Sword Art Online Bahasa Indonesia:Jilid 13 Bab 9

From Baka-Tsuki
Jump to: navigation, search


Creak.

Creakk.

Jantungku sedikit berdetak setiap kali suara samar-samar itu terdengar.

Suara itu datang dari ujung «pedang hitam» yang belum diberi nama. Entah bagaimana tertusuk satu cen pada celah kecil dari batu bata marbel putih itu yang membangun dinding luar Katedral Pusat Gereja Axiom.

Tangan kananku yang menggenggam gagang pedang hitam yang basah dengan keringat, dengan sendi bahu dan lututku tidak dapat untuk menahan beban, dan mengancam jiwa untuk melepaskannya bahkan sekarang. Itu hanya normal—berat dari dua manusia, satu pedang dengan prioritas sangat tinggi, dan satu set armor yang tergantung di tangan kananku yang bahkan tidak dapat dikatakan berat.

Tidak ada satupun benda menjadi pegangan tangan, itu sangat halus seperti cermin, dan aku tidak dapat menusuk pedang ini lebih jauh lagi.

Semua yang ada di bawahku adalah langit kosong yang tidak berakhir, tidak hanya tangan kananku, gagang pada pedangku, sudah mencapai batasnya, itu juga berlaku pada tangan kiriku yang memegang knight perempuan yang memakai armor berat berwarna emas yang tergantung pada itu juga.

Kelelahan fisik di dunia alternatif, «Underworld», sedikit berbeda dengan dari kelelahan yang sama di dunia nyata. Seperti kenyataannya, berjalan dalam jarak yang jauh, berlari dengan semua stamina yang kau punya, menjalani latiha berat, atau membawa benda yang berat akan melelahkan seseorang, tapi masalahnya terbentang pada bagaimana kelelahan itu diperlakukan sama seperti luka, mengurangi «Life»—hidup dari penduduk Underworld, diubah menjadi nilai angka, pada dasarnya hit point mereka.

Meninggal dari kelelahan mungkin sangat jarang terjadi di dunia nyata. Normalnya, seseorang tidak akan dapat untuk melanjutkan aktifitasnya yang menyebabkan kelelahan sebelum itu dapat menimbulkan kerusakan pada tubuh. Tetapi, kekuatan tekad dapat menerobos batas dari kekuatan fisiki pada waktu di dunia ini. Untuk mengatakan suatu contoh, bahkan berlari sementara menahan kelelahan dan rasa sakit sama Life seseorang mencapai nol, lalu terjatuh dan mati dalam sekejap akan sangat mungkin.

Aku sekarang menahan beban yang mengerikan dengan tidak ada apapun selain tubuhku sendiri. Karena itu, jumlah Lifeku seharusnya berkurang dengan rata-rata yang tetap. Bahkan jika aku melanjutkan menggenggam erat ganggang di tangan kananku dan menahan seseorang dengan tangan kiriku dengan semangat dan keberanian, Lifeku pada akhirnya akan menjadi nol dan aku akan mati. Kemungkinan besar, knight perempuan ini akan terjatuh ke bawah tanah yang berada ratusan meter ke bawah dan mati ketika tangan kananku lepas dari pedang ini bahkan untuk sekejap.

Sebagai tambahan, aku bukan satu-satunya yang menerima kerusakan. Pedang kesayanganku, juga, yang menahan beban berat yang melewati batasnya hanya dengan ujungnya saja. Dan itu setelah mengaktifkan «armament full control art» yang benar-benar menguras Life selama dua kali dalam pertarungan sejauh ini. Aku tidak dapat membuka Stacia Window dan mengecek nilainya dalam keadaan seperti ini, tapi itu tidak akan aneh jika semua itu akan mencapai nol dalam beberapa menit. Pedang itu akan patah dan tidak dapat diperbaiki lagi hanya dengan menyimpan itu di dalam sarungnya.

Pedang itu akan terlalu menyedihkan, patah bahkan tanpa memilih namanya, di samping itu, aku akan terjatuh menuju tanah dan akan mati. Karena itu, aku harus melakukan sesuatu tentang situasi ini, secepat mungkin, tapi bergantung sendiri telah mengambil semua kekuatanku dan sebagai tambahan dari itu—

"Itu cukup, lepaskan tanganmu!"

Perempuan yang tergantung di bawahku—Integrity Knight emas yang memegang sacred tool, «Fragrant Olive Sword», Alice Synthesis Thirty, berteriak sekali lagi.

"Aku tidak memiliki keinginan mendapati hidupku diselamatkan oleh kriminal seperti dirimu dan hidup memalukan!"

Sementara menggoyangkan seluruh tubuhnya dalam usaha untuk melepaskan genggaman tangan kanannya. Tangan kananku basah dengan keringat, sarung tangan besi itu menjadi sedikit lebih licin.

"...Uooh...kau..."

Aku entah bagaimana menahan guncangannya sementara suara yang tidak kupahami keluar dari diriku. Tetapi, ujung dari pedang hitam itu, tertusuk ke dalam dinding, telah tertarik keluar sekitar satu mil sementara berguncang. Aku dengan susah payah mengembalikan posisi stabil sebelum menatap ke bawah dan berteriak keras.

"Jangan bergerak, idiot! Jika kau seharusnya adalah Integrity Knight, lalu sadari bahwa tidak ada apapun yang akan diselesaikan jika kau menyerahkan dirimu pada keputusasaan yang ada di sini, idiot!"

"Apa..."

Wajah putih yang melihat dari bawah kakiku dengan cepat berubah warna menjadi merah.

"Dan...dan kau berani untuk membuat ejekan pada diriku lagi! Tarik kembali ucapanmu saat ini juga, kriminal!"

"Diam! Aku memanggilmu idiot karena kau adalah seseorang yang idiot, idiot! Idiooot!"

Tidak menyadari entah aku ingin menarik dia menuju negosiasi melalui provokasi atau apakah darahku hanya mengalir deras menuju kepalaku, aku berteriak keras sekali lagi.

"Dengar!? Jika kau jatuh dan mati dari ulah dirimu sendiri di sini, Eugeo, yang masih ada di dalam menara akan pergi langsung menuju pemimpin tertinggi, kau tahu! Dan meski begitu, itu seharusnya menjadi tugasmu untuk mencegah itu! Jadi bukankah seharusnya hal yang paling penting untuk kau lakukan asalah tetap hidup dengan segala cara untuk sekarang, sebagai Integrity Knight?! Itu karena kau idiot yang tidak mengerti logika seperti itu, karena itu aku memanggilmu seorang idiot!!"

"Kuh...j-jadi kau bahkan berani untuk mengatakan ejekan yang menghina sebanyak delapan kali, bukan begitu..."

Seperti tidak pernah dipanggil idiot bahkan semenjak dia terbangun sebagai Integrity Knight, pipi Alice menjadi kemerahan dan sudut matanya terangkat karena kemarahan. Kilauan dari Fragrant Olive Sword yang sedikit terangkat ke atas oleh tangan kirinya dan hawa dingin masuk ke dalam tubuhku, khawatir bahwa dia mungkin berpikir tentang menebasku dan menyebabkan kematian kita berdua, tapi itu kelihatannya alasannya sedikit melebihi dorongan hatinya, saat pedangnya tergantung ke bawah tanpa kekuatan sekali lagi.

"...Aku mengerti, perkataanmu sangat masuk akal. Tetapi..."

Gigi Integrity Knight itu, hampir sama seperti manik-manik mutiara, dengan keras menggeretakkan giginya secara bersamaan dan dia membantah.

"Lalu kenapa kau tidak akan melepaskan tangan itu!? Jika alasannya bukan kasihan, terhadap apa aku akan menemukan kematian yang jauh lebih baik, bagaimana mungkin kau dapat membuktikannya!?"

Kasihan—bukanlah alasannya. Setelah semua, perbuatan menyelamatkan Alice itu sendiri justru adalah setengah alasan dari kenapa Eugeo dan aku menetapkan Katedral Pusat ini sebagai tujuan kita.

Tetapi, aku benar-benar tidak memiliki waktu yang cukup untuk menjelaskan secara lengkap dari awal. Dan sebelum semuanya, seseorang yang Eugeo ingin selamatkan secara teknis bukanlah Integrity Knight Alice Synthesis Thirty, tapi teman masa kecilnya yang diambil pergi dari Desa Rulid delapan tahun lalu, Alice Schuberg.

Aku mencoba sebisaku untuk memeras otakku, yang hampir kelelahan dari memikirkan hal yang terlalu berat, mencari alasan apapun yang dapat memuaskan Alice. Tapi tidak mungkin aku dapat menemukannya dengan hal seperti ini pada tepat waktu. Dengan hal yang sudah terjadi pada saat ini, aku tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan bagian dari kebenaran.

"Aku...Eugeo dan aku tidak memanjat menara ini hingga sejauh ini karena kita ingin untuk menghancurkan Gereja Axiom."

Melihat lurus ke arah mata biru Alice, yang memancarkan cahaya yang kuat, aku dengan susah payah memaksakan kata-kataku keluar.

"Kita juga sama, dengan bagaimana kita ingin melindungi Dunia Manusia dari invansi Dark Territory. Kita bahkan bertarung dengan kelompok goblin di gunung tinggi di ujung dua tahun yang lalu...Bahkan jika aku mengatakan itu, aku rasa kau tidak akan mempercayaiku. Karena itu kita tidak boleh membiarkanmu, yang diketahui sebagai salah satu yang terkuat diantara Integrity Knight, mati sini. Kekuatanmu sangat penting."

Itu pasti berada diluar dugaannya saat Alice menyatukan alisnya dengan terdiam, tapi dengan segera memberikan jawaban yang menusuk hati.

"Lalu untuk alasan apa kalian telah menebas pedang kalian pada manusia lain dan melanggar taboo terburuk dan membuat pertumpahan darah lainnya?!"

Perasaan tentang kebenaran sejati—bahkan jika itu telah diberikan oleh pemimpin tertinggi untuk menyesuaikan dengan tujuannya—bergejolak dan terlihat di kedua matanya saat Alice berteriak.

"Untuk alasan apa kalian telah melukai semua knight itu, dimulai dari Eldrie Synthesis Thirty-one?!!"

Sayangnya tidak ada satupun kata-kata di dalam dirinya untuk menyangkal perkataan gadis itu. Pada akhirnya, meskipun kalimat yang aku katakan pada Alice tentang melindungi Dunia Manusia benar-benar perasaanku yang sebenarnya, itu juga kebohongan di waktu yang sama.

Jika aku mencapai lantai tertinggi di katedral, lalu bertarung dan menang melawan pemimpin tertinggi, Administrator, pemimpin tertinggi sebelumnya, Cardinal, akan mengembalikan semua dari kekuatannya. Dan itu seperti dia akan mencoba untuk mereset Underworld menjadi kondisi awal untuk mencegah bencana yang akan segera datang. Aku sama sekali tidak memiliki ide tenyang bagaimana mencegahnya pada akhirnya dimana semuanya akan kembali ke awal pada saat itu juga.

