Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 12 Bab 8

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 8 - Katedral Pusat (Bulan ke-5 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

Sungguh jarak yang sangat jauh yang aku telah berpetualang—

Langit-langit yang tinggi, sejajar dengan tiang marmer, dan lantai batu mosaik indah yang menggunakan berbagai jenis batu.

Bahkan saat dia mendapati nafasnya telah keluar saat melihat kemegahan dari bagian dalam Katedral Pusat Gereja Axiom untuk pertama kalinya, Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain memikirkan itu.

Sampai sedikit lebih dari dua tahun lalu, dia mempercayai bahwa hidupnya adalah untuk melanjutkan memotong pada pohon yang tidak dapat ditebang dengan kapak dalam kesia-siaan. Untuk melewati harinya menenggelamkan ingatan teman masa kecilnya yang berambut pirang, yang telah lama hilang, tanpa menikah atau memiliki anak, sebelum memberikan sacred tasknya kepada penebang kayu berikutnya setelah bertahun-tahun berlalu, hidup jauh di dalam hutan seperti itu, dan mendapati Lifenya habis tanpa ada seorangpun yang menyadarinya suatu hari nanti.

Tetapi, anak muda berambut hitam yang tiba-tiba muncul di suatu hari menerobos secara paksa pada dunia kecil yang mengurung Eugeo. Dia berhasil untuk menebang jatuh bahkan pada penghalang mutlak yang menyegel jalan menuju pusat, Gigas Cedar, dengan metode yang bahkan semua generasi dari penebang kayu tidak dapat membayangkannya, saat titik penting telah mendekati Eugeo. Untuk melanjutkan tinggal di desa kecil ini sementara memegan ingatan dari Alice. Atau untuk memulai petualangan untuk mengembalikan Alice—

Itu akan bohong untuk mengatakan bahwa dia tidak bimbang. Eugeo pertama kali berpikir tentang keluarganya pada saat kepala desa, Gasupht, mengatakan bahwa dia dapat memilih sacred task berikutnya pada malam festival desa.

Sampai saat itu, Eugeo selalu menyerahkan semua dari upah yang dia dapatkan dari memotong Gigas Cedar kepada keluarganya. Pekerjaan mereka adalah menanam gandum selama beberapa generasi, tapi ladang mereka telah terbatas, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini dimana pendapatan berkurang desebabkan oleh panen buruk yang terus-menerus. Keluarga dan kakak tetuanya mungkin tidak mengatakan itu secara langsung, tapi mereka sepertinya cenderung mengandalkan pendapatan tetap yang Eugeo dapatkan setiap bulan.

Pendapatan sebagai penebang kayu normalnya akan menghilang dengan Gigas Cedar tertebang. Tetapi, dia mungkin dapat menerima perlakuan istimewa dengan mendapat area yang terkena sinar matahari yang baik yang baru saja diselesaikan, bercocok tanam di tanah selatan jika dia memilih untuk menanam gandum sebagai sacred tasknya seperti ayah dan lainnya. Saat melihat wajah keluarganya, tercampur dengan antisipasi dan kecemasan, pada ujung dari penduduk desa yang senang membuat kegembiraan di panggung, Eugeo terbingung.

Dia memang begitu, tapi itu hanya untuk sesaat juga. Eugeo secara paksa menyeimbangkan skala dari reuni dengan gadis dari teman masa kecilnya dan hidup dengan keluarganya, dan dia membuat pengakuan. Bahwa dia akan meninggalkan desa dan menjadi swordsman.

Bahkan jika dia sudah memilih menjadi swordsman sebagai sacred task, dia masih dapat menerima upah dari desa jika dia tinggal di Rulid dan menjadi salah satu dari penjaganya. Tetapi, meninggalkan desa itu, pada akhirnya adalah, untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri, jauh dari sisi keluarganya Uang yang Eugeo bawa kepada keluarganya dan tanah baru yang mereka dapatkan semuanya telah ditiadakan. Alasan kenapa dia pergi dengan terburu-buru, pada hari setelah festival, adalah karena dia tidak dapat menahan untuk melihat wajah keluarga dan kakak tertuanya, menekan kekecewaan dan ketidakpuasan mereka.

Ada suatu kesempatan dimana dia dapat memilih untuk memulai hidup baru dengan keluarganya bahkan setelah berangkat dengan Kirito. Setelah berpartisipasi di turnamen ilmu pedang yang diadakan di kota Zakkaria, Eugeo menang pada akhirnya, dan juga Kirito, yang membuatnya mendapat hak untuk memasuki kelompok penjaga, dan dia melakukannya. Menahan latihan keras selama setengah tahun, mereka menerima surat rekomendasi untuk mengambil ujian masuk ke Akademi Master Pedang Kerajaan Centoria Utara dari komandan dari kelompok penjaga, tapi ada sebuah undangan dari komandan bersamaan dengan itu. Bahwa rangking mereka akan naik tahun depan jika mereka tetap berada di kelompok penjaga, dengan level skill yang mereka berdua punya, dan bahkan menjadi komandan di masa depan bukanlah mimpi. Bagaimana nyamannya hidup yang keluarganya akan dapatkan jika dia mendapat pendapatan tetap di Zakkaria dan mengirim sebagian kembali ke rumahnya dengan mempercayakan itu pada gerobak kayuh?

Tapi meski begitu, Eugeo dengan sopan menolak undangan dari komandan dan membuat dia untuk menulis surat rekomendasi seperti yang direncanakan.

Sementara di perjalanan menuju pusat, tujuannya, atau setelah mendaftar pada Akademi Master pedang juga, Eugeo terus membuat alasan di ujung pikirannya sepanjang waktu. Sebagai contoh, jika dia mendapati terpilih sebagai swordsman perwakilan akademi, mendapat kemenangan di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan, dan diangkat sebagai Integrity Knight yang terhormat, dia mungkin dapat membuat keluarga dan teman-temannya untuk hidup di dalam kemewahan yang tak terbayangkan. Atau jika dia membuat kepulanganyang menggembirakan ke desa, memakai armor perak dan menaiki naga terbang bersama dengan Alice, orang tuanya seharusnya memiliki kebanggaan padanya dibandingkan dengan siapapun.

Tetapi, dengan mencabut pedangnya kepada elite swordsmen-in-training, Raios Antinous dan Humbert Zizek, dua malam lalu, Eugeo mengkhianati keluarganya untuk ketiga kalinya. Setidaknya, dia mencabut kemungkinan masa depan yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk diangkat sebagai bangsawan kelas satu jika keadaan memungkinkan itu...tidak, itu hanyalah pernyataan yang sedikit, dia bahkan mencabut statusnya sebagai orang biasa dan memilih jalan sebagai kriminal yang melanggar taboo.

Pada saat itu, Eugeo menyadari keadaan di suatu tempat di pikirannya, bahkan ketika dia menggerakan tubuhnya yang tercampur dengan kemarahan yang luar biasa. Jika dia hendak menebas Raios dan Humbert tepat di sini sekarang, dia akan kehilangan segalanya dan semuanya. Eugeo mencabut pedangnya bahkan sementara meyadari hal itu. Dia melakukan itu untuk menolong Tizei dan Ronie yang kelihatannya hendak diperkosa di depan matanya, dia melakukun itu karena jeadilan yang dia percaya, tapi itu bukanlah semua dari itu. Dia ingin untuk melepaskan rasa haus darah yang merusak di dalam hatinya, dia ingin untuk menghapus Raios dan Humbert tanpa meninggalkan satu jejakpun di belakang, dia benar-benar memiliki keinginan buruk itu juga.

Betul-betul sekarang, sungguh jarak yang sangat jauh yang aku telah berpetualang—

Dia benar-benar membuat perubahan dari salah satu dari sedikit dua belas elite swordsmen-in-training di akademi, ke melangkahkan kaki pada lantai di tempat paling suci di dunia sebagai pemberontak yang membuat Gereja Axiom benar-benar menjadi musuh.

Kabur dari pengejaran Integrity Knight pengguna panah, Eugeo telah mengkonfirmasi keberadaan dari buku yang mencatat semua sejarah Dunia Manusia dari gadis muda yang seharusnya adalah pemimpin tertinggi sebelumnya dari Gereja Axiom di Ruangan Perpustakaan Besar misterius yang dia masuki, dan membacanya seolah-olah dia terserap ke dalam itu. Karena dia ingin untuk mengetahui, tidak peduli bagaimana. Apakah ada manusia yang pernah mengacungkan pedang kepada gereja, bertarung dengan Integrity Knight, dan melarikan diri di suatu tempat yang jauh setelah menyelesaikan keinginan mereka, dalam sejarah yang panjang.

Sayangnya, dia tidak dapat menemukan satu peristiwa dari orang seperti itu. Pengaruh dari gereja menyebar jauh dan luas, menutupi dunia, dan tidak peduli bagaimana seriusnya perselisihan itu terjadi—itu akan dengan mudah diselesaikan, bahkan jika itu adalah masalah pada perbatasan kerajaan di antara beberapa kerajaan. Tidak ada satupun catatan dari seseorang yang menarik pedang untuk menyerang pada gereja dan bertarung melawan Integrity Knight di berbagai buku sejarah, tidak peduli sekeras apapun dia mencarinya.

...Dengan kata lain, aku adalah pendosa terburuk selama tiga ratus delapan puluh tahun semenjak Dunia Manusia telah diciptakan oleh dewi pencipta, Stacia.

Pada saat Eugeo memikirkan itu sambil menutup sampul belakang dari buku itu, hawa dingin yang menyerupai es menyerbunya. Jika Kirito tidak datang kembali dengan waktu yang tepat dan memanggilnya, dia mungkin akan terus membuat dirinya sendiri rendah saat dia meringkuk di sana.

Eugeo telah meyakinkan dirinya berkali-kali, bahkan saat dia mendengar cerita dari pemimpin tertinggi misterius sebelumnya dengan patnernya. Dia tidak dapat kembali ke kehidupan sebelumnya setelah memilih untuk meninggalkan keluarganya, menebas orang lain, dan bertarung melawan gereja. Dia tidak memiliki jalan lain selain terus maju, tidak peduli berapa banyak darah mengotori tangannya, tidak peduli berapa banyak dosa yang menodai jiwanya. Untuk demi satu tujuan tersisa yang dia punya.

Untuk mengembalikan «bagian ingatan» yang dicuri oleh pemimpin tertinggi yang sekarang, mengubah Integrity Knight Alice Synthesis Thirty kembali menjadi Alice Schuberg, dan mengirim di kembali ke Desa Rulid yang dirindukannya.

Tetapi, keinginannya untuk terus hidup bersama gadis itu tidak dapat terkabul. Salah satu dan satu-satunya tempat yang dia pikir dia bisa dapat pergi sekarang, dengan banyak kejahatan yang dia lakukan, adalah jauh di Puncak Barisan Pegunungan, tanah kegelapan yang mengerikan. Tapi itu akan baik-baik saja. Tidak ada apapun yang dapat diharapkan, jika Alice dapat hidup bahagia tinggal di tempat dia lahir.

Saat Eugeo memikirkan pada tekadnya, dia menatap ke arah punggung Kirito, yang bergerak maju di depannya.

...Jika aku mengatakan bahwa aku akan pergi ke tanah kegelapan, akankah dia ikut bersamaku...?

Saat menanyakan pertanyaan itu tanpa mengatakan itu keluar, Eugeo memaksakan dirinya untuk berhenti membayangkan jawaban patnernya. Memikirkan bagaimana jalannya mungkin akan berjalan, dalam waktu dekat, berpisah dari teman berambut hitam yang terus bersamanya, satu-satunya orang lain yang di dunia berdiri dengan posisi yang sama sekarang, benar-benar menakutkan.

Seperti yang Cardinal katakan, koridor yang memanjang langsung dari pintu itu, tanpa diduga pendek. Dia dengan cepat berjalan, sementara tenggelam dalam pikirannya hanya untuk sekejap saja, itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai ruangan persegi, yang luas.

Bagian tengah dari dinding bagian kanan memiliki tangga, secara mengejutkan sangat luas, berlanjut ke atas dan ke bawah. Tinggi dari langit-langit memanjang lebih dari delapan mel, jadi bagaimanapun juga, itu kelihatannya ada lebih dari dua puluh langkah sampai mendekati setengah perjalanan melalui tangga.

Dan di dinding bagian kiri adalah dua pintu yang besar, di kelilingi oleh patung dari mahluk bersayap.

Kirito berjalan di depan dengan cepat membalik telapak tangan kanannya dengan cara itu dan menempelkannya ke dinding, jadi Eugeo mengikutinya dan menyandarkan punggungnya pada pilar batu di dalam jangkauannya. Menahan nafasnya, dia memerikasa melalui ruangan gelap, yang gelap itu.

Jika kata-kata pemimpin tertinggi sebelumnya terbukti benar, pintu besar di kiri seharusnya adalah ruangan penyimpanan peralatan yang mereka telah cari. Meskipun menjadi suatu tempat yang penting, ruangan yang luas itu telah sunyi seperti kuburan, tanpa ada kehadiran dari siapapun. Bahkan cahaya Solus yang bersinar dari tangga besar di kanan kelihatannya bewarna abu-abu gelap.

"...Tidak ada seorangpun di sekitar sini, huh..."

Saat dengan perlahan berbisik pada Kirito yang dibelakangnya, patnernya mengangguk , dengan sedikit kekecewaan juga.

"Ini adalah ruangan penyimpanan perlatan, jadi aku merasa akan ada satu atau dua penjaga, tapi...Aku rasa itu mungkin karena Gereja Axiom merasa tidak akan ada seorangpun yang memasukinya untuk mencuri sejak awal..."

"Tapi mereka telah mengetahui tentang penyusupan kita, bukan? Mereka sedikit tenang meskipun begitu."

"Mereka pasti memiliki alasan untuk seperti itu. Mereka tidak perlu untuk menghabiskan waktu mereka untuk mencari di sekitar terhadap orang seperti kita. Dengan kata lain, waktu berikutnya kita bertemu dengan Integrity Knight, akan ada entah berjumlah yang sangat banyak dari mereka atau salah satu yang cukup kuat. Ayolah, gunakan tambahan waktu ini sebanyak yang kita bisa.

Mengakhiri kata-katanya dengan hmph, mendengus, Kirito dengan cepat berlari keluar dari dinding yang menutupinya. Eugeo mengikutinya setelah itu, melewati ruangan luas, yang sepi.

Pintu menuju ruangan penyimpanan peralatan memiliki ukiran yang terhias dari dua dewi, Solus dan Terraria, dan tidak memiliki kunci, tapi itu memiliki suatu kekuatan yang membuat dia berpikir bahwa teman yang tidak dapat dimengerti itu mungkin tidak dapat untuk membukanya, tidak peduli seberapa keras yang mereka tarik atau dorong. Tetapi, ketika Kirito menaruh telinganya pada pintu itu untuk sebentar dan menaruh tangannya pada gagang, menaruh sedikit kekuatan pada itu, pintu itu terbuka dengan mudah bahwa itu dapat dikatakan mengecewakan. Engesel itu tidak mengeluarkan suara derit.

Udara dingin, yang tebal, seperti berates-ratus tahun yang sesuai dengan keheningan itu, menyebar keluar dari celah hitam sekitar lima puluh cen yang terbuka dan membuat Eugeo menggigil, tapi patnernya segera memasukkan dirinya tanpa keraguan, jadi dia dengan cepat mengikutinya di belakang. Ketika pintu besar itu tertutup di belakang, sekeliling telah ditelan oleh kegelapan.

"System call..."

Ritual art yang secara insting terucap keluar dari mulutnya benar-benar sama dengan suara Kirito, jadi dia berakhir tersenyum meskipun dalam situasi itu. Sementara melanjutkan dengan generate luminous element, Eugeo mengingat kembali waktu dia pergi dengan Kirito ke gua utara untuk mencari Selka. Itu sangat susah untuk menggunakan dasar di antara dasar dari sacred arts pada saat itu dan dia tidak dapat melakukan apapun selain membuat tongkat di tangannya dengan cahaya lemah pada ujungnya—Cahaya putih murni dari luminous element yang muncul di atas tangannya menyingkirkan kegelapan tebal, tanpa disadari membawa pergi suasana hati Eugeo untuk nostalgia.

"Uo..."

Saat Kirito mengeluarkan suara keheranan dari sisinya, tegukan secara bersamaan keluar dari tenggorokan Eugeo.

Sungguh luas, Itu disebut sebagai ruang penyimpanan, jadi dia membayangkan suatu tempat seperti ruangan penyimpanan senjata di Akademi Master Pedang, tapi ini benar-benar tidak masuk akal. Itu hampir lebih luas dibanding dengan area dari arena pelatihan yang besar dimana Kirito dan Uolo Levanteinn mengadakan pertandingan mereka.

Sinar dari setiap dan semua warna memenuhi ruangan itu, dikelilingi oleh dinding batu yang halus dari empat sisi, terpantul oleh cahaya dari luminous element yang melayang keluar dari tangan Eugeo.

Secara sistematis terbaris pada permukaan lantai adalah armor, ditaruh pada rak dengan bantuan patung berbentuk manusia. Sebagai tambahan untuk memiliki armor hitam legam, armor putih murni, dan itu memiliki warna yang indah dari perunggu kemerahan, perak kebiruan, dan emas kekuningan, itu juga termasuk dari setiap dan semua jenis armor, dari armor ringan yang dibuat dari rantai tipis dan kulit hingga armor berat, banyak lembaran metal yang tersusun bersama tanpa ada satupun celah. Jumlahnya tidak kurang dari lima ratus.

Dan di dinding yang tinggi itu tergantung, sekali lagi, sebenarnya dapat disebut setiap jenis senjata yang berada, dengan dekat digantung bersama.

Bahkan diantara pedang itu sendiri, ada yang panjang, yang pendek, bersama dengan berbagai macam dari tebal, tipis, lurus dan melengkung juga. Sebagai tambahan, berbagai jenis dari peralatan pertempuran dari kapak bermata satu, dan bermata dua, lance di antara tombak panjang, palu perang, cambuk dan gada, hingga panah yang tersusun dari lantai hingga mendekati langit-langit, jumlahnya hampir tidak dapat dihitung, dan Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain membuat mulutnya terbuka lebar.

"...Solterina-senpai mungkin akan kebingungan dan pingsan jika dia datang ke sini, huh."

Kirito akhirnya memecah keheningan dengan bisikan beberapa detik kemudian.

"Yeah...Hal yang sama juga berlaku untuk Gorgolosso-senpai, dia akan melempar dirinya pada pedang besar itu dan tidak pernah meninggalkan itu jika dia melihat itu."

Bergumam kembali dengan menghela nafas, Eugeo dengan keras membiarkan nafasnya keluar yang menolak untuk pergi. Memeriksa di dalam ruang penyimpanan peralatan yang besar sekali lagi, dia menggelengkan kepalanya dua atau tiga kali.

"Bagaimana aku mengatakan hal ini...Apakah gereja pada akhirnya berpikir tentang untuk memulai membangun tentaranya sendiri atau seperti itu? Integrity Knight itu sendiri sudah lebih dari cukup, bagaimanapun juga..."

"Hmm...Untuk bertarung dengan tentara kegelapan...? Tidak, bukan karena itu... "

Ekspresi Kirito tiba-tiba menegang dan melanjutkan dengan melihat ke arah Eugeo.

"Ini untuk sebaliknya. Ini bukanlah untuk membangun tentara...tapi membuat itu mustahil untuk membuat tentara, karena itu gereja telah mengumpulkan peralatan di sini. Peralatan di sini mungkin semua adalah yang terkuat, pada sacred instrument class atau suatu hal di sekitar itu. Pemimpin tertinggi, Administrator, hendak mencegah suatu organisasi selain Gereja Axiom untuk mencegah mereka mendapat peralatan kuat dan mendapat potensi bertarung yang tidak diperlukan."

"Eh...? Apa maksudnya dari hal itu? Tidak mungkin ada kemungkinan suatu organisasi yang akan melawan Gereja Axiom, tidak peduli apapun jenis dari peralatan kuat yang mereka pegang, dapat ada?"

"Dengan kata lain, salah seorang dengan paling sedikit keyakinannya di kekuasaan gereja mungkin hanya pemimpin tertinggi yang terhormat itu sendiri."

Eugeo tidak dapat dengan segera memahami arti dari kata-kata tajam dari Kirito. Tetapi, patnernya menepuknya di punggungnya sebelum dia dapat merenungkannya.

"Ayolah, waktunya akan segera habis. Ayo cepat dan mendapat pedang kita kembali."

"Ah... y-yeah. Tapi itu akan menjadi tugas yang berat untuk mencarinya dari semua ini..."

Blue Rose Sword dan pedang hitam yang tersarung masing-masing pada sarung kulit putih dan kulit hitam secara hati-hati, tapi banyak pedang yang sama dapat terlihat pada dinding.

"...Bahkan jika menggunakan umbra element searching art lagi, sacred power di area ini seharusnya telah digunakan oleh luminous elements sebelumnya.."

Ketika pada saat itu, ketika Eugeo menghela nafas sementara berpikir 'jika memang begitu, kita seharusnya hanya menggunakan satu cahaya kecil saja', lalu Kirito tanpa ragu berkata.

"Oh, aku menemukannya."

Mengangkat tangan kanannya, dia segera menunjuk sisi kiri dari pintu yang mereka telah masuki.

"Woah...untuk memikirkan itu berada di tempat seperti ini."

Pedang putih dan hitam pada arah yang Kirito tunjuk sudah pasti adalah dua pedang kesayangan mereka, melampaui suatu keraguan apapun, Eugeo melihat ke arah ekspresi dari patnernya dengan terdiam kagum.

"Kirito, bagaimana kau melakukan itu bahkan tanpa menggunakan sacred arts apapun...?"

"Aku hanya memperkirakan bahwa pedang terbaru yang dibawa ke tempat ini mungkin ditaruh di tempat terdekat dari pintu."

Memkirkan bagaimana Kirito, yang mengungkapkan alasannya, anak-anak normalnya akan menunjukkan senyum bangga pada saat seperti itu, dia sekarang untuk suatu alasan menatap serius ke arah pedang hitamnya sendiri. Tapi dia lalu dengan segera menghela nafas, mendekati dinding, dan menggenggam pedang bersarung hitam itu setelah mencapai itu dengan tangan kanannya.

Dia terdiam untuk sesaat, seolah-olah dia ragu-ragu, tapi dia mengangkat itu dari penahan besi tak lama kemudian. Mengikuti itu, dia mengambil Blue Rose Sword di sampingnya dengan tangan kirinya dan melemparnya. Eugeo menangkap itu dengan panik dan berat yang dikenalnya membuat itu diketahui pada pergelangan tangannya.

Meskipun hanya menghabiskan beberapa hari jauh dari pedang kesayangannya, rasa kuat dari nostalgia dan kelegaan yang bahkan mengejutkan Eugeo itu sendiri yang mengalir di dalam dirinya dan dia dengan erat menggenggam sarungnya dengan kedua tangannya.

Blue Rose Sword yang selalu dekat dengannya dan telah membantunya berkali-kali bahkan semenjak Gigas Cedar telah tertebang di dekat rumahnya. Itu adalah ketika dia telah memasuki turnamen ilmu pedang di kota Zakkaria, itu adalah ketika dia menantang ujian pendaftaran Akademi Master Pedang, itu adalah ketika dia telah melanggar Taboo Index dan menebas tangan Humbert.

Jika Gereja Axiom selalu mengumpulkan semua jenis dari peralatan kuat lebih dari ratusan tahun, mereka tidak memperhatikan Blue Rose Sword ini, diletakkan terbengkalai di gua utara, benar-benar nasib baik—atau mungkin takdir. Bukti untuk mengikuti jalan untuk mengembalikan Alice kembali pastinya bukanlah kesalahan...

"Berhenti untuk mendapati semua kegembiraan, cepatlah dan segera pakai."

Tiba-tiba mengembalikan kesadarannya pada suara Kirito, tercampur dengan tawa, dia melihat patnernya yang sudah memasukkan sarung pedang kesayangannya pada pegangan dari sabuk pedangnya. Eugeo mengikutinya sementara menunjukkan senyum malu, mengakhiri dengan tepukan pada gagangnya dan melihat ke arah sekitar saat dia memikirkan langkah mereka selanjutnya. Armor yang terlihat elite berjajar pada tanah yang memiliki papan nama tergantung yang terukir pada itu, dengan nama seperti [Senrai Armor] atau [Shinzan Kacchu] [1], mendorong sedikit perhatian dari dirinya.

"...Apa yang akan kita lakukan Kirito? Kita mungkin akan dapat menemukan salah satu yang ukurannya cocok dengan kita dengan sebanyak ini di sekitar, apa kau ingin untuk meminjam suatu armor juga?"

"Naah, kita belum pernah memakai armor sebelumnya, bukan? Itu akan lebih baik untuk tidak melakukan hal yang tidak biasa kau lakukan. Mungkin lebih baik untuk mengambil pakaian di sebelah sana."

Melihat ke arah tempat yang patnernya tunjuk dan memang benar, dia melihat pakaian dengan berbagai warna tersusun di bagian dalam barisan dari armor. Melihat ke arah tubuhnya sendiri, dia menemukan bekas robekan dan terbakar pada seragam akademi yang dia telah pakai dari dua hari yang lalu disebabkan oleh pertarungan dan selanjutnya melarikan diri dari Knight Eldrie.

"Benar, itu kelihatannya akan menjadi tidak dapat dibedakan dari pakaian usang cepat atau lambat jika kita terus bergerak."

Dua luminous elements melayang di atas kepala secara perlahan kehilangan cahayanya juga. Mengusir jauh rasa penyesalannya yang masih tertinggal pada armor, dia berlari ke bagian pakaian dan secara sembarangan mencari pada kain yang kelihatannya berkualitas tinggi, mencari pada mantel dan celana panjang yang cocok dengan tubuhnya. Membalikkan punggung mereka satu sama lain, mereka dengan cepat berganti.

Menaruh tangannya melalui lengan dari baju berwarna biru yang benar-benar mirip dengan seragam akademinya, Eugeo terkejut oleh tekstur dari kelembutannya. Ketika dia membalikkan tubuhnya setelah berganti, dia melihat Kirito memiliki pemikiran yang sama, mengelus kain hitam dengan kedua tangannya.

"...Pakaian ini pasti memiliki sedikit cerita darinya yang dapat untuk dicertiakan. Itu akan baik jika itu dapat menghentikan serangan dari Integrity Knight meskipun sedikit, bagaimanapun juga."

"Sekarang itu berharap terlalu banyak."

Setelah tertawa sedikit pada kata-kata aneh dari patenrnya, ekspresi Eugeo menjadi tegang.

"Jadi sekarang...Bolehkan kita segera pergi?"

"Yeah...Aku rasa begitu."

Menukar komentar singkat, mereka kembali menuju pintu masuk.

Hal ini berjalan sangat bagus hingga sejauh ini yang dapat dikatakan mengecewakan, tapi itu tidak akan bertahan seperti itu. Mari melanjtukan dengan meningkatkan kewaspadaan kita—mereka dengan dalam, mengangguk diam bersamaan termasuk menyadari fakta itu, Eugeo memegang ganggang kanan dari pintu dan Kirito, ganggang kiri.

Dengan pelan membuka pintu bersamaan, celah itu melebar dengan hati-hati—

Do-ka-ka-ka! Suara itu terdengar hampir bersamaan dengan panah besi yang tak terhitung jumlahnya yang menembus permukaan dari pintu tebal itu.

Sword Art Online Vol 12 - 149.jpg

"Uwah!"

"Owah!?"

Seorang knight yang dikenalnya dengan armor berwarna merah berdiri di tangga masuk yang besar, jauh pada sisi yang berlawanan dari ruangan persegi memanjang dari pintu masuk, dimulai dari anak panah tajam yang baru dipasang pada busur panjang dengan tinggi yang hampir sama. Lebih jauh lagi, itu berjumlah empat pada waktu yang bersamaan. Tidak ada kesalahan bahwa itu adalah Integrity Knight yang sama dengan knight yang mengendarai naga terbang di taman mawar.

Jarak di antara kita kira-kira tiga puluh mel, huh? Pedang pastinya tidak akan sampai, tapi itu sepertinya akan menjadi jarak sempurna untuk pemanah ahli. Dan kita mungkin tidak akan memiliki waktu untuk mencabut pedang dari pinggang kita dari postur jatuh yang buruk ini, lupakan untuk berdiri dan berlindung pada dinding.

Karena itulah aku mengatakan bahwa kita seharusnya mengenakan armor! Itu akan jauh lebih baik jika kita memiliki perisai!

Eugeo meneriakkan itu di dalam hatinya saat knight itu mulai menarik tali dari busur panjang itu pada waktu yang hampir bersamaan.

Dengan keadaan seperti mereka sekarang, aku tidak memiliki pilihan selain menyerah untuk menghindar tanpa mendapat luka dan menggunakan semua yang aku punya untuk menghindari luka fatal—tidak, luka parah yang membuatku tidak bisa bergerak setidaknya.

Eugeo membuka lebar matanya dan menatap pada empat anak panah yang tajam. Anak panah kusam berwarna perak itu tidak dibidik pada jantung mereka, tapi kaki mereka. Itu seperti yang Cardinal katakan, perintah yang diberikan pada knight itu kelihatannya bukan untuk membunuh kita, tapi untuk menangkap kita. Tapi pada keadaan sekarang, jika tertangkap pada dasarnya sama dengan terbunuh.

Integrity Knight itu menarik keras tali busurnya hingga batasnya.

Pada saat keadaan menjadi tenang, dimana semua gerakan kelihatannya akan berhenti—

Suara tegang Kirito menembus melalui keheningan itu.

"Burst element!"

Eugeo tidak dapat dengan segera menangkap apa yang patnernya katakan saat itu terlalu cepat. Dia mengerti artinya hanya setelah fenomena itu terjadi.

Cahaya terang berwarna putih tiba-tiba bersinar di pandangannya.

Sebuah cahaya yang kuat, seolah-olah Solus telah turun. Itu hanya art sederhana yang hanya melepaskan luminous element, salah satu dari «elements» yang menjadi salah satu dari elemental sacred arts, tapi Kirito tidak mengatakan upacara art untuk menciptakan elements. Kapan dia melakukannya—...

Tidak, ada satu element. Ada luminous elements, melayang di tengah udara, dipanggil oleh mereka berdua untuk menerangi ruangan penyimpanan sepuluh menit yang lalu, bukan? Element itu dibiarkan untuk bersiap pada upacara art berikutnya. Kirito memberikan perintah pada element yang melayang di atas kepalanya untuk bebas dan menghasilkan cahaya yang terang sekali.

—Ada juga ketika dia melempar pecahan gelas yang dia ambil pada pertarungan dengan Eldrie juga, aku sama sekali bukan tandingannya dalam bertarung dengan menggunakan item yang tersebar di sekitar seperti biasanya...

Sementara memikirkan tentang hal seperti itu, Eugeo mengumpulkan kekuatan pada kakinya di dalam cahaya putih dan melompat ke kanan dengan semua kekuatannya.

Dia segera mendengar suara keras dari panah besi yang menembus pada lantai batu, datang dari dimana dia berada beberapa detik lalu. Itu akan lebih baik untuk berlindung pada dinding untuk pertama-tama, setelah menghindari tembakan langsung—atau seperti itu yang dia pikirkan, ketika teriakan rendah Kirito mencapai telinganya.

"Maju!"

Mengerti tujuan patnernya dalam sekejap, Eugeo menghentakkan kakinya di tanah sekali lagi. Tidak miring ke kanan, melainkan lurus ke depan.

Ledakan luminous element dari atas kepala, di belakang mereka berdua, yang berarti Kirito dan Eugeo tidak menghadap sumber cahaya secara langsung, tapi mata Integrity Knight itu seharusnya melihat cahaya itu secara langsung. Tidak ada keraguan bahwa pandangannya seharusnya akan menghilang untuk beberapa detik.

Kemampuan serangan langsung dari luminous element sangatlah rendah dibandingkan dengan thermal dan cryogenic elements, dan kebanyakan justru digunakan untuk healing arts, tapi jika seseorang hendak membuat senjata dari cahaya tersebut, itu memiliki kemampuan meyakinkan untuk menyilaukan mata dan sangat mengagumkan. Karena itu, itu sangat baik untuk mempersiapkan element dengan tipe berlawanan, umbra element, untuk demi menetralkan upacara art tersebut ketika musuh menciptakan luminous element saat pertarungan, ini bahkan diajar dalam pelajaran akademi.

Tidak ada kemungkinan seorang Integrity Knight, berdiri di puncak dari semua swordsman dan pengguna art, tidak pernah mendengar pengetahuan umum seperti itu, yang berarti memanggil keluar luminous element lagi dan menyilaukan dia tidak akan bekerja untuk kedua kalinya. Ini adalah kesempatan pertama dan terakhir untuk mempersempit jarak dari pemanah musuh.

Kecepatan analisis dari situasi dan pemilihan aksi juga salah satu dari poin utama dari Aincrad-style, atau seperti itu yang Kirito katakan pada Eugeo berkali-kali. Cara berpikir dari itu sama sekali berbeda dengan High Norkia-style yang menekankan pada kehalusan dan kekuaatan di gerakannya. Dan jimat untuk menenangkan pikiran seseorang dan menaruh itu dalam praktek, bahkan di tengah-tengah pertarungan adalah «stay cool».

Selangkah di belakang patnernya dari mengikuti penggunaan dari luminous element, Eugeo dengan tergesa-gesa mengejar langkah kaki di depannya. Dia menarik Blue Rose Sword dari pinggang kirinya saat dia berlari.

Setelah menyelesaikan tujuannya, luminous element itu segera menghilang setelah itu, dan dunia mendapatkan warna dan bentuknya. Keduanya telah berlari di ruangan luas dari ruangan penyimpanan peralatan. Memastikan dengan kedua mata terbuka lebar, Integrity Knight itu dapat terlihat berdiri dua puluh langkah dari tangga di depan.

Seperti yang diprediksikan, itu kelihatannya penglihatan knight itu terganggu. Tubuhnya terhuyung dengan tangan kanannya melindungi wajahnya di dalam helm berwarna perunggu.

Itu benar-benar keberuntungan bahwa tidak seperti Eldrie, Integrity Knight di depan mereka tidak memiliki pedang di pinggangnya. Dia memiliki rasa percaya diri yang besar, tidak membawa apapun selain satu busur panjang ketika mengambil pertarungan di dalam ruangan. Dia pasti telah yakin bahwa dia telah menembak pada kaki mereka berdua sebelum mereka dapat mendekat.

Pikiran Eugeo sangat tenang, tapi meski begitu, dia tidak dapat menahan api kemarahannya, dengan lemah berpengaruh di kesadarannya.

—Integrity Knight, kau juga sama dengan Raios dan Humbert. Kau angkuh, sombong dan mempercayai dirimu sendiri bahwa kau selalu benar. Kau yakin bahwa kau adalah, penjelmaan dari keadilan, bahwa benar-benar tidak memiliki kemungkinan kalah.

—Tapi itu hanya kesombonganmu. Tunggu saja, aku akan...membuktikannya kepada kau dalam sekejap!!

Didorong oleh emsoi yang tidak dikenalnya, Eugeo menyerbu menuju tangga besar. Itu setelah melewati dua langkah pertama, saat kaki kanannya mencapai yang ketiga.

Knight itu, berdiri di ujung tangga sedikit lebih banyak sepuluh langkah lebih jauh, melepaskan tangan kanannya dari wajah yang dilindunginya, membalik itu menuju punggungnya, dan menarik keluar panah besi dari tempat anak panah. Setiap dari yang tersisa, semuanya pada waktu yang sama.

Sejumlah banyak anak panah dengan cepat ada di tangan kanannya yang diambil dari punggungnya yang berjumlah setidaknya tiga puluh tidak peduli bagaimana seseorang melihat itu. Bahkan tanpa memberikan waktu yang cukup untuk mempertanyakan apa yang dia telah rencanakan, knight itu menembak seluruh anak panahnya dari tali busur yang dipegang secara horizontal dengan tangan kirinya.

"Apa..."

Berhenti dengan kakinya pada langkah ketiga di tangga besar itu, Eugeo menahan nafasnya. Seharusnya tidak ada cara satu tali busur yang tipi situ dapat untuk menembak tiga puluh anak panah secara bersamaan.

Suara deritan, logam mencapai telinganya. Sesuatu yang dingin mengalir di punggungnya saat menyadari bahwa itu adalah anak panah besi yang bersuara saat itu menahan genggaman kuat.

Itu kelihatannya Kirito, yang berhenti di kanan, telah mengetahui maksud dari knight itu juga. Itu dapat dikatakan sebagai kesalahan yang dibuat karena putus asa, atau—

Suara keras yang semakin meningkat semakin terdengar, tali busur itu telah ditarik secara keras.

"—Lompat kembali menuju kiri!"

Kirito berteriak.

Binn! Udara bergetar, dan segera diikuti oleh dengan suara deritan saat tali busur itu rusak di bawah tekanan.

Tapi setiap salah satu dari tiga puluh anak panah telah tertembak dengan pola lingkaran, tertembak ke bawah pada mereka sebagai serangan mematikan, badai berwarna perak.

Eugeo menghentakkan kakinya di tangga dengan suatu kekuatan yang membuat dia berpikir bahwa kaki kanannya retak, melemparkan tubuhya ke arah kirir. Dia menempatkan Blue Rose Sword persis di tengah-tengah tubuhnya, melindungi tubuhnya.

Mereka berdua pastinya akan mendapati tubuh mereka penuh dengan lubang jika knight itu tidak memiliki masalah dengan penglihatannya. Satu anak panah mengenai Blue Rose Sword dan telah dipantulkan dengan suara keras. Satu tertambak melewati bagian kanan dari celana Eugeo, satu membuat luka kecil pada paha kirinya, dan satu menggores pipi kirinya, menggores beberapa helai rambut.

Dengan keras jatuh di tanag, dengan bahu pertama, rasa takut membuat Eugeo menggeretakkan giginya saat dia melihat ke bawah tubuhnya. Setelah mengkonfirmasi beberapa luka yang tidak parah, dia membalikkan wajahnya menuju Kirito yang melompat ke arah kanan.

"Kirito! Apa kau baik-baik saja?!"

Patner berambut hitamnya dengan pelan mengangguk dengan ekspresi yang menjadi kaku seperti yang diduga pada teriakan seraknya.

"En...Entah bagaimana. Kelihatannya itu menembus melalui di antara celah jari kakiku."

Dia melihat anak panah yang tertusuk pada ujung dari sepatu kiri Kirito, menusuk pada ujung sepatunya, ketika dia melihatnya. Sementara berterima kasih pada kecepatan reaksi patnernya dan keberuntungan yang baik, Eugeo mengambil nafas yang dalam.

"...Itu sangat berbahaya..."

Dia berguman saat dia mendorong tubuh kakunya untuk berdiri.

Ketika dia melihat ke atas pada puncak tangga itu, Integrity Knight benar-benar berhenti bergerak kali ini juga. Tempat anak panah di punggungnya telah kosong, dan tali busur besarnya juga, telah rusak dan tergantung keluar. Inilah yang benar –benar apa yang dimaksud dengan kehabisan pilihan, dengan busurnya rusak dan anak panahnya habis. Tapi lawannya adalah Integrity Knight, jadi itu tidak dapat diterima untuk menurunkan pertahanan, tidak perlu dibilang ini bukanlah situasi untuk kasihan.

"...Ayo maju."

Patnernya memperlihatkan panggilan tenang dan Eugeo menapakkan kakinya pada lantai sekali lagi.

Tapi Kirito menginstruksikan Eugeo, dengan tangan kirinya yang masih memegang anak panah yang hendak dicabut dari sepatunya.

"Tunggu..Knight itu mengucapkan sebuah..."

Eugeo menajamkan pendengaran telinganya dengan kebingungan. Selama mereka tidak berada dalam jarak dimana mereka dapat menebas musuh dengan satu serangan, itu sangat penting untuk menciptakan element yang berlawanan ketika dia mulai mengucapkan upacara sacred art. Dia berfokus pada suara, yang diucapkan dengan cara yang keras, diucapkan dari dalam helm Integrity Knight. Dia mengucapkannya agak cepat, tapi dia dapat menangkap itu entah bagaimana, mungkin karena dia telah belajar di ruangan perpustakaan itu.

Tetapi, setiap dan semua kata di upacara itu terdengar baru di telinganya. Dia tidak dapat langkah perlawanan tanpa kata yang memasukkan «generate», yang menentukan tipe dari element.

"Sial, itu..."

Pada saat itu, suara Kirito keluar dengan nafas tertahan.

"Ini bukanlah serangan elemental. Ini adalah «armament full control art»."

Sebelum kata-kata tegang itu dapat berakhir, Integrity Knight meneriakkan kalimat terakhir dengan jelas.

"—Enhance armament!"

Dengan suara 'po', api orange telah muncul di tali busur yang putus menjadi dua dan tergantung di ujung. Api yang memusnahkan tali busur dalam sekejap mata dan lalu sesuatu terjadi pada saat itu mencapai kedua ujung dari busur besar.

Api gelap yang terbakar muncul dari seluruh busur tembaga.

Sebuah api yang kelihatannya cukup untuk membakar kulit seseorang menyebar menuju bawah tangga dan Eugeo secara insting melindungi wajahnya. Integrity Knight yang berdiri di puncak tangga terbungkus api yang keluar dari busur di sekitar seluruh tubuhnya, seolah-olah dia telah terbakar.

