Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 13 Bab 11

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search

Bab 11 - Rahasia Ruangan Para Tetua (Bulan ke-5 Kalender Dunia Manusia 380)[edit]

Bagian 1[edit]

Kedua mataku dengan sekejap terbuka pada saat hawa menggigil tiba-tiba, menyerangku secara keras.

Aku hanya berencana untuk menutup kelopak mataku dengan punggungku bersandar pada dinding, tapi aku rasa aku pasti telah tertidur untuk beberapa saat. Aku telah melupakan rincian apapun dari mimpi buruk menakutkan yang aku lihat pada saat itu mendesakku untuk terbangun... atau seperti itu yang ketakutan dan kegelisahan berlebihan yang kelihatannya melekat di kepalakku.

Aku untuk sementara mengecek keadaan sekitarku sementara mengangkat bagian atas tubuhku, tapi kelihatannya tidak ada perbedaan dari sebelumnya.

Aku sekarang berada di atas teralis sempit yang dibuat di dinding luar Katedral Pusat, mungkin di sekitar lantai kedelapan puluh delapan. Matahari telah tenggelam dari langit yang ada di depan beberapa saat yang lalu dan kegelapan yang menutupi langit seolah-olah tinta telah terpoles padanya. Tetapi, tidak peduli bagaimana banyaknya aku memeriksa pada itu, aku hanya dapat melihat beberapa bintang melalui celah di awan, dengan tidak adanya bulan yang aku tunggu secara tidak sabar. Aku kelihatannya telah mendengar bel jam delapan malam beberapa saat yang lalu, tapi itu kelihatannya masih akan membutuhkan beberapa waktu sebelum dewi bulan mulai akan mengisi sumber energi tempat yang dapat dia bisa.

Integrity Knight Alice, yang telah setuju untuk bekerja sama, mungkin menunjukkan kewaspadaannya melalui jarak yang jauh saat dia duduk, memeluk lututnya dengan kelopak matanya tertutup, pada posisi yang hampir mendekati jarak gargoyle baru...Tidak, jarak reaksi «minion» jika dia bergerak lebih jauh ke kanan. Aku sendiri berharap untuk memegang petunjuk untuk menghindari pertarungan yang akan datang, bahkan meskipun itu sedikit, melalui pembicaraan di ketenangan ini, tapi itu kelihatannya dia tidak memiliki keinginan menerima pembicaraan santai. Masalah itu seharusnya akan terselesaikan hanya dengan menusuk Alice dengan pisau secara hati-hati yang dibuat oleh Cardinal dan dimiliki Eugeo jika dia ada di sini, bagaimanapun juga.

Dan apa sebenarnya yang dia lakukan pada saat sekarang—?

Sekarang aku memikirkan tentang itu, ini sudah dua tahun berlalu semenjak aku bertemu dengannya di hutan selatan di Rulid, ini mungkin adalah pertama kalinya kita terjatuh pada situasi seperti ini dimana kita terhalang dari bertemu satu sama lain tidak mempedulikan keinginan kita. Kita tertidur di padang rumput atau mengeluh saat kita berbagi bersama-sama tempat tidur sempit di penginapan murah pada saat petualangan panjang sampai kita mencapai pusat dan selalu berada di kamar yang sama di asrama bahkan setelah kita mendaftarkan diri di Akademi Master Pedang. Kita menghabiskan waktu bersama-sama seolah-olah itu adalah hal yang normal untuk dilakukan dan aku tidak pernah merasa tidak sadar pada keberadaaannya, tapi pada saat terpisah sangat aneh jika terasa menyebalkan.

Tidak—Itu jauh dari apa yang kalimat sederhana seperti itu dapat deskripsikan, aku sangat yakin tentang itu.

Di Dunia Virtual terhebat yang disebut Underworld, aku mendapatkan seseorang yang berjenis kelamin sama yang aku dapat panggil sebagai teman dekat untuk apa yang kelihatannya adalah pertama kalinya dalam hidupku. Itu sangat memalukan untuk mengatakan itu, tapi aku tidak dapat melakukan apapun selain dari mengakuinya.

Sebelum dipenjara di dalam game kematian, SAO, aku telah menganggap siswa laki-laki di sekolahku kekanak-kanakan dan selalu menjaga jarak dengan mereka hanya sebagai teman.

Kecenderungan sifat yang tidak disembuhkan dariku tidak berganti banyak bahkan ketika dipenjara di kastil melayang itu di dunia virtual. Cukup beruntung, aku berhasil untuk berteman orang yang benar-benar dewasa seperti Klein atau Agil, tapi meski begitu, aku meragukan bahwa kita telah mencapai tingkat keakraban dimana aku dapat memperlihatkan sisi dalam dari diriku. Bagkan meskipun dalamnya keakrabanku dengan Asuna, satu-satunya waktu aku dapat memperlihatkan kelemahan di dalam diriku adalah tepat sebelum Aincrad runtuh, ketika kesadaran kita berdua diambang menghilang.

Itu tidak seperti aku berpikir bahwa aku memiliki suatu kemampuan spesial yang tidak dimiliki orang lain atau apapun tentang itu. Pada kenyataannya, tidak ada hal yang aku dapat banggakan di sekolah, baik atletik dan akademik.

Disebabkan oleh bagaimana aku dapat menghitung rangkingku diantara beberapa persen top player, yang terdiri dari player penyelesai, ketika tertawan di SAO, aku pasti telah terpukau oleh kegembiraan yang datang dengan kemampuan. Faktor utama yang mendorong aku diantara top player adalah «kekenalanku» dari terus menerus ikut serta di dunia VR semenjak game bertipe fulldive telah dikembangkan dan «pengetahuanku» yang dihitung dari waktuku di beta test SAO, hal yang benar-benar tidak berhubungan dengan kemampuan pribadiku.

Tetapi, bahkan setelah mendapati terbebas dari SAO, aku tidak dapat menjaga diriku, kepribadianku, tanpa terus untuk membuktikan «kekuatanku di dunia VR». Aku telah terkurung oleh kepribadian rumit yang ada disekitarku, menganggap aku tidak lebih dari pahlawan, Kirito, yang menyelesaikan game kematian, daripada darah-dan-daging, Kirigaya Kazuto yang lemah, atau lebih tepatnya, aku bahkan tidak dapat menyangkalnya bahwa aku telah menuntun itu pada diriku sendiri. Meskipun bagaimana aku tahu di dalam hatiku, menjaga keberanian seperti itu akan membuatku lebih jauh dari apa yang sebenarnya penting.

Karena itu, ketika aku bertemu dengan Eugeo di dunia ini dan menyadari bahwa aku dapat dengan senang berdiri di hadapannya tanpa ada keinginan apapun, sebagai diriku yang sebenarnya, aku sangat terkejut dan memikirkan alasannya.

Karena Eugeo adalah artificial fluct light yang tidak seperti diriku? Karena dia tidak mengetahui pahlawan SAO, Kirito? Tidak, kurasa bukan hanya itu. Alasan terbesar pastinya adalah—karena Eugeo memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari diriku di Underworld, baik di dunia nyata maupun dunia virtual dalam arti tertentu.

Bakat alaminya dengan pedang benar-benar sangat hebat. Tidak peduli apa yang akan dibandingkan, baik itu daya tangkap, penilaian, atau kecepatan reaksi kita, dia akan meninggalkanku, yang telah melewati pertarungan di dunia VR, di medan pertarungan. Jika sirkuit untuk pertarungan dipasang di fluct lightku dapat dikatakan silicon CPU dari hari-hari yang telah berlalu, Eugeo akan menjadi permata CPU yang terakhir. Aku mungkin masih seperti guru pada saat sekarang, tapi itu hanya karena aku memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih banyak, tidak lebih dari itu. Jika Eugeo melanjutkan untuk meningkatkan kemampuanny dengan kecepatan yang sekarang, hari dimana posisi kita terbalik tidak akan terlalu jauh.

Pengalaman yang luas dengan pertarungan terpasang pada tubuhku yang berakhir dengan nama yang hebat, «Aincrad style», tapi aku tidak dapat melakukan apapun selain dari merasakan kebahagiaan yang misterius dan kepuasan yang membanggakan ketika Eugeo menangkap itu seperti air pada pasir. «Ilmu Pedang » yang membentuk dasar dari diriku untuk waktu yang lama, meskipun aku memikirkan itu tidak lebih dari tehnik yang ada di game, kelihatannya benar-benar menjadi nyata untuk pertama kalinya hanya setelah itu telah sempurna dan berkembang di dalam Eugeo—Aku bahkan dapat mengatakan untuk merasakan seperti itu.

Jika aku berhasil dapat menyelesaikan semua masalah yang ada di sekeliling Underworld dan membawa fluct light Eugeo menuju dunia nyata, aku akan membuat dia dive menuju ALfheim Online—penghubung untuk light cubes hampir sangat pasti cocok dengan dubia VR berdasarkan pada The Seed—dan mengenalkannya pada Asuna, Lyfa, Klein, dan teman-teman lainnya. Sebagai murid pertamaku yang mewarisi kemampuanku dengan pedang, dan teman terdekatku.

Aku tidak dapat menunggu sampai saat itu tiba. Aku percaya saat itu akan menjadi pertama kalinya ketika banyak orang yang telah membantu dan menolongku akan benar-benar......

"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"

Tiba-tiba suara datang dari sebelah kananku dan aku mengedipkan mataku, menghentikan pikiranku.

Menggerakkan wajahku ke arah itu, aku melihat Alice menatapku dengan ekspresi yang entah bagaimana terlihat aneh. Aku menyeka mulutku secara kasar dengan punggung tangan kananku dan berbicara.

"Tidak, aku hanya...memikirkan sedikit tentang hal dari sekarang..."

"Kau pasti cukup optimis untuk membuat senyuman aneh itu pada saat barusan, atau mungkin hanya bodoh. Bahkan ketika melarikan diri dari teralis batu ini kelihatannya sangat meragukan."

Seperti biasa, nada dinginnya. Aku tidak mengetahui kepribadian asli dari Integrity Knight Alice, Alice dari Rulid, tapi jika sifatnya tetap seperti ini bahkan setelah ingatannya kembali, aku dengan mudah dapat membayangkannya tanduk runcing dengan sesuatu seperti Sinon atau Lisbeth jika dia melarikan diri menuju dunia nyata dengan Eugeo dan aku memperkenalkannya pada teman-temanku.

Itu sudah pasti ada tumpukan masalah untuk diselesaikan sebelum akhir bahagia yang terindah dari pikiranku dapat terjadi. Salah satu dengan prioritas tertinggi akan menjadi melarikan diri dari teralis yang dipenuhi dengan barisan dari patung minion yang mengerikan itu, tapi bersamaan dengan kurangnya sumber energy tempat yang dibutuhkan untuk menciptakan piton dan di atas semua, sumber stamina dan tekadku...Atau untuk lebih lengkapnya, rasa lapar yang menyiksa perut kosongku, yang telah mencapai batasnya.

Menahan perutku tanpa menimbulkan perhatian dengan tangan kananku, aku menjawab dengan wajah paling seirus yang dapat aku kerahkan. "Aku yakin kita seharusnya dapat melanjutkan memanjat dinding ketika bulan muncul. Itu tidaklah sesulit itu selama kita dapat menciptakan pi...tongkat metal itu. Dan itu tidak terlihat seperti ada minions yang diletakkan di atas...Itu hanya seperti itu, kesampingkan masalah mengenai sacred power, memikirkan tentang memanjat dinding tinggi ini untuk beberapa puluh mel lainnya membuatku merasa sangat lapar, aku semakin pusing..."

"...Itu persis apa yang aku temukan tidak bertanggung jawab tentangmu. Itu hanya melewatkan satu atau dua waktu makan, siapa kau, anak-anak?"

"Yeah, yeah, sebenarnya, aku masih anak-anak setelah semua, aku masih dapat dianggap sebagai anak dalam masa pertumbuhan, kau tahu? Tidak seperti kalian Integrity Knight yang hebat, Lifeku akan berkurang seperti batu jika aku tidak makan."

"Aku akan mengatakan ini untuk pertama kali, tapi kita Integrity Knight, juga, dapat merasa lapar dan mendapati Life kita berkurang jika kita tidak makan!"

Ujung matanya dengan dingin terangkat dan Alice menyatakan seperti itu.

Pada saat itu, suara lucu datang dari sekitar perut gadis itu dan aku tidak dapat menahan, tawa yang tertahan, yang tanpa disengaja.

Wajah knight yang terhormat itu dengan sekejap berubah menjadi merah dan pada saat melihat tangan kanannya dengan cepat menggenggam ganggang pedangnya pada saat berikutnya, aku berlari menjauh sekitar lima puluh sentimeter dengan panik.

"Wah, tunggu, aku minta maaf! Aku rasa itu sangat masuk akal, kau masih hidup bahkan jika kau adalah Integrity Knight. Itu hanya sangat normal untuk merasa lapar jika kau hidup."

Membungkuk sementara menyusun kata-kata polos itu secara bersamaan, aku merasakan perasaan dari sesuatu yang teremas di saku kiri dari celanaku. Memasukkan tanganku ke dalamnya, memikirkan apa itu sebenarnya, aku mengingat itu pada saat jariku menyentuhnya dan memperlihatkan rasa terima kasih pada keberuntungan dan keserakahanku.

"Oh, ini adalah bantuan dari atas. Lihat, aku menemukan sesuatu yang bagus."

Apa yang aku tarik adalah dua roti daging yang mengepulkan uap. Makanan itu aku masukkan di kedua sakuku ketika aku meninggalkan Ruangan Perpustakaan Besar Cardinal. Setengahnya telah dibagi dengan Eugeo dan dimakan untuk makan siang, tapi aku benar-benar melupakan tentang makanan yang masih tersisa. Itu lebih dan kurangnya menjadi tertindih setelah pertarungan hebat yang terhitung jumlahnya, tapi aku tidak dapat meminta lebih pada dunia dalam situasi seperti ini.

"...Kenapa kau memiliki benda seperti itu pada sakumu?"

Alice memiliki ekpresi seperti dia telah terdiam dari dalam hatinya dan melepaskan tangannya dari pedangnya.

"Aku menyentuh sakuku dan di dalam sana ada dua roti daging."

Menggunakan kalimat yang Alice pasti tidak akan mengerti[1] sebagai pengalih perhatian, aku dengan cepat memperlihatkan «window» dan mengetahui bahwa itu masih memiliki banyak Lifenya yang tersisa. Itu terlihat lama, tapi itu diciptakan dari objek buku kuno, yang berharga oleh Cardinal, ketahanannya benar-benar mengejutkan sangat tinggi.

Itu dapat dikatakan, mengunyah roti ini yang sekarang dingin dan keras saat itu tidak akan membawa satupun rasa. Setelah beberapa saat berpikir, aku mengulurkan tangan kiriku dan mengucapkan perintah.

"System call. Generate thermal element."

Bahkan jika itu tidak cukup untuk menciptakan piton yang berharga itu, kelihatannya ada cukup sumber energy tempat untuk menciptakan thermal element kecil saat titik cahaya orange, yang tidak dapat diandalkan berkelap-kelip di atas telapak tanganku. Membawa dua roti daging di tanganku mendekati thermal element, aku mulai mengucap kalimat berikutnya.

"Bur..."

-st, sebelum aku dapat melanjutkan, tangan yang terulur keluar seperti cahaya dari petir menutup mulutku.

"Mghh!?"

"Apa yang akan kau lakukan, bodoh?! Itu akan menjadi hangus terbakar dalam sekejap jika kau melakukan itu!"

Setelah memarahiku dengan mata yang dipenuhi dengan kemarahan, penyesalan dan kebenciaan yang sama jumlahnya, Alice mengambil dua roti daging dari tangan kananku. Aah, pada saat aku mengeluarkan teriakan yang menyedihkan, thermal element di tangan kiriku, juga, menghilang seolah-olah itu menghilang di udara. Knight itu tidak melihatku lagi dan mengulurkan keluar tangan kirinya yang mulus saat dia mengatakan sacred art yang merdu.

"Generate thermal element...aqueous element...aerial element."

Pada tiga ujung jarinya, dari ibu jari hingga jari tengahnya, terlihat titik cahaya, orange, biru, dan hijau, sebagai warnanya. Aku memiringkan kepalaku dengan kebingungan pada tujuan Alice sebelum dia melanjutkan proses tiga element dengan cara yang rumit dengan sacred arts tambahan dan gerakan jarinya. Dia pertama membuat pusaran spiral dengan aerial element dan membuat dua roti daging melayang di tempat itu. Lalu, dia melempar thermal dan aqueous elements juga dan pada saat dia menyentuh itu, dia melakukan burst pada itu.

Shuu! Suara itu terdengar saat penahan angin itu dengan segera menjadi berwarna putih murni. Meskipun itu terlihat tenang dari luar, uap panas pasti telah berputar di dalam penghalang itu. Aku mengerti, jadi ini akan menyebabk efek yang sama seperti ketika menggunakan pemanas.

Setelah sekitar tiga puluh menit, tiga element itu menyelesaikan bagiannya dan menghilang saat itu tersebar. Dua roti daging itu terjatuh pada tangan Alice dari udara menyembul dengan bentuk lingkaran sempurna seolah-olah itu baru saja dibuat, dengan uap hangat terangkat dari itu.

"B-Berikan aku salah satu dari itu...Tunggu, a-aaaah!?"

Pada saat melihat Alice mencoba memakan kedua roti daging yang dipegang di kedua tangannya saat aku mengulurkan tanganku, aku mengeluarkan teriakan yang menyedihkan. Tapi untungnya, knight yang hebat itu menghentikannya tepat sebelum itu mencapai mulutnya dan berguman "Aku bercanda" dengan wajah kaku sebelum memberikannya padaku. Mengambil itu sementara merasa lega, aku meniup itu sebelum mengambil gigitan besar pada roti itu.

Setiap keberadaan di Underworld terasa seperti mimpi, dihidupkan kembali dari ingatan seseorang yang luas—pikiranku mengerti tentang itu, tapi tekstur dari kulit lembut dari roti yang mengepulkan uap dan daging cair yang terisi di dalamnya yang beberapa saat masih mengundangku pada kenikmatan. Makanan berharga yang berakhir di perutku—atau lebih akuratnya, bagian ingatan fluct lightku yang hanya dengan tiga gigitan, dan aku mengeluarkan nafas dalam sementara merasakan baik perasaan kepuasan dan perasaan ketidakpuasan pada waktu yang sama.

Di sampingku, Alice, juga, menghabiskan roti dagingnya dalam empat gigitan dan nafas muram keluar darinya sepertiku. Sementara merasakan emosi besar pada bagaimana Integrity Knight yang hebat ini yang seperti avatar dalam pertarungan entah bagaimana memiliki sisi perempuan padanya juga, aku dengan santai berbicara.

"Aku mengerti...Aku tidak pernah berpikir itu akan mungkin untuk memanaskan roti daging hanya dengan element dan tidak menggunakan alat lain. Aku rasa itu seperti yang diharapkan dari saudara perempuan Selka dan kemampuannya dalam memasak, bukankah begitu..."

Itu terjadi pada saat aku mengatakan itu dengan suara keras.

Benar-benar tidak ada kesalahan bahwa Integrity Knight emas yang menatapku dari jarak dua puluh sentimeter adalah Alice Schuberg, teman masa kecil Eugeo dan saudara perempuan tertua dari murid sister dari Rulid, Selka, tapi orang itu sendiri tidak memiliki ingatan tentang itu. Pada saat dia telah diambil pergi menuju Centoria Pusat delapan tahun lalu dan diubah menjadi Integrity Knight melalui «Synthesis Ritual», dia seharusnya memiliki bagian penting dari ingatannya telah diambil dan «piety module» dimasukkan di tempat itu sebagai gantinya, menjadi tidak dapat mengingat apapun dari sebelum upacara.

Alice yang sekarang mempercayai dirinya telah dipanggil dari Celestial World untuk menjaga perdamaian dan peraturan dunia, dan untuk beryarung dengan invansi dari tanah kegelapan—tidak, dia telah dibuat untuk mempercayai itu. Untuk gadis itu, kekuasaan Gereja Axiom dan pemimpin tertinggi, Administrator, adalah mutlak, dan mungkin tidak ada kesempatan bahwa dia dapat menerima suatu cerita tentang Administrator mengambil manusia dengan kemampuan tinggi dari seluruh penjuru dunia hanya untuk demi memuaskan keinginannya untuk kekuasaan.

Bahkan sejak awal, itu disebabkan oleh dugaan bahwa Alice tidak akan goyah tidak peduli bagaimana kerasnya kita mencoba, maka Eugeo dan aku memilih rencana untuk menggunakan pisau yang diberikan kepada kami oleh Cardinal untuk mengirim Alice pada kondisi sementara terdiam. Situasi sekarang bukanlah sesuatu yang diduga, tapi meski begitu, hanya ada satu hal yang mungkin dapat aku lakukan—menghindari pertarungan dengan Alice sementara bertemu kembali dengan Eugeo, dan menciptakan kesempatan untuk menggunakan pisau yang dia pegang.

Terganggu pada bagaimana aku telah menghancurkan seluruh rencana dengan satu kalimat, aku dengan susah payah memeras otakku. Itu sudah jelas pada saat melihat ekspresi Alice bahwa ini bukanlah situasi dimana aku dapat bermain-main dengan mengatakan bahwa aku salah mengucapkan perkataanku.

Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, tidak ada pilihan selain dari dua pilihan. Apakah itu untuk bertarung dengan Alice di sini dan sekarang, dan membuatnya pingsan tanpa memberikan serangan mematikan, lalu membawa dia menuju lantai kesembilan puluh lima—atau untuk mengumpulkan ketetapan hatiku dan memberi tahu semua padanya.

Pilihan yang aku pilih akan bergantung pada apa yang Alice dapat percayai. Pertarungan jika aku mempercayai kemampuannya dengan pedang jauh lebih rendah dibandingkan denganku. Atau percakapan jika aku mempercayai pengetahuannya melebihiku.

Saat berpikir keras untuk beberapa detik, aku memutuskannya. Menerima tatapan Alice, yang terbakar seperti api biru, secara langsung, aku membuka mulutku.

"Kau memiliki saudara perempuan, itulah hal yang baru saja kukatakan. Aku akan memberitahumu...aku tidak tahu jika kau dapat menerima satupun tentang itu, tapi aku akan memberitahumu semua yang aku percayai sebagai kebenaran."

Mungkin merasakan hal tertentu dibalik perkataan singkatku, Alice adalah seseorang yang ragu-ragu kali ini, sebelum tiba-tiba membuka tangan kanannya setelah beberapa detik berlalu.

Knight itu melanjutkan menekuk kedua lututnya saat pandangannya berada tetap padaku yang bersandar di teralis di sisi belakangku. Aku rasa ini adalah perbuatan ini untuk mendengar perkataanku di mana situasi itu sendiri telah menyimpang dari sikap yang tepat dari Integrity Knight. Alasannya, dia telah memutuskan bahwa dia mengakhiri hidupku dengan satu tebasan, dia harus melalui pertarungan pahit melawan keinginannya untuk mendapat pengetahuan baru di dalam dirinya.

Mungki telah menguatkan pikirannya, Alice pada akhirnya merendahkan pinggangnya perlahan dan berbicara setelah mengambil apa yang menyerupai posisi duduk yang formal.

"...Bicaralah. Tapi ingatlah satu hal...Jika aku menilai perkataanmu adalah suatu jenis muslihat, aku akan menebasmu di sini dan sekarang."

Mendengar suara pelan dan tertahan datang dari Alice, aku mengambil nafas dalam dan mengumpulkan kekuatan di pusatku sebelum mengangguk dengan singkat.

"...Lakukanlah. Jika hukuman untuk menebasku benar-benar di buat oleh dirimu sendiri, jika seperti itu. Jika kau ingin bertanya alasan kenapa aku mengatakan seperti itu...itu dikarenakan kau memiliki perintah di dalam dirimu, diturunkan oleh orang lain, tapi tersembunyi dari kesadaranmu."

"...Apa kau berbicara tentang tugas dari Integrity Knight."

"Tentu saja."

Pada saat aku mengagguk, Alice mata menjadi sipit dengan rasa permusuhan. Tetapi, pada saat yang sama, aku menyadari emosi yang samar-samar bergetar di dalam mata itu. Itu pasti adalah jiwa Alice yang sebenarnya. Dengan tujuan mengatakannya perkataanku secara langsung pada itu, aku melanjutkan.

"Integrity Knight adalah keberadaan yang dipanggil oleh pembawa pesan dari dewi, pemimpin tertinggi dari Gereja Axiom, Administrator, dari Celestial World untuk menjaga hukum dan keadilan...itu adalah hal yang kalian semua ketahui, aku yakin. Tetapi, seseorang yang mempercayai itu hanya ada di dalam Katedral Pusat. Ribuan orang manusia yang hidup di Dunia Manusia tidak memikirkan itu sedikitpun."

"Omong kosong...apa yang kau katakan?"

"Kau bisa pergi sekarang dan bertanya pada semua orang, pergilah ke bawah Dunia Manusia dan tanyalah manusia yang tinggal di pusat. Tanyakan pada mereka apa yang diberikan kepada juara dari Turnamen Persatuan Empat Kerajaan yang diadakan setiap tahun. Mereka akan menjawab dengan ini. Kehormatan untuk diangkat sebagai Integrity Knight dari gereja."

"Diangkat sebagai...Integrity Knight...? Itu tidak mungkin benar, itu benar-benar sangat menggelikan. Aku telah mengenal banyak Integrity Knight yang hebat, tapi tidak ada satupun dari mereka pernah mengatakan pernah sekali menjadi manusia."

Aku meluruskan punggungku dan menatap pada mata knight itu. Aku dengan susah payah meneriakan itu keluar pada jiwa manusia Alice yang pasti terbaring di dalamnya.

"Alice. Aku yakin kau tidak memiliki ingatan tentang siapa yang melahirkanmu di tempat yang disebut Celestial World atau dimana kau dibesarkan. Ingatan pertamamu mungkin adalah pemandangan dimana Administrator melihat ke arahmu dan mengatakan bahwa kau adalah knight suci yang dikirim dari sana atau sesuatu seperti itu, bukan?"

"......"

Itu kelihatannya aku telah mengenai permasalahan saat Alice sedikit mengangkat tubuhnya sementara menggigit mulutnya.

"...Itu...Karena Integrity Knight memiliki ingatan mereka dari Celestial World telah disegel oleh dewi, Stacia, saat turun ke negeri ini...Dan suatu hari dapat kembali ke sacred land sekali lagi setelah kita menyelesaikan tugas kita sebagai knight dan melenyapkan semua mahluk kejam dari Dark Territory...mendapatkan kembali ingatan kita mengenai keluarga dan saudara kita...itulah yang pemimpin tertinggi...telah katakan......"

Suara tegas dari knight emas itu melemah dan menghilang.

Aku mengerti itu dengan sekejap. Integrity Knight Alice betul-betul mencari ingatan mengenai keluarga dari dalam hatinya, bahkan jika dia sendiri tidak menyadarinya. Itu menjelaskan reaksi tajamnya pada nama Selka sebelumnya.

Memilih kata-kataku dengan hati-hati, aku melanjutkan penjelasan.

"Kata-kata Administrator memang benar untuk satu hal. Ingatan knight itu benar-benar tersegel. Tapi seseorang yang melakukan itu bukanlah Dewi, Stacia, tapi pemimpin tertinggi itu sendiri. Dan itu bukanlah ingatan dari Celestial World yang tersegel, tapi ingatan saat lahir dan dibesarkan di Dunia Manusia. Itu berlaku pada Integrity Knight lainnya juga, seperti Eldrie sebagai contoh. Dia terlahir di keluarga bangsawan kelas atas di Kerajaan Norlangarth Utara, mendapat kemenangan di Turnamen Persatuan tahun ini, dan mendapat kehormatan untuk menjadi Integrity Knight."

"Itu semua...Bohong! Bagaimana mungkin muridku, Integgrity Knight Eldrie Synthesis Thirty-one, untuk dapat lahir dari salah satu bangsawan kelas atas yang kotor..."

"Dengarkan, Eldrie tidak terjatuh pada saat pertarungan kita karena dia telah ditebas. Tidak ada satupun luka tebasan di tubuhnya, bukan? Itu karena patnerku mengingat nama aslinya, Eldrie Woolsburg, dan berakhir mendorong ingatan tersegel tentang ibunya. Eldrie mencoba untuk mengingat ibunya. Tapi dia tidak dapat melakukannya tidak peduli seberapa kerasnya dia mencoba. Itu adalah hal yang normal, ingatan itu telah dikeluarkan dari jiwanya oleh Administrator dan tersimpan aman di lantai tertinggi di katedral."

"...Ingatan...tentang ibunya..."

Mulut Alice sedikit bergetar. Kedua matanya terpaling dari wajahku dan melihat udara di sekelilingnya.

"Eldrie...memiliki ibu...bangsawan manusia."

"Tidak hanya dia. Mungkin setengah dari Integrity Knight adalah seorang ahli dengan pedang yang memenangkan Turnamen Persatuan dan kebanyakan dari mereka seharusnya adalah anak bangsawan yang secara khusus terdidik dengan ilmu pedang semenjak mereka masih muda. Sebagai ganti dari mempercayakan anak mereka pada Gereja Axiom, bangsawan itu mendapat sejumlah uang, barang, dan tanah. Pengaturan seperti itu telah terpasang selama ratusan tahun."

"...Aku tidak dapat mempercayainya...Ceritamu itu terlalu tidak masuk akal."

Knight emas, yang kelihatannya telah mempercayai kesucian tanpa cela dari Gereja Axiom dan Integrity Knight tanpa keraguan sedikitpun, menggelengkan kepalanya ki kiri dan ke kanan seperti anak kecil yang menolak pendapat.

"Bangsawan kelas atas dari empat kerajaan...Aku tidak dapat mengatakan bahwa semua bangsawan itu sama, tapi mereka terpengaruh cara kehidupan, yang mewah dan bermalas-malasan. Itu adalah alasan dibalik dari keberadaan kita, kita Integrity Knight ada di sini untuk melindungi Dunia Manusia. Dan meskipun begitu...kau mengatakan bahwa Eldrie dan knight lainnya lahir dari bangsawan kelas atas tenggelam pada kejatuhan moral secara sepenuhnya...Itu tidak mungkin. Aku benar-benar tidak dapat mempercayainya."

"Kejatuhan moral dari bangsawan kelas atas disebabkan oleh posisi sosial yang tinggi dan tak terhitung hak istimewa yang diberikan kepada mereka oleh Gereja Axiom. Tapi itu adalah alasan sebenarnya kenapa anak bangsawan dapat menerima pelajaran ilmu pedang dan sacred arts dari anak-anak. Di daerah terpencil, sacred tasks diberikan pada anak-anak yang hanya berumur sepuluh tahun dan mereka tidak dapat menggunakan waktu bebas mereka untuk berlatih sesuatu seperti ilmu pedang...Dan seseorang yang paling berbakat diantara anak bangsawan yang berpartisipasi di Turnamen Persatuan Empat Kerajaan dan satu-satunya pemenang akan dipanggil ke Katedral Pusat....Alice, apa kau pernah bertemu dengan salah satu juara itu di katedral."

Alice sedikit memalingkan pandangan matanya yang kegelisahan pada pertanyaanku dan perlahan menggelengkan kepalanya.

"Tidak... —Tapi banyak bangsawan dan murid mereka tinggal di lantai bawah dari katedral, jadi...bukankah pemenang dari Turnamen Persatuan sementara berusaha keras dalam pelajaran harian mereka seperti murid mereka..."

Tidak, mereka sama sekali tidak ada. Dengan segera, aku berpikir untuk menyangkalnya dengan itu, tapi aku menutup mulutku yang entah bagaimana terbuka pada saat itu.

Eugeo dan aku telah melalui lantai kelima puluh tanpa satupun halangan—meskipun kita telah diseret sebanyak dua puluh lantai dari jumlah lantai tersebut oleh knight anak-anak, Fizel dan Linel, dilumpuhkan oleh pedang beracun mereka—setelah mengambil pedang kesayangan kita dari lantai ketiga dari katedral tanpa bertemu dengan satupun bangsawan. Tetapi, aku memiliki dugaan dimana tempat lahir mereka berasal.

Kebanyakan bangsawan, yang kelihatannya berada di lantai bawah katedral hanya untuk bekerja keras pada Gereja Axiom, yang mungkin tidak diambil dari luar gereja, tapi lahir dan dibesarkan di dalam gereja. Seperti Fizel dan Linel. Itu kelihatannya akan seperti membuat unit yang berguna dari pandangan Administrator, bukan?

Alice pasti benar-benar tidak menyadari kegelapan gereja. Itu tidak perlu untuk membicarakan topik itu untuk sekarang dan menaruh beban yang tidak perlu padanya.

"...Tidak, kau telah bertemu mereka, dengan juara Turnamen Persatuan. Kau hanya tidak menyadarinya. Kalian Integrity Knight seharusnya memiliki ingatan kalian telah diubah oleh tangan Administrator tidak hanya pada saat «Synthesis Ritual»...Tapi juga setelah menjadi knight."

"Menggelikan."