Tetapi. Jika Alice dan aku terjatuh bersama-sama dan mati di sini, tragedi yang menimpa dunia bahkan akan menjadi skala lebih besar. Dengan Cardinal yang masih kehilangan kekuatannya, «final load experiment phase»—invasi dari Dark Territory dengan kata lain, akan dimulai dan Integrity Knight yang Eugeo dan aku lawan dan terluka kelihatannya akan dihancurkan bersamaan dengan Administrator, dengan manusia yang terbantai di tengah-tengah keputusasaan dan kesedihan mereka tanpa ada satupun orang yang tersisa.

Apa yang paling aku tidak dapat tahan adalah fakta bahwa aku hanya akan terbangun di dalam «Soul TransLator» di suatu tempat di dunia nyata bahkan jika aku kehilangan hidupku di dunia ini. Penduduk Underworld pada akhirnya akan mati karena penderitaan kejam pada mereka sementara aku sendiri kembali menuju dunia nyata tanpa satu lukapun—Tidak peduli bagaimana, aku benar-benar tidak dapat menerima perkembangan seperti itu.

"...Aku..."

Aku ingin tahu apa yang dapat aku beri tahu pada Alice yang sekarang, penjaga dari gereja dan hukum, bahkan dengan semua waktu yang tidak berarti ini yang aku punya. Tapi bahkan jika kata-kata itu tidak mencapainya, aku tidak memiliki cara apapun selain dari berbicara tentang itu dengan seluruh perasaanku.

"Eugeo dan aku menebas Raios Antinous dan Humbert Zizek karena Gereja Axiom dan Taboo Index sama sekali penuh cela. Apa kau mengerti itu hanya berlaku sangat rendah? Taboo Index sama sekali tidak melarangnya, jadi bangsawan kelas atas dapat melakukan yang mereka mau pada gadis yang bahkan tidak melakukan satu kejahatanpun, seperti Ronie dan Tizei...apa kau secara jujur mempercayai bahwa itu dapat dimaafkan?!"

Pemandangan yang aku dapat lihat dua hari yang lalu di ruangan asrama elite swordsmen-in-training—Tizei dan Ronie yang mendapati tubuh mereka terikat tanpa ampun, pipi mereka penuh dengan air mata, terlihat olehku sebagai kilas balik dan seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. Pedang yang menusuk pada dinding itu berguncang sekali lagi, tapi aku berteriak dengan tanpa mempedulikan itu.

"Apa yang kau pikirkan! Jawab aku, Integrity Knight!!"

Emosi kemarahanku menjadi satu tetes air mata yang mengalir dari ujung mataku, mengenai dahi Alice saat dia bergelantungan di bawah, dan tersebar. Knight emas itu menarik nafas yang dalam dan membuka kedua matanya dengan lebar.

Suara yang segera keluar dari mulutnya yang sedikit bergetar kelihatannya telah kehilangan ketegangan dari waktu sebelumnya.

"...Hukum, adalah hukum...dan kejahatan, adalah kejahatan. Bagaimana mungkin peraturan dapat dijaga jika penduduk diizinkan untuk secara bebas memilih sesuatu pada mereka?"

"Benar siapa yang berhak untuk memilih entah seseorang yang membuat hukum itu, pemimpin tertinggi, Administrator, apakah itu berhak atau tidak? Tuhan Celestial World!? Lalu kenapa aku tidak menerima hukuman suci, tersambar oleh petir dan terbakar hingga mati pada saat ini juga!?"

"Dewi—rencana Stacia-sama secara alami membuat itu jelas melalui perbuatan yang dilakukan oleh kami, pelayannya!"

"Eugeo dan aku memanjat hingga sejauh ini agar membuat itu menjadi jelas! Untuk mengalahkan Administrator dan membuktikan bahwa itu salah! Dan untuk alasan, yang benar-benar sama..."

Aku menatap ke arah atas dan mengkonfirmasi bahwa pedang kesayanganku yang menusuk di dinding akhirnya mencapai batasnya. Ujungnya akan patah atau terlepas pada saat berikutnya Alice bergerak, tidak, berikutnya ketika angin memutuskan untuk membuat hembusan bergerak menuju ke sini dan kita kelihatannya akan terjatuh ke bawah secara bersamaan.

"...Aku tidak dapat membiarkanmu untuk mati di sini!!"

Mengambil nafas yang dalam dan menaruh semua itu pada perutku, aku mengumpulkan semua kekuatan yang aku punya.

"—Uoooh!!"

Semua dari kekuatanku terangkat keluar, aku mengangkat Alice yang bergelantungan di tangan kiriku. Rasa sakit yang tajam mengalir melalui tangan dan bahuku, tapi aku entah bagaimana membawa Alice pada ketinggian yang sama lalu berteriak dengan sisa kekuatanku.

"Tusukan pedangmu melalui lapisan itu...! Aku tidak dapat menahan lebih lama lagi, tolonglah!"

Aku menatap pada wajah Alice yang berubah tepat disampingku dengan ekspresi bingung.

Setelah keheningan yang singkat, Alice menggerakkan tangan kirinya dan menusuk dalam Fragrant Olive Sword pada celah dinding marbel itu dengan suara keras.

Pedang hitam itu tertarik keluar dari lapisan dinding batu pada waktu yang hampir sama dan tangan kiriku terlepas sendiri dari tangan Alice juga, melepaskan genggamannya.

Di tengah-tengah kepanikan yang mengalir di dalam diriku dari kepala menuju jari kaki, aku terjatuh pada jarak, yang sangat jauh dan «Kematian» pada akhirnya mendekatiku terpikir di dalam pikiranku dalam sekejap.

Tetapi, apa yang aku rasakan hanya pada saat terjatuh dan guncangan yang tiba-tiba. Tangan kanan Alice yang bergerak seperti kilat menangkap kerah jubahku dari belakang.

Setelah mengetahu bahwa pedang dan tangan Alice yang dengan kuat menahan beban kita berdua, aku mengeluarkan nafas dalam. Rata-rata, detak jantungku yang seperti jam alarm, secara perlahan menjadi lambat dan aku akhirnya merasakan kelegaan.

"......"

Aku melihat pada seseorang yang bertukaran posisi denganku, baik fisik dan mental, hanya dengan satu detik dalam keheningan.

Kelihatannya seolah-olah dia telah tersiksa oleh berbagai macam emosi yang bertentangan, Integrity Knight emas itu menggeretakkan giginya dengan keras secara bersamaan. Tanda dari tangan yang dengan erat menahanku dengan kerah di leherku mengerut dan mengetat berulang kali tepat di belakang leherku.

Aku tidak mengetahui seorangpun dari Underworld yang mampu meragukan situasi berbahaya seperti ini selain dari Eugeo. Seluruh manusia—artificial fluctlights tanpa mengetahui apapun setia pada standar mereka dalam baik dan buruk, tidak goyah pada pilihan yang lebih penting.

Untuk mengatakan itu dalam hal lain, keputusan penting mereka tanpa henti dibuat oleh sesuatu yang lain, atau seseorang yang lain.

Dengan kata lain, aku dapat mengerti bahwa «manusia» yang melebihi lainnya dari penduduk Underworld yang tersembunyi sendiri di hati Integrity Knight dari satu kejadian ini.

Aku tidak dapat menilai bagaimana besarnya pertentangan yang pasti ada di pikiran Alice. Tetapi, setelah beberapa detik yang cukup lama, tubuhku dengan mudah ditarik hingga menuju ketinggianku sebelumnya.

Tidak seperti gadis itu, aku tidak perlu untuk ragu-ragu. Aku dengan segera menusuk pedang hitamku pada lapisan dinding marbel itu, bahkan setelah semua yang telah dilalui, dan mengeluarkan nafas dalam lainnya.

Pada saat posisiku menjadi stabil, Alice menarik tangan kanannya dan bahkan memalingkan wajahnya dengan kemarahan. Suaranya, yang disampaikan oleh angin, sangat lemah tidak seperti nadanya.

"...Aku tidak ingin membantumu, aku hanya mengembalikan bantuanmu...di samping itu, aku belum sampai pada kesimpulan dengan pedangmu."

"Aku mengerti...Kita sekarang sudah impas dengan hal yang tadi, lalu."

Berhati-hati dengan kata-kataku, aku menggerakkan mulutku.

"Dan jadi, aku memiliki tawaran...melihat kondisi sekarang, kita harus kembali ke dalam menara dengan segala cara. Jadi, akankah kau memikirkan untuk saling membantu untuk sekarang?"

"...Saling membantu?"

Aku dapat merasakan ekspresi kecurigaan yang mengarah padaku dari wajahnya, yang sedikit mengarah padaku.

"Ya, itu sudah tidak mungkin untuk menghancurkan dinding terluar katedral ini dan itu bukan tugas yang mudah untuk memanjatnya juga. Tingkat kemungkinan selamat kita seharusnya akan meningkat jika kita berdua bekerja sama, daripada melewati itu semua hanya dengan sendiri. Tentu saja, hal ini akan menjadi bebeda jika kau memiliki metode praktis untuk kembali ke dalam."

"......"

Alice menggigit mulutnya dengan marah tapi dengan segera menjawab dengan berguman.

"...Aku seharusnya telah menggunakan itu jika aku memiliki metode seperti itu."

"Itu benar. Jadi, dapatkah aku memikirkan bahwa kau setuju tentang saling membantu dan bekerja sama?"

"Sebelum itu...kau mengatakan bekerja sama, tapi apa sebenarnya kerja sama yang kau maksudkan?"

"Membantu sama lain jika seseorang kelihatannya akan terjatuh, hanya itu. Kita dapat berpegangan lebih baik jika kita memiliki tali atau sesuatu seperti itu, tapi aku rasa itu meminta terlalu banyak."

Tidak melihat ke arahku lebih lama lagi, Integrity Knight itu tenggelam pada keheningan lama yang lainnya, tapi pada akhirnya dia mengangguk dengan gerakan yang sedikit tidak terlihat.

"Itu adalah tawaran yang beralasan...Aku harus mengakuinya. Tidak ada yang dapat dilakukan tentang itu..."

Sebagai penggantinya, Alice melanjutkan sementara memberikanku tatatapan terakhir.

"Aku akan menebasmu dengan sekejap saat kita kembali ke dalam menara. Pastikan untuk tidak melupakan hal itu."

"Aku akan menyimpan itu di pikiranku."

Mengangguk sekali lagi pada jawabanku, Alice mengosonkan tenggorokannya seolah-olah untuk mengalihkan pikirannya.

"Lalu sekarang...kau membutuhkan tali? Apa kau tidak memiliki satu pakaian yang tidak perlu?"

"Pakaian..."

Aku melihat ke arah tubuhku, tapi memikirkan tentang itu, aku bahkan tidak memiliki satu sapu tangan di dalam sakuku. Aku dapat mengambil tumpukan pakaian cadangan atau jubah dari penyimpananku jika ini adalah Alfheim yang aku rindukan, sayangnya, fungsi yang praktis itu tidak ada di Underworld.

"...Bahkan jika kau bertanya, tidak ada apapun selain dari baju dan celana ini. Aku akan melepaskannya jika diperlukan, walapun begitu."

Ketika aku hanya mengangkat bahu kiriku saat aku menjawab, Alice membuat seringai yang paling dalam dibandingkan dengan sebelumnya dan berteriak.