Eugeo terbingung pada apa yang harus diperbuat, dengan perkembangan yang benar-benar tak terduga. Haruskah aku menyimpulkan knight itu sudah tidak memiliki kemampuan menyerang lagi bahkan setelah menggunakan full control art, karena anak panah itu telah habis, dan menyerbu? Atau mungkin knight itu menghabiskan anak panah pada serangan beberapa saat yang lalu karena itu tidak lagi dibutuhkan dalam full control state?

Memikirkan bagaimana patnernya melihat itu, dia mengambil pandangan sekilas di sisinya dan melihat Kirito menatap itu dengan takjup, bahkan dengan senyuman samar-samar di mulutnya seperti anak kecil, tidak segera mundur maupun menyerbu.

"Sekarang ini benar-benar mengagumkan...Aku ingin tahu darimana asal dari busur itu."

"Ini bukanlah waktu untuk mengaguminya."

Dia merasa seperti ingin menepuk bahu Kirito diluar kebiasaannya, tapi dia menahan itu dan melihat ke arah knight itu sekali lagi. Mereka dapat menggunakan full control art yang mereka baru saja pelajari juga, untuk menghadapi dengan upacara art musuh, tapi tidak ada keraguan bahwa di sisi lain tidak akan mengizinkannya. Itu sudah pasti mereka akan diserang sebelum mereka dapat menyelesaikannya mengucapkan upacara art yang panjang. Jika mereka hendak memaksa untuk menggunakannya, mereka tidak mungkin untuk dapat menyelesaikannya tepat waktu kecuali mereka mulai mengucapkannya bersamaan dengan musuh.

Dengan hal yang berkembang sejauh ini, tidak ada yang dapat dilakukan selain untuk beradaptasi dengan pergerakan musuh, Eugeo telah meyakinkan dirinya untuk yang terburuk, tapi kelihatannya Integrity Knight bermaskud untuk berhenti sejenak juga, menaikkan penutup helm tersebut dengan tangan kanannya sementara busur yang terbakar itu masih tersisa di tangan kirinya.

Wajahnya tidak terlihat, tenggelam didalam bayangan yang dibuat oleh api, tapi Eugeo memahami sinar kuat di matanya yang benar-benar mengingatkannya pada anak panah besi. Suara yang dikeluarkannya, juga, membawa gema seperti mesin yang membuat itu tidak telihat seperti manusia.

"—Ini benar-benar sudah dua tahun semenjak aku terbungkus api dari «Conflagrant Flame Bow» dalam kondisi seperti ini. Aku mengerti, itu kelihatannya bahwa kalian memiliki kemampuan untuk bertukar serangan dengan Knight Eldrie Synthesis Thirty-one, kriminal. Tetapi, itu membuatmu lebih tidak dapat dimaafkan. Untuk tidak melakukan pertarungan adil dan baik di antara knight, tapi untuk menipu Thirty-one melalui darkness arts yang mengerikan itu!"

"Dar... darkness arts, kau bilang?"

Kirito berbicara dari sisinya, seolah-olah dia telah terkejut. Eugeo kehilangan nafasnya untuk sesaat, juga, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya saat dia berteriak.

"Ti...Tidak seperti itu, kita tidak pernah menggunakan darkness arts atau sesuatu seperti itu! Kita hanya berbicara tentang Eldrie-san sebelum dia menjadi Integrity Knight dan..."

"Apa, sebelum dia menjadi Integrity Knight!? Kita Integrity Knight tidak memiliki masa lalu dari diri kita! Kita selalu menjadi Integrity Knight yang terhormat dari semenjak kita telah dipanggil dari Celestial World!!"

Kata-kata kemarahan, seperti baja membuat tangga besar itu bergetar dan menghilangkan nafas Eugeo.

Menurut gadis itu, Cardinal, semua Integrity Knight memiliki ingatan mereka telah disegel sebelum menjadi salah satunya. Dengan kata lain, knight merah dihadapan matanya, juga, hanya mempercayai secara menyeluruh bahwa «dia telah dipanggil dari Celestial World».

Itu kelihatannya mungkin untuk membuat Integrity Knight menjadi gelisah jika ingatan asli mereka, yang dihalangi oleh objek yang disebut «piety module», hendak didorong, tapi itu mustahil ketika dia bahkan tidak megetahui dari nama musuhnya. Singkatnya, dia tidak dapat dihentikan dengan metode sama yang digunakan pada kasus Eldrie.

Knight itu mengeluarkan suara bergemuruh dengan ketinggian yang memuncak di tengah-tengah percikan api tanpa batas menyebar dari busur besar.

"Aku tidak akan mengubah kalian menjadi abu karena aku telah diperintah untuk menangkap kalian hidup-hidup, tapi persiapkan diri kalian untuk mendapati tangan kalian terbakar dengan Conflagrant Flame Bow yang telah dilepas seperti yang kau lihat! Cobalah semua yang kau bisa, untuk melihat apakah pedang jelek itu mampu untuk menyelinap melalui api penghukuman ini dan mencapaiku!!"

Knight itu menaruh tangan kanannya kurang lebih dimana busur itu, diangakt tinggi, yang awalnya memiliki talinya. Bahkan sebelum memberikan waktu untuk memikirkan apa sikap dari ujung jarinya yang dilakukan, seperti menggenggam pada sesuatu, yang berarti—

Api kuat melonjak keluar di depan busur dan berubah menjadi satu anak panah dalam sekejap. Punggung Eugeo menjadi kaku saat merasakan dengan jelas jumlah kekuatan yang absurd di dalam anak panah yang bersinar terang.

"Kurasa bukan lagi masalah untuk memutuskan tali busurnya dan menghabiskan anak panahnya."

Suara Kirito dengan erangan pelan di sisinya, jadi dia mengumpulkan kekuatan pada mulutnya yang kelihatannya itu seperti hendak bergetar dan dengan cepat menjawab.

"Ada rencana?"

"Dia tidak dapat menembak berkali-kali secara berturut-turut, itu adalah perkiraanku. Aku akan menghentikan serangan pertamanya entah bagaimana, jadi kau dapat pergi untuk menebasnya."

"Perkiraan, hei..."

—Dengan kata lain, itu berarti semuanya akan berakhir jika panah api itu dapat ditembak secara beruntun. Tetapi, bahkan jika itu adalah satu tembakan, itu sudah cukup untuk membukti bahwa itu memiliki kemampuan yang cukup untuk membunuh dalam satu serangan, bukan? Keraguan bagaimana Kirito akan bertahan pada serangan seperti itu meningkat, tapi Eugeo mengangkat bahunya dan mengangguk.

"—Aku mengerti."

Kirito mungkin akan menghentikannya jika dia mengatakan dia bisa. Ini jauh lebih realistik ketika dibandingkan dengan keabsurdan dari dia menebang Gigas Cedar ketika dia mengatakan dia akan melakukannya.

Mungkin karena mereka berdua telah memikirkannya, kembali ke posisi dengan pedang mereka masing-masing yang telah siap, saat mempersiapkan diri mereka untuk yang terburuk, Integrity Knight itu mulai menarik tali tak terlihat dengan udara yang tenang.

Panas yang mengusap pipi Eugeo menguat lebih jauh lagi. Api yang dikeluarkan dari busur besar, yang kelihatannya bernama Conflagrant Flame Bow, telah mencapai langit-langit puncak tangga dan telah membakar marmer hitam.

Kirito bergerak tanpa peringatan.

Dengan tanpa teriakan bertarung, atau hentakkan kaki pada tanah, dia menerjang maju seperti daun dari pohon yang disapu oleh arus air yang cepat. Beberapa detik kemudian, Eugeo mengikuti di belakang dengan tidak tenang.

Hanya samar-samar, cahaya biru bersinar melalui tangan patnernya yang digenggam longgar saat dia berlari ke atas anak tangga, tapi Eugeo masih menyadarinya. Dia mungkin telah menciptakan itu secara rahasia sementara knight itu mengatakan pidatonya, dan dia tidak memiliki keraguan bahwa sinar itu dikeluarkan oleh cryogenic elements.

Knight itu akhirnya menarik busur besar itu hingga batasnya ketika mereka mendekat setengah perjalanan dari dua puluh langkah menuju tangga.

Upacara art dengan cepat keluar dari mulut Kirito pada saat yang sama.

"Form element, shield shape! Discharge!"

Jumlah dari element yang berbaris dan tertembak maju dari tangan kirinya, yang dengan tajam keluar, adalah batas maksimum secara bersamaan untuk satu tangan adalah, lima. Titik biru dari cahaya sukses berubah menjadi, perisai lingkaran, besar dimulai dengan bagian yang utama, dan menciptakan pengahalang tebal diantara Kirito dan Integrity Knight.

Suara keras keluar dari mulut knight itu untuk ketiga kalinya ketika dia melihat itu.

"Jangan membuatku tertawa!—Tembuslah ke dalam itu!!"

Api besar yang terkumpul itu, anak panah api itu—tidak, itu akan jauh lebih tepat untuk menyebut itu tombak api untuk sekarang, ditembak dengan hentakan, raungannya membawa pikiran kepada nafas api naga.

Tombak api yang hendak menyentuh dengan perisai es yang Kirito telah ciptakan setelah sesaat terbang.

Perisai pertama tersebar pada saat sementara seperti itu, pecahannya dengan segera berubah menjadi uap air juga.

Perisai kedua dan ketiga, juga, telah ditembus sebelum suara pecah mencapai telinganya.

Perisai keempat memiliki intinya, dimana anak panah itu mengenainya, membengkok ke dalam, tapi seperti yang diduga, itu tidaklah cukup dan tersebar. Melihat ke arah perisai terakhir, tombak api yang mendekat menuju mata dan hidungnya mewarnai pandangannya dengan merah terang.

Tapi meski begitu, Eugeo tidak memperlambat kecepatannya dan terus berlari ke atas tangga. Dia tidak dapat membiarkan patnernya, tepan di depan matanya, menyerang maju secara sendirian.

Eugeo menggeretakkan giginya dan menangkap pandangan dari tombak api yang bertabrakan dengan perisai kelima di depan, akhirnya kehilangan sejumlah dorongannya, tanpa memperhatikan bagaimana sedikit pengurangannya. Percikan api dengan keras tersebar ketika tidak dapat untuk untuk menjebol penghalang yang awalnya dari atribut elemental yang berlawanan.

"——!?"

Mata Eugeo dengan cepat terbuka lebar pada saat itu. Itu kelihatannya tombak yang terbakar jauh di dinding es semi transparan mengganti bentuknya dalam sekejap. Bentuk, dengan paruh terbuka lebar dan sayap yang terentang, yang sebetulnya hampir sama dengan burung pemangsa...

Tapi bahkan tanpa memberikan kesempatan untuk Eugeo mengedipkan mata, tak terhitung retakan dari permukaan perisai terakhir dan itu hancur berkeping-keping.

Udara panas yang menolak dia bahkan dari bernafas lalu segera turun. Tombak api, tidak, burung api yang telah menembus setiap penghalang membuat serangan keras seolah-olah hendak membakar Kirito di dalam apinya juga.

"Uooooh!!"

Itu adalah ketika teriakan bersemangat akhirnya keluar dari mulut Kirito. Dia dengan tajam menusuk pedang hitamnya yang dipegang di tangan kanannya ke depan.

Dia tidak akan mencoba untuk menebas burung besar itu, bukan, Eugeo bertanya-tanya. Tetapi.

Pedang Kirito memanjang lurus ke depan meniru busur yang tak terbayangkan. Itu berputar seperti kincir angin, bergerak secepat kilat dengan lima jari yang bersinar itu berperan sebagai titik tumpuan.

Tapi kecepatannya benar-benar luar biasa. Itu tidak diketahui bagaimana sebenarnya jari itu bergerak, pedang itu berputar dengan kecepatan yang lebih dari mata yang dapat ikuti, seolah-olah perisai hitam semi transparan telah membuat kemunculannya.

Burung api itu telah menyentuh dengan perisai keenam.

Dowaa!! Suara bergemuruh itu mungkin adalah teriakan kemarahan dari burung besar itu—

Api berbahaya yang telah menghancurkan pada lima dinding es telah terpotong menjadi ribuan bagian oleh putaran pedang itu, menyebarkan itu menjauh dengan cara memutar. Tapi beberapa diantara itu menyelimuti tubuh Kirito, menyebabkan satu ledakan kecil setelah ledakan lainnya.

Melihat tubuh patnernya hendak terlempar ke udara seolah-olah itu hendak dipukul mundur, Eugeo berteriak.

"Kirito—!!"

Bahkan sementara dia ditelan oleh percikan api tanpa akhir, Kirito berteriak kembali dari udara.

"Jangan berhenti, Eugeo!!"

Menghilangkan keraguannya sesaat, Eugeo menatap maju. Kirito tidak akan berhenti dan membiarkan kesempatan sekali dalam seumur hidup kabur di situasi ini. Dia telah menyelesaikan apa yang dia katakan dia bisa. Jadi dia pastinya harus memenuhi sisinya untuk menebas.

Melewati patnernya, saat dia terjatuh ke arah kanan, Eugeo melompat pada langkah yang tersisa.

Menebas pada sisa dari api yang melayang di udara dalam satu serangan, puncak tangga dimana knight itu berdiri dapat dikatakan hampir mendekati tepat dihadapannya.

Sword Art Online Vol 12 - 164.jpg

Itu pasti telah melebihi dugaan dari Integrity Knight itu juga, untuk sebuah serangan, yang mengambil semua kekuatannya dari armament full control art, untuk ditahan tanpa menimbulkan luka apapun. Wajah sebenarnya masih tidak dapat terlihat dari jarak ini, tapi dia merasa tanda keterkejutan dari dalam helmnya. Tidak ada waktu yang cukup untuk menarik busur dan menembak tembakan lainnya. Selama dia tidak dilengkapi dengan pedang, dengan membiarkan dia mendekatkan jaraknya—

-Ini kekalahanmu!

Eugeo mengangkat tinggi Blue Rose Sword sementara memproyeksikan teriakan diam itu.

"Jangan meremehkan aku, kriminal!!"

Knight itu berteriak seolah-olah dia mendengar pikiran Eugeo.

Jejak dari keterkejutannya menghilang dalam sekejap dan sebuah semangat bertarung yang kuat menyelimuti armor berat perunggu itu. Tangan kanan yang memegang busur besar yang terbakar itu telah diangkat tinggi, di atas kepala dan api mengerikan itu terkumpul di tangannya sekali lagi.

"Doaah!!"

Bersamaan dengan teriakan yang berdesir di udara yang panas, tangan kiri knight itu diacungkan dalam garis lurus.

—Sekarang apa!?

Dia telah melancarkan itu untuk serangan, tapi pikiran itu terlintas jauh di dalam pikirannya untuk sekejap.

Normalnya memikirkan tentang itu, baik jarak dan kekuatan akan jauh lebih tinggi di sisi ini, ketika membandingkan pedang dan pukulan. Tapi di sisi lain telah berdiri di posisi yang menguntungkan. Akankah Blue Rose Sword yang relatif tipis dapat untuk mendorong kembali tinju yang dilepaskan dari Integrity Knight yang tidak hanya tinggi, tapi memiliki keuntungan dari tiga langkah lebih tinggi juga? Akankah dia menghindar dan menyerang lagi setelah menaiki tangga hingga puncak tangga?

Tidak—

Kirito, knight dari Aincrad-style yang merupakan guru Eugeo dan juga teman terdekatnya, pernah sekali mengatakan ini.

—Di dunia ini, apa yang penting adalah untuk menaruh sesuatu pada pedangmu.

—Kau adalah seseorang yang mencari apa yang hendak kau taruh pada pedangmu.

Itu sama dengan seseorang yang mengajar Eugeo, Gorgolosso-senpai, seseorang yang mengajar Kirito, Solterina-senpai, dan bahkan bangsawan yang sombong dan juga tidak terhormat, Raios dan Humbert, mereka memiliki sesuatu yang memberikan kekuatan pada pedang. Tapi Eugeo secara pribadi merasa dia masih mencari untuk itu. Latihan sehari-harinya melebihi dibandingkan dengan siapapun dan dia mengerti berbagai secret moves, tapi dia masih harus menemukan sesuatu untuk diberikan pada pedangnya. Itu mungkin bahkan sesuatu yang dia bahkan tidak akan dapat temukan untuk selama-lamanya, sebagai seseorang yang tidak terlahir sebagai swordsman.

Meski begitu. Setidaknya, dia tidak dapat menyerah pada kekuatan Integrity Knight ini dan menarik pedangnya kembali untuk waktu yang penting ini. Setelah semua, waktunya untuk meningkatkan dengan berlatih pedang terus menerus telah berakhir. Eugeo memiliki tujuan tetap sekarang. Untuk mengembalikan Alice, yang diubah menjadi Integrity Knight dengan ingatannya yang telah diambil.

——Alice.

Ya, itu semua yang terpenting. Dia tidak dapat melakukan apapun selain melihat saat teman masa kecilnya diambil oleh Integrity Knight pada musim panas delapan tahun lalu, kali ini, dia pasti akan menyelamatkannya. Keahliaannya di ilmu pedang, pengetahuan di sacred arts, mempoles semua itu hanya untuk tujuan itu.

—Tolong, pinjamkan aku kekuatanmu. Aku masih tidak berpengalaman dan mungkin tidak bisa menjadi pemilik yang pantas untuk pedang terkenal seperti kau...Tapi aku tidak dapat melakukan apapun selain untuk maju!

Sementara mengatakan itu di dalam hatinya, dengan kuat membungkukkan seluruh tubuhnya setelah mengambil posisi dengan Blue Rose Sword yang digenggam di atas kepala.

Cahaya biru terang menyelimuti pedang yang transparan. Aincrad-style secret move, «Vertical».

"O... oohh!"

Dibimbing oleh niat yang kuat, pedang itu menyerang lurus. Sebuah suara yang keras, keunikan dari secret moves, bergema dari pedang saat itu bersinar melalui udara dan terhantam pada tangan kiri Integrity Knight yang terbakar itu.

Gelombang kejut dari cahaya biru dan merah bergabung menjadi satu dan menyebar keluar di dalam lingkaran, mengoyak karpet merah yang terbentang di atas tangga dan kain yang tergantung di dinding. Tinju dan pedang itu masih tidak bergerak di udara, masih menempel bersama-sama.

Creak, creak, sarung tangan armor dan pedang saling menghantam satu sama lain. Eugeo mengeluarkan semua yang dia punya untuk berusaha menyelesaikan secret move, tapi tangan knight itu tidak membuat gerakan sedikitpun, seolah-olah itu adalah batu. Tetapi, musuh tidak kelihatan memiliki ketenangan yang lebih juga. Rintihan lemah keluar dari dalam helm saat dia memindahkan seluruh beban tubuhnya pada tangannya.

Itu adalah jalan buntu, tapi saat itu berlangsung dalamn beberapa detik. Api yang dilepaskan dari Conflagrant Flame Bow yang masih dipegang di tangan knight itu mulai membakar pada Blue Rose Sword juga. Cahaya dari secret move yang menutupi pedang itu bergetar seolah-olah itu akan dihentikan disini, itu sudah pasti pedang itu akan dipukul mundur dalam sekejap dan dia akan menderita dari serangan panas yang membakar secara langsung.

"Gu... uh, oo....!"

Eugeo mengumpulkan semua kekuatan fisik dan mental untuk berusaha mengayun pedang ke bawah. Tetapi, api itu terus menjadi lebih kuat dan pedang itu mulai berubah menjadi warna merah api.

Dia tidak pernah memperhatikan itu hingga sekarang, tapi Blue Rose Sword memiliki atribut element es menurut pada «ingatan pedang» yang dia lihat di Ruangan Perpustakaan Besar. Dengan demikian, itu akan lemah terhadap api yang membakar, element yang berlawanan, dan membiarkan situasi ini untuk waktu yang lama sudah cukup mampu untuk mengurangi Life hingga derajat yang berbahaya.

Tapi pada waktu yang sama, itu seharusnya mungkin untuk menghilangkan api musuh dengan element pedang itu.

—Kau telah ditempa oleh badai salju terdingin di Puncak Barisan Pegunungan semenjak penciptaan dari dunia ini.

—Jangan coba untuk kalah pada api yang seperti ini!

Mungkin merespon pada teriakan Eugeo—

Tiba-tiba udara dingin muncul keluar, menusuk tidak hanya tangan kanannya, yang menggengam gagang, tapi tangan kiri yang membantu gagangnya juga. Itu pastinya bukanlah halusinasi. Sebagai bukti, miniature mawar yang diukir pada penahannya telah ditutupi dengan es putih murni. Es itu berubah menjadi sulur tipis,dengan cepat merambat pada pedang, dan memadamkan api yang terbakar itu.

Fenomena itu tidak berakhir di situ. Sulur es putih murni itu bahkan menjulur pada tinju knight yang ada di dekatnya, menyebarkan es untuk memadamkan api yang membukus di sekitar armor berwarna perunggu...

"Nuhh..."

Mungkin disebabkan oleh sensasi membeku yang mustahil, rintihan keluar dari knight itu. Tidak melewatkan dengan sekejap postur musuhnya yang goyah, tanpa memperhatikan bagaimana kecilnya itu, Eugeo melepaskan kekuatan yang telah dia simpan.

Gyaan! Suara yang memekakkan telinga leluar, pedang itu terayun ke bawah dan memukul mundur tangan kiri knight itu.

Tetapi, ujung pedang itu tidak menyentuh tubuh musuh itu, sayangnya. Knight itu mengarah pada Eugeo, dengan sia-sia menebas pedangnya lurus ke bawah, dan melepaskan tinju kanannya tanpa menunda waktu. Itu tidaklah terbakar, tapi cukup menyakitkan seperti hantaman batu itu dari tinju yang kuat akan mendorong jauh Eugeo hingga dasar tangga tanpa kesulitan sedikitpun.

Tapi.

"I... eeaaah!"

Bersamaan dengan teriakan yang bersemangat, pedang Eugeo terayun dari sudut yang tajam.

Menebas kembali dengan Blue Rose Sword, lebih berat dibandingkan dengan sebongkah besi dengan ukuran yang sama, melalui hanya dengan kekuatan fisik, itu mustahil tidak peduli bagaimana kuatnya seseorang itu. Hanya ada satu alasan kenapa itu mungkin, karena itu adalah secret move dari style ilmu pedang Aincrad-style skill dua tebasan, «Vertical Arc».

Pedang yang dengan cepat membuat jejak yang menyerupai huruf suci, 'V', menebas pada pelindung dada dari Integrity Knight secara diagonal. Beberapa tetesan berwarna merah gelap keluar dari bekas luka tebasan di armor berwarna perunggu. Ujung pedang itu mengenai badan knight itu—tapi itu hanya dangkal.

Saat knight itu memegang bagian atas tubuhnya, dia menguatkan kakinya dan melompat mundur. Dia akan mendapatkan ruangan untuk menembak panah api itu sekali lagi jika jaraknya melebar lagi. Tetapi, meskipun hal itu singkat, periode jeda yang pasti ada setelah penggunaan secret move apapun.

Kirito pernah memberitahunya untuk terus berpikir tentang bagaimana menghilangkan jeda besar itu dari penggunaan secret move. Tentu saja, itu bukanlah masalah jika serangan tebasan, tapi ada bahaya dari mendapat serangan balasan yang berbahaya pada kasus dimana itu ditangkis, dihindari, atau gagal untuk menghentikan gerakan musuh seperti waktu sekarang.

Jeda yang disebabkan oleh secret moves tidak dapat dicegah dan tidak ada yang bisa dilakukan tentang itu bahkan jika seseorang mengetahui itu. Dia dapat melakukan dengan metode untuk menghilangkan jeda itu, seperti bertukar dengan patnernya atau melepaskan element angin yang baru dibuat untuk menciptakan jarak melalui tekanan angin. Tapi Kirito telah terlempar ke ruangan dan tidak ada cukup waktu untuk mengucapkan upacara art juga. Itu membawa metode yang tersisa untuk dilakukan.

Eugeo mengumpulkan semua kekuatan fisik dan mentalnya untuk mengontrol pergerakan dari Blue Rose Sword sementara itu pada lintasan dari serangan kedua Vertical Arc. Dia memegang pedang, yang awalnya seharusnya telah menebas ujung kiri atas, seolah-olah itu dibantu oleh bahu kirinya. Cahaya biru yang menutupi pedang itu tiba-tiba menghilang disebabkan oleh kekuatan berlebihan yang dimasukkan, tapi itu tidak masalah saat serangan itu sendiri telah berakhir.

Blue Rose Sword dihentikan di atas bahunya pada saat knight itu dengan keras menghentakkan kakinya ke tanah. Puncak tangga dari tangga besar itu sangat lebar, dan dia mungkin memiliki rencana untuk menembak tombak api itu lagi sementara Eugeo terdiam jika dia sukses melarikan diri ke ujung dinding. Tidak ada cara untuk Eugeo bertahan dari itu jika dia mengizinkan itu.

Metode terakhir untuk menerobos jeda yang harus dihadapi.

Itu adalah menyambungkan secret move baru dari secret move. Dengan melakukan posisi pengaktifan skill berikutnya pada posisi akhir dari skill sebelumnya, periode jeda itu dapat dihapus. Itu adalah secret move diantara secret move yang bahkan gurunya, Kirito, dapat menyelesaikannya hanya setengah waktu darinya, «menyambung skills»—

"......!!"

Mengeluarkan nafas dalam di udara, Eugeo berharap untuk pengaktifkan skill dengan seluruh jiwanya. Dengan segera setelah itu, pedang itu jelas bersinar sekali lagi. Tubuhnya melompat seolah-olah dia bergetar di sana. Pedang itu menebas ke bawah dari ujung kir bergema saat itu mendekat pada Integrity Knight. Secret move satu tebasan, «Slant».

Pada akhirnya, kedua mata knight itu terbuka lebar di dalam helm itu.

Tidak ada rasa sakit yang menyerang mata kanannya, ataupun huruf-huruf suci yang berwarna merah terang membuat kemunculannya saat mereka bertarung seperti ketika dia mencoba menebas Raios dan Humbert. Bahkan tidak ada kebimbangan atau keraguan. Satu pikiran untuk menebas musuh yang pantas mendapat itu membuat gerakan pada seluruh tubuh Eugeo.

Blue Rose Sword dengan keras mengayun lurus ke bawah pada bahu kanan knight itu. Mengikuti suara metal dari armor yang terbelah, hantaman keras dan kuat mengirim dirinya pada tangan kanan Eugeo.

Diberikan dengan luka yang dalam dari bahu hingga mencapai dadanya, Integrity Knight itu terlempar ke belakang, menuju tanah.

"Goahh!"

Suara yang kecil terbisik keluar dari dalam helm dan dengan segera setelah itu, darah berjumlah besar menyembur keluar dari bawah helm itu, terlihat lebih merah dibandingkan dengan armor berwarna perunggu itu.

Ini membuat kedua kalinya dia menebas manusia, tapi Eugeo masih merasa nafasnya berhenti untuk sesaat. Suatu jenis sensasi menekan menyerang bagian bawah perutnya saat menyadari pengaruh balik yang masih tersisa di tangan kanannya, tapi dia dengan susah payah menekan itu.

Seolah-olah setuju dengan perasaan Eugeo, Blue Rose Sword memancarkan lagi gelombang kuat dari udara dingin lainnya, mengubah semua darah yang melekat di pedangnya menjadi es dan setelah mengguncangkannya, itu kembali ke kondisi biasanya. Bahu kanan knight itu telah membeku saat dia melihatnya, darah yang menetes berubah menjadi tetes air yang membeku.

"Guh..."

Knight itu mengeluarkan rintihan lemah saat dia mengangkat tangan kirinya yang masih memegang busur itu, mencoba menggerakkan itu menuju luka. Eugeo mengumpulkan kekuatan kembali ke tangan kanannya yang memegang pedangnya saat melihat itu. Dia akan menebas knight yang terjatuh itu sekali lagi jika musuh mulai mengucapkan sacred arts. Sebagai pengguna yang berangking tinggi seharusnya akan mampu menggunakan semua sacred energy di sekeliling udara untuk memulihkan Lifenya, dia mungkin akan memberikan beberapa luka di mulutnya, menebas tangannya, atau mungkin, tidak ada metode lain untuk membuat dia tidak berdaya selain mengambil hidupnya.

Tetapi, itu kelihatannya knight itu menyerah untuk menyembuhkan dirinya saat menyadari tangan kirinya benar-benar membeku dan tidak dapat melepaskan busur yang telah kehilangan apinya. Gerakan halus dengan ujung jari dibutuhkan untuk upacara art elemental. Mengeluarkan nafas panjang yang kelihatannya menjadi senyuman lesu, tangannya terjatuh ke tanah dengan retakan.

Eugeo sementara bingung pada apa yang harus dilakukan sekarang. Hawa dingin yang dibuat oleh Blue Rose Sword telah memadamkan api musuh, tapi itu membawa juga efek dari menghentikan darah yang mengalir juga, dengan membekukan luka itu. Knight itu tidak akan dapat untuk bertarung lagi, tapi dia juga tidak akan mati. Es di tangan kiri itu akan mencair pada akhirnya, dan dia mungkin akan mengejar setelah sepenuhnya pulih melalui sacred arts.

Orang yang pertama kali bicara adalah Integirty Knight, saat Eugeo berdiri sementara menggeretakkan giginya.

"...Anak muda..."

Eugeo membetulkan posturnya pada suara itu, serak namun mempertahankan kehormatannya, tapi kata-kata yang mengikutinya itu sedikit tidak terduga.

"Apa nama dari secret move yang pertama kali kau gunakan itu...?"

"......"

Dia terbingung untuk sesaat, tapi Eugeo menggerakkan mulut keringnya dan menjawab.

"...Itu dari ilmu pedang Aincrad style, skill dua tebasan, «Vertical Arc»."

"Skill...dua tebasan."

Mengulangi kata-katanya, knight itu terdiam untuk sesaat, namun dengan segera melanjutkan pertanyaannya.

Helm knight itu membuat sedikit gerakan, jadi Eugeo mengalihkan pandangannya menuju belakang dalam sekejap. Ketika dia melakukan itu, dia melihat Kirito, terbakar di berbagai tempat, perlahan menaiki tangga sementara menekan tangan kirinya dan menyeret kaki kanannya sepanjang jalan.

"Kirito...bagaimana dengan lukamu!?"

"Tenang saja, aku telah mencegah sebagian besar luka bakar yang parah....Tuan Knight, apa yang aku gunakan adalah Aincrad-style skill pertahanan, «Spinning Shield»."

"......"

Saat mendengar itu, knight itu melihat ke arah langit-langit saat helmnya retak, lalu kembali tenggelam dalam keheningan.

Suara yang keluar beberapa detik kemudian di dalam keheningan, seolah-olah dia membicarakan dirinya sendiri dibanding dengan Eugeo dan Kirito.

"...Aku selalu berencana untuk mencari di dalam Dunia Manusia dari ujung ke ujung...dan apapun yang berada diluar itu...tapi itu kelihatannya pedang dan skill yang masih tidak diketahui olehku masih ada di dalam dunia ini... —Skill kalian diliputi dengan kemunkinan dari jumlah latihan yang sungguh-sungguh. Itu adalah kesalahanku...untuk menuduh kalian berdua membuat Knight Eldrie menjadi buruk melalui art yang berbahaya..."

Integrity Knight itu menggerakkan kepalanya sekali lagi, mengalihkan pandangannya kepada Eugeo dari dalam penahan wajahnya.

"...Akankah kalian...memberitahuku nama kalian?"

Setelah bertukar pandangan dengan Kirito, Eugeo dengan singkat mengatakan namanya.

"...Swordsman Eugeo. Tidak memiliki nama keluarga."

"Aku Swordsman Kirito."

Setelah mengangguk seolah-olah dia telah mengingat pada nama mereka, Integrity Knight itu mengeluarkan kata-kata yang kelihatannya bahkan jauh lebih tidak terduga.

"...Beberapa Integrity Knights menunggu kalian berdua di lantai lima puluh di katedral ini, di «Grand Cloister of Spiritual Light». Tidak untuk menangkap kalian hidup-hidup, tapi melenyapkan Life kalian berdua dan mengambil hidup kalian...Nafas berikutnya yang kalian ambil mungkin akan menjadi terakhir, dalam sekejap jika kau memilih untuk serangan mendadak dengan serbuan secara langsung seperti yang kalian lakukan sebelumnya."

"Hei... hei, tuan, kau yakin akan baik-baik saja untukmu untuk mengatakan sesuatu seperti itu?"

Kirito menyela dengan sedikit bingung. Tapi knight itu memperlihatkan apa yang menyerupai senyuman dan berguman.

"Karena aku telah gagal untuk menyelesaikan perintah Administrator-sama...lambangku sebagai knight, armor ini dan sacred instrument, akan segera disita dan aku akan dihukum dengan dibekukan untuk periode waktu yang tidak diketahui... —Tolong kurangi Lifeku sebelum aku menderita karena hal memalukan itu...dengan kedua tangan kalian."

"......"

Knight itu menambahkan kata-kata, melihat ke arah Eugeo dan Kirito yang tidak dapat berkata-kata.

"Tidak perlu untuk merasa ragu...setelah semua...skill pedang kalian yang indah telah membuat kekalahanku..."

Mereka berikutnya mendengar namanya—itu cukup mengejutkan hingga Eugeo berhenti dari bernafas.

"Diriku...Seorang Integrity Knight, Deusolbert Synthesis Seven."

Ini bukanlah suatu tingkatan dimana hanya mengingatnya sedikit di suatu tempat.

Nama itu adalah nama yang dengan dalam terukir pada jiwa Eugeo, tidak akan pernah menghilang bahkan untuk sekejap, selama delapan tahun. Itu meliputi penyesalan yang dalam dan keputusasaan, bersamaan dengan kemarahan yang mengikuti itu.

"Deusol... bert? Pada waktu itu...kau telah...?"

Eugeo mendengar suara yang tertahan di tenggorokannya, suara serak yang kelihatannya milik seseorang yang lain.

Warna dari armornya berbeda dan suara dari semua Integrity Knight memiliki suara gema metal dari helm mereka, jadi dia tidak pernah menyadarinya sampai sekarang, tapi meski begitu, jika memang begitu, knight yang terbaring di hadapan matanya sekarang adalah seseorang yang pernah sekali berdiri di hadapan mata Eugeo dan—

Suatu jenis pengaruh mendorong Eugeo dari belakang dan dia mengambil beberapa langkah maju yang goyah.

"Eugeo...?"

Suara bertanya Kirito baru saja mencapai telinganya. Tubuh bagian atasnya berhenti, dia menatap pada wajah yang ada di dalam helm itu secara dekat.

Mungkin karena suatu jenis upacara art telah digunakan pada helm itu, saat wajah dari knight itu sebenarnya dikelilingi oleh kegelapan bahkan setelah jarak itu diperpendek hingga sepuluh cen. Tetapi, dia dapat dengan jelas melihat kedua mata itu yang memperlihatkan kekuatannya bahkan setelah Life yang berjumlah besar telah berkurang. Itu kelihatannya baik muda dan tua, dengan ujung yang tajam.

Menggerakkan mulut keringnya, Eugeo berbisik dengan nada yang serak.

"Kau bilang untuk mengurangi...Lifemu...? Ini adalah duel yang hebat, kau bilang...?"

Tangan kanannya bergetar hingga tidak dapat dikontrol sementara Blue Rose Sword yang masih di tangannya memancarkan udara dingin yang kuat. Es putih segera muncul mengelilingi armor Integrity Knight itu, tepat sebelum pedang itu terhunus.

Eugeo mengeluarkan sejumlah panas yang tiba-tiba keluar dari dalam perutnya, yang mengancam untuk bahkan merobek tenggorokannya menjadi dua, dalam satu nafas.

"Mengikat! Mengikat gadis yang baru berusia sebelas tahun dengan rantai...dan menggantung dia di naga terbang saat kau membawanya pergi...seseorang seperti kau benar-benar tidak memiliki hak untuk mengunakan kata seperti ituuu——!!"

Eugeo mengangkat tinggi Blue Rose Sword dengang ganggang yang terbalik.

Dia ingin untuk menusuk pada mulut milik dari knight itu yang mengatakan kata-kata yang benar-benar tidak dapat dimaafkan itu dengan segala cara hingga ke tanah, menghilangkan apa yang tersisa di Lifenya pada waktu yang sama.

Tetapi, rasa sakit yang parah dan bergetar yang mengahalangi tangan kanannya untuk bergerak. Ini bukanlah mata kanannya yang sakit, tapi di suatu tempat di dalam dadanya. Itu adalah suatu jenis rasa sakit yang terasa seolah-olah seseorang dengan panik mencoba menarik Eugeo kembali. Dengan pedang yang masih terangkat tinggi, Eugeo, yang tubuhnya bergetar dengan sangat kuat, mendapati tangan kanannnya—

Dengan pelan ditahan oleh tangan Kirito, yang mencapainya dari sampingnya.

"......Kenapa, kau menghentikanku, Kirito..."

Sesuatu yang cepat bergetar di dalam emosinya, berada diambang kehilangan seluruh alasannya, Eugeo bertanya pada patnernya, seseorang yang dia percayai dari siapapun dan semua orang di dunia ini.

Kirito menatap tajam ke arah Eugeo dengan mata yang bercampur dengan rasa sakit yang dia secara pribadi menahannya, dia perlahan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Orang itu telah kehilangan semangatnya untuk bertarung. Kau tidak boleh mengayunkan pedangmu pada musuh seperti itu..."

"Tapi...orang ini...orang ini adalah seseorang yang membawa pergi Alice...orang ini..."

Memberikan bantahan seperti anak-anak, bagian dari pikiran Eugeo telah mengerti pada apa yang Kirito coba untuk katakan.

Integrity Knight, juga, tidak lebih dari suatu keberadaan yang digerakkan oleh peritah dari Gereja Axiom—perintah dari pemimpin tertinggi. Seseorang yang menculik Alice adalah gereja itu sendiri, hasil dari hukum dan aturan yang menyimpang ini.

Tapi di sisi lain, dorongan untuk meninggakan pendirian yang sebenarnya dan menebas knight yang terbaring menjadi suatu bagian tidak akan menghilang. Perasaan dari kemarahan, ketidakberdayaan, dan bersalah yang telah terkumpul semenjak hari di musim panas itu bukanlah pada suatu tingkatan yang mampu menghilang dengan mudah dengan menemukan tentang perancang dibalik dunia ini setelah semua waktu yang telah berlalu.

Keranjang rotan yang terjatuh ke kakinya. Roti dan keju yang dikotorkan oleh pasir. Es yang dicairkan oleh sinar matahari.

Rantai dengan sinar gelap yang mengekang sepotong baju apron biru Alice. Dan kedua kakinya, tidak dapat bergerak seolah-olah akar tumbuh dari itu.

...Kirito—Kirito.

Kau mungkin akan mencoba menebas pada Integrity Knight dan menolong Alice pada saat itu. Kau mungkin akan melakukan itu bahkan mengetahui bahwa kau akan ditahan dan dikirim ke pengadilan.

Tapi aku tidak dapat melakukannya. Meskipun bagaimana Alice adalah satu-satunya temanku, seorang gadis yang jauh lebih penting dari siapapun, aku tidak dapat melakukan apapun selain melihat. Melihat saat knight yang, sekarang terbaring tepat dihadapan mataku, mengikat Alice dan membawanya pergi.

Luapan dari emosi, dipenuhi dengan suatu pemikiran seperti itu, memasuki ke dalam seluruh pikirannya. Tangan kanan yang ditahan oleh Kirito bergetar, pedang itu telah diangkat lebih tinggi.

Tetapi, kata-kata yang diucapkan Kirito sementara mengfokuskan kekuatannya pada tangan kirinya cukup mengejutkan Eugeo untuk membuat dia terdiam sejenak.

"...Aku yakin orang ini tidak mengingat itu. Waktu ketika dia mengambil pergi Alice dari Desa Rulid...Bukan karena dia telah melupakan itu, tapi karena ingatannya telah dihapus."

"Eh...?"

Eugeo melihat ke arah bawah pada helm dari knight yang terbaring dengan keheranan.

Integrity Knight yang tidak pernah bergerak sedikitpun, bahkan dengan Blue Rose Sword yang dihunus padanya, sekarang bergerak untuk pertama kalinya saat menerima tatapan dari mereka berdua. Secara paksa membuka tangan kirinya, dimana es itu akhirnya mencair, dia melepaskan busur panjang sementara memisahkan bagian dari es, dan melepaskan kancing di sisi helmnya dengan ujung jarinya.

Helm itu, dibaut untuk kelihatan menakutkan, terbuka seolah-olah menjadi terbelah dua, di depan dan di belakang, dan sekarang terlepas dari kepala knight, terjatuh dengan suara. Apa yang terlihat adalah wajah dari seorang laki-laki yang benar-benar menggambarkan keteguhan, sekitar umur empat puluh tahun.

Rambutnya, dipotong pendek, dan alis tebal itu berwarna merah pucat yang serupad dengan besi berkarat. Hidung tingginya menghubungkannya dan mulut yang berkerut itu lurus seperti potongan dari pisau sementara ketajaman dari matanya membawa pikiran pada besi dari kepala anak panah.

Tetapi, mata abu-abu gelapnya sendiri memperlihatkan kegelisahan di dalam hatinya, sedikit bergetar. Mulut tipis itu bergerak dan suara yang keluar benar-benar berbeda dengan suara yang dikeluarkannya hingga sekarang, nada rendah yang dalam.

"...Itu...seperti yang anak muda berambut hitam itu katakan. Kau bilang aku menangkap gadis muda dan membawanya pergi dengan naga terbang? Aku tidak memiliki ingatan dari membuat perbuatan seperti itu."

