Skeleton Knight Going Out to the Parallel Universe (Indonesia): Jilid 1 Bab 10

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

「Mundur dengan Strategis」[edit]


Keesokan harinya dimulai dari penginapan biasanya, dan aku terbangun dengan penampilanku pada biasanya.


Kukeluarkan roti yang kubeli kemarin sembari duduk di kasur. Aku meneguk minum di qirbahku setelah menggigit rotinya. Rotinya sungguh berbeda dengan yang biasa kumakan di dunia paralel ini. Rasanya sedikit asin, dan lebih keras serta lebih berat. Rasanya seperti membuat mampet perut......


Walau di kota ada toko roti, sepertinya desa itu hanya membuat roti untuk festival-festival dan acara-acara besar lainnya. Aku mengetahuinya dari Marca kemarin, kalau para warga biasanya makan bubur beras.


Tak kuduga mereka juga punya bubur Jepang di dunia ini. Mustahil untuk memakannya di luar , tapi aku bisa membuatnya sendiri di tempat yang sepi. Tubuh ini sendiri juga punya anugerah tersendiri. Aku tak perlu takut kekenyangan, tapi sulit juga mencari tempat untuk makan.


Setelah selesai memakan roti yang tak cukup enak, kubawa barang bawaanku turun ke lantai pertama. Aku melewati counter sepi itu lagi dan pergi meninggalkan gedung.


Aku berjalan menuju guild petualang lewat jalan utama. Kali ini ada beberapa petualang yang berdiri di depan papan permintaan. Ini adalah pertama kalinya aku melihat orang sebanyak ini di dalam guild. Saat aku mendekati papan permintaannya, bahkan tanpa berbicara, petualang lainnya menatapku dengan tercengang.


Lagi pula yang terpajang di papan permintaan hanyalah permintaan-permintaan pribadi yang memberikan sedikit uang. Tak ada plakat yang menawarkan hadiah lebih dari 5 koin perak. Karena tak ada pekerjaan yang menarik bagiku, aku memutuskan untuk pergi berburu di luar kota dan menjualnya ke serikat pedagang.


Tujuannya adalah sebelah selatan Rubierute, aku akan masuk ke dalam hutan di sisi yang berlawanan dengan tepi sungai. Aku sangat antusias karena sepertinya aku akan menjelajahi peta baru dalam game.


Akhirnya aku terus menjelajah hutan di sisi yang berlawanan dengan sungai sepanjang hari. Awalnya aku menjumpai sekelompok kecil orc, namun setelah kukalahkan salah satunya, yang lain melarikan diri dengan kecepatan penuh. Sepertinya para orc itu adalah monster yang pengecut.


Kubopong orc yang kubunuh di pundakku.


Hutan ini memiliki banyak jenis monster dan hewan di dalamnya. Kebanyakan aku tak mengetahuinya. Tapi tak seperti dalam game, mereka tak ragu untuk mencoba membunuhku. Tak ada barang jatuhan dan poin experience-ku juga tak bertambah saat membunuh sesosok monster.


Sedangkan daerah hunian manusia pada umumnya kecil. Mungkin perluasan wilayah takkan terjadi tanpa adanya pasukan pembunuh monster.


Jauh di dalam hutan, aku bertemu dengan minotaur di dalam sebuah gua. Minotaur itu tingginya 3 meter, dengan kepala dan tubuh bagian bawah dari sapi, dan tubuh bagian atasnya dari manusia yang berotot. Kalau di dalam game, monster ini akan dilengkapi dengan sebuah kampak besi, semenjak mereka telah mengetahui penggunaan logam dari dahulu kala untuk menghancurkan manusia. Tapi sama seperti para orc, monster ini masih membawa sebuah pentungan.


Omong-omong, aku juga masih belum melihat manusia menggunakan sihir. Sihir seharusnya sudah menjadi salah satu senjata untuk mendukung wilayah manusia. Mungkin kekuatan alam dan struktur kekuatan dari dunia ini membuat sihir tak bisa digunakan oleh orang-orang biasa.


Sembari memikirkan hal semacam itu, aku melewati gerbang barat, dan tiba di gudang serikat pedagang. Seperti waktu itu, seorang pemuda kurus terduduk di meja pemeriksaan. Kuturunkan orc yang kubopong dan menanyakan harganya.


“Satu orcnya dihargai 7 sek 5 sok.”


Sama seperti harga burba yang panjangnya satu meter? Tubuh monster ini murah. Apakah itu karena para orc lebih mudah diburu daripada burba?