"Kita tidak akan melakukan itu!...Ya ampun, itu sangat mengejutkan memikirkan bagaimana kalian pergi menuju pertarungan dengan hanya pedang pada kalian."

"Hei, hei, seseorang yang mengikat Eugeo dan aku dari Akademi Master Pedang dengan hanya pakaian pada tubuh kita adalah kau, bukan?"

"Dan kalian memasuki ruangan penyimpanan katedral setelah itu, bukan. Seharusnya itu memiliki satu ikat tali berkualitas tinggi di sana...Ahh, itu benar, ini hanya menghabiskan waktu."

Alice mengibaskan kepalanya menjauh dengan hmph dan mengangkat tangan kanannya yang terbungkus dengan sarung tangan besi emas. Tapi kelihatannya dia menyadari bahwa dia tidak dapat melepaskan tangan kirinya dari gagang pedang saat dia merengut. Mengulurkan tangannya di depanku, dia memerintah.

"Lepaskan sarung tangan besiku dengan tanganmu yang bebas."

"Hah?"

"Dan hati-hati untuk tidak menyentuh kulitku. Cepatlah!"

"......"

Menurut ingatan Eugeo, Alice kelihatannya adalah seorang gadis yang aktif dan menyenangkan, lebih baik dibandingkan dengan semua orang, ketika dia tinggal di Rulid. Jika memang begitu, dimana sebenarnya kepribadiannya yang sekarang yang kelihatannya benar-benar kebalikannya berasal?

Sementara memikirkan tentang hal seperti itu, aku mengulurkan tangan kiriku yang akhirnya mendapatkan kembali indera perasanya, lalu melepaskan bagian sarung tangan besi itu. Alice, seseorang yang membuat dia memegang sarung tangan besi ini, dengan cepat menarik keluar tangan kanannya dan mengacungkan jari, ramping dan pucatnya sementara berteriak.

"System call!"

Mengikuti kalimat pembuka untuk sacred arts, dia dengan cepat mengucapkan art rumit yang tidak kukenal. Sarung tangan besi di tanganku mengeluarkan cahaya yang menyilaukan dan bentuknya mulai berganti menjadi bentuk yang lainnya. Hanya dalam waktu beberapa detik, tangan kiriku memegang rantai emas yang terbungkus dengan rapi.

"Uooh...Berubah...?"

"Apa kau tidak mendengar? Atau mungkin itu bukanlah telinga yang ada di samping wajahmu, tapi lubang yang terserang oleh serangga? Itu hanyalah perubahan dari bentuknya, arts yang mampu untuk mengganti sifat-sifat dari benda itu tidak dapat digunakan oleh seseorang selain dari pemimpin tertinggi yang suci."

Saat meminta maaf dengan kata "maaf" pada Alice, yang kelihatannya tidak memiliki keinginan untuk mengganti kata-kata tajamnya bahkan setelah menyetujui persetujuaan kerja sama, aku mengetes ketahanan rantai itu. Gigiku terasa seperti itu akan terjatuh ketika aku menahannya dengan mulut dan ditarik, jadi aku melepaskan itu dari mulutku dengan cepat. Aku tidak memiliki kecemasan, karena itu kelihatannya cukup kuat meskipun itu jauh lebih tipis dari jari tangan dan bahkan memiliki penjempit yang terlihat keras pada ujungnya untuk pengaman.

Dengan erat mengikat salah satu ujungnya pada sabukku, aku memberikan ujung rantai lainnya dan Alice mengambil itu dan memasang itu pada pengait logam sabuk pedangnya. Panjang dari rantai yang terikat itu sekitar lima meter. Untuk waktu sekarang, kita seharusnya lebih atau kurangnya telah selamat jika tangan kita terlepas, kecuali kita berdua terjatuh.

"Lalu sekarang..."

Memeriksa keadaan sekitar sekali lagi, aku mengkonfirmasi situasi kita sekarang.

Menilai dari arah sinar matahari, kita telah bergelantungan di dinding barat Katedral Pusat. Langit di atas kepala berada di tengah-tengah hendak berubah dari biru menjadi ungu dengan matahari yang bersinar dari belakang dinding putih menara ini dengan warna orange terang. Memperkirakan waktu sekarang adalah sekitar jam tiga di siang hari.

Dengan ragu-ragu menatap ke arah bawah menuju kakiku, aku dapat melihat awan, putih melayang melewatinya, taman yang seperti miniature, dinding batu yang mengelilingi itu, dan bahkan jalan yang membagi Centoria Pusat menjadi empat oleh «immortal walls», membuatku mengetahui bagaimana benar-benar mengherankannya tinggi dari katedral itu sekali lagi.

Tinggi di setiap lantai dari menara ini seharusnya sekitar enam meter, termasuk dengan ketebalan lantainya, jadi lantai kedelapan puluh, «Cloudtop Garden», dimana aku bertarung dengan Alice akan memiliki tinggi sekitar empat ratus delapan puluh meter—tidak, menambah lantai kelima puluh «Grand Cloister of Spiritual Light», dengan langit-langitnya yang sangat tinggi, sekitar lima ratus meter, huh. Life kita akan segera menghilang dengan sekejap jika kita terjatuh. Sebagai tambahan, tubuh ini akan berubah menjadi debu bahkan tanpa meninggalkan mayat yang tersisa, mungkin. Hembusan angin sudah tenang sekarang, tapi aku tidak tahu berapa lama itu akan terus berlangsung.

Punggungku bergemetar sebelum aku menggenggam pedangku lagi dengan tangan kananku dan mengusap keringat yang mengalir di telapak tangan kiriku pada celanaku.

"Ermm...hanya mengkonfirmasi di sini, tapi..."

Alice, juga melihat ke arah kakinya di sampingku, mengangkat wajahnya ketika aku memanggil. Itu mungkin hanya imajinasiku bagaimana kulitnya jauh lebih pucat dibandingkan dengan sebelumnya, tapi nadanya masih kasar seperti biasanya.

"Apa?"

"Tidak, sebenarnya...Aku berpikir knight hebat seperti dirimu, yang mampu menggunakan sacred arts berangking tinggi seperti mengganti bentuk objek akan mengetahui suatu jenis art untuk terbang...atau tidak, huh, maaf."

Meskipun aku dengan cepat meminta maaf padanya yang dengan tajam mengangkat alisnya, Alice memarahiku tanpa ampun.

"Sebenarnya apa yang kau telah pelajari di akademi? Bahkan murid sister termuda akan mengetahui bahwa seseorang yang mampu menggunakan art untuk terbang di seluruh Dunia Manusia adalah pemimpin tertinggi yang suci!"

"Karena itu aku mengatakan 'hanya mengkonfirmasi', bukan?! Kau tidak perlu untuk semarah itu!"

"Itu disebabkan oleh bagaimana caramu mengejekku yang sangat aneh!"

Perlahan-lahan itu terlihat jelas bahwa kepribadiaan Integrity Knight Alice memiliki sikap yang benar-benar buruk terhadapku, bahkan tanpa memikirkan tempat berpijak kita masing-masing, tapi aku melanjutkan bertanya sambil menahan keinginan untuk menanggapinya.

"...Jadi, aku juga hanya mengkonfirmasi di sini, tapi...Bagaiamana dengan memanggil naga terbang yang pernah menggantungku menuju ke sini?"

"Saranmu menjadi jauh lebih menggelikan dari sebelumnya. Mendekat menggunakan naga terbang apapun hanya diperbolehkan pada tempat mendarat di lantai ketiga puluh. Tidak ada pengendara naga yang dapat mendekat lebih tinggi, bahkan tidak boleh oleh paman...tidak, bahkan tidak boleh oleh Komandan Integrity Knight."

"Ti-Tidak mungkin aku akan mengetahui pengaturan seperti itu, bukan?!"

"Kau seharusnya telah menyadarinya ketika kau mengetahui tempat mendarat naga terbang dibangun pada lantai ketiga puluh!"

Aku tidak mengetahu berapa banyak kita telah bertengkar karena itu, tapi kita saling menatap satu sama lain selama tiga detik sebelum aku menelan kemarahan yang tertuju pada kata-kata tidak rasional dari Integrity Knight hebat itu dan membalikkan kepalaku, berkata.

"...Jadi hilang sudah cara untuk kembali ke dalam dengan terbang...Aku rasa."

Alice, di sisi lain, kelihatannya membutuhkan waktu dua detik kemudian sebelum dia mendapat kembali ketenangannya, tapi mata birunya menatap ke sini dan dia mengangguk.

"Bahkan tidak ada burung yang mendekat menuju lantai atas katedral. Aku tidak mengetahui jelasnya, tapi aku pernah mendengar unique art yang diciptakan oleh pemimpin tertinggi masih dalam pengerjaan."

"Jadi seperti itu...Itu sangat teliti."

Aku memeriksa keadaan sekitar sekali lagi, lalu melihat bayangan seperti burung meskipun itu benar-benar sangat jauh, itu benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mendekat. Itu dapat dikatakan menjadi penjelmaan dari kemampuan sihir yang sangat kuat dan kewaspadaan yang mengerikan dari satu keberadaan yang paling penting, Administrator. Selain dari pemikiran itu, ketinggian abnormal dari menara ini, juga, kelihatannya menjadi simbol dari kekuasaannya sementara dalam ekspresi ketakutan pada musuh yang tidak terlihat.

"Jika memang begitu, hanya ada tiga pilihan yang tersisa...memanjat, menuruni, atau menerobos ke dalam dinding lagi, huh."

"Untuk yang ketiga kelihatannya akan sulit. Seperti «immortal walls», dinding luar katedral seharusnya memiliki Life yang hampir tidak terbatas dan sifat untuk memperbaiki sendiri. Itu juga berlaku pada jendela di lantai bawah."

"Jadi, untuk turun menuju jendela sama sekali tidak berarti juga, huh."

Ketika aku berguman begitu, Alice mengangguk perlahan sebelum dia berbicara.

"...Sejak awal, aku mengetahui bahwa itu sangat sulit untuk dipercaya sebuah lubang dapat terbuka dari dalam menara itu sebelumnya...Tidak ada yang dapat dipikirkan selain dari serangan yang terjadi dalam kemungkinan satu banding sejuta yang disebabkan oleh kekuatan abnormal yang dilepaskan ketika armament full control arts kita bergabung. Ya ampun, sungguh perbuatan tidak berarti yang kalian telah lakukan."

"......"

Kita akan terus betengkar jika aku menjawab di sini, aku berpikir begitu saat aku menahan jawabanku, mendapati itu sudah tenang setelah menghembuskan nafas dalam, sebelum aku bertanya.

"...Tapi jika memang begitu, bukankah secara logika untuk dinding ini akan hancur jika kita melakukan kejadiaan yang sama sekali lagi?"

"Kemungkinannya sama sekali tidak nol, tapi...itu akan sangat sulit untuk kembali ke dalam menara dalam waktu bebereapa detik sebelum lubang itu secara otomatis terperbaiki dan satu hal yang harus diingat, aku telah menggunakan anak ini...full control art «Fragrant Olive Sword» ini sebanyak dua kali. Aku tidak dapat menggunakan art lagi kecuali aku membiarkan itu disinari oleh sinar matahari yang cukup atau membiarkan itu tesimpan di sarung pedangnya."