"Tidak... tidak memiliki ingatan...? Itu hanya terjadi delapan tahun lalu..."

Berguman dengan kebingungan, kekuatan keluar dari tangan kanan Eugeo tanpa dia sadari. Menyentuh dagunya seolah-olah tenggelam di pikirannya dengan tangan kirinya yang telah lepas dari Eugeo, Kirito berkata sekali lagi.

"Seperti yang aku bilang, itu telah dihapus...ingatanmu dari seluruh perbuatanmu, dari awal hingga akhir. Tuan... tidak, Knight Deusolbert, kau adalah Integrity Knight yang melindungi wilayah utara yang terpencil, Norlangarth Utara, apakah aku benar?"

"...Benar. Wilayah Terpencil Ketujuh Norlangarth Utara adalah...wilayah yang aku lindungi. Ya...itu hanya, sampai delapan tahun lalu..."

Alis dari knight itu terangkat kuat secara bersama-sama, seolah-olah dia hendak mencari untuk mengatakan sesuatu dari suatu tempat jauh di dalam pikirannya.

"Dan aku...diberikan armor ini bersama dengan tugas untuk menjaga Katedral Pusat...disebabkan oleh suatu kesuksesan yang besar..."

"Apa kau dapat mengingat apa kesuksesan itu?"

Knight itu tidak dapat memberikan jawaban langsung pada pertanyaan Kirito. Mulutnya ditekan dengan rapat secara bersamaan, pandangannya melihat sekitarnya. Apa yang memecah keheningan pendek itu adalah kata-kata dari Kirito sekali lagi.

"Aku akan menjawabnya untukmu. Kesuksesanmu adalah memancing keluar Integrity Knight Alice Synthesis Thirty. Di desa kecil di ujung wilayah utara, di suatu tempat dimana tak seorangpun yang tahu di ibu kota pusat. Bahkan oleh pemimpin tertinggi, Administrator, memberikan penghargaan dari kesuksesan membawa Alice ke menara ini padanya, dia juga menghapus semua ingatan mengenai insiden ini darimu...Alasan untuk itu telah dikatakan oleh dirimu sendiri sebelumnya."

Tanpa ada seorangpun yang menyadarinya, Kirito terus berbicara, dalam nada cepat yang jauh lebih cepat baik dari Eugeo dan Integrity Knight, seolah-olah dia berbicara pada dirinya sendiri.

"Integrity Knights tidak memiliki masa lalu, mereka telah dipanggil dari Celestial World, setelah semua, itulah yang kau katakan. Itu pasti adalah apa yang pemimpin tertinggi katakan pada kau segera setelah kau bangun sebagai knight. Itulah kenapa kau tidak memiliki ingatan dari sebelum kau menjadi Integrity Knight, itulah bagaimana dia meyakinkan kau. Tapi untuk bertahan dengan cerita itu, itu akan menjadi masalah jika tidak hanya ingatan Integrity Knight memiliki ingatan dari kehidupan manusia mereka yang masih tersisa, tapi juga jika mereka memiliki ingatan mengenai kelahiran dari knight baru disamping diri mereka. Itu akan menjadi kacau jika kriminal yang kau bawa oleh dirimu sendiri tiba-tiba muncul sebagai knight teman kalian pada hari berikutnya, setelah semua...ada kelemahan pada kebohongan dari pemimpin tertinggi..."

Memikirkan pada berbagai aspek dengan kecepatan yang kuat, Kirito muali bergerak ke kiri dan ke kanan sementara melihat ke bawah.

Dengan semua keinginannya yang menghilang dari dia sementara dia melihat keadaan patnernya, Eugeo mengambil nafas panjang sementara mengambil pandangan lain pada laki-laki yang terbaring di dekat kakinya. Ketika dia melakukannya, Integrity Knight Deusolbert, juga, kelihatannya tenggelam pada pikirannya dengan ekspresi kosong.

Itu bukanlah seperti kemarahan dan kebenciannya telah menghilang, tapi jika ingatannya mengenai Alice benar-benar telah dihapus tanpa jejak, maka dia tidak memiliki pilihan lain selain untuk menerima itu—mungkin.

Bahwa semua knight itu tidak lebih dari suatu pion yang dimanipulasi oleh seseorang yang bertugas sebagai pemimpin tertinggi dari Gereja Axiom, Administrator. Musuh yang dibencinya yang mengambil Alice darinya, mengambil ingatannya dari dia, dan membuatnya menjadi Integrity Knight hanyalah satu orang, Administrator.

Mungkin menyadari tatapan Eugeo yang melihat ke bawah pada dirinya, mata Deusolbert berhenti melihat sekitarnya. Emosi yang kelihatannya berputar-putar di dalam hatinya tidak dapat terbaca, tapi suara yang keluar dari mulutnya yang benar-benar terputus-putus, suara yang membuat ingin bertanya apakah dia benar-benar adalah orang yang sama sebagai lawan kuat yang berdiri dihadapan mereka berdua, beberapa menit yang lalu.

"Itu seharusnya...tidak mungkin...Bagaimana mungkin kita Integrity Knight adalah penduduk Dunia Manusia seperti mereka semua sebelum kita diangkat sebagai knights......?"

"......"

Menggantikan Eugeo yang kehilangan kata-katanya, Kirito menjawab lagi.

"Darah yang mengalir keluar dari lukamu berwarna merah, seperti kita, bukan? Dan Knight Eldrie menjadi aneh pada waktu itu bukanlah karena suatu art mengerikan yang diberikan padanya. Itu karena kita mencoba membuat dia mengingat kembali ingatan yang diambil darinya....Kau seharusnya sama seperti Eldrie juga. Aku tidak tahu apakah mendapat kemenangan di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan atau melanggar terhadap Taboo Index, tapi kau memiliki ingatan penting yang diambil oleh Administrator dengan kesetiaan terhadap gereja ditanam di tempat itu dan mengubahmu menjadi Integrity Knight. Kau mengatakan bahwa kau akan dihukum dengan akan dibekukan, tapi Administrator-sama mungkin akan mengubag ingatanmu pada saat itu dan menghapus ingatanmu dari percakapan ini juga. Aku bahkan akan bertaruh pada itu."

Cara Kirito mengekspresikannya sangatlah langsung, tapi suaranya bercampur dengan kesedihan.

Mungkin knight itu merasakan itu juga, saat dia menutup kelopak matanya dan terus terdiam untuk sesaat, tapi dia perlahan menggelengkan kepalanya sekali lagi.

"Aku tidak dapat untuk mempercayainya. Bagaimana mungkin Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi...memberikan art seperti itu pada......"

"Tapi itu adalah kenyataan. Seharusnya masih ada sesuatu yang tertinggal di dalammu juga. Ingatan penting dari sebelum kau menjadi knight, suatu hal yang tidak dapat dihapus oleh upacara art apapun..."

Saat Kirito mendekat dari sudut itu, Deusolbert tiba-tiab mengangkat tangan kirinya ke atas dan menatap pada jari kuatnya saat dia perlahan berguman dengan menghela nafas.

"Bahkan semenjak aku turun ke Dunia Manusia...Aku selalu melihat mimpi yang sama ini, dari waktu ke waktu... Sebuah tangan kecil menggoyangkan aku untuk bangun...Dan cincin perak yang terpakai di salah satu dari jari itu...Tapi ketika aku terbangun...tidak ada seorangpun yang di sana..."

Alis Deusolbert tergabung bersama-sama dan dia menekan kuat tangan kirinya pada dahinya. Kirito menatap kuat pada kejadiaan itu, tapi kemudian bergumam dengan pelan.

"Kau mungkin tidak dapat mengingat lebih dari itu. Ingatanmu dari seseorang yang memiliki tangan dan cincin itu telah diambil oleh Administrator..."

Terdiam untuk sesaat, dia mengembalikan pedang hitam yang direndahkan di tangan kanannya ke sarungnya yang terpasang di pinggang kirinya dengan suara gemerincing.

"...Kau memilih apa yang akan kau lakukan sekarang. Apakah kembali ke sisi Administrator untuk menerima hukumanmu, atau untuk menyembuhkan lukamu dan mengejar kami...atau mungkin..."

Memotong pada bagian sana, Kirito mengambil beberapa langkah menuju tangga yang membentang menuju atas dari sisi kanan dari puncak tangga. Hingga berhenti di sana, dia memutar bahunya dan melihat ke arah mata Eugeo.

—Apakah itu cukup?

Mata hitamnya berkata seperti itu. Eugeo mengalihkan pandangannya pada Integrity Knight, yang terbaring di tanah dengan matanya tertutup, sekali lagi. Dia perlahan mengangkat Blue Rose Sword di tangan kanannya—dan meluruskan ujungnya ke sarung di pinggang kirinya, dan dengan lembut menyarungkan itu.

"...Ayo pergi."

Mengambil tempat di samping Kirito, dia dengan singkat mengatakan itu dan mereka mulai berjalan menaiki tangga bersama-sama.

Itu tidak diketahui pilihan apa yang Integrity Knight Deusolbert Synthesis Seven akan ambil, tapi setidaknya, itu kelihatannya itu bukan pilihan untuk mengejar pada mereka berdua.

Bagian 2[edit]

Suara dari sepatu mereka berdua menaiki tangga marbel bergema untuk periode waktu yang singkat.

Tanpa itu, sekeliling mereka akan menjadi diliputi oleh kesunyian, cukup tajam untuk melukai telinga seseorang. Seharusnya ada sejumlah besar dari pendeta dan murid mereka yang tinggal di menara besar dari Gereja Axiom, menurut dari pengetahuan Eugeo yang banyak, tapi dia tidak dapat merasakan apapun yang mendekati keberadaan manusia, tidak peduli sekeras apapun dia menajamkan pendengarannya atau memfokuskan pandangannya.

Sebagai tambahan, pemandangan yang menyambut dia di setiap lantai baru yang dia naiki—aula persegi dengan koridor terbentang ke kiri dan ke kanan, pintu yang berbaris dengan jarak yang sama bersamanya—hampir tidak dapat dibedakan, memberikan dia kesan bahwa art ilusi telah ditaruh pada mereka tanpa terlihat, membuat mereka menaiki dan menuruni tangga yang sama berulang kali.

Dia ingin mencoba memasuki salah satu koridor dan membuka pintu di dekatnya untuk memastikan bahwa itu bukanlah masalahnya, tapi Kirito dengan diam menjaga kecepatannya menuju ke depan, jadi dia memberitahu dirinya untuk tidak teralihkan. Jika kata-kata Deusolbert terbukti benar, bahkan musuh yang lebih kuat akan menunggu mereka di lantai lima puluh dari katedral, di suatu tempat lebih tinggi dari tangga ini.

Dengan lembut menyentuh gagang dari pedang kesayangannya yang berayun di pinggang kirinya, pada saat Eugeo mencoba untuk menyingkirkan pikiran yang mengganggunya, langkah Kirito tiba-tiba menjadi segera berhenti sebelum mencapai puncak tangga.

Berbalik dengan ekspresi serius, dia berbicara dengan nada tegang, berkata.

"Hei, Eugeo. ......Lantai berapa kita berada sekarang...?"

"Hei... hei sekarang."

Setelah secara tidak sengaja, sedikit tersandung, Eugeo menghela nafas, menggelengkan kepalanya, dan menurunkan bahunya, pada waktu yang bersamaan.

"Lantai berikutnya adalah lantai kedua puluh sembilan. Aku berpikir ini mungkin akan terjadi, tapi untuk memikirkan kau benar-benar tidak menghitungnya."

"Apakah kau berpikir itu akan tepat untuk memiliki indikator lantai di tangga, normalnya?"

"Itu mungkin benar, tapi kau seharusnya telah menyadarinya setelah semua waktu yang berlalu!"

Tidak memperhatikan sikap Eugeo seolah-olah itu bukanlah urusannya, Kirito menyandarkan punggungnya pada dinding puncak tangga dengan suara keras.

"Meskipun demikian, kita masih sejauh itu, huh...Aku pikir kita telah pergi cukup tinggi juga...Aku lapar..."

"...Sebenarnya, kau tidaklah sendirian pada hal itu."

Mendekati lima jam telah berlalu semenjak mereka telah diberikan sarapan mewah di Ruangan Perpustakaan Besar Cardinal. Solus telah mendekati bagian tengah dari langit dari apa yang dapat terlihat melalui jendela yang panjang dan tipis, dan dengan bagaimana mereka telah menaiki dua puluh lima lantai, yang akan berarti ribuan langkah, sebagai tambahan untuk telah melalui sebuah, pertatungan kuat, itu sudah pasti tidak dapat dihindari bahwa tubuh mereka menuntut untuk istirahat.

Mengangguk pada kata-kata Kirito, Eugeo mengikutinya dengan mengeluarkan tangan kanannya tanpa menunda-nunda.

"Jadi, serahkan salah satu dari sesuatu yang ada di saku celanamu."

"Eh...tidak, ini adalah, sebenarnya, untuk keperluan darurat, jadi... —Matamu tanpa diduga tajam, huh."

"Tidak ada cara untuk aku tidak akan menyadarinya dengan bagaimana penuhnya itu terisi, bukan?"

Kirito memasukkan tangannya pada saku kanannya dengan apa yang kelihatannya seperti pasrah pada wajahnya, sebelum mengambil keluar dua manjuu dengan uap yang mengepul dan melempar salah satu dari itu. Saat menangkap itu, ada sebuah aroma lezat yang memancing perutnya meskipun waktu yan cukup lama telah berlalu semenjak mereka meninggalakn ruangan perpustakaan.

"Itu sedikit terbakar dengan serangan api dari orang tua itu."

"Ha-Hah...Jadi karena itu seperti itu. Terima kasih atas makanannya."

Manjuu itu diciptakan oleh Cardinal melalui sacred art berangking tinggi, jadi itu berarti itu awalnya adalah beberapa halaman dari buku tua, sebelumnya, tapi Eugeo menutup mata pada fakta itu dan menggigit pada itu. Dia untuk sebentar menikmati bekas panggangan yang renyah pada kulitnya dan daging cincang yang lembut mengisi di dalamnya.

Makan siang yang sederhana itu telah selesai dalam beberapa detik kemudian, Eugeo menjilat jarinya dan menghela nafas pendek. Sebenarnya masih ada tonjolan yang mencurigakan di saku kiri Kirito, tapi dia memilih untuk meninggalkan itu sementara memanggil patnernya yang sudah selesai makan.

"Itu sangat enak. —Jadi, apa rencana untuk sekarang? Kita akan mencapai lantai kelima puluh yang dipertanyakan jika kita memanjat untuk tiga puluh menit lainnya, tapi...Apakah kita akan menyerbu dari depan?"

"Nn..."

Kirito mengusap rambutnya saat dia menggerutu.

"Itu benar... —Kita menemukan bagaimana menakutkannya Integrity Knight dari pertarungan sebelumnya, tapi menilai dari yang aku lihat dipertarungan diantara kau dan orang tua itu, dibandingkan dengan orang-orang itu tidak terbiasa menghadapi skill tebasan beruntun, mereka benar-benar tidak memiliki pengalaman dengan itu, aku rasa. Aku ingin mempercayai bahwa kita memiliki kesempatan menang jika kita membawa itu menjadi pertarungan satu lawan satu dalam jarak dekat. Tapi dengan beberapa dari mereka ada disana, tidak perlu dibilang bahwa mereka penuh persiapan dan menunggu kita, itu akan sangat sulit untuk mempersiapkam diri."

"Jadi...Apakah kita akan menyerah untuk menyerbu dari depan dan mencari rute lainnya?"

"Aku ragu tentang hal itu. Bahkan Cardinal mengatakan bahwa tangga besar ini adalah satu-satunya rute dan bahkan jika kita menemukan jalan masuk rahasia, masih ada bahaya dari tertangkap dengan serangan menjepit tak lama kemudian...Aku berharap untuk mengalahkan knight di lantai lima puluh tanpa berlari di suatu tempat entah bagaimana. Jadi itu akan membawa kita untuk menggunakan kartu truf kita, tapi kita memiliki waktu untuk mempersiapakan upacara panjang art, yang terbawa itu, terima kasih atas peringatan yang orang tua itu berikan pada kita."

"Aku mengerti...«armament full control art»..."

Ketika Eugeo berguman itu, Kirito mengangguk dengan ekspresi rumit.

"Aku khawatir tentang menggunakan itu di pertarungan sebenarnya tanpa latihan, tapi menyia-nyiakan Life pedang kita pada suatu tempat seperti ini hanya akan percuma...Kita akan menggunakan full control art bersama-sama, sebelum kita menyerbu menuju lantai lima puluh dan mencoba untuk membuat banyak knight tidak berdaya sebanyak mungkin..."

"Aah, ada sesuatu yang harus aku katakan tentang itu, Kirito."

Dengan sedikit canggung, Eugeo memotong perkataan Kirito.

"Itu seperti...Itu tidak kelihatan seperti full control artku akan akan menjadi serangan hantaman langsung seperti skill Integrity Knight sebelumnya."

"Eh... b-benarkah?"

"Kau tahu, seseorang yang menulis upacara art untukku adalah Cardinal...Aku adalah seseorang yang memikirkan jenis dari skill itu, tapi meski begitu..."

Kirito memiringkan kepalanya saat dia berbicara pada Eugeo, perkataannya penuh dengan alasan.

"Baiklah, cobalah untuk mengucapkan upacara art untuk sekarang. Tanpa kalimat pembuka."

"B-Baiklah."

Dia dengan cepat mengucapkan upacara art seperti yang dia telah minta, dengan «system call» dihilangkan. Kirito, yang mendengarnya dengan matanya tertutup, merasa telah melebihi harapan dan menyeringai setelah Eugeo mengatakan kalimat terakhir, "Enhance armament".

"Jadi seperti itu. Benar, itu tidak dapat dikatakan sebagai serangan langsung, tapi itu masih cukup berguna, tergantung bagaimana cara menggunakannya. Dan itu kelihatannya tidak terlalu buruk dengan full control artku."

"Oh? Apa skillmu, Kirito?"

"Itu adalah sesuatu yang akan kau lihat sebentar nanti."

Eugeo dengan pelan mengerutkan dahinya pada Kirito, yang mengeluarkan kata-katanya dengan mudah. Tetapi, patnernya menyisir rambutnya ke atas dahi dengan wajah tenang, menyandarkan punggungnya pada dinding sekali lagi.

"Sebenarnya, aku tidak dapat mengatakan ini adalah strategi sebenarnya, tapi mari kita coba dengan itu. Pertama, kita mengucapkan armament full control art tepat sebelum kita menyerbu di lantai lima puluh, membiarkan itu standby[2] sebelum pengaktifan. Lalu pada saat menyerbu dan mengkonfirmasi posisi mereka, kau menyerang mereka dengan skillmu, lalu aku akan menyerang dengan skillku. Jika semuanya berjalan baik dan musuh berkumpul di tempat yang sama, kita bahkan mungkin akan membuat mereka semua tidak berdaya."

"Mungkin, huh."

Dia menyetujuinya dengan keraguan, tapi sejujurnya, Eugeo tidak memiliki rencananya sendiri. Dia tidak dapat melakukan apapun selain mengakui patnernya memiliki bakat yang lebih baik untuk membuat rencana dengan mempehitungkan semua faktor dan dia sangat berterima kasih untuk dapat mengucapkan upacara art sebelum bertarung, dengan keyakinannya yang rendah dalam mengucapkan itu dengan cepat.

"...Jadi, mari kita lakukan dengan itu. Pertama, aku akan..."

Saat dia berbicara, Eugeo dengan cepat mengalihkan pandangannya menuju kiri, pada tangga yang menghubungkan menuju lantai dua puluh sembilan dari katedral ini.

Dan dia membuka lebar matanya dengan keheranan.

Dua kepala kecil telah mengintip dari bayangan yang mengelilingi pegangan tangga, empat mata mereka terus menatap ke arah mereka.

Pada saat kedua mata mereka bertemu dengan Eugeo, dua kepala itu menghilang dengan sekejap. Tapi saat dia melanjutkan untuk menatap, dengan diam, kepala itu muncul sekali lagi, sepasang mata yang terlihat tak berdosa berkedip secara terus menerus.

Menyadari sesuatu telah terjadi, Kirito mengikuti pandangan Eugeo dan juga setelah membuat mulutnya terbuka lebar, Kirito dengan ragu-ragu bertanya.

"Siapa...mereka berdua?"

Dengan itu, dua kepala itu bertemu satu sama lain, mengangguk secara bersamaan, dan dengan gugp memperlihatkan diri mereka secara keseluruhan.

"An...Anak-anak...?"

Eugeo berguman itu, tanpa memikirkannya.

Seseorang yang berdiri di lantai atas adalah dua anak perempuan yang memakai baju berwarna hitam yang benar-benar sama.

Umur mereka kelihatannya baru sepuluh tahun. Dia merasa sedikit nostalgia, dari pakaian hitam polos yang benar-benar sama dengan pakaian keagamaan milik Selka. Saudara perempuan Alice, yang belajar di Gereja Rulid.

Tetapi, tidak seperti Selka, gadis itu memiliki pedang pendek dengan panjang secara keseluruhan adalah tiga puluh cen di sabuk hijau mereka.

Saat itu kewaspadaan menjadi meningkat, tapi dia segera menyadari tidak hanya pedang mereka, tapi juga ganggang pedang mereka juga, dibuat dari kayu kemerahan. Warna itu tidak biasa, tapi itu kelihatannya sama dengan pedang kayu yang diberikan kepada anak-anak yang bertujuan menjadi swordsman.

Anak perempuan di kanan memilki warna rambut coklat muda dengan dua kepang. Alisnya yang terlihat lemah bersamaan dengan ujunga matanya memberikan kesan lemah lembut. Berbalik dengan itu, gadis di kiri memiliki warna rambut kekuning-kuningan yang dipotong pendek, kedua matanya terlihat ke atas menunjukkan ketetapan hati.

Saat Kirito dan Eugeo menatap dengan terdiam, seseorang yang mengambil langkah maju gadis bersemangat, berpikiran kuat di sebelah kiri seperti yang diduga. Mengambil nafas yang dalam di udara, dia tiba-tiba mulai memperkenalkan dirinya.

"Erm... Aku-Saya[3] Fizel, murid sister dari Gereja Axiom. Dan gadis ini juga adalah murid sister..."

"Li... Linel."

Suara kekanak-kanakan dari mereka berakhir dengan nada gemetar, mungkin disebabkan oleh kegelisahan mereka. Eugeo menunjukkan senyuman dengan maksud untuk menyakinkan mereka dan segera menyadari bahwa dia mungkin dilihat sebagai musuh, memikirkan bahwa mereka adalah sister di gereja ini, bahkan jika mereka masih murid.

Tetapi, kata-kata yang diucapkan oleh anak perempuan yang memanggil dirinya Fizel jauh lebih cepat ke permasalahan daripada yang Eugeo duga.

"Jadi...Apakah penyusup dari Dark Territory seharusnya adalah kalian berdua?"

"Hah...?"

Wajah Kirito dan wajahnya tanpa sadar bertemu. Patnernya juga tidak dapat untuk memilih keputusan untuk bagaimana menangani situasi ini. Mulutnya bergetar tanpa henti dengan alisnya telah menyatu, dan dia dengan cepat bergerak dan menyelinap ke belakang punggung Eugeo.

"Aku buruk dengan anak-anak. Aku akan meninggalkan ini untukmu."

Diberitahu itu dari belakang, dia berharap untuk berbisik "Itu tidak adil!" kembali, tapi bersembunyi di belakang Kirito kelihatannya tidak mungkin untuk sekarang. Melihat ke arah dua anak perempuan di lantai atas, dia memberikan jawaban yang ditahannya.

"Er... erm, sebenarnya...Kita awalnya adalah manusia yang berasal dari Dunia Manusia, tapi...bagian dari kami menjadi penyusup, sebenarnya, tidak terlalu salah, aku rasa..."

Kali ini, anak-anak berkermumun menuju dahi mereka secara bersamaan saat mendengar itu dan mulai saling bertukar perkataan dengan suara pelan. Itu sangat pelan, tapi masih dapat terdengar disebabkan bagaimana sekeliling mereka sangatlah tenang.

"Ada apa dengan itu, mereka benar-benar seperti manusia dari luar, Nel. Mereka tidak memiliki tanduk atau ekor."

Seseorang yang mengatakan itu dengan tidak puas, adalah Fizel, gadis yang kelihatannya berpikiran kuat. Gadis yang bernama Linel berkata lagi dengan terbata-bata.

"A-Aku hanya mengatakannya sesuai dengan yang ada di buku. Kau adalah seseorang yang salah karena berpikir mereka benar-benar memilikinya,Zel."

"Hmm, meski begitu mereka mungkin hanya menyembunyikannya. Mungkin kita dapat mengatakan itu jika kita mendekat?"

"Eeh, tapi mereka benar-benar kelihatan seperti manusia normal. Tapi...Itu mungkin bahwa mereka memiliki taring..."

Percakakapan yang menyenangkan itu mengingatkan Eugeo terhadap saudara perempuan kembar di peternakan Wolde dimana dia sekali bekerja sambilan, dan mulutnya benar-benar menjadi lemah untuk kali ini juga.

Jika Kirito dan dirinya adalah anak-anak berumur seperti itu dan mengetahui bahwa penyusup dari tanah kegelapan di dekatnya, kemungkinannya akan tinggi bahwa mereka akan pergi dan menyelinap untuk melihat seperti ini. Sebagai hasilnya, mereka mungkin akan mendapat teguran keras dari ayah mereka dan kepala desa.

Eugeo dengan cepat menjadi khawatir, memiliki pemikiran bahwa. Akankah kedua anak perempuan ini akan dihukum nanti untuk bertemu dengan pemberontak terhadap gereja? Dia merasa bahwa dia bukanlah berada pada situasi untuk menahan kekhawatiran itu, tapi itu terasa dia harus mengatakannya.

"Hei...Bukankah mereka akan marah pada kalian berdua jika berbicara dengan kami?"

Saat mendengar itu, Fizel dan Linel dengan cepat menutup mulut mereka dan lalu kemudian, memperlihatkan senyum puas. Fizel menjawab, terlihat hanya sedikit gembira. Kesopanan dalam cara berbicara telah menghilang tanpa disadari.

"Semua pendeta dan sister dan murid mereka telah disuruh untuk mengunci pintu kamar mereka dan tidak pernah pergi semenjak pagi ini. Jadi itu berarti bahkan jika kita pergi untuk melihat penyusup, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk seseorang akan mengetahuinya."

"Ha-Hah..."

Entah bagaimana, itu benar-benar seperti alasan yang Kirito akan gunakan. Dia mungkin bahkan benar-benar dapat membayangkan itu di pikirannya, bagaimana mereka akan ditemukan pada akhirnya dan ditegur.

Kedua anak perempuan itu telah berada di uatu diskusi sekali lagi, tapi Linel adalah seseorang yang berbicara kali ini.

"Ermm...Apakah kalian berdua benar-benar bukan monster dari Dark Territory?"

"Y-Yeah."

"Jadi, aku meminta maaf, tapi bolehkah kalian memperbolehkan kami untuk mendekati kalian berdua...? Di, erm, dahi dan gigi kalian."

"Eeh?"

Kehilangan ketenangannya pada permintaan yang tak terduga, Eugeo melihat ke belakang, tapi tidak hanya Kirito tidak memberikan bantuan dengan suatu cara, dia bahkan berpura-pura tidak tahu dengan kepalanya melihat ke arah suatu tempat. Eugeo dengan berat hati mengangguk pada anak perempuan itu.

"...Baiklah, jika hanya itu semua, aku tidak memiliki masalah dengan itu..."

Untuk tidak bisa menolak di situasi ini disebabkan oleh sebagian dari sifatnya, tapi ada juga keinginannya untuk membuktikan bahwa dia adalah manusia biasa meskipun menjadi pemberontak terhadap gereja, tergantung pada situasinya, itu bahkan mungkin untuk mendapat informasi tentang bagian dalam katedral dari mereka berdua.

Sword Art Online Vol 12 - 195.jpg

Wajah Fizel dan Linel menjadi berbinar dan mereka menuruni tangga, cara berjalan mereka tergabung dengan rasa keingintahuaan dan kehati-hatian. Langkah mereka berhenti di ujung tangga, mata biru dan abu-abu mereka dengan tajam melihat ke arahnya.

Eugeo membungkuk, menyisir rambutnya ke atas dahi dengan tangan kirinya saat dia memperlihatkan giginya agar mereka dapat melihatnya. Anak perempuan itu menatap pada Eugeo selama sepuluh detik tanpa mengedipkan mata sekalipun, sebelum akhirnya mereka mengangguk, kelihatannya sudah puas.

"Dia manusia."

"Dia manusia, bukan?"

Suatu ucapan ketidakpuasan terlihat di wajah mereka bedua yang membuat dia tidak dapat melakukan apapun selain untuk memperlihatkan senyum masam. Melihat ke arah Eugeo yang melakukan itu, Linel memiringkan kepalanya menuju ke samping.

"Tapi jika kalian berdua bukanlah monster dari Dark Territory, kenapa Katedral Pusat akan mempercayai bahwa kalian adalah penyusup?"

"E-Erm..."

Bahkan sementara memikirkannya itu akan berubah menjadi yang buruk untuk satu hal dan lainnya, dia merasa tidak perlu lagi untuk menyembunyikannya setelah semua yang telah terjadi dan menjawab secara jujur.

"...Pada waktu yang lalu, teman perempuanku telah diambil pergi oleh Integrity Knight. Jadi aku datang ke sini untuk mengambil kembali dia."

Ini, khususnya, pasti akan sulit untuk murid sister, yang normalnya akan mempercayai dengan kuat pada rasa keadilan Gereja Axiom, untuk menerimanya. Dia mengira ekspresi dari kaget dan kebenciaan akan terlihat pada wajah anak perempuan muda itu, tapi sebaliknya dari itu, gadis itu hanya menganggul saja. Gadis dengan rambut berwarna kekuning-kuningan, Fizel, berbicara dengan wajah yang terlihat sedikit tidak puas.

"Jadi seperti itu. Itu alasan yang cukup normal."

"N-Normal?"

"Ada beberapa kasus dimana beberapa orang mengadakan protes terhadap gereja ketika keluarga atau kekasih mereka diambil pergi, tercatat di masa lalu. Kalian berdua mungkin adalah orang pertama untuk benar-benar berhasil untuk masuk ke sini, meskipun begitu."

Mengikuti itu, Linel mengikuti arus pembicaraan dari sampingnya.

"Tidak perlu dibilang bagaimana mereka mengatakan kalian memotong rantai spirit-iron dan melarikan diri ketika kalian dipenjara, dan bagian tentang berhasil untuk mengalahkan dua Integrity Knight juga, yang membuat kita menunggu di sini, berpikir itu pasti adalah monster kegelapan...bahkan mungkin Darkness Knight yang sebenarnya melancarkan serangan. Tapi untuk memikirkan bahwa kalian hanya manusia normal..."

Anak-anak itu bertukar pandangan dan berkata, "Apa ini cukup?" dan "Ini sudah cukup, bukan?", saat mereka mengangguk satu sama lain.

Linel, yang melihat ke arah Eugeo sekali lagi, memiringkan kepalanya saat kepangnya terurai.

"Lalu, yang terakhir dari semua, dapatkah kalian memberitahu nama kalian?"

Masih banyak hal yang ingin aku tanyakan, terlebih dahulu, pikir Eugeo saat dia menjawab.

"Aku Eugeo. Orang yang dibelakangku adalah Kirito."

"Hmph...Kau tidak memiliki nama keluarga?"

"Ah, yeah. Aku adalah anak dari petani, kalian tahu....Apakah itu juga sama untuk kalian berdua juga?"

"Tidak, kita memiliki nama keluarga."

Memotong disana, Linel tersenyum lebar. Dengan terang, seperti permata—seyuman seperti pipinbya telah dipenuhi dengan makanan yang manis.

"Namaku adalah Linel Synthesis Twenty-eight."

Eugeo tidak dapat segera menarik kesimpulan arti dari nama yang dimiliki mereka.

Pada saat itu juga, hawa dingin dapat dirasakan di perutnya dan Eugeo mengalihkan pandangannya menuju ke bawah.

Eugeo masih belum yakin ketika itu telah ditarik dari sabuk, tapi pedang pendek yang digenggam di tangan kanan Linel ujungnya telah masuk sekitar lima cen pada tubuhnya.

Itu kelihatannya hanya pedang kayu ketika itu terpasang di sabuknya, tapi itu kelihatannya apa yang dia pikir adalah pedang, sebenarnya adalah sarung pedang kayu. Pedang sebenarnya yang ditarik keluar dari itu bukanlah kayu. Itu berwarna hijau gelap, metal yang tidak diketahuinya.

Permukaannya yang terkena sinar matahari yang bersinar dari jendela dan berkilauan seolah-olah itu basah.

"Eu...!"

Apakah suara itu adalah suara Kirito? Membalikkan leher kakunya ke belakangnya, dia melihat patnernya terdiam, dengan kaki kanannya melangkah maju, Fizel, yang di samping Linel hanya pada saat sebelumnya, yang sekarang berdiri diagonal di belakang Kirito, dengan pedang hijau yang sama menusuk pada jaket hitam. Bentuk mulutnya yang membuat senyuman itu adalah senyuman bersemangat yang sebelumnya, seperti kegembiraan.

"—Dan, aku Fizel Synthesis Twenty-nine."

Pedang pendek itu telah ditarik keluar dari tubuh Kirito dan Eugeo pada waktu yang sama. Fizel dan Linel menarik pedang itu dengan gerakan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan yang dapat diikuti oleh mata dan mengibaskan darah merah secara rapi, lalu dengan rapi menyarungkan itu pada sarung pedang mereka masing-masing.

Hawa dingin menyebar dari luka di perutnya telah menyebar di seluruh tubuhnya dalam sekejap. Bagian tubuh yang diserang oleh hawa dingin yang membeku menjadi lumpuh satu demi satu.

"Kalian...Berdua... Integri... ty..."

Tepat setelah dia memaksakan kata itu keluar, lidahnya menjadi kaku dan dia benar-benar tidak bisa bergerak.

Lututnya menjadi lemas tapa peringatan dan Eugeo terjatuh ke tanah seperti karung. Dada dan pipi kirinya terhantam keras pada lantai marbel, tapi rasa sakit, dan juga seluruh indera perasanya, telah menghilang.

Dengan segera, Kirito terjatuh dengan suara keras.

Racun—

Eugeo menyadarinya, meskipun itu sudah sangat telat, dan mencoba untuk memikirkan cara menanganinya.

Dia telah secara umum mempelajari tentang bentuk-bentuk racun di alam dan antidotenya dari pelajaran Akademi Master Pedang. Tetapi, semua itu hanyalah untuk langkah-langkah pada kasus ketika seseorang terkena oleh racun tanaman, ular, atau serangga, tidak untuk persiapan terkena serangan dari racun di tengah pertarungan seperti ini.

Itu sangatlah normal. Petarungan adalah kompetisi dari keberanian dan kehormatan dimana akademi, tidak, Dunia Manusia akan mempedulikannya, jadi perbuatan seperti menambah racun pada senjata seharusnya akan sangat keras dilarang. Dia bahkan mendengar bangsawan muda, yang melepaskan racun serangga dan mencoba untuk menghalangi Eugeo dan Kirito untuk mengambil bagian di Turnamen Ilmu Pedang Zakkaria, tidak berbuat sejauh itu untuk melapisi pedangnya dengan racun di pertandingan melawan Kirito.

Dengan demikian, Pengetahuan yang Eugeo miliki hanya berada pada level dari mengetahui apa jenis obat yang dipakai ketika disengat oleh suatu racun serangga secara spesifik. Bahkan jika dia telah mengetahui apa jenis dari racun yang anak perempuan itu pakai, tidak ada tanaman di sekitar mereka, lupakan tanaman obat. Metode terakhir adalah untuk mencoba menyembuhkan dirinya melalui sacred arts, tapi penggunaan upacara art sudah mustahil dengan tangan dan mulutnya yang tidak bisa bergerak.

Dengan kata lain, jika racun ini tidak hanya mengambil kebebasan tubuhnya, tapi juga mengurangi Lifenya secara terus-menerus, hidup mereka berdua akan segera menghilang sebelum mereka berhasil sampai separuh jalan di Katedral Pusat.

"Kau tidak perlu untuk sangat ketakutan, Eugeo-san."

Suara Integrity Knight Linel Synthesis Twenty-eight tiba-tiba terdengar dari atas kepala. Mungkin disebabkan oleh pengaruh racun, dia mendengar suara manis yang entah mengapa terdistorsi, seolah-olah dia berada di dalam air.

"Itu hanya racun pelumpuh. Sejak awal, perbedaannya hanyalah apakah kau akan mati di sini atau di lantai lima puluh."

Suara pelan dari langkah kakinya terdengar, dan sepatu kecil, berwarna coklat muda melompat hingga terlihat pada penglihatan Eugeo saat dia masih tidak dapat bergerak dengan pipi kirinya yang menempel di lantai. Linel mengangkat kaki kanannya, dan lalu tanpa berbicara menaruh itu di atas kepala Eugeo, menggerakkan itu ke sana dan ke sini seolah-olah dia mencari sesuatu.

"...Hmm, jadi benar-benar tidak ada satupun tanduk."

Menggerakkan kakinya pada punggungnya, dia tanpa henti menginjak-injak pada kedua sisinya.

"Tidak ada sayap juga, huh. Zel, bagaimana dengan sisimu?"

"Yang ini hanya manusia juga!"

Kelihatannya telah memeriksa Kirito dengan cara yang sama di luar pandangannya, Fizel merespon dengan tidak senang.

"Ah-ah, dan aku telah berharap untuk akhirnya melihat monster dari Dark Territory juga."

"Ya, tidak apa-apa. Jika kita menarik mereka berdua menuju lantai kelima puluh dan memotong leher mereka di depan orang-orang lemah yang menunggu di sana, kita seharusnya akan mendapat sacred instruments dan naga terbang juga. Lalu kita dapat terbang menuju Dark Territory dan melihat yang sebenarnya sebanyak yang kita inginkan."

"Yep. Benar, Nel, mari kita lihat siapa yang pertama akan mendapat kepala Darkness Knight!"

Bahkan setelah semua dari itu, suara Fizel dan Linel benar-benar kelihatan seperti tidak berdosa dan Eugeo memikirkan bagian yang paling membingungkan dari semua itu. Bagaimana mungkin anak-anak seperti anak perempuan ini menjadi Integrity Knight—tidak, sebelum itu, kenapa anak-anak itu ada di katedral?

Eugeo tidak dapat melihat ketika Linel, yang berada di depannya, menarik pedangnya. Kecepatan Fizel, dengan sangat mudah mengalahkan Kirito yang berada pada jarak yang agak jauh, bahkan jauh lebih menakutkan.

Tetapi, kemampuan bertarung bukanlah sesuatu yang akan meningkat tanpa latihan bertahun-tahun dan pengalaman pertarungan hidup dan mati yang sebenarnya. Alasan kenapa Eugeo dapat dengan bebas mengayun Blue Rose Sword, sacred instrument, seharusnya disebabkan oleh pengalaman mengayun kapak dengan sabar pada Gigas Cedar, tapi Kirito mengatakan mengusir kelompok goblin di gua utara juga sebagai alasan yang utama.

Tapi tidak peduli bagaimana dia melihat pada mereka, Fizel dan Linel hanya berumur sepuluh tahun dan mereka kelihatannya tidak pernah mengalami pertarungan dengan monster Dark Territory juga, menurut kata-kata mereka.

Jika memang begitu, dengan cara apa mereka menguasai gerakan fisik dan cara memegang pedang, yang jauh lebih ceapt daripada yang dapat diikuti oleh mata?

Tetapi, Eugeo tidak mengeluarkan satupun suara tentang keraguan yang ada di dalam hatinya.

Itu kelihatannya racun itu telah mengalir di dalam seluruh tubuhnya, dengan sensasi dari dinginnya lantai atau keberadaan dari tubuhnya sendiri menghilang sebelum dia mengetahuinya. Tangan kecil Linel memegang pergelangan kaki kanan Eugeo dan dia menyadari bahwa dia telah diseret saat penglihatannya berputar-putar.

Dengan susah payah menggerakkan matanya yang sangat susah untuk bergerak menuju ke arah kiri, dia melihat Kirito telah diseret seperti barang juga. Racun pelumpuh itu kelihatannya mencapai wajahnya seperti Eugeo, saat ekspresi patnernya kosong.

Dua Integrity Knight muda itu menyeret Eugeo dan Kirito, Blue Rose Sword dan pedang hitam itu masih ada di sabuk mereka, dan mulai menaiki tangga tanpa mempedulikan apapun. Kepala mereka dengan keras terangkat dan tertunduk pada salah satu dan setiap tangga yang dinaiki, tapi seperti yang diduga, tidak ada rasa sakit.

Dia harus menemukan rencana untuk bebas dari krisis ini, tapi mungkin karena racun pelumpuh yang bahkan menyerang semangatnya, Eugeo tidak dapat merasakan apapun selain suatu kekosongan yang menyelimuti dirinya.

Dia telah memutuskan dirinya untuk bertarung dengan Gereja Axiom, tapi dia bahkan tidak pernah memikirkan mereka akan melakukan manipulasi mengerikan ini pada anak-anak yang berumur sangat muda, mengubah mereka menjadi Integrity Knight. Dan manusia yang hidup di Dunia Manusia mempercayai bahwa itu adalah simbol dari kebaikan dan keharmonisan yang nyata. Dan untuk selama ratusan tahun.

"Kalian pikir ini aneh, bukan?"

Suara Linel tiba-tiba mencapai telinganya, tawa samar-samar mengiringi itu.

