapan malam.


Sebagai tanggapan...


"—Sebuah mangsa yang langka. Tarian pedangmu membuat darahku mendidih dengan kegembiraan."


Greyworth tersenyum.


Auranya berubah. Tidak terasa niat membunuh atau intimidasi.


Sebuah aura aneh terpancarkan dari sekujur tubuhnya—


Kamito merasa seolah-olah ada tangan dingin yang mencengkeram jantungnya—


(...Sialan, aku nggak percaya tubuhku bergetar seperti ini—)


Kamito meringis dalam benaknya. Penanggulangan rasa takut seharusnya adalah dasar-dasar yang diajarkan pada petarung Sekolah Instruksional—


"—Kamito, Kau baik-baik saja?"


Suara Est terdengar dalam pikirannya.


Roh pedang terkuat memang hebat, tampaknya dia benar-benar tidak takut pada Penyihir Senja.


Seakan menanggapi suara Est, Kamito dengan tegas mencengkeram gagang pedang sucinya.


Greyworth memegang pedang iblis berwarna merah dengan santai, kemudian dia melompat turun dari tumpukan mayat naga.


Pedang iblis yang berlumuran darah berdenyut-denyut seperti makhluk hidup.


—Pada detik berikutnya, Greyworth menyapu ruang di belakangnya dengan menggunakan pedang itu.


"...!?"


KRASH!


Dengan tebasan pedang merah, jembatan batu pun runtuh seketika.


Sebagai hasilnya, gunungan mayat naga jatuh ke dalam ngarai kematian yang gelap.


Dia telah memotong rutenya sendiri untuk melarikan diri.


"S-Sialan, aku tidak percaya kau melakukan itu pada para naga pelindung bangsa ini!"


"Oh tamu dari Ordesia, kami akan membantumu!"


Para ksatria naga yang ada dibelakang Kamito berteriak marah.


Namun—


"Tetap di belakangku jika kalian tak ingin mati!!"


Kamito menoleh ke belakang dan menatap tajam pada mereka.


Tatapannya yang penuh dengan aura membunuh membuat para ksatria naga gemetar.


"Maaf, kalian hanya akan menjadi beban."


Kamito berkata dengan suara dingin.


"T-Tapi jika kau pergi melawannya sendirian—"


"Jangan ganggu aku. Mohon ambil Leonora dan tinggalkan tempat ini."


—Ya, mereka hanya akan menjadi beban bagi Kamito.


Memang, mungkin dengan dukungan mereka, pertempuran akan lebih menguntungkan. Namun, asumsi itu bisa dibenarkan jika Kamito hanya menggunakan mereka sebagai umpan tanpa sedikitpun menghargai nyawa mereka.


Jika mereka hendak melawan Penyihir Senja, sudah pasti akan ada korban yang banyak. Gadis-gadis ini adalah bawahan Leonora yang sangat berharga, sekaligus putri-putri tercinta Raja Naga.


Kamito tidak boleh membiarkan korban terus berjatuhan, bahkan tak satupun dari mereka.


—Dan yang lebih penting adalah, dia tidak ingin Greyworth membantai mereka.


Sepertinya mereka mulai memahami perintah Kamito—


"Semoga kau menang, Kamito-dono—" "Semoga berkah naga bersamamu."


Para ksatria naga perempuan membawa Leonora yang masih roboh untuk mundur ke kastil.


"—Terima kasih."


Kamito berkata dengan pelan kemudian berbalik ke arah Greyworth sekali lagi, yang berdiri di depan tebing.


"Kau menginginkan pertarungan satu lawan satu, kan?"


"Itu adalah suatu keputusan yang mempertaruhkan nyawamu."


Greyworth berkomentar dengan tenang.


Lalu tiba-tiba, angin berhenti.


Di bawah malam bulan purnama pada jembatan ini, Penyihir Senja dan Penari Pedang Terkuat berhadapan.


"Katakanlah, Greyworth..."


"Apa?"


"Apakah tidak ada cara untuk berdamai? Sudahkah kau benar-benar melupakan aku dan yang lainnya?"


Kamito mencoba membujuk untuk terakhir kalinya.


Namun, dengan ekspresi tanpa ampun, gadis itu mengatakan:


"Bicaramu murahan, suasana hatiku jadi memburuk."


"Aku paham..."


Kamito menggeleng sembari mencurahkan kekuatan suci maksimum pada Demon Slayer-nya.


"Est, kita akan bertarung habis-habisan sejak awal. Bisakah kau tetap bertahan?"


"Ya, aku adalah pedangmu, keinginanmu adalah perintah bagiku."


Est menjawab dengan tegas.


Keduanya berhadapan. Namun, tak satupun dari mereka bergerak secara semberono. Mereka menguasai gaya yang sama, itu berarti kedua belah pihak sangat memahami gerakan masing-masing. Setiap gerakan mungkin bisa diprediksi satu sama lain, kemudian saling melancarkan serangan balik.


Oleh karena itu, mereka perlu mensimulasikan pertempuran berkali-kali dalam pikiran masing-masing untuk mencari cara yang paling efektif untuk menyerang.


Kemudian—.


Yang pertama memulai pertempuran adalah Kamito.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning!"


Sembari mengangkat pedang suci yang bersinar dengan cahaya putih-perak, Kamito menghentak tanah untuk melompat, kemudian gerakannya dipercepat drastis dengan menggunakan pelepasan kekuatan suci. Dorongan itu bagaikan petir, dan melebihi kecepatan suara untuk menembus musuh.


Klang!—Bunga api pun terpencar.


Serangan mematikan Kamito dimentahkan oleh bilah pedang milik Greyworth.


Itu bukanlah reaksi, melainkan prediksi.


Kamito segera menarik pedangnya, kemudian mengayunkannya lagi secara horizontal.


—Namun, Greyworth mengambil setengah langkah mundur, sehingga menyebabkan ujung pedang lawannya hanya terbang melewati hidungnya.


Kamito mengambil langkah maju. Sembari melantunkan sihir roh dengan cepat, dia menciptakan belati pada tangannya yang lain. Ini adalah Weapon Works, sihir tipe besi—Dengan memegang belati antara jari-jarinya, lantas dia melemparkannya.


Belati terbang bersama kilatan cahaya, dan merobek udara, tapi dalam sekejap dihancurkan oleh tinju tangan kosong Greyworth, yang diselimuti kekuatan suci. Dengan menggunakan momentum sisa, dia menyerang leher Kamito.


Ini juga sudah diprediksi oleh Kamito. Dia menundukkan kepalanya untuk menghindari serangan itu, lantas dia menebas secara diagonal ke arah bahu musuhnya. Hantaman antar pedang menghasilkan percikan bunga api.


Ini adalah pertarungan kecepatan super tinggi yang manusia biasa tidak bisa mengikutinya dengan mata telanjang.


Pada jarak dekat, sampai-sampai wajah mereka saling berhimpitan, mereka berdua saling bentrok.


"Gerakanmu berbeda dari yang waktu itu—"


"Bagaimanapun juga, pada saat itu sekujur tubuhku penuh luka."


"Begitukah? Sungguh menyenangkan."


Bibir Greyworth sedikit bergetar, nampaknya dia membisikkan sesuatu.