"Itu benar, itu juga sama denganku. Aku harus menaruh pedang ini pada sarung pedangku...atau daripada itu, seharusnya sudah ada banyak kerusakan hanya dengan menusuk itu dengan bergelantungan seperti ini, bukan? Itu akan sangat baik untuk bergerak sekarang, tidak peduli apakah kita akan turun atau naik."

Aku mencoba menyentuh pada dinding marbel dengan tangan kiriku saat aku berbicara, tapi jumlah dari lapisan dan susunannya benar-benar tidak dapat diharapkan. Batu, dengan setiap sisinya memiliki panjang dua meter setidaknya, yang tersusun terus menerus secara rapi, bahkan tanpa ada jendela yang terlihat di sisi barat. Menghancurkannya kelihatannya tidak akan bisa juga, bahkan jika hanya ada satu, menurut Alice.

Untuk metode bergerak melalui dinding, mungkin tidak ada cara lain selain dari mempersiapkan sesuatu seperti piton[1] yang digunakan memanjat gunung dan menusuk itu pada lapisan diantara marbel itu. Tidak ada perbedaan yang cukup besar dari usaha diantara memanjat dan menuruninya, jadi aku lebih baik akan menganggap lantai di atas sebagai tujuanku, tapi masalah itu akan berarti—

Aku melihat ke arah Alice yang berada di sisi kiriku dengan ekspresi paling serius yang dapat aku buat dan bertanya, berharap pada kemungkinan yang rendah mendapat jawaban.

"Jika kita memanjat menuju ke atas...Apakah ada suatu tempat dimana kita dapat kembali ke dalam menara?"

Alice menunjukkan ekspresi keraguaan seperti yang diduga dan menggigit mulutnya. Jika kita dapat memasuki menara dengan memanjat, itu akan berarti berada di suatu tempat yang benar-benar dekat pada lantai tertinggi dimana Administrator tinggal. Memandu musuh dari gereja menuju tempat seperti itu akan hampir sama seperti melakukan taboo sebagai penjaga gereja, Integrity Knight.

Tetapi—

Alice menarik nafas dalam, lalu menaruh kekuatannya pada tatapannya dan mengangguk.

"Ada. Di lantai kesembilan puluh lima, ada suatu tempat yang disebut «Morning Star Lookout», seharusnya di sekelilingnya tidak ada dinding, hanya ada pilar untuk keempat dindingnya. Kita seharusnya dapat kembali dengan mudah jika kita dapat memanjat ke sana....Tetapi." Tatapan yang benar-benar kuat terlihat dari kedua mata birunya.

"Bahkan jika kita sampai di lantai kesembilan puluh lima, aku akan menebasmu di sana tanpa kegagalan."

Melihat tatapan Integrity Knight itu, yang dipenuhi dengan ketetapan hati yang hebat membuat rasa sakit lumpuh pada leherku, secara langsung, aku mengangguk sebagai balasannya.

"Itu adalah perjanjian kita dari awal, setelah semua. Bagaimanapun juga—Apa kau baik-baik saja dengan memanjat dinding, jika begitu?"

"...Baiklah. Itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan menuruni menuju tanah dari sini. Tetapi...meskipun bagaimana pastinya kau mengatakan hal itu, bagaimana caramu untuk memanjat dinding vertical ini?"

"Sebenarnya, sudah jelas, kita akan berlari secara vertical...tidak, itu hanya bercanda."

Setelah menghilangkan rasa sakit di tenggorokanku dalam upaya untuk menghindari tatapan Alice yang dengan cepat terpaku ke bawah yang sepenuhnya terisi dengan kehampaan, aku menukar tangan yang memegang pedangku dengan tangan kiri, mengulurkan tangan kananku, dan mengucapkan art.

"System call. Generate metallic element."

Metal element, bersinar seperti air raksa, dengan sekejap tercipta, jadi aku mengubah bentuknya dengan kekuatan art dan kekuatan imajinasiku.

Menarik keluar benda yang memiliki panjang sekitar lima puluh sentimeter dan menajamkan ujungnya hingga ke titik seperti pedang tipis, aku membuat piton besar yang aku genggam dengan erat.

Melihat ke arah lapisan batu dimana pedang hitamku tertusuk di atas kepalaku, aku mengayun tangan kananku dengan kuat.

"Hmph!"

Saat menusukkan piton dengan kekuatan yang dapat aku kumpulkan, untungnya, bagian pedang itu tertusuk pada celah sempit tanpa rusak. Aku mencoba untuk menggoyangkan itu, ke atas dan ke bawah, tapi itu kelihatannya seperti itu akan tetap berada di situ tanpa masalah bahkan jika tubuhku berpegangan pada itu.

Life dari objek yang diciptakan melalui sacred arts benar-benar sangat rendah, menghilang dalam beberapa jam bahkan ketika dibiarkan saja. Karena itu, garis hidup yang menghubungkan Alice dan diriku tidak digunakan pada akhirnya, tapi itu akan cukup jika itu cukup kuat untuk menahan kita saat kita memanjat dinding.

Sementara merasakan ekspresi curiga Alice yang seperti biasanya, aku dengan erat menggenggam piton dengan tangan kananku dan menarik pedang hitamku yang dipaksakan hingga batasnya dengan tangan kiriku. Aku menyimpan itu pada sarungnya di pinggangku, lalu bergelantungan pada piton yang tertancap sekitar empat puluh senitmeter dari dinding dengan kedua tangan dan menganggap itu sebagai tiang horizontal saat aku melakukan kip[2]

Meskipun kemampuan fisikku di Underworld tidak mencapai pada saat akhir dari periode SAO yang akan membuat ninja di film bioskop akan malu, itu masih jauh dari gesit, tapi lebih kuat, ketika dibandingkan dengan di dunia nyata. Menaruh kakiku pada tiang, aku menyeimbangkan tubuhku dengan menaruh tangan kiriku pada dinding sementara mengangkat tubuhku dengan satu kali usaha dan berhasil berdiri di tongkat metal, tipis itu.

"Apa...Kau baik-baik saja?"

Setelah merendahkan pandanganku menuju suara serak itu, aku melihat Alice dengan erat menggenggam pada rantai emas itu dengan tangannya yang bebas dan melihat ke arahku dengan wajahnya yang entah bagaimana sangat pucat. Ekspresi itu terlihat memberikan kesan kekanakan-kanakan dan membuatku ingin untuk menganggap aku telah salah terhadap penilaianku yang dianggap lebih baik, tapi menghilangkan pemikiran itu, mengetahui bahwa ini bukanlah tempat untuk memikirkan itu.

"Aku baik-baik saja...Aku pikir begitu."

Dengan santai memberikan sinyal dengan tangan kananku, aku mengucapkan art baru lagi dan mengeluarkan piton baru. Menusukkan itu pada celah berikutnya yang aku dapat lihat di atas kepala dengan kekuatan yang besar, aku memanjat dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Sementara merasa sedikit senang pada keberhasilanku yang akhirnya dapat bergerak, meskipun itu hanya dua meter, aku memanggil Alice yang ada di bawah.

"Baiklah, sepertinya itu bekerja! Seperti yang aku telah lakukan, berpegangan pada piton pertama...tidak, tongkat metal itu."

Tetapi, Integrity Knight itu masih tetap berada di sana sementara melihat ke arahku. Mulutnya membuat sedikit gerakan sebelum suara samar-samar dan panjang itu mencapaiku.

"...Dak"

"Hah? Apa yang kau katakan?"

"...Aku tidak bisa, bagaimana melakukannya!"

"Tidak...tidak, kau bisa. Dengan kekuatan seperti dirimu, menarik tubuhmu sendiri ke atas akan..."

"Bukan itu yang aku maksud!"

Alice dengan kuat menggelengkan kepalanya dan menolak dukungan yang aku berikan padanya secara kasar.

"...Karena ini adalah pertama kalinya aku terjebak dalam situasi ini...Ini mungkin memalukan, tapi itu sudah mengambil semua yang aku punya untuk bergelantungan seperti ini. Perbuatan yang tidak dapat dibicarakan seperti memanjat pada pijakan tipis itu hanya akan..."

Aku sempat menjadi terdiam pada suara lembut Alice lagi yang seolah-olah itu kelihatannya akan menghilang.

Secara umum, penduduk Underworld cenderung untuk bereaksi secara pelan pada situasi yang melebihi dugaan mereka atau hal yang umum. Adaptasi mereka terhadap «Situasi yang awalnya mustahil» benar-benar sangat rendah, dengan kasus khusus seperti elite swordsman-in-training, Raios, yang kedua tangannya terpotong oleh pedangku, mendapati fluctlightnya hancur dan Lifenya menghilang—atau seperti itu yang aku duga.

Aku rasa bahkan tidak ada Integrity Knight yang mampu untuk mengatasi dengan situasi dari mendapati terlempar keluar menuju langit kosong dari lubang besar yang terbuka di dinding menara, yang seharusnya tidak dapat dihancurkan, dan terjebak dengan bergelantungan dari area yang sangat tinggi tanpa satupun pijakan dimana bahkan naga terbang tidak dapat memasukinya. Atau mungkin—Alice Synthesis Thirty, yang memiliki kemampuan tak terbatas dengan pedangnya, juga hanyalah seorang gadis pada hatinya juga.

Sword Art Online Vol 13 - 041.jpg

Yang manapun itu, mendengar Integrity Knight yang terhormat ini meminta bantuan mungkin akan sangat terbatas pada situasi sekarang. Setelah memikirkan itu, aku berteriak.

"Baiklah! Aku akan menarikmu ke atas pada pijakan itu dengan rantai, kalau begitu!"

Alice menggigit mulutnya dengan penampilan yang kelihatannya seperti dia menimbang antara harga diri dengan ketakutannya ketika aku bertanya, tapi kelihatannya dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengembalikan perintahnya sebelumnya sebagai prioritas saat dia menggenggam rantai emas itu dengan anggukan pelan.

"...Aku akan berada di tanganmu."

Sementara menahan dorongan kuat untuk mengusik kemarahannya oleh suaranya yang hampir tidak dapat didengar, aku menggenggam rantai juga.

"Baiklah, aku akan menarikmu perlahan, jadi. Aku mulai sekarang."

Aku dengan hati-hati menarik rantai itu setelah mengatakan kalimat itu. Pijakanku, piton, itu perlahan bergetar, tapi itu kelihatannya dapat menahan beban dari dua orang jika itu untuk waktu sebentar. Berusaha agar tidak terganggu oleh itu, aku mengangkat knight emas yang hebat itu sebanyak satu meter sebelum menahan rantai itu untuk sebentar.

"...Baiklah, kau dapat menarik keluar pedangmu sekarang."

Alice mengangguk dan dengan hati-hati mengeluarkan Fragrant Olive Sword dari dinding batu yang menusuknya. Rantai itu menjadi lebih berat pada saat itu juga, tapi aku tetap dapat menahannya entah bagaimana.

Saat mengetahui dia telah menyarungkan pedangnya, aku melanjutkan menarik rantai ke atas. Aku berteriak sekali lagi setelah Alice berpijak pada piton pertama.

"Berpegangan pada dinding dengan kedua tanganmu...Ya, aku akan melepaskan rantainya sekarang."