"Kenapa anak-anak seperti ini menjadi Integrity Knights? bukan? Kalian akan segera terbunuh, jadi aku akan memberitahu kalian."

"Nel, bukankah tidak ada gunanya mengatakan itu jika kita akan membunuh mereka? Kau aneh seperti biasanya."

"Bukankah kau pikir berjalan hingga sampai ke lantai kelima puluh itu membosankan?—Eugeo-san, kita telah lahir dan dibesarkan di sini, di katedral ini. Kita dibuat oleh pendeta dan sister di menara ini di bawah perintah dari Administrator-sama, kau tahu. Untuk eksperimen sacred art «pembangkit» yang dapat memulihkan Life yang benar-benar telah menghilang."

Kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar menakutkan, tapi suara Linel yang tersisa terdengar gembira sampai bagian akhirnya.

"Itu kelihatannya anak-anak diluar menerima sacred task mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun, tapi kita telah diberikan itu saat berumur lima tahun. Tugas kita adalah untuk untuk membunuh satu sama lain. Kita telah diberikan pedang seperti mainan, yang bahkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan pedang beracun ini, dan dibuat untuk dua orang dan untuk menusuk satu sama lain."

"Kau buruk saat menusuk, bukan, Nel. Aku tidak dapat menahan bagaimana sakitnya itu setiap waktu."

Linel merespon, tidak puas, pada suara Fizel yang kelihatannya telah bergabung di pembicaraan.

"Itu karena gerakanmu sangat aneh, Zel. —Aku pikir kalian berdua sudah tahu setelah mengalahkan dua Integrity Knight, tapi manusia tidak mati semudah itu, bukan, Eugeo-san, Kirito-san? Itu bahkan sama untuk anak-anak yang hanya berumur lima tahun. Bahkan saat kita panik dengan tugas untuk saling membunuh satu sama lain dengan cepat, kita tanpa mengetahui apapun menebas dan menusuk sampai akhir mengurang Life satu sama lain menjadi nol, tapi Administrator-sama hanya akan membangkitkan kita dengan sacred arts..."

"Dan pembangkitan itu awalnya tidak bekerja dengan baik juga, bukan? Anak-anak yang normalnya mati masih cukup beruntung, ada seseorang yang meledak menjadi suatu bagian atau seseorang yang berubah menjadi gumpalan daging yang aneh atau seseorang yang menjadi orang yang lain ketika dibangkitkan, bukan?"

"Bahkan jika itu seharusnya menjadi sacred task kita, kita tidak ingin menjadi terluka sia-sia dan dibangkitkan juga. Kita mencoba berbagai cara dan menyadari terbunuh dengan satu serangan sangat jelas bahwa rasa sakitnya akan kurang dan memiliki kesempatan tinggi untuk dibangkitkan. Tapi satu serangan itu memiliki bagian yang susah, kau tahu. Itu benar-benar harus cepat dan halus, entah itu menusuknya pada jantung atau memenggal kepala."

"Dan kita berhasil pada umur sekitar tujuh tahun, aku pikir begitu? Kita berlatih setiap waktu sementara anak-anak lainnya telah tidur, setelah semua."

Benar-benar tidak ada tanda indera perasanya kembali, tapi perasaan menggigil masih menyerang Eugeo, seperti bulu kuduk berdiri di seluruh tubuhnya.

Alasan kenapa Fizel dan Linel mendapat kemampuan fisik yang menakutkan.

Itu berasal dari membunuh satu sama lain tanpa henti selama bertahun-tahun, atau seperti yang anak perempuan ini katakan. Hari demi hari, mereka mengayun pedang mereka memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menghilangkan hidup teman mereka.

Pastinya, dengan akumulasi dari pengalaman seperti itu, itu akan menjadi mungkin untuk menguasai kemampuan yang dibutuhkan untuk dianugerahkan posisi Integrity Knight bahkan sebagai anak-anak. Tapi di sisi lain, mereka bedua pastinya telah kehilangan sesuatu yang penting.

Linel melanjutkan dengan suara kegembiraan yang sama bahkan saat dia tanpa berhenti menaiki tangga besar.

"Itu adalah waktu sekitar kita berumur delapan tahun ketika Administrator-sama menyerah pada eksperimen art pembangkit. Itu kelihatannya pembangkit yang sempurna sudah mustahil pada akhirnya. Apa kau tahu? Ketika Lifemu menjadi nol, banyak panah putih dari hujan cahaya akan turun dan, bagaimana aku mengatakan ini, di dalam kepalamu akan ditebas sedikit demi sedikit. Anak-anak yang mendapati ingatan penting mereka telah menghilang tidak menjadi orang yang sama bahkan jika Life mereka disembuhkan. Ada waktu berkali-kali ketika aku kehilangan ingatan beberapa hari yang lalu setelah dibangkitkan.—Sebagai hasilnya, tiga puluh dari kami pada awalnya menjadi hanya Zel dan aku pada akhir dari eksperimen."

"Pemimpin berkepala besar itu memberitahu kami yang telah selamat untuk memilih sacred task kita yang berikutnya, jadi kita mengatakan ingin menjadi Integrity Knight. Dia sanagat marah ketika kita mengatakan itu, mengatakan bahwa Integrity Knight itu adalah penjaga hukum yang dipanggil dari Celestial World oleh Administrator-sama, bahwa itu bukanlah sesuatu untuk anak-anak seperti kami dapat lakukan. Dan itu berakhir menjadi pertandingan terhadap Integrity Knight yang baru pada saat itu....Siapa nama orang-orang itu?"

"Erm...Sesuatu-sesuatu Synthesis Twenty-eight dan Twenty-nine."

"Dengar, Nel, aku bertanya pada bagian sesuatu-sesuatu itu. Oh baiklah, wajah dari pemimpin itu ketika kita memenggal kepala knight itu dengan satu tebasan sangatlah aneh, huh?"

"...Dan, saat mengetahu hasilnya, Administrator-sama membuat kita menjadi Integrity Knight sebagai kasus yang spesial. Mengganti dua orang yang telah mati. Tapi dia mengatakan bahwa kita kekurangan pengetahuan untuk mengambil tugas pertahanan seperti knight lainnya, jadi kita belajar tentang hukum dan sacred arts untuk selama dua tahun sebagai murid sister...sejujurnya, itu hanya menjengkelkan."

"Ketika kita sedang berdiskusi bagaimana cara kita mendapat naga terbang dan sacred instruments lebih cepat, peringatan anak buah dari Dark Territory telah menyusup di katedral datang, kau tahu. Baik Nel dan aku berkata, 'Ini dia!'. Kita berpikir jika kita menangkap penyusup dan mengeksekusinya lebih cepat dibandingkan dengan knight lainnya, Administrator-sama mungkin membuat kita menjadi knight resmi, jadi kita menunggu di tangga."

"Aku meminta maaf tentang menggunakan racun. Tapi kita benar-benar ingin membawa Eugeo-san dan Kirito-san menuju lantai kelima puluh jika mungkin... Ah, jangan khwatir. Kita sangat bagus dalam membunuh, jadi itu tidak akan sakit."

Itu kelihatannya dua anak perempuan itu tidak dapat menunggu ketika mereka memotong leher Kirito dan Eugeo di depan garis pertahanan dari Integrity Knight di lantai kelima puluh lebih lama lagi. Langkah kaki mereka menjadi lebih ringan, menaiki tangga dengan sangat cepat meskipun menyeret mereka.

Meskipun dia telah memikirkan rencana melarikan diri entah bagaimana, Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain mendengar pada apa yang mereka berdua katakan dengan keadaan tidak berdaya. Bahkan jika mulutnya tidak lumpuh, dia percaya bahwa itu sama sekali mustahil untuk membuat anak-anak ini berubah pikiran melalui kata-kata. Mereka berdua bahkan mungkin tidak memiliki konsep baik dan buruk. Mereka semua mematuhi perintah dari seseorang yang «membuat» mereka, pemimpin tertinggi, Administrator—

Setelah mereka berbalik untuk kesekian kalinya, langit-langit yang terlihat di mata Eugeo yang terbuka berubah dari sisi bawah dari tangga lantai berikutnya menjadi permukaan lantai. Tangga itu kelihatannya tidak akan berlanjut karena mereka akhirnya telah mencapai lantai kelima puluh yang membagi katedral menjadi dua.

Langkah Fizel dan Linel menjadi terhenti dan mereka saling menukar kalimat singkat, "Ayo pergi" dan "Yeah", dengan satu sama lain. Hanya ada beberapa menit sebelum pedang hijau itu menebas lehernya—tidak, mungkin hanya ada beberapa detik. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda indera perasanya kembali sama sekali dan ujung jarinya tidak bergerak sedikitpun meskipun bagaimanapun kerasnya dia mengharapkan itu.

Langit-langit disini jauh lebih tinggi dibandingkan yang telah dilalui sejauh ini. Itu mungkin setidaknya tingginya dua puluh mel. Kanopi marbel di atas, sangatlah berwarna menggambarkan bentuk dari Dewi pencipta dunia dan pemuja mereka, melengkung di atas kepala. Tiang yang menahan kanopi, juga, telah dihiasi dengan ukiran yang tak terhitung, Cahaya Solus dengan terang menyinari ke bawah pada mereka melalui jendela yang dipasang di kiri dan kanan. Itu adalah pemandangan yang indah, satu-satunya nama yang sesuai dengan itu adalah, «Grand Cloister of Spiritual Light».

Dua anak perempuan itu membawa Kirito dan Eugeo hingga lima mel lagi dan langkah mereka berhenti di sana. Tubuhnya berputar setengah lingkaran dengan kekuatan yang melempar kaki kanannya dan Eugeo akhirnya dapat melihat seluruh aula besar itu.

Itu betul-betul sangat luas. Itu kelihatannya menggunakan seluruh lantai katedral ini, lantainya terbuat dari batu yang berbeda warna di ujung dari cahaya putih itu. Karpet berwarna merah gelap terbentang lurus menuju dinding terjauh dari jalan masuk, pintu besar yang kelihatannya dibangun seperti raksasa menjulang di ujung. Tidak ada kesalahan bahwa tangga yang menuju lantai berikutnya berada dibalik pintu itu.

Dan—jauh di depan pintu itu, di tengah-tengah aula, beberapa knight yang tidak bergerak memakai armor lengkap, memancarkan udara yang mengintimidasi yang seperti tidak akan membiarkan seorangpun yang lewat selama mereka berdiri, dapat terlihat. Keempatnya berbaris dengan jarak yang sama. Dan ada satu yang sedikit di depan.

Semua orang dari keempat orang yang berdiri di belakang memakai peralatan armor, yang bersinar perak, memakai helm terukir dengan salib. Ukuran yang sama dengan Eldrie. Senjata mereka, juga, pedang lurus dengan ukuran yang sama menusuk ke lantai, dengan kedua tangan yang dengan kuat ditaruh di ganggangnya.

Seseorang yang di depan memiliki armor dengan desain yang benar-benar berbeda dari empat orang di belakang. Itu benar-benar ditutupi dengan pancaran cahaya seperti warna bunga anggrek dan terasa lebih rumit juga, sementara pedang tipis yang kelihatannya khusus untuk skill menusuk tergantung di pinggangnya. Apa yang knight itu kenakan dapat dianggap sebagai armor ringan, tapi empat knight itu tidak dibandingkan pada beban dari ketetapan hati yang berasal dari knight itu. Eugeo tidak dapat melihat apa yang ada di dalam helm yang dimodel seperti sayap burung pemangsa, tapi dia percaya bahwa tidak ada kemungkinan bahwa knight itu lebih rendah dibanding dengan Deusolbert.

Kelima Integrity Knight ini telah membentuk penghalang yang sulit diatasi untuk tujuan mereka menuju lantai tertinggi.

Tapi seseorang yang menjadi ancaman terbesar pada hidup dari Eugeo dan Kirito untuk waktu yang sekarang adalah dua anak-anak yang berdiri tepat dihadapan mereka.

Dengan penuh kemenangan membungkukkan punggung mereka, ditutupi dengan pakaian sister mereka yang polos, Linel dan Fizel berhadapan dengan lima knight itu.

"—Oh, aku tidak berpikir Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio Synthesis Two-dono ada di sini."

Linel yang pertama kali mengatakan itu dengan suara gembira.

"Itu kelihatannya pemimpin sangat khawatir juga, untuk susah payah mengirim «Heaven Piercing Sword» Fanatio-dono ke sini. Atau mungkin kau adalah seseorang yang panik di sini Fanatio-sama? Aku rasa kau tidak dapat menahan untuk mengetahui «Fragrant Olive»-dono akan meninggalkanmu dengan posisi Wakil Komandan Integrity Knight dengan kemampuannya, bukan?"

Beberapa detik ketegangan dari keheningan telah terpecah oleh suara tajam dari knight ungu itu yang diiringi oleh gema metal itu.

Eugeo merasa kepercayaan diri yang dia rasakan menyembunyikan kejengkelan dibalik suara gema yang samar-samar itu, yang juga unuk dari Integrity Knight, yang kelihatannya tidak berasal dari manusia.

"...Kenapa kalian para murid yang masih muda ada di medan pertempuran antara knight yang terhormat?"

"Aha, itu sangat tidak memuaskan!"

Fizel dengan cepat berteriak kembali dengan nada yang tidak ramah.

"Itu karena kalian membawa sesuatu seperti kehormatan dan harga diri dalam pertarungan, dua dari dua dari kalian yang sangat kuat, yang mampu untuk dengan ribuan Integrity Knight telah kalah, heh. Tapi tenang saja, jadi kalian knight yang terhormat tidak akan menderita karena hal memalukan yang lebih jauh lagi, kita telah menangkap penyusup itu untuk kalian!"

"Kita akan memenggal kepala penyusup itu sekarang, jadi tolong lihat baik-baik dan laporkan ini kepada pemimpin tertinggi. Aku rasa Integrity Knight yang terhormat bahkan tidak akan membayangkan mencuri kesuksesan kita, apa aku benar?"

Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain tercegang pada keberanian gadis itu meskipun situasi berbahaya yang di alami sekarang, saat Linel dan Fizel berbicara bahkan dengan tanpa menahan diri sementara lima Integrity Knight, memiliki kekuatan melebihi manusia, dihadapan mereka.

Tidak—itu mungkin sedikit berlebihan.

Apakah emosi yang terlihat melayang di belakang punggung kecil anak-anak itu adalah kebencian...?

Terbaring di lantai, Eugeo mengeluarkan kekuatannya pada bagian yang dapat bergerak, kedua matanya, dan menatap ke arah Linel dan Fizel. Tapi meski begitu, pada siapa kebenciaan mereka diarahkan? Meskipun muncul dihadapan kriminal yang melawan terhadap Gereja Axiom dan pemimpin tertinggi, Administrator, anak perempuan itu tidak menunjukkan apapun selain keinginan mereka semata.

Linel dan Fizel, dengan terbuka mengekspresikan baik kebenciaan dan kemarahan, menatap ke arah Integrity Knight, dan Integrity Knight itu menatap kembali ke arah dua anak perempuan itu dengan kejengkelan, saat Eugeo melihat ke arah anak-anak itu, menyembunyikan keraguan di pikirannya, jadi—

Hanya sampai bayangan memakai baju hitam dengan sekejap muncul di belakang anak-anak itu tanpa suara, kelihatannya tidak ada seorangpun yang telah mendeteksi gerakannya.

Kirito, yang seharusnya terpengaruh oleh racun pelumpuh seperti Eugeo, mendekat dari belakang kedua anak perempuan itu dengan dengan kehalusan dari macan tutul yang mengincar mangsa, dan mengambil pedang beracun yang tergantung di pinggang mereka pada ganggangnya, Fizel di kanannya, Linel di kirinya. Dengan itu, dia menarik pedang itu ke atas dan menyambung itu dengan tebasan dangkal di setiap tangan kiri yang terlihat dari anak-anak itu.

Anak-anak itu hanya dapat untuk berbalik ke belakang dengan ekspresi kosong setelah Kirito mendarat dari lompatan panjang ke belakang, dengan pedang pendek yang masih ada di tangannya.

Ekspresi kosong dari keterkejutan terlihat pada wajah tak berdosa dari Linel dan Fizel.

"Kenapa..."

"Bergerak..."

Efek dari racun itu segera berpengaruh dan anak-anak itu terjatuh ke lantai dengan pelan setelah mengatakan sebanyak itu.

Kirito berdiri seolah-olah dia adalah pengganti mereka. Dia memegang kedua pedang beracun itu bersama di tangan kirinya dan mencari di dalam pakaian sisternya dengan tangan kanannya setelah berjalan ke arahnya. Objek yang dia dengan cepat ambil adalah botol kecil dengan ukuran ujung jarinya, menutupi cairan berwarna orange.

Membuka penutupnya dan menaruh itu pada hidungnya, dia mengangguk seolah-olah telah yakin, lalu berjalan. Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain mempercayai cairan, yang dengan pelan mengalir dari botol yang mendekat pada mulutnya, adalah antidote dan meminum itu. Itu kelihatannya sangat bagus dia tidak memiliki indera perasa.

Kirito, memperlihatkan suatu kemarahan yang jarang terlihat di wajahnya, membisikkan dengan suara yang benar-benar pelan sementara masih berlutut.

"Racun itu akan segera sembuh dalam beberapa menit. Ketika mulutmu dapat bergerak, pastikan untuk mengucapkan armament full control art tanpa knight itu sadari. Biarkan itu standby setelah kau selesai mempersiapkannya dan tunggulah sinyalku."

Berdiri setelah mengatakan apa yang dia butuhkan, Kirito bergerak ke sisi anak perempuan itu sekali lagi. Dia berteriak kepada lima Integrity Knight yang masih berdiri di jarak yang jauh dalam keadaan tegang, dengan suara keras.

"Knight Kirito, dan juga Knight Eugeo, akan mengucapkan permintaan maaf untuk tidak sopan melihat kalian sementara terbaring di sisi ini! Sebagai tambahan dari ketidaksopanan itu, aku meminta kalian untuk memberikan waktu kepada kami untuk memperbaiki kesalahan kami! Aku mengajukan kita saling beradu pedang setelah itu selesai!"

Knight ungu itu, yang mungkin berangking tinggi, segera menjawab dengan nada yang menghargai.

"Aku adalah Integrity Knight nomor kedua, Fanatio Synthesis Two! Kriminal, sacred instrumentku, «Heaven Piercing Sword», tidak memiliki satu titik belas kasihan, jadi katakana kata-kata terakhirmu jika memilikinya, sementara pedang ini masih tersarung!"

Saat mendengar itu, Kirito dengan sekejap melihat ke arah dua anak perempuan yang terbaring disampingnya dan mengkritik dengan kata-katanya, bahkan cukup keras untuk knight itu dengar.

"—Aku yakin kalian berpikir ini aneh, bukan? Tentang kenapa aku bisa bergerak."

Mata Linel diwarnai dengan kekecewaan saat kata-kata yang dia secara pribadi katakan sebelumnya telah diambil.

"Kalian berdua salah memilih perkataan kalian lebih awal. Kau mengatakan semua pendeta dan sister telah diperintahkan untuk tidak meninggalkan kamar mereka. Seharusnya tidak ada seorangpun yang dapat melanggar perintah dari katedral. Karenanya, itu membuktikan bahwa kalian bukanlah murid sister semenjak kau tidak mematuhi perintah."

Rasa sakit yang menusuk menyebar di sekitar anggota tubuhnya, mungkin karena indera perasanya mulai kembali berkat obat itu, tapi Eugeo hampir tidak menyadari itu. Dia akhirnya mengerti apa emosi yang disembunyikan dibalik ekspresi patnernya.

Meskipun masih menggunakan sikap biasanya, Kirito—sedang marah.

Tapi kelihatannya kemarahan itu tidak ditunjukkan kepada anak-anak itu. Setelah semua, rasa simpati yang besar dapat terlihat di matanya saat itu melihat ke bawah pada Linel dan Fizel.

"Disamping itu, sarung yang ada di pinggang kalian. Itu terbuat dari the «ruby evergreen oak» di selatan, bukan? Ini adalah satu-satunya material yang tidak akan membusuk ketika bersentuhan dengan pedang ini yang dibuat dari «poison steel from Ruberyl». Tidak mungkin seorang murid sister biasa dapat memiliki sesuatu seperti ini. Karena itu, aku mengucapkan art untuk menetralkan racun sebelum kalian berdua mendekat. Itu membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk selesai, bagaimanapun juga. ...Kekuatan tidak secara murni ditentukan dengan bagaimana cepatnya kalian mengayun pedang kalian. Untuk menyimpulkannya, kalian berdua sangat bodoh, cukup bodoh untuk pantas sekarat di sini dalam sekejap."

Kirito dengan dingin berkata kepada dua anak perempuan itu dan mengangkat tinggi pedang beracun yang ada di tangan kirinya.

Dua pedang dengan jejak cahaya hijau saat itu terbang dari tangannya, melempar itu ke bawah tanpa keraguan sedikitpun. Itu terjatuh dengan suara keras, menuju lantai batu pada ujung hidung Linel dan Fizel.

"Tapi aku tidak akan membunuhmu. Sebagai gantinya, lihat baik-baik bagaimana kuatnya Integrity Knight yang kalian tertawakan."

Dia berbalik setelah beberapa kata-kata itu dan melanjutkan dengan beberapa langkah maju.

Kirito perlahan menarik pedang hitam dengan cepat dari sarungnya dengan suara tajam dan mengacungkannya di depan dirinya.

"—Aku meminta maaf karena membuatmu menunggu, Knight Fanatio! Knight Kirito berdiri dihadapanmu!!"

Dia melakukannya terlalu berlebihan...tidak peduli apapun keadaan yang akan terjadi.

Dia berpikir untuk meneriakkan itu keluar di belakang patnernya, tapi mulut Eugeo hanya sedikit bergetar. Indera perasanya sudah kembali, tapi suaranya masih tidak dapat keluar.

Kirito selalu meminjam catatan senjata yang dia sukai dari perpustakaan akademi, jadi itu kelihatannya dia mendapat pengetahuan tentang «ruby evergreen oak» dan «poison steel» dari situ. Dengan pengetahuan yang menjadi sifatnya ditambahkan, Kirito telah berhasil lolos dari jebakan yang dipasang oleh Fizel dan Linel, tapi itu sudah jelas bahwa mereka telah didorong ke keadaan yang jauh lebih berbahaya disebabkan oleh anak-anak itu. Setelah semua, mereka harus melawan lawan yang kuat secara langsung, lima Integrity Knight, dengan salah satu dari mereka ada di posisi Wakil Komandan Integrity Knight. Rencana mendiskusikan tindakan mereka dan mengucapkan full control art terlebih dahulu, sebelum menyerbu menuju aula besar, secara alami telah batal.

Kirito yang biasanya akan menyeret Eugeo saat dia melarikan diri tanpa keraguan sedikitpun, menyusun kembali rencana untuk membuat itu sedikit lebih menguntungkan. Seperti yang diduga, alasan kenapa dia tidak melakukan itu karena dia bukan berada dalam kondisi biasanya. Jika dia menatap secara keras, dia dapat secara jelas melihat kemarahan yang dalam pada Kirito, api putih kebiru-biruan pada jubah hitam di punggungnya.

Bahkan instruktur dari Akademi Master Pedang akan segera dikalahkan jika mereka menghadapi Kirito, saat dia yang sekarang, secara langsung.

Tetapi, seperti yang diharapkan dari seseorang yang menjadi Integrity Knight nomor dua di kelompok itu, knight ungu bernama Fanatio memegang gagang pedang tipis di pinggang kirinya dengan gerakan yang pelan itu. Ketika itu ditarik dari sarungnya dengan suara jelas, sinar yang menyilaukan mata, seolah-olah pedang itu sendiri yang memancarkan cahaya, menyilaukan mata Eugeo.

Mengikuti Fanatio, empat Integrity Knight yang dibelakang menarik pedang besar mereka yang tertusuk ke lantai dan mengacungkan itu dengan gerakan yang dikordinasi secara rapi. Ketetapan hati yang dapat dirasakan keluar dari pedang mereka yang menggetarkan udara di aula saat itu seolah-olah mendorong Kirito.

Fanatio yang tidak menunjukkan sedikitpun kegembiraan meskipun situasinya menjadi tegang, mengeluarkan suara yang terdengar muram dari balik helm itu.

"Kriminal Kirito, itu kelihatannya tujuanmu adalah pertarungan individual denganku...tapi sayangnya, kita telah diperintahkan secara keras untuk menggunakan segala cara untuk menghapus kalian berdua jika kalian telah mencapai aula ini. Karena itu, aku akan menyuruh mereka untuk menjadi lawan pertamamu.—«Four Oscillation Blades» yang secara pribadi diajar di bawah instruksiku, seperti itu!"

Fanatio dengan keras menyatakan itu, lalu memulai dengan mengucapkan sacred art rumit dengan cepat yang dimulai dengan system call. Itu kelihatannya, tidak, tanpa ada kesalahan armament full control art. Salah satu cara untuk melawannya adalah menggunakan art yang sama, atau menebas jatuh knight itu sebelum itu selesai.

Kirito memilih yang kedua. Saat dia menyerbu menuju Fanatio dengan kekuatan yang cukup untuk membuat jahitan dari sepatunya terbuka, dia mengayun pedang hitamnya dari atas kepala.

Tetapi, knight yang berdiri di sebelah kiri, diantara empat orang yang menunggu di belakang Fanatio, memulai serangan pada waktu yang sama.

Pedang besar yang dipegang dengan kedua tangan menebas horizontal dari kiri dengan teriakan keras, berlari menuju Kirito.

Kirito mengganti posisi pedangnya, menerima serangan knight itu dengan ayunan ke bawah dari atas kepala. Hantaman yang menusuk telinga terdengar. Mereka berdua terdorong ke belakang, melebarkan jarak.

Kirito pulih lebih cepat jika dibandingkan dengan knight itu, dengan ecpat mencoba menarik pedang hitam itu kembali. Dia telah memasuki posisi untuk meneruskan saat mendarat, dan dengan hanya satu serangan lagi menuju dada musuhnya—

"......!?"

—Nafas Eugeo keluar dengan segera setelah dia mempercayai itu. Dia sama sekali tidak tahu ketika itu terjadi, tapi knight kedua telah menyerbu dan melepaskan tebasan horizontal dengan sekuat tenaga dari kiri.

Kirito menghentikan langkahnya dan kali ini, pedangnya menebas menuju kiri dan memukul mundur pedang musuh, terdapat suara metal yang sama dan banyak percikan api yang tersebar seoerti sebelumnya, dan mereka berdua melebarkan jarak kira-kira empat mel.

Posisi knight kedua, juga, benar-benar telah terjatuh. Itu sangat normal, menahan tubuh ke tanah setelah terpukul mundur dari melakukan serangan habis-habisan dengan pedang sebesar itu akan sangat sulit tidak peduli bagaimana banyaknya kekuatan fisik yang seseorang itu punya.

Itu adalah hal yang patut dipuji, tetapi, Kirito sangatlah hebat, untuk memukul mundur pedang musuh dengan gerakan yang benar-benar minimal dan cepat dalam menghisap hantamannya, berganti menuju posisi menyerang berikutnya dengan segera.

Tetapi.

Bahkan tanpa memberikan waktu untuk memikirkan kemampuannya, Eugeo melihat knight ketiga menyerang pada Kirito sekali lagi, tepat setelah dia mendarat. Sebelum pandangannya terambil oleh hantaman antara pedang dan pedang untuk ketiga kalinya, Eugeo memaksakan matanya untuk terbuka lebar.

"——!!"

Dan dia menggeretakkan giginya. Pada saat Kirito menyilangkan pedang dengan knight ketiga, knight keempat telah memulai untuk menyerbu maju.

Bagaimana mereka dapat memprediksi gerakan Kirito dengan sangat akurat? Reaksi Kirito akhirnya menjadi tidak teratur dari akibat tebasan horizontal. Meskipun dia sukses menahannya entah bagaimana, sosok berbaju hitamnya menjadi goyah di udara, mungkin disebabkan oleh kekuatan yang dia coba untuk dorong kembali.

——Aku mengerti.

Itu membutuhkan waktu yang lama, tapi Eugeo menyadari tujuan keempat knight itu.

Semua serangan dari knight itu adalah tebasan horizontal dari kiri ke kanan. Menangkis itu dengan pedangnya akan membatasi arah yang dia akan tahan, hingga derajat tertentu. Dengan itu sebagai tujuan mereka, knight berikutnya hanya akan mengulangi tebasan horizontal. Dengan jarak yang lebih lebar ketika dibandingkan dengan tusukan atau tebasan vertical, bersamaan dengan panjang pedang, dapat memberikan perkiraan secara kasar bahwa itu cukup untuk mereka untuk membuat Kirito berada di dalam jangkauan tebasan mereka, bahkan jika itu telah dilakukan sejak awal.

Itu seharusnya adalah «skill tebasan beruntun melalui kelompok» dari Integrity Knight yang seharusnya tidak memiliki secret moves skill tebasan beruntun. Mereka benar-benar berbeda dengan swordsman di pusat yang secara murni mengejar keindahan style, mereka benar-benar prajurit sebenarnya yang terlatih melalui pertarungan sebenarnya di Dark Territory.

Tetapi, kordinat taktik dari knight itu tidak sempurna juga.

—Sadari itu, Kirito, ada cara untuk melewati itu jika itu adalah kau!

Rintihan serak keluar dari tenggorokan Eugeo saat dia mencoba untuk berteriak. Lidah dan mulutnya akhirnya mulai bergerak. Saat dia menggerakkan mulutnya mati-matian berusaha untuk mengendurkan otot-otot kaku itu, untuk memulai upacara art bahkan satu detik lebih cepat, Eugeo dengan penuh ketakutan berdoa saat dia melihat ke arah patnernya. Agar dia menyadarinya.

Setelah menangkis pedang knight keempat, Kirito terpeleset pada saat dia mendarat di akhir, menahan satu tangannya pada lantai.

Pedang knight pertama itu berbunyi saat melancarkan serangan, menebas itu setelah pulih dari hantaman..

Kirito dengan segera merendahkan bagian atas tubuhnya ke bawah, melewati bawah pedang. Bagian ujung rambut hitamnya bersentuhan dengan pedang dan terpotong hingga tersebar jauh.

Ya—Jika serangan yang datang sudah pasti tebasan horizontal, dia hanya akan menghindarinya dengan ke atas atau ke bawah daripada menahannya dengan pedangnya.

Tapi hindaran itu juga harus dikombinasikan dengan serangan balik. Jika dia jatuh disini, aka nada jeda sebentar, tidak, sesuatu yang lebih lama daripada itu sebelum dia dapat bergerak lagi.

Itu kelihatannya knight kedua yang mendekat dari kiri Kirito benar-benar tidak memiliki keinginan untuk melewatkan jeda itu. Dengan cepat menggerakkan pedang yang ujungnya menghadap ke sisi atas, knight itu melakukan tebasan vertical dengan kekuatan penuh.

"B...!!"

Bahaya, Eugeo mencoba meneriakkan itu, menghiraukan rasa sakit tajam yang mengalir melalui tenggorokannya. Tetapi, ini bukanlah waktunya. Itu adalah ketika dia secara insting mengalihkan pandangannya, mengira bahwa dia tidak mampu untuk menghindar—

Knight barusan yang baru saja hendak menyelesaikan tebasan pedangnya pada bagian kanan Kirito tergoyah dengan hebat.

Kirito tidak hanya terbaring di bawah. Kedua kakinya menjepit di sekitar knight yang tidak menyadarinya, menarik knight itu ke bawah di atas dirinya.

Knight kedua itu tidak dapat menghentikan gerakan menebasnya dan pedang besar itu tertebas dengan dalam pada punggung temannya. Knight yang menarik pedangnya kembali sementara menunjukkan tanda-tanda terkejut lalu diserang oleh tebasan hitam yang mencapainya dari bawah.

Kirito, serangannya secara akurat menusuk pada tangan knight kedua itu saat dia berdiri, berbalik ke arah knight ketiga yang kelihatannya akan menyerbu maju dengan tidak teratur dan mendorong knight kedua dengan semua kekuatan yang dia punya. Seperti yang diduga, knight ketiga tidak dapat melukainya bersama temannya dan menghentikan tebasannya.

Pada akhirnya, serangan beruntun dari kelompok yang Fanatio sebut «Four Oscillation Blades» telah berakhir.

Kirito berlari secara cepat melalui celah itu. Tanpa memperhatikan keempat knight itu bahkan dengan tatapannya, dia melancarkan serangan pada Fanatio, yang mengucapkan full control art.

Biarkan itu sampai—!

Eugeo dengan ketakutan berdoa.

"Enhance...!"

Fanatio berteriak.

"Uooooh!!"

Kirito berteriak, pedangnya terangkat tinggi dari jauh. Itu tidak akan mencapainya dari jarak itu normalnya, tapi pedang itu melepaskan cahaya kuning kehijau-hijauan dengan segera. Aincrad-style secret move, «Sonic Leap». Itu adalah skill satu tebasan vertical seperti «Vertical», tapi memiliki kemampuan untuk menyerbu maju dari jarak dua kali lebih dari itu dalam sekejap.

Fanatio menggerakkan ujung pedang tipisnya pada Kirito yang menerjangnya secara cepat yang meninggalkan jejak cahaya. Tetapi, itu mustahil untuk senjata setipis itu untuk menangkis hantaman dari secret move tidak peduli apa yang akan dicobanya. Pedang panjang yang ditempa dari Gigas Cedar yang memiliki berat lebih tinggi dibandingkan dengan Blue Rose Sword, sacred instrument. Ditambah dengan serangan tebasan dari Kirito yang kelihatannya cepat sekali telah tercampur, itu akan cukup untuk menghancurkan sesuatu seperti pedang tipis itu menjadi pecahan, bahkan jika ketiga pedang seperti itu digabungkan bersama-sama.

Itu adalah saat ketika knight berjubah hitam itu mencapai puncak loncatannya dan mulai mengayun pedangnya ke depan—

Cahaya keluar dari pedang tipis di tangan knight itu.

Tidak, untuk akuratnya, seluruh pedang itu berubah menjadi cahaya putih kebiru-biruan saat itu menunjuk ke arah depan dengan kecepatan mengerikan.

Sinar tipis dari cahaya menembus bagian kiri Kirito tanpa suara, terus berlanjut menuju langit, dan membuat ledakan kecil saat itu menabrak pada langit-langit aula besar itu. Dan itu berakhir dengan sekejap.

Secret move Kirito yang lintasannya telah terganggu dengan perutnya tertembus, dan hanya menggores dekorasi sayap pada helm Fanatio, dengan secara paksa memotong itu hingga ke udara.

Banyak darah yang dapat terlihat mengalir dari luka dan Eugeo tidak pernah berpikir Lifenya berkurang sebanyak ini, tapi Kirito terjatuh saat mendarat dengan bertumpu pada satu lutut. Ketika dia memfokuskan matanya dengan cukup keras, dia melihat asap pucat muncul di lubang kecil yang terbuka di bajunya.

Itu mungkin adalah serangan bertipe api? Tetapi, cahaya yang dilepaskan dari pedang Fanatio berwarna putih menyilaukan yang hampir biru. Eugeo tidak pernah melihat api dengan warna seperti itu.

Berputar dengan gerakan sangat halus yang sangat cepat, Fanatio menunjuk ujung pedang tipisnya tepat pada Kirito yang meringkuk di lantai.

Dengan suara 'sha' yang samar-samar, sinar cahaya memancar keluar lagi. Jika itu bukan Kirito yang segera berguling menuju kiri sebelum itu, cahaya itu tampaknya akan menembus kaki kanannya. Sinar cahaya yang berbahaya itu meleset dan menembus pada lantai marbel dan sekali lagi membuat ledakan kecil. Ketika cahaya itu menghilang, lubang berwarna merah terang yang tersisa melelehkan permukaan lantai itu.

"Tidak...mungkin...!"

Eugeo tidak menyadari suara serak, dari keterkejutannya yang keluar dari mulutnya sendiri untuk sebentar.

Material yang digunakan di bangunan katedral adalah marbel dengan kualitas tertinggi, seperti «immortal walls» yang membagi Centoria Pusat seperti silang, menilai dari corak putih murninya dan lapisan kacanya. Itu bukanlah sesuatu yang dapat meleleh tidak peduli bagaimana panasnya api yang kau gunakan. Bukankah bagaimana hanya karpet yang telah terbakar ketika api yang sangat panas yang dibawa oleh «Conflagrant Flame Bow» Deusolbert yang hanya membakar permukaan telah cukup untuk membuat itu sebagai bukti untuk itu?

Dengan kata lain, itu akan membuat full control art Fanatio jauh lebih kuat dibandingkan dengan skill Deusolbert, jika itu adalah serangan bertipe api. Jadi bukankah Life Kirito yang berkurang karena serangan langsung dari skill seperti itu akan berada diambang dimana itu akan menghilang?

Kirito tidak terdiam di satu tempat, terus-menerus melompat ke arah yang tidak menentu saat Eugeo terlihat menggenggam erat pada tangannya dari ketakutan yang sedingin es. Sinar cahaya memancar keluar satu demi satu, menembus hingga ke lantai, saat pedang Fanatio mengejar sosoknya.

Detail yang jauh lebih menakutkan dari skill itu adalah bagaimana itu betul-betul tidak memerlukan gerakan sebelum melepaskan cahaya, seperti sejumlah cahaya yang terkumpul atau serangan pedang itu. Setidaknya, Eugeo tidak dapat menebak ketika dengan pelan menggerakkan pedang tipis itu yang akan menembakkan sinar cahaya dari posisinya. Mendeskripsikan itu memiliki jangkauan yang benar-benar panjang yang akan membuat itu berada dilevel yang sama seperti «Frost Scale Whip» Eldrie, tapi itu hanyalah mainan anak-anak ketika dibandingkan dengan ini.

Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda dari bersemangat, Fanatio terus mengejar Kirito dengan gerakan tangkas seperti menari. Kirito bahkan dapat menghindari empat, lima, enam tembakan dari itu hanya karena kemampuan fisiknya yang ditempa secara susah payah dan intuisi hebatnya.

Tetapi, pada akhirnya, cahaya yang tertembak untuk ketujuh kalinya menyatakan akhir dari game tag kematian ini.

Shaa! Bagian atas kakinya telah tertembus di udara oleh sinar cahaya yang membuat udara panas saat itu tertembak, Kirito terhantam pada lantai, dengan bahunya yang pertama, posturnya goyah. Tapi ujung pedang Fanatio dengan tetap mengarah sedikit ke bawah pada seberkas rambut hitam yang terurai pada saat itu juga.

"Ki......"

-rito, Eugeo mencoba untuk berteriak sebelum dia menyadari mati rasa di tenggorokan dan mulutnya akhirnya telah menghilang. Dia mungkin mampu untuk mengucapkan dengan cukup jelas untuk menyelesaikan upacara art dengan seperti ini.

Jadi daripada berteriak, Eugeo dengan mengalirkan kekuatannya secara tetap ke perut dan mulai mengucapkan upacara art dengan volume yang terlalu pelan untuk knight itu dengar, tapi cukup keras untuk mencapai dewi pencipta.

"System call..."

Kirito pasti akan mampu untuk melewati bahaya selevel ini dengan kemampuannya sendiri. Karena itu, hanya ada satu hal yang Eugeo harus lakukan, yaitu mengucapkan full control art seperti yang diberitahukan pada dia, membuat itu siap untuk diaktifkan kapanpun itu dibutuhkan.

Dengan pedang yang mengarah lurus yang menandakan kematian pada Kirito, Fanatio terdiam untuk sebentar, seolah-olah memprovokasi dia, sebelum berbicara dengan suara pelan.

"...Aku telah diberikan nasihat, bahwa berbicara pada waktu seperti ini adalah kebiasaaan burukku, dari Komandan Integrity Knight selama ratusan tahun, tapi...Meski begitu, itu terasa sangat menyedihkan. Setiap orang yang membuat diri mereka tidak berdaya dibawah kekuasaanku dari «Heaven Piercing Sword» tidak dapat menunjukkan apapun selain ekspresi aneh itu, kau tahu. Aku rasa kau, juga, memikirkan apa sebenarnya dari bentuk sebenarnya dari tehnik yang mampu memojokkan dirimu dengan mudah."

Itu kelihatannya empat knight dibawah Fanatio telah menyelesaikan mengobati luka mereka di waktu ini juga, saat mereka sekarang mengelilingi Kirito dari belakang, memegang pedang besar mereka dengan satu tangan. Ini membuatnya semakin sulit untuk melarikan diri, tapi meningkatkan kemungkinan dari memperpanjang perkataan Fanatio sesuai dengan perkiraan. Berkosentrasi penuh untuk tidak membuat kesalahan di pengucapannya agar untuk mencegah kegagalan, Eugeo melanjutkan merangkai upacara art itu secara bersamaan dengan semua yang dia punya.

"Kalian mungkin adalah kriminal, tapi aku rasa kalian tahu cermin jika kalian pernah tinggal di pusat?"

Fanatio tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang datang dari suatu tempat dan ekspresi kebingungan terlihat pada Kirito bahkan saat dia menahan rasa sakit.

Cermin.

Tentu saja, Eugeo telah melihat itu sebelumnya. Itu tidak ada satupun yang ada di Rulid, tapi di ruangan pribadinya di asrama akademi elite swordsman-in-training dilengkapi oleh cermin yang kecil. Itu adalah alat misterius yang memantulkan jauh lebih jelas dibandingkan dengan permukaan air dan lembaran metal, tapi Eugeo tidak terlalu untuk menyukai penampilan lemahnya, jadi dia tidak memiliki keinginan yang besar untuk memakai itu.