Alice berteriak dengan jelas dengan wajahnya terangkat.

"Mustahil! Pemimpin tertinggi yang suci tidak mungkin dapat berbuat suatu perbuatan seperti bermain-main dengan ingatan..."

"Dia melakukannya!"

Aku meneriakkan itu sebagai balasannya.

"Setelah semua, tidak hanya kalian semua yang dari juara turnamen yang tidak memiliki ingatan...tapi juga kriminal yang kalian telah bawa!"

"Kri-Kriminal...?"

Merengut, Alice menutup mulutnya sekali lagi. Mengalihkan pandanganku lurus ke arah wajahnya yang kelihatannya pucat di bawah cahaya bintang, aku berbicara secara serius.

"Itu benar. Kau membawa patnerku dan aku ke sini di gereja dari Akademi Master Pedang dengan naga terbang. Aku rasa kau dapat mengingat sebanyak itu, bukan?"

"...Aku tidak mungkin dapat melupakan itu. Kalian berdua adalah kriminal pertama yang pernah aku bawah karena perintah."

"Tapi Integrity Knight Deusolbert Synthesis Seven tidak mengingat apapun tentangmu. Delapan tahun lalu..."

Setelah berhenti untuk beberapa saat, aku mengumpulkan ketetapan hatiku dan mengatakan «nama itu».

"...Dia membawa seseorang dengan tangannya sendiri dari Desa Rulid di daerah perbatasan utara, dia membawa Alice muda ke sini."

Wajah Alice berubah menjadi lebih putih dibandingkan dengan dinding marbel setelah dia mendengar perkataanku. Mulutnya, yang warnanya berkurang, bergetar dan kata-kata keluar dari mulut keringnya.

"Desa Rulid...Aku lahir di sana...? Deusolbert-dono membawaku pergi dari sana sebagai kriminal...? Dengan kata lain, aku pernah sekali melakukan taboo...itu adalah hal yang ingin kau katakan...?"

Aku perlahan mengangguk pada suara terputus-putusnya.

"Itu benar. Aku mengatakan setengah dari Integrity Knight adalah juara dari Turnamen Persatuan sebelumnya, bukan? Setengah dari sisanya adalah manusia yang dibawa ke katedral sebagai criminal. Seseorang yang memiliki kehendak cukup kuat untuk melawan Taboo Index akan berubah menjadi kekuatan yang tidak dapat dibandingkan setelah mereka menjadi knight. Itu pasti seperti membunuh dua burung dengan satu batu untuk Administrator, untuk dapat memberikan manusia itu, yang mampu menggoyahkan pengatuh gereja, kehidupan lain sebagai pion kuatnya....Mari berbicara tentang kau."

Alice dapat menerima atau membantah perkataanku. Ini adalah saat yang kritis.

Aku menatap keras pada Integrity Knight dengan kekuatan sebanyak yang aku bisa di pandanganku. Duduk pada teralis batu dengan tiba-tiba dan menyentakkanbahunya secara sedih, Alice melihat ke arahku dengan matanya yang setengah tertutup seolah-olah menunggu suatu jenis hukuman yang akan diturunkan padanya.

"Namamu yang sebenarnya adalah Alice Schuberg. Lahir dan dibesarkan di desa kecil yang disebut Rulid di perbatasan daerah utara, yang dapat dikatakan di lembah Puncak Barisan Pegunungan. Kau berumur sama seperti Eugeo...patnerku, jadi kau seharusnya berumur sembilan belas tahun di tahun ini. Kau telah diambil pergi ke gereja delapan tahun lalu, jadi itu berarti insiden itu terjadi ketika kau berumur sebelas tahun. Kau pergi menjelajahi gua melalui Puncak Barisan Pegunungan dengan Eugeo...Dan setelah keluar dari sana, kau berakhir sedikit melewati, pada batasan antara Dunia Manusia dan Dark Territory. Dengan kata lain, taboo yang kau lakukan adalah «Melewati batas ke Dark Territory». Kau tidak mencuri apapun atau melukai siapapun...Tidak, sebaliknya, kau mencoba untuk menolong Darkness Knight diambang kematiannya pada saat itu..."

Seperti itu dan lalu, mulutku tertutup.

Apakah aku mendengar Eugeo menjelaskan Alice dengan penjelasan sebanyak itu...?

Tentu saja dia pernah. Tidak ada cara lain bahwa aku dapat mengetahui sebenarnya secara keseluruhan apa yang terjadi enam tahun lalu ketika aku terbangun hanya dua tahun lalu. Tapi meskipun begitu, aku dapat dengan jelas melihat Darkness Knight terjatuh sementara menarik jejak darah dan Alice berlari ke sana di pikiranku, seolah-olah aku melihat pemandangan itu sendiri. Itu kelihatannya aku bahkan dapat mendengar kembali suara pelan dari tangan Alice bersentuhan dengan tanah hitam legam dari daratan Dark Territory di dalam telingaku. Pemandangan yang aku bayangkan dari cerita Eugeo pasti telah bercampur dengan suatu ingatan nyata tanpa kusadari. Aku mengangkat wajahku, meyakinkan diriku, tapi itu kelihatannya Alice belum dapat menenangkan pikirannya pada jeda yang tidak wajar dari perkataanku. Pipinya yang kebiruan samar-samar bergetar dan suara lemah mengalir keluar darinya, hampir tidak dapat terdengar.

"Alice Schuberg...Itu, adalah namaku...? Rulid...Puncak Barisan Pegunungan...Aku tidak dapat mengingat, apapun..."

"Jangan memaksakan dirimu untuk mengingatnya, kau akan berakhir seperti Eldrie."

Aku memotong perkataan Alice yang sementara kebingungan. Itu akan menjadi kacau jika sesuatu terjadi seperti «piety module» Alice menjadi tidak stabil dan membuatnya tidak dapat bergerak seperti kasus Eldrie, membuat knight lainnya datang untuk mengambilnya pada saat merasakan ketidaknormalan. Tetapi, Alice menatapku dengan mata yang kelihatannya telah mendapatkan beberapa kekuatan dan berbicara dengan kuat bahkan jika suaranya bergetar.

"Apa yang kau katakan bahkan setelah memberitahu sebanyak itu. Aku...ingin untuk mengetahui semuanya. Aku belum dapat mempercayai ceritamu... tapi aku akan membuat pilihan hanya setelah kau mengatakan semua yang kau punya."

"...Baiklah. Jika dikatakan, itu tidak seperti aku banyak mengetahui tentang dirimu yang dulu. Ayahmu adalah Kepala Desa dan namanya Gasupht Schuberg. Sayangnya, aku tidak mengetahui nama ibumu, tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, kau memiliki saudara perempuan. Namanya Selka dan dia seharusnya masih bekerja sebagai murid sister di gereja di Rulid, bahkan sampai sekarang. Aku berbicara dengan Selka ketika aku masih dibawa perwatan gereja dua tahun lalu. Dia adalah anak baik yang sangat memikirkan saudara perempuannya...kau tetap ada di pikirannya bahkan setelah kau diambil pergi menuju gereja. Kelihatannya, kau juga adalah seorang murid sister ketika kau tinggal di Rulid dank au dipanggil jenius dalam sacred arts. Dia menaruh semua yang dia punya untuk mengikuti jejak saudara perempuannya, untuk menjadi sister yang hebat."

Alice tidak menunjukkan reaksi bahkan setelah aku mengatakan semua yang aku tahu dan menutup mulutku.

Gemetarannya dari waktu sebelumnya berkurang dan wajah putihnya yang seperti porselen tidak membuat gerakan sedikitpun. Kemungkinan, dia mencoba mengingat banyak kata yang aku katakan dari dalam ingatannnya, tapi itu kelihatannya tidak ada kesempatan untuk berhasil dalam hal ini.

—Jadi itu sia-sia...

Aku berguman seperti itu di dalam hatiku. Aku berpikir bahwa itu masih mungkin untuk membangkitkan suatu ingatan, bahkan dengan «bagian ingatannya» telah diambil, jika aku perlahan memberikan dia informasi ketika dia dalam kondisi tenang—tapi itu kelihatannya, segel yang Administrator gunakan memiliki kekuatan yang melebihi perkiraanku..

Aku rasa seseorang yang dapat mengembalikan Alice menjadi dirinya yang sebenarnya adalah Cardinal dengan kemampuan supervisornya. Dan itu juga mendekati dengan tujuan mengambil bagian ingatan Alice yang sementara dijaga oleh Administrator di suatu tempat.

Itu terjadi pada saat itu, mulut Alice bergerak, mengeluarkan suara singkat.

"Selka."

Dan mengikuti itu, sekali lagi.

"Selka...."

Kali ini, mata itu yang kelihatan berwarna biru gelap terangkat ke atas menuju langit berbintang di atas.

"...Aku tidak dapat mengingatnya. Baik wajahnya maupun suaranya. Tapi...Ini bukanlah pertama kalinya aku memanggil nama itu. Mulutku, tenggorokanku...Hatiku, mengingatnya."

"...Alice."

Aku menelan nafasku dan memanggilnya, tapi seolah-olah keberadaanku tidak terlihat di mata Alice lebih lama lagi, dia melanjutkan berbisik, dengan tenang.

"Nama itu terpanggil keluar berkali-kali. Hari demi hari, malam demi malam...Selka...lka......"

Pandanganku berada tetap pada Alice dengan ketidakpercayaan saat air yang terang, membentuk titik cahaya, yang berada di bulu mata panjangnya dan menetes keluar, berkilauan saat itu menangkap cahaya bintang. Air matanya mengalir tanpa henti, dan perlahan terjatuh pada lantai marbel diantara Alice dan aku.

"Itu benar, bukan...Aku memiliki keluarga...Ayah dan Ibu...dan saudara perempuan yang berhubungan darah denganku... Di suatu tempat di bawah langit malam ini..."

Suara bimbang itu pada akhirnya berubah menjadi tangisan yang lemah.

Aku secara insting mengulurkan tangan kananku dan telah ditepis oleh Alice dengan punggung tangannya.

"Jangan lihat ke sini!"

Meneriakkan itu dengan suara tangisan, Alice dengan keras mendorongkan tangan kanannya pada dadaku dan mengusap matanya terus menerus dengan tangan kirinya. Tapi air mata itu sama sekali tidak berusaha untuk berhenti dan knight itu pada akhirnya memeluk lututnya dengan kedua tangannya, menekan wajahnya pada itu dan bahunya mulai bergetar secara keras.

"Uu...ughh...uuu..."

Sebelum aku menyadarinya, sesuatu membasuhi kedua mataku juga, melihat Integrity Knight yang menangis dengan suara yang tertahan.

Aku akan—

Aku akan mengalahkan Administrator dan membawa Alice kembali ke kampung halamannya.

Mengumpulkan semua tekadku sekali lagi, aku akhirnya menyadari alasan dibalik air mata yang terlihat di mataku sendiri, yang sekarang mungkin telah terlambat.

Bahkan jika semua berjalan sesuai dengan rencana, seseorang yang bertemu dengan Selka di Desa Rulid bukanlah Integrity Knight emas yang menangis dihadapan mataku. Pada saat dia mendapat ingatannya yang tersegel, Alice akan mengingat hari yang dia habiskan dengan Eugeo dan Selka di Rulid, dan kemungkinan, melupakan bulan dan tahun yang dia layani sebagai Integrity Knight gereja.

Dengan kata lain, kepribadian ini, Alice sebagai Integrity Knight, hanya akan menghilang.

Itu akan kembali ke bagaimana itu seharusnya. Meskipun aku mencoba meyakinkan dirku seperti itu, aku tidak dapat menghentikan diriku dari mengasihani knight yang menangis dengan punggungnya meringkuk seperti anak kecil.

Harapan menyedihkan untuk Alice Synthesis Thirty yang seharusnya terus menerus merindukannya dari dalam hatinya untuk kehangatan keluarga, yang hilang dan melebihi jangkauannya, pada saat bertahun-tahun dia tinggal di katedral ini.

Itu membutuhkan waktu sebentar untuk tangisan keras itu secara berangsur-angusr suaranya berkurang dan berubah menjadi tangisan yang tenang.

Aku, di sisi lain, telah berhasil menegangkan kelenjar air mataku yang mengendur dua atau tiga menit yang lalu dan mengganti pikiranku pada rencanaku dari sekarang.

Rencana yang paling bagus yang dapat aku pikirkan sekarang akan menjadi sebagai berikut.

Kita akan melanjutkan memanjat dinding pada saat bulan terlihat dan kembali ke dalam menara dari lantai kesembilan puluh lima. Entah bagaimana menghindari rencana bertarung melawan Alice di sini, kita akan bergabung dengan Eugeo. Apakah kita menggunakan pisau yang dia pegang, yang dengan teliti dibuat oleh Cardinal, pada Alice akan bergantung pada situasi.

Setelah itu, kita lebih baik mengalahkan rintangan terbesar kita, Integrity Knight Bercouli Synthesis One, atau meyakinkannya—itu akan menjadi bantuan hebat jika Eugeo telah mengalahkannya, tapi aku rasa memiliki harapan seperti itu akan menjadi terlalu banyak—lalu menyerbu menuju lantai tertinggi dari katedral, dimana musuh terbesar kita, Administrator, tertidur.

Kita akan membuat pemimpin tertinggi tidak berdaya sementara dia masih tertidur, mengambil «bagian ingatan» Alice yang seharusnya tersimpan di suatu tempat di ruangan, dan mengembalikan ingatan dan kepribadian gadis itu.

Akhirnya, aku akan membuat kontak dengan staff Rath di dunia nyata melalui system console dan membuat mereka mengetahui keseimbangan dari Underworld yang sekarang dan menghentikan «load experiment phase» yang akan datang—dengan kata lain, invansi terbesar dari tanah kegelapan...

Itu adalah rangkaian misi yang benar-benar sulit yang membuatku merasa pingsan hanya dengan memikirkan tentang itu. Aku tidak dapat melakukan apapun selain berpikir bagaimana tujuan itu memiliki persentase kurang dari lima puluh, tidak, tiga puluh persen kesempatan untuk sukses.

Tetapi, aku tidak dapat menahan untuk tidak mengambil tindakan lebih lama lagi. Periode waktu yang lama, sangat-sangat lama, di dua tahun yang kuhabiskan di Underworld, tidak, bahkan mungkin semenjak hari aku logged in di game kematian, SAO, justru, mungkin menjadi semua alasan untukku untuk bertemu dengan manusia baru seperti Eugeo, dan untuk mendapat alasan untuk melindungi mereka.

Kayaba Akihiko mengatakan ini sementara menatap pada Aincrad yang runtuh di langit senja yang merah. Bahwa dia ingin untuk menciptakan dunia alternative yang sebenarnya. Aku tidak memiliki rencana untuk mensukseskan tujuan orang itu, tapi apa yang dapat dikatakan «dunia alternative yang sebenarnya» telah mengambil tempat dihadapan mataku.

«The Seed», yang diturunkan padaku oleh copy dari kepribadian Kayaba membuat dunia VR tak terhitung tumbuh dan bermekaran di dunia nyata. Entah itu kebetulan atau tidak dapat dihindari, light cubes yang menyimpan jiwa Eugeo dan penduduk lain dari Underworld sangat cocok dengan penghubung dari The Seed. Jika aku mencari suatu jenis arti dari insiden SAO, dibalik apa yang Kayaba coba untuk dapatkan—aku pasti akan menemukannya di sini, di Underworld ini, itulah apa yang kurasakan.

Aku tidak lagi memiliki jalan untuk kembali. Setelah semua, aku telah datang hingga sedekat ini menuju tujuan akhir, lantai tertinggi dari Katedral Pusat, menghabiskan sepanjang dua tahun ini semenjak aku terbangun di hutan selatan di Rulid.

Tetapi, jika aku membawa kekhawatiran yang mendesak yang aku tidak dapat abaikan lebih lama lagi, tetapi itu mungkin sangat penting.

Itu akan menjadi meragukan jika aku hanya berkeinginan untuk menyelesaikan banyak tujuan dari dalam hatiku, itu akan menjadi salah satu dan satu-satunya pertanyaanku...

Sword Art Online Vol 13 - 145.jpg

"...Kau mengatakan ini beberapa saat yang lalu, bukan?"

Memeluk lututnya dengan matanya menghadap ke bawah, Alice berguman seperti itu.

Aku untuk sementara menghentikan pikiran rumit, yang melibatkan itu dan mengangkat wajahku. Suara lemah yang masih terdengar seperti tangisan datang padaku.

"Setelah dinding menara rusak dan kita terlempar keluar...kau mengatakan bahwa kalian telah merencanakan pemberontakan ini untuk memperbaiki kesalahan pemimpin tertinggi yang suci dan untuk melindungi Dunia Manusia."

"Yeah...aku mengatakannya."

Aku mengangguk pada rambut pirang yang terurai ke bawah di punggung Alice. Beberapa detik kemudian telah berlalu dalam keheningan pada saat itu, sebelum knight itu perlahan menggerakkan mulutnya.

"...Aku masih belum mempercayai semuanya yang telah kau ceritakan. Tetapi...Itu kelihatannya bahwa itu menjadi kebenaran bahwa minion dari tanah kegelapan telah dipasang di dinding luar dari menara...dan Integrity Knight bukanlah berasal dari Celestial World, tapi dikumpulkan dari Dunia Manusia dengan ingatan mereka telah tersegel. Itu dapat dikatakan...aku tidak dapat membantah pemimpin tertinggi yang suci telah menipu kita, pelayan setianya, selama ini..."

Nafasku terhenti dan aku mendengar secara sungguh-sungguh pada perkataan Alice.

Integrity Knight, dengan ingatan mereka telah tersegel dan piety module dimasukkan ke dalam fluct lights mereka, seharusnya terdorong pada kesetiaan yang mutlak kepada Administrator. Faktanya, tidak peduli bagaimana kerasnya Eugeo dan aku mencoba untuk meyakinkan mereka, tidak ada satupun Integrity Knight yang kita temui hingga sejauh ini dapat mengekspresikan secara lisan keraguan pada gereja.

Dengan pertimbangan itu di pikiran, itu benar-benar sangat mengejutkan bahwa Alice dapat mengatakan apa yang baru saja dia bilang. Apakah gadis ini benar-benar memiliki sesuatu yang tidak ada pada artificial fluct lights lainnya? Aku menatap padanya tanpa suara, melihat ke arah knight emas yang terus berbicara dalam bisikan sementara menahan bagian atas kedua kakinya.

"Tapi di sisi lain, itu benar bahwa perintah utama yang diberikan kepada kami Integrity Knight oleh pemimpin tertinggi yang suci adalah untuk bertahan melawan invansi dari Dark Territory. Lebih dari sepuluh Integrity Knight sementara bertarung di Puncak Barisan Pegunungan di atas naga terbang mereka bahkan sampai sekarang. Jika pemimpin tertinggi yang suci tidak membentuk Integrity Knight Order, Dunia Manusia akan diserang oleh tentara kegelapan."

"Itu..."

—Tetapi, itu, bukanlah bagaimana dunia ini seharusnya berjalan.

Sumber daya untuk perkembangan mereka dikuasai oleh Integrity Knight, atau untuk mengatakan dengan kata yang jelas, experience points, yang awalnya dimaksudkan untuk diberikan kepada orang biasa. Seperti apa yang Eugeo dan aku telah lakukan di gua utara, penduduk desa seharusnya mengambil pedang mereka dengan kemauan mereka dan bertarung dengan tentara goblin yang menginvansi, menjadi lebih kuat. Tetapi, Administrator telah mengambil potensi itu dari mereka.

Tapi dia tidak akan mengerti bahkan jika aku mengatakannya sekarang. Berbalik padaku yang sementara kehilangan kata-kata, Alice mengeluarkan suara yang lembut namun serius.

"Kau tadi mengatakan bahwa desa yang bernama Rulid, dimana aku lahir dan tinggal...dan dimana orangtua dan saudara perempuanku tinggal bahkan sampai sekarang, berada di perbatasan utara, lembah Puncak Barisan Pegunungan. Dengan kata lain, itu akan hancur secara langsung jika invasi dari Dark Territory dimulai. Siapa sebenarnya akan melindungi semua daerah perbatasan, termasuk Rulid, bahkan jika kalian berdua mengalahkan semua Integrity Knight dan menaruh pisau di tenggorokan pemimpin tertinggi? Jangan bilang padaku kalau kalian berdua berencana untuk menghancurkan tentara kegelapan hanya dengan kalian saja?"

Air mata dari kedua matanya masih belum mengering, tapi suara Alice memiliki keteguhan tulus di dalamnya dan aku tidak dapat memberikan jawaban dengan segera. Dibandingkan dengan tekad Alice yang secara jujur ingin untuk melindungi Dunia Manusia, ada jauh lebih banyak yang aku masih sembunyikan.

Menahan dorongan untuk memberitahu semuanya di sini—termasuk bagaimana dunia ini sebenarnya hanyalah buatan, aku membuka mulutku.

"Kalau begitu biarkan aku bertanya sebagai gantinya...Apa kau benar-benar mempercayai bahwa Integrity Knight Order, yang penuh persiapan terhadap serangan, dapat menahan serangan gabungan dari tentara Dark Territory tanpa sedikitpun keraguan?"

"........."

Alice adalah seseorang yang kehilangan kata-katanya untuk kali ini. Aku mengembalikan pandanganku pada langit malam di depanku dan melanjutkan berbicara sementara mengingat kembali ingatan dari dua tahun lalu.

"Aku mengatakan bahwa patnerku dan aku bertarung dengan kelompok goblin yang melewati dari Dark Territory, bukan? Bahkan melawan goblin, tentara terlemah dari tentara kegelapan, ilmu pedang mereka dan kekuatan brutal mereka patut ditakuti. Ada banyak jumlah mereka di Dark Territory dan diatas itu, itu dipenuhi dengan Darkness Knights yang menaiki naga terbang seperti kalian semua dan pengguna darkness arts dengan minion mereka, bukan? Jika mereka semua menyerang secara keseluruhan, bahkan jika semua Integrity Knight keluar, dengan pemimpin tertinggi sendiri mengikuti di belakang, tidak mungkin kalian mampu menahan mereka dengan tentara sekecil ini."

Sembilan puluh persen dari itu diturunkan oleh Cardinal, tapi itu kelihatannya Alice memiliki pikiran yang sama saat dia tidak langsung segera menjawab seperti yang biasa dia lakukan. Beberapa saat berlalu sementara itu dihabiskan dengan keheningan sebelum suara sedih dikeluarkan, wajahnya menghadap ke bawah.

"...Benar, bahkan oji-sama[2]...Bahkan Komandan Integrity Knight Bercouli kelihatannya telah memendam kekhawatiran yang sama di dalam hatinya. Tentara elite dari Dark Territory telah berjumlah sebanyak sepuluh ribu, dan jika mereka semua menyerang melalui «Great East Gate», Integrity Knight Order sendiri mungkin tidak akan mampu untuk menahan mereka kembali, dia bilang... —Tapi bahkan jika seperti itu, itu juga benar, bahwa Dunia Manusia tidak memiliki seorangpun dengan kemampuan bertarung yang hebat selain dari kami. Kau mengatakan bahwa anak dari bangsawan kelas atas telah mendapat pendidikan tentang pedang dan sacred arts sebelumnya,tapi mereka mengejar keindahan dari satu serangan yang akan sulit untuk bertahan di pertarungan sebenarnya. Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain selain kita Integrity Knight untuk bertarung di atas naga terbang kita, mempercayai perlindungan suci dari tiga dewi. Aku yakin kau telah mengerti situasinya, bukan?"

"Itu seperti yang kau bilang...Bahwa Dunia Manusia yang sekarang mungkin tidak memiliki kekuatan yang mampu untuk bertarung melawan tentara kegelapan selain dari Integrity Knight."

Aku menjawab dengan hati-hati, sementara masih melihat ke depan.

"Tapi situasi seperti itu dibuat oleh Administrator dari keinginannya. Pemimpin tertinggi takut pada kekuatan melebihi kekuasaan mutlaknya berkembang di Dunia Manusia. Itu alasan sebenarnya kenapa dia mengumpulkan juara dari Turnamen Persatuan dan pelanggar Taboo Index, menyegel ingatan mereka, dan mengubah mereka menjadi knight yang setia. Untuk mengatakan itu dengan kata yang lain, Administrator tidak mempercayai manusia di dunia ini, tidak sedikitpun."

"......!"

Itu kelihatannya Alice mengambil nafas dalam. Tapi dia tidak segera membantah seperti yang selalu dilakukannya. Berdoa bahwa perkataanku telah mencapai hati gadis itu, aku melanjutkan menyusun kata-kataku.

"Jika pemimpin tertinggi mempercayai manusia yang hidup di Dunia Manusia dan membentuk pasukan yang memiliki perlengkapan baik, membiarkan mereka untuk mendapat latihan yang cukup, tentara yang sebanding dengan tentara Dark Territory seharusnya ada di Dunia Manusia sekarang. Tetapi, pemimpin tertinggi tidak melakukannya. Dia memperbolehkan bangsawan kelas atas, yang seharusnya menjadi orang pertama yang mengambil pedang mereka ketika waktu bertarung telah tiba, untuk hidup bermalasan, hidup sesuai kehendak hati, yang lalu menyebabkan jiwa mereka menjadi mati... Seperti dua orang yang Eugeo dan aku tebas dengan mengayunkan pedang kita di Akademi Master Pedang."

Insiden dimana Raios Antinous dan Humbert Zizek membawa perbuatan memalukan pada kesopanan Tizei dan Ronie yang hanya dua hari telah berlalu. Jika load experiment phase telah sampai dengan tidak adanya perubahan pada situasi ini, dan Dunia Manusia akan terbuka dari serangan gabungan dari Dark Territory, tak terhitung tragedi seperti itu akan berkembang.

"Tapi...itu bukan berarti semuanya telah hilang. Masih ada waktu sampai tentara Dark Territory menyerbu, meskipun aku tidak mengetahui jika akan dimulai satu atau dua tahun...Jika Dunia Manusia mencoba sebaik mungkin untuk membuat tentara besar pada saat itu..."

"Hal seperti itu tidak mungkin untuk dapat terjadi!"

Alice akhirnya berteriak pada saat itu.

"Bukankah kau sendiri telah mengatakannya? Tentang bagaimana rusaknya dunia bangsawan itu sebenarnya?! Bahkan ketika diperintahkan untuk mengambil pedang mereka karena perang dimulai, keluarga empat kerajaan dan bangsawan kelas atas pasti hanya akan berpura-pura untuk patuh sementara melindungi hidup dan harta mereka sendiri."

"Yeah, tentu saja, sebagian besar bangsawan kelas atas mungkin tidak memiliki keberanian untuk bertarung dengan tentara kegelapan. Tapi bagian dari keluarga bangsawan kelas atas yang masih menyimpan harga diri mereka sebagai bangsawan dan masih banyak diantara bangsawan kelas rendah dan penduduk biasa yang memiliki keinginan untuk melindungi keluarga mereka dan kota...Dan dunia ini, dengan segala usaha. Jika sejumlah besar dari peralatan yang dikumpulkan di dalam menara ini semuanya telah didistribusikan diantara mereka dan Integrity Knight mengajarkan mereka, ilmu pedang sebenarnya yang sudah dipoles dan sacred arts, itu tidak akan mustahil untuk membuat tentara besar dalam waktu satu tahun."

"Penduduk...Biasa...?"

Aku mengangguk secara dalam pada Alice, yang berguman dengan kekaguman.

"Itu benar. Bahkan jika kau tidak memaksakan mereka untuk membantu dan hanya merekrut sukarelawan. Aku yakin kau dapat mengumpulkan cukup banyak orang. Maksudku, sudah ada kelompok penjaga di kota dan di desa baik di sini maupun di sana. Tapi...Jika hal ini terus berlanjut seperti biasa, tidak ada kesempatan bahwa itu dapat diwujudkan."

"......Pemimpin tertinggi yang suci...tidak akan mungkin dapat memaafkan itu."

"Yeah. Itu mungkin akan mustahil untuk berbicara denganya juga. Setelah semua, tentara yang Administrator tidak dapat paksa untuk setia kepadanya akan sama menakutkannya seperti tentara dari kekuatan kegelapan untuknya. Untuk menyatukannya, itu berakhir pada satu kesimpulan. Kita hanya dapat menghancurkan kontrol mutlak dari pemimpin tertinggi, Administrator, dan memanfaatkan penuh waktu yang tersisa sedikit untuk membangun pertahanan yang sebanding untuk melawan invansi yang akan datang."

Memebritahu Alice seperti itu dari sampingnya, aku tidak dapat melakukan apapun selain merasakan kesinisan yang besar.

Organisasi yang menciptakan Underworld dan melakukan eksperimen yang hebat ini, «Rath», kelihatannya seperti berhubungan erat dengan Kikuoka Seijirou, anggota aktif dari Self-Defense Forces. Jika memang begitu, tujuan dari eksperimen tanpa kesalahan mendekati dengan hubungan pertahanan nasional di dunia nyata. Aku bahkan dapat membayangkan mereka menggunakan artificial fluct lights itu sendiri, seperti Eugeo dan Alice, untuk mengontrol persenjataan, sebagai contoh.

Meskipun bagaimana aku tidak dapat menerima hal seperti itu, aku sekarang mengusulkan bahwa kita harus melatih sepuluh ribu manusia di Dunia Manusia menjadi tentara.

Tidak mengetahui sedikitpun rasa malu di dalam pikiranku, Alice mendapati mulutnya telah tertutup, kelihatannya untuk alasan yang terpisah dari milikku.

Gadis itu pasti menimbang diantara kesetiaannya pada Gereja Axiom yang terukir dalam jiwanya dengan kata-kata dari penyusup yang dia telah penjara dengan tangannya sendiri. Meskipun eksperesinya sangat tenang, dia pasti mengalami pertentangan dan kesedihan melebihi apa yang aku dapat bayangkan di dalam hatinya.

Tidak lama kemudian—

Kalimat pendek mencapaiku, terkirim oleh angin malam.

"...Dapatkah aku bertemu dengan mereka?"

"Eh...?"

"Jika aku bekerja sama denganmu...Dan mendapatkan kembali ingatanku yang tersegel, dapatkah aku bertemu dengan Selka...saudara perempuanku lagi?"

Aku dengan kuat menggigit bagian belakang gigiku dengan sekejap.

Bertemu. Bertemu dengannya sama sekali bukan masalah. Tapi...

Aku kehilangan kata-kata untuk memberitahu Alice entah prediksiku sebelumya benar atau tidak. Tetapi, aku pasti tidak dapat memperbaiki situasi ini dengan suatu kata-kata yang tidak bertanggung jawab. Memperkuat ketetapan hatiku, aku mengangguk pertama kali.

"...Kau dapat bertemu dengannya. Jika kau menaiki naga terbang, itu hanya akan membutuhkan waktu satu atau dua hari. Tapi...tolong, aku ingin kau mendengar ini secara hati-hati."

Aku menatap tajam pada wajah Alice saat dia duduk sekitar satu setengah meter jauhnya di sisi kananku, dan mengatakan kelanjutan dari kata-kataku.

"Seseorang yang akan bertemu kembali dengan Selka adalah kau, tapi bukan kau. Dengan sekejap kau mendapatkan kembali ingatanmu, kau akan kembali menjadi Alice Schuberg, sebelum kau melalui Synthesis Ritual, dan and Integrity Knight Alice Synthesis Thirty akan menghilang seperti itu. Kepribadianmu yang sekarang akan menghilang bersamaan ingatanmu ketika kau hidup sebagai Integrity Knight dan kau akan menyerahkan tubuh itu pada kepribadian aslimu...Ini kejam, tapi...Kau yang sekarang adalah «Alice Lain», yang diciptakan oleh tangan Administrator."

Bahu Alice tersentak beberapa kali pada saat mendengar perkataanku.

Tetapi, dia tidak terjatuh ke dalam tangisan. Beberapa detik kemudian, suara serak terdengar, seolah-olah dia mencoba sebaik mungkin untuk menahan emosi itu.

"...Bahkan semenjak aku mendengar tentang Integrity Knight telah diciptakan oleh pemimpin tertinggi yang suci...Aku selalu memikirkan bahwa itu akan menjadi sesuatu seperti itu. Aku telah mengambil tubuh ini dari gadis yang bernama Alice Schuberg dan secara tidak adil berada di dalam ini selama enam tahun...itulah bagaimana yang terjadi, bukan?"

Aku tidak dapat menemukan jawaban yang tepat. Meskipun pertentangan masih berkecamuk di dalam hatinya, Alice masih menunjukkan senyuman tegar.

"Apa yang telah diambil harus dikembalikan. Itu...seharusnya apa yang Selka, orang tuaku, temanmu...dan kau, dirimu, harapkan untuk terjadi."

"......Alice..."

"Aku hanya...memiliki satu permintaan, hanya satu."

"Apa itu...?"

"Sebelum tubuh ini dikembalikan ke pada kepribadian asli dari Alice...Dapatkah kau membawaku ke Desa Rulid? Dan bahkan jika sambil bersembunyi...Satu kali melihat sudah cukup. Aku ingin melihat Selka...saudara perempuanku tampak seperti apa, dan keluargaku juga. Jika kau dapat mengabulkan sebanyak itu, itu akan lebih dari cukup."