Aku tidak dapat melihat ekspresinya dari sudut ini, tapi Alice dengan susah payah mencoba untuk berpegangan pada dinding dan menggelengkan kepalanya secara terus menerus. Sementara membayangkan ekspresinya kelihatannya terlihat dibalik rambut pirangnya, yang terurai oleh angin, aku perlahan merendahkan tangan kananku. Knight itu menjadi sedikit terguncang di atas piton itu, tapi dengan segera memperbaiki keseimbangannya.

"Whew..."

Aku mengeluarkan nafas dalam.

Aku sama sekali tidak mengetahui berapa meter jauhnya menuju tempat yang disebut «Morning Star Lookout», yang dikatakan berada pada lantai kesembilan puluh lima, tapi bagaimanapun juga, kita pada akhirnya seharusnya akan sampai di sana jika aku mengulangi proses ini. Masalahnya adalah bagaimana itu kelihatannya akan berubah menjadi malam sebelum kita sampai di sana, dengan kecepatan kita memanjat dinding ini, jadi kita seharusnya mempersiapkan mental kita untuk berhenti di malam hari sementara bergelantungan di dinding.

"Aku akan memanjat lagi, kalau begitu."

Setelah aku berteriak ke bawah, Alice melihat ke atas dengan wajah kaku dan menjawab dengan bisikan yang hampir tidak dapat terdengar karena sebagian besar tertutupi oleh suara angin.

"...Tolong berhati-hati."

"Aku mengerti."

Aku membuat ibu jariku terangkat dengan tangan kananku—meskipun sikap itu tidak digunakan di Underworld—lalu mengucapkan system command untuk menciptakan piton ketiga.

Meskipun bagaimana Centoria seharusnya sudah mendekati pertengahan musim panas, matahari tanpa belas kasihan menjadi tenggelam cepat dan lebih cepat semenjak itu dimulai.

Dinding putih itu bersinar dengan posisi matahari bergerak melaluinya dengan warna orange kemerah-merahan, lalu ungu, sebelum itu berubah menjadi biru gelap, dan aku dapat melihat Gunug tinggi di Ujung memotong garis horizontal yang sunyi jauh di barat ketika aku melihatnya dengan tatapan mataku.

Ribuan bintang sudah berkelap-kelip pada keberadaan di atas kepala kita, tapi perkemabangan pemanjatan kita bukan berarti sangat cepat. Batas yang tidak terlihat di sistem telah menyiksa kita semenjak satu jam lalu atau lebih.

Menilai dari caranya itu benar-benar sederhana. Menciptakan piton dengan sacred arts, menusukkan itu pada celah diantara batu marbel, dan memanjat ke atas itu. Diikuti dengan menarik Alice ke atas dengan rantai dan meletakkannya di atas piton yang aku pijaki sebelumnya, semuanya hanya itu. Setiap langkah itu berkurang waktunya kurang dari tiga menit setelah mengulangi itu sebanyak sepuluh kali.

Tetapi, masalahnya terletak pada menciptakan piton yang sangat penting itu.

Dunia ini tidak memiliki sesuatu seperti parameter yang disebut 'mana point' di ALO. Berbagai jenis sihir disini, yang bernama 'sacred arts', dapat digunakan secara berkali-kali tanpa berhenti, selama system access authority penggunanya memenuhi untuk itu.

Tetapi, itu tidak berarti itu dapat digunakan secara tak terbatas, di manapun dan kapanpun. Aturan dari dunia ini, adalah setiap dan semua art penciptaan membutuhkan suatu sumber, ditetapkan secara rumit seperti sacred arts. Penggunaan dari art harus menggunakan katalis yang berharga, Life dari mahluk hidup, bahkan manusia, atau «sumber energi tempat» yang tersimpan di sekitar penggunanya.

Sumber energi tempat ini adalah hal yang tidak memiliki nilai angka untuk mengetahuinya dan itu benar-benar masalah yang sulit untuk diatasi.

Pada dasarnya, itu diberikan melalui sinar matahari atau zat hara di tanah. Tempat dengan tanah yang subur dan disinari oleh sinar matahari akan penuh dengan sumber energinya, bahkan cukup untuk mengucapkan sacred arts berangking tinggi secara terus-menerus, tapi di sisi yang lain, sumber energi tempat akan dengan cepat berkurang di tempat dimana sinar matahati tidak dapat mencapainya, bangunan yang dibuat dari batu, membutuhkan waktu yang lama sebelum sumbernya akan pulih lagi.

Dan terikat oleh peraturan itu, keadaan Alice dan aku sekarang—terjebak lima ratus meter di atas tanah dan matahari tenggelam di ufuk barat, kita teleah mendekati kondisi kemungkinan terburuk. Untuk menjelaskan itu, sumber energi di sekeliling akan habis oleh sacred arts yang aku ucapkan berkali-kali dan kita akan gagal untuk menciptakan piton yang sangat penting itu untuk memanjat di dinding.

"System call. Generate metallic element."

Di atas telapak tanganku, yang terulur lurus dan mencari cahaya samar-samar yang tersisa, titik cahaya perak itu melayang dengan sepi yang menghilang dalam kepulan asap.

Aku menghela nafas dan Alice berbicara dengan suara yang seperti kelelahan dari dua meter di bawah.

"...Menciptakan alat itu pasti telah banyak menghabiskan sacred power di area ini...Kita bahkan dapat menganggap diri kita cukup beruntung jika kita dapat menciptakan satu setiap jam setelah Solus terbenam... —Berapa banyak yang telah kita panjat hingga sejauh ini?"

"Erm...Aku sangat yakin kita hampir selesai dengan lantai kedelapan puluh lima."

"Itu masih jauh sampai lantai kesembilan puluh, bukan."

Aku bersikeras melihat pada jejak ungu yang menghilang di langit, lalu mengangguk.

"Yeah...satu hal dan lainnya, itu akan sangat berbahaya untuk memanjat ketika itu masih dalam keadaan benar-benar gelap. Meski begitu...kita benar-benar tidak dapat beristirahat di situasi ini bahkan jika kita hendak berdiam diri untuk malam ini..."

Jika yang buruk menjadi terburuk, kita akan mendapati beristirahat sementara bergelantungan dengan rantai, tapi dengan bagaimana kita tidak dapat membuat piton dan bagaimana itu akan menghilang setelah sepuluh menit, kita hanya dapat menggunakan pedang kita sebagai penahan. Tapi itu sangat meragukan jika Life pedang kita dapat menahan kita bahkan sampai pagi hari.

Dengan harapan aku dapat menemukan sesuatu untuk menggantung rantai ini, seperti suatu tonjolan, aku menatap pada dinding di atas kepala, tidak ingin untuk menyerah. Dan—

"Ah..."

Ada bayangan luas yang menjulur keluar dari dinding, berjarak secara tetap, hanya sekitar delapan meter di atas, berada di sana. Itu kelihatannya kabut yang mengelilingi menara itu menghilang saat matahari terbenam dan memperlihatkan bentuk dari benda tersembunyi itu.

"Hei, di sebelah sana...apa kau melihat sesuatu?"

Setelah aku berteriak sementara menunjuk, Alice, yang berada di dekat kakiku, mengangkat wajahnya juga. Mata birunya menyipit dan dia menjawab.

"Ya...apakah itu adalah patung atau sesuatu sejenisnya? Jika ingin dikatakan, kenapa benda seperti itu berada di tempat setinggi itu...Tidak akan ada seorangpun di sekitar yang dapat melihatnya."

"Itu tidak peduli apapun itu selama kita dapat duduk di sana dan beristirahat. Meski begitu, masih ada sekitar delapan met[3]... delapan meter sebelum sampai di sana. Aku dapat memanjat ke atas sana, tapi aku rasa aku akan membutuhkan tiga tongkat metal lagi..."

"Tiga...Aku mengerti"

Alice dapat terlihat memikirkan untuk sesaat sebelum dia dengan segera mengangguk.

"Aku mengerti. Aku berencana untuk menyimpan ini sampai itu benar-benar dibutuhkan, tapi...itu kelihatannya sekarang adalah waktunya."

Dia bersandar pada dinding pada saat dia mengatakan itu dan melepaskan sarung tangan nesi yang terpasang di tangan kirinya. Menatap pada armor yang bersinar cahaya emas, samar-samar bahkan di kegelapan yang gelap ini, dia mengucapkan kalimat pertama untuk sacred arts.

Sebuah cahaya sekilas bersinar saat mengucapkannya, selesai dengan waktu tiga kali lebih cepat daripada yang aku bisa lakukan, itu selesai—sarung tangan besi itu telah berubah bentuknya menjadi tiga piton sebelum aku dapat membuatnya. Mungkin art perubahan bentuk Alice jauh lebih efektif dibandingkan dengan element generation arts, untuk membuat hasil bahkan jika sumber energi di sekeliling kita sangat sedikit.

"Gunakan ini."

"Terima kasih, ini akan sangat membantu."

"Jika masih ada yang diperlukan, aku masih memiliki beberapa armor yang tersisa, tapi..."

Aku memberikan pandangan pada armor indah pelindun dada yang menutupi bagian atas tubuh Alice dan menggelengkan kepalaku.

"Tidak...Mari kita simpan itu sebagai cadangan sampai terakhir. Tidak ada yang tahu ketika kita mungkin membutuhkannya..."

Perlahan berdiri, aku memasukkan dua diantara tiga piton yang dibuat Alice untukku pada sabukku dan dengan erat menggenggam yang terakhir.

"Uryaa!"

Tongkat emas yang aku tusuk dengan suara menusuk yang dalam pada celah dengan kekerasan yang berada pada level yang benar-benar berbeda dibandingkan dengan yang aku buat dari metallic elements seperti yang diduga. Memanjat di atas itu melalui tongkat horizontal yang biasa aku gunakan untuk olahraga, aku menarik Alice dengan rantai.

Mengulangi proses itu sekali lagi, aku dapat mengetahui dengan jelas objek misterius itu bahkan dengan cahaya samar-samar saat mendekati hingga empat meter dari itu.

Itu benar-benar patung batu. Teralis sempit itu terbentang ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mengelilingi dinding luar katedral, dan beberapa patung yang cukup besar berbaris di atas itu.

Tetapi, tidak ada sosok suci seperti dewi ataupun malaikat yang aku lihat berkali-kali di dalam menara.

Itu berbentuk seperti manusia, tapi postur mereka, dengan kaki mereka tertekuk dalam keadaan berjongkok dan tangannya terlipat pada pangkuannya, tidak memiliki hubungan dengan suatu hal yang suci. Otot kasar, dan kerasnya terlihat pada perut dan sayapnya, tajam seperti pisau, terbentang dari punggungnya.

Dan kepala patung itu tidak dapat dideskripsikan selain dari mengerikan. Mulut lingkaran yang terukir di bagian depannya hingga ujung dari lengkungan panjang itu. Kepalanya sendiri sangat mirip dengan kumbang atau sesuatu seperti itu.

"Ugh...Itu desain yang sangat buruk."

Aku berguman.

"Eh...!? Itu semua...Berasal dari Dark Territory...!"

Dan Alice mengeluarkan suara terkejut sebelum saat itu.