Yah karena tujuanku untuk mendapat pendapatan tetap, aku tak peduli. Saat aku menyetujui penawarannya, pemuda itu meninggalkan tempat dan menyiapkan uangnya.


Sembari aku menunggu uangku, aku mendengar pembicaraan dua pedagang. sudah menjadi hal yang lumrah untuk tak mengabaikan informasi yang berguna.


“Belakangan, ada rumor kalau sesosok monster kuat muncul di dekat perbatasan. Di dekat perbatasan timur desa dan Reburan, sebuah karavan yang lewat mengalami kerusakan parah.”

“Hutannya terlalu dekat dengan Pegunungan Wind Dragon, jadi bukankah sudah biasa kalau di sana ada lebih banyak monster?”

“Bego, biasanya monster tak mau repot-repot turun ke jalan.”

“Hmm, mungkin ada naga ngamuk di pegunungan?”


Anggota staffnya muncul dengan membawa uang saat aku tengah memikirkan tentang naga yang para pedagang itu sebutkan. Setelah memastikan jumlahnya, kutaruh uang itu ke kantongku.


Berjalan santai menyusuri kota, aku kembali lagi ke penginapan yang biasa kukunjungi. Suatu saat nanti aku harus membangun markasku sendiri dan menentukan ke mana aku akan pergi dari sana. sebuah markas milikku yang membuatku bisa melepaskan armorku dan bersantai tanpa khawatir lagi akan terlihat seseorang.


Dengan 【Transfer Gate】, bahkan walau markasku ada di dalam laut, aku bisa kembali ke kota dengan cepat.


Pertama, aku harus meneliti letak geografisnya sembari mengumpulkan uangku.



Sudut pandang orang ketiga


Kota, alias Rubierute, memiliki letak penting yang strategis, dilihat dari jalan utama yang melewatinya dari Diento maupun ibukota kerajaan, yang berada di tengah Kerajaan Rhoden.


Dari batas utara ibukota terdapat dua belokan utama di sekitar Pegunungan Calcutta. Satu mengarah ke timur, sedang satunya mengarah ke barat.


Meski berjarak dekat dengan ibukota, jalur sebelah barat mengarah ke Gurun Ribot. Pada gurun tersebut juga berdiri beberapa kota kecil yang kekurangan air. Medan area yang gersang juga membuat transportasi menjadi sulit.


Sebaliknya, jalur sebelah timur mengarah ke Sungai Rydell, yang membawa air ke ibukota, dan tersusun atas dataran rendah. Tak hanya itu, bagian timur dari Pegunungan Calcutta juga tersebar banyak kota yang cukup besar. Meski kau harus menyeberangi Sungai Rydell, yang mengalir dari Pegunungan Wind Dragon dua kali, namun jalan selanjutnya relatif mudah untuk dilewati.


Diento adalah kota di atas Sungai Rydell, dan berdiri tepat di depan jembatan utama. Jembatan batu sepanjang 300 meter terbentang mulai dari gerbang selatan kota, hingga menyeberangi sungai sepenuhnya. Fakta ini juga berarti bahwa kota ini juga bisa dilihat sebagai lokasi strategis. Oleh sebab itu, kota ini dibangun dengan dua lapis tembok yang membuat kota ini juga berfungsi sebagai benteng jika diperlukan.


Kota ini diatur oleh Marquis Triton. Kastil di tengah kota bahkan bisa disetarakan dengan sebuah benteng. Tembok kastilnya dua kali lebih besar dari yang biasa, dan paritnya juga dua kali lebih lebar.


Di dalam kantor benteng, Marquis Triton tengah membuka dokumen-dokumen di mejanya.


Marquis Diento itu adalah seorang pria paruh baya bertubuh besar yang memiliki rambut abu-abu yang mencapai kakinya, dan memiliki kumis berwarna putih. Dia mengenakan baju yang terlalu mencolok, yang terlihat terlalu ketat.


Mendengar sebuah ketukan di pintu kantornya, ia memalingkan mata dari dokumennya dan memberikan izin masuk untuk orang itu.


“Permisi.”


Salah satu orang yang masuk adalah Cyrus Dorman. Cyrus yang grogi berwajah pucat, rambutnya ia sisir ke belakang untuk menutupi bagian botaknya.


Cyrus mendekat ke meja kerja dan membungkuk dalam ke tuannya. Kemudian, ia menyisir rambutnya ke belakang lagi saat rambutnya jatuh.


“Masalah di Rubierute...... sepertinya telah gagal.”


Mendengar perkataan Cyrus, Triton mengangkat alisnya. Ia mengangkat kepalanya dari pekerjaannya, bersandar ke kursinya, dan menghela napas panjang.