Menghentikan kata-katanya, Alice perlahan berbalik padaku dan melihat lurus ke arahku.

Pada saat itu, bulan yang telah terlihat pada langit bagian timur tanpa kusadari tiba-tiba menurunkan seberkas cahaya melalui awan. Kedua mata Alice melunak, memerah dan membengkak dari tangisan seperti anak kecil, dan tersenyum sekali lagi saat seluruh tubuhnya telah dikelilingi oleh kilauan emas. Aku tidak dapat menahan untuk melihat wajah itu lebih lama lagi dan mengalihkan pandanganku pada bulan di atas kepala.

Untuk mengembalikan ingatan Alice. Itu adalah salah satu dan satu-satunya keinginan dari patnerku yang tidak tertandingi, Eugeo. Dengan kata lain, mengikuti dengan hal itu, juga merupakan keinginanku.

Tetapi, itu akan akan menjadi sama halnya dengan kematian dari Integrity Knight...Tidak, gadis yang memeluk lututnya dengan sedih di sampingku. Korban yang tidak dapat dihindari dan rangkaian prioritas yang tidak dapat dihindari. Tidak ada satupun jalan yang tersisa untukku.

"Yeah...Aku akan berjanji padamu. Aku bersumpah akan melakukannya."

Sementara melihat ke arah langit malam, aku memberitahu dia seperti itu.

"Aku pasti akan membawamu menuju Rulid sebelum ingatanmu dikembalikan."

"...Pastikan kau melakukannya."

Mengalihkan pandanganku kembali pada Alice yang menegaskan permintaannya, aku mengangguk secara jelas.

Knight itu menjawab dengan anggukan singkat juga, sebelum dia mengambil nafas dalam, menaruh ekspresi tegas, dan berbicara.

"Aku mengerti. Baiklah, kalau begitu...untuk sekarang, untuk agar dapat melindungi Dunia Manusia dan penduduknya, aku, Alice Synthesis Thirty, akan mencabut misiku sebagai seorang Integrity Kni...gh...ah...!!"

Pernyataan hebat berubah menjadi teriakan yang menusuk secara tiba-tiba. Tubuhnya, terbungkus dengan armor emas, membungkuk ke belakang dan tangan kanannya menekan pada mata kanannya. Apakah wajahnya yang teratur diselimuti oleh suatu rasa sakit, yang sangat kuat tepat sekarang?

Meskipun aku terkejut, aku secara insting mengingat pemandangan yang aku lihat dua hari lalu saat aku berdiri dengan kakiku. Eugeo yang menebas second-ranked elite swordsman-in-training, Humbert Zizek, agar dapat menyelamatkan Tizei dan Ronie. Pada saat aku berlari ke dalam, mata kanannya telah menyembur keluar tanpa bekas, darah segar yang meyembur telah mengalir ke bawah pipinya seperti air mata berwarna merah tua.

Malam itu, Eugeo menceritakan tentang itu sedikit demi sedikit di ruang disiplin akademi. Pada saat dia mencoba menebas Humbert, tangan kanannya membeku seolah-olah itu bukan tangan kanannya dan mata kanannya terbakar dengan rasa sakit, dia mengatakan begitu. Dan dihadapan matanya, sacred letters yang tidak dikenalnya terlihat, bersinar merah tua—

Fenomena sama yang Eugeo bicarakan pada saat itu mungkin menyerang Alice sekarang. Itu kelihatan suatu jenis penahan psychological. Pemicunya akan menjadi perbuatan melawan peraturan yang terukir pada jiwa seseorang.

"Jangan memikirkan tentang apapun! Diamkan pikiranmu!"

Aku berteriak seperti itu sementara mendekati Alice dan memegang pada bahu kiri yang berarmornya dengan tangan kananku. Dan tangan kiriku menahan pergelangan tangan kanan knight yang tersiksa itu, dengan perlahan menarik itu dari mata kanannya.

"......!?"

Pada mata Alice yang seharusnya berwarna biru tua, aku melihat cahaya yang berkedip-kedip dan menelan nafasku. Aku melihat lebih dekat agar dapat memastikan bentuk sebenarnya dari cahaya itu.

Pada mata biru yang berbentuk lingkaran sempurna di mata kanan Alice yang terbuka lebar.

Kalimat sulit yang tersusun dalam pola lingkaran di bagian luar, bersinar merah sementara itu perlahan berputar. Tidak ada pola tertentu pada ketebalan kalimat itu dan cara penyusunannya, juga, sangatlah acak. Seolah-olah—itu adalah bar code[3].

Aku memiliki dugaan bahwa seseorang yang memasukkan penghalang psychological pada penduduk Underworld adalah pemimpin tertinggi, Administrator, bahkan semenjak aku mendengar cerita itu dari Eugeo. Tetapi, aku benar-benar tidak memiliki ingatan dari melihat sesuatu yang menyerupai bar codes selama dua tahun ini.

—Itu tidak dilakukan oleh Administrator...? Tapi jika memang begitu, jadi siapa...?

Hingga pada saat itu, ketika aku mengeluarkan nafas pelan.

Bar code lingkaran itu mengurangi putarannya dan menarik kalimat horizontal dari simbol aneh di atas pupil Alice yang berkontraksi. Rangkaian huruf yang ada di permukaanya, bersinar merah tua, kelihatan tertulis [SYSTEM ALERT] [4].

Aku beberapa saat kebingungan tentang apa maksudnya, tapi aku dengan segera menyadarinya.

Itu adalah teks di cermin. Di mata Alice, tepat di bawah kalimat teks itu, seharusnya dilihat secara horizontal secara terbalik. Dengan kata lain, itu mengatakan [SYSTEM ALERT].

System alert. Untukku, itu adalah peringatan tidak menyenangkan, yang kukenal, yang muncul dari dulu dan sekarang ketika menggunakan PC[5], tapi itu seharusnya kalimat yang tidak berarti apa-apa bagi penduduk Underworld, seperti Alice. Di dunia ini, hanya «Pengucapan Umum»—yang berarti Bahasa Jepang, telah digunakan di kehidupan sehari-hari, sementara Bahasa Inggris, «Pengucapan Suci», dianggap oleh kebanyakan penduduknya sebagai sesuatu yang mustahil dan tidak berguna untuk dimengerti.

Jika seseorang mempelajari sacred arts, meskipun seseorang itu akan mampu untuk mengucapkan berbagai kosa kata Bahasa Inggris, yang dimulai dari kalimat awal «system call», aku meragukan bahwa orang itu juga akan menyadari arti sebenarnya yang dimiliki kata itu. Aku telah mengajarkan Eugeo arti dibalik dari nama skill untuk secret moves dari Aincrad style, sword skills, tapi dia selalu menemukan bahwa itu aneh tentang bagaimana aku memiliki pengetahuan dari Pengucapan Suci.

Singkatnya, rangkaian huruf, SYSTEM ALERT, akan menjadi tidak masuk akal bagi penduduk Underworld. Dengan kata lain, seseorang yang memasukkan penahan psychological pada Alice, Eugeo dan penduduk lainnya bukanlah Administrator, tapi manusia dari dunia nyata—yaitu, seseorang di dalam staf Rath, aku rasa itu akan menjadi bagaimana seharusnya...

Pikiranku yang beputar dengan cepat telah terpotong oleh teriakan lemah Alice dari jarak yang sangat dekat.

"Aaah...mata kananku, terbakar...! Dan...ini adalah...huruf-huruf...!?"

"Jangan memikirkan tentang apapun! Kosongkan pikiranmu!!"

Meneriakkan itu dengan kebingungan, aku memegang wajah Alice diantara kedua tanganku.

"Apa yang terjadi padamu mungkin sama dengan penahan psychological yang diaktifkan ketika kau mencoba untuk meragukan gereja. Itu seharusnya mencoba untuk mendorongmu pada kepatuhan mutlak dengan menyebabkan rasa sakit pada mata kananmu...bola matamu akan menyembur keluar jika kau melanjutkan memikirkannya!"

Sword Art Online Vol 13 - 161.jpg

Itu hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menjelaskan itu, tapi jika memang begitu, menyuruh itu secara mendesak mungkin justru akan membawa efek sebaliknya. Tidak ada manusia yang cukup tertib dapat menghentikan pikiran mereka ketika diberitahu seperti itu.

Saat mendengar suaraku, Alice menutup kedua matanya dengan rapat. Tapi kata-kata merah yang diproyeksikan pada matanya mungkin tidak akan menghilang hanya dengan itu. Tangan knight meraba-raba di udara dan menggenggam bahuku pada saat itu menemukannya. Ototku menjadi mengerut dari kekuatan tangan yang sangat kuat yang ditaruh padanya setiap kali teriakan samar-samar keluar darinya, tapi ini sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang Alice harus rasakan.

Memekirkan bahwa itu akan membantu jika aku dapat menenangkan pikirannya, aku mengalihkan setengah pikiranku untuk memikirkan metode apapun yang dapat digunakan bahkan saat aku dengan erat memegang wajah Alice diantara kedua telapak tanganku.

Alice dan beberapa Integrity Knight lainnya telah melanggar Taboo Index sekali. Setelah semua, mereka diambil pergi oleh Gereja Axiom dan melalui Synthesis Ritual dikarenakan itu.

Tetapi, Alice, yang secara khusus, seharusnya tidak mendapati mata kanannya tersembur keluar ketika dia melakukan tabbo «Melewati batas ke Dark Territory» delapan tahun lalu. Aku tidak pernah mendengar apapun tentang suatu hal seperti itu dari Eugeo. Menurut penjelasannya, Alice muda yang kelihatannya berjalan terhuyung-huyung pada garis perbatasan tanpa berpikir. Dengan kata lain, itu akan berarti tujuan jelas untuk melakukan taboo bukanlah pikiran Alice pada saat itu.

Penahan psychological yang sekarang menyerang Alice kelihatannya beraksi untuk tujuan melindungi dari melnggar aturan yang diberikan padanya. Pada saat seseorang memiliki tujuan seperti itu, mata kanannya akan menjadi pertama yang kesakitan dan SYSTEM ALERT berwarna merah lalu membuat pikiran targetnya menjadi kacau, menanam kesadaran lebih dalam terhadap tabbo untuk sekali lagi. Membuat penahan psychological seperti ini hanya dapat dipikirkan sebagai pekerjaan dari tuhan pada penduduk Underworld yang pada dasarnya tidak melanggar hukum yang kelihatannya akan memperkuat ketaatan mereka hingga tanpa akhir.

Tapi jika penahan psychological ini telah diturunkan oleh staf Rath, itu akan membawa pertentangan yang besar.

Setelah semua, tujuan dari eksperimen yang dilakukan di Underworld ini kelihatannya untuk menciptakan artificial fluct lights yang mampu untuk menilai di antara benar dan salah dari peraturan yang diberikan pada mereka. Bahkan setelah penduduk Underworld telah mencoba sekeras mungkin untuk menerobos, kekuata kuat telah menghalau mereka dengan ketidaktelitian seperti ini, penahan psychological yang hebat ini hanya akan dianggap sebagai campuran prioritas mereka.

Dengan kata lain, seseorang yang telah memasukkan system alert ini dengan maksud tertentu menghambat kesuksesan dari eksperimen ini—apakah seperti itu?

Jika memang begitu, siapa sebenarnya orang itu dan untuk tujuan apa?

Heathcliff...Kesadaran duplikat dari Kayaba Akihiko muncul di pikiranku dalam sekejap, tapi aku dengan segera menolak dugaan itu. Dia dan tujuannya adalah untuk menciptakan dunia alternative yang sebenarnya tidak akan menghalangi perkembangan dari artificial fluct lights. Bahkan sejak awal, metode kaku seperti ini bukanlah gaya orang itu. Aku merasa bahwa ini merupakan suatu pengaruh atau sabotase pribadi terhadap organisasi, Rath.

Aku dapat membayangkan keberadaan dari berbagai kekuatan yang bermusuhan jika seseorang yang mengatur Rath adalah anggota Self-Defense Forces, Kikuoka Seijirou. Sebagai contoh, kelompok dengan perlawan dari dalam terhadap Kikuoka di dalam Self-Defense Forces, perusahaan besar yang memonopoli industri pertahanan dalam negeri, atau jika aku membiarkan imajinasiku berpikir lebih jauh, bahkan perusahaan senjata asing atau badan intelijen bukanlah pengecualian.

Tetapi, jika sekelompok yang berpengaruh itu telah berencana untuk menganggu Rath, bukankah mereka mengambil tindakan yang rumit? Jika mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk memasukkan program penghalang pada artificial fluct lights, bukankah mereka dapat mengatasinya dengan cepat dan menghancurkan Light Cube Cluster, tubuh sebenarnya dari Underworld?

Dengan kata lain, itu akan berarti seseorang itu bermaksud memperlambat eksperimen tanpa keinginan untuk benar-benar menghapusnya. Apakah orang itu menunggu sesuatu dengan memperlambat eksperimen? Sesuatu pada berskala besar yang membutuhkan banyak persiapan—sebagai contoh. Pencurian hasil dari eksperimen, termasuk Light Cube Cluster itu sendiri.

Saat aku mencapai kesimpulan itu, suara lemah Alice, yang ketakutan tiba-tiba datang dari anatara kedua tanganku.

"...Mengerikan..."

Kembali terkejut, aku melihat ke bawah pada wajah Integrity Knight itu.

Alisnya yang selalu memperlihatkan garis anggun telah tertekan erat secara bersamaan, tetesan dari air mata berada di ujung matanya, dan dia telah menggigit mulutnya dengan kekuatan yang cukup untuk mengeluarkan darah.

Mulut pucatnya bergemetar dan mengeluarkan kata-kata yang teputus-putus sekali lagi.

"Ini...Mengerikan...untuk tidak hanya ingatanku, tapi kesadaranku, juga...telah dimanipulasi oleh...orang lain..."

Menggenggam bahuku, kedua tangan Alice dengan kuat bergetar dengan kesedihan, atau mungkin kemarahan.

"Seseorang...yang memasang sacred letters merah ini pada mataku...apakah dia...pemimpin tertinggi...?"

"Tidak...Aku tidak berpikir seperti itu."

Aku tanpa sadar menggelengkan kepalaku.

"Itu adalah keberadaan yang menciptakan dunia ini dan mengawasinya dari luar...salah satu diantara «tuhan» yang tidak membuat kemunculannya pada saat penciptaan dunia yang diketahui ini."

"...Tuhan..."

Air mata dengan jelas mengalir keluar dari mata Alice tanpa suara.

"Jadi tuhan tidak akan mempercayai kita...Bahkan setelah kita, Integrity Knight, menghabiskan hari yang tak terhitung jumlahnya dengan bertarung tanpa akhir untuk melindungi dunia ini yang mereka ciptakan. Mengambil ingatan tentang keluargaku, saudara perempuanku, dan di atas dari itu, memasang segel seperti ini padaku...Memaksaku pada kepatuhan..."

Aku bahkan tidak dapat membayangkan berapa banyak keterkejutan, kebingungan, dan keputusasaan Alice yang hidup sebagai knight dari tuhan yang pasti dirasakannya sekarang. Kelopak mata Alice tiba-tiba terbuka dengan cepat saat aku melihat ke arahnya tanpa mengatakan satupun kata, tidak dapat untuk bernafas.

Kata horizontal, di cermin yang ada di mata biru di mata kanannya bahkan bersinar lebih terang sekarang. Tetapi, Alice kelihatannya tidak memiliki keinginan untuk memperhatikannya, hanya menatap pada langit di depannya—pada bulan yang berwarna putih kebiru-biruan yang melayang diantara awan hitam.

"Aku bukan bonekamu!"

Tetapi meskipun bagaimana seraknya itu, Alice masih berteriak dengan harga dirinya.

"Memang benar, aku mungkin adalah keberadaan yang diciptakan oleh tangan seseorang. Tapi aku memiliki kesadaranku juga! Aku ingin melindungi dunia ini...Aku ingin melindungi semua orang yang hidup di dunia ini. Aku ingin melindungi keluarga dan saudara perempuanku. Itulah salah satu dan satu-satunya misi yang aku akan perjuangkan!"

Cahaya dari teks di mata kanannya mulai meningkatkan terangnya sementara mengeluarkan suara menusuk, metal. Bar code terukir pada bagian luar dari matanya, juga, mulai berputar dengan cepat.

"Alice..."

Menduga bahwa fenomena itu dapat terjadi kapan saja pada saat sekarang, aku meneriakkan itu.

Tanpa mengalihkan pandangannya padaku, Alice membisikan dengan suara yang tertahan.

"Kirito...tahan aku dengan kuat."

"......Baiklah. "

Aku tidak dapat melakukan apapun selain mengangguk. Melepaskan tanganku dari wajah Alice, aku menggerakkan itu pada armor yang ada di bahunya. Dengan kuat menahan tubuh knight itu yang bergemetar dengan sedikit sentakan dibalik armor emas itu.

Alice menguraikan rambut panjang, pirangnya sekali, sebelum dengan bangga menatap pada langit dan mengambil nafas dalam.

"Pemimpin tertinggi, Administrator...Dan kau tuhan tidak bernama!! Untuk tujuan yang aku harus capai...Aku akan melawan kalian!!"

Sebuah pernyataan yang tidak terikat memiliki gema yang halus.

Pada saat itu menghilang, sinar dari cahaya merah tua tertinggal di mata kanan Alice.

Percikan darah hangat mengenai pipiku.

Bagian 2[edit]

Eugeo.

Eugeo..

Apa yang terjadi?

Apa kau mendapat mimpi buruk...?


Cahaya orange menyala di dalam lampu dengan suara pelan.

Berdiri di suatu aula, Eugeo mendapati setengah dari bagian wajahnya telah terbenam pada bantal yang ada di dipegang kedua tangannya dan mengintip pada ruangan itu melalui pintu yang sedikit terbuka seolah-olah dia sedang menyembunyikan tubuhnya.

Disana terdapat dua tempat tidur kayu, yang sederhana di runagan yang pasti benar-benar tidak dapat dikatakan luas. Di sebelah kanan sama sekali kosong, dengan seprai tempat tidur yang baru saja dicuci dengan bersih terbentang rapi di sana.

Dan satu, bayangan langsing berada pada tempat tidur di sebelah kiri, melihat ke arah Eugeo dengan bagian atas tubuhnya terangkat. Wajahnya tidak dapat terlihat dengan baik disebabkan oleh cahaya dari lampu yang dibawa tangan kanannya. Dari pakaian mengkilap, putih murninya, pakaian yang sedikit terbuka dengan potongan di lehernya, memperlihatkan kulit mulusnya yang bahkan terlihat pucat. Rambut panjangnya yang terurai di tempat tidur terlihat halus seperti sutra.

Mulut mengkilapnya, yang baru saja terlihat dibalik cahaya orange, memperlihatkan senyuman lembut.


Itu sangat dingin di sebelah sana, bukan? Datanglah, datanglah mendekat, Eugeo.


Seprai halus yang terangkat kelihatannya dipenuhi dengan kegelapan hangat, yang menempel di sana, membuatnya jauh lebih menyadari hawa dingin yang membeku mengalir melalui koridor itu. Kakinya melangkah melewati pintu masuk sebelum dia mengetahuinya dan Eugeo mengarah pada tempat tidur dengan langkah kaki yang tidak pasti.

Lampu itu anehnya menjadi padam saat dia mendekat, menyembunyikan wajah dari perempuan yang berbaring di tempat tidur dengan kegelapan dingin. Tapi pikiran Eugeo hanya dipenuhi dengan keinginan untuk mendekat menuju kegelapan hangat itu dan menggerakkan kakinya sesuai keinginannya. Langkah kakinya sedikit demi sedikit menjadi lebih lebar saat pandangannya sedikit demi sedikit menjadi lebih gelap, tapi dia tidak merasakan bahwa itu sangat aneh.

Tempat tidur yang dia baru saja sampai benar-benar sanga tinggi dan Eugeo melemparkan ke bawah bantal yang dia genggam, melangkah pada itu dengan usaha untuk memanjatnya.

Pada saat itu, kain lembut yang berkibar padanya dari atas dan menenggelamkan pandangannya di kegelapan. Seolah-olah mendorong keinginannya, Eugeo merangkak ke dalam dan lebih dalam menuju kegelapan itu.

Jarinya yang terulur itu telah menyentuh dengan kulit hangat dan lembut itu.

Eugeo tanpa sadar memeluk itu dan menenggelamkan wajahnya pada itu. Kulit halus itu dengan lembut menekannya, seolah-olah itu menyelimuti Eugeo.

Dipandu oleh perasaan kepuasan yang memikatnya dan kerinduan yang beberapa kali lebih berpengaruh, Eugeo dengan erat menempel pada itu. Merasakan tangan halus yang memeluk punggungnya dan tangan lainnya mengusap kepalanya, Eugeo bertanya dengan suara kecil.

"Ibu...? Apa itu kau, ibu?"

Jawabannya langsung datang dengan sekejap.


Ya...Aku adalah ibumu, Eugeo.


"Ibu...Ibuku..."

Menenggelamkan diri bahkan lebih dalam pada kegelapan yang hangat dan lembab, Eugeo berguman seperti itu.

Keraguan yang melayang seperti gelembung, dari ujung bagian dasar pikirannya yang paling kaku, dan muncul.

Apakah ibuku...Pernah selangsing dan selembut ini? Kenapa kedua tangan yang seharusnya telah bekerja di lahan pertanian hari demi hari tidak memiliki satupun goresan padanya? Dan...Apakah ayahku yang seharusnya telah tertidur di tempat tidur di sebelah kanan telah pergi ke suatu tempat? Dimana saudaraku yang selalu hendak tidur di waktu aku mencoba untuk membuat ibuku memanjakanku...?

"Apa itu benar-benar kau...Ibu?"


Ya, Eugeo. Ini adalah ibumu dan satu-satunya ibumu.


"Tapi...Dimana ayah? Dimana saudara-saudaraku?"


Hehe.

Sungguh anak yang sangat aneh.

Semua orang.

Bukankah mereka semua telah dibunuh olehmu, bukan?


Tiba-tiba, jarinya terasa sangat basah.

Eugeo membuka lebar tangan kiri dan tangan kanannya. Mengangkatnya di hadapan matanya.

Meskipun kurangnya cahaya, dia dapat dengan jelas melihat darah merah gelap yang dengan lengket menetes dari sepuluh jarinya.

"...Aaaaaaah!"

Eugeo melompat ke atas dengan teriakan itu.

Dia teralihkan pada mengusap kedua tangan lengketnya pada bajunya. Hanya setelah mengusapnya beberapa kali sambil berteriak, dia menyadari bahwa sesuatu yang basah pada tangannya bukanlah darah, tapi hanya keringat.

Apakah itu mimpi—bahkan setelah mencapai pada kesimpulan itu, dia masih membutuhkan waktu sebelum dia berpikir untuk menahan hatinya, yang berdetak seperti bel alarm, dan keringat dingin yang merembes keluar dari dalam dirinya. Ingatan yang tetap ada dari mimpi buruk absurd yang benar-benar mengerikan menempel di punggungnya dengan tidak ada tanda-tanda menghilang.

—Ibu dan ayah...Aku bahkan tidak pernah memikirkan mereka semenjak aku meninggalkan desa.

Berguman seperti itu di dalam hati, Eugeo menutup kedua matanya dengan rapat dan menjaga nafasnya agar tetap tenang.

Ketika dia masih anak kecil di Rulid, ibunya bekerja di lahan pertanian, merawat domba, dan bahkan melakukan pekerjaan rumah di atas dari itu, sangat jarang memeluk lembut pada Eugeo. Mereka selalu tidur di tempat tidur yang berbeda bahkan sebelum dia mencapai dewasa dan Eugeo tidak memiliki ingatan untuk tidak puas pada hal itu.

—Jadi kenapa aku melihat mimpi seperti itu setelah semua...

Eugeo dengan kuat menggelengkan kepalanya dan menghentikan bekas pikirannya. Mimpi berasal dari perbuatan Dewi bulan, Lunaria. Mimpi buruk ini pastinya tidak memiliki pengaruh penting.

Setelah nafasnya menjadi sedikit lebih tenang, keraguan pada lokasinya sekarang mengalir keluar. Dia perlahan mengangkat kelopak matanya sementara masih meringkuk di bawah.

Apa yang pertama kali memasuki pandangannya adalah karpet merah tua dengan sejumlah kepadatan yang menakjubkan dan pola rumit yang tertenun padanya. Karpet yang bahkan dia tidak dapat memperkirakan harganya, jika membelinya dari took tekstil di distrik kelima Centoria Utara, memanjang dan terus memanjang di pandangannya tidak peduli bagaimana kerasnya dia mencoba untuk menemukan ujungnya.

Dia akhirnya melihat dinding dari kejauhan hanya setelah dia melihat lurus ke depan.

Bahkan jika itu adalah dinding, itu tidak terbuat dari kayu maupun batu. Pilar emas dengan bentuk pedang raksasa berdiri secara teratur dengan kaca jendela dimasukkan diantaranya. Karenanya, itu sebenarnya dapat dianggap sebagai barisan dari jendela dibandingkan dengan dinding, tapi ruangan dimana kaca yang berharga dapat digunakan secara bebas bahkam tidak dapat ditemukan istana dari empat raja, bukan? Tak terhitung, awan, biru gelap oleh cahaya bulan, melayang dibalik dinding yang seluruhnya terdiri dari kaca. Ruangan ini kelihatannya lebih tinggi dibandingkan dengan awan.

Dia melihat bulan purnama berrwarna putih kebiruan melayang di ujung dari langit malam ketika dia membawa pandangannya ke atas. Sejumlah besar bintang yang menakjubkan dengan tenang berkilauan di sekitarnya. Cahaya yang mengalir turun dari langit banyak dipenuhi dengan bintang yang jauh terlalu terang, dia mengambil waktu sebentar sebelum menyadari bahwa itu sudah tengah malam. Menilai dari tinggi bulannya, itu seharusnya sudah sedikit lewat dari jam dua belas. Tanggal yang kelihatannya telah berubah sementara dia tertidur dan itu sudah tanggal dua puluh dari bulan kelima sekarang.

Akhirnya, Eugeo melihat ke arah atas. Langit-langitnya yang membentuk lingkaran sempurna jauh dari atas dan dia tidak dapat melihat tangga apapun yang menuju lantai berikutnya. Itu hanya dapat berarti bahwa ruangan ini adalah ruangan pemimpin tertinggi dari Katedral Pusat.

Langit-langit yang lebar itu dengan jelas melukiskan bagian seni yang hebat. Knights bersinar dengan cahaya, monsters yang telah terusir pergi, dan Puncak Barisan Pegunungan yang membelah bumi...Itu kelihatannya adalah ilustrasi cerita dari penciptaan dunia. Setiap tempat bahkan memiliki kristal yang melekat di sana, berkilauan seperti bintang.

Tapi untuk suatu alasan, keberadaan yang seharusnya pasti menjadi sesuatu yang penting dari topik lukisan itu Stacia, dewi pencipta, tidak berada di tengah sebagaimana dia seharusnya berada. Bagian itu hanya dilukis berwarna putih murni dan apa yang kelihatannya akan menjadi kosong pada pengatur dari seluruh lukisan itu.

Eugeo mengerutkan dahinya untuk sebentar sebelum berbalik. Mengangkat bagian atas tubuhnya dari posisi merangkak, punggungnya bersentuhan dengan sesuatu dan dia melihat ke arah belakang dengan kebingungan.

"......!?"

Eugeo kehilangan kata-kata, dengan tubuhnya masih meringkuk. Tepat di sampingnya adalah sisi dari tempat tidur besar yang sangat menakjubkan.

Tempat tidur itu, berbentuk lingkaran seperti ruangan ini, kelihatannya memiliki ukuran mendekati sepuluh mel. Empat pot emas yang tersandar pada kanopi, yang berwarna emas juga, dan tirai ungu, yang tipis tergantung pada itu, yang tersambung satu sama lain. Seprai tempat tidur yang putih bersih, yang menyerupai sutra dari kerajaan barat, menutupi tempat tidur itu dan samar-samar bersinar dengan cahaya bintang yang mengalir masuk dari jendela.

Dan—sesosok bayangan terbaring di tengah-tengah tempat tidur. Dia tidak dapat melihat lebih dari garis yang kabur, yang terhalangi oleh kain tipis, bening yang tergantung dari kanopi.

Eugeo menelan nafasnya dan tubuhnya tersentak ke atas. Dia tidak dapat mempercayai bahwa dia tidak menyadari kehadiran dari orang lain, meskipun itu sangat dekat untuk beberapa menit. Tidak, bahkan sebelum memikirkan itu, dia kelihatannya telah tertidur selama satu jam, membaringkan diri pada tempat tidur ini. Cukup bagaimana itu dapat berakhir seperti ini—

Mencapai titik itu di dalam pikirannya, Eugeo akhirnya mengingat pemandangan terakhir yang tersisa di ingatan tidak jelasnya.

—Itu benar...Aku bertarung dengan pahlawan dari cerita lama...Dengan Komandan Integrity Knight Bercouli.

—Aku terjebak dengan Komandan Integrity Knight di dalam es yang disebabkan oleh dari «art melepaskan ingatan» Blue Rose Sword...Lalu orang kecil yang memakai pakaian badut yang terlalu mencolok muncul sebelum Life kita menjadi habis...keluhatannya dipanggil Kepala Pemimpin Chudelkin, yang mengatakan hal yang aneh. Lalu dia menginjak pada mawar es dengan sepatunya saat dia mendekat...Dan setelah itu...

Itu kelihatannya ingatannya telah berhenti di sana. Badut itu mungkin telah membawa di ke sini, tapi dia tidak tahu kenapa alasannya. Dia secara insting menyentuh sekitar pinggangnya, tapi Blue Rose Sword telah menghilang di suatu tempat.

Menahan perasaan ketidakberdayaan yang menyerangnya pada saat itu, Eugeo memfokuskan pandangannya pada sesosok bayangan di tempat tidur. Apakah dia musuh, atau teman...Tidak, ini tanpa kesalahan adalah Katedral Pusat, dan kemungkinan ini semua adalah lantai tertinggi. Siapapun yang ada di tempat seperti ini tidak mungkin dapat menjadi teman.

Dia menduga bahwa itu akan lebih baik melarikan diri dari ruangan sementara merendahkan suara langkah kakinya sekarang, tapi keinginan untuk mengetahui identitas dari sesosok orang yang tertidur lebih kuat. Tetapi, tidak peduli bagaimana jauhnya dia mengulurkan tangannya, dia tidak dapat melihat wajah yang tersembunyi dibalik kain tipis yang tergantung di bagian tengah dari tempat tidur.

Menahan nafasnya, dia perlahan menaruh lutut kanannya pada kasur.

Tenggelam lebih dalam pada seprai sutra putih seolah-olah itu adalah salju, Eugeo mengulurkan tangannya dengan panik. Tangan itu, juga, berakhir tenggelam pada kain yang halus.

Mimpi buruk mengerikan dari waktu sebelumnya dengan jelas kembali pada Eugeo saat dia merasa dirinya tertelan oleh tempat tidur itu dan punggungnya tanpa sadar bergemetar sebelum dia perlahan mengangkat kaki kirinya pada tempat tidur juga. Mendapati meangkak seperti itu, dia perlahan, perlahan menuju pada bagian tengah.

Dengan hati-hati merangkak melewati tempat tidur yang benar-benar sangat besar itu, Eugeo tidak dapat melakukan apapun selain membayangkan bagaiamana besarnya dari barang berkualitas tinggi yang telah diselipkan, di bawah kain itu. Itu membutuhkan waktu setengah tahun untuk membuat satu, tempat tidur tipis setelah perlahan mengumpulkan bulu yang keluar dari bebek peliharaan yang dipelihara di lahan belakang milik keluarganya di Desa Rulid, hari demi hari.

Menghentikan gerakannya di depan kain tipis yang tergantung dari kanopi untuk sesaat, Eugeo mengalihkan perhatiannya pada pendengarannya. Meskipun itu sangat samar-samar, dia dapat mendengar suara nafas secara teratur. Itu kelihatannya orang lain itu masih tetap tertidur.

Dengan takut, dia mengulurkan tangan kanannya. Menempelkan jarinya di balik kain tipis itu, dia perlahan, perlahan mengangkat itu ke atas.

Pada saat cahaya putih kebiruan mencapai bagian tengah dari tempat tidur itu, Eugeo membuka lebar kedua matanya.

Seorang perempuan terbaring di sana.

Memakai pakaian tipis dengan warna ungu muda—warna yang benar-benar sama seperti «Stacia Window»—dan dijahit dengan benang perak, dia memiliki tangan, putih yang ramping memeluk tubuhnya. Tangan dan jarinya sangat ramping seperti boneka, tapi dua tonjolan yang tertopang dengan kain tipis dengan segera terangkat secara besar dan dia mengalihkan pandangannya dengan panik. Dadanya, yang mengintip keluar dari bagian lehernya yang terbuka tanpa penghalang, juga, bersinar putih.

Pada akhirnya, Eugeo melihat ke arah wajah perempuan yang tertidur itu.

Sensasi seperti jiwanya telah tersedot keluar darinya pada saat itu juga dan semua hal telah meninggalkan pandangannya.