Patung batu yang menunduk tepat di atasku menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, dan mulut lingkarannya, yang membawa pikiran terhadap pemangsa, terbuka dan tertutup sedikit demi sedikit. Itu bukan hanya suatu hiasan yang diukir dari batu. Itu—hidup.

Jika ini adalah quest yang dibuat di game VRMMO di dunia nyata, ini adalah adegan normal dari penyerangan.

Tetapi, dalam hal ini, penulis scenario pasti memiliki sikap yang sadis atau benar-benar baru pemula. Setelah semua, kita, player, di atas piton yang tertusuk bahkan kurang dari empat puluh sentimeter dari dinding lurus ini dan bahkan tidak dapat melangkah satu langkahpun.

Event yang tidak dapat dimenangkan—kata-kata yang tak berarti itu terlintas di pikiranku, tapi dengan segera aku menyingkirkan itu. Aku sama sekali tidak memiliki harapan terhadap perkembangan dari seseorang akan berlari menyelamatkan kita bahkan jika kita terjatuh. Kita seharusnya memutar otak kita dan menghindari krisis ini dengan kekuatan kita sendiri. Jika tidak, baik Alice dan aku akan mati.

Saat aku memperkuat tekadku, patung batu bersayap itu mulai untuk mengganti warna di seluruh tubuhnya sementara bergemetar. Kulitnya, yang awalnya berwarna putih keabu-abuan seperti dinding, mulai berganti menjadi warna hitam legam dari ujungnya.

Basaa! Tanpa menunggu untuk sayap hitamnya menyebabkan suara keras saat itu terbentang keluar, aku menarik pedang hitamku dari pinggangku. Dengan pandanganku terpaku pada monster bersayap, yang awalnya patung batu, aku memanggil Alice yang berada dua meter di bawah.

"Sepertinya kita harus bertarung di sini. Prioritaskan untuk tidak jatuh dibandingkan dengan hal lain!"

Tetapi, aku tidak dapat dengan segera mendengar jawaban dari Integrity Knight. Saat mencoba melihat sekilas ke bawah, aku tidak dapat melihat apapun pada wajah pucat Alice, yang berdiri di bawah cahaya senja, kecuali keterkejutan. Bagaimana mungkin, kenapa itu bisa—perkataan itu mencapai telinganya melalui udara yang bergerak ke atas.

Kenapa Integrity Knight, yang seharusnya mengetahui semuanya tentang Gereja Axiom, terkejut seperti ini? Aku tidak mengetahui apapun lebih dari perkataan seseorang, tapi pemimpin tertinggi, Administrator, kelihatannya terpengaruh terhadap kewaspadaan hingga tingkat yang ekstrim.

Itu tidak akan terlalu mengejutkan jika dia mengirim penjaganya untuk mengusir penyusup yang memanjat dinding ini secara paksa, tidak cukup untuk menenangkan pikirannya hanya dengan memasang bagian atas dari menara itu di area yang tidak dapat dilewati dengan terbang.

Penjaga itu—monster yang menyerupai «gargoyles» yang sering sekali muncul di game di dunia nyata, jika mengkesampingkan kepalanya, mengenggam ujung teralis dengan cakar tangannya, lalu mengeluarkan udara dari mulut lingkarannya dengan suara keras "bushuu". Aku menyadari gargoyles di sebelah kiri dan di sebelah kanan mulai bergerak sementara mengganti warna tubuhnya juga, membuatku gemetaran. Jika itu semua ditempatkan di seluruh empat sisi dinding luar katedral, itu tidak akan aneh jika jumlah mereka melebihi ratusan.

"Sialan...!"

Setelah membalikkan tubuhku sementara meneriakkan itu, aku mengacungkan pedangku dengan punggungku bersandar pada dinding, yang telah membuatku kehilangan banyak keseimbanganku. Sebenarnya, pijakanku hanya satu, tongkat metal tipis. Aku tidak memiliki pengalaman bertarung dalam kondisi ini, bahkan ketika mengingat hari-hariku di SAO.

Apa yang akan kita lakukan—aku mendengar suara kepakan sayap yang bahkan tidak memberikan waktu untuk memikirkan pemikiran itu. Aku melihat ke arah atas dan gargoyles melayang dengan langit gelap sebagai latar belakangnya, menatapku dengan bola mata lingkarannya yang tertempel pada sisi dari kepala panjang dan sempitnya.

Monster itu lebih besar daripada yang diperkirakan, kelihatannya mendekati dua meter, dari kepala hingga kaki. Sebagai tambahan, ekornya dengan panjang yang hampir sama dengan tubuhnya dengan lemah terbentang dari belakang pinggangnya.

"Bushaa!!"

Aku menatap terus pada gargoyle yang mengeluarkan suara aneh seperti uap yang keluar dari katup dan tertutup dengan itu menukik ke belakang. Untungnya, itu kelihatannya tidak memiliki kemampuan menyerang jarak jauh, jadi serangannya seharusnya salah satu dari empat anggota geraknya, kanan, kiri, atas, atau bawah—

"—Uoohh!?"

Apa yang melesat menuju ke sini sementara bergerak seperti cambuk adalah ekornya dengan ujungnya menjadi tajam seperti ujung pisau. Mendapati aku benar-benar lengah, aku berteriak sementara memiringkan kepalaku. Ujung tajamnya membuat goresan dangkal di pipiku, tapi aku entah bagaimana menghindari serangan langsung.

Tetapi, dengan keseimbanganku berkurang dari gerakan yang berlebihan itu, tubuhku terhuyung di atas piton itu.

Menargetkan aku, yang dengan susah payah untuk menahan tubuhku, gargoyle itu masih melayang dihadapanku dan menusukkan ekornya ke depan secara terus menerus.

Aku menahan tubuhku dengan tangan kiriku dan menangkis serangan ekornya dengan pedang di tangan kananku, tapi itu mengambil semua kekuatan yang aku punya untuk mengangkat itu sebagai pengganti perisai. Aku tidak memiliki ketenangan sama sekali untuk mengayun pedangku dan menebas ekor itu.

"Kuh..."

Aku menyimpulkan bahwa ini bukanlah situasi untuk ragu-ragu dan melepaskan tangan kiriku dari dinding, lalu menarik salah satu piton yang dimasukkan di sabukku. Sementara membuat gambaran mental dari gerakan skill melempar yang aku latih di SAO, aku melempar itu pada bagian tengah gargoyle sebagai targetku.

Aku tidak menggunakan seluruh kekuatanku pada itu, tapi itu kelihatannya piton yang dibuat dari sarung tangan besi Alice memiliki prioritas tinggi sebagai tombak pendek yang memuat pancaran emas di cahaya yang samar-samar ini, tertusuk ke dalam perut gargoyle itu.

"Bushii!!"

Darah berwarna kehitaman keluar dari mulut lingkarannya dan tersebar, dan monster itu mengepakkan sayapnya dengan terhuyung-huyung, mengambil posisi yang lebih tinggi. Itu kelihatannya itu telah memberikan damage yang cukup besar, tapi sayangnya, itu tidak cukup untuk membuatnya kabur. Tanda dari kemarahan tercampur pada mata berwarna hitam pekat yang sederhana, benar-benar menyerupai suatu serangga, dan gargoyle melihat ke arahku.

Aku mengerti ini bukanlah waktunya untuk itu, tapi pikiranku tanpa sadar terlintas di ujung pikiranku. Apakah itu program yang memanipulasi monster mengerikan itu? Atau mungkin, itu, juga, adalah artificial fluctlight seperti penduduk Underworld...?

Sword Art Online Vol 13 - 053.jpg

"Bushuuuu!!"

Teriakan baru, yang aneh mengalihkanku pikiranku menjadi kacau. Dua gargoyles melompat dari teralis dan telah terbang mengelilingiku seolah-olah mereka menunggu celah di pertahananku.

"Alice! Cabut pedangmu, monster itu mengincarmu juga!"

Aku menatap lurus ke bawah sementara berteriak, tapi knight itu kelihatannya masih belum pulih dari kebingungannya dari sebab yang tidak diketahui. Dia entah akan tertusuk oleh ekor atau terjatuh dari piton jika dia diserang saat dalam keadaan dia sekarang.

Haruskah aku memanjat menuju teralis yang berada empat meter di atas sementara gargoyles memeriksa situasi? Tetapi, hanya ada satu piton yang tersisa di sabukku. Itu mungkin akan mustahil untuk gargoyle yang marah itu untuk mengembalikan salah satu yang tertusuk di perutnya.

Mungkin tiga monster itu mencoba untuk mengancamku dengan suara hembusan aneh mereka walau akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan serangan mereka, tapi teriakan keras yang terasa keluar dari mereka.

Sekarang keadaan menjadi seperti ini, aku hanya dapat melepaskan rantai dan melompat menuju musuh yang mengincar Alice.

Berpikir seperti itu, aku memeriksa rantai yang terpasang di pinggangku dengan tangan kirku. Dan kedua mataku terbuka lebar dengan sadar.

Panjang rantai itu kira-kira lima meter. Teralis di atas kepalaku sekitar empat meter—

"Alice...Alice."

Sementara menyarungkan pedangku, aku berteriak sekeras yang aku bisa.

Tubuh Integrity Knight itu bergemetar dengan terkejut dan mata biru itu akhirnya melihat ke arah sini.

"Genggamlah rantai itu dengan erat-erat!!"

Apa sebenarnya yang kau pikirkan, Alice mengerutkan dahinya saat aku menggenggam rantai yang terpasang pada sabuk pedangnya dengan kedua tangan. Aku menarik itu dengan keras dan tubuh Alice melayang dari pijakannya. Menggenggam erat pada rantai itu dengan kebingungan, knight itu mengeluarkan suara serak.

"...Jangan bilang kalau kau akan..."

"Aku akan meminta maaf sebanyak yang kau mau jika kita dapat hidup setelah melewati ini."

Menarik nafas dalam, aku mengumpulkan semua kekuatan yang aku punya dan menarik rantai itu, knight hebat itu bergelantungan, dengan itu—tidak, aku melemparkan itu lurus ke atas. Rambut pirang, panjangnya dan roknya yang berwarna putih murni itu berkibar, Alice terangkat sementara mengikuti lintasan setengah lingkaran itu.

"Kyaaaaa!!"

Teriakan mengejutkan seperti anak perempuan terdengar saat Integrity Knight itu melewati diantara gargoyles dan mendarat di teralis empat meter di atas. Untuk mengatakanya lebih akurat, mungkin aku seharusnya justru mengatakan dia menabraknya. Mungkin aku seharusnya menganggap itu seolah-olah aku tidak mendengar "mugyuu", yang tidak pantas untuk knight perempuan yang sopan itu, itu terdengar sebelum teriakan itu berhenti.

Tubuhku terlempar dari piton, yang merupakan pijakanku, oleh recoil dari lemparan yang terlalu berlebihan itu. Jika Alice tidak menahanku dari teralis di atas, kita berdua akan terjatuh menuju tanah yang jauh di bawah.

Seperti yang diduga, keberanianku menjadi menghilang dengan segera setelah terjatuh, tapi Integrity Kngith itu membalas harapanku, berdiri di teralis sempit itu dan menggenggam rantai itu dengan kedua tangannya. Kedua kakinya berdiri dengan kuat dan menghentikan kejatuhanku dihadapannya.