(Sihir roh? Bukan—)


Dia murni mengandalkan instingnya. Ketika merasakan kehadiran beberapa sosok yang mengerikan, Kamito pun melompat mundur untuk memperlebar jarak.


Pada saat itu, pedang iblis berlumuran darah berubah.... berubah menjadi hewan buas raksasa yang dilengkapi dengan taring tak terhitung jumlahnya.


"...!?"


ROOOOOOAAAAAR...!


Hewan buas berwarna darah itu pun melolong dan menerkam ke arah Kamito.


Kamito terjun ke tanah dan berguling, untuk menghindarinya secepat mungkin. Tanah yang baru saja dipijaknya hancur oleh rahang binatang yang muncul dari gagang pedang iblis itu.


(...! Apa-apaan ini—!?)


"Kamito, meski berubah menjadi elemental waffe, pedang iblis itu mempertahankan sifatnya sebagai roh."


Suara Est terdengar dalam pikirannya.


(Jadi itu adalah elemental waffe sekaligus roh. aku paham sekarang—)


Kamito menemukan jawabannya. Bukannya mengendalikan roh iblis, Greyworth malah bekerjasama dengan selaras bersamanya.


"Salah satu dari 72 roh yang tersegel, roh iblis Vlad Dracul. Benar saja, itu tumbuh sangat cepat ketika menyerap darah naga."


Greyworth berkata dengan puas.


"Pedang iblis yang haus darah, huh? Itu cukup mengerikan—"


Namun, skill berpedang menakutkan milik Greyworth yang dikombinasikan dengan serangan individual pedang iblis, itu benar-benar situasi yang sulit. Bagi Kamito, ini berarti dia harus memprediksi serangan dari dua gaya yang sungguh berbeda, pada saat yang sama.


"Pedang iblis yang haus darahmu, Raja Iblis—"


Greyworth menebaskan pedang iblis itu secara horizontal.


ROOOOOAAAAAR!


Kepala binatang buas itu sekali lagi muncul dari pangkal pedangnya, kemudian dia melolong dengan suara aneh dan mengejar Kamito tanpa henti.


Melompat secara acak di seluruh tempat, binatang itu pun menghancurkan sisa-sisa jembatan.


(...roh bangsat!)


Bahkan dengan Perlindungan Baja, tubuh Kamito mungkin akan terkoyak dalam sekejap jika tergigit oleh taring-taring itu.


Namun, terus berlari bukanlah pilihan untuk memenangkan pertarungan ini. Dia harus mencari kesempatan untuk menyerang balik,


Kamito menghentak tanah untuk melompat ke arah pagar jembatan.


Sebuah lompatan. Di udara, Kamito berbalik dan melepaskan kekuatan suci.


"Absolute Blade Arts, Bentuk Kedua—Meteor!"


Kekuatan suci meledak. Sambil turun dengan kecepatan tinggi, Kamito mengayunkan pedangnya ke bawah.


Ini adalah jurus yang berasal dari Purple Lightning. Kekuatannya adalah salah satu yang terbaik dalam Absolute Blade Arts.

Demon Slayer menusuk kepala binatang itu, lantas menyematkan tubuh raksasanya ke tanah.


Seketika, binatang berwarna darah itu mencair dan menghilang.


—Namun, Tepat pada saat itu, Greyworth muncul di depan matanya.


Bagian 2[edit]

Di dalam ruang tahta, pada bagian terdalam istana—


Melalui mata dari para naga terbang, Raja Naga mengamati situasi di luar.


Para naga dari Gunung Kelbreth terus menyerang gadis itu, namun mereka terpenggal satu demi satu.


(Itu benar-benar Penyihir Senja huh...)


Dia pernah menyaksikan pemandangan sadis seperti ini di masa lalu.


Selama Perang Ranbal terakhir kali, ratusan naga Dracunia telah dibantai oleh hanya seorang gadis muda. Hal itu tercatat dalam sejarah sebagai: Mimpi Buruk Senja yang Menakutkan.


Namun, itu terjadi beberapa dekade yang lalu. Seharusnya manusia memiliki umur yang terbatas, lantas bagaimana bisa dia masih terlihat sama seperti waktu itu—?


Karena merasakan kecemasan yang tak berdasar, dia pun mulai bergerak. Kutukan Elemental Lord Tanah langsung bereaksi. Tanaman yang merambat menggeliat dengan erat untuk menahan tubuhnya yang telanjang.


Kutukan yang hina. Kalau bukan karena kutukan ini, dia pasti sudah mampu keluar istana sendirian. Membakar gadis manusia sampai jadi abu harusnya semudah—


—Pada saat itu...


"Fufu, seharusnya kau menahan Ren Ashbell disini sebagai pengawalmu. Aku tidak percaya kau terjebak begitu mudah—"


Suara seorang gadis muda terdengar dalam ruang tahta di hadapan Raja Naga.


Suara itu disertai oleh bunyi lonceng. Dia tiba-tiba muncul dari kegelapan.


"Siapa disana? Aku tidak ingat mengizinkan siapa pun untuk masuk ke sini—"


Sang Raja Naga menyipitkan mata merahnya yang penuh tanda tanya.


Dia tidak pernah memperkirakan ada seorang penyusup yang masuk ke sini. Dia sudah berbagi indera penglihatan dengan para familiar-nya di luar, jadi seharusnya dia tidak melewatkan segala macam pergerakan yang mencurigakan.


Mendengar itu, gadis berpakaian jubah putih bersih membungkuk dengan sopan.


"Aku adalah Millenia Sanctus, seorang kardinal dari Kerajaan Suci Lugia—"


"Begitukah? Kerajaan Suci—"


Sang Raja Naga tersenyum.


"Aku pikir, yang bisa mereka lakukan hanyalah konspirasi dan hura-hura. Siapa yang mengira mereka akan berkembang menjadi begitu kurang ajar seperti hari ini... Yahh, lantas, apa tujuanmu menyelinap ke kamar tidurku? Apapun alasannya, kejahatanmu ini seharga dengan ribuan kematian."


Raja Naga melotot dengan angkuh pada gadis berjubah itu. Orang biasa pasti sudah pingsan karena tatapan penuh aura intimidasi seperti itu—


Namun, Millenia tetap tak terpengaruh.


"Aku datang untuk mencabut nyawamu, Raja Naga Dracunia."


"..."


Mendengar itu, sang Raja Naga terdiam sebentar—


Lalu, dia menunjukkan senyum yang menakutkan dan menakjubkan.


"Oh? Sepertinya kau sedang berkhayal untuk membunuh sang Bahamut, yaitu roh naga tertinggi."


Angin pun bergemuruh. Kemarahan Raja Naga menggetarkan udara.


"Meskipun kekuatan asliku tersegel oleh kutukan ini, aku masih memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan orang-orang seperti dirimu—"


Seketika, bola petir muncul di sekitar Raja Naga untuk menembus tubuh gadis itu.


Gadis itu bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk berteriak.


Yang tersisa di lantai hanyalah bekas hangus.


Tidak ada yang tersisa dari tubuh kardinal Millenia Sanctus. Dia lenyap dari dunia ini tanpa jejak.


"Gadis Bodoh. Bertindak sembrono tanpa mempertimbangkan perbedaan kekuatan di antara kita."


Raja Naga mendesah.


Namun, sesaat berikutnya—


"Fufu, Raja Naga yang agung memang hebat. Kau bahkan membunuh salah satu dariku.


