Skeleton Knight Going Out to the Parallel Universe (Indonesia): Jilid 1 Bab 5

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

「Kota Pertama, Rubierute」 - Bagian 2[edit]


Setelah berpisah dengan Arc-sama di dekat gerbang timur, kukendarai kereta kudanya ke kediaman pemimpin feodal di pusat kota. Orang-orang yang datang dan pergi silih berganti saat malam mulai tiba.


Akhirnya, gerbang kediaman mulai terlihat. Dikelilingi oleh tembok batu setinggi 4 meter, gerbangnya terbuat dari kayu dan diperkuat dengan besi. Di sana juga berdiri tiga penjaga yang bersiaga.


Setelah melihat lambang keluarga yang ada di kereta kuda, seorang penjaga memberikan perintah untuk membuka gerbangnya. Ketika gerbangnya terbuka, kereta kuda memasuki taman di depan kediaman. Aku bisa menyadari betapa gugupnya para penjaga. Lagi pula, kereta kuda pemimpin feodal ini kembali tanpa ada satu pun pengawal. Keenam kuda yang diikatkan ke kereta, menandakan bahwa sebuah tragedi baru saja terjadi. Berita kepulangan kami mestinya sudah sampai kemari, karena kepala pelayan keluarga Robert telah menanti kami di depan rumah.


“Rita Farren. Apa yang telah terjadi!?”


Si kepala pelayan memiliki rambut putih tipis dan jenggot yang tumbuh dengan baik. Tanpa sikap lembutnya yang biasa, dia meminta penjelasan kepadaku. Ketika aku akan menjawab pertanyaan tersebut, pintu kereta terbuka dengan keras. Lauren Ojou-sama melompat keluar dari kereta dan bergegas masuk ke rumah.


Tindakannya membuat wajah para pelayan terlihat terkejut.


“Kami telah disergap. Aku dan Ojou-samalah satu-satunya yang berhasil selamat. Maudlin-sama dan pengawal lainnya gugur dalam pertarungan. Aku harus melaporkannya kepada tuan secepatnya.”


Wajah kepala pelayan membiru, sedang pelayan lainnya kehilangan kata-kata. Akan tetapi, si kepala pelayan segera menenangkan diri dan mulai memberikan perintah.


“Rita, laporkan hal ini kepada tuan! Seharusnya saat ini dia sedang berada di ruang kerjanya! Kalian, periksalah keadaan Ojou-sama! Aku akan beri tahu Bosco-sama tentang hal ini!”


Ucap pelayan pria lewat paruh baya tersebut sembari dia beranjak dari tempat ini.


Saat aku memasuki rumah, kunaiki tangga tengah ke lantai dua, lalu menyusuri koridor yang terhubung. Di ujung koridor sebelah Barat, aku berdiri di depan sebuah ruangan yang dihiasi dengan pintu mewah. Kuketuk pintunya dengan lembut, yang lalu tuan memberiku izin untuk masuk.


Aku masuk dengan perlahan. Sebuah meja kerja berada di tengah ruangan yang dipenuhi oleh rak buku, dan lampu magis digunakan untuk membuat ruangannya tetap terang. Pemilik rumah ini duduk di belakang meja kerjanya, sembari dia tengah mengerjakan suatu catatan.


Rambut tipis berminyak yang disisir ke belakang, kumis, dan wajah bulat memberikan tuan kesan yang lembut. Akan tetapi, ketika seseorang bertatapan dengannya, mereka akan melihat sebuah tatapan tajam seorang bangsawan. Kutatap pena bulu yang bergerak dan cemas. Itu karena, melaporkan hasil perjalanan ini bukanlah tanggung jawab utamaku.


“Rita, kau baru saja kembali dari Diento dengan Lauren? Apa ada sesuatu yang terjadi?”


Aku menjawabnya dengan jawaban yang sama saat kepala pelayan bertanya padaku.


“Apa!? Lauren?! Apa Lauren baik-baik saja!!?”


Segera setelah ia mendengar laporanku, tuan rumah berdiri untuk memastikan keselamatan putrinya. Sudah pasti dia tak bisa tenang setelah mengetahui putrinya telah diserang.


Lalu seorang lelaki yang dalam usia primanya memasuki ruangan. Dia bertubuh ramping, dan tingginya sekitar 180 cm. Dia memiliki perawakan rambut abu-abu, jambang yang panjang, dan kerutan dalam di dahinya. Meskipun dia berumur 50an, dia masih terlihat seperti seorang lelaki berusia awal 40an. Dia adalah Bosco-sama, pengatur keamanan kediaman Robert.


“Saya telah mendengar ceritanya dari kepala pelayan. Kereta kudanya telah diserang oleh para bandit......, menyerang sebuah kereta kuda milik keluarga terpandang, sungguh cecunguk tak beradab. Tadi, saya pergi untuk memastikan kondisi Lauren-sama, namun dia menolak untuk meninggalkan ruangannya.”