Bagaimana itu dapat sangat sempurna? Dia berpikir bahwa itu melebihi batas dari manusia. Integrity Knight Alice, yang dia lawan di lantai kedelapan puluh, tanpa kesalahan memiliki penampilan yang sangat bagus juga, tapi kecantikannya masih berada di dalam batas manusia. Itu cukup normal, Alice adalah manusia, setelah semua.

Tetapi, keberadaan yang tertidur hanya beberapa mel jauhnya adalah—

Dapatkah pemahat terhebat di pusat bahkan dapat membawa seni seperti ini setelah seluruh usaha selama hidupnya? Eugeo tidak dapat menemukan kata-kata yang dapat mendeskripsikan bahkan sedikit bagian dari kecantikannya. Bahkan jika dia mencoba untuk menyamakan mulutnya dengan bunga, maka bunga dengan lengkungan seindah itu tidak dapat ditemukan dimanapun di Dunia Manusia.

Kedua alisnya tersusun di atas kelopak matanya yang tertutup dan rambut panjangnya terurai pada seprai seolah-olah itu telah dicat dengan perak murni. Itu menyebarkan sinar dingin, memantulkan warna biru dari kesuraman dan warna putih dari cahaya bulan.

Sebelum dia mengetahuinya, Eugeo mendapati pikirannya telah tercuri, seperti lalat yang tertarik oleh madu manis.

Hanya keinginan untuk menyentuh tangan ini, rambut ini, pipi ini yang memenuhi pikiran kosongnya.

Ketika dia dengan perlahan mendekat dengan menggerakkan lututnya, aroma harum yang dia tidak pernah rasakan sebelumnya perlahan melayang di udara.

Jari di tangan kanannya yang terulur akan mencapai itu sedikit lagi...mencapai kulit halus dalam waktu sedikit...


Kau tidak boleh melakukannya, Eugeo.

Lari!


Dia mendengar suara seseorang dari suatu tempat yang jauh.

Kembang api kecil meledak di pusat pikirannya dan menyapu suatu kabut tebal yang menyelimuti kesadarannya. Eugeo membuka matanya dan secara insting menarik kembali tangan kanannya.

—Suara ini...Dimana aku mendengar suara itu sebelumnya...

Saat dia memikirkan itu dengan kebingungan, kemampuannya untuk berpikir perlahan kembali padanya.

—Apa...yang telah terjadi padaku...? Apa yang aku lakukan di sini...?

Dia merendahkan pandangannya pada perempuan yang ada dihadapannya sebelum mengkonfirmasi situasi yang dia alami sekarang dan apa yang menyerupai rasa kantuk, yang menempel secara dalam di kepalanya merambat sekali lagi. Mengalihkan pandangannya dengan panik, dia dengan kuat menggelengkan kepalanya untuk melawannya.

—Pikir. Pikir.

—Aku seharusnya mengetahui orang ini. Seseorang yang tertidur sendiri di tempat tidur mewah dari lantai tertinggi dari Katedral Pusat. Dengan kata lain, seseorang yang memegang kekuasaan tertinggi di Gereja Axiom—tidak perlu dibilang bahwa dia adalah seseorang yang memimpin semuanya di Dunia Manusia...

Dengan kata lain, pemimpin tertinggi, Administrator.

Eugeo mengulangi nama yang dia akhirnya ingat tak terhitung jumlahnya di pikirannya.

Pelaku dibalik mengambil pergi Alice, mengambil ingatannya, dan mengubah dia menjadi Integrity Knight. Pengguna sacred arts terhebat yang bahkan penyihir yang memiliki kekauatan tak terukur, Cardinal, sama sekali bukan tandingannya. Musuh terbesar Eugeo dan Kirito.

Dan Administrator itu telah tertidur di hadapan matanya.

—Dapatkah aku menang...untuk sekarang...?

Dia menggerakkan tangan kirinya yang bergetar menuju pinggangnya tanpa berpikir, tapi Blue Rose Sword tidak ada di sana. Entah itu dicuri oleh Kepala Pemimpin, Chudelkin, atau mungkin masih berada di bawah es yang menutupi semua pemandian besar itu. Bahkan jika musuhnya tertidur, tanpa senjata, dia tidak dapat...

Tidak.

Dia masih memiliki satu. Pisau yang sangat kecil tapi lebih kuat dibandingkan dengan sacred tools dalam arti tertentu.

Eugeo menggerakkan tangan kirinya dari pinggangnya menuju dadanya dan dengan pelan menekan pada kain bajunya. Sensasi yang jelas dari salib keras yang membuat itu sendiri dikenal pada telapak tangannya. Kartu truf terakhir yang diberikan oleh Cardinal.

Jika pisau ini ditusukkan pada tubuh Administrator, dia seharusnya terbakar hingga mati dengan sekejap dari art menyerang yang dikirim Cardinal, melewati ruangan itu.

"......gh..."

Tapi Eugeo mengeluarkan nafas keputusasaannya sementara menggenggam pada pisau itu melalui kain itu.

Pisau ini seharusnya hendak diguanakan pada Integrity Knight Alice. Tentu saja, tidak untuk membakar dia sampai mati, tapi membuat dia tertidur melalui art Cardinal dan untuk mengembalikan ingatannya, mengubah dia menjadi Alice yang dulu. Jika itu tidak dapat dilakukan, kekalahan Administrator akan menjadi tidak bearti bagi Eugeo. Itu mungkin untuk mengubah Alice menjadi dirinya yang dulu tanpa menggunakan pisau itu jika pemimpin tertinggi dikalahkan, tapi dia tidak memiliki jaminan jika itu dapat dilakukan.

Diserang oleh keraguan karena tidak memiliki jawaban, Eugeo mendengar suara misterius itu sekali lagi sementara menggigit mulutnya, dan menyadari.


Eugeo...lari......


Tapi sebelum suara itu yang kelihatanya berasal dari jarak yang jauh berhasil sampai pada kesadarannya—

Alis perak dari perempuan yang tertidur itu perlahan bergetar.

Kelopak mata putih itu, perlahan terangkat saat Eugeo melihatnya dengan tatapan kosong dengan kekaguman. Pandangannya membeku di tempat, lupakan tangan kirinya, yang masih memegang pisau itu. Kemampuannya untuk berpikir, pada saat kembali, tersebar sekali lagi dan menghilang menuju ketiadaan.

Perempuan itu menutup kelopak matanya yang samar-samar terbuka untuk sesaat, lalu perlahan mengedipkan matanya beberapa kali, seolah-olah untuk menyuruh Eugeo berbuat sesuatu. Dan di waktu yang ketiga kali, kelopak matanya akhirnya benar-benar terbuka.

"Ah......"

Helaan nafas itu keluar dari mulut Eugeo tanpa dia menyadarinya.

Matanya yang terlihat sekarang berwarna perak murni, warna yang dia tidak pernah sadari di mata manusia manupun sebelumnya. Mata yang seperti cermin yang samar-samar berwarna dengan kemergelapan dari tujuh warna prisma, bergetar seolah-olah seperti permukaan air. Cahaya suci yang dapat membuat semua permata langka di dunai terlihat tidak mengkilap.

Dihadapan Eugeo saat dia masih membeku seperti patung sementara masih berlutut di tempat tidur, perempuan yang terbangun itu terhuyung ke atas dengan gerakan ringan. Saat terangkat seolah-olah ditarik oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat dengan kedua tangannya masih berada di bawah dadanya, rambut perak, panjangnya juga dengan lembut terurai meskipun tidak ada angin dan teruarai rapi ke bawah punggungnya secara keseluruhan.

Perempuan itu—atau gadis itu, yang kelihatannya sedikit jauh lebih muda dengan matanya yang sekarang terbuka mengangkat tangan kanannya di mulutnya seolah-olah tidak mempedulikan Eugeo dan mengeluarkan uapan kecil.

Kakinya yang terbentang lurus bergerak menuju ke kanan secara bersamaan. Menyeimbangan tubuh langsingnya dengan tiba-tiba dan tangan kirinya tertahan di seprai untuk menahan dirinya.

Gadis itu mengalihkan wajahnya ke kiri pada akhirnya, melihat lurus ke arah Eugeo sementara mempertahankan posisi mempesona itu.

Mata perak murninya, dibatasi oleh cahaya pelangi. Dia sangat sulit untuk dapat memikirkan bahwa itu dimiliki manusia, disebabkan oleh kurangnya cahaya mata di dalamnya. Itu benar-benar cantik, tapi mencegah semua jalan masuk ke dalam hatinya saat itu memantulkan semua cahaya seperti cermin.

Saat menatap pada ekspresi tercengangnya yang diperlihatkan pada dua cermin kecil itu, mulut gadis yang mengkilap, abu-abu mutiara membuat sedikit gerakan. Suaranya, yang sangat manis seperti madu dan murni seperti kristal, dengan sedikit rayuan, berbicara.


"Sungguh anak yang menyedihkan."


Itu membutuhkan waktu beberapa saat untuk dia mengerti apa yang telah dikatakan. Tetapi, tanpa menyadari ketenangan di pikirannya, Eugeo menjawab dengan kebingungan.

"Eh...? Menyedihkan...?"


"Ya. Sangat menyedihkan."


Menghancurkan hati seseorang yang mendengarnya menjadi berkeping-keping, itu dipenuhi baik dengan kesucian tanpa cacat dan nada dari gadis muda.

Mulut mengkilapnya, yang berwarna abu-abu mutiara memperlihatkan senyuman samar-samar saat suara manisnya mengalir keluar.

"Kau hampir sama seperti bunga pot yang kering. Tidak peduli bagaimana jauhnya kau menyebarkan akarmu ke dalam tanah, tidak peduli bagaimana tingginya kau mengulurkan daunmu hingga mencapai angin, kau tidak dapat menyentuh dengan setetes air."

"...Bunga...Pot..."

Eugeo mengerutkan dahinya dan mencoba untuk mengerti arti dbalik kata misterius itu. Pikirannya masih diselimuti kabut, tapi mata gadis itu membuat rasa sakit yang menusuk dari suatu tempat di dalam hatinya.

"Kau mengerti. Tepatnya seberapa banyaknya kau haus. Seberapa banyaknya kau lapar."

"...Untuk apa...?"

Mulutnya bergerak tanpa sepengetahuannya dan bertanya dengan suara serak, yang kering.

Gadis itu menatap pada Eugeo dengan matanya yang memantulkan dan menjawab dengan senyuman yang masih ada di wajahnya.

"Cinta."


Cinta...dia bilang?

Itu seperti...mengatakan bahwa aku...tidak mengetahui apa cinta itu sebenarnya...


"Benar. Kau adalah anak menyedihkan yang tidak pernah merasakan untuk pernah dicintai seseorang."


Itu tidak mungkin benar.

Ibuku...Mencintaiku. Kapanpun aku memiliki mimpi buruk dan tidak dapat tetidur...Dia akan memelukku dan menyanyikan lagu pengantar tidur padaku.


"Apakah cinta itu memang benar-benar dimiliki olehmu saja? Itu tidak, bukan? Itu sebenarnya adalah apa yang tersisa setelah saudara-saudaramu mengambil bagian mereka, bukan...?"


Dia berbohong. Ibu...Mencintaiku, hanya aku...


"Kau menginginkan dia untuk mencintaimu saja. Tapi dia tidak bisa. Karena itu kau membenci mereka. Seseorang yang mengambil pergi cinta ibumu, seperti ayahmu. Dan saudaramu.


Bohong. Aku...Aku tidak membenci ayahku atau saudaraku.


"Benarkah begitu...? Setelah semua, bukankah kau telah menebas dia?"

......

Siapa...?


"Seseorang yang mencintaimu dan mencintaimu saja untuk pertama kalinya, gadis berambut merah itu...Kau telah menebas orang yang mencoba mengambilnya dengan kekuatan dan mencoba menodainya. Karena kau membencinya. Karena dia telah mengambil pergi apa yang seharusnya dimiliki olehmu saja."


Tidak...Itu bukanlah alasan kenapa aku menghunuskan pedangku pada Humbert.


"Tapi itu bukanlah obat untuk kehausanmu. Tidak ada seorangpun yang akan mencintaimu. Semua orang telah melupakan tentangmu. Kau telah disingkirkan, tidak lagi dibutuhkan."


Tidak...Tidak. Aku...Aku tidak pernah disingkirkan atau...

Itu benar...Dia salah. Aku memiliki Alice.


Pada saat dia mengingat kembali nama itu, kabut gelap yang menyelimutui kesadarannya berkurang seolah-olah itu sedikit menjadi lebih jelas dan Eugeo menutup rapat matanya. Itu tidak akan bagus untuk terseret ke dalam aliran ini, dia harus bergerak sekarang, perasaan bahaya memenuhi pikirannya membisikkan seperti itu.

Tetapi, sebelum dia dapat bergerak secara nyata, suara yang memperdayanya segera masuk menuju pikirannya dari kedua telinganya sekali lagi.

"Aku ingin tahu jika itu memang benar...? Apakah anak itu benar-benar mencintaimu dan hanya kau saja...?"

Gema itu yang menyembunyikan tawa yang samar-samar dibalik belas kasihannya.

"Kau telah melupakannya. Aku akan membuatmu mengingatnya. Ingatanmu yang sebenarnya, yang terkubur di dalam hatimu."

Pandangan Eugeo bergerak dalam sekejap.

Tempat tidur mewah yang berbulu itu menghilang dan dia terjatuh pada lubang dalam, kegelapan tanpa ujung.

Aroma dari, rumput hijau segar yang menusuk hidungnya secara tiba-tiba.

Cahaya kehijuan yang tersaring melalui pohon berkelap-kelip di ujung pandangannya sementara kicauan burung kecil menutupi suara langkah kaki pada semak-semak.

Eugeo berjalan di dalam hutan ketika dia menjadi sadar terhadap situasinya.

Jarak pandangannya sangatlah rendah dan langkahnya sangatlah pendek. Kakinya terentang keluar dari celana pendeknya yang dibuat dari serat adalah kaki anak kecil, langsing, dan lemah, ketika dia melihat ke arah bawah. Tapi perasaan kegelisahannya dengan segera menghilang, kejengkelan dan kesepian sangat besar memenuhi dadanya sebagai gantinya.

Untuk suatu alasan, dia belum melihat Alice sama sekali semenjak hari itu dimulai.

Saat menyelesaikan pekerjaan paginya, merawat sapi dan menyiangi lahan sayuran, Eugeo berlari secepat yang dia bisa menuju tempat berkumpul yang biasa—di bawah pohon tua di luar desa. Tetapi, Alice tidak datang tidak peduli berapa lama dia menunggunya. Sebagai tambahan, tidak juga teman masa kecil lainnya, laki-laki berambut hitam itu.

Setelah menunggu mereka berdua sampai matahari naik hingga menuju tempat tertinggi di langit, Eugeo berjalan pelan menuju rumah Alice sementara merasakan emosi yang tidak dapat dideskripsikan. Dia pasti telah ditemukan setelah melakukan suatu kejahilan dan mendapati dihentikani dari pergi bermain. Itulah apa yang dia pikirkan, tapi ibunya yang menyambutnya mengatakan seperti ini dengan memiringkan kepalanya dalam keadaan kebingungan.

Itu aneh, dia pergi lebih cepat di hari ini. Kiri-bou datang untuk menjemputnya, jadi aku sangat yakin bahwa dia seharusnya bersamu juga, Eu-bou.

Mengucapkan rasa terima kasihnya dan meninggalkan rumah kepala desa, Eugeo merasakan kegelisahannya berubah menjadi ketidaksabaran dan mencari di sekitar desa. Tetapi, meskipun plaza pusat ditempati oleh anak kepala penjaga, Jink dan anak buahnya berada, dia tidak dapat menemukan Kirito dan Alice di semua tempat bermain lainnya dan tempat bersembunyi.

Hanya satu temoat lainnya yang datang di pikirannya. Sepetak tanah berumput berbentuk lingkaran sempurna yang mereka baru saja temukan di dalam hutan timur yang anak lain tidak pernah dekati. Itu adalah tempat rahasia untuk mereka bertiga, disebut «cincin peri» oleh orang dewasa dan dipenuhi dengan berbagai bunga dan berries yang manis.

Eugeo dengan susah payah berlari ke sana, tengah berada di ambang menangis. Tubuhnya telah digerakkan oleh kesepian, keraguannya, dan satu emosi lagi, yang dia tidak dapat menemukan nama yang cocok untuknya.

Setelah berlari melalui jalan kecil, yang berliku-liku, dan mencapai tanah kosong, rahasia yang dikelilingi oleh pohon tua, yang sangat tebal, yang mempesona, cahaya emas bergerak diantara batang pohon di jalannya dan kaki Eugeo secara tersentak berhenti.

Itu tanpa kesalahan adalah cahaya dari rambut pirang Alice yang dikenalnya. Dia secara insting mendiamkan nafasnya untuk suatu alasan dan menajamkan pendengarannya. Bagian dari bisikan, dengan pelan saling bertukaran, yang sampai padanya melalui angin.

Kenapa...Kenapa?

Dengan tidak ada apapun selain dari kata-kata itu yang muncul berulang-ulang di pikirannya, Eugeo berjalan mendekat menuju tanah kosong dengan langkah pelan. Kesedihannya yang berat mengancam untuk menghancurkannya, dia menyembunyikan dirinya dibalik batang pohon yang berlumut dan mengintip pada tempat rahasia yang dipenuhi dengan cahaya dari Solus.

Alice sementara duduk di bagian tengah dari bunga yang bemekaran dengan berbagai warna dengan punggungnya menghadap padanya. Dia tidak dapat melihat wajahnya, tapi tidak ada kesalahan bahwa dia dapat salah mengenai rambut pirang, lurus, yang terurai, pakaian biru gelapnya, dan apron putihnya.

Dan di sampingnya ada sebuah kepala yang ditutupi rambut hitam yang tajam. Sahabat dan satu-satunya sahabat terbaiknya, Kirito.

Tangannya yang menegpal telah dipenuhi dengan keringt basah dan dingin.

Angin yang berubah itu mengirim suara Kirito menuju telinga Eugeo saat dia masih berdiri.

"Hei...Ayo segera kembali. Seseorang akan menyadarinya."

Dan yang menjawab padanya adalah suara Alice.

"Tidak apa-apa. Cukup sedikit lagi...sedikit, okay?"

Tidak.

Aku tidak ingin mendengarnya lagi.

Tapi kaki Eugeo menolak untuk bergerak seolah-olah akar pohon telah melilit di sekitarnya.

Di pandangannya dia tidak dapat mengalihkannya, wajah Alice perlahan mendekati Kirito.

Dia mendapati bagian dari bisikan pelannya.

Mereka bedua, saling berpelukan, di tengah bunga yang bermekaran penuh, di bawah sinar matahari yang terang, itu terlihat sama seperti lukisan.

Tidak.

Bohong. Ini semua, bohong.

Eugeo berteriak di dalam kegelapan. Tapi tidak peduli bagaimana dia mencoba untuk membantah itu, keyakinannya bahwa pemandangan ini adalah sesuatu yang ditarik keluar dari dalam ingatannya memancar dan mengalir menuju dadanya seperti air dingin.


"Kau melihatnya...bukan?"


Sniff[6].

Bisikan yang nadanya tercampur dengan tawa menghapus pemandangan di hutan.

Kembali menuju tempat tidur besar di kamar pemimpin tertinggi di lantai tertinggi dari Katedral Pusat, cahaya emas yang terlihat pada mata Eugeo bahkan masih tersisa dengan kelopak matanya tertutup. Bersamaan dengan suara bisikan Alice dan Kirito, bergema di dalam telinganya.

Suara dari alasannya, yang mengatakan bahwa dia hanya baru saja bertemu dengan Kirito di hutan dua tahun yang lalu, jauh setelah Alice diambil pergi menuju gereja, gagal untuk memadamkan emosi gelap yang memenuhi hatinya. Gadis dengan rambut perak yang tepat berada di samping Eugeo berbalik menuju padanya dengan ekspresi yang dipenuhi dengan rasa kasihan saat dia membuka kedua matanya dan mengeluarkan nafas berat.

"Sekarang kau mengerti, bukan...? Bahkan cinta itu tidak hanya dimiliki olehmu saja, Tidak...Bahkan apakah ada cinta untukumu sejak awal?"

Suara manis dengan halus menyelinap pada Eugeo, mengaduk pikirannya secara keras setiap waktu. Tak terhitung rasa lapar dan kegelisahan dengan jelas terangkat dari dalam dirinya. Sensasi dari retakan dengan cepat menyebar di dalam hatinya, terkelupas dan jatuh ke bawah.


"Tapi aku berbeda, Eugeo."


Suara paling menggodanya hingga sejauh ini menembus ke dalam telinganya, seperti aroma harum yang melayang dari bunga yang dipenuhi dengan nektar yang sangat banyak.


"Aku akan mencintaimu. Aku memberikan semua cintaku kepadamu dan hanya untukmu."


Di pandangan Eugeo saat dia membuka matanya sedikit kabur dengan kebingungan, adalah gadis—Administrator, pemimpin tetinggi dari Gereja Axiom, dengan rambut perak berkilauan dan mata berkilauannya, menunjukkan senyuman yang mempesona.

Menggerakkan kakinya yang tenggelam pada seprai lembut itu, dia meluruskan bagian atas tubuhnya.

Perlahan menggerakkan tangannya, dia terlihat sedang bermain dengan pita yang menjaga dadanya yang berada di dalam pakaian tidur sutra ungu mudanya.

Ujung jari lemahnya menggenggam ujung dari pita yang terbuat dari benang perak dan menarik lembut, dengan perlahan.

Dengan lebih dari setengah dari garis lehernya terlihat sekarang, kulit putih, mulusnya bergetar saat itu memancingnya.


"Sekarang, datanglah, Eugeo."


Bisikan itu terlihat seperti baik suara ibunya yang dia telah dengar di tengah-tengah mimpi itu, dan suara Alice yang mencapai telinganya di ilusi itu.

Dengan kesadarannya terganggu, Eugeo menatap pada kain ungu, tipis yang tersikap ke bawah seperti kelopak bunga di sekitar pinggangnya yang sangat langsing.

Dia benar-benar sebuah bunga—besar, jahat yang merayu dan menangkap serangga dan burung kecil dengan aroma menggoda dan nektar yang menetes.

Meskipun bagian dari Eugeo masih merasakan itu, daya tarik dari bunga, yang mengalir dari hati putih murninya secara hati-hati berada di kelopak ungunya, terlalu kuat dan pikiran Eugeo, telah dihancurkan menjadi pecahan dari ilusi sebelumnya, telah sepenuhnya tertarik pada cairan kental itu.

Kau tidak pernah dicintai sebelumnya, karena itu kau benar-benar dapat merasakan kepuasan dengan yang kau miliki.

Administrator telah mengatakan seperti itu. Dan Eugeo sedikit demi sedikit mulai mengetahui bagian dari fakta itu.

Eugeo sendiri secara jujur dapat mengatakan bahwa dia mencintai orang tua, saudara, dan teman masa kecilnya. Melihat pada ibunya menjadi sangat senang dengan bunga yang dia petik dan melihat ayah dan saudaranya secara antusias memakan ikan yang dia tangkap membuat dia sangat senang. Dia bahkan akan mengumpulkan tanaman obat di hutan dan mengirimnya kepada Jink dan kelompoknya, meskipun mereka menyebalkan seperti biasa, jika dia mendengar bahwa mereka terkena demam.


Tapi apa yang mereka telah lakukan untukmu? Apa sebenarnya yang mereka telah lakukan untukmu sebagai balasan dari cintamu?


Benar...Dia tidak dapat memikirkan satupun tentang itu.

Dihadapan matanya, senyuman Administrator dengan mudah terlihat sekali lagi dan pemandangan dari masa lalunya muncul kembali di pikirannya Itu adalah tahun ketika dia baru berumur sepuluh tahun, di musim semi...Hari dimana dia diberikan «sacred task» bersamaan dengan kerumunan anak-anak oleh kepala desa di plaza. Sacred task «penebang kayu Gigas Cedar», dikatakan oleh kepala desa, Gasupht, saat dia melihat ke bawah dengan gelisah dari panggung, sangatlah berlawan dengan dugaannya.

Tapi meski begitu, masih ada teriakan iri di sana dan di sini diantara suatu kerumunan anak-anak. Penebang kayu adalah sacred task yang terhormat yang diturunkan semenjak Desa Rulid didirikan dan memikirkan itu bukanlah pedang, dia masih akan diberikan kapak sebenarnya. Bahkan Eugeo sendiri tidak pernah merasakan ketidakpuasan pada saat itu.

Memegang kertas yang diikat dengan pita merah, bukti dari pengangkatanya, dengan erat, Eugeo berlari kembali menuju rumahnya di daerah pinggir desa dan mengatakan sacred tasknya kepada keluarganya dengan bangga.

Setelah keheningan sesaat, reaksi pertama yang datang dari saudara termuda diantara saudaranya. Dia dengan cepat mendecakkan lidahnya dan mengumpatnya, mengatakan bahwa dia memikirkan bahwa hari ini akan menjadi hari terakhirnya menangani pembersihan kotoran sapi. Suadara tertuanya memberitahu ayahnya bahwa itu akan membuat rencana penanaman untuk tahun depan menjadi kacau, dan ayahnya, juga, bertanya pada Eugeo kapan pekerjaan itu akan berakhir dan apakah dia dapat membantu di lahan pertanian pada saat itu, dengan mengerang. Seolah-olah takut pada kejengkelan ayahnya, ibunya telah menghilang menuju dapur tanpa mengatakan satu katapun.

Eugeo tidak pernah berhenti merasa malu di rumahnya pada delapan tahun berikutnya. Dan meskipun begitu, gaji Eugeo sebagai penenbang kayu telah dikontrol oleh ayahnya dan tanpa dia sadari, jumlah domba telah bertambah, dan peralatan bertani telah diganti dengan yang baru. Meskipun bagaimana, Jink, yang diangkat sebagai murid penjaga, menghabiskan seluruh gajinya untuk dirinya dan memakan roti putih yang dipenuhi dengan daging untuk makan siang, dan menunjukkan sepatu berkilauan dan pedang yang tersimpan di sarung berkilauan. Meskipun bagaimana, Eugeo harus berjalan dengan sepatu usang dan karung kecil yang dipenuhi dengan tidak lebih dari yang roti keras dipunggungnya dihadapan keberadaan Jink.


"Kau melihatnya? Apakah ada seorangpun yang kau cintai melakukan apapun untukmu, bahkan sekali? Sebaliknya, mereka mengambil kesenangan dari kesusahanmu dan bahkan mengejekmu, bukan?"


Ya...Memang seperti itu.

Jink telah mengatakan ini pada Eugeo sekitar dua tahun lalu setelah musim panas ketika dia berumur sebelas tahun, ketika Alice diambil pergi oleh Integrity Knight. Tidak ada satupun perempuan yang tersisa untuk merawatmu lagi, dengan gadis dari kepala desa telah hilang sekarang, dia bilang.

Mata Jink pada saat itu mengatakan bahwa dia pantas menerima itu. Fakta bahwa Eugeo kehilangan hak istimewa untuk menjadi seseorang terdekat dari gadis termanis di desa dan genius di sacred arts, Alice, membawa kebahagiaan padanya. Pada akhirnya, tidak ada satupun orang di Rulid mengembalikan perasaan Eugeo. Meskipun dia memiliki hak untuk mendapat sesuatu yang sepadan dengan apa yang telah dia berikan, itu telah diambil darinya tanpa sebab atau alasan.


"Lalu, bukankah kau dapat dengan mudah mengembalikan keputusasaan dan kekecewaan itu pada mereka? Kau menginginkannya, bukan? Itu akan terasa sangat bagus...Bayangkan menjadi Integrity Knight dan membuat kepulangan yang hebat menuju rumahmu di desa menaiki naga terbang perak. Bayangkan untuk mendapati semua orang yang memanfaatkanmu untuk merangkak di tanah dan menekan kepala mereka dengan sepatu berkilauanmu. Dengan itu, kau akhirnya dapat mengambil kembali semua hal yang mereka telah ambil darimu hingga sejauh ini. Dan itu tidak semuanya..."


Gadis cantik, berambut perak itu perlahan, dengan lembut membiarkan kedua tangan yang menahan dadanya terlepas, seolah-olah menariknya. Dua tonjolan itu terpantul seperti buah matang saat kehilangan keseimbangannya.

Pemimpin tertinggi mengulurkan kedua tangannya lurus menuju Eugeo dan membisikkan sementara menunjukkan senyuman yang memikat.

"Kau dapat menikmati untuk dicintai untuk pertama kalinya sebanyak yang kau mau. Perasaan puas, yang sebenarnya dari kepala hingga ujung kaki. Aku berbeda dengan seseorang yang telah mengambil sesuatu darimu tanpa memberikan sesuatu sebagai gantinya. Jika kau dapat memberikan cintamu, kau akan mendapat sebanyak itu sebagai gantinya. Aku akan membiarkanmu menikmati kenikmatan yang tidak dapat terukur, melebihi apa yang mungkin kau dapat bayangkan sekarang, jika kau dapat memberikan cintamu yang terdalam."

Bahkan bagian terakhir dari kemampuan Eugeo untuk berpikir hendak tertarik menuju bunga jahat itu. Tapi meski begitu, bagian alasan yang tertinggal di dalam hatinya menaruh sedikit perlawanan.


—Apakah sebenarnya...Cinta itu?

—Apakah itu tidak lebih dari sesuatu yang dapat ditentukan dengan nilai...Seperti uang...?


Bukan, Eugeo-senpai!

Pandangannya berbalik menuju suara yang dia dengar dan melihat gadis berambut merah mengenakan seragam abu-abu, dengan mati-matian mengulurkan tangannya di kegelapan dari sisi lain.

Tapi sebelum tangan Eugeo menggapainya, tirai tebal, yang hitam pekat telah turun pada gadis berambut merah itu dan dia menghilang, hanya meninggalkan bayangan kesedihan di matanya.

Dan kali ini, suara dari seseorang yang lain datang dari arah sebaliknya.

Bukan, Eugeo. Cinta sudah pasti bukanlah sesuatu yang harus dibayar kembali.

Berbalik ke belakang, dia menemukan ruangan kecil penuh rerumputan yang membatasi kegelapan dan gadis berambut pirang mengenakan pakaian biru berdiri di sana. Mata biru gadis itu berkilauan dengan indah seolah-olah itu adalah hanya dan satu-satunya jalan dari rawa tak berdasar ini dan Eugeo mengangkat kakinya yang lelah untuk berusaha merangkan menujunya.

Tetapi, tirai hitam telah turun dengan suara keras sekali lagi dan lapangan berumput hijau itu terhapus. Eugeo telah kebingungan dengan kepergian cahaya itu dan tetap meringkuk pada tempat dimana dia berada. Dia sangat sulit untuk dapat menahan rasa haus yang membakarnya lebih lama lagi. Saat mengingat penindasan yang tidak adil, memanfaatkan, dan mencuri, secara terus menerus dari apa yang seharusnya telah dimiliki olehnya dari teman masa kecilnya, kesedihan dan kekecewaannya berubah menjadi air mata yang pekat, membakar tenggorokannya.

Pada akhirnya, Eugeo mulai yakin untuk meyakinkan dirinya ke depan dengan kepalanya tertunduk ke bawah. Menuju aliran nektar yang memancarkan aroma manis yang sangat banyak.

Mendorong tubuhnya melalui seprai sutra yang halus, ujung jarinya terulur ke depan dan bersentuhan dengan kulit dingin yang meenyegarkan. Ketika dia membawa wajahnya ke depan, gadis berambut perak yang penampilannya sebanding dengan dewi menunjukkan senyuman yang sangat menawan saat dia mengambil tangan Eugeo.

Dengan tangan kanannya menariknya maju dengan pelan, dia melemparkan diri ke depan tanpa perlawanan. Tubuh yang tidak berpakaian itu menerima Eugeo dan membungkusnya pada kelembutan yang memikat.

Sebuah suara berbisik di dalam telinganya dengan nafas yang merdu.

"Kau menginginkannya, bukan, Eugeo? Untuk melupakan semua kesedihanmu, untuk menerima semua yang aku telah tawarkan? Tapi, tidak, masih belum. Aku telah mengatakan ini, pertama, kau akan memberikan semua cintamu. Sekarang, ulangi kata-kata setelah aku mengucapkannya. Hanya percayai aku dan berikan semua yang kau punya. Baiklah...Pertama, mulailah sacred art."

Semua yang Eugeo sadari sekarang, adalah lapisan dari kelembutan beraroma harum yang menyelimuti di sekitarnya.

Dia samar-samar mendengar mulutnya sendiri bergerak, mengeluarkan suara serak.

"System...call."

Sword Art Online Vol 13 - 197.jpg

"Ya...Lakukanlah...«remove core protection»."

Suara pemimpin tertinggi sedikit bergetar, membawa suatu jenis emosi untuk pertama kalinya.

Eugeo mengucapkan kalimat pertama dari art yang tidak dikenalnya dengan berguman.


"Remove..."