“Saat aku menanyakan kemampuan mereka, kudengar mereka orang yang handal, kan?”

“Maafkan saya. Mereka memang orang yang handal, semua pengawal telah dikalahkan, tapi celakanya, ada seorang petualang di dekat sana, dan mengalahkan para bandit itu......”

“Lagi pula, bandit ya bandit...... Hanya punya janji manis! Setelah mereka membiarkan para gadis tetap hidup, mereka pun lengah dan kalah.”


Dengan ekspresi kecutnya, tuan Triton mengatakan kritik pedasnya. Tampang setuju terlihat di wajah pucat Cyrus.


“Lagian, mengapa pangeran Douglass ingin membuat perselisihan di Rubierute?”

“Yah, agar pangeran Douglass bisa mendapat dukungan dari wilayah timur, dia memberikan tuntutan ini. Jika wilayah perbatasan utara bergabung dengan faksi pangeran, maka wilayah timur bisa ia kuasai sepenuhnya, dan dia bisa mendapat Reburan di wilayah barat dengan mudah. Hal ini akan menguntungkan kita karena perdagangan di wilayah timur akan berpusat di sini.”

“Rubierute mendapat dukungan dari wilayah barat, jadi kemungkinannya akan bergabung dengan sekte tuan putri. Karena Rubierute sama sekali belum bergabung dengan faksi manapun, hal ini tak boleh diketahui oleh publik, tapi......”

“Kalau hal ini masih belum diketahui, semuanya masih aman. Kita harus bergegas dan mengamankan produknya. Kau harus mengirimkannya secepatnya. Kita harus mengirimkannya ke bangsawan yang benar sebelum seseorang menyadari rencana ini! Kau harus memastikan bahwa putri Juliana tak mengetahui hal ini.”


Tubuh besar Triton menggeliat saat ia membuka laci mejanya, mengambil sebuah cerutu, dan menyalakannya. Kepulan asap perlahan ia hirup, sembari Cyrus yang terbatuk terus melaporkan status produknya.


“Ada 4 produk yang saat ini kita simpan di ‘gudang bawah tanah’. Aku akan memastikan tambahan yang baru sekarang......”

“Memastikan produknya juga semakin sulit saja. Bahkan para pekerja berlagak pura-pura waspada? ......Kita harus mempercepatnya sebisa mungkin. Dari tadi aku tak melihat Audrain, sebenarnya apa yang orang bodoh itu sedang lakukan?”

“Saat aku memeriksa Audrain-sama di ruangannya, dia bilang pedang yang digunakan sebagai produk perbekalan tidak memuaskan untuk tugas ini.”

“Dasar sinting! Ini bukan main-main! Pedang itu sudah cukup untuk masuk ke hutan para elf, yang lainnya hanya akan menahan mereka!! Aku sudah muak, keluar.”


Mendengar perkataan tersebut, Cyrus menunduk ramah sebelum perlahan meninggalkan ruangan. Triton mengisap cerutunya sekali sebelum mengusapnya ke asbak dengan kasar, dia lalu bersungut melihat dokumen yang terbuka di mejanya.



Sudut pandang Arc


Beberapa hari kemudian, meskipun aku telah menyelidiki wilayah di sekitar Rubierute untuk menemukan sebuah lokasi yang ideal untuk markas, tak ada yang berubah dalam kehidupan harianku.


Penampilan armorku yang mencolok awalnya telah menarik banyak perhatian, namun keadaan sekarang sepertinya sudah lebih tenang. Tapi, satu-satunya tempat di mana aku bisa makan hanyalah di dalam ruang penginapanku atau jauh di luar kota, hanya karena aku tak tahu kapan orang akan melihatku.


Akan tetapi, hari ini berbeda karena apa yang terjadi pagi tadi. Hal ini terjadi setelah aku meninggalkan penginapan, melihat permintaan di gedung guild, dan pergi ke gerbang barat untuk penyelidikan dan mendapat pendapatan harianku.

Entah mengapa, ada atmosfer yang tak biasa di kota. Saat aku berjalan ke gerbang barat, jumlah orang yang datang lebih banyak dari biasanya. Kuputuskan untuk berjalan di belakang sepasang pria yang menuju ke gerbang jadi aku bisa mendengar percakapan mereka.


“Kudengar sebuah kelompok yang membawa Giant Basilisk hanya beranggotakan lima orang! Mereka akan membawanya ke alun-alun sekarang!”

“Benarkah!? Makhluk itu sudah memakan banyak korban, kelompok itu pasti sangat kuat...... Giant Basilisk tentu buruan yang besar. Apakah mereka sudah terkenal di negeri tetangga?”