Dengan pedang yang bersiap untuk segera menembak cahaya pada Kirito jika membuat gerakan apapun, Fanatio melanjutkan dengan suara yang kelihatannya tidak memiliki emosi.

"Karena itu adalah barang yang cukup mahal karena dibuat dengan menuangkan perak yang dicairkan pada kaca, aku meragukan bahwa akan ada banyak kesempatan untuk penduduk diluar ibu kota untuk melihat itu dengan mata mereka, tapi...alat itu mampu memantulkan cahaya Solus dengan hampir sempurna. Aku berpikir jika kau dapat mengerti...bahwa itu, alasan kenapa area yang disinari oleh cahaya yang terpantul menjadi dua kali lebih panas. —Tiga ratus tiga puluh tahun yang lalu dari sekarang, Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi, mengambil koin perak dan benda yang terbuat dari perak, dan memerintahkan pengrajin kaca untuk menciptakan ribuan cermin besar dari kaca. Itu untuk art menyerang yang tidak perlu diucapkan...eksperimen bernama «persenjataan» bagaimanapun juga, kau tahu. Ribuan cermin, berbaris membentuk setengah lingkaran di halaman depan katedral, memantulkan cahaya Solus di tengah musim panas dan memfokuskan pada satu titik, membawa neraka putih yang murni. Itu melelehkan batu besar berukuran manusia hanya beberapa menit."

Persenjataan...Neraka putih...?

Eugeo tidak mengerti apapun pada perkataan Fanatio. Tetapi, dia mengetahui berdasarkan intuisi, bahwa rencana dari pemimpin tertinggi sangat menakutkan seperti membuat anak-anak saling membunuh satu sama lain agar menstabilkan art pembangkit.

"—Pada akhirnya, pemimpin tertinggi yang hebat itu menilai bahwa itu membutuhkan terlalu banyak persiapan untuk membuat itu menjadi kondisi baik untuk pertarungan. Tetapi, dia mengatakan bahwa itu akan sangat disayangkan bahwa semua itu akan terbuang, dan dengan keajaiban sucinya, dia mengumpulkan setiap ribuan cermin besar, menempa itu, dan menciptakan satu pedang. Itu adalah sacred instrument ini, «Heaven Piercing Sword». Apa kau mengerti kriminal? Apa yang menembus perut dan kakimu adalah kekuatan Dewi Matahari Solus itu sendiri!"

Kata-kata dari Integrity Knight, tercapur dengan kesombongan yang samar-samar, itu sangat mengejutkan hingga Eugeo dengan susah payah menghindari membuat kesalahan ketika upacara art itu hampir selesai.

Cahaya Solus yang dikumpulkan ribuan cermin—dengan kata lain adalah bentuk sebenarnya dari sinar cahaya putih itu?

Itu mungkin untuk menetralkan serangan pada thermal elements dengan cryogenic elements. Tapi bagaimana serangan dengan cahaya dapat ditahan? Sejak awal, art dengan luminous elements sebagai sumber mereka seharusnya hampir tidak memiliki kemampuan serangan langsung, sejauh yang Eugeo tahu di pelajaran. Cahaya untuk menyilaukan mata dapat dinetralkan dengan umbra elemental arts, tapi sinar cahaya pada level seperti itu mungkin akan menembus sepuluh atau dua puluh umbra elements hingga hancur dengan mudah.

Tidak peduli terhadap kegelisahan yang tak tertahankan di hatinya, mulut Eugeo melanjutkan mengucapkan upacara art, tanpa sadar sudah setengah, dan akhirnya mencapai kalimat terakhir. Kekuatan yang disembunyikan di dalam Blue Rose Sword akan dikeluarkan setelah mengucapkan kata terakhir, «enhance armament». Tapi untuk itu harus menunggu sinyal Kirito.

Fanatio kelihatannya telah selesai mengatakan tentang suatu hal dan perlahan mengarahkan ujung pedangnya ke depan pada kepala Kirito.

"Kirito, apakah kau telah mengerti kekuatan dari pedangku yang akan menghapus Lifemu? Jadi aku akan membiarkanmu menyesali dosamu, mempercayakan keyakinanmu dengan sepenuh hati pada tiga dewi, dan memohon ampunan mereka sebelum mati. Jika kau melakukan itu, cahaya suci pemurniaan akan membersihkan dosa pada jiwamu dan membimbingmu menuju Celestial World. Sekarang—Selamat tinggal, kriminal bodoh dan belum berpengalaman."

Heaven Piercing Sword bersinar hingga menyilaukan mata, memperlihatkan sinar cahaya yang akan menandakan tanda kematiannya melalui hatinya.

"Discharge!"

Itu hanya sekejap ketika teriakan itu mencapai telinga Eugeo.

Tepat dihadapan pedang Fanatio yang bersinar, Kirito menepuk kedua tangannya bersamaan dengan 'pan!' dan lalu mengeluarkan itu keluar. Apa yang muncul di telapak tangannya ada suatu lembaran berwarna perak.

Tidak, bukan itu. Itu tidak hanya suatu lembaran metal. Dengan level yang sempurna, lembaran persegi itu dengan jelas memantulkan helm Fanatio sementara knight itu berdiri di depan Eugeo.

Mata Eugeo telah mengetahui warna dua element berbeda yang digenggam kedua tangan sebelum itu ditepuk secara bersamaan.

Cahaya di tangan kanannya adalah metal elements. Itu digunakan untuk menembak jarum atau membuat dan peralatan yang biasa, element bertipe metal. Dan apa yang ada di tangan kirinya adalah crystal elements. Itu adalah element bertipe kaca yang digunakan untuk menciptakan penghalang yang tidak terlihat dan gelas kaca. Dengan dua dari itu membentuk bentuk lembaran dan lapisan, objek yang diciptakan adalah—

Cermin.

Tombak cahaya yang menyembunyikan panas yang luar biasa mengenai cermin yang diciptakan oleh upacara art Kirito dan mengubah itu dari perak menjadi orange dalam sekejap mata.

Life dari alat yang diciptakan dari element setelah semua sangatlah rendah. Bahkan jika pisau terlihat sama dari luar, dibandingkan dengan salah satu yang ditempa dari biji yang dapat digunakan untuk selama sepuluh tahun, salah satu yang dibentuk dari metal elements akan kehabisan Lifenya hanya dalam waktu satu jam dan tersebar. Cermin itu seharusnya bukan pengecualian, itu sangat meragukan bahwa itu memiliki ketahanan untuk memantulkan cahaya Heaven Piercing Sword.

Saat Eugeo berlalu sesuai yang diprediksikan, cermin itu hanya bertahan di udara hanya selama sepuluh detik. Kaca dan metal itu meleleh menjadi cairan yang tersebar disekitar dan sinar cahaya menembak lurus ke arah Kirito, yang memiliki delapan puluh persen sinarnya.

Tetapi, pada saat sekejap yang berharga dari menghindari kematian secara paksa yang dibuatnya tidak menjadi percuma pada Kirito juga. Itu hampir bukan apa-apa, tapi dia sukses memiringkan tubuhnya menuju ke arah kiri dan cahaya itu hanya menghanguskan salah satu bagian rambut dan pipinya sebelum itu tertembak di belakangnya.

Dan dua puluh persen sisanya yang dipantulkan oleh cermin itu—

Telah dipantulkan dengan sudut yang tajam dan terbang menuju helm Fanatio.

Itu seharusnya bukanlah gerakan yang dapat diprediksi, tapi seperti yang diduga dari Integrity Knight nomor kedua, sinar cahaya itu dihindari dengan memiringkan kepalanya dengan reflex yang sebanding dengan Kirito atau bahkan lebih tinggi. Tetapi, knight itu tidak dapat melindungi dekorasi sayap yang berada di kedua sisi dari helm itu. Dekorasi di bagian kiri terkena oleh cahaya dan penjepitnya telah hancur dengan itu—helm itu terbelah menjadi dua, di depan dan di belakang, dengan segera setelah itu.

Pandangan Eugeo telah tertangkap oleh rambut panjang yang terurai di udara pada saat itu.

Itu berwarna hitam gelap seperti rambut Kirito. Namun kelembutannya benar-benar melebihi yang hebat. Rambut panjang bergelombang yang terurai, yang pasti seharusnya telah dirawat dengan penuh perhatian, berkilauan dengan indah pada cahaya matahari di tengah hari dari jendela besar. Kenapa seseorang seperti knight itu adalah—

Saat Eugeo tanpa sadar memikirkan itu, dia dapat melihat wajah Fanatio yang dengan cepat ditutupi dengan tangan kirinya yang terangkat.

Dan Fanatio berteriak.

"Kalian melihatnya, bukan...kriminal!!"

Itu benar-benar berbeda dengan suara yang tertutupi oleh metal yang keluar dari dalam helm sebelumnya, itu adalah suara yang bernada tinggi, baik kehalusan dan kelembutannya.

Dia perempuan—!?

Keterkejutan yang sangat besar membuat Eugeo untuk hampir mengeluarkan suaranya, yang akan menghilangkan status standby upacara art itu. Dia dengan rapat menutup mulutnya untuk mencegah kata-kata yang tidak perlu akan keluar. Tetapi, suatu bagian dari kesadarannya tetap melihat ke arah sosok Knight Fanatio yang mundur.

Tingginya sama dengan Kirito atau lebih tinggi, tapi ketika dia menilainya dengan pemikiran itu di pikirannya, garis yang menurun dari punggungnya hingga pinggangnya benar-benar langsing. Tetapi, dia benar-benar telah yakin bahwa dia adalah laki-laki hanya sampai sekarang.

Sword Art Online Vol 12 - 229.jpg

Mereka telah menghadapi knight seperti Alice Synthesis Thirty, atau Fizel dan Linel, meskipun mereka hanya anak-anak, jadi tidak ada alasan untuk menolak bahwa ada sejumlah perempuan did alam Integrity Knight. Sejak awal, mendekati setengah dari trainees yang belajar di akademi adalah gadis seperti Tizei dan Ronie. Banyak Integrity Knight telah diciptakan dari rangking mereka, jadi tidak ada hal yang aneh tentang knight nomor dua adalah perempuan.

Ketika dia memikirkan kenapa dia begitu terkejut meskipun begitu, Eugeo menyadari bahwa itu karena cara bicara dan kelakuannya sampai sekarang benar-benar terlihat seperti laki-laki.

Jika memang begitu, alasan kenapa kemarahan terlihat dari seluruh badan Fanatio tepat sekarang adalah bukanlah karena wajahnya telah terlihat—itu mungkin disebabkan oleh mereka mengetahui bahwa dia adalah perempuan.

Itu kelihatannya Kirito, yang terjatuh dengan bertumpu pada satu lutut, mendapati rasa sakit dari pipinya yang terbakar menghilang juga, saat penampilan yang keheranan terlihat pada wajahnya.

Menatap pada Kirito terbaring diantara celah di antara jari tangan kirinya, Fanatio berbicara sekali lagi.

"Jadi kau...kau membuat wajah seperti itu juga, huh, kriminal. Jadi bahkan kalian, bersalah atas kejahatan tingkat tinggi terhadap gereja, tidak akan bertarung secara serius pada saat kalian mengetahu bahwa aku adalah perempuan?"

Meskipun telah menyesal, karena sebenarnya telah salah dari dirinya sendiri, suaranya sangat indah, membawa pikiran terhadap alat nusik senar yang dimainkan oleh musisi.

"Aku bukanlah manusia...Aku adalah Integrity Knight yang dipanggil ke tanah ini dari Celestial World...dan meski begitu aku telah menderita karena pandangan merendah dari semua laki-laki, dalam sekejap ketika kalian mengetahui bahwa aku perempuan! Tidak hanya diantara teman-temanku...tapi bahkan dari komandan penjelmaan kejahatan, Darkness Knight[4]!!"

—Sama sekali bukan, tidak ada satupun dari kami memandang rendah padamu.

Setelah menjawab seperti itu di pikirannya, sebuah pemikiran muncul pada Eugeo.

Dia telah bertarung dengan banyak swordswoman saat bertugas sebagai penjaga di Zakkaria dan sementara dia mulai belajar di akademi. Ada beberapa diantara mereka yang memiliki kemampuan lebih banyak dari Eugeo dan tentu saja, ada suatu waktu ketika dia kalah terhadap mereka.

Melalui pengalaman dari semua pertarungan itu, Eugeo tidak bersikap lunak pada lawannya hanya karena mereka perempuan dan dia sangat menghormati yang berpengalaman di bidangnya tanpa mempedulikan jenis kelamin mereka.

Tetapi—bagaimana jika itu bukanlah pertandingan dimana petarung itu menang dengan menghentikan serangan sebelum mengenai tubuh atau setelah serangan pertama, tapi pertarungan hidup dan mati yang sebenarnya? Dapatkah dia menghapus Life lawannya tanpa keraguan...?

Itu terjadi ketika Eugeo telah dipenuhi oleh pemikiran yang sekarang dia pikirkan untuk pertama kalinya dan kehilangan nafasnya.

Kirito yang meringkuk di lantai tiba-tiba menjadi hembusan angin dan melompat menyerbu.

Itu adalah tebasan ke bawah dari kanan tanpa trik apapun atau bahkan secret moves. Tetapi, pedang itu bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan yang kelihatannya tidak jelas bahkan di mata Eugeo. Itu justru seperti keajaiban, bahwa Fanatio berhasil untuk menangkis itu tepat waktu dengan hatinya terkejut di tengah kekacauan. Gaan! Suara hantaman yang menusuk telinga terdengar di dalam aula, percikan api terlihat menyebar menyinari wajah mereka berdua untuk sesaat.

Fanatio dengan cepat menghentikan tebasan di dekat penahan pedang tipisnya, tapi dia tidak dapat menahan beban dari serbuan itu dan telah dipaksa mundur beberapa langkah. Kirito menahan pedang mereka secara bersamaan dan mendorong tubuh langsing knight perempuan itu tanpa kehilangan tekanan. Lutut Fanatio, terbungkus dengan armor ungu, mulai untuk sedikit tertekuk.

Kirito tiba-tiba berbicara dengan nada rendah.

"Aku mengerti, itu menjelaskan pedang dan skill itu. Itu untuk menyembunyikan bahwa kau adalah perempuan ketika bertarung...itu benar, bukan, Fanatio ojou-sama?"

"Kau...sialan!!"

Teriakannya terdengar seperti jeritan, Fanatio menekan kembali pedangnya saat itu salng menahan satu sama lain.

Ketika Eugeo mengalihkan pandangannya dari dua orang yang saling menahan di tempat itu, dia dapat merasakan tanda tertekan dari empat knight di sekitarnya. Ini mungkin hanya perkiraan, tapi mungkin beberapa diantara mereka tidak mengetahui wajah Fanatio. Dua gadis yang terbaring lumpuh di sisi kanan Eugeo tidak dapat menunjukkan tanda-tanda apapun, juga.

Menampakkan diri mereka di hadapan mata knight itu, Kirito dan Fanatio melanjutkan pertarungan dengan seluruh kekuatan mereka. Kirito sudah jelas menang pada faktor berat tubuh dan berat pedang, dia menduganya. Tapi setelah mendapati terdorong ke belakang lagi, Fanatio tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mundur dengan kekuatan fisik yang tidak dapat dibayangkan dari tangan kurusnya.

Kirito melemparkan kata-kata padanya lagi dari celah saat menggeretakkan giginya.

"...Aku akan mengatakan ini untuk pertama kalinya, tapi apa yang aku terkejut sekarang, adalah bagaimana kekuatan pedangmu berkurang dengan sangat jauh ketika helmmu menjadi rusak. Menyembunyikan wajahmu, menyembunyikan tebasan pedangmu...bukankah kau adalah orang yang paling sadar bahwa kau adalah perempuan?"

"Diam...Diam! Aku akan membunuhmu...Setidaknya aku pasti akan membunuhmu...!"

"Itu adalah apa yang akan kulakukan juga. Aku benar-benar tidak berencana untuk bersikap lunak padamu hanya karena kau adalah perempuan, setelah semua, aku telah kalah pada swordswoman sepanjang waktu!"

Itu benar bahwa Kirito telah kalah tak terhitung jumlahnya oleh Solterina-senpai, yang dia layani sebagai valet, sejauh yang Eugeo tahu. Tapi Eugeo mempercayai bahwa dia tidak benar-benar berhubungan dengan latihan atau pertandingan praktek. Seolah-olah dia hendak mengatakan bahwa dia benar-benar kalah oleh swordswoman di suatu tempat, di pertarungan nyata di masa lalu...

Pada saat itu, kaki kanan Kirito tiba-tiba terlihat di depan dan menyandung kaki Fanatio. Tubuh bagian atasnya terhuyung dan kedua pedang itu mengeluarkan percikan api saat itu terpisah. Tanpa menunggu jeda, dia menusukkan pedang hitamnya dengan satu tangan.

Tetapi, tangan kanan Integrity Knight itu bergerak dengan sangat cepat dan pedang tipisnya menangkis pedang hitam dari sisinya seperti mahluk hidup. Memperbaiki posturnya sementara menghindari lintasan tusukan itu, dia mengambil langkah ke belakang untuk memperlebar jarak.

Kirito pulih dengan cepat juga. Menggunakan kecepatan dari tusukan, dia menyerbu menuju dada musuh yang kelihatannya seperti hendak menghantam tubuhnya dan mempertahankan pertarungan jarak dekat. Setelah semua, pertarungan jarak jauh tidak mungkin terhadap Fanatio yang memiliki skill menembak sinar cahaya tanpa persiapan terlebih dahulu.

Kecepatan yang sangat tinggi dari pedang yang saling berhantaman dimulai dari jarak yang mendekati nol.

Apa yang menakuti Eugeo adalah bagaimana Fanatio berhadapan dengan serangan beruntun yang tidak beraturan dari Kirito tanpa mundur bahkan untuk satu langkah. Pedang itu melakukan serangan dari atas, bawah, kiri dan kanan secara beruntun yang ditangkis oleh pedang tipis itu, dengan bebas menebas di sekitar, membalas dengan tusukan dari dua atau tiga skill tebasan beruntun setiap kali ada celah kecil. Tidak ada satupun dari mereka menggunakan secret moves, tapi itu karena mereka bahkan tidak dapat menemukan celah untuk melakukan posisi awal.

Setiap semua style ilmu pedang tradisional di Dunia Manusia hanya memiliki kemampuan skill pedang satu tebasan dan itu kelihatannya bahkan Integrity Knight Deusolbert tidak mengetahui skill tebasan beruntun. Itu berarti Fanatio melatih skill tebasan beruntun melalui usahanya sendiri. Alasan dibalik itu pastinya tidak berhubungan dengan perkataan Kirito yang sebelumnya.

Cahaya dari Heaven Piercing Sword, untuk mengalahkan musuh tanpa mendekat. Atau skill tebasan beruntun, untuk mengalahkan musuh dengan seranagn beruntun bahkan jika dia tidak dapat menggunakan full control art dan kehilangan inisiatif.

Dengan kata lain, knight perempuan, Fanatio, takut apabila musuh mendekat padanya dan menyadari apa yang disembunyikan dibalik armornya. Tapi kenapa...? Kenapa dia mencoba sangat keras untuk menyembunyikan jenis kelaminnya.

Sementara memikirkan keraguan baru yang muncul, mata Eugeo telah terpaku pada pertarungan diantara mereka berdua. Itu kelihatannya empat knight yang dibawah perintah Fanatio juga sama, mereka melihat pada pertarungan hebat itu tanpa bergerak sedikitpun dan dengan pedang besar mereka yang telah diturunkan.

Betul-betul sekarang, ini adalah suatu—

Suatu pertarungan yang hebat.

Pada jarak sedekat itu, mereka berdua sangat sulit untuk menggerakkan kaki mereka dan terus bertahan terhadap serangan tebasan dan tusukan secara terus menerus dan menghindarinya hanya dengan menggerakkan tubuh mereka atau menangkisnya. Pemandangan di sekitar mereka berdua seolah-olah banyak bintang yang bercahaya, terlihat, dan menghilang, satu demi satu. Bahkan suara dari besi yang berhantaman dengan besi benar-benar sangat hebat, mengingatkan seseorang pada duet instrument perkusi.

Senyuman dingin terlihat pada wajah Kirito yang terlihat pucat saat dia melakukan tehnik dengan kekuatan tersebut, itu kelihatan seperti Kirito benar-benar bergabung dengan pedang hitam. Pertarungan jarak dekat seharusnya mampu untuk menahan lawannya menggunakan cahaya Solus, tapi kelihatannya dia sekarang hanya dipenuhi dengan kegembiraan yang keluar darinya dengan skill pedang yang dilatihnya dengan seluruh isi hatinya.

Di sisi lain, Fanatio seharusnya tidak memiliki alasan untuk mengikuti keinginan musuhnya. Jika dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyerang Kirito dari belakang, mengambil celah itu untuk memperlebar jarak, dan menembak sinar cahaya lagi, seharusnya tidak akan ada kesempatan Kirito untuk menahannya kali ini.

Meskipun begitu, Integrity Knight dengan rambut hitam, panjang yang terurai kelihatannya mencoba untuk mengakhiri pertarungan melalui serangan langsung dari pedang tipisnya. Eugeo tidak dapat menyimpulkan alasan untuk itu. Karena kemarahan disebabkan oleh provokasi Kirito? Harga dirinya sebagai knight yang tidak dapat memaafkan untuk kabur dari pertarungan? Atau mungkin, dia, juga menemukan sesuatu yang penting sebagai ganti dari skill tebasan beruntun, pertarungan yang hebat ini?

Eugeo tidak dapat melihat apapun selain punggung Fanatio dari posisinya, dia tidak mengetahui apa jenis ekspresi yang terlihat pada wajahnya.

Membuat dugaan dari kata-katanya, dia menduga Fanatio telah melayani gereja sebagai Integrity Knight selama seratus tiga puluh tahun untuk minimalnya, dengan kemungkinan masih lebih jauh lagi. Itu adalah panjang waktu yang absurd bahkan Eugeo tidak dapat untuk membayangkannya, dengan dirinya tidak yakin jika dia bahkan dapat mencapai umur sembilan puluh tahun.

Dia benar-benar tidak tahu sudah berapa tahun berlalu semenjak dia telah menyembunyikan wajah dan jenis kelaminnya, tapi jika dia melatih semua skill tebasan beruntun itu melalui usahanya sendiri, itu bukan hanya latihan selama sepuluh atau dua puluh tahun. Kirito hanya dapat terus saling beradu pedang dengan Fanatio sekarang karena dia, juga, adalah pengguna skill tebasan beruntun yang langka, Aincrad style.

Jika ada swordsman yang lain, mereka mungkin hanya akan menjadi tidak berdaya hingga jatuh ke tanah, bahkan tidak dapat untuk bergerak satu langkah di dalam jangkauan pedangnya.

Karena itu, Kirito mungkin adalah lawan pertama yang Fanatio hadapi yang membuatnya dapat menggunakan semua kekuatannya melalui skill pedang yang dipolesnya juga.

Mereka mungkin Integrity Knight, tapi kehebatan dari keindahan dan kekuatan dari menggunakan satu tebasan adalah bukti dari style bertarung dari Eldrie dan Deuolbert. Karenanya, itu sangat meragukan bahwa Fanatio telah menunjukkan skill tebasan beruntun di latihan dengan knight sebagai patnernya. Dia telah berlatih sendiri untuk waktu yang, benar-benar lama, dengan tidak ada seorangpun selain bayangan imajinasinya, lalu anak muda pengguna skill tebasan beruntun telah muncul, mengambil bentuk yang sesungguhnya bernama Kirito.

Bahkan semenjak Kirito mulai mengajar dia Aincrad style, pertarungan hebat yang dia bayangkan di pikirannya sekarang telah dibawah ke kenyataan tepat sekarang. Itu tidak membawa keindahan dari style yang terus mencari pada keangkuhan, tapi keindahan yang hebat yang murni di dapat dari hasil untuk berusaha menebas musuh.

Lima tusukan beruntun Fanatio menahan lima tebasan beruntun Kirito secara sukses dan masing-masing pedang mereka, dengan kuat saling menangkis, mengayunkan itu ke bawah saat mereka berdua meneriakkan ketetapan hati mereka.

"Ryaaaa!"

"Seaaaa!"

Bahkan Eugeo, yang terbaring di lantai yang agak jauh, dapat merasakan panas di kulitnya dari gelombang udara yang disebabkan oleh pedang yang saling berhantaman. Rambut hitam Kirito dan Fanatio dengan keras terurai, pedang mereka bertubrukan, dan mereka berdua berganti posisi.

Eugeo kehilangan nafasnya untuk sesaat ketika wajah Fanatio telihat di pandangannya.

Itu sangat cantik, yang terlihat suci, yang membuat dia berpikir bagaimana wanita suci dari dunia dongeng akan terlihat seperti itu jika mereka benar-benar ada. Dia seharusnya berusia pertengahan dua puluh hingga merasa bersalah pada orang yang lebih tua, dengan kulit halusnya seperti bayangan the hitam dengan banyak susu yang ditambahkan. Baik alis yang berbentuk busur dan bulu mata yang panjang, tapi matanya sebagian besar berwarna emas kemerahan. Penampilannya menunjukkan bahwa dia mungkin lahir di daerah timur dan ujung hidungnya cukup tinggi.

Rahangnya memiliki bentuk melengkung juga, membawa pikiran pada keanggunan yang sangat lembut. Dan mulut kecilnya sedikit kemerahan.

Kemarahan mengerikan dari waktu sebelumnya sudah tidak ada di wajah knight perempuan itu. Sesuatu seperti kepasrahan, yang memendam suatu jenis kesedihan, dapat dirasakan darinya.

"—Aku mengerti sekarang."

Fanatio berguman dengan suara yang mempesona dengan pedang yang masih bersilangan.

"Kriminal, itu kelihatannya kau sedikit berbeda dengan dari seseorang yang pernah bertarung denganku. Tidak ada seorangpun laki-laki yang mampu untuk mencoba untuk membunuhku seserius ini sekali mereka melihat wajah buruk seperti ini sampai sekarang."

"Buruk—huh. Lalu demi siapa kau menyisir rambut itu dan mewarnai bibir merah itu?"

Pertanyaan Kirito sangatlah memprovokasi seperti seperti biasa, tapi Fanatio hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda dari senyuman mengejek, dan menjawab dengan pelan.

"Aku telah menunggu selama ratusan tahun untuk laki-laki yang aku cintai untuk meminta lebih dariku, dibanding tehnik pedang dan memenggal kepala...itu hanya normal dalam berada pada suasana hati untuk menggunakan kosmetik setelah menemaninya sangat lama dibalik topeng besi dan lalu berakhir bermain sebagai orang kedua pada knight perempuan yang baru itu, dengan wajah jauh lebih cantik dibandingkan dengan diriku dan dengan bebas memperlihatkan wajahnya."

Knight kuat yang jauh lebih cantik bahkan jika dibandingkan dengan Fanatio. Dan perempuan juga.

Itu hanya setelah Eugeo gemetar saat memikirkan bagaimana kuatnya musuh yang tersisa di atas dalam menara ini, dan dia menyadari bahwa dia mengetahui Integrity Knight yang cocok dengan kriteria tersebut. Tidak mengenakan helm, menjadi knight hanya beberapa tahun, seseorang yang menjatuhkan Eugeo dengan satu serangan yang sangat cepat—Alice Synthesis Thirty.

Kirito seharusnya merenungkan kata-kata Fanatio dalam satu hal dan lainnya, tapi dia memperlihatkan ketidaktertarikan saat dia bertanya lebih jauh.

"—Apa hal yang paling penting untukmu? Jika Integrity Knight hanya ada untuk melayani perintah pemimpin tertinggi, kau bahka seharusnya tidak memiliki hati yang mampu untuk khawatir terhadap cinta atau cemburu. Aku tidak tahu siapa laki-laki itu, tapi jika kau memiliki cinta yang tak berbalas padanya selama ratusan tahun...itu berarti kau adalah manusia. Itu karena kau adalah manusia sepertiku. Aku bertarung untuk mengalahkan gereja dan pemimpin tertinggi, untuk membuat manusia sepertimu dapat mencintai dan hidup normal!"

Bahkan Eugeo sangat terkejut oleh kata-kata itu. Dia sama sekali tidak tahu Kirito, yang kelihatannya selalu menyendiri, memikirkan tentang hal seperti itu di pikirannya. Tapi di saat yang sama, Eugeo juga menyadari di suatu tempat di suara patnernya ada sebuah gema, seolah-olah bermasalah pada suatu kontradiksi.

Wajah Fanatio berubah sekali lagi, meskipun itu hanya untuk sekejap saja.

Melihat pada benda gelap yang diukir pada dahi halusnya, dia berpikir «piety module» akan muncul seperti kasus Eldrie, tapi perubahan yang terlihat pada knight nomor dua diantara mereka berakhir di situ.

"...Anak muda, kau tidak mengerti. Jika kekuasaan gereja telah menghilang, siapa yang tahu neraka macam apa yang dunia ini akan alami... Tentara dari Dark Territory memperkuat kekuatan mereka hari demi hari, berkumpul di balik Puncak Barisan Pegunungan yang menyegel mereka. Aah...Aku mengakui, bahwa kau kuat. Dan tidak sebagai anak buah kegelapan maupun penyusup yang hebat, seperti yang Kepala Pemimpin bilang, kelihatannya. Tetapi, itu tidak mengganti fakta bahwa kalian benar-benar berbahaya. Untuk mampu mempengaruhi gereja dan Integrity Knight tidak hanya dengan pedangmu, tapi juga kata-katamu. Dihadapan tugas terbesar yang diberikan kepada kami sebagai Integrity Knight, cintaku hanya...bahkan tidak sebanding dengan memanen, seikat gandum yang ada."

Heaven Piercing Sword dan pedang hitam yang saling bersilangan di antara mereka berdua terus mengeluarkan suara keras yang kelihatannya telah mencapai batasnya, bahkan sementara Fanatio berbicara dengan ekspresi muram, seolah-olah mengatakan ketetapan hatinya. Itu sudah sangat jelas bahwa salah satu dari mereka dapat terlempar jika mereka mengurangi kekuatan mereka bahkan jika hanya sedikit.

Tidak, dua pedang itu seharusnya masih akan kehilangan Lifenya jika dalam keadaan seperti itu. Jika pedang itu masih terkunci, yang pertama akan kehabisan Lifenya adalah Heaven Piercing Sword. Setelah semua, jika status mereka sebagai sacred instruments berada di level yang sama, salah satu yang memiliki Life lebih banyak adalah salah satu yang lebih tebal dan lebih berat.

Tidak ada kemungkinan bahwa Fanatio tidak menyadari itu. Dan bagaimana dia tanpa ampun akan ditebas oleh Kirito pada saat pedangnya terdorong ke belakang dan menciptakan celah.

"Karena itu—Aku harus mengalahkanmu. Bahkan jika aku harus menghancurkan harga diriku sebagai knight. Mengejekku karena menang dengan skill yang mengejutkan. Kau berhak untuk mengatakan itu."

Setelah dengan pelan menyatakan itu, Fanatio melanjutkan dan berteriak.

"Cahaya yang disembunyikan di dalam Heaven Piercing Sword, ini adalah waktunya untuk melepaskan dirimu dari pengekangmu!! —Release recollection!!"

Upacara art ini—adalah art untuk melepaskan ingatannya!!

Pedang perak itu bersinar lebih terang daripada yang pernah diperlihatkannya.

Setelah itu.

Shupaa! Beberapa sinar cahaya telah dilepaskan dengan pola melengkung dari ujung pedang dengan suara itu.

Eugeo secara insting berpikir itu untuk menyilaukan mata. Untuk menghilangkan pandangan Kirito untuk sebentar dan mematahkan postur tubuhnya sebelum menebas dia.

Tetapi, perkiraan itu benar-benar menghilang ketika salah satu dari cahaya yang dtembakkan oleh Heaven Piercing Sword ke seluruh arah mengenai lantai di samping Eugeo, hingga ke dalam lantai marbel itu.

Itu bukan untuk menghilangkan pandangan—tidak ada satupun dari cahaya itu.

Kirito!! Eugeo tidak dapat menahan selain mengangkat bagian tubuh atasnya saat dia berteriak di dalam hatinya. Ketika dia memfokuskan matanya, dia melihat sinar cahaya yang ditembakkan dari jarak yang dekat pada saat hendak menembus pada tangan kanan Kirito. Tidak hanya itu, di dapat melihat bukti luka dari tanda luka yang tertembus dalam pada bahu kiri dan paha kanannya.

Dan Kirito bukan hanya seseorang yang menahan cahaya sangat panas di tubuhnya.

Pemilik dari Heaven Piercing Sword, juga, memiliki bekas lubang yang tertembak melalui armor pada perut, bahu dan kedua kakinya. Kedalaman lukanya jauh lebih buruk dibandingkan dengan Kirito. Tapi meski begitu, ekspresi yang dipenuhi dengan ketetapan hati yang terlihat di wajah cantiknya tidak berkurang sedikitpun.

Integrity Knight Fanatio Synthesis Two berencana untuk menghabiskan Lifenya juga, dengan Kirito sebagai orang yang akan menemaninya.

Kata-kata dari pemimpin tertinggi sebelumnya, Cardinal, terulang di pikirannya. Kalimat upacara «release recollection», membangkitkan semua ingatan senjata, melepaskan kekuatan yang tak terkendali. Kekuatan yang mampu untuk menghilangkan Life seseorang yang tidak hanya menyerang musuh, tapi dirimu juga.

Pelepasan Heaven Piercing Sword memberikan luka yang hampir fatal pada mereka berdua dari jarak dekat, dengan luka yang sangat besar pada empat knight di sekelilingnya juga, dari serangan awal. Ornamen suci di aula besar yang diluar jangkauannya juga dan itu telah secara cepat terbakar, sementara kaca jendela yang mahal tersebar secara berturut-turut. Ada beberapa sinar cahaya yang hampir tertembak menuju Eugeo dan dua anak perempuan yang lumpuh itu, terbaring di dekatnya, tapi meski begitu, mereka akan terkena serangan langsung cepat atau lambat.

Tidak peduli berapa banyak cahaya yang dipancarkan, sacred instrument yang ditempa dari ribuan cermin besar benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti Ujung pedang itu bersinar dengan jeda sekitar satu detik, menembak sinar cahaya tanpa mempedulikan untuk membidik.

Setengahnya tertembak menuju langit kosong, hanya melelehkan dinding, tiang, dan langit-langit, tapi beberapa jumlah diantara setengahnya mencapai sudut yang rendah dan telah mencapai tubuh mereka berdua pada jarak yang dekat, dan itu cukup normal.

Tidak dapat untuk menarik pedangnya, Kirito hanya dapat menggerakkan kepalanya sebanyak yang dia bisa untuk menghindari cahaya yang hampir menembus dahinya. Cahaya berikutnya menuju wajah Fanatio, tapi Integrity Knight itu tidak membuat gerakan sedikitpun. Sinar cahaya itu menggores pipinya, membakar lekukan hingga berwarna merah tua pada celah, kulit halusnya dan membakar sejumlah rambut hitam panjangnya dalam sekejap.

"Kau...benar-benar bodoh!!"

Kirito berteriak dengan ekspresi menyedihkan. Tetesan dari darah segar tersebar dari mulutnya bersamaan dengan itu. Eugeo dengan mudah dapat membayangkan bagaimana banyak sinar cahaya pada tubuhnya akan membuat Kirito berada diambang kehabisan Lifenya, tidak peduli berapa banyak yang dia punya. Tapi swordsman berjubah hitam itu keras kepala menolak untuk jatuh, bahkan menggeser pedangnya pada sumber dari sinar cahaya itu, ujung dari Heaven Piercing Sword, menutupi itu dengan bagian sampan pedang hitam itu.

Sebagai hasilnya, itu mungkin hanya penahan sementara, tapi semua cahaya yang tertembak menuju Kirito dan Fanatio berakhir dihalangi oleh pedang hitam.

Sekarang—sekarang atau tidak akan pernah!

Kirito tidak membuat sinyal, tapi Eugeo mengetahui bahwa waktunya pasti telah datang melalui baik rasional dan pemikirannya.

Fanatio secara normal telah bertarung, sementara empat knight di bawah perintahnya dengan susah payah bertahan dari cahaya juga, menggunakan pedang besar mereka sebagai perisai, dengan tidak ada ketenangan untuk mempedulikan kriminal yang tersisa. Tidak ada seorangpun yang mampu untuk menghentikan full control art Eugeo yang akan membuat dia terbuka lebar saat pengaktifannya jika dia menggunakannya saat ini.

Memancarkan sesuatu dengan kekuatan yang kuat, Eugeo menarik keluar Blue Rose Sword yang dia telah genggam selama seluruh waktu yang telah berlalu dengan satu tarikan.

"Enhance......"

Memutar itu di tengah udara, mengganti itu dengan ayunan rendah pada gagang, dia menahan gagang dengan bantuan tangan kirinya juga dan menusuk itu pada lantai marbel dengan semua kekuatan yang dapat dia kerahkan.

"—Armament!!"

Mendekati setengah dari pedang biru pucat itu tertancap pada lantai.

Bashiiii!! Diiringi dengan suara, ledakan keras, lantai marbel itu dengan sekejap tertutupi oleh es putih murni.

Kristal es menusuk ke arah atas, hawa dingin menyebar keluar dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Kira-kira lima detik setelah pengaktifan, hawa dingin dengan yang luasnya mendekati sepuluh mel membungkus Kirito dan Fanatio, bersamaan dengan empat knight, pada kaki mereka.

Itu kelihatannya empat knight itu akhirnya menyadari fenomena aneh itu. Wajah yang ditutupi oleh helm mereka terkejut dan berbalik ke arahnya.

Tapi itu sudah terlambat.

Sementara Eugeo menaruh semua kekuatan yang dia punya pada kedua tangannya, dia berteriak dengan keras.

"Mekarlah—Blue Rose Swoord!!"

Tak tehitung sulur es berwarna biru pucat muncul ke atas dengan sekejap, menuju empat knight, Fanatio dan Kirito dari kaki mereka.

Setiap sulur hanya setipis seperti jari kelingking. Tapi semuanya tumbuh dengan duri yang tajam, yang berkumpul pada itu, dengan kuat menjerat kaki mereka.

"Nhn..."

"A-Apa!?"

Knight yang berkumpul itu berteriak. Tak terhitung sulur es telah bergerak menuju pinggang dan perut mereka bersamaan dengan kaki mereka. Ada beberapa diantara mereka yang meskipun terlambat mencoba untuk memotong sulur itu dengan pedang besar mereka, tapi sulur itu telah melilit di sekitar pedang itu berkali-kali saat menyentuhnya, mengekang itu ke tanah.

Knight itu diserang oleh sulur, dari dada mereka hingga kepala mereka, bahakn turun hingga ujung jari mereka, telah membeku menjadi patung es yang tidak dapat bergerak sedikitpun. Pada akhirnya, dari sulur yang mengikat keras di sekitar tubuh mereka sementara mengeluarkan suara 'kin' yang tajam dari mawar besar bermekaran dengan jumlah tak terbatas, berwarna biru yang amat terang dan didahului oleh gema yang berbunyi dengan sangat jelas.

Normalnya, semua itu adalah es yang dingin. Tidak ada madu atau keharuman yang dibuat oleh kelopak keras dan transparan itu, tapi sebagai gantinya, mawar itu mulai mengeluarkan hawa dingin yang berwarna putih. Air di dalam seluruh aula itu telah dikelilingi kabut tebal pada saat itu, berkilauan dan bercahaya. Sumber dari hawa dingin itu—telah menahan Life knight itu.

Kecepatan segera berkurang sedikit demi sedit, tapi mereka tidak dapat mengumpulkan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghancurkan ikatan mereka dari mawar es yang menghisap Life dari seluruh tubuh mereka. Sejak awal, upacara art ini bukanlah digunakan untuk membunuh musuh. Eugeo memutuskan kemampuan art itu hanya untuk tujuan memperlambat gerakan Integrity Knight Alice.

Empat knight itu benar-benar menjadi tak berdaya, tapi seperti yang diduga dari seseorang yang memimpin mereka, itu kelihatannya Knight Fanatio melihat pada kemampuan skill itu pada saat sulur itu berubah di dalam es dan melompat ke udara dengan usaha untuk melarikan diri.

Tetapi, Kirito yang mengetahui art Eugeo, bereaksi sedikit lebih cepat. Setelah melompat tinggi untuk mengantisipasi Fanatio, Kirito menggunakan bahu swordswoman sebagai batu pijakan dari semua hal dan melarikan diri lebih jauh ke udara. Melompat ke arah belakang sementara mengalirkan darah segar, dia melarikan diri dari sulur es.

"Kuh...!"

Mungkin disebabkan oleh kehilangan kosentrasinya, sinar cahaya tertembak secara sembarangan dari Heaven Piercing Sword berakhir setelah menembus beberapa sulur, tenggelam pada keheningan. Sulur tipis yang dengan cepat mengikat di sekitar armor rusak yang terlihat menyedihkan, membungkus itu di dalam es tebal.

Sword Art Online Vol 12 - 246.jpg

Mawar biru terakhir terbuka dari kaki Fanatio telah mekar dengan keindahannya denngan bekas luka yang ada di pipinya. Integrity Knight nomor dua itu gerakannya benar-benar berhenti bersamaan dengan sacred instrument.

Dalam keadaan luka berat pada seluruh tubuhnya, melompat ke belakang beberapa kali dengan sukses dan melepaskan diri dari sulur es, lalu gagal saat mendarat di saat terakhirnya dan terjatuh dengan suara keras di samping Eugeo.