"Kau...uuuuu!!"

Dia menarik rantai itu dengan semua kekuatannya sementara berteriak dengan suara yang tercampur dengan kemarahan.

Terangkat ke udara seperti yang Alice lakukan sebelumnya, aku mendapati udara menghantamku pada saat punggungku menabrak pada dinding marbel, tapi tidak ada yang dapat dipercaya selain teralis ini yang aku berbaring sekarang. Aku ingin untuk melempar diriku pada permukaan horizontal yang kurindukan terus-menerus, tapi Alice menendang kakiku dan aku dengan enggan mengangkat tubuhku.

"Apa...yang kau pikirkan, kau benar-benar bodoh!!"

"Itu tidak seperti aku dapat mencegahnya, aku hanya dapat...tidak, kesampingkan pembicaraan itu untuk sebentar, mereka datang!"

Aku menarik pedangku lagi dan mengacungkan ujungnya pada tiga gargoyles pada saat mereka naik dengan cepat.

Memanfaatkan sedikit waktu sebelum memasuki pertarungan untuk mengecek keadaan sekitar, aku perlahan menggerakkan pandanganku ke kiri dan ke kanan.

Teralis yang kita panjat dengan susah payah melalui gerakan yang sulit dilakukan memiliki lebar sekitar satu meter. Itu benar-benar kekurangan hiasan yang indah, tidak ada apapun selain dari platform marbel yang menonjol keluar secara vertical dari dinding luar katedral. Tidak, itu mungkin bukan apa-apa selain dari landasan. Itu adalah sesuatu yang satu-satunya dimaksudkan digunakan untuk meletakkan gargoyles pada itu.

Alice tidak mengetahui tentang keberadaan dari teralis ini, jadi aku memiliki harapan kecil bahwa pintu atau jendela mungkin terpasang di dinding luar belakang kita, tapi sayangnya, tidak ada satupun celah. Semua yang dapat aku lihat adalah sosok hitam dari bayangan aneh yang tampak hidup berbaris dengan berjejer sampai di ujung yang jauh. Mengetahui jumlah mereka dari penegasan jumlah mereka secara berulang-ulang meningkatkan rasa takutku, tapi untungnya, benda yang kelihatannya bergerak itu hanyalah tiga monster yang terlihat terbang tinggi.

Mungkin dia akhirnya menjadi dirinya setelah mendapatkan pijakan yang meyakinkan, tapi Alice, juga, menarik Fragrant Olive Swordnya dari sarung pedangnya dengan "shing". Tetapi, keraguan di hatinya kelihatannya belum terselesaikan dan suara yang serak mencapai telingaku.

"...Tidak ada kesalahan pada itu...Kenapa...Mereka bisa ada di sini..."

Gargoyles telah naik pada ketinggian yang sama seperti teralis mungkin telah waspada terhadap dua pedang yang diacungkan, saat mereka tidak menunjukkan tanda-tanda untuk segera menyerang. Sementara menatap pada monster, yang dengan pelan melayang di tengah udara, aku menanyakan Alice sebuah pertanyaan.

"Sesuatu telah mengangguku semenjak sebelumnya. Kau mengetahui tentang monster itu?"

"...Ya, aku mengetahuinya."

Cukup mengejutkan, Alice dengan segera menjawab dengan tegas.

"Itu dibuat dari darkness arts oleh penyihir dari Dark Territory, iblis kejam yang mereka gunakan. Mengikuti contoh mereka, kita menyebut mereka «minions». Aku yakin bahwa itu adalah Pengucapan Suci untuk «anak buah» atau «pasukan»."

"Minions...Aku dapat setuju bahwa mereka berasal dari Dark Territory, menilai dari penampilan mereka, tapi kenapa sesuatu seperti itu terbaris di seluruh dinding di tempat paling suci di Dunia Manusia?"

"Itulah adalah hal yang ingin aku tahu!"

Berteriak seolah-olah dia memaksakan kata-katanya keluar, Alice dengan keras menggigit mulutnya.

"...Aku mengerti bahwa ini tidak akan pernah terjadi tanpa kau memberitahku. Aku sangat sulit membayangkan minions dapat lolos dari pencarian Integrity Knight dan melewati Gunung tinggi di Ujung, terbang sepanjang jalan menuju pusat...dan untuk tinggal di lokasi tinggi di Katedral Pusat juga. Lupakan..."

"Lupakan seseorang yang memiliki kekuasaan tinggi di gereja dengan sengaja meletakkan mereka di sini...Perbuatan seperti itu pasti mustahil...?"

Alice merengut padaku, setengah dari kesadarannya dipenuhi dengan kata-kata yang terpotong, tapi tidak membuat usaha untuk membantah. Mengembalikan pandanganku pada tiga gargoyles, minions, yang masih melayang, aku bertanya sekali lagi.

"Beritahu aku satu hal. Apakah minions itu memiliki kecerdasan? Apakah mereka berbicara seperti manusia?"

Alice, yang mengembalikan pandangannya menuju depan juga, kelihatannya menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Itu benar-benar mustahil. Tidak seperti goblin dan orc yang hidup di tanah kegelapan, minions sama sekali tidak hidup. Mereka adalah familiar tak bernyawa yang diciptakan dari gumpalan tanah oleh penyihir yang melayani Dewa kegelapan, Vector...mereka hanya mengerti suatu perintah sederhana dari master mereka."

"...Aku mengerti."

Aku menyembunyikan, nafas kelegaan yang pelan dari Alice.

Aku juga sudah cukup sadar bahwa ini tidak lebih dari memperlambat masalah yang ada di hadapanku, tapi aku masih merasakan keraguan yang kuat untuk membunuh keberadaan yang memiliki fluctlights yang sama seperti manusia bahkan sampai sekarang.

Bayi di dunia ini lahir hanya diantara pasangan laki-laki dan perempuan yang menikah dengan persetujuan dari Gereja Axiom—system command yang khusus untuk itu kelihatannya ada—atau seperti itu penyihir, Cardinal, telah katakan. Penduduk yang tinggal di Dark Territory bukanlah pengecualian. Jika memang begitu, minions yang diciptakan oleh sacred arts tidak darkness arts tidak memiliki fluctlights, tapi kode program seperti hewan liar.

Melihat dari sudut pandang itu, rasa permusuhan yang memancar dari mata sederhana minions yang seperti serangga memiliki gerakan digital yang berbeda dibanding dengan monster mob yang aku lawan di SAO. Status mereka mungkin berganti dari «mengawasi» menjadi «menyerang», saat tiga monster itu menggerakkan sayap mereka dengan kuat secara bersamaan dan melambung tinggi ke atas.

"—Mereka datang!"

Aku berteriak dan mengacungkan pedang kesayanganku sekali lagi. Mosnter yang terbang lurus menuju ke sini adalah monster dengan piton emas yang masih tertusuk di perutnya, mungkin disebabkan oleh kemarahan yang kebencian yang dimilikinya pada waktu sebelumnya.

Kali ini, cakar di kedua tangannya membuat serangan beruntun dan bukan ekornya. Itu tidak dapat dikatakan cepat, tapi aku kesulitan untuk mendapat waktu yang tepat, untuk bertarung dengan monster untuk pertama kalinya pada saat ini. Membuat diriku untuk menangkis cakarnya dengan pedangku, aku menunggu kesempatan, lalu melihat bayangan sekilas dari dua monster yang tidak terluka dengan cepat turun menuju Alice di ujung kiri dari penglihatanku.

"Hati-hati, ada dua dari mereka datang ke arahmu!"

Meskipun peringatanku, dibuat karena kekhawatiran yang tulus untuk knight perempuan itu, suara yang terdengar kembali sama sekali berbeda.

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan tentang diriku?"

Dengan cepat merendahkan pinggangnya, dia mengacungkan Fragrant Olive Swordnya mendatar di sisi kirinya.

Dobaa! Dengan suara tebasan yang sangat keras dan berat, kilauan emas dari tebasan pedangnya cukup menyilaukan bahkan di cahaya yang samar-samar ini.

Hanya, satu tebasan di tengah tanpa gerakan hebat atau tehnik menyambung—itu adalah apa yang disebut dengan tehnik dasar di «Aincrad style», «Horizontal». Tetapi, kecepatan dan beratnya sudah cukup untuk membuat keringat dingin keluar dari tubuhku hanya dengan menatapnya dari samping. Apa yang mendesakku tanpa kesulitan di pertarungan di lantai kedelapan puluh adalah tingkat yang luar biasa dari kekuatan dari satu tebasan yang tidak dapat membuat musuh menghindar atau menangkis. Itu mungkin dengan mudah menghancurkan keyakinanku pada keunggulan skill tebasan beruntun yang aku selalu gunakan selama hidup lama di VRMMO.

Dihadapan Alice, yang setelah mengayun pedangnya, empat tangan dari dua minions terjatuh. Mengikuti itu, meskipun bagaimana itu seharusnya berada di luar jangkauannya, anggota geraknya terbelah di sekitar dada mereka tanpa suara.

Banyak darah kehitaman tersembur keluar dari monster itu yang tertabrak tanpa mengeluarkan satupun teriakan. Tentu saja, tidak ada satupun tetesan darah yang terkena Alice.

Integrity Knight yang mengangkat tubuhnya seolah-olah tidak ada apapun yang telah terjadi berbalik kepadaku, masih berada dalam pertarungan bertahan satu sisi, dan berbicara dengan nada yang sedikit menyindir.

"Apa kau membutuhkan bantuan?"

"...T-Tidak terima kasih."

Setelah dengan sopan menolak sarannya dengan kegigihan yang kuat, aku menghindari serangan beruntun dari dua tangan, dua kaki, ditambah ekor dari minion itu, lalu aku akhirnya melihat polanya, dengan langkahnya. Berbalik menuju musuh yang mencoba untuk memperlebar jaraknya, aku melepaskan skill tebasan beruntun yang tertanam dalam tubuhku.

Aku telah memikirkan ini untuk waktu yang lama bahwa sangat aneh sword skills yang sama seperti di dunia SAO ada di Underworld. Aku memiliki beberapa dugaan selama dua tahun ini, tapi belum pernah mendapat jawaban yang sempurna. Pekerja dari Rath mungkin menggunakan paket «The Seed» untuk membangun dunia virtual ini, tapi sejauh yang aku tahu, sistem sword skill tidak pernah dimasukkan di dalam The Seed. Jika itu ada, aku seharusnya dapat untuk mengaktifkan sword skills di Gun Gale Online kembali ketika aku dikonvert.

Ada kemungkinan bahwa penyihir cerdas yang bersembunyi di Ruangan Perpustakaan Besar, Cardinal, akan mengetahui kebenarannya, tapi aku ragu-ragu untuk bertanya pada gadis itu. Cardinal menyadari semua penduduk Underworld, termasuk dirinya, adalah keberadaan yang diciptakan untuk eksperimen oleh perusahaan di dunia nyata, Rath, dan merasa menderita pada nasibnya sendiri. Aku tidak tahan untuk memberikan pertanyaan mengenai dunia ini dengan secara fiksi tanpa persetujuan gadis itu. Sejak awal, dengan hal yang berkembang sejauh ini, alasan dibalik keberadaan sword skill itu sama sekali tidak penting. Jika itu menjalankan tujuannya dan memberikanku kemampuan bertarung, itu sudah cukup.