"...!?"


Raja Naga melebarkan matanya karena terkejut.


Gadis yang seharusnya sudah dilenyapkan olehnya, kini masih berdiri tegak di hadapannya.


Seakan merembes keluar dari kegelapan di udara, dia muncul kembali.


"Apakah kau—"


Millenia melepaskan tutup mata pada mata kirinya.


Dari rongga matanya, Kegelapan Dari Dunia Lain merembes keluar, merangkak menuju tahta sang Raja Naga.


"Kegelapan dari dunia lain!? Aku paham, kau bukanlah manusia atau roh—!"


"Pengamatan yang bagus—"


Millenia tersenyum lembut.


"Tapi kau sungguh terlambat—"


Bagian 3[edit]

Sembari memegang pedang iblis, Greyworth muncul tepat di depan matanya.


Pada saat yang sama, beberapa tombak merah muncul dari udara, menembaki Kamito dengan serempak.


Empat belas tombak yang terbuat dari sihir roh. Kamito segera memprediksi lintasan luncur tombak-tombak itu. Namun—


(...aku nggak bisa menghindari semuanya!?)


Setelah membuat keputusan sepersekian detik, dia pun merelakan bahu kanannya, tampaknya Kamito berpikir bahwa luka di bahu kanan tidaklah fatal.

"Gah...!"

Ujung tombak spiral pun menikam bahunya. Dengan mengambil kesempatan ketika Kamito kehilangan keseimbangan, Greyworth pun terus mengayunkan pedang iblisnya.


Kamito langsung saja menusukkan Demon Slayer ke dalam tanah. KLANG—Pedang iblis membentur bilah datar dari pedang suci tersebut.


Pada saat itu, Kamito mencurahkan kekuatan sucinya—


(Est, Mode Shift!)


"Ya, Kamito—"


Seketika, bilah perak-putih terbungkuskan dalam kegelapan. Demon Slayer berubah menjadi Pedang Raja Iblis yang telah mewarisi kekuasaan Restia.


"Majulah dan tembuslah lawan-lawanmu, hukuman iblis halilintar pemusnah segalanya—Vorpal Blast!"


Petir hitam yang dilepaskan oleh Pedang Raja Iblis menghantam Greyworth secara langsung, sembari kedua pedang saling berbentrokan. Tubuh mungilnya terpental dengan keras.


Kamito langsung meneruskan serangannya. Setelah mencabut Pedang Raja Iblis dari tanah, dia melanjutkan serangan kedua.


"Ohhhhhhhhhhhh!"


Dia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan dewa, membidik bahu Greyworth yang baru saja jungkir balik di udara untuk berusaha mendarat di tanah dengan mulus.


Namun, dia tidak merasa bahwa serangan itu mengenai targetnya. Lawannya lenyap seketika bagaikan fatamorgana.


"...!?"


"Absolute Blade Arts, Bentuk Kabut—Water Reflection Mirror."


Yang telah ditebas oleh Kamito hanyalah bayangan hasil pembentukan kekuatan suci.


(Dimana—)


Kamito bingung untuk sesaat. Meskipun itu adalah sebuah celah yang terbuka selama beberapa milidetik, dalam pertarungan antara mereka yang telah mencapai puncak ilmu pedang, itu sudah cukup berakibat fatal.


Greyworth berada tepat di belakang bayangan yang terlihat goyah. Dalam keadaan hampir berbaur dengan bayangan, dia telah menghindari tebasan Kamito dengan menarik tubuh bagian atasnya kebelakang selama beberapa detik.


(Sial—!)


Greyworth menendang pedang milik Kamito. Sementara postur tubuhnya sangat tidak stabil—


"Absolute Blade Arts, Flash Form—Death Butterfly Flash Dance!"


Dia melakukan serangan balasan dengan kecepatan dewa.


Kamito hampir saja gagal bereaksi, namun dia berhasil meloloskan diri dari serangan mematikan yang ditujukan langsung ke jantungnya. Ini terjadi bukan karena dia bisa membaca serangan lawan, ini lebih dikarenakan reaksi bawah sadar karena sudah terlalu terbiasa dengan Absolute Blade Arts.


Andai saja dia tidak banyak berlatih jurus itu sewaktu kecil, maka dia pasti sudah mati sekarang.


Lengannya, yang memegang Pedang Raja Iblis, berdarah.


—Pada saat ini, mungkin karena bereaksi terhadap darah segar, pedang iblis Vlad Dracul, langsung memutar bulahnya, berubah menjadi binatang yang haus darah untuk menggigit lengan Kamito.


"...!"


Sebuah gigitan merobek lengan kanannya. Sesaat sebelum saraf di lengan yang menggenggam pedang itu terputus, Kamito mencurahkan kekuatan suci pada Demon Slayer. Pedang Raja Iblis lenyap menjadi partikel cahaya, kemudian muncul di tangan kirinya. Munculah belati berwarna putih murni dan bermata pisau kembar.


Dia langsung menggunakan belati itu untuk mengiris kepala binatang itu. Lalu, roh iblis Vlad Dracul kembali pada bentuk pedang iblisnya.


(... Gah, lengan kananku benar-benar sudah tak berfungsi—)


Setelah menghentak tanah dengan keras, Kamito melompat mundur.


Sembari memperlebar jarak sejauh mungkin, dia memeriksa kembali kerusakan tubuhnya.


Meskipun lengan kanannya masih melekat pada tubuh setelah digigit oleh binatang itu, jaringan saraf telah sepenuhnya mati. Dia bahkan tidak bisa mengangkat satu jari pun.


Greyworth melompat tinggi.


Kemudian dari udara, dia mengeluarkan Absolute Blade Arts—

"Absolute Blade Arts, Second Form—Meteor!"

"Absolute Blade Arts, Seventh Form—Biting Dragon!"


Pada saat yang sama, Kamito memegang belati putih secara terbalik untuk melawan Absolute Blade Arts yang dilepaskan lawannya dari udara.


Kedua mata pisau berbentrokan di udara. kekuatan suci yang dilepaskan dari mereka berdua bersinar dengan terik bagaikan matahari.


Penyihir Senja dan Ren Ashbell— Tarian pedang di antara dua elementalists yang diidolakan oleh para princess maiden di seluruh benua ini, dan itu terlalu merusak untuk disebut tarian pedang.


(...Gah, aku semakin kewalahan—!)


Absolute Blade Arts anti-udara, Gigitan Naga, dilepaskan secara tidak sempurna dengan satu tangan. Meskipun kekuatan Meteor-nya terkurangi, dia gagal menangkisnya. Dengan begitu, Kamito pun terhempas di atas tanah.


"Kaha—!"


Dentuman yang terjadi serasa menghancurkan tulang punggungnya, dan mulutnya pun beberapa kali menyemburkan darah. Greyworth menarik pedangnya di udara dan mengayunkan pedang iblis itu sekali lagi, untuk membidik jantung Kamito—


(—Sial.... Aku... nggak bisa menang...?)


Dia tidak dapat bernapas, bahkan tidak bisa mengangkat jari—


Dengan pandangannya kabur, tanpa sepatah katapun dia menunggu mata pisau menembus jantungnya—


Lalu....


Kamito mendengar suara Leonora dalam pikirannya.