Mempercayakan tubuhnya pada perintah yang telah diberikan kepadanya, keberadaannya menjadi terasa sangat ringan dan gelap. Lapar dan haus yang telah menyiksa Eugeo untuk waktu yang lama, benar-benar lama telah menghilang pada nektar manis. Pada waktu yang sama, emosi berharga yang selalu dia punya di dalam hatinya telah pecah, kehilangan bentuknya, dan menghilang.

—Apakah ini bena-benar yang terbaik...?

Pertanyaan yang dia tanyakan pada dirinya di dalam perasaan di dadanya yang berkurang menyalakan api kecilnya, tapi kata berikutnya keluar dari mulutnya sebelum dia dapat menemukan jawabannya.


"Core..."


—Sebenarnya, aku tidak ingin lagi merasakan kesedihan lebih banyak lagi, penderitaan lebih banyak lagi.

Cinta di dunia ini tidak dapat dibuat pasti. Bahkan jika...Bahkan jika Alice mendapatkan kembali ingatannya, bagaimana jika dia tidak memiliki pandangan pada Eugeo? Bagaimana jika Alice akhirnya dipenuhi dengan ketakutan dan membenci Eugeo, yang melanggar Taboo Index dengan menebas Humbert dan mengarahkan pedangnya melawan banyak knight sebagai perlawanan terhadap Gereja Axiom...?

Jika hal itu dapat berakhir seperti itu, maka itu mungkin lebih baik untuk hanya berhenti sampai di sini saja.

Eugeo secara samar-samar mengerti bahwa perjalanan selama dua tahun ini akan menjadi benar-benar selesai pada saat dia mengucapkan kata ketiga. Tetapi, dia dapat melupakan masa lalu menyedihkan, yang sangat menyakitkan dengan melakukan itu—dia dapat menenggelamkan dirinya pada cinta yang diberikan oleh gadis berambut perak itu, alasan itu benar-benar membantu pilihannya juga.

"Ya...Sekarang, datanglah padaku, Eugeo, datanglah padaku."

Bisikan, yang dipenuhi dengan nada manis yang tidak dapat terbayangkan, mengalir ke dalam telinganya.


"Selamat datang, di kebahagiaan abadiku..."


Setetes air mata mengalir pada saat Eugeo mengucapkan kata terakhir itu.

Bagian 3[edit]

"Ayo...kita...mulaiiii!"

Dengan teriakan kuat itu, aku mengangkat tubuhku untuk kesekian kalinya, menahan kaki kananku pada ujung lantai marbel itu dan menaikinya sebelum terjatuh ke bawah permukaan datar pada lantai halus itu.

Sendi dan ototku, tersiksa hingga melewati batasnya, bergetar seolah-olah itu telah terkena panas dari api. Sejumlah besar keringat mengalir ke bawah tanpa henti dari dahi dan leherku dan aku hanya mengeluarkan nafas berat, bahkan tidak memiliki cukup kekuatan untuk menyekanya dengan ujung jariku. Kenyataan dari rasa kelelahan yang sangat besar ini benar-benar cukup untuk menghilangkan kepercayaanku bahwa dasar dari dunia ini adalah dunia virtual yang dibuat oleh STL.

Aku akhirnya mencapai lantai kesembilan puluh lima dari Katedral Pusat setelah kira-kira dua jam penuh dengan pernderitaan setelah menunggu bulan telah naik dan melanjutkan memanjat dinding kita, tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk menatap sekitar. Melemparkan badanku, aku menutup mataku dan menunggu Lifeku untuk pulih bahkan untuk jumlah yang sangat sedikit.

Tujuannya, yaitu lantai kesembilan puluh lima, hanya sekitar tujuh lantai dari teralis yang terpasang dengan «minions», tapi alasan untuk menghabiskan waktu sebanyak itu dan usaha untuk memperpendek jarak adalah knight emas yang terikat di punggungku dengan rantai emas tipis ini.

Beberapa jam yang lalu, Integrity Knight Alice Synthesis Thirty berhasil untuk melewati sesuatu yang kelihatannya terpasang pada semua orang di Underworld, «segel di mata kanan»— system alert misterius, dengan kehendaknya sendiri, tapi harga yang dia bayar memang berat.

Mata kanannya, menahan sesuatu yang menyerupai penahan, menyembur keluar tanpa jejak dan rasa sakit dari keterkejutan itu membuat Alice tidak sadar.

Aku sama sekali tidak yakin jika itu disebabkan oleh jiwa mereka yang disimpan di media penyimpanan artificial, light cube, tapi penduduk Underworld relatif mudah terkena guncangan psychological. Ketika menderita karena kesihan yang besar, rasa takut, atau mungkin kemarahan dan sesuatu seperti itu—emosi itu yang jarang disebabkan oleh kurangnya kejahatan di dunia ini, tetapi—itu berakhir kehilangan perasaan dari alasan mereka untuk periode waktu yang lama, kelihatannya untuk melindungi fluct lights mereka dari fatal error. Seperti apa yang telah terjadi pada Selka, saudara perempuan Alice, ketika dia ditangkap oleh kelompok goblin di gua utara di Puncak Barisan Pegunungan dua tahun lalu.

Aku menduga bahwa Alice, juga, hanya kehilangan kesadaran untuk meredakan keterkejutan dari menghancurkan segel dan pada akhirnya akan terbangun. Dia seharusnya telah mati di tempat seperti head elite swordsman-in-training, Raios Antinous, jika fluct lightnya telah mengalami fatal error.

Jika memikirkan tentang itu, itu benar-benar sangat mengejutkan bahwa Eugeo, yang telah mengalami fenomena yang sama seperti Alice di kamar Raios dua hari yang lalu, mampu untuk menarik pedangnya tanpa kehilangan kesadarannya. Seperti yang diduga, dia tidak berada dalam kondisi pikiran yang bagus setelah kita telah dimasukkan menuju ruang disiplin, tapi dia masih dapat memberikan jawaban yang jelas ketika berbicara.

Aku masih belum membentuk ide dasar dari alasan dibalik dari sifat mudah terluka mereka dan kepatuhan mutlak mereka terhadap peraturan, tapi setidaknya, itu mungkin tidak mustahil bagi penduduk Underworld untuk melebihi itu. Eugeo dan Alice adalah bukti nyata. Penduduk dari Underworld adalah kecerdasan yang dibuat oleh manusia—AI, tapi kekuatan jiwa mereka sama sekali tidak berbeda dengan manusia di dunia nyata...

Memikirkan tentang hal seperti itu, aku menunggu Alice untuk pulih di teralis yang penuh dengan minions, tapi knight terhormat itu tidak terbangun bahkan setelah satu jam berlalu. Aku telah menghentikan pendarahan dari mata kanannya dengan sacred arts, tapi aku kekurangan baik sumber energi tempat dan kemampuan sebagai pengguna art untuk menyembuhkannya secara penuh. Bulan telah naik saat aku dalam keadaan bersiap dan sumber energi tempat mulai untuk pulih kembali, tapi itu digunakan untuk menciptakan piton yang dibutuhkan untuk memanjat. Aku merobek kerah dari bajuku dan membuat perban darurat, membalutkan itu di sekitar wajah Alice dengan hati-hati, sebelum meyakinkan pikiranku untuk memanjat menara dengan Integrity Knight yang pingsan di punggungku.

Saat melepaskan rantai yang menghubungkan tubuh kita berdua dan membawa tubuh langsing Alice, tapi benar-benar berat, aku betul-betul serius memikirkan tentang meninggalkan armor emas dan Fragrant Olive Sword yang mengambil sebagian besar beratnya. Tapi melihat Alice bertekad untuk bertarung di pihak kita, itu akan menjadi tidak berarti untuk melepaskan peralatannya.

Menyerahkan diriku pada nasibku sekali lagi, aku menatap dengan kuat kepada knight yang aku bawa ke tempat ini dan mulai memanjat dinding curam itu menuju tujuanku, bagaian atas dari katedral telah tenggelam di dalam langit malam. Ketika aku melihat teralis baru pada di akhir dua jam yang mnenyiksa, kekuatan yang keluar dari kelegaan yang aku rasakan bahkan membuatku menjatuhkan piton. Aku hanya dapat berdoa tidak ada seorangpun yang berdiri di tanah tepat lurus ke bawah dari tempat itu terjatuh.

Bagaimanapun juga, aku berpikir dapat dimaafkan untuk berbaring untuk beristirahat setelah memanjat lebih dari sembilan puluh meter dinding lurus, yang vertikal ini untuk mencapai tujuan, lantai kesembilan puluh lima ini. Itu tidak berarti aku dapat bergerak untuk tiga puluh menit lainnya bahkan jika aku tidak menginginkannya.

Aku mengumpulkan ketetapan hatiku untuk melakukan itu dan memfokuskan semuanya untuk mengistirahatkan seluruh tubuhku, tenggelam pada kebahagiaan, tapi penghalang itu segera terlihat dari belakangku, itu adalah suara yang lembut.

"U...uhm..."

Nafas dari knight itu menggelitik leherku saat dia hendak terbangun.

"...Dimana...aku...bagaimana..."

Perkataan itu keluar dari Alice sebelum dia mencoba untuk bangun, tapi rantai itu dengan segera menegang dan beban yang beberapa saat meninggalkan punggungku kembali.

"Rantai ini...Kirito...Jangan bilang padaku kalau kau membawaku...hingga sejauh ini...?"

Itu benar, jadi sedikit lebih berterima kasih tentang itu. Aku berguman seperti itu pada diriku beberapa saat yang lalu.

"Menjaulah dariku, kau basah dengan keringat! Itu meresap ke dalam pakaianku! Cepat, menjauhlah dariku!"

Dan pada saat mengirimkan pukulan pada bagian belakang kepalaku bersamaan dengan teriakan itu, dahiku menghantam pada lantai marbel dengan semua kekuatannya pada itu.

"Kau mengerikan...Ini sudah terlalu banyak..."

Setelah melepaskan rantai itu dengan cepat dan menurunkan beban yang ada pada punggungku, aku bersandar pada pilar lingakaran di dekatku saat aku menghela nafas.

Tetapi, untuk knight terhormat itu, dia tidak menyadari kerja kerasku dan membersihkan rok putihnya dengan cemberut. Pada saat aku berpikir dia telah selesai, kerutannya masih ada di alisnya saat dia mencubit kerah baju yang selalu menempel dengan leherku sementara aku membawanya. Aku tidak dapat melakukan apapun selain memberikan sedikit kemarahan setidaknya, setelah melihat perbuatan seperti itu.

"Jika itu mengganggumu sebanyak itu, kenapa kau tidak pergi menuju pemandia atau sesuatu seperti itu, oh knight yang terhormat?"

Itu dimaksud sebagai pukulan kepada kecemberutan Alice, tapi saat penerima itu mulai memiringkan kepalanya untuk mempertimbangkannya secara sungguh-sungguh, aku melanjutkan dengan kebingungan.

"Tidak, itu hanya bercanda! Bahkan lebih baik untuk tidak bercanda untuk kembali ke bawah menuju lantai di bagian tengah."

"Tidak, tidak perlu untuk pergi sejauh itu, hanya lima lantai ke bawah...Pada lantai kesembilan puluh, ada pemandian besar yang digunakan untuk Integrity Knight."

"Apa..."

Aku adalah seseorang yang bergemetar untuk kali ini juga. Itu akan menjadi kebohongan jika aku mengatakan bahwa aku tidak ingin membersihkan pakaian dan tubuhku, yang dipenuhi dengan debu dan keringat disebabkan oleh pertarungan hebat, secara beruntun setelah melarikan diri dari penjara bawah tanah, bersamaan dengan memanjat dinding yang tidak terduga.

Itu tidak harus pemandian, bahkan sebuah kolam berisi air berada di tempat dekat sudah cukup—Aku memikirkan itu sementara memeriksa keadaan sekitar kita sekali lagi.

Lantai kesembilan puluh lima dari katedral, «Morning Star Lookout», yang kelihatannya telah dibangun sebagai aula besar untuk melihat pemandangan seperti yang dikatakan namanya. Sekelilingnya dengan lantai persegi yang sempurna dengan tidak ada dinding—Itulah alasan kenapa kita memasang tempat ini sebagai tujuan kita, setelah semua—dan tiang melingkar yang menahan langit-langit dengan jarak kita-kira tiga meter hanya dengan itu saja. Aku tidak dapat melakukan apapun selain dari mengangguk dengan setuju pada keputusan Administrator untuk menaruh minions pada dinding sedikit ke bawah dengan sedikit kesempatan dari penyusup, setelah melihat bagaimana terbukanya ini setelah dibangun.

Bagian terluar dari lingkaran, dimana Alice dan aku berada, adalah teralis yang mengelilingi lantai dengan tangga pendek yang terbentang ke dalam dari berbagai posisi. Beberapa patung marbel dan semak yang kehijauan ditempatkan di dalam interior yang sedikit lebih tinggi, bersamaan dengan meja dan kursi dengan desain yang hebat. Menduduki kursi itu di siang hari, dibandingkan dengan di tengah malam seperti sekarang, kelihatannya akan memperlihatkan pemandangan burung yang indah dari Underworld, yang terbentang tanpa batas.

Tangga besar yang mengarah ke atas dan ke bawah kelihatannya telah dibangun di sisi utara. Terlambat seperti biasa, tidak ada tanda-tanda dari seorangpun selain kita di lantai ini sekarang.

Lalu, sekarang, apakah Eugeo telah melewati lantai kesembilan puluh lima ini?

Lebih dari tujuh jam telah berlalu semenjak kita telah terpisah di lantai kedelapan puluh. Memikirkan itu secara rasional, Eugeo seharusnya telah mencapai tempat ini lebih cepat dibandingkan dengan kita yang melalui usaha yang hebat untuk memanjat dinding terluar itu.

Tapi masalahnya adalah akan menjadi musuh hebat yang berdiri di perjalanan Eugeo, yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan minion yang kita telah lawan—Komandan Integrity Knight Bercouli Synthesis One itu sendiri. Pahlawan dari legenda, yang seharusnya lebih kuat dibandingkan dengan baik Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio yang bertarung keras denganku hingga hingga hampir berakhir seri dan Alice yang melawanku dengan tanpa kesulitan.

Tentu saja, Eugeo sama sekali tidak lemah. Dia bahkan mungkin telah melewatiku dalam kemampuan skill pedang. Tetapi, tehnik saja tidak akan dapat mengalahkan rangking teratas dari Integrity Knight yang yang berhasil dikatakan melebihi manusia biasa. Itu membuat menyerang saat musuh tidak sadar dan menggunakan seluruh situasi yang dibutuhkan, atau strategi yang dapat disebut «apapun boleh». Apakah Eugeo yang rajin itu benar-benar dapat melakukan itu...?

Setelah melihat keadaan sekitar juga, Alice memanggilku pada saat aku khawatir.

"Tentu saja, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemandian, tapi...Patnermu yang dipanggil Eugeo belum sampai hingga setinggi ini, bukan?"

"Eh? Kenapa?"

"Setelah semua, lantai kesembilan puluh lima ini adalah satu dan satu-satunya tempat dimana kita dapat kembali menuju katedral setelah mendapati terlempar keluar. Itu seharusnya sudah sangat jelas dari pandangan pertama...Dengan kata lain, jika dia telah mencapai tempat ini sebelum kita, dia seharusnya menunggumu di sini."

"...Aku mengerti, itu memang benar..."

Aku mengangguk dengan tanganku menyilang. Sekarang dia telah mengatakan hal itu, jika Eugeo telah melewati lantai ini sebelum kita, dia kelihatannya telah ditangkap—atau diubah menjadi mayat. Meskipun itu berlawanan dengan dugaanku, aku lebih mempercayai bahwa Eugeo bukanlah seseorang yang dapat ditangkap atau dibunuh semudah itu.

"Di samping itu, jika Eugeo..."

Alice berguman dengan ekspresi termenung, dengan namanya yang terucap oleh lidahnya dengan benar-benar normal, meskipun orang yang dipertanyakan itu mungkin tidak menyadari itu pada dirinya.

"...Telah memanjat tangga besar yang melewati Cloudtop Garden, dia kelihatanya akan berhadapan musuh terkuat sebelum dia mencapai ke sini, Morning Star Lookout. Dia akan bertemu dengan oji-sama...Komandan Integrity Knight Bercouli, yang terhormat."

Kesampingkan bagaimana dia memanggilnya oji-sama untuk sekarang, aku memutuskan untuk menanyakan sesuatu yang mendapatkan perhatianku. "Jadi apakah dia benar-benar kuat? Komandan Integrity Knight, yang terhormat."

Wajah Alice dengan cepat berubah menjadi senyuman dengan perban darurat yang masih melilit padanya saat dia mengangguk.

"Aku, juga, tidak pernah mendapat kemenangan saat bertarung melawannya. Karena itu, baik kau, yang kalah melawanku, dan Eugeo, yang memiliki kemampuan sebanyak yang kau miliki, tidak mungkin memiliki harapan untuk mengalahkannya."

"...Memang, itu cukup beralasan. Tapi untuk apakah aku dapat kalah atau tidak jika pertarungan kita dilanjutkan..."

Menghiraukan keluhan marahku, knight emas itu berbicara.

"Memang benar, kemampuan oji-sama dengan pedang melebihi kelas atas, tapi armament full control artnya yang bahkan dapat dikatakan tehnik pada level dewa. Sacred instrument yang dia miliki «Time Piercing Sword», memiliki kemampuan untuk menebas melalui waktu seperti yang dikatakan namanya. Untuk lebih lengkapnya, itu mungkin tebasan oji-sama tertinggal di udara selama periode waktu tertentu...Apa kau mengerti maksud dari itu? Bahkan jika seseorang menghindari tebasan itu satu demi satu, itu hanya akan membutuhkan waktu sebentar untuk terkurung di dalam kurungan dari tebasan yang tidak terlihat itu. Tangan mereka akan tertebas jika menyentuhnya, bahkan mungkin leher mereka jika mereka kurang beruntung, dan itu dikatakan, mereka akan menemui akhir hidup mereka jika mereka hanya terus diam. Semua yang melawan oji-sama mendapati terkena satu tebasan fatal pada akhirnya, seperti suatu boneka kayu."

"...Tebasan tertinggal..."

Itu sangat sulit membayangkan kenyataan hanya melalui kata-kata itu saja, tapi aku rasa pada dasarnya itu berarti tebasannya memiliki durasi waktu mereka memanjang hingga ke masa depan. Jika memang begitu, itu benar-benar kemampuan mengerikan. Itu dengan mudah menghapuskan dasar dari skill pedang tebasan beruntun Aincrad, yang tidak mempedulikan kekuatan dibalik setiap tebasan agar dapat memperpanjang baik dalam hal jarak dan waktu, yang Eugeo dan aku dapat unggulkan.

Sebenarnya bagaimana Eugeo dapat melawan musuh seperti itu dengan baik? Meskipun aku yakin bahwa dia tidak mungkin mati, firasat tidak menyenangkan merayap kembali di punggungku.

Aku rasa itu akan lebih baik untuk menuju ke bawah untuk mencari patnerku. Tapi bagaimana jika kasus terburuk telah terjadi dan dia telah tertangkap dan dibawa menuju lantai atas...menuju lantai tertinggi dari katedral, dimana Administrator tinggal? Bagaimana jika pemimpin tertinggi, yang mengenal baik dengan setiap perintah, telah melakukan suatu jenis art berbahaya pada saat ini...?

Menaruh kekuatanku pada kedua kakiku yang akhirnya mengibaskan sedikit rasa kelelahannya, aku terhuyung pada saat aku berdiri, Menatap pada tangga besar di sisi utara dari lantai itu, aku menggigit mulutku.

Pemikiran bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan sacred arts untuk mencari posisi Eugeo yang sekarang datang padaku, tapi seperti peraturan umum, sacred arts tidak dapat ditargetkan pada «manusia yang tidak berada di area ini». Pertarungan Administrator dan Cardinal seharusnya akan selesai waktu yang lalu jika itu memungkinkan. Menargetkan pada objek daripada manusia masih mungkin, tapi... Aku akhirnya menyadari keberadaan dari solusi mudah pada saat sampai ke titik di pikiranku dan berguman.

"Aku mengerti...Itu benar."

Aku mengangguk tanpa mempedulikan pada Alice yang berbalik padaku dengan ekspresi curiga, aku mengangkat tangan kananku dan berteriak dengan suara yang tertahan.

"System call!"

Sumber energi tempat yang terhisap oleh memanjat dinding kelihatannya telah pulih saat jariku yang terulur bersinar ungu dengan samar-samar. Menahan dorongan untuk berlari, aku dengan hati-hati mengucapkan perintah yang panjang itu.

"Generate umbra element. Adhere possession. Object ID, WLSS703. Discharge."

Itu semua yang teringat pada ingatanku. Meskipun itu tidak lebih dari dugaan, rangkaian «WLSS», bagian setengah yang pertama adalah ID yang merupakan singkatan dari «Double-edged, Long Sword, Single-hand»[7] sementara nomor bagian setengah yang kedua adalah nomor serial dari pedang di kategori itu. ID pedang hitamku adalah «WLSS102382», jadi itu mungkin berarti hanya ada beberapa ratus pedang panjang satu tangan yang ada ketika Blue Rose Sword diciptakan dan jumlah itu telah melebihi hingga seratus dua ribu hanya dalam waktu ratusan tahun...

Bahkan saat aku memikirkan hal seperti itu, cahaya umbra element yang terpisah dari ujung jariku saat itu dengan tenang melayang ke bawah dan menyebar terpisah, menghilang dengan suara tajam pada saat itu menyentuh lantai pada jarak yang pendek.

"...Ke tangga bawah, huh."

"Kelihatannya seperti itu."

Aku bertukar percakapan pendek dengan Alice yang sekarang memiliki ekspresi mengerti padanya.

Aku menggenggam dan membuka tangan kananku yang di bawah beberapa kali, itu kelihatannya Lifeku, yang berkurang dari rasa kelelahan, telah pulih kembali, tapi luka yang diderita Alice seharusnya lebih dalam dibandingkan dengan diriku. Mengambil pandangan lain pada knight itu, aku sesaat bertanya.

"Bagaimana dengan mata kananmu, apakah ada kesempatan untuk itu dapat disembuhkan...?"

Alice perlahan menekan pada mata kanannya, yang ditutupi oleh perban yang awalnya adalah kerah bajuku, dengan ujung jarinya dan menjawab dengan sebuah pertanyaan.

"Kau adalah seseorang...yang memasang ini?"

"Yeah...Aku berhasil membuat darahnya berhenti entah bagaimana, itulah batas dari sacred artsku. Tapi kau mungkin..."

"Ya, tentu saja, kemampuan penggunaan artmu tidak mungkin dapat dibandingkan dengan diriku, tapi..."

Menyuarakan perkataan kasarnya seperti biasa tanpa keraguan seperti biasa, dia mengalihkan mata kiri satu-satunya pada langit dan menatap pada bulan purnama putih kebiruan.

"Jumlah sacred power di udara yang sekarang sama sekali tidak cukup untuk menciptakan sejumlah luminous elements yang dibutuhkan untuk meregenerasi mata kananku yang hilang sama sekali. Itu kelihatannya mustahil sampai Solus terbit."

"Lalu, jika kau dapat mengubah suatu jenis be-tidak, itemmu yang memiliki prioritas tinggi menjadi sacred power...Seperti armor itu, mungkin..."

"Art untuk mengembalikan peralatan menjadi sacred power itu sendiri, juga, membutuhkan sacred power yang berhumlah tidak sedikit. Apa kau belum mempelajari itu di akademi?"

Alice memperlihatkan wajah yang sedikit kesal sebelum menegarkan ekspresinya dan berbicara.

"Ini masih sakit dan jarak pandang bagian kananku menghilang, tapi tidak ada apapun yang berperan sebagai halangan di pertarungan. Aku tidak apa-apa bertahan dalam kondisi untuk sementara waktu."

"T-Tapi..."

"—Dan aku berharap untuk menahan sensasi ini sedikit lebih lama. Rasa sakit ini, adalah bukti dari tekadku untuk bertarung dengan Gereja Axiom yang telah aku percayai selama bertahun-tahun..."

Aku tidak dapat melakukan apapun selain mengangguk dengan yang dia katakan. Knight Alice kelihatannya akan memotong jalan yang terbuka untuk mendapatkan nasib yang dipilih oleh tangannya di pertarungan yang akan terjadi mulai dari sekarang.

"...Baiklah. Aku akan menyembuhkan mata sebelah kananmu jika kita harus bertarung."

Menjawab seperti itu, aku mengalihkan pandanganku menuju tangga besar itu.

"Sebenarnya, maaf untuk merepotkanmu, tapi mari kita pergi. Eugeo kelihatannya beberapa lantai ke bawah menilai dari umbra element sebelumnya."

Untuk lebih akuratnya, aku mencari posisi sekarang dari Blue Rose Sword, dibandingkan dengan posisi Eugeo tapi dia tidak akan melepaskan pedang kesayangannya dari genggamannya sampai sesuatu yang besar telah terjadi. Pada saat mendengar perkataanku, Alice, juga, melihat ke arah tangga dan mengangguk.

"Izinkan aku untuk memandu jalan, aku sangat mengenal dengan jalannya...Meskipun aku rasa kita hanya menuju ke bawah melalui tangga."

Tanpa memberikanku kesempatan untuk menambah kata setelah pernyataannya, dia mulai berjalan dengan sepatunya membuat suara langkah. Aku dengan cepat mengikutinya di belakang.

Tidak ada yang lebih dingin dibandingkan dengan aliran udara yang bertiup dari tangga besar yang menuju ke bawah di ujung utara dari lantai itu, keberadaan manusia sama sekali kurang dibalik kegelapan ini. Tanda kehidupan dari penghuni Katedral Pusat sudah samar-samar hingga tanpa batas bahkan di lantai bawah, tapi tempat ini yang di dekat puncak penuh dengan kesuraman yang kira-kira dapat dianggap sebagai reruntuhan yang indah. Seseorang mungkin sulit mempercayai bahwa ini adalah organisasi terpenting yang memerintah pada seluruh Dunia Manusia.

Jika aku mengingatnya dengan baik, bagian atas dari Gereja Axiom seharusnya memiliki sekelompok orang yang disebut tetua, selain dari Integrity Knight, tapi aku memikirkan kenapa kita tidak dapat menangkap kehadiran salah seorang dari mereka bahkan setelah sampai setinggi ini.

Memposisikan diriku pada sebelah kanan Alice setelah dia mulai menuruni tangga terlebih dahulu, aku perlahan mengatakan perasaan khawatirku. Knight itu dengan cepat mengerutkan dahinya ketika aku mengatakan itu dan menjawab dengan bisikan juga.

"Untuk lebih jujurnya...Bahkan kita Integrity Knight, hanya diberikan gambaran penuh dibalik para tetua itu. Kita pernah mendengar ada departemen yang bernama Ruangan Para Tetua pada lantai di atas, dari lantai kesembilan puluh enam, tapi kita Integrity Knight dilarang untuk memasukinya dan..."

"Huh...—Sejak awal, apa pekerjaan yang para tetua lakukan?"

"......Taboo Index."

Suara Alice menjadi semakin serius.

"Menkonfirmasi dan memeriksa penduduk Dunia Manusia berdasarkan pada Taboo Index...itulah pekerjaan tetua. Dan Integrity Knight dikirim untuk menangani situasi apakah seseorang yang melanggar taboo muncul. Perintah untukku agar pergi menuju Akademi Master Pedang di Centoria Utara untuk menahan Eugeo dan kau, juga berasal dari tetua."

"...Aku mengerti...Jadi, dengan kata lain, Ruangan Para Tetua mengerjakan pekerjaan pemimpin tertinggi di tempatnya, huh? Tapi itu benar-benar sangat mengagumkan bahwa Administrator yang waspada itu memberikan kekuasaan setinggi itu pada mereka. Atau mungkin tetua memiliki ingatan mereka tersegel seperti Integrity Knight juga..."

Alice merengut sementara menggelengkan kepalanya pada perkataanku.

"Tolong jangan katakan apapun mengenai ingatan. Aku merasa itu akan menjadi masalah jika mata kiriku mulai sakit untuk pada saat ini juga."

"M-Maaf. Tapi aku pikir itu akan baik-baik saja sekarang...Tidak ada papun yang terjadi pada Eugeo setelah dia menembus segel itu pada waktu yang dulu..."

"...Aku harap begitu juga."

Aku melihat ke arah Alice yang dengan lembut mengelus pada penutup mata yang berada di mata kanannya sementara mengingat apa yang telah terjadi di teralis di luar.

Meskipun bergemetar dari waktu ke waktu sebelum dia membulatkan tekdanya untuk menentang gereja dan bertarung melawan pemimpin tertinggi, «piety module» yang seharusnya dimasukkan ke dalam fluct lightnya melalui prosesnya tidak berubah menjadi tidak stabil sedikitpun. Aku telah menduga bahwa «bagian ingatan» yang diambil dari Alice oleh Administrator adalah saudara perempuannya, Selka, atau teman masa kecilnya, Eugeo, tapi tidak seperti Eldrie, prisma ungu itu tidak menunjukkan tanda-tanda meninggalkan dahinya, baik ketika dia bertemu dengan Eugeo di Akademi Master Pedang dan ketika dia mendengar nama Selka.

Jika memang begitu, apa sebenarnya isi dari ingatan yang diambil dari Alice dan dimiliki oleh Administrator?

Tidak ada gunanya untuk terganggu dengan hal itu sekarang. Setelah semua, jika kita membuat Cardinal untuk melakukan sesuatu yang disebut «reverse synthesis», Alice akan mendapatkan ingatannya yang sebelumnya dan kepribadian Integrity Knight yang berjalan di sampingku tepat sekarang akan menghilang...

Kakiku bergerak secara otomatis saat aku menjadi lebih menyadari detakan pelan di dadaku. Langkah kaki kita bergema di sepanjang tangga besar itu, yang sunyi seperti kuburan, di tengah malam.

Setelah melewati bagian dasar tangga yang tertutupi dengan karpet merah untuk kelima kalinya, tangga menuju ke bawah terputus dan pintu besar telah mengambil tempatnya. Kita menghiraukan lantai dari lantai kesembilan puluh empat hingga lantai kesembilan puluh satu, tapi tidak ada satupun jejak pertarungan yang tertinggal di lantai dan dinding hingga sejauh ini.

Aku memperlihatkan ekspresi yang menanyakan, "Di sini?" pada Alice yang menghentikan langkahnya.

"Ya...Lantai kesembilan puluh dari pemandian besar hanya berada di depan. Oji-sama pasti tidak akan memilih tempat seperti itu untuk menahannya...atau seperti itu yang kupikirkan, tapi orang itu hanya..."

Menelan sisa dari perkataannya, Alice mengangkat tangan kanannya dan menaruh itu diantara kedua pintu. Lapisan marbel tebal itu dengan mudah bergerak tanpa membuat suara apapun.

Kabut putih ternagkat keluar secara keseluruhan dari dalam dengan sekejap dan aku secara insiting memalingkan wajahku.

"Woah...ini benar-benar uap yang sangat hebat. Cukup bagaimana besarnya pemandian ini, aku bahkan benar-benar tidak dapat melihat apapun yang ada di depanku."

Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar, tapi itu akan lebih baik untuk melepaskan pakainku yang basah karena keringat dan melompat menuju air hangat...dengan pemikiran seperti itu di pikiranku, aku mengambil langakh maju. Lalu, aku akhirnya menyadari kabut putih yang menempel di seluruh tubuhku bukanlah sesuatu seperti uap yang terangkat dari air panas, tapi hawa dingin yang disebabkan oleh suhu yang sangat rendah.

Itu kelihatannya ini berada diluar dugaan Alice juga, melihat saat dia mengeluarkan bersin kecil—sementara aku mengeluarkan rengutan yang besar. Aku sangat meragukan bahwa itu telah terdorong selain oleh nafasku, tapi kabut putih itu dengan halus terpisah ke kiri dan ke kanan. Pemandangan indah, yang sekarang terlihat dari pemandian besar itu mengejutkanku saat masih berdiri.

Itu pasti telah menggunakan seluruh lantai katedral, dengan dinding di sisi lain yang sangat jauh terlihat putih dan tidak jelas.

Pemandian itu hampir mengambil hampir seluruh area lantai dan telah dibagi oleh jalan yang terbentang lurus dari dimana Alice dan aku berdiri, tapi setiap pemandian itu adalah kolam dengan ukuran lima puluh meter, atau seperti itu yang terlihat olehku.

Tetapi, apa yang benar-benar menakutkan adalah bagaiamana di sisi kiri, yang seharusnya telah terisi dengan air panas, sekarang membeku dengan es putih murni.

Bahkan air panas yang mengalir dari keran yang terpasang pada bagian ujung dari pemandian itu, yang menyerupai kepala hewan, telah berubah menjadi es yang melengkung, pertanda bahwa itu membeku dengan sekejap. Ini adalah, tentu saja, bukanlah fenomena alami dan seharusnya diketahui sebagai hasil yang disebabkan oleh sacred art berskala besar.

Tetapi, itu bukanlah tugas yang mudah untuk membekukan air panas sebanyak ini dengan sekejap. Jika art membekukan yang biasa melalui cryogenic elements telah digunakan, itu akan membutuhkan sepuluh pengguna art berangking tinggi setidaknya, bukan?