Kerutan Bosco-sama yang sudah dalam semakin mengkerut, saat ia memegang dahinya dan berkata,


“Mari kita dengarkan penjelasan lebih lanjut mengenai penyergapan ini.”


Setelah mendengar Bosco-sama telah memastikan Ojou-sama baik-baik saja, aku sedikit tenang dan menceritakan kejadiannya dengan sedetil-detilnya.


“Jadi, setelah serangan yang pertama kalian mundur dengan kecepatan penuh. Sembilan pengawal menahan 20 bandit, dan hanya Maudlin-sama serta 5 pengawal lain yang bersamamu, dan setelah kuda-kudanya berhenti untuk beristirahat, kalian diserang oleh komplotan bandit kedua.”

“Apa!? Jadi ada 2 penyergapan!? Lalu Maudlin dan pengawal lainnya tewas di tangan komplotan bandit yang kedua? Sungguh cerita yang mengerikan.”


Sembari berdiri dengan menyilangkan lengannya, Bosco-sama menanyakanku setiap detail dari serangan tersebut. Kuceritakan semua yang bisa kuingat dari kejadian itu.


“Jadi salah satu pengawal bekerja sama dengan mereka......! Bosco, periksalah latar belakang orang bernama Casuda itu, secepatnya. Jika dia mempunyai kenalan atau keluarga, bawa mereka kemari!”

“Siap, laksanakan.”


Setelah Basco-sama menjawab, dia meninggalkan ruangan. Buckle-sama kembali ke meja kerjanya dan terduduk dalam di kursinya.


“Sebuah kelompok bandit yang mempunyai enam kuda......, aku tak pernah mendengar mereka.”


Tak bisa diduga, karena seseorang harus mempertimbangkan biaya perawatan dan perbaikannya. Ditambah lagi dengan biaya makan dan minum, juga keperluan untuk pelana dan sepatu kudanya. Pasti sulit untuk sebuah kelompok kecil bandit untuk menjaga keenam kuda tersebut. Hanya ada satu kelompok berskala besar yang dirumorkan bisa mengurusinya.


“Sepertinya tujuan para bandit itu adalah untuk mengambil Lauren Ojou-sama. Kemungkinan juga mereka telah disewa......”

“Apa? ......mungkinkah itu dari faksi pangeran kedua yang mencoba untuk membuat kekacauan!?”


Wajah Buckle-sama berubah menjadi marah dan terkejut.


Di dalam kerajaan Rhoden, faksi-faksi bangsawan semakin bersaing dalam memperebutkan calon raja selanjutnya, karena usia raja yang kini sudah tua. Pangeran pertama lahir dari ratu kedua, dan pangeran kedua lahir dari ratu yang pertama, dan putri ketiga lahir dari ratu pertama. Ketiga faksi ini telah mengubah kastil kerajaan di ibukota menjadi zona peperangan. Dalam hidupku, politik hanyalah sebuah pembicaraan yang merepotkan, tapi kalau dipikir, di sini, di wilayah perbatasan utara, dampak perselisihan tersebut dapat terasa.


“Berbicara mengenai penyergapan yang kedua, kau bilang ada kesatria yang muncul dan tak meminta imbalan apapun?”

“Ya tuan, karena dia telah menyelamatkan Ojou-sama, saya berkata padanya bahwa anda akan memberikannya hadiah......, akan tetapi dia hanya mengambil paspor perunggu saya dan tak meminta imbalan lainnya...... Apa ada yang salah?”

“Kalau orang itu berkata demikian, ya sudah. Malahan, aku bisa bernapas lega karena kelihatannya dia tak berurusan dengan faksi pangeran kedua. Lagi pula, aku harus memberikan perintah untuk membawa pulang tubuh Maudlin dan pengawal lainnya. Kau boleh keluar.”


Setelah membungkuk akan perkataan tersebut, aku pergi meninggalkan ruangan.


Bagiku, Arc-sama sama sekali tak terlihat berpihak pada faksi manapun. Orang itu bersikap layaknya pengelana lainnya. Akan tetapi, body armornya adalah sesuatu yang bahkan kediaman para kesatria dari kekaisaran Lebrun hanya bisa berangan-angan untuk memilikinya, dan teknik berpedangnya yang dewa setara dengan ancaman satu militer penuh.


Pada akhirnya, aku tak bisa melihat wajahnya. Jikalau kami bisa bertemu lagi, aku penasaran apakah aku bisa melihatnya? Ketakutan yang selalu kurasakan setiap hari kini telah hilang. Dalam perjalananku ke ruangan Ojou-sama, langkahku menjadi lebih ringan.


Uups, seharusnya aku tak terlalu bersemangat. Aku harus fokus untuk membuat Ojou-sama dapat tersenyum kembali.


Aku terus berjalan menuju ruangan Ojou-sama dengan cepat.


Mundur ke Bab 4 Kembali ke Halaman Utama Teruskan ke Bab 6