—aku mohon ... Lindungi Raja Naga, lindungi Dracunia.


(...Benar... Aku, sudah, berjanji—!)


Dug—Jantungnya berdegup kencang.


—Itu merupakan tanda peringatan bahwa itu akan segera datang.


Dug, dug, dug, dug—


kekuatan suci yang beredar di dalam dirinya mulai mengalir secara terbalik, sementara racun hitam mengucur pada seluruh tubuhnya. Kekuatan Ren Ashdoll yang tersegel di dalam tubuh Kamito mulai memberikan kekuatan suci tanpa batas—


Klang—!


Kamito memblokir tebasan dengan pedang yang dia angkat hanya menggunakan satu tangan.


"Apa—"


Untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, Greyworth menyerukan rasa kagetnya.


"Peningkatan kekuatan suci secara tiba-tiba?"


"Kamito, ini gawat, kekuatan itu—!"


Suara tegang Est bergema di pikirannya.


(Ya, aku tau. Kekuatan ini memiliki akibat yang sangat buruk—)


Jika kekuatan Ren Ashdoll sepenuhnya melahap tubuhnya, kepribadian Kamito akan hancur, dan mengubahnya menjadi monster seperti Nepenthes Lore. Bisa juga, seorang Raja Iblis akan terlahir kembali untuk membawa kehancuran dan kekacauan pada dunia—


Namun, Kamito harus mengalahkan Penyihir Senja sekarang juga—


(Aku butuh kekuatan ini—)


"Kamito....!"


(Est, aku minta maaf—)


Suara Est secara bertahap memudar, dan tak lama berselang, suara itu tak lagi bisa terdengar.


Pada saat yang sama, dia merasakan kekuatan suci berbalik sekaligus.


Racun hitam menyembur keluar dengan intens, dan langsung menyembuhkan semua luka beserta lengan kanannya yang robek.


Mungkin karena merasakan bahaya, Greyworth melompat mundur secara refleks.


Kamito melepaskan kekuatan suci, mengubah bentuk Demon Slayer, lantas dia melompat.


Raungan binatang dipancarkan dari tenggorokan Kamito.


Semua indera pada tubuhnya menegang sampai batas, dia merasakan ilusi seolah-olah seluruh tubuhnya jatuh pada dunia dimana waktu terhenti.


Greyworth membuat beberapa jenis suara. Seketika, pedang iblis Vlad Dracul berubah menjadi sekelompok serigala berwarna merah darah, lantas mereka menerkam Kamito.


Namun, Kamito tidak berhenti.


Dia menerjang ke arah gerombolan serigala itu, lantas mereka pun menggigit dan mencabik-cabik daging pada tubuh Kamito.


Lalu dia menyerang Greyworth dengan sekali napas—


"Absolute Blade Arts, Bentuk Penghancur—Bursting Blossom Spiral Blade Dance - delapanbelas serangan beruntun!"


dia melepaskan Absolute Blade Arts anti-roh terkuat—


Namun, seketika serangan pertama mendekati tenggorokan penyihir itu—


Greyworth pun tersenyum.


(Tidak mungkin—!?)


Memang, terhadap teknik pedang yang bahkan sanggup membantai roh kelas archdemon, masih ada satu-satunya serangan balik.


Itu adalah rahasia tertinggi Absolute Blade Arts, yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah mencapai puncak kekuatan suci serta ilmu pedang.


Setelah kembali ke bentuk puncaknya, sekarang, Greyworth bisa menggunakannya!


"Absolute Blade Arts, Final Form—Last Strike!"


Di depan mata Kamito, pedang berkelebat lebih cepat dari kecepatan dewa.

Bagian 4[edit]

"Apakah hanya seperti ini kemampuan apimu....?"


"...!?"


Setiap kali Rubia Elstein mengayunkan Laevateinn, aliran nyala api menyapu hutan belantara.


Api berubah menjadi dinding panas, kemudian perlahan-lahan meliuk dan memburu Claire yang sedang berusaha melarikan diri.


(Panas seperti ini, bahkan apiku sama sekali tidak bisa menandinginya—!)


Untuk berhadapan dengan ayunan pedang Rubia, Claire melepaskan Flametongue, tetapi semua serangannya dengan mudah dibelokkan.


Keringat muncul di kening Claire. Kecemasan dan ketakutan menyebar dalam pikirannya. Meskipun di dalam benaknya dia tau bahwa ini hanyalah halusinasi yang ditampilkan oleh situs sejarah kuno...


(—Jika api itu membakar diriku, maka pikiranku akan hancur, meskipun tubuhku tidak terluka.)


Claire merasakan ini secara naluriah. Kemungkinan besar, tempat ini mirip dengan struktur Astral Zero. Satu kesalahan pun mungkin akan membuatnya tidak bisa kembali ke dunia semula.


"Claire Rouge, mengapa kau terobsesi pada kekuatan?"


Rubia berbicara dari balik topeng.


"I-Itu untuk... bertemu Nee-sama—"


Di tengah-tengah kalimatnya, Claire pun berhenti berbicara.


Memang, dia masih sangat lemah. Setelah dilindungi oleh kakaknya atau Rinslet sepanjang waktu, dia sungguh berharap menjadi kuat untuk mencapai tujuan ini. Untuk itulah dia telah menetapkan Tarian Pedang sebagai tujuan akhirnya.


Namun, sekarang dia telah mencapai tujuan itu, lantas mengapa dia masih terobsesi mengejar kekuatan?


Rubia meneriakkan mantra untuk melepaskan anjing api berkepala dua.


Api sihir tidak berdampak pada anjing itu.


(...Humm, kalau begitu, coba ini!)


"—Oh api sejati yang terukir pada garis keturunan kuno, munculah di tanganku untuk melahap api itu!"


Claire melantunkan kata-kata mantra dengan bibirnya.


Yang muncul di tangannya adalah api merah dan lebih intens daripada api pembakar.


Mampu membakar api— End of Vermilion.


Berhadapan dengan anjing api berkepala dua, Claire mengubahnya menjadi abu dengan menggunakan Api Sejati.


"Aku sudah berjuang sehingga aku bisa berada di sisi Kamito!"


Teriak Claire.


Ya, dia berharap mendapatkan kekuatan yang cukup untuk menjadi partner Kamito, dan untuk berjuang bersama-sama dengannya.


Itulah alasan mengapa Claire terus mencari kekuatan.


"Oh?"


Sembari menghunus Laevateinn, Rubia tiba-tiba mendekat tepat di depan matanya.


(...Kapan dia !?)


Claire gemetar, anjing-anjing api yang menyala itu hanyalah umpan.


"B-Bola apil!"


Sementara melompat mundur, Claire melepaskan roh sihir andalannya dari jarak dekat.


Namun—


"Rasakan kemurkaan esku... Kobaran Beku!"


Api biru yang muncul di tangan Rubia membekukan roh sihir bola api bersama-sama dengan ruang di sekitarnya.


(Mustahil...!)'.


Claire terkejut.


"Jawab aku. Mengapa kau ingin selalu bersama Kazehaya Kamito?"


"—Hah?"


Claire bingung. Mengapa dia ingin selalu di sisi Kamito—?


"Uh, I-itu karena, Kamito selalu melindungiku. Bagaimanapun juga, aku adalah tuannya, jadi tidaklah adil jika aku tidak sanggup melindunginya, uh "


...Tidak, itu salah—Claire menggeleng.