"Gufh..."

Suara yang serak keluar dari dalam tenggorokannya dan sejumlah darah segar dengan segera tersembur keluar. Melihat saat es itu berubah warna menjadi es merah tua pada saat itu juga, Eugeo tanpa sadar berteriak.

"Kirito...tunggu sebentar, aku akan mengucapkan art penyembuhan...!"

"Tidak, Jangan hentikan skill itu!"

Bahkan ketika dia sementara diambang kehilangan kesadaran dari kehilangan banyak darah, Kirito masih merengut dengan matanya yang bersinar dan menggelengkan kepalanya.

"Orang itu tidak akan kalah hanya dengan sebanyak ini..."

Sementara setetes darah mengalir dari mulutnya, dia membangkitkan tubuhnya yang penuh dengan luka dengan pedang hitam.

Kirito mengusap mulutnya dengan tangan kirinya dan menutup kelopak matanya untuk sebentar untuk mengatur nafasnya, sebelum kedua matanya terbuka lebar dan mengangkat tinggi pedang hitamnya.

"System... call!!"

Upacara art yang mengikuti kalimat pembuka yang mengeluarkan tekadnya telah diucapkan dengan kecepatan yang luar biasa, memikirkan status fisiknya.

Suara yang tercampur dengan darah yang membuat jeda diantara setiap kalimat dan cairan berwarna merah keluar dari mulutnya pada saat itu, tapi meski begitu, Kirito melanjutkan untuk mengucapkan upacara art yang melebihi sepuluh kalimat tanpa tertahan satu kalipun.

Melihat dari dekat, tak terhitung bekas luka yang terukir pada tubuh Kirito, sebuah pemandangan menyedihkan yang membuat dia untuk bergemetar.

Cahaya Heaven Piercing Sword telah menembus tubuhnya yang terlatih baik beberapa kali, membakar lukanya menjadi hitam. Tidak terlalu banyak darah, hanya ada lubang kecil, tapi berbagai luka dengan jelas telah mencapai organ dalamnya. Life Kirito seharusnya berkurang lebih cepat dibandingkan dengan knight yang masih ditahan oleh mawar es, nyawanya dalam bahaya tanpa perawatan dalam waktu dekat.

Tetapi, Eugeo tidak dapat untuk melepaskan tangannya dari gagang the Blue Rose Sword agar untuk mempertahankan full control artnya. Itu akan membuat suatu kelegaan jika Kirito akan menggunakan art penyembuh pada dirinya sendiri, tapi itu kelihatannya patnernya yang terus mengucapkan sementara terlihat menakutkan benar-benar tidak memiliki keinginan untuk melakukan itu.

Tidak perlu untuk terburu-buru seperti itu, knight itu terkurung di kurungan es yang tidak akan hancur dengan mudah—

Itu adalah ketika Eugeo berpikir seperti itu dan pandangannya kembali pada knight di depannya sekali lagi.

Rentetan cahaya putih yang muncul dari bagian tengah mawar es yang mekar sepenuhnya dan menembus pada dinding. Eugeo hanya dapat mengeluarkan nafas pendek dari keterkejutan yang meliputinya.

"Eeh..."

Sumber dari cahaya itu adalah Knight Fanatio, yang seharusnya telah diselimuti sepenuhnya oleh lapisan dari sukur es dan dengan gerakannya yang benar-benar tersegel.

Armament full control art tidak membiarkan penggunaannya menjadi benar-benar bebas setelah selesai mengucapkannya. Memegang senjata dengan kemampuan memperkuat serangan membutuh kosentrasi mental tingkat tinggi dari penggunanya. Eugeo, juga, harus tetap menggenggam gagang dari pedang yang menusuk pada lantai dan mempertahankan gambaran dari mawar es yang mekar secara berlimpahan jika dia tidak ingin knight itu lepas dari pengekangnya.

Setelah benar-benar mengontrol Heaven Piercing Sword, Knight Fanatio telah menembak sinar cahaya yang tak terhitung jumlahnya, telah melewati pertarungan pedang dengan kecepatan sangat tinggi dengan Kirito, dan pada akhirnya melepaskan tehnik terbesarnya dari serangan sinar cahaya yang tidak terkendali dan bertubi-tubi, memberikan luka fatal bahkan pada dirinya sendiri. Kosentrasi mentalnya seharusnya telah melemah dan melepaskan dari kondisi mengendalikan Heaven Piercing Sword—atau seperti itu yang Eugeo pikirkan.

Tetapi.

Benar-benar terkurung di dalam es, Fanatio mengangkat pedang tipis yang diangkat tinggi dengan tangan kanannya, dan perlahan menggerakkan itu dengan suara retakan yang datang dari es. Aura dari semangat knight itu terlihat dari tubuh langsingnya, seperti gerakan dari uap panas, benar-benar terlihat jelas pada mata Eugeo yang terbuka lebar.

"Kuh...!"

Menggigit mulutnya, Eugeo memberikan kekuatan yang lebih pada kedua tangannya yang menggenggam gagangnya. Dipandu oleh gambaran pikirannya, mendekati sepuluh pucuk sulur es mendekati ke arah Fanatio dari sekitarnya.

Sulur yang melambai pada tangan kanan Fanatio dan mengikat itu dengan gerakan yang sama, tanpa meninggalkan jeda apapun, dan menghentikan gerakannya.

Tapi itu hanya untuk beberapa detik sebelumnya.

Dengan benar-benar tidak peduli terhadap duri yang menusuknya, Integrity Knight itu memaksakan tangan kanannya untuk keluar. Mendekati setengah dari sulur biru itu menjadi retak, berkilauan saat bagiannya menyebar.

Hawa dingin yang lebih dingin dibandingkan dengan es yang menutupi Eugeo dari belakang.

—Apakah dia benar-benar manusia?

Tekad Kirito, saat dia terus mengucapkan dengan kecepatan tinggi sementara terbatuk darah, benar-benar absurd juga, tapi swordswoman itu juga melebihi itu. Dia tidak akan kalah meskipun banyak lubang pada seluruh tubuhnya dari serangan sinar cahaya yang tidak pandang bulu dan Life yang dihisap tanpa ampun dari mawar es—sebaliknya, dia tanpa henti berusaha memisahkan dirinya dari pengekang es yang membuat empat knight anak buahnya benar-benar tidak dapat bergerak dengan kekuatan dari tangan kanannya sendiri.

Eugeo menatap dengan ketakutan pada Heaven Piercing Swordyang digenggam di tangan kanan knight itu yang kelihatannya secara perlahan mengatur sudutnya menuju mereka berdua.

Sebenarnya apa yang memberikan Fanatio kekuatan sebanyak ini?

Kewajibannya utnuk melindungi hukum sebagai Integrity Knight? Cintanya pada seseorang yang ada padanya selama ratusan tahun? Atau mungkin, kata-kata yang keluar dari mulut perempuan itu sebelumnya...?

Fanatio mengatakan bahwa Dunia Manusia mungkin akan diserang oleh tentara Dark Territory jika itu kehilangan kekuatan Gereja Axiom.

Jadi, itu berarti bahkan jika dia terluka selama prosesnya, perempuan itu akan mau untuk bertarung untuk melindungi penduduk Dunia Manusia—pada seseorang yang memandang rendahnya, membencinya dan mengambil keuntungan dari keberadaannya, apakah itu adalah bangsawan kelas atas atau penduduk biasa.

Tetapi, itu mustahil. Integrity Knight adalah anak buah di bawah pemimpin tertinggi, Administrator, yang memenjarakan Alice muda dan mengubahnya menjadi seseorang yang lain dengan mengambil ingatannya. Musuh yang dibencinya. Pikiran Eugeo telah menetapkannya seperti itu, dan dia memanjat katedral, memutuskan untuk mengambil hidup mereka jika memang diperlukan.

Meskipun begitu, bagaimana dia dapat menganggap ini adalah yang sebenarnya—bagaimana dia dengan serius memikirkan bahwa Integrity Knight ini adalah wakil keadilan?

"Kalian...Kalian semua tidak pantas untuk menegakkan keadilan!!"

Eugeo mengeluarkan teriakan yang ditahannya dan mencurahkan semua rasa permusuhan yang dia dapat kumpulkan dari dalam hatinya pada Blue Rose Sword.

Sekali lagi, tak terhitung sulur es itu bergerak di sekitar Fanatio, ujungnya berubah menjadi duri tajam dan menusuk pada tangan kanan knight itu satu demi satu.

"Berhenti...Berhenti bergerak!!"

Meskipun bagaimana besarnya kebencian yang seharusnya ada di dalam hatinya, untuk suatu alasan, sesuatu keluar dari mata Eugeo. Tetapi, dia tidak dapat untuk mengakui bahwa itu adalah air mata. Eugeo tidak dapat membiarkan hatinya dapat tergerak oleh sosok Fanatio saat tangan kanannya dengan susah payah menolak bahkan untuk berhenti sementara tertusuk oleh duri es, penjelmaan dari kemarahan dan kebencian Eugeo.

Tangan Integrity Knight itu telah tertusuk. Duri yang tajam telah menusuk itu seperti bantalan peniti, darahnya dengan cepat menetes ke bawah dan mengubah itu menjadi es merah yang teruntai.

Tapi pada akhirnya, gerakan tangan itu tidaklah berhenti, dan itu membetulkan posisi Heaven Piercing Sword yang digenggam dari vertical menjadi horizontal, menunjukkan bagian tajamnya pada Eugeo dan Kirito.

Eugeo melihat pedang perak yang dipenuhi dengan sinar, yang jauh lebih menyilaukan daripada yang pernah terlihat sebelumnya, melalui air mata yang mengaburkan pandangannya.

Itu bersinar sangat terang hingga dia dapat mempercayai bahwa Fanatio menghabiskan sisa dari Lifenya yang tersisa. Mata Eugeo yang basah menatap pada sinar berwarna putih murni yang terasa seperti Dewi Matahari Solus telah turun menuju aula besar ini.

—Aku tidak dapat menang. Aku tidak dapat menang terhadapnya dengan keadaanku yang sekarang.

Menatap pada mawar es yang hanya secara sederhana hancur karena tidak terlindungi dari cahaya putih, Eugeo dengan pelan mengambil nafas.

Tetapi, dia, tidak memiliki rencana untuk menutup matanya saja dan menunggu untuk cahaya itu mengambil hidupnya. Dia betul-betul tidak dapat menerima untuk menyerah terhadap «keadilan» Fanatio dengan cara seperti ini.

Setidaknya, dia berharap untuk memperlihatkan ketegarannya dengan membuat satu mawar terakhir untuk mekar. Itu adalah ketika dia mencoba untuk mengumpulkan sisa kebenciaan yang masih tersisa di dalam hatinya, dengan susah payah, itu terjadi.

Kirito berguman di sampingnya, kelihatannya telah menyelesaikan mengucapkan upacara art.

"Kau tidak dapat mengalahkannya dengan kebencian, Eugeo."

"Eh..."

Saat membalikkan kepalanya, patnernya melanjutkan dengan senyuman yang terlihat dengan mulutnya memiliki bekas darah.

"Kau tidak berhasil sejauh ini karena kau membenci Integrity Knight, bukan? Kau ingin mengambil Alice kembali, kau ingin bertemu dengan dia kembali...Kau ada di sini karena kau mencintai Alice, bukan? Perasaan itu pasti tidak akan kalah terhadap keadilannya. Aku juga sama...Aku ingin melindungi orang-orang di dunia ini, aku ingin melindungimu dan Alice dan bahkan dia yang ada di sana. Jadi tidak ada cara kita dapat kalah dari dia sekarang...Itu benar bukan, Eugeo?"

Suara Kirito sangat tenang meskipun di situasi yang sangat menyedihkan. Swordsman berjubah hitam dengan banyak kemisteriusan di sekelilingnya mengangguk sekali lagi dengan senyuman dan melihat ke arah depan.

Itu adalah pada saat yang persis ketika Heaven Piercing Sword yang kelihatannya menembakkan sinar cahaya yang terbesar dan terakhirnya.

Itu adalah tombak cahaya yang besar, cukup besar untuk menyamai semua sinar cahaya yang ditembakkan sejauh ini di dalam itu dan lebih. Itu seperti Holy Spiritual Light, yang secara pribadi dilempar oleh Dewi, Solus, untuk mengusir Dewa Kegelapan Vector selama penciptaan dunia, telah turun untuk membakar semua yang ada.

Mata hitam Kirito terbuka lebar dan menatap dengan ketetapan hati yang kuat. Suaranya mengucapkan kalimat terakhir yang dipenuhi dengan tekad yang tak tergoyahkan yang cocok dengan keadaan berbahaya seperti ini.

"Enhance armament!!"

Menghadap ke arah depan, ujung dari pedang hitam itu bergetar.

Dengan segera setelah itu, berbagai untaian kegelapan keluar dari seluruh pedang itu.

Suatu aliran yang berwarna hitam pekat yang kelihatannya menghisap semua cahaya yang menghalanginya, berputar, dan melilit di sekitarnya. Itu menjadi tombak, cukup tebal untuk membukus tangan seseorang di sekitarnya, dengan sekejap dan makin terdorong maju.

Saat memfokuskan matanya, itu kelihatannya hanya bagian ujung tajam yang terwujud dengan keras, mengambil wujud seperti sinar batu obsidian.

Dia dapat mengingat tekstur itu. Pohon besar yang Eugeo tebang dengan kapak, hari demi hari. «Demonic tree» yang merupakan asal dari pedang hitam itu—Gigas Cedar.

Pada saat dia mengetahui itu, Eugeo mengerti bentuk sebenarnya dibalik full control art yang diaktifkan Kirito.

Dia telah membangunkan ingatan yang tertidur di dalam pedang hitam itu melalui upacara art dan memproyeksikan di lokasi ini dengan wujud yang benar-benar seperti dulu, pohon besar yang menolak untuk tertebang jatuh selama beratus-ratus tahun. Tentu saja, bentuk dan ukurannya tidaklah tetap sama seperti waktu itu, tapi keberadaannya benar-benar sama.

Keras, tajam, dan benar-benar besar.

Itu betul-betul keberadaan yang sebanding untuk menjadi senjata terkuat.

Hati Eugeo berdetak kencang. Dengan segera—

Tombak besar, yang berwarna hitam pekat telah bertemu dengan tombak besar yang terkumpul dari cahaya Solus. Ledakan gelombang kejut yang sangat keras mengguncang seluruh aula besar itu...Mungkin seluruh Katedral Pusat itu sendiri.

Mungkin bahkan pohon besar yang ditahan oleh panas dan cahaya yang sangat terang yang melebihi imajinasi, kehilangan kecepatan untuk menyerbu maju. Tapi kegelapan yang tak ada habisnya itu terus mengalir keluar dari pedang hitam di tangan Kirito, mencoba untuk mendorong tombak itu untuk maju, bahkan hingga sampai titik darah penghabisan.

Sword Art Online Vol 12 - 255.jpg

Itu kelihatannya Heaven Piercing Sword, yang digenggam di tangan Fanatio, tidak memiliki keinginan untuk berhenti juga. Aliran cahaya yang meluap semakin diperkuat setiap detik, mawar es yang menutupi knight itu benar-benar telah meleleh disebabkan oleh panas. Itu mungkin hanya suatu keterangan, tapi sarung tangan yang menutupi tangan kanan knight itu kelihatannya telah bersinar berwarna merah terang dengan asap putih yang naik dari itu.

Pertarungan diantara cahaya dan kegelapan terus berlanjut untuk saat ini di tengah-tengah aula besar itu.

Tetapi, itu sangat meragukan bahwa pertarungan diantara kekuatan dengan level yang luar biasa ini akan berakhir dengan itu benar-benar saling mengimbangi satu sama lain dan menghilang. Itu sudah pasti bahwa satu sisi akan mendorong kembali sisi yang lain dan akan benar-benar menghancurkan musuhnya.

Seseorang yang berada di posisi tidak menguntungkan di pertarungan ini, adalah Kirito?

Tentu, Gigas Cedar sangat keras, tapi pada akhirnya, itu hanyalah pohon, keberadaan yang nyata. Seperti yang asli telah tertebang jatuh setelah menebang itu dari waktu ke waktu, ini juga, akan menghilang setelah menerima kerusakan yang melewati batasnya.

Tetapi, Heaven Piercing Sword's light adalah kumpulan dari panas murni. Bagaimana sebenarnya serangan tidak nyata dapat dikalahkan?

Memikirkan cara melawannya ada, entah itu menggunakan cermin untuk memantulkannya seperti yang Kirito pernah lakukan sekali sebelumnya, atau menetralkan itu sepenuhnya dengan es, yanga jauh lebih kuat dibandingkan dengan yang Blue Rose Sword telah keluarkan, kekuatan dengan ciri-ciri spesial yang mampu untuk melawannya seharusnya dibutuhkan. Tetapi, melihat pada sifat dari Gigas Cedar hanya akan ada dua, ketebalan yang absurd dan bebannya—

Tidak, masih ada satu hal lagi.

Dengan cepat menyerap cahaya Solus dan mengubah itu menjadi energinya sendiri.

Tombak cahaya Fanatio tiba-tiba tersebar menjadi ribuan bagian.

Keseimbangan itu telah hancur, salah satu yang menyerbu maju sekali lagi adalah keberadaan pohon besar Kirito dengan warna kegelapan.

Ujungnya berwarna merah menyala hingga ke titik dimana itu menyilaukan, tapi meski begitu, itu bergetar dan menembus melalui cahaya tanpa berhenti pada tekanannya, melanjutkan menuju sumbernya.

Cahaya itu, menyebar dengan pola jari-jari, menembus di semua tempat di aula besar itu, menyebabkan tak terhitung ledakan kecil saat itu melelehkan sulur es. Empat knight yang tertahan di lantai itu terlempar ke udara satu demi satu.

Bahkan saat Integrity Knight Fanatio melihat pada tombak besar, yang berwarna hitam pekat itu semakin mendekat seperti badai, dia tidak bergerak bahkan satu langkahpun. Itu kelihatannya semua kemarahan dan kebencian telah menghilang dari wajah cantiknya. Kelopak matanya perlahan tertutup dan mulutnya sedikit bergerak. Suatu jenis emosi pasti bersumber dari itu, tapi Eugeo tidak dapat menebak apa itu.

Ujung tajam dari pohon besar itu akhirnya telah mendakti menuju sumber cahaya itu dan berhantaman dengan bagian tajam Heaven Piercing Sword. Pertama, pedang tipis berwarna putih keperakan itu berubah saat itu terlempar, bersinar saat itu berputar di udara.

Dengan segera mengikuti itu, knight itu sendiri telah terlempar ke udara oleh hantaman yang luar biasa.

Bagian dari armor ungu itu telah tersebar saat dia langsung terayun menuju langit-langit, menghantam lukisan dinding yang mengambil penciptaan dunia sebagai temanya hingga menjadi bagian kecil.

Dia terjatuh dengan pelan. Bersamaan dengan tak terhitung bagian marbel, tubuh Fanatio terjatuh seolah-olah ada senar yang terpasang padanya, jatuh tepat di depan pintu besar di bagian belakang dari aula besar itu dengan hantaman keras. Dan Integrity Knight nomor dua itu tidak dapat berdiri lagi.

Tombak berwarna hitam pekat itu dengan pelan kehilangan bentuknya dan mulai terserap kembali ke pedang hitam yang Kirito pegang, seperti aliran dari bayangan. Ketika Eugeo melihatnya, itu kelihatannya pedang itu sendiri entah bagaimana menjadi memanjang pada waktu ketika bertarung dengan Raios, tapi itu kembali ke ukuran yang semula setelah semua kegelapan sekali lagi terhisap ke dalam pedang.

Eugeo berbalik menuju ke depan dan menatap tanpa kata-kata pada reruntuhan yang ditinggalkan dari pertarungan hebat itu.

Tak terhitung lantai marbel dan dinding telah meleleh dan rusak di sana dan di sini, hanya ada bayangan yang tersisa dari bentuk mereka sebelumnya. Lantai di bagian tengah dari sisa pertarungan tombak besar kegelapan dan cahaya secara khusunya, telah membuat parit yang luas dan dalam yang berlanjut melalui itu, itu sangat aneh tentang bagaimana itu tidak rusak hingga mencapai lantai di bawahnya.

Fakta bahwa hanya dua orang saja telah membawa kerusakan sebanyak ini pada lantai kelima puluh dari Katedral Pusat, «Grand Cloister of Spiritual Light», tidak perlu dibilang bahwa mereka hanyalah swordsman yang belajar di Akademi Master Pedang hanya sampai dua hari yang lalu, tidak akan ada seorangpun yang akan mempercayainya selain orang yang hadir di sini.

—Tapi kita benar-benar melakukannya.

Eugeo berguman di dalam pikirannya. Kita telah bertarung dengan lima Integrity Knight, seseorang yang menegakkan peraturan tak bersyarat pada Dunia Manusia semenjak penciptaannya, dan kita telah menang.

Menghitung Eldrie dari sebelumnya, ini akan membuat sembilan Integrity Knight yang kita telah kalahkan. Menurut perkataan Cardinal, bahwa ada dua belas knight yang berjaga di dalam katedral, jadi hanya tiga knight yang tersisa. Dengan kata lain, jika kita mengalahkan beberapa knight lagi...

Itu kira-kira pada waktu yang sama pada saat Eugeo menggeretakkan giginya.

Kirito terjatuh dengan bertumpu pada lututnya. Pedang hitam itu terjatuh dari tangan kanannya dengan suara pelan.

Melepaskan tangannya secara panik dari Blue Rose Sword yang tertusuk pada lantai, bagian tubuh Eugeo melesat maju dan dia menahan tubuh patnernya.

"Kirito!"

Tubuh yang dia tahan benar-benar sangat ringan dan sejumlah darah dan Life yang keluar benar-benar tidak berhenti. Kulit yang jauh lebih putih dibandingkan dengan marbel dan tidak ada tanda-tanda dari kelopak mata yang tertutup itu untuk terbuka. Melihat sekilas dengan matanya pada seluruh tubuh itu, dia menaruh tangannya pada luka yang terlihat paling dalam, salah satu di pahanya.

"System Call! Generate luminous element!"

Mengumpulkan tiga luminous elements yang dibuatnya pada luka itu, kemudian dia mengubah itu menjadi kekuatan penyembuh melalui upacara art.

Dia melepaskan tangannya saat luka yang terbakar itu mulai menutup, sedikit demi sedikit, dan menggunakan cara penyembuhan yang sama pada bahu kirinya. Normalnya, katalis seperti «sacred flower orbs» dibutuhkan untuk membuat luminous elements yang menkonsumsi banyak sacred power dari area sekelilingnya, tapi itu tidak dibutuhkan sekarang. Sejumlah besar Life yang dikeluarkan dari lima knight oleh Blue Rose Sword telah berubah menjadi sacred power dan telah berkumpul di udara.

Penurunan dari Life secara terus menerus seharusnya telah berhenti dengan luka yang parah telah sembuh, tapi Eugeo tidak dapat menggunakan sacred arts luminous apapun yang mampu mengembalikan Life dari seseorang yang kehilangan sebanyak ini. Dia memegang tangan kanan Kirito dengan tangan kirinya tanpa keraguan dan mengucapkan upacara art baru.

"System call! Transfer human unit durability, self to left!!"

Bulatan dari cahaya biru yang samar-samar menutupi seluruh tubuh Eugeo untuk kali ini juga dan itu segera berkumpul di tangan kirinya, lalu mengalir pada tubuh Kirito. Art ini yang memperbolehkan untuk mentransfer Life diantara manusia memiliki efek yang besar meskipun upacara art itu sangat sederhana.

Memikirkan kembali tentang itu, Kirito adalah seseorang yang menderita luka berat sementara Eugeo hanya sedikit kehilangan Life, baik saat pertarungan melawan Deusolbert dan kali ini juga. Dia tidak mungkin untuk membayar itu semua selain menyerahkan Lifenya hingga diambang pingsan.

Atau seperti itu yang Eugeo pikirkan, tapi ketika dia merasa kira-kira setengah dari Lifenya akhirnya telah mengalir keluar, Kirito dengan perlahan membuka matanya dan menggenggam tangan Eugeo dengan tangan kirinya, menarik itu darinya.

"...Terima kasih, Eugeo, aku baik-baik saja sekarang."

"Jangan memaksakan dirimu, seharusnya pasti ada suatu luka yang tersembunyi dari penglihatan langsung setelah kau melalui semua itu."

"Ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan waktu ketika goblin itu menyerang kita, aku jauh lebih khawatir terhadap orang itu..."

Melihat Knight Fanatio, terbaring di sisi yang lain dari aula itu, pada ujung dimana mata hitam itu menatapnya, Eugeo tanpa sadar menggigit mulutnya.

"...Kirito...Perempuan itu...Mencoba untuk membunuhmu..."

Pada saat dia mengatakan itu, apa yang Kirito segera katakan sebelum dia mengaktifkan full control artnya bergema di dalam telinganya. Melihat ke arah bawah, dia melanjutkan bisikannya.

"Tidak dapat mengalahkannya dengan kebencian...Itu apa yang kau katakana sebelumnya, bukan? Ya, mungkin itu benar. Aku bertarung dengan Integrity Knight bukan karena suatu dendam pribadi atau kebencian yang diarahkan padanya, itu benar-benar bukan alasanku bertarung...Tapi... Tapi aku tidak menemukan sesuatu di dalam diriku untuk memaafkan Integrity Knight. Itu tidak hanya kekuatan hebat mereka, jika mereka memiliki ketetapan hati itu...Jika mereka memiliki perasaan untuk melindungi semua orang yang hidup di Dunia Manusia, lalu kenapa mereka tidak menggunakan kekuatan itu dan..."

Eugeo menjadi bimbang, tidak dapat berkata lebih jauh lagi. Tetapi, Kirito yang terhuyung dan mengambil pedang hitamnya dari lantai, mengangguk seolah-olah dia mengerti.

"Aku sangat yakin mereka tertahan dengan keraguan mereka sendiri. Jika kita bertemu dengan Komandan Integrity Knight, kita mungkin akan mengetahui lebih dalam tentang itu... Eugeo, full control artmu benar-benar hebat. Kau adalah orang yang mengalahkan semua knight itu. Jadi tidak perlu untuk mengarahkan kebencianmu pada manusia itu, Fanatio dan knights «Four Oscillation Blades», lebih lama lagi..."

"Manusia...Yeah...Kau benar. Aku mengerti sebanyak itu ketika aku bertarung dengan mereka. Dia adalah manusia, karena itu dia sangat kuat." Ketika Eugeo berguman seperti itu, Kirito mengeluarkan suara yang sedikit tertawa dan menyetujuinya.

"Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka adalah orang baik, dan mereka mungkin adalah orang jahat di matamu, tapi mereka adalah manusia seperti kita. Menentukan siapa yang benar-benar baik dan jahat adalah mustahil untuk manusia, aku yakin itu."

Kata-kata itu terdengar seperti dia mengatakan itu karena dia juga dapat mempercayai itu, sebuah pikiran tiba-tiba muncul di pikiran Eugeo. —Kirito. Bukan kau pikir itu juga berlaku pada seseorang yang kau menjadi sangat marah juga pada, pemimpin tertinggi, Administrator... Seseorang dengan memberikan peraturan ketat pada Gereja Axiom dan juga, dunia?

Tapi sebelum dia dapat bertanya, Kirito telah mulai berjalan menuju Fanatio yang terbaring dihadapan pintu besar itu.

Dia mengambil lima, enam langkah sebelum berputar kembali dan mengambil botol kecil setelah memeriksa itu di sakunya.

"Oops, hampir lupa tentang itu. Singkirkan racun dari anak-anak itu dengan ini, kumohon. Pastikan untuk menghancurkan pedang beracun itu dan periksa jika mereka memegang sesuatu yang aneh sebelum kau meminumkan itu pada mereka."

Memikirkan tentang bagaimana dia telah melupakan mereka juga, Eugeo menangkap botol kecil yang Kirito lempar dan mengangguk.

Setelah berdiri, menarik Blue Rose Sword dari lantai, dan berbalik arah kepada, knight perempuan muda, Fizel dan Linel, telah berada pada kondisi yang sama, terbaring di lantai, sementara lumpuh. Es yang menutupi sekitarnya telah menghilang dan itu kelihatannya mereka tidak menderita luka apapun dari sulur es dan sinar cahaya.

Pada saat mata mereka bertemu dengan Eugeo yang mendekati mereka, anak perempuan itu yang merengut dengan menggerakkan bola mata mereka yang hanya itu yang dapat bergerak.

Kelihatannya kita tidak dapat dilihat secara langsung dalam arti yang berbeda dari kasus Fanatio yang ada di sini. dia menahan desahannya saat dia merunduk dan menarik keluar dua pedang beracun itu, yang tertusuk di lantai pada ujungnya di depan hidung mereka, dengan kedua tangan.

Melempar itu ke udara, dia mengayunkan Blue Rose Sword satu kali saat itu segera berputar ke bawah.

Pedang pendek itu telah hancur tanpa kesulitan, mengubah itu menjadi percikan cahaya dan menghilang saat itu kehilangan seluruh Lifenya sebelum itu terjatuh ke lantai. Menyarungkan pedang kesayangannya, dia berjongkok di samping mereka berdua dan mengecek pada pakaian sister mereka untuk melihat jika mereka memiliki senjata yang lain sementara meminta maaf dengan kata "maaf".

Terakhir, dia membuka botol kecil dan menuangkan tujuh puluh persen sisa dari isi botol itu kepada mulut mereka berdua, membagi itu menjadi setengah untuk mereka masing-masing. Dengan ini, mereka berdua seharusnya dapat pulih dari kelumpuhan mereka kurang lebih sepuluh menit seperti Eugeo.

Itu akan baik-baik saja untuk meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini, tapi Eugeo lalu berpikir, "Apa yang Kirito akan katakan pada situasi seperti ini?", dan lalu, membuka mulutnya setelah berpikir untuk sebentar.

"...Fanatio dan Kirito sekuat itu karena mereka memiliki sacred instruments and armament full control arts mereka...Itu mungkin apa yang kalian berdua pikirkan, menjadi seperti diri kalian, tapi itu salah. Mereka bedua jauh, jauh lebih kuat...Mereka dapat bertarung bahkan setelah cukup parah bukan melalui skill atau senjata mereka, tapi melalui hati dan pikiran mereka, itu juga karena mereka dapat menggunakan upacara art yang sanagt hebat. Benar, kalian berdua mungkin berpengalaman dengan tehnik membunuh manusia. Tapi membunuh dan menang benar-benar hal yang berbeda. Aku tidak menyadarinya sampai hari ini juga, meskipun begitu..."

Eugeo sama sekali tidak tahu berapa banyak dari kata-katanya yang akan mencapai mereka saat mereka tetap memalingkan pandangan mata mereka seperti biasa. Sejak awal, dia tidak terlalu bagus untuk berurusan dengan anak-anak.

Tapi meski begitu, setidaknya, mereka berdua seharusnya merasakan sesuatu setelah melihat pertarungan itu juga, dia sangat yakin hal itu. Ketika dia mengingat pembicaraan polos itu dari Fizel dan Linel, dia merasa bahwa dia dapat mempercayai bahwa mereka tidak jahat juga. Berbalik arah setelah mengatakan kalimat singkat "Selamat tinggal", dia berlari menuju Kirito.

Dia dengan cepat menggerakkan penglihatannya ke kiri dan ke kanan aula yang benar-benar hancur itu, memeriksa keadaan empat knight yang melayani di bawah perintah Fanatio.

Itu kelihatannya mereka telah menderita dari luka yang cukup dalam dari tombak cahaya yang lepas kendali saat mereka semua telah terbaring.

Tapi seperti yang diharapkan dari Integrity Knight, dia benar-benar tidak dapat melihat luka yang dapat mengurangi Life. Pendarahan mereka sangat kecil, jadi mereka kelihatannya akan dapat bergerak dengan segera.

Tetapi, tidak seperti mereka yang hanya terseret pada ledakan kecil, Fanatio telah menerima seluruh tombak besar, berwarna kegelapan yang menyerangnya dan sudah jelas berada diambang kehilangan hidupnya, bahkan tanpa melihat pada semua darah yang mengalir di area besar di sekitar perempuan yang terbaring itu.

Berjalan hingga berhenti di dekat Kirito yang berlutut dengan lututnya di samping knight itu, Eugeo menghentikan nafasnya saat dia mengintip dari atas bahu patnernya.

Melihat mereka dari dekat, luka pada seluruh tubuh Fanatio benar-benar sangat menakutkan, dia ingin untuk mengalihkan pandangannya. Badan dan kakinya memiliki lubang karena tertembus oleh sinar panas di empat tempat, sementara tangan kanannya telah tertusuk oleh duri mawar es dan diatas itu, terbakar karena disebabkan oleh serangan terakhir Heaven Piercing Sword, hampir tidak meninggalkan tempat yang tidak terluka.

Tetapi, seperti yang diduga, apa yang kelihatannya luka yang paling parah adalah luka di atas perutnya yang mendapat serangan serangan langsung dari Gigas Cedar. Ada lubang yang terbuka, yang sebesar dan sedalam tangan orang dewasa, dengan darah segar mengalir tanpa henti.

Wajahnya yang dengan kelopak matanya telah tertutup telah berubah menjadi biru keunguan yang samar-samar, seperti warna armornya yang dipakainya di sini. Dan bahkan tidak ada tanda-tanda dari organ vital dapat terlihat.

Kirito sementara dalam proses mencoba sacred arts untuk menutup lukanya saat dia menaruh tangannya pada luka Fanatio, Stacia Window kelihatannya tidak terbuka karena melihat Lifenya akan membuat itu tidak ada gunanya untuk saat ini. Menyadari Eugeo mendekat, dia masih menundukkan wajahnya dengan desakan pada nadanya.

"Tolong bantu aku, darahnya tidak mau berhenti."

"Ah... yeah."

Mengangguk dan segera berlutut di sisi yang lain, dia menaruh tangannya pada luka yang sama. Setelah dia mengucapkan art penyembuh luminous sama yang dia tadi gunakan pada Kirito sebelumnya, darah yang mengalir dari lukanya kelihatannya telah berkurang entah bagaimana, tapi tujuan untuk menutupnya, itu masih sangat jauh.

Itu adalah bukti bahwa sacred power di sekelilingnya akan segera habis dan mereka berdua tidak akan dapat untuk membuat luminous elements bahkan jika mereka memaksa untuk mencoba menyembuhkan. Fanatio mungkin akan memulihkan beberapa Life secara sementara jika mereka mentransfer Life mereka, tapi itu sama sekali tidak berguna pada akhirnya jika pendarahan itu tidak dihentikan. Karena itu, menyelamatkan hidup perempuan ini akan membutuhkan bantuan dari pengguna sacred art yang mampu untuk menggunakan art penyembuh yang jauh lebih kuat dari mereka berdua, atau elixir legenda.

Dengan kuat menggigit mulutnya saat dia dengan terdiam melihat ke arah wajah Kirito, Eugeo berbicara setelah keraguaan yang sesaat.

"Ini mustahil, Kirito. Dia kehilangan darah terlalu banyak."

Kirito terus menundukkan matanya ke bawah untuk sementara, tapi dengan segera menjawab dengan suara serak.

"Aku tahu...Tapi jika aku tidak menyerah untuk terus berpikir, seharusnya...seharusnya ada suatu jenis cara untuk melewati ini. Eugeo, aku mohon padamu, tolong pikirkan tentang itu juga."

Ekspresi itu dipenuhi dengan perasaan ketidakberdayaan, hampir sama seperti ketika dia tidak dapat mencegah perbuatan jahat pada valet trainees mereka, Ronie dan Tizei, dua hari yang lalu, Eugeo merasakan sensasi menusuk di dalam hatinya.

Tetapi, tidak peduli sebanyak apapun dia memikirkannya, itu sudah pasti tidak ada metode untuk menyembuhkan Lifenya yang sekarang akan menghilang dihadapan matanya. Pemikiran dari menyembuhkan empat knight yang terbaring di belakang dan membantu mereka dengan perawatan terlintas di dalam pikirannya. Life Fanatio kelihatannya akan hilang untuk selama-lamanya setelah entah Kirito atau Eugeo menghentikan art penyembuh mereka. Dan bahkan jika mereka melanjutkannya dengan mereka—akhir yang sama akan datang beberapa menit kemudian.

Eugeo meyakinkan keputusannya dan menginformasikan patnernya dengan suara yang paling serius yang dapat dia keluarkan.

"Kirito. —Kau memberitahuku tentang ini ketika kita melarikan diri dari penjara bawah tanah, bukan? Bahwa aku harus mempersiapkan diri untuk menebas musuh apapun jika aku ingin untuk pergi lebih jauh. Bukankah kau bertarung dengan orang ini dengan dasar dari ketetapan hati yang sebelumnya? Bukankah kau menggunakan skill itu untuk menentukan salah satu dari kalian akan mati dengan yang lain akan hidup? Setidaknya, orang ini...Fanatio-san sama sekali tidak ragu-ragu. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia menaruh seluruh hidupnya pada garis itu...itulah apa yang aku percayai. Kau seharusnya telah mengerti itu juga, Kirito...ini bukanlah pertempuran dimana kau dapat menang sementara mengkhawatirkan tentang musuhmu atau bersikap lunak pada mereka."

Bahwa apa yang diayunkan adalah pedang kayu, tapi pedang sebenarnya pada musuh untuk mengakhiri hidupnya. Eugeo telah mempelajari itu melalui tangannya yang bergemetar, rasa sakit tajam di mata kanannya, dan ketakutan dingin di dalam hatinya ketika dia menebas tangan Humbert. Itu dapat dikatakan, dia selalu mempercayai bahwa patner berambut hitamnya telah mengerti itu lebih lama—dari sebelum mereka bertemu di hutan selatan di Rulid.

Saat mendengar suara Eugeo, Kirito menggeretakkang giginya secara bersamaan dan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan tanpa henti.

"Aku mengerti...Aku telah mengerti. Baik orang ini dan aku bertarung serius...Pertarungan yang sungguh –sungguh, dan berakhir dimana salah satu dari kami akan menang. Tapi...Orang ini akan menghilang jika dia mati! Dia telah hidup selama ratusan tahun...dengan keraguan, cinta, rasa sakit, aku tidak dapat membiarkan jiwa seperti itu menghilang...Maksudku...Bahkan jika aku mati..."

Bahkan jika dia mati—apa yang dia coba untuk katakan? Semua manusia akan mendapati jiwa mereka dibawa ke hadapan Dewi kehidupan, Stacia, ketika mereka kehilangan Life mereka, dan menghilang dari Dunia Manusia. Bahkan Kirito, meskipun dia memiliki banyak misteri, adalah manusia, itu seharusnya berlaku pada dia juga.

Eugeo sesaat menjadi terbingung, tapi itu telah terhapus saat Kirito melihat ke arah atas dan berteriak tanpa peringatan.

"Dapatkah kau mendengarku?! Komandan Integrity Knight! Wakilmu akan segera mati disini! Atau Kepala Pemimpin itu juga boleh! Jika kau dapat mendengarku, segera turun dan membantunya!!"

Teriakannya bergema perlahan ke langit-langit tinggi yang jauh di atas dan menghilang secara sia-sia. Tetapi, Kirito tidak menyerah dan terus berteriak.

"Siapapun boleh...Masih ada beberapa Integrity Knight yang ada di sekitar sini, bukan?! Datang dan bantulah temanmu! Aku tidak peduli apakah kau adalah pendeta atau sister... cukup datang ke sini!!"

Tidak ada respon dari atas, tapi keheningan dari yang sama seperti tiga dewi, benr-benar telah melebihi yang diketahunya. Bahkan tidak ada angin lembut yang turun pada mereka, lupakan keberadaan dari orang lain.

Ketika mereka melihat ke arah bawah, warna rmabut dan kulit Fanatio tidak dapat diragukan menjadi lebih pucat. Lifenya hanya tersisa seratus, atau mungkin lima puluh—Eugeo, yang ingin untuk mengantar Wakil Komandan Integrity Knight, Fanatio Synthesis Two, yang akan pergi menuju Celestial World dengan setidaknya doa di dalam hatinya, mencoba untuk meyakinkan Kirito untuk berhenti, tapi dia tidak dapat menghentikan teriakannya.

"Aku mohon padamu...seseorang! Bantu kami jika kalian melihatnya! ...Itu benar, datanglah ke sini, Cardinal! Cardinal..."

Kirito tenggelam pada keheningan seolah-olah sesuatu telah menghalangi tenggorokannya secara tiba-tiba.

Eugeo melihat ke atas dan melihat wajah patnernya dengan terkejut, saat itu menunjukkan ekspresi terkejut, lalu pada saat ragu-ragu sebelum itu berubah menjadi kebulatan tekad.

"H-Hey...Kenapa secara tiba-tiba?"

Tetapi, Kirito memasukkan tangan kanannya pada saku jubahnya tanpa menjawab.

Apa yang dia ambil—terayun di ujung rantai tipis itu, adalah pisau kecil dari besi.

"Kirito—! Itu-!!"

Eugeo secara insting berteriak.

Itu adalah pisau sama yang tergantung di sekitar leher Eugeo. Dia tidak mungkin dapat melupakan itu, itu adalah pisau yang Cardinal, pemimpin tertinggi sebelum dia diusir, dan itu telah diberikan kepada mereka sebelum mereka meninggalkan Ruangan Perpustakaan Besar. Itu benar-benar tidak memiliki kemampuan menyerang, tapi itu menghubungkan seseorang yang tertusuk dengan itu untuk sementara di tempat Cardinal. Dia telah menyerahkan itu pada mereka, dengan pisau pada Eugeo untuk Alice dan pisau pada Kirito untuk Administrator, itu berfungsi sebagai kartu truf untuk mereka berdua.