Aku bergerak menuju ke kiri dan menuruni tangga yang berperan sebagai ujung dari pemandian itu, lalu menaruh kakiku pada permukaan es yang keras dan putih. Es itu bahkan tidak menjadi retak dengan seluruh tubuhku berdiri pada itu sementara pedang hitamku masih ada padaku. Kedalamannya pasti telah membeku hingga sampai pada dasarnya.

"...Sebenarnya siapa dan bagaimana..."

Aku berguman, keheranan, saat aku mendorong diriku pada kabut yang masih tersisa, kakiku mengambil beberapa langkah ke depan sebelum itu menginjak sesuatu yang keras. Terdengar suara sekilas dari itu sebelum menjadi hancur dengan sekejap. Mengerutkan dahiku dan melihat ke arah bawah, aku melihat sesuatu yang kelihatannya potongan lingkaran yang banyak dan tersebar di permukaan es. Mengulurkan tanganku, aku memecakan salah satu dari itu dan membawa itu dihadapan wajahku.

Itu—memiliki beberapa kelopak, biru transparan yang bermekaran, mawar yang terbuat dari es.

"......!!"

Aku mendapati pemandangan ini beberapa kali sebelumnya. Ketika aku bertarung dengan Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio Synthesis Two di lantai kelima puluh dari katedral, «Grand Cloister of Spiritual Light»—atau ketika aku bertarung dengan Integrity Knight Alice Synthesis Thirty di lantai kedelapan puluh, «Cloudtop Garden». Armament full control art Eugeo, yang digunakan untuk menghentikan gerakan mereka, membuat bunga es seperti ini.

Dengan kata lain, apa yang membekukan pada seluruh pemandian besar ini bukanlah sacred art, tapi...

"......Eugeo..."

Sebuah bunyi terdengar saat Alice datang menuju ke sampingku saat aku berguman. Dia berguman dengan suara serak dengan mata kirinya terbuka lebar karena keterkejutan.

"Ya ampun...Eugeo adalah seseorang yang melakukan ini...?"

"Yeah, tidak ada kesalahan tentang itu. Ini adalah armament full control art Blue Rose Sword. ...Sejujurnya, aku tidak pernah membayangkan bahwa itu dapat menjadi sekuat ini..."

Eugeo mengatakan bahwa armament full control artnya digunakan untuk menahan gerakan, tapi ini tidak dapat terbayangkan. Seseorang akan mendapati Lifenya terhisap dalam sekejap hanya dengan terperangkap di dalam es neraka ini.

Dia mungkin benar-benar telah mengalahkan knight legenda, Bercouli...Aku berpikir sementara dengan gelisah memeriksa sekitar. Umbra element untuk mencari Blue Rose Sword telah menunjukkan suatu tempat di sekitar sini, jadi Eugeo seharusnya berada di dekat pedangnya juga.

Lalu pada saat itu terjadi, Alice mengeluarkan suara pelan "Ah" di sampingku.

"......!"

Aku menarik nafas dalam pada saat berikutnya. Sekitar dua puluh meter jauhnya, mengkuti pandangan knight itu, sosok besar terlihat. Itu tanpa kesalahan adalah bentuk dari garis kepala dan pudak manusia. Seseorang telah terkubur di dalam es.

Setelah bertukar pandangan dengan Alice, kita berdua melangkah pada mawar es yang berada di kaki kita saat kita mulai berlari. Tapi aku dengan segera menyadari sosok yang terkubur di dalam es bukanlah Eugeo. Baik lebar bahunya dan ketebalan lehernya beberapa kali lebih tegap dibandingkan dengan Eugeo.

Aku mengurangi kecepatanku dari kekecewaan dan kewaspadaan, tapi di sisi lain, Alice meneriakkan teriakan keras dan bahkan berlari lebih cepat.

"Oji-sama...!"

Dia berlari menuju sosok yang membeku itu tanpa menahan dirinya.

—Itu adalah Komandan Integrity Knight Bercouli? Lalu dimanakah Eugeo berada...!?

Aku mempercepat kecepatanku sekali lagi bahkan dengan kegelisahanku. Pada saat aku sampai di sana beberapa detik kemudian. Alce telah berlutut di hadapan orang besar yang setengah badannya telah terkubur di dalam es, kedua tangannya digenggam erat dengan bersama-sama saat dia mengeluarkan terikannya.

"Oji-sama...! Komandan Integrity Knight, yang terhormat! Apa yang telah terjadi padamu...!?"

Bukankah Alice seharusnya telah mengetahui kemampuan Blue Rose Sword setelah menerima armament full control art Eugeo secara langsung di lantai kedelapan puluh? Keraguanku segera terjawab pada saat itu juga.

Orang besar yang tenggelam hingga bagian dadanya di dalam es tebal itu tidak hanya membeku. Bahunya, menonjol dengan otot, lehernya, tebal seperti kayu, dan raut wajah maskulinnya dengan ujung dari pedang perangnya semua berwarna abu-abu yang kelam.

"...Ini...Bukanlah armament full control art Eugeo..."

Masih berlutut di bawah, Alice perlahan mengangguk ketika aku berguman dengan kebingungan.

"...Aku sangat yakin pada itu juga. Aku telah mendengar tentang ini dari oji-sama beberapa waktu yang lalu. Bahwa Kepala Pemimpin diberikan kemampuan untuk mengubah setiap dan semua manusia menjadi batu...dan itu bahkan termasuk Integrity Knight. Aku yakin art itu bernama...«Deep Freeze», jika aku mengingatnya dengan benar."

"Deep...Freeze. Tapi kenapa...Bukankah dia seharusnya sumber terpenting dari kekuatan tempur untuk menahan kita sebagai penyusup tepat sekarang?"

"...Oji-sama kelihatannya samar-samar menahan ketidakpercayaan terhadap perintah yang diturunkan oleh Ruangan Para Tetua...Tetapi, dia mempercayai kedamaian tanpa peraturan Gereja Axiom sangatlah mustahil seperti aku pernah mempercayainya dan melanjutkan bertarung melalui hari yang tidak pernah pernah berakhir. Tidak peduli kemampuan yang Kepala Pemimpin miliki, perlakuan...ini benar-benar tidak beralasan, apapun keadaan yang mungkin telah terjadi!!"

Air mata mengalir sangat banyak dari mata kiri Alice menetes pada lututnya saat dia menangis dengan kepalanya tertunduk ke bawah. Bahkan tanpa berusaha mengusap air mata di pipinya. Alice mengulurkan kedua tangannya dan memeluk pada Bercouli yang membatu. Air mata yang terjatuh melalui udara mendarat pada pipi Komandan Integrity Knight itu dan tersebar seperti patikel cahaya. Dan itu adalah ketika itu terjadi.

Bishii! Suara yang menusuk telingaku.

Alice berdiri dengan kakinya dan menatap pada leher Bercouli. Seolah-olah uap panas yang kecil dari air mata Alice telah melarutkan pada pembatuan itu, retakan tipis terbentuk padanya. Retakan itu dengan sekejap bertambah dan beberapa pecahan terhambur keluar.

Patung batu berwarna pucat itu retak dengan sendirinya dan lehernya perlahan, tertarik hingga berbalik pada Alice dan aku melihat dengan kekaguman.

Tak lama kemudian, sosok batu dengan kepalanya akhirnya berbalik ke atas, mulai membuat retakan di dekat mulutnya untuk kali ini juga. Bagian yang pecah itu pasti adalah daging dan darah dari beberapa jam yang lalu yang terus terjatuh tanpa henti.

Menilai dari namanya, deep freeze, itu mungkin kelihatannya perintah yang benar-benar membekukan tidak hanya tubuh fisik dari penduduk Underworld, tapi pikiran mereka juga. Itu sangat berbeda dengan dari ditempelkan dengan selotip di dunia nyata. Itu akan menolak semua gerakan yang dapat dilakukan seperti yang diperintahkan oleh tuhan mutlak mereka, sistem. Dan orang ini menghancurkan itu dengan kekuatan dari tekadnya.

"Oji-sama...Hentikan, hentikan itu! Tubuhmu akan hancur, oji-sama!!"

Alice berteriak dengan suara terkejut dengan air mata. Tetapi, Komandan Integrity Knight Bercouli tanpa henti berjuang melawan tuhan dan kelopak matanya akhirnya terangkat saat suara keras yang sangat keras yang pecah terdengar. Matanya berwarna abu-abu pucat seperti kulitnya, tapi matanya bergetar seperti permukaan air dan perlahan mendapatkan warna pucat, dari biru keabu-abuan. Aku dengan jelas dapat merasakan kekuatan tekad datang dari kedua mata orang itu.

Mulutnya membentuk senyum lebar saat pecahan itu tanpa henti tersebar dairinya dan suara sangat serak—tapi kuat mengalir keluar darinya.

"...Hei, nona kecil! Kau tidak boleh menangis sekeras itu...Itu akan merusak kecantikanmu."

"Oji-sama...!!"

"Hentikan mengkhawatirkanku...Itu tidak seperti aku akan meninggal dunia dari satu art seperti ini, bukan? Daripada itu..."

Bercouli menghentikan perkataannya untuk sesaat dan menatap wajah Alice yang menangis tepat dihadapannya, bersamaan dengan perban darurat yang menutupi mata kanannya, sebelum menunjukkan senyuman tidak jelas dengan apa yang kelihatannya seperti kasih saying seorang ayah.

"Jadi seperti itu...Nona kecil, kau akhirnya...melewati penghalang itu, huh...Segel yang aku...habiskan tiga ratus tahun tanpa mematahkannya...Di mata kanan..."

"O-Ojisama......Aku...Aku..."

"Jangan membuat...wajah seperti itu...Aku...senang...Sekarang...tidak ada hal...yang dapat aku ajarkan padamu, nona kecil..."

"Itu tidak...Itu tidak benar!! Masih ada banyak, masih ada banyak hal lain yang inginkan agar kau mengajariku, Oji-sama...!!"

Tidak membuat usaha untuk menahan tangisan kekanak-kanakannya, Alice memeluk leher Komandan Integrity Knight itu dengan kedua tangannya sekali lagi. Senyuman lembut masih tersisa di wajahnya, Bercouli membisikkan sesuatu pada telinga Alice.

"Kau pasti dapat melakukannya, nona kecil...Kesalahan Gereja Axiom...Ubahlah dan bimbinglah...Dunia yang telah salah ini menuju bagaimana...Itu seharusnya......"

Aku menyadari suara itu perlahan mulai menghilang. Kekuatan tekad yang mengagumkan yang dibawa oleh fluct light Komandan Integrity Knight telah mencapai batasnya.

Mata Bercouli, kehilangan cahayanya dan kembali menjadi abu-abu batu, tiba-tiba melihat lurus ke arahku. Dari mulutnya yang tidak bergerak, suara serius, yang serak keluar.

"Hei, kriminal...Aku meninggalkan nona Alice...di...tanganmu."

"...Baiklah."

Aku mengangguk dengan seperti itu dan pahlawan dari legenda tua mengangguk kembali saat retakan baru terbentuk di lehernya. Apa yang kelihatannya akan menjadi kata-kata terakhirnya mencapai telingaku, di udara, dingin yang putih.

"Patnermu...telah...daimbil pergi oleh...Kepala Pemimpin, Chudelkin...Mungkin...menuju ruangan pemimpin tertinggi...Cepatlah...Sebelum anak itu menjadi salah...oleh ingatan palsunya..."

Komandan Integrity Knight Bercouli berubah menjadi patung batu yang diam sekali lagi dengan sekejap ketika suaranya terpotong.

Dengan kabut putih, tebal yang menutupi hingga ke dadanya, tak terhitung retakan terukir dari leher hingga matanya yang kelihatan menekankan keberaniannya, yang cocok dengan pahlawan dari legenda.

"......Oji-sama..."

Suara memilukan yang dipaksakan keluar oleh Alice sementara memeluk bahu Komandan Integrity Knight itu mencapai telingaku saat aku berpikir keras pada arti dibalik dari kata-kata terakhirnya.

Sword Art Online Vol 13 - 223.jpg

Seseorang yang dikenal sebagai Kepala Pemimpin Chudelkin tealh melakukan perintah «Deep Freeze» pada Komandan Integrity Knight Bercouli dan membawa pergi Eugeo dari tempat ini. Itu seharusnya adalah fakta. Melihat keadaan sekitar, aku menyadari lubang persegi yang ada di es yang kelihatannya seolah-olah itu telah ter[otong oleh kekuatan yang aku lihat, di bawah dari dasar pemandian itu, dengan jarak pendek dari Bercouli yang membatu.

Eugeo pasti telah mengaktifkan art mawar esnya dengan tekad untuk membawa itu menjadi pertarungan akhir. Dan Kepala Pemimpin yang menerobos masuk telah mengeluarkan Eugeo dengan memotong es, lalu mengambil dia dan pergi menuju ruangan Administrator. Tetapi, kata-kata yang ditinggalkan oleh Komandan Integrity Knight mengangguku, tentang suatu ingatan palsu. Aku bukanlah seseorang yang mempercayai bahwa Eugeo akan menyerah pada menghilangkan ingatan dengan mudah dengan apa yang aku ketahui darinya, tapi aku bahkan mulai tidak dapat membayangkan bagaimana tipu daya yang Administrator dapat lakukan, dengan kemampuannya untuk mengubah fluct lights secara langsung.

Menatap pada lubang itu pada saat aku memikirkannya, aku menyadari sesuatu yang berkilauan saat itu menangkap cahaya di dalam dengan halus dari luar. Melangkah menuju lubang itu, aku menatap keras padanya dan melihat satu pedang panjang yang tertusuk pada dasar pemandian itu.

Aku tidak mungkin dapat salah pada bentuk indahnya bahkan melalui beberapa sentimeter dari es itu. Itu adalah pedang kesayangan Eugeo, Blue Rose Sword.

Kegelisahanku menjadi lebih meningkat pada saat melihat sacred instrument yang benar-benar dapat dikatakan bagian dari Eugeo sendiri yang tertinggal di dalam dasar es itu. Aku mengambil pandangan pada Alice yang masih memeluk Bercouli, lalu menarik pedang hitamku dari pinggang kiriku dan perlahan menusukkan ujungnya lurus ke bawah, tepat di atas Blue Rose Sword yang terkubur di dalam es. Aku menaruh kekuatan pada gagang yang aku genggam dengan genggaman di bawah tanganku dengan sekejap.

Pikii! Suara keras terdengar saat es itu dihancurkan secara vertical ke bawah, terjatuh ke lubang dari sisinya. Menekukkan lututku di es, aku mentupi sebagian besar dari gagang Blue Rose Sword yang terlihat dengan tangan kiriku dan perlahan menarik itu meskipun membutuhkan ketahanan terhadap hawa dingin tanpa belas kasihan, dari suatu suhu negatif Celcius, yang menusuk pada kulitku. Pedang itu menaruh sedikit perlawanan, tapi dengan segera tertarik keluar tanpa adanya suara saat bagian es yang kecil tersebar darinya.

Ketika aku berdiri dengan pedang hitam di tangan kiriku dan Blue Rose Sword di tangan kiriku, berbagai sendiku berderit sebagai protes pada bebannya. Itu adalah hal yang normal, memegang dua sacred instruments dengan prioritas tinggi, tapi aku tidak dapat menyerah saja di sini. Setelah semua, valet trainees kita, Ronie dan Tizei, dengan tangan mereka yang berdarah telah membawa pedang ini pada kita sementara kita hendak diambil pergi menuju katedral.

Aku adalah seseorang yang bertugas untuk mengantar Blue Rose Sword pada Eugeo untuk kali ini.

Mengambil pandangan sekali lagi di sekitarku, aku melihat sarung kulit putih yang kukenal tertinggal di permukaan es. Menaruh kembali pedang hitamku di pinggang kiriku, aku mengambil sarung pedang kulit yang tergeletak dan menyarungkan Blue Rose Sword pada itu. Setelah berpikir sebentar, aku mengantung pedang kedua di samping kanan sabukku, entah bagaimana mendapat keseimbangan untuk bergerak di sekitar sini.

Aku mengambil nafas dalam saat aku berbalik kembali dan mengetahui Alice berdiri di hadapanku, kelihatannya telah sampai di sana tanpa kusdari. Dia mengusap air mata dari mata kirinya dengan lengan bajunya dan berbicara dengan nada yang sedikit berterus terang, mungkin untuk menyembunyikan perasaan malunya.

"...Seseorang yang dapat memegang kedua pedang secara bersamaan adalah seseorang dari bangsawan kelas atas yang hanya mampu untuk memperlihatkannya...Tapi itu sangat cocok untukmu, itu sangat aneh."

"Hm? Oh benarkah...?"

Aku tidak dapat melakukan apapun selain memperlihatkan senyum masam. Memang benar, aku hidup sebagai solo player yang bertarung dengan dua pedang yang dimiliki olehku pada saat hari-hariku di SAO, tapi mungkin disebabkan oleh waktu yang lama sementara menyembunyikan skillku, mendapati seseorang melihatku dengan dual blades membawa perasaan kegelisahan.

Tidak—itu mungkin bukan semuanya, aku mungkin menahan suatu ketakutan pada keberadaan lain yang hebat dari diriku, Kirito yang menyelesaikan game kematian SAO dengan dual blades, di suatu tempat di dalam hatiku...Atau mungkin ketidaksukaan. Tidak peduli bagaimana seseorang akan mencoba untuk meyakinkanku, aku akan senang hati menyerah mengambil peran itu untuk kedua kalinya.

"...Bahkan jika seperti itu, mengayun dua pedang di saat yang bersamaan benar-benar mustahil."

Alice secara jujur mengangguk dengan setuju ketika aku mengatakan itu sementara mengangkat bahuku.

"Mengayun dua pedang akan membuatmu tidak dapat menggunakan secret skill yang penting, setelah semua. Bahkan jika kita menghiraukan fakta itu, sudah jelas tidak ada keuntungan untuk memakai dua pedang. Jika memang begitu...Jika pedang itu telah tertinggal, aku rasa Eugeo pasti telah diambil pergi menuju pemimpin tertinggi yang suci...Itu akan lebih baik untuk agar segera bergegas, perbuatan orang itu melebihi apa yang manusia dapat pikirkan..."

"...Pernahkah kau berbicara dengannya sebelumnya? Pernahkah kau berbicara dengan Administrator?"

"Hanya sekali."

Ekspresi wajah Alice menjadi kaku saat dia mengangguk pada pertanyaanku.

"Itu akan menjadi enam tahun yang lalu semenjak sekarang...tapi ketika aku terbangun dengan semua ingatan masa laluku menghilang dan sebagai murid Integrity Knight, aku bertemu dengan pemimpin tertinggi yang suci, «seseorang yang memanggilku» dan juru bicara dari tuhan di Dunia Manusia. Dia adalah seseorang yang langsing dan cantik yang kelihatannya tidak penah memegang sesuatu yang cukup berat, lupakan pedang...Tapi matanya..."

Dia melanjutkan berguman sementara memeluk dirinya dengan kedua tangannya.

"Mata perak itu terlihat seperti cermin, memantulkan semua cahaya...Ya, aku mengerti sekarang. Aku pasti telah terserang dengan ketakutan. Apa yang mendorongku untuk tidak pernah melawannya, untuk mempercayai semua perkataannya, dan untuk memberikan semua dari diriku padanya karena perasaan takut yang sangat besar...Aku menyakini itu sekarang."

"Alice..."

Merasakan sedikit kekhawatiran, aku menatap pada wajah knight yang tertunduk itu.

Tetapi, seolah-olah dia telah membaca pikiranku, Alice mengambil nafas dalam, lalu mengangkat garis pandangannya dan mengangguk.

"Aku baik-baik saja. Aku telah memutuskan. Untuk melakukan apa yang aku percayai benar, untuk saudara perempuanku yang tinggal di jauh di utara...keluarga yang belum pernah kutemui, dan juga rakyat biasa —Oji-sama mengetahui segel yang terpasang di mata kanan kita. Dengan kata lain, seseorang yang mengatur Integrity Knight, Bercouli Synthesis One, benar-benar tidak sepenuhnya mempercayai peraturan Gereja Axiom adalah baik Datang ke bawah menuju lantai ini sama sekali tidak membantu apapun mengenai tentang menyelamatkan patnermu, tapi aku sangat senang dapat bertemu dengan oji-sama...Aku tidak akan membiarkan hatiku bimbang lagi."

Alice merendahkan pinggangnya dan dengan lembut mengelus pipi Bercouli yang membatu. Tapi itu hanya untuk beberapa saat dan dia segera berbalik, dengan kuat melangkahkan kaki pada es saat dia mulai berjalan kembali menuju tempat dimana kita datang sebelumnya.

"Sekarang, kita harus cepat. Kepala Pemimpin mungkin berdiri di hadapan kita sebelum kita dapat berhadapan dengan pemimpin tertinggi yang suci."

"H...Hei, apa itu tidak apa-apa meninggalkan Komandan Integrity Knight seperti itu?"

Aku bertanya setelah mengejar hingga ke sampingnya dengan sedikit berlari dan Integrity Knight Alice berbicara seperti itu dengan cahaya kuat di mata kirinya.

"Itu akan menjadi terselesaikan jika kita mengalahkan Kepala Pemimpin, Chudelkin, dan membuat dia melepaskan art...Atau mungkin jika kita menebas dia hingga mati."

Pemikiran bahwa aku tidak ingin membuat knight ini kembali menjadi musuh terlintas di pikiranku pada saat aku berjalan, menahan beban dari dua pedang.

Alice dan aku berhenti pada saat kembali menuju lantai kesembilan puluh lima, «Morning Star Lookout», setelah berlari melalui sebanyak lima tangga lainnya, meskipun melawan gravitasi untuk waktu yang sekarang.

Tidak sepertiku, yang menghela nafas berat disebabkan oleh Blue Rose Sword yang tergantung di sebelah kanan pinggangku, Integrity Knight yang hebat itu memiliki ekspresi tenang yang tidak berubah meskipun bagaimana itu seharusnya tidak memiliki perbedaan yang cukup besar diantara beban dari peralatan kita. Aku benar-benar dapat merasakan hawa dingin dari kulit putih saljunya dan mata birunya, yang dipenuhi dengan ketetapan hati, saat dia melihat ke atas menuju tangga yang melanjutkan menuju lantai berikutnya.

"...Dengarkan aku sementara kau mengatur nafasmu. Tetua seharusnya tidak memiliki perbedaan yang besar dengan penduduk biasa dalam hal pertarungan jarak dekat dengan senjata, tapi kemampuan penggunaan sacred arts bahkan melebihi kita, Integrity Knight. Bahkan jika udara hanya memiliki sacred power seperti sekarang, mereka kelihatannya akan menggunakan kristal katalis yang dikumpulkan dari taman bunga dan melancarkan serangan tanpa henti dari art berjarak panjang kepada kita."

"Untuk musuh yang seperti itu...membawa itu menjadi pertarungan jarak dekat, dengan serangan kejutan, akan menjadi hal yang norm...huh." Alice menggangguk singkat padaku ketika aku memotong perkataannya sementara menghirup dan menghela nafas.

"Ini bukanlah waktunya untuk mengkhawatirkan tentang bagaimana kita bertarung. Itu akan lebih baik jika berhasil untuk mendekat tanpa mereka sadari, tapi tidak ada jaminan bahwa kita dapat berhasil. Jika kita gagal dengan serangan kejutan kita, aku akan membuatmu menyerang sementara aku menahan sacred arts mereka dengan full control art pedangku."

"...Jadi aku adalah seseorang yang menyerang, huh..."

Dengan aku yang menunjukkan ekspresi depresi pada kemungkinan dari pertarungan melawan musuh bertipe sihir yang tidak kusukai, alis kiri Alice tersentak dan dia mengeluarkan ejekan biasa yang dia miliki.

"Aku tidak apa-apa jika kita bertukar peran. Tapi jika memang begitu, aku akan memintamu untuk bertahan terhadap sacred arts itu."

"Yeah, aku mengerti, aku akan melakukannya."

Memang benar, pedang hitamku sekarang sementara memulihkan Lifenya dan aku bahkan tidak yakin itu dapat menggunakan full control artnya. Jika mungkin, aku sejujurnya akan lebih menyukai untuk mempertahankan itu sampai pertarungan melawan pemimpin tertinggi. Bahkan sejak awal, skill spesialku, menciptakan tombak besar, umbra element yang berasal dari Gigas Cedar, bertipe kurang dalam fungsi seperti «badai bunga» dari pedang yang dimiliki Alice, bahkan jika itu mungkin memiliki kekuatan penghancur untuk mengubah situasi di sekitarnya. Alice berbicara dengan sungguh-sungguh saat aku hanya mengangguk.

"Aku mungkin mengirimkan art penyembuh dari belakang jika aku mendapat suasana hatiku. Mengamuklah seperti yang kau suka, tapi biarkan Kepala Pemimpin, Chudelkin, hidup. Jika dia seperti yang aku ingat. Dia seharusnya orang kecil yang memakai pakaian badut dengan warna biru dan merah terang."

"...Pakaian itu...telah membuang semua rasa martabat pada semua orang."

"Itu mungkin seperti itu, tapi jangan meremehkannya. Selain dari art «Deep Freeze» yang mengerikan, dia seharusnya memiliki banyak art cepat dan kuat di bawah pengendaliannya...Dia memiliki kemampuan art paling hebat di gereja, di belakang pemimpin tertinggi, setelah semua."

"Yeah, aku tahu. Seseorang yang terlihat seperti seorang yang lemah pada pandangan pertama selalu berubah menjadi yang paling bermasalah dalam quest."

Alice menjadi terdiam untuk beberapa saat untuk membuat ekspresi waspada pada perkataanku sebelum dia mengalihkan pandangan lurusnya menuju tangga ke atas dan mengatakan "Baiklah, kalau begitu" dengan kekuatan.

"—Mari kita pergi."

Apa yang menunggu kita, pada saat berlari ke atas menuju lantai berikutnya melalui tangga besar, menghentikan langkah kaki kita secepat seperti kita dapat berlari, yang benar-benar sangat sempit, dengan jalan masuk yang muram dan pintu hitam yang menutupi sisanya.

Luas dari jalan masuk yang diterangi oleh lampu hijau yang menakutkan sekitar satu setengah meter paling banyak. Cukup sempit sehingga dapat membuat dua orang harus berhati-hati ketika melewati satu sama lain. Satu pintu di kejauhan, juga, sangatlah kecil. Alice dan aku masih mampu untuk melewatinya tanpa mengenai kepala kita pada itu, tapi laki-laki berbadan tegap seperti Komandan Integrity Knight Bercouli harus sedikit menunduk, bukan?

Pemadangan ini hanya terasa tidak benar. Normalnya, benteng dari musuh terkuat—singkatnya the «last dungeon», akan menjadi lebih mewah dan mencolok pada susunan ruangan dan perabotan jika lebih jauh kita menjelahinya, bukan? Lantai ini benar-benar sederhana dengan dekorasinya dan penggunaan area lantainya dari «Morning Star Lookout» yang hanya satu lantai ke bawah.

"...Ini adalah «Ruangan Para Tetua» yang kau katakan sebelumnya...bukan?"

"Aku mempercayai seperti itu, tapi... —Kita akan mengetahui setelah memasukinya."

Dia melangkahkan kaki menuju koridor, rambut pirangnya terurai, seolah-olah untuk menarik keraguannya.

Mulai mendapati untuk memikirkan bahwa mungkin ada jebakan yang terpasang di ruangan sempit ini, aku secara insting mencoba menariknya kembali, tapi dengan segera memikirkannya kembali dan berlari mengejarnya. Itu tidak mungkin dapat memiliki jebakan yang terpasang untuk mengantisipasi penyusup di dalam area sejauh ini dari Gereja Axiom. Bahkan jika ada yang seperti itu, itu mungkin akan diperlihatkan dengan mencolok seperti minion yang terbaris di dinding luar.

Jalan sempit yang kira-kira dua puluh meter membiarkan penyusup lewat tanpa insiden dan kita mencapai pintu kecil itu.

Saling bertukar pandangan, kita bedua mengangguk sebelum aku, yang berperan menyerang, mengulurkan tangan dan memegang gagang pintu itu, yang berukuran kecil juga, dengan tangan kananku. Pintu itu terbuka, gagang itu terputar jauh terlalu mudah dengan suara klik dan itu dengan mudah terbuka ketika ditarik.

Aku dengan jelas dapat merasakan suatu jenis kehadiran dari hawa dingin bertiup dari interior yang suram itu—untuk menggunakan persamaannya, itu terasa seperti kesedihan yang aku rasakan kapanpun aku membuka pintu ruangan bos di labirin Aincrad, mendorong rasa merinding di punggungku.

Itu dapat dikatakan, aku tidak dapat mengatakan secara benar pada Alice untuk bertukar peran saat aku berada di barisan depan sekarang. Dengan menarik pintu itu hingga terbuka, aku sedikit berhenti saat aku melihat ke dalam.

Jalan sempit yang sedikit berlanjut dan melebar hingga ke ruangan gelap, yang hampir tidak diterangi. Cahaya ungu yang samar-samar kelihatannya berkedip, tapi aku tidak dapat melihat darimana itu berasal.

Itu terjadi pada saat aku dengan perlahan melewati pintu itu apa yang terdengar seperti perkataan kutukan mencapai telingaku. Menghentikan langkahku, aku menajamkan pendengaranku. Itu bukanlah suara dari satu orang. Ada beberapa—bahkan mungkin beberapa puluh orang berguman satu sama lain. Alice membisikkan "Itu adalah sacred arts", dari belakang dan aku menjawab dengan setuju, menahan nafasku.

Aku menguatkan diriku, menduga berbagai serangan diarahkan pada kita, tapi kelihatannya itu bukan seperti itu. Kata, «generate», yang penting untuk kalimat art penyerangan, sama sekali tidak ada di bagian dari perintah yang dapat aku dengar.

Aku memiringkan kepalaku, memikirkan bagaimana jenis dari art itu, dan Alice mendesakku dengan bisikan.

"Mari kita menyerbu. Jika tetua melakukan suatu art hebat yang tidak berhubungan dengan kita, itu akan menjadi keuntungan kita. Kita bahkan mungkin untuk dapat berada di dalam jarak pertarungan pedang jika kita menyelinap di antara suara mereka di kegelapan ini."

"...Yeah, itu benar. Seperti yang kita telah rencakan, aku akan maju pertama kali. Aku meninggalkan bagian belakang padamu."

Membisikkan kembali, aku menarik pedang hitamku dari pinggang kiriku. Aku berpikir bahwa Blue Rose Sword di pinggang kananku mungkin menjadi beban di pertarungan, tapi itu tidak cukup untuk membuatku meninggalkannya di tempat ini. Mengkonfirmasi Alice telah menarik Fragrant Olive Swordnya, aku melangkah ke depan sekali lagi.

Saat mendekati menuju ruangan gelap, aku menyadari suatu bau tidak sedap tercampur pada udara dingin. Itu tidak seperti bau tidak sedap dari darah atau hewan, itu lebih seperti makanan busuk. Mengalihkan pikiranku dari itu, aku menyandarkan punggungku pada dinding dari pintu masuk sementara mengintip pada ruangan gelap yang diketahui sebagai «Ruangan Para Tetua».

Itu sangat luas—atau daripada itu, itu sangat tinggi.

Lantainya berbentuk lingkaran dengan diameter kira-kira dua puluh meter. Dinding berliku itu terbentang tinggi, mungkin sebanding dengan tiga lantai dari katedral, langit-langitnya telah tenggelam pada kegelapan. Dalam hal strukturnya, itu memiliki sedikit kemiripan dengan Ruangan Perpustakaan Besar dimana Cardinal tinggal.

Tidak ada satupun jenis lampu, satu-satunya sumber cahaya adalah beberapa lampu ungu, yang samar-samar, berkedip di sekitar dinding. Selain dari itu, ada objek lingkaran yang tersusun secara keseluruhan dengan celah pendek yang sama, tapi aku tidak dapat mengenalinya. Cahaya baru menjadi hidup dibandingkan dengan mendekati kita. Sebuah bidang persegi panjang bersinar dengan warna ungu pucat—«Stacia Window». Dan lingkaran yang berada di tempat jauh itu adalah......

Kepala manusia.

Jadi itu berarti setiap dari benda lingkaran yang berbaris di aula silinder ini—

"...Ke-Kepala yang terpenggal...?"

Suara serak keluar dariku dan Alice, yang ada di belakangku, mengeluarkan bisikan dengan volume paling rendah yang dia bisa dari samping kiriku.

"Tidak, mereka kelihatannya tersambung dengan tubuh, tapi...Mereka kelihatannya tertanam dari dinding..."

Aku dengan susah payah memfokuskan pandanganku pada perkataannya. Memang benar, leher dan bahu mereka dibawah kepala lingkaran itu, tapi itu semua yang dapat aku lihat. Setelah semua, tubuh mereka dengan rapi tertarik di kotak persegi yang tertempel pada dinding.

Menilai dari ukuran kotak yang sederhana itu, anggota badan mereka pasti telah terlipat sejauh yang mereka bisa untuk menekuk di dalam. Aku sangat sulit untuk dapat memikirkan situasi itu sangat nyaman, tapi manusia di kotak itu kelihatannya sepenuhnya tidak menyadari situasi mereka berada. Setelah semua, wajah mereka yang terdorong keluar dari kotak itu benar-benar tidak memiliki suatu jenis emosi.