Alasan sebenarnya adalah—


"Sampai kau menyatakan perasaanmu yang sebenarnya, api Elstein tidak akan pernah mengakuimu."


"Perasaan yang sebenarnya?"


"Jujurlah pada dirimu sendiri, Claire Rouge. Jika tidak, kau akan mati di sini—"


Rubia mengayunkan Laevateinn yang berpijar.


Bab 9 - Vorpal Sword[edit]

Bagian 1[edit]

Last Strike—Ini adalah teknik rahasia terakhir dari Absolute Blade Arts yang mana Greyworth harus mempertaruhkan nyawanya untuk mewariskannya pada Kamito.

Itu adalah teknik serangan balik terkuat yang membalikkan aliran kekuatan suci untuk menyerang musuh secara langsung.

Dengan dikembalikannya kekuatan Bursting Blossom Spiral Blade Dance pada dirinya, Kamito terhempaskan ke udara.

Satu-satunya alasan kenapa tubuhnya tidak terbelah menjadi dua adalah berkat dia menyadari aktifasi dari Last Strike tepat waktu, dengan demikian memungkinkan bagi dia untuk menempatkan pedang kembar itu pada posisi bertahan. Andaikan dia tidak merasakan teknik terkuat ini sebelumnya, akan mustahil bagi dia untuk membaca gerakan ini.

Membetuk lintasan melengkung di udara, tubuh Kamito menghantam lantai batu dengan keras.

"...Ack... Huff—!"

Sebuah tebasan diagonal membekas pada badannya dari pinggang sampai bahunya, terjadi pendarahan hebat. Tulang rusuknya hancur berantakan, membuat dia kesulitan bernafas.

Racun hitam mengalir keluar dari seluruh tubuh Kamito seolah menjilati dia, menghasilkan regenerasi dengan kecepatan yang mencengangkan. Akan tetapi, hal itu masih tak bisa menyembuhkan lukanya secara seketika.

Dalam diam Greyworth menurunkan pedang iblis yang berlumuran darah. Bahkan Penyihir Senja pun sampai terengah-engah. Dampak dari Last Strike itu sangat berat pada tubuh. Setelah mengeluarkan gerakan itu, mustahil untuk bergerak dalam waktu singkat.

—Seharusnya begitu, dia mungkin masih memiliki cukup kekuatan yang tersisa untuk melakukan serangan terakhir pada Kamito yang berada dalam keadaan babak belur, lalu melawan para Ksatria Kekaisaran Naga di istana.

(...Sialan.... Nggak bisakah aku menang....?)

Meskipin dia ingin memegang pedang kembarnya, jarinya tal bisa bergerak.

Memegang pedang iblis, Greyworth mendekat perlahan-lahan.

"Itu cukio lezat, Raja Iblis—"

—Lalu....

Tangan kirinya yang tertutup sarung tangan kulit terasa sedikit sakit.

...Kami...to... Apa kau, masih disana....?

Itu bukan suara Est.

Bukan pula suara Ren Ashdoll, yang menariknya kedalam kegelapan.

Itu adalah suara cewek itu.

(...Apakah kamu Restia?)

Kamito berkonsentrasi penuh pada suara didalam pikirannya.

Segel roh itu memancarkan panas yang menyengat dan memancarkan petir hitam yang langsung menghancurkan sarung tangan kulit tersebut.

Menyala tajam, segel berbentuk bulan hitam, menyimbolkan kegelapan, bersinar.

"...Ah... Guh...!"

...Kamito, aku disini, menunggumu, sepanjang waktu...

(Restia—!)

Memanggil namanya lagi dalam hatinya, lalu—

Kesadaran Kamito tenggelam kedalam kegelapan.

Bagian 2[edit]

Api terkuat dalam alam manusia—api pembakaran milik Laevanteinn mendekati Claire.

Terisolasi oleh dinding api yang mengepung dia, tak ada jalan untuk kabur.

Dan sekarat di dunia ini sama dengan kematian jiwa di dunia nyata.

".....!"

Itu mustahil untuk melawan menggunakan sihir roh dari api milik Scarlet. Claire buru-buru mengulurkan tangannya dan merapal mantra.

"O api sejati yang terukir diatas garis keturunan kuno, muncullah ditanganki untuk melahap api!"

Api pemusnah, lebih intens daripada kobaran api merah, bertabrakan dengan ganas dengan kobaran api pembunuh dewa milik Laevateinn.

"...Guh... Urgh...!"

....Akan tetapi, dia tak mampu memblokirnya.

Kobaran api yang tanpa batas dan kuat itu perlahan-lahan melahap api milik Claire sendiri.

—Sampai hari dimana kau mengakui perasaan sejatimu, api Elstein tidak akan pernah mengakuimu.

Kata-kata Rubia terngiang didalam pikirannya.

(....A-Apa, perasaan sejatiku...!)

Apakah dia memgabaikan apa yang dia rasakan sebenarnya?

(Kenapa aku mengejar kekuatan...?)

Sambil terpanggang oleh panas dari kobaran api itu, Claire merenungkan diri.

Tujuan awalnya adalah ikut serta dalam Blade Dance sehingga dia bisa bertemu dengan kakaknya lagi.

Sampai sekarang, dia berusaha mendapatkan kekuatan dikuar kendalinya dan gagal.

Orang yang membujuk dia pada saat itu dan mengajari dia bertarung adalah dia.

(Mengejar kekuatan semata hanya akan mengulangi kesalahan yang sama...)

Claire menyadarinya dan menggigit bibirnya.

(Tapu apa yang harus aku lakukan—?)

Perasaan sejati yang dia hindari. Hanya dengan memahami perasaan itu—

"Kau pikir api setingkat ini bisa menghentikan kemarahan dan ratapanku!?"

Api milik Rubia melonjak dan menderu. Mustahil bagi Claire untuk menahannya lebih jauh lagi—!

—lalu.

Dikakinya, Scarlet mengeong dan berlari ke depan untuk melindungi Claire.

"Scarlet! Jangan, meskipun kau adalah roh api, api pembunuh dewa milik Laevateinn akan—"

—Tolong bebaskan aku, master.

(...Huh?)

Claire mendengar suara kalem dari seorang cewek didalam pikirannya.

...Suara yang tak pernah dia dengar sebelumnya. Akan tetapi, entah kenapa suara itu terasa sangat akrab—

Claire menatap Ada yang ada di kakinya.

"Scarlet... Apa itu kau?"

Scarlet mengeong lagi dan mengeluarkan api yang intens.

Kobaran api milik Rubia di dorong mundur sedikit.

Saat Blade Dance, Claire telah melihat wujud sejati dari Scarlet. Kalau Claire bisa membebaskan dia, mungkin itu memungkinkan untuk menghadapi api ini. Namun—

"....Bagaimana caranya aku membebaskan kamu?"

—Harap bebaskan perasaanmu yang tulus, master.

"...Perasaanku yang tulus?"

Claire bingung.

Bahkan pada situasi yang mendesak ini, dia tidak tau apa yang harus dilakukan.

(Lagian, apaan sih yang dimaksud perasaanku yang tulus...!?)

Kobaran api tersebut semakin intens. Kekuatan Claire tak akan mampu menahan lagi.