“Dewasa ini, banyak cerita tentang mereka. Apakah ini pertanda buruk atau apa?”


Kelihatannya ada sebuah grup yang bisa membunuh seekor Giant Basilisk. Di dunia ini kelihatannya melakukan hal seperti itu adalah pencapaian yang hebat. Tapi, kenyataannya monster itu jarang terlihat. Walau aku melihat dua basilisk di Hutan Wind Dragon.


Alun-alun yang kecil sudah dipenuhi oleh lautan manusia, dan di tengah alun-alun sebuah gerobak di kelilingi oleh lima orang, salah satunya menceritakan pertarungan heroik mereka sembari membuat gestur tangan.


Ini seperti dalam sebuah pertunjukkan teater, di mana masyarakat tenggelam dalam cerita yang mereka dengarkan.


Seekor Giant Basilisk dipotong-potong menjadi potongan kecil dan mengisi gerobaknya. Sebenarnya mustahil untuk membawa tubuh raksasanya dengan gerobak seutuhnya. Kepalanya dipajang di atas tumpukan agar semua orang bisa melihatnya.


Sembari menonton, aku bertanya ke seorang pria di dekatku.


“Apakah membunuh seekor Giant Basilisk benar-benar hebat?”


Pria yang kutanyai langsung berbalik dengan terkejut, dan dengan ekspresi heran, ia menjawab pertanyaanku.


“Kishi-sama, saat seekor Giant Basilisk muncul, membutuhkan sebuah kelompok petualang terkenal atau seluruh tentara penguasa feodal untuk mengalahkannya. Sederhananya, membutuhkan banyak uang bahkan untuk mengalahkan salah satunya. Kelihatannya dagingnya yang beracun bisa dikeringkan dan dibumbui untuk membuat panah beracun untuk berburu monster.”


Sungguh, berapa banyak yang akan kau dapat kalau kau bisa membawa salah satunya...... Tapi tentu saja akan menjadi sebuah kehebohan kalau aku bisa membunuh makhluk itu sendirian dan membawanya pulang.


Aku tengah memikirkan hal tersebut, lalu sebuah kelompok yang terpisah dari kerumunan menarik perhatianku.


Grup tentara berarmor logam itu dipimpin menuju ke tengah alun-alun oleh seorang pegawai sipil yang berbaju elok. Orang-orang menyadarinya, dan keributan di alun-alun perlahan mereda, hingga hanya beberapa bisikkan yang bisa terdengar.


Sebuah jalan terbuka tepat menuju ke tengah alun-alun, lalu grup tentara itu dan para petualang saling berhadapan.


Pria dengan baju elok itu kurus namun tinggi, kelihatannya dia berumur pertengahan 30an, dan berdiri di tengah para tentara. Setelah sedikit menyisir rambutnya, pria itu berjalan ke depan.


“Aku Buckle De Robert viscount sekaligus pemimpin feodal dari Rubierute, dan mereka adalah Bosco Futran dan Zetorasu Futran. Siapa pemimpin dari kalian?”

“Oh, i-iya! Kami adalah tim petualang 『Iron Fang』 pemimpinnya adalah aku, Masco!!”


Pria yang tadi menceritakan kisah heroiknya tergagap menjawab pertanyaan itu dengan suara serak. Anggota yang lain berdiri ... .


“Apa kalian adalah orang yang membunuh Giant Basilisk ini?”

“......, I-Iya!!”


Pertanyaan Zetorasu terlihat meragukan pria itu, Masco terdiam sejenak sebelum melontarkan jawaban singkat itu.


“Kudengar makhluk ini terdapat di dataran rendah Hutan Wind Dragon. Benar begitu?”

“Iya!! Makhluk ini terdapat di hutan dekat Desa Rata!”

Huh? Bukankah aku meninggalkan basilisk yang kukalahkan di hutan dekat Desa Rata.


Apa mungkin, makhluk yang kutinggalkan itu sama dengan yang di gerobak itu? Lagi pula tak ada saksi mata, dan bukan berarti aku ingin mengakui itu sebagai milikku. Faktanya, di sana ada dua Giant Basilisk. Bisa saja yang di sana adalah yang melarikan diri dariku.


“Beberapa saat yang lalu, kulihat dua makhluk itu di Hutan Wind Dragon......”

“Apa!? Benarkah itu, Kishi-sama?!”


Pria bertubuh besar di sampingku melontarkan suara yang keras saat ia mendengarku menggerutu. Suara keras itu langsung saja menarik perhatian semua orang ke arahku, dan orang-orang di sekitarku mulai memberiku jalan.