Mereka tidak memiliki rambut, tidak hanya di kepala mereka, wajah mereka, bahkan tidak memiliki alis, dua bola mata yang seperti kaca yang di dalam wajah pucat mereka menatap pada Stacia Window yang melayang tepat di hadapan mereka dengan kebingungan. Window yang menampilkan kalimat yang mengalir dari teks setiap menit dan di setiap jeda, manusia di kotak mengatakan itu keluar secara membosankan dari mulut tidak berwarna mereka.

"System call...display rebelling index..."

Seluruh tubuhku menjadi kaku pada saat aku mendengar suara yang tidak pantas untuk seseorang yang hidup.

"Mereka...Mereka adalah...Dari pada waktu lalu."

"Apa kau mengenal mereka!?"

Alice dengan cepat merespon pada rintihan. Menatap pada wajah knight itu, aku perlahan mengangguk.

"Yeah...Dua hari yang lalu, tepat setelah aku bertarung melawan Raios dan Humbert di Akademi Master Pedang, sesuatu seperti window muncul di ujung dari ruangan. Wajah putih yang melihat ke arah Eugeo dan aku dari sana...Pasti adalah orang-orang ini..."

Alice menajamkan pendengarannya menuju suara manusia di kotak itu sekali lagi pada perkataanku, lalu berbicara dengan merengut. "Art yang mereka ucapkan...Aku tidak memiliki ingatan dari itu apapun itu, tapi itu kelihatannya membagi Dunia Manusia menjadi bagian kecil dan menampilkan suatu jenis nilai. Aku tidak tahu apa yang mewakili nilai itu, bagaimanapun juga."

"Nilai..."

Pada saat aku menirukan perkataan itu, sebuah suara terlintas kembali di pikiranku.

—Dan di dalam parameter tersembunyi itu, ada sesuatu yang disebut «Transgression Quotient».

—Administrator dengan cepat menyadari parameter transgression quotient ini dapat digunakan untuk memperlihatkan manusia yang meragukan Taboo Index yang dia tetapkan....

Penyihir muda di Ruangan Perpustakaan Besar, Cardinal, adalah seseorang yang memberitahuku tentang itu. Tidak ada lagi kesempatan untuk meragukan. Pengucapan Suci, «Rebelling Index», yang dikatakan oleh manusia di kotak itu pasti adalah transgression quotient yang dikatakan Cardinal, dengan kata lain, itu berarti sepuluh manusia di kotak di ruangan ini sedang memeriksa pada transgression quotients dari setiap manusia yang hidup di Dunia Manusia.

Jika mereka mendeteksi nilai yang abnormal, manusia di kotak akan memeriksa lokasinya, mengidentifikasi seseorang yang melakukan taboo, dan melaporkannya. Seseorang yang menerima laporan akan memerintahkan Integrity Knight untuk menahan kriminal. Ini adalah bagaimana Eugeo dan aku, dan juga Alice, diambil pergi menuju katedral...

Aku masih berdiri dengan terdiam ketika suara seperti bel tiba-tiba terdengar. Baik Alice dan aku secara insting memperkuat genggaman pada pedang kita, tapi kelihatannya, kita belum ditemukan. Setelah semua, manusia di kotak yang berhenti mengucapkan perintah banyak itu, telah melihat lurus ke atas, daripada ke bawah.

Aku belum menyadarinya sampai sekarang, tapi sesuatu yang menyerupai keran tertempel lurus di atas kepala mereka. Manusia di kotak itu membuka mulut mereka dan cairan coklat, yang kental tiba-tiba mengalir keluar dari keran.Mereka menangkap itu dengan mulut mereka dan meminum itu secara mekanis. Beberapa cairan itu terjatuh dari mulut mereka, mengotori leher dan dada mereka. Itu kelihatannya tempat dimana bau tidak sedap dari makanan busuk berasal.

Beli itu terdengar sekal lagi tak lama kemudian dan persediaan dari makanan cair itu berkurang. Manusia di kotak itu memutar kepala mereka kembali ke depan dan melanjutkan mengucapkan perintah. System call...system call...

—Ini tidak lagi dapat dipikirkan sebagai cara untuk memperlakukan manusia lebih jauh lagi.

Tidak, aku tidak dapat mengizinkan perlakuan seburuk ini, bahkan pada sapi dan domba.

Aku menggeretakkan gigiku, menahan kembali kemarahan yang mengalir dari dalam dirinya, sama seperti Alice yang mengatakan dengan suara dalam, tegang.

"Dan ini...Adalah yang seharusnya menjadi tetua, dari Gereja Axiom, yang memerintah Dunia Manusia?"

Aku mengalihkan pandanganku dan melihat Integrity Knight menatap pada ruangan, satu, mata birunya bersinar dengan cahaya. Itu tidak terlintas di pikiranku sampai dia mengatakan itu, tapi memang itu akan menjadi kesimpulannya. Sepuluh manusia di kotak adalah tetua, pelayan sipil yang tinggi dari Gereja Axiom.

"Dan seseorang yang membuat pemandangan seperti ini, juga...Adalah pemimpin tertinggi, bukan?"

"Yeah...Kelihatannya seperti itu."

Aku sedikit mengangguk pada perkataan Alice.

"Mereka pasti adalah manusia yang unggul pada sacred arts, meskipun dengan kemampuan bertarung yang lemah, yang diambil dari segala penjuru Dunia Manusia yang memiliki emosi dan pikiran mereka tersegel dan dibentuk kembali menjadi instruments pengawasan yang disebut tetua..."

Ya, mereka sama sekali tidak lebih dari instruments untuk hal ini. Instruments untuk mengawasi keteraturan dari kedamaian sempurna...atau mungkin, keadaan, dari seluruh Dunia Manusia dibawah pemerintahan dari Gereja Axiom. Keadaan yang menyedihkan dari nasib tetua bahkan jauh melebihi dari Integrity Knight yang kehilangan ingatan yang berharga bagi mereka. Peraturan Administrator untuk selama beberapa ratus tahun dari bantuan korban ini.

Wajah Alice perlahan menunduk ke bawah dan rambut pirangnya sedikit terurai menyembunyikan ekspresinya.

"...Aku tidak dapat memaafkannya."

Mungkin memproyeksikan kemarahan dari pemiliknya, Fragrant Olive Sword yang digenggam di tangan kanannya mengeluarkan suara lembut.

"Tidak peduli kejahatan apa yang mereka telah lakukan, kenapa mereka masih tidak diberikan kehidupan sebagai manusia? Untuk... Menghilangkan pengetahuan dan emosi manusia dari mereka, tidak hanya mengambil ingatan mereka seperti knight, dan mengurung mereka di kotak kecil dengan makanan yang lebih rendah dibandingkan dengan hewan...Tidak ada satupun kehormatan dan keadilan di tempat ini."

Alice dengan tegas mengangkat wajahnya pada saat kata-katanya berakhir dan dia melangkah menuju aula tanpa kebimbangan. Aku mengejar di belakangnya dengan panik.

Pandangan tetua masih tetap berada pada Stacia Windows meskipun kedatangan dari knight perempuan ini, berkilauan dengan indah bahkan di dalam kegelapan. Alice bergerak ke kiri dan berdiri di hadapan satu kotak. Aku menatap pada wajah pucat tetua dari diagonal belakang.

Aku tidak dapat mengetahui umurnya, atau bahkan jenis kelaminnya. Apakah cirri-ciri manusianya telah diambil dari kehidupan merea selama bulan dan tahun yang tidak pernah berakhir semenjak terkekang di aula tidak bercahaya ini, tidak, penjara?

Alice lalu dengan pelan membawa Fragrant Olive Sword di tangan kanannya menuju ke atas. Aku berpikir dia mencoba untuk menghancurkan kotak itu, tapi ujung bagian emasnya dengan halus ditempatkan dimana jantung dari tetua itu berada. Menelan nafasku, aku mengeluarkan bisikan pendek.

"Alice...!"

"Apa kau tidak mempercayai mengakhiri hidup mereka...Akan menjadi perbuatan yang baik?"

Aku tidak memiliki jawaban langsung terhadap pertanyaan itu.

Dari keadaannya, bahkan jika mereka mendapatkan kembali dengan «bagian ingatan» mereka— bahkan jika itu masih tersimpan—mereka mungkin tidak akan kembali ke bagaimana mereka seharusnya...Fluctlight tetua telah rusak hingga tidakdapat diselamatkan, membuat perbaikan menjadi mustahul, aku tidak dapat melakukan apapun selain memikirkan itu.

Tetapi, Cardinal, atau mungkin Administrator masih dapat memberikan harapan bahwa ada kematian yang lebih baik setidaknya. Dengan itu ada di pikiranku, aku berpikir untuk menaruh tangan kananku pada armor pundak emas Alice untuk menahannya.

Tetapi, suara aneh bergema melalui aula beberapa saat lebih cepat dan membekukan baik Alice dan aku di perjalanan kita.

"Aah...aah—!"

Itu adalah teriakan keras, yang melengking dari seseorang.

"Aah, tidak mungkin, aah, ini sungguh disayangkan, oh, pemimpin tertinggi, aah, kau tidak boleh, aah, ooh—!!"

Alice dan aku bertukar ekspresi keraguan pada bagian dari kalimat seru itu.

Aku tidak memiliki ingatan terhadap nada dari suara itu. Itu tidak kelihatan dari seseorang yang muda, tapi meski begitu, aku meragukan bahwa itu berasal dari seseorang yang tua. Semua yang dapat aku yakini, bahwa pemilik dari suara itu sangatlah senang hingga dia atau dia[8] telah kehilangan arti dari alasan.

Seolah-olah air dingin telah disiramkan pada kemarahannya, Alice menarik pedangnya dan menatap pada tempat dimana suara itu berasal. Aku, juga, mengalihkan pandanganku ke arah itu.

Lebih jauh ke dalam aula silinder itu jalan masuk yang terbuka lebar seperti dengan yang kita masuki sebelumnya Suara keras itu terdengar dari dalam untuk waktu berselang-seling.

"......"

Mari kita pergi, Alice kelihatannya mengatakannya saat dia menunjuk pada jalan masuk dengan pedangnya. Menjawab dengan anggukan, kita mulai berjalan dengan langkah kaki kita memperkecil suaranya.

Aula itu sama sekali tidak memiliki pilar atau perabotan yang dapat menyembunyikan diri kita di belakangnya dan itu membutuhkan sedikit keberanian untuk melewati menuju bagian tengah dari lantai ini tapi sepuluh manusia di kotak yang berjaga di dinding sama sekali tidak memandang kita yang dapat dikatakan bahwa makanan cairan yang datang dari keran itu yang ada ada di dunia mereka. Aku tidak dapat melakukan apapun selain dari mengasihi penjaga penjara bawah tanah atau gadis yang bertugas di elevator ketika aku mengetahui tentang keadaan mereka, tapi untuk mengatakan tetua bernasib tragis merupakan keterangan yang sangat benar.

Pada saat yang sama, aku hanya dapat mengatakan bahwa aku tidak dapat memikirkan bahwa orang itu mengeluarkan suara keras yang menggeliat, di dekat tempat yang menakutkan seperti ini. Setidaknya, aku sangat yakin bahwa itu tidak mungkin adalah seorang teman.

Alice kelihatannya memiliki pemikiran yang sama saat menyatakan perasaan kemarahan yang berbeda dari sebelumnya yang terlihat di wajah pucatnya. Berjalan lurus melalui aula itu dengan memelankan langkah kakinya, Alice mengintip dari jalan masuk menuju koridor di dalam. Aku, juga memeriksa keadaannya dari tepat di belakangnya.

Dibalik jalan masuknya, yang anehnya sangat sempit seperti jalan masuknya, adalah ruangan yang besar, meskipun itu lebih kecil dibandingkan dengan aula. Meskipun itu sederhana, itu diterangi lampu, memperbolehkan kita untuk melihat perabotan dengan masalah.

Kesan pertamaku adalah ruangan itu benar-benar sangat aneh.

Setiap dari perabotan berkilauan dengan warna emas yang kasar. Dengan perabotan besar, seperti lemari dan tempat tidur, hingga perabotan kecil, seperti meja bundar dan kotak penyimpanan, itu semua bekilauan dengan mempesona saat itu memantulkan cahaya, menyilaukan mataku bahkan dari jarak sejauh ini.

Dan apa yang menyembul dari perabotan emas itu atau terletak diatasnya, adalah tak terhitung mainan dari berbagai jenis, baik besar dan kecil.

Sebagian besar boneka mainan dengan warna dasar yang terang. Dari boneka manusia, dengan kancing untuk mata, dan benang untuk rambut, hingga hewan seperti anjing dan kucing, kuda dan sapi, bahkan ada suatu monster yang aku tidak dapat kenali, dalam bentuk mereka yang mengerikan, berada di sana, sini, dan di segala tempat di lantai dan tempat tidur, tertimbun dalam tumupukan. Ada juga bangunan bata, kuda kayu, instrument musik, dan benda seperti itu selain dari itu, seolah-olah took mainan dari distrik kelima Centoria telah dibawa menuju ke sini.

Dan pemilik dari suara itu terduduk dengan setengah tubuhnya terkubur di sana, dengan punggung menghadap kita.

"Hoooooh!! Hoooooooh!!"

Dan juga, mahluk itu merosot pada mengeluarkan perkataan seruan yang tidak berarti, satu demi satu, hanya dapat dideskripsikan sebagai sesuatu yang aneh.

Lingkaran. Kepala lingkaran yang berada di atas badan yang hampir berbentuk lingkaran seperti boneka salju. Tapi itu tidak berwarna putih, itu memakai pakaian badut, yang berwarna merah di kanan dan biru di kiri. Lengan baju yang menutupi lengan pendeknya memiliki garis vertikal berwarna merah dan biru juga, pemandangan yang kelihatannya seperti itu akan membuatmu sakit jika menatapnya terlalu keras.

Kepala lingkarannya berwarna putih murni dan sama sekali botak seperti tetua yang ada di belakang, tapi tidak seperti mereka, permukaannya sangat mengkilap dengan minyak. Sebuah topi dengan warna emas yang kasar sama seperti perabotan berada di atas kepalanya.

Aku menempatkan mulutku di dekat telinga Alice saat dia berdiri di depan dan bertanya dengan suara terpelan yang aku bisa.

"Apa dia Kepala Pemimpin...?"

"Ya, dia adalah Chudelkin."

Knight itu menjawab dengan suara yang benar-benar pelan, tapi itu keluar dengan kebencian yang tidak dapat disangkal. Aku menatap sekali lagi pada punggung yang ditutupi dengan pakaian badut.

Jika dia adalah Kepala Pemimpin, dia seharusnya berada di posisi yang sebanding dengan Komandan Integrity Knight Bercouli sebagai pengguna sacred arts berangking tinggi, salah satu orang terpenting dari Gereja Axiom. Tapi meski begitu, kata, "tidak berdaya", benar-benar tertulis di punggungnya. Pikirannya kelihatannya benar-benar terambil oleh sesuatu yang dia bawa dengan kedua tangannya.

Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas disebabkan oleh punggung lingkaran menutupinya, tapi itu sepertinya benda yang membuat Chudelkin terserap ke dalamnya adalah bola kristal besar. Kaki pendek, yang terentang bergerak setiap waktu ketika warna itu berkedip di dalamnya, bersamaan dengan seruannya dari "hah" atau "hoh".

Aku sudah pasti menduga bahwa akan ada perkenalan yang menegangkan sebelum pertarungan besar dimulai, seperti pertarungan melawan Deusolbert dan Fanatio, tapi cukup bagaimana aku seharusnya menanganinya dengan situasi seperti ini? Ketika aku berusaha untuk memikirkan tindakan selanjutnya, Alice tiba-tiba membuat gerakannya, kelihatannya tidak dapat untuk menahan dirinya lebih lama lagi. Menyerbu dengan segenap jiwanya dan tidak berusaha untuk menyembunyikan langkah kakinya, untuk melangkah.

Itu dapat dikatakan, dia benar-benar hanya membutuhkan lima kali menghentakkan kaki ke tanah. Dengan mudah meninggalkanku saat aku dengan susah payah mencoba untuk mengejar pada sosok emas yang menyerbu menuju ruangan itu, Alice telah berhasil menggenggam erat pada kerah yang berkibar dari pakaian badut Chudelkin dan mengangkatnya pada saat leher lingkarannya berpikir untuk berputar.

"Hoooooaah!?"

Alice dengan kuat menarik benda lingkaran itu, dari dimana suara histeris itu berasal, keluar dari tumpukan mainan dan mengangkatnya tinggi ke atas. Akhirnya berhasil mengejarnya, aku pertama kali mengecek pada seluruh ruangan ini. Tentu saja, aku sementara mencari Eugeo yang telah diambil pergi dari pemandian besar oleh Chudelkin, tapi aku tidak dapat menemukannya dimanapun. Ketika aku melihat ke arah bagian tengah ruangan lagi dengan kekesalan, bola kristal yang membuat Chudelkin terserap ke dalamnya menarik perhatianku.

Pusaran cahaya mewarnai bagian dalam dari bola kristal itu, mungkin berukuran lima puluh sentimeter dari sisi ke sisi setidaknya, menunjukkan gambar dengan luas. Gadis cantik yang duduk dengan kedua kakinya terlipat pada sisi di atas seprai mewah. Wajahnya tersembunyi dari pandangan oleh rambut panjang peraknya, tapi tubuhnya benar-benar tidak berpakaian.

Itu adalah ketika semangatku menjadi terkuras habis pada saat menyadari bahwa ini adalah alasan dibalik teriakan aneh Chudelkin pada saat aku menyadari apa yang kelihatannya seperti orang lain duduk di depannya, aku mecondongkan wajahku agar dapat melihat lebih dekat, tapi mungkin karena artnya menjadi terputus pada saat itu, gambarnya bersinar putih dan menghilang.

Alice, di sisi lain, tidak menunjukkan ketertarikan pada gambar itu dari sejak awal, menghunuskan ujung pedangnya lurus pada mulut badut yang tergantung itu pada saat dia berbicara.

"Aku akan memotong lidahmu dari dasarnya dalam sekejap jika kau mencoba untuk memulai mengucapkan art."

Mulut dari orang kecil itu yang hendak untuk meneriakkan sesuatu dengan cepat tertutup setelah peringatan tak berperasaan. Berdasarkan oleh peraturan dasar dari Underworld, dimana semua sacred arts yang dibutuhkan didahulukan oleh «System Call», musuh pengguna art pasti telah kehilangan keuntungannya pada saat ditahan dalam posisi seperti itu. Tapi meski begitu, aku masih menjaga perhatianku pada dua tangan pendek itu sementara menatap pada wajah orang ini—Kepala Pemimpin Chudelkin.

Tidak dapat dijelaskan, tidak banyak orang lain yang penampilannya cocok dengan arti dari kata itu. Mulut merah terang berada di bagian bawah dari wajah lingkaran sempurnyanya, hidung pesek menonjol di atasnya, dan mata serta alisnya berbentuk sipit yang menyerupai senyuman.

Tetapi, mata sempit itu yang sekarang terbuka lebar yang dapat itu lakukan, mata kecil, hitamnya bergemetar saat itu menatap pada Alice. Mulut tebal itu mengatup seperti terompet beberapa saat sebelumnya dan suara seperti deritan logam berkarat keluar dari Chudelkin.

"Kau...nomor tiga puluh...Kenapa kau berada di tempat seperti iniii? Kau seharusnya telah terjatuh keluar dari menara hingga mati bersama dengan salah satu kriminalll."

"Jangan memanggilku dengan nomor! Namaku adalah Alice. Dan aku bukan lagi nomor tiga puluh."

Wajah berminyak Chudelkin tersentak pada jawaban Alice yang telah tercampur dengan udara dingin yang menusuk dan dia mengalihkan matanya menuju ke arahku untuk pertama kalinya. Kedua mata sipitnya terbuka hingga seperti setengah lingkaran dan nafas berat keluar dari tenggorokannya.

"K-Kauuuu, kenapa, bagaimana!? Tig...Knight Alice, kenapa kau tidak menebas kriminal itu di siniii!? Dia adalah pemberontak terhadap gereja...Bukankah aku memberitahu bahwa dia adalah Darkness Knight dari Dark Territory!!"

"Memang benar, dia adalah kriminal. Tapi dia bukanlah Darkness Knight barisan terdepan dari tanah kegelapan. Sama seperti aku yang sekarang."

"Apa...Apa..."

Anggota badan Chudelkin menjadi terkibas seolah-olah itu adalah salah satu mainan yang memenuhi ruangan itu.

"J-Jadiiii kau berencana untuk mengkhianati gereja, huuuh, pernyataan sialamu sebagai knighttttt!!"

Mungkin pedang yang digenggamnya tidak lagi terlihat di pandangannya. Tapi wajah putih murni berubah menjadi merah terang dalam sekejap dan teriakan kemarahannya bergema di sekitar ruangan itu bahkan dengan suara yang lebih keras dibandingkan dengan suara biasanya.

"Kalian Integrity Knight tidak berguna selalu seperti iniiii! Dan kau hanyalah bonekaaaaa!! Hanya boneka yang bergerak sesuai dengan perintahkuuuu!!Bagaimana mungkin kau dapat melakukan ini pada Pemimpin Suci!! Bagaimana mungkin kau dapat mengkhianati pemimpin tertinggi, Administratorrr!!"

Setelah menghindari ludah yang terpencar dari mulut Chudelkin dengan memalingkan wajahnya, Alice menjawab dengan dingin bahkan tanpa mengerutkan alisnya pada cemohan tersebut.

"Bukankah Gereja Axiom yang telah mengubah kita menjadi boneka? Setelah semua, kalian telah menyegel ingatan kita melalui «Synthesis Ritual», secara paksa menanam kesetiaan di dalam kita, dan membuat kita mempercayai kebohongan bahwa kita dipanggil sebagai knight dari Celestial World."

"Apa......"

Wajah Chudelkin berubah, sekali lagi, dari merah menjadi putih dan mulut besarnya tertutup.

"Kenapa kau mengetahui tentang..."

"Itu kelihatannya aku memiliki beberapa ingatan yang tertinggal meskipun telah tersegel, samar-samar meskipun begitu. Aku melihat pemandangan ini ketika aku melangkah mendekat menuju Ruangan Para Tetua...Gadis yang ketakutan, dipenuhi dengan kegelisahan dan ketakutan dan terikat di tengah-tengah ruangan itu, yang mendapati dinding di hatinya terbuka paksa oleh tetua, banyak, banyak art dalam waktu tiga hari dan tiga malam. Itu adalah kebenaran dibalik Synthesis Ritual...Air mataku yang berasal dari kesedihan dan keputusasaan pasti pernah sekali membekas di lantai batu di aula itu ketika aku masih seorang gadis kecil itu."

Meskipun Alice mencoba untuk menahan dirinya, wajah Chudelkin dengan kebingungan berganti diantara merah dan putih saat dia mendengar perkataannya yang memiliki ujung yang tajam seperti pedang besi.

Tapi pada akhirnya, Chudelkin, mungkin satu-satunya manusia yang masih memiliki pikirannya sendiri diantara orang di Ruangan Para Tetua, menunjukkan senyuman kasar, yang menantang.

"Ya...Itu seperti yang kau katakan. Aku masih dapat mengingat itu seperti itu baru saja terjadi kemarin, kau tahuuu? Gadis muda, yang tidak ternoda, dan yang sangat cantik seperti kau, air matamu mengalir ke bawah pada saat kau terus memohon dan memohon...'Tolong jangan membuatku melupakannya...Jangan membuatku melupakan sesuatu yang berharga bagiku...', hohoho."

Melihat ke arah Chudelkin meniru nada suara dari perempuan dengan nada tinggi yang memuakkan, mata Alice memiliki sinar yang mengingatkan pada api yang menyala. Tapi Chudelkin melanjutkan dengan provokasinya, melanjutkan monolog yang tidak enak.

"Oho, ohoo, tentu saja aku mengingatnya! Kesenangan yang aku dapatkan dari menggunakan pemandangan itu masih dapat teringat olehku di sepanjang malam bahkan sampai sekarang! Setelah membawamu ke sini dari suatu tempat yang bau, kau pertama diangkat sebagai murid sister selama dua tahun. Kau adalah anak yang tomboi, menemukan celah di penjagaan setiap hari dan berkeliling di festival pertengahan musim panas di Centoria, tapi meski begitu, kau menaruh semua yang kau punya untuk belajar, mempercayai bahwa kau akan dapat kembali menuju kampung halamanmu suatu hari jika kau dapat bekerja sangat keras. Tapi kau tahu, itu semua omong kosong! Tepat setelah sacred arts usage authoritymu sudah cukup besar, forced synthesis datang! Wajah basah oleh air mata yang kau miliki ketika kau mengetahui bahwa kau tidak akan pernah kembali lagi ke rumahmu lagi sangat...Aku bahkan memikirkan tentang mengubahmu menjadi batu, jadi aku dapat meninggalkanmu di ruanganku sebagai dekorasi selama-lamanyaaaa! Hoh, hoh, hoh!!"

Aku tidak dapat menghentikan tangan kananku, yang menggenggam pada pedangku, dari gemetar pada saat mendengar perkataan Chudelkin yang benar-benar jahat itu. Gemeretak dari Alice yang menggeretakkan giginya terdengar lagi, tapi dia bertanya pada Kepala Pemimpin tanpa kehilangan kendali dirinya.

"Ada sesuatu yang aneh dari apa yang kau telah katakan. Forced synthesis, bukan? Bukankah itu menyatakan ada seseorang yang menjalani Synthesis Ritual berdasarkan keinginan mereka sendiri?"

Kepala Pemimpin menyipitkan kedua matanya pada kalimat itu dan tertawa dengan singkat.

"Ho-ho, sungguh telinga bagus yang kau miliki. Tentu saja ada, kau tahu? Enam tahun lalu, kau menolak mengucapkan sacred art yang dibutuhkan untuk synthesis biasa dengan keras kepala. 'Sacred taskku masih ada di desa asliku, aku tidak perlu untuk mendengar perintahmu!' Dan seperti itu, dan kau mengatakannya dengan dengan hinaan seperti ituu!"

Itu kelihatannya benar-benar seperti yang akan Alice katakan pada saat masih anak-anak—Aku benar-benar meyakini itu meskipun aku sama sekali tidak mengetahui gadis pada waktu itu. Mungkin mengingatnya juga, Kepala Pemimpin meludah dengan bibir melengkungnya karena kekesalan.

"Kau adalah anak tidak sopan, yang menyebalkan pada saat ituu. Aku bahkan memikirkan tentang meminta Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi, untuk bangun, tapi aku benar-benar tidak dapat melakukannya sebelum menyelesaikan persiapan untuk upacara, kau tahuuuu. Karenanya, aku tidak memiliki pilihan sama sekali, selain untuk menarik tetua otomatis dari tugas mereka untuk sementara untuk membuka paksa dinding yang melindungi semua yang oh-sesuatu-yang-sangat berharga untukmuuu. Sebenarnya, aku berhasil memenuhi kesenanganku berkat pertunjukan yang kau perlihatkan, bagaimanapun juga! Hohii, hoh-ho—!"

Tawa kerasnya menjadi berhenti pada saat ujung Fragrant Olive Sword menjadi satu sentimeter lebih dekat. Tetapi, senyuman masih tersisa di mata dan mulutnya.

Perkataannya yang dengan jelas keluar dari Chudelkin termasuk beberapa bagian informasi yang berharga. Aku ingin mendengarkan jawabannya pada berbagai pertanyaan jika hanya Alice dapat menahan dirinya, tapi meski begitu, ini terasa aneh. Kenapa badut ini berbicara tentang rahasia yang sangat penting bagi gereja tanpa menahan diri? Dia seharusnya mengurangi provokasi pada Alice jika dia menginginkan hidupnya terselamatkan dan itu tidak terlihat seperti dia sedang menunggu kesempatan untuk serangan balik.

Aku mengumpulkan pemikiranku dengan tenang, seolah-olah aku tidak terlihat di pandangannya sama sekali, Chudelkin melanjutkan nostalgianya.

"Bagian pertama dari forced synthesis berakhir dan kau dibawa menuju Pemimpin Suci, pemimpin tertinggi, tidak lain olehku, saat aku dengan bangga mengakuinya. Sayangnya, aku tidak dapat melihat apa yang terjadi berikutnyaaa, tapi pada akhirnya, upacara itu selesai dan kau terbangun sebagai Integrity Knight yang menyakini bahwa kau adalah pelayang dari tuhan, dipanggil dari Celestial World, kau tahuuu? Sama seperti semua orang dari knight lainnya. Aku hampir menyobek perutku, karena tertawa ketika aku mendengar kalian knight bodoh berbicara dan berbicara tentang Celestial World..."

Aku menyadari mata Chudelkin berguncang saat dia dengan cepat berbicara tanpa henti, bergelantungan di udara. Seolah-olah dia sementara menunggu sesuatu. Dengan kata lain, cerita panjang orang ini hanya untuk mengulur waktu dengan menahan kita di ruangan ini...?

Aku mencoba memanggil Alice untuk memberitahu itu, tapi knight itu membuka mulutnya beberapa saat lebih cepat. Suaranya, lebih dingin dibandingkan dengan udara dingin yang memenuhi pemandian besar itu, mengalir menuju ruangan yang dilapisi oleh emas.

"Kepala Pemimpin Chudelkin, aku berpikir kau mungkin adalah badut menyedihkan yang mendapati hidupnya dipermainkan oleh pemimpin tertinggi, Administrator, korban seperti Integrity Knight. Tapi bahkan jika itu benar, itu kelihatannya kau memenuhi kesenanganmu dari keadaanmu sendiri. Aku rasa kau tidak memiliki penyesalan yang masih ada, jika memang begitu. Ceritamu ini mulai untuk membuatku bosan."

Ujung dari Fragrant Olive Sword bergerak dan menekan pada bagian tengah dari lingkaran, pakaian badut yang menonjol—tepat di jantungnya. Material yang berkilauan itu menunjukkan suatu perlawanan terakhir saat itu sedikit tertusuk ke dalam.

Chudelkin seharusnya mengungkapkan suatu informasi baru sekarang jika tujuannya adalah untuk mengulur waktu. Bahkan mungkin lokasi Eugeo.

Prediksiku dengan mudah terbantah satu detik kemudian.

Pedang emas tertusuk dalam pada dada Kepala Pemimpin itu saat dia masih terdiam, mulutnya yang masih terbuka di tengah-tengah perkataannya. Mata sipitnya terbuka lebar dan pakaian badutnya dengan warna merah dan biru menengang saat itu membesar. Mungkin untuk menghindari darah yang menyembur, Alice memalingkan wajahnya menjauh, lalu itu terjadi.

Baan! Suara ledakan yang besar terdengar keluar dan tubuh lingkaran sempurna Chudelkin meledak seperti balon. Aliran darah mewarnai armor Alice menjadi merah—tidak.

"Apa..."

"Eh...!?"

Baik Alice dan aku mengeluarkan teriakan keterkejutan. Apa yang menyembur keluar bukanlah cairan tapi gas—asap berwarna merah terang. Itu dengan segera menyebar menuju sekeliling, menyelimuti ruangan dengan mainan itu.

Ada monster dengan kemampuan spesial ini di Aincrad juga. Kulit mereka juga membengkak diseluruh tubuh mereka dan kapanpun mereka terkena serangan apapun selain dari serangan bertipe langsung, mereka akan meldak dan mengeluarkan banyak asap, diri mereka yang asli melarikan diri ke suatu tempat di celah itu.

Sword Art Online Vol 13 - 251.jpg

Setelah mengingat kembali ingatanku dari waktu itu, aku secara insting mengayunkan pedang di tangan kananku pada saat aku menyadari bayangan panjang, tipis dengan cepat melewati bagian ujung dari pandanganku. Aku merasakan sedikit perlawanan, tapi asap yang terlihat beracun itu menyerang tenggorokanku denga rasa sakit yang menusuk pada saat aku menghirupnya dan membuatku menjadi terbatuk-batuk.

"Chudelkin...!!"

Alice berteriak dengan tangan kirinya menutupi mulutnya dan langsung melompat untuk mengejar bayangan itu. Chudelkin telah melarikan diri tidak menuju pintu yang menghubungkan menuju Ruangan Para Tetua, tapi lebih dalam pada ruangan itu. Memikirkan tentang bagaimana itu seharusnya tidak ada jalan keluar di sana, aku menahan nafasku dan berlari keluar juga, dengan posisi merunduk.

Tetapi, apa yang kita lihat dibalik kumpulan asap adalah lemari emas yang bergeser ke kanan dan pintu rahasia terbuka di belakangnya. Kita mengintip ke dalam, tepat waktu untuk melihat bayangan dari kepala lingkaran di atas dengan tubuh dan anggota badan yang kurus melarikan diri dengan cepat.

"Hohii!! Hohi—hii-hii-hii-hii—!!"

Tawa yang menusuk itu mencapai telingaku saat aku melanjutkan terbatuk-batuk.