Api Sejati Elstein—End of Vermilion—tidak hanya mengkonsumsi kekuatan sucinya tanpa kenal ampun, tetapi juga mengkonsumsi stamina dan kekuatan mentalnya...

"...Ah, urgh...!"

Tubuhnya terasa berat. Keningya berkeringat deras sembari kesadarannya perlahan-lahan semakin lenyap. Dia mungkin akan kehilangan kesadaran sebelum api itu membakar dirinya. Mungkin itu merupakan secuil kebaikan yang diberikan pada dia dari kakaknya. Itulah yang dia pikirkan.

Akan tetapi, pada saat itu, apa yang muncul dalam benaknya adalah wajah Kamito.

(...Nggak mungkin, gimana bisa aku mati ditempat seperti ini!?)

Mencemooh dirinya sendiri yang lemah, dia mengerahkan kekuatannya yang terakhir.

Claire memejamkan matanya dan berfokus pada hatinya sendiri.

Berharap untuk berdiri di samping Kamito— Harapan ini memang nyata.

Akan tetapi, kenapa dia berharap seperti itu...?

Apakah ini merupakan rasa rendah diri karena kelemahannya?—Bukan.

Apa karena dia khawatir pada Kamito? —Itu tidak sepenuhnya benar.

(Kamito, aku...)

Dug. Jantungnya berdegup kencang.

—Harap lebih jujur lagi, master.

....Benar, meskipun itu sudah jelas dalam hatiku.

Akan tetapi, perasaaan ini, selalu dia simpan menggunakan segala macam cara.

Meskipin dia sudah mengakuinya sejak dahulu, dia masih takut untuk menyatakannya.

Dia takut menjadi jujur.

(Seperti itulah, aku menyembunyikan perasaanku yang tulus, menipu hatiku sendiri...)

Roh terkontrak adalah suatu eksistensi yang berkaitan sangat erat dengan kedalaman hati seorang elementalist. Nggak peduli berapa banyak pengalaman yang dikumpulkan sebagai seorang elementalist, nggak peduli seberapa kuat kekuatan suci yang dimiliki—

Dengan hatinya yang berada dibawah keadaan semacam itu, gimana bisa roh terkontrak merespon pada dirinya?

(...A-Aku tau, aku hanya harus mengakuinya!)

Ditengah-tengah kobaran api—

"A-Aku—"

Claire menarik nafas secara paksa.

"Aku, mencintai, Kamitoooooooooooooo!"

Memerah sampai ke telinganya, dia berteriak keras-keras.

Memang, Claire Rouge mencintai Kazehaya Kamito.

Oleh karena itu, itulah kenapa dia ingin mendapatkan kekuatan yang memungkinkan dia berdiri disamping Kamito.

Inilah perasaan Claire yang tulus, bukan alasan, ataupun pelarian.

—Kau akhirnya bisa jujur, master.

"....!?"

Kobaran api ganas menyelimuti seluruh tubuh Scarlet—

Lalu yang muncul adalah—

Seorang gadis muda dengan rambut api panjang yang berkibaran.

Matanya yang menyala-nyala jauh lebih merah daripada ruby. Kobaran api menyelimuti badannya dan berderu tanpa henti.

"Scarlet...?"

Claire berbisik dalam keterkejutan.

"Scarlet Valkyrie—Ortlinde—telah turun ke dunia untuk menanggapi panggilan atas namaku yang sebenarnya."

Gadis berambut crimson itu mengulurkan tangannya pada api yang mendekat.

Kobaran api disekitar seluruh tubuhnya segera bergejolak dengan ganas.

"Untuk menanggapi perintah master, dengan ini aku akan mengeluarkan kekuatan sejatiku. Api singa merah—!"

Seketika setelah Ortlinde mengatakan hal itu....

Kobaran api berwarna crimson keluar dari seluruh tubuhnya—

Menelan Rubia dan Laevateinn.

Bagian 3[edit]

(...Tempat ini adalah?)

Setelah kesadarannya lenyap....

Kamito mendapati dirinya berada didalam kegelapan.

Itu adalah tenoay yang telah dia lihat berkali-kali dalam mimpinya.

Segel roh di tangan kirinya bersinar, sedikit menerangi kegelapan.

...Sekarang, Kamito bisa mengerti.

Ini bukanlah mimpi, sebaliknya, ini adalah dunia dimana Restia berada.

Melalui ikatan kontrak roh, dia memanggil kesadaran Kamito ke tempat ini—

Kamito mencari dalam kegelapan tersebut.

"Restia! Dimana kau, Restia!?"

Kegelapan yang lengket dan menjijikkan menelan tubuhnya.

"...! Restia!"

Sembari menyingkirkan kegelapan, Kamito bergerak maju.

Tiba-tiba, sosok dari seorang cewek dengan sayap berwarna hitam legam yang terlipat muncul dalam kegelapan.

"Restia!"

Didalam kegelapan yang seperti lumpur itu, Kamito berusaha untuk terus maju.

Seluruh tubuhnya diserang rasa sakit seolah terbakar. Akan tetapi, dia tidak berhenti. Bagaimana mungkin dia berhenti? Cewek itu berada di tempat gelap dan sepi ini, menunggu dia sepanjang waktu.

Akhirnya, dia sampai dan memegang tangan Restia erat-erat.

"Aku menunggumu, Kamito—"

Restia tersenyum.

"....Maafkan aku, aku sudah membuatmu menunggu cukup lama."

Dikelilingi oleh kegelapan yang tiada akhirnya, mereka berdua berciuman erat-erat.

Itu adalah kontrak roh mereka yang kedua—

Sayap hitam legam milik Restia bergerak menyelimuti Kamito.

Bagian 4[edit]

"...A-Ahhhhhhhhhhh....!"

Kegelapan yang mengerikan merangkak pada kulit pucat dari tubuh telanjang gadis itu.

Disiksa sebagai seorang roh, perasaan dicemari membuat sang Raja Naga meronta.

Mampu bertahan selama ribuan tahun meskipun terperangkap kutukan Elemental Lord Tanah, batinnya yang tangguh kini ternodai oleh kegelapan.

"Fufu, jeritanmu ternyata manis juga, Yang Mulia—"

"Sialan... kau... Ah... Guh..."

Jika itu adalah roh lain, mungkin sudah menjadi gila. Akan tetapi, seperti yang diduga dari roh kelas mistis, dia masih bisa mempertahankan kewarasannya.

"Seperti yang diduga dari roh naga terkuat. Namun, berapa lama kau bisa bertahan?"

Setelah Millennia tersenyum sadis—

Dia mengarahkan tatapannya pada Reatia yang sedang tertidur, terjerat diantara cabang dan tanaman merambat.

"Tak disangka aku bisa mengambil roh kegelapan ini juga, tuanku pasti senang—"

"...Berhenti... Dia adalah—"

"Fufu, nikmati saja pertunjukannya dari sana, Yang Mulia—"

Millennia Sanctus mengulurkan tangannya pada Restia.

Lalu....

Saat jarinya membuat kontak, petir hitam menyambar. Ekspresi Millennia berubah menjadi terkejut.

"....!?"

Petir kegelapan yang dikeluarkan menyerang Millennia berulang kali.

Millennia langsung bergerak untuk menghindar, mendarat di pintu masuk aula.