“Dan anda adalah?”

“Tidak, bukan aku, Kishi-sama yang menggerutu tak terduga mengejutkanku......, sungguh!”


Mendengar perkataan pria itu, Zetorasu menatap ke arahku. Di sekujur tubuhku, aku mulai merasakan tatapan bermacam-macam.


“Tidak, aku hanya berkata bahwa aku ingat kalau aku melihat di sana ada dua Giant Basilisk di tempat yang sama beberapa hari yang lalu.”


Aku tak bisa bilang kalau makhluk itu sama dengan makhluk yang kubunuh atau salah satu yang melarikan diri dariku, tapi......


Informasi yang kuucapkan membuat alun-alun menjadi gaduh dengan cepat. Masyarakat kini telah yakin dengan kebenaran cerita tersebut dan juga bahaya yang mengancam.


“Huh?! Bodoh, di sana ada dua makhluk ini! Apa hanya kebetulan!? Dan mengapa kau tak melaporkannya pada seseorang!? Mengapa kau terus menyimpannya!?”


Zetorasu mengkritikku dengan nada kasar, dan menatapku dengan mata marah.


Walau mendengar perkataan semacam itu, aku tak terlalu paham dengan keadaan mereka, jadi tak bisa menilai situasi dengan benar. Aku tak mengkhawatirkannya karena saat itu basilisk satunya melarikan diri ke dalam hutan, jadi tak perlu mengkhawatirkannya.


“Ini pertama kalinya aku melihat Giant Basilisk. Lagi pula dilihat dari jarak mereka, aku tak tahu apakah mereka bisa jadi ancaman.”


Di dalam kenyataan, tentu ini adalah kali pertamanya aku melihatnya. Aku menemui beberapa basilisk di dalam game, dan ketika aku mulai memburu mereka, aku jadi lupa berapa banyak yang telah kutemui.


Mendengar jawabanku, Zetorasu menutup kedua matanya, dan ia memasang wajah penuh pemikiran. Apa kau memikirkan apa yang harus dilakukan untuk ke depannya?


Apakah dia berpikir dua Giant Basilisk itu akan memakan anak-anak? Di dalam game, ditentukan bahwa basilisk berevolusi menjadi Giant Basilisk. Makhluk ini berada pada level sekitar 40-50 saat mendapat kemampuan liur beracun, dan tanpa itu, basilisk hanyalah makhluk lemah tak berdaya.


“Kita harus kembali ke kediaman secepatnya! 『Iron Fang』, saya minta anda datang bersama kami. Aku ingin beberapa pengawal mengawal 『Iron Fang』 untuk peninjauan! Dengan hormat, tolong ceritakan kepada kami bagaimana anda dapat membunuh Giant Basilisk dengan berani!!”


Masyarakat kembali tenang setelah mendengar pernyataan tersebut. Mungkin itu adalah sebuah aksi untuk meredam kecemasan rakyat.


Korban dari seluruh kejadian ini tentunya adalah para anggota dari 『Iron Fang』. Mereka terlihat tak bisa mengatakan apa yang ingin mereka katakan. Sebagai petualang, mungkin akan memakan waktu lama untuk menjadi terkenal, jadi kesempatan ini bagaikan anugerah dari Tuhan.


Akan tetapi, tiap anggota 『Iron Fang』 memasang seringai di wajah mereka. Sepertinya kesempatan ini adalah sebuah anugerah yang mereka harapkan atau mungkin bukan. Aku tak diundang untuk mengikuti acara tersebut. Lagi pula, lebih baik aku tak berurusan dengan sesuatu yang merepotkan semacam ini.


Dengan Zetorasu memimpin, para anggota 『Iron Fang』 dituntun menuju kediaman pemimpin feodal itu.


Karena aku tak ingin berurusan dengan seseorang yang memiliki kekuasaan, akan lebih baik kalau aku bergerak ke markasku sendiri sebelum masalah lain menimpaku. Berpikir demikian, aku berbalik dari kejadian ini dan berjalan menuju ke gerbang barat.


Berdasarkan dari survei terdahulu, ada sebuah kota kecil di sebelah timur dari sini, dan ada juga kota tetangga terbesar bernama Diento. Untuk sampai ke sana butuh sekitar 3-4 hari dengan kereta kuda. Karena barang bawaanku sudah kupanggul, mari pergi ke sana.


Namun pertama-tama, mari tengok sebentar keadaan di Desa Rata~.



Mundur ke Bab 9 Kembali ke Halaman Utama Teruskan ke Bab 11