"Kau tidak dapat menggunakannya, Kirito! Cardinal mengatakan dia tidak memiliki pisau lebih yang disiapkan...Itu seharusnya untuk pertarungan terhadap Administrator..."

"Aku tahu..."

Kirito merintih dengan suara terluka.

"Tapi aku dapat membantunya jika aku menggunakan ini...tidak membantu seseorang ketika aku memiliki cara untuk melakukan itu...Aku tidak dapat memprioritaskan apapun lebih tinggi dibandingkan dengan hidup manusia."

Dia menatap tajam pada pisau itu dengan ekspresi, terluka, tapi dipenuhi dengan kebulatan tekad yang tegas—

Kirito menusukkan apa yang ada di tangan kanannya pada tangan kiri Fanatio, satu-satunya bagian dari tubuhnya yang tidak terluka, tanpa ada jejak dari keraguan.

Dengan sekejap, seluruh pisau itu memancarkan cahaya yang menyilaukan bersama dengan rantainya.

Bahkan tanpa memberikan waktu untuk menelan nafasnya, pisau itu terbagi menjadi beberapa berkas cahaya ungu. Saat memikirkan itu, semua berkas cahaya itu telah membentuk sacred letters sama seperti yang muncul di Stacia Window. Huruf-huruf rumit yang terpisah dari satu sama lain saat itu melayang di udara dan menyebar di semua tempat pada tubuh Fanatio.

Seluruh tubuh Integrity Knight itu diselimuti oleh aura ungu bersamaan dengan pisau itu benar-benar hancur. Eugeo terdiam saat memandangi pemandangan menakjubkan, lalu menyadari luka dari bagian atas perutnya benar-benar telah berhenti, walaupun itu hampir terlambat.

"Kirito—"

Eugeo mencoba untuk memberitahu dia bahwa pendarahannya telah berhenti, tapi itu telah dihentikan oleh suara yang bergema dengan segera dari suatu tempat.

[Ya ampun, sungguh anak muda yang tidak berdaya kalian berdua.]

Kirito mengangkat wajahnya ke atas seolah-olah itu telah ditarik.

"Cardinal...Apa itu kau?!"

[Sudah tidak ada waktu, jangan bertanya hal yang sudah jelas.]

Tidak ada keraguan bahwa suara indah dan cara bicara yang galak itu dimiliki oleh pemimpin tertinggi sebelumnya yang mereka temui di Ruangan Perpustakaan Besar.

"Cardinal...maaf, aku..."

Cardinal dengan terang-terangan memotong pada suara kesedihan Kirito saat dia mencoba untuk berbicara.

[Tidak ada gunanya untuk meminta maaf sekarang....Aku telah menduga ini akan berakhir dengan cara seperti ini semenjak aku melihat bagaimana kalian bertarung. Aku mengerti keadaanmu, aku akan mengurus perawatan Fanatio Synthesis Two. Tetapi, aku akan mengambil tubuhnya yang ada di sana saat itu membutuhkan waktu untuk dia benar-benar pulih.]

Cahaya ungu yang menyelimuti di sekitar sosok Fanatio bersinar terang saat suara itu mengatakan itu. Eugeo tanpa sengaja menutup matanya dan ketika dia membuka matanya lagi, Integrity Knight itu telah—itu benar-benar cukup mengejutkan, ini termasuk genangan darah yang tersebar di lantai—tidak dapat dilihat dimanapun.

Beberapa bagian dari sacred letters masih dapat terlihat melayang di udara. Suara Cardinal telah diteruskan pada mereka saat itu terputus-putus di saat yang sama, volumenya sedikit demi sedikit menurun.

[Serangga itu telah menyadarinya, jadi aku akan membuat penjelasan singkat ini. Menilai dari situasinya, kemungkinan Administrator masih dalam kondisi tidak bangun sangatlah tinggi untuk saat ini. Jika kalian mencapai lantai tertinggi sebelum perempuan itu terbangun, kau dapat mengurus dia tanpa menggunakan pisau itu. Cepatlah... sudah tidak banyak Integrity Knights yang tersisa...]

Eugeo merasa koridor yang tidak terlihat yang menghubungkan menuju tempat Ruangan Perpustakaan Besar dengan cepat tertutup. Suara Cardinal akhirnya terdengar dari kejauhan dan tepat sebelum keberadaannya menghilang, berkas cahaya di udara berkedip-kedip dan terjatuh ke lantai saat itu mengambil bentuk nyata.

Apa yang jatuh di atas lantai marbel dengan catatan baru adalah dua botol kecil.

Kirito menatap pada botol dengan warna lapis lazuli[5]seolah-olah energinya telah menghilang, tapi kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil kedua benda itu pada waktu yang sama. Melihat ke atas, dia memegang salah satu dari itu diantara ujung jarinya dan memberikan itu.

Sementara menjatuhkan itu pada tangan Eugeo yang terulur, Kirito berguman dengan nada rendah.

"...Maaf untuk kekacauan itu, Eugeo."

"Nah...Kau tidak melakukan sesuatu yang salah sehingga harus meminta maaf. Itu hanya sedikit mengejutkanku."

Ketika dia mengatakan itu dengan senyuman lemah, Kirito akhirnya menunjukkan senyumannya juga. Berdiri sementara sedikit terhuyung-huyung, dia menjentikan tutup dari botol kecil itu.

"Melihat dia untuk bersusah payah mengirim kita minuman, mari kita terima dengan rasa terima kasih."

Berdiri di samping patnernya, Eugeo menarik tutup dari botol kecil itu dan meminum habis cairan yang berada di dalamnya dengan satu tegukan.

Dia tidak dapat mengatakan itu enak bahkan jika dia mencoba untuk sopan, dia meringis pada keasamannya yang menyerupai air siral tanpa gula, tapi itu terasa menyegarkan seperti air dingin yang ditumpahkan pada kesadarannya, yang lelah dari pertarungan panjang. Itu kelihatannya bahwa setengah Life mereka yang berkurang telah pulih dengan cepat juga, dengan luka yang tersisa di anggota tubuh Kirito menutup dengan sekejap mata.

"Hebat...Itu akan sangat bagus jika dia mengirim sejumlah besar ini, daripada hanya dua dari ini sementara dia dapat melakukannya."

Ketika Eugeo mengatakan itu tanpa berpikir, Kirito mengangkat bahunya dengan senyum masam.

"Jika itu memiliki prioritas setinggi ini, itu mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk mengubah itu menjadi da...upacara ritual dan mengirim itu. Daripada itu, kau seharusnya melihat bagaimana cepatnya dia...uwah!?"

Tiba-tiba, Kirito mengeluarkan suara gelisah dan melompat ke samping, jadi Eugeo melihat ke arah patnernya dengan kebingungan.

"Ad-Ada apa, kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu?"

"Eu-Eugeo...Jangan bergerak, tidak, jangan melihat ke bawah."

"Hah?"

Itu akan lebih sulit untuk tidak melihat ke bawah setelah diberitahu hal seperti itu. Secara Insting melihat ke arah bawah, Eugeo menemukan sesuatu yang ada di sana tanpa dia sadari dan segera berteriak.

"Eek!?"

Panjangnya kira-kira sekitar lima puluh cen. Tak terhitung kaki yang menempel pada badan panjang dan ratanya, terbagi menjadi bagian-bagian yang kecil, dan setengah dari bagian depannya berada di atas sepatu Eugeo. Ujungnya memiliki bentuk bola yang kelihatannya kepalanya memiliki satu deretan kecil berjumlah sepuluh, mata merah dan dua tanduk yang benar-benar panjang, seperti jarum timbul dari kedua sisinya, perlahan bergerak secara bebas satu sama lain. Itu adalah suatu jenis serangga—atau mungkin seperti itu, tapi penampilan anehnya hanya dapat dideskripsikan sebagai menjijikan. Serangga sangat banyak di hutan selatan Rulid, tapi dia tidak pernah melihat dengan penampilan seperti itu sebelumnya.

Eugeo terdiam saat pikirannya dipenuhi pikiran, tapi saat serangga aneh itu memeriksa sekitarnya dengan tanduknya untuk tiga detik lagi sebelum itu memutuskan untuk mencoba dan perlahan merayap menuju celananya dari sepatunya, jadi dia melompat ke atas dengan teriakan lainnya.

"Eek...!!"

Ketika dia dengan keras menghentak-hentakkan kakinya, serangga itu terjatuh pada punggungnya, namun dengan segera berputar dan dengan cepat berdiri dengan kedua kakinya. Tidak dapat menahan untuk itu dapat berdiri. Eugeo melompat ke atas dan ke bawah berulang kali, tapi suatu bencana telah terjadi pada saat mendarat dari lompatan yang tak terhitung jumlahnya.

Diikuti dengan suara keras 'kusha', sensasi dari objek kental dan lengket terpancar tidak karuan dengan sendirinya pada sepatu Eugeo sementara serangga itu dengan keras menjadi hancur lebur di bawah sepatu kanannya.

Cairan tubuh berwarna orange terang menyembur ke segala arah dan dengan menyengat, bau yang menyengat melayang di udara. Eugeo hampir kehilangan kesadarannya saat dia melihat kaki yang terlepas keluar itu masih melompat, tapi dia dengan susah payah menahan ketakutannya, menyadari ini bukanlah situasi untuk pingsan, dan melihat ke arah Kirito untuk sedikit bantuan.

Ketika dia melakukan itu, partnernya yang terhubung dari hati ke hati dengan dia kelihatannya sekarang tiga mel darinya dan bahkan perlahan mundur lebih jauh lagi.

"Hei... heei! Jangan coba kau untuk lari!"

Terhadap tuduhan yang keras itu, Kirito menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan yang sekarang berubah menjadi pucat dengan sedikit gerakan.

"Maaf, Aku benar-benar tidak dapat menangani hal seperti itu."

"Aku tidak dapat menangani hal seperti itu juga! Sama sekali!"

"Hei, bukankah serangga seperti itu menarik sepuluh atau seperti itu ketika salah satu dari itu mati?"

"Jangan bicara hal seperti itu!!"

Memutuskan untuk membagi nasibnya dengan patnernya bahkan jika dia harus memeluknya, Eugeo merunduk dalam persiapan untuk melemparkan dirinya pada dia, tapi dia terdiam lagi saat cahaya ungu dengan tiba-tiba bersinar dari bawah kakinya.

Sisa-sisa yang menjijikan itu hanya menyebar menjadi berkas cahaya ketika dia dengan ragu-ragu melihat ke arah bawah. Cairan lengket, kulit dan seperti itu menghilang tanpa jejak bahkan sebelum satu detik berlalu dan Eugeo mengeluarkan nafas panjang kelegaan dari dalam hatinya. Kelihatannya meyakinkan dirinya dari jauh bahwa itu telah menghilang, Kirito akhirnya kembali setelah seluruh urusan telah diselesaikan dan berbicara dengan nada serius.

"...Jadi seperti itu. Apa yang barusan adalah familiar yang dilepaskan oleh Administrator untuk mencari Cardinal. Jadi itu mengendus koridor menuju ruangan perpustakaan..."

"......"

Eugeo merengut pada Kirito dengan mata yang mengadah, menunjukkan sedikit kemarahan, lalu dengan enggan dia menjawab saat dia mengerti itu.

"Jadi...itu berarti masih ada banyak dari mahluk ini yang berkeliling di sekitar menara ini? Tapi kita belum pernah melihat satupun sampai sekarang."

"Ingat, ketika kita melarikan diri menuju ruangan perpustakaan dari taman mawar, ada suara gemerisik dari balik pintu, bukan? Mereka normalnya bersembunyi dengan baik, tapi jika dikatakan, tidak ada artinya untuk berputar mencari itu semua. Di samping itu...Cardinal mengatakan sesuatu yang aneh, bukan...Administrator masih tidak bangun, atau sesuatu seperti itu..."

"Aah, sekarang kau mengatakan itu...Itu pada dasarnya berarti dia tertidur? Dia telah pergi untuk tidur meskipun matahari masih bersinar?" Kirito mengusap dagunya untuk sebentar pada pertanyaan Eugeo dan lalu menjawab seolah-olah dia tidak mengerti itu juga.

"Cardinal juga mengatakan bahwa Administrator dan Integrity Knight memaksakan diri mereka dengan berbagai cara sebagai ganti dari hidup ratusan tahun. Terutama Administrator yang kelihatannya menghabiskan waktu setiap hari dengan tertidur, tapi...jika memang begitu, apa sebenarnya yang terjadi padanya saat mengontrol Integrity Knight dan serangga seperti yang baru saja ada...?"

Tenggelam pada pemikirannya untuk beberapa detik dengan kepalanya yang tertunduk, dia kemudian merespon pada dirinya sendiri sementara mengacak-acak rambut di dahinya.

"Baiklah, kita tentu saja akan mengetahui itu jika kita melanjutkan untuk memanjat.—Lupakan hal itu sebentar, Eugeo, dapatkah kau melihat punggungku?"

"H-Hah?"

Kirito memutar tubuhnya pada Eugeo yang terlihat terdiam kebingungan. Dia menggerakkan matanya pada itu sementara kebingungan, tapi tidak ada yang aneh tentang kain hitam di jubahnya di samping dari kerusakan dari itu, yang sama dengan yang didapat dari pertarungan.

"Tidak...Tidak ada sesuatu yang spesial pada itu, bagiamanapun juga..."

"Bagaimana aku mengatakan ini...Apakah ada serangga kecil menggantung? Seperti laba-laba atau sesuatu seperti itu."

"Tidak, tidak sesuatu seperti itu, bagaimanapun juga."

"Aku mengerti, tidak apa-apa.—Kalau begitu, sekali lagi, mari kita lanjutkan bagian kedua dari setengah petualangan kita!"

Eugeo mengejar Kirito yang mulai berjalan dengan cepat menuju bagian utara dari aula itu dan berhenti setelah itu, dengan kebingungan.

"Hei, apa yang barusan itu?!"

"Itu benar-benar, bukan apa-apa."

"Kau membuatku merasa ganjil, lihat punggungku juga!"

"Seperti yang aku katakan, itu bukan apa-apa."

Saat percakapan ringan mereka, kejadian yang terulang berkali-kali semenjak mereka meninggalkan Desa Rulid, Eugeo perlahan berguman di dalam hatinya apa yang betul-betul dia ingin tanyakan.

Kenapa kau, mampu untuk mempertahankan ketenanganmu di situasi apapun, juga menjadi putus asa sebelum kematian Fanatio, seorang musuh—dan apa yang mengikuti itu adalah kata-kata, [bahkan jika aku mati]—

Kirito, siapa kau...sebenarnya...?

Swordsman berjubah hitam itu yang masih berdiri dihadapan pintu besar, yang mungkin beberapa kali lebih tinggi darinya, menggapai itu dengan kedua tangannya dan mendorong itu hingga terbuka ke samping dengan kekuatan. Dengan sekejap, angin dingin yang berhembus ke dalam dan Eugeo dengan perlahan membalikkan wajahnya.

Bagian 3[edit]

Apa yang terbentang di balik pintu itu adalah ruangan yang kira-kira seluas seperti ruangan tangga di sisi selatan dari koridor besar yang menghubungkannya dimana Eugeo dan Kirito telah menaikinya. Itu berbentuk persegi juga, dengan langit biru muda yang terlihat melalui jendela panjang dan sempit yang berjejer di sepanjang dinding yang berlawanan.

Tetapi, element yang penting tidak dapat terlihat pada bidang lantai dengan gabungan warna hitam dan putih pada ubinnya—tangga besar yang menghubungkan menuju lantai kelima puluh satu.

Tidak peduli bagaimana mereka memeriksa ruangan yang sangat luas itu, tidak ada tangga, atau bahkan satu utas tali yang dapat ditemukan. Hanya ada satu hal yang aneh, lubang yang melingkar ditengah-tengah lantai licin dan halus itu, dan tidak ada satu jalan yang digunakan untuk melanjutkan menuju ke atas yang terlihat pada pandangan Eugeo.

"Ti...Tidak ada tangga."

Berguman dengan keterkejutan saat dia melangkah menuju ruangan gelap dari belakang Kirito, Eugeo merasa aliran dari udara dingin di lehernya dan menurunkan bahunya. Itu kelihatannya patnernya telah menyadarinya juga, saat mereka berdua melihat ke arah atas secara bersamaan.

"...Apa.."

"Apa maksudnya ini..."

Dan mereka berdua menjadi terdiam secara bersamaan.

Tidak ada langit-langit. Sebuah ruangan, tidak, lubang dengan bentuk yang sama seperti ruangan yang memanjang melebihi apa yang penglihatan mereka dapat lihat. Mereka bahkan tidak dapat memperkirakan bagaimana tingginya itu terus berlanjut, tenggelam pada kegelapan dari langit biru.

Setelah mereka mengembalikan pandangan mereka dari atas atas yang jauh, mereka menyadari lubang ini mungkin bukan ruangan yang benar-benar kosong. Pintu, yang jauh lebih kecil dibanding dengan pintu di belakang mereka berdua, telah menempel di permukaan dinding pada ketinggian yang sesuai dengan setiap tingkat dari lantai kelima puluh satu dan selanjutnya, setiap dari itu dengan teralis panjang yang memanjang hingga mendekati bagian tengah lubang itu.

Dengan kata lain, mereka dapat melanjutkan menuju lantai atas jika mereka dapat mencapai teralis itu—Itu sudah pasti memang begitu.

Eugeo mengulurkan tangan kanannya dan mencoba melompat begitu saja tanpa berpikir.

"...Tidak mungkin itu akan sampai..."

Dia berguman dengan menghela nafas. Bahkan teralis terdekat, yang cukup normal, terpasang lebih tinggi dibandingkan dengan langit-langit «Grand Cloister of Spiritual Light» di belakang mereka dan demikian, bahkan melebihi dua puluh mel melalui perkiraan yang bebas.

Kirito, yang melihat ke atas dengan cara yang sama di sisinya, bertanya dengan suara lemah.

"Dengar...Aku hanya mengkonfirmasi di sini, tapi apakah tidak ada satupun sacred arts untuk terbang, bukan?"

"Tidak ada."

Jawaban yang singkat, tampa ampun sedikitpun.

"Maksudku, terbang di udara adalah kehormatan sepenuhnya yang diberikan untuk Integrity Knight, bukan? Dan mereka bahkan tidak terbang melalui art, mereka menaiki naga terbang mereka..."

"Jadi...Bagaimana sebenarnya manusia kembali dan pergi diantara lantai kelima puluh satu dan seterusnya?"

"Siapa yang tahu..."

Mereka berdua memiringkan kepala mereka secara bersamaan. Itu akan lebih bagus jika mereka dapat menghindari itu, tapi kelihatannya tidak ada cara lain selain kembali ke aula besar dan menanyakan cara menuju ke atas dari anak buah Fanatio yang terbaring—itu terjadi ketika mereka memikirkan itu.

"Hei, sesuatu sedang mendekat."

Kirito berbisik dengan suara gelisah.

"Eh?"

Dia melihat ke arah lubang itu lagi seperti yang diinstruksikan.

Dia memang melihat sesuatu mendekat. Seolah-olah melewati dengan menyentuh ujung dari teralis yang menonjol keluar yang terlihat seperti garis, bayangan hitam perlahan turun menuju mereka.

Saat dia melompat mundur dengan Kirito dan memposisikan tangannya pada ganggang pedang, Eugeo dengan kuat menatap pada bayangan yang mendekat.

Bentuknya adalah lingkaran yang sempurna. Mungkin dengan diameter dua mel atau lebih? Itu kelihatan seperti disk metal dengan bagaimana ujungnya dapat terlihat berkilauan dengan indah setiap waktu itu tertangkap oleh cahaya biru yang bersinar dari jendela sempit itu. Tetapi, kenapa benda seperti itu dapat dengan lembut turun dari ruangan tanpa bantuan ataupun apapun yang seperti itu?

Telinga Eugeo dengan tajam mendengar suara, "whoosh", ketika piringan itu melewati dua lantai teralis diatas dengan kecepatan yang tetap. Lehernya menyadari udara dingin setiap waktu.

Eugeo tidak berlari, maupun menarik pedangnya, dia hanya tetap berdiri, tercegang, dan menatap bagaimana disk itu menyentuh teralis di atas kepala mereka dan turun dihadapan mereka berdua. Ketika disk yang melayang mendekat hingga hanya satu mel jauhnya, lubang kecil yang terbuka di bagian tengah di sisi bawah dan menyadari udara mengalir keluar dari tempat itu yang menyebabkan suara dan angin yang misterius.

Tetapi, bagaimana mungkin disk logam dapat melayang hanya dengan kekuatan angin—dia menanyakan itu saat suara whooshing semakin besar dan tingkat kecepatan dari disk logam itu terus menurun, akhirnya menjadi berhenti saat itu hampir menjepit pada lubang yang melingkar itu, berhenti pada lantai batu itu, dengan hanya sedikit hantaman dan getaran.

Permukaan atas dari disk itu dipoles halus seperti cermin. Detail dari kerajinan pada pegangan perak yang terpasang pada bagian pinggir yang melingkar. Ukuran pipa kaca itu kira-kira panjangnya sekitar satu mel dan tebalnya lima puluh cen berdiri tegak di bagian tengah—seorang gadis muda dengan tenang berdiri di sana dengan kedua tangannya di atas pipa itu, melingkar dengan bentuk kubah.

"......!?"

Eugeo mundur beberapa langkah lagi saat dia menaruh kekuatan pada tangan kanannya yang memegang gagang pedangnya. Dia meningkatkan pertahanannya, berpikir bahwa dia mungkin adalah Integrity Knight yang baru.

Tapi dia segera menyadari bahwa gadis itu tidak dilengkapi bahkan dengan satupun pisau di pinggang maupun punggungnya. Pakaiannya, polos, dengan rok hitam panjang, terlihat tidak cocok untuk pertarungan juga. Satu-satunya hal yang dapat dikatakan adalah sederhana, terlihat pada hem yang terajut pada apron putih yang menutupi dari dada hingga ke bawah lutunya, yang berarti dia tidak mengenakan aksesoris yang lain, pada dirinya.

Rambutnya berwarna cokelat terang, yang sedikit keabu-abuan, yang terpotong lurus pada atas alis dan bahunya, dengan hampir tidak ada ciri khas yang dapat dibedakan dari kulit pucatnya. Itu sangat teratur tapi bahkan tanpa emosi sedikitpun. Eugeo merasa umurnya kira-kira jauh lebih muda, tapi dia tidak yakin jika memang seperti itu.

Siapa sebenarnya gadis ini, Eugeo mencoba untuk melihat mata gadis itu, tapi dia bahkan tidak dapat melihat warnanya saat itu tersembunyi oleh bulu matanya yang menutupinya. Gadis itu, yang tidak mencoba untuk melihat wajah mereka berdua bahkan setelah disk itu berhenti, melepaskan tangannya dari pipa kaca yang aneh itu dan menaruh itu bersama-sama di depan apronnya, lalu selanjutnya menundukkan kepalanya dan mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya.

"Terima kasih atas kesabaran kalian. Lantai mana yang kalian ingin pergi, kalau boleh tahu?"

Suara yang memiliki tingkat intonasi vokal yang sangat rendah dan sama sekali tidak menunjukkan suatu jenis emosi. Eugeo bahkan tidak mendengar bagian dari apapun yang menyerupai rasa permusuhan, jadi dia perlahan melepaskan tangannya dari pedangnya. Kata-kata gadis itu sekali lagi terulang di pikirannya.

"Lantai mana...Tunggu...Jadi, kau akan membawa kita menuju lantai atas?"

Ketika dia bertanya dengan setengah percaya, dan setengah ragu-ragu, gadis yang menundukkan kepalanya yang telah kembali ke posisi semula sekali lagi.

"Tentu saja. Bolehkah aku tahu lantai yang kalian inginkan?"

"Sebenarnya...Bahkan jika kau mengatakan itu..."

Memiliki pikiran bahwa semua orang yang muncul dihadapan mereka di katedral adalah musuh, Eugeo menjadi bimbang, tidak mengetahui apa yang harus dia katakan sekarang. Kirito, yang berdiri di sampingnya, lalu berbicara dengan nada santai, Eugeo tidak mengetahu apa yang dipikirkan di kepalanya juga.

"Erm, Kita adalah seseorang yang dicari karena menyusup ke katedral...apakah tidak akan masalah dengan kami untuk menaiki ele[6], tidak, disk?"

Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, tapi dengan sekejap kembali ke posisinya semula dan menjawab.

"Satu-satunya tugasku adalah mengoperasikan disk yang bergerak ini. Aku tidak menerima perintah untuk menerima perintah apapun yang tidak berhubungan dengan itu."

"Aku mengerti. Jadi izinkan saya untuk mengambil tawaran anda."

Kirito mulai berjalan dengan cepat menuju ke arah disk itu sementara berbicara dengan kata-kata yang terlihat santai, jadi Eugeo memanggil dengan suara panik.

"H-Hei, kau yakin ini akan baik-baik saja?"

"Sebenarnya, itu tidak terlihat seperti ada cara lainnya menuju ke atas."

"Itu...Benar, tapi meski begitu..."

Eugeo sangat kagum tentang bagaimana dia dapat menaiki objek aneh itu dengan secara langsung tanpa rasa kewaspadaan setelah melewati semua dari itu dengan dua Integrity Knight yang masih anak-anak, tapi itu sangat benar bahwa tidak ada satupun dari mereka memiliki ide sedikitpun tentang bagaimana menggerakkan disk itu. Menenangkan dirinya dengan berpikir bagaimana mereka dapat melompat pada suatu teralis bahkan jika itu adalah jebakan, dia mengikuti di belakang patnernya.

Setelah mereka berdua memasuki disk melalui bagian kosong dari pegangan yang terlihat megah itu, Kirito menatap pada pipa kaca itu dengan ekspresi penasaran saat dia menginformasikan gadis itu.

"Erm, jadi tolong bawa kami menuju lantai tertinggi yang dapat kita pergi."

"Baiklah. Jadi kita sekarang akan menuju lantai kedelapan puluh, «Cloudtop Garden». Dimohon untuk tetap di dalam batas dari pegangan itu."

Respon itu segera datang tanpa membtuhkan waktu yang lama dan dengan tundukan kepala lainnya, gadis itu menaruh kedua tangannya diatas pipa. Dia menghirup nafas di udara—

"System call. Generate aerial element."

Pengucapan upacara art yang tiba-tiba membuat Eugeo terbingung, menganggap itu adalah sekarang, tapi itu kelihatannya bukan seperti itu.

Setelah semua, aerial elements yang terlihat, bersinar hijau, berada di dalam pipa transparan itu. Tapi dia mendapat keterkejutan lainnya saat melihat jumlahnya. Itu seluruhnya berjumlah sepuluh— Dia pasti adalah pengguna art berangking tinggi untuk membuat element sebanyak ini hanya dengan satu gerakan.

Gadis itu menunjuk keluar jari jempol, telunjuk, dan jari tengahnya di antara sepuluh jari kecil itu yang dia punya di atas pipa kaca itu dan perlahan berguman.

"Burst element."

Tiga dari aerial elements tertembak keluar dengan cahaya hijau pada saat itu, menyebabkan suara keras yang terdengar dari bawah. Disk logam yang dinaiki oleh tiga manusia dengan segera mulai untuk naik seolah-olah itu ditarik terus oleh tangan yang tak terlihat.

"Jadi seperti itu! Jadi itu bagaimana benda itu bekerja, huh."

Eugeo akhirnya mengerti dasar dibalik bagaimana disk itu naik dan turun dengan Suara Kirito kelihatannya sangat senang. Aerial elements telah dilepaskan di dalam pipa kaca mengalir melalui disk, yang memungkinkan berat tiga manusia dan disk itu sendiri untuk diangkat ke atas oleh pelepasan dari ledakan yang dihasilkan oleh hembusan angin ke bawah.

Itu adalah mekanisme sederhana yang sekarang baru dia tahu, tapi gerakan disk itu sangat pelan hingga pada titik dimana itu hampir tidak dapat merasakan apapun. Disamping dari tekanan yang entah bagaimana dia rasakan saat mulai naik, yang melalui udara dengan hampir tidak terasa berguncang.

Lantai kelima puluh dengan cepat menghilang ke kejauhan di bawah dan Eugeo sekali lagi menyadari bahwa disk kecil ini dapat naik menuju katedral lantai kedelapan puluh, itu adalah, ketinggian yang cukup tinggi untuk menyentuh awan. Mengusap telapak tangannya yang berkeringat pada celananya, dia menggenggam erat pada pegangan itu.

Kirito yang ada di sampingnya, tetapi, hanya memiliki ekspresi tenang seolah-olah dia pernah menaiki sesuatu yang sama di masa lalu, menyebabkan dia berseru dan terkagum, meskipun perhatiannya kemudian beralih dari disk menuju manusia yang mengoperasikannya dan bertanya saat melihat ke arah gadis itu.

"Berapa lama kau telah melakukan pekerjaan ini?"

Gadis itu merespon dengan suara yang sedikit bingung, dengan wajahnya yang masih tersembunyi.

"Ini akan menjadi keseratus tujuh tahun semenjak sacred task ini telah diberikan padaku."

"Seratu..."

Bahkan melupakan tentang kekosongan di bawah kakinya, Eugeo membuka lebar matanya. Dia bertanya dengan terbata-bata sebagai ganti dari Kirito.

"S-Seratus tujuh tahun...kau telah mengoperasikan disk ini sepanjang waktu!?"

"Aku tidak mengoperasikan itu...Sepanjang waktu. Aku menerima istirahat makan di siang hari dan tentu saja, aku diperbolehkan untuk istirahat di malam hari."

"E-Erm...Itu benar-benar bukan yang aku maksud..."

—Tidak.

Itu bagaimana yang terjadi. Gadis itu pasti telah mendapati Lifenya telah dibekukan seperti Integrity Knight, dan hidup di atas satu disk logam untuk yang dapat dikatakan selama-lamanya.

Eugeo mempercayai bahwa nasib itu jauh lebih kejam, lebih terabaikan, dan lebih suram dibandingkan dengan Integrity Knight, yang memberikan seluruh waktu mereka untuk bertarung.

Disk logam itu perlahan tapi terus menerus naik. Gadis itu menyembunyikan semua emosinya di bawah bulu matanya yang menutupinya, menciptakan aerial element lagi ketika itu telah habis, dan melepaskan itu sekali lagi. Eugeo bertanya-tanya berapa banyak dia telah mengulangi kata, "burst", menggumankan itu dengan selama setiap putaran, tapi tentu saja, itu sangat mudah untuk melebihi imajinasinya.

"Kau...Siapa namamu?"

Kirito tiba-tiba bertanya.

Gadis itu memiringkan kepalanya untuk waktu yang terlama hingga sejauh ini, sebelum menjawab dengan berguman.

"Namaku...Aku tidak dapat mengingatnya. Semua nona dan tuan yang terhormat telah menganggapku sebagai «Elevating Operator». Elevating Operator...Itu adalah namaku."

Itu kelihatannya Kirito tidak memiliki respon untuk hal ini. Eugeo, yang secara tidak sengaja menghitung teralis yang telah lewat dan sekarang melebihi dua puluh, merasa keinginan yang mengisi keheningan yang menekan di belakangnya dan membuka mulutnya.

"...Hei...hei, kita di sini untuk mengalahkan orang terpenting dari Gereja Axiom. Seseorang yang memberikan kau sacred task ini."

"Aku mengerti."

Itu semua adalah jawaban gadis itu. Tapi Eugeo melanjutkan dengan kata-katanya, mungkin tanpa tujuan yang jelas di pikirannya.

"Jika...Gereja tidak ada lagi dan kau terbebas dari sacred task ini, apa yang akan kau lakukan...?"

"...Terbebas...?"

Setelah mengulangi kata itu dengan nada goyah, gadis yang bernama Elevating Operator itu terus saat mereka telah melewati lima teralis lainnya.

Setelah melihat ke arah atas, Eugeo menyadari langit-langit berwarna abu-abu terlihat oleh tanpa mereka tanpa sadar. Itu pasti adalah bagian dari katedral lantai kedelapan puluh. Mereka akhirnya hendak melangkahkan kaki mereka menuju bagian inti sebenarnya dari Gereja Axiom.

"Aku...tidak mengetahui dunia apapun selain dari disk yang bergerak ini."

Gadis itu tiba-tiba berbicara dengan kata-kata yang bimbang.

"Karena itu...Aku tidak dapat memutuskan untuk sacred task baru bahkan oleh desakan kalian...Tetapi, jika maksudmu dalam arti sesuatu yang ingin kulakukan..."

Wajahnya yang selalu tertunduk selama sepanjang waktu terangkat dan gadis itu menatap pada jendela yang, panjang dan sempit di dinding kanan—pada langit bagian utara yang cerah yang terbentang di luar itu.

"...Aku ingin untuk terbang bebas dari disk yang bergerak ini...menuju langit itu..."

Dia akhirnya dapat melihat mata gadis itu sekarang yang biru gelap, biru tua yang gelap, seperti langit biru di puncak musim panas.

Begitu aerial element terakhir bersinar dan menghilang, disk itu mencapai teralis ketiga puluh dan perlahan menjadi berhenti.

Gadis pengoperasi elevator itu melepaskan tangannya dari pipa kaca itu, menaruh itu bersama-sama di depan apronnya, dan menundukkan kepalanya dengan dalam.

"Terima kasih atas kesabaran kalian, kita telah sampai di lantai kedelapan puluh, «Cloudtop Garden»."

"...Terima kasih."

Baik Eugeo dan Kirito menundukkan kepala mereka dan berjalan menuju teralis dari disk.

Gadis itu mengangkat kepalanya sekali lagi, dan setelah tundukan yang ringan lainnya, dia menggerakkan disk itu untuk turun dengan aerial element yang lemah. Suara yang terdengar, seperti angin dingin dari musim dingin, dengan segera menghilang dari kejauhan dan tubuhnya menghilang menuju kedalaman dari kegelapan biru itu, dunia kecil dari besi itu, mengurungnya untuk selama-lamanya.

Sword Art Online Vol 12 - 289.jpg

Eugeo mengambil nafas dalam tanpa menyadarinya.

"...Aku pikir sacred task terakhirku adalah yang terburuk di dunia ini ketika itu terlihat seperti tidak akan berakhir, tapi..."

Setelah dia berguman itu, Kirito mengangkat alisnya dan melihat ke arahnya.

"Jadi itu cukup bagus bahwa aku dapat pension setelah menjadi tua dan menjadi tidak dapat mengayun kapak itu, ketika aku membandingkan itu dengan sacred task gadis itu, itu hanya..."

"Cardinal mengatakan membekukan Life seseorang dari pengurangan secara alami melalui upacara art tidak melindungi terhadap penuaan jiwa. Itu perlahan akan melewati batas dari ingatan seseorang dan orang itu akhirnya akan hancur."

Kirito, yang menjawab dengan nada depresi, menggerakkan tubuhnya dengan kekuatan, seolah-olah mencoba untuk menghilangkan kalimat pemikiran itu, dan membalikkan punggungnya pada lubang yang dalam itu.

"Apa yang Gereja Axiom lakukan sebelumnya sangatlah salah. Karena itu kita disini untuk mengalahkan Administrator. Tapi itu tidak mengakhiri semuanya, Eugeo. Tantangan sebenarnya terbentang melebihi itu..."

"Eh...? Bukankah kita cukup untuk meninggalkan sisanya pada Cardinal-san dari sebelumnya jika kita mengalahkan Administrator?"

Kirito menggerakkan mulutnya ketika Eugeo bertanya, seolah-olah dia hendak mengatakan sesuatu, tapi ketidakpastiaan yang tidak seperti sikap pastinya yang biasa terlihat di mata hitamnya dan dia berakhir mengalihkan wajahnya.

"Kirito...?"

"...Tidak, mari kita bicarakan hal itu setelah kita mendapat kembali Alice. Ini bukan waktunya untuk memikirkan tentang sesuatu yang tidak perlu."

"Itu... benar, tapi meski begitu."

Kirito mulai berjalan melewati koridor dengan langkah cepat, seolah-olah ingin melarikan diri dari ekspresi yang berasal dari Eugeo saat dia memiringkan kepalanya. Eugeo mengejarnya dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan, tapi perasaan tegang yang keluar dari dalam tubuhnya menyapu keraguan lemahnya dengan sekejap mata setelah pintu besar yang berdiri di bagian ujung dari koridor pendek itu terlihat oleh pandangan mereka.

Melihat bagaimana lima Integrity Knight telah berkumpul di lantai kelima puluh, orang yang mengkordinasikan tindakan perlawanan terhadap penyusup—kelihatannya Kepala Pemimpin yang Fanatio pernah sebut telah bermaksud untuk menghentikan mereka berdua dengan segala cara. Fakta bahwa mereka sebenarnya telah menghentikan serangan hebat knight itu dan mendapatkan kemenangan entah bagaimana itu pasti sangat mendekati keajaiban.

Mereka menembus barisan pertahanan dan memanjat hingga sedekat ini dengan lantai tertinggi sudah pasti bahwa Kepala Pemimpin itu akhirmya mengirim seseorang dengan potensi bertarung yang tinggi tanpa keraguan. «Komandan Integrity Knight» bersama dengan semua Integrity Knight yang tersisa, dan juga pengguna sacred art berangking tinggi, baik pendeta dan sister itu, mungki sedang menunggu di balik pintu ini, sebagai contoh—hal seperti itu mungkin benar-benar akan terjadi.

Tapi selama tidak ada jalan yang lain, kita tidak dapat melakukan apapun selain menembus halangan apapun yang berdiri dihadapan kita dari depan.

Kita dapat melakukannya. Dengan Kirito dan aku bersama-sama ada di sini.

Eugeo dengan kuat bertukar pandangan dengan patnernya, yang berdiri di sampingnya, dan mereka mengangguk bersamaan. Mengulurkan tangan mereka secara bersamaan, mereka menaruh telapak tangan mereka pada pintu kiri dan kanan secara berturut-turut dan dengan kuat mendorong itu.

Pintu batu itu perlahan mulai terbuka di kiri dan kanan dengan suara kelam.

"......!"

Kelima inderanya telah terhisap oleh warna yang menyebar dihadapan matanya, suara aliran air, dan aroma harum pada saat itu, menyebabkan sakit kepala yang sebentar.

Tidak ada kesalahan bahwa mereka berada di dalam menara. Lantai marbel putih seperti lantai di bawah dapat terlihat dari kejauhan.

Tetapi, ruangan yang luas itu tidak tertutupi oleh batu seperti bagaimana itu telah ada hingga sejauh ini. Sebaliknya, rumput tebal, yang nyaman terbentang di sana. Sacred flowers dari berbagai warna, kelihatannya adalah sumber dari aroma ini, telah bermekaran di sini dan diatas halaman itu.

Apa yang mengejutkan dia lebih jauh adalah aliran air murni, yang kecil mengalir dari jarak yang cukup dekat, permukaan airnya berkilauan dengan cahaya. Sebuah jalan dari batu bata yang kecil itu memanjang dari pintu dimana mereka berdua berdiri, membelah pada halaman, dan terus berlanjut setelah jembatan kayu yang terbentang di atas sungai kecil itu.

Bukit kecil yang terlihat dibalik sungai itu. Jalan itu berliku-liku pada tanah yang mendaki dengan bunga yang berlimpah bermekaran. Setelah mengikuti jalan dengan pandangannya, Eugeo menyadari satu pohon yang tumbuh di puncak bukit itu.

Itu bukanlah pohon yang besar. Dia dapat melihat daun hijau tua dan bunga, kecil berwarna orange dengan bentuk silang pada batang tipisnya. Cahaya Solus, menyinari dari jendela di dinding dekat langit-langit di atas, dengan tepat menyinari pada pohon dan bunga yang tak terhitung jumlahnya berkilauan seolah-olah itu dibuat oleh emas.

Batang tipis, yang berkaca juga disinari sinar matahari dan bersinar—dan bagian bawahnya, juga, benar-benar bersinar indah dengan warna emas yang berkilauan—

"Ah......"

Eugeo tidak menyadari suara pelan yang keluar dari mulutnya sendiri.

Setiap dan semua pemikiran yang dia punya menjadi berhenti dengan sekejap ketika dia melihat gadis yang duduk pada botong pohon dengan kelopak matanya yang tertutup.

Seolah-olah gadis itu adalah ilusi yang dibawa oleh sinar matahari yang bersinar indah melalui pohon itu, semua bagian tubuh gadis itu terkena sinar matahari. Armor yang hebat menutupi bagian atas tubuh dan tangannya dengan hiasan emas, rok panjangnya berwarna putih murni juga, dengan benang emas yang tersulam pada kain itu, dan bahkan sepatu kulit, putih yang dipoles memantulkan cahaya tanpa cela yang diterima dari sinar matahari yang menyinarinya.

Tetapi, apa yang berkilauan paling terang adalah rambut panjang, yang banyak terurai. Rambut lurus, yang seperti emas dicairkan, membuat lengkungan yang sempurna saat itu terurai menuju pinggangnya dari kepala kecilnya, menghasilkan aliran dari cahaya yang indah.

Sinar yang hampir dia lihat setiap hari, di waktu yang dulu di masa lalu. Dia tidak tahu apakah nilainya atau keindahannya, sehingga menarik rambut itu dengan bercanda dan mengikat ranting pada itu.

Cahaya emas itu, menggambarkan pertemanan, keinginan, dan cinta yang samar-samar, telah berubah hanya denganwaktu satu hari, tidak mendapat arti apapun selain dari kelemahan, keburukan, dan sikap pengecut Eugeo. Dan kilauan itu yang dia seharusnya tidak akan pernah melihatnya lagi sekarang berada di dalam jangkauannya sekali lagi.