".....! Kau—"

"...Kau sangat nakal, Millennia Sanctus."

Dengan mudah membakar tanaman rambat itu menjadi debu, Restia perlahan-lahan berdiri.

Seluruh tubuhnya terselimuti petir hitam—

Lalu, dia mengenakan gaun kegelapan.

Sayap hitam legam miliknya yang indah direntangkan.

Membuka sedikit matanya yang berwarna senja, dia menatap Millennia dengan dingin.

"Restia Ashdoll, kau...."

Mata millennia melebar terkejut.

"Kau layak mati ratusan kali karena berani menyentuhku."

"....! Rasakan ini—"

Millennia mengeluarkan sihir roh suci.

Akan tetapi, panah bersinar dari cahaya suci itu ditepis oleh sayap hitam legam milik Restia.

"....! Kenapa!? Bukankah kau cecunguknya roh kegelapan—"

"Fufu, apa kau nggak paham...?"

Restia tersenyum tanpa kenal takut dan bertanya.

"....Lalu apa?"

Menggunakan Kegelapan Dunia Lain mengalir keluar dari matanya, Millenia menyerang Restia.

Akan tetapi—

"—Kegelapan itu sudah jadi milikku."

Zo, zozozo, zozozozozozozozozo—

Kegelapan Dunia Lain yang dihasilkan oleh Millennia diserap kedalam telapak tangan Restia.

Kegelapan yang bahkan mampu memakan Raja Naga dihapus didalam tangannya.

"....Jangan bilang... Jangan bilang itu benar-benar terjadi?"

Wajah Millennia menunjukkan keterkejutan yang tak terduga.

"Namun, mengenai hal ini, tuanku akan—"

Millennia menggigit bibirnya keras-keras.

"Baiklah, aku akan mundur sekarang. Gimanapun juga, ada hal yang perlu dipastikan—"

Seolah dilahap oleh kegelapan, dia lenyap.

"...Dia kabur."

Mengatakan itu, Restia perlahan-lahan berbalik unyul menghadap Raja Naga.

"....Ingatanmu sudah pulih, Restia Ashdoll—"

Sang Raja Naga mengerang kesakitan.

"Raja Naga Bahamut—Aku belum menemuimu sejak Perang Raja Iblis. Meskipun aku ingin berbincang-bincang, sangat disayangkan aku harus pergi, dia sedang memanggilku—"

"Ya, pergilah—"

Setelah membungkuk pada sang Raja Naga, Restia lenyap menjadi partikel cahaya.

....Yang tersisa hanyalah bulu-bulu hitam legam.

Bagian 5[edit]

"...Kuh... ugh..."

Setelah kegelapan itu menghilang, Kamito mendapatkan kembali kesadarannya.

...Itu bukanlah mimpi. Melalui segel di tangan kirinya, dia bisa merasakan eksistensinya secara pasti.

(....Dia kembali.)

Jari jemari Kamito menggenggam kedua Pedang Raja Iblis dengan akurat.

(...Sekarang bukan waktunya untuk berbaring santai disini!)

Menusukkan kedua pedang itu ke tanah, Kamito perlahan-lahan berdiri. Meskipun seluruh tubuhnya sakit. Itu tidaklah cukup untuk membuat dia kehilangan kesadaran. Racun hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya perlahan-lahan memulihkan tubuh Kamito—

"Oh? Itu tidak cukup dalam huh—"

Greyworth menghentikan langkahnya dan sedikit melebarkan matanya.

"Akan tetapi, apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh itu?"

"....."

Dia benar. Meskipun dengan menggunakan kekuatan Ren Ashdoll, dia nyaris tak bisa menahan tubuhnya, tak peduli bagaimana kau melihatnya, dia tidak dalam keadaan untuk bisa mengayunkan pedang.

Namun, meski demikian— Kamito masih berdiri.

Pada tangannya kirinya yang sudah lemas, segel roh ditangannya bersinar dengan cahaya yang menyilaukan.

...Dia bisa merasa dengan sangat jelas. Restia ada disana—

"Segel roh kedua...?"

Greyworth mengernyit terkejut.

Kamito perlahan-lahan mengangkat tangan kirinya yang bersinar keatas kepalanya.

Lalu dia memanggil namanya—nama dari roh terkontraknya yang dulu.

"Datanglah, ratu kegelapan yang tak kenal ampun, engkau dengan nama—Restia Ashdoll sang roh kegelapan!"

Lalu, segel roh ditangan kirinya memancarkan petir hitam.

Petir tersebut merobek atmosfer, melesat ke langit dan menghilang.

Sesaat kemudian—

Sayap hitam legam terbuka didepan mata Kamito.

Gaun kegelapan berkibar dengan megah tertiup angin.

Mendarat sembari berjinjit, dia turun perlahan-lahan.

STnBD V15 189.jpg

"Sudah lama nggak berpenampilan seperti ini, Kamito—"

Berbalik, dia tersenyum lembut.

Senyum tak kenal takut yang misterius itu tak diragukan lagi adalah dia.

"Restia...."

Kamito memanggil namanya dengan berat.

Untuk menyelamatkan Kamito di altar Elemental Lord ketika Kegelapan Dunia Lain hendak melahap Kamito, dia telah mengorbankan dirinya sendiri dan lenyap. Setelah kekuatannya diwariskan pada Est—

Dan sekarang, dia akhirnya kembali ke sisi Kamito.

"Ingatanmu sudah kembali...."

"Ya, berkat dia. Seharusnya membutuhkan waktu yang lebih lama, jadi aku harus berterimakasih pada Raja Naga dengan tepat—"

Restia mengangguk dan menghadap Greyworth.

"Meskipun aku punya banyak hak untuk dikatakan, biar aku simpan dulu untuk sekarang ini—"

"Ah, iya...."

Kamito dan Restia menghadapi Greyworth dan pedang iblis miliknya.

"Kau jadi cukup imut, Penyihir Senja. Sungguh peluang yang bagus, kau selalu membuatku jengkel sejak lama—"

Restia tersenyum memprovokasi dan melepaskan petir dari telapak tangannya.

Sebagai tanggapan, Greyworth menepisnya menggunakan pedang iblisnya—

"Sungguh kebetulan sekali. Meskipun ini adalah pertama kalinya aku bertemu denganmu, karena suatu alasan, kau membuatku jengkel juga."

"Fufu, entah itu aku sendiri atau Kamito, kami berbeda dari kami tiga tahun yang lalu."

"H-Hei, Restia....!?"

Kamito merasa gelisah karena kilatan-kilatan yang terjadi diantara mereka berdua.

"Ya, dimengerti—"

Restia berdiri berjinjit.

"Aku adalah pedangmu, keinginanmu adalah perintah bagiku—"

Sesaat setelahnya, tubuh Restia berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang—

Sebilah pedang iblis dengan bilah kegelapan segera muncul didepan Kamito.

"—Jangan meniru aku, roh kegelapan."

Suara Est bergema didalam pikiran Kamito.

"Ya ampun, kamu disini juga—"

Retia terkikih sebagai tanggapannya.

"Mari kita bersama-sama, Onee-chan."

"Jangan bicara seakrab itu, roh kegelapan—"

...Kamito hanya bisa membayangkan mereka bertengkar.

"Aku mau mengambil kembali kekuatan yabg aku titipkan padamu, ya?"