Pedang di tangan kananku bergetar dengan cahaya biru dan aku menggunakan skill empat tebasan horizontal, «Horizontal Square».

"Uo...ryaaa!"

Tebasan yang dilepaskan dengan teriakan yang cukup keras bukanlah bermaksud untuk dibandingkan dengan Alice, tapi itu menebas dua tangan dan ekor minion itu, dan dengan mulus memotong tubuhnya secara horizontal pada bagian terakir. Meyakinkan diriku untuk tidak melompat dari teralis dengan gerakan yang berlebihan, aku melihat ke arah sisa dari monster itu, yang sekarang menjadi bagian, saat itu terjatuh dan tenggelam di lautan awan jauh di bawah.

Jika potongan itu tidak menghilang di tengah udara dan terjatuh dihadapan seorang bangsawan atau siapapun yang sedang berjalan di bagian dalam katedral, itu akan menjadi kegemparan...sementara memikirkan hal seperti itu.

"...Heh."

Alice dengan singkat berguman dengan nada seperti guru yang melihat pada kemampuan muridnya.

Menggerakkan pedang hitamku ke kiri dan ke kanan untuk membersihkannya, aku menaruh itu pada sarung pedang di pinggang kiriku—Aku sebenarnya ingin menaruh itu di punggungku, tapi tidak ada satupun sabung pedang bertipe pengikat bahu di ruangan penyimpanan peralatan—saat aku melihat ke arah knight itu dari sampingku.

"...Apa?"

"Tidak, aku hanya berpikir bahwa kau menggunakan skill pedang yang aneh. Tentang bagaimana itu mungkin menarik pengunjung jika kau melakukan itu di teater saat festival pertengahan musim panas."

"Hm, terima kasih."

Setelah membuat senyum masam pada knight hebat itu, yang menggunakan ejekan dari setiap satu hal kecil, aku melihat ke arah wajah Alice dari depan. Aku mengatakan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikiranku.

"...Apa kau pernah melihat festival pertengahan musim panas di Centoria? Jika aku mendeskripsikan itu, aku akan mengatakan bahwa itu adalah festival untuk penduduknya, dengan hampir semua siswa yang terlahir sebagai bangsawan kelas atas di Akademi Master Pedang akan pergi ke sana..."

Tentu saja, ada pengecualian, seperti Solterina-senpai, yang aku layani sebagai valet, mengharapkan itu setiap tahun. Pikiran nostalgia itu terlintas di pikiranku sebelum Alice menghela nafas.

"Tolong jangan menghubungkan aku dengan bangsawan kelas atas yang berlaku seperti itu. Tentu saja aku telah...pergi..."

Kata-kata mengejek itu sedikit demi sedikit menjadi lambat dan pada akhirnya terhenti.

Knight itu mengerutkan dahinya dengan mulutnya masih sedikit terbuka dan menatap ke bawah seolah-olah dia mencari sesuatu. Mengangkat tangan kirinya yang kehilangan sarung tangan besinya, dia menekan ujung jarinya pada dahi halusnya. Alice menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cara itu dan perlahan mengangkat wajahnya, lalu berguman dengan nada yang kelihatannya sedikit samar-samar.

"Tidak...Aku mendengar festival itu...dari seorang bangsawan. Integrity Knight...Dilarang untuk berbaur dengan penduduk kota selain dari saat tugas, jadi..."

"......"

Itu hanya hal yang biasa saja, Integrity Knight mempercayai bahwa diri mereka adalah keberadaan yang dipanggil dari Celestial World oleh pemimpin tertinggi, Administrator, tapi itu sebenarnya salah. Administrator telah mengambil pengetahuan dan kesadaran manusia dari Dunia Manusia menuju katedral, lalu membuat mereka menjadi knight dengan ingatan mereka sebelumnya disegel dengan «Synthesis Ritual». Karenanya, itu akan buruk jika knight itu mengunjungi dunia di bawah yang jauh lebih dari dibutuhkan dan bertemu secara tak terduga dengan keluarga mereka sebelumnya.

Nomor Alice adalah thirty[4], yang berarti dia adalah knight «terbaru» setelah Eldrie Synthesis Thirty-one yang baru saja menjadi Integrity Knight di musim semi ini. Dia kelihatannya telah synthesized dalam satu tahun dari sekarang dan gadis ini diambil pergi dari Desa Rulid delapan tahun lalu, jadi dia sebenarnya memiliki jangak waktu kosong selama tujuh tahun.

Bagaimana sebenarnya Alice menghabiskan waktu di katedral...Aku tidak tahu dia belajar sacred arts sebagai sister, atau mungkin menghabiskan dengan «dibekukan» oleh Administrator. Tetapi, mungkin dia pernah mengunjungi festival pertengahan musim panas Centoria sebelum dia menjadi knight? Mungkinkah ingatan itu, yang seharusnya telah tersegel, bangkit untuk sekejap disebabkan oleh percakapan sebelumnya—?


Jika memang begitu, jika aku hendak melanjutkan percakapan ini tentang festival pertengahan musim panas sekarang, «piety module» yang menyegel ingatan Alice dapat terlepas seperti apa yang terjadi ketika aku bertarung dengan Eldrie bukan!?

Setelah memikirkan itu, aku mulai untuk membuka mulutku sekali lagi. Tetapi, aku menggeretakkan gigiku dengan keras setelah mengambil nafas dalam.

Cardinal telah mengatakan. Bahwa untuk mengubah Integrity Knight Alice menjadi Alice Schuberg, teman masa kecil Eugeo, hanya dengan menarik piety module tidaklah cukup. Dan «bagian ingatan yang paling terpenting» yang diambil dari Alice oleh pemimpin tertinggi benar-benar dibutuhkan. Karena itu, jika module Alice dilepaskan sekarang, gadis itu seharusnya kehilangan kesadarannya dalam sekejap dan menjadi tidak dapat bergerak. Aku mungkin lebih baik menghindari itu untuk keadaan sekarang dimana kita tidak akan tahu ketika musuh berikutnya akan muncul.

Yang pertama dan terpenting, Alice tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan ketika dia melihat Eugeo yang dia berteman baik denganya selama beberapa tahun di Rulid. Dengan kata lain, itulah bagaimana kuatnya segel pada ingatan Alice. Kesempatan untuk melepaskan module dengan topik seperti festival pertengahan musim panas sangatlah tipis dan di sisi lain, itu bahkan mungkin menyebabkan kecurigaannya padaku meningkat.

Alice dengan curiga menatap pada wajahku saat aku masih memikirkan itu dengan diam, tapi dengan segera memarahiku seolah-olah dia menyadari sesuatu.

"Darah minion akan menyebabkan penyakit. Bersihkan itu dengan benar."

"Nn? Aah..."

Aku menyadari untuk pertama kalinya beberapa tetes darah yang tersembur keluar dari monster itu telah mengenai pipi kiriku tepat Alice tunjuk sekarang. Pada saat aku mencoba untuk membersihkan cairan berbau tajam itu dengan kerah bajuku, teguran yang keras segera terdengar.

"Hei!"

Itu pasti sudah satu tahun telah berlalu semenjak seseorang memarahiku dengan cara seperti itu...Alice menatap padaku, yang masih kebingungan, dengan ekspresi yang benar-benar frustasi.

"Aah, sudah cukup, kenapa laki-laki selalu...Apa kau bahkan tidak membawa satupun sapu tangan?"

Aku memeriksa di sekitar saku celanaku, tapi di sebelah kanan kosong dan di kiri memiliki sesuatu yang bukan sapu tangan terisi di dalamnya. Aku menjawab pelan dengan kepalaku tertunduk.

"A-Aku sama sekali tidak punya..."

"...Baiklah, gunakan ini."

Alice menarik keluar sapu tangan dari rok panjangnya yang berwarna putih murni, lalu menyerahkan itu padaku dengan ekspresi yang menunjukkan kemarahan yang datang dari dalam hatinya.

Pikiran untuk mengangkat rok knight hebat itu dan mengusapkannya pada pipiku, jika dia mencoba untuk menganggapku seperti anak kecil dari sekolah dasar, terlintas di dalam pikiranku, tapi aku menghentikan pikiran itu karena itu akan menjadi akhir dari hidupku.

Meminjam sapu tangan dengan sisi yang rumit yang tidak memiliki satupun noda padanya dengan ucapan terima kasih, ketika aku mengusap pipiku dengan itu malu, darah minion benar-benar terhisap ke dalamnya, membersihkan itu tanpa sisa, seolah-olah suatu art untuk membersihkan noda telah terpasang pada itu.

"Terima kasih banyak."

Sensei, aku menahan dorongan untuk menambah kata itu sementara mencoba untuk mengembalikan sapu tangan itu, tapi knight hebat itu dengan cepat memalingkan wajahnya dan mengatakan satu kalimat—

"Cuci dan kembalikan itu padaku sebelum kau ditebas olehku."

Masa depan akan terlihat sangat suram. Bagaimana aku dapat untuk membujuk knight hebat ini untuk menghindari pertarungan setelah kita kembali ke dalam menara dan untuk bertemu dengan Eugeo?

Bayangan patnerku, yang mungkin sedang memanjat dengan tangga di dalam menara bahkan sampai sekarang, terlintas di dalam pikiranku saat aku melihat ke arah sekitarku, dan menyadari cahaya matahari benar-benar sudah menghilang dan beberapa bintang berkelap-kelip. Kita berhasil untuk mengalahkan minions entah bagaimana, tapi bulan yang sudah terlihat dan sumber energi tempat sedikit demi sedikit mulai pulih, tapi itu kelihatannya belum cukup untuk membuat piton baru.

Aku memasukkan sapu tangan Alice pada saku kananku dan memeriksa teralis dari kiri ke kanan untuk kali ini juga. Minions yang membatu itu terbaris dengan berjejer beberapa meter dari ujung dinding, kelihatannya itu tidak akan hidup jika kita tidak mencoba untuk mendekat. Itu mungkin untuk menghancurkan mereka sebelum keadaan membatu itu menghilang jika kita berlari dan menebas organ vital mereka dengan pedang kita, tapi aku tidak dapat memikirkan kegunaan apapun untuk mengetes resiko itu.

Sebagai hasilnya, kita hanya dapat pasrah menunggu di sini selama beberapa jam sampai bulan itu terlihat jelas.

Sejujurnya, aku akan sangat terhibur dengan memikirkan berbaring dan beristirahat sekarang, tapi Alice kelihatannya akan terganggu selama sepanjang waktu ini. Aku menahan untuk menghela nafas sementara memikirkan tentang bagaimana aku seharusnya memulai pembicaraan dengan Integrity Knight yang memalingkan wajahnya dariku.


Catatan Penerjemah[edit]

  1. suatu besi yang digunakan dalam memanjat tebing, yang ditusukkan ke sebuah cela atau lubang
  2. gerakan manuver yang digunakan di senam
  3. Kirito bermaksud mengucapkan meter
  4. thirty di sini adalah tiga puluh jadi Alice Integrity Knight ketiga puluh