"Ah... Ali... ce..."

Bahkan tanpa menyadari suara serak yang keluar dari mulutnya sendiri, Eugeo berjalan maju dengan terhuyung-huyung.

Dia secara tidak teratur mengikuti jalan batu bata itu. Tidak ada aroma menyegarkan dari sacred flowers maupun suara menyejukkan dari air yang memasuki kesadaran Eugeo lebih jauh lagi. Hanya panas dari tangan berkeringatnya yang dengan erat mencengkram pada jubah bagian dadanya dan pisau yang kelihatannya bergetar di dalam jubahnya yang mengurung Eugeo dari dunia ini.

Melewati jembatan yang terbentang di atas sungai kecil itu, menghitung dari lereng terdekat. Sudah kurang dari dua puluh mel untuk sampai ke puncak bukit itu.

Ketika melihat ke atas, dia dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu yang sedikit tertunduk ke bawah. Tidak ada emosi yang terlihat pada kulit, putihnya yang bisa dibilang mulus. Dia hanya tetap terdiam dengan matanya tertutup, pikirannya kelihatannya terhanyut diantara kehangatan sinar matahari dan aroma bunga.

—Apakah dia tertidur?

Jika aku mendekat seperti ini dan cukup menusuk sedikit dengan pisau pada jari yang saling terpegang di atas pangkuannya...Bukankah itu akan mengakhiri segalanya?

Itu adalah ketika pikiran itu terlintas pada pikiran Eugeo.

Tangan kanan Alice terangkat tanpa suara dan jantung Eugeo berdetak saat langkahnya berhenti.

Mulut indahnya bergerak dan suara yang dirindukannya mencapai telinganya.

"Berikan aku sedikit waktu lagi. Itu sudah lama semenjak kita mendapat cuaca bagus seperti ini, jadi aku ingin untuk membiarkan anak ini untuk bejemur di bawah sinar matahari lebih lama lagi."

Kelopak matanya, tersambung oleh bulu mata emasnya, perlahan terbuka.

Kedua matanya berwarna biru, yang tidak dapat dibandingkan di dunia, menatap lurus pada Eugeo.

Eugeo melihat pandangan dari tatapan Alice yang melunak, senyuman terbentuk di mulutnya.

Tetapi, warna terang di mata birunya tidak berwarna lembut dari langit seperti waktu yang dulu. Itu adalah warna es yang tetap membeku selama sepuluh tahun, tidak akan meleleh tidak peduli berapa banyak sinar matahari yang menyinarinya. Tertusuk oleh pandangan dinging yang menganggap mereka penyusup, Eugeo tidak dapat menggerakkan kakinya.

Seperti yang diduga, pertarungan tidak dapat dihindari.

Bahkan jika dia kehilangan ingatannya, dia harus menarik pedangnya kepada gadis itu, yang tanpa keraguan adalah Alice Schuberg dari Rulid. Untuk mengembalikan dia kembali ke bagaimana dia seharusnya. Tidak peduli bagaimana sulitnya dia mengetahui pertempuran ini bisa diterima.

Tubuhnya merasa kekuatan sebenarnya Integrity Knight Alice Synthesis Thirty dua hari yang lalu, ketika pipinya telah diserang oleh sarung pedangnya. Eugeo mungkin munkin tidak sadar saat terkena satu serangan itu, tapi dia bahkan tidak dapat untuk mengikutinya dengan matanya. Itu akan membuktikan bahwa berikutnya akan mustahil untuk mengalahkan swordswoman dengan kemampuan seperti itu tanpa menerima luka yang berat, bukan?

Dia bukanlah musuh yang dapat dihadapi dengan bersikap lunak.

—Meski begitu, dapatkah aku benar-benar menebas bahkan sehelai rambut pirang itu?

Melihat saat aku bahkan tidak dapat mengambil langkah maju lainnya, lupakan untuk menarik pedangku.

Kirito berbicara dari belakang Eugeo, yang masih berdiri dari konflik yang mendadak, kata-katanya sangat jelas meskipun itu entah bagaimana sedikit serak.

"Kau tidak bertarung di sini, Eugeo. Cukup pikirkan tentang menusuk dengan benar pisau Cardinal pada Alice. Aku akan menghentikan serangannya untukmu bahkan dengan mempertaruhkan hidupku."

"Ta...Tapi."

"Tidak ada cara yang lain, situasi akan menjadi lebih buruk jika semakin lama kita terseret dalam pertarungan. Aku akan menahan serangan pertama Alice daripada menghindarinya dan menahannya seperti itu, jadi gunakan pisau itu dengan segera. Mengerti?"

"......"

Dia dengan kuat menggigit mulutnya. Pada akhirnya, dia telah membuat Kirito yang berdarah baik pada pertarungan melawan Deusolbert dan pertarungan melawan Fanatio. Meskipun bagaimana rencana berbahaya dengan melawan Gereja Axiom awalnya tidak lebih berasal dari keinginan pribadi Eugeo.

"...Maaf."

Ketika dia berguman itu dengan malu, Kirito menjawab dengan nada yang sedikit mirip dengan nada biasanya.

"Kau tidak perlu untuk meminta maaf. Aku akan mendapati kau harus membayar semua itu beberapa kali lebih banyak dengan segera....Namun, kesampingkan masalah itu..."

"...? Apa ada masalah?"

"Tidak...Dari apa yang aku dapat lihat, dia tidak terlihat seperti dia benar-benar bersenjata. Di samping itu...Siapa yang dia bicarakan ketika dia mengatakan, 'anak ini'...?"

Diberitahu seperti itu, dia memfokuskan matanya pada Alice, yang masih duduk di atas bukit. Kelopak matanya sekali lagi tertutup dan sedikit melihat ke bawah, dia melihat ke arah pinggangnya, sarung pedang emas yang telah tergantung di sana ketika mereka pertama kali bertemu dengannya di Akademi Master Pedang benar-benar tidak ada di sana sekarang.

"Mungkin dia meninggalkan pedangnya ketika dia istirahat atau sesuatu seperti itu...Itu akan menjadi bantuan yang hebat, bagaimanapun juga."

Berguman dengan nada yang menunjukkan keyakinannya yang kurang pada hal seperti itu, Kirito menggosok ganggang pedang hitamnya dengan tangan kirinya.

"Itu tidak baik kepada Alice, tapi itu tidak seperti kita dapat menurutinya sampai dia selesai berjemur di bawah sinar matahari. Entah dia memiliki pedang atau tidak, bertarung dengannya sekarang akan mencegah dia dari mengucap full control art setidaknya. Sejujurnya, itu akan sangat baik jika kita dapat berharap jika kita dapat menyelesaikan ini tanpa dia menggunakan itu."

"Aku rasa kau benar...Full control artku tidak menggunakan banyak Life dari pedangku, jadi aku percaya aku masih dapat menggunakannya dua kali lagi untuk hari ini, bagaimanapun juga..."

"Itu akan sangat membantu. Dapat dikatakan, satu kali lagi adalah batas dari sisiku. Dan seharusnya masih ada Komandan Integrity Knight setelah Alice. Baiklah...Ayo pergi."

Kirito mengambil langkah maju dengan mengangguk pelan.

Meyakinkan pikirannya, Eugeo mengikuti di belakang.

Meninggalkan jalan batu bata yang memutar di sekitar bukit, mereka langsung menuju puncaknya. Langkah kaki mereka bergema di halaman.

Alice perlahan berdiri ketika mereka berdua telah memanjat hingga setengah perjalan ke bukit. Mata dinginnya yang bahkan tidak menunjukkan satupun emosinya menatap ke bawah pada mereka berdua dibalik kelopak matanya yang lembut itu.

Seolah-olah pandangan melakukan suatu jenis upacara art, kedua kakinya bertambah berat dengan sekejap. Tidak peduli bagaimana itu sudah jelas bahwa tidak ada sarung pedang yang terlihat pada Alice, Eugeo merasa kakinya menolak untuk mendekati gadis itu lebih jauh lagi. Apakah rasa takut telah terukir pada badannya setelah menerima satu hantaman di pipinya? Tapi bahkan jika memang begitu, cara berjalan Kirito juga kelihatannya seperti kehilangan kekuatannya juga, saat dia berjalan di depan, bukan?

"...Pada akhirnya, kalian telah berhasil berjalan hingga sejauh ini, bukankah begitu."

Suara Alice yang jelas menggetarkan udara sekali lagi.

"Aku menilai dengan memiliki Eldrie sendiri untuk bersiap-siap di taman mawar akan cukup untuk menanggulangi bahkan dengan kesempatan kalian berdua dapat melarikan diri dari penjara bawah tanah. Tetapi, kau telah mengalahkannya dan lebih jauh lagi, menebas Deusolbert-dono dan bahkan Fanatio-dono yang memiliki sacred instruments, melangkah pada tanah di «Cloudtop Garden» ini."

Alisnya melengkung membentuk ekspresi merengut yang samar-samar. Suara pelan dari mulut cherry blossom itu terdengar sangat sedih.

"Apa sebenarnya yang memberikan kekuatan seperti itu pada kalian berdua? Kenapa kalian sampai ingin untuk mempengaruhi kedamaian dari Dunia Manusia? Kenapa kalian tidak mengerti bahwa setiap Integrity Knight yang terluka akan menjadi suatu kemunduran besar pada persiapan terhadap kekuatan kegelapan?"

—Ini semuanya untukmu, semuanya untuk itu.

Eugeo meneriakkan itu di dalam hatinya. Tapi dia tahu bahwa itu tidak akan berarti apa-apa pada Integrity Knight Alice yang berdiri di hadapan matanya bahkan jika dia mengatakan itu keluar. Dengan kuat menggeretakkan giginya, Eugeo hanya menaruh semuanya untuk menggerakkan kakinya untuk maju.

"Seperti yang aku pikirkan—itu kelihatannya aku harus menanyakan itu dengan pedangku. Baiklah...Jika itu adalah apa yang kalian berdua inginkan."

Kata-katanya seperti desahan, Alice menaruh tangan kanannya pada batang pohon di sampingnya sebagai penyanggannya.

Tapi dia tidak memegang pedang—

Eugeo memikirkan itu di waktu yang hampir sama saat Kirito berseru "tidak mungkin".

Cahaya itu terlihat pada saat berikutnya da pohon kecil yang tumbuh di atas puncak bukit itu menghilang.

"——!?"

Meskipun terlambat, aroma, yang penuh dengan aroma manis dan tenaga, sangat banyak melayang, lalu menghilang tanpa jejak.

Sebelum mereka mengetahuinya, tangan kanan Alice telah memegang sesuatu yang seperti pedang panjang dengan bentuk. Tidak hanya sarungnya, tapi semuanya dari penahan hingga gagangnya dibuat dari emas yang menyilaukan. Desain yang berbentuk bunga silang menghiasi penahan itu.

Eugeo tidak dapat segera mengerti pada apa yang terjadi.

Pohon itu telah menghilang, dan pedang itu muncul. Dengan kata lain, pohon itu telah berubah menjadi pedang? Tapi Alice tidak mengucapkan upacara art apapun. Bahkan jika itu hanya art ilusi atau sacred art berangking sangat tinggi untuk perubahan, itu sangat mustahil untuk membuatnya tanpa mengucapkan kalimat upacara.

Tidak. Jika pohon itu mengganti penampilannya hanya berdasar pada bayangan pikiran Alice—pada dasaranya, itu akan berarti—

Setelah sampai pada kesimpulan beberapa saat lebih cepat, Kirito mengeluarkan desahan yang dalam.

"Sial, ini benar-benar tidak bagus... apakah pedang itu sudah menjadi full control state?"

Melihat ke arah mereka berdua yang masih berdiri di sana, Alice mengangkat pedangnya secara horizontal dengan kedua tangannya.

Jyaa! Pedang itu, dicabut dari sarungnya dengan deritan, aura terang berwarna emas kekuningannya bahkan jauh lebih terang dari sarungnya, bersinar berkilauan saat itu memantulkan cahaya Solus.

Kirito melancarkan serangan kuat beberapa saat kemudian. Itu masih tidak jelas kekuatan jenis apa yang ada pada pedang yang dipegang Alice, tapi dia menilai bahwa itu akan sangat baik untuk membawa pada pertarungan jarak dekat sebelum control art itu diaktifkan. Dengan kuat merusak rumput hijau, dia memanjat delapan puluh persen dari bukit itu hanya dengan sepuluh langkah.

Sementara memegang pada rantai yang ada di dadanya, Eugeo dengan susah payah mengejar menuju patnernya juga. Kirito kelihatannya tidak memiliki keinginan untuk menarik pedangnya. Itu kelihatannya dia mencoba untuk menghentikan serangan pertama Alice dengan tubuhnya seperti yang dia katakan. Bahkan jika itu menyegel gerakannya, itu tidak akan bertahan lama. Sehingga, Eugeo harus memenuhi tugasnya untuk menusuk dia dengan pisau tanpa membiarkan kesempatan itu terlepas.

Ekspresi Alice bahkan tidak berganti sedikitpun sementara melihat ke arah swordsman berjubah hitam yang mendekat. Dengan gerakan yang kelihatan santai, dia perlahan mengacungkan pedang di tangan kanannya.

Kirito hampir untuk memasuki jangkauan tebasannya. Itu kelihatannya akan menjadi art menyerang dengan jangkauan jauh seperti Deusolbert atau Fanatio. Jika memang seperti itu, bahkan jika serangan awal akan menghentikan gerakan Kirito, Eugeo seharusnya masih dapat berada dalam jangkauan untuk menusuknya dengan menggunakan jeda itu.

Meyakinkan pikirannya dalam sekejap, Eugeo mengganti pendekatannya dari sudut yang berbeda dengan Kirito dan terus berlari. Tangan kanan Alice perlahan mengayun ke depan.

Pedang emas itu—menghilang.

"!?"

Untuk akuratnya, itu tidak menghilang. Itu akan jauh lebih akurat untu mengatakan bahwa itu terpencar. Pedang itu terbagi menjadi ratusan atau ribuan serpihan dan menyerang Kirito seperti badai emas.

"Guah!!"

Ditelan dengan kilauan yang tak terukur, Kirito telah terjatuh, membuatnya tidak dapat bergerak, dengan rintihan.

Memanfaatkan seluruh dari kesempatan yang dibuat oleh patnernya, Eugeo menggeretakkan giginya dan berlari ke depan.

Tetapi, angin emas yang menyerang Kirito tidak berhenti di sana. Itu menyebabkan suara seperti angin dingin dan merubah arahnya ke kiri di udara, menyapu Eugeo dari sisinya.

Dia dapat dengan susah payah tetap berdiri dengan kakinya setelah hantaman itu. Seolah-olah dia terlempar oleh tangan raksasa, Eugeo terjatuh di sisi kiri saat itu juga.

Setiap serpihan, yang jika diukur tidak lebih dari sepuluh cen, memiliki berat yang absurd. Terlempar ke halaman, Eugeo mengalami rasa sakit yang membakar seluruh tangan kirinya yang melindungi wajahnya dengan sekejap saat angin emas itu menyerangnya dan menahan keinginannya untuk berteriak dan menggeliat kesakitan.

Tak terhitung serpihan emas, yang menghentikan serangan mereka berdua dengan mudah, membuat lengkungan saat itu melayang dan kembali ke samping Alice. Tetapi, itu tidak kembali ke bentuk pedang tapi tetap melayang di sekitar knight itu.

Jika dilihat lebih dekat, semua serpihan kecil itu telah membentuk silang bahkan oleh bentuk wajik yang lebih kecil saat itu tergabung bersama-sama. Itu memiliki desain yang sama dengan penahannya—yang berarti itu memiliki bentuk yang sama seperti bunga dari pohon yang tumbuh di bukit itu.

"—Apa kalian mengejekku? Bagaimana mungkin kalian bahkan dapat berlari ke arahku tanpa menarik pedang kalian?"

Alice menyindir mereka dengan tenang bahkan tanpa mengekspresikan satupun emosi seperti biasanya.

"Serangan sebelumnya dimaksudkan untuk disampaikan sebagai peringatan. Tetapi, serangan berikutnya akan melenyapkan semua Life kalian. Tunjukkan padaku semua yang kalian punya, untuk demi semua Integrity Knight yang kalian berdua telah kalahkan hingga sejauh ini juga."

Dia bersikap—lunak?

Meskipun kekuatan absurd itu...?

Di dalam penglihatan Eugeo saat dia meringis dari dalam hatinya, tak terhitung bunga emas membuat suara keras "jyakii" secara bersamaan. Ketika dia berusaha melihat lebih keras, dia melihat ujung dari empat kelopak, yang seharusnya berbentuk lingkaran dan halus, sekarang menjadi runcing hingga ke titik dimana itu jauh lebih tajam dibandingkan dengan ujung pedang. Dia tidak akan lolos hanya dengan terjatuh seperti sebelumnya jika dia dihantam dengan benda seperti itu. Kulitnya akan terkoyak dan itu mungkin bahkan akan menebas ke dalam tulangnya.

Sebuah ketakutan yang sangat dalam mengubah bentuknya menjadi air dingin dan memaksakan itu pada Eugeo, melumpuhkan perutnya.

Bahkan jika hanya ada satu dari bunga seperti itu, Lifenya akan berkurang secara drastis jika itu memotong ke dalam organ dalamnya. Dan meski begitu serpihan yang berkilauan di sekitar Alice sekarang, seperti hujan bunga yang hebat, berjumlah melebihi dua atau tiga ratus. Itu akan mustahil untuk menangkis semuanya dengan pedang dan bahkan dapat dikatakan, itu akan sangat mustahil untuk menghindari badai bunga itu yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan tak terkendali di udara. Dengan kata lain, full control art Alice benar-benar luar biasa dan kuat—

Ya, itu benar-benar luar biasa.

Armament full control art dengan sacred instruments benar-benar kemampuan yang sangat kuat, tapi meski begitu, ada batasnya. Sifat asli dari art ini adalah mengubah «ingatan» yang dimiliki oleh asal dari senjata, seperti itu, apakah itu panas, dingin, keras, panas, dan seperti itu, menjadi kemampuan menyerang dan itu tidak dapat melakukan apapun selain menghilangkan aspek lainnya, dengan lebih mengkhususkan pada satu area yang khusus.

Seperti full control art Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio yang dipantulkan oleh cemin kecil yang dibuat oleh Kirito, sebagai hasil dari mengkhususkan terlalu banyak dari menusuk di satu titik dengan memusatkan sinar cahaya.

Itu tidak diketahui keberadaan macam apa yang pohon kecil itu yang kelihatannya adalah asal dari sacred instrument Alice, tapi jika kekuatan di dalamnya dibagi menjadi sangat kecil, menjadi berjumlah sangat banyak—seperti itu, jika itu hanya mengejar akurasi, setiap kelopak telah kehilangan banyak kekuatannya. Tidak peduli bagaimana Eugeo memikirkan itu, terkena satu serpihan yang panjangnya bahkan tidak mencapai satu cen memiliki kekuatan seperti tangan raksasa, saat dia telah mengetahui dengan tubuhnya, melalui teori itu.

Jika itu dapat membuat fenomena seperti itu, pohon kecil itu yang bermekaran dengan bunga orange seharusnya memiliki prioritas yang sangat tinggi, bahkan melebihi asal dari pedang Kirito, «Pohon Iblis», Gigas Cedar...

Kirito yang terjatuh di depan, di sisi kiri, kelihatannya juga memikirkan hal yang sama seperti Eugeo dalam sekejap, saat dia mengangkat wajahnya dengan eskpresi keterkejutan dan ketakutan.

Tetapi, dia yang tidak mengerti arti dari menyerah, menatap ke arah Eugeo dengan mata yang memiliki kilauan dan menggerakan mulutnya secara perlahan.

«Ucapkanlah». —Segera mulai itu.

Benar, itu sudah tidak mungkin untuk menerobos badai kelopak itu dari depan. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain untuk menahan pemiliknya dengan full control art Blue Rose Sword. Alice telah menyebarkan pedang yang hanya tersisa gagangnya dengan gerakan yang sama dengan kelopak itu sebelumnya. Dengan kata lain, itu akan berarti awan bunga itu tidak dimanipulasi seluruhnya oleh pemiliknya.

Masih dalam keadaan terjatuh, Eugeo perlahan mengusap tangan kirinya pada gagang Blue Rose Sword dan mulai mengucapkan full control art dengan volume yang hampir tidak dapat didengar. Tidak ada yang dapat dilakukan jika Alice menyadarinya dan menyerang, tapi Kirito seharusnya akan melakukan sesuatu tentang itu.

Seperti yang dia duga, Kirito bangun dengan gerakan yang berlebihan, saat Eugeo mulai mengucapkannya, dan berteriak dengan suara tegang.

"Aku ingin untuk meminta maaf untuk melakukan hal yang tidak sopan pada Integrity Knight yang terhormat! Aku, Swordsman-in-training Kirito, secara resmi ingin meminta, untuk bertarung dengan menggunakan pedang biasa dengan Integrity Knight Alice!"

Setelah memukul dadanya dengan tangan kanannya dan membungkukkan badannya, dia memegang pedang pada bagian gagangnya di bagian kiri pinggangnya. Pedang hitam legam tertarik dengan suara keras dan melengking "jyari" dan telah diangkat tinggi seolah-olah itu mencoba untuk membelah menjadi dua cahaya emas yang menutupi knight itu.

Alice menatap dengan keras kepada swordsman berjubah hitam dengan mata biru itu terasa seolah-olah itu dapat melihat ke dalam semuanya dan menjawab setelah mengedipkan matanya satu kali.

"—Baiklah, aku akan mengetes bagaimana dalamnya hati buruk yang berada pada kalian melalui ilmu pedang."

Dia perlahan mengayun gagang pedang di tangan kanannya. Dan dengan itu, tak terhitung bunga emas yang melayang di sekitarnya berterbangan menuju tangan Alice dengan suara dari aliran angin, meninggalkan sedikit celah saat itu menyatu di depan gagang yang dipegangnya. Suara metal "jyakin" terdengar dan kelopak itu menyatu, mengembalikan bentuknya menjadi pedang emas panjang.

Menghadapi Alice, yang memposisikan pedangnya di posisi tengah dengan gerakan anggun dan mulai begerak seperti itu, Kirito, yang mempersiapkan pedangnya dengan posisi rendah, dia lalu berteriak padanya sekali lagi.

"Salah satu dari kita tak dapat dihindari akan kalah setelah saling menyilangkan pedang, jadi aku memohon agar kau dapat memberitahuku satu hal sebelumnya. Aku yakin bahwa pohon di atas bukit sebelumnya adalah bentuk sacred instrumentmu di waktu yang lalu, tapi kenapa pohon kecil seperti itu memiliki kekuatan seperti itu?"

Itu sudah pasti bahwa itu adalah pertanyaan untuk mengulur waktu, tapi Kirito benar-benar ingin mengetahui misteri dibalik full control art pedang emas itu, mungkin. Tentu saja, Eugeo sangat tertarik pada itu juga. Dia menajamkan pendengarannya sementara melanjutkan mengucapkan upacara art.

Alice berhenti setelah mengambil tiga langkah ke depan. Dia tetap terdiam untuk sebentar, dan lalu menggerakkan mulutnya dengan gerakan yang pelan.

"Tidak ada tujuan untuk memberitahu kalian berdua dengan kematian kalian yang sudah dekat, tapi...Aku rasa itu dapat menjadi sebagai bantuan dalam perjalanan kalian menuju Celestial World. Sacred instrumentku bernama, «Fragrant Olive Sword». Seperti yang dikatakan namanya, itu adalah pohon zaitun harum dengan tidak ada satupun aspek yang beraturan sama sekali."

Pohon zaitun harum adalah pohon berukuran kecil yang membuat bunga kecil berwarna orange di musim gugur. Itu sangat jarang untuk tumbuh di daerah sekitar Rulid, tapi sekarang dia telah mengtakannya, dia telah melihat berkali-kali di pusat. Itu tidak dapat dikatakan bahwa itu jenis yang langka, seperti Gigas Cedar yang hanya ada satu-satunya di dunia.

"Ya, itu hanya pohon kecil seperti yang kau katakan. Kecuali itu hanya satu-satunya yang bertahan selama ini. —Tempat ini dimana Katedral Pusat dibangun sekarang adalah «Starting Land» yang diberikan kepada manusia oleh Dewi Pencipta Stacia di masa lalu yang sudah lama berlalu. Sumber air panas yang indah mengalir keluar dari pusat desa kecil dan satu pohon zaitun harum itu tumbuh pada pinggirnya...atau seperti itu yang bagian pertama dari catatan penciptaan katakan. Pohon itu adalah bentuk asal dari pedangku. Aku harap kalian mengerti ini, Fragrant Olive Sword ini adalah keberadaan tertua diantara semua hal di alam Dunia Manusia."

"Ap...Apa yang kau katakan..."

Sebagai perbandingan dengan Kirito yang keheranan, Alice melanjutkan merangkai kata-katanya secara bersamaan tanpa emosi.

"Pedang ini adalah bentuk renkarnasi dari pohon yang diberikan oleh Dewi Pencipta. Atributnya adalah «keabadian yang terus ada». Bahkan salah satu kelopak yang melayang itu dapat membelah batu saat tersentuh atau menghancurkan tanah...Seperti yang telah kalian rasakan dengan tubuh kalian sendiri sebelumnya. Apa kau mengerti apa sebenarnya yang kau lawan dengan pedangmu?"

"...Yeah, aku benar-benar mengerti sekarang."

Kirito berbicara dengan cara bicara sopannya telah menghilang.

"Aku mengerti, ini adalah immortal object pertama yang dipasang oleh Dewi Pencipta...Jadi seperti itu, huh. Huh, hal yang datang pada kita menjadi lebih dan lebih menggelikan... bahkan jika begitu, itu tidak seperti aku dapat melanjutkan dengan terpaku."

Kirito perlahan mengayun pedang hitam, yang mungkin jauh lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan Fragrant Olive Sword bahkan jika itu memiliki tipe asal mula yang sama, dengan posisi bagian atas tubuh dan berteriak.

"Jadi sekarang, Integrity Knight Alice...Mari kita mulai lagi pertarungan kita!"

Udara itu bergetar saat swordsman berjubah hitam itu menghentakkan kakinya ke tanah. Dia menyerbu ke depan menuju Alice, yang berdiri di puncak bukit, dengan kecepatan yang membuat itu sulit dipercaya bahwa dia bergerak ke atas bukit.

Tidak peduli bagaimana kuatnya pedang Alice, Kirito pasti berpikir bahwa dia dapat mendapat keuntungan jika dia membawa skill tebasan beruntun dalam pertarungan jarak dekat. Fanatio dapat menahan dengan kecepatan tinggi dari skill tebasan beruntun di pertarungan sebelumnya karena dia telah mempelajari itu melalui keadaaan pribadinya, dia seharusnya adalah pengecualian diantara Integrity Knight.

Saat Kirito dan Eugeo memprediksikannya, Alice patuh mengangkat pedangnya di atas kepala terhadap tebasan bawah Kirito. Dia tidak akan dapat untuk melindungi bagian tengahnya ketika tebasan bawah itu tersambung menuju bagian tengah dengan kecepatannya.

Pedang yang diayunkan oleh Kirito ke bawah berubah menjadi petir hitam dan berhantaman dengan Fragrant Olive Sword, mengeluarkan percikan api putih kebiruan.

Tetapi, itu tidak segera berlanjut menuju serangan kedua seperti teori tersebut.

Setelah semua, dibandingkan dengan bagaimana pedang Alice yang hanya bergerak sedikit, Kirito, seseorang yang menyerang, telah terdorong dengan berat ke belakang seperti dia telah memukul batu besar dengan ranting, menggoyahkan posisinya.

"Uoah..."

Berbalik menuju Kirito yang telah kehilangan keseimbangannya pada permukaan tanah yang miring dan terhuyung dua, tiga langkah, Alice mendekat dengan gerakan kaki yang halus seperti aliran air.

Bahkan saat jari dari tangan kirinya yang terulur sedang menunjuknya. Tubuhnya cukup lebar, pedang emasnya terangkat lurus ke belakang. Itu adalah tradisional style yang tidak dapat dikatakan cocok untuk pertarungan sebenarnya tidak seperti Aincrad style, tapi penampilannya ketika berdampingan dengan rambut pirangnya yang terurai dan roknya yang berkibar sangat indah seperti lukisan yang berbingkai.

"Eeeh!"

Pedang itu membuat lintasan setengah lingkaran saat itu melancarkan serangan bersamaan dengan teriakan keras dan jelas itu. Kecepatannya benar-benar menakutkan. Tapi gerakan itu benar-benar jauh dari terlalu berlebihan.

Setelah memperbaiki posisinya, Kirito memiliki waktu yang cukup untuk menaruh pedangnya pada sisi kirinya.

Gakaan! Dua pedang itu saling berhantaman dengan suara keras.

Seseorang yang berputar seperti gasing sementara terlempar jauh kali ini sekali lagi adalah Kirito. Menahan tangannya pada rumput, dia menghindari dari hampir terjatuh ke bawah sementara meluncur ke bawah menuju dasar bukit itu.

Hingga saat ini, Eugeo, juga, mengerti apa yang telah terjadi di hadapan matanya setidaknya.

Beban dibalik tebasan individual mereka benar-benar berada pada level yang berbeda.

Kirito memiliki pedang hitam, memiliki prioritas yang bisa dibilang paling tinggi diantara hampir semua sacred instrument, dan skill tebasan beruntun dari Aincrad style, yang mengalahkan sejumlah Integrity Knights, tapi Fragrant Olive Sword yang Alice bawa mungkin menyembunyikan beban beberapa kali lebih berat dari pedang hitam di dalam itu sendiri. Itu adalah tugas yang cukup sulit untuk menghentikan serangannya, lupakan menangkisnya, ketika itu diayun dengan kecepatan seperti itu.

Tidak, itu bukanlah menjadi akhirnya. Saat itu menjadi jelas dari pertarungan sebelumnya, Kirito adalah seseorang yang terpukul mundur bahkan ketika dia menyerang. Ini bukanlah suatu pertarungan.

Kirito sepertinya telah menyadari fakta itu dan dengan cepat berdiri, meskipun dia mengambil beberapa langkah menuju ke belakang dengan ekspresi ketakutan. Alice mengejar dia ke belakang seolah-olah dia meluncur.

Pertarungan ini dapat dikatakan menjadi pertarungan pertama Kirito dalam dua tahun yang menjadi pertarungan yang tidak seimbang.

Alice memberikan tebasan demi tebasan dengan gerakan penari. Kirito mencoba yang dia bisa untuk menahannya tapi mendapati sedikit terlempar setiap waktu. Dia pasti memiliki kesempatan untuk menyerang balik jika dia dapat menghindar hanya dengan menggeser tubuhnya, tapi pedang Alice benar-benar cepat dengan arahan yang tepat meskipun ukurannya besar, membuat itu sulit menghindarinya dengan baik.

Menyelesaikan dengan mengucapkan upacara art bahkan sementara gemetar dengan ketakutan, Eugeo mengejar pada mereka berdua yang terus bergerak di sekitar. Dengan suatu hal telah berlanjut hingga sejauh ini, dia tidak memiliki pilihan selain untuk mengaktifkan armament full control art sementara Kirito entah bagaimana menahan serangannya.

Setelah hanya bergantian lima kali menyerang dan bertahan yang tidak membutuhkan waktu lama, Kirito telah terdorong hingga ke dinding barat. Di belakangnya adalah dinding marbel keras dengan semua rute melarikan diri telah terpotong.

Menghunuskan pedangnya pada musuh, yang sekarang terjebak dalam keadaan sulit. Alice berbicara dengan ekspresi menyegarkan.

"Aku mengerti. —Kau adalah orang kedua yang dapat menahan seranganku hingga selama ini. Itu kelihatannya kau telah memanjat menara ini dengan tingkat yang cukup dari ketetapan hati dan keyakinan. Tetapi...Itu semua tidak cukup untuk menjatuhkan gereja. Seperti yang aku pikirkan, aku tidak dapat membiarkan kalian berdua untuk menganggu hukum Dunia Manusia."

Knight emas itu berdiri dengan postur halus yang tidak menunjukkan celah. Dia mungkin dapat dengan sekejap menangani dengan pengaktifan upacara art dari Eugeo, bahkan jika dia berada di belakangnya.

Kirito—katakan sesuatu. Untuk sebentar saja tidak apa-apa, buat dia menurunkan pertahanannya.

Eugeo berdoa dengan semua yang dia punya saat dia berlari, tapi patnernya hanya menyandarkan punggungnya pada dinding marbel, kedua matanya bersinar, dan bahkan tidak berusaha untuk mencoba berbicara satu katapun.

"Jadi baiklah—persiapkan dirimu."

Fragrant Olive Sword telah membuat lintasan busur saat itu mengarah ke langit, terayun vertical.

Keheningan yang singkat.

Menebas melalui udara, cahaya emas itu menyerbu.

Kedua matanya terbuka hingga pada batasnya, Kirito menggerakkan tangan kanannya dengan sangat cepat hingga itu menjadi samar-samar.

Dia tidak menahannya, tapi membiarkan serangan itu berlalu. Pedang itu telah menyentuh tepat pada sudut terendah dan serangan keras Alice yang mengerikan telah dihindari dengan sedikit kesempatan.

Apa yang Fragrant Olive Sword telah tusuk ke dalam dengan hantaman keras adalah—satu cen bagian kiri dari kepala Kirito, dinding marbel yang halus. Beberapa helai rambut hitam yang terpotong tersebar ke udara dan menghilang.

Kirito dengan segera melompat menuju Alice. Dia menjepit tangan kanan knight itu dengan tangan kirinya dan memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya. Dia bahkan tidak pernah gemetar meskipun sekali sampai sekarang, tapi pipi Alice masih merengut seperti waktu sebelumnya.

Sekarang.

"Enhance armament!!"

Eugeo menusuk Blue Rose Sword pada halaman di bawah kakinya dengan teriakan itu.

Sekelilingnya menjadi membeku dengan warna putih dengan sekejap. Gelombang es yang menyebar keluar dengan kekuatan yang bergerak dengan cepat, menelan Kirito dan Alice yang kira-kira sepuluh mel jauhnya.

Tak terhitung sulur es dengan segera menjangkau kaki mereka secara sekaligus. Semuanya menjadi jelas, pengekang biru saat itu melingkar dan mengikat di sekitar mereka berdua yang menghubungkan mereka. Jubah hitam Kirito dan armor putih Alice yang terlihat menjadi tertutup oleh lapisan es yang tebal.

Kirito—Alice, maafkan aku!

Meneriakkan itu di dalam hatinya, Eugeo melanjutkan membuat sulur es. Itu sangat meragukan beberapa jumlah pengekang akan cukup dengan Integrity Knight Alice sebagai targetnya.

Sulur yang melilit pada mereka satu demi satu dengan suara keras yang segera berganti menjadi es yang tebal.

Pilar transparan dengan beberapa lapis, menyerupai biji kristal, berkilauan dengan kedua swordsman dan swordswoman terperangkap di dalamnya.

Semua yang tertahan diluar adalah tangan kanan Alice dan Fragrant Olive Sword yang dipegangnya, tertusuk pada dinding. Ekspresi Alice, menunjukkan sedikit keterkejutan, dan ekspresi Kirito, bersiap untuk mati, yang masih tersisa di dalam es biru itu.

Semuanya akan berakhir dengan menusukkan pisau itu pada tangan itu.

Eugeo melepaskan tangannya dari Blue Rose Sword dan berdiri. Membiarkan pedangnya akan melepaskan full control art, tapi es yang tebal itu seharusnya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mencair normalnya. Dengan erat menggenggam pisau di sakunya dengan tangan kanannya, dia mengambil satu, dua langkah ke depan—

Dia mengambil langkah ketiga saat cahaya emas itu meledak.

"Ah......"

Pedang Alice, yang tertusuk pada dinding, terpencar menjadi tak terhitung kelopak bunga pada pandangan Eugeo yang ketakutan.

Zaa... Suara yang keras itu bergema saat badai emas dari bunga itu menyelimuti es itu.

Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain melihat dengan terpaku saat pedang kecil, berbentuk silang itu berputar seperti tornado, dengan cepat memotong es itu. Life Eugeo kelihatannya akan menghilang jika dia lurus menuju badai itu, bahkan sebelum mengambil satu langkah ke depan.

Memotong es itu, badai bunga itu melayang di udara setelah hanya lapisan tipis yang tersisa.

Es itu hancur dengan suara singkat pada saat itu juga.

Melempar Kirito, yang masih tertahan, menuju Eugeo dengan tangan kirinya, Alice berbicara dengan nada yang tetap tidak berbeda sementara mengibaskan serpiha es yang menempel pada rambutnya.

"—Bukankah kalian berdua meminta pertarungan dengan menggunakan pedang? Itu sedikit cocok sebagai hiburan, tapi...Itu sudah jelas bahwa hanya es saja tidak memiliki kesempatan untuk menahan bungaku. Giliranmu akan datang berikutnya, jadi jangan berlaku semaumu dan cukup tunggu."

Ketika dia dengan ringan mengulurkan tangan kanannya keluar, kelopak bunga yang melayang di sekitar dengan sekejap berkumpul dan kembali menuju pedang aslinya—

"Enhance armament!!"

Kirito adalah seseorang yang berteriak.

Tidak ada yang tahu kapan dia menyelesaikan mengucapkan full control art, tapi untaian kegelapan melesak keluar dari pedang hitam yang digenggam oleh kedua tangannya.

Tujuannya bukanlah Alice itu sendiri—

Itu adalah Fragrant Olive Sword tepat sebelum itu dapat tergabung secara bersamaan.

"Eh...!"

Alice mengeluarkan suara terkejut untuk pertama kalinya.

Tombak kegelapan itu menyebarkan kelopak bunga yang tak terhitung dan membuat mereka dilluar kendali.

Guaaah! Suara gemuruh yang memekakkan telinga saat badai, kegelapan yang hitam pekat dan emas, dengan keras berhantaman. Itu terjalin, serta berputar secara bersamaan, dan menghantam pada dinding marbel di belakang Alice.

"Eugeo——!!"

Teriak Kirito.

Benar, ini pasti, adalah, kesempatan terakhir.

Eugeo menarik pisau dari dadanya dan menghentakkan kakinya ke tanah.

Hanya delapan mel menuju Alice.

Tujuh mel.

Enam mel.

Lalu. Sesuatu yang melebihi perkiraan semua orang terjadi.

Kekuatan abnormal yang dimiliki oleh tombak dengan menggabungkan full control arts dari kedua sacred instruments mengenai dinding Katedral Pusat dan tak terhitung retakan menyebar pada seluruh dindingnya.

Sword Art Online Vol 12 - 315.jpg

Bersamaan dengan suara keras yang kelihatannya bahkan mengguncang Celestial World, dinding marbel besar itu—dinding putih itu, yang terpikir tidak dapat hancur seperti «immortal walls», runtuh.

Batu-batuan itu terlempar keluar dan lubang besar yang tercipta dengan cepat dihadapan matanya.

Eugeo menatap pada langit biru dan kumpulan awan putih yang terlihat dari luar, dengan tertegun.

Tiba-tiba, hembusan angin keras menjatuhkan Eugeo dari belakang dan dia terdorong menuju rumput-rumputan. Udara di dalam menara itu dihisap melalui lubang di dinding itu. Dua orang yang tepat di sekitar lubang itu tidak dapat melakukan apapun selain untuk menahan tekanan udara itu.

Pemandangan dari swordsman berjubah hitam dan knight emas yang terikat denang satu sama lain terlempar keluar menara yang terbakar sendiri dihadapan mata Eugeo.

"Uwaaaaah!!"

Sementara berteriak, Eugeo merangkak menuju lubang di dinding.

Apa yang dapat aku lakukan—membuat tali dengan sacred arts—tidak, aku akan menggunakan es dari Blue Rose Sword untuk menyelamatkan mereka berdua.

Dia tidak diberikan waktu untuk menaruh pemikiran itu menjadi perbuatan.

Batu yang membuat dinding marbel itu yang seharusnya telah terjatuh keluar berkumpul secara bersamaan seolah-olah waktu telah diputar kembali dan mulai untuk bergabung secara bersamaan pada seluruh dinding itu.

Clung, clung, suara keras itu berbunyi setiap kali lubang itu menutup—

"Aaaaaah!!"

Dan dengan rapi tertutup dihadapan mata Eugeo, teriakan keluar darinya sementara dia berlari secepat yang dia, seolah-olah tidak ada apapun yang telah terjadi.

Dia dengan cepat memukul dengan tangannya, dua, tiga kali.

Bahkan setelah kulitnya rusak dan darah menyembur keluar, dinding yang baru itu tetap tidak rusak, tidak menunjukkan satupun tanda-tanda rusak.

"Kirito——!! Alice———!!"

Dinding marbel putih dan terang itu dengan kejam menutupi teriakan Eugeo.

(Alicization Rising Selesai)

Catatan Penerjemah dan Referensi[edit]

  1. nama armor yang dipakai oleh samurai pada jaman dahulu
  2. standby artinya mempersiapkan itu dalam artian di sini artinya sihir atau serangan
  3. Dalam teks Jepang dia menggunakan "atashi" lalu menggantinya menjadi "watashi". "atashi" bisa diartikan jauh lebih kekanak-kanakan dalam memperkenalkan diri sendiri.
  4. Sudah jelas bahwa Darkness Knight yang dimaksud di sini adalah Kirito dan Eugeo
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Lapis_lazuli
  6. Kirito ingin mengatakan elevator