Tiba-tiba, dari pedang kembar itu, pedang yang berwarna hitam menghilang dari tangan kiri Kamito—

Vorpal Sword dihadapannya mulai memancarkan aura kegelapan yang mengerikan.

Kekuatan kegelapan yang diwarisi oleh Est telah kembali pada Restia.

Akan tetapi, sebuah pertanyaan muncul dibenak Kamito. Barusan, Restia jelas-jelas telah melepaskan sihir roh kegelapan pada Greyworth. Darimana kekuatan itu berasal—?

Kamito mencabut Vorpal Sword dari tanah.

Pegangannya terasa sangat akrab dan nyaman.

"Ayo maju, Restia dan Est—"

"Baik."

"Ya, Kamito—"

Kamito menuangkan kekuatan suci dari seluruh tubuhnya pada kedua pedang yang dia pegang di kedua tangannya.

Aliran kekuatan Ren Ashdoll yang tiada akhirnya perlahan-lahan diserap kedalam Vorpal Sword—

(...Apa yang terjadi?)

"—Nanti aja aku jelaskan, oke?"

Pedang iblis kegelapan mulai memancarkan petir hitam legam.

Itu lebih kuat daripada yang dimiliki Restia yang sebelumnya.

Bukankah kekuatan ini sudah cukup untuk menyaingi kekuatan Est—?

"Oh? Jadi kau menyembunyikan kekuatan semacam itu?"

Greyworth menyiapkan pedang iblis Vlad Dracul dengan dua tangan.

Suatu kuda-kuda dari Absolute Blade Arts. Dia berniat untuk menyelesaikan pertarungan ini sekarang bukannya menikmati pertarungan serangan dan pertahanan.

"Greyworth, aku akan mengembalikan dirimu menjadi normal lagi, aku bersumpah aku pasti akan melakukannya—"

Kamito menyilangkan kedua pedangnya sembari memasuki kuda-kuda.

Bagi Kamito, ini adalah serangan akhir yang sebenarnya.

Hanya dalam hitungan milidetik. Setelah berlalunya sesaat yang singkat yang terasa seperti selamanya—

Mereka berdua bergerak diwaktu yang bersamaan.

"Absolute Blade Arts, Bentuk Pertama—Purple Lightning!"

Greyworth adalah yang mengeluarkan tebasan pedang berwarna merah.

Ini adalah teknik yang paling dasar dari Absolute Blade Arts, teknik pedang tercepat.

Ketika dua orang beradu teknik yang sama, ini adalah satu-satunya teknik yang terbaik untuk menunjukkan kesenjangan tingkat kemampuan diantara kedua belah pihak. Disaat yang bersamaan, itu adalah satu-satunya teknik dalam Absolute Blade Arts yang mana tidak menyediakan serangan balik yang efektif bagi lawan.

Menuangkan semua kekuatan suci yang tersisa miliknya kedalam kakinya, Kamito melesat dalam satu hentakan.

Vorpal Sword yang ada ditangan kirinya melepaskan petir yang sangat kuat.

Seolah bersaing, Demon Slayer di tangan kanannya bersinar dengan cahaya yang menyilaukan disaat yang bersamaan.

Akhirnya, saat itu tiba.

Pedang-pedang dari Penyihir Senja dan Ren Ashbell, sang Penari Pedang Terkuat, saling melintas satu sama lain, dalam waktu yang singkat itu...

Kamito melepaskan kedua pedangnya yang disilangkan.

"Absolute Blade Arts, Bentuk Pedang Ganda—Purple Lightning Revised!"

Tebasan dari kedua pedang itu berhantaman dengan pedang iblis milik Greyworth—

Dan menghancurkan pedang merah itu.


Kata Penutup[edit]

—Kau terlalu banyak berpikir seperti naga!

Shimizu disini. Untuk para pembaca sekalian yang memegang buku ini, aku benar-benar berterimakasih.

Ijinkan aku mempersembahkan seri ke-15 dari 'Seirei Tsukai no Blade Dance, "Raja Naga Dracunia."

Menyusup ke ibukota kekaisaran untuk menyelamatkan Fianna, Kamito dihadang oleh Greyworth yang mendapatkan kembali penampilannya sebagai seorang gadis muda. Kamito dibuat tak berdaya dalam menghadapi kekuatannya yang luar biasa, disaat pula Leonora sang ksatria naga Dracunia muncul—

Begitulah ceritanya bagaimana Leonora memasuki panggung lagi karena tidak adanya kesempatan sejak Blade Dance. Leonora benar-benar seperti seekor naga, dia seperti karnivora dalam banyak hal. Dan juga, di jilid ini, Kadipaten Naga Dracunia yang diselimuti misteri akhirnya mengangkat tabirnya. Kebenaran tentang sang Raja Naga yang memerintah Kadipaten Naga Dracunia ternyata—!?

Adapun sebagai pengakuan, lagi, aku benar-benar berterimakasih pada Nimura Yuuji-sensei untuk ilustrasinya yang mengagumkan. Gambar Leonora "yang tak mengenakan apapun" di sampul benar-benar mengagumkan. (Versi kaki telanjang yang muncul dimuka adalah karena desakanku sebagai penulis!) Juga ada ilustrasi dari karakter baru, sang Raja Naga, yang mana benar-benar melampaui imajinasiku.

Dan juga ada serialisasi manga Hyouju Issei-sensei. Setiap kali, itu digambar dengan standart yang tinggi, aku benar-benar sangat berterimakasih. Volume 5 terbaru akan di rilis pada bulan Februari, jadi aku berharap bahwa kalian semua akan memeriksanya jika memiliki kesempatan. Pertempuran diantara Kamito dan Jio Inzagi sejujurnya sangatlah berdarah panas.

Untuk editorku, S-sama, maaf karena selalu menyebabkan masalah untukmu perihal jadwal. Terimakasih banyak karena mendukungku setiap saat.

Sekarang, tentang peristiwa terbaru. Pada tahap ini, aku menulis skenario kolaboratif untuk game smartphone SEGA, Chain Chronicle. Itu dihadirkan dengan karakter original sebagai bonus, jadi para gamer yang tertarik, silahkan mencobanya.

Adapun untuk polling popularitas karakter, menurut survey Volume 14, Restia dan Est menduduki peringkat satu dan dua, bedanya sangat tipis. Fianna ditempat ketiga. Dari surat dan komentar di kolom survey, aku bisa mengatakan bahwa semuanya membaca ceritanya dengan sangat serius. Aku benar-benar tak bisa mengungkapkan rasa terimakasihku yang tidak ada habisnya pada semua orang yang sudah mendukungku sejauh ini.

—Baiklah, selanjutnya adalah episode Theocracy dimana akan ada plot yang menggantung.

Mari ketemu lagi pada Volume 16, "Raja Iblis Mengembalikan Kejayaan (Sementara)"!

Penutup dari Illustrator[edit]

STnBD V15 195-196.jpg

Kali ini, Scarlet istirahat.


Maaf karena telah mengirimkan pada menit terakhir sebelum batas waktu....


Nimura


Penutup dari Translator (Indonesia)[edit]

Aku mau bertapa sebentar...


Jadi....


Jangan sungkan-sungkan untuk kabari aku kalau Volume 16 versi English udah keluar

Narako, C.I.U



Kembali Ke Halaman Utama