"Art bukanlah sesuatu untuk ditunjukkan, kalian idiot! Ii—diots!! Majulah dan datanglah padakuu, aku akan menaruh semua yang aku punya untuk menghibur kalian untuk pertemuan berikutnya, hoh—hoh, hoh——!!"

Tawa itu berlanjut seperti mainan yang rusak, bersamaan dengan langkah kaki pendek, yang cepat.

Bagian 4[edit]

Alice dan aku berhenti hanya selama lima detik.

Kita bertukaran pandangan dan aku memimpin, menerjunkan diri pada lorong sempit itu. Untungnya, tidak kelihatan seperti ada racun apapun yang ada di asap merah yang sedikit aku hirup—meskipun itu berdasarkan pada alasan bahwa Chudelkin tidak akan melakukannya dengan terlalu benar pada racun di pakaiannya—dan batuk itu menjadi terhenti pada tepat waktu juga.

Pintu rahasia sangat cocok dengan Chudelkin dan kita akan menghantam kepala kita pada langit-langit jika kita tidak membungkuk. Suara goresan yang datang dari belakang setiap waktu dari sekarang hingga nanti pasti adalah suara armor bahu Alice yang bergesekan pada dinding. Aku, juga, melanjutkan berlari dengan posisi kaku sementara sarung pedang dari Blue Rose Sword yang tergantung di pinggang kananku terbentur pada dinding.

Tangga untuk naik mulai terlihat di depan beberapa saat kemudian, jadi kita berhenti untuk beberapa saat sebelum melompat ke depan setelah mengkonfirmasi bahwa tidak ada satupun sebuan. Langkah kaki Chudelkin telah menghilang dan tidak ada apapun selain dari udara dingin yang mengalir dari jalan suram yang dilalui kita.

Tangga itu jauh lebih panjang dibandingkan dengan yang aku duga, mengambil kira-kira tiga lantai katedral. Menilai dari tinggi langit-langitnya, aku meyakini bahwa Ruangan Para Tetua, dimana orang itu dideskripsikan oleh Chudelkin sebagai «tetua otomatis» telah ditempatkan di tempat itu, merupakan lantai kesembilan puluh enam hingga lantai kesembilan puluh delapan, jadi itu berarti lantai kesembilan puluh sembilan kelihatannya akan menjadi akhir dari tangga ini.

Pertarungan melawan Gereja Axiom yang dimulai dari penjara bawah tanah—bersamaan dengan dua tahun perjalanan yang Eugo dan aku telah lalui yang dimulai dari Desa Rulid akan berakhir dengan menaiki dua lantai lagi. Patnerku tidak berada di sampingku tepat sekarang, tapi aku seharusnya dapat bertemu dengannya jika perkataan Komandan Integrity Knight terbukti benar. Aku akan mengembalikan Blue Rose Sword kepadanya dan kita bertiga, termasuk Alice, akan mengalahkan Chudelkin dan pemimpin tertinggi. Dan setelah itu......

Aku perlahan menggelengkan kepalaku dan memfokuskan pada cahaya samar-samar yang terlihat di ujung tangga itu. Aku telah memiliki semua waktu untuk memikirkan tentang apa yang akan terjadi berikutnya setelah segalanya berakhir. Sekarang adalah waktunya untuk berkosentarsi pada pertarungan terakhir.

Itu adalah ketika aku memfokuskan pikiranku, yang hampir terperosok di masa lalu dan masa depan, kembali ke masa kini, lalu aku samar-samar mendengar suara keras Kepala Pemimpin dari depan kita.

"System caaaaall! Generaaate..."

Sebuah pengucapan untuk art elemental. Kewaspadaanku meningkat, tapi kita tidak dapat untuk berhenti di sini. Penerangan yang ada di depan perlahan-lahan mulai tertutup.

"...Kita hampir mendekati ujung dari tangga ini."

Aku dengan singkat menjawab ketika Alice meneriakkan peringatan dari belakang.

"Berhati-hatilah terhadap serangan kejutan dari sacred arts!"

"Aku mengerti!"

Mengangguk, aku menahan pedang hitamku di depanku saat aku berlari. Sihir sangat berguna untuk serangan kejutan di dunia ini dimana elements dapat dipersiapkan dan dipertahankan. Dengan membuat thermal element dan mengganti bentuknya, lalu mempersiapkan itu, itu dapat ditembakkan seperti senjata api pada saat musuh berada di dalam jangkauannya.

Tetapi, di sisi lain, kekuatan tembakan dari art hanya ditentukan oleh jumlah element yang digunakan. Satu element yang digunakan pada dasarnya akan menghasilkan kekuatan tembakan yang sama, entah dia adalah siswa yang baru saja mulai mempelajari sacred arts atau pengguna art berangking tinggi. Banyak element yang dapat dimanipulasi dengan latihan yang cukup, tapi setiap element membutuhkan jari untuk mempertahankannya, jadi batasnya untuk satu kali pemakaian adalah sepuluh. Pedang hitamku dengan sifatnya menghisap energi bahkan dapat bertahan terhadap serangan kuat dari sepuluh thermal element atau cryogenic elements.

Jika Chudelkin bertujuan untuk serangan kejutan, itu akan menjadi lebih tidak beresiko untuk menyerbu dari tangga dibandingkan dengan hati-hati memperlihatkan diriku. Setelah memutuskan itu, aku mempercepat diriku dan berlari pada beberapa meter yang tersisa, melompat tinggi setelah menghentakkan kaki pada langkah terakhir.

Tetapi, tidak ada satupun kobaran api ataupun hujan serpihan es. Berputar secara horizontal di udara, aku melihat di sekitar tiga ratus enam puluh derajat, tapi tidak ada Chudelkin maupun seseorang yang berada di sini, Mendarat di lantai marbel, aku menajamkan pendengaranku sementara berlutut dengan satu lutut. Semua yang dapat aku dengar adalah langkah kaki Alice yang mengejar di belakangku.

Alice menunjukkan dirinya pada saat aku mengangkat tubuhku. Knight itu memeriksa keadaan sekitar kita seperti yang telah aku lakukan, lalu berbicara dengan merengut.

"Aku yakin bahwa aku mendengar pengucapan, tapi tidak ada seorangpun yang ada di sini, bukan...Apakah Chudelkin menyerah dengan serangan kejutan dan berlari menuju ke atas...Menuju lantai keseratus...?"

"Tapi di atas sana hanya ada ruangan pemimpin tertinggi, bukan? Bahkan dengan statusnya, Kepala Pemimpin tidak dapat untuk memasukinya tanpa izin, bukan?"

"Aku ragu dia dapat melakukannya, tapi...Bahkan sejak awal, dimana tangga yang menuju ke atas?"

Aku mengambil pandangan lain di sekitar ruangan lingkaran itu yang mungkin adalah lantai kesembilan puluh sembilan seperti yang dikatakan.

Sangat luas. Diameternya kelihatannya berukuran sekitar tiga puluh meter. Lantai, langit-langit, dan dinding melengkungnya semua dibuat dari marbel yang sama Aku sekarang mulai terbiasa, yapi sungguh mengejutkan hanya ada sedikit dekorasi yang indah. Hanya ada lampu besar yang sebagian besara berada di dinding melengking, tapi hanya ada empat lampu yang menyala pada saat ini, jadi itu sangat redup. Meskipun itu hanya perasaan yang dibuat karena ruangan itu berwarna putih murni di segala tempat dan akan menjadi menyilaukan jika itu semua menyala.

Tangga yang menghubungkan menuju ruangan Chudelkin dimana kita memanjatnya sebelumnya terbuka lebar di lantai yang membatasi dinding. Itu memiliki pintu marbel terbuka ke atas yang menempel dan kelihatannya akan menyatu dengan sempurna dengan lantai ketika tertutup.

Jika memang begitu, mungkin masih ada pintu tarikan ke bawah yang menyembunyikan tangga ke atas di suatu tempat di langit-langit. Aku mencoba mencari tali atau gagang dengan pemikiran itu, tapi aku tidak dapat melihat apapun yang menyerupai itu. Menduga bahwa aku mungkin juga harus meyerang langit-langit dengan menggunakan skill pedang sekarang, lalu itu terjadi sementara aku menguatkan genggamanku pada pedang di tangan kananku.

"......Ruangan ini..."

Alice berguman secara tiba-tiba. Melihat ke sekitar, aku melihat mata kiri biru knight itu sedikit terbuka.

"Ada apa?"

"......Aku tahu ruangan ini. Ini adalah...Dimana aku terbagun sebagai murid Integrity Knight enam tahun lalu..."

"Eeh...Apa kau yakin!?"

"Ya...Semua lampu di dinding menyala pada saat itu...Ruangan itu bersinar terang dengan cahaya...Pemimpin tertinggi yang suci berdiri di tengah-tengah dan berbicara padaku saat aku terbaring di bawah. Bangunlah, anak dari tuhan...Dia bilang..."

Alice pasti telah menyadari bagaimana kata-katanya mendapat telah mendapat nada terhormat juga. Dengan sedikit meringis, dia melanjutkan dengan kekuatan yang lebih banyak.

"...Pemimpin tertinggi yang suci memberikanku yang telah kehilangan ingatanku yang sebelumnya, masa lalu palsu dan misiku sebagai knight, lalu mempercayakanku pada oji-sama...Komandan Integrity Knight Bercouli. Ada turunan di suatu tempat di lantai, seperti disk elevator yang dibangun di bagian tengah ruangan, yang membawa oji-sama dan aku menuju lantai kesembilan puluh lima pada saat itu. Aku tidak pernah berada di sini semenjak itu."

"Turunan yang ada di lantai...?"

Memiringkan kepalaku, aku mencoba menghentakkan kaki di lantai marbel dengan satu-satunya sepatuku. Tapi aku hanya merasakan ketebalan dari batu tebal itu. Itu akan sangat bodoh mencari elevator tersembunyi di ruangan yang luas ini dan sejak awal, kita sama sekali tidak membutuhkan metode untuk turun ke bawah.

"Alice, apa kau mengingat bagaimana Administrator kembali menuju ruangannya pada saat itu?"

Knight itu merenung pada pertanyanku dengan jari dari tangan kirinya berada di mulutnya.

"Aku yakin...Dengan segera sebelum disk elevator yang dinaiki oleh oji-sama dan aku tenggelam pada lantai ini...Pemimpin tertinggi yang suci melihat ke arah langit-langit...Dan disk elevator kecil datang dari atas..."

"Jadi seperti itu!"

Berteriak seperti itu,aku menatap pada lubang langit-langit yang berwarna putih murni sekali lagi. Dibandingkan dengan pintu tarikan ke bawah, ada elevator yang tersembunyi di suatu tempat di sebelah sana. Tetapi, aku tidak dapat menemukan sesuatu seperti tombol bahkan dengan melihat sekeliling lagi. Tidak ada seorangpun yang bertugas menjaganya tidak seperti elevator yang menghubungkan lantai kelima puluh dan kedelapan puluh, jadi seharusnya ada suatu mekanisme yang secara otomatis menaikkan atau menurunkan itu. Dan sesuatu itu...

"Ah...Mungkin yang diucapkan oleh Kepala Pemimpin adalah..."

Alice juga merespon pada perkataanku.

"Itu bukalah art penyerangan untuk serangan kejutan, tapi untuk menggerakkan elevator...? Jika memang begitu, Kirito, apa kau mengingat apa yang Chudelkin ucapkan setelah «generate»?"

"E-Erm..."

Merasakan bahwa aku tidak dapat memberikan "Aku tidak mendengarnya" sebagai jawaban untuk hal ini, aku berusaha mengingat kembali ingatanku dari beberapa menit sebelumnya. Jika aku mengingatnya dengan benar, mengikuti perintah generate, suara keras dari Kepala Pemimpin dilanjutkan dengan—

"Lu...Lu-atau sesuatu seperti itu, aku pikir..."

Alice memancarkan pandangan dingin yang membeku padaku saat aku berjuang untuk mengingat bagian sisanya.

"Itu lebih dari cukup, Satu-satunya yang dimulai dengan 'lu' hanya akan menjadi luminous element."

Tidak memperhatikanku lebih lanjut saat aku mengangguk dengan setuju, Alice pertama mengembalikan pedang yang tertarik di tangan kanannya menuju sarungnya, lalu mengulurkan sepuluh jari kecilnya menuju langit-langit.

"System call! Generate luminous element!"

Dengan menakjubkan, jumlah dari luminous elements yang dibuat adalah batas secara teori yakni sepuluh. Alice melepaskan titik cahaya putih yang melayang di ujung jarinya dengan pola melingkar tanpa merubahnya. Luminous elements terkena pada berbagai tempat di langit-langit, satu demi satu, tanpa membuat suara. Salah satu diantaranya mengeluarkan sinar kuat—lingkaran cahaya yang diameternya sekitar satu meter terlihat di langit-langit sementara pemikiran itu terlintas di pikiranku. Posisinya tidak berada di tengah, tapi lebih mendekati dinding.

Aku bergerak ke samping Alice yang menurunkan tangannya dan dengan hati-hati melihat pada fenomena itu. Lingkaran cahaya itu dengan segera menghilang tapi tidak menghilang, dan pada akhirnya, dibatasi oleh garis, bagian dari langit-langit marbel itu dengan halus menonjol keluar dan perlahan turun. Batu dengan permukaan lebih dari lima puluh sentimeter pasti akan sangat berat, tapi itu bergerak tanpa bantuan dari itu. Luminous element pasti hanya berperan sebagai tombolnya dan batu itu menggunakan suatu sumber energi yang lain untuk pergerakannya, aku tidak dapat memberitahu bagaimana itu dibangun. Itu benar-benar sebanding dengan berbagai keajaiban yang penyihir, Cardinal, perlihatkan di Ruangan Perpustkaan Besar...tidak, itu pasti seperti itu. Apa yang menggerakkan elevator ini pasti hanya suatu bagian dari kemampuan yang tidak terduga dari pemimpin tertinggi, Administrator, miliki.

Elevator—atau disk elevator, seperti yang Alice katakan, hampir berguncang saat mendarat di lantai. Permukaannya yang terbentang di atasnya dengan karpet merah terang, dibandingkan dengan lantai marbel, sedikit berkilauan saat cahaya putih kebiruan menyinari ke bawah dari lubang lingkaran yang ada di langit-langit.

Dan jalan menuju lantai tertinggi dari Katedral Pusat sekarang telah terbuka.

Pertarungan terhebat dan terakhir akhirnya akan dimulai ketika Alice dan aku melangkahkan kaki di disk elevator itu dan sampai di lantai keseratus.

Rencana awalnya adalah untuk menusuk Administrator dengan senjata rahasia kita, pisau itu, sementara dia tertidur dan meninggalkan sisanya pada Cardinal. Tetapi, pemimpin tertinggi seharusnya pasti telah terbangun dengan Chudelkin melarikan diri menuju lantai keseratus dan sejak awal, aku telah menggunakan pisauku untuk menyelamatkan Wakil Komandan Integrity Knight Fanatio.

Tapi untungnya, meskipun aku memikirkan jika aku dapat mempertimbangkan itu, Knight Alice telah menyetujui untuk mengembalikan kepribadiannya kepada Alice yang asli. Karena itu, sudah tidak diperlukan pisau yang Eugeo miliki untuk digunakan pada Alice. Kita pertama akan menyelamatkan Eugeo yang telah diambil pergi menuju lantai keseratus yang ada di hadapan kita dan kelihatannya masih dibekukan, lalu menusuk Administrator dengan pisau sementara dia masih menurunkan pertahanannya. Kita kelihatannya tidak memiliki kesempatan menang dengan strategi lainnya.

Itu kelihatannya Alice memperkuat tekadnya juga di waktu sekarang.

Bertukaran pandangan, kita mengangguk sekali lagi, dan berbicara.

"...Ayo."

"Mari kita pergi."

Lalu, Integrity Knight Alice Synthesis Thirty dan aku, elite swordsman-in-training, Kirito, mengambil langkah menuju disk elevator yang lima belas meter jauhnya.

Satu, dua, tiga langkah—dan itu terjadi.

Cahaya biru muda mungkin adalah cahaya bulan menyinari ke bawah dari lubang di langit-langit mendadak menjadi gelap.

Cahaya menyilaukan dari cahaya terang yang bersinar menuju mataku saat aku masih berdiri dan melihat ke arah lubang. Itu adalah cahaya bulan yang dipantulkan dari armor metal yang memiliki desain elegan. Mantel panjang yang berkibar saat seseorang perlahan turun dari lubang di langit-langit, enam meter tingginya, yang menutupi kepala hingga kakinya dengan armor beratnya.

Menilai dari tingginya, itu tidak mungkin adalah Chudelkin. Aku berpikir jika pemimpin tertinggi sendiri telah bersusah payah untuk turun menuju lantai kesembilan puluh sembilan, tapi itu adalah fisik dari laki-laki. Dengan wajahnya yang tersembunyi disebabkan oleh latar cahaya.

"Apakah masih ada Integrity Knight lainnya...?"

Aku berguman—

"Armor itu seharusnya...Tidak, tapi meski begitu..."

Dan Alice berbisik, knight baru itu mendarat pada disk elevator itu dengan suara logam yang indah pada saat yang berikutnya. Menyerap hantaman dengan menekukkan lututnya, dia perlahan berdiri.

Armor perak dengan warna kebiruan. Permukaannya yang kelihatannya entah bagaimana bersinar transparan dengan indah saat itu mengambil cahaya bulan. Mantelnya berwarna biru muda dan sejauh yang dapat aku lihat, tidak ada pedang yang ada di pinggangnya. Wajahnya yang tertunduk tersembunyi oleh jubah besarnya, tapi rambut gelombangnya berwarna...kuning muda yang lembut.

Rasa gemetar mengalir pada seluruh tubuhku seperti tersambar petir dalam sekejap.

Warna rambut itu. Warna yang selalu menemaniku selama dua tahun yang telah aku habiskan waktuku di Underworld.

Tidak mungkin. Tapi meski begitu. Kenapa?

Di pandanganku, knight itu akhirnya mengangkat wajahnya saat aku masih berdiri, diserang oleh kebingungan yang sangat besar. Mata hijau yang menatap lurus dari balik kelopak mata yang entah bagaimana terlihat sangat sedih. Aku tidak dapat menyangkalnya lebih jauh lagi. Anak laki-laki yang memakai armor Integrity Knight adalah......

".........Eugeo......"

Aku memanggil namanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Aku tidak mungkin dapat salah untuk mengenalinya, dari semua orang, dari siapapun itu. Teman yang tidak dapat dibandingkan dan patner yang selalu bersama denganku bahkan semenjak kita bertemu di hutan selatan dari Rulid. Aku dapat berhasil hingga sejauh ini berkat kehadiran Eugeo di sisiku. Benar-benar sama sekali tidak ada kesempatan aku dapat salah mengenali wajahnya dengan orang lain.

Tetapi, ekspresi yang dibuat mata dan mulut Eugeo saat dia masih berdiri dengan tenang sama sekali tidak kukenal. Tidak, itu bahkan tidak dapat dianggap sebagai ekspresi. Itu tidak seperti manusia lebih seperti es, lebih dingin dibandingkan dengan yang Alice miliki ketika kita pertama kali bertemu dengannya di aula besar Akademi Master Pedang.

"Eugeo."

Aku memanggilnya sekali lagi, dengan volume suara yang cukup besar untuk kali ini, entah bagaimana. Tetapi cahaya dingin yang memenuhi kedua matanya bahkan tidak bergetar sedikitpun. Itu tidak berarti dia menghiraukanku. Dia sekarang menganggapku. Mungkin...Sebagai musuh untuk ditebas.

"...Ini tidak mungkin...Ini terlalu cepat."

Alice dengan tiba-tiba berguman di sampingku dan aku bertanya dengan memohon sebagai balasannya.

"Apa yang...terlalu cepat...?"

"Penyelesaian dari upacaranya."

Melihatku dengan tatapan, knight emas itu menunjukkan sedikit keraguan sebelum mengatakan dengan ketetapan hatinya.

"Patnermu...Eugeo telah menjalani synthesis."

Synthesis—Upacara. Memanipulasi langsung pada fluct light yang hanya mampu dilakukan oleh Administrator. Mengambil ingatan seseorang dan menanamkan kesetiaan...Untuk mempersiapkan seseorang sebagai Integrity Knight.

"...Tidak mungkin, itu...Tapi itu membutuhkan tiga hari dan tiga malam untukmu..."

Alice dengan tenang menjawab saat aku menolak pemikiran itu, aku menggelengkan kepalaku secara kekanak-kanakan.

"Kepala Pemimpin telah mengatakan itu dikarenakan aku menolak untuk mengucapkan art yang dibutuhkan untuk itu. Dengan kata lain, upacara tiga hari tidak akan dibutuhkan jika seseorang mengucapkan art itu...Tapi meski begitu, ini jauh terlalu cepat. Hanya beberapa jam telah berlalu semenjak Eugeo bertarung melawan oji-sama..."

"Itu benar...Itu tidak nyata, Eugeo tidak mungkin dapat hanya, dengan mudah...Ini pasti adalah suatu jenis dari art ilusi atau......"

Tubuhku dengan sembarang mencoba untuk bergerak maju, bahkan tidak menyadari apa yang telah aku katakan.

Tapi tangan kiri Alice dengan kuat menggenggam tangan kananku yang tergantung dengan bebas tanpa peringatan. Ditemani dengan suara menuju telingaku.

"Tahanlah dirimu! Kau tidak akan mampu untuk menyelamatkan apapun dengan mengalah sekarang!"

"Meny...Menyelamatkan...?"

"Ya! Kau sendiri telah mengatakan ini, bahwa ada cara untuk memberikan kembali Integrity Knight ingatan asli mereka! Dengan logika itu, kau dapat mengembalikan Eugeo kembali menjadi normal juga! Kita harus melewati situasi ini enath bagaimana untuk melakukan itu!!"

Kekuatan hebat dari tekad mengalir padaku dari pergelangan tangan yang disentuh telapak tangan Alice saat dia melanjutkan teguran kerasnya, memberi nafas kehidupan pada tubuh kaku, dinginku. Aku dengan kuat mengembalikan lagi genggaman pada pedang hitamku yang kelihatannya hampir terlepas dari tanganku.

Ya—Alice benar. Ingatan dan kepribadian Eugeo pasti sama sekali tidak menghilang. Itu hanya tertolak untuk muncul disebabkan oleh operasi yang dilakukan pada bagian fluct lightnya.

Dengan mengambil kembali «bagian ingatan» yang Administrator telah ambil darinya dan membuat Cardinal menyatukannya kembali. Eugeo akan kembali menjadi swordsman baik dan santai seperti yang aku kenal. Dan untuk itu, aku perlu berbicara dan untuk mengumpulkan informasi.

Untuk meyakinkan kepribadian yang sekarang memanipulasi Eugeo dan untuk membuka jalan...Itu bahkan mungkin tidak mustahil untuk mendapat kerja samanya. Aku berhasil menyakinkan Knight Alice dengan kata-kata pada akhirnya, meskipun bagaimana sulitnya mendekatinya.

"...Tolong serahkan ini padaku."

Ketika aku membisikkan itu pada Alice, yang masih menggenggam pada tangan kananku, knight itu menunjukkan sedikit keraguan sebelum dia mengangguk. Melepaskan tangannya, dia dengan cepat berbicara sementara mengambil langkah ke belakang.

"Aku mengerti. Tetapi, jangan turunkan pertahananmu. Knight itu...Bukanlah Eugeo yang kau tahu selama ini."

"Yeah."

Alice dengan tenang melebarkan jarak kita setelah aku menjawab.

Sejujurnya, tidak peduli bagaimana kuatnya Eugeo setelah diubah menjadi seorang Integrity Knight, membuatnya tidak berdaya kelihatannya akan sangat mudah dengan armament full control art Alice—mengubah Fragrant Olive Sword menjadi kelopak bunga yang tak terhitung jumlahnya dan menyelimuti musuh ddi dalam badai mengerikan. Itulah bagaimana luar biasanya tehnik Alice itu sebenarnya. Tetapi, aku lebih baik akan menggunakan itu sebagai usaha terakhir dari berbagai usaha, itu digunakan setelah semua cara sudah habis. Aku tidak menginginkan untuk rasa sakit untuk menimpa pada tubuh Eugeo dan membuat dua teman masa kecil, keduanya dengan ingatan mereka telah tersegel, untuk bertarung sama lain dan itu akan menjadi terlalu kejam.

Aku mengambil langkah ke depan dan menatap lurus pada mata Eugeo, dengan cahaya es yang sama dengan waktu yang lalu masih ada di dalamnya.

"Eugeo."

Panggilan ketigaku tidaklah gugup maupun serak.

"Apa kau mengenalku? Aku Kirito...Patnermu. Kita selalu bersama semenjak kita meninggalkan Rulid dua tahun lalu, bukan?"

Anak laki-laki yang memakai armor perak kebiruan tetap diam selama beberapa detik, lalu akhirnya membuak mulutnya.

"...Aku meminta maaf. Aku tidak mengenalmu."

Itu adalah perkataan pertama dari Knight Eugeo. Nada lembut dari suara itu benar-benar seperti yang aku ingat, tapi itu diwarnai dengan tekstur es seperti ekspresi wajahnya.

Itu kelihatannya ingatannya sebelum synthesis benar-benar telah tersegel, tapi itu seharusnya tidak memiliki waktu yang cukup untuk menanamkan suatu jenis ingatan palsu «dipanggil dari Celestial World» yang biasa. Ada kekosongan besar pada kesadaran Eugeo. Jika aku menekankan persoalan itu...

"Tapi terima kasih."

Kedua mataku terbuka lebar ketika Eugeo membantah dugaanku dan melanjutkan. Aku bertanya, dengan harapan lebih bandingkan dengan yang dapat dipikirkan, sebagai jawaban dari perkataan ramahnya yang tiba-tiba.

"...Untuk apa?"

Tetapi, jawaban Eugeo—

"Untuk mengembalikan pedangku padaku."

"Eh......"

Setelah menghabiskan waktu sebentar sementara tercengang. Aku melihat ke arah pinggang kananku. Sacred instrument, Blue Rose Sword, yang tergantung di sana dengan sarung kulit putih. Melihat ke atas, aku bertanya sekali lagi.

"Apa yang kau...rencanakan dengan pedang ini?"

Mata hijau itu berkedip dan Eugeo berbicara seolah-olah itu adalah hal yang normal.

"Untuk bertarung dengan kalian berdua. Itu adalah apa yang orang itu harapkan."

"........."

Seperti yang diduga—dia datang ke bawah menuju ruangan ini untuk mengalahkan Alice dan aku. Berdasarkan perintah dari «orang itu», pemimpin tertinggi, Administrator.

Aku berdiri di tanah bahkan saat aku merasakan harapan tulusku menjadi lebih jauh.

"Eugeo. Apa kau berencana untuk mengikuti perintah seseorang...Seseorang yang bahkan tidak kau kenal, dan bertarung dengan alasan yang tidak jelas? Kita bukanlah musuhmu. Kau datang hingga sejauh ini untuk bertarung melawan pemimpin tertinggi dan menyelamatkan teman masa kecilmu..."

"Aku tidak peduli alasan untuk bertarung."

Sesuatu yang seperti emosi terlihat pada wajah Eugeo untuk pertama kalinya ketika dia memotong perkataanku, yang dengan segera menghilang setelahnya.

"Orang itu telah memberikanku apa yang aku inginkan. Itu sudah cukup untukku."

"Apa yang kau inginkan...? Apakah itu lebih penting dibandingkan dengan Alice?"

Itu kelihatannya wajah pucatnya bergetar dengan suatu emosi dengan sekejap saat dia mendengar nama yang seharusnya memengang arti terpenting dibandingkan dengan semua orang. Tetapi, itu, juga, telah diselimuti oleh es dingin.

"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin untuk mengetahuinya. Aku tidak ingin mengetahui tentang kau...atau siapapun itu. Aku sudah cukup......Ini sudah......"

Setelah berguman seperti itu dengan suara yang sangat samar-samar yang tidak dapat aku dengar. Eugeo perlahan keluar dari disk elevator dan mengulurkan tangan kanannya padaku.

"Aku tidak memiliki apapun untuk dikatakan padamu. Mari kita bertarung...Bukankah itu adalah alasan kenapa kalian berdua ada di sini?"

"......Kita tidak berada di sini untuk bertarung denganmu, Eugeo. Karena itu aku tidak akan mengembalikan pedang ini."

Mengatakan itu dengan suara yang tertahan, aku mengganti posisi pedang hitamku menuju tangan kiriku dan melepaskan Blue Rose Sword dari sabuk pedangku dengan tangan kananku. Dengan pandangan tertuju pada Eugeo, aku menyerahkan itu pada Alice, yang berdiri di belakang, lalu— "Kau tidak perlu menyerahkan itu padaku."

Sarung pedang putih telah direbut dari tangan kananku pada saat aku mendengar perkataanku. Tidak oleh Alice. Pedang itu meluncur melalui udara seperti ditarik oleh benang yang tidak terlihat dan bergerak menuju tangan Eugeo saat dia masih berdiri sepuluh meter jauhnya.

—Sacred arts!? Apakah aku melewatkan saat dia mengucapkannya...!?

Aku mendengar bisikan tajam dari belakang saat menelan nafasku.

"Tangan penjelmaan...!"

"Apa yang dilakukannya..."

Aku bertanya dengan pandanganku menuju ke depan dan Alice dengan cepat menjelaskan.

"Itu adalah sacred art yang diturunkan oleh Integrity Knight lama. Untuk menggerakkan benda tidak menggunaka sacred arts maupun full control arts, tapi oleh kekuatan dari kehendak seseorang...Aku mendengar hanya ada beberapa orang diantara knight yang dapat menggunakannya, selain dari oji-sama."

"Jadi , itu berarti kau tidak dapat menggunakannya juga, Alice?"

"...Aku telah melatihnya, tapi aku bahkan tidak dapat menggerakan batu kecil, lupakan sacred instrument. Itu seharusny bukan suatu jenis art yang Eugeo dapatkan dengan segera stelah menjadi knight..."

Blue Rose Sword telah terkirim pada tangan kanan Eugeo bahkan sementara Alice dan aku saling bertukar kata, dan dia menggantung sarungnya di armor, di bagian kiri dari pinggangnya. Dia lalu menggenggam gagangnya dan menarik itu tanpa keraguan dengan gerakan yang sama. Hawa dingin muncul dari pedang yang samar-samar transparan seperti kabut putih.

Aku tidak memiliki pilihan selain dari mengembalikan posisi pedang hitamku dan menggenggamnya di hadapan diriku.

Eugeo dan aku telah berhadapan dalam posisi ini tak terhitung jumlahnya selama dua tahun ini. Tetapi, tangan kita selalu menggenggam pedang kayu untuk latihan, pedang hitam dan Blue Rose Sword tidak memiliki kesempatan untuk bertarung sama lain.

Meskipun begitu—

Jadi waktunya akhirnya telah tiba, suatu emosi kuat muncul di pikiranku. Ya, aku memiliki kecurigaan bahwa kejadian ini akan datang semenjak hari dimana kita memulai perjalanan dari Rulid.

Sword Art Online Vol 13 - 272.jpg

Tetapi, kesimpulan itu hanya untuk pertarungan pedang kita di tempat kita. Kesimpulan yang dikatakan sebagai hasil pertarungan masih harus ditentukan. Aku tidak memiliki keinginan untuk membiarkan orang lain menentukan hasilnya—bahkan tidak oleh pemimpin tertinggi itu sendiri.

"Eugeo."

Aku mengatakan kalimat terakhir yang aku miliki untuk dirinya.

"Aku rasa kau tidak mengingatku, tapi aku adalah seseorang yang mengajarimu bagaimana cara untuk bertarung dengan pedang. Tidak mungkin aku kalah pada muridku untuk saat ini."

Tapi mulut Eugeo tetap tertutup. Sebagai gantinya, Blue Rose Sword dengan halus diangkat di atas kepala dan dia mengganti pada posisi pengaktifan skill pedang. Skill menyerbu pedang satu tangan, «Sonic Leap».

Merasakan sedikit kelegaan bahwa dia tidak melupakan ilmu pedang Aincrad-stylenya bahkan jika dia telah melupakan namaku, aku mengambil posisi yang sama.

Kedua pedang itu melepaskan cahaya, hijau muda yang terang.

Dan satu detik berlalu.

Baik Eugeo dan aku menghentakkan kaki di lantai marbel pada saat yang bersamaan.


(Alicization Dividing Selesai)


Catatan Penerjemah[edit]

  1. menyentuh sakuku, kalimat dari Lagu Jepang Fushigi na Pokketo yang berarti saku ajaib
  2. oji-sama berarti paman dalam Bahasa Jepang
  3. suatu jenis kode yang ada di barang-barang
  4. kata ini aslinya tertulis dengan huruf terbalik atau melalui bayangan cermin
  5. personal computer atau komputer pribadi
  6. Ini adalah suara tangisan Eugeo bukan kata Bahasa Inggris
  7. WLSS atau Double-edged, Long Sword, Single-hand, W disini menyatakan Double
  8. dia yang pertama adalah dia untuk laki-laki sedangkan yang kedua adalah dia untuk perempuan